xviii DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampang balok komposit .................................. 8 Gambar 2.2 Distribusi tegangan plastis .................................... 9 Gambar 2.3 Metode transfornasi luasan ................................. 11 Gambar 2.4 Penampang kolom komposit ............................... 14 Gambar 4.1 Denah tangga ...................................................... 34 Gambar 4.2 Potongan A-A tangga .......................................... 34 Gambar 4.3 Tampak anak tangga ........................................... 35 Gambar 4.4 Tampak melintang anak tangga .......................... 36 Gambar 4.5 Sketsa pembebanan pelat tangga ......................... 37 Gambar 4.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga ............. 40 Gambar 4.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga ........... 43 Gambar 4.8 Sketsa profil Canal 260.90.10.14 ........................ 44 Gambar 4.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ........ 46 Gambar 4.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes ........................................................................ 48 Gambar 4.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga......................................................................... 49 Gambar 4.12 Potongan pelat Atap ............................................ 52 Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan 3 sampai dengan 11 .. 53 Gambar 4.14 Potongan plat lantai 2.......................................... 55 Gambar 4.15 Potongan plat lantai mesin lift ............................ 56 Gambar 4.16 Detail sambungan balok anak dan balok induk ... 66 Gambar 4.17 Detail plat siku ................................................... 68 Gambar 4.18 Denah lift ............................................................ 71 Gambar 4.19 Sketsa mekanika pehitungan balok penggantung lift ............................................................................................. 72 Gambar 4.20 Distribusi tegangan plastis .................................. 74 Gambar 4.21 Sketsa mekanika pehitungan balok penumpu lift 78 Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis .................................. 80 Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .............................................. 91 Gambar 5.2 Pemodelan Stuktur 3D ......................................... 92

xx DAFTAR TABEL
Tabel Tabel Tabel Table Table Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 2.1 Ukuran Minimum Las Sudut ...................................... 20 5.1 Berat Struktur per lantai.............................................. 90 5.2 Nilai Xcr dan Ycr........................................................ 95 5.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan ............................ pp96 5.4 Modal Participating Mass Ratio ................................. 99 5.5 Selisih Periode antar Mode yang Berdekatan ........... 100 5.6 Simpangan ................................................................ 102 5.7 Analisa Δs akibat gempa arah x ................................ 103 5.8 Analisa Δs akibat gempa arah y ................................ 103 5.9 Analisa Δm akibat gempa arah x .............................. 104 5.10 Analisa Δm akibat gempa arah y ............................. 105

xxii

hal tersebut menjadi satu alasan banyak bangunan tempat tinggal di kota Jakarta dibangun bertingkat dan salah satunya adalah Tower Albergo. Sementara itu ketersediaan lahan untuk tempat tinggal di kota tersebut semakin sempit. Komposit balok baja dan pelat beton adalah satu usaha dalam mendapatkan suatu konstruksi yang baik dan efisien. Dari beberapa penelitian. Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur. kekakuan dan keunggulan ekonomis ( Vebriano Rinaldy & Muhammad Rustailang. (4) kapasitas menahan beban lebih besar. kemudian direncanakan ulang dengan menggunakan struktur komposit baja beton. (5) . Apartemen tersebut terdiri dari 36 lantai.1 Latar belakang Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang sangat padat. (2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil. struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan. Tower Albergo merupakan satu diantara empat tower The Bellezza. 2005 ). Kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung di kota tersebut sangat diperlukan salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal yang terus meningkat.1 BAB I PENDAHULUAN I. Balok komposit merupakan campuran beton dengan baja profil. dimana tower tersebut merupakan gedung apartemen yang dibangun dengan menggunakan beton bertulang konvensional. Keistimewaan yang nyata dalam sistem komposit adalah (1) Penghematan berat baja. (3) kekakuan lantai meningkat. dimana pada beton bertulang gaya-gaya tarik yang dialami suatu elemen struktur dipikul oleh besi tulangan tetapi pada struktur komposit ini gaya-gaya tarik yang terjadi pada suatu elemen struktur dipikul oleh profil baja.

Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. Dapat menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. Salmon. Dapat menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. 2. 4. Bagaimana menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. I. . yaitu : 1. Bagaimana menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik.2 Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar ( Charles G.1991 ). Pada Tugas Akhir ini menggunakan peraturan SNI 032847-2002 tentang tata cara perhitungan beton untuk bangunan gedung dan SNI 03-1726-2002 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung serta SNI 03-17292002 tentang tata cara perencanaan struktur baja. 2. 5. antara lain : 1. Bagaimana menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur.2 Permasalahan Permasalahan yang ditinjau dalam modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton.3 Tujuan Adapun tujuan dari modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton. Bagaimana memodelkan dan menganalisa struktur setelah adanya modifikasi. I. 3.

Meninjau metode pelaksanaan yang hanya berkaitan dengan perhitungan struktur.4 Batasan masalah 1. Perencanaan struktur utama meliputi balok induk dan kolom. 5. 2. 4. struktur sekunder meliputi balok anak.5 Manfaat Manfaat yang bisa didapatkan dari modifikasi perencanaan ini adalah : 1. Analisa struktur menggunakan program bantu ETABS v9. I. 2. Dapat merencanakan struktur komposit yang memenuhi persyaratan keamanan struktur. Jumlah lantai yang akan direncanakan ulang menggunakan struktur komposit baja beton sebanyak 12 tingkat. 5. tangga dan pelat lantai. Dapat merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur.2. dan manajemen konstruksi. Tidak meninjau dari segi analisa biaya.3 3. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. Dapat menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. .0 I. arsitektural. Dapat memodelkan dan menganalisa struktur dengan menggunakan program bantu 4. 3. Dari perencanaan ini bisa diketahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan sehingga kegagalan struktur bisa diminimalisasi.

4 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

metode plastis. tekan dan lentur umumnya disebut dengan kolom komposit. keadaan ini memberikan penghematan yang cukup besar dalam volume. dinding-dinding. maka akan didapat pengurangan pada tebal seluruh lantai. Penampang komposit adalah penampang yang terdiri dari profil baja dan beton digabung bersama untuk memikul beban tekan dan lentur. pekerjaan saluran air.1 Umum Baja merupakan salah satu bahan konstruksi yang penting. dan metode LRFD (Load and Resistance Factor Design). Dalam perhitungan perencanaan ada tiga macam metode perhitungan yaitu metode elastis. Knobloch & Mazumder. Ductility adalah kemampuan untuk berdeformasi secara nyata baik dalam tegangan maupun regangan sebelum terjadi kegagalan (Charles G. pekerjaan pemasangan kabelkabel. Salmon. Apabila untuk mendapatkan aksi komposit bagian atas gelagar dibungkus dengan lempeng beton. dan untuk bangunanbangunan pencakar langit.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1999). Penampang komposit mempunyai kekakuan yang lebih besar dibandingkan dengan penampang lempeng beton dan gelagar baja yang bekerja sendiri-sendiri dan dengan demikian dapat menahan beban yang lebih besar atau beban yang sama dengan lenturan yang lebih kecil pada bentang yang lebih panjang. . Batang yang memikul lentur umumnya disebut dengan balok komposit sedangkan batang yang memikul beban tekan. pekerjaan saluran pendingin ruangan. 1991).(Amon. dan lain-lainnya. Sifat-sifatnya yang terutama penting dalam penggunaan dibandingkan terhadap bahan lain yang tersedia dan sifat ductility.

6 a) Metode Elastis Metode ini berdasarkan beban kerja dimana akibat beban kerja yang direncanakan tegangan yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan yang diijinkan.1998). . Ada dua kategori yang menyatakan keadaan batas (limit state) : . Baja akan memiliki cadangan kekuatan di atas kekuatan elastis.2 Balok komposit Balok adalah salah satu diantara elemen-elemen struktur yang paling banyak dijumpai pada setiap struktur.Strength limit state : kemampuan struktur memikul beban . Balok adalah elemen struktur yang memikul beban yang bekerja tegak lurus dengan sumbu longitudinalnya. Hal ini akan menyebabkan balok melentur (Spiegel & Limbrunner. yaitu suatu keadaan dimana struktur atau elemen struktur didesain sampai menunjukkan perilaku tidak dapat berfungsi lagi. Sehingga beban kerja yang direncanakan dikalikan dengan faktor beban dan struktur direncanaan berdasarkan kekuatan keruntuhan (collapse). Tegangan ijin = σy Teganganleleh atau w = FK FaktorKeamanan b) Metode Plastis Metode ini berdasarkan pada sifat baja yang mempunyai sifat daktilitas. LF (Q) ≤ Rn c) Metode LRFD Metode ini berdasarkan pada konsep keadaan batas (limit state).Serviceability limit state: kelakuan struktur memikul beban Secara umum perumusan untuk pendekatan desain metode LRFD ini dapat dituliskan sebagai berikut : ϕRn ≥ γo ∑ γi Qi 2.

b.8) 1) Tebal minimum selubung beton yang menyelimuti baja tidak kuang daripada 50 mm. Pada penentuan distribusi tegangan elastis.7).12. penghubung geser harus disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga balok mampu mencapai kuat lentur maksimumnya. Balok komposit parsial Pada balok komposit parsial. kecuali yang disebutkan pada butir ke-2 di bawah. balok baja yang diberi selubung beton di semua permukaannya dianggap bekerja secara komposit dengan beton. Perhitungan elastis untuk balok seperti ini. 3) Selubung beton harus diberi kawat jaring atau baja tulangan dengan jumlah yang memadai untuk menghindari terlepasnya bagian selubung tersebut pada saat balok memikul beban.2.1980). 12.12. slip antara baja dan beton dianggap tidak terjadi (SNI 03-1729-2002 Ps. selama hal-hal berikut terpenuhi (SNI 031729-2002 Ps. Balok komposit penuh Untuk balok komposit penuh. 2) Posisi tepi atas balok baja tidak boleh kurang daripada 40 mm di bawah sisi atas pelat beton dan 50 mm di atas sisi bawah plat. kekuatan balok dalam memikul lentur dibatasi oleh kekuatan penghubung geser. c. Beberapa jenis balok komposit antara lain : a.6).2. . harus mempertimbangkan pengaruh adanya slip antara baja dan beton (SNI 03-1729-2002 Ps. Balok baja yang diberi selubung beton Walaupun tidak diberi angker.7 Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang kekuatannya bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan (Bowles.2. seperti pada penentuan defleksi atau tegangan akibat beban layan.

untuk > tw fy dengan φ b = 0.1 Penampang balok komposit 2.2.4. dengan mengikuti ketentuanketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12. b.1 Kekuatan Balok Komposit dengan Penghubung Geser a.Kuat Lentur negatif rencana φ b .2.untuk h ≤ 1680 tw fy dengan φb = 0.Mn harus dihitung untuk penampang baja saja.1) : .85 dan Mn dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis pada penampang komposit.Kuat Lentur positif rencana ditentukan sebagai berikut (LRFD Pasal 12.4.8 a) Balok Komposit (tanpa deck) b) Balok baja diberi selubung beton Gambar 2.9 dan Mn dihitung berdasarkan superposisi tegangan-tegangan elastis yang memperhitungkan pengaruh tumpuan sementara plastis pada penampang komposit.2) : . h 1680 .2.

fy Dipilih nilai yang terkecil dari kedua nilai di atas .2.beff . Distribusi tegangan plastis (Sumber :Charles G.9 2.Untuk gelagar interior : bE ≤ L 4 bE ≤ bo (untuk jarak balok yang sama) .2 Lebar efektif plat lantai : . Menentukan gaya tekan ( C ) pada beton : C = 0.3 Menghitung momen nominal Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis : Gambar 2. Salmon. Menentukan gaya tarik ( T) pada baja : T = As.2. 1996) • Menghitung momen nominal ( Mn ) positif 1.f’c.Untuk gelagar eksterior : bE ≤ L 8 bE ≤ bo + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab) dimana : L = bentang balok bo = bentang antar balok 2.2.tp.85.

beff 3. f ' c. 1. fy a= 0. fy⎜ + ts − ⎟ 2⎠ ⎝2 • Menghitung momen nominal ( Mn ) negatif. fy Gaya pada badan .10 2.Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja T = n.a web ) d2 = Pf + Pw d3 = d 2 3.85. fy 2.tf .fyr Pyc = As. Pf = bf .0. Menentukan tinggi blok tekan effektif : As. Pw = Pyc − T − Pf 2 aw = Pw tw.d1 Bila kekuatan nominal dinyatakan dalam bentuk gaya baja akan diperoleh : a⎞ ⎛d Mn = As.d2) .tf ) + ( Pw(tf + 0.5.5.Menghitung momen ultimate : Mn = T(d1 + d2) + Pyc(d3 .d 1 atau T.fy Gaya pada sayap . Kekuatan momen nomimal : Mn = C.Menghitung jarak ke centroid d1 = hr + tb – c ( Pf .Ar.

Metode transformasi luasan Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis : 1.. Menentukan letak garis netral penampang transformasi (dimomen ke ambang atas) ts ⎛ A ..11 b efektif btr ts hr GNE komposit GNE d GN baja yt Gambar 2. Menghitung momen inersia penampang transformasi It = b ... ( ts)3 tr 12 2 ⎞ ⎛ ⎞ ⎛⎛ d ⎞ ts ⎟ ⎜ + Ix + A ⎜ + A GNE − ⎜ + ts + hr ⎟ − GNE ⎟ ⎟ tr ⎜ s⎜ 2 ⎟ 2 ⎝ ⎠ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ 2 4. Menghitung nilai transformasi beton ke baja Ec = 4700 .. fc' Mpa ... ⎜ ts + ⎟ ⎟ 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ A s ) 3. +⎜ ⎜ As tr 2 ⎝ GNE = A + ( tr d ⎞⎞ ⎛ . Menghitung modulus penampang transformasi yc = GNE yt = d + ts + hr .. untuk beton normal. ts 2..3.GNE . Es = 200000 Mpa n = Es Ec btr = beff n Atr = btr .

t Jadi : Mu ≤ ∅ .85 ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 *⎜ ⎟*⎜ Nr ⎝ hr ⎠ ⎝ hr ⎠ rs untuk balok sejajar balok : ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ − 1⎟ ≤ 1 rs = 0. Mn 2.Ec ⎟⎟. Menghitung momen ultimate Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh digunakan dari nilai yang terkecil dari : Mn1 = 0.t = I tr yt 5.rs ≤ Asc.3) Qn = 0.85 . Str.5.c = tr yc dan Str.c Mn2 = fy . Str.6 * ⎜ ⎟*⎜ hr hr ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Nr = jumlah stud setiap gelombang Hs = tinggi stud Hr = tinggi bondek Wr = lebar effektif bondek Asc = Luas penampang shear connector fu = Tegangan putus penghubung paku/stud Qn = Kuat nominal geser untuk penghubung geser Jumlah penghubung geser (shear connector) yang dibutuhkan yaitu : n = C Qn .6. fc’ .4 Penghubung Geser Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal 12.12 I Str.Asc. n .2.⎜⎜ fc'.fu ⎜ ⎝ ⎟ ⎠ ⎛ ⎜ ⎞ ⎟ Dimana : rs untuk balok tegak lurus balok : 0.

ql 4 = untuk beban terbagi merata. Lendutan diperhitungkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : Lendutan yang besar dapat mengakibatkan rusaknya barangbarang atau alat-alat yang didukung oleh balok tersebut. Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penghuni banguna tersebut.I 48. dan 384. bukan berdasar kan beban berfaktor.E.E.5 Kontrol lendutan (Deflection) Batasan lendutan atau deflection pada biaya telah diatur didalam SNI 03-1729-2002. Besar lendutan dapat dihitung dengan rumus : ƒmax 5.I 3 ƒmax = Pl untuk beban terpusat di tengah bentang . Penampilan dari suatu struktur akan berkurang dari segi estetika dengan lendutan yang besar.2.13 2.Perhitungan lendutan pada balok berdasarkan beban kerja yang dipakai di dalam perhitungan struktur.

1996).4. 1. .12. Ada dua tipe kolom komposit. • Kolom komposit terbuat dari penampang baja berongga (kolom baja berintikan beton).3.3 Kolom Komposit Kolom komposit didefinisikan sebagai “ kolom baja yang dibuat dari potongan baja giling (rolled) built-up dan di cor di dalam beton struktural atau terbuat dari tabung atau pipa baja dan diisi dengan beton struktural (Salmon & Jonson. Selubung beton untuk penampang komposit yang berintikan baja harus diberi tulangan baja longitudinal dan tulangan pengekang lateral.1) : Luas penampang profil baja minimal sebesar 4% dari luas penampang komposit total. yaitu : • Kolom komposit yang terbuat dari profil baja yang diberi selubung beton di sekelilingnya (kolom baja berselubung beton).14 2. Profil Baja dibungkus beton Pipa baja O didisi beton Gambar 2. Penampang kolom komposit Kriteria untuk kolom komposit bagi komponen struktur tekan (SNI 03-1729-2002 Ps.

12. 3. 5.25 dengan . Tebal bersih selimut beton dari tepi terluar tulangan longitudinal dan transveersal minimal sebesar 40 mm. Tegangan leleh profil dan tulangan baja yang digunakan untuk perhitungan kekuatan kolom komposit tidak boleh lebih dari 380 Mpa. 2. Tebal minimum dinding pipa baja atau penampang baja berongga yang diisi beton adalah b fy / 3E untuk setiap sisi selebar b pada penampang persegi dan D fy / 8 E untuk penampang bulatyang mempunyai diameter luar D. 4.25 0.3.25λc 2 maka ω = untuk λr ≥ 0. Luas minimum penampang tulangan transversal (atau lonitudinal) terpasang. Tulangan baja longitudinal harus menerus pada lantai struktur portal. .67λc maka ω = 1.2) Kuat rencana kolom komposit yang menumpu beban aksial adalah øc Nn dengan øc = 0. Mutu beton yang digunakan tidak lebih 55 Mpa dan tidak kurang dari 21 Mpa untuk beton normal dan tidak kurang dari 28 Mpa untuk beton ringan.43 1.6 − 0.15 2. Jarak antar pengikat lateral tidak boleh melebihi 2/3 dari dimensi terkecil penampang kolom komposit.3.2 ω maka ω = 1 1.25 ≤ λr ≤ 1. kecuali untuk tulangan longitudinal yang hanya berfungsi memberi kekangan pada beton.85 Nn = As fcr dan fcr = untuk untuk fmy λr ≤ 0.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI 03-1729-2002 Ps.

N adalah jari-jari girasi kolom komposit. MPa komposit. MPa adalah kuat tekan karakteristik beton.041w1. MPa adalah faktor panjang efektif kolom adalah kuat aksial nominal. mm2 Ar E Ec adalah luas penampang tulangan longitudinal. MPa adalah tegangan leleh profil baja. MPa adalah modulus elastisitas beton. MPa adalah tegangan leleh untuk perhitungan kolom komposit. MPa adalah tegangan tekan kritis.16 λc = kcL rmπ fmy Em ⎛ Ar ⎞ ⎛ Ac ⎟ fmy = fy + c1 fyr ⎜ + c fc ' ⎜A ⎟ 2 ⎜ ⎜A ⎝ s⎠ ⎝ s ⎛ Ac ⎞ E m = E + c3 E c ⎜ ⎜A ⎟ ⎟ ⎝ s⎠ E c = 0. mm adalah parameter kelangsingan adalah faktor reduksibeban aksial tekan adalah faktor tekuk E m adalah modulus elastisitas untuk perhitungan kolom f cr fy fy fc ' kc Nn rm λc ω øc .5 f 'c ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Keterangan : As adalah luas penampang beton. mm2 adalah modulus elastis baja.

Muy =Momen lentur terfaktor masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y.4 Kekuatan rencana kolom komposit yang menahan beban kombinasi aksial dan lentur (LRFD Pasal 7.⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1.Mnx ϕ b.Nn ⎡ ⎤ Nu + 8 .dan c3 =0.0 ϕ .2 a. c 2 = 0.85 .2 ϕ c. ϕ c.Mny ⎥⎥⎦ b. Untuk pipa baja yang diisi beton : c1 = 1.17 Pada persamaan di atas.0 2 . c 2 = 0.Mny ⎥⎦⎥ Nu < 0. N.dan c3 adalah koefisien yang besarnya a).4.Mnx ϕ b. Mny =Momen lentur nominal penampang komponen struktur masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y.mm . N.4 b).dan c3 =0.90 (struktur lentur) Mnx . Nu ≥ 0. dimana : Nu = Gaya aksial (tarik atau tekan) terfaktor. c1 .ϕ .85 . N ∅ = Faktor reduksi kekuatan ∅c = 0.Nn 9 ⎢⎣⎢ϕ b.3. c 2 . N Nn = Kuat nominal penampang. Untuk profil baja yang diberi selubung beton : c1 = 1.mm Mux .Nn ⎡ ⎤ Nu + ⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1.85 (struktur tekan) ∅b = 0.Nn ⎢⎢⎣ϕ b.3).

18 2. Semi Rigid Connection Rigid Connection Rigid Connection Gambar 2. Sambungan pada baja . Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sanbungan. Sambungan kaku / Rigid connection adalah sambungan yang dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut-sudut di antara komponenkomponen struktur yang akan disambung.4 Sambungan Sambungan terdiri dari komponen sambungan (pelat pengisi. namun harus dianggap memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan kekangan yang dapat diukur terhadap perubahan sudutsudut tersebut 3.4. Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. 2. Sambungan sendi / Simple connection adalah sambungan yang pada kedua ujung komponen struktur dianggap bebas momen. pelat buhul.1 Klasifikasi sambungan : 1. dan pelat penyambung) dan alat pengencang (baut dan las). 2. Sambungan semi kaku / Semi rigid connection adalah sambungan yang tidak memiliki kekakuan yang cukup mempertahankan sudut-sudut diantara komponenkomponen struktur yang disambung.5. pelat pendukung.

tp φRn diambil yang terkecil Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum : 1.4.75 × t e × (0.db.75 × 0.3) : 1.3 Sambungan Baut Kuat geser φRnv Kuat tumpu φRnt Jumlah baut.fv. Perencanaan sambungan harus memenuhi persyaratan (SNI 03-1729-2002 Ps.Rnw = 0.m = φ.4.4. n = Vu = φ. 2.19 2.1.3) Jarak minimum antar baut : 3db (LRFD 13. Sambungan dan komponen yang berdekatan harus mampu memikul gaya-gaya yang bekerja padanya.2 Perencanaan sambungan Kuat rencana setiap komponen tidak boleh kurang dari beban terfaktor yang dihitung.2) Jarak tepi maksimum : (4tp + 100 mm) atau 200 mm (LRFD 13.8)fy.4.4.6 × fuw) (las) . Deformasi pada sambungan masih berada dalam batas kemampuan deformasi sambungan.4.4.Ab. Gaya dalam yang disalurkan berada dalam keseimbangan dengan gaya-gaya yang bekerja pada sambungan.5db (LRFD 13.6 × fu × Anv Vu < φPn 2.1) Jarak maksimum antar baut : 15tp atau 200 mm (LRFD 13.3) Kontrol Kekuatan Pelat φPn = 0. 3. 2. φf .4 Sambungan Las Ru ≤ ϕRnw dengan.(1. 13.

Rnw = 0.5 Perencanaan Pondasi Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah.1. yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar . Pondasi dangkal dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif kecil. a (mm) 3 4 5 6 Tebal bagian paling tebal. pondasi tiang bor ( pondasi sumuran ).20 φf . 2.Pondasi dalam ini ada beberapa macam jenis. pondasi caisson dan lain sebagainya.75 × t e × (0. Dalam perencanaan pondasi ada dua jenis pondasi yang umum dipakai dalam dunia konstruksi.Ukuran Minimum Las Sudut 2.1 Pondasi Tiang Pancang a. Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal. antara lain pondasi tiang pancang.5.6 × fu ) (bahan dasar) keterangan : fuw : tegangan tarik putus logam las fu : tegangan tarik putus bahan dasar te : tebal efektif las (mm) Tebal minimum las sudut. dikatakan pondasi dalam jika perbandingan antara kedalaman pondasi (D) dengan diameternya (B) adalah lebih besar sama dengan 10 (D/B > 10). t (mm) t ≤ 7 7 < t ≤ 10 10 < t < 15 15 < t Tabel 2. sedangkan untuk pondasi dalam dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif besar seperti pada gedung yang berlantai banyak. yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.

Ap = ( Np . untuk tanah lanau berlempung = 25 t/m2. yaitu : • Daya dukung tiang pancang tunggal yang berdiri sendiri • Daya dukung tiang pancang dalam kelompok. As = ⎛ + 1⎟ . Hasil daya dukung yang menentukan yang dipakai sebagai daya dukung ijin tiang. untuk tanah lempung = 20 t/m2.21 tiang pondasi ( Qp ) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah ( Qf ). daya dukung suatu tiang juga harus ditinjau berdasarkan kekuatan bahan tiang pancang tersebut. Sehingga daya dukung total dari tanah dapat dirumuskan : Qu = Qp + Qs Disamping peninjauan berdasarkan kekuatan tanah tempat pondasi tiang pancang di tanam. Ap dengan : Np K = Harga rata-rata SPT di sekitar 4B di atas hingga 4 B di bawah dasar tiang pondasi = Koefisien karakteristik tanah = 12 t/m2. Perhitungan daya dukung dapat ditinjau dari dua keadaan. Perhitungan daya dukung tiang pancang ini dilakukan berdasarkan hasil uji Standard Penetration Test ( SPT ) menurut Luciano Decourt ( 1982 ) Ql = Qp + Qs dimana : Qp = qp . K ) . As ⎜ 3 ⎝ ⎠ . untuk tanah pasir Ap qp = Luas penampang dasar tiang = tegangan di ujung tiang Ns ⎞ Qs = qs . untuk tanah lanau berpasir = 40 t/m2.

Daya dukung dukung tiang kelompok Disaat sebuah tiang merupakan bagian dari sebuah group.22 Dengan : qs Ns As = tegangan akibat lekatan lateral dalam t/m2 = harga rata-rata sepanjang tiang yang tertanam. pengaruh dari sebuah group tiang pondasi tidak perlu diperhitungkan bila jarak as ke as antar tiang . pemancangan dapat menaikkan kepadatan disekitar tiang bila jarak antar tiang < 7 s/d 8 diameter. Untuk daya dukung batas. dapat dibedakan dua fenomena sebagai berikut : ¾ Pengaruh group disaat pelaksanaan pemancangan tiang-tiang ¾ Pengaruh group akibat sebuah beban yang bekerja Proses pemancangan dapat menurunkan kepadatan di sekeliling tiang untuk tanah yang padat. Namun untuk kondisi tanah didominasi oleh pasir lepas atau dengan tingkat kepadatan sedang. dengan batasan : 3 ≤ N ≤ 50 = keliling x panjang tiang yang terbenam Daya dukung ijin dari satu tiang pancang yang berdiri sendiri adalah daya dukung tiang total dibagi dengan suatu angka keamanan. Qijin 1 tiang = Dimana : SF N’ N = safety factor = 3 = harga SPT di lapangan = harga SPT setelah dikoreksi = 15 + [ ( N’ – 15 ) /2 ] Qu SF b. karena pengaruh dari group tiang tersebut. daya dukungnya mengalami modifikasi. Dari problema ini.

2 Repartisi beban-beban diatas tiang kelompok Bila diatas tiang-tiang dalam kelompok yang disatukan oleh sebuah kepala tiang (poer) bekerja beban-beban vertikal (V). maka besarnya beban vertikal yang bekerja pada sebuah tiang adalah : ekivalen (Pv) V M y .5 diameter tiang. Sebaliknya. digunakan cara Converse – Labarre : arc tan (∅ / s ) ⎛ 1 1⎞ Ce = 1 − ×⎜2 − − ⎟ 90° m n⎠ ⎝ dimana: ∅ : diameter tiang pondasi S : jarak as ke as antar tiang dalam group m : jumlah baris tiang dalam group∅ n : jumlah kolom tiang dalam group 2.5. dan momen (M). jarak minimum antar tiang dalam group adalah 2 s/d 2.x max M x .23 adalah > 3 diameter. horizontal (H). QL (group) = QL (1 tiang) × n × Ce n = jumlah tiang dalam group Untuk menghitung koefisien efisiensi Ce. Untuk kasus daya dukung group pondasi. harus dikoreksi terlebih dahulu dengan koefisien efisiensi Ce.y max dimana : Pv = ± ± 2 2 n ∑x ∑y Pv = Beban vertikal ekivalen V = Beban vertikal dari kolom n = banyaknya tiang dalam group Mx = momen terhadap sumbu x My = momen terhadap sumbu y xmax = absis terjauh terhadap titik berat kelompok tiang ymax = ordinat terjauh terhadap titik berat kelompok tiang 2 ∑x = jumlah dari kuadrat absis tiap tiang terhadap garis netral group .

24 ∑y2 = jumlah dari kuadrat ordinat tiap tiang terhadap garis netral group nilai x dan y positif jika arahnya sama dengan arah e.5D ≤ S ≤ 3D 1.5D ≤ S1 ≤ 2D dimana : S = jarak antar as tiang pancang. S1 = jarak as tiang pancang ke tepi. D = diameter tiang pancang. dan negative bila berlawanan dengan arah e. Perhitungan jarak tiang ( Dirjen Bina Marga Departemen PU) sebagai berikut : 2. .

25 BAB III METODOLOGI 3.1 Bagan Alir Penyelesaian Tugas Akhir Mulai Pengumpulan Data Studi Literatur Perencanaan Struktur Sekunder Preliminary Desain dan Pembebanan Pemodelan dan Analisa Struktur Not Ok Kontrol Desain Ok Perencanaan Pondasi Penggambaran Hasil Perencanaan Selesai .

Rene . . American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD). 1999. Rinaldy.Data Bahan 3. Vebriano & Rustailang. Wahyudi. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2.Data umum bangunan (kondisi Awal) 1. Herman. Amon.Pradinya Paramita.2 Mengumpulkan data yang berkaitan dengan perencanaan Mempelajari gambar eksisting sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan modifikasi perencanaan. Panjang banguna : 40 m 7. e. Charles & E. Muhammad. Tinggi Bangunan : 140. Daya Dukung Pondasi Dalam. Fungsi : Apartemen 5.Johnson. G. Jakarta 3. Salmon. Surabaya : ITS.CE. 2006. Lebar bangunan : 27 m 8. Rahmat. Nama Gedung : Gedung Albergo 2.26 3.Bandung : PT.7 m 10. Adapun beberapa literatur serta peraturan gedung tersebut antara lain adalah sebagai berikut : a. d. Diterjemahkan oleh: Ir. Bruce & Mazumder.3 Studi literatur Mencari literatur dan peraturan gedung (building code) yang menjadi acuan dalam pengerjaan tugas akhir ini. Letjen Soepono. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga. Mempelajari data-data perencanaan secara keseluruhan yang mencakup: . c.Atanu.1991. 2005 f. Jumlah lantai : 36 lantai + Atap 6. John.S. Wira M. b. 1998 g. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Spiegel & Limbrunner. Knobloch. Purwono. Struktur Utama : Struktur beton bertulang . Lokasi : JL. 1999.

..(asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) Zp = Mn ……... Perencanaan tangga b.5 Preliminary Design dan Pembebanan 3. j.4 Perencanaan Struktur Sekunder a.. Perencanaan pelat atap d. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. Perencanaan balok anak e. Dimana : Mu : momen ultimate beban ø : faktor reduksi lentur Mn : momen nominal Zp : momen tahan plastis fy : tegangan leleh baja . Perencanaan balok lift 3.27 h. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung..5.1 Preliminary Design Balok Mu φ = Mn Mn = Zp x fy .. k. i. Perencanaan pelat lantai c.... 3.dari nilai Zp didapat rencana fy awal dimensi balok. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983.

1) Berat volume plafond : 11 kg/m2 (tabel 2.1) Berat volume spesi : 2100 kg/m3 (tabel 2.5.28 3.1) Berat volume aspal : 1400 kg/m3 (tabel 2. mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu.2 Preliminary dimensi kolom pu φ pn (asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) fy = A Pn dari nilai A didapat rencana awal dimensi kolom.5.1) Berat volume AC dan perpipaan : 10 kg/m2 (tabel 2. A= fy Dimana : Pu : gaya aksial ultimate beban ø : faktor reduksi gaya aksial tekan Pn : momen nominal A : luas penampang = Pn 3.1) Beban mati ialah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan.1) Berat volume tegel : 2400 kg/m3 (tabel 2. penyelesaian-penyelesaian.1) Berat volume ps bata merah : 250kg/m2 (tabel 2. Yang nilainya sebagai berikut : Berat volume beton : 2400 kg/m3 (tabel 2. Pembebanan tersebut antara lain : a.1) Berat dinding partisi : 40 kg/m2 (tabel 2.1) Berat volume penggantung : 7 kg/m2 (tabel 2.3 Pembebanan Perencanaan pembebanan pada struktur ini berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983 dan SNI 03-1726-2002.1) . Beban Mati (PPIUG 1983 Bab1 pasal 1.

. Beban Angin (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang barang yang dapat berpindah. mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu.Beban hidup pada lantai mesin elevator diambil sebesar 400 kg/m2 (tabel 3. 3) Beban angin ialah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban Gempa (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. d. sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.29 b.Beban hidup pada lantai atap diambil sebesar 100 kg/m2 (pasal 3. Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan). yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau. Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam kg/m2.3 (PPIUG 1983).1) .Beban hidup pada lantai diambil sebesar 250 kg/m2 (pasal 3.2. Beban Hidup (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. 2) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung.Beban hidup pada tangga diambil sebesar 300 kg/m2 (tabel 3.4) Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang .1) .2 (PPIUG 1983) dengan kefisienkoefisien angin yang ditentukan dalam pasal 4.1) c.1) . ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam pasal 4.

..3...5 ..1) ΔS = 30 mm Dimana : R = RSRPMB Baja = 4.. Gaya geser dasar rencana total. (pasal 4.. ditetapkan sebagai berikut: V = dimana : V R T1 Wt I Hn C1 C1 × I × Wt .. T1 = Cc (hn)3/4 R = Gaya geser dasar Nominalstatik ekuivalen = Faktor reduksi gempa = Waktu getar alami fundamental = Berat total gedung = Faktor kepentingan struktur = Tinggi total gedung = Faktor respons gempa Pembatasan waktu getar alami fundamental (Pasal 5.30 menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik..03 / R Ambil terkecil (pasal 8.Kinerja batas ultimit : ΔM = ΔS * ξ ...6) . (pasal 8. V..... maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.6 SNI 03 – 1726 – 2002): T1 < ς n dimana : ς = Koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada (Tabel 8)...Kinerja batas layan : ΔS = 0... n = Jumlah tingkatnya Simpangan antar lantai (SNI 03 – 1726 – 2002) ....2) .

4 D (6. tahap selanjutnya yaitu kita mendesain pondasi bangunan. 3.0. serta efisiensi.7 Kontrol Desain Setelah melakukan analisa struktur bangunan.9 D – (1. balok.1.0.2 D + 1.0 E + γL L . Bila telah memenuhi maka dapat diteruskan ke tahap pendetailan.6 (La atau H) + (γL L atau 0.2.8 W) (6.2-5) .6 Pemodelan dan Analisa Struktur Untuk mengetahui gaya dalam yang timbul pada elemen struktur akibat beban yang bekerja maka dilakukan analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS v9. 3.2 D + 1.1. 3.6 L + 0.2 D + 1.2-6) 3.5 (La atau H) (6. dan peraturan angka keamanan.2-4) .1.9 Penggambaran hasil perhitungan dalam gambar teknik Penggambaran hasil Perencanaan dan perhitungan dalam gambar teknik ini dengan menggunakan program bantu AutoCAD.2 D + 1.8 Perencanaan Pondasi Setelah perencanaan bangunan atas selesai. dan juga perhitungan sambungan dimana dari kontrol tersebut dapat mengetahui apakah desain yang kita rencanakan telah sesuai dengan syarat-syarat perencanaan.2-1) (6.3 W + γL L + 0.0 E) (6.5 (La atau H) (6.1. Bila tidak memenuhi maka dilakukan re-design.3W atau 1.2-3) . tahap selanjunya kita kontrol desain meliputi kontrol terhadap kolom.2-2) . .1.31 ¾ Kombinasi Pembebanan Kombinasi Pembebanan sesuai dengan LRFD tersebut di atas dengan kombinasi sebagai berikut (metode LRFD) : .

32 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

...5 = 13 buah = 12 buah = 140 cm = 150 cm = 360 cm = 330 cm Jumlah injakan ( n ) =13-1 Lebar bordes Lebar tangga Panjang Tangga Panjang Bordes ⎝ 30 x12 ⎠ 212..2 Perecanaan Jumlah Injakan Tangga ...1..Perhitungan jumlah injakan tangga Tinggi injakan ( t ) = 65 − 30 = 17.5 ⎞ = 30......Ok a = arc tg ⎛ ⎜ ⎟ ..33 BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 4.5 cm = 30 cm = 360 cm = 5 cm 4.5 cm Jumlah tanjakan = 2 212..55º ..1..Persyaratan – persyaratan jumlah injakan tangga 60 cm < ( 2t + i ) < 65 cm 25º < a < 40º Dimana : t = tinggi injakan (cm) i = lebar injakan (cm) a = kemiringan tangga .1 Data perencanaan Tinggi antar lantai Tinggi bordes Lebar injakan Panjang tangga Lebar pegangan tangga = 425 cm = 212..5 17.1 Perencanaan Tangga 4.

2 Potongan A – A tangga .1 Denah tangga Gambar 4.34 Pelat Combideck t= 9 cm Balok Utama Tangga Channel 260x90x10x1 Pelat Anak Tangga t= 3 mm Gambar 4.

6 30 cm 150 cm Gambar 4.50 = 450 kg/m Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 q D l2 = 0.32 = = 0.4 x 0.858 kg/m Beban Hidup qL = 300 x 1.437 kgm 5.4 MD = 1.125 x 38.35 4.325 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 3.53 kg/m + qD = 38.1.437 kgm = 0.3 Perencanaan Pelat Tangga Pelat baja t=3mm Profil Siku 60.3 Tampak anak tangga .125 x 450 x 0.612 kgm .003 m Berat jenis baja = 7850 kg/m3 Mutu baja Bj 41→Tegangan leleh baja = 2500 kg/cm2 .Perencanaan pembebanan pelat tangga Beban Mati Berat pelat = 0.063 kgm Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.32 ML = 1/8 q L l2 = 0.858 x 0.60.003 x 1.50 x 7850 = 35.Perencanaan tebal pelat tangga Tebal pelat tangga = 3 mm = 0.

..437 + 1.32 = 3.75 kgcm Syarat : φMn > Mu 75. 38858 4 ..Ok Kontrol Lendutan f = L = 30 = 0..94 kgm > 8..6 x 5..42 kg/m A = 6.3375 cm4 12 12 4 Ymax = 5 (q D + q L )l < f 384 EI x 4 ( ) 5 0 ..25 x 150 x 0.3375 = 0.0.0804 < 0..625 kgm.82 cm 4 iy = 1.33 = 0.375 x 2500= 7593...83 cm3 W = 5. 35 30 + = 365 2...0833 cm 360 360 Ix = 1 bh 3 = 1 x 150 x 0.. dengan data sebagai berikut : b = 60 mm Ix = 22..36 MU = 1...4 Perencanaan Penyangga Pelat Injak Direncanakan menggunakan profil siku 60x60x6.375 cm3 φMn = φZx x fy = 0..10 6....0833 .2 x 0.1.625 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur Zx = ¼ bh2 = 0.6 ML = 1....9 x 3.8 cm4 ix = 1..063 = 8..4 Tampak melintang anak tangga ..Ok 4...2 MD + 1.91 cm Gambar 4.82 cm tw = 6 mm Iy = 22.....8 cm 2 Zx = 9...

2.5(1.863 Kg .P.15 = 45 kg/m pL = 100 = 100 kg Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 qD l2 = 0.533 kg/m Berat baja siku 60x60x6 = 5.6.37 - Perencanaan pembebanan P=100Kg P=100Kg VA VB Gambar 4.150 = 5000 kg cm = 50 kgm Vu = 1 ( 1.5 Sketsa pembebanan pelat tangga Beban Mati ( ½ lebar injakan) Berat pelat = 0.5(1.848 x 1.895 kg/m + qD = 9.15 x 0.50) + 0.100.827 kgm ML = 1/3(PL) → akibat beban terpusat = 1/3.2) = 168.42 kg/m + = 8.qD.125 x 9.953 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 0.125 x 45 x 1.2.6.848.100.l ) + 1 ( 1.502 = 11.003 x 7850 = 3.1.502 = 2.2 ) 2 2 = 0.848 kg/m Beban Hidup ( 1/2 lebar injakan ) qL = 300 x 0.769 kgm ML = 1/8 qL l2 → akibat beban merata = 0.9.

8 384 2...323 kgm...175 kgm > 83....8 cm4 4 3 ( ) + q q l Pl 5 23 D L Ymax = + 384 EI x 648 EI x 3 4 ( ) 100 + 100 x 150 23 ( ) 5 0 .6 x 50= 83....Ok .605 < 0.323 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur φMn = φZx x fy = 0.4 x 2.769 = 3. 09848 + 0 . 45 150 = + 648 2..Ok Kontrol Lendutan f = L = 150 = 0..38 Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1..625 cm 240 240 Ix = 22.83 x 2500 = 22117.625...9 x 9........877 kgm MU = 1.769 + 1..6 ML = 1.......4 MD = 1..106 x 22.175 kgm Syarat : φMn > Mu 221.2 x 2....8 = 0.5 kgcm = 221..2 MD + 1.10 6 x 22..

21 kg /m2 = 21 kg/m2 .bentang (span) = 1.39 4.6 Desain Balok Utama Tangga Balok utama tangga dianalisa dengan anggapan terletak di atas dua tumpuan sederhana dengan menerima beban merata dari berat sendiri dan beban dari anak tangga.1 kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226.1 kg/m2 .1 kg/m2 4.1 kg/m2 = 10.09 m.5 Desain Bordes Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0. Balok utama tangga .24 kg /m2 .1.Pelat lantai bondek = 10.4 m .tebal pelat beton = 9 cm b.lantai keramik t = 1cm = 24 kg/m2 = 1. Pembebanan a.Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing : .Beban Mati .Pelat beton t = 9 cm = 0.spesi lantai t = 1cm = 1.1.sandaran baja = 20 kgm2 Total beban finishing = 65 kgm2 Beban Hidup Beban hidup = 300 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + beban finishing = 300 kg/m2 + 65 kg/m2 = 365 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus tanpa tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .2400 kg/m3 qD2 = 10.75mm.

56 cm Sy = 47.663 kg/m Berat profil siku = 5.7 cm3 Zx = 445 cm3 Zy = 105 cm3 .773kg/m Berat alat penyambung (10%) = 10.01 kg/m Berat sandaran besi = 20 kg/m = 108. Perencanaan pembebanan anak tangga Beban Mati Berat pelat = 0.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga 1.40 direncanakan menggunakan profil Channel 260x90x10x14.Perencanaan Pembebanan BEBAN ANAK TANGGA (qu1) BEBAN BORDES (qu2) B VuC C A VuA Gambar 4.42 x 2 x0.3 cm2 W = 37.50/2 x 7850 = 17.9 kg/m Iy = 317 cm4 ix = 9.75 /0.1 kg/m Berat profil = 37.55 = 44.9 / cos 30.99 cm Sx = 371 cm3 iy = 2.650 kg/m . dengan spesifikasi sebagai berikut : Ix = 4820 cm4 A = 48.887kg/m qD1 = 119.30 = 27.003 x 1.

.6.4) 1228.2) + (ql2..0..65 Berat penyambung ( 10 % ) qD2 = 217..1..3) + (ql1.41 Beban Hidup qL1 = 300 x 1.86 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 598.1..4.3.822 kg/m = 570.4..215 kg/m = 51...6.OK ..650.1.6..Perhitungan Gaya – Gaya pada Tangga = 495 kg/m A.40 +841....40 kg ( ↑ ) VDC = {(qd2.65 .3..3...4...3.39 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 387.3..9 kg/m = 480. Beban Mati VDA = {(qd1.6...Ok B..037 kg/m Beban Hidup qL2 = 300 x 1.7)}/5 = 598.14 kg ( ↑ ) VLC = {( ql2.3.4...50 x 0.315 kg/m = 518.86 = ( 217.3. Beban Hidup VLA = {(ql1.. Perencanaan pembebanan bordes Beban Mati Berat profil Berat bordes =(65+226..39 = (119....8) }/5 = 841..1....79 kg = 1228.2) + (qd2..6)+(570.7) }/5 = 387.5 2.1) x 1.1.3) + (qd1.1.4...3.5 kg/m = 37.79 kg .8)}/5 = 877.6) + (2495.4.1.5.037..4) 1476 kg = 1476 kg .0.1.14 + 877.

.90 x1= UA = = 2.Ok Batang AB Mx1 = (VUA..6..40 + 1. 491. 841..1. Gaya – Gaya Dalam Ultimate qu1 =1. 877.58.ql2 = (1. 387.4) + (qu2.6.1933.0.qd1 + 1.7) = .6) – (qu1...42 C.. 1.1.3.6..441 kgm .x1) – (1/2.4.8) = 1933.1..2...2.x2) = (1421.qd2 + 1..5.6.119.04...90..6.VLC = 1.3.570.2...58 kg/m qu2 = 1.x) .24.6.1.893 m < 3..8) = (1421.39 + 1.58.x1 = 0 dx1 V 1421.217..2..2..58 MUmax = (VUA. qu1.14 = 1421..(2414.6.ql1 = (1.3.6. 598.(VUC .7) = ..893) – (0.qu1.6.2 VDC + 1..90.6m.2.4.2..86 = 2414.0.24 kg ( ↑ ) MUBC = .044 kg/m VUA = 1....2.VLA = 1.6) – (491.65 + 1...495) = 1476.3.(1/2.416 kgm MUBA = (VUA..4) + (1476.x12) dMx1 = 0 ⇒ VUA − qU 1 .037 + 1.416 kgm Kontrol : MUBA = MUBC...90 kg ( ↑ ) VUC = 1.5) = 491.2 VDA + 1.Ok qU 1 491.1.8932) = 2056.6..

Balok Bordes Lb = 0 m Lp = 131.75 20 ≤ 106. maka Mnx = Mpx Kontrol Lateral Buckling 1.76.441 kgm Gambar 4.Batang Miring Lb = 90 170 ≤ 2.84 cm cos 30.893 m C + 1933.Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil fy = 2500 kg/cm2 untuk sayap : b 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 200 1680 ≤ 10 250 3. = 1.51 cm Lp = 1.082 cm Ternyata Lp >Lb. maka Mnx = Mpx .43 B + A 2.416 kgm 2056.10 5 = 110.25 Penampang profil kompak.76.22.21 ≤ 10.55° E 2.2.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga . fy 250 Ternyata Lp>Lb.14 250 30 = 34. maka Mnx = Mpx 2.iy.

44 .14 Mp = Zx.Kontrol Momen Lentur 90m m y1 260m m 10m m y2 14m m Gambar 4.fy = 445.plastis ......2500 = 1112500 kgcm = 11125 kgm 1...Ok ...10....fy = 1.....441 kgm < 10012... Mn = Mp = 1112500 kgcm = 11125 kgm Syarat : Mu ≤ φMn 2056..2500 = 139125 kgcm Jadi....441 kgm ≤ 0...5..57 .. 11125 kgm 2056...5 250 20 < 69.371.9...5 Sx.90.....Kontrol Kuat Rencana Geser 162 110 ≤ 5.5 My = 1.5 kgm.8 Sketsa profil Canal 260..

96 kg/m + 76.904 Kg < 35100 kg .6 kg/m Iy = 984 cm4 Sy = 112 cm3 bf = 175 mm ix = 17.45 Vn = 0..........95 cm Zy = 172 cm3 tf = 11 mm r = 14 mm tw = 7 mm h = 300 mm ..7 Desain Balok Penumpu Bordes Balok penumpu bordes direncanakan menggunakan profil WF 350x175x7x11.1.d = 10. dengan data sebagai berikut : Sx = 775 cm3 A = 63.87 kg/m .9 x 39000 = 35100 kg VUA = 1421.24 kg = = = = qD = = 20 kg/m 49.70 cm Zx = 841 cm3 d = 350 mm iy = 3.6 kg/m + 69.Perencanaan pembebanan Beban Mati Berat sandaran besi : 20 kg/m Berat sendiri profil : Berat ikatan ( 10 % ) qU = 1......904 kg Vu ≤ φVn 1421. 76. Syarat : Aw = tw.6 x fy x Aw Vn = 0..6 x 2500 x (26) = 39000 kg φVn = 0.56 kg/m 91.14 cm2 Ix = 13600 cm4 W = 49.260 = 2600 mm2 4.6 kg/m 6..56 kg/m P = VUC = 2414...Ok Jadi profil Channel 260x90x10x4 dapat dipakai.2.

87 ) 8 2 2 VA = 8 VA = 5195.P.4 – P (1.65 + 4.46 P=2414.35).87) 8 2 2 ( ) VB = 5195.85 + 2.½ q.96 Kg Kontrol : VA + VB = (qD.35).(5.½ qD.87.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ΣMB = 0 VA.85 + 2.15).87 .8 .24 Kg P P P qD=91.82 = 0 VB = 2414.65+0.(5.87 Kg/m' VA VB Gambar 4.15 + 3.8 + P.24 kgm .(1.24.½ qD.8 + 2414.24 (16) + (91.15 + 3.92 ………Ok Mmax = VA.P.65+0.4 –2414.96.8 .96 Kg ( ) ΣMA = 0 VB.4) 5195.24.92 = 10391.82 = 0 1 2414. 4 = 5195.96 + 5195.24 (16) + 8 1 (91.96 = (91.65 + 4.15) 2 = 15703.4) 10391.42 2 91.

95 ≤ 10..47 ....22 cm ≤ f ijin.7....86 ≤ 106...Kontrol Kuat Rencana Geser 30 1100 h 1100 ≤ ≤ 7 tw 250 fy 42..6 x 2500 x (0.86 < 69..........plastis Vn = 0....Ok Jadi profil WF 350x175x7x11dapat dipakai..................25 Penampang profil kompak.6 x fy x Aw = 0.33 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 2.....Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil untuk sayap : bf 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 175 170 30 1680 ≤ ≤ 7 2... ........Ok Kontrol Lendutan fijin = L 800 = = 3.30) = 31500 kg φVn = 0...9 x 2500 kg/cm2 x 841cm3 = 1892250 kgcm Syarat : φMn > Mu 18922.11 250 250 7.Ok ..75 42.............24 kgm...... maka Mnx = Mpx Kontrol Momen Lentur φMn = φ x fy x Zx = 0.5 kgm > 15703.9 x 31500 = 28350kg Syarat : Vu ≤ φVn 5195...976 kg < 28350 kg..57 ......

10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes . A Baut ø 12 Balok tangga Channel 260.14 Balok penumpu bordes 350.8 Perencanaan Sambungan Profil Tangga Ada dua sambungan yang akan digunakan pada tangga. Sehingga sambungan baut yang dipakai adalah sambungan geser.11 Pot.1.10.7.48 4. sehingga reaksi tumpuan balok bordes langsung diterima balok penompu bordes. Dipakai 2 buah baut dengan Øbaut = 12 mm. ¾ Sambungan Baut Model mekanika tumpuan tangga menggunakan asumsi sendi pada tangga dan rol pada bordes.7.175.11 Gambar 4. Sambungan baut digunakan untuk menyambung balok bordes dengan balok penumpu tangga. Maka sambungan baut hanya diperlukan praktis. Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes Asumsi tumpuan pada bordes adalah rol (balok tangga diletakkan di atas balok penumpu bordes). A Balok penumpu bordes 350. a. Sambungan las digunakan untuk menyambung balok tangga miring dengan balok tangga horizontal (bordes).90. yaitu sambungan baut dan las.175.

I .9 0 .707. dengan ketentuan sebagai berikut : ƒ Mutu las E70 XX (fuw = 70 ksi = 4921 kg/cm2) ƒ Tebal pelat penyambung.70.tf 0. fu. t = 10 mm I P o t.4100.tw 0. fu.4100.707.70.1 0 .11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga Kontrol Sambungan Las Digunakan las mutu E70XX 0.1.49 ¾ Sambungan Las Sambungan antara balok – balok tangga direncanakan dengan menggunakan sambungan las.707.1 aeffbadan = = = 0.64cm E 70 XX 70.I B a lo k ta n g g a C h a n n e l 2 6 0 .4 = = 1.589cm E 70 XX 70.1 4 P la t p e n y a m b u n g T e b a l = 1 0 m m Gambar 4.3 .3 aeffsayap = 0.707.

8 cm = 8 mm . fu 0.71 = = 0.2) + (0. digunakan a = 0.608cm < aeffmax = 1.75.64 cm 0.14 kg/ cm2 Sx 371 f total = fr 2 + fh 2 = 28.70.3 0.(26+(0.74 = = 28.2 + (1.1 kg/ cm2 A 55.6.4 cm2 Akibat Pu fr = Pu 1556.71 kg/ cm2 te perlu = a perlu = f total 958.9.0.707 Sehingga.2)) = 55.4 Akibat Mu Mu 193341.8.50 Dimisalkan dipakai tebal las (te = 1 cm) A = 1.2) + 23.707 0.32 = 958.43cm ϕ .43 te = = 0.70.12 + 958.4.6 fh = = = 521.

Gunung Garuda.aspal t = 2 cm = 2.14 kg/m2 .51 4.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 1.rangka + plafond = (11+7)kg/m2 = 18 kg/m2 .24 mm2 = 0.tebal pelat beton = 9 cm .direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50. 4.71 = = = 3.2.tulangan negatif = 1.5024 cm2) .bentang (span) = 2.1 Pelat Lantai Atap Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.75 mm Pembebanan a.ducting AC + pipa = 10 kg/m2 + Total beban finishing = 56 kg/m2 Beban Hidup Beban Hidup = 100 kg/m2 Beban superimposed/berguna = beban hidup + finishing = 100 kg/m2 + 56 kg/m2 = 156 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .4 buah = 4 buah As 0. dipasang tulangan tarik Ø 8-250 .2 Perencanaan Struktur Lantai Pada perencanaan struktur lantai direncanakan pelat lantai menggunakan bondex.5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 1000mm/4 = 250 mm Jadi. dimana dalam perencanaan ini bondek yang digunakan merupakan produk dari PT.71 cm2/m .50 m .Beban Superimposed (Berguna) Beban finishing : = 28 kg/m2 .

52
b.Beban Mati - Pelat lantai bondek - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3

= 10,1 kg/m2 = 216 kg/m2 + = 226,1kg/m2
Tulangan Ø 8 – 250mm Plat Bondex t = 0,75 mm

90 mm

Balok

Gambar 4.12 Potongan plat lantai Atap

4.2.2 Pelat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11 Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 kg/m2 - lantai keramik t = 1cm = 1.24 kg /m2 = 24 kg/m2 = 18 kg/m2 - rangka + plafond = (11+7)kg/m2 - ducting AC+pipa = 10 kg/m2 - dinding = 250 kgm2 Total beban finishing = 344 kg/m2
Beban Hidup Beban hidup = 250 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 250 kg/m2 + 344 kg/m2

= 594 kg/m2

Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

53
- bentang (span) - tebal pelat beton - tulangan negatif = 2,50 m = 9 cm = 3,25 cm2/m

- direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m =

A 3,25 = = 6,47 buah = 7 buah As 0,5024

Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi, dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3 = 10,1kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226,1kg/m2

90 mm

Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0,75 mm

Balok

Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11

54
4.2.3 Pelat lantai 2 Dipakai pelat bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 - lantai keramik t = 1 cm = 24 = 1.24 kg /m2 2 = 18 - rangka + plafond = (11+7)kg/m - ducting AC+pipa = 10 - dinding = 250 Total beban finishing = 344

kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kgm2 + kg/m2

Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 344 kg/m2 = 744 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berikut : - bentang (span) = 2,50 m - tebal pelat beton = 11 cm - tulangan negatif = 3,38 cm2/m - direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 3,38 = = 6,73 buah = 7 buah As 0,5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi,dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex = 10,1kg/m2 - Pelat beton t = 11 cm = 0,11m.2400 kg/m3 = 264 kg/m2+ = 274,1kg/m2

55 100 mm Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.tebal pelat beton = 10 cm .ducting AC+pipa = 10 Total beban finishing = 49 Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban superimposed = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 49 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 + kg/m2 = 449 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m .24 mm2 = 0.11 cm2/m .14 Potongan plat lantai 2 4.rangka + plafond = (11+7)kg/m .5024 cm2) .Beban Superimposed Berat finishing : .direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.75 mm Pembebanan a.2.75 mm Balok Gambar 4.4 Pelat Lantai Mesin Lift Dipakai pelat bondex dengan tebal pelat = 0.tulangan negatif = 3.55 m .21kg /m2 = 21 2 = 18 .bentang (span) = 2.spesi lantai t = 1cm = 1.

16 cm2 ix = 16.7 cm r = 16 mm W = 56.Pelat beton t = 10 cm = 0. dengan data sebagai berikut : A = 72.13. ditunjukkan perhitungan balok anak pada lantai 2.1 kg/m2 Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.1kg/m2 = 240 kg/m2+ =250.dipasang tulangan tarik Ø 8-160 b.69 buah = 6 buah As 0. Pada perencanaan ini.Pelat lantai bondex . sehingga mempunyai kekakuan yang cukup.200.8.75 mm Balok 100 mm Gambar 4.6 kg/m tw = 7 mm Zx = 1088 cm3 d = 396 mm tf = 11 mm Sx = 1010 cm3 Iy = 1450 cm4 bf = 199 mm Ix = 20000 cm4 iy = 4. Balok anak menumpu di atas dua tumpuan sederhana.1m.86 = = 5.Beban Mati .48 cm h = d–2(tf + r ) = 396–2(11+16) = 342 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4100 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 – 700 = 1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 950 cm .2400 kg/m3 = 10.3 Perencanaan Balok Anak Balok anak berfungsi membagi luasan lantai agar tidak terlalu lebar.56 = A 2. balok anak direncanakan menggunakan profil WF 400.15 Potongan plat lantai mesin lift 4.5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 160 mm Jadi.

berat sendiri profil WF .14 Bidang D dan M pada komposit balok sebelum komposit .25 kg/m = = = = = 600 kg/m 56.berat pelat bondex = 10.2.19 kg/m+ 750.berat sendiri pelat beton = 0.Beban Mati .2400kg/m3.berat ikatan : 10 %.681.2 qD = 1.04 = 900.85 kg/m qD = 25.1 kg/m2.04 kg/m Kombinasi Beban : qu = 1.14 kg + 9.6 kg/m+ 681.23 Kg kg 4334.2.0048 kg/cm A 4275.14 + 1029358Kgcm kgcm 1015367 Gambar.1 m.1 Kondisi Balok Anak Sebelum Komposit 1.57 4. 750.2.3.5 m 950 cm B - 4275.23 Kg 4334.4.5m .048 kg/m = 90.85 kg/m 68.5 m .

58 Momen yang terjadi: Mu = 1 .86 < 106.389 cm < f ' .qu.qu......L 2 = 1 ...90.E.752.L2 8 = 1 ....639 cm 360 360 5...950 4 = 384.0048..2.05 < 10.ok Profil penampang kompak. 9502 = 1015367 kgcm 8 Geser yang terjadi : Vu = 1.20000 = 2.ok 342 1680 ≤ 7 250 48.25..11 250 9..Ok ¾Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Sayap Untuk Badan bf 170 h 1680 ≤ ≤ 2tf tw fy fy 199 170 ≤ 2.950 = 4275.00048 )..10 6.0048..Ix 5..(9.q u .........l 4 ymaks = 384. maka Mn = Mp .23 kg 2 ¾Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f '= L 950 = = 2.90....

7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0. kuat nominal komponen struktur adalah : Mn = Mp = Zx .6. 2720000 kgcm 1015367 Kgcm < 2448000 kgcm..6 .2500.8.6.0. fy = 1088 ..Ok Penampang profil baja mampu menahan beban yang terjadi.Ok . ¾Kontrol Geser h 1100 ≤ tw fy 342 1100 ≤ 7 250 48.357 cm Jadi.86 < 69...23 kg 37422kg ≥ 4275..59 ¾Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 47.9.. 41580kg ≥ 4275.. Aw = 0.9..57……Ok Vn = 0...200. Lb < Lp → bentang Pendek..(39..23 kg………... fy. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lb < Lp (untuk bentang pendek).5 cm (diambil sejarak pemasangan shear connector) Berdasarkan tabel profil untuk BJ 41 profil WF 400.003 cm. Lr = 658. 2500 = 2720000 kg cm Persyaratan : Mu ≤ φMn 1015367 Kgcm ≤ 0.13 didapatkan : Lp = 226.

6 qL = 1.2810.24 kg/m2.L2 = 1 .2.2.6.2.qu.berat sendiri pelat beton = 0.1 m. Beban Hidup : qL = 400 kg/m2.2.85 qD 2.berat sendiri profil WF .53 kg/m = 1000 kg/m Geser yang terjadi : Vu = 1 .berat ducting AC+pipa = 10 kg/m2.53 + 1.5 kg .5 m .2400 kg/m3.L 2 = 1 .5m .berat spesi 2 cm = 2.1024 kg/cm Momen yang terjadi: Mu = 1 . 21 kg/m2.68 kg/m+ = 1008.2.5 m .60 4.916.1024.2.85 kg/m = 91.9502 = 3170302 kgcm 8 8 = 25.6 kg/m = 105 kg/m = 60 kg/m = 45 kg/m = 25 kg/m+ = 916. 1008.24.5m .28.5m .Beban Mati .5 m Kombinasi Beban : qu = 1.25 kg/m = 600 kg/m = 56.2 qD + 1.2.berat rangka + plafond = (11+7)kg/m2.24 kg/m = 28.2. qu.1kg/m2.2 Kondisi Balok Anak Setelah Komposit ¾ Pembebanan setelah komposit 1.1000 = 2810.berat pelat bondex = 10.3.5m .berat keramik = 1.berat ikatan : 10 %.950 2 = 13347.

fy = 72.5 .61 ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 199 170 ≤ 2.85..85.11 250 9.10.50 m = 2500 mm jadi beff = 2375 mm =237.5 cm beff ≤ S = 2.25.. • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ ..237.ok Profil penampang kompak. C =C1 ( terkecil) = 180400 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 180400 = 3.250.ok 342 1680 ≤ 7 250 48.tplat...5 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.5 kg C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi..05 < 10.250.beff = 0.L = ¼.16..237.57 cm = 0.5 = 504687.752.85..9500 mm = 2375 mm = 237..fc’. fc'. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis..85..beff 0..86 < 106.2500 = 180400 kg C2 = 0.

8 cm 2 2 d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.62 2375 mm 54 12 t = 46 mm t = 100 mm t = 400 mm Gambar 4..15 potongan Balok anak 3.0) = 4079746 kgcm Syarat : Mu ≤ φ ..815 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 39.Mn 3170302 kgcm ≤ 0.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 180400 kg Py = As.fy = 72.6 d3 = = = 19..4079746 kgcm 3170302 kgcm ≤ 3467784 kgcm...2500 = 180400 kg Mn = 180400 (2.. ..85. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.16.57 a = 4.815 + 0) + 180400 (19...8 .6 = 2.Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.

6 + 84.94 = 272. 25 = 2.41.10 4 btr = = 237.10 5 Mpa beff = 237.713 Atr = btr.6 cm beff • Menentukan letak garis netral Atr .t plat beton = 27.104 Mpa Es = 2.10 ⎛ 40 ⎞ ⎞ ⎛ 84.41.041.12⎜ ⎜ + 10 ⎟ − 10.1.24001.5 = 27.26 cm n 8.5 cm (balok interior) Es 2.63 ¾ Kontrol Lendutan • Menghitung luasan transformasi beton ke baja 1.52 ⎟ ⎜ ⎟ 12 2⎠ ⎠ ⎝ ⎝⎝ 2 ⎠ 2 = 66148.69 cm4 .5.wc .52 cm • Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi I tr = b tr (t pb ) 3 12 t pb ⎞ ⎛ ⎛⎛ d ⎞ ⎞ ⎟ + Ix + A s ⎜ + Atr ⎜ Yna − t Yna + − ⎟ ⎜ ⎟ pb ⎜ 2 ⎟ ⎜ 2 ⎟ ⎠ ⎝⎝ ⎠ ⎝ ⎠ 2 2 2 ⎛ ⎛ 40 ⎞ 27.52 − ⎟ + 23700 + 84.26(10)3 10 ⎞ ⎛ ⎞ I tr = + 272.6⎜10. fc' = 0.6 .12 ) = 10.t platbeton Yna = 2 ⎛ ⎛ d ⎞⎞ A t +⎜ + ⎜ ⎟ ⎜ s platbeton 2 ⎟ ⎟ ⎠⎠ ⎝ ⎝ ( Atr + As ) 272. 5 Ec = 0.12 ⎜10 + ⎟ ⎟ +⎜ ⎜ 2 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ ⎝ = (272.26.713 Ec 2.1.041.10 5 n = = = 8.

..86 < 69.Ok Vn = 0.106.639 cm 360 360 5.Aw = 0.5 kg …………..0....6388 + 10).2. 41580 kg ≥ 13347...fy..Ok . h kn...Ix 384...(q DL + q LL ). untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan 2 a h ( ) kn = 5 .ok ¾ Kontrol Geser Kuat geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)..5 kg 37422 kg ≥ 13347.6.1 7 2500 48.6.1 tw fy 5..(2..untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan h kn.2500 (39..10 6 ) 342 < 1.9...l 4 5.E ..6.69 = 1..64 ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f ' = L = 950 = 2.57.....E sehingga : ≤ 1.66148...9504 = ymaks = 384...654 cm < f ' .1 tw fy kn = 5 + 5 .7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0..E.. dimana: ≤ 1.(10..

923 Kg < 11341.2 kg/stud .5.Asc......23 N = 11003.10 4 = 110039.Ec = 0...2.41. rs = 11003.923 .53 mm2 fu = 400 Mpa = 40 kg/mm2 Ec = w1.....53 25.41. fc ' = 24001.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0.712 > 1→ diambil rs = 1 Qn’ = Qn....923 kg/stud ≤ 11341. hr = 54 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 46) = 54+46 = 100 mm ⎞ 0.2 Kg .104 Mpa Qn = 0.041 25 = 2..283.65 ¾Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan: ds = 19 mm Asc = 283.5.0.. fc '...Ok .40 kg/stud 11003.041.5 .923 kg/stud Syarat : Qn ≤ Asc.53....923 kg/stud ≤ 283..Ok Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok.5.0..85 ⎛ 200 ⎞⎛ 100 ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 ⎟⎜ ⎜ 2 ⎝ 53 ⎠⎝ 53 ⎠ rs = = 1.fu 11003....1 = 11003.

4. shear connector dipasang sejarak 47.23 Gambar 4.60.13.6 Balok Utama WF 600.23 Baut M16 mm fu = 5000 Kg/m2 Balok Anak WF 400. Vu = 13407.66 Jumlah stud untuk setengah bentang : Tmaks 210300 N= = = 9.200.8.(diameter) = 6 x 1.13. dibutuhkan 20 buah stud untuk seluruh bentang. karena disesuaikan dengan anggapan dalam analisa sebagai sendi.56 ≈ 10 buah Qn 2.60. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 950 P= = = 47.616 kg Balok Utama WF 600.5 cm N 20 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.200.923 Jadi.5 Perencanaan Sambungan balok Anak dengan balok Induk Sambungan antara balok anak dengan balok induk direncanakan dengan baut yang tidak dapat memikul momen.tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.5cm sebanyak 20 buah untuk masing-masing bentang.9 cm = 11.6 Balok Anak WF 400.13 Profil siku 60.200.4cm Jadi.200.11003.8.16 Detail sambungan balok anak dengan balok Induk .13 Baut M16 mm 50 100 50 50 100 50 Profil siku 60.

2.01 cm2 ) m = 2 sisi Vn = 0.78 Vn 7537.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2. m Dimana : r1 = 0. fu .75.2.01 cm2 ) m = 1 sisi . fu (tebal plat sayap dipakai tp = 8 mm) = 0.1.0.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2.67 Sambungan Plat Siku dengan Balok Anak Direncanakan : profil siku 60. m Dimana : r1 = 0.0. Abaut . r1 .6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.2 = 7537. tp .6.4 .60.5 Dipasang 2 buah baut M16mm (Jumlah baut untuk 1 sisi) Sambungan Plat Siku dengan Balok Induk Direncanakan : profil siku 60.60.75.2.4.5000.5. r1 .5 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.db.616 = = 1. Abaut .4100 = 9446.4 kg n= Vu 13407.01. fu .8.

4.4.8 kg Vu 13407.75 Dipasang 4 buah baut Ø16 mm (Jumlah baut untuk 2 sisi) n= Kontrol Plat Siku pada Gelagar Direncanakan : Profil siku 60. 2.75.75.6.5.75 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.6 = 1008 mm2 Kuat rencana : φRnv = φ.56 Vn 3768.16).fu.4100 = 7084.5000.17 Detail pelat siku pada gelagar Luas bidang geser = Anv = Lnv.08 = 22680 kg .68 Vn = 0.10.t∟ = (200 – 2.0.2.1.60.db.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) Luas bidang geser 50 100 50 Gambar 4.1 = 3768.616 = = 3.6.fu (t plat sayap dipakai tp=6 mm) = 0.01.0.0.0.6.2.tp .5000.75.6.An = 0.

.616 kg ≤ φVn 13407.. sehingga 2 φRnv = 2.outside : 1650 x 1665 mm2 ....inside : 1600 x 1500 mm2 : 4300 x 2150 mm2 : 4300 x 2150 mm2 Beban reaksi ruang mesin : ¾ R1 = 6150 Kg (Berat mesin penggerak + beban kereta + perlengkapan) ¾ R2 = 4600 Kg (Berat bandul pemberat + perlengakapan) ...OK 4.... dengan data – data sebagai berikut : Tipe lift : Duplex Merk : Sigma Kapasitas : 15 orang Lebar pintu (opening width) : 900 mm Dimensi sangkar (car size) Dimensi ruang luncur Dimensi ruang mesin : .....6 Perencanaan Balok Lift Perencanaan balok lift meliputi balok – balok yang berkaitan denagn ruang mesin lift.69 Terdapat 2 siku. 22680 kg = 45360 kg Persyaratan : Vu ≤ φRn 13407..616 kg ≤ 45360 kg.. yaitu terdiri dari balok penumpu dan balok penggantung lift. Untuk lift pada bangunan ini menggunakan lift yang diproduksi oleh Sigma elevator company...

3. 2. yang untuk keran induk dengan struktur rangka. Beban yang bekerja pada balok penumpu Beban yang bekerja merupakan beban akibat dari mesin penggerak lift + berat kereta luncur + perlengakapan.3.1.78 = 19135 Kg .1.3 Jadi.70 4. dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.15 Dimana : Ψ = koefisien kejut yang nilainya tidak boleh diambil kurang dari 1.00 m/det. V = kecepatan angkat maksimum dalam m/det pada pengangkatan muatan maksimum dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau. dan nilainya tidak perlu diambil lebih dari 1.(3) PPIUG 1983 menyatakan bahwa beban keran yang membebani struktur pemikulnya terdiri dari berat sendiri keran ditambah muatan yang diangkatnya. beban yang bekerja pada balok adalah : P = ΣR . dan diambil sebesar 1.6. k1 = koefisien yang bergantung pada kekakuan struktur keran induk.15. k2 = koefisien yang bergantung pada sifat mesin angkat dari keran angkatnya. Ψ = ( 6150 + 4600 ).( 1 + 0.1 Perencanaan Balok Penggantung Lift 1. pada umumnya nilainya dapat diambil sebesar 0. dan akibat bandul pemberat + perlangkapan. Sebagai beban rencana harus diambil beban keran tersebut dengan mengalikannya dengan suatu koefisien kejut yang ditentukan dengan rumus berikut : Ψ = ( 1+k1k2v ) ≥ 1.6. Koefisien kejut beban hidup oleh keran Pasal 3.1 ) = 10750.6.

29 cm Iy = 442 cm4 h = d – 2(tf + r ) = 298 – 2(13 + 13) = 246 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4000 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 r = 13 mm Zx = 455 cm3 Zy = 91 cm3 Sx = 424 cm3 Sy = 59.5 m Balok Anak 2.3 cm3 fr = 700 kg/cm2 fL = fy-fr = 2500 .Data perencanaan Digunakan profil 300 x 150 x 8 x 13 A = 40.700 =1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 215 cm = 2.3 m Gambar 4.18 Denah Lift 3.15 m .71 Balok Penggantung Lift Balok Penumpu Lift 1.4 cm W = 32 kg/m tw = 9 mm d = 298 mm tf = 13 mm b = 149 mm Ix = 6320 cm4 iy = 3.15 m 4.8 cm2 ix = 12.075 m 2.

2.2 kg/m + = 629.14.2.5 kg/m = 11.72 kg/m = 60.Beban terpusat lift P = 19135 kg • Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.2qD + 1.91 kg/m A B Gambar 4.91 + 1. 215 = 1175.1.15 Berat pelat combideck : = 10.15 kg/m2 Berat ikatan (10%) = 629.92 kg/m = 62.755 kg/cm P qu = 32 = 516 kg/m kg/m = 21.1 kg/m2 . 692.2400.15 m = 215 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.6.92 kg/m x10% .2.99 kg/m + qD = 692.2.15 Berat aspal t = 2 cm = 2.19 Sketsa mekanika perhitungan balok penggatung lift .72 Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.6 qL = 1.

3 mm = 53. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.73 cm beff ≤ S = 1.075 m = 107.5 mm jadi beff = 537..15 kg 1 1 quL2 + pL 8 4 1 1 = (11.73 = 114219 kg ..75 < 106.73 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.10..85.53.11kgcm Mu = • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 149 170 ≤ 2.8...beff = 0..755)(215) 2 + (19135)(215) 8 2 = 1096428.....13 250 5.65 + 9567.fc’.73 Vu = 1 1 quL + p 2 2 = 1263.L = 537.ok 246 1680 ≤ 8 250 30.ok Profil penampang kompak..250..5 mm = 53.fy = 40.25.2500 = 102000 kg C2 = 0.tplat.85.5 = 10831.75.73 < 10. Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .

73 beff btr 0.2500 = 102000 kg d1 = tb Mn = 102000 (5.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 102000 kg Py = As.0) = 2084358.4 = 5.8 d3 = = = 14.53 + 0) + 102000 (14.93 a = 9.beff 0.53 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 29.53.9 . C =C1 ( terkecil) = 102000 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 102000 = 8. fc'.14 kgcm .250.85 fc' tb GN komposit c d GN baja Py Gambar 4.9 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.93 cm = 0.8.74 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.85.fy = 40.85.20 Distribusi tegangan plastis 8.

361 < 0.2.......896 cm 240 240 4 3 f = 5 (q D + q L ) l + 1 Pl 384 EI x 48 EI x 3 4 = 5 (6.5.5 Qn = 0.fu 11004.9291+ 2...1 Kg ........53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0...24001.85.8353...Mn 1096428 kgcm ≤ 0..Wc 1. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi..041. ¾ Kontrol Lendutan f ' = L = 215 = 0.Ok ¾ Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283.75 Syarat : Mu ≤ φ .Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor..6 Kg ≤ 11341..6 ≤ 2.14 kgcm 1096428 kgcm ≤ 1771704..896..4000 11004.10 6 x 7210 = 0....10 6 x7210 384 2....5 25 ( = 0.98 Mpa ) Qn ≤ Asc...Ec ) = 24102. Asc fc ' = 0..5..041........8353 250.8 = 110046 N = 11004.2084358.241029.OK .6 Kg ( fc'.42 kgcm.15)215 + 23 19135x 215 648 2..

(diameter) = 6 x 1.1 Kg .5 cm sebanyak 10 buah untuk masing-masing bentang.4cm Jadi.11004.. shear connector dipasang sejarak 21....OK Vh = C = 102000 kg Jumlah stud untuk setengah bentang : N = Vh /Qn = 102000 = 5 buah 2..5 cm P= = N 10 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.6 Kg < 11341..85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ rs = ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1...6 Jadi.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0...9 cm = 11. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 54+40 = 94 mm rs = ⎞ 0.1 = 11004....76 Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok. dibutuhkan 10 buah stud untuk seluruh bentang.. . rs = 11004..712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn..6.tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 215 = 21.

. kn = 5 + ( h) a 5 2 ..88 cm Iy = 792 cm4 x 6 x 9 .....57.1 n tw fy Dimana..77 ¾ Kontrol geser Kuat geser balok bergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)...6..2500 kg/cm2. 35760 Kg 10831.. kn =5.68 cm2 ix = 14..15 Kg ≤ 0...Aw = 0.4 kg/m tw = 6 mm d = 346 mm tf = 9 mm b = 174 mm Ix = 11100 cm4 iy = 3... OK Vn = 0..29..6..9.. dengan data r = 14 mm Zx = 689 cm3 Zy = 139 cm3 Sx = 641 cm3 h = 300 mm .E h ≤ 1.8..... sehingga 246 5(2.0... untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.8 cm2 = 35760 kg Persyaratan : Vu ≤ φVn 10831..1 8 2500 31 ≤ 69.10 6 ) ≤ 1.2 Perencanaan Balok Penumpu Lift 1..fy. k .OK 4..5 cm W = 41.15 Kg ≤ 31184 Kg ..6. untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan. Data perencanaan Digunakan profil WF 350 x 175 sebagai berikut : A = 52..

2.78 BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 .14.1 kg/m2 .5 Berat aspal t = 2 cm = 2.Beban terpusat akibat reaksi balok penggantung lift P = 21662.4 = 600 kg/m kg/m = 25.2400.700 fu = 4000 kg/cm2 2 = 1800 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm Panjang balok anak (L) = 2500 mm = 2.32 + 1.2 qD + 1.6 qL = 1.5 kg/m2 Berat ikatan (10%) 736.6.5 Berat pelat combideck : = 10.5 m Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.50 m = 250 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.2.250 = 1372.32 kg/m .30 kg Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.25 kg/m = 70 kg/m + = 736.65 kg/m x10% = 41.67 kg/m + qD = 810.2.21 Sketsa mekanika perhitungan balok penumpu lift .38 kg/m P x1 qu x2 A B Gambar 4.65 kg/m = 73.2. 810.1.

79

Σ MB = 0 VA.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,425 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,425 VA = = 14062 ,99 Kg 2,5
Σ MA = 0 VB.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,075 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,075 VB = = 11030 ,26 Kg 2,5
Dx1 = +14062,99 – qx1 x1 = 0 → DA = 14062,99 Kg → Dc = 12587,68 Kg x1 = 1,075 Mx1 = 14062,99 x1 – qx1.0.5x1 → MA = 0 x1 = 0 → MC = 14324,73 kgm = 1432473 kgcm x1 = 1,075 Dx2 = - 11030,26 + qx2 x2 = 0 → DB = - 11030,26 Kg → DC = - 9074,62 Kg x2 = 1,425 Mx2 = +11030,26 x2 – q.x2.0,5.x2 x2 = 0 → MB = 0 → MC = 14324,73 Kgm =1432473 kgcm x2 = 1,45 • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy

175 170 ≤ 2.9 250
9,67 < 10,75.......ok

300 1680 ≤ 6 250 50 < 106,25.......ok

Profil penampang kompak, sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis

80
Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .L = 625 mm = 62,5 cm beff ≤ S = 2,15 m = 21,5 cm jadi beff = 625 mm = 62,5 cm
• Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.fy = 52,68.2500 = 131700 kg C2 = 0,85.fc’.tplat.beff = 0,85.250.10.62,5 = 132813 kg C3 =

∑ Qn → ( C
n =1

N

3

tidak menentukan )

Jadi, C =C1 ( terkecil) = 131700 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

a=

C 131700 = 9,92 cm = 0,85. fc'.beff 0,85.250.62,5
beff btr
0,85 fc'

tb

GN komposit

c

d

GN baja

Py

Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis

81
9,92 a = 10 = 5,04 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 34,6 d3 = = = 17,3 cm 2 2
d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 131700 kg Py = As.fy = 52.68.2500 = 131700 kg Mn = 131700 (5,04 + 0) + 131700 (17,3 - 0) = 2942425,91 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .Mn 1432473 kgcm ≤ 0,85.2942425,91 kgcm 1432473 kgcm ≤ 2501062,02 kgcm..........Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

Kontrol Lendutan L 250 f = = = 1,042 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 0,172 cm ≤ f ijin.....................Ok - Kontrol Kuat Rencana Geser h ≤ 1100 tw fy0,5 300 ≤ 1100 6 2500,5 50 < 69,57 .........................plastis

5 fc' = 0.5 kg < 28026 kg...241029..4000 11004..Wc1.....9 x 31140 = 28026 kg Syarat : Vu ≤ φVn 1715.041......98 Mpa Qn = 0.Ec ( = 0.5.6 x fy x Aw = 0..82 Vn = 0.6 Kg ≤ 11341.. Asc fc'..6.6 x 2500 x 34..24001....5.8353.8 = 110046 N= 11004....1 Kg ....8353 250.53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0.OK ( ) ) Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok..041.fu 11004.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ rs = − 1 ⎟⎜ h ⎟ ≤1 h Nr ⎜ ⎝ r ⎠⎝ r ⎠ .6 Kg Qn ≤ Asc.2..0..6 = 31140 kg φVn = 0.. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 53+40 = 93 mm ⎞ 0....6 ≤ 2........OK Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283.5 25 = 24102.

.....83 rs = 0.... .. rs = 11004. dibutuhkan 12 buah stud untuk seluruh bentang..tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn.9 cm = 11.83 cm P= = N 12 Jarak maksimum (Pmaks) = 8. shear connector dipasang sejarak 20.(diameter) = 6 x 1....... OK Jumlah stud untuk setengah bentang : 131700 N = Tmaks/Qn = = 6 buah 2...85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1.4cm Jadi.1 Kg ..6..1 = 11004..6 Kg < 11341.11004. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 250 = 20.6 Jadi....83 cm sebanyak 12 buah untuk masing-masing bentang.

84 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

1 Umum Merencanakan beban gempa adalah bertujuan untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan peraturan untuk dibebankan kedalam struktur gedung. dimana kontrol – kontrol tersebut terdiri dari kontrol nilai gaya geser dasar (base shear).Mutu baja : Bj 41 .0 dan membandingkan besaran Vdinamis tersebut dengan Vstatis yang akan diperhitungkan di bawah ini sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps.3-14 : 10 cm .25 m .85 BAB V PEMBEBANAN DAN ANALISA STRUKTUR 5.1 Data Gedung Data – data gedung yang akan dibutuhkan dalam penghitungan Vstatis adalah sebagai berikut.2. dan simpangan (drift).Mutu beton (fc’) : 25 MPa . Beban gempa rencana dicek terhadap kontrol – kontrol sesuai peraturan gempa yaitu SNI 031726-2002.Tinggi tipikal lantai : 4.1. maka terlebih dahulu dicek besarnya Vdinamis yang telah didapatkan dengan bantuan program ETABS v9.6. dan nilai Vstatis ini harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung ke masing – masing lantai sesuai SNI 03-17262002 Ps. 5.Tebal pelat bondek lantai 1.Profil balok induk 1 : WF 500x200x10x16 WF 500x200x9x14 : .2 .Profil balok anak K 500x200x10x16 : .2 Pembebanan Untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan SNI 03-1726-2002. 5.2.1.Profil kolom . . waktu getar alami fundamental (T).Tebal pelat bondek lantai 2 : 11 cm .6.Tebal pelat bondek lantai atap : 9 cm .Profil balok induk 2 WF 400x200x8x13 : .

Kategori tanah .75 × 270000 = 202500 Kg .Wilayah Gempa .25 × 179.5 320.I Denah gedung terlampir.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.6 255 × 79. a) Lantai 1 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.86 .5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.10 x 2400 (80+54) × 4.3.75 x Wl1 = 0. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl1 = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300.3.7 × 66 395.25 × 0.2 Perhitungan Berat Struktur Beban gravitasi berupa beban mati dan beban hidup yang yang bekerja di tiap lantai/atap.2 Kg = 395 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 678805. maka total beban hidup (Wl1) menjadi.8 Kg Wd1 Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.5 40 × 27 × 10.2.4672 × 2400 × 20 40 × 89.2 × 20 4.5 Tabel 3. Wl1 = 0.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.1 40 x 27 x 0. : : : WG3 Tanah keras 1 5.3. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.

6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.2 × 20 4. Beban hidup : 40 × 27 × 400 Wl2 = = 432000 Kg 432000 Kg Menurut PPIUG Ps.5 Kg = 10908 Kg = 285120 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 704725.4672 × 2400 × 20 40 × 89.8 Kg b) Lantai 2 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.25 × 179.8 + 202500 = 881305.1 40 x 27 x 0.8 Kg .5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0. Wl2 = 0.75Wl2 = 0.2 Kg = 395.3.11 x 2400 (80+54) × 4.6 255 × 79.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd2 = 15232 Kg = 95300.3.5 Tabel 3.7 × 66 395.5 320.3.87 Sehingga berat total lantai 1 Wt1 = Wd1 + Wl1 = 678805.75 × 432000 = 324000 Kg Sehingga berat total lantai 2 Wt2 = Wd2+ Wl2 = 704725. maka total beban hidup (Wl2) menjadi.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.25 × 0.8 + 324000 = 1028725.5 40 × 27 × 10.

88 c) Lantai 3-11 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.1 40 x 27 x 0.25 × 0. maka total beban hidup (Wl) menjadi Wl = 0.3.84 Kg .5 40 × 27 × 10.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.7 × 66 395.10 x 2400 (80+54) × 4.75Wl = 0. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.6 255 × 79.2 Kg = 395.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.75 × 270000 = 202500 Kg Sehingga berat total lantai Wt = Wd + Wl = 678805.5 Tabel 3.5 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg Wd = 678805.3.4672 × 2400 × 20 40 × 89.5 320. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.2 × 20 4.3.25 × 179.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.8 + 202500 = 881305.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.

1 Kg = 10908 Kg = 233280 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 15120 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 564139.1 40 x 27 x 0. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.89 d) Lantai 12 (Atap) Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok lift Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Aspal t = 1 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : 2.7 × 66 448.75Wl12 = 0.3.3 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.5 Kg . Wl12 = 0.6 255 × 79.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd1 = 7616 Kg = 47650.2 Kg = 448.09 x 2400 (80+54) × 4.125 × 0. Wt12 = Wd12+ Wl12 = 564139.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps. Beban hidup : 40 × 27 × 100 = Wl15 = 10800 Kg 10800 Kg Menurut PPIUG Ps.75 × 108000 = 81000 Kg Sehingga berat total lantai 12 menjadi.3.5 Tabel 3.3. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.125 × 179.1 40 × 27 × 10.5 + 81000 = 645139. maka total beban hidup (Wl15) menjadi.4672 × 2400 × 20 40 × 89.5 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.2 × 20 2.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.5 320.

2.25 17 12. struktuk gedung tersebut dimodelkan sebagai berikut : .258 8813.058 8813.058 Σ 104869.5 38. Sebelumnya dilakukan permodelan 3D struktur dai gedung apartemen Albergo terlebih dahulu.1 berikut ini : Tabel 5.058 8813.5 21.058 8813.058 8813.25 34 29.058 8813.058 8813.395 8813.5 4.0 dengan analisa dinamis respons spektrum.90 Ringkasan berat bangunan dinyatakan dalam Tabel 5.1 Berat struktur per lantai Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Tinggi hx (m) 51 46.75 25.25 Berat Lantai Wx (kN) 6451.058 8813.058 10287.3 Pembebanan Gempa Dinamis Pembebanan gempa secara dinamis menggunakan bantuan program ETABS v9.058 8813.75 8.238 5.75 42.

91 Denah Lantai Arah y Arah x Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .

3.2.8.92 Gambar 5. .2 Permodelan stuktur 3D 5. Untuk mensimulasikan arah pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap struktur gedung.1 Arah Pembebanan Beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan terjadi dalam arah sembarang (tidak terduga) baik dalam arah x dan y secara bolak balik dan periodikal. pengaruh pembebanan gempa rencana dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa yang arahnya tegak lurus dengan arah utama dengan efektifitas 30%. Menurut SNI 031726-2002 ps 5.

Respon Spektrum gempa rencana untuk masing masing wilayah gempa ditetapkan grafik nilai C-T dalam Gambar 2 SNI 031726-2002.3 Grafik nilai C-T zona gempa 3 .3.Gempa Respon Spektrum Y : 100% efektifitas untuk arah Y dan 30% efektifitas arah X 5.93 .2 Faktor Respons Gempa (C) Faktor Respon Gempa (C) dinyatakan dalam percepatan gravitasi yang Nilai Faktor Respon Gempa (C1) bergantung pada waktu getar alami struktur gedung dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respon gempa rencana.Gempa Respon Spektrum X : 100% efektifitas untuk arah X dan 30% efektifitas arah Y . Dimana pada perencanaan gedung ditetapkan Respon Spektrum gempa Rencana Wilayah Gempa 3 pada tanah keras. Gambar 5.

Lalu karena nilai C dinyatakan dengan percepatan gravitasi. 5. nilai ordinatnya harus dikalikan dengan I/R. maka nilai C harus dikalikan faktor pengali percepatan gravitasi sebesar 9.3.5 e + 0. maka : ed = 1. maka : ed = 1. bahwa antara pusat massa dan dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana ed sebagai berikut.3 b.23 dimana T adalah waktu getar alami struktur gedung yang T didapat dari hasil analisa struktur setelah men-define Respon Spektrum Rencana dan mengeplot grafik C-T pada analisa Respon Spektrum.05 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya − Untuk e > 0.17 e – 0.4 Menentukan Eksentrisitas Rencana Bangunan (ed) Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps.3 Respon Spektrum Rencana Menurut SNI 03-1726-2002 ps 7.2.1 b atau ed = 1.1 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya ⎞ ⎛1 ex = ⎜ × b ⎟ − xcr ⎠ ⎝2 ⎛1 ⎞ e y = ⎜ × L ⎟ − ycr ⎝2 ⎠ . 5.33 e + 0.3 b.4. − Untuk 0 < e ≤ 0.81 m/s.3. 5.94 Pada gambar dapat dilihat untuk menentukan nilai faktor respon gempa (C1) pada tanah keras didapat dengan nilai 0.1 menyatakan bahwa analisis Respons Spektrum Gempa Rencana.05 b atau ed = e – 0.

05 L maka didapatkan suatu titik koordinat pusat massa.5 ex + 0.500 13.500 13.001 Ycr (m) 13.500 13.95 Dimana kedua nilai diatas diambil harga mutlaknya.500 13.500 Berdasar rumus diatas.001 20. yaitu koordinat x = xcr + edx koordinat y = ycr + edy Setelah koordinat pusat massa diperoleh. maka massa dari tiap – tiap lantai diletakkan pada titik koordinat tersebut.500 13.05 b edy = 1.002 20.002 20.000 20.001 20.001 20.500 13.001 20.5 ey + 0. sehingga edx = 1.2 Nilai Xcr dan Ycr Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Xcr (m) 20.001 20. kemudian dilakukan analisa kembali. Dan dari hasil analisa ETABS v9.000 20.0 didapat nilai Xcr dan Ycr yang ditabelkan sebagai berikut : Tabel 5.500 13. maka nilai ed untuk masing – masing arah dapat dihitung dan ditabelkan sebagai berikut : .500 13.2.500 13.500 13.001 20.500 13.000 20.

35 22.2. .18 dan nilai n = 12.35 1.000 22.85 14.999 1.001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.002 -0.001 -0.000 -0.999 1.001 20. Dengan nilai ζ dari Tabel 8 SNI 03-17262002 dan n adalah jumlah lantai dari gedung yang akan ditinjau.000 22.999 1.000 20.50 13.35 1.002 20.50 13.000 22.96 Tabel 5.85 14.50 13.35 1.001 20.85 14.35 1.85 14.50 13.35 1.999 1.000 1.50 13.997 1.001 20.000 22.15 detik Pada arah Y Ty = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.001 -0.4 Kontrol Waktu Getar Alami Fundamental (T) T dihitung dengan menggunakan rumus empiris Method A dari UBC 1997 Section 1630.85 14.15 detik Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel.85 5.001 -0.001 -0.35 1.999 1.001 13.35 1.001 20.35 1.000 14.002 0.50 0.85 14.50 13.002 20. maka kontrol waktu getar alami fundamental (T) menjadi.2 dengan tinggi gedung 51 meter.50 13.50 13.35 1.000 1.85 14. T<ζn Untuk WG 3 maka nilai ζ = 0.001 20. Pada arah X Tx = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.999 2.50 13.000 21.000 1.35 1.999 22.000 22.001 0.000 20.85 14.000 22.50 13.999 22.000 22.001 20.35 1.85 14. nilai waktu getar alami fundamental (T) dari struktur gedung harus dibatasi.999 1.997 2.85 14.85 14.000 21.000 -0.50 13.000 20.001 -0.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan Lantai B (m) L (m) Xcr (m) Ycr (m) ex (m) ey (m) edx (m) edy (m) koord x (m) koord y (m) 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 20.000 -0.

41 Kg = 587.7639 kN Vyd = 58776.1 didapat nilai Cy = 0.2 × 1 Vys = Wt = × 104869. Ty = 1.1 didapat nilai Wx = Wt = 104869.16 detik ……….18x12) = 2.39 Kg = 599.15 < (0. Vxd = 59976. 5.238 = 3495. 7.18x12) = 2.64 kN R 6 .16 detik ……….1.238 kN − Untuk arah x C I 0. tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang pertama. sesuai SNI 03-1726-2002 Ps. Dengan nilai waktu getar alami fundamental (T) perkiraan awal dengan rumus empiris sebagai berikut.OK • Arah y Ty = 1.2 Dari tabel 5..2 × 1 Vxs = x Wt = × 104869.Untuk arah y CyI 0.5 Kontrol Gaya Geser Dasar (Base Shear) Nilai akhir respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat Gempa Rencana dalam suatu arah tertentu.238 = 3495..15 detik Maka dari Gambar 5.2 dan Cx = 0.3.15 detik Tx = 1. maka didapatkan output untuk nilai gaya geser dasar (base shear) sebagai berikut.97 • Arah x Tx = 1.15 < (0.7641 kN .64 kN R 6 Setelah dilakukan analisa struktur dengan asumsi – asumsi yang telah dijelaskan diatas. beradasarkan waktu getar alami fundamental struktur gedung masih memenuhi batas kontrol waktu getar alami.OK Sehingga.

.Untuk arah x 0. Kemudian dilakukan running program ulang sehingga didapatkan output sebagai berikut : .71 V yd 587. 7...1....7639 kN < 2796.66 V xd 599. FS = 0.7641 kN < 2796..512 kN..Untuk arah y 0.... maka menurut SNI 03-1726-2002 ps 7.. maka dilakukan analisa struktur ulang dengan mengalikan faktor diatas pada scale factor untuk Define Respons Spectra..Not OK! Sehingga untuk memenuhi persyaratan SNI 03-1726-2002 Ps..512 FS = = = 4..7639 . .. V yd ≥ 0 .... .8V1 ≥1 Vt Dimana : V1 = Gaya geser dasar nominal sebagai respon dinamik ragam pertama Vt = Gaya geser dasar nominal yang didapat dari hasil analisa ragam spektrum respons yang telah dilakukan Sehingga dengan cara tersebut didapat nilai FS untuk masing – masing arah pembebanannya.3. .3 gaya geser tingkat nominal akibat pengaruh gempa rencana sepanjang tinggi struktur gedung hasil analisis ragam spektrum respon dalam suatu arah tertentu harus dikalikan nilainya dengan suatu faktor skala..Not OK! Maka untuk arah y..8V ys 2765 .....8V xs 599....98 Maka untuk arah x...8V xs 2796.7641 Setelah didapat nilai – nilai skala untuk masing – masing arah pembebanan. Nilai skala tersebut adalah sebagai berikut : .8V ys 587..2....... ...512 kN..512 FS = = = 4. V xd ≥ 0.

.0000 0.9803 0.9803 88.0000 4.0000 0.230644 1.0000 78.0935 95. 7.8V ys 2798.9158 kN > 2796.422585 0.0000 78.0000 0..4192 0.OK! Maka untuk arah y.6998 92.9405 92. V yd ≥ 0.4 Modal Participating Mass Ratio Mode Period UX UY UZ SumUX SumUY SumUZ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2......9405 92.335163 0..6998 92.769604 0.220727 0.258883 0.6 Kontrol Partisipasi Massa Sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps..27223 0.4207 88.4192 78...3687 kN > 2796.0632 0. .3130 0..0000 0.1696 0.0001 2..58 Kg = 2800.0000 0.9803 78..8V xs 2800..53 88.0002 4.8772 88.9803 78..10 Kg = 2798....512 kN.99 Vxd = 280091.0000 0. Tabel 5.396882 0.2535 95..0936 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 .8772 92. 5.1093 0..53 88..2535 78.9158 kN Vyd = 276249.0935 95.....0000 2.5302 92.8969 0..71274 0.8772 88.429487 2.9405 95..0015 10.2.3687 kN Maka untuk arah x.0000 0.3936 0. gaya gempa dari spektrum respon dinamik tersebut selanjutnya digunakan sebagai beban gempa desain struktur. V xd ≥ 0.0000 9.596052 0....6999 95..0001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.0000 78...554149 0.. ..512 kN..OK! Sehingga.4192 78...1 jumlah ragam vibrasi (jumlah mode shape) yang ditinjau dalam penjumlahan respons ragam harus sedemikian rupa sehingga partisipasi massa (Modal participating Mass Ratios) dalam menghasilkan respons total harus mencapai sekurang – kurangnya 90 %...

2.173467 0.676495 1.116688 0. 7.2. Tabel 5.82% 1.429487 0.062933 0.67% .220727 3.025703 0. Dengan demikian ketentuan menurut SNI 03-1726-2002 Ps.272230 0.596052 0.056864 0. Untuk Struktur gedung yang memiliki waktu getar alami yang berjauhan. 7.29% 6.35% 78.422585 0.4 didapatkan bahwa dalam penjumlahan respons ragam menghasilkan respons total mencapai 95.554149 0.1 dapat dipenuhi.65% 19.17% 2.769604 0.69% 11.013347 0.6 Metode Penjumlahan Respons Ragam Menurut SNI 03-1726-2002 Ps.038156 0.396882 0.45% 67.88% 5.784545 0.5 Selisih Periode Antar Mode yang Berdekatan Mode Periode (sec) Selisih % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2. 5.230644 0. penjumlahan respons ragam dapat dilakukan dengan metoda Akar Jumlah Kuadarat (SRSS). harus dilakukan dengan metoda Kombinasi Kuadratik Lengkap (CQC).335163 0.2 untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu-waktu getar alami yang berdekatan yaitu apabila selisih nilainya kurang dari 15 %.0936 % untuk arah Y.57% 17.061719 0.198843 2.33% 6.712740 0.100 Dari Tabel 5.2535 % untuk arah X dan 95.258883 0.

101
Karena selisih waktu getar alami dominan kurang dari 15%, maka metoda penjumlahan ragam respons menggunakan metoda CQC.

5.7 Simpangan Antar Lantai
Simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum, Δm, dihitung sebagai berikut: Δm = 0,7 RΔs Dengan R adalah factor modifikasi respons (table 12.2-1). Δs adalah respons statis simpangan elastic struktur yang terjadi di titik-titik kritis akibat beban gempa horizontal rencana.Simpangan elastis struktur dihitung menggunakan analisa dinamis.

¾ Batasan simpangan antar lantai
Simpangan antar lantai yang dihitung berdasarkan persamaan diatas tidak boleh melebihi 2,5% dari jarak lantai untuk struktur dengan waktu getar dasar lebih kecil daripada atau sama dengan 0,7 detik, sedangkan untuk struktur bangunan dengan waktu getar dasar lebih besar daripada 0,7 detik, simpangan antar lantai tersebut tidak boleh melebihi 2,0% dari jarak antar lantai, secara singkat batasan simpangan antar lantai dapat dituliskan :

2,5 xh 100 2,0 T ≥ 0,7 detik, maka Δm ≤ xh 100
T ≤ 0,7 detik, maka Δm ≤

102 Simpangan Elastis Struktur
Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps. 8.1.2, simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung tidak boleh melampaui 0.03 dikali tinggi antar tingkat atau dibatasi sebesar 30
R

mm diambil nilai yang terkecil. Nilai R didapat sebesar 6 sehingga batasan Simpangan elastis struktur gedung didapat : - Untuk h = 4,25 m : Δs = 0,03 × hi = 0,03 × 4,25 = 0,02125 meter = 21,25 mm R 6 Nilai simpangan struktur gedung didapat dari hasil running ETABS v9.2.0 dengan memilih satu titik pada setiap gedung yang direncanakan. Sedangkan nilai simpangan antar tingkat diambil dari selisih nilai simpangan antar gedung yang terjadi. Nilai simpangan gedung yang terjadi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.6 Simpangan
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 ∆x (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25.0 19.4 13.4 7.5 2.4 ∆y (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4

Setelah didapat nilai simpangan gedung, ditinjau nilai Δs antar tingkat arah X dan arah Y dapat diperoleh pada tabel berikut :

103
Arah x : Tabel 5.7 Analisa ∆s akibat gempa arah x
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25 19.4 13.4 7.5 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 2.1 2.8 3.4 4.1 4.7 5.1 5.6 6 5.9 5.1 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Arah y :
Tabel 5.8 Analisa ∆s akibat gempa arah y
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.6 2.2 2.8 3.6 4.1 4.8 5.3 5.7 6 6 5.2 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

42 10.8 3.76 14.25 34 29.1 simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum.78 21. ¾ Simpangan Antar Lantai Sesuai SNI 1729 Pasal 15.1 5.7 RΔs Dengan batasan simpangan antar lantai : Waktu getar dasar yang terjadi T = 1.75 8.0 T ≥ 0.5 2.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.6 6 5.5 4.15 detik 2.74 21.7 detik.104 Dari tabel tersebut dapat dilihat nilai simpangan antar tingkat dalam arah X maupun arah Y tidak ada yang melebihi syarat batas yang telah ditentukan.82 11.25 17 12. dihitung sebagai berikut: Δm = 0.75 25.1 2.4.7 5.28 17.1 4. Δm.9 Analisa ∆m akibat gempa arah x Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.20 24.25 m = 0.9 5.52 25. maka Δm ≤ xh 100 2.22 19.0 Δm ≤ x 4.1 2.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .4 4.085 m = 85 mm 100 Nilai simpangan antar tingkat dapat diperoleh pada tabel berikut : Arah x : Tabel 5.42 23.30 8.75 42.5 21.5 38.

25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 4.10 Analisa ∆m akibat gempa arah y Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.25 17 12.72 9.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.26 23.76 15.7 6 6 5.75 42.3 5.5 38.25 34 29.2 2.5 21.22 20.84 10.12 17.16 22.1 4.6 2.75 25.8 3.24 11.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .2 2.20 21.20 25.94 25.6 4.75 8.8 5.105 Arah y : Tabel 5.

106 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

107 BAB VI PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA 6. Adapun data – data profil adalah sebagai berikut : ix = 20. Pada perhitungan berikut Balok Induk direncanakan dengan profil WF 500.5 cm r = 20 mm A = 114.200.20.10. ditunjukkan contoh perhitungan balok Induk pada lantai 1 dengan kode balok B-23. Panjang balok (L) = 1000 cm.6 kg/m tw = 10 mm Zx = 2096 cm3 d = 500 mm tf = 20 mm Zy = 332 cm3 Sx = 1910 cm3 b = 200 mm Ix = 47800 cm4 .2 cm2 W = 89.1 Perencanaan Balok Induk Gambar 6.1 Denah Pembalokan lantai Pada perencanaan ini.

78 cm 360 360 Lendutan yang terjadi (ETABS v9..25 2...OK ¾ Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Pelat Sayap : bf bf 200 < λp .tf 2.OK = = 6......765 cm f < f ' ...1 Kondisi Balok Utama Sebelum Komposit Dari hasil output ETABS v9.75 250 fy Pelat badan : h h 428 < λp.. termasuk penampang kompak.....tf 2...2...21 Kgcm Vu (-) = 13797..0) f = 0..2....1..16 170 170 λp = = = 10...108 iy = 4.... didapatkan : Mmax (-) = 2850308.OK = = 42.25 Jadi..33 cm h = 428 mm Iy = 2140 cm4 Sy = 214 cm3 6..56 Kg L = 1000 cm ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin (f’) adalah f '= L 1000 = = 2.. maka Mnx = Mpx .80 tw tw 10 λp = 1680 fy = 1680 250 = 106....0 untuk batang B-23..

Untuk komponen struktur yang memenuhi Lr > Lb > Lp.24 Kgcm MB = 1135694. 2500 = 4775000Kgcm Mp = fy.71 ) + (3.93 My = Sx.749 cm Jadi.24 ) + (4. kuat nominal komponen struktur adalah : ⎡ ( Lr − Lb) ⎤ Mn = Cb ⎢ M r + ( M p − M r ) ≤ Mp ⎥ ( Lr − Lp ) ⎦ ⎣ MA = 1990319.93 < 2.2850308.1135694.3 → dipakai 1.06 Kgcm Cb = = 12.2850308.286624.06 ) = 1.fy = 1910 .5 My MR = (fy-fr)Sx = 1800.10.109 ¾ Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 250 cm Berdasarkan tabel untuk BJ 41 profil WF 500.21 (2.71 Kgcm MC = 286624. 2096 = 5240000 kgcm < 1.Zx = 2500 .200.5.5.20 didapatkan : Lp = 215. Lr > Lb > Lp → bentang Menengah.1990319.5Mmaks + 3M A + 4 M B + 3M C 12. 1910 = 3438000 kgcm . Lr = 643.549 cm.3 2.5Mmaks ≤ 2.21 ) + (3.

.OK Jadi Penampang profil baja sebelum komposit mampu menahan beban yang terjadi.. OK Vn = 0.. kn = 5 + .. 5(2.. 749 215 .6. untuk balok dengan pengaku vertikal 2 a h ( ) pelat badan.... Sehingga. k .57..fy.Aw = 0. kn =5...6.21 Kgcm < 4716000 kgcm..749 − 250) ⎤ Mn = 1..2500 kg/cm (42.....1) cm2 = 64200 kg .1 n tw fy 5 Dimana.92 kgcm > 5240000 kgcm Dipakai Mn = Mp = 5240000 kgcm Persyaratan : Mu ≤ φMn 2850308......110 ⎡ (643.8 ≤ 69. untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.E h ≤ 1..93⎢3438000 + (5240000 − 3438000) ⎥ ≤ Mp − ( 643 ...1 10 2500 42...9.8... 5240000 kgcm 2850308....10 6 ) 428 ≤ 1.. 549 ) ⎣ ⎦ = 9828385.21 Kgcm ≤ 0.... ¾ Kontrol Geser Kontrol geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).....

..8 < 106......ok 428 1680 ≤ 10 250 42.1..0 didapatkan momen positif adalah Mmaks = 3269371...beff = 0...56 Kg < 57780 kg ...OK 6...752.38 Kgcm (batang B-23)..2 Kondisi Balok Utama Setelah Komposit ¾ Zona momen Positif Dari hasil output ETABS v9... ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 200 170 ≤ 2..2.ok Profil penampang kompak.fy = 114...tplat.. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis..85.16 250 6..2500 = 285500 kg C2 = 0. 64200 Kg 13797.10.250 = 531250 kg ...250..L = ¼....2... L = 1000 cm beff ≤ ¼ .56 Kg ≤ 0.1000 cm = 250 cm jadi beff = 250 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.85.25 < 10...111 Persyaratan : Vu ≤ φVn 13797..25.fc’.9.

C =C1 ( terkecil) = 285500 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 285500 = 5.250.85. fc'.fy = 114.379 cm = 0.85.112 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.2.250 beff = 2375 mm t = 100 mm 54 mm d Gambar 4.beff 0.15 Potongan balok Induk d1 = tb - 5.713 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 50 d3 = = = 25 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.4 = 4.2500 = 285500 kg .379 a = 9.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 285500 kg Py = As.

¼ .Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.0) = 8483061. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi..Mn 3269371.2. 2500 = 285500 Kg .32 Kg Gaya tekan nominal maksimum dalam penampang baja Pyc = As .L = ¼. 0.713 + 0) + 285500 (25 . fy = 114.5 kgcm 3269371.85.82 . ¾ Zona momen negatif Dari hasil output program ETABS v9.38 kgcm ≤ 7210602.27 kgcm.38 kgcm ≤ 0.1000 cm = 250 cm tbondex = 0.5 kgcm Syarat : Mu ≤ φ . L = 1000 cm beff ≤ ¼ .0 didapatkan momen negatif Mmaks = 5440837..75 mm fyr = 240 Mpa ts = 100 mm ¾ Menentukan Lokasi Gaya Tarik pada Balok Baja Batang tulangan menambah kekuatan tarik nominal pada pelat beton. 2400 = 20508.8483061.. Tc = Asr ... л .. fyr = 17...21 Kgcm (batang B-23)..113 Mn = 285500 (4.2.

3 .32 = 2 2 = 132495. fy = 20 .84 Kg Gaya pada sayap. maka PNA pada web. 2.0 = 6.1.114 Gambar 6. Ts = Pyc − Tc 285500 − 20508. 2500 = 115000 Kg Gaya pada badan.84 = fy. Tw = Pyc − Tc − Tf 2 = 132495.84 – 115000 = 17495.3 Distribusi tegangan negatif Karena Pyc > Tc.tw 2500. Tf = bf . tf . berlaku persamaan.84 Kg Jarak garis netral dari tepi bawah sayap : aw = Tw 17495.99 cm .

5 = 7.5tf ) + (Tw(tf + 0..(2.5.0.5 + 1.2.84.115 ¾ Menenentukan Jarak Gaya yang Bekerja dari Centroid d2 = (Tf .93 mm d3 = D/2 =50/2 = 25 cm d1 = ts – c = 10 – 2..65 Kgcm Persayaratan : Mu ≤ φMn 5440837.OK .84 = 1.593) = 6869180.21 Kgcm ≤ 0.99)) = 115000 + 17495.32 (7.0.21 Kgcm ≤ 5838803..0) + (17495.6869180.6.5 cm ¾ Perhitungan Momen Nominal Negatif Mn = Tc (d1+ d2) + Pyc(d3 – d2) = 20508...593 cm = 15.56 Kgcm.0 + 0.5.593) + 285500 (25– 1.5aw)) Tf + Tw (115000.65 Kgcm 5440837..85 .

20. d.tw.16 dengan spesifikasi material : Ix = 49940 cm4 ix = 14.( 2 = (( 1 .56 Kgcm Mux Muy = 2250329. 1)) = 2428.4 cm2 4 iy = 15.2 Kolom Komposit Dari hasil output ETABS v9.06 cm 3 2 2 . .2 + 2 2 (50-2. 1 . b).116 6. 50. 2 2 2 2 2 (d-2tf).31 Kg Vuy Kolom komposit direncanakan dengan menggunakan profil K500.6 cm KC 500 x 200 x 10 x 16 TULANGAN Ø16mm KING CROSS 50 TULANGAN GESER Ø12 .6 Kg = 2261074.79 mm A = 228. d) + (b-tw)(tf)(d-tf)) + (( 1 .1.( 1 .4 Sketsa penampang kolom komposit Zx = (( 1 .0 diperoleh gaya – gaya yang bekerja pada kolom CIN 7 lantai dasar adalah : Pu = 595950.( 1 .tf.6).6)(50-1.6.300 700 700 Gambar 6.200. 1 . 50)+(20-1)(1. 20).6))+(( 1 .6 cm 3 Sy = 2046.1. b.15 Kg Vux = 15154.2 + 2 2 1 tw).17 mm d = 500 mm Iy = 52189 cm b = 200 mm H = 428 mm Sx = 1997.2. 1 .10.( 1 tw)) .3 Kgcm = 16667. 1). 1 .1.

1 (50+1) 2 2 2 2 2 2 + (20-1).1. 1.6.71 cm3 Kontrol luas penampang minimum profil baja : As 228.tw.04) = 4663.8.122 = 113. tw) + ( 1 (d+tw).2 fmy = fy + C1. 1 .70) Tulangan longitudinal Jarak spasi tulangan = 700 – (2.4 228. C2 = 0. 1 . Ac As 4663. 1)+( 1 (50+1).12 – 16 = 560 mm Luas tulangan longitudinal (Ar) = 4.fyr. 1 . 228.56 8.240. tf.04 + 0.6. b). 1 .560 = 100. 1 .(50+1-1.09 mm2 Luas penampang bersih (Acn) = (70.25.04.4 + 8.6 . C3 = 0.2 + (d-2tf). tw.1.7. = 562.2+(50-. Acn As + C2.20. 1 .09 mm2 Luas sengkang minimum = 0.19 Mpa .25 mm2 Ar minimum = 0.(d+tw-tf)) =(( 1 .7 .b. 1.162 = 804.70) – (228.18.300 = 54 mm2 < 113.8 mm2 < 804.50) -2.7% > 4% Ac (70.56 mm2 Untuk baja yang diberi selubung beton : C1 = 0.π.4 = x100% = 4.1/2. 1 (d+tw) 2 2 2 2 2 2 + (b-tw).fc.117 Zy = (( 1 .1.6).4 = 250 + 0.18. 20).tf.6.π.25 mm2 Tulangan Lateral (Sengkang dipasang Ø12-300mm) Luasan tulangan sengkang = ¼.6)) = 2483.

Ec.04.24102.16 WF 500.041.200.w1.70 = 21 cm > iy ( dipakai rm) = 200000 + 0.5 Skema Kolom .14 WF 600.10.10.14 WF 600.118 Ec = 0.98 Mpa Es = 200.9.98 Kuat Nominal Aksi Kolom Komposit WF 500.24001.10.5√fc’ = 0.13.200.200.200.200.16 WF 600. Acn As 4663.5√25 = 24102.16 WF 500.20 Kolom K500.200.3.200.10.10.56 = 298428.20 WF 500.2.8 Mpa 228.14 Kolom K500.9.10.200.16 Arah X WF 500.10.14 Kolom K500.9.4 rm = 0.9.200.200.000 Mpa Em = Es + C3.16 Gambar 6.200.23 Kolom K500.200.3b = 0.

6 − 0.6 − 0.47 Pn = As.8 Karena nilai λc. sehingga nilai GB = 1 ⎛ Ix ⎞ ⎛ 49940 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAx = = = 2.26 Kg .fcr = 228.11 1.25 < λc <1.17 cm rm 21 λ π f my Em = 31.5 = = 31.34 47800 Ix ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L 950 ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎛ Iy ⎞ ⎛ 52189 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAy = = = 2. 0.47 298428 . sehingga dari nomogram didapatkan nilai Kcx = 1.54 Ix 41900 41900 ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ ⎜ ⎟+⎜ ⎟ 950 800 L ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Jenis rangka tidak berpengaku (unbraced frame).119 Bagian dasar kolom diasumsikan jepit.17 π 654.5 cm λ= λc = Lk 654.52 dan nilai Kcy = 1.63 Mpa ω 1.3 Kg/cm2 = 1157153. maka termasuk dalam kategori kolom menengah.67.5 = 0. dimana : 1.4 cm2.54 → KcY menentukan Lk = Kc.11 ω= 1.L = 1.43 = 1.67λc f my 562.425 = 654.54.2.0.43 = 1.5066.19 fcr = = = 506.

.27 Kg > Pu……….Ab Ab ≥ ϕPnc 498230.7. fc ' 1.27 Kg – 485350 Kg = 498230.250 ¾ Kuat Nominal Komposit dan Aksial Kolom Komposit Luasan badan profil (Aw) = (1.120 φPn = 0.(OK) Semua beban desain kolom ditopang oleh kolom komposit ( terdiri dari profil baja dan beton).4.6 = = 0.fc’.27 = = 1953.228.(OK) 1.2 ϕPn 983580.7. Persyaratan luas minimal penampang beton yang menahan beban desain kolom adalah : ¾ Kemampuan profil baja menahan beban φPns = 0.50) + ((50+10)10) = 101 cm2 Crc = Crt = 350 – (50 + 12 + (1/2.6 > 0.84 …….85. 1157153.2500 = 485350 Kg ¾ Kemampuan penampang beton menahan beban φPnc = φPn – φPns = 983580.ϕ .6.85.φ.0.27 Kg Syarat yang harus dipenuhi untuk luas penampang beton φPnc ≤ 1.fy = 0.As.85.27 .7.16)) = 280 mm Cr = (Crc + Crt)/2 = 280 mm h1 = h2 = 700 mm Pu 595950.26 Kg = 983580.

3 ⎞ 0.7.(h2 – 2Cr)Ar.6 + ⎜ + ⎟ = 0.7 x 250x70 =12993755.200. fy − 2 1.2 → ⎟ + ⎜ + ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ϕPn ⎝ ⎠ 8 ⎛ 2261074.965 ≤ 1.10. fy − 2 1.04 x 2400 70 101x 2500 +( )101x 2500 − 2 1.85.16 .0(OK ) 9 ⎝ 0.7 7 ⎠ Kesimpulan: Kolom komposit digunakan profil K500.fy + 1/3.h1 = 2483.71 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.12854730.h1 = 2428.06 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.77 Kgcm ( Mny = Zy.fyr + h2 Awfy )Aw.12993755.56 2250329.7.7 x 250 x70 = 12854730.77 Kgcm ( )Aw.fyr + h2 Aw. fy Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Untuk Pu > 0.fy + 1/3.85.04 x 2400 + ( 70 − 101x 2500 )101x 2500 2 1. fc'.121 Mnx = Zx.(h2 – 2Cr)Ar. fc '.7 7 0.

Ry.Mpbalok = 1.5.3 Desain Sambungan 6.5 L) Sambungan kaku yang merupakan bagian dari Sistem Rangaka Pemikul Beban Gempa mempunyai kuat lentur Mu yang besarnya paling tidak sama dengan : Mu = 1. (2096.1. Penerimaan beban dianggap sebagai berikut : • Beban Pu diteruskan oleh sambungan pada badan secara tegak lurus ke flens kolom • Beban momen Mu diteruskan oleh sayap balok dengan baja T keflens kolom Vu = 16319 Kg (1.2500) Kgcm = 14265900 Kgcm .1.2 D + 0.6 Sambungan Balok – Kolom yang direncanakan Sambungan balok utama B-22 dengan kolom direncanakan dengan rigid connection dimana sambungan memikul beban geser Pu dan momen Mu.1.1 Sambungan Antara Balok dengan Kolom Gambar 6.122 6.3.

(r1fub).5. D = 25.8250)2.75.2.200.2.5 Kg 950 Vutotal = 16319 Kg + 30033.4.5 Kg = 46352.2).5L ditambah gaya geser yang berasal dari Mu diatas (LRFD ps 15.9.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.4.123 Momen lentur rencana sambungan berdasarkan kemampuan balok.2.4 cm.5 Kg A.2Ab = 0.16 Gaya geser terfaktor V pada sambungan kaku harus diambil berdasarkan kombinasi pembebanan 1.1.5) • Mutu profil BJ41 (fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325. Sambungan geser pada badan balok Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.fu (tebal pelat badan dipakai tebal badan balok tp = 10 mm)) = 0.2D + 0.10.4100 Kg/cm2 = 18745.10.07 cm2 Vdg = φf.200.(0. sehingga besarnya : Vutambah = 14265900 + 14265900 = 30033.2 Kg) . Elemen – elemen sambungan : • Balok melintang menggunakan profil WF 500.16 • Kolom menggunakan profil K500.07 = 31370.db.5.6 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.2 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg =18745.tp. 25.75.0 cm.

fu (tebal pelat badan dipakai tebal pelat siku tp = 7 mm)) = 0.t = (30 – 2. Vdg 13121.0.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.2 = = 3.5.124 n= Vu 46352. BJ 41 dengan fu = 4100 Kg/cm2.70.7 = 17.4. Sambungan geser pada sayap kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.5) • Mutu profil BJ41(fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.2 B.6 mm (lubang dibuat dengan bor) = 27 mm Anv = Lnv.54.07 cm2 = 15685.tp.75.4100 = 13121. Kontrol siku penyambung Siku direncanakan menggunakan ∟70.(r1fub).(0. Ab = 0.64 Kg n= Vu 46352.2. Ølubang).47 .7).5 = = 2.db.64 sehingga pada satu sisi menjadi 2 baut C. Ølubang = 25. 8250 Kg/cm2).75.07 cm2 Vdg = φf. dipasang 4 buah pada 2 sisi. 5. dipasang 3 buah Vdg 18745.22 cm2 .4.2.t = (L – n.7.4 mm + 1.7. D = 25.53 .0.3 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.2.2.

fu.25 Kg ..25 Kg φPn = φ(0. dengan data – data: Ølubang = 25...7 Gaya – gaya yang bekerja pada profil T .0.Anv) = 0. 17. Ok D.08 Kg > 23176. Sambungan pada sayap profil T dengan sayap kolom Direncanakan menggunakan baut D25.6 mm (lubang dibut dengan bor) = 27 mm Ab = 5.Vu = 23176.50 W Q a 1 2(T 1 2(T a' + Q) + Q) b' b 2T Bidang kritis 1 2(T 1 2(T + Q) + Q) flens profil T Badan profil T Q Gambar 6.6..9.4 mm + 1.22 cm2 = 38125.. profil T akan mendapat gaya tarik sebesar : 2T = Mu d balok 14265900 T= = 142659 Kg 2.4 mm.4100 Kg/cm2..07 cm2 Mutu baja profil BJ 50 (fu = 5000 Kg/cm2) Mutu baut (fu = 8250 Kg/cm2) Akibat gaya Mu..125 Siku ditinjau satu sisi sehingga gaya = ½.6.

14265900 Lengan kopel = = 151. Fisher dan Shrink : a ≤ 1.25.58 cm 2.25.47055. Øbaut = 50 . T = 14265900 = 88828.400.75.7 mm b’ = b – ½.20 Maka.25 b 50 < 1.(50 + 30.75.8250 Kg/cm2.76 Kg (memenuhi syarat) ¾ Perhitungan sayap kolom dengan profil T Perhitungan tebal sayap T yang diperlukan : Direncanakan memakai profil T 400.75.(OK) Koreksi untuk a dan b a’ = a + ½.50 = 62.Ab)n.½.35.4 = 37.126 B = Kekuatan rencana baut = φRn = 0.88 Kg < 142659 Kg (Tidak memenuhi syarat) Untuk mengatasinya kita dapat memakai potongan profil balok atau profil T yang dihubungkan ke bawah balok utama agar lengan momen kopel menjadi besar.5 mm . r = 22mm a = 50 mm (direncanakan) b= 400 − 20 − (50 + 90) = 50mm 2 Menurut Kulak.4 = 94111.76 Kg 2.4 = 62.75..fub.94 Sehingga tinggi tambahan yang diperlukan menjadi.88 Kg Syarat.(0.88 Kg > 88828. B > T 94111.5 mm…………….12.200. = 151.07 cm2.3) Syarat.58 cm Dalam hal ini kita coba pakai profil T 600.5.0. Øbaut = 50 + ½. n = jumlah baut = 0. B > T 94111.58 – 50= 101.20.25.

5 ⎛ w − ∑ d ' ⎞ 200 − 2.7 + 12001) 94111.88828.(1 + αδ ) 4.6 mm Sehingga.3 < 1 − 1⎟ = ⎜ ⎝T ⎠ b' ⎝ 88828.20.734 ⎝ 1 − 0. dipakai ⎜ ⎟ δ ⎝ 1 − β ⎠ 0.0.88 ≥ ½ (88828.58 < 1.3 ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ = 0.76 ⎠ 37.5 0. 7 ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠ ⎠⎝ ⎝ = 12001 Kg Gaya yang terjadi pada baut : B ≥ ½ (T + Q) 94111.3. 734 62 .w.4100 Kg / cm 2 .20cm.16 cm = 31. tf pada profil T 400.734 ⎞⎛ 37.9.5) • Mutu profil BJ55 (fu = 5500 Kg/cm2) .734 ⎟= 200 ⎝ w ⎠ α= 1⎛ β ⎞ 1 ⎛ 0.(1 + 0.127 β =⎜ ⎞ 62.0.58 αδ ⎞⎛ b' ⎞ ⎛ 0. 58 .58.6 δ =⎜ = 0. 0 .3 ⎠ Nilai α = 0.b' tf ≥ ϕ .Ok Maka tebal perlu sayap profil T 4. fy.7 ⎛ B ⎞ a ' ⎛ 94111.T .88 − 1⎟ = 0. Sambungan pada badan profil T dengan sayap balok Kontrol Kekuatan Baut Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.76 Kg .35 dapat dipakai ≥ E.5 ⎞ Q= T ⎛ ⎟ ⎟⎜ ⎟⎜ ⎟ = 88828.26.76 Kg ⎜ ⎜ αδ + 1 + a ' 1 0 .85 Kg…….88 Kg > 50414.734) ≥ 3.400.58.

8 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg = 15685.4.5 cm) = 47.tp.4.2 cm.fy 2.……….(0.(Ok) .4100 177657.88828.4 mm.Ag.4.31 buah baut pada 2 sisi.9.75.76 T = = 5.31 Kg) n= 88828.31 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.66buah ..4. Kekuatan badan profil T Dipakai baut Ø25.75.1.tw = 20 cm.8250 Kg/cm2 = 45262.54cm.4 mm .2. BJ 55 dengan fy = 4100 Kg/cm2 dan fu = 8250 Kg/cm2 Ag = w.(r1fub). BJ 55 (Ag = 5.5 cm = 90 cm2 An = Ag – (Σd’.07 cm2 = 15685.5.5.db.90.9.34 cm2 Terhadap leleh 2T ≤ 0.52 Kg ≤ 332100 Kg….76 ≤ 0.16 cm.07 cm2) Vdg = φf..fu (tebal pelat badan dipakai tebal sayap profil balok tp = 12 mm)) = 0.128 • Baut tipe tumpu Øbaut 25.Ab = 0.tw) = 90 cm2 – (3. sehingga dipasang 6 Vdg 15685. sehingga pada 1 sisi menjadi 3 baut. 2.8250 Kg/cm2).2.3.

7 adalah sebagai berikut : Pu = 595950.5.34.(Ok) 6.9.8250 177657.fy.3.129 Terhadap patah 2T ≤ 0.An.4 Baut D 25.47.8 sambungan kolom – kolom .2500.4 Gambar 6. 88828.kolom direncanakan pada lantai 1.fu 2.76 ≤ 0.45 Kg…………….2 Sambungan Kolom – Kolom Sambungan kolom ..1997.52 Kg ≤ 350712.4 Baut D 25.9.5. Gaya – gaya yang bekerja pada kolom lantai CIN.6 = 7491000 Kgcm Baut D 25.Zx Mux = 1.6 Kg = 1.

db.4100 = 29992.1.37 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.6 = 260920 Kg Aprofil 228.tp.2.54.1.fub.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut D 25.6 – 260920 = 335026.32 Kg .fu (tebal plat dipakai tebal plat sayap Kolom tp = 16 mm) = 0.4.75.r1.52 Kg ¾ Kontrol Geser pada Sayap Kolom Dipakai tebal pelat penyambung 16 mm Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.4 Pusayap = Pu – Pubadan = 595950.0.2.8250 Kg/cm2.5.503 I badan Mubadan = Mu = 12 7491000 = 1562500Kgcm I profil 49940 Musayap = Mu – Mubadan = 7491000 – 1562500 = 5928500 Kgcm ¾ ¾ Pembagian Beban Aksial A 2. 2Ab = 0.4.07 cm2 = 31989.5.1. 2. ( Ag = 5.75.Pu = 595950.2.6.4 mm.50 Pubadan = badan .07 cm2) Vdg = φf.130 Pembagian Beban Momen 1 .

131 Gaya kopel pada sayap 5928500 = 296425Kg d 20 Pu sayap Jumlah gaya total pada sayap = T + 4 335026.75.63 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf. Vdt = 22860 Kg Momen yang bekerja pada titik berat sambungan badan Mutotal = Mubadan + Pu.2.0.4 mm.07 cm2) Vdg = φf.63 Kg Vdg > Vdt (digunakan Vdg = 29992. 5000 = 22860 Kg Dipakai.63 n= = = 11. ( Ag = 5.1.2.2.2.tp.75.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut 25.5.54.9 = 2058248 Kgcm .1.32 Kg) Vu 380181.4.r1.2Ab = 0.8250 Kg/cm2.07 cm2 = 31370.e = 1562500+ 260920.5.fub.0.4.52 = 296425 + 4 Tu = Musayap = = 380181.32 Dipasang 12 buah agar simetris ¾ Kontrol Geser pada Badan Kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.fu (tebal plat dipakai tebal plat badan Kolom tp = 10 mm) = 0.db.67buah ≈ 12buah Vdg 29992.

1 = 12 cm Jarak tepi maks = 20 cm Dipasang jarak tepi baut = 5.6 + 15246.tp = 12.33Kg n 12 Akibat Vu → KuH1 = Σ(x2 + y2) = 12(4.75.54 = 4.132 Dicoba dengan baut sebanyak 12 buah Pubadan 260920 Akibat Pu → KuV1 = = = 20743.52 + 22.5 = = 3009.5 cm Jarak antar baut minimum = 3.tp = 15.14 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 Mutotal .28 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 KuV2 = Kutotal = (ΣKuV ) 2 + (ΣKuH ) 2 = (21743.445 cm Jarak tepi maksimum = 12.52 + 13.28) 2 = 19030.x 2058248 x 4.33 + 3009.5 KuH2 = = = 14246.6 Kg n 12 Mutotal .75 db = 1.db = 3.54 = 7.5)2 + 4(4.426 Kg Kutotal < φVn 19030.2.2.14) 2 + (555.62 cm Jarak antar baut maksimum = 15.15 = = 555. y 2058248 x 22.426 Kg < 22860 Kg………OK ¾ Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum = 1.52) = 3078 cm2 Vu 16667.1 = 15 cm Jarak tepi maksimum = 20 cm Dipasang jarak antarbaut = 9 cm .

0 9 ⎝ 0.7 cm pada daerah yang diarsir pada profil K 500.2 ϕPn kolom 983580.77 ⎠ Mux = 4916934.2 ⇒ ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ⎝ ⎠ 8⎛ Mux ⎞ 0.52 Kgcm Sambungan Las pada End Plate Direncanakan las dengan te = 1.10.10.3.8)+(2.45.Part = BMK-13 • H = 70 cm • B = 70 cm • tp = 46 mm = 4.200.16 sehingga didapat : Alas = {(2.200.5L + E) lantai dasar adalah : Pu = 595950.6 + ⎜ + 0 ⎟ = 1.85.8) + (4.3 Disain Base Plate Perencanaan base plate dibawah ini menggunakan fixed plate dari catalog PT Gunung Garuda untuk profil K500.15 Kg Vu Pu 595950.2D + 0.6 Kg = 16667.6 cm Dari output Etabs pada CIN 7 (comb 1.504 cm4 .12854730.7 cm =530.27 Untuk Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Pu ⎟ + ⎜ + > 0.4 cm2 = 84732.46.16 dengan data – data sebagai berikut : • No.6 = = 0.133 6.20)} 1.6 > 0.

3.134 ⎡ ⎛1 1 1 ⎞⎤ ⎞⎤ ⎡ ⎛ 1 Iy = ⎢2.504 cm4 Wx = Ix 84732.1 = 2214.63 .45 a= te 1.⎜ .45 2 + 1389.3 2 = 2818.6.05 2 = 1389.45 Kg/cm2 16667.707 .23 + .11 = 2452.203 + 2.1cm = 1.102 ⎟⎥ 12 12 ⎠⎦ ⎠⎦ ⎣ ⎝12 ⎣ ⎝12 = 84732.4 fulas = φ.20.22 .FE70xx = 0.27 = = 1.52 + A 530.83 + . f P = Pu Mx 595950 4916934.45 .23 + 2.92 ⎟⎥ + ⎢2.05cm3 x 23.707 0.504 = = 3700.504 Wy = = = 3621.70.4 3621.15 4916934.0.46 .20.75.63 Kg/cm2 te = f total 2818.9 y Iy 84732.6. f V = f total = f p + fV 2 2 = 2452.2.27cm = fu las 2214.70.4 3700.3 Kg/cm += Vu Akibat beban Vu.52 + = + A Wx 530.20.8.8 cm(amin) 0.0.2.⎜ .45 Kg/cm2 Akibat beban P.11cm3 22.

135 Syarat – syarat tebal kaki las Tebal minimum = tplat = 46 mm fu 4100 aeff max = 1.7 A1 . .41.4cm f E 70 xx 70.8 cm = dipakai c1 = we = 5 cm h’ ≥ 6+ 5 = 10 cm.1. dipakai h’ = 12 cm h = H – 0.4.db =4.75.70.41.85.7cm 6 Pu 595950.120 = 840 mm= 84 cm B =900 mm = 90 cm Dimensi beton : Panjang : 90 cm Lebar : 90 cm A2 90 x90 1.28 = 290.1.300.6 = 5.db = 1.85.52 = = 18.125. .2.5.3 Sehingga dipakai las dengan a = 18 mm Perhitungan Base Plate e= Mux 4916934.86 = 6 cm c1 = jarak minimum untuk kunci = 27/16.25cm > 1 H = 11.tp = 1.5h’ = 900 – 0.6 d = 9 mm Direncanakan diameter baut : 28.75. f ' c.28 = = A1 70 x70 Fcu = 0.6 h’ ≥ we + c1 we = jarak baut ke tepi = 1. A2 = 0.

6 mm 14579≥ 2Tu + Cv.290.4916934.90 ≥ 2.h = 0.25.1/4.52596.16667.136 a =h= 84- h2 − Pu (2h − H ) + 2Mu 0.6 mm φRn = 0.29 Kg t ≥ 2.84 − 90) + 2.4 diambil jumlah baut = 12 buah baut angkur 28.6. fcu.fub.7. 7250.B 595950.5.2.84 = 42 mm =4.16 Perhitungan Baut Angkur Dipakai baut angkur Ø28.29 + 1.75.B.290.6.5Ab) = 0.90 842 − = 26.Vu .10.85 cm Maka base plate dengan ukuran 90 x 90 cm dengan tp = 3 cm dapat digunakan sebagai alas kolom K500.200.29(12 − 4.15 n n = 8.75.(0.f’cu.7.5.(0.6 (2.6 = 52596.26.we ≈ 0.05 cm Tu = (0.6.6.B 52596.52 0.a) – Pu = (0.90.π.108 Tu (h'− we) .5.2 cm fy.05) – 595950. dimana Cv = 1.2) 2500.25 n .108 ≥ 2.862) = 14579 Kg φRn ≥ 2.

6 cm → diambil L = 120 cm .52 +16667.16667.250 ⎣ ≥ 73. f c ( M + V .50.15 .15+ (4.250(4916934.152+ 6.5))1/ 2 ≥⎢ 50.137 Panjang Angkur ⎡ 2V + (4V 2 + 6d .5cm))1/ 2 ⎤ L≥ ⎢ ⎥ d. fc ⎣ ⎦ ⎡ 2.16667.

138 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

WIKA Beton. Gambar 7. Jakarta ini direncanakan memakai pondasi tiang pancang jenis pencil pile shoe produk dari PT. Spesifikasi tiang pancang yang akan digunakan adalah sebagai berikut: : 500 mm • Diameter • Tebal : 90 mm : A3 • Type .1 Perencanaan Pondasi Kolom Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah.139 BAB VII PERENCANAAN PONDASI 7.1 Denah Rencana Pondasi Pondasi pada gedung apartemen Albergo.

140
Allowable axial : 166,21 ton Bending Momen crack : 14 ton m Bending Momen ultimate : 21 ton m Dari hasil analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS, diambil output reaksi perletakan yang terbesar, hasilnya adalah sebagai berikut : Pu : 587339 kg : 74927,94 kgm Mx My : 74054,92 kgm : 12667,15 kg Hx : 11154,31 kg Hy • • •

7.1.1 Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal
Data yang diperoleh dan yang digunakan dalam merencanakan pondasi adalah data tanah berdasarkan hasil Standard Penetration Test (SPT). Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal, yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar tiang pondasi (Qp) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah (QS). Perhitungan daya dukung tanah memakai metode Luciano Decourt (1982) : QL = QP + QS Dimana : QL = daya dukung tanah maksimum pada pondasi QP = resistance ultimate di dasar tiang QS = resistance ultimate akibat lekatan lateral Qp = qp . Ap = (Np.K).Ap Qs = qs . As = (Ns/3 +1).As Dimana : Np = harga rata-rata SPT pada 4D pondasi di bawah dan di atasnya. K = koefisien karakteristik tanah Ap = luas penampang dasar tiang

141
Ns = rata-rata SPT sepanjang tiang tertanam, dengan batasan 3 ≤ N ≤ 50 As = luas selimut tiang Np =

46 + 42 + 54 = 47,33 3 AP = 0,25 × π × D 2 = 0,25 × π × 0,52 = 0,196m 2
K = 40 t/m2 (untuk tanah dominan pasir)

QP = N p × K × Ap = 47,33 × 40 × 0,196 = 371,73m 2
Ns =

22 + 44 + 38 + 48 + 42 = 38,8 5 2 AS = H × π × D = 10 × π × 0,5 2 = 7,854m 2

⎞ ⎛N ⎛ 38,8 ⎞ + 1⎟ × 7,854 = 109,43ton QS = ⎜ S + 1⎟ × AS = ⎜ ⎝ 3 ⎠ ⎠ ⎝ 3
QL = QP + QS = 371,73 + 109,43= 481,16 ton QU =

QL 481,16 = = 160,39 ton SF 3

7.1.2 Daya Dukung Tiang Pancang Kelompok
Pondasi tiang pancang direncanakan Ø50 cm. Jarak dari as ke as antar tiang pancang direncanakan seperti pada perhitungan di bawah ini : Untuk jarak antar tiang pancang : 2,5 D ≤ S ≤ 3 D dimana : S = jarak antar tiang pancang S1= jarak tiang pancang ke tepi 2,5 × 50 ≤ S ≤ 3 × 50 125 ≤ S ≤ 150 Untuk jarak tepi tiang pancang : 1,5 D ≤ S1 ≤ 2 D 1,5 × 50 ≤ S1 ≤ 2 × 50 75 ≤ S1 ≤ 100 Dipakai : jarak antar tiang pancang (S) = 130 cm jarak tepi tiang pancang (S1) = 80 cm

142

Gambar 7.2 Konfigurasi Rencana Tiang QL (group) = QL (1 tiang) × n × η

η = 1 - arc tan( D / S ) × ⎛ 2 − 1 − 1 ⎞ …………Converse Labarre ⎜ ⎟ 90° m n⎠ ⎝
Dimana : D = diameter tiang pancang S = jarak antar tiang pancang m = jumlah tiang pancang dalam 1 baris = 3 n = jumlah baris tiang pancang = 3 Efisiensi : (ή) =1QL (group)

arctan(500 / 1000) ⎛ 1 1⎞ × 2 − − ⎟ = 0,606 ⎜ 90 0 3 3⎠ ⎝ = 160390 × 9 × 0,606 = 874767,1 kg

Perhitungan beban aksial maksimum pada pondasi kelompok a. Reaksi kolom = 587339 kg = 42336 kg + b. Berat Poer = 4,2 × 4,2 × 1 × 2400 Berat total = 629675 kg QL (group) = 874767,1 kg > P = 629675 kg........OK

.143 7. namun yang diperhitungkan hanya gaya tekan karena gaya tarik dianggap lebih kecil dari beban gravitasi struktur.19 ton ………………….390 x 0.2 ton ≤ = 97.OK 7.606 = 86.3 Kontrol Beban Maksimum 1 Tiang (Pmax) Beban maksimum yang bekerja pada satu tiang dalam tiang kelompok dihitung berdasarkan gaya aksial dan momen yang bekerja pada tiang. sehingga berlaku persamaan : Pmax = ⎜ ⎜ ⎛V ⎝n + My. gaya aksial tidak diperkenankan melebihi 166.21 ton • Allowable axial • Bending Momen crack : 14 ton m • Bending Momen ultimate : 21 ton m ¾ Kontrol terhadap Gaya Aksial Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification.2 ton ≤ Pijin 1 tiang = 160.3 ⎞ + + ⎟ ⎟ 2 2 9 × 6 1 ..2 ton < Pijin 97.19 ton.1.4 Kontrol Kekuatan Tiang Dari spesifikasi “Wika Pile Classification” direncanakan tiang pancang beton dengan : • Diameter : 500 mm • Tebal : 90 mm • Type : A3 : 166. 3 6 1 ..3 74.. 3 × ⎝ ⎠ = 86. Momen pada tiang dapat menyebabkan gaya tekan atau tarik pada tiang..OK .579 74.Ymax ⎞ ≤ Pijin 1 tiang ⎟ 2 ⎟ ∑Y ⎠ Pmax = ⎜ ⎜ ⎛ 643.05492 × 1. Pmax = 86..92794 × 1.21 ton.. X max ∑X 2 + Mx.1.

47 tm ..627 m 9 × 4.25 t/m2 f = 12.425 kg/cm 2 dari lampiran data tanah di ketahui qu = 0. Cek kekuatan momen tiang : Mcrack = 14 tm > M = 13.5 = 13.5d + 0..5) + 0. Ok .5(0..Cu .....144 ¾ Kontrol terhadap Gaya Momen Setelah tiang dipancang Perumusan yang dipakai diambil dari buku “Daya Dukung Pondasi Dalam” : Mmax = H (e + 1.66715 = 0.25 × 0....66715. momen tidak diperkenankan melebihi Mcrack = 14 tm...5f) f = H 9...85 kg/cm2 Cu = = 4..47 tm M = Mmax = 16.627)) Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification..5(0.d Dimana: H = Lateral Load e d = jarak antara lateral load (H) dengan muka tanah = diameter pondasi 1 2 qu = 0. (0 + 1.

5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.145 7.579 ton Pu = 86.2.2 × 4.1. Kuat geser yang disumbangkan beton dirumuskan : 2 ⎞ ⎛ fc ' ⎞ ⎛ φ .5 mm • Kontrol Geser Pons Pada Poer Dalam merencanakan poer harus dipenuhi persyaratan kekuatan gaya geser nominal beton yang harus lebih besar dari geser pons yang terjadi. Oleh karena itu poer harus memiliki kekuatan yang cukup terhadap geser pons dan lentur. Hal ini sesuai yang disyaratkan pada SNI 03-2847-2002 pasal 13. Data perancangan poer : = 643.2 × 1 m3 Mutu beton (f’c) = 40 MPa Mutu baja (fy) = 410 MPa Diameter tulangan 25 mm Selimut beton = 50 mm Tinggi efektif (d) : dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.Vc = φ ⎜ 1 + ⎟ × bo × d ⎟⎜ ⎝ βc ⎠⎝ 6 ⎠ tetapi tidak boleh kurang dari : φ Vc = φ × ⅓ × f ' c × bo × d Dimana : .5 Perencanaan Poer Poer dirancang untuk meneruskan gaya dari struktur atas ke pondasi tiang pancang.2 ton P max (1 tiang) ∑ tiang pancang tiap group =9 Dimensi kolom = 700 × 700 mm2 Dimensi poer = 4.12.

21 ton φ Vc = 0.5) = 6500 mm Batas geser pons ⎛ 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 6500 × 937.146 βc = rasio dari sisi panjang terhadap sisi pendek beton dari 700 daerah beban terpusat atau reaksi = =1 700 bo = keliling dari penampang kritis pada poer bo = 2 (bk + d) + 2(hk + d) dimana : bk = lebar penampang kolom hk = tinggi penampang kolom d = tebal efektif poer • Kontrol geser pons pada tiang pancang tengah (akibat Kolom) bo = 2 (700 + 937.5) + 2 (700 + 912.339.5 = 7708051.805 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.08 ton P = 552. 40 × 6500 × 937.7 N = 1156.805 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.6 × ⎜1 + ⎟⎜ ⎜ ⎟ 1 6 ⎠⎝ ⎝ ⎠ = 115620777.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.8 N = 770.6 × ⅓.5 φ Vc = 0.08 ton < φ Vc = 770. .

08 ton < φ Vc = 574.6 × ⅓.5 = 2828736.4 × 937.4 N = 282.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.6 N = 574.08 ton P = 552. 40 × 2385.310 ton φ Vc = 0.4 × 937.147 • Kontrol geser pons pada tiang pancang pojok β c = rasio sisi terpanjang terhadap sisi terpendek (daerah beban terpusat) = 500 =1 500 bo = penampang kritis poer = 1 x πD + 800 + 800 4 = 2385.310 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.873 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.6 × ⎛ 1 + ⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎜ 1 6 ⎝ ⎠⎝ ⎠ = 5743104.5 φ Vc = 0. .4 mm Batas geser pons 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 2385.339.

2 × 2.2 + ½. 1.2.7.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.6 = 87 cm b = jarak tepi tiang pancang = 80 cm Penulangan arah x Penulangan lentur : Pmax = 96231 kg q = 4.85. poer dianalisa sebagai kantilever dengan perletakan jepit pada kolom.3) ⎝ 1000 ⎠ . teori Untuk penulangan lentur.672) = 23711 kg m = 23.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.148 • Penulangan Poer balok beban yang poer.8⎛ ⎜ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12. Gambar 7.40 × 1 =10. Sedangkan yang bekerja adalah beban terpusat di tiang kolom menyebabkan reaksi pada tanah dan berat sendiri Perhitungan gaya dalam pada poer didapat dengan mekanika statis tertentu.3 Analisa Poer Sebagai Balok Kantilever a = jarak poer ke tepi kolom + selimut kolom + db sengkang + 1/2 db kolom = 80 + 5 + 1.87) – (1/2 × 10080 x 1.

8 × 4200 × 937.85 × β 1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.039 = 0.5.149 40 − 30 ⎞ = 0.5 ρ perlu 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2 × 11.b.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.3.75 × 0.0018 Maka dipakai ρmin = 0.5 = 3543.0018 × 4200 × 937.8⎛ ⎜ ⎟ = 0.75 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) .0803 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.039 (SNI 03-2847-2002 pasal 12. 7087.765 0.5 = 7087.3) ρmax = 0.4.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.1) 400 = = 11.12.75 × ρb = 0.711 10 7 2 Rn = = = 0.765 × 0.765 ⎝ ⎠ = 0.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.0803 N/mm 2 2 φbd 0.5.85 × 40 Mu 23.3) ρbalance = ⎜ 600 + f ⎟ fy y ⎠ ⎝ 600 ⎞ = 0.0018 m= fy 0.85 × 0.85 × f ' c (SNI 03-2847-2002 pasal 9.0002 < ρ min = 0.85.As = 0.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.2.029 ρmin = 0.77 1000 ⎝ ⎠ ⎞ 0.d = 0.

765 0.5 2 .1) fy 400 = = 11.711 10 7 Mu 2 N/mm Rn = = = 0 .2.3.87) – (1/2 × 10080 x 1.039 ρmax = 0.75 × 0.3) (SNI 03-2847-2002 pasal 9.85 × 40 23.039 = 0.40 × 1 =10.85.2.2 × 2.7.672) = 23711 kg m = 23.8⎜ ⎟ ⎝ 1000 ⎠ ρbalance = 0.150 Penulangan arah y Pmax = 96231 kg q = 4.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.4.12.8⎛ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.85. 0875 φbd 2 0.8 × 4200 × 912.0018 m= (SNI 03-2847-2002 pasal 12.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.77 = 0.029 ρmin = 0.3) ⎟ ⎠ 600 ⎞ = 0.85 × β1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎜ 600 + f fy y ⎝ ⎞ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.85 × f ' c 0.3) ⎜ 1000 ⎠ ⎝ ⎛ 40 − 30 ⎞ = 0.75 × ρb = 0.85 × 0.

00021 < ρ min = 0.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.5.5 = 6898. Data – data perancangan : Dimensi sloof : b = 400 mm h = 600 mm Ag = 240000 mm2 Mutu bahan : fc’ = 30 MPa fy = 400 MPa Selimut Beton = 50 mm Tulangan utama D25 . berat dinding pada lantai paling bawah.d = 0.0018 Maka dipakai ρmin = 0.b. beban aksial tekan atau tarik yang berasal dari 10% beban aksial kolom.6 Perancangan Sloof Pondasi (Tie beam) Struktur sloof dalam hal ini digunakan dengan tujuan agar terjadi penurunan secara bersamaan pada pondasi atau dalam kata lain sloof mempunyai fungsi sebagai pengaku yang menghubungkan antar pondasi yang satu dengan yang lainnya.0018 × 4200 × 912.765 ⎝ ⎠ = 0.5.765 × 0.25 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) 7.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.5 = 3449.1. Adapun beban –beban yang ditimpakan ke sloof meliputi : berat sendiri sloof.As = 0.151 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ρ perlu 2 × 11.0875 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11. 6898.

5 kgm = 98535000 Nmm Rasio tulangan pakai : P 64357.22 = 14780.6 kg Penulangan Lentur pada Sloof Pu = 10% Pukolom = 10 %.6 × 2400 Berat dinding = 10 m × 250 = 576 = 2500 qu = 3076 kg/m kg/m + kg/m Panjang sloof = (panjang bentang – lebar poer)+daerah penjepitan = (10– 4.01 x 400 x 600 = 2400 mm2 Dipasang Tulangan 6D25 ( As = 2945.152 Tulangan sengkang = ∅12 Tinggi efektif (d) = 600 – (50 + 12 + ½ . L2 = 1/12 x 3076 x 6.5 mm Beban-beban yang terjadi pada sloof : Berat sendiri sloof = 0.18 kgm D (Vu) = ½ x qu.22 = 9853.2) + 0.4 = 6. L = ½ x 3076 x 6. 25) = 525.643579 = 64357.8–2 .4 × 0.10 = = 2. didapat ρ = 1 % Luas tulangan perlu : As = 0.9.41 kx = Ag.9kg Mutump = 9853.h 400 x600 x1000 Dari diagram interaksi M-N F 400–30–0.5 kgm Mulap = 1/8 x qu x L2 = 1/8 x 3076 x 6.2 mm2) .2 m Mutump = 1/12 x qu.2 = 9535.68 ky = Ag 400 x600 Mu 98535000 = = 0.

95 mm2 = As = 400 fy Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’ = 0.85 × 30 × 0.5 x As = 0.f' c.0035 ρmin = fy 400 ρmax = 0.4 1.75 ρb = 0.85 ⎛ 600 ⎞ = 0.85.Rn ⎞ ⎟ ⎜1 − 1 − ⎜ m⎝ fy ⎟ ⎠ .12 = 2 2 400 × 525.85 × 30 1.024 Mn 123168750 = = 1.475 mm2 Mu 98535000 Mn = = = 123168750 Nmm 0.22 = 9853.5 kgm = 98535000 Nmm D (Vu) = 10% Pukolom = 10 %.68 0. fy ρperlu = 1⎛ 2m.95 = 804.75 ⎟ ⎜ 400 ⎝ 600 + 400 ⎠ = 0.4 = = 0. L2 Mutump = 1/12 x 3076 x 6.5 bd 0.75 Rn ⎛ 600 ⎞ ⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ ⎟ ⎝ ⎠ 0.9kg = 643579 kg Tulangan tarik yang dibutuhkan : Vu 643579 = 1608.5 x 1608.β.8 ϕ 400 fy m = = = 15.85f' c 0.153 Penulangan Tarik pada Sloof qu = 3076 kg/m = 1/12 x qu.643579 = 64357.

154 2 × 15.13 = 327926.75 × 437235.5 N Karena Vu < ØVc.475 + 367.95 + 735.5 = 735.7 = 367. .33 mm2 Digunakan tulangan 3D25 (As = 1472.85 = 1172.37 mm2) Jumlah tulangan tekan : As’ + As1’ = 804.65 mm2 Digunakan tulangan 5D25 (As = 2454.7 = 2344.68 × 1. Ag ⎦ 95356 1 ⎡ ⎤ = 2 × × 35 × 400 × 539⎢1 + 6 ⎦ ⎣ 14 × 400 × 600 ⎥ 1 6 = 437235.0035 x 400 x 525.00497 ⎟ 400 15.0035 Tulangan tarik yang dibutuhkan : As1 = ρ b d = 0.12 ⎞ 1 ⎛ ⎜1 − 1 − ⎟ = 0.7 mm2 Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’1 = 0.5 x 735.68 ⎜ ⎝ ⎠ = ρmin > ρperlu Æ ρ = ρmin = 0. maka tidak perlu tulangan geser. Digunakan tulangan geser praktis Ø10 – 200.13 N ØVc = 0.6 kg = 95356 N Vc = 2 × × ⎡ Nu ⎤ fc × bw × dx ⎢1 + ⎥ ⎣ 14.5 x As1 = 0.35 N > Vu = 92956.6 mm2) ¾ Penulangan Geser Geser yang terjadi : Vu = 9535.85 mm2 Jumlah tulangan tarik : As + As1 = 1608.

dan balok anak terhadap beban-beban yang bekerja baik beban mati. beban hidup maupun beban terpusat.10.200. kontrol penampang (local buckling). kontrol lateral buckling dan kontrol geser.200.13 . maka dapat diambil kesimpulan antara lain : 1.155 BAB VIII PENUTUP 8. 2. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit. 3.16 Profil Balok Induk 1 : WF 500.8.9. Analisa balok dihitung terhadap kontrol lendutan. 5.14 Profil Balok Anak : WF 400. perhitungan kuat tekan aksial kolom. dan kontrol kombinasi aksial dan lentur. kontrol penampang (local buckling). Dilakukan perhitungan struktur sekunder terlebih dahulu seperti perhitungan tangga. Dari hasil pehitungan didapatkan data-data perencanaan sebagai berikut : Tebal Pelat Atap : 9 cm (atap) dan 10 cm (lantai) Tebal Pelat Lantai : 10 cm Dimensi Kolom : 70 x 70 cm Profil kolom : K 500. perhitungan kuat lentur kolom.10. 4. Dilakukan kontrol kekuatan struktur kolom komposit yang meliputi kontrol luas minimum beton pada kolom komposit. pelat lantai.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan. kontrol lateral buckling dan kontrol geser.200. Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : kontrol lendutan.200.20 Profil Balok Induk 2 : WF 500.

. agar dapat diperoleh hasil sesuai dengan yang direncanakan.2 Saran Pelaksanaan struktur dengan sistem komposit baja – beton harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat sebab pada bangunan baja. 8.156 Struktur bawah bangunan menggunakan tiang pancang pracetak dengan diameter 50 cm. keakuratan pemasangan sangat penting.

Charles & E. Rinaldy. Knobloch.Atanu.157 DAFTAR PUSTAKA G. John. 1999. Salmon. 1999.S. 1998 American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD).CE. Wahyudi. Daya Dukung Pondasi Dalam. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. . 2006. Purwono. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983. 2005 Spiegel & Limbrunner.Bandung : PT. Diterjemahkan oleh: Ir. Rene .Johnson. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua.Pradinya Paramita. Jakarta: Erlangga. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Muhammad. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. Herman. Rahmat. Amon.1991. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. Vebriano & Rustailang. Surabaya : ITS. Wira M. Bruce & Mazumder.

2 Nopember 1985. Penulis telah menempuh pendidikan formal. merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Fakultas dan Institut. Di jurusan Teknik Sipil ITS penulis mengambil bidang Struktur dan menyelesaikan studinya pada tahun 2009. yaitu SDN Karang Pilang 446 Surabaya. pada tahun 2005 penulis diterima di S1 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Penulis aktif sebagai Anggota sekaligus Fungsionaris Civil Engineering Computer Club (CECC) HMS-FTSP ITS.158 BIODATA PENULIS Penulis dilahirkan di Surabaya. SLTPN 16 Surabaya dan SMAN 15 Surabaya. Penulis aktif mengikuti beberapa kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Jurusan. selain itu penulis pernah pernah mengikuti beberapa kompetisi dan perlombaan baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi lain maupun perlombaan tingkat Nasional. Setelah lulus dari SMUN. .