P. 1
ekstrasi benih tanaman

ekstrasi benih tanaman

|Views: 447|Likes:
Published by Yuda Pangestu
pengertian ekstraksi benih
pengertian ekstraksi benih

More info:

Published by: Yuda Pangestu on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2014

pdf

text

original

DAFTAR PUSTAKA Murniati,E.1996.

Informasi Hasil Penelitian Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap viabilitas benih kemiri (Aleurites moluccana Willd.). Keluarga Benih 7(1):59-65 Kamil, J, 1982, Teknologi Benih I, Padang: Universitas Andalas Kuswanto, Hendarto. 1997. Analisis Benih. Yogyakart:Andi Kuswanto,Hendarto. 2003, Teknologi Pemprosesan, Pengemasan dan Penyimpanan Benih. Yogyakarta: Kanisius Nurhayati, K. 1997. Pengaruh Ukuran dan Saat perkahan Buah Pada Proses Ekstraksi terhadap Perkecambahan dan Pertumbuahan Semai Khaya anthoteca C.DC. Skrpisi. Bogor. Jurusan Manajeman Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
http://www.scribd.com/doc/65385850/BENIH-GILA-GILA http://diyahastripratiwi.blogspot.com/2013/02/ektraksi-benih-melon.html http://www.scribd.com/doc/59181703/Laporan-Praktikum-Teknologi-Benih http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=15688

2003). Pernyataan ini diperjelas oleh Ekawati (2004) bahwa ekstraksi benih merupakan pemisahan biji dari daging buah. buah polong dikeringkan sampai pada tingkat kadar air tertentu dimana buah polong tersebut mulai terbuka. Setelah terbuka bijinya diambil dengan menggunakan tangan atau mesin khusus. malai. dan kapsul dari tanaman eucalyptus yang terbelah kedalam (split in) menjadi tiga atau beberapa belah. antara lain: Cone dan polong Sesudah tindakan pra-perawatan. Buah kering Ini merupakan kelompok yang bermacam-macam. Proses seperti ini dapat mengakibatkan kerusakan pada benih apabila tidak dilakukan dengan teliti (Kuswanto. (Kuswanto. Setiap famili pohon (families) dapat berbeda dalam hal kadar air cone dan ketebalan dan struktur lapisan benih. Beberapa benih dapat diperoleh melalui gosokan ringan atau rontok. Ekstraksi diperlukan karena biasanya benih tidak dipanen secara langsung. Kuswanto (2003) menyatakan bahwa berdasarkan proses ekstraksi ini buah dan polong dapat digolongkan menurut cara mengekstraksinya. tongkol dan sebagainya dengan tujuan agar benih tersebut dapat digunakan untuk bahan tanam yang memenuhi persyaratan.1. sedangkan lainnya memerlukan bantuan mesin. Beberapa jenis buah akan terbuka dengan sendirinya apabila dikeringkan khususnya apabila buah tersebut dipetik pada saat yang tepat. polong. . Kerusakan mesin dapat dengan mudah menimbulkan kerusakan pada benih apabila terjadi terlalu banyak benturan dan getaran. polong dari tumbuhan polong yang terbelah dua belah kebawah. bukan sebelum waktunya dan apalagi dengan pengeringan terlalu cepat. dan ekstraksi standar dapat juga mempengaruhi famili pohon (families) tersebut secara berbeda. 2003). kulit buah. biasanya pengunduhan dilakukan terhadap buahnya. Ekstraksi Benih Kuswanto (2003) menyebutkan bahwa proses ekstraksi benih merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan benih dari buah. Kantung (follicles)yang terbelah sebelah kebawah. kulit benih.

Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan benih yang berasal dari buah batu tetapi dimodifikasi dengan ekstraksi secara kering yang dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin antara lain: Benih dari beberapa jenis tanaman yang berasal buah berdaging dan berair memerlukan metode ekstraksi dan perawatan khusus sebelum benih siap dikeringkan. kemudian benih dicuci dengan air hingga bersih dan bebas dari lendir (Kuswanto. Tanaman yang termasuk dalam tipe ini adalah tanaman cabai. 2003). Buah Berdaging dan Berair (Wet Fleshly Fruit) Buah tipe ini. 2003). okra dan paria (Kuswanto. Dengan demikian. sebelum benih dikeringkan lendir yang ada harus dihilangkan terlebih dahulu menggunakan zat kimia yaitu dengan difermentasikan terlebih dahulu. Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan benih yang berasal dari buah batu tetapi dimodifikasi dengan ekstraksi basah (wet ekstraction) yang dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin. (Ekawati. buahnya dapat dikeringkan terlebih dahulu setelah buah masak. sehingga pada saat benih masak fisiologis maupun masak morfologis kandungan air benih masih sangat tinggi dan benih diselaputi oleh lendirdan saling melekat pada runag-ruang tempat biji tersususn yang mengandung bahan yang bersifat inhibitor. oyong. Metode ekstraksi Ekawati (2004) menyebutkan bahwa dari beberapa jenis tanaman yang berasal buah berdaging dan berarir (Wet Fleshly Fruit) memerlukan metode ekstraksi dan perawatan khusus sebelum benih siap dikeringkan. Zat penghambat perkecambahan (inhibitor) yang menyelimuti permukaan benih harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum dikeringkan (Kuswanto.Buah Berdaging Pada buah berdaging sebelum benih dipisahkan atau diekstraksi. 2004) menjelaskan ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam ekstrakksi basah. 2005) pernyataan ini juga disampaikan oleh Sutopo (2002) dalam bukunya Teknologi Benih menyebutkan bahwa banyak zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan salah satunya adalah bahan-bahan yang terkandung dalam cairan buah yang melapisi biji tomat dan ketimun. antara lain: . disamping berdaging juga berair misalnya ketimun.

Untuk mempersingkat waktu fermentasi. Setelah fermentasi selesai. sedangkan apabila digunakan temperature 150 C-220C. misalnya terbuat dari logam stainless steel. 2004) Metode Kimiawi (Chemical Method) Metode fermentasi memerlukan waktu relative lama terutama bila dilakukan di Negara yang berklim dingin/sedang. Setelah direndam dan diaduk selama 30 menit. tergantung pada jenis benih yang difermentasikan. pemisahan benih dari daging buahnya akan kurang efisien jika menggunakan tenaga manual. bisanya benih akan tenggelam ke dasar wadah untuk memudahkan pemisahan benih dari massa pulp perlu ditambahkan air agar pulp menjadi encer. Pitoyo (2005) juga menjelaskan bahwa bahwa pemisahan biji . Adapun wadah yang digunakan untuk fermentasi benih dipilih wadah yang tidak korosif terhadap asam. sehingga akan berdampak pada kualitas benih.Fermentasi Benih yang telah dipisahkan dari daging buahnya.massa pulp akan mengambang dipermukaan sehingga mudah dipisahkan dari benih yang tenggelam didasar wadah. Lama fermentasi tergantung pada tinggi rendahnya suhu selama fermentasi. Setelah benih difermentasi benih dicuci dengan air bersih hingga semua zat penghambat hilang. yang ditandai dengan permukaan benih yang sudah tidak licin. kayu ataupun plastic.. dengan dosis 5 liter HCL 35% dicampur dengan 100 liter air. dapat digunakan zat kimia misalnya HCL 35%. 2005). Setelah dipisahkan benih dicuci dengan air hingga bekas pencuciannya bersifat netral (dapat dicek dengan menggunakan kertas lakmus). dimasukkan ke dalam wadah dan apabila perlu ditambah dengan sedikit air. Kemudian larutan HCL digunakan untuk merendam pulp. Selama fermentasi bubur (pulp) perlu diaduk guna memisahkan benih dari massa pulp dan mencegah timbulnya cendawan. Apabila fermentasi dilakukan pada temperature 240 C-270 C maka diperlukan waktu 1-2 hari. Metode Mekanis (Mechanical Method) Pada usaha skala besar. Proses pembijian dilakukan dengan menggunakan mesin (seed extraction) yang dirancang untuk memisahkan dan membersihkan benih dari pulp yang mengandung inhibitor (Ekawati. dbutuhkan waktu 3-6 hari. Selanjutnya benih tersebut dikering anginkan pada suhu 310 C hingga diperoeh kadar air tertentu sesuai dengan peraturan yang aman bagi penyimpanan (Pitojo.. wadah ditutup dan disimpan selama beberapa hari.

harganya murah 2000/kg dapat mencegah terjadinya pembusukan yang dapat mempengaruhi kualitas benih terutama viabilitasnya dan tidak menyebabkan perubahan warna. Namun jika tidak dilakukan secara tepat perlakuan dengan bahan kimia tersebut dapat menurunkan daya kecambah .setelah fermentasi dapat dilaukan dengan menggunakan sodium karbonat 10% selama dua hari. namun cara tesebut jarang digunakan oleh perusahaan benih. dibiarkan selama 1-2 jam. Manggis dan ketimun termasuk kedalam tipe buah berdagung dan berair sehingga diharapkan kapur tohor juga dapat dipalikasikan dalam ekstraksi benih ketimun. pemisahan biji dalam jumlah banyak dapat dilakukan secara cepat degan menggunakan HCL 1 N sebanyak 7-8 ml/l larutan. . Kuswanto (2003) menyatakan bahwa untuk mempersingkat waktu fermentasi dapat digunakan zat kimia HCL 35% dengan doasis 5 liter HCL 35 % icampur dengan 100 liter air. kemudian larutan tersebut digunakan untuk merendam pulp selama 30 menit. Murniati (1999) dalam penelitiannya memanfaatkan kapur tohor sebagai bahan untuk ekstraksi basah menunjukkan bahwa pada konsentrasi kapur tohor 20 g/l dengan lama perendaman 30 menit memberikan potensi tumbuh terbaik (96%) untuk benih manggis. Adapun keuntungan dari penggunaan kapur tohor adalah prosesnya berjalan cepat.

Pengeringan seringkali merupakan faktor yang sangat kritis pada tahap pengolahan benih terutama kalau musim penghujan. Namun sebaliknya jika benih diletakan dalam ruangan yang RH tinggi. dan kemudian air yang berada dipermukaan benih tersebut akan diuapkan jika RH ruangan lebih rendah. Paraserianthes falcataria) dan jenis-jenis yang memiliki daging buah yang kering (Swietenia macrophylla). Proses ini akan terjadi hingga keseimbangan kadar air benih dengan RH lingkungannya tercapai. Dikenal dua macam ekstraksi benih yaitu ekstraksi kering yang dilakukan terhadap buah berbentuk polong (Acacia sp.Benih bersifat hygroskopis. maka benih akan kehilangan air dan terjadi penurunan kadar air. Pengeringan benih dimaksudkan untuk menurunkan kadar air sampai batas keseimbangan dengan udara luar disekitarnya dan siap untuk dilakukan proses selanjutnya. Biasanya pengunduhan dilakukan terhadap buahnya..LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BENIH Acara III EKSTRAKSI BENIH SAYURAN SECARA KIMIA Ketua Kelompok : Josua F.benih juga selalu ingin berada dalam kondisi equilibrium (keseimbangan) dengan kondisi disekitarnya. maka kadar air benih akan bertambah atau meningkat. sehingga jika benih diletakan didalam ruangan dengan RH rendah.Selain bersifat hygroskopis.R/E1J008031 Anggota : Muhammad Ali Alfi/E1J010089 Renita G Manurung/E1J008062 Maratus Sholika/E1J008038 PROGAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU 2012 BAB I PENDAHULUAN 1. Melia azedarach dan Azadirachta indica. .Pengeringan benih merupakan proses perpindahan air dari dalam benih kepermukaan benih. sedangkan ekstraksi basah dilakukan terhadap jenis-jenis yang memiliki daging buah yang basah seperti Gmelina arborea.1 Latar Belakang Ekstraksi diperlukan karena biasanya benih tidak dipanen secara langsung.

Tanaman yang termasuk dalam tipe ini adalah tanaman cabai. 2003).2 Tujuan 1. biasanya pengunduhan dilakukan terhadap buahnya. polong. okra dan paria (Kuswanto. antara lain: Cone dan polong Sesudah tindakan pra-perawatan.1. sehingga pada saat benih masak fisiologis maupun masak morfologis kandungan air benih masih sangat tinggi dan benih diselaputi oleh lendir dan saling melekat pada runag-ruang tempat biji tersususn yang mengandung bahan yang bersifat inhibitor. dan kapsul dari tanaman eucalyptus yang terbelah kedalam (split in) menjadi tiga atau beberapa belah. Kerusakan mesin dapat dengan mudah menimbulkan kerusakan pada benih apabila terjadi terlalu banyak benturan dan getaran. kulit buah. dan ekstraksi standar dapat juga mempengaruhi famili pohon (families) tersebut secara berbeda. Mahasiswa mengetahui cara mengekstraksi benih sayuran. oyong. malai. kemudian benih dicuci dengan air hingga bersih dan bebas dari lendir (Kuswanto. sedangkan lainnya memerlukan bantuan mesin. Pernyataan ini diperjelas oleh Ekawati (2004) bahwa ekstraksi benih merupakan pemisahan biji dari daging buah. kulit benih. Mahasiswa dapat mengekstraksi benih sayuran. Proses seperti ini dapat mengakibatkan kerusakan pada benih apabila tidak dilakukan dengan teliti (Kuswanto. Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara yang sama . Beberapa benih dapat diperoleh melalui gosokan ringan atau rontok. 2. sebelum benih dikeringkan lendir yang ada harus dihilangkan terlebih dahulu menggunakan zat kimia yaitu dengan difermentasikan terlebih dahulu. (Kuswanto. Kantung (follicles) yang terbelah sebelah kebawah. 2003). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Dengan demikian. 2003). Ekstraksi Benih Kuswanto (2003) menyebutkan bahwa proses ekstraksi benih merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan benih dari buah. disamping berdaging juga berair misalnya ketimun. bukan sebelum waktunya dan apalagi dengan pengeringan terlalu cepat. tongkol dan sebagainya dengan tujuan agar benih tersebut dapat digunakan untuk bahan tanam yang memenuhi persyaratan. polong dari tumbuhan polong yang terbelah dua belah kebawah. Ekstraksi diperlukan karena biasanya benih tidak dipanen secara langsung. Buah Berdaging dan Berair (Wet Fleshly Fruit) Buah tipe ini. 2003). Setelah terbuka bijinya diambil dengan menggunakan tangan atau mesin khusus. Metode ekstraksi Ekawati (2004) menyebutkan bahwa dari beberapa jenis tanaman yang berasal buah berdaging dan berarir (Wet Fleshly Fruit) memerlukan metode ekstraksi dan perawatan khusus sebelum benih siap dikeringkan. Buah kering Ini merupakan kelompok yang bermacam-macam. buahnya dapat dikeringkan terlebih dahulu setelah buah masak. Buah Berdaging Pada buah berdaging sebelum benih dipisahkan atau diekstraksi. buah polong dikeringkan sampai pada tingkat kadar air tertentu dimana buah polong tersebut mulai terbuka. Beberapa jenis buah akan terbuka dengan sendirinya apabila dikeringkan khususnya apabila buah tersebut dipetik pada saat yang tepat. Kuswanto (2003) menyatakan bahwa berdasarkan proses ekstraksi ini buah dan polong dapat digolongkan menurut cara mengekstraksinya. Setiap famili pohon (families) dapat berbeda dalam hal kadar air cone dan ketebalan dan struktur lapisan benih.

sehingga akan berdampak pada kualitas benih. dibiarkan selama 1-2 jam. Apabila fermentasi dilakukan pada temperature 240 C-270 C maka diperlukan waktu 1-2 hari. pemisahan biji dalam jumlah banyak dapat dilakukan secara cepat degan menggunakan HCL 1 N sebanyak 7-8 ml/l larutan. yang ditandai dengan permukaan benih yang sudah tidak licin.dengan benih yang berasal dari buah batu tetapi dimodifikasi dengan ekstraksi secara kering yang dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin antara lain: Benih dari beberapa jenis tanaman yang berasal buah berdaging dan berair memerlukan metode ekstraksi dan perawatan khusus sebelum benih siap dikeringkan. dbutuhkan waktu 3-6 hari. Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan benih yang berasal dari buah batu tetapi dimodifikasi dengan ekstraksi basah (wet ekstraction) yang dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin. misalnya terbuat dari logam stainless steel. Kuswanto . Selama fermentasi bubur (pulp) perlu diaduk guna memisahkan benih dari massa pulp dan mencegah timbulnya cendawan. Setelah direndam dan diaduk selama 30 menit. 2004) menjelaskan ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam ekstrakksi basah. kayu ataupun plastic. 2005). Setelah benih difermentasi benih dicuci dengan air bersih hingga semua zat penghambat hilang.. massa pulp akan mengambang dipermukaan sehingga mudah dipisahkan dari benih yang tenggelam didasar wadah. tergantung pada jenis benih yang difermentasikan. sedangkan apabila digunakan temperature 150 C-220C. Adapun wadah yang digunakan untuk fermentasi benih dipilih wadah yang tidak korosif terhadap asam. Proses pembijian dilakukan dengan menggunakan mesin (seed extraction) yang dirancang untuk memisahkan dan membersihkan benih dari pulp yang mengandung inhibitor (Ekawati. Namun jika tidak dilakukan secara tepat perlakuan dengan bahan kimia tersebut dapat menurunkan daya kecambah . dapat digunakan zat kimia misalnya HCL 35%. dimasukkan ke dalam wadah dan apabila perlu ditambah dengan sedikit air. (Ekawati. Pitoyo (2005) juga menjelaskan bahwa bahwa pemisahan biji setelah fermentasi dapat dilaukan dengan menggunakan sodium karbonat 10% selama dua hari. bisanya benih akan tenggelam ke dasar wadah untuk memudahkan pemisahan benih dari massa pulp perlu ditambahkan air agar pulp menjadi encer. Metode Mekanis (Mechanical Method) Pada usaha skala besar. Selanjutnya benih tersebut dikering anginkan pada suhu 310 C hingga diperoeh kadar air tertentu sesuai dengan peraturan yang aman bagi penyimpanan (Pitojo.. Setelah dipisahkan benih dicuci dengan air hingga bekas pencuciannya bersifat netral (dapat dicek dengan menggunakan kertas lakmus). 2005) pernyataan ini juga disampaikan oleh Sutopo (2002) dalam bukunya Teknologi Benih menyebutkan bahwa banyak zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan salah satunya adalah bahan-bahan yang terkandung dalam cairan buah yang melapisi biji tomat dan ketimun. pemisahan benih dari daging buahnya akan kurang efisien jika menggunakan tenaga manual. Lama fermentasi tergantung pada tinggi rendahnya suhu selama fermentasi. dengan dosis 5 liter HCL 35% dicampur dengan 100 liter air. Untuk mempersingkat waktu fermentasi. 2004) Metode Kimiawi (Chemical Method) Metode fermentasi memerlukan waktu relative lama terutama bila dilakukan di Negara yang berklim dingin/sedang. antara lain: Fermentasi Benih yang telah dipisahkan dari daging buahnya. namun cara tesebut jarang digunakan oleh perusahaan benih. Kemudian larutan HCL digunakan untuk merendam pulp. Zat penghambat perkecambahan (inhibitor) yang menyelimuti permukaan benih harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum dikeringkan (Kuswanto. wadah ditutup dan disimpan selama beberapa hari. Setelah fermentasi selesai.

Rendamlah pulp dan bijinya ke dalam larutan HCL 35% selama 30 menit hingga masa pulp mengambang. BAB III METODE PRAKTIKUM 3. cabai. Fakultas Pertanian. Ambilah buah dan biji cabe yang telah ditumbuk dengan sendok. Ambilah pulp dan bijinya. Belahlah buah tomat dan mentimun. tomat (5 butir). 3. harganya murah 2000/kg dapat mencegah terjadinya pembusukan yang dapat mempengaruhi kualitas benih terutama viabilitasnya dan tidak menyebabkan perubahan warna. kemudian larutan tersebut digunakan untuk merendam pulp selama 30 menit. Manggis dan ketimun termasuk kedalam tipe buah berdagung dan berair sehingga diharapkan kapur tohor juga dapat dipalikasikan dalam ekstraksi benih ketimun. Universitas Bengkulu. dan mentimun (5 butir). Bertempak di laboratorium Agronomi. Cucilah biji cabai dengan air mengalir hingga pHnya netral. Tumbuklah buah cabai dengan lembut agar buahnya pecah dan bijinya tidak rusak. Air Larutan HCL 35% Botol beserta tutupnya Bak air Pisau atau carter Penumbuk Pengaduk Kertas lakmus Saringan            3.3 Cara Kerja a. Rendamlah buah cabai yang sudah di tumbuk ke dalam larutan HCL 30% selama 30 menit dan aduklah hingga rata.(2003) menyatakan bahwa untuk mempersingkat waktu fermentasi dapat digunakan zat kimia HCL 35% dengan doasis 5 liter HCL 35 % icampur dengan 100 liter air. Ekstraksi Metode Kimiawi Ambilah buah cabai (20 butir).1 Tempat dan Waktu Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis. dan mentimun.2 Alat dan Bahan           Buah sayuran seperti tomat. 15 Maret 2012 pukul 12.00 WIB – selesai. Murniati (1999) dalam penelitiannya memanfaatkan kapur tohor sebagai bahan untuk ekstraksi basah menunjukkan bahwa pada konsentrasi kapur tohor 20 g/l dengan lama perendaman 30 menit memberikan potensi tumbuh terbaik (96%) untuk benih manggis. Pisahkan pulp dari bijinya. Pisahkan biji dan pulpnya. Cucilah biji tomat dan mentimun dengan air mengalir hingga netral pHnya. Adapun keuntungan dari penggunaan kapur tohor adalah prosesnya berjalan cepat. .

Cucilah biji tomat dan mentimun dengan air mengalir hingga bersih (biji tidak licin). .  Biji tenggelam dalam air  Biji kesat setelah di keringkan.  Biji lebih kesat setelah di cuci pada air 3.             Bersihkan hasil rendaman dengan air yang mengalir secara perlahan. jangan sampai biji ikut terbuang. Untuk cabai Setelah di rendam dalam air selama 2-4 hari maka hasilnya :  Pulp mengambang di atas permukaan air.  Biji lebih kesat setelah di cuci pada air b. Untuk tomat Setelah di rendam dalam air selama 2-4 hari maka hasilnya :  Pulp mengambang di atas permukaan air.  Biji lebih kesat setelah di cuci pada air 2. Untuk cabai Setelah biji cabai di rendam pada larutan HCL 35% maka hasilnya :  Pulp terpisah dari bijinya. tomat (5 butir). 3. BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil a. Rendamlah buah cabai yang sudah di tumbuk ke dalam botol yang telah berisi air 2-4 hari hingga masa pulp mengambang dan terpisah dengan bijinya. Ambilah buah dan biji cabe yang telah ditumbuk dengan sendok. Belahlah buah tomat dan mentimun.  Biji tenggelam dalam air  Biji kesat setelah di keringkan. Ambilah pulp dan bijinya. Untuk mentimun Setelah biji cabai di rendam pada larutan HCL 35% maka hasilnya :  Pulp terpisah dari bijinya. Cucilah biji cabai dengan air mengalir hingga bersih. Tumbuklah buah cabai dengan lembut agar buahnya pecah dan bijinya tidak rusak. Untuk tomat Setelah biji cabai di rendam pada larutan HCL 35% maka hasilnya :  Pulp terpisah dari bijinya. Ekstraksi Metode Kimiawi 1. 2. Ekstraksi Metode Fermentasi Ambilah buah cabai (20 butir). dan mentimun (5 butir). Pisahkan pulp dari bijinya dengan cara disaring. Ekstraksi Metode Fermentasi 1. b. Pisahkan biji dan pulpnya dengan cara disaring. Untuk mentimun Setelah di rendam dalam air selama 2-4 hari maka hasilnya :  Pulp mengambang di atas permukaan air. Bandingkanlah keuntungan dan kerugian kedua metode ekstraksi. Rendamlah pulp dan bijinya di dalam botol yang telah berisi air 2-4 hari hingga masa pulp mengambang dan terpisah dengan bijinya.

5. Teknologi Pemprosesan.2 Saran Sebaiknya buah yang akan kita ekstrasikan hendaknya kita perhatikan kemurnian buah tersebut. Teknologi Benih I. 1982. Informasi Hasil Penelitian Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap viabilitas benih kemiri (Aleurites moluccana Willd. karena secara kimia yang menggunakan larutan HCL 35% lebih cepat dan tidak banyak memerlukan waktu dalam penangananya.).1 Kesimpulan Dalam praktikum yang kami lakukan baik Ekstraksi yang menggunakan metode kimiawi maupun yang menggunakan metode Ekstraksi fermentasi tidak jauh berbeda. Namun jika kita akan mengekstraksi dalam skala yang besar lebih efektif dan efisien jika kita menggunakan larutan kimia. J. Biji tenggelam dalam air  Biji kesat setelah di keringkan.DC.1996. jadi kita harus memperhatikan kualitas buah tersebut agar biji yang dihasilkan benar-benar berkualitas. Padang: Universitas Andalas Kuswanto. 1997.  Biji lebih kesat setelah di cuci pada air  Kadar air dalam biji akan berkurang setelah di keringkan b. Skrpisi.Hendarto. 2003. Yogyakart:Andi Kuswanto. Pengaruh Ukuran dan Saat perkahan Buah Pada Proses Ekstraksi terhadap Perkecambahan dan Pertumbuahan Semai Khaya anthoteca C. Yogyakarta: Kanisius Nurhayati. DAFTAR PUSTAKA Murniati. Ekstraksi Metode Kimiawi Secara umum biji yang di hasilkan baik biji cabe. Analisis Benih.E. Hendarto. Karena tujuan ekstraksi adalah untuk menciptakan benih yang akan di persiapkan untuk proses penananman selanjutnya. BAB V KESIMPULAN 5. tomat. Bogor. Jurusan Manajeman Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Karena biji yang di ekstraksi menggunakan larutan HCL 35% akan sama hasilnya dengan biji yang di ekstraksi menggunakan air. Ekstraksi Metode Fermentasi Secara keseluruhan baik untuk biji cabe. tomat ataupun mentimun dengan ekstraksi yang menggunakan larutan HCL 35 % sama seperti berikut :  Pulp terpisah dari bijinya. dan mentimun bisa di lakukan dengan larutan HCL 35% atau fermentasi menggunakan air. Jadi dalam melakukan ekstraksi pada buah terutama cabe. Keluarga Benih 7(1):59-65 Kamil. tomat dan mentimun setelah di rendam dalam air selama 2-4 hari maka hasilnya :  Pulp mengambang di atas permukaan air. K. . 4.  Biji tenggelam dalam air  Biji kesat setelah di keringkan. Tapi akan lebih efektif dan efisien terutama waktu yang di perlukan lebih baik menggunakan larutan HCL 35% karena hanya menunggu beberapa jam saja dibandingkan menggunakan air dapat memakan waktu berhari-hari. 1997.2 Pembahasan a. Pengemasan dan Penyimpanan Benih.

html .com/2012/03/laporan-praktikum-teknologi-benih-acara.Source: http://muhammadalialfi.blogspot.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->