POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU

A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :

 Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.  Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya. (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. Oleh karena itu itu. agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. 2. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. dengan memahami psikologi pendidikan. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran.--terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya--. pengelolaan kelas. seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran. sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. Selain itu. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. yang saling bertolak belakang. yakni kompetensi pedagogik. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. a. Dalam hal ini. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. (h) menilai hasil pembelajaran. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. . dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. baik untuk kepentingan pembelajaran. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya.

dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. Ruangan kelas yang gelap. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S). secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. waktu sore hari. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. R = Respons (perilaku. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas.Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). -- . Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.

suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. yakni perilakunya itu sendiri. Menggerakkan kaki menuju ke depan. baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). mengucapkan minta izin kepada dosen. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. b. meminta ijin ke dosen. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. berjalan ke depan. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. dan why (mengapa). proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). how (bagaimana). Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. Sebenarnya. Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). Secara skematik rangkaian. motif. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu.

Setiap individu. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. pangan dan papan. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). (4) kebutuhan prestise atau harga diri. baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. organisasi ataupun persahabatan. akan tetapi juga mental. seperti : sandang. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata.2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). (2) kebutuhan keamanan. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. psikologikal dan intelektual. (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok. Dalam hal ini. membentuk keluarga. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). sehingga membentuk suatu siklus. tidak dalam arti fisik.

Motif sekunder. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. seperti : takut yang dipelajari.Berkaitan dengan motif individu. (3) persistensi pada kegiatan. untuk keperluan studi psikologis. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Approach-avoidance conflict. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. yaitu : 1. yaitu : (1) durasi kegiatan. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. minum. setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . dikenal dengan istilah drive. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. (2) frekuensi kegiatan. melarikan diri. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. menyerang. 2. Avoidance-avoidance conflict. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. Approach-approach conflict. (4) ketabahan. motif-motif sosial (ingin diterima. menyelamatkan diri dan sejenisnya. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. minat). dikehendaki serta bersifat positif. 2. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. seperti : dorongan untuk makan. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. Motif primer (basic motive dan emergency motive). Dalam pandangan holistik. konformitas dan sebagainya). Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. 3. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. manipulasi.

Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. Namun sebaliknya. Untuk tujuan jangka pendeknya. (4) fiksasi. dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. . inteligensi). Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). (6) rasionalisasi (mencari alasan). (3) regresi (kemunduran perilaku). sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). (5) represi (menekan perasaan). (10) berfantasi (dalam angan-angannya. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan.tertentu. (2) kecemasan tak berdaya. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. Untuk lebih jelasnya. Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Namun. terdapat dua kemungkinan. Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. Dalam hal ini. (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). diantaranya : (1) agresi marah.

pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Pada akhir semester. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. . dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. dia memperoleh pengetahuan yang luas.Tujuan jangka menengah. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Selain itu. Bagi dirinya. bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. sehingga selama kuliah. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. Begitu juga. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration).

orang tempat. Kawasan Kognitif. ide prosedur. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). daftar. sumber informasi. yakni : a. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. definisi. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya.Dalam konteks pendidikan. tahun. nama.  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. konsep. atau kesimpulan. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. Sambil menangis (regresi). rumus.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . peristiwa. teori. terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. Dia sering tidak masuk kuliah. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. peristiwa. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). 3. kejadian masa lalu. 1) Pengetahuan (knowledge). baik berbentuk verbal maupun non verbal. kebudayaan masyarakat tertentu. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan.

5.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu.  Mengetahui metodologi. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. 11. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. Misalnya. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. pendapat atau perlakuan. 3.  Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. prinsip. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. Untuk bisa seperti itu. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. menemukan atau menyelesaikan masalah. informasi. bagan atau grafik. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut. Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. yaitu melihat kecenderungan. dan c) Ekstrapolasi. kelompok. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. 7. yaitu ide. atau memproses sesuatu. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. . Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. peristiwa. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. Mengetahui kelas. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. sehingga membentuk struktur kognitif baru.  Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur.  Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian.

Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh.  Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika. . menggunakan. Contoh. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide. memanfaatkan.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya.  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut.  Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif. yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. 4) Penguraian (analysis). Bagi mereka. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru. ingat kuda ingat transportasi. mengklasifikasikan. Dengan pemahaman demikian. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan.3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama.  Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada.

memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. meramu. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya.  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. menciptakan logo organisasi. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. baik-buruk. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai.. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan.  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis.  Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. .  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis.

atau mentaati peraturan lalu lintas. Contoh : mengajukan pertanyaan. Kagum atas keberanian seseorang. b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. suara atau kata-kata tertentu saja. Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. sikap. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. membuat coretan atau gambar. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). minat. Kawasan Afektif. seperti perasaan.b. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. Misalnya pada desain atau warna saja. 4) Pengorganisasian (organization) . yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). terpesona. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. kagum. dan sebagainya. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari).

3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. 5) Karakterisasi (characterization). menjawab pertanyaan. b) Pengorganisasian sistem nilai. Proses ini terdiri atas dua tahap. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. dan seterusnya menurut urutan kepentingan.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. Pada tahap karakterisasi. menyesuaikan diri dengan situasi. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. sistem itu selalu konsisten. c. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. mempersiapkan alat. Kawasan Psikomotor. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan ( set). b) Karakterisasi. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. (c) membiasakan (habitual). . yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. yaitu : a) Generalisasi. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. yakni : a) Konseptualisasi nilai. (b) peniruan (imitation).

yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). menunduk. kekuatan (strength). Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. 2) 3) 4) 5) 6) 4. misalnya : melompat. serta wahana untuk pembebasan manusia. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. yang terpola dan dapat ditebak. dan sebagainya. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. kelenturan (flexibility) dan kegesitan. alat mengasah otak. Sementara kalangan humanisme. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar. Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. Bagi kalangan behaviorisme. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. . dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. alat pelatihan keterampilan. berjalan. 5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. tangkas. pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. Sementara itu. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. serta media untuk meningkatkan keterampilan. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri.

sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. menurut pandangan behaviorisme. Walaupun demikian. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. khususnya dalam pandangan behaviorisme. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. afektif. . Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu. Sementara itu. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. Sedangkan dalam pandangan humanisme. terutama potensi intelektual. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. baik dalam aspek kognitif. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. minat. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). termasuk lingkungan sekolah. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi.Dengan demikian. maupun psikomotor. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan.O) P= person (pribadi. Secara skematik. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan. bakat.Yang menjadi persoalan. hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan.

Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. 5. kecuali : a. D. b. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . dia mendapatkan pengetahuan. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. mengobservasi perilaku di kelas. b. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. a. misalnya melalui: diskusi dengan teman. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. 4. d. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a. bahkan melakukan penelitian. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar.motivasi. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. c. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. dan c benar 3. W S S S O WS Ow R R O R R W W . hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. c. b. Dengan demikian. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. d. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. c. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. b. d. maka pada akhirnya.

b dan c benar 11. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . a. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. c. a. a. durasi.avoidance conflict b. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. Kebutuhan akan aktualisasi diri. Avoidance-avoidance conflict d. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif.6. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. dan c benar 8. Kebutuhan akan prestasi. Approach-approach conflict c. a. fiksasi d. proyeksi 10. agresi b. Dapat menyimpulkan. application b. a. d. b. b. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan. a. c. Non-discursive communication c. ketabahan. menghubungkan. b . dan c benar 9. synthesis d. Kebutuhan akan harga diri. b. regresi c. evaluation Uraian 1. frekuensi dan persistensi kegiatan. kecuali : a. 7. Approach. characterization by value or value complex d. evaluasi b. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2. d. analysis c. Kebutuhan akan rasa aman. Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. a.

yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. ciri-ciri keberbakatan. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya. kecakapan potensial.Dari segi kecepatan belajar. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. aspek-aspek kepribadian. dan kepribadian 2. Intisari Bacaan 1. 2. Mendefinisikan kecakapan nyata. diharapkan Anda dapat : 1. 4. B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. kecerdasan (inteligensi). T Setelah mempelajari Bab ini.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. ukuran kecerdasan. Pokok Bahasan 1. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. dalam Kecakapan dan C. 3. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan. Dari segi .

kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi

kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan

kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur

Selain itu. (4) tilikan ruangan. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (6) kecepatan pengamatan. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata. (2) kefasihan mengungkapkan kata. diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test). IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 .69 25 .20 % 0. melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya.25 % 0. dapat menggunakan beberapa instrumen standar.79 50 .aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). dan (8) kecakapan gerak.49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven. (3) pemahaman bilangan. Untuk mengukur bakat seseorang.75 % 0.89 70 . seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. (5) daya ingat.05 % Selain menggunakan instrumen standar. (7) berfikir logis. FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test). baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) .

Belajar dengan dan cepat. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). 5. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). 12. 4. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Hall dan Gardner Lindzey. tergantung sudut pandang masing-masing. yaitu: 1. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. 8. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Allport (Calvin S. 2. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. ketegangan emosional. 3. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. 14. kreativitas dan komitmen terhadap tugas. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. frustrasi dan konflik. 10. . Mampu berkonsentrasi. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan.saja. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. untuk kepentingan pengembangan diri. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Mempunyai minat luas. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. 11. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. 9. 7. b. 6. 13.

Mudah marah 2. yaitu disposisi reaktif seorang. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. 8. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Fromm. negatif atau ambivalen d. Temperamen. 2. Seperti mau menerima resiko secara wajar. teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. hormon. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. 6. c. Hiperaktif . Karakter. 7. cuci tangan. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. Sosiabilitas. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realistik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawab Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ekstrovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. Bersikap kejam 5. Sementara itu. sedih. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. Kebiasaan berbohong 7. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. marah. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. teori Psikologi Individual dari Allport. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan 3. teori Medan dari Kurt Lewin. atau putus asa e. 5. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 4. Seperti mudah tidaknya tersinggung. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. teori Stimulus-Respons dari Throndike.tampang. Hull. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. f. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. teori Personologi dari Murray. b. Stabilitas emosi. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Responsibilitas (tanggung jawab). konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Sikap. 3. Dalam hal ini. Watson. Horney dan Sullivan. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. teori Sosial Psikologis dari Adler. teori Analitik dari Carl Gustav Jung.

Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Berbahagia 8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. Kurang rasa tanggung jawab 12. dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. 2. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. Sering mengalami pusing kepala 13. Penerimaan sosial 10.9. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan. yaitu : a. Herediter. Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pesimis 15. pasangan faktor keturunan itu memisah. seperti : konstitusi dan struktur fisik. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Oleh karena itu. Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. Memiliki filsafat hidup 11. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Kendati demikian. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Sulit tidur 11.

dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. termasuk didalamnya adalah belajar. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial .Misalnya. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. Environment. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Oleh karena itu.2. 3. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. b. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. 4. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. reproduksi. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. 5. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.

Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk . baik secara alloplastis maupun autoplastis. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. b. 2. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. Dalam hal ini. akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. Obyek penyesuaian diri bagi individu. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan memiliki peranan bagi individu. canggung pemalu dan lain-lain.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. d. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. sebagai : a. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. c. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya.

c. Achievement b. otot. syaraf dan kelenjar. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Maturity. . pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. kecepatan ketepatan. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. religius. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. a. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. dan kepribadian. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit.E. seperti : kemampuan berfikir. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya. sosial.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. moral. Aptitude c. emosi. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis. Kepribadian 2. Inteligensi d.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi.

kecuali : a. Disposisi reaktif seorang. dan c benar 5. a. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat ( perceptual speed). Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a.c. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). c. 7. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. c. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). a. b. d. dan c benar terhadap rangsangan- 8. d. 3. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). b. dan c benar 4. Berdasarkan hasil test kecerdasan. d. (5) kemampuan bilangan (numerical ability). Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). d. c. b. karakter . b dan c benar. b. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. Merupakan teori inteligensi : a. d. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. kemampuan usia prestasi belajar a. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. b. b. b. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a. b. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. c. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. (2) kemampuan mengingat (memory). mampu belajar/bekerja secara mandiri. d. c.

stabilitas emosi d. a. a. well-adjusment Uraian 1. mal-adjusment d.b. c. b. temperamen c. lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . autoplastis c. Jelaskan bahwa faktor herediter. Asas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. sikap dan stabilitas emosi 9. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. d. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. alloplastis b. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya.

2.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. prinsip-prinsip perkembangan. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. diharapkan Anda dapat : 1. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan. tugas perkembangan individu dan masa remaja. . Aspek – Aspek Perkembangan Individu. 2. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Pokok Bahasan 1. 5. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. Mendefinisikan perkembangan. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. 6. 3. dan remaja. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. 3. 5. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. 4. B. dan model pentahapan perkembangan individu. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. Intisari Bacaan 1. 4. Pengertian Perkembangan.

Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. Lebih jauh lagi. Dari outer control ke inner control. Dari konkret ke abstrak. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. individu. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). b. yaitu : a. Fisik. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. 2. 2. meningkat dan meluas. c. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. 3. Struktur mendahului fungsi. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). 2. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. b. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. e. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). 6. Contoh : untuk dapat berdiri. Diferensiasi ke integrasi. seperti : berat dan tinggi badan. d. . 4. seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. Dari egosentris ke perspektivisme.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. f. 5. seperti : berbicara dan berfikir. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Psikis. paru dan sebagainya) ke samping (tangan). beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.

1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya. 2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. 1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Formal - operasional

0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

5. 6. 7. 8. 9.

Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik. pantas dijunjung dan dipuja.00-25. Perkembangan anatomis. 6. prestasi. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. masa remaja. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. mereka membuat peraturan sendiri.6. masa remaja awal. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya. 2. Amat realistik. 3. indeks tinggi dan berat badan. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. 4. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup. d. Aspek. serta sikap sosial. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan. Masa Usia Kemahasiswaan (18. . Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. c. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada).Aspek Perkembangan Individu a. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. masa remaja akhir. rasa ingin tahu dan ingin belajar 3. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. dalam jasmani dan mental.

mengkodifikasikan.1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. konatif). dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. gambar. seperti konstraksi otot-otot. d. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. membaca dan menggambar permulaan. lukisan gerak .gerik. menyimpan. gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. sekresi kelenjar dan pencernaan. Jones dan Conrad (Loree. b. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. Melalui bahasa. tulisan. dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. Perkembangan fisiologis. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik. laju per. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements). bicara monolog. pada usia sekolah menjadi lambat. peredaran darah dan pernafasan. afektif. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). Kemudian. mencatat. haus nama-nama.2. c. persyarafan. . membuat kalimat sederhana. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi. manusia. Laju perkembangan berjalan secara berirama.kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. baik dalam bentuk lisan. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun.

insight learning dan kemampuan berbahasa.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. 4.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. Artinya.dewasa) . Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence). Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. 2. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. sebagai berikut : 1. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Artinya. didengar atau disentuh lagi. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. 3. benda apapun yang tidak ia lihat. Dalam rentang 18 . Tahap formal-operasional (11 . tidak ia sentuh. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat. anak belum mengenal object permanence. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. Sebelum usia 18 bulan. Jadi. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada.

(1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Ia mencoba meniru. ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. kepercayaan terhadap individu lain. b. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”.Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition). 3. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. baik yang menyangkut nilai. yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. Akhirnya. Pada awalnya. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). Kecenderungan peranan (role disposition). Krech et. e. ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. al. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). 2. Kapasitas menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. . norma. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya.

keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1.4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. 2. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism . serba salah. 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 .Sementara itu. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu. Dalam hal ini. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas.

namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. 5. individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun. baik secara individual maupun kolektif. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. pada saat-saat tertentu. 6. termasuk dirinya. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. 4. Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan . dan konatifnya. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. kognitif. 1970). Oleh karena itu.

derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. merusak dengan mulut Mulut sendiri.2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) . memegang. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B.h. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. menunjukkan alat kelaminnya melihat.

Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya.i. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. perlakuan asing dan sebagainya. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. doubt. suara asing. bermain. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. sebagai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 . Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. minum dari . (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. dalam arti duduk. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). dan (3) pola sambutan. 2.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons). namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi. tempat asing. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. cahaya. Bridges (Loree. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. berjalan. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus). berdiri. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang j. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu.

Mereka sudah mulai selektif. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. 6. Kalau pada masa sebelumnya. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. hambatan bahkan kegagalan. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. sehingga perkembangan individu sangat pesat. kecakapannya cukup banyak. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. 4. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. 3. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan. 5. Sesuai dengan namanya masa dewasa. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. Pengetahuannya cukup luas. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak. tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. sehingga . dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. 7. dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. ciri-ciri yang khas dari dirinya. dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar.

sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) . Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair k. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. interest. 8. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Zunker (Popon Sy. attitudes. Arifin. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut. Selanjutnya. eksplorasi karier. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya.

d. work out put. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. difficulty with later task. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. and eventual retirement. (25 – 44) (45 – 64) (65 . Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik. while failure leads to unhappiness in the individual.…) 5. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik. . disaproval by society. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. 2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. dan (4) norma-norma agama.

.0 – 15. Belajar berbicara. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. 7. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. dan orang lain. menulis dan berhitung. (0. 2. 3. 9. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. Mengembangkan kata hati. Belajar bergaul dengan teman sebaya. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 6. 7. 6. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Memulai hidup dengan pasangan. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.0 bulan. 3. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.0) 1. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. 7. 3. 2. 8. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 5. 2. saudara. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. b.0) 1. 2. 9. d. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. Belajar hidup dengan pasangan. Belajar memakan makan padat. 5. 4. 8. Memilih pasangan. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. 4.0-12. c. Memilih dan mempersiapkan karier. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 4. 6.0–6. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. 9. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.0) Belajar berjalan pada usia 9. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. 5. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. 8. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. 3. 10. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.0-21.a.

5. anggota masyarakat dan minat manusia. Sementara itu. 3. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. 5. Mengelola rumah tangga. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. 2. 8. 6. 7. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. Mengembangkan penguasaan ilmu. 4. 7. 3. . Memelihara anak. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mempersiapkan diri. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. b. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Memulai bekerja. Mengenal kemampuan bakat. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat.4. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. yaitu : a. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. 8. teknologi. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. sosial dan ekonomi. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 6.

Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.18-20 th).d. 2003). G. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time.d. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. 1415 th). sosial. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. intelektual dan ekonomi. Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. berbangsa dan bernegara. b. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. 5. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja . para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. 2. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. 6. 3. Oleh karena itu. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1. bermasyarakat. 4. 8. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa.5. 9. 7. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. Perkembangan Pada Masa Remaja a.

2. 3. sangat lambat. 2. 2. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Remaja Awal (11-13 Th s. emosi afektif dan kepribadian. religius. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. konatif.d. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. bahasa. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat. sosial. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa.18-20 Th) 1. diferen-siasi. Gerak gerik mulai mantap. 1. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. estetik. meskipun relatif terbatas. 2. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. Bahasa 1. 2. Remaja Akhir (14-16 Th. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. kognitif.d. Psikomotor 1. 3.14-15 Th) Fisik 1. moralitas.s. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. kausalitas) yang bersifat abstrak.d. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . Laju perkembangan secara umum kembali menurun. Aktif dalam permainan. keagamaan. Perilaku Kognitif 1.kali kurang seimbang. asing.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. berbagai jenis cabang 1. ethis. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. 2.d. 2. psikomotor. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. komparasi.

Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. 2.suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. Afektif dan Kepribadian 1. estetis. 2. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. 1. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. 2. 4. 3. Moralitas 1. rasa aman. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. 4. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. 1. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai 3. sosial. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. ekonomis. 3. 3. kasih sayang. 2. 3. 2. Perilaku Sosial 1. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Emosi. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. Mulai menemukan pegangan hidup 1. politis. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. 1. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetitik puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. Perilaku Keagamaan 1. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. 2. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. dan religius). Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . 2. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya.

dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. terutama melalui pendidikan di sekolah. namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. c. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. yang akan membentuk kepribadiannnya. perkembangan fisik yang tidak proporsional. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . moralitas dan keagamaan. Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. sosial. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Tidak bisa dipungkiri. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1. Begitu juga. dalam era globalisasi sekarang ini.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. 3. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. baik secara fisik maupun psikis. 2. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. Begitu juga masa remaja. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. Namun ketika.

Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. perilaku imitasi atau identifikasi. Selain yang telah dipaparkan di atas. di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. jika tidak terbimbing. terutama secara ekonomis. peranan orang tua. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. . dan emosional. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion. sekolah. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. serta masyarakat sangat diharapkan. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Dalam hal ini. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. Usaha pencarian identitas pun. termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. 4. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. baik internal maupun eksternal. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba.dalam dirinya. khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. D. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya.

bicara monolog. c. gemar bertanya. b. Meraban. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). b. d. Meraban.. bayi (0-2 th). 6. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. c. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Terjadinya perubahan dalam proporsi. haus nama-nama. d. c. haus nama-nama. d. b. c. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. gemar bertanya. kecuali : a. b. c. b dan c benar 2.a. c. bahasa ekspresif. Perkembangan bersifat progresif. bicara monolog. b. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. 3. bahasa ekspresif. Menurut Lovenger. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. d. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). a. Tahap Sensori-Motor b. membuat kalimat sederhana. d. bayi (0-2 th). yaitu : a. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. c. b. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. gemar bertanya. haus nama-nama. a. bicara monolog. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a. Tahap Pra-Operasional . 8. membuat kalimat sederhana. gemar bertanya. d. membuat kalimat sederhana. Meraban. d. Meraban. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th). Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. bahasa ekspresif. b. dan bahasa ekspresif. bicara monolog. haus nama-nama. a.

Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Non Conventional 11. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. Tahap Formal-Operasional 9. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. b. Conventional c. c. a. terjadi pada masa : a. d. 13. Growth Exploratory Establishment Maintenance . d. cahaya. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. c. 14. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. Pre Conventional b. Penghayatan rohaniah yang skeptik. Tahap Konkret-Operasional d. terjadi pada masa : a. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). sehingga enggan melaksanakan ritual. Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. d. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. b. d. d. Post Conventional d. 12. terjadi pada tahap: a.c. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. kebencian dan ketakutan. b. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. temperatur) c. c. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. b. c. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. b. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a.

dan religius). Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. . b. d. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. c. kecuali : a. d. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. 20. a. 19. d. Gerak gerik mulai mantap. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. c. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. b. 18. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. c. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. rasa aman. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. ekonomis. politis. a. c.. d. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu).15. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. a. b. dan c benar 16. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. d. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. b. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. dan c benar. Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. estetis. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. 17. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. c. b. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. b. sosial. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. b. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan. c. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. b. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. kasih sayang.

guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. 4.pendekatan pembelajaran. 3. diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Pokok Bahasan 1. Lantas. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : .d. pendekatan . 2. 3. Hakekat Belajar. 4. Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. peran dan kompetensi guru. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. B. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. 5. Teori-Teori Pokok Belajar. Intisari Bacaan 1. C. Uraian 1. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. yang akan membentuk kepribadiannnya. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. 2.

pengetahuan dan sikap baru”. .  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Begitu juga. b. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). Misalnya. sikap. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. pengetahuan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. Moh. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. Begitu juga. Misalnya.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. pengetahuan dan kecakapan”. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. sikap dan keterampilan berikutnya. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. kebiasaan. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. yaitu : a. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan.  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”  Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Dalam hal ini. maka pengetahuan. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar.

seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. jangka menengah maupun jangka panjang. Perubahan yang bersifat positif. Untuk memperoleh perilaku baru. e. d. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru. f. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. . seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. Perubahan yang fungsional.c. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Perubahan yang bersifat pemanen. Misalnya. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut. Misalnya. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Perubahan yang bersifat aktif. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. g. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. baik tujuan jangka pendek. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. Misalnya.

dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning). lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus ( PreLearning). dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”. Misalnya. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). dengan bertambah pengetahuan. Begitu juga. Kemudian oleh . Belajar merupakan suatu proses. dengan bertambah pengetahuan.h. Praktik. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. Perubahan perilaku secara keseluruhan. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. maka kemampuannya akan meningkat.

Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu. dan sebagainya. --khususnya motif berprestasi-.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun.-. dan mencium. mencicipi. Selain itu. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. baik secara tertulis maupun tulisan. 2003). Dalam belajar. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. b.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. Misalnya. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. c. perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar .menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. Misalnya. Dalam konteks proses pembelajaran. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah. definisi. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). meraba/menjamah. Informasi verbal. misalnya: penggunaan simbol matematika. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. Akhirnya. aturan dan hukum. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). mendengar. Begitu juga. Selain itu. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. memahami konsep konkrit. konsep abstrak. Kecakapan intelektual. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). Strategi kognitif. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai.

kecewa. yakni proses menerima. f. e. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. Pengamatan. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. menafsirkan. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu).Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. Sementara itu. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Moh. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) 2. Keterampilan. yaitu: (a) teori behaviorisme.terjadi aktivitas yang efektif. d. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. b. afektif dan psikomotor. gembira. d. Berfikir asosiatif. Dengan kata lain. h. c. perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. was-was dan sebagainya. Kebiasaan. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. beserta tingkatan aspek-aspeknya. keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. benci. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik. didalamnya terdapat unsur pemikiran. Kecakapan motorik. Sedangkan menurut Bloom. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). marah. Sikap. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. g. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. (b) teori belajar . seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). e. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. sedih. i. senang.

b. 2. diantaranya : a. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. diantaranya: a. Law of Readiness. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. maka hubungan Stimulus . Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. dan (5) teori belajar gestalt. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. dan mengabaikan aspek – aspek mental. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dengan kata lain. b.kognitif menurut Piaget. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.Respons akan semakin kuat. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. .Respons. maka kekuatannya akan menurun. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. c. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. a. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1. Law of Exercise. pendekatan behaviorisme ini. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. bakat. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Sebaliknya. Law of Effect.

Operant Conditioning menurut B. b. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Melalui pemberian reward dan punishment. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. b. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). (2) pre operational. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan.F. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. 4. (3) concrete operational dan (4) formal operational. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. Menurut Piaget. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond).F. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. diantaranya : a. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Reber (Muhibin Syah.3. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Menurut Koffka dan Kohler. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. d. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. 3. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Bila figure dan latar bersifat samar-samar. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. 2. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. (2) pemahaman. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. 4. (4) penyimpanan. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. (1) motivasi. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.obyek fisik. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. (3) pemerolehan. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. potongan. 5. . yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. (5) ingatan kembali. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. (6) generalisasi. Di dalam kelas. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. c.

bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. mengikuti kuliah. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Kedekatan (proxmity). Dalam proses pembelajaran. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. Kesamaan (similarity). Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. 3. yaitu: 1.2. Misalnya. 5. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Kesederhanaan (simplicity). penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. hendaknya peserta didik memiliki . virgo. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Contoh lain. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. berjalan. adanya penamaan kumpulan bintang. 4. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. 4. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. 2. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Misalnya. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. 6. Arah bersama (common direction). seperti : sagitarius. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. (lingkungan behavioral). pisces. Berlari. 3. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Pengalaman tilikan (insight).

yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Prinsip ruang hidup (life space). seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. menyeterikan baju. memasak. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu. bahwa perilaku terarah pada tujuan. guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. 3. Menurut pandangan Gestalt. 3. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. 5. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat. sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Transfer dalam Belajar. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Oleh karena itu.2. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). . Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. Pembelajaran. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Oleh karena itu. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Misalnya. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. 4.

Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas. baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. yaitu : a. . b. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. serta Tuhan yang menciptakannya). c. memimpin. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. merangsang. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. b. menggerakkan. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. e. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. d. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. yang mencakup : a. yang harus dapat menciptakan situasi. 4. terdapat dua pendekatan pembelajaran. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. termasuk metode ceramah dan sejenisnya. observasi dan sejenisnya. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. eksperimen. disengaja dan direncanakan. termasuk discovery-inquiry. Guru sebagai pelaksana (organizer).. Secara garis besarnya. b. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru.

dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. Wakil masyarakat di sekolah. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. Di sekolah. . Penegak disiplin. dan g. prognosa. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). Seorang pakar dalam bidangnya. artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. Pelajar dan ilmuwan. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. guru berperan sebagai perancang pembelajaran. guru berperan sebagai : a. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). dan penilai pendidikan. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan. dan agen masyarakat (social agent).konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). Sementara itu di masyarakat. penilai hasil pembelajaran peserta didik. Lebih jauh. Pemimpin generasi muda. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Penterjemah kepada masyarakat. keluarga dan masyarakat. b. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. pengelola pembelajaran. f. Pengambil inisiatif. baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. dan dari sudut pandang psikologis. menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement). Selanjutnya. Pelaksana administrasi pendidikan. Di lain pihak. Pekerja sosial (social worker). di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. seorang guru berperan sebagai : a. atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). Sedangkan dalam keluarga. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Moh. melakukan diagnosa. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. c. d. menganalisa. c. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. pengarah. artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. penemu masyarakat (social inovator). diri pribadi (self oriented). b. e. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator).

c. Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. guru berperan sebagai : a. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. lingkungan belajar. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. orang tua maupun masyarakat. Sementara itu. interaksi peserta didik dengan sesamanya. seperti : tata letak tempat duduk. ia akan terpuruk secara profesional. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. Pembentuk kelompok (group builder). artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. disiplin peserta didik di kelas. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. b. Di masa depan.c. d. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. Sejalan dengan tantangan kehidupan global. dan e. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. Dari sudut pandang secara psikologis. dan e. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Untuk menghadapi . seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). pengelolaan sumber belajar. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Orang tua. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. pengelolaan bahan belajar. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). berkembang. dan lain-lain. Kalau hal ini terjadi. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. a. Pakar psikologi pendidikan. d. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. model keteladanan. interaksi peserta didik dengan guru. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Catalyc agent atau inovator. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan.

pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. kompetensi. evaluasi hasil belajar. 6. b. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. 5. 2. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 9. 6. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. 4. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. dewasa. Artinya. .tantangan profesionalitas tersebut. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. 2. pemahaman terhadap peserta didik. namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. 3. berwibawa. stabil. mantap. 3. perancangan pembelajaran. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu. 7. 4. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. arif dan bijaksana. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. 5. sertifikasi dan remunerasi guru. 2. berakhlak mulia. c. 7. Berkenaan dengan kompetensi guru. mengevaluasi kinerja sendiri. berkomunikasi lisan dan tulisan. pengembangan kurikulum/silabus. 8. guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Begitu juga.

4. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. rasa tanggung jawab akan tugasnya. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. mampu berkomunikasi. struktur. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. d. yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. dan 5. d. 3. dan perwujudan diri. Dengan demikian. tenaga kependidikan. c. sesama guru. konsep. orangtua/wali peserta didik. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. b. Surya (1997) a. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. Kompetensi profesional. penerimaan diri. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. Kompetensi personal. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. Kompetensi kemasyarakatan. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. meliputi : Moh. b. sesama pendidik. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. baik dengan peserta didik. Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. maupun masyarakat luas. Kompetensi sosial. bergaul secara efektif dengan peserta didik. tut wuri handayani. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. pengarahan diri. ing madya mangun karsa. 2. Kompetensi personal. Sementara itu. Kompetensi profesional. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. Kompetensi intelektual. .3. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . dan 4. yaitu : a. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. c.

dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. 3. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting). dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. Sebagai pembanding. 2. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. b. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. d. Kompetensi spiritual. 3. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1. 2. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. c. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. 2. 3. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. 4. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik.e. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. . yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. 2. 2. dan 4. yaitu: a. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. e. Teachers are Members of Learning Communities: 1. 3. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran.

Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. dan ketulusan. dan 8. seperti : 1. 7. 6. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. penghargaan kepada peserta didik. antara lain: 1. 3. 2. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. 4. Memiliki kemampuan interpersonal. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. pelaksanaan. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. 5. 2. 3. 2. b. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. yaitu : 1. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. suka menyela. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu . c. 2. mengalihkan pembicaraan. 4. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. d. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. seperti: 1. 5. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. yaitu mencakup : a. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A.

Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. b. pemberian ganjaran. sosio-emosional yang baik. Masalah Individual : 1. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif).guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. 6. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). b. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. yaitu : a. congruence). 7.pembelajaran. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. Behavior . 4. suku. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. dan sebagainya. genuiness. 4. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . 2. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. 2. 3. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik . Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya. 3. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). 5. karena alasan jenis kelamin. yaitu : a. penetapan norma kelompok yang produktif). Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness. Dalam hal ini. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. tingkatan sosial ekonomi. helplessness (peragaan ketidakmampuan). Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. Masalah Kelompok : 1. Carl A. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Kelas kurang kohesif.

dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. g. bertujuan dan terarah. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Richard A. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. Sedangkan Haim C. yaitu : (a) mutual expectations. Schmuck & Patricia A. (c) norm. f. Belajar merupakan usaha individu. Perubahan yang bersifat intensional. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. caring. menganalisis dan menilai masalah.manusia (acceptance. b dan c benar . dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. (d) communication. kecuali : a. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. Sementara itu. c. kontinyu. trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). menyusun rencana pemecahannya. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. c. guru berusaha untuk membicarakan situasi. (d) cohesiveness D. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. prizing. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. (b) leadership. d. Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. positif. a. h. (c) attraction (pola persahabatan). b.

Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. Dapat menciptakan situasi belajar. b. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. merangsang. Dalam proses pembelajaran. adalah : a. b. d. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. memimpin. menggerakkan. c. a. d. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. b. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. c. b. b. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. d. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning 5. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. d. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. dan c benar. b. b.Respons. c. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6. c. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. c.3. Sebaliknya. c. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . a. d. 7. d. b. a.

diharapkan Anda dapat : 1. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. a.c. asas. Mengidentifikasi fungsi. proses konseling. 3. 5. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. c. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. Mendefinisikan bimbingan dan konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. merencanakan. 3. 2. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. 5. prinsip. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. 4. B. bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Pokok Bahasan 1. b. Proses dan Teknik Konseling. prosedur umum bimbingan dan konseling. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. 6. jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. 4. 3. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. b. d. Uraian 1. 2. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. orientasi baru. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. d. Sebagai guru. .

1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. Dalam pelaksanaannya. kesehatan. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities. Willis. kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance).  United States Office of Education (Arifin. jabatan. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. sosial dan pribadi. governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat). di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I. regulating (mengatur). leading (memimpin).  Peters dan Shertzer (Sofyan S. Surya. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. conducting (menuntun). bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya. Surya.S. atau mengemudikan). misalnya problema kependidikan.  I.  Jones et. Djumhur dan Moh. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). manager. giving instructions (memberikan petunjuk). Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. Intisari Bacaan 1. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a.C. Djumhur dan Moh. menentukan.al. mengatur. Sedangkan menurut W. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. pilot. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. or steer (menunjukkan. keluarga dan masyarakat.

bimbingan belajar. dan merencanakan masa depan”. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. meski secara formal istilah ini belum digunakan. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah.dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. baik keluarga. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. Dari beberapa pendapat di atas. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan.  Tercapainya penyesuaian diri. dkk. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. b. Padahal kenyataan di sekolah . yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja.  Dalam Peraturan Pemerintah No. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. mengenal lingkungan. Untuk kepentingan penulisan ini. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. sekolah dan masyarakat. kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. berdasarkan norma-norma yang berlaku. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. bimbingan sosial. Dari pendapat Prayitno. bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. dalam bimbingan pribadi. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun.  Prayitno.. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. dkk. dan bimbingan karier. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya).

yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja. bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. Akibatnya. 4. merazia. Profesional. sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% . bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. terlambat SPP. Potensial. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. Pedagogis. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. Humanistik-religius. 3. bodoh. Selebihnya. Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. guru bahkan kepala sekolah. Sofyan. yaitu: . Dengan demikian. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif.10%).jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. S. 2. . artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik. seperti peserta didik yang bolos. c. teoritis. Mengingat keadaan seperti itu. menentang guru dan sebagainya. berkelahi. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. tempat menangkap. artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. Dengan adanya orientasi baru ini.

menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik.1. guru pembimbing. baik di rumah. Pemahaman. (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. suku. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial. informasi pendidikan. 3. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. Pencegahan. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. 2. (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu. jabatan/pekerjaan. 4. d. jenis layanan dan kegiatan pendukung. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu. menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. dan keluarga peserta didik dan orang tua. . 5. menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah. orang tua. lingkungan yang lebih luas. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan. (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan. serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. jenis kelamin. agama dan status sosial. Advokasi. sekolah dan masyarakat sekitar. Pemeliharaan dan pengembangan. sasaran layanan. Pengentasan. ekonomi dan budaya. 2. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. 3. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan.

Asas Kerahasiaan (confidential). Asas Keterbukaan. guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. 3.4. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). e. sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. Dalam hal ini. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. 2. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. Asas. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. Asas Kesukarelaan. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.

9. 7. Asas Keterpaduan. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. mampu mengambil keputusan. Asas Kemandirian. mengarahkan. Asas Kedinamisan. serta mewujudkan diri sendiri. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. 8. tidak monoton. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Bahkan lebih jauh lagi. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. saling menunjang. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. harmonis dan terpadukan. yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. adat istiadat. 4. Asas Kegiatan. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan.tidak berpura-pura. baik norma agama. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Dalam hal ini. Asas Kekinian. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. 5. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . ilmu pengetahuan. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Asas Keahlian. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. Dalam hal ini. peraturan. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. hukum. 10. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. 6. Asas Kenormatifan.

peran. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. b. atau ahli lain. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. Asas Alih Tangan Kasus. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Dengan adanya kata “kewajiban”. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. tenaga. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. sebaliknya guru pembimbing (konselor). mengembangkan keteladanan. Demikian pula. juga perlu melibatkan kepala sekolah . Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. dan memberikan rangsangan dan dorongan. Asas Tut Wuri Handayani. latihan. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. belajar. sosial. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. guru-guru lain. Menyediakan prasarana. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. sehingga pelayanan pengajaran. c. dan karier”. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. . 11. sebagai berikut : a. dan dinamis. guru mata pelajaran dan wali kelas. harmonis. Peranan Kepala Sekolah. Secara garis besarnya. tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. 12. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). 2. penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju.

h. jujur dan asli. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. e. Sedangkan. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing. seperti konferensi kasus. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. dan e. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. Menyediakan fasilitas. mendorong. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling. b. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. f. bersahabat. Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. Sofyan S. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. e. c. c. program pengayaan). peran. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. ramah.d. d. memahami dan menghargai tanpa syarat. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b. konkret. kesempatan. Membantu mengembangkan suasana kelas. g. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. . Wali Kelas berperan : a. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. seperti konferensi kasus. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing.

kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Informasi. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. pendidikan lanjutan). dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap . Untuk lebih jelasnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran. magang. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. 2. sosial. karier. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi.3. pergaulan. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. 3. Layanan Orientasi. program latihan. jurusan/program studi. Layanan Pembelajaran. a. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. dalam bidang pribadi. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. 4. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. kelompok belajar. Namun. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan.

5. Layanan Konseling Kelompok. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. 2. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. sistematik. Layanan Konseling Perorangan. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. b. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. minat dan segenap potensi lainnya. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. 6. Himpunan Data.bakat. komprehensif. yaitu : 1. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Aplikasi Instrumentasi Data. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. . terpadu dan sifatnya tertutup. Layanan Bimbingan Kelompok. baik tes maupun non tes. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. . seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. 5. Identifikasi kasus. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. dokter serta ahli lainnya. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Alih Tangan Kasus. 4. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. 4. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. yakni : 1. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Call them approach. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. Konferensi Kasus. kemudahan. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a.3. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. Kunjungan Rumah. keterangan. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien.

Developing a desire for counseling. bisa dilihat dari segi input. c. kepribadian. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Maintain good relationship.2. d. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. tes bakat. dan (10) waktu senggang. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. (2) diri pribadi. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. emosi. (4) ekonomi dan keuangan. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. nilai dan moral. (3) behavioral. dan (2) faktor eksternal. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. ataupun out put belajarnya. (8) hubungan muda-mudi. dan atau (4) personality. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. (5) karier dan pekerjaan. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . (3) hubungan sosial. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. proses. seperti tes inteligensi. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. (6) pendidikan dan pelajaran. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. 4. Prognosis. (7) agama. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. Melakukan analisis sosiometris. Diagnosis. 5. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. yaitu : (1) faktor internal. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. kecerdasan.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. W. bakat. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. (2) struktural – fungsional. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. Prayitno dkk. Identifikasi Masalah. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. menciptakan hubungan yang baik. (9) keadaan dan hubungan keluarga. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. seperti : lingkungan rumah. 3.

evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. 4.kasus yang dihadapi. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . 5.menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. dan 3. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. yaitu apabila: 1. 3. e. f. Sementara itu. 2. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. Evaluasi dan Follow Up. Namun. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. cara manapun yang ditempuh. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). 7. . Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. 2. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.

Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor). percobaan bunuh diri. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. seperti : gangguan emosional berat. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. Oleh karena itu. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. ahli/profesional. minum minuman keras tahap pertengahan. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. guru dan sebagainya. dengan perbuatan menyimpang. 6. berpacaran. karena gangguan di keluarga. c. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. Dalam hal ini. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. peserta didik hamil. berkelahi dengan teman sekolah. berkelahi antar sekolah. Sofyan S. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor). Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Masalah (kasus) berat. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. seperti : gangguan emosional. Masalah (kasus) ringan. dokter. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. seperti : membolos. berpacaran. mencuri kelas sedang. bertengkar.5. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. polisi. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . pelaku kriminalitas. Dalam prakteknya. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. malas. Masalah (kasus) sedang. kesulitan belajar. b. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. polisi. minum minuman keras tahap awal. kesulitan belajar pada bidang tertentu. kecanduan alkohol dan narkotika. melakukan gangguan sosial dan asusila. mencuri kelas ringan.

dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). kesukarelaan. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. 2. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. c. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. Kontrak waktu. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. diantaranya : a. Kontrak kerjasama dalam proses konseling. Proses Konseling Secara umum. 3. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. 2. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. 1. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. berisi : 1. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. d.konseling. dan kegiatan. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. diantaranya : a. . keterbukaan. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. b. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. (2) tahap inti (tahap kerja). Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. terutama asas kerahasiaan. a. Kontrak tugas.

Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). d. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. yaitu . Untuk lebih jelasnya. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. diantaranya : . 3. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. a. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. 2. yaitu : a. c.Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. b. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Hal ini bisa terjadi jika : 1. 1. d. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. sehat dan dinamis. b. baik oleh pihak konselor maupun klien. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. c. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. b. c. Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor.

Empati primer. 5. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. mengalihkan pandangan. Posisi tubuh : tegak kaku. Perhatian : terpecah. 4. 4. mata melotot. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. perhatian terarah pada lawan bicara. Contoh ungkapan empati primer : . Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. tidak melihat saat klien sedang bicara. dan bahasa lisan. ceria. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. senyum 3. Muka : kaku. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. duduk kurang akrab dan berpaling. yaitu : a. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. jarak duduk dengan klien menjauh. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. ekspresi melamun. Perilaku attending yang baik dapat : 1. bersandar. Kepala : kaku 2. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. mudah buyar oleh gangguan luar. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. miring. 5. Memutuskan pembicaraan. menggunakan tangan sebagai isyarat. Contoh perilaku attending yang baik : 1. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan.a. Meningkatkan harga diri klien. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. Ekspresi wajah : tenang. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. bahasa tubuh. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. Menciptakan suasana yang aman 3. 2. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. pikiran dan keinginan klien. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). menunggu ucapan klien hingga selesai. b. 3. Terdapat dua macam empati. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.

.” 2. Refleksi pikiran..” ” Adakah yang Anda maksudkan... pikiran. pikiran. Refleksi pengalaman. pengalaman termasuk penderitaannya... c. ” Saya mengerti keinginan Anda”. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan.. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.” ” Barangkali Anda merasa.. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. pikiran.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi perasaan. .” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah.” ” Hal itu rupanya seperti ... yaitu : 1.. Terdapat tiga jenis refleksi.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam.. yaitu teknik untuk memantulkan ide...” 3.. b. Empati tingkat tinggi.. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. berupa perasaan. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah . Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan.

. Eksplorasi pengalaman. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. dan pengalaman klien. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. Eksplorasi pikiran.. pikiran.. yaitu : 1. biasanya ditandai . Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien.. pikiran. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan.. menutup diri. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam.... Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Seperti halnya pada teknik refleksi. yaitu teknik untuk menggali ide.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu. tertekan dan terancam. dan pendapat klien.” d.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. Eksplorasi perasaan..

Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g. (3) memberi arah wawancara konseling. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. akan tetapi saya tidak mengambilnya. bagaimana. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. dapatkah. adakah. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. Contoh dialog : Klien Konselor f. Oleh karenanya. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” Konselor Klien Konselor . lebih baik gunakan kata tanya apakah. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. dan mengamati respons klien terhadap konselor. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question).

ya... Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Konselor j..” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu.. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu.... Membantu orang tua memang harus.. Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.. ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya... karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya..... terus.. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa. dan saya nyaris. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. bukan pandangan subyektif konselor. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.. lalu.. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.dan... perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Terutama hidup di kota besar seperti Anda.Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. Karena tantangan masa depan makin banyak.” Konselor i. . namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut..Klien : ” Sebelas ” h..

tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Pada umumnya dalam wawancara konseling. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Oleh karena itu. Misalnya dengan mengatakan : . konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. kedua. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas.” Konselor k. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.” l. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. kita sudah sampai pada dua hal: pertama.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. Saya tak dapat lagi menahan diri. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.

wajah murung. Contoh : ” Tanti. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. Contoh : ” Roni. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. posisi tubuh gelisah). Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. senyum dengan kepedihan. (suara rendah. dan sebagainya. ide awal dengan ide berikutnya. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. konflik.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”.” .(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Ada beberapa yang dapat dilakukan. 4. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Fokus pada orang lain. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. telah membuat kamu menderita. atau kontradiksi dalam dirinya. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. (2) meningkatkan potensi klien. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Fokus pada diri klien. Fokus mengenai budaya. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Fokus pada topik. diantaranya : 1.” n.

. ucapan dengan o. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.. paling lama 5 – 10 detik... dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. atau saudara-saudara Anda.. :”.. pikiran...” (diam) Konselor r.. Saya.. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung....” (diam) Konselor Klien :” Saya. (2) agar klien menjelaskan.. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”... Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.. ungkapan kata-kata yang tegas...” Konselor p. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending..Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja... Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar.. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya... tidak tahu. ibu.harus bagaimana. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. kurang jelas dan agak meragukan.” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah.. Mengambil Inisiatif ....” q. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan. dan dengan alasan-alasan yang logis.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara.. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”.

dan kurang parisipatif. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. (3) pemahaman baru . Coba Anda renungkan kembali”. sering diam. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Kalau pun konselor mengetahuinya. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Contoh: ” Baiklah.com di internet”. Contoh : ” Nah. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. u. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. s. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. (2) memantapkan rencana klien. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya.upi. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action). Walaupun demikian. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai.” t. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. terutama mengenai kecemasan. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara.

klien. di samping menggunakan teknik-teknik umum. seperti pendekatan Behaviorisme. kesulitan menyatakan tidak. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Rational Emotive Theraphy. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. yaitu : a. Dalam hal ini konselor . Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. b. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. d. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. 2. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. c. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling.

dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. 3.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. 5. 4. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. f.. Melalui dialog yang kontradiktif ini. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. misalnya : 1. model fisik. 2. e. dapat menggunakan model audio. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Bermain Proyeksi Proyeksi : . g. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “. Misalnya : “Saya merasa jenuh.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. “Saya malas. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor.

i. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. membiasakan diri. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. h. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek . Home work assigments. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dengan tugas rumah yang diberikan. j. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Sering terjadi. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan.

mendorong. d. c. bimbingan sosial. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. mengenal lingkungan. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. bimbingan belajar. keluarga dan masyarakat. kecuali : a. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. b. dan merencanakan masa depan. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. . Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih.kognisinya yang keliru. m. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. D. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Latihan : Soal : 1. dan bimbingan karier. dalam bimbingan pribadi. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. k. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. l.

b. d. a. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. kedinamisan. b. dan c benar 8. a. keterpaduan kenormatifan. kemandirian. d. d. b. kerahasiaan. sukarela. d. b. c. . b. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. alih tangan kasus. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. keahlian kegiatan. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. a. d. c.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. c. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. b. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. a. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. a. tut wuri handayani a. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. c. c. keterbukaan. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. 2. suku. Oleh karena itu. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. c. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. kekinian. agama dan status sosial. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. jenis kelamin. 6. b. 4. d. berdasarkan norma-norma yang berlaku. b.

Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. c. b. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. c. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. c. dapat dilakukan oleh : a. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan. a. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. b dan c benar 11. ”Anda mengatakan baik-baik saja. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. d. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. a. b. seperti bolos. a. dan c benar penegakan 9. b. Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. a. d. Imitasi b. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. b. c.c. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. d. b.” b. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a. d. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. Permainan dialog . c. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih. 14. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. berkelahi dengan teman. d. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. kecuali a. d. a. b. c.

Melihat kondisi demikian. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya. kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian.Kabupaten Nun Jauh Disana. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. Bermain peran d. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . Home work assigments Uraian 1. tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Selama bulan Februari 2006. Ketika dia masih duduk dibangku SD. Bahkan Andi. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. kawan sekelasnya. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP.c. pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan. tanpa alasan yang jelas. bahwa jika dia tidak masuk kelas. Sementara itu. Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3. dia suka nongkrong di terminal.

Psikologi Belajar. Panduan Pembelajaran KBK. New York : McMillan H.html>. Remaja Rosdakarya.T. Elizabeth B. Implementasi Kurikulum 2004. 2004. Remaja Rosdakarya.IKIP Bandung. Jakarta : Rineka Cipta.T. Bandung : P. (Accessed. Supratiknya). SMP dan SMA . 31 Oct 2002). Remaja Rosdakarya. Psikologi Pendidikan.2005. PT Golden Terayon Press. 2003. ---------. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Developmental Phsychology. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Arifin. ----------.2003. Publishing. Kurikulum Berbasis Kompetensi.1992. E. Kartini Kartono). Calvin S. J.P. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. Raja Grafindo Persada. Hurlock. Jakarta : PT Raja Grafindo. 2002 .M. Bandung : P.. NBPTS Home Page. Margaret E. Prayitno. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.Bandung : P. 2005. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Surya. Bandung PPB . Kamus Lengkap Psikologi. 2004. Hall & Gardner Lidzey (editor A. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. 2004. <http://www. Konsep. Depdiknas. 2003. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD. Gendler. 2004. Jakarta : P. (terj. 1980. 2003. Jakarta. Theory Into Practice.org/ standards/fivecore. dkk. . 1997.Karakteristik dan Implementasi. Learning & Instruction. 2005. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Depdiknas. Muhibbin Syah. Mulyasa. Nana Syaodih Sukmadinata. dkk. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. 2003. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin. National Board for Professional Teaching Standards.nbpts. Five Core Propositions.T.T. Dasar Standarisasi Profesi Konseling.

PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. . Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. 2003. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).puskur. Psikologi Kepribadian. 1984. Bandung : Lab. Willis. Teori dan Praktek.go. Jakarta : Rajawali. Inventori Tugas Perkembangan. www. 2002. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. Sunaryo Kartadinata.Konseling Individual. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : Pustaka Setia.id.Sofyan S. Syamsu Yusuf LN. Yogyakarta : Adi Cita.2003. 2004.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful