P. 1
G1

G1

|Views: 28|Likes:
Published by Dyah Putri Ema

More info:

Published by: Dyah Putri Ema on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/03/2014

pdf

text

original

RESUME SKENARIO 1 BLOK 3 BIOLOGI SEL Oleh: Kelompok G Petrina Theda Philothra Nabilla Vyta Rahmawati Muhammad Bagus

R. Arinta Krisnande P. Dhevy Wulandari Teddy Arga S. Benny Wicaksono Hafid Muhammad Jabir A. Mario Eri S. Aldhi Wimandra Tita Swastiana Adi Abcharina Rachmatina Nur Ahmad Santoso (102010101087) (102010101088) (102010101089) (102010101090) (102010101091) (102010101092) (102010101093) (102010101094) (102010101095) (102010101096) (102010101097) (102010101098) (102010101099) (102010101100)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2010

1.SKENARIO BIOLOGI SEL Sssstt......., ada bagus ruang tutorial kita sebentar lagi akan dihiasi dengan gambar sel secara rinci, gambar tersebut akan mempertontonkan komposisi membran sel, organela sel, sampai dengan inti sel, bahkan gambar tersebut akan dilengkapi dengan foto asli dari sistoskeleton beserta perangkat – perangkatnya. Animasi yang sangat menarik juga menggambarkan gerakan – gerakan molekul melintasi membran, endositosis, dan eksositosis. Bahkan skema pembelahan sel juga akan dipasang lho. E.....e.....e yang tidak kalah asyiknya gambaran resptor obat juga akan di[asang lengkap dengan tranduksi sinyal yang mengikutinya. Wah itu mah komplit bo.. jangan tanya soal jaringan epitel dan jaringan ikat, wah itu mah mesti ada pokoknya jadi jaringan hinggal seluler pasti bakalan terpajang abis deh, seru ya......

2.KLARIFIKASI ISTILAH 1. Sel : Setiap masa protoplasma kecil yang menyusun jaringan yang terorganisir terdiri dari sebuah nucleus yang dikelilingi dengan sitoplasma yang mengandung berbagai organel dan dibungkus oleh membran plasma (Kamus Dorland). -

Unit fundamental (penyusun dasar organisme), structural (mempunyai organela yang berfungsi saling berkaitan), fungsional pada makhluk hidup. Setiap unit sel tersususn atas: air (70-90 %), ion (10-20 %), protein, lipid, dan karbohidrat.

2. Reticulum endoplasma : Bangunan yang berbentuk ruangan-ruangan berdinding membrane dan saling berhubungan membentuk anyaman (Biologi Sel, dr. Juwono, 2003). Organel ultramikroskopik pada hamper selusuh sel tanaman dan hewan tingkat tinggi, terdiri dari system yang kurang lebih kontinu dari ronggarongga yang terkait pada membrane yang bercabang-cabang ke seluruh sitoplasma sel (Kamus Dorland). 3. Ribosom :
-

Berupa granul satu-satu, atau berkelompok (poliribosom / polisom) yg disatukan melalui untai mRNA dan memegang peran kunci dlm penyampaian sandi atau penerjemah pesan selama proses pembuatan protein yang berupa sandi bagi urutan asam amino protein yg akan dibuat oleh sel.

-

Organel sel yang dibangun dalam nukleolus, berfungsi sebagai tempat sintesis protein dalam sitoplasma. Terdiri atas rRNA membentuk dua subunit. dan molekul protein, yang

4. Dinding sel : Bagian terluar sel tumbuhan yang berfungsi sebagai pelindung sel dan rangka sel yang mengandung selulosa dan bersifat permeabilitas yang tinggi (Biologi Sel).

5. Inti : Suatu badan sferoid di dalam sel, terdiri dari sejumlah organel karakteristik yang tampak dehngan mikroskop optis, membrane inti yang tipis, nucleolus, granul kromatin dan linin regular, serta nukleoplasma difus (Kamus Dorland). Bagian dari sel yang mempunyai fungsi utama mengadakan control terhadap aktivitas sel organela (Biologi Sel). 6. Organela : Salah satu dari struktur sitoplasma terorganisasi yang terikat membrane pada fungsi dan morfologi yang berbeda, terdapat pada semua sel eukariotik (nucleus, mitokondria, lisosom, peroksisom, apparatus golgi, RE, kloroplas pada tanaman, silia, flagella dan sitofaring pada protozoa (Kamus Dorland). Bangunan dalam sitoplasma yang dianggap sebagai organ atau alat sel, serta merupakan substansi hidup yang berfungsi penting dalam kehidupan sel (Biologi Sel). 7. Membrane : Lapisan jaringan tipis yang menutupi permukaan, melapisi rongga, atau membagi ruang atau organ (Kamus Dorland). Membran sel mangalami diferensiasi sesuai dengan fungsi dan kegunaan masingmasing, seperti: Mikrovili Silia Flagella

8. Endositosis : Proses pemasukan suatu bahan dari luar sel ke dalam sel dengan cara melingkupi bahan tersebut dengan membrane plasma Biologi Sel).
9. Eksositosis : proses pengeluaran/pelepasan produk sel dari dalam sel ke luar sel

(ekstrasel). 10. Reseptor : struktur molecular di dalam sel atau permukaan sel yang ditandai dengan ikatan bahan yang selektif (Kamus Dorland). 11. Tranduksi Sinyal : proses penerusan Sinyal dari satu sel ke sel lain.

3.RUMUSAN MASALAH 3.1 Sel 3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.1.6 3.1.7 3.1.8 3.1.9 3.2 Jaringan 3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 Definisi Jaringan Epitel Jaringan Otot Jaringan Syaraf Jaringan Ikat Sejarah Penemuan Sel Definisi Sel Struktur dan Fungsi Sel Komposisi dan Fungsi Sel Pembelahan Tranduksi Sinyal Resptor Obat Transportasi Kelainan Sel

4.TUJUAN BELAJAR 1. Mengetahui dan mempelajari tentang sejarah penemuan sel. 2. Mengetahui dan mempelajari struktur,komposisi, dan fungsi dari sel. 3. Mengetahui dan mempelajari pembelahan yang terjadi pada sel. 4. Mengetahui dan mempelajari proses tranduksi sinyal dan transportasi sel. 5. Mengetahui dan mempelajari kelainan pada sel. 6. Mengetahui dan mempelajari tentang jaringan. 7. Mengetahui dan mempelajari macam – macam jaringan.

5.ANALISIS PERMASALAHAN

5.1 Sel 5.1.1 Sejarah Penemuan Sel

1. ROBERT HOOKE (1665) Melihat adanya sel atau pori pada irisan kayu di bawah mikroskop sederhana yang dikembangkannya sendiri berlensa satu. Hooke menyebutnya sel karena nampak berupa kamar-kamar kecil, berasal dari kata cella, yang berarti lubang. 2. ANTONIE VAN LEEUWENHOEK (1674) Membuat mikroskop sederhana juga, yang digunakan untuk melihat jasad renik. 3. T. SCHWANN DAN M. SCHLEIDEN (1839) Merumuskan teori sel, yang berbunyi : “Sel adalah unit dasar kehidupan. Semua tumbuhan dan hewan dibangun atas sel-sel.” 4. ROBERT BROWN (1831) Menemukan inti dalam sel, dan menyimpulkan inti itu komponen dasar dan selalu ada dalam sel. 5. H.J. DUTROCHET (1824) Semua tumbuhan dan hewan terdiri dari sel berbentuk gabungan yang sangat kecil. 6. J. PURKINYE (1840) DAN HUGO VON MOHL (1846) Mengenalkan istilah protoplasma, yakni cairan yang mengisi ruang yang disebut sel oleh Hooke. Hugo bersama KarlNugeli (1835) mempelajari peristiwa pembelahan sel. Mereka berkesimpulan bahwa inti dan plasma sel mengalami pembelahan untuk menjadi 2 sel.

7. R. VIRCHOW (1859) Semua sel berasal dari sel yang telah lebih dulu ada, dikenal dengan istilah “omnis cellula e cellula”. Melalui pembelahan sel itu bahan genetis (hereditas) diwariskan pada keturunan ke generasi berikutnya. 8. E. STRASBURGER DAN W. FLEMMING (1870an) Inti sel memelihara kelangsungan hidup suatu jenis makhluk hidup suatu jenis makhluk dari satu generasi ke generasi berikut.

9. O. HERTWIG (1875) Membuktikan bahwa inti spermatozoa bersatu dulu dengan inti ovum untuk terjadinya embrio atau generasi baru. Dia juga memperkenalkan cabang ilmu kehidupan sel sitologi. Dalam bukunya dituliskan bahwa pemecahan masalah biologis atau patologis yang timbul, dapat ditemukan pada keadaan atau perilaku selnya. 10. W. SCHULTZE (1860an)
Protoplasma : dasar fisik seluruh kehidupan. Protoplasma dibagi atas satu unit dalam satu sel. Unit itu disebut protoplast. Sekarang yang disebut protoplasma : bahan hidup dari sel, yang terdiri atas 2 daerah, yaitu : sitoplasma (plasma sel), dan nukleoplasma atau karioplasma (plasma inti).Sitoplasma memiliki selaput luar, disebut membran plasma atau plasmalema (membran sel), sedangkan nukleoplasma memiliki selaput luar, yang memisahkan dari sitoplasma, yakni selaput inti atau karyotheca

5.1.2

Definisi Sel

Setiap massa protoplasmik kecil yang menyusun jaringan yang terorganisir, terdiri dari sebuah inti yang dikelilingi dengan sitoplasma yang

dibungkus dalam membran sel atau membran plasma. (kamus saku dorland ed 25)

5.1.3

Struktur dan Fungsi Sel

Secara umum dibagi menjadi 3, yaitu : a. Membran plasma Dua lapisan fosfolipiddengan molekul protein di dalamnya. Ciri umum : (Histologi dan Biologi Sel) • • Mengelilingi semua sel manusia Bersifat semi permeabel agar zat-zat tertentu dapat lewatsedangkan unsur lainnya dicegah keluar dari sel, mengatur komposisi sitoplasma. • Menggunakan mekanisme untuk mengatur makromolekul ekstraseluler.

Komposisi membran terdiri atas :

Fosfolipid (molekul ampiatik yang langsung membentuk lapisan ganda datar )

kolesterol : terletak antara fosfolipid yang berfungsi meningkatkan stabilitas lapis ganda dan mencegah kehilangan cairan membran pada temperatur rendah.

Glikolipid : lemak yang secara kovalen berikatan membentuk rantai samping yang kompleks mengandung sisa molekul yang memperantai interaksi sel dengan sel dan sel dengan lingkungannya.

Protein membran : membentuk saluran yang menembus membran untuk transpor ion, reseptor untuk bahan ekstraseluler, perlekatan struktur sitoplasma, dsb.

Fungsi membran sel : (Buku Histologi Dasar) • • • • • • • Pemberi batas sel : menjaga makanan dalam sel Penyekat dan pemberi bentuk Difusi selektif dan transpor aktif Membangkitkan potensi bioelektris Tempat melekat granula intrasel Tempat kontak intrasel Tempat berlangsungnya rangsangan luar, enzim, dan hormon.

b. Inti sel Sebagian besar setiap sel memiliki inti, kecuali eritrosit dan trombosit. Bagian inti sel : (Buku Biologi Modern, Biologi Sel)

Selaput inti Terdiri atas dua membran, yang memiliki celah diantaranya yang disebut dengan perinuclear cisternae dan terdapat satu garis kedap elektron serta pori inti. Pori inti bertujuan dalam pertukaran makromolekul antara inti dengan sitoplasma yang berhubungan langsung dengan membran dalam dan luar selaput inti.

Nukleoplasma (matriks inti) Mengandung protein, enzim, metabolit, dan ion. Komponen utamanya adalah : 1. Materi berfibril : lamina fibrosa, berfungsi membentuk dan menguatkan membran dalam selaput inti, melindungi pori inti, dan menambat kromatin. 2. Jalinan fibrogranular 3. Saluran Jalinan yang menyokong anak inti

Fungsi : transkripsi gen, proses penyampaian informasi gen dari DNA ke RNA. • Nukleolus Berfungsi mensintesa ribosom oleh ADN di nukleolus. Macam-macam nukleolus : berongga, padat, fan cincin. • Kromatin Dibagi atas : heterokromatin (mengandung DNA non aktif) dan eukromatin (DNA saat aktif). Fungsi inti sel :

1. Mengontrol dan menghasilkan zat yang diperlukan untuk metabolisme, 2. Berisi bahan genetis yang akan diwariskan kepada keturunan atau sel anak. c. Sitoplasma a. Sistem membran Kebanyakan sitoplasma terdiri atas membran, di mana terdapat retikulum endoplasma dan aparatus golgi yang saling berhubungan. Retikulum endoplasma dan aparatus golgi : ruang yang terisi cairan dalam sel, yang diabtasi oleh lapisan ganda lipoprotein dengan struktur dan biokimia hampir sama dengan membran plasma. • Retikulum Endoplasma Saluran berupa kantung pipih, tubulus, dan gelembung bermembran. Dibagi menjadi 2, yaitu RE kasar dan RE halus. REK dilekati ribosom, berupa saluran panjang berjajar melengkung teratur, bersifat basofil, sedangkan REH berupa pembuluh (tubuler) atau gelembung (vesikel) yang tidak teratur, bersifat asidofil (karena tidak dilekati asam nukleat, jadi basa). Fungsi REK : tempat sintesis protein pada ribosom, melakukan glikosilasi (penambahan gula terhadap protein), penambahan sulfida agar polipeptida lebh banyak rangkaian dan cabangnya. Fungsi REH : mensintesis hormon steroid (tergolong lemak), mensintesis protein yang akan dipakai dalam sel, metabolisme glikogen lemak, lemak, zat yang larut dalam lemak, dan detoksifikasi obat. • Aparatus Golgi Struktur : berupa lamela-lamela benbentuk cakra panjang. Terdiri atas tiga komponen dasar :

1. Sisterna 2. Vesikula 3. Vakuola Fungsi aparatus golgi : sekresi, sintesa (protein), produksi lisosom dan membran sel, sintesis zat (polisakarida : sisterna), proses glikosilasi (memasukkan gugusan gula kompleks) b. Organel khusus Memiliki struktur dan fungsi yang terpisah satu sama lain. • Mitokondria Berukuran lebar 0,5-1 mikro meter, panjang 2-4 mikrometer, tersebar dalam sel memerlukan sejumlah ATP untuk getaran silia dan mengangkut zat terlarut. Terdiri atas membran luar yang berstruktur trilaminar dan terdiri atas lapis ganda fosfolipid protein dan membran dalam yang memiliki lipatan yang disebut krista dan memiliki asam nukleat. Fungsi mitokondria : mensintesis ATP dari asam sitrat, membantu biosintesa steroid, oksidasi asam lemak dan asam nukleat. • Lisosom Dibentuk aparatus golgi, mengandung asam hidrolase, yang membantu memecahkan protein yang diserap dalam ginjal, menghancurkan bakteri dalam lekosit fagositik, dan memecahkan organel sitoplasmik yang lemah. Enzim-enzim lisosom : esterase (fosfolipase dan kolesterol esterase, fosfodiesterase, doeksiribonuklease II dan ribonuklease II), glikosidase (lisosim, beta glikosidase dan beta galaktosidase, dsb), peptidase, dan enzim hidrolitik lainnya.

Mikrobodi Struktur bulat atau panjang dikelilingi membran lapis ganda lipoprotein. Fungsi :
1. Oksidasi menghasilkan H2O2 dan mengubah menjadi H2 dan O2.

2. Mengandung d-asam amino oksidase yang dapat memetabolisir dasam amino dibawa ke dalam sel oleh fagositosis bakteri. 3. Dalam mitokondria ikut dalam beta oksidase asam lemak.

c. sitoskeleton dan organ yang mengandung mikrotubul

Sitoskeleton terdiri atas :
1. mirotubul : mempertahankan bentuk sel dan pergerakan kromosom

selama mitosis. 2. mikrofilamen : fungsi kontraktil 3. filamen sedang. • Mikrotubul Struktur panjang seperti pipa. Fungsi : Pergerakan kromosom selama mitosis, membantu mempertahankan bentuk asimetris sel, memiliki unsur penting seperti silia, flagela, badan basal (tempat silia tertanam), dan sentriol (berfungsi membentuk serat gelendonguntuk mikrofilamen). • Filamen sedang (inetrmediate) pembelahan sel, membentuk rangka organelserta mengontrol pergerakannya, membentuk rangka sel: mikrotubul dan

Fungsi : mengikat elemen sitoskeletal seperti mikrofilamen ke membran plasma. • Mikrofilamen Filamen panjang terdiri atas subunit G aktin tersusun ujung-ujungnya untuk membnetuk F- aktin. Mikrofilamen berikatan dengan miosin menjadi tenaga kontraktil untuk pergerakan sel, sitokinesis, dan pergerakan mikrovili. Fungsi sitoskeleton : memberi rangka yang kuat untuk kebanyakan sel dan menentukan bentuk sel, elemen sitoskeleton saling berinteraksi kuat untuk translokasi organel, pergerakan sel, menghasilkan kontraksi otot, sehingga mengubah keseluruhan organ dan menggerakkan seluruh organisme.

5.1.4

Komposisi dan Fungsi Sel

Komponen utama sel : Susunan kimia sel dibagi menjadi dua, yaitu : (buku Biologi Modern, Biologi Sel) a. Bahan anorganis • Air 60-95% isi sel terdiri atas air. Guna air : pelarut (bahan anorganis dan molekul sederhana berbagai bahan organis, contoh : glukosa, dsb), bahan suspensi (bahan tak larut, yaitu bahan organis bermolekul besardan bahan hidup dalam sel), hidrolisa (untuk memecah gugusan molekul), absorpsi panas (untuk hewan homoiterm), pengangkut (bahan kebutuhan sel), menciptakan selaput air (untuk mempermudah difusi), medium berbagai proses (proses kimia, fisik, biologi), bahan sintesa karbohidrat (sebagai bahan mentah).

Gas Oksigen (masuk ke sel lewat pernapasan utk oksidasi bahan makanan), karbondioksida (sintesa karbohidrat bagi tumbuhan dan penghasil CO32dan HCO3- bagi hewan), nitrogen (meski ikut bersama pernapasan), amonia (ampas metabolisme protein yang harus diekskresikan).

Garam mineral Ca, Mg, Na, K, P, S, Cl, Fe, Cu, Mn, Zn, F, Co, Bo, I.

b. Bahan organis (buku HAM Histologi)

Bahan organis utama sel : • Protein Protein dalam sel ada dalam 2 bentuk, yaitu berdiri sendiri, atau dalam kombinasi. Kombinasi dengan : 1. Karbohidrat membentuk glikoprotein atau proteoglikans. 2. Lipid sebagai lipoprotein 3. Asam nukleat sebagai nukleoprotein. Fungsi protein secara umum sebagai pembentuk sebagian besar materi pembangun sel, dan alat pengatur reaksi biokimia dalam sel. Enzim merupakan bagian dari protein yang berfungsi sebagai katalisator.

Karbohidrat Karbohidrat membina 1% protoplasma tumbuhan dan hewan, terdiri atas : 1. Polisakarida

Amilum (terdapat dalam tumbuhan, sebagai cadangan karbohidrat utama), selulosa (membina dinding sel tumbuhan), glikogen (cadangan karbohidrat utama pada hewan) 2. Disakarida Sukrosa (gula tebu), laktosa (gula susu), maltosa (gula anggur) 3. Monosakarida Triosa, pentosa, tetrosa, heksosa, sebagai sumber energi. • Lipid / lemak 1-2% dalam protoplasma. Protein lemak adalah komponen utama membran sel. Fungsi lemak : sumber energi dan bantalan (isolator) terhadap suhu dan tekanan fisik.

5.1.5

Pembelahan Sel

Pembelahan sel adalah proses yang dilakukan oleh sel hidup untuk memperbanyak diri sehingga dapat menghasilkan keturunan.Pembelahan sel ada 2 yaitu mitosis dan meiosis Pembelahan mitosis

merupakan pembelahan sel yang menghasilkan 2 buah sel anak yang identik, yaitu sel-sel anak yang memiliki jumlah kromosom sebanyak yang dimiliki oleh sel induknya. PEMBELAHAN MITOSIS

Pembelahan mitosis menghasilkan sel anakan yang jumlah kromosomnya sama dengan jumlah kromosom sel induknya, pembelahan mitosis terjadi pada sel somatic (sel penyusun tubuh). Sel – sel tersebut juga memiliki kemampuan yang berbeda – beda dalam melakukan pembelahannya, ada sel – sel yang mampu melakukan pembelahan secara cepat, ada yang lambat dan ada juga yang tidak mengalami pembelahan sama sekalisetelah melewati masa pertumbuhan tertentu, misalnya sel – sel germinatikum kulit mampu melakukan pembelahan yang sangat cepat untuk menggantikan sel – sel kulit yang rusak atau mati. Akan tetapi sel – sel yang ada pada organ hati melakukan pembelahan dalam waktu tahunan, atau sel – sel saraf pada jaringan saraf yang sama sekali tidak tidak mampu melakukan pembelahan setelah usia tertentu. Sementara itu beberapa jenis bakteri mampu melakukan pembelahan hanya dalam hitungan jam, sehingga haya dalam waktu beberapa jam saja dapat dihasilkan ribuan, bahkan jutaan sel bakteri. Sama dnegan bakteri, protozoa bersel tunggal mampu melakukan pembelahan hanya dalam waktu singkat, misalkan amoeba, paramecium, didinium, dan euglena. Pada sel – sel organisme multiseluler, proses pembelahan sel memiliki tahap – tahap tertentu yang disebut siklus sel. Sel – sel tubuh yang aktif melakukan pembelahan

memiliki siklus sel yang lengkap. Siklus sel tersebut dibedakan menjadi dua fase(tahap ) utama, yaitu interfase dan mitosis. Interfase terdiri atas 3 fase yaitu fase G, ( growth atau gap), fase S (synthesis), fase G2(growth atau Gap2). Pembelahan mitosis dibedakan atas dua fase, yaitu kariokinesis dan sitokinesis, kariokinesis adalah proses pembagian materi inti yang terdiri dari beberapa fase, yaitu Profase, Metafase, dan Telofase. Sedangkan sitokinesis adalah proses pembagian sitoplasma kepada dua sel anak hasil pembelahan.

1. Kariokinesis
Kariokinesis selama mitosis menunjukkan cirri yang berbeda – beda pada tiap fasenya. Beberapa aspek yang dapat dipelajari selama proses pembagian materi inti berlangsung adalah berubah – ubah pada struktur kromosom,membran inti, mikro tubulus dan a) sentriol. Profase menjadi inti (nucleus) kromatid dan anak dengan inti satu (nucleolus) sentromer. menghilang. berlawanan. Cirri dari tiap fase pada kariokinesis adalah:

1. Benang – benang kromatin berubah menjadi kromosom. Kemudian setiap kromosom membelah 2. yang pembelahan. Dinding

3. Pasangan sentriol yang terdapat dalam sentrosom berpisah dan bergerak menuju kutub 4. Serat – serat gelendong atau benang – benang spindle terbentuk diantara kedua kutub

b)

Metafase

Setiap kromosom yang terdiri dari sepasang kromatida menuju ketengah sel dan berkumpul pada bidang pembelahan (bidang ekuator), dan menggantung pada serat gelendong melalui sentromer atau kinetokor.

c)

Anaphase

Sentromer dari setiap kromosom membelah menjadi dua dengan masing – masing satu

kromatida. Kemudian setiap kromatida berpisah dengan pasangannya dan menuju kekutub yang berlawanan. Pada akhir nanfase, semua kroatida sampai pada kutub masing – masing.

d)

Telofase

Pada telofase terjadi peristiwa berikut: 1. Kromatida yang berada jpada kutub berubah menjasadi benang – benangkromatin kembali. 2. Terbentuk kembali dinding inti dan nucleolus membentuk dua inti baru. 3. Serat – serat gelendong menghilang. 4. Terjadi pembelahan sitoplasma (sitokenesis) menjadi dua bagian, dan terbentuk membrane sel pemisah ditengah bidang pembelahan. Akhirnya , terbentuk dua sel anak yang mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan kromosom induknya.

Hasil

mitosis:

1. Satu Sel induk yang diploid (2n) menjadi 2 sel anakan yang masing – masing diploid. 2. Jumlah kromosom sel anak sama dengan jumlah kromosom sel induknya.

2 Sitokinesis
Selama sitokinesis berlangsung, sitoplasma sel hewan dibagi menjadi dua melalui terbentuknya cincin kontraktil yang terbentuk oleh aktin dan miosin pada bagian tengah sel. Cincin kontraktil ini menyebabkan terbentuknya alur pembelahan yang akhirnya akan menghasilkan dua sel anak. Masing – masing sel anak yang terbentuk ini mengandung inti sel, beserta organel – organel selnya. Pada tumbuhan, sitokinesis ditandai dengan terbentuknya dinding pemisah ditengah – tengah sel. Tahap sitokinesis ini biasanya dimasukkan dalam tahap telofase.

Pembelahan meiosis
merupakan pembelahan sel yang menghasilkan 4 sel anak dengan jumlah kromosom separuh dari yang dimiliki induknya. Pembelahan Sel Secara Meiosis

Pembelahan Meiosis disebut juga pembelahan reduksi, di karena terjadinya pengurangan jumlah kromosom dalam prosesnya dari 2n menjadi n.

Menghasilkan sel anakan dengan jumlah kromosom separuh dari jumlah kromosom sel induknya. Contoh, sel induk gamet jantan (spermatogonium) merupakan sel yang diploid (2n) setelah membelah, sel anak yang terbentuk (spermatozoa) merupakan sel yang haploid (n). Dalam pembelahan Meiosis terjadi dua kali pembelahan sel secara berturut – turut, tanpa diselingi adanya interfase, yaitu tahap meiosis 1 dan meiosis 2 dengan hasil akhir 4 sel anak dengan jumlah kromosom haploid (n).

Meiosis I
1. Profase I
a. Leptoten Kromatin menebal membentuk kromosom. b. Zygoten Kromosom yang homolog mulai berpasangan, kedua sentriol bergerak menuju ke kutub yang berlawanan. c. Pakiten Tiap kromosom menebal dan mengganda menjadi dua kromatida dengan satu sentromer. d. Diploten

Kromatida membesar dan memendek, bergandengan yang homolog dan menjadi rapat. e. Diakenesis Ditandai dengan adanya pindah silang (crossing over) dari bagian kromosom yang telah mengalami duplikasi. Hal ini hanya terjadi pada meiosis saja,, yang dapat mengakibatkan terjadinya rekombinasi gen. nucleolus dan dinding inti menghilang. Sentriol berpisah menuju kutub yang berawanan, terbentuk serat gelendong diantara dua kutub.

2. Metafase 1
Pada tahap ini, tetrad menempatkan dirinya pada bidang ekuator. Membrane inti sudah tidak tampak lagi dan sentromer terikat oleh spindel pembelahan.

3. Anafase I
Pada tahap ini, spindel pembelahan memendek dan menarik belahan tetrad (diad) ke kutub sel berlawanan sehingga kromosom homolog dipisahkan. Kromosom hasil crossing over yang bergerak ke kutub sel membawa materi genetic yang berbeda.

4. Telofase I
Pada tahap ini, membrane sel membentuk sekat sehingga terbentuk dua sel anak yang bersifat haploid, tetapi setiap kromosom masih mengandung dua kromatid (siser cromatid) yang terhubung melalui sentromer.

Meiosis II

1. Profase II
a. Benang c. d. – benang kromatin dan berubah kembali menjadi inti yang kromosom. menghilang. berlawanan.

b. Kromosom yang terdiri dari 2 kromatida tidak mengalami duplikasi lagi. Nucleolus Sentriol berpisah dinding menuju kutub

e. Serat – serat gelendong terbentuk diantara 2 kutub pembelahan.

2. Metafase II
Kromosom kebidang ekuator menggantung pada serat gelendong melalui sentromernya.

3. Anafase II
Kromatida berpisah dari homolognya, dan bergerak menuju ke kutub yang berlawanan.

4. Telofase II
a. Kromosom b. berubah menjadi dan benang – benang kromatin kembali. kembali.

Nucleolus

dinding

inti

terbentuk

c. Serat – serat gelendong menghilang dan terbentuk sentrosom kembali.

5.1.6

Tranduksi Sinyal

A. MEKANISME TRANDUKSI SINYAL

1. Interaksi Sel Tahap Proses Sinyaling pd Sel (cell signaling) 1. Penerimaan (reception) sinyal Merupakan pendeteksian sinyal yang datang dari luar sel oleh sel target. Sinyal kimiawi “terdeteksi” apabila sinyal itu terikat pada protein seluler, biasanya pada permukaan sel yang bersangkutan. 2. Transduksi tahap ini mengubah sinyal menjadi suatu bentuk yang dapat menimbulkan respon seluler spesifik. Pengikatan ligan (molekul kecil yang terikat secara spesifik pada molekul yang lebih besar) menyebabkan protein reseptor mengalami perubahan konformasi (berubah bentuk). Hal ini dapat mengaktifkan reseptor sehingga dapat berinteraksi dengan molekul seluler lainnya.
3. Respons

berupa hampir seluruh aktivitas seluler, seperti katalisis oleh suatu enzim (seperti glikogen fosforilase), penyusunan ulang sitoskeleton atau pengaktifan gen spesifik di dalam nukleus.

5.1.7

Resptor Obat

RESEPTOR OBAT Reseptor : molekul prot yang diaktivasi oleh transmitor atau hormone 4 jenis utama reseptor : a. Agonist – gated channel : subunit protein yang membentuk pori sentral. b. G-protein coupled receptor : membentuk sekelompok reseptor dengan 7 heliks yang membentuk membrane. c. Reseptor inti untuk hormone steroid dan hormone tiroid.

d. Kinase-linked reseptor : reseptor permukaan yang mempunyai aktivitas tirosin kinase intrinsic. Zat transmitor : zat kimia yang dilepaskan dari ujung syaraf dan berdifusi sepanjang celah sinaps dan terkait dengan reseptor. Hormone : zat kimia yang dilepaskan ke dalam peredaran darah, menghasilkan efek fisiologis pada jaringan yang memiliki reseptor hormone tsb. • Farmakodinamik : efek obat terhadap tubuh Obat bekerja dengan sifat fisikokimianya, disebut kerja obat nonspesifik. Sebagian sebagi inhibitoruntuk system transport atau enzim, sebagian menghasilkan efek dengan bekerja pada reseptordan memberikan respon terhadap zat kimia endogen dalam tubuh. Ikatan obat pada reseptor : a. Gaya intermolekuler : molekul obat ditarik oleh gaya elektrostatik . b. Afinitas : ukuran seberapa kuat suatu obat berikatan dengan reseptornya. • Farmakokinetik : efek tubuh terhadap obat (absorpsi, distribusi, metabolism dan ekskresi) Absorpsi : obat yang diberikan secara oral melewati dinding usus dan memasuki aliran darah, biasanya sesuai dengan kelarutan obat dalam lemak. Obat diabsorpsi kebanyakan di usus halus, coz permukaan luas, beberapa dimetabolisme di hati. Proses yang terlibat : a. Eliminasi : melalui urin oleh filtrasi glomerulus. b. Metabolism, biasanya oleh hati. c. Ambilan oleh hati dan dieliminasi melalui empedu.

d. Suatu agonis adalah suatu obat yang dapat mengikat suatu reseptor dan menimbulkan respon, besarnya efek tergantung pada konsentrasi pada tempat reseptor e. Antagonis : kompetitif, non kompetitif, agonis parsial f. A.kompetitif : berinteraksi dengan reseptor pada tempat yang sama dengan agonis g. A.non kompetitif : bisa mencegah pengikatan agonis mengaktifkan reseptor h. A.parsial : memblokir tempat pengikatan agonis Distribusi : terjadi saat obat mencapai sirkulasi. Selanjutnya obat masuk jaringan untuk bekerja. Ekskresi : ekskresi ginjal memegang tanggung jawab untuk eliminasi sebagian besar obat. Obat terdapat dalam filtrate glomerulus, tapi bila larut lemak, dapat di reabsorpsi dalam tubulus ginjal melalui difusi pasif. Metabolism obat sering menghasilkan senyawa yang kurang larut lemak sehingga membantu ekskresi ginjal. 5.1.8 Transportasi

B. Mekanisme Transpor Zat

Zat yang dimasukkan : air, ion, metabolit, zat regulator (pengatur aktivitas sel sejaringan), dan oksigen. Zat yang dikeluarkan : ampas metabolisme, berupa gas, CO2 dan NH3, butiran yang dikeluarkan badan sisa pasca lisosom. Zat-zat tersebut akan melewati dua daerah : 1. Cairan intrasel : cairan sitoplasma atau sitosol sendiri. 2. Cairan ekstrasel : cairan interseluler bagi makhluk multiseluler, yaitu cairan tubuh individu.

Cara transport : (Biologi Modern, Biologi Sel) 1. Difusi Perembesan zat dari ruang berkonsentrasi tinggi ke rendah yang tidak membutuhkan energi. Zat yang melakukan difusi : oksigen, CO2, air, elektrolit, dan bahan organis molekul sederhana. Unit membran bersifat selektif, terpilih. 2. Osmosis Melalui membran semi permeabel dari ruang hipotomis ke hipertonis, dan proses berlangsung hingga isotonis. Banyak terjadi dalam sel tubuh. Contoh : perembesan plasma darah dari sel ke jaringan untuk kembali ke rongga kapiler. 3. Filtrasi Proses yang terjadi karenaperbedaan tekanan atmosfer antara dua ruang yang dipisahkan membran permeabelterhadap zat itu. Filtrasi terjadi di ruang bertekanan tinggi ke ruang bertekanan rendah. Contoh : dari lumen kapiler ke sel jaringan sekitar. 4. Transpor aktif Disebut aktif karena membutuhkan ATP. Melawan gradien konsentrasi zat. Dibagi atas : a. Ektositosis Untuk mensekresi zat dari sel. Contoh : protein. b. Endositosis Untuk membawa makromolekul ke dalam sel. Endositosis meliputi dua hal, yaitu: • Pinositosis

Untuk mencerna sejumlah besar cairan • Fagositosis Untuk mengambil partikel besar, contoh : bakteri atau sisa sel. Makrofag menghancurkan bakteridengan jalan sitoplasma

mengelilinginya, kemudian mencaplok ke dalam vesikel, terbentuk fagosom ynag melebur dengan lisosom membentuk fagolisosom, yang mengandung enzim yang membunuh dan mencerna makanan yang dicaplok.

5.1.9

Kelainan Sel

Imunodefisiensi Defisiensi imun dan peradangan menghambat kemampuan tubuh untuk berespons terhadap infeksi atau cedera dan dapat terjadi akibat gangguan fungsi sebagian atau semua sel darah putih. Protein komplemen atau koagulasi juga dapat mengalami defisiensi. Defisiensi imun dan peradangan dapat bersifat kongenital (terdapat sejak lahir) atau didapat setelah infeksi, penyakit, atau stres berkepanjangan. Defisiensi imun dan peradangan dapat bersifat sementara atau menetap. Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit yang disebabkan oleh kalainan hormon yang mengakibatkan sel – sel dalam tubuh tidak dapat menyerap glukosa dari darah. Penyakit ini timbul ketikda dala darah tidak terdapat cukup insulin dalam darah. Pada kedua hal tersebut, sel – sel tubuh tidak mendapat cukup glukosa daridarah sehingga kekurangan energi dan akhirnya terjadi pembakaran cadangan lemak dan protein tubuh. Sementara itu, system pencernaan tetap dapat meyerap glukosa dari makanan sehingga kadar glukosa dalam darah menjadi sangat tinggi dan akhirnya diekskresi bersama urin.

Hipotiroidea Keadaan dimana terjadi kekurangan hormone tiroid. Bila terjadi pada masa bayi dan anak, hipotiroidea menimbulkan kretinisme yaitu tubuh menjadi pendek karena pertumbuhan tulang dan otot tersumbat, disertai kemunduran mental karena sel – sel otak kurang berkembang. Hipertiroidea Keadaan dimana hormone tiroid disekresikan melebihi kadar normal. Gejala – gejalanya berupa berat badan menurun, gemetaran, berkeringat, nafsu makan besar, jantung berdebar dan BMR maneingkatmelebihi 20 sampai 100.

5.2 Jaringan 5.1.1 Definisi Suatu kumpulan sel yang telah mengalami diferensiasi yang sama serta derivat – derivatnya. Beberapa jaringan dapat dihubungkan dengan bentuk suatu organ. 5.1.2 Jaringan Epitel Sifat jaringan epitel adalah : 1. Sel epitel pembatas permukaan : epitel membatasi organ dan melindungi seluruh organ tubuh kecuali rongga sendi dan anterior iris. 2. Sel epitel memiliki perlekatan yang kuat : sel-sel yang memiliki fungsi yang sama membentuk jaringan epitel yang melekat satu sama lain. 3. Sel epitel dipolarisasi : sel-sel epitel menghadap ke arah yang sama, yaitu pada pbagian permukaan tubuh yang ditutupi oleh pembuluh darah. 4. Sel epitel avaskuler : epitel tidak berpembuluh darah, nutrisi diberikan secara difusi dari pembuluh darah di sekitarnya.

Jaringan epitel memiliki berbagai bentuk yang disesuaikan dengan fungsi jaringan tersebut. Fungsi jaringan epitel secara umum adalah: 1. Proteksi (pada kulit) 2. Absorpsi (pada usus) 3. Sekresi (pada kelenjar) 4. Ekskresi (pada kelenjar keringat) 5. Sensoris (neuroepitel) 6. Kontraktil (mioepitel) 7. Reproduksi (pada ovarium dan tubulus seminiferi) Secara umum, jaringan epitel dibagi atas :
1. Epitel Penutup (Covering Epitelium)

Jaringan epitel yang membatasi dan melindungi seluruh organ tubuh kecuali rongga sendi dan anterior iris. Menurut jumlah lapisan, jaringan epitel penutup dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Jaringan epitel selapis (simple)

Jaringan epitel yang terdiri dari satu lapis sel.
2. Jaringan epitel berlapis (stratified)

Jaringan epitel yang terdiri dari dua lapis sel atau lebih.
3. Jaringan epitel bertingkat (pseudostratified)

Jaringan epitel setebal satu lapis, tetapi ketebalan sel berbeda-beda.

Menurut bentuknya, jaringan epitel penutup dibagi menjadi tiga, yaitu : 1. Pipih (squamous) 2. Kubis (cuboidal) 3. Silindris (columnar) Menurut bentuk dan susunannya, jaringan epitel dibagi atas : 1. Jaringan epitel selapis pipih Berfungsi dalam membungkus organ dalam. Contoh : pleura, perikardium, pembungkus lambung, pembuluh darah, alveolus, dsb. 2. Jaringan epitel selapis kubis Berfungsi dalam proses transpor ion, dimana biasanya terdapat mikrovili dan mitokondria untuk mempercepat pompa ion dan transpor cairan. Contoh : tubulus kontortus distal dan tubulus kontortus proksimal pada ginjal. 3. Jaringan epitel selapis silindris Berfungsi dalam terjadinya absorpsi, melindungi permukaan yang basah, dan menghasilkan sekret cair. Contoh : uterus, dsb. 4. Jaringan epitel berlapis pipih Berfungsi sebagai pelindung dari abrasi, infeksi, dll. Contoh : lidah, esofagus, dan vagina. 5. Jaringan epitel berlapis kubis Berfungsi dalam sekresi air dan ion. Contoh : kelenjar keringat. 6. Jaringan epitel berlapis silindris Berfungsi dalam sekresi. Contoh : epididimis, laring, dsb. 7. Jaringan epitel peralihan

Terdiri atas tiga sel, yaitu sel basal, sel payung, dan sel raket. Contoh : vesika urinaria dan uretra. 8. Jaringan epitel bertingkat silindris Contoh : pars cavernosa uretra pria dan duktus epididimis.

2. Epitel Kelenjar (Glandular Epitelium)

Jaringan epitel yang dibentuk oleh adanya invaginasi oleh lembaran sel dan berkembang sebagai sel sekretori atau saluran dan membentuk suatu bangunan.

5.1.3

Jaringan Otot

Jaringan otot terdiri atas otot rangka, otot polos dan otot jantung. Jaringan otot berfungsi sebagai penggerak. Jaringan otot rangka terdiri atas sel-sel otot yang apabila diamati dengan mikroskop memiliki garis gelap dan terang berselang-seling. Karena itu sel otot rangka dikenal pula sebagai sel otot lurik atau sel otot bergaris melintang. Sel otot rangka mempunyai banyak inti. Sel otot lurik bekerja karena pengaruh kehendak kita. Sel otot polos terdapat pad organ dalam, misalnya di usus dan pembuluh darah. Serabut kontraktil otot polos tidak memiliki garis gelap dan terang. Sel otot polos berbentuk gelondong dan berinti satu. Kerja otot polos tidak dipengaruhi kehendak kita. Otot jantung terdiri dari sel-sel yang memiliki garis gelap dan terang seperti otot lurik, tapi bekerja di luar kehendak kita.

5.1.4

Jaringan Syaraf.

Jaringan saraf terdiri dari sel-sel saraf (neuron) dan serabut saraf. Jaringan saraf berfungsi sebagai penghantar rangsang, yakni membawa rangsang dari alat penerima rangsang (reseptor) ke otak kemudian diteruskan ke otot. Jaringan saraf hanya dimiliki hewan dan manusia. Macam / Jenis Jaringan Pada Manusia dan Hewan /

5.1.5

Jaringan Ikat

JARINGAN IKAT 1. Letak dan fungsi

Jaringan ikat banyak ditemukan di organ-organ visera (ginjal, paru) mengandung banyak jar ikat yang memegang sel epitel parenkim, sistem kardiovaskuler di mana jaringan ikat mengikat sel-sel otot dan sel endotel bersama-sama. 2. Komponen jaringan ikat Semua jarongan ikat terdiri atas : a. Sel Sel setempat. Sel yang ada di jaringan ikat setempat, contoh : fibroblas, osteosit, osteoblas, makrofag, dsb. Sel pindahan. Sel yang berada di sekitar jaringan ikat dan akan turut ikut serta apabila terdapat kerusakan tertentu. contoh : leukosit dan bagian darah lainnya akan membantu apabila terjadi luka atau kerusakan pada jaringan ikat atau yang lain. b. Serat ekstraseluler Terdiri atas serta kolagen, serat elastis, dan serat retikulin. Fibrinogen pada darah juga termasuk serat, karena membentuk serat fibrin yang sebenarnya.
c. Substansi dasar amorf adalah gen mutan yang menghasilkan fenotip yang

tidak terdeteksi Terdiri atas proteoglikan, glikosaminoglikan, dan glikoprotein. 3. Macam – macam jaringan ikat a. Jar ikat sejati yang umum : terdiri atas jar ikat padat (teratur dan tak teratur) dan jar ikat longgar. • Jar ikat longgar Jar ikat yang mengandung banyak sel-sel dan sedikit serat ekstraseluler (sedikit serat kolagen, serat elastin yang tumpang tindih), sedikit sel yang amorf (proteolgokan dan glikoprot yang sedikit), dsb.

Contoh : lamina propia, lapisan advensia pembuluh darah, mesenterium. • Jar ikat padat Mengandung banyak serat ekstraseluler dan sedikit komponen seluler dan banyak komponen fibroblas. 1. Jar ikat padat teratur Memiliki serat yang beraturan sejajar jika dilihat dengan ME. Contoh : ligamen, tendon, dan stroma kornea. 2. Jar ikat padat tdk teratur Memiliki serat yang tidak beraturan dan padat. Contoh : epidermis kulit, periosteum tulang, dan kapsul organ. b. Jar ikat sejati yang khusus : jar lemak dan jar retikulin. 1. Jar lemak Terdiri atas lemak putih dan lemak coklat. Lemak putih terdiri atas lemak unilokular (satu vakuola lemak yang besar), sedangkan lemak coklat terdiri atas lemak multilokular (banyak vakuola lemak kecil). Mengandung serat kolagen tersebar, banyak suplai darah. Lemak putih banyak terdapat pada jar subkutan, terutama pinggul dan bokong. Fungsi jaringan lemak : timbunan energi yang tidak terpakai, sebagai bantalan organ-organ tertentu, dan pengatur suhu tubuh. 2. Jar retikulin Terdapat pada saluran darah, hati, limpa, nodus limpatikus dan matriks tulang. Serat retikulin berasal dari serat kolagen dengan selubung yang kaya akan glikoprotein. Sel retikulum mengandung fibroblas.
c. Jar ikat khusus : tulang, tulang rawan dan darah.

6.KESIMPULAN

Sel adalah kesatuan hidup terkecil yang ada pada organisme hidup. Sel terdiri dari komposisi – komposisi dan struktur yang berbeda – beda fungsinya di tiap bagiannya. Sel dapat membelah dan memiliki sistem transportasi di dalamnya. Sel yang mengalami diferensiasi akan berubah menjadi jaringan. Jaringan di sini memiliki berbagai macam fungsi yang dibedakan oleh tiap – tiap jenis jaringan dan letak jaringan itu sendiri.

7. DAFTAR PUSTAKA

Bajpai, R.N.1989. Histologi Dasar. Jakarta : BNRP AKSR Carmack, David H.1994. HAM Histologi. Jakarta : BNRP AKSR

Dorland, W. A. Newman. 2002. Dorland’s Ilustrate Medical Dictionary. Jakarta: EGC. http://www.crayonpedia.org/mw/B._Pembelahan_Sel_Secara_Mitosis_12.1 http://fkunhas.com/imunodefisiensi-kongenital-dan-didapat-20100711318.html http://www.g-excess.com/id/macam-macam-penyakit-akibat-kelainan-pada-sistemhormon.html Induknyahttp://www.crayonpedia.org/mw/C._Pembelahan_Sel_Secara_Meiosis_12.1

Jonshon, Kurt E.1994.Histologi dan Biologi Sel. Jakarta: BNRP AKSR Juwono dan Zulfa Juniarto, Achmad. 2002.Biologi sel.Jakarta: EGC Roland Leeson, Thomas S. Leeson, Anthony A. Guyton and Hall.2007.Buku teks histology = Textbook of Histology/C Fisiologi Kedokteran edisi 11. Jakarta. www.scrib.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->