A.

Pendahuluan Pada awal abad kedua hingga pertengahan abad keempat hijriyah dapat dikatakan sebagai fase keemasan, karena hukum Islam pada masa tersebut mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat. Ijtihad hukum dari sumber-sumber hukum juga berkembang pesat Ulama-ulama pada masa ini sangat giat dalam penulisanpenulisan dan pembukuan terhadap hukum-hukum Islam, seperti penulisan dan pembukuan hadits-hadits Nabi SAW, fatwa-fatwa para sahabat serta para Tabi‟in, tafsir al Quran, kumpulan pendapat imam-imam Fiqih, dan penulisan ilmu Ushul Fiqih. Banyak hal yang mempengaruhi keadaan tersebut diantaranya adalah karena luasnya wilayah Islam pada masa itu sehingga karena luasnya wilayah tersebut mendorong pemerintahan dan para ulama mengumpulkan dan membukukan hukumhukum Islam dan fatwa-fatwa yang dapat dijadikan pedoman agar dapat menyebar keseluruh pelosok wilayah Islam. Selain itu dimasa tersebut telah lahir ulama-ulama Mazhab Mustaqqil yang sangat giat menggali hukum dari sumber-sumber hukum Islam. Diantaranya adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi‟i, dan Imam Hanbali yang madzhab-madzhabnya sampai sekarang masih eksis dalam kehidupan umat Islam. Setelah meninggalnya para imam tersebut sampailah pada periode tarjih dalam mazhab fiqh atu yang lebih dikenal dengan masa Murajjihun . Periode ini dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 Yang dimaksudkan dengan tarjih (Murajjhun) adalah upaya yang dilakukan ulama masingmasing mazhab dalam mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam mereka. Periode ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka masing masing, sehingga mujtahid mustaqill (mujtahid mandiri) tidak ada lagi. Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad, maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhab yang mereka anut. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fi al-mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip yang ada dalam mazhabnya). Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan ijtihad secara mandiri, muncullah sikap at-

1

ta'assub al-mazhabi (sikap fanatik buta terhadap satu mazhab) sehingga setiap ulama berusaha untuk mempertahankan mazhab imamnya .

B. Pembahasan Kekuasaan dinasti bani „Abbas, atau khilafah „Abbasyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan bani Ummayah. Dinamakan khilafah „Abbasyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-„Abbas paman nabi Muhammad SAW. Dinasti „Abbasyah didirikan oleh abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-„Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).1 selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan bani „Abbas menjadi lima periode: 1. Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh persia pertama. 2. Periode kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh turki pertama. 3. Periode ketiga (334 H/945M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti buwaih dalam pemerintahan khilafah abbasya. Periode ini disebut juga masa pengaruh peria kedua. 4. Periode keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti bani seljuk dalam pemerintahan khilafah abbasyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua 5. Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258M), masa khilafah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota bagdad.2

1 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:PT Raja Grafindo persada, 1995), hlm. 49. 2 Ibid., hlm. 49-50.

2

5 Apa yang dicapai periode abbasyah adalah hubungan tetap antara dinas qadhi dengan syari‟ah (hukum agama) ini juga sudah disiapkan pada waktu umayyah tetapi dizaman abbasyah hal itu menjadi peraturan tetap bahwa qadhi (hakam hakim) haruslah seorang ahli syari‟ah. 3 Ketika bani umayyah diruntuhkan oleh bani abbasyah tahun 132 H/ 750 M. Mereka dengan sungguh-sungguh menarik perhatian para ahli hukum agama terhadap pengadilan mereka.4 Bani abbasyah melebihkan perbedaan-perbedaan dan oposisi sadar terhadap nenek moyang mereka lalu mencanangkan hukum tuhan dimuka bumi.. Dia tidak lebih sebagai sekretaris gurbenur provinsi yang sah tetapi di angkat berdasarkan undang-undang oleh pemerintah pusat. dan selama dia diangkat sampai dibebaskan dari dinasnya. dan kebudayaan. 3 . 6 Tugas qadhi dipisahkan dari administrasi umum kemudian menjadi bergabung pada hukum islam dalam data dan prosedur. Kesejahteraan social. hlm. masyarakat mencapai tingkat tertinggi. dia hanya melaksanakan hukum agama tanpa campur tangan pemerintah. Disisi lain.. 66 5 Ibid. Pengantar Hukum Islam. hlm. hlm 66. Hajat umat islam arab kepada sistem hukum baru sudah terpenuhi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan begi perkmbangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam. 67. sebagai bagian kebijakan ini mereka mengakui hukum agama. Secara politis. lalu melakukan konsultasi tentang masalah-masalah yang mungkin ada dalam wewenang mereka. Pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi.Pada periode pertama pemerintaha Bani „Abbas mencapai masa keemasannya. 6 Ibid. kesehatan. hukum islam sebagaimana yang kita ketahui memperoleh gambaran peranannya. pendidikan. serta kesusasteraan berada pada zaman keemasan. 1985.. aturan-aturan formal dari 3 Ibid. ilmu pengetahuan. diajarkan oleh para spesialis yang saleh sebagai satu-satunya norma yang sah dalam islam. para kholifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. hlm 51 4 Joseph Schacht. kemakmuran.

8 Ibid. setelah generasi pertama. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat. kekuasaan menjadi ajang pertikaian antara anak-anak mereka. paling tidak secara teoritis sebagai satusatunya norma tingkah laku yang sah untuk orang-orang islam. Perebutan kekuasaaan dikalangan keturunan bani Buwaih adalah faktor internal kehancuran pemerintahan mereka. Keadaan politik yang tidak stabil tersebut berimbas pada keluarnya dinasti-dinasti kecil yang 7 Ibid.. (Semarang: Daarul Yahya. hlm 71 9 Hudari bik. Di Afrika Utara. Di sisi lain bani Umayah di Andalusia semakin kuat dibawah kepemimpinan Abadurrahaman anNashir.. Ketika itu. hlm 68. Selain itu.8 1. 4 .padanya tentang bukti mengakibatkan tidak mungkin bagi seorang qadhi menangani penyelidikan tindak kriminil.7 Dizaman abbasyah tatkala nilai-nilai syari‟ah sudah secara tetap dilaksanakan setelah hukum islam diakui. 519-520. Keadaan Pemerintahan Dan Hukum Islam Pada pertengahan abad keempat hijriyah. tetapi kekuatan politik bani Buwaih tidak bertahan lama.9[9] Walaupun selama bani Buwaih bertahta sempat membuahkan kemajuan yang berarti. juga faktor eksternal dimana Bizantium semakin gencar dalam penyerangannya ke wilayah Islam membuat kondisi semakin runyam. 1980). Daulah alDailami yang terkenal dengan Bani Buwaihi telah memegang kekuasaan pusat di Baghdad sedangkan daulah bani Abbasiyah ketika itu sudah terpecah-pecah. hlm. keadaan politik di beberapa daerah Islam mengalami kemunduran yang menyebabkan ikatan-ikatan politik antara daerahdaerah Islam di masa pemerintahan bani Abbasiyah semakin terputus. Syi‟ah Ismailiyah telah mendirikan suatu pemerintahan dengan nama daulah Fathimiyah di bawah pimpinan Ubaidullah Al Mahdi Al Fathimy yang beribu kotakan di kota al Mahdiyah yang terletak di dekat Tunis. Di Yaman telah berdiri Syiah Zaidiyah yang juga semakin kuat. Terjemah Tarikh Al Tasyri’ Al Islam. dimana para qadhi yang diangkat oleh pemerintah pusat terikat untuk melaksanakan hukum ini di bawah wewenang langsung khalifah.

hlm. dari maju menjadi mundur.11 Pada periode ini Wilayah kekuasaan Islam telah terbagi-bagi dalam beberapa bagian yang setiap bagian dipimpin oleh orang wali (Gubernur) Yang disebut dengan Amirul Mukminin. op cit .membebaskan diri dari pemerintah pusat di Baghdad.. 71-72 11 Ahmad Hanafi.10 Begitulah gambaran dunia Islam pada masa pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. dari pemuda menjadi tua dan matinya ruh kebebasan berfikir para ulama. 1970). Dalam cuaca yang berawan tebal dan kondisi yang buruk tersebut. Hal tersebut berimbas pada terputusnya hubungan antar daerah-daerah Islam . 206. hlm. Setelah Muhammad Bin jarir Ath-Thabari wafat pada tahun 531 H tidak ditemukan lagi orang yang menyatakan dirinya sampai pada tingkatan mujtahid mustaqil baik dalam berfatwa maupun dalam mengistimbath hukum serta mengambil 10 Badri yatim. terputusnya hubungan antar daerah karena permusuhan dan perpecahan telah menggantikan ikatan persaudaraan mereka. dari semangat menjadi lesu. daerah-daerahnya terpencar dan tidak ada kesatuan politik. Ikhsidiyah di Mesir dan di Syiria. Hamdan di Aleppo dan lembah Furat. Dinasti-dinasati tersebut antara lain adalah dinasti Fathimiyah yang memplokamirkan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir. Akibat pembagian ini. (Jakarta:Bulan Bintang. dan pada puncaknya yaitu jatuhnya kekuasaan pusat dari bani Buwaih kepada bani Saljuk. Pengantar Dan Sejarah Hokum Islam. umat Islam tertimpa kelemahan dan kemerosotan karena negara-negara ini saling berbantah – bantahan. 5 . Dimana keadaan politik pemerintahan Islam tidak stabil karena faktor-faktor internal dan eksternal yang sangat merugikan bagi Islam. Hanya saja hal ihwal yang buruk itu dan faktor-faktor kegoncangan yang kuat dapat mempengaruhi pertumbuhan pergerakan ilmiah dan kembali mundur dengan bergantinya dari kuat menjadi lemah. Ghasnawi di Ghasna dekat Kabul. para ulama menyampaikan risalahnya. banyak terjadi fitnah. menunaikan amanatnya dan mengeluarkan apa yang dibawanya serta banyak bermunculan dari kalangan ulama besar dan pemikir. Banyak daerah-daerah memerdekakan diri dari pemerintahan pusat dan menjadi negeri kecilkecil sehingga negeri-negeri tersebut lebih disibukan dengan perang antar negeri tersebut.

dari golongan ulama terdapat pula orang yang tidak kalah dengan imam–imam sebelumnya dalam pengetahuan tentang pokok-pokok syariat dan cara–cara istimbat. dalam diri mereka telah tumbuh benih-benih taklid (mengikuti) sehingga mereka lebih bersandar pada fikih Abu Hanifah. Asal Usul dan Perkembangan Fiqh. tanpa malampaui dan melewati batasanya. mereka mendirikan benteng antara umat dengan nash-nash Al-Qur‟an dan Sunnah. hlm.hukum-hukumnya dari al. Setiap mereka menetapi satu mazhab tertentu tanpa malampaui dan mengerahkan semua kekuatan dalam mendukung mazhab tersebut baik secara global maupun secara rinci. Syafi‟ie. Pada periode ini. Ibnu Hanbal dan yang lainya yang mazhabnya tersebar ketika itu.Qur‟an dan Sunnah tanpa terikat dengan pemikiran salah seorang imam (tokoh) mereka menganggap bahwa kemampunya tidak kuat untuk menggali ilmu dari al. serta kesungguhan meraka hanya sampai pada memahami ucapan para imamnya atau menggali kaidah-kaidahnya. para ulama menyaring dan membuang pernyataan yang lemah dari imam madzhab mereka. Meraka membatasi dirinya pada ruang lingkup yang dijadikan pokok-pokok mazhab tersebut. Mereka juga mengklasifikasi narasi-narasi para pendiri madzhab mereka sesuai dengan keakuratannya. Dalam setiap madzhab.12 Pada periode ini orang cukup mempelajari kitab-kitab imam tertentu dan mempelajari cara – caranya malakukan istimbat hukum. Maliki. 13 Abu Ameenah Bilal Philips. namun mereka tidak cukup untuk berani muncul secara bebas seperti yang dirasakan oleh para pendahulunya yang mengikat dirinya dengan kekuatanya sendiri serta menyelesaikan 12 Muhammad Ali. (Jakarta:Pustaka Al Kautsar.hukum yang dibukukan tersebut.13 Maka. atau penjelasanya (syarah) atau pengumpulan pendapat yang terpisah–pisah dalam berbagai kitab.163-164. syariat itu menjadi tulisan-tulisan para fuqaha dan pendapat-pendapatnya. Nusamedia Hal 141 6 . 2003). Sedang ijtihad telah mereka lupakan hingga selesai dengan penutupan pintunya pada awal abad keempat. Sejarah Fiqh Islam. 2005: Bandung.Qur‟an dan As sunnah serta mereka bukanlah ahlinya untuk melihat pada keduanya dan mengistimbath dari keduanya. karangankarangan mereka tidak lebih dari ringkasan karangan sebelumnya. Dengan keberlebihan dan melampaui batas dalam fanatik terhadap mazhab-mazhab salaf ini.

Ketika risalah Al. Ali as Sayis.Baihaqi sampai pada Al. yang hingga masa kini madzhab-madzhabnya mendapatkan sambutan ramai dianut dengan orang dengan kokoh. ialah imam empat. tetapi secara berangsur-angsur dengan semakin hilangnya ruh ijtihad dalam hati para ulama kala itu. 2003: Jakarta.Juwaini telah menyatakan dalam penyusunan kitab al. Hal 165166 7 . Dari uraian di atas menunjukkan bahwa ijtihad pada masa itu tidak mati secara sekaligus.Muhith. 14 Muhammad. dan semakin banyaknya perpecahan dalam tubuh Islam.Juwaini dalam kitabnya adalah karena terdapat kecacatan yang diketahuinya sebagai orang yang menekuni kreasi para ahli hadist. padahal imam syafi‟I sendiri bersandar dalam pentashihan hadist -hadist kepada Ahli Hadist yang dapat memutuskan dan membedakan antara hadist shahih dan cacatnya.” Dan ia mendoakan Al.14 2. Seperti Abu Muhammad Abdillah bin Yusuf Al.Juwaini tersebut sampai kepada alHafidz Abi Bakar Al. Ijtihad dan Fiqh Di Masa Bani ‘Abbas Dipermulaan periode Bani „Abbas lahirlah imam-imam mujtadid yang kenamaan dari golongan Ahli Hadits dan golongan Ahli Qiyas yang mempunyai pengikut dan dibukukan fatwa-fatwannya . Diantaranya para imam-imam mijtahiddin yang timbul dalam periode ini. ia berkata: “ Ini adalah keberkahan Ilmu.kesulitan-kesulitan dengan jalan ijtihad. Kitab Al. Pustaka al Kautsar. hilangnya persatuan daerah-daerah Islam. tidak mau terikat dengan satu mazhab dan mendasarkan pada nash-nash syara‟ yang tidak terhitung serta menjauhi sikap fanatik mazhab.Baihaqi serta ia tidak menyempurnakan karangannya.Juwaini.Baihaqi sebanyak tiga juz lalu beliau mengkritiknya tentang kelemahan hadist-hadistnya dan menjelasakan padanya bahwa yang mengambil hadist yang ada pada dirinya adalah syafi‟i. Dari sini dapat anda lihat bahwa Al-Juwaini berhenti berijtihad karena ia bukan tokoh dalam hadist. dan ketidaksukaanya terhadap h adisthadist yang dikeluarkan Al. Sejarah Fikih Islam.

hlm 56-57 17 Ibid. juga faktor eksternal dimana Bizantium semakin gencar dalam penyerangannya ke wilayah Islam membuat kondisi semakin runyam. Akan tetapi. Walaupun selama bani Buwaih bertahta sempat membuahkan kemajuan yang berarti. jilid 2. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat.yaitu: imam abu hanifa (700 -767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di kufah. pada masa pemerintahan bani abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula. karena pengikutnya tidak berkembang. Islam Ditinjajau Dari Berbagai Aspeknya. kota yang berada ditengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang tinggi.17 15 Harun nasution. Hamdan di Aleppo dan lembah Furat. imam malik (713 – 795 M) banyak menggunakan hadist dan tradisi masyarakat madinah. 14 16 Badri yatim. Keadaan politik yang tidak stabil tersebut berimbas pada keluarnya dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari pemerintah pusat di Baghdad.15 Karena itu. kekuasaan menjadi ajang pertikaian antara anak-anak mereka.16 Disamping empat pendiri mazhab besar tersebut.. setelah generasi pertama. cit. pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Berbeda dengan abu hanifa. 8 . Ikhsidiyah di Mesir dan di Syiria. Perebutan kekuasaaan dikalangan keturunan bani Buwaih adalah faktor internal kehancuran pemerintahan mereka. Dinasti-dinasati tersebut antara lain adalah dinasti Fathimiyah yang memplokamirkan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir. tetapi kekuatan politik bani Buwaih tidak bertahan lama. mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadist. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh imam syafi‟I (767 – 820 M) dan imam ahmad ibn hanbal (780 – 855 M). dan pada puncaknya yaitu jatuhnya kekuasaan pusat dari bani Buwaih kepada bani Saljuk.Imam-imam mazhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan abbasyah. hlm. 57. Ghasnawi di Ghasna dekat Kabul. op. Selain itu.. hlm.

para perusak agama. Pokok-pokok perselisihan (asbabul ikhtilaf) dalam periode bani abbas dapat disimpulkan dalam urusan-urusan dibawah ini: a. Ada kalanya nash itu tiada terang tujuannya. disusun usul fiqh dan barulah buah ijtihad (hasil – hasil ijtihad) itu.karena itu paham mereka bertentangan. karena telah bertebaran hadits palsu yang dibuat oleh para pendusta. Dalam maslah ini timbul perselisihan dalam hal itu.periode ini. tidak sampai yang lain. barulah dibuat aturan – aturan ijtihad. Dalam pada itu semua mengaku: “apabila telah shahih hadits maka itulah mazhabku.” 9 . b. Dalam periode ini pula mereka para mujtahiddin mulai memperluas (membikin) hokum dan membuat macam – macam masalah yang ditakdir – takdirkan (fiqh iftirodli).Dalam periode . Dalam periode ini timbul pertentangan pendapat tentang : Ø Memakai hadits sebagai dasar syara‟ (hokum). yang menyebabkan berlain-lainan paham para mujtahidien. Ø Memakai ijma‟ sebagai dasar tasyri‟. Sebagaimana mereka berselisih tentang hal istihsan. Yang menolak ini ada yang karena tidak mempercayai perowinya dan ada juga yang menolak sama sekali. mereka mencukupi dengan dasar Al-qur‟an saja. demikian pula pertengkaran faham antara ahli qiyas dengan ahli hadits dalam perkara menggunakan qiyas. makin menghebat. maka apakah jalan berpegang kepadanya ? Segolongan ulama‟ menolak hadits. Ada kalanya nash itu sampai kepada sebahagian para mujtahidien. Dalam periode yang telah lalau hokum – hokum itu diberikan dan dicari jika telah ada kejadian yang menghajatinnya dalam periode ini pula muncul berbagai madzhab dan berjangkit perselisihan dengan hebat dan luas . senyata – nyatanya karena dalam periode inilah fiqh dibukukan. Dan yang menjadi titik berat perselisihan adalah : apakah hadits itu suatu pokok dari dasar – dasar tasyri‟ dan kalau benar hadits itu suatu dasar.

dapat kita persatukan. 213. Ulama-ulama dari golongan malikiyah ü Muhammad bin Yahya bin Lubbah al Andalusi ü Bakar bin Ala al Qusyairi ü Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al Mu‟ithi al Andalusi ü Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid Abu Rahman 18 Zainal abidin. (Jakarta:Bulan Bintang.Mengingat hal ini. Ø Karena sebagian ulama mempergunakan fikiran pada masalah-masalah yang tidak terang ada hukumnya didalam Al-Qur‟an. maka sesungguhnya mazhab-mazhab itu. Puncaknya Zaman Keemasan Puncaknya zaman keemasan islam pada zaman Abbasyah18 4. 10 . Akibatnya terdapat banyak buku yang bersifat sebagai komentar. Sejarah Islam Dan Umatnya Sampai Sekarang. mayoritas ulama berijtihad dalam bentuk tarjih (penguatan) terhadap pendapat yang ada dalam mazhab sebelum mereka (mujtahid mustaqil). tidak mau memberi hukum 3. Ulama-ulama di masa murajjihun Pada masa murajjihun. sedang yang sebagian tinggal berdiam diri. Cetakan Ketiga). jika semua pemeluknya (orang-orang yang memegang peranan dalam tiap-tiap mazhab itu) telah insaf dengan sempurna. walau betapapun banyaknya. Ulama-ulama dari golongan hanafiyah ü Abul Hasan Ubaidullah ibn Hasan Al Karkhi ü Abu Bakar Ahmad ibn Ali Ar Razy al Jashshas ü Abu Ja‟far Muhammad ibn Abdullah al Balkhi ü Abu Abdullah Yusuf ibn Muhammad al Jurjani ü Abul Husein Ahmad ibn Muhammad al Qarudi al Baghdadi ü Abu Zaid Ubaidullah ibn Umar ad Dabusi as Samarqandi ü Syamsul Aimmah Abdul Aziz ibn Ahmad al Halwani B. Berikut ini adalah ulama-ulama pada masa murajjihun: A. hlm. penjelasan dan ulasan terhadap buku yang ditulis sebelumnya dalam masing-masing mazhab.

19 Sedangkan secara terminologis pengertian mazhab menurut Huzaemah T. Timbulnya Mazhab yang Empat dan Sejarah Pemikiran Mazhab yang Empat a. Yanggo bisa juga berarti al-ra‟yu yang artinya “pendapat”. Cet. Yanggo.hlm. Sementara menurut Huzaemah T. Perbandingan Mazhab Fiqih. 65 11 . Pengertian Mazhab Menurut Bahasa “mazhab” berasal dari shighah mashdar mimy (kata sifat) dan isim makan (kata yang menunjukkan tempat) yang diambil dari fi‟il madhi “dzahaba” yang berarti “pergi”. Selanjutnya Imam 19 M. Ulama-ulama dari golongan Hanbaliyyah ü Mufiquddin abu Muhammad Abdullah bin Ahmad ibnu Qadamah al Muqaddasi ü Ahmad ibn Ja‟far ibn Muhammad al Munady ü Ahmad ibn Ja‟far ibn hamdan ü Ahmad ibn Muhammad ibn hazm ü Umar ibn Husain ibn Abdullah ibn Ahmad ü Muhammad ibn Ahmad ibn Ismail 5.ü Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al Abhari ü Al Qadhi Abdul Wahab bin Nasir al Baghdadi ü Abul Walid Sulaiman bi Qalaf al Baji C. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Ali Hasan. 1997. atau mengistinbatkan hukum Islam. I. adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam Mujtahid dalam memecahkan masalah. Ulama-ulama dari golongan Syafi‟iyyah ü Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad al Marwazi ü Abu Ahmad Muhammad bin Said bin Abdul Qadhi al Khawarizimi ü Abul Ma‟ali Abdul malik bin Abdullah al Juwaini ü Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali ü Abul Qasim Abdul Karim bin Muhammad al Qaswini ar Rafi‟i ü Muhyiddin abu Zakariya yahya bin Sharaf bin Muri an Nawawi D.

Perbedaan para sahabat dalam memahami nash-nash alQur‟an 2. bahwa ketika agama Islam telah tersebar meluas ke berbagai penjuru. Qasim Abdul Aziz Khomis menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ikhtilaf di kalangan sahabat ada tiga yakni : 1. b. hal ini terjadi antara lain karena perbedaan pemahaman di antara mereka dan perbedaan nash (sunnah) yang sampai kepada mereka. Perbedaan para sahabat disebabkan karena ra‟yu.Mazhab dan mazhab itu berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat Islam yang mengikuti cara istinbath Imam Mujtahid tertentu atau mengikuti pendapat Imam Mujtahid tentang masalah hukum Islam. Mazhab adalah fatwa atau pendapat seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu peristiwa yang diambil dari al-Qur‟an dan hadits. banyak sahabat Nabi yang telah pindah tempat dan berpencar-pencar ke nagara yang baru tersebut. Generasi ketiga ini dikenal dengan Tabi‟it Tabi‟in. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud mazhab meliputi dua pengertian a. kesempatan untuk bertukar pikiran atau bermusyawarah memecahkan sesuatu masalah sukar dilaksanakan. Sejarah Singkat Munculnya Mazhab Fiqh Sebenarnya ikhtilaf telah ada di masa sahabat. Setelah berakhirnya masa sahabat yang dilanjutkan dengan masa Tabi‟in. Ijtihad para Sahabat dan Tabi‟in dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya yang tersebar di berbagai daerah wilayah dan kekuasaan Islam pada waktu itu. 12 . Mazhab adalah jalan pikiran atau metode yang ditempuh seorang Imam Mujtahid dalam menetapkan hukum suatu peristiwa berdasarkan kepada al-Qur‟an dan hadits. b. Perbedaan para sahabat disebabkan perbedaan riwayat 3. Sejalan dengan pendapat di atas. muncullah generasi Tabi‟it Tabi‟in. selain itu juga karena pengetahuan mereka dalam masalah hadis tidak sama dan juga karena perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hukum dan berlainan tempat. Dengan demikian. Sebagaimana diketahui.

atau sering disebut dengan istilah „‟The Golden Age‟‟. karena pemikiran-pemikiran di bidang fiqh yang diwakili mazhab ahli hadis dan ahli ra‟yu merupakan penyebab timbulnya mazhab-mazhab fiqh. Imam Malik. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Ketika memasuki abad kedua Hijriah inilah merupakan era kelahiran mazhab-mazhab hukum dan dua abad kemudian mazhab-mazhab hukum ini telah melembaga dalam masyarakat Islam dengan pola dan karakteristik tersendiri dalam melakukan istinbat hukum Kelahiran mazhab-mazhab hukum dengan pola dan karakteristik tersendiri ini. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.hlm. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Ahmad bin Hanbal dan lainn ya. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan. peradaban dan kekuasaan. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak. Imam Syafi‟i. di mana pemerintahan Islam dipegang oleh Daulah Abbasiyyah. ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. 26 13 .Di dalam sejarah dijelaskan bahwa masa ini dimulai ketika memasuki abad kedua hijriah. Para tokoh atau imam mazhab seperti Abu Hanifah. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. dan mazhab-mazhab inilah yang mengaplikasikan pemikiran-pemikiran operasional. tak pelak lagi menimbulkan berbagai perbedaan pendapat dan beragamnya produk hukum yang dihasilkan. masing-masing menawarkan kerangka metodologi.20 Sebenarnya periode ini adalah kelanjutan periode sebelumnya. teori dan kaidah-kaidah ijtihad yang menjadi pijakan mereka 20 Jaih Mubarok. karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan. baik dalam bidang ekonomi. di mana lahir beberapa mazhab fiqih yang panji-panjinya dibawa oleh tokoh-tokoh fiqh agung yang berjasa mengintegrasikan fiqih Islam dan meninggalkan khazanah luar biasa yang menjadi landasan kokoh bagi setiap ulama fiqih sampai sekarang. Periode ini dalam sejarah hukum Islam juga dianggap sebagai periode kegemilangan fiqh Islam.

pada awalnya hanya bertujuan untuk memberikan jalan dan merupakan langkah-langkah atau upaya dalam memecahkan berbagai persoalan hukum yang dihadapi baik dalam memahami nash al-Quran dan al-Hadis maupun kasus-kasus hukum yang tidak ditemukan jawabannya dalam nash. Dengan semakin mengakarnya dan melembaganya doktrin pemikiran hukum di mana antara satu dengan lainnya terdapat perbedaan yang khas. Masing-masing mazhab tersebut memiliki pokok-pokok pegangan yang berbeda yang akhirnya melahirkan pandangan dan 14 . antara yang mewajibkan mazhab dan yang melarangnya. maka kemudian ia muncul sebagai aliran atau mazhab yang akhirnya menjadi pijakan oleh masing-masing pengikut mazhab dalam melakukan istinbat hukum. mereka tetap berselisih paham dalam masalah furu‟iyyah.menjelma menjadi doktrin (anutan) untuk menggali hukum dari sumbernya. Metodologi. antara yang memperketat dan yang memperlonggar. Perbedaan pendapat inilah yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab Islam yang masih menjadi pegangan orang sampai sekarang. Teori-teori pemikiran yang telah dirumuskan oleh masing-masing mazhab tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting artinya.dalam menetapkan hukum. Sampai saat ini Fiqih ikhtilaf terus berlangsung. karena pola pikir manusia terus berkembang. karena ia menyangkut penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi yang sistematis dalam usaha melakukan istinbat hukum. Menurut hemat penulis. teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para tokoh dan para Imam Mazhab ini. Metodologi. sebagai akibat dari keanekaragaman sumber dan aliran dalam memahami nash dan mengistinbatkan hukum yang tidak ada nashnya. Perselisihan itu terjadi antara pihak yang memperluas dan mempersempit. teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para imam mazhab tersebut terus berkembang dan diikuti oleh generasi selanjutnya dan ia -tanpa disadari. sampai kapan pun dan di tempat mana pun akan terus berlangsung dan hal ini menunjukkan kedinamisan umat Islam. antara yang cenderung rasional dan yang cenderung berpegang pada zahir nash. perbedaan pendapat di kalangan umat ini. Penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi tersebut inilah dalam pemikiran hukum Islam disebut dengan ushul fiqh.

dan mempunyai pengikut dari berbagai laposan masyarakat. Namun yang masih berkembang kini hanyalah madzhab Ja‟fariah dan Syi‟ah Imamiyah. Dasar-dasar Pemikiran Mazhab Empat Berkembangnya dua aliran ijtihad rasionalisme dan tradisinalisme telah melahirkan madzhab-madzhab fiqih islam yang mempunyai metodologi kajian hukum serta fatwa-fatwa fiqih tersendiri. penulis hanya membatasinya pada mazhab-mazhab fiqh dari golongan sunni. Pada awalnya Abu hanifah adalah seorang pedagang. Imam Abu Hanifah dikenal sebagai ulama yang luas ilmunya dan sempat pula menambah pengalaman dalam masalah politik. pada zaman dinasti Umayyah tepatnya pada zaman kekuasaan Abdul malik ibn Marwan. Abu Hanifah belajar fiqih kepada ulama aliran irak (ra‟yu). maliki. Berikut ini kami sebutkan riwayat fuqoha-fuqoha yang mazhabnya dibukukan dan mereka mempunyai pengikut diberbagai negara-negara besar. Imam Abu Hanifah mengajak kepada kebebasan berfikir dalam memecahkan masalah-masalah baru yang belum terdapat dalam al-Qur‟an dan al-Sunnah. termasuk di antaranya adalah pandangan mereka terhadap kedudukan al-Qur‟an dan al-Sunnah.pendapat yang berbeda pula. Sedangkan di kalangan syiah terdapat dua madzhab fiqih. karena di masa hidupnya ia 15 . Ia banyak mengandalkan qiyas (analogi) dalam menentukan hukum. Dalam makalah ini. yaitu Zaidiyah dan Ja‟fariah. Ia dilahirkan di Kufah. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Nu‟man ibn Tsabit ibn Zuthi (80-150 H). syafi‟i dan hambali. . 1. yaitu hanafi. Dalam sejarah pengkajian hukum islam dikenal beberapa madzhab fiqih yang secara umum terbagi dua. yaitu madzhab sunni dan madzhab syi‟i. Di kalangan Sunni terdapat beberapa madzhab. Dikala muda ia mempelajari fiqh dari Hammad bin Abu Sulaiman. c. beliau juga banyak belajar pada ulama-ulama tabi‟in seperti Atha‟ bin Abu Rabah dan Nafi‟ Maula Ibnu Umar. atas anjuran al-Syabi ia kemudian menjadi pengembang ilmu.

namun kadang-kadang ada pendapat murid yang bertentangan dengan pendapat gurunya. maka itulah salah satu ciri khas fiqih Hanafiyah yang terkadang memuat bantahan gurunya terhadap ulama fiqih yang hidup di masanya. Bulan Bintang.21 Madzhab Hanafi berkembang karena kegigihan murid-muridnya menyebarkan ke masyarakat luas. kitab al-Fiqh dan qawaid al-Fiqh. yang tentunya mengalami perubahan situasi yang sangat berbeda antarta kedua masa tersebut. Al-Qur‟anul Karim b. Adapun gurunya dalam fiqh adalah Rabi‟ah bin Abdur Rahman. dan lain-lain. Sunnah Rosu dan atsar yang shahih lagi masyhur c. sebuah kitab hadits bergaya fiqh. Adat dan uruf masyarakat Murid imam Abu Hanifah yang terkenal dan yang meneruskan pemikiranpemikirannya adalah : Imam Abu Yusuf al-Ansharg. Ia menuntut ilmu pada ulama Madinah. dll. Ulama Hanafiyah menyusun kitab-kitab fiqih. Jakarta: PT. Sejarah Kebudayaan Islam. Inilah kitab tertua hadits dan fiqh tertua yang masih kita jumpai.mengalami situasi perpindahan kekuasaan dari khalifah Bani Umayyah kepada khalifah Bani Abbasiyah. Fatwa sahabat d. Qiyas e. Orang pertama yang menjadi tempat belajar adalah Abdur Rahman bin Hurmuz. Dia 21 A. Ia dilahirkan di madinah pada tahun 93 H. Dasar-dasar Madzhab Hanafi adalah : a. Istihsan f. Beliau juga pada belajar pada Nafi‟ maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab az-Zuhri. Dlarar al-Hukkam.hlm. Hasjmy. Karyanya yang terkenal adalah kitab al-Muwatta‟. 2. 1995. diantaranya Jami‟ al-Fushulai. 17 16 . Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani. Imam Malik (93-179 H) Beliau adalah Maliki bin Annas bin Abu Amir.

Dasar madzhab Maliki dalam menentukan hukum adalah : a. yaitu Muslim bin Khalid dan Sufyan bin Umayyah sampai matang dalam ilmu fiqih. As-Syafi‟i mulai melakukan kajian hukum dan mengeluarkan fatwa-fatwa fiqih bahkan menyusun metodologi kajian hukum yang cenderung memperkuat posisi tradisional serta mengkritik rasional. Al-qur‟an b. Ia dilahirkan di Ghazzah tahun 150 H di daerah Asqalan. Malik kembali ke Qiyas. Orang sudah setuju atas keutamaan dan kepemimpinannya dalam dua ilmu ini. Dalam kontek fiqihnya Syafi‟i mengemukakan pemikiran bahwa hukum Islam bersumber pada al-Qur‟an dan al-Sunnah serta Ijma‟ 17 . Sunnah c. Kemudian ia pergi ke Hudzail untuk menghafal syai‟r-syai‟r dan belajar kesusastraan. Dalam fatwa hukumnya ia bersandar pada kitab Allah kemudian pada asSunnah. Ijma‟ ahli madinah d. Tetapi beliau mendahulukan amalan penduduk madinah dari pada hadits ahad. Selanjutnya ia belajar pada Muslim bin Khalid az-Zanji seorang syeikh dan Mufti tanah Haram. setelah selesai belajar kepadanya ia minta untuk dibuatkan surat pengantar kepada Malik bin Anas imam tanah Hijrah (Madinah). Istishab / al-Mashalih al-Mursalah 3.beliau hafal Qur‟an pada usia kanak-kanak.seorang Imam dalam ilmu hadits dan fiqih sekaligus. baik aliran Madinah maupun Kuffah. dalam ini disebabkan karena beliau berpendirian pada penduduk madinah itu mewarisi dari sahabat. Satu hal yang tidak diragukan lagi bahwa persoalan-persoalan dibina atas dasar mashlahah mursalah. Qiyas e. Syafi‟i pernah belajar Ilmu Fiqh beserta kaidah-kaidah hukumnya di mesjid al-Haram dari dua orang mufti besar. maka ia dibuatkan surat itu untuk Malik yang ahli Hadits. Imam As-Syafi‟i (150-204 H) Beliau adalah Imam Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi‟ as-Syafi‟i al-Muthalibi. Setelah as-Sunnah.

hlm. yaitu : • Ar-Risalah : merupakan kitab ushul fiqih yang pertama kali disusun. 22 Ibid. Anaknya yang bernama Abdullah meriwayatkan dari padanya. lebih pandai dan lebih ahli fiqih dari pada Ahmad bin Hambal. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Beliau adalah Ahmad bin Hanbal bin Hilal adz-Dzahili asy-Syaibani alMaruzi al-Baghdadi. dan orang yang setingkat.dan apabila ketiganya belum memaparkan ketentuan hukum yang jelas. 4. dan kitab Ilal. Ia mendengar pembesar-pembesar hadis dai Hasyim. kitab Nasikh dan Mansukh. Ia terdiri dari dua pendapat. Memasukkan Ahmad dalam rijalul hadis adalah lebih kuat dari pada memasukkannya dalam fuqaha. daan dia adalah muridnya yang tersohor dari orang-orang Baghdad. Madzhab fiqih as-Syafi‟i merupakan perpaduan antara madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. meriwayatkan hadis dari padanya. Dalam bidang ushul ia mempunyai kitab Tha‟atur Rasul. Al-Bukhari. 19-21 18 . Ia belajar fiqih pada Asy-Syafi‟i ketika ia datang di Baghdad. Ia memperbanyak pencarian hadis dan menghafalkannya sehingga menjadi ahli hadis pada masanya. Madzhab Syafi‟i terkenal sebagai madzhab yang paling hati-hati dalam menentukan hukum. yaitu qaul qadim (pendapat lama) di Irak dan qaul jadid di Mesir. Muslim. • Al-Umm : isinya tentang berbagai macam masalah fiqih berdasarkan pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam kitab ushul fiqih. Ia menyusun musnad yang memuat 40. dilahirkan pada tahun 164 H di Baghdad.22 Di antara buah pena/karya-karya Imam Syafi‟i. beliau mempelajari perkataan-perkataan sahabat dan baru yang terakhir melakukan qiyas dan istishab. Asy-Syafi‟i berkata: Saya keluar dari Baghdad dan disana saya tidak meninggalkan orang yang lebih utama. Ia termasuk mujtahid ahli hadis yang mengamalkan hadis ahad tanpa syarat selama sanadnya shahih seperti jalan Asy-Syafi‟i dan ia mendahulukan pendapat-pendapat sahabat dari pada Qiyas.000 hadis lebih. kemudian dia ijtihad untuk dirinya sendiri.

Sebagian orang yang terkenal meriwayatkan madzhabnya ialah Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani‟ yang terkenal dengan Atsram yang mengarang kitab As-Sunnan fil fiqh ‟ala madzhabi Ahmad (Sunnah-sunnah tentang fiqih menurut madzhab Ahmad) da ia mempunyai kesaksian dari hadis. Adapun dia (Ahmad) berdiri dengan teguh. sehingga mujtahid mustaqill sudah tidak terdapat lagi. Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka masing masing. Kesimpulan Masa Murajjihun merupakan masa yang ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Sepeninggalan beliau. Banyak ahli hadis yang mengabulkan ajakan AlMa‟mun untuk mengatakan al-Qur‟an itu makhluk. Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah. Ahmad bin Hambal adalah orang yang tertimpa ujian yang terkenal yaitu perihal kemakhlukkan al-Qur‟an. 1996. Ahmad bin Muhammad bin Hajaj Al-Marwazi mengarang kitab As-Sunnan bi Syawahidil hadis (Sunnah-sunnah dengan saksi hadis). madzhab Hambali berkembang luas dan menjadi salah satu madzhab yang banyak pengikutnya23 C. yang membiarkan manusia untuk merdeka dalam hal yang dipilih dan dipercayainya. 23 Muh. 74 19 . Imam Ahmad bin Hambal wafat di Baghdad pada tanggal 12 Rabi‟ul Awwal 241 H. maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhab yang mereka anut. Zuhri. Jakarta : PT Raya Grafindo Persada. Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad.hlm. kokoh dan tidak goyah sedikitpun sejak tahun 218 H yaitu tahun permulaan ajakan Al-Ma‟mun sampai tahun 233 H yaitu pembatalan Al-Mutawakil terhadap ajakan itu. Dan Ishak bin Ibrahim yang terkenal denga Ibnu Rahawaih AlMarwazi dan termasuk teman-teman besar bagi Ahmad mengarang juga As-Sunnan fil fiqh (Sunnah-sunnah tentang fiqih). Keteguhan ini tanpa dibicarakan benar atau salahnya menjadikan Ahmad bin Hambal itu mulia serta berada dalam derajat yang tinggi dihadapan para ulama karena menanggung hal-hal yang menyakitkan demi menjaga kepercayaannya yang mana hal itu adalah seindah-indah hiasan dari kemuliaan yang dikenakan manusia.

kemajuan yang tidak ada tandingannya dikala itu. Persaingan antar pengikut mazhab semakin tajam. Sebab lain yaitu munculnya gerakan pembukuan pendapat masing-masing mazhab yang memudahkan orang untuk memilih pendapat mazhabnya dan menjadikan buku itu sebagai rujukan bagi masing-masing mazhab. Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya pernyataan tersebut seperti dorongan para penguasa kepada para hakim (qadi) untuk menyelesaikan perkara di pengadilan dengan merujuk pada salah satu mazhab fiqh yang disetujui khalifah saja selain itu pada masa ini telah muncul sikap at-taassub al-mazhabi yang berakibat pada sikap ke-jumud-an (kebekuan berpikir) dan taqlid (mengikuti pendapat imam tanpa analisis) di kalangan murid imam mazhab. kejayaan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan bani abbas periode pertama. Dari sinilah benih-benih taqlid muncul pada mazhab tertentu yang diyakini sebagai yang benar. Akibat lain dari perkembangan ini adalah semakin banyak buku yang bersifat sebagai komentar. Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan islam pada masa klasik. dan kegemilangan. kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan. Pada masa ini. sehingga islam mencapai masa keemasan. Pada periode ini untuk pertama kali muncul pernyataan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. penjelasan dan ulasan terhadap buku yang ditulis sebelumnya dalam masing-masing mazhab. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fi al-mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip yang ada dalam mazhabnya).Masa murajjihun merupakan adalah masa dimana sangat kuatnya upaya yang dilakukan ulama masing-masing mazhab dalam mengomentari. sehingga subjektivitas mazhab lebih menonjol dibandingkan sikap ilmiah dalam menyelesaikan suatu persoalan. sehinga aktivitas ijtihad terhenti. 20 . Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan ijtihad secara mandiri. memperjelas dan mengulas pendapat para imam madzhab mereka.

Joseph Schacht. (Jakarta:PT Raja Grafindo persada. I. 2005: Bandung. (Jakarta:Bulan Bintang. Hudari bik. jilid 2. (Jakarta:Pustaka Al Kautsar. 1985. M. Asal Usul dan Perkembangan Fiqh. Islam Ditinjajau Dari Berbagai Aspeknya. Jaih Mubarok. Pengantar Hukum Islam. 1980). Badri Yatim. (Jakarta:Bulan Bintang. 1997. Bulan Bintang. Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah. Perbandingan Mazhab Fiqih.DAFTAR PUSTAKA A. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Jakarta: PT. Ali Hasan. Nusamedia Ahmad Hanafi. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Abu Ameenah Bilal Philips. Harun nasution. 1970). 1995). Jakarta : PT Raya Grafindo Persada. Terjemah Tarikh Al Tasyri’ Al Islam. Cet. 21 . Pengantar Dan Sejarah Hokum Islam. 2003). Muhammad Ali. 1995. (Semarang: Daarul Yahya. Sejarah Kebudayaan Islam. Zuhri. 1996. Zainal abidin. Cetakan Ketiga). Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Muh. Sejarah Fiqh Islam. Sejarah Peradaban Islam. Hasjmy. Sejarah Islam Dan Umatnya Sampai Sekarang.