xviii DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampang balok komposit .................................. 8 Gambar 2.2 Distribusi tegangan plastis .................................... 9 Gambar 2.3 Metode transfornasi luasan ................................. 11 Gambar 2.4 Penampang kolom komposit ............................... 14 Gambar 4.1 Denah tangga ...................................................... 34 Gambar 4.2 Potongan A-A tangga .......................................... 34 Gambar 4.3 Tampak anak tangga ........................................... 35 Gambar 4.4 Tampak melintang anak tangga .......................... 36 Gambar 4.5 Sketsa pembebanan pelat tangga ......................... 37 Gambar 4.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga ............. 40 Gambar 4.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga ........... 43 Gambar 4.8 Sketsa profil Canal 260.90.10.14 ........................ 44 Gambar 4.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ........ 46 Gambar 4.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes ........................................................................ 48 Gambar 4.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga......................................................................... 49 Gambar 4.12 Potongan pelat Atap ............................................ 52 Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan 3 sampai dengan 11 .. 53 Gambar 4.14 Potongan plat lantai 2.......................................... 55 Gambar 4.15 Potongan plat lantai mesin lift ............................ 56 Gambar 4.16 Detail sambungan balok anak dan balok induk ... 66 Gambar 4.17 Detail plat siku ................................................... 68 Gambar 4.18 Denah lift ............................................................ 71 Gambar 4.19 Sketsa mekanika pehitungan balok penggantung lift ............................................................................................. 72 Gambar 4.20 Distribusi tegangan plastis .................................. 74 Gambar 4.21 Sketsa mekanika pehitungan balok penumpu lift 78 Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis .................................. 80 Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .............................................. 91 Gambar 5.2 Pemodelan Stuktur 3D ......................................... 92

xx DAFTAR TABEL
Tabel Tabel Tabel Table Table Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 2.1 Ukuran Minimum Las Sudut ...................................... 20 5.1 Berat Struktur per lantai.............................................. 90 5.2 Nilai Xcr dan Ycr........................................................ 95 5.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan ............................ pp96 5.4 Modal Participating Mass Ratio ................................. 99 5.5 Selisih Periode antar Mode yang Berdekatan ........... 100 5.6 Simpangan ................................................................ 102 5.7 Analisa Δs akibat gempa arah x ................................ 103 5.8 Analisa Δs akibat gempa arah y ................................ 103 5.9 Analisa Δm akibat gempa arah x .............................. 104 5.10 Analisa Δm akibat gempa arah y ............................. 105

xxii

dimana tower tersebut merupakan gedung apartemen yang dibangun dengan menggunakan beton bertulang konvensional. hal tersebut menjadi satu alasan banyak bangunan tempat tinggal di kota Jakarta dibangun bertingkat dan salah satunya adalah Tower Albergo. (2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil. (3) kekakuan lantai meningkat. (5) . Sementara itu ketersediaan lahan untuk tempat tinggal di kota tersebut semakin sempit. Keistimewaan yang nyata dalam sistem komposit adalah (1) Penghematan berat baja. Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur. Komposit balok baja dan pelat beton adalah satu usaha dalam mendapatkan suatu konstruksi yang baik dan efisien. Tower Albergo merupakan satu diantara empat tower The Bellezza. Balok komposit merupakan campuran beton dengan baja profil. Apartemen tersebut terdiri dari 36 lantai. dimana pada beton bertulang gaya-gaya tarik yang dialami suatu elemen struktur dipikul oleh besi tulangan tetapi pada struktur komposit ini gaya-gaya tarik yang terjadi pada suatu elemen struktur dipikul oleh profil baja.1 BAB I PENDAHULUAN I. (4) kapasitas menahan beban lebih besar. Dari beberapa penelitian. kemudian direncanakan ulang dengan menggunakan struktur komposit baja beton. kekakuan dan keunggulan ekonomis ( Vebriano Rinaldy & Muhammad Rustailang. 2005 ). Kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung di kota tersebut sangat diperlukan salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal yang terus meningkat.1 Latar belakang Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang sangat padat. struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan.

Bagaimana menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. yaitu : 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton. Bagaimana menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. antara lain : 1. 2.2 Permasalahan Permasalahan yang ditinjau dalam modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton. Bagaimana menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. I. 4.2 Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar ( Charles G. Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur. Salmon. 3. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. 2. . 5. Dapat menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder.1991 ). I. Bagaimana memodelkan dan menganalisa struktur setelah adanya modifikasi. Pada Tugas Akhir ini menggunakan peraturan SNI 032847-2002 tentang tata cara perhitungan beton untuk bangunan gedung dan SNI 03-1726-2002 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung serta SNI 03-17292002 tentang tata cara perencanaan struktur baja. Dapat menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi.

Dapat merencanakan struktur komposit yang memenuhi persyaratan keamanan struktur.3 3. struktur sekunder meliputi balok anak. Dari perencanaan ini bisa diketahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan sehingga kegagalan struktur bisa diminimalisasi. Meninjau metode pelaksanaan yang hanya berkaitan dengan perhitungan struktur. 3.2. dan manajemen konstruksi.5 Manfaat Manfaat yang bisa didapatkan dari modifikasi perencanaan ini adalah : 1. 2. 4. . Jumlah lantai yang akan direncanakan ulang menggunakan struktur komposit baja beton sebanyak 12 tingkat. Analisa struktur menggunakan program bantu ETABS v9. Dapat memodelkan dan menganalisa struktur dengan menggunakan program bantu 4. Tidak meninjau dari segi analisa biaya. 5.4 Batasan masalah 1. 2. Dapat merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur. arsitektural. I.0 I. Dapat menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. 5. tangga dan pelat lantai. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. Perencanaan struktur utama meliputi balok induk dan kolom.

4 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

maka akan didapat pengurangan pada tebal seluruh lantai. Dalam perhitungan perencanaan ada tiga macam metode perhitungan yaitu metode elastis. Knobloch & Mazumder. dan untuk bangunanbangunan pencakar langit. metode plastis. Batang yang memikul lentur umumnya disebut dengan balok komposit sedangkan batang yang memikul beban tekan. Penampang komposit adalah penampang yang terdiri dari profil baja dan beton digabung bersama untuk memikul beban tekan dan lentur.(Amon.1 Umum Baja merupakan salah satu bahan konstruksi yang penting. . keadaan ini memberikan penghematan yang cukup besar dalam volume.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dan metode LRFD (Load and Resistance Factor Design). Ductility adalah kemampuan untuk berdeformasi secara nyata baik dalam tegangan maupun regangan sebelum terjadi kegagalan (Charles G. pekerjaan saluran pendingin ruangan.1999). pekerjaan saluran air. Penampang komposit mempunyai kekakuan yang lebih besar dibandingkan dengan penampang lempeng beton dan gelagar baja yang bekerja sendiri-sendiri dan dengan demikian dapat menahan beban yang lebih besar atau beban yang sama dengan lenturan yang lebih kecil pada bentang yang lebih panjang. Sifat-sifatnya yang terutama penting dalam penggunaan dibandingkan terhadap bahan lain yang tersedia dan sifat ductility. Salmon. Apabila untuk mendapatkan aksi komposit bagian atas gelagar dibungkus dengan lempeng beton. dan lain-lainnya. tekan dan lentur umumnya disebut dengan kolom komposit. pekerjaan pemasangan kabelkabel. dinding-dinding. 1991).

Sehingga beban kerja yang direncanakan dikalikan dengan faktor beban dan struktur direncanaan berdasarkan kekuatan keruntuhan (collapse). Hal ini akan menyebabkan balok melentur (Spiegel & Limbrunner.1998).Strength limit state : kemampuan struktur memikul beban .6 a) Metode Elastis Metode ini berdasarkan beban kerja dimana akibat beban kerja yang direncanakan tegangan yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan yang diijinkan.Serviceability limit state: kelakuan struktur memikul beban Secara umum perumusan untuk pendekatan desain metode LRFD ini dapat dituliskan sebagai berikut : ϕRn ≥ γo ∑ γi Qi 2. yaitu suatu keadaan dimana struktur atau elemen struktur didesain sampai menunjukkan perilaku tidak dapat berfungsi lagi. Ada dua kategori yang menyatakan keadaan batas (limit state) : . LF (Q) ≤ Rn c) Metode LRFD Metode ini berdasarkan pada konsep keadaan batas (limit state). Tegangan ijin = σy Teganganleleh atau w = FK FaktorKeamanan b) Metode Plastis Metode ini berdasarkan pada sifat baja yang mempunyai sifat daktilitas. Baja akan memiliki cadangan kekuatan di atas kekuatan elastis. Balok adalah elemen struktur yang memikul beban yang bekerja tegak lurus dengan sumbu longitudinalnya.2 Balok komposit Balok adalah salah satu diantara elemen-elemen struktur yang paling banyak dijumpai pada setiap struktur. .

2.7). 2) Posisi tepi atas balok baja tidak boleh kurang daripada 40 mm di bawah sisi atas pelat beton dan 50 mm di atas sisi bawah plat. seperti pada penentuan defleksi atau tegangan akibat beban layan. Balok komposit parsial Pada balok komposit parsial. kecuali yang disebutkan pada butir ke-2 di bawah. slip antara baja dan beton dianggap tidak terjadi (SNI 03-1729-2002 Ps. Perhitungan elastis untuk balok seperti ini. kekuatan balok dalam memikul lentur dibatasi oleh kekuatan penghubung geser.1980).2. c. selama hal-hal berikut terpenuhi (SNI 031729-2002 Ps. .2.12. Balok baja yang diberi selubung beton Walaupun tidak diberi angker. b.6). balok baja yang diberi selubung beton di semua permukaannya dianggap bekerja secara komposit dengan beton. 12. 3) Selubung beton harus diberi kawat jaring atau baja tulangan dengan jumlah yang memadai untuk menghindari terlepasnya bagian selubung tersebut pada saat balok memikul beban. penghubung geser harus disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga balok mampu mencapai kuat lentur maksimumnya. Beberapa jenis balok komposit antara lain : a. harus mempertimbangkan pengaruh adanya slip antara baja dan beton (SNI 03-1729-2002 Ps.8) 1) Tebal minimum selubung beton yang menyelimuti baja tidak kuang daripada 50 mm.7 Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang kekuatannya bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan (Bowles. Pada penentuan distribusi tegangan elastis. Balok komposit penuh Untuk balok komposit penuh.12.

4.4.8 a) Balok Komposit (tanpa deck) b) Balok baja diberi selubung beton Gambar 2.1 Penampang balok komposit 2. dengan mengikuti ketentuanketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12.1) : .2.1 Kekuatan Balok Komposit dengan Penghubung Geser a. h 1680 .untuk > tw fy dengan φ b = 0.Mn harus dihitung untuk penampang baja saja. b.Kuat Lentur negatif rencana φ b .2.85 dan Mn dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis pada penampang komposit.2.2) : .9 dan Mn dihitung berdasarkan superposisi tegangan-tegangan elastis yang memperhitungkan pengaruh tumpuan sementara plastis pada penampang komposit.untuk h ≤ 1680 tw fy dengan φb = 0.Kuat Lentur positif rencana ditentukan sebagai berikut (LRFD Pasal 12.

beff .f’c.3 Menghitung momen nominal Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis : Gambar 2.2. Menentukan gaya tekan ( C ) pada beton : C = 0.2.Untuk gelagar interior : bE ≤ L 4 bE ≤ bo (untuk jarak balok yang sama) . Distribusi tegangan plastis (Sumber :Charles G.2.85.Untuk gelagar eksterior : bE ≤ L 8 bE ≤ bo + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab) dimana : L = bentang balok bo = bentang antar balok 2. Menentukan gaya tarik ( T) pada baja : T = As. 1996) • Menghitung momen nominal ( Mn ) positif 1. Salmon.tp.2 Lebar efektif plat lantai : .fy Dipilih nilai yang terkecil dari kedua nilai di atas .9 2.

d 1 atau T. f ' c.5.0. Pf = bf . fy a= 0.Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja T = n.d2) .fyr Pyc = As.85.Menghitung jarak ke centroid d1 = hr + tb – c ( Pf .a web ) d2 = Pf + Pw d3 = d 2 3.5.Ar. fy⎜ + ts − ⎟ 2⎠ ⎝2 • Menghitung momen nominal ( Mn ) negatif.beff 3. fy Gaya pada badan . Menentukan tinggi blok tekan effektif : As.fy Gaya pada sayap . 1.tf ) + ( Pw(tf + 0.d1 Bila kekuatan nominal dinyatakan dalam bentuk gaya baja akan diperoleh : a⎞ ⎛d Mn = As. Kekuatan momen nomimal : Mn = C.10 2.Menghitung momen ultimate : Mn = T(d1 + d2) + Pyc(d3 .tf . Pw = Pyc − T − Pf 2 aw = Pw tw. fy 2.

⎜ ts + ⎟ ⎟ 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ A s ) 3. +⎜ ⎜ As tr 2 ⎝ GNE = A + ( tr d ⎞⎞ ⎛ .....GNE .. ( ts)3 tr 12 2 ⎞ ⎛ ⎞ ⎛⎛ d ⎞ ts ⎟ ⎜ + Ix + A ⎜ + A GNE − ⎜ + ts + hr ⎟ − GNE ⎟ ⎟ tr ⎜ s⎜ 2 ⎟ 2 ⎝ ⎠ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ 2 4.. untuk beton normal.11 b efektif btr ts hr GNE komposit GNE d GN baja yt Gambar 2. Metode transformasi luasan Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis : 1.. fc' Mpa . Es = 200000 Mpa n = Es Ec btr = beff n Atr = btr . Menentukan letak garis netral penampang transformasi (dimomen ke ambang atas) ts ⎛ A .3. Menghitung momen inersia penampang transformasi It = b ... ts 2. Menghitung nilai transformasi beton ke baja Ec = 4700 . Menghitung modulus penampang transformasi yc = GNE yt = d + ts + hr .

t Jadi : Mu ≤ ∅ .5. Str.2.rs ≤ Asc.c Mn2 = fy .3) Qn = 0.85 .6.t = I tr yt 5.85 ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 *⎜ ⎟*⎜ Nr ⎝ hr ⎠ ⎝ hr ⎠ rs untuk balok sejajar balok : ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ − 1⎟ ≤ 1 rs = 0. Mn 2.fu ⎜ ⎝ ⎟ ⎠ ⎛ ⎜ ⎞ ⎟ Dimana : rs untuk balok tegak lurus balok : 0.4 Penghubung Geser Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal 12.Ec ⎟⎟.Asc. Str.⎜⎜ fc'.6 * ⎜ ⎟*⎜ hr hr ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Nr = jumlah stud setiap gelombang Hs = tinggi stud Hr = tinggi bondek Wr = lebar effektif bondek Asc = Luas penampang shear connector fu = Tegangan putus penghubung paku/stud Qn = Kuat nominal geser untuk penghubung geser Jumlah penghubung geser (shear connector) yang dibutuhkan yaitu : n = C Qn .12 I Str. Menghitung momen ultimate Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh digunakan dari nilai yang terkecil dari : Mn1 = 0. n .c = tr yc dan Str. fc’ .

E.E. dan 384.13 2.ql 4 = untuk beban terbagi merata. bukan berdasar kan beban berfaktor. Besar lendutan dapat dihitung dengan rumus : ƒmax 5.5 Kontrol lendutan (Deflection) Batasan lendutan atau deflection pada biaya telah diatur didalam SNI 03-1729-2002.I 48. Penampilan dari suatu struktur akan berkurang dari segi estetika dengan lendutan yang besar.I 3 ƒmax = Pl untuk beban terpusat di tengah bentang . Lendutan diperhitungkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : Lendutan yang besar dapat mengakibatkan rusaknya barangbarang atau alat-alat yang didukung oleh balok tersebut.2. Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penghuni banguna tersebut.Perhitungan lendutan pada balok berdasarkan beban kerja yang dipakai di dalam perhitungan struktur.

Selubung beton untuk penampang komposit yang berintikan baja harus diberi tulangan baja longitudinal dan tulangan pengekang lateral.12. • Kolom komposit terbuat dari penampang baja berongga (kolom baja berintikan beton). 1.3.4. yaitu : • Kolom komposit yang terbuat dari profil baja yang diberi selubung beton di sekelilingnya (kolom baja berselubung beton).14 2.1) : Luas penampang profil baja minimal sebesar 4% dari luas penampang komposit total. 1996). Penampang kolom komposit Kriteria untuk kolom komposit bagi komponen struktur tekan (SNI 03-1729-2002 Ps. Ada dua tipe kolom komposit.3 Kolom Komposit Kolom komposit didefinisikan sebagai “ kolom baja yang dibuat dari potongan baja giling (rolled) built-up dan di cor di dalam beton struktural atau terbuat dari tabung atau pipa baja dan diisi dengan beton struktural (Salmon & Jonson. . Profil Baja dibungkus beton Pipa baja O didisi beton Gambar 2.

4. Jarak antar pengikat lateral tidak boleh melebihi 2/3 dari dimensi terkecil penampang kolom komposit.25 0.2) Kuat rencana kolom komposit yang menumpu beban aksial adalah øc Nn dengan øc = 0.2 ω maka ω = 1 1. 2.3.25 dengan . 5. kecuali untuk tulangan longitudinal yang hanya berfungsi memberi kekangan pada beton.25λc 2 maka ω = untuk λr ≥ 0. Luas minimum penampang tulangan transversal (atau lonitudinal) terpasang.67λc maka ω = 1.3.15 2. Tebal minimum dinding pipa baja atau penampang baja berongga yang diisi beton adalah b fy / 3E untuk setiap sisi selebar b pada penampang persegi dan D fy / 8 E untuk penampang bulatyang mempunyai diameter luar D. 12.6 − 0.43 1.85 Nn = As fcr dan fcr = untuk untuk fmy λr ≤ 0. 3. Tulangan baja longitudinal harus menerus pada lantai struktur portal. Mutu beton yang digunakan tidak lebih 55 Mpa dan tidak kurang dari 21 Mpa untuk beton normal dan tidak kurang dari 28 Mpa untuk beton ringan.25 ≤ λr ≤ 1.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI 03-1729-2002 Ps. . Tegangan leleh profil dan tulangan baja yang digunakan untuk perhitungan kekuatan kolom komposit tidak boleh lebih dari 380 Mpa. Tebal bersih selimut beton dari tepi terluar tulangan longitudinal dan transveersal minimal sebesar 40 mm.

MPa adalah tegangan tekan kritis.16 λc = kcL rmπ fmy Em ⎛ Ar ⎞ ⎛ Ac ⎟ fmy = fy + c1 fyr ⎜ + c fc ' ⎜A ⎟ 2 ⎜ ⎜A ⎝ s⎠ ⎝ s ⎛ Ac ⎞ E m = E + c3 E c ⎜ ⎜A ⎟ ⎟ ⎝ s⎠ E c = 0. MPa komposit. MPa adalah kuat tekan karakteristik beton. mm2 Ar E Ec adalah luas penampang tulangan longitudinal. MPa adalah tegangan leleh untuk perhitungan kolom komposit. MPa adalah tegangan leleh profil baja. N adalah jari-jari girasi kolom komposit. MPa adalah faktor panjang efektif kolom adalah kuat aksial nominal. MPa adalah modulus elastisitas beton.041w1. mm2 adalah modulus elastis baja.5 f 'c ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Keterangan : As adalah luas penampang beton. mm adalah parameter kelangsingan adalah faktor reduksibeban aksial tekan adalah faktor tekuk E m adalah modulus elastisitas untuk perhitungan kolom f cr fy fy fc ' kc Nn rm λc ω øc .

dan c3 =0. c1 .85 . dimana : Nu = Gaya aksial (tarik atau tekan) terfaktor. Mny =Momen lentur nominal penampang komponen struktur masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y. N.Nn 9 ⎢⎣⎢ϕ b. Nu ≥ 0.Mny ⎥⎦⎥ Nu < 0.Nn ⎡ ⎤ Nu + 8 .Mny ⎥⎥⎦ b.3.⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1. N.85 .0 2 .Nn ⎡ ⎤ Nu + ⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1. c 2 = 0.17 Pada persamaan di atas.mm Mux . Untuk profil baja yang diberi selubung beton : c1 = 1.dan c3 adalah koefisien yang besarnya a).Mnx ϕ b.2 ϕ c.4 Kekuatan rencana kolom komposit yang menahan beban kombinasi aksial dan lentur (LRFD Pasal 7. ϕ c.Mnx ϕ b.dan c3 =0.Nn ⎢⎢⎣ϕ b. Muy =Momen lentur terfaktor masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y. Untuk pipa baja yang diisi beton : c1 = 1.mm .3).85 (struktur tekan) ∅b = 0.ϕ .90 (struktur lentur) Mnx .2 a. N ∅ = Faktor reduksi kekuatan ∅c = 0.4.0 ϕ . c 2 = 0.4 b). N Nn = Kuat nominal penampang. c 2 .

Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung.4 Sambungan Sambungan terdiri dari komponen sambungan (pelat pengisi.1 Klasifikasi sambungan : 1. 2. Sambungan pada baja . namun harus dianggap memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan kekangan yang dapat diukur terhadap perubahan sudutsudut tersebut 3.18 2. Sambungan semi kaku / Semi rigid connection adalah sambungan yang tidak memiliki kekakuan yang cukup mempertahankan sudut-sudut diantara komponenkomponen struktur yang disambung. Sambungan kaku / Rigid connection adalah sambungan yang dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut-sudut di antara komponenkomponen struktur yang akan disambung. pelat pendukung. Sambungan sendi / Simple connection adalah sambungan yang pada kedua ujung komponen struktur dianggap bebas momen. pelat buhul. Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sanbungan. 2. dan pelat penyambung) dan alat pengencang (baut dan las).5. Semi Rigid Connection Rigid Connection Rigid Connection Gambar 2.4.

1.75 × t e × (0.4.fv.6 × fu × Anv Vu < φPn 2.3) Kontrol Kekuatan Pelat φPn = 0.75 × 0.4. Deformasi pada sambungan masih berada dalam batas kemampuan deformasi sambungan. Perencanaan sambungan harus memenuhi persyaratan (SNI 03-1729-2002 Ps.1) Jarak maksimum antar baut : 15tp atau 200 mm (LRFD 13.4.tp φRn diambil yang terkecil Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum : 1.3 Sambungan Baut Kuat geser φRnv Kuat tumpu φRnt Jumlah baut.4. φf .8)fy. n = Vu = φ.4.2 Perencanaan sambungan Kuat rencana setiap komponen tidak boleh kurang dari beban terfaktor yang dihitung.Ab.4. Gaya dalam yang disalurkan berada dalam keseimbangan dengan gaya-gaya yang bekerja pada sambungan.2) Jarak tepi maksimum : (4tp + 100 mm) atau 200 mm (LRFD 13. 2.4 Sambungan Las Ru ≤ ϕRnw dengan. 2.3) : 1.Rnw = 0. Sambungan dan komponen yang berdekatan harus mampu memikul gaya-gaya yang bekerja padanya.19 2.m = φ. 13. 3.db.4.(1.5db (LRFD 13.6 × fuw) (las) .3) Jarak minimum antar baut : 3db (LRFD 13.

pondasi tiang bor ( pondasi sumuran ).6 × fu ) (bahan dasar) keterangan : fuw : tegangan tarik putus logam las fu : tegangan tarik putus bahan dasar te : tebal efektif las (mm) Tebal minimum las sudut.Rnw = 0.Ukuran Minimum Las Sudut 2.75 × t e × (0. sedangkan untuk pondasi dalam dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif besar seperti pada gedung yang berlantai banyak. Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal.5 Perencanaan Pondasi Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah. a (mm) 3 4 5 6 Tebal bagian paling tebal. yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar . yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. pondasi caisson dan lain sebagainya.1 Pondasi Tiang Pancang a.1. dikatakan pondasi dalam jika perbandingan antara kedalaman pondasi (D) dengan diameternya (B) adalah lebih besar sama dengan 10 (D/B > 10). t (mm) t ≤ 7 7 < t ≤ 10 10 < t < 15 15 < t Tabel 2.20 φf . Dalam perencanaan pondasi ada dua jenis pondasi yang umum dipakai dalam dunia konstruksi. 2. antara lain pondasi tiang pancang.Pondasi dalam ini ada beberapa macam jenis. Pondasi dangkal dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif kecil.5.

Hasil daya dukung yang menentukan yang dipakai sebagai daya dukung ijin tiang. untuk tanah lanau berpasir = 40 t/m2. As = ⎛ + 1⎟ . untuk tanah pasir Ap qp = Luas penampang dasar tiang = tegangan di ujung tiang Ns ⎞ Qs = qs . yaitu : • Daya dukung tiang pancang tunggal yang berdiri sendiri • Daya dukung tiang pancang dalam kelompok. daya dukung suatu tiang juga harus ditinjau berdasarkan kekuatan bahan tiang pancang tersebut. untuk tanah lanau berlempung = 25 t/m2. untuk tanah lempung = 20 t/m2. Perhitungan daya dukung tiang pancang ini dilakukan berdasarkan hasil uji Standard Penetration Test ( SPT ) menurut Luciano Decourt ( 1982 ) Ql = Qp + Qs dimana : Qp = qp . Ap = ( Np . Perhitungan daya dukung dapat ditinjau dari dua keadaan. As ⎜ 3 ⎝ ⎠ .21 tiang pondasi ( Qp ) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah ( Qf ). K ) . Sehingga daya dukung total dari tanah dapat dirumuskan : Qu = Qp + Qs Disamping peninjauan berdasarkan kekuatan tanah tempat pondasi tiang pancang di tanam. Ap dengan : Np K = Harga rata-rata SPT di sekitar 4B di atas hingga 4 B di bawah dasar tiang pondasi = Koefisien karakteristik tanah = 12 t/m2.

daya dukungnya mengalami modifikasi. Untuk daya dukung batas. Daya dukung dukung tiang kelompok Disaat sebuah tiang merupakan bagian dari sebuah group. Qijin 1 tiang = Dimana : SF N’ N = safety factor = 3 = harga SPT di lapangan = harga SPT setelah dikoreksi = 15 + [ ( N’ – 15 ) /2 ] Qu SF b.22 Dengan : qs Ns As = tegangan akibat lekatan lateral dalam t/m2 = harga rata-rata sepanjang tiang yang tertanam. pemancangan dapat menaikkan kepadatan disekitar tiang bila jarak antar tiang < 7 s/d 8 diameter. dapat dibedakan dua fenomena sebagai berikut : ¾ Pengaruh group disaat pelaksanaan pemancangan tiang-tiang ¾ Pengaruh group akibat sebuah beban yang bekerja Proses pemancangan dapat menurunkan kepadatan di sekeliling tiang untuk tanah yang padat. pengaruh dari sebuah group tiang pondasi tidak perlu diperhitungkan bila jarak as ke as antar tiang . dengan batasan : 3 ≤ N ≤ 50 = keliling x panjang tiang yang terbenam Daya dukung ijin dari satu tiang pancang yang berdiri sendiri adalah daya dukung tiang total dibagi dengan suatu angka keamanan. karena pengaruh dari group tiang tersebut. Namun untuk kondisi tanah didominasi oleh pasir lepas atau dengan tingkat kepadatan sedang. Dari problema ini.

y max dimana : Pv = ± ± 2 2 n ∑x ∑y Pv = Beban vertikal ekivalen V = Beban vertikal dari kolom n = banyaknya tiang dalam group Mx = momen terhadap sumbu x My = momen terhadap sumbu y xmax = absis terjauh terhadap titik berat kelompok tiang ymax = ordinat terjauh terhadap titik berat kelompok tiang 2 ∑x = jumlah dari kuadrat absis tiap tiang terhadap garis netral group . harus dikoreksi terlebih dahulu dengan koefisien efisiensi Ce. digunakan cara Converse – Labarre : arc tan (∅ / s ) ⎛ 1 1⎞ Ce = 1 − ×⎜2 − − ⎟ 90° m n⎠ ⎝ dimana: ∅ : diameter tiang pondasi S : jarak as ke as antar tiang dalam group m : jumlah baris tiang dalam group∅ n : jumlah kolom tiang dalam group 2.5 diameter tiang. Untuk kasus daya dukung group pondasi.x max M x . Sebaliknya. maka besarnya beban vertikal yang bekerja pada sebuah tiang adalah : ekivalen (Pv) V M y . jarak minimum antar tiang dalam group adalah 2 s/d 2.2 Repartisi beban-beban diatas tiang kelompok Bila diatas tiang-tiang dalam kelompok yang disatukan oleh sebuah kepala tiang (poer) bekerja beban-beban vertikal (V). horizontal (H).5. dan momen (M). QL (group) = QL (1 tiang) × n × Ce n = jumlah tiang dalam group Untuk menghitung koefisien efisiensi Ce.23 adalah > 3 diameter.

24 ∑y2 = jumlah dari kuadrat ordinat tiap tiang terhadap garis netral group nilai x dan y positif jika arahnya sama dengan arah e.5D ≤ S1 ≤ 2D dimana : S = jarak antar as tiang pancang. dan negative bila berlawanan dengan arah e. S1 = jarak as tiang pancang ke tepi. . D = diameter tiang pancang. Perhitungan jarak tiang ( Dirjen Bina Marga Departemen PU) sebagai berikut : 2.5D ≤ S ≤ 3D 1.

25 BAB III METODOLOGI 3.1 Bagan Alir Penyelesaian Tugas Akhir Mulai Pengumpulan Data Studi Literatur Perencanaan Struktur Sekunder Preliminary Desain dan Pembebanan Pemodelan dan Analisa Struktur Not Ok Kontrol Desain Ok Perencanaan Pondasi Penggambaran Hasil Perencanaan Selesai .

Panjang banguna : 40 m 7. Nama Gedung : Gedung Albergo 2. d. Rene . Wira M. Surabaya : ITS. Mempelajari data-data perencanaan secara keseluruhan yang mencakup: .Johnson. Struktur Utama : Struktur beton bertulang . 1999. Spiegel & Limbrunner.CE. Bruce & Mazumder. Wahyudi. c. 2006. American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD). Diterjemahkan oleh: Ir.Pradinya Paramita. Amon.7 m 10. Salmon. John.Atanu.26 3. Jakarta 3. Lokasi : JL.Bandung : PT.Data Bahan 3. Daya Dukung Pondasi Dalam. 1999. Tinggi Bangunan : 140. Knobloch. Vebriano & Rustailang. Rinaldy. Jakarta: Erlangga.2 Mengumpulkan data yang berkaitan dengan perencanaan Mempelajari gambar eksisting sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan modifikasi perencanaan. Lebar bangunan : 27 m 8. Jumlah lantai : 36 lantai + Atap 6. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Herman.1991. e. . Adapun beberapa literatur serta peraturan gedung tersebut antara lain adalah sebagai berikut : a. Charles & E. Purwono. Muhammad. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. Rahmat. 1998 g. G. b. Fungsi : Apartemen 5. 2005 f.3 Studi literatur Mencari literatur dan peraturan gedung (building code) yang menjadi acuan dalam pengerjaan tugas akhir ini. Letjen Soepono. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua.S.Data umum bangunan (kondisi Awal) 1.

4 Perencanaan Struktur Sekunder a.. j...5. Perencanaan pelat lantai c. Perencanaan pelat atap d. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Perencanaan tangga b..5 Preliminary Design dan Pembebanan 3. Perencanaan balok lift 3.. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung..1 Preliminary Design Balok Mu φ = Mn Mn = Zp x fy ... SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983. i. Dimana : Mu : momen ultimate beban ø : faktor reduksi lentur Mn : momen nominal Zp : momen tahan plastis fy : tegangan leleh baja .(asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) Zp = Mn ……. Perencanaan balok anak e.dari nilai Zp didapat rencana fy awal dimensi balok.27 h.. k. 3..

mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu.1) Berat volume spesi : 2100 kg/m3 (tabel 2.28 3.5. penyelesaian-penyelesaian. Beban Mati (PPIUG 1983 Bab1 pasal 1.1) Berat volume aspal : 1400 kg/m3 (tabel 2. Pembebanan tersebut antara lain : a.2 Preliminary dimensi kolom pu φ pn (asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) fy = A Pn dari nilai A didapat rencana awal dimensi kolom.3 Pembebanan Perencanaan pembebanan pada struktur ini berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983 dan SNI 03-1726-2002.1) Berat volume tegel : 2400 kg/m3 (tabel 2.1) Berat dinding partisi : 40 kg/m2 (tabel 2.1) Beban mati ialah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan. Yang nilainya sebagai berikut : Berat volume beton : 2400 kg/m3 (tabel 2.1) Berat volume plafond : 11 kg/m2 (tabel 2.1) Berat volume ps bata merah : 250kg/m2 (tabel 2.1) .1) Berat volume AC dan perpipaan : 10 kg/m2 (tabel 2. A= fy Dimana : Pu : gaya aksial ultimate beban ø : faktor reduksi gaya aksial tekan Pn : momen nominal A : luas penampang = Pn 3.1) Berat volume penggantung : 7 kg/m2 (tabel 2.5.

4) Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang .Beban hidup pada lantai atap diambil sebesar 100 kg/m2 (pasal 3. . yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau. 3) Beban angin ialah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.1) .1) .3 (PPIUG 1983).2 (PPIUG 1983) dengan kefisienkoefisien angin yang ditentukan dalam pasal 4. Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan).Beban hidup pada tangga diambil sebesar 300 kg/m2 (tabel 3. 2) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung. Beban Hidup (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu. d. Beban Gempa (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.2. ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam pasal 4.1) .29 b.1) c. sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.Beban hidup pada lantai mesin elevator diambil sebesar 400 kg/m2 (tabel 3. Beban Angin (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam kg/m2. dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang barang yang dapat berpindah.Beban hidup pada lantai diambil sebesar 250 kg/m2 (pasal 3.

..6) .. V.6 SNI 03 – 1726 – 2002): T1 < ς n dimana : ς = Koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada (Tabel 8).....5 ... maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.30 menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu.. n = Jumlah tingkatnya Simpangan antar lantai (SNI 03 – 1726 – 2002) .... (pasal 4.2) .03 / R Ambil terkecil (pasal 8. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik.....1) ΔS = 30 mm Dimana : R = RSRPMB Baja = 4. T1 = Cc (hn)3/4 R = Gaya geser dasar Nominalstatik ekuivalen = Faktor reduksi gempa = Waktu getar alami fundamental = Berat total gedung = Faktor kepentingan struktur = Tinggi total gedung = Faktor respons gempa Pembatasan waktu getar alami fundamental (Pasal 5.Kinerja batas layan : ΔS = 0.. ditetapkan sebagai berikut: V = dimana : V R T1 Wt I Hn C1 C1 × I × Wt .3.. (pasal 8. Gaya geser dasar rencana total...Kinerja batas ultimit : ΔM = ΔS * ξ ..

1.1.31 ¾ Kombinasi Pembebanan Kombinasi Pembebanan sesuai dengan LRFD tersebut di atas dengan kombinasi sebagai berikut (metode LRFD) : .0.3 W + γL L + 0. 3.1.5 (La atau H) (6.6 L + 0.3W atau 1.0 E) (6. dan peraturan angka keamanan.2 D + 1.2-4) . tahap selanjutnya yaitu kita mendesain pondasi bangunan.9 Penggambaran hasil perhitungan dalam gambar teknik Penggambaran hasil Perencanaan dan perhitungan dalam gambar teknik ini dengan menggunakan program bantu AutoCAD. balok.2.2-2) .9 D – (1.8 Perencanaan Pondasi Setelah perencanaan bangunan atas selesai.6 Pemodelan dan Analisa Struktur Untuk mengetahui gaya dalam yang timbul pada elemen struktur akibat beban yang bekerja maka dilakukan analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS v9. Bila tidak memenuhi maka dilakukan re-design.2 D + 1.4 D (6. 3.0 E + γL L .6 (La atau H) + (γL L atau 0. Bila telah memenuhi maka dapat diteruskan ke tahap pendetailan. 3.2 D + 1. tahap selanjunya kita kontrol desain meliputi kontrol terhadap kolom.2-3) .2-1) (6.2 D + 1. dan juga perhitungan sambungan dimana dari kontrol tersebut dapat mengetahui apakah desain yang kita rencanakan telah sesuai dengan syarat-syarat perencanaan.8 W) (6.1. serta efisiensi.5 (La atau H) (6.2-6) 3. .7 Kontrol Desain Setelah melakukan analisa struktur bangunan.2-5) .1.0.

32 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

1 Perencanaan Tangga 4.55º ..33 BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 4..1...5 17.1..2 Perecanaan Jumlah Injakan Tangga .Persyaratan – persyaratan jumlah injakan tangga 60 cm < ( 2t + i ) < 65 cm 25º < a < 40º Dimana : t = tinggi injakan (cm) i = lebar injakan (cm) a = kemiringan tangga .Ok a = arc tg ⎛ ⎜ ⎟ .5 = 13 buah = 12 buah = 140 cm = 150 cm = 360 cm = 330 cm Jumlah injakan ( n ) =13-1 Lebar bordes Lebar tangga Panjang Tangga Panjang Bordes ⎝ 30 x12 ⎠ 212..5 cm Jumlah tanjakan = 2 212......5 cm = 30 cm = 360 cm = 5 cm 4......5 ⎞ = 30..Perhitungan jumlah injakan tangga Tinggi injakan ( t ) = 65 − 30 = 17.1 Data perencanaan Tinggi antar lantai Tinggi bordes Lebar injakan Panjang tangga Lebar pegangan tangga = 425 cm = 212.

1 Denah tangga Gambar 4.34 Pelat Combideck t= 9 cm Balok Utama Tangga Channel 260x90x10x1 Pelat Anak Tangga t= 3 mm Gambar 4.2 Potongan A – A tangga .

32 ML = 1/8 q L l2 = 0.3 Perencanaan Pelat Tangga Pelat baja t=3mm Profil Siku 60.3 Tampak anak tangga .1.35 4.125 x 38.32 = = 0.4 x 0.53 kg/m + qD = 38.612 kgm .063 kgm Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.4 MD = 1.858 x 0.6 30 cm 150 cm Gambar 4.50 = 450 kg/m Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 q D l2 = 0.003 x 1.437 kgm 5.Perencanaan tebal pelat tangga Tebal pelat tangga = 3 mm = 0.50 x 7850 = 35.325 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 3.437 kgm = 0.60.125 x 450 x 0.Perencanaan pembebanan pelat tangga Beban Mati Berat pelat = 0.003 m Berat jenis baja = 7850 kg/m3 Mutu baja Bj 41→Tegangan leleh baja = 2500 kg/cm2 .858 kg/m Beban Hidup qL = 300 x 1.

..6 x 5.25 x 150 x 0.. dengan data sebagai berikut : b = 60 mm Ix = 22.94 kgm > 8.42 kg/m A = 6.625 kgm.375 x 2500= 7593....4 Tampak melintang anak tangga ..3375 cm4 12 12 4 Ymax = 5 (q D + q L )l < f 384 EI x 4 ( ) 5 0 .36 MU = 1....1.0. 35 30 + = 365 2.9 x 3..6 ML = 1..33 = 0..91 cm Gambar 4..10 6.Ok Kontrol Lendutan f = L = 30 = 0.625 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur Zx = ¼ bh2 = 0.437 + 1.8 cm 2 Zx = 9...8 cm4 ix = 1.3375 = 0.4 Perencanaan Penyangga Pelat Injak Direncanakan menggunakan profil siku 60x60x6.83 cm3 W = 5..2 x 0..75 kgcm Syarat : φMn > Mu 75. 38858 4 ...82 cm tw = 6 mm Iy = 22..Ok 4...0804 < 0..2 MD + 1....0833 cm 360 360 Ix = 1 bh 3 = 1 x 150 x 0..375 cm3 φMn = φZx x fy = 0.32 = 3...0833 ..063 = 8..82 cm 4 iy = 1...

42 kg/m + = 8.150 = 5000 kg cm = 50 kgm Vu = 1 ( 1.895 kg/m + qD = 9.50) + 0.125 x 45 x 1.502 = 2.100.2.100.9.15 x 0.5(1.003 x 7850 = 3.863 Kg .848 x 1.l ) + 1 ( 1.37 - Perencanaan pembebanan P=100Kg P=100Kg VA VB Gambar 4.502 = 11.15 = 45 kg/m pL = 100 = 100 kg Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 qD l2 = 0.2.qD.848.1.953 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 0.769 kgm ML = 1/8 qL l2 → akibat beban merata = 0.848 kg/m Beban Hidup ( 1/2 lebar injakan ) qL = 300 x 0.533 kg/m Berat baja siku 60x60x6 = 5.6.2) = 168.2 ) 2 2 = 0.6.5 Sketsa pembebanan pelat tangga Beban Mati ( ½ lebar injakan) Berat pelat = 0.827 kgm ML = 1/3(PL) → akibat beban terpusat = 1/3.5(1.P.125 x 9.

8 cm4 4 3 ( ) + q q l Pl 5 23 D L Ymax = + 384 EI x 648 EI x 3 4 ( ) 100 + 100 x 150 23 ( ) 5 0 .....106 x 22... 09848 + 0 .769 = 3.323 kgm. 45 150 = + 648 2.2 MD + 1.175 kgm Syarat : φMn > Mu 221..8 384 2..6 x 50= 83.175 kgm > 83...625..769 + 1.38 Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1..625 cm 240 240 Ix = 22.4 x 2.Ok Kontrol Lendutan f = L = 150 = 0......6 ML = 1..9 x 9..323 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur φMn = φZx x fy = 0.......10 6 x 22.877 kgm MU = 1......4 MD = 1....Ok .83 x 2500 = 22117.2 x 2.5 kgcm = 221.605 < 0..8 = 0..

Pelat lantai bondek = 10.09 m.6 Desain Balok Utama Tangga Balok utama tangga dianalisa dengan anggapan terletak di atas dua tumpuan sederhana dengan menerima beban merata dari berat sendiri dan beban dari anak tangga.24 kg /m2 .1 kg/m2 .Pelat beton t = 9 cm = 0. Pembebanan a.21 kg /m2 = 21 kg/m2 .bentang (span) = 1.1.1 kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226.Beban Mati .Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing : .1 kg/m2 4.spesi lantai t = 1cm = 1. Balok utama tangga .1.2400 kg/m3 qD2 = 10.1 kg/m2 = 10.lantai keramik t = 1cm = 24 kg/m2 = 1.5 Desain Bordes Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.39 4.4 m .75mm.tebal pelat beton = 9 cm b.sandaran baja = 20 kgm2 Total beban finishing = 65 kgm2 Beban Hidup Beban hidup = 300 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + beban finishing = 300 kg/m2 + 65 kg/m2 = 365 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus tanpa tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .

003 x 1.01 kg/m Berat sandaran besi = 20 kg/m = 108. Perencanaan pembebanan anak tangga Beban Mati Berat pelat = 0.887kg/m qD1 = 119.650 kg/m .99 cm Sx = 371 cm3 iy = 2.773kg/m Berat alat penyambung (10%) = 10.40 direncanakan menggunakan profil Channel 260x90x10x14.55 = 44.9 kg/m Iy = 317 cm4 ix = 9.Perencanaan Pembebanan BEBAN ANAK TANGGA (qu1) BEBAN BORDES (qu2) B VuC C A VuA Gambar 4.7 cm3 Zx = 445 cm3 Zy = 105 cm3 .6 Sketsa pembebanan balok utama tangga 1. dengan spesifikasi sebagai berikut : Ix = 4820 cm4 A = 48.56 cm Sy = 47.75 /0.9 / cos 30.1 kg/m Berat profil = 37.30 = 27.50/2 x 7850 = 17.42 x 2 x0.3 cm2 W = 37.663 kg/m Berat profil siku = 5.

2) + (qd2.8)}/5 = 877.79 kg = 1228.50 x 0.4.....1......4) 1228.037.6)+(570...86 = ( 217.Perhitungan Gaya – Gaya pada Tangga = 495 kg/m A.6.3) + (qd1.3. Perencanaan pembebanan bordes Beban Mati Berat profil Berat bordes =(65+226...4.3.OK ...3.1.79 kg .8) }/5 = 841.3..7)}/5 = 598.40 +841.3.3) + (ql1.1.4) 1476 kg = 1476 kg ...1.0....39 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 387..3.315 kg/m = 518.14 kg ( ↑ ) VLC = {( ql2...1. Beban Mati VDA = {(qd1.4.40 kg ( ↑ ) VDC = {(qd2.65 Berat penyambung ( 10 % ) qD2 = 217..39 = (119.5 2.1.86 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 598.2) + (ql2.. Beban Hidup VLA = {(ql1.3..14 + 877...5.9 kg/m = 480..822 kg/m = 570.6) + (2495.0.4.1....65 .650.6.4.215 kg/m = 51.6.1) x 1.6..4..1...037 kg/m Beban Hidup qL2 = 300 x 1.Ok B..3.5 kg/m = 37.7) }/5 = 387.41 Beban Hidup qL1 = 300 x 1.

.3. 598.1..3.VLC = 1..42 C.893 m < 3.893) – (0.2..8) = (1421..037 + 1..2.7) = .x2) = (1421...1..1...58 MUmax = (VUA.qu1.6.(VUC .217.6..x12) dMx1 = 0 ⇒ VUA − qU 1 .6.416 kgm MUBA = (VUA.6m. 841.4) + (1476.90.x1) – (1/2.x1 = 0 dx1 V 1421.14 = 1421. 1.2. Gaya – Gaya Dalam Ultimate qu1 =1.qd1 + 1...2...4) + (qu2.1933.90 x1= UA = = 2.5.7) = .6.04.90.90 kg ( ↑ ) VUC = 1.495) = 1476.0. 877.6) – (491.119.6.qd2 + 1.58 kg/m qu2 = 1.3..0.58..(2414.Ok qU 1 491.4.416 kgm Kontrol : MUBA = MUBC..2.6) – (qu1.(1/2.ql2 = (1...40 + 1...044 kg/m VUA = 1.2 VDC + 1.6.2 VDA + 1..VLA = 1.58.8932) = 2056.6.2...441 kgm . 491.1.24.2.ql1 = (1.1..x) .4.86 = 2414. qu1.5) = 491.24 kg ( ↑ ) MUBC = .8) = 1933.2.Ok Batang AB Mx1 = (VUA.6.6.65 + 1....6... 387.39 + 1.570...3.

Balok Bordes Lb = 0 m Lp = 131.416 kgm 2056.84 cm cos 30. fy 250 Ternyata Lp>Lb.2.76.Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil fy = 2500 kg/cm2 untuk sayap : b 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 200 1680 ≤ 10 250 3. maka Mnx = Mpx . maka Mnx = Mpx Kontrol Lateral Buckling 1.iy.082 cm Ternyata Lp >Lb.14 250 30 = 34.75 20 ≤ 106.10 5 = 110.441 kgm Gambar 4.55° E 2. = 1.51 cm Lp = 1.Batang Miring Lb = 90 170 ≤ 2.22.21 ≤ 10.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga .893 m C + 1933.25 Penampang profil kompak.43 B + A 2.76. maka Mnx = Mpx 2.

..fy = 445.Ok ....2500 = 1112500 kgcm = 11125 kgm 1.441 kgm ≤ 0.plastis ... 11125 kgm 2056.....2500 = 139125 kgcm Jadi.371..90..Kontrol Momen Lentur 90m m y1 260m m 10m m y2 14m m Gambar 4.5 250 20 < 69.44 .14 Mp = Zx.......fy = 1...5 kgm.5..5 My = 1..5 Sx..10...57 ...Kontrol Kuat Rencana Geser 162 110 ≤ 5..8 Sketsa profil Canal 260... Mn = Mp = 1112500 kgcm = 11125 kgm Syarat : Mu ≤ φMn 2056...9..441 kgm < 10012..

..96 kg/m + 76.Perencanaan pembebanan Beban Mati Berat sandaran besi : 20 kg/m Berat sendiri profil : Berat ikatan ( 10 % ) qU = 1....7 Desain Balok Penumpu Bordes Balok penumpu bordes direncanakan menggunakan profil WF 350x175x7x11.904 kg Vu ≤ φVn 1421..6 kg/m Iy = 984 cm4 Sy = 112 cm3 bf = 175 mm ix = 17.1.9 x 39000 = 35100 kg VUA = 1421.6 x 2500 x (26) = 39000 kg φVn = 0.d = 10.45 Vn = 0.. Syarat : Aw = tw..14 cm2 Ix = 13600 cm4 W = 49.70 cm Zx = 841 cm3 d = 350 mm iy = 3.6 x fy x Aw Vn = 0.904 Kg < 35100 kg . dengan data sebagai berikut : Sx = 775 cm3 A = 63.87 kg/m ..56 kg/m 91..260 = 2600 mm2 4..Ok Jadi profil Channel 260x90x10x4 dapat dipakai. 76.6 kg/m 6...6 kg/m + 69.2..24 kg = = = = qD = = 20 kg/m 49..56 kg/m P = VUC = 2414...95 cm Zy = 172 cm3 tf = 11 mm r = 14 mm tw = 7 mm h = 300 mm ...

15 + 3.24.96 Kg ( ) ΣMA = 0 VB.8 .87.85 + 2.(5.½ q.(1.24 (16) + 8 1 (91.4) 10391.15 + 3.P.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ΣMB = 0 VA.65 + 4.96 + 5195.24.82 = 0 1 2414.24 (16) + (91.8 + 2414.87) 8 2 2 ( ) VB = 5195.4 – P (1.P.65+0.85 + 2.½ qD.87 Kg/m' VA VB Gambar 4.65 + 4.(5.8 + P.4 –2414.24 Kg P P P qD=91.82 = 0 VB = 2414.15).42 2 91.46 P=2414.35).24 kgm .96.87 .87 ) 8 2 2 VA = 8 VA = 5195.8 .96 Kg Kontrol : VA + VB = (qD.65+0.96 = (91.15) 2 = 15703.½ qD. 4 = 5195.35).92 = 10391.92 ………Ok Mmax = VA.4) 5195.

.75 42..86 ≤ 106...30) = 31500 kg φVn = 0......9 x 2500 kg/cm2 x 841cm3 = 1892250 kgcm Syarat : φMn > Mu 18922....... .47 ..95 ≤ 10...Ok Kontrol Lendutan fijin = L 800 = = 3.........6 x 2500 x (0...976 kg < 28350 kg..25 Penampang profil kompak.Ok Jadi profil WF 350x175x7x11dapat dipakai..22 cm ≤ f ijin.Kontrol Kuat Rencana Geser 30 1100 h 1100 ≤ ≤ 7 tw 250 fy 42. maka Mnx = Mpx Kontrol Momen Lentur φMn = φ x fy x Zx = 0..........Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil untuk sayap : bf 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 175 170 30 1680 ≤ ≤ 7 2...24 kgm.11 250 250 7......plastis Vn = 0.33 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 2..........6 x fy x Aw = 0.86 < 69.7...9 x 31500 = 28350kg Syarat : Vu ≤ φVn 5195.Ok .5 kgm > 15703....57 .....................

yaitu sambungan baut dan las.8 Perencanaan Sambungan Profil Tangga Ada dua sambungan yang akan digunakan pada tangga. Sehingga sambungan baut yang dipakai adalah sambungan geser.7.11 Gambar 4. Dipakai 2 buah baut dengan Øbaut = 12 mm.14 Balok penumpu bordes 350.175.7. a.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes .10. Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes Asumsi tumpuan pada bordes adalah rol (balok tangga diletakkan di atas balok penumpu bordes). A Baut ø 12 Balok tangga Channel 260. A Balok penumpu bordes 350. Sambungan baut digunakan untuk menyambung balok bordes dengan balok penumpu tangga.1. sehingga reaksi tumpuan balok bordes langsung diterima balok penompu bordes.175. Maka sambungan baut hanya diperlukan praktis.48 4. ¾ Sambungan Baut Model mekanika tumpuan tangga menggunakan asumsi sendi pada tangga dan rol pada bordes.90. Sambungan las digunakan untuk menyambung balok tangga miring dengan balok tangga horizontal (bordes).11 Pot.

t = 10 mm I P o t.I .3 aeffsayap = 0.589cm E 70 XX 70.707.3 .4100.707.tf 0.70.707.64cm E 70 XX 70.1 aeffbadan = = = 0.9 0 .I B a lo k ta n g g a C h a n n e l 2 6 0 .1.1 0 .11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga Kontrol Sambungan Las Digunakan las mutu E70XX 0.70.tw 0.1 4 P la t p e n y a m b u n g T e b a l = 1 0 m m Gambar 4. fu.4100.49 ¾ Sambungan Las Sambungan antara balok – balok tangga direncanakan dengan menggunakan sambungan las.707. dengan ketentuan sebagai berikut : ƒ Mutu las E70 XX (fuw = 70 ksi = 4921 kg/cm2) ƒ Tebal pelat penyambung.4 = = 1. fu.

14 kg/ cm2 Sx 371 f total = fr 2 + fh 2 = 28.0.70.2)) = 55.4 cm2 Akibat Pu fr = Pu 1556.64 cm 0.6.71 kg/ cm2 te perlu = a perlu = f total 958.43 te = = 0.608cm < aeffmax = 1.8 cm = 8 mm .74 = = 28.2) + 23.8.1 kg/ cm2 A 55.12 + 958.707 0.75. digunakan a = 0.71 = = 0.4 Akibat Mu Mu 193341.707 Sehingga.32 = 958.(26+(0.9. fu 0.6 fh = = = 521.2) + (0.4.2 + (1.43cm ϕ .70.50 Dimisalkan dipakai tebal las (te = 1 cm) A = 1.3 0.

Gunung Garuda.bentang (span) = 2.71 = = = 3.ducting AC + pipa = 10 kg/m2 + Total beban finishing = 56 kg/m2 Beban Hidup Beban Hidup = 100 kg/m2 Beban superimposed/berguna = beban hidup + finishing = 100 kg/m2 + 56 kg/m2 = 156 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : . 4.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 1.tebal pelat beton = 9 cm .2.71 cm2/m .1 Pelat Lantai Atap Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.4 buah = 4 buah As 0.14 kg/m2 . dipasang tulangan tarik Ø 8-250 .aspal t = 2 cm = 2.51 4.24 mm2 = 0.2 Perencanaan Struktur Lantai Pada perencanaan struktur lantai direncanakan pelat lantai menggunakan bondex.tulangan negatif = 1.50 m .5024 cm2) .rangka + plafond = (11+7)kg/m2 = 18 kg/m2 .75 mm Pembebanan a.direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.Beban Superimposed (Berguna) Beban finishing : = 28 kg/m2 .5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 1000mm/4 = 250 mm Jadi. dimana dalam perencanaan ini bondek yang digunakan merupakan produk dari PT.

52
b.Beban Mati - Pelat lantai bondek - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3

= 10,1 kg/m2 = 216 kg/m2 + = 226,1kg/m2
Tulangan Ø 8 – 250mm Plat Bondex t = 0,75 mm

90 mm

Balok

Gambar 4.12 Potongan plat lantai Atap

4.2.2 Pelat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11 Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 kg/m2 - lantai keramik t = 1cm = 1.24 kg /m2 = 24 kg/m2 = 18 kg/m2 - rangka + plafond = (11+7)kg/m2 - ducting AC+pipa = 10 kg/m2 - dinding = 250 kgm2 Total beban finishing = 344 kg/m2
Beban Hidup Beban hidup = 250 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 250 kg/m2 + 344 kg/m2

= 594 kg/m2

Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

53
- bentang (span) - tebal pelat beton - tulangan negatif = 2,50 m = 9 cm = 3,25 cm2/m

- direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m =

A 3,25 = = 6,47 buah = 7 buah As 0,5024

Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi, dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3 = 10,1kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226,1kg/m2

90 mm

Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0,75 mm

Balok

Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11

54
4.2.3 Pelat lantai 2 Dipakai pelat bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 - lantai keramik t = 1 cm = 24 = 1.24 kg /m2 2 = 18 - rangka + plafond = (11+7)kg/m - ducting AC+pipa = 10 - dinding = 250 Total beban finishing = 344

kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kgm2 + kg/m2

Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 344 kg/m2 = 744 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berikut : - bentang (span) = 2,50 m - tebal pelat beton = 11 cm - tulangan negatif = 3,38 cm2/m - direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 3,38 = = 6,73 buah = 7 buah As 0,5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi,dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex = 10,1kg/m2 - Pelat beton t = 11 cm = 0,11m.2400 kg/m3 = 264 kg/m2+ = 274,1kg/m2

tebal pelat beton = 10 cm .5024 cm2) .24 mm2 = 0.75 mm Balok Gambar 4.spesi lantai t = 1cm = 1.4 Pelat Lantai Mesin Lift Dipakai pelat bondex dengan tebal pelat = 0.tulangan negatif = 3.11 cm2/m .bentang (span) = 2.75 mm Pembebanan a.14 Potongan plat lantai 2 4.Beban Superimposed Berat finishing : .55 m .banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m .55 100 mm Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.2.rangka + plafond = (11+7)kg/m .21kg /m2 = 21 2 = 18 .direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.ducting AC+pipa = 10 Total beban finishing = 49 Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban superimposed = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 49 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 + kg/m2 = 449 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .

sehingga mempunyai kekakuan yang cukup.56 = A 2.7 cm r = 16 mm W = 56. dengan data sebagai berikut : A = 72. Balok anak menumpu di atas dua tumpuan sederhana.16 cm2 ix = 16.75 mm Balok 100 mm Gambar 4.13.Beban Mati . balok anak direncanakan menggunakan profil WF 400.15 Potongan plat lantai mesin lift 4.1m.2400 kg/m3 = 10.dipasang tulangan tarik Ø 8-160 b.86 = = 5.3 Perencanaan Balok Anak Balok anak berfungsi membagi luasan lantai agar tidak terlalu lebar.48 cm h = d–2(tf + r ) = 396–2(11+16) = 342 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4100 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 – 700 = 1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 950 cm .5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 160 mm Jadi.200.69 buah = 6 buah As 0.Pelat beton t = 10 cm = 0.1 kg/m2 Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.1kg/m2 = 240 kg/m2+ =250.8.6 kg/m tw = 7 mm Zx = 1088 cm3 d = 396 mm tf = 11 mm Sx = 1010 cm3 Iy = 1450 cm4 bf = 199 mm Ix = 20000 cm4 iy = 4.Pelat lantai bondex . ditunjukkan perhitungan balok anak pada lantai 2. Pada perencanaan ini.

6 kg/m+ 681.04 kg/m Kombinasi Beban : qu = 1.2400kg/m3.4.Beban Mati .14 + 1029358Kgcm kgcm 1015367 Gambar.57 4.23 Kg kg 4334.2.2.85 kg/m 68.04 = 900.1 Kondisi Balok Anak Sebelum Komposit 1.5 m 950 cm B - 4275.23 Kg 4334.2.berat pelat bondex = 10. 750.14 Bidang D dan M pada komposit balok sebelum komposit .14 kg + 9.1 m.25 kg/m = = = = = 600 kg/m 56.0048 kg/cm A 4275.5 m .3.048 kg/m = 90.berat sendiri profil WF .5m .berat sendiri pelat beton = 0.2 qD = 1.681.85 kg/m qD = 25.19 kg/m+ 750.berat ikatan : 10 %.1 kg/m2.

10 6...0048..58 Momen yang terjadi: Mu = 1 ...90..86 < 106...05 < 10.. maka Mn = Mp ..l 4 ymaks = 384.........20000 = 2.q u .23 kg 2 ¾Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f '= L 950 = = 2.qu.qu..389 cm < f ' .(9..639 cm 360 360 5.950 = 4275..90..E.11 250 9.L 2 = 1 ..L2 8 = 1 .Ok ¾Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Sayap Untuk Badan bf 170 h 1680 ≤ ≤ 2tf tw fy fy 199 170 ≤ 2.25..ok Profil penampang kompak.Ix 5.2.....ok 342 1680 ≤ 7 250 48.0048.752.950 4 = 384.00048 ).. 9502 = 1015367 kgcm 8 Geser yang terjadi : Vu = 1.

41580kg ≥ 4275.13 didapatkan : Lp = 226. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lb < Lp (untuk bentang pendek). Lb < Lp → bentang Pendek. kuat nominal komponen struktur adalah : Mn = Mp = Zx .. Lr = 658. fy.. Aw = 0.003 cm.8.. ¾Kontrol Geser h 1100 ≤ tw fy 342 1100 ≤ 7 250 48.23 kg………..23 kg 37422kg ≥ 4275..57……Ok Vn = 0. fy = 1088 .5 cm (diambil sejarak pemasangan shear connector) Berdasarkan tabel profil untuk BJ 41 profil WF 400.6 .59 ¾Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 47.(39.200. 2720000 kgcm 1015367 Kgcm < 2448000 kgcm.Ok Penampang profil baja mampu menahan beban yang terjadi..7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0..0.9.9.. 2500 = 2720000 kg cm Persyaratan : Mu ≤ φMn 1015367 Kgcm ≤ 0.2500.357 cm Jadi...6..6...86 < 69..Ok .

950 2 = 13347.25 kg/m = 600 kg/m = 56.53 + 1. 21 kg/m2.60 4.2.2.berat rangka + plafond = (11+7)kg/m2.berat ikatan : 10 %.berat spesi 2 cm = 2.5m .6 kg/m = 105 kg/m = 60 kg/m = 45 kg/m = 25 kg/m+ = 916.5m .5m .3.2.28.6.berat sendiri profil WF .68 kg/m+ = 1008.2810.24.1kg/m2.2.1 m.berat ducting AC+pipa = 10 kg/m2.85 qD 2.berat keramik = 1. Beban Hidup : qL = 400 kg/m2.qu.2.berat sendiri pelat beton = 0.2 qD + 1.24 kg/m = 28.2.9502 = 3170302 kgcm 8 8 = 25.916.5 m .1000 = 2810.L2 = 1 .Beban Mati .6 qL = 1. 1008.85 kg/m = 91.berat pelat bondex = 10.2.5m .53 kg/m = 1000 kg/m Geser yang terjadi : Vu = 1 . qu.5 m .2 Kondisi Balok Anak Setelah Komposit ¾ Pembebanan setelah komposit 1.2.24 kg/m2.5 kg .1024 kg/cm Momen yang terjadi: Mu = 1 .1024.5 m Kombinasi Beban : qu = 1.L 2 = 1 .2400 kg/m3.

..237.11 250 9. fc'. C =C1 ( terkecil) = 180400 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 180400 = 3..beff = 0...5 = 504687...5 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.9500 mm = 2375 mm = 237.85....86 < 106.85.752..tplat.61 ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 199 170 ≤ 2.25.85. • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .5 kg C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.85..2500 = 180400 kg C2 = 0.10.5 .fy = 72.beff 0.ok 342 1680 ≤ 7 250 48.250.L = ¼.16.50 m = 2500 mm jadi beff = 2375 mm =237. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.05 < 10.ok Profil penampang kompak.5 cm beff ≤ S = 2.57 cm = 0.237.250.fc’.

.57 a = 4.Mn 3170302 kgcm ≤ 0.4079746 kgcm 3170302 kgcm ≤ 3467784 kgcm.0) = 4079746 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .85.fy = 72..16.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 180400 kg Py = As..15 potongan Balok anak 3...6 d3 = = = 19. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.815 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 39.815 + 0) + 180400 (19.8 cm 2 2 d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.8 ..6 = 2....2500 = 180400 kg Mn = 180400 (2.62 2375 mm 54 12 t = 46 mm t = 100 mm t = 400 mm Gambar 4. .

10 5 n = = = 8.713 Atr = btr.5 = 27.10 4 btr = = 237.26.6 cm beff • Menentukan letak garis netral Atr .713 Ec 2.5 cm (balok interior) Es 2.10 ⎛ 40 ⎞ ⎞ ⎛ 84. 25 = 2.t platbeton Yna = 2 ⎛ ⎛ d ⎞⎞ A t +⎜ + ⎜ ⎟ ⎜ s platbeton 2 ⎟ ⎟ ⎠⎠ ⎝ ⎝ ( Atr + As ) 272.6 .52 cm • Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi I tr = b tr (t pb ) 3 12 t pb ⎞ ⎛ ⎛⎛ d ⎞ ⎞ ⎟ + Ix + A s ⎜ + Atr ⎜ Yna − t Yna + − ⎟ ⎜ ⎟ pb ⎜ 2 ⎟ ⎜ 2 ⎟ ⎠ ⎝⎝ ⎠ ⎝ ⎠ 2 2 2 ⎛ ⎛ 40 ⎞ 27. 5 Ec = 0.69 cm4 .t plat beton = 27.041.5.1.24001.52 ⎟ ⎜ ⎟ 12 2⎠ ⎠ ⎝ ⎝⎝ 2 ⎠ 2 = 66148.63 ¾ Kontrol Lendutan • Menghitung luasan transformasi beton ke baja 1.41.wc .12 ) = 10. fc' = 0.041.26(10)3 10 ⎞ ⎛ ⎞ I tr = + 272.1.6⎜10.26 cm n 8.12 ⎜10 + ⎟ ⎟ +⎜ ⎜ 2 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ ⎝ = (272.12⎜ ⎜ + 10 ⎟ − 10.41.94 = 272.52 − ⎟ + 23700 + 84.104 Mpa Es = 2.10 5 Mpa beff = 237.6 + 84.

9504 = ymaks = 384... dimana: ≤ 1. untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan 2 a h ( ) kn = 5 .654 cm < f ' ..64 ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f ' = L = 950 = 2.639 cm 360 360 5....9.2.fy...1 7 2500 48. 41580 kg ≥ 13347...6388 + 10)..untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan h kn.E ....(2..6....Aw = 0.6.2500 (39..E sehingga : ≤ 1.ok ¾ Kontrol Geser Kuat geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).66148.. h kn.....6.E..7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0..0.(q DL + q LL ).106.10 6 ) 342 < 1.1 tw fy kn = 5 + 5 .Ok Vn = 0...1 tw fy 5.Ix 384.5 kg 37422 kg ≥ 13347.57..5 kg ………….l 4 5..(10.86 < 69..69 = 1.Ok ..

104 Mpa Qn = 0.5....53 25.923 .041 25 = 2..65 ¾Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan: ds = 19 mm Asc = 283.0.85 ⎛ 200 ⎞⎛ 100 ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 ⎟⎜ ⎜ 2 ⎝ 53 ⎠⎝ 53 ⎠ rs = = 1.53.1 = 11003....712 > 1→ diambil rs = 1 Qn’ = Qn.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0..2 Kg ...5 ...5.923 kg/stud ≤ 11341.10 4 = 110039.5.53 mm2 fu = 400 Mpa = 40 kg/mm2 Ec = w1....40 kg/stud 11003..041.2.Ok Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok.0...41....Ec = 0..923 kg/stud Syarat : Qn ≤ Asc.923 kg/stud ≤ 283.fu 11003.41. rs = 11003. hr = 54 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 46) = 54+46 = 100 mm ⎞ 0. fc '..Asc.Ok .23 N = 11003...923 Kg < 11341..2 kg/stud .283. fc ' = 24001.

8.8.200.6 Balok Anak WF 400.200. karena disesuaikan dengan anggapan dalam analisa sebagai sendi.13 Profil siku 60.16 Detail sambungan balok anak dengan balok Induk . Vu = 13407. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 950 P= = = 47.4cm Jadi.13 Baut M16 mm 50 100 50 50 100 50 Profil siku 60.616 kg Balok Utama WF 600.9 cm = 11.6 Balok Utama WF 600. dibutuhkan 20 buah stud untuk seluruh bentang.13.66 Jumlah stud untuk setengah bentang : Tmaks 210300 N= = = 9. 4.tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.13.5 Perencanaan Sambungan balok Anak dengan balok Induk Sambungan antara balok anak dengan balok induk direncanakan dengan baut yang tidak dapat memikul momen.923 Jadi.(diameter) = 6 x 1.60.60.5 cm N 20 Jarak maksimum (Pmaks) = 8. shear connector dipasang sejarak 47.200.11003.5cm sebanyak 20 buah untuk masing-masing bentang.56 ≈ 10 buah Qn 2.23 Baut M16 mm fu = 5000 Kg/m2 Balok Anak WF 400.200.23 Gambar 4.

2.01 cm2 ) m = 1 sisi .60.4 kg n= Vu 13407.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.67 Sambungan Plat Siku dengan Balok Anak Direncanakan : profil siku 60.db.60.4 .8.2.0.75.5 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf. fu (tebal plat sayap dipakai tp = 8 mm) = 0.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf. Abaut .5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2. fu .78 Vn 7537. 2.5 Dipasang 2 buah baut M16mm (Jumlah baut untuk 1 sisi) Sambungan Plat Siku dengan Balok Induk Direncanakan : profil siku 60.2 = 7537.616 = = 1.5. fu .01 cm2 ) m = 2 sisi Vn = 0.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2.4100 = 9446. r1 .1.01. m Dimana : r1 = 0.6. r1 .75.0.5000.4. Abaut . tp . m Dimana : r1 = 0.

6 = 1008 mm2 Kuat rencana : φRnv = φ.8 kg Vu 13407.1.fu (t plat sayap dipakai tp=6 mm) = 0.0.4.75.17 Detail pelat siku pada gelagar Luas bidang geser = Anv = Lnv.4100 = 7084.60.0.4.0.5.6.6.75.16).08 = 22680 kg .6.75.75 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.56 Vn 3768.5000.2.75 Dipasang 4 buah baut Ø16 mm (Jumlah baut untuk 2 sisi) n= Kontrol Plat Siku pada Gelagar Direncanakan : Profil siku 60.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) Luas bidang geser 50 100 50 Gambar 4.2.db.616 = = 3.t∟ = (200 – 2.fu.01.1 = 3768.0.An = 0.5000. 2.10.68 Vn = 0.tp .6.

.inside : 1600 x 1500 mm2 : 4300 x 2150 mm2 : 4300 x 2150 mm2 Beban reaksi ruang mesin : ¾ R1 = 6150 Kg (Berat mesin penggerak + beban kereta + perlengkapan) ¾ R2 = 4600 Kg (Berat bandul pemberat + perlengakapan) .69 Terdapat 2 siku.616 kg ≤ 45360 kg.6 Perencanaan Balok Lift Perencanaan balok lift meliputi balok – balok yang berkaitan denagn ruang mesin lift..OK 4... dengan data – data sebagai berikut : Tipe lift : Duplex Merk : Sigma Kapasitas : 15 orang Lebar pintu (opening width) : 900 mm Dimensi sangkar (car size) Dimensi ruang luncur Dimensi ruang mesin : ..616 kg ≤ φVn 13407....... Untuk lift pada bangunan ini menggunakan lift yang diproduksi oleh Sigma elevator company. 22680 kg = 45360 kg Persyaratan : Vu ≤ φRn 13407....outside : 1650 x 1665 mm2 .... yaitu terdiri dari balok penumpu dan balok penggantung lift.. sehingga 2 φRnv = 2.

beban yang bekerja pada balok adalah : P = ΣR .15.00 m/det. yang untuk keran induk dengan struktur rangka.3. k1 = koefisien yang bergantung pada kekakuan struktur keran induk.6.1 ) = 10750. Ψ = ( 6150 + 4600 ).3 Jadi.3. k2 = koefisien yang bergantung pada sifat mesin angkat dari keran angkatnya.6.78 = 19135 Kg . dan akibat bandul pemberat + perlangkapan.1. dan diambil sebesar 1.(3) PPIUG 1983 menyatakan bahwa beban keran yang membebani struktur pemikulnya terdiri dari berat sendiri keran ditambah muatan yang diangkatnya. Sebagai beban rencana harus diambil beban keran tersebut dengan mengalikannya dengan suatu koefisien kejut yang ditentukan dengan rumus berikut : Ψ = ( 1+k1k2v ) ≥ 1. dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.6. Beban yang bekerja pada balok penumpu Beban yang bekerja merupakan beban akibat dari mesin penggerak lift + berat kereta luncur + perlengakapan. 2. V = kecepatan angkat maksimum dalam m/det pada pengangkatan muatan maksimum dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.( 1 + 0.1 Perencanaan Balok Penggantung Lift 1.70 4. dan nilainya tidak perlu diambil lebih dari 1.1.15 Dimana : Ψ = koefisien kejut yang nilainya tidak boleh diambil kurang dari 1. pada umumnya nilainya dapat diambil sebesar 0. Koefisien kejut beban hidup oleh keran Pasal 3.

71 Balok Penggantung Lift Balok Penumpu Lift 1.4 cm W = 32 kg/m tw = 9 mm d = 298 mm tf = 13 mm b = 149 mm Ix = 6320 cm4 iy = 3.3 cm3 fr = 700 kg/cm2 fL = fy-fr = 2500 .8 cm2 ix = 12.18 Denah Lift 3.075 m 2.700 =1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 215 cm = 2.3 m Gambar 4.15 m .5 m Balok Anak 2.Data perencanaan Digunakan profil 300 x 150 x 8 x 13 A = 40.15 m 4.29 cm Iy = 442 cm4 h = d – 2(tf + r ) = 298 – 2(13 + 13) = 246 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4000 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 r = 13 mm Zx = 455 cm3 Zy = 91 cm3 Sx = 424 cm3 Sy = 59.

15 Berat aspal t = 2 cm = 2.15 kg/m2 Berat ikatan (10%) = 629.2.5 kg/m = 11.14.1 kg/m2 .6.2qD + 1.92 kg/m x10% . 215 = 1175.1.72 kg/m = 60.755 kg/cm P qu = 32 = 516 kg/m kg/m = 21.15 m = 215 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.6 qL = 1.2 kg/m + = 629.19 Sketsa mekanika perhitungan balok penggatung lift .91 kg/m A B Gambar 4.2.91 + 1.72 Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.15 Berat pelat combideck : = 10. 692.2.Beban terpusat lift P = 19135 kg • Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.2.2400.92 kg/m = 62.99 kg/m + qD = 692.

15 kg 1 1 quL2 + pL 8 4 1 1 = (11.....85.beff = 0.tplat.73 cm beff ≤ S = 1.75 < 106.ok 246 1680 ≤ 8 250 30...10.5 = 10831.075 m = 107.8.65 + 9567..73 = 114219 kg ...ok Profil penampang kompak.25.755)(215) 2 + (19135)(215) 8 2 = 1096428.5 mm jadi beff = 537.3 mm = 53.5 mm = 53.85..73 Vu = 1 1 quL + p 2 2 = 1263.2500 = 102000 kg C2 = 0...L = 537.73 < 10.fc’. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.11kgcm Mu = • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 149 170 ≤ 2.75. Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .13 250 5.53.250.fy = 40.73 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.

93 cm = 0.85.53 + 0) + 102000 (14.fy = 40.8 d3 = = = 14.8.2500 = 102000 kg d1 = tb Mn = 102000 (5. C =C1 ( terkecil) = 102000 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 102000 = 8.14 kgcm .4 = 5.20 Distribusi tegangan plastis 8.0) = 2084358.250.beff 0.53 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 29.53.85. fc'.74 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.9 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.73 beff btr 0.85 fc' tb GN komposit c d GN baja Py Gambar 4.93 a = 9.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 102000 kg Py = As.9 .

75 Syarat : Mu ≤ φ .Ok ¾ Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283.1 Kg .6 Kg ( fc'.5.896.6 ≤ 2.42 kgcm.10 6 x7210 384 2....2084358..9291+ 2.Mn 1096428 kgcm ≤ 0..10 6 x 7210 = 0.24001.2..85.....5........Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.....896 cm 240 240 4 3 f = 5 (q D + q L ) l + 1 Pl 384 EI x 48 EI x 3 4 = 5 (6.5 25 ( = 0.241029.Ec ) = 24102.041....5 Qn = 0..fu 11004. ¾ Kontrol Lendutan f ' = L = 215 = 0...14 kgcm 1096428 kgcm ≤ 1771704..4000 11004.8 = 110046 N = 11004..98 Mpa ) Qn ≤ Asc.8353 250......8353.6 Kg ≤ 11341. Asc fc ' = 0....041.OK .. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi..15)215 + 23 19135x 215 648 2.361 < 0.53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0...Wc 1...

OK Vh = C = 102000 kg Jumlah stud untuk setengah bentang : N = Vh /Qn = 102000 = 5 buah 2.76 Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok..5 cm P= = N 10 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.4cm Jadi.11004.85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ rs = ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1....(diameter) = 6 x 1....6 Jadi.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 215 = 21.. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 54+40 = 94 mm rs = ⎞ 0. shear connector dipasang sejarak 21..712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn. .... rs = 11004. dibutuhkan 10 buah stud untuk seluruh bentang.6 Kg < 11341..1 = 11004.6.1 Kg .tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6..9 cm = 11...5 cm sebanyak 10 buah untuk masing-masing bentang.

.. sehingga 246 5(2.4 kg/m tw = 6 mm d = 346 mm tf = 9 mm b = 174 mm Ix = 11100 cm4 iy = 3. 35760 Kg 10831...15 Kg ≤ 31184 Kg .. OK Vn = 0.6.. untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan. Data perencanaan Digunakan profil WF 350 x 175 sebagai berikut : A = 52.OK 4.Aw = 0. untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan.29.6..2 Perencanaan Balok Penumpu Lift 1.. k .1 8 2500 31 ≤ 69..15 Kg ≤ 0....1 n tw fy Dimana..8.6...68 cm2 ix = 14. dengan data r = 14 mm Zx = 689 cm3 Zy = 139 cm3 Sx = 641 cm3 h = 300 mm .. kn = 5 + ( h) a 5 2 ..8 cm2 = 35760 kg Persyaratan : Vu ≤ φVn 10831.10 6 ) ≤ 1.5 cm W = 41....E h ≤ 1.88 cm Iy = 792 cm4 x 6 x 9 ..... kn =5.....9...fy.77 ¾ Kontrol geser Kuat geser balok bergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).2500 kg/cm2.57..0.

1 kg/m2 .6.700 fu = 4000 kg/cm2 2 = 1800 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm Panjang balok anak (L) = 2500 mm = 2.1.2.5 m Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.78 BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 .65 kg/m x10% = 41. 810.65 kg/m = 73.38 kg/m P x1 qu x2 A B Gambar 4.5 kg/m2 Berat ikatan (10%) 736.5 Berat pelat combideck : = 10.5 Berat aspal t = 2 cm = 2.50 m = 250 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.25 kg/m = 70 kg/m + = 736.6 qL = 1.32 + 1.67 kg/m + qD = 810.14.21 Sketsa mekanika perhitungan balok penumpu lift .30 kg Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.250 = 1372.Beban terpusat akibat reaksi balok penggantung lift P = 21662.32 kg/m .2 qD + 1.2.2.2400.4 = 600 kg/m kg/m = 25.2.

79

Σ MB = 0 VA.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,425 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,425 VA = = 14062 ,99 Kg 2,5
Σ MA = 0 VB.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,075 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,075 VB = = 11030 ,26 Kg 2,5
Dx1 = +14062,99 – qx1 x1 = 0 → DA = 14062,99 Kg → Dc = 12587,68 Kg x1 = 1,075 Mx1 = 14062,99 x1 – qx1.0.5x1 → MA = 0 x1 = 0 → MC = 14324,73 kgm = 1432473 kgcm x1 = 1,075 Dx2 = - 11030,26 + qx2 x2 = 0 → DB = - 11030,26 Kg → DC = - 9074,62 Kg x2 = 1,425 Mx2 = +11030,26 x2 – q.x2.0,5.x2 x2 = 0 → MB = 0 → MC = 14324,73 Kgm =1432473 kgcm x2 = 1,45 • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy

175 170 ≤ 2.9 250
9,67 < 10,75.......ok

300 1680 ≤ 6 250 50 < 106,25.......ok

Profil penampang kompak, sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis

80
Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .L = 625 mm = 62,5 cm beff ≤ S = 2,15 m = 21,5 cm jadi beff = 625 mm = 62,5 cm
• Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.fy = 52,68.2500 = 131700 kg C2 = 0,85.fc’.tplat.beff = 0,85.250.10.62,5 = 132813 kg C3 =

∑ Qn → ( C
n =1

N

3

tidak menentukan )

Jadi, C =C1 ( terkecil) = 131700 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

a=

C 131700 = 9,92 cm = 0,85. fc'.beff 0,85.250.62,5
beff btr
0,85 fc'

tb

GN komposit

c

d

GN baja

Py

Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis

81
9,92 a = 10 = 5,04 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 34,6 d3 = = = 17,3 cm 2 2
d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 131700 kg Py = As.fy = 52.68.2500 = 131700 kg Mn = 131700 (5,04 + 0) + 131700 (17,3 - 0) = 2942425,91 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .Mn 1432473 kgcm ≤ 0,85.2942425,91 kgcm 1432473 kgcm ≤ 2501062,02 kgcm..........Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

Kontrol Lendutan L 250 f = = = 1,042 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 0,172 cm ≤ f ijin.....................Ok - Kontrol Kuat Rencana Geser h ≤ 1100 tw fy0,5 300 ≤ 1100 6 2500,5 50 < 69,57 .........................plastis

.241029..85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ rs = − 1 ⎟⎜ h ⎟ ≤1 h Nr ⎜ ⎝ r ⎠⎝ r ⎠ .8353 250.8353.5 kg < 28026 kg..24001......2..Ec ( = 0....82 Vn = 0...6 = 31140 kg φVn = 0..041.6 ≤ 2.1 Kg .....0.5.98 Mpa Qn = 0..fu 11004.Wc1.8 = 110046 N= 11004.....6.. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 53+40 = 93 mm ⎞ 0.4000 11004..5 25 = 24102.041.. Asc fc'.5.6 x fy x Aw = 0.9 x 31140 = 28026 kg Syarat : Vu ≤ φVn 1715...6 x 2500 x 34.....6 Kg Qn ≤ Asc.OK Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283.6 Kg ≤ 11341..53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0.....OK ( ) ) Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok...5 fc' = 0.

.6.712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn..83 cm P= = N 12 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.9 cm = 11..6 Kg < 11341..tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6... Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 250 = 20.83 cm sebanyak 12 buah untuk masing-masing bentang... shear connector dipasang sejarak 20..1 Kg ...1 = 11004.6 Jadi..85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1.4cm Jadi.. dibutuhkan 12 buah stud untuk seluruh bentang. .. OK Jumlah stud untuk setengah bentang : 131700 N = Tmaks/Qn = = 6 buah 2...11004.....83 rs = 0. rs = 11004...(diameter) = 6 x 1...

84 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

2.1 Umum Merencanakan beban gempa adalah bertujuan untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan peraturan untuk dibebankan kedalam struktur gedung. waktu getar alami fundamental (T).2 .2 Pembebanan Untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan SNI 03-1726-2002.Tebal pelat bondek lantai 1.25 m .Profil balok induk 2 WF 400x200x8x13 : .1.Tebal pelat bondek lantai 2 : 11 cm . dimana kontrol – kontrol tersebut terdiri dari kontrol nilai gaya geser dasar (base shear).Profil balok anak K 500x200x10x16 : . Beban gempa rencana dicek terhadap kontrol – kontrol sesuai peraturan gempa yaitu SNI 031726-2002.Tebal pelat bondek lantai atap : 9 cm .6. dan simpangan (drift).Tinggi tipikal lantai : 4. .Mutu baja : Bj 41 . 5.85 BAB V PEMBEBANAN DAN ANALISA STRUKTUR 5.6.2.Profil balok induk 1 : WF 500x200x10x16 WF 500x200x9x14 : .1 Data Gedung Data – data gedung yang akan dibutuhkan dalam penghitungan Vstatis adalah sebagai berikut.0 dan membandingkan besaran Vdinamis tersebut dengan Vstatis yang akan diperhitungkan di bawah ini sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps.3-14 : 10 cm .Mutu beton (fc’) : 25 MPa .1. dan nilai Vstatis ini harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung ke masing – masing lantai sesuai SNI 03-17262002 Ps. maka terlebih dahulu dicek besarnya Vdinamis yang telah didapatkan dengan bantuan program ETABS v9. 5.Profil kolom .

Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.1 40 x 27 x 0.86 .2 Perhitungan Berat Struktur Beban gravitasi berupa beban mati dan beban hidup yang yang bekerja di tiap lantai/atap.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.3.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300.25 × 0.5 40 × 27 × 10.5 320.3.4672 × 2400 × 20 40 × 89.5 Tabel 3. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl1 = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.10 x 2400 (80+54) × 4.I Denah gedung terlampir.3.75 x Wl1 = 0.2 × 20 4.Wilayah Gempa . : : : WG3 Tanah keras 1 5.2.75 × 270000 = 202500 Kg .Kategori tanah . Wl1 = 0.7 × 66 395.8 Kg Wd1 Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah. maka total beban hidup (Wl1) menjadi.25 × 179. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0. a) Lantai 1 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.6 255 × 79.2 Kg = 395 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 678805.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.

5 40 × 27 × 10.5 Tabel 3.25 × 179.5 Kg = 10908 Kg = 285120 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 704725.11 x 2400 (80+54) × 4. Wl2 = 0.5 320. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.8 Kg b) Lantai 2 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.3.3.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.8 Kg .2 Kg = 395.6 255 × 79.75Wl2 = 0.8 + 324000 = 1028725.3.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.75 × 432000 = 324000 Kg Sehingga berat total lantai 2 Wt2 = Wd2+ Wl2 = 704725. Beban hidup : 40 × 27 × 400 Wl2 = = 432000 Kg 432000 Kg Menurut PPIUG Ps.87 Sehingga berat total lantai 1 Wt1 = Wd1 + Wl1 = 678805.1 40 x 27 x 0.7 × 66 395. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.4672 × 2400 × 20 40 × 89.8 + 202500 = 881305.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd2 = 15232 Kg = 95300.25 × 0.2 × 20 4. maka total beban hidup (Wl2) menjadi.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.

4672 × 2400 × 20 40 × 89.75 × 270000 = 202500 Kg Sehingga berat total lantai Wt = Wd + Wl = 678805.25 × 0.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.5 320.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.3.75Wl = 0. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.7 × 66 395.5 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg Wd = 678805. maka total beban hidup (Wl) menjadi Wl = 0.84 Kg .8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.10 x 2400 (80+54) × 4.5 Tabel 3.3.3.2 Kg = 395.2 × 20 4.25 × 179. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.8 + 202500 = 881305.5 40 × 27 × 10.1 40 x 27 x 0.88 c) Lantai 3-11 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.6 255 × 79.

7 × 66 448. Wl12 = 0.2 × 20 2.09 x 2400 (80+54) × 4. Beban hidup : 40 × 27 × 100 = Wl15 = 10800 Kg 10800 Kg Menurut PPIUG Ps.89 d) Lantai 12 (Atap) Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok lift Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Aspal t = 1 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : 2.6 255 × 79.75 × 108000 = 81000 Kg Sehingga berat total lantai 12 menjadi.3.5 320. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.5 Tabel 3.1 40 x 27 x 0.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.2 Kg = 448.4672 × 2400 × 20 40 × 89.5 Kg .75Wl12 = 0.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.1 40 × 27 × 10. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.3 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.3.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd1 = 7616 Kg = 47650.3.125 × 179.125 × 0. maka total beban hidup (Wl15) menjadi.1 Kg = 10908 Kg = 233280 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 15120 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 564139.5 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.5 + 81000 = 645139. Wt12 = Wd12+ Wl12 = 564139.

058 8813.75 8.3 Pembebanan Gempa Dinamis Pembebanan gempa secara dinamis menggunakan bantuan program ETABS v9.058 8813.058 8813.0 dengan analisa dinamis respons spektrum.1 berikut ini : Tabel 5.2.058 8813.395 8813.75 25.90 Ringkasan berat bangunan dinyatakan dalam Tabel 5.258 8813.25 17 12. Sebelumnya dilakukan permodelan 3D struktur dai gedung apartemen Albergo terlebih dahulu.75 42.058 8813.058 Σ 104869. struktuk gedung tersebut dimodelkan sebagai berikut : .058 10287.058 8813.5 21.1 Berat struktur per lantai Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Tinggi hx (m) 51 46.5 4.238 5.058 8813.5 38.25 Berat Lantai Wx (kN) 6451.058 8813.25 34 29.

1 Pemodelan Struktur .91 Denah Lantai Arah y Arah x Gambar 5.

92 Gambar 5. pengaruh pembebanan gempa rencana dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa yang arahnya tegak lurus dengan arah utama dengan efektifitas 30%.3.8. Untuk mensimulasikan arah pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap struktur gedung. .1 Arah Pembebanan Beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan terjadi dalam arah sembarang (tidak terduga) baik dalam arah x dan y secara bolak balik dan periodikal.2.2 Permodelan stuktur 3D 5. Menurut SNI 031726-2002 ps 5.

Gambar 5. Dimana pada perencanaan gedung ditetapkan Respon Spektrum gempa Rencana Wilayah Gempa 3 pada tanah keras. Respon Spektrum gempa rencana untuk masing masing wilayah gempa ditetapkan grafik nilai C-T dalam Gambar 2 SNI 031726-2002.Gempa Respon Spektrum Y : 100% efektifitas untuk arah Y dan 30% efektifitas arah X 5.93 .Gempa Respon Spektrum X : 100% efektifitas untuk arah X dan 30% efektifitas arah Y .3 Grafik nilai C-T zona gempa 3 .2 Faktor Respons Gempa (C) Faktor Respon Gempa (C) dinyatakan dalam percepatan gravitasi yang Nilai Faktor Respon Gempa (C1) bergantung pada waktu getar alami struktur gedung dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respon gempa rencana.3.

1 b atau ed = 1.5 e + 0.3.3.2. bahwa antara pusat massa dan dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana ed sebagai berikut. 5.4 Menentukan Eksentrisitas Rencana Bangunan (ed) Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps.17 e – 0.94 Pada gambar dapat dilihat untuk menentukan nilai faktor respon gempa (C1) pada tanah keras didapat dengan nilai 0.1 menyatakan bahwa analisis Respons Spektrum Gempa Rencana. 5.3 b.33 e + 0. maka : ed = 1.3 b. maka nilai C harus dikalikan faktor pengali percepatan gravitasi sebesar 9.1 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya ⎞ ⎛1 ex = ⎜ × b ⎟ − xcr ⎠ ⎝2 ⎛1 ⎞ e y = ⎜ × L ⎟ − ycr ⎝2 ⎠ .4.81 m/s. nilai ordinatnya harus dikalikan dengan I/R. maka : ed = 1.05 b atau ed = e – 0.23 dimana T adalah waktu getar alami struktur gedung yang T didapat dari hasil analisa struktur setelah men-define Respon Spektrum Rencana dan mengeplot grafik C-T pada analisa Respon Spektrum. − Untuk 0 < e ≤ 0. Lalu karena nilai C dinyatakan dengan percepatan gravitasi.3 Respon Spektrum Rencana Menurut SNI 03-1726-2002 ps 7.05 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya − Untuk e > 0. 5.

500 13.002 20.000 20.500 13. yaitu koordinat x = xcr + edx koordinat y = ycr + edy Setelah koordinat pusat massa diperoleh.2.001 Ycr (m) 13.001 20.500 13.500 13. kemudian dilakukan analisa kembali.001 20.5 ey + 0.05 b edy = 1.5 ex + 0.95 Dimana kedua nilai diatas diambil harga mutlaknya. maka nilai ed untuk masing – masing arah dapat dihitung dan ditabelkan sebagai berikut : .500 13.002 20.001 20.000 20.001 20.0 didapat nilai Xcr dan Ycr yang ditabelkan sebagai berikut : Tabel 5.05 L maka didapatkan suatu titik koordinat pusat massa.001 20.500 13.500 13.500 Berdasar rumus diatas. maka massa dari tiap – tiap lantai diletakkan pada titik koordinat tersebut.000 20.001 20.500 13. Dan dari hasil analisa ETABS v9.500 13.500 13.2 Nilai Xcr dan Ycr Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Xcr (m) 20. sehingga edx = 1.500 13.

4 Kontrol Waktu Getar Alami Fundamental (T) T dihitung dengan menggunakan rumus empiris Method A dari UBC 1997 Section 1630.50 13.50 0.002 20.001 20.85 5. Dengan nilai ζ dari Tabel 8 SNI 03-17262002 dan n adalah jumlah lantai dari gedung yang akan ditinjau.50 13.35 1.35 1.000 22.001 -0.999 1.35 1.997 2.000 22.999 1. .35 1.85 14.000 -0.50 13.85 14.000 1.000 22.2 dengan tinggi gedung 51 meter.000 22.002 0.35 1.50 13.002 -0.35 1.85 14.001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.50 13.001 20.96 Tabel 5. maka kontrol waktu getar alami fundamental (T) menjadi.50 13.000 22.002 20.85 14.001 20.000 22.999 1.85 14.001 -0.000 20.000 1.50 13.999 1.000 21.2.000 20.35 1.85 14.001 20. nilai waktu getar alami fundamental (T) dari struktur gedung harus dibatasi.999 22.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan Lantai B (m) L (m) Xcr (m) Ycr (m) ex (m) ey (m) edx (m) edy (m) koord x (m) koord y (m) 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 20.001 13.35 1.001 20.85 14.001 -0.001 20.85 14.000 -0.35 1.85 14.999 22.50 13.35 1.85 14.35 1.50 13.001 -0. Pada arah X Tx = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.50 13.000 1.85 14.000 22.999 2.999 1.18 dan nilai n = 12.35 22.000 21.000 -0.15 detik Pada arah Y Ty = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.997 1.50 13.001 -0.000 20.000 14.001 0.15 detik Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel. T<ζn Untuk WG 3 maka nilai ζ = 0.999 1.

97 • Arah x Tx = 1.2 × 1 Vxs = x Wt = × 104869. Dengan nilai waktu getar alami fundamental (T) perkiraan awal dengan rumus empiris sebagai berikut.15 < (0.18x12) = 2.15 detik Maka dari Gambar 5. maka didapatkan output untuk nilai gaya geser dasar (base shear) sebagai berikut.238 kN − Untuk arah x C I 0.2 dan Cx = 0.39 Kg = 599.7639 kN Vyd = 58776. Ty = 1..15 detik Tx = 1.238 = 3495.16 detik ……….. tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang pertama. 7.1.64 kN R 6 Setelah dilakukan analisa struktur dengan asumsi – asumsi yang telah dijelaskan diatas.18x12) = 2. 5.3.15 < (0. beradasarkan waktu getar alami fundamental struktur gedung masih memenuhi batas kontrol waktu getar alami. sesuai SNI 03-1726-2002 Ps.2 Dari tabel 5.16 detik ……….OK • Arah y Ty = 1.41 Kg = 587.238 = 3495.OK Sehingga.2 × 1 Vys = Wt = × 104869.Untuk arah y CyI 0.7641 kN .64 kN R 6 . Vxd = 59976.5 Kontrol Gaya Geser Dasar (Base Shear) Nilai akhir respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat Gempa Rencana dalam suatu arah tertentu.1 didapat nilai Wx = Wt = 104869.1 didapat nilai Cy = 0.

...Not OK! Maka untuk arah y....8V1 ≥1 Vt Dimana : V1 = Gaya geser dasar nominal sebagai respon dinamik ragam pertama Vt = Gaya geser dasar nominal yang didapat dari hasil analisa ragam spektrum respons yang telah dilakukan Sehingga dengan cara tersebut didapat nilai FS untuk masing – masing arah pembebanannya..7639 ..8V xs 599. FS = 0.98 Maka untuk arah x. ......71 V yd 587..3.. V xd ≥ 0..3 gaya geser tingkat nominal akibat pengaruh gempa rencana sepanjang tinggi struktur gedung hasil analisis ragam spektrum respon dalam suatu arah tertentu harus dikalikan nilainya dengan suatu faktor skala. V yd ≥ 0 .... ... . maka dilakukan analisa struktur ulang dengan mengalikan faktor diatas pada scale factor untuk Define Respons Spectra.512 FS = = = 4.... Nilai skala tersebut adalah sebagai berikut : .8V ys 2765 .. 7. maka menurut SNI 03-1726-2002 ps 7..512 kN.8V ys 587.....512 kN.Untuk arah y 0..66 V xd 599.. ..7639 kN < 2796..512 FS = = = 4.8V xs 2796.Not OK! Sehingga untuk memenuhi persyaratan SNI 03-1726-2002 Ps.7641 Setelah didapat nilai – nilai skala untuk masing – masing arah pembebanan..Untuk arah x 0.....1..7641 kN < 2796. Kemudian dilakukan running program ulang sehingga didapatkan output sebagai berikut : .2.

596052 0.3130 0.4192 78.0935 95..554149 0..53 88.9405 92...0000 9.258883 0..9405 92. 7..6998 92.8772 92.8V xs 2800.8969 0.8V ys 2798.0000 78..230644 1.0000 0.3687 kN Maka untuk arah x.58 Kg = 2800..4192 78. V xd ≥ 0.0632 0..0935 95..3687 kN > 2796. 5.335163 0.6999 95.422585 0..0000 0...0002 4. gaya gempa dari spektrum respon dinamik tersebut selanjutnya digunakan sebagai beban gempa desain struktur.10 Kg = 2798..27223 0.512 kN.8772 88.4207 88.OK! Maka untuk arah y. V yd ≥ 0...1696 0..4192 0.9405 95..6 Kontrol Partisipasi Massa Sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps...0000 78..2535 78.0015 10.8772 88.0001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0...9158 kN > 2796....0000 0.512 kN... .9803 78. Tabel 5...220727 0.4 Modal Participating Mass Ratio Mode Period UX UY UZ SumUX SumUY SumUZ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2.2.0936 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 .0000 4.2535 95.99 Vxd = 280091.429487 2..53 88..0001 2.769604 0..6998 92.0000 0. .0000 2...9803 78.5302 92.OK! Sehingga..0000 0.0000 78.3936 0.9803 0.9803 88.0000 0.396882 0...1093 0...9158 kN Vyd = 276249.0000 0.71274 0.1 jumlah ragam vibrasi (jumlah mode shape) yang ditinjau dalam penjumlahan respons ragam harus sedemikian rupa sehingga partisipasi massa (Modal participating Mass Ratios) dalam menghasilkan respons total harus mencapai sekurang – kurangnya 90 %..

69% 11.038156 0.198843 2.0936 % untuk arah Y.596052 0.676495 1.061719 0. harus dilakukan dengan metoda Kombinasi Kuadratik Lengkap (CQC). penjumlahan respons ragam dapat dilakukan dengan metoda Akar Jumlah Kuadarat (SRSS).258883 0.230644 0.2. Tabel 5.45% 67.784545 0.88% 5.025703 0.2 untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu-waktu getar alami yang berdekatan yaitu apabila selisih nilainya kurang dari 15 %.554149 0.33% 6.35% 78.2535 % untuk arah X dan 95.17% 2.220727 3.396882 0.013347 0.769604 0.29% 6. 7.116688 0.2. 5.57% 17.062933 0.429487 0. Untuk Struktur gedung yang memiliki waktu getar alami yang berjauhan.6 Metode Penjumlahan Respons Ragam Menurut SNI 03-1726-2002 Ps.712740 0.173467 0.1 dapat dipenuhi.82% 1.4 didapatkan bahwa dalam penjumlahan respons ragam menghasilkan respons total mencapai 95.272230 0.335163 0.5 Selisih Periode Antar Mode yang Berdekatan Mode Periode (sec) Selisih % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2.056864 0. 7. Dengan demikian ketentuan menurut SNI 03-1726-2002 Ps.65% 19.422585 0.67% .100 Dari Tabel 5.

101
Karena selisih waktu getar alami dominan kurang dari 15%, maka metoda penjumlahan ragam respons menggunakan metoda CQC.

5.7 Simpangan Antar Lantai
Simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum, Δm, dihitung sebagai berikut: Δm = 0,7 RΔs Dengan R adalah factor modifikasi respons (table 12.2-1). Δs adalah respons statis simpangan elastic struktur yang terjadi di titik-titik kritis akibat beban gempa horizontal rencana.Simpangan elastis struktur dihitung menggunakan analisa dinamis.

¾ Batasan simpangan antar lantai
Simpangan antar lantai yang dihitung berdasarkan persamaan diatas tidak boleh melebihi 2,5% dari jarak lantai untuk struktur dengan waktu getar dasar lebih kecil daripada atau sama dengan 0,7 detik, sedangkan untuk struktur bangunan dengan waktu getar dasar lebih besar daripada 0,7 detik, simpangan antar lantai tersebut tidak boleh melebihi 2,0% dari jarak antar lantai, secara singkat batasan simpangan antar lantai dapat dituliskan :

2,5 xh 100 2,0 T ≥ 0,7 detik, maka Δm ≤ xh 100
T ≤ 0,7 detik, maka Δm ≤

102 Simpangan Elastis Struktur
Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps. 8.1.2, simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung tidak boleh melampaui 0.03 dikali tinggi antar tingkat atau dibatasi sebesar 30
R

mm diambil nilai yang terkecil. Nilai R didapat sebesar 6 sehingga batasan Simpangan elastis struktur gedung didapat : - Untuk h = 4,25 m : Δs = 0,03 × hi = 0,03 × 4,25 = 0,02125 meter = 21,25 mm R 6 Nilai simpangan struktur gedung didapat dari hasil running ETABS v9.2.0 dengan memilih satu titik pada setiap gedung yang direncanakan. Sedangkan nilai simpangan antar tingkat diambil dari selisih nilai simpangan antar gedung yang terjadi. Nilai simpangan gedung yang terjadi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.6 Simpangan
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 ∆x (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25.0 19.4 13.4 7.5 2.4 ∆y (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4

Setelah didapat nilai simpangan gedung, ditinjau nilai Δs antar tingkat arah X dan arah Y dapat diperoleh pada tabel berikut :

103
Arah x : Tabel 5.7 Analisa ∆s akibat gempa arah x
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25 19.4 13.4 7.5 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 2.1 2.8 3.4 4.1 4.7 5.1 5.6 6 5.9 5.1 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Arah y :
Tabel 5.8 Analisa ∆s akibat gempa arah y
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.6 2.2 2.8 3.6 4.1 4.8 5.3 5.7 6 6 5.2 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

52 25.1 5. Δm. dihitung sebagai berikut: Δm = 0.9 5.1 simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.7 detik.25 34 29.1 2.7 5.104 Dari tabel tersebut dapat dilihat nilai simpangan antar tingkat dalam arah X maupun arah Y tidak ada yang melebihi syarat batas yang telah ditentukan.42 10.74 21.75 42.82 11.78 21.25 17 12.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .4.20 24.0 T ≥ 0.28 17.5 38.15 detik 2.5 21.5 2. maka Δm ≤ xh 100 2.9 Analisa ∆m akibat gempa arah x Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.1 4.75 8.6 6 5.0 Δm ≤ x 4.1 2.7 RΔs Dengan batasan simpangan antar lantai : Waktu getar dasar yang terjadi T = 1. ¾ Simpangan Antar Lantai Sesuai SNI 1729 Pasal 15.4 4.085 m = 85 mm 100 Nilai simpangan antar tingkat dapat diperoleh pada tabel berikut : Arah x : Tabel 5.76 14.8 3.5 4.42 23.30 8.75 25.25 m = 0.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.22 19.

25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.7 6 6 5.75 42.24 11.2 2.5 4.8 5.25 34 29.26 23.72 9.8 3.75 25.2 2.84 10.10 Analisa ∆m akibat gempa arah y Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.5 21.94 25.6 4.22 20.6 2.76 15.20 21.16 22.105 Arah y : Tabel 5.3 5.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .5 38.12 17.25 17 12.75 8.1 4.20 25.

106 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

6 kg/m tw = 10 mm Zx = 2096 cm3 d = 500 mm tf = 20 mm Zy = 332 cm3 Sx = 1910 cm3 b = 200 mm Ix = 47800 cm4 .5 cm r = 20 mm A = 114.10.20. Pada perhitungan berikut Balok Induk direncanakan dengan profil WF 500. Adapun data – data profil adalah sebagai berikut : ix = 20. ditunjukkan contoh perhitungan balok Induk pada lantai 1 dengan kode balok B-23.1 Denah Pembalokan lantai Pada perencanaan ini. Panjang balok (L) = 1000 cm.1 Perencanaan Balok Induk Gambar 6.200.107 BAB VI PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA 6.2 cm2 W = 89.

..75 250 fy Pelat badan : h h 428 < λp. termasuk penampang kompak....25 Jadi.80 tw tw 10 λp = 1680 fy = 1680 250 = 106.2.......0 untuk batang B-23.... maka Mnx = Mpx .1.tf 2.25 2..... didapatkan : Mmax (-) = 2850308..765 cm f < f ' .2....56 Kg L = 1000 cm ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin (f’) adalah f '= L 1000 = = 2..OK ¾ Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Pelat Sayap : bf bf 200 < λp ...16 170 170 λp = = = 10.78 cm 360 360 Lendutan yang terjadi (ETABS v9.0) f = 0...1 Kondisi Balok Utama Sebelum Komposit Dari hasil output ETABS v9...OK = = 42.tf 2.21 Kgcm Vu (-) = 13797...108 iy = 4.OK = = 6......33 cm h = 428 mm Iy = 2140 cm4 Sy = 214 cm3 6..

5 My MR = (fy-fr)Sx = 1800. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lr > Lb > Lp.5Mmaks + 3M A + 4 M B + 3M C 12.21 ) + (3.93 < 2.93 My = Sx. kuat nominal komponen struktur adalah : ⎡ ( Lr − Lb) ⎤ Mn = Cb ⎢ M r + ( M p − M r ) ≤ Mp ⎥ ( Lr − Lp ) ⎦ ⎣ MA = 1990319.20 didapatkan : Lp = 215.06 Kgcm Cb = = 12.24 Kgcm MB = 1135694.71 ) + (3.10.24 ) + (4.1135694.5Mmaks ≤ 2.5.Zx = 2500 .549 cm.1990319.749 cm Jadi.3 2. 1910 = 3438000 kgcm . Lr > Lb > Lp → bentang Menengah.2850308.286624.2850308.109 ¾ Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 250 cm Berdasarkan tabel untuk BJ 41 profil WF 500.5.200.06 ) = 1. 2096 = 5240000 kgcm < 1.fy = 1910 .21 (2. Lr = 643. 2500 = 4775000Kgcm Mp = fy.3 → dipakai 1.71 Kgcm MC = 286624.

.. 5240000 kgcm 2850308..2500 kg/cm (42.21 Kgcm < 4716000 kgcm..fy. k ..8...21 Kgcm ≤ 0..1 10 2500 42.93⎢3438000 + (5240000 − 3438000) ⎥ ≤ Mp − ( 643 ...749 − 250) ⎤ Mn = 1. 549 ) ⎣ ⎦ = 9828385. ¾ Kontrol Geser Kontrol geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw). Sehingga.... 5(2..6..9. kn = 5 + ..110 ⎡ (643...... untuk balok dengan pengaku vertikal 2 a h ( ) pelat badan..6..8 ≤ 69.Aw = 0..10 6 ) 428 ≤ 1...1) cm2 = 64200 kg .... kn =5....E h ≤ 1. untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan...92 kgcm > 5240000 kgcm Dipakai Mn = Mp = 5240000 kgcm Persyaratan : Mu ≤ φMn 2850308.57. 749 215 ....1 n tw fy 5 Dimana... OK Vn = 0.OK Jadi Penampang profil baja sebelum komposit mampu menahan beban yang terjadi..

..752..85.. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis...L = ¼....111 Persyaratan : Vu ≤ φVn 13797...2 Kondisi Balok Utama Setelah Komposit ¾ Zona momen Positif Dari hasil output ETABS v9...fc’..2500 = 285500 kg C2 = 0..2...56 Kg < 57780 kg .25...250.ok 428 1680 ≤ 10 250 42...0 didapatkan momen positif adalah Mmaks = 3269371.8 < 106. L = 1000 cm beff ≤ ¼ .ok Profil penampang kompak..56 Kg ≤ 0..1000 cm = 250 cm jadi beff = 250 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As....250 = 531250 kg .OK 6.1.25 < 10. 64200 Kg 13797.16 250 6...beff = 0.2.9.. ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 200 170 ≤ 2.fy = 114.....10.85.38 Kgcm (batang B-23).tplat....

C =C1 ( terkecil) = 285500 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 285500 = 5. fc'.85.beff 0.713 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 50 d3 = = = 25 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 285500 kg Py = As.250 beff = 2375 mm t = 100 mm 54 mm d Gambar 4.112 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.2500 = 285500 kg .4 = 4.fy = 114.85.15 Potongan balok Induk d1 = tb - 5.379 cm = 0.379 a = 9.2.250.

5 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .32 Kg Gaya tekan nominal maksimum dalam penampang baja Pyc = As .75 mm fyr = 240 Mpa ts = 100 mm ¾ Menentukan Lokasi Gaya Tarik pada Balok Baja Batang tulangan menambah kekuatan tarik nominal pada pelat beton.1000 cm = 250 cm tbondex = 0. 0.713 + 0) + 285500 (25 .8483061. ¾ Zona momen negatif Dari hasil output program ETABS v9. 2500 = 285500 Kg .. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi. fyr = 17.2..Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor. Tc = Asr ..38 kgcm ≤ 7210602.85.5 kgcm 3269371.0 didapatkan momen negatif Mmaks = 5440837. L = 1000 cm beff ≤ ¼ . ¼ .. 2400 = 20508.Mn 3269371... л ..0) = 8483061.82 .2.27 kgcm.113 Mn = 285500 (4. fy = 114.L = ¼..38 kgcm ≤ 0..21 Kgcm (batang B-23).

Tf = bf . tf . Ts = Pyc − Tc 285500 − 20508.84 – 115000 = 17495.114 Gambar 6. 2.84 Kg Jarak garis netral dari tepi bawah sayap : aw = Tw 17495.3 . berlaku persamaan.tw 2500. fy = 20 .0 = 6. Tw = Pyc − Tc − Tf 2 = 132495. 2500 = 115000 Kg Gaya pada badan.32 = 2 2 = 132495.84 Kg Gaya pada sayap.99 cm .3 Distribusi tegangan negatif Karena Pyc > Tc. maka PNA pada web.1.84 = fy.

5.93 mm d3 = D/2 =50/2 = 25 cm d1 = ts – c = 10 – 2.2.32 (7..5tf ) + (Tw(tf + 0.65 Kgcm Persayaratan : Mu ≤ φMn 5440837.6869180.0) + (17495.21 Kgcm ≤ 5838803.0.OK ..0..115 ¾ Menenentukan Jarak Gaya yang Bekerja dari Centroid d2 = (Tf ..5..6.(2.5 + 1.593) + 285500 (25– 1.84.0 + 0.21 Kgcm ≤ 0.5 = 7.85 ..99)) = 115000 + 17495.65 Kgcm 5440837.56 Kgcm.5aw)) Tf + Tw (115000.84 = 1.593 cm = 15.5 cm ¾ Perhitungan Momen Nominal Negatif Mn = Tc (d1+ d2) + Pyc(d3 – d2) = 20508.593) = 6869180.

4 Sketsa penampang kolom komposit Zx = (( 1 .6 cm KC 500 x 200 x 10 x 16 TULANGAN Ø16mm KING CROSS 50 TULANGAN GESER Ø12 .2 + 2 2 1 tw).56 Kgcm Mux Muy = 2250329.116 6.79 mm A = 228. b).300 700 700 Gambar 6.2 + 2 2 (50-2.2. d) + (b-tw)(tf)(d-tf)) + (( 1 . b. 1 . 50)+(20-1)(1. 2 2 2 2 2 (d-2tf).( 1 . d.tw.6 cm 3 Sy = 2046. 1)) = 2428.31 Kg Vuy Kolom komposit direncanakan dengan menggunakan profil K500.( 1 .06 cm 3 2 2 . 50.( 2 = (( 1 . 20). 1).10.16 dengan spesifikasi material : Ix = 49940 cm4 ix = 14. 1 .1.6).tf. .17 mm d = 500 mm Iy = 52189 cm b = 200 mm H = 428 mm Sx = 1997.6.0 diperoleh gaya – gaya yang bekerja pada kolom CIN 7 lantai dasar adalah : Pu = 595950.6)(50-1.4 cm2 4 iy = 15.1.200.15 Kg Vux = 15154. 1 .( 1 tw)) .3 Kgcm = 16667.6 Kg = 2261074.2 Kolom Komposit Dari hasil output ETABS v9.6))+(( 1 .1. 1 . 20.

= 562.162 = 804.04.09 mm2 Luas sengkang minimum = 0.4 + 8.71 cm3 Kontrol luas penampang minimum profil baja : As 228.56 8.4 = x100% = 4.tw. C2 = 0.117 Zy = (( 1 .1.56 mm2 Untuk baja yang diberi selubung beton : C1 = 0.6.18.6).π.25.2 + (d-2tf).6)) = 2483.π.50) -2.560 = 100. C3 = 0. tw.b.2 fmy = fy + C1.240.09 mm2 Luas penampang bersih (Acn) = (70. 1.04 + 0. 228.6.122 = 113.70) Tulangan longitudinal Jarak spasi tulangan = 700 – (2.7.25 mm2 Ar minimum = 0. 1)+( 1 (50+1). tf.7% > 4% Ac (70.25 mm2 Tulangan Lateral (Sengkang dipasang Ø12-300mm) Luasan tulangan sengkang = ¼. b). 1 .(d+tw-tf)) =(( 1 .12 – 16 = 560 mm Luas tulangan longitudinal (Ar) = 4.fyr.20. tw) + ( 1 (d+tw).tf. 1 (50+1) 2 2 2 2 2 2 + (20-1).70) – (228.1.04) = 4663.6 .6.300 = 54 mm2 < 113.19 Mpa .fc. 1 .8 mm2 < 804.18.1. 1 . 1 .4 = 250 + 0. 1 (d+tw) 2 2 2 2 2 2 + (b-tw).8. 1.(50+1-1.4 228.2+(50-. Ac As 4663. 20).7 . 1 . 1 . Acn As + C2.1/2.

9.14 Kolom K500.200.20 WF 500.5√fc’ = 0.10.2.200.16 WF 500.3.16 WF 500. Acn As 4663.70 = 21 cm > iy ( dipakai rm) = 200000 + 0.5 Skema Kolom .200.200.20 Kolom K500.Ec.10.9.200.200.10.98 Kuat Nominal Aksi Kolom Komposit WF 500.3b = 0.04.200.16 Gambar 6.13.118 Ec = 0.4 rm = 0.000 Mpa Em = Es + C3.14 WF 600.200.5√25 = 24102.24102.w1.10.10.10.98 Mpa Es = 200.10.8 Mpa 228.24001.041.200.16 WF 600.9.200.14 Kolom K500.23 Kolom K500.200.9.16 Arah X WF 500.200.14 WF 600.56 = 298428.

5 = = 31.6 − 0.26 Kg .3 Kg/cm2 = 1157153.8 Karena nilai λc.67.47 Pn = As.5 cm λ= λc = Lk 654. sehingga dari nomogram didapatkan nilai Kcx = 1. dimana : 1.19 fcr = = = 506.2.6 − 0.34 47800 Ix ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L 950 ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎛ Iy ⎞ ⎛ 52189 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAy = = = 2.67λc f my 562. maka termasuk dalam kategori kolom menengah.54 Ix 41900 41900 ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ ⎜ ⎟+⎜ ⎟ 950 800 L ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Jenis rangka tidak berpengaku (unbraced frame).43 = 1.54.25 < λc <1.5066.11 ω= 1.5 = 0.425 = 654.54 → KcY menentukan Lk = Kc.L = 1.47 298428 .17 π 654.52 dan nilai Kcy = 1.43 = 1. sehingga nilai GB = 1 ⎛ Ix ⎞ ⎛ 49940 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAx = = = 2.119 Bagian dasar kolom diasumsikan jepit.0.11 1.4 cm2. 0.17 cm rm 21 λ π f my Em = 31.fcr = 228.63 Mpa ω 1.

Ab Ab ≥ ϕPnc 498230.7.27 Kg – 485350 Kg = 498230.As. 1157153.4.6 > 0.φ.16)) = 280 mm Cr = (Crc + Crt)/2 = 280 mm h1 = h2 = 700 mm Pu 595950.27 = = 1953. fc ' 1.(OK) 1.27 Kg > Pu……….26 Kg = 983580..120 φPn = 0.6 = = 0.(OK) Semua beban desain kolom ditopang oleh kolom komposit ( terdiri dari profil baja dan beton). Persyaratan luas minimal penampang beton yang menahan beban desain kolom adalah : ¾ Kemampuan profil baja menahan beban φPns = 0.250 ¾ Kuat Nominal Komposit dan Aksial Kolom Komposit Luasan badan profil (Aw) = (1.85.0.84 …….85.2500 = 485350 Kg ¾ Kemampuan penampang beton menahan beban φPnc = φPn – φPns = 983580.ϕ .7.228.85.50) + ((50+10)10) = 101 cm2 Crc = Crt = 350 – (50 + 12 + (1/2.27 Kg Syarat yang harus dipenuhi untuk luas penampang beton φPnc ≤ 1.2 ϕPn 983580.fc’.6.7.fy = 0.27 .

fy Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Untuk Pu > 0.fy + 1/3.fy + 1/3. fc'.77 Kgcm ( Mny = Zy. fy − 2 1.2 → ⎟ + ⎜ + ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ϕPn ⎝ ⎠ 8 ⎛ 2261074.965 ≤ 1.7 7 ⎠ Kesimpulan: Kolom komposit digunakan profil K500.6 + ⎜ + ⎟ = 0.12993755.85.7 7 0.56 2250329.7.12854730.06 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.7 x 250 x70 = 12854730.3 ⎞ 0.10.fyr + h2 Awfy )Aw.fyr + h2 Aw.71 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.16 .(h2 – 2Cr)Ar.h1 = 2483.200.77 Kgcm ( )Aw.04 x 2400 70 101x 2500 +( )101x 2500 − 2 1.(h2 – 2Cr)Ar.121 Mnx = Zx.h1 = 2428.04 x 2400 + ( 70 − 101x 2500 )101x 2500 2 1. fc '. fy − 2 1.85.7.7 x 250x70 =12993755.0(OK ) 9 ⎝ 0.

2500) Kgcm = 14265900 Kgcm .5 L) Sambungan kaku yang merupakan bagian dari Sistem Rangaka Pemikul Beban Gempa mempunyai kuat lentur Mu yang besarnya paling tidak sama dengan : Mu = 1. Penerimaan beban dianggap sebagai berikut : • Beban Pu diteruskan oleh sambungan pada badan secara tegak lurus ke flens kolom • Beban momen Mu diteruskan oleh sayap balok dengan baja T keflens kolom Vu = 16319 Kg (1.5.122 6.1.1 Sambungan Antara Balok dengan Kolom Gambar 6.3 Desain Sambungan 6.2 D + 0.Mpbalok = 1.6 Sambungan Balok – Kolom yang direncanakan Sambungan balok utama B-22 dengan kolom direncanakan dengan rigid connection dimana sambungan memikul beban geser Pu dan momen Mu. (2096.3.1.1.Ry.

5 Kg A.4100 Kg/cm2 = 18745.200.2 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg =18745.2.75.(0.10.0 cm.4 cm. Elemen – elemen sambungan : • Balok melintang menggunakan profil WF 500.5) • Mutu profil BJ41 (fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.2.07 = 31370.2Ab = 0. sehingga besarnya : Vutambah = 14265900 + 14265900 = 30033.6 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.2).07 cm2 Vdg = φf.(r1fub).2 Kg) .tp. Sambungan geser pada badan balok Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.16 Gaya geser terfaktor V pada sambungan kaku harus diambil berdasarkan kombinasi pembebanan 1.5L ditambah gaya geser yang berasal dari Mu diatas (LRFD ps 15.75. 25.123 Momen lentur rencana sambungan berdasarkan kemampuan balok.5.1.8250)2.2D + 0.5 Kg 950 Vutotal = 16319 Kg + 30033.4.4.200.9.10.5 Kg = 46352.5.16 • Kolom menggunakan profil K500.2.db. D = 25.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.fu (tebal pelat badan dipakai tebal badan balok tp = 10 mm)) = 0.

4. dipasang 4 buah pada 2 sisi.75.2.4 mm + 1.(0.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5. Kontrol siku penyambung Siku direncanakan menggunakan ∟70.47 .7 = 17.5.53 .fu (tebal pelat badan dipakai tebal pelat siku tp = 7 mm)) = 0.db. D = 25.tp.t = (30 – 2.2.0.07 cm2 = 15685.22 cm2 .2.70. Vdg 13121.64 Kg n= Vu 46352.3 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.7). 5.4100 = 13121.64 sehingga pada satu sisi menjadi 2 baut C.7.07 cm2 Vdg = φf.(r1fub). BJ 41 dengan fu = 4100 Kg/cm2.0.5) • Mutu profil BJ41(fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.5 = = 2.4.7. Ab = 0.124 n= Vu 46352. dipasang 3 buah Vdg 18745.6 mm (lubang dibuat dengan bor) = 27 mm Anv = Lnv. Ølubang). Ølubang = 25.t = (L – n.54. 8250 Kg/cm2).75.2 B. Sambungan geser pada sayap kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.2 = = 3.2.

6 mm (lubang dibut dengan bor) = 27 mm Ab = 5.50 W Q a 1 2(T 1 2(T a' + Q) + Q) b' b 2T Bidang kritis 1 2(T 1 2(T + Q) + Q) flens profil T Badan profil T Q Gambar 6.7 Gaya – gaya yang bekerja pada profil T . 17.4 mm + 1..Anv) = 0.Vu = 23176.fu.25 Kg .4 mm.. dengan data – data: Ølubang = 25.9. Ok D..6.125 Siku ditinjau satu sisi sehingga gaya = ½.08 Kg > 23176.6.25 Kg φPn = φ(0..4100 Kg/cm2.0. Sambungan pada sayap profil T dengan sayap kolom Direncanakan menggunakan baut D25..22 cm2 = 38125.07 cm2 Mutu baja profil BJ 50 (fu = 5000 Kg/cm2) Mutu baut (fu = 8250 Kg/cm2) Akibat gaya Mu... profil T akan mendapat gaya tarik sebesar : 2T = Mu d balok 14265900 T= = 142659 Kg 2.

5 mm .8250 Kg/cm2.76 Kg (memenuhi syarat) ¾ Perhitungan sayap kolom dengan profil T Perhitungan tebal sayap T yang diperlukan : Direncanakan memakai profil T 400..400.75.76 Kg 2.12. Øbaut = 50 . T = 14265900 = 88828.20. B > T 94111.(OK) Koreksi untuk a dan b a’ = a + ½.5.88 Kg > 88828.(0.4 = 62.88 Kg < 142659 Kg (Tidak memenuhi syarat) Untuk mengatasinya kita dapat memakai potongan profil balok atau profil T yang dihubungkan ke bawah balok utama agar lengan momen kopel menjadi besar. r = 22mm a = 50 mm (direncanakan) b= 400 − 20 − (50 + 90) = 50mm 2 Menurut Kulak.fub.7 mm b’ = b – ½.3) Syarat. n = jumlah baut = 0.75.200.75.0.25. Øbaut = 50 + ½.35.Ab)n.50 = 62.25.4 = 37.88 Kg Syarat.5 mm…………….47055.25.(50 + 30.4 = 94111.58 cm 2. = 151.58 cm Dalam hal ini kita coba pakai profil T 600.126 B = Kekuatan rencana baut = φRn = 0. Fisher dan Shrink : a ≤ 1.25 b 50 < 1.94 Sehingga tinggi tambahan yang diperlukan menjadi.75.20 Maka. B > T 94111. 14265900 Lengan kopel = = 151.07 cm2.58 – 50= 101.½.

3 ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ = 0.7 ⎛ B ⎞ a ' ⎛ 94111.88 − 1⎟ = 0.127 β =⎜ ⎞ 62.Ok Maka tebal perlu sayap profil T 4.b' tf ≥ ϕ . 0 .5 ⎞ Q= T ⎛ ⎟ ⎟⎜ ⎟⎜ ⎟ = 88828.6 mm Sehingga.734) ≥ 3.3 ⎠ Nilai α = 0.76 Kg .58 αδ ⎞⎛ b' ⎞ ⎛ 0.5 0.58.5) • Mutu profil BJ55 (fu = 5500 Kg/cm2) .3 < 1 − 1⎟ = ⎜ ⎝T ⎠ b' ⎝ 88828.35 dapat dipakai ≥ E.3.9.88828.0.w.88 ≥ ½ (88828.400. dipakai ⎜ ⎟ δ ⎝ 1 − β ⎠ 0.0.(1 + αδ ) 4. tf pada profil T 400. 7 ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠ ⎠⎝ ⎝ = 12001 Kg Gaya yang terjadi pada baut : B ≥ ½ (T + Q) 94111.734 ⎞⎛ 37.6 δ =⎜ = 0.T .20.(1 + 0. 58 . Sambungan pada badan profil T dengan sayap balok Kontrol Kekuatan Baut Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.58 < 1.76 ⎠ 37.76 Kg ⎜ ⎜ αδ + 1 + a ' 1 0 .85 Kg…….58.26.16 cm = 31.4100 Kg / cm 2 . 734 62 .5 ⎛ w − ∑ d ' ⎞ 200 − 2.88 Kg > 50414. fy.7 + 12001) 94111.734 ⎟= 200 ⎝ w ⎠ α= 1⎛ β ⎞ 1 ⎛ 0.20cm.734 ⎝ 1 − 0.

5.9.……….(Ok) .4 mm .5.31 Kg) n= 88828.5 cm = 90 cm2 An = Ag – (Σd’.Ab = 0.66buah .52 Kg ≤ 332100 Kg….4100 177657.34 cm2 Terhadap leleh 2T ≤ 0.fu (tebal pelat badan dipakai tebal sayap profil balok tp = 12 mm)) = 0.8250 Kg/cm2).4. Kekuatan badan profil T Dipakai baut Ø25.90.2.db.4 mm.07 cm2 = 15685.(r1fub).75. 2.tw = 20 cm.128 • Baut tipe tumpu Øbaut 25.tw) = 90 cm2 – (3.4.54cm.2 cm.5 cm) = 47. BJ 55 (Ag = 5.4... sehingga pada 1 sisi menjadi 3 baut.4.88828.8250 Kg/cm2 = 45262.76 ≤ 0.9.16 cm.1.8 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg = 15685.76 T = = 5.fy 2.31 buah baut pada 2 sisi. sehingga dipasang 6 Vdg 15685.75.3.Ag.2.31 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.(0. BJ 55 dengan fy = 4100 Kg/cm2 dan fu = 8250 Kg/cm2 Ag = w.tp.07 cm2) Vdg = φf.

2 Sambungan Kolom – Kolom Sambungan kolom .8250 177657.(Ok) 6. 88828.4 Baut D 25.4 Gambar 6.129 Terhadap patah 2T ≤ 0.52 Kg ≤ 350712.5.6 Kg = 1.fy.Zx Mux = 1.45 Kg…………….7 adalah sebagai berikut : Pu = 595950.47.9. Gaya – gaya yang bekerja pada kolom lantai CIN.34.76 ≤ 0.2500..1997.4 Baut D 25.fu 2.6 = 7491000 Kgcm Baut D 25.5.9.kolom direncanakan pada lantai 1.8 sambungan kolom – kolom .An.3.

4.6.4.5.6 – 260920 = 335026.4 mm.50 Pubadan = badan .6 = 260920 Kg Aprofil 228.db.2.2.1.5.75.tp. ( Ag = 5.Pu = 595950.52 Kg ¾ Kontrol Geser pada Sayap Kolom Dipakai tebal pelat penyambung 16 mm Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0. 2Ab = 0.fub.8250 Kg/cm2.130 Pembagian Beban Momen 1 .503 I badan Mubadan = Mu = 12 7491000 = 1562500Kgcm I profil 49940 Musayap = Mu – Mubadan = 7491000 – 1562500 = 5928500 Kgcm ¾ ¾ Pembagian Beban Aksial A 2.1.37 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.4100 = 29992.fu (tebal plat dipakai tebal plat sayap Kolom tp = 16 mm) = 0.2.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut D 25.4 Pusayap = Pu – Pubadan = 595950.75.1.32 Kg . 2.r1.54.07 cm2 = 31989.0.07 cm2) Vdg = φf.

2.4 mm.8250 Kg/cm2.75.131 Gaya kopel pada sayap 5928500 = 296425Kg d 20 Pu sayap Jumlah gaya total pada sayap = T + 4 335026.db.2.52 = 296425 + 4 Tu = Musayap = = 380181. ( Ag = 5.2Ab = 0.0.1.4.32 Kg) Vu 380181.fub.2.tp.0.63 n= = = 11.e = 1562500+ 260920.5.67buah ≈ 12buah Vdg 29992.32 Dipasang 12 buah agar simetris ¾ Kontrol Geser pada Badan Kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.5. Vdt = 22860 Kg Momen yang bekerja pada titik berat sambungan badan Mutotal = Mubadan + Pu.63 Kg Vdg > Vdt (digunakan Vdg = 29992.54.2.r1.63 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.07 cm2) Vdg = φf.4. 5000 = 22860 Kg Dipakai.fu (tebal plat dipakai tebal plat badan Kolom tp = 10 mm) = 0.75.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut 25.9 = 2058248 Kgcm .07 cm2 = 31370.1.

2.x 2058248 x 4.33 + 3009.db = 3.5 cm Jarak antar baut minimum = 3.tp = 12.28 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 KuV2 = Kutotal = (ΣKuV ) 2 + (ΣKuH ) 2 = (21743.14) 2 + (555.33Kg n 12 Akibat Vu → KuH1 = Σ(x2 + y2) = 12(4.52 + 22.426 Kg < 22860 Kg………OK ¾ Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum = 1.14 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 Mutotal .54 = 4.6 Kg n 12 Mutotal .5)2 + 4(4.75.1 = 12 cm Jarak tepi maks = 20 cm Dipasang jarak tepi baut = 5.28) 2 = 19030.62 cm Jarak antar baut maksimum = 15.15 = = 555.5 = = 3009.5 KuH2 = = = 14246.1 = 15 cm Jarak tepi maksimum = 20 cm Dipasang jarak antarbaut = 9 cm .75 db = 1.52 + 13.2. y 2058248 x 22.132 Dicoba dengan baut sebanyak 12 buah Pubadan 260920 Akibat Pu → KuV1 = = = 20743.426 Kg Kutotal < φVn 19030.445 cm Jarak tepi maksimum = 12.54 = 7.tp = 15.52) = 3078 cm2 Vu 16667.6 + 15246.

16 dengan data – data sebagai berikut : • No.2D + 0.504 cm4 .10.8)+(2.6 + ⎜ + 0 ⎟ = 1.200.6 = = 0.77 ⎠ Mux = 4916934.4 cm2 = 84732.6 > 0.46.133 6.2 ⇒ ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ⎝ ⎠ 8⎛ Mux ⎞ 0.6 cm Dari output Etabs pada CIN 7 (comb 1.45.0 9 ⎝ 0.3.20)} 1.27 Untuk Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Pu ⎟ + ⎜ + > 0.5L + E) lantai dasar adalah : Pu = 595950.7 cm pada daerah yang diarsir pada profil K 500.7 cm =530.2 ϕPn kolom 983580.8) + (4.6 Kg = 16667.85.16 sehingga didapat : Alas = {(2.52 Kgcm Sambungan Las pada End Plate Direncanakan las dengan te = 1.10.200.15 Kg Vu Pu 595950.Part = BMK-13 • H = 70 cm • B = 70 cm • tp = 46 mm = 4.3 Disain Base Plate Perencanaan base plate dibawah ini menggunakan fixed plate dari catalog PT Gunung Garuda untuk profil K500.12854730.

1cm = 1.63 Kg/cm2 te = f total 2818.75.4 3621.8 cm(amin) 0.83 + .707 .45 2 + 1389.504 cm4 Wx = Ix 84732.27 = = 1.2.3 Kg/cm += Vu Akibat beban Vu.1 = 2214.05 2 = 1389.8.27cm = fu las 2214.504 = = 3700.2. f P = Pu Mx 595950 4916934.102 ⎟⎥ 12 12 ⎠⎦ ⎠⎦ ⎣ ⎝12 ⎣ ⎝12 = 84732.3.4 3700.707 0.0.45 Kg/cm2 Akibat beban P.6.45 a= te 1.70. f V = f total = f p + fV 2 2 = 2452.11 = 2452.63 .134 ⎡ ⎛1 1 1 ⎞⎤ ⎞⎤ ⎡ ⎛ 1 Iy = ⎢2.FE70xx = 0.11cm3 22.504 Wy = = = 3621.23 + .05cm3 x 23.45 Kg/cm2 16667.52 + = + A Wx 530.22 .46 .203 + 2.⎜ .⎜ .45 .23 + 2.15 4916934.20.0.92 ⎟⎥ + ⎢2.20.3 2 = 2818.6.4 fulas = φ.52 + A 530.70.20.9 y Iy 84732.

6 = 5.5h’ = 900 – 0.6 d = 9 mm Direncanakan diameter baut : 28.5. .125.28 = = A1 70 x70 Fcu = 0.db =4.7 A1 .75.85.1.70.db = 1.86 = 6 cm c1 = jarak minimum untuk kunci = 27/16.300.41.28 = 290.6 h’ ≥ we + c1 we = jarak baut ke tepi = 1.8 cm = dipakai c1 = we = 5 cm h’ ≥ 6+ 5 = 10 cm.75.85.2.25cm > 1 H = 11. dipakai h’ = 12 cm h = H – 0.4.1.7cm 6 Pu 595950. f ' c.52 = = 18.120 = 840 mm= 84 cm B =900 mm = 90 cm Dimensi beton : Panjang : 90 cm Lebar : 90 cm A2 90 x90 1. .41.135 Syarat – syarat tebal kaki las Tebal minimum = tplat = 46 mm fu 4100 aeff max = 1.tp = 1. A2 = 0.3 Sehingga dipakai las dengan a = 18 mm Perhitungan Base Plate e= Mux 4916934.4cm f E 70 xx 70.

290.90 842 − = 26.29 + 1.16667.π.5.290.90 ≥ 2.16 Perhitungan Baut Angkur Dipakai baut angkur Ø28.we ≈ 0.75.2) 2500.Vu .5.6. dimana Cv = 1.4 diambil jumlah baut = 12 buah baut angkur 28.200.862) = 14579 Kg φRn ≥ 2.B 595950.f’cu.15 n n = 8.108 ≥ 2. fcu.5Ab) = 0.6 (2.25.7.5.75.52596.05 cm Tu = (0.26.a) – Pu = (0.6.52 0.6 mm φRn = 0.6.84 − 90) + 2.6 = 52596. 7250.(0.85 cm Maka base plate dengan ukuran 90 x 90 cm dengan tp = 3 cm dapat digunakan sebagai alas kolom K500.29(12 − 4.h = 0.84 = 42 mm =4.25 n .B.B 52596.(0.05) – 595950.2.fub.1/4.136 a =h= 84- h2 − Pu (2h − H ) + 2Mu 0.29 Kg t ≥ 2.108 Tu (h'− we) .10.2 cm fy.90.4916934.6.6 mm 14579≥ 2Tu + Cv.7.

152+ 6.50.15 .250 ⎣ ≥ 73. fc ⎣ ⎦ ⎡ 2.137 Panjang Angkur ⎡ 2V + (4V 2 + 6d .16667.5))1/ 2 ≥⎢ 50.16667. f c ( M + V .5cm))1/ 2 ⎤ L≥ ⎢ ⎥ d.52 +16667.6 cm → diambil L = 120 cm .15+ (4.250(4916934.

138 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

139 BAB VII PERENCANAAN PONDASI 7.1 Denah Rencana Pondasi Pondasi pada gedung apartemen Albergo. Gambar 7. Jakarta ini direncanakan memakai pondasi tiang pancang jenis pencil pile shoe produk dari PT.1 Perencanaan Pondasi Kolom Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah. WIKA Beton. Spesifikasi tiang pancang yang akan digunakan adalah sebagai berikut: : 500 mm • Diameter • Tebal : 90 mm : A3 • Type .

140
Allowable axial : 166,21 ton Bending Momen crack : 14 ton m Bending Momen ultimate : 21 ton m Dari hasil analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS, diambil output reaksi perletakan yang terbesar, hasilnya adalah sebagai berikut : Pu : 587339 kg : 74927,94 kgm Mx My : 74054,92 kgm : 12667,15 kg Hx : 11154,31 kg Hy • • •

7.1.1 Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal
Data yang diperoleh dan yang digunakan dalam merencanakan pondasi adalah data tanah berdasarkan hasil Standard Penetration Test (SPT). Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal, yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar tiang pondasi (Qp) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah (QS). Perhitungan daya dukung tanah memakai metode Luciano Decourt (1982) : QL = QP + QS Dimana : QL = daya dukung tanah maksimum pada pondasi QP = resistance ultimate di dasar tiang QS = resistance ultimate akibat lekatan lateral Qp = qp . Ap = (Np.K).Ap Qs = qs . As = (Ns/3 +1).As Dimana : Np = harga rata-rata SPT pada 4D pondasi di bawah dan di atasnya. K = koefisien karakteristik tanah Ap = luas penampang dasar tiang

141
Ns = rata-rata SPT sepanjang tiang tertanam, dengan batasan 3 ≤ N ≤ 50 As = luas selimut tiang Np =

46 + 42 + 54 = 47,33 3 AP = 0,25 × π × D 2 = 0,25 × π × 0,52 = 0,196m 2
K = 40 t/m2 (untuk tanah dominan pasir)

QP = N p × K × Ap = 47,33 × 40 × 0,196 = 371,73m 2
Ns =

22 + 44 + 38 + 48 + 42 = 38,8 5 2 AS = H × π × D = 10 × π × 0,5 2 = 7,854m 2

⎞ ⎛N ⎛ 38,8 ⎞ + 1⎟ × 7,854 = 109,43ton QS = ⎜ S + 1⎟ × AS = ⎜ ⎝ 3 ⎠ ⎠ ⎝ 3
QL = QP + QS = 371,73 + 109,43= 481,16 ton QU =

QL 481,16 = = 160,39 ton SF 3

7.1.2 Daya Dukung Tiang Pancang Kelompok
Pondasi tiang pancang direncanakan Ø50 cm. Jarak dari as ke as antar tiang pancang direncanakan seperti pada perhitungan di bawah ini : Untuk jarak antar tiang pancang : 2,5 D ≤ S ≤ 3 D dimana : S = jarak antar tiang pancang S1= jarak tiang pancang ke tepi 2,5 × 50 ≤ S ≤ 3 × 50 125 ≤ S ≤ 150 Untuk jarak tepi tiang pancang : 1,5 D ≤ S1 ≤ 2 D 1,5 × 50 ≤ S1 ≤ 2 × 50 75 ≤ S1 ≤ 100 Dipakai : jarak antar tiang pancang (S) = 130 cm jarak tepi tiang pancang (S1) = 80 cm

142

Gambar 7.2 Konfigurasi Rencana Tiang QL (group) = QL (1 tiang) × n × η

η = 1 - arc tan( D / S ) × ⎛ 2 − 1 − 1 ⎞ …………Converse Labarre ⎜ ⎟ 90° m n⎠ ⎝
Dimana : D = diameter tiang pancang S = jarak antar tiang pancang m = jumlah tiang pancang dalam 1 baris = 3 n = jumlah baris tiang pancang = 3 Efisiensi : (ή) =1QL (group)

arctan(500 / 1000) ⎛ 1 1⎞ × 2 − − ⎟ = 0,606 ⎜ 90 0 3 3⎠ ⎝ = 160390 × 9 × 0,606 = 874767,1 kg

Perhitungan beban aksial maksimum pada pondasi kelompok a. Reaksi kolom = 587339 kg = 42336 kg + b. Berat Poer = 4,2 × 4,2 × 1 × 2400 Berat total = 629675 kg QL (group) = 874767,1 kg > P = 629675 kg........OK

3 × ⎝ ⎠ = 86.3 Kontrol Beban Maksimum 1 Tiang (Pmax) Beban maksimum yang bekerja pada satu tiang dalam tiang kelompok dihitung berdasarkan gaya aksial dan momen yang bekerja pada tiang.3 74.05492 × 1.19 ton.3 ⎞ + + ⎟ ⎟ 2 2 9 × 6 1 . X max ∑X 2 + Mx.OK 7.21 ton.. gaya aksial tidak diperkenankan melebihi 166.143 7..2 ton < Pijin 97.1.21 ton • Allowable axial • Bending Momen crack : 14 ton m • Bending Momen ultimate : 21 ton m ¾ Kontrol terhadap Gaya Aksial Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification. namun yang diperhitungkan hanya gaya tekan karena gaya tarik dianggap lebih kecil dari beban gravitasi struktur.. Pmax = 86...OK .19 ton ………………….579 74.. 3 6 1 .390 x 0.1..606 = 86. sehingga berlaku persamaan : Pmax = ⎜ ⎜ ⎛V ⎝n + My.4 Kontrol Kekuatan Tiang Dari spesifikasi “Wika Pile Classification” direncanakan tiang pancang beton dengan : • Diameter : 500 mm • Tebal : 90 mm • Type : A3 : 166.2 ton ≤ Pijin 1 tiang = 160.Ymax ⎞ ≤ Pijin 1 tiang ⎟ 2 ⎟ ∑Y ⎠ Pmax = ⎜ ⎜ ⎛ 643. Momen pada tiang dapat menyebabkan gaya tekan atau tarik pada tiang.2 ton ≤ = 97.92794 × 1.

momen tidak diperkenankan melebihi Mcrack = 14 tm...47 tm M = Mmax = 16.5(0. (0 + 1..425 kg/cm 2 dari lampiran data tanah di ketahui qu = 0.627)) Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification..d Dimana: H = Lateral Load e d = jarak antara lateral load (H) dengan muka tanah = diameter pondasi 1 2 qu = 0.144 ¾ Kontrol terhadap Gaya Momen Setelah tiang dipancang Perumusan yang dipakai diambil dari buku “Daya Dukung Pondasi Dalam” : Mmax = H (e + 1..25 t/m2 f = 12....5(0.66715.5 = 13..85 kg/cm2 Cu = = 4..5) + 0..5d + 0..627 m 9 × 4. Cek kekuatan momen tiang : Mcrack = 14 tm > M = 13..5f) f = H 9..25 × 0.47 tm . Ok ...66715 = 0.Cu .

Hal ini sesuai yang disyaratkan pada SNI 03-2847-2002 pasal 13. Oleh karena itu poer harus memiliki kekuatan yang cukup terhadap geser pons dan lentur.2 × 4.12.1. Kuat geser yang disumbangkan beton dirumuskan : 2 ⎞ ⎛ fc ' ⎞ ⎛ φ . Data perancangan poer : = 643.145 7.2 ton P max (1 tiang) ∑ tiang pancang tiap group =9 Dimensi kolom = 700 × 700 mm2 Dimensi poer = 4.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.5 Perencanaan Poer Poer dirancang untuk meneruskan gaya dari struktur atas ke pondasi tiang pancang.2 × 1 m3 Mutu beton (f’c) = 40 MPa Mutu baja (fy) = 410 MPa Diameter tulangan 25 mm Selimut beton = 50 mm Tinggi efektif (d) : dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.579 ton Pu = 86.5 mm • Kontrol Geser Pons Pada Poer Dalam merencanakan poer harus dipenuhi persyaratan kekuatan gaya geser nominal beton yang harus lebih besar dari geser pons yang terjadi.Vc = φ ⎜ 1 + ⎟ × bo × d ⎟⎜ ⎝ βc ⎠⎝ 6 ⎠ tetapi tidak boleh kurang dari : φ Vc = φ × ⅓ × f ' c × bo × d Dimana : .2.

5 = 7708051.805 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.5) = 6500 mm Batas geser pons ⎛ 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 6500 × 937.08 ton < φ Vc = 770.805 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.339.5 φ Vc = 0.6 × ⎜1 + ⎟⎜ ⎜ ⎟ 1 6 ⎠⎝ ⎝ ⎠ = 115620777.7 N = 1156.8 N = 770.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.08 ton P = 552. . 40 × 6500 × 937.5) + 2 (700 + 912.6 × ⅓.21 ton φ Vc = 0.146 βc = rasio dari sisi panjang terhadap sisi pendek beton dari 700 daerah beban terpusat atau reaksi = =1 700 bo = keliling dari penampang kritis pada poer bo = 2 (bk + d) + 2(hk + d) dimana : bk = lebar penampang kolom hk = tinggi penampang kolom d = tebal efektif poer • Kontrol geser pons pada tiang pancang tengah (akibat Kolom) bo = 2 (700 + 937.

4 mm Batas geser pons 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 2385.5 φ Vc = 0.4 N = 282.4 × 937.6 N = 574.873 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.4 × 937.08 ton P = 552.310 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.6 × ⅓.339.5 = 2828736.310 ton φ Vc = 0. 40 × 2385.6 × ⎛ 1 + ⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎜ 1 6 ⎝ ⎠⎝ ⎠ = 5743104.147 • Kontrol geser pons pada tiang pancang pojok β c = rasio sisi terpanjang terhadap sisi terpendek (daerah beban terpusat) = 500 =1 500 bo = penampang kritis poer = 1 x πD + 800 + 800 4 = 2385. .08 ton < φ Vc = 574.

85. 1.3) ⎝ 1000 ⎠ .2 × 2.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.40 × 1 =10.2. Gambar 7.87) – (1/2 × 10080 x 1.6 = 87 cm b = jarak tepi tiang pancang = 80 cm Penulangan arah x Penulangan lentur : Pmax = 96231 kg q = 4.3 Analisa Poer Sebagai Balok Kantilever a = jarak poer ke tepi kolom + selimut kolom + db sengkang + 1/2 db kolom = 80 + 5 + 1.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.672) = 23711 kg m = 23.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.148 • Penulangan Poer balok beban yang poer.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0. Sedangkan yang bekerja adalah beban terpusat di tiang kolom menyebabkan reaksi pada tanah dan berat sendiri Perhitungan gaya dalam pada poer didapat dengan mekanika statis tertentu.7. poer dianalisa sebagai kantilever dengan perletakan jepit pada kolom.8⎛ ⎜ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12.2 + ½. teori Untuk penulangan lentur.

1) 400 = = 11.12.4.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.75 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) .0803 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.765 ⎝ ⎠ = 0.d = 0. 7087.149 40 − 30 ⎞ = 0.85 × β 1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.75 × ρb = 0.0803 N/mm 2 2 φbd 0.85 × 40 Mu 23.039 = 0.3) ρmax = 0.0018 × 4200 × 937.As = 0.2.5.75 × 0.85.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.029 ρmin = 0.8 × 4200 × 937.85 × 0.711 10 7 2 Rn = = = 0.85 × f ' c (SNI 03-2847-2002 pasal 9.0018 Maka dipakai ρmin = 0.0018 m= fy 0.5 ρ perlu 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2 × 11.5.765 × 0.5 = 7087.765 0.77 1000 ⎝ ⎠ ⎞ 0.5 = 3543.8⎛ ⎜ ⎟ = 0.039 (SNI 03-2847-2002 pasal 12.b.3.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.3) ρbalance = ⎜ 600 + f ⎟ fy y ⎠ ⎝ 600 ⎞ = 0.0002 < ρ min = 0.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.

8⎜ ⎟ ⎝ 1000 ⎠ ρbalance = 0.75 × 0.4.8⎛ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.40 × 1 =10.85 × 0.87) – (1/2 × 10080 x 1.8 × 4200 × 912.3.75 × ρb = 0.029 ρmin = 0.85 × f ' c 0.3) (SNI 03-2847-2002 pasal 9.85.0018 m= (SNI 03-2847-2002 pasal 12.85.039 ρmax = 0.85 × β1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎜ 600 + f fy y ⎝ ⎞ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.2 × 2.039 = 0.3) ⎟ ⎠ 600 ⎞ = 0.3) ⎜ 1000 ⎠ ⎝ ⎛ 40 − 30 ⎞ = 0.77 = 0.1) fy 400 = = 11.711 10 7 Mu 2 N/mm Rn = = = 0 .2.672) = 23711 kg m = 23.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.2.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.12.150 Penulangan arah y Pmax = 96231 kg q = 4.765 0.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.85 × 40 23. 0875 φbd 2 0.7.5 2 .

5.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.1. 6898.5.As = 0. Adapun beban –beban yang ditimpakan ke sloof meliputi : berat sendiri sloof. berat dinding pada lantai paling bawah.0875 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.00021 < ρ min = 0.0018 × 4200 × 912.6 Perancangan Sloof Pondasi (Tie beam) Struktur sloof dalam hal ini digunakan dengan tujuan agar terjadi penurunan secara bersamaan pada pondasi atau dalam kata lain sloof mempunyai fungsi sebagai pengaku yang menghubungkan antar pondasi yang satu dengan yang lainnya.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.5 = 6898.151 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ρ perlu 2 × 11.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.b. beban aksial tekan atau tarik yang berasal dari 10% beban aksial kolom.25 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) 7.765 ⎝ ⎠ = 0.d = 0.0018 Maka dipakai ρmin = 0.5 = 3449. Data – data perancangan : Dimensi sloof : b = 400 mm h = 600 mm Ag = 240000 mm2 Mutu bahan : fc’ = 30 MPa fy = 400 MPa Selimut Beton = 50 mm Tulangan utama D25 .765 × 0.

2 mm2) .5 kgm = 98535000 Nmm Rasio tulangan pakai : P 64357.2 = 9535.h 400 x600 x1000 Dari diagram interaksi M-N F 400–30–0.4 × 0. 25) = 525.5 mm Beban-beban yang terjadi pada sloof : Berat sendiri sloof = 0.41 kx = Ag.18 kgm D (Vu) = ½ x qu.643579 = 64357.2 m Mutump = 1/12 x qu.6 kg Penulangan Lentur pada Sloof Pu = 10% Pukolom = 10 %.9.152 Tulangan sengkang = ∅12 Tinggi efektif (d) = 600 – (50 + 12 + ½ .8–2 .4 = 6. L = ½ x 3076 x 6.9kg Mutump = 9853.01 x 400 x 600 = 2400 mm2 Dipasang Tulangan 6D25 ( As = 2945.5 kgm Mulap = 1/8 x qu x L2 = 1/8 x 3076 x 6.68 ky = Ag 400 x600 Mu 98535000 = = 0.22 = 9853.10 = = 2.6 × 2400 Berat dinding = 10 m × 250 = 576 = 2500 qu = 3076 kg/m kg/m + kg/m Panjang sloof = (panjang bentang – lebar poer)+daerah penjepitan = (10– 4. didapat ρ = 1 % Luas tulangan perlu : As = 0. L2 = 1/12 x 3076 x 6.2) + 0.22 = 14780.

643579 = 64357.68 0.5 x 1608.5 kgm = 98535000 Nmm D (Vu) = 10% Pukolom = 10 %.9kg = 643579 kg Tulangan tarik yang dibutuhkan : Vu 643579 = 1608. L2 Mutump = 1/12 x 3076 x 6.85f' c 0.22 = 9853.475 mm2 Mu 98535000 Mn = = = 123168750 Nmm 0.75 Rn ⎛ 600 ⎞ ⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ ⎟ ⎝ ⎠ 0.β.4 = = 0.85 ⎛ 600 ⎞ = 0.95 mm2 = As = 400 fy Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’ = 0.024 Mn 123168750 = = 1.0035 ρmin = fy 400 ρmax = 0.85.85 × 30 × 0.12 = 2 2 400 × 525.95 = 804.85 × 30 1.153 Penulangan Tarik pada Sloof qu = 3076 kg/m = 1/12 x qu.5 x As = 0.Rn ⎞ ⎟ ⎜1 − 1 − ⎜ m⎝ fy ⎟ ⎠ .f' c.75 ρb = 0.75 ⎟ ⎜ 400 ⎝ 600 + 400 ⎠ = 0.5 bd 0.4 1.8 ϕ 400 fy m = = = 15. fy ρperlu = 1⎛ 2m.

13 = 327926.0035 x 400 x 525.68 × 1.5 N Karena Vu < ØVc.154 2 × 15.68 ⎜ ⎝ ⎠ = ρmin > ρperlu Æ ρ = ρmin = 0. Digunakan tulangan geser praktis Ø10 – 200.7 mm2 Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’1 = 0.37 mm2) Jumlah tulangan tekan : As’ + As1’ = 804.35 N > Vu = 92956.00497 ⎟ 400 15.7 = 2344.95 + 735.65 mm2 Digunakan tulangan 5D25 (As = 2454. maka tidak perlu tulangan geser.12 ⎞ 1 ⎛ ⎜1 − 1 − ⎟ = 0.75 × 437235.5 = 735.5 x 735.5 x As1 = 0.85 mm2 Jumlah tulangan tarik : As + As1 = 1608.33 mm2 Digunakan tulangan 3D25 (As = 1472.6 kg = 95356 N Vc = 2 × × ⎡ Nu ⎤ fc × bw × dx ⎢1 + ⎥ ⎣ 14. Ag ⎦ 95356 1 ⎡ ⎤ = 2 × × 35 × 400 × 539⎢1 + 6 ⎦ ⎣ 14 × 400 × 600 ⎥ 1 6 = 437235.85 = 1172.6 mm2) ¾ Penulangan Geser Geser yang terjadi : Vu = 9535. .0035 Tulangan tarik yang dibutuhkan : As1 = ρ b d = 0.475 + 367.7 = 367.13 N ØVc = 0.

beban hidup maupun beban terpusat.16 Profil Balok Induk 1 : WF 500. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit. kontrol penampang (local buckling). 2. Dari hasil pehitungan didapatkan data-data perencanaan sebagai berikut : Tebal Pelat Atap : 9 cm (atap) dan 10 cm (lantai) Tebal Pelat Lantai : 10 cm Dimensi Kolom : 70 x 70 cm Profil kolom : K 500. perhitungan kuat tekan aksial kolom. kontrol penampang (local buckling). Dilakukan perhitungan struktur sekunder terlebih dahulu seperti perhitungan tangga. 5.10.200. maka dapat diambil kesimpulan antara lain : 1.200.155 BAB VIII PENUTUP 8. Dilakukan kontrol kekuatan struktur kolom komposit yang meliputi kontrol luas minimum beton pada kolom komposit. Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : kontrol lendutan.20 Profil Balok Induk 2 : WF 500. 4.13 . kontrol lateral buckling dan kontrol geser. perhitungan kuat lentur kolom.8. pelat lantai. 3. Analisa balok dihitung terhadap kontrol lendutan.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan. dan balok anak terhadap beban-beban yang bekerja baik beban mati.10. kontrol lateral buckling dan kontrol geser.9.200. dan kontrol kombinasi aksial dan lentur.14 Profil Balok Anak : WF 400.200.

keakuratan pemasangan sangat penting. .2 Saran Pelaksanaan struktur dengan sistem komposit baja – beton harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat sebab pada bangunan baja.156 Struktur bawah bangunan menggunakan tiang pancang pracetak dengan diameter 50 cm. agar dapat diperoleh hasil sesuai dengan yang direncanakan. 8.

2005 Spiegel & Limbrunner.Johnson. 1999. John. Amon. Charles & E. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. 1998 American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD). Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.Atanu. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung.CE. Surabaya : ITS. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983.1991. . Wahyudi. Purwono. 2006. Herman. Vebriano & Rustailang.Bandung : PT. Bruce & Mazumder. Muhammad. 1999. Wira M. Daya Dukung Pondasi Dalam. Rinaldy. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.S. Diterjemahkan oleh: Ir. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. Rahmat. Rene . Knobloch. Salmon.Pradinya Paramita.157 DAFTAR PUSTAKA G.

2 Nopember 1985.158 BIODATA PENULIS Penulis dilahirkan di Surabaya. merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Penulis aktif mengikuti beberapa kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Jurusan. . yaitu SDN Karang Pilang 446 Surabaya. selain itu penulis pernah pernah mengikuti beberapa kompetisi dan perlombaan baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi lain maupun perlombaan tingkat Nasional. Penulis aktif sebagai Anggota sekaligus Fungsionaris Civil Engineering Computer Club (CECC) HMS-FTSP ITS. Setelah lulus dari SMUN. Di jurusan Teknik Sipil ITS penulis mengambil bidang Struktur dan menyelesaikan studinya pada tahun 2009. pada tahun 2005 penulis diterima di S1 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Penulis telah menempuh pendidikan formal. SLTPN 16 Surabaya dan SMAN 15 Surabaya. Fakultas dan Institut.