POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Arwin Zoelfatas

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU

A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :

 Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.  Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

(c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. (h) menilai hasil pembelajaran.--terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya--. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif. agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. 2. a. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. yakni kompetensi pedagogik. sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. dengan memahami psikologi pendidikan. pengelolaan kelas. . Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. baik untuk kepentingan pembelajaran. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru. yang saling bertolak belakang. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. Dalam hal ini. (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). Oleh karena itu itu.Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing. Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. Selain itu. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien.

secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. Ruangan kelas yang gelap. ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia).Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R S = stimulus (rangsangan). Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. R = Respons (perilaku. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S). secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). -- . dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. waktu sore hari. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas.

dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) . masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. Secara skematik rangkaian. tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. Menggerakkan kaki menuju ke depan. yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). b. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). berjalan ke depan. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). motif.meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. meminta ijin ke dosen. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. how (bagaimana). mengucapkan minta izin kepada dosen. meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. dan why (mengapa). Sebenarnya. yakni perilakunya itu sendiri.

dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. psikologikal dan intelektual. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . membentuk keluarga. (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). (2) kebutuhan keamanan. Dalam hal ini. Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. sehingga membentuk suatu siklus. tidak dalam arti fisik. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). pangan dan papan. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). organisasi ataupun persahabatan. (4) kebutuhan prestise atau harga diri. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. seperti : sandang. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok.Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi.2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. akan tetapi juga mental. Setiap individu. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power).

(4) ketabahan. manipulasi. minat). Dalam pandangan holistik. (2) frekuensi kegiatan. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. (3) persistensi pada kegiatan. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. melarikan diri. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. dikenal dengan istilah drive. yaitu : 1. seperti : dorongan untuk makan. 2. Approach-approach conflict. 2. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. dikehendaki serta bersifat positif. konformitas dan sebagainya). motif-motif sosial (ingin diterima. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. menyerang. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. Approach-avoidance conflict. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. menyelamatkan diri dan sejenisnya. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu.Berkaitan dengan motif individu. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. yaitu : (1) durasi kegiatan. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. untuk keperluan studi psikologis. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. 3. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. Motif sekunder. minum. Avoidance-avoidance conflict. seperti : takut yang dipelajari. Motif primer (basic motive dan emergency motive). menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan . menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari.

(6) rasionalisasi (mencari alasan). di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). (10) berfantasi (dalam angan-angannya. yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). Untuk tujuan jangka pendeknya. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). (2) kecemasan tak berdaya. terdapat dua kemungkinan. Namun sebaliknya. Untuk lebih jelasnya. (3) regresi (kemunduran perilaku). sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. (4) fiksasi. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). Dalam hal ini. jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. diantaranya : (1) agresi marah. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.tertentu. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. Namun. inteligensi). perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). . (5) represi (menekan perasaan). dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment).

Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. sehingga selama kuliah.Tujuan jangka menengah. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. Begitu juga. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. . nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. Pada akhir semester. Bagi dirinya. dia berhasil meraih sebagai juara pertama. Selain itu. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. dia memperoleh pengetahuan yang luas. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya.

Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. peristiwa.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman . baik berbentuk verbal maupun non verbal. ide prosedur. terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. nama. Dia sering tidak masuk kuliah. rumus. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar.  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. kejadian masa lalu. definisi. teori.Dalam konteks pendidikan. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). Sambil menangis (regresi).Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. atau kesimpulan. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. peristiwa. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). kebudayaan masyarakat tertentu. orang tempat. sumber informasi. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). konsep. 1) Pengetahuan (knowledge). dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. yakni : a. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. tahun. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. 3. Kawasan Kognitif. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. daftar.

b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. . Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut.  Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. pendapat atau perlakuan.  Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. atau memproses sesuatu. sehingga membentuk struktur kognitif baru. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain.  Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. Mengetahui kelas. Untuk bisa seperti itu. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. kelompok. Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. prinsip. dan c) Ekstrapolasi. 7. bagan atau grafik. peristiwa. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. yaitu ide. 5. 3. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan.  Mengetahui metodologi. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. yaitu melihat kecenderungan. fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. menemukan atau menyelesaikan masalah. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. Misalnya. 11.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. informasi. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal.

memanfaatkan. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh.  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. menggunakan. . maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi).3) Penerapan (application) Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut.  Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis. Contoh.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya.  Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.  Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama.  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Dengan pemahaman demikian. dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika. Bagi mereka. mengklasifikasikan. 4) Penguraian (analysis). yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru. ingat kuda ingat transportasi. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan.

sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan.. . Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini.  Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal.  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak.  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. menilai dan mengambil keputusan benar-salah.  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. menciptakan logo organisasi. baik-buruk. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya. meramu. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan.

Misalnya pada desain atau warna saja. yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. dan sebagainya. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. seperti perasaan. sikap. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. suara atau kata-kata tertentu saja. atau mentaati peraturan lalu lintas.b. Kagum atas keberanian seseorang. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). Kawasan Afektif. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). membuat coretan atau gambar. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. 4) Pengorganisasian (organization) . memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. kagum. b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. Contoh : mengajukan pertanyaan. terpesona. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. minat. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui.

b) Karakterisasi. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. menjawab pertanyaan. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. Proses ini terdiri atas dua tahap. mempersiapkan alat. b) Pengorganisasian sistem nilai. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. (b) peniruan (imitation). yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. yaitu : a) Generalisasi.Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. . (c) membiasakan (habitual). c. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. 5) Karakterisasi (characterization). menyesuaikan diri dengan situasi. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. Kawasan Psikomotor. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. sistem itu selalu konsisten. Pada tahap karakterisasi.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan ( set). dan seterusnya menurut urutan kepentingan. yakni : a) Konseptualisasi nilai. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya.

. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. dan sebagainya. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. kelenturan (flexibility) dan kegesitan. dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. kekuatan (strength). yang terpola dan dapat ditebak. Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. Bagi kalangan behaviorisme. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. 5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. serta wahana untuk pembebasan manusia. banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. berjalan. alat pelatihan keterampilan. serta media untuk meningkatkan keterampilan. Sementara kalangan humanisme. Sementara itu. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. alat mengasah otak. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. misalnya : melompat. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar.4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. 2) 3) 4) 5) 6) 4. tangkas. menunduk.

hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. khususnya dalam pandangan behaviorisme. menurut pandangan behaviorisme. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu.O) P= person (pribadi. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. Secara skematik. termasuk lingkungan sekolah. Sementara itu. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. minat. Sedangkan dalam pandangan humanisme. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. Walaupun demikian. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). bakat. terutama potensi intelektual.Dengan demikian. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. .Yang menjadi persoalan. maupun psikomotor. baik dalam aspek kognitif. afektif. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu.

Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. d. d. dan c benar 3. misalnya melalui: diskusi dengan teman. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. Dengan demikian. 5. b. bahkan melakukan penelitian. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. c.motivasi. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. b. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . mengobservasi perilaku di kelas. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. 4. W S S S O WS Ow R R O R R W W . kecuali : a. dia mendapatkan pengetahuan. d. D. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. b. a. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. b. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. c. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. maka pada akhirnya. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. c.

application b. regresi c. Approach-approach conflict c. a. dan c benar 8. proyeksi 10. fiksasi d. b dan c benar 11.avoidance conflict b. Kebutuhan akan prestasi. b. c. evaluasi b. Kebutuhan akan harga diri. ketabahan. c. a. menghubungkan. d. analysis c. Avoidance-avoidance conflict d. b. Kebutuhan akan aktualisasi diri. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. b. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. frekuensi dan persistensi kegiatan. 7. a. a. a.6. a. Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. evaluation Uraian 1. b . Dapat menyimpulkan. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . synthesis d. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. a. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. agresi b. durasi. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Approach. characterization by value or value complex d. kecuali : a. Non-discursive communication c. dan c benar 9. Kebutuhan akan rasa aman. d. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2.

kecakapan potensial. dalam Kecakapan dan C. ukuran kecerdasan. dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. Dari segi . 4. ciri-ciri keberbakatan. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. 2. aspek-aspek kepribadian. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik. Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan.Dari segi kecepatan belajar.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN ujuan : A. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. kecerdasan (inteligensi). Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. B. diharapkan Anda dapat : 1. dan kepribadian 2. Intisari Bacaan 1. T Setelah mempelajari Bab ini. 3. yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. Pokok Bahasan 1. seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. Mendefinisikan kecakapan nyata. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan.

kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi

kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan

kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur

dapat menggunakan beberapa instrumen standar.75 % 0. (6) kecepatan pengamatan. Untuk mengukur bakat seseorang. dan (8) kecakapan gerak. Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah : MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (3) pemahaman bilangan. IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 .25 % 0. (4) tilikan ruangan.89 70 .69 25 . Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. (5) daya ingat. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0. Selain itu. seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya.05 % Selain menggunakan instrumen standar. melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya. rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya. Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata.79 50 .20 % 0. FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test). dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian.49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0.aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test). (2) kefasihan mengungkapkan kata. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability). (7) berfikir logis. ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven. sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) . Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut.

akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. 13. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). 2. tergantung sudut pandang masing-masing. untuk kepentingan pengembangan diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. Berangkat dari studi yang dilakukannya. 8. 4. 9. Belajar dengan dan cepat. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). yaitu: 1. Allport (Calvin S. 6. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. 14. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. kreativitas dan komitmen terhadap tugas. 12. Mampu berkonsentrasi. 10. Hall dan Gardner Lindzey. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang.saja. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). misalnya konstitusi dan kondisi fisik. b. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. frustrasi dan konflik. Mempunyai minat luas. 3. 7. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. ketegangan emosional. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. 11. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. . Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. 5.

Stabilitas emosi. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. teori Sosial Psikologis dari Adler. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Horney dan Sullivan. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. teori Stimulus-Respons dari Throndike. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. 3. 2. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. 7. Kebiasaan berbohong 7. teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. Bersikap kejam 5. Sering merasa tertekan (stress atau depresi) 4. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Hiperaktif . b. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Fromm. Seperti mudah tidaknya tersinggung. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. teori Medan dari Kurt Lewin. negatif atau ambivalen d. teori Personologi dari Murray. yaitu disposisi reaktif seorang. 6.tampang. Watson. marah. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Temperamen. Hull. 5. sedih. Sosiabilitas. Seperti mau menerima resiko secara wajar. teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Sementara itu. 4. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang 6. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sikap. cuci tangan. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. f. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG SEHAT 1. teori Psikologi Individual dari Allport. hormon. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. c. 8. Karakter. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan 3. Mudah marah 2. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. atau putus asa e. Mampu menilai diri sendiri secara realistik Mampu menilai situasi secara realistik Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik Menerima tanggung jawab Kemandirian Dapat mengontrol emosi Berorientasi tujuan Berorientasi keluar (ekstrovert) KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. Dalam hal ini. Responsibilitas (tanggung jawab).

dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. Kendati demikian. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. Herediter. Sering mengalami pusing kepala 13.9. Kurang rasa tanggung jawab 12. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat . Sulit tidur 11. Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Penerimaan sosial 10. Oleh karena itu. Berbahagia 8. Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. yaitu : a. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. pasangan faktor keturunan itu memisah. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. 2. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 9. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. seperti : konstitusi dan struktur fisik. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Pesimis 15. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Memiliki filsafat hidup 11. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya.

Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. termasuk didalamnya adalah belajar. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. 5. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. 4. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial . Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. Environment. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. Oleh karena itu. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia.Misalnya. b. 3. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. reproduksi. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. baik yang berasal dari ayah maupun ibu.2. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi.

Sesuatu yang diikuti individu. akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. canggung pemalu dan lain-lain. Dalam hal ini. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. 2. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. c. Obyek penyesuaian diri bagi individu.Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. b. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. baik secara alloplastis maupun autoplastis. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. sebagai : a. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. d. Lingkungan memiliki peranan bagi individu. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk . Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar.

Achievement b. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. c. emosi.E. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. a. syaraf dan kelenjar. otot.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis.memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. dan kepribadian. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. sosial. kecepatan ketepatan. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. . Maturity. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. Inteligensi d. Aptitude c. terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b. moral. religius. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. seperti : kemampuan berfikir. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. Kepribadian 2. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi.

selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. karakter . d. 7. b. b dan c benar. kecuali : a. b. c. d. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. dan c benar terhadap rangsangan- 8. mampu belajar/bekerja secara mandiri. d. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). b. b. c. b. Merupakan teori inteligensi : a.c. c. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. (5) kemampuan bilangan (numerical ability). siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat ( perceptual speed). dan c benar 4. d. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. 3. a. Disposisi reaktif seorang. b. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. c. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a. Berdasarkan hasil test kecerdasan. (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). d. a. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). (2) kemampuan mengingat (memory). b. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). b. (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). kemampuan usia prestasi belajar a. dan c benar 5. c. d.

lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . d. temperamen c. mal-adjusment d. autoplastis c. a. c. sikap dan stabilitas emosi 9. Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya.b. Jelaskan bahwa faktor herediter. stabilitas emosi d. b. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. well-adjusment Uraian 1. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. a. Asas Reproduksi Asas Variasi Asas konformitas Asas Jenis Menyilang 10. alloplastis b.

2. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. 4. 4. Mendefinisikan perkembangan. 2. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. Pokok Bahasan 1. prinsip-prinsip perkembangan. Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan. 5. 5. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Pengertian Perkembangan. 3. diharapkan Anda dapat : 1. .BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. tugas perkembangan individu dan masa remaja. 3. 6. B. dan model pentahapan perkembangan individu. dan remaja. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. Intisari Bacaan 1. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C.

beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. yaitu : a. f.Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Dari konkret ke abstrak. e. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Dari outer control ke inner control. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). 2. Diferensiasi ke integrasi. . Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). Contoh : untuk dapat berdiri. paru dan sebagainya) ke samping (tangan). c. b. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. meningkat dan meluas. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. 2. Terjadinya perubahan dalam proporsi. 2. 6. 3. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. 4. 5. Fisik. d. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. Psikis. Dari egosentris ke perspektivisme. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. b. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. individu. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Lebih jauh lagi. Struktur mendahului fungsi. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. seperti : berat dan tinggi badan. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. seperti : berbicara dan berfikir.

1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya. 2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. 1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Formal - operasional

0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th 11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

5. 6. 7. 8. 9.

Peduli akan self fulfillment Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal Respek terhadap kemandirian orang lain Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

Aspek Perkembangan Individu a.00-25.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. Aspek. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret 2. c. indeks tinggi dan berat badan. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada). masa remaja akhir. dalam jasmani dan mental. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. 3. 6. setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Masa Usia Kemahasiswaan (18. rasa ingin tahu dan ingin belajar 3. 2. serta sikap sosial. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. pantas dijunjung dan dipuja. mereka membuat peraturan sendiri. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. 4. yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup. d. Perkembangan anatomis. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. . prestasi. masa remaja. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. Amat realistik. masa remaja awal. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik.6.

Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. afektif. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). laju per. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. peredaran darah dan pernafasan. sekresi kelenjar dan pencernaan. pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. tulisan. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. gambar. d. seperti konstraksi otot-otot. menyimpan. manusia. Kemudian. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. membaca dan menggambar permulaan. Melalui bahasa. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif. baik dalam bentuk lisan. haus nama-nama. persyarafan. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. . dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements).1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan.gerik. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. lukisan gerak . mencatat. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks. konatif). Laju perkembangan berjalan secara berirama. Perkembangan fisiologis. Jones dan Conrad (Loree. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. b. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi. bicara monolog. gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. pada usia sekolah menjadi lambat. mengkodifikasikan. dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. membuat kalimat sederhana. Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik.kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan.2. dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. c. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir.

Sebelum usia 18 bulan. anak belum mengenal object permanence. didengar atau disentuh lagi. Artinya. Artinya. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia 1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Perkembangan Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. tidak ia sentuh. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka.Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Jadi. benda apapun yang tidak ia lihat. 4. sebagai berikut : 1. pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. Tahap formal-operasional (11 . yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat.dewasa) . atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. insight learning dan kemampuan berbahasa. Dalam rentang 18 . Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence). namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. 2. anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. 3.

Akhirnya. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. 3. kepercayaan terhadap individu lain. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. norma. 2. Pada awalnya. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. baik yang menyangkut nilai. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. . Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. e. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. b. yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. Ia mencoba meniru. ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. al. Kapasitas menggunakan hipotesis Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Kecenderungan peranan (role disposition).Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition). Krech et.

bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan.Sementara itu. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. 2. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu.4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. Dalam hal ini. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. serba salah. 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism . sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) 1. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada.

Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. kognitif. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu.Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 3. 1970). Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. pada saat-saat tertentu. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Masa Sekolah Masa Remaja Awal Masa Remaja Akhir Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan . individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun. baik secara individual maupun kolektif. termasuk dirinya. bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. dan konatifnya. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif. Oleh karena itu. 6. 4. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. 5. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari.

memegang.2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual.h. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya. Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. menunjukkan alat kelaminnya melihat. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. merusak dengan mulut Mulut sendiri. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) .

Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. berjalan. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). cahaya. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. 2. doubt. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. berdiri. 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang j. dalam arti duduk. bermain. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons). 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. dan (3) pola sambutan. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. suara asing. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus). namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi. sebagai berikut : Usia Pada saat dilahirkan 0 .3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya.i. Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. perlakuan asing dan sebagainya. tempat asing. minum dari . Bridges (Loree.

sehingga . Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Pengetahuannya cukup luas. Kalau pada masa sebelumnya. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. 6. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. Mereka sudah mulai selektif. 4. hambatan bahkan kegagalan. 5. 3. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. kecakapannya cukup banyak. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Sesuai dengan namanya masa dewasa. sehingga perkembangan individu sangat pesat. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. ciri-ciri yang khas dari dirinya. 7. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation.botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar.

Dorongan untuk terus berprestasi masih ada. Selanjutnya. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. 8. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. interest. attitudes. eksplorasi karier. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame.tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Arifin. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Ciri-Ciri Development of capacity. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair k. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. Zunker (Popon Sy. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) .

Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. . perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik. dan (4) norma-norma agama. while failure leads to unhappiness in the individual. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. (2) tuntutan masyarakat secara kultural.…) 5. difficulty with later task. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual. (25 – 44) (45 – 64) (65 . 2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan.d. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s.Establishment Maintenance Decline Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. work out put. and eventual retirement. disaproval by society.

6. 3. c. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. 6. Memulai hidup dengan pasangan. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1. 5. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. saudara. (0.0 – 15. 2. 2. 9. 5. 9. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. 10.a. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. 3. 8. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. 6. . Belajar hidup dengan pasangan.0) 1. 4. Belajar bergaul dengan teman sebaya. dan orang lain. 9.0-21. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. b. d. 2.0 bulan. 7. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Belajar memakan makan padat. 4. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.0–6. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. 7. 4. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 2.0) 1. menulis dan berhitung. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. 8. Memilih dan mempersiapkan karier. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. 3. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6. 3. Memilih pasangan. 5.0-12. 8.0) Belajar berjalan pada usia 9. Belajar berbicara. 7. Mengembangkan kata hati.

menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. Memelihara anak. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. . teknologi. Sementara itu. 2. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. Memulai bekerja. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. 3. 5. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. 8. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. 6. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. 5. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Mengelola rumah tangga. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. 4. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Mengenal kemampuan bakat. 3. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. sosial dan ekonomi. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. Mempersiapkan diri.4. b. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 6. 7. Mengembangkan penguasaan ilmu. 7. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. anggota masyarakat dan minat manusia. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 8. yaitu : a. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.

baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. 2003). Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. G. intelektual dan ekonomi. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). 5. 7. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja .5. 8. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikapsikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. Oleh karena itu. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. sosial. berbangsa dan bernegara. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin. 4. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan. 6. 9. 2. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.d. b. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. bermasyarakat. Perkembangan Pada Masa Remaja a. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. 3. 1415 th). Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1.d. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting.18-20 th).

komparasi. kognitif. konatif. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. 2. 2.d. 2. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. 2.d. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif. ethis. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. religius. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region.s. moralitas. 2.Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. Remaja Awal (11-13 Th s. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik.14-15 Th) Fisik 1.kali kurang seimbang. Psikomotor 1. Perilaku Kognitif 1. Bahasa 1.18-20 Th) 1. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa. Gerak gerik mulai mantap. bahasa. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. 3. estetik. psikomotor. Remaja Akhir (14-16 Th. asing. kausalitas) yang bersifat abstrak. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. sosial. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat.d. 2. sangat lambat. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang . disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). diferen-siasi. 1. berbagai jenis cabang 1. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. 3. emosi afektif dan kepribadian. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja.d. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi. keagamaan. 2. meskipun relatif terbatas. Aktif dalam permainan. Laju perkembangan secara umum kembali menurun.

Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. 2. 2. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. estetis. Mulai menemukan pegangan hidup 1. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. Merupakan masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat 3. Perilaku Keagamaan 1. kasih sayang. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. rasa aman. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. 2. Mulai dapat memelihara jarak dan batasbatas kebebasan. 4. 1. 2. 2. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai 3. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. 4. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). 1. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. Perilaku Sosial 1. 3. 3. sosial. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan . 3. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. politis. 2. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. ekonomis. 2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. Moralitas 1. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. dan religius).suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. Kecenderungan bakat tertentu mencapai menujukkan kecenderungan-kecendetitik puncak dan kemantapannya rungan yang lebih jelas. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. 3. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. 1. Emosi. Afektif dan Kepribadian 1.

Tidak bisa dipungkiri. ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. Begitu juga. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). moralitas dan keagamaan. 2. 3. yang akan membentuk kepribadiannnya. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. c. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan . penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana. Namun ketika. baik secara fisik maupun psikis. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Begitu juga masa remaja. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat.dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. dalam era globalisasi sekarang ini. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. perkembangan fisik yang tidak proporsional. sosial. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. terutama melalui pendidikan di sekolah.

tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. termasuk dengan guru di sekolah. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. 4. Dalam hal ini. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. Usaha pencarian identitas pun. D. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). peranan orang tua. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba. . di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. baik internal maupun eksternal. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. serta masyarakat sangat diharapkan. khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. terutama secara ekonomis. Selain yang telah dipaparkan di atas. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual.dalam dirinya. Hal ini disebabkan pada masa remaja. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. perilaku imitasi atau identifikasi. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. sekolah. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. dan emosional. jika tidak terbimbing. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua.

kecuali : a. a. haus nama-nama..a. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. d. d. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. bicara monolog. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a. Meraban. c. a. b. d. a. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. membuat kalimat sederhana. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Tahap Pra-Operasional . b. c. membuat kalimat sederhana. bayi (0-2 th). bayi (0-2 th). haus nama-nama. bicara monolog. c. Tahap Sensori-Motor b. gemar bertanya. b. haus nama-nama. c. Meraban. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. Rosseau Kretschmer Piaget Elizabeth Hurlock 4. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th). b. Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. membuat kalimat sederhana. 8. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. c. Meraban. d. Perkembangan bersifat progresif. dan bahasa ekspresif. b. 6. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). bahasa ekspresif. bicara monolog. gemar bertanya. bahasa ekspresif. bicara monolog. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). d. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan. haus nama-nama. 3. b. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. bahasa ekspresif. d. gemar bertanya. b dan c benar 2. Menurut Lovenger. d. gemar bertanya. c. b. c. Meraban. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5. yaitu : a.

Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Penghayatan rohaniah yang skeptik. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. terjadi pada masa : a. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. temperatur) c. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. c. cahaya. terjadi pada tahap: a. kebencian dan ketakutan. sehingga enggan melaksanakan ritual. d. Pre Conventional b. 14. Tahap Formal-Operasional 9. b. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). d. Conventional c. Non Conventional 11. c. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. d. b. 12. Growth Exploratory Establishment Maintenance . d. 13. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Post Conventional d. b. b. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. Tahap Konkret-Operasional d. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence. d. c. b.c. c. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. a. terjadi pada masa : a.

estetis. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. b. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. . dan c benar 16. d. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). b. sosial. d. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. 20. c.. c. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. politis. a. ekonomis. d. Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). b. 18. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. rasa aman. b. kecuali : a. c. d. b. dan religius). b. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. 17. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. c. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. a. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. dan c benar. b. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. kasih sayang. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. a. Gerak gerik mulai mantap.15. 19. c. d. b. c. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki.

4. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. 2. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. Pokok Bahasan 1. pendekatan . Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. 3.d. 2. diharapkan Anda dapat : 1. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. Lantas. 3. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua. B. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. yang akan membentuk kepribadiannnya. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Teori-Teori Pokok Belajar. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : . Uraian 1. Hakekat Belajar. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. Intisari Bacaan 1. 5. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. C.pendekatan pembelajaran. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. 4. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. peran dan kompetensi guru.

Begitu juga. kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. sikap. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan.  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. pengetahuan dan kecakapan”. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. Begitu juga. sikap dan keterampilan berikutnya. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Misalnya. yaitu : a. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu). pengetahuan dan sikap baru”.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. . sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. maka pengetahuan. Misalnya. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Dalam hal ini. Moh. kebiasaan.  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”  Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. b. pengetahuan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan.

baik tujuan jangka pendek. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan. maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. d. Untuk memperoleh perilaku baru. Perubahan yang bersifat aktif. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. Perubahan yang bersifat positif. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru. seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. f. Perubahan yang bertujuan dan terarah. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. jangka menengah maupun jangka panjang. mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A.c. g. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. Misalnya. e. Perubahan yang bersifat pemanen. Perubahan yang fungsional. Misalnya. Misalnya. .

mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”. Perubahan perilaku secara keseluruhan. Kemudian oleh .h. maka kemampuannya akan meningkat. Belajar merupakan suatu proses. Begitu juga. dengan bertambah pengetahuan. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. Misalnya. Di Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus ( PreLearning). dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning). maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. dengan bertambah pengetahuan. Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”. sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). Praktik. Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”.

definisi. misalnya: penggunaan simbol matematika. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu.-. Strategi kognitif. dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). Dalam belajar. 2003). yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). Kecakapan intelektual. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. memahami konsep konkrit.menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. Selain itu. baik secara tertulis maupun tulisan. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar . mendengar. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. Begitu juga. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas.konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya. c. --khususnya motif berprestasi-. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. mencicipi. Informasi verbal. b. meraba/menjamah.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. Akhirnya. Misalnya. konsep abstrak. Misalnya. dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. dan sebagainya. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. Dalam konteks proses pembelajaran. Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. dan mencium. Selain itu. perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a.

sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) 2. Moh. e. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. d. f. Kebiasaan. i. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu). beserta tingkatan aspek-aspeknya. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. sedih. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik. e. Sedangkan menurut Bloom. gembira. menafsirkan. Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. senang. benci.terjadi aktivitas yang efektif. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. Kecakapan motorik. g. didalamnya terdapat unsur pemikiran. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. yaitu: (a) teori behaviorisme. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. c. Sikap. was-was dan sebagainya. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. d. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. marah. Pengamatan. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). b. yakni proses menerima. kecewa. h. Dengan kata lain. (b) teori belajar . Berfikir asosiatif. afektif dan psikomotor. Keterampilan. Sementara itu. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.

artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. b. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Law of Exercise.kognitif menurut Piaget. 2. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1. dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. maka kekuatannya akan menurun. diantaranya : a. a. maka hubungan Stimulus . Dengan kata lain. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. . (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. Law of Effect. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. c. b. Law of Readiness. dan mengabaikan aspek – aspek mental. pendekatan behaviorisme ini. Sebaliknya. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat.Respons. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. diantaranya: a. dan (5) teori belajar gestalt. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah.Respons akan semakin kuat. bakat. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar.

4.F. Menurut Piaget. diantaranya : a. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. (3) concrete operational dan (4) formal operational. b. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan . Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Reber (Muhibin Syah. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. (2) pre operational. seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. Melalui pemberian reward dan punishment. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method).F. Operant Conditioning menurut B.3.

Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. 2.obyek fisik. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Di dalam kelas. (5) ingatan kembali. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. (3) pemerolehan. 4. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Menurut Koffka dan Kohler. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. . untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. (6) generalisasi. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. d. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. (4) penyimpanan. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. (2) pemahaman. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. 5. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. (1) motivasi. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. 3. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Bila figure dan latar bersifat samar-samar. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. c. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. potongan. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Penampilan suatu obyek seperti ukuran.

3. 5. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. 4. berjalan. Kesederhanaan (simplicity). adanya penamaan kumpulan bintang. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. 6. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Berlari. (lingkungan behavioral). Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Misalnya. Arah bersama (common direction). Dalam proses pembelajaran. Misalnya. seperti : sagitarius. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada. 2. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. mengikuti kuliah. Kedekatan (proxmity). Pengalaman tilikan (insight). Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.2. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. pisces. virgo. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. yaitu: 1. 4. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. Contoh lain. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. dan Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Kesamaan (similarity). bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. 3. hendaknya peserta didik memiliki .

tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. 4. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. 3. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Prinsip ruang hidup (life space). bahwa perilaku terarah pada tujuan. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Oleh karena itu. Oleh karena itu. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. Misalnya. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.2. . guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. memasak. Pembelajaran. kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Menurut pandangan Gestalt. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat. 5. Transfer dalam Belajar. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. Oleh karena itu. 3. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. menyeterikan baju. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain.

baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. serta Tuhan yang menciptakannya). e. b. termasuk discovery-inquiry.Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. termasuk metode ceramah dan sejenisnya. kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. yang harus dapat menciptakan situasi. seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a. disengaja dan direncanakan. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. . Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). memimpin. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya. Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. merangsang. Guru sebagai pelaksana (organizer). Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi.. yaitu : a. yang mencakup : a. konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. observasi dan sejenisnya. Secara garis besarnya. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. d. c. menggerakkan. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. eksperimen. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. 4. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya. b. terdapat dua pendekatan pembelajaran. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. b. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas.

menganalisa. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. Pelajar dan ilmuwan. artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. f. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). prognosa. guru berperan sebagai : a. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan. Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). b. seorang guru berperan sebagai : a. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. Sedangkan dalam keluarga. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. dan penilai pendidikan. Pemimpin generasi muda. Di lain pihak. baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. Pengambil inisiatif. b. . dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). dan agen masyarakat (social agent). Sementara itu di masyarakat. c. penilai hasil pembelajaran peserta didik. c. diri pribadi (self oriented). guru berperan sebagai perancang pembelajaran. Lebih jauh. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. Seorang pakar dalam bidangnya.konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). d. yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan g. pengelola pembelajaran. penemu masyarakat (social inovator). dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. keluarga dan masyarakat. Selanjutnya. yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. Penegak disiplin. Pekerja sosial (social worker). yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. pengarah. Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented). yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. melakukan diagnosa. Pelaksana administrasi pendidikan. Wakil masyarakat di sekolah. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement). Moh. Penterjemah kepada masyarakat. Di sekolah. e. dan dari sudut pandang psikologis.

pengelolaan sumber belajar. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. orang tua maupun masyarakat. c. artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. dan lain-lain. dan e. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. guru berperan sebagai : a. Sementara itu. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). Sejalan dengan tantangan kehidupan global. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. Di masa depan. Pakar psikologi pendidikan. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. ia akan terpuruk secara profesional. b. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. lingkungan belajar. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah. Untuk menghadapi . model keteladanan. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. Catalyc agent atau inovator. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. disiplin peserta didik di kelas. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Orang tua. ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. interaksi peserta didik dengan sesamanya. dan e. d. Dari sudut pandang secara psikologis. Pembentuk kelompok (group builder).c. Kalau hal ini terjadi. a. seperti : tata letak tempat duduk. d. interaksi peserta didik dengan guru. pengelolaan bahan belajar. berkembang.

dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. berakhlak mulia. Begitu juga. 4. pengembangan kurikulum/silabus. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. 7. 6. perancangan pembelajaran. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. 5. berkomunikasi lisan dan tulisan. Disamping itu. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. dewasa. 8. mengevaluasi kinerja sendiri. 9. disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. pemahaman terhadap peserta didik. 6. b. 2. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Berkenaan dengan kompetensi guru. Artinya. c. 3. evaluasi hasil belajar. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 7. guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. kompetensi. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. . guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. 2. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1. Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. 2.tantangan profesionalitas tersebut. mantap. stabil. 3. 5. dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. 4. berwibawa. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. sertifikasi dan remunerasi guru. arif dan bijaksana. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.

struktur. 4. Sementara itu. tenaga kependidikan. Kompetensi profesional. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. bergaul secara efektif dengan peserta didik. sesama pendidik. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. yaitu : a. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. 3. Kompetensi personal. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. dan perwujudan diri. dan 5. rasa tanggung jawab akan tugasnya. sesama guru. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. Kompetensi sosial. Surya (1997) a. pengarahan diri. meliputi : Moh. ing madya mangun karsa. tut wuri handayani. Dengan demikian. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. orangtua/wali peserta didik. Kompetensi personal. Kompetensi intelektual. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. baik dengan peserta didik. konsep.3. c. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. dan 4. Kompetensi profesional. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. b. maupun masyarakat luas. yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. 2. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. d. d. c. penerimaan diri. . memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. b. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . mampu berkomunikasi. Kompetensi kemasyarakatan. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain.

Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1. 3. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Teachers are Members of Learning Communities: 1. 2. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik. . National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. b. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting). 2. c. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. 2. yaitu: a. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. 2. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan. yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. e. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. dan Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. 2. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Sebagai pembanding. d.e. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. dan 4. Kompetensi spiritual. 3. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. 4. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. 3. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. 3.

Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. dan ketulusan. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. 5. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. yaitu : 1. Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. 2. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu . 2. 3. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. suka menyela. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik. 4. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Memiliki kemampuan interpersonal. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. seperti : 1. 5.Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan. 6. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. b. 3. khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. d. pelaksanaan. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. penghargaan kepada peserta didik. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. seperti: 1. 4. mengalihkan pembicaraan. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. 2. dan 8. 2. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. c. 7. yaitu mencakup : a. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). antara lain: 1.

“Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. 6. 2. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). 3. helplessness (peragaan ketidakmampuan). Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. yaitu : a. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness.guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. menerima dan menghargai peserta didik sebagai . 3. 7. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. Kelas kurang kohesif. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. dan sebagainya. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. 4. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. b. Behavior . Carl A. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). 2. penetapan norma kelompok yang produktif). Masalah Kelompok : 1. Dalam hal ini. b. penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. yaitu : a. suku. Masalah Individual : 1. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap. Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik . genuiness.pembelajaran. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). pemberian ganjaran. sosio-emosional yang baik. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. congruence). 5. 4. karena alasan jenis kelamin. tingkatan sosial ekonomi. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya.

d. kontinyu. Sementara itu. Belajar merupakan usaha individu. yaitu : (a) mutual expectations. trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). a. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. g.manusia (acceptance. (c) norm. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process. bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. Sedangkan Haim C. memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. b dan c benar . Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. caring. positif. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. h. Schmuck & Patricia A. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. Richard A. bertujuan dan terarah. kecuali : a. b. f. (d) communication. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. Perubahan yang bersifat intensional. c. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. (d) cohesiveness D. dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. (b) leadership. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2. guru berusaha untuk membicarakan situasi. (c) attraction (pola persahabatan). memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. menyusun rencana pemecahannya. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1. c. prizing. menganalisis dan menilai masalah. Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif.

Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. 7. b. b. b. c. c. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. d. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. Dalam proses pembelajaran. c. a. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran . menggerakkan. c. d. Dapat menciptakan situasi belajar. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. d. d. memimpin. d. a. c. merangsang. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. b. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6. b. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. Sebaliknya. dan c benar. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. d. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. c.Respons. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning 5. adalah : a. b. a. b. b.3.

d. prinsip. Mengidentifikasi fungsi. a. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. Sebagai guru. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. asas. diharapkan Anda dapat : 1. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. b. . siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. para siswa kurang kompak dan selalu berisik.c. 5. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. d. orientasi baru. jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. 3. proses konseling. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. 2. Pokok Bahasan 1. prosedur umum bimbingan dan konseling. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. 3. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Proses dan Teknik Konseling. b. 4. 4. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. Uraian 1. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. B. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. 6. 5. bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah. merencanakan. c. 3. 2. Mendefinisikan bimbingan dan konseling.

al.C. kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance).  I. regulating (mengatur). Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) . governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat). jabatan. atau mengemudikan). di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I. Djumhur dan Moh. leading (memimpin). menentukan. keluarga dan masyarakat. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). Intisari Bacaan 1.  Jones et.S. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. 1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. giving instructions (memberikan petunjuk). agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). Djumhur dan Moh. bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Surya. Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing.  Peters dan Shertzer (Sofyan S. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini. kesehatan. Surya. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sedangkan menurut W. Dalam pelaksanaannya. mengatur. conducting (menuntun). 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem. or steer (menunjukkan. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. misalnya problema kependidikan. pilot. Willis. (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. manager.  United States Office of Education (Arifin. sosial dan pribadi.

mengenal lingkungan. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan.  Dalam Peraturan Pemerintah No. Dari beberapa pendapat di atas. Untuk kepentingan penulisan ini. berdasarkan norma-norma yang berlaku. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi.  Tercapainya penyesuaian diri. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. bimbingan belajar. Padahal kenyataan di sekolah . dan merencanakan masa depan”. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal.  Prayitno. yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. bimbingan sosial. sekolah dan masyarakat. dan bimbingan karier. b. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. dalam bimbingan pribadi. meski secara formal istilah ini belum digunakan. baik keluarga. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah.dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. dkk. bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. Dari pendapat Prayitno.. dkk.

artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. bodoh. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. Mengingat keadaan seperti itu. yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. seperti peserta didik yang bolos. Masalah-masalah kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif. 4. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Humanistik-religius. 2. . bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% . Dengan demikian. guru bahkan kepala sekolah. berkelahi. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik. artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan. yaitu: . Profesional. Sofyan. Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. Dengan adanya orientasi baru ini. Selebihnya.10%).jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja. teoritis. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. 3. dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. S. tempat menangkap. Potensial. Pedagogis. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. terlambat SPP. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. c. menentang guru dan sebagainya. Akibatnya. merazia.

Advokasi. menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. agama dan status sosial. guru pembimbing. orang tua. Pencegahan. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu.1. . 3. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. Pemeliharaan dan pengembangan. 3. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah. lingkungan yang lebih luas. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. baik di rumah. Pengentasan. suku. (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. d. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. informasi pendidikan. 4. (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. 2. jenis kelamin. jenis layanan dan kegiatan pendukung. dan keluarga peserta didik dan orang tua. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. 2. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik. sasaran layanan. ekonomi dan budaya. menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. Pemahaman. 5. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik. sekolah dan masyarakat sekitar. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial. jabatan/pekerjaan. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan.

yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan . Agar peserta didik (klien) mau terbuka. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. 3. sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. Dalam hal ini. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. Asas. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. Asas Keterbukaan. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Asas-Asas Bimbingan dan Konseling Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri. Asas Kesukarelaan. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. e. Asas Kerahasiaan (confidential).4. 2.

Bahkan lebih jauh lagi. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Asas Kekinian. 7. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. harmonis dan terpadukan. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. Asas Kegiatan. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. 8. para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Asas Kemandirian. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. serta mewujudkan diri sendiri. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju. tidak monoton. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. baik norma agama. mampu mengambil keputusan. 6. Dalam hal ini. Dalam hal ini. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. 10. Asas Kedinamisan. 4. yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. adat istiadat. Asas Kenormatifan. Asas Keahlian. peraturan. 5. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. 9. Asas Keterpaduan.tidak berpura-pura. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik . yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. ilmu pengetahuan. saling menunjang. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri. mengarahkan. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. hukum.

Dengan adanya kata “kewajiban”. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. sebaliknya guru pembimbing (konselor). Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. tenaga. Asas Alih Tangan Kasus. Secara garis besarnya. dan memberikan rangsangan dan dorongan. c. latihan. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. belajar. sebagai berikut : a. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. 12. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. sosial. guru-guru lain. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. 11. penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. Peranan Kepala Sekolah. 2. Asas Tut Wuri Handayani. Demikian pula. atau ahli lain. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. dan dinamis. . peran. mengembangkan keteladanan. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. dan karier”. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. b.dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. Menyediakan prasarana. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. sehingga pelayanan pengajaran. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. guru mata pelajaran dan wali kelas. juga perlu melibatkan kepala sekolah . harmonis. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli.

Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. seperti konferensi kasus. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing. mendorong. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. kesempatan. konkret. g. Sofyan S. Sedangkan. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. e. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya. peran. d. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling. program pengayaan). b. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. h. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. memahami dan menghargai tanpa syarat. c. Menyediakan fasilitas. dan e. c.d. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. jujur dan asli. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing d. . Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. seperti konferensi kasus. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. e. Wali Kelas berperan : a. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. bersahabat. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. f. ramah. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. Membantu mengembangkan suasana kelas. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. Layanan Penempatan dan Penyaluran. jurusan/program studi. dalam bidang pribadi. pergaulan. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. 3. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. Layanan Informasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap . Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. kelompok belajar. program latihan. Layanan Orientasi. 4. Untuk lebih jelasnya. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. a. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu.3. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. magang. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. Namun. pendidikan lanjutan). kegiatan ko/ekstra kurikuler. karier. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Pembelajaran. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. 2. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.

Layanan Konseling Perorangan.bakat. Layanan Konseling Kelompok. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. 6. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. b. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. baik tes maupun non tes. 2. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Himpunan Data. yaitu : 1. Aplikasi Instrumentasi Data. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. komprehensif. terpadu dan sifatnya tertutup. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. . 5. Layanan Bimbingan Kelompok. minat dan segenap potensi lainnya. sistematik.

Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Kunjungan Rumah. Call them approach. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. keterangan. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. dokter serta ahli lainnya. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling.3. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. yakni : 1. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a. 4. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. kemudahan. 5. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Alih Tangan Kasus. . Identifikasi kasus. Konferensi Kasus. 4. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor.

Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. Maintain good relationship. ataupun out put belajarnya. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. tes bakat. Melakukan analisis sosiometris. Identifikasi Masalah. yaitu : (1) faktor internal. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan . Diagnosis. (3) hubungan sosial. kepribadian.2. emosi. (7) agama. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. kecerdasan. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. nilai dan moral. (8) hubungan muda-mudi. seperti : lingkungan rumah. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. Prognosis. bakat. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. proses. (9) keadaan dan hubungan keluarga. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. (3) behavioral. (2) diri pribadi. dan (10) waktu senggang. dan (2) faktor eksternal. dan atau (4) personality. bisa dilihat dari segi input. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. (6) pendidikan dan pelajaran. Developing a desire for counseling. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. W. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Prayitno dkk. d. (4) ekonomi dan keuangan. seperti tes inteligensi. (5) karier dan pekerjaan. 4. menciptakan hubungan yang baik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.H. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. (2) struktural – fungsional. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. 3. 5. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. c.

jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . . Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan.kasus yang dihadapi. Sementara itu. 4. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. 7. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. yaitu apabila: 1. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. 3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. 2. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). Namun. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. 5. e. f. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. 2. cara manapun yang ditempuh. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Evaluasi dan Follow Up. untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. dan 3. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas.

berpacaran. b. mencuri kelas ringan. Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor). bertengkar. mencuri kelas sedang. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. malas. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Sofyan S. minum minuman keras tahap awal. kesulitan belajar. Masalah (kasus) ringan. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Masalah (kasus) sedang. minum minuman keras tahap pertengahan. Dalam prakteknya. percobaan bunuh diri. seperti : gangguan emosional. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. peserta didik hamil. Masalah (kasus) berat. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. seperti : membolos. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. dengan perbuatan menyimpang.5. 6. kesulitan belajar pada bidang tertentu. berkelahi antar sekolah. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. berpacaran. guru dan sebagainya. polisi. c. Dalam hal ini. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. Oleh karena itu. pelaku kriminalitas. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus a. polisi. melakukan gangguan sosial dan asusila. berkelahi dengan teman sekolah. seperti : gangguan emosional berat. karena gangguan di keluarga. ahli/profesional. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. kecanduan alkohol dan narkotika. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik . tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. dokter. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor).

dan kegiatan. Kontrak kerjasama dalam proses konseling. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. 3. diantaranya : a. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. b. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. berisi : 1. a. . keterbukaan. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri.konseling. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). 1. (2) tahap inti (tahap kerja). Kontrak tugas. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. diantaranya : a. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). 2. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. terutama asas kerahasiaan. kesukarelaan. Proses Konseling Secara umum. d. c. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. 2. Kontrak waktu.

Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. 2. c. Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. b. yaitu : a. d. 3. baik oleh pihak konselor maupun klien. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. yaitu . Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. b. diantaranya : . Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Untuk lebih jelasnya. Hal ini bisa terjadi jika : 1. c. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. 1. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. d. b. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. c. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. a. sehat dan dinamis. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali).

duduk kurang akrab dan berpaling. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Posisi tubuh : tegak kaku.a. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. Meningkatkan harga diri klien. bahasa tubuh. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Mendengarkan : aktif penuh perhatian. Perilaku attending yang baik dapat : 1. 5. pikiran dan keinginan klien. Empati primer. b. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Menciptakan suasana yang aman 3. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. 5. tidak melihat saat klien sedang bicara. ekspresi melamun. senyum 3. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. jarak duduk dengan klien menjauh. menunggu ucapan klien hingga selesai. dan bahasa lisan. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Memutuskan pembicaraan. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Muka : kaku. Terdapat dua macam empati. Ekspresi wajah : tenang. menggunakan tangan sebagai isyarat. Contoh perilaku attending yang baik : 1. Contoh ungkapan empati primer : . yaitu : a. bersandar. ceria. 4. mata melotot. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. miring. 4. mengalihkan pandangan. 2. 3. Perhatian : terpecah. perhatian terarah pada lawan bicara. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. Kepala : kaku 2. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. mudah buyar oleh gangguan luar.

Refleksi perasaan.. yaitu : 1..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah.” 3. pengalaman termasuk penderitaannya. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut..” ” Adakah yang Anda maksudkan.. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Refleksi pengalaman. Terdapat tiga jenis refleksi.. pikiran.” ” Barangkali Anda merasa... Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien...” ” Hal itu rupanya seperti . ” Saya mengerti keinginan Anda”. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Empati tingkat tinggi. b.” 2. . berupa perasaan.” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”.. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.... Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan...(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan. yaitu teknik untuk memantulkan ide. c. Refleksi pikiran. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah . pikiran. pikiran.

terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. pikiran. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan... pikiran. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya.. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Eksplorasi pikiran. yaitu teknik untuk menggali ide. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik.. dan pengalaman klien. dan pendapat klien..” d. Eksplorasi pengalaman.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. tertekan dan terancam. Eksplorasi perasaan. menutup diri.” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien... biasanya ditandai . Seperti halnya pada teknik refleksi. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. yaitu : 1. Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ..

Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan .” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). akan tetapi saya tidak mengambilnya. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” Konselor Klien Konselor . lebih baik gunakan kata tanya apakah. : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g. bagaimana. (3) memberi arah wawancara konseling. dan mengamati respons klien terhadap konselor. Contoh dialog : Klien Konselor f.dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Oleh karenanya. adakah. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. dapatkah. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu.

.” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.” Konselor Klien : ” nekad bunuh diri” : ” lalu.. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”... Terutama hidup di kota besar seperti Anda.” Konselor i. Membantu orang tua memang harus... lalu. ....Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien... bukan pandangan subyektif konselor. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. Karena tantangan masa depan makin banyak... Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan.Klien : ” Sebelas ” h. terus.. Konselor j. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.... Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu.. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. ya. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori... Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya...dan. dan saya nyaris. ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya.

Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. (3) meningkatkan kualitas diskusi. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . kedua. kita sudah sampai pada dua hal: pertama.” l.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita.Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Misalnya dengan mengatakan : . Saya tak dapat lagi menahan diri. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Oleh karena itu. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Pada umumnya dalam wawancara konseling. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. namun masih ada hambatan yang akan hadapi.” Konselor k. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.

Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. konflik.” n. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita.” . Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2. (2) meningkatkan potensi klien. atau kontradiksi dalam dirinya. Fokus pada diri klien. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. dan sebagainya. Contoh : ” Tanti. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. 4. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. senyum dengan kepedihan. Contoh : ” Roni. Fokus pada topik. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. telah membuat kamu menderita. Fokus mengenai budaya. diantaranya : 1. Fokus pada orang lain. Contoh dialog : Klien : ” Saya baik-baik saja”. (suara rendah. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Ada beberapa yang dapat dilakukan. ide awal dengan ide berikutnya. posisi tubuh gelisah). wajah murung.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan.” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur.

Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan..” (diam) Konselor Klien :” Saya.. atau saudara-saudara Anda. dan dengan alasan-alasan yang logis... pikiran.. Saya. Mengambil Inisiatif ... Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending. mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. (2) agar klien menjelaskan...” q. ucapan dengan o... Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”.” (diam) Konselor r.. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. tidak tahu.. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. kurang jelas dan agak meragukan.harus bagaimana.. :”.. ungkapan kata-kata yang tegas. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas.. paling lama 5 – 10 detik.Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja.... dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya..... Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. ibu.” Konselor p.....” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah. tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”..... karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir. (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit.

jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Coba Anda renungkan kembali”. sering diam. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan. Contoh: ” Baiklah.” t. Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. (2) memantapkan rencana klien. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Kalau pun konselor mengetahuinya. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. (3) pemahaman baru . s. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. terutama mengenai kecemasan. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Contoh : ” Nah. u. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini.com di internet”. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. dan kurang parisipatif. Walaupun demikian.upi. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action).

Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. c. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. seperti pendekatan Behaviorisme. Rational Emotive Theraphy. yaitu : a. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. 2. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks.klien. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling. b. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. kesulitan menyatakan tidak. di samping menggunakan teknik-teknik umum. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Dalam hal ini konselor . Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. d. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk.

misalnya : 1. 2. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung.. “Saya malas. 5. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. dapat menggunakan model audio. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. 3. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.menunjukkan kepada klien tentang perilaku model.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh.. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. 4. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Melalui dialog yang kontradiktif ini. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. g. model fisik. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. e. Bermain Proyeksi Proyeksi : . f.

Home work assigments. h. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. membiasakan diri. i. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. j. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek . Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Dengan tugas rumah yang diberikan. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Sering terjadi.

Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. dan merencanakan masa depan. mengenal lingkungan. l. dan bimbingan karier. m. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. k. D. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. b. dalam bimbingan pribadi. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. . Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. bimbingan belajar. keluarga dan masyarakat. c. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. Latihan : Soal : 1. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. d. bimbingan sosial. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri.kognisinya yang keliru. mendorong. kecuali : a. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal.

c. kemandirian. d. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. 2. b. b. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. agama dan status sosial. d. kedinamisan. a. d. b. jenis kelamin. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. keterbukaan. suku. a. keterpaduan kenormatifan. . Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. kerahasiaan. a. b. c. dan c benar 8. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. keahlian kegiatan. tut wuri handayani a. kekinian.melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan a. a. c. b. d. alih tangan kasus. sukarela. 4. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. berdasarkan norma-norma yang berlaku. d. b. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. c. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. b. Oleh karena itu. 6. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. d. a. c. b. c.

Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. b. d. d. b dan c benar 11. kecuali a. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. c. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. a. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ? ” d. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. c. c. b. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. b. b. a. a. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. b. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan.” b. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. seperti bolos. c. b. d. c. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka disiplin sekolah. berkelahi dengan teman. d. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data 10. Permainan dialog . dan c benar penegakan 9. d. 14. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. a. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. c. d. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a. a. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. ”Anda mengatakan baik-baik saja. dapat dilakukan oleh : a. Imitasi b. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a.c.

Ketika dia masih duduk dibangku SD. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. Selama bulan Februari 2006. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya. dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Bermain peran d. dia suka nongkrong di terminal. Melihat kondisi demikian. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu. tanpa alasan yang jelas. bahwa jika dia tidak masuk kelas. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. Home work assigments Uraian 1. kawan sekelasnya. Sementara itu. tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan.Kabupaten Nun Jauh Disana. Analisis Kasus : Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. Bahkan Andi. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya.c. pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya.

Five Core Propositions. Mulyasa. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. 2003. Calvin S.2005. 2003. Publishing. Raja Grafindo Persada. Psikologi Belajar. Muhibbin Syah. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Remaja Rosdakarya.org/ standards/fivecore. Psikologi Pendidikan. 2004.1992. Depdiknas.T.T. (terj.html>.T. 2004. NBPTS Home Page. Kartini Kartono). Supratiknya). Jakarta : Depdiknas.2003. Remaja Rosdakarya. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD. Gendler. (Accessed. Jakarta. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------. dkk. Developmental Phsychology. Learning & Instruction. 2004. 31 Oct 2002).M. Konsep. Jakarta : P. 2003.Karakteristik dan Implementasi. Arifin. J. Implementasi Kurikulum 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. 2005. Remaja Rosdakarya. 2004. National Board for Professional Teaching Standards. SMP dan SMA .P. Jakarta : PT Raja Grafindo. PT Golden Terayon Press. ---------. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. 2002 . Bandung : P. <http://www. Panduan Pembelajaran KBK. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. 1997. Bandung : P. Theory Into Practice. dkk. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin. E. 2005. ----------. 2003. New York : McMillan H. . Surya. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Prayitno.IKIP Bandung. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.nbpts. Elizabeth B. Hurlock. Bandung PPB .Bandung : P. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Kamus Lengkap Psikologi. 1980. Margaret E.T. Jakarta : Rineka Cipta.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. Nana Syaodih Sukmadinata..

(2005. Sugiharto. www. 2000. 2004. Willis.2003. 1984. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Konseling Individual. 2002. Sunaryo Kartadinata.id. Bandung : Pustaka Setia. Syamsu Yusuf LN.Sofyan S. 2003. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim. Pendekatan dalam Konseling (Makalah).puskur.go. Teori dan Praktek. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Bandung : Lab.. Yogyakarta : Adi Cita. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam. . Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Inventori Tugas Perkembangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful