P. 1
Etika Publik_Romo Haryatmoko,SJ

Etika Publik_Romo Haryatmoko,SJ

|Views: 450|Likes:
Published by Aditya Nugraha
Etika publik
Etika publik

More info:

Published by: Aditya Nugraha on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2015

pdf

text

original

1

ETIKA PUBLIK: DASAR REFORMASI BIROKRASI*
Untuk Integritas dalam Pelayanan Publik Oleh Haryatmoko Istilah etika publik belum terlalu lama menjadi populer karena sebelumnya lebih banyak digunakan istilah etika pemerintahan. Etika publik mulai serius dibahas setelah skandal Watergate. Skandal itu memicu pengesahan The Ethics in Government Act of 1978 Sejak itu, untuk menghindari orientasi kekuasaan, lalu lebih diarahkan pada tujuan utama etika, yaitu pelayanan publik. Jadi kebaharuan etika publik lebih terletak pada tekanannya. Fokus etika publik adalah pelayanan publik dan integritas pejabat publik. Etika publik dimaksudkan untuk memperbaiki pelayanan publik. Konflik kepentingan dan korupsi menyebabkan buruknya pelayanan publik. Masalahnya bukan hanya terletak pada kualitas moral seseorang (jujur, adil, fair), namun terutama pada sistem yang tidak kondusif. Sebetulnya banyak pejabat publik yang jujur dan serius berjuang untuk kepentingan publik, namun karena korupsi yang sudah menjadi fenomen struktural mengkondisikan banalitas korupsi. Refleksi atas memburuknya pelayanan publik dan integritas para pejabat dan politisi menjadi keprihatinan utama etika publik. Etika publik peduli terhadap cara menjembatani antara norma etika dan tindakan nyata, tidak hanya berhenti pada niat baik. Etika publik adalah refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggungjawab pelayanan publik. Jadi etika publik bukan pertama-tama sibuk dengan merumuskan norma, tetapi mencoba membangun sistem atau prosedur yang memudahkan norma-norma etika publik bisa dilaksanakan untuk mencegah konflik kepentingan dan korupsi. Maka sebagai sarana utama untuk mencapai tujuan pelayanan publik yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan publik diperlukan akuntabilitas, transparansi dan netralitas. Etika publik memiliki tiga dimensi yang digambarkan dalam segitiga yang mengacu ke tujuan, sarana dan tindakan.

PELAYANAN PUBLIK YANG BERKUALITAS & RELEVAN TUJUAN

ETIKA PUBLIK

MODALITAS
AKUNTABILITAS TRANSPARANSI NETRALITAS

TINDAKAN
INTEGRITAS PUBLIK

[Skema baru ini hasil modifikasi Segitiga Etika Politik B. Sutor, Politische Ethik, 1991:86]
*Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2011. Page 1

Kekuasaan bisa disalahgunakan untuk memenangkan kontrak-kontrak atau keuntungan perusahaannya. bailout. (iii) aksi/tindakan dipahami sebagai “integritas publik” untuk menjamin pelayanan publik yang berkualitas dan rel evan. manipulasi pajak. 2008: 10). menghimpun pengaruh untuk menguasai atau menjauhkan keuntungan ekonomi dan kebijakan publik dari tekanan sosial dan elektoral. penjualan saham. Fungsi pengawasan budget bisa berubah menjadi politik manipulasi ketika alokasi dana dalam perencanaan budget diperdagangkan di antara kelompok-kelompok kepentingan. Konflik kepentingan mendorong pengalihan dana publik.Ricoeur. Konflik kepentingan bukan hanya mendapatkan uang. (ii) partai politik tidak mengakar. 1991: 86). Pendanaan ilegal partai politik sarat konflik kepentingan menyeret ke korupsi kartelelite. alma mater atau organisasi keagamaannya. 1990). tetapi dengan menghalangi atau mengkooptasi pesaing-pesaing potensial. perusahaan. penegak hukum dan birokrasi (F. ikatan alumni. 2008: 24). (ii) sarana: “membangun institusi -institusi yang lebih adil” dirumuskan sebagai “membangun infrastruktur etika dengan menciptakan regulasi. DPR bisa berubah menjadi pemangsa yang siap memeras. Johnston. dan netralitas pelayanan publik”. Konflik kepentingan yang mencolok (pendanaan ilegal partai politik. dan yang tersamar (calo anggaran. Dari definisi itu. hukum. proyek fiktif. Pejabat publik menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan diri/kelompok sehingga melemahkan atau membusukkan kinerjanya dalam tugas pelayanan publik” (OECD. Konflik kepentingan semakin sulit dihindari ketika pejabat publik sekaligus pemilik perusahaan. Modus operandinya beragam: korupsi pengadaan barang/jasa. Page 2 . materi atau fasilitas untuk dirinya. transparansi. tapi lebih mewakili kepentingan elite. parkir uang di Bank dengan menunda pembayaran untuk memperoleh bunga.2 Etika publik adalah bagian dari etika politik. Konflik kepentingan merusak kebijakan anggaran. aturan agar dijamin akuntabilitas. 2011. turisme berkedok studi banding) membentuk kejahatan struktural yang merugikan kepentingan publik. penulis menerjemahkan ke dalam versi tiga dimensi etika publik: (i) tujuan “upaya hidup baik” diterjemahkan menjadi “mengusahakan kesejahteraan umum melalui pelayanan publik yang berkualitas dan relevan”. *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. partai politik. penguasa yang pengusaha). sumberdaya Negara bisa dianggap aset perusahaannya. Korupsi kartel-elite adalah cara elite menggalang dukungan politik dari masyarakat dan memenangkan kerjasama dengan lembaga legislatif. Situasi ini membuat politik penuh resiko dan ketidakpastian. cari posisi paska-jabatan. penegak hukum dan birokrasi karena kondisi politik berikut (M. Konflik Kepentingan dan Korupsi Kartel-Elite Konflik kepentingan dipahami sebagai “konflik antara tanggungjawab publik dan kepentingan pribadi/kelompok. pengusaha. (iv) birokrasi rentan korupsi. Korupsi ini melibatkan jaringan partai politik. Bila akuntabilitas lemah. Tantangan berat etika publik ialah konflik kepentingan. 2005: 89-90): (i) para pemimpin menghadapi persaingan politik dalam lembaga-lembaga yang masih lemah. tidak hanya mempengaruhi kebijakan publik. sarana (polity) dan aksi politik (politics) (B. (iii) sistem peradilan korup. Sutor. Etika politik didefinisikan sebagai “upaya hidup baik (memperjuangkan kepentingan publik) untuk dan bersama orang lain dalam rangka memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi-institusi yang lebih adil” (P. terutama pemisahan kepentingan publik dan perusahaan. ketidakpastian mau dihindari. terutama yang menyeret ke korupsi dalam bentuk korupsi kartel-elite. Lordon. Tiga dimensi etika politik adalah tujuan ( policy). tetapi juga semua bentuk kegiatan (penyalahgunaan kekuasaan) untuk kepentingan keluarga. Dengan korupsi kartel-elite.

pejabat publik dituntut untuk memiliki kompetensi teknis. membayar pejabat publik agar bisa mark-up harga dan menurunkan kualitas (S. Penalarannya menunjukkan tingkat kesadaran moral seseorang. atau bersedia berkorban untuk kepentingan bersama. Sedangkan tiga tuntutan terakhir bisa dipelajari. Untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap orang akan bereaksi secara berbeda menghadapi dilema moral. efisiensi dan penghematan (Piron 2002:36-37).3 Bentuk konflik kepentingan lain adalah mengubah aturan hukum. Menghadapi perubahan yang cepat berkat teknologi informasi. Tingkat kesadaran moral berkembang berkat pengaruh pendidikan keluarga. Konflik kepentingan yang tersamar adalah mengatur nasib masa depannya. terutama di dalam penalaran moral. bukan lagi menekankan pada metode. Ketrampilan etika yang dibutuhkan dalam pelayanan publik menekankan empat hal: (i) tingkat kesadaran penalaran moral sebagai dasar pengambilan keputusan yang etis. moralitas publik dan pribadi serta etika organisasi (2010: 28). pengembangan dan penerapan kebijakan umum. (iv) organisasi kerja lebih luwes (v) prioritas pada masyarakat yang dilayani dan kepuasan publik.. Memiliki kompetensi teknis dan leadership memungkinkan untuk memperkecil resiko *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. (iii) penggunaan perencanaan dan lingkar kontrol (Kolthoff. yaitu efektivitas. mekanisme pasar dan alokasi sumberdaya publik. e) begitu memenangkan kontrak. sekolah dan lingkungan. semakin peduli pada kesejahteraan bersama. d) perusahaan membayar supaya diseleksi sebagai kontraktor yang memenangkan kontrak. Semakin tinggi tingkat kesadaran moral. keluarga. (ii) desentralisasi dengan memberi kewenangan lebih kepada daerah atau bawahan. terutama kompetensi etis. Menggunakan pengaruhnya ketika masih pejabat publik untuk mencari kedudukan atau pekerjaan setelah selesai jabatan (OECD. 2006:27-28). (iv) mampu menerapkan teori-teori etika (ibid. Sebagai sarana untuk mencapai tujuan pelayanan publik yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan publik diperlukan akuntabilitas. 2007: 2). Contohnya adalah konflik kepentingan dalam pengadaan barang/jasa publik dengan berbagai bentuknya: a) perusahaan swata bersedia membayar agar dimasukkan di dalam daftar peserta kontrak. Integritas publik yang terungkap dalam konsistensi sikap etisnya bukan hanya masalah pengetahuan penalaran moral. dilatih dan dibiasakan. leadership. Etika Publik Menuntut Tiga Kompetensi Pejabat Publik Kebaharuan etika publik lebih terletak pada tekanannya. 2011. Fokus etika publik adalah pelayanan publik dan integritas para pejabat publik. (vi) Ukuran utama adalah hasil/kinerja dan pertanggungjawaban. (ii) kemampuan memahami etika sebagai sarana dalam menghadapi konflik. tapi juga pembiasaan diri melakukan yang baik. b) membayar suap untuk mendapatkan informasi konfidensial dari dalam tentang batas nilai kontrak paling rendah dan paling tinggi. dijelaskan bahwa kompetensi etis meliputi manajemen nilai. (iii) kemampuan menolak perilaku yang berlawanan dengan etika. pengembangan moral dan penalaran moral. harus ada partai oposisi yang serius dan jaminan akuntabilitas. 2008:25). Dasar pengambilan keputusan bisa dinilai atas dasar acuannya: kepentingan diri. (vii) pelimpahan tanggung jawab semakin besar dilimpahkan ke pelayan publik agar tercapai ideal etika pelayanan publik. 28). pejabat publik membutuhkan penopang kompetensi teknis dan kompetensi etis. manajemen nilai dan proses pengambilan keputusan (2010:27). rata-rata penawaran atau kriteria evaluasi proyek. Menghadapi berbagai konflik kepentingan itu. c) uang diberikan ke pejabat publik agar mengatur spesifikasi penawaran sehingga hanya perusahaan yang menyogok itu masuk sebagai satu-satunya suplier.Rose-Ackerman. transparansi dan netralitas. Maka perlu orientasi baru dalam organisasi pelayanan publik dengan memperhitungkan beberapa perubahan: (i) perampingan dan semangat kewirausahaan. teman dekat. kepentingan umum. Page 3 . bukan pada prosedur organisasi. Dalam buku Bowman. kelompok.

pemahaman yang baik tentang hukum yang terkait dengan bidang keahliannya (bagaimana agar kontrak-kontrak pengadaan barang/jasa sesuai dengan hukum). pendidikan. meningkatkan metode atau praktik yang selama ini dijalankan. Pembangunan jalan. Bowman.S. 2010:23) Kompetensi teknik merupakan inti profesionalisme pelayanan publik. artinya harus memiliki pengetahuan terspesialisasi yang memungkinkan untuk menguasai pekerjaan khusus di suatu bidang (misalnya pengawasan keuangan di bidang pendidikan). Dan sebagai alat pembanding atau mengukur sejauh mana pelayanan publik sudah mengikuti standar terbaik perlu benchmarking. Moralitas Publik -Etika organisasional KOMPETENSI LEADERSHIP -Penilaian dan penetapan tujuan -Ketrampilan Manajemen hard/soft -Gaya manajemen -Ketrampilan politik dan negosiasi -Evaluasi (J. Kompetensi itu sekaligus meliputi pengetahuan tentang aturan-aturan dan batasbatasnya yang mengarahkan bagaimana pekerjaan itu bisa dilaksanakan. Kompetensi etis memberi informasi yang memadai bagi pejabat publik untuk mengambil keputusan sesuai dengan etika publik. New York: Armonk. SEGITIGA KOMPETENSI PROFESIONALISME PELAYANAN PUBLIK -Pengetahuan yang terspesialisasi. membangun dukungan dari stakeholders dan mengantisipasi resistensi. Maka penting. -Manajemen program. menurut Bowman. -Kemampuan penalaran moral -Moralitas pribadi. Manajemen organisasi mengandaikan kemampuan merencanakan program. dan teknologi informasi membutuhkan profesionalitas serta penguasaan pengetahuan ilmiah dan teknologi. *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Page 4 . Dengan cara pengukuran semacam ini dimungkinkan alternatif. -Pengetahuan hukum. kesehatan publik.4 menghadapi dilema-dilema etis yang tidak perlu.S. 2011. Benchmarking bisa memicu perubahan proses perencanaan strategis dalam pelayanan publik asal disertai masukan umpan-balik dari masyarakat yang dilayani. 2010: 37-38). -Manajemen Strategis -Manajemen Sumberdaya KOMPETENSI TEKNIS KOMPETENSI ETIKA -Manajemen nilai. serta manajemen organisasi (J. Achieving Competencies in Public Services: Professional Edge. Bowman. Dewasa ini kompetensi teknik tidak mungkin tanpa penguasaan komunikasi teknologi informasi bila pelayanan publik mau lebih cepat dan efektif. Kompetensi teknik mencakup pengetahuan ilmiah yang diperlukan untuk melaksanakan tugas (misalnya bagaimana menjamin penyediaan tabung gas yang aman). memenuhi tuntutan segitiga kompetensi untuk profesionalitas. Kompetensi teknis bersifat fungsional.

negosiasi dan kepemimpinan simbolis (Bowman. Tingkat kesadaran moral seperti itu hanya bisa diperoleh melalui latihan. Kompetensi leadership difokuskan pada empat ketrampilan. Maka kekuasaan diharapkan persuasif. pendidikan dan pembiasaan yang dimungkinkan bila di setiap jenjang karir kriteria kompetensi etis selalu dipakai untuk menyeleksi pejabat. Pejabat publik harus memiliki ketrampilan teknis untuk memiliki sumberdaya manusia yang kompeten. Akhirnya. Hubungan antara kompetensi teknik dan kompetensi etika sering dirumuskan dalam bentuk dilema antara hasil dan proses. 2010: 39). Page 5 . yaitu pengetahuan tentang budaya organisasi. Tiga tingkat kesadaran moral dalam teori Kohlberg menunjukkan bahwa pejabat publik dituntut bisa mencapai pada paska-adat. bagaimana mengembangkan cara mengukur dan strategi mengembangkannya. Pejabat publik harus mengenal proses perencanaan dan sarana-sarana dalam kerjasama berbagai proyek antar organisasi atau antar lembaga. Tingkat paska-adat ini ditandai dengan hormat pada nilai-nilai sosial. 2003: 12). kesadaran rutinitas institusi dan penanaman identitas kolektif. administrasi HRD. 2011. menengahi konflik kepentingan dan menyelesaikan konflik. netralitas. Syarat leadership meliputi kemampuan memfasilitasi kerjasama. tuntutan terpenting kompetensi teknik ialah meningkatkan produktivitas: bagaimana mendefinisikan produktivitas. Jadi tindakan etis tidak hanya masalah melakukan yang baik. waktu dan beaya. dan proses perencanaan. Tujuan utama manajemen teknis menekankan agar suatu sistem lebih luwes dan mampu menjawab kebutuhan berkat adanya keleluasaan bagi penilaian manajemen (P. Jadi ketrampilan negosiasi.17-28). menerapkan teknologi tepat-guna. Manajemen nilai tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kesadaran moral seseorang. Padahal etika publik cenderung memasang alat kontrol birokrasi sehingga tekanan pada proses sering merugikan atau menghambat hasil yang mau dicapai. Evaluasi manajemen ini memungkinkan penyesuaian yang cepat agar efisien. prosedur dan hubungan antar lembaga. survei dan penilaian. perilaku etis seseorang tergantung pada pemahaman moral dan kemampuan menalar dalam berhadapan dengan dilema moral. Menurut L. Manajemen program semakin sulit karena teamwork dan kerjasama yang tidak resmi mengaburkan pemisahan departemen. organisasi. Bishop. mengetahui bagaimana bawahan bekerja dan menciptakan program-program yang sehat secara finansial (Bowman. E-governance dan tiga kompetensi pejabat publik *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. komitmen untuk menjamin hak-hak asasi manusia dan setia pada janji terhadap persetujuan yang dibuat bahkan bila bertentangan dengan kepentingan kelompok. hubungan dengan stakeholders dan kemampuan memecahkan konflik menentukan keberhasilan kepemimpinannya. Efisiensi. efektivitas dan adil adalah nilai-nilai yang dikaitkan dengan produktivitas dalam administrasi pelayanan publik. yaitu ketrampilan manajeman organisasi dan manajemen sistem sebagai hard skill. Keputusan untuk melakukan sesuatu tergantung pada bagaimana seseorang merumuskan dilema moral (1981: Vol. sistem informasi. Kompetensi leadership yang sering diabaikan ialah institutional knowledge. Fasilitas yang membantu agar tercipta budaya etika di dalam organisasi pelayanan publik berupa infrastruktur etika seperti akuntabilitas. bisa mendekati orang.5 Kompetensi dalam manajemen program dan proyek dibutuhkan dalam pelayanan publik. sektor dan jurisdiksi (Bowman. Pelayanan publik menantang pejabat publik untuk mengidentifikasi tanggungjawab dalam pengambilan keputusan dan ketajaman managerial agar bisa mendiagnosa masalah dan mewujudkan dalam lingkungan kerja. dan sebagai soft skills ialah ketrampilan komunikasi. Modalitas Etika Publik: Akuntabilitas dan Pengawasan Modalitas di dalam interaksi kekuasaan ialah fasilitas.I. Kohlberg. dan membuat orang mudah menaruh kepercayaan. 2010: 31). Manajemen organisasi mensyaratkan hard skills dalam bidang budgeting. transparansi. 2010: 25). Kompetensi etika ditantang untuk tidak mengorbankan efisiensi.

Dua tuntutan ini sering bisa bertentangan. (iii) telah mencari/mengusahakan upaya lain. Page 6 . Laporan ke lembaga di luar organisasi atau media. sumber pendapatan dan hutang sebelum jabatan publik. akuntabilitas hanya mungkin bila pelayan publik bisa dipercaya. (ii) memeriksa laporan kekayaan. (iii) memeriksa laporan hubungan-hubungan beresiko untuk meminimalisir konflik kepentingan. Akuntabilitas ini menolong mempertajam makna tanggung jawab. Akuntabilitas perlu untuk menjamin integritas publik dan pelayanan publik. Mekanisme ini hanya berjalan bila lembaga memberi perlindungan hukum terhadap whistle-blower dalam bentuk: (i) harus ada pernyataan tegas bahwa pelaporan pelanggaran korupsi akan ditanggapi serius dalam organisasi asal indikasinya bisa dipertanggungjawabkan. atau hasrat untuk menjawab tuntutan atasannya berlawanan dengan kebutuhan publik . 2011. Tulang punggung infrastruktur etika ini adalah akuntabilitas dan transparansi. Maka lembaga perlu menyediakan sarana komunikasi. Ada tiga pengertian akuntabilitas menurut Guy Peeters (2007: 16-17): (i) Akuntabilitas disamakan dengan transparansi: tuntutan terhadap organisasi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan. (ii) bukti awal jelas: memungkinkan pihak yang mendapat laporan bisa memverifikasi. Pengertian akuntabilitas yang pertama itu menekankan institusi yang adil untuk mendorong perilaku pejabat agar sesuai etika dengan memungkinkan pihak dari luar organisasi pemerintah mengidentifikasi. Harus ada laporan terbuka terhadap pihak luar atau organisasi mandiri (legislator. tujuan pelayanan publik yang relevan dan responsif atau nilai-nilai agama. (iii) Akuntabilitas dipahami sebagai kemampuan merespon kebutuhan publik atau kemampuan pelayan publik bertanggungjawab terhadap pimpinan politiknya. (ii) Akuntabilitas dipahami dalam kerangka tanggungjawab. Sedangkan untuk mendapatkan legitimasi. (v) tuduhan fair (sejauh mana penyalahgunaan wewenang itu mengancam/membahayakan kepentingan publik *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. auditor. yaitu menjamin perilaku pejabat agar sesuai dengan deontologi yang mengatur pelayanan publik. mempertanyakan dan mengoreksi yang sudah dilakukan. dan memberi kesempatan mengemukakan keprihatinan itu di luar jalur struktur manajemen. Maka di setiap organisasi pemerintah dibutuhkan komisi etika untuk: (i) mengawasi sistem transparansi dalam penyingkapan keuangan publik. (iii) sanksi akan diberikan terhadap siapa saja yang membuat laporan palsu atau tuduhan jahat. tapi tidak efektif. publik) yang dipublikasikan. leadership dan etika). Modalitas etika publik ini sebetulnya merupakan suatu sistem atau prinsip-prinsip dasar organisasi pelayanan publik yang mengarahkan upaya untuk menciptakan infrastruktur etika. hukum yang mencegah konflik kepentingan dan korupsi. sadar akan tanggungjawabnya terhadap publik. memfasilitasi audit dan evaluasi kinerja untuk identifikasi dimensi-dimensi etika. suatu tindakan atau kebijakan harus mengacu ke modalitasnya yaitu norma. Dari sisi deontologis ini. tuntutan integritas publik. artinya upaya untuk menjawab kepentingan publik bisa saja bertentangan dengan kehendak atasan politiknya. hotlines. Meniup peluit bisa dipercaya bila memenuhi beberapa syarat ini: (i) ketepatan laporan yang dituduhkan. Akuntabilitas jenis ini lebih menekankan nilai-nilai yang telah dibatinkan sebagai pelayan publik sesuai tuntutan etis. Norma di dalam etika publik bisa berupa kode etik. Bentuk ini mengandaikan adanya sistem pelayanan publik yang telah terlembagakan secara baik. komisi etika diikutsertakan untuk mengangkat masalah etika. (iv) memberi indikasi cara yang baik bagaimana keprihatinan itu akan diangkat di luar organisasi. (iv) di setiap pertemuan staf dan pengambilan keputusan. (ii) konfidensialitas pelapor dilindungi krn informasinya diharapkan. (iv) mencek dan mencek kembali fakta yang diketahui sebelum mengatakan dengan spesifikasi tingkat pelanggaran. komunikasi konfidensial dan petunjuk pelaporan yang bisa dipercaya. Agar pengawasan lebih efektif perlu mekanisme whistle-blowing.6 (teknis.

tujuan dan kewajiban yang dipercayakan atau dengan norma yang jabatan kekuasaan yang dipegangnya (A. kelompok bisnis dan organisasi mahasiswa. terutama yang menyediakan infrastruktur etika. asosiasi profesi. Di dalam interaksi sosial. kerugian). b) jujur terhadap ideal yang mau dicapainya yang terungkap dalam satunya kata dan perbuatan. 2007:40): a) mandiri karena hidupnya mendasarkan pada nilai-nilai dan norma-norma yang stabil dan mempunyai visi karena mau memperjuangkan sesuatu yang khas. yang melihat integritas publik sebagai tindakan seorang/lembaga pemegang kekuasaan yang sesuai dengan nilai. ketrampilan untuk mendorong semua pihak yang terlibat di dalam pelayanan publik untuk bisa mengkomunikasikan secara efektif gagasan dan kepentingan mereka agar bisa didengar dan dipahami. Tiga kriteria bisa untuk mengukur integritas publik seorang pejabat (Kolthoff. Dari perspektif ini. 2009: 19). berkembang di sekolah. Modalitas etika publik merupakan dimensi kedua etika publik. komunikasi yang baik bisa menghindarkan dilema moral dan membantu dalam menjamin integritas publik. sumberdaya. Integritas publik akan teruji ketika pejabat publik *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Akan lebih dipercaya oleh publik bila tidak dalam anonimitas (namun anonimitas tetap akan berguna). integritas publik baru kelihatan ketika harus berhadapan dengan kebijakan publik yang menyangkut pengelolaan kekayaan negara. pimpinan dituntut memiliki beberapa ketrampilan atau kemampuan.J. Jadi integritas publik bukan hanya sekedar tidak korupsi atau tidak melakukan kecurangan. Pertama. maka meningkatkan efektivitas pengawasan perlu melibatkan masyarakat melalui jaringan di daerah-daerah. kontrol dari luar sangat dibutuhkan. lingkungan masyarakat dan teruji dalam kehidupan professional. Jadi integritas publik adalah hasil pendidikan. Modalitas di dalam komunikasi ialah kerangka penafsiran. teori-teori etika juga akan membantu di dalam membuat pertimbangan-pertimbangan di dalam kebijakan publik. tetapi harus ditopang oleh lingkungan dan pengalaman. kemampuan memberdayakan staf untuk mengidentifikasi dimensi-dimensi etika dari masalah-masalah yang dipertaruhkan. Yang dimaksud dengan modalitas ialah semua prosedur atau syarat kemungkinan bagi penerapan normanorma etika ke dalam tindakan atau kebijakan publik. pelatihan dan pembiasaan tindakan yang diarahkan ke nilai-nilai etika publik. seminar. 2011. Dalam etika publik. kedua. nampak bahwa pembentukan habitus moral bukan sekedar masalah niat baik. Syarat-syarat kemungkinan implementasi etika ini sebetulnya dimaksudkan untuk membangun budaya etika di dalam organisasi. Integritas semacam itu tumbuh dari pendidikan keluarga. Page 7 . Jaringan ini dibentuk dari organisasi lokal. dominasi maupun legitimasi (A. 2008:4). mekanisme. Asumsinya. kerangka penafsiran ini berupa prinsip-prinsip keadilan. Anggota jaringan menjadi sumber informasi bagi KPK. 1991). Pembentukan jaringan dimulai dengan pelatihan. Maka peran pimpinan menjadi sangat vital karena sebagai fasilitator untuk membangun bentuk-bentuk komunikasi baru. Oleh karena itu. Integritas Publik dan Menumbuhkan Semangat Pengabdian Integritas pribadi dalam pelayanan publik adalah landasan utama etika publik. Tiga hal ini juga menjadi pilar good governance. korban. workshop untuk mendiskusikan konflik kepentingan dan korupsi (sebab. ketiga.7 (bukan sekedar bentuk balas dendam atau mencari sensasi). modalitas berperan penting karena menentukan kualitas struktur yang dibentuk baik pemaknaan. Selain itu. aset dan kekuasaan yang sesuai dengan tujuan-tujuan jabatan publik untuk digunakan untuk meningkatkan pelayanan publik (OECD Principles for Integrity Public Procurement.Giddens. kemampuan membangun konsensus moral di lembaganya. Selain peningkatan bentuk pengawasan intern itu. Brown. Memang. subsidiaritas dan solidaritas. c) perhatian dan tanggungjawab terhadap masalah-masalah kepentingan publik. terutama keterlibatannya di berbagai organisasi. Integritas publik berkaitan erat dengan penggunaan dana.

Maka Fleishman melihat integritas sebagai kejujuran dan kesungguhan untuk melakukan yang benar dan adil dalam setiap situasi sehingga mempertajam keputusan dan tindakannya (1981:53) dalam kerangka pelayanan publik. 2011. konsistensi di dalam kebijakan publik dan tindakannya dengan melibatkan keberanian moral untuk komit demi kepentingan umum. tujuan dan tanggungjawab yang dituntut oleh norma-norma jabatan tersebut (Brown. menajemen nilai menjadi nyata karena tanggungjawab pribadi ditekankan sehingga tidak ada alasan untuk mengalihkan tanggungjawab ke pihak lain atau bersembunyi di balik alasan “kepatuhan”. 2005:1).Bowman. berhubungan dengan suatu ketrampilan yang membentuk sikap yang disebut habitus moral. integritas pribadi sangat dituntut karena menjadi dasar integritas publik.S. menuntut pembentukan budaya etika di dalam organisasi pelayanan publik sehingga ada sistem yang menjamin integritas publik. Nilai-nilai ini berperan sebagai kriteria dan acuan di dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut pelayanan publik. termasuk penguasaan teori-teori etika. Jadi integritas publik menuntut dua bentuk pelatihan. kreativitas dan produktivitas.L. ketrampilan di dalam penalaran moral. tapi mampu memberi pemecahan dengan mengesampingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Integritas semacam ini. Kompetensi etika itu meliputi kemampuan di dalam manajemen nilai. yang tersingkir/kalah di dalam persaingan. Kepemimpinan yang efektif harus memudahkan perilaku yang bertanggunjawab. 2008: 4). Kemampuan ini mengandaikan kompetensi etika. bisa kaum miskin. 1971). kelompok gender atau kelompok minoritas. semua warganegara setara di muka hukum. menurut Dobel. Jadi etika menyumbang mempertajam pertimbangan kebijakan publik. Integritas publik yang mengandalkan pada kejujuran pejabat publik berarti memprioritaskan kepentingan publik dari pada kepentingan pribadi atau kelompok. Dalam tanggungjawab pelayanan publik. Pada prinsipnya. kedua. Page 8 . pertama. Kebijakan publik mengurusi alokasi sumber-sumber daya untuk mencapai nilai-nilai bersama yang diprioritaskan oleh masyarakat. Integritas publik mengandaikan adanya kejujuran dalam pelaksanaan tugas pelayanan publik yang berarti menghindari konflik kepentingan dan korupsi. Kebijakan publik merupakan upaya pemerintah melalui keputusan-keputusan dan tindakan-tindakannya untuk menghadapi masalah-masalah dan keprihatinan pelayanan publik (C. 2010: 67). Prinsip etika publik semacam itu sangat membantu memberi landasan pertimbangan etis pejabat publik dalam menentukan kebijakan publik karena dalam masyarakat selalu ada “pihak yang paling tidak diuntungkan”. serta etika organisasi (J. Integritas publik dipahami sebagai tindakan atau perilaku pejabat publik atau lembaga kekuasaan yang sesuai dengan nilai-nilai.Cochran. Untuk tujuan ini. Salah satu caranya adalah dengan mendelegasikan tanggungjawab kepada bawahan untuk mendorong inisiatif. bahkan kalau *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Maka pejabat publik diandaikan juga memiliki kompentensi etika. Pengakuan akan nilai-nilai etika merupakan dasar tindakan di dalam strategi etika publik untuk mendukung pelayanan publik yang relevan dan bertanggungjawab. pemberdayaan civil society untuk bisa ambil bagian di dalam pengawasan kebijakan publik dan evaluasinya menjadi sangat relevan. Dengan pendelegasian itu. tapi tanggungjawab terhadap pelayanan publik. moralitas individual dan publik. Pejabat publik membuktikan diri mempunyai integritas ketika dari sikapnya bisa menunjukkan bahwa menerima jabatan bukan pertama-tama uang dan status sosial. ketidaksamaan harus menguntungkan semua terutama mereka yang paling lemah atau yang paling terpinggirkan (Rawls.8 dihadapkan pada pilihan-pilihan kewajiban yang saling bertentangan. Dengan demikian kemampuan teknis untuk menganalisa masalah masih perlu dilengkapi dengan kemampuan menangkap pertaruhan etis yang biasanya tidak lepas dari masalah keadilan. hanya akan dijamin bila pejabat publik membiasakan diri dengan (1999: 3-4): pertama.

Hubungan etika mengusik kepedulian. Maka perlu mengembangkan sikap pelayanan dengan praktek pro bono. konsekuensi-konsekuensinya dan tujuan-tujuan norma etika. Jumlah jam kerja ini dipakai sebagai salah satu syarat bagi seseorang untuk bisa menduduki jabatan. ketiga. artinya pihak lain berbicara sehingga “mendengarkan” hanya bisa dimengerti kalau itu merupakan jawaban terhadap rintihan penderitaan pihak lain. memecahkan masalah dan membiasakan diri pada yang baik. Kesediaan untuk berdiskusi dan berinteraksi bisa mengubah pola pikir dan perilaku seseorang. Memahami kesengsaraan berarti membangun kedekatan dengan pihak lain itu sendiri. Tak ada kata diam menghadapi penderitaan liyan. Kriterium Pro bono ini berfungsi mengingatkan bahwa jabatan publik dan profesi mengandung nilai etis atau kewajiban moral. 2011. penulis mau menggarisbawahi bahwa etika bukan sekedar pemikiran. di satu pihak. Pro bono maksudnya ialah kerja sukarela dari kaum profesional yang tidak dibayar sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat.9 konsekuensinya berat. tapi juga merupakan hasil dari reorganisasi cara berpikir dan pemahaman. meniru. Refleksi etika dan pelatihan etika berperan penting di dalam mengembangkan kesadaran moral. Keterbukaan dan sikap kritis ini memungkinkan orang mengambil jarak terhadap kebiasaan yang jelek dan membawa orang untuk bisa bela rasa terhadap korban atau yang terpinggirkan. integritas publik mengandaikan upaya terus menerus untuk mengintegrasikan moralitas pribadi ke dalam moralitas kehidupan publik. di lain pihak. Refleksi terhadap pengalaman-pengalaman dan perhitungan terhadap konsekuensikonsekuensinya itu akan membantu membatinkan tanggung jawab dan membentuk cara berpikir yang kritis. Page 9 . *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Pengalaman etika muncul dalam gerak kepedulian menuju ke pihak lain. yaitu hasil pembiasaan dari mengamati. pertimbangan moral dalam keputusan berkembang bukan hanya karena pengaruh lingkungan. bukan hanya belajar teori atau pengetahuan kognitif. Perjumpaan dengan pihak lain merupakan bentuk hubungan yang ditandai kepedulian dan nir-kepentingan. perkembangan kesadaran moral dari tahap satu ke tahap lain dicapai melalui praktik dan pengalaman. calon legislatif atau jabatan-jabatan struktural lainnya baik di pemerintahan maupun swasta. memahami pendasaran rasional. terutama sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Hubungan ini menyapa seseorang untuk bertanggungjawab terhadap pihak lain. yaitu kebaikan. Praktek Pro bono (lengkapnya Pro bono publico artinya untuk kebaikan/kepentingan publik) sebaiknya mulai diterapkan untuk kaum profesional di Indonesia. mereka harus membiasakan diri dengan refleksi etika. Mungkin salah satu caranya ialah dengan mulai memberlakukan jumlah jam bekerja Pro bono per bulan bagi profesional. Cara menghadapi masalah-masalah menunjukkan tingkat kesadaran moral seseorang. mengalami. Sebagai penutup. yaitu panggilan untuk pengabdian masyarakat. Bedanya dengan relawan biasa ialah Pro bono mengandalkan pada keahlian/profesi untuk memberi pelayanan cuma-cuma bagi mereka yang tidak bisa membayar. kedua. Jadi perkembangan kesadaran moral membutuhkan baik pengetahuan maupun pengalaman karena. Ketiga kebiasaan itu membantu mencegah pencampuradukan kepentingan pribadi dengan kepentingan publik. Bourdieu menggunakan istilah habitus. namun pengalaman.

John. Den Haag: BJU Lévinas.. New York: Cambridge University Press Johnston. Anwar.de L’Universite de Bruxelles OECD Working Papers. Paris: OECD Publishing Peeters. 19-31.15-32 Rawls.10 Daftar Pustaka Bishop. vol. Paderborn: Ferdinand Schöningh Thai. 2002: Public Sector Transparency and Accountability: Making it Happen . Libois. 2007: Integrity in Public Procurement. B. Performance Accountability and Combating Corruption. Boris. 1999: Public Integrity. Cambridge: Polity Press Johnston. Ethics and New Public Management. 1971. 2003. Paris: OECD Publishing OECD. 1991: Politische Ethik. Page 10 . Paris: OECD Publishing OECD. Managing Conflict of Interest in the Public Service. The Professional Edge. Bruxelles: Ed. and Ethics in the Public Sector. Patrick J. 2011. 2000. no 1..Power and Democracy . Whistleblowing to Combat Corruption. James S.: M. Lanham: University Press of America Kohlberg. Khi V.). Colorado: Lynne Rienner Dobel. Moral Stages and the Idea of Justice. Paris: OECD Publishing OECD. Boca Raton.Yves. Anthony.E. OECD. Emile. FL: Taylor and Francis *Makalah ini disadur dari buku Haryatmoko “Etika Publik: untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.Guy. hlm. Vol. Good Practice From A to Z. Bowman. Nijhoff: La Haye. Martinus ------------------------. 2005: Public Policy: Perspectives and Choices. San Francisco: Harper & Row Kolthoff. 1993: New Rules of Sociological Method. 2005: Fighting Corruption and Promoting Integrity in Public Procurement . 1982 : Ethique et Infini. 2007. Charles L. no 41. Management Organisation. Emmanuel.. Mobilizing for Reform. dans: Revue internationale d’éthique sociétale e t gouvernementale. Michael. 1971: Totalité et Infini. The Belknap Press of Harvard University Press... Michael (ed. & Malone. 2005: Civil Society and Corruption.Wealth. A Theory Justice. Burlington: Ashgate Boisvert.Y. 2009: OECD Principles for Integrity in Public Procurement. Crise de confiance et crise de legitimité: de l’éthique gouvernementale á l’éthique publique. 2010: Achieving Competencies in Public Services. Printemps 2002. 1981: Essays on Moral Development. Armonk N.VIII.). Performance-Based Accountability. Lawrence. 2009: International Handbook of Public Procurement. Essai sur l’extériorité. Paris: OECD Publishing OECD. Sutor. 2003:Guidelines and Overview. 2007. 4.I. Bernhard. Second Edition. Patrick (ed. Paris : Fayard. Baltimore: Johns Hopkins University press Giddens. Washington DC: The World Bank. 1994: Ethique de l’information. Eloise F. 2005: Syndromes of Corruption. The Philosophy of Moral Development.Sharpe Cochran. vol. dalam: Shah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->