Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu suku baduy yang

tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat baduy pada umumnya terletak pada daerah Baduy atau biasa disebut juga dengan masyarakat kanekes adalah nama sebuah kelompok masyarakat adat Sunda di Banten. Suku Baduy tinggal di pedalaman Jawa Barat, desa terakhir yang bisa di jangkau oleh kendaraan adalah DESA Ciboleger (jawa barat). Dari desa ini kita baru bisa memasuki wilayah suku baduy luar. Tetapi sebelum kita masuk kewilayah suku baduy kita harus melapor dulu dengan pimpinan adatnya yang di sebut Jaro. Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka. * Kelompok tangtu (baduy dalam). suku Baduy Dalam tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir dan belum masuk kebudayaan luar.selain itu orang baduy dalam merupakan yang paling patuh kepada seluruh ketentuan maupun aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Pu’un (Kepala Adat). Orang Baduy dalam tinggal di 3 kampung,yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih dan golok. Pakaian mereka tidak berkerah dan berkancing, mereka juga tidak beralas kaki. Meraka pergi kemana-mana hanya berjalan kaki tanpa alas dan tidak pernah membawa uang. mereka tidak mengenal sekolah, huruf yang mereka kenal adalah Aksara Hanacara dan bahasanya Sunda. Mereka tidak boleh mempergunakan peralatan atau sarana dari luar. Jadi bisa di bayangkan mereka hidup tanpa menggunakan listrik, uang, dan mereka tidak mengenal sekolahan. Salah satu contoh sarana yang mereka buat tanpa bantuan dari peralatan luar adalah Jembatan Bambu. Mereka membuat sebuah Jembatan tanpa menggunakan paku, untuk mengikat batang bambu mereka menggunakan ijuk, dan untuk menopang pondasi jembatan digunakan pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi sungai. * Kelompok masyarakat panamping (baduy Luar), mereka tinggal di desa Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, yang mengelilingi wilayah baduy dalam. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. suku Baduy Luar biasanya sudah banyak berbaur dengan masyarakat Sunda lainnya. selain itu mereka juga sudah mengenal kebudayaan luar, seperti bersekolah. * Kelompok Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama adalah bercocok tanam padi huma dan berkebun serta membuat kerajinan koja atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren, tenun dan sebagian kecil telah mengenal berdagang. Kepercayaan yang dianut masyarakat Kanekes adalah Sunda Wiwitan.didalam baduy

Hukuman Berat diperuntukkan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat. jaro dangka. pendek tidak bisa/tidak boleh disambung) suku Baduy memiliki tata pemerintahan sendiri dengan kepala suku sebagai pemimpinnya yang disebut Puun berjumlah tiga orang. yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas. yang namanya hukuman berat disini adalah jika ada seseorang warga yang sampai mengeluarkan darah setetes pun sudah dianggap berat. jika hampir bebas akan ditanya kembali apakah dirinya masih mau berada di Baduy Dalam atau akan keluar dan menjadi warga Baduy Luar di hadapan para Pu’un dan Jaro. Pelaksanaan pemerintahan adat kepuunan dilaksanakan oleh jaro yang dibagi kedalam 4 jabatan yang setiap jaro memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing.dalam. Yaitu jaro tangtu. Selain mendapat peringatan berat. yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa. Yang termasuk ke dalam jenis pelanggaran ringan antara lain cekcok atau beradu-mulut antara dua atau lebih warga Baduy. jaro tanggungan. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. dan kokolot lembur atau tetua kampong Hukum di didalam Masyarakat Baduy Hukuman disesuaikan dengan kategori pelanggaran. Masyarakat Baduy Luar lebih longgar dalam menerapkan aturan adat dan ketentuan Baduy. carik. Berzinah dan berpakaian . Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka berjumlah 9 orang. yang terdiri atas pelanggaran berat dan pelanggaran ringan. Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apapun”. atau perubahan sesedikit mungkin: “Lojor heunteu beunang dipotong. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional. pèndèk heunteu beunang disambung” (Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong. dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. menariknya. Negroid dan Kaukasoid tidak boleh masuk ke wilayah Baduy Dalam. siterhukum juga akan dimasukan ke dalam lembaga pemasyarakatan (LP) atau rumah tahanan adat selama 40 hari. Pelaku pelanggaran yang mendapatkan hukuman ini dipanggil oleh Jaro setempat dan diberi peringatan. Ada semacam ketentuan tidak tertulis bahwa ras keturunan Mongoloid. dan jaro pamarentah. Jaro dangka bertugas menjaga. Hukuman ringan biasanya dalam bentuk pemanggilan sipelanggar aturan oleh Pu’un untuk diberikan peringatan. mengurus. Selain itu. Inti dari kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes. Jika semua ketentuan adat ini di langgar maka akan kena getahnya yang disebut kuwalat atau pamali adalah suku Baduy sendiri.

Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. selain membawa sirih. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. di antaranya tidak boleh bersekolah. mempersiapkan alat-alat kebutuhan rumah tangga. seluas 5. Tahap ketiga. Blog dengan ID 26250 Tidak ada Di dalam proses pernikahan pasangan yang akan menikah selalu dijodohkan dan tidak ada yang namanya pacaran. Bagi wanita yang sudah menikah. tak dibenarkan bepergian dengan naik kendaraan. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Tahap Pertama. buah pinang dan gambir secukupnya. .ala orang kota. alat rumah tangga mewah dan beristri lebih dari satu.Untuk Baduy Dalam. pelamaran kali ini dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari baja putih sebagai mas kawinnya. untuk busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy dalam maupun Baduy Luar tidak terlalu menampakkan perbedaan yang mencolok. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Banyak larangan yang diatur dalam hukum adat Baduy. Serta pada bagian kepala suku baduy menggunakan ikat kepala berwarna putih. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam.85 hektar. Bagian tengah dan selatan desa merupakan hutan lindung atau Orang Baduy sering menyebutnya hutan tutupan.101. para pria memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. dan gambir. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing. Sedangkan. dilarang memanfaatkan alat eletronik. model ataupun corak busana Baduy Luar. pinang. orang tua laki-laki harus melapor ke Jaro (Kepala Kampung) dengan membawa daun sirih. kemudian dilanjutkan dengan proses 3 kali pelamaran. dilarang memelihara ternak berkaki empat. bagi suku Baduy Luar. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. Setelah mendapatkan kesepakatan. Desa Kanekes Desa Kanekes adalah salah satu desa di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Propinsi Banten. Potongannya tidak memakai kerah. Terlihat dari warna. didalam suku baduy terdapat berbedaan dalam berbusana yang didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Dari segi berpakain. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Tahap kedua. Untuk bagian bawahnya menggunakan kain serupa sarung warna biru kehitaman. sebagian besar tanahnya merupakan dataran tinggi yang bergunung dengan lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai dan hulu-hulu sungai yang mengalir ke sebelah utara.

kemudian tahun 1966 meningkat lagi menjadi 3. dan tahun 2000 tercatat menjadi 56 kampung (3:50:3). akibat pada masa-masa terakhir ini dangka ditarik kembali ke wilayah Desa Kanekes atas suatu soal yang dihadapi mereka dengan penduduk sekitarnya. masih terdiri atas 9 kampung (3 tangtu. Bagi Orang Baduy. tahun 1996 menjadi 53 kampung (3:47:3). tahun 1983 penduduk Desa Kanekes menjadi 4. Meijer. proses waktu merupakan perjalanan riwayat dunia yang setara dengan keadaan alam semesta.078 orang.1902). sedangkan tahun 1899 meningkat menjadi 1.407 orang yang tinggal di 26 kampung (Jacobs. Sebutan dan asal Orang Baduy. Hal itu berarti. adalah menarik ditinjau bagaimana sebutan itu digunakan dalam jangka waktu . tahun 1952 bertambah menjadi 31 kampung (3:21:7).935 orang. 38 tahun kemudian. Sebutan mana yang lebih dikenal akan tergantung pula pada kekerapan istilah itu menurut kebiasaan dan keinginan para pemakai istilah. Pertambahan jumlah kampung di Desa kanekes itu menunjukkan lahan garapan mereka semakin didesak oleh keperluan lahan untuk penyediaan permukiman. yaitu berbagai kaitan karuhun dengan alam semesta menurut perputaran waktu dan masa yang menempatkan mereka pada posisinya tertentu seperti digariskan pada awal eksistensinya. Orang Baduy hanya mengenal bahasa lisan. Tentunya. 5 dangka). Demikian juga halnya mengenai asal dan sebutan Orang Baduy sebaiknya dilihat dari segi apakah anggapan mereka tentang dirinya sendiri.574 orang. 1 panamping. asal-usul mereka dicatat dalam ingatan dari generasi ke generasi dalam cerita tentang karuhun mereka. dari pelbagai catatan dapat diketahui pertambahan kampung. yang melihat tentang catatan waktu ialah segala peristiwa dalam kehidupan masyarakatnya. 1891. 1929). yaitu tahun 1891. telah terjadi peningkatan penduduk hampir 20 kali lipat. dikenal dalam tatanan kehidupan mereka sebagai kampung dangka yang menurut catatan justru jumlah dangka pada masa kini semakin berkurang.672 orang dan tahun 1999 berjumlah 7. keadaan itu pun mengakibatkan dalam sistem perladangan mereka yang dikenal sebagai slash and burn lajunya semakin dipercepat yang menimbulkan tingkat kesuburan tanah semakin berkurang dari tahun ke tahun. penduduk dan lahan untuk permukiman menjadi semakin bertambah. yaitu sebutan yang diberikan oleh orang luar masyarakatnya dan mereka menyebut dirinya sendiri.547 orang (Tricht. sehingga lahan garapan berhuma mereka tidak berkurang. tahun 1986 terjadi penambahan menjadi 43 kampung (3:37:3). tahun 1908 berjumlah 1. Strategi penyediaan permukiman seperti itu. Padahal dalam strategi mereka untuk mengatasi keadaan serupa itu dikenal suatu cara penyediaan lahan permukiman (kampung) yang boleh berada di luar wilayah Desa Kanekes. Dalam menelaah penggunaan sebutan untuk orang Baduy. Sebutan terhadap orang Baduy dapat dibagi pada dua jenis. berjumlah menjadi 17 kampung (3:7:7). tahun 1995berjumlah 5. Akibat yang paling parah bagi Desa Kanekes. Hal itu. Pennings.Pada tahun 1888 Orang Baduy berjumlah 291 orang yang tinggal di 10 kampung. Keadaan ini menuntut penyediaan lahan untuk permukiman semakin bertambah.041 orang. tepatnya tahun 1929. Oleh karena itu. Tahun 1971 berjumlah 4. pada tahun 1975 menjadi 36 kampung (3:30:3).

Badoeien. Ia mengemukakan bahwa kata Baduy tidak ada konotasi sebagai kata hinaan dan juga tidak ada kaitannya dengan kata Badwi. van Trich. 1985. nama Baduy kini seperti telah digunakan sebagai sebutan untuk kelompok masyarakat yang tinggal di Desa Kanekes. adalah keturunan dari pelarian keraton Pajajaran yang melarikan diri ke sebelah selatan Banten dan terdesak oleh serangan Sultan Hasanuddin yang menyebarkan agama Islam di kawasan itu. Geisi. 1902). Selain kata itu kadangkala dikaitkan dengan kata Buddha. lokasi tempat tinggal mereka dianggap penting. yaitu kerajaan Pajajaran pada Abad ke-15 (misalnya. Jacobs dan Meijer. 1891. termasuk aspek linguistik (misalnya. sebagai sebutan yang menekankan hakekat dan nilai budayanya.yang panjang selama beberapa ratus tahun. nama sungai di sebelah utara Desa Kanekes. Bedoeis dikaitkan dengan kata badwi kelompok masyarakat Arab yang hidup secara nomaden di gurun pasir. Itu artinya. memberikan alasan tentang sebutan Baduy itu dikaitkan dengan unsur kebudayaan mereka sendiri. Bahkan penulis-penulis setelah kemerdekaan Indonesia seringkali mengaitkan asal-usul mereka dengan keruntuhan kerajaan SundaHindu terakhir di Jawa Barat. Pennings. Selain. Djunaedi dkk. tetapi semata-mata nama Baduy yang berasal dari kata Cibaduy. Karena itu.. untuk menyebut diri sendiri memang merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Sunda menyebut nama kampung atau tempat bermukim. ada pula kemungkinan bahwa kata Badoeis. 1952). Badoei dan Bedoeis oleh orang-orang Belanda seringkali ditunjang pula oleh laporan-laporan resmi para pejabat pemerintahan kolonial. buda yang berarti tidak beragama Islam. Kegalauan sebutan terhadap penduduk Kanekes baik oleh warga masyarakat bukan Baduy maupun penulis-penulis asing pada permulaan Abad ke-18 dan Abad ke-19 memperlihatkan perkiraan yang mempertimbangkan semua aspek dan mencoba mencari jawabannya. sebutan untuk orang Baduy yang merupakan masalah oleh semua penulis. Pleyte (1909). tampaknya bermula setelah agama Islam masuk ke wilayah Banten utara pada Abad ke-16. Kampung dan Ikatan Kerabat Untuk melihat kekerabatan orang Baduy. tempat dilahirkan atau tempat yang dapat memberikan arti penting dalam kehidupannya. tidaklah mengherankan apabila sebutan urang Kanekes dipakai pula oleh mereka. masalah asal juga menjadi bahan kajian yang tidak hentinya-hentinya (Jacobs dan Meijer. dan Danasasmita. Sehubungan dengan itu. Orang Baduy menurut pandangan yang dikemukakan penulis itu. Lokasi permukiman itu menentukan pada kedudukan mana terletak seseorang sebagai . 1986). Dengan demikian. Dari penulis asing tampaknya ada kecenderungan persamaan pandangan dalam hal asal orang Baduy. mereka beranggapan bahwa asal orang Baduy bukan dari Banten utara ataupun pelarian dari kerajaan Pajajaran tetapi mereka adalah orang-orang setempat yang sudah berada di sana sejak lama sebelum pengaruh Islam tiba dan mengubah kepercayaan setempat. 1929. 1891. Pembakuan sebutan Badawi.

Dalam kenyataannya Geise tidak menyebutkan istilah itu. dan (4) menentukan bagaimana seseorang harus berperilaku terhadap seseorang yang lain sesuai dengan aturan-aturan kekerabatan yang disepakati bersama. dan saling hubungan antarstatus sesuai dengan prinsip-prinsip budaya yang berlaku terutama digunakan untuk: (1) menarik garis pemisah antara kaum-kerabat (kin) dan bukan kaum-kerabat (non-kin). Zuid Banten. Namun demikian. kalau pun ada perbedaan terletak pada tua dan muda dari sisi generasi. kampung panamping. Kerabat yang lebih muda cukup dengan mengikuti yang tertua. mengungkapkan bahwa kekerabatan Orang Baduy tidak menyimpang dari model klasik yang dibuat oleh van Wouden (1935).C. Oleh karena itu. (2) menentukan hubungan kekerabatan seseorang dengan yang lain secara tepat. Kalau bisa dipakai pun. Geise (1952) dalam disertasinya yang berjudul Badujs en Moslims in Lebak Parahiang. Demikian juga halnya dengan pembagian kombala. untuk beberapa masyarakat Indonesia Timur. pola tempat tinggal sesudah kawin. Dalam kekerabatan orang Baduy. ada beberapa perubahan yang terjadi disebabkan isolasi yang dilakukan Orang Baduy sendiri. ekpresi orang Baduy menyatakan bahwa seluruh wilayah Desa Kanekes adalah tangtu teulu jaro tujuh. istilah kekerabatan atau kinship dalam tulisan ini mengacu pada sejumlah status (posisi atau kedudukan sosial). dan garis keturunan (double descent) serta suatu preferensi untuk perkawinan antarsepupu (cross-cousins marriage) dengan kedudukan yang utama untuk saudara laki-laki dari pihak ibu. Temuan Geise tentang sistem kekerabatan Orang Baduy yang sebagaimana model Van Wouden itu dibantah oleh Berthe. Namun begitu. Selain itu. Model van Wouden itu berdasarkan perkawinan asimetris (asymetric connumbium). Artinya. . yaitu: pertama tentang kampung tangtu. Prinsip kekerabatan tersebut. berupa tanah putih dan lumut yang dibawa dari tempat itu. Berthe berdasarkan kekerabatan Orang Baduy mengidentifikasi atas sesuatu sifat yang khas Orang Sunda. yaitu perlawanan (oposisi) antara kakak dan adik. Puun Cikeusik lah yang mengurus kunjungan tahunan ke Sasaka Domas tempat yang disucikan oleh orang Baduy. penempatan rumah di kampung yang dapat memberikan gambaran tentang kekerabatan dan kedudukannya dalam masyarakat. dapat pula dipahami berbagai sistem sosial lainnya seperti perkawinan.J. sebab ia menganggap bahwa model klasik yang diajukan itu hampir tidak bisa dipakai untuk menelaah kekerabatan Orang Baduy.keturunan para Batara. seharusnya akan diperoleh sesuatu istilah untuk saudara laki-laki dari pihak ibu di dalam terminologi kekerabatan Orang Baduy. Cikeusik dianggap yang tertua. Menurutnya. mengikuti ketentuan kerabat tua dan muda. (3) mengukur jauh/dekatnya hubungan kekerabatan seseorang dengan yang lain. kedua. Tentang hal itu. bahwa wilayah Kanekes seluruh penduduknya merupakan satu kerabat yang berasal dari satu nenek moyang. Hubungan antara sistem kekerabatan dan lokasi kampung dapat dilihat dari tiga sisi. dan ketiga pajaroan. Cikertawana yang menengah dan Cibeo yang termuda. dalam konteks Orang Baduy sebagaimana ditunjukkan oleh N. untuk memudahkan pembahasan kekerabatan.

dan sebutan tersebut menunjukkan bahwa mereka masih segolongan atau sekerabat dengan warga tangtu. Nungkulan dan Panyaweuyan. . Kaduketer. Atau. dengan jumlahnya menjadi 12 buah kampung pada tahun 1986. yaitu Cikeusik. Tangtu Cikeusik berkerabat dekat dengan warga dangka Cibengkung. Warga kampung tangtu Cikeusik berhubungan kerabat yang erat dengan warga kampung Pamoean dan Cipiit. sedangkan Tangtu Cibeo berkerabat dengan dangka Cihandam. Dangka adalah tempat tinggal bagi warga tangtu yang untuk sementara waktu tinggal di sana karena melanggar adat sebagaimana ditentukan oleh nenek moyang. dan kampung Cihulu. Kemudian hal yang dianggap penting dalam kaitan dengan ketentuan itu adalah adik tidak boleh melangsungkan perkawinan sebelum kakaknya melangsungkan perkawinan (ngarunghal). Kompol dan Kamancing. istilah Orang Baduy menyebut dengan baraya. sehingga dengan sendirinya mereka pun terkait pula dengan kampung asalnya di tangtu. Dalam perkembangannya kampung-kampung kaum daleum kini semakin bertambah. tangtu Cibeo dengan kampung Gajeboh.1987). yaitu tangtu merupakan nenek moyang atau karukun yang dengan istilah lain sebagai pusat dan dangka sebaga isi dari seluruh keturunannya. dan tangtu Cikertawana berkerabat dekat dengan dangka Cilenggor. dapat dikatakan bahwa warga kampung tangtu berkerabat dekat dengan 3 kampung. Adapun hirarki kekerabatan itu sesuai dengan urutan dari yang paling tua ke yang paling muda. Untuk sementara sampai dosanya dianggap lebur.Dari perlawanan itu ada kecenderungan yang dianggap paling baik bagi perkawinan anak laki-laki yang pertama (kakak) dari suatu garis keturunan dengan anak perempuan yang terakhir (adik) dari garis keturunan yang lain. Dalam prakteknya pada Orang Baduy tidak terdapat perbedaan antara sepupu persamaan (paralel-cousins) dan antarsepupu (cross-cousins) (Garna. tangtu Cikertawana dan tangtu Cibeo. Kelompok Asal Keturunan Orang Baduy mengelompok menurut asal keturunan tangtu. Pengembangan dari kampung induk merupakan pengembangan kerabat kaum daleum dari kampung induknya. sehingga ada kecenderungan dalam perkawinan itu terjadi dalam keluarga yang paling dekat. maka mereka tetap merupakan kerabat dekat. yaitu tangtu Cikeusik. melihat bahwa antara dangka dan tangtu adalah seperti rangka dengan isi yang pasti. sedangkan warga tangtu Cikertawana berkerabat dekat dengan warga kampung Cikopeng. Dengan demikian. Ikatan kerabat yang dekat itu berlaku pula terhadap warga yang tinggal di kampung-kampung Baduy-luar atau mereka menyebut panamping yang warganya disebut kaum daleum. Dalam kaitan itu. yang menurut Berthe (2000) dapat terjadi sampai dengan sepupu tingkat keempat. Garna (1988). Dari istilah warga dangka mereka itu disebut kaum dangka. yaitu keluarga luas yang tinggal dalam satu kampung. Jika mereka yang di dangka itu tidak dapat atau tidak mau kembali ke tangtu. Ada 3 kelompok kekerabatan dalam kesatuan orang tangtu. orang tangtu yang tinggal di dangka sebenarnya masih satu keluarga dengan warga kampung tangtu yang mengirimkan mereka ke sana.

terutama para jaro di panamping dan kampung dangka. menentukan posisi masing-masing dalam rangka suatu kesatuan masyarakat. yaitu tanggungan jaro duawelas yang bertugas mengawasi para jaro. yaitu tangtu dan panamping. Jasinga. Dalam kesatuan puun tersebut senioritas ditentukan berdasarkan alur kerabat bagi peranan tertentu dalam pelaksanaan adat dan keagamaan Sunda Wiwitan. Tempat mula menurunkan para Batara sebutan lain untuk para leluhur . Para puun diturunkan dari garis tua atau kakak sedangkan sultan-sultan Banten dari garis muda atau adik yang mempunyai peranannya masing-masing sesuai dengan hirarki tersebut (Garna. Rumah kokolot (ketua adat dan agama) adalah daerah sakral dan bagian belakang rumah biasanya bersambung ke hutan kampung. Namun dalam upacaraupacara keagamaan Sunda Wiwitan mereka mengikuti kampung asal istrinya. walaupun cenderung terdapat orientasi kepada pihak ibu (ambu). Mereka dianggap satu kesatuan pemimpin tertinggi untuk mengatasi semua aspek kehidupan di dunia dan mempunyai hubungan dengan karuhun. tempat Sasaka Pusaka Buana yang lebih dikenal dengan sebutan Sasaka Domas. Peranan untuk saling mengendalikan dan mengawasi ditentukan oleh sistem pajaroan yang dibentuk serta dipimpin oleh tangtu atau tiga puun. 1965). yaitu Parahyang. karena seorang pria juga dapat mengikuti istri ke kampung asalnya. Asal Pemimpin Untuk mengetahui asal mula pemimpin dan pamarentahan Baduy dapat ditelusuri dari folklor yang hidup di tiga daerah tangtu yang berkaitan dengan manusia pertama yang turun ke dunia. Makin ke arah selatan daerahnya makin sakral. Berdasarkan konsep itu dalam menjalankan pemerintahannya. Dalam pamarentahan Baduy dikenal suatu sistem pemimpin yang meliputi sejumlah pejabat dengan sebutan sendiri-sendiri. Keadaan itu tampaknya tidak berlaku mutlak untuk seorang wanita yang mengikuti keluarga luas suaminya. yaitu wilayah tangtu (sakral) dan wilayah panamping (profan). biasanya seorang pria membawa istrinya ke kampung tangtu tempat tinggal keluarga luasnya dan membuat rumah baru. Menurut Garna (1988). Jampang. sehingga para pemimpin yang ada di bawahnya dan warga masyarakat Baduy tunduk dan patuh kepadanya. dan Cibeo. Dalam kaitan ini sistem kekerabatan orang Baduy terkait dengan organisasi sosial Banten (Berthe. yakni para puun. Seluruh Desa Kanekes terbagi dalam dua wilayah penting. Derajat sakral menurut bagian kampung dengan arah seperti itu berlaku pula dihampir setiap kampung panamping. Puun memiliki kekuasaan dan kewibawaan yang sangat besar. Di daerah kampung tangtu yang sakral pun masih terdapat daerah tersakral yang tidak boleh diinjak orang luar. mitologi Baduy mengungkapkan bahwa Batara Tunggal Karang menurunkan 7 anak (batara) yang memerintah di 7 wilayah. Dalam kaitan itu. dan daerah tersuci adalah hulu Ciujung. Puun mengangkat seorang jaro. Bombang dan Banten. Sajra. Pembagian yang memotong seluruh warga masyarakat Baduy dalam dua paroh masyarakat. 1988).Cikertawana. yaitu rumah puun dan daerah sekitarnya. Orientasi setiap pemimpin kepada pemimpin tertinggi. semua lingkup dan mekanisme menjalankan kekuasaan tercakup dalam tiga tangtu dan tujuh jaro.

anaknya kemudian menjadi puun Cikertawana. Tuturan lainnya. Asal Pamarentahan Baduy Dengan demikian. setelah semua batara dan daleum menghilang. Batara Patanjala merupakan anak laki-laki kedua dari Batara Tunggal yang mempunyai 7 orang anak. Karena itu. yakni puun Cikeusik. dan Batara Bungsu. bahwa kejeroan semuanya adalah anak-cucu puun perempuan. Sedangkan daleum Cinangka menurunkan para girang seurat. peristiwa itu mereka menyebutkan sebagaimana dikehendaki oleh nu ngersakeun. yaitu sepasang puun. namun semuanya terikat oleh satu hubungan kerabat yang erat. Dalam perkembangannya kemudian. menyebutkan. bagi orang Baduy seorang pemimpin dalam pamarentahan (jaro. berasal dari keturunan para puun yang artinya. Dan daleum Seda Hurip penurunkan puun Cibeo. daleum Langondi menurunkan Puun Cikertawana. satu sama lain terikat oleh garis kerabat. ialah daleum Janggala. . Daleum Janggala menurunkan puun Cikeusik. bahwa dari mulai ada alam dan dunia hanya dihuni oleh dua orang. daleum Sorana.mereka. Mereka itulah oleh Orang Baduy dikenal sebagai nenek moyang Orang Tangtu. mengemukakan bahwa puun Cikeusik lah manusia pertama yang ada di dunia. 6 orang laki-laki dan seorang perempuan. yaitu puun Cikeusik. daleum Lagondi. Ketujuh anak Batara Pantajala. girang seurat. Dalam konteks itu. adalah di Sasaka Domas yang setelah menurunkan para Batara kemudian turun para daleum. kokolot. Baru kemudian menyusul puun Cikertawana dan Cibeo. Tuturan tersebut. tempat tersebut merupakan pusat dunia (Pancer Bumi) dan tempat suci dari suatu awal kelahiran manusia serta Mandala Sunda. ciri penting dalam pamarentahan Baduy. daleum Putih Seda. daleum Cinangka. terletak pada diferensiasi peran dan pembagian jabatan yang terpisahkan melalui struktur sosial. tangkesan kokolotan. Nini Hujung Galuh. menurunkan para kokolot dan Nini Hujung Galuh menurunkan para jaro dangka. maka tinggal para puun yang meneruskan kehadiran manusia di dunia. Manusia pertama di dunia atau yang tertua adalah sepasang. daleum Sorana. dan baresan). Itu maknanya. Anak puun Cikeusik menjadi puun Cibeo.

dan melaksanakan ketentuan puun. yang . Hal itu. yaitu: pertama.Perbedaan peran yang mendasar antara para pemimpin yang disebut puun dan yang disebut para jaro. mengatur. Dalam situasi seperti itu warga masyarakat dituntut patuh memenuhi ketentuan pikukuh yang telah digariskan para karukun. Ia bertugas atas nama puun untuk mengawasi. Yang menjadi pemimpin pikukuh. Di kampung dangka terdapat seorang pemimpin adat dan agama yang disebut jaro dangka. para puun berhubungan dengan dunia sakral dan para jaro berhubungan dengan dunia profan. Selain itu. pengasuhan. ia pun harus turut serta seba ke ibukota kabupaten di Rangkasbitung dan keresiden Banten yang kini Gubernur di Serang. sehingga kehidupan warga masyarakatnya dapat berlangsung dengan tertib. dan ia juga dapat berkumpul di tangtu dalam upacara keagamaan penting. hubungan dengan kaum kerabat. kepala keluarga inti mengatur kehidupan para anggota keluarganya. Ia meneruskan dan mengawasi ketentuan karuhun yang disampaikan melalui puun. Urusan dan pengaturan yang dilakukannya ialah membina kehidupan keluarga intinya. Pamarentahan Baduy Di rumah. ada dua orang yang dituakan dalam kampung panamping namun berfungsi berbeda. Dalam pamarentahan Baduy. bepergian. Rumah kokolot lembur dianggap sakral yang tidak boleh diinjak orang asing. yang lamanya disesuaikan dengan berat ringannya pelanggaran. Ia bertugas sebagai kokolot lembur dan sekaligus pula bertindak sebagai kokolotan lembur. pendidikan anak dan turut serta dalam berbagai upacara. termasuk pengawasan sosial terhadap aturan adat. para puun menerima tanggung jawab tertinggi pada hal-hal yang berhubungan dengan pengaturan harmonisasi kehidupan sosial dan religius. Jaro tangtu diangkat menurut alur keturunan dari para jaro terdahulu. berhuma. Oleh karena itu. adalah pada tanggung jawab yang berurusan dengan aktivitasnya. Selain itu. Atau. Pada tingkat kampung ada beberapa jenis pemimpin. menyelenggarakan perkawinan. Atau. Pelanggaran terhadap pikukuh berarti telah siap menerima hukuman berupa pengusiran dari daerah tangtu. jaro dangka juga diharuskan turut serta dalam upacara membersihkan kampung tangtu dari dosa yang ditinggalkan oleh si pelanggar. bagi masyarakat panamping melanggar ketentuan itu berarti harus menangung kewajiban bekerja di huma puun. melakukan perhitungan untuk menentukan saat mulai menanam. kokolotan lembur yang kedudukannya sejajar dengan ketua rukun kampung dalam sistem pemerintahan formal. maksudnya agar para guriang yang kehadirannya dianggap penting sebagai penjaga keselamatan masuk ke kampung melalui rumah kokolot. kokolot lembur. karena para puun berurusan dengan dunia gaib sedangkan para jaro bertugas menyelesaikan persoalan duniawi. Kedua. Karena itu. Pemimpin kampung tangtu adalah jaro tangtu. rumah kokolot terletak di bagian paling ujung dari jajaran paling luar yang berbatasan langsung dengan hutan kampung. dengan perkataan lain.

terutama untuk persiapan dan pelaksanaan seba. Jumlahnya tergantung dari kekerapan kerja. yang disebut baresan (barisan. Jaro tangtu membantu seurat dan puun secara langsung. Jabatan seurat hanya ada di Cikeusik dan Cibeo. Jaro warega berperan dalam upacara keagamaan. ia adalah pembantu utama tanggungan jaro duawelas. seurat dan lainnya. termasuk jaro tangtu. Apabila calon jaro tangtu dianggap siap. Semacam dewan penasihat puun terdapat di setiap kampung tangtu. Puun dalam menjalankan aktivitasnya dibantu oleh sejumlah pejabat adat dan agama. walaupun ia masih muda. Semua pemimpin bawahan termasuk jaro pamarentah harus tunduk kepada mereka. Pada tingkat tangtu terdapat tiga puun. yaitu carik adalah juru tulis desa yang selalu berasal dari luar Kanekes. Pengawasan para puun mampu . yang dengan penuh bijaksana harus mampu melaksanakan semuanya. Dukun-dukun pada tingkat kampung lainnya selain berada di bawah pengawasan puun juga diamati oleh tangkesan. kepala desa yang pengangkatannya disetujui oleh kedua belah pihak. dan dua orang pangiwa. Dengan demikian seorang puun didukung oleh panasihat batin melalui tangkesan dan penasihat pelaksanaan pikukuh oleh baresan salapan. Dalam pamarentahan Baduy. Arti kata jaro sendiri adalah ketua kelompok atau pemimpin. yaitu tiga jaro tangtu. pembantu jaro pamarentah yang berasal dari panamping. Penyampaian berita dan lain-lainnya dilakukan oleh pembantu umum. ia dapat saja diangkat. Jaro pamarentah. Pada tingkat panamping terdapat seorang jaro yang tidak hanya mengurus dan mengatur seluruh jaro. Jaro pamarentah dibantu oleh paling tidak tiga orang pembantu utama. dan seorang jaro pamarentah. maka ia adalah koordinator kerja para jaro yang dalam pamarentahan Baduy dikenal dengan sebutan jaro duawelas. Fungsi baresan adalah membantu puun dan jaro tangtu memecahkan berbagai masalah dan melaksanakan pikukuh. tetapi pada posisi pimpinan dalam Sunda Wiwitan. Ia biasanya berasal dan berkedudukan di kampung Cikopeng. tetapi tidak ada di Cikertawana. tetapi juga berkuasa mutlak sebagai pengawas serta pelaksana tertinggi pikukuh di panamping. adalah jaro Kanekes. upacara dan pelaksanaan pikukuh. dewan atau kumpulan) atau sering disebut baresan salapan. Masa kerja seorang jaro pamarentah tergantung dari lamanya dan sejauh mana ia mampu melaksanakan kebijaksanaan pengimbang dimaksud. seperti seurat atau girang seurat yang menjadi pembantu puun untuk berbagai hal. tetapi juga untuk seluruh Kanekes. Puun mempunyai staf yang lengkap. Acuan ke atas juga dua yaitu puun dan camat. Karena itu seorang jaro pamarentah merupakan pengimbang di antara kedua kategori pemimpin itu. tujuh orang jaro dangka. karena terdiri dari sembilan orang tokoh. Dari keduabelas jaro. para puun dan pemerintah daerah. seorang jaro warega. Pejabat adat dan agama tertinggi yang berfungsi sebagai penasihat ialah tangkesan yang juga disebut dukun putih. yang tidak hanya menjadi pemimpin agama dan adat tertinggi di kampung tangtu. istilah jaro banyak digunakan.disiapkan oleh pikukuh langsung di bawah tangkesan dan pengawasan puun.

Garna. Leid .I. yaitu: ‘nu lain kudu dilainkeun. 1987. nu enya kudu dienyakeun. sedangkan seorang pemimpin politik dihubungkan dengan garis keturunan yang paling muda. sedangkan aktivitas ritual dan keagamaan berada di tangtu Cikeusik. 2000. pamarentahan Baduy berfungsi untuk mensucikan dan membuat tapa dunia. Garna. termasuk memelihara alam sebagai pusat dunia. Judistira K. Disertasi. yang benar harus dikatakan benar dan yang dilarang harus dikatakan dilarang. Tangtu Telu Jaro Tujuh Kajian Struktutal Masyarakat baduy di Banten Selatan Jawa Barat Indonesia. Kekerabatan. kegiatan duniawi dipusatkan di tangtu Cibeo. Pendidikan & Kebudayaan R. Judistira K. DAFTAR PUSTAKA Berthe. N.seorang pemimpin agama dihubungkan dengan garis keturunan yang paling tua. sedangkan seorang pemimpin politik mengurus kehidupan duniawi termasuk mengurus dan memelihara kelestarian tanah. Orang Baduy. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia. Dep. 1988. Artinya. yang bukan harus dikatakan bukan. Karena diantara keduanya saling memberikan pengaruh untuk mengokohkan tradisi Baduy yang bersandar pada pikukuh karuhun. Dalam konteks itu.J.C. 1985. Tesis Ph. Louis. Saleh dan Anis Djatisunda. Danasasmita. sedangkan dunia beserta isinya dijaga oleh keturunan muda. Kekuasaan agama dihubungkan dengan para leluhur atau karuhun dan kekuasaan politik dihubungkan dengan aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. 1952 Badujs en Moslims in Lebak Parahiang. Itu artinya. seorang pemimpin agama mewujudkan identatis masyarakat Baduy. Bandung Proyek Sundanologi. Bandung: Primaco Akademika. Kehidupan Masyarakat Kanekes. Untuk melangsungkan aktivitasnya itu. Garna. Geise. Universiti Kebangsaan Malaysia. Terjemahan Judistira K.D. nu ulah kudu diulahkeun’.menjangkau wilayah dan seluruh warga Kanekes melalui tanggungan jaro duawelas dan dukun-dukun lembur serta kokolot dan kokolotan lembur. Kekuasaan dan Cara Berproduksi. Namun tangtu dalam menjalankan aktivitasnya itu saling menyokong dan sekaligus saling terikat. Zuid Banten. dan sultan-sultan Banten yang harus membuat dunia ramai.

Asal Usul dan Sebutan. Badoei dan Bedoeis oleh orang-orang Belanda seringkali ditunjang pula oleh laporan-laporan resmi para pejabat pemerintahan kolonial. Pembakuan sebutan Badawi.935 orang. kemudian tahun 1966 meningkat lagi menjadi 3. lokasi tempat tinggal mereka dianggap penting. dari keadaan itu menuntut penyediaan lahan untuk permukiman semakin bertambah. tidaklah mengherankan apabila sebutan urang Kanekes dipakai pula oleh mereka.057 orang.407 orang yang tinggal di 26 kampung (Jacobs. pola tempat tinggal sesudah kawin.000-an orang (Kartawinata. nama sungai di sebelah utara Kanekes. sebagai sebutan yang menekankan hakekat dan nilai budayanya. Selain itu. sepuluh tahun kemudian berjumlah 5. 1891. dapat pula dipahami berbagai sistem sosial lainnya seperti perkawinan. Bagi Orang Baduy. Sehubungan dengan itu. penempatan rumah di kampung yang dapat memberikan gambaran . sebagai dataran tinggi yang bergunung dengan lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai dan hulu-hulu sungai yang mengalir ke sebelah utara. tempat dilahirkan atau tempat yang dapat memberikan arti penting dalam kehidupannya. Pennings.521 orang (Tricht. Pertambahan jumlah kampung di Desa kanekes itu menunjukkan lahan garapan mereka semakin didesak oleh keperluan lahan untuk penyediaan permukiman. tetapi semata-mata nama Baduy yang berasal dari kata Cibaduy. sedangkan tahun berikutnya meningkat menjadi 1. Awal tahun 1980 penduduk Desa Kanekes menjadi 4. Lokasi permukiman itu menentukan pada kedudukan mana terletak seseorang sebagai keturunan para Batara. Tentunya.Desa Kanekes adalah salah satu desa di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Propinsi Banten. seperti pada Tabel Perkembangan Kampung Baduy Tahun 1891 – 2000. Bedoeis dikaitkan dengan kata badwi kelompok masyarakat Arab yang hidup secara nomaden di gurun pasir.Tentunya. Badoeien. Itu artinya. dari pelbagai catatan dapat diketahui pertambahan jumlah kampung.101. keadaan itu pun mengakibatkan dalam sistem perladangan mereka yang dikenal sebagai slash and burn lajunya semakin dipercepat dari masa 7 tahun menjadi 3 tahun pada satu lokasi huma yang sama dengan percepatan penggarapan itu menimbulkan akibat tingkat kesuburan tanah semakin berkurang. Karena itu. kata Baduy tidak ada kaitannya dengan kata Badwi. 1929). yang melihat tentang catatan waktu ialah segala peristiwa dalam kehidupan masyarakatnya. seluas 5. Namun menurut Pleyte (1909). Kampung dan Ikatan Kerabat. Bagian tengah dan selatan desa merupakan hutan lindung atau Orang Baduy sering menyebutnya hutan tutupan. ada pula kemungkinan bahwa kata Badoeis.600 orang dan tahun 1999 menjadi 7. Meijer. Untuk melihat kekerabatan orang Baduy. untuk menyebut diri sendiri memang merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Sunda menyebut nama kampung atau tempat bermukim. 2000). tahun 1928 berjumlah 1. Pada tahun 1888 Orang Baduy berjumlah 291 orang yang tinggal di 10 kampung.1902). Asal-usul mereka dicatat dalam ingatan dari generasi ke generasi dalam cerita tentang karuhun.85 hektar. proses waktu merupakan perjalanan riwayat dunia yang setara dengan keadaan alam semesta.

Dalam kenyataannya Geise tidak menyebutkan istilah itu. Menurutnya. Model van Wouden berdasarkan perkawinan asimetris (asymetric connumbium). ada beberapa perubahan yang terjadi disebabkan isolasi yang dilakukan Orang Baduy sendiri. Dari perlawanan itu ada kecenderungan yang dianggap paling baik bagi perkawinan anak laki-laki yang pertama (kakak) dari suatu garis keturunan dengan anak perempuan yang terakhir (adik) dari garis keturunan yang lain. yang menurut Berthe (2000) dapat terjadi sampai dengan sepupu tingkat keempat. Adapun hirarki kekerabatan itu sesuai dengan urutan dari yang paling tua ke yang paling muda. menentukan posisi masing-masing dalam rangka suatu kesatuan masyarakat. kampung panamping. Cikartawana. Ada 3 kelompok kekerabatan dalam kesatuan. yaitu: pertama tentang kampung tangtu. Orang Baduy mengelompok menurut asal keturunan tangtu. Atau. yaitu tangtu dan panamping.C. Seluruh Desa Kanekes terbagi dalam dua wilayah penting. dan ketiga pajaroan. . yaitu keluarga luas yang tinggal dalam satu kampung. ekpresi orang Baduy menyatakan seluruh wilayah Desa Kanekes adalah tangtu teulu jaro tujuh. sehingga ada kecenderungan dalam perkawinan itu terjadi dalam keluarga yang paling dekat. Kemudian hal yang dianggap penting dalam kaitan dengan ketentuan itu adalah adik tidak boleh melangsungkan perkawinan sebelum kakaknya melangsungkan perkawinan (ngarunghal). Kalau bisa dipakai pun. Dalam prakteknya pada Orang Baduy tidak terdapat perbedaan antara sepupu persamaan (paralel-cousins) dan antarsepupu (cross-cousins) (Garna. yaitu wilayah tangtu (sakral) dan wilayah panamping (profan). Hal itu. Geise (1952). istilah Orang Baduy menyebut dengan baraya. yaitu Cikeusik. Prinsip kekerabatan dalam konteks Orang Baduy sebagaimana ditunjukkan oleh N. seharusnya akan diperoleh sesuatu istilah untuk saudara laki-laki dari pihak ibu di dalam terminologi kekerabatan Orang Baduy. yaitu tangtu Cikeusik. untuk beberapa masyarakat Indonesia Timur. Tentang hal itu.1987). sebab ia menganggap bahwa model klasik yang diajukan itu hampir tidak bisa dipakai untuk menelaah kekerabatan Orang Baduy. Temuan Geise tentang sistem kekerabatan Orang Baduy yang sebagaimana model Van Wouden itu dibantah oleh Berthe.J. Namun begitu. kedua. yaitu perlawanan (oposisi) antara kakak dan adik. tangtu Cikartawana dan tangtu Cibeo. Kelompok Asal Keturunan. dan garis keturunan (double descent) serta preferensi perkawinan antarsepupu (cross-cousins marriage) dengan kedudukan yang utama untuk saudara laki-laki dari pihak ibu.tentang kekerabatan dan kedudukannya dalam masyarakat. berpengaruh pada pembagian warga masyarakat Baduy dalam dua paroh masyarakat. Berthe berdasarkan kekerabatan Orang Baduy mengidentifikasi atas sesuatu sifat yang khas Orang Sunda. Hubungan antara sistem kekerabatan dan lokasi kampung dapat dilihat dari tiga sisi. dan Cibeo. tidak menyimpang dari model klasik yang dibuat oleh van Wouden (1935).

Urusan dan pengaturan yang dilakukannya ialah membina kehidupan keluarga intinya. yakni seorang kepala keluarga inti mengatur kehidupan para anggota keluarganya. yaitu tanggungan jaro duawelas yang bertugas mengawasi para jaro. Mereka dianggap satu kesatuan pemimpin tertinggi untuk mengatasi semua aspek kehidupan di dunia dan mempunyai hubungan dengan karuhun. kokolot. Dalam situasi seperti itu warga masyarakat dituntut patuh memenuhi ketentuan pikukuh yang telah digariskan para karukun. para puun berhubungan dengan dunia sakral dan para jaro berhubungan dengan dunia profan. Atau. bagi orang Baduy seorang pemimpin dalam pamarentahan (jaro. berasal dari keturunan para puun yang artinya. termasuk pengawasan sosial terhadap aturan adat. Puun mengangkat seorang jaro. Dalam konteks itu. . Dalam pamarentahan Baduy dikenal suatu sistem pemimpin yang meliputi sejumlah pejabat dengan sebutan sendiri-sendiri. Oleh karena itu. yang lamanya disesuaikan dengan berat ringannya pelanggaran. sehingga para pemimpin yang ada di bawahnya dan warga masyarakat Baduy tunduk dan patuh kepadanya. para puun menerima tanggung jawab tertinggi pada hal-hal yang berhubungan dengan pengaturan harmonisasi kehidupan sosial dan religius. Pelanggaran terhadap pikukuh berarti telah siap menerima hukuman berupa pengusiran dari daerah tangtu. Orientasi setiap pemimpin kepada pemimpin tertinggi. adalah pada tanggung jawab yang berurusan dengan aktivitasnya. Perbedaan peran yang mendasar antara para pemimpin yang disebut puun dan yang disebut para jaro. Dalam kesatuan puun tersebut senioritas ditentukan berdasarkan alur kerabat bagi peranan tertentu dalam pelaksanaan adat dan keagamaan Sunda Wiwitan. karena para puun berurusan dengan dunia gaib sedangkan para jaro bertugas menyelesaikan persoalan duniawi. terletak pada diferensiasi peran dan pembagian jabatan yang terpisahkan melalui struktur sosial. Pamarentahan di Kanekes. ciri penting dalam pamarentahan Baduy. dan baresan). semua lingkup dan mekanisme kekuasaan tercakup dalam tiga tangtu dan tujuh jaro. yakni para puun. dimulai dari lingkungan rumah. dengan perkataan lain. girang seurat. berhuma. namun semuanya terikat oleh satu hubungan kerabat yang erat. hubungan dengan kaum kerabat. bagi masyarakat panamping melanggar ketentuan itu berarti harus menangung kewajiban bekerja di huma puun.Peranan untuk saling mengendalikan dan mengawasi ditentukan oleh sistem pajaroan yang dibentuk serta dipimpin oleh tangtu atau tiga puun. tangkesan kokolotan. sehingga kehidupan warga masyarakatnya dapat berlangsung dengan tertib. satu sama lain terikat oleh garis kerabat. Dalam pamarentahan Baduy. Atau. Dengan demikian. Berdasarkan konsep itu dalam menjalankan pemerintahannya. Puun memiliki kekuasaan dan kewibawaan yang sangat besar. terutama para jaro di panamping dan dangka.

Pemimpin tangtu adalah jaro tangtu. Jaro pamarentah dibantu oleh paling tidak tiga orang pembantu utama. Jaro tangtu diangkat menurut alur keturunan dari para jaro terdahulu. seorang jaro warega. pembantu jaro pamarentah yang berasal dari panamping. ada dua orang yang dituakan dalam kampung panamping namun berfungsi berbeda. yang disiapkan oleh pikukuh langsung di bawah tangkesan dan pengawasan puun.melakukan perhitungan untuk menentukan saat mulai menanam. kepala desa yang pengangkatannya disetujui oleh kedua belah pihak. mengatur. yaitu tiga jaro tangtu. terutama untuk persiapan dan pelaksanaan seba. Yang menjadi pemimpin pikukuh. bepergian. Dari keduabelas jaro. dan ia juga dapat berkumpul di tangtu dalam upacara keagamaan. Kedua. tujuh orang jaro dangka. maka ia adalah koordinator kerja para jaro yang dalam pamarentahan Baduy dikenal dengan sebutan jaro duawelas. walaupun ia masih muda. Ia bertugas atas nama puun untuk mengawasi. Pada tingkat kampung ada beberapa jenis pemimpin. Arti kata jaro sendiri adalah ketua kelompok atau pemimpin. Acuan ke atas juga dua yaitu puun dan camat. dan melaksanakan ketentuan puun. menyelenggarakan perkawinan. Di dangka terdapat seorang pemimpin adat dan agama yang disebut jaro dangka. Ia bertugas sebagai kokolotan lembur dan sekaligus pula bertindak sebagai kokolot lembur. para puun dan pemerintah daerah. dan seorang jaro pamarentah. Itu artinya. Selain itu. yaitu: pertama. pendidikan anak dan turut serta dalam berbagai upacara. yang dengan penuh bijaksana harus mampu melaksanakan semuanya. tetapi pada posisi pimpinan dalam Sunda Wiwitan. adalah jaro Kanekes. pengasuhan. Apabila calon jaro tangtu dianggap siap. ia dapat diangkat. ia pun harus turut serta seba ke ibukota kabupaten di Rangkasbitung dan keresiden Banten yang kini menjadi Gubernur di Serang. dan dua orang pangiwa. Jaro warega berperan dalam upacara keagamaan. dalam pamarentahan Baduy. tetapi juga berkuasa mutlak sebagai pengawas serta pelaksana tertinggi pikukuh di panamping. yaitu carik adalah juru tulis desa yang selalu berasal dari luar Kanekes. . Karena itu seorang jaro pamarentah merupakan pengimbang di antara kedua kategori pemimpin itu. Dalam pamarentahan Baduy. ia adalah pembantu utama tanggungan jaro duawelas. jaro dangka diharuskan turut serta dalam upacara membersihkan tangtu dari dosa yang ditinggalkan oleh si pelanggar. kokolot lembur yang kedudukannya sejajar dengan ketua rukun kampung dalam sistem pemerintahan formal. Ia meneruskan dan mengawasi ketentuan karuhun yang disampaikan melalui puun. Masa kerja seorang jaro pamarentah tergantung dari lamanya dan sejauh mana ia mampu melaksanakan kebijaksanaan pengimbang dimaksud. kokolotan lembur. istilah jaro banyak digunakan. Pada tingkat panamping terdapat seorang jaro yang tidak hanya mengurus dan mengatur seluruh jaro. Selain itu. Jaro pamarentah.

sedangkan aktivitas keagamaan berada di tangtu Cikeusik. Kekuasaan agama dihubungkan dengan para leluhur atau karuhun dan kekuasaan politik dihubungkan dengan aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. yang tidak hanya menjadi pemimpin agama dan adat tertinggi di kampung tangtu. yaitu: ‘nu lain kudu . karena terdiri dari sembilan orang tokoh. tetapi tidak ada di Cikartawana. Puun mempunyai staf yang lengkap. yang disebut baresan (barisan. seorang pemimpin agama mewujudkan identatis masyarakat Baduy. Fungsi baresan adalah membantu puun dan jaro tangtu memecahkan berbagai masalah dan melaksanakan pikukuh. Dalam konteks itu. Jumlahnya tergantung dari kekerapan kerja. termasuk jaro tangtu. Dukun-dukun pada tingkat kampung lainnya selain berada di bawah pengawasan puun juga diamati oleh tangkesan. pamarentahan Baduy berfungsi untuk mensucikan dan membuat tapa dunia. Puun dalam menjalankan aktivitasnya dibantu oleh sejumlah pejabat adat dan agama. upacara dan pelaksanaan pikukuh. tetapi juga untuk seluruh Kanekes. Untuk melangsungkan aktivitasnya itu. Semacam dewan penasihat puun terdapat di setiap kampung tangtu. Namun tangtu dalam menjalankan aktivitasnya itu saling menyokong dan sekaligus saling terikat. Ia biasanya berasal dan berkedudukan di kampung Cikopeng. seurat dan lainnya. Penyampaian berita dan lain-lainnya dilakukan oleh pembantu umum.seorang pemimpin agama dihubungkan dengan garis keturunan yang paling tua. Pengawasan para puun mampu menjangkau wilayah dan seluruh warga Kanekes melalui tanggungan jaro duawelas dan dukun-dukun lembur serta kokolotan lembur. Jaro tangtu membantu seurat dan puun secara langsung.geocities. Jabatan seurat hanya ada di Cikeusik dan Cibeo. Karena diantara keduanya saling memberikan pengaruh untuk mengokohkan tradisi Baduy yang bersandar pada pikukuh karuhun. dewan atau kumpulan) atau sering disebut baresan salapan. sedangkan seorang pemimpin politik dihubungkan dengan garis keturunan yang paling muda. termasuk memelihara alam sebagai pusat dunia. dan sultan-sultan Banten yang harus membuat dunia ramai. sedangkan seorang pemimpin politik mengurus kehidupan duniawi termasuk mengurus dan memelihara kelestarian tanah. seperti seurat atau girang seurat yang menjadi pembantu puun untuk berbagai hal. kegiatan duniawi dipusatkan di tangtu Cibeo. sedangkan dunia beserta isinya dijaga oleh keturunan muda. GAMBAR: STRUKTUR PAMARENTAHAN BADUY http://www.com/puslitmasbud_unpad/BAGAN_BADUY.Pada tingkat tangtu terdapat tiga puun. Itu artinya.gif Dengan demikian seorang puun didukung oleh panasihat batin melalui tangkesan dan penasihat pelaksanaan pikukuh oleh baresan salapan. Semua pemimpin bawahan termasuk jaro pamarentah harus tunduk kepada mereka. Pejabat adat dan agama tertinggi yang berfungsi sebagai penasihat ialah tangkesan yang juga disebut dukun putih.

Pendekatan Antropologi pada Perilaku Politik. nu ulah kudu diulahkeun’. Louis. 85 – 112. .dilainkeun. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.I. Pendidikan & Kebudayaan R. yang benar harus dikatakan benar dan yang dilarang harus dikatakan dilarang.com/group/lingkungan/message/33768 DAFTAR PUSTAKA Brandewie.yahoo. Kehidupan Masyarakat Kanekes. Eggan. Fred. nu enya kudu dienyakeun. 2000. Kekerabatan. Garna. yang bukan harus dikatakan bukan. Dalam Frank McGlynn dan Arthur Tuden. Kekuasaan dan Cara Berproduksi. Danasasmita. Saleh dan Anis Djatisunda. Bandung: Primaco Akademika. 2000. Artinya. Bandung Proyek Sundanologi. Judistira K. Terjemahan Suwargono dan Nugroho. E. 1966. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Chicago. Berthe. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia. 2000. Frank McGlynn dan Arthur Tuden. Garna. Terjemahan Judistira K. Orang Baduy. Pendekatan Antropologi pada Perilaku Politik. Terjemahan Suwargono dan Nugroho. Tempat Orang Besar dalam Masyarakat Hagen Tradisional di Dataran Tinggi Tengah Nugini. 1987. 2000. Dep. 1985. http://groups. Hal. The American Indian.