xviii DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampang balok komposit .................................. 8 Gambar 2.2 Distribusi tegangan plastis .................................... 9 Gambar 2.3 Metode transfornasi luasan ................................. 11 Gambar 2.4 Penampang kolom komposit ............................... 14 Gambar 4.1 Denah tangga ...................................................... 34 Gambar 4.2 Potongan A-A tangga .......................................... 34 Gambar 4.3 Tampak anak tangga ........................................... 35 Gambar 4.4 Tampak melintang anak tangga .......................... 36 Gambar 4.5 Sketsa pembebanan pelat tangga ......................... 37 Gambar 4.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga ............. 40 Gambar 4.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga ........... 43 Gambar 4.8 Sketsa profil Canal 260.90.10.14 ........................ 44 Gambar 4.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ........ 46 Gambar 4.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes ........................................................................ 48 Gambar 4.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga......................................................................... 49 Gambar 4.12 Potongan pelat Atap ............................................ 52 Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan 3 sampai dengan 11 .. 53 Gambar 4.14 Potongan plat lantai 2.......................................... 55 Gambar 4.15 Potongan plat lantai mesin lift ............................ 56 Gambar 4.16 Detail sambungan balok anak dan balok induk ... 66 Gambar 4.17 Detail plat siku ................................................... 68 Gambar 4.18 Denah lift ............................................................ 71 Gambar 4.19 Sketsa mekanika pehitungan balok penggantung lift ............................................................................................. 72 Gambar 4.20 Distribusi tegangan plastis .................................. 74 Gambar 4.21 Sketsa mekanika pehitungan balok penumpu lift 78 Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis .................................. 80 Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .............................................. 91 Gambar 5.2 Pemodelan Stuktur 3D ......................................... 92

xx DAFTAR TABEL
Tabel Tabel Tabel Table Table Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 2.1 Ukuran Minimum Las Sudut ...................................... 20 5.1 Berat Struktur per lantai.............................................. 90 5.2 Nilai Xcr dan Ycr........................................................ 95 5.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan ............................ pp96 5.4 Modal Participating Mass Ratio ................................. 99 5.5 Selisih Periode antar Mode yang Berdekatan ........... 100 5.6 Simpangan ................................................................ 102 5.7 Analisa Δs akibat gempa arah x ................................ 103 5.8 Analisa Δs akibat gempa arah y ................................ 103 5.9 Analisa Δm akibat gempa arah x .............................. 104 5.10 Analisa Δm akibat gempa arah y ............................. 105

xxii

Tower Albergo merupakan satu diantara empat tower The Bellezza. Komposit balok baja dan pelat beton adalah satu usaha dalam mendapatkan suatu konstruksi yang baik dan efisien. (4) kapasitas menahan beban lebih besar. 2005 ). Apartemen tersebut terdiri dari 36 lantai. (2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil. dimana pada beton bertulang gaya-gaya tarik yang dialami suatu elemen struktur dipikul oleh besi tulangan tetapi pada struktur komposit ini gaya-gaya tarik yang terjadi pada suatu elemen struktur dipikul oleh profil baja. dimana tower tersebut merupakan gedung apartemen yang dibangun dengan menggunakan beton bertulang konvensional.1 BAB I PENDAHULUAN I. kekakuan dan keunggulan ekonomis ( Vebriano Rinaldy & Muhammad Rustailang. (3) kekakuan lantai meningkat. hal tersebut menjadi satu alasan banyak bangunan tempat tinggal di kota Jakarta dibangun bertingkat dan salah satunya adalah Tower Albergo. Keistimewaan yang nyata dalam sistem komposit adalah (1) Penghematan berat baja.1 Latar belakang Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang sangat padat. (5) . Balok komposit merupakan campuran beton dengan baja profil. kemudian direncanakan ulang dengan menggunakan struktur komposit baja beton. Sementara itu ketersediaan lahan untuk tempat tinggal di kota tersebut semakin sempit. struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan. Kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung di kota tersebut sangat diperlukan salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal yang terus meningkat. Dari beberapa penelitian. Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur.

Dapat menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. . Bagaimana memodelkan dan menganalisa struktur setelah adanya modifikasi.1991 ). Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. yaitu : 1. I. Bagaimana menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi.2 Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar ( Charles G. 4. 2. Dapat menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. Bagaimana menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur. 5. Salmon. I. 2. Pada Tugas Akhir ini menggunakan peraturan SNI 032847-2002 tentang tata cara perhitungan beton untuk bangunan gedung dan SNI 03-1726-2002 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung serta SNI 03-17292002 tentang tata cara perencanaan struktur baja. Bagaimana menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. 3. antara lain : 1.2 Permasalahan Permasalahan yang ditinjau dalam modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton.3 Tujuan Adapun tujuan dari modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton.

Jumlah lantai yang akan direncanakan ulang menggunakan struktur komposit baja beton sebanyak 12 tingkat. 4.0 I. 2. 5. Dari perencanaan ini bisa diketahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan sehingga kegagalan struktur bisa diminimalisasi. 3.5 Manfaat Manfaat yang bisa didapatkan dari modifikasi perencanaan ini adalah : 1. struktur sekunder meliputi balok anak. Dapat memodelkan dan menganalisa struktur dengan menggunakan program bantu 4. Dapat menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. 5. 2.2. Tidak meninjau dari segi analisa biaya. . Dapat merencanakan struktur komposit yang memenuhi persyaratan keamanan struktur.4 Batasan masalah 1. arsitektural. Meninjau metode pelaksanaan yang hanya berkaitan dengan perhitungan struktur. tangga dan pelat lantai. Analisa struktur menggunakan program bantu ETABS v9. I. Dapat merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur. Perencanaan struktur utama meliputi balok induk dan kolom. dan manajemen konstruksi.3 3. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6.

4 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

Penampang komposit mempunyai kekakuan yang lebih besar dibandingkan dengan penampang lempeng beton dan gelagar baja yang bekerja sendiri-sendiri dan dengan demikian dapat menahan beban yang lebih besar atau beban yang sama dengan lenturan yang lebih kecil pada bentang yang lebih panjang. metode plastis. tekan dan lentur umumnya disebut dengan kolom komposit. pekerjaan saluran pendingin ruangan.1999). Salmon. dan lain-lainnya. Apabila untuk mendapatkan aksi komposit bagian atas gelagar dibungkus dengan lempeng beton. 1991). dinding-dinding. Batang yang memikul lentur umumnya disebut dengan balok komposit sedangkan batang yang memikul beban tekan. keadaan ini memberikan penghematan yang cukup besar dalam volume.1 Umum Baja merupakan salah satu bahan konstruksi yang penting. . dan untuk bangunanbangunan pencakar langit. Dalam perhitungan perencanaan ada tiga macam metode perhitungan yaitu metode elastis.(Amon. maka akan didapat pengurangan pada tebal seluruh lantai. pekerjaan pemasangan kabelkabel. Sifat-sifatnya yang terutama penting dalam penggunaan dibandingkan terhadap bahan lain yang tersedia dan sifat ductility. Penampang komposit adalah penampang yang terdiri dari profil baja dan beton digabung bersama untuk memikul beban tekan dan lentur. Ductility adalah kemampuan untuk berdeformasi secara nyata baik dalam tegangan maupun regangan sebelum terjadi kegagalan (Charles G. dan metode LRFD (Load and Resistance Factor Design). Knobloch & Mazumder.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. pekerjaan saluran air.

Ada dua kategori yang menyatakan keadaan batas (limit state) : . yaitu suatu keadaan dimana struktur atau elemen struktur didesain sampai menunjukkan perilaku tidak dapat berfungsi lagi.Serviceability limit state: kelakuan struktur memikul beban Secara umum perumusan untuk pendekatan desain metode LRFD ini dapat dituliskan sebagai berikut : ϕRn ≥ γo ∑ γi Qi 2. Baja akan memiliki cadangan kekuatan di atas kekuatan elastis.2 Balok komposit Balok adalah salah satu diantara elemen-elemen struktur yang paling banyak dijumpai pada setiap struktur. Balok adalah elemen struktur yang memikul beban yang bekerja tegak lurus dengan sumbu longitudinalnya. Sehingga beban kerja yang direncanakan dikalikan dengan faktor beban dan struktur direncanaan berdasarkan kekuatan keruntuhan (collapse).6 a) Metode Elastis Metode ini berdasarkan beban kerja dimana akibat beban kerja yang direncanakan tegangan yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan yang diijinkan.1998).Strength limit state : kemampuan struktur memikul beban . Hal ini akan menyebabkan balok melentur (Spiegel & Limbrunner. . LF (Q) ≤ Rn c) Metode LRFD Metode ini berdasarkan pada konsep keadaan batas (limit state). Tegangan ijin = σy Teganganleleh atau w = FK FaktorKeamanan b) Metode Plastis Metode ini berdasarkan pada sifat baja yang mempunyai sifat daktilitas.

kekuatan balok dalam memikul lentur dibatasi oleh kekuatan penghubung geser.12. Beberapa jenis balok komposit antara lain : a.8) 1) Tebal minimum selubung beton yang menyelimuti baja tidak kuang daripada 50 mm.6). 12. balok baja yang diberi selubung beton di semua permukaannya dianggap bekerja secara komposit dengan beton.12. Perhitungan elastis untuk balok seperti ini. Balok komposit penuh Untuk balok komposit penuh.2. kecuali yang disebutkan pada butir ke-2 di bawah. harus mempertimbangkan pengaruh adanya slip antara baja dan beton (SNI 03-1729-2002 Ps.1980). 2) Posisi tepi atas balok baja tidak boleh kurang daripada 40 mm di bawah sisi atas pelat beton dan 50 mm di atas sisi bawah plat. 3) Selubung beton harus diberi kawat jaring atau baja tulangan dengan jumlah yang memadai untuk menghindari terlepasnya bagian selubung tersebut pada saat balok memikul beban. . penghubung geser harus disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga balok mampu mencapai kuat lentur maksimumnya. Balok komposit parsial Pada balok komposit parsial. Balok baja yang diberi selubung beton Walaupun tidak diberi angker. b. selama hal-hal berikut terpenuhi (SNI 031729-2002 Ps.7). slip antara baja dan beton dianggap tidak terjadi (SNI 03-1729-2002 Ps.2.2. c.7 Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang kekuatannya bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan (Bowles. Pada penentuan distribusi tegangan elastis. seperti pada penentuan defleksi atau tegangan akibat beban layan.

2.2. b.2) : .2. h 1680 .4.1 Kekuatan Balok Komposit dengan Penghubung Geser a.9 dan Mn dihitung berdasarkan superposisi tegangan-tegangan elastis yang memperhitungkan pengaruh tumpuan sementara plastis pada penampang komposit. dengan mengikuti ketentuanketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12.Mn harus dihitung untuk penampang baja saja.1 Penampang balok komposit 2.8 a) Balok Komposit (tanpa deck) b) Balok baja diberi selubung beton Gambar 2.untuk h ≤ 1680 tw fy dengan φb = 0.85 dan Mn dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis pada penampang komposit.4.untuk > tw fy dengan φ b = 0.1) : .Kuat Lentur positif rencana ditentukan sebagai berikut (LRFD Pasal 12.Kuat Lentur negatif rencana φ b .

Menentukan gaya tarik ( T) pada baja : T = As. Distribusi tegangan plastis (Sumber :Charles G.3 Menghitung momen nominal Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis : Gambar 2.f’c. Menentukan gaya tekan ( C ) pada beton : C = 0.2.fy Dipilih nilai yang terkecil dari kedua nilai di atas .Untuk gelagar eksterior : bE ≤ L 8 bE ≤ bo + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab) dimana : L = bentang balok bo = bentang antar balok 2.9 2.85. 1996) • Menghitung momen nominal ( Mn ) positif 1.2. Salmon.Untuk gelagar interior : bE ≤ L 4 bE ≤ bo (untuk jarak balok yang sama) .2 Lebar efektif plat lantai : .beff .2.tp.

1.Ar. fy Gaya pada badan .a web ) d2 = Pf + Pw d3 = d 2 3.10 2.5.5.85. Kekuatan momen nomimal : Mn = C.Menghitung jarak ke centroid d1 = hr + tb – c ( Pf .Menghitung momen ultimate : Mn = T(d1 + d2) + Pyc(d3 .d1 Bila kekuatan nominal dinyatakan dalam bentuk gaya baja akan diperoleh : a⎞ ⎛d Mn = As.fy Gaya pada sayap . Pw = Pyc − T − Pf 2 aw = Pw tw. Menentukan tinggi blok tekan effektif : As. fy 2.tf .d2) .fyr Pyc = As. f ' c. Pf = bf .beff 3. fy⎜ + ts − ⎟ 2⎠ ⎝2 • Menghitung momen nominal ( Mn ) negatif.0.Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja T = n.d 1 atau T.tf ) + ( Pw(tf + 0. fy a= 0.

untuk beton normal..11 b efektif btr ts hr GNE komposit GNE d GN baja yt Gambar 2... ts 2. fc' Mpa ... Metode transformasi luasan Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis : 1.3. ( ts)3 tr 12 2 ⎞ ⎛ ⎞ ⎛⎛ d ⎞ ts ⎟ ⎜ + Ix + A ⎜ + A GNE − ⎜ + ts + hr ⎟ − GNE ⎟ ⎟ tr ⎜ s⎜ 2 ⎟ 2 ⎝ ⎠ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ 2 4. Menentukan letak garis netral penampang transformasi (dimomen ke ambang atas) ts ⎛ A ...GNE . Menghitung modulus penampang transformasi yc = GNE yt = d + ts + hr . Es = 200000 Mpa n = Es Ec btr = beff n Atr = btr .. Menghitung nilai transformasi beton ke baja Ec = 4700 .. +⎜ ⎜ As tr 2 ⎝ GNE = A + ( tr d ⎞⎞ ⎛ . Menghitung momen inersia penampang transformasi It = b . ⎜ ts + ⎟ ⎟ 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ A s ) 3.

Ec ⎟⎟.⎜⎜ fc'. n .5. Menghitung momen ultimate Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh digunakan dari nilai yang terkecil dari : Mn1 = 0. Str.t = I tr yt 5.Asc.85 ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 *⎜ ⎟*⎜ Nr ⎝ hr ⎠ ⎝ hr ⎠ rs untuk balok sejajar balok : ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ − 1⎟ ≤ 1 rs = 0. fc’ .c = tr yc dan Str. Str.85 .3) Qn = 0.t Jadi : Mu ≤ ∅ .rs ≤ Asc.12 I Str.fu ⎜ ⎝ ⎟ ⎠ ⎛ ⎜ ⎞ ⎟ Dimana : rs untuk balok tegak lurus balok : 0.4 Penghubung Geser Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal 12.c Mn2 = fy .2.6.6 * ⎜ ⎟*⎜ hr hr ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Nr = jumlah stud setiap gelombang Hs = tinggi stud Hr = tinggi bondek Wr = lebar effektif bondek Asc = Luas penampang shear connector fu = Tegangan putus penghubung paku/stud Qn = Kuat nominal geser untuk penghubung geser Jumlah penghubung geser (shear connector) yang dibutuhkan yaitu : n = C Qn . Mn 2.

5 Kontrol lendutan (Deflection) Batasan lendutan atau deflection pada biaya telah diatur didalam SNI 03-1729-2002.Perhitungan lendutan pada balok berdasarkan beban kerja yang dipakai di dalam perhitungan struktur. Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penghuni banguna tersebut.I 48.ql 4 = untuk beban terbagi merata.E. dan 384.13 2.2. Lendutan diperhitungkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : Lendutan yang besar dapat mengakibatkan rusaknya barangbarang atau alat-alat yang didukung oleh balok tersebut. Besar lendutan dapat dihitung dengan rumus : ƒmax 5. Penampilan dari suatu struktur akan berkurang dari segi estetika dengan lendutan yang besar.I 3 ƒmax = Pl untuk beban terpusat di tengah bentang . bukan berdasar kan beban berfaktor.E.

4. . • Kolom komposit terbuat dari penampang baja berongga (kolom baja berintikan beton).3 Kolom Komposit Kolom komposit didefinisikan sebagai “ kolom baja yang dibuat dari potongan baja giling (rolled) built-up dan di cor di dalam beton struktural atau terbuat dari tabung atau pipa baja dan diisi dengan beton struktural (Salmon & Jonson. yaitu : • Kolom komposit yang terbuat dari profil baja yang diberi selubung beton di sekelilingnya (kolom baja berselubung beton). 1996).14 2.3. 1. Ada dua tipe kolom komposit. Selubung beton untuk penampang komposit yang berintikan baja harus diberi tulangan baja longitudinal dan tulangan pengekang lateral.1) : Luas penampang profil baja minimal sebesar 4% dari luas penampang komposit total. Penampang kolom komposit Kriteria untuk kolom komposit bagi komponen struktur tekan (SNI 03-1729-2002 Ps. Profil Baja dibungkus beton Pipa baja O didisi beton Gambar 2.12.

Mutu beton yang digunakan tidak lebih 55 Mpa dan tidak kurang dari 21 Mpa untuk beton normal dan tidak kurang dari 28 Mpa untuk beton ringan. Jarak antar pengikat lateral tidak boleh melebihi 2/3 dari dimensi terkecil penampang kolom komposit.6 − 0.25λc 2 maka ω = untuk λr ≥ 0.3. . 5.2) Kuat rencana kolom komposit yang menumpu beban aksial adalah øc Nn dengan øc = 0. 12. Tegangan leleh profil dan tulangan baja yang digunakan untuk perhitungan kekuatan kolom komposit tidak boleh lebih dari 380 Mpa.2 ω maka ω = 1 1. 2. Luas minimum penampang tulangan transversal (atau lonitudinal) terpasang. Tebal bersih selimut beton dari tepi terluar tulangan longitudinal dan transveersal minimal sebesar 40 mm.25 ≤ λr ≤ 1.25 0.15 2. Tebal minimum dinding pipa baja atau penampang baja berongga yang diisi beton adalah b fy / 3E untuk setiap sisi selebar b pada penampang persegi dan D fy / 8 E untuk penampang bulatyang mempunyai diameter luar D.3.67λc maka ω = 1.43 1. kecuali untuk tulangan longitudinal yang hanya berfungsi memberi kekangan pada beton. 3. Tulangan baja longitudinal harus menerus pada lantai struktur portal.85 Nn = As fcr dan fcr = untuk untuk fmy λr ≤ 0. 4.25 dengan .1 Kuat rencana kolom komposit (SNI 03-1729-2002 Ps.

MPa adalah tegangan tekan kritis.5 f 'c ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Keterangan : As adalah luas penampang beton. mm adalah parameter kelangsingan adalah faktor reduksibeban aksial tekan adalah faktor tekuk E m adalah modulus elastisitas untuk perhitungan kolom f cr fy fy fc ' kc Nn rm λc ω øc . mm2 Ar E Ec adalah luas penampang tulangan longitudinal. MPa adalah kuat tekan karakteristik beton. N adalah jari-jari girasi kolom komposit.041w1. MPa adalah modulus elastisitas beton. MPa adalah tegangan leleh profil baja. mm2 adalah modulus elastis baja. MPa komposit. MPa adalah faktor panjang efektif kolom adalah kuat aksial nominal.16 λc = kcL rmπ fmy Em ⎛ Ar ⎞ ⎛ Ac ⎟ fmy = fy + c1 fyr ⎜ + c fc ' ⎜A ⎟ 2 ⎜ ⎜A ⎝ s⎠ ⎝ s ⎛ Ac ⎞ E m = E + c3 E c ⎜ ⎜A ⎟ ⎟ ⎝ s⎠ E c = 0. MPa adalah tegangan leleh untuk perhitungan kolom komposit.

17 Pada persamaan di atas.mm . c 2 .85 (struktur tekan) ∅b = 0.dan c3 =0.85 .3). dimana : Nu = Gaya aksial (tarik atau tekan) terfaktor.Nn ⎡ ⎤ Nu + ⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1.Mnx ϕ b.Nn ⎢⎢⎣ϕ b. N Nn = Kuat nominal penampang. c1 .Mnx ϕ b.4 Kekuatan rencana kolom komposit yang menahan beban kombinasi aksial dan lentur (LRFD Pasal 7.90 (struktur lentur) Mnx . c 2 = 0.4.4 b). Untuk pipa baja yang diisi beton : c1 = 1.Mny ⎥⎥⎦ b.ϕ .dan c3 =0. Untuk profil baja yang diberi selubung beton : c1 = 1.0 ϕ .3.2 ϕ c. c 2 = 0. Mny =Momen lentur nominal penampang komponen struktur masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y. ϕ c. Muy =Momen lentur terfaktor masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y.0 2 .⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1. N ∅ = Faktor reduksi kekuatan ∅c = 0.mm Mux .dan c3 adalah koefisien yang besarnya a). N.Nn 9 ⎢⎣⎢ϕ b.2 a.85 .Nn ⎡ ⎤ Nu + 8 . Nu ≥ 0.Mny ⎥⎦⎥ Nu < 0. N.

5. 2. pelat pendukung. Sambungan kaku / Rigid connection adalah sambungan yang dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut-sudut di antara komponenkomponen struktur yang akan disambung. Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sanbungan. Sambungan semi kaku / Semi rigid connection adalah sambungan yang tidak memiliki kekakuan yang cukup mempertahankan sudut-sudut diantara komponenkomponen struktur yang disambung. Sambungan sendi / Simple connection adalah sambungan yang pada kedua ujung komponen struktur dianggap bebas momen.1 Klasifikasi sambungan : 1. namun harus dianggap memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan kekangan yang dapat diukur terhadap perubahan sudutsudut tersebut 3. Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. dan pelat penyambung) dan alat pengencang (baut dan las).4 Sambungan Sambungan terdiri dari komponen sambungan (pelat pengisi. 2. Semi Rigid Connection Rigid Connection Rigid Connection Gambar 2. Sambungan pada baja .4. pelat buhul.18 2.

2.6 × fu × Anv Vu < φPn 2. Sambungan dan komponen yang berdekatan harus mampu memikul gaya-gaya yang bekerja padanya.db.2 Perencanaan sambungan Kuat rencana setiap komponen tidak boleh kurang dari beban terfaktor yang dihitung.1.75 × 0.fv.4.4.3) Jarak minimum antar baut : 3db (LRFD 13. φf .tp φRn diambil yang terkecil Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum : 1.2) Jarak tepi maksimum : (4tp + 100 mm) atau 200 mm (LRFD 13.4. 13.Rnw = 0.8)fy.4.19 2.4.3 Sambungan Baut Kuat geser φRnv Kuat tumpu φRnt Jumlah baut. Perencanaan sambungan harus memenuhi persyaratan (SNI 03-1729-2002 Ps. Gaya dalam yang disalurkan berada dalam keseimbangan dengan gaya-gaya yang bekerja pada sambungan. n = Vu = φ.6 × fuw) (las) .m = φ.3) Kontrol Kekuatan Pelat φPn = 0. 3.75 × t e × (0.5db (LRFD 13. 2.(1.4.Ab.4 Sambungan Las Ru ≤ ϕRnw dengan.3) : 1.1) Jarak maksimum antar baut : 15tp atau 200 mm (LRFD 13. Deformasi pada sambungan masih berada dalam batas kemampuan deformasi sambungan.4.

Ukuran Minimum Las Sudut 2. Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal. dikatakan pondasi dalam jika perbandingan antara kedalaman pondasi (D) dengan diameternya (B) adalah lebih besar sama dengan 10 (D/B > 10). sedangkan untuk pondasi dalam dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif besar seperti pada gedung yang berlantai banyak. yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar . pondasi tiang bor ( pondasi sumuran ). a (mm) 3 4 5 6 Tebal bagian paling tebal. 2. antara lain pondasi tiang pancang.1 Pondasi Tiang Pancang a.Rnw = 0. yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Dalam perencanaan pondasi ada dua jenis pondasi yang umum dipakai dalam dunia konstruksi.5 Perencanaan Pondasi Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah.5.20 φf . t (mm) t ≤ 7 7 < t ≤ 10 10 < t < 15 15 < t Tabel 2.Pondasi dalam ini ada beberapa macam jenis. Pondasi dangkal dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif kecil. pondasi caisson dan lain sebagainya.1.6 × fu ) (bahan dasar) keterangan : fuw : tegangan tarik putus logam las fu : tegangan tarik putus bahan dasar te : tebal efektif las (mm) Tebal minimum las sudut.75 × t e × (0.

As ⎜ 3 ⎝ ⎠ . Ap = ( Np . daya dukung suatu tiang juga harus ditinjau berdasarkan kekuatan bahan tiang pancang tersebut. As = ⎛ + 1⎟ . Ap dengan : Np K = Harga rata-rata SPT di sekitar 4B di atas hingga 4 B di bawah dasar tiang pondasi = Koefisien karakteristik tanah = 12 t/m2. K ) . Perhitungan daya dukung dapat ditinjau dari dua keadaan. Perhitungan daya dukung tiang pancang ini dilakukan berdasarkan hasil uji Standard Penetration Test ( SPT ) menurut Luciano Decourt ( 1982 ) Ql = Qp + Qs dimana : Qp = qp . untuk tanah pasir Ap qp = Luas penampang dasar tiang = tegangan di ujung tiang Ns ⎞ Qs = qs . Hasil daya dukung yang menentukan yang dipakai sebagai daya dukung ijin tiang. untuk tanah lempung = 20 t/m2. Sehingga daya dukung total dari tanah dapat dirumuskan : Qu = Qp + Qs Disamping peninjauan berdasarkan kekuatan tanah tempat pondasi tiang pancang di tanam. untuk tanah lanau berlempung = 25 t/m2.21 tiang pondasi ( Qp ) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah ( Qf ). yaitu : • Daya dukung tiang pancang tunggal yang berdiri sendiri • Daya dukung tiang pancang dalam kelompok. untuk tanah lanau berpasir = 40 t/m2.

Qijin 1 tiang = Dimana : SF N’ N = safety factor = 3 = harga SPT di lapangan = harga SPT setelah dikoreksi = 15 + [ ( N’ – 15 ) /2 ] Qu SF b. dengan batasan : 3 ≤ N ≤ 50 = keliling x panjang tiang yang terbenam Daya dukung ijin dari satu tiang pancang yang berdiri sendiri adalah daya dukung tiang total dibagi dengan suatu angka keamanan. Namun untuk kondisi tanah didominasi oleh pasir lepas atau dengan tingkat kepadatan sedang.22 Dengan : qs Ns As = tegangan akibat lekatan lateral dalam t/m2 = harga rata-rata sepanjang tiang yang tertanam. Untuk daya dukung batas. Dari problema ini. dapat dibedakan dua fenomena sebagai berikut : ¾ Pengaruh group disaat pelaksanaan pemancangan tiang-tiang ¾ Pengaruh group akibat sebuah beban yang bekerja Proses pemancangan dapat menurunkan kepadatan di sekeliling tiang untuk tanah yang padat. daya dukungnya mengalami modifikasi. pengaruh dari sebuah group tiang pondasi tidak perlu diperhitungkan bila jarak as ke as antar tiang . karena pengaruh dari group tiang tersebut. pemancangan dapat menaikkan kepadatan disekitar tiang bila jarak antar tiang < 7 s/d 8 diameter. Daya dukung dukung tiang kelompok Disaat sebuah tiang merupakan bagian dari sebuah group.

x max M x .5 diameter tiang. horizontal (H). digunakan cara Converse – Labarre : arc tan (∅ / s ) ⎛ 1 1⎞ Ce = 1 − ×⎜2 − − ⎟ 90° m n⎠ ⎝ dimana: ∅ : diameter tiang pondasi S : jarak as ke as antar tiang dalam group m : jumlah baris tiang dalam group∅ n : jumlah kolom tiang dalam group 2. Untuk kasus daya dukung group pondasi. harus dikoreksi terlebih dahulu dengan koefisien efisiensi Ce.y max dimana : Pv = ± ± 2 2 n ∑x ∑y Pv = Beban vertikal ekivalen V = Beban vertikal dari kolom n = banyaknya tiang dalam group Mx = momen terhadap sumbu x My = momen terhadap sumbu y xmax = absis terjauh terhadap titik berat kelompok tiang ymax = ordinat terjauh terhadap titik berat kelompok tiang 2 ∑x = jumlah dari kuadrat absis tiap tiang terhadap garis netral group . jarak minimum antar tiang dalam group adalah 2 s/d 2. QL (group) = QL (1 tiang) × n × Ce n = jumlah tiang dalam group Untuk menghitung koefisien efisiensi Ce.2 Repartisi beban-beban diatas tiang kelompok Bila diatas tiang-tiang dalam kelompok yang disatukan oleh sebuah kepala tiang (poer) bekerja beban-beban vertikal (V). dan momen (M). Sebaliknya.23 adalah > 3 diameter. maka besarnya beban vertikal yang bekerja pada sebuah tiang adalah : ekivalen (Pv) V M y .5.

5D ≤ S1 ≤ 2D dimana : S = jarak antar as tiang pancang.24 ∑y2 = jumlah dari kuadrat ordinat tiap tiang terhadap garis netral group nilai x dan y positif jika arahnya sama dengan arah e. dan negative bila berlawanan dengan arah e.5D ≤ S ≤ 3D 1. Perhitungan jarak tiang ( Dirjen Bina Marga Departemen PU) sebagai berikut : 2. . S1 = jarak as tiang pancang ke tepi. D = diameter tiang pancang.

1 Bagan Alir Penyelesaian Tugas Akhir Mulai Pengumpulan Data Studi Literatur Perencanaan Struktur Sekunder Preliminary Desain dan Pembebanan Pemodelan dan Analisa Struktur Not Ok Kontrol Desain Ok Perencanaan Pondasi Penggambaran Hasil Perencanaan Selesai .25 BAB III METODOLOGI 3.

Rene . 2005 f. Muhammad. Rahmat. c. 1998 g. Bruce & Mazumder. Fungsi : Apartemen 5.Bandung : PT.Data umum bangunan (kondisi Awal) 1. Jakarta: Erlangga.Pradinya Paramita. Surabaya : ITS.2 Mengumpulkan data yang berkaitan dengan perencanaan Mempelajari gambar eksisting sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan modifikasi perencanaan. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. Salmon. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa.1991. Lebar bangunan : 27 m 8. Knobloch. b. Jakarta 3. Charles & E. G. Wira M. American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD).Johnson.26 3. Mempelajari data-data perencanaan secara keseluruhan yang mencakup: .CE. Amon. d. Rinaldy. John. Nama Gedung : Gedung Albergo 2. Lokasi : JL. Jumlah lantai : 36 lantai + Atap 6.3 Studi literatur Mencari literatur dan peraturan gedung (building code) yang menjadi acuan dalam pengerjaan tugas akhir ini. Tinggi Bangunan : 140. Spiegel & Limbrunner. Letjen Soepono. e. Adapun beberapa literatur serta peraturan gedung tersebut antara lain adalah sebagai berikut : a.S. Vebriano & Rustailang. Herman. Daya Dukung Pondasi Dalam. . Wahyudi. Struktur Utama : Struktur beton bertulang . Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua.7 m 10. 1999. Panjang banguna : 40 m 7.Atanu. Purwono. 1999. 2006.Data Bahan 3. Diterjemahkan oleh: Ir.

SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung....(asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) Zp = Mn …….5. k. Perencanaan pelat atap d.dari nilai Zp didapat rencana fy awal dimensi balok. Perencanaan pelat lantai c.. i. j.. Perencanaan tangga b.5 Preliminary Design dan Pembebanan 3..4 Perencanaan Struktur Sekunder a.. Perencanaan balok anak e. Dimana : Mu : momen ultimate beban ø : faktor reduksi lentur Mn : momen nominal Zp : momen tahan plastis fy : tegangan leleh baja .1 Preliminary Design Balok Mu φ = Mn Mn = Zp x fy . 3. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983. Perencanaan balok lift 3.27 h... SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung..

1) Berat volume penggantung : 7 kg/m2 (tabel 2. Yang nilainya sebagai berikut : Berat volume beton : 2400 kg/m3 (tabel 2. A= fy Dimana : Pu : gaya aksial ultimate beban ø : faktor reduksi gaya aksial tekan Pn : momen nominal A : luas penampang = Pn 3.1) Berat volume tegel : 2400 kg/m3 (tabel 2.1) Berat dinding partisi : 40 kg/m2 (tabel 2. Beban Mati (PPIUG 1983 Bab1 pasal 1. mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu.1) Berat volume aspal : 1400 kg/m3 (tabel 2.1) Berat volume AC dan perpipaan : 10 kg/m2 (tabel 2.3 Pembebanan Perencanaan pembebanan pada struktur ini berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983 dan SNI 03-1726-2002.5.2 Preliminary dimensi kolom pu φ pn (asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) fy = A Pn dari nilai A didapat rencana awal dimensi kolom.28 3. penyelesaian-penyelesaian.1) Beban mati ialah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan.5.1) Berat volume spesi : 2100 kg/m3 (tabel 2. Pembebanan tersebut antara lain : a.1) Berat volume plafond : 11 kg/m2 (tabel 2.1) .1) Berat volume ps bata merah : 250kg/m2 (tabel 2.

Beban hidup pada lantai diambil sebesar 250 kg/m2 (pasal 3.2. 3) Beban angin ialah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban Angin (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.1) . yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau. Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan).1) c. ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam pasal 4.3 (PPIUG 1983). dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang barang yang dapat berpindah.29 b. . 2) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung. Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam kg/m2. Beban Gempa (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.Beban hidup pada lantai mesin elevator diambil sebesar 400 kg/m2 (tabel 3.1) .4) Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang .1) . mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu. d. Beban Hidup (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.Beban hidup pada lantai atap diambil sebesar 100 kg/m2 (pasal 3.Beban hidup pada tangga diambil sebesar 300 kg/m2 (tabel 3.2 (PPIUG 1983) dengan kefisienkoefisien angin yang ditentukan dalam pasal 4.

1) ΔS = 30 mm Dimana : R = RSRPMB Baja = 4.03 / R Ambil terkecil (pasal 8..... maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.3. ditetapkan sebagai berikut: V = dimana : V R T1 Wt I Hn C1 C1 × I × Wt ..30 menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu... T1 = Cc (hn)3/4 R = Gaya geser dasar Nominalstatik ekuivalen = Faktor reduksi gempa = Waktu getar alami fundamental = Berat total gedung = Faktor kepentingan struktur = Tinggi total gedung = Faktor respons gempa Pembatasan waktu getar alami fundamental (Pasal 5....2) . (pasal 4... n = Jumlah tingkatnya Simpangan antar lantai (SNI 03 – 1726 – 2002) ..... V... Gaya geser dasar rencana total.Kinerja batas layan : ΔS = 0.Kinerja batas ultimit : ΔM = ΔS * ξ . (pasal 8..6 SNI 03 – 1726 – 2002): T1 < ς n dimana : ς = Koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada (Tabel 8)..5 ..6) .. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik.

dan juga perhitungan sambungan dimana dari kontrol tersebut dapat mengetahui apakah desain yang kita rencanakan telah sesuai dengan syarat-syarat perencanaan. . tahap selanjutnya yaitu kita mendesain pondasi bangunan.2 D + 1. Bila telah memenuhi maka dapat diteruskan ke tahap pendetailan.6 Pemodelan dan Analisa Struktur Untuk mengetahui gaya dalam yang timbul pada elemen struktur akibat beban yang bekerja maka dilakukan analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS v9. 3.2 D + 1.2-6) 3. Bila tidak memenuhi maka dilakukan re-design. 3.1.2-5) .9 D – (1. balok.5 (La atau H) (6.2 D + 1.2-4) .3 W + γL L + 0. tahap selanjunya kita kontrol desain meliputi kontrol terhadap kolom.4 D (6. dan peraturan angka keamanan.7 Kontrol Desain Setelah melakukan analisa struktur bangunan.8 W) (6.8 Perencanaan Pondasi Setelah perencanaan bangunan atas selesai. serta efisiensi.1.31 ¾ Kombinasi Pembebanan Kombinasi Pembebanan sesuai dengan LRFD tersebut di atas dengan kombinasi sebagai berikut (metode LRFD) : .2.2 D + 1.1.2-3) .2-1) (6.0 E) (6.9 Penggambaran hasil perhitungan dalam gambar teknik Penggambaran hasil Perencanaan dan perhitungan dalam gambar teknik ini dengan menggunakan program bantu AutoCAD.1.0 E + γL L .5 (La atau H) (6.0.1.3W atau 1.2-2) .6 L + 0.6 (La atau H) + (γL L atau 0.0. 3.

32 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

Ok a = arc tg ⎛ ⎜ ⎟ ...Persyaratan – persyaratan jumlah injakan tangga 60 cm < ( 2t + i ) < 65 cm 25º < a < 40º Dimana : t = tinggi injakan (cm) i = lebar injakan (cm) a = kemiringan tangga ...1 Data perencanaan Tinggi antar lantai Tinggi bordes Lebar injakan Panjang tangga Lebar pegangan tangga = 425 cm = 212.5 ⎞ = 30.5 cm Jumlah tanjakan = 2 212...33 BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 4..5 = 13 buah = 12 buah = 140 cm = 150 cm = 360 cm = 330 cm Jumlah injakan ( n ) =13-1 Lebar bordes Lebar tangga Panjang Tangga Panjang Bordes ⎝ 30 x12 ⎠ 212......Perhitungan jumlah injakan tangga Tinggi injakan ( t ) = 65 − 30 = 17..5 cm = 30 cm = 360 cm = 5 cm 4..55º .1...2 Perecanaan Jumlah Injakan Tangga .5 17.1..1 Perencanaan Tangga 4.

34 Pelat Combideck t= 9 cm Balok Utama Tangga Channel 260x90x10x1 Pelat Anak Tangga t= 3 mm Gambar 4.1 Denah tangga Gambar 4.2 Potongan A – A tangga .

32 ML = 1/8 q L l2 = 0.6 30 cm 150 cm Gambar 4.60.50 x 7850 = 35.Perencanaan tebal pelat tangga Tebal pelat tangga = 3 mm = 0.612 kgm .4 x 0.3 Perencanaan Pelat Tangga Pelat baja t=3mm Profil Siku 60.325 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 3.32 = = 0.3 Tampak anak tangga .4 MD = 1.858 x 0.437 kgm = 0.858 kg/m Beban Hidup qL = 300 x 1.53 kg/m + qD = 38.003 x 1.35 4.125 x 38.063 kgm Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.003 m Berat jenis baja = 7850 kg/m3 Mutu baja Bj 41→Tegangan leleh baja = 2500 kg/cm2 .1.437 kgm 5.50 = 450 kg/m Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 q D l2 = 0.Perencanaan pembebanan pelat tangga Beban Mati Berat pelat = 0.125 x 450 x 0.

1.0833 .94 kgm > 8.6 x 5...4 Perencanaan Penyangga Pelat Injak Direncanakan menggunakan profil siku 60x60x6.0..063 = 8..8 cm4 ix = 1.0833 cm 360 360 Ix = 1 bh 3 = 1 x 150 x 0..33 = 0.3375 cm4 12 12 4 Ymax = 5 (q D + q L )l < f 384 EI x 4 ( ) 5 0 ..42 kg/m A = 6. 35 30 + = 365 2.625 kgm.375 cm3 φMn = φZx x fy = 0....... 38858 4 .83 cm3 W = 5..Ok Kontrol Lendutan f = L = 30 = 0.3375 = 0...25 x 150 x 0.. dengan data sebagai berikut : b = 60 mm Ix = 22...8 cm 2 Zx = 9.10 6.9 x 3..91 cm Gambar 4.Ok 4..75 kgcm Syarat : φMn > Mu 75...82 cm 4 iy = 1.437 + 1..4 Tampak melintang anak tangga ..375 x 2500= 7593...36 MU = 1..6 ML = 1....625 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur Zx = ¼ bh2 = 0.82 cm tw = 6 mm Iy = 22.2 MD + 1..2 x 0.32 = 3.0804 < 0....

895 kg/m + qD = 9.15 x 0.6.150 = 5000 kg cm = 50 kgm Vu = 1 ( 1.502 = 11.848 x 1.2.533 kg/m Berat baja siku 60x60x6 = 5.848.848 kg/m Beban Hidup ( 1/2 lebar injakan ) qL = 300 x 0.125 x 45 x 1.100.2 ) 2 2 = 0.qD.769 kgm ML = 1/8 qL l2 → akibat beban merata = 0.50) + 0.l ) + 1 ( 1.2.42 kg/m + = 8.502 = 2.953 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 0.003 x 7850 = 3.5(1.5 Sketsa pembebanan pelat tangga Beban Mati ( ½ lebar injakan) Berat pelat = 0.1.P.100.15 = 45 kg/m pL = 100 = 100 kg Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 qD l2 = 0.5(1.9.827 kgm ML = 1/3(PL) → akibat beban terpusat = 1/3.37 - Perencanaan pembebanan P=100Kg P=100Kg VA VB Gambar 4.863 Kg .6.125 x 9.2) = 168.

106 x 22.83 x 2500 = 22117.6 ML = 1.. 09848 + 0 ...Ok ...Ok Kontrol Lendutan f = L = 150 = 0........10 6 x 22. 45 150 = + 648 2..175 kgm Syarat : φMn > Mu 221......605 < 0..8 cm4 4 3 ( ) + q q l Pl 5 23 D L Ymax = + 384 EI x 648 EI x 3 4 ( ) 100 + 100 x 150 23 ( ) 5 0 .8 = 0.769 = 3.5 kgcm = 221..8 384 2..625 cm 240 240 Ix = 22..6 x 50= 83.175 kgm > 83.323 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur φMn = φZx x fy = 0..9 x 9..2 MD + 1....4 x 2.323 kgm..4 MD = 1.38 Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.625.2 x 2.....769 + 1..877 kgm MU = 1...

1 kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226.Pelat lantai bondek = 10.1.bentang (span) = 1.tebal pelat beton = 9 cm b.39 4.1 kg/m2 .Beban Mati .1 kg/m2 = 10.75mm. Balok utama tangga .sandaran baja = 20 kgm2 Total beban finishing = 65 kgm2 Beban Hidup Beban hidup = 300 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + beban finishing = 300 kg/m2 + 65 kg/m2 = 365 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus tanpa tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .6 Desain Balok Utama Tangga Balok utama tangga dianalisa dengan anggapan terletak di atas dua tumpuan sederhana dengan menerima beban merata dari berat sendiri dan beban dari anak tangga.24 kg /m2 .2400 kg/m3 qD2 = 10.Pelat beton t = 9 cm = 0.1 kg/m2 4.5 Desain Bordes Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.09 m.lantai keramik t = 1cm = 24 kg/m2 = 1. Pembebanan a.21 kg /m2 = 21 kg/m2 .4 m .Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing : .1.spesi lantai t = 1cm = 1.

56 cm Sy = 47.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga 1.773kg/m Berat alat penyambung (10%) = 10.Perencanaan Pembebanan BEBAN ANAK TANGGA (qu1) BEBAN BORDES (qu2) B VuC C A VuA Gambar 4.1 kg/m Berat profil = 37.3 cm2 W = 37.42 x 2 x0.887kg/m qD1 = 119.01 kg/m Berat sandaran besi = 20 kg/m = 108.003 x 1.30 = 27.663 kg/m Berat profil siku = 5.99 cm Sx = 371 cm3 iy = 2.50/2 x 7850 = 17. dengan spesifikasi sebagai berikut : Ix = 4820 cm4 A = 48.9 / cos 30. Perencanaan pembebanan anak tangga Beban Mati Berat pelat = 0.650 kg/m .9 kg/m Iy = 317 cm4 ix = 9.7 cm3 Zx = 445 cm3 Zy = 105 cm3 .75 /0.40 direncanakan menggunakan profil Channel 260x90x10x14.55 = 44.

.822 kg/m = 570.79 kg .65 Berat penyambung ( 10 % ) qD2 = 217.8)}/5 = 877.65 . Beban Hidup VLA = {(ql1.. Beban Mati VDA = {(qd1...6.1) x 1.1.650.2) + (ql2..9 kg/m = 480.3) + (ql1..7) }/5 = 387.4.6.0.3..315 kg/m = 518.. Perencanaan pembebanan bordes Beban Mati Berat profil Berat bordes =(65+226..3..14 kg ( ↑ ) VLC = {( ql2..3.1.4.037 kg/m Beban Hidup qL2 = 300 x 1.3.4) 1476 kg = 1476 kg .2) + (qd2.1.86 = ( 217....5...1.....0.1.39 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 387..5 2.4) 1228.3..6) + (2495.Perhitungan Gaya – Gaya pada Tangga = 495 kg/m A...4..8) }/5 = 841.5 kg/m = 37.3) + (qd1.40 +841.6)+(570.Ok B.39 = (119.4.3.4.1....7)}/5 = 598.3.79 kg = 1228.4..40 kg ( ↑ ) VDC = {(qd2.OK .3.41 Beban Hidup qL1 = 300 x 1......6.86 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 598.14 + 877.037.1..50 x 0.215 kg/m = 51..1..6..

8) = 1933.. Gaya – Gaya Dalam Ultimate qu1 =1.3.2.(VUC .04.65 + 1.7) = .24.....495) = 1476.4) + (qu2.416 kgm MUBA = (VUA..1.90 x1= UA = = 2..1.6.4..6..39 + 1.3..24 kg ( ↑ ) MUBC = . 841.qu1.x12) dMx1 = 0 ⇒ VUA − qU 1 ....VLC = 1.6) – (491.14 = 1421.1933..58.58 MUmax = (VUA.1.4) + (1476.6. qu1..42 C.ql1 = (1..2 VDA + 1.86 = 2414.217.3.044 kg/m VUA = 1..x2) = (1421.6..893) – (0...2.8932) = 2056..40 + 1...893 m < 3.x1) – (1/2.qd2 + 1.ql2 = (1.2.(2414.2.Ok Batang AB Mx1 = (VUA.qd1 + 1.7) = .6.2.6.58 kg/m qu2 = 1.6..6m.037 + 1.3.1.90 kg ( ↑ ) VUC = 1.x) .x1 = 0 dx1 V 1421. 598.(1/2.119.441 kgm .1.58..2. 1.8) = (1421.2 VDC + 1.0.6..570.Ok qU 1 491.416 kgm Kontrol : MUBA = MUBC. 491.6.6.5..6) – (qu1..0.4..90..2. 387.5) = 491.90...VLA = 1. 877.2...

51 cm Lp = 1.76.893 m C + 1933. maka Mnx = Mpx 2.416 kgm 2056.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga .76.082 cm Ternyata Lp >Lb.Batang Miring Lb = 90 170 ≤ 2. fy 250 Ternyata Lp>Lb.75 20 ≤ 106.2.10 5 = 110.25 Penampang profil kompak. maka Mnx = Mpx . = 1.84 cm cos 30.43 B + A 2.441 kgm Gambar 4.Balok Bordes Lb = 0 m Lp = 131. maka Mnx = Mpx Kontrol Lateral Buckling 1.55° E 2.Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil fy = 2500 kg/cm2 untuk sayap : b 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 200 1680 ≤ 10 250 3.iy.22.21 ≤ 10.14 250 30 = 34.

44 ..5 kgm....fy = 1.fy = 445..5 Sx....10.Ok ....2500 = 1112500 kgcm = 11125 kgm 1.371.2500 = 139125 kgcm Jadi. Mn = Mp = 1112500 kgcm = 11125 kgm Syarat : Mu ≤ φMn 2056..5.8 Sketsa profil Canal 260...14 Mp = Zx.. 11125 kgm 2056.441 kgm ≤ 0...9.5 My = 1.5 250 20 < 69..........Kontrol Momen Lentur 90m m y1 260m m 10m m y2 14m m Gambar 4.plastis .57 ..90....Kontrol Kuat Rencana Geser 162 110 ≤ 5...441 kgm < 10012....

14 cm2 Ix = 13600 cm4 W = 49.....96 kg/m + 76...6 x 2500 x (26) = 39000 kg φVn = 0.260 = 2600 mm2 4.56 kg/m P = VUC = 2414.. Syarat : Aw = tw.95 cm Zy = 172 cm3 tf = 11 mm r = 14 mm tw = 7 mm h = 300 mm ..7 Desain Balok Penumpu Bordes Balok penumpu bordes direncanakan menggunakan profil WF 350x175x7x11.45 Vn = 0.6 kg/m + 69.1..904 kg Vu ≤ φVn 1421.6 x fy x Aw Vn = 0....56 kg/m 91.2.87 kg/m .d = 10. dengan data sebagai berikut : Sx = 775 cm3 A = 63...6 kg/m Iy = 984 cm4 Sy = 112 cm3 bf = 175 mm ix = 17.904 Kg < 35100 kg .6 kg/m 6.9 x 39000 = 35100 kg VUA = 1421. 76.Perencanaan pembebanan Beban Mati Berat sandaran besi : 20 kg/m Berat sendiri profil : Berat ikatan ( 10 % ) qU = 1.70 cm Zx = 841 cm3 d = 350 mm iy = 3...Ok Jadi profil Channel 260x90x10x4 dapat dipakai...24 kg = = = = qD = = 20 kg/m 49..

87 ) 8 2 2 VA = 8 VA = 5195. 4 = 5195.8 + P.92 = 10391.15).82 = 0 1 2414.(5.87.4 – P (1.15 + 3.87 .½ q.65 + 4.87 Kg/m' VA VB Gambar 4.4 –2414.85 + 2.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ΣMB = 0 VA.92 ………Ok Mmax = VA.4) 10391.65 + 4.15 + 3.35).24.8 .35).82 = 0 VB = 2414.24 (16) + 8 1 (91.65+0.96.96 Kg Kontrol : VA + VB = (qD.65+0.15) 2 = 15703.8 + 2414.(5.24 Kg P P P qD=91.P.46 P=2414.96 = (91.½ qD.96 + 5195.24 kgm .½ qD.(1.96 Kg ( ) ΣMA = 0 VB.8 .85 + 2.87) 8 2 2 ( ) VB = 5195.24 (16) + (91.P.42 2 91.4) 5195.24.

. maka Mnx = Mpx Kontrol Momen Lentur φMn = φ x fy x Zx = 0......25 Penampang profil kompak.9 x 31500 = 28350kg Syarat : Vu ≤ φVn 5195.95 ≤ 10..86 < 69...33 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 2...47 .......75 42.............Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil untuk sayap : bf 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 175 170 30 1680 ≤ ≤ 7 2..5 kgm > 15703...6 x fy x Aw = 0..976 kg < 28350 kg.plastis Vn = 0....... .Kontrol Kuat Rencana Geser 30 1100 h 1100 ≤ ≤ 7 tw 250 fy 42.Ok Kontrol Lendutan fijin = L 800 = = 3.........86 ≤ 106.....57 .9 x 2500 kg/cm2 x 841cm3 = 1892250 kgcm Syarat : φMn > Mu 18922......7.Ok ..Ok Jadi profil WF 350x175x7x11dapat dipakai..30) = 31500 kg φVn = 0....6 x 2500 x (0.24 kgm......22 cm ≤ f ijin.............11 250 250 7...

14 Balok penumpu bordes 350. Maka sambungan baut hanya diperlukan praktis.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes .90. Sambungan las digunakan untuk menyambung balok tangga miring dengan balok tangga horizontal (bordes).1. A Baut ø 12 Balok tangga Channel 260. sehingga reaksi tumpuan balok bordes langsung diterima balok penompu bordes.175. A Balok penumpu bordes 350.175.10. Dipakai 2 buah baut dengan Øbaut = 12 mm. Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes Asumsi tumpuan pada bordes adalah rol (balok tangga diletakkan di atas balok penumpu bordes). ¾ Sambungan Baut Model mekanika tumpuan tangga menggunakan asumsi sendi pada tangga dan rol pada bordes.7. yaitu sambungan baut dan las.7.48 4. a.8 Perencanaan Sambungan Profil Tangga Ada dua sambungan yang akan digunakan pada tangga. Sehingga sambungan baut yang dipakai adalah sambungan geser. Sambungan baut digunakan untuk menyambung balok bordes dengan balok penumpu tangga.11 Gambar 4.11 Pot.

4 = = 1.70.3 . fu.707.707.1 4 P la t p e n y a m b u n g T e b a l = 1 0 m m Gambar 4.tf 0.707.49 ¾ Sambungan Las Sambungan antara balok – balok tangga direncanakan dengan menggunakan sambungan las.589cm E 70 XX 70.64cm E 70 XX 70.707.1. t = 10 mm I P o t.4100.3 aeffsayap = 0.1 0 .I B a lo k ta n g g a C h a n n e l 2 6 0 . fu. dengan ketentuan sebagai berikut : ƒ Mutu las E70 XX (fuw = 70 ksi = 4921 kg/cm2) ƒ Tebal pelat penyambung.I .9 0 .1 aeffbadan = = = 0.4100.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga Kontrol Sambungan Las Digunakan las mutu E70XX 0.70.tw 0.

2) + 23.6.70.707 0. digunakan a = 0.3 0.64 cm 0.12 + 958.75.9.6 fh = = = 521.32 = 958.74 = = 28.4 Akibat Mu Mu 193341.50 Dimisalkan dipakai tebal las (te = 1 cm) A = 1.2 + (1.2)) = 55.707 Sehingga.(26+(0.71 = = 0.71 kg/ cm2 te perlu = a perlu = f total 958.14 kg/ cm2 Sx 371 f total = fr 2 + fh 2 = 28.4 cm2 Akibat Pu fr = Pu 1556.8 cm = 8 mm .0. fu 0.70.43cm ϕ .8.43 te = = 0.4.2) + (0.608cm < aeffmax = 1.1 kg/ cm2 A 55.

Gunung Garuda.tulangan negatif = 1.2 Perencanaan Struktur Lantai Pada perencanaan struktur lantai direncanakan pelat lantai menggunakan bondex.50 m .5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 1000mm/4 = 250 mm Jadi.direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.1 Pelat Lantai Atap Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0. dimana dalam perencanaan ini bondek yang digunakan merupakan produk dari PT.ducting AC + pipa = 10 kg/m2 + Total beban finishing = 56 kg/m2 Beban Hidup Beban Hidup = 100 kg/m2 Beban superimposed/berguna = beban hidup + finishing = 100 kg/m2 + 56 kg/m2 = 156 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .bentang (span) = 2. dipasang tulangan tarik Ø 8-250 .banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 1.2.71 cm2/m .14 kg/m2 .51 4.rangka + plafond = (11+7)kg/m2 = 18 kg/m2 .75 mm Pembebanan a. 4.24 mm2 = 0.4 buah = 4 buah As 0.5024 cm2) .Beban Superimposed (Berguna) Beban finishing : = 28 kg/m2 .tebal pelat beton = 9 cm .71 = = = 3.aspal t = 2 cm = 2.

52
b.Beban Mati - Pelat lantai bondek - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3

= 10,1 kg/m2 = 216 kg/m2 + = 226,1kg/m2
Tulangan Ø 8 – 250mm Plat Bondex t = 0,75 mm

90 mm

Balok

Gambar 4.12 Potongan plat lantai Atap

4.2.2 Pelat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11 Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 kg/m2 - lantai keramik t = 1cm = 1.24 kg /m2 = 24 kg/m2 = 18 kg/m2 - rangka + plafond = (11+7)kg/m2 - ducting AC+pipa = 10 kg/m2 - dinding = 250 kgm2 Total beban finishing = 344 kg/m2
Beban Hidup Beban hidup = 250 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 250 kg/m2 + 344 kg/m2

= 594 kg/m2

Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

53
- bentang (span) - tebal pelat beton - tulangan negatif = 2,50 m = 9 cm = 3,25 cm2/m

- direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m =

A 3,25 = = 6,47 buah = 7 buah As 0,5024

Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi, dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3 = 10,1kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226,1kg/m2

90 mm

Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0,75 mm

Balok

Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11

54
4.2.3 Pelat lantai 2 Dipakai pelat bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 - lantai keramik t = 1 cm = 24 = 1.24 kg /m2 2 = 18 - rangka + plafond = (11+7)kg/m - ducting AC+pipa = 10 - dinding = 250 Total beban finishing = 344

kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kgm2 + kg/m2

Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 344 kg/m2 = 744 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berikut : - bentang (span) = 2,50 m - tebal pelat beton = 11 cm - tulangan negatif = 3,38 cm2/m - direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 3,38 = = 6,73 buah = 7 buah As 0,5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi,dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex = 10,1kg/m2 - Pelat beton t = 11 cm = 0,11m.2400 kg/m3 = 264 kg/m2+ = 274,1kg/m2

tebal pelat beton = 10 cm .75 mm Pembebanan a.2.direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.spesi lantai t = 1cm = 1.11 cm2/m .bentang (span) = 2.rangka + plafond = (11+7)kg/m .55 m .5024 cm2) .24 mm2 = 0.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m .ducting AC+pipa = 10 Total beban finishing = 49 Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban superimposed = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 49 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 + kg/m2 = 449 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .55 100 mm Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.21kg /m2 = 21 2 = 18 .75 mm Balok Gambar 4.4 Pelat Lantai Mesin Lift Dipakai pelat bondex dengan tebal pelat = 0.tulangan negatif = 3.14 Potongan plat lantai 2 4.Beban Superimposed Berat finishing : .

56 = A 2.1m. Pada perencanaan ini.86 = = 5.13.8.2400 kg/m3 = 10.5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 160 mm Jadi. Balok anak menumpu di atas dua tumpuan sederhana.48 cm h = d–2(tf + r ) = 396–2(11+16) = 342 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4100 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 – 700 = 1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 950 cm .1kg/m2 = 240 kg/m2+ =250.69 buah = 6 buah As 0.15 Potongan plat lantai mesin lift 4.200.1 kg/m2 Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.dipasang tulangan tarik Ø 8-160 b. dengan data sebagai berikut : A = 72.7 cm r = 16 mm W = 56.75 mm Balok 100 mm Gambar 4.Beban Mati .3 Perencanaan Balok Anak Balok anak berfungsi membagi luasan lantai agar tidak terlalu lebar.6 kg/m tw = 7 mm Zx = 1088 cm3 d = 396 mm tf = 11 mm Sx = 1010 cm3 Iy = 1450 cm4 bf = 199 mm Ix = 20000 cm4 iy = 4. sehingga mempunyai kekakuan yang cukup. balok anak direncanakan menggunakan profil WF 400.16 cm2 ix = 16.Pelat lantai bondex .Pelat beton t = 10 cm = 0. ditunjukkan perhitungan balok anak pada lantai 2.

750.14 kg + 9.14 + 1029358Kgcm kgcm 1015367 Gambar.681.2 qD = 1.2.57 4.1 Kondisi Balok Anak Sebelum Komposit 1.0048 kg/cm A 4275.1 m.4.berat sendiri pelat beton = 0.04 = 900.25 kg/m = = = = = 600 kg/m 56.85 kg/m qD = 25.048 kg/m = 90.berat ikatan : 10 %.2.23 Kg 4334.Beban Mati .3.2.19 kg/m+ 750.23 Kg kg 4334.berat pelat bondex = 10.04 kg/m Kombinasi Beban : qu = 1.5m .berat sendiri profil WF .85 kg/m 68.2400kg/m3.5 m 950 cm B - 4275.14 Bidang D dan M pada komposit balok sebelum komposit .5 m .6 kg/m+ 681.1 kg/m2.

2..58 Momen yang terjadi: Mu = 1 ...Ok ¾Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Sayap Untuk Badan bf 170 h 1680 ≤ ≤ 2tf tw fy fy 199 170 ≤ 2.L 2 = 1 .90.950 = 4275.....E.05 < 10.752.90...86 < 106..00048 ). maka Mn = Mp .11 250 9..950 4 = 384....10 6...389 cm < f ' .qu.q u .0048.639 cm 360 360 5.L2 8 = 1 . 9502 = 1015367 kgcm 8 Geser yang terjadi : Vu = 1...ok Profil penampang kompak.23 kg 2 ¾Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f '= L 950 = = 2.Ix 5.l 4 ymaks = 384.20000 = 2..25.qu.(9..ok 342 1680 ≤ 7 250 48.......0048....

fy = 1088 ..0...8..86 < 69. 2500 = 2720000 kg cm Persyaratan : Mu ≤ φMn 1015367 Kgcm ≤ 0.Ok . fy..(39.59 ¾Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 47. kuat nominal komponen struktur adalah : Mn = Mp = Zx .5 cm (diambil sejarak pemasangan shear connector) Berdasarkan tabel profil untuk BJ 41 profil WF 400.7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0. 2720000 kgcm 1015367 Kgcm < 2448000 kgcm.57……Ok Vn = 0.... 41580kg ≥ 4275.2500.9..6.357 cm Jadi...13 didapatkan : Lp = 226. Lb < Lp → bentang Pendek. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lb < Lp (untuk bentang pendek).9.23 kg……….. Aw = 0.Ok Penampang profil baja mampu menahan beban yang terjadi. Lr = 658.200.6 . ¾Kontrol Geser h 1100 ≤ tw fy 342 1100 ≤ 7 250 48...23 kg 37422kg ≥ 4275.6.003 cm.

2810.68 kg/m+ = 1008.3.5 m .5m .5 kg . Beban Hidup : qL = 400 kg/m2.5m .2.2.5m .5 m Kombinasi Beban : qu = 1.berat ikatan : 10 %.berat sendiri profil WF .berat ducting AC+pipa = 10 kg/m2.5m .Beban Mati .2.L2 = 1 . 1008.24 kg/m = 28.9502 = 3170302 kgcm 8 8 = 25.2.1000 = 2810.qu.85 kg/m = 91.1kg/m2.berat sendiri pelat beton = 0.6 kg/m = 105 kg/m = 60 kg/m = 45 kg/m = 25 kg/m+ = 916.2.1024.berat rangka + plafond = (11+7)kg/m2. qu.916.2.24 kg/m2.25 kg/m = 600 kg/m = 56.6.5 m .60 4.berat pelat bondex = 10. 21 kg/m2.berat spesi 2 cm = 2.53 kg/m = 1000 kg/m Geser yang terjadi : Vu = 1 .24.6 qL = 1.1 m.53 + 1.2400 kg/m3.2 Kondisi Balok Anak Setelah Komposit ¾ Pembebanan setelah komposit 1.berat keramik = 1.2.1024 kg/cm Momen yang terjadi: Mu = 1 .L 2 = 1 .950 2 = 13347.2.85 qD 2.28.2 qD + 1.

. C =C1 ( terkecil) = 180400 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 180400 = 3.250..50 m = 2500 mm jadi beff = 2375 mm =237.57 cm = 0...250.L = ¼.fy = 72.5 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.tplat.9500 mm = 2375 mm = 237..25..237..2500 = 180400 kg C2 = 0. • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .752.85.05 < 10.beff = 0.85.61 ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 199 170 ≤ 2.ok Profil penampang kompak....5 cm beff ≤ S = 2..5 = 504687.11 250 9. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.85.10.5 kg C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.5 .ok 342 1680 ≤ 7 250 48.237.16.86 < 106. fc'.beff 0..fc’.85.

0) = 4079746 kgcm Syarat : Mu ≤ φ ..Mn 3170302 kgcm ≤ 0.4079746 kgcm 3170302 kgcm ≤ 3467784 kgcm..fy = 72.815 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 39.815 + 0) + 180400 (19.Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor. .6 = 2.62 2375 mm 54 12 t = 46 mm t = 100 mm t = 400 mm Gambar 4.15 potongan Balok anak 3...8 cm 2 2 d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.16.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 180400 kg Py = As. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi...6 d3 = = = 19.8 ...85.2500 = 180400 kg Mn = 180400 (2.57 a = 4..

12 ⎜10 + ⎟ ⎟ +⎜ ⎜ 2 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ ⎝ = (272.10 5 n = = = 8.5 cm (balok interior) Es 2.52 ⎟ ⎜ ⎟ 12 2⎠ ⎠ ⎝ ⎝⎝ 2 ⎠ 2 = 66148.6 .1.713 Ec 2.94 = 272.6 cm beff • Menentukan letak garis netral Atr .6 + 84.12 ) = 10.26(10)3 10 ⎞ ⎛ ⎞ I tr = + 272.t plat beton = 27.1.6⎜10.t platbeton Yna = 2 ⎛ ⎛ d ⎞⎞ A t +⎜ + ⎜ ⎟ ⎜ s platbeton 2 ⎟ ⎟ ⎠⎠ ⎝ ⎝ ( Atr + As ) 272. fc' = 0.12⎜ ⎜ + 10 ⎟ − 10.41.713 Atr = btr.5 = 27. 25 = 2.10 ⎛ 40 ⎞ ⎞ ⎛ 84. 5 Ec = 0.24001.52 cm • Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi I tr = b tr (t pb ) 3 12 t pb ⎞ ⎛ ⎛⎛ d ⎞ ⎞ ⎟ + Ix + A s ⎜ + Atr ⎜ Yna − t Yna + − ⎟ ⎜ ⎟ pb ⎜ 2 ⎟ ⎜ 2 ⎟ ⎠ ⎝⎝ ⎠ ⎝ ⎠ 2 2 2 ⎛ ⎛ 40 ⎞ 27.wc .52 − ⎟ + 23700 + 84.10 4 btr = = 237.41.5.041.26 cm n 8.104 Mpa Es = 2.63 ¾ Kontrol Lendutan • Menghitung luasan transformasi beton ke baja 1.26.10 5 Mpa beff = 237.69 cm4 .041.

E sehingga : ≤ 1.(2.Aw = 0..6..5 kg 37422 kg ≥ 13347.9504 = ymaks = 384.6.E.1 tw fy kn = 5 + 5 .Ok Vn = 0. untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan 2 a h ( ) kn = 5 ..fy...64 ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f ' = L = 950 = 2. h kn..(10.Ix 384.......106.7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0.2500 (39.E ..6388 + 10)...ok ¾ Kontrol Geser Kuat geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).Ok .6.......2..untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan h kn.5 kg ………….....(q DL + q LL ).57.66148..1 tw fy 5.86 < 69..9. dimana: ≤ 1.639 cm 360 360 5.l 4 5..10 6 ) 342 < 1.69 = 1...0.1 7 2500 48. 41580 kg ≥ 13347..654 cm < f ' .

712 > 1→ diambil rs = 1 Qn’ = Qn.041...2 kg/stud ..Ok ..2.fu 11003..041 25 = 2.. rs = 11003.923 kg/stud ≤ 283.2 Kg ...1 = 11003.5.10 4 = 110039..5.53 mm2 fu = 400 Mpa = 40 kg/mm2 Ec = w1...41.65 ¾Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan: ds = 19 mm Asc = 283.5.283...85 ⎛ 200 ⎞⎛ 100 ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 ⎟⎜ ⎜ 2 ⎝ 53 ⎠⎝ 53 ⎠ rs = = 1.Ok Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok...Asc.23 N = 11003.53. hr = 54 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 46) = 54+46 = 100 mm ⎞ 0...40 kg/stud 11003.41.Ec = 0.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0.5 .0.0...53 25.923 ..923 kg/stud Syarat : Qn ≤ Asc.923 Kg < 11341....104 Mpa Qn = 0.923 kg/stud ≤ 11341.. fc '. fc ' = 24001...

13 Baut M16 mm 50 100 50 50 100 50 Profil siku 60.60.9 cm = 11.23 Baut M16 mm fu = 5000 Kg/m2 Balok Anak WF 400.8.13. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 950 P= = = 47.13.200.8.200.4cm Jadi.616 kg Balok Utama WF 600. Vu = 13407.(diameter) = 6 x 1.56 ≈ 10 buah Qn 2. 4. shear connector dipasang sejarak 47.200.5 cm N 20 Jarak maksimum (Pmaks) = 8. karena disesuaikan dengan anggapan dalam analisa sebagai sendi.13 Profil siku 60.923 Jadi.16 Detail sambungan balok anak dengan balok Induk .tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.23 Gambar 4.11003. dibutuhkan 20 buah stud untuk seluruh bentang.6 Balok Utama WF 600.5cm sebanyak 20 buah untuk masing-masing bentang.5 Perencanaan Sambungan balok Anak dengan balok Induk Sambungan antara balok anak dengan balok induk direncanakan dengan baut yang tidak dapat memikul momen.6 Balok Anak WF 400.200.60.66 Jumlah stud untuk setengah bentang : Tmaks 210300 N= = = 9.

60.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2. Abaut .1.2 = 7537. tp .5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2.6. fu .6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.0.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.75. Abaut .4 kg n= Vu 13407.5 Dipasang 2 buah baut M16mm (Jumlah baut untuk 1 sisi) Sambungan Plat Siku dengan Balok Induk Direncanakan : profil siku 60.01 cm2 ) m = 1 sisi . r1 .75. fu (tebal plat sayap dipakai tp = 8 mm) = 0.0.5000. fu .5 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf. 2.01.616 = = 1.2.8. r1 .2.60.4.01 cm2 ) m = 2 sisi Vn = 0.4100 = 9446. m Dimana : r1 = 0.5.78 Vn 7537.67 Sambungan Plat Siku dengan Balok Anak Direncanakan : profil siku 60.db.4 . m Dimana : r1 = 0.

4100 = 7084.db.08 = 22680 kg .0.75 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.1 = 3768.56 Vn 3768.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) Luas bidang geser 50 100 50 Gambar 4.616 = = 3.75.6.60.0.8 kg Vu 13407.tp .68 Vn = 0.17 Detail pelat siku pada gelagar Luas bidang geser = Anv = Lnv.6.0.2.fu.An = 0.1. 2.6.4.16).4.0.10.5.2.5000.6.6 = 1008 mm2 Kuat rencana : φRnv = φ.75.5000.01.t∟ = (200 – 2.75 Dipasang 4 buah baut Ø16 mm (Jumlah baut untuk 2 sisi) n= Kontrol Plat Siku pada Gelagar Direncanakan : Profil siku 60.75.fu (t plat sayap dipakai tp=6 mm) = 0.

...inside : 1600 x 1500 mm2 : 4300 x 2150 mm2 : 4300 x 2150 mm2 Beban reaksi ruang mesin : ¾ R1 = 6150 Kg (Berat mesin penggerak + beban kereta + perlengkapan) ¾ R2 = 4600 Kg (Berat bandul pemberat + perlengakapan) .. 22680 kg = 45360 kg Persyaratan : Vu ≤ φRn 13407. sehingga 2 φRnv = 2.OK 4.616 kg ≤ 45360 kg.. yaitu terdiri dari balok penumpu dan balok penggantung lift......69 Terdapat 2 siku...... dengan data – data sebagai berikut : Tipe lift : Duplex Merk : Sigma Kapasitas : 15 orang Lebar pintu (opening width) : 900 mm Dimensi sangkar (car size) Dimensi ruang luncur Dimensi ruang mesin : .outside : 1650 x 1665 mm2 ..6 Perencanaan Balok Lift Perencanaan balok lift meliputi balok – balok yang berkaitan denagn ruang mesin lift.616 kg ≤ φVn 13407. Untuk lift pada bangunan ini menggunakan lift yang diproduksi oleh Sigma elevator company...

yang untuk keran induk dengan struktur rangka.3 Jadi.6. dan akibat bandul pemberat + perlangkapan.1.15.70 4.78 = 19135 Kg . k2 = koefisien yang bergantung pada sifat mesin angkat dari keran angkatnya. 2.1. dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau. Ψ = ( 6150 + 4600 ).6. Koefisien kejut beban hidup oleh keran Pasal 3.00 m/det.1 Perencanaan Balok Penggantung Lift 1. dan diambil sebesar 1.( 1 + 0. pada umumnya nilainya dapat diambil sebesar 0.(3) PPIUG 1983 menyatakan bahwa beban keran yang membebani struktur pemikulnya terdiri dari berat sendiri keran ditambah muatan yang diangkatnya.1 ) = 10750. V = kecepatan angkat maksimum dalam m/det pada pengangkatan muatan maksimum dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.3. Sebagai beban rencana harus diambil beban keran tersebut dengan mengalikannya dengan suatu koefisien kejut yang ditentukan dengan rumus berikut : Ψ = ( 1+k1k2v ) ≥ 1.15 Dimana : Ψ = koefisien kejut yang nilainya tidak boleh diambil kurang dari 1. dan nilainya tidak perlu diambil lebih dari 1. beban yang bekerja pada balok adalah : P = ΣR . k1 = koefisien yang bergantung pada kekakuan struktur keran induk.3. Beban yang bekerja pada balok penumpu Beban yang bekerja merupakan beban akibat dari mesin penggerak lift + berat kereta luncur + perlengakapan.6.

075 m 2.3 m Gambar 4.4 cm W = 32 kg/m tw = 9 mm d = 298 mm tf = 13 mm b = 149 mm Ix = 6320 cm4 iy = 3.8 cm2 ix = 12.5 m Balok Anak 2.700 =1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 215 cm = 2.71 Balok Penggantung Lift Balok Penumpu Lift 1.29 cm Iy = 442 cm4 h = d – 2(tf + r ) = 298 – 2(13 + 13) = 246 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4000 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 r = 13 mm Zx = 455 cm3 Zy = 91 cm3 Sx = 424 cm3 Sy = 59.18 Denah Lift 3.3 cm3 fr = 700 kg/cm2 fL = fy-fr = 2500 .15 m 4.Data perencanaan Digunakan profil 300 x 150 x 8 x 13 A = 40.15 m .

15 m = 215 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.14.Beban terpusat lift P = 19135 kg • Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.1 kg/m2 .72 Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.99 kg/m + qD = 692.19 Sketsa mekanika perhitungan balok penggatung lift .2400.2.6 qL = 1.15 Berat pelat combideck : = 10.2.6.92 kg/m x10% .2qD + 1.2 kg/m + = 629. 692.91 kg/m A B Gambar 4.755 kg/cm P qu = 32 = 516 kg/m kg/m = 21.2.15 kg/m2 Berat ikatan (10%) = 629.1.91 + 1.5 kg/m = 11.92 kg/m = 62.15 Berat aspal t = 2 cm = 2.2.72 kg/m = 60. 215 = 1175.

.75...73 < 10.. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.ok 246 1680 ≤ 8 250 30.755)(215) 2 + (19135)(215) 8 2 = 1096428.11kgcm Mu = • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 149 170 ≤ 2.5 mm jadi beff = 537.2500 = 102000 kg C2 = 0...75 < 106.53.73 = 114219 kg .10. Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .73 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.250.075 m = 107.L = 537.fc’.85..65 + 9567...13 250 5.ok Profil penampang kompak.5 = 10831.fy = 40.tplat.beff = 0.73 cm beff ≤ S = 1.5 mm = 53.73 Vu = 1 1 quL + p 2 2 = 1263.15 kg 1 1 quL2 + pL 8 4 1 1 = (11.25.85.8...3 mm = 53..

C =C1 ( terkecil) = 102000 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 102000 = 8.fy = 40.14 kgcm .4 = 5.250.8 d3 = = = 14.93 a = 9.8.74 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.53 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 29.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 102000 kg Py = As.2500 = 102000 kg d1 = tb Mn = 102000 (5.0) = 2084358.85.beff 0.53 + 0) + 102000 (14.9 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.93 cm = 0.20 Distribusi tegangan plastis 8.53.73 beff btr 0. fc'.85 fc' tb GN komposit c d GN baja Py Gambar 4.85.9 .

8353 250.6 Kg ( fc'.9291+ 2.5 Qn = 0.8 = 110046 N = 11004.896 cm 240 240 4 3 f = 5 (q D + q L ) l + 1 Pl 384 EI x 48 EI x 3 4 = 5 (6...6 Kg ≤ 11341.5 25 ( = 0...6 ≤ 2...98 Mpa ) Qn ≤ Asc. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0.896..OK ...Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.85.. ¾ Kontrol Lendutan f ' = L = 215 = 0..fu 11004..041..10 6 x7210 384 2.....4000 11004...Ec ) = 24102....Wc 1.041.8353...10 6 x 7210 = 0.5.15)215 + 23 19135x 215 648 2...5.1 Kg .2.42 kgcm...Mn 1096428 kgcm ≤ 0.. Asc fc ' = 0...241029..361 < 0.24001....2084358..14 kgcm 1096428 kgcm ≤ 1771704..75 Syarat : Mu ≤ φ .......Ok ¾ Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283.

85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0.76 Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok....4cm Jadi.OK Vh = C = 102000 kg Jumlah stud untuk setengah bentang : N = Vh /Qn = 102000 = 5 buah 2.11004. shear connector dipasang sejarak 21.9 cm = 11. rs = 11004.6 Jadi.. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 215 = 21.5 cm sebanyak 10 buah untuk masing-masing bentang...6.1 Kg .712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn.5 cm P= = N 10 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.6 Kg < 11341. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 54+40 = 94 mm rs = ⎞ 0.. .....tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6....1 = 11004...(diameter) = 6 x 1.85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ rs = ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1. dibutuhkan 10 buah stud untuk seluruh bentang.

. OK Vn = 0..0.77 ¾ Kontrol geser Kuat geser balok bergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)...8 cm2 = 35760 kg Persyaratan : Vu ≤ φVn 10831..6....6.Aw = 0. kn =5.E h ≤ 1.5 cm W = 41.. kn = 5 + ( h) a 5 2 .57..15 Kg ≤ 31184 Kg .fy.68 cm2 ix = 14.2500 kg/cm2. untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan. k . sehingga 246 5(2...29.1 8 2500 31 ≤ 69........88 cm Iy = 792 cm4 x 6 x 9 . untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan.4 kg/m tw = 6 mm d = 346 mm tf = 9 mm b = 174 mm Ix = 11100 cm4 iy = 3...2 Perencanaan Balok Penumpu Lift 1.. dengan data r = 14 mm Zx = 689 cm3 Zy = 139 cm3 Sx = 641 cm3 h = 300 mm ... Data perencanaan Digunakan profil WF 350 x 175 sebagai berikut : A = 52.. 35760 Kg 10831..15 Kg ≤ 0.1 n tw fy Dimana...10 6 ) ≤ 1.OK 4..6..9.8..

2.5 Berat pelat combideck : = 10.65 kg/m x10% = 41.1 kg/m2 .67 kg/m + qD = 810.700 fu = 4000 kg/cm2 2 = 1800 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm Panjang balok anak (L) = 2500 mm = 2.Beban terpusat akibat reaksi balok penggantung lift P = 21662. 810.5 m Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.250 = 1372.5 kg/m2 Berat ikatan (10%) 736.4 = 600 kg/m kg/m = 25.2.5 Berat aspal t = 2 cm = 2.6 qL = 1.2400.32 + 1.38 kg/m P x1 qu x2 A B Gambar 4.78 BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 .2 qD + 1.6.1.25 kg/m = 70 kg/m + = 736.32 kg/m .14.21 Sketsa mekanika perhitungan balok penumpu lift .2.65 kg/m = 73.30 kg Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.50 m = 250 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.2.

79

Σ MB = 0 VA.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,425 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,425 VA = = 14062 ,99 Kg 2,5
Σ MA = 0 VB.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,075 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,075 VB = = 11030 ,26 Kg 2,5
Dx1 = +14062,99 – qx1 x1 = 0 → DA = 14062,99 Kg → Dc = 12587,68 Kg x1 = 1,075 Mx1 = 14062,99 x1 – qx1.0.5x1 → MA = 0 x1 = 0 → MC = 14324,73 kgm = 1432473 kgcm x1 = 1,075 Dx2 = - 11030,26 + qx2 x2 = 0 → DB = - 11030,26 Kg → DC = - 9074,62 Kg x2 = 1,425 Mx2 = +11030,26 x2 – q.x2.0,5.x2 x2 = 0 → MB = 0 → MC = 14324,73 Kgm =1432473 kgcm x2 = 1,45 • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy

175 170 ≤ 2.9 250
9,67 < 10,75.......ok

300 1680 ≤ 6 250 50 < 106,25.......ok

Profil penampang kompak, sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis

80
Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .L = 625 mm = 62,5 cm beff ≤ S = 2,15 m = 21,5 cm jadi beff = 625 mm = 62,5 cm
• Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.fy = 52,68.2500 = 131700 kg C2 = 0,85.fc’.tplat.beff = 0,85.250.10.62,5 = 132813 kg C3 =

∑ Qn → ( C
n =1

N

3

tidak menentukan )

Jadi, C =C1 ( terkecil) = 131700 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

a=

C 131700 = 9,92 cm = 0,85. fc'.beff 0,85.250.62,5
beff btr
0,85 fc'

tb

GN komposit

c

d

GN baja

Py

Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis

81
9,92 a = 10 = 5,04 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 34,6 d3 = = = 17,3 cm 2 2
d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 131700 kg Py = As.fy = 52.68.2500 = 131700 kg Mn = 131700 (5,04 + 0) + 131700 (17,3 - 0) = 2942425,91 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .Mn 1432473 kgcm ≤ 0,85.2942425,91 kgcm 1432473 kgcm ≤ 2501062,02 kgcm..........Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

Kontrol Lendutan L 250 f = = = 1,042 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 0,172 cm ≤ f ijin.....................Ok - Kontrol Kuat Rencana Geser h ≤ 1100 tw fy0,5 300 ≤ 1100 6 2500,5 50 < 69,57 .........................plastis

..OK ( ) ) Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok.6 Kg Qn ≤ Asc.041..6 x fy x Aw = 0...5...98 Mpa Qn = 0.9 x 31140 = 28026 kg Syarat : Vu ≤ φVn 1715..53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0...6 Kg ≤ 11341..5.....OK Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283..6 = 31140 kg φVn = 0..82 Vn = 0..5 kg < 28026 kg..5 25 = 24102...0.8353. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 53+40 = 93 mm ⎞ 0.Ec ( = 0....fu 11004....2.5 fc' = 0.8 = 110046 N= 11004.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ rs = − 1 ⎟⎜ h ⎟ ≤1 h Nr ⎜ ⎝ r ⎠⎝ r ⎠ ..6....6 ≤ 2.....1 Kg .Wc1.24001..4000 11004. Asc fc'...041..241029.8353 250.6 x 2500 x 34..

..712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn.6. rs = 11004. OK Jumlah stud untuk setengah bentang : 131700 N = Tmaks/Qn = = 6 buah 2.83 cm P= = N 12 Jarak maksimum (Pmaks) = 8. dibutuhkan 12 buah stud untuk seluruh bentang.6 Jadi..83 rs = 0........83 cm sebanyak 12 buah untuk masing-masing bentang.. ..9 cm = 11..85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1.1 = 11004. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 250 = 20...4cm Jadi.. shear connector dipasang sejarak 20..1 Kg ....11004.tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6...6 Kg < 11341..(diameter) = 6 x 1..

84 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

0 dan membandingkan besaran Vdinamis tersebut dengan Vstatis yang akan diperhitungkan di bawah ini sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps.1. maka terlebih dahulu dicek besarnya Vdinamis yang telah didapatkan dengan bantuan program ETABS v9. Beban gempa rencana dicek terhadap kontrol – kontrol sesuai peraturan gempa yaitu SNI 031726-2002. dan simpangan (drift). dimana kontrol – kontrol tersebut terdiri dari kontrol nilai gaya geser dasar (base shear). 5.1 Umum Merencanakan beban gempa adalah bertujuan untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan peraturan untuk dibebankan kedalam struktur gedung.Profil balok anak K 500x200x10x16 : .Profil balok induk 2 WF 400x200x8x13 : .Tebal pelat bondek lantai atap : 9 cm . dan nilai Vstatis ini harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung ke masing – masing lantai sesuai SNI 03-17262002 Ps.2 .25 m . .3-14 : 10 cm .2 Pembebanan Untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan SNI 03-1726-2002.2.85 BAB V PEMBEBANAN DAN ANALISA STRUKTUR 5.Mutu baja : Bj 41 .Tebal pelat bondek lantai 1.1 Data Gedung Data – data gedung yang akan dibutuhkan dalam penghitungan Vstatis adalah sebagai berikut. waktu getar alami fundamental (T).Tebal pelat bondek lantai 2 : 11 cm .Profil kolom .6.2.Profil balok induk 1 : WF 500x200x10x16 WF 500x200x9x14 : .1.Tinggi tipikal lantai : 4.6. 5.Mutu beton (fc’) : 25 MPa .

Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.2 × 20 4.25 × 179.Kategori tanah .I Denah gedung terlampir. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl1 = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.1 40 x 27 x 0. Wl1 = 0.3. : : : WG3 Tanah keras 1 5.5 320. maka total beban hidup (Wl1) menjadi.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300.86 .75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.7 × 66 395.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.6 255 × 79.2 Kg = 395 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 678805.25 × 0.3.5 40 × 27 × 10. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.3.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.8 Kg Wd1 Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.10 x 2400 (80+54) × 4.75 × 270000 = 202500 Kg .75 x Wl1 = 0.2 Perhitungan Berat Struktur Beban gravitasi berupa beban mati dan beban hidup yang yang bekerja di tiap lantai/atap.5 Tabel 3.Wilayah Gempa .2.4672 × 2400 × 20 40 × 89. a) Lantai 1 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.

Wl2 = 0.75Wl2 = 0.5 40 × 27 × 10.5 Tabel 3.2 × 20 4.8 + 324000 = 1028725.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah. Beban hidup : 40 × 27 × 400 Wl2 = = 432000 Kg 432000 Kg Menurut PPIUG Ps.5 Kg = 10908 Kg = 285120 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 704725.8 Kg . maka total beban hidup (Wl2) menjadi.1 40 x 27 x 0. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.3.7 × 66 395.8 + 202500 = 881305.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.87 Sehingga berat total lantai 1 Wt1 = Wd1 + Wl1 = 678805.25 × 179.25 × 0.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.2 Kg = 395.8 Kg b) Lantai 2 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.3.4672 × 2400 × 20 40 × 89.5 320.6 255 × 79.3.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.11 x 2400 (80+54) × 4.75 × 432000 = 324000 Kg Sehingga berat total lantai 2 Wt2 = Wd2+ Wl2 = 704725.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd2 = 15232 Kg = 95300.

3. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.2 × 20 4.2 Kg = 395.25 × 0.75 × 270000 = 202500 Kg Sehingga berat total lantai Wt = Wd + Wl = 678805.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.84 Kg .10 x 2400 (80+54) × 4.3.25 × 179.1 40 x 27 x 0.88 c) Lantai 3-11 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.8 + 202500 = 881305.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.5 320.5 Tabel 3.75Wl = 0.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.7 × 66 395. maka total beban hidup (Wl) menjadi Wl = 0.6 255 × 79.4672 × 2400 × 20 40 × 89.3.5 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg Wd = 678805.5 40 × 27 × 10.

2 × 20 2. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.09 x 2400 (80+54) × 4.5 Kg .5 Tabel 3.2 Kg = 448.75 × 108000 = 81000 Kg Sehingga berat total lantai 12 menjadi.1 40 × 27 × 10.5 + 81000 = 645139. Wt12 = Wd12+ Wl12 = 564139.5 320.3 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.3.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat. maka total beban hidup (Wl15) menjadi.7 × 66 448.5 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.75Wl12 = 0.3.4672 × 2400 × 20 40 × 89.3.1 40 x 27 x 0.1 Kg = 10908 Kg = 233280 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 15120 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 564139.125 × 179. Beban hidup : 40 × 27 × 100 = Wl15 = 10800 Kg 10800 Kg Menurut PPIUG Ps. Wl12 = 0.125 × 0. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.6 255 × 79.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.89 d) Lantai 12 (Atap) Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok lift Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Aspal t = 1 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : 2.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd1 = 7616 Kg = 47650.

75 42.058 8813.058 Σ 104869.058 8813. struktuk gedung tersebut dimodelkan sebagai berikut : .058 10287.1 berikut ini : Tabel 5.058 8813.0 dengan analisa dinamis respons spektrum.5 21.058 8813.395 8813.1 Berat struktur per lantai Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Tinggi hx (m) 51 46.25 34 29.5 38.3 Pembebanan Gempa Dinamis Pembebanan gempa secara dinamis menggunakan bantuan program ETABS v9.25 17 12.75 25.058 8813.258 8813.2.058 8813.90 Ringkasan berat bangunan dinyatakan dalam Tabel 5.5 4.75 8.238 5. Sebelumnya dilakukan permodelan 3D struktur dai gedung apartemen Albergo terlebih dahulu.058 8813.058 8813.25 Berat Lantai Wx (kN) 6451.

1 Pemodelan Struktur .91 Denah Lantai Arah y Arah x Gambar 5.

.1 Arah Pembebanan Beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan terjadi dalam arah sembarang (tidak terduga) baik dalam arah x dan y secara bolak balik dan periodikal.2 Permodelan stuktur 3D 5.8. Menurut SNI 031726-2002 ps 5. pengaruh pembebanan gempa rencana dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa yang arahnya tegak lurus dengan arah utama dengan efektifitas 30%.2. Untuk mensimulasikan arah pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap struktur gedung.3.92 Gambar 5.

Gempa Respon Spektrum Y : 100% efektifitas untuk arah Y dan 30% efektifitas arah X 5.2 Faktor Respons Gempa (C) Faktor Respon Gempa (C) dinyatakan dalam percepatan gravitasi yang Nilai Faktor Respon Gempa (C1) bergantung pada waktu getar alami struktur gedung dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respon gempa rencana. Dimana pada perencanaan gedung ditetapkan Respon Spektrum gempa Rencana Wilayah Gempa 3 pada tanah keras. Gambar 5.Gempa Respon Spektrum X : 100% efektifitas untuk arah X dan 30% efektifitas arah Y .3. Respon Spektrum gempa rencana untuk masing masing wilayah gempa ditetapkan grafik nilai C-T dalam Gambar 2 SNI 031726-2002.93 .3 Grafik nilai C-T zona gempa 3 .

5. Lalu karena nilai C dinyatakan dengan percepatan gravitasi.3 b.1 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya ⎞ ⎛1 ex = ⎜ × b ⎟ − xcr ⎠ ⎝2 ⎛1 ⎞ e y = ⎜ × L ⎟ − ycr ⎝2 ⎠ .23 dimana T adalah waktu getar alami struktur gedung yang T didapat dari hasil analisa struktur setelah men-define Respon Spektrum Rencana dan mengeplot grafik C-T pada analisa Respon Spektrum.1 b atau ed = 1.05 b atau ed = e – 0.81 m/s. maka nilai C harus dikalikan faktor pengali percepatan gravitasi sebesar 9.94 Pada gambar dapat dilihat untuk menentukan nilai faktor respon gempa (C1) pada tanah keras didapat dengan nilai 0.4.3 Respon Spektrum Rencana Menurut SNI 03-1726-2002 ps 7.3 b. maka : ed = 1. bahwa antara pusat massa dan dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana ed sebagai berikut.2.33 e + 0.3. 5.5 e + 0. − Untuk 0 < e ≤ 0. nilai ordinatnya harus dikalikan dengan I/R.17 e – 0.3.4 Menentukan Eksentrisitas Rencana Bangunan (ed) Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps.1 menyatakan bahwa analisis Respons Spektrum Gempa Rencana. 5. maka : ed = 1.05 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya − Untuk e > 0.

001 20.500 13.2 Nilai Xcr dan Ycr Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Xcr (m) 20. maka massa dari tiap – tiap lantai diletakkan pada titik koordinat tersebut.002 20.000 20. sehingga edx = 1.500 13.001 20.500 Berdasar rumus diatas.500 13.5 ex + 0.0 didapat nilai Xcr dan Ycr yang ditabelkan sebagai berikut : Tabel 5. Dan dari hasil analisa ETABS v9.5 ey + 0.002 20.500 13.05 L maka didapatkan suatu titik koordinat pusat massa.001 20.2.001 20. kemudian dilakukan analisa kembali.500 13.001 20.000 20.001 20. maka nilai ed untuk masing – masing arah dapat dihitung dan ditabelkan sebagai berikut : .05 b edy = 1.500 13.500 13.500 13.500 13.500 13.500 13. yaitu koordinat x = xcr + edx koordinat y = ycr + edy Setelah koordinat pusat massa diperoleh.001 Ycr (m) 13.000 20.95 Dimana kedua nilai diatas diambil harga mutlaknya.

Pada arah X Tx = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.35 1.000 22.001 0.001 13.85 14.001 20.002 -0.999 22.50 13.35 1.000 22.000 1.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan Lantai B (m) L (m) Xcr (m) Ycr (m) ex (m) ey (m) edx (m) edy (m) koord x (m) koord y (m) 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 20.002 0.35 1.000 20.85 14.50 13.50 0.000 -0.001 20.50 13. Dengan nilai ζ dari Tabel 8 SNI 03-17262002 dan n adalah jumlah lantai dari gedung yang akan ditinjau.999 1.2.001 -0.35 1.001 -0.001 20.000 1.001 -0.999 2.000 20.001 -0.15 detik Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel.000 -0.35 1.85 14.85 14.001 -0.001 20.85 14.85 14.000 20.35 1.50 13.999 22.000 22.999 1.001 20.18 dan nilai n = 12.50 13. maka kontrol waktu getar alami fundamental (T) menjadi.000 22.35 1.999 1.999 1.50 13.000 -0.997 2. nilai waktu getar alami fundamental (T) dari struktur gedung harus dibatasi.4 Kontrol Waktu Getar Alami Fundamental (T) T dihitung dengan menggunakan rumus empiris Method A dari UBC 1997 Section 1630.000 21.002 20.35 1.85 14.000 22.85 14.96 Tabel 5.35 1. T<ζn Untuk WG 3 maka nilai ζ = 0.002 20.50 13.001 20.997 1.50 13.85 14.000 1.15 detik Pada arah Y Ty = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.35 22.85 5.50 13.000 22.35 1.50 13.999 1.35 1. .000 22.50 13.001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.000 21.85 14.999 1.000 14.85 14.2 dengan tinggi gedung 51 meter.

Untuk arah y CyI 0. 7.18x12) = 2..OK • Arah y Ty = 1. 5.15 detik Tx = 1.2 × 1 Vys = Wt = × 104869.238 = 3495. Ty = 1.1 didapat nilai Wx = Wt = 104869.16 detik ……….15 < (0. beradasarkan waktu getar alami fundamental struktur gedung masih memenuhi batas kontrol waktu getar alami. maka didapatkan output untuk nilai gaya geser dasar (base shear) sebagai berikut.18x12) = 2.5 Kontrol Gaya Geser Dasar (Base Shear) Nilai akhir respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat Gempa Rencana dalam suatu arah tertentu.2 × 1 Vxs = x Wt = × 104869. sesuai SNI 03-1726-2002 Ps. Dengan nilai waktu getar alami fundamental (T) perkiraan awal dengan rumus empiris sebagai berikut.2 Dari tabel 5.15 detik Maka dari Gambar 5.238 = 3495.64 kN R 6 Setelah dilakukan analisa struktur dengan asumsi – asumsi yang telah dijelaskan diatas.1 didapat nilai Cy = 0.238 kN − Untuk arah x C I 0.39 Kg = 599.97 • Arah x Tx = 1.2 dan Cx = 0.15 < (0.7639 kN Vyd = 58776. tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang pertama.64 kN R 6 . Vxd = 59976.16 detik ……….7641 kN .1..41 Kg = 587.OK Sehingga.3.

7641 kN < 2796.. maka dilakukan analisa struktur ulang dengan mengalikan faktor diatas pada scale factor untuk Define Respons Spectra...Untuk arah y 0. FS = 0.. Nilai skala tersebut adalah sebagai berikut : .512 FS = = = 4.98 Maka untuk arah x...7639 .8V ys 587.7639 kN < 2796.... .512 kN.Untuk arah x 0.66 V xd 599.. maka menurut SNI 03-1726-2002 ps 7.......8V xs 599.... V yd ≥ 0 .. 7.Not OK! Maka untuk arah y.3.2.8V1 ≥1 Vt Dimana : V1 = Gaya geser dasar nominal sebagai respon dinamik ragam pertama Vt = Gaya geser dasar nominal yang didapat dari hasil analisa ragam spektrum respons yang telah dilakukan Sehingga dengan cara tersebut didapat nilai FS untuk masing – masing arah pembebanannya..1... ...8V xs 2796. Kemudian dilakukan running program ulang sehingga didapatkan output sebagai berikut : .3 gaya geser tingkat nominal akibat pengaruh gempa rencana sepanjang tinggi struktur gedung hasil analisis ragam spektrum respon dalam suatu arah tertentu harus dikalikan nilainya dengan suatu faktor skala.8V ys 2765 .512 FS = = = 4.......71 V yd 587. V xd ≥ 0..7641 Setelah didapat nilai – nilai skala untuk masing – masing arah pembebanan.512 kN.... .. ..Not OK! Sehingga untuk memenuhi persyaratan SNI 03-1726-2002 Ps....

0000 78..58 Kg = 2800.4 Modal Participating Mass Ratio Mode Period UX UY UZ SumUX SumUY SumUZ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2..335163 0.3687 kN > 2796.0000 0.0001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.71274 0.0000 0. 5..230644 1.3130 0..0000 78.0000 0.8V ys 2798.9803 0..422585 0.0002 4.6998 92.99 Vxd = 280091... gaya gempa dari spektrum respon dinamik tersebut selanjutnya digunakan sebagai beban gempa desain struktur.1093 0..0000 9. V xd ≥ 0.3936 0.0935 95.27223 0.8V xs 2800.2535 78.9158 kN Vyd = 276249.3687 kN Maka untuk arah x...2535 95.258883 0.1696 0.8969 0..53 88.9405 95..8772 88....0000 78.6998 92.8772 88..0000 2..0935 95.396882 0.0936 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 .9158 kN > 2796..4192 78.512 kN.53 88...5302 92. .0015 10.9405 92.OK! Sehingga....554149 0.9803 78.9803 88..0000 0.OK! Maka untuk arah y.1 jumlah ragam vibrasi (jumlah mode shape) yang ditinjau dalam penjumlahan respons ragam harus sedemikian rupa sehingga partisipasi massa (Modal participating Mass Ratios) dalam menghasilkan respons total harus mencapai sekurang – kurangnya 90 %..0000 0.0000 4.6999 95.512 kN...0000 0..4192 78...769604 0.596052 0.9803 78.. Tabel 5.220727 0.9405 92...6 Kontrol Partisipasi Massa Sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps..2..0001 2...0000 0. 7.8772 92.0632 0...4192 0.429487 2. ...10 Kg = 2798. V yd ≥ 0.4207 88.

173467 0.82% 1.2.1 dapat dipenuhi.57% 17. harus dilakukan dengan metoda Kombinasi Kuadratik Lengkap (CQC).116688 0.062933 0.4 didapatkan bahwa dalam penjumlahan respons ragam menghasilkan respons total mencapai 95.17% 2.769604 0.013347 0.554149 0. 7.038156 0.396882 0.676495 1.061719 0.29% 6.67% .220727 3.335163 0.35% 78.272230 0.5 Selisih Periode Antar Mode yang Berdekatan Mode Periode (sec) Selisih % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2.100 Dari Tabel 5.88% 5. Dengan demikian ketentuan menurut SNI 03-1726-2002 Ps.45% 67.2. penjumlahan respons ragam dapat dilakukan dengan metoda Akar Jumlah Kuadarat (SRSS). Tabel 5.025703 0.2535 % untuk arah X dan 95.784545 0.429487 0.6 Metode Penjumlahan Respons Ragam Menurut SNI 03-1726-2002 Ps.258883 0.230644 0.596052 0.2 untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu-waktu getar alami yang berdekatan yaitu apabila selisih nilainya kurang dari 15 %.0936 % untuk arah Y. Untuk Struktur gedung yang memiliki waktu getar alami yang berjauhan. 7.33% 6. 5.056864 0.65% 19.69% 11.712740 0.422585 0.198843 2.

101
Karena selisih waktu getar alami dominan kurang dari 15%, maka metoda penjumlahan ragam respons menggunakan metoda CQC.

5.7 Simpangan Antar Lantai
Simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum, Δm, dihitung sebagai berikut: Δm = 0,7 RΔs Dengan R adalah factor modifikasi respons (table 12.2-1). Δs adalah respons statis simpangan elastic struktur yang terjadi di titik-titik kritis akibat beban gempa horizontal rencana.Simpangan elastis struktur dihitung menggunakan analisa dinamis.

¾ Batasan simpangan antar lantai
Simpangan antar lantai yang dihitung berdasarkan persamaan diatas tidak boleh melebihi 2,5% dari jarak lantai untuk struktur dengan waktu getar dasar lebih kecil daripada atau sama dengan 0,7 detik, sedangkan untuk struktur bangunan dengan waktu getar dasar lebih besar daripada 0,7 detik, simpangan antar lantai tersebut tidak boleh melebihi 2,0% dari jarak antar lantai, secara singkat batasan simpangan antar lantai dapat dituliskan :

2,5 xh 100 2,0 T ≥ 0,7 detik, maka Δm ≤ xh 100
T ≤ 0,7 detik, maka Δm ≤

102 Simpangan Elastis Struktur
Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps. 8.1.2, simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung tidak boleh melampaui 0.03 dikali tinggi antar tingkat atau dibatasi sebesar 30
R

mm diambil nilai yang terkecil. Nilai R didapat sebesar 6 sehingga batasan Simpangan elastis struktur gedung didapat : - Untuk h = 4,25 m : Δs = 0,03 × hi = 0,03 × 4,25 = 0,02125 meter = 21,25 mm R 6 Nilai simpangan struktur gedung didapat dari hasil running ETABS v9.2.0 dengan memilih satu titik pada setiap gedung yang direncanakan. Sedangkan nilai simpangan antar tingkat diambil dari selisih nilai simpangan antar gedung yang terjadi. Nilai simpangan gedung yang terjadi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.6 Simpangan
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 ∆x (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25.0 19.4 13.4 7.5 2.4 ∆y (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4

Setelah didapat nilai simpangan gedung, ditinjau nilai Δs antar tingkat arah X dan arah Y dapat diperoleh pada tabel berikut :

103
Arah x : Tabel 5.7 Analisa ∆s akibat gempa arah x
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25 19.4 13.4 7.5 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 2.1 2.8 3.4 4.1 4.7 5.1 5.6 6 5.9 5.1 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Arah y :
Tabel 5.8 Analisa ∆s akibat gempa arah y
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.6 2.2 2.8 3.6 4.1 4.8 5.3 5.7 6 6 5.2 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

1 2.104 Dari tabel tersebut dapat dilihat nilai simpangan antar tingkat dalam arah X maupun arah Y tidak ada yang melebihi syarat batas yang telah ditentukan. dihitung sebagai berikut: Δm = 0.52 25.76 14. maka Δm ≤ xh 100 2.25 34 29.9 5.1 5.75 42.28 17.4 4.5 21. ¾ Simpangan Antar Lantai Sesuai SNI 1729 Pasal 15.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.82 11.0 T ≥ 0.78 21.085 m = 85 mm 100 Nilai simpangan antar tingkat dapat diperoleh pada tabel berikut : Arah x : Tabel 5.5 38.5 4.25 17 12.74 21.1 4. Δm.7 RΔs Dengan batasan simpangan antar lantai : Waktu getar dasar yang terjadi T = 1.20 24.75 8.1 simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum.6 6 5.5 2.42 23.22 19.1 2.7 5.7 detik.0 Δm ≤ x 4.9 Analisa ∆m akibat gempa arah x Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 25.8 3.42 10.4.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .25 m = 0.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.15 detik 2.30 8.

2 2.25 17 12.105 Arah y : Tabel 5.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 4.8 3.20 25.75 42.25 34 29.72 9.5 21.84 10.24 11.75 25.20 21.6 2.6 4.1 4.3 5.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.7 6 6 5.22 20.2 2.12 17.76 15.94 25.16 22.75 8.10 Analisa ∆m akibat gempa arah y Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .26 23.8 5.5 38.

106 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

ditunjukkan contoh perhitungan balok Induk pada lantai 1 dengan kode balok B-23.10.5 cm r = 20 mm A = 114.6 kg/m tw = 10 mm Zx = 2096 cm3 d = 500 mm tf = 20 mm Zy = 332 cm3 Sx = 1910 cm3 b = 200 mm Ix = 47800 cm4 .1 Denah Pembalokan lantai Pada perencanaan ini. Adapun data – data profil adalah sebagai berikut : ix = 20. Pada perhitungan berikut Balok Induk direncanakan dengan profil WF 500.20.200.2 cm2 W = 89.1 Perencanaan Balok Induk Gambar 6. Panjang balok (L) = 1000 cm.107 BAB VI PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA 6.

tf 2...21 Kgcm Vu (-) = 13797.75 250 fy Pelat badan : h h 428 < λp.OK = = 42....56 Kg L = 1000 cm ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin (f’) adalah f '= L 1000 = = 2.25 Jadi....OK = = 6.2...80 tw tw 10 λp = 1680 fy = 1680 250 = 106..2.tf 2..765 cm f < f ' ..25 2. termasuk penampang kompak....OK ¾ Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Pelat Sayap : bf bf 200 < λp ..... didapatkan : Mmax (-) = 2850308..108 iy = 4....1 Kondisi Balok Utama Sebelum Komposit Dari hasil output ETABS v9....0) f = 0.....0 untuk batang B-23.. maka Mnx = Mpx .78 cm 360 360 Lendutan yang terjadi (ETABS v9..33 cm h = 428 mm Iy = 2140 cm4 Sy = 214 cm3 6..16 170 170 λp = = = 10....1.

5.Zx = 2500 .5 My MR = (fy-fr)Sx = 1800.10.2850308.549 cm.21 (2.71 Kgcm MC = 286624. Lr = 643.71 ) + (3.93 My = Sx.286624. kuat nominal komponen struktur adalah : ⎡ ( Lr − Lb) ⎤ Mn = Cb ⎢ M r + ( M p − M r ) ≤ Mp ⎥ ( Lr − Lp ) ⎦ ⎣ MA = 1990319.5Mmaks ≤ 2.06 Kgcm Cb = = 12.5. 2096 = 5240000 kgcm < 1.1990319. 1910 = 3438000 kgcm .20 didapatkan : Lp = 215. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lr > Lb > Lp.21 ) + (3.93 < 2. 2500 = 4775000Kgcm Mp = fy.06 ) = 1.749 cm Jadi.3 → dipakai 1.1135694.24 Kgcm MB = 1135694.2850308.24 ) + (4.109 ¾ Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 250 cm Berdasarkan tabel untuk BJ 41 profil WF 500.5Mmaks + 3M A + 4 M B + 3M C 12.200. Lr > Lb > Lp → bentang Menengah.fy = 1910 .3 2.

2500 kg/cm (42.21 Kgcm ≤ 0..1) cm2 = 64200 kg .Aw = 0.8.8 ≤ 69.92 kgcm > 5240000 kgcm Dipakai Mn = Mp = 5240000 kgcm Persyaratan : Mu ≤ φMn 2850308..........749 − 250) ⎤ Mn = 1. kn = 5 + ...9. 5(2. 5240000 kgcm 2850308.... ¾ Kontrol Geser Kontrol geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).fy.1 n tw fy 5 Dimana..110 ⎡ (643... 549 ) ⎣ ⎦ = 9828385.... untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.6.1 10 2500 42....6.OK Jadi Penampang profil baja sebelum komposit mampu menahan beban yang terjadi.... 749 215 ..E h ≤ 1..10 6 ) 428 ≤ 1...21 Kgcm < 4716000 kgcm.. Sehingga.57.... untuk balok dengan pengaku vertikal 2 a h ( ) pelat badan.. OK Vn = 0.93⎢3438000 + (5240000 − 3438000) ⎥ ≤ Mp − ( 643 . kn =5... k ...

..tplat..ok 428 1680 ≤ 10 250 42..0 didapatkan momen positif adalah Mmaks = 3269371..85.1.. L = 1000 cm beff ≤ ¼ .250.2 Kondisi Balok Utama Setelah Komposit ¾ Zona momen Positif Dari hasil output ETABS v9.25 < 10...1000 cm = 250 cm jadi beff = 250 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As..85..2500 = 285500 kg C2 = 0.56 Kg < 57780 kg .ok Profil penampang kompak...752.38 Kgcm (batang B-23)......10..111 Persyaratan : Vu ≤ φVn 13797.2.. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis..........beff = 0.25.fy = 114.. 64200 Kg 13797.16 250 6.8 < 106.... ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 200 170 ≤ 2.OK 6..56 Kg ≤ 0.fc’.9....2.L = ¼.250 = 531250 kg .

250.4 = 4.15 Potongan balok Induk d1 = tb - 5. fc'.2.250 beff = 2375 mm t = 100 mm 54 mm d Gambar 4.112 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.379 cm = 0.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 285500 kg Py = As. C =C1 ( terkecil) = 285500 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 285500 = 5.379 a = 9.fy = 114.85.beff 0.2500 = 285500 kg .85.713 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 50 d3 = = = 25 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.

Tc = Asr .. ¼ ...2. 0.5 kgcm Syarat : Mu ≤ φ ..82 .38 kgcm ≤ 0.75 mm fyr = 240 Mpa ts = 100 mm ¾ Menentukan Lokasi Gaya Tarik pada Balok Baja Batang tulangan menambah kekuatan tarik nominal pada pelat beton.21 Kgcm (batang B-23).Mn 3269371..8483061.Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor. 2400 = 20508. fyr = 17. ¾ Zona momen negatif Dari hasil output program ETABS v9..L = ¼..85.5 kgcm 3269371..32 Kg Gaya tekan nominal maksimum dalam penampang baja Pyc = As . 2500 = 285500 Kg .713 + 0) + 285500 (25 .. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.0 didapatkan momen negatif Mmaks = 5440837.113 Mn = 285500 (4.0) = 8483061.2. L = 1000 cm beff ≤ ¼ . л .1000 cm = 250 cm tbondex = 0. fy = 114.38 kgcm ≤ 7210602.27 kgcm.

84 = fy.32 = 2 2 = 132495. Ts = Pyc − Tc 285500 − 20508. 2500 = 115000 Kg Gaya pada badan.84 Kg Gaya pada sayap.0 = 6. tf . 2. maka PNA pada web.1.tw 2500.114 Gambar 6. berlaku persamaan.3 Distribusi tegangan negatif Karena Pyc > Tc.84 Kg Jarak garis netral dari tepi bawah sayap : aw = Tw 17495.99 cm . fy = 20 . Tw = Pyc − Tc − Tf 2 = 132495.84 – 115000 = 17495.3 . Tf = bf .

6869180.85 .5 = 7.65 Kgcm 5440837.84 = 1..5tf ) + (Tw(tf + 0.5aw)) Tf + Tw (115000.OK .2..5 + 1.5.5.6.65 Kgcm Persayaratan : Mu ≤ φMn 5440837.(2.593 cm = 15.593) = 6869180.21 Kgcm ≤ 5838803.93 mm d3 = D/2 =50/2 = 25 cm d1 = ts – c = 10 – 2.115 ¾ Menenentukan Jarak Gaya yang Bekerja dari Centroid d2 = (Tf .0.593) + 285500 (25– 1.99)) = 115000 + 17495.0) + (17495..21 Kgcm ≤ 0.56 Kgcm...0..5 cm ¾ Perhitungan Momen Nominal Negatif Mn = Tc (d1+ d2) + Pyc(d3 – d2) = 20508.84.32 (7.0 + 0.

1 .1.06 cm 3 2 2 .79 mm A = 228.10.tw. d.16 dengan spesifikasi material : Ix = 49940 cm4 ix = 14.0 diperoleh gaya – gaya yang bekerja pada kolom CIN 7 lantai dasar adalah : Pu = 595950. 1 .1.200.6.56 Kgcm Mux Muy = 2250329.6)(50-1. b.116 6.3 Kgcm = 16667.( 2 = (( 1 .300 700 700 Gambar 6.6 cm KC 500 x 200 x 10 x 16 TULANGAN Ø16mm KING CROSS 50 TULANGAN GESER Ø12 .2 Kolom Komposit Dari hasil output ETABS v9.15 Kg Vux = 15154. d) + (b-tw)(tf)(d-tf)) + (( 1 .2 + 2 2 (50-2. b).6).4 cm2 4 iy = 15.4 Sketsa penampang kolom komposit Zx = (( 1 . 50)+(20-1)(1.( 1 tw)) . 20.( 1 .2 + 2 2 1 tw). .( 1 . 2 2 2 2 2 (d-2tf).2.tf. 20).6 Kg = 2261074.6))+(( 1 . 1 .6 cm 3 Sy = 2046.1.31 Kg Vuy Kolom komposit direncanakan dengan menggunakan profil K500. 50. 1)) = 2428. 1 . 1).17 mm d = 500 mm Iy = 52189 cm b = 200 mm H = 428 mm Sx = 1997.

C3 = 0.b.04) = 4663.09 mm2 Luas penampang bersih (Acn) = (70.560 = 100. 1 (50+1) 2 2 2 2 2 2 + (20-1).122 = 113.20.tw. 1)+( 1 (50+1).70) Tulangan longitudinal Jarak spasi tulangan = 700 – (2. 1 .4 228. tw) + ( 1 (d+tw).fyr.04 + 0.2+(50-.1.4 = x100% = 4. 1 .4 = 250 + 0.1.6 . C2 = 0.6. = 562.6.25.117 Zy = (( 1 . 1 .1/2.4 + 8.240. b).70) – (228.(50+1-1.19 Mpa . Acn As + C2.(d+tw-tf)) =(( 1 . 1.7.56 8. 228.7 . Ac As 4663.6)) = 2483.04.162 = 804.π.18.56 mm2 Untuk baja yang diberi selubung beton : C1 = 0.6. 1 .8.fc.tf. tf.1.09 mm2 Luas sengkang minimum = 0. 1 .7% > 4% Ac (70.8 mm2 < 804. 1 (d+tw) 2 2 2 2 2 2 + (b-tw). 20).300 = 54 mm2 < 113. 1.π. tw.2 + (d-2tf).18.2 fmy = fy + C1.25 mm2 Ar minimum = 0.6).12 – 16 = 560 mm Luas tulangan longitudinal (Ar) = 4. 1 .71 cm3 Kontrol luas penampang minimum profil baja : As 228.25 mm2 Tulangan Lateral (Sengkang dipasang Ø12-300mm) Luasan tulangan sengkang = ¼.50) -2.

04.200.5√fc’ = 0.9.16 Arah X WF 500.20 Kolom K500.10.9.Ec.24001.14 WF 600.98 Kuat Nominal Aksi Kolom Komposit WF 500.70 = 21 cm > iy ( dipakai rm) = 200000 + 0.200.200.10.9.3b = 0.200.200.10.041.23 Kolom K500. Acn As 4663.16 Gambar 6.14 Kolom K500.16 WF 600.10.5√25 = 24102.2.16 WF 500.10.000 Mpa Em = Es + C3.3.200.8 Mpa 228.w1.200.20 WF 500.200.200.14 WF 600.200.200.56 = 298428.13.16 WF 500.10.118 Ec = 0.4 rm = 0.5 Skema Kolom .98 Mpa Es = 200.10.9.14 Kolom K500.24102.200.

5066. maka termasuk dalam kategori kolom menengah.4 cm2.25 < λc <1.8 Karena nilai λc.26 Kg .425 = 654.11 ω= 1.119 Bagian dasar kolom diasumsikan jepit.19 fcr = = = 506.67.5 = = 31.fcr = 228.34 47800 Ix ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L 950 ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎛ Iy ⎞ ⎛ 52189 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAy = = = 2.6 − 0.5 = 0.L = 1.5 cm λ= λc = Lk 654. sehingga dari nomogram didapatkan nilai Kcx = 1.6 − 0.54 → KcY menentukan Lk = Kc.43 = 1.0.52 dan nilai Kcy = 1.17 π 654.17 cm rm 21 λ π f my Em = 31.67λc f my 562.54.43 = 1.47 Pn = As. 0.47 298428 . sehingga nilai GB = 1 ⎛ Ix ⎞ ⎛ 49940 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAx = = = 2.3 Kg/cm2 = 1157153.63 Mpa ω 1.2.11 1.54 Ix 41900 41900 ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ ⎜ ⎟+⎜ ⎟ 950 800 L ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Jenis rangka tidak berpengaku (unbraced frame). dimana : 1.

φ.27 Kg Syarat yang harus dipenuhi untuk luas penampang beton φPnc ≤ 1.fc’.27 = = 1953.7.Ab Ab ≥ ϕPnc 498230.85.fy = 0.228. 1157153.27 .ϕ .7.50) + ((50+10)10) = 101 cm2 Crc = Crt = 350 – (50 + 12 + (1/2.27 Kg > Pu……….16)) = 280 mm Cr = (Crc + Crt)/2 = 280 mm h1 = h2 = 700 mm Pu 595950. Persyaratan luas minimal penampang beton yang menahan beban desain kolom adalah : ¾ Kemampuan profil baja menahan beban φPns = 0.2 ϕPn 983580.6 = = 0.6.85.6 > 0.(OK) 1. fc ' 1.26 Kg = 983580.2500 = 485350 Kg ¾ Kemampuan penampang beton menahan beban φPnc = φPn – φPns = 983580.(OK) Semua beban desain kolom ditopang oleh kolom komposit ( terdiri dari profil baja dan beton).7.27 Kg – 485350 Kg = 498230.250 ¾ Kuat Nominal Komposit dan Aksial Kolom Komposit Luasan badan profil (Aw) = (1.As.85.0..120 φPn = 0.4.84 …….

fy + 1/3.h1 = 2428. fc '.16 .7.77 Kgcm ( Mny = Zy.77 Kgcm ( )Aw.04 x 2400 70 101x 2500 +( )101x 2500 − 2 1.06 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.2 → ⎟ + ⎜ + ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ϕPn ⎝ ⎠ 8 ⎛ 2261074.965 ≤ 1.(h2 – 2Cr)Ar.6 + ⎜ + ⎟ = 0.0(OK ) 9 ⎝ 0.04 x 2400 + ( 70 − 101x 2500 )101x 2500 2 1.71 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.7.12993755. fc'.56 2250329.h1 = 2483.7 x 250x70 =12993755.3 ⎞ 0.85.200.fyr + h2 Awfy )Aw.121 Mnx = Zx.7 7 0.12854730. fy − 2 1.85.10.7 7 ⎠ Kesimpulan: Kolom komposit digunakan profil K500. fy − 2 1.fy + 1/3.7 x 250 x70 = 12854730.fyr + h2 Aw. fy Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Untuk Pu > 0.(h2 – 2Cr)Ar.

(2096.122 6.5 L) Sambungan kaku yang merupakan bagian dari Sistem Rangaka Pemikul Beban Gempa mempunyai kuat lentur Mu yang besarnya paling tidak sama dengan : Mu = 1.Ry. Penerimaan beban dianggap sebagai berikut : • Beban Pu diteruskan oleh sambungan pada badan secara tegak lurus ke flens kolom • Beban momen Mu diteruskan oleh sayap balok dengan baja T keflens kolom Vu = 16319 Kg (1.1 Sambungan Antara Balok dengan Kolom Gambar 6.2500) Kgcm = 14265900 Kgcm .2 D + 0.1.3 Desain Sambungan 6.6 Sambungan Balok – Kolom yang direncanakan Sambungan balok utama B-22 dengan kolom direncanakan dengan rigid connection dimana sambungan memikul beban geser Pu dan momen Mu.1.1.Mpbalok = 1.5.3.

5) • Mutu profil BJ41 (fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.4.2Ab = 0.75.2).6 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.tp.1.123 Momen lentur rencana sambungan berdasarkan kemampuan balok. D = 25.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.10.2D + 0.0 cm.8250)2.5.5 Kg = 46352.2. Elemen – elemen sambungan : • Balok melintang menggunakan profil WF 500.07 cm2 Vdg = φf.9.5 Kg 950 Vutotal = 16319 Kg + 30033.4100 Kg/cm2 = 18745.4 cm.2 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg =18745.2.5L ditambah gaya geser yang berasal dari Mu diatas (LRFD ps 15.(0.07 = 31370.200.2 Kg) .5 Kg A.16 • Kolom menggunakan profil K500.10.(r1fub).4.2.db. 25.75.5.16 Gaya geser terfaktor V pada sambungan kaku harus diambil berdasarkan kombinasi pembebanan 1.fu (tebal pelat badan dipakai tebal badan balok tp = 10 mm)) = 0.200. sehingga besarnya : Vutambah = 14265900 + 14265900 = 30033. Sambungan geser pada badan balok Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.

53 .tp. dipasang 3 buah Vdg 18745. D = 25.2 B.6 mm (lubang dibuat dengan bor) = 27 mm Anv = Lnv. Ølubang). 5.7 = 17.2.4100 = 13121.(0.4.07 cm2 = 15685. Ølubang = 25.64 sehingga pada satu sisi menjadi 2 baut C.54.70.22 cm2 .3 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.7.07 cm2 Vdg = φf.2.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.7.75. 8250 Kg/cm2).fu (tebal pelat badan dipakai tebal pelat siku tp = 7 mm)) = 0. BJ 41 dengan fu = 4100 Kg/cm2.7).5 = = 2.4.t = (30 – 2.47 .(r1fub).0. Ab = 0.db.5) • Mutu profil BJ41(fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.5.2. Kontrol siku penyambung Siku direncanakan menggunakan ∟70.2 = = 3. Vdg 13121.75.0.64 Kg n= Vu 46352.2.t = (L – n.4 mm + 1. Sambungan geser pada sayap kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0. dipasang 4 buah pada 2 sisi.124 n= Vu 46352.

.22 cm2 = 38125.. Sambungan pada sayap profil T dengan sayap kolom Direncanakan menggunakan baut D25.0.6.07 cm2 Mutu baja profil BJ 50 (fu = 5000 Kg/cm2) Mutu baut (fu = 8250 Kg/cm2) Akibat gaya Mu. 17.7 Gaya – gaya yang bekerja pada profil T . profil T akan mendapat gaya tarik sebesar : 2T = Mu d balok 14265900 T= = 142659 Kg 2..25 Kg .50 W Q a 1 2(T 1 2(T a' + Q) + Q) b' b 2T Bidang kritis 1 2(T 1 2(T + Q) + Q) flens profil T Badan profil T Q Gambar 6. dengan data – data: Ølubang = 25....9. Ok D.6.fu..125 Siku ditinjau satu sisi sehingga gaya = ½.Anv) = 0.25 Kg φPn = φ(0.6 mm (lubang dibut dengan bor) = 27 mm Ab = 5.4 mm.4100 Kg/cm2.4 mm + 1.Vu = 23176.08 Kg > 23176.

25. B > T 94111.0.(OK) Koreksi untuk a dan b a’ = a + ½.7 mm b’ = b – ½.50 = 62.fub.75.8250 Kg/cm2.20 Maka.58 – 50= 101. T = 14265900 = 88828.25. = 151..58 cm Dalam hal ini kita coba pakai profil T 600.4 = 37.25 b 50 < 1.88 Kg < 142659 Kg (Tidak memenuhi syarat) Untuk mengatasinya kita dapat memakai potongan profil balok atau profil T yang dihubungkan ke bawah balok utama agar lengan momen kopel menjadi besar.12. Øbaut = 50 + ½.20.35. Øbaut = 50 . 14265900 Lengan kopel = = 151.5.5 mm .½.Ab)n. n = jumlah baut = 0.47055.88 Kg Syarat.200.75.25.4 = 94111.400.58 cm 2.75.126 B = Kekuatan rencana baut = φRn = 0.76 Kg 2.07 cm2.(50 + 30.(0. B > T 94111.94 Sehingga tinggi tambahan yang diperlukan menjadi.88 Kg > 88828. Fisher dan Shrink : a ≤ 1.5 mm…………….4 = 62. r = 22mm a = 50 mm (direncanakan) b= 400 − 20 − (50 + 90) = 50mm 2 Menurut Kulak.75.76 Kg (memenuhi syarat) ¾ Perhitungan sayap kolom dengan profil T Perhitungan tebal sayap T yang diperlukan : Direncanakan memakai profil T 400.3) Syarat.

7 ⎛ B ⎞ a ' ⎛ 94111.85 Kg…….T .(1 + 0.58. Sambungan pada badan profil T dengan sayap balok Kontrol Kekuatan Baut Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0. fy. dipakai ⎜ ⎟ δ ⎝ 1 − β ⎠ 0.88 ≥ ½ (88828.734 ⎞⎛ 37.16 cm = 31.5 ⎞ Q= T ⎛ ⎟ ⎟⎜ ⎟⎜ ⎟ = 88828.734 ⎟= 200 ⎝ w ⎠ α= 1⎛ β ⎞ 1 ⎛ 0.400.734 ⎝ 1 − 0.0.76 ⎠ 37.20.88 Kg > 50414.3 < 1 − 1⎟ = ⎜ ⎝T ⎠ b' ⎝ 88828.76 Kg .88828.6 mm Sehingga.88 − 1⎟ = 0. 7 ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠ ⎠⎝ ⎝ = 12001 Kg Gaya yang terjadi pada baut : B ≥ ½ (T + Q) 94111.734) ≥ 3.0.35 dapat dipakai ≥ E.3 ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ = 0. 0 .(1 + αδ ) 4.6 δ =⎜ = 0. 734 62 .7 + 12001) 94111.76 Kg ⎜ ⎜ αδ + 1 + a ' 1 0 .4100 Kg / cm 2 .9.w.b' tf ≥ ϕ .127 β =⎜ ⎞ 62.5 ⎛ w − ∑ d ' ⎞ 200 − 2.20cm.3. 58 .3 ⎠ Nilai α = 0.26.Ok Maka tebal perlu sayap profil T 4.58 < 1.58 αδ ⎞⎛ b' ⎞ ⎛ 0.58.5 0.5) • Mutu profil BJ55 (fu = 5500 Kg/cm2) . tf pada profil T 400.

(0. sehingga pada 1 sisi menjadi 3 baut. sehingga dipasang 6 Vdg 15685.88828.tw = 20 cm.4.9..(r1fub).1.2 cm.fy 2.9.07 cm2 = 15685.52 Kg ≤ 332100 Kg….128 • Baut tipe tumpu Øbaut 25.2.4100 177657.34 cm2 Terhadap leleh 2T ≤ 0.31 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf. BJ 55 dengan fy = 4100 Kg/cm2 dan fu = 8250 Kg/cm2 Ag = w.5.76 ≤ 0.4.66buah .16 cm.8250 Kg/cm2).4 mm.5.4.8250 Kg/cm2 = 45262. Kekuatan badan profil T Dipakai baut Ø25.Ab = 0.3..75.tp.31 Kg) n= 88828.fu (tebal pelat badan dipakai tebal sayap profil balok tp = 12 mm)) = 0.5 cm) = 47.tw) = 90 cm2 – (3. 2.75.8 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg = 15685.5 cm = 90 cm2 An = Ag – (Σd’.db.Ag.2.90.54cm.(Ok) . BJ 55 (Ag = 5.76 T = = 5.07 cm2) Vdg = φf.4 mm .……….31 buah baut pada 2 sisi.4.

52 Kg ≤ 350712.fy.(Ok) 6.34.45 Kg…………….2 Sambungan Kolom – Kolom Sambungan kolom .fu 2.6 Kg = 1.An.kolom direncanakan pada lantai 1.1997.4 Gambar 6.2500.6 = 7491000 Kgcm Baut D 25.76 ≤ 0.5.4 Baut D 25.8 sambungan kolom – kolom . 88828.129 Terhadap patah 2T ≤ 0..5.9.9.7 adalah sebagai berikut : Pu = 595950.47.3. Gaya – gaya yang bekerja pada kolom lantai CIN.8250 177657.Zx Mux = 1.4 Baut D 25.

8250 Kg/cm2.32 Kg .6 = 260920 Kg Aprofil 228. 2Ab = 0.fu (tebal plat dipakai tebal plat sayap Kolom tp = 16 mm) = 0.2.75.1.5.4 mm.4100 = 29992.r1.130 Pembagian Beban Momen 1 .4.75. 2. ( Ag = 5.5.1.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut D 25.tp.db.fub.4.4 Pusayap = Pu – Pubadan = 595950.2.50 Pubadan = badan .6.37 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.07 cm2 = 31989.52 Kg ¾ Kontrol Geser pada Sayap Kolom Dipakai tebal pelat penyambung 16 mm Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.6 – 260920 = 335026.503 I badan Mubadan = Mu = 12 7491000 = 1562500Kgcm I profil 49940 Musayap = Mu – Mubadan = 7491000 – 1562500 = 5928500 Kgcm ¾ ¾ Pembagian Beban Aksial A 2.Pu = 595950.1.0.54.2.07 cm2) Vdg = φf.

8250 Kg/cm2.2Ab = 0.52 = 296425 + 4 Tu = Musayap = = 380181. Vdt = 22860 Kg Momen yang bekerja pada titik berat sambungan badan Mutotal = Mubadan + Pu.32 Kg) Vu 380181.63 Kg Vdg > Vdt (digunakan Vdg = 29992.tp.07 cm2) Vdg = φf.4. 5000 = 22860 Kg Dipakai.5.67buah ≈ 12buah Vdg 29992.5.e = 1562500+ 260920.63 n= = = 11.0.r1.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut 25.2.4.0.07 cm2 = 31370.4 mm.fub.2.fu (tebal plat dipakai tebal plat badan Kolom tp = 10 mm) = 0.131 Gaya kopel pada sayap 5928500 = 296425Kg d 20 Pu sayap Jumlah gaya total pada sayap = T + 4 335026. ( Ag = 5.9 = 2058248 Kgcm .db.1.32 Dipasang 12 buah agar simetris ¾ Kontrol Geser pada Badan Kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.2.54.75.2.1.63 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.75.

28 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 KuV2 = Kutotal = (ΣKuV ) 2 + (ΣKuH ) 2 = (21743.5 = = 3009.tp = 15.1 = 12 cm Jarak tepi maks = 20 cm Dipasang jarak tepi baut = 5.14 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 Mutotal . y 2058248 x 22.5)2 + 4(4.52) = 3078 cm2 Vu 16667.426 Kg Kutotal < φVn 19030.14) 2 + (555.28) 2 = 19030.75.x 2058248 x 4.2.75 db = 1.54 = 4.33 + 3009.132 Dicoba dengan baut sebanyak 12 buah Pubadan 260920 Akibat Pu → KuV1 = = = 20743.1 = 15 cm Jarak tepi maksimum = 20 cm Dipasang jarak antarbaut = 9 cm .54 = 7.tp = 12.426 Kg < 22860 Kg………OK ¾ Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum = 1.2.52 + 13.33Kg n 12 Akibat Vu → KuH1 = Σ(x2 + y2) = 12(4.6 + 15246.62 cm Jarak antar baut maksimum = 15.15 = = 555.445 cm Jarak tepi maksimum = 12.52 + 22.5 cm Jarak antar baut minimum = 3.6 Kg n 12 Mutotal .db = 3.5 KuH2 = = = 14246.

52 Kgcm Sambungan Las pada End Plate Direncanakan las dengan te = 1.3.12854730.2 ϕPn kolom 983580.504 cm4 .200.133 6.15 Kg Vu Pu 595950.5L + E) lantai dasar adalah : Pu = 595950.6 > 0.85.6 = = 0.200.10.0 9 ⎝ 0.3 Disain Base Plate Perencanaan base plate dibawah ini menggunakan fixed plate dari catalog PT Gunung Garuda untuk profil K500.8) + (4.4 cm2 = 84732.7 cm pada daerah yang diarsir pada profil K 500.6 cm Dari output Etabs pada CIN 7 (comb 1.6 Kg = 16667.6 + ⎜ + 0 ⎟ = 1.45.46.16 dengan data – data sebagai berikut : • No.7 cm =530.16 sehingga didapat : Alas = {(2.10.Part = BMK-13 • H = 70 cm • B = 70 cm • tp = 46 mm = 4.20)} 1.8)+(2.27 Untuk Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Pu ⎟ + ⎜ + > 0.2 ⇒ ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ⎝ ⎠ 8⎛ Mux ⎞ 0.2D + 0.77 ⎠ Mux = 4916934.

20.45 .8.92 ⎟⎥ + ⎢2.46 .FE70xx = 0.203 + 2.11cm3 22.2.75.70.23 + 2.05cm3 x 23.22 .504 cm4 Wx = Ix 84732.4 3700.4 fulas = φ.83 + .⎜ .9 y Iy 84732.707 0.45 a= te 1.63 .504 = = 3700.20.23 + .63 Kg/cm2 te = f total 2818.05 2 = 1389.6.20.504 Wy = = = 3621.4 3621.11 = 2452.6.3.1cm = 1.102 ⎟⎥ 12 12 ⎠⎦ ⎠⎦ ⎣ ⎝12 ⎣ ⎝12 = 84732.3 2 = 2818.0.2.70.134 ⎡ ⎛1 1 1 ⎞⎤ ⎞⎤ ⎡ ⎛ 1 Iy = ⎢2. f P = Pu Mx 595950 4916934.0.27 = = 1.1 = 2214.707 .45 Kg/cm2 Akibat beban P.45 Kg/cm2 16667.15 4916934.52 + = + A Wx 530.3 Kg/cm += Vu Akibat beban Vu.⎜ .27cm = fu las 2214.8 cm(amin) 0. f V = f total = f p + fV 2 2 = 2452.45 2 + 1389.52 + A 530.

41.tp = 1.28 = 290.135 Syarat – syarat tebal kaki las Tebal minimum = tplat = 46 mm fu 4100 aeff max = 1. . f ' c. A2 = 0.6 = 5.db =4.db = 1.7cm 6 Pu 595950.5.41.6 d = 9 mm Direncanakan diameter baut : 28.52 = = 18.5h’ = 900 – 0.25cm > 1 H = 11.300. .2.75.85.28 = = A1 70 x70 Fcu = 0.7 A1 .86 = 6 cm c1 = jarak minimum untuk kunci = 27/16.3 Sehingga dipakai las dengan a = 18 mm Perhitungan Base Plate e= Mux 4916934.85.125.75.8 cm = dipakai c1 = we = 5 cm h’ ≥ 6+ 5 = 10 cm.6 h’ ≥ we + c1 we = jarak baut ke tepi = 1.4.70.1.4cm f E 70 xx 70.1.120 = 840 mm= 84 cm B =900 mm = 90 cm Dimensi beton : Panjang : 90 cm Lebar : 90 cm A2 90 x90 1. dipakai h’ = 12 cm h = H – 0.

5Ab) = 0.26.85 cm Maka base plate dengan ukuran 90 x 90 cm dengan tp = 3 cm dapat digunakan sebagai alas kolom K500.2 cm fy.6 mm φRn = 0. dimana Cv = 1.B.75.5.2) 2500.05 cm Tu = (0.25. 7250.90.10.90 842 − = 26.6 (2.84 = 42 mm =4.(0.05) – 595950.15 n n = 8.5.π.a) – Pu = (0. fcu.200.29 Kg t ≥ 2.6.Vu .108 Tu (h'− we) .1/4.7.4 diambil jumlah baut = 12 buah baut angkur 28.6.52 0.290.B 52596.h = 0.29(12 − 4.(0.B 595950.25 n .16667.108 ≥ 2.we ≈ 0.6 mm 14579≥ 2Tu + Cv.862) = 14579 Kg φRn ≥ 2.75.290.4916934.90 ≥ 2.84 − 90) + 2.6.136 a =h= 84- h2 − Pu (2h − H ) + 2Mu 0.f’cu.fub.7.16 Perhitungan Baut Angkur Dipakai baut angkur Ø28.5.29 + 1.6 = 52596.6.2.52596.

52 +16667.6 cm → diambil L = 120 cm .152+ 6.15+ (4.15 .16667.250 ⎣ ≥ 73.16667.5cm))1/ 2 ⎤ L≥ ⎢ ⎥ d. fc ⎣ ⎦ ⎡ 2.5))1/ 2 ≥⎢ 50.137 Panjang Angkur ⎡ 2V + (4V 2 + 6d .50.250(4916934. f c ( M + V .

138 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

139 BAB VII PERENCANAAN PONDASI 7.1 Denah Rencana Pondasi Pondasi pada gedung apartemen Albergo. WIKA Beton. Spesifikasi tiang pancang yang akan digunakan adalah sebagai berikut: : 500 mm • Diameter • Tebal : 90 mm : A3 • Type . Gambar 7. Jakarta ini direncanakan memakai pondasi tiang pancang jenis pencil pile shoe produk dari PT.1 Perencanaan Pondasi Kolom Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah.

140
Allowable axial : 166,21 ton Bending Momen crack : 14 ton m Bending Momen ultimate : 21 ton m Dari hasil analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS, diambil output reaksi perletakan yang terbesar, hasilnya adalah sebagai berikut : Pu : 587339 kg : 74927,94 kgm Mx My : 74054,92 kgm : 12667,15 kg Hx : 11154,31 kg Hy • • •

7.1.1 Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal
Data yang diperoleh dan yang digunakan dalam merencanakan pondasi adalah data tanah berdasarkan hasil Standard Penetration Test (SPT). Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal, yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar tiang pondasi (Qp) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah (QS). Perhitungan daya dukung tanah memakai metode Luciano Decourt (1982) : QL = QP + QS Dimana : QL = daya dukung tanah maksimum pada pondasi QP = resistance ultimate di dasar tiang QS = resistance ultimate akibat lekatan lateral Qp = qp . Ap = (Np.K).Ap Qs = qs . As = (Ns/3 +1).As Dimana : Np = harga rata-rata SPT pada 4D pondasi di bawah dan di atasnya. K = koefisien karakteristik tanah Ap = luas penampang dasar tiang

141
Ns = rata-rata SPT sepanjang tiang tertanam, dengan batasan 3 ≤ N ≤ 50 As = luas selimut tiang Np =

46 + 42 + 54 = 47,33 3 AP = 0,25 × π × D 2 = 0,25 × π × 0,52 = 0,196m 2
K = 40 t/m2 (untuk tanah dominan pasir)

QP = N p × K × Ap = 47,33 × 40 × 0,196 = 371,73m 2
Ns =

22 + 44 + 38 + 48 + 42 = 38,8 5 2 AS = H × π × D = 10 × π × 0,5 2 = 7,854m 2

⎞ ⎛N ⎛ 38,8 ⎞ + 1⎟ × 7,854 = 109,43ton QS = ⎜ S + 1⎟ × AS = ⎜ ⎝ 3 ⎠ ⎠ ⎝ 3
QL = QP + QS = 371,73 + 109,43= 481,16 ton QU =

QL 481,16 = = 160,39 ton SF 3

7.1.2 Daya Dukung Tiang Pancang Kelompok
Pondasi tiang pancang direncanakan Ø50 cm. Jarak dari as ke as antar tiang pancang direncanakan seperti pada perhitungan di bawah ini : Untuk jarak antar tiang pancang : 2,5 D ≤ S ≤ 3 D dimana : S = jarak antar tiang pancang S1= jarak tiang pancang ke tepi 2,5 × 50 ≤ S ≤ 3 × 50 125 ≤ S ≤ 150 Untuk jarak tepi tiang pancang : 1,5 D ≤ S1 ≤ 2 D 1,5 × 50 ≤ S1 ≤ 2 × 50 75 ≤ S1 ≤ 100 Dipakai : jarak antar tiang pancang (S) = 130 cm jarak tepi tiang pancang (S1) = 80 cm

142

Gambar 7.2 Konfigurasi Rencana Tiang QL (group) = QL (1 tiang) × n × η

η = 1 - arc tan( D / S ) × ⎛ 2 − 1 − 1 ⎞ …………Converse Labarre ⎜ ⎟ 90° m n⎠ ⎝
Dimana : D = diameter tiang pancang S = jarak antar tiang pancang m = jumlah tiang pancang dalam 1 baris = 3 n = jumlah baris tiang pancang = 3 Efisiensi : (ή) =1QL (group)

arctan(500 / 1000) ⎛ 1 1⎞ × 2 − − ⎟ = 0,606 ⎜ 90 0 3 3⎠ ⎝ = 160390 × 9 × 0,606 = 874767,1 kg

Perhitungan beban aksial maksimum pada pondasi kelompok a. Reaksi kolom = 587339 kg = 42336 kg + b. Berat Poer = 4,2 × 4,2 × 1 × 2400 Berat total = 629675 kg QL (group) = 874767,1 kg > P = 629675 kg........OK

Pmax = 86.21 ton..579 74. sehingga berlaku persamaan : Pmax = ⎜ ⎜ ⎛V ⎝n + My.3 74. X max ∑X 2 + Mx.143 7.2 ton ≤ Pijin 1 tiang = 160..05492 × 1.390 x 0.Ymax ⎞ ≤ Pijin 1 tiang ⎟ 2 ⎟ ∑Y ⎠ Pmax = ⎜ ⎜ ⎛ 643.21 ton • Allowable axial • Bending Momen crack : 14 ton m • Bending Momen ultimate : 21 ton m ¾ Kontrol terhadap Gaya Aksial Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification.92794 × 1. 3 × ⎝ ⎠ = 86...1. Momen pada tiang dapat menyebabkan gaya tekan atau tarik pada tiang.19 ton.1.OK 7.4 Kontrol Kekuatan Tiang Dari spesifikasi “Wika Pile Classification” direncanakan tiang pancang beton dengan : • Diameter : 500 mm • Tebal : 90 mm • Type : A3 : 166. gaya aksial tidak diperkenankan melebihi 166. 3 6 1 .19 ton …………………. namun yang diperhitungkan hanya gaya tekan karena gaya tarik dianggap lebih kecil dari beban gravitasi struktur...3 ⎞ + + ⎟ ⎟ 2 2 9 × 6 1 .2 ton < Pijin 97.OK .2 ton ≤ = 97.3 Kontrol Beban Maksimum 1 Tiang (Pmax) Beban maksimum yang bekerja pada satu tiang dalam tiang kelompok dihitung berdasarkan gaya aksial dan momen yang bekerja pada tiang.606 = 86..

425 kg/cm 2 dari lampiran data tanah di ketahui qu = 0.66715. Cek kekuatan momen tiang : Mcrack = 14 tm > M = 13..5) + 0.5d + 0.627)) Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification...Cu ...5 = 13...627 m 9 × 4.47 tm M = Mmax = 16...5(0.47 tm .66715 = 0.. momen tidak diperkenankan melebihi Mcrack = 14 tm.5f) f = H 9.. Ok .5(0.d Dimana: H = Lateral Load e d = jarak antara lateral load (H) dengan muka tanah = diameter pondasi 1 2 qu = 0...25 × 0..144 ¾ Kontrol terhadap Gaya Momen Setelah tiang dipancang Perumusan yang dipakai diambil dari buku “Daya Dukung Pondasi Dalam” : Mmax = H (e + 1..85 kg/cm2 Cu = = 4. (0 + 1.25 t/m2 f = 12..

2 ton P max (1 tiang) ∑ tiang pancang tiap group =9 Dimensi kolom = 700 × 700 mm2 Dimensi poer = 4.2.1.145 7.2 × 1 m3 Mutu beton (f’c) = 40 MPa Mutu baja (fy) = 410 MPa Diameter tulangan 25 mm Selimut beton = 50 mm Tinggi efektif (d) : dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.5 mm • Kontrol Geser Pons Pada Poer Dalam merencanakan poer harus dipenuhi persyaratan kekuatan gaya geser nominal beton yang harus lebih besar dari geser pons yang terjadi.5 Perencanaan Poer Poer dirancang untuk meneruskan gaya dari struktur atas ke pondasi tiang pancang.579 ton Pu = 86.Vc = φ ⎜ 1 + ⎟ × bo × d ⎟⎜ ⎝ βc ⎠⎝ 6 ⎠ tetapi tidak boleh kurang dari : φ Vc = φ × ⅓ × f ' c × bo × d Dimana : . Kuat geser yang disumbangkan beton dirumuskan : 2 ⎞ ⎛ fc ' ⎞ ⎛ φ . Oleh karena itu poer harus memiliki kekuatan yang cukup terhadap geser pons dan lentur. Hal ini sesuai yang disyaratkan pada SNI 03-2847-2002 pasal 13.12. Data perancangan poer : = 643.2 × 4.

⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.5) + 2 (700 + 912.21 ton φ Vc = 0.6 × ⅓.805 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.339.6 × ⎜1 + ⎟⎜ ⎜ ⎟ 1 6 ⎠⎝ ⎝ ⎠ = 115620777.5 = 7708051.8 N = 770.7 N = 1156.146 βc = rasio dari sisi panjang terhadap sisi pendek beton dari 700 daerah beban terpusat atau reaksi = =1 700 bo = keliling dari penampang kritis pada poer bo = 2 (bk + d) + 2(hk + d) dimana : bk = lebar penampang kolom hk = tinggi penampang kolom d = tebal efektif poer • Kontrol geser pons pada tiang pancang tengah (akibat Kolom) bo = 2 (700 + 937.805 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.5) = 6500 mm Batas geser pons ⎛ 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 6500 × 937.08 ton < φ Vc = 770.5 φ Vc = 0. .08 ton P = 552. 40 × 6500 × 937.

873 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.4 mm Batas geser pons 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 2385.6 × ⅓.147 • Kontrol geser pons pada tiang pancang pojok β c = rasio sisi terpanjang terhadap sisi terpendek (daerah beban terpusat) = 500 =1 500 bo = penampang kritis poer = 1 x πD + 800 + 800 4 = 2385.310 ton φ Vc = 0.310 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.08 ton < φ Vc = 574. .4 × 937.5 φ Vc = 0.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.08 ton P = 552.4 N = 282.6 N = 574.339. 40 × 2385.6 × ⎛ 1 + ⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎜ 1 6 ⎝ ⎠⎝ ⎠ = 5743104.4 × 937.5 = 2828736.

40 × 1 =10.6 = 87 cm b = jarak tepi tiang pancang = 80 cm Penulangan arah x Penulangan lentur : Pmax = 96231 kg q = 4.3 Analisa Poer Sebagai Balok Kantilever a = jarak poer ke tepi kolom + selimut kolom + db sengkang + 1/2 db kolom = 80 + 5 + 1.672) = 23711 kg m = 23.148 • Penulangan Poer balok beban yang poer. Sedangkan yang bekerja adalah beban terpusat di tiang kolom menyebabkan reaksi pada tanah dan berat sendiri Perhitungan gaya dalam pada poer didapat dengan mekanika statis tertentu. teori Untuk penulangan lentur.85.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.2 + ½.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0. 1.2.7.3) ⎝ 1000 ⎠ .87) – (1/2 × 10080 x 1.8⎛ ⎜ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12.2 × 2. Gambar 7. poer dianalisa sebagai kantilever dengan perletakan jepit pada kolom.

0018 Maka dipakai ρmin = 0. 7087.85 × β 1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.2.765 ⎝ ⎠ = 0.77 1000 ⎝ ⎠ ⎞ 0.8⎛ ⎜ ⎟ = 0.039 (SNI 03-2847-2002 pasal 12.4.765 0.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.5 ρ perlu 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2 × 11.3.5 = 3543.5.5.85 × f ' c (SNI 03-2847-2002 pasal 9.8 × 4200 × 937.12.5 = 7087.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.711 10 7 2 Rn = = = 0.0803 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.0803 N/mm 2 2 φbd 0.85 × 40 Mu 23.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.149 40 − 30 ⎞ = 0.85 × 0.765 × 0.3) ρbalance = ⎜ 600 + f ⎟ fy y ⎠ ⎝ 600 ⎞ = 0.75 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) .029 ρmin = 0.3) ρmax = 0.039 = 0.0018 × 4200 × 937.As = 0.1) 400 = = 11.75 × ρb = 0.75 × 0.85.b.0018 m= fy 0.d = 0.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.0002 < ρ min = 0.

765 0.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.8⎛ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.0018 m= (SNI 03-2847-2002 pasal 12.75 × 0.12.5 2 .3.1) fy 400 = = 11.150 Penulangan arah y Pmax = 96231 kg q = 4.77 = 0.85 × f ' c 0.3) (SNI 03-2847-2002 pasal 9.8⎜ ⎟ ⎝ 1000 ⎠ ρbalance = 0.711 10 7 Mu 2 N/mm Rn = = = 0 .5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.7.3) ⎟ ⎠ 600 ⎞ = 0.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.8 × 4200 × 912.039 ρmax = 0.85 × 0.85 × 40 23.4.87) – (1/2 × 10080 x 1.40 × 1 =10.2 × 2.85. 0875 φbd 2 0.2.672) = 23711 kg m = 23.85.029 ρmin = 0.75 × ρb = 0.2.039 = 0.85 × β1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎜ 600 + f fy y ⎝ ⎞ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.3) ⎜ 1000 ⎠ ⎝ ⎛ 40 − 30 ⎞ = 0.

765 ⎝ ⎠ = 0.5 = 3449.0018 Maka dipakai ρmin = 0.151 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ρ perlu 2 × 11.6 Perancangan Sloof Pondasi (Tie beam) Struktur sloof dalam hal ini digunakan dengan tujuan agar terjadi penurunan secara bersamaan pada pondasi atau dalam kata lain sloof mempunyai fungsi sebagai pengaku yang menghubungkan antar pondasi yang satu dengan yang lainnya.00021 < ρ min = 0.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.As = 0.b.5 = 6898. Data – data perancangan : Dimensi sloof : b = 400 mm h = 600 mm Ag = 240000 mm2 Mutu bahan : fc’ = 30 MPa fy = 400 MPa Selimut Beton = 50 mm Tulangan utama D25 .0018 × 4200 × 912.5.25 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) 7.d = 0.765 × 0.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.5.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.0875 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11. berat dinding pada lantai paling bawah. beban aksial tekan atau tarik yang berasal dari 10% beban aksial kolom. 6898. Adapun beban –beban yang ditimpakan ke sloof meliputi : berat sendiri sloof.1.

152 Tulangan sengkang = ∅12 Tinggi efektif (d) = 600 – (50 + 12 + ½ .18 kgm D (Vu) = ½ x qu.4 = 6. L = ½ x 3076 x 6.4 × 0.6 kg Penulangan Lentur pada Sloof Pu = 10% Pukolom = 10 %.22 = 14780.5 mm Beban-beban yang terjadi pada sloof : Berat sendiri sloof = 0.2) + 0.5 kgm = 98535000 Nmm Rasio tulangan pakai : P 64357.22 = 9853. L2 = 1/12 x 3076 x 6.41 kx = Ag.6 × 2400 Berat dinding = 10 m × 250 = 576 = 2500 qu = 3076 kg/m kg/m + kg/m Panjang sloof = (panjang bentang – lebar poer)+daerah penjepitan = (10– 4.2 m Mutump = 1/12 x qu. didapat ρ = 1 % Luas tulangan perlu : As = 0.9kg Mutump = 9853.68 ky = Ag 400 x600 Mu 98535000 = = 0.h 400 x600 x1000 Dari diagram interaksi M-N F 400–30–0. 25) = 525.2 = 9535.5 kgm Mulap = 1/8 x qu x L2 = 1/8 x 3076 x 6.9.8–2 .643579 = 64357.01 x 400 x 600 = 2400 mm2 Dipasang Tulangan 6D25 ( As = 2945.2 mm2) .10 = = 2.

85 × 30 × 0.85 ⎛ 600 ⎞ = 0.68 0.22 = 9853.0035 ρmin = fy 400 ρmax = 0.f' c.95 = 804.153 Penulangan Tarik pada Sloof qu = 3076 kg/m = 1/12 x qu.475 mm2 Mu 98535000 Mn = = = 123168750 Nmm 0.643579 = 64357.5 kgm = 98535000 Nmm D (Vu) = 10% Pukolom = 10 %.95 mm2 = As = 400 fy Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’ = 0.4 = = 0.024 Mn 123168750 = = 1.85 × 30 1.75 ρb = 0. L2 Mutump = 1/12 x 3076 x 6.8 ϕ 400 fy m = = = 15.β.5 x As = 0.5 x 1608. fy ρperlu = 1⎛ 2m.85f' c 0.75 ⎟ ⎜ 400 ⎝ 600 + 400 ⎠ = 0.9kg = 643579 kg Tulangan tarik yang dibutuhkan : Vu 643579 = 1608.75 Rn ⎛ 600 ⎞ ⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ ⎟ ⎝ ⎠ 0.Rn ⎞ ⎟ ⎜1 − 1 − ⎜ m⎝ fy ⎟ ⎠ .4 1.85.5 bd 0.12 = 2 2 400 × 525.

Digunakan tulangan geser praktis Ø10 – 200.75 × 437235.0035 x 400 x 525.475 + 367.33 mm2 Digunakan tulangan 3D25 (As = 1472.12 ⎞ 1 ⎛ ⎜1 − 1 − ⎟ = 0.7 = 2344.68 × 1.35 N > Vu = 92956.5 x As1 = 0.6 kg = 95356 N Vc = 2 × × ⎡ Nu ⎤ fc × bw × dx ⎢1 + ⎥ ⎣ 14.5 x 735.37 mm2) Jumlah tulangan tekan : As’ + As1’ = 804. Ag ⎦ 95356 1 ⎡ ⎤ = 2 × × 35 × 400 × 539⎢1 + 6 ⎦ ⎣ 14 × 400 × 600 ⎥ 1 6 = 437235.68 ⎜ ⎝ ⎠ = ρmin > ρperlu Æ ρ = ρmin = 0. maka tidak perlu tulangan geser. .6 mm2) ¾ Penulangan Geser Geser yang terjadi : Vu = 9535.7 mm2 Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’1 = 0.7 = 367.0035 Tulangan tarik yang dibutuhkan : As1 = ρ b d = 0.85 = 1172.95 + 735.65 mm2 Digunakan tulangan 5D25 (As = 2454.5 N Karena Vu < ØVc.13 N ØVc = 0.13 = 327926.5 = 735.00497 ⎟ 400 15.154 2 × 15.85 mm2 Jumlah tulangan tarik : As + As1 = 1608.

155 BAB VIII PENUTUP 8. kontrol lateral buckling dan kontrol geser.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan.200.200. kontrol penampang (local buckling). kontrol penampang (local buckling). Analisa balok dihitung terhadap kontrol lendutan.20 Profil Balok Induk 2 : WF 500. 3. Dilakukan perhitungan struktur sekunder terlebih dahulu seperti perhitungan tangga. Dilakukan kontrol kekuatan struktur kolom komposit yang meliputi kontrol luas minimum beton pada kolom komposit.16 Profil Balok Induk 1 : WF 500. pelat lantai. 4. 2. dan balok anak terhadap beban-beban yang bekerja baik beban mati. maka dapat diambil kesimpulan antara lain : 1. perhitungan kuat tekan aksial kolom.10.9. perhitungan kuat lentur kolom.14 Profil Balok Anak : WF 400. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit. kontrol lateral buckling dan kontrol geser. beban hidup maupun beban terpusat.13 . Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : kontrol lendutan.10.200. 5. Dari hasil pehitungan didapatkan data-data perencanaan sebagai berikut : Tebal Pelat Atap : 9 cm (atap) dan 10 cm (lantai) Tebal Pelat Lantai : 10 cm Dimensi Kolom : 70 x 70 cm Profil kolom : K 500.8.200. dan kontrol kombinasi aksial dan lentur.

keakuratan pemasangan sangat penting. 8. agar dapat diperoleh hasil sesuai dengan yang direncanakan.2 Saran Pelaksanaan struktur dengan sistem komposit baja – beton harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat sebab pada bangunan baja. .156 Struktur bawah bangunan menggunakan tiang pancang pracetak dengan diameter 50 cm.

1991. Muhammad. . Amon.Atanu. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. John. Rene . Diterjemahkan oleh: Ir. Purwono. Salmon. Vebriano & Rustailang. Jakarta: Erlangga. Charles & E. Wahyudi.S. 2005 Spiegel & Limbrunner. Knobloch. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. 1999. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983.Bandung : PT.Pradinya Paramita. Herman.CE. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Daya Dukung Pondasi Dalam. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. 2006. Rahmat. Bruce & Mazumder. 1998 American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD).157 DAFTAR PUSTAKA G. Surabaya : ITS. Rinaldy. 1999.Johnson. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. Wira M.

Di jurusan Teknik Sipil ITS penulis mengambil bidang Struktur dan menyelesaikan studinya pada tahun 2009. Fakultas dan Institut. pada tahun 2005 penulis diterima di S1 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. yaitu SDN Karang Pilang 446 Surabaya. Penulis aktif mengikuti beberapa kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Jurusan.158 BIODATA PENULIS Penulis dilahirkan di Surabaya. Penulis aktif sebagai Anggota sekaligus Fungsionaris Civil Engineering Computer Club (CECC) HMS-FTSP ITS. . SLTPN 16 Surabaya dan SMAN 15 Surabaya. Penulis telah menempuh pendidikan formal. 2 Nopember 1985. selain itu penulis pernah pernah mengikuti beberapa kompetisi dan perlombaan baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi lain maupun perlombaan tingkat Nasional. Setelah lulus dari SMUN.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful