P. 1
faktor

faktor

|Views: 77|Likes:
Published by uchutzhu

More info:

Published by: uchutzhu on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

faktor-faktor pemilihan metode tambang bawah tanah

FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PEMILIHAN METODE PENAMBANGAN BAWAH TANAH 1. DIMENSI ATAU UKURAN ENDAPAN DEPOSIT Pengertian : Dimensi atau ukuran endapan adalah geometri dari endapan bahan galian, yang meliputi volume endapan (tebal endapan x luas endapan) dan bentuk endapan (urat bijih, lensa dan lodes serta placer). Alasan : Dimensi atau ukuran endapan dijadikan faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan metode penambangan bawah tanah, karena dengan mengetahui ukuran endapan maka perancangan suatu tambang bisa dilakukan misalnya metode yang digunakan untuk endapan dengan ukuran kecil akan berbeda dengan endapan ukuran besar, karena bila dilihat dari segi ekonomis, maka endapan dengan ukuran kecil kemungkinan tidak akan menggunakan penyangga sedangkan endapan ukuran besar kemungkinan akan menggunakan penyangga. 2. ARAH DAN KEMIRINGAN Pengertian: Arah penyebaran suatu endapan atau biasa disebut “strike” merupakan sudut horizontal yan g dibentuk oleh suatu endapan, yang umumnya diukur dari titik arah utara ke arah timur. Sedangkan kemiringan biasa disebut “dip” yakni sudut vertikal yang dibentuk oleh suatu endapan, yang diukur dari arah bidang horizontal terhadap kemiringan suatu endapan. Arah dan kemiringan memiliki satuan yang sama yaitu derajat (o) dan diukur menggunakan kompas geologi. Alasan: Arah dan Kemiringan dijadikan faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan metode penambangan bawah tanah, karena kemiringan akan sangat berpengaru terhadap cara penambangan dan pembuatan lubang bukaan serta pengangkutan yakni apakah nantinya horizontal, vertikan atau miring. 3. KEDALAMAN ENDAPAN BIJIH DARI PERMUKAAN Pengertian: Kedalaman endapan bijih dari permukaan adalah jarak letak endapan bijih yang diukur dari permukaan ke dalam bumi. Alasan: Kedalaman sangat penting karena akan digunakan sebagai data pertimbangan dalam menentukan sistem penambangan maupun metode penambangan yang cocok digunakan. Hal ini berkaitan dengan perhitungan striping ratio yaitu berapa over burden yang dikupas untuk mendapatkan satu ton endapan bijih. Dari striping ratio ini dapat ditentukan sistem penambangan yang digunakan. Sedangkan hubungannya dengan metode tambang tanah adalah berhubungan dengan penggunaan penyangga, yakni untuk endapan yang tidak terlalu dalam, beban dari atas kemungkinan tidak besar sehingga dalam kegiatan penambangannya juga tidak terlalu membutuhkan penyangga, namun di samping itu juga perlu memperhatikan kekuatan dan kekerasan batuan samping serta berat jenis dari batuan di atasnya. 4. UMUR TAMBANG Pengertian: Umur tambang adalah lamanya operasi penambangan atau waktu yang dibutuhkan untuk menambang suatu endapan bahan galian dari suatu kegiatan penambangan, yang didapat dari pembagian jumlah cadangan endapan bahan galian yang ada dengan target produksi perusahaan tambang tersebut. Alasan: Berpengaruh terhadap biaya yang akan digunakan, yakni semakin lama umur tambang maka biaya penambangan juga akan semakin besar. Selain itu juga akan berpengaruh terhadap penggunaan penyangga, misalnya untuk umur tambang yang lama kemungkinan akan menggunakan penyangga dan untuk umur tambang yang singkat jika melihat segi ekonomis, lebih baik tidak menggunakan penyangga (namun perlu memperhatikan geometri dan karakteristik endapan maupun batuan samping).

5. NILAI ENDAPAN Pengertian: Nilai Endapan adalah harga suatu endapan bijih di pasaran berdasarkan permintaan pasar. Dalam hal ini berhubungan dengan keuntungan yang akan diperoleh dari hasil penjualan suatu endapan setelah dikurangi dengan biaya penambangan, pengolahan sampai penjualan. Alasan: Nilai endapan akan berpengaruh terhadap layak tidaknya suatu endapan untuk ditambang serta akan berpengaruh terhadap metode penambangan yang akan diterapkan dengan memperhitungkan biaya pembuatan penyangga jika harus menggunakan penyangga. 6. MODAL YANG TERSEDIA Pengertian: Modal yang tersedia adalah modal yang dimiliki oleh suatu perusahaan pertambangan dalam membiayai semua kegiatan tambang, modal biasa berupa saham, pinjaman dan obligasi. Alasan: Modal yang tersedia sangat berpengaruh dalam pemilihan metode penambangan bawah tanah karena, biaya untuk membuat suatu metode penambangan harus di sesuaikan dengan biaya yang tersedia atau yang di miliki perusahaan.

7. LETAK ATAU POSISI ORE BODY Pengertian: Letak keberadaan suatu endapa bahan galian atau badan bujih di bawah permukaan bumi. Alasan: Letak atau posisi dari suatu badan bijih akan mennjadi dasar dalam pembukaan tambang. Karena dengan mengetahui letak/posisi akan mempermudah dalam menentukan metode penambangan yang tepat. 8. SIFAT FISIK/KIMIA DARI ORE BODY DAN COUNTRY ROCK Pengertian: Sifat fisik yang dimaksud adalah terutama kekerasan dan kekuatan bijih, sedangkan sifat kimia adalah keasaman dan kebasaan suatu badan bijih dan country rock adalah batuan samping yang ada di sekitar endapan bijih. Alasan: Sifat kimia dan sifat batuan samping sangat berpengaruh dalam menentukan metode penambangan bawah tanah karena sifat kimia dan sifat fisik akan berhubungan dengan kestabilan dari badan bijih maupun batuan samping jika dilakukan penggalian/penambangan sehingga dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan metode penambangan apakah perlu menggunakan penyangga atau tidak menggunakan penyangga.

9. SWELL FAKTOR Pengertian: Swell Faktor adalah factor pengembangan yakni perbandingan antara volume insitu dengan volume loose dikali 100%. SF = Alasan: Material yang terdapat di alam dalam keadaan padat dan terkonsolidasi dengan baik, hanya sedikit ruang–ruang yang terisi udara di antara butir –butirnya, akan tetapi jika material tersebut digali dari tempat aslinya maka akan terjadi pemuaian volume yang besarnya dinyatakan dengan swell faktor (SF). Oleh karena itu akan berpengaruh terhadap perhitungan jumlah produksi dan nantinya akan berkaitan dengan pemilihan metode penambangan. 10. AIR TANAH Pengertian:

Air tanah adalah air yang letaknya di antar butir-butir tanah atau lapisan pembawa air (aquifer) yang terdapat di dalam tanah membentuk suatu aliran air. Alasan: Adanya air tanah menambah beban pada bukaan dan adanya tekanan hidrostastis terutama pada rekahan yang dapat menyebabkan kelongsoran, munculnya kebutuhan akan sistem penyaliran, sehingga perlu pertimbangan dalam pemilihan metode penambangan bawah tanah. 11. BIAYA PENAMBANGAN Pengertian: Biaya penambangan adalah biaya yang dibutuhkan dalam menjalankan seluruh kegiatan penambangan. Biaya penambangan dihitung dan diperkirakan dalam perencanaan tambang sesuai dengan modal yang tersedia. Alasan: Besarnya biaya yang akan digunakan pada penambangan akan berpengaruh terhadap pemilihan metode yang akan diterapkan atau metode penambangan yang akan digunakan akan sangat tergantung pada biaya yang tersedia. Misalnya metode penambangan yang menggunakan penyangga akan membutuhkan biaya yang lebih besar jika dibandingkan dengan metode yang tidak menggunakan penyangga. 12. FASILITAS YANG TERSEDIA Pengertian: Fasilitas yang tersedia adalah fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan dalam melaksanakan dan menunjang kegiatan–kegiatan pertambangan serta fasilitas untuk kesehatan dan keselamatan pekerja. Alasan: Untuk mencapai target produksi serta menjaga agar proses penambangan dapat berjalan sesuai dengan rencana, dengan biaya penambangan yang minimum dalam suatu kegiatan penambangan, maka dalam memilih metode penambangan bawah tanah harus disesuaikan dengan fasilitas –fasilitas yang tersedia. 13. KECENDERUNGAN ORE UNTUK PECAH ATAU HANCUR Pengertian: Kecenderungan ore untuk pecah atau hancur adalah sifat fisik dari endapan bahan galian yang cenderung pecah atau hancur apabila mendapat beban, tekanan serta getaran karena adanya kegiatan penambangan yang dilakukan. Alasan: Kecenderungan ore untuk pecah atau hancur sangat menentukan metode penambangan yang akan diterapkan, karena metode penambangan untuk endapan bijih yang mudah pecah atau hancur akan berbeda dengan endapan bijih yang tidak mudah pecah atau hancur. Misalnya endapan bijih yang mudah pecah atau hancur kemungkinan harus menggunakan penyangga sedangkan untuk endapan bijih yang tidak mudah pecah atau hancur tidak perlu menggunakan penyangga.

PENGERTIAN Secara umum pengertian tambang bawah tanah adalah suatu sistim penambangan mineral atau batubara dimana seluruh aktivitas penambangan tidak berhubungan langsung dengan udara terbuka.

2. SYARAT-SYARAT PENERAPAN TAMBANG BAWAH TANAH Prinsip pokok eksploitasi tambang bawah tanah adalah memilih metode penambangan yang paling cocok dengan keunikan karakter (sifat alamiah, geologi, lingkungan, dll) endapan mineral dan batuan yang akan ditambang, dengan memperhatikan batasan tentang keamanan, teknologi dan ekonomi. Batasan keekonomian berarti bahwa dengan biaya produksi yang rendah tetapi diperoleh keuntungan pengembalian yang maksimum (return the maximum profit ataupun rate of return ROR) serta lingkungan. Untuk menentukan tambang bawah tanah harus memperhatikan:  Karakteristik penyebaran deposit atau geometri deposit (massive, vein, disseminated, tabular, platy, sill, dll)  Karakteristik geologi dan hidrologi (patahan, sesar, air tanah, permeabilitas)  Karakteristik geoteknik (kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kohesi, Rock Mass Rating, Q-System, dll)  Faktor-faktor teknologi (hadirnya teknologi baru, penguasaan teknologi, Sumber Daya Manusia, dll)  Faktor lingkungan (limbah pencucian, tailing, amblesan, sedimentasi, dll). Catatan:  Rate of Return (ROR) secara umum diartikan sebagai tingkat pengembalian modal yang dinyatakan dalam persen. Investasi dinyatakan menguntungkan apabila mempunyai ROR diatas tingkat bunga bank saat itu. · Cut-off grade:  Kadar rata-rata minimum suatu logam yang terdapat dalam bijih supaya dapat ditambang secara menguntungkan berdasarkan ekonomi dan teknologi saat itu maupun lingkungan.  Kadar minimum suatu logam yang terdapat dalam bijih supaya dapat ditambang secara menguntungkan berdasarkan ekonomi dan teknologi saat itu maupun lingkungan. 3. TAMBANG BAWAH TANAH DAN PROSPEK MASA DEPAN Kecenderungan umum di masa yang akan datang, sistim tambang bawah tanah akan menjadi pilihan utama eksploitasi mineral dan enerji (Hartman, 1987). Hal ini karena beberapa hal:

1. Semakin berkurangnya deposit (cebakan) berkadar tinggi pada atau dekat permukaan untuk ditambang. Dengan kata lain bertambahnya kedalaman deposit akan menyulitkan bila ditambang dengan sistim tambang terbuka karena setiap tambang terbuka dibatasi oleh besaran Stripping Ratio. 2. Berkurangnya mobilitas peralatan mekanik pada tambang terbuka apabila penambangan semakin dalam 3. Pengetatan dan pembatasan mengenai masalah-masalah lingkungan, dimana tambang terbuka akan memberikan dampak lingkungan yang lebih besar dibandingkan tambang bawah tanah. 4. Pengembangkan teknologi baru dalam peralatan Tambang Bawah Tanah, khususnya dalam hal teknik penggalian dan peralatan penambangan yang kontinyu, serta sistim konstruksi penyangga dan perkuatan yang semakin baik. Catatan: · Stripping Ratio (SR) adalah perbandingan antara volume over burden (tanah penutup) dalam Bank Cubic Meter (BCM) yang harus digali untuk dapat menambang satu ton bijih. Pada tambang terbuka, penggalian yang semakin dalam akan menghasilkan nilai SR yang semakin besar. 4. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN TAMBANG BAWAH TANAH Keunggulan tambang bawah tanah 1. Tidak terpengaruh cuaca karena bekerja dibawah permukaan tanah 2. Kedalaman penggalian hampir tak terbatas karena tidak berkait dengan SR 3. Secara umum beberapa metode tambang bawah tanah lebih ramah lingkungan (misal: cut and fill, shrinkage stoping, stope and pillar) 4. Dapat menambang deposit dengan model yang tidak beraturan 5. Bekas penggalian dapat ditimbun dengan tailing dan waste. Kelemahan tambang bawah tanah 1. Perlu penerangan 2. Semakin dalam penggalian maka resiko ambrukan semakin besar 3. Produksi relatif lebih kecil dibandingkan tambang terbuka 4. Problem ventilasi, bahan peledak harus yang permissible explossive, debu, gas-gas beracun. 5. Masalah safety dan kecelakaan kerja menjadi kendala 6. Mining recovery umumnya lebih kecil 7. Losses dan dilusi umumnya lebih susah dikontrol Catatan:  Waste adalah sisa-sisa penggalian pada tambang bawah tanah yang tidak bermanfaat yang diperoleh pada saat underground development (persiapan penambangan bawah tanah).  Barren rock adalah batuan yang tidak mengandung logam atau bagian dari bijih yang mempunyai kadar bijih sangat kecil.  Mining recovery adalah perbandingan antara bijih yang dapat ditambang dengan bijih yang ada didalam perhitungan eksplorasi, yang dinyatakan dalam persen  Losses adalah kehilangan bijih pada penambangan bawah tanah karena keterbatasan atau kendala inheren pada metode yang diterapkan  Dilusi adalah bercampurnya barren rock dengan bijih hasil penambangan sehingga akan menghasilkan kadar broken ore yang lebih kecil.  Permissible explossive adalah bahan peledak yang menghasilkan gas-gas tidak beracun, dan dikhususkan pemakaiannya pada tambang bawah tanah.  Smoke adalah gas-gas yang tidak beracun sebagai hasil reaksi kimia bahan peledak yang meledak, terdiri dari gas-gas H2O, CO2, dan N2 bebas  Fumes adalah gas-gas yang beracun sebagai hasil reaksi kimia bahan peledak yang meledak, terdiri dari gas-gas CO dan NOX. 5. RUANG LINGKUP TAMBANG BAWAH TANAH

Jenis-jenis pekerjaan pada tambang bawah anah antara lain: 1. Penyiapan sarana dan prasarana di permukaan 2. Penyiapan sarana dan pekerjaan bawah tanah, meliputi 1. pembuatan jalan masuk utama (main acces pada primary development) 2. pembuatan lubang-lubang sekunder dan tersier (secondary development dan tertiary development) 3. Kegiatan eksploitasi: breaking (loosening) dengan pemboran dan peledakan, pemuatan(loading), pengangkutan (hauling, tranporting) 4. Penanganan dan operasi pendukung: penyanggaan, penerangan, ventilasi, penirisan, keselamatan kerja, dll). Catatan: · Satu round adalah urut-urutan atau siklus eksploitasi tambang bawah tanah yang terdiri dari kegiatan pemboran dan pengisian bahan peledak, peledakan, smoke clearing, roof controlling, scalling, supporting, loading, hauling. 6. TAMBANG BAWAH TANAH DI INDONESIA 1. PT. Freeport Indonesia di Tembagapura, Papua, bijih tembaga dan emas, metode block caving 2. PT. Tambang Batubara Bukit Asam di Ombilin, Sumatera Barat, metode Longwall Mining, dan room and pillar (tetapi sekarang sudah ditinggalkan) 3. PT. Aneka Tambang di Gunung Pongkor Bogor, bijih emas epithermal, metode cut and fill dan shrinkage stoping 4. PT. Aneka Tambang di Cikidang, bijih emas epithermal, metode underhand stull stoping 5. PT. Kitadin, batubara, metode longwall. 6. Tambang emas rakyat di Tasikmalaya, metode coyoting (lubang tikus) Catatan: Metode room and pillar pada batubara dahulu kala menjadi metode utama, tetapi saat ini sudah ditinggalkan, karena: 1. berkembangnya teknologi penyanggaan 2. nilai batubara yang semakin meningkat 3. emakin berkurangnya endapan batubara 4. meningkatnya kebutuhan batubara.

APLIKASI, KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN BERBAGAI METODE TAMBANG BAWAH TANAH

Pada dasarnya aplikasi setiap metode tambang bawah tanah bersifat spesifik. Walaupun demikian, pada prakteknya sukar sekali secara menyeluruh memenuhi kondisi idealnya. Dilain pihak, bijih juga memungkinkan mempunyai kondisi yang cocok untuk aplikasi beberapa metode, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap metode-metode tambang bawah tersebut.   Setiap metode mempunyai aplikasi yg spesifik, tetapi karakteristik bijih dan country rock tidak senantiasa ideal Karakteristik bijih dan country rock kadang memungkinkan aplikasi dua atau lebih metode

Eksploitasi mineral dimana seluruh ekstraksinya dilakukan di bawah permukaan bumi dinamakan “underground mining” (tambang bawah tanah), atau “deep mining” (tambang dalam). Metode tambang bawah tanah diterapkan apabila (1) kedalaman cebakan, (2) nisbah pengupasan over burden terhadap bijih, atau keduanya menjadi tidak memungkinkan dilakukan eksploitasi dari permukaan. Pemilihan metode yang cocok, mencakup aspek: (1) Menentukan perlu tidaknya penyangga, dan penyangga yang mestinya dipakai (2) Merancang konfigurasi bukaan dan urutan ekstraksi dikaitkan penyebaran bijihnya. 3.1. STOPE DG. PENYANGGAAN ALAMIAH atau OPEN STOPE

Aplikasi open stope secara umum: 1. Daerah bijih dan country rock kuat, kecuali cebakan tipis-datar atau sedikit miring yang dapat ditambang dengan retreating system 2. Bijih kadar rendah atau nilai ekonomis rendah, mengingat pillar berupa bijih dan losses tinggi. Pada bijih kadar tinggi dapat dilakukan pillar robbing. 3. Penambangan sangat selektif. Pada steep dip 50 0 – 900 dimungkinkan meninggalkan kadar rendah sbg pillar. Pada flat dip 00 – 200 mempunyai selektifitas tinggi. 4. Pada flat dip dimungkinkan sortasi, untuk steep dip dilakukan sortasi secara terbatas. 5. Aplikasi umum: tabular dinding teratur, batas dinding jelas. Kadang diterapkan untuk cebakan yang besar, menggumpal (massive), dinding irregular.

3.1.1. OPEN STOPE DGN. UNDERHAND STOPING    Level bagian atas dan bawah dihubungkan dengan raise Penambangan dimulai dari level atas menuju level bawah (underhand stoping), sehingga terbentuk jenjang untuk berdiri pekerja Broken ore dijatuhkan secara gravitasi menuju haulage drive sehingga meminumkan transportasi mekanikal.

Aplikasi: 1. Bijih ketebalan 3-4 meter 2. Kemiringan 500, pemindahan bijih secara gravitasi 3. Bukan sebagai metode utama, hanya sebagai metode tambahan untuk ekstraksi bijih yang terpisah dari bijih utama atau bagian badan bijih utama yang memberikan kondisi yang cocok 4. H/W dan F/W kompeten untuk mengurangi ore pillar 5. O/Z boleh inkompeten karena bijih menjadi tempat berpijak pekerja Keuntungan: 1. Unjuk kerja pemboran baik 2. Kebutuhan penyanggaan sedikit 3. Memanfaatkan gravitasi untuk transportasi broken ore 4. Pemboran dilakukan kearah bawah

5.

Kehilangan bijih halus kadar tinggi lebih sedikit

Kerugian: 1. Sortasi sukar dilakukan dalam stope 2. Kondisi kerja berbahaya khususnya dibawah backs dan walls, interval level harus kecil 3. Fasilitas menempatkan waste dlm stope sangat terbatas 4. Broken ore dikeluarkan pada “satu titik”, produksi kecil 3.1.2. OPEN STOPE DGN. OVERHAND STOPING   Level bagian atas dan bawah dihubungkan dengan raise  Penambangan dimulai dari level bawah menuju level atas (overhand stoping)  Untuk bijih yang curam diperlukan platforms (3-4 meter vertikal, 1-2 meter horizontal) untuk perpijak pekerja  Broken ore dijatuhkan secara gravitasi menuju haulage drive sehingga meminumkan transportasi mekanikal  Haulage level dilindungi oleh ore pillar atau timber mat Aplikasi: 1. Ketebalan bijih 3-4 meter 2. Kemiringan 500, pemindahan bijih secara gravitasi 3. Kemiringan diatas 500, diperlukan platform pekerja 4. Bukan sebagai metode utama, hanya sebagai metode tambahan untuk ekstraksi bijih yang terpisah dari bijih utama atau bagian badan bijih utama yang memberikan kondisi yang cocok 5. H/W dan F/W kompeten untuk mengurangi ore pillar 6. Badan bijih kompeten Keuntungan: 1. Posisi backs tidak memberikan bahaya, interval level dapat lebih kecil 2. Sorting dilakukan secara sistimstis 3. Waste hasil sorting dapat ditumpuk pada mine out area 4. Kondisi kerja lebih aman dan aplikasi lebih elastis 5. Pada kemiringan yang kecil broken ore jatuh pada haulage drive secara gravitasi

Kerugian : 1. Unjuk kerja pemboran menurun 2. Kemiringan bijih diatas 450 diperlukan platform pekerja 3. Lebih banyak memerlukan material penyangga 4. Lebih besar kehilangan bijih ukuran halus kadar tinggi

3.1.3. OPEN STOPE DGN. BREAST STOPING atau STOPE AND PILLAR   Pembongkaran dilakukan secara maju (advancing) terhadap bijih horisontal kurang 3 meter, dimana kondisi tersebut tidak memungkinkan penambangan underhand maupun overhand. Endapan yang lebih tebal dari 3 meter, maka dilakukan berjenjang, dengan tebal maksimum 13 meter

Penyanggaan atap dilakukan secara pemanen atau semi permanen (pillar) dari bijih itu sendiri yang kadang-kadang diperkuat dengan semen disekelilingnya (spray cement, pouring cement)

Prosentase bijih sebagai pillar tergantung pada: 1. Karakter atap: menentukan jarak antara pillar 2. Karakter lantai: menentukan jarak antara pillar 3. Kekuatan bijih: menentun ukuran penampang pillar Pada cebakan datar ketebalan 4 – 5 meter, dilakukan penggalian bijih sehingga terbentuk “wide drifts” dan ditinggalkan pillar secara sistimatis. Pillar dapat ditinggalkan sebagai penyangga permanen atau dilakukan “pillar robbing”. Pada tahap pertama penggalian, hanya diperoleh mining recovery sekitar 60%, dan meningkat menjadi 80% setelah dilakukan pillar robbing. Penambangan stope and pillar digunakan di tambang uranium Elliot Lake. Daerah penambangan dibagi menjadi ruang segiempat teratur yang dipisahkan oleh pillar. Pembuatan ruangan diawali pembuatan pillot raise ke arah kemiringan lapisan, dan dari pillot raise ini selanjutnya dibuat crosscut (Gambar 3.3.) Aplikasi: 1. Cebakan tidak bernilai tinggi, sejumlah bijih ditinggal sebagai pillar 2. Ketebalan tidak lebih dari 7 meter 3. Ketebalan diatas 7 meter akan mengakibatkan mining recovery semakin kecil dan bahaya runtuhan atap 4. Cebakan mendatar sampai kemiringan 200-500 (moderately steep) a. horizontal mining: stope and pillar untuk bijih mendatar atau hamper mendatar b. inclined mining: stope and pillar untuk kemiringan 20 0-300, penambangan searah dip, tidak meungkunkan memakai mobile equipment c. step mining: stope and pillar untuk kemiringan 30 0-500, dibentuk daerah kerja sedemikian rupa sehingga memungkinkan penggunaan mobile equipment 5. Batuan atap dan lantai kompeten, untuk meminimalkan pemakaian pillar 6. Bijih kompeten untuk mengurangi lebar pillar 7. Kedalaman tidak terlalu besar untuk menggurangi beban yang harus disangga pillar Keuntungan: 1. Biaya penambangan rendah 2. Memungkinkan sortasi dalam stope, dan waste ditinggal pada ruang kosong yang ada 3. Memungkinkan mekanisasi dari drilling, loading dengan Kerugian: 1. Losses sebagai pillar mencapai 40%, dengan pillar robbing yang efektip menjadi 20% 2. Bahaya runtuhan dari hangging wall, khususnya bila mempunyai joint dan cracks yang sejajar 3. Daerah yang harus diatur ventilasinya sangat luas Metode dapat dimasukkan dalam stope and pillar (bukan room and pillar) apabila memenuhi dua dari tiga hal: 1. Pillar tidak teratur dan terletak acak  Kadar rendah atau waste sebagai pillar  Bukan untuk memperoleh bentuk atau perencanaan tambang yang sistimatis, ttp. sekedar menyangga atap

2.

3.

 Penyusun pillar adalah batuan, maka relatif kuat dan berdimensi kecil Ketebalan cebakan lebih besar 6 meter  Tebal tetapi aman secara teknik, maka dilakukan tidak berjenjang  Tebal dan tidak aman secara teknik, maka dilakukan berjenjang Komoditas yang ditambang adalah mineral, bukan batubara  Batubara dapat ditambang secara room and pillar  Tidak ada cebakan batubara ditambang secara stope and pillar  Rule of tumb: room and pillar untuk coal, dan stope and pillar untuk noncoal

Read more: http://mataratu22.blogspot.com/2012/10/keuntungan-dankerugian-metode-tambang.html#ixzz2OGMF6ZOr

Tambang Bawah Tanah (Underground Mine)

Tambang bawah tanah adalah kegiatan pertambangan yang di lakukan dibawah permukaan tanah untuk mengambil bahan mineral..

Karena letak cadangan yang umumnya berada jauh dibawah tanah, jalan masuk perlu dibuat untuk mencapai lokasi cadangan. Jalan masuk dapat dibedakan menjadi beberapa:  Ramp, jalan masuk ini berbentuk spiral atau melingkar mulai dari permukaan tanah menuju kedalaman yang dimaksud. Ramp biasanya digunakan untuk jalan kendaraan atau alat-alat berat menuju dan dari bawah tanah.  Shaft, yang berupa lubang tegak (vertikal) yang digali dari permukaan menuju cadangan mineral. Shaft ini kemudian dipasangi semacam lift yang dapat difungsikan mengangkut orang, alat, atau bijih.  Adit, yaitu terowongan mendatar (horisontal) yang umumnya dibuat disisi bukit atau pegunungan menuju ke lokasi bijih. Ada dua tahap utama dalam metode tambang bawah tanah: development (pengembangan) dan production (produksi). Pada tahap development, semua yang digali adalah batuan tak berharga. Tahap development termasuk pembuatan jalan masuk dan penggalian fasilitas-fasilitas bawah tanah lain.

Dengan semua pekerjaan yang dilakukan di bawah tanah dengan panjang terowongan yang mencapai ribuan meter, maka diperlukan usaha khusus untuk mengalirkan udara ke semua sudut terowongan. Pekerjaan ini menjadi tugas tim ventilasi tambang. Selain mensuplai jumlah oksigen yang cukup, ventilasi juga mesti memastikan agar semua udara kotor hasil pembuangan alat-alat diesel dan gas beracun yang ditimbulkan oleh peledakan bisa segera dibuang keluar. Untuk memaksa agar udara mengalir ke terowongan, digunakanlah fan (kipas) raksasa dengan berbagai ukuran dan teknik pemasangan. Untuk menjaga kestabilan terowongan diperlukan pula penyangga-penyangga terowongan. Berbagai metode penyanggaan (ground support) telah dikembangkan. Penyanggaan yang optimal akan mendukung kelangsungan kinerja dan juga keselamatan semua pekerja.

Metode tambang bawah tanah terbagi mejadi: Open Stope Methodes Supported Stope Methodes Caving Methodes Coal Mining Methodes Open Stope Methodes Open Stope Methodes adalah sistem tambang bawah tanah dengan ciri-ciri : Sedikit memakai penyangga, atau hampir tidak tidak ada. Umumnya merupakan cara penambangan sederhana, atau tradisional.

Bisa menggunakan buruh-buruh yang tidak terlatih. Cocok untuk endapan bijih dengan ciri-ciri: Endapan bijih dan batuan induk relative keras, sehingga tidak mudah runtuh. Endapan bijih memiliki kemiringan lapisan (dip) lebih dari 70o. Ukuran bijih tidak terlalu besar. Tebal endapan bijih kurang dari 5 m. Antara batuan induk dan bijih mudah dibedakan atau terlihat jelas. Sedangkan metode Open Stope Methode sendiri dibedakan menjadi: Gophering Coyoting Glory Hole Methode Shrinkage Stoping Sublevel Stoping Berdasarkan pembagian di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut: Gophering Coyoting Metode Gophering Coyoting mempunyai ciri-ciri: Arah penambangan hanya mengikuti arah endapan bijih. Cara pengerjaannya tidak sistematis. Alat dan cara penambangnya sangat sederhana. Tanpa perencanaan rinci, karena dalam penambangnya hanya mengikuti arah endapan. Glory Hole Methode Metode Glory Hole Methode merupakan system penambangan dengan cara bebas membuat lubang bukaan, dikarenakan baik batuan induk maupun endapan bijih relative kuat. mempunyai ciri-ciri: Metode ini cocok untuk endapan yang sempit atau relative sedikit. Lebar endapan antara 1 – 5 m, tetapi dengan arah memanjang ke bawah berbentuk bulat atau elips. Endapan bijih dan batuan induk kuat. Shrinkage Stoping Metode Shrinkage Stoping mempunyai syarat atau ciri-ciri: Cocok untuk batuan kuat. Endapan mempunyai kemiringan lebih dari 70o. Tebal endapan tidak lebih dari 3 m. Endapan bijih memiliki nilai yang tinggi baik kadar maupun harganya. Endapan bijih harus homogen atau uniform. Penambangan tidak selektif. Bukan merupakan endapan Sulfida (Fe), karena endapan Sulfida harus dengan metode selective mining, hal ini guna menghindari pengaruhnya pada asam tambang. Sublevel Stoping Sublevel Stoping adalah penambangan bawah tanah dengan cara membuat level-level, kemudian dibagi menjadi sublevel-sublevel. Sedangkan syarat-syaratnya sebagai berikut: Ketebalan cebakan antara 1 – 20 m. Kemiringan lereng sebaiknya lebih dari 30o.

Baik endapan bijih dan batuan induk harus kuat dan keras. Batas endapan bijih dan batuan induk harus kuat dan tidak ada retak-retak ketika dilakukan penambangan. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi dilusi atau pencampuran dua material. Dalam hal ini pencampuran endapan bijih dengan batuan induk. Penyebaran kadar bijih sebaiknya homogen. Supported Stope Methode Supported Stope Methode adalah metode penambangan bawah tanah yang menggunakan penyangga dalam proses penambangannya. Secara umum ciri-ciri Supported Stope Methode antara lain: Cocok untuk endapan bijih serta batuan induk yang lunak. Cara penambangannya secara sistematis. Penyangga dalam tambang bawah tanah dibedakan menjadi dua, antara lain: Penyangga Alamiah Penyangga alamiah adalah penyangga yang menggunakan material yang berada atau dihasilkan dari proses penambangan itu sendiri. Penyangga alamiah dibagi menjadi: Endapan bijih yang ditinggalkan atau tidak ditambang. Endapan bijih kadar rendah. Setelah dinilai tidak ekonomis, endapan bijih ini ditinggalkan sebagai penyangga. Waste Batuan samping, atau material lain yang tidak ditambang. Penyangga Buatan (Artificial Support) Artificial support adalah penyangga buatan yang dimasukan ke dalam tamang bawah tanah, agar tidak runtuh. Bahan penyangga buatan ini disebut juga Material Filling, dapat berupa tailing, pasir, tanah, semen, baja, kayu, maupun baut batuan. Supported Stope Methode dibedakan menjadi: Shrink and Fill Stoping Merupakan metode penambangan dengan cara membuat level-level, dimana level-level tersebut merupakan endapan bijih yang ditambang. Di dalam level-level tersebut dibuat Stope-stope atau ruangan-ruangan. Setelah selesai menambang dalam satu level, maka level tersebut diisi kembali dengan material lalu dilanjutkan dengan membuat level baru. Arah tambang pada metode ini relative horizontal. Cut and Fill Stoping Merupakan metode penambangan dengan cara memotong batuan untuk membuat stope dalam level. Setelah selesai menambang dalam satu stope, maka stope tersebut diisi kembali tanpa menunggu selesai dalam satu level. Ini yang membedakan dengan Shrink and Fill Stoping. Syarat Cut and Fill Stoping antara lain: Endapan bijih tebalnya antara 1 – 6 m. Arah endapan relative mendatar tapi cukup tebal. Sebaiknya untuk endapan vein, kemiringannya harus lebih dari 45o. Dan untuk endapan yang bukan vein kurang dari 45o Endapan bijih keras, tapi batuan induknya lunak.

Endapan bijih bernilai tinggi baik kadar maupun harganya. Square Set Stoping Pada dasarnya, system penambangan ini dengan cara membuat penyangga yang lebih sistematis, dimana penyangganya berbentuk ruang (tiga dimensi). Baik berupa kubus ataupun balok. Penyangganya sendiri dapat berupa kayu maupun besi. Ciri-ciri Square Set Stoping antara lain: Ongkos penyangganya sangat mahal. Kemiringan endapan lebih dari 45o Ketebalan bijih minimal 3,5 m. Baik endapan bijih maupun batuan induk mudah runtuh. Endapan tidak perlu memiliki batasan yang jelas antara endapan bijih dan batuan induknya. Stull Stoping System penambangan ini meruapkan system penambangan yang memasang penyangga dari footwall ke hanging wall. Stull sendiri berarti kayu, sehingga pada system penambangan ini penyangganya menggunakan kayu. Ciri-ciri system penambangan ini antara lain: Bijih cukup kuat, sehingga tidak perlu langsung disangga, tapi batuan induk mudah pecah menjadi bongkahan-bongkahan. Kemiringan endapan bijih tidka terlalu berpengengaruh. Ketebalan endapan bijih antara 1 – 5 m. Bijih harus bernilai tinggi. Recovery harus tinggi. Dan looses factor harus rendah, mengingat biaya yang dibutuhkan untuk penyangga sangat mahal. * Cara pemasangan penyangga dibedakan menjadi: Raise Set Raise set merupakan cara pemasangan penyangga dari bawah ke atas. Lead Set Lead set merupakan cara pemasangan penyangga maju, searah dengan penambangan endapan bijih. Corner Corner set merupakan cara pemasangna penyangga ke arah samping atau juga menyudut. * Vein atau urat batuan adalah intrusi batuan lain ke dalam batuan induk. Intusi terjadi melalui rekahan-rekahan batuan induk, dan lebih keras daripada batuan induk. * Endapan bijih dalam sebuah cebakan relative berbeda kadarnya pada masing-masing bagiannya. Mengenai kadarnya dapat dihitung dengan menggunakan metode IMD dan juga IDW yang diperlajari di matakuliah Geostatik. * Drift adalah lubang bukaan yang menghubungkan antar level secara vertikal. * Raise adalah lubang bukaan horizontal yang berfungsi sebagai jalan keluar-masuk pekerja dan juga mengeluarkan endapan bijih. * Level adalah lubang bukaan yang bertingkat-tingkat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->