EVALUASI PENGGUNAAN ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT UNTUK MATERIAL BIJIH (ORE) EMAS PADA PIT RASIK

PT. AVOCET BOLAANG MONGONDOW KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SULAWESI UTARA

SKRIPSI

Oleh JIMMY PONGOH 112050049

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

EVALUASI PENGGUNAAN ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT UNTUK MATERIAL BIJIH (ORE) EMAS PADA PIT RASIK PT. AVOCET BOLAANG MONGONDOW KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SULAWESI UTARA

SKRIPSI Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Oleh JIMMY PONGOH 112050049

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA 2011

EVALUASI PENGGUNAAN ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT UNTUK MATERIAL BIJIH (ORE) EMAS PADA PIT RASIK PT. AVOCET BOLAANG MONGONDOW KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SULAWESI UTARA

SKRIPSI

Oleh JIMMY PONGOH 112050049

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Tanggal : 18 Agustus 2011 Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Wawong Dwi Ratminah, MT

Ir. Raden Hariyanto, MT

sebab Aku menyertai engkau. Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”. Dan sahabat-sahabat ku yang selalu memberiku semangat. (Yesaya 41:10) Kupersembahkan untuk : Ayahanda (Alm) yang akan selalu ku kenang saat bersamamu. janganlah bimbang. Ibunda dan adik-adik ku yang selalu mendoakan ku dan selalu ku sayang. bahkan akan menolong engkau. sebab Aku ini Allahmu. .“Janganlah takut. Aku akan meneguhkan.

8 ton/bulan.978. Dari hasil yang diperoleh. sehingga mempengaruhi tingginya waktu edar alat angkut ADT A40D Volvo yang berkapasitas 37 ton. Dari hasil tersebut maka penggunaan alat angkut yang lebih efektif adalah pada opsi 2. 1 unit backhoe PC300 Komatsu melayani 12 unit DT Nissan CWB520/ Hino FM260TI. Alat muat yang digunakan pada penambangan di pit Rasik adalah 1 unit backhoe 345D Caterpillar dan alat angkut sebanyak 6 unit ADT (Articulated Dump Truck ) A40D Volvo. Opsi 3.6 menit.436.ABM) adalah perusahaan pertambangan emas di Indonesia yang terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow. Opsi 2. Pada pit Rasik. Namun penggunaan pada alat angkut yang ada tidak efektif bila ditinjau dari kapasitas alat muat yang melayani dan lebar jalan angkut yang ada. Untuk target produksi 115. Material bijih emas akan diangkut berdasarkan QLT (Quick Leach Test) pada penempatan masing-masing leachpad.ABM selain menggunakan alat angkut berupa ADT A40D Volvo juga memiliki alat angkut yang lain yaitu dump truck Nissan CWB 520 kapasitas 20 ton dan dump truck Hino FM260TI kapasitas 26 ton serta alat muat backhoe PC300 Komatsu. PT. .908 ton/bulan. namun bisa mencapai target produksi sebesar 115.Avocet Bolaang Mongondow (PT.4 ton/bulan. material terlebih dahulu dibongkar menggunakan peledakan. sedangkan pemakaian alat angkut usulan berupa DT sebanyak 12 unit dilayani backhoe 345D Caterpillar menghasilkan produksi 125. yang mana waktu edarnya lebih cepat dibandingkan penggunaan alat muat angkut untuk opsi 1 dan opsi 3.908 ton/bulan telah tercapai dengan penggunaan alat muat dan alat angkut tersebut.12. provinsi Sulawesi Utara. target produksi yang diinginkan dibulan Mei sebesar 115. Sebelum melakukan kegiatan pemuatan dan pengangkutan. yang mana waktu tunggu untuk alat muat opsi 2 lebih cepat dibandingkan dengan opsi 1 yang mana MF = 0. penggunaan alat dibagi menjadi 3 opsi yaitu opsi 1. Oleh karena itu dilakukan sebuah analisis untuk memilih alat angkut yang lebih efektif. Waktu edar untuk alat angkut pada opsi 2 yaitu berupa DT Nissan CWB520/DT Hino FM260TI yang dilayani backhoe 345D Caterpillar adalah 29.58. 1 unit backhoe 345D Caterpillar melayani 12 unit DT Nissan CWB520/ Hino FM260TI. Metode penambangan yang dipakai adalah open pit.478. 1 unit backhoe 345D Caterpillar melayani 6 unit ADT A40D Volvo.8 ton/bulan. Pemakaian 6 unit ADT dilayani backhoe 345D Caterpillar menghasilkan produksi 126.57 dan waktu tunggu alat muat opsi 2 lebih cepat dibandingkan waktu tunggu alat angkut pada opsi 3 yang mama MF = 1.RINGKASAN PT. lebih sedikit dari produksi 6 unit ADT A40D Volvo.908 ton/bulan. Faktor keserasian atau Match Factor pada opsi 2 yaitu berupa DT Nissan CWB520/DT Hino FM260TI yang dilayani backhoe 345D Caterpillar adalah 0. tetapi lebih banyak daripada produksi 12 unit DT yang dilayani backhoe PC300 Komatsu yaitu 123.

S. Ir. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca sebagai referensi mengenai evaluasi penggunaan alat muat dan alat angkut. Ir. Didi Pranawa. penulis mengucapkan terima kasih terutama kepada : 1. Irwan Lupoyo. 4. Ir. dosen pembimbing II. Prof. Avocet Bolaang Mongondow. MT. 7 Juli 2011 Penulis. Jurusan Teknik Pertambangan. yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik. Ir. Fakultas Teknologi Mineral. MT. Kepala Teknik Tambang PT. 10. Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. 9. Production Superintendent PT. 7. 2. Sulawesi Utara. Wawong Dwi Ratminah. Didit Welly Udjianto. Avocet Bolaang Mongondow. 3.Sc. MS. MT. President Director PT. Darren Gibcus. Avocet Bolaang Mongondow dan pembimbing lapangan. M. Avocet Bolaang Mongondow. Ir. Dr. Atas segala bantuan. Alistair RH Frowde. Jimmy Pongoh . Avocet Bolaang Mongondow. bimbingan. fasilitas serta kesempatan yang telah diberikan. Skripsi ini disusun berdasarkan data hasil penelitian yang diambil pada tanggal 19 April 2010 sampai 9 Agustus 2010 di PT. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. 5. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Koesnaryo. Dekan Fakultas Teknologi Mineral. Production Manager PT. Mr. Ketua Jurusan Teknik Pertambangan. 6. Raden Hariyanto. Ir. Mr. Anton Sudiyanto.KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan berkat dan kemampuan untuk menyelesaikan skripsi ini. Dr. 8. H. dosen pembimbing I. Yogyakarta.

.................................................... 2 1...1 Pola Pemuatan ..........................7 Manfaat Penelitian .................................................................................... 4 1...................... 6 2.................................................................................4 Kegiatan Penambangan........................................................................................ 3 1.........................................................................................................................................................................2 Keadaan Geologi ............. vii DAFTAR GAMBAR .. vi DAFTAR ISI ........ xi DAFTAR LAMPIRAN .........................1 Lokasi Kesampaian Daerah.............................................................2 Faktor Pengisian Bucket ................2 Rumusan Masalah ........................................... 29 3................................... 2 1.................................................. 42 4......................................................... 10 2.......................................................................... 3 1................................................................................................. 27 3..............6 Pengolahan Data .......... 28 3................ 24 3...................... 44 ............... ix DAFTAR TABEL ........ 31 3......6 Produksi Alat Mekanis.....................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............ 22 III DASAR TEORI 3...................................................................................................... 10 2.5 Peralatan Bantu...................................................1 Kondisi Lapangan ............3 Faktor Pengembangan Material..........................2 Pola Pemuatan ..................................................................................... 36 IV HASIL PENELITIAN DAN PENGOLAHAN DATA 4....................................................................................3 Iklim dan Curah Hujan ...................................................................................................................................................................... 1 1........................................................................................................................................4 Geometri Jalan Angkut .......................................................... 32 3............ 41 4.....5 Metode Penelitian .......................................1 Latar Belakang Masalah ...........................................3 Tujuan Penelitian .......4 Batasan Masalah .......3 Waktu Kerja ........................................5 Waktu Edar....................................................................................................................................................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN 1.................................................................................................................................................................................. 5 II TINJAUAN UMUM 2.......................................................... 8 2.....................................................8 Efisiensi Kerja ...........................................7 Keserasian Antar Alat Muat dan Angkut ............. 33 3.................................................................

.........5 Produksi Alat Angkut ADT A40D Volvo dan DT Nissan CWB 520 ......................................... 55 VI KESIMPULAN DAN SARAN 6................................................6 Faktor Keserasian Alat Muat Angkut (Match Factor) ................................. 54 5............. 46 4............................ 51 5.7 Produksi Alat Muat dan Angkut....6 Waktu Edar Alat Muat dan Angkut ........................................ 46 4.......................................................................................................................................................... 59 .....1 Pemuatan Material ............................................................................... 50 5. 52 5.................8 Faktor Keserasian Kerja Alat ..2 Banyak Curah Terhadap Bak Truk ....................... 57 DAFTAR PUSTAKA ................................ 47 4..................1 Kesimpulan ............................................................................................................................................5 Geometri Jalan Angkut ..................................................................4................................4 Faktor Isian Mangkuk (Bucket Fill Factor) ............................................................................................................3 Lebar Jalan Angkut .. 46 4............................. 49 5................. 47 V PEMBAHASAN 5............................................................... 58 LAMPIRAN ..................... 56 6........................4 Waktu Edar Alat Angkut ..........2 Saran .......................................................................................................................................

...................... 10 2.....16 Processing Plant ............................... 9 2................ 29 3................3 Rata-rata Curah Hujan Tahun 2005-2009 ............. 22 2............................. 27 3...........5 Pengupasan tanah penutup dengan alat muat backhoe 345 D Caterpillar .6 Grafik Match Factor ....1 Backhoe 345D Caterpillar ............. 30 3............................................................. 20 2...............5 Lebar Jalan Angkut pada Jalan Tikungan .... Double Back Up dan Triple Back Up .......................... 16 2.....2 Articulated Dump Truck A40D Volvo ....12 Pengisian kapur pada muatan material bijih emas ..............................................................................................10 Penimbunan material waste (Wastedump) ................ 21 2..... 17 2... 16 2......................14 Pemasangan Liner dan pipa untuk Leachpad .............3 (A)Frontal Cut...........................................................................................8 Pemasangan Pita Untuk Membedakan Jenis bijih emas dan waste ................................... 23 3.............11 Pengangkutan bijih emas dengan ADT A 40 D Volvo ......1 Lokasi Daerah Penambangan PT.7 Mesin Bor Tamrock Pantera 1100 ....................................................1 Pola Pemuatan Single Back Up......................... 39 ..........................................................................................................18 Compactor Volvo SD-100 ....................... 13 2............................................ 12 2............. 15 2.......9 Pemuatan bijih emas dengan alat muat backhoe 345 D Caterpillar ..........................................................2 Pola Muat Top Loading dan Bottom Loading .. 35 4. 18 2.......ABM ............4 Backhoe Komatsu PC 200 sedang membersihkan lahan ...................4 Lebar jalan angkut Lurus........... 13 2......................15 SWP (Storm Water Point) .......2 Litologi lapisan batuan di PT Avocet Bolaang Mongondow .......................17 Motor Grader 140H Caterpillar .............. 25 3........................................................................................................ 38 4.........................................................................6 Bulldozer caterpillar tipe D 7 N untuk perataan ... 11 2.....DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2....... 15 2................. 26 3........................13 Penyiraman Sianida pada material bijih emas di Leachpad ...... 20 2.................................................. 7 2......... (B)Parallel Cut With Drive By ..................

.....6 Kondisi lapangan setelah turun hujan .................................. 43 4..................................4 Dump Truck Hino FM260TI ..................10 Pola Muat Bottom Loading backhoe 345D Cat terhadap ADT A40D Volvo ..... 41 4............... 40 4.3 Dump Truck Nissan CWB 520 ....................11 Pola Muat Bottom Loading backhoe 345D Cat terhadap DT Hino FM260TI 43 ................... 42 4.... 41 4..........7 Ukuran material ore (loose) ≤ 30 cm ........ 39 4....................................5 Backhoe PC300 Komatsu .....8 Pola Muat Top Loading backhoe 345D Cat terhadap ADT A40D Volvo ................................ 40 4............................................9 Pola Muat Top Loading backhoe 345D Cat terhadap DT Hino FM260TI .................................4...... 42 4............................................

.................................... 52 5............................................................6 Match Factor dan Waktu Tunggu Alat Muat dan Alat Angkut ......................1 Waktu Kerja .1 Pembagian material ore berdasarakan recovery...2 Lebar jalan angkut lurus dan tikungan aktual...................2 Waktu Edar Alat Muat dan Alat Angkut di Pit Rasik ... 44 4............................................3 Produksi Alat Muat dan Alat Angkut di Pit Rasik ........... 51 5...... 47 5.......... 14 3................ grade...................................1 Faktor Pengisian (Fill Factor).....1 Jumlah Curah Bucket Terhadap ADT dan Usulan DT .... 53 5....4 Perbandingan waktu edar ADT aktual dan DT sebagai usulan ............ 55 ........5 Produksi Alat angkut DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI ............ tingkat keasaman ....... 54 5................................................ 47 4..... 50 5................................3 Lebar Jalan Angkut untuk ADT A40D Volvo dan DT Nissan CWB 520 .................................... 28 4...................DAFTAR TABEL Tabel Halaman 2..

................... 88 J Produksi Alat Muat dan Alat Angkut Saat Ini ............................ 100 O Peta Kontur PT............ 72 E Banyak Curah Bucket Backhoe 345D Caterpillar ................................................................................................................. 92 L Waktu Edar Alat Angkut Usulan ..................................................... 96 M Produksi Alat Angkut Usulan ............................................................................................... 74 F Waktu Edar Backhoe 345D Caterpillar ....... 87 I Hambatan Alat Angkut di Rasik ......................... 75 G Waktu Edar ADT A40D Volvo ..... 62 C Spesifikasi Alat Bantu ..............................................................................102 .........................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman A Spesifikasi Alat Muat .......................................................................................................................................................................................................... 59 B Spesifikasi Alat Angkut.................................... 80 H Hambatan Alat Muat di Rasik ......................................................................................... 98 N Faktor Keserasian Alat Angkut Usulan.............................................................. 67 D Curah Hujan dan Hari Hujan ................................. 89 K Kondisi Jalan Angkut Usulan .....Avocet Bolaang Mongondow...........................................................................................................................................................................

1 dimana recovery pada bijih emas yang akan ditambang berada pada kisaran > 80% . Match factor dari pit Rasik ke leachpad 3 dengan jarak angkut 3. sedangkan material waste (clay material ) akan dimuat dan diangkut ke Wastedump Nala. Kegiatan pemuatan dan pengangkutan pada pit Rasik adalah material bijih emas akan dimuat dan diangkut ke Leachpad 3.57 dan produksi aktual telah terpenuhi sebesar 122. selanjutnya material hasil pembongkaran berupa ore dan waste dilanjutkan kepada kegiatan pemuatan (loading) dan pengangkutan (hauling).2 km yaitu 0. Material bijih emas yang ditambang pada pit Rasik dimuat dan diangkut ke Leachpad 3 berdasarkan QLT (Quick Leach Test) 1. Avocet Bolaang Mongondow (ABM) merupakan perusahaan pertambangan bijih emas yang mempunyai luas wilayah usaha pertambangan (WUP) sebesar 50. yang mana meliputi hak-hak untuk eksplorasi dan eksploitasi sampai pada saat ini. sedangkan 6 unit ADT (Articulated Dump Truck) A40D Volvo sebagai alat angkut. Untuk target produksi material bijih emas adalah 115. Daerah yang sudah termasuk dalam ijin usaha pertambangan (IUP) PT. Kegiatan penambangan dilakukan dengan metode tambang terbuka (open pit mine).000 Ha. .271 ton/bulan. Gunung Rasik dan Gunung Effendi. Kegiatan eksploitasi pertama kali dilakukan proses pembongkaran yaitu meliputi kegiatan pemboran (drilling) dan peledakan (blasting). Untuk kegiatan eksploitasi yang sedang berjalan sampai sekarang yaitu di lokasi Gunung Riska dan Gunung Rasik.908 ton/bulan. alat muat dan alat angkut yang digunakan di pit Rasik yaitu 1 unit backhoe 345D Caterpillar sebagai alat muat. Untuk produksi aktual telah tercapai dan melebihi target produksi. Untuk material bijih emas. Penelitian dilakukan di pit Rasik.BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah PT. ABM meliputi Gunung Riska.

sedangkan 1 unit backhoe PC300 Komatsu sebagai pertimbangan jika dipakai untuk melayani DT Nissan CWB520 atau DT Hino FM 260TI. serta alat angkut ADT A40D Volvo sebagai aktual dan alat angkut DT Nissan CWB 520 atau DT Hino FM260TI sebagai usulan. 1. Oleh karena itu akan dilakukan suatu analisis yaitu mengevaluasi secara teknis penggunaan alat muat backhoe 345D Caterpillar dan backhoe PC300 Komatsu. Mencari waktu edar yang paling efektif diantaranya : pemakaian alat angkut ADT A40D Volvo dan alat angkut DT Nissan CWB 520 atau DT Hino . Memilih alat angkut yang kapasitas baknya lebih sesuai dengan kapasitas bucket pemakaian alat muat yang telah tersedia dilapangan. didapati adanya penggunaan alat-alat mekanis yang kurang efektif di lapangan. 2.ABM dan PT.ADT. Ketersediaan alat angkut yang dimiliki PT.DT Nissan CWB520 . dimana jumlah curah bucket backhoe terhadap alat angkut sangat banyak. Sehingga perbandingan kedua alat angkut itu nantinya dapat menentukan penggunaan alat angkut yang lebih efektif.3 Tujuan Penelitian Mengevaluasi pemakaian Alat Muat dan Angkut serta produksi tanpa mempengaruhi target yang telah dicapai.SKM : .Namun dengan tercapainya target produksi saat menggunakan alat muat dan angkut yang telah ada.Volvo Total ketersedian alat angkut : 5 unit : 11 unit : 6 unit : 22 unit Alat muat yang digunakan untuk penambangan di pit Rasik adalah 1 unit backhoe 345D Caterpillar.ABM : Untuk PT.2 Rumusan Masalah Permasalahan yang timbul pada kegiatan penambangan didasarkan pada kenyataan yang ada dilapangan. 1.DT Hino FM 260TI .SKM keseluruhan pada saat dilakukan penelitian 1 Mei 2010 – 30 Juni 2010 adalah sebagai berikut : Untuk PT. pemakaian alat angkut tidak disesuaikan dengan lebar jalan tambang yang tersedia. diantaranya : 1.

Kecepatan alat-alat angkut telah ditentukan berdasarkan rambu-rambu.5.4 Batasan masalah 1. 7. Ukuran material bijih emas yang akan digali setelah peledakan sudah sesuai ukurannya yaitu ≤ 30 cm. Mencari faktor keserasian yang paling mendekati 1. 5. Permasalahan hanya dilihat dari segi teknis dan tidak membahas dari segi ekonomis. Muatan maksimal untuk alat angkut ADT A40D Volvo yaitu 33 ton sedangkan muatan maksimal untuk alat angkut DT Nissan CWB 520 atau DT Hino FM260TI yaitu 13 ton. 4. 1.5 Metode Penelitian Metode penelitian yang penulis gunakan dalam melaksanakan penelitian adalah : 1. yang mana akan diketahui waktu tunggu bagi alat muat bila dikombinasikan dengan jumlah maksimal alat angkut. Literatur tersebut . 4. Penelitian dilakukan pada pit Rasik untuk material bijih emas. 1. Percepatan alat-alat angkut diasumsikan sama. Studi literatur dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang dapat dijadikan sebagai penunjang dalam pelaksanaan penelitian. 3. Menentukan jumlah alat angkut yang diperlukan untuk mencapai tonase material bijih emas yang diinginkan setiap bulannya. Material bijih emas selalu tersedia saat kegiatan pemuatan dan pengangkutan. 3. 6.FM260TI. yang mana dilayani oleh alat muat yang sama yaitu backhoe 345D Caterpillar dan alat muat backhoe PC300 Komatsu melayani alat angkut DT Nissan CWB 520 atau DT Hino FM260TI.1 Studi literatur Tahap awal dalam pelaksanaan penelitian yaitu dengan melakukan studi literatur. 2. 8. Untuk pemuatan dan pengangkutan bijih emas ke leachpad 3 digunakan 1 unit backhoe 345D Caterpillar melayani 6 unit ADT A40D Volvo.

diperoleh dari buku-buku. Data primer :      Waktu kerja Jumlah curah bucket rata-rata Waktu edar alat muat angkut Jumlah alat muat angkut Jarak jalan angkut b. yang selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel.3 Pengambilan data Data diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan (data primer) dan literatur-literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang ada (data sekunder). dan perhitungan penyelesaian. Pengambilan data antara lain sebagai berikut : a. Data sekunder :      Curah Hujan Data geologi Spesifikasi alat muat dan angkut Peta Produksi 1. hasil penelitian sebelumnya serta data-data dari perusahaan terkait.2 Pengamatan di lapangan Dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap kondisi lapangan dan gambaran kondisi kerja alat secara nyata tentang kegiatan pemuatan dan pengangkutan yang dilakukan.5. 1. .6 Pengolahan data Data yang telah diperoleh kemudian dikelompokkan sesuai dengan kegunaannya untuk lebih memudahkan dalam menganalisa. 1.5.

Sebagai bahan studi perbandingan untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pemindahan tanah mekanis. . untuk menambah wawasan tentang penambangan khususnya pada kegiatan pemindahan tanah mekanis.1. Bagi peneliti. b.7 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah : a. c. Masukan bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi alat muat dan alat angkut yang tersedia.

BAB II TINJAUAN UMUM PT. Avocet Bolaang Mongondow merupakan perusahaan tambang emas yang berasal dari London-Inggris, yang telah terakreditasi pada tahun 2004. PT. Avocet Bolaang Mongondow (PT ABM), sebuah perusahaan patungan antara Avocet Mining PLC dan PT. Lebong Tandai dari Indonesia, dengan pembagian saham masing-masing 80% dan 20%. Pada tahun 2010 seluruh saham dari PT. Avocet Bolaang Mongondow merupakan milik dari PT. Lebong Tandai. Daerah studi kelayakan berada dalam wilayah usaha pertambangan (WUP) di Kabupaten Bolaang Mongondow, Propinsi Sulawesi Utara, dimana Kotamobagu adalah sebagai ibukota kabupaten. Wilayah usaha pertambangan (WUP) yang awalnya mencakup 239.500 hektar diberikan Pemerintah Republik Indonesia pada bulan April 1997 yang pada saat itu pemegang saham mayoritasnya adalah Newmont Mining Corporation. Setelah melaksanakan pemboran eksplorasi Newmont menetapkan bahwa deposit-deposit ini memiliki suatu potensi cadangan emas sebesar 359.500 ounces dari 7,42 juta ton bijih dengan kadar 1,50 gr/t Au. Namun baik dari deposit-deposit ini maupun prospek- prospek lainnya di dalam WUP ukurannya dianggap tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan Newmont. Avocet mengambil alih saham-saham milik Newmont pada bulan Januari 2002 dan mengecilkan wilayah usaha pertambangan ini menjadi 50,000 hektar yang diyakini daerah-daerah prospek terbaik yang layak dikembangkan berada di dalamnya. Secara umum terdapat dua tipe bijih pada daerah ini yaitu bijih oksida dengan recovery yang tinggi yaitu ≥ 80% dan bijih transisi dengan recovery yang rendah yaitu < 80%. Pengolahan bijih di lakukan dengan teknik pelarutan secara tumpukan (Leach Pad ). 2.1. Lokasi Kesampaian Daerah Daerah pertambangan PT. Avocet Bolaang Mongondow (PT. ABM), berada di Dusun Satu, Desa Lanut, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah Usaha Pertambangan dari PT.Avocet Bolaang Mongondow dimulai pada bulan Maret 2003. PT.ABM terletak pada N 0040’57’’ – N 0 040’03’’ dan E 124 027’18’’ – E 124 028’30’’ (lihat Gambar 2.1).

Untuk sampai ke daerah ini ditempuh dengan dua jalur yaitu jalur darat dan jalur laut. Jalur darat melalui kota Manado ke arah Kotamobagu dengan jarak tempuh kurang lebih 4 jam perjalanan. Jarak Kotamobagu dengan Desa Lanut Utara kurang lebih 30 km dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan. Untuk jalur laut melalui Pelabuhan Jiko ( Jiko Port) yang berada di tenggara PT.ABM, jarak dari Pelabuhan Jiko dengan Desa Lanut adalah sekitar 14 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

2.2.

Keadaan Geologi

2.2.1 Topografi Lokasi penambangan PT. Avocet Bolaang Mongondow memiliki topografi perbukitan dengan rata-rata ketinggian 600 – 650 mdpl dan elevasi penambangan berkisar 630 – 815 mdpl. Lokasi penelitian merupakan perbukitan dengan lereng yang curam dan sebagian besar masih merupakan hutan sebagian lagi berupa ladang dan kebun milik penduduk yang berada disekitar lokasi tambang.

2.2.2 Kondisi Litologi Secara umum jenis batuan yang ada di lokasi penambangan adalah vulkanik andesit dengan endapan emas yang sulfidasi tinggi. Yang terdiri dari tiga unit volcanoclastik yang mempunyai arah mendatar atau sedikit menurun ke arah timur. Unit batuan teratas adalah lafili tuff dan lithic tuff dengan sedikit ash band dan ratarata ketebalannnya adalah 60 meter . Batuan yang ada ditengah adalah serangkaian batuan crystal tuff dan sedikit breccia tuff dengan ketebalan 80 meter dan batuan lithic tuff dengan ketebalan 10 meter. Unit batuan paling bawah adalah ash tuff dan breccia tuff. Mineralisasi emas adalah alterasi hidrotermal hipogen. Emas muncul dalam bentuk partikel halus yang menyebar dalam ash tuff alterasi brecciated alunite dan silika, dengan kadar 1 ppm sampai 3 ppm. Jenis batuan yang mendominasi daerah ini adalah Argilic kaolin (AR-is) Argilic-ilite (AR-ka) dan silika massive (SM).

Struktur Geologi Struktur sesar utama mempunyai arah ke timur-barat.Gambar 2.2. Diperkirakan dengan adanya beberapa sesar yang ada pada lokasi tambang tersebut mengakibatkan sebagian massa batuan yang ada pada lokasi penambangan akan bersifat sangat terkekarkan.3.2 Litologi lapisan batuan di PT Avocet Bolaang Mongondow 2. Pengamatan pada struktur bidang lemah dilakukan dengan memetakan struktur yang tersingkap dipermukaan. Kemiringan dari sesar ini bervariasi namun secara umum kemiringannya menujam ke arah selatan di sisi utara deposit dan miring ke arah utara di sebagian sisi selatan deposit. Pemetaan dilakukan dengan mengukur arah dan kemiringan bidang-bidang lemah dengan menggunakan . Selain itu juga ditemui sesar dengan arah utara-selatan pada bagian barat deposit .

Tahap berikutnya adalah perencanaan berupa metode penambangan yang akan digunakan. Pada tahapan ini. umur tambang. pemilihan alat. Dengan diketahui bulan-bulan dengan curah hujan tinggi maka dapat diperkirakan pengeboran dan peledakan yang akan diterapkan pada musim hujan tiba. semua data yang akan diperlukan dalam proses penambangan dikumpulkan.ABM 2.3).4.kompas geologi (pemetaan dilakukan oleh para geologis PT. terutama yang erat kaitannya dengan cadangan dan kadar kemudian dianalisa. Kegiatan Penambangan Kegiatan awal sebelum kegiatan penambangan (tahap eksploitasi) adalah tahapan eksplorasi yaitu usaha untuk memastikan suatu endapan mineral berdasarkan data hasil eksplorasi. Gambar 2. sehingga dapat diketahui curah hujan rata-rata 228 mm/tahun.3.3 Rata-rata curah hujan tahun 2005-2009 di lokasi PT. Pengamatan curah hujan dan hari hujan dilakukan dalam lima tahun terakhir yaitu dari tahun 2005-2009 (gambar 2. jenis pengolahannya dan juga . Avocet Bolaang Mongondow). 2. Iklim dan Curah Hujan Iklim di daerah lokasi penambangan PT Avocet Bolaang Mongondow dan sekitarnya termasuk iklim tropis dengan suhu antara 180-200 C.

1 Pembersihan Lahan (Land Clearing ) Pada tahapan ini lokasi yang akan direncanakan ditambang dibersihkan dari pepohonan dan semak atau membongkar dan menyingkirkan batuan-batuan yang dapat menghalangi kegiatan penambangan selanjutnya. Avocet Bolaang Mongondow dilakukan dengan metode tambang terbuka yaitu Open Pit Mine. kadar serta pembedaan antara bijih dengan waste. Penambangan bijih emas PT. 2.termasuk pembuatan block model ini adalah suatu cara untuk mengetahui penyebaran deposit . Alat yang digunakan adalah backhoe PC200 Komatsu. Gambar 2. maka langkah berikutnya adalah tahapan penambangan. Data yang digunakan untuk pembuatan block model berasal dari sampel coring pemboran eksplorasi. Bila semua tahapan tersebut diatas telah selesai. Operasi untuk pembongkarannnya dilakukan dengan cara pemboran dan peledakan.4 Backhoe PC 200 Komatsu sedang membersihkan lahan . Adapun tahapan penambangan sebagai berikut.4.

5 Pengupasan tanah penutup dengan alat muat backhoe 345 D Caterpillar 2. hal ini dimaksudkan agar alat bor dapat bekerja dengan lebih maksimal dalam kegiatan pemboran . . Gambar 2. Kegiatan pengupasan tanah penutup meggunakan backhoe PC300 Komatsu ataupun backhoe 345D Caterpillar sebagai alat bongkar dan Articulated Dump Truck sebagai alat angkutnya. kegiatan selanjutnya yaitu mengupas lapisan tanah penutup.6).2 Pengupasan Tanah Penutup (Stripping Overburden) Setelah melakukan pembersihan lahan.2.4.3 Pembongkaran Kegiatan pembongkaran meliputi kegiatan pemboran dan dilanjutkan dengan peledakan material ore dan waste. Sebelum dilakukan pemboran terlebih dahulu dilakukan persiapan kerja pemboran (pad preparation) dengan meratakan daerah yang akan dibor menggunakan Bulldozer caterpillar tipe D 7 G (lihat gambar 2. Lapisan tanah penutup yang diangkat tidak begitu saja dibuang. tetapi telah disiapkan tempat penimbunannya.4. Disediakan tempat penimbunan untuk lapisan tanah penutup agar pada saat penambangan di pit telah selesai maka lapisan penutup ini akan dikembalikan guna melakukan reklamasi.

Avocet Bolaang Mongondow adalah Tamrock Pantera 1100.Gambar 2.7) Gambar 2.6 Bulldozer caterpillar tipe D 7 G untuk perataan Setelah area yang akan diledakan telah diratakan selanjutnya dilakukan kegiatan pemboran.7 Mesin Bor Tamrock Pantera 1100 . (lihat gambar 2. Alat bor yang digunakan PT.

geometri peledakan yang digunakan tergantung jenis materialnya. untuk menghasilkan ore block yang menggambarkan mengenai kadar batuan pada setiap lubang bor. karena pengolahannya dengan sistem leachpad jadi hasil dari peledakan harus dibagi sesuai dengan ore block yang telah dibuat oleh Grade Control. dari pihak Grade Control juga melakukan pengambilan sampel dari cutting yang dihasilkan dari pemboran. Adapun spesifikasi dari kualitas bijih yang ada pada PT. Peledakan yang dilakukan adalah untuk melepaskan bijih emas dari batuan induknya. Avocet Bolaang Mongondow yaitu : Tabel 2. Pola peledakan yang digunakan yaitu pola peledakan beruntun dengan ketinggian jenjang 5 meter.Disamping melakukan pemboran. Untuk mendapatkan data kadar tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pemboran dimana pemborannya dilakukan dalam beberapa blok. grade. 2. Kegiatan setelah pemboran adalah peledakan. Pengambilan sampel ini bertujuan untuk menentukan kadar bijih berikutnya yang akan ditambang.4 Penggalian dan Pemuatan (Digging and Loading ) Pada PT.1 Pembagian material ore berdasarkan recovery. Avocet Bolaang Mongondow pada pembatasan bijih emas sedikit rumit dibandingkan dengan perusahaan tambang emas yang lain. tingkat keasaman .4. Cutting yang dihasilkan dari pemboran alat bor Tamrock Pantera 1100 untuk lubang ledak nantinya akan dijadikan sebagai sampel. Sampel yang didapat nantinya akan dianalisa kadarnya di laboratorium. Data hasil dari labolatorium akan diolah dengan menggunakan software.

5 meter (satu flits). Alat gali muat yang digunakan adalah backhoe PC300 Komatsu dan backhoe 345D Caterpillar.Gambar 2. Backhoe PC300 Komatsu digunakan untuk memuat material waste dari lokasi loading point pada pit Rasik ke wastedump Nala.9 Pemuatan bijih emas dengan alat muat backhoe 345 D Caterpillar . dimana penggaliannya dilakukan 2 kali yaitu tiap 2. Gambar 2. Setelah pita ore block sudah terpasang maka kegiatan selanjutnya adalah penggalian untuk dimuat ke alat angkut. sedangkan backhoe 345D Caterpillar untuk memuat material ore dari lokasi loading poin pada pit Rasik ke Leachpad 3.8 Pemasangan pita untuk membedakan jenis bijih emas dan waste Pemasangan pita warna bertujuan untuk membantu operator alat muat pada saat menggali bijih emas.

pengangkutan material bijih emas yaitu QLT 1.11 Pengangkutan bijih emas dengan ADT A 40 D Volvo . Untuk material waste akan diangkut ke wastedump (lihat gambar 2.1 diangkut langsung ke leachpad . Gambar 2.2 dan QLT 3 akan diangkut ke stockpile. sedangkan QLT 2. Alat angkut yang digunakan yaitu ADT (Articulated Dump Truck) A 40 D Volvo (lihat gambar 2.4.5 Pengangkutan (Hauling ) Proses pengangkutan tergantung jenis material yang akan diangkut.2.10 Penimbunan material waste (Wastedump ) Gambar 2.1.2 dan QLT 2. QLT 1.10).11).

Adapun tahapan pengolahan bijih emas yaitu dimulai dari bijih emas yang ukurannya ≤ 30 cm akan diangkut ke leachpad untuk dialiri sianida. ADT bermuatan bijih emas menuju ke lime feeder dan melakukan pengisian kapur pada muatannya (lihat gambar 2. Hasil dari leaching akan diolah di Processing Plant. Liner dilapisi dengan pasir dan kerikil untuk mengantisipasi . kemudian material ore akan disebar sesuai dengan kualitasnya.12 Pengisian kapur pada muatan material bijih emas 2.Sebelum ADT akan menumpahkan material bijih emas di leachpad 3. Untuk kebutuhan pengisian kapur pada muatan bijih emas yaitu sebesar ¼ ton kapur. bijih emas kemudian diangkut ke leachpad dan diletakkan dilahan tersebut.12). Avocet Bolaang Mongondow menggunakan sistem leaching yaitu pengolahan bijih emas dengan menggunakan sianida. Sebelum bijih emas diletakkan. Bijih emas yang ada di areal tambang digali dengan menggunakan alat berat. Pengisian kapur pada muatan ini bertujuan untuk menaikan pH material bijih emas yang akan dilakukan penyiraman Sianida pada leachpad . leachpad telah dialasi dengan liner atau plastik HDP (High Density Polyethylene) dan ditambahkan dengan kerikil dan pasir. Gambar 2. Leachpad merupakan suatu lahan yang luas yang di bentuk mengikuti kemiringan dan topografi tertentu.6 Pengolahan Pengolahan bijih emas pada PT.4.

Metode gravitasi akan efektif bila dilakukan pada material dengan diameter yang sama atau seragam. atau campuran ketiganya.13 Penyiraman Sianida pada material bijih emas di Leachpad PT. Gambar 2. Setelah itu maka dilakukan penyiraman (lihat gambar 2. Proses Sianidasi terdiri dari dua tahap penting. Metode heap leaching (pelarutan tumpukan) : pelarutan emas dengan cara menyiramkan . KCN. yaitu proses pelarutan dan proses pemisahan emas dari larutannya. Oleh karena itu material bijih emas diharapkan ≤ 30 cm. jika melebihi ukuran material bijih emas yang diharapkan.13). karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya.+ O2 + 2 H2O 4Au(CN)-2 + 4OH- Metode yang digunakan pada penyiraman ini adalah heap leaching . karena pada perbedaan diameter yang besar perilaku material ringan (massa jenis kecil) akan sama dengan material berat (massa jenis besar) dengan diameter kecil.robek atau bocor. Bijih emas yang ada di leachpad diletakkan sesuai metode gravitasi. Pelarut yang paling sering digunakan adalah NaCN. Ca(CN)2. Secara umum reaksi pelarutan Au adalah sebagai berikut: 4Au + 8CN. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses sianidasi berupa NaCN. maka akan dilakukan proses pengecilan ukuran (kominusi) menggunakan crusher Telsmith Model 6060 di Manohara pad yang letaknya didekat pit Riska. ABM melakukan penyiraman sianida pada ore di leachpad.

ada 4 komponen yang diperlukan: air. . 2. sianida. Clay dan bijih emas High grade di leachpad 1 dan 2. proses tidak akan bekerja. Pembuatan cell di leachpad harus memperhitungkan akses jalan dan metode dumpingan yang cocok di gunakan. Metode pengerjaan di leachpad yaitu : Persiapan tempat atau cell baru. dengan menggunakan alat Long Arm untuk mencegah terjadinya perobekan pada plastic liner. Untuk lebih memurnikan emas maka emas itu di rendam resin tersebut pada larutan yang mengandung 2 gr sianida per liter larutan dan dipanaskan sampai mendekati temperatur didih air (80 – 90 ºC) pada tangki baja (stainless steel) selama paling tidak 2 hari.1 dan 1.larutan sianida pada tumpukan bijih emas (diameter bijih ≤ 30 cm) yang sudah dicampur dengan batu kapur. Emas yang akan dimurnikan dari larutan ini menggunakan resin tersendiri dari Avocet seperti penggunaan CIP (carbon in pulp) dalam menangkap emas itu sendiri. Pelapisan dengan plastic liner atau plastic HDP Penghamparan pasir kira-kira setebal 20 cm dan kerikil 20 cm. Kemampuan ekstraksi emas berkisar 35 – 65 % yang dilakukan pada kondisi pH 10 dimana ditambahkan dengan kapur agar kondisi pH ini terjaga untuk melarutkan emas. yaitu membuat landasan yang baik pada kemiringan terentu. dan yang telah di pick up oleh crew survey. udara (oksigen).1. Emas yang larut bersama sianida mengalir di dasar tumpukkan yang kedap kemudian tertransport melalui pipa untuk diproses di Processing Plant. Persiapan stacking atau penumpukan ore. Material QLT 1. Gunakan Sianida sesedikit mungkin ± 1 kg sianida per ton bijih.2 umumnya di tumpuk di leachpad 3 dan bijih emas untuk QLT 2. Larutan hasil proses ini kemudian diolah dengan proses merill crowe atau dengan cara electro winning.2. dan alkalinity (pH tinggi). Jika salah satu dari 4 komponen tersebut hilang. kemudian larutan yang sudah larut akan masuk ke dalam tempat untuk memurnikan emas itu dari larutan sianida tersebut. Lebih dari itu karbon 22 perlu diaktifkan kembali dengan cara dicuci dengan asam klorat (HCl) panas (85 ºC) dan dilanjutkan dengan pemanggangan pada temperature 700 0C. Karbon yang masih kasar (diameter > 1 mm) dapat digunakan kembali untuk proses penyerapan sampai 5 kali.

2.15 SWP (Storm Water Point) . Kegunaan pipa ini yaitu untuk menampung aliran sianid hasil pencucian yang kemudian di alirkan menuju ke lounder dan menuju ke kolam penampungan sebelum di proses lebih lanjut lagi di process plant (lihat gambar 2.15) Gambar. 2.- Pemasangan pipa pada kemiringan yang paling landai. di antaranya pemasangan pipa HDPE 300 mm dan 100 mm (pipa Peforated).14).14 Pemasangan Liner dan pipa untuk Leachpad Gambar. PT Avocet memiliki 3 buah kolam penampungan air atau SWP (Storm Water Point) yaitu kolam penampungan yang di desain untuk menampung aliran air hujan yang dapat masuk dan mengganggu kadar bijih emas di leachpad (lihat gambar 2.

- Proses penimbunan bijih emas yaitu proses penumpukan bijih emas dengan bentuk sedemikian rupa. sesuai dengan rencana dan kapasitas dari cell. dan pipa HDPE 50 mm.16). Gambar 2. Untuk material QLT 1 umumnya diirigasi selama 3 bulan sedangkan untuk QLT 2 dan Clay umumnya sampai 6 bulan.16 Processing Plant . Setelah proses penimbunan selesai maka cell harus dirapikan terutama pada bagian lereng dan bagian atas. Pada proses ini dibantu dengan alat excavator Kobelco. polyser dan nozzle. Untuk PT ABM sendiri menggunakan tiga jenis Nozzle.7. - Proses irigasi untuk beberapa tipe bijih emas mengambil waktu yang cukup lama. tetapi yang umum di gunakan yaitu Nozzle no. Nozzle sendiri berfungsi sebagi pengontrol aliran sianida. setelah itu dilakukan proses pemurnian di Processing Plant (Gambar 2. - Proses penyiraman (irigasi) diawali dengan proses pemasangan pipa 160 mm HDPE 6 M PN 8. disusun sampai ketinggian kurang lebih 8 meter. Wobbler merupakan semacam alat yang dilengkapi dengan pressure regulator . Kemampuan dari aliran sianida di control dengan keberadaan dan kemampuan pompa yang tersedia. yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya sianid yang selanjutnya di alirkan dengan menggunakan Wobbler.

Compactor dilengkapi dengan sebuah drum dibagian depan yang mana mengeluarkan getaran atau vibrator guna menambah beban dari drum tersebut. Compactor digunakan untuk memadatkan material waste yang telah didumping oleh alat angkut yaitu ADT.2. ABM pada penempatannya di area wastedump Nala. .17 Motor Grader 140H Caterpillar 2. Compactor yang digunakan merek Volvo dengan tipe SD-100.84 meter.57 meter dan tipe 14 M dengan panjang bilah 2. Motor grader adalah alat berat yang digunakan untuk meratakan material pada permukaan jalan. Gambar 2. Compactor adalah alat yang digunakan PT. Avocet Bolaang Mongondow dalam menunjang aktivitas penambangan yaitu : 1.5 Peralatan bantu Ada beberapa alat yang digunakan oleh PT. Tipe motor grader yang digunakan adalah merek Caterpillar tipe 140 H dengan panjang bilah 2.

18 Compactor Volvo SD-100 .Gambar 2.

(Gambar 3.1 Pola Pemuatan Untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan sasaran produksi maka pola pemuatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi waktu edar alat. yaitu : 3.1) 1.1. Kondisi lapangan dimana lokasi penambangan dilakukan sangat mempengaruhi kemampuan produksi alat muat maupun alat angkut. Pola pemuatan dapat dilihat dari beberapa keadaan yang ditunjukan alat galimuat dan alat angkut. Suatu alat mekanis yang digunakan sesuai dengan lapangan operasinya. Single Back Up Truk memposisikan untuk dimuati pada satu tempat 2. mangkuk (bucket) alat gali-muat sudah terisi penuh dan siap ditumpahkan. Pola pemuatan yang digunakan tergantung pada kondisi lapangan operasi pengupasan serta alat mekanis yang digunakan dengan asumsi bahwa setiap alat angkut yang datang .1 Berdasarkan jumlah penempatan posisi truk untuk dimuati terhadap posisi alat muat.BAB III DASAR TEORI Pengertian kegiatan pemuatan dan pengangkutan pada kegiatan penambangan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memindahkan material hasil penggalian ke tempat penimbunan dengan menggunakan alat-alat mekanis. maka kemungkinan besar kemampuan produksi alat tersebut semakin baik. Penentuan kemampuan produksi alat muat dan alat angkut yang digunakan untuk pemuatan dan pengangkutan material bijih dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut : 3. Setelah alat angkut terisi penuh segera keluar dan dilanjutkan dengan alat angkut lainnya sehingga tidak terjadi waktu tunggu pada alat angkut maupun alat galimuatnya. Double Back Up Truk memposisikan untuk dimuati pada dua tempat .

Cara pemuatan dibagi menjadi 2 (dua). Double Back Up dan Triple Back Up 3.3. (Sumber : buku PTMK. Yanto Indonesianto.2 Berdasarkan kedudukan truk untuk dimuati bahan galian oleh alat muat.1. Ir. Top Loading Kedudukan alat muat lebih tinggi dari bak truk jungkit (alat muat berada diatas tumpukan material atau berada diatas jenjang).Sc. apakah kedudukan alat muat tersebut berada lebih tinggi atau kedudukan kedua-duanya sama tinggi. Triple Back Up Truk memposisikan untuk dimuati pada tiga tempat. yaitu : 1.M. 2007) Gambar 3.1 Pola Pemuatan Single Back Up. Cara ini hanya di pakai pada alat . Cara pemuatan material oleh alat muat ke dalam alat angkut ditentukan oleh kedudukan alat muat terhadap material dan alat angkut.

Memiliki efisiensi tinggi untuk alat muat dan angkutnya walaupun rata-rata sudut putar alat muat lebih besar dibandingkan frontal cut.3 Berdasarkan cara manuvernya Pola pemuatannya dibedakan menjadi : 1. Selain itu operator lebih leluasa untuk melihat bak dan menempatkan material. (Sumber : Hustrulid. Pada pola ini alat muat memuat pertama kali pada truk sebelah kiri sampai penuh. Pola ini diterapkan apabila lokasi pemuatan memiliki 2 (dua) akses dan berdekatan dengan lokasi penimbunan. Parallel Cut With Drive By Back hoe bergerak melintang dan sejajar dengan front penggalian.2 Pola Muat Top Loading dan Bottom Loading 3. 2. Cara ini hanya di pakai pada alat muat Back Hoe dan Wheel loader.1. Sudut putar back hoe antara 100 – 1100.muat Back Hoe. Bottom loading Ketinggian atau kedudukan alat angkut dan truk jungkit adalah sama. 2. . kemuadian dilanjutkan pemuatan pada truk sebelah kanan. Frontal Cut Back hoe berhadapan dengan muka jenjang atau front penggalian.1995) Gambar 3.

m3 Vd : Kapasitas teoritis alat muat. Semakin besar faktor pengisian maka semakin besar pula kemampuan nyata dari alat tersebut. bucket fill factor adalah sebagai berikut. 2007) Gambar 3. .Sc.2 Faktor Pengisian Bucket (Bucket Fill Factor) Faktor pengisian adalah perbandingan antara kapasitas nyata muat dengan kapasitas baku alat muat yang dinyatakan dalam persen. Untuk menghitung faktor pengisian digunakan persamaan sebagai berikut : (Eugene P.(Sumber : buku PTMK. m3 Sedangkan menurut spesifikasi alat muat. Faktor pengisian mangkuk disebut juga bucket fill factor.M. Pfleider. (B)Parallel Cut With Drive By 3. Yanto Indonesianto. Ir.3 (A)Frontal Cut. 1972) Fp = (Vb/Vd) x 100% Keterangan : Fp : Faktor pengisian Vb : Kapasitas nyata alat muat.

95-100 % C .100-110 % B . sehingga kandungan rongga yang berisi udara atau air antar butir dalam material di alam tersebut sangat sedikit. Tough Clay Rock — Well Blasted Rock — Poorly Blasted Fill Factor Range (Percent of heaped bucket capacity) A .3 Faktor Pengembangan Material (Swell Factor) Swell Factor adalah pengembangan volume suatu material apabila material tersebut lepas atau tergali dari tempat aslinya. Di alam.80-90 % 60-75 % 40-50 % (Sumber : Caterpillar Performance Handbook. Sehingga apabila material yang berada di alam tersebut terbongkar.Tabel 3. Rumus untuk menghitung swell factor berdasarkan kerapatan (densitas) material sebagai berikut : (Ir. Untuk menyatakan berapa besarnya pengembangan volume tersebut dikenal istilah yaitu swell factor.Sc) Sweel Factor = (loose density/density in bank) x 100% . Pengembangan volume suatu material perlu diketahui karena yang diperhitungkan pada penggalian selalu didasarkan pada kondisi material sebelum digali yang dinyatakan dalam bank volume atau volume insitu. Yanto Indonesianto. Edition 38) 3. maka akan terjadi pengembangan volume (swell). material diperoleh dalam keadaan padat dan terkonsolidasi dengan baik. M.1 Faktor Pengisian (Fill Factor) Material Moist Loam or Sandy Clay Sand and Gravel Hard. Sedangkan material yang ditangani adalah material yang telah mengalami pengembangan (loose volume).

terutama kegiatan pengangkutan.4 Lebar Jalan Angkut Lurus . Lebar Jalan Angkut Lurus Lebar jalan angkut minimum yang dipakai sebagai jalur tunggal atau ganda menurut “American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO) Manual Rural High Way Design”.4 Geometri Jalan Angkut Fungsi utama jalan angkut dalam usaha pertambangan adalah untuk menunjang kelancaran operasi tambang. 2004) Gambar 3.Wt + ( n + 1 ) ( 1/2. = Lebar alat angkut.3. ada beberapa geometri yang perlu diperhatikan dan dipenuhi agar tidak menimbulkan gangguan dan hambatan yang dapat menghambat kegiatan pengangkutan. CATERPILLAR 778 778 Tanggul Parit 1/2 Wt Wt 1/2 Wt Wt 1/2 Wt L min (Sumber : Ir. (m). Dalam rangka penggunaan jalan angkut. yaitu : L(m) = n. (m). 1.Awang Suwandi.Wt ) Keterangan : L(m) n Wt = Lebar jalan angkut minimum. = Jumlah jalur.

( Ab x Sin α ) = Jarak antara dua truk yang akan bersimpangan. = Jarak sisi luar truk ke tepi jalan. meter. = Turning radius (meter). = Jarak as roda depan dengan bagian depan “truck”. 2004) Gambar 3. = Jarak as roda belakang dengan bagian belakang “truck”. = Lebar jalan angkut pada tikungan. = Jumlah jalur. = Selisih jejak ban depan dan ban belakang saat tikungan dilihat dari depan (meter). (Sumber : Ir.81 m/s2). Lebar Jalan Angkut pada Tikungan Lebar jalan angkut pada tikungan selalu lebih besar daripada lebar pada jalan lurus.5 Lebar Jalan Angkut pada Jalan Tikungan .Awang Suwandi. = Jarak jejak roda kendaraan (meter). (meter). Untuk lebar jalan angkut minimum pada tikungan dapat dipergunakan rumus : W C  = n ( U + Fa + Fb + Z ) + C = Z = ½ ( U + Fa + Fb ) Rumus Radius tikungan pada jalan menikung : V2 Tan α = g. (meter). (meter).R Keterangan : V G R W n U Ad Ab Fa Fb C Z = Kecepatan angkut (km/jam). meter. ( Ad x Sin α ).2. = Percepatan grafitasi (9. = Selisih jejak ban depan dan ban belakang saat tikungan dilihat dari belakang (meter).

detik Tm3 : Waktu untuk menumpahkan muatan. yang dimulai dari pengisian bucket sampai dengan menumpahkan muatan ke dalam alat angkut dan kembali kosong. menit Ta1 : Waktu mengambil posisi siap dimuati. waktu mengangkut muatan. Waktu Edar Alat Angkut Waktu edar alat angkut pada umumnya terdiri dari waktu menunggu alat untuk dimuat. menit . detik Tm4 : Waktu swing tidak bermuatan. waktu diisi muatan. detik Tm1 : Waktu untuk menggali muatan. detik Parameter standar yang telah ditetapkan oleh produsen alat mekanis. menit Ta5 : Waktu muatan ditumpahkan. menit Ta4 : Waktu mengambil posisi untuk penumpahan. menit Ta3 : Waktu mengangkut muatan. maka produksinya semakin tinggi. menit Ta6 : Waktu kembai kosong.3. Pfleider. waktu mengatur posisi untuk dimuati. menit Ta2 : Waktu diisi muatan. 1972) Rumus : Cta = Ta1 + Ta2 + Ta3 + Ta4 + Ta5 + Ta6 Keterangan : Cta : Waktu edar alat angkut. dalam hal ini adalah Komatsu sbb : b. waktu dumping dan waktu kembali kosong. (Eugene P. Pfleider.5 Waktu Edar (Cycle Time) Waktu edar merupakan waktu yang diperlukan oleh alat untuk menghasilkan daur kerja. detik Tm2 : Waktu swing bermuatan. 1972) Rumus : Ctm = Tm1 + Tm2 + Tm3 + Tm4 Keterangan : Ctm : Total waktu edar alat muat. a. Waktu Edar Alat Muat Merupakan total waktu pada alat muat. Semakin kecil waktu edar suatu alat. (Eugene P.

T3. Ta2. Rumusan produksi adalah sebagai berikut : (Rochmanhadi. Bucket Fill Factor. T6.  Waktu Penimbunan (Dumping Time). Adalah waktu yang dibutuhkan untuk memposisikan suatu alat angkut sampai dengan siap untuk melakukan penumpahan material. Adalah waktu yang digunakan untuk pengangkutan material sampai ke tempat penimbunan. efisiensi kerja dan Swell Factor. Adalah waktu yang dibutuhkan untuk menumpahkan material di tempat penimbunan.Waktu edar alat angkut ini merupakan waktu keseluruhan dari satu siklus produksi yang terdiri dari :  Waktu Penempatan Posisi (Manuver Time). Untuk yang bermuatan ore ada tambahan waktu untuk pengisian kapur di lime feeder. Waktu penimbunan ini dipengaruhi oleh kondisi tempat penimbunan (disposal). Adalah waktu penempatan dari alat angkut sampai siap untuk dimuati kembali.6 Produksi Alat Mekanis Faktor – faktor yang mempengaruhi produktivitas alat gali – muat dan alat angkut adalah : waktu edar alat muat dan alat angkut. mudah atau tidak untuk manuver alat angkut dan kondisi dari material yang akan ditumpahkan baik ukuran ataupun kelengketannya.  Waktu Pemuatan (Loading Time). 3. Produksi Alat Muat Perhitungan untuk produksi alat muat : Qtm = 3600/CTm x (C x Bff x E’m x densitas loose). T5.  Waktu Kembali Kosong (Return Time).  Waktu Mengambil Posisi Siap Dumping (Spoting Time). Ta2’. Ton/jam . Adalah waktu yang diperlukan alat muat untuk mengisi bak dari alat angkut sampai penuh.  Waktu Pengangkutan (Hauling Time). T4. 1982) a. Ta1. ukuran bucket alat muat dan ukuran bak alat angkut. Adalah waktu yang diperlukan alat angkut untuk kembali ke tempat pemuatan setelah melakukan penumpahan material di tempat penimbunan (disposal).

m3 : n x C x Bff n C Bff E’a : jumlah curah bucket : kapasitas bucket. ukuran dan kemampuannya dengan mempertimbangkan faktor- . menit : kapasitas bak. ton/jam : jumlah alat angkut (unit) : waktu edar alat angkut. m3 : bucket fill factor (faktor pengisian bucket).Keterangan : Qtm CTm C Bff E’m : kemampuan produksi alat muat. ton/jam : waktu edar alat muat. % : effisiensi kerja alat muat Densitas loose : ton/m3 b. Operasi kerja yang serasi antara alat muat dan alat angkut akan memperlancar kegiatan pemuatan dan pengangkutan sehingga produksi yang dihasilkan akan lebih optimum. Hal ini dapat dicapai dengan penilaian terhadap cara kerja. Produksi Alat Angkut Perhitungan untuk produksi alat angkut : Qta = Na x (60/Cta) x (Ca x E’a x densitas loose). detik : kapasitas bucket. Ton/jam Keterangan : Qta Na Cta Ca : kemampuan produksi alat angkut.7 Keserasian Kerja Alat Muat dan Alat Angkut (Match Factor) Faktor keserasian kerja merupakan suatu persamaan sistematis yang digunakan utnuk menghitung tingkat keselarasan kerja antara alat muat dan alat angkut untuk setiap kondisi kegiatan pemuatan dan pengangkutan. m3 : bucket fill factor (faktor pengisian bucket). jenis alat. % : effisiensi kerja alat angkut Densitas loose : ton/m3 3.

faktor tersebut baik untuk alat muat maupun alat angkut. sedang alat angkut bekerja 100%. Hal ini dapat dicapai dengan penilaian terhadap cara kerja. Faktor keserasian alat muat dan alat angkut didasarkan pada produksi alat muat dan produksi alat angkut yang dinyatakan dalam match factor (MF). jenis alat. sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat yaitu : 1> Na x Ctm Nm x Cta  Nm x Cta > Na x Ctm Nm x Cta Nm x Cta > Ctm  Ctm < Na Na Dari persamaan tersebut setelah disamakan karena terdapat kekurangan waktu maka ditambah dengan WTm. terutama pada saat merencanakan pemilihan alat.Ctm (menit) Na . MF < 1. Yanto Indonesianto. sehingga didapat persamaan sebagai berikut : WTm + Ctm = Nm x Cta Na Jadi waktu tunggu alat muat : Wtm = Nm x Cta . yaitu : 1. kapasitas dan kemampuan suatu alat baik untuk alat muat maupun alat angkut.Sc) Na x Ctm Nm x Cta MF = Keterangan : MF : match factor Nm : jumlah alat muat Na : jumlah alat angkut Ctm : waktu edar alat muat untuk 1 load (menit) Cta : waktu edar alat angkut (menit) Dari persamaan di atas akan muncul tiga kemungkinan. Untuk menilai keserasian alat muat dan alat angkut dapat digunakan rumus Match Factor adalah sebagai berikut : (Ir. Untuk mendapatkan hubungan kerja yang serasi antara alat muat dan alat angkut. artinya alat muat bekerja kurang dari 100 %.M. Penyesuaian berdasarkan spesifikasi teknis alat. maka produksi alat muat harus sesuai dengan produksi alat angkut.

MF > 1.2. sehingga didapat persamaan sebagai berikut : WTa + Cta = Na x Ctm Nm Jadi waktu tunggu alat angkut : WTa = Na x Ctm .Cta (menit) Nm 3. dengan demikian tidak terdapat waktu tunggu bagi alat muat maupun alat angkut. Faktor kerja Alat angkut 100% Alat muat 50% 0% MF < 1 Keterangan : : garis untuk alat muat : garis untuk alat angkut MF = 1 MF > 1 . sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat angkut sebagai berikut : Na x Ctm > 1  Na x Ctm > Nm x Cta Nm x Cta Cta < Na x Ctm Nm Dari persamaan tersebut setelah disamakan karena terdapat kekurangan waktu maka ditambah dengan WTa. artinya alat muat bekerja 100 %. MF = 1. artinya alat muat dan alat angkut bekerja 100 %. sedangkan alat angkut bekerja kurang dari 100 %.

Gambar 3.Terlambat bekerja setelah waktu istirahat. Hambatan yang Dapat Dihindari Adalah hambatan yang terjadi karena adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap waktu kerja yang dijadwalkan. Hambatan tersebut antara lain : .Berhenti bekerja sebelum waktu istirahat. jam kerja efektif diperoleh dari jam kerja yang tersedia dikurangi hambatan-hambatan yang terjadi selama proses produksi termasuk perbaikan dan perawatan alat. Waktu yang tersedia berhubungan erat dengan jam kerja efektif.Keperluan operator. Faktor – faktor yang mempengaruhi efisiensi kerja adalah sebagai berikut :  Waktu Kerja Penambangan Waktu kerja penambangan adalah jumlah waktu kerja yang digunakan untuk melakukan kegiatan penggalian.Persiapan peledakan. Hambatan tersebut antara lain : . Hambatan yang Tidak Dapat Dihindari Adalah hambatan yang terjadi pada waktu jam kerja yang menyebabkan hilangnya waktu kerja dikarenakan kondisi alam atau kegiatan rutin dan harus dilaksanakan. Efisiensi kerja akan semakin besar apabila banyaknya waktu kerja semakin mendekati jumlah waktu kerja yang tersedia. . . pemuatan dan pengangkutan. 2.Berhenti bekerja lebih awal pada akhir shift. .Terlambat memulai kerja. . .8 Efisiensi Kerja Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap pelaksanaan terhadap suatu pekerjaan atau merupakan suatu perbandingan antara waktu yang dipakai untuk bekerja dengan waktu yang tersedia. Jam kerja efektif adalah jam kerja dimana alat mekanis berproduksi.6 Grafik Match Factor 3. 1.

2000) yaitu : E = ( Waktu Kerja Efektif / Waktu Kerja Tersedia ) x 100 % Efisiensi alat muat dilambangkan “E’m”. Partanto Prodjosumarto. . Dimana dengan berkurangnya waktu kerja efektif akan berpengaruh terhadap produksi alat mekanis tersebut. .Hujan.Pemeriksaan dan pemanasan alat. .Perbaikan front penambangan. (menit) Dengan mengetahui waktu kerja efektif. menit (Whd + Whtd) = Total waktu hambatan yang dapat dihindari.Pindah posisi penempatan alat. (menit) = Waktu yang tersedia. .Pengisian bahan bakar.Pengeringan jalan setelah hujan. sedangkan efisiensi alat angkut dilambangkan “E’a”. Dengan mengetahui hambatan – hambatan tersebut di atas.Kerusakan dan perbaikan alat di tempat. . . (menit) = Waktu hambatan total. . Wke = Wkt – Wht Keterangan : Wke Wkt Wht Whd = Waktu kerja efektif. (menit) Whtd = Total waktu hambatan yang tidak dapat dihindari. (Ir. maka dapat diketahui efisiensi kerja alat mekanis.. maka dapat diketahui waktu kerja efektif.

mengajak PT.1 Backhoe 345D Caterpillar .2): .ABM : 1 unit backhoe 345D Caterpillar . Berikut ini alat-alat mekanis yang digunakan di pit Rasik pada saat penelitian (lihat gambar 4. PT.1 dan 4. Alat-alat mekanis ini digunakan untuk melakukan kegiatan penambangan pada pit Riska dan pit Rasik.ABM mempunyai beberapa unit alat muat dan alat angkut. SKM (Sinar Karya Mustika) dalam menyediakan kebutuhan alat-alat mekanis. Untuk memenuhi kebutuhan kegiatan penambangan. Penelitian dilakukan pada pit Rasik untuk meneliti kegiatan penambangan dengan menggunakan alat-alat mekanis. ABM sebagai pemilik tambang.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PENGOLAHAN DATA PT.SKM : 6 unit (ADT) Articulated Dump Truck A40D Volvo Gambar 4.PT. Avocet Bolaang Mongondow atau yang disebut juga PT.1 Backhoe 345D Caterpillar Gambar 4.PT.

4). PT.SKM juga memiliki alat muat PC300 Komatsu (lihat gambar 4.Gambar 4. Gambar 4. PT.5). PT. ABM selain memiliki alat muat 1 unit backhoe 345D Caterpillar dan dibantu alat angkut berupa 6 unit ADT A40D Volvo berkapasitas 40 ton milik PT.3 dan 4.ABM biasa menyebut kedua tipe dengan sebutan “DT” atau dump truck yang sama-sama berkapasitas 20 ton.SKM.3 Dump Truck Nissan CWB 520 .2 Articulated Dump Truck A40D Volvo PT.ABM juga memiliki alat angkut berkapasitas kecil berupa Nissan CWB 520 dan Hino FM260TI milik PT SKM. (lihat gambar 4.

5 Backhoe PC300 Komatsu .Gambar 4.4 Dump Truck Hino FM260TI Gambar 4.

Gambar 4.4. Tetapi kondisi nyata dilapangan setelah turun hujan justru menjadi berlumpur.2 ton/m3 sedangkan setelah blasting.6).7).6 Kondisi lapangan setelah turun hujan Untuk data density yang diperoleh Grade Control dalam hal ini data density insitu dan density loose adalah sebagai berikut: density untuk material bijih emas dalam keadaan aslinya (insitu) adalah 2. Kondisi Lapangan Kondisi lapangan pada pit Rasik yang diharapkan oleh PT.1. Gambar 4.6 ton/m3 (lihat gambar 4.7 Ukuran material bijih emas (loose) ≤ 30 cm . density untuk material bijih emas dalam keadaan terbongkar (loose) adalah 1. Kondisi front penambangan yang kering dan tidak berlumpur memudahkan untuk alat-alat mekanis backhoe dan alat angkut bisa bekerja secara optimal. Hal ini disebabkan oleh material clay akan menjadi lumpur dan licin jika terikut oleh air hujan (lihat gambar 4.ABM adalah kering dan tidak berlumpur.

Pola Pemuatan Pola pemuatan yang dilakukan di PT. Top loading adalah posisi pemuatan dimana alat muat berada di atas tumpukan material sehingga posisi alat muat menjadi lebih tinggi daripada alat angkut (lihat gambar 4.2.4.8 dan 4.9 Pola Muat Top Loading backhoe 345D Cat terhadap DT Hino FM260TI . Avocet Bolaang Mongondow pada proses pemuatan adalah top loading.9). dimana alat angkut pertama menempatkan diri untuk dimuati pada satu sisi alat muat saja. Berdasarkan arah penggalian single spotting .8 Pola Muat Top Loading backhoe 345D Cat terhadap ADT A40D Volvo Gambar 4. setelah pemuatan selesai alat angkut pertama berangkat kemudian alat angkut kedua melakukan manuver dan mundur untuk dimuati. Gambar 4.

Gambar 4.Sedangkan pola pemuatan bottom loading digunakan pada awal penggalian untuk membentuk jenjang pit dan akhir penggalian pada saat material yang akan digali telah sedikit (lihat gambar 4.10 dan 4.11).11 Pola Muat Bottom Loading backhoe 345D Cat terhadap DT Hino FM260TI .10 Pola Muat Bottom Loading backhoe 345D Cat terhadap ADT A40D Volvo Gambar 4.

00 14.06.45 19.45 dan 06.00 .00 .18. Avocet Bolaang Mongondow dapat dilihat pada tabel 4.00 . Pada kenyataannya di lapangan waktu kerja yang tersedia tidak dapat digunakan sepenuhnya karena adanya hambatan-hambatan yang dapat mengurangi waktu kerja tersedia.06.01.06.06.00 14.5 20.00 .45 19.00 .45 Waktu Kerja Tersedia (Wkt).45 WITA .00 .30 WITA.3 Waktu kerja Waktu kerja tersedia (Wkt) adalah waktu keseluruhan yang disediakan perusahaan dalam melakukan kegiatan penambangan. Pembicaraan .06.00 .5 21. Penjadwalan terdapat pada jam istirahat.01.00 02.18. Jam kerja yang berlaku di perusahaan dibagi menjadi dua gilir kerja (2 shift) dalam sehari.45 07.jam/2 shift 21.06.45 Shift Malam 19.01. dimana jam istirahat untuk pekerja Pit Rasik pukul 13.00 02.00 .1 Waktu Kerja Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Waktu Kerja Shift Siang 07.13.45 07. Jadwal kerja yang ditetapkan di PT.00 .00 .00 dan 01.Untuk penjadwalan blasting yaitu telah ditetapkan pada pukul 12.00 .00 .00 .45 19.00 .13.00 .00 .45 07.13.18. Avocet Bolaang Mongondow memberlakukan penjadwalan jam kerja untuk penambangan Pit Rasik.00 .00 .75 21.00 .18.06.00 .00 02.00 .18.5 149.00 .13.45 19.18.1.5 21.00 02. Avocet Bolaang Mongondow khususnya section mine operation memberlakukan hari selasa sebagai aktifitas briefing /sadar meeting.00 14. PT.01.00 14.13.13.00 14.00 .45 19.45 07.00 WITA serta waktu pergantian shift adalah pukul 18.01.00 .45 .00 02.45 07.00 02.00 02.18.01.45 07.00 .75 21.45 19.4. Tabel 4.00 .00 .01.5 21.39 Total waktu tersedia Rata-rata waktu tersedia PT.5 21.00 14.13.00 14.

b) Berhenti bekerja lebih awal pada akhir shift.00 WITA dan selesai pada pukul 07. meliputi pengecekan alat dan pemanasan mesin secara rutin dilakukan sebelum alat akan dioperasikan baik alat muat maupun alat angkut. Tetapi pada kenyataan waktu kerja efektif dipengaruhi oleh faktor-faktor kesediaan alat itu sendiri sedangkan faktorfaktor kesediaan alat itu dipengaruhi oleh waktu-waktu hambatan antara lain : Waktu Hambatan Dapat Dihindari (Whd) a) Keterlambatan operasi (prestart shift). g) Hujan dan pengeringan jalan. e) Ceklist alat. waktu kerja yang hilang karena operator istirahat sebelum waktu yang ditetapkan. Waktu kerja efektif adalah waktu dimana operator beserta alat benar-benar bekerja atau berproduksi. Waktu kerja efektif (Wke) ini adalah hasil dari waktu kerja tersedia yang telah dikurangi oleh waktu hambatan (waktu istirahat dan waktu pergantian shift kerja) di mana waktu hambatan terdiri dari waktu hambatan dapat dihindari (Whd) dan waktu hambatan tidak dapat dihindari (Whtd). disebabkan karena kurangnya kedisiplinan para pekerja. Waktu Hambatan Tidak Dapat Dihindari (Whtd) f) Isi solar. Waktu kerja efektif berpengaruh terhadap efisiensi kerja alat. sehingga mengakibatkan terlalu cepat mengakhiri kegiatan sebelum waktu yang ditentukan. terhentinya kerja alat karena adanya gangguan cuaca seperti hujan dan pengeringan jalan sehingga alat terganggu untuk beroperasi. Superintendent Production dan Supervisor. . sebagai akibat kurangnya kedisiplinan para pekerja sehingga mengakibatkan terlambat operasi. disebabkan operator beristirahat melebihi waktu istirahat yang telah ditetapkan.45 WITA. Penjadwalan briefing /sadar meeting yang telah ditetapkan adalah setiap hari selasa dimulai pukul 07. disebabkan karena waktu yang digunakan untuk mengisi bahan bakar pada saat jam kerja beroperasinya alat. c) Istirahat terlalu cepat.atau pengarahan yang dilakukan pada awal shift oleh pihak Safety. d) Terlambat bekerja setelah istirahat.

Dari pengertian di atas.5 meter dan lebar jalan angkut pada tikungan A = 14.6 Waktu Edar Alat Muat dan Angkut (Cycle Time) Waktu edar adalah waktu yang diperlukan oleh suatu alat mekanis untuk melakukan kegiatan tertentu dari awal sampai akhir dan siap memulai lagi. Fill factor yang digunakan diambil dari spesifikasi Caterpillar Performance Handbook edition 38. 4. Berdasarkan kondisi material yang ada dilapangan yaitu material proses peledakan. terhentinya kerja alat karena mengalami kerusakan dan harus dilakukan perbaikan. dapat diketahui data – data aktual hambatan yang terjadi di lokasi penelitian.4 Faktor Isian Mangkuk (Bucket Fill Factor) Besarnya nilai isian mangkuk (Bucket Fill Factor) tergantung dari jenis material yang akan digali. Avocet Bolaang Mongondow merupakan jalan angkut dua jalur yang menghubungkan pit Rasik dengan leachpad 3. Adapun lebar jalan angkut lurus aktual sebesar 9 – 14. dengan menggunakan nilai rata-rata jenis material Rock-Well Blasted untuk ore.9 meter dan tikungan D = 14.44 % 4. Kondisi jalan angkut. Berdasarkan waktu hambatan yang ada. tikungan C =14.5 Geometri Jalan Angkut Jalan angkut yang ada di PT.25 % Efisiensi kerja alat angkut : E’a = 71. tikungan B = 14. maka faktor pengisian mangkuk rata-rata untuk material ore pada pit Rasik adalah 67.5 meter (lampiran O).8 meter.5 %. kondisi tempat kerja. 4. kondisi alat itu sendiri dan juga pola pemuatan yang dilakukan sangat mempengaruhi waktu edar dari alat muat dan alat angkut. maka diketahui efisiensi kerja saat ini adalah : Efisiensi kerja alat muat : E’m = 70.3 meter.h) Kerusakan atau break down alat muat/angkut. .

Keserasian kerja alat muat dan alat angkut dapat diketahui dengan menggunakan rumus Match Factor yaitu : .7 Produksi Alat Muat dan Alat Angkut Produksi teoritis merupakan hasil yang secara perhitungan dapat dicapai oleh suatu hubungan kerja alat selama waktu operasi yang tersedia yang dikaitkan dengan data banyak curah bucket.2 Waktu Edar Alat Muat dan Alat Angkut di Pit Rasik Jenis Alat Berat Backhoe 345D caterpillar ADT A40 D Volvo Waktu Edar (CTm) 29 detik (Cta) 39.529.8 4. dan efisiensi kerja alat (Lampiran J).9 126.3 Produksi Alat Muat dan Alat Angkut di Pit Rasik Jenis Alat Berat Backhoe 345D Caterpillar ADT A40 D Volvo Jumlah Alat Berat 1 6 Besar Produksi (ton/bulan) 211.3) : Tabel 4. Dari data tersebut.Waktu edar alat muat (CTm) dan alat angkut (Cta) yang digunakan adalah sebagai berikut (lihat pada Tabel 4.8 Faktor Keserasian Kerja Alat Match Factor merupakan keserasian kerja antara alat muat dengan alat angkut.478. maka didapatkan produksi secara teoritis dari alatalat mekanis adalah sebagai berikut (lihat Tabel 4. Nilai faktor keserasian kerja setiap rangkaian kerja peralatan mekanis yang digunakan ditentukan berdasarkan data waktu edar dan jumlah peralatan mekanis yang dipakai dalam setiap rangkaian kerja tersebut. faktor isian mangkuk.4 menit 4.2) : Tabel 4. waktu edar.

Sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat sebagai berikut : Wtm = = Nm x Cta  Ctm Na 1 x 39. .8 menit Nm (banyak unit alat muat) Cta (cycle time alat angkut 1 trip) = 1 unit = 39.8 6 = 2.76 menit. 4  3.4 menit Dari rumus yang ada. artinya alat muat bekerja kurang dari 100 % sedangkan alat angkut bekerja 100 %.Diketahui : Na (banyak unit alat angkut) n (banyak curah) CTm (cycle time alat muat 1 trip) Ctm (Loading Time) = 6 unit =8 = 29 detik = 8 x 29 detik = 232 detik = 3. maka MF adalah sebagai berikut : MF = MF = = 0.57 MF < 1.

8 ton/bln. waktu angkut terlalu lama dan tingginya waktu hambatan yang mempengaruhi kecilnya persentase effisiensi kerja alat. 5. 3. Penggunaan alat mekanis berupa 1 unit backhoe 345D Caterpillar dan 6 unit ADT A40D Volvo. Dimana kemampuan produksi telah melebihi target yaitu 120.908 ton/bln. Untuk itu pada pembahasan ini akan dilakukan sebuah perbandingan penggunaan alat muat dan alat angkut.271 ton/bln dengan perhitungan secara teori adalah 126. Tetapi kemampuan produksi alat-alat mekanis ini masih dipengaruhi faktor-faktor penghambat antara lain lebar jalan angkut yang sempit. 1 unit backhoe 345D Caterpillar melayani 12 unit DT Nissan CWB520/ Hino FM260TI. 1 unit backhoe PC300 Komatsu melayani 12 unit DT Nissan CWB520/ Hino FM260TI.BAB V PEMBAHASAN Kegiatan pengangkutan material bijih emas yang dilakukan oleh PT. . Pola gali muat dengan single back up sudah sesuai karena lokasi pemuatan yang relatif kecil.478. 2. 1 unit backhoe 345D Caterpillar melayani 6 unit ADT A40D Volvo. Permasalahan ini disebabkan oleh tidak seimbangnya pemakaian alat muat dan alat angkut dimana kapasitas bucket backhoe sangat kecil dibandingkan kapasitas bak alat angkutnya serta ukuran alat angkut yang relatif besar terhadap lebar jalan lurus dan tikungan pada jalan angkut. waktu pemuatan terlalu lama.1 Pemuatan Material Pemuatan material bijih emas yang dilakukan oleh backhoe 345D Caterpillar dan backhoe PC300 Komatsu dengan pola pemuatan cara top loading sudah sesuai karena pola tersebut merupakan pola pemuatan yang efektif karena letak backhoe yang berada di atas jenjang memudahkan gerak boomnya untuk mencapai bak truk. antara lain : 1. Avocet Bolaang Mongondow mempunyai target produksi sebesar 115.

maka digunakan pedoman dengan memilih truck dengan kapasitas 4-5 kali kapasitas bucket dari alat galinya (sumber : buku PTMK 2007. Ir. ABM yaitu 13 ton atau 8.1.5 8 30.2 2.6 Pada penentuan truck yang akan dipakai untuk melayani excavator. 3. seperti yang terlihat pada tabel 5. Dari tabel hasil perbandingan. Tabel 5. Standar maksimum muatan pada ADT A40D Volvo yang telah ditetapkan oleh PT. dapat dijelaskan menjadi 3 opsi sebagai berikut : Opsi 1. Besarnya muatan pada bak truck dipengaruhi oleh kapasitas bucket backhoe dan banyak curah.6 m3.5. M.2 ton. dimana kapasitas bucket backhoe 3. Menggunakan alat angkut 6 unit ADT A40D Volvo dilayani 1 unit backhoe 345D Caterpillar.2 Banyak curah terhadap bak truck Untuk alat angkut ADT A40D Volvo telah ditentukan standar muatan material yang akan diangkut dari loading point ke tempat dumping. 345D Caterpillar ADT A40D Volvo Besar Tonase Muatan Bak Truck (ton) 3. Yanto Indonesianto.5 1. 345D Caterpillar PC300 Komatsu DT Nissan CWB 520 DT Hino FM260TI DT Nissan CWB 520 DT Hino FM260TI 3.1 m3.Sc).5 m3 yang melakukan banyak penumpahan curah sebanyak 8 kali. sehingga muatan untuk bak truck adalah 30. .8 3 6 11.1 Jumlah Curah Bucket Terhadap ADT dan Usulan DT Opsi Alat Muat Yang Melayani Unit Alat Angkut Kapasitas Bucket Backhoe (m3) Jumlah Curah Terhadap Bak Truck 1.3 11. ABM yaitu 33 ton atau 20. Sedangkan standar maksimum muatan pada DT Nissan CWB 520 yang telah ditetapkan oleh PT.

3 ton. sehingga muatan untuk bak truck adalah 11.9 meter D : 14.8 m3 yang melakukan banyak penumpahan curah sebanyak 6 kali.9 meter.5 meter Hijau (lebar jalan lurus) 9 – 11. dimana kapasitas bucket backhoe 3. hijau dan kuning.6 meter Kuning (lebar jalan lurus) 12 – 14. lebar jalan angkut lurus dan tikungan aktual dari pit Rasik ke Leachpad 3 dijelaskan dengan perbedaan warna biru. Menggunakan alat angkut 12 unit DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI dilayani 1 unit backhoe PC300 Komatsu. sehingga muatan untuk bak truck adalah 11.2 Lebar jalan angkut lurus dan tikungan aktual Biru A : 14. dimana kapasitas bucket backhoe 1.3 – 14.5 meter dan lebar jalan angkut pada tikungan 14. seperti yang terdapat pada tabel 5.3 . Opsi 3. Avocet Bolaang Mongondow merupakan jalan angkut dua jalur yang menghubungkan pit Rasik dengan leachpad 3.3 meter B : 14. Menggunakan alat angkut 12 unit DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI dilayani 1 unit backhoe 345D Caterpillar. Pada lampiran O.8 meter C : 14.5 meter Secara teori lebar jalan angkut lurus dan tikungan untuk 2 jalur pengangkutan dengan menggunakan ADT A40D Volvo dan DT Nissan CWB 520 adalah sebagai berikut : Tabel 5.2: Tabel 5.5 m3 yang melakukan banyak penumpahan curah sebanyak 3 kali. Adapun lebar jalan angkut lurus aktual sebesar 9 – 14.Opsi 2.3 Lebar Jalan Angkut Jalan angkut yang ada di PT. 5.6 ton.

semakin cepat waktu edar alat angkut maka produksi akan meningkat. Opsi 2.4 Waktu Edar Alat Angkut Produksi Alat angkut tidak lepas oleh waktu edar dari alat itu sendiri. Jarak angkut dari pit Rasik ke leachpad 3 adalah 3.Tabel 5. Pemakaian alat angkut ADT A40D Volvo tidak efektif karena akan menghambat proses pengangkutan pada jalan tambang yang cukup sempit. menunjukkan bahwa : Opsi 1.2 km.3 Lebar Jalan Angkut untuk ADT A40D Volvo dan DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI Opsi Unit Alat Angkut ADT A40D Volvo DT Nissan CWB 520 DT Hino FM260TI Lebar Jalan Angkut Lurus (meter) 12 8. Dari hasil yang terdapat pada tabel 5. 2.3. Perbandingan waktu edar alat angkut ADT A40D Volvo aktual dan DT Nissan CWB 520 sebagai alat angkut usulan ditunjukkan pada tabel 5.4 Lebar Jalan Angkut Tikungan (meter) 15.5 9.5 1. Sedangkan untuk pemakaian alat angkut berupa DT Nissan CWB 520 lebih efektif karena hasil perhitungan lebar jalan angkut lurus dan tikungan tidak melebihi lebar jalan angkut lurus dan tikungan yang telah ada yaitu untuk lebar jalan angkut lurus < 9 meter dan untuk lebar jalan angkut tikungan < 14. 5.3 meter. Dengan demikian tidak diperlukan lagi usaha pelebaran jalan angkut jika menggunakan alat angkut DT Nissan CWB 520 ataupun DT Hino FM260TI.4 : .

6 31 Dari tabel hasil perbandingan.8 menit (lampiran L).Tabel 5.45 menit dan waktu edar alat angkut ADT A40D Volvo adalah 29. 2. Opsi 3.9 menit dan waktu edar alat angkut ADT A40D Volvo adalah 31 menit Untuk perhitungan waktu edar DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI diambil dari waktu terkecil pada saat ADT A40D Volvo melakukan pengangkutan. Menggunakan alat angkut 6 unit ADT A40D Volvo dilayani 1 unit backhoe 345D Caterpillar. dimana jumlah curah terhadap bak truck 3 kali menghasilkan waktu pemuatan 1. dimana jumlah curah terhadap bak truck 6 kali menghasilkan waktu pemuatan 2.6 menit.9 39. Menggunakan alat angkut 12 unit DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI dilayani 1 unit backhoe PC300 Komatsu. Waktu minimum angkut ini menunjukkan bahwa tidak . 345D Caterpillar 345D Caterpillar PC300 Komatsu ADT A40D Volvo DT Nissan CWB 520 DT Hino FM260TI DT Nissan CWB 520 DT Hino FM260TI 8 3 6 3. lime feeder ke leachpad 3 dan leachpad 3 ke pit Rasik (kembali kosong) yaitu 25. dapat dijelaskan menjadi 3 opsi sebagai berikut : Opsi 1.4 Perbandingan waktu edar ADT aktual dan DT sebagai usulan Opsi Alat Muat Yang Melayani Alat Angkut Jumlah Curah Terhadap Bak Truck Waktu Pemuatan (menit) Waktu Edar Alat Angkut (menit) 1.8 menit dan waktu edar alat angkut ADT A40D Volvo adalah 39.8 1.45 2. Waktu angkut minimum ADT A40D Volvo bermuatan bijih emas dari pit Rasik ke lime feeder.4 menit. Menggunakan alat angkut 12 unit DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI dilayani 1 unit backhoe 345D Caterpillar.4 29. dimana jumlah curah terhadap bak truck 8 kali menghasilkan waktu pemuatan 3. Opsi 2. 3.

6 133. 5.436.5 Produksi Alat angkut DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI Jumlah unit DT 10 11 12 13 Alat Muat Yang Melayani 345D Caterpillar PC300 Komatsu 104.982 Produksi (ton/bulan) 102. Produksi untuk 12 unit DT yang dilayani backhoe PC300 Komatsu adalah 123.2 Dari hasil tabel 5.908 ton/bulan. pengisian kapur dan juga manuver saat loading dumping menghasilkan waktu edar alat angkut yaitu 29.864 115.8 136.5. produksi dengan penggunaan 12 unit DT sudah cukup melebihi target produksi.8 ton/bulan.8 ton/bulan. Hasil produksi tersebut menunjukkan sudah tercapainya target produksi yang diinginkan yaitu sebesar 115. menunjukkan bahwa penggunaan DT sebanyak 12 unit produksinya adalah 125.2 113.480.4 125. didapatkan hasil produksi backhoe 345D Caterpillar adalah 211. Sehingga waktu pengangkutan alat angkut usulan berupa DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI apabila ditambahkan dengan waktu penumpahan sebanyak 3 kali.6 menit. dimana waktu edarnya lebih cepat dibandingkan waktu edar alat angkut ADT A40D Volvo actual dan juga DT Nissan CWB 520 ataupun DT Hino FM260TI yang dilayani PC300 Komatsu.terjadi hambatan pada saat alat angkut berpapasan berlawanan arah. .978.723.478.9 ton/bulan dengan kombinasi 6 unit ADT A40D Volvo adalah 126.4 123. Sedangkan produksi ton/bulan untuk penggunaan DT Nissan CWB 520 ataupun DT Hino FM260TI jika dilayani dengan alat muat yang sama yaitu backhoe 345D Caterpillar adalah sebagai berikut: Tabel 5.476.529.4 ton/bulan.150. Walaupun angka produksi dengan penggunaan 12 unit DT lebih kecil daripada penggunaan 6 unit ADT.978.436.5 Produksi Alat Angkut ADT A40D Volvo dan DT Nissan CWB 520 Pada saat dilakukan penelitian di pit Rasik.

dimana faktor keserasiannya 1. Menggunakan alat angkut 6 unit ADT A40D Volvo dilayani 1 unit backhoe 345D Caterpillar. Menggunakan alat angkut 12 unit DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI dilayani 1 unit backhoe 345D Caterpillar.76 menit. Berikut tabel 5.6 menunjukkan perbedaan faktor keserasian dan waktu tunggu backhoe 345D Caterpillar pada masing-masing alat angkut.5. Namun ada perbedaa penggunaan pada jumlah alat angkut pada ADT A40D Volvo dan DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI. Opsi 3. pemakaian alat angkut ADT aktual dan alat angkut DT sebagai usulan sama-sama dilayani oleh alat muat backhoe 345D Caterpillar.01 - 3.12 dan waktu tunggu bagi alat angkut 3. Opsi 2.57 2. 0. . Aktual 6 unit ADT dilayani Backhoe 345D caterpillar Alat Angkut Usulan 12 unit DT dilayani Backhoe 345D caterpillar Alat Angkut Usulan 12 unit DT dilayani Backhoe PC300 Komatsu 0.8 menit.01 menit.8 Tabel 5.6 Faktor Keserasian Alat Muat Angkut (Match Factor) Pada bab pembahasan mengenai faktor keserasian. dimana faktor keserasiannya 0. 1.57 dan waktu tunggu bagi alat muat 2. Menggunakan alat angkut 12 unit DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI dilayani 1 unit backhoe PC300 Komatsu.6 menunjukkan bahwa : Opsi 1. dimana faktor keserasiannya 0.6 Match Factor dan Waktu Tunggu Alat Muat dan Alat Angkut Opsi Keterangan Match Factor Waktu tunggu (WTm) Backhoe 345D Caterpillar (menit) Waktu tunggu (WTa) DT Nissan CWB520 DT Hino FM260TI (menit) 1.58 dan waktu tunggu bagi alat muat 1. Tabel 5.12 - 3.58 1.76 - 2. dimana ADT A40D Volvo menggunakan 6 unit sedangkan DT Nissan CWB 520/DT Hino FM260TI menggunakan 12 unit.

tikungan C =14. Waktu edar untuk alat angkut pada opsi 2 yaitu berupa DT Nissan CWB520/DT Hino FM260TI yang dilayani backhoe 345D Caterpillar adalah 29. namun bisa mencapai target produksi sebesar 115.5 meter masih belum sesuai dengan alat angkut yang dipakai yaitu ADT A40D Volvo.5 meter dan lebar jalan angkut pada tikungan A = 14.9 meter dan tikungan D = 14. Lebar jalan angkut lurus aktual sebesar 9 – 14. Banyak curah pemuatan material bijih emas pada opsi 2 yaitu DT Nissan CWB520/DT Hino FM260TI yang dilayani backhoe 345D Caterpillar lebih efektif dan lebih cepat.8 ton/bulan.908 ton/bulan. 3. tikungan B = 14. yang mana waktu edarnya lebih cepat dibandingkan penggunaan alat muat angkut untuk opsi 1 dan opsi 3. yang mana waktu tunggu untuk alat muat opsi 2 lebih cepat dibandingkan dengan opsi 1 dan waktu tunggu alat muat opsi 2 lebih cepat dibandingkan waktu tunggu alat angkut pada opsi 3.436. tetapi lebih banyak daripada produksi 12 unit DT yang dilayani backhoe PC300 Komatsu yaitu 123.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.478. lebih sedikit dari produksi 6 unit ADT A40D Volvo. tetapi sudah sesuai dengan alat angkut yang diusulkan yaitu DT Nissan CWB520/DT Hino FM260TI.6 menit. 4. 5.8 ton/bulan.978.4 ton/bulan.1 Kesimpulan 1. sedangkan pemakaian alat angkut usulan berupa DT sebanyak 12 unit dilayani backhoe 345D Caterpillar menghasilkan produksi 125.8 meter. Pemakaian 6 unit ADT dilayani backhoe 345D Caterpillar menghasilkan produksi 126. 2. . Faktor keserasian pada opsi 2 yaitu berupa DT Nissan CWB520/DT Hino FM260TI yang dilayani backhoe 345D Caterpillar adalah 0.58.3 meter.

2.6. Perlu meninjau kembali kapasitas dan jumlah penggunaan alat-alat mekanis sesuai dengan target produksi yang ingin dicapai.2 1. Saran Perlu adanya pelebaran jalan angkut lurus dan tikungan jika tetap menggunakan ADT A40D Volvo agar lebih efektif dan mengurangi waktu edar. .

A. Rotterdam. 1987. Suwandi. Rochmanhadi. 1972. Hustrulid. Metallurgical and Petroleum Engineers. Pfleider. The University of Alabama. Awang. Msc. Jurusan Teknik Pertambangan. 7. Caterpillar. 3.”Volvo Construction Equipment North America. “Alat . “Surface Mining 1 st Edition ”.Volvo. Departemen Pekerjaan Umum”. . 5. ______. _______. The American Institute of Mining. New York. “Introductory Mining Engineering”. “Pemindahan Tanah Mekanis”. “Caterpillar Performance Handbook” Edition 38. 8. ITB. “Open Pit Mine Planning and Design Volume 1”. Bandung.Hartman. Eugene. William. 9. 2004.Inc”.alat Berat dan Penggunaannya. Departemen Tambang. “Pemindahan Tanah Mekanis”. Yanto Indonesianto. Unisba. Jakarta. 1995. Asheville. Brookfield. 2007. P. 4. Ir. Partanto Prodjo Sumarto. Bandung. 1982. 2.DAFTAR PUSTAKA 1. A. UPN “VETERAN” Yogyakarta. 6. ”Diklat Perencanaan Tambang Terbuka”. Ir.Balkena. 1995. Howard L.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful