P. 1
Psikologi-Pendidikan

Psikologi-Pendidikan

|Views: 46|Likes:
Published by Yufi Mustofa
psikologi pendidikan
psikologi pendidikan

More info:

Published by: Yufi Mustofa on Mar 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian
  • 0-2 th 2-12 th
  • 2.Teori-Teori Pokok Belajar
  • 3.Pembelajaran
  • 4.Peran dan Kompetensi Guru
  • 5.Pengelolaan Kelas
  • 6.Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling

POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU

A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :

 Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.  Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

(b) memilih strategi atau metode pembelajaran. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. Oleh karena itu itu. yang saling bertolak belakang. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. (h) menilai hasil pembelajaran.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya.--terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya--. dengan memahami psikologi pendidikan. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru. baik untuk kepentingan pembelajaran. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. Selain itu. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. . Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). a. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran. agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. pengelolaan kelas. sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. 2. Dalam hal ini. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. yakni kompetensi pedagogik.

Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S). ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas.Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). R = Respons (perilaku. Ruangan kelas yang gelap. waktu sore hari. secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. -- .

Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. dan why (mengapa). Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). motif. tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. Menggerakkan kaki menuju ke depan. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). tangan menekan saklar lampu merupakan effector. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Secara skematik rangkaian. meminta ijin ke dosen. Sebenarnya. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). mengucapkan minta izin kepada dosen. masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. berjalan ke depan. how (bagaimana). b. yakni perilakunya itu sendiri.

yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior).2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. Dalam hal ini. akan tetapi juga mental. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. Setiap individu. sehingga membentuk suatu siklus. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. (2) kebutuhan keamanan. tidak dalam arti fisik. organisasi ataupun persahabatan. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. psikologikal dan intelektual. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. seperti : sandang. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . pangan dan papan. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. membentuk keluarga.

menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. menyerang. menyelamatkan diri dan sejenisnya. konformitas dan sebagainya). minat). (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. 3. yaitu : (1) durasi kegiatan. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. Motif sekunder. seperti : takut yang dipelajari.Berkaitan dengan motif individu. seperti : dorongan untuk makan. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. Approach-avoidance conflict. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. motif-motif sosial (ingin diterima. 2. (4) ketabahan. untuk keperluan studi psikologis. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. yaitu : 1. Dalam pandangan holistik. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. Motif primer (basic motive dan emergency motive). (3) persistensi pada kegiatan. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. minum. melarikan diri. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. (2) frekuensi kegiatan. setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. Avoidance-avoidance conflict. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. dikehendaki serta bersifat positif. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. dikenal dengan istilah drive. manipulasi. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. Approach-approach conflict. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. 2. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.tertentu. Dalam hal ini. Namun sebaliknya. di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). (6) rasionalisasi (mencari alasan). jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. Namun. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. inteligensi). (2) kecemasan tak berdaya. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). (5) represi (menekan perasaan). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. Untuk tujuan jangka pendeknya. . yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. (4) fiksasi. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). diantaranya : (1) agresi marah. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). (3) regresi (kemunduran perilaku). terdapat dua kemungkinan. Untuk lebih jelasnya.

Pada akhir semester. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. . dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Begitu juga. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. Selain itu. bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). dia memperoleh pengetahuan yang luas. nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Bagi dirinya. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. sehingga selama kuliah. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan.Tujuan jangka menengah.

Sambil menangis (regresi). baik berbentuk verbal maupun non verbal. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). 3. termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). peristiwa. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan. 1) Pengetahuan (knowledge).  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. kejadian masa lalu. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict).Dalam konteks pendidikan. terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. peristiwa. daftar. orang tempat. teori. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. yakni : a. atau kesimpulan. ide prosedur. Kawasan Kognitif. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. kebudayaan masyarakat tertentu. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. definisi. Dia sering tidak masuk kuliah.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman .Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. konsep. tahun. rumus. nama. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. sumber informasi.

5.  Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut.  Mengetahui metodologi. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. sehingga membentuk struktur kognitif baru. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. atau memproses sesuatu. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. menemukan atau menyelesaikan masalah. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. yaitu melihat kecenderungan. kelompok. 7. Untuk bisa seperti itu. peristiwa. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. pendapat atau perlakuan. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. 3.  Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. yaitu ide. informasi. fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. bagan atau grafik.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. Misalnya. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. . Mengetahui kelas. prinsip. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. 11.  Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur. dan c) Ekstrapolasi.

ingat kuda ingat transportasi. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh. b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide. memanfaatkan. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.  Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.  Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut.  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa. .  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif. menggunakan.  Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Dengan pemahaman demikian. dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika. Bagi mereka. Contoh. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). mengklasifikasikan. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan. 4) Penguraian (analysis). Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. .  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini.  Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen.  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. baik-buruk. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya. meramu.  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan.. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. menciptakan logo organisasi.

3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. minat. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. Misalnya pada desain atau warna saja. yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya.b. sikap. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. 4) Pengorganisasian (organization) . c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). atau mentaati peraturan lalu lintas. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. suara atau kata-kata tertentu saja. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. membuat coretan atau gambar. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. kagum. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). dan sebagainya. Kawasan Afektif. yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. terpesona. Kagum atas keberanian seseorang. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. seperti perasaan. Contoh : mengajukan pertanyaan.

Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. c. Proses ini terdiri atas dua tahap. . Proses ini terjadi dalam dua tahapan. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. (c) membiasakan (habitual). Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. b) Pengorganisasian sistem nilai. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. yakni : a) Konseptualisasi nilai. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. Pada tahap karakterisasi. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. sistem itu selalu konsisten. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. 5) Karakterisasi (characterization). menyesuaikan diri dengan situasi. menjawab pertanyaan. (b) peniruan (imitation). Kawasan Psikomotor. mempersiapkan alat. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan ( set).atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. b) Karakterisasi. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. dan seterusnya menurut urutan kepentingan. yaitu : a) Generalisasi.

misalnya : melompat. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. 2) 3) 4) 5) 6) 4. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). menunduk. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. serta wahana untuk pembebasan manusia. banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. alat mengasah otak. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. kelenturan (flexibility) dan kegesitan. dan sebagainya. berjalan. Sementara itu. .4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Sementara kalangan humanisme. alat pelatihan keterampilan. Bagi kalangan behaviorisme. kekuatan (strength). yang terpola dan dapat ditebak. serta media untuk meningkatkan keterampilan. tangkas. 5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya.

Walaupun demikian. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. menurut pandangan behaviorisme. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. minat. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu.O) P= person (pribadi. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). Sedangkan dalam pandangan humanisme.Dengan demikian. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. khususnya dalam pandangan behaviorisme. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu. Sementara itu. bakat. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. afektif. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. baik dalam aspek kognitif. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi. terutama potensi intelektual. maupun psikomotor. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. termasuk lingkungan sekolah. Secara skematik. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). . Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan.Yang menjadi persoalan.

misalnya melalui: diskusi dengan teman. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. d. maka pada akhirnya. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. 4. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. D. b. dia mendapatkan pengetahuan. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. c. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. mengobservasi perilaku di kelas. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. kecuali : a. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. b. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. c. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a.motivasi. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . dan c benar 3. W S S S O WS Ow R R O R R W W . 5. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. a. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. c. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. b. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. d. bahkan melakukan penelitian. b. d. Dengan demikian.

Approach. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. c. a. 7. frekuensi dan persistensi kegiatan. d. a. kecuali : a.6. d. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. analysis c. a. agresi b. Non-discursive communication c. b. dan c benar 8. c. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan. b . Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. regresi c. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. Kebutuhan akan harga diri. evaluasi b. evaluation Uraian 1. b dan c benar 11. durasi. synthesis d. fiksasi d. characterization by value or value complex d. menghubungkan.avoidance conflict b. Dapat menyimpulkan. Kebutuhan akan prestasi. a. ketabahan. b. Kebutuhan akan rasa aman. a. Approach-approach conflict c. Avoidance-avoidance conflict d. a. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . application b. dan c benar 9. b. Kebutuhan akan aktualisasi diri. proyeksi 10. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. a.

T Setelah mempelajari Bab ini. diharapkan Anda dapat : 1. Intisari Bacaan 1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. B.Dari segi kecepatan belajar. kecerdasan (inteligensi).BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. kecakapan potensial. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. ukuran kecerdasan. Mendefinisikan kecakapan nyata. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan. 3. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. 4. Pokok Bahasan 1. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. ciri-ciri keberbakatan. dan kepribadian 2. Dari segi . yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. dalam Kecakapan dan C. aspek-aspek kepribadian. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya.

kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi

kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan

kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur

(6) kecepatan pengamatan.25 % 0. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test).89 70 .69 25 . rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. Untuk mengukur bakat seseorang. Selain itu. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 . Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. (4) tilikan ruangan. (5) daya ingat.75 % 0. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) .aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya. dapat menggunakan beberapa instrumen standar. ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven.05 % Selain menggunakan instrumen standar. diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test).20 % 0. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. dan (8) kecakapan gerak.49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). (2) kefasihan mengungkapkan kata. Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata. Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (3) pemahaman bilangan. (7) berfikir logis.79 50 .

tergantung sudut pandang masing-masing. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. 3. kreativitas dan komitmen terhadap tugas. frustrasi dan konflik. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). 12. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. .saja. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. ketegangan emosional. 6. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. 14. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. 10. 2. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). 11. b. untuk kepentingan pengembangan diri. 7. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Hall dan Gardner Lindzey. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Belajar dengan dan cepat. yaitu: 1. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. 8. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. 9. 13. Mampu berkonsentrasi. Allport (Calvin S. 4. Mempunyai minat luas. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. 5.

konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Horney dan Sullivan. teori Analitik dari Carl Gustav Jung. teori Stimulus-Respons dari Throndike. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realistik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawab Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ekstrovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. Hull.tampang. f. Sosiabilitas. teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. cuci tangan. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. 2. Kebiasaan berbohong 7. teori Personologi dari Murray. Fromm. teori Medan dari Kurt Lewin. Bersikap kejam 5. negatif atau ambivalen d. 7. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara itu. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Sikap. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. marah. 6. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Hiperaktif . yaitu disposisi reaktif seorang. Mudah marah 2. Watson. 8. Karakter. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. b. Dalam hal ini. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. 4. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. teori Sosial Psikologis dari Adler. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. Temperamen. Stabilitas emosi. 5. c. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan 3. 3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. teori Psikologi Individual dari Allport. sedih. hormon. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian. Responsibilitas (tanggung jawab). yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. atau putus asa e. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh.

Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. Pesimis 15. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Penerimaan sosial 10. Kendati demikian. Senang mengkritik/ mencemooh 10. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Berbahagia 8. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Sering mengalami pusing kepala 13. Kurang rasa tanggung jawab 12.9. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. pasangan faktor keturunan itu memisah. Memiliki filsafat hidup 11. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Oleh karena itu. Sulit tidur 11. yaitu : a. Herediter. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. 2. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan.

Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. 4. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. reproduksi. Oleh karena itu. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. b. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. termasuk didalamnya adalah belajar. 3. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial . Environment. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya.2. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. 5. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya.Misalnya. Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya.

akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. sebagai : a. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman. Lingkungan memiliki peranan bagi individu. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. 2. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. canggung pemalu dan lain-lain. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. d. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. b. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. Obyek penyesuaian diri bagi individu. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. c. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk . Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. Dalam hal ini.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. Sesuatu yang diikuti individu. baik secara alloplastis maupun autoplastis. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali.

terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b. . Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. Achievement b. kecepatan ketepatan. hasil belajar yang diperoleh peserta didik.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis. Inteligensi d. religius. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. moral. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Maturity. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. syaraf dan kelenjar. Aptitude c. otot.E. a. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. seperti : kemampuan berfikir. dan kepribadian. c. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. sosial. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. emosi. Kepribadian 2. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi.

(6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). c. karakter . (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). dan c benar 4. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat ( perceptual speed). Disposisi reaktif seorang. b dan c benar. mampu belajar/bekerja secara mandiri. b. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. a. dan c benar terhadap rangsangan- 8. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. b.c. (5) kemampuan bilangan (numerical ability). b. c. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. kemampuan usia prestasi belajar a. d. b. 7. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. kecuali : a. a. dan c benar 5. d. d. d. Merupakan teori inteligensi : a. c. b. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). d. c. d. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a. (2) kemampuan mengingat (memory). b. b. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. Berdasarkan hasil test kecerdasan. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). b. c. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. 3.

temperamen c. Asas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . mal-adjusment d. c. d. a. well-adjusment Uraian 1. autoplastis c. stabilitas emosi d. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. a. b. Jelaskan bahwa faktor herediter. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. sikap dan stabilitas emosi 9. alloplastis b.b.

2. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C. prinsip-prinsip perkembangan. Pengertian Perkembangan. 2. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. B. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. 3. 4. tugas perkembangan individu dan masa remaja. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis. diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan perkembangan. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. 6. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. 3. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. Intisari Bacaan 1. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. 5. dan model pentahapan perkembangan individu.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. 5. Pokok Bahasan 1. . Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan. dan remaja. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. 4.

2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. individu. Contoh : untuk dapat berdiri. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. . 2. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. f. 2. Psikis. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. e. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). 3. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. Diferensiasi ke integrasi. Struktur mendahului fungsi. Dari konkret ke abstrak. Fisik. paru dan sebagainya) ke samping (tangan). perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Dari outer control ke inner control. seperti : berat dan tinggi badan. 5. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). seperti : berbicara dan berfikir. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. Terjadinya perubahan dalam proporsi. 2. b. Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Lebih jauh lagi. 6. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. meningkat dan meluas. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. Dari egosentris ke perspektivisme. c. d. b. 4. seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. yaitu : a. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.

1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya. 2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. 1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Formal - operasional

0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

5. 6. 7. 8. 9.

Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

masa remaja akhir. setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. 6. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. masa remaja. prestasi. rasa ingin tahu dan ingin belajar 3.Aspek Perkembangan Individu a. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. d. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. Masa Usia Kemahasiswaan (18. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik. masa remaja awal. Amat realistik. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada). yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup. pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup. serta sikap sosial. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. 3. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. Perkembangan anatomis. c. . Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. 4. 2. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. pantas dijunjung dan dipuja.00-25. mereka membuat peraturan sendiri.6. Aspek. indeks tinggi dan berat badan. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. dalam jasmani dan mental.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya.

haus nama-nama. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun.kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan. Laju perkembangan berjalan secara berirama. Perkembangan fisiologis. dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements). Melalui bahasa. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). c.gerik. b. gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. afektif. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. d. Kemudian.2. baik dalam bentuk lisan. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). peredaran darah dan pernafasan. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. membuat kalimat sederhana. seperti konstraksi otot-otot.1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. bicara monolog. lukisan gerak . menyimpan. sekresi kelenjar dan pencernaan. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi. konatif). Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. Jones dan Conrad (Loree. Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik. dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. tulisan. manusia. membaca dan menggambar permulaan. . dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. mencatat. persyarafan. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. laju per. gambar. pada usia sekolah menjadi lambat. mengkodifikasikan.

yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. benda apapun yang tidak ia lihat. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence). Tahap formal-operasional (11 . namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. anak belum mengenal object permanence. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. 4.dewasa) . Jadi. 2. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. Artinya. Sebelum usia 18 bulan. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada. insight learning dan kemampuan berbahasa. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. sebagai berikut : 1. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. tidak ia sentuh. Artinya. 3. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. didengar atau disentuh lagi. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. Dalam rentang 18 . yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat.

Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition). 2. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Krech et. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. . Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Ia mencoba meniru. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. kepercayaan terhadap individu lain. Akhirnya. ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. al. ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. baik yang menyangkut nilai. Kecenderungan peranan (role disposition). Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kapasitas menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. e. 3. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). Pada awalnya. b. norma. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya.

2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. serba salah. bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan.Sementara itu. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism . keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. Dalam hal ini. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu.4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. 2.

Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. 6. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. 5. bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. baik secara individual maupun kolektif. pada saat-saat tertentu. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. 4. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. dan konatifnya. Oleh karena itu. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. kognitif.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan . namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. termasuk dirinya. 1970).

merusak dengan mulut Mulut sendiri. menunjukkan alat kelaminnya melihat. memegang. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B.h.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A.2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual.

3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. sebagai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. Bridges (Loree. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu.i. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus). (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. tempat asing. dalam arti duduk. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons). Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. perlakuan asing dan sebagainya. cahaya. bermain. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang j. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi. berjalan. berdiri. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. minum dari . Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. doubt. suara asing. 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. 2. dan (3) pola sambutan.

dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. sehingga . Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa. tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. 3. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. kecakapannya cukup banyak.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. 4. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. ciri-ciri yang khas dari dirinya. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Mereka sudah mulai selektif. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. 7. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. hambatan bahkan kegagalan. 5. Kalau pada masa sebelumnya. 6. dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. Pengetahuannya cukup luas. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan.

semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. eksplorasi karier. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. Selanjutnya. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair k. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada. Arifin. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Zunker (Popon Sy. 8. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. interest. attitudes. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) .1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan.

Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. 2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. . Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik.…) 5.d. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. and eventual retirement. difficulty with later task. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. work out put. while failure leads to unhappiness in the individual. dan (4) norma-norma agama. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. (25 – 44) (45 – 64) (65 . Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual. disaproval by society. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan.

Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. 9. 8. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. 5. saudara. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. 6. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua. 4. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. Belajar bergaul dengan teman sebaya.0) 1.0) Belajar berjalan pada usia 9. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. Belajar hidup dengan pasangan. b.a. dan orang lain. Belajar berbicara.0) 1. (0. 5. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. 5. Belajar memakan makan padat.0-21. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0–6. 4. 2. d. 6. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.0 bulan. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. 9. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. 4. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. Memilih dan mempersiapkan karier. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. c. Memulai hidup dengan pasangan. 7. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. Belajar buang air kecil dan buang air besar. 8. 10. Mengembangkan kata hati. 6. 3. 3. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati. 2. 7. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. 3. . Memilih pasangan. 2. 7.0 – 15. 3.0-12. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. menulis dan berhitung. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. 8. 9. 2.

Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional.4. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. 6. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. 5. yaitu : a. 5. 2. 8. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. teknologi. 7. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Mempersiapkan diri. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. sosial dan ekonomi. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. 8. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. Sementara itu. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. b. Mengelola rumah tangga. Memelihara anak. 3. 4. Mengenal kemampuan bakat. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. . Memulai bekerja. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 3. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 7. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. anggota masyarakat dan minat manusia. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. Mengembangkan penguasaan ilmu. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. 6. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat.

Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. G. Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. 1415 th). Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.d. bermasyarakat.18-20 th). 3.d. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time.5. berbangsa dan bernegara. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1. b. 8. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. 6. 9. 5. 2. Oleh karena itu. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). baik secara kuantitatif maupun kualitatif. intelektual dan ekonomi. sosial. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. 7. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. 2003). Perkembangan Pada Masa Remaja a. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. 4.

di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja.d.d. meskipun relatif terbatas. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. 2. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. berbagai jenis cabang 1. ethis.d. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. religius. Gerak gerik mulai mantap. kognitif. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. Remaja Akhir (14-16 Th. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. kausalitas) yang bersifat abstrak. diferen-siasi. 2. 2. Laju perkembangan secara umum kembali menurun. estetik. Aktif dalam permainan.18-20 Th) 1. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. bahasa. 1. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . 2.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Psikomotor 1. konatif. moralitas. 2. Remaja Awal (11-13 Th s. sosial. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif.d.s. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s.14-15 Th) Fisik 1. 2. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat. keagamaan. Bahasa 1.kali kurang seimbang. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik. komparasi. 3. 2. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. psikomotor. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). asing. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. Perilaku Kognitif 1. 3. emosi afektif dan kepribadian. sangat lambat.

dan religius). Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. Afektif dan Kepribadian 1. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. 2. Emosi. Moralitas 1. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif. 2.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetitik puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. 2. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. 1. 2. estetis. kasih sayang. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . ekonomis. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai 3. 4. politis. Perilaku Keagamaan 1. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. 3. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Perilaku Sosial 1. 2. Mulai menemukan pegangan hidup 1. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. 3. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. 3. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. rasa aman. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. sosial. 3. 1. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. 4. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. 2. 1. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. 2.

moralitas dan keagamaan. Tidak bisa dipungkiri. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. dalam era globalisasi sekarang ini. Namun ketika. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1. terutama melalui pendidikan di sekolah. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. 3. Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa. yang akan membentuk kepribadiannnya. namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Begitu juga. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. perkembangan fisik yang tidak proporsional. c. Begitu juga masa remaja. baik secara fisik maupun psikis. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. sosial. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. 2. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial.

Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. baik internal maupun eksternal. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Usaha pencarian identitas pun. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. Selain yang telah dipaparkan di atas. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion. Dalam hal ini. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba. perilaku imitasi atau identifikasi. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. sekolah. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. termasuk dengan guru di sekolah. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. peranan orang tua. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. jika tidak terbimbing. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. terutama secara ekonomis. 4. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. D. dan emosional. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. serta masyarakat sangat diharapkan. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. Hal ini disebabkan pada masa remaja. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya.dalam dirinya. . khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri.

kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th). Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a. gemar bertanya. b. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. bahasa ekspresif. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. b. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Meraban. Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. d. b. 8. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. b. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. 3. Perkembangan bersifat progresif. haus nama-nama. bahasa ekspresif. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. b. d. d. gemar bertanya. b.. a. bicara monolog. bicara monolog. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. kecuali : a. Tahap Pra-Operasional . Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. yaitu : a. haus nama-nama. bahasa ekspresif. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. gemar bertanya. Meraban. c. membuat kalimat sederhana. membuat kalimat sederhana. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan. a. a. d. d. Terjadinya perubahan dalam proporsi. haus nama-nama. Menurut Lovenger. bayi (0-2 th). c. 6. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. b dan c benar 2. c. bicara monolog. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). c. b. membuat kalimat sederhana. bayi (0-2 th). Tahap Sensori-Motor b. Meraban. d. haus nama-nama. c. dan bahasa ekspresif. c. c. gemar bertanya. Meraban.a. bicara monolog. d.

cahaya. b. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. 14. Non Conventional 11. temperatur) c. c. c. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a. Pre Conventional b. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. terjadi pada tahap: a. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. 12. b. d. Conventional c. d. d. Penghayatan rohaniah yang skeptik. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. Growth Exploratory Establishment Maintenance . kebencian dan ketakutan. Tahap Konkret-Operasional d. b. Post Conventional d. a. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. c. Tahap Formal-Operasional 9. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. d. c. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence. b. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. sehingga enggan melaksanakan ritual. Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan.c. 13. terjadi pada masa : a. d. terjadi pada masa : a. b.

Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. b. b. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. d. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. c. dan c benar. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. d. c. b. a. dan religius). b. 17.. c. 20. a. c. ekonomis. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. b. d. dan c benar 16. 18. politis. kasih sayang. b. d. b. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua.15. c. c. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. Gerak gerik mulai mantap. sosial. b. . d. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. estetis. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. a. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. kecuali : a. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. 19. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. rasa aman. Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan.

4. Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua. Uraian 1. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. B. 5.pendekatan pembelajaran. yang akan membentuk kepribadiannnya. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. 3. 2. 4. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3.d. diharapkan Anda dapat : 1. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. 3. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. pendekatan . apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : . Teori-Teori Pokok Belajar. peran dan kompetensi guru. Intisari Bacaan 1. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. Lantas. Hakekat Belajar. 2. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. C. Pokok Bahasan 1. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.

Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu). maka pengetahuan. Begitu juga. Misalnya. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya.  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”  Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. Dalam hal ini. Misalnya. b. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. kebiasaan. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. sikap. Begitu juga. seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan.  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”.  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. pengetahuan dan kecakapan”. Moh. pengetahuan. pengetahuan dan sikap baru”. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. sikap dan keterampilan berikutnya. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. yaitu : a. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. .

seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Untuk memperoleh perilaku baru. Misalnya. e. f. Perubahan yang bersifat aktif. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut. g.c. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. d. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Perubahan yang bersifat positif. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. Perubahan yang bersifat pemanen. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan. Misalnya. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. . baik tujuan jangka pendek. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Perubahan yang fungsional. seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. Misalnya. Misalnya. jangka menengah maupun jangka panjang. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan.

Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. dengan bertambah pengetahuan. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”. dengan bertambah pengetahuan. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Perubahan perilaku secara keseluruhan. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus ( PreLearning). dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. maka kemampuannya akan meningkat. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning). sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Begitu juga. Belajar merupakan suatu proses.h. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”. Praktik. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. Misalnya. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. Kemudian oleh .

mencicipi. konsep abstrak. Informasi verbal. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. meraba/menjamah. Misalnya. dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. Misalnya. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain.-. c. Selain itu. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). 2003). Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. aturan dan hukum. dan mencium. misalnya: penggunaan simbol matematika.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. mendengar. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). Selain itu. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar . yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. definisi. b. Begitu juga. Strategi kognitif. --khususnya motif berprestasi-. Akhirnya. Dalam belajar. perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun.menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. Kecakapan intelektual. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai. baik secara tertulis maupun tulisan. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah. dan sebagainya. Dalam konteks proses pembelajaran. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. memahami konsep konkrit.

yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. Sedangkan menurut Bloom. benci. was-was dan sebagainya. marah. g. Keterampilan. e. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. kecewa. Moh. e. sedih. d. Pengamatan. didalamnya terdapat unsur pemikiran. Kecakapan motorik. beserta tingkatan aspek-aspeknya. i. menafsirkan. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu). yakni proses menerima. Kebiasaan. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). (b) teori belajar . Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). c. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. h. yaitu: (a) teori behaviorisme.terjadi aktivitas yang efektif.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. afektif dan psikomotor. d. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) 2. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. Dengan kata lain. gembira. Sikap. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. senang. f. Sementara itu. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Berfikir asosiatif. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. b. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik. perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a.

Law of Effect. c. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. Sebaliknya. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. pendekatan behaviorisme ini. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. b. .Respons. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. Law of Readiness. maka hubungan Stimulus . diantaranya: a. dan (5) teori belajar gestalt. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. 2. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus.kognitif menurut Piaget. b. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. a.Respons akan semakin kuat. diantaranya : a. bakat. maka kekuatannya akan menurun. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1. Law of Exercise. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. dan mengabaikan aspek – aspek mental. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Dengan kata lain.

b. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat.3. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Operant Conditioning menurut B. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . Reber (Muhibin Syah. Melalui pemberian reward dan punishment. Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning.F. b. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. diantaranya : a. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. (2) pre operational. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. (3) concrete operational dan (4) formal operational.F. 4. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Menurut Piaget. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

4. 2. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Menurut Koffka dan Kohler. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. (3) pemerolehan. . (5) ingatan kembali. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. (6) generalisasi. Di dalam kelas. (1) motivasi. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. 5. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. (2) pemahaman. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. c. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. d. potongan. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”.obyek fisik. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. (4) penyimpanan. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. 3. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang.

bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. berjalan. pisces. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. 5. 3. Misalnya. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. virgo. 4. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. Berlari. hendaknya peserta didik memiliki . bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. (lingkungan behavioral). Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada. Pengalaman tilikan (insight). Misalnya. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Dalam proses pembelajaran. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1.2. Kesederhanaan (simplicity). 3. yaitu: 1. Kesamaan (similarity). bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Kedekatan (proxmity). 4. 6. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Arah bersama (common direction). padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). mengikuti kuliah. adanya penamaan kumpulan bintang. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. 2. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. Contoh lain. seperti : sagitarius. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan.

guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.2. 3. Misalnya. 5. Oleh karena itu. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Menurut pandangan Gestalt. sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. bahwa perilaku terarah pada tujuan. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Pembelajaran. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. memasak. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Prinsip ruang hidup (life space). Oleh karena itu. 4. Oleh karena itu. . yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. menyeterikan baju. 3. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Transfer dalam Belajar. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. serta Tuhan yang menciptakannya). seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a. yang harus dapat menciptakan situasi. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. terdapat dua pendekatan pembelajaran. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. b. b. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. Secara garis besarnya. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. d. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya. merangsang. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan.. termasuk metode ceramah dan sejenisnya. termasuk discovery-inquiry. menggerakkan. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. disengaja dan direncanakan. c. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. e. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. yang mencakup : a. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. observasi dan sejenisnya. memimpin. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya. 4. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. yaitu : a. b. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. . Guru sebagai pelaksana (organizer). Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. eksperimen. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person).

Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. b.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). pengarah. Wakil masyarakat di sekolah. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. penilai hasil pembelajaran peserta didik. c. Selanjutnya. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. guru berperan sebagai perancang pembelajaran. melakukan diagnosa. Pekerja sosial (social worker). dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga. keluarga dan masyarakat. e. dan penilai pendidikan. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. Penterjemah kepada masyarakat. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. Lebih jauh. Moh. Di sekolah. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan g. c. dan dari sudut pandang psikologis. . Pemimpin generasi muda. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan. guru berperan sebagai : a. baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement). dan kalau masih dalam batas kewenangannya. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). b. f. seorang guru berperan sebagai : a. Pelajar dan ilmuwan. Sementara itu di masyarakat. Pengambil inisiatif. Di lain pihak. d. prognosa. Seorang pakar dalam bidangnya. atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. diri pribadi (self oriented). menganalisa. Pelaksana administrasi pendidikan. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. penemu masyarakat (social inovator). dan agen masyarakat (social agent). pengelola pembelajaran. Penegak disiplin. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan.

seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). lingkungan belajar. interaksi peserta didik dengan sesamanya. dan e. Untuk menghadapi . Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. dan e. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini.c. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. pengelolaan sumber belajar. Dari sudut pandang secara psikologis. model keteladanan. Sementara itu. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Pakar psikologi pendidikan. dan lain-lain. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. seperti : tata letak tempat duduk. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. d. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). ia akan terpuruk secara profesional. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. Catalyc agent atau inovator. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. b. d. disiplin peserta didik di kelas. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. Kalau hal ini terjadi. a. artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. pengelolaan bahan belajar. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. berkembang. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. Orang tua. c. interaksi peserta didik dengan guru. guru berperan sebagai : a. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. orang tua maupun masyarakat. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). Di masa depan. Pembentuk kelompok (group builder). Sejalan dengan tantangan kehidupan global. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran.

4. mantap. . 3. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. berkomunikasi lisan dan tulisan. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1. 7. 8. c. 2. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. 6. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. perancangan pembelajaran. 4. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. Artinya. evaluasi hasil belajar. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. Berkenaan dengan kompetensi guru. 6. pemahaman terhadap peserta didik. dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. stabil. kompetensi. 7. Begitu juga. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. sertifikasi dan remunerasi guru. 2. arif dan bijaksana. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. 5. pengembangan kurikulum/silabus. mengevaluasi kinerja sendiri.tantangan profesionalitas tersebut. dewasa. 3. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. b. 2. 9. guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. berwibawa. 5. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. berakhlak mulia. Disamping itu. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.

konsep. d. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. c. Kompetensi personal. Kompetensi profesional. Kompetensi personal. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. tenaga kependidikan.3. Sementara itu. 4. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. Kompetensi kemasyarakatan. d. Kompetensi profesional. mampu berkomunikasi. meliputi : Moh. Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. tut wuri handayani. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. c. 2. maupun masyarakat luas. ing madya mangun karsa. 3. sesama pendidik. . bergaul secara efektif dengan peserta didik. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. dan 4. Surya (1997) a. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. dan perwujudan diri. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. yaitu : a. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . sesama guru. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. penerimaan diri. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. baik dengan peserta didik. orangtua/wali peserta didik. dan 5. Kompetensi sosial. pengarahan diri. struktur. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. rasa tanggung jawab akan tugasnya. Dengan demikian. yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. b. Kompetensi intelektual. b. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada.

Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Kompetensi spiritual. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. 4. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. c. 2. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan.e. 3. Teachers are Members of Learning Communities: 1. 2. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik. yaitu: a. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. . 2. 2. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1. 3. d. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. b. 3. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Sebagai pembanding. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. 2. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting). e. dan 4. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. 3.

Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu . Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. c. 2. 3. 4. pelaksanaan. 2. 7. 2. 6. d. Memiliki kemampuan interpersonal. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan. b. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. seperti : 1. mengalihkan pembicaraan. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. 5. dan 8. suka menyela. penghargaan kepada peserta didik. yaitu mencakup : a. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. antara lain: 1. yaitu : 1. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. seperti: 1. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. dan ketulusan.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. 5. 3. 4. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. 2. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers.

Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. yaitu : a. 3. b. karena alasan jenis kelamin. congruence). 4. Kelas kurang kohesif. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. suku.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. dan sebagainya. helplessness (peragaan ketidakmampuan). karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair.guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. 3. 4. 7. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu.pembelajaran. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). pemberian ganjaran. sosio-emosional yang baik. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. Masalah Kelompok : 1. genuiness. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. 2. tingkatan sosial ekonomi. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas. Behavior . Masalah Individual : 1. 2. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). b. 6. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . penetapan norma kelompok yang produktif). Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya. Carl A. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. yaitu : a. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. Dalam hal ini. 5. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik .

Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. c. (d) cohesiveness D. (b) leadership. dari tidak tahu menjadi tahu. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. (c) norm. (d) communication. dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. Belajar merupakan usaha individu. Sedangkan Haim C. (c) attraction (pola persahabatan). Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. d. prizing. kontinyu. caring. menyusun rencana pemecahannya. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. f. Schmuck & Patricia A. menganalisis dan menilai masalah. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. positif.manusia (acceptance. guru berusaha untuk membicarakan situasi. yaitu : (a) mutual expectations. bertujuan dan terarah. trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. kecuali : a. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. b dan c benar . Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. Perubahan yang bersifat intensional. Richard A. g. a. b. Sementara itu. c. h. memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi.

Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . c. menggerakkan. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. Sebaliknya. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. b. d. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. d. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6. d. b. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning 5. memimpin. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. b. c. adalah : a. b. a. b. c. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. Dapat menciptakan situasi belajar. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. merangsang. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. dan c benar. Dalam proses pembelajaran. b. a. c. d. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. c. b.3. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. c. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. 7. d. b. d. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik.Respons. a. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a.

proses konseling. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. . 2. 3. b. Mendefinisikan bimbingan dan konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. diharapkan Anda dapat : 1. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. 2. Proses dan Teknik Konseling. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. Sebagai guru. d. bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. merencanakan. 5. 3. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. B.c. c. d. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. prosedur umum bimbingan dan konseling. Uraian 1. orientasi baru. asas. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. Pokok Bahasan 1. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. 5. 6. 4. Mengidentifikasi fungsi. a. 3. b. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. prinsip. 4. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling.

keluarga dan masyarakat. Sedangkan menurut W. Surya.al. menentukan. Willis.  I. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I. 1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. leading (memimpin). regulating (mengatur). Dalam pelaksanaannya.  Peters dan Shertzer (Sofyan S. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. kesehatan.  Jones et. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. jabatan. bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance). manager.S. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). mengatur. giving instructions (memberikan petunjuk). atau mengemudikan). governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat). misalnya problema kependidikan. Djumhur dan Moh. Djumhur dan Moh. Intisari Bacaan 1. Surya. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini. (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. conducting (menuntun). Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. pilot. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya. sosial dan pribadi.C. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem.  United States Office of Education (Arifin. or steer (menunjukkan.

sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. dkk. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. dkk. baik keluarga. sekolah dan masyarakat.  Dalam Peraturan Pemerintah No. Dari pendapat Prayitno. Padahal kenyataan di sekolah . Dari beberapa pendapat di atas. yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja.. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. dalam bimbingan pribadi. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal.  Tercapainya penyesuaian diri. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. b.  Prayitno. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. berdasarkan norma-norma yang berlaku. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan. bimbingan belajar. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). bimbingan sosial. kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. mengenal lingkungan. Untuk kepentingan penulisan ini.dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. dan bimbingan karier. bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. dan merencanakan masa depan”. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah. meski secara formal istilah ini belum digunakan. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun.

Sofyan. teoritis. 4. tempat menangkap. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik. kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. Mengingat keadaan seperti itu. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% . guru bahkan kepala sekolah. c. bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan. Selebihnya. Humanistik-religius. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. Dengan demikian. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. berkelahi. Profesional. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan.jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. 3. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. Potensial. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. seperti peserta didik yang bolos.10%). . Akibatnya. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. terlambat SPP. artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik. menentang guru dan sebagainya. merazia. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja. yaitu: . sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. S. 2. Pedagogis. yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. Dengan adanya orientasi baru ini. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. bodoh.

(b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu. informasi pendidikan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. jenis kelamin. 4. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik. serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Pemahaman. menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. Pemeliharaan dan pengembangan. ekonomi dan budaya. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan. (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. Pengentasan. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik. 3. dan keluarga peserta didik dan orang tua. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. lingkungan yang lebih luas. jenis layanan dan kegiatan pendukung. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. Pencegahan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan.1. menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. 3. suku. . guru pembimbing. d. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. jabatan/pekerjaan. 2. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan. baik di rumah. 2. orang tua. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. Advokasi. 5. sasaran layanan. agama dan status sosial. sekolah dan masyarakat sekitar.

yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. Dalam hal ini. 3. Asas Keterbukaan. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. Asas. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. 2. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . Asas Kerahasiaan (confidential). sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien).4. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri. e. Asas Kesukarelaan. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan.

Asas Kegiatan. 5. Asas Keahlian. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . 10. mampu mengambil keputusan. ilmu pengetahuan. Dalam hal ini. 8. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. Asas Kemandirian. saling menunjang. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. 4. peraturan. 7. 6. mengarahkan. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Asas Kekinian. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Asas Kedinamisan. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. tidak monoton. Asas Keterpaduan. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. 9. Bahkan lebih jauh lagi. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. hukum. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. serta mewujudkan diri sendiri. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. harmonis dan terpadukan. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain.tidak berpura-pura. adat istiadat. Dalam hal ini. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. baik norma agama. yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Asas Kenormatifan.

sehingga pelayanan pengajaran. belajar. mengembangkan keteladanan. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. tenaga. harmonis. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. juga perlu melibatkan kepala sekolah . sosial.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. Asas Tut Wuri Handayani. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. Menyediakan prasarana. Demikian pula. c. 12. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. sebaliknya guru pembimbing (konselor). Dengan adanya kata “kewajiban”. dan karier”. atau ahli lain. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. dan memberikan rangsangan dan dorongan. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. Peranan Kepala Sekolah. latihan. b. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. Secara garis besarnya. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. 2. sebagai berikut : a. 11. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. . guru-guru lain. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. dan dinamis. guru mata pelajaran dan wali kelas. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Asas Alih Tangan Kasus. peran. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah.

peran. ramah. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. g. bersahabat. h. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. Menyediakan fasilitas. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. e. konkret. c. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. e. Sofyan S. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. kesempatan. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. Membantu mengembangkan suasana kelas. seperti konferensi kasus. jujur dan asli.d. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. f. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. mendorong. b. seperti konferensi kasus. d. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. program pengayaan). hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b. dan e. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. Sedangkan. Wali Kelas berperan : a. . memahami dan menghargai tanpa syarat. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. c. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa.

Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. jurusan/program studi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. a. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. pergaulan. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. sosial. kegiatan ko/ekstra kurikuler. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. karier. Layanan Orientasi. 3. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. pendidikan lanjutan). di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. 4. Layanan Pembelajaran. program latihan. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap . 2. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. Layanan Informasi. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. magang. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. Untuk lebih jelasnya.3. Layanan Penempatan dan Penyaluran. dalam bidang pribadi. kelompok belajar. Namun.

6. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. baik tes maupun non tes. komprehensif. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. yaitu : 1. 5. 2. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. minat dan segenap potensi lainnya. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. Layanan Konseling Kelompok. . merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Perorangan. Aplikasi Instrumentasi Data. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. Layanan Bimbingan Kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. sistematik. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. b. terpadu dan sifatnya tertutup. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.bakat. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Himpunan Data.

kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. keterangan. Konferensi Kasus. dokter serta ahli lainnya. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Kunjungan Rumah. 5. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Identifikasi kasus. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Alih Tangan Kasus. yakni : 1. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. Call them approach. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. 4. 4. kemudahan. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan.3. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. .

Identifikasi Masalah. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. 5. 4. Prognosis. (9) keadaan dan hubungan keluarga. bisa dilihat dari segi input. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik.2. Prayitno dkk. kecerdasan. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. kepribadian. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Developing a desire for counseling. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). tes bakat. emosi. 3. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. (3) hubungan sosial. (5) karier dan pekerjaan. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. bakat. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. W. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. Diagnosis. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. d. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. proses. (8) hubungan muda-mudi. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. seperti tes inteligensi. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. ataupun out put belajarnya. seperti : lingkungan rumah. (7) agama. (4) ekonomi dan keuangan. yaitu : (1) faktor internal. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. menciptakan hubungan yang baik. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. (2) struktural – fungsional. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. c.H. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. dan (2) faktor eksternal. (3) behavioral. nilai dan moral. dan (10) waktu senggang. Maintain good relationship. (6) pendidikan dan pelajaran. dan atau (4) personality. Melakukan analisis sosiometris. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. (2) diri pribadi.

sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. Namun. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. 5. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. 2. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). cara manapun yang ditempuh. Sementara itu. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. e. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. . Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. 3. 4. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. dan 3. 2. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Evaluasi dan Follow Up. 7. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan.kasus yang dihadapi. f. yaitu apabila: 1.

Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. kesulitan belajar. bertengkar. minum minuman keras tahap pertengahan. dengan perbuatan menyimpang. berkelahi antar sekolah. percobaan bunuh diri. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Dalam hal ini. melakukan gangguan sosial dan asusila. berpacaran. pelaku kriminalitas. b. Dalam prakteknya. berkelahi dengan teman sekolah. Masalah (kasus) berat. guru dan sebagainya. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. kecanduan alkohol dan narkotika. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor). Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Masalah (kasus) ringan. minum minuman keras tahap awal. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. c. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. karena gangguan di keluarga.5. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. malas. polisi. ahli/profesional. polisi. Oleh karena itu. dokter. berpacaran. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. mencuri kelas ringan. peserta didik hamil. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor). Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Sofyan S. seperti : membolos. 6. seperti : gangguan emosional. mencuri kelas sedang. seperti : gangguan emosional berat. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Masalah (kasus) sedang.

yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. 1. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). . dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. Kontrak waktu. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). b. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. d. terutama asas kerahasiaan. diantaranya : a. dan kegiatan. Proses Konseling Secara umum. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. 2. diantaranya : a. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien.konseling. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. kesukarelaan. Kontrak tugas. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Kontrak kerjasama dalam proses konseling. berisi : 1. keterbukaan. 3. a. 2. (2) tahap inti (tahap kerja). c. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan.

serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). c. diantaranya : . Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. d. 1. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. Untuk lebih jelasnya. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. b. Hal ini bisa terjadi jika : 1. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. d. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. a. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). c. 2. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. baik oleh pihak konselor maupun klien. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. b. yaitu : a. c. b. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. 3. sehat dan dinamis. Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. yaitu .

Contoh ungkapan empati primer : . Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. ceria. 3. jarak duduk dengan klien menjauh. Menciptakan suasana yang aman 3. 2. 4. menunggu ucapan klien hingga selesai. Perhatian : terpecah. perhatian terarah pada lawan bicara. miring. duduk kurang akrab dan berpaling. yaitu : a. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. Contoh perilaku attending yang baik : 1. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Perilaku attending yang baik dapat : 1. bahasa tubuh. Posisi tubuh : tegak kaku. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. dan bahasa lisan. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. mengalihkan pandangan. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. Ekspresi wajah : tenang. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. menggunakan tangan sebagai isyarat. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. ekspresi melamun. 5. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Kepala : kaku 2.a. Memutuskan pembicaraan. bersandar. 5. senyum 3. pikiran dan keinginan klien. Muka : kaku. Empati primer. Terdapat dua macam empati. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. Meningkatkan harga diri klien. mata melotot. 4. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. b. mudah buyar oleh gangguan luar. tidak melihat saat klien sedang bicara. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan.

.” ” Hal itu rupanya seperti . pikiran.” 2. Refleksi pengalaman. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.. berupa perasaan. Terdapat tiga jenis refleksi. pengalaman termasuk penderitaannya. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah . ...” ” Adakah yang Anda maksudkan.. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut.” ” Barangkali Anda merasa. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam...” 3. Empati tingkat tinggi. yaitu teknik untuk memantulkan ide... yaitu : 1. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan.. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan. Refleksi perasaan. Refleksi pikiran.. c.. pikiran. ” Saya mengerti keinginan Anda”.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah... dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. b. pikiran. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.

Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Eksplorasi pikiran.. Seperti halnya pada teknik refleksi.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan .Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. pikiran. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. dan pendapat klien.. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. yaitu teknik untuk menggali ide. dan pengalaman klien. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. yaitu : 1. tertekan dan terancam. pikiran.. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Eksplorasi perasaan....” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa.. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi.” d. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. biasanya ditandai .. menutup diri. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Eksplorasi pengalaman..

dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. dapatkah. adakah. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan .” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. (3) memberi arah wawancara konseling. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Oleh karenanya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” Konselor Klien Konselor . yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Contoh dialog : Klien Konselor f. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. lebih baik gunakan kata tanya apakah. bagaimana. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. dan mengamati respons klien terhadap konselor. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya.

. Membantu orang tua memang harus. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran....dan. ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu... karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. Konselor j.. lalu... ya. dan saya nyaris.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu... dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa.” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. ..Klien : ” Sebelas ” h....” Konselor i. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. terus..Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. bukan pandangan subyektif konselor.. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Karena tantangan masa depan makin banyak. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.. Terutama hidup di kota besar seperti Anda...

dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Oleh karena itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar. Misalnya dengan mengatakan : . kedua. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.” l. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi.” Konselor k. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Saya tak dapat lagi menahan diri. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Pada umumnya dalam wawancara konseling.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. (3) meningkatkan kualitas diskusi. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.

4. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. atau kontradiksi dalam dirinya.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. posisi tubuh gelisah). Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. (2) meningkatkan potensi klien. ide awal dengan ide berikutnya. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. dan sebagainya.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Contoh : ” Tanti. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Contoh : ” Roni. (suara rendah. konflik.” . Fokus pada topik. telah membuat kamu menderita. wajah murung. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Fokus pada orang lain. Fokus mengenai budaya. Fokus pada diri klien. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. senyum dengan kepedihan. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. diantaranya : 1. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati.” n. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat.

Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. atau saudara-saudara Anda. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung.... tidak tahu. Mengambil Inisiatif .” q. ucapan dengan o. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”..... ungkapan kata-kata yang tegas. Saya..... tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”. (2) agar klien menjelaskan.. dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir...” (diam) Konselor Klien :” Saya. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.” Konselor p. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. :”. ibu..Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja. paling lama 5 – 10 detik... mengulang dan mengilustrasikan perasaannya.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara...” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya....... dan dengan alasan-alasan yang logis.” (diam) Konselor r.. pikiran.. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending...harus bagaimana. kurang jelas dan agak meragukan. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit.

Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Contoh : ” Nah. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. dan kurang parisipatif.” t. Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. terutama mengenai kecemasan. Kalau pun konselor mengetahuinya. Contoh: ” Baiklah. (2) memantapkan rencana klien.upi. Coba Anda renungkan kembali”. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). s. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.com di internet”. u. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. (3) pemahaman baru . apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Walaupun demikian. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. sering diam. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.

dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. 2. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Dalam hal ini konselor . Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. di samping menggunakan teknik-teknik umum. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling. b. d. seperti pendekatan Behaviorisme.klien. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. c. kesulitan menyatakan tidak. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Rational Emotive Theraphy. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. yaitu : a. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor.

2. misalnya : 1. Misalnya : “Saya merasa jenuh. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang.. Melalui dialog yang kontradiktif ini.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. e. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. 4. model fisik. Bermain Proyeksi Proyeksi : . dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog.. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. “Saya malas. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. 5. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. f. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. g. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. dapat menggunakan model audio. 3. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh.

membiasakan diri. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek . Dengan tugas rumah yang diberikan. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Sering terjadi. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Home work assigments. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. i. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. j. h. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. d. bimbingan sosial. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Latihan : Soal : 1. . keluarga dan masyarakat. m.kognisinya yang keliru. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. kecuali : a. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. D. mengenal lingkungan. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. k. dalam bimbingan pribadi. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. b. c. mendorong. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. dan merencanakan masa depan. dan bimbingan karier. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. l. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. bimbingan belajar. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab.

Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. c. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. dan c benar 8. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. suku. b. keahlian kegiatan. d. c. keterbukaan. sukarela. a. b. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. kemandirian. keterpaduan kenormatifan. a. tut wuri handayani a. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. berdasarkan norma-norma yang berlaku. alih tangan kasus. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. d. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Oleh karena itu. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. 4. b. kekinian. d. 6. d. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. kerahasiaan. kedinamisan. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. c. 2. b. b. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. d. d. . c. agama dan status sosial.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. jenis kelamin. a. b. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. b. a. c. a. c. b.

Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). d. b. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a. dapat dilakukan oleh : a. a. c. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih. b. d. c. b. ”Anda mengatakan baik-baik saja. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. a. c. b dan c benar 11. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah. d. a. b. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. c. Imitasi b. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. dan c benar penegakan 9. seperti bolos. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.” b. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. 14. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. a. berkelahi dengan teman. b. Permainan dialog .c. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. b. d. d. d. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. a. kecuali a. c. c.

c. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya. Ketika dia masih duduk dibangku SD. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. tanpa alasan yang jelas. Home work assigments Uraian 1. Sementara itu. Melihat kondisi demikian. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. Bahkan Andi. bahwa jika dia tidak masuk kelas. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. Selama bulan Februari 2006. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. dia suka nongkrong di terminal. dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan. Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. Bermain peran d. tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. kawan sekelasnya.Kabupaten Nun Jauh Disana. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian.

Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Remaja Rosdakarya. Jakarta. Nana Syaodih Sukmadinata. Depdiknas. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. Hurlock. Learning & Instruction. Surya.nbpts. New York : McMillan H. Raja Grafindo Persada. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. 2004. (terj. Theory Into Practice. Panduan Pembelajaran KBK. dkk. 2003.IKIP Bandung. Psikologi Pendidikan. Supratiknya). Psikologi Belajar. Mulyasa. Bandung PPB .org/ standards/fivecore. Prayitno.T. Kurikulum Berbasis Kompetensi.P.T. 2003. J. National Board for Professional Teaching Standards. SMP dan SMA . 2004. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. Remaja Rosdakarya. Calvin S. Elizabeth B. Bandung : P. Kamus Lengkap Psikologi.. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. Kartini Kartono). Jakarta : Rineka Cipta.1992.Bandung : P. E. 2002 . Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. Publishing. Konsep. Remaja Rosdakarya. Five Core Propositions. Jakarta : PT Raja Grafindo. ----------.T. Bandung : P. . PT Golden Terayon Press.2003. Hall & Gardner Lidzey (editor A. ---------. (Accessed. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD.Karakteristik dan Implementasi. 2005. 1980. Implementasi Kurikulum 2004. Jakarta : P. 2003. NBPTS Home Page. 1997. <http://www. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. dkk. Arifin. Jakarta : Depdiknas. 2004. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Margaret E. Muhibbin Syah.2005.T. 2004. Developmental Phsychology. 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin. 31 Oct 2002). Gendler.M.html>.

Sofyan S. Willis. Inventori Tugas Perkembangan. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. 2002.(2005..Konseling Individual. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. Jakarta : Rajawali. 1984.id. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).2003. Yogyakarta : Adi Cita. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan.puskur. www. Syamsu Yusuf LN. . 2003. 2000. Bandung : Pustaka Setia. Sugiharto. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. 2004. Sunaryo Kartadinata. Psikologi Kepribadian. Teori dan Praktek.go. Bandung : Lab.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->