POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU

A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :

 Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.  Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). Oleh karena itu itu. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran.--terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya--. Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. pengelolaan kelas. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. baik untuk kepentingan pembelajaran. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya. Dalam hal ini. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. yakni kompetensi pedagogik. . Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. Selain itu. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. (h) menilai hasil pembelajaran. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. dengan memahami psikologi pendidikan. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru. 2. yang saling bertolak belakang. a. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan.

Ruangan kelas yang gelap. waktu sore hari. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). -- . maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S). sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. R = Respons (perilaku. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas.Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas.

meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. motif. meminta ijin ke dosen. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). how (bagaimana). dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). b. Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Sebenarnya. yakni perilakunya itu sendiri. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . Secara skematik rangkaian. bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. dan why (mengapa). Menggerakkan kaki menuju ke depan. berjalan ke depan. tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. mengucapkan minta izin kepada dosen. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose).

baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. psikologikal dan intelektual. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok.2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. Dalam hal ini. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. organisasi ataupun persahabatan. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). pangan dan papan. akan tetapi juga mental. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. seperti : sandang. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). membentuk keluarga. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. (2) kebutuhan keamanan. sehingga membentuk suatu siklus. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. Setiap individu. tidak dalam arti fisik. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan .Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis.

konformitas dan sebagainya). maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. minum. untuk keperluan studi psikologis. (3) persistensi pada kegiatan. menyelamatkan diri dan sejenisnya. dikehendaki serta bersifat positif. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. 2. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. minat). motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. 3. Approach-avoidance conflict. melarikan diri. seperti : takut yang dipelajari. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. Motif primer (basic motive dan emergency motive). motif-motif sosial (ingin diterima. Avoidance-avoidance conflict. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. yaitu : (1) durasi kegiatan. Dalam pandangan holistik. 2. (2) frekuensi kegiatan. Approach-approach conflict.Berkaitan dengan motif individu. (4) ketabahan. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. yaitu : 1. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. Motif sekunder. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. seperti : dorongan untuk makan. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. dikenal dengan istilah drive. menyerang. manipulasi. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari.

diantaranya : (1) agresi marah. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). terdapat dua kemungkinan. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi.tertentu. (5) represi (menekan perasaan). (2) kecemasan tak berdaya. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). (10) berfantasi (dalam angan-angannya. Untuk lebih jelasnya. Dalam hal ini. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. . (6) rasionalisasi (mencari alasan). (3) regresi (kemunduran perilaku). sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). Untuk tujuan jangka pendeknya. Namun sebaliknya. Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. (4) fiksasi. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. Namun. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. inteligensi).

Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Selain itu. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen.Tujuan jangka menengah. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). dia memperoleh pengetahuan yang luas. Begitu juga. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. Bagi dirinya. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. . bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. sehingga selama kuliah. Pada akhir semester.

daftar. atau kesimpulan. rumus. terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. yakni : a. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya.  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. orang tempat. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). 1) Pengetahuan (knowledge). b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . peristiwa. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. peristiwa. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. kebudayaan masyarakat tertentu.Dalam konteks pendidikan. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Sambil menangis (regresi). Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. baik berbentuk verbal maupun non verbal. sumber informasi. nama. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. Kawasan Kognitif. ide prosedur. konsep. 3. definisi. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. teori. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). kejadian masa lalu. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. Dia sering tidak masuk kuliah. tahun. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman).

dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19.  Mengetahui metodologi. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada.  Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. 3. 11. peristiwa. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. prinsip. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. 7. Misalnya. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. pendapat atau perlakuan. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. yaitu melihat kecenderungan. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut. Untuk bisa seperti itu. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. informasi. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. kelompok. atau memproses sesuatu. bagan atau grafik. 5. Mengetahui kelas.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu.  Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. sehingga membentuk struktur kognitif baru.  Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. . yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. dan c) Ekstrapolasi. yaitu ide. menemukan atau menyelesaikan masalah.

mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Bagi mereka. 4) Penguraian (analysis).  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh. Contoh. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. . melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan. mengklasifikasikan. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis.  Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa.  Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide. dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika.  Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. ingat kuda ingat transportasi. memanfaatkan. menggunakan. Dengan pemahaman demikian.

misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. menciptakan logo organisasi. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif.  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis. meramu.  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal.  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. baik-buruk. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. . b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. menilai dan mengambil keputusan benar-salah.. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan.  Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen.

c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). seperti perasaan. Contoh : mengajukan pertanyaan. membuat coretan atau gambar. Kawasan Afektif. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. minat. b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). kagum. dan sebagainya. suara atau kata-kata tertentu saja.b. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. 4) Pengorganisasian (organization) . atau mentaati peraturan lalu lintas. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. terpesona. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). Kagum atas keberanian seseorang. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. sikap. Misalnya pada desain atau warna saja. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui.

menjawab pertanyaan. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. (c) membiasakan (habitual). c. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya. yaitu : a) Generalisasi. menyesuaikan diri dengan situasi. 5) Karakterisasi (characterization). 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. yakni : a) Konseptualisasi nilai. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. b) Karakterisasi. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. b) Pengorganisasian sistem nilai. (b) peniruan (imitation). dan seterusnya menurut urutan kepentingan. Pada tahap karakterisasi. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan ( set). Proses ini terdiri atas dua tahap. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. mempersiapkan alat. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. Kawasan Psikomotor. sistem itu selalu konsisten. .

Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. menunduk. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. tangkas. 2) 3) 4) 5) 6) 4. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. serta wahana untuk pembebasan manusia. serta media untuk meningkatkan keterampilan. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar. Bagi kalangan behaviorisme. berjalan. . Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. kekuatan (strength). banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. alat pelatihan keterampilan. yang terpola dan dapat ditebak. pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Sementara kalangan humanisme. 5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. alat mengasah otak. kelenturan (flexibility) dan kegesitan. Sementara itu. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). misalnya : melompat. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda. dan sebagainya. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks).

hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan. baik dalam aspek kognitif. menurut pandangan behaviorisme. Walaupun demikian.Yang menjadi persoalan. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. khususnya dalam pandangan behaviorisme. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan.Dengan demikian.O) P= person (pribadi. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. bakat. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). minat. maupun psikomotor. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. Secara skematik. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). . termasuk lingkungan sekolah. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu. Sementara itu. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. afektif. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). terutama potensi intelektual. Sedangkan dalam pandangan humanisme.

W S S S O WS Ow R R O R R W W . Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a. d. maka pada akhirnya. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . d. b. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. dia mendapatkan pengetahuan. bahkan melakukan penelitian. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. d. b. c. 5. b.motivasi. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. a. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. c. mengobservasi perilaku di kelas. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. Dengan demikian. dan c benar 3. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. D. kecuali : a. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. c. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2. 4. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. b. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. misalnya melalui: diskusi dengan teman.

dan c benar 9. a. evaluasi b. Dapat menyimpulkan. kecuali : a. d. Approach-approach conflict c. b. menghubungkan. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2.6. d. a. Avoidance-avoidance conflict d. evaluation Uraian 1. Kebutuhan akan rasa aman. Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. b. agresi b. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. a. Kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan akan harga diri. b dan c benar 11. application b. dan c benar 8. ketabahan. fiksasi d. Kebutuhan akan prestasi. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. a. c. 7. synthesis d. a. b . Approach.avoidance conflict b. a. analysis c. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. characterization by value or value complex d. durasi. c. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Non-discursive communication c. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan. proyeksi 10. a. regresi c. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. b. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. frekuensi dan persistensi kegiatan.

BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. dan kepribadian 2. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan. Intisari Bacaan 1. T Setelah mempelajari Bab ini. dalam Kecakapan dan C. Pokok Bahasan 1. kecakapan potensial. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. ukuran kecerdasan. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. diharapkan Anda dapat : 1. yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. B. dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. ciri-ciri keberbakatan. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan. 4. aspek-aspek kepribadian. Dari segi . kecerdasan (inteligensi). 3.Dari segi kecepatan belajar. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. Mendefinisikan kecakapan nyata. 2. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya.

kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi

kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan

kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur

(4) tilikan ruangan.79 50 . Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata. baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) . ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven. diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test).75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. Untuk mengukur bakat seseorang. (3) pemahaman bilangan.05 % Selain menggunakan instrumen standar. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability).69 25 . melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. dan (8) kecakapan gerak.25 % 0. Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 . dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian.20 % 0. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. dapat menggunakan beberapa instrumen standar.75 % 0.89 70 . FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test). sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group).aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). Selain itu. (6) kecepatan pengamatan. (5) daya ingat. (2) kefasihan mengungkapkan kata.49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. (7) berfikir logis. seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya.

11. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. 12. 2. 4. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. b. untuk kepentingan pengembangan diri. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Mempunyai minat luas. Belajar dengan dan cepat. 13. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.saja. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. kreativitas dan komitmen terhadap tugas. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). tergantung sudut pandang masing-masing. 6. 7. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). . 9. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang. 14. Hall dan Gardner Lindzey. yaitu: 1. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. frustrasi dan konflik. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. Allport (Calvin S. ketegangan emosional. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. 3. 5. 10. Mampu berkonsentrasi. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). 8.

teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sikap. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. teori Medan dari Kurt Lewin. Dalam hal ini. Seperti mudah tidaknya tersinggung. b. 8. Fromm. Karakter. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Sosiabilitas. marah. Watson. Stabilitas emosi. yaitu disposisi reaktif seorang. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realistik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawab Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ekstrovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. teori Psikologi Individual dari Allport. Horney dan Sullivan. hormon. teori Sosial Psikologis dari Adler. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. Bersikap kejam 5. teori Personologi dari Murray. Hiperaktif . Hull. Seperti mau menerima resiko secara wajar. teori Analitik dari Carl Gustav Jung. 6. 3. 4. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Responsibilitas (tanggung jawab). negatif atau ambivalen d.tampang. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Sementara itu. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Kebiasaan berbohong 7. 2. Temperamen. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. f. cuci tangan. 5. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. 7. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan 3. atau putus asa e. teori Stimulus-Respons dari Throndike. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian. Mudah marah 2. sedih. c.

Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Sulit tidur 11. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. 2. Oleh karena itu. Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Kurang rasa tanggung jawab 12. Kendati demikian. seperti : konstitusi dan struktur fisik. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Memiliki filsafat hidup 11. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing. Herediter. Sering mengalami pusing kepala 13. yaitu : a. Penerimaan sosial 10. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Berbahagia 8. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. pasangan faktor keturunan itu memisah.9. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. Pesimis 15. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya.

akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. reproduksi. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial . b.2. Environment. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. Oleh karena itu. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1. Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. 4.Misalnya. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. 5. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. termasuk didalamnya adalah belajar. 3. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut.

Lingkungan memiliki peranan bagi individu. Dalam hal ini. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. c. Obyek penyesuaian diri bagi individu. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. sebagai : a. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. b. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali. canggung pemalu dan lain-lain. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. baik secara alloplastis maupun autoplastis. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk . Sesuatu yang diikuti individu. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. 2. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. d.

religius. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. otot. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. sosial. Achievement b. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. syaraf dan kelenjar. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. emosi. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat.E.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. moral. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. seperti : kemampuan berfikir. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. . termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. Kepribadian 2. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. dan kepribadian. Maturity. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. Aptitude c. a. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis. kecepatan ketepatan. Inteligensi d.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. c. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya.

b. b. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. b. b. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. d. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat ( perceptual speed). karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. Disposisi reaktif seorang. a. c. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. d. Merupakan teori inteligensi : a. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). a. b.c. b. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. dan c benar 5. mampu belajar/bekerja secara mandiri. (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a. d. kecuali : a. d. 7. 3. (5) kemampuan bilangan (numerical ability). b. kemampuan usia prestasi belajar a. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). dan c benar terhadap rangsangan- 8. c. b dan c benar. d. Berdasarkan hasil test kecerdasan. c. c. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. (2) kemampuan mengingat (memory). (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). c. d. b. dan c benar 4. karakter . atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah.

lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . alloplastis b. d. b. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. mal-adjusment d. stabilitas emosi d. a. Asas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. sikap dan stabilitas emosi 9. c.b. well-adjusment Uraian 1. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. a. temperamen c. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. autoplastis c. Jelaskan bahwa faktor herediter.

3. Pengertian Perkembangan. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. dan remaja. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. 6. prinsip-prinsip perkembangan. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. 2. Intisari Bacaan 1. . Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. 3. Mendefinisikan perkembangan. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C. 4. 5. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. B. tugas perkembangan individu dan masa remaja. 2. 5. dan model pentahapan perkembangan individu. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. Pokok Bahasan 1. 4. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. diharapkan Anda dapat : 1. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan.

Dari egosentris ke perspektivisme. 2. Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Struktur mendahului fungsi. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. b. seperti : berbicara dan berfikir. Dari konkret ke abstrak. 4. 3. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. 5. d. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. seperti : berat dan tinggi badan. 2. individu. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. . Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). Diferensiasi ke integrasi. 6. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. c. yaitu : a. paru dan sebagainya) ke samping (tangan). beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Fisik. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. b. Lebih jauh lagi. seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. Contoh : untuk dapat berdiri. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Psikis. Dari outer control ke inner control. meningkat dan meluas. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). 2. e. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. f.

1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya. 2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. 1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Formal - operasional

0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

5. 6. 7. 8. 9.

Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

rasa ingin tahu dan ingin belajar 3. yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. dalam jasmani dan mental. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Masa Usia Kemahasiswaan (18. 2. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya. masa remaja awal. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan. serta sikap sosial. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. . mereka membuat peraturan sendiri.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. indeks tinggi dan berat badan. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. masa remaja. 6.Aspek Perkembangan Individu a. masa remaja akhir. setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Aspek.00-25. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. 4. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. c. pantas dijunjung dan dipuja. Perkembangan anatomis. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada). pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. Amat realistik. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. 3. d.6. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. prestasi. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai.

mengkodifikasikan. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. gambar. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. Perkembangan fisiologis. laju per. .1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. Jones dan Conrad (Loree. seperti konstraksi otot-otot. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun.2. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik. afektif.gerik. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan.kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan. Laju perkembangan berjalan secara berirama. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi. pada usia sekolah menjadi lambat. manusia. d. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. membaca dan menggambar permulaan. Melalui bahasa. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. mencatat. dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements). lukisan gerak . dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. tulisan. membuat kalimat sederhana. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. konatif). Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. peredaran darah dan pernafasan. sekresi kelenjar dan pencernaan. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. b. Kemudian. dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. menyimpan. haus nama-nama. baik dalam bentuk lisan. bicara monolog. c. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. persyarafan.

Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. 3. namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak.dewasa) . 2. 4. Artinya. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence). anak belum mengenal object permanence. benda apapun yang tidak ia lihat. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. tidak ia sentuh. Dalam rentang 18 . sebagai berikut : 1. Artinya. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat. insight learning dan kemampuan berbahasa.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Sebelum usia 18 bulan. Tahap formal-operasional (11 . Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. Jadi. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. didengar atau disentuh lagi. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri.

Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. e. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition). dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. norma. Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. . Ia mencoba meniru. ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. 3. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. al. Akhirnya. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Krech et.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. kepercayaan terhadap individu lain. baik yang menyangkut nilai. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. b. Kapasitas menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. Pada awalnya. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. 2. Kecenderungan peranan (role disposition).

Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu. serba salah. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism . 2.Sementara itu. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan.4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. Dalam hal ini.

4. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan . Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. dan konatifnya. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. kognitif. 5. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. baik secara individual maupun kolektif. termasuk dirinya. Oleh karena itu. pada saat-saat tertentu. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. 6.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. 1970). bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun.

memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. menunjukkan alat kelaminnya melihat. memegang.h. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C.2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. merusak dengan mulut Mulut sendiri. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen.

dalam arti duduk. doubt. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. berjalan. 2. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. dan (3) pola sambutan. sebagai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 .3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus). Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. minum dari . Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). cahaya. suara asing. perlakuan asing dan sebagainya. tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. berdiri. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Bridges (Loree. tempat asing.i. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang j. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons). 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. bermain. namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan.

3. dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. kecakapannya cukup banyak. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. sehingga perkembangan individu sangat pesat. 4. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. hambatan bahkan kegagalan. sehingga . dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. ciri-ciri yang khas dari dirinya. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Pengetahuannya cukup luas. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. 5. 6. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. 7. Kalau pada masa sebelumnya. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Sesuai dengan namanya masa dewasa. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Mereka sudah mulai selektif. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya.

Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair k. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Zunker (Popon Sy.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. Arifin. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame. attitudes. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. 8. interest. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Selanjutnya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . eksplorasi karier. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi.

Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik. disaproval by society. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. work out put. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. dan (4) norma-norma agama. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. while failure leads to unhappiness in the individual. 2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. (25 – 44) (45 – 64) (65 . Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu.d. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan.…) 5. . and eventual retirement. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik. difficulty with later task.

5. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 2.0) Belajar berjalan pada usia 9. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1.0) 1. dan orang lain.0) 1. 2. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua.0 – 15. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 3. 4. 3. 8. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. 3.0 bulan. 7. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. 8. b. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. 5. 9. Memulai hidup dengan pasangan. Mengembangkan kata hati. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. 6. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Belajar memakan makan padat. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.a. (0. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. Belajar hidup dengan pasangan. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. 5. 2.0-12. Memilih dan mempersiapkan karier. 6. saudara. 9. 3. Memilih pasangan. 2. 6. 9. 4. 7.0–6. d. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. menulis dan berhitung. 8. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. c. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. 4. 7.0-21. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. . Belajar berbicara. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. 10. Belajar bergaul dengan teman sebaya.

3. sosial dan ekonomi. yaitu : a. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. 8. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. b. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. Mempersiapkan diri. 6.4. 2. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. anggota masyarakat dan minat manusia. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. 4. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. 5. 8. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. Sementara itu. 7. Memulai bekerja. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 6. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengenal kemampuan bakat. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. Menemukan suatu kelompok yang serasi. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Memelihara anak. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. 7. Mengelola rumah tangga. 3. . teknologi. 5. Mengembangkan penguasaan ilmu.

G. 9. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. b. 7. berbangsa dan bernegara. baik secara kuantitatif maupun kualitatif.d. bermasyarakat. Oleh karena itu. Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1. 4. Perkembangan Pada Masa Remaja a. intelektual dan ekonomi. 3. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. sosial. 8. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. 6. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.5. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. 1415 th). Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. 2. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa.18-20 th). 2003). 5.

Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif. religius. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat.d. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. asing. 3. sosial. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja. 2.d.18-20 Th) 1. komparasi. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik.s. Aktif dalam permainan. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. Laju perkembangan secara umum kembali menurun. psikomotor. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. 2.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. keagamaan. Psikomotor 1. Remaja Awal (11-13 Th s. ethis. Remaja Akhir (14-16 Th. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa. 2. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat. kognitif. berbagai jenis cabang 1. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . 2. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). 1. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1.kali kurang seimbang. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. Gerak gerik mulai mantap. estetik. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. diferen-siasi. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. Bahasa 1.d.d. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. sangat lambat.14-15 Th) Fisik 1. 2. meskipun relatif terbatas. kausalitas) yang bersifat abstrak. 3. moralitas. konatif. Perilaku Kognitif 1. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. 2. bahasa. emosi afektif dan kepribadian. 2. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2.

ekonomis. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif. 2. 3. 2. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . 2. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. 3. 2. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. 4. politis. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai 3. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. 4. 1. dan religius). sosial. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Mulai menemukan pegangan hidup 1. 3. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. Perilaku Keagamaan 1. 3. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. Moralitas 1. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetitik puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Perilaku Sosial 1. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. Afektif dan Kepribadian 1. rasa aman. 2. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. 1. Emosi. estetis. 1. 2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. 2. kasih sayang. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.

Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. perkembangan fisik yang tidak proporsional. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa. Namun ketika. dalam era globalisasi sekarang ini. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Begitu juga. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. sosial. Begitu juga masa remaja. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. baik secara fisik maupun psikis. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. 2. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. c. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. moralitas dan keagamaan. terutama melalui pendidikan di sekolah. 3. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Tidak bisa dipungkiri. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). yang akan membentuk kepribadiannnya. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana.

perilaku imitasi atau identifikasi. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. serta masyarakat sangat diharapkan. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba. sekolah. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1.dalam dirinya. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. 4. dan emosional. baik internal maupun eksternal. namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. terutama secara ekonomis. di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. . D. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. peranan orang tua. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. jika tidak terbimbing. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. termasuk dengan guru di sekolah. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. Dalam hal ini. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Hal ini disebabkan pada masa remaja. Selain yang telah dipaparkan di atas. Usaha pencarian identitas pun.

haus nama-nama. b. bicara monolog.a. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. bicara monolog. Tahap Sensori-Motor b. c. bicara monolog. b. bayi (0-2 th). d. b dan c benar 2. b. 8. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. c. membuat kalimat sederhana. c. gemar bertanya. b. gemar bertanya. d. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. Perkembangan bersifat progresif. bahasa ekspresif. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan. membuat kalimat sederhana. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. b. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). yaitu : a. bicara monolog. bayi (0-2 th). c. bahasa ekspresif. Menurut Lovenger. Meraban. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. d. gemar bertanya. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Meraban. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. d. a. haus nama-nama. gemar bertanya. Meraban. d. haus nama-nama. dan bahasa ekspresif. 3. c. d. b. c. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a.. bahasa ekspresif. haus nama-nama. Tahap Pra-Operasional . Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. c. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th). Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. d. a. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. Meraban. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). b. 6. membuat kalimat sederhana. kecuali : a. a. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa.

Pre Conventional b. Tahap Konkret-Operasional d. Non Conventional 11. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence.c. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. temperatur) c. c. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. sehingga enggan melaksanakan ritual. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. a. Growth Exploratory Establishment Maintenance . Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a. 14. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). terjadi pada masa : a. d. c. kebencian dan ketakutan. terjadi pada masa : a. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. Penghayatan rohaniah yang skeptik. d. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. d. b. b. d. 13. cahaya. terjadi pada tahap: a. b. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. d. Tahap Formal-Operasional 9. c. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. b. Conventional c. Post Conventional d. c. 12. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. b. Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi.

b. a. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. dan religius). Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. c. d. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a.15. b. a. b. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). . gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. b. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. dan c benar 16. d. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. b. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. 20. sosial. kasih sayang. 17. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. 18. dan c benar. b. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. d. c. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. d. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. ekonomis. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. rasa aman. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Gerak gerik mulai mantap. c. c. b. kecuali : a. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. c. a. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. estetis. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. politis. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal.. d. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. b. 19. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. c.

guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas.pendekatan pembelajaran. peran dan kompetensi guru. Intisari Bacaan 1. Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua.d. B. 3. Uraian 1. 4. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. 5. Teori-Teori Pokok Belajar. Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : . Lantas. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. 4. pendekatan . Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. 2. 3. C. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. yang akan membentuk kepribadiannnya. Hakekat Belajar. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. 2. Pokok Bahasan 1. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. diharapkan Anda dapat : 1.

seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. yaitu : a.  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”  Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. Misalnya. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Misalnya. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Moh. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu). dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. sikap dan keterampilan berikutnya. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. maka pengetahuan. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Begitu juga. pengetahuan dan kecakapan”. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. pengetahuan.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. Begitu juga. seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. b. pengetahuan dan sikap baru”. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). . Dalam hal ini. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku.  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. kebiasaan. sikap. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku.  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan.

baik tujuan jangka pendek. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. e. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya. Perubahan yang bersifat positif. Misalnya. . maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. g. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru. Misalnya. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan.c. jangka menengah maupun jangka panjang. Perubahan yang bersifat pemanen. seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Misalnya. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. f. Untuk memperoleh perilaku baru. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. d. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Perubahan yang bersifat aktif. Misalnya. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. Perubahan yang fungsional. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.

tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. maka kemampuannya akan meningkat. lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus ( PreLearning). Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. dengan bertambah pengetahuan. Kemudian oleh . Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. Belajar merupakan suatu proses. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”.h. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning). dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). Misalnya. sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Praktik. dengan bertambah pengetahuan. Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. Begitu juga. Perubahan perilaku secara keseluruhan. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba.

mendengar. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar . perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. konsep abstrak. 2003). yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). Dalam konteks proses pembelajaran. memahami konsep konkrit. dan sebagainya. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. c. Selain itu.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. b. dan mencium. Dalam belajar. aturan dan hukum. Kecakapan intelektual. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai. Misalnya. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya.menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. mencicipi. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. Misalnya. meraba/menjamah.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. Akhirnya. Selain itu. Informasi verbal. baik secara tertulis maupun tulisan. dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas. Strategi kognitif. Begitu juga. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). definisi. misalnya: penggunaan simbol matematika.-. --khususnya motif berprestasi-. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.

Sedangkan menurut Bloom. e. g. yaitu: (a) teori behaviorisme. f. beserta tingkatan aspek-aspeknya. Berfikir asosiatif. menafsirkan. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Keterampilan. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu). e. d. b. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik. c. h. didalamnya terdapat unsur pemikiran. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. benci. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. was-was dan sebagainya. Sikap. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. yakni proses menerima. afektif dan psikomotor. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. Kecakapan motorik. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a. Moh. senang. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. sedih. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. kecewa. marah. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) 2. Dengan kata lain. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. i.terjadi aktivitas yang efektif. Sementara itu. keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. Kebiasaan. perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. (b) teori belajar . d. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Pengamatan. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. gembira.

dan mengabaikan aspek – aspek mental. b. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. . maka hubungan Stimulus . artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. 2. diantaranya: a. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). Law of Readiness. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. pendekatan behaviorisme ini. bakat. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. Law of Effect. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. diantaranya : a. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. b. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut.kognitif menurut Piaget. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. dan (5) teori belajar gestalt. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.Respons. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. a. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1. Law of Exercise. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer).Respons akan semakin kuat. maka kekuatannya akan menurun. c. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Dengan kata lain. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. Sebaliknya.

bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Operant Conditioning menurut B. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Reber (Muhibin Syah. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). Menurut Piaget. (2) pre operational. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar.F. (3) concrete operational dan (4) formal operational.F. b. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. diantaranya : a. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Melalui pemberian reward dan punishment. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. b.3. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). 4. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan.

yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. (2) pemahaman. Menurut Koffka dan Kohler. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. 5. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. (6) generalisasi. . Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. d. potongan. (3) pemerolehan. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.obyek fisik. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. c. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. (5) ingatan kembali. 2. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. (4) penyimpanan. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. (1) motivasi. 4. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Di dalam kelas. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. 3.

bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. Kesederhanaan (simplicity). Berlari. Kesamaan (similarity). Contoh lain. 3. gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. Misalnya. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. 6. seperti : sagitarius. 4. 3. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada. 5. virgo. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Misalnya. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. Kedekatan (proxmity). bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Pengalaman tilikan (insight). 2. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. mengikuti kuliah. 4. berjalan. pisces.2. Dalam proses pembelajaran. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. (lingkungan behavioral). bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). adanya penamaan kumpulan bintang. hendaknya peserta didik memiliki . Arah bersama (common direction). yaitu: 1. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral.

Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu. 3. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. menyeterikan baju. Pembelajaran. 4. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. 3. Misalnya. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Prinsip ruang hidup (life space). Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Menurut pandangan Gestalt. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. 5. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Oleh karena itu. Transfer dalam Belajar. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.2. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). . seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. memasak. Oleh karena itu. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat.

di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. b. yaitu : a. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal. termasuk metode ceramah dan sejenisnya. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. observasi dan sejenisnya. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. yang mencakup : a. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. memimpin. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). menggerakkan. termasuk discovery-inquiry. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. Secara garis besarnya. b. b. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. e. Guru sebagai pelaksana (organizer). disengaja dan direncanakan. merangsang. 4. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. yang harus dapat menciptakan situasi. d.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. .. serta Tuhan yang menciptakannya). Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. terdapat dua pendekatan pembelajaran. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. c. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. eksperimen. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan.

keluarga dan masyarakat. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. menganalisa. Pengambil inisiatif. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. pengarah. b. guru berperan sebagai perancang pembelajaran. Di sekolah. dan agen masyarakat (social agent). Wakil masyarakat di sekolah. dan g.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). dan penilai pendidikan. artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. . menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement). Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Penterjemah kepada masyarakat. Lebih jauh. Penegak disiplin. prognosa. seorang guru berperan sebagai : a. Pekerja sosial (social worker). baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. diri pribadi (self oriented). pengelola pembelajaran. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. Seorang pakar dalam bidangnya. d. Selanjutnya. b. e. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. Pelaksana administrasi pendidikan. f. artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. Pelajar dan ilmuwan. atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. penemu masyarakat (social inovator). yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. Sementara itu di masyarakat. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Di lain pihak. Moh. dan dari sudut pandang psikologis. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. penilai hasil pembelajaran peserta didik. guru berperan sebagai : a. c. Sedangkan dalam keluarga. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). melakukan diagnosa. Pemimpin generasi muda. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan. c.

c. Sementara itu. interaksi peserta didik dengan sesamanya. artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. Orang tua. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. dan e. pengelolaan bahan belajar. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Kalau hal ini terjadi. Pembentuk kelompok (group builder). dan lain-lain. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Pakar psikologi pendidikan. seperti : tata letak tempat duduk. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. Untuk menghadapi . orang tua maupun masyarakat. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Sejalan dengan tantangan kehidupan global. d. ia akan terpuruk secara profesional. a. b. d. Di masa depan. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. lingkungan belajar. Catalyc agent atau inovator. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. pengelolaan sumber belajar. model keteladanan. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. dan e. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. guru berperan sebagai : a. Dari sudut pandang secara psikologis. disiplin peserta didik di kelas. berkembang. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. interaksi peserta didik dengan guru. c. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning).

dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. 6. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. 3. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.tantangan profesionalitas tersebut. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1. Begitu juga. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Artinya. perancangan pembelajaran. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. berakhlak mulia. 2. guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. c. 5. pengembangan kurikulum/silabus. 2. kompetensi. 8. 9. pemahaman terhadap peserta didik. 4. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. arif dan bijaksana. Berkenaan dengan kompetensi guru. berkomunikasi lisan dan tulisan. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. 7. Disamping itu. . 4. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 2. 3. berwibawa. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. mengevaluasi kinerja sendiri. namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. stabil. 7. 5. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. b. sertifikasi dan remunerasi guru. mantap. dewasa. evaluasi hasil belajar. 6.

memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. . bergaul secara efektif dengan peserta didik. konsep. maupun masyarakat luas. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. 3. pengarahan diri. Kompetensi personal. Kompetensi intelektual. 2. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. b. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. sesama pendidik. tut wuri handayani. c. dan 5. yaitu : a. Kompetensi profesional. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. Kompetensi kemasyarakatan. Surya (1997) a. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. d. dan 4. Kompetensi profesional. meliputi : Moh. sesama guru. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. penerimaan diri. dan perwujudan diri. 4. ing madya mangun karsa. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. mampu berkomunikasi. Kompetensi sosial. Kompetensi personal. Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. tenaga kependidikan. baik dengan peserta didik. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. orangtua/wali peserta didik. Sementara itu. rasa tanggung jawab akan tugasnya. Dengan demikian. struktur. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. d. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya.3. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. c. b.

d. 3.e. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. 4. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting). Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. c. 2. yaitu: a. 3. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 3. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. . Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). Teachers are Members of Learning Communities: 1. Kompetensi spiritual. Sebagai pembanding. yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. dan 4. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. 2. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. 2. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan. 2. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. b. e. 3. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. 2. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1.

Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. seperti: 1. 4. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. dan ketulusan. 4. 2. penghargaan kepada peserta didik. mengalihkan pembicaraan. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. yaitu mencakup : a. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. Memiliki kemampuan interpersonal. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. b. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. 5. 5. 3. 2. 2. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu . Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. pelaksanaan. d. 6. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. c. antara lain: 1. suka menyela. 7. seperti : 1. dan 8. 3. 2. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. yaitu : 1.

karena alasan jenis kelamin. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness. Masalah Individual : 1. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). congruence). suku. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. yaitu : a. b. 4. pemberian ganjaran. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. 4. penetapan norma kelompok yang produktif). Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik . 2. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. b. 7. 6. 5. Behavior .guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. Kelas kurang kohesif. genuiness. Masalah Kelompok : 1. 3. tingkatan sosial ekonomi. sosio-emosional yang baik. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. Dalam hal ini.pembelajaran.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. 3. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . helplessness (peragaan ketidakmampuan). Carl A. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. yaitu : a. dan sebagainya. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). 2. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas.

trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). (b) leadership. Sementara itu. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. prizing. memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. menganalisis dan menilai masalah. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. g. c. Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. guru berusaha untuk membicarakan situasi. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2. Sedangkan Haim C. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process.manusia (acceptance. dari tidak tahu menjadi tahu. Schmuck & Patricia A. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. positif. a. (d) cohesiveness D. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. Perubahan yang bersifat intensional. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. yaitu : (a) mutual expectations. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. bertujuan dan terarah. (c) norm. caring. b. (d) communication. dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. Belajar merupakan usaha individu. bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. kontinyu. d. menyusun rencana pemecahannya. c. kecuali : a. f. h. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. b dan c benar . (c) attraction (pola persahabatan).

b. a. menggerakkan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. c. Dalam proses pembelajaran. b. b. adalah : a. Dapat menciptakan situasi belajar. c. d. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. d. c. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. c. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning 5. merangsang.3. b. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. d. d. d. b. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik. a. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. c. b. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. c. Sebaliknya. dan c benar. b. b. d. memimpin.Respons. Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. 7. a. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6.

Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. proses konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. Mengidentifikasi fungsi. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. orientasi baru. . 4. d. b. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. 5. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. 5. Sebagai guru. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. 4. Proses dan Teknik Konseling. prinsip. asas. diharapkan Anda dapat : 1. prosedur umum bimbingan dan konseling. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Mendefinisikan bimbingan dan konseling. Pokok Bahasan 1. 2. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. 3. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. 3. b. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. merencanakan. d. bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. 3. c. 2. jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. 6. a. Uraian 1.c. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. B.

 I. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) .al. bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. menentukan. mengatur. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding).C. Djumhur dan Moh. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini. giving instructions (memberikan petunjuk). atau mengemudikan). Djumhur dan Moh. misalnya problema kependidikan. (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance). dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya. Sedangkan menurut W. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan).  Jones et. Willis. 1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I. regulating (mengatur). manager. or steer (menunjukkan. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. pilot. Surya. leading (memimpin). 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities.  Peters dan Shertzer (Sofyan S. Intisari Bacaan 1. kesehatan. jabatan. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. conducting (menuntun). governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat). Surya.S. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. Dalam pelaksanaannya. keluarga dan masyarakat.  United States Office of Education (Arifin. sosial dan pribadi.

Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. Untuk kepentingan penulisan ini. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya).  Dalam Peraturan Pemerintah No. Dari pendapat Prayitno. dalam bimbingan pribadi. baik keluarga. meski secara formal istilah ini belum digunakan. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. dkk. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah.  Prayitno. yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja.. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. dkk. kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan.dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. Padahal kenyataan di sekolah .  Tercapainya penyesuaian diri. berdasarkan norma-norma yang berlaku. b. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun. sekolah dan masyarakat. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. dan bimbingan karier. bimbingan belajar. dan merencanakan masa depan”. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. mengenal lingkungan. Dari beberapa pendapat di atas. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan. bimbingan sosial.

Mengingat keadaan seperti itu. dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. 2. Selebihnya. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. Pedagogis. bodoh. terlambat SPP. Akibatnya. guru bahkan kepala sekolah. seperti peserta didik yang bolos. . Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% .10%). Dengan adanya orientasi baru ini. Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. Dengan demikian. yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. Sofyan. 3. bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik. S. teoritis. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja. Potensial. kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. 4. Profesional. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. tempat menangkap. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik.jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. Humanistik-religius. artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. berkelahi. menentang guru dan sebagainya. c. merazia. bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan. yaitu: .

(c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. Pencegahan. sekolah dan masyarakat sekitar. informasi pendidikan. d. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. 2. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik. 4. 3. (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. dan keluarga peserta didik dan orang tua. orang tua. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan. . jenis kelamin. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan.1. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. sasaran layanan. lingkungan yang lebih luas. jabatan/pekerjaan. (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial. Pemahaman. suku. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah. Advokasi. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. ekonomi dan budaya. Pemeliharaan dan pengembangan. guru pembimbing. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik. agama dan status sosial. menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. 2. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. baik di rumah. 5. serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. 3. Pengentasan. menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. jenis layanan dan kegiatan pendukung.

Asas Kerahasiaan (confidential). guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . Asas Keterbukaan. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. Dalam hal ini. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. 2. Asas Kesukarelaan. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali.4. yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. e. Asas. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri.

baik norma agama. yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. serta mewujudkan diri sendiri. Asas Kedinamisan. Dalam hal ini. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. saling menunjang. ilmu pengetahuan. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. 7. mampu mengambil keputusan. 5. Asas Kemandirian. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. adat istiadat. 10. peraturan. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. 9. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. mengarahkan. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju.tidak berpura-pura. harmonis dan terpadukan. 4. Asas Kekinian. hukum. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. Asas Kegiatan. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Bahkan lebih jauh lagi. 6. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. Asas Keahlian. Asas Keterpaduan. 8. Asas Kenormatifan. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. tidak monoton. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. Dalam hal ini. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri.

harmonis. dan dinamis. guru mata pelajaran dan wali kelas. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. 12. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. Menyediakan prasarana. tenaga. Asas Tut Wuri Handayani. atau ahli lain. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. sosial. b. dan memberikan rangsangan dan dorongan. 2. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. sebaliknya guru pembimbing (konselor). juga perlu melibatkan kepala sekolah . Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. Demikian pula. Asas Alih Tangan Kasus. Dengan adanya kata “kewajiban”. c. . Secara garis besarnya. mengembangkan keteladanan. sebagai berikut : a. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. Peranan Kepala Sekolah. guru-guru lain.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. sehingga pelayanan pengajaran. latihan. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. 11. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. dan karier”. peran. belajar. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah.

g. e. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. seperti konferensi kasus. c. program pengayaan). Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. b. ramah. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa. h. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b.d. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. jujur dan asli. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya. memahami dan menghargai tanpa syarat. konkret. bersahabat. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. Membantu mengembangkan suasana kelas. d. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. Sedangkan. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. seperti konferensi kasus. mendorong. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. Sofyan S. Wali Kelas berperan : a. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. peran. f. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. Menyediakan fasilitas. . e. kesempatan. dan e. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. c. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing.

yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. 4. program latihan. Layanan Pembelajaran. jurusan/program studi. dalam bidang pribadi. sosial. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. 2. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. pendidikan lanjutan). karier. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. 3. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Namun. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. magang. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap . dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. Layanan Informasi. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. Layanan Penempatan dan Penyaluran. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Orientasi. pergaulan. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1.3. Untuk lebih jelasnya. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. kelompok belajar. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. a.

merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. . terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Layanan Konseling Kelompok. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. baik tes maupun non tes. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. 6. komprehensif. Himpunan Data.bakat. 5. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. yaitu : 1. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Aplikasi Instrumentasi Data. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. 2. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok. b. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. terpadu dan sifatnya tertutup. sistematik. Layanan Konseling Perorangan. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. Alih Tangan Kasus. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan.3. Identifikasi kasus. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a. keterangan. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. kemudahan. Kunjungan Rumah. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Konferensi Kasus. 5. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. yakni : 1. 4. . Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. 4. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. dokter serta ahli lainnya. Call them approach. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling.

(7) agama. (2) diri pribadi. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. dan (10) waktu senggang. Identifikasi Masalah. tes bakat. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. emosi. Maintain good relationship. nilai dan moral. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Prayitno dkk. (6) pendidikan dan pelajaran. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. c. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. d. menciptakan hubungan yang baik. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. bakat. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. Diagnosis. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. seperti tes inteligensi. (8) hubungan muda-mudi. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. (2) struktural – fungsional. seperti : lingkungan rumah. W. 5. Prognosis. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. dan atau (4) personality. (3) behavioral.2. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. yaitu : (1) faktor internal. 4. proses. Melakukan analisis sosiometris. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. (4) ekonomi dan keuangan. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. kepribadian. (5) karier dan pekerjaan.H. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. 3. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. kecerdasan. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. ataupun out put belajarnya. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . bisa dilihat dari segi input. dan (2) faktor eksternal. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. (3) hubungan sosial. Developing a desire for counseling. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. (9) keadaan dan hubungan keluarga.

Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. 2. cara manapun yang ditempuh. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 4. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. 7. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Sementara itu. Evaluasi dan Follow Up. 5. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. e. . jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. yaitu apabila: 1. f. 3. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.kasus yang dihadapi. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. dan 3. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). Namun. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. 2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan.

ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. Dalam hal ini. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. karena gangguan di keluarga. kecanduan alkohol dan narkotika. c. Sofyan S. mencuri kelas ringan. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. melakukan gangguan sosial dan asusila. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. polisi. minum minuman keras tahap pertengahan. mencuri kelas sedang. Dalam prakteknya. berpacaran. polisi. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . 6. pelaku kriminalitas. ahli/profesional. b. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Masalah (kasus) berat. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. kesulitan belajar. peserta didik hamil. Masalah (kasus) ringan. Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor). percobaan bunuh diri. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor). berpacaran. Masalah (kasus) sedang. dokter. dengan perbuatan menyimpang. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. seperti : membolos.5. bertengkar. minum minuman keras tahap awal. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. seperti : gangguan emosional berat. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. berkelahi antar sekolah. Oleh karena itu. malas. seperti : gangguan emosional. berkelahi dengan teman sekolah. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. guru dan sebagainya.

. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. diantaranya : a. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. (2) tahap inti (tahap kerja). diantaranya : a. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Kontrak tugas. kesukarelaan. c. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).konseling. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Kontrak kerjasama dalam proses konseling. keterbukaan. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. 1. Kontrak waktu. 2. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. d. a. terutama asas kerahasiaan. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). 2. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. 3. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. b. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. dan kegiatan. berisi : 1. Proses Konseling Secara umum.

Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. yaitu . c. Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. c. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. baik oleh pihak konselor maupun klien. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Hal ini bisa terjadi jika : 1. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. sehat dan dinamis. c. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. b. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. d. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. 2. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. diantaranya : . yaitu : a. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). b. 1. d. a. 3. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. Untuk lebih jelasnya. b.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.

Perhatian : terpecah. Kepala : kaku 2. Memutuskan pembicaraan. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Ekspresi wajah : tenang. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). jarak antara konselor dengan klien agak dekat. 5. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. bersandar. senyum 3. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. Contoh ungkapan empati primer : . ceria. Empati primer. menunggu ucapan klien hingga selesai. 4. 4. Terdapat dua macam empati. 5. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. jarak duduk dengan klien menjauh. pikiran dan keinginan klien. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Meningkatkan harga diri klien. mudah buyar oleh gangguan luar. 3. menggunakan tangan sebagai isyarat. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. bahasa tubuh. Contoh perilaku attending yang baik : 1. tidak melihat saat klien sedang bicara. yaitu : a. mengalihkan pandangan. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien.a. ekspresi melamun. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Posisi tubuh : tegak kaku. Muka : kaku. b. Menciptakan suasana yang aman 3. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. 2. miring. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. dan bahasa lisan. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. perhatian terarah pada lawan bicara. mata melotot. duduk kurang akrab dan berpaling.

yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.. c. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. ” Saya mengerti keinginan Anda”.” 2. Refleksi pengalaman.. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ... . Refleksi perasaan.. pikiran.. Terdapat tiga jenis refleksi. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut.” ” Adakah yang Anda maksudkan.. pengalaman termasuk penderitaannya. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.” 3...(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan.... Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. yaitu teknik untuk memantulkan ide. b.” ” Hal itu rupanya seperti . yaitu : 1.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.. Empati tingkat tinggi. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. Refleksi pikiran.. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. berupa perasaan. pikiran.” ” Barangkali Anda merasa. pikiran. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan.. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”..

Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. Eksplorasi pikiran. dan pendapat klien. Seperti halnya pada teknik refleksi. yaitu : 1. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Eksplorasi perasaan...” d.. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah.. pikiran.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . dan pengalaman klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. tertekan dan terancam. yaitu teknik untuk menggali ide. biasanya ditandai . Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. pikiran. menutup diri.. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana.. Eksplorasi pengalaman. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2.. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa...

dan mengamati respons klien terhadap konselor. akan tetapi saya tidak mengambilnya. dapatkah. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. lebih baik gunakan kata tanya apakah. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. bagaimana. Contoh dialog : Klien Konselor f. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. (3) memberi arah wawancara konseling. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Oleh karenanya. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). adakah. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” Konselor Klien Konselor . yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. : ” Itu suatu pekerjaan yang baik.

..dan. ya. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu....Klien : ” Sebelas ” h. ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya. dan saya nyaris.. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. lalu. Terutama hidup di kota besar seperti Anda.. .. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut..Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh.... Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Konselor j.. Karena tantangan masa depan makin banyak. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.... Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran..” Konselor i. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”... terus. bukan pandangan subyektif konselor. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.... Membantu orang tua memang harus.

(3) meningkatkan kualitas diskusi. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Oleh karena itu. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas.” l. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. kedua. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi.” Konselor k. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Pada umumnya dalam wawancara konseling.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Saya tak dapat lagi menahan diri. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Misalnya dengan mengatakan : . Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya.

Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur.” .” n. wajah murung.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. dan sebagainya. senyum dengan kepedihan.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Fokus pada topik. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Ada beberapa yang dapat dilakukan. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. 4. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Fokus pada diri klien. diantaranya : 1. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Contoh : ” Roni. (suara rendah. Contoh : ” Tanti. Fokus mengenai budaya. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. ide awal dengan ide berikutnya. telah membuat kamu menderita. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Fokus pada orang lain. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. (2) meningkatkan potensi klien. posisi tubuh gelisah). konflik. atau kontradiksi dalam dirinya.

” (diam) Konselor r....” (diam) Konselor Klien :” Saya... ungkapan kata-kata yang tegas.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. tidak tahu. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”.. kurang jelas dan agak meragukan. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. atau saudara-saudara Anda. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir......harus bagaimana. dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya... Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”.. (2) agar klien menjelaskan. Mengambil Inisiatif . (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit... Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.... paling lama 5 – 10 detik.. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. pikiran.Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar...” q.. dan dengan alasan-alasan yang logis. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. :”. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan.... ucapan dengan o. Saya. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.. ibu. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal..” Konselor p...

upi. Contoh : ” Nah. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. Contoh: ” Baiklah. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. Walaupun demikian. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. (3) pemahaman baru . u. Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab.” t. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien.com di internet”. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. sering diam. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. terutama mengenai kecemasan. dan kurang parisipatif. Coba Anda renungkan kembali”. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. (2) memantapkan rencana klien. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. Kalau pun konselor mengetahuinya. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). s.

Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. seperti pendekatan Behaviorisme. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. kesulitan menyatakan tidak. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. c. 2. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Dalam hal ini konselor . jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan.klien. yaitu : a. d. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. b. Rational Emotive Theraphy. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling.

model fisik.. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. 5. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “. Bermain Proyeksi Proyeksi : . Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. g.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. 2. f. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. dapat menggunakan model audio. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”.. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. “Saya malas. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Melalui dialog yang kontradiktif ini. misalnya : 1. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. 4. 3. e.

Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dengan tugas rumah yang diberikan. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek . Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. j. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. h. Home work assigments. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Sering terjadi. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. i. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. membiasakan diri.

Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. bimbingan sosial. . dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. b. k. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. m. bimbingan belajar. d. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Latihan : Soal : 1. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. kecuali : a. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. mendorong. keluarga dan masyarakat. D. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. dalam bimbingan pribadi. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri.kognisinya yang keliru. dan bimbingan karier. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. c. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. l. mengenal lingkungan. dan merencanakan masa depan.

jenis kelamin. b. a. keahlian kegiatan. berdasarkan norma-norma yang berlaku. alih tangan kasus. . 4. kemandirian. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. tut wuri handayani a. agama dan status sosial. b. kekinian. b. dan c benar 8. c. kerahasiaan. keterbukaan. b. b. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. d. 6. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. d. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. sukarela. c. d. c. 2. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. b. d. a. c.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. d. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. a. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. b. kedinamisan. a. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. c. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. b. keterpaduan kenormatifan. suku. d. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. Oleh karena itu. a. c.

d. a. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. a. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). d. ”Anda mengatakan baik-baik saja. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. 14. a. berkelahi dengan teman. Imitasi b. d. c. Permainan dialog . tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. d. b dan c benar 11. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. dapat dilakukan oleh : a. b. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. b. c. b. b. a. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. c. b. d.c. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. dan c benar penegakan 9. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. c. seperti bolos. c. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. b. d. kecuali a. c. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a.” b. a. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan. Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan.

Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu.c. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. Selama bulan Februari 2006. pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian. prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3. Home work assigments Uraian 1. kawan sekelasnya. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Bermain peran d. dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Ketika dia masih duduk dibangku SD. Bahkan Andi. tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Sementara itu. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. tanpa alasan yang jelas.Kabupaten Nun Jauh Disana. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. dia suka nongkrong di terminal. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se. Melihat kondisi demikian. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. bahwa jika dia tidak masuk kelas.

Surya. Raja Grafindo Persada. Remaja Rosdakarya. dkk.1992.P. 2003. Calvin S. PT Golden Terayon Press. 2003. Konsep. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.T. Muhibbin Syah. Depdiknas. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Jakarta. Kartini Kartono). Developmental Phsychology. Psikologi Belajar.Karakteristik dan Implementasi. 2003. Publishing.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun.. Theory Into Practice. Bandung PPB .html>. Kurikulum Berbasis Kompetensi. National Board for Professional Teaching Standards. <http://www. Margaret E. dkk. Supratiknya).M. SMP dan SMA . New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. (Accessed. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------. Panduan Pembelajaran KBK. Jakarta : Depdiknas. J. 2004. Remaja Rosdakarya. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. 2004. NBPTS Home Page. Arifin.2005.2003. Elizabeth B. Nana Syaodih Sukmadinata. Psikologi Pendidikan. ---------. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.T. E. Five Core Propositions. Prayitno.Bandung : P.IKIP Bandung. Gendler. 2005. 1980. Learning & Instruction. 2005. Bandung : P. Mulyasa. Jakarta : PT Raja Grafindo.T.nbpts. ----------. 31 Oct 2002). Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD.org/ standards/fivecore. Remaja Rosdakarya. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. (terj. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. 2004. Bandung : P.T. 2002 . New York : McMillan H. . Hurlock. Implementasi Kurikulum 2004. 2003. Jakarta : Rineka Cipta. 2004. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.

Bandung : Pustaka Setia. 2003.puskur. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata.Sofyan S.id. Sugiharto. Inventori Tugas Perkembangan. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).(2005.go. 2000. 2004. 2002. Syamsu Yusuf LN. Yogyakarta : Adi Cita. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. www. Jakarta : Rajawali. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Bandung : Lab. 1984. . Willis. Sunaryo Kartadinata. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Psikologi Kepribadian. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim.2003. Teori dan Praktek..Konseling Individual. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful