ATURAN ADAT ISTIADAT BATAK

42/2011

Patokan dan Aturan Adat (Ruhut–ruhut Paradaton) Patokan dan aturan adat adalah acuan atau cerminan untuk melaksanakan adat didalam sukacita maupun dukacita yang pelaksanaannya harus didasarkan pada falsafah “ DALIHAN NATOLU “ serta memperhatikan nasihat nenek moyang ( Poda Ni Ompunta) * Jolo diseat hata asa diseat raut ( di bicarakan sebelum dilaksanakan) * Sidapot solup do na ro (mengikuti adat suhut setempat) * Aek Godang tu aek laut, dos ni roha nasaut (Musyawarah mufakat ). Pasal 1 1. Pada acara pesta perkawinan yang mutlak (mortohonan) suhi ni ampang ñaopat : a. Pihak paranak (pengantin lelaki) yang terima ulos : 1. Ulos Pansamot : Orang tua pengantin 2. Ulos Paramaan : Abang / adik Orangtua Pengantin 3. Ulos Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin 4. Ulos Sihunti Ampang : Saudara (Ito) atau Namboru Pengantin b. Pihak Parboru (pengantin perempuan) yang terima sinamot : 1. Sijalo Bara / Paramai : Abang / adik pengantin 2. Sijalo Upa Tulang : Tulang pengantin 3. Sijalo Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin atau Simandokhon Ito pengantin *(sesuai Hasuhuton&Tonggo Raja).

Ulos Hela diberikan setelah Ulos Pansamot. sesuai kesepakatan demikian Panandaion bila ada. Pada acara Adat Perkawinan yang harus diperhatikan : a. e. Uang Pinggan Panungpunan. Jumlah Tintin Marangkup. Tingkat kematian ditetapkan dalam Parrapoton / Tonggo Raja. 2. b. boleh memberi uang (pembeli ulos). Ulos yang diturunkan (tambahan) tidak boleh melebihi tanggungan Parboro. Urutan Pelaksanaan: 1. c. Sijalo Upa Pariban : Kakak atau Namboru Pengantin c. Sijalo Paramai diberikan setelah sinamot nagok diterima Suhut Parboru. c. 2. Tintin marangkup diberikan kepada Tulang Pengantin pria. Remaja / Pemuda Sihombing : Saput dari Tulang-nya. b. ulos yang berjalan dan acara sesuai tingkat kematian : 1. Meninggal Suami / Isteri : a. wajib memberikan ulos Herbang. Pasal 2 Pada Acara Adat Kematian (meniggal dunia). selain yang memberi ulos Herbang. d.4. disesuaikan dengan besarnya Sinamot. Anak-anak dan Boru Sihombing remaja : Lampin atau Saput dari orangtua. suhu – suhu Ompu yang menerima Sinamot / Tintin Marangkup / Upa Tulang . tidak ada Tintin Marangkup. bila perkawinan dengan Pariban Kandung (Boru Tulang). . Meninggalnya dari usia anak-anak sampai usia berkeluarga : a. 2. Undangan pada acara adat Boru Sihombing atau Bere Sihombing. Kembali dari makan tidak ada acara adat lagi.

Ulos Tujung/ Sampetua Suami dari Tulangnya. Hula-hulanya. g.Bila adatnya alap jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro . a. Soit untuk Horong Dongan Tubu. Suami meninggal. dll. Tulang-nya Siungkap Hombung. Pasal 3 Parjambaran Pada setiap Acara Adat Pesta Perkawinan dan kematian berjalan Parjambaran. pada dasarnya sebelum pelaksanaan harus dibicarakan lebih dahulu : 1. Pariban. kembali dari makam ada Acara Buka Hombung. Ale-ale. Tingkat kematian Sarimatua. f.Bila adatnya Taruhon Jual : Osang utuh diparanak. Mengkawinkan anak laki – laki : . ihurihur (Upa Suhut) diparanak dan diberikan Ulak Tando Parboru. bagi yang masih menerima Tujung. Ulos Saput / Tutup Batang Istri dari Hula – hula.b. Somba – somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot. Istri meninggal. d. untuk diberikan kepada hula-hula (Sijalo Tintin Marangkup). Urutan pelaksanaan : Saput lebih dulu baruTujung (berubah sesuai kondisi). e. c. . Dongan Sahuta. (2). Tingkat kematian Saurmatua. Ulos Tujung/ Sampetua Istri dari Hula – hula. PANJUHUTI-NYA PINAHAN / SIGAGAT DUHUT. PARJAMBARAN DI ACARA ADAT PESTA PERKAWINAN. Ulos Saput / Tutup Batang Suami dari Tulang-nya. Somba – somba dan soit dibagi dua dan parngingian (kiri) di Paranak : (1). kembali dari makam ada Acara Buka Tujung.

A. 2. Panambak / Sasap : Dongan Tobu. dll.Bila adatnya Taruhon Jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro. PARJAMBARAN DI ACARA KEMATIAN SARI / SAURMATUA. Suhut Bolon : Datu Parulas. . (4). Ale – ale. 2. (3). Somba –somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot. . Ikan (dengke) dari Parboru untuk Hasuhuton. Parngingian / Parsanggulan untuk Boru / Bere. Bona ni Hasuhutin : Tuan Hinalang. Dongan Sahuta. DONGASABUTUHA 1. BOAN SIGAGAT DUHUT (Contoh) : Ulaon : Borsak Simonggur. Soit untuk Horong Dongan Tubu. 3. (2). Hasuhuton : Hutagurgur. Pariban. Mengawinkan anak Perempuan : . Parsanggulan / Parngingian untuk Boru / Bere. Pangalapa / Pamultak : Raung Nabolon.Bila adatnya Taruhon Jual : Osang Utuh di Parboru untuk diberikan ke Hula-hula dan Tulang Rorobot.(3). Ihur – ihur (Upa Suhut) di Parboru untuk Hasuhuton Somba – somba dan Soit dibagi dua dan parngingian(kanan) di Parboru : (1). Panambuli : Anggi Doli Hariara. b.

C. HULA – HULA 1. Tanggalan Rungkung Bona – bona : Boru Diampuan/Bere – Ibebere. Bona Hula. B. Bona Tulang. 6. Tanggalan Rungkung Mangihut : Boru ni Punguan. BORU / BERE / IBEBERE 1 . Tulan arsiat (Hula-hula. Tulan Bona : Pangalapan Boru/Hula-hula Tangkas. 3. 7. 3. Ihur – ihur / Upa Suhut : Datu Parulas. Uluna / Sipitudai : Jambar Raja (Parsadaan dan Punguan) Orang biasanya diberikan ke Protokol dan Sitoho-toho. 5. Bonian Tondi : Pangalualuan ni Nipi (teman curhat). 2. Gonting : Anggi Doli Suhut Bolon. Botohon : Sipukkha Huta/Dongan Sahuta. & Anak Manjae) D. Ale-ale. Pangula ni Huria. 4. Partungkoan. . Somba – somba Siranga : Tulang Rorobot. 2. Tanggalan Rungkung Partogi : Boru ni Prsadaan. Ungkapan : Haha Doli Suhut Bolon. 2. 3. Somba – somba Nagok :Bona na ari. Haha Anggi. 1. Tulan Tombuk : Namamupus/Tulang. DONGAN SAHUTA / RAJA NARO.4. Ronsangan : Pemerintah setempat. Soit Nagodang : Paariban. 4.

Haliang : leher 4. 6. Osang-osang : rahang bawah 2. Soit : persendian 6. PENJELASAN BENTUK DAN LETAK PARJAMBARAN A. Ihur-ihur/Upa Suhut : bagian belakang sampai ekor Parjambaran Namarmiak – miak di Humbang (Oleh : Ompu Natasya L. Sohe/Tanggo : Penggenapi jambar yang belum dapat. Parngingian : kepala bagian atas 3. Somba-somba : rusuk 5. Toruan ) Na marmiak-miak . dan lain-lain.5. Pohu : Penggenapi isi tandok Hula-hula 7. 3. Sitoho-toho : Surung-surung ni namanggohi adat (orang yang sering datang). NAMARMIAK-MIAK (PINAHAN LOBU) 1.

Tulan Bona : paha belakang 10. Panambak/Sasap : pangkal paha depan 5. Pangalapa/Pultahan : perut bagian bawah (tempat belah) 4. Sitoho-toho : sebagian dari osang bawah . Bonian Tondi : pangkal rusuk iga 18. Soit Nagodang : persendian 17. Somaba-somba Siranga : rusuk-rusuk besar 12. Botohon : paha depan 15. Tulan : kaki di bawah dengkul 14. SIGAGAT DUHUT 1. Tanggalan Rungkung : leher (depan sampai dengan badan) 9. Upa Suhut / Ihur-ihur : bagian belakang sampai ekor 8. Ronsangan : tulang dada ( pertemuan rusuk) 16. Somaba-somba Nagok : rusuk paling depan (gelapang) 13. Uluna/Sipitu dai : kepala atas dan bawah (tanduk namarngingi dan osang) 2. Ungkapan : pangkal rusuk depan 6. Gonting : pinggul/punggul 7.B. Panamboli : potongan leher (sambolan) 3. Tulan Tombuk : pangkal paha belakang 11.

Tahapan yang harus dipenuhi sebelum Mangadati : 1. 2. adatnya dilaksanakan kemudian dan atau kawin lari (mangalua) dimana acara ini dilaksanakan pihak pengantin laki-laki ( Paranak). Pihak paranak melakukan acara manuruk-nuruk (suruk-suruk) meminta maaf dengan membawa makanan adat kepada pihak Parboru(hula-hula). Togap L.membayar” adat perkawinan (marunjuk) yang telah menerima pemberkatan nikah sebelumnya. A. Pada acara partangiangan (pengucapan syukur) pemberkatan nikah. Sohe/Tanggo-tanggo : cincangan Parjambaran Sigagat Duhut di Humbang ( Oleh Drs. Karena itu ”mangadati” tidak sama dan bukanlah manjalo sulang-sulang ni pohompu. Toruan) Si gagat duhut Pasal 4 MANGADATI Mangadati adalah pelaksanaan ”menerima. dimana kedua belah pihak orangtua sepakat. . Pohu : bagian-bagian kecil 20. Paranak wajib mengantar ”Ihur-ihur” kepada pihak pengantin perempuan (Parboru) sebagai bukti bahwa putrinya telah di-paraja (dijadikan istri).19.

B. ikan. Marga Sileban harus datang secara adat. Sehingga yang diamai dengan yang Mengamai sudah menjadi Dongan Sahundulan yang sifatnya permanen. Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak. yang mendampingi hanya menerima uang kehormatan saja.3. Sijalo Ulos Suhi ni Ampang Naopat harus keluarga suku lain (Marga Sileban). Dongan Sahuta. sehinga pelaksanaan sama dengan pesta adat ”taruhon jual”. Yang mendampingi tidak boleh melakukan Tonggo / Ria Raja dan Papungu Tumpak. membawa makanan na marmiak-miak. Boru/Bere. C. yang menerima ulos diatur sebagai berikut : . dan ulos. dengan demikian : 1. Dengan restu hadirin. dengan membawa makan adat. dimana pelaksanaanya dilakukan sesuai dengan adat Batak. MANGAIN Pengertian umum adalah suatu proses untuk perkawinan campuran antara anaka / boru dengan anak/boru suku/bangsa lain (Marga Sileban). Marga Sileban cukup meminta kepada satu keluarga Sihombing yang mau mendampingi dengan fungsi sebagai wakil/juru bicara/Raja parhata. kemudian Marga Sileban memberikan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua hadirin. Acara ”mangadati” dilaksanakan di tempat pihak Paranak. Sijalo Sinabot harus Marga Sileban. Mendampingi Paranak. 3. Parjambaran: ”Sidapotsolup do naro” ‘ Pasal 5 MENDAMPINGI. MANGAMAI. Penerapannya dilakukan sesuai tahapan dan aturan masingmasing sebagai berikut : MENDAMPINGI. Dalam hal Mangamai Paranak. Acara ini merancang (mangarangrangi) ”Somba ni uhum: (sinamot). dan yang berkaitan dengan mangadati. Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak. yang Mangamai mangupa dengan menyatakan kesediaan untuk melaksanakan tahapan adat perkawinan yang dimaksud pihak Marga Sileban. Pihak Paranak melakukan pemberitahuan rencana ”mangadati” kepada pihak Parboru. Mendampingi Parboru. ulos herbang. yang mendampingi hanya menerima Ulos Pargomgom. memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangamai dihadapan Dongan Tubu. 2. yakni pihak Parboru datang dalam rombongan membawa beras. MANGAMAI .

Paramai : yang Mengamai. Marga Sileban atau pendampinganya menyerahkan tudu-tudu sipanganon. 6. 5. Marga Sileban menyerahkan putrinya kepada yang Mangain. Tahapan Pelaksanaan: 1. memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangain dihadapan Dongan Tubu. Hata Sigabe-gabe. Ulos Paramaan : Yang Mangamai. 2. Marga Sileban yang berkehendak anaknya (wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak(pria) Batak. Pariban : Boru yang Mengamai atau Boru Marga Sileban. Hula – hula yang Mangain (Tulangna) memberikan ulos parompa. Marsipanganon. 4. Dongan Sahuta. . Yang Mangain. Todoan : Marga Sileban atau yang Mengamai. Tintin Marangkup tetap harus diberikan ke Tulang pengantin pria Marga Sileban. Dalam hal Mangamai Parboru. MANGAIN. Upa Tulang harus diberikan kepada Tulang pengantin wanita Marga Sileban. marmeme dan manghopol dengan Ulos Mangain.Ulos Pansamot : Orangtua kandung Marga Sileban. Panandaion/Sipalas roha diatur pembagiaanya sesuai kesepakatan. Ulos Todoan : Marga Sileban atau keluaga yang Mengamai. membawa makanan namarmiak-miak. Marga Sileban harus datang secara adat. 3.Boru/bere. Hula-hula/Tulang. yang menerima Sinamot/tuhor diatur sebagai berikut : Sinamot nagok : Orangtua kandung Marga Sileban. Ulos seterusnya diatur pembagiannya sesuai dengan kesepakatan. Ulos Sihunti Ampang : Boru yang Mengamau atau Marga Sileban.

baik karena belum mempunyai keturunan maupun karena suatu hal. Pasal 6 MANGANGKAT /MANGADOPSI Suatu proses seorang anak (pria atau wanita) masuk dalam keluarga menjadi anak/boru. 1. Diain. Tahapan pelaksanaan : 1. tidak sama. Selain pewaris juga akan menjadi penerus keturunan. Masing masing hanya terbatas pada proses adat yang dilakukan. Selanjutnya. Mengurus kelengkapan dari catatan sipil. Pada dasarnya kedudukan Anak atau Boru yang Didampingi. Melakukan pengukuhan secara adat dihadapan : . 4.Hula – hula dan Tulang . Meminta persetujuan Haha/Anggi dan Ito.Raja Bius (Parsadaan dan Punguan) 5. Penjelasan tentang tata cara. Pada acara perkawinan yang diain. 2. yang menerima Sinamot Nagok dan Suhi ni Ampang Naopat adalah yang Mangain dan keluarga. Hula-hula dan Tulang mangupa / marmeme dan memberi Ulos Parompa 4.Boru / Bere . Pasahat tudu-tudu sipanganon 3. tetapi untuk pengukuhan anak (putra) sebaiknya sigagat duhut. Mengurus babtisan dari gereja. Untuk acara pengukuhan Boru (putri) oleh namarmiak-miak. dan tidak punya kaitan apapun dengan ”pewarisan”. Diamai. 3.Dongan Sahuta .Yang Mangain akan menempatkan yang diain pada urutan anggota keluarga yang tidak mengubah Panggoran (buha baju) yang sudah ada. 2. Marsipanganon . keluarga yang Mangain bertanggung jawab melaksanakan kewajiban adat Batak kepada yang diain. serta Hulua-hula(sekandung).Dongan Tubu . karena kehadirannya. Orangtua kandung marga Sileban menerima Sinamot(panandaion) sebagai penghargaan atau penghormatan.

dapat dilaksanakan oleh tingkat Suhu Ompu. 7. Misalnya mengundang paling sedikit seorang dari masing-masing : Haha Doli Hutagurgur. tidak boleh lagi dijalankan teken tes. Raja parhata. Hal-hal yang berjalan di luar Patokan dan Aturan adat ini. 3. Pada kejadian dukacita (mate) di mana statusnya Sarimatua atau Saurmatua. Hata Sigabe-gabe. 2. Pada setiap acara adat pesta perkawinan dan kematian yang berhak menerima dan memberikan adat aníllala anggota yang sudah diadati (beradat). Pengurus Parsadaan Borsak Sirumonggur. bila ada tambahan/titilan Paranak. bila bonannya Sigagat Duhut.harus dicatat menjadi dokumen Pengurus Pusat dan dilaporkan tertulis ke Dewan Pembina. 2. . Anggi Doli Hariara. Acara Patua Hata dan Pargusipon. Yang Mangangkat menyerahkan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua undangan (Upa Raja Natinonggo). Dalam menentukan banyaknya Ulos Herbang. Pesta adat (unjuk) yang oleh karena keterbatasan. karena hanya menambah lebih 5 (lima) undangan.5. hendaknya tetap memperhitungkan waktu penyerahan. hendaknya tetap ulaon Borsak Sirumonggur. tetapi Acara Tonggo Raja/Rai Raja harus sampai tingkat Borsak Sirumonggur. Pasal 7 ULOS HERBANG Ulaos Herbang untuk diberikan ke pihak Paranak pada acara perkawinan Boru Sihombing banyaknya 17 (tujuh belas) lembar. Pasal 8 CATATAN/PERHATIAN 1. 4. Pasal 9 PENUTUP 1. Patokan dan aturan adat ini dalam penerapannya tidak boleh menjadi beban pikiran dan menimbulkan kerugian Suhut Bolon. Pasahat Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada hadirin. 6. tidak boleh lebih dari yang disediakan Sihombing dan Ulos Herbang yang akan diterima pada acara perkawinan anak (putra) Sihombing Banyaknya tidak dibatasi.

Patokan dan Aturan adat yang Belum tertuang.L. setelah disetujui oleh Dewan Pembina. Drs. Disempurnakan Dan ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 23 September 2002 DEWAN PEMBINA BORSAK SIRUMONGGUR JAKARTA & SEKITARNYA Ketua Sekretaris TTD TTD St. akan ditetapkan oleh Pengurus Pusat.3. 12 Juni 2005 Sekretaris Jenderal Parsadaan Borsak Sirumonggur P. Toruan . Togap Lumbantoruan Drs. Ronald Marudin Sihombing Disalin sesuai dengan aslinya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful