P. 1
SAP Thypoid

SAP Thypoid

|Views: 770|Likes:
keperawatan anak
keperawatan anak

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Elda Jaziyah Rhadyallah on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2014

pdf

text

original

SATUAN ACARA PENYULUHAN DEMAM THYPOID

Pada Anak Di Ruang Alamanda RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung

Tugas Kelompok Stase Keperawatan Anak Program Profesi Keperawatan (Ners)

Disusun Oleh : Eka Reniastuti Enallia Rini Susanti Toto Ariwibowo Elda Febri Lisantri Dewi Prastika Apriando Ramadhani Andri Norman Riska Septie

PROGRAM PROFESI NERS (KEPERAWATAN) FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MALAHAYATI 2012/2013

Demam tifoid pada anak terbanyak terjadi pada umur 5 tahun atau lebih dan mempunyai gejala klinis ringan. Rata-rata usia pasien yang menderita demam thypoid adalah di bawah usia lima (5) tahun. Risiko terjadinya komplikasi fatal terutama dijumpai pada anak besar dengan gejala klinis berat. Anak merupakan yang paling rentan terkena demam tifoid. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak maupun dewasa. yang menyerupai kasus dewasa. walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari dewasa. insidensi demam tifoid banyak terjadi pada anak usia 5-19 tahun. Demam tifoid erat kaitannya dengan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan. Di hampir semua daerah endemik. . sehingga tak heran jika demam tifoid atau tifus abdominalis banyak ditemukan di negara kita. Di Indonesia sendiri. demam tifoid masih merupakan penyakit endemik dan menjadi masalah kesehatan yang serius. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam tifoid di seluruh dunia mencapai 16-33 juta dengan 500-600 ribu kematian tiap tahunnya. dari 68 pasien rawat inap di peroleh 10 pasien dengan diagnosa demam thypoid. Perbedaan antara demam tifoid pada anak dan dewasa adalah mortalitas (kematian) demam tifoid pada anak lebih rendah bila dibandingkan dengan dewasa.BAB I SATUAN ACARA PENYULUHAN DEMAM THYPOID 1.1 Latar Belakang Angka kejadian demam tifoid (typhoid fever) diketahui lebih tinggi pada negara yang sedang berkembang di daerah tropis. Hasil survei yang di lakukan di ruang alamanda.

Menyebutkan cara pencegahan Demam Thypoid e. 1.1. orangtua dapat menjelaskan kembali tentang : a.2 Tujuan Khusus Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 1 kali pertemuan. Menyebutkan tanda Demam Thypoid d.2. Menjelaskan perawatan dan pengobatan Demam Thypoid . Menyebutkan pengertian Demam Thypoid b.2 Tujuan 1. Menyebutkan penyebab Demam Thypoid c.2.1 Tujuan Umum Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan 1 kali pertemuan ini diharapkan orangtua mengetahui dan memahami tentang penyakit thipoid dan mengetahui hal yang harus dilakukan jika terkena thipoid serta cara mengatasi masalah tersebut.

kelenjar limfe usus dan Peyer’s patch. Kadang terjadi perdarahan dari hidung h. Demam b.1 Pokok Bahasan 2.1. Jika pengobatan tidak dimulai. 2. Terjadinya penularan salmonella typhi sebagian besar melalui makanan / minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman.1 Pengertian Demam Thypoid Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Diare( terutama anak-anak )konstipasi /sembelit tetutama (orang-orang dewasa) e. Lemah dan lelah d. Nyeri perut g. biasanya keluar bersama-sama dengan tinja (melalui rute oral fekal = jalur oro-fekal).maka suhu tubuh secara perlahan akan meningkat dalam waktu 2-3 hari. Penyakit ini ditandai oleh panas berkepanjangan.BAB II SATUAN ACARA PENGAJARAN 2. Sakit Kepala c. Gejala bisa berupa : a. Penurunan nafsu makan f. .1.ditopang dengan bakteremia tanpa keterlibatan struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari limpa.2 Tanda dan Gejala Biasanya secara timbul secara bertahap dalam waktu 8-14 hari setelah terinfeksi.yaitu mencapai 39-40 C selama 10-14 hari.

Fly / lalat Bila di rumah banyak lalat.hindari makanan yang pedas yang pedas dan keras.basmi hingga tuntas ( lalat bisa menjadi perantara perpindahan kuman ke makanan . c.4 Pengobatan a.5 Pencegahan a.sedikit sayur dan buah boleh dikonsumsi. Pengaturan makan tinggi kalori berupa nasi. Daging.telur ikan. Fluid / cairan Sediakan air minum yang memenuhi syarat.1.agak lembek.3 Penyebab Penyebab adalah bakteri salmonella Typhi. Finger / kebersihan tangan dan kuku Biasakan selalu mencuci tangan mencuci tangan setelah buang air besar mau pun sebelum dan sesudah makan. 2. e. d. Food / makanan Biasakan mengkonsumsi makanan yang terjamin bersihnya. Pemberian antibiotik yang tepat.1. Bakteri Salmonella Typhi ditemukan didalam tinja dan air kemih peenderita.1.ayam. 2.tahu.2.yaitu memasak air hingga mendidih ( 100 C ) c. Feses / tinja Tidak boleh buang air besar di sembarang tempat.tempe. d. Istirahat yang cukup bahkan bila perlu tirah baring ( tidur terlentang ) selama beberapa hari sampai demam mereda. b. Antibiotik yang banyak digunakan adalah kloaramfnikol.harus di toilet. b. Intake/pemasukan cairan untuk mencegah dehidrasi ( kekurangan cairan ) akibat demam tinggi.

Andri Norman . Diskusi c.4 Pengorganisasian Moderator : Enallia Penyaji : Rini Susanti Riska Septie Observer : Eka Reniastuti Fasilitator : .Toto Ariwibowo .2.5 Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari / Tanggal Pukul Tempat : Rabu / 20 Maret 2013 : 10:00 WIB : Ruang Poli Tumbang Alamanda RSUD Abdul Moeloek .Lisantri . 10 orangtua pasien lain yang anaknya tidak terkena demam thypoid 2. dimana: a. Ceramah b.Dewi Prastika 2. 5 orang tua pasien yang anaknya terkena demam thypoid b.Apriando Ramadhani .3 Metode a.2 Sasaran Lima belas (15) orangtua pasien di ruang alamanda RSUD Abdul Moeloek. Tanya jawab 2.Elda Febri .

10 3. Kegiatan penyuluh Pembukaan: a. Infokus c. Memberi salam b. 1. Power point 2.2.7 Kegiatan Penyuluhan No.6 Media Penyuluhan a. Menjelaskan macammacam demam thypoid Penutup: a. Menyimpulkan materi bersama ibu c. Menyebutkan tujuan penyuluhan Kegiatan inti: a. Leaflet b. Memberikan kesempatan kepada Ibu untuk bertanya b. Memperhatikan dan mendengarkan Memperhatikan dan mendengarkan Memperhatikan dan mendengarkan. Mengajukan pertanyaan 12 Menyimpulkan materi Menjawab pertanyaan 4. Memperkenalkan diri c. Menjelaskan pengertian demam thypoid b. Melaksanakan evaluasi Salam penutup: Mengucapkan salam Kegiatan peserta Menjawab salam Mendengarkan Mendengarkan memperhatikan dan Waktu (menit) 5 2. Menjawab salam 3 . Menjelaskan manfaat demam thypoid c.

Evaluasi struktur Menyiapkan SAP Menyiapkan materi dan media Kontrak waktu dengan sasaran Menyiapkan tempat Menyiapkan pertanyaan b. Evaluasi hasil Penkes dikatakan berhasil apabila sasaran mampu menjawab pertanyaan 80 % lebih dengan benar Penkes dikatakan cukup berhasil / cukup baik apabila sasaran mampu menjawab pertanyaan antara 50 – 80 % dengan benar Penkes dikatakan kurang berhasil / tidak baik apabila sasaran hanya mampu menjawab kurang dari 50 % dengan benar. .8 Setting Tempat panitia Panitia peserta 2.9 Kriteria Evaluasi a. Evaluasi proses Sasaran 90% memperhatikan dan mendengarkan selama penkes berlangsung Sasaran 90% aktif bertanya bila ada hal yang belum dimengerti Sasaran 90% memberi jawaban atas pertanyaan pemberi materi Sasaran 90% tidak meninggalkan tempat saat penkes berlangsung c.2.

Penyakit ini ditandai oleh panas berkepanjangan.BAB III LAMPIRAN MATERI DEMAM THYPOID 3. keadaan umum/status gizi serta status imunologis penderita. Dikatakan bahwa masa inkubasi mempunyai korelasi dengan jumlah kuman yang ditelan. 3.kelenjar limfe usus dan Peyer’s patch. dengan masa inkubasi terpendek 3 hari dan terpanjang 60 hari. Terjadinya penularan salmonella typhi sebagian besar melalui makanan / minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman. secara garis besar gejala-gejala yang timbul dapat dikelompokkan : . Masa inkubasi rata-rata bervariasi antara 7 – 20 hari.1 Pengertian Demam Thipoid Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. akan lebih sulit untuk menegakkan diagnosis demam tifoid pada anak. terutama pada penderita yang lebih muda. Walaupun gejala demam tifoid pada anak lebih bervariasi. biasanya keluar bersama-sama dengan tinja (melalui rute oral fekal = jalur oro-fekal). Bila hanya berpegang pada gejala atau tanda klinis.2 Tanda dan Gejala Gejala klinis pada anak umumnya bersifat lebih ringan dan lebih bervariasi bila dibandingkan dengan penderita dewasa.ditopang dengan bakteremia tanpa keterlibatan struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari limpa. seperti pada tifoid kongenital ataupun tifoid pada bayi.

pembesaran hati dan limpa. dilapisi selaput tebal. hanya didapatkan suhu badan yang meningkat.a. di bagian ujung dan tepi lebih kemerahan. Gangguan saluran pencernaan c. anoreksia. dan terutama didapatkan di daerah perut. Setelah minggu kedua. dapat pula mendadak tinggi dan remiten (39 – 41oC) serta dapat pula bersifat ireguler terutama pada bayi yang tifoid kongenital. Lidah tifoid biasanya terjadi beberapa hari setelah panas meningkat dengan tanda-tanda antara lain.konstipasi. muntah. . Merupakan suatu nodul kecil sedikit menonjol dengan diameter 2 – 4 mm. mual. b. perut kembung mungkin disertai ganguan kesadaran dari yang ringan sampai berat. diare. Demam yang terjadi pada penderita anak tidak selalu tipikal seperti pada orang dewasa. berupa demam remiten.Bila penyakit makin progresif. Demam satu minggu atau lebih. Roseola ini merupakan emboli kuman yang didalamnya mengandung kuman salmonella. seperti demam. akan terjadi deskuamasi epitel sehingga papilla lebih prominen. berwarna merah pucat serta hilang pada penekanan. kadang-kadang mempunyai gambaran klasik berupa stepladder pattern. Roseola lebih sering terjadi pada akhir minggu pertama dan awal minggu kedua. gejala/ tanda klinis menjadi makin jelas. Gangguan kesadaran Dalam minggu pertama. lidah tifoid. Pada pemeriksaan fisik. lidah tampak kering. dada. ataupun bagian fleksor lengan atas. nyeri kepala. kadang-kadang di bokong. keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya. di bagian belakang tampak lebih pucat.

Ruam ini muncul pada hari ke 7 – 10 dan bertahan selama 2 -3 hari. Rose spots (bercak makulopapular) ukuran 1-6 mm. dan gangguan kesadaran. malaise. Walaupun gejala klinis sangat bervariasi namun gejala yang timbul setelah inkubasi dapat dibagi dalam demam. Jika tidak ada komplikasi dalam 2-4 minggu. dapat timbul pada kulit dada dan abdomen.Limpa umumnya membesar dan sering ditemukan pada akhir minggu pertama dan harus dibedakan dengan pembesaran karena malaria. nyeri abdomen dan diare. Diare hanya terjadi pada setengah dari anak yang terinfeksi. Pembesaran limpa pada demam tifoid tidak progresif dengan konsistensi lebih lunak. penurunan berat badan. Sembelit dapat merupakan gangguan gastointestinal awal dan kemudian pada minggu kedua timbul diare. tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak Indonesia. anoreksia. ekstremitas dan punggung pada orang kulit putih. Gambaran klinis lidah tifoid pada anak tidak khas karena tanda dan gejala klinisnya ringan bahkan asimtomatik. gangguan saluran pencernaan. serta gangguan status mental. pembesaran hati dan limpa. sering kali dijumpai pada daerah abdomen. Timbulnya gejala klinis biasanya bertahap dengan manifestasi demam dan gejala konstitusional seperti nyeri kepala. nyeri dan kekakuan abdomen. toraks. ditemukan pada 40-80% penderita dan berlangsung singkat (2-3hari). letargi. sedangkan sembelit lebih jarang terjadi.3 Diagnosis Demam Typhoid? Demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan asimtomatik. Dalam waktu seminggu panas dapat meningkat. suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1 – 5 mm. 3. gejala dan tanda klinis menghilang namun malaise dan letargi menetap sampai 1-2 bulan. Rose spot. Keadaan suhu tubuh tinggi dengan bradikardia lebih sering terjadi pada anak dibandingkan dewasa. Dapat dijumpai depresi mental dan delirium.menjadi berat. . Lemah. anoreksia.

Uji serologi standar yang rutin digunakan untuk mendeteksi antibody terhadap kuman S. Oleh karena itu untuk menegakkan diagnosis demam tifoid perlu ditunjang pemeriksaan laboratorium yang diandalkan. Jika pada serum terdapat antibodi maka akan terjadi aglutinasi. Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid. akan tetapi apabila negatif tidak menyingkirkan. maka kuman lebih mudah ditemukan didalam darah dan sumsum tulang di awal penyakit. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam tiga kelompok. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid meliputi pemeriksaan darah tepi.typhi dan menentukan adanya antigen spesifik dari Salmonella typhi. urin. tinja. Uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen S. Berkaitan dengan patogenesis. seperti darah. dan serologis. namun hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid. cairan duodenum dan rose spot. yaitu : a. sumsum tulang.typhi yaitu uji Widal. sedangkan pada stadium berikutnya didalam urin dan tinja. Di Indonesia pengambilan angka titer O aglutinin ≥ 1/40 dengan memakai uji widal slide aglutination (prosedur pemeriksaan membutuhkanwaktu 45 menit) menunjukkan nilai ramal positif 96%. bakteriologis. karena hasilnya tergantung dari beberapa faktor. b. 96% kasus benar sakit demam tifoid.Sering terjadi kesulitan dalam menegakkan diagnosis bila hanya berdasarkan gejala klinis. solasi kuman penyebab demam tifoid melalui biakan kuman dari spesimen penderita. Prinsip uji Widal adalah serum penderita dengan pengenceran yang berbeda ditambah dengan antigen dalam jumlah yang sama. Artinya apabila hasil tes positif. Banyak referensi yang mengemukakan apabila titer O .

ataksia sereberal akut. 3. syok kardiogenik. stupor bahkan koma. Sebagian besar bermanifestasi gangguan kesadaran. sedang Vi aglutinin dipakai pada deteksi pembawa kuman S. Penyakit neurologi lain adalah rombosis sereberal. jarang dilaporkan gejala sisa yang permanen (sekuele). Perforasi usus halus dilaporkan dapat terjadi pada 0. mielitis tranversal. delirium. nyeri pada perabaan abdomen. Beberapa kasus perforasi usus halus mempunyai manifestasi klinis yang tidak jelas. perubahan ST-T pada EKG. Komplikasi di dahului dengan penurunan suhu. Komplikasi pada neuropsikiatri. afasia. d. Aglutinin H banyak dikaitkan dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau. b. Penyulit ini biasanya terjadi pada minggu ke-3 sakit. Kemudian akan diikuti muntah. obtundasi. walau pernah dilaporkan terjadi pada minggu pertama. sedangkan perdarahan usus pada 1 – 10% kasus dema tifoid anak. Beberapa penulis mengaitkan manifestasi klinis neuropsikiatri dengan prognosis buruk.5 – 3%.agglutinin sekali periksa ≥ 1/200 atau pada titer sepasang terjadi kenaikan 4 kali maka diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan. typhi (karier). ensefalomielitis. tekanan darah dan peningkatan frekuensi nadi. hilangnya keredupan hepar dan tanda-tanda peritonitis yang lain. maupun kolesistitis akut juga dapat dijumpai. Pada perforasi usus halus ditandai oleh nyeri abdomen lokal pada kuadran kanan bawah akan tetapi dilaporkan juga nyeri yang menyelubung. neuritis perifer maupun kranial. sedang kolesistitis kronik yang terjadi . disorientasi. infiltrasi lemak maupun nekrosis pada jantung.4 Komplikasi Demam Typhoid Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit ini yaitu: a. Hepatitis tifosa asimtomatik juga dapat dijumpai pada kasus demam tifoid ditandai peningkatan kadar transaminase yang tidak mencolok. c. sindrom Guillain-Barre. defance muskulare. Ikterus dengan atau tanpa disertai kenaikan kadar transaminase. Dapat timbul dengan manifestasi klinis berupa aritmia. Dari berbagai penyakit neurologik yang terjadi. e. Miokarditis. tuli. meningitis.

Pneumonia sebagai komplikasi sering dijumpai pada demam tifoid. namun sering kali sebagai akibat infeksi sekunder oleh kuman lain. penggunaan obat ini sebaiknya dihindari. Kloramfenikol Dosis yang dianjurkan ialah 50 – 100 mg/kgBB/hari.Obat-obat antimikroba yang sering digunakan antara lain : a. g. hati. kelenjar ludah dan persendian. Hemolytic Uremic Syndrome (HUS). i. sedangkan glomerulonefritis yang dapat bermanifestasi sebagai gagal ginjal maupun sindrom nefrotik mempunyai prognosis buruk. Pengobatanantibiotik merupakan pengobatan utama karena pada dasarnya patogenesis infeksi Salmonella typhi berhubungan dengan keadaan bakteriemia. Penyulit lain yang dapat dijumpai adalah trombositopenia.otak. dan bila terpaksa. pemenuhan kebutuhan cairan. . Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh kuman Salmonella typhi. nutrisi serta pemberian antibiotik.pada penderita setelah mengalami demam tifoid dapat dikaitkan dengan adanya batu empedu dan fenomena pembawa kuman (karier). f. isolasi yang memadai. selama 10 – 14 hari. 3. otot. fokal infeksi di beberapa lokasi sebagai akibat bakteremia misalnya infeksi pada tulang. elektrolit serta nutrisi disamping observasi kemungkinan timbul penyulit dapat dilakukan dengan seksama. limpa. Untuk neonatus. selama 10 hari. Proteinuria transien sering dijumpai.5 Cara mengobati Demam Typhoid Sebagian besar pasien demam tifoid dapat diobati di rumah dengan tirah baring. Sistitis bahkan pielonefritis dapat juga merupakan penyulit demam tifoid. Sedangkan untuk kasus berat harus dirawat dirumah sakitagar pemenuhan kebutuhan cairan. koagulasi intrvaskular diseminata. h. dosis tidak boleh melebihi 25 mg/kgBB/hari.

selama 10 – 14 hari. Tiamfenikol Komplikasi hematologi pada penggunaan Tiamfenikol jarang dilaporkan. anemia megaloblastik. Dosis oral dianjurkan 50 – 100 mg/kgBB/hari. Sulfametoksazoldan 6 – 8 mg/kgBB/hari untuk Trimetoprim. dan diare (11%). Ampisilin dan Amoksisilin Dapat digunakan pada kasus yang resisten terhadap Kloramfenikol. selama 10 – 14 hari. Kotrimoksasol Dapat digunakan untuk kasus yang resisten terhadap kloamfenikol.Dosis oral yang dianjurkan adalah 30 – 40 mg/kgBB/hari. selama 10 – 14 hari. penyerapan di usus cukup baik. Kelemahannya ialah dapat terjadi skin rash (1 – 15%). Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari.selama 10 – 14 hari. Pengobatan demam tifoid yang menggunakan obat kombinasi tidak memberikan keuntungan yang lebih baik bila diberikan obat tunggal. Ampisilin mempunyai daya anti bakteri yang sama dengan Ampisilin. sindrom Steven Johnson. c. agranulositosis. dan kemungkinan timbulnya kakambuhan pengobatan pengobatan lebih kecil dibandingkan kloramfenikol. terapi penyerapan peroral lebih baik sehingga kadar oabat yang tercapai 2 kalilebih tinggi. diberikan dalam 2 kali pemberian. Kelemahannya dapat terjadi skin rash (3 – 18%). dan lebih sedikit timbulnya kekambuhan (2 – 5%) dan karier (0 – 5%). trombositopenia.b. . hemolisis eritrosit terutama pada penderita G6PD.Dosis yang dianjurkan adalah : Ampisilin 100 – 200 mg/kgBB/hari. d.

Cuci tangan anda dengan air . Mengatasi faktor-faktor yang berperan terhadap rantai penularan. Perlindungan dini agar tidak tertular. Cuci tangan dengan teratur meruapakan cara terbaik untuk mengendalikan demam tifoid atau penyakit infeksi lainnya. Cuci tangan. “Orang Indonesia itu umumnya cuci tangan setelah makan. tunggal atau dalam2 dosis iv. f.6 Pencegahan Demam Tifoid Pencegahan adalah segala upaya yang dilakukan agar setiap anggota masyarakat tidak tertular oleh bakteri Salmonella. Lewat tangan kita bisa memindahkan kuman.e. padahal harusnya sebelum makan. Tapi kalau sebelum makan dia lupa. Berikut beberapa petunjuk untuk mencegah penyebaran demam tifoid: a. b. Seftriakson Dosis yang dianjurkan adalah 50 – 100 mg/kgBB/hari. Ada 3 pilar strategis yang menjadi program pencegahan yakni: a. Siprofloksasin Dosis yang dianjurkan adalah 2 x 200 – 400 mg oral pada anak berumur lebih dari 10 tahun. tangannya kotor. Mengobati secara sempurna pasien dan carrier demam tifoid. 3. Sefotaksim Dosis yang dianjurkan adalah 150 – 200 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3. Demam tifoid dapat dicegah dengan kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan. Setelah makan.4dosis iv. kena segala macam. c. g. Padahal tangan itu paling kotor. baru dicuci.

Tidak perlu menghindari buah dan sayuran mentah. pilihlah buah yang dapat dikupas. hindari membeli makanan dari penjual di jalanan yang lebih mungkin terkontaminasi. Minum tanpa menambahkan es di dalamnya. . Yang terbaik adalah makanan yang masih panas. Pilih makanan yang masih panas. Seka seluruh bagian luar botol atau kaleng sebelum anda membukanya. b. namun untuk menyantapnya. c. d.(diutamakan air mengalir) dan sabun terutama sebelum makan atau mempersiapkan makanan atau setelah menggunakan toilet. Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih banyak daripada yang telah dimasak. Untuk itu. Perhatikan apakah buah dan sayuran tersebut masih segar atau tidak. Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk mencuci. Gunakan air minum kemasan untuk menyikat gigi dan usahakan tidak menelan air di pancuran kamar mandi. Untuk menghindari makanan mentah yang tercemar. Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah pada daerah endemik tifoid. cucilah buah dan sayuran tersebut dengan air yang mengalir. Bawalah pembersih tangan berbasis alkohol jika tidak tersedia air. minumlah air dalam botol atau kaleng. Hindari makanan yang telah disimpan lama dan disajikan pada suhu ruang. Walaupun tidak ada jaminan makanan yang disajikan di restoran itu aman. Buah dan sayuran mentah yang tidak segar sebaiknya tidak disajikan. Hindari minum air yang tidak dimasak. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

Jika anda adalah pasien demam tifoid atau baru saja sembuh dari demam tifoid. Gunakan air (diutamakan air mengalir) dan sabun. kemudian gosoklah tangan selama minimal 30 detik. Bersihkan alat rumah tangga secara teratur. . telepon. Gunakan barang pribadi yang terpisah. Hindari menyiapkan makanan untuk orang lain sampai dokter berkata bahwa anda tidak menularkan lagi. seprai. berikut beberapa tips agar anda tidak menginfeksi orang lain: Sering cuci tangan anda. Ini adalah cara penting yang dapat anda lakukan untuk menghindari penyebaran infeksi ke orang lain. dan keran air setidaknya sekali sehari. anda tidak boleh kembali bekerja sampai hasil tes memperlihatkan anda tidak lagi menyebarkan bakteri Salmonella. Bersihkan toilet. pegangan pintu. dan peralatan lainnya untuk anda sendiri dan cuci dengan menggunakan air dan sabun. terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Sediakan handuk. Jika anda bekerja di industri makanan atau fasilitas kesehatan. Hindari memegang makanan.

Hidayat.DAFTAR PUSTAKA Hidayat. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika. 2007. 2008. dkk . Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta : 2007 Alan R. T H : Penyakit infeksi Tropis pada Anak . Tumbelaka. Jilid III. editor . Ngastiyah.Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. Jakarta: EGC Aru W. edisi IV. Aziz Alimul A. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika. Edisi 2. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Aziz Alimul A. Jakarta : 2003 Rampengan. Edisi 1. edisi 2. Jakarta : EGC 2007 . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Dalam Pediatrics Update. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Perawatan Anak Sakit. Cetakan pertama. Sudoyo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->