P. 1
Konsep Dasar Mekanika Fluida

Konsep Dasar Mekanika Fluida

|Views: 341|Likes:
Fluida Sebagai Continum
Fluida Sebagai Continum

More info:

Published by: Bayu Prayoga Part II on Mar 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2015

pdf

text

original

Bab 2 : KONSEP DASAR

1
2.1. FLUIDA SEBAGAI CONTINUUM
 Kenyataan  Zat (Fluida) terdiri dari molekul-
molekul yang bergerak

 Aplikasinya  Hanya tertarik pada efek rata2
dari sejumlah molekul >>
“MAKROSKOPIK”
Anggapan bahwa Fluida sebagai satu kesatuan
Makroskopik  artinya Fluida sebagai
“CONTINUUM”
KONSEKUENSINYA
“Bahwa setiap property Fluida diasumsikan
mempunyai harga tertentu pada setiap titik dalam
ruang”

“KONSEP MEDAN”
2.1. FLUIDA SEBAGAI CONTINUUM
2
Artinya
Setiap property fluida (q) merupakan fungsi dari
KEDUDUKAN/POSISI dan WAKTU
MEDAN : = (x, y, z, t)



Property Fluida :
- density (µ)
- kecepatan (V)
- tekanan (p)
- temperatur (T)

waktu
posisi
2.2. MEDAN
V, m
ov ; om
x
y
z
C
x
o
y
o
z
o
0
3
MEDAN = (x, y, z, t)
1. Medan SKALAR ; mis: density (µ)
2. Medan VEKTOR ; mis: kecepatan (V)
3. Medan TENSOR ; mis: tegangan
2.2.1. Medan Skalar :  Denstitas (µ)
v
m
rata rata
=
÷
µ
???
C di rata rata
µ µ =
÷
2.2.1. MEDAN SKALAR
|
|
.
|

\
|
V
m
o
o
V o
' V o
v
m
lim
' v v
o
o
o o
µ
÷
=
4
Dengan cara yang sama dapat ditentukan µ di setiap
titik  maka diperoleh distribusi µ sebagai
fungsi posisi & waktu :

= (x, y, z, t)
v
m
lim
' v v
o
o
o o
µ
÷
=
Untuk menentukan µ
c
 harus ditentukan seberapa
ov minimum  ov’
2.2.2. MEDAN VEKTOR  Kecepatan (V)
5
KECEPATAN
fluida pada suatu titik (titik C) adalah
kecepatan sesaat dari titik berat dv’
yang mengelilingi titik tersebut (titik C)
KECEPATAN PARTIKEL
Fluida pada suatu titik adalah kecepatan
sesaat dari partikel fluida yang
melewati titik tersebut (pada waktu
tertentu)



PARTIKEL
fluida adalah suatu masa fluida yang
kecil, dengan ukuran sebanding
dengan dv’ yang mempunyai identitas
masa yang tetap
|
|
.
|

\
|
= t , z , y , x V V
2.2.2. MEDAN VEKTOR  Kecepatan (V)
6
Komponen Vektor Kecepatan:


Umumnya:
u = u (x, y, z, t)
v = v (x, y, z, t)
w = w (x, y, z,t)
Kondisi Khusus Aliran
k
ˆ
w j
ˆ ˆ
u V + + = v i
a. ALIRAN STEADY (Steady Flow)

“adalah aliran dimana property fluida di
suatu titik tidak tergantung terhadap
waktu”



( ) t z, y, , x η η 0
t
η
= > ÷÷ ÷ =
c
c
2.2.2. MEDAN VEKTOR  Kecepatan (V)
7
Kondisi Khusus Aliran
b. ALIRAN UNSTEADY (Un Steady Flow)

“adalah aliran dimana property fluida di
suatu titik tergantung terhadap waktu”



( ) t z, y, , x η η 0
t
η
= > ÷÷ ÷ =
c
c
c. ALIRAN 1-D, 2-D dan 3-D (D = Dimensi)

“aliran disebut 1-D, 2-D atau 3-D
tergantung dari jumlah koordinat
ruang yang digunakan untuk
menspesifikasikan medan kecepatan”

2.2.2. MEDAN VEKTOR  Kecepatan (V)
8
Aliran Satu-Dimensi (1-D)
)
`
¹
¹
´
¦
|
.
|

\
|
÷ =
2
1
R
r
u u
max
Kecepatan u hanya akan berubah bila r
berubah  Aliran Satu-Dimensi dalam
arah r
Contoh lain:


unsteady & D aliran e x a V
steady & D aliran i
ˆ
e a V
bt
bx
÷ > ÷÷ ÷ =
÷ > ÷÷ ÷ =
÷
÷
1
1
2
2.2.2. MEDAN VEKTOR  Kecepatan (V)
9
Aliran Dua-Dimensi (2-D)
• Kecepatan u
1
& u
2
akan berubah bila y
berubah
• Sepanjang perubahan x dari (1) ke (2)
kecepatan juga berubah dari u
1
ke u
2

Jadi aliran 2-Dimensi dalam arah x & y
2.2.2. MEDAN VEKTOR  Kecepatan (V)
10
Aliran Uniform
• Untuk aliran uniform:




0 0
2 1
=
c
c
=
c
c
y
u
dan
y
u
2.2.3. Timelines, Pathlines, Streaklines &
Streamlines
11
Timelines
adalah garis/lintasan yang dibentuk
oleh sejumlah partikel yang mengalir
pada saat yang sama
2.2.3. Timelines, Pathlines, Streaklines &
Streamlines
12
Pathlines
adalah lintasan yang dibentuk oleh
sebuah partikel yang bergerak dalam
aliran
2.2.3. Timelines, Pathlines, Streaklines &
Streamlines
13
Streaklines
adalah gabungan garis/lintasan dari
sejumlah partikel yang mengalir ,
dimana identitas partikel telah
diketahui dan partikel tersebut
pernah lewat titik yang sama
2.2.3. Timelines, Pathlines, Streaklines &
Streamlines
14
Streamlines
adalah sembarang garis yang
dilukiskan dalam medan aliran,
dimana garis singgung pada setiap
titik dalam garis tersebut menyatakan
arah kecepatan aliran
2.2.3. Timelines, Pathlines, Streaklines &
Streamlines
15
Streamlines
Note:
• Karena setiap kecepatan aliran
hanya menyinggung streamlines,
maka berarti tidak ada aliran yang
menyeberangi/memotong/melintasi
streamline
• Jadi, seakan-akan streamline
merupakan batas padat yang tidak
bisa ditembus oleh aliran
(imaginary solid boundary)
Pada aliran steady :
Pathlines, streaklines, streamlines berada
pada satu garis yang sama
Contoh Soal 2.1
16
Medan kecepatan : , dimana
kecepatan dalam (m/s); x dan y dalam meter;
A = 0,3 s
-1
Tentukan:
a)Persamaan stream line dalam bidang xy
b)Streamline yang melewati titik (x
0
, y
0
, 0) =
(2,8,0)
c)Kecepatan partikel pada titik (x
0
, y
0
, 0) =
(2,8,0)
d)Bila partikel yang melewati titik (x
0
, y
0
, 0)
dicatat pada t
u
= 0, tentukan lokasi partikel
pada t = 6 sec
e)Kecepatan partikel pada t = 6 sec
f)Bahwa persamaan pathline sama dengan
persamaan streamline
j Ay i Ax V
ˆ ˆ
÷ =

Contoh Soal 2.1
17
Penyelesaian :
a). karena garis singgung pada setiap titik
dalam streamline adalah menyatakan arah
kecepatan, maka:



pemisahan variable & diintegrasikan :

atau

yang dapat ditulis sbg.:

b). untuk streamline yg lewat titik (x
o
, y
o
, 0) =
(2,8,0), maka nilai c dapat dihitung sebagai:
xy = (2)(8) = 16 = c, sehingga persamaan
streamline menjadi : xy = x
o
y
o
= 16 m
2

}
÷ =
}
x
dx
y
dy
1
ln ln c x y + ÷ =
c xy =
x
y
Ax
Ay
streamline
dx
dy
u
v ÷
=
÷
= =
Contoh Soal 2.1
18
Penyelesaian :
c). medan kecepatan , pada titik
(2,8,0) adalah :



d). partikel yang bergerak dalam medan
aliran, mempunyai kecepatan sebesar
maka :

dan

pemisahan variable & diintegrasikan :



sehingga

atau
j Ay i Ax V
ˆ ˆ
÷ =

s m j i V /
ˆ
4 , 2
ˆ
6 , 0
|
|
.
|

\
|
÷ =

m j i s j y i x A V ) 8 2 ( 3 , 0 )
ˆ ˆ
(
1
÷ = ÷ =
÷

At
y
y
dan At
x
x
÷ = =
0 0
ln ln
At
y
y
dan At
x
x
÷ = =
0 0
ln ln
At
o
At
o
e y y dan e x x
÷
= =
j Ay i Ax V
ˆ ˆ
÷ =

Ay
dt
dy
p
v ÷ = = Ax
dt
dx
p
u = =
Contoh Soal 2.1
19
maka pada t = 6 s, didapat:


e). pada titik (12,1 , 1,32 , 0) m didapat :




f ). untuk menentukan persamaan pathline,
kita gunakan persamaan:


maka:



sehingga:



m e y dan m e x 32 , 1 8 1 , 12 2
) 6 )( 3 , 0 ( ) 6 )( 3 , 0 (
= = = =
÷
( )m j i s j y i x A V
ˆ
32 , 1
ˆ
1 , 12 3 , 0 )
ˆ ˆ
(
1
÷ = ÷ =
÷

s m j i V / )
ˆ
396 , 0
ˆ
63 , 3 ( ÷ =

At
o
At
o
e y y dan e x x
÷
= =
2
16 m y x xy
o o
= =
2
16 m y x xy
o o
= =
2.3. Medan Tensor (Tegangan)
20
Secara Umum :



Gaya yang menimbulkan Tegangan:

• Gaya Permukaan/Surface Force
• Gaya Badan/Body ) F (
B

) ( F d

( )
) (
) (
A Luas
F Gaya
T Tegangan =
) F (
s

adalah seluruh gaya yang bekerja pada
tapal batas suatu media melalui kontak
fisik secara langsung
Contoh : gaya tekan, gaya gesek dll.






Gaya Permukaan/Surface Force
Cs
Cv
Fs
2.3. Medan Tegangan
21
adalah seluruh gaya yang bekerja pada
fluida tanpa adanya kontak fisik secara
langsung dan terdistribusi secara merata
dalam volume fluida

Contoh : gaya berat, gaya elektromagnetik
dll.
Gaya Badan / Body Force
• Tegangan pada suatu media dihasilkan
dari gaya yang bekerja pada luasan media
tersebut
• Karena gaya & luasan adalah vektor maka
tegangan bukan vektor  TENSOR

Tegangan
2.3. Medan Tegangan
22
Gaya yang bekerja pada luasan
di sekeliling titik C, dapat
menghasilkan 2(dua) komponen tegangan:
Normal (o
n
) & Geser (t
s
) pada luasan













Note: merupakan vektor satuan, yang merupakan arah
vektor luasan tegak lurus bidang
Tegangan
) ( A

o
) ( F

o
)
ˆ
(n
) ( A

o
2.3. Medan Tegangan
23
• 3 Gaya oF
x
, oF
y
, oF
z
berturut-turut dalam
arah x, y, z
• Semua gaya bekerja pada bidang x  oA
x
• Tegangan yang dihasilkan masing-
masing :
 Tegangan pd bidang x
dlm arah x
 Tegangan pd bidang x
dlm arah y
 Tegangan pd bidang x
dlm arah z
2.3. Medan Tegangan
24
Secara Umum
0
lim
÷
i
A o
T
ij
=
F
j
_______
A
i
T
ij
= tegangan yang bekerja pada
bidang i dalam arah j
T
xy
adalah tegangan yang bekerja
pada bidang x dalam arah y
 Sbg tegangan geser yang
dinotasikan : t
xy

Txx adalah tegangan yang bekerja
pada bidang x dalam arah x
 Sbg tegangan normal yang
dinotasikan : o
xx
25
2.3. Medan Tegangan
Untuk 6(enam) bidang
(kubus/balok); pada setiap bidang
bekerja 3(tiga) buah tegangan
(2 geser + 1 normal), sehingga ada :
6 x 3 tegangan = 18 tegangan
26
2.3. Medan Tegangan
Dari 18 tegangan yang ada; terdapat
9 pasang tegangan:
| |
(
(
(
¸
(

¸

=
zz zy zx
yz yy yx
xz xy xx
o t t
t o t
t t o
T
dimana : disebut Tensor Tegagan | | T
27
2.3. Medan Tegangan
Perjanjian Tanda Tegangan
Khusus untuk sistem koordinat diatas, diperoleh :
Bidang x : 
Bidang y : 
Bidang z : 
Kiri
Bawah
Belakang
Kanan
Atas
Depan
Bidang - Bidang +
Tanda Tegangan bertanda
x
y
z
bila
arah +
bidang +
bila
arah -
bidang -
atau
+
28
2.4. Viskositas
x
y
M M’
ol
P P’
oy
Elemen fluida
pada saat, t
Elemen fluida
pada saat, t+ot
Gaya F
x
kecepatan oU
N
O
ox
oo
• Tegangan geser t
xy
diberikan sebagai:



dimana : oA
y
= element luasan fluida
yang digeser oleh plat

• Selama selang waktu ot, elemen fluida
terderformasi dari posisi MNOP ke
M’NOP’, dengan kecepatan deformasi:

y
x
y
x
A
yx
dA
dF
A
F
y
= =
> ÷
o
o
t
o 0
lim
dt
d
t
t
deformasi tan kecepa
o
o
oo
o
=
> ÷
=
0
lim
29
2.4. Viskositas
Dari gambar terlihat:
• ol = ou.ot
• atau juga, ol = oo.oy

Sehingga :




Maka kecepatan deformasi =




dy
dU
dt
d
=
o
dy
dU
dt
d
atau
y
U
t
= =
o
o
o
o
oo
30
2.4.1. Newtonian Fluid
Newtonian Fluid:
adalah fluida yang apabila dikenai tegangan
geser, maka tegangan geser tersebut
sebanding/berbanding langsung dengan
kecepatan deformasi



Contoh : air, udara,minyak dll
Setiap fluida mempunyai ketahanan
terhadap deformasi yang berbeda akibat
Tegangan Geser yang sama 
VISKOSITAS ABSOLUT (µ)




dy
du
yx
· t
dy
du
yx
µ t =
31
Viskositas Absolut/dinamik
Viskositas absolut atau dinamik (µ)





dimana: µ = viskositas absolut/dinamik
t
yx
= tegangan geser

= kecepatan deformasi

|
.
|

\
|
=
dy
du
yx
t
µ
|
.
|

\
|
dy
du
32
Viskositas Absolut/dinamik
( ) sec .
sec .
sec .
Pa
m
N
m
kg
= =
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
2
|
.
|

\
|
sec . cm
g
|
|
|
.
|

\
|
|
|
|
.
|

\
|
=
sec .
sec .
2
ft
slug
ft
lbf



DIMENSI
MLtT [M L
-1
t
-1
]
FLtT [F L
-2
t]
SATUAN
S.I
Absolute
Matric
British


p poise
cm
g
1 1 1 = =
|
.
|

\
|
sec .
Note


1 poise = 100 centipoise = 100 cp
|
.
|

\
|
=
dy
du
yx
t
µ
33
Viskositas Kinematik (v)
Viskositas kinematik (v)
adalah perbandingan antara
viskositas absolut (µ) dengan masa
jenis/densitas (µ)




µ
µ
v =




dimana: SG
zat
= Specific Gravity suatu Zat
µ
H2O
= masa jenis/densitas air

O H
zat
zat
SG
2
µ
µ
=
34
Viskositas Kinematik


DIMENSI
MLtT
atau
FLtT
[L
2
t
-1
]
SATUAN
S.I


Absolute
Matric


British


µ
µ
v =
|
|
.
|

\
|
sec
2
m
|
|
.
|

\
|
sec
2
cm
|
|
.
|

\
|
sec
2
ft
stoke
cm
1
2
1 =
|
|
.
|

\
|
sec
Note
35
Viskositas
Note:
Pengaruh temperatur terhadap
Viskositas fluida:
• Untuk Gas:
Temperatur (T)  Viskositas

• Untuk Liquid:
Temperatur (T)  Viskositas


FIGURE A2
(VISKOSITAS ABSOLUT)
36
FIGURE A3
(VISKOSITAS KINEMATIK)
37
38
2.4.2. Non-Newtonian Fluid
Non-Newtonian Fluid:
adalah fluida yang apabila dikenai tegangan
geser, maka tegangan geser tersebut tidak
sebanding/berbanding langsung dengan
kecepatan deformasi




dimana: k = konstanta
n = indeks yang tergantung pada
perilaku aliran

Bila : k = µ dan n = 1  Fluida Newtonian


contoh fluida Non-Newtonian:
pasta gigi, cat, lumpur, bubur kertas, dll.

n
yx
dy
du
k
|
.
|

\
|
= t
39
2.4.2. Non-Newtonian Fluid
Persamaan diatas dapat diubah menjadi:




dimana: q =

= viskositas semu
(apparent viscosity
Bila :
• n < 1  q  Pseudoplastic
(mis.: bubur kertas)
• n = 1  q = k = µ  Newtonian
(mis: air)
• n > 1  q  Dilatant (mis.: lumpur)
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
÷
dy
du
dy
du
dy
du
k
n
yx
q t
1
1 ÷
|
.
|

\
|
n
dy
du
k
Bingham Plastic:


dimana : t
y
= yield stress
Contohnya : Pasta gigi
|
.
|

\
|
+ =
dy
du
p y yx
µ t t
|
.
|

\
|
dy
du
|
.
|

\
|
dy
du
40
2.4.2. Non-Newtonian Fluid
41
2.4.2. Non-Newtonian Fluid
Note:
Umumnya :


dimana : t = waktu

Bila :
• t   Thixotropic
(mis.: cat)
• t   Rheopectic

• Viscoelastic fluid :
adalah fluida yang dapat kembali ke
keadaan/bentuk asalnya bila tegangan
geser yang bekerja padanya dihentikan
) (t f = q
Contoh Soal : 2.2
42
Contoh soal
43
Contoh Kasus :
2.5. Deskripsi dan Klasifikasi
Gerakan Fluida
44
2.5.1. Aliran Viscous & Inviscid
45
Aliran Viscous
adalah aliran dimana viskositas fluida
sangat berpengaruh sehingga
menghasilkan tegangan geser aliran
pada dinding saluran


0 =
yx
t
Aliran Inviscid
adalah aliran dimana viskositas fluida
diasumsikan NOL (µ = 0), sehingga
tegangan geser tidak berpengaruh


0 =
yx
t
Problem: Tidak ada fluida yang
tidak mempunyai viskositas
adakah aliran inviscid ??
46
 Fluida viscous dan inviscid dipisahkan oleh sebuah batas
yang dikenal dengan boundary layer.
 Daerah yang berada diantara permukaan padat (solid
surface) dan boundary layer adalah daerah yang
dipengaruhi oleh efek viscous. Efek viscous ini
memberikan sumbangan terhadap adanya tegangan geser
(shear stress). Profil kecepatan aliran pada daerah ini
semakin kecil akibat adanya tegangan geser tersebut, hal
ini ditunjukkan pada posisi x
1
dan x
2
pada posisi y
C
dan
y
C
’ , dimana u
c
> u
c’
.
 Daerah di atas boundary layer dikenal sebagai daerah
inviscid, dimana pada daerah tersebut efek viscous tidak
ada, sehingga tegangan gesernya diabaikan. Profil
kecepatan di daerah inviscid adalah pada arah y adalah
konstan dan harganya sama dengan kecepatan
freestream-nya (U )
 Sebagai konsekuensi kondisi tanpa slip (no-slip
condition), maka profil kecepatan aliran pada posisi x
1
dan
x
2
yang ditunjukkan dengan titik A dan A’ berharga nol.
2.5.1. Aliran Viscous & Inviscid
Viscous
Inviscid
·
2.5.1. Aliran Viscous & Inviscid
47
Boundary Layer (BL)
adalah lapisan tipis di dekat dinding
padat yang memisahkan daerah di
dalam BL dimana tegangan geser
sangat berpengaruh (aliran viscous) dan
daerah di luar BL dimana tidak ada
pengaruh tegangan geser (aliran
inviscid)




Bondary
Layer (BL)
Di dalam BL  t 0  aliran Viscous
Di luar BL  t = 0  aliran inviscid
=
Note:
adalah aliran dimana viskositas fluida diasumsikan NOL
(µ = 0), sehingga tegangan geser tidak berpengaruh







* Di dalam BL : u = f(y)   aliran viscous 0 =
dy
du
0 = =
dy
du
µ t
( ) 0 = µ
* Di luar BL : u = konstan thd y   aliran inviscid
0 =
dy
du
( ) 0 = µ
0 = t
Aliran Viscous
48
Terjadinya Separasi
Bila momentum yang digunakan untuk
menggerakkan fluida sudah tidak
mampu lagi mengatasi gaya gesek dan
tekanan balik (adverse pressure
gradient) yang terjadi

A = titik Stagnasi
C = Titik Separasi
B = Titik Kecepatan Maximum & Tekanan Minimum
49
Fenomena Separasi Pada Permukaan Lengkung
50
Fenomena Separasi Pada Permukaan Lengkung
Aliran Viscous
51
Wake
adalah daerah bertekanan rendah yang
dibentuk oleh terpisahnya Boudary
Layer bagian atas dan bagian bawah


Wake  Pressure Drag (F
Dp
)

Wake  Pressure Drag (F
Dp
)

Note: pressure drag = gaya hambat akibat tekanan

Streamlining a Body (aliran Viscous)
52
Streamlining a body

Mengurangi adverse pressure gradient

Menunda terjadinya separasi

Mempersempit daerah Wake

Memperkecil terjadinya Pressure Drag

Aliran Inviscid
53
Untuk aliran inviscid melewati body
silinder:
 aliran simetri dalam sumbu x & y
 distribusi tekanan juga simetri dalam
sumbu x & y
(tidak ada gesekan yang terjadi)

A = titik Stagnasi
B = titik Kecepatan Maximum & Tekanan Minimum
Aliran Melalui Permukaan Lengkung
54
2.5.2. Aliran Laminar & Turbulent
55
Aliran Laminar
adalah aliran dimana struktur aliran
dibentuk oleh partikel-partikel fluida
yang bergerak secara berlapis-lapis,
dimana setiap lapisan bergerak diatas
lapisan lainnya

Aliran Turbulent
adalah aliran dimana partikel-partikel
fluida bergerak secara bercampur aduk
(mixing) dan acak, setiap partikel
menumbuk partikel lainnya sehingga
terjadi pertukaran energi

2.5.2. Aliran Laminar & Turbulent
56
2.5.2. Aliran Laminar & Turbulent
57
Bilangan Reynolds (Re)

 Bilangan tidak berdimensi
 untuk mengkarakteristikkan apakah
aliran laminar ataukan turbulent



dimana : L = panjang karakteristik

Untuk aliran dalam Pipa  L = D (diameter pipa)







µ
µ L V
= Re
V
µ
µ
D
aliran
µ
µ D V
= Re
Bila : Re < 2300  aliran Laminar
Re = 2300  aliran Transisi
Re > 2300  aliran Turbulent
2.5.2. Aliran Laminar & Turbulent
58
Untuk aliran antara dua-plat paralel  L = h








Bila : Re < 1400  aliran Laminar
Re = 1400  aliran Transisi
Re > 1400  aliran Turbulent
V
µ
µ
h
aliran
µ
µ h V
= Re
59
Viscous Pipe Flow: Flow Regime
Osborne Reynolds Experiment to show the three regimes
Laminar, Transitional, or Turbulent:
Laminar
Transitional
Turbulent
2.5.2. Aliran Laminar & Turbulent
Aliran Laminar
60
Aliran Turbulent
61
2.6. Aliran Inkompressibel &
Kompresibel
62
Aliran Inkompresibel
adalah aliran dimana variasi densitas
fluida yang mengalir dapat diabaikan

µ = konstan

Aliran kompresibel
adalah aliran dimana variasi densitas
fluida yang mengalir cukup berarti dan
tidak dapat diabaikan

µ konstan

=
2.6. Aliran Inkompressibel & Kompresibel
63
Bilangan Mach (M)
 bilangan tanpa dimensi
 untuk mengkarakteristikkan tingkat
compressibility aliran



Dimana : V = kecepatan rata-rata aliran
C = kecepatan rambat bunyi
lokal



C
V
M

=
Bila : M < 0,3  aliran Inkompresibel
M > 0,3  aliran Kompresibel
2.7. Aliran Internal & Eksternal
64
Aliran Internal
adalah aliran dimana fluida yang
mengalir dilingkupi secara penuh oleh
suatu batas padat

misal : aliran dalam pipa
2.7. Aliran Internal & Eksternal
65
Aliran Eksternal
adalah aliran dimana fluida melingkupi
suatu body padat

misal : aliran sungai
mobil yang bergerak

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->