POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU

A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :

 Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.  Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

(f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru. a. agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. baik untuk kepentingan pembelajaran. 2. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. (h) menilai hasil pembelajaran. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. dengan memahami psikologi pendidikan. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. yang saling bertolak belakang. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. Oleh karena itu itu. yakni kompetensi pedagogik. seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran. dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan.--terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya--. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. pengelolaan kelas. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. . pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). Selain itu. Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Dalam hal ini.

dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. -- . Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. R = Respons (perilaku. Ruangan kelas yang gelap. waktu sore hari. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).

Sebenarnya. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). how (bagaimana). meminta ijin ke dosen. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. b. Menggerakkan kaki menuju ke depan. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. yakni perilakunya itu sendiri. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). motif. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. berjalan ke depan. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). dan why (mengapa). Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). Secara skematik rangkaian. mengucapkan minta izin kepada dosen. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku.

tidak dalam arti fisik. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. pangan dan papan.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan.2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. organisasi ataupun persahabatan. yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). membentuk keluarga. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Setiap individu. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. (2) kebutuhan keamanan. (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. sehingga membentuk suatu siklus. seperti : sandang. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. psikologikal dan intelektual. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). Dalam hal ini. akan tetapi juga mental. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation).

adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. (2) frekuensi kegiatan. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. dikehendaki serta bersifat positif. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. Avoidance-avoidance conflict. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. (3) persistensi pada kegiatan. minum. yaitu : 1. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. untuk keperluan studi psikologis. 3. Approach-approach conflict. minat). Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. konformitas dan sebagainya). manipulasi. motif-motif sosial (ingin diterima. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. dikenal dengan istilah drive. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. Approach-avoidance conflict. melarikan diri. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. Dalam pandangan holistik. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. menyelamatkan diri dan sejenisnya. seperti : takut yang dipelajari. Motif sekunder. 2. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. seperti : dorongan untuk makan. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. 2. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. (4) ketabahan. menyerang. setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan.Berkaitan dengan motif individu. Motif primer (basic motive dan emergency motive). yaitu : (1) durasi kegiatan.

inteligensi). bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). Namun. (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. . Dalam hal ini. Untuk lebih jelasnya. Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). (2) kecemasan tak berdaya. Namun sebaliknya. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. (4) fiksasi. terdapat dua kemungkinan. Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). (5) represi (menekan perasaan). Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). diantaranya : (1) agresi marah. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). (3) regresi (kemunduran perilaku).tertentu. Untuk tujuan jangka pendeknya. di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). (6) rasionalisasi (mencari alasan). sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).

para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. Bagi dirinya. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Pada akhir semester. sehingga selama kuliah.Tujuan jangka menengah. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. Begitu juga. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Selain itu. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. dia memperoleh pengetahuan yang luas. nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). . bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis).

b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. Kawasan Kognitif. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). Sambil menangis (regresi). Dia sering tidak masuk kuliah. termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). 1) Pengetahuan (knowledge). dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. teori. peristiwa. 3. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. sumber informasi. rumus. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). kebudayaan masyarakat tertentu. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. atau kesimpulan. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. daftar. nama.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . orang tempat.  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. tahun. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan. peristiwa. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. ide prosedur. konsep. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. definisi. kejadian masa lalu. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. baik berbentuk verbal maupun non verbal. yakni : a.Dalam konteks pendidikan.

 Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur. fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. atau memproses sesuatu. pendapat atau perlakuan. Mengetahui kelas. Untuk bisa seperti itu. yaitu melihat kecenderungan. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. 3. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. 11. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. yaitu ide. . informasi. Misalnya. kelompok. dan c) Ekstrapolasi. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. arah atau kelanjutan dari suatu temuan.  Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. sehingga membentuk struktur kognitif baru. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain.  Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. bagan atau grafik.  Mengetahui metodologi. peristiwa. prinsip. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. menemukan atau menyelesaikan masalah. 5. 7.

 Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Contoh. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan. b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). Dengan pemahaman demikian.  Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. menggunakan. mengklasifikasikan.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. 4) Penguraian (analysis). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis. Bagi mereka.  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya.  Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. . dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika.  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. memanfaatkan. ingat kuda ingat transportasi.

. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. meramu. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati.  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. baik-buruk.  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis.  Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen.  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. . Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. menciptakan logo organisasi. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya.

dan sebagainya. Contoh : mengajukan pertanyaan. misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. terpesona. memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. sikap. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. Kawasan Afektif. yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. Misalnya pada desain atau warna saja. suara atau kata-kata tertentu saja. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). kagum. membuat coretan atau gambar. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. minat. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. seperti perasaan. atau mentaati peraturan lalu lintas. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kagum atas keberanian seseorang. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna.b. 4) Pengorganisasian (organization) . yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive).

Kawasan Psikomotor. b) Pengorganisasian sistem nilai. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. (b) peniruan (imitation). Pada tahap karakterisasi. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. sistem itu selalu konsisten. . sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. 5) Karakterisasi (characterization). (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya. menyesuaikan diri dengan situasi. yakni : a) Konseptualisasi nilai. dan seterusnya menurut urutan kepentingan. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. yaitu : a) Generalisasi. b) Karakterisasi. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. Proses ini terdiri atas dua tahap. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. (c) membiasakan (habitual). 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. menjawab pertanyaan. mempersiapkan alat. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan ( set). Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. c.

pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). serta wahana untuk pembebasan manusia. Sementara kalangan humanisme. Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. 5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. Bagi kalangan behaviorisme. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. 2) 3) 4) 5) 6) 4. kelenturan (flexibility) dan kegesitan. banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. menunduk. dan sebagainya. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar. alat mengasah otak. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. Sementara itu. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. berjalan. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. yang terpola dan dapat ditebak. . baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). tangkas. alat pelatihan keterampilan. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. serta media untuk meningkatkan keterampilan. misalnya : melompat. kekuatan (strength).

pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. menurut pandangan behaviorisme. Secara skematik. bakat. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi.Yang menjadi persoalan. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). maupun psikomotor. terutama potensi intelektual. khususnya dalam pandangan behaviorisme. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. Sedangkan dalam pandangan humanisme.O) P= person (pribadi. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. minat.Dengan demikian. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. afektif. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. Sementara itu. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu. Walaupun demikian. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). . Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). baik dalam aspek kognitif. hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. termasuk lingkungan sekolah. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya.

Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. d. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. 5. d. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. c. c. bahkan melakukan penelitian. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . dan c benar 3. Dengan demikian. a. c. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. mengobservasi perilaku di kelas. d. maka pada akhirnya. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a. kecuali : a. W S S S O WS Ow R R O R R W W . Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat.motivasi. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. misalnya melalui: diskusi dengan teman. dia mendapatkan pengetahuan. b. b. D. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. 4. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. b. b.

agresi b. b . b. a. proyeksi 10.6. Kebutuhan akan rasa aman. application b. Approach-approach conflict c. a. Non-discursive communication c. Kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan akan prestasi. Avoidance-avoidance conflict d. Dapat menyimpulkan. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . dan c benar 8. evaluation Uraian 1.avoidance conflict b. a. Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2. Approach. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. frekuensi dan persistensi kegiatan. synthesis d. characterization by value or value complex d. menghubungkan. a. kecuali : a. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. 7. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. d. c. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. evaluasi b. a. b. ketabahan. fiksasi d. b dan c benar 11. Kebutuhan akan harga diri. dan c benar 9. c. a. b. durasi. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. analysis c. d. a. regresi c.

diharapkan Anda dapat : 1. kecerdasan (inteligensi). 2. 4. kecakapan potensial. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. ciri-ciri keberbakatan. Pokok Bahasan 1. aspek-aspek kepribadian. 3. Mendefinisikan kecakapan nyata. dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. B. dan kepribadian 2. Intisari Bacaan 1. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. ukuran kecerdasan.Dari segi kecepatan belajar. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. dalam Kecakapan dan C. Dari segi .BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. T Setelah mempelajari Bab ini. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian.

kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi

kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan

kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur

(4) tilikan ruangan. baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) . Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. dan (8) kecakapan gerak. (2) kefasihan mengungkapkan kata.79 50 . FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test).75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0.49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. (5) daya ingat. melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya. diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test).69 25 .75 % 0. (3) pemahaman bilangan. sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). (6) kecepatan pengamatan. seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata. rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya.20 % 0. (7) berfikir logis. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 . ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.25 % 0. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. Selain itu. dapat menggunakan beberapa instrumen standar. Untuk mengukur bakat seseorang.05 % Selain menggunakan instrumen standar.89 70 . SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian.

4. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. tergantung sudut pandang masing-masing. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. 10. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). untuk kepentingan pengembangan diri. 13. frustrasi dan konflik. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. b. Mempunyai minat luas. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. yaitu: 1. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. 8. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. Berangkat dari studi yang dilakukannya. 6. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Mampu berkonsentrasi. 7. Allport (Calvin S. 2. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).saja. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. ketegangan emosional. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. kreativitas dan komitmen terhadap tugas. . 9. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). 5. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. 3. 12. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Hall dan Gardner Lindzey. 11. Belajar dengan dan cepat. 14.

Horney dan Sullivan. c. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Kebiasaan berbohong 7. marah. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. 7. Sementara itu. 4. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal.tampang. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Hiperaktif . teori Stimulus-Respons dari Throndike. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. 8. Sosiabilitas. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Fromm. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. 2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan 3. teori Medan dari Kurt Lewin. Mudah marah 2. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. 3. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realistik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawab Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ekstrovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. teori Analitik dari Carl Gustav Jung. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. teori Sosial Psikologis dari Adler. b. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. Watson. atau putus asa e. 5. Karakter. Stabilitas emosi. Dalam hal ini. teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. hormon. Bersikap kejam 5. Responsibilitas (tanggung jawab). f. sedih. Hull. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. yaitu disposisi reaktif seorang. cuci tangan. negatif atau ambivalen d. Temperamen. 6. Sikap. teori Psikologi Individual dari Allport. teori Personologi dari Murray. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian.

Penerimaan sosial 10. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. Berbahagia 8. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. Sering mengalami pusing kepala 13. Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Kurang rasa tanggung jawab 12. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. Sulit tidur 11. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. Oleh karena itu. Herediter. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. 2. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. pasangan faktor keturunan itu memisah. Kendati demikian. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Memiliki filsafat hidup 11. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin.9. Senang mengkritik/ mencemooh 10. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). yaitu : a. Pesimis 15.

Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial . orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. 4. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. reproduksi. b. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. Environment. Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. 3. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. termasuk didalamnya adalah belajar. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya.Misalnya. 5. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya.2. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Oleh karena itu. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja.

karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. d. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan memiliki peranan bagi individu. Dalam hal ini. sebagai : a. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. canggung pemalu dan lain-lain. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk . b. Obyek penyesuaian diri bagi individu. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. c. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. baik secara alloplastis maupun autoplastis. 2. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya.

Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. sosial. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. dan kepribadian.E. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. emosi. . religius. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. kecepatan ketepatan. Inteligensi d. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. moral. Kepribadian 2. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. seperti : kemampuan berfikir. a. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. c. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. otot. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. syaraf dan kelenjar. Maturity. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya. Achievement b. Aptitude c.

siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat ( perceptual speed). 7.c. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. d. d. b. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. a. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. c. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). dan c benar terhadap rangsangan- 8. d. d. b dan c benar. b. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). c. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). Berdasarkan hasil test kecerdasan. b. b. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. a. b. Merupakan teori inteligensi : a. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. mampu belajar/bekerja secara mandiri. d. (2) kemampuan mengingat (memory). Disposisi reaktif seorang. dan c benar 5. b. (5) kemampuan bilangan (numerical ability). atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. c. 3. kemampuan usia prestasi belajar a. c. b. karakter . c. b. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. dan c benar 4. (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). d. kecuali : a. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a.

Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. sikap dan stabilitas emosi 9. stabilitas emosi d. well-adjusment Uraian 1. c. autoplastis c. a. Asas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . mal-adjusment d. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. Jelaskan bahwa faktor herediter. a. d. alloplastis b. b. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. temperamen c. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2.b.

Intisari Bacaan 1. 2. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. dan remaja. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. dan model pentahapan perkembangan individu. 6. 5. 2. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan. Mendefinisikan perkembangan. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. prinsip-prinsip perkembangan. Pokok Bahasan 1. tugas perkembangan individu dan masa remaja. 3. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis. 3.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. . Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C. 5. diharapkan Anda dapat : 1. Pengertian Perkembangan. B. 4. 4.

Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. seperti : berbicara dan berfikir. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. b. Contoh : untuk dapat berdiri. Diferensiasi ke integrasi. 4. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. f. meningkat dan meluas. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. 2. Dari outer control ke inner control. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. e. Psikis. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). paru dan sebagainya) ke samping (tangan). b. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. d. 5. 3. Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar).Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. individu. c. Lebih jauh lagi. 6. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. Fisik. Dari konkret ke abstrak. Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. Dari egosentris ke perspektivisme. . yaitu : a. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. 2. Struktur mendahului fungsi. seperti : berat dan tinggi badan. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. 2. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki.

1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya. 2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. 1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Formal - operasional

0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

5. 6. 7. 8. 9.

Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

indeks tinggi dan berat badan. . pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup. masa remaja. c. mereka membuat peraturan sendiri. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. Amat realistik. 4.Aspek Perkembangan Individu a. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada). setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. pantas dijunjung dan dipuja. 2. prestasi. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. masa remaja awal. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. Masa Usia Kemahasiswaan (18. 6. 3.00-25. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. rasa ingin tahu dan ingin belajar 3. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. dalam jasmani dan mental. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Perkembangan anatomis. d. Aspek. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya.6. masa remaja akhir. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik. serta sikap sosial. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.

Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. afektif. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. membaca dan menggambar permulaan. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). manusia. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. c. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. laju per. persyarafan. . dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. pada usia sekolah menjadi lambat. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. bicara monolog. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. lukisan gerak . pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria.kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. gambar. seperti konstraksi otot-otot. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. sekresi kelenjar dan pencernaan.2. b. mengkodifikasikan. baik dalam bentuk lisan. konatif). dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. Laju perkembangan berjalan secara berirama. Kemudian. tulisan. d. Melalui bahasa. peredaran darah dan pernafasan. dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements).1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. mencatat. membuat kalimat sederhana. haus nama-nama. Jones dan Conrad (Loree. Perkembangan fisiologis.gerik. menyimpan. Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi.

Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. didengar atau disentuh lagi. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. benda apapun yang tidak ia lihat. Jadi. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence). Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. sebagai berikut : 1. Artinya. Dalam rentang 18 . 3. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Artinya. 4. tidak ia sentuh.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. Tahap formal-operasional (11 . anak belum mengenal object permanence. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. 2. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. Sebelum usia 18 bulan.dewasa) . walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat. insight learning dan kemampuan berbahasa.

ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. Pada awalnya. Akhirnya. ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. baik yang menyangkut nilai. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. Krech et. 3. Kecenderungan peranan (role disposition). dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). Kapasitas menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. e.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. al. kepercayaan terhadap individu lain. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. . Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. b. norma. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Ia mencoba meniru. ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. 2. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition).

Sementara itu. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. Dalam hal ini. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. serba salah. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu. 2. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism .4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun.

Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan . kognitif. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. 4.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. Oleh karena itu. pada saat-saat tertentu. termasuk dirinya. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. 5. baik secara individual maupun kolektif. dan konatifnya. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. 1970). 6.

menunjukkan alat kelaminnya melihat. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B.h. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit.2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual. memegang. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. merusak dengan mulut Mulut sendiri. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya.

berjalan. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). sebagai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu.i. minum dari . 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang j. 2. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi. bermain. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. doubt. dalam arti duduk. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. tempat asing. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. suara asing. Bridges (Loree. tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. dan (3) pola sambutan. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah).3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. berdiri. perlakuan asing dan sebagainya. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons). cahaya. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus).

dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. Sesuai dengan namanya masa dewasa. 7. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Kalau pada masa sebelumnya. ciri-ciri yang khas dari dirinya. tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. 3. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. 6. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. kecakapannya cukup banyak.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. 4. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. 5. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. Pengetahuannya cukup luas. Mereka sudah mulai selektif. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. sehingga . dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. hambatan bahkan kegagalan. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar.

tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. eksplorasi karier. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. Zunker (Popon Sy. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame. Arifin. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Selanjutnya. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair k. interest. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. attitudes. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. 8. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu.

(25 – 44) (45 – 64) (65 .…) 5. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. disaproval by society. dan (4) norma-norma agama. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. 2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan.d. and eventual retirement.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. while failure leads to unhappiness in the individual. difficulty with later task. work out put. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. . Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya.

0) 1. d. 9. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. 7.0 – 15. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. 5. Belajar berbicara. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. 5. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 2. 8. Memulai hidup dengan pasangan. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. 3. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. dan orang lain.0) Belajar berjalan pada usia 9. 8. 7. Belajar memakan makan padat. 9. 8. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. 4. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. 2. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. 3. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. 2. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. . Mengembangkan kata hati. 6.0) 1. 10. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. b.0-12. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 4. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1.0-21. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 2. 9. 6.0–6. 3.a. Memilih pasangan. 6. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua. Memilih dan mempersiapkan karier. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. saudara. 4. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. 5. 7. menulis dan berhitung. Belajar hidup dengan pasangan. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. 3.0 bulan. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. (0. c.

menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. 3. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. 5. Menemukan suatu kelompok yang serasi. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. b. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengembangkan penguasaan ilmu. Sementara itu. Memelihara anak. sosial dan ekonomi. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. 2. Mengelola rumah tangga. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. . Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. Mengenal kemampuan bakat. Memulai bekerja. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. teknologi.4. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. yaitu : a. Mempersiapkan diri. 7. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. 5. 6. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 8. 8. 3. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. 4. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. 6. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. anggota masyarakat dan minat manusia. 7.

Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . intelektual dan ekonomi. berbangsa dan bernegara. 5.5. 8. b. 6. bermasyarakat. 9. Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Perkembangan Pada Masa Remaja a. 4. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin.d.18-20 th). 3. 2003). Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). 2. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. sosial. 1415 th). Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. G. Oleh karena itu. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional.d. 7.

fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. moralitas. 1. emosi afektif dan kepribadian.14-15 Th) Fisik 1. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. 2.kali kurang seimbang. komparasi.d. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat.d. psikomotor. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. meskipun relatif terbatas. bahasa. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. berbagai jenis cabang 1. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa. 2.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Perilaku Kognitif 1. Aktif dalam permainan. 2. 2. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu).18-20 Th) 1. 3. Laju perkembangan secara umum kembali menurun. asing. Bahasa 1. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. 2. Psikomotor 1. Remaja Awal (11-13 Th s. Gerak gerik mulai mantap.d. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. 2. 3. estetik. sangat lambat.s.d. diferen-siasi. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. religius. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . 2. sosial. konatif. ethis. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif. Remaja Akhir (14-16 Th. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja. kognitif. kausalitas) yang bersifat abstrak. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik. keagamaan.

Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. 3. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. 3. 1. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetitik puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. 2. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. ekonomis. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. Moralitas 1. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. Mulai menemukan pegangan hidup 1. 2. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. 2. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. rasa aman. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. 2. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. Perilaku Sosial 1. estetis. 1. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. kasih sayang. sosial. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. politis. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Afektif dan Kepribadian 1. 2. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . 3. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. 2. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Emosi. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. 1. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai 3. 4. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. 4. 3. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. dan religius). 2. Perilaku Keagamaan 1.

Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. Begitu juga. baik secara fisik maupun psikis. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. Tidak bisa dipungkiri. si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. perkembangan fisik yang tidak proporsional. Begitu juga masa remaja. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. 2. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Namun ketika. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. moralitas dan keagamaan. c. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. dalam era globalisasi sekarang ini. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. yang akan membentuk kepribadiannnya. sosial. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . terutama melalui pendidikan di sekolah. 3. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.

Hal ini disebabkan pada masa remaja. baik internal maupun eksternal. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. Dalam hal ini. Usaha pencarian identitas pun. . peranan orang tua. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba. serta masyarakat sangat diharapkan. D. sekolah. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. termasuk dengan guru di sekolah. jika tidak terbimbing. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. terutama secara ekonomis. perilaku imitasi atau identifikasi. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. dan emosional. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. 4.dalam dirinya. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Selain yang telah dipaparkan di atas. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion.

b. bicara monolog. bayi (0-2 th). Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. yaitu : a. haus nama-nama. kecuali : a. d. 6. Meraban. Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. gemar bertanya. bicara monolog. bicara monolog. Meraban. d. c. c. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. haus nama-nama. bicara monolog. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. d. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. bahasa ekspresif. c. b. c. 8. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a. a. d. d. Tahap Pra-Operasional . c. Menurut Lovenger. d. gemar bertanya. Meraban. haus nama-nama.. a. bahasa ekspresif. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). d. Tahap Sensori-Motor b. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). Meraban. b. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th). 3. b dan c benar 2.a. membuat kalimat sederhana. haus nama-nama. membuat kalimat sederhana. b. membuat kalimat sederhana. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan. c. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. b. c. b. Perkembangan bersifat progresif. dan bahasa ekspresif. bayi (0-2 th). gemar bertanya. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. a. gemar bertanya. b. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. bahasa ekspresif. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA.

d. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a. b. d. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. Post Conventional d. Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. terjadi pada masa : a. terjadi pada masa : a. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. a. Conventional c. c. c. d. Growth Exploratory Establishment Maintenance . Tahap Formal-Operasional 9. b. 13. Pre Conventional b. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. d. terjadi pada tahap: a.c. d. Penghayatan rohaniah yang skeptik. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). b. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. c. b. b. c. temperatur) c. sehingga enggan melaksanakan ritual. 12. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. cahaya. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. kebencian dan ketakutan. Non Conventional 11. 14. Tahap Konkret-Operasional d.

Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. kasih sayang.. kecuali : a. c. 18. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Gerak gerik mulai mantap. sosial. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. a. c. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. d. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. d. politis. b. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. b. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. a. rasa aman. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. d. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. estetis. c. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. . 17. 19. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. dan c benar. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. d. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. b. b. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. dan religius). b. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. d.15. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. c. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. c. 20. b. b. b. ekonomis. c. dan c benar 16. a.

Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. Uraian 1. Hakekat Belajar. diharapkan Anda dapat : 1. Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua. 3. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. pendekatan . Pokok Bahasan 1. peran dan kompetensi guru. 5. yang akan membentuk kepribadiannnya. 3. Intisari Bacaan 1. C. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : . Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. Lantas. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. 4. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Teori-Teori Pokok Belajar. 2.pendekatan pembelajaran. 4. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. 2.d. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. B. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar.

 Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”  Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. Dalam hal ini. b. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. Misalnya. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga. pengetahuan. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. kebiasaan. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. sikap dan keterampilan berikutnya. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu). yaitu : a. Misalnya. misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Begitu juga. . Moh. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. sikap. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. pengetahuan dan sikap baru”. seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan.  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. pengetahuan dan kecakapan”. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. maka pengetahuan.

Perubahan yang fungsional. Misalnya. e. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. baik tujuan jangka pendek. Untuk memperoleh perilaku baru. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Misalnya. jangka menengah maupun jangka panjang. Perubahan yang bersifat positif. . maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya. seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. Perubahan yang bersifat pemanen. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. d. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru. g. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A.c. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. Perubahan yang bersifat aktif. Misalnya. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut. seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. f. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

h. Kemudian oleh . lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus ( PreLearning). dengan bertambah pengetahuan. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. Misalnya. maka kemampuannya akan meningkat. Praktik. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning). Belajar merupakan suatu proses. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. Begitu juga. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. dengan bertambah pengetahuan. Perubahan perilaku secara keseluruhan. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”.

yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. 2003). misalnya: penggunaan simbol matematika. Misalnya.-. memahami konsep konkrit. dan mencium. dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. mencicipi. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar . dan sebagainya. meraba/menjamah. c. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. Informasi verbal. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu. b. definisi.menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. Akhirnya. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). Begitu juga. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). Dalam konteks proses pembelajaran. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. mendengar. Selain itu. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Kecakapan intelektual. aturan dan hukum. dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. --khususnya motif berprestasi-. Misalnya. perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). baik secara tertulis maupun tulisan. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. Strategi kognitif. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. Dalam belajar. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. Selain itu. konsep abstrak. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas.

(b) teori belajar . menafsirkan. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. Pengamatan. d. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu). Sedangkan menurut Bloom. Kebiasaan. d.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. sedih. g. Sementara itu. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) 2. Moh. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Berfikir asosiatif. yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. benci. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. didalamnya terdapat unsur pemikiran. b. yaitu: (a) teori behaviorisme.terjadi aktivitas yang efektif. i. e. kecewa. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. beserta tingkatan aspek-aspeknya. senang. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. Dengan kata lain. Kecakapan motorik. Sikap. e. c. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). marah. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. was-was dan sebagainya. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. h. yakni proses menerima. gembira. Keterampilan. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. f. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. afektif dan psikomotor. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Law of Effect. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. diantaranya: a. c. Law of Readiness. dan (5) teori belajar gestalt. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. diantaranya : a. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. 2. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne.kognitif menurut Piaget. dan mengabaikan aspek – aspek mental. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). b. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dengan kata lain. Law of Exercise. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. b. bakat. Sebaliknya. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit).Respons. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. maka hubungan Stimulus . maka kekuatannya akan menurun. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu.Respons akan semakin kuat. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. a. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. . behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1. pendekatan behaviorisme ini. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer.

Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Melalui pemberian reward dan punishment. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). Reber (Muhibin Syah. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). b. Operant Conditioning menurut B. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. diantaranya : a. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat.F. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. (2) pre operational. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. b. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Menurut Piaget.F. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). 4.3. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. (3) concrete operational dan (4) formal operational.

Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. 2. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. (1) motivasi. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. (4) penyimpanan. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). (3) pemerolehan. potongan. d. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Menurut Koffka dan Kohler. c. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. (6) generalisasi. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. Di dalam kelas. .obyek fisik. (2) pemahaman. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. 3. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. 4. 5. (5) ingatan kembali.

pisces. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. 3. 5. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. adanya penamaan kumpulan bintang. gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Pengalaman tilikan (insight). bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Dalam proses pembelajaran. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Kedekatan (proxmity). Arah bersama (common direction). 4. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). 2. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. yaitu: 1. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. 6. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. 4. hendaknya peserta didik memiliki . virgo. Contoh lain. Misalnya. Misalnya. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. Kesederhanaan (simplicity). mengikuti kuliah. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. Kesamaan (similarity). bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. 3. (lingkungan behavioral).2. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. seperti : sagitarius. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Berlari. berjalan. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada.

bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. Oleh karena itu. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Misalnya. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Pembelajaran. . tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). 5. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. 4. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Oleh karena itu. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. 3. Menurut pandangan Gestalt. Prinsip ruang hidup (life space). 3. bahwa perilaku terarah pada tujuan. menyeterikan baju. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu. Transfer dalam Belajar.2. memasak.

4. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. observasi dan sejenisnya. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Guru sebagai pelaksana (organizer). dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. yaitu : a. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. merangsang. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. yang harus dapat menciptakan situasi. c. eksperimen. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. memimpin. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. d. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama.. kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. termasuk discovery-inquiry. terdapat dua pendekatan pembelajaran. termasuk metode ceramah dan sejenisnya. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. yang mencakup : a. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya. Secara garis besarnya. baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. menggerakkan. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. disengaja dan direncanakan. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya. . organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. serta Tuhan yang menciptakannya). Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. b. e. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). b. b.

Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. penilai hasil pembelajaran peserta didik. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). Wakil masyarakat di sekolah. dan agen masyarakat (social agent). Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan. d. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. melakukan diagnosa. seorang guru berperan sebagai : a. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). pengelola pembelajaran. b. Pemimpin generasi muda. prognosa. c. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Di lain pihak. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). guru berperan sebagai perancang pembelajaran. Pelaksana administrasi pendidikan. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Pekerja sosial (social worker). dan kalau masih dalam batas kewenangannya. b. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. dan dari sudut pandang psikologis. keluarga dan masyarakat. penemu masyarakat (social inovator). artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. Moh. dan g. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan penilai pendidikan. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. guru berperan sebagai : a. Di sekolah. artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. Sementara itu di masyarakat. . Lebih jauh. atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. pengarah.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). diri pribadi (self oriented). Sedangkan dalam keluarga. Penterjemah kepada masyarakat. Penegak disiplin. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. c. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. f. e. Seorang pakar dalam bidangnya. Selanjutnya. menganalisa. Pelajar dan ilmuwan. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Pengambil inisiatif. menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement).

artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. ia akan terpuruk secara profesional. Di masa depan. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. orang tua maupun masyarakat. berkembang. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. b. seperti : tata letak tempat duduk. Orang tua. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. dan e. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. d. Sejalan dengan tantangan kehidupan global. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Catalyc agent atau inovator. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. Dari sudut pandang secara psikologis. model keteladanan. interaksi peserta didik dengan guru. Kalau hal ini terjadi. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. c. Pakar psikologi pendidikan. a. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat.c. Pembentuk kelompok (group builder). pengelolaan sumber belajar. guru berperan sebagai : a. interaksi peserta didik dengan sesamanya. dan lain-lain. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. Untuk menghadapi . lingkungan belajar. pengelolaan bahan belajar. d. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). Sementara itu. dan e. disiplin peserta didik di kelas. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker).

namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. sertifikasi dan remunerasi guru. 3. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 2. Disamping itu. evaluasi hasil belajar. 4. 7. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. kompetensi. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. pengembangan kurikulum/silabus. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1.tantangan profesionalitas tersebut. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. berwibawa. 6. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 9. 2. dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 5. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. stabil. 2. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. mantap. Begitu juga. 8. . dewasa. 7. arif dan bijaksana. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. pemahaman terhadap peserta didik. 3. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. Berkenaan dengan kompetensi guru. b. 4. perancangan pembelajaran. 5. berkomunikasi lisan dan tulisan. Artinya. berakhlak mulia. mengevaluasi kinerja sendiri. c. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. 6.

c. Kompetensi kemasyarakatan. rasa tanggung jawab akan tugasnya. 3. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. mampu berkomunikasi. Kompetensi profesional. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. penerimaan diri. baik dengan peserta didik. dan perwujudan diri. yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. sesama guru. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. tenaga kependidikan. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. sesama pendidik. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. d. b. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. orangtua/wali peserta didik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. d. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . Kompetensi intelektual. Kompetensi personal. dan 4. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. Sementara itu. c.3. yaitu : a. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. struktur. dan 5. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. maupun masyarakat luas. ing madya mangun karsa. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. pengarahan diri. Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. Kompetensi profesional. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. Kompetensi sosial. 4. bergaul secara efektif dengan peserta didik. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. tut wuri handayani. . bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. konsep. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. Surya (1997) a. meliputi : Moh. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. 2. b. Dengan demikian. Kompetensi personal.

Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. 3. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. 2. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik. Sebagai pembanding. 4. Kompetensi spiritual. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. 3. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1.e. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting). dan 4. 2. 3. 2. d. 3. Teachers are Members of Learning Communities: 1. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. b. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. 2. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. yaitu: a. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. 2. . c. e.

Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. 3. b. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. seperti: 1. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). 5. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. Memiliki kemampuan interpersonal.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. 7. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. antara lain: 1. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. 5. 2. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. seperti : 1. d. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. pelaksanaan. 2. 2. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. 2. penghargaan kepada peserta didik. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. c. 4. yaitu mencakup : a. dan ketulusan. 6. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu . 3. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. mengalihkan pembicaraan. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. 4. dan 8. suka menyela. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan. yaitu : 1. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri.

Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). 7. 4. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). genuiness. 3. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. helplessness (peragaan ketidakmampuan). 2. dan sebagainya. pemberian ganjaran. congruence). tingkatan sosial ekonomi. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. sosio-emosional yang baik. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. 5. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). 3. penetapan norma kelompok yang produktif). b. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. yaitu : a. karena alasan jenis kelamin. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness. 2. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas.pembelajaran.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. suku. yaitu : a. Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya. Behavior . “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Dalam hal ini. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik . Kelas kurang kohesif. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. 6. Masalah Individual : 1. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. 4. Carl A. b.guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. Masalah Kelompok : 1.

Belajar merupakan usaha individu. Schmuck & Patricia A. dari tidak tahu menjadi tahu. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). kecuali : a. c. g. prizing. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. (c) attraction (pola persahabatan). serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. b dan c benar . bertujuan dan terarah. dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. yaitu : (a) mutual expectations. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. c. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. positif.manusia (acceptance. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. Sedangkan Haim C. d. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. menyusun rencana pemecahannya. h. (d) cohesiveness D. a. caring. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2. b. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. (c) norm. menganalisis dan menilai masalah. memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. (b) leadership. Perubahan yang bersifat intensional. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process. Sementara itu. guru berusaha untuk membicarakan situasi. f. Richard A. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. kontinyu. bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. (d) communication. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat.

d. c. c. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning 5. c. dan c benar. b. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. d. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik. d. b. adalah : a. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6. a. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.Respons. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. Dalam proses pembelajaran. c. Sebaliknya. d. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. b. d. b. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. b. b. a. Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . memimpin.3. d. 7. a. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. merangsang. Dapat menciptakan situasi belajar. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. menggerakkan. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. c. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. c. b. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. b.

c. b. 4. Mendefinisikan bimbingan dan konseling. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. d. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. prinsip. b. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. merencanakan. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. 2.c. prosedur umum bimbingan dan konseling. Mengidentifikasi fungsi. jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. Uraian 1. 5. d. 3. Proses dan Teknik Konseling. Sebagai guru. 4. orientasi baru. . Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. proses konseling. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. 2. a. 6. 5. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. B. diharapkan Anda dapat : 1. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. Pokok Bahasan 1. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. 3. 3. asas. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a.

1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah.C. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. mengatur. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . manager. Intisari Bacaan 1. or steer (menunjukkan. misalnya problema kependidikan. governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat). Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. Surya.  I. kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance). Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan).  Jones et. keluarga dan masyarakat. (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.al. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini. 1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. jabatan. atau mengemudikan). dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya. regulating (mengatur). conducting (menuntun).  United States Office of Education (Arifin. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding).  Peters dan Shertzer (Sofyan S. leading (memimpin). bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Djumhur dan Moh. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. sosial dan pribadi. Sedangkan menurut W. giving instructions (memberikan petunjuk). Surya. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities. Djumhur dan Moh.S. Willis. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. menentukan. pilot. kesehatan. Dalam pelaksanaannya. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I.

Untuk kepentingan penulisan ini.  Prayitno. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. dan merencanakan masa depan”. bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. dkk. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan. sekolah dan masyarakat. Dari pendapat Prayitno. dan bimbingan karier. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal.  Tercapainya penyesuaian diri. b. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Dari beberapa pendapat di atas. Padahal kenyataan di sekolah .. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. dkk. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. dalam bimbingan pribadi. baik keluarga. kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling.dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. bimbingan sosial. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional.  Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). meski secara formal istilah ini belum digunakan. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun. bimbingan belajar. mengenal lingkungan. yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. berdasarkan norma-norma yang berlaku. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik.

berkelahi. merazia. artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. tempat menangkap. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. Dengan demikian. menentang guru dan sebagainya. bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik. Profesional. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% . yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. 2. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja. kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. .10%). guru bahkan kepala sekolah. 3. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. Pedagogis. Potensial. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. c. Selebihnya. artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. terlambat SPP. Dengan adanya orientasi baru ini. Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. Akibatnya. dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. S. yaitu: . Humanistik-religius. yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. Mengingat keadaan seperti itu. Sofyan. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. seperti peserta didik yang bolos. sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. teoritis. bodoh. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan.jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. 4.

dan keluarga peserta didik dan orang tua. sasaran layanan. (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan. 2. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. jabatan/pekerjaan. Pemahaman. d. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu. . menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. 2. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah. informasi pendidikan. jenis kelamin. sekolah dan masyarakat sekitar. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Advokasi. serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. suku. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. jenis layanan dan kegiatan pendukung. 4. orang tua. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. 5. 3. 3. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik. (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu. Pencegahan. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial. lingkungan yang lebih luas. (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. agama dan status sosial. Pemeliharaan dan pengembangan. menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. guru pembimbing. baik di rumah. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling.1. ekonomi dan budaya. Pengentasan.

Asas. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. 3. e.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. Asas Kesukarelaan. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Dalam hal ini. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. Asas Keterbukaan. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain.4. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. Asas Kerahasiaan (confidential). Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). 2. yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali.

Asas Keterpaduan. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju. adat istiadat. mampu mengambil keputusan. Asas Kedinamisan. peraturan. Bahkan lebih jauh lagi. mengarahkan. 7. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. 4. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . ilmu pengetahuan. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. 9. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. baik norma agama. Asas Kenormatifan. yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. serta mewujudkan diri sendiri. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang.tidak berpura-pura. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri. Asas Kekinian. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. Dalam hal ini. 6. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. Asas Kegiatan. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. tidak monoton. hukum. saling menunjang. harmonis dan terpadukan. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Dalam hal ini. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. 8. Asas Kemandirian. Asas Keahlian. 10. 5. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya.

sebaliknya guru pembimbing (konselor). Secara garis besarnya. Menyediakan prasarana. penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. guru-guru lain. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. b. 11. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. peran. Demikian pula. belajar. mengembangkan keteladanan. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. harmonis. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. dan karier”. Peranan Kepala Sekolah. dan memberikan rangsangan dan dorongan. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. sosial. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. c. atau ahli lain. Dengan adanya kata “kewajiban”. tenaga. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. 12. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. latihan. guru mata pelajaran dan wali kelas. dan dinamis. Asas Tut Wuri Handayani. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. sebagai berikut : a. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. 2.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. Asas Alih Tangan Kasus. . penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. juga perlu melibatkan kepala sekolah . sehingga pelayanan pengajaran.

Menyediakan fasilitas. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. seperti konferensi kasus. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. memahami dan menghargai tanpa syarat. c. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b.d. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. . ramah. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. b. bersahabat. e. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. Sofyan S. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. g. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. c. konkret. e. f. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Membantu mengembangkan suasana kelas. dan e. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. seperti konferensi kasus. Sedangkan. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa. program pengayaan). tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya. d. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. h. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling. Wali Kelas berperan : a. mendorong. jujur dan asli. peran. kesempatan.

karier. kelompok belajar. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. dalam bidang pribadi. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. 4. pendidikan lanjutan). Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. 3. magang. Layanan Orientasi. Untuk lebih jelasnya. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. sosial. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. kegiatan ko/ekstra kurikuler. jurusan/program studi. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Layanan Pembelajaran. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap . Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. pergaulan. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. Namun. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan Informasi. program latihan. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. a. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional.3. 2.

dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Layanan Konseling Kelompok. Aplikasi Instrumentasi Data. . dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. 2. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik.bakat. Himpunan Data. yaitu : 1. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. Layanan Konseling Perorangan. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. 5. Layanan Bimbingan Kelompok. b. baik tes maupun non tes. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. sistematik. komprehensif. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. terpadu dan sifatnya tertutup. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. 6. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan.

. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a. 5. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. 4. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. kemudahan. yakni : 1. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Identifikasi kasus. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. 4. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. keterangan. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Kunjungan Rumah.3. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. Konferensi Kasus. Call them approach. dokter serta ahli lainnya. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. Alih Tangan Kasus.

dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. dan atau (4) personality. Prognosis. (5) karier dan pekerjaan. bakat. (8) hubungan muda-mudi. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. W. bisa dilihat dari segi input. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. 5. Maintain good relationship. Prayitno dkk. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya.2. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. emosi. 3. (7) agama. d. kecerdasan. c. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. Diagnosis. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. ataupun out put belajarnya. nilai dan moral. (9) keadaan dan hubungan keluarga. 4. Melakukan analisis sosiometris. (4) ekonomi dan keuangan. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. yaitu : (1) faktor internal. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.H. (2) struktural – fungsional. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. Developing a desire for counseling. Identifikasi Masalah. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. dan (2) faktor eksternal. (6) pendidikan dan pelajaran. proses. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. (3) hubungan sosial. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. seperti : lingkungan rumah. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. tes bakat. kepribadian. seperti tes inteligensi. (3) behavioral. (2) diri pribadi. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. dan (10) waktu senggang. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. menciptakan hubungan yang baik.

jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. yaitu apabila: 1. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Evaluasi dan Follow Up. untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. 7. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . 2. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. f. 5. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). cara manapun yang ditempuh. e. 3. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Sementara itu. 4. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.kasus yang dihadapi. dan 3. 2. . Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. Namun.

memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. minum minuman keras tahap awal. malas. Masalah (kasus) sedang. Oleh karena itu. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. ahli/profesional. dokter. berpacaran. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor). bertengkar.5. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Masalah (kasus) ringan. polisi. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. mencuri kelas sedang. Masalah (kasus) berat. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Dalam prakteknya. seperti : gangguan emosional berat. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. melakukan gangguan sosial dan asusila. kesulitan belajar. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. mencuri kelas ringan. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . Sofyan S. 6. peserta didik hamil. seperti : gangguan emosional. seperti : membolos. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. guru dan sebagainya. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. percobaan bunuh diri. dengan perbuatan menyimpang. pelaku kriminalitas. b. polisi. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. kesulitan belajar pada bidang tertentu. berkelahi dengan teman sekolah. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. karena gangguan di keluarga. kecanduan alkohol dan narkotika. c. Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor). Dalam hal ini. berpacaran. minum minuman keras tahap pertengahan. berkelahi antar sekolah.

2.konseling. kesukarelaan. diantaranya : a. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. 3. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. (2) tahap inti (tahap kerja). dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Kontrak kerjasama dalam proses konseling. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. Kontrak tugas. diantaranya : a. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. berisi : 1. b. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. keterbukaan. dan kegiatan. Proses Konseling Secara umum. terutama asas kerahasiaan. Kontrak waktu. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. 1. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). 2. d. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. a. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. . c.

b. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. c. c. Untuk lebih jelasnya. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. d. b. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). yaitu : a. sehat dan dinamis. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. c. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. b. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. a. diantaranya : . 1. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. d. 3. baik oleh pihak konselor maupun klien. Hal ini bisa terjadi jika : 1. 2. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). yaitu . Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor.

Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. Perilaku attending yang baik dapat : 1. menggunakan tangan sebagai isyarat. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. 3. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. 4. 5. ekspresi melamun. menunggu ucapan klien hingga selesai. bahasa tubuh. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. yaitu : a. mengalihkan pandangan. Contoh perilaku attending yang baik : 1. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. Ekspresi wajah : tenang. ceria. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. 5. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. Meningkatkan harga diri klien. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. jarak duduk dengan klien menjauh. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. duduk kurang akrab dan berpaling. b. perhatian terarah pada lawan bicara. mata melotot. pikiran dan keinginan klien. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. miring. 4. Perhatian : terpecah. tidak melihat saat klien sedang bicara. Posisi tubuh : tegak kaku. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. senyum 3. 2. mudah buyar oleh gangguan luar. Kepala : kaku 2.a. bersandar. Contoh ungkapan empati primer : . Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. dan bahasa lisan. Muka : kaku. Empati primer. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. Menciptakan suasana yang aman 3. Terdapat dua macam empati. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Memutuskan pembicaraan.

Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. Refleksi pengalaman..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah..(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam..” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.. pikiran.. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”..” 2. berupa perasaan. .. b. ” Saya mengerti keinginan Anda”. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah .” ” Adakah yang Anda maksudkan. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut.. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.” 3. yaitu teknik untuk memantulkan ide. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. pikiran.” ” Hal itu rupanya seperti .. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu : 1. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. pengalaman termasuk penderitaannya. Refleksi pikiran.. Refleksi perasaan.” ” Barangkali Anda merasa. pikiran... Terdapat tiga jenis refleksi.. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan... dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. c.. Empati tingkat tinggi.

. pikiran. tertekan dan terancam. biasanya ditandai . Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan.. dan pendapat klien. pikiran. menutup diri..” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin.” d.. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . Seperti halnya pada teknik refleksi.. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e.. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. dan pengalaman klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Eksplorasi perasaan.. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Eksplorasi pengalaman.. yaitu : 1. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi.. Eksplorasi pikiran. yaitu teknik untuk menggali ide.

Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Contoh dialog : Klien Konselor f. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. lebih baik gunakan kata tanya apakah. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” Konselor Klien Konselor . (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . dapatkah. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Oleh karenanya. : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. adakah. (3) memberi arah wawancara konseling.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). dan mengamati respons klien terhadap konselor. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. bagaimana. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu.

karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.” Konselor i. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa.. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.. lalu. dan saya nyaris. Membantu orang tua memang harus... perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori.dan.. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu.. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.... . Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.. Karena tantangan masa depan makin banyak. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.. Konselor j. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.....” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu. terus. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. bukan pandangan subyektif konselor... ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya.. Terutama hidup di kota besar seperti Anda..Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. ya...Klien : ” Sebelas ” h.” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.

tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Oleh karena itu. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Misalnya dengan mengatakan : . Pada umumnya dalam wawancara konseling. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. kedua. Saya tak dapat lagi menahan diri. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.” l. (3) meningkatkan kualitas diskusi. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab.” Konselor k. Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita.

atau kontradiksi dalam dirinya. telah membuat kamu menderita. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. 4. posisi tubuh gelisah). Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. senyum dengan kepedihan. Fokus mengenai budaya.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. dan sebagainya.” . (suara rendah.” n. Contoh : ” Tanti. diantaranya : 1. Contoh : ” Roni. ide awal dengan ide berikutnya. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. wajah murung.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Fokus pada orang lain. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Fokus pada topik. (2) meningkatkan potensi klien. Fokus pada diri klien. konflik. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita.

. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya..” Konselor p.. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya... ibu.. kurang jelas dan agak meragukan.. tidak tahu.. dan dengan alasan-alasan yang logis...” (diam) Konselor Klien :” Saya.. atau saudara-saudara Anda... Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”.. :”... Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah... (2) agar klien menjelaskan. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan.. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar... dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.” (diam) Konselor r. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.. paling lama 5 – 10 detik. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”.. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung.. Mengambil Inisiatif . pikiran..... ungkapan kata-kata yang tegas. ucapan dengan o..Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.harus bagaimana..” q.. Saya.

Coba Anda renungkan kembali”. u. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia.upi. (2) memantapkan rencana klien. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Walaupun demikian. Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. dan kurang parisipatif.com di internet”. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.” t. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. terutama mengenai kecemasan. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Contoh : ” Nah. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Contoh: ” Baiklah. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. (3) pemahaman baru . saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. sering diam. s. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. Kalau pun konselor mengetahuinya.

Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. d. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. yaitu : a. Rational Emotive Theraphy. Dalam hal ini konselor . Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling.klien. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling. seperti pendekatan Behaviorisme. c. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. b. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. kesulitan menyatakan tidak. 2. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan.

dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. 3.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. 2. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. misalnya : 1.. Melalui dialog yang kontradiktif ini. model fisik. 4.. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Misalnya : “Saya merasa jenuh. “Saya malas. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. e. g. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. dapat menggunakan model audio. f. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. 5.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Bermain Proyeksi Proyeksi : .

 Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Sering terjadi. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. membiasakan diri. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek . Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. j. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. i. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Dengan tugas rumah yang diberikan. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Home work assigments. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. h.

mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. m. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. kecuali : a. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. dalam bimbingan pribadi. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. d. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. bimbingan belajar. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. . dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. c. D. mendorong. bimbingan sosial. dan bimbingan karier.kognisinya yang keliru. dan merencanakan masa depan. l. mengenal lingkungan. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. k. Latihan : Soal : 1. keluarga dan masyarakat. b.

dan c benar 8. agama dan status sosial. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. b. tut wuri handayani a. b. a. a. c. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. . Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. d. Oleh karena itu.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. keterpaduan kenormatifan. b. b. alih tangan kasus. d. kekinian. sukarela. jenis kelamin. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. a. d. d. c. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. d. 2. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. b. b. kedinamisan. suku. kerahasiaan. b. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. berdasarkan norma-norma yang berlaku. c. c. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. b. a. keahlian kegiatan. c. a. kemandirian. c. keterbukaan. 4. d. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. 6.

d. berkelahi dengan teman. Memperjelas dan mendefinisikan masalah.c. b. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. a. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. a. b. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. b dan c benar 11. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih. d. d. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). c. d. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. d. Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. b. a. Permainan dialog . Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. dapat dilakukan oleh : a. c. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.” b. c. ”Anda mengatakan baik-baik saja. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. c. seperti bolos. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. b. c. c. kecuali a. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. 14. a. b. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a. Imitasi b. dan c benar penegakan 9. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. d. b. a. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12.

Ketika dia masih duduk dibangku SD. pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3. dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian. Bahkan Andi. Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. bahwa jika dia tidak masuk kelas. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se.c. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan. Home work assigments Uraian 1. kawan sekelasnya. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. tanpa alasan yang jelas. Melihat kondisi demikian. dia suka nongkrong di terminal.Kabupaten Nun Jauh Disana. Sementara itu. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . Selama bulan Februari 2006. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. Bermain peran d. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya.

Hall & Gardner Lidzey (editor A. Konsep. 2003.org/ standards/fivecore. 2004.T. 2004. Raja Grafindo Persada. dkk.Bandung : P.IKIP Bandung. Psikologi Belajar. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. 2005. 1997. 2004. NBPTS Home Page. Elizabeth B. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD. Remaja Rosdakarya. Bandung PPB . Theory Into Practice. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.T.nbpts. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin. ----------.T. Learning & Instruction. E. Prayitno. Surya.T. Gendler. 2003. PT Golden Terayon Press.2003. dkk. Hurlock. 2004. SMP dan SMA . National Board for Professional Teaching Standards. ---------. Margaret E.P. 31 Oct 2002). . 1980. Jakarta : P. Jakarta : Depdiknas.html>. Jakarta. (Accessed.1992. Jakarta : Rineka Cipta. 2003. (terj. Jakarta : PT Raja Grafindo. 2005. Publishing. Supratiknya).2005. 2002 . 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Nana Syaodih Sukmadinata. Calvin S. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. J. Arifin. Depdiknas. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------.Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P. Five Core Propositions. Remaja Rosdakarya.M. New York : McMillan H. Mulyasa. Developmental Phsychology. Panduan Pembelajaran KBK. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. Muhibbin Syah. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Remaja Rosdakarya. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. <http://www. Implementasi Kurikulum 2004. Kartini Kartono). Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Kamus Lengkap Psikologi. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Bandung : P.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun..

PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. . Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : Rajawali. Inventori Tugas Perkembangan. Sugiharto. 2003. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.. Yogyakarta : Adi Cita. 2004. Willis.2003. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 2002. Syamsu Yusuf LN. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim. Teori dan Praktek.go. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Pustaka Setia. Sunaryo Kartadinata. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III.id. Bandung : Lab. www. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan.Sofyan S. 2000. Psikologi Kepribadian. 1984.(2005.puskur.Konseling Individual.