P. 1
92519331 Hitungan Baja Profil

92519331 Hitungan Baja Profil

|Views: 27|Likes:

More info:

Published by: Jamal Muhammad Bahajaj on Mar 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2013

pdf

text

original

Sections

  • Gambar 2.1 Penampang balok komposit
  • Gambar 2.4. Penampang kolom komposit
  • Tabel 2.1.Ukuran Minimum Las Sudut
  • Gambar 4.1 Denah tangga
  • Gambar 4.3 Tampak anak tangga
  • Gambar 4.5 Sketsa pembebanan pelat tangga
  • Gambar 4.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga
  • Gambar 4.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga
  • Gambar 4.8 Sketsa profil Canal 260.90.10.14
  • Gambar 4.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes
  • Gambar 4.14 Potongan plat lantai 2
  • Gambar 4.15 Potongan plat lantai mesin lift
  • Gambar 4.18 Denah Lift
  • Gambar 4.20 Distribusi tegangan plastis
  • Tabel 5.1 Berat struktur per lantai
  • Gambar 5.2 Permodelan stuktur 3D
  • Tabel 5.2 Nilai Xcr dan Ycr
  • Tabel 5.4 Modal Participating Mass Ratio
  • Tabel 5.6 Simpangan
  • Tabel 5.7 Analisa ∆s akibat gempa arah x
  • Tabel 5.8 Analisa ∆s akibat gempa arah y
  • Tabel 5.9 Analisa ∆m akibat gempa arah x
  • Tabel 5.10 Analisa ∆m akibat gempa arah y

xviii DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampang balok komposit .................................. 8 Gambar 2.2 Distribusi tegangan plastis .................................... 9 Gambar 2.3 Metode transfornasi luasan ................................. 11 Gambar 2.4 Penampang kolom komposit ............................... 14 Gambar 4.1 Denah tangga ...................................................... 34 Gambar 4.2 Potongan A-A tangga .......................................... 34 Gambar 4.3 Tampak anak tangga ........................................... 35 Gambar 4.4 Tampak melintang anak tangga .......................... 36 Gambar 4.5 Sketsa pembebanan pelat tangga ......................... 37 Gambar 4.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga ............. 40 Gambar 4.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga ........... 43 Gambar 4.8 Sketsa profil Canal 260.90.10.14 ........................ 44 Gambar 4.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ........ 46 Gambar 4.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes ........................................................................ 48 Gambar 4.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga......................................................................... 49 Gambar 4.12 Potongan pelat Atap ............................................ 52 Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan 3 sampai dengan 11 .. 53 Gambar 4.14 Potongan plat lantai 2.......................................... 55 Gambar 4.15 Potongan plat lantai mesin lift ............................ 56 Gambar 4.16 Detail sambungan balok anak dan balok induk ... 66 Gambar 4.17 Detail plat siku ................................................... 68 Gambar 4.18 Denah lift ............................................................ 71 Gambar 4.19 Sketsa mekanika pehitungan balok penggantung lift ............................................................................................. 72 Gambar 4.20 Distribusi tegangan plastis .................................. 74 Gambar 4.21 Sketsa mekanika pehitungan balok penumpu lift 78 Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis .................................. 80 Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .............................................. 91 Gambar 5.2 Pemodelan Stuktur 3D ......................................... 92

xx DAFTAR TABEL
Tabel Tabel Tabel Table Table Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 2.1 Ukuran Minimum Las Sudut ...................................... 20 5.1 Berat Struktur per lantai.............................................. 90 5.2 Nilai Xcr dan Ycr........................................................ 95 5.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan ............................ pp96 5.4 Modal Participating Mass Ratio ................................. 99 5.5 Selisih Periode antar Mode yang Berdekatan ........... 100 5.6 Simpangan ................................................................ 102 5.7 Analisa Δs akibat gempa arah x ................................ 103 5.8 Analisa Δs akibat gempa arah y ................................ 103 5.9 Analisa Δm akibat gempa arah x .............................. 104 5.10 Analisa Δm akibat gempa arah y ............................. 105

xxii

kekakuan dan keunggulan ekonomis ( Vebriano Rinaldy & Muhammad Rustailang. Dari beberapa penelitian. Tower Albergo merupakan satu diantara empat tower The Bellezza. 2005 ). Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur. Kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung di kota tersebut sangat diperlukan salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal yang terus meningkat. Komposit balok baja dan pelat beton adalah satu usaha dalam mendapatkan suatu konstruksi yang baik dan efisien.1 Latar belakang Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang sangat padat. Sementara itu ketersediaan lahan untuk tempat tinggal di kota tersebut semakin sempit. (4) kapasitas menahan beban lebih besar. dimana pada beton bertulang gaya-gaya tarik yang dialami suatu elemen struktur dipikul oleh besi tulangan tetapi pada struktur komposit ini gaya-gaya tarik yang terjadi pada suatu elemen struktur dipikul oleh profil baja. (2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil.1 BAB I PENDAHULUAN I. Keistimewaan yang nyata dalam sistem komposit adalah (1) Penghematan berat baja. kemudian direncanakan ulang dengan menggunakan struktur komposit baja beton. struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan. (5) . Apartemen tersebut terdiri dari 36 lantai. Balok komposit merupakan campuran beton dengan baja profil. (3) kekakuan lantai meningkat. dimana tower tersebut merupakan gedung apartemen yang dibangun dengan menggunakan beton bertulang konvensional. hal tersebut menjadi satu alasan banyak bangunan tempat tinggal di kota Jakarta dibangun bertingkat dan salah satunya adalah Tower Albergo.

3. Bagaimana menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. Salmon. 4. I. . Bagaimana menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik.2 Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar ( Charles G. Dapat menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi.1991 ). Dapat menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. 2. Bagaimana menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. Bagaimana memodelkan dan menganalisa struktur setelah adanya modifikasi. yaitu : 1. Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur. 5.2 Permasalahan Permasalahan yang ditinjau dalam modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton.3 Tujuan Adapun tujuan dari modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. Pada Tugas Akhir ini menggunakan peraturan SNI 032847-2002 tentang tata cara perhitungan beton untuk bangunan gedung dan SNI 03-1726-2002 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung serta SNI 03-17292002 tentang tata cara perencanaan struktur baja. I. 2. antara lain : 1.

Tidak meninjau dari segi analisa biaya. struktur sekunder meliputi balok anak.5 Manfaat Manfaat yang bisa didapatkan dari modifikasi perencanaan ini adalah : 1. . Perencanaan struktur utama meliputi balok induk dan kolom. Dapat menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. 5. tangga dan pelat lantai. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6.0 I. Dapat memodelkan dan menganalisa struktur dengan menggunakan program bantu 4.4 Batasan masalah 1. Dapat merencanakan struktur komposit yang memenuhi persyaratan keamanan struktur. arsitektural. Meninjau metode pelaksanaan yang hanya berkaitan dengan perhitungan struktur. Analisa struktur menggunakan program bantu ETABS v9. 2. Dari perencanaan ini bisa diketahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan sehingga kegagalan struktur bisa diminimalisasi. 3. 4.2. dan manajemen konstruksi. 5. 2. Dapat merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur.3 3. I. Jumlah lantai yang akan direncanakan ulang menggunakan struktur komposit baja beton sebanyak 12 tingkat.

4 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

maka akan didapat pengurangan pada tebal seluruh lantai. Sifat-sifatnya yang terutama penting dalam penggunaan dibandingkan terhadap bahan lain yang tersedia dan sifat ductility. Apabila untuk mendapatkan aksi komposit bagian atas gelagar dibungkus dengan lempeng beton. Ductility adalah kemampuan untuk berdeformasi secara nyata baik dalam tegangan maupun regangan sebelum terjadi kegagalan (Charles G. Batang yang memikul lentur umumnya disebut dengan balok komposit sedangkan batang yang memikul beban tekan. 1991). Penampang komposit mempunyai kekakuan yang lebih besar dibandingkan dengan penampang lempeng beton dan gelagar baja yang bekerja sendiri-sendiri dan dengan demikian dapat menahan beban yang lebih besar atau beban yang sama dengan lenturan yang lebih kecil pada bentang yang lebih panjang.1999).1 Umum Baja merupakan salah satu bahan konstruksi yang penting.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. pekerjaan saluran pendingin ruangan. Dalam perhitungan perencanaan ada tiga macam metode perhitungan yaitu metode elastis. dan lain-lainnya. keadaan ini memberikan penghematan yang cukup besar dalam volume.(Amon. Penampang komposit adalah penampang yang terdiri dari profil baja dan beton digabung bersama untuk memikul beban tekan dan lentur. dan untuk bangunanbangunan pencakar langit. Salmon. dan metode LRFD (Load and Resistance Factor Design). dinding-dinding. . tekan dan lentur umumnya disebut dengan kolom komposit. pekerjaan saluran air. pekerjaan pemasangan kabelkabel. Knobloch & Mazumder. metode plastis.

Balok adalah elemen struktur yang memikul beban yang bekerja tegak lurus dengan sumbu longitudinalnya.Serviceability limit state: kelakuan struktur memikul beban Secara umum perumusan untuk pendekatan desain metode LRFD ini dapat dituliskan sebagai berikut : ϕRn ≥ γo ∑ γi Qi 2. Ada dua kategori yang menyatakan keadaan batas (limit state) : .1998).2 Balok komposit Balok adalah salah satu diantara elemen-elemen struktur yang paling banyak dijumpai pada setiap struktur.6 a) Metode Elastis Metode ini berdasarkan beban kerja dimana akibat beban kerja yang direncanakan tegangan yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan yang diijinkan.Strength limit state : kemampuan struktur memikul beban . Baja akan memiliki cadangan kekuatan di atas kekuatan elastis. Hal ini akan menyebabkan balok melentur (Spiegel & Limbrunner. Sehingga beban kerja yang direncanakan dikalikan dengan faktor beban dan struktur direncanaan berdasarkan kekuatan keruntuhan (collapse). Tegangan ijin = σy Teganganleleh atau w = FK FaktorKeamanan b) Metode Plastis Metode ini berdasarkan pada sifat baja yang mempunyai sifat daktilitas. yaitu suatu keadaan dimana struktur atau elemen struktur didesain sampai menunjukkan perilaku tidak dapat berfungsi lagi. . LF (Q) ≤ Rn c) Metode LRFD Metode ini berdasarkan pada konsep keadaan batas (limit state).

b. slip antara baja dan beton dianggap tidak terjadi (SNI 03-1729-2002 Ps. balok baja yang diberi selubung beton di semua permukaannya dianggap bekerja secara komposit dengan beton.12.6).12.2. 2) Posisi tepi atas balok baja tidak boleh kurang daripada 40 mm di bawah sisi atas pelat beton dan 50 mm di atas sisi bawah plat. . kekuatan balok dalam memikul lentur dibatasi oleh kekuatan penghubung geser. Balok komposit penuh Untuk balok komposit penuh. c. 3) Selubung beton harus diberi kawat jaring atau baja tulangan dengan jumlah yang memadai untuk menghindari terlepasnya bagian selubung tersebut pada saat balok memikul beban. selama hal-hal berikut terpenuhi (SNI 031729-2002 Ps. Pada penentuan distribusi tegangan elastis. harus mempertimbangkan pengaruh adanya slip antara baja dan beton (SNI 03-1729-2002 Ps.1980). Balok komposit parsial Pada balok komposit parsial. seperti pada penentuan defleksi atau tegangan akibat beban layan. kecuali yang disebutkan pada butir ke-2 di bawah. 12.7 Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang kekuatannya bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan (Bowles. penghubung geser harus disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga balok mampu mencapai kuat lentur maksimumnya.2. Balok baja yang diberi selubung beton Walaupun tidak diberi angker. Perhitungan elastis untuk balok seperti ini.2. Beberapa jenis balok komposit antara lain : a.7).8) 1) Tebal minimum selubung beton yang menyelimuti baja tidak kuang daripada 50 mm.

9 dan Mn dihitung berdasarkan superposisi tegangan-tegangan elastis yang memperhitungkan pengaruh tumpuan sementara plastis pada penampang komposit.Kuat Lentur negatif rencana φ b .Mn harus dihitung untuk penampang baja saja.1) : .2. h 1680 .2) : .2.85 dan Mn dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis pada penampang komposit.4.8 a) Balok Komposit (tanpa deck) b) Balok baja diberi selubung beton Gambar 2.1 Kekuatan Balok Komposit dengan Penghubung Geser a.untuk > tw fy dengan φ b = 0.4.1 Penampang balok komposit 2.untuk h ≤ 1680 tw fy dengan φb = 0.Kuat Lentur positif rencana ditentukan sebagai berikut (LRFD Pasal 12. b.2. dengan mengikuti ketentuanketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12.

Distribusi tegangan plastis (Sumber :Charles G.85.2.2.2.beff . Menentukan gaya tekan ( C ) pada beton : C = 0.tp.fy Dipilih nilai yang terkecil dari kedua nilai di atas .9 2.f’c.Untuk gelagar interior : bE ≤ L 4 bE ≤ bo (untuk jarak balok yang sama) .3 Menghitung momen nominal Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis : Gambar 2.2 Lebar efektif plat lantai : .Untuk gelagar eksterior : bE ≤ L 8 bE ≤ bo + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab) dimana : L = bentang balok bo = bentang antar balok 2. 1996) • Menghitung momen nominal ( Mn ) positif 1. Salmon. Menentukan gaya tarik ( T) pada baja : T = As.

Pf = bf . Menentukan tinggi blok tekan effektif : As. 1.0.Menghitung jarak ke centroid d1 = hr + tb – c ( Pf . Kekuatan momen nomimal : Mn = C.tf ) + ( Pw(tf + 0. f ' c.fy Gaya pada sayap .Menghitung momen ultimate : Mn = T(d1 + d2) + Pyc(d3 .85.a web ) d2 = Pf + Pw d3 = d 2 3.fyr Pyc = As.Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja T = n.beff 3. Pw = Pyc − T − Pf 2 aw = Pw tw. fy 2.Ar.10 2.d 1 atau T. fy Gaya pada badan . fy⎜ + ts − ⎟ 2⎠ ⎝2 • Menghitung momen nominal ( Mn ) negatif.5. fy a= 0.tf .5.d1 Bila kekuatan nominal dinyatakan dalam bentuk gaya baja akan diperoleh : a⎞ ⎛d Mn = As.d2) .

GNE . fc' Mpa . ts 2. Metode transformasi luasan Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis : 1..... Menghitung momen inersia penampang transformasi It = b . Menentukan letak garis netral penampang transformasi (dimomen ke ambang atas) ts ⎛ A . untuk beton normal.3. Menghitung modulus penampang transformasi yc = GNE yt = d + ts + hr . Menghitung nilai transformasi beton ke baja Ec = 4700 . +⎜ ⎜ As tr 2 ⎝ GNE = A + ( tr d ⎞⎞ ⎛ ... Es = 200000 Mpa n = Es Ec btr = beff n Atr = btr .11 b efektif btr ts hr GNE komposit GNE d GN baja yt Gambar 2. ⎜ ts + ⎟ ⎟ 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ A s ) 3.... ( ts)3 tr 12 2 ⎞ ⎛ ⎞ ⎛⎛ d ⎞ ts ⎟ ⎜ + Ix + A ⎜ + A GNE − ⎜ + ts + hr ⎟ − GNE ⎟ ⎟ tr ⎜ s⎜ 2 ⎟ 2 ⎝ ⎠ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ 2 4.

Asc.t = I tr yt 5.3) Qn = 0.12 I Str.6 * ⎜ ⎟*⎜ hr hr ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Nr = jumlah stud setiap gelombang Hs = tinggi stud Hr = tinggi bondek Wr = lebar effektif bondek Asc = Luas penampang shear connector fu = Tegangan putus penghubung paku/stud Qn = Kuat nominal geser untuk penghubung geser Jumlah penghubung geser (shear connector) yang dibutuhkan yaitu : n = C Qn . fc’ .fu ⎜ ⎝ ⎟ ⎠ ⎛ ⎜ ⎞ ⎟ Dimana : rs untuk balok tegak lurus balok : 0.85 . Menghitung momen ultimate Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh digunakan dari nilai yang terkecil dari : Mn1 = 0.t Jadi : Mu ≤ ∅ .4 Penghubung Geser Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal 12.85 ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 *⎜ ⎟*⎜ Nr ⎝ hr ⎠ ⎝ hr ⎠ rs untuk balok sejajar balok : ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ − 1⎟ ≤ 1 rs = 0.c Mn2 = fy .⎜⎜ fc'. n .rs ≤ Asc. Str. Str. Mn 2.Ec ⎟⎟.c = tr yc dan Str.2.5.6.

Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penghuni banguna tersebut. Lendutan diperhitungkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : Lendutan yang besar dapat mengakibatkan rusaknya barangbarang atau alat-alat yang didukung oleh balok tersebut.Perhitungan lendutan pada balok berdasarkan beban kerja yang dipakai di dalam perhitungan struktur.I 48. bukan berdasar kan beban berfaktor.13 2.2.ql 4 = untuk beban terbagi merata. dan 384.E.E.I 3 ƒmax = Pl untuk beban terpusat di tengah bentang .5 Kontrol lendutan (Deflection) Batasan lendutan atau deflection pada biaya telah diatur didalam SNI 03-1729-2002. Besar lendutan dapat dihitung dengan rumus : ƒmax 5. Penampilan dari suatu struktur akan berkurang dari segi estetika dengan lendutan yang besar.

14 2. yaitu : • Kolom komposit yang terbuat dari profil baja yang diberi selubung beton di sekelilingnya (kolom baja berselubung beton). Ada dua tipe kolom komposit. 1996). 1.1) : Luas penampang profil baja minimal sebesar 4% dari luas penampang komposit total. • Kolom komposit terbuat dari penampang baja berongga (kolom baja berintikan beton). Penampang kolom komposit Kriteria untuk kolom komposit bagi komponen struktur tekan (SNI 03-1729-2002 Ps.3. .3 Kolom Komposit Kolom komposit didefinisikan sebagai “ kolom baja yang dibuat dari potongan baja giling (rolled) built-up dan di cor di dalam beton struktural atau terbuat dari tabung atau pipa baja dan diisi dengan beton struktural (Salmon & Jonson.12. Selubung beton untuk penampang komposit yang berintikan baja harus diberi tulangan baja longitudinal dan tulangan pengekang lateral. Profil Baja dibungkus beton Pipa baja O didisi beton Gambar 2.4.

85 Nn = As fcr dan fcr = untuk untuk fmy λr ≤ 0.25λc 2 maka ω = untuk λr ≥ 0.25 ≤ λr ≤ 1.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI 03-1729-2002 Ps. 5. Tebal minimum dinding pipa baja atau penampang baja berongga yang diisi beton adalah b fy / 3E untuk setiap sisi selebar b pada penampang persegi dan D fy / 8 E untuk penampang bulatyang mempunyai diameter luar D. 3. .3. Tulangan baja longitudinal harus menerus pada lantai struktur portal. Tegangan leleh profil dan tulangan baja yang digunakan untuk perhitungan kekuatan kolom komposit tidak boleh lebih dari 380 Mpa. Jarak antar pengikat lateral tidak boleh melebihi 2/3 dari dimensi terkecil penampang kolom komposit.15 2.6 − 0.2 ω maka ω = 1 1.2) Kuat rencana kolom komposit yang menumpu beban aksial adalah øc Nn dengan øc = 0. Mutu beton yang digunakan tidak lebih 55 Mpa dan tidak kurang dari 21 Mpa untuk beton normal dan tidak kurang dari 28 Mpa untuk beton ringan. kecuali untuk tulangan longitudinal yang hanya berfungsi memberi kekangan pada beton.67λc maka ω = 1. Luas minimum penampang tulangan transversal (atau lonitudinal) terpasang. 2. 12.3.25 dengan . Tebal bersih selimut beton dari tepi terluar tulangan longitudinal dan transveersal minimal sebesar 40 mm.43 1. 4.25 0.

mm adalah parameter kelangsingan adalah faktor reduksibeban aksial tekan adalah faktor tekuk E m adalah modulus elastisitas untuk perhitungan kolom f cr fy fy fc ' kc Nn rm λc ω øc .041w1. MPa komposit. MPa adalah tegangan leleh profil baja. MPa adalah modulus elastisitas beton.16 λc = kcL rmπ fmy Em ⎛ Ar ⎞ ⎛ Ac ⎟ fmy = fy + c1 fyr ⎜ + c fc ' ⎜A ⎟ 2 ⎜ ⎜A ⎝ s⎠ ⎝ s ⎛ Ac ⎞ E m = E + c3 E c ⎜ ⎜A ⎟ ⎟ ⎝ s⎠ E c = 0. MPa adalah tegangan leleh untuk perhitungan kolom komposit. N adalah jari-jari girasi kolom komposit. mm2 adalah modulus elastis baja.5 f 'c ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Keterangan : As adalah luas penampang beton. MPa adalah faktor panjang efektif kolom adalah kuat aksial nominal. MPa adalah kuat tekan karakteristik beton. MPa adalah tegangan tekan kritis. mm2 Ar E Ec adalah luas penampang tulangan longitudinal.

90 (struktur lentur) Mnx .85 . dimana : Nu = Gaya aksial (tarik atau tekan) terfaktor.85 (struktur tekan) ∅b = 0.85 . Untuk pipa baja yang diisi beton : c1 = 1.Nn 9 ⎢⎣⎢ϕ b.dan c3 =0. c1 .4 Kekuatan rencana kolom komposit yang menahan beban kombinasi aksial dan lentur (LRFD Pasal 7. Nu ≥ 0. ϕ c.2 a.17 Pada persamaan di atas. Mny =Momen lentur nominal penampang komponen struktur masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y. N.ϕ . N.Nn ⎡ ⎤ Nu + ⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1.2 ϕ c.Mny ⎥⎥⎦ b. N Nn = Kuat nominal penampang.Mnx ϕ b. Muy =Momen lentur terfaktor masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y.dan c3 =0. c 2 = 0.3.mm Mux .Nn ⎢⎢⎣ϕ b.3).Nn ⎡ ⎤ Nu + 8 .4 b). c 2 = 0.Mny ⎥⎦⎥ Nu < 0. Untuk profil baja yang diberi selubung beton : c1 = 1.Mnx ϕ b. c 2 .4.0 ϕ .0 2 .mm .⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1. N ∅ = Faktor reduksi kekuatan ∅c = 0.dan c3 adalah koefisien yang besarnya a).

2. Sambungan semi kaku / Semi rigid connection adalah sambungan yang tidak memiliki kekakuan yang cukup mempertahankan sudut-sudut diantara komponenkomponen struktur yang disambung. Semi Rigid Connection Rigid Connection Rigid Connection Gambar 2. 2. dan pelat penyambung) dan alat pengencang (baut dan las).4.4 Sambungan Sambungan terdiri dari komponen sambungan (pelat pengisi. namun harus dianggap memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan kekangan yang dapat diukur terhadap perubahan sudutsudut tersebut 3. Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sanbungan. Sambungan pada baja . Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. pelat buhul.5. Sambungan kaku / Rigid connection adalah sambungan yang dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut-sudut di antara komponenkomponen struktur yang akan disambung.1 Klasifikasi sambungan : 1. pelat pendukung.18 2. Sambungan sendi / Simple connection adalah sambungan yang pada kedua ujung komponen struktur dianggap bebas momen.

4.fv.db.4.8)fy.1.3) Jarak minimum antar baut : 3db (LRFD 13. Gaya dalam yang disalurkan berada dalam keseimbangan dengan gaya-gaya yang bekerja pada sambungan.3 Sambungan Baut Kuat geser φRnv Kuat tumpu φRnt Jumlah baut.Ab. 2.4. n = Vu = φ.tp φRn diambil yang terkecil Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum : 1. Deformasi pada sambungan masih berada dalam batas kemampuan deformasi sambungan.3) Kontrol Kekuatan Pelat φPn = 0. 13.3) : 1.19 2.4.1) Jarak maksimum antar baut : 15tp atau 200 mm (LRFD 13.(1. Perencanaan sambungan harus memenuhi persyaratan (SNI 03-1729-2002 Ps.2) Jarak tepi maksimum : (4tp + 100 mm) atau 200 mm (LRFD 13.2 Perencanaan sambungan Kuat rencana setiap komponen tidak boleh kurang dari beban terfaktor yang dihitung.4 Sambungan Las Ru ≤ ϕRnw dengan.6 × fu × Anv Vu < φPn 2. Sambungan dan komponen yang berdekatan harus mampu memikul gaya-gaya yang bekerja padanya. 3. 2.75 × t e × (0. φf .4.Rnw = 0.m = φ.75 × 0.4.6 × fuw) (las) .5db (LRFD 13.4.

Pondasi dalam ini ada beberapa macam jenis.Rnw = 0. Dalam perencanaan pondasi ada dua jenis pondasi yang umum dipakai dalam dunia konstruksi.5. yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar . dikatakan pondasi dalam jika perbandingan antara kedalaman pondasi (D) dengan diameternya (B) adalah lebih besar sama dengan 10 (D/B > 10). 2.6 × fu ) (bahan dasar) keterangan : fuw : tegangan tarik putus logam las fu : tegangan tarik putus bahan dasar te : tebal efektif las (mm) Tebal minimum las sudut.20 φf . yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.Ukuran Minimum Las Sudut 2. Pondasi dangkal dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif kecil.75 × t e × (0. a (mm) 3 4 5 6 Tebal bagian paling tebal.1. pondasi caisson dan lain sebagainya. Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal. t (mm) t ≤ 7 7 < t ≤ 10 10 < t < 15 15 < t Tabel 2.1 Pondasi Tiang Pancang a.5 Perencanaan Pondasi Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah. pondasi tiang bor ( pondasi sumuran ). sedangkan untuk pondasi dalam dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif besar seperti pada gedung yang berlantai banyak. antara lain pondasi tiang pancang.

K ) .21 tiang pondasi ( Qp ) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah ( Qf ). As = ⎛ + 1⎟ . Ap dengan : Np K = Harga rata-rata SPT di sekitar 4B di atas hingga 4 B di bawah dasar tiang pondasi = Koefisien karakteristik tanah = 12 t/m2. As ⎜ 3 ⎝ ⎠ . Hasil daya dukung yang menentukan yang dipakai sebagai daya dukung ijin tiang. Perhitungan daya dukung tiang pancang ini dilakukan berdasarkan hasil uji Standard Penetration Test ( SPT ) menurut Luciano Decourt ( 1982 ) Ql = Qp + Qs dimana : Qp = qp . untuk tanah pasir Ap qp = Luas penampang dasar tiang = tegangan di ujung tiang Ns ⎞ Qs = qs . Sehingga daya dukung total dari tanah dapat dirumuskan : Qu = Qp + Qs Disamping peninjauan berdasarkan kekuatan tanah tempat pondasi tiang pancang di tanam. Ap = ( Np . untuk tanah lempung = 20 t/m2. daya dukung suatu tiang juga harus ditinjau berdasarkan kekuatan bahan tiang pancang tersebut. yaitu : • Daya dukung tiang pancang tunggal yang berdiri sendiri • Daya dukung tiang pancang dalam kelompok. Perhitungan daya dukung dapat ditinjau dari dua keadaan. untuk tanah lanau berpasir = 40 t/m2. untuk tanah lanau berlempung = 25 t/m2.

Qijin 1 tiang = Dimana : SF N’ N = safety factor = 3 = harga SPT di lapangan = harga SPT setelah dikoreksi = 15 + [ ( N’ – 15 ) /2 ] Qu SF b. Dari problema ini. Untuk daya dukung batas. Daya dukung dukung tiang kelompok Disaat sebuah tiang merupakan bagian dari sebuah group. dapat dibedakan dua fenomena sebagai berikut : ¾ Pengaruh group disaat pelaksanaan pemancangan tiang-tiang ¾ Pengaruh group akibat sebuah beban yang bekerja Proses pemancangan dapat menurunkan kepadatan di sekeliling tiang untuk tanah yang padat. Namun untuk kondisi tanah didominasi oleh pasir lepas atau dengan tingkat kepadatan sedang. pengaruh dari sebuah group tiang pondasi tidak perlu diperhitungkan bila jarak as ke as antar tiang . pemancangan dapat menaikkan kepadatan disekitar tiang bila jarak antar tiang < 7 s/d 8 diameter.22 Dengan : qs Ns As = tegangan akibat lekatan lateral dalam t/m2 = harga rata-rata sepanjang tiang yang tertanam. karena pengaruh dari group tiang tersebut. daya dukungnya mengalami modifikasi. dengan batasan : 3 ≤ N ≤ 50 = keliling x panjang tiang yang terbenam Daya dukung ijin dari satu tiang pancang yang berdiri sendiri adalah daya dukung tiang total dibagi dengan suatu angka keamanan.

x max M x . maka besarnya beban vertikal yang bekerja pada sebuah tiang adalah : ekivalen (Pv) V M y . Sebaliknya. dan momen (M). Untuk kasus daya dukung group pondasi.5 diameter tiang.y max dimana : Pv = ± ± 2 2 n ∑x ∑y Pv = Beban vertikal ekivalen V = Beban vertikal dari kolom n = banyaknya tiang dalam group Mx = momen terhadap sumbu x My = momen terhadap sumbu y xmax = absis terjauh terhadap titik berat kelompok tiang ymax = ordinat terjauh terhadap titik berat kelompok tiang 2 ∑x = jumlah dari kuadrat absis tiap tiang terhadap garis netral group . digunakan cara Converse – Labarre : arc tan (∅ / s ) ⎛ 1 1⎞ Ce = 1 − ×⎜2 − − ⎟ 90° m n⎠ ⎝ dimana: ∅ : diameter tiang pondasi S : jarak as ke as antar tiang dalam group m : jumlah baris tiang dalam group∅ n : jumlah kolom tiang dalam group 2. harus dikoreksi terlebih dahulu dengan koefisien efisiensi Ce.5. horizontal (H).2 Repartisi beban-beban diatas tiang kelompok Bila diatas tiang-tiang dalam kelompok yang disatukan oleh sebuah kepala tiang (poer) bekerja beban-beban vertikal (V).23 adalah > 3 diameter. QL (group) = QL (1 tiang) × n × Ce n = jumlah tiang dalam group Untuk menghitung koefisien efisiensi Ce. jarak minimum antar tiang dalam group adalah 2 s/d 2.

24 ∑y2 = jumlah dari kuadrat ordinat tiap tiang terhadap garis netral group nilai x dan y positif jika arahnya sama dengan arah e.5D ≤ S ≤ 3D 1. Perhitungan jarak tiang ( Dirjen Bina Marga Departemen PU) sebagai berikut : 2. D = diameter tiang pancang. . dan negative bila berlawanan dengan arah e.5D ≤ S1 ≤ 2D dimana : S = jarak antar as tiang pancang. S1 = jarak as tiang pancang ke tepi.

1 Bagan Alir Penyelesaian Tugas Akhir Mulai Pengumpulan Data Studi Literatur Perencanaan Struktur Sekunder Preliminary Desain dan Pembebanan Pemodelan dan Analisa Struktur Not Ok Kontrol Desain Ok Perencanaan Pondasi Penggambaran Hasil Perencanaan Selesai .25 BAB III METODOLOGI 3.

Lebar bangunan : 27 m 8. Herman. Charles & E.Data umum bangunan (kondisi Awal) 1.Pradinya Paramita. Knobloch. Bruce & Mazumder. 2006. c. Mempelajari data-data perencanaan secara keseluruhan yang mencakup: .26 3. Salmon. Muhammad. Jumlah lantai : 36 lantai + Atap 6. Tinggi Bangunan : 140. Fungsi : Apartemen 5. Nama Gedung : Gedung Albergo 2.CE.Johnson. G.2 Mengumpulkan data yang berkaitan dengan perencanaan Mempelajari gambar eksisting sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan modifikasi perencanaan. 2005 f. Jakarta 3. Lokasi : JL. 1999. Struktur Utama : Struktur beton bertulang . Surabaya : ITS. b. Spiegel & Limbrunner.Data Bahan 3. Daya Dukung Pondasi Dalam. Rinaldy.7 m 10. . Panjang banguna : 40 m 7. Rene . Wira M.3 Studi literatur Mencari literatur dan peraturan gedung (building code) yang menjadi acuan dalam pengerjaan tugas akhir ini. Letjen Soepono.Atanu. 1999.S. d. Vebriano & Rustailang. John.1991. Purwono. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. Jakarta: Erlangga. Wahyudi.Bandung : PT. Diterjemahkan oleh: Ir. Amon. American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD). 1998 g. Adapun beberapa literatur serta peraturan gedung tersebut antara lain adalah sebagai berikut : a. e. Rahmat.

27 h. Perencanaan balok anak e..5. j.. Perencanaan pelat lantai c. Dimana : Mu : momen ultimate beban ø : faktor reduksi lentur Mn : momen nominal Zp : momen tahan plastis fy : tegangan leleh baja ... i..dari nilai Zp didapat rencana fy awal dimensi balok. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983.. Perencanaan pelat atap d. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung.5 Preliminary Design dan Pembebanan 3. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.. Perencanaan balok lift 3.. 3..(asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) Zp = Mn ……. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. k.1 Preliminary Design Balok Mu φ = Mn Mn = Zp x fy .4 Perencanaan Struktur Sekunder a. Perencanaan tangga b..

Yang nilainya sebagai berikut : Berat volume beton : 2400 kg/m3 (tabel 2. Pembebanan tersebut antara lain : a.1) Berat volume tegel : 2400 kg/m3 (tabel 2.1) Berat volume aspal : 1400 kg/m3 (tabel 2.28 3. Beban Mati (PPIUG 1983 Bab1 pasal 1.1) Berat volume ps bata merah : 250kg/m2 (tabel 2. mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu.1) Berat dinding partisi : 40 kg/m2 (tabel 2.3 Pembebanan Perencanaan pembebanan pada struktur ini berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983 dan SNI 03-1726-2002.5.2 Preliminary dimensi kolom pu φ pn (asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) fy = A Pn dari nilai A didapat rencana awal dimensi kolom.1) Berat volume plafond : 11 kg/m2 (tabel 2. A= fy Dimana : Pu : gaya aksial ultimate beban ø : faktor reduksi gaya aksial tekan Pn : momen nominal A : luas penampang = Pn 3.1) .1) Berat volume spesi : 2100 kg/m3 (tabel 2.5.1) Berat volume AC dan perpipaan : 10 kg/m2 (tabel 2.1) Berat volume penggantung : 7 kg/m2 (tabel 2. penyelesaian-penyelesaian.1) Beban mati ialah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan.

ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam pasal 4. mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu. 2) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung.1) .29 b.1) . Beban Gempa (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.2.1) c. 3) Beban angin ialah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.3 (PPIUG 1983).4) Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang . .Beban hidup pada tangga diambil sebesar 300 kg/m2 (tabel 3. d. Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam kg/m2. dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang barang yang dapat berpindah.1) . sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut. Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan).Beban hidup pada lantai diambil sebesar 250 kg/m2 (pasal 3.Beban hidup pada lantai atap diambil sebesar 100 kg/m2 (pasal 3. Beban Angin (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. Beban Hidup (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau.Beban hidup pada lantai mesin elevator diambil sebesar 400 kg/m2 (tabel 3.2 (PPIUG 1983) dengan kefisienkoefisien angin yang ditentukan dalam pasal 4.

(pasal 8. (pasal 4.. n = Jumlah tingkatnya Simpangan antar lantai (SNI 03 – 1726 – 2002) .. T1 = Cc (hn)3/4 R = Gaya geser dasar Nominalstatik ekuivalen = Faktor reduksi gempa = Waktu getar alami fundamental = Berat total gedung = Faktor kepentingan struktur = Tinggi total gedung = Faktor respons gempa Pembatasan waktu getar alami fundamental (Pasal 5....Kinerja batas ultimit : ΔM = ΔS * ξ ..03 / R Ambil terkecil (pasal 8.. maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu....6 SNI 03 – 1726 – 2002): T1 < ς n dimana : ς = Koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada (Tabel 8)..3.1) ΔS = 30 mm Dimana : R = RSRPMB Baja = 4..... ditetapkan sebagai berikut: V = dimana : V R T1 Wt I Hn C1 C1 × I × Wt ..6) .30 menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu.5 . V.....Kinerja batas layan : ΔS = 0. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik.2) . Gaya geser dasar rencana total...

2-6) 3.1. tahap selanjutnya yaitu kita mendesain pondasi bangunan. 3.1.2-3) .2 D + 1. Bila tidak memenuhi maka dilakukan re-design. serta efisiensi.2.9 Penggambaran hasil perhitungan dalam gambar teknik Penggambaran hasil Perencanaan dan perhitungan dalam gambar teknik ini dengan menggunakan program bantu AutoCAD.3 W + γL L + 0.9 D – (1.8 Perencanaan Pondasi Setelah perencanaan bangunan atas selesai. Bila telah memenuhi maka dapat diteruskan ke tahap pendetailan.7 Kontrol Desain Setelah melakukan analisa struktur bangunan. 3.6 Pemodelan dan Analisa Struktur Untuk mengetahui gaya dalam yang timbul pada elemen struktur akibat beban yang bekerja maka dilakukan analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS v9.1.2-1) (6.31 ¾ Kombinasi Pembebanan Kombinasi Pembebanan sesuai dengan LRFD tersebut di atas dengan kombinasi sebagai berikut (metode LRFD) : .0 E + γL L .6 L + 0. tahap selanjunya kita kontrol desain meliputi kontrol terhadap kolom.2 D + 1.8 W) (6. balok. 3.2-5) .3W atau 1.0.1. dan peraturan angka keamanan.0 E) (6. .5 (La atau H) (6.2-2) .4 D (6.1.2-4) .2 D + 1.2 D + 1.6 (La atau H) + (γL L atau 0.5 (La atau H) (6.0. dan juga perhitungan sambungan dimana dari kontrol tersebut dapat mengetahui apakah desain yang kita rencanakan telah sesuai dengan syarat-syarat perencanaan.

32 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

5 17.....1 Data perencanaan Tinggi antar lantai Tinggi bordes Lebar injakan Panjang tangga Lebar pegangan tangga = 425 cm = 212..Ok a = arc tg ⎛ ⎜ ⎟ .....5 ⎞ = 30..5 = 13 buah = 12 buah = 140 cm = 150 cm = 360 cm = 330 cm Jumlah injakan ( n ) =13-1 Lebar bordes Lebar tangga Panjang Tangga Panjang Bordes ⎝ 30 x12 ⎠ 212.1.Perhitungan jumlah injakan tangga Tinggi injakan ( t ) = 65 − 30 = 17.33 BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 4..1..55º .Persyaratan – persyaratan jumlah injakan tangga 60 cm < ( 2t + i ) < 65 cm 25º < a < 40º Dimana : t = tinggi injakan (cm) i = lebar injakan (cm) a = kemiringan tangga ....5 cm = 30 cm = 360 cm = 5 cm 4..1 Perencanaan Tangga 4.2 Perecanaan Jumlah Injakan Tangga .5 cm Jumlah tanjakan = 2 212..

2 Potongan A – A tangga .34 Pelat Combideck t= 9 cm Balok Utama Tangga Channel 260x90x10x1 Pelat Anak Tangga t= 3 mm Gambar 4.1 Denah tangga Gambar 4.

003 x 1.50 x 7850 = 35.3 Perencanaan Pelat Tangga Pelat baja t=3mm Profil Siku 60.3 Tampak anak tangga .Perencanaan tebal pelat tangga Tebal pelat tangga = 3 mm = 0.437 kgm = 0.437 kgm 5.32 = = 0.53 kg/m + qD = 38.Perencanaan pembebanan pelat tangga Beban Mati Berat pelat = 0.35 4.003 m Berat jenis baja = 7850 kg/m3 Mutu baja Bj 41→Tegangan leleh baja = 2500 kg/cm2 .4 MD = 1.612 kgm .858 kg/m Beban Hidup qL = 300 x 1.325 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 3.60.063 kgm Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.32 ML = 1/8 q L l2 = 0.125 x 38.858 x 0.6 30 cm 150 cm Gambar 4.125 x 450 x 0.1.50 = 450 kg/m Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 q D l2 = 0.4 x 0.

...32 = 3..6 x 5...0.1..625 kgm.82 cm 4 iy = 1..8 cm4 ix = 1.0804 < 0..4 Perencanaan Penyangga Pelat Injak Direncanakan menggunakan profil siku 60x60x6. dengan data sebagai berikut : b = 60 mm Ix = 22....625 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur Zx = ¼ bh2 = 0.Ok Kontrol Lendutan f = L = 30 = 0..437 + 1.375 cm3 φMn = φZx x fy = 0.36 MU = 1.2 x 0.9 x 3.25 x 150 x 0.375 x 2500= 7593.75 kgcm Syarat : φMn > Mu 75...8 cm 2 Zx = 9. 35 30 + = 365 2..3375 cm4 12 12 4 Ymax = 5 (q D + q L )l < f 384 EI x 4 ( ) 5 0 ..10 6.063 = 8.94 kgm > 8....33 = 0..82 cm tw = 6 mm Iy = 22.0833 cm 360 360 Ix = 1 bh 3 = 1 x 150 x 0.....91 cm Gambar 4..42 kg/m A = 6.6 ML = 1.2 MD + 1...Ok 4..83 cm3 W = 5..0833 ..4 Tampak melintang anak tangga .... 38858 4 .3375 = 0.

100.l ) + 1 ( 1.5(1.895 kg/m + qD = 9.P.qD.533 kg/m Berat baja siku 60x60x6 = 5.1.827 kgm ML = 1/3(PL) → akibat beban terpusat = 1/3.863 Kg .15 x 0.5 Sketsa pembebanan pelat tangga Beban Mati ( ½ lebar injakan) Berat pelat = 0.953 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 0.6.42 kg/m + = 8.125 x 45 x 1.15 = 45 kg/m pL = 100 = 100 kg Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 qD l2 = 0.2.50) + 0.848 x 1.5(1.769 kgm ML = 1/8 qL l2 → akibat beban merata = 0.37 - Perencanaan pembebanan P=100Kg P=100Kg VA VB Gambar 4.2.9.150 = 5000 kg cm = 50 kgm Vu = 1 ( 1.125 x 9.6.502 = 2.2) = 168.100.502 = 11.2 ) 2 2 = 0.848 kg/m Beban Hidup ( 1/2 lebar injakan ) qL = 300 x 0.003 x 7850 = 3.848.

6 ML = 1...6 x 50= 83.877 kgm MU = 1.323 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur φMn = φZx x fy = 0...625..106 x 22.Ok Kontrol Lendutan f = L = 150 = 0.....38 Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.625 cm 240 240 Ix = 22..2 x 2...4 MD = 1..5 kgcm = 221.9 x 9....4 x 2..8 cm4 4 3 ( ) + q q l Pl 5 23 D L Ymax = + 384 EI x 648 EI x 3 4 ( ) 100 + 100 x 150 23 ( ) 5 0 ..2 MD + 1..323 kgm........8 = 0.605 < 0.Ok ..83 x 2500 = 22117.175 kgm > 83.10 6 x 22...175 kgm Syarat : φMn > Mu 221. 09848 + 0 ....8 384 2..769 + 1.769 = 3. 45 150 = + 648 2...

75mm.6 Desain Balok Utama Tangga Balok utama tangga dianalisa dengan anggapan terletak di atas dua tumpuan sederhana dengan menerima beban merata dari berat sendiri dan beban dari anak tangga.1.1 kg/m2 .spesi lantai t = 1cm = 1.4 m .Beban Mati .Pelat beton t = 9 cm = 0.21 kg /m2 = 21 kg/m2 .5 Desain Bordes Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.1 kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226.lantai keramik t = 1cm = 24 kg/m2 = 1. Pembebanan a.09 m.2400 kg/m3 qD2 = 10.1.Pelat lantai bondek = 10.Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing : .tebal pelat beton = 9 cm b.bentang (span) = 1.1 kg/m2 4.sandaran baja = 20 kgm2 Total beban finishing = 65 kgm2 Beban Hidup Beban hidup = 300 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + beban finishing = 300 kg/m2 + 65 kg/m2 = 365 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus tanpa tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .39 4. Balok utama tangga .1 kg/m2 = 10.24 kg /m2 .

Perencanaan Pembebanan BEBAN ANAK TANGGA (qu1) BEBAN BORDES (qu2) B VuC C A VuA Gambar 4.3 cm2 W = 37.1 kg/m Berat profil = 37.9 kg/m Iy = 317 cm4 ix = 9.56 cm Sy = 47.55 = 44.7 cm3 Zx = 445 cm3 Zy = 105 cm3 . dengan spesifikasi sebagai berikut : Ix = 4820 cm4 A = 48.99 cm Sx = 371 cm3 iy = 2.30 = 27.773kg/m Berat alat penyambung (10%) = 10. Perencanaan pembebanan anak tangga Beban Mati Berat pelat = 0.003 x 1.9 / cos 30.75 /0.01 kg/m Berat sandaran besi = 20 kg/m = 108.887kg/m qD1 = 119.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga 1.650 kg/m .663 kg/m Berat profil siku = 5.40 direncanakan menggunakan profil Channel 260x90x10x14.50/2 x 7850 = 17.42 x 2 x0.

1..650. Beban Hidup VLA = {(ql1.. Beban Mati VDA = {(qd1...315 kg/m = 518.4..2) + (ql2..4..Ok B....3...215 kg/m = 51.6) + (2495.79 kg ..50 x 0.14 kg ( ↑ ) VLC = {( ql2...40 +841.65 Berat penyambung ( 10 % ) qD2 = 217.4.40 kg ( ↑ ) VDC = {(qd2.822 kg/m = 570.41 Beban Hidup qL1 = 300 x 1.3) + (qd1..4.39 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 387.39 = (119.1.1.037 kg/m Beban Hidup qL2 = 300 x 1.6)+(570.6.3..4.7) }/5 = 387..2) + (qd2.3) + (ql1..3...0.65 .4.86 = ( 217.3.1) x 1.7)}/5 = 598..6.79 kg = 1228.4) 1228.3..5 2..86 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 598.6..Perhitungan Gaya – Gaya pada Tangga = 495 kg/m A.1...037..9 kg/m = 480.3..8) }/5 = 841...1..OK .. Perencanaan pembebanan bordes Beban Mati Berat profil Berat bordes =(65+226.1..3..14 + 877..1..4) 1476 kg = 1476 kg .1.0.5.5 kg/m = 37.3.8)}/5 = 877.6..

58.6..416 kgm MUBA = (VUA.8932) = 2056..58..6) – (qu1. 387. 491.6.1933.90.(1/2.x1 = 0 dx1 V 1421...7) = ...65 + 1.qd2 + 1....1.893 m < 3.2.6.x2) = (1421.(2414.42 C.58 kg/m qu2 = 1.40 + 1.044 kg/m VUA = 1.4) + (1476.2.6..217.86 = 2414.VLA = 1..6.2 VDA + 1.90 x1= UA = = 2.5) = 491.90 kg ( ↑ ) VUC = 1.2.3.6) – (491..ql2 = (1. Gaya – Gaya Dalam Ultimate qu1 =1.3.495) = 1476.(VUC ..1...8) = (1421.4.04..5..2..24 kg ( ↑ ) MUBC = .416 kgm Kontrol : MUBA = MUBC..ql1 = (1.4.1.x12) dMx1 = 0 ⇒ VUA − qU 1 .14 = 1421. 877. 841.58 MUmax = (VUA.6..90. qu1.Ok Batang AB Mx1 = (VUA.qu1.....2 VDC + 1.7) = .39 + 1..0.893) – (0. 598.037 + 1.2..8) = 1933.Ok qU 1 491.4) + (qu2. 1..6.119......570.2.6m..2.3.24.VLC = 1.2.6.1.qd1 + 1.441 kgm .0.6.3.x) .6.1.x1) – (1/2.

893 m C + 1933.55° E 2.21 ≤ 10.76. fy 250 Ternyata Lp>Lb.22.2.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga .76.51 cm Lp = 1.10 5 = 110.14 250 30 = 34. maka Mnx = Mpx 2.082 cm Ternyata Lp >Lb. maka Mnx = Mpx .441 kgm Gambar 4.416 kgm 2056.43 B + A 2.25 Penampang profil kompak. = 1.iy. maka Mnx = Mpx Kontrol Lateral Buckling 1.Balok Bordes Lb = 0 m Lp = 131.Batang Miring Lb = 90 170 ≤ 2.84 cm cos 30.75 20 ≤ 106.Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil fy = 2500 kg/cm2 untuk sayap : b 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 200 1680 ≤ 10 250 3.

...5 Sx...2500 = 139125 kgcm Jadi..Ok .90.9.5 kgm....441 kgm < 10012..371............plastis ..10. Mn = Mp = 1112500 kgcm = 11125 kgm Syarat : Mu ≤ φMn 2056..2500 = 1112500 kgcm = 11125 kgm 1.Kontrol Kuat Rencana Geser 162 110 ≤ 5..Kontrol Momen Lentur 90m m y1 260m m 10m m y2 14m m Gambar 4.......8 Sketsa profil Canal 260. 11125 kgm 2056.fy = 445..fy = 1.57 ....5 My = 1.14 Mp = Zx.5 250 20 < 69.5.44 .441 kgm ≤ 0..

d = 10.56 kg/m 91. dengan data sebagai berikut : Sx = 775 cm3 A = 63..260 = 2600 mm2 4. 76....904 kg Vu ≤ φVn 1421.6 x 2500 x (26) = 39000 kg φVn = 0.6 kg/m Iy = 984 cm4 Sy = 112 cm3 bf = 175 mm ix = 17.6 x fy x Aw Vn = 0.2.87 kg/m .24 kg = = = = qD = = 20 kg/m 49.70 cm Zx = 841 cm3 d = 350 mm iy = 3.....Perencanaan pembebanan Beban Mati Berat sandaran besi : 20 kg/m Berat sendiri profil : Berat ikatan ( 10 % ) qU = 1. Syarat : Aw = tw.45 Vn = 0.14 cm2 Ix = 13600 cm4 W = 49....6 kg/m 6.95 cm Zy = 172 cm3 tf = 11 mm r = 14 mm tw = 7 mm h = 300 mm ...7 Desain Balok Penumpu Bordes Balok penumpu bordes direncanakan menggunakan profil WF 350x175x7x11..904 Kg < 35100 kg ...1.6 kg/m + 69..96 kg/m + 76..9 x 39000 = 35100 kg VUA = 1421..56 kg/m P = VUC = 2414.Ok Jadi profil Channel 260x90x10x4 dapat dipakai.

15) 2 = 15703.4 – P (1.(1.92 ………Ok Mmax = VA.4) 10391.96.96 + 5195.8 .87) 8 2 2 ( ) VB = 5195.8 .96 Kg Kontrol : VA + VB = (qD.87 ) 8 2 2 VA = 8 VA = 5195.35).42 2 91.85 + 2.15).4 –2414.½ qD.92 = 10391.15 + 3.87 Kg/m' VA VB Gambar 4.65+0.82 = 0 VB = 2414.24.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ΣMB = 0 VA.24 kgm .65 + 4.87 .82 = 0 1 2414.8 + P.96 = (91.15 + 3.65+0.(5.½ q.46 P=2414.87.85 + 2.24.24 Kg P P P qD=91.96 Kg ( ) ΣMA = 0 VB.½ qD.4) 5195.P.35).8 + 2414.24 (16) + (91.(5. 4 = 5195.65 + 4.P.24 (16) + 8 1 (91.

.75 42.. maka Mnx = Mpx Kontrol Momen Lentur φMn = φ x fy x Zx = 0....86 ≤ 106..9 x 31500 = 28350kg Syarat : Vu ≤ φVn 5195....6 x 2500 x (0.............976 kg < 28350 kg......6 x fy x Aw = 0.33 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 2..5 kgm > 15703............Ok ...86 < 69..9 x 2500 kg/cm2 x 841cm3 = 1892250 kgcm Syarat : φMn > Mu 18922....Ok Jadi profil WF 350x175x7x11dapat dipakai..22 cm ≤ f ijin...11 250 250 7..Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil untuk sayap : bf 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 175 170 30 1680 ≤ ≤ 7 2......25 Penampang profil kompak...57 ..24 kgm...7.30) = 31500 kg φVn = 0........47 ....Kontrol Kuat Rencana Geser 30 1100 h 1100 ≤ ≤ 7 tw 250 fy 42...95 ≤ 10.... .plastis Vn = 0.....Ok Kontrol Lendutan fijin = L 800 = = 3....

Sehingga sambungan baut yang dipakai adalah sambungan geser. a. Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes Asumsi tumpuan pada bordes adalah rol (balok tangga diletakkan di atas balok penumpu bordes).7.1. Sambungan las digunakan untuk menyambung balok tangga miring dengan balok tangga horizontal (bordes).48 4.8 Perencanaan Sambungan Profil Tangga Ada dua sambungan yang akan digunakan pada tangga. Dipakai 2 buah baut dengan Øbaut = 12 mm.175.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes .11 Pot.10. ¾ Sambungan Baut Model mekanika tumpuan tangga menggunakan asumsi sendi pada tangga dan rol pada bordes.11 Gambar 4. A Baut ø 12 Balok tangga Channel 260. A Balok penumpu bordes 350. yaitu sambungan baut dan las.90.7. Sambungan baut digunakan untuk menyambung balok bordes dengan balok penumpu tangga. Maka sambungan baut hanya diperlukan praktis.175.14 Balok penumpu bordes 350. sehingga reaksi tumpuan balok bordes langsung diterima balok penompu bordes.

fu.tf 0.I .707.4100.589cm E 70 XX 70.64cm E 70 XX 70. fu.4 = = 1.3 aeffsayap = 0.tw 0.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga Kontrol Sambungan Las Digunakan las mutu E70XX 0.1 aeffbadan = = = 0.1 0 .4100.707.I B a lo k ta n g g a C h a n n e l 2 6 0 .3 .1.707.70. dengan ketentuan sebagai berikut : ƒ Mutu las E70 XX (fuw = 70 ksi = 4921 kg/cm2) ƒ Tebal pelat penyambung.9 0 .70.707. t = 10 mm I P o t.1 4 P la t p e n y a m b u n g T e b a l = 1 0 m m Gambar 4.49 ¾ Sambungan Las Sambungan antara balok – balok tangga direncanakan dengan menggunakan sambungan las.

9.4 cm2 Akibat Pu fr = Pu 1556.50 Dimisalkan dipakai tebal las (te = 1 cm) A = 1.4.6.4 Akibat Mu Mu 193341.0.3 0.(26+(0.2)) = 55. fu 0.43 te = = 0.707 0.707 Sehingga.2) + (0.6 fh = = = 521.2) + 23.71 = = 0.64 cm 0.71 kg/ cm2 te perlu = a perlu = f total 958.8.608cm < aeffmax = 1.70.2 + (1.8 cm = 8 mm .32 = 958.14 kg/ cm2 Sx 371 f total = fr 2 + fh 2 = 28.74 = = 28. digunakan a = 0.1 kg/ cm2 A 55.70.75.43cm ϕ .12 + 958.

51 4.aspal t = 2 cm = 2.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 1.4 buah = 4 buah As 0.5024 cm2) .bentang (span) = 2. Gunung Garuda.1 Pelat Lantai Atap Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0. dipasang tulangan tarik Ø 8-250 .5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 1000mm/4 = 250 mm Jadi.2.ducting AC + pipa = 10 kg/m2 + Total beban finishing = 56 kg/m2 Beban Hidup Beban Hidup = 100 kg/m2 Beban superimposed/berguna = beban hidup + finishing = 100 kg/m2 + 56 kg/m2 = 156 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .Beban Superimposed (Berguna) Beban finishing : = 28 kg/m2 .24 mm2 = 0.14 kg/m2 .rangka + plafond = (11+7)kg/m2 = 18 kg/m2 . 4.direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.75 mm Pembebanan a.71 = = = 3.tebal pelat beton = 9 cm .tulangan negatif = 1. dimana dalam perencanaan ini bondek yang digunakan merupakan produk dari PT.71 cm2/m .50 m .2 Perencanaan Struktur Lantai Pada perencanaan struktur lantai direncanakan pelat lantai menggunakan bondex.

52
b.Beban Mati - Pelat lantai bondek - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3

= 10,1 kg/m2 = 216 kg/m2 + = 226,1kg/m2
Tulangan Ø 8 – 250mm Plat Bondex t = 0,75 mm

90 mm

Balok

Gambar 4.12 Potongan plat lantai Atap

4.2.2 Pelat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11 Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 kg/m2 - lantai keramik t = 1cm = 1.24 kg /m2 = 24 kg/m2 = 18 kg/m2 - rangka + plafond = (11+7)kg/m2 - ducting AC+pipa = 10 kg/m2 - dinding = 250 kgm2 Total beban finishing = 344 kg/m2
Beban Hidup Beban hidup = 250 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 250 kg/m2 + 344 kg/m2

= 594 kg/m2

Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

53
- bentang (span) - tebal pelat beton - tulangan negatif = 2,50 m = 9 cm = 3,25 cm2/m

- direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m =

A 3,25 = = 6,47 buah = 7 buah As 0,5024

Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi, dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3 = 10,1kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226,1kg/m2

90 mm

Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0,75 mm

Balok

Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11

54
4.2.3 Pelat lantai 2 Dipakai pelat bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 - lantai keramik t = 1 cm = 24 = 1.24 kg /m2 2 = 18 - rangka + plafond = (11+7)kg/m - ducting AC+pipa = 10 - dinding = 250 Total beban finishing = 344

kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kgm2 + kg/m2

Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 344 kg/m2 = 744 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berikut : - bentang (span) = 2,50 m - tebal pelat beton = 11 cm - tulangan negatif = 3,38 cm2/m - direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 3,38 = = 6,73 buah = 7 buah As 0,5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi,dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex = 10,1kg/m2 - Pelat beton t = 11 cm = 0,11m.2400 kg/m3 = 264 kg/m2+ = 274,1kg/m2

ducting AC+pipa = 10 Total beban finishing = 49 Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban superimposed = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 49 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 + kg/m2 = 449 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .Beban Superimposed Berat finishing : .14 Potongan plat lantai 2 4.direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.5024 cm2) .tulangan negatif = 3.75 mm Pembebanan a.2.21kg /m2 = 21 2 = 18 .55 m .bentang (span) = 2.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m .24 mm2 = 0.spesi lantai t = 1cm = 1.11 cm2/m .55 100 mm Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.4 Pelat Lantai Mesin Lift Dipakai pelat bondex dengan tebal pelat = 0.rangka + plafond = (11+7)kg/m .tebal pelat beton = 10 cm .75 mm Balok Gambar 4.

48 cm h = d–2(tf + r ) = 396–2(11+16) = 342 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4100 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 – 700 = 1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 950 cm .8.Pelat lantai bondex .86 = = 5.200.dipasang tulangan tarik Ø 8-160 b.Beban Mati . Balok anak menumpu di atas dua tumpuan sederhana.13. Pada perencanaan ini.3 Perencanaan Balok Anak Balok anak berfungsi membagi luasan lantai agar tidak terlalu lebar.69 buah = 6 buah As 0.1kg/m2 = 240 kg/m2+ =250.1 kg/m2 Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.16 cm2 ix = 16. ditunjukkan perhitungan balok anak pada lantai 2.5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 160 mm Jadi.1m.6 kg/m tw = 7 mm Zx = 1088 cm3 d = 396 mm tf = 11 mm Sx = 1010 cm3 Iy = 1450 cm4 bf = 199 mm Ix = 20000 cm4 iy = 4. sehingga mempunyai kekakuan yang cukup.75 mm Balok 100 mm Gambar 4. balok anak direncanakan menggunakan profil WF 400.2400 kg/m3 = 10.7 cm r = 16 mm W = 56.Pelat beton t = 10 cm = 0. dengan data sebagai berikut : A = 72.15 Potongan plat lantai mesin lift 4.56 = A 2.

04 = 900.berat sendiri pelat beton = 0.25 kg/m = = = = = 600 kg/m 56.3.berat ikatan : 10 %.2.0048 kg/cm A 4275.berat pelat bondex = 10.14 + 1029358Kgcm kgcm 1015367 Gambar.14 Bidang D dan M pada komposit balok sebelum komposit .57 4.2400kg/m3.1 Kondisi Balok Anak Sebelum Komposit 1.23 Kg 4334.19 kg/m+ 750.5 m .048 kg/m = 90.1 m.85 kg/m 68.4.1 kg/m2.04 kg/m Kombinasi Beban : qu = 1.6 kg/m+ 681.23 Kg kg 4334.14 kg + 9.85 kg/m qD = 25.2.5m .2 qD = 1.Beban Mati .berat sendiri profil WF .681.5 m 950 cm B - 4275.2. 750.

..20000 = 2..0048...00048 ).Ok ¾Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Sayap Untuk Badan bf 170 h 1680 ≤ ≤ 2tf tw fy fy 199 170 ≤ 2.11 250 9.E.10 6..2..Ix 5..qu......58 Momen yang terjadi: Mu = 1 ..ok 342 1680 ≤ 7 250 48.L 2 = 1 ..639 cm 360 360 5.752..950 = 4275..L2 8 = 1 ..25. maka Mn = Mp ..05 < 10.90..23 kg 2 ¾Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f '= L 950 = = 2.l 4 ymaks = 384..90.qu...q u ...(9. 9502 = 1015367 kgcm 8 Geser yang terjadi : Vu = 1.950 4 = 384.ok Profil penampang kompak.....0048.389 cm < f ' .86 < 106.

9.86 < 69...8.59 ¾Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 47.23 kg 37422kg ≥ 4275. 2500 = 2720000 kg cm Persyaratan : Mu ≤ φMn 1015367 Kgcm ≤ 0.6. kuat nominal komponen struktur adalah : Mn = Mp = Zx .003 cm. 41580kg ≥ 4275.6..0.57……Ok Vn = 0. ¾Kontrol Geser h 1100 ≤ tw fy 342 1100 ≤ 7 250 48..Ok Penampang profil baja mampu menahan beban yang terjadi.9.6 . Lr = 658.. Aw = 0... Lb < Lp → bentang Pendek. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lb < Lp (untuk bentang pendek).2500. 2720000 kgcm 1015367 Kgcm < 2448000 kgcm.Ok .7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0..13 didapatkan : Lp = 226...357 cm Jadi. fy.23 kg………. fy = 1088 ..5 cm (diambil sejarak pemasangan shear connector) Berdasarkan tabel profil untuk BJ 41 profil WF 400..200...(39.

3.berat rangka + plafond = (11+7)kg/m2.2.28.2810.25 kg/m = 600 kg/m = 56.5 m . qu.5m .2 Kondisi Balok Anak Setelah Komposit ¾ Pembebanan setelah komposit 1.L2 = 1 .2.berat ikatan : 10 %.24 kg/m = 28.2.2.berat pelat bondex = 10.6.85 kg/m = 91.berat keramik = 1. 21 kg/m2.1024.2.qu.1024 kg/cm Momen yang terjadi: Mu = 1 .6 kg/m = 105 kg/m = 60 kg/m = 45 kg/m = 25 kg/m+ = 916.berat sendiri pelat beton = 0.L 2 = 1 .9502 = 3170302 kgcm 8 8 = 25.1kg/m2.5 kg . Beban Hidup : qL = 400 kg/m2.2. 1008.2.68 kg/m+ = 1008.berat sendiri profil WF .53 + 1.5 m .2 qD + 1.916.6 qL = 1.85 qD 2.berat spesi 2 cm = 2.1 m.24.5m .60 4.Beban Mati .5 m Kombinasi Beban : qu = 1.53 kg/m = 1000 kg/m Geser yang terjadi : Vu = 1 .berat ducting AC+pipa = 10 kg/m2.5m .24 kg/m2.5m .950 2 = 13347.2400 kg/m3.1000 = 2810.2.

.05 < 10.2500 = 180400 kg C2 = 0.752.5 cm beff ≤ S = 2.9500 mm = 2375 mm = 237.5 = 504687.10.85.50 m = 2500 mm jadi beff = 2375 mm =237.237.85.85.25.250..ok Profil penampang kompak.5 kg C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi..86 < 106..ok 342 1680 ≤ 7 250 48...5 .beff = 0. C =C1 ( terkecil) = 180400 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 180400 = 3.L = ¼..57 cm = 0.250.fy = 72.61 ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 199 170 ≤ 2.237.11 250 9.. • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis..16.85.5 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As. fc'.fc’..tplat.beff 0..

fy = 72.Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.6 = 2...2500 = 180400 kg Mn = 180400 (2.8 cm 2 2 d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.815 + 0) + 180400 (19.57 a = 4.16.8 .(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 180400 kg Py = As. .4079746 kgcm 3170302 kgcm ≤ 3467784 kgcm...62 2375 mm 54 12 t = 46 mm t = 100 mm t = 400 mm Gambar 4..Mn 3170302 kgcm ≤ 0.6 d3 = = = 19..815 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 39.15 potongan Balok anak 3. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi..85..0) = 4079746 kgcm Syarat : Mu ≤ φ ..

1.6 + 84.6 cm beff • Menentukan letak garis netral Atr .5 cm (balok interior) Es 2.104 Mpa Es = 2.52 cm • Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi I tr = b tr (t pb ) 3 12 t pb ⎞ ⎛ ⎛⎛ d ⎞ ⎞ ⎟ + Ix + A s ⎜ + Atr ⎜ Yna − t Yna + − ⎟ ⎜ ⎟ pb ⎜ 2 ⎟ ⎜ 2 ⎟ ⎠ ⎝⎝ ⎠ ⎝ ⎠ 2 2 2 ⎛ ⎛ 40 ⎞ 27.26. 5 Ec = 0.12⎜ ⎜ + 10 ⎟ − 10. 25 = 2.24001.10 5 n = = = 8.10 5 Mpa beff = 237.041.63 ¾ Kontrol Lendutan • Menghitung luasan transformasi beton ke baja 1.41.26 cm n 8.10 4 btr = = 237.12 ) = 10.6⎜10.12 ⎜10 + ⎟ ⎟ +⎜ ⎜ 2 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ ⎝ = (272.5.713 Ec 2.52 − ⎟ + 23700 + 84.wc .6 .1. fc' = 0.t plat beton = 27.69 cm4 .41.94 = 272.5 = 27.t platbeton Yna = 2 ⎛ ⎛ d ⎞⎞ A t +⎜ + ⎜ ⎟ ⎜ s platbeton 2 ⎟ ⎟ ⎠⎠ ⎝ ⎝ ( Atr + As ) 272.52 ⎟ ⎜ ⎟ 12 2⎠ ⎠ ⎝ ⎝⎝ 2 ⎠ 2 = 66148.041.26(10)3 10 ⎞ ⎛ ⎞ I tr = + 272.713 Atr = btr.10 ⎛ 40 ⎞ ⎞ ⎛ 84.

1 tw fy kn = 5 + 5 ...10 6 ) 342 < 1...6.64 ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f ' = L = 950 = 2....654 cm < f ' .fy..66148.6388 + 10)..2...2500 (39.6. untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan 2 a h ( ) kn = 5 .(2.5 kg …………..untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan h kn.9.106. dimana: ≤ 1..(10...E sehingga : ≤ 1.. 41580 kg ≥ 13347..6.l 4 5.1 7 2500 48..Ok . h kn.Ok Vn = 0.5 kg 37422 kg ≥ 13347.1 tw fy 5.0...69 = 1.639 cm 360 360 5.......9504 = ymaks = 384.ok ¾ Kontrol Geser Kuat geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)..(q DL + q LL ).86 < 69..E..Aw = 0...Ix 384.7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0..E .57.

.10 4 = 110039.5.712 > 1→ diambil rs = 1 Qn’ = Qn.041..fu 11003..2 kg/stud .23 N = 11003.Ec = 0.41.. fc '...5.923 kg/stud ≤ 11341..283..53..2.104 Mpa Qn = 0..923 Kg < 11341..Ok Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok...41.Asc... hr = 54 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 46) = 54+46 = 100 mm ⎞ 0.1 = 11003.5...923 kg/stud ≤ 283.. fc ' = 24001.40 kg/stud 11003..923 kg/stud Syarat : Qn ≤ Asc.0.85 ⎛ 200 ⎞⎛ 100 ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 ⎟⎜ ⎜ 2 ⎝ 53 ⎠⎝ 53 ⎠ rs = = 1..65 ¾Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan: ds = 19 mm Asc = 283.923 .2 Kg .Ok . rs = 11003....53 mm2 fu = 400 Mpa = 40 kg/mm2 Ec = w1.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0.5 ....041 25 = 2.0.53 25.

200.5 cm N 20 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.56 ≈ 10 buah Qn 2. karena disesuaikan dengan anggapan dalam analisa sebagai sendi.66 Jumlah stud untuk setengah bentang : Tmaks 210300 N= = = 9.13. dibutuhkan 20 buah stud untuk seluruh bentang.200.13 Profil siku 60. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 950 P= = = 47.16 Detail sambungan balok anak dengan balok Induk .23 Baut M16 mm fu = 5000 Kg/m2 Balok Anak WF 400.9 cm = 11.13 Baut M16 mm 50 100 50 50 100 50 Profil siku 60.(diameter) = 6 x 1. 4.4cm Jadi.200. Vu = 13407.6 Balok Anak WF 400.5cm sebanyak 20 buah untuk masing-masing bentang.923 Jadi. shear connector dipasang sejarak 47.11003.13.8.200.60.616 kg Balok Utama WF 600.60.5 Perencanaan Sambungan balok Anak dengan balok Induk Sambungan antara balok anak dengan balok induk direncanakan dengan baut yang tidak dapat memikul momen.tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.23 Gambar 4.8.6 Balok Utama WF 600.

4 kg n= Vu 13407.75.60.78 Vn 7537.0.2.2.1.5 Dipasang 2 buah baut M16mm (Jumlah baut untuk 1 sisi) Sambungan Plat Siku dengan Balok Induk Direncanakan : profil siku 60.616 = = 1. fu .2 = 7537.60.01 cm2 ) m = 1 sisi .0. r1 . Abaut .01.4100 = 9446.5000. tp .4. 2. Abaut .8.6.75. fu .01 cm2 ) m = 2 sisi Vn = 0. m Dimana : r1 = 0.5.67 Sambungan Plat Siku dengan Balok Anak Direncanakan : profil siku 60.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf. fu (tebal plat sayap dipakai tp = 8 mm) = 0.db.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2.4 .5 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf. m Dimana : r1 = 0. r1 .

08 = 22680 kg .An = 0.db.0.56 Vn 3768. 2.6.5000.0.fu.fu (t plat sayap dipakai tp=6 mm) = 0.616 = = 3.1.5.8 kg Vu 13407.6.2.01.4.75 Dipasang 4 buah baut Ø16 mm (Jumlah baut untuk 2 sisi) n= Kontrol Plat Siku pada Gelagar Direncanakan : Profil siku 60.75.60.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) Luas bidang geser 50 100 50 Gambar 4.4100 = 7084.75 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.t∟ = (200 – 2.6.0.2.68 Vn = 0.0.16).75.5000.17 Detail pelat siku pada gelagar Luas bidang geser = Anv = Lnv.1 = 3768.75.10.6.tp .6 = 1008 mm2 Kuat rencana : φRnv = φ.4.

...69 Terdapat 2 siku. sehingga 2 φRnv = 2. dengan data – data sebagai berikut : Tipe lift : Duplex Merk : Sigma Kapasitas : 15 orang Lebar pintu (opening width) : 900 mm Dimensi sangkar (car size) Dimensi ruang luncur Dimensi ruang mesin : .....6 Perencanaan Balok Lift Perencanaan balok lift meliputi balok – balok yang berkaitan denagn ruang mesin lift. Untuk lift pada bangunan ini menggunakan lift yang diproduksi oleh Sigma elevator company.. 22680 kg = 45360 kg Persyaratan : Vu ≤ φRn 13407.616 kg ≤ 45360 kg..inside : 1600 x 1500 mm2 : 4300 x 2150 mm2 : 4300 x 2150 mm2 Beban reaksi ruang mesin : ¾ R1 = 6150 Kg (Berat mesin penggerak + beban kereta + perlengkapan) ¾ R2 = 4600 Kg (Berat bandul pemberat + perlengakapan) ..616 kg ≤ φVn 13407.....outside : 1650 x 1665 mm2 ... yaitu terdiri dari balok penumpu dan balok penggantung lift..OK 4..

dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.1. Ψ = ( 6150 + 4600 ). beban yang bekerja pada balok adalah : P = ΣR .( 1 + 0. yang untuk keran induk dengan struktur rangka. k1 = koefisien yang bergantung pada kekakuan struktur keran induk. 2.78 = 19135 Kg .15.15 Dimana : Ψ = koefisien kejut yang nilainya tidak boleh diambil kurang dari 1. Beban yang bekerja pada balok penumpu Beban yang bekerja merupakan beban akibat dari mesin penggerak lift + berat kereta luncur + perlengakapan.6. Koefisien kejut beban hidup oleh keran Pasal 3.6. dan akibat bandul pemberat + perlangkapan. dan diambil sebesar 1.1 Perencanaan Balok Penggantung Lift 1.(3) PPIUG 1983 menyatakan bahwa beban keran yang membebani struktur pemikulnya terdiri dari berat sendiri keran ditambah muatan yang diangkatnya. k2 = koefisien yang bergantung pada sifat mesin angkat dari keran angkatnya. dan nilainya tidak perlu diambil lebih dari 1. pada umumnya nilainya dapat diambil sebesar 0.70 4.6. V = kecepatan angkat maksimum dalam m/det pada pengangkatan muatan maksimum dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.3.00 m/det.3 Jadi.1.3. Sebagai beban rencana harus diambil beban keran tersebut dengan mengalikannya dengan suatu koefisien kejut yang ditentukan dengan rumus berikut : Ψ = ( 1+k1k2v ) ≥ 1.1 ) = 10750.

29 cm Iy = 442 cm4 h = d – 2(tf + r ) = 298 – 2(13 + 13) = 246 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4000 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 r = 13 mm Zx = 455 cm3 Zy = 91 cm3 Sx = 424 cm3 Sy = 59.18 Denah Lift 3.5 m Balok Anak 2.15 m 4.71 Balok Penggantung Lift Balok Penumpu Lift 1.Data perencanaan Digunakan profil 300 x 150 x 8 x 13 A = 40.4 cm W = 32 kg/m tw = 9 mm d = 298 mm tf = 13 mm b = 149 mm Ix = 6320 cm4 iy = 3.075 m 2.3 cm3 fr = 700 kg/cm2 fL = fy-fr = 2500 .3 m Gambar 4.700 =1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 215 cm = 2.15 m .8 cm2 ix = 12.

15 kg/m2 Berat ikatan (10%) = 629.14.2.2.72 Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.6 qL = 1.92 kg/m x10% .15 m = 215 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.91 kg/m A B Gambar 4. 692.19 Sketsa mekanika perhitungan balok penggatung lift .755 kg/cm P qu = 32 = 516 kg/m kg/m = 21.15 Berat aspal t = 2 cm = 2.72 kg/m = 60.1 kg/m2 .2.2.99 kg/m + qD = 692. 215 = 1175.92 kg/m = 62.Beban terpusat lift P = 19135 kg • Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.2 kg/m + = 629.6.5 kg/m = 11.2400.91 + 1.15 Berat pelat combideck : = 10.2qD + 1.1.

85.75.73 < 10. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.075 m = 107.85.73 Vu = 1 1 quL + p 2 2 = 1263.755)(215) 2 + (19135)(215) 8 2 = 1096428.L = 537.11kgcm Mu = • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 149 170 ≤ 2.8.250.tplat.fc’.25.beff = 0.73 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.73 = 114219 kg .53..5 = 10831..73 cm beff ≤ S = 1..5 mm = 53.ok 246 1680 ≤ 8 250 30..75 < 106...ok Profil penampang kompak.15 kg 1 1 quL2 + pL 8 4 1 1 = (11.10....65 + 9567.. Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .13 250 5.fy = 40..3 mm = 53.5 mm jadi beff = 537..2500 = 102000 kg C2 = 0.

0) = 2084358.8 d3 = = = 14.9 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.fy = 40. C =C1 ( terkecil) = 102000 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 102000 = 8.14 kgcm .85 fc' tb GN komposit c d GN baja Py Gambar 4.85.85.53.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 102000 kg Py = As. fc'.93 cm = 0.8.20 Distribusi tegangan plastis 8.73 beff btr 0.93 a = 9.74 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.beff 0.53 + 0) + 102000 (14.250.9 .53 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 29.2500 = 102000 kg d1 = tb Mn = 102000 (5.4 = 5.

8353 250.....15)215 + 23 19135x 215 648 2. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi..041....8 = 110046 N = 11004....9291+ 2.85...Wc 1.896 cm 240 240 4 3 f = 5 (q D + q L ) l + 1 Pl 384 EI x 48 EI x 3 4 = 5 (6.896.53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0.10 6 x 7210 = 0..5 25 ( = 0.2.OK ....1 Kg .75 Syarat : Mu ≤ φ .241029..fu 11004.361 < 0.10 6 x7210 384 2.Mn 1096428 kgcm ≤ 0..98 Mpa ) Qn ≤ Asc......6 ≤ 2...041.Ec ) = 24102.. ¾ Kontrol Lendutan f ' = L = 215 = 0.Ok ¾ Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283...6 Kg ( fc'...2084358.14 kgcm 1096428 kgcm ≤ 1771704..5.24001.4000 11004..6 Kg ≤ 11341. Asc fc ' = 0..8353..5....Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.5 Qn = 0.....42 kgcm..

6..85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ rs = ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1. shear connector dipasang sejarak 21. rs = 11004. dibutuhkan 10 buah stud untuk seluruh bentang.1 = 11004..tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6..5 cm P= = N 10 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.6 Kg < 11341....4cm Jadi..85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0.6 Jadi..76 Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok.712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 54+40 = 94 mm rs = ⎞ 0...9 cm = 11. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 215 = 21.5 cm sebanyak 10 buah untuk masing-masing bentang...OK Vh = C = 102000 kg Jumlah stud untuk setengah bentang : N = Vh /Qn = 102000 = 5 buah 2..(diameter) = 6 x 1.... .11004.1 Kg .

Data perencanaan Digunakan profil WF 350 x 175 sebagai berikut : A = 52.5 cm W = 41...6.. dengan data r = 14 mm Zx = 689 cm3 Zy = 139 cm3 Sx = 641 cm3 h = 300 mm ..8......57. 35760 Kg 10831.9...2 Perencanaan Balok Penumpu Lift 1.77 ¾ Kontrol geser Kuat geser balok bergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)... kn = 5 + ( h) a 5 2 .2500 kg/cm2.OK 4... sehingga 246 5(2..fy.1 n tw fy Dimana. untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan. OK Vn = 0.Aw = 0.....29...E h ≤ 1.. k .1 8 2500 31 ≤ 69. untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.15 Kg ≤ 0.8 cm2 = 35760 kg Persyaratan : Vu ≤ φVn 10831.. kn =5...6.6....0...88 cm Iy = 792 cm4 x 6 x 9 .15 Kg ≤ 31184 Kg .68 cm2 ix = 14.4 kg/m tw = 6 mm d = 346 mm tf = 9 mm b = 174 mm Ix = 11100 cm4 iy = 3.10 6 ) ≤ 1.

1 kg/m2 .2 qD + 1.32 kg/m .2.67 kg/m + qD = 810.2.30 kg Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.2400.2.32 + 1.250 = 1372.5 Berat aspal t = 2 cm = 2.5 Berat pelat combideck : = 10.4 = 600 kg/m kg/m = 25.38 kg/m P x1 qu x2 A B Gambar 4.6 qL = 1. 810.65 kg/m = 73.25 kg/m = 70 kg/m + = 736.14.Beban terpusat akibat reaksi balok penggantung lift P = 21662.78 BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 .65 kg/m x10% = 41.5 kg/m2 Berat ikatan (10%) 736.21 Sketsa mekanika perhitungan balok penumpu lift .2.6.50 m = 250 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.5 m Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.700 fu = 4000 kg/cm2 2 = 1800 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm Panjang balok anak (L) = 2500 mm = 2.1.

79

Σ MB = 0 VA.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,425 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,425 VA = = 14062 ,99 Kg 2,5
Σ MA = 0 VB.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,075 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,075 VB = = 11030 ,26 Kg 2,5
Dx1 = +14062,99 – qx1 x1 = 0 → DA = 14062,99 Kg → Dc = 12587,68 Kg x1 = 1,075 Mx1 = 14062,99 x1 – qx1.0.5x1 → MA = 0 x1 = 0 → MC = 14324,73 kgm = 1432473 kgcm x1 = 1,075 Dx2 = - 11030,26 + qx2 x2 = 0 → DB = - 11030,26 Kg → DC = - 9074,62 Kg x2 = 1,425 Mx2 = +11030,26 x2 – q.x2.0,5.x2 x2 = 0 → MB = 0 → MC = 14324,73 Kgm =1432473 kgcm x2 = 1,45 • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy

175 170 ≤ 2.9 250
9,67 < 10,75.......ok

300 1680 ≤ 6 250 50 < 106,25.......ok

Profil penampang kompak, sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis

80
Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .L = 625 mm = 62,5 cm beff ≤ S = 2,15 m = 21,5 cm jadi beff = 625 mm = 62,5 cm
• Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.fy = 52,68.2500 = 131700 kg C2 = 0,85.fc’.tplat.beff = 0,85.250.10.62,5 = 132813 kg C3 =

∑ Qn → ( C
n =1

N

3

tidak menentukan )

Jadi, C =C1 ( terkecil) = 131700 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

a=

C 131700 = 9,92 cm = 0,85. fc'.beff 0,85.250.62,5
beff btr
0,85 fc'

tb

GN komposit

c

d

GN baja

Py

Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis

81
9,92 a = 10 = 5,04 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 34,6 d3 = = = 17,3 cm 2 2
d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 131700 kg Py = As.fy = 52.68.2500 = 131700 kg Mn = 131700 (5,04 + 0) + 131700 (17,3 - 0) = 2942425,91 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .Mn 1432473 kgcm ≤ 0,85.2942425,91 kgcm 1432473 kgcm ≤ 2501062,02 kgcm..........Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

Kontrol Lendutan L 250 f = = = 1,042 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 0,172 cm ≤ f ijin.....................Ok - Kontrol Kuat Rencana Geser h ≤ 1100 tw fy0,5 300 ≤ 1100 6 2500,5 50 < 69,57 .........................plastis

.6 Kg Qn ≤ Asc.1 Kg ..0.5 fc' = 0..Wc1.8353 250.6 Kg ≤ 11341.5..9 x 31140 = 28026 kg Syarat : Vu ≤ φVn 1715.6 = 31140 kg φVn = 0...5 kg < 28026 kg.....6... hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 53+40 = 93 mm ⎞ 0.......53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0.fu 11004.OK Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283. Asc fc'..24001..82 Vn = 0.5.Ec ( = 0.6 x 2500 x 34..8353....041..85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ rs = − 1 ⎟⎜ h ⎟ ≤1 h Nr ⎜ ⎝ r ⎠⎝ r ⎠ ..OK ( ) ) Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok..98 Mpa Qn = 0.8 = 110046 N= 11004...6 x fy x Aw = 0..6 ≤ 2.241029..5 25 = 24102..041...4000 11004......2..

tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.83 rs = 0..4cm Jadi.....712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn. OK Jumlah stud untuk setengah bentang : 131700 N = Tmaks/Qn = = 6 buah 2..83 cm P= = N 12 Jarak maksimum (Pmaks) = 8...9 cm = 11. shear connector dipasang sejarak 20.(diameter) = 6 x 1...6 Jadi.... dibutuhkan 12 buah stud untuk seluruh bentang....1 = 11004..11004. rs = 11004.6 Kg < 11341....83 cm sebanyak 12 buah untuk masing-masing bentang.. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 250 = 20. .1 Kg ..85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1..6..

84 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

Tinggi tipikal lantai : 4. maka terlebih dahulu dicek besarnya Vdinamis yang telah didapatkan dengan bantuan program ETABS v9.25 m .0 dan membandingkan besaran Vdinamis tersebut dengan Vstatis yang akan diperhitungkan di bawah ini sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps. dan simpangan (drift). dimana kontrol – kontrol tersebut terdiri dari kontrol nilai gaya geser dasar (base shear). 5.1.Tebal pelat bondek lantai atap : 9 cm .2 Pembebanan Untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan SNI 03-1726-2002. dan nilai Vstatis ini harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung ke masing – masing lantai sesuai SNI 03-17262002 Ps. waktu getar alami fundamental (T).Profil balok induk 2 WF 400x200x8x13 : .Profil balok induk 1 : WF 500x200x10x16 WF 500x200x9x14 : .3-14 : 10 cm . 5.6.Tebal pelat bondek lantai 1.85 BAB V PEMBEBANAN DAN ANALISA STRUKTUR 5.Mutu baja : Bj 41 .6.Mutu beton (fc’) : 25 MPa .2 . Beban gempa rencana dicek terhadap kontrol – kontrol sesuai peraturan gempa yaitu SNI 031726-2002.1 Umum Merencanakan beban gempa adalah bertujuan untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan peraturan untuk dibebankan kedalam struktur gedung.Tebal pelat bondek lantai 2 : 11 cm .2.Profil kolom .1 Data Gedung Data – data gedung yang akan dibutuhkan dalam penghitungan Vstatis adalah sebagai berikut.Profil balok anak K 500x200x10x16 : .2.1. .

7 × 66 395.5 Tabel 3.25 × 179. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.3. a) Lantai 1 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.8 Kg Wd1 Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.75 x Wl1 = 0.5 40 × 27 × 10.4672 × 2400 × 20 40 × 89.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.Kategori tanah .75 × 270000 = 202500 Kg .10 x 2400 (80+54) × 4.I Denah gedung terlampir.86 .2 Perhitungan Berat Struktur Beban gravitasi berupa beban mati dan beban hidup yang yang bekerja di tiap lantai/atap.6 255 × 79. Wl1 = 0.Wilayah Gempa .3. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl1 = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.2 × 20 4.1 40 x 27 x 0.25 × 0.5 320.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.2 Kg = 395 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 678805. maka total beban hidup (Wl1) menjadi. : : : WG3 Tanah keras 1 5.3.2.

6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.6 255 × 79.4672 × 2400 × 20 40 × 89.1 40 x 27 x 0. maka total beban hidup (Wl2) menjadi. Wl2 = 0.8 Kg b) Lantai 2 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.5 Kg = 10908 Kg = 285120 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 704725.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd2 = 15232 Kg = 95300.75Wl2 = 0.3.7 × 66 395.2 Kg = 395. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.25 × 0.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.75 × 432000 = 324000 Kg Sehingga berat total lantai 2 Wt2 = Wd2+ Wl2 = 704725.3.8 + 324000 = 1028725.87 Sehingga berat total lantai 1 Wt1 = Wd1 + Wl1 = 678805.5 Tabel 3.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0. Beban hidup : 40 × 27 × 400 Wl2 = = 432000 Kg 432000 Kg Menurut PPIUG Ps.8 + 202500 = 881305.5 320.8 Kg .5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.2 × 20 4.11 x 2400 (80+54) × 4.3.5 40 × 27 × 10.25 × 179.

25 × 0.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.5 Tabel 3. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.1 40 x 27 x 0. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.3.84 Kg .75Wl = 0.10 x 2400 (80+54) × 4.5 320.2 × 20 4.75 × 270000 = 202500 Kg Sehingga berat total lantai Wt = Wd + Wl = 678805.6 255 × 79.2 Kg = 395.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.8 + 202500 = 881305. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.7 × 66 395.88 c) Lantai 3-11 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.5 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg Wd = 678805.4672 × 2400 × 20 40 × 89.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.25 × 179.5 40 × 27 × 10. maka total beban hidup (Wl) menjadi Wl = 0.3.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300.3.

maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0. maka total beban hidup (Wl15) menjadi.3.1 40 x 27 x 0.3.2 × 20 2. Beban hidup : 40 × 27 × 100 = Wl15 = 10800 Kg 10800 Kg Menurut PPIUG Ps.3 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.5 Tabel 3.75 × 108000 = 81000 Kg Sehingga berat total lantai 12 menjadi.5 320.75Wl12 = 0.6 255 × 79.125 × 179.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.09 x 2400 (80+54) × 4.5 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.125 × 0.1 40 × 27 × 10.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd1 = 7616 Kg = 47650.5 + 81000 = 645139.5 Kg .1 Kg = 10908 Kg = 233280 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 15120 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 564139.7 × 66 448.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.89 d) Lantai 12 (Atap) Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok lift Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Aspal t = 1 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : 2.3.2 Kg = 448. Wt12 = Wd12+ Wl12 = 564139.4672 × 2400 × 20 40 × 89. Wl12 = 0. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.

5 4.2.3 Pembebanan Gempa Dinamis Pembebanan gempa secara dinamis menggunakan bantuan program ETABS v9.1 Berat struktur per lantai Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Tinggi hx (m) 51 46.058 8813.395 8813.75 8. Sebelumnya dilakukan permodelan 3D struktur dai gedung apartemen Albergo terlebih dahulu.75 25.238 5.058 Σ 104869.058 8813.258 8813.5 21. struktuk gedung tersebut dimodelkan sebagai berikut : .90 Ringkasan berat bangunan dinyatakan dalam Tabel 5.058 8813.058 8813.058 8813.25 Berat Lantai Wx (kN) 6451.058 8813.25 34 29.75 42.5 38.058 8813.058 8813.1 berikut ini : Tabel 5.058 10287.0 dengan analisa dinamis respons spektrum.25 17 12.

91 Denah Lantai Arah y Arah x Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .

Untuk mensimulasikan arah pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap struktur gedung. Menurut SNI 031726-2002 ps 5.1 Arah Pembebanan Beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan terjadi dalam arah sembarang (tidak terduga) baik dalam arah x dan y secara bolak balik dan periodikal. .2. pengaruh pembebanan gempa rencana dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa yang arahnya tegak lurus dengan arah utama dengan efektifitas 30%.2 Permodelan stuktur 3D 5.3.92 Gambar 5.8.

Respon Spektrum gempa rencana untuk masing masing wilayah gempa ditetapkan grafik nilai C-T dalam Gambar 2 SNI 031726-2002.93 . Dimana pada perencanaan gedung ditetapkan Respon Spektrum gempa Rencana Wilayah Gempa 3 pada tanah keras.Gempa Respon Spektrum Y : 100% efektifitas untuk arah Y dan 30% efektifitas arah X 5.3 Grafik nilai C-T zona gempa 3 . Gambar 5.Gempa Respon Spektrum X : 100% efektifitas untuk arah X dan 30% efektifitas arah Y .3.2 Faktor Respons Gempa (C) Faktor Respon Gempa (C) dinyatakan dalam percepatan gravitasi yang Nilai Faktor Respon Gempa (C1) bergantung pada waktu getar alami struktur gedung dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respon gempa rencana.

5.33 e + 0. 5.3.1 b atau ed = 1.1 menyatakan bahwa analisis Respons Spektrum Gempa Rencana. maka : ed = 1.3 b.4 Menentukan Eksentrisitas Rencana Bangunan (ed) Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps. 5. maka nilai C harus dikalikan faktor pengali percepatan gravitasi sebesar 9.23 dimana T adalah waktu getar alami struktur gedung yang T didapat dari hasil analisa struktur setelah men-define Respon Spektrum Rencana dan mengeplot grafik C-T pada analisa Respon Spektrum. − Untuk 0 < e ≤ 0. nilai ordinatnya harus dikalikan dengan I/R.5 e + 0.4. Lalu karena nilai C dinyatakan dengan percepatan gravitasi.05 b atau ed = e – 0.3.81 m/s.2.3 b.1 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya ⎞ ⎛1 ex = ⎜ × b ⎟ − xcr ⎠ ⎝2 ⎛1 ⎞ e y = ⎜ × L ⎟ − ycr ⎝2 ⎠ .17 e – 0. maka : ed = 1. bahwa antara pusat massa dan dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana ed sebagai berikut.94 Pada gambar dapat dilihat untuk menentukan nilai faktor respon gempa (C1) pada tanah keras didapat dengan nilai 0.3 Respon Spektrum Rencana Menurut SNI 03-1726-2002 ps 7.05 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya − Untuk e > 0.

000 20.002 20.500 13.002 20. maka nilai ed untuk masing – masing arah dapat dihitung dan ditabelkan sebagai berikut : .05 L maka didapatkan suatu titik koordinat pusat massa.05 b edy = 1.500 13.001 20.500 13.500 13.500 13. maka massa dari tiap – tiap lantai diletakkan pada titik koordinat tersebut.000 20.001 20.500 13.001 20.001 20.500 13.001 20.001 Ycr (m) 13.500 13.500 13.500 13. yaitu koordinat x = xcr + edx koordinat y = ycr + edy Setelah koordinat pusat massa diperoleh.2.000 20. kemudian dilakukan analisa kembali.5 ey + 0.500 Berdasar rumus diatas.2 Nilai Xcr dan Ycr Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Xcr (m) 20.95 Dimana kedua nilai diatas diambil harga mutlaknya.500 13.001 20. Dan dari hasil analisa ETABS v9.0 didapat nilai Xcr dan Ycr yang ditabelkan sebagai berikut : Tabel 5.5 ex + 0. sehingga edx = 1.

001 20.50 13.000 22.001 -0.000 22.999 1.15 detik Pada arah Y Ty = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.50 13.997 2.50 13.000 22.000 22.50 13.001 20. Pada arah X Tx = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1.000 14.001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.50 13. nilai waktu getar alami fundamental (T) dari struktur gedung harus dibatasi.001 -0.35 22.85 14.85 14.999 1.000 20.85 14. Dengan nilai ζ dari Tabel 8 SNI 03-17262002 dan n adalah jumlah lantai dari gedung yang akan ditinjau.85 14.000 20.999 1.001 0.001 20.999 1.85 14.50 0.85 14.000 1.001 -0.50 13.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan Lantai B (m) L (m) Xcr (m) Ycr (m) ex (m) ey (m) edx (m) edy (m) koord x (m) koord y (m) 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 20.50 13.999 1.000 20.35 1.002 20.000 1.35 1.2.18 dan nilai n = 12.96 Tabel 5.35 1.4 Kontrol Waktu Getar Alami Fundamental (T) T dihitung dengan menggunakan rumus empiris Method A dari UBC 1997 Section 1630.15 detik Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel.85 14. maka kontrol waktu getar alami fundamental (T) menjadi.001 20.85 14.85 14.35 1.35 1.997 1.2 dengan tinggi gedung 51 meter.85 14.35 1. .002 0.50 13.001 -0.000 1.50 13.35 1.35 1.999 22.35 1.001 20. T<ζn Untuk WG 3 maka nilai ζ = 0.999 1.999 2.999 22.50 13.001 13.001 -0.85 5.000 21.35 1.002 20.000 21.000 -0.000 22.000 -0.000 -0.000 22.50 13.001 20.85 14.35 1.002 -0.000 22.

41 Kg = 587.18x12) = 2..2 × 1 Vxs = x Wt = × 104869.97 • Arah x Tx = 1. Dengan nilai waktu getar alami fundamental (T) perkiraan awal dengan rumus empiris sebagai berikut.16 detik ……….18x12) = 2. maka didapatkan output untuk nilai gaya geser dasar (base shear) sebagai berikut.238 = 3495. tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang pertama. Vxd = 59976. beradasarkan waktu getar alami fundamental struktur gedung masih memenuhi batas kontrol waktu getar alami.15 < (0.1 didapat nilai Wx = Wt = 104869.15 detik Tx = 1.7639 kN Vyd = 58776.2 × 1 Vys = Wt = × 104869.1.15 < (0. 7.16 detik ……….39 Kg = 599.2 dan Cx = 0.64 kN R 6 Setelah dilakukan analisa struktur dengan asumsi – asumsi yang telah dijelaskan diatas.15 detik Maka dari Gambar 5. Ty = 1.7641 kN .2 Dari tabel 5.1 didapat nilai Cy = 0.5 Kontrol Gaya Geser Dasar (Base Shear) Nilai akhir respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat Gempa Rencana dalam suatu arah tertentu.238 kN − Untuk arah x C I 0.Untuk arah y CyI 0.OK • Arah y Ty = 1. sesuai SNI 03-1726-2002 Ps.64 kN R 6 ..238 = 3495.3. 5.OK Sehingga.

....512 kN.8V xs 2796.7639 kN < 2796......8V xs 599.8V ys 587....Untuk arah y 0.Not OK! Maka untuk arah y. FS = 0...98 Maka untuk arah x.8V ys 2765 ...71 V yd 587. maka dilakukan analisa struktur ulang dengan mengalikan faktor diatas pada scale factor untuk Define Respons Spectra.7639 ....Not OK! Sehingga untuk memenuhi persyaratan SNI 03-1726-2002 Ps.. .. V yd ≥ 0 . Kemudian dilakukan running program ulang sehingga didapatkan output sebagai berikut : ..512 kN.2..7641 Setelah didapat nilai – nilai skala untuk masing – masing arah pembebanan.3. . V xd ≥ 0... Nilai skala tersebut adalah sebagai berikut : ..512 FS = = = 4.....3 gaya geser tingkat nominal akibat pengaruh gempa rencana sepanjang tinggi struktur gedung hasil analisis ragam spektrum respon dalam suatu arah tertentu harus dikalikan nilainya dengan suatu faktor skala.66 V xd 599.. . maka menurut SNI 03-1726-2002 ps 7. 7..1....Untuk arah x 0.512 FS = = = 4.7641 kN < 2796. ....8V1 ≥1 Vt Dimana : V1 = Gaya geser dasar nominal sebagai respon dinamik ragam pertama Vt = Gaya geser dasar nominal yang didapat dari hasil analisa ragam spektrum respons yang telah dilakukan Sehingga dengan cara tersebut didapat nilai FS untuk masing – masing arah pembebanannya...

.0632 0.OK! Maka untuk arah y.512 kN..0002 4.8772 88.396882 0.6 Kontrol Partisipasi Massa Sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps...0000 0.4192 78.99 Vxd = 280091...6999 95.230644 1..8V xs 2800.2.. Tabel 5....27223 0.220727 0.0001 2..9158 kN > 2796.0000 78.0000 78.53 88...0000 0.0000 0.8772 92.10 Kg = 2798.422585 0.9803 78.. .429487 2..0936 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 .0935 95..0000 0.71274 0.3130 0.3687 kN > 2796...512 kN.335163 0. V xd ≥ 0.0000 78.1 jumlah ragam vibrasi (jumlah mode shape) yang ditinjau dalam penjumlahan respons ragam harus sedemikian rupa sehingga partisipasi massa (Modal participating Mass Ratios) dalam menghasilkan respons total harus mencapai sekurang – kurangnya 90 %.OK! Sehingga.0000 9.9405 92.1696 0.769604 0..0000 0..4 Modal Participating Mass Ratio Mode Period UX UY UZ SumUX SumUY SumUZ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2..58 Kg = 2800.3687 kN Maka untuk arah x. V yd ≥ 0.0015 10. 5. .8V ys 2798....4192 0.0000 0.0001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.0000 2..4192 78.3936 0.9158 kN Vyd = 276249.9803 88..5302 92.53 88.....0000 0...8969 0.2535 78.9803 0. gaya gempa dari spektrum respon dinamik tersebut selanjutnya digunakan sebagai beban gempa desain struktur.6998 92.9803 78.6998 92... 7..9405 95.596052 0.258883 0.554149 0.....2535 95.0000 4.8772 88.0935 95..9405 92.4207 88.1093 0.

4 didapatkan bahwa dalam penjumlahan respons ragam menghasilkan respons total mencapai 95.422585 0.88% 5.173467 0.2.2 untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu-waktu getar alami yang berdekatan yaitu apabila selisih nilainya kurang dari 15 %.45% 67.57% 17.69% 11.056864 0. Dengan demikian ketentuan menurut SNI 03-1726-2002 Ps.82% 1. 5.5 Selisih Periode Antar Mode yang Berdekatan Mode Periode (sec) Selisih % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2.17% 2. harus dilakukan dengan metoda Kombinasi Kuadratik Lengkap (CQC).33% 6. 7.65% 19.198843 2.258883 0.676495 1.272230 0.2.1 dapat dipenuhi.038156 0. 7. penjumlahan respons ragam dapat dilakukan dengan metoda Akar Jumlah Kuadarat (SRSS).013347 0.396882 0.29% 6.116688 0.061719 0.712740 0.2535 % untuk arah X dan 95.554149 0.769604 0.100 Dari Tabel 5.6 Metode Penjumlahan Respons Ragam Menurut SNI 03-1726-2002 Ps.0936 % untuk arah Y.220727 3. Tabel 5.784545 0.67% .335163 0.35% 78.596052 0.429487 0.025703 0. Untuk Struktur gedung yang memiliki waktu getar alami yang berjauhan.230644 0.062933 0.

101
Karena selisih waktu getar alami dominan kurang dari 15%, maka metoda penjumlahan ragam respons menggunakan metoda CQC.

5.7 Simpangan Antar Lantai
Simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum, Δm, dihitung sebagai berikut: Δm = 0,7 RΔs Dengan R adalah factor modifikasi respons (table 12.2-1). Δs adalah respons statis simpangan elastic struktur yang terjadi di titik-titik kritis akibat beban gempa horizontal rencana.Simpangan elastis struktur dihitung menggunakan analisa dinamis.

¾ Batasan simpangan antar lantai
Simpangan antar lantai yang dihitung berdasarkan persamaan diatas tidak boleh melebihi 2,5% dari jarak lantai untuk struktur dengan waktu getar dasar lebih kecil daripada atau sama dengan 0,7 detik, sedangkan untuk struktur bangunan dengan waktu getar dasar lebih besar daripada 0,7 detik, simpangan antar lantai tersebut tidak boleh melebihi 2,0% dari jarak antar lantai, secara singkat batasan simpangan antar lantai dapat dituliskan :

2,5 xh 100 2,0 T ≥ 0,7 detik, maka Δm ≤ xh 100
T ≤ 0,7 detik, maka Δm ≤

102 Simpangan Elastis Struktur
Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps. 8.1.2, simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung tidak boleh melampaui 0.03 dikali tinggi antar tingkat atau dibatasi sebesar 30
R

mm diambil nilai yang terkecil. Nilai R didapat sebesar 6 sehingga batasan Simpangan elastis struktur gedung didapat : - Untuk h = 4,25 m : Δs = 0,03 × hi = 0,03 × 4,25 = 0,02125 meter = 21,25 mm R 6 Nilai simpangan struktur gedung didapat dari hasil running ETABS v9.2.0 dengan memilih satu titik pada setiap gedung yang direncanakan. Sedangkan nilai simpangan antar tingkat diambil dari selisih nilai simpangan antar gedung yang terjadi. Nilai simpangan gedung yang terjadi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.6 Simpangan
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 ∆x (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25.0 19.4 13.4 7.5 2.4 ∆y (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4

Setelah didapat nilai simpangan gedung, ditinjau nilai Δs antar tingkat arah X dan arah Y dapat diperoleh pada tabel berikut :

103
Arah x : Tabel 5.7 Analisa ∆s akibat gempa arah x
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25 19.4 13.4 7.5 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 2.1 2.8 3.4 4.1 4.7 5.1 5.6 6 5.9 5.1 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Arah y :
Tabel 5.8 Analisa ∆s akibat gempa arah y
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.6 2.2 2.8 3.6 4.1 4.8 5.3 5.7 6 6 5.2 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .6 6 5.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.52 25.42 23.0 T ≥ 0.7 5.25 m = 0. Δm.76 14.78 21.104 Dari tabel tersebut dapat dilihat nilai simpangan antar tingkat dalam arah X maupun arah Y tidak ada yang melebihi syarat batas yang telah ditentukan. ¾ Simpangan Antar Lantai Sesuai SNI 1729 Pasal 15.42 10.1 4. dihitung sebagai berikut: Δm = 0.8 3.9 5.20 24.75 42.5 38.82 11.7 RΔs Dengan batasan simpangan antar lantai : Waktu getar dasar yang terjadi T = 1.0 Δm ≤ x 4.25 34 29.22 19.1 5.1 2.5 21.75 8. maka Δm ≤ xh 100 2.30 8.25 17 12.085 m = 85 mm 100 Nilai simpangan antar tingkat dapat diperoleh pada tabel berikut : Arah x : Tabel 5.1 simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum.75 25.5 2.9 Analisa ∆m akibat gempa arah x Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.28 17.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.7 detik.1 2.15 detik 2.4.4 4.74 21.5 4.

26 23.2 2.105 Arah y : Tabel 5.12 17.5 21.16 22.8 5.2 2.84 10.10 Analisa ∆m akibat gempa arah y Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.20 25.75 42.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.3 5.6 2.5 38.7 6 6 5.22 20.72 9.94 25.6 4.25 34 29.75 8.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .76 15.1 4.24 11.75 25.20 21.5 4.25 17 12.8 3.

106 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

Pada perhitungan berikut Balok Induk direncanakan dengan profil WF 500. Panjang balok (L) = 1000 cm.107 BAB VI PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA 6.20. ditunjukkan contoh perhitungan balok Induk pada lantai 1 dengan kode balok B-23.6 kg/m tw = 10 mm Zx = 2096 cm3 d = 500 mm tf = 20 mm Zy = 332 cm3 Sx = 1910 cm3 b = 200 mm Ix = 47800 cm4 .200.1 Denah Pembalokan lantai Pada perencanaan ini.10.2 cm2 W = 89. Adapun data – data profil adalah sebagai berikut : ix = 20.1 Perencanaan Balok Induk Gambar 6.5 cm r = 20 mm A = 114.

termasuk penampang kompak.......OK = = 6.tf 2..0) f = 0.... didapatkan : Mmax (-) = 2850308..2..0 untuk batang B-23.OK ¾ Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Pelat Sayap : bf bf 200 < λp ......16 170 170 λp = = = 10.80 tw tw 10 λp = 1680 fy = 1680 250 = 106..78 cm 360 360 Lendutan yang terjadi (ETABS v9..33 cm h = 428 mm Iy = 2140 cm4 Sy = 214 cm3 6...56 Kg L = 1000 cm ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin (f’) adalah f '= L 1000 = = 2..765 cm f < f ' .1..75 250 fy Pelat badan : h h 428 < λp.21 Kgcm Vu (-) = 13797...OK = = 42......25 2.tf 2....108 iy = 4. maka Mnx = Mpx ..25 Jadi....1 Kondisi Balok Utama Sebelum Komposit Dari hasil output ETABS v9.2.

kuat nominal komponen struktur adalah : ⎡ ( Lr − Lb) ⎤ Mn = Cb ⎢ M r + ( M p − M r ) ≤ Mp ⎥ ( Lr − Lp ) ⎦ ⎣ MA = 1990319.109 ¾ Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 250 cm Berdasarkan tabel untuk BJ 41 profil WF 500. Lr > Lb > Lp → bentang Menengah.10.2850308.549 cm.21 (2.200.749 cm Jadi.21 ) + (3.5.2850308. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lr > Lb > Lp.3 → dipakai 1.1135694.93 < 2.Zx = 2500 .06 ) = 1.5 My MR = (fy-fr)Sx = 1800.71 Kgcm MC = 286624.5Mmaks ≤ 2.24 Kgcm MB = 1135694.06 Kgcm Cb = = 12.20 didapatkan : Lp = 215.93 My = Sx. 2500 = 4775000Kgcm Mp = fy.24 ) + (4. 2096 = 5240000 kgcm < 1.286624.71 ) + (3.5Mmaks + 3M A + 4 M B + 3M C 12. Lr = 643.5.fy = 1910 .1990319. 1910 = 3438000 kgcm .3 2.

6.1 n tw fy 5 Dimana.......8 ≤ 69.... 749 215 ...E h ≤ 1.21 Kgcm ≤ 0. ¾ Kontrol Geser Kontrol geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw). untuk balok dengan pengaku vertikal 2 a h ( ) pelat badan.9.. k .fy........110 ⎡ (643. Sehingga.93⎢3438000 + (5240000 − 3438000) ⎥ ≤ Mp − ( 643 ..1 10 2500 42.749 − 250) ⎤ Mn = 1. kn =5..6.92 kgcm > 5240000 kgcm Dipakai Mn = Mp = 5240000 kgcm Persyaratan : Mu ≤ φMn 2850308.OK Jadi Penampang profil baja sebelum komposit mampu menahan beban yang terjadi..1) cm2 = 64200 kg . untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.8...10 6 ) 428 ≤ 1...2500 kg/cm (42.. 549 ) ⎣ ⎦ = 9828385. OK Vn = 0....Aw = 0...... kn = 5 + ..57. 5240000 kgcm 2850308....21 Kgcm < 4716000 kgcm.. 5(2.

..0 didapatkan momen positif adalah Mmaks = 3269371.8 < 106..752...fc’..2..ok Profil penampang kompak..ok 428 1680 ≤ 10 250 42.250 = 531250 kg ..1000 cm = 250 cm jadi beff = 250 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As..16 250 6.85.9....38 Kgcm (batang B-23). sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis... L = 1000 cm beff ≤ ¼ .25 < 10.....2500 = 285500 kg C2 = 0. ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 200 170 ≤ 2......fy = 114...2.10..111 Persyaratan : Vu ≤ φVn 13797..25.L = ¼.....250.56 Kg ≤ 0..56 Kg < 57780 kg . 64200 Kg 13797.beff = 0.2 Kondisi Balok Utama Setelah Komposit ¾ Zona momen Positif Dari hasil output ETABS v9..OK 6.85.tplat.1...

15 Potongan balok Induk d1 = tb - 5.85.379 cm = 0.2500 = 285500 kg .250 beff = 2375 mm t = 100 mm 54 mm d Gambar 4.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 285500 kg Py = As. fc'.4 = 4.250. C =C1 ( terkecil) = 285500 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 285500 = 5.2.fy = 114.beff 0.713 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 50 d3 = = = 25 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.85.112 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.379 a = 9.

5 kgcm 3269371. 2400 = 20508... L = 1000 cm beff ≤ ¼ . 2500 = 285500 Kg .32 Kg Gaya tekan nominal maksimum dalam penampang baja Pyc = As .Mn 3269371. Tc = Asr .5 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .L = ¼. 0. ¼ . fyr = 17.8483061...Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.0 didapatkan momen negatif Mmaks = 5440837.. ¾ Zona momen negatif Dari hasil output program ETABS v9.113 Mn = 285500 (4.38 kgcm ≤ 0.21 Kgcm (batang B-23).85.1000 cm = 250 cm tbondex = 0. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.75 mm fyr = 240 Mpa ts = 100 mm ¾ Menentukan Lokasi Gaya Tarik pada Balok Baja Batang tulangan menambah kekuatan tarik nominal pada pelat beton.2.713 + 0) + 285500 (25 .82 . fy = 114.38 kgcm ≤ 7210602.0) = 8483061.. л ...27 kgcm..2.

Ts = Pyc − Tc 285500 − 20508. berlaku persamaan.84 Kg Gaya pada sayap.114 Gambar 6.1.3 Distribusi tegangan negatif Karena Pyc > Tc. 2500 = 115000 Kg Gaya pada badan. tf .32 = 2 2 = 132495.84 = fy.0 = 6. Tf = bf .tw 2500.84 Kg Jarak garis netral dari tepi bawah sayap : aw = Tw 17495.84 – 115000 = 17495. 2.99 cm . maka PNA pada web. Tw = Pyc − Tc − Tf 2 = 132495. fy = 20 .3 .

.93 mm d3 = D/2 =50/2 = 25 cm d1 = ts – c = 10 – 2.65 Kgcm 5440837.2.5.99)) = 115000 + 17495.85 .21 Kgcm ≤ 5838803.0) + (17495.OK .5aw)) Tf + Tw (115000.115 ¾ Menenentukan Jarak Gaya yang Bekerja dari Centroid d2 = (Tf ....593) = 6869180.84 = 1.6869180.65 Kgcm Persayaratan : Mu ≤ φMn 5440837.593 cm = 15.6.32 (7..5 cm ¾ Perhitungan Momen Nominal Negatif Mn = Tc (d1+ d2) + Pyc(d3 – d2) = 20508.5 = 7.21 Kgcm ≤ 0.84.593) + 285500 (25– 1.5 + 1.0.56 Kgcm.0 + 0.5.0..(2.5tf ) + (Tw(tf + 0.

0 diperoleh gaya – gaya yang bekerja pada kolom CIN 7 lantai dasar adalah : Pu = 595950.2 + 2 2 1 tw).17 mm d = 500 mm Iy = 52189 cm b = 200 mm H = 428 mm Sx = 1997.2 + 2 2 (50-2. b).2.116 6. 2 2 2 2 2 (d-2tf).3 Kgcm = 16667.10. b. 20.tf.2 Kolom Komposit Dari hasil output ETABS v9. .1.6 cm 3 Sy = 2046.15 Kg Vux = 15154.( 1 .6 Kg = 2261074.6). d.16 dengan spesifikasi material : Ix = 49940 cm4 ix = 14.1.200.( 2 = (( 1 .4 cm2 4 iy = 15.6))+(( 1 .4 Sketsa penampang kolom komposit Zx = (( 1 .6 cm KC 500 x 200 x 10 x 16 TULANGAN Ø16mm KING CROSS 50 TULANGAN GESER Ø12 . 1 .1. d) + (b-tw)(tf)(d-tf)) + (( 1 .300 700 700 Gambar 6.79 mm A = 228. 1 .31 Kg Vuy Kolom komposit direncanakan dengan menggunakan profil K500. 20). 50)+(20-1)(1.6)(50-1. 1 . 1). 1)) = 2428.( 1 .06 cm 3 2 2 .56 Kgcm Mux Muy = 2250329. 50. 1 .tw.( 1 tw)) .6.

(d+tw-tf)) =(( 1 .8. Ac As 4663.56 mm2 Untuk baja yang diberi selubung beton : C1 = 0. Acn As + C2.tf.162 = 804.300 = 54 mm2 < 113.1.7% > 4% Ac (70.18.2 fmy = fy + C1. tf.19 Mpa .fc. 1 (d+tw) 2 2 2 2 2 2 + (b-tw).4 = 250 + 0.70) Tulangan longitudinal Jarak spasi tulangan = 700 – (2.tw.7.70) – (228. 1.b.6.25 mm2 Ar minimum = 0. 1 .π.6). 1 .04 + 0.25.4 = x100% = 4.09 mm2 Luas sengkang minimum = 0.6.122 = 113.560 = 100. 1 .12 – 16 = 560 mm Luas tulangan longitudinal (Ar) = 4.π.1/2.2+(50-.1.2 + (d-2tf). tw) + ( 1 (d+tw). tw.6 .18.7 . 1 .04.4 228.25 mm2 Tulangan Lateral (Sengkang dipasang Ø12-300mm) Luasan tulangan sengkang = ¼.fyr.71 cm3 Kontrol luas penampang minimum profil baja : As 228.4 + 8. 1. C2 = 0.6. = 562.240.(50+1-1. b).1. 1 .09 mm2 Luas penampang bersih (Acn) = (70.6)) = 2483.117 Zy = (( 1 . 1 (50+1) 2 2 2 2 2 2 + (20-1).56 8.8 mm2 < 804. C3 = 0.50) -2. 1 . 1)+( 1 (50+1). 228. 20).20.04) = 4663.

200.9.10.200.3.200.14 Kolom K500.14 WF 600.200.16 Arah X WF 500.4 rm = 0.10.000 Mpa Em = Es + C3.200.Ec.10.8 Mpa 228.20 Kolom K500.9.24102.200.16 WF 600.118 Ec = 0.5√25 = 24102.200.200. Acn As 4663.20 WF 500.200.9.16 Gambar 6.10.70 = 21 cm > iy ( dipakai rm) = 200000 + 0.98 Kuat Nominal Aksi Kolom Komposit WF 500.200.56 = 298428.24001.041.13.98 Mpa Es = 200.5√fc’ = 0.3b = 0.5 Skema Kolom .23 Kolom K500.200.10.14 WF 600.16 WF 500.16 WF 500.2.9.10.14 Kolom K500.200.04.w1.10.

19 fcr = = = 506.5 = = 31.0.52 dan nilai Kcy = 1.47 Pn = As.11 ω= 1.5 = 0.5 cm λ= λc = Lk 654.54 Ix 41900 41900 ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ ⎜ ⎟+⎜ ⎟ 950 800 L ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Jenis rangka tidak berpengaku (unbraced frame).fcr = 228. sehingga nilai GB = 1 ⎛ Ix ⎞ ⎛ 49940 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAx = = = 2.3 Kg/cm2 = 1157153.L = 1.4 cm2.47 298428 .17 cm rm 21 λ π f my Em = 31.67.43 = 1.8 Karena nilai λc. sehingga dari nomogram didapatkan nilai Kcx = 1.54 → KcY menentukan Lk = Kc. maka termasuk dalam kategori kolom menengah.425 = 654.17 π 654.26 Kg . dimana : 1.5066.43 = 1.2.34 47800 Ix ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L 950 ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎛ Iy ⎞ ⎛ 52189 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAy = = = 2.6 − 0.11 1. 0.6 − 0.119 Bagian dasar kolom diasumsikan jepit.63 Mpa ω 1.67λc f my 562.54.25 < λc <1.

Persyaratan luas minimal penampang beton yang menahan beban desain kolom adalah : ¾ Kemampuan profil baja menahan beban φPns = 0.6.φ.85.0.84 …….Ab Ab ≥ ϕPnc 498230.120 φPn = 0.7.27 Kg > Pu……….26 Kg = 983580.27 .6 > 0.fc’.4.27 = = 1953.50) + ((50+10)10) = 101 cm2 Crc = Crt = 350 – (50 + 12 + (1/2.16)) = 280 mm Cr = (Crc + Crt)/2 = 280 mm h1 = h2 = 700 mm Pu 595950.2500 = 485350 Kg ¾ Kemampuan penampang beton menahan beban φPnc = φPn – φPns = 983580.2 ϕPn 983580.6 = = 0.As.250 ¾ Kuat Nominal Komposit dan Aksial Kolom Komposit Luasan badan profil (Aw) = (1..7.228. fc ' 1.(OK) Semua beban desain kolom ditopang oleh kolom komposit ( terdiri dari profil baja dan beton).7. 1157153.27 Kg – 485350 Kg = 498230.(OK) 1.85.85.ϕ .27 Kg Syarat yang harus dipenuhi untuk luas penampang beton φPnc ≤ 1.fy = 0.

12854730.7. fy − 2 1.(h2 – 2Cr)Ar.121 Mnx = Zx.7 x 250 x70 = 12854730.71 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8. fy − 2 1.10.fy + 1/3.h1 = 2483.7 7 ⎠ Kesimpulan: Kolom komposit digunakan profil K500.56 2250329.h1 = 2428.0(OK ) 9 ⎝ 0.7 x 250x70 =12993755.85.fyr + h2 Awfy )Aw.6 + ⎜ + ⎟ = 0.(h2 – 2Cr)Ar.200.7 7 0.fyr + h2 Aw. fy Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Untuk Pu > 0.77 Kgcm ( )Aw.85.16 .77 Kgcm ( Mny = Zy.04 x 2400 70 101x 2500 +( )101x 2500 − 2 1.06 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8. fc '.2 → ⎟ + ⎜ + ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ϕPn ⎝ ⎠ 8 ⎛ 2261074. fc'.3 ⎞ 0.fy + 1/3.7.12993755.04 x 2400 + ( 70 − 101x 2500 )101x 2500 2 1.965 ≤ 1.

2 D + 0.1.3.1.Mpbalok = 1.5.2500) Kgcm = 14265900 Kgcm . (2096.1.6 Sambungan Balok – Kolom yang direncanakan Sambungan balok utama B-22 dengan kolom direncanakan dengan rigid connection dimana sambungan memikul beban geser Pu dan momen Mu. Penerimaan beban dianggap sebagai berikut : • Beban Pu diteruskan oleh sambungan pada badan secara tegak lurus ke flens kolom • Beban momen Mu diteruskan oleh sayap balok dengan baja T keflens kolom Vu = 16319 Kg (1.1 Sambungan Antara Balok dengan Kolom Gambar 6.3 Desain Sambungan 6.122 6.5 L) Sambungan kaku yang merupakan bagian dari Sistem Rangaka Pemikul Beban Gempa mempunyai kuat lentur Mu yang besarnya paling tidak sama dengan : Mu = 1.Ry.

200. 25.tp.75.2).fu (tebal pelat badan dipakai tebal badan balok tp = 10 mm)) = 0. Elemen – elemen sambungan : • Balok melintang menggunakan profil WF 500. Sambungan geser pada badan balok Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.2.16 Gaya geser terfaktor V pada sambungan kaku harus diambil berdasarkan kombinasi pembebanan 1.db. sehingga besarnya : Vutambah = 14265900 + 14265900 = 30033.4100 Kg/cm2 = 18745.5 Kg = 46352.75.6 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf. D = 25.5.123 Momen lentur rencana sambungan berdasarkan kemampuan balok.9.4 cm.2 Kg) .(0.07 = 31370.4.2.2Ab = 0.4.10.5) • Mutu profil BJ41 (fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.8250)2.0 cm.2 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg =18745.2D + 0.5L ditambah gaya geser yang berasal dari Mu diatas (LRFD ps 15.5 Kg A.2.(r1fub).07 cm2 Vdg = φf.5.5 Kg 950 Vutotal = 16319 Kg + 30033.10.16 • Kolom menggunakan profil K500.200.1.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.

3 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5. Ølubang = 25.2.4100 = 13121. Ølubang). D = 25.7.5.2.07 cm2 Vdg = φf.22 cm2 .0.64 Kg n= Vu 46352.2 = = 3. dipasang 4 buah pada 2 sisi. 5.4.7 = 17.0. Vdg 13121.6 mm (lubang dibuat dengan bor) = 27 mm Anv = Lnv. BJ 41 dengan fu = 4100 Kg/cm2. Ab = 0.db.7.t = (L – n.75.2.2.54.75.07 cm2 = 15685.53 . dipasang 3 buah Vdg 18745.70.4.5) • Mutu profil BJ41(fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.47 .tp.fu (tebal pelat badan dipakai tebal pelat siku tp = 7 mm)) = 0.(r1fub).5 = = 2.124 n= Vu 46352.64 sehingga pada satu sisi menjadi 2 baut C.t = (30 – 2.(0. Kontrol siku penyambung Siku direncanakan menggunakan ∟70. 8250 Kg/cm2).2 B.4 mm + 1. Sambungan geser pada sayap kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.7).

.7 Gaya – gaya yang bekerja pada profil T .0..6 mm (lubang dibut dengan bor) = 27 mm Ab = 5.fu. dengan data – data: Ølubang = 25..08 Kg > 23176...125 Siku ditinjau satu sisi sehingga gaya = ½. Ok D. 17.50 W Q a 1 2(T 1 2(T a' + Q) + Q) b' b 2T Bidang kritis 1 2(T 1 2(T + Q) + Q) flens profil T Badan profil T Q Gambar 6.07 cm2 Mutu baja profil BJ 50 (fu = 5000 Kg/cm2) Mutu baut (fu = 8250 Kg/cm2) Akibat gaya Mu.Vu = 23176.4 mm.25 Kg φPn = φ(0.4 mm + 1.25 Kg .4100 Kg/cm2. Sambungan pada sayap profil T dengan sayap kolom Direncanakan menggunakan baut D25.22 cm2 = 38125.9.6.6...Anv) = 0. profil T akan mendapat gaya tarik sebesar : 2T = Mu d balok 14265900 T= = 142659 Kg 2.

Fisher dan Shrink : a ≤ 1.75.(50 + 30.75.88 Kg Syarat.20.½.5.5 mm . B > T 94111.75. r = 22mm a = 50 mm (direncanakan) b= 400 − 20 − (50 + 90) = 50mm 2 Menurut Kulak.58 – 50= 101.0. Øbaut = 50 .25.76 Kg (memenuhi syarat) ¾ Perhitungan sayap kolom dengan profil T Perhitungan tebal sayap T yang diperlukan : Direncanakan memakai profil T 400.58 cm Dalam hal ini kita coba pakai profil T 600.58 cm 2.50 = 62.(0. 14265900 Lengan kopel = = 151.7 mm b’ = b – ½.3) Syarat. T = 14265900 = 88828. n = jumlah baut = 0.35.75.(OK) Koreksi untuk a dan b a’ = a + ½.12.94 Sehingga tinggi tambahan yang diperlukan menjadi.5 mm…………….25..07 cm2.88 Kg < 142659 Kg (Tidak memenuhi syarat) Untuk mengatasinya kita dapat memakai potongan profil balok atau profil T yang dihubungkan ke bawah balok utama agar lengan momen kopel menjadi besar. Øbaut = 50 + ½.4 = 37. B > T 94111.25.47055.76 Kg 2.88 Kg > 88828. = 151.4 = 94111.fub.Ab)n.126 B = Kekuatan rencana baut = φRn = 0.20 Maka.400.8250 Kg/cm2.25 b 50 < 1.200.4 = 62.

58 αδ ⎞⎛ b' ⎞ ⎛ 0. 7 ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠ ⎠⎝ ⎝ = 12001 Kg Gaya yang terjadi pada baut : B ≥ ½ (T + Q) 94111.127 β =⎜ ⎞ 62. 58 .734 ⎞⎛ 37.88 − 1⎟ = 0.88 ≥ ½ (88828.734) ≥ 3. tf pada profil T 400.400. dipakai ⎜ ⎟ δ ⎝ 1 − β ⎠ 0.3 ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ = 0. Sambungan pada badan profil T dengan sayap balok Kontrol Kekuatan Baut Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.5) • Mutu profil BJ55 (fu = 5500 Kg/cm2) . fy.3.7 + 12001) 94111.5 ⎛ w − ∑ d ' ⎞ 200 − 2.(1 + 0.6 mm Sehingga.16 cm = 31.88828.4100 Kg / cm 2 .76 Kg ⎜ ⎜ αδ + 1 + a ' 1 0 .9.5 0.734 ⎟= 200 ⎝ w ⎠ α= 1⎛ β ⎞ 1 ⎛ 0. 0 .0.26.6 δ =⎜ = 0.76 ⎠ 37.76 Kg .734 ⎝ 1 − 0.58 < 1. 734 62 .35 dapat dipakai ≥ E.0.(1 + αδ ) 4.88 Kg > 50414.85 Kg…….T .20.w.58.58.7 ⎛ B ⎞ a ' ⎛ 94111.5 ⎞ Q= T ⎛ ⎟ ⎟⎜ ⎟⎜ ⎟ = 88828.3 ⎠ Nilai α = 0.b' tf ≥ ϕ .3 < 1 − 1⎟ = ⎜ ⎝T ⎠ b' ⎝ 88828.Ok Maka tebal perlu sayap profil T 4.20cm.

db. sehingga dipasang 6 Vdg 15685. BJ 55 (Ag = 5..3.07 cm2 = 15685.4.16 cm.……….(r1fub).(Ok) .5.66buah .Ab = 0.07 cm2) Vdg = φf.8 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg = 15685.4.9.31 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.128 • Baut tipe tumpu Øbaut 25.tw) = 90 cm2 – (3.fu (tebal pelat badan dipakai tebal sayap profil balok tp = 12 mm)) = 0. 2.4100 177657.76 T = = 5.tw = 20 cm..4.5 cm = 90 cm2 An = Ag – (Σd’.4.4 mm .tp.76 ≤ 0.(0.88828. sehingga pada 1 sisi menjadi 3 baut.34 cm2 Terhadap leleh 2T ≤ 0.Ag.31 buah baut pada 2 sisi.54cm.fy 2.52 Kg ≤ 332100 Kg….5.1.75.2. Kekuatan badan profil T Dipakai baut Ø25.8250 Kg/cm2).4 mm.2 cm.90.8250 Kg/cm2 = 45262.31 Kg) n= 88828. BJ 55 dengan fy = 4100 Kg/cm2 dan fu = 8250 Kg/cm2 Ag = w.9.75.5 cm) = 47.2.

9.4 Baut D 25.5..45 Kg…………….76 ≤ 0.2500.8 sambungan kolom – kolom .4 Gambar 6.4 Baut D 25.8250 177657.An.1997.2 Sambungan Kolom – Kolom Sambungan kolom .5.7 adalah sebagai berikut : Pu = 595950.Zx Mux = 1. Gaya – gaya yang bekerja pada kolom lantai CIN.3.fy.kolom direncanakan pada lantai 1.34.129 Terhadap patah 2T ≤ 0.(Ok) 6.47.6 = 7491000 Kgcm Baut D 25.6 Kg = 1. 88828.fu 2.9.52 Kg ≤ 350712.

4 Pusayap = Pu – Pubadan = 595950.1.2.1.75.4.130 Pembagian Beban Momen 1 .1.db.503 I badan Mubadan = Mu = 12 7491000 = 1562500Kgcm I profil 49940 Musayap = Mu – Mubadan = 7491000 – 1562500 = 5928500 Kgcm ¾ ¾ Pembagian Beban Aksial A 2.fu (tebal plat dipakai tebal plat sayap Kolom tp = 16 mm) = 0.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut D 25. 2.07 cm2) Vdg = φf.2.4.6 – 260920 = 335026.6 = 260920 Kg Aprofil 228.32 Kg .5.4100 = 29992.r1.Pu = 595950.52 Kg ¾ Kontrol Geser pada Sayap Kolom Dipakai tebal pelat penyambung 16 mm Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.6.8250 Kg/cm2.54.75.07 cm2 = 31989.2.50 Pubadan = badan .5. ( Ag = 5.tp.0.37 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.4 mm. 2Ab = 0.fub.

75.0.4. Vdt = 22860 Kg Momen yang bekerja pada titik berat sambungan badan Mutotal = Mubadan + Pu.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut 25.8250 Kg/cm2.75.tp.2Ab = 0.63 Kg Vdg > Vdt (digunakan Vdg = 29992.07 cm2) Vdg = φf.1.2.2.e = 1562500+ 260920.fub. 5000 = 22860 Kg Dipakai.32 Dipasang 12 buah agar simetris ¾ Kontrol Geser pada Badan Kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.1.4 mm.131 Gaya kopel pada sayap 5928500 = 296425Kg d 20 Pu sayap Jumlah gaya total pada sayap = T + 4 335026.07 cm2 = 31370.67buah ≈ 12buah Vdg 29992.63 n= = = 11.52 = 296425 + 4 Tu = Musayap = = 380181.32 Kg) Vu 380181.2.63 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.4.r1.fu (tebal plat dipakai tebal plat badan Kolom tp = 10 mm) = 0.db.0.2.54.9 = 2058248 Kgcm .5. ( Ag = 5.5.

426 Kg < 22860 Kg………OK ¾ Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum = 1.2.62 cm Jarak antar baut maksimum = 15.6 + 15246.54 = 4.14) 2 + (555.6 Kg n 12 Mutotal .5 cm Jarak antar baut minimum = 3.tp = 12.445 cm Jarak tepi maksimum = 12.75.tp = 15.5 KuH2 = = = 14246.x 2058248 x 4.33 + 3009.1 = 15 cm Jarak tepi maksimum = 20 cm Dipasang jarak antarbaut = 9 cm .52) = 3078 cm2 Vu 16667.52 + 13.14 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 Mutotal .28) 2 = 19030.52 + 22.33Kg n 12 Akibat Vu → KuH1 = Σ(x2 + y2) = 12(4.15 = = 555.5 = = 3009.54 = 7. y 2058248 x 22.132 Dicoba dengan baut sebanyak 12 buah Pubadan 260920 Akibat Pu → KuV1 = = = 20743.2.426 Kg Kutotal < φVn 19030.5)2 + 4(4.75 db = 1.28 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 KuV2 = Kutotal = (ΣKuV ) 2 + (ΣKuH ) 2 = (21743.1 = 12 cm Jarak tepi maks = 20 cm Dipasang jarak tepi baut = 5.db = 3.

16 sehingga didapat : Alas = {(2.0 9 ⎝ 0.6 > 0.8)+(2.20)} 1.16 dengan data – data sebagai berikut : • No.27 Untuk Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Pu ⎟ + ⎜ + > 0.10.2 ϕPn kolom 983580.133 6.200.6 + ⎜ + 0 ⎟ = 1.2D + 0.3.4 cm2 = 84732.504 cm4 .12854730.3 Disain Base Plate Perencanaan base plate dibawah ini menggunakan fixed plate dari catalog PT Gunung Garuda untuk profil K500.15 Kg Vu Pu 595950.7 cm =530.46.200.52 Kgcm Sambungan Las pada End Plate Direncanakan las dengan te = 1.6 = = 0.2 ⇒ ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ⎝ ⎠ 8⎛ Mux ⎞ 0.45.85.77 ⎠ Mux = 4916934.10.7 cm pada daerah yang diarsir pada profil K 500.8) + (4.6 Kg = 16667.6 cm Dari output Etabs pada CIN 7 (comb 1.5L + E) lantai dasar adalah : Pu = 595950.Part = BMK-13 • H = 70 cm • B = 70 cm • tp = 46 mm = 4.

9 y Iy 84732.2.23 + 2.FE70xx = 0.1 = 2214.63 .4 fulas = φ.05cm3 x 23.22 .11 = 2452.83 + .27cm = fu las 2214.1cm = 1.4 3621.4 3700.46 .2.0.45 2 + 1389.45 a= te 1.45 Kg/cm2 16667.05 2 = 1389.20.⎜ . f V = f total = f p + fV 2 2 = 2452.504 Wy = = = 3621.92 ⎟⎥ + ⎢2.70.52 + = + A Wx 530.3 Kg/cm += Vu Akibat beban Vu.3.0.504 = = 3700.134 ⎡ ⎛1 1 1 ⎞⎤ ⎞⎤ ⎡ ⎛ 1 Iy = ⎢2.45 Kg/cm2 Akibat beban P.504 cm4 Wx = Ix 84732.23 + . f P = Pu Mx 595950 4916934.203 + 2.8.102 ⎟⎥ 12 12 ⎠⎦ ⎠⎦ ⎣ ⎝12 ⎣ ⎝12 = 84732.20.20.70.11cm3 22.45 .15 4916934.6.63 Kg/cm2 te = f total 2818.707 .⎜ .75.8 cm(amin) 0.27 = = 1.707 0.3 2 = 2818.6.52 + A 530.

dipakai h’ = 12 cm h = H – 0.db = 1.86 = 6 cm c1 = jarak minimum untuk kunci = 27/16.2.28 = 290.41.8 cm = dipakai c1 = we = 5 cm h’ ≥ 6+ 5 = 10 cm.5.300.6 d = 9 mm Direncanakan diameter baut : 28.75.25cm > 1 H = 11. .7 A1 .1. A2 = 0.tp = 1.120 = 840 mm= 84 cm B =900 mm = 90 cm Dimensi beton : Panjang : 90 cm Lebar : 90 cm A2 90 x90 1.5h’ = 900 – 0.85.1.7cm 6 Pu 595950.6 h’ ≥ we + c1 we = jarak baut ke tepi = 1.4cm f E 70 xx 70.3 Sehingga dipakai las dengan a = 18 mm Perhitungan Base Plate e= Mux 4916934.135 Syarat – syarat tebal kaki las Tebal minimum = tplat = 46 mm fu 4100 aeff max = 1.85.6 = 5.4.75.52 = = 18.125.db =4. f ' c. .70.41.28 = = A1 70 x70 Fcu = 0.

7.75.05) – 595950.1/4.5.84 − 90) + 2.6 = 52596.6 mm 14579≥ 2Tu + Cv.862) = 14579 Kg φRn ≥ 2.52596.(0.108 Tu (h'− we) .29 + 1.5Ab) = 0.2) 2500.84 = 42 mm =4.6.Vu .29(12 − 4.π.4916934.B 595950.6.4 diambil jumlah baut = 12 buah baut angkur 28.108 ≥ 2.52 0.5.90.90 ≥ 2.290.fub.26.16667. 7250.B. fcu.we ≈ 0.10.05 cm Tu = (0.136 a =h= 84- h2 − Pu (2h − H ) + 2Mu 0.5.75.7.2.25.2 cm fy.25 n .290.B 52596.16 Perhitungan Baut Angkur Dipakai baut angkur Ø28.6 mm φRn = 0.a) – Pu = (0.f’cu.6.15 n n = 8.6 (2.(0.85 cm Maka base plate dengan ukuran 90 x 90 cm dengan tp = 3 cm dapat digunakan sebagai alas kolom K500.6.200.90 842 − = 26.h = 0.29 Kg t ≥ 2. dimana Cv = 1.

f c ( M + V .16667.5))1/ 2 ≥⎢ 50. fc ⎣ ⎦ ⎡ 2.250(4916934.15 .250 ⎣ ≥ 73.52 +16667.50.5cm))1/ 2 ⎤ L≥ ⎢ ⎥ d.137 Panjang Angkur ⎡ 2V + (4V 2 + 6d .6 cm → diambil L = 120 cm .15+ (4.152+ 6.16667.

138 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

Gambar 7. WIKA Beton.1 Denah Rencana Pondasi Pondasi pada gedung apartemen Albergo. Jakarta ini direncanakan memakai pondasi tiang pancang jenis pencil pile shoe produk dari PT. Spesifikasi tiang pancang yang akan digunakan adalah sebagai berikut: : 500 mm • Diameter • Tebal : 90 mm : A3 • Type .1 Perencanaan Pondasi Kolom Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah.139 BAB VII PERENCANAAN PONDASI 7.

140
Allowable axial : 166,21 ton Bending Momen crack : 14 ton m Bending Momen ultimate : 21 ton m Dari hasil analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS, diambil output reaksi perletakan yang terbesar, hasilnya adalah sebagai berikut : Pu : 587339 kg : 74927,94 kgm Mx My : 74054,92 kgm : 12667,15 kg Hx : 11154,31 kg Hy • • •

7.1.1 Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal
Data yang diperoleh dan yang digunakan dalam merencanakan pondasi adalah data tanah berdasarkan hasil Standard Penetration Test (SPT). Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal, yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar tiang pondasi (Qp) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah (QS). Perhitungan daya dukung tanah memakai metode Luciano Decourt (1982) : QL = QP + QS Dimana : QL = daya dukung tanah maksimum pada pondasi QP = resistance ultimate di dasar tiang QS = resistance ultimate akibat lekatan lateral Qp = qp . Ap = (Np.K).Ap Qs = qs . As = (Ns/3 +1).As Dimana : Np = harga rata-rata SPT pada 4D pondasi di bawah dan di atasnya. K = koefisien karakteristik tanah Ap = luas penampang dasar tiang

141
Ns = rata-rata SPT sepanjang tiang tertanam, dengan batasan 3 ≤ N ≤ 50 As = luas selimut tiang Np =

46 + 42 + 54 = 47,33 3 AP = 0,25 × π × D 2 = 0,25 × π × 0,52 = 0,196m 2
K = 40 t/m2 (untuk tanah dominan pasir)

QP = N p × K × Ap = 47,33 × 40 × 0,196 = 371,73m 2
Ns =

22 + 44 + 38 + 48 + 42 = 38,8 5 2 AS = H × π × D = 10 × π × 0,5 2 = 7,854m 2

⎞ ⎛N ⎛ 38,8 ⎞ + 1⎟ × 7,854 = 109,43ton QS = ⎜ S + 1⎟ × AS = ⎜ ⎝ 3 ⎠ ⎠ ⎝ 3
QL = QP + QS = 371,73 + 109,43= 481,16 ton QU =

QL 481,16 = = 160,39 ton SF 3

7.1.2 Daya Dukung Tiang Pancang Kelompok
Pondasi tiang pancang direncanakan Ø50 cm. Jarak dari as ke as antar tiang pancang direncanakan seperti pada perhitungan di bawah ini : Untuk jarak antar tiang pancang : 2,5 D ≤ S ≤ 3 D dimana : S = jarak antar tiang pancang S1= jarak tiang pancang ke tepi 2,5 × 50 ≤ S ≤ 3 × 50 125 ≤ S ≤ 150 Untuk jarak tepi tiang pancang : 1,5 D ≤ S1 ≤ 2 D 1,5 × 50 ≤ S1 ≤ 2 × 50 75 ≤ S1 ≤ 100 Dipakai : jarak antar tiang pancang (S) = 130 cm jarak tepi tiang pancang (S1) = 80 cm

142

Gambar 7.2 Konfigurasi Rencana Tiang QL (group) = QL (1 tiang) × n × η

η = 1 - arc tan( D / S ) × ⎛ 2 − 1 − 1 ⎞ …………Converse Labarre ⎜ ⎟ 90° m n⎠ ⎝
Dimana : D = diameter tiang pancang S = jarak antar tiang pancang m = jumlah tiang pancang dalam 1 baris = 3 n = jumlah baris tiang pancang = 3 Efisiensi : (ή) =1QL (group)

arctan(500 / 1000) ⎛ 1 1⎞ × 2 − − ⎟ = 0,606 ⎜ 90 0 3 3⎠ ⎝ = 160390 × 9 × 0,606 = 874767,1 kg

Perhitungan beban aksial maksimum pada pondasi kelompok a. Reaksi kolom = 587339 kg = 42336 kg + b. Berat Poer = 4,2 × 4,2 × 1 × 2400 Berat total = 629675 kg QL (group) = 874767,1 kg > P = 629675 kg........OK

namun yang diperhitungkan hanya gaya tekan karena gaya tarik dianggap lebih kecil dari beban gravitasi struktur..19 ton.Ymax ⎞ ≤ Pijin 1 tiang ⎟ 2 ⎟ ∑Y ⎠ Pmax = ⎜ ⎜ ⎛ 643..3 ⎞ + + ⎟ ⎟ 2 2 9 × 6 1 . sehingga berlaku persamaan : Pmax = ⎜ ⎜ ⎛V ⎝n + My.21 ton.3 74. Momen pada tiang dapat menyebabkan gaya tekan atau tarik pada tiang.4 Kontrol Kekuatan Tiang Dari spesifikasi “Wika Pile Classification” direncanakan tiang pancang beton dengan : • Diameter : 500 mm • Tebal : 90 mm • Type : A3 : 166.2 ton ≤ = 97.390 x 0..05492 × 1.606 = 86.1.92794 × 1.143 7.19 ton …………………. 3 × ⎝ ⎠ = 86. Pmax = 86. 3 6 1 ..OK 7. X max ∑X 2 + Mx..OK .3 Kontrol Beban Maksimum 1 Tiang (Pmax) Beban maksimum yang bekerja pada satu tiang dalam tiang kelompok dihitung berdasarkan gaya aksial dan momen yang bekerja pada tiang.2 ton < Pijin 97.21 ton • Allowable axial • Bending Momen crack : 14 ton m • Bending Momen ultimate : 21 ton m ¾ Kontrol terhadap Gaya Aksial Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification.579 74. gaya aksial tidak diperkenankan melebihi 166.1...2 ton ≤ Pijin 1 tiang = 160.

Ok ...5(0...425 kg/cm 2 dari lampiran data tanah di ketahui qu = 0.Cu . momen tidak diperkenankan melebihi Mcrack = 14 tm.5d + 0..5(0.5) + 0.85 kg/cm2 Cu = = 4...5f) f = H 9....144 ¾ Kontrol terhadap Gaya Momen Setelah tiang dipancang Perumusan yang dipakai diambil dari buku “Daya Dukung Pondasi Dalam” : Mmax = H (e + 1.66715.627 m 9 × 4.47 tm ... (0 + 1...5 = 13.25 t/m2 f = 12..d Dimana: H = Lateral Load e d = jarak antara lateral load (H) dengan muka tanah = diameter pondasi 1 2 qu = 0.627)) Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification. Cek kekuatan momen tiang : Mcrack = 14 tm > M = 13.47 tm M = Mmax = 16..25 × 0.66715 = 0.

12.2.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.2 ton P max (1 tiang) ∑ tiang pancang tiap group =9 Dimensi kolom = 700 × 700 mm2 Dimensi poer = 4.579 ton Pu = 86.5 mm • Kontrol Geser Pons Pada Poer Dalam merencanakan poer harus dipenuhi persyaratan kekuatan gaya geser nominal beton yang harus lebih besar dari geser pons yang terjadi. Hal ini sesuai yang disyaratkan pada SNI 03-2847-2002 pasal 13.2 × 4. Data perancangan poer : = 643.1.5 Perencanaan Poer Poer dirancang untuk meneruskan gaya dari struktur atas ke pondasi tiang pancang. Kuat geser yang disumbangkan beton dirumuskan : 2 ⎞ ⎛ fc ' ⎞ ⎛ φ .2 × 1 m3 Mutu beton (f’c) = 40 MPa Mutu baja (fy) = 410 MPa Diameter tulangan 25 mm Selimut beton = 50 mm Tinggi efektif (d) : dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.Vc = φ ⎜ 1 + ⎟ × bo × d ⎟⎜ ⎝ βc ⎠⎝ 6 ⎠ tetapi tidak boleh kurang dari : φ Vc = φ × ⅓ × f ' c × bo × d Dimana : . Oleh karena itu poer harus memiliki kekuatan yang cukup terhadap geser pons dan lentur.145 7.

⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.5 = 7708051.8 N = 770.146 βc = rasio dari sisi panjang terhadap sisi pendek beton dari 700 daerah beban terpusat atau reaksi = =1 700 bo = keliling dari penampang kritis pada poer bo = 2 (bk + d) + 2(hk + d) dimana : bk = lebar penampang kolom hk = tinggi penampang kolom d = tebal efektif poer • Kontrol geser pons pada tiang pancang tengah (akibat Kolom) bo = 2 (700 + 937.08 ton < φ Vc = 770.339.7 N = 1156.6 × ⅓.5 φ Vc = 0.08 ton P = 552.21 ton φ Vc = 0.5) + 2 (700 + 912. 40 × 6500 × 937.5) = 6500 mm Batas geser pons ⎛ 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 6500 × 937.805 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.805 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587. .6 × ⎜1 + ⎟⎜ ⎜ ⎟ 1 6 ⎠⎝ ⎝ ⎠ = 115620777.

4 mm Batas geser pons 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 2385.4 × 937.08 ton < φ Vc = 574.4 × 937. .339.08 ton P = 552.6 N = 574.310 ton φ Vc = 0.310 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.5 = 2828736.4 N = 282.5 φ Vc = 0.6 × ⎛ 1 + ⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎜ 1 6 ⎝ ⎠⎝ ⎠ = 5743104. 40 × 2385.6 × ⅓.873 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.147 • Kontrol geser pons pada tiang pancang pojok β c = rasio sisi terpanjang terhadap sisi terpendek (daerah beban terpusat) = 500 =1 500 bo = penampang kritis poer = 1 x πD + 800 + 800 4 = 2385.

teori Untuk penulangan lentur.8⎛ ⎜ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12. Gambar 7. 1.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0. Sedangkan yang bekerja adalah beban terpusat di tiang kolom menyebabkan reaksi pada tanah dan berat sendiri Perhitungan gaya dalam pada poer didapat dengan mekanika statis tertentu.148 • Penulangan Poer balok beban yang poer.3) ⎝ 1000 ⎠ .3 Analisa Poer Sebagai Balok Kantilever a = jarak poer ke tepi kolom + selimut kolom + db sengkang + 1/2 db kolom = 80 + 5 + 1.2 + ½.7.6 = 87 cm b = jarak tepi tiang pancang = 80 cm Penulangan arah x Penulangan lentur : Pmax = 96231 kg q = 4.85.40 × 1 =10. poer dianalisa sebagai kantilever dengan perletakan jepit pada kolom.2.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.2 × 2.87) – (1/2 × 10080 x 1.672) = 23711 kg m = 23.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.

85 × β 1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.85 × f ' c (SNI 03-2847-2002 pasal 9.3.77 1000 ⎝ ⎠ ⎞ 0.0018 Maka dipakai ρmin = 0.5 = 3543.2. 7087.4.b.0018 × 4200 × 937.029 ρmin = 0.711 10 7 2 Rn = = = 0.765 0.765 ⎝ ⎠ = 0.8⎛ ⎜ ⎟ = 0.75 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) .0002 < ρ min = 0.3) ρbalance = ⎜ 600 + f ⎟ fy y ⎠ ⎝ 600 ⎞ = 0.039 = 0.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.1) 400 = = 11.765 × 0.0803 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.8 × 4200 × 937.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.5.5.d = 0.0803 N/mm 2 2 φbd 0.0018 m= fy 0.75 × ρb = 0.039 (SNI 03-2847-2002 pasal 12.85 × 0.5 = 7087.As = 0.75 × 0.149 40 − 30 ⎞ = 0.85.12.3) ρmax = 0.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.5 ρ perlu 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2 × 11.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.85 × 40 Mu 23.

5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.3) ⎜ 1000 ⎠ ⎝ ⎛ 40 − 30 ⎞ = 0.75 × ρb = 0.672) = 23711 kg m = 23.0018 m= (SNI 03-2847-2002 pasal 12.150 Penulangan arah y Pmax = 96231 kg q = 4.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.1) fy 400 = = 11.8⎛ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12.2.85 × β1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎜ 600 + f fy y ⎝ ⎞ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.85 × 0.2 × 2.12.40 × 1 =10.039 = 0.029 ρmin = 0.4.85 × f ' c 0.8⎜ ⎟ ⎝ 1000 ⎠ ρbalance = 0.87) – (1/2 × 10080 x 1.75 × 0.85.3.711 10 7 Mu 2 N/mm Rn = = = 0 .85.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.8 × 4200 × 912. 0875 φbd 2 0.3) ⎟ ⎠ 600 ⎞ = 0.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.765 0.7.77 = 0.3) (SNI 03-2847-2002 pasal 9.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.85 × 40 23.039 ρmax = 0.2.5 2 .

25 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) 7.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ. beban aksial tekan atau tarik yang berasal dari 10% beban aksial kolom. Adapun beban –beban yang ditimpakan ke sloof meliputi : berat sendiri sloof.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.0875 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.765 × 0. 6898.0018 × 4200 × 912.5.6 Perancangan Sloof Pondasi (Tie beam) Struktur sloof dalam hal ini digunakan dengan tujuan agar terjadi penurunan secara bersamaan pada pondasi atau dalam kata lain sloof mempunyai fungsi sebagai pengaku yang menghubungkan antar pondasi yang satu dengan yang lainnya.5 = 3449.0018 Maka dipakai ρmin = 0.00021 < ρ min = 0. berat dinding pada lantai paling bawah.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.151 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ρ perlu 2 × 11.765 ⎝ ⎠ = 0.d = 0. Data – data perancangan : Dimensi sloof : b = 400 mm h = 600 mm Ag = 240000 mm2 Mutu bahan : fc’ = 30 MPa fy = 400 MPa Selimut Beton = 50 mm Tulangan utama D25 .5.b.1.As = 0.5 = 6898.

h 400 x600 x1000 Dari diagram interaksi M-N F 400–30–0.2) + 0.9.2 m Mutump = 1/12 x qu. L2 = 1/12 x 3076 x 6. L = ½ x 3076 x 6.5 kgm Mulap = 1/8 x qu x L2 = 1/8 x 3076 x 6.18 kgm D (Vu) = ½ x qu.10 = = 2.41 kx = Ag.152 Tulangan sengkang = ∅12 Tinggi efektif (d) = 600 – (50 + 12 + ½ .22 = 9853.01 x 400 x 600 = 2400 mm2 Dipasang Tulangan 6D25 ( As = 2945.68 ky = Ag 400 x600 Mu 98535000 = = 0.2 = 9535.8–2 . 25) = 525.643579 = 64357.5 kgm = 98535000 Nmm Rasio tulangan pakai : P 64357.4 = 6.6 kg Penulangan Lentur pada Sloof Pu = 10% Pukolom = 10 %.9kg Mutump = 9853.6 × 2400 Berat dinding = 10 m × 250 = 576 = 2500 qu = 3076 kg/m kg/m + kg/m Panjang sloof = (panjang bentang – lebar poer)+daerah penjepitan = (10– 4.2 mm2) .5 mm Beban-beban yang terjadi pada sloof : Berat sendiri sloof = 0.22 = 14780.4 × 0. didapat ρ = 1 % Luas tulangan perlu : As = 0.

68 0.475 mm2 Mu 98535000 Mn = = = 123168750 Nmm 0.8 ϕ 400 fy m = = = 15.75 ρb = 0.f' c.5 bd 0.β.95 = 804.85 ⎛ 600 ⎞ = 0. fy ρperlu = 1⎛ 2m.9kg = 643579 kg Tulangan tarik yang dibutuhkan : Vu 643579 = 1608.22 = 9853.12 = 2 2 400 × 525.153 Penulangan Tarik pada Sloof qu = 3076 kg/m = 1/12 x qu.Rn ⎞ ⎟ ⎜1 − 1 − ⎜ m⎝ fy ⎟ ⎠ .4 1.85f' c 0.5 x 1608.75 ⎟ ⎜ 400 ⎝ 600 + 400 ⎠ = 0.4 = = 0.643579 = 64357. L2 Mutump = 1/12 x 3076 x 6.85 × 30 × 0.85 × 30 1.85.0035 ρmin = fy 400 ρmax = 0.75 Rn ⎛ 600 ⎞ ⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ ⎟ ⎝ ⎠ 0.95 mm2 = As = 400 fy Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’ = 0.5 x As = 0.5 kgm = 98535000 Nmm D (Vu) = 10% Pukolom = 10 %.024 Mn 123168750 = = 1.

13 N ØVc = 0.65 mm2 Digunakan tulangan 5D25 (As = 2454.85 mm2 Jumlah tulangan tarik : As + As1 = 1608.475 + 367.6 kg = 95356 N Vc = 2 × × ⎡ Nu ⎤ fc × bw × dx ⎢1 + ⎥ ⎣ 14.7 = 367. maka tidak perlu tulangan geser.33 mm2 Digunakan tulangan 3D25 (As = 1472.0035 x 400 x 525.68 × 1.0035 Tulangan tarik yang dibutuhkan : As1 = ρ b d = 0.7 = 2344. .5 = 735.85 = 1172. Ag ⎦ 95356 1 ⎡ ⎤ = 2 × × 35 × 400 × 539⎢1 + 6 ⎦ ⎣ 14 × 400 × 600 ⎥ 1 6 = 437235.154 2 × 15.5 N Karena Vu < ØVc.37 mm2) Jumlah tulangan tekan : As’ + As1’ = 804.75 × 437235.7 mm2 Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’1 = 0. Digunakan tulangan geser praktis Ø10 – 200.68 ⎜ ⎝ ⎠ = ρmin > ρperlu Æ ρ = ρmin = 0.00497 ⎟ 400 15.5 x As1 = 0.13 = 327926.12 ⎞ 1 ⎛ ⎜1 − 1 − ⎟ = 0.95 + 735.35 N > Vu = 92956.6 mm2) ¾ Penulangan Geser Geser yang terjadi : Vu = 9535.5 x 735.

16 Profil Balok Induk 1 : WF 500. Dilakukan kontrol kekuatan struktur kolom komposit yang meliputi kontrol luas minimum beton pada kolom komposit.8.10. kontrol lateral buckling dan kontrol geser. Dari hasil pehitungan didapatkan data-data perencanaan sebagai berikut : Tebal Pelat Atap : 9 cm (atap) dan 10 cm (lantai) Tebal Pelat Lantai : 10 cm Dimensi Kolom : 70 x 70 cm Profil kolom : K 500. maka dapat diambil kesimpulan antara lain : 1.200. beban hidup maupun beban terpusat. Analisa balok dihitung terhadap kontrol lendutan. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit.20 Profil Balok Induk 2 : WF 500. Dilakukan perhitungan struktur sekunder terlebih dahulu seperti perhitungan tangga. kontrol penampang (local buckling).155 BAB VIII PENUTUP 8.9. perhitungan kuat lentur kolom. 2.10. Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : kontrol lendutan.200.200. kontrol penampang (local buckling). pelat lantai.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan. 4. 5.200.13 . dan balok anak terhadap beban-beban yang bekerja baik beban mati. perhitungan kuat tekan aksial kolom.14 Profil Balok Anak : WF 400. kontrol lateral buckling dan kontrol geser. 3. dan kontrol kombinasi aksial dan lentur.

. 8.156 Struktur bawah bangunan menggunakan tiang pancang pracetak dengan diameter 50 cm. agar dapat diperoleh hasil sesuai dengan yang direncanakan. keakuratan pemasangan sangat penting.2 Saran Pelaksanaan struktur dengan sistem komposit baja – beton harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat sebab pada bangunan baja.

157 DAFTAR PUSTAKA G. Amon.Bandung : PT. Purwono. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. Knobloch. 1999. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. Jakarta: Erlangga.Pradinya Paramita. 2006. 1998 American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD). Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Rene . 1999. . Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983.CE. John. Daya Dukung Pondasi Dalam. Rinaldy.Atanu.1991. Wahyudi. Vebriano & Rustailang. Herman. Bruce & Mazumder. Salmon. Wira M. Muhammad. Diterjemahkan oleh: Ir. Rahmat.Johnson. Charles & E. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa.S. 2005 Spiegel & Limbrunner. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Surabaya : ITS.

Setelah lulus dari SMUN. Penulis telah menempuh pendidikan formal. SLTPN 16 Surabaya dan SMAN 15 Surabaya. yaitu SDN Karang Pilang 446 Surabaya. Penulis aktif mengikuti beberapa kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Jurusan.158 BIODATA PENULIS Penulis dilahirkan di Surabaya. selain itu penulis pernah pernah mengikuti beberapa kompetisi dan perlombaan baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi lain maupun perlombaan tingkat Nasional. Fakultas dan Institut. Penulis aktif sebagai Anggota sekaligus Fungsionaris Civil Engineering Computer Club (CECC) HMS-FTSP ITS. merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. pada tahun 2005 penulis diterima di S1 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. 2 Nopember 1985. Di jurusan Teknik Sipil ITS penulis mengambil bidang Struktur dan menyelesaikan studinya pada tahun 2009. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->