xviii DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampang balok komposit .................................. 8 Gambar 2.2 Distribusi tegangan plastis .................................... 9 Gambar 2.3 Metode transfornasi luasan ................................. 11 Gambar 2.4 Penampang kolom komposit ............................... 14 Gambar 4.1 Denah tangga ...................................................... 34 Gambar 4.2 Potongan A-A tangga .......................................... 34 Gambar 4.3 Tampak anak tangga ........................................... 35 Gambar 4.4 Tampak melintang anak tangga .......................... 36 Gambar 4.5 Sketsa pembebanan pelat tangga ......................... 37 Gambar 4.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga ............. 40 Gambar 4.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga ........... 43 Gambar 4.8 Sketsa profil Canal 260.90.10.14 ........................ 44 Gambar 4.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ........ 46 Gambar 4.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes ........................................................................ 48 Gambar 4.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga......................................................................... 49 Gambar 4.12 Potongan pelat Atap ............................................ 52 Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan 3 sampai dengan 11 .. 53 Gambar 4.14 Potongan plat lantai 2.......................................... 55 Gambar 4.15 Potongan plat lantai mesin lift ............................ 56 Gambar 4.16 Detail sambungan balok anak dan balok induk ... 66 Gambar 4.17 Detail plat siku ................................................... 68 Gambar 4.18 Denah lift ............................................................ 71 Gambar 4.19 Sketsa mekanika pehitungan balok penggantung lift ............................................................................................. 72 Gambar 4.20 Distribusi tegangan plastis .................................. 74 Gambar 4.21 Sketsa mekanika pehitungan balok penumpu lift 78 Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis .................................. 80 Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .............................................. 91 Gambar 5.2 Pemodelan Stuktur 3D ......................................... 92

xx DAFTAR TABEL
Tabel Tabel Tabel Table Table Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 2.1 Ukuran Minimum Las Sudut ...................................... 20 5.1 Berat Struktur per lantai.............................................. 90 5.2 Nilai Xcr dan Ycr........................................................ 95 5.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan ............................ pp96 5.4 Modal Participating Mass Ratio ................................. 99 5.5 Selisih Periode antar Mode yang Berdekatan ........... 100 5.6 Simpangan ................................................................ 102 5.7 Analisa Δs akibat gempa arah x ................................ 103 5.8 Analisa Δs akibat gempa arah y ................................ 103 5.9 Analisa Δm akibat gempa arah x .............................. 104 5.10 Analisa Δm akibat gempa arah y ............................. 105

xxii

Apartemen tersebut terdiri dari 36 lantai. (5) . dimana pada beton bertulang gaya-gaya tarik yang dialami suatu elemen struktur dipikul oleh besi tulangan tetapi pada struktur komposit ini gaya-gaya tarik yang terjadi pada suatu elemen struktur dipikul oleh profil baja. Dari beberapa penelitian. dimana tower tersebut merupakan gedung apartemen yang dibangun dengan menggunakan beton bertulang konvensional. Keistimewaan yang nyata dalam sistem komposit adalah (1) Penghematan berat baja. Sementara itu ketersediaan lahan untuk tempat tinggal di kota tersebut semakin sempit.1 BAB I PENDAHULUAN I. Komposit balok baja dan pelat beton adalah satu usaha dalam mendapatkan suatu konstruksi yang baik dan efisien. (2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil. kekakuan dan keunggulan ekonomis ( Vebriano Rinaldy & Muhammad Rustailang. struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan. 2005 ). Kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung di kota tersebut sangat diperlukan salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal yang terus meningkat. Tower Albergo merupakan satu diantara empat tower The Bellezza. Balok komposit merupakan campuran beton dengan baja profil. (3) kekakuan lantai meningkat. (4) kapasitas menahan beban lebih besar. kemudian direncanakan ulang dengan menggunakan struktur komposit baja beton.1 Latar belakang Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang sangat padat. hal tersebut menjadi satu alasan banyak bangunan tempat tinggal di kota Jakarta dibangun bertingkat dan salah satunya adalah Tower Albergo. Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur.

Bagaimana menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. 2. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. Pada Tugas Akhir ini menggunakan peraturan SNI 032847-2002 tentang tata cara perhitungan beton untuk bangunan gedung dan SNI 03-1726-2002 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung serta SNI 03-17292002 tentang tata cara perencanaan struktur baja.3 Tujuan Adapun tujuan dari modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton. Bagaimana menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. antara lain : 1. Bagaimana menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder.2 Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar ( Charles G. Salmon. Dapat menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. I. . 2.2 Permasalahan Permasalahan yang ditinjau dalam modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton. 5. 4. yaitu : 1.1991 ). 3. Bagaimana memodelkan dan menganalisa struktur setelah adanya modifikasi. Dapat menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. I. Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur.

dan manajemen konstruksi. 2.4 Batasan masalah 1. Jumlah lantai yang akan direncanakan ulang menggunakan struktur komposit baja beton sebanyak 12 tingkat. tangga dan pelat lantai. 5. 4. arsitektural. Dapat memodelkan dan menganalisa struktur dengan menggunakan program bantu 4. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. 2. Meninjau metode pelaksanaan yang hanya berkaitan dengan perhitungan struktur. Perencanaan struktur utama meliputi balok induk dan kolom. 5. Dapat merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur. Tidak meninjau dari segi analisa biaya.0 I. Dapat merencanakan struktur komposit yang memenuhi persyaratan keamanan struktur. 3.2.5 Manfaat Manfaat yang bisa didapatkan dari modifikasi perencanaan ini adalah : 1. Dapat menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. struktur sekunder meliputi balok anak.3 3. Dari perencanaan ini bisa diketahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan sehingga kegagalan struktur bisa diminimalisasi. . I. Analisa struktur menggunakan program bantu ETABS v9.

4 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

maka akan didapat pengurangan pada tebal seluruh lantai. Sifat-sifatnya yang terutama penting dalam penggunaan dibandingkan terhadap bahan lain yang tersedia dan sifat ductility.1999). Penampang komposit adalah penampang yang terdiri dari profil baja dan beton digabung bersama untuk memikul beban tekan dan lentur. Apabila untuk mendapatkan aksi komposit bagian atas gelagar dibungkus dengan lempeng beton. pekerjaan saluran air. metode plastis. Dalam perhitungan perencanaan ada tiga macam metode perhitungan yaitu metode elastis. dan lain-lainnya. tekan dan lentur umumnya disebut dengan kolom komposit. pekerjaan saluran pendingin ruangan. dan metode LRFD (Load and Resistance Factor Design). keadaan ini memberikan penghematan yang cukup besar dalam volume. 1991). pekerjaan pemasangan kabelkabel. . Ductility adalah kemampuan untuk berdeformasi secara nyata baik dalam tegangan maupun regangan sebelum terjadi kegagalan (Charles G.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.(Amon. Knobloch & Mazumder. Penampang komposit mempunyai kekakuan yang lebih besar dibandingkan dengan penampang lempeng beton dan gelagar baja yang bekerja sendiri-sendiri dan dengan demikian dapat menahan beban yang lebih besar atau beban yang sama dengan lenturan yang lebih kecil pada bentang yang lebih panjang. Batang yang memikul lentur umumnya disebut dengan balok komposit sedangkan batang yang memikul beban tekan. Salmon. dan untuk bangunanbangunan pencakar langit. dinding-dinding.1 Umum Baja merupakan salah satu bahan konstruksi yang penting.

2 Balok komposit Balok adalah salah satu diantara elemen-elemen struktur yang paling banyak dijumpai pada setiap struktur. Balok adalah elemen struktur yang memikul beban yang bekerja tegak lurus dengan sumbu longitudinalnya. yaitu suatu keadaan dimana struktur atau elemen struktur didesain sampai menunjukkan perilaku tidak dapat berfungsi lagi. Sehingga beban kerja yang direncanakan dikalikan dengan faktor beban dan struktur direncanaan berdasarkan kekuatan keruntuhan (collapse).Serviceability limit state: kelakuan struktur memikul beban Secara umum perumusan untuk pendekatan desain metode LRFD ini dapat dituliskan sebagai berikut : ϕRn ≥ γo ∑ γi Qi 2. Ada dua kategori yang menyatakan keadaan batas (limit state) : .1998).Strength limit state : kemampuan struktur memikul beban . Baja akan memiliki cadangan kekuatan di atas kekuatan elastis. Hal ini akan menyebabkan balok melentur (Spiegel & Limbrunner.6 a) Metode Elastis Metode ini berdasarkan beban kerja dimana akibat beban kerja yang direncanakan tegangan yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan yang diijinkan. . Tegangan ijin = σy Teganganleleh atau w = FK FaktorKeamanan b) Metode Plastis Metode ini berdasarkan pada sifat baja yang mempunyai sifat daktilitas. LF (Q) ≤ Rn c) Metode LRFD Metode ini berdasarkan pada konsep keadaan batas (limit state).

c. Balok baja yang diberi selubung beton Walaupun tidak diberi angker. 12.1980). 2) Posisi tepi atas balok baja tidak boleh kurang daripada 40 mm di bawah sisi atas pelat beton dan 50 mm di atas sisi bawah plat.7 Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang kekuatannya bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan (Bowles. Balok komposit parsial Pada balok komposit parsial. . balok baja yang diberi selubung beton di semua permukaannya dianggap bekerja secara komposit dengan beton. kekuatan balok dalam memikul lentur dibatasi oleh kekuatan penghubung geser. Balok komposit penuh Untuk balok komposit penuh.6). penghubung geser harus disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga balok mampu mencapai kuat lentur maksimumnya. seperti pada penentuan defleksi atau tegangan akibat beban layan. Perhitungan elastis untuk balok seperti ini.2. 3) Selubung beton harus diberi kawat jaring atau baja tulangan dengan jumlah yang memadai untuk menghindari terlepasnya bagian selubung tersebut pada saat balok memikul beban.7).8) 1) Tebal minimum selubung beton yang menyelimuti baja tidak kuang daripada 50 mm. harus mempertimbangkan pengaruh adanya slip antara baja dan beton (SNI 03-1729-2002 Ps.2.12.2. selama hal-hal berikut terpenuhi (SNI 031729-2002 Ps. slip antara baja dan beton dianggap tidak terjadi (SNI 03-1729-2002 Ps. Beberapa jenis balok komposit antara lain : a.12. b. kecuali yang disebutkan pada butir ke-2 di bawah. Pada penentuan distribusi tegangan elastis.

1 Penampang balok komposit 2.Mn harus dihitung untuk penampang baja saja.8 a) Balok Komposit (tanpa deck) b) Balok baja diberi selubung beton Gambar 2.untuk h ≤ 1680 tw fy dengan φb = 0. b.9 dan Mn dihitung berdasarkan superposisi tegangan-tegangan elastis yang memperhitungkan pengaruh tumpuan sementara plastis pada penampang komposit.untuk > tw fy dengan φ b = 0.4.2.85 dan Mn dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis pada penampang komposit.2) : .1 Kekuatan Balok Komposit dengan Penghubung Geser a. h 1680 .1) : .Kuat Lentur positif rencana ditentukan sebagai berikut (LRFD Pasal 12.2.2.4.Kuat Lentur negatif rencana φ b . dengan mengikuti ketentuanketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12.

Untuk gelagar eksterior : bE ≤ L 8 bE ≤ bo + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab) dimana : L = bentang balok bo = bentang antar balok 2.fy Dipilih nilai yang terkecil dari kedua nilai di atas .2.f’c. Salmon. 1996) • Menghitung momen nominal ( Mn ) positif 1.2.85.2.Untuk gelagar interior : bE ≤ L 4 bE ≤ bo (untuk jarak balok yang sama) .tp.9 2.beff . Distribusi tegangan plastis (Sumber :Charles G.3 Menghitung momen nominal Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis : Gambar 2. Menentukan gaya tarik ( T) pada baja : T = As.2 Lebar efektif plat lantai : . Menentukan gaya tekan ( C ) pada beton : C = 0.

fy Gaya pada badan .beff 3.Menghitung jarak ke centroid d1 = hr + tb – c ( Pf . Kekuatan momen nomimal : Mn = C. Pf = bf .tf .d2) .d 1 atau T.10 2. 1.5. Pw = Pyc − T − Pf 2 aw = Pw tw.Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja T = n.fy Gaya pada sayap . fy⎜ + ts − ⎟ 2⎠ ⎝2 • Menghitung momen nominal ( Mn ) negatif.5.Ar. f ' c.tf ) + ( Pw(tf + 0.Menghitung momen ultimate : Mn = T(d1 + d2) + Pyc(d3 . fy a= 0. Menentukan tinggi blok tekan effektif : As.fyr Pyc = As.85.d1 Bila kekuatan nominal dinyatakan dalam bentuk gaya baja akan diperoleh : a⎞ ⎛d Mn = As. fy 2.a web ) d2 = Pf + Pw d3 = d 2 3.0.

.. Menghitung momen inersia penampang transformasi It = b . +⎜ ⎜ As tr 2 ⎝ GNE = A + ( tr d ⎞⎞ ⎛ ... ts 2.11 b efektif btr ts hr GNE komposit GNE d GN baja yt Gambar 2. fc' Mpa . ( ts)3 tr 12 2 ⎞ ⎛ ⎞ ⎛⎛ d ⎞ ts ⎟ ⎜ + Ix + A ⎜ + A GNE − ⎜ + ts + hr ⎟ − GNE ⎟ ⎟ tr ⎜ s⎜ 2 ⎟ 2 ⎝ ⎠ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ 2 4. Menghitung nilai transformasi beton ke baja Ec = 4700 ... Es = 200000 Mpa n = Es Ec btr = beff n Atr = btr . Metode transformasi luasan Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis : 1. Menghitung modulus penampang transformasi yc = GNE yt = d + ts + hr . Menentukan letak garis netral penampang transformasi (dimomen ke ambang atas) ts ⎛ A .3..GNE . ⎜ ts + ⎟ ⎟ 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ A s ) 3. untuk beton normal...

Str.Asc.4 Penghubung Geser Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal 12.fu ⎜ ⎝ ⎟ ⎠ ⎛ ⎜ ⎞ ⎟ Dimana : rs untuk balok tegak lurus balok : 0. Menghitung momen ultimate Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh digunakan dari nilai yang terkecil dari : Mn1 = 0.t = I tr yt 5.5.6.2.12 I Str. Str.6 * ⎜ ⎟*⎜ hr hr ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Nr = jumlah stud setiap gelombang Hs = tinggi stud Hr = tinggi bondek Wr = lebar effektif bondek Asc = Luas penampang shear connector fu = Tegangan putus penghubung paku/stud Qn = Kuat nominal geser untuk penghubung geser Jumlah penghubung geser (shear connector) yang dibutuhkan yaitu : n = C Qn . Mn 2. fc’ .85 ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 *⎜ ⎟*⎜ Nr ⎝ hr ⎠ ⎝ hr ⎠ rs untuk balok sejajar balok : ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ − 1⎟ ≤ 1 rs = 0.c Mn2 = fy .c = tr yc dan Str.85 .rs ≤ Asc. n .t Jadi : Mu ≤ ∅ .⎜⎜ fc'.Ec ⎟⎟.3) Qn = 0.

Perhitungan lendutan pada balok berdasarkan beban kerja yang dipakai di dalam perhitungan struktur.5 Kontrol lendutan (Deflection) Batasan lendutan atau deflection pada biaya telah diatur didalam SNI 03-1729-2002. Penampilan dari suatu struktur akan berkurang dari segi estetika dengan lendutan yang besar. Lendutan diperhitungkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : Lendutan yang besar dapat mengakibatkan rusaknya barangbarang atau alat-alat yang didukung oleh balok tersebut.ql 4 = untuk beban terbagi merata.13 2.E. bukan berdasar kan beban berfaktor. Besar lendutan dapat dihitung dengan rumus : ƒmax 5.I 48.I 3 ƒmax = Pl untuk beban terpusat di tengah bentang .E. Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penghuni banguna tersebut.2. dan 384.

Ada dua tipe kolom komposit.1) : Luas penampang profil baja minimal sebesar 4% dari luas penampang komposit total.12. Selubung beton untuk penampang komposit yang berintikan baja harus diberi tulangan baja longitudinal dan tulangan pengekang lateral.3 Kolom Komposit Kolom komposit didefinisikan sebagai “ kolom baja yang dibuat dari potongan baja giling (rolled) built-up dan di cor di dalam beton struktural atau terbuat dari tabung atau pipa baja dan diisi dengan beton struktural (Salmon & Jonson. Penampang kolom komposit Kriteria untuk kolom komposit bagi komponen struktur tekan (SNI 03-1729-2002 Ps.3.4. yaitu : • Kolom komposit yang terbuat dari profil baja yang diberi selubung beton di sekelilingnya (kolom baja berselubung beton).14 2. Profil Baja dibungkus beton Pipa baja O didisi beton Gambar 2. 1996). • Kolom komposit terbuat dari penampang baja berongga (kolom baja berintikan beton). . 1.

Tebal bersih selimut beton dari tepi terluar tulangan longitudinal dan transveersal minimal sebesar 40 mm. Mutu beton yang digunakan tidak lebih 55 Mpa dan tidak kurang dari 21 Mpa untuk beton normal dan tidak kurang dari 28 Mpa untuk beton ringan.25λc 2 maka ω = untuk λr ≥ 0. Luas minimum penampang tulangan transversal (atau lonitudinal) terpasang.25 ≤ λr ≤ 1. 5. 3.25 dengan . 2. 12.15 2. Tulangan baja longitudinal harus menerus pada lantai struktur portal. Tegangan leleh profil dan tulangan baja yang digunakan untuk perhitungan kekuatan kolom komposit tidak boleh lebih dari 380 Mpa.2 ω maka ω = 1 1. Tebal minimum dinding pipa baja atau penampang baja berongga yang diisi beton adalah b fy / 3E untuk setiap sisi selebar b pada penampang persegi dan D fy / 8 E untuk penampang bulatyang mempunyai diameter luar D.43 1.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI 03-1729-2002 Ps.3. Jarak antar pengikat lateral tidak boleh melebihi 2/3 dari dimensi terkecil penampang kolom komposit.85 Nn = As fcr dan fcr = untuk untuk fmy λr ≤ 0. 4.6 − 0. kecuali untuk tulangan longitudinal yang hanya berfungsi memberi kekangan pada beton.3.2) Kuat rencana kolom komposit yang menumpu beban aksial adalah øc Nn dengan øc = 0.67λc maka ω = 1.25 0. .

16 λc = kcL rmπ fmy Em ⎛ Ar ⎞ ⎛ Ac ⎟ fmy = fy + c1 fyr ⎜ + c fc ' ⎜A ⎟ 2 ⎜ ⎜A ⎝ s⎠ ⎝ s ⎛ Ac ⎞ E m = E + c3 E c ⎜ ⎜A ⎟ ⎟ ⎝ s⎠ E c = 0. N adalah jari-jari girasi kolom komposit. MPa adalah tegangan leleh untuk perhitungan kolom komposit. MPa adalah tegangan leleh profil baja.041w1. MPa adalah modulus elastisitas beton. MPa adalah tegangan tekan kritis. mm2 Ar E Ec adalah luas penampang tulangan longitudinal. MPa komposit. mm adalah parameter kelangsingan adalah faktor reduksibeban aksial tekan adalah faktor tekuk E m adalah modulus elastisitas untuk perhitungan kolom f cr fy fy fc ' kc Nn rm λc ω øc . mm2 adalah modulus elastis baja.5 f 'c ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Keterangan : As adalah luas penampang beton. MPa adalah faktor panjang efektif kolom adalah kuat aksial nominal. MPa adalah kuat tekan karakteristik beton.

Nn ⎢⎢⎣ϕ b.dan c3 =0.3). c1 .Nn ⎡ ⎤ Nu + 8 .85 .90 (struktur lentur) Mnx .Mnx ϕ b. Untuk profil baja yang diberi selubung beton : c1 = 1.85 .Mny ⎥⎥⎦ b. N. c 2 .3. Muy =Momen lentur terfaktor masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y.0 2 . dimana : Nu = Gaya aksial (tarik atau tekan) terfaktor.85 (struktur tekan) ∅b = 0. N ∅ = Faktor reduksi kekuatan ∅c = 0.mm Mux . Untuk pipa baja yang diisi beton : c1 = 1.4 b).Nn 9 ⎢⎣⎢ϕ b. c 2 = 0. ϕ c. Nu ≥ 0. Mny =Momen lentur nominal penampang komponen struktur masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y.mm .dan c3 adalah koefisien yang besarnya a). c 2 = 0.⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1.Mnx ϕ b. N.4. N Nn = Kuat nominal penampang.4 Kekuatan rencana kolom komposit yang menahan beban kombinasi aksial dan lentur (LRFD Pasal 7.ϕ .0 ϕ .Nn ⎡ ⎤ Nu + ⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1.2 ϕ c.2 a.17 Pada persamaan di atas.dan c3 =0.Mny ⎥⎦⎥ Nu < 0.

pelat buhul. 2.4. Sambungan kaku / Rigid connection adalah sambungan yang dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut-sudut di antara komponenkomponen struktur yang akan disambung.18 2. namun harus dianggap memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan kekangan yang dapat diukur terhadap perubahan sudutsudut tersebut 3. Sambungan pada baja .5.4 Sambungan Sambungan terdiri dari komponen sambungan (pelat pengisi. Sambungan semi kaku / Semi rigid connection adalah sambungan yang tidak memiliki kekakuan yang cukup mempertahankan sudut-sudut diantara komponenkomponen struktur yang disambung.1 Klasifikasi sambungan : 1. Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sanbungan. dan pelat penyambung) dan alat pengencang (baut dan las). Sambungan sendi / Simple connection adalah sambungan yang pada kedua ujung komponen struktur dianggap bebas momen. 2. Semi Rigid Connection Rigid Connection Rigid Connection Gambar 2. pelat pendukung.

Deformasi pada sambungan masih berada dalam batas kemampuan deformasi sambungan.tp φRn diambil yang terkecil Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum : 1.5db (LRFD 13.4.(1.3 Sambungan Baut Kuat geser φRnv Kuat tumpu φRnt Jumlah baut. Sambungan dan komponen yang berdekatan harus mampu memikul gaya-gaya yang bekerja padanya.1.m = φ. Gaya dalam yang disalurkan berada dalam keseimbangan dengan gaya-gaya yang bekerja pada sambungan.4 Sambungan Las Ru ≤ ϕRnw dengan.1) Jarak maksimum antar baut : 15tp atau 200 mm (LRFD 13.2 Perencanaan sambungan Kuat rencana setiap komponen tidak boleh kurang dari beban terfaktor yang dihitung.75 × 0.8)fy.6 × fu × Anv Vu < φPn 2.4.3) Jarak minimum antar baut : 3db (LRFD 13. Perencanaan sambungan harus memenuhi persyaratan (SNI 03-1729-2002 Ps.4.4. n = Vu = φ.4. 13.Rnw = 0.6 × fuw) (las) .4.db.Ab.3) Kontrol Kekuatan Pelat φPn = 0. φf . 2.3) : 1.fv. 3.2) Jarak tepi maksimum : (4tp + 100 mm) atau 200 mm (LRFD 13.4. 2.19 2.75 × t e × (0.

pondasi tiang bor ( pondasi sumuran ). Pondasi dangkal dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif kecil. a (mm) 3 4 5 6 Tebal bagian paling tebal.1.6 × fu ) (bahan dasar) keterangan : fuw : tegangan tarik putus logam las fu : tegangan tarik putus bahan dasar te : tebal efektif las (mm) Tebal minimum las sudut.Ukuran Minimum Las Sudut 2. dikatakan pondasi dalam jika perbandingan antara kedalaman pondasi (D) dengan diameternya (B) adalah lebih besar sama dengan 10 (D/B > 10). antara lain pondasi tiang pancang. yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar .1 Pondasi Tiang Pancang a.5.Rnw = 0. t (mm) t ≤ 7 7 < t ≤ 10 10 < t < 15 15 < t Tabel 2. Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal. 2. sedangkan untuk pondasi dalam dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif besar seperti pada gedung yang berlantai banyak. Dalam perencanaan pondasi ada dua jenis pondasi yang umum dipakai dalam dunia konstruksi. pondasi caisson dan lain sebagainya.Pondasi dalam ini ada beberapa macam jenis. yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.75 × t e × (0.20 φf .5 Perencanaan Pondasi Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah.

21 tiang pondasi ( Qp ) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah ( Qf ). As = ⎛ + 1⎟ . daya dukung suatu tiang juga harus ditinjau berdasarkan kekuatan bahan tiang pancang tersebut. Perhitungan daya dukung dapat ditinjau dari dua keadaan. untuk tanah lanau berpasir = 40 t/m2. untuk tanah pasir Ap qp = Luas penampang dasar tiang = tegangan di ujung tiang Ns ⎞ Qs = qs . Ap dengan : Np K = Harga rata-rata SPT di sekitar 4B di atas hingga 4 B di bawah dasar tiang pondasi = Koefisien karakteristik tanah = 12 t/m2. untuk tanah lempung = 20 t/m2. K ) . untuk tanah lanau berlempung = 25 t/m2. As ⎜ 3 ⎝ ⎠ . yaitu : • Daya dukung tiang pancang tunggal yang berdiri sendiri • Daya dukung tiang pancang dalam kelompok. Ap = ( Np . Sehingga daya dukung total dari tanah dapat dirumuskan : Qu = Qp + Qs Disamping peninjauan berdasarkan kekuatan tanah tempat pondasi tiang pancang di tanam. Perhitungan daya dukung tiang pancang ini dilakukan berdasarkan hasil uji Standard Penetration Test ( SPT ) menurut Luciano Decourt ( 1982 ) Ql = Qp + Qs dimana : Qp = qp . Hasil daya dukung yang menentukan yang dipakai sebagai daya dukung ijin tiang.

Dari problema ini. pengaruh dari sebuah group tiang pondasi tidak perlu diperhitungkan bila jarak as ke as antar tiang . Namun untuk kondisi tanah didominasi oleh pasir lepas atau dengan tingkat kepadatan sedang. Qijin 1 tiang = Dimana : SF N’ N = safety factor = 3 = harga SPT di lapangan = harga SPT setelah dikoreksi = 15 + [ ( N’ – 15 ) /2 ] Qu SF b. dapat dibedakan dua fenomena sebagai berikut : ¾ Pengaruh group disaat pelaksanaan pemancangan tiang-tiang ¾ Pengaruh group akibat sebuah beban yang bekerja Proses pemancangan dapat menurunkan kepadatan di sekeliling tiang untuk tanah yang padat. Daya dukung dukung tiang kelompok Disaat sebuah tiang merupakan bagian dari sebuah group. karena pengaruh dari group tiang tersebut. pemancangan dapat menaikkan kepadatan disekitar tiang bila jarak antar tiang < 7 s/d 8 diameter. daya dukungnya mengalami modifikasi. dengan batasan : 3 ≤ N ≤ 50 = keliling x panjang tiang yang terbenam Daya dukung ijin dari satu tiang pancang yang berdiri sendiri adalah daya dukung tiang total dibagi dengan suatu angka keamanan. Untuk daya dukung batas.22 Dengan : qs Ns As = tegangan akibat lekatan lateral dalam t/m2 = harga rata-rata sepanjang tiang yang tertanam.

2 Repartisi beban-beban diatas tiang kelompok Bila diatas tiang-tiang dalam kelompok yang disatukan oleh sebuah kepala tiang (poer) bekerja beban-beban vertikal (V).x max M x .5 diameter tiang.y max dimana : Pv = ± ± 2 2 n ∑x ∑y Pv = Beban vertikal ekivalen V = Beban vertikal dari kolom n = banyaknya tiang dalam group Mx = momen terhadap sumbu x My = momen terhadap sumbu y xmax = absis terjauh terhadap titik berat kelompok tiang ymax = ordinat terjauh terhadap titik berat kelompok tiang 2 ∑x = jumlah dari kuadrat absis tiap tiang terhadap garis netral group . horizontal (H). dan momen (M). Untuk kasus daya dukung group pondasi.23 adalah > 3 diameter. harus dikoreksi terlebih dahulu dengan koefisien efisiensi Ce.5. maka besarnya beban vertikal yang bekerja pada sebuah tiang adalah : ekivalen (Pv) V M y . jarak minimum antar tiang dalam group adalah 2 s/d 2. digunakan cara Converse – Labarre : arc tan (∅ / s ) ⎛ 1 1⎞ Ce = 1 − ×⎜2 − − ⎟ 90° m n⎠ ⎝ dimana: ∅ : diameter tiang pondasi S : jarak as ke as antar tiang dalam group m : jumlah baris tiang dalam group∅ n : jumlah kolom tiang dalam group 2. Sebaliknya. QL (group) = QL (1 tiang) × n × Ce n = jumlah tiang dalam group Untuk menghitung koefisien efisiensi Ce.

5D ≤ S ≤ 3D 1. Perhitungan jarak tiang ( Dirjen Bina Marga Departemen PU) sebagai berikut : 2. S1 = jarak as tiang pancang ke tepi.24 ∑y2 = jumlah dari kuadrat ordinat tiap tiang terhadap garis netral group nilai x dan y positif jika arahnya sama dengan arah e. . D = diameter tiang pancang.5D ≤ S1 ≤ 2D dimana : S = jarak antar as tiang pancang. dan negative bila berlawanan dengan arah e.

1 Bagan Alir Penyelesaian Tugas Akhir Mulai Pengumpulan Data Studi Literatur Perencanaan Struktur Sekunder Preliminary Desain dan Pembebanan Pemodelan dan Analisa Struktur Not Ok Kontrol Desain Ok Perencanaan Pondasi Penggambaran Hasil Perencanaan Selesai .25 BAB III METODOLOGI 3.

Jakarta: Erlangga. Bruce & Mazumder. Letjen Soepono.Johnson.CE. Surabaya : ITS. Jakarta 3. Nama Gedung : Gedung Albergo 2.Bandung : PT. Daya Dukung Pondasi Dalam. b. e. Lebar bangunan : 27 m 8. Wira M. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Amon.1991. Knobloch.Data umum bangunan (kondisi Awal) 1. Charles & E. Adapun beberapa literatur serta peraturan gedung tersebut antara lain adalah sebagai berikut : a.Pradinya Paramita. Rene . 2005 f. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. 2006.Atanu. Struktur Utama : Struktur beton bertulang . Lokasi : JL.2 Mengumpulkan data yang berkaitan dengan perencanaan Mempelajari gambar eksisting sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan modifikasi perencanaan. 1998 g. Herman. Panjang banguna : 40 m 7. Wahyudi. Fungsi : Apartemen 5. 1999. Mempelajari data-data perencanaan secara keseluruhan yang mencakup: . Salmon. Tinggi Bangunan : 140. 1999. Purwono. c. G. Jumlah lantai : 36 lantai + Atap 6. John. American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD). Rahmat. . Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Muhammad.26 3.Data Bahan 3.7 m 10.3 Studi literatur Mencari literatur dan peraturan gedung (building code) yang menjadi acuan dalam pengerjaan tugas akhir ini. Rinaldy.S. Vebriano & Rustailang. d. Spiegel & Limbrunner. Diterjemahkan oleh: Ir.

.4 Perencanaan Struktur Sekunder a. k. Perencanaan balok lift 3.5 Preliminary Design dan Pembebanan 3... SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. Perencanaan pelat lantai c..1 Preliminary Design Balok Mu φ = Mn Mn = Zp x fy .5.. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. i. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. 3. Perencanaan balok anak e.27 h. Dimana : Mu : momen ultimate beban ø : faktor reduksi lentur Mn : momen nominal Zp : momen tahan plastis fy : tegangan leleh baja .(asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) Zp = Mn ……. j..... Perencanaan pelat atap d. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983..dari nilai Zp didapat rencana fy awal dimensi balok. Perencanaan tangga b.

1) Berat volume spesi : 2100 kg/m3 (tabel 2.3 Pembebanan Perencanaan pembebanan pada struktur ini berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983 dan SNI 03-1726-2002. Beban Mati (PPIUG 1983 Bab1 pasal 1.1) Berat volume plafond : 11 kg/m2 (tabel 2.5.1) Berat volume penggantung : 7 kg/m2 (tabel 2.5.1) Berat volume aspal : 1400 kg/m3 (tabel 2.1) Berat volume tegel : 2400 kg/m3 (tabel 2.2 Preliminary dimensi kolom pu φ pn (asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) fy = A Pn dari nilai A didapat rencana awal dimensi kolom. penyelesaian-penyelesaian.1) Berat volume AC dan perpipaan : 10 kg/m2 (tabel 2.1) Beban mati ialah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan.28 3. Pembebanan tersebut antara lain : a.1) Berat dinding partisi : 40 kg/m2 (tabel 2.1) . mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu.1) Berat volume ps bata merah : 250kg/m2 (tabel 2. A= fy Dimana : Pu : gaya aksial ultimate beban ø : faktor reduksi gaya aksial tekan Pn : momen nominal A : luas penampang = Pn 3. Yang nilainya sebagai berikut : Berat volume beton : 2400 kg/m3 (tabel 2.

ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam pasal 4.2 (PPIUG 1983) dengan kefisienkoefisien angin yang ditentukan dalam pasal 4. Beban Gempa (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan). d. yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau. Beban Angin (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.29 b.1) . 2) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung.1) c.3 (PPIUG 1983). sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.Beban hidup pada lantai diambil sebesar 250 kg/m2 (pasal 3.Beban hidup pada lantai mesin elevator diambil sebesar 400 kg/m2 (tabel 3. dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang barang yang dapat berpindah. Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam kg/m2.Beban hidup pada lantai atap diambil sebesar 100 kg/m2 (pasal 3. . 3) Beban angin ialah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.Beban hidup pada tangga diambil sebesar 300 kg/m2 (tabel 3.1) .2. mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu.1) . Beban Hidup (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.4) Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang .

..2) .. n = Jumlah tingkatnya Simpangan antar lantai (SNI 03 – 1726 – 2002) ....5 ...03 / R Ambil terkecil (pasal 8. (pasal 4...Kinerja batas layan : ΔS = 0.. Gaya geser dasar rencana total...6 SNI 03 – 1726 – 2002): T1 < ς n dimana : ς = Koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada (Tabel 8). (pasal 8.. maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik....6) . T1 = Cc (hn)3/4 R = Gaya geser dasar Nominalstatik ekuivalen = Faktor reduksi gempa = Waktu getar alami fundamental = Berat total gedung = Faktor kepentingan struktur = Tinggi total gedung = Faktor respons gempa Pembatasan waktu getar alami fundamental (Pasal 5..Kinerja batas ultimit : ΔM = ΔS * ξ . ditetapkan sebagai berikut: V = dimana : V R T1 Wt I Hn C1 C1 × I × Wt .3. V...30 menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu..1) ΔS = 30 mm Dimana : R = RSRPMB Baja = 4.

9 Penggambaran hasil perhitungan dalam gambar teknik Penggambaran hasil Perencanaan dan perhitungan dalam gambar teknik ini dengan menggunakan program bantu AutoCAD.1.2-3) .0.0 E + γL L . dan peraturan angka keamanan.2-1) (6.2-2) .0 E) (6. 3.8 W) (6.4 D (6.2 D + 1. dan juga perhitungan sambungan dimana dari kontrol tersebut dapat mengetahui apakah desain yang kita rencanakan telah sesuai dengan syarat-syarat perencanaan.0.3 W + γL L + 0.2 D + 1.2-5) .2-4) .1. Bila tidak memenuhi maka dilakukan re-design. balok.3W atau 1.31 ¾ Kombinasi Pembebanan Kombinasi Pembebanan sesuai dengan LRFD tersebut di atas dengan kombinasi sebagai berikut (metode LRFD) : .8 Perencanaan Pondasi Setelah perencanaan bangunan atas selesai.7 Kontrol Desain Setelah melakukan analisa struktur bangunan.9 D – (1. tahap selanjunya kita kontrol desain meliputi kontrol terhadap kolom.1. 3. 3. serta efisiensi.1. .1.2 D + 1.6 Pemodelan dan Analisa Struktur Untuk mengetahui gaya dalam yang timbul pada elemen struktur akibat beban yang bekerja maka dilakukan analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS v9.5 (La atau H) (6.2. tahap selanjutnya yaitu kita mendesain pondasi bangunan.6 (La atau H) + (γL L atau 0. Bila telah memenuhi maka dapat diteruskan ke tahap pendetailan.6 L + 0.2-6) 3.5 (La atau H) (6.2 D + 1.

32 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

.55º ..1.33 BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 4.Ok a = arc tg ⎛ ⎜ ⎟ ..5 cm Jumlah tanjakan = 2 212..1...5 = 13 buah = 12 buah = 140 cm = 150 cm = 360 cm = 330 cm Jumlah injakan ( n ) =13-1 Lebar bordes Lebar tangga Panjang Tangga Panjang Bordes ⎝ 30 x12 ⎠ 212.5 17..1 Data perencanaan Tinggi antar lantai Tinggi bordes Lebar injakan Panjang tangga Lebar pegangan tangga = 425 cm = 212......2 Perecanaan Jumlah Injakan Tangga .Perhitungan jumlah injakan tangga Tinggi injakan ( t ) = 65 − 30 = 17.1 Perencanaan Tangga 4..5 ⎞ = 30.Persyaratan – persyaratan jumlah injakan tangga 60 cm < ( 2t + i ) < 65 cm 25º < a < 40º Dimana : t = tinggi injakan (cm) i = lebar injakan (cm) a = kemiringan tangga ...5 cm = 30 cm = 360 cm = 5 cm 4...

2 Potongan A – A tangga .1 Denah tangga Gambar 4.34 Pelat Combideck t= 9 cm Balok Utama Tangga Channel 260x90x10x1 Pelat Anak Tangga t= 3 mm Gambar 4.

4 x 0.437 kgm = 0.063 kgm Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.32 ML = 1/8 q L l2 = 0.32 = = 0.437 kgm 5.50 x 7850 = 35.Perencanaan pembebanan pelat tangga Beban Mati Berat pelat = 0.1.53 kg/m + qD = 38.3 Tampak anak tangga .6 30 cm 150 cm Gambar 4.3 Perencanaan Pelat Tangga Pelat baja t=3mm Profil Siku 60.50 = 450 kg/m Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 q D l2 = 0.35 4.003 m Berat jenis baja = 7850 kg/m3 Mutu baja Bj 41→Tegangan leleh baja = 2500 kg/cm2 .Perencanaan tebal pelat tangga Tebal pelat tangga = 3 mm = 0.60.858 x 0.612 kgm .4 MD = 1.003 x 1.325 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 3.125 x 450 x 0.125 x 38.858 kg/m Beban Hidup qL = 300 x 1.

0. 35 30 + = 365 2..8 cm4 ix = 1.32 = 3....83 cm3 W = 5.82 cm 4 iy = 1..9 x 3.8 cm 2 Zx = 9.75 kgcm Syarat : φMn > Mu 75... dengan data sebagai berikut : b = 60 mm Ix = 22....4 Tampak melintang anak tangga .91 cm Gambar 4.2 x 0.33 = 0.94 kgm > 8.6 x 5..437 + 1.625 kgm.063 = 8..42 kg/m A = 6.4 Perencanaan Penyangga Pelat Injak Direncanakan menggunakan profil siku 60x60x6......0804 < 0..3375 = 0.6 ML = 1...25 x 150 x 0.1...375 x 2500= 7593. 38858 4 ..2 MD + 1.10 6...82 cm tw = 6 mm Iy = 22..36 MU = 1....0833 ....375 cm3 φMn = φZx x fy = 0..625 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur Zx = ¼ bh2 = 0.Ok Kontrol Lendutan f = L = 30 = 0.Ok 4..0833 cm 360 360 Ix = 1 bh 3 = 1 x 150 x 0.3375 cm4 12 12 4 Ymax = 5 (q D + q L )l < f 384 EI x 4 ( ) 5 0 .

895 kg/m + qD = 9.2.2) = 168.50) + 0.848.125 x 9.15 x 0.5(1.l ) + 1 ( 1.qD.5(1.863 Kg .2.769 kgm ML = 1/8 qL l2 → akibat beban merata = 0.848 kg/m Beban Hidup ( 1/2 lebar injakan ) qL = 300 x 0.502 = 11.953 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 0.2 ) 2 2 = 0.533 kg/m Berat baja siku 60x60x6 = 5.1.125 x 45 x 1.9.100.42 kg/m + = 8.150 = 5000 kg cm = 50 kgm Vu = 1 ( 1.P.37 - Perencanaan pembebanan P=100Kg P=100Kg VA VB Gambar 4.848 x 1.003 x 7850 = 3.6.502 = 2.5 Sketsa pembebanan pelat tangga Beban Mati ( ½ lebar injakan) Berat pelat = 0.6.15 = 45 kg/m pL = 100 = 100 kg Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 qD l2 = 0.827 kgm ML = 1/3(PL) → akibat beban terpusat = 1/3.100.

106 x 22...2 MD + 1.8 = 0..6 ML = 1..769 + 1..323 kgm..625 cm 240 240 Ix = 22....38 Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.769 = 3.5 kgcm = 221.83 x 2500 = 22117...Ok Kontrol Lendutan f = L = 150 = 0..9 x 9..2 x 2...4 x 2....175 kgm > 83..625.8 384 2....605 < 0...10 6 x 22....877 kgm MU = 1.323 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur φMn = φZx x fy = 0... 45 150 = + 648 2.. 09848 + 0 .6 x 50= 83.8 cm4 4 3 ( ) + q q l Pl 5 23 D L Ymax = + 384 EI x 648 EI x 3 4 ( ) 100 + 100 x 150 23 ( ) 5 0 ..175 kgm Syarat : φMn > Mu 221..Ok ....4 MD = 1.

1 kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226.2400 kg/m3 qD2 = 10.Pelat beton t = 9 cm = 0.21 kg /m2 = 21 kg/m2 .Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing : .1.spesi lantai t = 1cm = 1.39 4.5 Desain Bordes Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.Pelat lantai bondek = 10.4 m .75mm.1 kg/m2 = 10.1.1 kg/m2 .sandaran baja = 20 kgm2 Total beban finishing = 65 kgm2 Beban Hidup Beban hidup = 300 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + beban finishing = 300 kg/m2 + 65 kg/m2 = 365 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus tanpa tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .tebal pelat beton = 9 cm b.bentang (span) = 1.1 kg/m2 4.24 kg /m2 . Balok utama tangga .Beban Mati .6 Desain Balok Utama Tangga Balok utama tangga dianalisa dengan anggapan terletak di atas dua tumpuan sederhana dengan menerima beban merata dari berat sendiri dan beban dari anak tangga.09 m. Pembebanan a.lantai keramik t = 1cm = 24 kg/m2 = 1.

01 kg/m Berat sandaran besi = 20 kg/m = 108.663 kg/m Berat profil siku = 5.3 cm2 W = 37.40 direncanakan menggunakan profil Channel 260x90x10x14.773kg/m Berat alat penyambung (10%) = 10.003 x 1.Perencanaan Pembebanan BEBAN ANAK TANGGA (qu1) BEBAN BORDES (qu2) B VuC C A VuA Gambar 4.99 cm Sx = 371 cm3 iy = 2.55 = 44.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga 1. dengan spesifikasi sebagai berikut : Ix = 4820 cm4 A = 48.9 kg/m Iy = 317 cm4 ix = 9.30 = 27.650 kg/m .9 / cos 30.7 cm3 Zx = 445 cm3 Zy = 105 cm3 .50/2 x 7850 = 17.42 x 2 x0. Perencanaan pembebanan anak tangga Beban Mati Berat pelat = 0.56 cm Sy = 47.1 kg/m Berat profil = 37.887kg/m qD1 = 119.75 /0.

..OK .6.1...Ok B.8) }/5 = 841....1.79 kg .6.39 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 387.1...3..4) 1476 kg = 1476 kg .1) x 1..14 + 877...4) 1228.2) + (ql2.6) + (2495..40 +841.3.4...3..3.86 = ( 217.5 2.9 kg/m = 480.7)}/5 = 598.4.6.0.0.86 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 598...50 x 0.3.65 Berat penyambung ( 10 % ) qD2 = 217.822 kg/m = 570.1.4.39 = (119.Perhitungan Gaya – Gaya pada Tangga = 495 kg/m A.650. Beban Hidup VLA = {(ql1.4..037.3) + (ql1....3.6.14 kg ( ↑ ) VLC = {( ql2.8)}/5 = 877.79 kg = 1228.5 kg/m = 37..4.5..315 kg/m = 518.037 kg/m Beban Hidup qL2 = 300 x 1...1. Beban Mati VDA = {(qd1.6)+(570.65 .3..215 kg/m = 51.1.2) + (qd2..1.4.....7) }/5 = 387.41 Beban Hidup qL1 = 300 x 1.40 kg ( ↑ ) VDC = {(qd2.3) + (qd1...3. Perencanaan pembebanan bordes Beban Mati Berat profil Berat bordes =(65+226...1..

0.6m.119.1.2.3..6.. 491.893) – (0.7) = .495) = 1476.2.6) – (491.5) = 491.2...441 kgm .3.6. 598.VLA = 1. 877.7) = .4.qu1.2. 1.416 kgm MUBA = (VUA..(2414..(1/2.58 kg/m qu2 = 1.6.90.8) = 1933..2 VDA + 1.24.86 = 2414.(VUC . Gaya – Gaya Dalam Ultimate qu1 =1..6) – (qu1..6.4) + (1476.893 m < 3.4..4) + (qu2.2..Ok qU 1 491.ql1 = (1.6.39 + 1.VLC = 1..x1) – (1/2.58..2.x) .42 C.58....2.24 kg ( ↑ ) MUBC = .40 + 1.90 kg ( ↑ ) VUC = 1.x1 = 0 dx1 V 1421..6.qd1 + 1.1..ql2 = (1..58 MUmax = (VUA..14 = 1421.6..2 VDC + 1.6.1.044 kg/m VUA = 1.x2) = (1421.qd2 + 1.. 387..8) = (1421. 841.5.3...90.1933.037 + 1.217.04.570..8932) = 2056.1.0..6.1.2..x12) dMx1 = 0 ⇒ VUA − qU 1 ....Ok Batang AB Mx1 = (VUA.6.416 kgm Kontrol : MUBA = MUBC. qu1.3...90 x1= UA = = 2..65 + 1.

082 cm Ternyata Lp >Lb.2.14 250 30 = 34.76.10 5 = 110.21 ≤ 10. maka Mnx = Mpx Kontrol Lateral Buckling 1.25 Penampang profil kompak.22.55° E 2.441 kgm Gambar 4.51 cm Lp = 1.76.416 kgm 2056.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga .Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil fy = 2500 kg/cm2 untuk sayap : b 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 200 1680 ≤ 10 250 3. maka Mnx = Mpx .iy.893 m C + 1933.Batang Miring Lb = 90 170 ≤ 2. = 1.84 cm cos 30.75 20 ≤ 106. fy 250 Ternyata Lp>Lb.Balok Bordes Lb = 0 m Lp = 131.43 B + A 2. maka Mnx = Mpx 2.

5.plastis ....441 kgm ≤ 0... 11125 kgm 2056.90...Ok .....fy = 1.441 kgm < 10012.8 Sketsa profil Canal 260.....5 Sx.. Mn = Mp = 1112500 kgcm = 11125 kgm Syarat : Mu ≤ φMn 2056.9...371..44 ..5 kgm.5 250 20 < 69...5 My = 1....fy = 445...2500 = 1112500 kgcm = 11125 kgm 1....2500 = 139125 kgcm Jadi..Kontrol Kuat Rencana Geser 162 110 ≤ 5.Kontrol Momen Lentur 90m m y1 260m m 10m m y2 14m m Gambar 4....57 .10.14 Mp = Zx..

260 = 2600 mm2 4. Syarat : Aw = tw..Perencanaan pembebanan Beban Mati Berat sandaran besi : 20 kg/m Berat sendiri profil : Berat ikatan ( 10 % ) qU = 1..6 kg/m 6.. 76..9 x 39000 = 35100 kg VUA = 1421...45 Vn = 0..7 Desain Balok Penumpu Bordes Balok penumpu bordes direncanakan menggunakan profil WF 350x175x7x11. dengan data sebagai berikut : Sx = 775 cm3 A = 63.1.95 cm Zy = 172 cm3 tf = 11 mm r = 14 mm tw = 7 mm h = 300 mm .d = 10...904 Kg < 35100 kg .....Ok Jadi profil Channel 260x90x10x4 dapat dipakai.70 cm Zx = 841 cm3 d = 350 mm iy = 3...6 kg/m Iy = 984 cm4 Sy = 112 cm3 bf = 175 mm ix = 17.6 x fy x Aw Vn = 0.2.6 x 2500 x (26) = 39000 kg φVn = 0.56 kg/m 91.87 kg/m .56 kg/m P = VUC = 2414...6 kg/m + 69..14 cm2 Ix = 13600 cm4 W = 49.904 kg Vu ≤ φVn 1421.96 kg/m + 76..24 kg = = = = qD = = 20 kg/m 49.

15).(5.35).P. 4 = 5195.85 + 2.87 ) 8 2 2 VA = 8 VA = 5195.24 (16) + (91.92 ………Ok Mmax = VA.24 (16) + 8 1 (91.85 + 2.15 + 3.½ qD.87) 8 2 2 ( ) VB = 5195.24 kgm .96 + 5195.96.8 + P.½ qD.24.8 + 2414.96 Kg ( ) ΣMA = 0 VB.35).(5.65 + 4.8 .46 P=2414.87 Kg/m' VA VB Gambar 4.24.96 = (91.82 = 0 VB = 2414.½ q.82 = 0 1 2414.4 – P (1.15) 2 = 15703.87 .(1.65+0.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ΣMB = 0 VA.65+0.24 Kg P P P qD=91.P.96 Kg Kontrol : VA + VB = (qD.87.15 + 3.8 .4 –2414.65 + 4.92 = 10391.4) 5195.4) 10391.42 2 91.

Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil untuk sayap : bf 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 175 170 30 1680 ≤ ≤ 7 2.........22 cm ≤ f ijin...Ok .......Kontrol Kuat Rencana Geser 30 1100 h 1100 ≤ ≤ 7 tw 250 fy 42.86 < 69.976 kg < 28350 kg.... ..Ok Jadi profil WF 350x175x7x11dapat dipakai.9 x 31500 = 28350kg Syarat : Vu ≤ φVn 5195.33 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 2.plastis Vn = 0.6 x fy x Aw = 0..........47 ............. maka Mnx = Mpx Kontrol Momen Lentur φMn = φ x fy x Zx = 0.......5 kgm > 15703.........Ok Kontrol Lendutan fijin = L 800 = = 3....75 42...6 x 2500 x (0.......57 .7....86 ≤ 106..24 kgm...25 Penampang profil kompak...30) = 31500 kg φVn = 0....95 ≤ 10..11 250 250 7...9 x 2500 kg/cm2 x 841cm3 = 1892250 kgcm Syarat : φMn > Mu 18922.

Dipakai 2 buah baut dengan Øbaut = 12 mm. a. Sambungan baut digunakan untuk menyambung balok bordes dengan balok penumpu tangga.175.8 Perencanaan Sambungan Profil Tangga Ada dua sambungan yang akan digunakan pada tangga.175. Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes Asumsi tumpuan pada bordes adalah rol (balok tangga diletakkan di atas balok penumpu bordes).10. ¾ Sambungan Baut Model mekanika tumpuan tangga menggunakan asumsi sendi pada tangga dan rol pada bordes. A Balok penumpu bordes 350.14 Balok penumpu bordes 350. Maka sambungan baut hanya diperlukan praktis. Sambungan las digunakan untuk menyambung balok tangga miring dengan balok tangga horizontal (bordes). yaitu sambungan baut dan las.48 4.11 Gambar 4. Sehingga sambungan baut yang dipakai adalah sambungan geser.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes .7.90.7.1.11 Pot. sehingga reaksi tumpuan balok bordes langsung diterima balok penompu bordes. A Baut ø 12 Balok tangga Channel 260.

4100.tf 0.589cm E 70 XX 70.64cm E 70 XX 70.4 = = 1.707.1.9 0 .11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga Kontrol Sambungan Las Digunakan las mutu E70XX 0.I B a lo k ta n g g a C h a n n e l 2 6 0 . fu.3 aeffsayap = 0.I .tw 0.1 4 P la t p e n y a m b u n g T e b a l = 1 0 m m Gambar 4.3 .1 aeffbadan = = = 0.707. fu.4100. t = 10 mm I P o t.707.70.49 ¾ Sambungan Las Sambungan antara balok – balok tangga direncanakan dengan menggunakan sambungan las.70. dengan ketentuan sebagai berikut : ƒ Mutu las E70 XX (fuw = 70 ksi = 4921 kg/cm2) ƒ Tebal pelat penyambung.1 0 .707.

70. fu 0.64 cm 0.74 = = 28.50 Dimisalkan dipakai tebal las (te = 1 cm) A = 1.(26+(0.12 + 958.0.707 Sehingga.70.32 = 958.4.2) + 23.6.4 Akibat Mu Mu 193341.4 cm2 Akibat Pu fr = Pu 1556.608cm < aeffmax = 1.8 cm = 8 mm .2)) = 55.43cm ϕ .1 kg/ cm2 A 55.71 = = 0.2) + (0.75.8.3 0. digunakan a = 0.9.2 + (1.71 kg/ cm2 te perlu = a perlu = f total 958.707 0.43 te = = 0.14 kg/ cm2 Sx 371 f total = fr 2 + fh 2 = 28.6 fh = = = 521.

direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.71 = = = 3.bentang (span) = 2.24 mm2 = 0. dimana dalam perencanaan ini bondek yang digunakan merupakan produk dari PT. dipasang tulangan tarik Ø 8-250 .tulangan negatif = 1.14 kg/m2 .ducting AC + pipa = 10 kg/m2 + Total beban finishing = 56 kg/m2 Beban Hidup Beban Hidup = 100 kg/m2 Beban superimposed/berguna = beban hidup + finishing = 100 kg/m2 + 56 kg/m2 = 156 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .50 m .1 Pelat Lantai Atap Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.2. 4.tebal pelat beton = 9 cm .51 4.aspal t = 2 cm = 2. Gunung Garuda.Beban Superimposed (Berguna) Beban finishing : = 28 kg/m2 .71 cm2/m .5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 1000mm/4 = 250 mm Jadi.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 1.5024 cm2) .2 Perencanaan Struktur Lantai Pada perencanaan struktur lantai direncanakan pelat lantai menggunakan bondex.75 mm Pembebanan a.rangka + plafond = (11+7)kg/m2 = 18 kg/m2 .4 buah = 4 buah As 0.

52
b.Beban Mati - Pelat lantai bondek - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3

= 10,1 kg/m2 = 216 kg/m2 + = 226,1kg/m2
Tulangan Ø 8 – 250mm Plat Bondex t = 0,75 mm

90 mm

Balok

Gambar 4.12 Potongan plat lantai Atap

4.2.2 Pelat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11 Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 kg/m2 - lantai keramik t = 1cm = 1.24 kg /m2 = 24 kg/m2 = 18 kg/m2 - rangka + plafond = (11+7)kg/m2 - ducting AC+pipa = 10 kg/m2 - dinding = 250 kgm2 Total beban finishing = 344 kg/m2
Beban Hidup Beban hidup = 250 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 250 kg/m2 + 344 kg/m2

= 594 kg/m2

Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

53
- bentang (span) - tebal pelat beton - tulangan negatif = 2,50 m = 9 cm = 3,25 cm2/m

- direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m =

A 3,25 = = 6,47 buah = 7 buah As 0,5024

Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi, dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3 = 10,1kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226,1kg/m2

90 mm

Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0,75 mm

Balok

Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11

54
4.2.3 Pelat lantai 2 Dipakai pelat bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 - lantai keramik t = 1 cm = 24 = 1.24 kg /m2 2 = 18 - rangka + plafond = (11+7)kg/m - ducting AC+pipa = 10 - dinding = 250 Total beban finishing = 344

kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kgm2 + kg/m2

Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 344 kg/m2 = 744 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berikut : - bentang (span) = 2,50 m - tebal pelat beton = 11 cm - tulangan negatif = 3,38 cm2/m - direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 3,38 = = 6,73 buah = 7 buah As 0,5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi,dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex = 10,1kg/m2 - Pelat beton t = 11 cm = 0,11m.2400 kg/m3 = 264 kg/m2+ = 274,1kg/m2

75 mm Pembebanan a.direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.75 mm Balok Gambar 4.55 100 mm Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.55 m .rangka + plafond = (11+7)kg/m .4 Pelat Lantai Mesin Lift Dipakai pelat bondex dengan tebal pelat = 0.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m .tulangan negatif = 3.tebal pelat beton = 10 cm .2.Beban Superimposed Berat finishing : .spesi lantai t = 1cm = 1.11 cm2/m .ducting AC+pipa = 10 Total beban finishing = 49 Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban superimposed = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 49 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 + kg/m2 = 449 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .5024 cm2) .21kg /m2 = 21 2 = 18 .24 mm2 = 0.14 Potongan plat lantai 2 4.bentang (span) = 2.

Pada perencanaan ini. dengan data sebagai berikut : A = 72.75 mm Balok 100 mm Gambar 4.200.86 = = 5. ditunjukkan perhitungan balok anak pada lantai 2.1 kg/m2 Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0. Balok anak menumpu di atas dua tumpuan sederhana.56 = A 2.2400 kg/m3 = 10. sehingga mempunyai kekakuan yang cukup.15 Potongan plat lantai mesin lift 4.69 buah = 6 buah As 0.1kg/m2 = 240 kg/m2+ =250.3 Perencanaan Balok Anak Balok anak berfungsi membagi luasan lantai agar tidak terlalu lebar.13.5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 160 mm Jadi.Beban Mati .dipasang tulangan tarik Ø 8-160 b.16 cm2 ix = 16.6 kg/m tw = 7 mm Zx = 1088 cm3 d = 396 mm tf = 11 mm Sx = 1010 cm3 Iy = 1450 cm4 bf = 199 mm Ix = 20000 cm4 iy = 4.Pelat lantai bondex .7 cm r = 16 mm W = 56.Pelat beton t = 10 cm = 0.8.1m.48 cm h = d–2(tf + r ) = 396–2(11+16) = 342 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4100 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 – 700 = 1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 950 cm . balok anak direncanakan menggunakan profil WF 400.

5m .berat pelat bondex = 10.2 qD = 1.Beban Mati .berat sendiri pelat beton = 0.23 Kg 4334.berat ikatan : 10 %.2400kg/m3.5 m .85 kg/m 68.2.04 kg/m Kombinasi Beban : qu = 1.23 Kg kg 4334.25 kg/m = = = = = 600 kg/m 56.1 kg/m2.3.19 kg/m+ 750.berat sendiri profil WF .57 4.5 m 950 cm B - 4275.14 + 1029358Kgcm kgcm 1015367 Gambar.2. 750.04 = 900.1 m.2.048 kg/m = 90.85 kg/m qD = 25.14 Bidang D dan M pada komposit balok sebelum komposit .6 kg/m+ 681.681.4.0048 kg/cm A 4275.1 Kondisi Balok Anak Sebelum Komposit 1.14 kg + 9.

10 6.qu....L 2 = 1 .2.950 4 = 384.Ok ¾Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Sayap Untuk Badan bf 170 h 1680 ≤ ≤ 2tf tw fy fy 199 170 ≤ 2.25..86 < 106.ok 342 1680 ≤ 7 250 48.L2 8 = 1 .ok Profil penampang kompak....q u ..E...389 cm < f ' ...20000 = 2.(9.....90...0048.23 kg 2 ¾Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f '= L 950 = = 2.11 250 9..58 Momen yang terjadi: Mu = 1 .....qu. maka Mn = Mp . 9502 = 1015367 kgcm 8 Geser yang terjadi : Vu = 1.05 < 10.0048.Ix 5...752..l 4 ymaks = 384..950 = 4275.90..639 cm 360 360 5.00048 )..

6.. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lb < Lp (untuk bentang pendek)....23 kg 37422kg ≥ 4275.23 kg………. 2500 = 2720000 kg cm Persyaratan : Mu ≤ φMn 1015367 Kgcm ≤ 0.357 cm Jadi. fy = 1088 . 41580kg ≥ 4275.8.59 ¾Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 47.(39.200..2500.5 cm (diambil sejarak pemasangan shear connector) Berdasarkan tabel profil untuk BJ 41 profil WF 400. Lb < Lp → bentang Pendek.Ok ..003 cm.7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0.Ok Penampang profil baja mampu menahan beban yang terjadi.13 didapatkan : Lp = 226..9. kuat nominal komponen struktur adalah : Mn = Mp = Zx .. Aw = 0.. fy.6.....86 < 69.9. 2720000 kgcm 1015367 Kgcm < 2448000 kgcm.0.. ¾Kontrol Geser h 1100 ≤ tw fy 342 1100 ≤ 7 250 48. Lr = 658.57……Ok Vn = 0.6 .

2810.28.9502 = 3170302 kgcm 8 8 = 25.1024 kg/cm Momen yang terjadi: Mu = 1 .53 + 1.berat sendiri profil WF .5m .berat ducting AC+pipa = 10 kg/m2.6 qL = 1.2.5m .950 2 = 13347.1kg/m2. 21 kg/m2.1024.5 m Kombinasi Beban : qu = 1.berat sendiri pelat beton = 0.Beban Mati . 1008.85 qD 2.1 m.L 2 = 1 .1000 = 2810.2.24 kg/m = 28. qu.berat spesi 2 cm = 2.5 kg .85 kg/m = 91.berat rangka + plafond = (11+7)kg/m2.2 Kondisi Balok Anak Setelah Komposit ¾ Pembebanan setelah komposit 1.2400 kg/m3.qu.5m .6.24. Beban Hidup : qL = 400 kg/m2.53 kg/m = 1000 kg/m Geser yang terjadi : Vu = 1 .2 qD + 1.berat ikatan : 10 %.60 4.6 kg/m = 105 kg/m = 60 kg/m = 45 kg/m = 25 kg/m+ = 916.68 kg/m+ = 1008.2.5 m .L2 = 1 .916.25 kg/m = 600 kg/m = 56.24 kg/m2.berat pelat bondex = 10.5m .2.2.berat keramik = 1.2.3.5 m .2.2.

25.85... • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .2500 = 180400 kg C2 = 0..237.beff 0.beff = 0..fy = 72.tplat.86 < 106.50 m = 2500 mm jadi beff = 2375 mm =237.752.5 ..85.5 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As..85.250.5 kg C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.250.ok Profil penampang kompak.237.61 ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 199 170 ≤ 2.5 = 504687..10.L = ¼.57 cm = 0. fc'.ok 342 1680 ≤ 7 250 48.fc’..11 250 9.85.. C =C1 ( terkecil) = 180400 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 180400 = 3.. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.05 < 10.5 cm beff ≤ S = 2.9500 mm = 2375 mm = 237..16..

.8 .815 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 39.. .Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.6 = 2.57 a = 4...85..2500 = 180400 kg Mn = 180400 (2.4079746 kgcm 3170302 kgcm ≤ 3467784 kgcm.8 cm 2 2 d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 180400 kg Py = As.16.0) = 4079746 kgcm Syarat : Mu ≤ φ ..815 + 0) + 180400 (19.Mn 3170302 kgcm ≤ 0.15 potongan Balok anak 3.. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.6 d3 = = = 19.fy = 72...62 2375 mm 54 12 t = 46 mm t = 100 mm t = 400 mm Gambar 4.

104 Mpa Es = 2.26.10 ⎛ 40 ⎞ ⎞ ⎛ 84.t plat beton = 27.wc .713 Ec 2.41.t platbeton Yna = 2 ⎛ ⎛ d ⎞⎞ A t +⎜ + ⎜ ⎟ ⎜ s platbeton 2 ⎟ ⎟ ⎠⎠ ⎝ ⎝ ( Atr + As ) 272.041. fc' = 0.69 cm4 .12 ) = 10.12⎜ ⎜ + 10 ⎟ − 10.10 5 Mpa beff = 237.6⎜10.713 Atr = btr.94 = 272.10 4 btr = = 237.6 + 84.5 = 27. 25 = 2.24001.6 .10 5 n = = = 8.041.41.1. 5 Ec = 0.26(10)3 10 ⎞ ⎛ ⎞ I tr = + 272.52 ⎟ ⎜ ⎟ 12 2⎠ ⎠ ⎝ ⎝⎝ 2 ⎠ 2 = 66148.5 cm (balok interior) Es 2.52 − ⎟ + 23700 + 84.12 ⎜10 + ⎟ ⎟ +⎜ ⎜ 2 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ ⎝ = (272.26 cm n 8.52 cm • Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi I tr = b tr (t pb ) 3 12 t pb ⎞ ⎛ ⎛⎛ d ⎞ ⎞ ⎟ + Ix + A s ⎜ + Atr ⎜ Yna − t Yna + − ⎟ ⎜ ⎟ pb ⎜ 2 ⎟ ⎜ 2 ⎟ ⎠ ⎝⎝ ⎠ ⎝ ⎠ 2 2 2 ⎛ ⎛ 40 ⎞ 27.63 ¾ Kontrol Lendutan • Menghitung luasan transformasi beton ke baja 1.6 cm beff • Menentukan letak garis netral Atr .1.5.

.64 ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f ' = L = 950 = 2...E.untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan h kn.6..9.0.106...57.E sehingga : ≤ 1.Ok .7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0.639 cm 360 360 5..69 = 1..Ix 384... 41580 kg ≥ 13347..1 tw fy 5...E .6..86 < 69.5 kg 37422 kg ≥ 13347..1 7 2500 48.2. h kn..5 kg …………..ok ¾ Kontrol Geser Kuat geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)..654 cm < f ' .6388 + 10)...10 6 ) 342 < 1..fy.2500 (39.Ok Vn = 0.(2..1 tw fy kn = 5 + 5 .l 4 5.Aw = 0. untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan 2 a h ( ) kn = 5 ....(10......(q DL + q LL )..66148.9504 = ymaks = 384. dimana: ≤ 1..6.

5...85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0..0. rs = 11003.65 ¾Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan: ds = 19 mm Asc = 283..41..Asc..23 N = 11003.712 > 1→ diambil rs = 1 Qn’ = Qn.85 ⎛ 200 ⎞⎛ 100 ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 ⎟⎜ ⎜ 2 ⎝ 53 ⎠⎝ 53 ⎠ rs = = 1..Ec = 0..53 25.104 Mpa Qn = 0.41.5.923 Kg < 11341. fc '.10 4 = 110039.2 kg/stud ..fu 11003.Ok Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok.0..53 mm2 fu = 400 Mpa = 40 kg/mm2 Ec = w1.923 ... fc ' = 24001.923 kg/stud ≤ 11341.2 Kg .923 kg/stud ≤ 283..53. hr = 54 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 46) = 54+46 = 100 mm ⎞ 0..283.041.........041 25 = 2.923 kg/stud Syarat : Qn ≤ Asc..1 = 11003..2...40 kg/stud 11003.Ok .5.5 .

923 Jadi.16 Detail sambungan balok anak dengan balok Induk .60.23 Gambar 4.6 Balok Anak WF 400.66 Jumlah stud untuk setengah bentang : Tmaks 210300 N= = = 9.5 Perencanaan Sambungan balok Anak dengan balok Induk Sambungan antara balok anak dengan balok induk direncanakan dengan baut yang tidak dapat memikul momen.23 Baut M16 mm fu = 5000 Kg/m2 Balok Anak WF 400.9 cm = 11.13.616 kg Balok Utama WF 600.13 Baut M16 mm 50 100 50 50 100 50 Profil siku 60.60.(diameter) = 6 x 1.200.8.4cm Jadi. shear connector dipasang sejarak 47.5 cm N 20 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.200. Vu = 13407. karena disesuaikan dengan anggapan dalam analisa sebagai sendi.13. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 950 P= = = 47.6 Balok Utama WF 600.200.13 Profil siku 60. 4.tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.200.11003.56 ≈ 10 buah Qn 2.8.5cm sebanyak 20 buah untuk masing-masing bentang. dibutuhkan 20 buah stud untuk seluruh bentang.

4 kg n= Vu 13407. tp .2.4 .67 Sambungan Plat Siku dengan Balok Anak Direncanakan : profil siku 60.616 = = 1. 2.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.75. fu .6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.01. m Dimana : r1 = 0.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2.75.60. r1 .4100 = 9446.5 Dipasang 2 buah baut M16mm (Jumlah baut untuk 1 sisi) Sambungan Plat Siku dengan Balok Induk Direncanakan : profil siku 60.01 cm2 ) m = 1 sisi .8.0.5000. fu (tebal plat sayap dipakai tp = 8 mm) = 0.5. fu . Abaut .78 Vn 7537. m Dimana : r1 = 0.1.2 = 7537. r1 .60.db.01 cm2 ) m = 2 sisi Vn = 0.4.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2.5 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.0.2. Abaut .6.

75.0.75 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.2.6.4.0.75.6.5000.75.1.01.fu (t plat sayap dipakai tp=6 mm) = 0.5000. 2.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) Luas bidang geser 50 100 50 Gambar 4.16).4100 = 7084.6 = 1008 mm2 Kuat rencana : φRnv = φ.60.t∟ = (200 – 2.56 Vn 3768.6.An = 0.10.8 kg Vu 13407.1 = 3768.616 = = 3.tp .75 Dipasang 4 buah baut Ø16 mm (Jumlah baut untuk 2 sisi) n= Kontrol Plat Siku pada Gelagar Direncanakan : Profil siku 60.fu.4.0.68 Vn = 0.17 Detail pelat siku pada gelagar Luas bidang geser = Anv = Lnv.2.5.6.0.db.08 = 22680 kg .

.69 Terdapat 2 siku.OK 4.616 kg ≤ φVn 13407. sehingga 2 φRnv = 2...inside : 1600 x 1500 mm2 : 4300 x 2150 mm2 : 4300 x 2150 mm2 Beban reaksi ruang mesin : ¾ R1 = 6150 Kg (Berat mesin penggerak + beban kereta + perlengkapan) ¾ R2 = 4600 Kg (Berat bandul pemberat + perlengakapan) .616 kg ≤ 45360 kg... 22680 kg = 45360 kg Persyaratan : Vu ≤ φRn 13407...outside : 1650 x 1665 mm2 ..6 Perencanaan Balok Lift Perencanaan balok lift meliputi balok – balok yang berkaitan denagn ruang mesin lift....... Untuk lift pada bangunan ini menggunakan lift yang diproduksi oleh Sigma elevator company... dengan data – data sebagai berikut : Tipe lift : Duplex Merk : Sigma Kapasitas : 15 orang Lebar pintu (opening width) : 900 mm Dimensi sangkar (car size) Dimensi ruang luncur Dimensi ruang mesin : .. yaitu terdiri dari balok penumpu dan balok penggantung lift..

3 Jadi.78 = 19135 Kg .6.6. 2.3. dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.(3) PPIUG 1983 menyatakan bahwa beban keran yang membebani struktur pemikulnya terdiri dari berat sendiri keran ditambah muatan yang diangkatnya.1 Perencanaan Balok Penggantung Lift 1. Sebagai beban rencana harus diambil beban keran tersebut dengan mengalikannya dengan suatu koefisien kejut yang ditentukan dengan rumus berikut : Ψ = ( 1+k1k2v ) ≥ 1.70 4. Ψ = ( 6150 + 4600 ).1 ) = 10750. k2 = koefisien yang bergantung pada sifat mesin angkat dari keran angkatnya. Beban yang bekerja pada balok penumpu Beban yang bekerja merupakan beban akibat dari mesin penggerak lift + berat kereta luncur + perlengakapan.6.15.1.3.00 m/det. Koefisien kejut beban hidup oleh keran Pasal 3. pada umumnya nilainya dapat diambil sebesar 0. V = kecepatan angkat maksimum dalam m/det pada pengangkatan muatan maksimum dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.15 Dimana : Ψ = koefisien kejut yang nilainya tidak boleh diambil kurang dari 1. beban yang bekerja pada balok adalah : P = ΣR .1. dan diambil sebesar 1. dan akibat bandul pemberat + perlangkapan. dan nilainya tidak perlu diambil lebih dari 1.( 1 + 0. k1 = koefisien yang bergantung pada kekakuan struktur keran induk. yang untuk keran induk dengan struktur rangka.

3 m Gambar 4.15 m 4.4 cm W = 32 kg/m tw = 9 mm d = 298 mm tf = 13 mm b = 149 mm Ix = 6320 cm4 iy = 3.Data perencanaan Digunakan profil 300 x 150 x 8 x 13 A = 40.5 m Balok Anak 2.8 cm2 ix = 12.15 m .71 Balok Penggantung Lift Balok Penumpu Lift 1.3 cm3 fr = 700 kg/cm2 fL = fy-fr = 2500 .075 m 2.700 =1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 215 cm = 2.18 Denah Lift 3.29 cm Iy = 442 cm4 h = d – 2(tf + r ) = 298 – 2(13 + 13) = 246 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4000 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 r = 13 mm Zx = 455 cm3 Zy = 91 cm3 Sx = 424 cm3 Sy = 59.

2.755 kg/cm P qu = 32 = 516 kg/m kg/m = 21.1.19 Sketsa mekanika perhitungan balok penggatung lift .1 kg/m2 .5 kg/m = 11.Beban terpusat lift P = 19135 kg • Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.15 m = 215 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.72 Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.6.15 Berat pelat combideck : = 10.2.2.2qD + 1.2 kg/m + = 629.6 qL = 1.14.15 Berat aspal t = 2 cm = 2.99 kg/m + qD = 692. 215 = 1175.92 kg/m = 62.72 kg/m = 60. 692.15 kg/m2 Berat ikatan (10%) = 629.91 + 1.91 kg/m A B Gambar 4.2400.2.92 kg/m x10% .

ok 246 1680 ≤ 8 250 30..73 < 10.tplat.65 + 9567..73 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.250.53.75 < 106.5 mm = 53.73 Vu = 1 1 quL + p 2 2 = 1263..13 250 5.11kgcm Mu = • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 149 170 ≤ 2. Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .755)(215) 2 + (19135)(215) 8 2 = 1096428.85.10.73 cm beff ≤ S = 1...15 kg 1 1 quL2 + pL 8 4 1 1 = (11.25.8.5 mm jadi beff = 537..5 = 10831..fy = 40.075 m = 107.75...L = 537. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis..73 = 114219 kg .3 mm = 53.fc’.85.ok Profil penampang kompak..2500 = 102000 kg C2 = 0.beff = 0..

85.250.85.53 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 29. fc'.14 kgcm .53.20 Distribusi tegangan plastis 8.0) = 2084358.beff 0.8.85 fc' tb GN komposit c d GN baja Py Gambar 4.8 d3 = = = 14.fy = 40.53 + 0) + 102000 (14.93 cm = 0.4 = 5.2500 = 102000 kg d1 = tb Mn = 102000 (5. C =C1 ( terkecil) = 102000 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 102000 = 8.93 a = 9.74 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.9 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 102000 kg Py = As.9 .73 beff btr 0.

.5 25 ( = 0. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.361 < 0.896 cm 240 240 4 3 f = 5 (q D + q L ) l + 1 Pl 384 EI x 48 EI x 3 4 = 5 (6..6 Kg ≤ 11341..8353 250...98 Mpa ) Qn ≤ Asc.2...041.42 kgcm....041.10 6 x 7210 = 0..Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor..Wc 1...241029.6 Kg ( fc'.... ¾ Kontrol Lendutan f ' = L = 215 = 0.2084358....85....9291+ 2..8 = 110046 N = 11004.10 6 x7210 384 2...Ec ) = 24102..896..Mn 1096428 kgcm ≤ 0...5..24001...6 ≤ 2.1 Kg .53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0.15)215 + 23 19135x 215 648 2..Ok ¾ Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283..14 kgcm 1096428 kgcm ≤ 1771704..OK .5. Asc fc ' = 0..fu 11004.....8353.5 Qn = 0..75 Syarat : Mu ≤ φ .4000 11004..

85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ rs = ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0. rs = 11004.6...1 = 11004.OK Vh = C = 102000 kg Jumlah stud untuk setengah bentang : N = Vh /Qn = 102000 = 5 buah 2.1 Kg ...9 cm = 11. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 54+40 = 94 mm rs = ⎞ 0...4cm Jadi.6 Jadi...6 Kg < 11341.5 cm sebanyak 10 buah untuk masing-masing bentang.. shear connector dipasang sejarak 21..(diameter) = 6 x 1.. .76 Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok..tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6... Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 215 = 21.11004.712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn. dibutuhkan 10 buah stud untuk seluruh bentang...5 cm P= = N 10 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.

..88 cm Iy = 792 cm4 x 6 x 9 .15 Kg ≤ 31184 Kg .8 cm2 = 35760 kg Persyaratan : Vu ≤ φVn 10831.fy... dengan data r = 14 mm Zx = 689 cm3 Zy = 139 cm3 Sx = 641 cm3 h = 300 mm ..15 Kg ≤ 0....1 8 2500 31 ≤ 69.77 ¾ Kontrol geser Kuat geser balok bergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).4 kg/m tw = 6 mm d = 346 mm tf = 9 mm b = 174 mm Ix = 11100 cm4 iy = 3.OK 4.29.0..6..... untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan. 35760 Kg 10831.. Data perencanaan Digunakan profil WF 350 x 175 sebagai berikut : A = 52. kn = 5 + ( h) a 5 2 ..57... k ......1 n tw fy Dimana....2 Perencanaan Balok Penumpu Lift 1.68 cm2 ix = 14.2500 kg/cm2.Aw = 0..6. kn =5.. OK Vn = 0.. untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.9..E h ≤ 1..10 6 ) ≤ 1.5 cm W = 41.8.6. sehingga 246 5(2..

700 fu = 4000 kg/cm2 2 = 1800 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm Panjang balok anak (L) = 2500 mm = 2.2.2 qD + 1.250 = 1372.2.32 kg/m .4 = 600 kg/m kg/m = 25.50 m = 250 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.65 kg/m x10% = 41.14.21 Sketsa mekanika perhitungan balok penumpu lift .67 kg/m + qD = 810.30 kg Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.65 kg/m = 73.38 kg/m P x1 qu x2 A B Gambar 4.Beban terpusat akibat reaksi balok penggantung lift P = 21662.2.2400.5 m Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.5 kg/m2 Berat ikatan (10%) 736.2.25 kg/m = 70 kg/m + = 736.1 kg/m2 .6.32 + 1. 810.5 Berat aspal t = 2 cm = 2.6 qL = 1.78 BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 .1.5 Berat pelat combideck : = 10.

79

Σ MB = 0 VA.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,425 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,425 VA = = 14062 ,99 Kg 2,5
Σ MA = 0 VB.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,075 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,075 VB = = 11030 ,26 Kg 2,5
Dx1 = +14062,99 – qx1 x1 = 0 → DA = 14062,99 Kg → Dc = 12587,68 Kg x1 = 1,075 Mx1 = 14062,99 x1 – qx1.0.5x1 → MA = 0 x1 = 0 → MC = 14324,73 kgm = 1432473 kgcm x1 = 1,075 Dx2 = - 11030,26 + qx2 x2 = 0 → DB = - 11030,26 Kg → DC = - 9074,62 Kg x2 = 1,425 Mx2 = +11030,26 x2 – q.x2.0,5.x2 x2 = 0 → MB = 0 → MC = 14324,73 Kgm =1432473 kgcm x2 = 1,45 • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy

175 170 ≤ 2.9 250
9,67 < 10,75.......ok

300 1680 ≤ 6 250 50 < 106,25.......ok

Profil penampang kompak, sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis

80
Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .L = 625 mm = 62,5 cm beff ≤ S = 2,15 m = 21,5 cm jadi beff = 625 mm = 62,5 cm
• Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.fy = 52,68.2500 = 131700 kg C2 = 0,85.fc’.tplat.beff = 0,85.250.10.62,5 = 132813 kg C3 =

∑ Qn → ( C
n =1

N

3

tidak menentukan )

Jadi, C =C1 ( terkecil) = 131700 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

a=

C 131700 = 9,92 cm = 0,85. fc'.beff 0,85.250.62,5
beff btr
0,85 fc'

tb

GN komposit

c

d

GN baja

Py

Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis

81
9,92 a = 10 = 5,04 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 34,6 d3 = = = 17,3 cm 2 2
d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 131700 kg Py = As.fy = 52.68.2500 = 131700 kg Mn = 131700 (5,04 + 0) + 131700 (17,3 - 0) = 2942425,91 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .Mn 1432473 kgcm ≤ 0,85.2942425,91 kgcm 1432473 kgcm ≤ 2501062,02 kgcm..........Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

Kontrol Lendutan L 250 f = = = 1,042 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 0,172 cm ≤ f ijin.....................Ok - Kontrol Kuat Rencana Geser h ≤ 1100 tw fy0,5 300 ≤ 1100 6 2500,5 50 < 69,57 .........................plastis

....5 25 = 24102..041. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 53+40 = 93 mm ⎞ 0..Wc1.....6 Kg Qn ≤ Asc..6 x 2500 x 34.5 fc' = 0.0..2.6..041....241029.5 kg < 28026 kg...9 x 31140 = 28026 kg Syarat : Vu ≤ φVn 1715..Ec ( = 0.6 x fy x Aw = 0.5..5...OK Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283.8353..OK ( ) ) Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok.6 Kg ≤ 11341..6 ≤ 2..fu 11004..53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0...6 = 31140 kg φVn = 0.8353 250....4000 11004.....98 Mpa Qn = 0.82 Vn = 0.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ rs = − 1 ⎟⎜ h ⎟ ≤1 h Nr ⎜ ⎝ r ⎠⎝ r ⎠ .. Asc fc'.8 = 110046 N= 11004..1 Kg ..24001...

..tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.... rs = 11004.(diameter) = 6 x 1..712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn.1 = 11004.. shear connector dipasang sejarak 20.83 cm sebanyak 12 buah untuk masing-masing bentang. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 250 = 20..4cm Jadi..83 rs = 0...85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1...6.6 Kg < 11341.6 Jadi. OK Jumlah stud untuk setengah bentang : 131700 N = Tmaks/Qn = = 6 buah 2.1 Kg .....11004.9 cm = 11.... dibutuhkan 12 buah stud untuk seluruh bentang.. ..83 cm P= = N 12 Jarak maksimum (Pmaks) = 8...

84 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

Profil balok induk 2 WF 400x200x8x13 : . dimana kontrol – kontrol tersebut terdiri dari kontrol nilai gaya geser dasar (base shear). dan nilai Vstatis ini harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung ke masing – masing lantai sesuai SNI 03-17262002 Ps.1 Data Gedung Data – data gedung yang akan dibutuhkan dalam penghitungan Vstatis adalah sebagai berikut.6. maka terlebih dahulu dicek besarnya Vdinamis yang telah didapatkan dengan bantuan program ETABS v9. dan simpangan (drift).85 BAB V PEMBEBANAN DAN ANALISA STRUKTUR 5.Profil balok anak K 500x200x10x16 : .Tebal pelat bondek lantai atap : 9 cm .Profil kolom .25 m .1.Tinggi tipikal lantai : 4. Beban gempa rencana dicek terhadap kontrol – kontrol sesuai peraturan gempa yaitu SNI 031726-2002.Profil balok induk 1 : WF 500x200x10x16 WF 500x200x9x14 : .3-14 : 10 cm .Tebal pelat bondek lantai 2 : 11 cm .Mutu beton (fc’) : 25 MPa .2 . 5. 5.6.2.1.0 dan membandingkan besaran Vdinamis tersebut dengan Vstatis yang akan diperhitungkan di bawah ini sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps. .Tebal pelat bondek lantai 1. waktu getar alami fundamental (T).Mutu baja : Bj 41 .2.2 Pembebanan Untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan SNI 03-1726-2002.1 Umum Merencanakan beban gempa adalah bertujuan untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan peraturan untuk dibebankan kedalam struktur gedung.

5 40 × 27 × 10.3.8 Kg Wd1 Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl1 = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.25 × 179.7 × 66 395. maka total beban hidup (Wl1) menjadi.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.Wilayah Gempa . maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.3.10 x 2400 (80+54) × 4. : : : WG3 Tanah keras 1 5.4672 × 2400 × 20 40 × 89.1 40 x 27 x 0.2 × 20 4.25 × 0.2.75 x Wl1 = 0.2 Perhitungan Berat Struktur Beban gravitasi berupa beban mati dan beban hidup yang yang bekerja di tiap lantai/atap.5 Tabel 3.Kategori tanah .2 Kg = 395 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 678805.86 .3.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.5 320.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300. Wl1 = 0.I Denah gedung terlampir. a) Lantai 1 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.75 × 270000 = 202500 Kg .6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.6 255 × 79. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.

maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.75 × 432000 = 324000 Kg Sehingga berat total lantai 2 Wt2 = Wd2+ Wl2 = 704725.3.11 x 2400 (80+54) × 4.5 Kg = 10908 Kg = 285120 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 704725.25 × 0. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd2 = 15232 Kg = 95300.25 × 179.3.2 × 20 4. Beban hidup : 40 × 27 × 400 Wl2 = = 432000 Kg 432000 Kg Menurut PPIUG Ps.8 + 202500 = 881305.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.75Wl2 = 0.4672 × 2400 × 20 40 × 89.6 255 × 79.8 Kg .3.87 Sehingga berat total lantai 1 Wt1 = Wd1 + Wl1 = 678805.1 40 x 27 x 0.5 40 × 27 × 10.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.7 × 66 395.5 320.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.2 Kg = 395. Wl2 = 0.5 Tabel 3.8 + 324000 = 1028725.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166. maka total beban hidup (Wl2) menjadi.8 Kg b) Lantai 2 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.

84 Kg .5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.5 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg Wd = 678805.7 × 66 395.3.10 x 2400 (80+54) × 4.3.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.1 40 x 27 x 0.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.75 × 270000 = 202500 Kg Sehingga berat total lantai Wt = Wd + Wl = 678805.4672 × 2400 × 20 40 × 89.75Wl = 0.3.5 320.6 255 × 79. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.5 40 × 27 × 10.88 c) Lantai 3-11 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.2 × 20 4.2 Kg = 395.8 + 202500 = 881305.5 Tabel 3.25 × 179. maka total beban hidup (Wl) menjadi Wl = 0.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300.25 × 0.

2 Kg = 448.2 × 20 2.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.1 40 × 27 × 10.09 x 2400 (80+54) × 4. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.75 × 108000 = 81000 Kg Sehingga berat total lantai 12 menjadi. Wt12 = Wd12+ Wl12 = 564139. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut. Wl12 = 0.4672 × 2400 × 20 40 × 89.75Wl12 = 0.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.5 Tabel 3.6 255 × 79.1 40 x 27 x 0.5 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.3.125 × 179.5 + 81000 = 645139.3.1 Kg = 10908 Kg = 233280 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 15120 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 564139.5 Kg . Beban hidup : 40 × 27 × 100 = Wl15 = 10800 Kg 10800 Kg Menurut PPIUG Ps.3 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.7 × 66 448.89 d) Lantai 12 (Atap) Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok lift Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Aspal t = 1 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : 2.5 320. maka total beban hidup (Wl15) menjadi.125 × 0.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd1 = 7616 Kg = 47650.3.

1 Berat struktur per lantai Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Tinggi hx (m) 51 46.1 berikut ini : Tabel 5. struktuk gedung tersebut dimodelkan sebagai berikut : .058 8813.25 34 29.90 Ringkasan berat bangunan dinyatakan dalam Tabel 5.0 dengan analisa dinamis respons spektrum.25 17 12.5 21.395 8813.258 8813.3 Pembebanan Gempa Dinamis Pembebanan gempa secara dinamis menggunakan bantuan program ETABS v9.058 8813.058 8813.058 8813.5 4.058 8813.058 8813.058 Σ 104869.75 25.058 8813.058 10287.25 Berat Lantai Wx (kN) 6451. Sebelumnya dilakukan permodelan 3D struktur dai gedung apartemen Albergo terlebih dahulu.238 5.75 8.5 38.75 42.2.058 8813.

91 Denah Lantai Arah y Arah x Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .

92 Gambar 5.2.8. Menurut SNI 031726-2002 ps 5. pengaruh pembebanan gempa rencana dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa yang arahnya tegak lurus dengan arah utama dengan efektifitas 30%.2 Permodelan stuktur 3D 5. .1 Arah Pembebanan Beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan terjadi dalam arah sembarang (tidak terduga) baik dalam arah x dan y secara bolak balik dan periodikal. Untuk mensimulasikan arah pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap struktur gedung.3.

Respon Spektrum gempa rencana untuk masing masing wilayah gempa ditetapkan grafik nilai C-T dalam Gambar 2 SNI 031726-2002. Dimana pada perencanaan gedung ditetapkan Respon Spektrum gempa Rencana Wilayah Gempa 3 pada tanah keras.Gempa Respon Spektrum Y : 100% efektifitas untuk arah Y dan 30% efektifitas arah X 5.93 .2 Faktor Respons Gempa (C) Faktor Respon Gempa (C) dinyatakan dalam percepatan gravitasi yang Nilai Faktor Respon Gempa (C1) bergantung pada waktu getar alami struktur gedung dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respon gempa rencana.3 Grafik nilai C-T zona gempa 3 . Gambar 5.3.Gempa Respon Spektrum X : 100% efektifitas untuk arah X dan 30% efektifitas arah Y .

23 dimana T adalah waktu getar alami struktur gedung yang T didapat dari hasil analisa struktur setelah men-define Respon Spektrum Rencana dan mengeplot grafik C-T pada analisa Respon Spektrum.94 Pada gambar dapat dilihat untuk menentukan nilai faktor respon gempa (C1) pada tanah keras didapat dengan nilai 0. 5. Lalu karena nilai C dinyatakan dengan percepatan gravitasi.3.4.2.1 menyatakan bahwa analisis Respons Spektrum Gempa Rencana.3 b. 5.3 Respon Spektrum Rencana Menurut SNI 03-1726-2002 ps 7.05 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya − Untuk e > 0.3.17 e – 0. 5. nilai ordinatnya harus dikalikan dengan I/R.3 b.05 b atau ed = e – 0.1 b atau ed = 1. bahwa antara pusat massa dan dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana ed sebagai berikut.4 Menentukan Eksentrisitas Rencana Bangunan (ed) Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps. maka : ed = 1.5 e + 0.33 e + 0.81 m/s. maka nilai C harus dikalikan faktor pengali percepatan gravitasi sebesar 9. maka : ed = 1.1 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya ⎞ ⎛1 ex = ⎜ × b ⎟ − xcr ⎠ ⎝2 ⎛1 ⎞ e y = ⎜ × L ⎟ − ycr ⎝2 ⎠ . − Untuk 0 < e ≤ 0.

500 13.500 13.500 13.001 20.500 13.000 20.001 20.500 13.0 didapat nilai Xcr dan Ycr yang ditabelkan sebagai berikut : Tabel 5.95 Dimana kedua nilai diatas diambil harga mutlaknya.5 ey + 0.500 13.2.001 20. Dan dari hasil analisa ETABS v9.5 ex + 0.001 20.000 20. sehingga edx = 1.001 Ycr (m) 13. kemudian dilakukan analisa kembali.500 13.2 Nilai Xcr dan Ycr Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Xcr (m) 20.500 13.000 20.500 13.500 13. yaitu koordinat x = xcr + edx koordinat y = ycr + edy Setelah koordinat pusat massa diperoleh. maka nilai ed untuk masing – masing arah dapat dihitung dan ditabelkan sebagai berikut : . maka massa dari tiap – tiap lantai diletakkan pada titik koordinat tersebut.001 20.001 20.002 20.500 Berdasar rumus diatas.002 20.05 b edy = 1.500 13.05 L maka didapatkan suatu titik koordinat pusat massa.

85 5. .000 22.85 14.85 14.001 20.35 1.50 13.35 1.35 22.999 22.35 1.35 1.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan Lantai B (m) L (m) Xcr (m) Ycr (m) ex (m) ey (m) edx (m) edy (m) koord x (m) koord y (m) 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 20.2 dengan tinggi gedung 51 meter.15 detik Pada arah Y Ty = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.001 20.002 0.50 0.85 14.50 13.50 13.96 Tabel 5.000 21.001 20.15 detik Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel.997 2. Dengan nilai ζ dari Tabel 8 SNI 03-17262002 dan n adalah jumlah lantai dari gedung yang akan ditinjau.999 1.50 13.85 14.001 0.4 Kontrol Waktu Getar Alami Fundamental (T) T dihitung dengan menggunakan rumus empiris Method A dari UBC 1997 Section 1630.000 20.50 13.999 1.997 1.001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.50 13.2.000 22.999 2. Pada arah X Tx = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.000 20.999 1.50 13.85 14.999 1.000 22.50 13.35 1.85 14.50 13.000 -0.001 -0.002 -0.000 20.000 22.001 -0.35 1.35 1. T<ζn Untuk WG 3 maka nilai ζ = 0.001 -0.002 20.000 21.999 1.85 14.000 1.000 22.35 1.000 -0.85 14.001 13.18 dan nilai n = 12.85 14.000 1.50 13.001 20.35 1.001 20.999 1.000 1.000 22.001 -0. nilai waktu getar alami fundamental (T) dari struktur gedung harus dibatasi.002 20.85 14.35 1.35 1.000 22.001 20.50 13. maka kontrol waktu getar alami fundamental (T) menjadi.999 22.85 14.001 -0.000 14.000 -0.

238 = 3495.18x12) = 2.2 × 1 Vys = Wt = × 104869.7639 kN Vyd = 58776.7641 kN .64 kN R 6 .41 Kg = 587.64 kN R 6 Setelah dilakukan analisa struktur dengan asumsi – asumsi yang telah dijelaskan diatas.5 Kontrol Gaya Geser Dasar (Base Shear) Nilai akhir respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat Gempa Rencana dalam suatu arah tertentu.97 • Arah x Tx = 1.15 detik Tx = 1. Vxd = 59976. sesuai SNI 03-1726-2002 Ps.16 detik ………. Ty = 1.2 × 1 Vxs = x Wt = × 104869. 5.15 < (0. maka didapatkan output untuk nilai gaya geser dasar (base shear) sebagai berikut.1. beradasarkan waktu getar alami fundamental struktur gedung masih memenuhi batas kontrol waktu getar alami.1 didapat nilai Wx = Wt = 104869.238 kN − Untuk arah x C I 0..OK • Arah y Ty = 1.15 < (0.18x12) = 2.15 detik Maka dari Gambar 5.16 detik ……….1 didapat nilai Cy = 0.. Dengan nilai waktu getar alami fundamental (T) perkiraan awal dengan rumus empiris sebagai berikut.238 = 3495. tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang pertama. 7.3.2 dan Cx = 0.39 Kg = 599.2 Dari tabel 5.OK Sehingga.Untuk arah y CyI 0.

8V xs 2796..Untuk arah y 0..512 kN.8V1 ≥1 Vt Dimana : V1 = Gaya geser dasar nominal sebagai respon dinamik ragam pertama Vt = Gaya geser dasar nominal yang didapat dari hasil analisa ragam spektrum respons yang telah dilakukan Sehingga dengan cara tersebut didapat nilai FS untuk masing – masing arah pembebanannya.98 Maka untuk arah x... Nilai skala tersebut adalah sebagai berikut : .8V ys 2765 ..Untuk arah x 0.......3 gaya geser tingkat nominal akibat pengaruh gempa rencana sepanjang tinggi struktur gedung hasil analisis ragam spektrum respon dalam suatu arah tertentu harus dikalikan nilainya dengan suatu faktor skala.7641 Setelah didapat nilai – nilai skala untuk masing – masing arah pembebanan.7641 kN < 2796..... V yd ≥ 0 .66 V xd 599.7639 kN < 2796.. .8V xs 599. ... maka menurut SNI 03-1726-2002 ps 7... Kemudian dilakukan running program ulang sehingga didapatkan output sebagai berikut : .. V xd ≥ 0.3.... maka dilakukan analisa struktur ulang dengan mengalikan faktor diatas pada scale factor untuk Define Respons Spectra..71 V yd 587... .512 FS = = = 4.......Not OK! Sehingga untuk memenuhi persyaratan SNI 03-1726-2002 Ps.1....Not OK! Maka untuk arah y.. . 7.7639 .2.512 FS = = = 4..512 kN. FS = 0..8V ys 587..

8V xs 2800.8772 88.0000 0...0000 9.53 88..4 Modal Participating Mass Ratio Mode Period UX UY UZ SumUX SumUY SumUZ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2.8772 92.. 7.0000 78...OK! Maka untuk arah y.230644 1.0001 2.512 kN.0002 4..9158 kN Vyd = 276249.769604 0.8772 88..3130 0.2535 95.554149 0.3936 0.0935 95.0936 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 .9803 78. . ....6998 92... V yd ≥ 0.0000 2.6999 95. gaya gempa dari spektrum respon dinamik tersebut selanjutnya digunakan sebagai beban gempa desain struktur..0000 78..0935 95.9158 kN > 2796.99 Vxd = 280091.4192 0..5302 92..1696 0.3687 kN > 2796.3687 kN Maka untuk arah x..9803 0.9405 95..10 Kg = 2798.8969 0.0000 0......4207 88.. V xd ≥ 0. 5.0000 0..27223 0.596052 0..1 jumlah ragam vibrasi (jumlah mode shape) yang ditinjau dalam penjumlahan respons ragam harus sedemikian rupa sehingga partisipasi massa (Modal participating Mass Ratios) dalam menghasilkan respons total harus mencapai sekurang – kurangnya 90 %.0001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0..2535 78..0015 10..422585 0.9803 88.58 Kg = 2800.53 88.. Tabel 5.0000 0..6 Kontrol Partisipasi Massa Sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps.4192 78.0000 4.9803 78.1093 0.0000 78.8V ys 2798.0000 0.396882 0.0000 0..512 kN.258883 0..220727 0.335163 0.2..9405 92.429487 2.0632 0.0000 0.OK! Sehingga..9405 92.4192 78...71274 0..6998 92...

429487 0.230644 0.062933 0.57% 17.1 dapat dipenuhi.2 untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu-waktu getar alami yang berdekatan yaitu apabila selisih nilainya kurang dari 15 %.769604 0.013347 0.2535 % untuk arah X dan 95.784545 0.335163 0. harus dilakukan dengan metoda Kombinasi Kuadratik Lengkap (CQC). 7.272230 0.29% 6.69% 11.116688 0.056864 0.038156 0.67% .4 didapatkan bahwa dalam penjumlahan respons ragam menghasilkan respons total mencapai 95.17% 2. Tabel 5.173467 0. 7.596052 0.676495 1.712740 0.33% 6.554149 0.2. Dengan demikian ketentuan menurut SNI 03-1726-2002 Ps.220727 3. 5.5 Selisih Periode Antar Mode yang Berdekatan Mode Periode (sec) Selisih % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2.2. Untuk Struktur gedung yang memiliki waktu getar alami yang berjauhan.45% 67.65% 19.88% 5. penjumlahan respons ragam dapat dilakukan dengan metoda Akar Jumlah Kuadarat (SRSS).061719 0.35% 78.100 Dari Tabel 5.0936 % untuk arah Y.396882 0.258883 0.82% 1.198843 2.025703 0.422585 0.6 Metode Penjumlahan Respons Ragam Menurut SNI 03-1726-2002 Ps.

101
Karena selisih waktu getar alami dominan kurang dari 15%, maka metoda penjumlahan ragam respons menggunakan metoda CQC.

5.7 Simpangan Antar Lantai
Simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum, Δm, dihitung sebagai berikut: Δm = 0,7 RΔs Dengan R adalah factor modifikasi respons (table 12.2-1). Δs adalah respons statis simpangan elastic struktur yang terjadi di titik-titik kritis akibat beban gempa horizontal rencana.Simpangan elastis struktur dihitung menggunakan analisa dinamis.

¾ Batasan simpangan antar lantai
Simpangan antar lantai yang dihitung berdasarkan persamaan diatas tidak boleh melebihi 2,5% dari jarak lantai untuk struktur dengan waktu getar dasar lebih kecil daripada atau sama dengan 0,7 detik, sedangkan untuk struktur bangunan dengan waktu getar dasar lebih besar daripada 0,7 detik, simpangan antar lantai tersebut tidak boleh melebihi 2,0% dari jarak antar lantai, secara singkat batasan simpangan antar lantai dapat dituliskan :

2,5 xh 100 2,0 T ≥ 0,7 detik, maka Δm ≤ xh 100
T ≤ 0,7 detik, maka Δm ≤

102 Simpangan Elastis Struktur
Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps. 8.1.2, simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung tidak boleh melampaui 0.03 dikali tinggi antar tingkat atau dibatasi sebesar 30
R

mm diambil nilai yang terkecil. Nilai R didapat sebesar 6 sehingga batasan Simpangan elastis struktur gedung didapat : - Untuk h = 4,25 m : Δs = 0,03 × hi = 0,03 × 4,25 = 0,02125 meter = 21,25 mm R 6 Nilai simpangan struktur gedung didapat dari hasil running ETABS v9.2.0 dengan memilih satu titik pada setiap gedung yang direncanakan. Sedangkan nilai simpangan antar tingkat diambil dari selisih nilai simpangan antar gedung yang terjadi. Nilai simpangan gedung yang terjadi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.6 Simpangan
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 ∆x (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25.0 19.4 13.4 7.5 2.4 ∆y (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4

Setelah didapat nilai simpangan gedung, ditinjau nilai Δs antar tingkat arah X dan arah Y dapat diperoleh pada tabel berikut :

103
Arah x : Tabel 5.7 Analisa ∆s akibat gempa arah x
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25 19.4 13.4 7.5 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 2.1 2.8 3.4 4.1 4.7 5.1 5.6 6 5.9 5.1 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Arah y :
Tabel 5.8 Analisa ∆s akibat gempa arah y
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.6 2.2 2.8 3.6 4.1 4.8 5.3 5.7 6 6 5.2 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

42 23.4 4.75 8.75 42.25 17 12. maka Δm ≤ xh 100 2.1 4.52 25.0 T ≥ 0.4.25 m = 0.1 2.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK . ¾ Simpangan Antar Lantai Sesuai SNI 1729 Pasal 15.22 19.15 detik 2.0 Δm ≤ x 4.1 2.7 5.76 14.1 5.78 21.28 17.8 3. Δm.42 10.7 RΔs Dengan batasan simpangan antar lantai : Waktu getar dasar yang terjadi T = 1.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.82 11.5 2.1 simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum. dihitung sebagai berikut: Δm = 0.5 21.104 Dari tabel tersebut dapat dilihat nilai simpangan antar tingkat dalam arah X maupun arah Y tidak ada yang melebihi syarat batas yang telah ditentukan.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.20 24.74 21.9 Analisa ∆m akibat gempa arah x Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.5 38.085 m = 85 mm 100 Nilai simpangan antar tingkat dapat diperoleh pada tabel berikut : Arah x : Tabel 5.9 5.30 8.25 34 29.7 detik.5 4.75 25.6 6 5.

25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.25 17 12.20 25.75 42.5 38.76 15.8 5.7 6 6 5.1 4.26 23.10 Analisa ∆m akibat gempa arah y Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.3 5.72 9.84 10.8 3.75 8.20 21.105 Arah y : Tabel 5.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .25 34 29.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.94 25.2 2.5 4.12 17.16 22.6 2.75 25.5 21.24 11.22 20.6 4.2 2.

106 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

Adapun data – data profil adalah sebagai berikut : ix = 20.200.2 cm2 W = 89. Pada perhitungan berikut Balok Induk direncanakan dengan profil WF 500.5 cm r = 20 mm A = 114.20.1 Denah Pembalokan lantai Pada perencanaan ini.107 BAB VI PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA 6. ditunjukkan contoh perhitungan balok Induk pada lantai 1 dengan kode balok B-23.10.1 Perencanaan Balok Induk Gambar 6. Panjang balok (L) = 1000 cm.6 kg/m tw = 10 mm Zx = 2096 cm3 d = 500 mm tf = 20 mm Zy = 332 cm3 Sx = 1910 cm3 b = 200 mm Ix = 47800 cm4 .

16 170 170 λp = = = 10.25 Jadi.1 Kondisi Balok Utama Sebelum Komposit Dari hasil output ETABS v9.1..0) f = 0.OK ¾ Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Pelat Sayap : bf bf 200 < λp ..0 untuk batang B-23................ maka Mnx = Mpx ..56 Kg L = 1000 cm ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin (f’) adalah f '= L 1000 = = 2..OK = = 6..25 2..75 250 fy Pelat badan : h h 428 < λp..2..80 tw tw 10 λp = 1680 fy = 1680 250 = 106. termasuk penampang kompak.21 Kgcm Vu (-) = 13797..tf 2.33 cm h = 428 mm Iy = 2140 cm4 Sy = 214 cm3 6..... didapatkan : Mmax (-) = 2850308.tf 2....OK = = 42.2..108 iy = 4....78 cm 360 360 Lendutan yang terjadi (ETABS v9.765 cm f < f ' ...

5Mmaks ≤ 2.3 2.06 Kgcm Cb = = 12.5. 1910 = 3438000 kgcm .24 ) + (4. 2500 = 4775000Kgcm Mp = fy. 2096 = 5240000 kgcm < 1.5. Lr > Lb > Lp → bentang Menengah.200. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lr > Lb > Lp. Lr = 643.286624.2850308.fy = 1910 .1990319.549 cm.71 ) + (3. kuat nominal komponen struktur adalah : ⎡ ( Lr − Lb) ⎤ Mn = Cb ⎢ M r + ( M p − M r ) ≤ Mp ⎥ ( Lr − Lp ) ⎦ ⎣ MA = 1990319.5 My MR = (fy-fr)Sx = 1800.Zx = 2500 .1135694.2850308.06 ) = 1.5Mmaks + 3M A + 4 M B + 3M C 12.24 Kgcm MB = 1135694.109 ¾ Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 250 cm Berdasarkan tabel untuk BJ 41 profil WF 500.71 Kgcm MC = 286624.10.93 < 2.21 ) + (3.21 (2.20 didapatkan : Lp = 215.3 → dipakai 1.749 cm Jadi.93 My = Sx.

k ........ untuk balok dengan pengaku vertikal 2 a h ( ) pelat badan.21 Kgcm < 4716000 kgcm.1) cm2 = 64200 kg .21 Kgcm ≤ 0.749 − 250) ⎤ Mn = 1... OK Vn = 0.fy. Sehingga. 749 215 ..92 kgcm > 5240000 kgcm Dipakai Mn = Mp = 5240000 kgcm Persyaratan : Mu ≤ φMn 2850308.8 ≤ 69.93⎢3438000 + (5240000 − 3438000) ⎥ ≤ Mp − ( 643 ..2500 kg/cm (42.10 6 ) 428 ≤ 1....Aw = 0...... 5240000 kgcm 2850308...110 ⎡ (643. 5(2...E h ≤ 1. 549 ) ⎣ ⎦ = 9828385..... untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan..57....OK Jadi Penampang profil baja sebelum komposit mampu menahan beban yang terjadi.. kn =5.. ¾ Kontrol Geser Kontrol geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).1 n tw fy 5 Dimana. kn = 5 + .6..1 10 2500 42.9......8..6.

250.OK 6.. L = 1000 cm beff ≤ ¼ .8 < 106...tplat.1000 cm = 250 cm jadi beff = 250 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As..9...111 Persyaratan : Vu ≤ φVn 13797.....0 didapatkan momen positif adalah Mmaks = 3269371.56 Kg ≤ 0..85. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis....250 = 531250 kg .. 64200 Kg 13797.fc’.2....1...56 Kg < 57780 kg ..ok 428 1680 ≤ 10 250 42.25..752..16 250 6.ok Profil penampang kompak.2.25 < 10.. ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 200 170 ≤ 2.fy = 114..beff = 0..2500 = 285500 kg C2 = 0...10..38 Kgcm (batang B-23)...L = ¼.....2 Kondisi Balok Utama Setelah Komposit ¾ Zona momen Positif Dari hasil output ETABS v9.85..

(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 285500 kg Py = As.713 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 50 d3 = = = 25 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.fy = 114.250 beff = 2375 mm t = 100 mm 54 mm d Gambar 4.15 Potongan balok Induk d1 = tb - 5.379 cm = 0.beff 0.85. C =C1 ( terkecil) = 285500 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 285500 = 5.2500 = 285500 kg .379 a = 9.85.250. fc'.4 = 4.112 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.2.

1000 cm = 250 cm tbondex = 0. л . Tc = Asr .0) = 8483061.5 kgcm 3269371.38 kgcm ≤ 7210602.113 Mn = 285500 (4.27 kgcm. fy = 114.8483061...713 + 0) + 285500 (25 .2.Mn 3269371.75 mm fyr = 240 Mpa ts = 100 mm ¾ Menentukan Lokasi Gaya Tarik pada Balok Baja Batang tulangan menambah kekuatan tarik nominal pada pelat beton. fyr = 17.. 0..L = ¼.2.32 Kg Gaya tekan nominal maksimum dalam penampang baja Pyc = As ...0 didapatkan momen negatif Mmaks = 5440837.5 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .. L = 1000 cm beff ≤ ¼ .38 kgcm ≤ 0. ¼ . 2400 = 20508. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.. 2500 = 285500 Kg .85.21 Kgcm (batang B-23)..82 . ¾ Zona momen negatif Dari hasil output program ETABS v9.Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.

Tw = Pyc − Tc − Tf 2 = 132495. maka PNA pada web.1. Ts = Pyc − Tc 285500 − 20508.84 Kg Gaya pada sayap. berlaku persamaan.84 – 115000 = 17495. fy = 20 .0 = 6.114 Gambar 6. Tf = bf .3 . 2.84 = fy.84 Kg Jarak garis netral dari tepi bawah sayap : aw = Tw 17495.3 Distribusi tegangan negatif Karena Pyc > Tc.tw 2500.99 cm . tf .32 = 2 2 = 132495. 2500 = 115000 Kg Gaya pada badan.

5.(2.65 Kgcm Persayaratan : Mu ≤ φMn 5440837.5 cm ¾ Perhitungan Momen Nominal Negatif Mn = Tc (d1+ d2) + Pyc(d3 – d2) = 20508.0.21 Kgcm ≤ 0.0 + 0.5aw)) Tf + Tw (115000.32 (7..84 = 1.OK ..5.0) + (17495.115 ¾ Menenentukan Jarak Gaya yang Bekerja dari Centroid d2 = (Tf ..5tf ) + (Tw(tf + 0.93 mm d3 = D/2 =50/2 = 25 cm d1 = ts – c = 10 – 2.0.56 Kgcm.593) = 6869180.5 + 1.593) + 285500 (25– 1..65 Kgcm 5440837.6.6869180.593 cm = 15..21 Kgcm ≤ 5838803.5 = 7.99)) = 115000 + 17495.2.84..85 .

2 Kolom Komposit Dari hasil output ETABS v9. 50.31 Kg Vuy Kolom komposit direncanakan dengan menggunakan profil K500.2 + 2 2 (50-2.( 1 tw)) .16 dengan spesifikasi material : Ix = 49940 cm4 ix = 14.0 diperoleh gaya – gaya yang bekerja pada kolom CIN 7 lantai dasar adalah : Pu = 595950. 1 .3 Kgcm = 16667.4 cm2 4 iy = 15. d) + (b-tw)(tf)(d-tf)) + (( 1 . 1 .tw.6)(50-1. b. .( 2 = (( 1 . 1).1.( 1 . 50)+(20-1)(1.6 Kg = 2261074.17 mm d = 500 mm Iy = 52189 cm b = 200 mm H = 428 mm Sx = 1997.200.6))+(( 1 .6 cm KC 500 x 200 x 10 x 16 TULANGAN Ø16mm KING CROSS 50 TULANGAN GESER Ø12 . 1)) = 2428.116 6.2 + 2 2 1 tw).300 700 700 Gambar 6.( 1 .1. 2 2 2 2 2 (d-2tf). 1 .6. 20).6 cm 3 Sy = 2046.2. 20.4 Sketsa penampang kolom komposit Zx = (( 1 .6).1. d.10.79 mm A = 228.06 cm 3 2 2 . 1 .56 Kgcm Mux Muy = 2250329.15 Kg Vux = 15154.tf. b).

4 228.6.25 mm2 Tulangan Lateral (Sengkang dipasang Ø12-300mm) Luasan tulangan sengkang = ¼. 1 .4 = x100% = 4.2 + (d-2tf).09 mm2 Luas sengkang minimum = 0.tw.240. 1)+( 1 (50+1).71 cm3 Kontrol luas penampang minimum profil baja : As 228.70) Tulangan longitudinal Jarak spasi tulangan = 700 – (2.19 Mpa .56 mm2 Untuk baja yang diberi selubung beton : C1 = 0. C3 = 0.6. C2 = 0. 1 .π. 1.300 = 54 mm2 < 113. 20). tf.8. 1 .12 – 16 = 560 mm Luas tulangan longitudinal (Ar) = 4.56 8.2+(50-.4 = 250 + 0.6).7% > 4% Ac (70.1.18. 1 .1/2.09 mm2 Luas penampang bersih (Acn) = (70.50) -2.04.70) – (228.04) = 4663.b.7 .25.25 mm2 Ar minimum = 0. 1 .1.162 = 804.tf. Ac As 4663. tw) + ( 1 (d+tw). 228.7. 1.122 = 113.(d+tw-tf)) =(( 1 .6.(50+1-1.20.4 + 8. 1 (50+1) 2 2 2 2 2 2 + (20-1). 1 (d+tw) 2 2 2 2 2 2 + (b-tw).117 Zy = (( 1 . b).π.04 + 0.2 fmy = fy + C1.18.fc.6 . 1 . = 562.fyr.560 = 100. Acn As + C2.1.6)) = 2483.8 mm2 < 804. tw.

200.200.Ec.9.200.14 WF 600.10.5√25 = 24102.5√fc’ = 0.w1.200.4 rm = 0.200. Acn As 4663.10.200.200.200.10.9.041.24102.13.10.200.14 Kolom K500.16 WF 600.000 Mpa Em = Es + C3.04.23 Kolom K500.24001.10.5 Skema Kolom .200.70 = 21 cm > iy ( dipakai rm) = 200000 + 0.200.16 Arah X WF 500.8 Mpa 228.14 Kolom K500.16 WF 500.200.9.98 Mpa Es = 200.3.2.56 = 298428.9.16 WF 500.20 WF 500.98 Kuat Nominal Aksi Kolom Komposit WF 500.14 WF 600.10.16 Gambar 6.118 Ec = 0.3b = 0.10.20 Kolom K500.

maka termasuk dalam kategori kolom menengah. 0.6 − 0.17 cm rm 21 λ π f my Em = 31.47 298428 .43 = 1.52 dan nilai Kcy = 1.119 Bagian dasar kolom diasumsikan jepit. sehingga dari nomogram didapatkan nilai Kcx = 1.67λc f my 562.54.L = 1.2.425 = 654.67.5 cm λ= λc = Lk 654.47 Pn = As.26 Kg .8 Karena nilai λc.43 = 1.54 → KcY menentukan Lk = Kc.5066.fcr = 228.11 ω= 1.19 fcr = = = 506. sehingga nilai GB = 1 ⎛ Ix ⎞ ⎛ 49940 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAx = = = 2.4 cm2.5 = 0.11 1.5 = = 31.63 Mpa ω 1.54 Ix 41900 41900 ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ ⎜ ⎟+⎜ ⎟ 950 800 L ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Jenis rangka tidak berpengaku (unbraced frame).34 47800 Ix ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L 950 ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎛ Iy ⎞ ⎛ 52189 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAy = = = 2.6 − 0.0.3 Kg/cm2 = 1157153.17 π 654.25 < λc <1. dimana : 1.

7.6 = = 0.(OK) 1.2 ϕPn 983580.. Persyaratan luas minimal penampang beton yang menahan beban desain kolom adalah : ¾ Kemampuan profil baja menahan beban φPns = 0.85.27 Kg Syarat yang harus dipenuhi untuk luas penampang beton φPnc ≤ 1.fy = 0.26 Kg = 983580.27 Kg > Pu……….16)) = 280 mm Cr = (Crc + Crt)/2 = 280 mm h1 = h2 = 700 mm Pu 595950.228.50) + ((50+10)10) = 101 cm2 Crc = Crt = 350 – (50 + 12 + (1/2.7. 1157153.φ.7.Ab Ab ≥ ϕPnc 498230.2500 = 485350 Kg ¾ Kemampuan penampang beton menahan beban φPnc = φPn – φPns = 983580.0.6.27 Kg – 485350 Kg = 498230.4.ϕ .27 .fc’.120 φPn = 0.(OK) Semua beban desain kolom ditopang oleh kolom komposit ( terdiri dari profil baja dan beton).6 > 0.250 ¾ Kuat Nominal Komposit dan Aksial Kolom Komposit Luasan badan profil (Aw) = (1.As.85.27 = = 1953.85.84 ……. fc ' 1.

fyr + h2 Aw. fc '.(h2 – 2Cr)Ar.04 x 2400 70 101x 2500 +( )101x 2500 − 2 1.7.2 → ⎟ + ⎜ + ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ϕPn ⎝ ⎠ 8 ⎛ 2261074.16 .12993755.7. fc'.7 7 0.965 ≤ 1.7 7 ⎠ Kesimpulan: Kolom komposit digunakan profil K500.12854730.85.0(OK ) 9 ⎝ 0.7 x 250x70 =12993755. fy Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Untuk Pu > 0.h1 = 2483.fy + 1/3.85.6 + ⎜ + ⎟ = 0.fyr + h2 Awfy )Aw.(h2 – 2Cr)Ar.fy + 1/3.10.h1 = 2428.06 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.56 2250329.200.3 ⎞ 0. fy − 2 1.7 x 250 x70 = 12854730.04 x 2400 + ( 70 − 101x 2500 )101x 2500 2 1.77 Kgcm ( Mny = Zy. fy − 2 1.77 Kgcm ( )Aw.121 Mnx = Zx.71 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.

3 Desain Sambungan 6.2500) Kgcm = 14265900 Kgcm .3.1.5.1.6 Sambungan Balok – Kolom yang direncanakan Sambungan balok utama B-22 dengan kolom direncanakan dengan rigid connection dimana sambungan memikul beban geser Pu dan momen Mu.122 6. (2096.1.Ry.2 D + 0.5 L) Sambungan kaku yang merupakan bagian dari Sistem Rangaka Pemikul Beban Gempa mempunyai kuat lentur Mu yang besarnya paling tidak sama dengan : Mu = 1.1 Sambungan Antara Balok dengan Kolom Gambar 6. Penerimaan beban dianggap sebagai berikut : • Beban Pu diteruskan oleh sambungan pada badan secara tegak lurus ke flens kolom • Beban momen Mu diteruskan oleh sayap balok dengan baja T keflens kolom Vu = 16319 Kg (1.Mpbalok = 1.

9.db.2.10.tp.4.5L ditambah gaya geser yang berasal dari Mu diatas (LRFD ps 15.123 Momen lentur rencana sambungan berdasarkan kemampuan balok.5 Kg = 46352.07 cm2 Vdg = φf.16 • Kolom menggunakan profil K500.5 Kg 950 Vutotal = 16319 Kg + 30033. Elemen – elemen sambungan : • Balok melintang menggunakan profil WF 500.75.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.5.2.200.(r1fub). Sambungan geser pada badan balok Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.16 Gaya geser terfaktor V pada sambungan kaku harus diambil berdasarkan kombinasi pembebanan 1.4 cm. 25.4100 Kg/cm2 = 18745.10.5.2Ab = 0.1.07 = 31370.(0.2 Kg) .5) • Mutu profil BJ41 (fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.75.4.2).2. sehingga besarnya : Vutambah = 14265900 + 14265900 = 30033.200.8250)2. D = 25.2D + 0.0 cm.2 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg =18745.5 Kg A.fu (tebal pelat badan dipakai tebal badan balok tp = 10 mm)) = 0.6 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.

t = (30 – 2.t = (L – n.0.db.07 cm2 = 15685. Vdg 13121.0.7 = 17.2.64 sehingga pada satu sisi menjadi 2 baut C.(0. dipasang 3 buah Vdg 18745.07 cm2 Vdg = φf.5 = = 2.3 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf. Ølubang = 25.47 .5.53 . D = 25.7.2.2.tp. 8250 Kg/cm2).75.2.4100 = 13121.5) • Mutu profil BJ41(fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.2 = = 3. Ølubang). Ab = 0.4 mm + 1.2 B.70. Sambungan geser pada sayap kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.fu (tebal pelat badan dipakai tebal pelat siku tp = 7 mm)) = 0. BJ 41 dengan fu = 4100 Kg/cm2.64 Kg n= Vu 46352.4.22 cm2 .75.54.4.124 n= Vu 46352. 5.6 mm (lubang dibuat dengan bor) = 27 mm Anv = Lnv.7).(r1fub).7. Kontrol siku penyambung Siku direncanakan menggunakan ∟70. dipasang 4 buah pada 2 sisi.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.

.9. Sambungan pada sayap profil T dengan sayap kolom Direncanakan menggunakan baut D25.7 Gaya – gaya yang bekerja pada profil T ...125 Siku ditinjau satu sisi sehingga gaya = ½. Ok D.. dengan data – data: Ølubang = 25.6..25 Kg φPn = φ(0.4 mm + 1.4100 Kg/cm2..fu.4 mm. 17..07 cm2 Mutu baja profil BJ 50 (fu = 5000 Kg/cm2) Mutu baut (fu = 8250 Kg/cm2) Akibat gaya Mu.22 cm2 = 38125.6.25 Kg . profil T akan mendapat gaya tarik sebesar : 2T = Mu d balok 14265900 T= = 142659 Kg 2.Anv) = 0.0.Vu = 23176.50 W Q a 1 2(T 1 2(T a' + Q) + Q) b' b 2T Bidang kritis 1 2(T 1 2(T + Q) + Q) flens profil T Badan profil T Q Gambar 6.6 mm (lubang dibut dengan bor) = 27 mm Ab = 5.08 Kg > 23176.

Øbaut = 50 + ½.4 = 94111.(OK) Koreksi untuk a dan b a’ = a + ½.(50 + 30.76 Kg 2. T = 14265900 = 88828.fub.0.126 B = Kekuatan rencana baut = φRn = 0.25.25.76 Kg (memenuhi syarat) ¾ Perhitungan sayap kolom dengan profil T Perhitungan tebal sayap T yang diperlukan : Direncanakan memakai profil T 400.88 Kg Syarat. Fisher dan Shrink : a ≤ 1.88 Kg > 88828.75.50 = 62.½. 14265900 Lengan kopel = = 151.3) Syarat.94 Sehingga tinggi tambahan yang diperlukan menjadi.75.35.75. B > T 94111.5 mm…………….75.07 cm2.20.8250 Kg/cm2. B > T 94111.58 cm Dalam hal ini kita coba pakai profil T 600. = 151.5.400.20 Maka.4 = 62. r = 22mm a = 50 mm (direncanakan) b= 400 − 20 − (50 + 90) = 50mm 2 Menurut Kulak.4 = 37.5 mm .58 – 50= 101.88 Kg < 142659 Kg (Tidak memenuhi syarat) Untuk mengatasinya kita dapat memakai potongan profil balok atau profil T yang dihubungkan ke bawah balok utama agar lengan momen kopel menjadi besar.Ab)n.25.7 mm b’ = b – ½.200.(0. Øbaut = 50 . n = jumlah baut = 0.12..58 cm 2.25 b 50 < 1.47055.

85 Kg…….35 dapat dipakai ≥ E.400.(1 + 0.b' tf ≥ ϕ .5) • Mutu profil BJ55 (fu = 5500 Kg/cm2) .734 ⎞⎛ 37.6 δ =⎜ = 0.0.7 + 12001) 94111.Ok Maka tebal perlu sayap profil T 4.6 mm Sehingga.T .26.4100 Kg / cm 2 .734) ≥ 3.58 < 1. 7 ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠ ⎠⎝ ⎝ = 12001 Kg Gaya yang terjadi pada baut : B ≥ ½ (T + Q) 94111.7 ⎛ B ⎞ a ' ⎛ 94111. fy.16 cm = 31.76 Kg ⎜ ⎜ αδ + 1 + a ' 1 0 .58 αδ ⎞⎛ b' ⎞ ⎛ 0.20cm.88828.88 Kg > 50414.88 − 1⎟ = 0.58.76 ⎠ 37.3 ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ = 0. 734 62 .5 ⎞ Q= T ⎛ ⎟ ⎟⎜ ⎟⎜ ⎟ = 88828. tf pada profil T 400.5 0.3. 58 .3 < 1 − 1⎟ = ⎜ ⎝T ⎠ b' ⎝ 88828. dipakai ⎜ ⎟ δ ⎝ 1 − β ⎠ 0. 0 .76 Kg .0.58.127 β =⎜ ⎞ 62.(1 + αδ ) 4. Sambungan pada badan profil T dengan sayap balok Kontrol Kekuatan Baut Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.3 ⎠ Nilai α = 0.88 ≥ ½ (88828.20.w.5 ⎛ w − ∑ d ' ⎞ 200 − 2.734 ⎝ 1 − 0.734 ⎟= 200 ⎝ w ⎠ α= 1⎛ β ⎞ 1 ⎛ 0.9.

31 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.8250 Kg/cm2).07 cm2 = 15685.tw = 20 cm.4.fy 2.88828.2.31 buah baut pada 2 sisi.3.4.1.fu (tebal pelat badan dipakai tebal sayap profil balok tp = 12 mm)) = 0.31 Kg) n= 88828.34 cm2 Terhadap leleh 2T ≤ 0.75..2.4 mm.76 ≤ 0.4100 177657.……….66buah . sehingga pada 1 sisi menjadi 3 baut. BJ 55 (Ag = 5.54cm.2 cm. BJ 55 dengan fy = 4100 Kg/cm2 dan fu = 8250 Kg/cm2 Ag = w. sehingga dipasang 6 Vdg 15685.90.Ab = 0.tw) = 90 cm2 – (3.5 cm = 90 cm2 An = Ag – (Σd’.5.16 cm.9.4.07 cm2) Vdg = φf.(r1fub).5 cm) = 47.75.(Ok) .db.52 Kg ≤ 332100 Kg…. Kekuatan badan profil T Dipakai baut Ø25.tp.8 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg = 15685.128 • Baut tipe tumpu Øbaut 25.4 mm . 2.5..8250 Kg/cm2 = 45262.4.(0.Ag.9.76 T = = 5.

45 Kg…………….129 Terhadap patah 2T ≤ 0.2 Sambungan Kolom – Kolom Sambungan kolom .5.fu 2.4 Baut D 25.fy.1997.3.9.6 Kg = 1.2500.47.34.Zx Mux = 1.4 Baut D 25.8 sambungan kolom – kolom .8250 177657.6 = 7491000 Kgcm Baut D 25.An..(Ok) 6. Gaya – gaya yang bekerja pada kolom lantai CIN.9.76 ≤ 0.7 adalah sebagai berikut : Pu = 595950.52 Kg ≤ 350712.4 Gambar 6. 88828.5.kolom direncanakan pada lantai 1.

6 – 260920 = 335026.fub.1.37 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.32 Kg .75.fu (tebal plat dipakai tebal plat sayap Kolom tp = 16 mm) = 0.4.4 Pusayap = Pu – Pubadan = 595950.07 cm2) Vdg = φf. 2Ab = 0.1.07 cm2 = 31989.4 mm.Pu = 595950. ( Ag = 5.52 Kg ¾ Kontrol Geser pada Sayap Kolom Dipakai tebal pelat penyambung 16 mm Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut D 25.4. 2.130 Pembagian Beban Momen 1 .2.db.r1.1.75.5.503 I badan Mubadan = Mu = 12 7491000 = 1562500Kgcm I profil 49940 Musayap = Mu – Mubadan = 7491000 – 1562500 = 5928500 Kgcm ¾ ¾ Pembagian Beban Aksial A 2.4100 = 29992.8250 Kg/cm2.2.tp.5.6 = 260920 Kg Aprofil 228.50 Pubadan = badan .54.6.0.2.

2. ( Ag = 5.5.32 Dipasang 12 buah agar simetris ¾ Kontrol Geser pada Badan Kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.9 = 2058248 Kgcm .0.131 Gaya kopel pada sayap 5928500 = 296425Kg d 20 Pu sayap Jumlah gaya total pada sayap = T + 4 335026.e = 1562500+ 260920.63 Kg Vdg > Vdt (digunakan Vdg = 29992.db.4.0.67buah ≈ 12buah Vdg 29992.75.2Ab = 0.07 cm2) Vdg = φf.07 cm2 = 31370. 5000 = 22860 Kg Dipakai.1.54.fub.4 mm.75.4.tp.2.32 Kg) Vu 380181.fu (tebal plat dipakai tebal plat badan Kolom tp = 10 mm) = 0.1.63 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.52 = 296425 + 4 Tu = Musayap = = 380181.2.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut 25.5. Vdt = 22860 Kg Momen yang bekerja pada titik berat sambungan badan Mutotal = Mubadan + Pu.r1.2.63 n= = = 11.8250 Kg/cm2.

6 + 15246.2.28) 2 = 19030.tp = 15.5 KuH2 = = = 14246.426 Kg < 22860 Kg………OK ¾ Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum = 1.132 Dicoba dengan baut sebanyak 12 buah Pubadan 260920 Akibat Pu → KuV1 = = = 20743.2.52 + 13.54 = 4.445 cm Jarak tepi maksimum = 12.5 = = 3009. y 2058248 x 22.75 db = 1.6 Kg n 12 Mutotal .54 = 7.28 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 KuV2 = Kutotal = (ΣKuV ) 2 + (ΣKuH ) 2 = (21743.tp = 12.33 + 3009.5)2 + 4(4.52) = 3078 cm2 Vu 16667.33Kg n 12 Akibat Vu → KuH1 = Σ(x2 + y2) = 12(4.15 = = 555.62 cm Jarak antar baut maksimum = 15.db = 3.52 + 22.426 Kg Kutotal < φVn 19030.75.14 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 Mutotal .14) 2 + (555.5 cm Jarak antar baut minimum = 3.1 = 15 cm Jarak tepi maksimum = 20 cm Dipasang jarak antarbaut = 9 cm .x 2058248 x 4.1 = 12 cm Jarak tepi maks = 20 cm Dipasang jarak tepi baut = 5.

Part = BMK-13 • H = 70 cm • B = 70 cm • tp = 46 mm = 4.8)+(2.27 Untuk Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Pu ⎟ + ⎜ + > 0.6 cm Dari output Etabs pada CIN 7 (comb 1.4 cm2 = 84732.7 cm pada daerah yang diarsir pada profil K 500.16 sehingga didapat : Alas = {(2.133 6.45.2D + 0.10.10.3 Disain Base Plate Perencanaan base plate dibawah ini menggunakan fixed plate dari catalog PT Gunung Garuda untuk profil K500.504 cm4 .2 ⇒ ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ⎝ ⎠ 8⎛ Mux ⎞ 0.200.8) + (4.7 cm =530.2 ϕPn kolom 983580.0 9 ⎝ 0.200.12854730.46.6 + ⎜ + 0 ⎟ = 1.5L + E) lantai dasar adalah : Pu = 595950.15 Kg Vu Pu 595950.3.6 = = 0.52 Kgcm Sambungan Las pada End Plate Direncanakan las dengan te = 1.20)} 1.6 > 0.77 ⎠ Mux = 4916934.16 dengan data – data sebagai berikut : • No.85.6 Kg = 16667.

⎜ .45 a= te 1.23 + .27cm = fu las 2214.2.23 + 2.FE70xx = 0.83 + .15 4916934.05cm3 x 23. f P = Pu Mx 595950 4916934.63 Kg/cm2 te = f total 2818.20.05 2 = 1389.203 + 2.52 + A 530.46 .4 3700.45 Kg/cm2 Akibat beban P.27 = = 1.45 2 + 1389.707 0. f V = f total = f p + fV 2 2 = 2452.3 2 = 2818.45 Kg/cm2 16667.20.70.504 = = 3700.9 y Iy 84732.52 + = + A Wx 530.102 ⎟⎥ 12 12 ⎠⎦ ⎠⎦ ⎣ ⎝12 ⎣ ⎝12 = 84732.8.4 fulas = φ.3 Kg/cm += Vu Akibat beban Vu.6.4 3621.22 .92 ⎟⎥ + ⎢2.6.70.504 cm4 Wx = Ix 84732.8 cm(amin) 0.11 = 2452.707 .134 ⎡ ⎛1 1 1 ⎞⎤ ⎞⎤ ⎡ ⎛ 1 Iy = ⎢2.1 = 2214.20.11cm3 22.45 .2.1cm = 1.504 Wy = = = 3621.0.⎜ .63 .0.75.3.

.300.8 cm = dipakai c1 = we = 5 cm h’ ≥ 6+ 5 = 10 cm.3 Sehingga dipakai las dengan a = 18 mm Perhitungan Base Plate e= Mux 4916934.6 = 5.85.120 = 840 mm= 84 cm B =900 mm = 90 cm Dimensi beton : Panjang : 90 cm Lebar : 90 cm A2 90 x90 1.5.6 d = 9 mm Direncanakan diameter baut : 28.75.4.75.41. A2 = 0.41.135 Syarat – syarat tebal kaki las Tebal minimum = tplat = 46 mm fu 4100 aeff max = 1. f ' c.85.28 = 290.5h’ = 900 – 0.25cm > 1 H = 11.db =4.6 h’ ≥ we + c1 we = jarak baut ke tepi = 1.db = 1.1. dipakai h’ = 12 cm h = H – 0.1.4cm f E 70 xx 70.7cm 6 Pu 595950.125.86 = 6 cm c1 = jarak minimum untuk kunci = 27/16.7 A1 .2. .52 = = 18.28 = = A1 70 x70 Fcu = 0.70.tp = 1.

85 cm Maka base plate dengan ukuran 90 x 90 cm dengan tp = 3 cm dapat digunakan sebagai alas kolom K500.(0.6 = 52596.4 diambil jumlah baut = 12 buah baut angkur 28.108 Tu (h'− we) .5.Vu .7.136 a =h= 84- h2 − Pu (2h − H ) + 2Mu 0.05) – 595950.15 n n = 8. dimana Cv = 1.290. 7250.fub.6.π.a) – Pu = (0.29 Kg t ≥ 2.25 n .4916934.6 mm φRn = 0.29 + 1.84 − 90) + 2.25.52596.862) = 14579 Kg φRn ≥ 2.f’cu.90 842 − = 26.B 52596.1/4.we ≈ 0.6 mm 14579≥ 2Tu + Cv.2 cm fy.108 ≥ 2.6 (2.05 cm Tu = (0.7.2.2) 2500.29(12 − 4.200.6.75.B 595950.B.90 ≥ 2.290.h = 0.10.16667.26.52 0.84 = 42 mm =4.75.(0.6. fcu.5.90.6.5.16 Perhitungan Baut Angkur Dipakai baut angkur Ø28.5Ab) = 0.

5))1/ 2 ≥⎢ 50.152+ 6.16667.250 ⎣ ≥ 73. f c ( M + V .137 Panjang Angkur ⎡ 2V + (4V 2 + 6d .250(4916934.6 cm → diambil L = 120 cm .15+ (4.5cm))1/ 2 ⎤ L≥ ⎢ ⎥ d.52 +16667.50.15 . fc ⎣ ⎦ ⎡ 2.16667.

138 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

1 Denah Rencana Pondasi Pondasi pada gedung apartemen Albergo. Gambar 7. WIKA Beton. Jakarta ini direncanakan memakai pondasi tiang pancang jenis pencil pile shoe produk dari PT. Spesifikasi tiang pancang yang akan digunakan adalah sebagai berikut: : 500 mm • Diameter • Tebal : 90 mm : A3 • Type .1 Perencanaan Pondasi Kolom Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah.139 BAB VII PERENCANAAN PONDASI 7.

140
Allowable axial : 166,21 ton Bending Momen crack : 14 ton m Bending Momen ultimate : 21 ton m Dari hasil analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS, diambil output reaksi perletakan yang terbesar, hasilnya adalah sebagai berikut : Pu : 587339 kg : 74927,94 kgm Mx My : 74054,92 kgm : 12667,15 kg Hx : 11154,31 kg Hy • • •

7.1.1 Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal
Data yang diperoleh dan yang digunakan dalam merencanakan pondasi adalah data tanah berdasarkan hasil Standard Penetration Test (SPT). Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal, yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar tiang pondasi (Qp) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah (QS). Perhitungan daya dukung tanah memakai metode Luciano Decourt (1982) : QL = QP + QS Dimana : QL = daya dukung tanah maksimum pada pondasi QP = resistance ultimate di dasar tiang QS = resistance ultimate akibat lekatan lateral Qp = qp . Ap = (Np.K).Ap Qs = qs . As = (Ns/3 +1).As Dimana : Np = harga rata-rata SPT pada 4D pondasi di bawah dan di atasnya. K = koefisien karakteristik tanah Ap = luas penampang dasar tiang

141
Ns = rata-rata SPT sepanjang tiang tertanam, dengan batasan 3 ≤ N ≤ 50 As = luas selimut tiang Np =

46 + 42 + 54 = 47,33 3 AP = 0,25 × π × D 2 = 0,25 × π × 0,52 = 0,196m 2
K = 40 t/m2 (untuk tanah dominan pasir)

QP = N p × K × Ap = 47,33 × 40 × 0,196 = 371,73m 2
Ns =

22 + 44 + 38 + 48 + 42 = 38,8 5 2 AS = H × π × D = 10 × π × 0,5 2 = 7,854m 2

⎞ ⎛N ⎛ 38,8 ⎞ + 1⎟ × 7,854 = 109,43ton QS = ⎜ S + 1⎟ × AS = ⎜ ⎝ 3 ⎠ ⎠ ⎝ 3
QL = QP + QS = 371,73 + 109,43= 481,16 ton QU =

QL 481,16 = = 160,39 ton SF 3

7.1.2 Daya Dukung Tiang Pancang Kelompok
Pondasi tiang pancang direncanakan Ø50 cm. Jarak dari as ke as antar tiang pancang direncanakan seperti pada perhitungan di bawah ini : Untuk jarak antar tiang pancang : 2,5 D ≤ S ≤ 3 D dimana : S = jarak antar tiang pancang S1= jarak tiang pancang ke tepi 2,5 × 50 ≤ S ≤ 3 × 50 125 ≤ S ≤ 150 Untuk jarak tepi tiang pancang : 1,5 D ≤ S1 ≤ 2 D 1,5 × 50 ≤ S1 ≤ 2 × 50 75 ≤ S1 ≤ 100 Dipakai : jarak antar tiang pancang (S) = 130 cm jarak tepi tiang pancang (S1) = 80 cm

142

Gambar 7.2 Konfigurasi Rencana Tiang QL (group) = QL (1 tiang) × n × η

η = 1 - arc tan( D / S ) × ⎛ 2 − 1 − 1 ⎞ …………Converse Labarre ⎜ ⎟ 90° m n⎠ ⎝
Dimana : D = diameter tiang pancang S = jarak antar tiang pancang m = jumlah tiang pancang dalam 1 baris = 3 n = jumlah baris tiang pancang = 3 Efisiensi : (ή) =1QL (group)

arctan(500 / 1000) ⎛ 1 1⎞ × 2 − − ⎟ = 0,606 ⎜ 90 0 3 3⎠ ⎝ = 160390 × 9 × 0,606 = 874767,1 kg

Perhitungan beban aksial maksimum pada pondasi kelompok a. Reaksi kolom = 587339 kg = 42336 kg + b. Berat Poer = 4,2 × 4,2 × 1 × 2400 Berat total = 629675 kg QL (group) = 874767,1 kg > P = 629675 kg........OK

1.. namun yang diperhitungkan hanya gaya tekan karena gaya tarik dianggap lebih kecil dari beban gravitasi struktur.4 Kontrol Kekuatan Tiang Dari spesifikasi “Wika Pile Classification” direncanakan tiang pancang beton dengan : • Diameter : 500 mm • Tebal : 90 mm • Type : A3 : 166.390 x 0.3 ⎞ + + ⎟ ⎟ 2 2 9 × 6 1 .2 ton ≤ Pijin 1 tiang = 160.3 74.606 = 86.05492 × 1.2 ton ≤ = 97.21 ton • Allowable axial • Bending Momen crack : 14 ton m • Bending Momen ultimate : 21 ton m ¾ Kontrol terhadap Gaya Aksial Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification..92794 × 1.OK 7.3 Kontrol Beban Maksimum 1 Tiang (Pmax) Beban maksimum yang bekerja pada satu tiang dalam tiang kelompok dihitung berdasarkan gaya aksial dan momen yang bekerja pada tiang..Ymax ⎞ ≤ Pijin 1 tiang ⎟ 2 ⎟ ∑Y ⎠ Pmax = ⎜ ⎜ ⎛ 643.1.OK . 3 × ⎝ ⎠ = 86.21 ton...143 7. 3 6 1 .19 ton ………………….579 74. sehingga berlaku persamaan : Pmax = ⎜ ⎜ ⎛V ⎝n + My. Pmax = 86. gaya aksial tidak diperkenankan melebihi 166.. Momen pada tiang dapat menyebabkan gaya tekan atau tarik pada tiang.19 ton.. X max ∑X 2 + Mx.2 ton < Pijin 97.

.5d + 0.627 m 9 × 4..25 t/m2 f = 12.. (0 + 1.....47 tm M = Mmax = 16.d Dimana: H = Lateral Load e d = jarak antara lateral load (H) dengan muka tanah = diameter pondasi 1 2 qu = 0.85 kg/cm2 Cu = = 4...66715.627)) Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification.144 ¾ Kontrol terhadap Gaya Momen Setelah tiang dipancang Perumusan yang dipakai diambil dari buku “Daya Dukung Pondasi Dalam” : Mmax = H (e + 1.47 tm ..66715 = 0.25 × 0.5) + 0. Ok . momen tidak diperkenankan melebihi Mcrack = 14 tm.5f) f = H 9.425 kg/cm 2 dari lampiran data tanah di ketahui qu = 0...Cu .5(0...5 = 13.. Cek kekuatan momen tiang : Mcrack = 14 tm > M = 13..5(0.

Oleh karena itu poer harus memiliki kekuatan yang cukup terhadap geser pons dan lentur. Data perancangan poer : = 643.1.579 ton Pu = 86.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.145 7.2 × 1 m3 Mutu beton (f’c) = 40 MPa Mutu baja (fy) = 410 MPa Diameter tulangan 25 mm Selimut beton = 50 mm Tinggi efektif (d) : dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937. Kuat geser yang disumbangkan beton dirumuskan : 2 ⎞ ⎛ fc ' ⎞ ⎛ φ . Hal ini sesuai yang disyaratkan pada SNI 03-2847-2002 pasal 13.2 × 4.2 ton P max (1 tiang) ∑ tiang pancang tiap group =9 Dimensi kolom = 700 × 700 mm2 Dimensi poer = 4.5 mm • Kontrol Geser Pons Pada Poer Dalam merencanakan poer harus dipenuhi persyaratan kekuatan gaya geser nominal beton yang harus lebih besar dari geser pons yang terjadi.5 Perencanaan Poer Poer dirancang untuk meneruskan gaya dari struktur atas ke pondasi tiang pancang.2.Vc = φ ⎜ 1 + ⎟ × bo × d ⎟⎜ ⎝ βc ⎠⎝ 6 ⎠ tetapi tidak boleh kurang dari : φ Vc = φ × ⅓ × f ' c × bo × d Dimana : .12.

339. .5 = 7708051.5) = 6500 mm Batas geser pons ⎛ 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 6500 × 937.146 βc = rasio dari sisi panjang terhadap sisi pendek beton dari 700 daerah beban terpusat atau reaksi = =1 700 bo = keliling dari penampang kritis pada poer bo = 2 (bk + d) + 2(hk + d) dimana : bk = lebar penampang kolom hk = tinggi penampang kolom d = tebal efektif poer • Kontrol geser pons pada tiang pancang tengah (akibat Kolom) bo = 2 (700 + 937. 40 × 6500 × 937.8 N = 770.21 ton φ Vc = 0.6 × ⎜1 + ⎟⎜ ⎜ ⎟ 1 6 ⎠⎝ ⎝ ⎠ = 115620777.5 φ Vc = 0.7 N = 1156.08 ton P = 552.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.5) + 2 (700 + 912.6 × ⅓.805 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.805 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.08 ton < φ Vc = 770.

310 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.5 φ Vc = 0.5 = 2828736.4 × 937. .6 N = 574.873 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.08 ton < φ Vc = 574.6 × ⅓.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552. 40 × 2385.08 ton P = 552.147 • Kontrol geser pons pada tiang pancang pojok β c = rasio sisi terpanjang terhadap sisi terpendek (daerah beban terpusat) = 500 =1 500 bo = penampang kritis poer = 1 x πD + 800 + 800 4 = 2385.4 × 937.4 N = 282.339.310 ton φ Vc = 0.6 × ⎛ 1 + ⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎜ 1 6 ⎝ ⎠⎝ ⎠ = 5743104.4 mm Batas geser pons 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 2385.

1.7.85.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937. teori Untuk penulangan lentur.2. Sedangkan yang bekerja adalah beban terpusat di tiang kolom menyebabkan reaksi pada tanah dan berat sendiri Perhitungan gaya dalam pada poer didapat dengan mekanika statis tertentu.87) – (1/2 × 10080 x 1. Gambar 7.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.148 • Penulangan Poer balok beban yang poer.8⎛ ⎜ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12. poer dianalisa sebagai kantilever dengan perletakan jepit pada kolom.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.672) = 23711 kg m = 23.40 × 1 =10.2 × 2.3 Analisa Poer Sebagai Balok Kantilever a = jarak poer ke tepi kolom + selimut kolom + db sengkang + 1/2 db kolom = 80 + 5 + 1.6 = 87 cm b = jarak tepi tiang pancang = 80 cm Penulangan arah x Penulangan lentur : Pmax = 96231 kg q = 4.2 + ½.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.3) ⎝ 1000 ⎠ .

5.0002 < ρ min = 0.75 × 0.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.8 × 4200 × 937.d = 0.8⎛ ⎜ ⎟ = 0.b.0018 m= fy 0.0018 Maka dipakai ρmin = 0.85 × β 1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.149 40 − 30 ⎞ = 0.3) ρmax = 0.As = 0.75 × ρb = 0.77 1000 ⎝ ⎠ ⎞ 0.5 ρ perlu 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2 × 11.765 0.0803 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.039 (SNI 03-2847-2002 pasal 12.5.3) ρbalance = ⎜ 600 + f ⎟ fy y ⎠ ⎝ 600 ⎞ = 0.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.4.029 ρmin = 0.5 = 3543.85 × 0.5 = 7087.765 ⎝ ⎠ = 0. 7087.1) 400 = = 11.3.039 = 0.711 10 7 2 Rn = = = 0.0803 N/mm 2 2 φbd 0.85.12.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.85 × f ' c (SNI 03-2847-2002 pasal 9.85 × 40 Mu 23.75 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) .5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.765 × 0.2.0018 × 4200 × 937.

150 Penulangan arah y Pmax = 96231 kg q = 4.85.87) – (1/2 × 10080 x 1.77 = 0.5 2 .75 × ρb = 0.75 × 0.40 × 1 =10.85 × β1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎜ 600 + f fy y ⎝ ⎞ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.0018 m= (SNI 03-2847-2002 pasal 12.8⎜ ⎟ ⎝ 1000 ⎠ ρbalance = 0. 0875 φbd 2 0.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.4.8⎛ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12.2.3.029 ρmin = 0.672) = 23711 kg m = 23.711 10 7 Mu 2 N/mm Rn = = = 0 .85 × f ' c 0.12.039 = 0.3) ⎟ ⎠ 600 ⎞ = 0.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.85.7.85 × 0.8 × 4200 × 912.765 0.3) ⎜ 1000 ⎠ ⎝ ⎛ 40 − 30 ⎞ = 0.85 × 40 23.1) fy 400 = = 11.039 ρmax = 0.2.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.2 × 2.3) (SNI 03-2847-2002 pasal 9.

6898.6 Perancangan Sloof Pondasi (Tie beam) Struktur sloof dalam hal ini digunakan dengan tujuan agar terjadi penurunan secara bersamaan pada pondasi atau dalam kata lain sloof mempunyai fungsi sebagai pengaku yang menghubungkan antar pondasi yang satu dengan yang lainnya.1.5 = 6898.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.765 ⎝ ⎠ = 0. beban aksial tekan atau tarik yang berasal dari 10% beban aksial kolom.151 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ρ perlu 2 × 11.d = 0.765 × 0.25 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) 7.5. Data – data perancangan : Dimensi sloof : b = 400 mm h = 600 mm Ag = 240000 mm2 Mutu bahan : fc’ = 30 MPa fy = 400 MPa Selimut Beton = 50 mm Tulangan utama D25 .0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.0018 × 4200 × 912.0018 Maka dipakai ρmin = 0.b.As = 0.00021 < ρ min = 0. Adapun beban –beban yang ditimpakan ke sloof meliputi : berat sendiri sloof.5 = 3449.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.0875 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.5. berat dinding pada lantai paling bawah.

22 = 14780.01 x 400 x 600 = 2400 mm2 Dipasang Tulangan 6D25 ( As = 2945.68 ky = Ag 400 x600 Mu 98535000 = = 0. didapat ρ = 1 % Luas tulangan perlu : As = 0.5 kgm = 98535000 Nmm Rasio tulangan pakai : P 64357.5 mm Beban-beban yang terjadi pada sloof : Berat sendiri sloof = 0.41 kx = Ag.2 = 9535. L = ½ x 3076 x 6.2 mm2) . L2 = 1/12 x 3076 x 6.22 = 9853.6 × 2400 Berat dinding = 10 m × 250 = 576 = 2500 qu = 3076 kg/m kg/m + kg/m Panjang sloof = (panjang bentang – lebar poer)+daerah penjepitan = (10– 4.6 kg Penulangan Lentur pada Sloof Pu = 10% Pukolom = 10 %.152 Tulangan sengkang = ∅12 Tinggi efektif (d) = 600 – (50 + 12 + ½ .10 = = 2.h 400 x600 x1000 Dari diagram interaksi M-N F 400–30–0.643579 = 64357. 25) = 525.4 × 0.4 = 6.5 kgm Mulap = 1/8 x qu x L2 = 1/8 x 3076 x 6.9.8–2 .18 kgm D (Vu) = ½ x qu.2) + 0.9kg Mutump = 9853.2 m Mutump = 1/12 x qu.

5 kgm = 98535000 Nmm D (Vu) = 10% Pukolom = 10 %.4 = = 0.5 x 1608.153 Penulangan Tarik pada Sloof qu = 3076 kg/m = 1/12 x qu. fy ρperlu = 1⎛ 2m.β.Rn ⎞ ⎟ ⎜1 − 1 − ⎜ m⎝ fy ⎟ ⎠ .4 1.75 ρb = 0.f' c.22 = 9853.75 Rn ⎛ 600 ⎞ ⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ ⎟ ⎝ ⎠ 0. L2 Mutump = 1/12 x 3076 x 6.85.9kg = 643579 kg Tulangan tarik yang dibutuhkan : Vu 643579 = 1608.85f' c 0.024 Mn 123168750 = = 1.95 = 804.85 × 30 1.5 x As = 0.475 mm2 Mu 98535000 Mn = = = 123168750 Nmm 0.0035 ρmin = fy 400 ρmax = 0.85 ⎛ 600 ⎞ = 0.85 × 30 × 0.5 bd 0.8 ϕ 400 fy m = = = 15.12 = 2 2 400 × 525.75 ⎟ ⎜ 400 ⎝ 600 + 400 ⎠ = 0.643579 = 64357.68 0.95 mm2 = As = 400 fy Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’ = 0.

Digunakan tulangan geser praktis Ø10 – 200.75 × 437235.85 = 1172.95 + 735.37 mm2) Jumlah tulangan tekan : As’ + As1’ = 804.00497 ⎟ 400 15. maka tidak perlu tulangan geser.5 N Karena Vu < ØVc. .6 mm2) ¾ Penulangan Geser Geser yang terjadi : Vu = 9535.5 x 735. Ag ⎦ 95356 1 ⎡ ⎤ = 2 × × 35 × 400 × 539⎢1 + 6 ⎦ ⎣ 14 × 400 × 600 ⎥ 1 6 = 437235.7 mm2 Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’1 = 0.5 = 735.68 ⎜ ⎝ ⎠ = ρmin > ρperlu Æ ρ = ρmin = 0.68 × 1.5 x As1 = 0.85 mm2 Jumlah tulangan tarik : As + As1 = 1608.7 = 367.13 N ØVc = 0.154 2 × 15.35 N > Vu = 92956.13 = 327926.33 mm2 Digunakan tulangan 3D25 (As = 1472.65 mm2 Digunakan tulangan 5D25 (As = 2454.7 = 2344.0035 x 400 x 525.475 + 367.6 kg = 95356 N Vc = 2 × × ⎡ Nu ⎤ fc × bw × dx ⎢1 + ⎥ ⎣ 14.0035 Tulangan tarik yang dibutuhkan : As1 = ρ b d = 0.12 ⎞ 1 ⎛ ⎜1 − 1 − ⎟ = 0.

200. Analisa balok dihitung terhadap kontrol lendutan. dan kontrol kombinasi aksial dan lentur. perhitungan kuat lentur kolom.9.10. Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : kontrol lendutan.200. kontrol penampang (local buckling). maka dapat diambil kesimpulan antara lain : 1. perhitungan kuat tekan aksial kolom. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit.14 Profil Balok Anak : WF 400.13 .155 BAB VIII PENUTUP 8. beban hidup maupun beban terpusat. 3. kontrol lateral buckling dan kontrol geser. dan balok anak terhadap beban-beban yang bekerja baik beban mati.20 Profil Balok Induk 2 : WF 500.10.200. 4.8.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan. 2. kontrol lateral buckling dan kontrol geser.16 Profil Balok Induk 1 : WF 500. 5. Dilakukan kontrol kekuatan struktur kolom komposit yang meliputi kontrol luas minimum beton pada kolom komposit.200. Dari hasil pehitungan didapatkan data-data perencanaan sebagai berikut : Tebal Pelat Atap : 9 cm (atap) dan 10 cm (lantai) Tebal Pelat Lantai : 10 cm Dimensi Kolom : 70 x 70 cm Profil kolom : K 500. Dilakukan perhitungan struktur sekunder terlebih dahulu seperti perhitungan tangga. kontrol penampang (local buckling). pelat lantai.

agar dapat diperoleh hasil sesuai dengan yang direncanakan.2 Saran Pelaksanaan struktur dengan sistem komposit baja – beton harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat sebab pada bangunan baja. .156 Struktur bawah bangunan menggunakan tiang pancang pracetak dengan diameter 50 cm. keakuratan pemasangan sangat penting. 8.

Pradinya Paramita. Amon. John. 2005 Spiegel & Limbrunner. 1999.Bandung : PT. Wira M. . Vebriano & Rustailang. Rahmat. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. 1999. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Diterjemahkan oleh: Ir.157 DAFTAR PUSTAKA G. Jakarta: Erlangga. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Salmon. Muhammad. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. Wahyudi.Johnson. Rinaldy. Purwono. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983. 1998 American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD). Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. Charles & E.CE. 2006. Herman. Daya Dukung Pondasi Dalam. Surabaya : ITS. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. Bruce & Mazumder.Atanu.1991. Rene .S. Knobloch.

Penulis telah menempuh pendidikan formal.158 BIODATA PENULIS Penulis dilahirkan di Surabaya. yaitu SDN Karang Pilang 446 Surabaya. pada tahun 2005 penulis diterima di S1 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. 2 Nopember 1985. Fakultas dan Institut. selain itu penulis pernah pernah mengikuti beberapa kompetisi dan perlombaan baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi lain maupun perlombaan tingkat Nasional. merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Setelah lulus dari SMUN. Di jurusan Teknik Sipil ITS penulis mengambil bidang Struktur dan menyelesaikan studinya pada tahun 2009. Penulis aktif mengikuti beberapa kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Jurusan. . Penulis aktif sebagai Anggota sekaligus Fungsionaris Civil Engineering Computer Club (CECC) HMS-FTSP ITS. SLTPN 16 Surabaya dan SMAN 15 Surabaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful