A.

Pendahuluan Pada awal abad kedua hingga pertengahan abad keempat hijriyah dapat dikatakan sebagai fase keemasan, karena hukum Islam pada masa tersebut mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat. Ijtihad hukum dari sumber-sumber hukum juga berkembang pesat Ulama-ulama pada masa ini sangat giat dalam penulisanpenulisan dan pembukuan terhadap hukum-hukum Islam, seperti penulisan dan pembukuan hadits-hadits Nabi SAW, fatwa-fatwa para sahabat serta para Tabi‟in, tafsir al Quran, kumpulan pendapat imam-imam Fiqih, dan penulisan ilmu Ushul Fiqih. Banyak hal yang mempengaruhi keadaan tersebut diantaranya adalah karena luasnya wilayah Islam pada masa itu sehingga karena luasnya wilayah tersebut mendorong pemerintahan dan para ulama mengumpulkan dan membukukan hukumhukum Islam dan fatwa-fatwa yang dapat dijadikan pedoman agar dapat menyebar keseluruh pelosok wilayah Islam. Selain itu dimasa tersebut telah lahir ulama-ulama Mazhab Mustaqqil yang sangat giat menggali hukum dari sumber-sumber hukum Islam. Diantaranya adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi‟i, dan Imam Hanbali yang madzhab-madzhabnya sampai sekarang masih eksis dalam kehidupan umat Islam. Setelah meninggalnya para imam tersebut sampailah pada periode tarjih dalam mazhab fiqh atu yang lebih dikenal dengan masa Murajjihun . Periode ini dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 Yang dimaksudkan dengan tarjih (Murajjhun) adalah upaya yang dilakukan ulama masingmasing mazhab dalam mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam mereka. Periode ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka masing masing, sehingga mujtahid mustaqill (mujtahid mandiri) tidak ada lagi. Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad, maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhab yang mereka anut. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fi al-mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip yang ada dalam mazhabnya). Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan ijtihad secara mandiri, muncullah sikap at-

1

ta'assub al-mazhabi (sikap fanatik buta terhadap satu mazhab) sehingga setiap ulama berusaha untuk mempertahankan mazhab imamnya .

B. Pembahasan Kekuasaan dinasti bani „Abbas, atau khilafah „Abbasyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan bani Ummayah. Dinamakan khilafah „Abbasyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-„Abbas paman nabi Muhammad SAW. Dinasti „Abbasyah didirikan oleh abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-„Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).1 selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan bani „Abbas menjadi lima periode: 1. Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh persia pertama. 2. Periode kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh turki pertama. 3. Periode ketiga (334 H/945M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti buwaih dalam pemerintahan khilafah abbasya. Periode ini disebut juga masa pengaruh peria kedua. 4. Periode keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti bani seljuk dalam pemerintahan khilafah abbasyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua 5. Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258M), masa khilafah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota bagdad.2

1 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:PT Raja Grafindo persada, 1995), hlm. 49. 2 Ibid., hlm. 49-50.

2

3 . lalu melakukan konsultasi tentang masalah-masalah yang mungkin ada dalam wewenang mereka. sebagai bagian kebijakan ini mereka mengakui hukum agama. kesehatan. hlm 51 4 Joseph Schacht. Pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. hlm. Mereka dengan sungguh-sungguh menarik perhatian para ahli hukum agama terhadap pengadilan mereka.. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan begi perkmbangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam. Kesejahteraan social.. dan selama dia diangkat sampai dibebaskan dari dinasnya. hukum islam sebagaimana yang kita ketahui memperoleh gambaran peranannya. diajarkan oleh para spesialis yang saleh sebagai satu-satunya norma yang sah dalam islam. kemakmuran. para kholifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. aturan-aturan formal dari 3 Ibid. ilmu pengetahuan.5 Apa yang dicapai periode abbasyah adalah hubungan tetap antara dinas qadhi dengan syari‟ah (hukum agama) ini juga sudah disiapkan pada waktu umayyah tetapi dizaman abbasyah hal itu menjadi peraturan tetap bahwa qadhi (hakam hakim) haruslah seorang ahli syari‟ah. 67. dan kebudayaan. 1985. 6 Tugas qadhi dipisahkan dari administrasi umum kemudian menjadi bergabung pada hukum islam dalam data dan prosedur. serta kesusasteraan berada pada zaman keemasan. Disisi lain. hlm. masyarakat mencapai tingkat tertinggi.4 Bani abbasyah melebihkan perbedaan-perbedaan dan oposisi sadar terhadap nenek moyang mereka lalu mencanangkan hukum tuhan dimuka bumi. Dia tidak lebih sebagai sekretaris gurbenur provinsi yang sah tetapi di angkat berdasarkan undang-undang oleh pemerintah pusat. pendidikan. 66 5 Ibid.. Hajat umat islam arab kepada sistem hukum baru sudah terpenuhi. hlm 66. 6 Ibid. dia hanya melaksanakan hukum agama tanpa campur tangan pemerintah.Pada periode pertama pemerintaha Bani „Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis. 3 Ketika bani umayyah diruntuhkan oleh bani abbasyah tahun 132 H/ 750 M. Pengantar Hukum Islam.

hlm.9[9] Walaupun selama bani Buwaih bertahta sempat membuahkan kemajuan yang berarti. (Semarang: Daarul Yahya. Di sisi lain bani Umayah di Andalusia semakin kuat dibawah kepemimpinan Abadurrahaman anNashir. Keadaan politik yang tidak stabil tersebut berimbas pada keluarnya dinasti-dinasti kecil yang 7 Ibid. setelah generasi pertama. juga faktor eksternal dimana Bizantium semakin gencar dalam penyerangannya ke wilayah Islam membuat kondisi semakin runyam. paling tidak secara teoritis sebagai satusatunya norma tingkah laku yang sah untuk orang-orang islam. hlm 68. 8 Ibid. 519-520. dimana para qadhi yang diangkat oleh pemerintah pusat terikat untuk melaksanakan hukum ini di bawah wewenang langsung khalifah. Syi‟ah Ismailiyah telah mendirikan suatu pemerintahan dengan nama daulah Fathimiyah di bawah pimpinan Ubaidullah Al Mahdi Al Fathimy yang beribu kotakan di kota al Mahdiyah yang terletak di dekat Tunis. Ketika itu. Di Yaman telah berdiri Syiah Zaidiyah yang juga semakin kuat.8 1. 1980). keadaan politik di beberapa daerah Islam mengalami kemunduran yang menyebabkan ikatan-ikatan politik antara daerahdaerah Islam di masa pemerintahan bani Abbasiyah semakin terputus. Di Afrika Utara.. Daulah alDailami yang terkenal dengan Bani Buwaihi telah memegang kekuasaan pusat di Baghdad sedangkan daulah bani Abbasiyah ketika itu sudah terpecah-pecah.. Keadaan Pemerintahan Dan Hukum Islam Pada pertengahan abad keempat hijriyah.padanya tentang bukti mengakibatkan tidak mungkin bagi seorang qadhi menangani penyelidikan tindak kriminil. Perebutan kekuasaaan dikalangan keturunan bani Buwaih adalah faktor internal kehancuran pemerintahan mereka. Selain itu. hlm 71 9 Hudari bik. kekuasaan menjadi ajang pertikaian antara anak-anak mereka. Terjemah Tarikh Al Tasyri’ Al Islam.7 Dizaman abbasyah tatkala nilai-nilai syari‟ah sudah secara tetap dilaksanakan setelah hukum islam diakui. 4 . Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat. tetapi kekuatan politik bani Buwaih tidak bertahan lama.

terputusnya hubungan antar daerah karena permusuhan dan perpecahan telah menggantikan ikatan persaudaraan mereka. 71-72 11 Ahmad Hanafi. (Jakarta:Bulan Bintang. banyak terjadi fitnah. Hamdan di Aleppo dan lembah Furat. umat Islam tertimpa kelemahan dan kemerosotan karena negara-negara ini saling berbantah – bantahan. Banyak daerah-daerah memerdekakan diri dari pemerintahan pusat dan menjadi negeri kecilkecil sehingga negeri-negeri tersebut lebih disibukan dengan perang antar negeri tersebut. Akibat pembagian ini. menunaikan amanatnya dan mengeluarkan apa yang dibawanya serta banyak bermunculan dari kalangan ulama besar dan pemikir. dari semangat menjadi lesu. Ghasnawi di Ghasna dekat Kabul. dari pemuda menjadi tua dan matinya ruh kebebasan berfikir para ulama. Hanya saja hal ihwal yang buruk itu dan faktor-faktor kegoncangan yang kuat dapat mempengaruhi pertumbuhan pergerakan ilmiah dan kembali mundur dengan bergantinya dari kuat menjadi lemah. Ikhsidiyah di Mesir dan di Syiria. dari maju menjadi mundur. Dimana keadaan politik pemerintahan Islam tidak stabil karena faktor-faktor internal dan eksternal yang sangat merugikan bagi Islam.. Dalam cuaca yang berawan tebal dan kondisi yang buruk tersebut. hlm. Dinasti-dinasati tersebut antara lain adalah dinasti Fathimiyah yang memplokamirkan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir.10 Begitulah gambaran dunia Islam pada masa pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Pengantar Dan Sejarah Hokum Islam. 206. Hal tersebut berimbas pada terputusnya hubungan antar daerah-daerah Islam . Setelah Muhammad Bin jarir Ath-Thabari wafat pada tahun 531 H tidak ditemukan lagi orang yang menyatakan dirinya sampai pada tingkatan mujtahid mustaqil baik dalam berfatwa maupun dalam mengistimbath hukum serta mengambil 10 Badri yatim. 5 . daerah-daerahnya terpencar dan tidak ada kesatuan politik. hlm. para ulama menyampaikan risalahnya.11 Pada periode ini Wilayah kekuasaan Islam telah terbagi-bagi dalam beberapa bagian yang setiap bagian dipimpin oleh orang wali (Gubernur) Yang disebut dengan Amirul Mukminin. dan pada puncaknya yaitu jatuhnya kekuasaan pusat dari bani Buwaih kepada bani Saljuk. 1970). op cit .membebaskan diri dari pemerintah pusat di Baghdad.

namun mereka tidak cukup untuk berani muncul secara bebas seperti yang dirasakan oleh para pendahulunya yang mengikat dirinya dengan kekuatanya sendiri serta menyelesaikan 12 Muhammad Ali. serta kesungguhan meraka hanya sampai pada memahami ucapan para imamnya atau menggali kaidah-kaidahnya.hukum yang dibukukan tersebut. hlm. mereka mendirikan benteng antara umat dengan nash-nash Al-Qur‟an dan Sunnah. tanpa malampaui dan melewati batasanya. (Jakarta:Pustaka Al Kautsar. Mereka juga mengklasifikasi narasi-narasi para pendiri madzhab mereka sesuai dengan keakuratannya. Pada periode ini.13 Maka. Ibnu Hanbal dan yang lainya yang mazhabnya tersebar ketika itu. Setiap mereka menetapi satu mazhab tertentu tanpa malampaui dan mengerahkan semua kekuatan dalam mendukung mazhab tersebut baik secara global maupun secara rinci.hukum-hukumnya dari al. 13 Abu Ameenah Bilal Philips.12 Pada periode ini orang cukup mempelajari kitab-kitab imam tertentu dan mempelajari cara – caranya malakukan istimbat hukum. atau penjelasanya (syarah) atau pengumpulan pendapat yang terpisah–pisah dalam berbagai kitab. dari golongan ulama terdapat pula orang yang tidak kalah dengan imam–imam sebelumnya dalam pengetahuan tentang pokok-pokok syariat dan cara–cara istimbat. Sedang ijtihad telah mereka lupakan hingga selesai dengan penutupan pintunya pada awal abad keempat.163-164. Syafi‟ie. Nusamedia Hal 141 6 . Dalam setiap madzhab. Sejarah Fiqh Islam. syariat itu menjadi tulisan-tulisan para fuqaha dan pendapat-pendapatnya. para ulama menyaring dan membuang pernyataan yang lemah dari imam madzhab mereka. Dengan keberlebihan dan melampaui batas dalam fanatik terhadap mazhab-mazhab salaf ini. 2005: Bandung. Asal Usul dan Perkembangan Fiqh. Meraka membatasi dirinya pada ruang lingkup yang dijadikan pokok-pokok mazhab tersebut. Maliki.Qur‟an dan Sunnah tanpa terikat dengan pemikiran salah seorang imam (tokoh) mereka menganggap bahwa kemampunya tidak kuat untuk menggali ilmu dari al. dalam diri mereka telah tumbuh benih-benih taklid (mengikuti) sehingga mereka lebih bersandar pada fikih Abu Hanifah. karangankarangan mereka tidak lebih dari ringkasan karangan sebelumnya.Qur‟an dan As sunnah serta mereka bukanlah ahlinya untuk melihat pada keduanya dan mengistimbath dari keduanya. 2003).

hilangnya persatuan daerah-daerah Islam.Juwaini telah menyatakan dalam penyusunan kitab al.Juwaini. Pustaka al Kautsar. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa ijtihad pada masa itu tidak mati secara sekaligus.Baihaqi sebanyak tiga juz lalu beliau mengkritiknya tentang kelemahan hadist-hadistnya dan menjelasakan padanya bahwa yang mengambil hadist yang ada pada dirinya adalah syafi‟i.Juwaini dalam kitabnya adalah karena terdapat kecacatan yang diketahuinya sebagai orang yang menekuni kreasi para ahli hadist.Juwaini tersebut sampai kepada alHafidz Abi Bakar Al.14 2. Sejarah Fikih Islam. Hal 165166 7 . 14 Muhammad.Muhith.Baihaqi sampai pada Al.” Dan ia mendoakan Al. dan semakin banyaknya perpecahan dalam tubuh Islam. Diantaranya para imam-imam mijtahiddin yang timbul dalam periode ini. Ketika risalah Al. yang hingga masa kini madzhab-madzhabnya mendapatkan sambutan ramai dianut dengan orang dengan kokoh.Baihaqi serta ia tidak menyempurnakan karangannya. tetapi secara berangsur-angsur dengan semakin hilangnya ruh ijtihad dalam hati para ulama kala itu. dan ketidaksukaanya terhadap h adisthadist yang dikeluarkan Al. Seperti Abu Muhammad Abdillah bin Yusuf Al. Ijtihad dan Fiqh Di Masa Bani ‘Abbas Dipermulaan periode Bani „Abbas lahirlah imam-imam mujtadid yang kenamaan dari golongan Ahli Hadits dan golongan Ahli Qiyas yang mempunyai pengikut dan dibukukan fatwa-fatwannya . ia berkata: “ Ini adalah keberkahan Ilmu. Kitab Al.kesulitan-kesulitan dengan jalan ijtihad. ialah imam empat. tidak mau terikat dengan satu mazhab dan mendasarkan pada nash-nash syara‟ yang tidak terhitung serta menjauhi sikap fanatik mazhab. Dari sini dapat anda lihat bahwa Al-Juwaini berhenti berijtihad karena ia bukan tokoh dalam hadist. 2003: Jakarta. Ali as Sayis. padahal imam syafi‟I sendiri bersandar dalam pentashihan hadist -hadist kepada Ahli Hadist yang dapat memutuskan dan membedakan antara hadist shahih dan cacatnya.

op.. dan pada puncaknya yaitu jatuhnya kekuasaan pusat dari bani Buwaih kepada bani Saljuk. karena pengikutnya tidak berkembang. Ghasnawi di Ghasna dekat Kabul. hlm 56-57 17 Ibid. Berbeda dengan abu hanifa. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh imam syafi‟I (767 – 820 M) dan imam ahmad ibn hanbal (780 – 855 M). Hamdan di Aleppo dan lembah Furat. juga faktor eksternal dimana Bizantium semakin gencar dalam penyerangannya ke wilayah Islam membuat kondisi semakin runyam. Selain itu. Dinasti-dinasati tersebut antara lain adalah dinasti Fathimiyah yang memplokamirkan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir. 14 16 Badri yatim.17 15 Harun nasution. kota yang berada ditengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang tinggi. Walaupun selama bani Buwaih bertahta sempat membuahkan kemajuan yang berarti. pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. 57. setelah generasi pertama. Akan tetapi. Keadaan politik yang tidak stabil tersebut berimbas pada keluarnya dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari pemerintah pusat di Baghdad. imam malik (713 – 795 M) banyak menggunakan hadist dan tradisi masyarakat madinah. tetapi kekuatan politik bani Buwaih tidak bertahan lama. jilid 2. hlm. cit. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat.15 Karena itu.. pada masa pemerintahan bani abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula. Islam Ditinjajau Dari Berbagai Aspeknya. mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadist. kekuasaan menjadi ajang pertikaian antara anak-anak mereka.yaitu: imam abu hanifa (700 -767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di kufah.Imam-imam mazhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan abbasyah. hlm.16 Disamping empat pendiri mazhab besar tersebut. Ikhsidiyah di Mesir dan di Syiria. 8 . Perebutan kekuasaaan dikalangan keturunan bani Buwaih adalah faktor internal kehancuran pemerintahan mereka.

para perusak agama. tidak sampai yang lain. Sebagaimana mereka berselisih tentang hal istihsan. Dan yang menjadi titik berat perselisihan adalah : apakah hadits itu suatu pokok dari dasar – dasar tasyri‟ dan kalau benar hadits itu suatu dasar. Dalam maslah ini timbul perselisihan dalam hal itu. yang menyebabkan berlain-lainan paham para mujtahidien.karena itu paham mereka bertentangan. mereka mencukupi dengan dasar Al-qur‟an saja.” 9 . Yang menolak ini ada yang karena tidak mempercayai perowinya dan ada juga yang menolak sama sekali. b.periode ini. maka apakah jalan berpegang kepadanya ? Segolongan ulama‟ menolak hadits. Ada kalanya nash itu sampai kepada sebahagian para mujtahidien. Dalam periode ini timbul pertentangan pendapat tentang : Ø Memakai hadits sebagai dasar syara‟ (hokum). senyata – nyatanya karena dalam periode inilah fiqh dibukukan. Ø Memakai ijma‟ sebagai dasar tasyri‟. disusun usul fiqh dan barulah buah ijtihad (hasil – hasil ijtihad) itu. Pokok-pokok perselisihan (asbabul ikhtilaf) dalam periode bani abbas dapat disimpulkan dalam urusan-urusan dibawah ini: a. makin menghebat. karena telah bertebaran hadits palsu yang dibuat oleh para pendusta.Dalam periode . barulah dibuat aturan – aturan ijtihad. Dalam periode yang telah lalau hokum – hokum itu diberikan dan dicari jika telah ada kejadian yang menghajatinnya dalam periode ini pula muncul berbagai madzhab dan berjangkit perselisihan dengan hebat dan luas . demikian pula pertengkaran faham antara ahli qiyas dengan ahli hadits dalam perkara menggunakan qiyas. Dalam pada itu semua mengaku: “apabila telah shahih hadits maka itulah mazhabku. Dalam periode ini pula mereka para mujtahiddin mulai memperluas (membikin) hokum dan membuat macam – macam masalah yang ditakdir – takdirkan (fiqh iftirodli). Ada kalanya nash itu tiada terang tujuannya.

Puncaknya Zaman Keemasan Puncaknya zaman keemasan islam pada zaman Abbasyah18 4. penjelasan dan ulasan terhadap buku yang ditulis sebelumnya dalam masing-masing mazhab. walau betapapun banyaknya. Ulama-ulama di masa murajjihun Pada masa murajjihun. hlm. Ulama-ulama dari golongan malikiyah ü Muhammad bin Yahya bin Lubbah al Andalusi ü Bakar bin Ala al Qusyairi ü Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al Mu‟ithi al Andalusi ü Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid Abu Rahman 18 Zainal abidin. 213. Sejarah Islam Dan Umatnya Sampai Sekarang. sedang yang sebagian tinggal berdiam diri. 10 .Mengingat hal ini. Akibatnya terdapat banyak buku yang bersifat sebagai komentar. jika semua pemeluknya (orang-orang yang memegang peranan dalam tiap-tiap mazhab itu) telah insaf dengan sempurna. Cetakan Ketiga). mayoritas ulama berijtihad dalam bentuk tarjih (penguatan) terhadap pendapat yang ada dalam mazhab sebelum mereka (mujtahid mustaqil). dapat kita persatukan. maka sesungguhnya mazhab-mazhab itu. Ø Karena sebagian ulama mempergunakan fikiran pada masalah-masalah yang tidak terang ada hukumnya didalam Al-Qur‟an. Berikut ini adalah ulama-ulama pada masa murajjihun: A. (Jakarta:Bulan Bintang. tidak mau memberi hukum 3. Ulama-ulama dari golongan hanafiyah ü Abul Hasan Ubaidullah ibn Hasan Al Karkhi ü Abu Bakar Ahmad ibn Ali Ar Razy al Jashshas ü Abu Ja‟far Muhammad ibn Abdullah al Balkhi ü Abu Abdullah Yusuf ibn Muhammad al Jurjani ü Abul Husein Ahmad ibn Muhammad al Qarudi al Baghdadi ü Abu Zaid Ubaidullah ibn Umar ad Dabusi as Samarqandi ü Syamsul Aimmah Abdul Aziz ibn Ahmad al Halwani B.

atau mengistinbatkan hukum Islam. Sementara menurut Huzaemah T. Perbandingan Mazhab Fiqih. 1997. Ulama-ulama dari golongan Hanbaliyyah ü Mufiquddin abu Muhammad Abdullah bin Ahmad ibnu Qadamah al Muqaddasi ü Ahmad ibn Ja‟far ibn Muhammad al Munady ü Ahmad ibn Ja‟far ibn hamdan ü Ahmad ibn Muhammad ibn hazm ü Umar ibn Husain ibn Abdullah ibn Ahmad ü Muhammad ibn Ahmad ibn Ismail 5. Yanggo bisa juga berarti al-ra‟yu yang artinya “pendapat”. Ali Hasan. Ulama-ulama dari golongan Syafi‟iyyah ü Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad al Marwazi ü Abu Ahmad Muhammad bin Said bin Abdul Qadhi al Khawarizimi ü Abul Ma‟ali Abdul malik bin Abdullah al Juwaini ü Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali ü Abul Qasim Abdul Karim bin Muhammad al Qaswini ar Rafi‟i ü Muhyiddin abu Zakariya yahya bin Sharaf bin Muri an Nawawi D. Timbulnya Mazhab yang Empat dan Sejarah Pemikiran Mazhab yang Empat a. 65 11 . Pengertian Mazhab Menurut Bahasa “mazhab” berasal dari shighah mashdar mimy (kata sifat) dan isim makan (kata yang menunjukkan tempat) yang diambil dari fi‟il madhi “dzahaba” yang berarti “pergi”. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.hlm. adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam Mujtahid dalam memecahkan masalah. Cet. I.ü Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al Abhari ü Al Qadhi Abdul Wahab bin Nasir al Baghdadi ü Abul Walid Sulaiman bi Qalaf al Baji C. Yanggo.19 Sedangkan secara terminologis pengertian mazhab menurut Huzaemah T. Selanjutnya Imam 19 M.

b. selain itu juga karena pengetahuan mereka dalam masalah hadis tidak sama dan juga karena perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hukum dan berlainan tempat. hal ini terjadi antara lain karena perbedaan pemahaman di antara mereka dan perbedaan nash (sunnah) yang sampai kepada mereka. Sejarah Singkat Munculnya Mazhab Fiqh Sebenarnya ikhtilaf telah ada di masa sahabat. banyak sahabat Nabi yang telah pindah tempat dan berpencar-pencar ke nagara yang baru tersebut. Perbedaan para sahabat dalam memahami nash-nash alQur‟an 2. Sebagaimana diketahui.Mazhab dan mazhab itu berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat Islam yang mengikuti cara istinbath Imam Mujtahid tertentu atau mengikuti pendapat Imam Mujtahid tentang masalah hukum Islam. Ijtihad para Sahabat dan Tabi‟in dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya yang tersebar di berbagai daerah wilayah dan kekuasaan Islam pada waktu itu. Mazhab adalah fatwa atau pendapat seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu peristiwa yang diambil dari al-Qur‟an dan hadits. Generasi ketiga ini dikenal dengan Tabi‟it Tabi‟in. Dengan demikian. kesempatan untuk bertukar pikiran atau bermusyawarah memecahkan sesuatu masalah sukar dilaksanakan. b. Setelah berakhirnya masa sahabat yang dilanjutkan dengan masa Tabi‟in. Perbedaan para sahabat disebabkan karena ra‟yu. bahwa ketika agama Islam telah tersebar meluas ke berbagai penjuru. muncullah generasi Tabi‟it Tabi‟in. Qasim Abdul Aziz Khomis menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ikhtilaf di kalangan sahabat ada tiga yakni : 1. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud mazhab meliputi dua pengertian a. Perbedaan para sahabat disebabkan perbedaan riwayat 3. Mazhab adalah jalan pikiran atau metode yang ditempuh seorang Imam Mujtahid dalam menetapkan hukum suatu peristiwa berdasarkan kepada al-Qur‟an dan hadits. 12 . Sejalan dengan pendapat di atas.

di mana pemerintahan Islam dipegang oleh Daulah Abbasiyyah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak.Di dalam sejarah dijelaskan bahwa masa ini dimulai ketika memasuki abad kedua hijriah. Imam Malik. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. peradaban dan kekuasaan. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan. ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Periode ini dalam sejarah hukum Islam juga dianggap sebagai periode kegemilangan fiqh Islam. karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. tak pelak lagi menimbulkan berbagai perbedaan pendapat dan beragamnya produk hukum yang dihasilkan. baik dalam bidang ekonomi. 26 13 . masing-masing menawarkan kerangka metodologi. Imam Syafi‟i. Ketika memasuki abad kedua Hijriah inilah merupakan era kelahiran mazhab-mazhab hukum dan dua abad kemudian mazhab-mazhab hukum ini telah melembaga dalam masyarakat Islam dengan pola dan karakteristik tersendiri dalam melakukan istinbat hukum Kelahiran mazhab-mazhab hukum dengan pola dan karakteristik tersendiri ini. Para tokoh atau imam mazhab seperti Abu Hanifah.hlm. di mana lahir beberapa mazhab fiqih yang panji-panjinya dibawa oleh tokoh-tokoh fiqh agung yang berjasa mengintegrasikan fiqih Islam dan meninggalkan khazanah luar biasa yang menjadi landasan kokoh bagi setiap ulama fiqih sampai sekarang. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. teori dan kaidah-kaidah ijtihad yang menjadi pijakan mereka 20 Jaih Mubarok. dan mazhab-mazhab inilah yang mengaplikasikan pemikiran-pemikiran operasional. Ahmad bin Hanbal dan lainn ya. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. karena pemikiran-pemikiran di bidang fiqh yang diwakili mazhab ahli hadis dan ahli ra‟yu merupakan penyebab timbulnya mazhab-mazhab fiqh.20 Sebenarnya periode ini adalah kelanjutan periode sebelumnya. atau sering disebut dengan istilah „‟The Golden Age‟‟. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam.

sampai kapan pun dan di tempat mana pun akan terus berlangsung dan hal ini menunjukkan kedinamisan umat Islam. Perbedaan pendapat inilah yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab Islam yang masih menjadi pegangan orang sampai sekarang. Metodologi. Teori-teori pemikiran yang telah dirumuskan oleh masing-masing mazhab tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting artinya. antara yang memperketat dan yang memperlonggar. teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para tokoh dan para Imam Mazhab ini. antara yang mewajibkan mazhab dan yang melarangnya. teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para imam mazhab tersebut terus berkembang dan diikuti oleh generasi selanjutnya dan ia -tanpa disadari.menjelma menjadi doktrin (anutan) untuk menggali hukum dari sumbernya. mereka tetap berselisih paham dalam masalah furu‟iyyah. Penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi tersebut inilah dalam pemikiran hukum Islam disebut dengan ushul fiqh. Metodologi. Masing-masing mazhab tersebut memiliki pokok-pokok pegangan yang berbeda yang akhirnya melahirkan pandangan dan 14 . Sampai saat ini Fiqih ikhtilaf terus berlangsung. Menurut hemat penulis. sebagai akibat dari keanekaragaman sumber dan aliran dalam memahami nash dan mengistinbatkan hukum yang tidak ada nashnya. Dengan semakin mengakarnya dan melembaganya doktrin pemikiran hukum di mana antara satu dengan lainnya terdapat perbedaan yang khas. maka kemudian ia muncul sebagai aliran atau mazhab yang akhirnya menjadi pijakan oleh masing-masing pengikut mazhab dalam melakukan istinbat hukum. Perselisihan itu terjadi antara pihak yang memperluas dan mempersempit. pada awalnya hanya bertujuan untuk memberikan jalan dan merupakan langkah-langkah atau upaya dalam memecahkan berbagai persoalan hukum yang dihadapi baik dalam memahami nash al-Quran dan al-Hadis maupun kasus-kasus hukum yang tidak ditemukan jawabannya dalam nash. perbedaan pendapat di kalangan umat ini. karena ia menyangkut penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi yang sistematis dalam usaha melakukan istinbat hukum. karena pola pikir manusia terus berkembang. antara yang cenderung rasional dan yang cenderung berpegang pada zahir nash.dalam menetapkan hukum.

yaitu Zaidiyah dan Ja‟fariah. c. Abu Hanifah belajar fiqih kepada ulama aliran irak (ra‟yu). Dalam sejarah pengkajian hukum islam dikenal beberapa madzhab fiqih yang secara umum terbagi dua. Di kalangan Sunni terdapat beberapa madzhab. Imam Abu Hanifah dikenal sebagai ulama yang luas ilmunya dan sempat pula menambah pengalaman dalam masalah politik. Ia banyak mengandalkan qiyas (analogi) dalam menentukan hukum. atas anjuran al-Syabi ia kemudian menjadi pengembang ilmu. Namun yang masih berkembang kini hanyalah madzhab Ja‟fariah dan Syi‟ah Imamiyah. maliki. Imam Abu Hanifah mengajak kepada kebebasan berfikir dalam memecahkan masalah-masalah baru yang belum terdapat dalam al-Qur‟an dan al-Sunnah. Ia dilahirkan di Kufah.pendapat yang berbeda pula. Sedangkan di kalangan syiah terdapat dua madzhab fiqih. beliau juga banyak belajar pada ulama-ulama tabi‟in seperti Atha‟ bin Abu Rabah dan Nafi‟ Maula Ibnu Umar. penulis hanya membatasinya pada mazhab-mazhab fiqh dari golongan sunni. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Nu‟man ibn Tsabit ibn Zuthi (80-150 H). Dalam makalah ini. yaitu hanafi. Dasar-dasar Pemikiran Mazhab Empat Berkembangnya dua aliran ijtihad rasionalisme dan tradisinalisme telah melahirkan madzhab-madzhab fiqih islam yang mempunyai metodologi kajian hukum serta fatwa-fatwa fiqih tersendiri. Dikala muda ia mempelajari fiqh dari Hammad bin Abu Sulaiman. . karena di masa hidupnya ia 15 . yaitu madzhab sunni dan madzhab syi‟i. Pada awalnya Abu hanifah adalah seorang pedagang. dan mempunyai pengikut dari berbagai laposan masyarakat. Berikut ini kami sebutkan riwayat fuqoha-fuqoha yang mazhabnya dibukukan dan mereka mempunyai pengikut diberbagai negara-negara besar. 1. syafi‟i dan hambali. termasuk di antaranya adalah pandangan mereka terhadap kedudukan al-Qur‟an dan al-Sunnah. pada zaman dinasti Umayyah tepatnya pada zaman kekuasaan Abdul malik ibn Marwan.

Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani.hlm. 17 16 . sebuah kitab hadits bergaya fiqh. Adapun gurunya dalam fiqh adalah Rabi‟ah bin Abdur Rahman. Fatwa sahabat d. Al-Qur‟anul Karim b. Qiyas e. Sejarah Kebudayaan Islam. 2. Ia menuntut ilmu pada ulama Madinah. namun kadang-kadang ada pendapat murid yang bertentangan dengan pendapat gurunya.21 Madzhab Hanafi berkembang karena kegigihan murid-muridnya menyebarkan ke masyarakat luas. Dia 21 A. 1995. diantaranya Jami‟ al-Fushulai. Ulama Hanafiyah menyusun kitab-kitab fiqih. Adat dan uruf masyarakat Murid imam Abu Hanifah yang terkenal dan yang meneruskan pemikiranpemikirannya adalah : Imam Abu Yusuf al-Ansharg. Dlarar al-Hukkam. Imam Malik (93-179 H) Beliau adalah Maliki bin Annas bin Abu Amir.mengalami situasi perpindahan kekuasaan dari khalifah Bani Umayyah kepada khalifah Bani Abbasiyah. Orang pertama yang menjadi tempat belajar adalah Abdur Rahman bin Hurmuz. dan lain-lain. Jakarta: PT. maka itulah salah satu ciri khas fiqih Hanafiyah yang terkadang memuat bantahan gurunya terhadap ulama fiqih yang hidup di masanya. Karyanya yang terkenal adalah kitab al-Muwatta‟. kitab al-Fiqh dan qawaid al-Fiqh. Hasjmy. Bulan Bintang. Istihsan f. Beliau juga pada belajar pada Nafi‟ maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab az-Zuhri. Dasar-dasar Madzhab Hanafi adalah : a. Inilah kitab tertua hadits dan fiqh tertua yang masih kita jumpai. Sunnah Rosu dan atsar yang shahih lagi masyhur c. Ia dilahirkan di madinah pada tahun 93 H. dll. yang tentunya mengalami perubahan situasi yang sangat berbeda antarta kedua masa tersebut.

setelah selesai belajar kepadanya ia minta untuk dibuatkan surat pengantar kepada Malik bin Anas imam tanah Hijrah (Madinah). Selanjutnya ia belajar pada Muslim bin Khalid az-Zanji seorang syeikh dan Mufti tanah Haram. yaitu Muslim bin Khalid dan Sufyan bin Umayyah sampai matang dalam ilmu fiqih. Syafi‟i pernah belajar Ilmu Fiqh beserta kaidah-kaidah hukumnya di mesjid al-Haram dari dua orang mufti besar. Dasar madzhab Maliki dalam menentukan hukum adalah : a. Al-qur‟an b. Orang sudah setuju atas keutamaan dan kepemimpinannya dalam dua ilmu ini. Ia dilahirkan di Ghazzah tahun 150 H di daerah Asqalan. Dalam fatwa hukumnya ia bersandar pada kitab Allah kemudian pada asSunnah. Setelah as-Sunnah. As-Syafi‟i mulai melakukan kajian hukum dan mengeluarkan fatwa-fatwa fiqih bahkan menyusun metodologi kajian hukum yang cenderung memperkuat posisi tradisional serta mengkritik rasional.seorang Imam dalam ilmu hadits dan fiqih sekaligus. Qiyas e. Ijma‟ ahli madinah d. Dalam kontek fiqihnya Syafi‟i mengemukakan pemikiran bahwa hukum Islam bersumber pada al-Qur‟an dan al-Sunnah serta Ijma‟ 17 . maka ia dibuatkan surat itu untuk Malik yang ahli Hadits. Sunnah c. Tetapi beliau mendahulukan amalan penduduk madinah dari pada hadits ahad. Satu hal yang tidak diragukan lagi bahwa persoalan-persoalan dibina atas dasar mashlahah mursalah. dalam ini disebabkan karena beliau berpendirian pada penduduk madinah itu mewarisi dari sahabat. Malik kembali ke Qiyas. baik aliran Madinah maupun Kuffah. Istishab / al-Mashalih al-Mursalah 3.beliau hafal Qur‟an pada usia kanak-kanak. Kemudian ia pergi ke Hudzail untuk menghafal syai‟r-syai‟r dan belajar kesusastraan. Imam As-Syafi‟i (150-204 H) Beliau adalah Imam Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi‟ as-Syafi‟i al-Muthalibi.

Madzhab fiqih as-Syafi‟i merupakan perpaduan antara madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Ia belajar fiqih pada Asy-Syafi‟i ketika ia datang di Baghdad.22 Di antara buah pena/karya-karya Imam Syafi‟i. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Beliau adalah Ahmad bin Hanbal bin Hilal adz-Dzahili asy-Syaibani alMaruzi al-Baghdadi. Ia termasuk mujtahid ahli hadis yang mengamalkan hadis ahad tanpa syarat selama sanadnya shahih seperti jalan Asy-Syafi‟i dan ia mendahulukan pendapat-pendapat sahabat dari pada Qiyas. 22 Ibid. Ia terdiri dari dua pendapat. Muslim. beliau mempelajari perkataan-perkataan sahabat dan baru yang terakhir melakukan qiyas dan istishab. daan dia adalah muridnya yang tersohor dari orang-orang Baghdad. Memasukkan Ahmad dalam rijalul hadis adalah lebih kuat dari pada memasukkannya dalam fuqaha. 4. • Al-Umm : isinya tentang berbagai macam masalah fiqih berdasarkan pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam kitab ushul fiqih. Ia mendengar pembesar-pembesar hadis dai Hasyim. dan orang yang setingkat. Ia menyusun musnad yang memuat 40. hlm. kemudian dia ijtihad untuk dirinya sendiri. yaitu qaul qadim (pendapat lama) di Irak dan qaul jadid di Mesir. Dalam bidang ushul ia mempunyai kitab Tha‟atur Rasul. Al-Bukhari. yaitu : • Ar-Risalah : merupakan kitab ushul fiqih yang pertama kali disusun. Asy-Syafi‟i berkata: Saya keluar dari Baghdad dan disana saya tidak meninggalkan orang yang lebih utama.dan apabila ketiganya belum memaparkan ketentuan hukum yang jelas. dan kitab Ilal. lebih pandai dan lebih ahli fiqih dari pada Ahmad bin Hambal. meriwayatkan hadis dari padanya. dilahirkan pada tahun 164 H di Baghdad. kitab Nasikh dan Mansukh. Anaknya yang bernama Abdullah meriwayatkan dari padanya.000 hadis lebih. Madzhab Syafi‟i terkenal sebagai madzhab yang paling hati-hati dalam menentukan hukum. Ia memperbanyak pencarian hadis dan menghafalkannya sehingga menjadi ahli hadis pada masanya. 19-21 18 .

Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah. kokoh dan tidak goyah sedikitpun sejak tahun 218 H yaitu tahun permulaan ajakan Al-Ma‟mun sampai tahun 233 H yaitu pembatalan Al-Mutawakil terhadap ajakan itu. Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad. sehingga mujtahid mustaqill sudah tidak terdapat lagi. Kesimpulan Masa Murajjihun merupakan masa yang ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Imam Ahmad bin Hambal wafat di Baghdad pada tanggal 12 Rabi‟ul Awwal 241 H. Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka masing masing. yang membiarkan manusia untuk merdeka dalam hal yang dipilih dan dipercayainya. Ahmad bin Muhammad bin Hajaj Al-Marwazi mengarang kitab As-Sunnan bi Syawahidil hadis (Sunnah-sunnah dengan saksi hadis). 1996. maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhab yang mereka anut. 23 Muh. Dan Ishak bin Ibrahim yang terkenal denga Ibnu Rahawaih AlMarwazi dan termasuk teman-teman besar bagi Ahmad mengarang juga As-Sunnan fil fiqh (Sunnah-sunnah tentang fiqih). 74 19 .Sebagian orang yang terkenal meriwayatkan madzhabnya ialah Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani‟ yang terkenal dengan Atsram yang mengarang kitab As-Sunnan fil fiqh ‟ala madzhabi Ahmad (Sunnah-sunnah tentang fiqih menurut madzhab Ahmad) da ia mempunyai kesaksian dari hadis. Banyak ahli hadis yang mengabulkan ajakan AlMa‟mun untuk mengatakan al-Qur‟an itu makhluk. Adapun dia (Ahmad) berdiri dengan teguh. Ahmad bin Hambal adalah orang yang tertimpa ujian yang terkenal yaitu perihal kemakhlukkan al-Qur‟an. Sepeninggalan beliau. Zuhri.hlm. Keteguhan ini tanpa dibicarakan benar atau salahnya menjadikan Ahmad bin Hambal itu mulia serta berada dalam derajat yang tinggi dihadapan para ulama karena menanggung hal-hal yang menyakitkan demi menjaga kepercayaannya yang mana hal itu adalah seindah-indah hiasan dari kemuliaan yang dikenakan manusia. Jakarta : PT Raya Grafindo Persada. madzhab Hambali berkembang luas dan menjadi salah satu madzhab yang banyak pengikutnya23 C.

Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan islam pada masa klasik. dan kegemilangan.Masa murajjihun merupakan adalah masa dimana sangat kuatnya upaya yang dilakukan ulama masing-masing mazhab dalam mengomentari. kemajuan yang tidak ada tandingannya dikala itu. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan bani abbas periode pertama. Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya pernyataan tersebut seperti dorongan para penguasa kepada para hakim (qadi) untuk menyelesaikan perkara di pengadilan dengan merujuk pada salah satu mazhab fiqh yang disetujui khalifah saja selain itu pada masa ini telah muncul sikap at-taassub al-mazhabi yang berakibat pada sikap ke-jumud-an (kebekuan berpikir) dan taqlid (mengikuti pendapat imam tanpa analisis) di kalangan murid imam mazhab. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fi al-mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip yang ada dalam mazhabnya). 20 . Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan ijtihad secara mandiri. Sebab lain yaitu munculnya gerakan pembukuan pendapat masing-masing mazhab yang memudahkan orang untuk memilih pendapat mazhabnya dan menjadikan buku itu sebagai rujukan bagi masing-masing mazhab. Akibat lain dari perkembangan ini adalah semakin banyak buku yang bersifat sebagai komentar. kejayaan. Pada periode ini untuk pertama kali muncul pernyataan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. sehingga islam mencapai masa keemasan. kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan. Persaingan antar pengikut mazhab semakin tajam. memperjelas dan mengulas pendapat para imam madzhab mereka. penjelasan dan ulasan terhadap buku yang ditulis sebelumnya dalam masing-masing mazhab. Pada masa ini. sehinga aktivitas ijtihad terhenti. Dari sinilah benih-benih taqlid muncul pada mazhab tertentu yang diyakini sebagai yang benar. sehingga subjektivitas mazhab lebih menonjol dibandingkan sikap ilmiah dalam menyelesaikan suatu persoalan.

(Semarang: Daarul Yahya. Muhammad Ali. Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah. Cetakan Ketiga). Hasjmy. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Bulan Bintang. Jaih Mubarok. 1970). (Jakarta:Bulan Bintang. 2005: Bandung. Abu Ameenah Bilal Philips. 1996. 1980). Muh. 2003). Ali Hasan.DAFTAR PUSTAKA A. Sejarah Peradaban Islam. Pengantar Dan Sejarah Hokum Islam. Pengantar Hukum Islam. Badri Yatim. (Jakarta:PT Raja Grafindo persada. I. Jakarta: PT. Asal Usul dan Perkembangan Fiqh. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Terjemah Tarikh Al Tasyri’ Al Islam. Hudari bik. (Jakarta:Bulan Bintang. 21 . Jakarta : PT Raya Grafindo Persada. Sejarah Fiqh Islam. Sejarah Kebudayaan Islam. Islam Ditinjajau Dari Berbagai Aspeknya. Joseph Schacht. Cet. jilid 2. Sejarah Islam Dan Umatnya Sampai Sekarang. 1995). Nusamedia Ahmad Hanafi. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Zainal abidin. 1997. 1995. M. 1985. Harun nasution. (Jakarta:Pustaka Al Kautsar. Zuhri. Perbandingan Mazhab Fiqih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful