KALA II INTRAUTERIN FETAL DEATH (IUFD) PRESBO, KETUBAN PECAH DINI 22 JAM INFECTED PADA PRIMIGRAVIDA HAMIL POSTTERM

Abstrak Seorang G1P0A0, 26 tahun, umur kehamilan 42 minggu, riwayat fertilitas baik, riwayat obstetri belum diketahui. Teraba janin tunggal, intrauterin memanjang, punggung di kiri presbo, bokong sudah masuk panggul. Tinggi fundus uteri 29 cm, TBJ 2790 g. His (+) sedang teratur, DJJ (-), dalam persalinan, pembukaan lengkap. Ketuban pecah 22 jam sebelum masuk rumah sakit. Penatalaksanaan ibu dipimpin mengejan, bayi dilahirkan secara Bracht. Kata Kunci : IUFD, Presbo, KPD, Hamil Postterm.

1

BAB I. PENDAHULUAN 1. INTRAUTERINE FETAL DEATH (IUFD) Intrauterine Fetal Death (IUFD) adalah kematian janin (keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan dengan umur kehamilan lebih dari 20 minggu atau berat badan lebih dari 500 gram (janin sudah viable). Tanda dan gejala − − − Tanda dan gejala kehamilan mungkin berkurang Diagnosis berdasar dari tidak adanya denyut jantung janin, pertumbuhan uterus yang berhenti Berhentinya gerakan janin

Penyebab bisa dari faktor ibu, janin, atau plasenta Kemungkinan penyebab dari faktor ibu : − − − − − − − − − − − − − Kehamilan postterm Diabetes mellitus Sistemic lupus eritematosus Infeksi Hipertensi Preeklapmsia Eklampsia Hemoglobinopati Umur ibu hamil yang tua Penyakit Rh Ruptur uteri Sindrom antifosfolipid Hipotesi maternal akut

2

Kematian maternal Kemungkinan penyebab dari faktor janin:

− − − −

IUGR Kelainan kongenital Kelainan Genetik Infeksi (Parvovirus B-19, CMV, Listeria) Kemungkinan penyebab dari faktor plasenta:

− − −

Kerusakan tali pusat Ketuban pecah dini Vasa previa Faktor resiko terjadinya IUFD: − − − − − − − − − Multigravida Ras amerika atau afrika Umur ibu yang lanjut Riwayat IUFD Infertilitas ibu Hemokonsentrasi pada ibu Kelompok ibu dengan penyakit tertentu (seperti GBS, Ureapasma urealitikum) Riwayat persalinan preterm Obesitas

3

Presentasi lutut Presentasi lutut sempurna bila bagian terendah 2 lutut. presentasi lutut tidak sempurna bila bagian terendah 1 lutut. Presentasi bokong murni (Frank Breech Presentation) kedua kaki lurus keatas Hanya bokong saja terbawah sedangkan b. faktor janin: janin kecil/prematur. kelainan uterus (uterus arkuatus/ bikornus). PRESENTASI BOKONG (LETAK SUNGSANG) Letak memanjang dengan dengan bagian terbawah bokong dengan atau tanpa kaki dan. kejadian 3% Jenis Presentasi Bokong a.2. sehingga kaki di depan muka janin. uterus yang lembek (grandemultipara). letak plasenta di atas atau di bawah (plasenta previa). Etiologi Pada janin yang mendekati aterm bentuk janin ovoid berusaha menyesuaikan diri dengan bentuk kavum uteri menjadi letak emanjang dan titik berat janin dekat kepala maka kepala mengarah kebawah maka terjadilah presentasi kepala. tumor jalan lahir. Disamping bokong terdapat kaki presentasi bokong kaki sempurna bila terdapat 2 kaki c. Presentasi bokong kaki (berekstensi). Presentasi kaki Presentasi kaki sempurna bila bagian terendah 2 kaki. Faktor ibu : panggul sempit. Presentasi bokong akan terjadi bila terdapat faktor-faktor yang mengganggu penyesuai diri tersebut dan perubahan titik berat janin. janin 4 . presentasi kaki tidak sempurna bila bagian terendah 1 kaki d.

kaki mejungkit. Trokanter depan biasanya lebih cepat turun dan lebih rendah dibanding trokanter belakang. Lahirnya bahu : setelah bokong lahir terjadilah putar paksi luar sehingga punggung sedikit ke depan dan supaya bahu dapat masuk dengan ukuran miring/melintang di pintu bawah panggul. punggung akan berputar lagi ke samping maka lahirlah bahu. hamil ganda. Oligohidramnion. Setelah bokong mendapat tahanan dari otot-otot dasar panggul terjadi laterofleksi dan badan janin untuk menyesuaikan diri dengan lengkung panggul. 5 . cacat bawaan (hidrosefalus/anensefalus). Periksa dalam terutama kalau sudah ada pembukaan dan ketuban pecah teraba 3 tonjolan ujung-ujung os kosigeus dan tuber osis iskti kanan dan kiri. Kalau ditelusuri ujung os koksigys maka kita akan sampai ke sakrum dan dapat teraba krista. ketiga tonjolan ini dapat teraba anus. Bokong depan tampak di vulva dan dengan trokanter major depan sebagai hipomoklion terjadi laterofleksi badan janin maka lahirlah bokong belakang melalui perineum disusul dengan lahirnya bokong depan. hati-hati memasukkan jari tangan sampai robeknya m. spingter ani. hidramnion. denyut jantung janin diatas pusat kanan atau kiri. Diagnosis Denominator sakrum Periksa luar : kepala di fundus iuteri. Pemeriksaan Rontgenologi dan ultasonopgrafi dapat menetukan keadaan kepala defleksi atau ekstensi dan juga kelainan janin.besar. Setelah bahu turun terjadilah putar paksi bahu sampai ukuran muka-belakang di pintu bawah panggul. Mekanisme persalinan Lahirnya bokong : garis pangkal paha (diameter bitrokanteriksa) masuk miring/ melintang ke dalam pintu atas panggul.

Perdarahan intraknial disebabkan : − Kepala janin harus lahir dalam waktu yang relatif pendek sehingga kesempatan untuk mengadakan molase tidak ada. tali pusat terjepit antara kepalan dan panggul. janin akan bernafas.Lahirnya kepala : pada saat bahu akan lahir kepala keadaan fleksi dengan ukuran miring/melintang pintu atas panggul. mulut. Prognosis janin Mortalitas ibu tak banyak berbeda dengan presentasi belakang kepala morbiditas akan bertambah yaitu ruptura perinei. dahi dan belakang kepala. − Pertolongan terlalu cepat menyebabkan kepala yang mengadakan kompresi sekonyong-konyong mengadakan dekompresi. Pada janin mortalitas 3 kali lebih besar dibandingkan dengan presentasi belakang kepala dan juga morbiditasnya lebih tinggi. akan tetapi oleh karena tindakan pervaginam maupun perbdominam lebih sering dilakukan maka morbiditas akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan persalinan presentasi belakang kepala. Mortalitas/morbiditas meningkat disebabkan oleh karena setelah sebagian janin lahir maka terus akan berkontraksi dan akan mengakibatkan gangguan sirkulasi uterplasenter. pembukaan belum lengkap atau kesalahan teknis. Prognosis Prognosis ibu Mortalitas ibu tidak banyak berbeda. hidung. − Tarikan yang berkelebihan pada kesukaran melahirkan kepala oleh diproporsi kepala panggul. Waktu kepala janin masuk pintu atas panggul. terjadi aspirasi air ketuban/ mekonium/ lender/ darah. Dengan suboksiput sebagai hipomoklion maka lahirlah berturut-turut melalui perineum dagu. Kepala mengadakan putar paksi sedemikian rupa kuduk di bawah simfisis dan dagu disebelah. 6 . sehingga bahaya anoksia akan bertambah maka kepala sudah harus lahir sebelum 8 menit setelah tali pusat lahir.

klavikula. janin tunggal. dalam persalinan fase latebn (pembukaan kurang dari 3 cm. tak ada kontra-indikasi maka lakukan versi luar. Mengenai versi luar ini ada yang berpendapat tidak usah Lakukan karena kita jangan menyalahi hukum alam “Jangan berbuat lebih pandai dari hukum alam” Versi luar Ialah tindakan dari luar yang dikerjakan dengan dua tangan untuk merubah/ memperbaiki presentasi janin. perdarahan 7 . lakukan kapan saja) Ketuban utuh. oleh karena kalau ketuban pecah lakukan tindakan) Kontraindikasi : ketuban sudah pecah. pembukaan sama atau lebih dari 3 cm. tidak ada disproporsi kepala panggul. hidup. hipertensi dalam kehamilan. disproporsi kepala panggul tumor jalan lahir. pembukaan lengkap (versi luar dalam keadaan steril. cacat rahim (sikatriks uterus). presentasi bahu (letak lintang) Syarat : umur kehamilan setua mungkin nulipara kehamilan lebih dari 36 minggu. paralisis lengan karena tarikan pada pleksus brakialis.− Kerusakan tulang belakang karena tarikan terlalu kuat terutama pada daerah servikal sering terjadi tali pusat menumbung oleh karena bagian bawah tidak menutupi pintu atas panggul karena pertolongan dapat terjadi fraktura humerus. ruptura uteri iminen. Pengelolaan Waktu kehamilan Dari kausa kalau kausa dapat disingkirkan. bagian bawah masih dapat didorong. Indikasi : presentasi bokong (letak sungsang). mulyipara umur kehamilan lebih dari 38 minggu (pendapat lain dapat dimulai pada kehamilan pada kehamilan lebih dari 28 minggu pendapat lain.

Eksenterasi : bagian bawah yang sudah diangkat di dorong kefosa iliaka. lilitan tali pusat/tali pusat pendek. air ketuban sedikit. kelainan uterus (bentuk pendek/uterus septus/mioma uteri. gawat janin. perasaan nyeri. janin akan tetap fleksi maksimal. partus prematurus. tungkai fleksi di pangkal paha/lutut. dinding perut tegang terutama nulipara. pegang sempurna dan dikeluarkan dari pintu atas panggul. kulit perut tebal (banyak lemak). Bahaya untuk janin : ketuban pecah dapat terjadi penumbungan tali pusat/ekstremitas. Bahaya untuk ibu : ketuban pecah dapat terjadi infeksi. perut tangan diberi talk. Lilitan tali pusat. letak defleksi Persiapan : rektum/kandung kemih harus kosong. tali pusat pendek (dapat mengakibatkan solusio plasenta) ruputra uteri. tidur terlentang/Trendelenburg. janin mati dalam rahim. perdarahan. bantal/handuk kecil dan gurita. hidramnion hidrosefalus/ Penyulit : sulit. Teknik Mobilitasi : penolong menghadap ke kaki ibu berdiri di samping kedua tangan memegang bagian terbawah (bokong). Sentralisasi : penolong menghadap ke muka ibu. hamil ganda. denyut jantung janin dikontrol dulu.antepartum. interval 5 menit. janin membulat dan mudah diputar Versi (rotasi) : kepala janin didorong kearah perut/muka (diluar his dan lean) atau diputar kearah yang tahanannya sedikit (pada presentasi bahu didorong kearah yang terdekat) Fiksasi : bagian terendah setelah diputar dimasukkan ke pintu atas panggul. plasenta (solusio plasenta). kaki janin menjungkit ke atas. his sering. denyut jantung janin jelek putar kembali ke tempat semula dan bila denyut jantung 8 . Kontrol : periksa denyut jantung janin 3 kali. anensefalus. satu tangan pada bokong dan tangan yang lain pada kepala.

nilai Zatuchi-Abdros kurang atau sama dengan 3 9 . cacat rahim. Persalinan perabdominam (seksio sesar) Seksio sesar dipertimbangkan pada presentasi bokong : kelainan panggul (panggul sempit/patologis). Waktu persalinan Waktu persalinan lakukan versi luar bila syarat dipenuhi dan tak ada kontaindikasu. gawat janin.janin denyut jantung janin baik fiksasi dengan 2 bantal/handuk kecil di samping perut kemudian diberi gurita. Ekstraksi total (Ekstraksi bokong dan kstraksi kaki) Bokong/bahu/lengan dan kepala dilahirkan oleh penolong. bahu dan kepala. Partus spontan Bracht Seluruh janin dilahirkan oleh tenaga ibu sendiri dan penolong hanya menahan agar janin jangan jatuh. riwayat obsrteri jelek. pertumbuhan janin terlambat berat. nulipara (primitua/infertil/ presentasi kaki). kemajuan persalinan terganggu (lihat Partograf WHO untuk presentasi bokong). multipara berat badan janin lebih dari 4000 g). Persalinan pervaginam (lihat bedah obstetri) Pada garis besarnya melahirkan bokong. Ekstraksi parsial (Manual aid) Bokong dilahirkan dengan tenaga ibu sendiri bahu. ketuban pecah sebelum waktunya. janin besar diproporsi kepala panggul (nulipara berat badan janin lebih dari 3500g. eklamsia). kepala hiperekstensi. perematuritas. lengan dan kepala oleh penolong. kontraindikasi pervaginam (bekas operasi fistula? Perineoplastik). hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia berat.

hal ini dapat dilihat dari etiologi yang belum jelas. . KPD dapat diartikan sebagai pecahnya ketuban pada saat fase laten sebelum 10 . kalau tetap 4 Lakukan seksio sesar.Skore  5 Pervaginam 3.Skore  3 : Seksio sesar. KETUBAN PECAH DINI Definisi Ketuban pecah dini (KPD) masih merupakan suatu teka-teki di bidang obstetrik. berhubungan dengan resiko pada ibu dan janin dan juga karena panatalaksanaannya yang bermacam-macam dan masih merupakan kontroversi. kesulitan dalam mendiagnosis.1  4 cm Tindakan : . .Skore Zatuchi-Andros Nilai 0 Keterangan Paritas Umur kehamilan Taksiran berat janin Pernah presentasi bokong Penurunan (station) pembukaan 1 2 Nulipara  39 minggu 3630 g Belum pernah  3  2 cm Multipara 38 minggu 3629 –3176 g Pernah 1 kali .2 3 cm  37 minggu  3175 g Pernah 2 kali  .Skore= 4 : Reevaluasi.

Sebagian besar penelitian menyebutkan bahwa KPD terjadi karena berkurangnya kekuatan selaput ketuban. terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin. Pada persalinan yang normal. 1999 : a. vaginal toucher (VT) yang berulang-ulang dan koitus. fibroblast. KPD terjadi pada 10 % kehamilan. Riwayat persalinan preterm sebelumnya c. mengemukakan bahwa banyak teori yang menyebabkan KPD. Pada KPD kantung ketuban pecah sebelum fase aktif. 1999. Namun sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi. Perdarahan pervaginam 11 . Jika ada infeksi dan inflamasi. kelainan kolagen sampai infeksi. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) danprostaglandin. mulai dari defek kromosom. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion. Kehamilan multiple b. Koitus. Moegni. lemah dan mudah pecah spontan. Namun diduga hal ini terjadi karena aktivitas uteri yang tidak diketahui yang menyebabkan perubahan servix yang dapat memfasilitasi terjadinya penyebaran infeksi. peningkatan tekanan intrauterine maupun keduanya. Etiologi Dan Patogenesis KPD diduga terjadi karena adanya pengurangan kekuatan selaput ketuban. Mekanisme infeksi ini belum diketahui pasti. menghasilkan kolagenase jaringan sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion/amnion yang menyebabkan selaput ketuban tipis. Pada beberapa penelitian diketahui bahwa bakteri penyebab infeksi adalah bakteri yang merupakan flora normal vagina maupun servix. ketuban pecah pada fase aktif. Selaput ketuban dapat kehilangan elastisitasnya karena bakteri maupun his. namun hal ini tidak merupakan predisposisi kecuali bila hygiene buruk d. Faktor lainnya yang membantu penyebaran infeksi adalah inkompetent servix. jaringan retikuler korion dan trofoblas.adanya his. Faktor predisposisi KPD menurut Moegni. dimana sebagian besar terjadi pada usia kehamilan lebih dari 37 minggu dan juga terjadi spontan tanpa sebeb yang jelas.

Intraamniotic fluorescein f. Evaporation test e. Amnioscopy g. Fern test Test ini positif bila didapatkan gambaran pakis yang didapatkan pada air ketuban pada pemeriksaan secara mikroskopis. sehingga kertas nitrasin akan cepat berubah warna menjadi biru bila terkena air ketuban. Kadar CRH (Corticotropin Releasing Hormone) maternal tinggi Diagnosis Diagnosis KPD dapat ditegakkan dengan beberapa cara : a. Jika air ketuban tidak ada.5 g. Nitrazine test pH vagina normal adalah 4. Alfa-fetoprotein test Komplikasi 12 .0 – 7. Servix yang tipis/kurang dari 39 mm h. Fetal fibronectin i. d. Bakteriuria f. Air ketuban yang keluar dari vagina Diagnosis KPD dapat ditegakkan dengan mudah ketika ada cairan ketuban yang keluar dari vagina. Fibronectin > 50 ng/ml j. Diamine oxidase test h.5 – 5.5 sedangkan air ketuban mempunyai pH 7. darah dan infeksi vagina dapat meningkatkan pH vagina dan hal ini menyebabkan hasil nitrazine test positif palsu.5. pH vagina diatas 4. c. urin.e. Flora vagina abnormal i. tekanan ringan pada uterus dan gerakan janin dapat mengakibatkan keluarnya air ketuban. b. Namun cairan antiseptik.

d.KPD dapat menyebabkan beberapa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. Diagnosis korioamnionitis dapat dilihat dari gejala klinisnya antara lain demam (37.80C). maupun leukositosis. air ketuban yang berbau busuk. c. uterus yang melembek. diantaranya : a. Cacat pada janin g. Hipoplasi pulmoner Hal ini terjadi bila ketuban pecah sebelum usia kehamilan 26 minggu dan fase laten terjadi lebih dari 5 minggu yang diketahui dari adanya distress respirasi yang berat yang terjadi segera setelah lahir dan membutuhkan bantuan ventilator. f. Terdapat hubungan antara umur kehamilan denganhyaline membrane disease dan chorioamnionitis yang terjadi pada pasien dengan KPD. dan sedikitnya dua gejala berikut yaitu takikardi baik pada ibu maupun pada janin. Fetal distress Hal ini dapat diketahui dari adanya deselerasi yang menggambarkan kompresi tali pusat yang disebabkan oleh oligohidramnion. Abruptio placenta Hal ini tergantung dari progresifitas penurunan fungsi plasenta yang mengakibatkan pelepasan plasenta. Infeksi Infeksi korioamniotik sering terjadi pada pasien dengan KPD. Gejala klinik yang terjadi adalah perdarahan pervaginam. Hyaline membrane disease Beberapa penelitian menyebutkan bahwa hyaline memnrane disease sebagian besar disebabkan oleh ketuban pecah dini (KPD). yang mengakibatkan tingginya angka section cesaria pada pasien dengan KPD. Sehingga untuk mengatasinya maka dilakukan sectio cesaria. Kelainan kongenital 13 . Pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu. angka risiko hyaline mebran disease lebih banyak dibandingkan risiko infeksi. b. e.

terutama padapresentasi bokong yang tidak maju (engaged). Penggunaan tokolitik tidak efektif dan akan mengakibatkan oedem pulmo. d. Namun bila janin tidak dalam presentasi kepala maka terapi yang dapat dilakukan adalh section cesaria. Pasien dengan fetal distress Kompresi tali pusat dan prolps tali pusat merupakan komplikasi tersering ketuban pecah dini. phosphatidylglycerol dan rasio albumin-surfaktan. Jika DJJ menunjukkan pola deselerasi sedang atau berat maka pasien harus cepat diterminasi. b. maka dapat dilakukan amnioinfusion. letak lintang dan oligohidramnion berat. Jika janin dalam presentasi belakang kepala. Namun pada janin dengan kelainan yang tidak membahayakan harus diperlakukan sebagai janin normal. Pasien dengan cacat janin Terapi konservatif dengan risiko infeksi pada ibu tidak perlu dilakukan bila janin mempunyai kalainan yang membahayakan. Maturitas paru janin diperlukan untuk amniosintesis pada evaluasi awal pasien dengan ketuban pecah dini. Pasien dengan infeksi 14 . Pasien yang sedang dalam persalinan Tidak ada usaha yang dapat dilakukan untuk menghentikan proses persalinan dan memperlama kehamilan jika sudah ada his yang teratur dan pada pemeriksaan dalam didapatkan pendataran servix 100 % dan dilatasi servix lebih dari 4 cm. induksi dan dapat dilakukan persalinan pervaginam. Pasien dengan paru-paru janin yang matur Maturitas paru janin dapat diketahui dari rasio lesitin-spingomielin. a.Terapi Manajemen pada pasien dengan ketuban pecah dini tergantung dari keadaan pasien. c. namun input yang tepat merupakan terapi yang sangat penting. e.

pimpin persalinan dan lakukan akselerasi bila ada inersia uteri. pasien dirujuk dengan posisi panggul lebih tinggi dari badannya. Bila ada kontraindikasi untuk persalinan pervaginam. Menurut Mansjoer. Pada kehamilan kurang dari 32 minggu dilakukan tindakan konservatif yaitu tirah baring dan berikan sedative. Ketubaan pecah dini pada kehamilan aterm atau preterm dengan atau tanpa komplikasi harus dirujuk ke rumah sakit b. Bila janin hidup dan terdapat prolaps tali pusat. Beberapa penelitian menyebutkan section cesaria sebaiknya dilakukan bila persalinan pervaginam tidak dapat terjadi setelah 12 jam diagnosis chorioamnionitis ditegakkan. Pada kehamilan 33-35 minggu. Bila ada demam atau dikhawatirkan terjadi infeksi atau ketuban pecah lebih dari 6 jam. maka dilakukan section cesaria setelah pemberian antibiotic yang dimaksudkan untuk menurunkan komplikasi pada ibu dan janin. lakukan induksi persalinan bila ketuban pecah kurang dari 6 jam dan bishop score kuran dari 5 atau ketuban pecah lebih dari 6 jam dan bishop score lebih dari 5.Pasien dengan chorioamnionitis harus dilakukan induksi bila tidak ada kontraindikasi untuk dilakukan persalinan pervaginam dan bila belum dalam persalinan. Bila tidak ada his. Bila terjadi infeksi maka akhiri kehamilan f. berikan antibiotik d. 2002 terapi ketuban pecah dini adalah : a. Pada kehamilan lebih dari 36 minggu. glukokortikosteroid dan tokolisis. Terapi ketuban pecah dini adalah : 15 . bila ada his. antibiotic selama 5 hari. lakukan terapi konservatif selama 24 jam lalu induksi persalinan. section cesaria bila ketuban pecah kurang dari 5 jam dan bishop score kurang dari 5. Kalau perlu kepala janin didorong ke atas dengan 2 jari agar tali pusat tidak tertekan kepala janin c. namun bila terjadi infeksi maka akhiri kehamilan e.

akhiri persalinan dengan section cesaria b. extended pregnancy. Bila ada infeksi berat maka lakukan section cesaria 4. Bila bishop score kurang dari 5.a. kehamilan lewat waktu. disebut juga kehamilan serotinus. postterm pregnancy. Bila bishop score lebih dari 5. Terapi Aktif kehamilan lebih dari 36 minggu. bila 6 jam belum terjadi persalinan maka induksi dengan oksitosin. dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi Bila umur kehamilan sudah 32-34 minggu masih keluar. letak lintang terminasi kehamilan dengan section cesaria bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan terminasi persalinan a. KEHAMILAN POSTTERM Kehamilan Lewat Bulan. maka pada usia kehamilan 35 minggu dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan Nilai tanda-tanda infeksi Pada umur kahamilan 32-34 minggu berikan steroid selama 7 hari untuk memacu kematangan paru janin dan bila memungkinkan perikasa kadar lesitin dan spingomyelin tiap minggu b. Terapi konservatif rawat di Rumah sakit antibiotika jika ketuban pecah lebih dari 6 jam pada umur kehamilan kurang dari 32 minggu. prolonged pregnancy. induksi persalinan dan partus pervaginam c. postdate / pos datisme atau postmaturitas adalah : 16 . bila gagal lakukan section cesaria pada keadaan DKP.

Dari dua istilah ini sering menimbulkan kesan bahwa bayi yang dilahirkan dari KLB disebut sebagai postmaturitas. Istilah postmaturitas lebih banyak dipakai oleh dokter ahli Kesehatan Anak. yang pada umumnya menyatakan bahwa terjadinya KLB sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. 17 . Beberapa teori diajukan. Sebab terjadinya kehamilan lewat bulan Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan. Seringkali istilah postmaturitas dipakai sebagai sinonim dismaturitas. Beberapa teori diajukan antara lain : Pengaruh progesterone : Penurunan hormon progesterone dalam kehamilan dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin. sampai saat ini sebab terjadinya KLB belum jelas. sedang istilah post term banyak digunakan oleh dokter ahli Kebidanan. yang sebenarnya hal ini tidak tepat. dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid ratarata 28 hari. genap bulan maupun lewat bulan. sehingga janin tidak tumbuh seperti biasa. Postmaturitas merupakan diagnosis waktu yang dihitung menurut rumus Naegele. preeklampsia.Kehamilan yang berlangsung sampai 42 minggu ( 294 hari ) atau lebih . Teori oksitosin : Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada KLB memberi kesan atau dipercaya bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peranan penting dalam menimbulkan persalian dan pelepasan oksitosin dari neurohipofisis wanita hamil yang kurang pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu fakor penyebab KLB. sehingga beberapa penulis menduga bahwa terjadinya KLB adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesterone. sebaliknya dismaturitas hanya menyatakan kurang sempurnanya pertumbuhan janin dalam kandungan akibat plasenta yang tidak berfungsi dengan baik. gangguan gizi maupun pada KLB sendiri. keadaan ini dapat terjadi pada beberapa keadaan seperti hipertensi. Jadi janin dengan dismaturitas dapat dilahirkan kurang bulan.

menyatakan bahwa maka bilamana seorang ibu mengalami KLB saat melahirkan anak perempuan besar kemungkinan anak perempuannya akan mengalami KLB. tali pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebab terjadinya KLB. Pada keadaan dimana tidak ada tekanan pada pleksus ini. Beberapa kasus yang dinyatakan sebagai KLB merupakan kesalahan dalam menentukan umur kehamilan. Heriditer. mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami KLB. selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Syaraf uterus : Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. sebaiknya dilihat pula dari hasil pemeriksaan antenatal. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta. Dalam menentukan diagnosis KLB disamping dari riwayat haid. hipoplasia adrenal janin dan tak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan. sehingga produksi progesterone berkurang dan memperbesar sekresi estrogen. Karena diagnosis ini ditegakkan berdasarkan umur kehamilan bukan terhadap kondisi dari kehamilan. Diagnosis Tidak jarang seorang dokter mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosis KLB.Teori Kortisol/ACTH janin : Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai “pemberi tanda” untuk dimulainya persalinan adalah janin. diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin. seperti pada kelainan letak. Pada cacad bawaan janin seperti anensefalus. 1. Riwayat haid 18 . Mogren (1999) seperti dikutip Cunningham. Lipshutz menyatakan bahwa kasus KLB yang tidak dapat ditegakkan secara pasti sebesar 22 %.

maka dapat diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6 minggu Gerak janin : Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan ibu pada umur kehamilan 18 – 20 minggu. Berdasarkan riwayat haid. Untuk riwayat haid yang dapat dipercaya. Riwayat pemeriksaan antenatal Test kehamilan : bila pasien melakukan pemeriksaan test imunologik sesudah terlambat 2 minggu.12 minggu Pernoll menyatakan bahwa kehamilan dapat dinyatakan sebagai KLB bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sbb: Telah lewat 36 minggu sejak test kehamilan positif dan kehamilan memang berlangsung lewat bulan ( keadaan ini sekitar 20 – 30 % dari seluruh penderita seorang penderita yang ditetapkan sebagai KLB 19 .Diagnosis KLB tidak sulit untuk ditegakkan bilamana hari pertama haid terakhir (HPHT) diketahui dengan pasti. 2. Pada primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu sedang pada multigravida pada 16 minggu. kemungkinan adalah : Terjadi kesalahan dalam menentukan tanggal haid terakhir atau akibat menstruasi abnormal Tanggal haid terakhir diketahui jelas namun terjadi kelambatan ovulasi Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir yang diduga KLB ). Petunjuk umum untuk menentukan persalinan adalah quickening ditambah 22 minggu pada primigravida atau ditambah 24 minggu pada multiparitas Denyut jantung janin : Dengan stetoskop Laennec DJJ dapat didengar mulai umur kehamilan 18 – 20 minggu sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada usia kehamilan 10 . diperlukan beberapa kriteria antara lain : Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya Siklus 28 hari dan teratur Tidak minum pil anti hamil setidaknya 3 bulan terakhir Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung menurut rumus Naegele.

Gambaran epifisis femur bagian distal paling dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu. Selanjutnya umur kehamilan dapat ditentukan secara klasik maupun memakai rumus McDonald : TFU dalam cm X 8/7 menunjukkan umur kehamilan dalam minggu 4. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Pada trimester pertama pemeriksaan panjang kepala-tungging ( crown-rump length) memberikan ketepatan sekitar +/. tinggi fundus uteri dapat menentukan umur kehamilan secara kasar. Pada umur kehamilan sekitar 16 – 26 minggu ukuran diameter biparietal dan panjang femur memberikan ketepatan +/. pemeriksaan tinggi fundus uteri dapat bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. 3. Cara ini sekarang jarang dipakai selain karena dalam 20 . epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. Pemeriksaan radiologi Umur kehamilan ditentukan dengan melihat pusat penulangan. lingkar kepala dan beberapa rumus yang merupakan perhitungan dari beberapa hasil pemeriksaan parameter seperti tersebut di atas. Tinggi fundus uteri Dalam trimester pertama.7 hari dari taksiran persalinan Beberapa parameter dalam pemeriksaan USG juga dapat dipakai seperti lingkar perut.5 cm dengan sekali saja pemeriksaan USG ( tunggal ) 5.4 hari dari taksiran persalinan. Taksiran persalinan tidak dapat ditentukan secara akurat bilamana BPD > 9.Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec. epifisis tibia proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu. Lebih dari 20 minggu.

Bila didapat ACTA antara 42–46 detik menunjukkan bahwa kehaminan berlangsung lewat waktu Sitologi cairan amniom Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion . Perubahan yang terjadi pada plasenta adalah : Penimbunan kalsium: Pada KLB terjadi peningkatan penimbunan kalsium. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10 % maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih Permasalahan kehamilan lewat bulan 1. pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ACTA kurang dari 45 detik. Yaffe menyatakan bahwa pada umur kehamilan 41-42 minggu ACTA berkisar antara 45–65 detik. 6. pada kehamilan genap bulan ratio menjadi 2:1. hal ini dapat menyebabkan gawat janin dan bahkan kematian janin intra uterine yang dapat meningkat sampai 2–4 kali lipat. Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan KLB tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakan janin cukup umur / matang untuk dilahirkan.pengenalan pusat penulangan sering kali sulit juga pengaruh tidak baik terhadap janin. Timbunan kalsium plasenta meningkat 21 . lesitin 1. Perubahan pada plasenta Disfungsi plasenta merupakan factor penyebab terjadinya komplikasi pada KLB dan meningkatnya resiko pada janin.2 kali kadar spingomielin: 28–32 minggu. Pemeriksaan cairan amnion Kadar Lesitin/spingomielin Bila kadar lesitin/spingomielin sama maka umur kehamilan sekitar 22–28 minggu. Aktivitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan. Aktivitas tromboplasti cairan amnion (ATCA) Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah.

Beberapa pengaruh KLB terhadap janin antara lain : Berat janin: Bila terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta maka terjadi penurunan berat janin. Beberapa ahli menyatakan bahwa KLB menambah bahaya pada janin. Zwerdling menyatakan bahwa rata-rata berat janin lebih dari 3600 gram sebesar 44. aliran natriun.5% pada KLB sedangkan pada kehamilan genap bulan (KGB) sebesar 30. keadaan ini dapat menurunkan mekanisme transport dari plasenta. sedang beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa bahaya KLB terhadap janin terlalu dilebihkan. Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti edema. namun beberapa vili mungkin mengalami degenerasi tanpa mengalami kalsifikasi. timbunan fibrinoid. 2. keriput 22 . trombosis intervili dan infark vili. Kiranya kebenaran terletak di antara keduanya.sesuai dengan progresivitas degenerasi plasenta. Perubahan biokimia : adanya insufisiensi plasenta menyebabkan protein plasenta dan kadar DNA di bawah normal sedangkan konsentrasi RNA meningkat. Vorherr menyatakan risiko persalinan bayi dengan berat lebih dari 4000 gram pada KLB meningkat 2 – 4 kali lebih besar dari KGB. Dari penelitian Vorherr tampak bahwa sesudah umur kehamilan 36 minggu grafik rata-rata pertumbuhan janin mendatar dan tampak adanya penurunan sesudah 42 minggu . Pengaruh pada janin Pengaruh KLB terhadap janin sampai saat ini masih diperdebatkan. dehidrasi. Sindroma postmaturitas: dapat dikenali pada neonatus dengan ditemukan beberapa tanda seperti : gangguan pertumbuhan. kulit kering. Namun seringkali pula plasenta masih dapat berfungsi dengan baik sehingga berat janin bertambah terus sesuai dengan bertambahan umur kehamilan. fibrosis. Selaput vaskulosinsisial menjadi tambah tebal dan jumlahnya berkurang. Transport kalsium tak terganggu. lemak dan gama globulin biasanya mengalami gangguan sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intra uterin.6 %. Pengangkutan bahan dengan berat molekul tinggi seperti asam amino. kalium dan glukosa menurun.

warna coklat kehijauan atau kekuningan pada kulit dan tali pusat. muka tampak menderita dan rambut kepala banyak atau tebal. maserasi kulit terutama daerah lipat paha dan genital luar. incoordinate uterine action. tulang tengkorak lebih keras. sebagian besar terjadi intrapartum. partus lama. kuku tangan dan kaki panjang.seperti kertas ( hilangnya lemak subkutan). Tergantung derajat insufisiensi plasenta yang terjadi tanda postmaturitas ini dapat dibagi dalam 3 stadium. Umumnya disebabkan karena : Makrosomia yang dapat menyebabkan terjadinya distosia pada persalinan Insufisiensi plasenta yang berakibat : Pertumbuhan janin terhambat Oligohidramnion : terjadi kompresi tali pusat. keluar mekoneum yang kental Hipoksia janin Aspirasi mekoneum oleh janin Cacad bawaan : terutama akibat hipoplasia adrenal dan anensefalus 3. yaitu : Stadium I : Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering. Aspek emosi : ibu dan keluarga menjadi cemas bilamana kehamilan terus berlangsung melewati taksiran persalinan. Komentar tetangga atau teman seperti ‘ belum lahir juga ?” akan menambah frustasi ibu 23 . Tidak seluruh neonatus KLB menunjukkan tanda postmaturitas tergantung fungsi plasenta. Pengaruh pada ibu Morbiditas / mortalitas ibu : dapat meningkat sebagai akibat dari makrosomia janin dan tulang tengkorak menjadi lebih keras yang menyebabkan terjadi distosia persalinan. kulit dan tali pusat Gawat janin atau kematian perinatal menunjukkan angka meningkat setelah kehamilan 42 minggu atau lebih. hilangnya verniks kaseosa dan lanugo. meningkatkan tindakan obstetrik dan perdarahan postpartum. rapuh dan mudah mengelupas Stadium II : ditambah pewarnaan mekoneum pada kulit Stadium III : disertai pewarnaan kekuningan pada kuku. Umumnya didapat sekitar 12 – 20 % neonatus dengan tanda postmaturitas pada KLB.

berlangsung terus atau megalami morbiditas serius bila tetap dalam rahim − Sebagian besar janin tetap dalam keadaan baik dan tumbuh terus sesuai dengan tambahnya umur kehamilan dan tumbuh semakin besar − Pada saat kehamilan mencapai 42 minggu. pada beberapa penderita didapatkan sekitar 70 % serviks belum matang / unfavourable / dengan nilai Bishop rendah sehingga induksi tidak selalu berhasil − Persalinan yang berlarut-larut akan sangat merugikan bayi postmatur − Pada KLB sering terjadi disproporsi kepala panggul dan distosia bahu ( 8% pada kehamilan genap bulan. riwayat obstetrik yang jelek. preeklampsia/ eklampsia. Aspek mediko legal Dapat terjadi sengketa atau masalah dalam kedudukan sebagai seorang ayah sehubungan dengan umur kehamilan Pengelolaan kehamilan lewat bulan KLB merupakan masalah yang banyak dijumpai dan sampai saat ini pengelolaanya masih belum memuaskan dan masih banyak perbedaan pendapat. Beberapa masalah yang sering dihadapi pada pengelolaan KLB antara lain : − Pada beberapa penderita. umur kehamilan tidak selalu dapat ditentukan dengan tepat. Demikian pula pada kehamilan dengan faktor risiko lain seperti primitua.4. kehamilan jangan dibiarkan berlangsung lewat bulan. 14% pada KLB) yang 24 . hipertensi kronis dan lain sebagainya yang meningkatkan risiko terhadap janin. Tidak ada ketentuan atau hukum yang pasti dan perlu dipertimbangkan masing-masing kasus dalam pengelolaan KLB. kelainan factor Rhesus atau isoimunisasi. Perlu ditetapkan terlebih dahulu bahwa setiap KLB dengan komplikasi spesifik seperti Diabetes mellitus. infertilitas. sehingga janin bisa saja belum matur sebagaimana diperkirakan − Sukar menentukan apakah janin akan mati.

beberapa hal pengelolaan KLB adalah : − Menentukan apakah kehamilan memang telah berlangsung lewat bulan (KLB) atau bukan. Pengelolaan pasif / menunggu / ekspektatif : didasarkan pandangan / komplikasi cukup besar terutama risiko persalinan operatif bahwa sehingga persalinan anjuran yang dilakukan semata-mata atas dasar KLB mempunyai risiko menganjurkan untuk dilakukan pengawasan terus menerus terhadap kesejahteraan janin.− Janin KLB lebih peka terhadap obat penenang dan narkose − Bedah sesar akan menimbulkan cacad pada ibu sekarang maupun untuk kehamilan berikut ( risiko Bedah sesar 0.3 % pada KLB) Pemecahan kulit ketuban harus dengan pertimbangan matang. − Identifikasi kondisi janin dan keadaan yang membahayakan janin . Pemeriksaan Kardiotokografi seperti nonstres test (NST) & contraction stress sampai persalinan berlangsung yang perlu diperhatikan dalam dengan sendirinya atau timbul indikasi untuk mengakhiri kehamilan. Pada oligohidramnion pemecahan kulit ketuban akan meningkatkan risiko kompresi talipusat tetapi sebaliknya dengan pemecahan kulit ketuban akan dapat diketahui adanya mekoneum dalam cairan amnion. kehamilan sebaiknya diakhiri pada usia kehamilan 41 atau 42 25 .7% pada genap bulan & 1. Dengan demikian penatalaksanaan ditujukan kepada dua variasi dari KLB ini. Pengelolaan aktif: yaitu dengan melakukan persalinan anjuran pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu untuk memperkecil risiko terhadap janin. Beberapa kontroversi ini antara lain adalah : − Apakah minggu − Apakah dilakukan pengelolaan secara aktif yaitu dilakukan induksi setelah ditegakkan diagnosis KLB ataukah sebaiknya dilakukan pengelolaan secara ekspektatif yaitu menunggu dengan pemantauan terhadap kesejahteraan janin. Sampai saat ini masih terdapat perbedaan pendapat dalam pengelolaan KLB. baik secara biofisik maupun biokimia Sebelum mengambil langkah.

Kematian janin neonatus meningkat 5 – 7 % pada persalinan 42 mg atau lebih. − Bila serviks telah matang ( dengan nilai Bishop > 5 ) dilakukan induksi persalinan dan dilakukan pengawasan intrapartum terhadap jalannya persalinan dan keadaan janin − Bila serviks belum matang. tes dengan kontraksi (CST) harus dilakukan. kehamilan dibiarkan berlanjut dan penilaian janin dilanjutkan seminggu dua kali. − Bila ditemukan oligohidramnion (< 2 cm pada kantong yang vertical atau indeks cairan amnion < 5 ) atau dijumpai deselerasi variable pada NST maka dilakukan induksi persalinan. janin perlu dilahirkan sedangkan bila CST negatif kehamilan dibiarkan berlangsung dan penilaian janin dilakukan lagi 3 hari kemudian. terjadi kemunduran fungsi plasenta dan oligohidramnion. Sebagian besar kepustakaan sepakat bahwa induksi persalinan dapat segera dilaksanakan baik pada usia 41 maupun 42 minggu bilamana serviks telah matang.test dapat mengetahui kesejahteraan janin sebagai reaksi terhadap kontraksi uterus. gangguan pertumbuhan janin. 26 . Beberapa pemeriksaan laborat dapat dilakukan seperti pemeriksaan kadar Estriol − Periksa kematangan serviks dengan skor Bishop. Kematangan serviks ini memegang peranan penting dalam pengelolaan KLB. Bila hasil CST positif. − Bila volume cairan amnion normal dan NST tidak reaktif. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan besar janin. perlu dinilai keadaan janin lebih lanjut apabila kehamilan tidak diakhiri : − NST dan penilaian volume kantong amnion. − Pada umumnya penatalaksanaan sudah dimulai sejak umur kehamilan mencapai 41 minggu dengan melihat kematangan serviks. − Keadaan serviks ( Skor Bishop ) harus dinilai ulang setiap kunjungan pasien dan kehamilan harus diakhirr bila serviks matang. keadaan dan derajat kematangan plasenta. mengingat dengan bertambahnya umur kehamilan maka janin tumbuh besar. denyut jantung janin. jumlah dan kualitas air ketuban. Bila keduanya normal.

27 . Pemakaian continous electronic fetal monitoring sangat bermanfaat − Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan. − Awasi jalannya persalinan Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu-waktu terjadi kegawatan janin Cegah terjadinya aspirasi mekoneum dengan segera mengusap wajah neonatus dan penghisapan pada tenggorokan saat kepala lahir dilanjutkan resusitasi sesuai prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekoneum.− Kehamilan lebih dari 42 minggu diupayakan diakhiri Pengelolaan selama persalinan adalah : − Pemantauan yang baik terhadap ibu ( aktivitas uterus ) dan kesejahteraan janin. − Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda postmaturitas Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi janin postterm sehingga setiap persalinan KLB harus dilakukan pengamatan ketat dan sebaiknya dilaksanakan di Rumah Sakit dengan pelayanan operatif dan neonatal yang memadai.

00 WIB 1. Surakarta : Kawin : 13 September 2006 : 20 Juni 2006 : 42 minggu : 3 Juli 2007 : 851281 : 50 Kg : 150 cm Keluhan Utama Kenceng-kenceng dan ingin mengejan 28 .03/3 Ps. Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Agama Alamat Status Perkawinan HPMT HPL UK Tanggal Masuk No.BAB II STATUS PENDERITA A. Sri Wahyuni : 26 tahun : Perempuan : Ibu rumah tangga : Islam : Losari RT. Kliwon. Identitas Penderita : Ny.CM Berat badan Tinggi Badan 2. ANAMNESIS Tanggal 3 Juli 2007 jam 02.

3. 4. Pasien merasa hamil 9 bulan. Baik 7. Riwayat Penyakit Dahulu • Riwayat sesak nafas • Riwayat Hipertensi • Riwayat Penyakit Jantung • Riwayat DM • Riwayat Asma • Riwayat Alergi Obat/makanan • Riwayat Operasi 5. Riwayat Penyakit Keluarga • Riwayat Mondok • Riwayat Hipertensi • Riwayat Penyakit Jantung • Riwayat DM • Riwayat Asma • Riwayat Alergi Obat/makanan 6. Gerakan janin sudah tidak sejak 3 jam yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang Datang seorang G1P0A0. Lendir darah (+). kiriman dari rumah bersalin dengan keterangan presbo inpartu. Kenceng-kenceng teratur dirasakan sejak 9 jam yang lalu dan mulai ingin mengejan sejak ½ jam yang lalu.. 26 tahun. Air kawah sudah dirasakan keluar sejak 22 jam yang lalu. Riwayat Obstetri Riwayat Fertilitas : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal • Riwayat Minum Obat Selama Hamil : Disangkal : Disangkal 29 .

Status Interna : : 110/70 mmHg : 88 x / menit : 38. CM. 10. Riwayat Ante Natal Care (ANC) Teratur. 9. Pasien periksa ke puskesmas 1 bulan sekali sampai usia kehamilan 3 bulan. 8.Penderita hamil baru pertama kali. Pharinx hiperemis (-) : Pembesaran kelenjar tiroid (-) Keadaan Umum : baik. Dilanjutkan 2 kali sebulan pada usia kehamilan 4 sampai 6 bulan. Setelah itu pasien periksa 1 minggu sekali. Gizi cukup Tanda Vital Tensi Nadi Suhu Kepala Mata THT Leher Respiratory Rate : 22 x/menit 30 .1 0C : Mesocephal : Conjuctiva anemis (-/-). Riwayat Keluarga Berencana Disangkal B. Riwayat Perkawinan Riwayat Haid Menarche Lama menstruasi Siklus menstruasi : 14 tahun : 6 hari : 28 hari Menikah 1 kali. 11. PEMERIKSAAN FISIK 1. pertama kali periksa ke puskesmas pada usia kehamilan 1 bulan. telah menikah selama 1 tahun. Sklera Ikterik (-/-) : Tonsil tidak membesar.

Mammae dalam batas normal. hepar lien tidak membesar : Tympani pada bawah processus xipoideus. bising (-) Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi Abdomen: Inspeksi Palpasi Perkusi : Dinding perut > dinding dada Stria gravidarum (+) : Supel. NT (-).air ketuban (+) Oedema : Pengembangan dada ka = ki : Fremitus raba dada ka = ki : Sonor/Sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+). Ronki basah kasar (-/-) Akral dingin 2. reguler.redup pada daerah uterus Auskultasi : Peristaltik (+) normal Genital Ekstremitas : : Lendir darah (+) . areola mammae hiperpigmentasi (+) Inspeksi Palpasi Perkusi : IC tidak tampak : IC tidak kuat angkat : Batas jantung kesan normal Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal.Thorax Cor : : Gld. Status Obstetri Kepala : Mesocephal - Inspeksi 31 .

memanjang. sclera ikterik (-/-) : Kloasma gravidarum (+) : Glandula mammae hipertrofi (+). bokong sudah masuk panggul. punggung di kanan. aerola mammae hiperpigmentasi (+) : Inspeksi : Dinding perut > dinding dada. presentasi bokong. teraba janin tunggal. III : teraba bagian lunak. intra uterin. nyeri tekan (-). peradangan (-). Perkusi : Tympani pada bawah processus xipoideus.Mata Wajah Thorax Abdomen : Conjungtiva Anemis (-/-). Pemeriksaan Leopold I : teraba bagian keras kesan kepala II : Teraba 1 bagian besar memanjang di sebelah kanan. stria gravidarum (+) Palpasi : Supel. lendir darah (+). kesan bokong IV : bokong sudah masuk panggul Kesimpulan. rata. keras kesan punggung dan disebelah kiri teraba bagian kecil kesan ekstremitas. TFU 29 cm ~ TBJ janin: 2790 gram HIS (+) 3-4x/10’/30”-40”/kuat.redup pada daerah uterus Auskultasi : DJJ (-) Genital eksterna : Vulva/uretra tidak ada kelainan. tumor (-) Ekstremitas : Oedema - 32 .

8mmol/L : 106 33 . presbo. bokong turun di H III-IV. dinding vagina dalam batas normal. keruh berbau. AK (+). sakrum di jam 12. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.9 gr/dl : 33. Nietrazin Test (+) UPD : promontorium tidak teraba linea terminalis teraba . 1/3 bagian spina ischiadica tidak menonjol arcus pubis > 90 sudut MKM tumpul kesimpulan : kesan panggul normal C.0 % : 4.mendatar Ø= lengkap.7 mg/dL : 136 mmol/L : 3. STLD (+). KK (-).5 x 103/uL : 336x 103/uL :B : 113mg/dL : 13 mg/dL : 0. Laboratorium Darah tanggal 25 Januari 2007 Hemoglobin Hematokrit Antal Eritrosit Antal Leukosit Antal Trombosit Golongan Darah GDS Ureum Creatinin Na K Ion Cl : 10.15 x 103/uL : 18. portio lunak.akral dingin - Pemeriksaan Dalam : VT : vulva / uretra tenang.

Postterm. JK: perempuan. BB: 2800 gr. bokong masuk panggul. TERAPI Pimpin mengejan Evaluasi tanggal 3 Juli 2007 pukul 04. PROGNOSIS Baik G. teraba janin tunggal. intra uterin memanjang. presbo. IUFD. insersi di sentral.9” Seorang G1P0A0. KESIMPULAN : negatif : 21” : 36. riwayat obstetri belum diketahui. maserasi (-). PB: 40 cm. Nitrasin Test (+) TBJ E.HbS Ag PT APTT D. Pukul 04.05 Bayi lahir secara Bracht.20 Evaluasi 2 jam post partus Kala II Kala III Kala IV Total : 50 cc : 30 cc : 20 cc : 100cc 34 . tanda-tanda postmaturitas. +.20 Plasenta lahir spontan kesan lengkap bentuk cakram ukuran 20X20X2 cm. F. 26 tahun. Lama persalinan Kala I : 9 jam KalaII : 50 menit Kala III: 15 menit Total : 10 Jam 5 menit Pukul 06. : 2790 gr DIAGNOSIS AWAL Kala II IUFD presbo KPD 22 jam infected pada primigravida h. panjang tali pusat 34 cm. UK 42 minggu. riwayat fertilitas baik.

TFU 2 jari bawah pusat : perdarahan (-). SI (-/-) : C/P dbn : supel.: − − − − − − Dx. TFU 2 jari bawah pusat : perdarahan (-). kontraksi baik.50C Dx.Kel KU VS: Mata Thorax :: baik. gizi kesan cukup T: 110/70 mmHg N: 88 x/ menit : CA(-/-). kontraksi baik. KPD 22 jam infected pada primigravida − Amoxicillin 3x 500mg 35 . lochia (+) Rr: 20x/ menit t: 36. SI (-/-) : C/P dbn : supel. CM. gizi kesan cukup T: 110/70 mmHg N: 94 x/ menit : CA(-/-).: post partum secara Bracht IUFD. CM.: post partum secara Bracht IUFD.: :: baik. KPD 22 jam infected pada primigravida Mondok bangsal Lab darah rutin cito Amoxicillin 3x 500mg Metronidazol 3x500mg Methergin 3x1 Ferobion 2x1 Follow up tanggal 4 Juli 2007 Kel KU VS: Mata Thorax Abdomen Genital h.postterm Tx. lochia (+) Rr: 28x/ menit t: 380C Abdomen Genital h.postterm Tx.

presbo.: post partum secara Bracht IUFD. KPD 22 jam infected pada primigravid. CM. KPD 22 jam infected pada primigravida − − − − Amoxicillin 3x 500mg Metronidazol 3x500mg Methergin 3x1 Ferobion 2x1 Analisis kasus Pada kasus ini ditegakkan diagnosa IUFD. Pada pemeriksaan auskultasi abdomen ibu. hamil postterm. • IUFD ditegakkan dari anamnesis dari ibu yang tidak merasakan gerakan janin sejak 3 jam SMRS.: :: baik. gizi kesan cukup T: 110/70 mmHg N: 84 x/ menit : CA(-/-).60C Dx. kontraksi baik.− − − Metronidazol 3x500mg Methergin 3x1 Ferobion 2x1 Follow up tanggal 5 Juli 2007 Kel KU VS: Mata Thorax Abdomen Genital h. lochia (+) Rr: 20x/ menit t: 36. TFU 2 jari bawah pusat : perdarahan (-).postterm Tx. tidak didapatkan DJJ. SI (-/-) : C/P dbn : supel. Pada pasien ini kemungkinan 36 .

maka pembukaan pada presbo kadang tidak lengkap 10 cm. durasi 30-40 detik.5 x 103/µL. nitrasin test (+). intensitas kuat. berbau. AL: 18. sementara tanda-tanda infeksi telah didapatkan (suhu ibu = 38. pembukaan lengkap. ditegakkan dari pemeriksaan abdomen yaitu pada pemeriksaan Leopold I-IV Diagnosa KPD 22 jam ini ditegakkan dari anamnesis dimana pasien mengaku air kawah telah keluar 22 jam sebelum pasien datang ke RSDM. • Kehamilan postterm dilihat dari usia kehamilan ibu dihitung dari HPMT adalah 42 minggu. dan teraba bokong turun di H III-IV. VT dimana didapatkan portio lunak mendatar. Pada pemeriksaan VT diadapatkan kulit ketuban (-). • Kala II ditegakkan dari pemeriksaan kontraksi uterus yang didapatkan HIS (+) 3-4 x/10 menit. 37 . Karena bokong merupakan bagian janin yang lunak. • • Presbo. air ketuban (+) keruh.penyebab IUFD adalah proses infeksi yang disebabkan karena KPD infected.10 C. air ketuban keruh dan berbau) maka ditegakkan pula diagnosis KPD infected. Karena ketuban yang telah pecah ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful