BAB I LANDASAN TEORI

Distilasi adalah unit operasi yang sudah ratusan tahun diaplikasikan secara luas. Di sperempat abad pertama dari abad ke-20 ini, aplikasi unit distilasi berkembang pesat dari yang hanya terbatas pada upaya pemekatan alcohol kepada berbagai aplikasi di hampir seluruh industri kimia. Distilasi pada dasarnya adalah proses pemisahan suatu campuran menjadi dua atau lebih produk lewat eksploitasi perbedaan kemampuan menguap komponen-komponen dalam campuran. Operasi ini biasanya dilaksanakan dalam suatu klom baki (tray column) atau kolom dengan isian (packing column) untuk mendapatkan kontak antar fasa seintim mungkin sehingga diperoleh unjuk kerja pemisahan yang lebih baik. Salah satu modus operasi distilasi adalah distilasi curah (batch distillation). Pada operasi ini, umpan dimasukkan hanya pada awal operasi, sedangkan produknya dikeluarkan secara kontinu. Operasi ini memiliki beberapa keuntungan : 1. Kapasitas operasi terlalu kecil jika dilaksanakan secara kontinu. Beberapa peralatan pendukung seperti pompa, tungku/boiler, perapian atau

instrumentasi biasanya memiliki kapasitas atau ukuran minimum agar dapat digunakan pada skala industrial. Di bawah batas minimum tersebut, harga peralatan akan lebih mahal dan tingkat kesulitan operasinya akan semakin tinggi. 2. Karakteristik umpan maupun laju operasi berfluktuasi sehingga jika dilaksanakan secara kontinu akan membutuhkan fasilitas pendukung yang mampu menangani fluktuasi tersebut. Fasilitas ini tentunya sulit diperoleh dan mahal harganya. Peralatan distilasi curah dapat dipandang memiliki fleksibilitas operasi dibandingkan peralatan distilasi kontinu. Hal ini merupakan salah satu alas an mengapa peralatan distilasi curah sangat cocok digunakan sebagai alat serbaguna untuk memperoleh kembali pelarut maupun digunakan pada pabrik skala pilot. Perangkat praktikum distilasi batch membawa para pengguna untuk mempelajari prinsip-prinsip dasar pemisahan

dengan operasi distilasi, seperti kesetimbangan uap cair dan pemisahan lewat multi tahap kesetimbangan. Perangkat ini dapat juga dimanfaatkan untuk mempelajari dasar-dasar penilaian untuk kerja kolom distilasi pacing dan mempelajari perpindahan massa dalam kolom distilasi packing.

Kesetimbangan Uap-Cair Seperti telah disampaikan terdahulu, operasi distilasi mengekspoitasi perbedaan kemampuan menguap (volatillitas) komponen-komponen dalam campuran untuk melaksanakan proses pemisahan. Berkaitan dengan hal ini, dasar dasar keseimbangan uap-cair perlu dipahami terlebih dahulu. Berikut akan diulas secara singkat pokok-pokok penting tentang kesetimbangan uap-cair guna melandasi pemahaman tentang operasi distilasi.

1.1.1

Harga-K dan Volatillitas Relatif Harga-K (K-Value) adalah ukuran tendensi suatu komponen untuk menguap. Jika harga-K suatu komponen tinggi, maka komponen tersebut cenderung untuk terkonsentrasi di fasa uap, sebaliknya jika harganya rendah, maka komponen cenderung untuk terkonsentrasi di fasa cair. Persamaan (1) di bawah ini menampilkan cara menyatakan harga-K.

Dengan

adalah fraksi mol komponen i di fasa uap dan

adalah

fraksi mol komponen i di fasa fasa cair. Harga-K adalah fungsi dari temperatur, tekanan, dan komposisi. Dalam kesetimbangan, jika dua di antara variable-variabel tersebut telah ditetapkan, maka variable ketiga akan tertentu harganya. Dengan demikian, harga-K dapat ditampilkan sebagai fungsi dari tekanan dan komposisi, temperature dan komposisi, atau tekanan dan temperatur.

Menurut konsensus. sedangkan fasa cair akan diperkaya oleh komponen yang lebih sukar menguap. Berdasarkan persamaan (1) dan (2). Volatillitas relatif ini adalah ukuran kemudahan terpisahkan lewat eksploitasi perbedaan volatillitas. harga α mendekati satu atau bahkan satu. Sebagai contoh untuk sistem biner.Volatillitas relative (relative volatility) antara komponen i dan j didefinisikan sebagai : Dengan Ki adalah harga-K untuk komponen I dan Ki adalah harga-K untuk komponen j. αAB. maka fasa uap akan kaya dengan komponen yang lebih mudah menguap. Dengan demikian. volatillitas relative. dapat dinyatakan sebagai berikut : ⁄ ⁄ Atau dapat dikembangkan menjadi : ( ) Jika persamaan (4) tersebut dialurkan terhadap sumbu x-y. misalkan A. maka akan diperoleh kurva kesetimbangan yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang mudah menguap di fasa cair dan fasa uap yang dikenal sebagai diagram x- . misalkan suatu cairan yang dapat menguap terdiri dari dua komponen. Cairan ini dididihkan sehingga terbentuk fasa uap dan fasa cair. A dan B. B. maka kedua komponen sangat sulit bahkan tidak mungkin dipisahkan lewat operasi distilasi. volatillitas relative ditulis sebagai perbandingan harga-K dari komponen lebih mudah menguap (MVC = more-volatile component) terhadap harga K komponen yang lebih sulit menguap.

y. dikalikan tekanan parsial komponen. seperti diperlihatkan pada persamaan (5). . pi. Garis bersudut 45° yang dapat diartikan semakin banyaknya komponen A di fasa uap pada saat kesetimbangan. sama dengan fraksi mol komponen di fasa cair. Hokum Dalton untuk gas ideal. menyatakan bahwa tekanan parsial komponen dalam campuran. Gambar 1 Diagram x-y sistem biner A-B 1. Persamaan (6) menampilkan . semakin mudah A dan B dipisahkan lewat distilasi. pernyataan ini. . Yang dimaksud dengan campuran ideal adalah campuran yang perilaku fasa uapnya mematuhi Hukum Dalton dan perilaku fasa cairnya mengikuti Hukum Raoult. Perhatikan gambar (1). Ini menandakan bahwa semakin besar harga αAB.1.2 Sistem Ideal dan Tak Ideal Uraian terdahulu berlaku dengan baik untuk campuran-campuran yang mirip dengan campuran ideal. . sama dengan fraksi mol komponen tersebut.

harga-K untuk sistem ideal dapat dinyatakan sebagai berikut. upaya penegakan persamaan-persamaan untuk mengevaluasi system tak ideal telah banyak dikembangakn dan bahkan telah diaplikasikan. Pernyataan harga-K untuk system tak ideal tidak seringkas pernyataan untuk system ideal. Perhatikan bahwa uap yang terbentuk memiliki komposisi tidak sama dengan x0 tetapi y0 (diperoleh dari penarikan garis horizontal dari T1). sedangkan kurva AEC adalah titik-titik komposisi untuk uap jenuh. Titik C mewakili titik didih komponen A murni dan Titik A mewakili titik didih komponen B murni. Pustaka sepaerti walas (1984) dan Smith-van Ness (1987) dapat dipelajari untuk mendalami topik tersebut. Untuk keperluan ini diagram fasa isobar (pada tekanan tertentu) paling baik untuk ditampilkan. Kurva ABC adalah titik-titik komposisi cairan jenuh. Bayangkan suatu campuran berfasa cair titik G.3 Diagram T-x-y Proses-proses distilasi industrial seringkali diselenggarakan pada tekanan yang relative konstan. Bentuk umum diagram ini diperlihatkan dalam gambar 1 yang mewakili campuran dengan dua komponen A dan B berada dalam kesetimbangan uap-cairnya. Diagram yang menempatkan temperatur dan komposisi dalam ordinat dan absis ini dinamai diagram T-x-y.Dari persamaan (5) dan (6). Walaupun tidak mudah.1. Data kesetimbangan uap-cair umumnya diperoleh dari serangkaian hasil percobaan. . 1. dipanaskan hingga mencapai temperatur T1 di kurva ABC yang berarti campuran berada pada temperatur jenuhnya sedemikian hingga pemanasan lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya penguapan T1 dapat dianggap sebagai temperatur terbentuknya uap pertama kali atau dinamai titik didih (bubble point) campuran cair dengan komposisi X0. bertemperatur T0 dan komposisinya X0.

Pemanasan lebih lanjut mengakibatkan semakin banyak uap terbentuk dan sebagai konsekuensinya adalah perubahan komposisi terus menerus di fasa cair sampai tercapainya titik E. uap dan cair. Sekarang operasi dibalik. semua fasa cair telah berubah menjadi uap. dan 3) Daerah yang dibatasi kedua kurva tersebut yang mewakili system dua fasa dalam kesetimbangan. Di titik ini. Pada temperatur ini. komposisi uap yang diperoleh akan sama dengan komposisi cairan awal. 2) Daerah di atas kurva AEC yang mwakili superheated vapor (uap lewat jenuh). Penyuplaian panas berikutnya menghasilkan uap lewat jenuh seperti diwakili oleh titik F. Pendinginan lebih lanjut menyebabkan fasa cair makin banyak terbentuk sampai tercapainya titik H yang mewakili titik jenuh fasa cair. Diagram Tx-y dengan demikian dapat dibagi menjadi tiga daerah : 1) Daerah di bawah kurva ABC yang mewakili subcooled liquid mixtures (cairan lewat jenuh). Operasi distilasi bekerja di daerah tempat terwujudnya kesetimbangan dua fasa. uap berada dalam keadaan jenuh dan cairan mulai terbentuk. Mula-mula campuran fasa uap di titik F didinginkan dari temperatur T2 hingga mencapai titik E di kurva AEC. Titik ini kemudian dinamai titik embun (dew point). Karena tidak ada massa hilang untuk keseluruhan sistem. Gambar 2 Tipikal Diagram T-x-y .

Gambar 3 Diagram T-x-y untuk sistem tak ideal Gambar 3a dan 3b mewakili sistem azeotrop yaitu sistem yang memiliki perilaku seperti zat murni di suatu komposisi tertentu. dsb. perlu dilakukan untuk memisahkan komponen-komponen dari system yang tak ideal ini. Jika interaksi fisik dan kimiawi yang terjadi di dalam sistem sangat signifikan maka bentukan kurva T-x-y dan x-y akan mengalami penyimpangan yang berarti. sedangkan gambar 3b mewakili sistem minimum boiling azeotrop. Pada gambar 3 berbagai modifikasi. Pada titik ini perubahan temperatur saat penguapan terjadi tidak menyebabkan perbedaan komposisi di fasa uap dan cair.1.4 Azeotrop dan Larutan Tak Campur Gambar 2 adalah tipikal untuk sistem normal. Gambar 4 Diagram x-y untuk sistem tak ideal . distilasi kukus.1. seperti distilasi ekstraktif. Gambar 3a mewakili sistem maximum boiling azeotrope. Lihat titik a dengan komposisi xa.

Interaksi antar komponen yang sangat kuat memungkinkan terbentuknya dua fasa cairan yang ditunjukkan oleh daerah tak saling larut (immiscible region) dalam diagram fasa seperti tampak dalam gambar 3c. Cairan yang keuar dari kondenser memiliki komposisi xD yang besarnya sama dengan yD. xw. mol/jam yD = komposisi distilat. komponen A akan semakin sedikit dan komponen B akan semakin banyak. . Diagram x-y untuk sistem-sistem ini dapat dilihat pada gambar 4. distilasi berlangsung satu tahap. Hal ini juga berdampak pada komposisi uap yang dihasilkan. maka komposisi di dalam cairan akan berubah. fraksi mol V = jumlah uap dalam labu W = jumlah cairan dalam labu Gambar 5 Distilasi Diferensial Pada alat ini. Apabila hal ini berlangsung terus. Dalam hal ini. Keterangan : D = laju alir distilat. Destilasi Diferensial Kasus distilasi batch (partaian) yang paling sederhana adalah operasi yang menggunakan peralatan seperti pada Gambar berikut ini. Uap yang keluar dari labu kaya akan komponen yang lebih sukar menguap (A). cairan dalam labu dipanaskan sehingga sebagian cairan akan menguap dengan komposisi uap yD yang dianggap berada dalam kesetimbangan dengan komposisi cairan yang ada di labu. sedangkan cairan yang tertinggal kaya akan komponen yang lebih sukar menguap (B). Uap keluar labu menuju kondenser dan diembunkan secara total.

Jika koefisien volatillitas relatif ini dapat dianggap tetap selama operasi. hubungan kesetimbangan dapat dinyatakan dengan koefisien volatillitas relative. perubahan temperature cairan dalam labu tidak terlalu besar. Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa komposisi dalam operasi ini berubah terhadap waktu. maka integrasi persamaan (5) adalah : ( ) [ ( ) ( )] . α. maka komposisi komponen A di dalam uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan tadi juga akan menurun. Jika operasi dilaksanakan pada tekanan tetap.Jika komposisi komponen A di dalam cairan menurun. Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Rayleigh. dan konstanta kesetimbangan uap-cair dapat dinyatakan sebagai : y = Kx. sehingga persamaan (9) dapat dengan mudah diselesaikan menjadi : ( ) ( ) Untuk campuran biner. Neraca massa proses distilasi diferensial dapat dinyatakan sbb : ( ) ( ) ( ) Bentuk integrasi persamaan di atas adalah sbb : ∫ ( ) ∫ Dimana x0 dan W0 masing-masing adalah komposisi dan berat cairan di dalam labu mula-mula.

maka komposisi cairan dalam reboiler dan distilat akan berubah terhadap waktu. hubungan operasi dan kesetimbangan dalam kolom distilasi dapat digambarkan pada diagram McCabe-Thiele. maka komposisi distilat awal adalah xD. Perhatikan gambar 6 berikut ini. karena kolom rektifikasi menyediakan terjadinya serangkaian tahap kesetimbangan. Untuk saat tertentu. Gambar 6 Diagram McCabe-Thiele Pada saat awal operasi (t=t0). pemisahan yang diperoleh akan lebih baik. komposisi cairan di dalam reboiler dinyatakan dengan x0. Di puncak kolom.Rektifikasi dengan Refluks Konstan Distilasi partaian menggunakan kolom rektifikasi yang ditempatkan di atas labu didihnya (reboiler) akan memberikan pemisahan yang lebih baik dari pada distilasi diferensial biasa. Dengan jumlah tahap kesetimbangan yang lebih banyak. Kolom rektifikasi dapat berupa kolom dengan piringan (plate) atau dengan isian (packing). komposisi komponen yang mudah menguap di fasa uap akan semakin besar atau dengan kata lain. sebagian cairan hasil kondensasi dikembalikan ke dalam kolom sebagai refluks agar pada kolom terjadi kontak antar fasa uap-cair. Jika cairan yang mengalir melalui kolom tidak terlalu besar dibandingkan dengan jumlah cairan di reboiler dan kolom memberikan dua tahap pemisahan teroritik. Komposisi ini dapat . Jika nisbah refluks dibuat tetap.

maka persamaan (12) dapat diubah menjadi : Waktu yang diperlukan untuk distalasi curah menggunakan kolom rektifikasi dengan refluks konstan dapat dihitung melalui neraca massa total berdasarkan laju penguapan konstan. Secara umum. komposisi cairan di dalam reboiler adalah xW dan komposisi distilat adalah xD. persamaan garis operasi adalah sbb : untuk waktu ke-i.diperoleh dengan membentuk garis operasi dengan kemiringan L/V dan mengambil dua buah tahap kesetimbangan antara garis operasi dan garis kesetimbangan seperti yang ditunjukan pada gambar 3. seperti ditunjukkan berikut ini : Gambar 7 Distilasi dengan refluks total . maka L/V dan tahap teoritik tetap. V. Dengan mendefinisikan nisbah refluks. Karena refluks dipertahankan tetap. sebagian R = L/D. R. Pada waktu tertentu setelah operasi (t=t1). Persamaan (12) jarang digunakan dalam praktek karena melibatkan besaran L dan V yaitu laju alir cairan dan uap yang mengalir di dalam kolom.

2. 5. 7. 3. 6.Sistem Peralatan Kontrol 7 12 12 8 Blok-3 1 10 11 Blok-4 Blok-5 2 Keterangan : 1. 4. 9. Tombol alarm Tombol start Tombol heater OFF Tombol heater ON Tombol heater intermit Tombol heater pemanasan Tombol cooler ON Tombol cooler CLOSED Tombol ON-OFF Blok 3 : Kontrol aliran cairan dan uap di dalam kolom Blok 4 : Kontrol laju alir distilat Blok 5 : Kontrol laju alir cairan ke kolom . 8.

BAB II TUJUAN Tujuan dari percobaan pompa sentrifugal ini antara lain untuk menentukan karakteristik pompa sentrifugal dengan : 1. 2. . Memisahkan campuran biner air dan ethanol. 3. Membuat kurva kalibrasi antara indeks bias dengan fraksi mol etanol. Menghitung etanol dalam sampel yang diperoleh dengan persamaan luas Rayleigh. Mengukur fraksi distilat (xo) dan residu (xw) dalam hal ini perubahan konsentrasi terhadap waktu. 4.

8352 Kurva Hasil Destilat Kurva Hasil Destilat 12.000 10.000 8.7146 0.600 .000 0.4605 R² = 0.2 y = 0.4 0.372 R² = 0.BAB III HASIL PERCOBAAN Kurva Kalibrasi Kurva Kalibrasi 0.066x .6 0.300 Xw 0.1 0 0 0.1475x + 0.500 0.2 0.000 0.2 0.7 0.000 2.8 Fraksi Mol Ethanol 1 1.4 0.5 Indeks Bias 0.200 0.3 0.100 0.11.6 0.400 0.000 4.000 -2.000 y = 40.000 1/(Xd-Xw) 6.

Luas di bawah kurva ( ( ) ) ( ⁄ ) .Perhitungan Berdasarkan Persamaan Rayleigh ∫ Dengan menggunakan persamaan Simpson.

25 ml.55 ml. sedangkan suhu kondensat mencapai 80 oC. Untuk mencari neraca massa total. Perbandingan massa ethanol-air dapat diperoleh dengan cara mengalikan massa jenis dengan volumenya. Sedangkan volume residu didapat yaitu sebesar 25. Dari kurva kalibrasi ini diperoleh bahwa kenaikan indeks bias akan sebanding dengan peningkatan komposisi ethanolnya. ini membuktikan bahwa senyawa ethanolnya yang terdistilasi. dengan cara memplotkan pada kurva kalibrasi antara indeks bias dengan residu. Titik didih etanol yaitu 78 oC sedangkan air memiliki titik didih 100 oC pada tekanan 1 atmosfer.9386 sehingga berat etanol akhir didalam residu sebesar 48. digunakan persamaan Rayleigh dengan menggunakan grafik persamaan Rayleigh yang merupakan metode luas dibawah kurva yaitu persamaan integral dari 1/(XD-XW) yang sebanding dengan ln perbandingan berat etanol awal dan akhir.381 gram. serta semakin sedikit fraksi mol ethanol di dalam campuran (umpan). Dari grafik luas diperoleh luasnya sebesar 2. Pada saat destilat terbentuk pertama kali (setelah umpan mendidih). Total volume destilat yang didapat yaitu sebesar 96. Komposisi dari destilat dan residu dapat dilihat dengan menggunakan indeks bias yang diperoleh dari masing-masing destilat dan residu. suhu reaktor umpan mencapai 90 oC.BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN Oleh : Syahdini Handiani (101411057) Pada percobaan ini. disini telihat bahwa titik didih campuran umpan dipengaruhi oleh titik didih komponen dalam campuran tersebut. Semakin lama waktu destilasi maka semakin besar fraksi mol ethanol yang terkandung dalam destilat. . komponen yang akan dipisahkan adalah ethanol dan air.

Volume total destilat yang didapat yaitu sebesar 96. Kenaikan indeks bias berbanding lurus dengan peningkatan komposisi ethanol. Volume total destilat yang didapat yaitu sebesar 25.KESIMPULAN Kesimpulan yang didapatkan dari percobaan ini yaitu : 1. 3. serta semakin sedikit fraksi mol ethanol di dalam campuran (umpan). 2. Berat etanol akhir didalam residu sebesar 48.55 ml. 5.381 gram. Semakin lama waktu destilasi maka semakin besar fraksi mol ethanol yang terkandung dalam destilat. . 4.25 ml.

Julian C. Transport Processes And Unit Operation. Smith. “Chemical Engineering Handbook”.Sc. New York. C. Diterjemahkan oleh: Ir. Cabe. Jakarta : PT Pradnya Paramita. J. H. 1995. John Wiley. Bandung : Politeknik Negeri Bandung.D. dan Peter Harriot. Fifth Edition. MA. Jasafi. Jilid 1. Warren L. 1999. pp 127-132.J. McCabe. Chapter 3. Jakarta. J. M. Lienda Handojo. Jurusan Teknik Kimia. Mc Cabe. Geankoplis. Eng. Bagian 2. Gester. edisi 3. Unit Operations of Chemical Engineering. 1988. 5. . 2004. Walas. 1993.Jasjfi.. Inc. S. Butterworths Publishers. Ir.M. Stauble. H. Teknologi Kimia. 1999. H. Tim. Kister. M.M.Sc. Perry’s. Equilibrium-Stage Separation Operations in Chemical Engineering. Hauser. 9. Edisi keempat.Z. Smith. 1990. New York : Mc Graw Hill. Mc. Mc Graw-Hill. E. Operasi Teknik Kimia. 1992. Julian C. G. Erlangga. Schneiter. Buku Petunjuk Praktikum Satuan Operasi : Distilasi. Jilid 2.. New York.DAFTAR PUSTAKA Bernasconi.. Henley. E. Jakarta : Erlangga. Third Edition.. Peter Harriott. 1981. dan E. Diterjemahkan oleh Dr. London : Prentice Hall International. dkk. Chapter 1. 1984 Warren L. Operasi Teknik Kimia. H. Operasi Teknik Kimia.. Waren L. . Mc Cabe.. Warren L. 1990. Distillation Design. Jakarta: Erlangga. Penerjemah : Ir. E. Phase Equilibria in Chemical Engineering.

4. 2. 5.LAMPIRAN A ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN Alat 1. Aquades Campuran ethanol-air . Alat distilasi dan unit pengendali 1 unit 2. 3. 6. Refraktometer Stopwatch Gelas sampel 10 buah Botol semprot 1 buah Pipet ukur 10 ml 2 buah Gelas kimia 250 ml 5 buah Pipet tetes 2 buah Bahan 1. 7. 8.

514 0.576 0.554 0.565 0.566 0.566 0.53 0.5 4 3 4.532 0.548 0.545 0.522 0.407 Pengamatan Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 Volume Ethanol (ml) Destilat 0 12 16 20 16.603 0.LAMPIRAN B DATA PENGAMATAN Kondisi Operasi Pemanas minyak (oil bath) Temperatur uap (vapour) Perbandingan reflux.558 0. R = L/D = 90°C = 80°C = 6/3 = 2 Kurva Kalibrasi Ethanol (ml) 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Aquades (ml) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Indeks Bias 0.5 Indeks Bias Destilat 0.509 0.532 0.524 0.55 4.582 0.25 15 17 Residu 2 3 4.501 .563 0.516 0.487 0.512 0.601 Residu 0.57 0.

512 0.1 0 Indeks Bias 0.25 15 17 96.4 0.554 0.25 Residu 2 3 4.5 4 3 4.LAMPIRAN C PENGOLAHAN DATA Total Volume Destilat dan Residu Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 TOTAL Volume Ethanol (ml) Destilat 0 12 16 20 16.565 0.566 0.5 25.558 0.7 0.576 0.487 0.603 0.407 .2 0.516 0.55 Kurva Kalibrasi Ethanol (ml) 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Aquades (ml) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 XEthanol 1 0.5 0.55 4.8 0.6 0.9 0.3 0.532 0.

Luas di bawah kurva ( ( ) ) ( ⁄ ) .563 0.490 0.566 0.532 0.470 ) Perhitungan Berdasarkan Persamaan Rayleigh ∫ Dengan menggunakan persamaan Simpson.265 0.422 0.279 ( 0.Perhitungan Berdasarkan Kurva Kalibrasi Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 Indeks Bias Destilat 0.435 0.625 2.522 0.167 3.497 0.578 0.701 0.53 0.680 ) ( 11.514 0.830 0.769 3.545 0.509 0.524 0.599 0.333 0.748 0.367 0.57 0.582 0.088 0.601 Residu 0.014 1.308 8.959 Dari Kurva Kalibrasi XResidu (XW) 0.122 0.341 2.381 0.299 0.476 0.548 0.501 XDestilat (XD) 0.721 0.