POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU

A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :

 Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.  Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

baik untuk kepentingan pembelajaran. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. Dalam hal ini. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. yang saling bertolak belakang. seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran. dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya. 2. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. dengan memahami psikologi pendidikan. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. yakni kompetensi pedagogik. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Selain itu. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. . agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. Oleh karena itu itu. (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. (h) menilai hasil pembelajaran. pengelolaan kelas. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. a.--terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya--.

(2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). R = Respons (perilaku. ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S). secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. -- . ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. waktu sore hari. Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W).Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. Ruangan kelas yang gelap. aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.

Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. meminta ijin ke dosen. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. Secara skematik rangkaian. Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. yakni perilakunya itu sendiri. bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). Sebenarnya. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. b. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). tangan menekan saklar lampu merupakan effector. mengucapkan minta izin kepada dosen. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). dan why (mengapa). Menggerakkan kaki menuju ke depan. motif. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). how (bagaimana). berjalan ke depan.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. (2) kebutuhan keamanan. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. tidak dalam arti fisik. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri.2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. sehingga membentuk suatu siklus. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). akan tetapi juga mental. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. membentuk keluarga. baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. organisasi ataupun persahabatan. Setiap individu. psikologikal dan intelektual. pangan dan papan. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. seperti : sandang. Dalam hal ini. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . (4) kebutuhan prestise atau harga diri. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain.

Motif sekunder. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. minum. Approach-avoidance conflict. untuk keperluan studi psikologis. yaitu : 1. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. melarikan diri. 2. 3. Avoidance-avoidance conflict. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. (2) frekuensi kegiatan. motif-motif sosial (ingin diterima. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan.Berkaitan dengan motif individu. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Approach-approach conflict. Motif primer (basic motive dan emergency motive). setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. (4) ketabahan. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. menyerang. seperti : dorongan untuk makan. minat). motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. yaitu : (1) durasi kegiatan. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. dikehendaki serta bersifat positif. Dalam pandangan holistik. 2. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. manipulasi. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. konformitas dan sebagainya). seperti : takut yang dipelajari. menyelamatkan diri dan sejenisnya. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. (3) persistensi pada kegiatan. dikenal dengan istilah drive.

maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. terdapat dua kemungkinan. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. (6) rasionalisasi (mencari alasan). Dalam hal ini. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). (5) represi (menekan perasaan). inteligensi). diantaranya : (1) agresi marah. di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. (3) regresi (kemunduran perilaku). sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. Namun sebaliknya. Namun. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. (2) kecemasan tak berdaya.tertentu. jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. (4) fiksasi. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. . Untuk tujuan jangka pendeknya. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). Untuk lebih jelasnya.

. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Pada akhir semester. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. Bagi dirinya. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. Begitu juga. nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). dia berhasil meraih sebagai juara pertama. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. Selain itu. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses.Tujuan jangka menengah. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). dia memperoleh pengetahuan yang luas. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. sehingga selama kuliah. dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru.

baik berbentuk verbal maupun non verbal. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. nama. kejadian masa lalu. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan. teori.  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. tahun. daftar. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). peristiwa. konsep.Dalam konteks pendidikan. terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. definisi. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). Dia sering tidak masuk kuliah. sumber informasi. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. peristiwa. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). yakni : a. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. kebudayaan masyarakat tertentu. 1) Pengetahuan (knowledge). dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). Sambil menangis (regresi). atau kesimpulan. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. orang tempat. rumus.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . ide prosedur. Kawasan Kognitif. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. 3.

Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. Untuk bisa seperti itu. prinsip.  Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran.  Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. atau memproses sesuatu. bagan atau grafik. dan c) Ekstrapolasi. 5.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. peristiwa. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. pendapat atau perlakuan. fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. yaitu melihat kecenderungan. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal.  Mengetahui metodologi. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. kelompok. 7. informasi. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. yaitu ide. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. Misalnya. menemukan atau menyelesaikan masalah. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain.  Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. Mengetahui kelas. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. sehingga membentuk struktur kognitif baru. 11. 3. .

 Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. Bagi mereka. . Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. memanfaatkan. ingat kuda ingat transportasi. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. 4) Penguraian (analysis). Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis. yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa.  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif. dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama.  Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Dengan pemahaman demikian.  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan. menggunakan. b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. mengklasifikasikan.  Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.

b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. menciptakan logo organisasi. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru.  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. baik-buruk. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru.. meramu. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. . Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan.  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis.  Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal.  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda.

yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). dan sebagainya. membuat coretan atau gambar. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). atau mentaati peraturan lalu lintas. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. suara atau kata-kata tertentu saja. yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. kagum. Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. 4) Pengorganisasian (organization) .b. seperti perasaan. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. Misalnya pada desain atau warna saja. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. terpesona. Kagum atas keberanian seseorang. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). Contoh : mengajukan pertanyaan. b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. sikap. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. Kawasan Afektif. minat.

b) Pengorganisasian sistem nilai. Pada tahap karakterisasi. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. sistem itu selalu konsisten. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya. Kawasan Psikomotor. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. mempersiapkan alat. . yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. (c) membiasakan (habitual). menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. menyesuaikan diri dengan situasi. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. 5) Karakterisasi (characterization). c. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. yaitu : a) Generalisasi. (b) peniruan (imitation). Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. menjawab pertanyaan. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan ( set). yakni : a) Konseptualisasi nilai. dan seterusnya menurut urutan kepentingan. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. Proses ini terdiri atas dua tahap. b) Karakterisasi.

banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. serta wahana untuk pembebasan manusia. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. alat mengasah otak. 5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. yang terpola dan dapat ditebak. dan sebagainya. alat pelatihan keterampilan. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Sementara itu. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. kekuatan (strength). . menunduk. kelenturan (flexibility) dan kegesitan. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. 2) 3) 4) 5) 6) 4. Bagi kalangan behaviorisme. misalnya : melompat. serta media untuk meningkatkan keterampilan. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Sementara kalangan humanisme. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. berjalan. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda. tangkas.

O) P= person (pribadi. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. . menurut pandangan behaviorisme. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. Secara skematik. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu. Sedangkan dalam pandangan humanisme. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S.Yang menjadi persoalan. khususnya dalam pandangan behaviorisme. Walaupun demikian. minat. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. maupun psikomotor. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. bakat. terutama potensi intelektual. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya.Dengan demikian. termasuk lingkungan sekolah. afektif. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). Sementara itu. baik dalam aspek kognitif. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis.

W S S S O WS Ow R R O R R W W . 5. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. D. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. kecuali : a. c. Dengan demikian. mengobservasi perilaku di kelas. c. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. b. d. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. c. bahkan melakukan penelitian. d.motivasi. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. d. maka pada akhirnya. dan c benar 3. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. b. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. misalnya melalui: diskusi dengan teman. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2. dia mendapatkan pengetahuan. a. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. 4. b. b.

a. c. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. ketabahan. Approach. b dan c benar 11. a. analysis c. dan c benar 9. agresi b. durasi. d. Dapat menyimpulkan. b. b . a.6. evaluasi b. fiksasi d. frekuensi dan persistensi kegiatan. characterization by value or value complex d. a. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan. synthesis d. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Non-discursive communication c.avoidance conflict b. b. c. a. b. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. a. Kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan akan prestasi. dan c benar 8. regresi c. proyeksi 10. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. Kebutuhan akan rasa aman. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2. Kebutuhan akan aktualisasi diri. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. a. 7. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. Avoidance-avoidance conflict d. evaluation Uraian 1. application b. kecuali : a. menghubungkan. d. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. Approach-approach conflict c.

2. ukuran kecerdasan. dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan. T Setelah mempelajari Bab ini. Pokok Bahasan 1. B.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. kecakapan potensial. ciri-ciri keberbakatan. 3. Intisari Bacaan 1. Dari segi . kecerdasan (inteligensi). dalam Kecakapan dan C. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat.Dari segi kecepatan belajar. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. diharapkan Anda dapat : 1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. 4. aspek-aspek kepribadian. yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. Mendefinisikan kecakapan nyata. dan kepribadian 2.

kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi

kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan

kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur

seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. (2) kefasihan mengungkapkan kata. baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) . dan (8) kecakapan gerak. (7) berfikir logis.89 70 .20 % 0. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (6) kecepatan pengamatan.05 % Selain menggunakan instrumen standar. dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven. sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). Untuk mengukur bakat seseorang.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence).75 % 0.69 25 .75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test). SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya. (5) daya ingat. dapat menggunakan beberapa instrumen standar.49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 .79 50 . FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test). Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata. (3) pemahaman bilangan.25 % 0. Selain itu. (4) tilikan ruangan. rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya.

Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Berangkat dari studi yang dilakukannya. 8. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. 7. untuk kepentingan pengembangan diri. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. kreativitas dan komitmen terhadap tugas. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). 2. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Belajar dengan dan cepat. 9. Mampu berkonsentrasi. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. tergantung sudut pandang masing-masing. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. 11. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. yaitu: 1. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. 4. ketegangan emosional. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. . Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. 10.saja. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. 3. frustrasi dan konflik. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. 12. 6. 13. Mempunyai minat luas. 14. 5. Hall dan Gardner Lindzey. Allport (Calvin S. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. b.

c. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. hormon. teori Analitik dari Carl Gustav Jung. 2. Temperamen. yaitu disposisi reaktif seorang. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. teori Personologi dari Murray. Sosiabilitas. Watson. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan 3. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. teori Medan dari Kurt Lewin. teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. 6. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. 5. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Karakter. Responsibilitas (tanggung jawab). yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Dalam hal ini. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Sementara itu. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Horney dan Sullivan. f. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. sedih. 8. Hull. negatif atau ambivalen d. marah.tampang. teori Psikologi Individual dari Allport. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. cuci tangan. Seperti mudah tidaknya tersinggung. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. 7. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Kebiasaan berbohong 7. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. Bersikap kejam 5. 3. Mudah marah 2. Fromm. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. b. Hiperaktif . atau putus asa e. teori Stimulus-Respons dari Throndike. 4. teori Sosial Psikologis dari Adler. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realistik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawab Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ekstrovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Stabilitas emosi. Sikap.

Pesimis 15. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan. Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. Memiliki filsafat hidup 11. Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. Kendati demikian. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. Berbahagia 8. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. Herediter. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Penerimaan sosial 10. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. Oleh karena itu. Sulit tidur 11. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Sering mengalami pusing kepala 13. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya.9. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. 2. Kurang rasa tanggung jawab 12. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. pasangan faktor keturunan itu memisah. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. yaitu : a.

sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial . lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. termasuk didalamnya adalah belajar. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut.2. Oleh karena itu. b. Environment. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. 3. 5. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis.Misalnya. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. reproduksi. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. 4.

Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini. baik secara alloplastis maupun autoplastis. canggung pemalu dan lain-lain. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. b. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali. akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk . Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. Sesuatu yang diikuti individu. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman. Obyek penyesuaian diri bagi individu. Lingkungan memiliki peranan bagi individu. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. d. 2. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. c. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. sebagai : a.

religius. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. c. terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. a. sosial. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. otot. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya.E. Achievement b. Aptitude c. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis. Inteligensi d. seperti : kemampuan berfikir. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis. moral. kecepatan ketepatan. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. dan kepribadian.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. emosi. Kepribadian 2. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. Maturity. . syaraf dan kelenjar.

Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. kecuali : a. Berdasarkan hasil test kecerdasan. d. dan c benar terhadap rangsangan- 8. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). dan c benar 5. b dan c benar. b. d. b. (2) kemampuan mengingat (memory). 3. b. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat ( perceptual speed). siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. a. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. c. Merupakan teori inteligensi : a. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. d. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). d. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. d. mampu belajar/bekerja secara mandiri. b. b. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. b. (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). a. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. d. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a.c. 7. b. b. c. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). c. (5) kemampuan bilangan (numerical ability). Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a. kemampuan usia prestasi belajar a. Disposisi reaktif seorang. c. c. karakter . dan c benar 4.

mal-adjusment d. c. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. a. d. Asas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. b. alloplastis b. sikap dan stabilitas emosi 9. stabilitas emosi d. autoplastis c. a. temperamen c. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2.b. well-adjusment Uraian 1. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . Jelaskan bahwa faktor herediter.

BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. prinsip-prinsip perkembangan. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis. 4. B. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. 6. tugas perkembangan individu dan masa remaja. 5. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. diharapkan Anda dapat : 1. 2. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. . Intisari Bacaan 1. dan model pentahapan perkembangan individu. Pokok Bahasan 1. dan remaja. 2. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. 3. 4. 5. Mendefinisikan perkembangan. Pengertian Perkembangan. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. 3.

Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. meningkat dan meluas. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. d. Lebih jauh lagi. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dari egosentris ke perspektivisme. yaitu : a. Psikis. seperti : berat dan tinggi badan. e. Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). Dari konkret ke abstrak. Contoh : untuk dapat berdiri. 3. Dari outer control ke inner control. 2. b. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. Diferensiasi ke integrasi. 6. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. individu. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. 4. Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). f. Fisik. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. 5. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. c. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. Struktur mendahului fungsi. seperti : berbicara dan berfikir. Terjadinya perubahan dalam proporsi. . perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. paru dan sebagainya) ke samping (tangan). Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. 2. 2. b.

1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya. 2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. 1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Formal - operasional

0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

5. 6. 7. 8. 9.

Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

2. yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup. pantas dijunjung dan dipuja. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya. serta sikap sosial. Aspek. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada).00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. Amat realistik. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja.Aspek Perkembangan Individu a. 4. masa remaja. c. d. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. 6. 3. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. rasa ingin tahu dan ingin belajar 3. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5.00-25.6. setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. Masa Usia Kemahasiswaan (18. mereka membuat peraturan sendiri. dalam jasmani dan mental. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Perkembangan anatomis. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan. prestasi. indeks tinggi dan berat badan. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik. masa remaja awal. . masa remaja akhir.

ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. Laju perkembangan berjalan secara berirama. dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. pada usia sekolah menjadi lambat. lukisan gerak . membaca dan menggambar permulaan. mencatat. Jones dan Conrad (Loree. menyimpan. persyarafan. bicara monolog. mengkodifikasikan. . b. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. membuat kalimat sederhana. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks.kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan. Kemudian. haus nama-nama. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. Perkembangan fisiologis. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. manusia. Melalui bahasa. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif.2. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. baik dalam bentuk lisan. tulisan. seperti konstraksi otot-otot. konatif). dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). afektif. laju per. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. gambar. sekresi kelenjar dan pencernaan. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. peredaran darah dan pernafasan. d.1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi. c. dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements). Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik.gerik.

Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Artinya. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. Jadi. 2. sebagai berikut : 1. Artinya. Sebelum usia 18 bulan. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. benda apapun yang tidak ia lihat.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence). Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. insight learning dan kemampuan berbahasa. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif.dewasa) . didengar atau disentuh lagi. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. 4. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. tidak ia sentuh. Tahap formal-operasional (11 . namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. 3. Dalam rentang 18 . Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. anak belum mengenal object permanence.

baik yang menyangkut nilai. ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. . Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. al. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition). Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. Ia mencoba meniru. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. 3. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. Kecenderungan peranan (role disposition). ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. Akhirnya.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). Pada awalnya. yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. Krech et. kepercayaan terhadap individu lain. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. norma. Kapasitas menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. 2. e. b.

Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism . serba salah. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas.Sementara itu. 2. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 .4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. Dalam hal ini.

Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. 6. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan . baik secara individual maupun kolektif. 4. termasuk dirinya. kognitif. 5. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. dan konatifnya. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. Oleh karena itu. pada saat-saat tertentu. 1970). Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya.

Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit.h. merusak dengan mulut Mulut sendiri. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. memegang.2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. menunjukkan alat kelaminnya melihat. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin.

dan (3) pola sambutan. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons).3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. cahaya. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus). Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri.i. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. minum dari . 2. dalam arti duduk. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang j. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. doubt. suara asing. perlakuan asing dan sebagainya. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. bermain. tempat asing. Bridges (Loree. namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. sebagai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . berdiri. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. berjalan. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.

Mereka sudah mulai selektif. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. hambatan bahkan kegagalan. Sesuai dengan namanya masa dewasa. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Kalau pada masa sebelumnya. 6. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. 7. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. sehingga perkembangan individu sangat pesat. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. 3. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. 4. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. Pengetahuannya cukup luas. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. sehingga . tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. kecakapannya cukup banyak. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. 5. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. ciri-ciri yang khas dari dirinya. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak.

Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. 8. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. attitudes. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair k. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. eksplorasi karier. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. interest.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Zunker (Popon Sy. Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. Arifin. Selanjutnya.

(3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. while failure leads to unhappiness in the individual. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual. disaproval by society. work out put.…) 5. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. difficulty with later task. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik. . and eventual retirement. (25 – 44) (45 – 64) (65 . 2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan.d. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. dan (4) norma-norma agama. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. (2) tuntutan masyarakat secara kultural.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap.

dan orang lain. 7. b. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. 3. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 6. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. Memilih dan mempersiapkan karier. 9. 2. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 3. Belajar berbicara. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. 2. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.0) 1. Memulai hidup dengan pasangan. 2. 4. 4.a. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Memilih pasangan. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. 4. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. 5. . Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. 5. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati. saudara.0-21.0 – 15. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. 7. (0.0 bulan. 6. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. 10. 3. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. menulis dan berhitung. 8. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. 7. Mengembangkan kata hati. d. 9.0) Belajar berjalan pada usia 9. 3. 5. c. 8. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Belajar memakan makan padat.0) 1. Belajar hidup dengan pasangan. 8. 2. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. 6.0–6. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0-12. 9. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua.

yaitu : a. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. 6. 3. Mengelola rumah tangga. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. sosial dan ekonomi. Mempersiapkan diri. . Mengembangkan penguasaan ilmu. menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. teknologi. 5. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mengenal kemampuan bakat. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. 7. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. anggota masyarakat dan minat manusia. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. Sementara itu. 3. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. 7. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. 4. Memulai bekerja. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 8. Memelihara anak. 5. b. 2.4. 6. 8. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4.

3. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. 8. 2003). Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. Perkembangan Pada Masa Remaja a. intelektual dan ekonomi. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. 9. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. 1415 th).d. Oleh karena itu. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting.18-20 th). 5. 2. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. sosial. 4.d. 6. berbangsa dan bernegara. 7. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.5. Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1. b. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. G. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. bermasyarakat. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. dan (2) remaja akhir (14-16 th s.

14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. 1. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. estetik. Aktif dalam permainan.d. Gerak gerik mulai mantap. Laju perkembangan secara umum kembali menurun. emosi afektif dan kepribadian. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Remaja Akhir (14-16 Th. kognitif. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. bahasa. 2. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif.d. Perilaku Kognitif 1. Bahasa 1. kausalitas) yang bersifat abstrak. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. 2. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. ethis. religius. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa. sosial. Remaja Awal (11-13 Th s.14-15 Th) Fisik 1. psikomotor. 2. 2. 2.kali kurang seimbang.s. diferen-siasi. 2.d. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. sangat lambat. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik. Psikomotor 1.d. komparasi. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . konatif. meskipun relatif terbatas. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat. moralitas. berbagai jenis cabang 1. 3. 3. asing.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu).18-20 Th) 1. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. 2. keagamaan.

estetis.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. 1. Emosi. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. 2. dan religius). 4. 1. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetitik puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif. rasa aman. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). politis. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. 2. 4. 3. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. 2. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. 2. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai 3. 2. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. 2. Afektif dan Kepribadian 1. Perilaku Keagamaan 1. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. 3. 2. ekonomis. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. sosial. Mulai menemukan pegangan hidup 1. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. kasih sayang. 3. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. Perilaku Sosial 1. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. 1. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. 3. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Moralitas 1. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.

bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. baik secara fisik maupun psikis. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. dalam era globalisasi sekarang ini. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. terutama melalui pendidikan di sekolah. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . Tidak bisa dipungkiri. 2. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. c. si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. perkembangan fisik yang tidak proporsional. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. sosial. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. Begitu juga masa remaja. 3. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa. namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Begitu juga. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana. yang akan membentuk kepribadiannnya. moralitas dan keagamaan. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Namun ketika.

sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Hal ini disebabkan pada masa remaja. dan emosional. namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). peranan orang tua.dalam dirinya. Selain yang telah dipaparkan di atas. baik internal maupun eksternal. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. . Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. perilaku imitasi atau identifikasi. jika tidak terbimbing. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. terutama secara ekonomis. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. serta masyarakat sangat diharapkan. Dalam hal ini. Usaha pencarian identitas pun. D. termasuk dengan guru di sekolah. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. 4. sekolah.

Menurut Lovenger. bicara monolog. membuat kalimat sederhana. Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. b. Meraban. gemar bertanya. bahasa ekspresif. gemar bertanya. 8. Meraban. b. bicara monolog. Terjadinya perubahan dalam proporsi. c. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Meraban. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. b. c. b. b. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. a. d. c. c. d. a. b dan c benar 2. haus nama-nama. d. gemar bertanya. dan bahasa ekspresif. membuat kalimat sederhana. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. c. 6. Tahap Pra-Operasional . Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a. d. bicara monolog. kecuali : a. d. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th).. membuat kalimat sederhana. d. gemar bertanya. c. bahasa ekspresif. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. Meraban. haus nama-nama. Perkembangan bersifat progresif. b. yaitu : a. d. c. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. bicara monolog. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. bayi (0-2 th).a. haus nama-nama. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). a. haus nama-nama. bayi (0-2 th). kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). bahasa ekspresif. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan. Tahap Sensori-Motor b. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. 3. b.

Pre Conventional b. kebencian dan ketakutan. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. c. c. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). c. Conventional c. b. d. Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Non Conventional 11. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. sehingga enggan melaksanakan ritual. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. cahaya. 14. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a. Tahap Konkret-Operasional d. a. Post Conventional d. c. temperatur) c. b. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. 12. d. b. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. b. d. Penghayatan rohaniah yang skeptik. d. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. terjadi pada masa : a. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. terjadi pada tahap: a. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence. terjadi pada masa : a. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. d. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Tahap Formal-Operasional 9. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. 13.c. b. Growth Exploratory Establishment Maintenance . Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan.

estetis. 18. a. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. d. c. d. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. 20. c. c. Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. ekonomis. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. b. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. d.. dan religius). Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. b. kecuali : a. b. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). d. b. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. b. c. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). c. d. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. 19. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. sosial. . b. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. dan c benar 16. rasa aman.15. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. b. c. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. dan c benar. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. b. a. Gerak gerik mulai mantap. 17. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. kasih sayang. politis. a. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal.

Pokok Bahasan 1. 5. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. pendekatan . Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. peran dan kompetensi guru. C. diharapkan Anda dapat : 1. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. 4. 2. 4. Lantas. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : . 2. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Teori-Teori Pokok Belajar.pendekatan pembelajaran. Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. 3. Intisari Bacaan 1. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas.d. Hakekat Belajar. B. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. 3. Uraian 1. Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua. yang akan membentuk kepribadiannnya.

Dalam hal ini. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. . misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Misalnya.  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu). Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. maka pengetahuan. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. pengetahuan dan kecakapan”. Begitu juga. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”  Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. pengetahuan dan sikap baru”. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. sikap. sikap dan keterampilan berikutnya. pengetahuan. Moh. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu.  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga. Misalnya. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. kebiasaan. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. b. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. yaitu : a.

individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Misalnya. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.c. Misalnya. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. Perubahan yang bersifat positif. jangka menengah maupun jangka panjang. seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut. Perubahan yang fungsional. Perubahan yang bersifat aktif. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. g. e. f. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. baik tujuan jangka pendek. Perubahan yang bersifat pemanen. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru. d. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. Misalnya. . Misalnya. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Untuk memperoleh perilaku baru.

Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). Perubahan perilaku secara keseluruhan. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. Misalnya. maka kemampuannya akan meningkat. lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus ( PreLearning). Praktik. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”. tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Kemudian oleh . Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. dengan bertambah pengetahuan.h. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). Belajar merupakan suatu proses. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning). Begitu juga. sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. dengan bertambah pengetahuan. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience).

dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. dan sebagainya. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. c. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. mencicipi. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). b. konsep abstrak. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. meraba/menjamah. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu. mendengar. Misalnya. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar . individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. Informasi verbal. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata.-. dan mencium. misalnya: penggunaan simbol matematika. aturan dan hukum. definisi. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Akhirnya. yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. --khususnya motif berprestasi-. memahami konsep konkrit. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah. Dalam belajar. Selain itu. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). baik secara tertulis maupun tulisan. perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a. Kecakapan intelektual. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai. 2003). Begitu juga. Dalam konteks proses pembelajaran. Misalnya. Selain itu.menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. Strategi kognitif.

h. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. gembira. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. yaitu: (a) teori behaviorisme. e.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. b. perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. Berfikir asosiatif. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). didalamnya terdapat unsur pemikiran. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. Dengan kata lain. (b) teori belajar . (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) 2. Sedangkan menurut Bloom. c. yakni proses menerima. menafsirkan. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu). Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. was-was dan sebagainya. beserta tingkatan aspek-aspeknya. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. marah. benci. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. senang. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. e. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. afektif dan psikomotor. kecewa. Sikap.terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan motorik. d. Keterampilan. d. Kebiasaan. g. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. Moh. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. f. Sementara itu. sedih. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. Pengamatan. i. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. c. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. 2. dan (5) teori belajar gestalt. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1. b. b. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. maka hubungan Stimulus . Sebaliknya. Dengan kata lain.kognitif menurut Piaget. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. diantaranya : a. pendekatan behaviorisme ini. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. maka kekuatannya akan menurun. a. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.Respons.Respons akan semakin kuat. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. Law of Readiness. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. bakat. diantaranya: a. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). . Law of Effect. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. dan mengabaikan aspek – aspek mental. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Law of Exercise.

bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. 4. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. Reber (Muhibin Syah. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). (3) concrete operational dan (4) formal operational. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.F.3. Melalui pemberian reward dan punishment. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). b. Menurut Piaget. diantaranya : a.F. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. (2) pre operational. Operant Conditioning menurut B. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. b.

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. 3. d. (3) pemerolehan. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. 2. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. c. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.obyek fisik. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. potongan. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. 4. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. 5. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Di dalam kelas. (5) ingatan kembali. (2) pemahaman. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. (4) penyimpanan. (6) generalisasi. (1) motivasi. Menurut Koffka dan Kohler. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. .

Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). Contoh lain. yaitu: 1. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. mengikuti kuliah. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. 3. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Misalnya. Kesederhanaan (simplicity). sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. virgo. Pengalaman tilikan (insight). gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. 6. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. hendaknya peserta didik memiliki . gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. Dalam proses pembelajaran. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. Misalnya. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. berjalan. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. seperti : sagitarius. 5. 4. pisces. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”.2. Arah bersama (common direction). Kedekatan (proxmity). Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. 4. (lingkungan behavioral). Berlari. adanya penamaan kumpulan bintang. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada. 2. 3. Kesamaan (similarity).

Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. Oleh karena itu. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Oleh karena itu. memasak. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Pembelajaran. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Menurut pandangan Gestalt.2. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Misalnya. Oleh karena itu. menyeterikan baju. 5. 3. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Transfer dalam Belajar. Prinsip ruang hidup (life space). biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. 4. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat. 3. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. . yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain.

Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). . dalam proses interaksi dengan sasaran didik. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya. 4. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. termasuk discovery-inquiry. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. b.. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya. terdapat dua pendekatan pembelajaran. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). termasuk metode ceramah dan sejenisnya. merangsang. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. b. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. eksperimen. b. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas. menggerakkan. yang mencakup : a. d. Guru sebagai pelaksana (organizer). e. disengaja dan direncanakan. memimpin. c. yang harus dapat menciptakan situasi. observasi dan sejenisnya. serta Tuhan yang menciptakannya). dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. Secara garis besarnya. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. yaitu : a. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek.

dan g. b. diri pribadi (self oriented). menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement). Penterjemah kepada masyarakat. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. Pekerja sosial (social worker). atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). Di lain pihak. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). d. melakukan diagnosa. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. c. prognosa. menganalisa. Selanjutnya. c. Wakil masyarakat di sekolah. Pemimpin generasi muda. Pengambil inisiatif. Sedangkan dalam keluarga. Sementara itu di masyarakat. Lebih jauh. seorang guru berperan sebagai : a. dan agen masyarakat (social agent). yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). b. penemu masyarakat (social inovator). Di sekolah. pengelola pembelajaran. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. Pelajar dan ilmuwan. Seorang pakar dalam bidangnya. Moh. e. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. guru berperan sebagai perancang pembelajaran. guru berperan sebagai : a. . artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. Penegak disiplin. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. Pelaksana administrasi pendidikan.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). keluarga dan masyarakat. artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. f. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). penilai hasil pembelajaran peserta didik. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan. dan penilai pendidikan. pengarah. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. dan dari sudut pandang psikologis.

c. dan e. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. guru berperan sebagai : a. ia akan terpuruk secara profesional. Pakar psikologi pendidikan. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. Catalyc agent atau inovator. disiplin peserta didik di kelas. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. a. model keteladanan. dan e. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Sementara itu. pengelolaan sumber belajar. artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. b. Di masa depan. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. Untuk menghadapi . ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. Sejalan dengan tantangan kehidupan global. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. interaksi peserta didik dengan sesamanya. Orang tua. d. d. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. interaksi peserta didik dengan guru. orang tua maupun masyarakat. seperti : tata letak tempat duduk. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. dan lain-lain. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. Kalau hal ini terjadi. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). berkembang. Dari sudut pandang secara psikologis. Pembentuk kelompok (group builder). guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. lingkungan belajar.c. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. pengelolaan bahan belajar. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning).

yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. 5. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. pengembangan kurikulum/silabus. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. evaluasi hasil belajar. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. 2. 3. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. berakhlak mulia. b. 4. 7. 8. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. mantap. dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. Berkenaan dengan kompetensi guru. namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. berwibawa. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 2. stabil. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1. mengevaluasi kinerja sendiri. Disamping itu. sertifikasi dan remunerasi guru. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. perancangan pembelajaran. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 9. berkomunikasi lisan dan tulisan. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. arif dan bijaksana. dewasa. c. Artinya. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. 5. Begitu juga. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. 2. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. 6. 4. 3. 7.tantangan profesionalitas tersebut. kompetensi. 6. . pemahaman terhadap peserta didik.

yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. Dengan demikian. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. yaitu : a. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. pengarahan diri. Sementara itu. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. bergaul secara efektif dengan peserta didik. konsep. Kompetensi profesional. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . rasa tanggung jawab akan tugasnya. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. Kompetensi personal. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. Kompetensi profesional. struktur. baik dengan peserta didik. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. Kompetensi intelektual. Kompetensi kemasyarakatan. meliputi : Moh. c. Surya (1997) a. d. maupun masyarakat luas. 3. sesama pendidik.3. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. mampu berkomunikasi. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. dan 4. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. dan perwujudan diri. tenaga kependidikan. penerimaan diri. c. orangtua/wali peserta didik. dan 5. tut wuri handayani. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. ing madya mangun karsa. b. Kompetensi personal. 2. Kompetensi sosial. . b. 4. d. sesama guru.

yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. 2. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik. d. yaitu: a. Sebagai pembanding. 2. dan 4. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. 3. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. Kompetensi spiritual. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. 3. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. 3. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan. 3. 2. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. e. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting).e. 4. 2. Teachers are Members of Learning Communities: 1. 2. b. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. . Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. c.

6. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. 5. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan. 2. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. 3. Memiliki kemampuan interpersonal. 2. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. seperti: 1. seperti : 1. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. dan ketulusan. 2.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. dan 8. 5. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu . 7. b. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. suka menyela. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. 4. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. penghargaan kepada peserta didik. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. d. 3. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. yaitu mencakup : a. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. yaitu : 1. 4. 2. pelaksanaan. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). mengalihkan pembicaraan. c. antara lain: 1.

Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. Masalah Kelompok : 1. penetapan norma kelompok yang produktif). Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. b. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. 3. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). 5. b. karena alasan jenis kelamin. yaitu : a. 4. helplessness (peragaan ketidakmampuan). Dalam hal ini. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness.pembelajaran. genuiness. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya. 4.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. congruence). 3. suku. Carl A. 6. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik . menerima dan menghargai peserta didik sebagai . 7. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. Kelas kurang kohesif. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). dan sebagainya. Masalah Individual : 1. 2. yaitu : a. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. pemberian ganjaran. Behavior . sosio-emosional yang baik. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. 2. tingkatan sosial ekonomi.

dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. Schmuck & Patricia A. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). b. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. b dan c benar . bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. Sementara itu. Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. bertujuan dan terarah. Sedangkan Haim C. positif. g. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. prizing. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. (b) leadership. c. menganalisis dan menilai masalah. h. caring. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. Belajar merupakan usaha individu. dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.manusia (acceptance. d. kecuali : a. yaitu : (a) mutual expectations. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process. (c) norm. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. (c) attraction (pola persahabatan). mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. kontinyu. (d) cohesiveness D. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. f. a. guru berusaha untuk membicarakan situasi. c. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. Richard A. menyusun rencana pemecahannya. (d) communication. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. Perubahan yang bersifat intensional.

Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. d. b. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. Sebaliknya.3. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. memimpin. b. dan c benar. d. b. a. d. c. menggerakkan. b. merangsang. Dalam proses pembelajaran. d. a. b. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning 5. b. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. Dapat menciptakan situasi belajar. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. c. c. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. c. d.Respons. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. adalah : a. b. c. b. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. 7. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik. c. a. d. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6.

Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. 5. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. diharapkan Anda dapat : 1. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. 6. 5. d. proses konseling. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. orientasi baru. 3. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. B. a. Sebagai guru. 2. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. Mendefinisikan bimbingan dan konseling. d. . Pokok Bahasan 1. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. prinsip.c. siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. 2. asas. b. 4. bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. 3. 3. Uraian 1. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. b. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. Proses dan Teknik Konseling. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Mengidentifikasi fungsi. c. jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. prosedur umum bimbingan dan konseling. 4. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. merencanakan.

 I. menentukan. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat).  United States Office of Education (Arifin. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). 1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya.S. mengatur. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. kesehatan.  Jones et. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. misalnya problema kependidikan. Surya. Sedangkan menurut W.al. kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance). pilot. Djumhur dan Moh. Willis. bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. or steer (menunjukkan. sosial dan pribadi. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan).  Peters dan Shertzer (Sofyan S. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. Djumhur dan Moh. conducting (menuntun). Surya. regulating (mengatur). Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna.C. (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. giving instructions (memberikan petunjuk). jabatan. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I. manager. keluarga dan masyarakat. atau mengemudikan). 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. Intisari Bacaan 1. Dalam pelaksanaannya. leading (memimpin).

dalam bimbingan pribadi. yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. bimbingan belajar. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan. bimbingan sosial. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. Untuk kepentingan penulisan ini. dkk. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan. kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling.. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik.dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. Dari beberapa pendapat di atas. bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. baik keluarga. Dari pendapat Prayitno. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. meski secara formal istilah ini belum digunakan.  Tercapainya penyesuaian diri. sekolah dan masyarakat. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. dan merencanakan masa depan”. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. Padahal kenyataan di sekolah . mengenal lingkungan. berdasarkan norma-norma yang berlaku. dan bimbingan karier. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. dkk. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis.  Dalam Peraturan Pemerintah No.  Prayitno.

Dengan demikian. Humanistik-religius. yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. seperti peserta didik yang bolos. artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. S. yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. Mengingat keadaan seperti itu.jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. Pedagogis. . artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. 4.10%). Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. merazia. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Sofyan. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. terlambat SPP. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. tempat menangkap. guru bahkan kepala sekolah. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% . 3. berkelahi. Dengan adanya orientasi baru ini. kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. Profesional. menentang guru dan sebagainya. Potensial. bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan. Akibatnya. teoritis. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. c. 2. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. Selebihnya. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. bodoh. yaitu: . sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik.

Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. 2. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik. (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu. 4. ekonomi dan budaya. Pengentasan. 5. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. guru pembimbing.1. menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. jabatan/pekerjaan. jenis kelamin. d. Pemeliharaan dan pengembangan. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan. sekolah dan masyarakat sekitar. agama dan status sosial. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik. 3. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan. serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah. lingkungan yang lebih luas. Advokasi. dan keluarga peserta didik dan orang tua. (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. 2. sasaran layanan. jenis layanan dan kegiatan pendukung. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. informasi pendidikan. 3. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. suku. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. orang tua. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan. Pencegahan. menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. . Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. baik di rumah. Pemahaman. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial.

sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. 3. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Asas Kesukarelaan. e. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri. 2. Asas Keterbukaan. Dalam hal ini. Asas. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan. Asas Kerahasiaan (confidential). Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.4. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.

dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. harmonis dan terpadukan. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. adat istiadat. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . saling menunjang. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. Dalam hal ini. Asas Kedinamisan. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri. serta mewujudkan diri sendiri. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju. Asas Kegiatan. mampu mengambil keputusan. 10. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. hukum. 7.tidak berpura-pura. 4. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. Asas Kekinian. Asas Keterpaduan. peraturan. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. 5. Dalam hal ini. Asas Kenormatifan. tidak monoton. baik norma agama. Asas Keahlian. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. 6. 8. 9. Asas Kemandirian. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. Bahkan lebih jauh lagi. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. mengarahkan. ilmu pengetahuan. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.

dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. latihan. atau ahli lain. Demikian pula. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. dan memberikan rangsangan dan dorongan. sehingga pelayanan pengajaran. Menyediakan prasarana. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. dan dinamis. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. peran. Asas Tut Wuri Handayani. dan karier”. penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. mengembangkan keteladanan. c. sebaliknya guru pembimbing (konselor). serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. Dengan adanya kata “kewajiban”. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. 2. b. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. tenaga. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. 11. Asas Alih Tangan Kasus. guru-guru lain. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. . Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. harmonis. Secara garis besarnya. Peranan Kepala Sekolah. belajar. sebagai berikut : a. juga perlu melibatkan kepala sekolah . Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. 12. guru mata pelajaran dan wali kelas. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. sosial.

dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. d. h. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. ramah. Wali Kelas berperan : a. jujur dan asli. c. program pengayaan). mendorong. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing. memahami dan menghargai tanpa syarat. Sedangkan. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b. e. peran. seperti konferensi kasus. seperti konferensi kasus. g. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. konkret. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. e. Sofyan S. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. f. bersahabat. dan e. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling. Membantu mengembangkan suasana kelas. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling.d. c. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. kesempatan. . membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. b. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. Menyediakan fasilitas.

Untuk lebih jelasnya. 4. program latihan. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. kegiatan ko/ekstra kurikuler. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. kelompok belajar. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. dalam bidang pribadi. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Layanan Informasi. 3. pergaulan. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap . merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. a. Layanan Orientasi. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. magang. karier. sosial. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. 2. Layanan Penempatan dan Penyaluran. pendidikan lanjutan). Namun. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. Layanan Pembelajaran. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. jurusan/program studi. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.3. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari.

2. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. minat dan segenap potensi lainnya. yaitu : 1. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Aplikasi Instrumentasi Data. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. 6. Himpunan Data. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. 5. . baik tes maupun non tes. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. terpadu dan sifatnya tertutup. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. komprehensif. Layanan Konseling Kelompok. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. sistematik. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.bakat. b. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Layanan Konseling Perorangan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. Layanan Bimbingan Kelompok.

kemudahan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. 5. 4. yakni : 1. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Kunjungan Rumah. Call them approach. . seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Alih Tangan Kasus. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan.3. dokter serta ahli lainnya. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. 4. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Identifikasi kasus. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. keterangan. Konferensi Kasus. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan.

sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. nilai dan moral. Maintain good relationship. tes bakat. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. d. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. (8) hubungan muda-mudi. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. Prayitno dkk. W. 3. yaitu : (1) faktor internal. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. dan (10) waktu senggang. seperti : lingkungan rumah. bakat. (7) agama. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. 5. (2) struktural – fungsional. (6) pendidikan dan pelajaran. Melakukan analisis sosiometris. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. (3) hubungan sosial. c. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. emosi. seperti tes inteligensi. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. menciptakan hubungan yang baik.2. (3) behavioral. (2) diri pribadi. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. proses. dan (2) faktor eksternal. (5) karier dan pekerjaan. Prognosis. Identifikasi Masalah. 4. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. ataupun out put belajarnya. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik.H. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. kepribadian. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. Diagnosis. Developing a desire for counseling. bisa dilihat dari segi input. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. dan atau (4) personality. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. (4) ekonomi dan keuangan. kecerdasan. (9) keadaan dan hubungan keluarga.

Sementara itu. cara manapun yang ditempuh. untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. e. 2. 5. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. Namun. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . f. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. yaitu apabila: 1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). 2. dan 3.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. 3. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Evaluasi dan Follow Up. 7. 4. jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. .kasus yang dihadapi.

polisi. kecanduan alkohol dan narkotika. dokter. kesulitan belajar pada bidang tertentu. dengan perbuatan menyimpang. guru dan sebagainya. peserta didik hamil. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor). b. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. percobaan bunuh diri. mencuri kelas sedang. seperti : membolos. minum minuman keras tahap awal. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. ahli/profesional. bertengkar. Dalam hal ini. Dalam prakteknya. c. seperti : gangguan emosional. Oleh karena itu. melakukan gangguan sosial dan asusila. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. pelaku kriminalitas. berpacaran. berkelahi antar sekolah. Masalah (kasus) sedang. mencuri kelas ringan. 6. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Masalah (kasus) berat.5. berkelahi dengan teman sekolah. minum minuman keras tahap pertengahan. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. seperti : gangguan emosional berat. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. berpacaran. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. karena gangguan di keluarga. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor). Masalah (kasus) ringan. malas. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. Sofyan S. polisi. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. kesulitan belajar.

dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. 3. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Kontrak tugas. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. keterbukaan. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. (2) tahap inti (tahap kerja). proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.konseling. diantaranya : a. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. 1. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. c. 2. diantaranya : a. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. b. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. . yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. a. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. dan kegiatan. Kontrak kerjasama dalam proses konseling. d. Kontrak waktu. berisi : 1. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. kesukarelaan. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. 2. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. terutama asas kerahasiaan. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. Proses Konseling Secara umum. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan.

Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Hal ini bisa terjadi jika : 1. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. b. c. baik oleh pihak konselor maupun klien. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). 3. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. 2. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. d. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. c. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. d. b. yaitu . Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. 1.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. b. sehat dan dinamis. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. diantaranya : . a. Untuk lebih jelasnya. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. yaitu : a. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. c. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan.

pikiran dan keinginan klien.a. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. Terdapat dua macam empati. perhatian terarah pada lawan bicara. tidak melihat saat klien sedang bicara. Contoh perilaku attending yang baik : 1. Ekspresi wajah : tenang. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. b. bahasa tubuh. menggunakan tangan sebagai isyarat. 5. jarak duduk dengan klien menjauh. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. 3. ekspresi melamun. mudah buyar oleh gangguan luar. bersandar. dan bahasa lisan. Kepala : kaku 2. Contoh ungkapan empati primer : . Perhatian : terpecah. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. mata melotot. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Posisi tubuh : tegak kaku. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Muka : kaku. senyum 3. Empati primer. mengalihkan pandangan. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. 2. Memutuskan pembicaraan. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. Meningkatkan harga diri klien. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Menciptakan suasana yang aman 3. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. 4. ceria. 5. yaitu : a. duduk kurang akrab dan berpaling. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. menunggu ucapan klien hingga selesai. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Perilaku attending yang baik dapat : 1. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. miring. 4.

dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.. . dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi pengalaman. yaitu : 1....” ” Hal itu rupanya seperti . Empati tingkat tinggi.” 2. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. Terdapat tiga jenis refleksi. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. ” Saya mengerti keinginan Anda”.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ... Refleksi pikiran. yaitu teknik untuk memantulkan ide. b. pikiran. pengalaman termasuk penderitaannya....” ” Adakah yang Anda maksudkan... yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan...” 3. c. Refleksi perasaan. pikiran. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. pikiran. berupa perasaan.. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan..” ” Barangkali Anda merasa.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah.

mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana.. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam... Eksplorasi pengalaman. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. pikiran. Eksplorasi pikiran.. Eksplorasi perasaan.. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. pikiran. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. Seperti halnya pada teknik refleksi..” d. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. dan pendapat klien. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. dan pengalaman klien.. menutup diri. Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. yaitu : 1.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. tertekan dan terancam. yaitu teknik untuk menggali ide.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa..Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. biasanya ditandai ..

Contoh dialog : Klien Konselor f. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. (3) memberi arah wawancara konseling. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. dapatkah. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Oleh karenanya. bagaimana. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question).dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” Konselor Klien Konselor . : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. adakah. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. dan mengamati respons klien terhadap konselor. lebih baik gunakan kata tanya apakah. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g.

lalu. . Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.....” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.. ya... perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori.” Konselor i. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa.dan. Karena tantangan masa depan makin banyak.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu.. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.... Terutama hidup di kota besar seperti Anda.. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Konselor j. Membantu orang tua memang harus.. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga..... dan saya nyaris. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien..Klien : ” Sebelas ” h.. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya... bukan pandangan subyektif konselor.Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. terus.

Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.” l. Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Oleh karena itu. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. kedua. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Misalnya dengan mengatakan : . klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Saya tak dapat lagi menahan diri. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. kita sudah sampai pada dua hal: pertama.” Konselor k. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu.

posisi tubuh gelisah). Fokus pada topik. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. senyum dengan kepedihan. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Contoh : ” Roni. ide awal dengan ide berikutnya. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. (2) meningkatkan potensi klien.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”.” n. 4. konflik. Contoh : ” Tanti.” . Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. Fokus pada diri klien. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. telah membuat kamu menderita. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. wajah murung. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. diantaranya : 1. Fokus mengenai budaya. atau kontradiksi dalam dirinya. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. (suara rendah. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. dan sebagainya. Fokus pada orang lain. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan.

komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. ibu.. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”.. paling lama 5 – 10 detik.. (2) agar klien menjelaskan. kurang jelas dan agak meragukan.. tidak tahu. Saya...” q.. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”. dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. ungkapan kata-kata yang tegas... dan dengan alasan-alasan yang logis.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. ucapan dengan o.” (diam) Konselor r.” Konselor p.” (diam) Konselor Klien :” Saya. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas.Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.... (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.. atau saudara-saudara Anda...harus bagaimana.. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan.... Mengambil Inisiatif .. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.. pikiran. :”.... Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending.. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu... (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit...

dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. u. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat.com di internet”. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Contoh : ” Nah. Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Coba Anda renungkan kembali”. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action).upi. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Contoh: ” Baiklah. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. (2) memantapkan rencana klien. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. dan kurang parisipatif. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. (3) pemahaman baru . jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. s. terutama mengenai kecemasan. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Walaupun demikian. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. sering diam. Kalau pun konselor mengetahuinya.” t. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar.

dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling. 2. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Dalam hal ini konselor . Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. c. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. b. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. yaitu : a. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Rational Emotive Theraphy. d. seperti pendekatan Behaviorisme.klien. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. kesulitan menyatakan tidak. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor.

“Saya malas. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. 4. misalnya : 1. e. Bermain Proyeksi Proyeksi : . Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. 5. 2. f. Melalui dialog yang kontradiktif ini. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. model fisik. g. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan.. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “.. dapat menggunakan model audio. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Misalnya : “Saya merasa jenuh. 3.

 Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Home work assigments. Sering terjadi. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. i. Dengan tugas rumah yang diberikan. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. membiasakan diri. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek . Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. j. h. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan.

Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. Latihan : Soal : 1. l. c. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. bimbingan sosial. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. dan merencanakan masa depan. mendorong. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. . keluarga dan masyarakat. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. m. k. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. dalam bimbingan pribadi.kognisinya yang keliru. d. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. kecuali : a. mengenal lingkungan. b. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. D. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. dan bimbingan karier. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. bimbingan belajar. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.

c. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. 2. d. dan c benar 8. d. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. agama dan status sosial. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. berdasarkan norma-norma yang berlaku. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. . keterbukaan. a. Oleh karena itu. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. c. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. keahlian kegiatan. d. keterpaduan kenormatifan. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. c. c. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. kerahasiaan. d. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. b.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. a. b. kekinian. sukarela. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. a. b. jenis kelamin. suku. tut wuri handayani a. 4. alih tangan kasus. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. d. kedinamisan. c. kemandirian. b. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. a. b. c. a. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. d. b. b. b. 6. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya.

14. a. c. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). b. d. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a. b. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. d. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan. a. dan c benar penegakan 9.” b. d. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. dapat dilakukan oleh : a. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. d. c. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. c. kecuali a. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. c.c. a. b. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Permainan dialog . seperti bolos. b. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. c. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. a. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. ”Anda mengatakan baik-baik saja. b. c. d. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah. berkelahi dengan teman. a. b. b dan c benar 11. d. Imitasi b. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih.

c. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. dia suka nongkrong di terminal. dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Selama bulan Februari 2006. Bahkan Andi. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Bermain peran d. prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan. bahwa jika dia tidak masuk kelas. Ketika dia masih duduk dibangku SD. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Home work assigments Uraian 1. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya.Kabupaten Nun Jauh Disana. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. Melihat kondisi demikian. tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP. tanpa alasan yang jelas. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. Sementara itu. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. kawan sekelasnya.

Bandung : P.Bandung : P. (Accessed. Panduan Pembelajaran KBK. Publishing. Hall & Gardner Lidzey (editor A. 2003..P. Gendler. Prayitno. 1997. Bandung : P. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin. 2004. . Remaja Rosdakarya. Kamus Lengkap Psikologi. Psikologi Belajar. 2004. Depdiknas.html>. dkk. National Board for Professional Teaching Standards. Jakarta : Depdiknas. Developmental Phsychology. Arifin. SMP dan SMA . Five Core Propositions. PT Golden Terayon Press.1992. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kartini Kartono). Remaja Rosdakarya. Psikologi Pendidikan.T. Surya. Hurlock. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Konsep.org/ standards/fivecore. 31 Oct 2002). Jakarta : PT Raja Grafindo. Calvin S.M.nbpts. New York : McMillan H. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. 2002 . Jakarta : Dirjen Dikdasmen. Learning & Instruction. ---------. Muhibbin Syah. Theory Into Practice.T. (terj. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Remaja Rosdakarya. E. 1980. NBPTS Home Page. Mulyasa. Elizabeth B. 2003. <http://www. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Margaret E.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 2005. 2003. J. dkk. Raja Grafindo Persada. 2004. Jakarta : Rineka Cipta.2003.Karakteristik dan Implementasi. 2005. Nana Syaodih Sukmadinata. Dasar Standarisasi Profesi Konseling.2005. ----------.T. 2004. Implementasi Kurikulum 2004. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD. Jakarta : P. 2003. Bandung PPB .T.IKIP Bandung. Supratiknya). Jakarta.

2002.go. 1984. Psikologi Kepribadian. 2003.(2005. Yogyakarta : Adi Cita. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Teori dan Praktek..puskur. Willis. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. 2000. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. Sunaryo Kartadinata. Syamsu Yusuf LN.id. www.2003. .Sofyan S. Bandung : Lab.Konseling Individual. Jakarta : Rajawali. Inventori Tugas Perkembangan. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). 2004.