BAB I LANDASAN TEORI

Distilasi adalah unit operasi yang sudah ratusan tahun diaplikasikan secara luas. Di sperempat abad pertama dari abad ke-20 ini, aplikasi unit distilasi berkembang pesat dari yang hanya terbatas pada upaya pemekatan alcohol kepada berbagai aplikasi di hampir seluruh industri kimia. Distilasi pada dasarnya adalah proses pemisahan suatu campuran menjadi dua atau lebih produk lewat eksploitasi perbedaan kemampuan menguap komponen-komponen dalam campuran. Operasi ini biasanya dilaksanakan dalam suatu klom baki (tray column) atau kolom dengan isian (packing column) untuk mendapatkan kontak antar fasa seintim mungkin sehingga diperoleh unjuk kerja pemisahan yang lebih baik. Salah satu modus operasi distilasi adalah distilasi curah (batch distillation). Pada operasi ini, umpan dimasukkan hanya pada awal operasi, sedangkan produknya dikeluarkan secara kontinu. Operasi ini memiliki beberapa keuntungan : 1. Kapasitas operasi terlalu kecil jika dilaksanakan secara kontinu. Beberapa peralatan pendukung seperti pompa, tungku/boiler, perapian atau

instrumentasi biasanya memiliki kapasitas atau ukuran minimum agar dapat digunakan pada skala industrial. Di bawah batas minimum tersebut, harga peralatan akan lebih mahal dan tingkat kesulitan operasinya akan semakin tinggi. 2. Karakteristik umpan maupun laju operasi berfluktuasi sehingga jika dilaksanakan secara kontinu akan membutuhkan fasilitas pendukung yang mampu menangani fluktuasi tersebut. Fasilitas ini tentunya sulit diperoleh dan mahal harganya. Peralatan distilasi curah dapat dipandang memiliki fleksibilitas operasi dibandingkan peralatan distilasi kontinu. Hal ini merupakan salah satu alas an mengapa peralatan distilasi curah sangat cocok digunakan sebagai alat serbaguna untuk memperoleh kembali pelarut maupun digunakan pada pabrik skala pilot. Perangkat praktikum distilasi batch membawa para pengguna untuk mempelajari prinsip-prinsip dasar pemisahan

dengan operasi distilasi, seperti kesetimbangan uap cair dan pemisahan lewat multi tahap kesetimbangan. Perangkat ini dapat juga dimanfaatkan untuk mempelajari dasar-dasar penilaian untuk kerja kolom distilasi pacing dan mempelajari perpindahan massa dalam kolom distilasi packing.

Kesetimbangan Uap-Cair Seperti telah disampaikan terdahulu, operasi distilasi mengekspoitasi perbedaan kemampuan menguap (volatillitas) komponen-komponen dalam campuran untuk melaksanakan proses pemisahan. Berkaitan dengan hal ini, dasar dasar keseimbangan uap-cair perlu dipahami terlebih dahulu. Berikut akan diulas secara singkat pokok-pokok penting tentang kesetimbangan uap-cair guna melandasi pemahaman tentang operasi distilasi.

1.1.1

Harga-K dan Volatillitas Relatif Harga-K (K-Value) adalah ukuran tendensi suatu komponen untuk menguap. Jika harga-K suatu komponen tinggi, maka komponen tersebut cenderung untuk terkonsentrasi di fasa uap, sebaliknya jika harganya rendah, maka komponen cenderung untuk terkonsentrasi di fasa cair. Persamaan (1) di bawah ini menampilkan cara menyatakan harga-K.

Dengan

adalah fraksi mol komponen i di fasa uap dan

adalah

fraksi mol komponen i di fasa fasa cair. Harga-K adalah fungsi dari temperatur, tekanan, dan komposisi. Dalam kesetimbangan, jika dua di antara variable-variabel tersebut telah ditetapkan, maka variable ketiga akan tertentu harganya. Dengan demikian, harga-K dapat ditampilkan sebagai fungsi dari tekanan dan komposisi, temperature dan komposisi, atau tekanan dan temperatur.

volatillitas relative ditulis sebagai perbandingan harga-K dari komponen lebih mudah menguap (MVC = more-volatile component) terhadap harga K komponen yang lebih sulit menguap. Menurut konsensus. B. Volatillitas relatif ini adalah ukuran kemudahan terpisahkan lewat eksploitasi perbedaan volatillitas. Dengan demikian. misalkan A. harga α mendekati satu atau bahkan satu.Volatillitas relative (relative volatility) antara komponen i dan j didefinisikan sebagai : Dengan Ki adalah harga-K untuk komponen I dan Ki adalah harga-K untuk komponen j. maka akan diperoleh kurva kesetimbangan yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang mudah menguap di fasa cair dan fasa uap yang dikenal sebagai diagram x- . maka fasa uap akan kaya dengan komponen yang lebih mudah menguap. misalkan suatu cairan yang dapat menguap terdiri dari dua komponen. Sebagai contoh untuk sistem biner. A dan B. volatillitas relative. sedangkan fasa cair akan diperkaya oleh komponen yang lebih sukar menguap. maka kedua komponen sangat sulit bahkan tidak mungkin dipisahkan lewat operasi distilasi. αAB. Cairan ini dididihkan sehingga terbentuk fasa uap dan fasa cair. dapat dinyatakan sebagai berikut : ⁄ ⁄ Atau dapat dikembangkan menjadi : ( ) Jika persamaan (4) tersebut dialurkan terhadap sumbu x-y. Berdasarkan persamaan (1) dan (2).

Yang dimaksud dengan campuran ideal adalah campuran yang perilaku fasa uapnya mematuhi Hukum Dalton dan perilaku fasa cairnya mengikuti Hukum Raoult. Persamaan (6) menampilkan . . Perhatikan gambar (1).1. Gambar 1 Diagram x-y sistem biner A-B 1. Ini menandakan bahwa semakin besar harga αAB. semakin mudah A dan B dipisahkan lewat distilasi. pernyataan ini. dikalikan tekanan parsial komponen. Hokum Dalton untuk gas ideal. menyatakan bahwa tekanan parsial komponen dalam campuran.2 Sistem Ideal dan Tak Ideal Uraian terdahulu berlaku dengan baik untuk campuran-campuran yang mirip dengan campuran ideal. sama dengan fraksi mol komponen tersebut. . . Garis bersudut 45° yang dapat diartikan semakin banyaknya komponen A di fasa uap pada saat kesetimbangan. pi. sama dengan fraksi mol komponen di fasa cair. seperti diperlihatkan pada persamaan (5).y.

3 Diagram T-x-y Proses-proses distilasi industrial seringkali diselenggarakan pada tekanan yang relative konstan. Diagram yang menempatkan temperatur dan komposisi dalam ordinat dan absis ini dinamai diagram T-x-y. Walaupun tidak mudah. 1. Bayangkan suatu campuran berfasa cair titik G. . Untuk keperluan ini diagram fasa isobar (pada tekanan tertentu) paling baik untuk ditampilkan. bertemperatur T0 dan komposisinya X0. harga-K untuk sistem ideal dapat dinyatakan sebagai berikut. Titik C mewakili titik didih komponen A murni dan Titik A mewakili titik didih komponen B murni. upaya penegakan persamaan-persamaan untuk mengevaluasi system tak ideal telah banyak dikembangakn dan bahkan telah diaplikasikan. dipanaskan hingga mencapai temperatur T1 di kurva ABC yang berarti campuran berada pada temperatur jenuhnya sedemikian hingga pemanasan lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya penguapan T1 dapat dianggap sebagai temperatur terbentuknya uap pertama kali atau dinamai titik didih (bubble point) campuran cair dengan komposisi X0. sedangkan kurva AEC adalah titik-titik komposisi untuk uap jenuh. Pustaka sepaerti walas (1984) dan Smith-van Ness (1987) dapat dipelajari untuk mendalami topik tersebut. Bentuk umum diagram ini diperlihatkan dalam gambar 1 yang mewakili campuran dengan dua komponen A dan B berada dalam kesetimbangan uap-cairnya. Pernyataan harga-K untuk system tak ideal tidak seringkas pernyataan untuk system ideal.Dari persamaan (5) dan (6). Data kesetimbangan uap-cair umumnya diperoleh dari serangkaian hasil percobaan. Perhatikan bahwa uap yang terbentuk memiliki komposisi tidak sama dengan x0 tetapi y0 (diperoleh dari penarikan garis horizontal dari T1). Kurva ABC adalah titik-titik komposisi cairan jenuh.1.

Pendinginan lebih lanjut menyebabkan fasa cair makin banyak terbentuk sampai tercapainya titik H yang mewakili titik jenuh fasa cair. Diagram Tx-y dengan demikian dapat dibagi menjadi tiga daerah : 1) Daerah di bawah kurva ABC yang mewakili subcooled liquid mixtures (cairan lewat jenuh). Titik ini kemudian dinamai titik embun (dew point). Operasi distilasi bekerja di daerah tempat terwujudnya kesetimbangan dua fasa.Pemanasan lebih lanjut mengakibatkan semakin banyak uap terbentuk dan sebagai konsekuensinya adalah perubahan komposisi terus menerus di fasa cair sampai tercapainya titik E. Pada temperatur ini. dan 3) Daerah yang dibatasi kedua kurva tersebut yang mewakili system dua fasa dalam kesetimbangan. Di titik ini. Mula-mula campuran fasa uap di titik F didinginkan dari temperatur T2 hingga mencapai titik E di kurva AEC. Gambar 2 Tipikal Diagram T-x-y . Penyuplaian panas berikutnya menghasilkan uap lewat jenuh seperti diwakili oleh titik F. uap dan cair. Karena tidak ada massa hilang untuk keseluruhan sistem. 2) Daerah di atas kurva AEC yang mwakili superheated vapor (uap lewat jenuh). Sekarang operasi dibalik. semua fasa cair telah berubah menjadi uap. komposisi uap yang diperoleh akan sama dengan komposisi cairan awal. uap berada dalam keadaan jenuh dan cairan mulai terbentuk.

Gambar 3a mewakili sistem maximum boiling azeotrope.4 Azeotrop dan Larutan Tak Campur Gambar 2 adalah tipikal untuk sistem normal. perlu dilakukan untuk memisahkan komponen-komponen dari system yang tak ideal ini. Pada gambar 3 berbagai modifikasi. Jika interaksi fisik dan kimiawi yang terjadi di dalam sistem sangat signifikan maka bentukan kurva T-x-y dan x-y akan mengalami penyimpangan yang berarti. Gambar 3 Diagram T-x-y untuk sistem tak ideal Gambar 3a dan 3b mewakili sistem azeotrop yaitu sistem yang memiliki perilaku seperti zat murni di suatu komposisi tertentu. Pada titik ini perubahan temperatur saat penguapan terjadi tidak menyebabkan perbedaan komposisi di fasa uap dan cair. dsb. distilasi kukus. Lihat titik a dengan komposisi xa. Gambar 4 Diagram x-y untuk sistem tak ideal .1.1. seperti distilasi ekstraktif. sedangkan gambar 3b mewakili sistem minimum boiling azeotrop.

maka komposisi di dalam cairan akan berubah. fraksi mol V = jumlah uap dalam labu W = jumlah cairan dalam labu Gambar 5 Distilasi Diferensial Pada alat ini. .Interaksi antar komponen yang sangat kuat memungkinkan terbentuknya dua fasa cairan yang ditunjukkan oleh daerah tak saling larut (immiscible region) dalam diagram fasa seperti tampak dalam gambar 3c. Apabila hal ini berlangsung terus. sedangkan cairan yang tertinggal kaya akan komponen yang lebih sukar menguap (B). Hal ini juga berdampak pada komposisi uap yang dihasilkan. Uap yang keluar dari labu kaya akan komponen yang lebih sukar menguap (A). Keterangan : D = laju alir distilat. Diagram x-y untuk sistem-sistem ini dapat dilihat pada gambar 4. Uap keluar labu menuju kondenser dan diembunkan secara total. Dalam hal ini. Destilasi Diferensial Kasus distilasi batch (partaian) yang paling sederhana adalah operasi yang menggunakan peralatan seperti pada Gambar berikut ini. distilasi berlangsung satu tahap. Cairan yang keuar dari kondenser memiliki komposisi xD yang besarnya sama dengan yD. xw. cairan dalam labu dipanaskan sehingga sebagian cairan akan menguap dengan komposisi uap yD yang dianggap berada dalam kesetimbangan dengan komposisi cairan yang ada di labu. mol/jam yD = komposisi distilat. komponen A akan semakin sedikit dan komponen B akan semakin banyak.

Jika koefisien volatillitas relatif ini dapat dianggap tetap selama operasi. hubungan kesetimbangan dapat dinyatakan dengan koefisien volatillitas relative. maka komposisi komponen A di dalam uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan tadi juga akan menurun. perubahan temperature cairan dalam labu tidak terlalu besar. Jika operasi dilaksanakan pada tekanan tetap. α. Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa komposisi dalam operasi ini berubah terhadap waktu. maka integrasi persamaan (5) adalah : ( ) [ ( ) ( )] . dan konstanta kesetimbangan uap-cair dapat dinyatakan sebagai : y = Kx. Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Rayleigh. Neraca massa proses distilasi diferensial dapat dinyatakan sbb : ( ) ( ) ( ) Bentuk integrasi persamaan di atas adalah sbb : ∫ ( ) ∫ Dimana x0 dan W0 masing-masing adalah komposisi dan berat cairan di dalam labu mula-mula.Jika komposisi komponen A di dalam cairan menurun. sehingga persamaan (9) dapat dengan mudah diselesaikan menjadi : ( ) ( ) Untuk campuran biner.

Komposisi ini dapat . Perhatikan gambar 6 berikut ini. Untuk saat tertentu. pemisahan yang diperoleh akan lebih baik. hubungan operasi dan kesetimbangan dalam kolom distilasi dapat digambarkan pada diagram McCabe-Thiele. karena kolom rektifikasi menyediakan terjadinya serangkaian tahap kesetimbangan. Gambar 6 Diagram McCabe-Thiele Pada saat awal operasi (t=t0). maka komposisi distilat awal adalah xD.Rektifikasi dengan Refluks Konstan Distilasi partaian menggunakan kolom rektifikasi yang ditempatkan di atas labu didihnya (reboiler) akan memberikan pemisahan yang lebih baik dari pada distilasi diferensial biasa. Di puncak kolom. komposisi komponen yang mudah menguap di fasa uap akan semakin besar atau dengan kata lain. Dengan jumlah tahap kesetimbangan yang lebih banyak. maka komposisi cairan dalam reboiler dan distilat akan berubah terhadap waktu. Jika cairan yang mengalir melalui kolom tidak terlalu besar dibandingkan dengan jumlah cairan di reboiler dan kolom memberikan dua tahap pemisahan teroritik. sebagian cairan hasil kondensasi dikembalikan ke dalam kolom sebagai refluks agar pada kolom terjadi kontak antar fasa uap-cair. Jika nisbah refluks dibuat tetap. komposisi cairan di dalam reboiler dinyatakan dengan x0. Kolom rektifikasi dapat berupa kolom dengan piringan (plate) atau dengan isian (packing).

R. Pada waktu tertentu setelah operasi (t=t1). Karena refluks dipertahankan tetap. komposisi cairan di dalam reboiler adalah xW dan komposisi distilat adalah xD. Dengan mendefinisikan nisbah refluks. maka L/V dan tahap teoritik tetap. persamaan garis operasi adalah sbb : untuk waktu ke-i. maka persamaan (12) dapat diubah menjadi : Waktu yang diperlukan untuk distalasi curah menggunakan kolom rektifikasi dengan refluks konstan dapat dihitung melalui neraca massa total berdasarkan laju penguapan konstan. Persamaan (12) jarang digunakan dalam praktek karena melibatkan besaran L dan V yaitu laju alir cairan dan uap yang mengalir di dalam kolom. sebagian R = L/D. seperti ditunjukkan berikut ini : Gambar 7 Distilasi dengan refluks total . V.diperoleh dengan membentuk garis operasi dengan kemiringan L/V dan mengambil dua buah tahap kesetimbangan antara garis operasi dan garis kesetimbangan seperti yang ditunjukan pada gambar 3. Secara umum.

9. Tombol alarm Tombol start Tombol heater OFF Tombol heater ON Tombol heater intermit Tombol heater pemanasan Tombol cooler ON Tombol cooler CLOSED Tombol ON-OFF Blok 3 : Kontrol aliran cairan dan uap di dalam kolom Blok 4 : Kontrol laju alir distilat Blok 5 : Kontrol laju alir cairan ke kolom . 2. 7. 5.Sistem Peralatan Kontrol 7 12 12 8 Blok-3 1 10 11 Blok-4 Blok-5 2 Keterangan : 1. 6. 4. 3. 8.

2. Memisahkan campuran biner air dan ethanol. 4. 3. Mengukur fraksi distilat (xo) dan residu (xw) dalam hal ini perubahan konsentrasi terhadap waktu. Menghitung etanol dalam sampel yang diperoleh dengan persamaan luas Rayleigh. . Membuat kurva kalibrasi antara indeks bias dengan fraksi mol etanol.BAB II TUJUAN Tujuan dari percobaan pompa sentrifugal ini antara lain untuk menentukan karakteristik pompa sentrifugal dengan : 1.

000 0.6 0.4 0.000 8.000 2.8352 Kurva Hasil Destilat Kurva Hasil Destilat 12.000 1/(Xd-Xw) 6.BAB III HASIL PERCOBAAN Kurva Kalibrasi Kurva Kalibrasi 0.4605 R² = 0.100 0.500 0.11.300 Xw 0.2 y = 0.372 R² = 0.066x .000 4.2 0.8 Fraksi Mol Ethanol 1 1.000 10.5 Indeks Bias 0.7146 0.3 0.2 0.000 0.4 0.1 0 0 0.7 0.600 .000 -2.400 0.6 0.200 0.000 y = 40.1475x + 0.

Perhitungan Berdasarkan Persamaan Rayleigh ∫ Dengan menggunakan persamaan Simpson. Luas di bawah kurva ( ( ) ) ( ⁄ ) .

25 ml. suhu reaktor umpan mencapai 90 oC. Total volume destilat yang didapat yaitu sebesar 96. Sedangkan volume residu didapat yaitu sebesar 25. .55 ml. disini telihat bahwa titik didih campuran umpan dipengaruhi oleh titik didih komponen dalam campuran tersebut. serta semakin sedikit fraksi mol ethanol di dalam campuran (umpan). komponen yang akan dipisahkan adalah ethanol dan air. Perbandingan massa ethanol-air dapat diperoleh dengan cara mengalikan massa jenis dengan volumenya. Titik didih etanol yaitu 78 oC sedangkan air memiliki titik didih 100 oC pada tekanan 1 atmosfer.9386 sehingga berat etanol akhir didalam residu sebesar 48.381 gram.BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN Oleh : Syahdini Handiani (101411057) Pada percobaan ini. dengan cara memplotkan pada kurva kalibrasi antara indeks bias dengan residu. sedangkan suhu kondensat mencapai 80 oC. Semakin lama waktu destilasi maka semakin besar fraksi mol ethanol yang terkandung dalam destilat. Dari grafik luas diperoleh luasnya sebesar 2. ini membuktikan bahwa senyawa ethanolnya yang terdistilasi. digunakan persamaan Rayleigh dengan menggunakan grafik persamaan Rayleigh yang merupakan metode luas dibawah kurva yaitu persamaan integral dari 1/(XD-XW) yang sebanding dengan ln perbandingan berat etanol awal dan akhir. Dari kurva kalibrasi ini diperoleh bahwa kenaikan indeks bias akan sebanding dengan peningkatan komposisi ethanolnya. Untuk mencari neraca massa total. Komposisi dari destilat dan residu dapat dilihat dengan menggunakan indeks bias yang diperoleh dari masing-masing destilat dan residu. Pada saat destilat terbentuk pertama kali (setelah umpan mendidih).

55 ml. 3.KESIMPULAN Kesimpulan yang didapatkan dari percobaan ini yaitu : 1. 2. Kenaikan indeks bias berbanding lurus dengan peningkatan komposisi ethanol.25 ml. Semakin lama waktu destilasi maka semakin besar fraksi mol ethanol yang terkandung dalam destilat. serta semakin sedikit fraksi mol ethanol di dalam campuran (umpan). 5. 4. . Berat etanol akhir didalam residu sebesar 48. Volume total destilat yang didapat yaitu sebesar 25.381 gram. Volume total destilat yang didapat yaitu sebesar 96.

H.. Tim. Jakarta: Erlangga. Jakarta : Erlangga. M. Unit Operations of Chemical Engineering. Kister. MA. . Bagian 2. Butterworths Publishers.M. 2004. H. Jilid 2.M. Jilid 1. McCabe.D. Mc Cabe. dan Peter Harriot. Phase Equilibria in Chemical Engineering.Sc.. edisi 3. Chapter 1. Chapter 3. dan E. New York. Fifth Edition. 1993. Teknologi Kimia. Stauble. Penerjemah : Ir. Jurusan Teknik Kimia. H. Julian C. Walas. Eng. J. Peter Harriott. S. Third Edition. Distillation Design. Henley. Transport Processes And Unit Operation. Gester. 1984 Warren L. E. G.. Smith. Inc. Buku Petunjuk Praktikum Satuan Operasi : Distilasi. C. Ir. 5.. M. E.DAFTAR PUSTAKA Bernasconi. Lienda Handojo. 1990. Waren L. John Wiley.Sc. . 1999. 9. Mc Cabe. Jakarta. H. Mc Graw-Hill. Julian C. Perry’s. 1995. Jasafi. J. “Chemical Engineering Handbook”. Erlangga.Jasjfi. Operasi Teknik Kimia. Mc. Operasi Teknik Kimia.. Equilibrium-Stage Separation Operations in Chemical Engineering.J. London : Prentice Hall International. Warren L. New York. Diterjemahkan oleh Dr. 1990. 1992. 1988. Warren L. 1999. Schneiter. Edisi keempat. Cabe.. E. dkk. Geankoplis. Smith. Diterjemahkan oleh: Ir. pp 127-132. Operasi Teknik Kimia. Bandung : Politeknik Negeri Bandung. New York : Mc Graw Hill. Hauser. Jakarta : PT Pradnya Paramita. 1981.Z.

Alat distilasi dan unit pengendali 1 unit 2.LAMPIRAN A ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN Alat 1. 8. Refraktometer Stopwatch Gelas sampel 10 buah Botol semprot 1 buah Pipet ukur 10 ml 2 buah Gelas kimia 250 ml 5 buah Pipet tetes 2 buah Bahan 1. 5. 7. Aquades Campuran ethanol-air . 4. 3. 2. 6.

563 0.5 4 3 4.57 0.548 0.532 0.566 0.487 0.532 0.501 .601 Residu 0.522 0.576 0.407 Pengamatan Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 Volume Ethanol (ml) Destilat 0 12 16 20 16.558 0.53 0.565 0.55 4.516 0.512 0. R = L/D = 90°C = 80°C = 6/3 = 2 Kurva Kalibrasi Ethanol (ml) 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Aquades (ml) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Indeks Bias 0.LAMPIRAN B DATA PENGAMATAN Kondisi Operasi Pemanas minyak (oil bath) Temperatur uap (vapour) Perbandingan reflux.514 0.582 0.603 0.566 0.509 0.25 15 17 Residu 2 3 4.545 0.5 Indeks Bias Destilat 0.524 0.554 0.

5 0.5 4 3 4.7 0.1 0 Indeks Bias 0.2 0.25 Residu 2 3 4.3 0.554 0.55 4.512 0.532 0.516 0.55 Kurva Kalibrasi Ethanol (ml) 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Aquades (ml) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 XEthanol 1 0.487 0.558 0.8 0.407 .6 0.603 0.5 25.576 0.LAMPIRAN C PENGOLAHAN DATA Total Volume Destilat dan Residu Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 TOTAL Volume Ethanol (ml) Destilat 0 12 16 20 16.565 0.25 15 17 96.9 0.4 0.566 0.

578 0.53 0.122 0.548 0.959 Dari Kurva Kalibrasi XResidu (XW) 0.279 ( 0.545 0.522 0.497 0.830 0.Perhitungan Berdasarkan Kurva Kalibrasi Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 Indeks Bias Destilat 0.769 3.601 Residu 0.524 0.367 0.625 2.563 0.476 0.599 0.509 0. Luas di bawah kurva ( ( ) ) ( ⁄ ) .57 0.333 0.701 0.014 1.308 8.748 0.341 2.501 XDestilat (XD) 0.422 0.381 0.514 0.680 ) ( 11.566 0.470 ) Perhitungan Berdasarkan Persamaan Rayleigh ∫ Dengan menggunakan persamaan Simpson.582 0.532 0.490 0.265 0.721 0.088 0.435 0.167 3.299 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful