P. 1
Contoh PTK BHS Inggris SMP

Contoh PTK BHS Inggris SMP

|Views: 2,479|Likes:
Published by Dwi Nj Agustina

More info:

Published by: Dwi Nj Agustina on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/03/2014

pdf

text

original

Contoh PTK BHS Inggris SMP: ROLE PLAY: SUATU ALTERNATIF PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN DALAM

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA SLTP
Posted by noer al khosim on 05.54 in PTKsmp | 0 komentar ROLE PLAY: SUATU ALTERNATIF PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN MENYENANGKAN DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA SLTP ISLAM MANBAUL ULUM GRESIK Oleh : Mudairin* Abstrak. Sebagai guru bahasa Inggris seringkali dihadapkan pada dua pilihan, mengajar bahasa Inggris untuk mengejar nilai Ebtanas atau melatih kemampuan siswa menggunakan bahasa itu sebagai bahasa komunikasi. Tampaknya pilihan pertama banyak dipilih karena selama ini tolok ukur keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris diidentikkan dengan perolehan nilai EBTANAS. Yang terjadi selanjutnya, pembelajaran di kelas monoton dari hari ke hari. Waktu belajar siswa banyak dihabiskan untuk mengerjakan soal-soal latihan. Bagaimana dengan keterampilan berbicara siswa? Tidak ada keraguan sama sekali bahwa mereka enggan berbicara dalam bahasa Inggris. Mereka tampak merasa malu dan takut salah. Mereka memang tahu banyak tentang bahasa Inggris tapi sayangnya tidak tahu harus berbuat apa terhadap bahasa Inggris. Salah satu upaya guna meningkatkan keterampilan berbicara siswa adalah memberikan Role Play sebagai bentuk kegiatan pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan English atmosphere di dalam kelos. Dalam Role Play siswa di-setting pada situasi tertentu dan saling berinteraksi bersama teman-temannya dengan menggunakan bahasa Inggris. Kata kunci: Keterampilan berbicara bahasa Inggris, Role Play Pembelajaran English atmosphere. PENDAHULUAN Kurikulum bahasa Inggris SLTP 1994 dan suplemennya menekankan keterampilan membaca (reading) pada pembelajaran bahasa Inggris di SLTP (Kurikulum bahasa Inggris, 1994). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran bahasa Inggris di kelas banyak difokuskan pada

2000). tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperaktikkan ungkapan-ungkapan itu. meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Disisi lain. Sementara itu. peneliti menggunakan Rote Play sebagai bentuk kegiatan pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Mengapa keterampilan berbicara? Dari keempat keterampilan bahasa (menyimak. Keadaan ini menjadikan mereka enggan berkomunikasi dalam bahasa Inggris (Yang Shuying. Dalam Role Play siswa diperlakukan sebagai subyek pembelajaran. Selain itu. 2000). bahasan-bahasan itu dikemas dalam bentuk soal-soal latihan. Belum lagi pada tahun 2003 akan diberlakukan dua perjanjian. Faktor yang demikian ini menjadikan kemampuan berbicara siswa dalam bahasa Inggris tertatih tatih. sementara kemampuan speaking siswa sangat tidak kompeten. 2002). Role play adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan. dengan menggunakan bahasa Inggris. Melihat peluang-peluang itu dan memperhatikan keberadaan sekolah peneliti ada di daerah industri. tujuannya adalah mengkondisikan siswa pada soal-soal Ebtanas. aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield. Tidak lain. Yang terjadi selanjutnya. keterampilan berbicara tidak banyak mendapatkan perhatian yang cukup. Pembelajaran keterampilan speaking disajikan sebatas pada penjelasan-penjelasan mengenai fungsi ungkapan-ungkapan bahasa. Apalagi adanya kenyataan bahwa keterampilan berbicara tidak diujikan dolam ulangan bersama atau dalam Ebtanas. Rote Play sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain saat menggunakan bahasa Inggris (Basri Syamsu. keterampilan berbicara dalam bahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam bidang industri. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau bahasa kedua akan melebihi jumlah penutur aslinya (Melvia A. Kondisi yang demikian ini terjadi di sekolah peneliti di SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik. Dalam Role Play siswa dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas. Lebih lanjut prinsip pembelajaran bahasa menjelaskan bahwa dalam pembelajaran bahasa. banyak guru yang memberi porsi secara berlebihan pada keterampilan membaca (reading). Lebih parah lagi. keterampilan lain utamanya keterampilan berbicara (speaking) tidak banyak mendapatkan perhatian.keterampilan membaca (reading). membaca dan menulis). penguasaan seseoranq terhadap bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi amat penting. Disisi lain. secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris) bersama temantemannya pada situasi tertentu. 1999). Pembelajaran bahasa Inggris banyak difokuskan pada reading karena reading banyak mendominasi soal-soal ulangan. berbicara. yaitu AFTA (Asean Free Trade Area) dan AFLA (Asean Free Labour Area). tidak ada pilihan lain bahwa keterampilan berbicara siswa harus ditingkatkan. baik ulangan bersama maupun Ebtanas. siswa akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan menggunakan bahasa dengan melakukan berbagai kegiatan bahasa. Guna meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris siswa SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik. sementara pada tahun 2020 akan diberlakukon Perjanjian WTO. 1 986). mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari . Bila mereka berpartisipasi. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri siswa (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Hasman.

sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter. guru dapat berbicara dalam bahasa mereka (Bobby DePorter. peneliti menggunakan Role Play sebagai bentuk kegiatan pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Kedua. Berdasarkan uraian di atas peneliti mencoba merumuskan masalah. dan itu akan disampaikan pada bagian kesimpulan. yaitu: bagaimana mengembangkan materi dan strategi pembelajaran bahasa lnggris melalui Role Play guna meningkatkan keterampilan berbicara dalam bahasa Inggris siswa-siswa SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik? Penelilian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan materi dan strategi pembelajaran bahasa Inggris melalui Role Play guna meningkatkan keterampilan berbicara siswa SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik. terutama gelombang otak dan detak jantung. Musik dapat membantu siswa masuk ke keadaan belajar optimal. irama. disamping dapat membangkitkan perasaan dan ingatan. cocok untuk kelas besar. maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi (Sardiman. Dengan perlakukan seperti ini. dimana siswa tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang telah dan sedang mereka pelajari. Tanpa adanya aktivitas. Setting penelitian Penelitian ini dilakukan di SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik. 2000). misalnya musik Mozart atau Barrogue. Ketiga. Role Play dapat memberikan kepada siswa kesenangan karena Role Play pada dasarnya adalah permainan. Dengan bermain siswa akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa. Melalui musik. Di samping itu. Masuklah ke dunia siswa. Mereka sebagian besar adalah siswa-siswa yang memiliki nilai akademik rendah. Role play melibatkan jumlah siswa yang cukup banyak. 2000). siswa diminta secara aktif melakukan praktik bahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris) pada situasi tertentu dalam kelompok kecil (yang terdiri dari 2 sampai 6 siswa) maupun kelompok besar (lebih dari 6. atau melibatkan seluruh kelas). Role Play dapat memberikan semacam hidden practise. Musik yang dimakud dalam hal ini adalah jenis musik klasik. Pada setiap tatap muka selama 90 menit. Musik juga memungkinkan guru membangun hubungan dengan siswa.(Boediono. Dalam suasana hening. RENCANA TINDAKAN Guna meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris siswa SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik. Musik ini berfungsi untuk mendukung lingkungan pembelajaran. siswa biasanya merasa malu memulai pembicaraan dalam bahasa Inggris karena takut salah. Jadi. didapatkan asurnsi bahwa kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris siswa SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik akan meningkat. dalam pembelajaran siswa harus aktif. sesuai dengan pengalaman peneliti manfaat yang dapat diambil dari Role Play adalah: Pertama. 2001). Sementara itu. Sebagai sasarannya adalah siswa kelas II (dua) B dengan jumlah siswa sebanyak 41 siswa. ketukan dan keharmonisan musik dapat mempengaruhi filosofi manusia. Adapun bagian detilnya akan didapatkan setelah penelitian ini dilakukan. . 2001). merubah mental siswa dan mempengaruhi kondisi hati siswa. Peneliti juga menggunakan musik sebagai back-ground suara di dalam kelas pada saat siswa melakukan praktik bahasa. sisa-siswa yang tidak diterima di sekolahsekolah negeri.

dan reflecting. sekaligus untuk meningkatkan fluency. observing. bobot materinya hampir sama dengan materi pada siklus sedang II. yang sudah sekitar 10 tahun mengajar bidang studi bahasa Inggris di sekolah tersebut. Instrumen-instrumen tersebut dimaksudkan agar didapatkan triangulasi data. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan sekaligus meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri siswa karena materimateri itu pada dasarnya sudah dikenal siswa pada saat kelas 1. Setiap siklus kecil terdiri dari empat tahapan yaitu. Siklus sedang I memiliki karakter bahwa materi yang diberikan kepada siswa sebagian besar merupakan materi kelas I (satu). yang dimaksud dengan siklus kecil adalah suatu kegiatan pembelajaran yang menyajikan satu anak tema atau topik tertentu dalam satu tatap muka selama 90 menit (2 x 45 menit). HASIL PENELITIAN Refleksi Awal . Sekolah itu terletak di daerah industri di pinggiran kota dimana sangat rentan terhadap munculnya masalah-masalah sosial yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran sjswa. Dan setiap siklus kecil berlangsung selama 90 menit. Sementara itu. acting. Persiapan penelitian Untuk mendapatkan refleksi awal. peneliti melakukan persiapan penelitian yang antara lain. menyusun rencana pengajaran sekaligus menyusun materi pembelajaran dalam bentuk Role Play. peneliti melakukan tes awal yang berbentuk tes interview. Siklus sedang II. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa. planing. membuat media pembelajaran (kartu. Setelah peneliti mengetahui gambaran awal. Sementara itu siklus sedang III. gambar.Peneliti adalah guru bahasa Inggris. skala penilaian dan intsrumen lain berupa perangkat elektronika. questionaire. Total jumlah siklus kecil dalam penelitian ini sebanyak 18 siklus kecil. Siklus Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan 3 siklus sedang. dan masih sederhana. fluency dan accuracy. students' worksheet. Pembagian siklus menjadi 3 siklus sedang dimaksudkan karena setiap siklus sedang memiliki karakter dan tujuan yang berbeda-beda. materinya dikembangkan satu tingkat grade-nya di atas materi siklus sedang 1. field notes. Tes awal ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi siswa sebenarnya tentang kemampuan berbicara siswa dalam bahasa Inggris. penelitian ini menggunakan instrumen-instrumen sebagai berikut. Tujuan yang ingin dicapai adalah disamping untuk meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri siswa. Topik atau tema pada masingmasing siklus dapat dilihat pada bagian selanjutnya. interview. type recorder) dan membuat instrumen penelitian. Instrumen Penelitian Untuk mendukung validitas. dan dalam setiap siklus sedang terdiri dari 6 siklus kecil.

c. age. mereka malu dan takut menjawab). Sebanyak 20% siswa mendapat nilai dengan kategori cukup (siswa dapat menjawab pertanyaan tetapi menggunakan sedikit kosa kata dan sering membuat kesalahan pada struktur. Talking about colour 7. Giving information about daily activity 9. dan kesalahan struktur hamper tidak ada). address. Memberikan ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam Role Play. Menjelaskan tujuan dan aturan permainan. Talking about family. menjelaskan kepada siswa peran apa yang akan dimainkan. peneliti melakukan persiapanpersiapan yang berkaitan dengan setting Role Play dan atributnya. Ini dilakukan dengan maksud agar siswa merasa percaya diri menggunakan ungkapan-ungkapan itu dalam Role Play. membimbing cara pengucapkannya beberapa kali dan sekaligus menjelaskan penggunaannya. Di bawah ini daftar topik pertanyaan yang di-interview-kan kepada siswa: 1. Materi yang diberikan antara lain: Asking for and giving personal information 1. Talking about job 4. Atau jika paham. sebanyak 70 % siswa mendapatkan nilai kategori jelek (Siswa tidak menjawab sama sekali karena tidak mengerti maksud pertanyaan. Memilih musik yang sesuai sebagai background suara agar suasana tampak rileks sehingga dapat mengurangi ketegangan siswa. pada saat mereka kelas 1. dan setiap siklus kecil berlangsung selama 90 menit. Giving about the name. Physical description 5. PELAKSANAAN . Asking for and giving personal information 3. Kondisi seperti ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pembelajaran sebelumnya. Talking about clothes 8. Asking for and giving personal information 2. Counting. Giving information about family 3. Talking about ongoing actilvity Siklus Sedang I PERENCANAAN Siklus sedang I terdiri dan 6 siklus kecil. Sebanyak 10% siswa dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dengan mendapatkan nilai kategori baik (siswa dapat menjawab pertanyaan dan jawabannya tetap mengacu pada pertanyaan dengan menggunakan kosa kata yang tepat. d. Ini terbukti dari hasil interview yang dilakukan oleh peneliti didapatkan data bahwa kemampuan berbicara siswa dalam bahasa Inggris siswa rata-rata sangat rendah. Like/dislike 6. b. Sedangkan sisanya. Di sini. Misalnya. hobby 2.Seperti yang telah peneliti uraikan pada awal bagian penelitian ini bahwa kemampuan berbicora dalam bahasa Inggris siswa-siswa SLTP Islam Manbaul Ulum Gresik amat rendah. Replying where people are 10. Membuat setting Role Play agar tampak sebagaimana mestinya. kadang-kadang jawabannya tidak mengarah pada pertanyaan). Asking and replying where things are. Langkah-langkah yang ditempuh antara lain: a.

peneliti menjelaskan kembali secara klasikal. JUMLAH URAIAN . peneliti meminta siswa memperaktikkan Role Play selama kurang lebih 25 menit dalam kelompok. Sementara kesalahan yang bersifat individu atau kelompok. Peneliti merasa kesulitan membuat gambar atau media lain untuk kata-kata tertentu sehingga kata-kata itu langsung diterjemahkan. Untuk topik-toprk yang lebih rumit. Pada saat siswa bermain Role Play. sekaligus dijelaskan oleh peneliti fungsinya. membuat atribut dan menceriterakan kepada siswa peran yang akan dimainkan. PENGAMATAN Pada setiap akhir dua siklus kecil. Kemudian 15 menit selanjutnya ungkapan-ungkapan dan kosa kata yang dipakai dalam Role Play dituliskan di papan. 2. misalnya menata kelas. peneliti membunyikan musik sebagai background suara dengan volume tertentu. Dari 41 jumlah didapatkan data seperti pada Tobel 1. Data Tabel 1 di-checkcross-kan dengan Lembar Observasi Aktivitas dalam KBM yang dilakukan oleh kolaborator. Selanjutnya setelah siswa merasa jelas. peneliti menjelaskan tujuan dan aturan permainan. Ini dimaksudkan untuk mengetahui respon siswa setelah mereka mempraktikkan Role Play. Hal yang demikian ini mengakibatkan sebanyak 64 % siswa merasa kesulitan memahami arti kosa kata meskipun sudah diartikan kedalam bahasa Indonesia. Tabel benkut ini menunjukkan jumlah rata-rata respon siswa dari 3 angket yang teriah disebarkan selama pelaksanaan sikius sedang 1. dan didapatkan data: 1. Untuk kesalahan-kesalahan yang bersifat umum. Untuk 5 menit pertama. peneliti langsung memberikan penjelasan pada individu atau kelompok itu. Peneliti juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menirukan cara melafalkan ungkapanungkapan dan kosa kata yang akan dipakai.Siswa diminta memperaktikkan Role Play sesuai dengan tujuan dan aturan permainan selama kurang lebih 50 menit. TABEL : 1 No.kegiatan ini kadang-kadang membutuhkan lebih dari 15 menit. Angket Siswa dibagikan. Peneliti sudah memberi contoh cara melafalkan ungakapan-ungkapan yang dipakai namun tidak banyak memberi penekanan sehingga mengakibatkan sebanyak 61% siswa merasa kesulitan mengucapkan ungkapan-uangkapan itu saat mempraktikkan Role Play. peneliti membuat persiapan-persiapan sebagai setting Role Play. artinya dilakukan hampir seluruh siswa. 5 menit berikutnya. Peneliti selanjutnya memantau jalannya Role Play sambil memberikan bantuan kepada siswa.

siswa banyak melakukannya dengan cara melihat pekerjaan teman-temannya. 79 % Siswa Menyatakan merasa jelas dengan contoh yang telah diberikan oleh guru. Misalnya. menyuruh orang lain mengulang apa yang ia katakan. Padahal. dan setiap siklus kecil berlangsung selama 90 menit. kemudian memberi penugasan kepada siswa untuk membuat persiapan-persiapan setting Role Play sebagaimana yang dikehendaki. 2. Sebagian besar siswa merasa sulit beradaptasi dengan Setting Role Play yang dipersiapkan sepenuhnya oleh peneliti. hasil refleksi yang diperoleh di lapangan selama pelaksanaan siklus sedang I sebagaimana di bawah ini: 1. dengan memberitahukan terlebih dahulu tentang setting Role Play untuk pertemuan berikutnya. Masalah ini (percaya diri siswa) akan mendapat perhatian peneliti untuk pelaksanaan siklus sedang berikutnya. 3. Kondisi yang demikian ini terjadi karena siswa belum terbiasa melakukan Role Play.1. kurangnya penekanan pada latihan melafalkan ungkapan-ungkapan dan kosa kata yang dipakai dalam Role Play sehingga siswa merasa malu. 26 % Siswa Menyatakan bahwa kosa kata yang sukar jumlahnya sedikit. . dan siswa sering diingatkan agar mereka tidak canggung dan raguragu lagi. Di samping melihat pekerjaan teman-temannya. Sebagai gantinya. Materi yang diberikan adalah: Asking where places are 1. 58 % Siswa Menyatakan mudah memahami ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam Role Play 4. Misalnya. Keadaan seperti ini banyak dipengaruhi oleh ketidak biasaan mereka berbicara dalam bahasa Inggris sehingga mereka enggan melakukannya. 76 % Siswa Menyatakan merasa sudah jelas dengan aturan Role Play 6. Asking where places are 2. banyak siswa yang masih menggunakan bahasa daerah. untuk mendapatkan dan memberi infromasi yang semestinya dilakukan dengan cara bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris. Kemungkinan lain. 7. 59 % Siswa Menyatakan merasa sulit bermain Role Play REFLEKSI Sementara itu. 64 % Siswa Menyatakan merasa kesulitan dalam memahami arti kosa kata yang terdapat dalam Role Play 2. minta maaf. 76 % siswa Menyatakan merasa senang belajar bahasa Inggris melalui Role Play 8. Pada awal pelaksanaan siklus sedang I tampaknya sebagian besar siswa masih merasa canggung (tidak percaya diri) melakukan praktik bahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris). Pada pelaksanaan siklus selanjutnya agar keadaan ini tidak terulang lagi siswa banyak dibekali cara melafalkan ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam Role Play. Keadaan ini akan mendapat perhatian peneliti pada pelaksanaan siklus sedang berikutnya. untuk tujuan ini mereka sebenarnya dapat saja melakukan dalam bahasa Inggris dengan cara melihat ungkapan-ungkapan itu yang masih tertera di papan tulis. Siklus Sedang II PERENCANAAN Siklus sedang II terdiri dan 6 siklus kecil. untuk meminta perhatian seseorang. 61 % Siswa Menyatakan merasa kesulitan mengucapkan ungkapan-ungkapan itu 5. 3.

Data yang diperoleh menunjukkan adanya penurunan dan peningkatan di beberapa hal. Ini dikarenakn peneliti tidak langsung mengartikan katakata itu tapi menggunakan gambar atau realia dan mungkin gesture. 5 menit berikutnya. peneliti membunyikan musik sebagai background suara dengan volume tertentu. Pada bagian ini peneliti mengingatkan dan menekankan kepada siswa untuk melakukan Role Play sebagaimana prosedurnya. semula 50 menit menjadi 60 menit. Selanjutnya setelah siswa merasa jelas. Talking about habits and hobbies. Untuk kesalahan-kesalahan yang bersifat umum. menjelaskan tujuan dan aturan permainan. Ini dimaksudkan untuk mengetahui respon siswa setelah mereka mempraktikkan Role Play. 5. Dari semula 64% siswa yang menyatakan merasa kesulitan memahami arti kosa kata dalam Role Play. Peneliti juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menirukan cara melafalkan ungkapan-ungkapan dan kosa kata beberapa kali hingga siswa merasa jelas. PENGAMATAN Pada setiap akhir dua siklus kecil. Melatih siswa melafalkan ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam Role Play beberapa kali. dan sekaligus menjelaskan kegunaannya serta memberikan contoh agar mereka menjadi jelas dan percaya diri disamping untuk meningkatkan fluency siswa. koreksi yang diberikan tidak menjadikan siswa down. Kemudian 15 menit selanjutnya ungkapan-ungkapan dan kosa kata yang dipakai dalam Role Play dituliskan di papan. 3. kesalahan itu dijelaskan kembali secara klasikal. sekaligus dijelaskan oleh peneliti fungsinya. dijelaskan pada saat kesalahan itu terjadi.Asking for things in a shop. 4. peneliti meminta siswa mempraktikan Role Play selama kurang lebih 35 menit dalam kelompok. PELAKSANAAN Siswa diminta kembali memperaktikkan Role Play sesuai dengan tujuan dan aturan permainan selama kurang lebih 60 menit. 2. peneliti. Namun demikian. Menjelaskan dan menegaskan kembali kepada siswa tujuan dan aturan permainan agar siswa tidak lagi melihat pekerjaan teman-temannya. Peneliti selanjutnya memantau jalannya Role Play. Sehingga gambar dan gesture itu dapat dijadikan siswa sebagai alat cantolan untuk menambatkan kata-kata dalam benak mereka. Sementara kesalahan yang bersifat individu atau kelompok. Pada saat siswa bermain Role Play. Langkah-langkah yang ditempuh pada perencanaan siklus sedang II adalah: 1. dan masih memberikan bantuan kepada siswa. dan memberikan penugasan kepada siswa untuk mempersiapkan setting itu. Angket Siswa dibagikan. Siswa tampaknya lebih mudah beradaptasi dengan setting yang telah mereka persiapkan sendiri. Shopping around. siswa membuat persiapanpersiapan sebagai setting Role Play sebagaimana yang telah diberitahukan terlebih dahulu dan ditugaskan oleh peneliti. Describing feelings. Untuk 5 menit pertama. kini turun menjadi 51%. Memberikan setting Role Play terlebih dahulu untuk perternuan berikutnya. Memperpanjang waktu bermain Role Play. Semula 58% siswa yang menyatakan mudah memahami ungkapan-ungkapan . dan bukan melihat pekerjaan temannya. Melainkan bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris untuk mendapatkan dan memberi informasi. Memilih jenis musik yang sesuai sebagai backround.

Siklus Sedang III PERENCANAAN Siklus sedang III terdiri dari 6 siklus kecil. Jumlah siswa yang menggunakan bahasa daerah saat mereka memperaktikkan Role Play berkurang. jumlah siswa yang menyatakan sulit bermain Role Play kini turun. Demikian pula yang menyatakan senang bermain Role Play. Memilih materi-materi Role Play yang dimainkan dalam kelompok besar. mereka tidak ragu lagi menggunakannya walaupun pronounciation-nya masih belum baik. Ini dikarenakan bila Role Play dimainkan dalam kelompok besar. lebih dari 6 siswa. Dengan cara ini siswa dapat . Ini dimaksudkan agar rasa percaya diri dan fluency siswa lebih meningkat. Ini disebabkan guru banyak melatih siswa melafalkan ungkapan-ungkapan itu. Berbeda dengan jika dimainkan dalam kelompok kecil. Disamping itu. Describing places. REFLEKSI Hasil refleksi yang diperoleh di lapangan selama pelaksanaan siklus sedang II adalah sebagai berikut: 1. semula 59 % menjadi 41 %. Describing houses. Melainkan mereka lakukan dengan bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris kendatipun cara melafalkannya (fluency) masih belum baik. Asking about travelling to work. kini meningkat menjadi 70%. Ini dikarenakan sikap peneliti yang sering membantu siswa melafalkan dan sekaligus menjelaskan fungsi ungkapan-ungkapan yang dipakai. Role Play yang dimainkan dalam kelompok besar. Talking about likes and dislikes. siswa melakukan hanya terbatas kepada teman sebangkunya saja. misalnya. siswa dapat memilih patner mereka sesuka hati. semula dari 76% meningkat menjadi 82%. Banyak siswa yang tidak lagi melihat pekerjaan teman-temannya untuk mendapatkan dan memberi informasi. Sementara itu. Faktor ini ternyata dapat mempengaruhi keberanian dan rasa percaya diri siswa sekaligus dapat mempertahankan siswa untuk tetap melakukan praktik (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris). yang dimainkan hanya 2 siswa atau kurang dari 6 siswa. pemilihan topik Role Play akan dipertimbangkan dengan kelompok besar. Ini tidak lain karena siswa sudah terkondisi bermain Role Play. Untuk menyuruh temannya mengulang. Perpanjangan waktu untuk memperaktikkan Role Play tenyata dapat mempengaruhi rasa percaya diri siswa karena siswa merasa lebih leluasa dan lebih lama melakukan praktik bahasa. 3. dan setiap siklus kecil berlangsung selama 90 menit. Rasa percaya diri siswa selama pelaksanaan siklus sedang II tampak lebih baik dibandingkan pada siklus sebelumnya. Pada siklus sedang berikutnya. Langkah-langkah yang diberikan pada perencanaan siklus sedang III sebagai berikut: 1. Ini dikarenakan siswa sudah mulai terkondisi betul dengan permainan Role Play. siswa menggunakan ungkapan "What?". suasananya tampak lebih meriah dari pada jika dimainkan dalam kelompok kecil. Materi yang akan diberikan antara lain: Asking for and giving permission.yang dipakai dalam Role Play. Dalam kelompok kecil. 2. siswa juga sudah mulai terbiasa bermain Role Play sehingga mereka juga terbiasa melakukan tanya dan jawab dalam bahasa Inggris. Sementara untuk ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam Role Play.

Ini dimaksudkan untuk mengetahui respon siswa setelah mereka mempraktikkan Role Play. Kondisi yang demikian ini banyak dipengaruhi oleh latihan melafalkan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Inggris pada siklussiklus sebelumnya. kini menjadi 31%. PELAKSANAAN Siswa diminta kembali memperaktikkan Role Play sesuai dengan tujuan dan aturan permainan selama kurang lebih 75 menit. Sementara itu. sekaligus dijelaskan oleh peneliti fungsinya. dan dengan cara ini pula siswa dapat melatih rasa percaya diri mereka kepada teman-temannya. Disamping itu. Angket Siswa dibagikan. Memilih jenis musik yang sesuai sebagai background. Yang demikian ini karena bermain merupakan kegiatan yang disukai siswa SLTP Jadi. Demikian pula yang menyatakan senang bermain Role Play. peneliti menjelaskan tujuan dan aturan permainan. REFLEKSI Hasil refleksi yang diperoleh di lapangan selama pelaksanaan siklus sedang III adalah sebagai berikut: . Dari 70% siswa pada siklus sebelumnya yang menyatakan mudah memahami ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam Role Play. ditambah lagi peneliti lebih banyak menggunakan gambar. peneliti meminta siswa mempraktikkan Role Play selama kurang lebih 50 menit dalam kelompok besar. kini meningkat menjadi 87%. peneliti membunyikan musik sebagai background suara dengan volume tertentu. Peneliti juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menirukan cara melafalkan ungkapan-ungkapan dan kosa kata yang akan dipakai beberapa kali hingga siswa merasa jelas.menentukan pasangannya secara bergantian. mereka juga dapat mengukur fluency mereka dibanding dengan teman-temannya. Pada saat siswa bermain Role Play. 2. 3. Pada bagian ini peneliti menekankan kembali kepada siswa untuk melakukan Role Play sebagaimana prosedurnya. Peneliti selanjutnya masih tetap memantau jalannya Role Play sambil memberikan bantuan kepada siswa. jumlah siswa yang menyatakan sulit bermain Role Play kini turun. Data yang diperoleh menunjukkan adanya penurunan dan peningkatan di beberapa hal. wajar kenaikan itu drastis. Mereka juga tahu apa yang harus diperbuat dan harus mereka katakan. dan bukan melihat pekerjaan temannya. semula 60 menit menjadi 75 menit. Ini dikarenakan kosa kata yang dipakai dalam Role Play banyakyang dikenal oleh siswa. Ini dimaksudkan agar siswa lebih lama melakukan peraktik bahasa bersama teman-temannya. Kemudian 15 menit selanjutnya ungkapan-ungkapan dan kosa kata yang dipakai dalam Role Play dituliskan di papan. Mereka sudah terbiasa dengan tujuan dan aturan-aturannya. Menambah waktu bermain Role Play. realia dan mungkin gesture untuk membantu siswa memahami artinya. 5 menit berikutnya. Selanjutnya. semula 41% menjadi 23%. semula dari 82% meningkat menjadi 91%. Ini tidak lain karena siswa sudah terkondisi bermain Role Play. Dari semula 51% siswa yang menyatakan merasa kesulitan memahami arti kosa kata dalam Role Play. Untuk 5 menit pertama. PENGAMATAN Pada setiap akhir dua siklus kecil. siswa membuat persiapanpersiapan sebagai setting Role Play sebagaimana yang telah dilakukan pada siklus sebelumnya.

Sebagian besar siswa. dkk. SARAN Guru sebaiknya dalam melakukan pengajaran bahasa Inggris di kelas tidak harus selalu berorientasi pada perolehan hasil Ebtanas sebagai tujuannya. Role Play yang terlalu tinggi bagi siswa dapat mempengaruhi psikologi siswa. Karena materi yang dipilih merupakan materi Role Play yang dimainkan pada kelompok besar. guru seyogyanya lebih kreatif menjadikan pembelajaran tampak lebih hidup. dan salah satunya melalui Role Play. Siswa begitu fasih menggunakannya karena mereka sudah terbiasa. Ada yang lebih menantang. dan bukannya "Eh" dalam bahasa daerah. Bandung: Kaifa. 2000. tujuan dan aturan permainan dalam Role Play harus disampaikan agar dapat menumbuhkan rangsangan tersendiri bagi siswa. bukan "Lhe" dalam bahasa daerah. Siswa akan lebih bergairah bermain Role Play karena mereka sadar dan menganggap itu suatu kebutuhan. Ketrampilan itu tidak lain adalah keterampilan berbicara dalam bahasa Inggris. dan butuh kesabaran di pihak kita. guru sebaiknya memperhatikan level siswa. keberanian dan rasa percaya diri siswa benar benar tampak.1. Contextual teaching and learning. Quantum teaching. Setting. nyata dan lebih bermakna. sehingga siswa dapat melakukan praktik bahasa (bertanya dan menjawab melalui Role Play). 4) Departemen Pendidikan Nasional. Selama pelaksanaan siklus sedang III. Jika perlu siswa juga dapat diberdayakan misalnya. saling berinteraksi menggunakan bahasa Inggris bersama teman-temannya tanpa mereka sadari sebelumnya. mereka mengucapkan "I'm sorry" atau minimal "Sorry". Quantum learning. Dengan cara demikian siswa akan terlatih melakukan praktik-praktik bahasa. Bandung: Kaifa. Role Play sebaiknya dipersiapkan dan dirancang dengan baik. mereka mengatakan "Excuse me!". Karena Role Play yang baik adalah Role Play yang mampu memberdayakan sekaligus membuat siswa aktif. utamanya pada pemilihan materi. Demikian pula pada accuracy siswa. "That's OK". dalam pembuatan setting Role Play. tidak lagi melihat pekerjaan teman-temannya untuk mendapatkan dan memberi informasi. 3) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Melainkan mereka lakukan dengan cara bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris. 2) Bobby DePorter dan Mike Hemacki. yang sangat dibutuhkan pada era globalisasi nanti. Belajar adalah proses. Dan begitu seterusnya untuk ungkapan-ungkapan seperti. sekitar 90%. Untuk dapat memenuhi tujuan itu. 2. dkk. GBPP bahasa Inggris SLTP 1994. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan . Jakarta: Bidang Dikmenum Kanwil Dikbud Propinsi Jawa Timur. 1993. "Thank you". Pada akhir pelaksanaan siklus sedang III penggunaan bahasa daerah sudah tampak berkurang. Jika mereka meminta perhatian orang lain. Dalam memberikan Role Play sebagai kegiatan pembelajaran bahasa Inggris. Fluency mereka juga tampak lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya karena ungkapan-unkapan yang dipakai sudah banyak dikenal oleh siswa. bagaimana membekali siswa dengan keterampilan-keterampilan yang lebih menjanjikan bagi kehidupannya kelak. 2000. Misalnya jika mereka mengatakan sesuatu yang salah. KESIMPULAN Salah satu variasi pembelajaran bahasa Inggris untuk siswa SLTP adalah pembelajaran bahasa Inggris melalui Role Play. 2002. DAFTAR PUSTAKA 1) Bobby DePorter.

2000. 1986.M. E. Teaching speaking. Interaksi dan motivasi belajar mengajar.Pertama 5) Hadfield. Harap's communication games. The importance of English. Washington: English Teaching Forum. Australia: Thomas Nelson and Son Ltd.19 Pebruari 2000 di Jakarta. Kurilculum berbasis kompetensi: Konsep. 7) Mulyasa. dan implementasi. 9) Basri. M. Makalah disampaikan pada Penataran Instruktur Guru Bahasa Inggris SLTP Swasta tanggal 8 . Jakarta: Rajawali Press. 2001. karakteristik. 2000. A. . Bandung: Remaja Rosdakarya 8) Sardiman A. 2002. J. S. 6) Hasman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->