Bab III Napza

BAB III KESIMPULAN

Obat selain memberikan manfaat klinis juga dapat menimbulkan efek samping karena efek kliniknya pada sistem saraf pusat. Beberapa obat dari golongan opiat sering disalahgunakan untuk kepentingan nonmedis. Obat-obat yang banyak disalahgunakan biasanya memberikan efek sedasi, analgesi dan euforia.3 Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obat-obat tersebut bervariasi, mulai dari perubahan sikap dan mental serta intelektual, serta kerusakan organ yang kadang berakhir dengan kematian. Secara sosial dampak negatif dari penyalahgunaan obat adalah berupa ketergantungan dan ketagihan yang seringkali dimanifestasikan dalam bentuk tindakan brutal dan cenderung kriminal.1,2,3 Beberapa jenis zat dapat menyebabkan terjadinya gangguan mental, seperti gangguan mood dan gangguan perilaku. Zat-zat tersebut antara lain opiat dan opioid, amfetamin (termasuk kokain), depresan sistem saraf pusat (barbiturat, methaqualone, benzodiazepin), inhalan (seperti nitrogen oksida), halusinogen, hidrokarbon volatile (benzene, gasolin) dan alkaloid belladonna (atropine, scopolamine, hyoscyamine). Biasanya, diagnosis ketergantungan zat memiliki diagnosis psikiatrik tambahan, seperti penyalahgunaan alkohol atau penyalahgunaan suatu zat lainnya. Diagnosis psikiatrik lain yang sering berhubungan dengan penyalahgunaan zat adalah gangguan kepribadian antisosial, fobia, gangguan depresif berat dan gangguan distimik.4 Secara garis besar, ada tiga teori yang menjelaskan tentang etiologi gangguan akibat penyalahgunaan zat ini, yaitu teori psikososial dan psikodinamika, teori genetika dan teori neurokimiawi. Teori psikososial dan psikodinamika meliputi koadiksi dan teori perilaku, sementara itu teori neurokimiawi melibatkan neurotransmiter.4 Pemeriksaan yang dapat dilakukan terhadap pengguna NAPZA meliputi anamnesa dan pemeriksaan fisik serta ditunjang dengan pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan toksikologi. Anamnesa dan pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari gejala-gejala yang tampak akibat pemakaian NAPZA tersebut, sedangkan pemeriksaan toksikologi dilakukan untuk menentukan apakah didalam tubuh terdapat sisa-sisa zat yang termasuk NAPZA atau tidak. Pada pemeriksaan barang bukti mati, jenazah akibat pemakaian narkoba, analisa toksikologi

yaitu hyosiamin dan skopolamin. Hal ini bergantung pada jenis zat. 3. Kecubung termasuk dalam psikotropika golongan halusinogen karena dapat mengakibatkan perubahan pola perilaku terhadap penggunannya dan penyimpangan persepsi. eksim.1.. juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Philadelphia. sembelit. 2003.2 Pendekatan pengobatan untuk penyalahgunaan zat bervariasi. Pada daunnya terkandung kalsium oksalat yang berkhasiat untuk mengobati banyak penyakit antara lain rematik.. Upaya Polwiltabes Semarang Dalam Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba di Semarang. 4. tersedianya sistem pendukung dan ciri individual pasien. E. Contohnya mendengar atau melihat sesuatu tanpa adanya rangsangan. 1977. 2000. sehingga bukan obat yang didapat malah racun yang bisa menyebabkan pusing atau teler. pola penyalahgunaan. radang anak telinga. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat psikoterapeutik dan psikoterapi. KECUBUNG Kecubung selain sebagai tanaman hias. Meski demikian. Sadock. Kaplan. Hampir seluruh bagian tanaman kecubung dapat dimanfaatkan sebagai obat. Tedeschi. Informasi Kesehatan Remaja. seperti pada tanaman Atropa belladona. . Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN Depkes. asma. W B Saunders Company.. Wulan. West Washington Squartz. H. Benjamin. ternyata kecubung punya efek merugikan karena kandungan di dalamnya.4 DAFTAR PUSTAKA 1.memegang peran yang sangat penting dimana pengumpulan sampel dan kemampuan pemeriksaan toksikologi yang adekuat akan sangat membantu penyidikan. 2. encok. Hal ini disebabkan seluruh bagiannya mengandung alkaloida atau disebut hiosamin (atropin) dan scopolamin. Vol II. Forensic Medicine. sakit pinggang. Penyalahgunaan kecubung memang sering terjadi. Chusnul. dan ketombe. Jakarta: Bina Rupa Aksara. bengkak. : Jakarta. 2010.Sinopsis Psikiatri Jilid 1.

Scopolamine Scopolamine juga dikenal sebagai levo-duboisine dan hyocine yang mana merupakan alkaloid tropene dengan efek sebagai antagonis muscarinic. detak jantung cepat atau tidak teratur. sakit kepala. sulit bernapas. pusing. dan Corkwood dan biasanya scopolamine digunakan sebagai komponen aktif utama dalam pengobatan bersamaan dengan atropine dan hyoscyamine Scopolamine memiliki sifat anticholinergic (agen yang memblok jalannya impuls – impuls yang melalui saraf parasimpatis maupun memblok saraf parasimpatis) dan dapat dipergunakan pada bidang medis. suasana atau perubahan mental. dimana merupakan produk metabolit sekunder dari tumbuhan keluarga Solanaceae . atau lidah). kantuk berlebih. 2. dan mengkhayal apabila mengkonsumsi melebihi dosis tersebut. dan jantung berdetak kencang. Sebagai contoh adalah pengobatan pada kondisi emosi yang labil. bibir. kesulitan berbicara. . mulut kering parah. mulut kering. kebingungan. Pada pengguna dapat mengalami panik. penggunaan dosis hanya 330 µg per hari dimana akan dilepaskan secara perlahan-lahan dari lapisan transdermal. konstipasi. halusinasi. wajah. kesulitan kencing. mengamuk.1. meracau. mual. gatal-gatal. Hyosiamin Hyosiamin jika disalahgunakan dapat mengakibatkan efek samping yang merugikan yakni mampu menyebabkan penglihatan kabur. sesak dada. pembengkakan mulut. pupil membesar. kantuk parah . halusinasi. rasa senang. Efek samping skopolamin antara lain reaksi alergi berat (ruam. perilaku paranoid.Angel’s Trumpets.

drugs.php?id=14 2. Tanaman Obat Indonesia.iptek.wikipedia. Anonim.org/wiki/Scopolamine 4. http://en.html . Anonim.id/ind/pd_tanobat/view.drugs. http://www. http://www. Anonim.html#wf0v78ZEw8mBzvv7.99 3.com/mtm/scopolamine. Anonim.DAFTAR PUSTAKA 1.com/mtm/l-hyoscyamine. http://www.net. L-hyosciamine. Scopolamine. Scopolamine.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.