POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU

A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :

 Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.  Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

Selain itu. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru. Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. pengelolaan kelas. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya. sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. (h) menilai hasil pembelajaran. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. baik untuk kepentingan pembelajaran. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). yakni kompetensi pedagogik. seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. a. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif.--terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya--. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). 2. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dalam hal ini. Oleh karena itu itu.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. dengan memahami psikologi pendidikan. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. . yang saling bertolak belakang.

Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). Ruangan kelas yang gelap. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa.Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. waktu sore hari. aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). R = Respons (perilaku. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S). sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. -- .

How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). mengucapkan minta izin kepada dosen. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. Sebenarnya. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. motif. berjalan ke depan. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . Secara skematik rangkaian. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Menggerakkan kaki menuju ke depan. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. yakni perilakunya itu sendiri. dan why (mengapa). Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). meminta ijin ke dosen. how (bagaimana). b.

(4) kebutuhan prestise atau harga diri. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior).Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. organisasi ataupun persahabatan. akan tetapi juga mental. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). Setiap individu. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya.2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. seperti : sandang. pangan dan papan. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. sehingga membentuk suatu siklus. membentuk keluarga. psikologikal dan intelektual. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. Dalam hal ini. tidak dalam arti fisik. (2) kebutuhan keamanan.

yaitu : (1) durasi kegiatan.Berkaitan dengan motif individu. (3) persistensi pada kegiatan. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. (2) frekuensi kegiatan. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. Motif sekunder. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. minum. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. minat). setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . 3. melarikan diri. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. (4) ketabahan. motif-motif sosial (ingin diterima. Dalam pandangan holistik. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. Approach-avoidance conflict. dikehendaki serta bersifat positif. Approach-approach conflict. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. 2. untuk keperluan studi psikologis. menyelamatkan diri dan sejenisnya. 2. yaitu : 1. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. Motif primer (basic motive dan emergency motive). (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. dikenal dengan istilah drive. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. konformitas dan sebagainya). menyerang. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. seperti : takut yang dipelajari. seperti : dorongan untuk makan. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. Avoidance-avoidance conflict. manipulasi. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik.

Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. inteligensi). (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). diantaranya : (1) agresi marah. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). . (4) fiksasi. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Namun. Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). (3) regresi (kemunduran perilaku). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). (6) rasionalisasi (mencari alasan). Dalam hal ini. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). Namun sebaliknya. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. Untuk tujuan jangka pendeknya. (5) represi (menekan perasaan). sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. terdapat dua kemungkinan. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).tertentu. Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. (2) kecemasan tak berdaya. Untuk lebih jelasnya.

Pada akhir semester. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). dia memperoleh pengetahuan yang luas. sehingga selama kuliah.Tujuan jangka menengah. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. Begitu juga. Selain itu. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Bagi dirinya. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. . Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya.

terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. sumber informasi. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. nama. baik berbentuk verbal maupun non verbal. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). Dia sering tidak masuk kuliah.  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. orang tempat. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. daftar. kejadian masa lalu. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. kebudayaan masyarakat tertentu. peristiwa. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . Sambil menangis (regresi). Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. ide prosedur. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. yakni : a. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu.Dalam konteks pendidikan. definisi. konsep. 1) Pengetahuan (knowledge). peristiwa. termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi).Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. 3. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). teori. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Kawasan Kognitif. tahun. atau kesimpulan. rumus. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan.

fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. atau memproses sesuatu.  Mengetahui metodologi. . bagan atau grafik. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. Untuk bisa seperti itu.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. Mengetahui kelas. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. yaitu ide. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. prinsip. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. 11. sehingga membentuk struktur kognitif baru.  Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. 7. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. pendapat atau perlakuan. menemukan atau menyelesaikan masalah. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. 5. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. informasi. Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. yaitu melihat kecenderungan. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. Misalnya. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. dan c) Ekstrapolasi. peristiwa.  Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur. kelompok. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain.  Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. 3.

 Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis.  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh. menggunakan. Bagi mereka.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. ingat kuda ingat transportasi. yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa.  Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan.  Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). Dengan pemahaman demikian. dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru. memanfaatkan. .  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. 4) Penguraian (analysis). mengklasifikasikan. Contoh. b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide.

yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. baik-buruk. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai.  Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif.  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. meramu. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. .  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis.  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya. menilai dan mengambil keputusan benar-salah.. menciptakan logo organisasi.

Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. membuat coretan atau gambar. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. sikap. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). Kagum atas keberanian seseorang. suara atau kata-kata tertentu saja. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. Kawasan Afektif. Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. kagum. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. atau mentaati peraturan lalu lintas. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. seperti perasaan. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui.b. dan sebagainya. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. Contoh : mengajukan pertanyaan. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). Misalnya pada desain atau warna saja. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). minat. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). 4) Pengorganisasian (organization) . terpesona. b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati.

Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. .Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. yaitu : a) Generalisasi. dan seterusnya menurut urutan kepentingan. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. Kawasan Psikomotor. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. b) Pengorganisasian sistem nilai. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. c. (c) membiasakan (habitual). yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. (b) peniruan (imitation). b) Karakterisasi. mempersiapkan alat. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. menyesuaikan diri dengan situasi. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan ( set). sistem itu selalu konsisten. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya. menjawab pertanyaan. yakni : a) Konseptualisasi nilai. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. Proses ini terdiri atas dua tahap. Pada tahap karakterisasi. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. 5) Karakterisasi (characterization).

Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda. Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. tangkas. pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. kelenturan (flexibility) dan kegesitan. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. Sementara kalangan humanisme. Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). Sementara itu. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar. 5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. menunduk. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). yang terpola dan dapat ditebak. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. berjalan. 2) 3) 4) 5) 6) 4. misalnya : melompat. kekuatan (strength). yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. dan sebagainya.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. alat pelatihan keterampilan. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. serta wahana untuk pembebasan manusia. banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. serta media untuk meningkatkan keterampilan. alat mengasah otak. Bagi kalangan behaviorisme. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. .

O) P= person (pribadi. maupun psikomotor. termasuk lingkungan sekolah. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. Walaupun demikian. terutama potensi intelektual. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P).Dengan demikian. Secara skematik. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. afektif. Sementara itu. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. Sedangkan dalam pandangan humanisme. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu.Yang menjadi persoalan. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. baik dalam aspek kognitif. menurut pandangan behaviorisme. . dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. khususnya dalam pandangan behaviorisme. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. minat. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. bakat. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya.

Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . bahkan melakukan penelitian. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. 5. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. b. kecuali : a. W S S S O WS Ow R R O R R W W . misalnya melalui: diskusi dengan teman. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. b. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. c. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. maka pada akhirnya. a. mengobservasi perilaku di kelas. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. D. b. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. d. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. c. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. dan c benar 3.motivasi. b. Dengan demikian. 4. d. c. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. dia mendapatkan pengetahuan. d. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2.

b. characterization by value or value complex d. fiksasi d. durasi. Approach-approach conflict c. b. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. application b. b . dan c benar 9. Dapat menyimpulkan. Kebutuhan akan rasa aman. 7. a. b dan c benar 11. Avoidance-avoidance conflict d. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. ketabahan. d. agresi b.6. Approach. a. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. Kebutuhan akan aktualisasi diri. synthesis d. evaluation Uraian 1. d. a. evaluasi b. a. dan c benar 8. frekuensi dan persistensi kegiatan. b. a. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2. proyeksi 10. a. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan.avoidance conflict b. a. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Kebutuhan akan harga diri. regresi c. c. analysis c. Non-discursive communication c. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. Kebutuhan akan prestasi. Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. menghubungkan. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. c. kecuali : a.

dalam Kecakapan dan C. B. ciri-ciri keberbakatan. 4. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya. dan kepribadian 2. kecakapan potensial. Dari segi . dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. ukuran kecerdasan.Dari segi kecepatan belajar.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. Mendefinisikan kecakapan nyata. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. kecerdasan (inteligensi). Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. 2. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. Pokok Bahasan 1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. T Setelah mempelajari Bab ini. Intisari Bacaan 1. 3. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. diharapkan Anda dapat : 1. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan. aspek-aspek kepribadian.

kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi

kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan

kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur

(3) pemahaman bilangan. Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata. diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test). dan (8) kecakapan gerak. dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 .49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test).69 25 . Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. Selain itu.05 % Selain menggunakan instrumen standar. rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) . dapat menggunakan beberapa instrumen standar.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). (4) tilikan ruangan. (6) kecepatan pengamatan. sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group).89 70 .75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya.75 % 0. ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven. Untuk mengukur bakat seseorang. (5) daya ingat.79 50 . melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya.25 % 0. (7) berfikir logis. (2) kefasihan mengungkapkan kata. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.20 % 0.

Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. 13. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Allport (Calvin S. Belajar dengan dan cepat. yaitu: 1. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. kreativitas dan komitmen terhadap tugas. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). Mampu berkonsentrasi. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. 4. 7. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Berangkat dari studi yang dilakukannya. 9. 12. 2. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. . Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). 14. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Mempunyai minat luas. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. frustrasi dan konflik. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). 8. 10. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. untuk kepentingan pengembangan diri. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. ketegangan emosional.saja. 5. tergantung sudut pandang masing-masing. 11. b. 3. 6. Hall dan Gardner Lindzey. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri.

Sosiabilitas. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. teori Stimulus-Respons dari Throndike. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. f. marah. teori Medan dari Kurt Lewin. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan 3. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Seperti mau menerima resiko secara wajar. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. c. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. Mudah marah 2. 2. 7. hormon. teori Sosial Psikologis dari Adler. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. atau putus asa e. Hiperaktif . teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. 4. Temperamen. Responsibilitas (tanggung jawab). Sementara itu. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Dalam hal ini. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Kebiasaan berbohong 7. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Fromm. 5. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian. Hull. teori Personologi dari Murray. yaitu disposisi reaktif seorang. b. Sikap. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. sedih. 3.tampang. 8. negatif atau ambivalen d. teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realistik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawab Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ekstrovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. Bersikap kejam 5. Karakter. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. teori Psikologi Individual dari Allport. Watson. 6. cuci tangan. Stabilitas emosi. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Horney dan Sullivan.

yaitu : a. Sering mengalami pusing kepala 13. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Oleh karena itu. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. Penerimaan sosial 10. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Kendati demikian. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. 2. Kurang rasa tanggung jawab 12. Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing.9. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Herediter. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Memiliki filsafat hidup 11. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Pesimis 15. Sulit tidur 11. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. Berbahagia 8. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan. pasangan faktor keturunan itu memisah.

termasuk didalamnya adalah belajar. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu.Misalnya. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial . b. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. Oleh karena itu. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. 3. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. 4.2. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. 5. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. reproduksi. Environment.

Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. Obyek penyesuaian diri bagi individu. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. baik secara alloplastis maupun autoplastis. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali. Sesuatu yang diikuti individu. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. d. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. sebagai : a. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. canggung pemalu dan lain-lain. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Dalam hal ini. b. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk . Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. Lingkungan memiliki peranan bagi individu. 2. c. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi.

Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. otot. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. . religius. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. kecepatan ketepatan. seperti : kemampuan berfikir. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. moral. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. a. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. Maturity. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. c. Inteligensi d. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. Kepribadian 2. Achievement b. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. syaraf dan kelenjar.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. dan kepribadian. terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis. sosial. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. emosi. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit.E. Aptitude c.

Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a.c. b. a. d. d. c. 7. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). b. dan c benar terhadap rangsangan- 8. dan c benar 4. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. (5) kemampuan bilangan (numerical ability). b. Berdasarkan hasil test kecerdasan. tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. (2) kemampuan mengingat (memory). (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). d. kemampuan usia prestasi belajar a. d. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. d. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. b. karakter . c. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. kecuali : a. dan c benar 5. Merupakan teori inteligensi : a. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). c. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. a. Disposisi reaktif seorang. b. b. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat ( perceptual speed). d. mampu belajar/bekerja secara mandiri. c. (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. b dan c benar. c. 3. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. b. b.

lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . temperamen c. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. well-adjusment Uraian 1. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. mal-adjusment d. alloplastis b. stabilitas emosi d. Asas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. sikap dan stabilitas emosi 9. Jelaskan bahwa faktor herediter. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. a.b. d. a. c. autoplastis c. b.

Pokok Bahasan 1. 4. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. diharapkan Anda dapat : 1. 2. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. . Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. 2.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. 5. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. Intisari Bacaan 1. 3. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis. Mendefinisikan perkembangan. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan. 6. prinsip-prinsip perkembangan. dan remaja. dan model pentahapan perkembangan individu. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C. 3. Pengertian Perkembangan. 4. tugas perkembangan individu dan masa remaja. B. 5. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. serta problema yang dihadapi pada masa remaja.

Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. f. 6. 4. d. b.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. seperti : berbicara dan berfikir. 3. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. 5. . perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). 2. 2. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. c. Diferensiasi ke integrasi. e. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. individu. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. Dari outer control ke inner control. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. Dari konkret ke abstrak. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Struktur mendahului fungsi. yaitu : a. Dari egosentris ke perspektivisme. Fisik. b. Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). 2. Contoh : untuk dapat berdiri. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. meningkat dan meluas. Lebih jauh lagi. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. paru dan sebagainya) ke samping (tangan). seperti : berat dan tinggi badan. Psikis. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. Semua aspek perkembangan saling berhubungan.

1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya. 2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. 1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Formal - operasional

0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

5. 6. 7. 8. 9.

Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. .Aspek Perkembangan Individu a. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan. masa remaja awal. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya.6. dalam jasmani dan mental. masa remaja akhir. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Perkembangan anatomis.00-25. Masa Usia Kemahasiswaan (18. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. 6. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik. 2. d. pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. 3. pantas dijunjung dan dipuja. setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. rasa ingin tahu dan ingin belajar 3. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. c. prestasi. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. indeks tinggi dan berat badan. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. mereka membuat peraturan sendiri. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. Amat realistik. 4. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada). serta sikap sosial. masa remaja. Aspek.

b. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. Perkembangan fisiologis. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. tulisan. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. lukisan gerak . persyarafan. . Melalui bahasa. c. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. membaca dan menggambar permulaan.2. mencatat. mengkodifikasikan. dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. konatif). Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya.kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. laju per. Jones dan Conrad (Loree. Laju perkembangan berjalan secara berirama. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. bicara monolog. seperti konstraksi otot-otot. Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik. manusia.1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. membuat kalimat sederhana. peredaran darah dan pernafasan. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). haus nama-nama. menyimpan. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. pada usia sekolah menjadi lambat. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). d. dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements). gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. gambar. sekresi kelenjar dan pencernaan. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. baik dalam bentuk lisan. afektif. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun.gerik. Kemudian.

tidak ia sentuh. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. anak belum mengenal object permanence. benda apapun yang tidak ia lihat. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat. 2. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. 4.dewasa) . Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. Sebelum usia 18 bulan. Artinya. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. sebagai berikut : 1. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Jadi. Tahap formal-operasional (11 . Artinya. insight learning dan kemampuan berbahasa. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Dalam rentang 18 . Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. 3.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. didengar atau disentuh lagi. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence).

Akhirnya. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. b. ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. 2. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Pada awalnya. kepercayaan terhadap individu lain. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition). dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. al. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. Krech et. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. baik yang menyangkut nilai. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. Kecenderungan peranan (role disposition). (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. norma. e. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. Ia mencoba meniru. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. . 3. yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. Kapasitas menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.

Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Dalam hal ini. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku.Sementara itu. serba salah.4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. 2. bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism .

secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. 6. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. dan konatifnya. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. baik secara individual maupun kolektif. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan . 5. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. 4. termasuk dirinya. Oleh karena itu. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. 1970). Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. kognitif. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. pada saat-saat tertentu.

MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) .2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual. menunjukkan alat kelaminnya melihat. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen.h. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. memegang. merusak dengan mulut Mulut sendiri. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B.

cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang j. namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. suara asing. Bridges (Loree. bermain. berjalan. 2.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus). Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). berdiri. minum dari . terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. sebagai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. dalam arti duduk. tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. cahaya. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. doubt. dan (3) pola sambutan. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. tempat asing. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. perlakuan asing dan sebagainya. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons). Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame.i. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku.

Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Pengetahuannya cukup luas. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. ciri-ciri yang khas dari dirinya. 7. 3. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. sehingga perkembangan individu sangat pesat. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. Mereka sudah mulai selektif. dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. 6. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. sehingga . individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. Sesuai dengan namanya masa dewasa. tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. Kalau pada masa sebelumnya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. kecakapannya cukup banyak. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. hambatan bahkan kegagalan.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. 4. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. 5.

Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. interest. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Zunker (Popon Sy. Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. eksplorasi karier. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) .tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. 8. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Selanjutnya. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. attitudes. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut. Arifin. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair k.

2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. difficulty with later task. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. disaproval by society. while failure leads to unhappiness in the individual. and eventual retirement. (25 – 44) (45 – 64) (65 . Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. dan (4) norma-norma agama. work out put. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. .…) 5.d.

10. Belajar hidup dengan pasangan. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. 3. 2. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. 7.0-12.0–6. Belajar berbicara. 5. d. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. 3. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. 8. . 8. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. Memilih pasangan. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 4. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 4. 9. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. 9. Memilih dan mempersiapkan karier. 9. 6. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 5. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. 5. Memulai hidup dengan pasangan. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. dan orang lain. (0. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. 3. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. menulis dan berhitung. 3. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. Mengembangkan kata hati. c. saudara.a. 7. 2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.0) 1. 2. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. 6. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0) 1. Belajar memakan makan padat.0 bulan.0) Belajar berjalan pada usia 9. 4. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.0 – 15. 2.0-21. b. 8. 6. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. 7.

Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. 7. anggota masyarakat dan minat manusia. Sementara itu. b. 7. Mengenal kemampuan bakat. sosial dan ekonomi. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. . yaitu : a. 4. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. Mengembangkan penguasaan ilmu.4. 8. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 3. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 6. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. Memelihara anak. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. Memulai bekerja. Mempersiapkan diri. 2. 5. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. 5. 6. 3. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. teknologi. Mengelola rumah tangga. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. 8. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

berbangsa dan bernegara.d. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). 6. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . 8. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. 2. 9. Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1. intelektual dan ekonomi. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. 5.18-20 th). 3. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. b. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.5. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. 1415 th). Oleh karena itu. bermasyarakat. 4. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. 2003).d. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. 7. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. Perkembangan Pada Masa Remaja a. sosial. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. G. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting.

2. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering.s. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat. 3. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif. Aktif dalam permainan. Perilaku Kognitif 1. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja. meskipun relatif terbatas. Remaja Akhir (14-16 Th. bahasa. kausalitas) yang bersifat abstrak.18-20 Th) 1. ethis. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa. 1. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. konatif. kognitif. 2. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. komparasi. emosi afektif dan kepribadian.kali kurang seimbang. 2.d. berbagai jenis cabang 1. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis.d. keagamaan.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. Psikomotor 1. 2. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . moralitas. sangat lambat. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. psikomotor. 2. 2. Laju perkembangan secara umum kembali menurun. Remaja Awal (11-13 Th s.14-15 Th) Fisik 1. estetik. Gerak gerik mulai mantap. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik.d. religius. 2.d. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. asing. 3. diferen-siasi. sosial. Bahasa 1.

Lima kebutuhan dasar (fisiologis. 3. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai 3. Moralitas 1. 3. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. 1. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. 1. rasa aman. 2. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. 4. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. estetis. 3. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetitik puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. 2. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. 2. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. 2. Emosi. kasih sayang. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. Afektif dan Kepribadian 1. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. Perilaku Sosial 1. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. ekonomis. dan religius). Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. 4. Perilaku Keagamaan 1. Mulai menemukan pegangan hidup 1. 2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. sosial. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). 2. 3. 1. 2. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. politis. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif.

perkembangan fisik yang tidak proporsional. Begitu juga masa remaja. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. dalam era globalisasi sekarang ini. sosial. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. c. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa. Namun ketika. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group).dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Begitu juga. terutama melalui pendidikan di sekolah. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. 2. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . yang akan membentuk kepribadiannnya. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1. baik secara fisik maupun psikis. moralitas dan keagamaan. 3. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Tidak bisa dipungkiri. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.

dalam dirinya. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. serta masyarakat sangat diharapkan. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. jika tidak terbimbing. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. terutama secara ekonomis. . Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. Hal ini disebabkan pada masa remaja. di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. dan emosional. Dalam hal ini. termasuk dengan guru di sekolah. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba. namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. sekolah. khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Usaha pencarian identitas pun. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. perilaku imitasi atau identifikasi. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. peranan orang tua. baik internal maupun eksternal. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Selain yang telah dipaparkan di atas. D. 4.

haus nama-nama. c. a. gemar bertanya. haus nama-nama. bayi (0-2 th). bahasa ekspresif. Meraban. b. Menurut Lovenger. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. bayi (0-2 th). bicara monolog. d. bahasa ekspresif. c. d. haus nama-nama. bicara monolog. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th). Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan.a. kecuali : a. b. membuat kalimat sederhana. Tahap Sensori-Motor b. d. b dan c benar 2. b. c. b. bahasa ekspresif. yaitu : a. c. a. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Tahap Pra-Operasional . c. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. b. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. membuat kalimat sederhana. b. Meraban. 3.. d. d. dan bahasa ekspresif. gemar bertanya. bicara monolog. d. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). gemar bertanya. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. d. c. Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. haus nama-nama. Perkembangan bersifat progresif. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. b. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). bicara monolog. Meraban. membuat kalimat sederhana. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. a. c. gemar bertanya. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a. Meraban. 8. 6. Terjadinya perubahan dalam proporsi.

d. d. c. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. b. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a. Tahap Formal-Operasional 9. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. d. sehingga enggan melaksanakan ritual. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Growth Exploratory Establishment Maintenance . Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. b. b. terjadi pada tahap: a. 14. Conventional c. Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. c. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. d. c. Non Conventional 11. Pre Conventional b. temperatur) c. Post Conventional d. a. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. Penghayatan rohaniah yang skeptik. d. b. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. c. terjadi pada masa : a. 13. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. 12. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. Tahap Konkret-Operasional d.c. terjadi pada masa : a. b. kebencian dan ketakutan. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence. cahaya.

b. b. kasih sayang. ekonomis. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. c.15. b. 19. c. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. d. c. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. kecuali : a. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. a. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. dan religius). Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. a. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. d. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. . meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. 17. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. dan c benar 16. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. 20. politis. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a.. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. d. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. d. dan c benar. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. c. b. b. Gerak gerik mulai mantap. d. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. c. a. b. 18. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. b. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. c. rasa aman. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. b. sosial. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. estetis. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.

Teori-Teori Pokok Belajar.pendekatan pembelajaran. yang akan membentuk kepribadiannnya. 2. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : . 4. peran dan kompetensi guru. 2. 3. 3. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. diharapkan Anda dapat : 1. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. B. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Lantas. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Intisari Bacaan 1. 5. pendekatan . Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. Pokok Bahasan 1. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Hakekat Belajar. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. 4.d. Uraian 1. C.

Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. pengetahuan. Misalnya. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. sikap dan keterampilan berikutnya. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). pengetahuan dan sikap baru”. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu). seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku.  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. Begitu juga. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar.  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. maka pengetahuan. pengetahuan dan kecakapan”. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Misalnya. b. . seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. sikap. Begitu juga. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Dalam hal ini. Moh. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. yaitu : a.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan.  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”  Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. kebiasaan.

maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Perubahan yang bersifat positif. Perubahan yang bersifat pemanen. . Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Misalnya. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Misalnya. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Perubahan yang bersifat aktif. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. jangka menengah maupun jangka panjang. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya. seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. Misalnya. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru. d. baik tujuan jangka pendek. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. e. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan. Misalnya. Perubahan yang fungsional. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. g. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.c. Untuk memperoleh perilaku baru. f.

Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya.h. Begitu juga. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”. Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Misalnya. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus ( PreLearning). dengan bertambah pengetahuan. Perubahan perilaku secara keseluruhan. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. Praktik. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. Belajar merupakan suatu proses. dengan bertambah pengetahuan. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning). Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. maka kemampuannya akan meningkat. Kemudian oleh . mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”. tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya.

perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. dan sebagainya. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. Selain itu. yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar . Strategi kognitif. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. Akhirnya. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). b. Dalam belajar. Kecakapan intelektual. memahami konsep konkrit.menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. Misalnya. definisi. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. baik secara tertulis maupun tulisan. Begitu juga. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). aturan dan hukum. mendengar. mencicipi. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu. konsep abstrak. misalnya: penggunaan simbol matematika. 2003). Dalam konteks proses pembelajaran.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. Informasi verbal.-. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai. Selain itu. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). --khususnya motif berprestasi-. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. dan mencium. dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. c. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. Misalnya. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. meraba/menjamah.

b. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.terjadi aktivitas yang efektif. Sementara itu. keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. didalamnya terdapat unsur pemikiran. Moh. kecewa. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). c. yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. i. gembira. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. benci.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. menafsirkan. f. e. Berfikir asosiatif. yakni proses menerima. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. senang. sedih. yaitu: (a) teori behaviorisme. (b) teori belajar . Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Sikap. beserta tingkatan aspek-aspeknya. marah. Pengamatan. afektif dan psikomotor. Dengan kata lain. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik. Sedangkan menurut Bloom. Kecakapan motorik. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. d. Keterampilan. d. was-was dan sebagainya. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. h. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) 2. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu). Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. g. e. Kebiasaan.

bakat. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer.kognitif menurut Piaget. Dengan kata lain. b. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Sebaliknya. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). . maka kekuatannya akan menurun. diantaranya : a. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. dan (5) teori belajar gestalt. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. 2. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. Law of Readiness. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Law of Effect. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. c.Respons. a. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. Law of Exercise. b. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne.Respons akan semakin kuat. diantaranya: a. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). maka hubungan Stimulus . pendekatan behaviorisme ini. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. dan mengabaikan aspek – aspek mental.

Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. (3) concrete operational dan (4) formal operational. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan.3. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. 4. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling).F. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. diantaranya : a. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. (2) pre operational. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. Melalui pemberian reward dan punishment. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Reber (Muhibin Syah. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer.F. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. Menurut Piaget. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. b. Operant Conditioning menurut B. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. b.

. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. c. (5) ingatan kembali. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. potongan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. d. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Bila figure dan latar bersifat samar-samar.obyek fisik. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. 4. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. (1) motivasi. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Di dalam kelas. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. 3. Menurut Koffka dan Kohler. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. 5. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. (3) pemerolehan. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. 2. (6) generalisasi. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. (2) pemahaman. (4) penyimpanan. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan.

Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. 5. 4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. (lingkungan behavioral). penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. Misalnya. Berlari. Dalam proses pembelajaran. hendaknya peserta didik memiliki . berjalan. seperti : sagitarius. Kesamaan (similarity). 6. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. Contoh lain. Arah bersama (common direction). Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. pisces. adanya penamaan kumpulan bintang. 3. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. Misalnya. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar.2. mengikuti kuliah. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. 3. 4. Kedekatan (proxmity). virgo. Pengalaman tilikan (insight). Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. 2. yaitu: 1. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Kesederhanaan (simplicity). bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.

tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Prinsip ruang hidup (life space). Pembelajaran. 5. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. Transfer dalam Belajar. 4. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. . menyeterikan baju. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. bahwa perilaku terarah pada tujuan. 3. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Oleh karena itu. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.2. Misalnya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat. Oleh karena itu. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. Oleh karena itu. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. 3. Menurut pandangan Gestalt. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. memasak. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat.

baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. yaitu : a. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. memimpin. termasuk discovery-inquiry. yang harus dapat menciptakan situasi. b. merangsang. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. 4. disengaja dan direncanakan. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. menggerakkan.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. b. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. eksperimen. e. Secara garis besarnya. b. . observasi dan sejenisnya. kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal. yang mencakup : a. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. termasuk metode ceramah dan sejenisnya. serta Tuhan yang menciptakannya). Guru sebagai pelaksana (organizer). mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. c. terdapat dua pendekatan pembelajaran. d. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a..

Pelajar dan ilmuwan. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. menganalisa. diri pribadi (self oriented). yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Di lain pihak. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Pekerja sosial (social worker). yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator).konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). guru berperan sebagai : a. Seorang pakar dalam bidangnya. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. seorang guru berperan sebagai : a. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). Penegak disiplin. penemu masyarakat (social inovator). baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. guru berperan sebagai perancang pembelajaran. artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. prognosa. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). Pengambil inisiatif. pengelola pembelajaran. . c. keluarga dan masyarakat. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan. f. Wakil masyarakat di sekolah. pengarah. Sedangkan dalam keluarga. Di sekolah. melakukan diagnosa. Penterjemah kepada masyarakat. Pelaksana administrasi pendidikan. artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. Pemimpin generasi muda. dan agen masyarakat (social agent). atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement). dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). dan dari sudut pandang psikologis. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). e. b. dan g. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. penilai hasil pembelajaran peserta didik. dan penilai pendidikan. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. Selanjutnya. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. Sementara itu di masyarakat. c. d. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. Moh. b. Lebih jauh.

dan e. Pembentuk kelompok (group builder). lingkungan belajar. Sejalan dengan tantangan kehidupan global. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. berkembang. orang tua maupun masyarakat.c. a. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Pakar psikologi pendidikan. d. seperti : tata letak tempat duduk. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). interaksi peserta didik dengan sesamanya. pengelolaan bahan belajar. Sementara itu. d. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. Kalau hal ini terjadi. pengelolaan sumber belajar. b. Di masa depan. dan lain-lain. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. dan e. c. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. Orang tua. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Untuk menghadapi . jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. guru berperan sebagai : a. ia akan terpuruk secara profesional. disiplin peserta didik di kelas. Catalyc agent atau inovator. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. model keteladanan. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Dari sudut pandang secara psikologis. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. interaksi peserta didik dengan guru. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran.

pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. evaluasi hasil belajar. dewasa. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. 4. 3. Begitu juga. guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Berkenaan dengan kompetensi guru. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. berkomunikasi lisan dan tulisan. 7. stabil. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. 2. sertifikasi dan remunerasi guru. 6. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. . b. Disamping itu. mengevaluasi kinerja sendiri. 9. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. 8. arif dan bijaksana. berwibawa. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 2. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. perancangan pembelajaran. 3. 5. 5. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1. Artinya. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. pemahaman terhadap peserta didik. c. kompetensi. 6. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. pengembangan kurikulum/silabus. 4.tantangan profesionalitas tersebut. 7. namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. mantap. berakhlak mulia. dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. 2. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1.

yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. mampu berkomunikasi. dan perwujudan diri. yaitu : a. struktur. ing madya mangun karsa. d. orangtua/wali peserta didik. Kompetensi profesional. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. penerimaan diri. Kompetensi personal. maupun masyarakat luas. Kompetensi personal. baik dengan peserta didik. rasa tanggung jawab akan tugasnya. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. sesama guru. dan 5. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. pengarahan diri. Surya (1997) a. bergaul secara efektif dengan peserta didik. b. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian. dan 4. Sementara itu. Kompetensi kemasyarakatan. tenaga kependidikan. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. konsep. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. 2. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. Kompetensi sosial. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. tut wuri handayani. c. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. meliputi : Moh. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. b. . d. Kompetensi profesional. 4.3. Kompetensi intelektual. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. c. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. 3. sesama pendidik.

Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. Sebagai pembanding. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. 2. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. 2. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. c. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. e. 3. 2. 3. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. dan 4. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. 2. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). Teachers are Members of Learning Communities: 1. 3. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Kompetensi spiritual.e. 3. yaitu: a. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting). Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. b. . Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik. 4. yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. d. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. 2.

mengalihkan pembicaraan. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. yaitu mencakup : a. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan. 2. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. 2. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). penghargaan kepada peserta didik. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. c. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. 4. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. 6. dan ketulusan. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu . seperti: 1. 5. pelaksanaan. seperti : 1. antara lain: 1. 7. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. 4. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. dan 8. Memiliki kemampuan interpersonal. 3. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. b. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. 2. suka menyela. yaitu : 1. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. 3. 2. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. d. Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. 5. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda.

2. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). sosio-emosional yang baik. karena alasan jenis kelamin. pemberian ganjaran. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Masalah Kelompok : 1. yaitu : a. Dalam hal ini. b. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. helplessness (peragaan ketidakmampuan). b. yaitu : a. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. tingkatan sosial ekonomi. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. 7. Kelas kurang kohesif. Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. 5. 4. congruence). Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. suku. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.pembelajaran. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik . Carl A. 6. genuiness. penetapan norma kelompok yang produktif). 3. 3. 2. 4. Behavior . Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness. Masalah Individual : 1.guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. dan sebagainya.

serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. kecuali : a. Richard A. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. positif. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. Belajar merupakan usaha individu. menyusun rencana pemecahannya. Perubahan yang bersifat intensional. c. c. guru berusaha untuk membicarakan situasi. menganalisis dan menilai masalah. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. Schmuck & Patricia A. b. (d) cohesiveness D. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. (b) leadership. bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). b dan c benar . Di bawah ini merupakan hakekat belajar. a. yaitu : (a) mutual expectations. dari tidak tahu menjadi tahu. bertujuan dan terarah. g. d. (c) norm. h.manusia (acceptance. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. prizing. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. caring. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. Sedangkan Haim C. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. kontinyu. Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. (c) attraction (pola persahabatan). Sementara itu. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. f. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. (d) communication. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2.

merangsang. c. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6. d. Sebaliknya. c. b. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. dan c benar. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning 5. a. b. c. menggerakkan.3. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. c. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. a. c. memimpin. d. 7. b. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. b. adalah : a. c. d. Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . Dapat menciptakan situasi belajar. b. b. d. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. a. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. Dalam proses pembelajaran. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. b. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa.Respons. d. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. b. d.

para siswa kurang kompak dan selalu berisik. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. 2. Mendefinisikan bimbingan dan konseling. prinsip. 5. merencanakan. asas. Proses dan Teknik Konseling. 6. a. 2. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. . orientasi baru. 3. 4. b. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. 5. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. diharapkan Anda dapat : 1. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. Sebagai guru. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. 4. 3. Mengidentifikasi fungsi. d. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. prosedur umum bimbingan dan konseling. Pokok Bahasan 1. b. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. 3. B. Uraian 1. jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.c. d. c. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. proses konseling.

Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. sosial dan pribadi. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. pilot. mengatur. Sedangkan menurut W. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini.  United States Office of Education (Arifin. kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance). Surya. regulating (mengatur).  Jones et. Djumhur dan Moh. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. giving instructions (memberikan petunjuk).al. Dalam pelaksanaannya.  Peters dan Shertzer (Sofyan S. kesehatan. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Djumhur dan Moh. manager. or steer (menunjukkan. conducting (menuntun). governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat). di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I. misalnya problema kependidikan. keluarga dan masyarakat. jabatan.  I. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. atau mengemudikan). agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). Surya. Willis. Intisari Bacaan 1. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities.S. menentukan. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya.C. leading (memimpin). 1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya.

Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. Untuk kepentingan penulisan ini. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. bimbingan belajar. dan bimbingan karier. Dari beberapa pendapat di atas. Dari pendapat Prayitno. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. dkk. Padahal kenyataan di sekolah . sekolah dan masyarakat. yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik.  Tercapainya penyesuaian diri. bimbingan sosial. b. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. meski secara formal istilah ini belum digunakan. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun.  Prayitno.dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan.  Dalam Peraturan Pemerintah No. mengenal lingkungan. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. dkk. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan. dalam bimbingan pribadi. berdasarkan norma-norma yang berlaku.. baik keluarga. dan merencanakan masa depan”.

yaitu: . Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% . terlambat SPP. yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja. Pedagogis. Mengingat keadaan seperti itu. seperti peserta didik yang bolos. 2. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. c. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. teoritis. berkelahi. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik. 4. Humanistik-religius. . dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. Akibatnya. 3. Sofyan. artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Selebihnya. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. merazia. bodoh. bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan.jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. Dengan demikian. artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. Dengan adanya orientasi baru ini. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. Profesional. menentang guru dan sebagainya. Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. guru bahkan kepala sekolah. S. tempat menangkap.10%). sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. Potensial.

serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. 4. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial. lingkungan yang lebih luas. dan keluarga peserta didik dan orang tua. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan. 5. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan.1. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. 2. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. baik di rumah. 3. jenis kelamin. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah. (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. Pengentasan. sasaran layanan. jenis layanan dan kegiatan pendukung. Pencegahan. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu. agama dan status sosial. Pemahaman. ekonomi dan budaya. d. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu. informasi pendidikan. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik. jabatan/pekerjaan. sekolah dan masyarakat sekitar. orang tua. suku. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Pemeliharaan dan pengembangan. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. . menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. Advokasi. 3. guru pembimbing.

Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. 3. Asas Kesukarelaan. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. Asas Kerahasiaan (confidential). dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. 2. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. e. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan .4. Asas. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. Asas Keterbukaan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. Dalam hal ini. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain.

peraturan. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Asas Keahlian. Asas Kegiatan. 7. Asas Kedinamisan. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju. 8. Asas Keterpaduan. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. 10. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik .tidak berpura-pura. yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. Bahkan lebih jauh lagi. mampu mengambil keputusan. hukum. 5. Asas Kenormatifan. baik norma agama. Dalam hal ini. adat istiadat. Dalam hal ini. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. serta mewujudkan diri sendiri. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. tidak monoton. 9. harmonis dan terpadukan. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. Asas Kekinian. Asas Kemandirian. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. mengarahkan. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. ilmu pengetahuan. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. 4. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. saling menunjang. 6.

Menyediakan prasarana. Peranan Kepala Sekolah. Secara garis besarnya. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. guru mata pelajaran dan wali kelas. dan dinamis. Dengan adanya kata “kewajiban”. juga perlu melibatkan kepala sekolah . penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. sosial. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. guru-guru lain. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. tenaga. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. 2. peran. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. mengembangkan keteladanan. belajar. 11. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Demikian pula. atau ahli lain. tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. sebaliknya guru pembimbing (konselor). sehingga pelayanan pengajaran. Asas Alih Tangan Kasus. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. harmonis. sebagai berikut : a. dan memberikan rangsangan dan dorongan. b. Asas Tut Wuri Handayani. . Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. c. latihan. 12. dan karier”.

d. c. f. Wali Kelas berperan : a. mendorong. konkret. h. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. seperti konferensi kasus. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b. g. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. bersahabat. d. seperti konferensi kasus. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa. Sofyan S. . kesempatan. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. c. program pengayaan). membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. b. memahami dan menghargai tanpa syarat. ramah. Sedangkan. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing. peran. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. jujur dan asli. e. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. dan e. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling. e. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing. Membantu mengembangkan suasana kelas. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. Menyediakan fasilitas. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya.

program latihan. magang. 4. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung.3. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Layanan Informasi. sosial. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. Namun. dalam bidang pribadi. kelompok belajar. Untuk lebih jelasnya. 2. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan Pembelajaran. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan Orientasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap . jurusan/program studi. pergaulan. karier. pendidikan lanjutan). a. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. 3. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. kegiatan ko/ekstra kurikuler.

merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. terpadu dan sifatnya tertutup. Himpunan Data. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. minat dan segenap potensi lainnya. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. b. Layanan Bimbingan Kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. Aplikasi Instrumentasi Data. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan. komprehensif. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. baik tes maupun non tes. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas.bakat. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. 5. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. sistematik. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. . yaitu : 1. 6. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. 2. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. Layanan Konseling Kelompok.

Identifikasi kasus. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. keterangan. 4. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. 4. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. . Alih Tangan Kasus. Kunjungan Rumah. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup.3. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. dokter serta ahli lainnya. yakni : 1. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. 5. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. kemudahan. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. Call them approach. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Konferensi Kasus.

permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. (3) behavioral. ataupun out put belajarnya. Developing a desire for counseling. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. tes bakat. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. nilai dan moral. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Diagnosis. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Melakukan analisis sosiometris.2. c. dan (2) faktor eksternal. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. dan atau (4) personality. (6) pendidikan dan pelajaran. Maintain good relationship. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. d. (7) agama. (4) ekonomi dan keuangan. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . seperti tes inteligensi. (9) keadaan dan hubungan keluarga. (2) diri pribadi. (5) karier dan pekerjaan. yaitu : (1) faktor internal. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. menciptakan hubungan yang baik. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. proses. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. Prognosis. Prayitno dkk. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM).H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. kepribadian. W. emosi. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. seperti : lingkungan rumah. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. kecerdasan. dan (10) waktu senggang. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. 4. bakat. 3. (2) struktural – fungsional. bisa dilihat dari segi input. 5. Identifikasi Masalah. (3) hubungan sosial. (8) hubungan muda-mudi.

. jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. 2.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. e. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. 5. Sementara itu. f. cara manapun yang ditempuh. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. yaitu apabila: 1. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus).kasus yang dihadapi. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. 4. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. 3. 2. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Namun. Evaluasi dan Follow Up. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. dan 3. 7. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.

Dalam prakteknya. 6. berkelahi dengan teman sekolah. ahli/profesional. seperti : membolos. berpacaran. berpacaran. seperti : gangguan emosional berat. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih.5. Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor). Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. kesulitan belajar. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. pelaku kriminalitas. Oleh karena itu. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. polisi. minum minuman keras tahap awal. berkelahi antar sekolah. malas. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor). Dalam hal ini. Masalah (kasus) berat. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. bertengkar. guru dan sebagainya. polisi. mencuri kelas ringan. kecanduan alkohol dan narkotika. b. minum minuman keras tahap pertengahan. Masalah (kasus) ringan. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. melakukan gangguan sosial dan asusila. mencuri kelas sedang. peserta didik hamil. karena gangguan di keluarga. percobaan bunuh diri. Masalah (kasus) sedang. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Sofyan S. c. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. seperti : gangguan emosional. dokter. dengan perbuatan menyimpang. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik .

yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. diantaranya : a. keterbukaan. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Kontrak waktu. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). 2. kesukarelaan. diantaranya : a. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). Kontrak kerjasama dalam proses konseling. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah.konseling. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. 3. 2. terutama asas kerahasiaan. berisi : 1. Kontrak tugas. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. 1. a. c. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. Proses Konseling Secara umum. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). b. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. dan kegiatan. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. (2) tahap inti (tahap kerja). . maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. d.

Untuk lebih jelasnya. c. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. 2. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. 1. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. c. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. d. baik oleh pihak konselor maupun klien. b. yaitu : a. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. b. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. a. d. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. sehat dan dinamis. b. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). c. Hal ini bisa terjadi jika : 1. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). 3. Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. diantaranya : . yaitu .

Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. duduk kurang akrab dan berpaling. Muka : kaku. Kepala : kaku 2.a. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Empati primer. Posisi tubuh : tegak kaku. 5. bersandar. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. bahasa tubuh. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. b. perhatian terarah pada lawan bicara. mengalihkan pandangan. tidak melihat saat klien sedang bicara. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. mata melotot. Menciptakan suasana yang aman 3. Perhatian : terpecah. Memutuskan pembicaraan. ceria. jarak duduk dengan klien menjauh. ekspresi melamun. 2. miring. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. 4. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Terdapat dua macam empati. Contoh perilaku attending yang baik : 1. menunggu ucapan klien hingga selesai. Contoh ungkapan empati primer : . Meningkatkan harga diri klien. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Ekspresi wajah : tenang. 5. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. mudah buyar oleh gangguan luar. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. 4. yaitu : a. dan bahasa lisan. pikiran dan keinginan klien. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. 3. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. senyum 3. menggunakan tangan sebagai isyarat.

.. c. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. ” Saya mengerti keinginan Anda”. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam.. Terdapat tiga jenis refleksi.” 2.” ” Hal itu rupanya seperti . dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.” 3.” ” Adakah yang Anda maksudkan.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah.. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut.. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. Refleksi pengalaman. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi perasaan.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. pengalaman termasuk penderitaannya. b... yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Refleksi pikiran. berupa perasaan... .. pikiran. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah . pikiran. yaitu teknik untuk memantulkan ide. pikiran. Empati tingkat tinggi..” ” Barangkali Anda merasa.. yaitu : 1...

Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. dan pengalaman klien. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. pikiran.” d. pikiran.. Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan .Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik... atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya..” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. biasanya ditandai . Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3.. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. Eksplorasi perasaan. Seperti halnya pada teknik refleksi. yaitu teknik untuk menggali ide. tertekan dan terancam.. Eksplorasi pengalaman.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan... Eksplorasi pikiran. yaitu : 1. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien.. menutup diri. dan pendapat klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin.

Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. lebih baik gunakan kata tanya apakah. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. bagaimana. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. adakah. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” Konselor Klien Konselor . (3) memberi arah wawancara konseling. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . dapatkah. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Oleh karenanya. dan mengamati respons klien terhadap konselor. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Contoh dialog : Klien Konselor f.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan.

Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.... lalu. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori..” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. terus..... .. ya....dan. bukan pandangan subyektif konselor. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran...Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh... Karena tantangan masa depan makin banyak..” Konselor i.” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu....Klien : ” Sebelas ” h.. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.. Konselor j. ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya. Membantu orang tua memang harus. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. dan saya nyaris. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.

” Konselor k.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. kedua. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan.” l. Oleh karena itu. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. (3) meningkatkan kualitas diskusi. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling .” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Saya tak dapat lagi menahan diri. Misalnya dengan mengatakan : . Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.

Fokus mengenai budaya. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. Fokus pada orang lain. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. 4.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. telah membuat kamu menderita. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. dan sebagainya. Fokus pada diri klien. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. diantaranya : 1. senyum dengan kepedihan. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Contoh : ” Roni.” . (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati.” n. Fokus pada topik. posisi tubuh gelisah). wajah murung. (suara rendah. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. (2) meningkatkan potensi klien. atau kontradiksi dalam dirinya. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. ide awal dengan ide berikutnya. Contoh : ” Tanti. konflik.

Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”... pikiran... dan dengan alasan-alasan yang logis.harus bagaimana. dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya........ ungkapan kata-kata yang tegas. Mengambil Inisiatif .” q. ucapan dengan o. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya... Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas.. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. kurang jelas dan agak meragukan.. (2) agar klien menjelaskan. Saya.. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending.. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. tidak tahu. :”. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan..” (diam) Konselor Klien :” Saya.” (diam) Konselor r. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir..Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. ibu... atau saudara-saudara Anda.” Konselor p.....” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.. paling lama 5 – 10 detik. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya....

(2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Walaupun demikian. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action).Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. Contoh : ” Nah. s. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.com di internet”. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. (2) memantapkan rencana klien. u. terutama mengenai kecemasan. Kalau pun konselor mengetahuinya. Contoh: ” Baiklah.upi. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. sering diam. (3) pemahaman baru . Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. dan kurang parisipatif. Coba Anda renungkan kembali”. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat.” t.

c. Rational Emotive Theraphy. 2. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. d. seperti pendekatan Behaviorisme. Dalam hal ini konselor .klien. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling. kesulitan menyatakan tidak. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. b. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. yaitu : a.

dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Misalnya : “Saya merasa jenuh. 5. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. dapat menggunakan model audio. misalnya : 1. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan.. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “. “Saya malas. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. 4. Bermain Proyeksi Proyeksi : . dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. 2. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. model fisik. 3. f. Melalui dialog yang kontradiktif ini. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. e. g. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”.. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”.

membiasakan diri. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. j. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek . Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dengan tugas rumah yang diberikan. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. h. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Home work assigments. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Sering terjadi. i. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan.

Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. dalam bimbingan pribadi. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. D. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. kecuali : a.kognisinya yang keliru. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. mendorong. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. bimbingan sosial. mengenal lingkungan. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. dan merencanakan masa depan. k. b. dan bimbingan karier. keluarga dan masyarakat. d. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. c. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. l. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. bimbingan belajar. Latihan : Soal : 1. . baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. m. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi.

b. tut wuri handayani a. sukarela. 6. d. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. b. 2. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. b. agama dan status sosial. suku. d. d. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. kerahasiaan. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. a.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. keterbukaan. keterpaduan kenormatifan. b. b. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. a. b. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. kedinamisan. c. d. c. c. kemandirian. 4. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. a. jenis kelamin. Oleh karena itu. a. b. c. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. alih tangan kasus. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. dan c benar 8. d. . kekinian. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. a. d. b. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. c. c. berdasarkan norma-norma yang berlaku. keahlian kegiatan. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia.

”Anda mengatakan baik-baik saja. Imitasi b. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. a. d. c. d. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a. c. b. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan.c. c. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. c. dan c benar penegakan 9. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan. seperti bolos.” b. b. d. c. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. d. berkelahi dengan teman. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. a. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. c. Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. d. d. b. kecuali a. b. b dan c benar 11. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. a. b. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. b. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. a. dapat dilakukan oleh : a. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. a. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. 14. Permainan dialog .

pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. bahwa jika dia tidak masuk kelas. Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. tanpa alasan yang jelas. kawan sekelasnya.Kabupaten Nun Jauh Disana. prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan. Sementara itu. tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Bermain peran d. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian. Melihat kondisi demikian. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Ketika dia masih duduk dibangku SD. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Home work assigments Uraian 1. Selama bulan Februari 2006. Bahkan Andi.c. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. dia suka nongkrong di terminal. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya.

Supratiknya). National Board for Professional Teaching Standards. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling.IKIP Bandung. Surya. ---------. Gendler. 1997. Hurlock. dkk. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. 2005. Raja Grafindo Persada.2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD. 2005. Implementasi Kurikulum 2004. 31 Oct 2002). NBPTS Home Page. Muhibbin Syah.nbpts. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Arifin. Konsep.1992. . 1980. Bandung : P.P. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin. Publishing. Prayitno.M. Nana Syaodih Sukmadinata. Learning & Instruction. <http://www. Remaja Rosdakarya.Karakteristik dan Implementasi. E. New York : McMillan H. Bandung PPB . Kamus Lengkap Psikologi. Elizabeth B. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. 2004.T. 2002 . J. Depdiknas.html>. Jakarta : PT Raja Grafindo. Margaret E. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Calvin S.T. Mulyasa. Jakarta : Depdiknas.T. Theory Into Practice. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------. PT Golden Terayon Press. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.2005. 2003. (terj. Bandung : P. Panduan Pembelajaran KBK.org/ standards/fivecore. Psikologi Pendidikan. Jakarta. ----------. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Psikologi Belajar. Remaja Rosdakarya. Jakarta : Rineka Cipta. (Accessed. 2003.Bandung : P. SMP dan SMA . Five Core Propositions. dkk. Kartini Kartono).T.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun.. Remaja Rosdakarya. 2004. Developmental Phsychology. 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. 2004. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. 2003. Jakarta : P. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. 2003.

Pendekatan dalam Konseling (Makalah).Konseling Individual. Teori dan Praktek. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.go.. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Sugiharto. 2004. .puskur.(2005. Willis.2003. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim. Bandung : Pustaka Setia. 1984. Bandung : Lab. Yogyakarta : Adi Cita. Psikologi Kepribadian.Sofyan S. 2002. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Sunaryo Kartadinata. Jakarta : Rajawali. www. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 2000.id. Syamsu Yusuf LN. Inventori Tugas Perkembangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful