PEMBAGIAN HADITS DARI SEGI KUANTITAS DAN KUALITAS HADITS

MAKALAH DIPRESENTASIKAN PADA KULIAH STUDY AL-HADITS
DOSEN PEMBIMBING PROF. DR. H. SULAIMAN ABDULLAH

OLEH : BENPANI

KONSENTRASI KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI TAHUN 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT. H. kepada semua pihak yang telah memberikan saran dan kritik demi sempurnanya makalah ini. Dr. yang telah melimpahkan rahmat. Semoga makalah ini dapat bermanfaat. ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya. Amin yan Rabbal ‘Alamin . hidayah dan kekuatan lahir bathin makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini membahas “Pembagian hadits dari Segi Kuantitas dan Kualitas hadits” yang menjadi tugas bagi mahasiswa Pasca Sarjana IAIN STS Jambi dalam mata kuliah Study Al-Hadits pada Prodi konsentrasi Kurikulum Pendidikan Islam yang dibimbing oleh Prof. Oleh karena itu kepada semua pembaca dan pakar dimohon saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Sulaiman Abdullah Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

B. Pembagian hadits dari segi kualitas . Sebagian orang bingung melihat jumlah pembagian hadits yang banyak dan beragam. Rumusan Masalah 1. Tetapi kemudian kebingungan itu menjadi hilang setelah melihat pembagian hadits yang ternyata dilihat dari berbagai tinjauan dan berbagai segi pandangan. Pembagian Hadits dari segi kuantitas perawi 2.BAB I PENDAHULUAN A. bukan hanya segi pandangan saja. terutama masalah ilmu hadits. Untuk mengungkapkan tinjauan pembagian hadits maka pada bahasan ini hnya akan membahas pembagian hadits dari segi kuantitas dan segi kualitas hadits saja. Latar Belakang Seiring perkembangan ilmu pengetahuan banyak bermunculan penelitian tentang kajian keilmuan Islam. Misalnya hadits ditinjau dari segi kuantitas jumlah perawinya. hadits ditinjau dari segi kualitas sanad dan matan. terutama dalam ilmu hadits banyak sekali bahasan dalam ilmu hadits yang sangat menarik dan sangat penting untuk dibahas dan dipelajari.

Ulama golongan pertama. Menurut mereka. tidak termasuk ke dalam hadits ahad. mustahil mereka akan sepakat untuk berdusta. Jakarta.1 1. . dan berdasarkan logika atau kebiasaan. Dari redaksi lain pengertian mutawatir adalah : ‫فففى‬ ِ ‫وا‬ ْ‫غ‬ ُ ‫فف‬ َ‫بل‬ َ‫ة‬ ً‫ع‬ َ ‫فففا‬ َ‫جمف‬ َ ‫ه‬ ِ ‫بف‬ ِ‫ر‬ َ ‫بف‬ َ‫خ‬ ْ‫أ‬ َ‫س‬ ٍ ‫و‬ ْ‫س‬ ُ‫ح‬ ْ‫م‬ َ ‫ن‬ ْ‫ع‬ َ ‫ن‬ َ ‫كا‬ َ ‫فا‬ َ‫م‬ ِ ‫ذ‬ ‫ب‬ ِ ‫فف‬ َ‫الك‬ ْ ‫فى‬ َ‫عل‬ َ ‫م‬ ْ‫ه‬ ُ‫ؤ‬ ُ‫ط‬ ُ ‫وا‬ َ‫ت‬ َ‫ة‬ َ‫د‬ َ ‫عا‬ َ ‫ال‬ ْ‫ل‬ ُ‫ي‬ ْ‫ح‬ ِ‫ت‬ ُ ‫فا‬ ً‫لغ‬ َ‫ب‬ ْ‫م‬ َ ‫ة‬ ِ‫ر‬ َ‫ث‬ ْ‫ف‬ َ‫الك‬ ْ 1 M. kata mutawatir berarti : Mutatabi’ (beriringan tanpa jarak). masyhur. semenjak thabaqat yang pertama sampai thabaqat yang terakhir. yaitu hadits mutawatir dan ahad. Gaung Persda Pres. yakni hadits mutawatir dan hadits ahad. Mereka membagi hadits ke dalam dua bagian. akan tetapi hanya merupakan bagian hadits ahad. dan ahad. a. 2008. Sedangkan ulama golongan kedua diikuti oleh sebagian besar ulama ushul (ushuliyyun) dan ulama kalam (mutakallimun). Pembagian Hadits sari segi Kuantitas Perawi Para ulama hadits berbeda pendapat tentang pembagian hadits ditinjau dari aspek kuantitas atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita. ini dispnsori oleh sebagian ulama ushul seperti diantaranya.BAB II PEMBAHASAN A. ia merupakan haidts yang diriwayatkan oleh orang banyak. Diantara mereka ada yang mengelompokkan menjadi tiga bagian. Hadits Mutawatir Pengertian Hadits Mutawatir Secara etimologi. menjadikan hadits masyhur sebagai berdiri sendiri. Antologi Ilmu Hadits. Dalam terminologi ilmu hadits. 86. Ada juga yang menbaginya menjadi dua. yakni hadits mutawatir. Noor Sulaiman PL. hlm. Abu Bakr AlJashshash (305-370 H). Periwayatan seperti itu terus menerus berlangsung. hadits masyhur bukan merupakan hadits ynag berdiri sendiri.

hlm.cit. Keseimbangan jumlah perawi pada setiap thabaqat merupakan salah satu persyaratan.. Ulumul Hadits. Jika sudah jelas statusnya sebagai hadits mutawatir. hlm 86. Syarat Hadits Mutawatir 1) Hadits Mutawatir harus diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi. Ulama berbeda pendapat tentang jumlah minimal perawi. alasannya karena jumlah Nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi sejumlah 5 orang. 131. maka wajib diyakini dan diamalkan. diamalkan atau tidak. M. 2010. pemikiran. Demikian seterusnya sampai ada yang menetapkan jumlah perawi hadits mutawatir sebanyak 70 orang. Artinya. Ulama mutaqaddimin berpendapat bahwa hadits mutawatir tidak termasuk dalam pembahasan ilmu isnad alhadits. 2) Adanya keseimbangan antara perawi pada thabaqat pertama dan thabaqat berikutnya. Noor Sulaiman. Oleh karena itu. Sementara dalam hadits mutawatir masalah tersebut tidak dibicarakan.3 b. karena 10 itu merupakan awal bilangan banyak. . 3) Berdasarkan tanggapan pancaindra Berita yang disampaikan para perawi harus berdasarkan pancaindera. Al-Istikhari menetapkan minimal 10 orang. apabila berita itu merupakan hasil renungan.Hadits yang berdasarkan pada panca indra (dilihar atau didengar) yang diberitakan oleh segolongan orang yang mencapai jumlah banyak yang mustahil menurut tradisi mereka sepakat berbohong. Al-Qadhi Al-Baqilani menetapkan bahwa jumlah perawi hadits mutawatir sekurang-kurangnya 5 orang. adil atau tidak perawinya. (cetakan ke 4) Jakarta: Amazon.2 Ulama mutaqaddimin berbeda pendapat dengan ulama muta’akhirin tentang syarat-syarat hadits mutawatir. harus benar-benar dari hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. dan dapat diyakini bahwa mereka tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Loc. atau 2 3 Abdul Majid Khon. atau rangkuman dari suatu peristiwa lain. karena ilmu ini membicarakan tentang shahih tidaknya suatu khabar.

hasil istinbath dari dalil yang lain. “Barang siapa yang ini sengaja berdusta atas namaku. tetapi jika disimpulkan. yaitu : 1) Hadits mutawatir Lafzhi. Menurut Al-Bazzar. hadits ini diriwayatkan oleh 40 orang sahabat. 2) Hadits Mutawatir Ma’nawi. tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a hingga nampak putih kedua ketiaknya kecuali saat melakukan do’a dalam sholat istisqo’ (HR. Macam-macam mutawatir Hadits mutawatir ada tiga macam. contoh : َ ‫مف‬ ‫ن‬ ِ ‫ه‬ ُ‫د‬ َ ‫عف‬ َ‫ق‬ ْ‫م‬ َ ‫أ‬ ْ‫و‬ ّ‫ب‬ َ‫ت‬ َ‫ي‬ َ‫ل‬ ْ‫فف‬ َ‫ي ف‬ ّ ‫لف‬ َ‫ع‬ َ ‫ب‬ َ ‫ذ‬ َ ‫كف‬ َ ‫ن‬ ْ ‫مف‬ َ ‫م‬ َ‫ل‬ ّ‫س‬ َ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ‫ي‬ ْ‫ل‬ َ‫ع‬ َ ‫ل ال‬ ُ‫و‬ ْ‫س‬ ُ‫ر‬ َ ‫ل‬ َ ‫فا‬ َ‫ق‬ ِ ‫نا‬ ‫ر‬ ّ ‫ال‬ Rasulullah SAW bersabda. Contoh hadits yang meriwayatkan bahwa Nabu Muhammad SAW mengangkat tangannya ketika berdo’a. maka hendaklah dia siap-siap menduduki tempatnya di atas api neraka. Bukhori dan Muslim) 4 Ibid. Al-Nawawi menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh 200 orang sahabat. yaitu hadits yang diriwayatkan dengan lafaz dan makna yang sama. mempunyai makna yang sama tetapi lafaznya tidak. ‫قال ابو مسى م رفع رسول ال ف صففلى عليففه وسففلم يففديه حففتى‬ ‫رؤي بياض ابطه فى شئ من دعففائه إل فففى الستسففقاء )رواه‬ (‫البخارى ومسلم‬ Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa Nabi Muhammad SAW. serta kandungan hokum yang sama.4 c. 88 . yaitu hadits mutawatir yang berasal dari berbagai hadits yang diriwayatkan dengan lafaz yang berbeda-beda. hlm. maka tidak dapat dikatakan hadits mutawatir.

sehingga dapat diketahui dengan jelas kemustahilan perawi untuk sepakat berdusta terhadap hadits yang diriwayatkannya. kemudian diikuti lagi oleh Tabi’in. Hadits mutawatir jumlahnya banyak. Menurut istilah hadits ahad berarti hadits yagn diriwayatkan oleh orang perorangan. shalat id. kara ahad berarti satuan. Segala amal ibadah yang sudah menjadi ijma’ di kalangan ulama dikategorikan sebagai hadits mutawatir ‘amali. Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib. kemudian diikuti oleh para sahabat. dan seterusnya. Pendapat mereka dibantah oleh Ibn Shalah. kitab ini memuat 1513 hadits. Hadits Ahad Kata ahad merupakan bentuk plural dari kata wahid. shalat jenazah dan sebagainya. Kata wahid berarti “satu” jadi. diikuti oleh generasi sampai sekarang. Hlm. atau dua orang atau lebih akan tetapi belum cukup syarat Nazhm Al-Mutanatsirah min Al.Hadits al Mutawatir yang disusun oleh Muhammad bin Ja’far Al-Kattani (w. terutama hadits mutawatir lafzhi. Kitab-kitab yang secara khusus memuat hadits-hadits mutawatir adalah sebagai berikut : 1) Al-Azhar Al-Mutanatsirah fi Al-Mutawatirah. hadits-hadits nabi tentang shalat dan jumlah rakaatnya. yang dsusun oleh Imam Suyuthi. maka Ibn Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutwatir lafzhi tidak mungkin ada. 2) 2. Mengingat syarat-syarat hadits mutawatir sangat ketat.3) Hadits Mutawatir ‘Amali. Dia menyatakan bahwa hadits mutawatir (termasuk yang lafzhi) memang ada. hanya jumlahnya sangat terbatas. Menurut Ibn Hajar AlAsqolani. 1345 H)5 5 Ibid. yakni amalan agama (ibadah) yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. Contoh. 91 . namun untuk mengetahuinya harus dengan cara menyelidiki riwayat-riwayat hadits serta kelakuan dan sifat perawi. yakni angka bilangan dari satu sampai sembilan.

yaitu masyhur dan ghairu masyhur. seperti hadits : 6 Ibid. baik pada sanad maupun pada matannya. Seperti hadits Nabi yang berbunyi: َ ‫را‬ ‫ر‬ َ‫ف‬ ِ‫ل ضفف‬ َ‫و‬ َ ‫ر‬ َ‫ر‬ َ‫ض‬ َ ‫ل‬ َ “tidak memberikan bahaya atau membalas dengan bahaya yang setimpal.” Hadits masyhur ada yang berstatus shahih. kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan orang yang setelah mereka. Seperti hadits ibnu Umar. antara lain : ْ ‫مف‬ ‫ن‬ ِ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ‫ب‬ َ ‫حا‬ َ‫ص‬ ّ ‫د ال‬ َ‫ع‬ ْ‫ب‬ َ ‫تر‬ ِ ‫وا‬ َ ‫تف‬ َ‫د‬ ّ‫ح‬ َ ‫غ‬ ُ‫ل‬ ُ‫ب‬ ْ‫ي‬ َ‫دل‬ ٌ‫د‬ َ‫ع‬ َ ‫ه‬ ِ‫ب‬ َ ‫حا‬ َ‫ص‬ ّ ‫ن ال‬ َ‫م‬ ِ ‫ه‬ ُ ‫وا‬ َ‫ر‬ َ ‫فا‬ َ‫م‬ ْ‫ه‬ ‫م‬ ِ‫د‬ ِ‫ع‬ ْ‫ب‬ َ “Hadits yang diriwayatkan dari sahabat tetapi bilangannya tidak sampai pada tingkatan mutawatir. ْ‫س‬ ‫ل‬ ِ ْ‫يغ‬ َ‫ل‬ ْ‫ف‬ َ‫ه‬ ُ‫ع‬ َ‫م‬ ْ‫ج‬ ُ ‫ال‬ ْ‫م‬ ُُ ‫ءك‬ َ ‫جا‬ َ ‫ذا‬ َ‫ا‬ ِ “Barang siapa yang hendak pergi melaksanakan shalat jumat hendaklah ia mandi.” Adapun hadits masyhur yang dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hasan.untuk dimasukkan kedalam kategori hadits mutawatir. Artinya. hadits ahad adalah hadits yang jumlah perawinya tidak sampai pada tingkatan mutawatir. yaitu aziz dan ghairu aziz. Sedangkan menurut istilah ada beberapa definisi. Hadits Masyhur Menurut bahasa. 90 . A. Hadits masyhur yang berstatus shahih adalah yang memenuhi syarat-syarat hadits shahih baik sanad maupun matannya.6 Ulama ahli hadits membagi hadits ahad menjadi dua. Hadits ghairu masyhur terbagi menjadi dua. baik mengenai sanad maupun matannya.” Sedangkan hadits masyhur yang berstatus hasan adalah hadits yang memenuhi ketentuan-ketentuan hadits hasan. Hlm. hasan dan dhaif. masyhur berarti “sesuatu yang sudah tersebar dan popular”.

ٍ ‫مفففف‬ ‫ه‬ َ‫ل‬ ِ‫س‬ ْ‫م‬ ُ‫و‬ َ ‫م‬ ٍ‫ل‬ ِ‫س‬ ْ‫م‬ ُ ‫ل‬ ُّ ‫لي ك‬ َ‫فف‬ َ‫ه عف‬ ٌ ‫ضفف‬ َ ‫ي‬ ْ‫ر‬ ِ‫ف‬ َ‫م‬ ِ‫ل‬ ْ‫ع‬ ِ ‫ال‬ ْ‫ب‬ ُ ‫ل‬ َ‫ط‬ َ “menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.” 4) Masyhur dikalangan ahli ushul Fiqh. hadits masyhur dapat digolongkan kedalam : 1) Masyhur dikalangan ahli hadits. maka dia memperoleh dua . ِ‫د‬ ‫ه‬ ِ ‫وي‬ َ ‫ه‬ ِ‫ن‬ ِ ‫ففا‬ َ‫لسفف‬ ِ‫ن‬ ِْ ‫نم‬ َ‫و‬ ْ‫م‬ ُ‫ل‬ ِ‫س‬ ُْ ‫الم‬ ْ‫م‬ َ‫ل‬ ِ‫سففففف‬ َ ‫ن‬ ْ‫م‬ َ ‫م‬ ُ‫ل‬ ِ‫س‬ ُْ ‫الم‬ َْ 3) Masyhur dikalangan ahli fiqh. seperti : ُ ‫ففف ف‬ ‫ه‬ َ‫فل‬ َ‫ب‬ َ ‫صا‬ َ ‫أ‬ َ ‫فففف ف‬ َ‫د‬ َ ‫هف‬ َ‫ت‬ َ‫ج‬ ْ‫ما‬ ّ ‫ثف‬ ُ‫م‬ ُِ ‫حففاك‬ َ ‫ال‬ ْ‫م‬ ََ ‫حك‬ َ ‫ذا‬ َ‫ا‬ ِ ُ ‫فف‬ ‫ه‬ َ‫فل‬ َ‫أ‬ َ‫ط‬ َ ‫خفففف ف‬ ََ ‫مأ‬ ّ ‫ثف‬ ُ‫د‬ ََ ‫ته‬ َ‫ج‬ ْ ‫فا‬ َ‫م‬ َ ‫كفففف‬ َ‫ح‬ َ ‫ذا‬ َ‫ا‬ ِ‫و‬ َ ‫ن‬ ِ ‫را‬ َ‫ج‬ ْ‫أ‬ َ ٌ‫ج‬ ‫ر‬ ْ‫أ‬ َ “Apabila seorang hakim memutuskan suatu perkara kemudian dia berijtihad dan kemudian ijtihadnya benar. Muslim. seperti hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW membaca do’a qunut sesudah rukuk selama satu bulan penuh berdo’a atas golongan Ri’il dan Zakwan. dan juga dikalangan orang awam. (H. dll).R. 2) seperti : Masyhur dikalangan ulama ahli hadits. ulama-ulama dalam bidang keilmuan lain.” Dilihat dari aspek yang terakhir ini. seperti : ِ ‫يف‬ ‫ع‬ ْ‫ب‬ َ‫ن‬ ْ ‫عف‬ َ ‫م‬ َ‫ل‬ ّ‫س‬ َ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ‫يفففف‬ ْ‫ل‬ َ‫ع‬ َ ‫ل‬ ِ ‫لي ا‬ ّ‫ص‬ َ ‫ل‬ ِ ‫لا‬ َ‫و‬ ْ‫س‬ ُ‫ر‬ َ ‫هي‬ َ‫ن‬ َ ِ‫ر‬ ‫ر‬ َ‫غ‬ َ ‫ال‬ ْ “Raulullah SAW melarang jual beli yang didalamnya terdapat tipu daya. Bukhari.

pahala (pahala Ijtihad dan pahala kebenaran). Oleh karena itu.” Menurut Al-Thahhan menjelaskan bahwa sekalipun dalam sebagian Thabaqat terdapat perawinya tiga orang atau lebih. ada ulama yang mengatakan bahwa hadits ‘azaz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua atau tiga orang perawi. artinya “sedikit atau jarang”. maka dia memperoleh satu pahala (pahala Ijtihad). maka kuciptakan makhluk dan melalui merekapun mengenal-Ku 6) Masyhur dikalangan ulama Arab. tetapi selagi ada tingkatan yang diriwayatkan oleh dua rawi. dan apabila ijtihadnya itu salah. asal dari sekian thabaqat terdapat satu thabaqat yang jumlah perawinya hanya dua orang. kemudian aku ingin dikenal. Aziz menurut bahasa berasal dari kata azza-yaizu.7 B. Hadits Ghairu Masyhur Ulama ahli hadits membagi hadits ghairu masyhur menjadi dua yaitu. 5) Masyhur dikalangan ahli Sufi. 93 . contoh hadits ‘aziz : 7 Ibid. “Kami orang-orang Arab yag paling fasih mengucapkan “(dha)” sebab kami dari golongan Quraisy”. Aziz dan Gharib.” Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa suatu hadits dapat dikatakan hadits Aziz bukan hanya yang diriwayatkan dua orang pada setiap tingkatnya. tidak ada masalah. seperti : ُ ‫ق‬ ‫ت‬ ْ ‫فف‬ َ‫خل‬ َ‫ف‬ َ‫ف‬ َ ‫ر‬ ِ ‫عف‬ ْ‫أ‬ ُ‫ن‬ ْ‫أ‬ َ‫ت‬ ُ ‫ب‬ ْ‫ب‬ َ‫ح‬ ْ‫أ‬ َ‫ف‬ َ ‫يا‬ ّ‫ف‬ ِ‫خ‬ ْ‫م‬ َ ‫زا‬ ً‫ن‬ َْ ‫تك‬ ُ ‫ن‬ ْ‫ك‬ ُ ‫ني‬ ِ‫و‬ ْ‫ف‬ ُ‫ر‬ َ‫ع‬ َ ‫بي‬ ِ‫ف‬ َ‫ق‬ َ‫ل‬ ْ‫خ‬ َ ‫ال‬ ْ “Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. Menurut istilah hadits Aziz adalah hadits yang perawinya tidak kurang dari dua orang dalam semua tingkatan sanad. seperti ungkapan. hlm.

tengah atau akhir sanad. sehingga aku lebih dicintainya dari pada dirinya.ْ ‫مف‬ ‫ن‬ ِ ‫ه‬ ِ ‫يف‬ ْ‫ل‬ َ‫إ‬ ِ‫ب‬ ّ ‫حف‬ َ‫أ‬ َ‫ن‬ َ‫و‬ ْ ‫ُف‬ ‫أك‬ َ ‫تففي‬ ّ‫ح‬ َ ‫م‬ ْ‫ك‬ ُ‫د‬ ُ ‫حف‬ َ‫أ‬ َ‫ن‬ ُ‫م‬ ِ‫ؤ‬ ْ‫ي‬ ُ‫ل‬ َ َ‫ي‬ ‫ن‬ ِْ ‫مع‬ َ‫ج‬ ْ‫أ‬ َ‫س‬ ِ ‫ففا‬ ّ‫والن‬ َ ‫ه‬ ِ‫د‬ ِ‫ف‬ ِ‫ولف‬ َ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ‫د‬ ِ ‫لف‬ ِ‫وا‬ َ “tidak beriman seorang di antara kamu. B. maka dia harus diterima dan diamalkan tanpa perlu diteliti lagi. Bukhari dan Muslim) Adapun hadits Gharib. anaknya. yang juga meriwayatkan hadits itu. Berbeda dengan hadits ahad yang hanya memberikan faedah zhanni (dugaan yang kuat akan kebenarannya). ia adalah “hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya. Maksudnya sifat dan keadaan perawi itu berbeda dengan sifat dan kualitas perawi-perawi lain. penyendirian seorang perawi bias terjadi pada awal.” (H. Menurut Ibnu Hajar yang dimaksud dengan hadits gharib adalah “hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkannya. mengharuskan kita untuk mengadakan penyelidikan. dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi”. Karena kebenarannya sumbernya sungguh telah meyakinkan. orang tuanya. menurut bahasa berarti “al-munfarid” (menyendiri). baik terhadap sanadnya maupun matannya. Penyendirian perawi dalam meriwayatkan hadits itu bias berkaitan dengan personalitasnya. baik terhadap matan . baik yang menyendiri itu imamnya maupun selainnya”. Pembagian hadits dari segi Kualitas Sebagiamana telah dikemukakan bahwa hadits muatawatir memberikan penertian yang yaqin bi alqath. berbuat atau menyatakan taqrir (persetujuan) dihadapan para sahabat berdasarkan sumber-sumber yang banyak dan mustahil mereka sepakat berdusta kepada Nabi. dan semua manusia. Disamping itu. aritnya Nabi Muhammad benarbenar bersabda. atau mengenai sifat atau keadaan perawi itu sendiri.R. yakni tidak ada yang meriwayatkannya selain perawi tersebut. Dalam tradisi ilmu hadits.

Hadits shahih adalah “hadits yang sanadnya bersambung (muttasil) melalui periwayatan orang yang adil dan dhabith dari orang yang adil dan dhabith. • Menurut Imam Al-Nawawi. 1. menjadi tiga bagian. Menurut istilah para ulama memberikan defenisi hadits hasan secara beragam. beberapa ahli memberikan defenisi antara lain sebagai berikut : • Menurut Ibn Al-Shalah. diriwayatkan oleh perawi yang adil lagi dhabith. 2) perawinya bersifat adil. hadits shahih adalah “hadits yang bersambung sanadnya. dan tidak ber’illat. tidak syaz. Secara istilah. yaitu : . apakah diterima sebagai hujjah atau ditolak. hadits hasan.” Dari defenisi diatas dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadits shahih adalah : 1) sanadnya bersambung. para ulama ahli hadits membagi hadits dilihat dari segi kualitasnya. yang lebih kuat sebagaimana yang dikemukan oleh Ibnu hajar Al-Asqolani dalam AnNukbah.maupun sanadnya. Namun. dan 5) matannya tidak mengandung ‘illat. yaitu hadits shahih. 3) perawinya bersifat dhabith. Hadits Hasan a. sehingga status hadits tersebut menjadi jelas. dan hadits dhaif. Pengertian dari segi bahasa hasan dari kata al-husnu (‫ )الحسن‬bermakna al-jamal (‫ )الجمال‬yang berarti “keindahan”. sampai akhir sanad tidak ada kejanggalan dan tidak ber’illat”. 2. benar. tiada celanya”. 4) matannya tidak syaz. Hadits shahih Menurut bahasa berarti “sah. Sehubungan dengan itu. sempurna.

hlm.8 b. . kurang sedikit kedhabitannya jika disbanding dengan hadits shahih. kurang sedikit kedhabitannya. Perbedaannya hanya terletak pada sisi kedhabitannya. tidak ada keganjilan (syaz) dan tidak ‘illat.‫ه‬ ِ‫ت‬ ِ ‫ذا‬ َ‫ل‬ ِ‫ح‬ ِ‫ي‬ ْ‫ح‬ ِ‫ص‬ ّ ‫و ال‬ َ‫ه‬ ُ ‫ذ‬ ّ ‫شا‬ َ ‫ل‬ َ‫و‬ َ ‫ل‬ ٍ‫ل‬ َّ ‫مع‬ ُ ‫ر‬ ُ‫ي‬ ْ‫غ‬ َ ‫د‬ ِ‫ن‬ َ‫س‬ ّ ‫ال‬ ِ‫ت‬ ‫ه‬ ِ ‫ذا‬ َ‫ل‬ ِ‫ن‬ ُ‫س‬ ْ‫ح‬ ُ‫ل‬ ْ‫ف‬ َ‫ط‬ ُ‫ب‬ ْ‫ض‬ َ ‫ف ال‬ ّ ‫خ‬ َ ‫ن‬ ْ‫ء‬ ِ ‫فا‬ َ khabar ahad yang diriwayatkan oleh orang yang adil. Criteria hadits hasan hampir sama dengan hadits shahih. diriwayatkan oleh orang adil. Contoh hadits Hasan hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. 159. Dengan kata lain hadits hasan adalah : ّ ‫قف‬ ‫ل‬ َ ‫لففذي‬ ّ‫ل ا‬ ِ ْ‫َفد‬ ‫الع‬ ْ‫ل‬ ِ ‫قف‬ ْ‫ن‬ َ‫ب‬ ِ‫ه‬ ُ‫د‬ ُ‫ن‬ َ ‫سف‬ َ ‫ل‬ َ ‫صف‬ َ ‫ت‬ ّ ‫َففا ا‬ ‫وم‬ َ ‫هف‬ ُ ِ‫ل‬ ‫ه‬ ِّ ‫الع‬ ْ‫و‬ َ ‫ذ‬ ِ‫و‬ ْ‫ذ‬ ُ‫ش‬ ّ ‫ن ال‬ َِ ‫لم‬ ّ‫خ‬ َ‫و‬ َ ‫ه‬ ُ‫ط‬ ُ‫ب‬ ْ‫ض‬ َ Hadits hasana adalah hadits yang bersambung sanadnya.ُ ‫صف‬ ‫ل‬ ِ ‫ت‬ ّ‫م‬ ُ ‫ط‬ ِ‫ب‬ ْ‫ّف‬ ‫م الض‬ ّ ‫تففا‬ َ‫ل‬ ِ‫د‬ ْ‫ع‬ َ ‫ل‬ ِ‫ق‬ ْ‫ن‬ َ‫ب‬ ِ‫د‬ َ ‫حا‬ َ ‫ال‬ ْ‫ر‬ ُ‫ب‬ َ‫خ‬ َ‫و‬ َ . sempurna kedhabitannya.cit. Hadits shahih ke dhabitannya seluruh perawinya harus zamm (sempurna). bersambung sanadnya. Jika kurang sedikit kedhabitannya disebut hasan Lidztih. dan Ibnu Hibban dari Al-Hasan bin Urfah Al-Maharibi dari Muhammad bin Amr dari Abu salamah dari Abi Hurairah. sedangkan dalam hadits hasan. Abdul Majid Khon. bahwa Nabi SAW bersabda : 8 Loc. Ibnu Majah. tidak ber’illat. dan tidak ada syaz dinamakan shahih lidztih.

Hadits hasan lidzatih ebagaimana defenisi penjelasan diatas. Hadits hasan lidzatih adalah hadits hasan dengan sendirinya. karena telah memenuhi segala criteria dan persyaratan yang ditemukan. hadits hasan pun terbagi menjadi dua macam. Macam-macam Hadits Hasan Sebagaimana hadits shahih yang terbagi menjadi dua macam. yaitu hasan lidzatih dan hasan lighairih. ْ ‫كف‬ ‫ن‬ ُ‫ي‬ َ‫م‬ ْ ‫فف‬ َ‫ول‬ َ ‫ه‬ ُ ‫قف‬ ُ‫ر‬ ُ‫ط‬ ُ ‫ت‬ ْ ‫د‬ َ‫د‬ َّ ‫تع‬ َ ‫ذا‬ َ‫ا‬ ِ‫ف‬ ُ ‫ي‬ ْ‫ع‬ ِ‫ض‬ ّ ‫و ال‬ َ‫ه‬ ُ ُ‫ب‬ ‫ه‬ ُ‫ذ‬ ْ‫ك‬ ِ‫و‬ ْ‫أ‬ َ ‫وي‬ ِ ‫را‬ ّ ‫ق ال‬ َ‫س‬ ْ‫ف‬ ِ‫ه‬ ِ‫ف‬ ِ ْ‫ضع‬ َ ‫ب‬ ُ ‫ب‬ َ‫س‬ َ .ْ‫مْ مَن‬ ُ‫ه‬ ّ‫اليَ السبّْعِيْنَ وأََقَل‬ ِ َ‫يْن‬ ّّ ‫ما بَيْنَ الست‬ َ ‫تي‬ ِّ‫م‬ ُ‫مارُ ا‬ َ ْ‫َأع‬ َ‫ذالِك‬ َ ُ‫وْز‬ ُ‫يَج‬ “Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun dan sedikit sekali yang melebihi demikian itu. Sedangkan hadits hasan lighairih ada beberapa pendapat diantaranya adalah : ِ ‫يفف‬ ‫ق‬ ْ‫ر‬ ِ‫ط‬ َ ‫ن‬ ْ‫م‬ ِ ‫ي‬ َ ‫و‬ ِ‫ر‬ ُ ‫ذا‬ َ‫ا‬ ِ‫ف‬ ُ ‫ي‬ ْ‫ع‬ ِ‫ض‬ ّ ‫ث ال‬ ُ ‫ي‬ ْ‫د‬ ِ‫ح‬ َ ‫ال‬ ْ‫و‬ َ‫ه‬ ُ ُ‫ن‬ ‫ه‬ ْ‫م‬ ِ ‫وي‬ َ‫ق‬ ْ‫أ‬ َ‫و‬ ْ‫أ‬ َ‫ه‬ ُ‫ل‬ ُ‫ث‬ ْ‫م‬ ِ ‫ري‬ َ‫خ‬ ْ‫أ‬ ُ “adalah hadits dhaif jika diriwayatkan melalui jalan (sanad) lain yang sama atau lebih kuat. c.

Hadits Dhaif a. d. tetapi ringan seperti hafalan kurang atau terputusnya sanad atau tidak diketahui dengan jelas (majhul) identitas perawi. Pengertian Hadits Dhaif bagian dari hadits mardud. Semua fuqaha sebagian Muhadditsin dan Ushuliyyin mengamalkannya kecuali sedikit dari kalangan orang sangat ketat dalam mempersyaratkan penerimaan hadits (musyaddidin). . 3. Dari segi bahasa dhaif ( ‫ )الضعيف‬berarti lemah lawan dari Al-Qawi (‫ )القوي‬yang berarti kuat. Dalam istilah hadits dhaif adalah : ْ ‫مف‬ ‫ن‬ ِ ‫ط‬ ٍ‫ر‬ ْ ‫شف‬ َ ‫د‬ ِ ‫قف‬ ْ‫ف‬ َ‫ب‬ ِ‫ن‬ ِ ‫سف‬ َ‫ح‬ َ‫ل‬ ْ‫ه ا‬ ُ‫ف‬ َ ‫صف‬ ِ ‫ع‬ ْ ‫َف‬ ‫جم‬ ْ‫ي‬ َ‫م‬ ْ ‫لف‬ َ ‫مففا‬ َ ‫و‬ َ‫ه‬ ُ ِ‫ط‬ ‫ه‬ ِ‫و‬ ْ‫ر‬ ُ‫ش‬ ُ Adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits hasan sebab satu dari beberapa syarat yang tidak terpenuhi. seperti Al-Hakim.“adalah hadits dhaif jika berbilangan jalan sanadnya dan sebab kedhaifan bukan karena fasik atau dustanya perawi. Kehujjahan hadits Hasan Hadits hasan dapat dijadikan hujjah walaupun kualitasnya dibawah hadits shahih. dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Hibban. Kelemahan hadits dhaif ini karena sanad dan matannya tidak memenuhi criteria hadits kuat yang diterima sebagian hujjah. Bahkan sebagian muhadditsin yang mempermudah dalam persyaratan shahih (mutasahilin) memasukkan kedalam hadits shahih. Sebab kedhaifan hadits tidak berat seperti dusta dan fasik. Dari dua defenisi diatas dapat dipahami bahwa hadits dhaif bias naik manjadi hasan lighairih dengan dua syarat yaitu : 1) 2) Harus ditemukan periwayatan sanad lain yang seimbang atau lebih kuat.

Hukum periwayatan hadits dhaif Hadits dhaif tidak identik dengan hadits mawdhu’ (hadits palsu). contoh hadits dhaif hadits yang diriwayatkan oleh At-Tarmidzi melalui jalan hakim AlAtsram dari Abu Tamimah Al-Hujaimi dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda : ‫نففا‬ َ‫ه‬ ِ ‫كا‬ َ ‫و‬ ْ‫أ‬ َ‫ر‬ ِ ‫بف‬ ُ‫د‬ ُ ‫ن‬ ْ ‫ِف‬ ‫هم‬ ٍ‫أ‬ َ‫ر‬ َ‫م‬ ْ ‫وا‬ ِ‫أ‬ َ ‫ضا‬ َ ‫ئ‬ ِ ‫حا‬ َ ‫تي‬ َ‫أ‬ َ‫ن‬ َْ ‫وم‬ َ ٍ‫م‬ ‫د‬ ّ‫ح‬ َُ ‫لي م‬ َ‫ع‬ َ ‫ل‬ َ‫ز‬ ِ‫ن‬ ْ‫ا‬ ُ ‫ما‬ َ‫ب‬ ِ‫ر‬ َ‫ف‬ ََ ‫دك‬ ْ‫ق‬ َ‫ف‬ َ barang siapa yang mendatang seorang wanita menstruasi (haid) atau pada dari jalan belakang (dubur) atau pada seorang dukun. Maka para ulama 9 ٌ‫ي‬ ‫ن‬ ّ‫ل‬ َ‫ه‬ ِ‫ي‬ ْ‫ف‬ ِ padanya lemah. hlm. Para perawinya tidak adil dan tidak dhabith.9 b.Atau defenisi lain yang bias diungkapkan mayoritas ulama : ِ‫س‬ ‫ن‬ َ‫ح‬ َ ‫ال‬ َْ ‫حو‬ ِ‫ي‬ ْ‫ح‬ ِ‫ص‬ ّ ‫ه ال‬ ُ‫ف‬ َ‫ص‬ ِ ‫ع‬ ْ‫م‬ َ‫ج‬ ْ‫ي‬ َ‫م‬ ْ‫ل‬ َ ‫ما‬ َ ‫و‬ َ‫ه‬ ُ Hadits yang tidak menghimpun sifat hadits shahih dan hasan. misalnya sanadnya tidak bersambung (muttasshil). 164 . Diantara hadits dhaif terdapat kecacatan para perawinya yang tidak terlalu parah. Jika hadits dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi sebagain atau semua persyaratan hadits hasan dan shahih. seperti daya hapalan yang kurang kuat tetapi adil dan jujur. Ibid.Tahzib memberikan komentar : c. terjadi keganjilan baik dalam sanad aau matan (syadz) dan terjadinya cacat yang tersembunyi (‘Illat) pada sanad atau matan. Dalam sanad hadits diatas terdapat seorang dhaif yaitu Hakim AlAtsram yang dinilai dhaif oleh para ulama. Sedangkan hadits mawdhu’ perawinya pendusta. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Thariq At. maka dia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Periwayatan dhaif dilakukan karena sesuatu yang diriwayatkan berhati-hati (ikhtiyath). targhib (janji-janji yang menggemarkan). 2) Hadits dhaif dapat diamalkan secara mutlak baik dalam fadhail ala’mal atau dalam masalah hokum (ahkam). yaitu berikut : . pendapat Abu Dawud dan Imam Ahmad. dan Ibnu hazam. ‫ل‬ َ‫ق‬ ِ‫ن‬ ُ dipindahkan. Dalam meriwayatkan hadit dhaif. targhib wa tarhib (hadits-hadits tentang ancaman dan janji). Al-Bukhari. berkaitan dengan masalah maui’zhah. tetapi. pendapat pertama ini adalah pendapat Abu Bakar Ibnu Al-Arabi. 3) Hadits dhaif dapat diamalkan dalam fadhail al-a’mal. ‫ي‬ َ ‫و‬ ِ‫ر‬ ْ‫ي‬ ُ ‫ما‬ ِ‫ي‬ ْ‫ف‬ ِ pada dating.memperbolehkan meriwayatkan hadits dhaif sekalipun tanpa menjelaskan kedhaifannya dengan dua syarat. mau’izhah. dan lain-lain. dan tarhib (ancaman yang menakutkan) jika memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana yang dipaparkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani. yaitu : 1) Hadits dhaif tidak dapat diamalkan secara mutlak baik dalam keutamaan amal (Fadhail al a’mal) atau dalam hokum sebagaimana yang diberitahukan oleh Ibnu sayyid An-Nas dari Yahya bin Ma’in. Pengamalan hadits dhaif Para ulama berpendapat dalam pengamalan hadits dhaif. Muslim. tetapi cukup menggunakan bentuk pasif (mabni majhul) yang meragukan (tamridh) misalnya : َ ‫و‬ ‫ي‬ ِ‫ر‬ ُ diriwayatkan. d. Perbedaan itu dapat dibagi menjadi 3 pendapat. jika tanpa isnad atau sanad sebaiknya tidak menggunakan bentuk kata aktif (mabni ma’lum) yang meyakinkan (jazam) kebenarannya dari Rasulullah. Mereka berpendapat bahwa hadits dhaif lebih kuat dari pendapat para ulama. kisah-kisah. yaitu : 1) tidak berkaitan dengan akidah seperti sifat-sifat Allah 2) Tidak menjelaskan hokum syara’ yang berkaitan dengan halal dan haram.

Menurut Ibnu Hajar urutan hadits dhaif yang terburuk adalah mawdhu’’. Untuk hadits mutawatir juga dibagi lagi menjadi 3 bagian yaitu : mutawatir ma’nawi dan mutawatir ‘amali. • Masuk kedalam kategori hadits yang diamalkan (ma’mul bih) seperti hadits muhkam (hadits maqbul yang tidak terjadi pertentanga dengan hadits lain). dan rajah (hadits yang lebih unggul dibandingkan oposisinya). 167. kemudian mudhatahrib. Hadits yang terlalu buruk kedhaifannya tidak dapat diamalkan sekalipun dalam fadhail ala’mal. maqlub. tetapi karena berhati-hati semata atau ikhtiyath. orang yan daya iangat hapalannya sangat kurang. 10 Ibid. . aziz dan ghairu aziz. yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. sedangkan ghairu masyhur dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu. e. dan berlaku pasiq dan bid’ah baik dalam perkataan atau perbuatan (hadits mungkar). Tingkatan hadits dhaif Sebagai salah satu syarat hadits dhaif yang dapat diamalkan diatas adalah tidak terlalu dhaif atau tidak terlalu buruk kedhaifannya. seperti diantara perawinya pendusta (hadits mawdhu’) atau dituduh dusta (hadits matruk). Kesimpulan Pembagian hadits bila ditinjau dari kuantitas perawinya dapat dibagi menjadi dua. Sedangkan hadits ahad dibagi menjadi dua macam. mudraj.10 BAB III PENUTUP A. hlm. matruk. • Tidak diyakinkan secara yakin kebenaran hadits dari Nabi.• Tidak terlalu dhaif. mu’allal. nasikh (hadits yang membatalkan hokum pada hadits sebelumnya). yaitu masyhur dan ghairu masyhur.

Sedangkan hadits bila ditinjau dari segi kualitas hadits dapat dibagi menjadi dua macam yaitu hadits maqbul dan hadits mardud. dan untuk bias membedakan keshahihan suatu hadits harus mengetahui pembagian-pembagian hadits. B. Ulumul Hadits. DAFTAR PUSTAKA Moh. 2010. Ditakutkan nanti kita termasuk golongan orangorang yang menyebarkan hadits-hadits palsu. supaya timbul ke ihtiyathan kita dalam menyampaikan hadits. . Saran-saran Bahwa didalam mempelajari studi hadits hendaklah benar-benar mengetahui pembagian hadits baik dari segi kuantitas maupun kualitas hadits itu sendiri. Jakarta: Amzah (cetakan keempat). Antologi Ilmu Hadits. Jakarta : Guang Persada Press. 2008 Abdul Majid Khon. Noor Sulaiman PL. sedangkan hadits mardud adalah hadits yang dahif. Hadits maqbul terbagi menjadi dua macam yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad yang shahih dan hasan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful