P. 1
Quantum Learning

Quantum Learning

|Views: 4|Likes:

More info:

Published by: Budiiman Pratama Putra on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2014

pdf

text

original

“QUANTUM LEARNING”, KECERDASAN JAMAK DAN PRINSIP LEONARDO DA VINCI SEBAGAI DASAR PROSES PEMBELAJARAN

Belajar adalah suatu proses dasar yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Pembentukan sikap, pencapaian tujuan dan reaksi emosional semua dapat dipelajari. Demikian pula keterampilan motorik, berbahasa dan pemakaian simbol-simbol lain juga dapat dipelajari. Oleh sebab itu ada yang mendefinikan belajar sebagai : proses yang dengan mana suatu perubahan ketahanan yang relatif dalam tingkah laku terjadi, sebagai suatu akibat dari latihan (Sartain, A.Q. et.al., 1967). Ketahanan relatif menunjuk bahwa perubahan dalam tingkah laku kurang lebih permanen dibanding dengan perubahan yang bersifat temporer berdasarkan motivasi, seperti orang mabuk atau orang yang sedang kelelahan. Perkembangan ini jelas dapat mengganggu peserta dalam belajar. De Porter, dkk. (2000) mengetengahkan “quantum teaching” sebagai metode atau teknik mengajar yang memudahkan belajar peserta melalui perpaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun materi yang diajarkan. Metode atau teknik mengajar ini berkaitan dengan konsep “quantum learning”.” Quantum learning” adalah interaksi-interaksi yang mengubah energi jadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi. Tubuh kita secara fisik adalah materi. Sebagai peserta pembelajaran tujuan belajar adalah sebanyak mungkin mencapai keberhasilan (cahaya). Interaksi dalam belajar, hubungan inspirasi- inspirasi yang dimiliki seharusnya diarahkan pada pencapaian tujuan yang ditetapkan agar menghasilkan energi cahaya (keberhasilan). Prinsip belajar kuantum adalah belajar nyaman dan menyenangkan. Belajar kuantum menggabungkan sugestologi, pemercepatan belajar (akselerasi) dan program neurolinguistik. Khusus tentang program neurolinguistik, berdasarkan pengalaman belajar sering terjadi kesulitan peserta dalam mengakap bahasa yang digunakan guru/pengajar. Tentu saja hal ini berpengaruh pada pembentukan pengertian atau pemahaman peserta

pembelajaran dalam menangkap materi yang dipelajari. Untuk itu sebaiknya guru atau pengajar menggunakan kata atau istilah yang dikuasai peserta pembelajaran; apabila perlu memakai bahasa daerah atau bahasa ibu. Sugestologi berkaitan dengan pengaruh guru atau pengajar terhadap peserta pembelajaran. Untuk itu sebaiknya guru memiliki sifat sugestif (dapat mempengaruhi peserta) meskipun tidak diharapkan peserta pembelajaran bersifat sugestibel. Selanjutnya pemercepatan belajar adalah usaha yang memungkinkan peserta pembelajaran untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya yang normal dan dengan perasaan senang. Teknik pemercepatan belajar menggunakan unsur-unsur yang sekilas tidak menampakkan kesesuaian dengan yang kita pelajari, misalny: dengan nyanyian, cara berpikir positif, permainan, warna/ nuansa, dll. Unsur-unsur ini terjalin dalam kerja sama yang menghasilkan pengalaman belajar yang efektif (de Porter. 2000). Dalam kenyataan sering tidak disadari bahwa kemampuan kita lebih dari yang kita duga, dan manusia dikaruniai potensi yang hampir tak terbatas dalam belajar dan berkreativitas. Dulu orang percaya bahwa bila seseorang mempunyai IQ tinggi, maka ia akan sukses dalam hidup. Maka pengukuran IQ menjadi ukuran penting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Dalam kenyataan sekarang dapat dilihat bahwa orang yang ber IQ tinggi belum tentu sukses dalam hidupnya. Gelb,M.J. (2001), menyatakan ada dua kelemahan tes IQ ialah: pertama skor IQ yang dulu seperti relatif konstan, ternyata dapat ditingkatkan secara signifikan melalui pelatihan yang tepat. Disinilah gagasan de Porter tentang pemaduan unsur seni dan pencapapian terarah penting. Belajar yang mengesankan dan nyaman menjadi pendorong seseorang untuk mengembangkan diri bahkan mengaktualisasikan dirinya. Kelemahan ke dua adalah gagasan bahwa keterampilan verbal maupun penalaran matematis yang diukur oleh tes IQ merupakan syarat mutlak kecerdasan. Hal ini ditolak dengan hadirnya teori kecerdasan jamak dari Howard Gardner. Gardner,H.(1993) mengetengahkan ada tujuh macam kecerdasan yang ditambahnya dengan dua kecerdasan baru dalam bukunya Intelligence Reframe (2000). Sembilan kecerdasan itu adalah: linguistik, logis matematis, spasial, kinestetik badani, musikal, interpersonal, intrapersonal, lingkungan dan eksistensial. Dalam belajar setiap orang

mempunyai bakat dan minatnya masing-masing. Apabila berminat tentu saja seseorang akan cepat belajar. Oleh sebab itu dalam belajar kuantum sebaiknya diperhatikan pula bakat dan minat seseorang. Dengan ditemukannya sembilan macam kecerdasan ini, dapatlah dimengerti apabila peserta pembelajar gagal dalam mencapai atau menguasai suatu kemampuan atau keterampilan tertentu belum tentu dia gagal dalam keterampilan-keterampilan yang lain. Kesulitannya adalah bila peserta pembelajar gagal seringkali mereka tidak mendapat kesempatan lagi untuk memperbaiki atau mengganti kegagalannya itu. Sebagai tambahan Gardner masih mengemukakan kecerdasan lain yang mencakup kecerdasan: 1. Spiritual (spiritualitas) 2. Moral sensibility (sensibilitas sosial) 3. Sexuality (seksualitas) 4. Intuition (intuisi) 5. Creativity (creativitas) 6. Culinary ability (kemampuan memasak)
7. Offactory perception atau sense of smell (kemampuan indera

penciuman)
8. Ability to synthesize the other intelligence (kemampuan

mensistesiskan kemampuan lainnya). Namun formula di atas bersifat sementara, karena setelah diteliti lebih lanjut ada beberapa kecerdasan yang tidak memenuhi kriteria. Bagi Gardner (1993), suatu kemampuan disebut inteligensi bila menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang dalam memecahkan masalah dan kesulitan dalam hidupnya. Selain itu dapat pula menciptakan suatu produk baru, bahkan dapat menciptakan persoalan berikutnya yang memungkinkan pengembangan pengetahuan baru. Jadi dalam hal ini ada unssur pengetahuan dan keahlian. Selanjutnya Gardner mengetengahkan kriteria suatu inteligensi. Ada delapan kriteria inteligensi, ialah: 1. Terisolasi dalam bagian tertentu: kemampuan itu sungguh otonom, terisolasi dari yang lain. Bila kemampuan itu hilang

karena kerusakan otak, tidak akan mempengaruhi kemampuan lainnnya. 2. Kemampuan itu independen: hal ini nampak pada anak autis, atau kasus orang yang pandai tapi idiot (idiot savants). Pada orang ini, mereka mempunyai kemampuan sangat tinggi, namun sangat lemah dalam kemampuan lainnya.
3. Memuat satuan operasi khusus: ada unsur satuan operasi khusus

untuk berreaksi terhadap input yang datang. Setiap inteligensi mengandung keterampilan operasi tertentu yang berbeda satu dengan yang lain dan dengan keterampilan operasi itu seseorang dapat mengekspresikan kemampuannya dalam menghadapi suatu persoalan.
4. Mempunyai sejarah perkembangan sendiri: setiap inteligensi

mempunyai temponya sendiri dalam berkembang, menuju puncak lalu akan turun.
5.

Berkaitan dengan sejarah evolusi jaman dulu: setiap inteligensi dapat dilihat sejarah evolusinya. Misalnya: manusia purba dengan alat musiknya, sistem bilangan, dll.

6. Dukungan psikologi eksperimental: dari tugas-tugas yang diberikan nampak inteligensi bekerja saling terisolasi. Misalnya: yang kuat dalam bahasa belum tentu kuat dalam matematika. Jadi tranfer inteligensi sering tidak bisa.
7. Dapat disimbolkan: salah satu tanda inteligensi adalah dapat

menggunakan simbol. Gardner menyatakan setiap inteligensi dapat disimbolkan dalam sistem notasi yang berbeda dan khas. Misalnya: inteligensi musik dengan sistem notasi musik, inteligensi linguistik dengan bahasa fonetik, kinestetik jasmani dengan bahasa tanda, dll.
8. Dukungan penemuan psikometrik: dari beberapa tes psikologi

terstandar diyakini bahwa inteligensi yang ditemukan Gardner memang benar. Berdasarkan kriteria diatas jelas bahwa tidak selalu seseorang memiliki kecerdasan tertentu. Berdasarkan latihan dan bakat tertentu peserta pembelajaran dapat mengembangkan bermacam-macam bakatnya. Dalam hal ini pembelajaran kuantum menjadi penting

karena dapat mempercepat proses belajar seseorang, sehingga dia dapat mengembangkan bermacam-macam pengetahuannya secara maksimal. Dengan perkembangan seperti itu pemecahan soal terjadi dalam waktu yang singkat dan efisien. Bila setiap kecerdasan diwakili oleh sejumlah tokoh tertentu yang jenius dalam bidang tertentu, Leonardo da Vinci adalah jenius dalam segala bidang tersebut. Da Vinci adalah seniman, penemu, insinyur dan ilmuwan berbagai bidang ilmu (Gelb, M.J. 2001). Dalam bahasan ini akan dipaparkan tentang nuansa dan sudut pandang dari Da Vinci dalam rangka membantu peserta pembelajaran untuk menguak dan memahami kemampuan diri sendiri yang masih tersembunyi, memahami kecerdasan unik yang mereka miliki dan mempertajam indera. Berdasarkan catatan , penemuan dan karya seni Da Vinci, Gelb secara sistematis memperkenalkan dan membahas tujuh prinsip Da Vinci, ialah elemen-elemen esensial untuk menjadi jenius. Adapun ke tujuh prinsip tersebut adalah:
1. Curiosita: yaitu pendekatan berupa keinginan tahu yang tak

terpuaskan akan kehidupan dan upaya pencarian untuk belajar tanpa henti.
2. Dimostrazione: niat teguh untuk menguji pengetahuan melalui

pengalaman, keuletan dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan.
3. Sensazione: penajaman indera secara terus menerus terutama

penglihatan untuk menghidupkan pengalaman.
4. Sfumato (hilang tak berbekas atau menjadi tak pasti): yaitu

kesediaan untuk merangkul ambiguitas, paradoks dan ketidak pastian.
5. Arte/scienza: ialah perkembangan keseimbangan antara ilmu,

seni, logika dan imajinasi. Pemikiran otak menyeluruh penting dalam hal ini (whole brain thinking).
6. Corporalita: pemupukan keanggunan, keterampilan dua tangan,

kebugaran dan sikap tubuh yang benar.
7. Connesisione: yaitu pengakuan, penghargaan/apresiasi terhadap

saling keterkaitan antara semua hal dan fenomena serta pemikiran sistemik.

Adapun latihan dari prinsip-prinsip di atas ada yang mudah dan menyenangkan ada pula yang membutuhkan olah batin yang menantang. Prinsip-prinsip Da Vinci bila dipadu dengan pemercepatan belajar ala pembelajaran kuantum dan memperhatikan teori kecerdasan jamak kiranya akan dapat memperkembangkan pembelajaran menyeluruh dan maksimal bagi pembelajar. Untuk itu seorang pengajar sebaiknya juga mengerti prinrip-prinsip di atas dan menerapkannya di kelas dengan memperhatikan taraf perkembangan peserta pembelajaran. Sebagai contoh: prinsip pertama yaitu upaya tak kenal lelah untuk belajar tanpa henti kiranya sangat dipengaruhi aspirasi siswa dalam proses pembelajaran. Aspirasi adalah tingkatan cita-cita atau keinginan yang berhubungan dengan kemajuan, biasanya berhubungan dengan nilai-nilai hidup. Dalam proses pembelajaran sebaiknya pengajar mengarahkan siswa ke aspirasi positif, bukan kearah belajar yang mengarah ke keinginan untuk melawan kegagalan saja (aspirasi negatif). Aspirasi penting dalam mendorong seseorang untuk belajar secara kontinu, mendalam dan bermakna. Contoh ke dua: prinsip ke tujuh penghargaan terhadap saling keterkaitan antara semua hal dan fenomena. Apabilal diterapkan di sekolah berarti pengajar harus dapat menghargai momen yang dianggap penting dan berkesan bagi siswa, meskipun momen itu tidak relevan sama sekali dengan proses pembelajaran di sekolah. Melalui kejadian yang mengesankan siswa diajak kembali ke pemikiran sistemik yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran. Permasalahan:
1. Di Prodi IPPAK : Bagaimanakah

pembelajaran kuantum dilaksanakan? Apakah dampaknya? pengembangan kecerdasan jamak?

2. Apakah dalam mengajar dosen telah memperhatikan

3. Bagaimanakah kaitan antara teori-teori pembelajaran di atas dengan dengan kurikulum berbasis kompetensi?

4. Di antara ke tiga teori di atas, manakah yang kiranya sesuai dengan proses pembelajaran di IPPAK?

Kepustakaan:
1. Campbell, L., et. al. 1997. Teaching and Learning Through

Multiple Intelligences. Massachusetts: Allyn & Bacon.
2. De Porter, dkk. 2000. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa. (Terj.) 3. Gardner, H. 2000. Intelligence Reframed: “ Multiple Iltelligences

For 21th Century. New York: Basic.
4. Gelb, M.J. 2001. Menjadi Jenius Seperti Leonardo da Vinci.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
5. Gordon, T. 1984. Guru Yang Efektif. Jakarta: Rajawali (Terj.) 6. Suparno, P. 2003. Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di

Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
7. Uno, H.B. 2005. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran.

Jakarta: Bumi Aksara.

PSIKOLOGI UMUM

PSYCHE : jiwa; Logos: ilmu Sejarah: tiap benda ada roh (animus) Pembedaan benda: anorganis dan organis Organis: vegetatif, animal, human, absolut/mutlak Jiwa: nampak dari gejala (fenomen) Aristoteles: kesanggupan jiwa terdiri dari kemauan dan perasaan Immanuel Kant: + kesanggupan berpikir Ki Hajar Dewantoro: cipta, rasa dan karsa (trichotomi)

Psikologi: ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia; dalam hubungan dengan lingkungannya dan sebagai subyek dalam lingkungannya.

Pernyataan jiwa: 1. Pernyataan jiwa, kesanggupan jiwa, gejala kejiwaan atau fungsi psikis: Kognisi/pengenalan/cipta; meliputi: pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, berpikir dan inteligensi. a. Pengamatan: kegiatan jiwa dimana seorang individu dapat mengenal dunia luar melalui alat dria. b. Tanggapan: gambaran/bayangan yang tinggal sesudah suatu pengamatan. c. Ingatan: kegiatan pengenalan dimana manusia menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau.
d. Fantasi: daya jiwa yang dapat membentuk

tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada dan tanggapan itu belum tentu sesuai dengan tanggapan yang sudah ada.
e. Berpikir: gejala kejiwaan yang menetapkan

hubungan antara pengetahuan kita. f. Inteligensi: kecerdasan jiwa/kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan tepat dan cepat dalam suatu situasi yang baru dan menurut tujuannya. 2. Pernyatan jiwa: perasaan; sedikit banyak besifat subyektif, untuk menentukan senang atau tidak senang akan sesuatu hal. a. Perasaan rendah: ada perasaan keinderaan, vital, tanggapan dan instink.

b. Perasaan tinggi: ada perasaan keindahan, diri, intelek, sosial, kesusilaan, ke Tuhanan, simpati, empati, menghargai, dll. 3. Pernyataan jiwa: kehendak; daya untuk mencapai sesuatu. a. Dorongan: motif yang disadari; dorongan lebih reflektif b. Keinginan: dorongan nafsu yang tertuju pada sesuatu. c. Hasrat: keinginan yang dapat diulang-ulang. d. Kecenderungan: hasrat aktif yang menyuruh kita cepat bertindak. e. Hawa nafsu: hasrat yang besar dan kuat. f. Kemauan: kekuatan yang sadar dan hidup dalam mengambil keputusan. 4. Gejala campuran: perhatian, kelelahan dan sugesti. Permasalahan: 1. Menurut Anda, apakah inteligensi seseorang dapat berubah? 2. Apakah guna perasaan bagi diri kita? 3. Mengapa kita sering bingung dalam berpikir? 4. Mengapa perasaan tidak tergantung pada alat indera? 5. Berilah contoh sifat ingatan; hal-hal manakah yang mudah kita ingat? 6. Berilah contoh konkrit sifat-sifat perasaan! 7. Bedakan kemauan dan kecenderungan!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->