BAB I PENDAHULUAN

Efusi pleura

Page 1

Masalah kesehatan dengan gangguan sistem pernapasan masih menduduki peringkat yang tinggi sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Efusi pleura adalah salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernapasan Efusi pleura sendiri sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan hanya lebih merupakan symptom atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson, MD, 1995, Waspadji Sarwono (1999, 786) Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung, adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain), tuberculosis paru, infark paru, trauma, pneumoni, syndroma nefrotik, hipoalbumin dan lain sebagainya. (Allsagaaf H, Amin M Saleh, 1998, 68) Tingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan pada paru. Jika efusi luas, expansi paru akan terganggu dan pasien akan mengalami sesak, nyeri dada, batuk non produktif bahkan akan terjadi kolaps paru dan akibatnya akan terjadilah gagal nafas. Kondisi-kondisi tersebut diatas tidak jarang menyebabkan kematian pada penderita efusi pleura. Berdasarkan data dari medical record di UPF ilmu penyakit paru RSUD Dr. Soetomo tahun 1998, didapatkan data bahwa effusi pleura menduduki peringkat kedua setelah TB paru dengan jumlah kasus yang datang sebanyak 364 orang dan angka mortalitasnya mencapai 26 orang. Sedangkan tahun 1999 menduduki peringkat ke lima dengan angka mortalitasnya mencapai 31 orang dan prosentase 8,0% dari 387 kasus efusi pleura yang ada, sementara tahun 2000 mencapai 7,65% dari 366 kasus efusi pleura dan menduduki peringkat kedua setelah TB paru atau angka mortalitasnya mencapai 38 orang, (medical record RSUD Dr Soetomo tahun 2000). Efusi pleura Page 2

Berbagai permasalahan keperawatan yang timbul baik masalah aktual maupun potensial akibat adanya efusi pleura antara lain adalah ketidak efektifan pola nafas, gangguan rasa nyaman, gangguan pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat, kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, gangguan pemenuha kebutuhan nutrisi yang menyebabkan penurunan berat badan pasien serta masih banyak lagi permasalahan lain yang mungkin timbul.

Efusi pleura

Page 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP DASAR 1. Pengertian Pleuritis Pleurisy adalah peradangan dari lapisan sekeliling paru-paru (pleura). Ada dua pleura: satu yang melindungi paru (diistilahkan visceral pleura) dan yang lain melindungi dinding bagian dalam dari dada (parietal pleura). Dua lapisanlapisan ini dilumasi oleh cairan pleural. Pleurisy seringkali dihubungkan dengan akumulasi dari cairan ekstra dalam ruang antara dua lapisan dari pleura. Cairan ini dirujuk sebagai pleural effusion. Pleurisy juga dirujuk sebagai pleuritis. Serat-serat nyeri dari paru berlokasi pada pleura. Ketika jaringan ini meradang, itu berakibat pada nyeri yang tajam pada dada yang memburuk dengan napas, atau pleurisy. Gejala-gejala lain dari pleurisy dapat termasuk batuk, kepekaan dada, dan sesak napas. Penyebab Pleurisy Pleurisy dapat disebabkan oleh apa saja dari kondisi-kondisi berikut:

Infeksi-Infeksi:

bakteri-bakteri

(termasuk

yang

menyebabkan

tuberculosis), jamur-jamnur, parasit-parasit, atau virus-virus

Kimia-Kimia Yang Terhisap Atau Senyawa-Senyawa Beracun: paparan pada beberapa agen-agen perbersih seperti ammonia

• •

Penyakit-Penyakit Vaskular Kolagen: lupus, rheumatoid arthritis Kanker-Kanker: contohnya, penyebaran dari kanker paru atau kanker payudara ke pleura

Tumor-Tumor Dari Pleura: mesothelioma atau sarcoma

Efusi pleura

Page 4

Untuk mengurangi rasa sakit. • Rintangan dari Kanal-Kanal Limfa: sebagai akibat dari tumor-tumor paru yang berlokasi secara central • Trauma: patah-patahan rusuk atau iritasi dari tabung-tabung dada yang digunakan untuk mengalirkan udara atau cairan dari rongga pleural pada dada • Obat-Obat Tertentu: obat-obat yang dapat menyebabkan sindromsindrom seperti lupus (seperti Hydralazine. kedua lapisan pleura.• • Kemacetan: gagal jantung Pulmonary embolism: bekuan darah didalam pembuluh-pembuluh darah ke paru-paru. Hal tersebut menyebabkan kurang leluasanya pengembangan dinding dada. rasa sakit terjadi sebagai akibat meningkatnya kepekaan syaraf sensoris pada pleura yang mengalami radang. sirosis hati Lung infarction: kematian jaringan paru yang disebabkan oleh kekurangan oksigen dari suplai darah yang buruk PATOGENESIS Adanya radang pleura yang bersifat awal. pernafasan dilakukan dengan cepat dan intensitas yang Efusi pleura Page 5 . Bekuan-bekuan ini adakalanya dengan parah mengurangi darah dan oksigen ke bagian-bagian dari paru dan dapat berakibat pada kematian pada bagian itu dari jaringan paru (diistilahkan lung infarction). hingga pernafasan lebih banyak dilakukan oleh otot-otot perut (pernafasan abdominal). Procan. dan lainlainnya) • • Proses-proses Perut: seperti pankreatitis. Dilantin. yaitu pleura parietalis dan visceralis. sebelum terbentuknya cairan eksudasi radang. saling bergesekan oleh karena keduanya mengalami penebalan. Pada proses yang berlangsung akut. Ini juga dapat menyebabkan pleurisy. Gesekan antara keduanya akan menimbulkan suara friksi dalam pemeriksaan auskultasi.

akan cepat mengalami disfungsi dan mengalami atelektasis. volume rongga pleura berkurang dan tekanan negatif di dalamnya akan berkurang. yang sifatnya purulen. Jantung yang tercelup di dalam cairan radang juga akan mengalami degenerasi. Dalam keadaan demikian biasanya terjadi adesi pada pleura hingga menyebabkan pertautan paru-paru dengan dinding dada. Mungkin cairan radang dapat mengalami penyerapan. hingga pleura yang meradang menjadi ”kering”. sebagai produk radang. sebagai kompensasi. atau serosanguineus. karena rasa sakit waktu bernafas dengan menggunakan otot-otot dada. Oleh adanya cairan yang kemudian terbentuk. antara lain vena jugularis. terutama pada atriumnya. GEJALA KLINIS Gejala radang pada awalnya dimulai dengan ketidaktenangan. hingga gejala kelemahan jantung juga akan dapat diamati. yang selanjutnya hal tersebut menyebabkan penurunan kemampuan paru-paru untuk berkembang sesuai dengan kemampuan normalnya. pernafasan lebih bersifat abdominal.dangkal. menyebabkan bendungan pada vena-vena yang besar. kemudian diikuti dengan pernafasn yang cepat dan dangkal. Hal terakhir mengakibatkan kemampuan berkembang dari alveoli paru-paru juga menurun. dan untuk menutupi kebutuhan oksigen akan diikuti dengan kerja lebih. Gejala-gejala perubahan pernafasan akan segera tampak bila penderita dikerjakan agak berat. Bagian paru-paru yang tercelup di dalam cairan radang. Untuk mengurangi rasa sakit di daerah dada. mukopurulen. dan hal tersebut mengakibatkan penderita cepat menjadi lelah meskipun hanya melakukan kerja fisik yang ringan. bahu penderita Efusi pleura Page 6 . Lobus paru-paru yang paling sering menderita atelektasis adalah lobus ventralis. yang disebabkan oleh terbebasnya toksin kuman maupun karena hasil pemecahan reruntuhan jaringan. Dalam keadaan demikian. Kompresi cairan atas jantung. bagian paru-paru tersebut tidak lagi berfungsi. dari jaringa paru-paru yang lain. Dalam keadaan akut. Radang pleura yang disebabkan oleh kuman hampair selalu diikuti dengan gejala toksemia. Bendungan tersebut akan dilihat dari luar dengan mudah.

Radang pleura kronik. meskipun biasanya diikuti dengan adesi pleura. Proses kesembuhan dapat pula terjadi. biasanya nyeri dada bisa diredakan dengan memberikan obat pereda nyeri seperti Efusi pleura Page 7 . Kebanyakan penderita radang kronik hanya memperlihatkan kenaikan frekuensi pernafasannya. tetapi bila dikerjakan sedikit saja segera menjadi lelah karena turunya kapasitas vital pernafasannya.nampak direnggangkan keluar (posisi abduksi). Dalam pemeriksaan perkusi terdengar suara pekak. Dalam keadaan seperti itu penderita jadi malas bergerak. tidak diperlukan pengobatan. sekitar 40oC. Bila cairan yang terbentuk cukup banyak. PENGOBATAN Pengobatan pleurisi tergantung kepada penyebabnya. dilakukan pengobatan terhadap penyakit yang mendasarinya. yang kadang-kadang tingginya mencapai hampir setengah daerah perkusi. penderita dapat mengalami kematian setiap saat. Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri. Dalam pemeriksaan auskultasi terdengar suara friksi karena bergeseknya kedua pleura. diberikan antibiotik. mungkin saja tidak mengakibatkan gejala pernafasan yang berarti. hingga lebih banyak tinggal di kandang atau menyendiri dari kelompoknya. dalam perkusi dapat dikenali adanya daerah pekak horizontal. Jika penyebabnya adalah virus. Oleh banyaknya cairan yang terbentukgejala dispnoea juga menjadi lebih jelas. Jika penyebabnya adalah penyakit autoimun. Penderita demikian tampak normal. Kekurangan oksigen yang disebabkan oleh toksemia dan akibat radang paru-paru yang mengikutinya. Pada radanag pleura penderita nampak lesu karena adanya penyerapan toksin (toksemia). Kebanyakan penderita mengalami demam. Adanya cairan radang dalam auskultasi akan terdengar suara perpindahan cairan sesuai dengan irama pernafasan. terutama pada bagian bawah daerah perkusi paru-paru. Apapun penyebab dari pleurisi. yang mungkin ditemukan pada sapi yang menderita tuberkulosis.

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat dan eksudat yang di akibatnya terjadinya ketidak seimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis. Penyakit – penyakit dengan efusi pleura: Efusi pleura Page 8 . Kodein dan golongan narkotik lainnya merupakan pereda nyeri yang lebih kuat tetapi cenderung bersifat menekan batuk. akan meningkatkan resiko terjadinya pneumonia.penderita pleurisi dianjurkan dan didorong untuk bernafas dalam dan batuk. Karena itu jika sudah tidak terlalu yeri. Tetapi membungkus dada untuk mengurangi pengembangannya. 2. Pengertian Efusi Pleura Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru. jika kondisi ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya. Efusi pleura adalah suatu keadaan diman terdapat cairan berlebihan di rongga pleura. Batuk mungkin tidak terlalu nyeri jika penderita atau penolong menempatkan /memeluk sebuah bantal di daerah yang sakit. 1994. Membungkus seluruh dada dengan perban elastis yang tidak lengket.asetaminofen atau ibuprofen. 111). sehingga bukan merupakan langkah yang baik karena bernafas dalam dan batuk membantu mencegah terjadinya pneumonia. Efusi pleura merupakan salah satu kelainan yang mengganggu sistem peranfasan. juga bisa membantu meredakan nyeri yang hebat. Efusi pleura bukanlah diagnosis suatu penyakit melainkan hanya merupakan gejala atau komplikasi dari suatu penyakit.

Virusnya adalah echo virus. iga atau kolumna Efusi pleura Page 9 . Pemberian kemoterapi dengan ampisilin 4 x 1 gram dan metronidazol 3x 500 mg. pnemonia. Kadang – kadang ditemukan juga gejala – gejala perikarditis. Penyakit ini kebnyakan terjadi esabgai komplikasi penyakit tuberkolosisi paru melalui fokus subpleura yang robek atau melalui getah bening yang menuju rongga pleura. Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100 – 6000 per cc. tafilacocus. sakit dada. Aerob : streptococos. millery. chlamidia. dan mikoplasma. dinding dada atau esofagus. sakit perut. coxsackie group. fusobakterium.gejala penyakit dapat dengan keluhan sakit kepala. Pleurritis karena bakteri piogenik Permukaan pleura dapat di tempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen dan jarang yang melalui venetrasi diafragma. Pleuritis tuberkolosa Permulaan penyakit ini terlihat sebagai efusi yang sero-santokrom dan bersifat eksudat. hemofilus spp.Pleuritis karena virus dan mikroplasma Efusi pleura karena virus atau mikroplasma agak jarang. An aerob : bakteriodes spp. streptococus. malaise. Bila ter jadi jumlahnya tidak banyak dan kejadiannya hanya selintas saja. aerous. demam. Diagnosa ditegakkan dengan menemukan virus dalam cairan efusi tapi cara termudah adalah dengan mendeteksi antibody terhadap virus dalam cairan efusi. ricketsia. peptostieptococus.

vertebralis. Biasanya terjadi karena perjalanan infeksi fungi dari jaringan paru. Pada dinding pleura dapat ditemukan adanya granuloma. kriptokous. Jenis fungi penyebab pleuritis adalah aktinomikosis. INH. Prognosis penyakit ini relatif baik. blastomikosis dll. aspergilus. Pada daerah – daerah dimana frekuensi tuberklosis paru tinggi dan terutama pada pasien usia muda. tapi untuk menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosintesis. Pleuritis fungi Pleuritis karena fungi amat jarang. Pengobatan ini menyebabkan cairan efusi dapat serap kembali. mula – mula yang dominan adalah karena reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein. Pengobatan dengan amfoterisin B memberikan respon yang baik. pirazinamid etambutol tertomisin) memakan waktu 6 – 12 bulan. Dapat juga secara hematogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. jumlah leukosit antara 500 – 2000 per cc. histoplasmolisis. Diagnosa utama berdasarkan adanya kuman tuberkolosis dalam cairan efusi ( biakan) atau dengan biopsi jaringan pleura. Efusi pleura Page 10 . koksidiomikosis. Penyebaran fungi ke organ tubuh lain amat jarang. Patogenesis timbulnya efusi pleura adalah karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi. Cairan efusi yang biasanya serius kadang – kadang bisa juga hemoragik. sebagian besar efusi pleura adalah karena pleuritis tuberkolosa walaupun tidak ditemukan adanya granuloma pada biopsi jaringan pleura. Pengobatan dengan obat – obat anti tuberkolosis (rifamfisin. Dosis dan cara pemberian obat seperti pada pengobatan tuberkolosis paru.

Paru kanan dibagi oleh dua buah fisura kedalam tiga lobus atas.Pleuritis parasit Parasit yang dapat menginfeksi ke dalam rongga pleura hanyalah amuba. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah a.AC . Efusi pleura karena parasit ini terjadi karena peradangan yang ditimbulkannya. Fisiologi Efusi pleura Page 11 . 1995. 1992. MD. Disini parasit masuk ke rongga pleura secara migrasi dari parenkim hati. Masing-masing paru berbentuk kerucut. 3. transparan yang menutupi paru dalam dua lapisan : Lapisan viseral. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hillus paru-paru dibungkus oleh selaput yang tipis disebut Pleura (Syaifudin B. b. Efusi parapneumonia karena amuba dari abses hati lebih sering terjadi daripada empiema amuba. Bentuk tropozoitnya datang dari parenkim hati menembus diafragma terus ke parenkim paru dan rongga pleura. Disamping ini dapat juga terjadi empiema karena amuba yang cairannya berwarna khas merah coklat. Bisa juga karena aanya robekan dinding abses amuba pada hati ke arah rongga pleura. Anatomi Paru-paru terletak pada rongga dada. Pleura merupakan membran tipis. yang dekat dengan permukaan paru dan lapisan parietal menutupi permukaan dalam dari dinding dada. Rongga pleura adalah ruang diantara kedua lapisan tersebut. Paru kiri dibagi oleh sebuah tisuda ke dalam dua lobus atas dan bawah (John Gibson. tengah dan bawah. 104). Kedua lapisan tersebut berlanjut pada radix paru. 121). Permukaan datar paru menghadap ke tengah rongga dada atau kavum mediastinum.

Inspirasi terjadi dengan adanya kontraksi otot diafragma dan interkostalis eksterna yang menyebabkan volume thorax membesar sehingga tekanan intra alveolar menurun dan udara masuk ke dalam paru. 123). Proses ini terdiri atas 2 tahap : Inspirasi yaitu pergerakan udara dari luar ke dalam paru. (Alsagaff H. Proses respirasi berlangsung beberapa tahap antara lain : 1) Ventilasi Adalah proses pengeluaran udara ke dan dari dalam paru. Fungsi penyediaan O2 serta pengeluaran CO2 merupakan fungsi yang vital bagi kehidupan. 1995. Ekspirasi yaitu pergerakan udara dari dalam ke luar paru yang terjadi bila otot-otot expirasi relaxasi sehingga volume thorax mengecil yang secara otomatis menekan intra pleura dan volume paru mengecil dan tekanan intra alveola menurun sehingga udara keluar dari paru. 2) Pertukaran gas di dalam alveol dan darah.Sistem pernafasan atau disebut juga sistem respirasi yang berarti “bernafas lagi” mempunyai peran atau fungsi menyediakan oksigen (O2) serta mengeluarkan carbon dioksida (CO2) dari tubuh. Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong diantara kedua pleura karena biasanya hanya terdapat sekitar 10-20 cc cairan yang merupakan lapisan tipis serosa yang selalu bergerak secara teratur Efusi pleura Page 12 . 3) Transport gas Yaitu perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah). Abdul Moekty. 4) Pertukaran gas antara darah dengan sel-sel jaringan. MD. 15). 1995. Permukaan rongga pleura berbatasan lembab sehingga mudah bergerak satu ke yang lainnya (John Gibson.Metabolisme penggunaan O2 di dalam sel serta pembuatan CO2 yang juga disebut pernafasan seluler.

preumonia dan sebagainya. sindroma nefrotik. Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun Efusi pleura Page 13 . 3) Effusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor. Oleh karena itu ruang pleura disebut sebagai ruang potensial. radiasi. Permukaan superior dari diafragma dan permukaan lateral dari pleura parietis disamping adanya keseimbangan antara produksi oleh pleura parietalis dan absorbsi oleh pleura viseralis . infark paru. 785). sindroma nefrotik. (Guyton dan Hall. lupus eritematosus systemic. 4) Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk. sindroma meig. Karena ruang ini normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas. Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya akan tetapi effusi yang bilateral ditemukan pada penyakit-penyakit dibawah ini :Kegagalan jantung kongestif. tuberkulosis. Ege. 2) Eksudat disebabkan oleh infeksi. Etiologi Berdasarkan jenis cairan yang terbnetuk. 607).1997. asites (oleh karena sirosis kepatis). tumor. ifark paru. trauma. penyakit kolagen. c. tumor dan tuberkolosis. eksudat dan hemoragis 1) Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri). cairan pleura dibagi menjadi transudat. 1990. asites. maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura ke dalam mediastinum. Patofisiologi Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. Setiap saat jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari cukup untuk memisahkan kedua pleura. tumor. karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. infark paru.(Soeparman. Jumlah cairan di rongga pleura tetap. d. effusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. TB. syndroma vena cava superior.

Batuk non produktif c. Suara nafas lemah h. 1997. Palpasi fremitus lemah j. Kemungkinan penyebab efusi antara lain (1) penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura. 623-624). Bila efusinya besar maka ruang intercostals tampak menonjol e. Mukti A. Rasa sakit/nyeri pada paru d. Perkusi didengar pekak g. (2) gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam rongga pleura (3) sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma.misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma. Egc. 145). Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall . bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan (4) infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura. 1995. Pergerakan dada berkurang f. Kadang – kadang demam subfebris Efusi pleura Page 14 . 4. Dispnea/sesak nafas b. TANDA DAN GEJALA a. Kelelahan i.

kelebihan anti Torakotomi Efusi pleura Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi Untuk mengeluarkan udara.a. dada. Tujuan Pemasangan . setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Tempat pemasangan a. c. b. panas tinggi (kokus). menggigil. Pengertian WSD adalah suatu unit yang 2. penderita akan sesak napas. pasca bedah toraks 3. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. luka tusuk tembus Hemothoraks karena robekan pleura. b. 4. Indikasi a. koagulan. subfebril (tuberkulosisi). banyak keringat. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). e. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam. pleura b. d. c. banyak riak.  5. d. Water Seal Drainase (WSD) 1. batuk. a. cairan atau darah dari rongga bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura c. Apikal  Letak selang pada interkosta III mid klavikula Efusi pleura Page 15 Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga sebagian Pneumothoraks karena rupture bleb. Bila cairan banyak.

5 liter dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatkan edema. 4 5 6 Opreatif. untuk mencegah penumpukan kembali cairan. 2 3 Antibiotik jika terdapat emprema. Cairan efusi sebanyak 1-1. Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar. dan untuk menghilangkan Efusi pleura Page 16 . Tirah baring. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. bila cairan pus kental sehingga sulit keluar atau empiemanya multilokulara. botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal. • System tiga botol Sistem tiga botol. dipsnea. Basal  Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller  Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura 6. Jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikut dilakukan 1 jam kemudian. nyeri. 7. Jenis WSD • Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks • Sistem dua botol Pada system ini. dll. Penatalaksanaan Medis 1 Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subjek. Dimasukkan secara antero lateral  Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura b. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. Pleurodesis yaitu melengketkan pleura viseralis dan pleura parietalis untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi pleura maligna).

tetapi ini tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adekuat. Zat-zat yang dipakai adalah tetrasiklin (terbanyak dipakai) bleumisin. penipisan protein dan elektrolit. Fibrosis paru 3. perlu tindakan operatif. Pneumotorak Efusi pleura Page 17 . Pengobatan secara sistematik hendaknya segera diberikan. untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.ketidaknyamanan serta dispneu. Bila penyebab dasar malignansi. 10 Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada. Flourorasil. korinebacterium parvum. Mungkin sebelumnya dapat di bantu dengan irigasi cairan garam fisiologi atau larutan antiseptik (betadine). Komplikasi 1. Pneumonia 2. dan terapi diuretic. torasentesis berulang mengakibatkan nyeri. sirosis). 7 8 Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan. Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura (pada efusi pleura maligna) dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketnya pleura viseralis dan pleura parientalis. gagal jantung kongestif. 9 Agen yang secara kimiawi mengiritasi. seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut. Pengobatan Efusi Pleura Orang yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi melalui sela iga. dan kadang pneumothoraks. bedah plerektomi. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru. efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu. Tio-tepa. Bila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar atau bila empiemanya multilokular. pneumonia.

Emboli udara (karena adanya laserasi yang cukup dalam. Dampak masalah terhadap individu Sebagaimana penderita penyakit yang lain. Dampak masalah terhadap keluarga Pada umumnya keluarga pasien akan merasa dituntut untuk selalu menjaga dan memenuhi kebutuhan pasien. Lamanya perawatan pasien banyaknya biaya pengobatan merupakan masalah bagi pasien dan keluarganya terlebih untuk keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah. febris. batuk dan yang lebih khas lagi adalah adanya sesak nafas. rasa berat pada dada akibat adnya akumulasi cairan di kavum pleura. b. Hemotoraks ( karena trauma pada pembuluh darah interkostalis) 7. Emfisema 5. suara nafas menurun adanya nyeri pleuritik terutama pada akhir inspirasi. menyebabkan udara dari alveoli masuk ke vena pulmonalis) 8. Pada umumnya Px dengan effusi pleura akan tampak sakit. Arelektasis 6. Laserasi pleura viseralis 2. Dampak Masalah a. Efusi pleura Page 18 .4. psiko sosial dan spiritual yang akan selalu menimbulkan dampak yang diakibatkan oleh proses penyakit atau pengobatan dan perawatan. Keluarga menjadi cemas dengan keadaan pasien karena mungkin sebagai orang awam keluarga pasien kurang mengerti dengan kondisi pasien dan tentang bagaimana perawatannya. Secara langsung peran pasien sesuai statusnya pun akan mengalami perubahan bahkan gangguan selama pasien dirawat di rumah sakit. Apabila ada salah satu anggota keluarga yang sakit sehingga keluarga pasien akan memberi perhatian yang lebih pada pasien. pada pasien effusi pleura akan mengalami suatu perubahan baik bio.

7. Pathway Efusi pleura Page 19 .

distribusi. gangguan difusi.TB Paru Pnemonia Gagal jantung kiri Gagal ginjal Gagal fungsi hati Karsinoma Mediastinum Karsinoma paru Atelektasis Hipoalbuminemia inflamasi Peningkatan tekanan hidrostatik di pembuluh darah Peningkatan permeabilitas kapiler paru Tekanan asmotik koloid menurun Tekanan negative intra pleurapeningkatan permeabilitas kapiler Ketidak seimbangan jumlah produksi cairan dengan absorpsi yang bisa dilakukan pleura viseralis Akumulasi/ penimbunan cairan di kavum pleura Gangguan ventilasi ( Pengembangan paru tidak optimal). dan transportasi oksigen Sistem pernafasan Sistem saraf pusat Sistem pencernaan Sistem muskuluskeletal Respons psikososial Pa O2 menerun PCO3 meningkat sesak napas peningkatan produksi secret penurunan imunitas Penurunan suplai oksigen ke otak Efek hiperventilasi Penurunan suplai oksigen ke jaringan Sesak napas tindakjan infasif Hipoksia serebral Pola nafas tidak efektif jalan nafas tidak efektif resiko terpapar infeksi Produksi asam lambung meningkat peristaltic menurun Mual. nyeri lambung konstipasi Peningkatan metabolisme Koping tidak efektif anaerob Peningkatan produksi aam laktat kecemasan Pusing disorintasi Resiko gangguan perfusi serebral Ketidak seimbangan nutrisi nyeri lambung gannguan eliminasi alvi Kelemahan fisik umum Intoleransi aktif Efusi pleura Page 20 .

Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama.2). dimana keempat komponennya saling mempengaruhi satu sama lain yaitu : pengkajian. 2000. rasa berat pada dada. Riwayat Penyakit Sekarang Efusi pleura Page 21 . Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas. ASUHAN KEPERAWATAN Pemberian Asuhan Keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama dengan klien. perencanaan. Perawat memerlukan metode ilmiah dalam melakukan proses terapeutik tersebut yaitu proses keperawatan. bahasa yang dipakai. umur. jenis kelamin. status pendidikan dan pekerjaan pasien. nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. 1994. suku bangsa. keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Canpernito.B. Proses keperewatan dipakai untuk membantu perawat dalam melakukan praktek keperawatan secara sistematis dalam mengatasi masalah keperawatan yang ada. Pengkajian Pengumpulan Data Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi : a. implementasi dan evaluasi yang membentuk suatu mata rantai (Budianna Keliat. alamat rumah. 1. b. c. agama atau kepercayaan.2). Keluhan Utama Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit.

berat badan menurun dan sebagainya. 2) Pola nutrisi dan metabolisme Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme. nyeri pleuritik. rasa berat pada dada. TB paru dan lain sebagainya. Riwayat Penyakit Keluarga Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru. Pengkajian Pola-Pola Fungsi Kesehatan menurut gordon 1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan.Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tanda-tanda seperti batuk. trauma. bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. pneumoni. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhannya tersebut. Riwayat Penyakit Dahulu Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC paru. tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien. g. asites dan sebagainya. asma. e. gagal jantung. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Riwayat Psikososial Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya. d. f. Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok. sesak nafas. selain juga perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien Efusi pleura Page 22 .

berisik dan lain sebagainya. Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. 5) Pola tidur dan istirahat Adanya nyeri dada. Disamping itu. sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat. selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus. secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran. Karena keadaan umum pasien yang lemah. pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi. pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. Dan untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. peran pasien di masyarakatpun juga mengalami Efusi pleura Page 23 . Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit.dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen. kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi dan Px akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. misalkan pasien seorang ibu rumah tangga. mengurus suaminya. 4) Pola aktivitas dan latihan Akibat sesak nafas. dimana banyak orang yang mondar-mandir. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah. 6) Pola hubungan dan peran Akibat dari sakitnya. selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit. 3) Pola eliminasi Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan ilusi dan defekasi sebelumdan sesudah MRS.

7) Pola persepsi dan konsep diri Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. bagaimana penampilan pasien secara umum. bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan Efusi pleura Page 24 . Sebagai seorang awam. 10) Pola penanggulangan stress Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya. demikian juga dengan proses berpikirnya. Dalam hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran positif terhadap dirinya. Pemeriksaan fisik 1) Status Kesehatan Umum Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji. tiba-tiba mengalami sakit. pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan.perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. 9) Pola reproduksi seksual Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah. sesak nafas. Pasien yang tadinya sehat. h. ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa. nyeri dada. 8) Pola sensori dan kognitif Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan. sikap dan perilaku pasien terhadap petugas. 11) Pola tata nilai dan kepercayaan Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan.

Garis ini paling jelas di bagian depan dada. mungkin saja akan ditemukan tanda-tanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. rongga dada asimetris (cembung pada sisi yang sakit). Gerakan pergerakan ekspansi dada yang asimetris (pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit). Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura. Pengkajian batuk yang produktif dengan sputum purulen. pergerakan pernafasan menurun. Iga melebar.dan ketegangan pasien. ruang antar iga melebar. 2) Sistem Respirasi Inspeksi pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. Suara perkusi redup sampai peka tegantung jumlah cairannya. Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka Efusi pleura Page 25 . Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. kurang jelas di punggung. dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru. iga mendatar. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. Peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan yang disertai penggunaan otot bantu pernafasan.

turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien. 1994. adakah massa (tumor. asites. tumor). Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35 kali permenit. Mukty Abdol. adakah nyeri tekan abdomen. Ida Bagus. normal berada pada ICS – 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. apakah abdomen membuncit atau datar.akan terdengar suara e sengau. yang disebut egofoni (Alsagaf H. apakah hepar teraba. 4) Sistem Pencernaan Pada inspeksi perlu diperhatikan. umbilicus menonjol atau tidak. Efusi pleura Page 26 . juga apakah lien teraba. Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak.79) 3) Sistem Cardiovasculer Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis. tepi perut menonjol atau tidak. adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar. Widjaya Adjis. feces). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. Perkusi abdomen normal tympanik. Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah. perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa. Pada palpasi perlu juga diperhatikan. vesika urinarta.

demam). penciuman. 786Efusi pleura Page 27 . palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. meski cairan pleura lebih dari 300 cc. 1990. Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran. Untuk memastikan dilakukan dengan foto thorax lateral dari sisi yang sakit (lateral dekubitus) ini akan memberikan hasil yang memuaskan bila cairan pleura sedikit (Hood Alsagaff. penglihatan. Pemeriksaan Radiologi Pada fluoroskopi maupun foto thorax PA cairan yang kurang dari 300 cc tidak bisa terlihat. i. Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang. diafragma kelihatan meninggi. Pada effusi pleura sub pulmonal. refleks patologis. pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2. Adakah composmentis atau somnolen atau comma.5) Sistem Neurologis Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan GCS. 7) Sistem Integumen Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene. frenicocostalis tampak tumpul. Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin. 6) Sistem Muskuloskeletal Pada inspeksi perlu diperhatikan adakah edema peritibial. Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. Mungkin kelainan yang tampak hanya berupa penumpukkan kostofrenikus. Pemeriksaan Penunjang Hasil pemeriksaan medis dan laboratorium 1. dan bagaimana dengan refleks fisiologisnya. hangat. warna ada tidaknya lesi pada kulit. perabaan dan pengecapan.

biasanya terjadi pada klien dengan adanya keganasan paru atau akibat infark paru terutama disebabkan oleh tuberkolosis. dan perikarditis konstruktif. Pemeriksaan cairan pleura hasil thorakosintesis secara makroskopiis biasanya dapat berupa cairan hemoragi. terutama terjadi pada keadaan gagal jantung kongestif. hipoalbunemia. Pengukuran fungsi paru (sprimetri) Penurunan kapasitas vital. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium yang spesifik adalah dengan memeriksa cairan pleura agar dapat menunjang intervensi lanjutan. pemeriksaan radiologi foto thorak yang diperlukan sebagai monitor atas intervensi yang telah diberikan dimana keadaan keluhan klinis yang membaik dapat lebih dipastikan dengan penunjang pemeriksaaan foto thorak. Biopsi Pleura Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura dengan melalui biopsi jalur percutaneus. • klear eksudat pleural efusion. eksudat dan transudat. j. Efusi pleura Page 28 . Analisis cairan pleura dapat dinilai untuk mendeteksi kemungkinan penyebab dari efusi pleura. Biopsi ini digunakan untuk mengetahui adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit (biasanya kasus pleurisy tuberculosa dan tumor pleura) (Soeparman. • yellow exsudat pleural efusion. syndrom nefrotik.787). 1990. sering terjadi pada klien dengan keganasan extrapulmoner. 2. 3. • haemorrhagic pleural efusion. peningkatan rasio udara residual ke total kapasitas paru dan penyakit pleural pada tuberkulosis kronis tahap lanjut. 788).

kekuningan : kuning.5 Eksudat >3 > 0. Analisa cairan pleura Transudat Eksudat Hilothorax Empiema Empiema anaerob Mesotelioma : jernih.6 <3 < 0. b.000 (mm3):empiema Efusi pleura Page 29 .5 c.Dalam pemeriksaan cairan pleura terdapat beberapa pemeriksaan antara lain : a. 1990. arthritis reumatoid dan neoplasma Kadar amilase. Biasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis adenocarcinona (Soeparman. Biasanya merendah pada penyakitpenyakit infeksi. kuning-kehijauan : putih seperti susu : kental dan keruh : berbau busuk : sangat kental dan berdarah < 1. 787).016 Negatif > 1.6 > 200 > 0.016 < 200 < 0. secara biokimia diperiksakan juga cairan pleura : Kadar pH dan glukosa. Perhitungan sel dan sitologi Leukosit 25. Pemeriksaan Biokimia Secara biokimia effusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut : Transudat Kadar protein dalam effusi 9/dl Kadar protein dalam effusi Kadar protein dalam serum Kadar LDH dalam effusi (1-U) Kadar LDH dalam effusi Kadar LDH dalam serum Berat jenis cairan effusi Rivalta Positif Disamping pemeriksaan tersebut diatas.

limfoma.148) d.60 % kasus. pseudomonas. keganasan. pankreatilis. parasit dan Eritrosit : mengalami peningkatan 1000-10000/ mm3 cairan tampak kemorogis. trauma dada dan keganasan. Efusi pleura Page 30 . Bila erytrosit > 100000 (mm3 menunjukkan infark paru. Misotel banyak Sitologi : Jika terdapat mesotel kecurigaan TB bisa disingkirkan. jamur Eosinofil meningkat : emboli paru.kasus keganasan dapat ditemukan sel ganas. preamonitas atau atelektasis (Alsagaff Hood. TB paru : tuberculosis. Sisanya kurang lebih terdeteksi karena akumulasi cairan pleura lewat mekanisme obstruksi. enterobacter. 1998: 788). Pemeriksaan Bakteriologis ( gram stain ) Metode:Gram Prinsip : Bakteri gram (+) akan mengikat warna ungu dari carbol gentian violet dan akan diperkuat oleh lugol sehingga pada saat pelunturan dengan alkohol 96 % warna ungu tidak akan luntur. Pada pleuritis TB kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20 % (Soeparman.Banyak Netrofil Banyak Limfosit : pneumonia. klebsiecla. : Hanya 50 . Bakteriologis Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneamo cocclis. poliatritis nodosa. infark paru. sering dijumpai pada pankreatitis atau pneumoni. E-coli. 1995 : 147.

Ditambah lugol selama 1 menit. Kalau akan mencari fungi (jamur) campur setetes sampel dengan KOH/NaOH 10% diatas objek glass. Ditambah air fuchsin selama 2 menit. juga bisa dilakukan dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen untuk menemukan adanya bakteri clostridium. Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 x Catatan : Transudat : Tidak ditemukan bakteri dan Eksudat : Ditemukan bakteri Selain dengan pewarnaan gram. dicuci dan dikeringkan 6. 2. dicuci 5.sedangkan gram (-) akan Luntur oleh alkohol dan mengambil warna merah dari fuksin Tujuan : Untuk mengetahui adanya kuman–kuman dalam sampel sehingga dapat menentukan jenis cairan tersebut apakah transudat atau eksudat Alat : 1. Air Fuchsin 1 % Prosedur Kerja : 1. Lugol 1 % 3. tutup dengan kaca penutup. Setetes sampel yang telah disentrifuge dibuat hapusan diatas objekglass. Efusi pleura Page 31 . Objek Glass 2. dan dikeringkan. dicuci 4. dicuci 3. Diwarnai dengan karbol gentian violet selama 3 menit. Ditambah alkohol 96 %selama 30 detik. Mikroskop Reagensia : 1. Bak dan rak pewarnaan 4. Alkohol 96 % 4. Pipet tetes 3. Carbol gentian violet 1 % 2.

Sebelum digunakan sebaiknya disaring terlebih dahulu. disimpan dalam botol coklat. dapat menentukan jenis cairan tersebut apakah transudat atau eksudat. . dibentuk oleh kulit bagian bawah (debris). 2.Reagensia tidak kadaluarsa. jenis peneriksaan yang diminta. Efusi pleura Page 32 . pengambilan harus dalam keadaan steril baik itu alat ataupun wadah sampel .Lamanya waktu pewarnaan juga mempengaruhi terhadap sel yang diwarnai. Kualitas Reagensia.Perlu juga diperhatikan alat – alat yang digunakan dalam keadaan bersih dan kering. 3. untuk itu pada saat pewarnaan sesuai dengan waktunya.Pengiriman sampel dalam wadah tertutup rapat. Hal – hal yang harus diperhatikan : 1. Kesimpulan : Dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis antara lain hitung jumlah dan hitung jenis sel lekosit serta adanya bakteri dalam cairan/sampel yang diperiksa. bertutup rapat dan terlindung dari cahaya matahari langsung. dan diberi etiket yaitu nama. Pengambilan dan pengiriman sampel .Pengambilan sampel dilakukan secara pungsi yang berada disetiap rongga tubuh.biarkan selama 20 menit. Teknik Pemeriksaan . . lamanya sakit. sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosa. waktu pengambilan. steril. Bila yang dikirim berupa preparat etiketnya ditempel dibelakang preparatnya. kondisi alat seperti pipet tidak pecah pada ujungnya begitu juga dengan kamar hitung.Pemeriksaan sesuai dengan prosedur dan perlu ketelitian . . kemudian periksa dibawah mikroskop.

3. Penentuan diagnosa keperawatan harus berdasarkan analisa data sari hasil pengkajian.2. 1994. potensial dan kemungkinan. (Budianna Keliat. Efusi pleura Page 33 . 1993). Diagnosa Keperawatan Analisa Data Setelah semua data dikumpulkan. Selanjutnya masalah tersebut dirumuskan dalam diagnosa keperawatan. Cemas sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). kemudian dikelompokkan dan dianalisa sehingga dapat ditemukan adanya masalah yang muncul pada penderita effusi pleura.1) Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan effusi pleura antara lain : 1. maka diagnosa keperawatan yang ditemukan di kelompokkan menjadi diagnosa aktual. 1998). 2. Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan Barbara Engram). dkk. Sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. pencernaan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (Barbara Engram. 4. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura (Susan Martin Tucleer. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur 5. Efusi pleura Page 34 . 1998). aturan pengobatan sehubungan dengan kurang terpajang informasi (Barbara Engram. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen 2.5. dibuat rencana tindakan untuk mengurangi. Tujuan : Pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal Kriteria hasil : Irama. Gangguan pemenuhan kebutuhan rasa nyaman 4. Identifikasi faktor penyebab. Gangguan pemenuhan kebutuhan aktifitas 3. frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal. 16) 1. (Budianna Keliat. dkk. Diagnosa Keperawatan I Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura. pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan. 1994. Rencana tindakan : a. Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah) (Susan Martin Tucleer. Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan. PRIORITAS MASALAH 1. menghilangkan dan mencegah masalah klien. 6. bunyi nafas terdengar jelas. Kurang 1993) pengetahuan mengenai kondisi. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi 3.

2. laporkan setiap perubahan yang terjadi. e. Rasional : Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat. nadi. b. kita dapat menentukan jenis effusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. dalam posisi duduk.Rasional : Dengan mengidentifikasikan penyebab. Diagnosa Keperawatan II Page 35 Efusi pleura . frekuensi dan kedalaman pernafasan. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif. Penekanan otot-otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif. Observasi tanda-tanda vital (suhu. Kaji kualitas. Rasional : Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam. Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam. frekuensi dan kedalaman pernafasan. c. Rasional : Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal. kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. Dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru. RR dan respon pasien). tekanan darah. f. Rasional : Peningkatan RR dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman. Rasional : Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru-paru. g. d. Rasional : Dengan mengkaji kualitas. Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obatobatan serta foto thorax.

ensure. ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. Lakukan oral hygiene setiap hari. f. berat badan normal dan hasil laboratorium dalam batas normal. Sajikan makanan semenarik mungkin. e. Efusi pleura Page 36 . agama. b. socal. penurunan nafsu makan akibat sesak nafas. Beri motivasi tentang pentingnya nutrisi. banyak selingan memudahkan reflek. Rasional : Makanan dalam porsi kecil tidak membutuhkan energi. d. putmocare) jika intake diet terus menurun lebih 30 % dari kebutuhan. Rasional : Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya. c. Rencana tindakan : a. Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering. kebiasaannya. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian di’it TKTP Rasional : Di’it TKTP sangat baik untuk kebutuhan metabolisme dan pembentukan antibody karena diet TKTP menyediakan kalori dan semua asam amino esensial.Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. Rasional : Bau mulut yang kurang sedap dapat mengurangi nafsu makan. g. Rasional : Penyajian makanan yang menarik dapat meningkatkan nafsu makan. Rasional : Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya gangguan pada fungsi pencernaan. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : Konsumsi lebih 40 % jumlah makanan. Auskultasi suara bising usus. Kolaborasi dengan dokter atau konsultasi untuk melakukan pemeriksaan laboratorium alabumin dan pemberian vitamin dan suplemen nutrisi lainnya (zevity.

Rasional : Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif sangat bermanfaat dalam mengatasi stress. vitamin dan mineral dapat menambah asam lemak dalam tubuh. pasien mampu beradaptasi dengan keadaannya. Efusi pleura Page 37 . c. Berikan posisi yang menyenangkan bagi pasien. Rencana tindakan : a.Rasional : Peningkatan intake protein. Respon non verbal klien tampak lebih rileks dan santai. Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Tujuan : Pasien mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan. Diagnosa Keperawatan III Cemas atau ketakutan sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). Ajarkan teknik relaksasi Rasional : Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan b. Kriteria hasil : Pasien mampu bernafas secara normal. Bantu dalam menggala sumber koping yang ada. nafas teratur dengan frekuensi 16-24 kali permenit. Rasional : pasien mampu menerima keadaan dan mengerti sehingga dapat diajak kerjasama dalam perawatan. nadi 80-90 kali permenit. Rasional : Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan. Kaji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas. 3. a. Biasanya dengan semi fowler. Rasional : Hubungan saling percaya membantu proses terapeutik d. Jelaskan mengenai penyakit dan diagnosanya.

Rasional : Relaksasi dapat membantu mengatasi gangguan tidur. Rasional : Observasi gejala kardinal guna mengetahui perubahan terhadap kondisi pasien. Kriteria hasil : Pasien tidak sesak nafas. Diagnosa Keperawatan IV Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan nyeri pleuritik. 5. Tujuan : Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi. Diagnosa Keperawatan V Ketidakmampuan melaksanakan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah). Beri posisi senyaman mungkin bagi pasien. Tentukan kebiasaan motivasi sebelum tidur malam sesuai dengan kebiasaan pasien sebelum dirawat. perasaan yang mengganggu dapat diketahui.e. Rasonal : Posisi semi fowler atau posisi yang menyenangkan akan memperlancar peredaran O2 dan CO2. b. Rencana tindakan : a. pasien dapat tertidur dengan mudah dalam waktu 30-40 menit dan pasien beristirahat atau tidur dalam waktu 3-8 jam per hari. Efusi pleura Page 38 . Observasi gejala kardinal dan keadaan umum pasien. Anjurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum tidur. Rasional : Mengubah pola yang sudah menjadi kebiasaan sebelum tidur akan mengganggu proses tidur. Rasional : Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik. pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan. 4. d. Bantu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya. c.

Rencana tindakan : kelihatan segar dan bersemangat. d. Rasional : Memberi pendidikan pada Px dan keluarga dalam perawatan selanjutnya. Efusi pleura Page 39 kebutuhan . Rasional : Memacu pasien untuk berlatih secara aktif dan mandiri. pasien Kriteria hasil : Terpenuhinya pasien cukup. Evaluasi respon pasien saat beraktivitas. e. Rasional : Aktivitas yang teratur dan bertahap akan membantu mengembalikan pasien pada kondisi normal. aktivitas secara optimal. Rasional : Istirahat perlu untuk menurunkan metabolisme. Motivasi dan awasi pasien untuk melakukan aktivitas secara bertahap. Diagnosa Keperawatan VI Kurang pengetahuan mengenai kondisi. Bantu Px memenuhi kebutuhannya. c. catat keluhan dan tingkat aktivitas serta adanya perubahan tanda-tanda vital. Rasional : Kelemahan suatu tanda Px belum mampu beraktivitas secara penuh.Tujuan : Pasien mampu melaksanakan aktivitas seoptimal mungkin. Jelaskan pada pasien tentang perlunya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. aturan pengobatan sehubungan dengan kurangnya informasi. Libatkan keluarga dalam perawatan pasien. b. personel hygiene a. 6. Raasional : Mengetahui sejauh mana kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas. Awasi Px saat melakukan aktivitas.

PX dan keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik. Px dan keluarga menyatakan pemahaman penyebab masalah. Rasional : Informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan. b. Kaji ulang tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat (contoh.pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol. Nyeri dada berhubungan dengan faktor . Kriteria hasil : a. Memberikan pengetahuan dasar untuk pemahaman kondisi dinamik dan pentingnya intervensi terapeutik.faktor biologis (trauma jaringan) dan faktor – faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau hilang Criteria hasil : . Identifikasi kemungkinan kambuh atau komplikasi jangka panjang. 7. Rasional : Berulangnya effusi pleura memerlukan intervensi medik untuk mencegah. istirahat. Px dan keluarga mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah. b. Rencana tindakan : a.Tujuan : Pasien dan keluarga tahu mengenai kondisi dan aturan pengobatan. latihan). Kaji ulang praktik kesehatan yang baik (contoh. Rasional : Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan. c. Efusi pleura Page 40 . c. menurunkan potensial komplikasi. distress pernafasan). nyeri dada tiba-tiba. dispena. d. Kaji patologi masalah individu. Rasional : Penyakit paru yang ada seperti PPOM berat. penyakit paru infeksi dan keganasan dapat meningkatkan insiden kambuh. nutrisi baik.

Memperbaiki / menghindari lingkungan dan bahaya fisik. Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi. Observasi tanda distress pernafasan bila kateter torak lepas atau tercabut. 9. 8. Berikan analgetik sesuai indikasi. Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area. awasi sisi lubang pemasang selang. Jelaskan tentang patologi penyakit secara sederhana dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet air borne Rasional : Membantu klien menyadari/menerima prosedur pengobatan Efusi pleura Page 41 .pasien tanpak tenang Rencana Tindakan : Kaji terhadap adanya nyeri. Rencana tindakan : a. system drainase dada. catat kondisi kulit. : Kaji dengan pasien tujuan / fungsi unit Rencana tindakan Criteria hasil drainase. kurang pendidikan keamanan / pencegahan. Mengidentifikasi cara pencegahan dan penurunan resiko penyebaran infeksi b. Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti nafas : Mengenal kebutuhan / mencari bantuan untuk mencegah komplikasi. catat gambaran keamanan. Batasan karakteristik : diagnosis tuberkulosis paru + Kriteria hasil : Klien akan dapat : a.d froses cidera. Amankan selang dada untuk menbatasi gerakan dan menghindari iritasi. Mendemonstrasikan teknik/gaya hidup yang berubah untuk meningkatkan lingkungan yang aman terhadap penyebaran infeksi.. Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri. Resiko tinggi trauma / henti nafas b. skala dan intensitas nyeri. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan penurunan pertahanan primer dan sekresi yang statis.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kemampuan ekspansi paru. Monitor suhu sesuai sesuai indikasi Rasional : Reaksi febris merupakan indikator berlanjutnya infeksi d. bunyi napas menurun . Batasan karakteristik : Penurunan ekspansi dada Perubahan RR. Ajarkan membuang tissue yang sudah dipakai serta mencuci tangan dengan baik Rasional : Membiasakan perilaku yang penting untuk mencegah penularan infeksi c. 10. b.Klien akan : 1. Ajarkan klien untuk batuk dan mengeluarkan sputum dengan menggunakan tissue. nyeri dada Penggunaan otot aksesori Penurunan fremitus vokal. Melaporkan berkurangnya dyspnea 2.rifampicin. Kolaborasi pemberian INH.dan perawatan untuk mencegah penularan pada orang lain dan mencegah komplikasi. kerusakan membran akveolar kapiler. dyspnea. Rasional : Inh merupakan drug of choice untuk klien beresiko terhadap perkembangan TB dan dikombinasikan dengan “primary drugs” lain jhususnya pada penyakit tahap lanjut. ABGs dalam batas normal Efusi pleura Page 42 yang Kriteria hasil : . etambutol. Memperluihatkan peningkatan ventilasi dan oksigenasi adekuat 3. Observasi perkembangan klien setiap hari dan kultur sputum selama terapi Rasional : Membantu memonitor efektif tidaknya pengonbatan dan respons klien e.

Monitor ABGs Rasional : Penurunan tekanan gas oksigen (PaO2) dan saturasi atau peningkatan PaCO2 menunjukkan kebutuhan untuk perubahan terapetik f. Kolaborasi suplemen oksigen Rasional : Mengoreksi hypoxemia yang meyebabkan terjadinya penurunan sekunder ventilasi dan berkurangnya permukaan alveolar. 4. membran mukosa dan clubbing finger Rasional : Akumulasi sekret yang berlebihan dapat mengganggu oksigenasi organ dan jaringan vital c. Tingkatkan bedrest / pengurangi aktifitas Rasional : Mengurangi konsumsi oksigen selama periode bernapas dan menurunkan gejala sesak napas e. dan perubahan warna kulit. mencegah kolaps karena jalan napas yang sempit. peningkatan usaha untuk bernafas. termasuk penimbunan cairan di pleura sehingga menghasilkan gejala distress pernafasan. Pelaksanaan Efusi pleura Page 43 . penuruna suara nafas. Dorong/ajarkan bernapas melalui mulut saat ekshalasi Rasional : Menciptakan usaha untuk melawan outflow udara. ekspansi dada yang terbatas . membantu doistribusi udara dan menurunkan napas yang pendek d. Kaji adanya dyspnea. b.Rencana tindakan : a. Perhatikan adanya cyanosis . Evaluasi perubahan kesadaran . bunyi nafas tambahan. kelelahan Rasional : Tuberkulosis pulmonal dapat menyebabkan efek yang luas.

c. b. keterampilan interpersonal. e. Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi. 1989). d. meliputi kebiasaan Efusi pleura Page 44 . Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Mampu menerima keadaan sehingga tidak terjadi kecemasan. Dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri sehari-hari untuk mengembalikan aktivitas seperti biasanya. Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien (Budianna Keliat. g. Menunjukkan pengetahuan dan gejala-gejala gangguan pernafasan seperti sesak nafas. Midar H. pasien : a. perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Mampu mempertahankan fungsi paru secara normal.Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat. f. nyeri dada sehingga dapat melaporkan segera ke dokter atau perawat yang merawatnya.4). Menunjukkan pengetahuan tentang tindakan pencegahan yang berhubungan dengan penatalaksanaan kesehatan. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan. Kriteria dalam menentukan tercapainya suatu tujuan. dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien. 5. dkk. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya : Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan setelah dilakukan validasi. 1994. keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien.

Penerbit Buku Kedokteran EGC .. Airlangga University Press. Dasar – Dasar Diagnostik Fisik Paru. 1999 Soeparman A. Lynda Juall. Rencana Asuhan dan Dokumentasi keperawatan Edisi 2. Diagnosa keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik Edisi 6. Jakarta EGC .AC. minum minuman beralkohol dan pasien juga menunjukkan pengetahuan tentang kondisi penyakitnya. Sarwono Waspadji. Jakarta EGC . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Surabaya . Edisi 3 Jakarta EGC . Barbara. 1994 Marrilyn. MD. Jakarta EGC . Anatomi dan fisiologi untuk perawat.1995 Carpenito. A. 1998 Efusi pleura Page 45 . 1995 Engram. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Anatomi Dan Fisiologi Modern Untuk Perawat.yang tidak menguntungkan bagi kesehatan seperti merokok. 1995 B. William. 1999 Ganong F. Doengus. 1998 Gibson. 1990 Susan Martin Tucker. 1992 Carpenito. Ilmu Penyakit Dalam jilid II . DAFTAR PUSTAKA Al sagaff H dan Mukti. Dasar – Dasar Ilmu Penyakit Paru. Standar Perawatan Pasien. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume I. Lynda Juall. John. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17. 1995 Laboratorium Ilmu Penyakit Paru FK UNAIR. Surabaya. Penerbit Buku Kedokteran EGC . EGC.Syaifudin. E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful