KALA II INTRAUTERIN FETAL DEATH (IUFD) PRESBO, KETUBAN PECAH DINI 22 JAM INFECTED PADA PRIMIGRAVIDA HAMIL POSTTERM

Abstrak Seorang G1P0A0, 26 tahun, umur kehamilan 42 minggu, riwayat fertilitas baik, riwayat obstetri belum diketahui. Teraba janin tunggal, intrauterin memanjang, punggung di kiri presbo, bokong sudah masuk panggul. Tinggi fundus uteri 29 cm, TBJ 2790 g. His (+) sedang teratur, DJJ (-), dalam persalinan, pembukaan lengkap. Ketuban pecah 22 jam sebelum masuk rumah sakit. Penatalaksanaan ibu dipimpin mengejan, bayi dilahirkan secara Bracht. Kata Kunci : IUFD, Presbo, KPD, Hamil Postterm.

1

BAB I. PENDAHULUAN 1. INTRAUTERINE FETAL DEATH (IUFD) Intrauterine Fetal Death (IUFD) adalah kematian janin (keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan dengan umur kehamilan lebih dari 20 minggu atau berat badan lebih dari 500 gram (janin sudah viable). Tanda dan gejala − − − Tanda dan gejala kehamilan mungkin berkurang Diagnosis berdasar dari tidak adanya denyut jantung janin, pertumbuhan uterus yang berhenti Berhentinya gerakan janin

Penyebab bisa dari faktor ibu, janin, atau plasenta Kemungkinan penyebab dari faktor ibu : − − − − − − − − − − − − − Kehamilan postterm Diabetes mellitus Sistemic lupus eritematosus Infeksi Hipertensi Preeklapmsia Eklampsia Hemoglobinopati Umur ibu hamil yang tua Penyakit Rh Ruptur uteri Sindrom antifosfolipid Hipotesi maternal akut

2

Kematian maternal Kemungkinan penyebab dari faktor janin:

− − − −

IUGR Kelainan kongenital Kelainan Genetik Infeksi (Parvovirus B-19, CMV, Listeria) Kemungkinan penyebab dari faktor plasenta:

− − −

Kerusakan tali pusat Ketuban pecah dini Vasa previa Faktor resiko terjadinya IUFD: − − − − − − − − − Multigravida Ras amerika atau afrika Umur ibu yang lanjut Riwayat IUFD Infertilitas ibu Hemokonsentrasi pada ibu Kelompok ibu dengan penyakit tertentu (seperti GBS, Ureapasma urealitikum) Riwayat persalinan preterm Obesitas

3

Etiologi Pada janin yang mendekati aterm bentuk janin ovoid berusaha menyesuaikan diri dengan bentuk kavum uteri menjadi letak emanjang dan titik berat janin dekat kepala maka kepala mengarah kebawah maka terjadilah presentasi kepala. Faktor ibu : panggul sempit. tumor jalan lahir.2. kejadian 3% Jenis Presentasi Bokong a. Presentasi lutut Presentasi lutut sempurna bila bagian terendah 2 lutut. presentasi kaki tidak sempurna bila bagian terendah 1 kaki d. letak plasenta di atas atau di bawah (plasenta previa). faktor janin: janin kecil/prematur. presentasi lutut tidak sempurna bila bagian terendah 1 lutut. uterus yang lembek (grandemultipara). sehingga kaki di depan muka janin. Presentasi bokong akan terjadi bila terdapat faktor-faktor yang mengganggu penyesuai diri tersebut dan perubahan titik berat janin. janin 4 . Presentasi kaki Presentasi kaki sempurna bila bagian terendah 2 kaki. Presentasi bokong murni (Frank Breech Presentation) kedua kaki lurus keatas Hanya bokong saja terbawah sedangkan b. Presentasi bokong kaki (berekstensi). Disamping bokong terdapat kaki presentasi bokong kaki sempurna bila terdapat 2 kaki c. kelainan uterus (uterus arkuatus/ bikornus). PRESENTASI BOKONG (LETAK SUNGSANG) Letak memanjang dengan dengan bagian terbawah bokong dengan atau tanpa kaki dan.

hamil ganda. 5 . denyut jantung janin diatas pusat kanan atau kiri.besar. Lahirnya bahu : setelah bokong lahir terjadilah putar paksi luar sehingga punggung sedikit ke depan dan supaya bahu dapat masuk dengan ukuran miring/melintang di pintu bawah panggul. Setelah bahu turun terjadilah putar paksi bahu sampai ukuran muka-belakang di pintu bawah panggul. Periksa dalam terutama kalau sudah ada pembukaan dan ketuban pecah teraba 3 tonjolan ujung-ujung os kosigeus dan tuber osis iskti kanan dan kiri. Setelah bokong mendapat tahanan dari otot-otot dasar panggul terjadi laterofleksi dan badan janin untuk menyesuaikan diri dengan lengkung panggul. Bokong depan tampak di vulva dan dengan trokanter major depan sebagai hipomoklion terjadi laterofleksi badan janin maka lahirlah bokong belakang melalui perineum disusul dengan lahirnya bokong depan. ketiga tonjolan ini dapat teraba anus. hidramnion. cacat bawaan (hidrosefalus/anensefalus). spingter ani. hati-hati memasukkan jari tangan sampai robeknya m. Oligohidramnion. Pemeriksaan Rontgenologi dan ultasonopgrafi dapat menetukan keadaan kepala defleksi atau ekstensi dan juga kelainan janin. Kalau ditelusuri ujung os koksigys maka kita akan sampai ke sakrum dan dapat teraba krista. Trokanter depan biasanya lebih cepat turun dan lebih rendah dibanding trokanter belakang. punggung akan berputar lagi ke samping maka lahirlah bahu. kaki mejungkit. Diagnosis Denominator sakrum Periksa luar : kepala di fundus iuteri. Mekanisme persalinan Lahirnya bokong : garis pangkal paha (diameter bitrokanteriksa) masuk miring/ melintang ke dalam pintu atas panggul.

tali pusat terjepit antara kepalan dan panggul. Perdarahan intraknial disebabkan : − Kepala janin harus lahir dalam waktu yang relatif pendek sehingga kesempatan untuk mengadakan molase tidak ada. sehingga bahaya anoksia akan bertambah maka kepala sudah harus lahir sebelum 8 menit setelah tali pusat lahir. Prognosis janin Mortalitas ibu tak banyak berbeda dengan presentasi belakang kepala morbiditas akan bertambah yaitu ruptura perinei. janin akan bernafas. Dengan suboksiput sebagai hipomoklion maka lahirlah berturut-turut melalui perineum dagu. Pada janin mortalitas 3 kali lebih besar dibandingkan dengan presentasi belakang kepala dan juga morbiditasnya lebih tinggi. mulut. dahi dan belakang kepala. hidung.Lahirnya kepala : pada saat bahu akan lahir kepala keadaan fleksi dengan ukuran miring/melintang pintu atas panggul. pembukaan belum lengkap atau kesalahan teknis. − Pertolongan terlalu cepat menyebabkan kepala yang mengadakan kompresi sekonyong-konyong mengadakan dekompresi. Kepala mengadakan putar paksi sedemikian rupa kuduk di bawah simfisis dan dagu disebelah. akan tetapi oleh karena tindakan pervaginam maupun perbdominam lebih sering dilakukan maka morbiditas akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan persalinan presentasi belakang kepala. terjadi aspirasi air ketuban/ mekonium/ lender/ darah. Mortalitas/morbiditas meningkat disebabkan oleh karena setelah sebagian janin lahir maka terus akan berkontraksi dan akan mengakibatkan gangguan sirkulasi uterplasenter. Waktu kepala janin masuk pintu atas panggul. Prognosis Prognosis ibu Mortalitas ibu tidak banyak berbeda. − Tarikan yang berkelebihan pada kesukaran melahirkan kepala oleh diproporsi kepala panggul. 6 .

janin tunggal. tidak ada disproporsi kepala panggul. perdarahan 7 . ruptura uteri iminen. pembukaan lengkap (versi luar dalam keadaan steril. paralisis lengan karena tarikan pada pleksus brakialis. oleh karena kalau ketuban pecah lakukan tindakan) Kontraindikasi : ketuban sudah pecah. Pengelolaan Waktu kehamilan Dari kausa kalau kausa dapat disingkirkan. hidup. disproporsi kepala panggul tumor jalan lahir. pembukaan sama atau lebih dari 3 cm. mulyipara umur kehamilan lebih dari 38 minggu (pendapat lain dapat dimulai pada kehamilan pada kehamilan lebih dari 28 minggu pendapat lain. tak ada kontra-indikasi maka lakukan versi luar. Mengenai versi luar ini ada yang berpendapat tidak usah Lakukan karena kita jangan menyalahi hukum alam “Jangan berbuat lebih pandai dari hukum alam” Versi luar Ialah tindakan dari luar yang dikerjakan dengan dua tangan untuk merubah/ memperbaiki presentasi janin. hipertensi dalam kehamilan. presentasi bahu (letak lintang) Syarat : umur kehamilan setua mungkin nulipara kehamilan lebih dari 36 minggu. cacat rahim (sikatriks uterus). lakukan kapan saja) Ketuban utuh. Indikasi : presentasi bokong (letak sungsang). bagian bawah masih dapat didorong. klavikula.− Kerusakan tulang belakang karena tarikan terlalu kuat terutama pada daerah servikal sering terjadi tali pusat menumbung oleh karena bagian bawah tidak menutupi pintu atas panggul karena pertolongan dapat terjadi fraktura humerus. dalam persalinan fase latebn (pembukaan kurang dari 3 cm.

air ketuban sedikit. perasaan nyeri. hamil ganda. Bahaya untuk janin : ketuban pecah dapat terjadi penumbungan tali pusat/ekstremitas. kaki janin menjungkit ke atas. partus prematurus. anensefalus. gawat janin. his sering. lilitan tali pusat/tali pusat pendek. perut tangan diberi talk. Lilitan tali pusat. janin mati dalam rahim. Eksenterasi : bagian bawah yang sudah diangkat di dorong kefosa iliaka. Sentralisasi : penolong menghadap ke muka ibu. tidur terlentang/Trendelenburg. bantal/handuk kecil dan gurita. kulit perut tebal (banyak lemak). hidramnion hidrosefalus/ Penyulit : sulit. letak defleksi Persiapan : rektum/kandung kemih harus kosong. denyut jantung janin dikontrol dulu. Kontrol : periksa denyut jantung janin 3 kali. kelainan uterus (bentuk pendek/uterus septus/mioma uteri. tali pusat pendek (dapat mengakibatkan solusio plasenta) ruputra uteri. tungkai fleksi di pangkal paha/lutut. dinding perut tegang terutama nulipara. perdarahan. janin membulat dan mudah diputar Versi (rotasi) : kepala janin didorong kearah perut/muka (diluar his dan lean) atau diputar kearah yang tahanannya sedikit (pada presentasi bahu didorong kearah yang terdekat) Fiksasi : bagian terendah setelah diputar dimasukkan ke pintu atas panggul. pegang sempurna dan dikeluarkan dari pintu atas panggul. denyut jantung janin jelek putar kembali ke tempat semula dan bila denyut jantung 8 . interval 5 menit. janin akan tetap fleksi maksimal.antepartum. Teknik Mobilitasi : penolong menghadap ke kaki ibu berdiri di samping kedua tangan memegang bagian terbawah (bokong). Bahaya untuk ibu : ketuban pecah dapat terjadi infeksi. plasenta (solusio plasenta). satu tangan pada bokong dan tangan yang lain pada kepala.

Ekstraksi parsial (Manual aid) Bokong dilahirkan dengan tenaga ibu sendiri bahu. janin besar diproporsi kepala panggul (nulipara berat badan janin lebih dari 3500g. Persalinan pervaginam (lihat bedah obstetri) Pada garis besarnya melahirkan bokong. Partus spontan Bracht Seluruh janin dilahirkan oleh tenaga ibu sendiri dan penolong hanya menahan agar janin jangan jatuh. multipara berat badan janin lebih dari 4000 g). kontraindikasi pervaginam (bekas operasi fistula? Perineoplastik). lengan dan kepala oleh penolong. nulipara (primitua/infertil/ presentasi kaki). kemajuan persalinan terganggu (lihat Partograf WHO untuk presentasi bokong). eklamsia). pertumbuhan janin terlambat berat. bahu dan kepala. riwayat obsrteri jelek. Waktu persalinan Waktu persalinan lakukan versi luar bila syarat dipenuhi dan tak ada kontaindikasu. Ekstraksi total (Ekstraksi bokong dan kstraksi kaki) Bokong/bahu/lengan dan kepala dilahirkan oleh penolong. cacat rahim. ketuban pecah sebelum waktunya. nilai Zatuchi-Abdros kurang atau sama dengan 3 9 . kepala hiperekstensi. perematuritas.janin denyut jantung janin baik fiksasi dengan 2 bantal/handuk kecil di samping perut kemudian diberi gurita. Persalinan perabdominam (seksio sesar) Seksio sesar dipertimbangkan pada presentasi bokong : kelainan panggul (panggul sempit/patologis). hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia berat. gawat janin.

. hal ini dapat dilihat dari etiologi yang belum jelas. .1  4 cm Tindakan : . KETUBAN PECAH DINI Definisi Ketuban pecah dini (KPD) masih merupakan suatu teka-teki di bidang obstetrik. berhubungan dengan resiko pada ibu dan janin dan juga karena panatalaksanaannya yang bermacam-macam dan masih merupakan kontroversi. kalau tetap 4 Lakukan seksio sesar.Skore  3 : Seksio sesar.Skore= 4 : Reevaluasi.2 3 cm  37 minggu  3175 g Pernah 2 kali  . kesulitan dalam mendiagnosis. KPD dapat diartikan sebagai pecahnya ketuban pada saat fase laten sebelum 10 .Skore Zatuchi-Andros Nilai 0 Keterangan Paritas Umur kehamilan Taksiran berat janin Pernah presentasi bokong Penurunan (station) pembukaan 1 2 Nulipara  39 minggu 3630 g Belum pernah  3  2 cm Multipara 38 minggu 3629 –3176 g Pernah 1 kali .Skore  5 Pervaginam 3.

Moegni. Mekanisme infeksi ini belum diketahui pasti. Koitus. Pada persalinan yang normal. Kehamilan multiple b.adanya his. namun hal ini tidak merupakan predisposisi kecuali bila hygiene buruk d. menghasilkan kolagenase jaringan sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion/amnion yang menyebabkan selaput ketuban tipis. Riwayat persalinan preterm sebelumnya c. Etiologi Dan Patogenesis KPD diduga terjadi karena adanya pengurangan kekuatan selaput ketuban. lemah dan mudah pecah spontan. Faktor lainnya yang membantu penyebaran infeksi adalah inkompetent servix. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) danprostaglandin. Pada KPD kantung ketuban pecah sebelum fase aktif. Selaput ketuban dapat kehilangan elastisitasnya karena bakteri maupun his. jaringan retikuler korion dan trofoblas. fibroblast. KPD terjadi pada 10 % kehamilan. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion. Namun diduga hal ini terjadi karena aktivitas uteri yang tidak diketahui yang menyebabkan perubahan servix yang dapat memfasilitasi terjadinya penyebaran infeksi. Pada beberapa penelitian diketahui bahwa bakteri penyebab infeksi adalah bakteri yang merupakan flora normal vagina maupun servix. mulai dari defek kromosom. terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin. ketuban pecah pada fase aktif. Jika ada infeksi dan inflamasi. 1999. peningkatan tekanan intrauterine maupun keduanya. Sebagian besar penelitian menyebutkan bahwa KPD terjadi karena berkurangnya kekuatan selaput ketuban. kelainan kolagen sampai infeksi. 1999 : a. mengemukakan bahwa banyak teori yang menyebabkan KPD. Perdarahan pervaginam 11 . vaginal toucher (VT) yang berulang-ulang dan koitus. dimana sebagian besar terjadi pada usia kehamilan lebih dari 37 minggu dan juga terjadi spontan tanpa sebeb yang jelas. Faktor predisposisi KPD menurut Moegni. Namun sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi.

5. Servix yang tipis/kurang dari 39 mm h. Fetal fibronectin i. Amnioscopy g. Jika air ketuban tidak ada. Air ketuban yang keluar dari vagina Diagnosis KPD dapat ditegakkan dengan mudah ketika ada cairan ketuban yang keluar dari vagina. Namun cairan antiseptik.e. Fern test Test ini positif bila didapatkan gambaran pakis yang didapatkan pada air ketuban pada pemeriksaan secara mikroskopis. Alfa-fetoprotein test Komplikasi 12 . sehingga kertas nitrasin akan cepat berubah warna menjadi biru bila terkena air ketuban. tekanan ringan pada uterus dan gerakan janin dapat mengakibatkan keluarnya air ketuban. pH vagina diatas 4.5 – 5. urin. b. darah dan infeksi vagina dapat meningkatkan pH vagina dan hal ini menyebabkan hasil nitrazine test positif palsu. Kadar CRH (Corticotropin Releasing Hormone) maternal tinggi Diagnosis Diagnosis KPD dapat ditegakkan dengan beberapa cara : a. Intraamniotic fluorescein f. Nitrazine test pH vagina normal adalah 4.5 sedangkan air ketuban mempunyai pH 7. Fibronectin > 50 ng/ml j.0 – 7.5 g. Evaporation test e. d. Flora vagina abnormal i. Bakteriuria f. Diamine oxidase test h. c.

Sehingga untuk mengatasinya maka dilakukan sectio cesaria. maupun leukositosis. Fetal distress Hal ini dapat diketahui dari adanya deselerasi yang menggambarkan kompresi tali pusat yang disebabkan oleh oligohidramnion. Abruptio placenta Hal ini tergantung dari progresifitas penurunan fungsi plasenta yang mengakibatkan pelepasan plasenta. dan sedikitnya dua gejala berikut yaitu takikardi baik pada ibu maupun pada janin. Hipoplasi pulmoner Hal ini terjadi bila ketuban pecah sebelum usia kehamilan 26 minggu dan fase laten terjadi lebih dari 5 minggu yang diketahui dari adanya distress respirasi yang berat yang terjadi segera setelah lahir dan membutuhkan bantuan ventilator. Gejala klinik yang terjadi adalah perdarahan pervaginam. Kelainan kongenital 13 . f. b.80C). Terdapat hubungan antara umur kehamilan denganhyaline membrane disease dan chorioamnionitis yang terjadi pada pasien dengan KPD. c. uterus yang melembek. Pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu. d.KPD dapat menyebabkan beberapa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. Cacat pada janin g. Hyaline membrane disease Beberapa penelitian menyebutkan bahwa hyaline memnrane disease sebagian besar disebabkan oleh ketuban pecah dini (KPD). Diagnosis korioamnionitis dapat dilihat dari gejala klinisnya antara lain demam (37. angka risiko hyaline mebran disease lebih banyak dibandingkan risiko infeksi. diantaranya : a. Infeksi Infeksi korioamniotik sering terjadi pada pasien dengan KPD. air ketuban yang berbau busuk. yang mengakibatkan tingginya angka section cesaria pada pasien dengan KPD. e.

a. Pasien dengan paru-paru janin yang matur Maturitas paru janin dapat diketahui dari rasio lesitin-spingomielin.Terapi Manajemen pada pasien dengan ketuban pecah dini tergantung dari keadaan pasien. d. Penggunaan tokolitik tidak efektif dan akan mengakibatkan oedem pulmo. c. Pasien dengan cacat janin Terapi konservatif dengan risiko infeksi pada ibu tidak perlu dilakukan bila janin mempunyai kalainan yang membahayakan. letak lintang dan oligohidramnion berat. maka dapat dilakukan amnioinfusion. Namun bila janin tidak dalam presentasi kepala maka terapi yang dapat dilakukan adalh section cesaria. Jika DJJ menunjukkan pola deselerasi sedang atau berat maka pasien harus cepat diterminasi. namun input yang tepat merupakan terapi yang sangat penting. Pasien dengan fetal distress Kompresi tali pusat dan prolps tali pusat merupakan komplikasi tersering ketuban pecah dini. terutama padapresentasi bokong yang tidak maju (engaged). e. induksi dan dapat dilakukan persalinan pervaginam. Maturitas paru janin diperlukan untuk amniosintesis pada evaluasi awal pasien dengan ketuban pecah dini. Pasien dengan infeksi 14 . phosphatidylglycerol dan rasio albumin-surfaktan. b. Jika janin dalam presentasi belakang kepala. Pasien yang sedang dalam persalinan Tidak ada usaha yang dapat dilakukan untuk menghentikan proses persalinan dan memperlama kehamilan jika sudah ada his yang teratur dan pada pemeriksaan dalam didapatkan pendataran servix 100 % dan dilatasi servix lebih dari 4 cm. Namun pada janin dengan kelainan yang tidak membahayakan harus diperlakukan sebagai janin normal.

section cesaria bila ketuban pecah kurang dari 5 jam dan bishop score kurang dari 5.Pasien dengan chorioamnionitis harus dilakukan induksi bila tidak ada kontraindikasi untuk dilakukan persalinan pervaginam dan bila belum dalam persalinan. glukokortikosteroid dan tokolisis. Ketubaan pecah dini pada kehamilan aterm atau preterm dengan atau tanpa komplikasi harus dirujuk ke rumah sakit b. pasien dirujuk dengan posisi panggul lebih tinggi dari badannya. namun bila terjadi infeksi maka akhiri kehamilan e. Kalau perlu kepala janin didorong ke atas dengan 2 jari agar tali pusat tidak tertekan kepala janin c. maka dilakukan section cesaria setelah pemberian antibiotic yang dimaksudkan untuk menurunkan komplikasi pada ibu dan janin. Pada kehamilan kurang dari 32 minggu dilakukan tindakan konservatif yaitu tirah baring dan berikan sedative. Bila janin hidup dan terdapat prolaps tali pusat. Bila ada kontraindikasi untuk persalinan pervaginam. Pada kehamilan lebih dari 36 minggu. Beberapa penelitian menyebutkan section cesaria sebaiknya dilakukan bila persalinan pervaginam tidak dapat terjadi setelah 12 jam diagnosis chorioamnionitis ditegakkan. 2002 terapi ketuban pecah dini adalah : a. pimpin persalinan dan lakukan akselerasi bila ada inersia uteri. Menurut Mansjoer. Bila ada demam atau dikhawatirkan terjadi infeksi atau ketuban pecah lebih dari 6 jam. Bila terjadi infeksi maka akhiri kehamilan f. Pada kehamilan 33-35 minggu. lakukan induksi persalinan bila ketuban pecah kurang dari 6 jam dan bishop score kuran dari 5 atau ketuban pecah lebih dari 6 jam dan bishop score lebih dari 5. bila ada his. Bila tidak ada his. antibiotic selama 5 hari. berikan antibiotik d. lakukan terapi konservatif selama 24 jam lalu induksi persalinan. Terapi ketuban pecah dini adalah : 15 .

bila gagal lakukan section cesaria pada keadaan DKP. Terapi konservatif rawat di Rumah sakit antibiotika jika ketuban pecah lebih dari 6 jam pada umur kehamilan kurang dari 32 minggu. postterm pregnancy. Bila bishop score kurang dari 5. KEHAMILAN POSTTERM Kehamilan Lewat Bulan. induksi persalinan dan partus pervaginam c. maka pada usia kehamilan 35 minggu dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan Nilai tanda-tanda infeksi Pada umur kahamilan 32-34 minggu berikan steroid selama 7 hari untuk memacu kematangan paru janin dan bila memungkinkan perikasa kadar lesitin dan spingomyelin tiap minggu b. postdate / pos datisme atau postmaturitas adalah : 16 . Terapi Aktif kehamilan lebih dari 36 minggu. prolonged pregnancy. akhiri persalinan dengan section cesaria b. letak lintang terminasi kehamilan dengan section cesaria bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan terminasi persalinan a. Bila bishop score lebih dari 5. disebut juga kehamilan serotinus. kehamilan lewat waktu. dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi Bila umur kehamilan sudah 32-34 minggu masih keluar. bila 6 jam belum terjadi persalinan maka induksi dengan oksitosin.a. extended pregnancy. Bila ada infeksi berat maka lakukan section cesaria 4.

Teori oksitosin : Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada KLB memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalian dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis wanita hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu fakor penyebab KLB. Seringkali istilah postmaturitas dipakai sebagai sinonim dismaturitas. sehingga janin tidak tumbuh seperti biasa. yang sebenarnya hal ini tidak tepat. Sebab terjadinya kehamilan lewat bulan Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan. keadaan ini dapat terjadi pada beberapa keadaan seperti hipertensi. Postmaturitas merupakan diagnosis waktu yang dihitung menurut rumus Naegele. sebaliknya dismaturitas hanya menyatakan kurang sempurnanya pertumbuhan janin dalam kandungan akibat plasenta yang tidak berfungsi dengan baik. sehingga beberapa penulis menduga bahwa terjadinya KLB adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesterone.Kehamilan yang berlangsung sampai 42 minggu ( 294 hari ) atau lebih . yang pada umumnya menyatakan bahwa terjadinya KLB sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. 17 . preeklampsia. genap bulan maupun lewat bulan. Beberapa teori diajukan. Istilah postmaturitas lebih banyak dipakai oleh dokter ahli Kesehatan Anak. sedang istilah post term banyak digunakan oleh dokter ahli Kebidanan. Jadi janin dengan dismaturitas dapat dilahirkan kurang bulan. dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid ratarata 28 hari. sampai saat ini sebab terjadinya KLB belum jelas. Dari dua istilah ini sering menimbulkan kesan bahwa bayi yang dilahirkan dari KLB disebut sebagai postmaturitas. gangguan gizi maupun pada KLB sendiri. Beberapa teori diajukan antara lain : Pengaruh progesterone : Penurunan hormon progesterone dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin.

Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami KLB. Pada keadaan dimana tidak ada tekanan pada pleksus ini. menyatakan bahwa maka bilamana seorang ibu mengalami KLB saat melahirkan anak perempuan besar kemungkinan anak perempuannya akan mengalami KLB.Teori Kortisol/ACTH janin : Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “pemberi tanda” untuk dimulainya persalinan adalah janin. seperti pada kelainan letak. Dalam menentukan diagnosis KLB disamping dari riwayat haid. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta. selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebab terjadinya KLB. Lipshutz menyatakan bahwa kasus KLB yang tidak dapat ditegakkan secara pasti sebesar 22 %. diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. Diagnosis Tidak jarang seorang dokter mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis KLB. Heriditer. 1. sehingga produksi progesterone berkurang dan memperbesar sekresi estrogen. Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham. sebaiknya dilihat pula dari hasil pemeriksaan antenatal. Syaraf uterus : Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada cacad bawaan janin seperti anensefalus. Beberapa kasus yang dinyatakan sebagai KLB merupakan kesalahan dalam menentukan umur kehamilan. Riwayat haid 18 . Karena diagnosis ini ditegakkan berdasarkan umur kehamilan bukan terhadap kondisi dari kehamilan. hipoplasia adrenal janin dan tak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan.

12 minggu Pernoll menyatakan bahwa kehamilan dapat dinyatakan sebagai KLB bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sbb: Telah lewat 36 minggu sejak test kehamilan positif dan kehamilan memang berlangsung lewat bulan ( keadaan ini sekitar 20 – 30 % dari seluruh penderita seorang penderita yang ditetapkan sebagai KLB 19 .Diagnosis KLB tidak sulit untuk ditegakkan bilamana hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada multiparitas Denyut jantung janin : Dengan stetoskop Laennec DJJ dapat didengar mulai umur kehamilan 18 – 20 minggu sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada usia kehamilan 10 . maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu Gerak janin : Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18 – 20 minggu. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu sedang pada multigravida pada 16 minggu. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya. Riwayat pemeriksaan antenatal Test kehamilan : bila pasien melakukan pemeriksaan test imunologik sesudah terlambat 2 minggu. diperlukan beberapa kriteria antara lain : Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya Siklus 28 hari dan teratur Tidak minum pil anti hamil setidaknya 3 bulan terakhir Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele. 2. kemungkinan adalah : Terjadi kesalahan dalam menentukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal Tanggal haid terakhir diketahui jelas namun terjadi kelambatan ovulasi Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir yang diduga KLB ). Berdasarkan riwayat haid.

Tinggi fundus uteri Dalam trimester pertama.5 cm dengan sekali saja pemeriksaan USG ( tunggal ) 5. Selanjutnya umur kehamilan dapat ditentukan secara klasik maupun memakai rumus McDonald : TFU dalam cm X 8/7 menunjukkan umur kehamilan dalam minggu 4.7 hari dari taksiran persalinan Beberapa parameter dalam pemeriksaan USG juga dapat dipakai seperti lingkar perut. Taksiran persalinan tidak dapat ditentukan secara akurat bilamana BPD > 9. epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. lingkar kepala dan beberapa rumus yang merupakan perhitungan dari beberapa hasil pemeriksaan parameter seperti tersebut di atas. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Pada trimester pertama pemeriksaan panjang kepala-tungging ( crown-rump length) memberikan ketepatan sekitar +/.Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec. epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu. Pemeriksaan radiologi Umur kehamilan ditentukan dengan melihat pusat penulangan. Lebih dari 20 minggu. Gambaran epifisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu.4 hari dari taksiran persalinan. Pada umur kehamilan sekitar 16 – 26 minggu ukuran diameter biparietal dan panjang femur memberikan ketepatan +/. Cara ini sekarang jarang dipakai selain karena dalam 20 . pemeriksaan tinggi fundus uteri dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. 3.

Yaffe menyatakan bahwa pada umur kehamilan 41-42 minggu ACTA berkisar antara 45–65 detik. lesitin 1. pada kehamilan genap bulan ratio menjadi 2:1. Timbunan kalsium plasenta meningkat 21 . Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan KLB tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakan janin cukup umur / matang untuk dilahirkan. Aktivitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Aktivitas tromboplasti cairan amnion (ATCA) Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Bila didapat ACTA antara 42–46 detik menunjukkan bahwa kehaminan berlangsung lewat waktu Sitologi cairan amniom Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion . 6.2 kali kadar spingomielin: 28–32 minggu. Perubahan yang terjadi pada plasenta adalah : Penimbunan kalsium: Pada KLB terjadi peningkatan penimbunan kalsium.pengenalan pusat penulangan sering kali sulit juga pengaruh tidak baik terhadap janin. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10 % maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih Permasalahan kehamilan lewat bulan 1. pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ACTA kurang dari 45 detik. Perubahan pada plasenta Disfungsi plasenta merupakan factor penyebab terjadinya komplikasi pada KLB dan meningkatnya resiko pada janin. Pemeriksaan cairan amnion Kadar Lesitin/spingomielin Bila kadar lesitin/spingomielin sama maka umur kehamilan sekitar 22–28 minggu. hal ini dapat menyebabkan gawat janin dan bahkan kematian janin intra uterine yang dapat meningkat sampai 2–4 kali lipat.

fibrosis. sedang beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa bahaya KLB terhadap janin terlalu dilebihkan. Zwerdling menyatakan bahwa rata-rata berat janin lebih dari 3600 gram sebesar 44. Pengaruh pada janin Pengaruh KLB terhadap janin sampai saat ini masih diperdebatkan. Beberapa pengaruh KLB terhadap janin antara lain : Berat janin: Bila terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta maka terjadi penurunan berat janin. Transport kalsium tak terganggu. keadaan ini dapat menurunkan mekanisme transport dari plasenta.5% pada KLB sedangkan pada kehamilan genap bulan (KGB) sebesar 30. aliran natriun. Perubahan biokimia : adanya insufisiensi plasenta menyebabkan protein plasenta dan kadar DNA di bawah normal sedangkan konsentrasi RNA meningkat. Namun seringkali pula plasenta masih dapat berfungsi dengan baik sehingga berat janin bertambah terus sesuai dengan bertambahan umur kehamilan. kalium dan glukosa menurun. namun beberapa vili mungkin mengalami degenerasi tanpa mengalami kalsifikasi. trombosis intervili dan infark vili.sesuai dengan progresivitas degenerasi plasenta. Kiranya kebenaran terletak di antara keduanya. 2. lemak dan gama globulin biasanya mengalami gangguan sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intra uterin. Vorherr menyatakan risiko persalinan bayi dengan berat lebih dari 4000 gram pada KLB meningkat 2 – 4 kali lebih besar dari KGB. Pengangkutan bahan dengan berat molekul tinggi seperti asam amino. Selaput vaskulosinsisial menjadi tambah tebal dan jumlahnya berkurang.6 %. dehidrasi. keriput 22 . Sindroma postmaturitas: dapat dikenali pada neonatus dengan ditemukan beberapa tanda seperti : gangguan pertumbuhan. Beberapa ahli menyatakan bahwa KLB menambah bahaya pada janin. Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti edema. Dari penelitian Vorherr tampak bahwa sesudah umur kehamilan 36 minggu grafik rata-rata pertumbuhan janin mendatar dan tampak adanya penurunan sesudah 42 minggu . kulit kering. timbunan fibrinoid.

partus lama. Komentar tetangga atau teman seperti ‘ belum lahir juga ?” akan menambah frustasi ibu 23 . sebagian besar terjadi intrapartum. maserasi kulit terutama daerah lipat paha dan genital luar. keluar mekoneum yang kental Hipoksia janin Aspirasi mekoneum oleh janin Cacad bawaan : terutama akibat hipoplasia adrenal dan anensefalus 3. Tergantung derajat insufisiensi plasenta yang terjadi tanda postmaturitas ini dapat dibagi dalam 3 stadium. muka tampak menderita dan rambut kepala banyak atau tebal. Umumnya didapat sekitar 12 – 20 % neonatus dengan tanda postmaturitas pada KLB. Umumnya disebabkan karena : Makrosomia yang dapat menyebabkan terjadinya distosia pada persalinan Insufisiensi plasenta yang berakibat : Pertumbuhan janin terhambat Oligohidramnion : terjadi kompresi tali pusat. rapuh dan mudah mengelupas Stadium II : ditambah pewarnaan mekoneum pada kulit Stadium III : disertai pewarnaan kekuningan pada kuku. Pengaruh pada ibu Morbiditas / mortalitas ibu : dapat meningkat sebagai akibat dari makrosomia janin dan tulang tengkorak menjadi lebih keras yang menyebabkan terjadi distosia persalinan. Aspek emosi : ibu dan keluarga menjadi cemas bilamana kehamilan terus berlangsung melewati taksiran persalinan. Tidak seluruh neonatus KLB menunjukkan tanda postmaturitas tergantung fungsi plasenta. tulang tengkorak lebih keras. kuku tangan dan kaki panjang. warna coklat kehijauan atau kekuningan pada kulit dan tali pusat. meningkatkan tindakan obstetrik dan perdarahan postpartum. hilangnya verniks kaseosa dan lanugo. incoordinate uterine action. kulit dan tali pusat Gawat janin atau kematian perinatal menunjukkan angka meningkat setelah kehamilan 42 minggu atau lebih. yaitu : Stadium I : Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering.seperti kertas ( hilangnya lemak subkutan).

pada beberapa penderita didapatkan sekitar 70 % serviks belum matang / unfavourable / dengan nilai Bishop rendah sehingga induksi tidak selalu berhasil − Persalinan yang berlarut-larut akan sangat merugikan bayi postmatur − Pada KLB sering terjadi disproporsi kepala panggul dan distosia bahu ( 8% pada kehamilan genap bulan. Aspek mediko legal Dapat terjadi sengketa atau masalah dalam kedudukan sebagai seorang ayah sehubungan dengan umur kehamilan Pengelolaan kehamilan lewat bulan KLB merupakan masalah yang banyak dijumpai dan sampai saat ini pengelolaanya masih belum memuaskan dan masih banyak perbedaan pendapat. preeklampsia/ eklampsia.4. kehamilan jangan dibiarkan berlangsung lewat bulan. Perlu ditetapkan terlebih dahulu bahwa setiap KLB dengan komplikasi spesifik seperti Diabetes mellitus. hipertensi kronis dan lain sebagainya yang meningkatkan risiko terhadap janin. Beberapa masalah yang sering dihadapi pada pengelolaan KLB antara lain : − Pada beberapa penderita. umur kehamilan tidak selalu dapat ditentukan dengan tepat. Tidak ada ketentuan atau hukum yang pasti dan perlu dipertimbangkan masing-masing kasus dalam pengelolaan KLB. riwayat obstetrik yang jelek. infertilitas. Demikian pula pada kehamilan dengan faktor risiko lain seperti primitua. kelainan factor Rhesus atau isoimunisasi. 14% pada KLB) yang 24 . sehingga janin bisa saja belum matur sebagaimana diperkirakan − Sukar menentukan apakah janin akan mati. berlangsung terus atau megalami morbiditas serius bila tetap dalam rahim − Sebagian besar janin tetap dalam keadaan baik dan tumbuh terus sesuai dengan tambahnya umur kehamilan dan tumbuh semakin besar − Pada saat kehamilan mencapai 42 minggu.

− Janin KLB lebih peka terhadap obat penenang dan narkose − Bedah sesar akan menimbulkan cacad pada ibu sekarang maupun untuk kehamilan berikut ( risiko Bedah sesar 0. beberapa hal pengelolaan KLB adalah : − Menentukan apakah kehamilan memang telah berlangsung lewat bulan (KLB) atau bukan. Pada oligohidramnion pemecahan kulit ketuban akan meningkatkan risiko kompresi talipusat tetapi sebaliknya dengan pemecahan kulit ketuban akan dapat diketahui adanya mekoneum dalam cairan amnion. Pengelolaan aktif: yaitu dengan melakukan persalinan anjuran pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu untuk memperkecil risiko terhadap janin.3 % pada KLB) Pemecahan kulit ketuban harus dengan pertimbangan matang.7% pada genap bulan & 1. kehamilan sebaiknya diakhiri pada usia kehamilan 41 atau 42 25 . Pemeriksaan Kardiotokografi seperti nonstres test (NST) & contraction stress sampai persalinan berlangsung yang perlu diperhatikan dalam dengan sendirinya atau timbul indikasi untuk mengakhiri kehamilan. Beberapa kontroversi ini antara lain adalah : − Apakah minggu − Apakah dilakukan pengelolaan secara aktif yaitu dilakukan induksi setelah ditegakkan diagnosis KLB ataukah sebaiknya dilakukan pengelolaan secara ekspektatif yaitu menunggu dengan pemantauan terhadap kesejahteraan janin. baik secara biofisik maupun biokimia Sebelum mengambil langkah. − Identifikasi kondisi janin dan keadaan yang membahayakan janin . Sampai saat ini masih terdapat perbedaan pendapat dalam pengelolaan KLB. Dengan demikian penatalaksanaan ditujukan kepada dua variasi dari KLB ini. Pengelolaan pasif / menunggu / ekspektatif : didasarkan pandangan / komplikasi cukup besar terutama risiko persalinan operatif bahwa sehingga persalinan anjuran yang dilakukan semata-mata atas dasar KLB mempunyai risiko menganjurkan untuk dilakukan pengawasan terus menerus terhadap kesejahteraan janin.

jumlah dan kualitas air ketuban. keadaan dan derajat kematangan plasenta. janin perlu dilahirkan sedangkan bila CST negatif kehamilan dibiarkan berlangsung dan penilaian janin dilakukan lagi 3 hari kemudian. − Bila ditemukan oligohidramnion (< 2 cm pada kantong yang vertical atau indeks cairan amnion < 5 ) atau dijumpai deselerasi variable pada NST maka dilakukan induksi persalinan. − Bila volume cairan amnion normal dan NST tidak reaktif. Bila keduanya normal. kehamilan dibiarkan berlanjut dan penilaian janin dilanjutkan seminggu dua kali. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan besar janin. − Keadaan serviks ( Skor Bishop ) harus dinilai ulang setiap kunjungan pasien dan kehamilan harus diakhirr bila serviks matang. 26 . perlu dinilai keadaan janin lebih lanjut apabila kehamilan tidak diakhiri : − NST dan penilaian volume kantong amnion. Bila hasil CST positif. mengingat dengan bertambahnya umur kehamilan maka janin tumbuh besar. gangguan pertumbuhan janin. tes dengan kontraksi (CST) harus dilakukan.test dapat mengetahui kesejahteraan janin sebagai reaksi terhadap kontraksi uterus. terjadi kemunduran fungsi plasenta dan oligohidramnion. − Bila serviks telah matang ( dengan nilai Bishop > 5 ) dilakukan induksi persalinan dan dilakukan pengawasan intrapartum terhadap jalannya persalinan dan keadaan janin − Bila serviks belum matang. Kematian janin neonatus meningkat 5 – 7 % pada persalinan 42 mg atau lebih. Beberapa pemeriksaan laborat dapat dilakukan seperti pemeriksaan kadar Estriol − Periksa kematangan serviks dengan skor Bishop. Sebagian besar kepustakaan sepakat bahwa induksi persalinan dapat segera dilaksanakan baik pada usia 41 maupun 42 minggu bilamana serviks telah matang. Kematangan serviks ini memegang peranan penting dalam pengelolaan KLB. denyut jantung janin. − Pada umumnya penatalaksanaan sudah dimulai sejak umur kehamilan mencapai 41 minggu dengan melihat kematangan serviks.

27 . − Awasi jalannya persalinan Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu-waktu terjadi kegawatan janin Cegah terjadinya aspirasi mekoneum dengan segera mengusap wajah neonatus dan penghisapan pada tenggorokan saat kepala lahir dilanjutkan resusitasi sesuai prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekoneum.− Kehamilan lebih dari 42 minggu diupayakan diakhiri Pengelolaan selama persalinan adalah : − Pemantauan yang baik terhadap ibu ( aktivitas uterus ) dan kesejahteraan janin. − Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda postmaturitas Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi janin postterm sehingga setiap persalinan KLB harus dilakukan pengamatan ketat dan sebaiknya dilaksanakan di Rumah Sakit dengan pelayanan operatif dan neonatal yang memadai. Pemakaian continous electronic fetal monitoring sangat bermanfaat − Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan.

00 WIB 1. Identitas Penderita : Ny. Sri Wahyuni : 26 tahun : Perempuan : Ibu rumah tangga : Islam : Losari RT. Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Agama Alamat Status Perkawinan HPMT HPL UK Tanggal Masuk No. Surakarta : Kawin : 13 September 2006 : 20 Juni 2006 : 42 minggu : 3 Juli 2007 : 851281 : 50 Kg : 150 cm Keluhan Utama Kenceng-kenceng dan ingin mengejan 28 .CM Berat badan Tinggi Badan 2. ANAMNESIS Tanggal 3 Juli 2007 jam 02. Kliwon.03/3 Ps.BAB II STATUS PENDERITA A.

Air kawah sudah dirasakan keluar sejak 22 jam yang lalu. Lendir darah (+). 26 tahun. Riwayat Obstetri Riwayat Fertilitas : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal • Riwayat Minum Obat Selama Hamil : Disangkal : Disangkal 29 .. Kenceng-kenceng teratur dirasakan sejak 9 jam yang lalu dan mulai ingin mengejan sejak ½ jam yang lalu. 4. Baik 7. Riwayat Penyakit Dahulu • Riwayat sesak nafas • Riwayat Hipertensi • Riwayat Penyakit Jantung • Riwayat DM • Riwayat Asma • Riwayat Alergi Obat/makanan • Riwayat Operasi 5. Riwayat Penyakit Keluarga • Riwayat Mondok • Riwayat Hipertensi • Riwayat Penyakit Jantung • Riwayat DM • Riwayat Asma • Riwayat Alergi Obat/makanan 6. Pasien merasa hamil 9 bulan.3. Riwayat Penyakit Sekarang Datang seorang G1P0A0. kiriman dari rumah bersalin dengan keterangan presbo inpartu. Gerakan janin sudah tidak sejak 3 jam yang lalu.

PEMERIKSAAN FISIK 1. Riwayat Perkawinan Riwayat Haid Menarche Lama menstruasi Siklus menstruasi : 14 tahun : 6 hari : 28 hari Menikah 1 kali. telah menikah selama 1 tahun. Riwayat Ante Natal Care (ANC) Teratur. 11. Riwayat Keluarga Berencana Disangkal B. 10. Status Interna : : 110/70 mmHg : 88 x / menit : 38. Setelah itu pasien periksa 1 minggu sekali.1 0C : Mesocephal : Conjuctiva anemis (-/-). Pasien periksa ke puskesmas 1 bulan sekali sampai usia kehamilan 3 bulan. pertama kali periksa ke puskesmas pada usia kehamilan 1 bulan. 9. Sklera Ikterik (-/-) : Tonsil tidak membesar.Penderita hamil baru pertama kali. Dilanjutkan 2 kali sebulan pada usia kehamilan 4 sampai 6 bulan. CM. 8. Gizi cukup Tanda Vital Tensi Nadi Suhu Kepala Mata THT Leher Respiratory Rate : 22 x/menit 30 . Pharinx hiperemis (-) : Pembesaran kelenjar tiroid (-) Keadaan Umum : baik.

air ketuban (+) Oedema : Pengembangan dada ka = ki : Fremitus raba dada ka = ki : Sonor/Sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+). Status Obstetri Kepala : Mesocephal - Inspeksi 31 .redup pada daerah uterus Auskultasi : Peristaltik (+) normal Genital Ekstremitas : : Lendir darah (+) . bising (-) Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi Abdomen: Inspeksi Palpasi Perkusi : Dinding perut > dinding dada Stria gravidarum (+) : Supel. areola mammae hiperpigmentasi (+) Inspeksi Palpasi Perkusi : IC tidak tampak : IC tidak kuat angkat : Batas jantung kesan normal Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal. Mammae dalam batas normal. Ronki basah kasar (-/-) Akral dingin 2. hepar lien tidak membesar : Tympani pada bawah processus xipoideus. NT (-). reguler.Thorax Cor : : Gld.

Perkusi : Tympani pada bawah processus xipoideus. peradangan (-). bokong sudah masuk panggul. lendir darah (+). intra uterin. stria gravidarum (+) Palpasi : Supel.redup pada daerah uterus Auskultasi : DJJ (-) Genital eksterna : Vulva/uretra tidak ada kelainan. sclera ikterik (-/-) : Kloasma gravidarum (+) : Glandula mammae hipertrofi (+). memanjang. III : teraba bagian lunak. kesan bokong IV : bokong sudah masuk panggul Kesimpulan. Pemeriksaan Leopold I : teraba bagian keras kesan kepala II : Teraba 1 bagian besar memanjang di sebelah kanan. tumor (-) Ekstremitas : Oedema - 32 . aerola mammae hiperpigmentasi (+) : Inspeksi : Dinding perut > dinding dada. teraba janin tunggal. keras kesan punggung dan disebelah kiri teraba bagian kecil kesan ekstremitas. presentasi bokong. punggung di kanan.Mata Wajah Thorax Abdomen : Conjungtiva Anemis (-/-). TFU 29 cm ~ TBJ janin: 2790 gram HIS (+) 3-4x/10’/30”-40”/kuat. nyeri tekan (-). rata.

dinding vagina dalam batas normal. AK (+).5 x 103/uL : 336x 103/uL :B : 113mg/dL : 13 mg/dL : 0. sakrum di jam 12. portio lunak.7 mg/dL : 136 mmol/L : 3. keruh berbau.9 gr/dl : 33.8mmol/L : 106 33 .15 x 103/uL : 18.akral dingin - Pemeriksaan Dalam : VT : vulva / uretra tenang. Nietrazin Test (+) UPD : promontorium tidak teraba linea terminalis teraba .0 % : 4. Laboratorium Darah tanggal 25 Januari 2007 Hemoglobin Hematokrit Antal Eritrosit Antal Leukosit Antal Trombosit Golongan Darah GDS Ureum Creatinin Na K Ion Cl : 10. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. 1/3 bagian spina ischiadica tidak menonjol arcus pubis > 90 sudut MKM tumpul kesimpulan : kesan panggul normal C. KK (-).mendatar Ø= lengkap. STLD (+). bokong turun di H III-IV. presbo.

bokong masuk panggul. tanda-tanda postmaturitas. TERAPI Pimpin mengejan Evaluasi tanggal 3 Juli 2007 pukul 04. presbo. IUFD.20 Evaluasi 2 jam post partus Kala II Kala III Kala IV Total : 50 cc : 30 cc : 20 cc : 100cc 34 .05 Bayi lahir secara Bracht. PROGNOSIS Baik G. riwayat fertilitas baik. 26 tahun. PB: 40 cm. Pukul 04. maserasi (-). KESIMPULAN : negatif : 21” : 36. riwayat obstetri belum diketahui. +. Postterm. intra uterin memanjang.HbS Ag PT APTT D. F. teraba janin tunggal. : 2790 gr DIAGNOSIS AWAL Kala II IUFD presbo KPD 22 jam infected pada primigravida h.9” Seorang G1P0A0. panjang tali pusat 34 cm. Nitrasin Test (+) TBJ E. BB: 2800 gr. insersi di sentral. UK 42 minggu.20 Plasenta lahir spontan kesan lengkap bentuk cakram ukuran 20X20X2 cm. JK: perempuan. Lama persalinan Kala I : 9 jam KalaII : 50 menit Kala III: 15 menit Total : 10 Jam 5 menit Pukul 06.

: − − − − − − Dx.50C Dx. TFU 2 jari bawah pusat : perdarahan (-). SI (-/-) : C/P dbn : supel. kontraksi baik.: :: baik.: post partum secara Bracht IUFD.Kel KU VS: Mata Thorax :: baik. SI (-/-) : C/P dbn : supel. TFU 2 jari bawah pusat : perdarahan (-). KPD 22 jam infected pada primigravida − Amoxicillin 3x 500mg 35 . CM. kontraksi baik. KPD 22 jam infected pada primigravida Mondok bangsal Lab darah rutin cito Amoxicillin 3x 500mg Metronidazol 3x500mg Methergin 3x1 Ferobion 2x1 Follow up tanggal 4 Juli 2007 Kel KU VS: Mata Thorax Abdomen Genital h.postterm Tx. lochia (+) Rr: 20x/ menit t: 36.postterm Tx.: post partum secara Bracht IUFD. gizi kesan cukup T: 110/70 mmHg N: 94 x/ menit : CA(-/-). CM. lochia (+) Rr: 28x/ menit t: 380C Abdomen Genital h. gizi kesan cukup T: 110/70 mmHg N: 88 x/ menit : CA(-/-).

CM.postterm Tx. presbo. lochia (+) Rr: 20x/ menit t: 36. gizi kesan cukup T: 110/70 mmHg N: 84 x/ menit : CA(-/-). Pada pemeriksaan auskultasi abdomen ibu.60C Dx. KPD 22 jam infected pada primigravid. SI (-/-) : C/P dbn : supel. Pada pasien ini kemungkinan 36 . kontraksi baik.: post partum secara Bracht IUFD.: :: baik.− − − Metronidazol 3x500mg Methergin 3x1 Ferobion 2x1 Follow up tanggal 5 Juli 2007 Kel KU VS: Mata Thorax Abdomen Genital h. TFU 2 jari bawah pusat : perdarahan (-). hamil postterm. • IUFD ditegakkan dari anamnesis dari ibu yang tidak merasakan gerakan janin sejak 3 jam SMRS. KPD 22 jam infected pada primigravida − − − − Amoxicillin 3x 500mg Metronidazol 3x500mg Methergin 3x1 Ferobion 2x1 Analisis kasus Pada kasus ini ditegakkan diagnosa IUFD. tidak didapatkan DJJ.

VT dimana didapatkan portio lunak mendatar.penyebab IUFD adalah proses infeksi yang disebabkan karena KPD infected. • Kehamilan postterm dilihat dari usia kehamilan ibu dihitung dari HPMT adalah 42 minggu. Pada pemeriksaan VT diadapatkan kulit ketuban (-). sementara tanda-tanda infeksi telah didapatkan (suhu ibu = 38. durasi 30-40 detik. nitrasin test (+). berbau. air ketuban keruh dan berbau) maka ditegakkan pula diagnosis KPD infected. Karena ketuban yang telah pecah ini.5 x 103/µL. air ketuban (+) keruh. • Kala II ditegakkan dari pemeriksaan kontraksi uterus yang didapatkan HIS (+) 3-4 x/10 menit. • • Presbo. AL: 18. maka pembukaan pada presbo kadang tidak lengkap 10 cm. dan teraba bokong turun di H III-IV. pembukaan lengkap. Karena bokong merupakan bagian janin yang lunak.10 C. ditegakkan dari pemeriksaan abdomen yaitu pada pemeriksaan Leopold I-IV Diagnosa KPD 22 jam ini ditegakkan dari anamnesis dimana pasien mengaku air kawah telah keluar 22 jam sebelum pasien datang ke RSDM. 37 . intensitas kuat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful