P. 1
Peranan Ilmu Anatomi Dalam Pengembangan Ilmu Kedokteran

Peranan Ilmu Anatomi Dalam Pengembangan Ilmu Kedokteran

|Views: 172|Likes:

More info:

Published by: Siti Liyaturrihanna P on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

Vol. II, No.

3 tahun 2009 EDITORIAL

Anatomi, Sains dan Seni Jurnal Madani FKM UMI

Peranan Ilmu Anatomi dalam Pengembangan Ilmu Kedokteran
Abdul Razak Datu
Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin Makassar

Sejarah Perkembangan ilmu Anatomi Secara anatomis, tubuh manusia terdiri dari organ-organ yang menyusun sistem yang berperan secara sistematis dan terkoordinasi, mempertahankan keseimbangan secara menyeluruh (homeostasis) sebagai suatu kesatuan yang utuh dalam memelihara kesehatan tubuh. Pengetahuan ini (Anatomi) nampaknya sudah mulai dikenal sejak zaman pra sejarah (20.000 thn S.M.) yang dapat disaksikan pada lukisan-lukisan dinding di Perancis dan Spanyol. Jauh sebelumnya, 500 thn S.M. di Mesir, pengetahuan Anatomi digunakan pada pembuatan mummi, yaitu dengan membuat irisan, incisi (incision) yang kecil untuk mengeluarkan organ-organ tubuh (yang cepat membusuk), dan mengeluarkan otak dari arah lubang hidung melalui corpus sphenoidalis tanpa merusakkan wajah dan tulang-tulang cranium yang lainnya. Alcmaeon (500 S.M.) adalah orang yang dianggap pertama yang melakukan diseksi pada mayat. Muridnya, Empedocles (504 – 443 S.M.) yang lebih menguasai teori daripada praktek mengembangkan ilmu anatamo menjadi ilmu faal. Jalan pikiran Empedocles diikuti oleh Hippocrates (460 – 377 S.M.) seorang dokter ulung yang dikenal sebagai “Father of Medicine”, yang pertama kali menegakkan sendi kedokteran yang bersifat rasional.
135

Dialah yang memberi pengertian tentang struktur dan fungsi tubuh manusia, dan dia mampu mengenyampingkan pikiran para pendahulunya, dan menyatakan bahwa penyakit mempunyai penyebab alami yang dapat diamati. Inilah awal dari ilmu kedokteran yang mempergunakan rasio dan observasi. Dua orang muridnya yang terkenal yaitu Aristoteles dan Galenus membandingkan antara tubuh manusia yang disebutnya mikrocosmos dengan kehidupan alam semesta yang disebutnya makrocosmos Herophilus (335-280 S.M.) adalah guru Anatomi yang pertama-tama mela-kukan diseksi secara terang-terangan (ter-buka) walaupun pada akhirnya ia dituduh sebagai penjagal manusia. Herophilus dipandang sebagai Bapak Anatomi. Dia dapat membedakan dengan jelas pembuluh darah Arteri dan Vena, serta menemukan pembuluh lacteal pada intestinum tenue. Erasistratus (290 S.M.) melanjutkan penyelidikannya mengenai pembuluh lacteal, dan dia pula yang pertama-tama membagi saraf motoris dan saraf sensibel. Pada zaman Kedokteran Romawi ( 50 S.M. – 200 M) Rufus adalah orang yang pertama kali menerbitkan buku dengan judul “on the Naming of the Parts of the Body”. Dari sinilah istilah-istilah (nomenclature) anatomi mulai digunakan. Galen (130 – 200 SM)

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

melakukan experiment dan dissection pada kera dan babi yang secara khusus mempelajari susunan saraf dan menulis buku yang terkenal “Use of the parts of the body of man”. Pada zaman Kejayaan Islam, karyakarya kedokteran bermunculan dan memperkaya khazanah ilmu tersebut dengan melahirkan dokter-dokter kaliber dunia pada zamannya. Berbagai karya itu adalah teks book, rumah sakit, pusat rehabilitasi, apotik dan berbagai fasilitas kesehatan lainnya. Ilmu kedokteran dasar berkembang, seperti Anatomi, Fisiologi, Patologi, Farmakologi dan Biokimia. Salah seorang dokter muslim Ibn Al- Nafis pada abad XII sudah menjelaskan mengenai circulasi pulmonal, menggugurkan pendapat GALENUS yang sudah bertahan selama kira-kira 14 abad. Teori Ibn Al-Nafis tersebut dikemukakan juga oleh William Harvey (1578 -1657). Ilmu Anatomi sebagai ilmu Kedokteran dasar Ilmu Anatomi sebagai salah satu Ilmu Kedokteran Dasar sangat dibutuhkan dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu kedokteran klinik. Ilmu Anatomi yang mempelajari bentuk, struktur dan lokasi organ, kedudukannya berdampingan dengan ilmu-ilmu dasar lainnya, dalam hal ini adalah Fisiologi (fungsi badan), Biokimia (proses hayati) dan Histologi (micro anatomy) yang sebenarnya merupakan bagian dari ilmu Anatomi juga. Ilmu Anatomi sangat berkaitan erat dengan ilmu-ilmu preklinik dan klinik lainnya. Ilmu-ilmu dalam ilmu kedokteran dasar, baik yang bersifat morfologik maupun yang bersifat fungsional, masing-masing memberikan dasar dalam memberikan
136

kumpulan-kumpulan informatif pengetahuan faktual, yang tanpa ini semua ilmu-ilmu klinik tidak dapat didirikan. Pengertianpengertian dalam ilmu klinik sukar dicapai tanpa bekal pengetahuan kedokteran dasar tersebut. Selain bekal dalam kuantitas ilmu informatif, ilmu-ilmu yang bersifat morfologik, seperti Anatomi, Histologi, Patologi Anatomi dan lain-lain, memberi bekal dalam kemampuan observasi dan deskripsi, sedangkan yang membentuk kumpulan ilmu-ilmu yang bersifat fungsional, seperti Fisiologi, Biokimia, Farmakologi dan lain-lain adalah ide-ide, teori-teori dan kesimpulan-kesimpulan, sehingga dari sinilah berasal kemampuan berargumentasi serta menimbang-nimbang kenyataan, yang merupakan inti dalam profesi kedokteran. Sampai abad XIX pengetahuan mengenai struktur dan fungsi organ dipelajari secara bersama-sama, lalu kemudian masing-masing berdiri sendiri sebagai ilmu Anatomi dan ilmu Fisiologi. Memasuki abad ke 20 ilmu Anatomi semakin berkembang dengan membentuk cabangcabang Ilmu seperti : Histologi, Morphologi, Neurologi, Anthropologi, Embriologi dan Genetika. Selanjutnya muncul ilmu –ilmu Experimental Anatomy, Experimental Embryology dan Cytology. Antara 1819 – 1899 diciptakan berbagai instrumen, seperti Stethoscope, Otoscope, Ophthalmoscope yang digunakan di klinik dan juga dipakai ketika mempelajari Living Anatomy. Dalam tahun 1890 formalin dipakai sebagai bahan fiksasi mayat untuk dijadikan cadaver bagi kepentingan dissection; sebelumnya itu menggunakan alkohol yang digunakan sebagai bahan konservasi.

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Sejak ditemukannya sinar rontgen penentuan morfologi dan lokalisasi organ sangat membantu para klinisi untuk menentukan diagnosis penyakit dan melakukan terapi. Dengan alat Rontgen tersebut terbentuklah Anatomi Radiologik. Mahasiswa dapat mempelajari foto-foto Rontgen dari struktur yang normal dan kemudian di klinik mencari/menemukan kelainan-kelainan yang memberi gangguan yang perlu diatasi. Dalam perkembangannya ilmu anatomi tidak bisa dipisahkan dari ilmu embriologi. Embriologi yang diprakarsai oleh Aristoteles kemudian dikembangkan William Harvey (1578 -1667) mengemukakan perkembangan chick embryo secara lebih terperinci. Walaupun pengetahuan embriologi yang dimulai oleh Aristoteles sangat sederhana, namun perkembangannya mulai nampak setelah Marcello Malpighi (1628 -1694) berhasil menunjukkan proses perkembangan embryo ayam yang diaplikasikan pada perkembangan embryo mammalia termasuk manusia. Malpighilah dianggap sebagai penemu embriologi. Sejak saat itu berkembanglah embrylogi modern, dan sel telur (ovum) pada manusia ditemukan pertama kali oleh Von Baer (1827) sehingga Von Baer dikenal sebagai “Bapak Embriologi”. Experimental teratology mulai berkembang sejak terjadinya Tragedi Thalidomide, suatu peristiwa yang menggemparkan dunia kedokteran ketika di Jerman tahun 1961 terjadi kelahiran sejumlah bayi dengan kelainan bawaan dengan jenis kelainan yang hampir serupa dan dalam periode yang hampir bersamaan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya ibu-ibu
137

hamil yang mengkonsumsi obat Thalidomide, sejenis obat penenang dan anti muntah yang sangat mujarab, ternyata obat tersebut membawa malapetaka dan ber-akibat fatal, menyebabkan kelainan perkem-bangan embryo sehingga lahirlah anak-anak cacat. Dewasa ini, makin banyak zat-zat kimia atau obat-obatan yang dilaporkan dapat menyebabkan kelainan bawaan yang ditemukan pada bayi yang baru lahir. Sesungguhnya zat-zat kimia dan obat-obatan hanya salah satu faktor yang dapat menyebabkan kelainan bawaan. Telah dilaporkan bahwa kelainan bawaan dapat disebabkan oleh 3 faktor: yaitu faktor genetika (6-15%), faktor lingkungan (7-10%), dan faktor interaksi antara gen dan lingkungan (20-25%), dan yang belum diketahui penyebabnya masih jauh lebih banyak (50-60%). Dengan perkembangan dan kemajuan penelitian di bidang Teratologi, semakin banyak hal-hal baru yang ditemukan tentang mekanisme dan penyebab dari suatu kelainan bawaan, sehingga makin banyak faktor penyebab kelainan bawaan yang dapat terungkap. Dengan mengetahui mekanisme dan penyebab yang dapat menyebabkan kelainan pembentukan dan perkembangan embryo, akan menjadi perhatian dan peringatan kepada ibu-ibu hamil terutama yang hamil muda (kehamilan sampai 8 minggu) kiranya berhati-hati dalam memelihara kesehatannya agar janinnya bisa tumbuh dengan baik dan sempurna sehingga akan melahirkan bayi yang normal (tanpa cacat). Pendidikan ilmu Anatomi di Fakultas Kedokteran

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Pendidikan Anatomi menumbuhkan kemampuan-kemapuan yang esensial bagi seseorang yang akan berhubungan dengan penderita, dan banyak dari kemampuan ini yang tidak didapatkan dalam derajat yang sama dalam disiplin ilmu lain pada kurikulum kedokteran. Dalam mempelajari ilmu Anatomi, mahasiswa mulai diperkenalkan dengan penggunaan bahasa teknis deskripsi yang merupakan dasar seluruh terminologi kedokteran. Selain itu, informasi profesional yang diterima oleh mahasiswa di dalam belajar Anatomi memungkinkan ia memahami pelajaran-pelajaran fungsional dan klinis. Anatomi merupakan dasar yang sangat berarti untuk Patologi dan bahan yang dipelajari dalam Anatomi dapat membantu dalam menegakkan diagnosis yang tepat serta membantu dalam bertindak dengan aman pada keadaan-keadaan darurat di dalam praktek-praktek klinik. Pada umumnya dikatakan bahwa Ilmu Kedokteran Dasar melayani ilmu kedokteran Klinik, ini tidak berarti sematamata bahwa yang diberikan dalam Ilmu Kedokteran Dasar hanyalah hal-hal secara porsional yang masing-masing mendukung seperlunya porsi-porsi tertentu dalam ilmu klinik. Dalam kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI) II , umumnya ilmu-ilmu kedokteran dasar, dalam hal ini termasuk Anatomi, Histologi, Fisiologi dan Biokimia diajarkan bersama-sama dalam satu jangka waktu tertentu. Ini berdasarkan atas anggapan bahwa semua ilmu-ilmu preklinik saling berhubungan sampai derajat tertentu, sehingga mempelajarinya secara betul-betul terpisah, tidak akan ada artinya bahkan merugikan. Dalam hubungan ini struktur
138

hendaknya dipelajari berdampingan dengan fungsi dan ada baiknya apabila diberikan secara terpadu, sehingga mahasiswa mempunyai kesempatan untuk memadukan struktur dan fungsi di dalam pikirannya sendiri dan menciptakan gambaran yang tersusun dengan baik tentang biologi manusia. Namun kesulitannya, pekerjaan mengurai di Laboratorium Anatomi dilakukan dengan sistem regional sedangkan ilmu faal memakai pendekatan sistematik. Sampai tahun 1977 pendidikan Anatomi bagi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin diberikan selama satu tahun ajaran, yaitu di tingkat dua (tingkat preklinik). Pada tahun ajaran 1977/1978 dimulailah Sistem Kredit Semester, yang mengharuskan Anatomi dibagi-bagi dalam tiga semester dengan 12 SKS, yaitu Anatomi I, Anatomi II, dan Anatomi III. Pada sistem konvensional pendidikan Anatomi diberikan selama satu tahun tanpa terputus, maka dalam Sistem Kredit Semester mahasiswa mempelajari Anatomi secara terputus-putus, sesuai dengan minat dan kesanggupannya, dan tidak ada jaminan bahwa mahasiswa akan mengambil mata pelajaran Anatomi, Fisiologi, Histologi dan Biokimia untuk dipelajari bersama-sama yang semestinya sangat diperlukan. Peranan Ilmu Anatomi sebagai Sains dan Seni Ilmu Anatomi tidak saja berguna bagi pendidikan dokter, dokter gigi, perawat, dan bidan melainkan perlu dikembangkan lebih luas lagi, sehingga memasuki kehidupan masyarakat, yang dikenal sebagai Anatomi Sosial. Ilmu Anatomi yang

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

memasuki dunia seni lukis sudah dimulai oleh Leonardo da Vinci pada abad XV, demikian pula seni memahat, khususnya memahat patung manusia. Industri sepatu, pakaian, kursi, meja dan bangku duduk di sekolah atau di tempat kerja di kantor atau perusahaan, kendaraan umum perlu dibuat dengan memperhatikan ergometri atau posisi anatomis manusia agar supaya memberi kenyamanan yang optimal dan tidak melelahkan. Dalam seni tari, posisi persendian dan gerakan lengan, tungkai dan badan, hendaknya dilakukan dengan efektif agar tidak cepat menjadi lelah. Mesin-mesin industri hendaknya dibuat dengan mengingat posisi manusia yang akan menggunakannya nanti, baik dengan cara berdiri maupun duduk, agar supaya produktifitasnya dapat menjadi maksimal. Dalam olah raga kesegaran jasmani, ataupun olah raga prestasi, sikap tubuh dan berbagai jenis gerakan perlu dilakukan dengan efektif, untuk itu semua pengetahuan mengenai tulang, otot, persendian, saraf dan pembuluh darah perlu dikaji dengan terpadu dan benar, termasuk pengetahuan sistem lainnya yang menunjang. Dalam olah raga prestasi, seorang pelatih harus mampu melatih gerakan-gerakan pada anak asuhnya secara optimal agar dapat mencapai prestasi secara maksimal, maka untuk itu pengetahuan Ilmu Anatomi mutlak diperlukan . Dalam bidang arsitektur baik arsitektur bangunan umum, arsitektur perumahan, maupun arsitektur peralatan rumah tangga, serta perancangan peralatan lain yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, perlu memperha139

tikan postur tubuh manusia yang akan menggunakannya. Demikian pula di bidang estetika, yaitu salon-salon kecantikan yang merawat wajah para wanita hendaknya keterampilan yang dipakai bukan sekedar berdasarkan atas kebiasaan belaka, melainkan memahami dan memiliki pengetahuan tentang tulang-tulang wajah, letak dan arah otot-otot wajah serta kulit/rambut yang terdapat pada wajah dan kepala. Tak kalah penting penerapan pengetahuan Anatomi pada bidang fisioterapi dan pijat traditional. (Tulisan di atas dikutip dari Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap Prof. dr. Abdul Razak Datu, Ph.D. dalam Bidang Ilmu Anatomi di Universitas Hasanuddin pada 3 April 2009). Daftar Pustaka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Pendidikan Kedokteran Dasar. Gardner E, Gray, D J, O’rahilly, R. 1975. Anatomy: A Regional Study of Human Structure. 4th Ed. W.B. Saunders Co. Philadelphia, London, Toronto. Gray, H. 1980. Gray’s Anatomy, P.I. William and R. Warwick, 36 ed. Churchill Livingstone. Konsil Kedokteran Indonesia, 2006. Standar Pendidikan Profesi Dokter. Luhuluma, J 1993. Pendidikan Ilmu Anatomi Tantangan dan Harapan. Pidato penerimaan jabatan Guru Besar Tetap Ilmu Anatomi pada Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Moore, KL. 1980. Clinically Oriented Anatomy. Williams & Wilkins, Baltimore/ London 1980. Moore, KL and Persud, TVN. 1998. The Developing Human, Clinically Oriented Embryology. 6th edition. W.B Saunders Co. Philadelphia, London, New York, St. Louis, Sidney, Toronto. Pratiknya, AW. Anatomi Sosial, suatu kajian prospektif. Berkala Ilmu Kedokteran, Jilid XVI, No. 5, 1984 Sukardi, E. Reorientasi Pendidikan Anatomi Menjelang tahun 2000. Pertemuan Ilmiah Nasional Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia. Malang 18-19 Desember 1992.

Tim Penelitian/Penyusunan Istilah Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1979. Kamus Istilah Anatomi Edisi ke-2. Pengurus Besar Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia, Surabaya. Uddin, J. Masa depan KIPDI dan Rekonstruksi Kurikulum Anatomi, sebuah gagasan Dasar. Pertemuan Ilmiah Nasional Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia Malang 18 -19 Desember 1992 Wonodirekso S, Surjono. Pendidikan Anatomi Kedokteran berubah, perlu diubah atau tak berubah-ubah?. Pertemuan Ilmiah Nasional Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia. Malang, 18 – 20 Desember 1992.

140

Vol. II, No. 3 tahun 2009 ARTIKEL ASLI

Jurnal Arcus Madani FKM UMI Pedis,
Kemampuan lari

Hubungan Arcus Pedis dengan Kemampuan Lari Siswa SMP Negeri 23 Makassar
Azis Beru Gani*, Ilhamjaya Patellongi** *Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Makassar **Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara arcus pedis dan kemampuan lari, antara panjang tungkai dan kemampuan lari, antara daya ledak otot dan kemampuan lari, antara kecepatan reaksi otot dan kemampuan lari. Penelitian ini menggunakan 155 sampel siswa laki-laki kelas II SMP. Variabel penelitian meliputi variabel bebas terdiri dari : arcus pedis dan kecepatan reaksi kaki, sedangkan variabel terikat yaitu kemampuan lari. Pengukuran arcus pedis dilakukan dengan menggunakan teknik Clarke (footprint). Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik antara arcus pedis dan kemampuan lari didapatkan korelasi yang sangat lemah (r = -0,192). Hal ini menunjukkan bahwa arcus pedis mempengaruhi kemampuan lari tetapi dalam tingkat korelasi yang rendah. Kata Kunci : Arcus pedis dan kemampuan lari

The Relationship between Arcus Pedis with the Running Ability of the Students at SMP 23 of Makassar
Azis Beru Gani, Ilhamjaya Patellongi Abstrak The objective of the study is to investigate the relationship between arcus pedis and running abiliy.The sample consist of 155 male student of the second yeard of SMP (junior high school). The study variable consist of independent variable arcus pedis and dependent variable is the running ability. The arcus pedis measurement is conducted with Clarke (footprint) technique. The data analysis using Person correlaton test indicates that the arcus pedis has an insignificant correlation with the running ability (r = -0.192). Keywords : arcus pedis and running ability.

141

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Pendahuluan Di masa lalu, Indonesia memiliki beberapa pelari kenamaan di nomor elite. Moch Sarengat yang memecahkan rekor lari 100 meter Asian Games (AG) dengan waktu 10,40 detik (1962). Dua dekade kemudian Purnomo dinomor yang sama memecahkan rekor 10,39 detik dan sukses masuk semifinal (16 besar di Olimpiade Los Angeles, AS, 1984) yang satu-satunya pelari Asia menembus semifinal. Prestasinya diikuti Mardi Lestari yang lolos ke semifinal Olimpiade Seoul 1988 (10,32 detik). Di kelas putri ada Irene Truitje Joseph pelari 100 meter menempuh 10,56 detik di SEA Games 1999 Brunei Darussalam. Selain itu, ada Henny Maspaitella pelari 200 meter mencatat waktu 24,24 detik di SEA Games Manila 1981 (Pate, 1984; Wirhed, 1988). Sekarang prestasi itu sudah sulit diperoleh atlet Indonesia. Berbagai penelitian dilakukan, mengapa prestasi pelari Indonesia tidak sebaik yang pernah dicapai. Olah raga lari, seperti olahraga lainnya memerlukan kajian dalam mencari tehnik dan metode untuk menciptakan prestasi juara. Kajian untuk meningkatkan keterampilan dalam bidang oleha raga perlu terus ditumbuhkembangkan, baik untuk menciptakan prestasi maupun dalam peranannya di bidang kesehatan (Wirhed, 1988; Carr, 2003). Salah satu kunci untuk menciptakan prestasi atlet juara adalah kemampua berlari yang disertai teknik yang baik. Lari adalah gerakan berpindah tempat dengan maju ke depan yang dilakukan lebih dari berjalan. Di sini diperlukan kekuatan frekuensi langkah kaki dengan mengerahkan kekuatan dan kecepatan gerak langkah dengan suatu kontraksi maksimal. Tiga hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai usaha tersebut,
142

yaitu bagaimana teknik star yang baik, gerakan sprint dan teknik melalui garis finish. Ketiga pokok masalah ini sangat berkaitan dengan bentuk dan sendi tulangtulang kaki (arcus pedis) dengan kemampuan lari. Kaki manusia yang melengkung, merupakan suatu ciri khusus pada manusia yang tak terlihat pada ordo primata yang lain. Dasar utama dari lengkung-lengkung kaki berasal dari bentuk dan arsitektur tulangnya walaupun ligamenta, tendotendo dan otot-otot juga turut serta dalam membentuk kekuatan dan stabilitas kaki. (Bajpai, R.N., 1991, Datu AR, 2006, Noor DM, 1979). Lengkung-lengkung kaki membantu efisien fungsi kaki, dimana terdiri dari 2 bagian; 1) menahan berat badan dan 2) pergerakan berjalan dan berlari (Bajpai, R.N., 1991, Datu AR, 2006). Untuk fungsi yang pertama kestabilan dan dasar yang luas seperti bentuk piring ceper dibutuhkan, yang akan merubah bentuk bagian tersebut dari permukaan yang tidak rata atau miring. Untuk fungsi kedua, kekuatan daya pegas pengungkit dibutuhkan yang dapat meninggikan seluruh tubuh pada caput ossa metatarsalia dan bergerak maju selama berjalan atau berlari selaras dengan fungsi pertama tulang-tulang kaki yang lebar dan lebih kuat (Datu AR, 2006). Pedis tidak merupakan suatu bidang datar, melainkan melengkung membentuk suatu arcus dengan titik tumpu di bagian posterior dan anterior. Arcus tersebut mengarah ke arah longitudinal dan transversal, dan disebut Arcus Pedis Longitudinalis dan Arcus Pedis Transversalis.

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Arcus pedis transversalis berbentuk setengah arcus dan menjadi arcus penuh apabila kedua pedis diletakkan berdampingan. Titik tumpu di bagian posterior adalah processus medialis tuberis calcanei dan di bagian anterior dibentuk oleh kedua ossa sesamoidea pada capitulum ossis metatarsalis I serta capituli osseum metatarsalium II – V. Bagian lateral pedis juga mengenai lantai oleh karena lengkung longitudinalis lateralis letaknya lebih rendah dan bagian medial tampak kaki tidak menyentuh lantai sebab arcus medial letaknya lebih tinggi. Pada Pes Planus sisi medial pedis menyentuh lantai (Datu AR, 2006). Berat tubuh akan terbagi menjadi dua secara seimbang ke depan dan belakang tapak kaki oleh puncak arcus pedis. Kemudian dengan bantuan fascia plantaris menyebabkan terjadi elevasi arcus pedis yang sering disebut sebagai efek mesin kerek “windlass effect”. Hal inilah yang berfungsi sebagai daya pegas pada kaki sehingga dengan kelengkungan arcus pedis yang normal dapat memberikan kontribusi pada kemampuan lari yang lebih baik (Hamill J, 2003).

kemudian menemukan metode tentang penentuan arch angle tersebut dan menemukan rata-rata arcus pedis normal bagi mahasiswa tingkat persiapan kurang lebih 420. Clarke berpendapat bahwa seseorang yang mempunyai sudut kurang dari 300 adalah seseorang yang memerlukan koreksi tapak kaki. Sedangkan para mahasiswa yang mempunyai arcus pedis antara 300 – 350 dinyatakan orang-orang yang berada pada perbatasan dan harus diadakan pemeriksaan ulang untuk menentukan perlu tidaknya tindakan pengoreksian (Halim NI, 1992). Pada penelitian yang dilakukan oleh Bahru (2006) diperoleh korelasi yang signifikan antara arcus pedis dan kemampuan lari yaitu r = -0.768 (p < 0,05) dengan menggunakan 60 sampel siswa SD. Dalam penelitian ini akan dianalisa bagaimana hubungan arcus pedis dengan kemampuan lari pada siswa SMP Negeri 23 Makassar. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan observasional dengan menggunakan metode cross sectional study. Dimana dicari hubungan antara arcus pedis, panjang tungkai, daya ledak otot dan kecepatan reaksi kaki dengan kemampuan lari pada siswa pria. Tempat, Waktu Penelitian dan Populasi serta sampel Tempat penelitian SMP Negeri 23 Makassar yang juga merupakan populasi yang akan diteliti. Sedangkan sampel yang dilakukan secara random sampling adalah siswa pria SMP kelas II sebanyak 60 orang.
143

Gambar 1. Berat Tubuh pada Arcus Pedis

Swartz adalah orang pertama yang mencoba mengukur footprint dalam footprint angle. Ini berdasarkan teori bahwa semakin tinggi lengkung kaki, sudut kelengkungan (arch angle) semakin bertambah pula. Clarke

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Berdasarkan tabel 2 di atas maka dapatlah diperoleh gambaran bahwa pengu-jian normalitas data dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Tabel 1. Hasil analisis deskriptif tiap variabel menunjukkan hasil sebagai berikut : Arcus Pedis diperoleh nilai KS-Z = 0,000 (p < 0,05), Ra-M Ma Mi Me SD Var maka hal ini menunjukkan bahwa data N nge x n an Arcus 155 50,0 66,0 16,0 46, 99, 8,61 arcus pedis mengikuti sebaran normal atau Pedis (AP) 95 41 berdistribusi normal. Kemampu 155 5,08 12, 7,11 9, 0, 0, b. Kemampuan lari diperoleh nilai KSan lari KL) 19 28 77 60 Z = 0,200 (p < 0,05), maka hal ini menunjukkan bahwa data kemampuan lari tidak Dari tabel 1 di atas dapat diperoleh mengikuti sebaran normal atau berdisgambaran tentang data arcus pedis, panjang tribusi tidak normal. tungkai, daya ledak otot, kecepatan rekasi kaki dan kemampuan lari sebagai berikut : Korelasi arcus pedis dan kemampuan lari. a. Arcus pedis diperoleh nilai rata-rata 46,950, Data arcus pedis diperoleh dengan standar deviasi 9,410, nilai minimum 160 dan melalui tes antropometrik. Untuk mengemaksimum 660. tahui keeratan hubungan arcus pedis b. Kemampuan lari diperoleh nilai rata-rata 9,28 dengan kemampuan lari dilakukan analisis detik, standar deviasi 0,77 detik, nilai korelasi Product Moment. Rangkuman hasil minimum 7,11 detik dan maksimum 12,19 analisis data dapat dilihat pada tabel 3. detik. Tabel 3. Rangkuman hasil analisis korelasi arcus Untuk mengetahui apakah data arcus pedis dengan kemampuan lari pedis dan kemampuan lari berdistribusi normal, maka dilakukan pengujian dengan Variabel ro p keterangan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. AP (X1) Hasil uji normalitas data dapat dilihat - 0,192 0,000 Sangat lemah pada tabel 2. KL (Y)
144

Hasil Penelitian Dan Pembahasan Hasil Penelitian Analisis data deskriptif dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran umum data penelitian. Analisis deskriptif dilakukan untuk data arcus pedis, panjang tungkai, daya ledak otot, kecepatan reaksi kaki dan kemampuan lari sehingga lebih mudah di dalam menafsirkan hasil analisis data tersebut. Deskripsi data dimaksud untuk dapat menafsirkan dan memberi makna tentang setiap variabel tersebut secara berturut-turut seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 2. Hasil Uji normalitas data tiap variabel KolmogorovSmirnov(a) Stati Arcus Pedis Kemampuan lari ,193 ,058 df Sig.

Shapiro-Wilk Stati Df Sig. ,000 ,164

155 ,000 155 ,200(*

,885 155 ,987 155

(*) data tidak berdistribusi normal

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Berdasarkan tabel 3 di atas terlihat bahwa hasil perhitungan korelasi Spearman diperoleh nilai r hitung (ro) = -0,192, berarti ada korelasi sangat lemah antara arcus pedis dengan kemampuan lari. Dengan demikian jika siswa memiliki arcus pedis yang besar, maka akan diikuti dengan kemampuan lari yang lebih cepat. Pembahasan Pada penelitian terhadap 155 sampel didapatkan bahwa rata-rata arcus pedis ditemukan 46,950 hal ini menunjukkan bahwa kurang lebih sama dengan yang ditemukan Clarke dengan menggunakan metode yang sama yaitu 420. Pada uji korelasi didapatkan hasil bahwa terdapat korelasi antara arcus pedis dan kemampuan lari, hal ini seiring dengan penelitian yang dilakukan oleh Bahru (2008). Namun pada penelitian ini didapatkan tingkat korelasi yang lebih rendah dibandingkan dengan peneliti sebelumnya. Hal ini disebabkan karena sampel yang digunakan tidak memperhitungkan Index Massa Tubuh (IMT). IMT sangat mempengaruhi pembentukan arcus pedis. Pada orang yang mempunyai IMT di atas normal (overweight) ternyata memiliki arcus pedis yang lebih kecil dibandingkan yang mempuyai IMT normal (Nordin M & Frankel VH. 2001). Namun pada penelitian ini tetap menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara arcus pedis dan kemampuan lari walaupun pengaruhnya tidak besar.

Arcus pedis mempengaruhi kemampuan lari seseorang hanya pada bagian kaki saja sebagai pegas untuk mendorong ke depan, namun untuk kemampuan lari sangat dipengaruhi pula oleh kekuatan otot-otot tungkai dan sendisendi yang terdapat pada tungkai. Daftar Pustaka Pate R, 1984. Dasar-Dasar Kepelatihan, t.p. Semarang. Wirhed R, 1988. Athletic Ability & the Anatomy of Motion, Wolfe Medical Publications, London. Carr GA, 2003. Atletik untuk sekolah t.p. Jakarta. Bajpai, R.N., 1991. Osteologi Tubuh Manusia, Binarupa Aksara, Jakarta. Halim NI, 1992. Tes dan Pengukuran Dalam Bidang Olahraga, t.p. Ujung Pandang. Hamill J, 2003. Biomechanical Basis of Human Movement 2nd ed., Lipincott Williams & Wilkins, Philadelphia. Nordin M & Frankel VH, 2001. Basic Biomechanics of the Musculoskeletal System 3rd ed., Lippincott, Maryland. Datu AR, 2006. Anatomi Musculoskeletal, Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran UNHAS, Makassar. Noor DM. , 1979 Pengamatan Cetakan Telapak Kaki Sekelompok Mahasiswa Indonesia, Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran UNHAS, Makassar, hal 108 - 114. Dahlan MS, 2004. Statistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan, PT Arkans, Jakarta, hal. 163.
145

Vol. II, No. 3 tahun ARTIKEL ASLI 2009

Jurnal Madani FKM UMI Hiperaktifitas Simpatis,
Hipertensi, CPT

Hubungan Hiperaktifitas Simpatis Anak Dengan Kelompok Riwayat Hipertensi Ibu Melalui Cold Pressure Test (CPT)
Mochammad Erwin Rachman
Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Makassar

Abstrak Hubungan hiperkatifitas simpatis anak dengan kelompok riwayat hipertensi ibu melalui test Cold Pressure Test (CPT). Penelitian kami bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh riwayat hipertensi ibu terhadap hiperaktifitas simpatis anak. Dengan menggunakan sebanyak 173 sampel mahasiswa Fakultas Kedokteran UMI Makassar yang berumur 18-21 tahun tanpa membedakan jenis kelamin dan suku. Jenis penelitian adalah crossectional study dengan pengolahan data menggunakan program Windows SPSS version 12,0 yang hasilnya berupa persentase dan tingkat resiko disajikan dalam bentuk tabel dan diagram dengan tingkat kemaknaan p=0,05. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan dari resiko hiperatifitas simpatis terbesar adalah kelompok anak yang mempunyai ibu hipertensi yaitu 50% atau 1,84 kali (PR = 0.79-2.34), disusul oleh kelompok anak yang mempunyai riwayat keluarga hipertensi sebesar 42 % atau 1,36 kali (PR = 0.79-2.34), selanjutnya kelompok anak dengan riwayat ayah dan ibu hipertensi sebesar 33% atau 0,91 kali (PR = 0.33-2.56), kemudian kelompok anak dengan riwayat ayah hipertensi sebesar 32% atau 0,87 kali (PR = 0.51-1.55. Terkecil adalah kelompok anak tanpa ada riwayat hipertensi sebesar 24% atau 0,59 kali (PR = 0.34 -1.05). Kesimpulan : Bahwa anak yang mempunyai hubungan riwayat hipertensi ibu akan lebih besar menderita hipeaktifitas simpatis dibandingkan kelompok riwayat hipertensi lainnya. Kata kunci : Hipertensi, Hipereaktor , kelompok riwayat keluarga hipertensi, CPT.

146 5

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

The Relation Of The Symphatetic Hyperactivity Of Child With The Group History Hypertension Mother Fellow Through The Method Cold Pressure Test (CPT)
Mochammad Erwin Rachman Abstract The relation the simphatetic hyperactivity of child with the group history hypertension mother fellow through the method cold pressure test (CPT). Our Research try to prove the mentioned , by using 173 sample of student Medical Faculty of University Indonesia Moslem Macassar which old age 18-21 year without reference to difference type of gender and tribe. This research represent the its dataprocessing Crossectional study use the Windows SPSS version 12,0 with the percentage and result of test Crosstabulation seenly is risk estimate that 50 % with the risk value of a child will be more be big experience of the simphatic hyperactivity (hiperactor) equal to 1.84 times (PR = 0.91-3.71).From group of hypertension mother is later then caught up by a family history of equal to 42% at risk to 1.36 times (PR = 0.79-2.34) , then factor of father and mother equal to 33% at risk to 0.91 times (PR = 0.33-2.56), then factor of hypertension father is equal to 32 % at risk to 0.87 (PR = 0.51-1.55), and last of factor nonriwayat is equal to 24% at risk to 0.595 (PR = 0.34 -1.05). Conclusion : There are relation influence of factor generation Hypertension Mother more is influential compared by factor of other group. Keyword : Hypertension, Hipereactor , Group of family fellow Hypertention, CPT.

Pendahuluan Hipertensi merupakan masalah kesehatan penting bagi dokter yang bekerja pada pelayanan kesehatan primer, karena angka prevalensi yang tinggi, dan akibat jangka panjang yang ditimbulkan mempunyai konsekuensi tertentu. (Nitemberg at all, 2994) Hasil survei kesehatan menunjukkan lonjakan kematian akibat penyakit kardiovaskuler dengan proporsi penyakit tersebut mening-kat dari tahun ke tahun. Tahun 1975 kematian akibat kardiovaskuler 5,9%, tahun 1981
147

merambat sampai 9,1%, tahun 1986 melonjak menjadi 16% dan tahun 1995 meningkat menjadi 19%. Di berbagai negara maju maupun berkembang lebih dari 25 ahun, penyakit ini menjadi pembunuh nomor satu. Seperti telah diketahui bersama dibeberapa literature ,adanya peranan respon system saraf simpatis yang berlebihan (hiperaktifitas simpatis) akan memicu peningkatan resistensi total pada

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

pembuluh darah perifer melalui perangsangan pada reseptor α-1 adrenergik yang terutama pada pembuluh darah arteriole. Disamping itu, perangsangan system saraf simpatis akan menyebabkan peningkatan kerja jantung berupa peningkatan curah jantung melalui reseptor β-1 agrenergik yang peka terhadap norpineprin. Dengan demikian, maka hal tersebut akan menyebabkan terjadinya hipertensi. Hipertensi disebabkan oleh multifaktorial, berupa pola dan gaya hidup yang tidak sehat, usia, akibat komplikasi beberapa penyakit tertentu, serta adanya factor keturunan/genetic dari orang tua kepada anaknya. (Ganong, 2002; Gayton, 1991; Sidabutar et. all., 1994) Salah satu faktor yang sangat beresiko menyebabkan hipertensi adalah riwayat hipertensi keluarga. V Lascaux-Lefebvre (1999) menemukan terdapat relasi antara riwayat hipertensi pada orang tua sebelum berumur 60 tahun dengan hipertensi keturunannya. Relasi itu bahkan lebih nyata lagi pada orang yang kedua orang tuanya mempunyai riwayat hipertensi dibandingkan orang yang kedua orang tuanya tidak mempunyai riwayat hipertensi (Markum, 1991). Pada tulisan penelitian ini , kami akan mencoba membuktikan korelasi ada tidaknya hubungan antara factor kelompok turunan hipertensi dari orang tua dan keluarga yang kemungkinan akan diderita oleh anak untuk menimbulkan hiperaktifitas system saraf simpatis yang mana hal ini berhubungan dalam patomekanisme untuk timbulnya hipertensi pada anak dikemudian hari. Untuk hal tersebut, kami menggunakan percobaan Cold Pressure Test (CPT) atau Test Pendinginan, dimana pada test sederhana ini
148

parameter yang digunakan berupa adanya peningkatan kerja dari sistem saraf simpatis yang disebut dengan Hipereaktor yang timbul pada saat lengan subjek dicelupkan pada air dingin dengan suhu 3-5o C selama 30 detik. (3) CPT adalah test sederhana dan dapat dilakukan dimana saja , yang dapat mengukur adanya hiperaktifitas simpatis, dengan cara mem-beri stimulus fisiologis external berupa suhu dingin. Test ini akan menstimulasi saraf simpatis sehingga dapat ditentukan apakah saraf simpatis hiperaktifitas atau tidak. Secara fisiologis adanya perang-sangan suhu dingin akan merangsang pusat pengatur suhu di Hipothalamus anterior, yang akan mempengaruhi pusat vasomotor di batang otak, kemudian melalui sistem saraf simpatis untuk meningkatkan tonus pembuluh darah arteri dan arteriole serta kerja dari jantung untuk meningkatkan tekanan darah (Gayton, 1991, Irfan & Agnes, 2005). Carol et all (1996) dan Fumiyagi Kasogi (1995), test ini mendeteksi pening-katan tekanan darah subjek akan meningkat pada umur pertengahan (40 tahun keatas), apabila tidak dicegah faktor-faktor penyebab terjadinya hipertensi (Irfan & Agnes, 2005). Hasil penelitian ini diharapkan dapat membuktikan korelasi peningkatan hiperaktifitas simpatis pada seorang anak kelompok penderita hipertensi ada atau tidak, kemudian apakah hiperaktifitas simpatis tersebut akan menjadi lebih besar untuk terkena hipertensi dikemudian hari atau tidak masih perlu pemantauan subyek lebih lanjut sampai subjek mencapai umur kans resiko menderita hipertensi yaitu usia pertengahan (40 tahun keatas), serta jika

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

test ini dapat membuktikan hal tersebut, maka test ini diharapkan dapat menjadi salah satu metode sederhana untuk mencegah sedini mungkin untuk timbulnya hipertensi dikemudian hari bagi yang mempunyai riwayat hipertensi dari orang tua. Metode Penelitian Penelitian ini adalah Crossectional Study, yang membandingkan reaksi hiperaktifitas simpatis berupa hipereaktor pada kelompok subjek yang mempunyai riwayat hipertensi dari orang tua maupun keluarga, melalui test pendinginan (CPT). Tempat penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar yang menggunakan subjek penelitian adalah mahasiswa-mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Makassar sebanyak 173 sampel, dengan usia berkisar 1821 tahun tanpa memandang perbedaan jenis Kelamin, yang sebelumnya menandatangani informed consent yang telah disiapkan. Dalam penelitian ini diawali dengan pelaksanaan pembagian kuisoner riwayat hipertensi pada populasi subjek, yang kemudian diadakan pengelompokkan berdasarkan ada dan tidaknya riwayat hipertensi dari orang tua dan keluarga, menjadi : Kelompok subjek dengan riwayat hipertensi dari ayah, ibu, ayah dan ibu, keluarga, dan tanpa riwayat hipertensi . Sebelumnya, subjek diminta untuk istirahat 10 menit lalu diukur tekanan darah istirahatnya dengan menggunakan sphygmanometer digital sebagai pretest, selanjutnya dilakukan kegiatan posttest berupa test pendinginan dengan perendaman lengan subjek sampai sedikit diatas siku dalam wadah
149

menggunakan air dingin bersuhu 3-5o C. Setelah lengan subjek direndam, setiap 30 detik, tekanan darah dan nadi diukur kembali dengan memakai sphygmanometer digital. Perubahan sistolik maupun diastolik saat perendaman ini akan dibandingkan dengan tekanan darah istirahat, apakah ada hipereaktor atau hiporeaktor. Hasil Penelitian Pada penelitian ini, kami menggunakan 173 sampel dari hasil pemeriksaaan Cold Pressure Test (CPT) selama 30 detik pada subyek mahasiswa Fakultas kedokteran UMI yang berumur berkisar 18 – 21 tahun pada tahun 2004-2005. Pada penelitian ini, kami membagi sampel menjadi 5 kelompok berdasarkan riwayat turunan hipertensi kedua atau salah satu orang tua serta yang tidak mempunyai riwayat : Ayah yang hipertensi (A+) sebanyak 43 sampel, ibu yang hipertensi ( I+) sebanyak 26 sampel, Ayah dan ibu hipertensi (AI+) sebanyak 15 sampel, dari keluarga yang hipertensi (K+) sebanyak 40 sampel, dan yang tidak memiliki faktor keturunan non-hipertensi sebanyak 49 sampel. Dari tabel dan grafik terlihat bahwa dari pengolahan data dengan melihat hasil Chi-Square semua kelompok (5) sampel, dimana dari data semuanya menunjukkan hubungan yang lemah antara faktor turunan hipertensi dari orang tua kepada anaknya terhadap peningkatan hiperaktifitas sistem saraf simpatis (hiperpereaktor). Dengan melihat resiko estimasi terlihat bahwa nilai resiko seorang anak akan lebih besar mengalami

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

hiperaktifitas simpatis (hiper-aktor) sebesar 1.84 kali (PR = 0.91-3.71) dari kelompok ibu hipertensi. Kemudian disusul riwayat keluarga sebesar 1.36 kali (PR = 0.79-2.34 ), lalu faktor ayah dan ibu sebesar 0.91 kali (PR = 0.33-2.56), lalu faktor ayah hipertensi 0.87 (PR = 0.51-1.55), dan terakhir faktor nonriwayat sebesar 0.595 (PR = 0.34-1.05 ).
Tabel 1. karakteristik dan hasil sampel penelitian
Variabel Sampel (n) Gender(L/P) Ibu (+) 26 6/20 Ayah Ibu (+) 15 7/8 Ayah ( +) 43 23/20 Keluar Non ga (+) riwayat 40 49 16/24 23/26

kelompok sampel dengan riwayat hipertensi dari ibu sebesar 50 %, kemudian riwayat keluarga sebesar 42%. Kemudian disusul riwayat ayah dan ibu sebesar 33%, lalu riwayat ayah sebesar 32 %, dan terakhir adalah non-riwayat sebesar 24 %. Diskusi Dari hasil penelitian kami dapat dilihat bahwa faktor riwayat hipertensi ibu nampaknya lebih berpengaruh untuk bisa meningkatkan hiperaktifitas sistem saraf simpatis yang disebut hipereaktor pada anak dibandingkan dari riwayat hipertensi ayah maupun non riwayat baik dilihat dari resiko estimasi maupun secara prosentase yang dapat dilihat pada tabel di atas. Walaupun faktor keturunan hipertensi mempunyai hubungan yang lemah, dengan signifikan (p>0,05) terhadap hiperaktivitas saraf simpatis pada anak. Hasil penelitian ini didukung oleh adanya studi yang dilaku-kan oleh Kuznetsova T et all tentang kecen-derungan pengaruh maternal lebih besar daripada paternal pada pembesaran ventrikel kiri seorang anak (Kuznetsova, 2002) dan oleh beberapa studi sebelumnya antara lain Musante et al, Kellogg FR et all, Lemne CE dan Hansen HS et all. Musante (1990) dari hasil studinya mengemukakan bahwa terdapat pengaruh riwayat hipertensi keluarga terhadap reaktivitas kardiovaskuler pada anak, dengan menggunakan metode forehead cold stimulation (Thomas et all, 2000). Studi lain yang dilakukan oleh Kellogg (1981) dan Hansen (1992) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara riwayat hipertensi keluarga dengan peningkatan tekanan darah pada anak yang menjelang dewasa

Umur (Thn) 19.5 + 19.5 + 19.5 + 19.6 + 19.5 + 0.78 0.99 0.80 0.94 0.99 TB (cm) 155.8 + 160.2 + 64.6 + 155.5 + 160.4 BB (kg) 5.3 9.3 19.2 17.5 + 7.3 49.3 + 49.9 + 56.6 + 49.5 + 52.6 11.1 7.9 13.7 9.9 + 9.9 CPT 30 dtk 13 5 5 14 17 12 Hipereaktor (50%) (33%) (32%) ( 42% ) ( 24 % ) Hiporeaktor 13 10 29 23 37 (50%) (67%) (68%) ( 58 %) ( 76 % ) 1.84 0.91 0.87 1.36 0.595 PR (0.91 - (0.33 (0.51 - (0.79 (0.34 3.71) 2.56) 1.55) 2.34) 1.05) Chi-Square 0.08 0.87 0.67 0.27 0.06 (P)

80 70 60 50 40 30 20 10 0 Ayah + Ibu + Ayahibu Keluarga + + non

Hiper normal

Berdasarkan prosentase yang meng-alami hiperaktifitas simpatis (hipereaktor) terlihat bahwa ; nilai prosentase tertinggi di alami oleh
150

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

(Musante, 1990; Kellogg, 1981; Lamne, 1998; Kelsey, 2000). Tetapi hal ini terutama berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Lemne (1998) pada anak-anak diatas 12 tahun, dimana riwayat hipertensi ayah mempengaruhi peningkatan tekanan darah anak (Hansen, 1992). Belum ada teori maupun studi sebelumnya yang secara mendetail menjelaskan bahwa faktor ibu yang lebih berpengaruh dibandingkan ayah dalam meningkatkan hiperaktifitas simpatis pada anak. Walaupun kemungkinan hal ini dikaitkan dengan adanya factor turunan kromosom pada DNA mitokondria ibu yang dominan melalui proses fertilisasi, dimana mitokondria sel sperma tidak dapat masuk ke dalam sel telur ibu seperti halnya penjelasan studi oleh Kuznetsova T et all. tentang kecenderungan pengaruh maternal lebih besar daripada paternal pada pembesaran ventrikel kiri seorang anak (Kuznetsova, 2002). Tetapi hal ini perlu di telusuri lebih lanjut dengan menambah jumlah sampel penelitian maupun pada populasi yang lain , serta metode alat yang lebih mendukung untuk dapat menjelaskan tentang apakah memang faktor turunan hipertensi ibu lebih berpengaruh dibandingkan faktor ayah dalam peningkatan hiperaktifitas simpatis pada anak. Kesimpulan Faktor riwayat hipertensi ibu lebih berpengaruh untuk bisa meningkatkan hiperaktifitas sistem saraf simpatis (hipereaktor) pada anak dibandingkan dari riwayat hipertensi ayah maupun non riwayat melalui metode Cold Pressure Test (CPT).
151

Daftar Pustaka Ganong WF, 2002. Hipertensi, Homeostatis Cardiovascular dalam keadaan Sehat dan Sakit dalam Buku Fisiologi Kedokteran, Lange EGC, Edisi 20 , Penerbit Buku Kedokteran , Jakarta, hal. 615 – 16. Guyton AC, 1991. Hipertensi dalam Buku Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Lange EGC, Edisi Revisi, Penerbit Buku Kedokteran Jakarta. Idris, Irfan., Agnes B., 2005. Hubungan Peningkatan Hiperaktifitas Simpatis dengan Kejadian Preeklampsia dan Hipertensi Pada Ibu Hamil, dalam Jurnal Penelitian Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Hansen HS. et all., 1992. Blood Pressure and Cardiac Structure in Children with a Parental History of Hypertension: The Odense Schoolchild Study. J Hypertens; 10(7): 677-82 Kellogg FR et all., 1981. Influence of Familial History of Hypertension on Blood Pressure During Adolescence. Am J Dis Child ;135(11) : 1047-9 Kelsey et all. 2000. Consistency of Hemodynamic Responses to Cold Stress in Adolescents Hypetension ; 36(6): 1013-7. Kuznetsova T et all, 2002. Maternal and Parental Influences on left Ventricular mass of offspring, Hypertension. American Heart Association : 69-74. Lemne CE, 1995. Increased Blood Pressure Reactivity in Children of Borderline Hypertensive Fathers. J Hypertensi ; 16(9): 1243-8.

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Loyke HF, Saint V, 1995. The Cold Pressure test Is Predictor Of the Severirty Of Hipertensión. Medical Journal ; 88(3) : 300-4. Markum AH, 1991. Hipertensi Sistemik, dalam buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I, Penerbit Bagian Ilmu Kesehatan Anak Facultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta ; 639. Musante L et all., 1990. Family history of hypertension and cardiovascular reactivity to forehead cold stimulation in black male children. J Psychosom Res ; 34(1) : 111-6. Nitemberg A, Cheula D, Anthony I, 2004. “Epicardial Coronary Arteri Contruction Cold Pressure Test is Predictive of Cardiovascular Events” In Hipertensión patients UIT Angiographically Normal Coronary Arteries and Without Other Major Coronary Risk Factor, Centre Hospitalier Universty Jean Verdier. France ; 173(1) ; 115-23.

Rajashekar RK, Nivedhita Y, Ghosh S, 2003. Blood Pressure Response To Cold Pressure Test in Siblings Of Hipertensión, Department Of Physiology, Kasturba Medical College, Mangalore, India ; 47(4) ; 453-8. Setiawan A et. all, 1995. Antihipertensi, dalam Buku Ajar Farmakologi dan Therapi, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Uviversitas Indonesia, Edisi 4 ; 315 – 16. Sidabutar RP , Wiguno P, 1994. Hipertensi Essencial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FK-UI, Jakarta ; 205-6. Thomas F, Lusher, Mathias B., 2000. Endothelins and Endothelin Receptor Antgonist, Circulatio ; 102 ; 2434 – 40.

152

Vol. II, No. 3 tahun 2009 ARTIKEL ASLI

Merokok, Kesehatan Jurnal Madani FKM UMI Mental, Sindrom Metabolik

Perilaku Merokok dan Kesehatan Mental Pasien Rawat Jalan Sindrom Metabolik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar 2009
Nurhaedar Jafar, Harlina dan Lucianne Drusilla Rante
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

Abstrak Tingginya prevalensi sindrom metabolik disebabkan oleh faktor gaya hidup dan lingkungan. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan kesehatan mental dan perilaku merokok dengan kejadian sindrom metabolik. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang berobat jalan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Sampel penelitian adalah pasien rawat jalan baru yang berkunjung di bagian Poliklinik Endokrin. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling yaitu sebanyak 140 orang. Data diolah dengan menggunakan program SPSS dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Variabel kesehatan mental dianalisis dengan menggunakan uji statistic chi-square. Hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar responden yang mengalami sindrom metabolik tidak merokok (80,2%), yang merokok umumnya adalah perokok berat (91,7%), merokok filter (75%), dengan lama merokok singkat (75%). Untuk kesehatan mental diperoleh nilai P = 1,000 > α (0,05) yang berarti tidak ada hubungan antara gangguan kesehatan mental dengan kejadian sindrom metabolik. Penelitian ini menyarankan perlunya dilakukan suatu penelitian yang lebih mendalam mengenai pengaruh kesehatan mental terhadap kejadian sindrom metabolik. Kata kunci : sindrom metabolik, merokok, kesehatan mental

153

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Smoking Behavior and Mental Health with Metabolic Syndrome OutPatient in Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar 2009
Nurhaedar Jafar, Harlina dan Lucianne Drusilla Rante Abstract The high prevalence of metabolic syndrome is caused of lifestyle and environment factors. This study was aimed to know the association of mental health and description of smoking behavior with metabolic syndrome. This study was an descriptive study. The study population was all visitor of Endocrine polyclinic in Dr.Wahidin Hospital. The study sample was the new out-patient visiting in Endocrine polyclinic. Sampling was done by accidental sampling with 140 samples. Data was processed using SPSS program and presented in table and narration. Mental health variable was analyzed statistic with chi-square test. The study result showed that most of respondent having metabolic syndrome did not smoke (80.2%), the smoker commonly heavy smoker (91.7%), filter cigarette (75%), short smoking period (75%). The analysis result showed that P Value (P=1,000) higher than α value ( α=0,05), this means that there was no association between mental health disorder and metabolic syndrome. This study suggest that it is necessary to be done a further study that more deep about the effect of mental health with metabolic syndrome. Key words : Metabolic syndrome, Mental health, smoking

Pendahuluan Sindrom metabolik adalah sekelompok kelainan metabolik baik lipid maupun nonlipid yang merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner, yang terdiri atas obesitas sentral, dislipidemia aterogenik (kadar trigliserida meningkat dan kadar kolesterol high density lipoprotein (HDL) rendah), hipertensi, dan glukosa plasma yang abnormal (Adriansjah, & Adam, 2006). Di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) didapatkan prevalensi sindrom metabolik dengan menggunakan criteria the National Cholesterol education
154

Program (NCEP) Adult Treatment Panel (ATP) III sebesar 24,4 % dari 3.429 populasi yang diteliti (Sartika, C., 2006). Sindrom Metabolik (SM) berkaitan erat dengan faktor penyebab obesitas seperti pola makan, kurang olah raga, gaya hidup dan faktor genetik. Salah satu komponen gaya hidup yang merugikan kesehatan adalah merokok dan konsumsi alkohol. Berdasarkan laporan NCHS tahun 2005 prevalensi merokok (18 tahun keatas) adalah 46.600.000 (25.900.000 laki-laki dan 20.700.000 wanita)3 American Hearth Association, 2008.. WHO melaporkan bahwa Indonesia adalah salah satu dari

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

lima negara yang terbanyak perokoknya di dunia. Prevalensi perilaku merokok di kalangan orang dewasa juga semakin meningkat (tahun 1995 sebesar 26,9% dan tahun 2004 sebesar 35%). Sebanyak 70% penduduk Indonesia adalah perokok aktif dan dilihat dari sisi Rumah Tangga (RT) 57% memiliki anggota RT yang merokok, dan hampir semuanya merokok di dalam rumah ketika bersama anggota RT lainnya. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah masyarakat mulai merokok sejak usia 8 tahun (Nuryati, 2007). Studi eksperimental yang baru menunjukkan bahwa merokok dapat merusak kerja insulin secara akut, pada subjek baik yang sehat maupun pada pasien Non-insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) (Targher et all., 2009). Kejadian sindrom metabolik juga tidak lepas dari pengaruh lingkungan. Faktor lingkungan yang di maksud terkait dengan kondisi kesehatan mental khususnya stres yang dialami penderita sindrom metabolik yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan seperti gangguan fisiologis, psikologis dan perilaku. Data hasil Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun sebanyak 11,6%. Prevalensi tertinggi terdapat di provinsi jawa barat (20%) dan terendah di kepulauan Riau (5,1%) (Riskesdas, 2008). Penelitian ini ditujukan untuk memperoleh informasi tentang hubungan kesehatan mental dan gambaran perilaku merokok dengan kejadian sindrom metabolik. Bahan dan Metode Lokasi, populasi, dan sampel penelitian
155

Penelitian ini dilaksanakan di Poli Endokrin RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Lokasi ini dipilih mengingat poli ini merupakan pusat pelayanan rawat jalan yang di dalamnnya mencakup bagian Diabetes dan Hipertensi. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien yang berobat jalan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Sampel adalah pasien rawat jalan baru yang berkunjung ke bagian Poli Endokrin. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 140 orang dengan pengambilan sampel secara accidental sampling yaitu mereka yang datang pada saat penelitian berlangsung dan bersedia untuk diwawancarai. Pengumpulan Data Pengumpulan data sekunder berupa hasil pemeriksaan laboratorium pasien dan data primer berupa wawancara dengan menggunakan format kuesioner. Kuesioner mencakup pertanyaan tentang perilaku merokok dan keadaan kesehatan mental Selain itu dilakukan pula pengukuran antropometri pasien berupa penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan lingkar perut. Data diolah dan dianalisis dengan menggunakan program SPSS 12 dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Data kesehatan mental dianalisis dengan uji statistic chisquare. Kesehatan mental dinilai berdasarkan Riskesdas dan Mini Neuropsychiatri. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Responden Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar kelompok umur yang

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

mengalami sindrom metabolik adalah yang berumur 40-49 tahun yaitu 87%, sedangkan yang tidak mengalami sindrom berumur < 40 tahun yaitu 57,1%. Persentase tertinggi yang mengalami sindrom metabolic adalah jenis kelamin perempuan (78,6%) sedangkan berdasarkan pendidikan, yang mengalami sindrom metabolik adalah yang berlatar pendidikan diploma (95,2%) sedangkan yang tidak mengalami sindrom adalah sarjana (32,4%). Jenis pekerjaan responden yang mengalami sindrom sebagian besar adalah pedagang (100%), sedangkan yang tidak mengalami sindrom metabolik sebagian besar berprofesi sebagai IRT (20%). 2. Perilaku Merokok Tabel 2 menunjukkan komponen perilaku merokok. Berdasarkan status merokok, sebagian besar responden yang mengalami sindrom metabolik (SM) umumnya tidak merokok yaitu 80,2%. Dari 38,6% responden yang merokok, yang mengalami SM sebagian besar merupakan perokok berat (konsumsi ≥ 20 batang/hari) yaitu 91,7%. Jenis rokok yang dikonsumsi oleh responden yang menderita SM sebagian besar adalah berfilter yaitu 75% sedangkan yang tidak mengalami SM sebagian besar mengkonsumsi rokok non-filter (30%). Berdasarkan lama merokok, sebagian besar responden yang menderita sindrom metabolik lama merokoknya singkat (< 10 tahun) yaitu 75%. 3. Kesehatan Mental Tabel 3 menunjukkan bahwa responden yang mengalami gangguan kesehatan mental berdasarkan Riskesdas, sebagian besar menderita sindrom metabolik
156

yaitu 78,5% sedangkan yang tidak mengalami gangguan mental sebanyak 21,5% yang tidak mengalami sindrom metabolik. Hasil analisis dengan Uji Chi Square diperoleh nilai p= 1,000 > 0,05 maka hipotesis nol diterima, ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara gangguan kesehatan dengan kejadian sindrom metabolic berdasarkan kriteria Riskesdas. Tabel 3 menunjukkan bahwa responden yang mengalami gangguan mental berdasarkan Mini Neuropsychiatric sebagian besar mengalami sindrom metabolik yaitu 77,5%. Sedangkan yang tidak mengalami gangguan mental, yang mengalami sindrom metabolic yaitu 77,8%. Hasil analisis statistik dengan chi square diperoleh nilai p = 1,000 > 0,05 maka hipotesis nol diterima. Hal ini berarti tidak ada hubungan antara gangguan kesehatan mental menurut Mini Neuropsychiatric dengan kejadian sindrom metabolik. Pembahasan 1. Perilaku Merokok Sindrom metabolik merupakan kumpulan gejala metabolik yang juga merupakan salah satu faktor risiko yang manifestasi akhirnya adalah penyakit kardiovaskuler. Hal ini disebabkan oleh pengaruh gaya hidup dan lingkungan disamping faktor genetik, jenis kelamin, umur, hiperkolesterol, diabetes mellitus, dan obesitas. Salah satunya komponen gaya hidup adalah merokok. Merokok diketahui dapat menurunkan jumlah kolesterol HDL, meningkatkan kadar LDL serta merangsang hormon katekolamin yang bersifat memacu jantung dan tekanan darah. Jantung tidak

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

diberikan kesempatan beristirahat dan tekanan darah semakin tinggi, yang berakibat timbulnya hipertensi yang merupakan faktor risiko sindrom metabolic (Kabo, 2008). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar responden yang mengalami sindrom metabolik tidak merokok. Hanya 74,1% responden yang merokok. Sedangkan yang tidak SM 25,9 % yang merokok. Yang terpenting dalam rokok adalah jumlah batang rokok yang dikonsumsi, bukan lamanya seseorang merokok (Soeharto, 2004). Orang yang merokok > 20 batang sehari dapat mempengaruhi atau memperkuat dua faktor risiko utama (Hipertensi dan hiperkolesterolemia) (Anwar, 2004). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar reponden yang merokok dan mengalami sindrom metabolik umumnya adalah perokok berat (konsumsi > 20 batang/hari) yaitu 91,7%, sedangkan yang tidak sindrom adalah perokok ringan (31%). Merokok ≥ 20 batang/hari akan menurunkan HDL (laki-laki 11%, perempuan 14%). Angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan merokok sigaret hampir bekorelasi linier dengan jumlah batang rokok yang dihisap setiap hari dan tahun pemakaian. Berdasarkan jenis rokok yang dikonsumsi, umumnya responden yang mengalami sindrom metabolik menggunakan rokok filter (sigaret ) yaitu 75%. Maraknya penggunaan filter dan sigaret yang “ rendah tar dan nikotin” telah mengurangi risiko secara nyata, tetapi masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menilai kegunaan cara tersebut. Walaupun adanya penggunaan filter, namun apabila perokok mengambil hisapan lebih besar sehingga pemaparan ke berbagai komponen asap rokok yang
157

berbahaya namun tidak mnurunkan risiko karena rokok yang berfilter memberikan banyak CO daripada rokok nonfilter (Humranengsi, 2002). Berdasarkan lama merokok diperoleh bahwa persentase tertinggi responden yang mengalami SM adalah yang lama merokoknya singkat ( <10 tahun) yaitu 75%, sedangkan yang tidak SM sebagian besar telah lama merokok ( ≥10 tahun) yaitu 26%. Lama kebiasaan merokok merupakan dose response terhadap kejadian sindrom metabolik. Variabel jumlah rokok yang dihisap setiap hari lebih menggambarkan efek kumulatif dari bahan beracun yang terkandung dalam rokok dibandingkan dengan lama kebiasaan merokok. Hasil penelitian “ Lipid Research Program Prevalence Study” menyebutkan bahwa yang paling penting adalah jumlah rokok yang dikonsumsi dibandingkan lamanya seseorang merokok (Anwar, 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Wardoyo (1999) yang mengatakan bahwa rokok sangat berpengaruh terhadap hipertensi dimana pengaruhnya bukan hanya karena merokok tetapi sangat dipengaruhi oleh lamanya dan jumlah merokok, karena semakin lama merokok dan banyaknya yang dihisap/dikonsumsi, maka tekanan darah akan meningkat dalam waktu yang lama pula, dan bahkan cenderung untuk menetap. Zat yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat adalah nikotin, merangsang saraf simpatis dan diikuti oleh pelepasan epinerfin sehingga denyut nadi cardiac output, resistensi vascular akan meningkat, dan tekanan darah pun meningkat secara intermitten (Jallo, 2006).

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

2. Kesehatan Mental Hasil penelitian diperoleh bahwa berdasarkan kriteria Riskesdas menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang mengalami gangguan mental, 78,5% mengalami sindrom metabolic, sedangkan yang tidak mengalami gangguan mental yang mengalami sindrom metabolik juga tinggi yaitu 77,0%. Dari analisis yang menggunakan chi square diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara keadaan kesehatan mental berdasarkan riskesdas dengan kejadian sindrom metabolik. Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa jumlah antara responden yang mengalami gangguan mental dan tidak mengalami gangguan mental baik yang sindrom metabolik maupun yang tidak sindrom metabolik menunjukkan angka yang tidak terlalu menonjol atau hampir sama, sehingga angka yang hampir sama inilah yang mempengaruhi variabel keadaan kesehatan mental berdasarkan riskesdas tidak mempunyai hubungan dengan kejadian sindrom metabolik, artinya responden yang mengalami gangguan mental (78,5%) maupun tidak mengalami gangguan mental (77,0%) berpeluang untuk mengalami sindrom metabolik. Walaupun dari analisis uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara gangguan kesehatan mental berdasarkan riskesdas dengan kejadian sindrom metabolik, akan tetapi hasil penelitian ini menunjukkan lebih banyak responden sindrom metabolik yang mengalami gangguan mental. Hal ini sesuai dengan teori bahwa gangguan mental yang berkepanjangan akan mengakibatkan seseorang mengalami kejadian sindrom metabolik. Dari hasil penelitian pada tabel 3, berdasarkan kriteria Mini Neuropsychiatric
158

menunjukkan persentase responden sindrom metabolik yang mengalami gangguan mental (77,5%) lebih kecil dibandingkan dengan responden yang sindrom metabolik tetapi tidak mengalami gangguan mental (78,3%). Dari analisis dengan menggunakan uji chi square diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel keadaan kesehatan mental dengan kejadian sindrom metabolik. Ini menunjukkan bahwa keadaan kesehatan mental berdasarkan Mini Neuropsychiatric tidak menentukan seseorang mengalami kejadian sindrom metabolik. Banyak gejala yang berhubungan dengan kesehatan mental akibat dari adanya sindrom metabolik sehingga menimbulkan rasa cemas, gelisah, khawatir, dan ketakutan berlebihan pada responden. Gangguan kesehatan mental ini juga timbul akibat faktor umur dari responden Akibat proses menua pada usia lanjut mengalami berbagai perubahan yang terjadi secara alami, baik aspek fisik, psikis dan sosial. Berdasarkan indikator gangguan mental-emosional (Depkes RI, 2007), maka ditemukan 38,5% usia lanjut yang mengalami gangguan mental-emosional yang paling banyak dijumpai adalah gangguan sulit tidur. Hal ini didukung oleh penelitian oleh Tety S. (2005) yang mendapatkan usia lanjut yang mengalami gangguan tidur sangat banyak. Salah satu gangguan kesehatan mental berupa terganggunya pola tidur atau tidak dapat tidur lelap. Gangguan pola tidur ini dapat diakibatkan oleh meningkatnya hormon stres dalam tubuh yang kemudian akan mengganggu jalannya metabolisme

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

sehingga detoksifikasi (proses penetralan racun dalam tubuh) tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat mengakibatkan produk sampingan metabolisme yang dapat mengakibatkan gelisah pada saat tidur. Pola tidur merupakan suatu kebiasaan yang terbentuk dari suatu proses namun pola tidur seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor kelelahan dan faktor psikologis. Setelah bekerja keras seharian, umumnya seseorang akan lebih mudah dan cepat merasa ngantuk dan tertidur. Sebaliknya, seseorang yang mengalami kelainan psikologis, seperti banyak pikir, sering merasa khawatir menyebabkan gangguan pada dirinya sehingga kesulitan untuk tidur. Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa bahwa seseorang yang tidur dibawah 6 jam sehari atau kurang tidur akan berdampak pada stamina tubuhnya, yaitu tubuh menjadi lesu, kurang konsentrasi dan lain-lain (Sundari, 2005). Hasil penelitian lain yang dikemukakan oleh Leonard Marvyn (1995) yang menyatakan bahwa stres, baik fisik maupun emosional menyebabkan kenaikan sementara pada tekanan darah namun bila stres tersebut menjadi kebiasaan yang menetap dalam kepribadian seseorang setiap hari, maka tekanan darah pun akan naik dan dalam periode waktu yang lama dan cenderung untuk bertahan terus, menyebabkan hipertensi yang menetap. Sindrom metabolik merupakan kumpulan gejala kelainan metabolik, yang penyebabnya bukan hanya akibat stress, namun faktor gaya hidup dan genetik juga berpengaruh (Adriansjah & Adam, 2006).
159

Kesimpulan dan Saran Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa responden yang mengalami sindrom metabolik (SM) sebagian besar tidak merokok, yang merokok merupakan perokok berat, jenis rokok yang dikonsumsi umumnya berfilter dengan lama merokok ≥ 5 tahun. Untuk kesehatan mental diperoleh bahwa Tidak ada hubungan antara gangguan kesehatan metal dengan kejadian sindrom metabolik baik berdasarkan Riskesdas maupun Mini Neuropsychiatric. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka disarankan perlunya penelitian lebih lanjut yang memperhatikan efek kumulatif dari bahan berbahaya rokok dengan menghitung jumlah rokok yang telah dihisap sampai habis dan lama merokok intensif dan juga penelitian yang lebih mendalam mengenai pengaruh kesehatan mental (fisiologis, psikologis dan perilaku) terhadap kejadian sindrom metabolik. Daftar Pustaka Adriansjah, H., & Adam, J., 2006. Sindroma metabolik; pengertian, epidemiologi dan kriteria diagnosis. Forum Diagnosticum, 2006. 4:0854-7165 American Hearth Association, 2008. Update At Glance. Hearth diseases and stroke statistik. Anwar, T., 2004. Faktor risiko Penyakit Jantung Koroner. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. Depkes RI, 2007. Modul entry data kuesioner Riskedas, Jakarta

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Humranengsi, Hubungan merokok dengan kejadian PJK di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2002. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Jallo, K., 2006. Faktor risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi pada usia dewasa muda (20 – 40 Tahun) Di Unit Rawat Jalan Rs Labuang Baji Makassar. Skripsi FKM Unhas Makassar Kabo, P., 2008. Mengungkap pengobatan penyakit jantung koroner. Jakarta : PT Sun Nuryati, S., 2007. Indonesia tobacco control network. http://webbisnis.com/edisicetak/opini/i.d66456.html. diakses 28 Juni 2008 Riskesdas, 2008. Laporan akhir Riset Kesehatan Dasar Propinsi Sulawesi Selatan. Depkes. Jakarta

Sartika, C., 2006. Penanda inflamasi, stress oksidatif dan disfungsi endotel pada sindrom metabolik. Forum diagnosticum Prodia diagnostics educational servis. Soeharto, 2004. Serangan jantung dan stroke. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Sundari, S., 2005. Kesehatan mental dalam kehidupan. Jakarta: Rhineka Cipta Targher, G., dkk., Cigarette smoking and insulin resistance in patients with noninsulin-dependent diabetes mellitus. Journal of clinical Endocrinology and metabolism. www.jcem.endojournals.org. diakses 22 Februari 2009

160

Vol. II, No. 3 tahun 2009 ARTIKEL ASLI

Jurnal Madani FKM UMI Kontaminasi Arsen,
Air Minum, Buyat

Analisis Resiko Kesehatan Terhadap Kontaminasi Arsen Pada Air Minum di Daerah Buyat Sulawesi Utara
Anwar Daud*, Nur Nasry Noor**, H.J. Mukono***, M. Sjahrul****
*Jurusan Kesehatan Lingkungan FKM-UNHAS, Makassar **Jurusan Epidemiologi FKM-UNHAS ***Jurusan Kesehatan Lingkungan FKM-UNAIR ****Jurusan Kimia Fakultas MIPA-UNHAS

Abstrak Kontaminasi air tanah, terutama kontaminasi arsen adalah sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, bila air tersebut digunakan untuk keperluan rumah tangga. Di Asia telah dilaporkan bahwa di Banglades, China dan India, Kamboja, Myanmar, Pakistan, Thailand, Indonesia dan Laos ada daerah-daerah di mana air tanah tercemar oleh arsen. Di Indonesia khususnya di Buyat konsentrasi arsen yang tinggi telah pula ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kesehatan pencemaran arsen di Desa Buyat. Jenis penelitian adalah observasional dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL),dimana jumlah sumur diperiksa airnya 25 buah, jumlah kasus 54 penduduk yang menderita keliainan kulit (keratosis atau hyperkeratosis). Hasil yang didapatkan, 90% air sumur tercemar di desa Buyat dengan konsentrasi minimum (0,0063 mg/l), maksimum (0,1040 mg/l) dan ratarata±SD (0,040±0,030 mg/l). Risiko kesehatan (RQ) telah melampaui angka 1, Duration time telah ditemukan 1,5 tahun,Cmax 0,0082 mg/l, dan laju konsumsi maksimum 53 Pendahuluan ml/hari/orang dengan berat badan 35 kg. Kata kunci : Analisis risiko keshatan, Pencemaran arsen, Buyat

161

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Smoking Behavior and Mental Health with Metabolic Syndrome OutPatient in Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar 2009
Nurhaedar Jafar, Harlina dan Lucianne Drusilla Rante Abstract Groundwater Contamination, especially arsenic is very dangerous for human health if water is used for domestic purposes. In Asia was report that in Bangladesh, China and India, Cambodia, Myanmar, Pakistan, Thailand, Indonesia and Laos are arsenic pollution areas. This study was health risk assessment for arsenic pollution in Buyat Village, This study was intended to examine risk factors of rice, drinking water, urinary, and blood arsenic levels to skin lesions at peoples in North Sulawesi. This was observational study with design Environmental Health Risk Assessment (EHRA) whereas 25 wells examined and cases (n=54) were people suffering for skin lesion (keratosis or hyperkeratosis) living in Buyat Village (exposure areas). The result, 90% dig wells in Buyat Village were arsenic contamination with minimum (0,0063 mg/l), maximum (0,1040 mg/l) and mean ± SD (0,040±0,030 mg/l). Health risk (RQ) was over than value one, duration times 1.5 years, Cmax. 0,0082 mg/l, and exposure way (R) maximum 56 ml/day/man with 35 kg body weight. Key words : Health risk assessment, Arsenic pollution, Buyat

Pendahuluan Setiap tahun, insiden kontaminasi arsen pada air-tanah dilaporkan dari negaranegara Asia. Sebagai contoh, beberapa tempat di China baru-baru ini telah dilaporkan menjadi daerah masalah yang baru. Kontaminasi arsen parah juga dilaporkan dari Vietnam dan Indonesia, dimana beberapa juta orang dikatakan berisiko tinggi untuk mengalami keracunan arsen kronis (Rahman dkk, 1999, 2006;, Daud dan Azis, 2005, 2007). Laporan pertama tentang arsen di sumur-sumur bor, sumur gali dan sumber mata air dilaporkan pada tahun 1976 di India. Tahun yang sama dilaporkan bahwa
162

masyarakat meminum air terkontaminasi arsen di Chandigarh dan beberapa perkampungan seperti Punjab, Haryana, Himachal Pradesh di India bagian utara. Kandungan arsen yang tinggi ditemukan pada hati mereka yang mengalami fibrosis portal non-sirosis (NCPF) dan meminum air yang terkontaminasi arsen. Kontaminasi arsen pada air-tanah di propinsi Bengal Barat pertama kali ditemukan pada bulan Juli 1983. Pada tahun yang sama, ditemukan sekitar 16 pasien menglami lesilesi kulit akibat arsen, diidentifikasi dari salah satu kampung dalam distrik Parganas

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

dimana masyarakat meminum air terkontaminasi arsen dari sumur mereka di Bengal Barat (Chakraborty, 2003; Rahman, 2006). Konsentrasi arsen 545 µg/L telah ditemukan pada sampel air dari sumur pompa tangan di India. Lebih lanjut dilaporkan bahwa kandungan arsen tinggi dalam hati lima dari sembilan pasien yang mengalami hipertensi portal non-sirosis (NCPH) yang telah meminum air yang terkontaminasi arsen, fibrosis porta non-sirosis (NCPF) dan obstruksi vena portal ekstrahepatik pada orang dewasa sangat umum di India dan menunjukkan bahwa konsumsi air yang terkontaminasi arsen bisa memiliki peranan dalam “patogenesis penyakit”. Laporan serupa menyatakan bahwa kondisi pasien begitu parah sehingga mereka memerlukan perawatan rumah sakit. Mereka mengalami gejala hiperpigmentasi, hiperkeratosis, edema, ascites, wasting, kelemahan, nyeri dan sensasi terbakar pada jari tangan dan jari kaki. Saha, melaporkan 127 pasien dengan lesi kulit akibat arsen dari 25 keluarga (total anggota 139) dari 5 kampung di 3 distrik di Bengal Barat. Dari 127 anggota yang terkena semua mengalami melanosis difus, 39% mengalami melanosis berbintik, 37% dan 12,6% masing-masing mengalami keratosis palmoplantar dan keratosis dorsum. Ini merupakan laporan pertama tentang lesi-lesi kulit dari pasien arsen di Bengal Barat (Saha, 1999), Sebuah studi melaporkan bahwa dari 800.000 orang meminum air terkonta-minasi arsen dari distrik di Bengal Barat sekitar 175.000 orang mungkin menderita lesi kulit akibat arsen. Rasio rata-rata arsenit/arsenat dalam sampel air adalah 1:1 (Mazunder, 2008).
163

Mandal melaporkan bahwa 20.000 sampel air dari daerah tercemar arsen di Bengal Barat, sekitar 45% sampel memiliki konsentrasi arsen di atas 50 µg/L. Konsentrasi rata-rata arsen dalam air yang tercemar adalah 200 µg/L. Banyak orang yang mengalami lesi kulit seperti melanosis difus, melanosis berbintik, leukomelanosis, keratosis, hiperkeratosis, dorsum, edema non-pitting, gangren, kanker kulit. Disamping itu, ada beberapa yang mengalami kanker kanker kandung kemih dan kanker paru-paru dan lainnya Chakraborty, 2003). Para konsultan WHO mekomendasi agar (1) menilai besarnya kontaminasi di seluruh negara; (2) mengembangkan sebuah sistem pencatatan induk tentang data kualitas air; (3) membuat sebuah infrastruktur laboratorium analitik; (4) menggantikan sumber-sumber terkontaminasi dengan sumber aman dan mendorong sumber air permukaan; (5) membuat sebuah program untuk memastikan besarnya masalah kesehatan; (6) mengembangkan program medis lokal dan regional untuk membantu dalam diagnosis, screening dan pengobatan sugestif; (7) mempromosikan pendidikan publik dan pendidikan profesional tentang masalah kesehatan yang terkait arsen; dan (8) mempromosikan penelitian epidemiologi, (9) melakukan analisis kesehatan lingkungan (WHO,1996, Chakraborty, 2003). Di desa Buyat telah dilaporkan bahwa konsentrasi arsen di dalam air sumur cukup tinggi (Edinger, 2006, KLH, 2004), konsentrasi arsen pada air sumur di

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Buyat sekitar 40-100 µg/l.(BTKL Manado, 2005, Daud dan Azis, 2007). Buyat dijadikan sasaran studi ini karena desa Buyat merupakan salah satu daerah terminalisasi arsen di gugusan pegunungan Sulawesi Utara. Buyat dinyatakan salah satu daerah yang terkena imbas dari pencemaran akibat eksplorasi tambang emas di desa Ratatotok. Kasus Buyat mencuat pada awal tahun 2004 setelah banyak penyakit aneh yang diderita masyarakat pesisir (Buyat Pante) dimana tempat atau ujung pipa tailing dari Newmont yang diduga berdampak pada biota laut yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Tiga tahun kemudian masyarakat diisolasi dari tempat tersebut dan PT. NMR ditutup sampai saat ini. Walaupun ini sudah ditutup tapi masih menyisakan masalah karena kubangan yang ditinggalkan masih tetap terbuka dan pada saat musim hujan akan berisi air, kemudian air ini akan menyebar keberbagai daerah sekitarnya termasuk Buyat dimana sungai yang hulunya ada di sekitar bekas tambang tersebut. Bahan dan Metode Sebanyak 54 orang yang mengalami lesi kulit (keratosis atau hyperkeratosis) yang diperiksa air sumurnya. Sebyak 25 sumur yang digunakan oleh responden dan semua dimabil airnya untuk pemeriksaan kandungan arsen. Pengambilan Sampel air sumur pada kedalaman 20 cm di bawah permukaan air untuk sumur gali dan pada sumur bor diambil melalui kran air dan dimasukkan kedalam botol plastik bervolume 1000-1500cc. Semua sampel disimpan dalam ice box. Empat mikroliter dari asam hidroklorat murni 1% ditambahkan ke masing-masing botol air.
164

Pemeriksaan kadar arsen air minum dengan menggunakan alat Atomic Absoption Spectrophotometric Hydride Vapour) (AAS-HV, 640-12) di Labotorium BTKL-Manado sedangkan Pemeriksaan kelainan kulit di lakukan oleh tim ahli penyakit kulit dari Jepang dan Universitas Hasanuddin Makassar. Prosedur pemeriksaan sampel air, pertama diencerkan hingga 30 sampai 60 µg/L dalam sebuah matriks HNO3 2% dan 50-ppm nikel. Penambahan nikel ditemukan meningkatkan kesensitifan, mengekspansi rentang linear, dan meningkatkan reprodusibilitas. Sebanyak 10 sampai 20 µL sampel dikeringkan dalam tabung grafis, diabukan pada suhu 600oC selama 20 detik, dan diatomisasi pada suhu 2.400o C. Sebuah lampu electrode-less discharge dan sebuah konstanta waktu (filter) 0,5 detik akan digunakan. Dengan injeksi 20-µL, kesensitifan adalah sekitar 0,0023 unit absorbansi per mikrogram per liter (0,0000023 mg/L). Respons cukup linear terhadap sekurang-kurangnya 0,2300 unit absorben (sekitar 90 µg/L). Standar deviasi relatif dari injeksi pengulangan pada umumnya kurang dari 5%. Nilai blanko memiliki rata-rata sekitar 0,0025 unit absorbansi. Kebanyakan atau semua sinyal blanko disebabkan oleh gangguan elektronik pada lampu dan bagian lain dan tidak disebabkan oleh jumlah sampel arsen dalam larutan. Batas deteksi (3 x SD blanko) adalah sekitar 0,0030 µg/L atau 0,000003 mg/L. Hasil dan Bahasan Hasil analisis paparan atau exposure assessment, yang dilakukan untuk

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

mengenali jalur-jalur paparan (pathways) risk agent agar jumlah asupan yang diterima individu dalam populasi berisiko bisa dihitung. Tabel 1 memberikan estimasi bahwa seseorang dengan berat badan 35 kg yang ada diantara populasi di daerah Buyat mengkonsumsi air minum dengan konsentrasi maksimum masing-masing variabel memberikan informasi bahwa asupan nonkarsionogenik arsen air minum 0,0038 mg/l) atau Hazard Index/Indeks Bahaya (HI) adalah 12,67 mg/kg per hari, sedangkan untuk berat badan 70 kg yang diangga paling rendah risikonya didapatkan nilai HI =6,33 mg/kg per hari. Untuk asupan konsentrasi arsen rata-rata dengan berat badan 35 kg didapatkan nilai HI = 5,0 mg/kg per hari, sedangkan yang berat badannya 70 kg didaptkan HI=2,43 mg/kg per hari. Artinya penduduk yang tinggal di desa Buyat dengan berat badan antara 35-70 kg yang mengkonsumsi air minum, baik pada level konsentrasi maksimum maupun rata-rata sangat berbahaya atau mempunyai probalitas terhadap terjadinya penyakit sistemik nonkanker seperti kelainan kulit nonmelanoma karena nilai HI diatas angka 1. Seperti yang dijelaskan oleh DermNet NZ, asupan arsen yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya anemia haemolytic, leukopaenia (sel darah putih menurun) dan Proteinuria (protein di dalam urin), (DermNet NZ, 2007). Penelitian lainnya menjelaskan bahwa penyakit paru-paru kronis seperti bronchitis, penyakit paru-paru obstruktif kronis dan bronchiectasis, penyakit hati seperti noncirrhotic portal fibrosis, dan penyakit lainnya seperti polyneuropathy, Penyakit peripheral vascular, hipertensi dan penyakit jantung iskemia, diabetes mellitus, bukan-pitting

oedema pada kaki/tangan, weakness dan anemia (Mazumder, et al, 2008). Hasil analisis memberikan estimasi bahwa seseorang dengan berat badan 35 kg yang tinggal di daerah Buyat mengkonsumsi air minum dengan konsentrasi maksimum masing-masing variabel memberikan informasi bahwa asupan karsionogenik (Ik) arsen dalam air minum atau Hazard Index/Indeks Bahaya (HI) adalah 5,33 mg/kg per hari, untuk berat badan 70 kg yang diangga paling rendah risikonya terhadap kejadian kanker didapatkan nilai HI = 2,7 mg/kg per hari. Untuk asupan konsentrasi arsen rata-rata dengan berat badan 35 kg didapatkan nilai HI = 2,1 mg/kg berat badan, sedangkan yang berat badannya 70 kg didaptkan HI= 1.03 mg/kg berat badan. Artinya penduduk yang tinggal di desa Buyat dengan berat badan antara 35-70 kg yang mengkonsumsi air minum, baik pada level konsentrasi maksimum maupun rata-rata sangat berbahaya atau mempunyai probalitas terhadap terjadinya penyakit kanker seperti Kanker kulit, paru-paru, kanker hati dan kandung kemih mempunyai hubungan kuat dengan kandungan arsen yang dimakan atau diminum setiap hari (Mazumder, et al, 2008). Hasil analisis Risk Quotient (RQ) memberikan informasi estimasi bahwa apabila air minum dikonsumsi selama 350 hari per tahun dalam jangka waktu 20 tahun, maka tingkat risiko (Risk Quotient) dengan berat badan 35-70 kg dinayatakan tidak aman karena nilai RQ diatas angka 1, dimana batas tingkat risiko ditetapkan, (WHO, 2004). Untuk konsnetrasi rata-rata dengan berat badan 35-70 kg RQ juga
165

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

dinyatakan tidak aman, sehingga konsumsi air minum di daerah Buyat dengan konsentrasi rata-rata sangat potensil meningkatkan risiko terjadinya penyakit-penyakit sistemik. Hasil analisis Excess Cancer Riks (ECR) memberikan informasi estimasi bahwa mengkonsumsi air minum mengandung arsen pada konsentrasi maksimum dan rata-rata semuanya telah memberikan akses terjadinya kanker baik kanker kulit, paru-paru, kandung kemih, gastrointestinal dan leukima, (NRC, 1999, ATSDR, 2005, 2007, WHO, 2004, EPA, 2000). Hasil analisis durasi paparan atau Duration time (Dt) memberikan informasi estimasi bahwa mengkonsumsi air minum dengan konsentrasi maksimum untuk air minum 0,104 mg/kg. efek toksik arsen diprakirakan akan ditemukan pada tahun ke 1,58 pada orang yang mengkonsumsi air dengan berat badan 35 kg, untuk berat badan 70 kg baru ditemukan setelah terpapar selama 3,16 tahun. Sedangkan untuk konsentrasi ratarata dengan berat badan badan 35 kg baru ditemukan efek toksik pada tahun ke 4,11 tahun. Untuk berat badan 70 kg dengan konsumsi rata-rata arsen dalam air minum 8,21 tahun. Kalau diperhatikan laju durasi paparan dari variabel tersebut diatas, maka orang yang mengkonsumsi air mempunyai waktu pendek untuk menyebabkan toksisitas pada seseorang baik yang mempunyai berat badan ringan maupun yang berat. Jadi informasi yang didaptkan dari hasil penelitian ini adalah mengkonsumsi air yang bersumber dari air sumur di dearah Buyat sangat potensial memberikan efek toksik apabila air tersebut dijadikan air minum.

Untuk membatasi toksisitas yang ditimbulkan oleh arsen, maka hasil analisis seperti yang diperlihatkan pada tabel 1 untuk konsentrasi arsen dalam air minum yang dikonsumsi oleh seserang dengan berat badan 35 kg maksimum konsentrasi yang diperbolehkan untuk air minum 0,0082 mg/L per hari, ini jauh dibawah baku mutu yang disyaratakan (0,01 mg/l) sedangkan untuk orang dengan berat badan 70 kg batas maksimum yang diperbolehakn untuk konsumsi air minum 0,016 mg/L per hari. Hasil analisis laju konsumsi (R), informasi estimasi bahwa mengkonsumsi ikan, beras dan air minum dengan konsentrasi maksimum dan rata-rata dari air minum menurut kelompok berat badan penduduk dengan pola pajanan 350 hari/tahun dan Durasi waktu 1 tahun, 5 tahun dan 10 tahun, untuk berat badan 35 kg hanya diperbolehkan menkonsumsi air minum sebanyak 53 ml per hari dalam satu tahun terakhir, 263 ml per hari untuk 5 tahun ke depan dan 526 ml per hari untuk 10 tahun ke depan pada konsentrasi maksimum (0,1040 mg/l), sedangkan pada konsentrasi rata-rata (0,04 mg/l) untuk 1 tahun terakhir dengan berat badan 35 kg hanya diperbolehkan minum air sebanyak 137 ml/ per hari, untuk 5 tahun kedepan 684 ml per hari dan untuk 10 tahun ke depan 1,37 lietr per hari. Kemudian, bila seseorang dengan berat badan 70 kg hanya diperbolehkan mengkonsumsi air minum sebanyak 254 ml per hari pada satu tahun terakhir ,untuk 5 tahun ke depan 1.271 ml per hari dan 10 tahun kedepan 2.737 ml per hari, Air yang dipilihan dalam bahasan ini karena air merupakan kebutuhan esensial
166

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

yang harus dimenege dengan baik. Pemilihan manajemen risiko merupakan suatu langkah untuk mengamankan efek-efek nonkarsinogenik arsen. Hasilnya bisa berbeda bila yang diamankan adalah efek-efek karsinogeniknya. Laju konsumsi aman air minum menurut Tabel 2 sangat sedikit sehingga perlu pasokan air minum rendah arsen. Berapa konsentrasi arsen yang aman dari efek nonkarsinogenik bila laju konsumsi 2 L/hari selama 350 hari/tahun yang berlangsung dalam 1-10 tahun untuk populasi residensial dengan berat badan 35 kg? untuk ke depan, menjawab pertanyaan ini harus digunakan RfD yang menyatakan dosis harian yang aman. Karena RfD berarti dosis aman seluruh jalur pajanan, langkah pertama adalah meng-ubah RfD menjadi tingkat kesetaraan air minum atau drinking water equivalen level (DWEL) menggunakan berat badan dan laju konsumsi air minum. Jika digunakan berat badan 35 kg dan frekuensi pajanan 350 hari/tahun maka,
RfD mg/kg/hari x 35 kg DWEL = -------------------------------------2 liter/hari 0,0003 mg/kg/hari x 35 kg = ------------------------------------2 liter/hari = 0.005 mg/L

Air minum bukanlah satu-satunya sumber asupan Arsen. Sumber kontribusi relatif (relative contribution source, RCS) air minum untuk asupan mineral dari diet berkisar 20 – 80% dari total asupan. Jika tidak ada data yang pasti, untuk keamanan biasanya dipakai RCS 80% untuk As dari air minum (EPA 1990a). Perkalian DWEL dengan RCS
167

menghasilkan apa yang disebut MCLG (maximum contaminant level goal): Batas tingkat kontaminasi makanan yang diperbolehkan. MCLG = 0,8×0,00525 mg/L = 0,0042 mg/L = 0,004 mg/L MCLG adalah batas aman menurut kesehatan yang dianjurkan (disarankan) menjadi baku mutu bagi populasi yang berat badannya 35 kg, konsumsi air minum 2 L/hari selama 350 hari/tahun untuk jangka waktu paparan sedikitnya 30 tahun. Regulasi MCLG yang bersifat non enforceable (tidak wajib) menjadi baku mutu yang wajib ditaati memerlukan banyak pertimbangan seperti kemampuan teknologi purifikasi air baku, instrumentasi analisis arsen dalam air hasil purifikasi, biaya purifikasi dan berapa banyak (%) populasi yang akan terlindungi oleh baku mutu tersebut. Berapa batas aman arsen dalam air minum bagi populasi yang posturnya lebih besar (misal, berat badan 70 kg seperti default Amerika)? Dengan pola paparan yang sama (konsumsi 2 L/hari, 350 hari/tahun, 30 tahun) MCLG-nya ≈ 0,008 mg/L, sekitar 17% lebih tinggi dari batas aman orang Indonesia menurut nilai default , Nukman et al, 2005, dalam Rahman, 2007. Jika demikian, apakah baku mutu arsen 0,01 mg/L menurut Kepmenkes 907/2002 cukup aman bagi orang Indonesia? Perhatikan perhitungan pada tabel 5.29 ternyata hasil perhitungannya melebihi satu sehingga dinyatakan sangat tidak aman untuk orang Indonesia khusuanya masyarakat yang tinggal di Daerah Buyat.

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Kesimpulan Acceptable Daily Intake (ADI) untuk nonkarsinogen didapatkan nilai rata-rata dari arsen dalam air minum sebesar 0,0038-0,0019 mg/kg per hari untuk orang dengan berat badan 35-70 kg pada konsentrasi maksimum, sedangkan untuk konsentrasi rata-rata didapatkan 0.0015-0.00034 mg/kg per hari. ADI untuk karsinogen nilai rata-rata dari arsen dalam air minum sebesar 0.016- 0,0009 mg/kg per hari untuk orang dengan berat badan 35-70 kg pada konsentrasi maksimum. Tingkat risiko (Risk Quotient ; RQ) untuk efekefek nonkarsinogen pada konsentrasi maksimum dari variabel arsen dalam air minum berisiko untuk dikonsumsi. ECR semuanya telah memberikan akses atau peluan terjadinya kanker.Konsumsi air minum, dengan berat 35 kg didapatkan nilai Hazard Index (HI) sebesar 5,33 mg/kg per hari, pada berat badan 70 kg HI sebesar 2,7 mg/kg per hari untuk konsentrasi maksimum, untuk konsentrasi rata-rata berat badan 35 HI sebesar 2,1 mg/kg per hari dan untuk berat badan 70 kg HI sebesar 1,03 mg/kg perhari pada. Durasi paparan untuk efek toksik sudah ditemukan pada konsumsi air minum 1,58 tahun pada konsentrasi maksimum, sedangkan pada konsentrasi rata-rata untuk air minum 3,16 tahun. Batas konsentrasi maksimum (Cmax) yang diperkenankan dalam air yang dikonsumsi pada berat badan 35 kg sebesar 0,0082 mg/L per hari, sedangkan untuk berat badan 70 kg diperbolehkan minum air 0,016 mg/L per hari. Laju Konsumsi (R) yang diperbolehkan untuk air minum pada konsentrasi maksimum sekitar 53 dan 105 ml/hari untuk berat badan 35 dan 70 kg, untuk konsentrasi rata-rata berat badan 35 dan 70 kg

diperbolehkan 1.369 dan 2,737 ml/hari pada penduduk di Daerah Buyat. Daftar Pustaka ATSDR, 2005. Draft Toxicological Profile for Arsenic U.S. Department Of Health And Human Services Public Health Service, Division of Toxicology/Toxicology Information Branch 1600 Clifton Road NE, E-29 Atlanta, Georgia 30333. ATSDR, 2007. Toxicological Profile for Arsenic U.S. Department Of Health And Human Services Public Health Service, Division of Toxicology/ Toxicology Information Branch 1600 Clifton Road NE, E-29 Atlanta, Georgia 30333. Chakraborty, Dipankar, 2003. Groundwater Arsenic exposure in India, Proseding Arsenic. Daud, A. & A. Azis Hunta, 2005. Identifikasi Logam Berat Arsen Dalam Air Sumur Penduduk di Desa Buyat, Kabupaten Bolaang Mangondow. BTKL-Manado. Daud, dkk. 2007. Analisis pola konsumsi ikan dan air minum terhadap kelainan kulit pada penduduk di Desa Buyat. DermNet NZ, 2007. Arsenic poisoning. New Zealand Dermatological Society Incorporated,p.1-3 Dionex, 2008, Rapid Extraction and Determination of Arsenicals in Fish Tissue and Plant Material Using Accelerated Solvent Extraction, Application 335; p.1-5 EPA, 2000. Arsenic Occurrence In Public Drinking Water Supplies, United States Environmental Protection Agency.
168

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Mazumder, D.N. Guha, 2008. Chronic arsenic Toxicity & human health. Indian J Med Res 128; p 436-447. NRC (National Research Council), 2004. Arsenic in Drinking Water, National Academy Press, Washington, DC). Rahman, Mahfuzar, et all, 2006. Arsenic Exposure and Age- and Sex-Specific Risk for Skin Lesions: A Population-Base Case referent Study in Bangladesh, Environmental Health Perspectives; 114: 1847-1852. Rahman, Shaikh Mizanur, 1999. Arsenic In Bangladesh Ground Water: The World's Greatest Arsenic Calamity, Organized And Sponsored By Bangladesh

Chemical And Biological Society (Bcbsna) - Intronics. Technology Center, Dhaka, Bangladesh, Wagner College, New York, Usa. Saha, J. C., A. K. Dikshit, M. 1999. Bandyopadhyay, A Review of Arsenic Poisoning and its Effects on Human Health, Critical Reviews in Environmental Science and Technology, 29(3): 281–313. WHO, 2004. Risk Assessment Terminology, This Project Was Conducted Within The Ipcs Project On The Harmonization Of Approaches To The Assessment Of Risk From Exposure To Chemicals.

Lampiran : Tabel 1 Konsentrasi maksimum dan rata-rata asupan arsen dalam air minum dengan berat badan di desa Buyat Sulawesi Utara, 2008
Konsentrasi maksimum Berat Badan (kg) Ink air minum (mg/L) 0.00380 0.00332 0.00296 0.00266 0.00242 0.00222 0.00205 Ik air minum (mg/L) 0.00163 0.00143 0.00127 0.00114 0.00104 0.00095 0.00088 (RQ) air minum (tahun) 12.66362 11.08067 9.84948 8.86454 8.05867 7.38711 6.81887 6.33181 (ECR) (Dt) air (tahun) minum air (mg/L) minum 0.00244 0.00214 0.00190 0.00171 0.00155 0.00143 0.00132 0.00122 1.57933 1.80495 2.03056 2.25618 2.48180 2.70742 2.93304 3.15865 Ink air minum (mg/L) 0.00146 0.00128 0.00114 0.00102 0.00093 0.00085 0.00079 0.00073 Konsentrasi Rata-rata Ik (RQ) air air minum minum (mg/L) (tahun) 0.00063 0.00055 0.00049 0.00044 0.00040 0.00037 0.00034 0.00031 4.87062 4.26180 3.78826 3.40944 3.09949 2.84120 2.62264 2.43531 (ECR) (Dt) air (tahun) minum air (mg/L) minum 0.00094 0.00082 0.00073 0.00066 0.00060 0.00055 0.00051 0.00047 4.10625 4.69286 5.27946 5.86607 6.45268 7.03929 7.62589 8.21250 Cmax Air minum (mg/L) 0.008213 0.009386 0.010559 0.011732 0.012905 0.014079 0.015252 0.016425

35 40 45 50 55 60 65 70

0.00190 0.00081 Sumber : Data primer

169

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Tabel 2 Konsentrasi maksimum dan rata-rata asupan arsen berdasarkan Laju Konsumsi (R) dalam air minum dengan berat badan di desa Buyat Sulawesi Utara, 2008 Konsentrasi maksimum Berat Badan (kg) 35 40 45 50 55 60 65 70 (R) (tahun 1) Air minum 0.05264 0.06016 0.06769 0.07521 0.08273 0.09025 0.09777 0.10529 (R) (tahun 5) Air minum 0.26322 0.30082 0.33843 0.37603 0.41363 0.45124 0.48884 0.52644 (R) (tahun10) Air minum 0.52644 0.60165 0.67685 0.75206 0.82727 0.90247 0.97768 1.05288 Konsentrasi rata-rata (R) (tahun1) Air minum 0.13688 0.15643 0.17598 0.19554 0.21509 0.23464 0.25420 0.27375 (R) (tahun5) Air minum 0.68438 0.78214 0.87991 0.97768 1.07545 1.17321 1.27098 1.36875 (R) (tahun10) Air minum 1.36875 1.56429 1.75982 1.95536 2.15089 2.34643 2.54196 2.73750

Sumber :Data Primer

170

Vol. II, No. 3 tahun 2009 ARTIKEL ASLI

Jurnal Madani FKM UMI Pelayanan ANC,
PKM Tamangapa

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan Pelayanan Antenatal Care di Puskesmas Tamangapa Tahun 2007
Wardiah Hamzah
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Abstrak Tingginya angka kematian ibu tersebut disebabkan karena perdarahan, keracunan dan infeksi serta pelayanan pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan oleh tenaga profesional belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga menyebabkan masih banyak ibu tidak memeriksakan kehamilannya dan banyak ibu tidak menerima pemeriksaan kehamilan sesuai dengan standar program kesehatan ibu dan anak. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan antenatal care di Puskesmas Tamangapa. Jenis Penelitian adalah Survey Analitik dengan rancangan Cross Sectional Study yang dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Tamangapa Kelurahan Bangkala. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak berusia 0-12 bulan sebanyak 270 ibu dengan mengambilan sampel secara proporsional random sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 160 orang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berpengetahuan cukup sebanyak 63,1%, ibu yang mengatakan jarak puskesmas dari rumah responden mudah dijangkau sebanyak 81,9% orang, ibu yang memiliki status pekerjaan bekerja sebanyak 19,4% orang dan ibu yang mengatakan sikap petugas baik sebanyak 91,3% ibu.Kesimpulan dari penelitian ini yang diperoleh, ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, Pendahuluan jarak puskesmas dan status pekerjaan dengan pemanfaatan antenatal care. Untuk variabel sikap petugas tidak hubungan yang signifikan dengan pelayanan antenatal care. Sehingga disarankan petugas meningkatkan penyuluhan antenatal care, puskesmas keliling dimanfaatkan, petugas kesehatan bersikap ramah pada pasien. . Kata Kunci : Pemanfaatan Antenatal Care

171

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

The Factors Which Related With Utilazion of Antenatal Care Service at Puskesmas Tamangapa 2007
Wardiah Hamzah Abstract The increasing number of mothers mortality are caused by bleeding, infection and poisoned as well as checkup service of pregnancy and childbirth by the professional staff has not been fully utilized by the community, it is causing many mothers do not act pregnancy checkup, and many mothers do not receive the checkup which accordance with the standard pregnancy of mother and child health program. This study was conducted in order to find out factors that related with utilization of antenatal care at the clinic Tamangapa. This research used Analytics survey by using designing Cross Sectional Study which was conducted in the working area of clinic Tamangapa Kelurahan Bangkala. The research populations are mothers who have child around 0-12 years old. The number of samples are 270 by using proportional random sampling technique. Finally there were 160 samples were collected. This research shows that there were 63,1% educated mothers, 81,9% mothers who said that clinic was easer to reach, mothers who have job were 19,4%, and mothers who regard that service of staff of was good were 91,3% . The conclusions of this research was there is significant relation between education, distance of clinic and job status with utilizing of antenatal care. Therefore, socialization of antennal care is recommended to improve and mobile health clinic is improved. Staffs of clinic are friendlier. Key word: Utilazion of Antenatal Care

Pendahuluan Derajat kesehatan keluarga sangat di tentukan oleh derajat kesehatan ibu dan anak, yang merupakan kelompok penduduk yang rawan terhadap gangguan kesehatan. Ibu merupakan pendidik pertama dalam keluarga, yang memegang peranan dalam kesejahteraan keluarga. Angka kematian ibu (AKI) masih tinggi. berdasarkan survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994 AKI di Indonesia adalah 390 per 100.000 kelahiran
172

hidup. menurut survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 AKI sebanyak 373 per 1000.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKI tahun 2002 berdasarkan SDKI diketahui sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Tingginya angka kematian ibu tersebut disebabkan karena perdarahan, keracunan dan infeksi serta pelayanan pemeriksaan kehamilan dan pertolongan

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

persalinan oleh tenaga profesional belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga menyebabkan masih banyak ibu tidak memeriksakan kehamilannya dan banyak ibu tidak menerima pemeriksaan kehamilan sesuai dengan standar program kesehatan ibu dan anak. Faktor lain yang dapat menambah resiko kematian adalah umur ibu yang terlalu muda atau terlalu tua untuk melahirkan, jumlah paritas yang tinggi, jarak antara kehamilan yang pendek, dan kurang lebih 65% ibu hamil menderita anemia kurang gizi. Tahun 1996 WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia Selatan wanita yang berkemungkinan 1:18 meninggal akibat kehamilan atau persalinan selama kehidupannya. Di banyak Negara Afrika 1:14 sedangkan di Amerika Utara hanya 1: 6,366. lebih dari 50% kematian di negara berkembang sebenarnya dapat di cegah tekhnologi yang ada serta biaya relatif murah (Saifuddin dkk, 2002). Menurut kajian Sudarto Ronoatmodjo tahun 1996 pada masyarakat di Kecematan Keruak, Lombok Timur mengemukakan bahwa kematian neonatal pada bayi dari ibu hamil yang tidak memanfaatkan layanan antenatal berjumlah dua kali lipat dari pada jumlah bayi dari ibu yang memanfaatkan layanan antenatal (Swasono,1998). Cakupan pelayanan antenatal dapat di tinjau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil untuk tahun 2002, cakupan rata-rata pelayanan K1 di Sul-Sel mencapai 87,49% dan K4 sebesar 61,47%, pada tahun yang sama pula (2002) di Kota Makassar cakupan (K1) ibu hamil sebesar 25.248 orang (97,34%) dan (K4) sebesar 17.362 orang (63,76%). sedangkan pada
173

tahun 2003 cakupan (K1) ibu hamil sebesar 27.665 orang (74,16%) dan cakupan (K4) ibu hamil sebesar 21.042 orang (74,16%).terjadi peningkatan untuk (K1) sebesar 2.417 orang (8,74%) dan untuk (K4) sebesar 3.680 orang (17,49%). (Dinkes 2003:30,31) Ibu hamil yang memanfaatkan pemeriksaan antenatal care di Puskesmas Tamangapa sebanyak 329 bumil dari 705 bumil pada tahun 2005 meningkat menjadi 341 bumil dari 736 bumil di tahun 2006 sedangkan pada tahun 2007 menjadi 379 bumil dari 612 bumil yang ada. Metode Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan antenatal care di Puskesmas Tamangapa. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa yaitu Kelurahan Bangkala. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak berusia 0-12 bulan di Kelurahan Bangkala yang berjumlah 270 ibu. Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan cara proporsional random sampling dengan besar sampel sebanyak 160 ibu . Dengan menggunakan rumus : (Notoatmodjo, S., 2002) N.Z².p.q n = -------------------------------d² (N – 1) + Z². p.q Untuk mengukur variabel independen dan variabel dependent digunakan kuesioner dengan wawancara langsung terhadap ibu yang mempunyai

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

balita, kemudian hasilnya dianalisis dengan menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hubungan variabel independent dan dependent dilakukan dengan metode analisis multivariat untuk melihat keeratan dan besar hubungan antara variabel dependen dan independen utama setelah dikontrol oleh variabel independen lainnya dengan menggunakan analisisi regresi logistik. Hasil Analisis Univariat Dari 160 ibu yang menjadi responden terdapat Ibu yang berumur ≤20 tahun merupakan paling sedikit sebanyak 5,6%. Sedangkan ibu yang berumur 26-30 tahun paling banyak sebesar 33,1%. ibu yang beragama Islam sebanyak 96,9% an yang beragama Kristen 3,1%. ibu yang mempunyai pendidikan SD merupakan persentase tertinggi sebanyak 45,6% orang kemudian diikuti dengan pendidikan SMP dan SMA, masing-masing sebanyak 22,5%, sedangkan persentase terendah pada ibu yang berpendidikan hingga Diploma sebanyak 4,4%.
Tabel 1. Distribusi karakteristik responden Variabel Umur Kategori < 20 tahun 20-24 tahun 25-29 tahun 30-34 tahun ≥35 tahun Islam Kristen SD SMP SMU Diploma S1 % 5,6 18,1 33,1 23,8 19,4 96,9 3,1 45,6 22,5 22,5 4,4 5,0 174

Dari 160 responden yang memanfaatkan pelayanan antenatal di Puskesmas Tamngapa sebanyak51,9%, ibu yang berpengetahuan cukup sebanyak 63,1% orang. Ibu yang mengatakan jarak puskesmas dari rumah responden mudah dijangkau sebanyak 81,9%. Responden yang memiliki status pekerjaan bekerja sebanyak 19,4%. Sikap petugas baik sebanyak 91,3% ibu.
Tabel 2. Distribusi variable dependent dan independent Variabel Pemanfaatan ANC Pengetahuan Ibu Jarak Puskesmas Status Pekerjaan Sikap Petugas Kategori Memanfaatkan Tidak memanfaatkan Cukup Kurang Mudah dijangkau Tidak mudah dijangkau Bekerja Tidak Bekerja Baik Buruk % 51,9 48,1 63,1 36,9 81,9 18,1 19,4 80,5 91,3 8,7

Agama Pendidikan

Analisis bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel dependen berupa pemanfaatan pelayanan antenatal dengan variabel independent antara lain pengetahuan ibu, jarak puskesmas, status pekerjaan ibu dan sikap petugas. Dari hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p value = 0,008, secara statistik dapat diinterpretasikan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemanfaatan antenatal.

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Untuk variable jarak puskesmas diperoleh nilai p value = 0,000, secara statistik dapat diinterpretasikan bahwa ada hubungan antara jarak puskesmas dengan pemanfaatan antenatal. Sedangkan variabel sikap petugas diperoleh p value = 0,002, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa ada hubungan antara status pekerjaan dengan pemanfaatan antenatal. Untuk variabel sikap petugas tidak diperoleh hubungan antara sikap petugas denagn pemanfaatan antenatal care sebab nilai p value = 0,669, karena nilai p>0,05, dimana derajat kemaknaan α = 0,05, maka HO diterima.
Tabel 3. Analisis bivariat Variabel Independent dengan Pemanfaatan ANC Variabel Pengetahuan Ibu Jarak Puskesmas Kategori Cukup Kurang Mudah dijangkau Tidak mudah dijangkau Bekerja Tidak Bekerja Baik Buruk p. Value 0,008

Tabel 4. Hasil uji Multivariat terhadap pemanfaatan ANC Variabel Pengetahuan Ibu Jarak Puskesmas Status pekerjaan Sikap Petugas β 0.731 2.801 -0.898 -0.051 Nilai p 0.008 0.000 0.002 0.669 OR 2.078 16.468 0.408 0.950 95% CI OR 0.996 – 4.337 3.654 – 74.221 0.152 – 1.092 0.257 – 3.514

0,000

Status Pekerjaan Sikap Petugas

0,002 0,669

Analisis Multivariat Dengan menggunakan uji regresi logistic dilakukan analisis hubungan variable independent dengan pemanfaatan ANC secara bersama-sama. Dari analisis multivariate diperoleh hasil 3 variabel berhubungan secara bermakna dengan pemanfaatan ANC yaitu pengetahuan ibu (nilai p = 0.008, OR = 2.078), jarak puskesmas (nilai p = 0.000, OR = 16.468) dan status pekerjaan (nilai p = 0.002, OR = 0.408).

Pembahasan Pengetahuan Ibu Tindakan seseorang biasanya didasarkan pada apa yang telah diketahuinya, terlebih apabila keterangan tersebut bermanfaat baginya. Jika ibu memiliki cukup pengetahuan, maka diasumsikan ia akan memanfaatkan sarana pelayanan antenatal yang tersedia untuk keselamatan bagi dirinya maupun bayi yang dikandungnya. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari 101 ibu yang memiliki pengetahuan yang cukup dan memanfaatkan pelayanan antenatal sebanyak 60,4% dibandingkan yang tidak memanfaatkan sebanyak 39.6%. Sedangkan dari 59 ibu yang berpengetahuan kurang dan memanfaatkan antenatal sebanyak 37,3% dibandingkan yang tidak memanfaatkan sebanyak 62,7%. Jarak Puskesmas Jangkauan pelayanan pustu untuk dimanfaatkan oleh masyarakat tidak terlepas dari pengaruh jarak fisik tempat tinggal masyarakat dengan pustu yang

175

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

dihitung dalam ukuran radius kilometer, letak pustu dipinggir jalan raya, ramai dilalui kendaraan umum serta lancarnya transportasi. Hasil penelitian ini menunjukkan jarak puskesmas yang mudah dijangkau sebanyak 131 (81,9%), sedangkan yang tidak mudah dijangkau sebanyak 29 (18,1%). Hal ini disebabkan oleh adanya warga lain yang memanfaatkan pelayanan antenatal di luar wilayah kerja Puskesmas Tamangapa tersebut. Banyaknya responden yang jarak rumahnya jauh dari puskesmas, diharapkan tetap memanfaatkan puskesmas tersebut, karena didukung oleh letak puskesmas yang berada di jalan raya yang mudah dijangkau oleh taransportasi umum. Status Pekerjaan Aktifitas sehari-hari terutama yang bersifat mempertahankan kelangsungan hidup kadang menyingkirkan kepentingan atau masalah lain yang dianggap kurang mendesak karena keterbatasan waktu, hal ini berkaitan dengan ibu yang menghabiskan waktunya untuk membantu perekonomian keluarga sehingga hampir tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan kesehatan diri dan kehamilannya. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari 31 ibu yang memiliki pekerjaan dan memanfaatkan pelayanan antenatal sebanyak 25,8% dibandingkan yang tidak memanfaatkan sebanyak 74,2%. Sedangkan dari 129 ibu yang tidak memiliki pekerjaan dan memanfaatkan antenatal sebanyak 58,1% dibandingkan yang tidak memanfaatkan sebanyak 41,9%. Hal ini disebabkan karena ibu yang tidak bekerja dalam artian ibu rumah tangga memiliki banyak waktu luang untuk memeriksakan kehamilannya sesering
176

mungkin sesuai keinginannya. Namun ibu yang bekerja diluar rumah disibukkan oleh berbagai aktifitas kantor sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin, waktu yang tersisa lebih banyak digunakan untuk beristirahat setelah bekerja seharian diluar rumah. Sikap Petugas Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulas atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulas tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulas sosial. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa umumnya responden sudah mendapat pelayanan yang baik oleh petugas kesehatan yaitu 146 (91,3%) orang dan masih ada responden yang mendapat pelayan yang buruk yaitu 19 (8,8%) orang. Menurut Wirawan (1983) sikap adalah kecenderungan atau kebiasaan seseorang untuk bertingkah laku tertentu kalau ia menghadapi suatu tantangan tertentu. Sikap baik yang ditunjukkan petugas diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan pelayanan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa. Kesimpulan Ada hubungan antara pengetahuan ibu, jarak puskesmas dan status pekerjaan

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

dengan pemanfaatan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa Kelurahan Bangkala. Tidak ada hubungan antara sikap petugas dengan pemanfaatan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa Kelurahan Bangkala. Saran Petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Tamangapa agar memberikan penyuluhan tentang pentingnya perawatan antenatal yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu. Puskesmas Tamangapa menyediakan pelayanan antenatal di setiap posyandu sehingga masyarakat dapat memeriksakan kehamilan tanpa harus ke puskesmas karena jarak puskesmas tidak mudah untuk dijangkau. Mensosialisasikan pentingnya pemanfaatan pelayanan antenatal care dikalangan ibu yang bekerja, maupun yang tidak bekerja untuk mengetahui kondisi janin selama dalam kandungan. Petugas puskesmas memberikan pelayanan yang maksimal dan bersikap ramah pada ibu yang memeriksakan kehamilan. Daftar Pustaka Aliwah, Waode. 2005. Asuhan Kebidanan Ibu Hamil, Politeknik Kesehatan Depkes Makassar. Asmar, S. 2001. Studi Tentang Pemanfaatan Pelayanan Antenatal di Puskesmas Lasepang Kabupaten Bantaeng, Skripsi, FKM Unhas, Makassar. Depkes RI, 1984, Perawatan Ibu di Pusat Kesehatan Masyarakat, Jakarta. __________, 2004. Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar. __________,2007. Profil Kesehatan Kota Makassar, Makassar
177

Farrer, 2001, Perawatan Maternitas, Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Hall, Roberd. 1983. Pedoman Medis Untuk Wanita Hamil, Pioneer, Bandung. Jordan, Sue, 2002. Farmakologi Kebidanan, Buku Kedokteran Krisnadi, R. 2004. Kelainan Lama Kehamilan (Obstetri Patalogi), Buku Kedokteran EGC, Jakarta Kristiani, A. 2006. Pemanfaatan Pelayanan Bidan di Desa Kab. Muara Jambi, (http:www.gogle.com) diakses 25 Februari 2008. Mohtar, 1998. Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta Mose, C. 2004. Gestosis Obstorik Patologi, Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Nasir, M. 2003. Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta Saifuddin dkk. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta. _________, 2005. Kematian Maternal (Ilmu Kebidanan), Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta. Soekidjo, N. 2002, Pedoman Penelitian Kesehatan, Penerbit PT.Rineka Cipta, Jakarta _________, 2007a, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Penerbit PT.Rineka Cipta, Jakarta _________, 2007b, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Penerbit PT.Rineka Cipta, Jakarta Soetjiningsih, 1996. Tumbuh Kembang Anak, Buku Kedokteran Bagian Kesehatan Anak, FK Udayana, Bali

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Stoppard, M. 2002. Panduan Mempersiapkan Kehamilan dan Kelahiran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Swosno, 1998. Kehamilan dan Kelahiran Perawatan Ibu dan Bayi dalam konteks Budaya, Penerbit UI, Jakarta.

Wiknjosatro, H. 2005. Diagnosis Kehamilan (Ilmu Kebidanan), Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta. Wirakusuma, F. 2004. Kelainan Tempat Kehamilan Obstetri Patologi, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

178

Vol. II, No. 3 tahun 2009 TINJAUAN PUSTAKA

Jurnal Madani FKM UMI

Aspek Imunologis Penyakit Sifilis
Sri Julyani
Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Pendahuluan Sifilis adalah suatu penyakit menular seksual (PMS /STD [sexually transmitted disease]) atau disebut juga veneral disease (beberapa penyakit infeksi kelamin lain seperti gonore, klamidia, herpes dan granuloma inguinal) adalah salah satu bentuk penyakit infeksi yang ditularkan melalui hubungan sex atau dari seorang ibu kepada bayi yang dikandungnya (www.thefreedictionary.com. 2008; www.thefreedictionary. com., 2008; Ditjen PP&PL, 2005). Sifilis disebabkan oleh Treponema pallidum yang dapat bersifat akut dan kronis diawali dengan adanya lesi primer kemudian terjadi erupsi sekunder pada kulit dan selaput lendir dan akhirnya sampai pada periode laten dengan lesi pada kulit, lesi pada tulang, saluran pencernaan, sistem syaraf pusat dan sistem kardiovaskuler (http : // id.wikipedia.org. 2008). Setiap orang rentan terhadap penyakit sifilis, tetapi ± 30 % orang yang terpapar akan terkena infeksi. Setelah infeksi biasanya terbentuk antibodi terhadap T. pallidium dan kadang kala terbentuk antibodi heterologus terhadap treponema lain. Antibodi ini tidak terbentuk apabila pengobatan dilakukan pada stadium satu dan dua. Adanya infeksi HIV menurunkan kemampuan penderita melawan T. pallidum. (Ditjen PP&PL, 2005).
179

Di Amerika Serikat dilaporkan lebih dari 36,000 kasus sifilis pada tahun 2006 dengan 9.756 kasus merupakan sifilis stadium primer dan sekunder. Insiden tertinggi ditemukan pada wanita umur 20 – 24 tahun dan pria umur 35 – 39 tahun, sedang kasus sifilis kongenital meningkat dari 339 kasus pada tahun 2005 menjadi 349 kasus pada tahun 2006, sedang di Indonesia ditemukan sekitar 0,61% penderita dengan kasus terbanyak pada stadium laten ( http : // id.wikipedia.org , 2008). Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan sifilis tidak memperlihatkan gejala selama beberapa tahun, yang akan menimbulkan komplikasi yang berat bila tidak diobati (http : // id.wikipedia.org, 2008). Etiologi Sifilis disebabkan oleh kuman treponema palidum, merupakan basil gram negatif yang mempunyai flagel, bentuknya sangat kecil dan berpilin-pilin. Kuman atau bakteri tersebut umumnya hidup di mukosa (saluran) genetalia, rektum, dan mulut yang hangat dan basah. Kuman ini sangat sensitive terhadap cahaya, perubahan cuaca dan perubahan temperature sehingga penyakit ini sulit

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

untuk menular kecuali adanya kontak langsung dengan penderita. Sifilis ditularkan melalui hubungan seksual, alat suntik atau transfusi darah yang mengandung kuman tersebut, maupun penularan melalui intra uterin dalam bentuk sifilis kongenital tetapi tidak dapat menular melalui benda mati seperti misalnya bangku, tempat duduk toilet, handuk, gelas, atau benda-benda lain yang bekas digunakan/dipakai oleh pengindap (www.thefreedictionary. com, 2008; Ditjen PP&PL, 2005). Respon imunologik dari orang yang terpapar tergantung dari struktur bakteri. Membran luar bakteri terdiri dari lapisan fosfolipid dengan sedikit protein antigen. Adapun klasifikasi bakteri penyebab penyakit sifilis adalah sebagai berikut (Natahusada EC & Djuanda A, 2005) : Kingdom : Eubacteria Filum Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Spirochaetes : Spirochaetes : Spirochaetales : Treponemataceae : Treponema : Treponema pallidum

Gambar ; Treponema pallidum (Sumber: Treponemapallidum,http://en. wikipedia.org/wiki/image)
180

Patogenesis Treponema pallidum tidak dapat tumbuh dalam media kultur sehingga pengetahuan tentang imunopatogenesis penyakit sifilis hanya diperoleh dari keadaan penderita (berdasarkan tanda dan gejala yang tampak), model pada binatang percobaan dan data in vitro dari ekstraksi jaringan spirocaeta. Setelah mengeksposure permukaan epitel, spirocaeta akan berpenetrasi dan menyerang lapisan sel endotel, yang merupakan tahap penting dalam tingkat virulensi treponema (meskipun mekanisme yang jelas sampai saat ini belum diketahui). Histopatologi dari chancre primer tergantung pada banyaknya spirocaeta dan infiltrasi seluler yang pada mulanya terdiri dari T limfosit yang terjadi 6 hari postinfeksi, kemudian makrofag pada hari ke 10 dan sel plasma. Aktivasi makrofag akan merangsang pelepasan sitokin dari T limfosit yaitu interleukin 2 (IL 2) dan interferon gamma (IFNγ). Antibodi spesifik akan muncul dalam serum pada awal infeksi yang akan menghalangi spirocaeta merusak sel dan Ig G dengan bantuan komplemen akan dapat membunuh T. pallidum serta meningkatkan kemampuan netrofil dan makrofag memfagosit treponema tersebut. Antibodi berperanan dalam menghancurkan protein membran luar yang tipis dari treponema pallidum (TROMPs). Secara umum tingkat kekebalan yang timbul karena infeksi oleh T. pallidum relevan dengan level antibodi pada TROMPs. Meskipun humoral immunity juga dibutuhkan dalam melawan infeksi dari treponema, respon antibodi ini dapat juga

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

menyebabkan kelainan. Adanya kompleks imun pada sifilis sekunder mungkin menjelaskan patologi timbulnya lesi pada kulit dan deposit di ginjal yang menyebabkan terjadinya nefropati sifilik. Antibodi kardiolipin yang merupakan penentu pada sifilis primer dan menjadi dasar tes nontreponemal pada penyakit ini, tidak sejalan dengan terjadinya sindrom antibodi antifosfolipid. Pemeriksaan histologik menunjukkan banyaknya sel T pada daerah lesi. Pada chancre primer CD4 lebih banyak berperanan sedangkan pada lesi sekunder lebih banyak ditemukan CD8. Gumma yang lebih sering timbul pada sifilis tertier menunjukkan adanya reaksi hipersensitivitas tipe lambat, dengan tanda khas berupa granuloma. Peranan sel T pada sifilis yang belum jelas menimbulkan dugaan adanya cross infeksi HIV pada penderita sifilis. Para ilmuwan di Spanyol meneliti adanya perubahan viral load dan jumlah CD4 selama terinfeksi sifilis dan menemukan bahwa infeksi sifilis pada pasien HIV-positif berhubungan dengan peningkatan viral load dan penurunan jumlah CD4. Penurunan jumlah CD4 dan peningkatan viral load ditemukan pada hampir sepertiga pasien yang diamati. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa satusatunya faktor yang dikaitkan dengan peningkatan viral load adalah karena penderita tidak menggunakan terapi antiretroviral (ART), sementara satu-satunya faktor yang dikaitkan dengan penurunan jumlah CD4 sebanyak lebih dari 100, adalah jumlah CD4 pasien sebelum terinfeksi sifilis (pasien yang mempunyai jumlah CD4 lebih tinggi sebelum sifilis mengalami penurunan
181

yang lebih besar), tetapi tidak ada perbedaan pada perubahan virologi berdasarkan stadium sifilis. Temuan lain dari penelitian ini menunjukkan lebih dari dua pertiga kasus sifilis ditemukan pada pasien yang sebelumnya didiagnosis HIV-positif. Dalam hal ini, para peneliti menyoroti perilaku pasien yang berisiko dan strategi pencegahan yang lemah. Sehingga perlu adanya upaya kesehatan masyarakat untuk mencegah infeksi sifilis baru dan secepatnya mengenal serta mengobati pasien terinfeksi sifilis, dengan tujuan mengurangi penyebaran baik infeksi sifilis maupun HIV (LaSala P.R, Smith M.B, 2007; Bockenstedt L.K, 2003; Palacios R et all, 2007). Gejala Klinik Berdasarkan stadium penyakitnya gejala klinik dari penyakit sifilis dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu bentuk primer, sekunder dan bentuk tertier. Sifilis primer biasanya bersifat asimptomatik, yang didapatkan akibat penularan melalui kontak langsung pada permukaan mukosa atau kulit seorang penderita. Sedang sifilis sekunder dapat timbul 8 minggu setelah terapi sifilis primer meskipun dilaporkan bahwa sekitar 60% sifilis sekunder tidak mempunyai riwayat sifilis primer. Lesi sekunder ini ditandai dengan adanya erupsi pada kulit dan selaput lendir. Dan sifilis tertier adalah bentuk laten dari penyakit ini yang biasanya muncul beberapa bulan sampai beberapa tahun kemudian dan 15% diantaranya terjadi pada penderita yang tidak mendapat terapi, dimana lesi telah menyebar sampai ke tulang, saluran cerna,

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

sistim saraf dan sistim kardiovaskuler (http : // id.wikipedia.org, 2008). Terdapat bentuk lain dari penyakit sifilis yang banyak ditemukan di wilayah Asia tengah dan Afrika yang disebut Endemik Sifilis, merupakan penyakit infeksi kronik nonveneral yang disebabkan oleh T. pallidum subspecies endemicum. Penyebaran terjadi melalui kontak langsung pada lesi yang aktif, jari-jari dan peralatan makan atau minum (LaSala P.R, Smith M.B , 2007). Disamping itu terdapat juga bentuk sifilis tertier yang dapat timbul 1 – 10 tahun setelah terinfeksi dengan tanda khas berupa adanya gumma pada kulit dan mukosa. Apabila sifilis tertier ini tidak mendapat terapi, dapat terjadi komplikasi yang lebih berat berupa neurosifilis dan kardiovaskuler sifilis (Bockenstedt L.K, 2003). a. Sifilis Primer Sifilis primer terjadi karena kontak langsung dengan lesi infeksi penderita melalui hubungan seksual. Lesi pada kulit timbul dalam 10 – 90 hari setelah terpapar, kebanyakan pada alat genital namun dapat ditemukan pada seluruh bagian tubuh yang lain. Lesi ini disebut chancre , suatu ulcerasi pada kulit tanpa rasa sakit pada daerah yang terexposure terutama pada penis, vagina, atau rectum. Kadang-kadang terdapat lesi multipel, menetap untuk waktu 4 sampai 6 minggu dapat terjadi pembengkakan kelenjar limpe lokal dan biasanya sembuh spontan (Palacios R et all. 2007). b. Sifilis Sekunder Sifilis sekunder timbul 1 – 6 bulan setelah infeksi primer ( rata-rata 6 – 8 minggu) dengan berbagai manifestasi gejala. tetapi dapat terjadi overlap dengan bentuk primer.
182

Lesi biasanya terdapat pada kulit, daerah kepala dan leher, serta sistim saluran cerna, disamping gejala umum seperti demam, kelemahan, penurunan berat badan, sakit kepala, meningismus dan pembesaran kelenjar limpe. Rash pada kulit biasanya lebih berat dan disertai dengan gangguan dermatologi yang lain seperti makulopapular, folikular atau pustular rash. Rash menyebar pada seluruh tubuh dan ekstremitas, kemudian membentuk lesi yang rata berwarna keputih-putihan yang dikenal dengan condyloma lata. Stadium sekunder juga ditandai dengan adanya gangguan pada sendi, tulang dan indera penglihatan (Bockenstedt L.K, 2003; Palacios R et all. 2007). c. Sifilis Laten Disebut sifilis laten apabila tidak tanda-tanda dan gejala penyakit tetapi terdapat bukti serologik. Sifilis laten dapat dibedakan atas tipe early atau late. Disebut tipe early bila selama 2 tahun serologik positif tetapi tidak ada gejala penyakit. Sedang tipe late bila infeksi lebih dari 2 tahun tanpa bukti klinik yang jelas. Pembagian ini berguna dalam pemberian terapi pada penderita dan resiko transmisi ke orang lain (Sacher R.A, McPerson R.A, 2007). d. Sifilis Tertier Sifilis tertier biasanya muncul dalam waktu 1 – 10 tahun setelah infeksi pertama, pada beberapa kasus dapat mencapai masa sampai 50 tahun. Ditandai dengan adanya gumma yang lunak, suatu bentuk tumor akibat proses inflamasi yang dikenal dengan granuloma, bersifat kronik dan

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

dapat muncul kembali bila sistim imun tubuh tidak sempurna. Kebanyakan gumma merupakan komplikasi dari late syphilis. Bentuk lain dari sifilis tertier yang tidak diterapi adalah neuropathic joint disease, berupa degenerasi sendi disertai hilangnya sensasi propriosepsi. Bentuk komplikasi yang lebih berat adalah neurosyphilis dan cardiovascular syphillis. Gangguan neurologik dapat asimptomatik atau bermanisfestasi sebagai meningovascular disease, tabes dorsalis atau paresis. Sedang komplikasi kardiovaskuler dapat berupa sifilis aortitis, aneurisma dan regurgitasi aorta. (Bockenstedt L.K, 2003; Palacios R et all. 2007). Pemeriksaan Laboratorium Diagnosis sifilis dapat ditegakkan dengan cara melihat langsung organisme dengan mikroskop lapangan gelap atau pewarnaan antibodi fluoresen langsung dan kedua dengan mendeteksi adanya antibodi dalam serum dan cairan serebrospinal. Tes serologis merupakan tes konfirmasi untuk melihat adanya antibodi terhadap organisme penyebab sifilis. Tes serologis juga diperlukan untuk menegakkan diagnosis infeksi sifilis pada masa laten sifilis dimana tidak tampak adanya gejala-gejala penyakit. Ada dua kelompok tes serologis yang dapat digunakan dalam mendiagnosis penyakit sifilis yaitu tes serologis antibodi non treponema dan antibodi treponema (Sacher R.A, McPerson R.A, 2004). 1. Tes Serologis Antibodi Non Treponemal yaitu antibodi yang terbentuk akibat adanya infeksi oleh penyakit sifilis atau penyakit infeksi lainnya. Antibodi ini terbentuk setelah penyakit menyebar ke
183

kelenjar limpe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan serta dapat menimbulkan reaksi silang dengan beberapa antigen dari jaringan lain. Tes serologis non treponema mendeteksi antibodi yang merupakan kompleks dari lecitin, kolesterol dan kardiolipin dan digunakan untuk skrining adanya infeksi oleh T. pallidum. Termasuk tes ini adalah Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) dan Rapid Plasma Reagen (RPR) yang memberikan hasil positif setelah 4 – 6 minggu terinfeksi (positif pada 70% pasien dengan lesi primer dan stadium lanjut). Tetapi tes ini dapat memberikan positif palsu pada kondisi seperti kehamilan, kecanduan obat, keganasan, penyakit autoimun dan infeksi virus. Imunoasai ini menggunakan antibodi nontreponemal dan lipoid sebagai antigen, termasuk pemeriksaan ini adalah (Bockenstedt L.K, 2003; Handojo I, 2004) : a. Veneral Disease Research Laboratory (VDRL) b. Rapid Plasma Reagin (RPR) c. Cardiolipin Wassermann (CWR) d. Unheated Serum Reagin (USR) e. Toulidone Red Unheated Serum Test (TRUST) f. ELISA Tes ini bertujuan untuk mendeteksi adanya reaksi antara antibodi dari sel yang rusak dan kardiolipin dari treponema. Digunakan untuk skrining penderita dan monitoring penyakit setelah pemberian terapi. Tes-tes seperti Veneral Disease Research Laboratory (VDRL), Rapid Plasma Reagin (RPR), Unheated Serum Reagin (USR) dan Toulidone Red Unheated Serum Test (TRUST) mendeteksi

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

adanya reaksi antigen-antibodi dengan menilai presipitasi yang terbentuk baik secara makroskopik (RPR dan TRUTS) maupun mikroskpoik (VDRL dan USR). Antibodi yang terdeteksi biasanya timbul 1 – 4 minggu setelah munculnya chancre primer. Pengambilan spesimen pada stadium primer akan mempengaruhi sensitivitas tes dimana titer antibodi meningkat selama tahun pertama dan selanjutnya menurun secara nyata sehingga memberikan hasil negatif pada pemeriksaan ulang. Dapat ditemukan hasil tes positif palsu maupun negatif palsu. Positif palsu terjadi karena adanya penyakit bersifat akut seperti hepatitis, infeksi virus, kehamilan atau proses kronik seperti kerusakan pada jaringan penyambung. Sedang hasil negatif palsu terjadi karena tingginya titer antibodi (prozone phenomenon) yang sering ditemukan pada sifilis sekunder. 2. Antibodi treponemal Bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen treponema dan sebagai konfirmasi dari hasil positif tes skrining nontreponemal atau konfirmasi adanya proses infeksi pada hasil negatif tes nontreponemal pada fase late atau laten disease dapat dibedakan atas 2 jenis antibodi yaitu ; i. grup treponemal antibodi, antibodi terhadap antigen somatik yang terdapat pada semua jenis treponema. Imunoasai berdasarkan pada penggunaan beberapa strain saprofitik dari treponema, yaitu Reiter Protein Complement Fixation (RPCF) ii. Antibodi treponema spesifik, antibodi yang spesifik untuk antigen dari T.

pallidum. beberapa tes yang termasuk diantaranya adalah : a. Treponema pallidum Complement Fixation b. Treponemal Wassermann (T-WR) c. Treponema pallidum Immobilization (TPI) d. Treponema pallidum Immobilization Lyzozym (TPIL) e. Treponema pallidum Immobilizationsymplification f. Fluorecense Treponemal Antibody (FTA) g. Treponema pallidum Hemagglutination (TPHA) h. Treponema pallidum Immuneadherence (TPIA) i. ELISA T. pallidum Pemeriksaan antibodi nontreponemal yang sering digunakan sekarang adalah : 1. Tes Rapid Plasma Reagen, adalah tes untuk melihat antibodi nonspesifik dalam darah penderita yang diduga terinfeksi sifilis, terdiri dari uji kualitatif dan uji kuantitatif. A. Uji RPR kualitatif adalah pemeriksaan penapisan dengan serum pasien yang tidak diencerkan dicampur dengan partikel arang berlapis kardiolipin di atas karton, setelah rotasi mekanis beberapa waktu sedian diperiksa untuk melihat ada tidaknya aglutinasi secara makroskopis. Cara Kerja (Aprianti S, Pakasi R, Hardjoeno, 2003) : 1. 1 tetes serum + 50 uL antigen dicampur diatas kartu tes memenuhi lingkaran
184

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

2. putar di atas rotator selama 8 menit dengan kecepatan 100 rpm 3. Lihat hasil terbentuknya flokulasi dengan mikroskop cahaya dengan pembesaran 10 x 10 4. Hasil tes yang reaktif dilanjutkan dengan tes kuantitatif B. Uji RPR kuantitatif menggunakan serum yang diencerkan secara serial dan hasil pemeriksaan adalah nilai akhir pengenceran dimana masih terjadi penggumpalan partikel. Cara kerjanya sebagai berikut : 1. Siapkan 6 tabung reaksi, isi masingmasing dengan 50 uL NaCl 0,9% 2. Tambahkan 50 uL sampel ke tiap tabung, kocok rata 3. Pindahkan 50 uL isi tabung I ke tabung 2 (pengenceran ½ kali) 4. Lakukan seterusnya untuk tabung ke 3 dengan mengambil isi dari tabung 2 (pengenceran ¼), demikian juga untuk tabung 4, 5, dan 6. 5. Ambil dari tiap tabung 50 uL larutan, teteskan di atas kertas tes dan tambahkan 50 uL antigen pada tiap sampel, aduk rata dan rotasi selama 8 menit. Baca titer pada pengenceran tertinggi yang masih terjadi flokulasi. Tes RPR efektif untuk skrining seseorang yang terinfeksi penyakit sifilis tetapi belum menunjukkan gejala klinik. 2. Tes VDRL selain digunakan untuk skrining penyakit sifilis juga dapat digunakan untuk monitoring respon terapi, deteksi kelainan saraf dan membantu diagnosis pada sifilis kongenital. Dasar tes adalah reaksi antibodi

pasien dengan difosfatidil gliserol. Tes VDRL dapat mendeteksi antikardiolipin antibodi (IgG, IgM atau IgA). Beberapa kondisi dapat memberikan hasil positif palsu seperti penyakit hepatitis virus, kehamilan, demam rematik, leprosi dan penyakit lupus. Tes VDRL semikuantitatif juga digunakan untuk mengevaluasi kejadian neurosifilis di mana hasil reaktif tes hampir selalu merupakan indikasi adanya neurosifilis.

(http://en wikipedia.org, 2008)
3. Tes Cardiolipin Wassermann (CWR) merupakan uji fiksasi komplemen dimana reaksi antibodi dan antigen kardiolipin akan membentuk kompleks yang akan mengikat komplemen. Sebagai indikator terjadinya reaksi pengikatan komplemen maka pada tes ditambahkan sel darah merah (domba) dan zat hemolisin anti SDM. Disebut uji CWR positif apabila tidak terjadi reaksi hemolisis yang menunjukkan bahwa terjadi reaksi Ag-Ab yang mengikat komplemen, sedang hasil negatif berarti tidak terjadi reaksi Ag-Ab yang tidak mengikat komplemen. Sampel pasien berasal dari darah atau cairan cerebrospinal yang reaksikan dengan antigen kardiolipin dan intensitas reaksi sebanding dengan beratnya kondisi pasien (http://en.wikipedia.org/wiki/, 2008). 4. Tes ELIZA nontreponemal menilai terjadinya flokulasi dan nilai absorban dihitung berdasarkan prinsip spektrofotometer. Sedangkan Tes serologik treponemal yang banyak digunakan adalah :
185

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

1. Tes Treponema pallidum Immobilization (TPI). Sensitifitas tes rendah pada beberapa stadium penyakit terutama stadium I , tetapi spesifisitasnya paling baik dibanding tes serologis lain dan merupakan satusatunya tes yang hampir tidak memberi hasil positif semu. Tes menggunakan serum penderita yang tidak aktif ditambah dengan T. pallidum yang mobil dan komplemen, lalu diinkubasi pada suhu 35° C selama 16 jam selanjutnya dilihat di bawah mikroskop. Hasil positif terlihat dengan T. pallidum yang tidak mobil. 2. Fluorescent treponemal antibody-absorbed double strain test (FTA-ABS DS). Sebelum tes serum pasien diinaktifkan dengan pemanasan dan diserap dengan sorbent untuk membersihkan dari antibodi terhadap treponema komensal, kemudian dicampur dengan apusan T. pallidum pada kaca obyek, inkubasi lalu bilas hati-hati. Tambahkan konjugat antibodi antiimunoglobulin human yang dilabel dengan tetrametil-rodamin isotiosinat [TMRITC] tutup dengan kaca penutup, inkubasi dan bilas. Periksa apusan di bawah mikroskop pengcahayaan ultraviolet. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya treponema berfluoresensi-TMRITC pada apusan. Tes FTA adalah imunoasai yang sangat sensitif dan spesifik sehingga baik digunakan untuk diagnosis tetapi tidak dipakai dalam pemantauan terapi sebab hasil tes positif akan tetap positif walaupun telah diberi pengobatan sampai sembuh. 3. Tes Treponema pallidum Hemagglutination (TPHA) Merupakan uji hemaglutinasi pasif secara kualitatif dan semi kuantitatif yang
186

dapat mendeteksi anti T. pallidum antibodi dalam serum atau plasma, di mana hasil positif didapatkan bila terjadi aglutinasi. Sensitivitas dan spesifisitas cukup baik kecuali untuk sifilis stadium I, tes ini juga cukup praktis, mudah dan sederhana serta harganya relatif murah. Sebagai antigen dipakai T .pallidum strain Nichol dan sebagai carrier digunakan sel darah merah kalkun. Sel darah merah kalkun yang diliputi Ag T . pallidum dan Ab serum penderita lalu diinkubasi, antibodi T. pallidum dalam serum akan mengikat antigen pada sel darah merah membentuk kompleks AgAb dan hasil positif dinilai dengan melihat adanya aglutinasi (http: // en.wikipedia.org, 2008). Diagnosis Diagnosis penyakit sifilis biasanya secara tidak langsung ditemukan pada pasien risiko tinggi seperti adanya penyakit menular seksual dan pengguna narkotika. Karena T. Pallidum tidak dapat tumbuh pada media kultur maka digunakan metode lain untuk mendiagnosis penyakit sifilis. Seperti mikroskop lapangan gelap atau apusan cairan dari kulit atau jaringan. Bahan pemeriksaan adalah transudat segar dari chancre pada infeksi primer atau kondiloma lata pada infeksi sekunder. Hasil positif bila ditemukan spiroketa yang motil, membentuk kumparan padat dan bergerak melengkung. Untuk penderita dengan suspek neurosifilis, diagnosis ditegakkan dengan sampel dari cairan cerebrospinal. Tes serologis non treponema mendeteksi antibodi yang merupakan kompleks dari lecitin, kolesterol dan

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

kardiolipin dan digunakan untuk skrining adanya infeksi oleh T. pallidum. Termasuk tes ini adalah Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) dan Rapid Plasma Reagen (RPR) yang memberikan hasil positif setelah 4 – 6 minggu terinfeksi (positif pada 70% pasien dengan lesi primer dan stadium lanjut). Tetapi tes ini dapat memberikan positif palsu pada kondisi seperti kehamilan, kecanduan obat, keganasan, penyakit autoimun dan infeksi virus. Sedang tes serologis yang spesifik untuk infeksi treponema seperti Serum Fluorecent-Treponemal Antibody absorbance test (FTA-ABS) dan Microhemagglutination test dimana T. pallidum berfungsi sebagai antigen. Hasil tes non treponema yang positif harus dikonfirmasi dengan tes treponema yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi. (Sacher R.A, Mc Person R.A, 2004; Mayo Clinic.com, 2006; http://www.cdc.gov/std/default.htm, 2008). Terapi dan Prognosis Penicilin masih merupakan obat pilihan untuk penanganan sifilis. Sedang antibiotik alternatif seperti derivat tetrasiklin, eritromicin dan ceftriaxon dapat digunakan pada penderita yang alergi terhadap penicilin. Dosis dan lama terapi bervariasi tergantung pada gejala klinik penderita, secara umum penyakit dengan stadium lebih lanjut membutuhkan antibiotik dengan dosis yang lebih besar dan waktu yang lebih lama. Obat lain yang dapat diberikan adalah antipiretik dan antihistamin. Sifilis stadium primer, sekunder dan early laten akan sembuh sempurma dengan pemberian antibiotik, sedang stadium late biasanya lebih sulit diterapi. Sifilis tertier
187

mempunyai tingkat mortalitas yang tinggi bila kelainan telah sampai pada sistim saraf pusat (Bockenstedt L.K,2003; http://www.cdc. gov/std/default.htm, 2008; Mayo Clinic. com, 2006; Healthcommunities.com, 2008). Komplikasi Sifilis yang tidak diterapi dapat berkembang menjadi fase tertier dengan timbulnya gumma dan sifilis kardiovaskuler yang dapat bersama-sama dengan neurosifilis. Laki-laki lebih banyak berlanjut ke fase tertier dan mortalitasnya lebih tinggi dibanding penderita wanita. Kerusakan jaringan yang irreversibel merupakan karakteristik dari sifilis fase tertier dan sifilis kongenital meskipun telah mendapat terapi antibiotik. Selain itu sifilis juga dapat menyebabkan komplikasi penyakit lain berupa (www.dshs.state.tx. us/, 2008) : 1. Arthritis 2. Blindness 3. Heart disease 4. Mental illness 5. Death Differential Diagnosis Penyakit sifilis dapat didifferential diagnosis dengan penyakit kelamin lain seperti (http : // www.fpnotebook.com, 2008) : 1. Genital Ulcer 2. Genital Herpes 3. Chancroid 4. Venereal Wart 5. Lymphogranuloma venereum

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

Daftar Pustaka Aprianti S, Pakasi R, Hardjoeno, 2003. Tes Sifilis dan Gonorrhoe dalam Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diagnostik. Makassar: LEPHAS Unhas. Bockenstedt L.K, 2003. Spirochetal Diseases : Syphillis and Lyme Disease in Medical Immunology 10th ed, Mc Graw Hill. Ditjen PP&PL, 2005. Sifilis dalam Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Handojo I, 2004. Imunoasai Untuk Penyakit Sifilis dalam Imunoasai Terapan pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya : Airlangga University Press. Healthcommunities. Syphilis – Urologychannel. Healthcommunities.com, last modified. Diakses 25 Januari 2008. http: // en.wikipedia.org/ Veneral Disease Research Laboratory test. Download tanggal 29 agustus 2008. http://en wikipedia.org/wiki/ Rapid plasma Reagin, last modified : Diakses 25 Pebruari 2008. http://en.wikipedia.org/wiki/. Wassermann test, last modified. Diakses 26 Agustus 2008. http: // id.wikipedia.org / wiki / Treponema pallidum, last modified : 14 oktober 2008 http: // www.thefreedictionary.com / Syphillis. Download tgl 23 Agustus 2008 http: // www.thefreedictionary.com / Syphillis Symtom. Diakses tgl 22 Agustus 2008
188

http:

// www. fpnotebook. com /ID/STD/Syphilis. Diakses 5 November 2008. http: //www.cdc.gov/std/default.htm, Sexually Tranmitted Diseases, last modified. Diakses 4 Januari 2008. LaSala P.R, Smith M.B, 2007. Spirochaete Infections in Henry’s Clinical Diagnosis and Management by Laboratory Methods 21sted, Saunders Elsevier. Mayo Clinic.com. Syphilis: Screening and diagnosis – Mayo Clinic.com Medical Services, update 27 0ct 2006. MayoClinic. Syphilis: Treatment. MayoClinic.com Medical Services. Diakses 27 Oktobert 2006. Mayo Clinic. Syphilis Testing, ARUP Laboratories. Mayo Clinic Diakses 28 April 2008. Natahusada EC, Djuanda A, 2005. Sifilis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi 4, Jakarta : Pen FK-UI. Palacios R et all., 2007. Impact of syphilis infection on HIV viral load and CD4 cell counts in HIV-infected patients. J Acq Immun Defic Synd 44: Maret. Sacher R.A, McPerson R.A, 2004. Diagnosis Serologik Infeksi Spesifik dalam Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, edisi 11, EGC, 2004, 456 - 458 www.dshs.state.tx.us/hivstd, HIV / STD Facts. Diakses 5 November 2008.

Vol. II, No. 3 tahun 2009

Jurnal Madani FKM UMI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->