xviii DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampang balok komposit .................................. 8 Gambar 2.2 Distribusi tegangan plastis .................................... 9 Gambar 2.3 Metode transfornasi luasan ................................. 11 Gambar 2.4 Penampang kolom komposit ............................... 14 Gambar 4.1 Denah tangga ...................................................... 34 Gambar 4.2 Potongan A-A tangga .......................................... 34 Gambar 4.3 Tampak anak tangga ........................................... 35 Gambar 4.4 Tampak melintang anak tangga .......................... 36 Gambar 4.5 Sketsa pembebanan pelat tangga ......................... 37 Gambar 4.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga ............. 40 Gambar 4.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga ........... 43 Gambar 4.8 Sketsa profil Canal 260.90.10.14 ........................ 44 Gambar 4.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ........ 46 Gambar 4.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes ........................................................................ 48 Gambar 4.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga......................................................................... 49 Gambar 4.12 Potongan pelat Atap ............................................ 52 Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan 3 sampai dengan 11 .. 53 Gambar 4.14 Potongan plat lantai 2.......................................... 55 Gambar 4.15 Potongan plat lantai mesin lift ............................ 56 Gambar 4.16 Detail sambungan balok anak dan balok induk ... 66 Gambar 4.17 Detail plat siku ................................................... 68 Gambar 4.18 Denah lift ............................................................ 71 Gambar 4.19 Sketsa mekanika pehitungan balok penggantung lift ............................................................................................. 72 Gambar 4.20 Distribusi tegangan plastis .................................. 74 Gambar 4.21 Sketsa mekanika pehitungan balok penumpu lift 78 Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis .................................. 80 Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .............................................. 91 Gambar 5.2 Pemodelan Stuktur 3D ......................................... 92

xx DAFTAR TABEL
Tabel Tabel Tabel Table Table Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 2.1 Ukuran Minimum Las Sudut ...................................... 20 5.1 Berat Struktur per lantai.............................................. 90 5.2 Nilai Xcr dan Ycr........................................................ 95 5.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan ............................ pp96 5.4 Modal Participating Mass Ratio ................................. 99 5.5 Selisih Periode antar Mode yang Berdekatan ........... 100 5.6 Simpangan ................................................................ 102 5.7 Analisa Δs akibat gempa arah x ................................ 103 5.8 Analisa Δs akibat gempa arah y ................................ 103 5.9 Analisa Δm akibat gempa arah x .............................. 104 5.10 Analisa Δm akibat gempa arah y ............................. 105

xxii

struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan. (4) kapasitas menahan beban lebih besar. kekakuan dan keunggulan ekonomis ( Vebriano Rinaldy & Muhammad Rustailang. 2005 ). (2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil. dimana pada beton bertulang gaya-gaya tarik yang dialami suatu elemen struktur dipikul oleh besi tulangan tetapi pada struktur komposit ini gaya-gaya tarik yang terjadi pada suatu elemen struktur dipikul oleh profil baja. (5) . Keistimewaan yang nyata dalam sistem komposit adalah (1) Penghematan berat baja. Tower Albergo merupakan satu diantara empat tower The Bellezza. Komposit balok baja dan pelat beton adalah satu usaha dalam mendapatkan suatu konstruksi yang baik dan efisien.1 BAB I PENDAHULUAN I. Kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung di kota tersebut sangat diperlukan salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal yang terus meningkat. hal tersebut menjadi satu alasan banyak bangunan tempat tinggal di kota Jakarta dibangun bertingkat dan salah satunya adalah Tower Albergo. Apartemen tersebut terdiri dari 36 lantai. Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur. Dari beberapa penelitian. Sementara itu ketersediaan lahan untuk tempat tinggal di kota tersebut semakin sempit. Balok komposit merupakan campuran beton dengan baja profil. dimana tower tersebut merupakan gedung apartemen yang dibangun dengan menggunakan beton bertulang konvensional. kemudian direncanakan ulang dengan menggunakan struktur komposit baja beton. (3) kekakuan lantai meningkat.1 Latar belakang Kota Jakarta merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang sangat padat.

2 Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar ( Charles G. 3. 2.2 Permasalahan Permasalahan yang ditinjau dalam modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton.1991 ). 5. Dapat menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. I. Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur. 4. I. Bagaimana memodelkan dan menganalisa struktur setelah adanya modifikasi. Bagaimana menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. 2. . Pada Tugas Akhir ini menggunakan peraturan SNI 032847-2002 tentang tata cara perhitungan beton untuk bangunan gedung dan SNI 03-1726-2002 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung serta SNI 03-17292002 tentang tata cara perencanaan struktur baja. Dapat menghitung pembebanan setelah adanya modifikasi. yaitu : 1. Bagaimana menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik. Bagaimana menentukan Preliminary design penampang struktur primer dan struktur sekunder. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. antara lain : 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari modifikasi perancangan gedung Apartemen Albergo dengan struktur komposit baja beton. Salmon.

struktur sekunder meliputi balok anak.0 I. 2. dan manajemen konstruksi. Meninjau metode pelaksanaan yang hanya berkaitan dengan perhitungan struktur.4 Batasan masalah 1.2. Dapat merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur. 4. Perencanaan struktur utama meliputi balok induk dan kolom. Dapat memodelkan dan menganalisa struktur dengan menggunakan program bantu 4. 5. Bagaimana merencanakan pondasi yang sesuai dengan besar beban yang dipikul dan kondisi tanah di lapangan 6. Dapat merencanakan struktur komposit yang memenuhi persyaratan keamanan struktur. Dapat menuangkan hasil perhitungan dan perencanaan dalam bentuk gambar teknik.5 Manfaat Manfaat yang bisa didapatkan dari modifikasi perencanaan ini adalah : 1. I. . 5. Dari perencanaan ini bisa diketahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan sehingga kegagalan struktur bisa diminimalisasi. 3. 2. arsitektural.3 3. Jumlah lantai yang akan direncanakan ulang menggunakan struktur komposit baja beton sebanyak 12 tingkat. Tidak meninjau dari segi analisa biaya. Analisa struktur menggunakan program bantu ETABS v9. tangga dan pelat lantai.

4 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

dan untuk bangunanbangunan pencakar langit. Penampang komposit mempunyai kekakuan yang lebih besar dibandingkan dengan penampang lempeng beton dan gelagar baja yang bekerja sendiri-sendiri dan dengan demikian dapat menahan beban yang lebih besar atau beban yang sama dengan lenturan yang lebih kecil pada bentang yang lebih panjang. Dalam perhitungan perencanaan ada tiga macam metode perhitungan yaitu metode elastis. dinding-dinding. pekerjaan saluran pendingin ruangan. Apabila untuk mendapatkan aksi komposit bagian atas gelagar dibungkus dengan lempeng beton. . metode plastis.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Knobloch & Mazumder. maka akan didapat pengurangan pada tebal seluruh lantai. tekan dan lentur umumnya disebut dengan kolom komposit.1999). Salmon.1 Umum Baja merupakan salah satu bahan konstruksi yang penting. Batang yang memikul lentur umumnya disebut dengan balok komposit sedangkan batang yang memikul beban tekan. Ductility adalah kemampuan untuk berdeformasi secara nyata baik dalam tegangan maupun regangan sebelum terjadi kegagalan (Charles G. Sifat-sifatnya yang terutama penting dalam penggunaan dibandingkan terhadap bahan lain yang tersedia dan sifat ductility.(Amon. keadaan ini memberikan penghematan yang cukup besar dalam volume. dan lain-lainnya. Penampang komposit adalah penampang yang terdiri dari profil baja dan beton digabung bersama untuk memikul beban tekan dan lentur. pekerjaan saluran air. dan metode LRFD (Load and Resistance Factor Design). 1991). pekerjaan pemasangan kabelkabel.

1998).Strength limit state : kemampuan struktur memikul beban . Tegangan ijin = σy Teganganleleh atau w = FK FaktorKeamanan b) Metode Plastis Metode ini berdasarkan pada sifat baja yang mempunyai sifat daktilitas. yaitu suatu keadaan dimana struktur atau elemen struktur didesain sampai menunjukkan perilaku tidak dapat berfungsi lagi. Sehingga beban kerja yang direncanakan dikalikan dengan faktor beban dan struktur direncanaan berdasarkan kekuatan keruntuhan (collapse). Ada dua kategori yang menyatakan keadaan batas (limit state) : . Baja akan memiliki cadangan kekuatan di atas kekuatan elastis.6 a) Metode Elastis Metode ini berdasarkan beban kerja dimana akibat beban kerja yang direncanakan tegangan yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan yang diijinkan.Serviceability limit state: kelakuan struktur memikul beban Secara umum perumusan untuk pendekatan desain metode LRFD ini dapat dituliskan sebagai berikut : ϕRn ≥ γo ∑ γi Qi 2. . Balok adalah elemen struktur yang memikul beban yang bekerja tegak lurus dengan sumbu longitudinalnya. Hal ini akan menyebabkan balok melentur (Spiegel & Limbrunner. LF (Q) ≤ Rn c) Metode LRFD Metode ini berdasarkan pada konsep keadaan batas (limit state).2 Balok komposit Balok adalah salah satu diantara elemen-elemen struktur yang paling banyak dijumpai pada setiap struktur.

Balok komposit penuh Untuk balok komposit penuh.7 Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang kekuatannya bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan (Bowles.12.2.12. kekuatan balok dalam memikul lentur dibatasi oleh kekuatan penghubung geser. 3) Selubung beton harus diberi kawat jaring atau baja tulangan dengan jumlah yang memadai untuk menghindari terlepasnya bagian selubung tersebut pada saat balok memikul beban. Perhitungan elastis untuk balok seperti ini.2.1980). c. kecuali yang disebutkan pada butir ke-2 di bawah. penghubung geser harus disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga balok mampu mencapai kuat lentur maksimumnya. b. Balok komposit parsial Pada balok komposit parsial. harus mempertimbangkan pengaruh adanya slip antara baja dan beton (SNI 03-1729-2002 Ps. seperti pada penentuan defleksi atau tegangan akibat beban layan.2. Beberapa jenis balok komposit antara lain : a. selama hal-hal berikut terpenuhi (SNI 031729-2002 Ps.6). slip antara baja dan beton dianggap tidak terjadi (SNI 03-1729-2002 Ps.7).8) 1) Tebal minimum selubung beton yang menyelimuti baja tidak kuang daripada 50 mm. 2) Posisi tepi atas balok baja tidak boleh kurang daripada 40 mm di bawah sisi atas pelat beton dan 50 mm di atas sisi bawah plat. . Pada penentuan distribusi tegangan elastis. Balok baja yang diberi selubung beton Walaupun tidak diberi angker. balok baja yang diberi selubung beton di semua permukaannya dianggap bekerja secara komposit dengan beton. 12.

dengan mengikuti ketentuanketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12.2.untuk > tw fy dengan φ b = 0.85 dan Mn dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis pada penampang komposit.9 dan Mn dihitung berdasarkan superposisi tegangan-tegangan elastis yang memperhitungkan pengaruh tumpuan sementara plastis pada penampang komposit. h 1680 .2) : .1 Kekuatan Balok Komposit dengan Penghubung Geser a.Kuat Lentur positif rencana ditentukan sebagai berikut (LRFD Pasal 12.8 a) Balok Komposit (tanpa deck) b) Balok baja diberi selubung beton Gambar 2.Mn harus dihitung untuk penampang baja saja.4.4.2. b.Kuat Lentur negatif rencana φ b .1 Penampang balok komposit 2.1) : .2.untuk h ≤ 1680 tw fy dengan φb = 0.

beff . Menentukan gaya tarik ( T) pada baja : T = As.3 Menghitung momen nominal Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis : Gambar 2.tp. Distribusi tegangan plastis (Sumber :Charles G.85. Salmon.fy Dipilih nilai yang terkecil dari kedua nilai di atas .2.Untuk gelagar eksterior : bE ≤ L 8 bE ≤ bo + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab) dimana : L = bentang balok bo = bentang antar balok 2.2 Lebar efektif plat lantai : .2. Menentukan gaya tekan ( C ) pada beton : C = 0. 1996) • Menghitung momen nominal ( Mn ) positif 1.Untuk gelagar interior : bE ≤ L 4 bE ≤ bo (untuk jarak balok yang sama) .9 2.2.f’c.

Menghitung jarak ke centroid d1 = hr + tb – c ( Pf .tf ) + ( Pw(tf + 0.d 1 atau T.a web ) d2 = Pf + Pw d3 = d 2 3.Ar.d1 Bila kekuatan nominal dinyatakan dalam bentuk gaya baja akan diperoleh : a⎞ ⎛d Mn = As.d2) .85. fy 2.fy Gaya pada sayap .5. fy⎜ + ts − ⎟ 2⎠ ⎝2 • Menghitung momen nominal ( Mn ) negatif.tf .Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja T = n. fy a= 0. Menentukan tinggi blok tekan effektif : As.0. 1.fyr Pyc = As. fy Gaya pada badan . Pw = Pyc − T − Pf 2 aw = Pw tw.10 2. Pf = bf .Menghitung momen ultimate : Mn = T(d1 + d2) + Pyc(d3 . f ' c.5.beff 3. Kekuatan momen nomimal : Mn = C.

+⎜ ⎜ As tr 2 ⎝ GNE = A + ( tr d ⎞⎞ ⎛ .. Menghitung modulus penampang transformasi yc = GNE yt = d + ts + hr . ⎜ ts + ⎟ ⎟ 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ A s ) 3.. ( ts)3 tr 12 2 ⎞ ⎛ ⎞ ⎛⎛ d ⎞ ts ⎟ ⎜ + Ix + A ⎜ + A GNE − ⎜ + ts + hr ⎟ − GNE ⎟ ⎟ tr ⎜ s⎜ 2 ⎟ 2 ⎝ ⎠ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ 2 4.GNE . fc' Mpa ..3.. Menghitung nilai transformasi beton ke baja Ec = 4700 .. Metode transformasi luasan Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis : 1. ts 2..11 b efektif btr ts hr GNE komposit GNE d GN baja yt Gambar 2. Es = 200000 Mpa n = Es Ec btr = beff n Atr = btr . Menentukan letak garis netral penampang transformasi (dimomen ke ambang atas) ts ⎛ A ... Menghitung momen inersia penampang transformasi It = b . untuk beton normal..

12 I Str.5. Mn 2.6 * ⎜ ⎟*⎜ hr hr ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Nr = jumlah stud setiap gelombang Hs = tinggi stud Hr = tinggi bondek Wr = lebar effektif bondek Asc = Luas penampang shear connector fu = Tegangan putus penghubung paku/stud Qn = Kuat nominal geser untuk penghubung geser Jumlah penghubung geser (shear connector) yang dibutuhkan yaitu : n = C Qn . Str.c Mn2 = fy .4 Penghubung Geser Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal 12.85 ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 *⎜ ⎟*⎜ Nr ⎝ hr ⎠ ⎝ hr ⎠ rs untuk balok sejajar balok : ⎛ wr ⎞ ⎛ Hs ⎞ − 1⎟ ≤ 1 rs = 0.3) Qn = 0. fc’ .85 . n .fu ⎜ ⎝ ⎟ ⎠ ⎛ ⎜ ⎞ ⎟ Dimana : rs untuk balok tegak lurus balok : 0.⎜⎜ fc'.rs ≤ Asc.6.c = tr yc dan Str.t = I tr yt 5.Asc.t Jadi : Mu ≤ ∅ . Menghitung momen ultimate Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh digunakan dari nilai yang terkecil dari : Mn1 = 0. Str.2.Ec ⎟⎟.

dan 384.2. bukan berdasar kan beban berfaktor.Perhitungan lendutan pada balok berdasarkan beban kerja yang dipakai di dalam perhitungan struktur.ql 4 = untuk beban terbagi merata. Besar lendutan dapat dihitung dengan rumus : ƒmax 5. Lendutan diperhitungkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : Lendutan yang besar dapat mengakibatkan rusaknya barangbarang atau alat-alat yang didukung oleh balok tersebut.E. Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penghuni banguna tersebut. Penampilan dari suatu struktur akan berkurang dari segi estetika dengan lendutan yang besar.5 Kontrol lendutan (Deflection) Batasan lendutan atau deflection pada biaya telah diatur didalam SNI 03-1729-2002.I 48.I 3 ƒmax = Pl untuk beban terpusat di tengah bentang .E.13 2.

3 Kolom Komposit Kolom komposit didefinisikan sebagai “ kolom baja yang dibuat dari potongan baja giling (rolled) built-up dan di cor di dalam beton struktural atau terbuat dari tabung atau pipa baja dan diisi dengan beton struktural (Salmon & Jonson. Profil Baja dibungkus beton Pipa baja O didisi beton Gambar 2. • Kolom komposit terbuat dari penampang baja berongga (kolom baja berintikan beton).4. .3. 1. yaitu : • Kolom komposit yang terbuat dari profil baja yang diberi selubung beton di sekelilingnya (kolom baja berselubung beton).1) : Luas penampang profil baja minimal sebesar 4% dari luas penampang komposit total. 1996). Penampang kolom komposit Kriteria untuk kolom komposit bagi komponen struktur tekan (SNI 03-1729-2002 Ps. Selubung beton untuk penampang komposit yang berintikan baja harus diberi tulangan baja longitudinal dan tulangan pengekang lateral.14 2.12. Ada dua tipe kolom komposit.

Tulangan baja longitudinal harus menerus pada lantai struktur portal. .25λc 2 maka ω = untuk λr ≥ 0.67λc maka ω = 1. 3.85 Nn = As fcr dan fcr = untuk untuk fmy λr ≤ 0.15 2. 2.25 dengan . Luas minimum penampang tulangan transversal (atau lonitudinal) terpasang. Jarak antar pengikat lateral tidak boleh melebihi 2/3 dari dimensi terkecil penampang kolom komposit.3. Tebal bersih selimut beton dari tepi terluar tulangan longitudinal dan transveersal minimal sebesar 40 mm. 4.2 ω maka ω = 1 1. 12.6 − 0.25 0. Mutu beton yang digunakan tidak lebih 55 Mpa dan tidak kurang dari 21 Mpa untuk beton normal dan tidak kurang dari 28 Mpa untuk beton ringan. Tebal minimum dinding pipa baja atau penampang baja berongga yang diisi beton adalah b fy / 3E untuk setiap sisi selebar b pada penampang persegi dan D fy / 8 E untuk penampang bulatyang mempunyai diameter luar D.1 Kuat rencana kolom komposit (SNI 03-1729-2002 Ps.25 ≤ λr ≤ 1.3. 5. kecuali untuk tulangan longitudinal yang hanya berfungsi memberi kekangan pada beton.43 1.2) Kuat rencana kolom komposit yang menumpu beban aksial adalah øc Nn dengan øc = 0. Tegangan leleh profil dan tulangan baja yang digunakan untuk perhitungan kekuatan kolom komposit tidak boleh lebih dari 380 Mpa.

N adalah jari-jari girasi kolom komposit. MPa adalah tegangan tekan kritis.5 f 'c ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Keterangan : As adalah luas penampang beton. MPa adalah kuat tekan karakteristik beton. mm2 Ar E Ec adalah luas penampang tulangan longitudinal.041w1. MPa adalah faktor panjang efektif kolom adalah kuat aksial nominal. MPa adalah tegangan leleh profil baja.16 λc = kcL rmπ fmy Em ⎛ Ar ⎞ ⎛ Ac ⎟ fmy = fy + c1 fyr ⎜ + c fc ' ⎜A ⎟ 2 ⎜ ⎜A ⎝ s⎠ ⎝ s ⎛ Ac ⎞ E m = E + c3 E c ⎜ ⎜A ⎟ ⎟ ⎝ s⎠ E c = 0. MPa adalah tegangan leleh untuk perhitungan kolom komposit. mm2 adalah modulus elastis baja. mm adalah parameter kelangsingan adalah faktor reduksibeban aksial tekan adalah faktor tekuk E m adalah modulus elastisitas untuk perhitungan kolom f cr fy fy fc ' kc Nn rm λc ω øc . MPa komposit. MPa adalah modulus elastisitas beton.

0 2 . c 2 = 0.85 .⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1. c1 .Nn 9 ⎢⎣⎢ϕ b.2 a. Untuk pipa baja yang diisi beton : c1 = 1.dan c3 =0. N Nn = Kuat nominal penampang.dan c3 =0. Untuk profil baja yang diberi selubung beton : c1 = 1. N.85 (struktur tekan) ∅b = 0.3).85 . N ∅ = Faktor reduksi kekuatan ∅c = 0.Nn ⎢⎢⎣ϕ b.Mny ⎥⎦⎥ Nu < 0.17 Pada persamaan di atas.4 Kekuatan rencana kolom komposit yang menahan beban kombinasi aksial dan lentur (LRFD Pasal 7.90 (struktur lentur) Mnx .Mnx ϕ b.3.mm Mux . c 2 = 0.ϕ . Nu ≥ 0. dimana : Nu = Gaya aksial (tarik atau tekan) terfaktor. Mny =Momen lentur nominal penampang komponen struktur masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y.0 ϕ . N.mm .4 b). c 2 .2 ϕ c.dan c3 adalah koefisien yang besarnya a). ϕ c.Nn ⎡ ⎤ Nu + 8 .4.Nn ⎡ ⎤ Nu + ⎢⎢ Mux + Mny ⎥⎥ ≤1.Mny ⎥⎥⎦ b.Mnx ϕ b. Muy =Momen lentur terfaktor masing-masing terhadap sumbu x dan sumbu y.

Semi Rigid Connection Rigid Connection Rigid Connection Gambar 2. Sambungan kaku / Rigid connection adalah sambungan yang dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut-sudut di antara komponenkomponen struktur yang akan disambung. pelat buhul. dan pelat penyambung) dan alat pengencang (baut dan las). Sambungan semi kaku / Semi rigid connection adalah sambungan yang tidak memiliki kekakuan yang cukup mempertahankan sudut-sudut diantara komponenkomponen struktur yang disambung.18 2. Sambungan sendi / Simple connection adalah sambungan yang pada kedua ujung komponen struktur dianggap bebas momen. pelat pendukung. Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. 2.4. namun harus dianggap memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan kekangan yang dapat diukur terhadap perubahan sudutsudut tersebut 3.1 Klasifikasi sambungan : 1.4 Sambungan Sambungan terdiri dari komponen sambungan (pelat pengisi. 2.5. Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sanbungan. Sambungan pada baja .

4 Sambungan Las Ru ≤ ϕRnw dengan. Gaya dalam yang disalurkan berada dalam keseimbangan dengan gaya-gaya yang bekerja pada sambungan.8)fy. n = Vu = φ.1) Jarak maksimum antar baut : 15tp atau 200 mm (LRFD 13. Sambungan dan komponen yang berdekatan harus mampu memikul gaya-gaya yang bekerja padanya. 3.tp φRn diambil yang terkecil Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum : 1.6 × fu × Anv Vu < φPn 2.db.3) Jarak minimum antar baut : 3db (LRFD 13.Rnw = 0.fv.75 × t e × (0. 2.19 2.4. Perencanaan sambungan harus memenuhi persyaratan (SNI 03-1729-2002 Ps.4.2 Perencanaan sambungan Kuat rencana setiap komponen tidak boleh kurang dari beban terfaktor yang dihitung.3 Sambungan Baut Kuat geser φRnv Kuat tumpu φRnt Jumlah baut.4.4.4.6 × fuw) (las) .1.(1.4. Deformasi pada sambungan masih berada dalam batas kemampuan deformasi sambungan.3) Kontrol Kekuatan Pelat φPn = 0.75 × 0.2) Jarak tepi maksimum : (4tp + 100 mm) atau 200 mm (LRFD 13.5db (LRFD 13.4.m = φ. φf .3) : 1. 2. 13.Ab.

Pondasi dangkal dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif kecil. 2. t (mm) t ≤ 7 7 < t ≤ 10 10 < t < 15 15 < t Tabel 2. pondasi tiang bor ( pondasi sumuran ).Rnw = 0.5.Ukuran Minimum Las Sudut 2.6 × fu ) (bahan dasar) keterangan : fuw : tegangan tarik putus logam las fu : tegangan tarik putus bahan dasar te : tebal efektif las (mm) Tebal minimum las sudut. yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.5 Perencanaan Pondasi Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah. dikatakan pondasi dalam jika perbandingan antara kedalaman pondasi (D) dengan diameternya (B) adalah lebih besar sama dengan 10 (D/B > 10). Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal. a (mm) 3 4 5 6 Tebal bagian paling tebal.75 × t e × (0. Dalam perencanaan pondasi ada dua jenis pondasi yang umum dipakai dalam dunia konstruksi.20 φf .Pondasi dalam ini ada beberapa macam jenis.1. antara lain pondasi tiang pancang. pondasi caisson dan lain sebagainya. yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar . sedangkan untuk pondasi dalam dipakai untuk struktur dengan beban yang relatif besar seperti pada gedung yang berlantai banyak.1 Pondasi Tiang Pancang a.

daya dukung suatu tiang juga harus ditinjau berdasarkan kekuatan bahan tiang pancang tersebut. Sehingga daya dukung total dari tanah dapat dirumuskan : Qu = Qp + Qs Disamping peninjauan berdasarkan kekuatan tanah tempat pondasi tiang pancang di tanam. Ap dengan : Np K = Harga rata-rata SPT di sekitar 4B di atas hingga 4 B di bawah dasar tiang pondasi = Koefisien karakteristik tanah = 12 t/m2. Hasil daya dukung yang menentukan yang dipakai sebagai daya dukung ijin tiang. untuk tanah lanau berlempung = 25 t/m2. As ⎜ 3 ⎝ ⎠ . As = ⎛ + 1⎟ . Perhitungan daya dukung tiang pancang ini dilakukan berdasarkan hasil uji Standard Penetration Test ( SPT ) menurut Luciano Decourt ( 1982 ) Ql = Qp + Qs dimana : Qp = qp . Ap = ( Np . untuk tanah pasir Ap qp = Luas penampang dasar tiang = tegangan di ujung tiang Ns ⎞ Qs = qs . yaitu : • Daya dukung tiang pancang tunggal yang berdiri sendiri • Daya dukung tiang pancang dalam kelompok. untuk tanah lanau berpasir = 40 t/m2. K ) . untuk tanah lempung = 20 t/m2.21 tiang pondasi ( Qp ) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah ( Qf ). Perhitungan daya dukung dapat ditinjau dari dua keadaan.

Dari problema ini.22 Dengan : qs Ns As = tegangan akibat lekatan lateral dalam t/m2 = harga rata-rata sepanjang tiang yang tertanam. pengaruh dari sebuah group tiang pondasi tidak perlu diperhitungkan bila jarak as ke as antar tiang . Daya dukung dukung tiang kelompok Disaat sebuah tiang merupakan bagian dari sebuah group. Untuk daya dukung batas. Namun untuk kondisi tanah didominasi oleh pasir lepas atau dengan tingkat kepadatan sedang. Qijin 1 tiang = Dimana : SF N’ N = safety factor = 3 = harga SPT di lapangan = harga SPT setelah dikoreksi = 15 + [ ( N’ – 15 ) /2 ] Qu SF b. karena pengaruh dari group tiang tersebut. daya dukungnya mengalami modifikasi. pemancangan dapat menaikkan kepadatan disekitar tiang bila jarak antar tiang < 7 s/d 8 diameter. dengan batasan : 3 ≤ N ≤ 50 = keliling x panjang tiang yang terbenam Daya dukung ijin dari satu tiang pancang yang berdiri sendiri adalah daya dukung tiang total dibagi dengan suatu angka keamanan. dapat dibedakan dua fenomena sebagai berikut : ¾ Pengaruh group disaat pelaksanaan pemancangan tiang-tiang ¾ Pengaruh group akibat sebuah beban yang bekerja Proses pemancangan dapat menurunkan kepadatan di sekeliling tiang untuk tanah yang padat.

Untuk kasus daya dukung group pondasi. QL (group) = QL (1 tiang) × n × Ce n = jumlah tiang dalam group Untuk menghitung koefisien efisiensi Ce.5 diameter tiang. dan momen (M). digunakan cara Converse – Labarre : arc tan (∅ / s ) ⎛ 1 1⎞ Ce = 1 − ×⎜2 − − ⎟ 90° m n⎠ ⎝ dimana: ∅ : diameter tiang pondasi S : jarak as ke as antar tiang dalam group m : jumlah baris tiang dalam group∅ n : jumlah kolom tiang dalam group 2.y max dimana : Pv = ± ± 2 2 n ∑x ∑y Pv = Beban vertikal ekivalen V = Beban vertikal dari kolom n = banyaknya tiang dalam group Mx = momen terhadap sumbu x My = momen terhadap sumbu y xmax = absis terjauh terhadap titik berat kelompok tiang ymax = ordinat terjauh terhadap titik berat kelompok tiang 2 ∑x = jumlah dari kuadrat absis tiap tiang terhadap garis netral group . maka besarnya beban vertikal yang bekerja pada sebuah tiang adalah : ekivalen (Pv) V M y . harus dikoreksi terlebih dahulu dengan koefisien efisiensi Ce.5.x max M x . jarak minimum antar tiang dalam group adalah 2 s/d 2.2 Repartisi beban-beban diatas tiang kelompok Bila diatas tiang-tiang dalam kelompok yang disatukan oleh sebuah kepala tiang (poer) bekerja beban-beban vertikal (V). horizontal (H). Sebaliknya.23 adalah > 3 diameter.

24 ∑y2 = jumlah dari kuadrat ordinat tiap tiang terhadap garis netral group nilai x dan y positif jika arahnya sama dengan arah e. Perhitungan jarak tiang ( Dirjen Bina Marga Departemen PU) sebagai berikut : 2.5D ≤ S1 ≤ 2D dimana : S = jarak antar as tiang pancang.5D ≤ S ≤ 3D 1. D = diameter tiang pancang. S1 = jarak as tiang pancang ke tepi. . dan negative bila berlawanan dengan arah e.

1 Bagan Alir Penyelesaian Tugas Akhir Mulai Pengumpulan Data Studi Literatur Perencanaan Struktur Sekunder Preliminary Desain dan Pembebanan Pemodelan dan Analisa Struktur Not Ok Kontrol Desain Ok Perencanaan Pondasi Penggambaran Hasil Perencanaan Selesai .25 BAB III METODOLOGI 3.

e. Tinggi Bangunan : 140. d. Diterjemahkan oleh: Ir. Spiegel & Limbrunner. Jumlah lantai : 36 lantai + Atap 6.CE. Surabaya : ITS. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Letjen Soepono. John. Herman. Purwono.2 Mengumpulkan data yang berkaitan dengan perencanaan Mempelajari gambar eksisting sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan modifikasi perencanaan.Johnson. Adapun beberapa literatur serta peraturan gedung tersebut antara lain adalah sebagai berikut : a. Panjang banguna : 40 m 7.3 Studi literatur Mencari literatur dan peraturan gedung (building code) yang menjadi acuan dalam pengerjaan tugas akhir ini.Pradinya Paramita. Rene . Amon. 1999.1991. Rahmat.S. Muhammad. Salmon. Jakarta 3.26 3. Bruce & Mazumder. . Mempelajari data-data perencanaan secara keseluruhan yang mencakup: . American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD).Atanu. 2005 f. Struktur Utama : Struktur beton bertulang . c. Lokasi : JL. Charles & E. b. Lebar bangunan : 27 m 8. Fungsi : Apartemen 5.Data Bahan 3. Nama Gedung : Gedung Albergo 2. 1998 g.Bandung : PT. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. Vebriano & Rustailang. Rinaldy.7 m 10. Wahyudi. Wira M. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Daya Dukung Pondasi Dalam. 2006. G. Jakarta: Erlangga. 1999.Data umum bangunan (kondisi Awal) 1. Knobloch.

. Perencanaan pelat lantai c. Dimana : Mu : momen ultimate beban ø : faktor reduksi lentur Mn : momen nominal Zp : momen tahan plastis fy : tegangan leleh baja .5. k.(asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) Zp = Mn ……. i.4 Perencanaan Struktur Sekunder a.. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. Perencanaan tangga b. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Perencanaan balok lift 3. Perencanaan pelat atap d. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung.1 Preliminary Design Balok Mu φ = Mn Mn = Zp x fy .. j...5 Preliminary Design dan Pembebanan 3. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983.dari nilai Zp didapat rencana fy awal dimensi balok... Perencanaan balok anak e..27 h. 3...

3 Pembebanan Perencanaan pembebanan pada struktur ini berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983 dan SNI 03-1726-2002. Pembebanan tersebut antara lain : a.1) Berat volume tegel : 2400 kg/m3 (tabel 2.1) Berat volume aspal : 1400 kg/m3 (tabel 2. mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu.2 Preliminary dimensi kolom pu φ pn (asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis) fy = A Pn dari nilai A didapat rencana awal dimensi kolom.1) Beban mati ialah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan.1) Berat volume plafond : 11 kg/m2 (tabel 2.1) Berat volume spesi : 2100 kg/m3 (tabel 2. Beban Mati (PPIUG 1983 Bab1 pasal 1.1) Berat volume penggantung : 7 kg/m2 (tabel 2.28 3.5. Yang nilainya sebagai berikut : Berat volume beton : 2400 kg/m3 (tabel 2. A= fy Dimana : Pu : gaya aksial ultimate beban ø : faktor reduksi gaya aksial tekan Pn : momen nominal A : luas penampang = Pn 3.1) . penyelesaian-penyelesaian.1) Berat dinding partisi : 40 kg/m2 (tabel 2.5.1) Berat volume AC dan perpipaan : 10 kg/m2 (tabel 2.1) Berat volume ps bata merah : 250kg/m2 (tabel 2.

Beban hidup pada lantai mesin elevator diambil sebesar 400 kg/m2 (tabel 3. 2) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung.2. d. dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang barang yang dapat berpindah.4) Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang . Beban Gempa (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.1) c. ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam pasal 4.3 (PPIUG 1983).1) .Beban hidup pada lantai diambil sebesar 250 kg/m2 (pasal 3. 3) Beban angin ialah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.Beban hidup pada tangga diambil sebesar 300 kg/m2 (tabel 3.29 b.Beban hidup pada lantai atap diambil sebesar 100 kg/m2 (pasal 3. yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau. . Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam kg/m2. Beban Angin (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.2 (PPIUG 1983) dengan kefisienkoefisien angin yang ditentukan dalam pasal 4.1) . mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu.1) . sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut. Beban Hidup (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan).

..2) .3.... maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu...5 . n = Jumlah tingkatnya Simpangan antar lantai (SNI 03 – 1726 – 2002) .... ditetapkan sebagai berikut: V = dimana : V R T1 Wt I Hn C1 C1 × I × Wt ..Kinerja batas ultimit : ΔM = ΔS * ξ ...Kinerja batas layan : ΔS = 0. (pasal 4.6) . Gaya geser dasar rencana total. V..03 / R Ambil terkecil (pasal 8.6 SNI 03 – 1726 – 2002): T1 < ς n dimana : ς = Koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada (Tabel 8). T1 = Cc (hn)3/4 R = Gaya geser dasar Nominalstatik ekuivalen = Faktor reduksi gempa = Waktu getar alami fundamental = Berat total gedung = Faktor kepentingan struktur = Tinggi total gedung = Faktor respons gempa Pembatasan waktu getar alami fundamental (Pasal 5..1) ΔS = 30 mm Dimana : R = RSRPMB Baja = 4....30 menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu..... Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik. (pasal 8.

2-5) . dan juga perhitungan sambungan dimana dari kontrol tersebut dapat mengetahui apakah desain yang kita rencanakan telah sesuai dengan syarat-syarat perencanaan.0.2 D + 1. dan peraturan angka keamanan.1.0. serta efisiensi.9 Penggambaran hasil perhitungan dalam gambar teknik Penggambaran hasil Perencanaan dan perhitungan dalam gambar teknik ini dengan menggunakan program bantu AutoCAD.1. tahap selanjutnya yaitu kita mendesain pondasi bangunan.0 E) (6. 3.0 E + γL L .5 (La atau H) (6.2-6) 3.8 Perencanaan Pondasi Setelah perencanaan bangunan atas selesai. Bila tidak memenuhi maka dilakukan re-design.9 D – (1. tahap selanjunya kita kontrol desain meliputi kontrol terhadap kolom. Bila telah memenuhi maka dapat diteruskan ke tahap pendetailan.4 D (6.2-2) .2 D + 1.1.5 (La atau H) (6.2.31 ¾ Kombinasi Pembebanan Kombinasi Pembebanan sesuai dengan LRFD tersebut di atas dengan kombinasi sebagai berikut (metode LRFD) : .3W atau 1.3 W + γL L + 0. 3.2-1) (6.7 Kontrol Desain Setelah melakukan analisa struktur bangunan. 3. balok.8 W) (6.2 D + 1. .6 Pemodelan dan Analisa Struktur Untuk mengetahui gaya dalam yang timbul pada elemen struktur akibat beban yang bekerja maka dilakukan analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS v9.6 (La atau H) + (γL L atau 0.6 L + 0.2-4) .1.2 D + 1.1.2-3) .

32 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

..5 cm Jumlah tanjakan = 2 212.2 Perecanaan Jumlah Injakan Tangga .Persyaratan – persyaratan jumlah injakan tangga 60 cm < ( 2t + i ) < 65 cm 25º < a < 40º Dimana : t = tinggi injakan (cm) i = lebar injakan (cm) a = kemiringan tangga ....5 17...5 = 13 buah = 12 buah = 140 cm = 150 cm = 360 cm = 330 cm Jumlah injakan ( n ) =13-1 Lebar bordes Lebar tangga Panjang Tangga Panjang Bordes ⎝ 30 x12 ⎠ 212.1 Perencanaan Tangga 4.1.1....Ok a = arc tg ⎛ ⎜ ⎟ ..1 Data perencanaan Tinggi antar lantai Tinggi bordes Lebar injakan Panjang tangga Lebar pegangan tangga = 425 cm = 212..5 ⎞ = 30.33 BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 4.....Perhitungan jumlah injakan tangga Tinggi injakan ( t ) = 65 − 30 = 17.5 cm = 30 cm = 360 cm = 5 cm 4.55º ..

2 Potongan A – A tangga .34 Pelat Combideck t= 9 cm Balok Utama Tangga Channel 260x90x10x1 Pelat Anak Tangga t= 3 mm Gambar 4.1 Denah tangga Gambar 4.

612 kgm .35 4.437 kgm 5.Perencanaan pembebanan pelat tangga Beban Mati Berat pelat = 0.003 m Berat jenis baja = 7850 kg/m3 Mutu baja Bj 41→Tegangan leleh baja = 2500 kg/cm2 .003 x 1.125 x 38.858 kg/m Beban Hidup qL = 300 x 1.6 30 cm 150 cm Gambar 4.437 kgm = 0.50 x 7850 = 35.325 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 3.3 Perencanaan Pelat Tangga Pelat baja t=3mm Profil Siku 60.Perencanaan tebal pelat tangga Tebal pelat tangga = 3 mm = 0.063 kgm Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.1.125 x 450 x 0.50 = 450 kg/m Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 q D l2 = 0.60.3 Tampak anak tangga .4 MD = 1.4 x 0.53 kg/m + qD = 38.32 = = 0.32 ML = 1/8 q L l2 = 0.858 x 0.

0804 < 0.625 kgm.36 MU = 1.6 ML = 1.25 x 150 x 0... dengan data sebagai berikut : b = 60 mm Ix = 22.063 = 8.75 kgcm Syarat : φMn > Mu 75.....82 cm tw = 6 mm Iy = 22. 38858 4 ...0833 .32 = 3..4 Tampak melintang anak tangga ..8 cm 2 Zx = 9..83 cm3 W = 5.3375 = 0.625 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur Zx = ¼ bh2 = 0.1..82 cm 4 iy = 1.0..0833 cm 360 360 Ix = 1 bh 3 = 1 x 150 x 0.4 Perencanaan Penyangga Pelat Injak Direncanakan menggunakan profil siku 60x60x6.42 kg/m A = 6..6 x 5....437 + 1.33 = 0.91 cm Gambar 4....375 cm3 φMn = φZx x fy = 0...10 6....Ok Kontrol Lendutan f = L = 30 = 0....9 x 3.8 cm4 ix = 1.2 x 0.375 x 2500= 7593.3375 cm4 12 12 4 Ymax = 5 (q D + q L )l < f 384 EI x 4 ( ) 5 0 ...Ok 4..94 kgm > 8....2 MD + 1. 35 30 + = 365 2.

125 x 45 x 1.6.848 kg/m Beban Hidup ( 1/2 lebar injakan ) qL = 300 x 0.2) = 168.895 kg/m + qD = 9.42 kg/m + = 8.848.5(1.003 x 7850 = 3.2 ) 2 2 = 0.9.50) + 0.827 kgm ML = 1/3(PL) → akibat beban terpusat = 1/3.6.953 kg/m Alat penyambung ( 10 % ) = 0.863 Kg .125 x 9.533 kg/m Berat baja siku 60x60x6 = 5.1.848 x 1.502 = 2.5 Sketsa pembebanan pelat tangga Beban Mati ( ½ lebar injakan) Berat pelat = 0.P.2.150 = 5000 kg cm = 50 kgm Vu = 1 ( 1.5(1.100.qD.15 x 0.l ) + 1 ( 1.769 kgm ML = 1/8 qL l2 → akibat beban merata = 0.15 = 45 kg/m pL = 100 = 100 kg Perhitungan MD dan ML MD = 1/8 qD l2 = 0.100.37 - Perencanaan pembebanan P=100Kg P=100Kg VA VB Gambar 4.2.502 = 11.

.2 x 2..... 45 150 = + 648 2.8 384 2.83 x 2500 = 22117....9 x 9.38 Perhitungan Kombinasi Pembebanan MU MU = 1.625.769 + 1.175 kgm > 83..877 kgm MU = 1..2 MD + 1.323 kgm ( menentukan ) Kontrol Momen Lentur φMn = φZx x fy = 0..6 x 50= 83..323 kgm.....8 cm4 4 3 ( ) + q q l Pl 5 23 D L Ymax = + 384 EI x 648 EI x 3 4 ( ) 100 + 100 x 150 23 ( ) 5 0 .605 < 0...8 = 0.175 kgm Syarat : φMn > Mu 221.10 6 x 22. 09848 + 0 ........769 = 3...625 cm 240 240 Ix = 22.Ok ..106 x 22....Ok Kontrol Lendutan f = L = 150 = 0.6 ML = 1.5 kgcm = 221.....4 MD = 1.4 x 2.

21 kg /m2 = 21 kg/m2 .1 kg/m2 = 10.Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing : .spesi lantai t = 1cm = 1.sandaran baja = 20 kgm2 Total beban finishing = 65 kgm2 Beban Hidup Beban hidup = 300 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + beban finishing = 300 kg/m2 + 65 kg/m2 = 365 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus tanpa tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .lantai keramik t = 1cm = 24 kg/m2 = 1.Pelat beton t = 9 cm = 0.6 Desain Balok Utama Tangga Balok utama tangga dianalisa dengan anggapan terletak di atas dua tumpuan sederhana dengan menerima beban merata dari berat sendiri dan beban dari anak tangga.1.4 m .1 kg/m2 .Pelat lantai bondek = 10.Beban Mati .39 4.tebal pelat beton = 9 cm b.09 m.bentang (span) = 1.2400 kg/m3 qD2 = 10.5 Desain Bordes Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.24 kg /m2 . Balok utama tangga .75mm.1.1 kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226. Pembebanan a.1 kg/m2 4.

650 kg/m . dengan spesifikasi sebagai berikut : Ix = 4820 cm4 A = 48.9 / cos 30.773kg/m Berat alat penyambung (10%) = 10.003 x 1.7 cm3 Zx = 445 cm3 Zy = 105 cm3 .887kg/m qD1 = 119.99 cm Sx = 371 cm3 iy = 2.1 kg/m Berat profil = 37.663 kg/m Berat profil siku = 5.30 = 27.01 kg/m Berat sandaran besi = 20 kg/m = 108.40 direncanakan menggunakan profil Channel 260x90x10x14.50/2 x 7850 = 17.75 /0.6 Sketsa pembebanan balok utama tangga 1.55 = 44.56 cm Sy = 47.9 kg/m Iy = 317 cm4 ix = 9.Perencanaan Pembebanan BEBAN ANAK TANGGA (qu1) BEBAN BORDES (qu2) B VuC C A VuA Gambar 4.3 cm2 W = 37. Perencanaan pembebanan anak tangga Beban Mati Berat pelat = 0.42 x 2 x0.

..3...4.822 kg/m = 570.6...3) + (ql1..1.7)}/5 = 598.3.4...1.5..037..4..4....40 kg ( ↑ ) VDC = {(qd2.6.3) + (qd1.OK .14 + 877..9 kg/m = 480.86 = ( 217..65 .1.39 = (119.3..1) x 1.3.40 +841.0.3..7) }/5 = 387.6. Beban Mati VDA = {(qd1..39 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 387. Perencanaan pembebanan bordes Beban Mati Berat profil Berat bordes =(65+226.Ok B.3.5 2..215 kg/m = 51.1.8) }/5 = 841...4...79 kg = 1228.65 Berat penyambung ( 10 % ) qD2 = 217....8)}/5 = 877.4) 1476 kg = 1476 kg ..86 kg ( ↑ ) Kontrol : Σ V = 0 598.037 kg/m Beban Hidup qL2 = 300 x 1..2) + (qd2.3.2) + (ql2.5 kg/m = 37..41 Beban Hidup qL1 = 300 x 1.650.4.6.6)+(570.4) 1228..6) + (2495.79 kg ...50 x 0..1.Perhitungan Gaya – Gaya pada Tangga = 495 kg/m A.1.14 kg ( ↑ ) VLC = {( ql2.1... Beban Hidup VLA = {(ql1.315 kg/m = 518.1.0..3.

.qd1 + 1.58 kg/m qu2 = 1.4) + (qu2.x1 = 0 dx1 V 1421.58...4..VLA = 1.2.x) ..58 MUmax = (VUA.8) = 1933.5) = 491.42 C.3...6.2.24..2..qu1..416 kgm MUBA = (VUA..119..39 + 1. 1.2 VDC + 1.x1) – (1/2.2 VDA + 1.4) + (1476.2..6.495) = 1476. 598..(1/2.1..1933.3.(2414..8932) = 2056.90.14 = 1421.Ok Batang AB Mx1 = (VUA.x2) = (1421. 841.3. 387.ql2 = (1.570.86 = 2414.5...0.6m.044 kg/m VUA = 1..90 kg ( ↑ ) VUC = 1.90 x1= UA = = 2.6. Gaya – Gaya Dalam Ultimate qu1 =1.217..6.1.6.893 m < 3..416 kgm Kontrol : MUBA = MUBC.0.7) = .1...x12) dMx1 = 0 ⇒ VUA − qU 1 .24 kg ( ↑ ) MUBC = .8) = (1421.6) – (491.6.2..441 kgm .1..Ok qU 1 491. 491..2.6) – (qu1.58.VLC = 1.3.1...7) = .40 + 1.2.037 + 1.6..65 + 1..ql1 = (1.6.90.4.qd2 + 1.893) – (0. 877.6.(VUC .04.2...6... qu1.

25 Penampang profil kompak.14 250 30 = 34.22.iy.76. fy 250 Ternyata Lp>Lb.Balok Bordes Lb = 0 m Lp = 131.7 Sketsa bidang momen pada balok tangga .55° E 2.51 cm Lp = 1.76.Batang Miring Lb = 90 170 ≤ 2.21 ≤ 10. = 1.Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil fy = 2500 kg/cm2 untuk sayap : b 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 200 1680 ≤ 10 250 3.416 kgm 2056.2.43 B + A 2. maka Mnx = Mpx .10 5 = 110.893 m C + 1933.441 kgm Gambar 4.75 20 ≤ 106. maka Mnx = Mpx 2.84 cm cos 30. maka Mnx = Mpx Kontrol Lateral Buckling 1.082 cm Ternyata Lp >Lb.

2500 = 1112500 kgcm = 11125 kgm 1... 11125 kgm 2056..441 kgm < 10012....Kontrol Kuat Rencana Geser 162 110 ≤ 5.....5 250 20 < 69..Kontrol Momen Lentur 90m m y1 260m m 10m m y2 14m m Gambar 4..371..5....plastis .... Mn = Mp = 1112500 kgcm = 11125 kgm Syarat : Mu ≤ φMn 2056..Ok ..14 Mp = Zx.44 ..9.5 Sx.2500 = 139125 kgcm Jadi..5 kgm...8 Sketsa profil Canal 260.fy = 445....5 My = 1.fy = 1.10....90.57 .441 kgm ≤ 0.....

95 cm Zy = 172 cm3 tf = 11 mm r = 14 mm tw = 7 mm h = 300 mm .6 x fy x Aw Vn = 0.56 kg/m P = VUC = 2414..7 Desain Balok Penumpu Bordes Balok penumpu bordes direncanakan menggunakan profil WF 350x175x7x11..14 cm2 Ix = 13600 cm4 W = 49.904 Kg < 35100 kg .6 kg/m 6.d = 10.6 kg/m + 69...904 kg Vu ≤ φVn 1421. Syarat : Aw = tw.. 76.24 kg = = = = qD = = 20 kg/m 49.9 x 39000 = 35100 kg VUA = 1421.56 kg/m 91..Perencanaan pembebanan Beban Mati Berat sandaran besi : 20 kg/m Berat sendiri profil : Berat ikatan ( 10 % ) qU = 1.96 kg/m + 76.2.45 Vn = 0....87 kg/m ...Ok Jadi profil Channel 260x90x10x4 dapat dipakai..6 kg/m Iy = 984 cm4 Sy = 112 cm3 bf = 175 mm ix = 17.260 = 2600 mm2 4......6 x 2500 x (26) = 39000 kg φVn = 0.1.. dengan data sebagai berikut : Sx = 775 cm3 A = 63..70 cm Zx = 841 cm3 d = 350 mm iy = 3.

24.87 Kg/m' VA VB Gambar 4.15) 2 = 15703.24.92 ………Ok Mmax = VA.24 (16) + (91.(5.(5.35).4) 10391.85 + 2.8 .46 P=2414.85 + 2.24 Kg P P P qD=91.9 Sketsa pembebanan balok penumpu bordes ΣMB = 0 VA.4 – P (1.96 Kg Kontrol : VA + VB = (qD.42 2 91.P.87 .65 + 4.24 kgm .87.½ qD.96 = (91.8 + 2414.35).65+0.96.4 –2414.(1.82 = 0 VB = 2414.96 + 5195.15 + 3.87) 8 2 2 ( ) VB = 5195.15 + 3.87 ) 8 2 2 VA = 8 VA = 5195.8 .½ qD.65 + 4.96 Kg ( ) ΣMA = 0 VB.4) 5195.65+0.P.82 = 0 1 2414.½ q.8 + P.92 = 10391.15). 4 = 5195.24 (16) + 8 1 (91.

.. maka Mnx = Mpx Kontrol Momen Lentur φMn = φ x fy x Zx = 0...6 x 2500 x (0..........7....9 x 2500 kg/cm2 x 841cm3 = 1892250 kgcm Syarat : φMn > Mu 18922....9 x 31500 = 28350kg Syarat : Vu ≤ φVn 5195........86 ≤ 106.....95 ≤ 10....75 42............24 kgm.86 < 69.33 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 2........25 Penampang profil kompak..Kontrol Kekuatan Propil Penampang Profil untuk sayap : bf 170 ≤ 2tf fy untuk badan : h 1680 ≤ tw fy 175 170 30 1680 ≤ ≤ 7 2.. .57 ......11 250 250 7......976 kg < 28350 kg....5 kgm > 15703.Kontrol Kuat Rencana Geser 30 1100 h 1100 ≤ ≤ 7 tw 250 fy 42.Ok Kontrol Lendutan fijin = L 800 = = 3..30) = 31500 kg φVn = 0...22 cm ≤ f ijin.Ok ....47 .plastis Vn = 0.6 x fy x Aw = 0........Ok Jadi profil WF 350x175x7x11dapat dipakai..

yaitu sambungan baut dan las.7.8 Perencanaan Sambungan Profil Tangga Ada dua sambungan yang akan digunakan pada tangga. Sambungan baut digunakan untuk menyambung balok bordes dengan balok penumpu tangga. a.10 Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes . Sambungan las digunakan untuk menyambung balok tangga miring dengan balok tangga horizontal (bordes). A Balok penumpu bordes 350. Dipakai 2 buah baut dengan Øbaut = 12 mm.175. ¾ Sambungan Baut Model mekanika tumpuan tangga menggunakan asumsi sendi pada tangga dan rol pada bordes. A Baut ø 12 Balok tangga Channel 260.11 Gambar 4.7.14 Balok penumpu bordes 350. Sehingga sambungan baut yang dipakai adalah sambungan geser.11 Pot.10.1. sehingga reaksi tumpuan balok bordes langsung diterima balok penompu bordes.90.175. Sambungan balok bordes dengan balok penumpu bordes Asumsi tumpuan pada bordes adalah rol (balok tangga diletakkan di atas balok penumpu bordes). Maka sambungan baut hanya diperlukan praktis.48 4.

707.1 4 P la t p e n y a m b u n g T e b a l = 1 0 m m Gambar 4.3 aeffsayap = 0. fu.707.70.tw 0. dengan ketentuan sebagai berikut : ƒ Mutu las E70 XX (fuw = 70 ksi = 4921 kg/cm2) ƒ Tebal pelat penyambung.1. t = 10 mm I P o t.589cm E 70 XX 70.tf 0.4100.9 0 .3 .1 0 .1 aeffbadan = = = 0.I . fu.70.707.4 = = 1.707.I B a lo k ta n g g a C h a n n e l 2 6 0 .49 ¾ Sambungan Las Sambungan antara balok – balok tangga direncanakan dengan menggunakan sambungan las.64cm E 70 XX 70.4100.11 Sambungan balok tangga dengan balok tumpuan tangga Kontrol Sambungan Las Digunakan las mutu E70XX 0.

74 = = 28.12 + 958. digunakan a = 0.707 0.(26+(0.0.2) + 23.70. fu 0.6 fh = = = 521.75.1 kg/ cm2 A 55.43cm ϕ .707 Sehingga.2) + (0.2)) = 55.43 te = = 0.14 kg/ cm2 Sx 371 f total = fr 2 + fh 2 = 28.3 0.4 Akibat Mu Mu 193341.4.8.70.64 cm 0.71 kg/ cm2 te perlu = a perlu = f total 958.608cm < aeffmax = 1.71 = = 0.50 Dimisalkan dipakai tebal las (te = 1 cm) A = 1.8 cm = 8 mm .4 cm2 Akibat Pu fr = Pu 1556.6.32 = 958.2 + (1.9.

50 m .2 Perencanaan Struktur Lantai Pada perencanaan struktur lantai direncanakan pelat lantai menggunakan bondex.tebal pelat beton = 9 cm .ducting AC + pipa = 10 kg/m2 + Total beban finishing = 56 kg/m2 Beban Hidup Beban Hidup = 100 kg/m2 Beban superimposed/berguna = beban hidup + finishing = 100 kg/m2 + 56 kg/m2 = 156 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .24 mm2 = 0.75 mm Pembebanan a. 4.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 1.2.1 Pelat Lantai Atap Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0.bentang (span) = 2. dipasang tulangan tarik Ø 8-250 .5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 1000mm/4 = 250 mm Jadi.4 buah = 4 buah As 0.Beban Superimposed (Berguna) Beban finishing : = 28 kg/m2 . Gunung Garuda.71 cm2/m .aspal t = 2 cm = 2.71 = = = 3.5024 cm2) . dimana dalam perencanaan ini bondek yang digunakan merupakan produk dari PT.direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.rangka + plafond = (11+7)kg/m2 = 18 kg/m2 .14 kg/m2 .51 4.tulangan negatif = 1.

52
b.Beban Mati - Pelat lantai bondek - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3

= 10,1 kg/m2 = 216 kg/m2 + = 226,1kg/m2
Tulangan Ø 8 – 250mm Plat Bondex t = 0,75 mm

90 mm

Balok

Gambar 4.12 Potongan plat lantai Atap

4.2.2 Pelat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11 Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 kg/m2 - lantai keramik t = 1cm = 1.24 kg /m2 = 24 kg/m2 = 18 kg/m2 - rangka + plafond = (11+7)kg/m2 - ducting AC+pipa = 10 kg/m2 - dinding = 250 kgm2 Total beban finishing = 344 kg/m2
Beban Hidup Beban hidup = 250 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 250 kg/m2 + 344 kg/m2

= 594 kg/m2

Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

53
- bentang (span) - tebal pelat beton - tulangan negatif = 2,50 m = 9 cm = 3,25 cm2/m

- direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m =

A 3,25 = = 6,47 buah = 7 buah As 0,5024

Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi, dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex - Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m3 = 10,1kg/m2 = 216 kg/m2+ = 226,1kg/m2

90 mm

Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0,75 mm

Balok

Gambar 4.13 Potongan plat lantai 1 dan lantai 3 sampai lantai 11

54
4.2.3 Pelat lantai 2 Dipakai pelat bondek dengan tebal pelat = 0,75mm. Pembebanan a.Beban Superimposed Berat finishing : - spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m2 = 42 - lantai keramik t = 1 cm = 24 = 1.24 kg /m2 2 = 18 - rangka + plafond = (11+7)kg/m - ducting AC+pipa = 10 - dinding = 250 Total beban finishing = 344

kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kgm2 + kg/m2

Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban berguna = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 344 kg/m2 = 744 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berikut : - bentang (span) = 2,50 m - tebal pelat beton = 11 cm - tulangan negatif = 3,38 cm2/m - direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50,24 mm2 = 0,5024 cm2) - banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m A 3,38 = = 6,73 buah = 7 buah As 0,5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 140 mm Jadi,dipasang tulangan tarik Ø 8-140 b.Beban Mati - Pelat lantai bondex = 10,1kg/m2 - Pelat beton t = 11 cm = 0,11m.2400 kg/m3 = 264 kg/m2+ = 274,1kg/m2

21kg /m2 = 21 2 = 18 .2.tebal pelat beton = 10 cm .bentang (span) = 2.rangka + plafond = (11+7)kg/m .11 cm2/m .14 Potongan plat lantai 2 4.spesi lantai t = 1cm = 1.ducting AC+pipa = 10 Total beban finishing = 49 Beban Hidup Beban hidup = 400 kg/m2 Beban superimposed = beban hidup + finishing = 400 kg/m2 + 49 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 + kg/m2 = 449 kg/m2 Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif dengan satu baris penyangga didapatkan data-data sebagai berkut : .4 Pelat Lantai Mesin Lift Dipakai pelat bondex dengan tebal pelat = 0.75 mm Balok Gambar 4.banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m .75 mm Pembebanan a.55 m .55 100 mm Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0.direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm (As = 50.tulangan negatif = 3.24 mm2 = 0.Beban Superimposed Berat finishing : .5024 cm2) .

Balok anak menumpu di atas dua tumpuan sederhana.8.2400 kg/m3 = 10.200.6 kg/m tw = 7 mm Zx = 1088 cm3 d = 396 mm tf = 11 mm Sx = 1010 cm3 Iy = 1450 cm4 bf = 199 mm Ix = 20000 cm4 iy = 4.dipasang tulangan tarik Ø 8-160 b.16 cm2 ix = 16.1m. Pada perencanaan ini.56 = A 2.5024 Jarak antar tulangan tarik per-meter = 160 mm Jadi.15 Potongan plat lantai mesin lift 4. balok anak direncanakan menggunakan profil WF 400.13.1 kg/m2 Tulangan Ø 8 – 140mm Plat Bondex t = 0. sehingga mempunyai kekakuan yang cukup.75 mm Balok 100 mm Gambar 4.1kg/m2 = 240 kg/m2+ =250.3 Perencanaan Balok Anak Balok anak berfungsi membagi luasan lantai agar tidak terlalu lebar.7 cm r = 16 mm W = 56.Beban Mati .Pelat beton t = 10 cm = 0.86 = = 5. ditunjukkan perhitungan balok anak pada lantai 2.48 cm h = d–2(tf + r ) = 396–2(11+16) = 342 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4100 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 – 700 = 1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 950 cm .Pelat lantai bondex . dengan data sebagai berikut : A = 72.69 buah = 6 buah As 0.

681.23 Kg kg 4334.1 Kondisi Balok Anak Sebelum Komposit 1.5 m 950 cm B - 4275.5m .berat pelat bondex = 10.23 Kg 4334.Beban Mati .2.6 kg/m+ 681.1 kg/m2.berat sendiri profil WF .0048 kg/cm A 4275.14 Bidang D dan M pada komposit balok sebelum komposit .57 4.048 kg/m = 90.85 kg/m 68.25 kg/m = = = = = 600 kg/m 56.2 qD = 1.3.85 kg/m qD = 25.19 kg/m+ 750.2.2400kg/m3.4.berat sendiri pelat beton = 0.5 m . 750.1 m.2.14 + 1029358Kgcm kgcm 1015367 Gambar.berat ikatan : 10 %.04 kg/m Kombinasi Beban : qu = 1.14 kg + 9.04 = 900.

....0048..11 250 9...qu...05 < 10. maka Mn = Mp ..q u ..L2 8 = 1 .950 4 = 384.....20000 = 2.L 2 = 1 .0048..90....389 cm < f ' .(9.90..ok Profil penampang kompak. 9502 = 1015367 kgcm 8 Geser yang terjadi : Vu = 1..ok 342 1680 ≤ 7 250 48.639 cm 360 360 5.Ok ¾Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Sayap Untuk Badan bf 170 h 1680 ≤ ≤ 2tf tw fy fy 199 170 ≤ 2...E...l 4 ymaks = 384.23 kg 2 ¾Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f '= L 950 = = 2.2.950 = 4275..58 Momen yang terjadi: Mu = 1 ..qu..752..25.00048 ).Ix 5.10 6.86 < 106.

.6.8. 41580kg ≥ 4275..13 didapatkan : Lp = 226. Aw = 0. fy = 1088 .59 ¾Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 47.357 cm Jadi.23 kg………...Ok .. 2720000 kgcm 1015367 Kgcm < 2448000 kgcm.7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0.003 cm.5 cm (diambil sejarak pemasangan shear connector) Berdasarkan tabel profil untuk BJ 41 profil WF 400.200.6..57……Ok Vn = 0..Ok Penampang profil baja mampu menahan beban yang terjadi.9. Lr = 658..(39. fy.6 ..23 kg 37422kg ≥ 4275. kuat nominal komponen struktur adalah : Mn = Mp = Zx .0..2500.86 < 69. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lb < Lp (untuk bentang pendek). 2500 = 2720000 kg cm Persyaratan : Mu ≤ φMn 1015367 Kgcm ≤ 0... Lb < Lp → bentang Pendek. ¾Kontrol Geser h 1100 ≤ tw fy 342 1100 ≤ 7 250 48...9.

berat sendiri profil WF .85 qD 2.berat sendiri pelat beton = 0.2.2400 kg/m3.5m .9502 = 3170302 kgcm 8 8 = 25. 21 kg/m2.2.24.2.2 qD + 1.6 kg/m = 105 kg/m = 60 kg/m = 45 kg/m = 25 kg/m+ = 916.1kg/m2.28.5 m .950 2 = 13347.berat spesi 2 cm = 2.24 kg/m2.5m .916. 1008.5 m Kombinasi Beban : qu = 1.berat keramik = 1.53 kg/m = 1000 kg/m Geser yang terjadi : Vu = 1 .25 kg/m = 600 kg/m = 56.Beban Mati . Beban Hidup : qL = 400 kg/m2.85 kg/m = 91.53 + 1.68 kg/m+ = 1008.1000 = 2810.qu.1 m.2 Kondisi Balok Anak Setelah Komposit ¾ Pembebanan setelah komposit 1.2.2.6.5 m .L 2 = 1 .2.2810.1024.berat rangka + plafond = (11+7)kg/m2.5m .L2 = 1 .2.1024 kg/cm Momen yang terjadi: Mu = 1 .5m .3.berat pelat bondex = 10. qu.6 qL = 1.5 kg .berat ducting AC+pipa = 10 kg/m2.berat ikatan : 10 %.24 kg/m = 28.2.60 4.

.9500 mm = 2375 mm = 237.50 m = 2500 mm jadi beff = 2375 mm =237.85.250.25...beff 0...237.5 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.5 = 504687..11 250 9.61 ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 199 170 ≤ 2.fc’.237.fy = 72.5 kg C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.L = ¼.ok 342 1680 ≤ 7 250 48.86 < 106.752.05 < 10.57 cm = 0.85.16.ok Profil penampang kompak.beff = 0.250..5 cm beff ≤ S = 2.85.10...85.tplat. • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .. fc'.2500 = 180400 kg C2 = 0. C =C1 ( terkecil) = 180400 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 180400 = 3..5 .

.6 = 2...815 + 0) + 180400 (19.2500 = 180400 kg Mn = 180400 (2.8 cm 2 2 d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.15 potongan Balok anak 3..0) = 4079746 kgcm Syarat : Mu ≤ φ . .16.Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.fy = 72.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 180400 kg Py = As.85..Mn 3170302 kgcm ≤ 0.4079746 kgcm 3170302 kgcm ≤ 3467784 kgcm...815 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 39. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.6 d3 = = = 19.8 ..57 a = 4..62 2375 mm 54 12 t = 46 mm t = 100 mm t = 400 mm Gambar 4.

12⎜ ⎜ + 10 ⎟ − 10.63 ¾ Kontrol Lendutan • Menghitung luasan transformasi beton ke baja 1.12 ) = 10.1.1.5 cm (balok interior) Es 2.041.6⎜10.10 5 Mpa beff = 237.10 ⎛ 40 ⎞ ⎞ ⎛ 84.69 cm4 .6 cm beff • Menentukan letak garis netral Atr .41.6 .5 = 27.t plat beton = 27.52 ⎟ ⎜ ⎟ 12 2⎠ ⎠ ⎝ ⎝⎝ 2 ⎠ 2 = 66148.52 − ⎟ + 23700 + 84.52 cm • Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi I tr = b tr (t pb ) 3 12 t pb ⎞ ⎛ ⎛⎛ d ⎞ ⎞ ⎟ + Ix + A s ⎜ + Atr ⎜ Yna − t Yna + − ⎟ ⎜ ⎟ pb ⎜ 2 ⎟ ⎜ 2 ⎟ ⎠ ⎝⎝ ⎠ ⎝ ⎠ 2 2 2 ⎛ ⎛ 40 ⎞ 27.wc . 25 = 2.26 cm n 8.26.41.713 Atr = btr.10 4 btr = = 237.5.10 5 n = = = 8.6 + 84.24001.041. 5 Ec = 0.713 Ec 2.12 ⎜10 + ⎟ ⎟ +⎜ ⎜ 2 2 ⎠⎟ ⎝ ⎠ ⎝ = (272.94 = 272.26(10)3 10 ⎞ ⎛ ⎞ I tr = + 272.104 Mpa Es = 2.t platbeton Yna = 2 ⎛ ⎛ d ⎞⎞ A t +⎜ + ⎜ ⎟ ⎜ s platbeton 2 ⎟ ⎟ ⎠⎠ ⎝ ⎝ ( Atr + As ) 272. fc' = 0.

106..6388 + 10)..9.2.6..57..(2.7) = 41580 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu 0.l 4 5.0.....6.E . untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan 2 a h ( ) kn = 5 ..E.9504 = ymaks = 384.639 cm 360 360 5..Ok Vn = 0.(10.5 kg 37422 kg ≥ 13347..1 tw fy kn = 5 + 5 .Ok . dimana: ≤ 1..ok ¾ Kontrol Geser Kuat geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).1 tw fy 5....fy. h kn.86 < 69. 41580 kg ≥ 13347.untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan h kn.6..1 7 2500 48..Ix 384.66148.(q DL + q LL )..2500 (39.Aw = 0......69 = 1...654 cm < f ' .10 6 ) 342 < 1...E sehingga : ≤ 1..5 kg …………...64 ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin : f ' = L = 950 = 2...

2 Kg .5....5 .5..41.53 mm2 fu = 400 Mpa = 40 kg/mm2 Ec = w1.. fc ' = 24001.53.. hr = 54 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 46) = 54+46 = 100 mm ⎞ 0.23 N = 11003.041.923 kg/stud Syarat : Qn ≤ Asc.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0.Asc. fc '..712 > 1→ diambil rs = 1 Qn’ = Qn...2 kg/stud .923 Kg < 11341.85 ⎛ 200 ⎞⎛ 100 ⎞ rs = − 1⎟ ≤ 1 ⎟⎜ ⎜ 2 ⎝ 53 ⎠⎝ 53 ⎠ rs = = 1.40 kg/stud 11003..53 25.Ec = 0.....923 . rs = 11003.041 25 = 2.41.1 = 11003.283......5.0.104 Mpa Qn = 0..923 kg/stud ≤ 283.65 ¾Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan: ds = 19 mm Asc = 283.0......923 kg/stud ≤ 11341.Ok .10 4 = 110039.2.fu 11003.Ok Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok..

karena disesuaikan dengan anggapan dalam analisa sebagai sendi.8.5cm sebanyak 20 buah untuk masing-masing bentang. Vu = 13407.6 Balok Utama WF 600.5 Perencanaan Sambungan balok Anak dengan balok Induk Sambungan antara balok anak dengan balok induk direncanakan dengan baut yang tidak dapat memikul momen.60.16 Detail sambungan balok anak dengan balok Induk . Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 950 P= = = 47.13 Baut M16 mm 50 100 50 50 100 50 Profil siku 60.56 ≈ 10 buah Qn 2.23 Baut M16 mm fu = 5000 Kg/m2 Balok Anak WF 400.9 cm = 11.13.13.60.6 Balok Anak WF 400.tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6.923 Jadi.200.4cm Jadi.23 Gambar 4.200.5 cm N 20 Jarak maksimum (Pmaks) = 8. dibutuhkan 20 buah stud untuk seluruh bentang.66 Jumlah stud untuk setengah bentang : Tmaks 210300 N= = = 9.616 kg Balok Utama WF 600. shear connector dipasang sejarak 47.13 Profil siku 60.8.11003.200.200.(diameter) = 6 x 1. 4.

5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2.0.4 kg n= Vu 13407.5000. r1 .db.4 .01.0.75.6.4100 = 9446. fu . m Dimana : r1 = 0. m Dimana : r1 = 0.67 Sambungan Plat Siku dengan Balok Anak Direncanakan : profil siku 60. 2. Abaut .8.616 = = 1.01 cm2 ) m = 1 sisi .78 Vn 7537.5.2 = 7537. Abaut .2.75. fu (tebal plat sayap dipakai tp = 8 mm) = 0.60.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf.60.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) • Kuat geser Vn = φf. tp .5 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.1.01 cm2 ) m = 2 sisi Vn = 0. r1 .5 Dipasang 2 buah baut M16mm (Jumlah baut untuk 1 sisi) Sambungan Plat Siku dengan Balok Induk Direncanakan : profil siku 60.5 fu = 5000 kg/cm2 Øbaut = 16 mm (Abaut = 2. fu .2.4.

0.60.6 = 1008 mm2 Kuat rencana : φRnv = φ.75 Dipasang 4 buah baut Ø16 mm (Jumlah baut untuk 2 sisi) n= Kontrol Plat Siku pada Gelagar Direncanakan : Profil siku 60.tp .75.16).01.db.75.6.8 kg Vu 13407.4.0.75 kg (menentukan) • Kuat tumpu Vn = φf.1 = 3768.616 = = 3.fu (t plat sayap dipakai tp=6 mm) = 0.t∟ = (200 – 2.fu.5000.2.0.6 Baut M16 mm (fu = 5000 kg/cm2) Luas bidang geser 50 100 50 Gambar 4.1.6.08 = 22680 kg .An = 0.75.68 Vn = 0.5.4100 = 7084. 2.56 Vn 3768.4.6.2.6.10.0.5000.17 Detail pelat siku pada gelagar Luas bidang geser = Anv = Lnv.

616 kg ≤ 45360 kg.... dengan data – data sebagai berikut : Tipe lift : Duplex Merk : Sigma Kapasitas : 15 orang Lebar pintu (opening width) : 900 mm Dimensi sangkar (car size) Dimensi ruang luncur Dimensi ruang mesin : ....616 kg ≤ φVn 13407...outside : 1650 x 1665 mm2 . sehingga 2 φRnv = 2...6 Perencanaan Balok Lift Perencanaan balok lift meliputi balok – balok yang berkaitan denagn ruang mesin lift.inside : 1600 x 1500 mm2 : 4300 x 2150 mm2 : 4300 x 2150 mm2 Beban reaksi ruang mesin : ¾ R1 = 6150 Kg (Berat mesin penggerak + beban kereta + perlengkapan) ¾ R2 = 4600 Kg (Berat bandul pemberat + perlengakapan) . Untuk lift pada bangunan ini menggunakan lift yang diproduksi oleh Sigma elevator company. 22680 kg = 45360 kg Persyaratan : Vu ≤ φRn 13407. yaitu terdiri dari balok penumpu dan balok penggantung lift......69 Terdapat 2 siku....OK 4.

dan nilainya tidak perlu diambil lebih dari 1.6. dan diambil sebesar 1.3 Jadi. k1 = koefisien yang bergantung pada kekakuan struktur keran induk.6.00 m/det. Beban yang bekerja pada balok penumpu Beban yang bekerja merupakan beban akibat dari mesin penggerak lift + berat kereta luncur + perlengakapan. Koefisien kejut beban hidup oleh keran Pasal 3. dan akibat bandul pemberat + perlangkapan. 2.15.( 1 + 0.1 ) = 10750.70 4. pada umumnya nilainya dapat diambil sebesar 0.1 Perencanaan Balok Penggantung Lift 1.(3) PPIUG 1983 menyatakan bahwa beban keran yang membebani struktur pemikulnya terdiri dari berat sendiri keran ditambah muatan yang diangkatnya.3.6.1. beban yang bekerja pada balok adalah : P = ΣR . yang untuk keran induk dengan struktur rangka. k2 = koefisien yang bergantung pada sifat mesin angkat dari keran angkatnya. Sebagai beban rencana harus diambil beban keran tersebut dengan mengalikannya dengan suatu koefisien kejut yang ditentukan dengan rumus berikut : Ψ = ( 1+k1k2v ) ≥ 1. dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.1.15 Dimana : Ψ = koefisien kejut yang nilainya tidak boleh diambil kurang dari 1.3. Ψ = ( 6150 + 4600 ).78 = 19135 Kg . V = kecepatan angkat maksimum dalam m/det pada pengangkatan muatan maksimum dalam kedudukan keran induk dan keran angkat yang paling menentukan bagi struktur yang ditinjau.

15 m 4.29 cm Iy = 442 cm4 h = d – 2(tf + r ) = 298 – 2(13 + 13) = 246 mm BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fu = 4000 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm2 r = 13 mm Zx = 455 cm3 Zy = 91 cm3 Sx = 424 cm3 Sy = 59.3 m Gambar 4.3 cm3 fr = 700 kg/cm2 fL = fy-fr = 2500 .Data perencanaan Digunakan profil 300 x 150 x 8 x 13 A = 40.15 m .5 m Balok Anak 2.71 Balok Penggantung Lift Balok Penumpu Lift 1.700 =1800 kg/cm2 Panjang balok anak (L) = 215 cm = 2.8 cm2 ix = 12.4 cm W = 32 kg/m tw = 9 mm d = 298 mm tf = 13 mm b = 149 mm Ix = 6320 cm4 iy = 3.18 Denah Lift 3.075 m 2.

15 m = 215 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.92 kg/m x10% .92 kg/m = 62. 215 = 1175.1.2.19 Sketsa mekanika perhitungan balok penggatung lift .755 kg/cm P qu = 32 = 516 kg/m kg/m = 21.15 kg/m2 Berat ikatan (10%) = 629.91 kg/m A B Gambar 4.6 qL = 1.91 + 1.2 kg/m + = 629.2.5 kg/m = 11.2qD + 1.2.Beban terpusat lift P = 19135 kg • Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.1 kg/m2 .15 Berat aspal t = 2 cm = 2. 692.14.15 Berat pelat combideck : = 10.2.72 kg/m = 60.72 Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.99 kg/m + qD = 692.6.2400.

tplat.15 kg 1 1 quL2 + pL 8 4 1 1 = (11.fy = 40.85.ok Profil penampang kompak.65 + 9567.13 250 5. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis...5 mm = 53.8.3 mm = 53. Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .250..5 mm jadi beff = 537.ok 246 1680 ≤ 8 250 30...10..25.L = 537..53.73 = 114219 kg .075 m = 107..fc’.beff = 0.73 cm beff ≤ S = 1.85.75 < 106.73 Vu = 1 1 quL + p 2 2 = 1263..73 < 10.75.11kgcm Mu = • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 149 170 ≤ 2.73 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As..755)(215) 2 + (19135)(215) 8 2 = 1096428.5 = 10831...2500 = 102000 kg C2 = 0.

85.53.93 a = 9.85.fy = 40.4 = 5. C =C1 ( terkecil) = 102000 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 102000 = 8.14 kgcm .53 + 0) + 102000 (14.8.73 beff btr 0.2500 = 102000 kg d1 = tb Mn = 102000 (5. fc'.20 Distribusi tegangan plastis 8.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 102000 kg Py = As.8 d3 = = = 14.85 fc' tb GN komposit c d GN baja Py Gambar 4.beff 0.9 .0) = 2084358.74 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi.93 cm = 0.53 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 29.9 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.250.

.896..Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor..53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0..5.Ok ¾ Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283..041.Wc 1.8353 250.6 Kg ( fc'.6 Kg ≤ 11341..OK ...2.8353...fu 11004..041.896 cm 240 240 4 3 f = 5 (q D + q L ) l + 1 Pl 384 EI x 48 EI x 3 4 = 5 (6.......5 Qn = 0.10 6 x 7210 = 0.98 Mpa ) Qn ≤ Asc.15)215 + 23 19135x 215 648 2.....24001..6 ≤ 2.. ¾ Kontrol Lendutan f ' = L = 215 = 0..75 Syarat : Mu ≤ φ ..4000 11004...361 < 0.1 Kg ....14 kgcm 1096428 kgcm ≤ 1771704.5. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.. Asc fc ' = 0.5 25 ( = 0.9291+ 2......2084358..241029...Ec ) = 24102..8 = 110046 N = 11004.Mn 1096428 kgcm ≤ 0.85.10 6 x7210 384 2...42 kgcm..

.. Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 215 = 21.5 cm sebanyak 10 buah untuk masing-masing bentang.. shear connector dipasang sejarak 21.(diameter) = 6 x 1. dibutuhkan 10 buah stud untuk seluruh bentang.6.5 cm P= = N 10 Jarak maksimum (Pmaks) = 8. .. rs = 11004.76 Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok.6 Jadi.1 = 11004.1 Kg ..85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ rs = ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1.85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ − 1 ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ≤1 N r ⎝ hr ⎠⎝ hr ⎠ 0..OK Vh = C = 102000 kg Jumlah stud untuk setengah bentang : N = Vh /Qn = 102000 = 5 buah 2.4cm Jadi...6 Kg < 11341..712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn...11004..9 cm = 11..tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6... hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 54+40 = 94 mm rs = ⎞ 0..

.8 cm2 = 35760 kg Persyaratan : Vu ≤ φVn 10831.. OK Vn = 0..2500 kg/cm2. k ..0.15 Kg ≤ 0. Data perencanaan Digunakan profil WF 350 x 175 sebagai berikut : A = 52.. sehingga 246 5(2.. kn = 5 + ( h) a 5 2 ..10 6 ) ≤ 1..2 Perencanaan Balok Penumpu Lift 1.Aw = 0.OK 4. kn =5..5 cm W = 41...6..77 ¾ Kontrol geser Kuat geser balok bergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).1 n tw fy Dimana... untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.15 Kg ≤ 31184 Kg .6..29.6.57..4 kg/m tw = 6 mm d = 346 mm tf = 9 mm b = 174 mm Ix = 11100 cm4 iy = 3....88 cm Iy = 792 cm4 x 6 x 9 . 35760 Kg 10831.E h ≤ 1..fy.... untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan.. dengan data r = 14 mm Zx = 689 cm3 Zy = 139 cm3 Sx = 641 cm3 h = 300 mm ...1 8 2500 31 ≤ 69...8.68 cm2 ix = 14.9....

1 kg/m2 .4 = 600 kg/m kg/m = 25.50 m = 250 kg/m Kombinasi Beban qU = 1.78 BJ-41 : fy = 2500 kg/cm2 fr = 700 kg/cm2 fL = fy – fr = 2500 .67 kg/m + qD = 810.32 kg/m .5 Berat aspal t = 2 cm = 2.14.5 kg/m2 Berat ikatan (10%) 736.Beban terpusat akibat reaksi balok penggantung lift P = 21662.2 qD + 1.65 kg/m x10% = 41.21 Sketsa mekanika perhitungan balok penumpu lift .30 kg Beban Hidup (qL) = 100 kg/m2 x 2.1.6.2400.2.38 kg/m P x1 qu x2 A B Gambar 4.250 = 1372.25 kg/m = 70 kg/m + = 736.5 m Pembebanan : • Beban Mati : Berat sendiri profil Berat pelat beton atap lift = 0.2. 810.65 kg/m = 73.32 + 1.2.2.6 qL = 1.5 Berat pelat combideck : = 10.700 fu = 4000 kg/cm2 2 = 1800 kg/cm2 Beton : fc’= 250 kg/cm Panjang balok anak (L) = 2500 mm = 2.

79

Σ MB = 0 VA.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,425 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,425 VA = = 14062 ,99 Kg 2,5
Σ MA = 0 VB.2,5 – 0,5.qu.l2 – P.1,075 = 0

0,5.1372 ,38.2,52 + 21662 ,3.1,075 VB = = 11030 ,26 Kg 2,5
Dx1 = +14062,99 – qx1 x1 = 0 → DA = 14062,99 Kg → Dc = 12587,68 Kg x1 = 1,075 Mx1 = 14062,99 x1 – qx1.0.5x1 → MA = 0 x1 = 0 → MC = 14324,73 kgm = 1432473 kgcm x1 = 1,075 Dx2 = - 11030,26 + qx2 x2 = 0 → DB = - 11030,26 Kg → DC = - 9074,62 Kg x2 = 1,425 Mx2 = +11030,26 x2 – q.x2.0,5.x2 x2 = 0 → MB = 0 → MC = 14324,73 Kgm =1432473 kgcm x2 = 1,45 • Kontrol Kekuatan penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy

175 170 ≤ 2.9 250
9,67 < 10,75.......ok

300 1680 ≤ 6 250 50 < 106,25.......ok

Profil penampang kompak, sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis

80
Menghitung Momen nominal • Menentukan lebar effektif pelat beton Lebar efektif : beff ≤ ¼ .L = 625 mm = 62,5 cm beff ≤ S = 2,15 m = 21,5 cm jadi beff = 625 mm = 62,5 cm
• Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As.fy = 52,68.2500 = 131700 kg C2 = 0,85.fc’.tplat.beff = 0,85.250.10.62,5 = 132813 kg C3 =

∑ Qn → ( C
n =1

N

3

tidak menentukan )

Jadi, C =C1 ( terkecil) = 131700 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

a=

C 131700 = 9,92 cm = 0,85. fc'.beff 0,85.250.62,5
beff btr
0,85 fc'

tb

GN komposit

c

d

GN baja

Py

Gambar 4.22 Distribusi tegangan plastis

81
9,92 a = 10 = 5,04 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 34,6 d3 = = = 17,3 cm 2 2
d1 = tb • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C.(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 131700 kg Py = As.fy = 52.68.2500 = 131700 kg Mn = 131700 (5,04 + 0) + 131700 (17,3 - 0) = 2942425,91 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .Mn 1432473 kgcm ≤ 0,85.2942425,91 kgcm 1432473 kgcm ≤ 2501062,02 kgcm..........Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

Kontrol Lendutan L 250 f = = = 1,042 cm 240 240 Lendutan yang terjadi (SAP 2000) f = 0,172 cm ≤ f ijin.....................Ok - Kontrol Kuat Rencana Geser h ≤ 1100 tw fy0,5 300 ≤ 1100 6 2500,5 50 < 69,57 .........................plastis

....5 kg < 28026 kg...6 x fy x Aw = 0.1 Kg .8353.53 mm2 fu = 400 Mpa Ec = 0..6 Kg Qn ≤ Asc.6... Asc fc'..041....OK Perencanaan penghubung geser Penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : ds = 19 mm Asc = 283.......4000 11004..85 ⎛ Wr ⎞⎛ H s ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ rs = − 1 ⎟⎜ h ⎟ ≤1 h Nr ⎜ ⎝ r ⎠⎝ r ⎠ .. hr = 53 mm Wr = 200 mm : Pelat gelombang combideck : Setiap gelombang dipasang 2 stud Nr = 2 Hs = (hr + 40) = 53+40 = 93 mm ⎞ 0.fu 11004....8353 250..5.241029.OK ( ) ) Cek koefisien reduksi (rs) karena pengaruh gelombang pelat combideck yang dipasang tegak lurus terhadap balok......041.82 Vn = 0.5 fc' = 0..5.8 = 110046 N= 11004.Ec ( = 0...9 x 31140 = 28026 kg Syarat : Vu ≤ φVn 1715.6 x 2500 x 34...98 Mpa Qn = 0.Wc1.2...5 25 = 24102.24001.0..6 ≤ 2...6 = 31140 kg φVn = 0.6 Kg ≤ 11341.

6 Jadi..4cm Jadi....83 cm P= = N 12 Jarak maksimum (Pmaks) = 8.. shear connector dipasang sejarak 20.....1 Kg . Jarak seragam (P) pada masing-masing lokasi : L 250 = 20.9 cm = 11.83 cm sebanyak 12 buah untuk masing-masing bentang..85 ⎛ 200 ⎞⎛ 93 ⎞ ⎜ ⎟⎜ − 1⎟ ≤ 1 53 2 ⎝ ⎠⎝ 53 ⎠ = 1. OK Jumlah stud untuk setengah bentang : 131700 N = Tmaks/Qn = = 6 buah 2. rs = 11004.....tplatbeton = 8 x 10 cm = 80 cm Jarak minimum = 6..1 = 11004.6 Kg < 11341.6.712 > 1→ diambil rs = 1 Qn = Qn...(diameter) = 6 x 1.....83 rs = 0. dibutuhkan 12 buah stud untuk seluruh bentang.11004.... .

84 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

Beban gempa rencana dicek terhadap kontrol – kontrol sesuai peraturan gempa yaitu SNI 031726-2002.85 BAB V PEMBEBANAN DAN ANALISA STRUKTUR 5. dan nilai Vstatis ini harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung ke masing – masing lantai sesuai SNI 03-17262002 Ps.6. 5.Tebal pelat bondek lantai 2 : 11 cm .2.1.1 Umum Merencanakan beban gempa adalah bertujuan untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan peraturan untuk dibebankan kedalam struktur gedung.2 .Profil balok anak K 500x200x10x16 : .Mutu beton (fc’) : 25 MPa . dan simpangan (drift).Tebal pelat bondek lantai atap : 9 cm .0 dan membandingkan besaran Vdinamis tersebut dengan Vstatis yang akan diperhitungkan di bawah ini sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps.3-14 : 10 cm .Profil kolom . .Tebal pelat bondek lantai 1.2. maka terlebih dahulu dicek besarnya Vdinamis yang telah didapatkan dengan bantuan program ETABS v9.6. waktu getar alami fundamental (T).2 Pembebanan Untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan SNI 03-1726-2002.Mutu baja : Bj 41 .Profil balok induk 2 WF 400x200x8x13 : .25 m . 5.1 Data Gedung Data – data gedung yang akan dibutuhkan dalam penghitungan Vstatis adalah sebagai berikut. dimana kontrol – kontrol tersebut terdiri dari kontrol nilai gaya geser dasar (base shear).Tinggi tipikal lantai : 4.Profil balok induk 1 : WF 500x200x10x16 WF 500x200x9x14 : .1.

2 Perhitungan Berat Struktur Beban gravitasi berupa beban mati dan beban hidup yang yang bekerja di tiap lantai/atap.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.75 × 270000 = 202500 Kg .86 .25 × 179.3.Kategori tanah .5 Tabel 3.75 x Wl1 = 0.2 Kg = 395 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 678805.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat. a) Lantai 1 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4.10 x 2400 (80+54) × 4. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl1 = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.5 320. maka total beban hidup (Wl1) menjadi.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300.I Denah gedung terlampir.2.1 40 x 27 x 0.6 255 × 79.3.Wilayah Gempa . : : : WG3 Tanah keras 1 5.25 × 0.5 40 × 27 × 10.3.8 Kg Wd1 Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.2 × 20 4. Wl1 = 0.4672 × 2400 × 20 40 × 89.7 × 66 395.

75 × 432000 = 324000 Kg Sehingga berat total lantai 2 Wt2 = Wd2+ Wl2 = 704725.8 + 202500 = 881305.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd2 = 15232 Kg = 95300.5 Kg = 10908 Kg = 285120 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 704725.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.87 Sehingga berat total lantai 1 Wt1 = Wd1 + Wl1 = 678805.3.25 × 0.25 × 179. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.8 Kg .5 40 × 27 × 10. Wl2 = 0. Beban hidup : 40 × 27 × 400 Wl2 = = 432000 Kg 432000 Kg Menurut PPIUG Ps.4672 × 2400 × 20 40 × 89.2 × 20 4.2 Kg = 395.5 320.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.5 Tabel 3.8 Kg b) Lantai 2 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0. maka total beban hidup (Wl2) menjadi.8 + 324000 = 1028725.1 40 x 27 x 0.6 255 × 79.11 x 2400 (80+54) × 4.3.3.7 × 66 395.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.75Wl2 = 0.

5 320.3.75Wl = 0.1 40 x 27 x 0.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.3.25 × 179.8 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah.25 × 0.5 Kg = 10908 Kg = 259200 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 25920 Kg = 45360 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg Wd = 678805.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 21 × 2 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 = 15232 Kg = 95300. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.75 × 270000 = 202500 Kg Sehingga berat total lantai Wt = Wd + Wl = 678805.3.7 × 66 395.88 c) Lantai 3-11 Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok tangga Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Tegel t = 1 cm Spesi t = 2 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : : 4. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.2 Kg = 395.84 Kg .5 Tabel 3.10 x 2400 (80+54) × 4.8 + 202500 = 881305.5 40 × 27 × 10.4672 × 2400 × 20 40 × 89. Beban hidup : 40 × 27 × 250 Wl = = 270000 Kg 270000 Kg Menurut PPIUG Ps.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.6 255 × 79. maka total beban hidup (Wl) menjadi Wl = 0.2 × 20 4.6 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.

125 × 179. maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0.3 Kg = 3584 Kg = 30600 Kg = 21166.75 untuk gedung yang berfungsi sebagai penghunian menurut PPIUG Ps.1 Kg = 10908 Kg = 233280 Kg = 142375 Kg = 7560 Kg = 11880 Kg = 15120 Kg = 10800 Kg = 21600 Kg = 564139.75 × 108000 = 81000 Kg Sehingga berat total lantai 12 menjadi.5 Tabel 3.2 Kg = 448.3.3.09 x 2400 (80+54) × 4. Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut.2 × 20 2.1 40 × 27 × 10.125 × 0.4672 × 2400 × 20 40 × 89.1 40 x 27 x 0.5 320.3.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat.5 Kg .5 + 81000 = 645139. maka total beban hidup (Wl15) menjadi.5 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah. Beban hidup : 40 × 27 × 100 = Wl15 = 10800 Kg 10800 Kg Menurut PPIUG Ps.75Wl12 = 0.6 255 × 79.25 × 250 40 × 27 × 7 40 × 27 × 11 40 × 27 × 24 40 × 27 × 10 40 × 27 × 20 Wd1 = 7616 Kg = 47650.89 d) Lantai 12 (Atap) Kolom (Profil baja) (beton) Balok induk 1 Balok induk 2 Balok anak Balok lift Pelat bondek Pelat beton Dinding Penggantung Plafond Aspal t = 1 cm Plumbing Pipa + ducting : : : : : : : : : : : : : : 2. Wl12 = 0.7 × 66 448. Wt12 = Wd12+ Wl12 = 564139.

058 8813.058 8813.90 Ringkasan berat bangunan dinyatakan dalam Tabel 5.3 Pembebanan Gempa Dinamis Pembebanan gempa secara dinamis menggunakan bantuan program ETABS v9.058 10287.75 42.1 Berat struktur per lantai Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Tinggi hx (m) 51 46. Sebelumnya dilakukan permodelan 3D struktur dai gedung apartemen Albergo terlebih dahulu.25 Berat Lantai Wx (kN) 6451.2.0 dengan analisa dinamis respons spektrum. struktuk gedung tersebut dimodelkan sebagai berikut : .75 25.058 8813.75 8.1 berikut ini : Tabel 5.058 8813.395 8813.058 8813.5 21.5 38.058 8813.058 8813.25 34 29.258 8813.25 17 12.058 Σ 104869.5 4.238 5.058 8813.

91 Denah Lantai Arah y Arah x Gambar 5.1 Pemodelan Struktur .

pengaruh pembebanan gempa rencana dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa yang arahnya tegak lurus dengan arah utama dengan efektifitas 30%.2.1 Arah Pembebanan Beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan terjadi dalam arah sembarang (tidak terduga) baik dalam arah x dan y secara bolak balik dan periodikal.2 Permodelan stuktur 3D 5.92 Gambar 5.8.3. Menurut SNI 031726-2002 ps 5. . Untuk mensimulasikan arah pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap struktur gedung.

Gempa Respon Spektrum X : 100% efektifitas untuk arah X dan 30% efektifitas arah Y .Gempa Respon Spektrum Y : 100% efektifitas untuk arah Y dan 30% efektifitas arah X 5. Dimana pada perencanaan gedung ditetapkan Respon Spektrum gempa Rencana Wilayah Gempa 3 pada tanah keras.93 .3. Respon Spektrum gempa rencana untuk masing masing wilayah gempa ditetapkan grafik nilai C-T dalam Gambar 2 SNI 031726-2002.3 Grafik nilai C-T zona gempa 3 . Gambar 5.2 Faktor Respons Gempa (C) Faktor Respon Gempa (C) dinyatakan dalam percepatan gravitasi yang Nilai Faktor Respon Gempa (C1) bergantung pada waktu getar alami struktur gedung dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respon gempa rencana.

1 b atau ed = 1. 5.05 b atau ed = e – 0.23 dimana T adalah waktu getar alami struktur gedung yang T didapat dari hasil analisa struktur setelah men-define Respon Spektrum Rencana dan mengeplot grafik C-T pada analisa Respon Spektrum.3.3 b. − Untuk 0 < e ≤ 0.4.81 m/s. 5. Lalu karena nilai C dinyatakan dengan percepatan gravitasi. maka nilai C harus dikalikan faktor pengali percepatan gravitasi sebesar 9.5 e + 0. 5.94 Pada gambar dapat dilihat untuk menentukan nilai faktor respon gempa (C1) pada tanah keras didapat dengan nilai 0.3 b.1 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya ⎞ ⎛1 ex = ⎜ × b ⎟ − xcr ⎠ ⎝2 ⎛1 ⎞ e y = ⎜ × L ⎟ − ycr ⎝2 ⎠ .1 menyatakan bahwa analisis Respons Spektrum Gempa Rencana. maka : ed = 1.17 e – 0.4 Menentukan Eksentrisitas Rencana Bangunan (ed) Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps.05 b dipilih nilai yang terbesar dari keduanya − Untuk e > 0.3 Respon Spektrum Rencana Menurut SNI 03-1726-2002 ps 7. maka : ed = 1.2.33 e + 0. nilai ordinatnya harus dikalikan dengan I/R. bahwa antara pusat massa dan dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana ed sebagai berikut.3.

2 Nilai Xcr dan Ycr Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Xcr (m) 20.500 13.500 13.500 13. maka massa dari tiap – tiap lantai diletakkan pada titik koordinat tersebut. maka nilai ed untuk masing – masing arah dapat dihitung dan ditabelkan sebagai berikut : .500 13.001 20.000 20.500 13.5 ex + 0.001 Ycr (m) 13. Dan dari hasil analisa ETABS v9.000 20.5 ey + 0.500 13. yaitu koordinat x = xcr + edx koordinat y = ycr + edy Setelah koordinat pusat massa diperoleh.05 b edy = 1.001 20.500 13.001 20.05 L maka didapatkan suatu titik koordinat pusat massa. kemudian dilakukan analisa kembali. sehingga edx = 1.0 didapat nilai Xcr dan Ycr yang ditabelkan sebagai berikut : Tabel 5.001 20.500 Berdasar rumus diatas.500 13.95 Dimana kedua nilai diatas diambil harga mutlaknya.2.001 20.002 20.001 20.002 20.500 13.000 20.500 13.500 13.

35 1.000 22.001 -0.001 13.999 1.85 14.002 20.001 20.000 -0.50 13.001 -0.000 1.000 -0.35 1.35 1.000 20.85 14.50 13.50 13.35 1. Pada arah X Tx = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1. nilai waktu getar alami fundamental (T) dari struktur gedung harus dibatasi.15 detik Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel.35 1.000 22.999 22.000 22.000 21.85 14.002 -0.85 5.001 20.002 20.001 0. Dengan nilai ζ dari Tabel 8 SNI 03-17262002 dan n adalah jumlah lantai dari gedung yang akan ditinjau.000 -0.18 dan nilai n = 12.35 22.000 22.999 2.999 1.85 14.50 0.997 2.2.999 22.85 14.85 14.001 20.000 22.000 22.50 13.85 14. maka kontrol waktu getar alami fundamental (T) menjadi.001 -0.001 20.50 13.000 1.35 1.35 1.001 20.999 1.000 21.000 22.4 Kontrol Waktu Getar Alami Fundamental (T) T dihitung dengan menggunakan rumus empiris Method A dari UBC 1997 Section 1630.85 14.000 20.999 1.85 14.002 0.50 13.50 13.999 1.35 1.001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2. .001 -0.35 1.50 13.96 Tabel 5.000 14.999 1.35 1.997 1.15 detik Pada arah Y Ty = Cc × (hn)3/4 = Cc × (51)3/4 = 1. T<ζn Untuk WG 3 maka nilai ζ = 0.001 -0.3 Eksentrisitas Rencana Bangunan Lantai B (m) L (m) Xcr (m) Ycr (m) ex (m) ey (m) edx (m) edy (m) koord x (m) koord y (m) 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 20.50 13.001 20.35 1.85 14.000 20.000 1.50 13.85 14.50 13.2 dengan tinggi gedung 51 meter.

5 Kontrol Gaya Geser Dasar (Base Shear) Nilai akhir respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat Gempa Rencana dalam suatu arah tertentu.15 detik Maka dari Gambar 5.2 × 1 Vxs = x Wt = × 104869.2 × 1 Vys = Wt = × 104869. Vxd = 59976.15 < (0.1 didapat nilai Wx = Wt = 104869.238 = 3495.Untuk arah y CyI 0.7639 kN Vyd = 58776.1 didapat nilai Cy = 0.3. tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang pertama.. Dengan nilai waktu getar alami fundamental (T) perkiraan awal dengan rumus empiris sebagai berikut.41 Kg = 587. beradasarkan waktu getar alami fundamental struktur gedung masih memenuhi batas kontrol waktu getar alami.238 kN − Untuk arah x C I 0.39 Kg = 599.64 kN R 6 .16 detik ……….18x12) = 2. Ty = 1.15 < (0.15 detik Tx = 1.1. 7.2 dan Cx = 0.16 detik ……….97 • Arah x Tx = 1.OK Sehingga. sesuai SNI 03-1726-2002 Ps. 5. maka didapatkan output untuk nilai gaya geser dasar (base shear) sebagai berikut.7641 kN .238 = 3495..OK • Arah y Ty = 1.18x12) = 2.2 Dari tabel 5.64 kN R 6 Setelah dilakukan analisa struktur dengan asumsi – asumsi yang telah dijelaskan diatas.

66 V xd 599... V xd ≥ 0.512 FS = = = 4.Untuk arah x 0.... . .Untuk arah y 0.98 Maka untuk arah x.7641 kN < 2796.8V ys 2765 .. 7...3 gaya geser tingkat nominal akibat pengaruh gempa rencana sepanjang tinggi struktur gedung hasil analisis ragam spektrum respon dalam suatu arah tertentu harus dikalikan nilainya dengan suatu faktor skala..8V ys 587.512 kN.7641 Setelah didapat nilai – nilai skala untuk masing – masing arah pembebanan.512 FS = = = 4. Nilai skala tersebut adalah sebagai berikut : . ..Not OK! Sehingga untuk memenuhi persyaratan SNI 03-1726-2002 Ps.. .....1.....2.......3..8V xs 599..8V1 ≥1 Vt Dimana : V1 = Gaya geser dasar nominal sebagai respon dinamik ragam pertama Vt = Gaya geser dasar nominal yang didapat dari hasil analisa ragam spektrum respons yang telah dilakukan Sehingga dengan cara tersebut didapat nilai FS untuk masing – masing arah pembebanannya.....71 V yd 587..... maka dilakukan analisa struktur ulang dengan mengalikan faktor diatas pada scale factor untuk Define Respons Spectra. V yd ≥ 0 . FS = 0.8V xs 2796...... maka menurut SNI 03-1726-2002 ps 7.7639 .7639 kN < 2796.Not OK! Maka untuk arah y.512 kN. Kemudian dilakukan running program ulang sehingga didapatkan output sebagai berikut : .

.0015 10.429487 2. Tabel 5. V xd ≥ 0...0001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.4192 78.0000 0..335163 0...9803 78.0000 78.0000 0.9405 92..OK! Sehingga.9158 kN Vyd = 276249.....OK! Maka untuk arah y..1696 0..8772 88.258883 0.230644 1...58 Kg = 2800.71274 0.99 Vxd = 280091..0000 0.53 88.10 Kg = 2798. ..9803 88.2. 5.6 Kontrol Partisipasi Massa Sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps.3687 kN Maka untuk arah x.9405 95..27223 0.8772 88.9158 kN > 2796.220727 0..6999 95.396882 0.. .8969 0...0000 78.9405 92...9803 78.596052 0.0935 95.6998 92. V yd ≥ 0.0632 0..3130 0.0000 0.4192 78.9803 0.5302 92.0936 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 ..53 88.8V xs 2800.512 kN.0000 0. 7.512 kN.4192 0.2535 78.8V ys 2798..422585 0.3687 kN > 2796..1 jumlah ragam vibrasi (jumlah mode shape) yang ditinjau dalam penjumlahan respons ragam harus sedemikian rupa sehingga partisipasi massa (Modal participating Mass Ratios) dalam menghasilkan respons total harus mencapai sekurang – kurangnya 90 %.0002 4.....8772 92.4207 88.2535 95...0000 0...3936 0.6998 92.554149 0.0000 9.. gaya gempa dari spektrum respon dinamik tersebut selanjutnya digunakan sebagai beban gempa desain struktur.0000 2.0000 78.1093 0.769604 0.0000 4.0000 0.0001 2..4 Modal Participating Mass Ratio Mode Period UX UY UZ SumUX SumUY SumUZ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2....0935 95.

7.272230 0.116688 0.6 Metode Penjumlahan Respons Ragam Menurut SNI 03-1726-2002 Ps.33% 6.025703 0.17% 2.45% 67.0936 % untuk arah Y.67% .769604 0. Untuk Struktur gedung yang memiliki waktu getar alami yang berjauhan.230644 0.596052 0.2.2 untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu-waktu getar alami yang berdekatan yaitu apabila selisih nilainya kurang dari 15 %.712740 0.554149 0. Tabel 5.29% 6.396882 0. penjumlahan respons ragam dapat dilakukan dengan metoda Akar Jumlah Kuadarat (SRSS).038156 0.100 Dari Tabel 5.173467 0.82% 1.5 Selisih Periode Antar Mode yang Berdekatan Mode Periode (sec) Selisih % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2.676495 1.4 didapatkan bahwa dalam penjumlahan respons ragam menghasilkan respons total mencapai 95.220727 3. 5.056864 0.784545 0.57% 17.198843 2.258883 0.65% 19.429487 0. harus dilakukan dengan metoda Kombinasi Kuadratik Lengkap (CQC). 7.2535 % untuk arah X dan 95.061719 0.062933 0.422585 0. Dengan demikian ketentuan menurut SNI 03-1726-2002 Ps.335163 0.69% 11.1 dapat dipenuhi.88% 5.35% 78.013347 0.2.

101
Karena selisih waktu getar alami dominan kurang dari 15%, maka metoda penjumlahan ragam respons menggunakan metoda CQC.

5.7 Simpangan Antar Lantai
Simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum, Δm, dihitung sebagai berikut: Δm = 0,7 RΔs Dengan R adalah factor modifikasi respons (table 12.2-1). Δs adalah respons statis simpangan elastic struktur yang terjadi di titik-titik kritis akibat beban gempa horizontal rencana.Simpangan elastis struktur dihitung menggunakan analisa dinamis.

¾ Batasan simpangan antar lantai
Simpangan antar lantai yang dihitung berdasarkan persamaan diatas tidak boleh melebihi 2,5% dari jarak lantai untuk struktur dengan waktu getar dasar lebih kecil daripada atau sama dengan 0,7 detik, sedangkan untuk struktur bangunan dengan waktu getar dasar lebih besar daripada 0,7 detik, simpangan antar lantai tersebut tidak boleh melebihi 2,0% dari jarak antar lantai, secara singkat batasan simpangan antar lantai dapat dituliskan :

2,5 xh 100 2,0 T ≥ 0,7 detik, maka Δm ≤ xh 100
T ≤ 0,7 detik, maka Δm ≤

102 Simpangan Elastis Struktur
Berdasarkan SNI 03-1726-2002 Ps. 8.1.2, simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung tidak boleh melampaui 0.03 dikali tinggi antar tingkat atau dibatasi sebesar 30
R

mm diambil nilai yang terkecil. Nilai R didapat sebesar 6 sehingga batasan Simpangan elastis struktur gedung didapat : - Untuk h = 4,25 m : Δs = 0,03 × hi = 0,03 × 4,25 = 0,02125 meter = 21,25 mm R 6 Nilai simpangan struktur gedung didapat dari hasil running ETABS v9.2.0 dengan memilih satu titik pada setiap gedung yang direncanakan. Sedangkan nilai simpangan antar tingkat diambil dari selisih nilai simpangan antar gedung yang terjadi. Nilai simpangan gedung yang terjadi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.6 Simpangan
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 ∆x (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25.0 19.4 13.4 7.5 2.4 ∆y (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4

Setelah didapat nilai simpangan gedung, ditinjau nilai Δs antar tingkat arah X dan arah Y dapat diperoleh pada tabel berikut :

103
Arah x : Tabel 5.7 Analisa ∆s akibat gempa arah x
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 48.7 47.2 45.1 42.3 38.9 34.8 30.1 25 19.4 13.4 7.5 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 2.1 2.8 3.4 4.1 4.7 5.1 5.6 6 5.9 5.1 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

Arah y :
Tabel 5.8 Analisa ∆s akibat gempa arah y
Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.75 42.5 38.25 34 29.75 25.5 21.25 17 12.75 8.5 4.25 Drift ∆s tiap tingkat (mm) 49.7 48.1 45.9 43.1 39.5 35.4 30.6 25.3 19.6 13.6 7.6 2.4 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.6 2.2 2.8 3.6 4.1 4.8 5.3 5.7 6 6 5.2 2.4 Syarat drift ∆s (mm) 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 21.25 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK

78 21.15 detik 2. maka Δm ≤ xh 100 2. Δm.52 25.4 4.1 4.75 42.4.1 simpangan antar lantai dihitung berdasarkan respons simpangan inelastis maksimum.0 T ≥ 0.9 5.75 25.30 8.74 21.82 11.7 detik.104 Dari tabel tersebut dapat dilihat nilai simpangan antar tingkat dalam arah X maupun arah Y tidak ada yang melebihi syarat batas yang telah ditentukan.6 6 5.0 Δm ≤ x 4.7 5. ¾ Simpangan Antar Lantai Sesuai SNI 1729 Pasal 15.5 21.5 38.085 m = 85 mm 100 Nilai simpangan antar tingkat dapat diperoleh pada tabel berikut : Arah x : Tabel 5.5 2.28 17.8 3.1 2.7 RΔs Dengan batasan simpangan antar lantai : Waktu getar dasar yang terjadi T = 1.22 19. dihitung sebagai berikut: Δm = 0.42 23.75 8.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.9 Analisa ∆m akibat gempa arah x Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.42 10.1 5.5 4.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .25 m = 0.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.20 24.76 14.1 2.25 17 12.25 34 29.

20 25.08 Syarat drift ∆m (mm) 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 85 Ket OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK OK .84 10.4 Drift ∆m antar tingkat (mm) 6.94 25.3 5.22 20.2 2.6 4.8 5.7 6 6 5.2 2.105 Arah y : Tabel 5.6 2.75 42.16 22.26 23.12 17.5 4.10 Analisa ∆m akibat gempa arah y Lantai 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 hx (m) 51 46.25 17 12.20 21.8 3.24 11.25 Drift ∆s antar tingkat (mm) 1.5 38.76 15.5 21.1 4.75 25.25 34 29.72 9.75 8.

106 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

1 Denah Pembalokan lantai Pada perencanaan ini. Adapun data – data profil adalah sebagai berikut : ix = 20.107 BAB VI PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA 6.1 Perencanaan Balok Induk Gambar 6.5 cm r = 20 mm A = 114.10.200. Pada perhitungan berikut Balok Induk direncanakan dengan profil WF 500.20. ditunjukkan contoh perhitungan balok Induk pada lantai 1 dengan kode balok B-23.2 cm2 W = 89.6 kg/m tw = 10 mm Zx = 2096 cm3 d = 500 mm tf = 20 mm Zy = 332 cm3 Sx = 1910 cm3 b = 200 mm Ix = 47800 cm4 . Panjang balok (L) = 1000 cm.

..33 cm h = 428 mm Iy = 2140 cm4 Sy = 214 cm3 6.16 170 170 λp = = = 10.2........21 Kgcm Vu (-) = 13797.25 Jadi.OK = = 42..OK = = 6.2. termasuk penampang kompak....80 tw tw 10 λp = 1680 fy = 1680 250 = 106.1 Kondisi Balok Utama Sebelum Komposit Dari hasil output ETABS v9.0) f = 0..75 250 fy Pelat badan : h h 428 < λp.56 Kg L = 1000 cm ¾ Kontrol Lendutan Lendutan ijin (f’) adalah f '= L 1000 = = 2.......765 cm f < f ' ......25 2....108 iy = 4.tf 2.78 cm 360 360 Lendutan yang terjadi (ETABS v9.1....tf 2.0 untuk batang B-23... didapatkan : Mmax (-) = 2850308.. maka Mnx = Mpx ..OK ¾ Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Pelat Sayap : bf bf 200 < λp ...

3 2.2850308. Lr > Lb > Lp → bentang Menengah.1135694.5Mmaks ≤ 2.200.24 ) + (4.Zx = 2500 .93 < 2.06 Kgcm Cb = = 12.24 Kgcm MB = 1135694.549 cm.93 My = Sx.fy = 1910 .10.71 ) + (3.71 Kgcm MC = 286624. 2500 = 4775000Kgcm Mp = fy. 1910 = 3438000 kgcm .06 ) = 1.21 (2.749 cm Jadi. Lr = 643.109 ¾ Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 250 cm Berdasarkan tabel untuk BJ 41 profil WF 500.20 didapatkan : Lp = 215.5. Untuk komponen struktur yang memenuhi Lr > Lb > Lp.2850308.286624.5Mmaks + 3M A + 4 M B + 3M C 12. 2096 = 5240000 kgcm < 1.21 ) + (3.5 My MR = (fy-fr)Sx = 1800.3 → dipakai 1.1990319.5. kuat nominal komponen struktur adalah : ⎡ ( Lr − Lb) ⎤ Mn = Cb ⎢ M r + ( M p − M r ) ≤ Mp ⎥ ( Lr − Lp ) ⎦ ⎣ MA = 1990319.

.9.21 Kgcm < 4716000 kgcm.OK Jadi Penampang profil baja sebelum komposit mampu menahan beban yang terjadi... untuk balok dengan pengaku vertikal 2 a h ( ) pelat badan. k . OK Vn = 0.21 Kgcm ≤ 0... 5(2. 5240000 kgcm 2850308..6..1) cm2 = 64200 kg ....1 10 2500 42.2500 kg/cm (42....8. 749 215 .E h ≤ 1.6..10 6 ) 428 ≤ 1. 549 ) ⎣ ⎦ = 9828385...... Sehingga..1 n tw fy 5 Dimana..57.fy....Aw = 0..... kn = 5 + . ¾ Kontrol Geser Kontrol geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).... untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan. kn =5.93⎢3438000 + (5240000 − 3438000) ⎥ ≤ Mp − ( 643 ....749 − 250) ⎤ Mn = 1...110 ⎡ (643...92 kgcm > 5240000 kgcm Dipakai Mn = Mp = 5240000 kgcm Persyaratan : Mu ≤ φMn 2850308.8 ≤ 69...

8 < 106.38 Kgcm (batang B-23).fy = 114..1........L = ¼.56 Kg ≤ 0.2 Kondisi Balok Utama Setelah Komposit ¾ Zona momen Positif Dari hasil output ETABS v9.9.ok Profil penampang kompak. L = 1000 cm beff ≤ ¼ ..752..tplat.2.25...25 < 10.2500 = 285500 kg C2 = 0........0 didapatkan momen positif adalah Mmaks = 3269371..ok 428 1680 ≤ 10 250 42.. 64200 Kg 13797..fc’...2. sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis..OK 6.85.85..beff = 0.250..1000 cm = 250 cm jadi beff = 250 cm • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat C1 = As....16 250 6... ¾ Menghitung Momen Nominal • Kontrol kriteria penampang Untuk Sayap Untuk Badan h 1680 bf 170 ≤ ≤ tw 2tf fy fy 200 170 ≤ 2...250 = 531250 kg .56 Kg < 57780 kg .10..111 Persyaratan : Vu ≤ φVn 13797..

fy = 114.250 beff = 2375 mm t = 100 mm 54 mm d Gambar 4.379 a = 9.85.15 Potongan balok Induk d1 = tb - 5.379 cm = 0.250.85.713 cm 2 2 d2 = 0 → profil baja tidak mengalami tekan d 50 d3 = = = 25 cm 2 2 • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit Mn = C. C =C1 ( terkecil) = 285500 kg • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja: a= C 285500 = 5.2500 = 285500 kg .(d 1 + d 2 ) + Py (d 3 − d 2 ) C = 285500 kg Py = As.2.4 = 4.beff 0.112 C3 = ∑ Qn → ( C n =1 N 3 tidak menentukan ) Jadi. fc'.

2.21 Kgcm (batang B-23).Ok Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor.0 didapatkan momen negatif Mmaks = 5440837. л .. ¾ Zona momen negatif Dari hasil output program ETABS v9..75 mm fyr = 240 Mpa ts = 100 mm ¾ Menentukan Lokasi Gaya Tarik pada Balok Baja Batang tulangan menambah kekuatan tarik nominal pada pelat beton.1000 cm = 250 cm tbondex = 0..5 kgcm Syarat : Mu ≤ φ .. sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.. 0. 2400 = 20508..82 .38 kgcm ≤ 7210602.85.32 Kg Gaya tekan nominal maksimum dalam penampang baja Pyc = As .L = ¼.5 kgcm 3269371.38 kgcm ≤ 0.8483061.113 Mn = 285500 (4. Tc = Asr . fy = 114.713 + 0) + 285500 (25 .Mn 3269371.. fyr = 17. ¼ .27 kgcm. 2500 = 285500 Kg ..0) = 8483061.. L = 1000 cm beff ≤ ¼ .2.

Tf = bf . maka PNA pada web.32 = 2 2 = 132495. berlaku persamaan.99 cm .0 = 6.3 . 2.3 Distribusi tegangan negatif Karena Pyc > Tc.1.84 Kg Gaya pada sayap.84 – 115000 = 17495. tf .84 = fy.tw 2500. fy = 20 .84 Kg Jarak garis netral dari tepi bawah sayap : aw = Tw 17495. Ts = Pyc − Tc 285500 − 20508. 2500 = 115000 Kg Gaya pada badan.114 Gambar 6. Tw = Pyc − Tc − Tf 2 = 132495.

5 + 1.(2.65 Kgcm 5440837.593 cm = 15.32 (7.0.21 Kgcm ≤ 5838803.93 mm d3 = D/2 =50/2 = 25 cm d1 = ts – c = 10 – 2.5tf ) + (Tw(tf + 0.21 Kgcm ≤ 0.84 = 1..5.6.5.OK .593) = 6869180..85 ..5 cm ¾ Perhitungan Momen Nominal Negatif Mn = Tc (d1+ d2) + Pyc(d3 – d2) = 20508.115 ¾ Menenentukan Jarak Gaya yang Bekerja dari Centroid d2 = (Tf .56 Kgcm.6869180.65 Kgcm Persayaratan : Mu ≤ φMn 5440837.5 = 7.99)) = 115000 + 17495.0) + (17495..0.5aw)) Tf + Tw (115000.593) + 285500 (25– 1..84.0 + 0..2.

6 Kg = 2261074. b).1.( 2 = (( 1 .17 mm d = 500 mm Iy = 52189 cm b = 200 mm H = 428 mm Sx = 1997.200. 50)+(20-1)(1.4 Sketsa penampang kolom komposit Zx = (( 1 .0 diperoleh gaya – gaya yang bekerja pada kolom CIN 7 lantai dasar adalah : Pu = 595950.4 cm2 4 iy = 15.56 Kgcm Mux Muy = 2250329.10.1. b.( 1 tw)) .tf.tw. 50.2 + 2 2 (50-2. 1 .2 + 2 2 1 tw). 1 . .06 cm 3 2 2 .6 cm 3 Sy = 2046.3 Kgcm = 16667. 1).6).16 dengan spesifikasi material : Ix = 49940 cm4 ix = 14.300 700 700 Gambar 6. d) + (b-tw)(tf)(d-tf)) + (( 1 . 1)) = 2428. d.( 1 .31 Kg Vuy Kolom komposit direncanakan dengan menggunakan profil K500.116 6.1. 20).2. 20.( 1 .6)(50-1.15 Kg Vux = 15154. 2 2 2 2 2 (d-2tf).2 Kolom Komposit Dari hasil output ETABS v9. 1 .6))+(( 1 .6 cm KC 500 x 200 x 10 x 16 TULANGAN Ø16mm KING CROSS 50 TULANGAN GESER Ø12 .6. 1 .79 mm A = 228.

12 – 16 = 560 mm Luas tulangan longitudinal (Ar) = 4. 1)+( 1 (50+1).7 .56 mm2 Untuk baja yang diberi selubung beton : C1 = 0.π.4 + 8. tf. b). = 562.6. Ac As 4663.240.4 228. 1 .70) Tulangan longitudinal Jarak spasi tulangan = 700 – (2.1.19 Mpa .(50+1-1.6 .117 Zy = (( 1 .09 mm2 Luas penampang bersih (Acn) = (70.6.122 = 113.2+(50-.09 mm2 Luas sengkang minimum = 0.2 + (d-2tf). 228. 1 .04 + 0. 1 (d+tw) 2 2 2 2 2 2 + (b-tw). 1 .tf.300 = 54 mm2 < 113. C3 = 0.6).25 mm2 Ar minimum = 0.18. 1 .71 cm3 Kontrol luas penampang minimum profil baja : As 228.560 = 100.fc.25. 1 .2 fmy = fy + C1.4 = 250 + 0.25 mm2 Tulangan Lateral (Sengkang dipasang Ø12-300mm) Luasan tulangan sengkang = ¼. C2 = 0.π.70) – (228.(d+tw-tf)) =(( 1 .1.50) -2. tw.6)) = 2483. 1. 20).18. Acn As + C2.1.162 = 804. tw) + ( 1 (d+tw).fyr.04) = 4663.tw. 1.7% > 4% Ac (70.4 = x100% = 4.1/2. 1 .b.8 mm2 < 804.20.6.7. 1 (50+1) 2 2 2 2 2 2 + (20-1).56 8.8.04.

Ec.200.14 WF 600.200.5√fc’ = 0.8 Mpa 228.3b = 0.9.200.200.98 Kuat Nominal Aksi Kolom Komposit WF 500.70 = 21 cm > iy ( dipakai rm) = 200000 + 0.5√25 = 24102.118 Ec = 0.200.23 Kolom K500.200.56 = 298428.20 Kolom K500.98 Mpa Es = 200.9.16 WF 500.14 WF 600.16 Arah X WF 500.10.200.5 Skema Kolom .2.10.10.4 rm = 0.14 Kolom K500.200.9.000 Mpa Em = Es + C3.10.13.16 WF 600.20 WF 500.041.9.14 Kolom K500.16 Gambar 6.10.3.200.200.24102.200.24001.w1.10.200.10.04.16 WF 500. Acn As 4663.

2. dimana : 1.6 − 0.5066. maka termasuk dalam kategori kolom menengah.34 47800 Ix ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L 950 ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎛ Iy ⎞ ⎛ 52189 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAy = = = 2.43 = 1.67λc f my 562.5 cm λ= λc = Lk 654.11 ω= 1.4 cm2.8 Karena nilai λc.54 Ix 41900 41900 ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ Σ⎜ ⎟ ⎜ ⎟+⎜ ⎟ 950 800 L ⎝ ⎠ balok ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ Jenis rangka tidak berpengaku (unbraced frame).6 − 0.3 Kg/cm2 = 1157153. 0.5 = 0.43 = 1.54 → KcY menentukan Lk = Kc. sehingga dari nomogram didapatkan nilai Kcx = 1.17 π 654.425 = 654.52 dan nilai Kcy = 1.11 1.17 cm rm 21 λ π f my Em = 31.19 fcr = = = 506.54.L = 1.fcr = 228.5 = = 31.47 Pn = As.26 Kg .47 298428 .25 < λc <1.0. sehingga nilai GB = 1 ⎛ Ix ⎞ ⎛ 49940 ⎞ Σ⎜ ⎟ 2 x⎜ ⎟ L ⎠ kolom 425 ⎠ ⎝ ⎝ GAx = = = 2.67.119 Bagian dasar kolom diasumsikan jepit.63 Mpa ω 1.

27 Kg > Pu……….27 .0.85.fy = 0.27 Kg – 485350 Kg = 498230.120 φPn = 0.(OK) 1.6 = = 0.4.ϕ .84 …….Ab Ab ≥ ϕPnc 498230.250 ¾ Kuat Nominal Komposit dan Aksial Kolom Komposit Luasan badan profil (Aw) = (1.7.85.(OK) Semua beban desain kolom ditopang oleh kolom komposit ( terdiri dari profil baja dan beton).7.27 Kg Syarat yang harus dipenuhi untuk luas penampang beton φPnc ≤ 1.fc’.6. Persyaratan luas minimal penampang beton yang menahan beban desain kolom adalah : ¾ Kemampuan profil baja menahan beban φPns = 0.27 = = 1953.2500 = 485350 Kg ¾ Kemampuan penampang beton menahan beban φPnc = φPn – φPns = 983580.φ.85. 1157153..26 Kg = 983580.7.228.50) + ((50+10)10) = 101 cm2 Crc = Crt = 350 – (50 + 12 + (1/2.2 ϕPn 983580.6 > 0.16)) = 280 mm Cr = (Crc + Crt)/2 = 280 mm h1 = h2 = 700 mm Pu 595950. fc ' 1.As.

77 Kgcm ( )Aw.h1 = 2428.200.85.(h2 – 2Cr)Ar.12854730.06 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8. fy − 2 1. fy Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Untuk Pu > 0.(h2 – 2Cr)Ar.56 2250329.fyr + h2 Aw.7 x 250x70 =12993755.85.04 x 2400 70 101x 2500 +( )101x 2500 − 2 1. fc '.10.7 x 250 x70 = 12854730.0(OK ) 9 ⎝ 0.7.77 Kgcm ( Mny = Zy.7 7 ⎠ Kesimpulan: Kolom komposit digunakan profil K500.h1 = 2483.2 → ⎟ + ⎜ + ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ϕPn ⎝ ⎠ 8 ⎛ 2261074.121 Mnx = Zx.04 x 2400 + ( 70 − 101x 2500 )101x 2500 2 1.3 ⎞ 0. fc'.fyr + h2 Awfy )Aw. fy − 2 1.fy + 1/3.6 + ⎜ + ⎟ = 0.7.12993755.965 ≤ 1.71 x 2500 + 1/3(70 – 2x28) x 8.7 7 0.fy + 1/3.16 .

1. Penerimaan beban dianggap sebagai berikut : • Beban Pu diteruskan oleh sambungan pada badan secara tegak lurus ke flens kolom • Beban momen Mu diteruskan oleh sayap balok dengan baja T keflens kolom Vu = 16319 Kg (1.6 Sambungan Balok – Kolom yang direncanakan Sambungan balok utama B-22 dengan kolom direncanakan dengan rigid connection dimana sambungan memikul beban geser Pu dan momen Mu. (2096.2 D + 0.2500) Kgcm = 14265900 Kgcm .5.122 6.Mpbalok = 1.5 L) Sambungan kaku yang merupakan bagian dari Sistem Rangaka Pemikul Beban Gempa mempunyai kuat lentur Mu yang besarnya paling tidak sama dengan : Mu = 1.1.Ry.3.1.3 Desain Sambungan 6.1 Sambungan Antara Balok dengan Kolom Gambar 6.

5 Kg = 46352.2 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg =18745.16 • Kolom menggunakan profil K500.75.(r1fub).75.5.4 cm.2. Sambungan geser pada badan balok Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.6 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.2).5L ditambah gaya geser yang berasal dari Mu diatas (LRFD ps 15. Elemen – elemen sambungan : • Balok melintang menggunakan profil WF 500.fu (tebal pelat badan dipakai tebal badan balok tp = 10 mm)) = 0.0 cm.1.4.200.2.9.200.5 Kg A.10.5.4100 Kg/cm2 = 18745.5) • Mutu profil BJ41 (fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325. sehingga besarnya : Vutambah = 14265900 + 14265900 = 30033.(0.123 Momen lentur rencana sambungan berdasarkan kemampuan balok.2D + 0.db. D = 25. 25.8250)2.2Ab = 0.4.07 cm2 Vdg = φf.10.2 Kg) .07 = 31370.tp.2.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.16 Gaya geser terfaktor V pada sambungan kaku harus diambil berdasarkan kombinasi pembebanan 1.5 Kg 950 Vutotal = 16319 Kg + 30033.

t = (L – n. Ølubang = 25. 5.2 = = 3.4 mm fub = 825 Mpa = 8250 kg/cm2 Ag = 5.47 .5. Sambungan geser pada sayap kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.2.2 B.7 = 17.7).22 cm2 . Kontrol siku penyambung Siku direncanakan menggunakan ∟70.2.54.4. D = 25.tp.(r1fub).5 = = 2.db.3 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.124 n= Vu 46352.75. Ølubang). Ab = 0. Vdg 13121.4100 = 13121. BJ 41 dengan fu = 4100 Kg/cm2.70. dipasang 3 buah Vdg 18745.64 sehingga pada satu sisi menjadi 2 baut C.7.07 cm2 = 15685.64 Kg n= Vu 46352.5) • Mutu profil BJ41(fu = 4100 Kg/cm2) • Baut tipe A325.0.0.07 cm2 Vdg = φf. 8250 Kg/cm2).53 . dipasang 4 buah pada 2 sisi.2.75.2.7.4 mm + 1.4.fu (tebal pelat badan dipakai tebal pelat siku tp = 7 mm)) = 0.(0.6 mm (lubang dibuat dengan bor) = 27 mm Anv = Lnv.t = (30 – 2.

.125 Siku ditinjau satu sisi sehingga gaya = ½. profil T akan mendapat gaya tarik sebesar : 2T = Mu d balok 14265900 T= = 142659 Kg 2.fu.22 cm2 = 38125..Vu = 23176. Sambungan pada sayap profil T dengan sayap kolom Direncanakan menggunakan baut D25.4100 Kg/cm2..7 Gaya – gaya yang bekerja pada profil T .4 mm + 1.9.6..Anv) = 0..4 mm.07 cm2 Mutu baja profil BJ 50 (fu = 5000 Kg/cm2) Mutu baut (fu = 8250 Kg/cm2) Akibat gaya Mu.. Ok D.6.25 Kg φPn = φ(0.25 Kg .50 W Q a 1 2(T 1 2(T a' + Q) + Q) b' b 2T Bidang kritis 1 2(T 1 2(T + Q) + Q) flens profil T Badan profil T Q Gambar 6. dengan data – data: Ølubang = 25..0. 17.08 Kg > 23176.6 mm (lubang dibut dengan bor) = 27 mm Ab = 5.

Fisher dan Shrink : a ≤ 1.5 mm .88 Kg > 88828.(50 + 30.88 Kg Syarat.25 b 50 < 1.94 Sehingga tinggi tambahan yang diperlukan menjadi. r = 22mm a = 50 mm (direncanakan) b= 400 − 20 − (50 + 90) = 50mm 2 Menurut Kulak.76 Kg 2.(0.400.25.126 B = Kekuatan rencana baut = φRn = 0.20 Maka.58 cm Dalam hal ini kita coba pakai profil T 600.25.75.Ab)n.½. Øbaut = 50 + ½. B > T 94111.200. n = jumlah baut = 0. T = 14265900 = 88828.3) Syarat.75.12. = 151.75.58 cm 2. Øbaut = 50 .75.5.0.5 mm…………….4 = 62.(OK) Koreksi untuk a dan b a’ = a + ½.25.58 – 50= 101.4 = 37.07 cm2.4 = 94111..7 mm b’ = b – ½.fub.47055.20.8250 Kg/cm2. B > T 94111.35.76 Kg (memenuhi syarat) ¾ Perhitungan sayap kolom dengan profil T Perhitungan tebal sayap T yang diperlukan : Direncanakan memakai profil T 400.88 Kg < 142659 Kg (Tidak memenuhi syarat) Untuk mengatasinya kita dapat memakai potongan profil balok atau profil T yang dihubungkan ke bawah balok utama agar lengan momen kopel menjadi besar.50 = 62. 14265900 Lengan kopel = = 151.

3.16 cm = 31.88 ≥ ½ (88828.5) • Mutu profil BJ55 (fu = 5500 Kg/cm2) . tf pada profil T 400.w.26.3 < 1 − 1⎟ = ⎜ ⎝T ⎠ b' ⎝ 88828. 734 62 .5 0.(1 + αδ ) 4.3 ⎞ ⎜ ⎟ = ⎜ ⎟ = 0.88 Kg > 50414.734 ⎝ 1 − 0.734) ≥ 3. fy.6 δ =⎜ = 0.5 ⎞ Q= T ⎛ ⎟ ⎟⎜ ⎟⎜ ⎟ = 88828.58.9.58 < 1.76 Kg .20cm.734 ⎟= 200 ⎝ w ⎠ α= 1⎛ β ⎞ 1 ⎛ 0.20.35 dapat dipakai ≥ E.58 αδ ⎞⎛ b' ⎞ ⎛ 0.3 ⎠ Nilai α = 0.76 Kg ⎜ ⎜ αδ + 1 + a ' 1 0 .127 β =⎜ ⎞ 62.4100 Kg / cm 2 .7 ⎛ B ⎞ a ' ⎛ 94111.6 mm Sehingga.85 Kg…….T .7 + 12001) 94111.734 ⎞⎛ 37.b' tf ≥ ϕ .5 ⎛ w − ∑ d ' ⎞ 200 − 2.88828. Sambungan pada badan profil T dengan sayap balok Kontrol Kekuatan Baut Kuat geser baut • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r1 = 0.0.400. 58 .0.76 ⎠ 37.88 − 1⎟ = 0.(1 + 0.Ok Maka tebal perlu sayap profil T 4. dipakai ⎜ ⎟ δ ⎝ 1 − β ⎠ 0.58. 0 . 7 ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠ ⎠⎝ ⎝ = 12001 Kg Gaya yang terjadi pada baut : B ≥ ½ (T + Q) 94111.

5.4.Ag.5 cm) = 47..34 cm2 Terhadap leleh 2T ≤ 0.2.(Ok) .1.52 Kg ≤ 332100 Kg….31 Kg) n= 88828.db.31 buah baut pada 2 sisi.16 cm.(0.4 mm.5 cm = 90 cm2 An = Ag – (Σd’. sehingga dipasang 6 Vdg 15685.3.2.07 cm2) Vdg = φf.4.76 T = = 5.fu (tebal pelat badan dipakai tebal sayap profil balok tp = 12 mm)) = 0..tw) = 90 cm2 – (3.Ab = 0.……….5.4 mm . sehingga pada 1 sisi menjadi 3 baut.9.75.8250 Kg/cm2). BJ 55 (Ag = 5.31 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.tp. BJ 55 dengan fy = 4100 Kg/cm2 dan fu = 8250 Kg/cm2 Ag = w.8 Kg Vdg < Vdt (digunakan Vdg = 15685.75.8250 Kg/cm2 = 45262.fy 2.66buah .90. 2.4100 177657.88828. Kekuatan badan profil T Dipakai baut Ø25.4.tw = 20 cm.9.54cm.128 • Baut tipe tumpu Øbaut 25.(r1fub).2 cm.4.07 cm2 = 15685.76 ≤ 0.

8250 177657.3.Zx Mux = 1.4 Baut D 25. Gaya – gaya yang bekerja pada kolom lantai CIN.7 adalah sebagai berikut : Pu = 595950..5.An. 88828.(Ok) 6.9.9.45 Kg…………….fu 2.4 Baut D 25.1997.2500.fy.5.129 Terhadap patah 2T ≤ 0.76 ≤ 0.6 = 7491000 Kgcm Baut D 25.4 Gambar 6.6 Kg = 1.34.2 Sambungan Kolom – Kolom Sambungan kolom .47.52 Kg ≤ 350712.8 sambungan kolom – kolom .kolom direncanakan pada lantai 1.

52 Kg ¾ Kontrol Geser pada Sayap Kolom Dipakai tebal pelat penyambung 16 mm Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.130 Pembagian Beban Momen 1 .4.75.5. ( Ag = 5.4.37 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.1.50 Pubadan = badan .4100 = 29992.4 mm.6 – 260920 = 335026.32 Kg .1.5.r1.4 Pusayap = Pu – Pubadan = 595950.8250 Kg/cm2.07 cm2) Vdg = φf.6.07 cm2 = 31989.503 I badan Mubadan = Mu = 12 7491000 = 1562500Kgcm I profil 49940 Musayap = Mu – Mubadan = 7491000 – 1562500 = 5928500 Kgcm ¾ ¾ Pembagian Beban Aksial A 2.fub.6 = 260920 Kg Aprofil 228. 2Ab = 0.75.2.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut D 25.1.0.db.Pu = 595950.2.2.54.tp. 2.fu (tebal plat dipakai tebal plat sayap Kolom tp = 16 mm) = 0.

2.07 cm2 = 31370.4.0.1.2.32 Dipasang 12 buah agar simetris ¾ Kontrol Geser pada Badan Kolom Kuat geser baut • Pada bidang geser tidak ada ulir (r1 = 0.9 = 2058248 Kgcm .2.75.4 mm.2.4.5.67buah ≈ 12buah Vdg 29992.54.db.1. Vdt = 22860 Kg Momen yang bekerja pada titik berat sambungan badan Mutotal = Mubadan + Pu. 5000 = 22860 Kg Dipakai.07 cm2) Vdg = φf.0.5) • Mutu baja profil BJ 50 ( fu = 5000 Kg/cm2) • Baut tipe tumpu Øbaut 25.63 Kg Vdg > Vdt (digunakan Vdg = 29992.75.fu (tebal plat dipakai tebal plat badan Kolom tp = 10 mm) = 0.e = 1562500+ 260920.5.131 Gaya kopel pada sayap 5928500 = 296425Kg d 20 Pu sayap Jumlah gaya total pada sayap = T + 4 335026.8250 Kg/cm2.63 n= = = 11.32 Kg) Vu 380181.63 Kg Kuat tumpu baut Vdt = φf.tp.r1. ( Ag = 5.fub.2Ab = 0.52 = 296425 + 4 Tu = Musayap = = 380181.

15 = = 555.52 + 13.54 = 4.6 Kg n 12 Mutotal .132 Dicoba dengan baut sebanyak 12 buah Pubadan 260920 Akibat Pu → KuV1 = = = 20743.5 cm Jarak antar baut minimum = 3.33Kg n 12 Akibat Vu → KuH1 = Σ(x2 + y2) = 12(4.tp = 12.1 = 12 cm Jarak tepi maks = 20 cm Dipasang jarak tepi baut = 5.28 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 KuV2 = Kutotal = (ΣKuV ) 2 + (ΣKuH ) 2 = (21743.426 Kg < 22860 Kg………OK ¾ Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum = 1.tp = 15.28) 2 = 19030.2.5 = = 3009.14) 2 + (555.db = 3. y 2058248 x 22.5)2 + 4(4.x 2058248 x 4.14 Σ( x 2 + y 2 ) 3078 Mutotal .2.426 Kg Kutotal < φVn 19030.5 KuH2 = = = 14246.445 cm Jarak tepi maksimum = 12.33 + 3009.54 = 7.75 db = 1.75.52 + 22.6 + 15246.52) = 3078 cm2 Vu 16667.62 cm Jarak antar baut maksimum = 15.1 = 15 cm Jarak tepi maksimum = 20 cm Dipasang jarak antarbaut = 9 cm .

85.133 6.200.4 cm2 = 84732.46.16 dengan data – data sebagai berikut : • No.6 > 0.15 Kg Vu Pu 595950.2 ⇒ ⎟ ≤1 Mnx Mny ϕPn ϕPn 9 ⎜ ϕ ϕ ⎝ ⎠ 8⎛ Mux ⎞ 0.6 Kg = 16667.3 Disain Base Plate Perencanaan base plate dibawah ini menggunakan fixed plate dari catalog PT Gunung Garuda untuk profil K500.200.7 cm pada daerah yang diarsir pada profil K 500.10.8) + (4.7 cm =530.10.52 Kgcm Sambungan Las pada End Plate Direncanakan las dengan te = 1.6 = = 0.27 Untuk Pu 8 ⎛ Mux Muy ⎞ Pu ⎟ + ⎜ + > 0.12854730.20)} 1.6 + ⎜ + 0 ⎟ = 1.Part = BMK-13 • H = 70 cm • B = 70 cm • tp = 46 mm = 4.0 9 ⎝ 0.77 ⎠ Mux = 4916934.5L + E) lantai dasar adalah : Pu = 595950.504 cm4 .3.2 ϕPn kolom 983580.8)+(2.16 sehingga didapat : Alas = {(2.2D + 0.45.6 cm Dari output Etabs pada CIN 7 (comb 1.

0.⎜ .6.20.3 2 = 2818.15 4916934.70.23 + 2.83 + .45 Kg/cm2 16667.05cm3 x 23.27cm = fu las 2214.1cm = 1.52 + = + A Wx 530.3 Kg/cm += Vu Akibat beban Vu.63 .2.11 = 2452.52 + A 530.45 .6.11cm3 22.3.9 y Iy 84732.⎜ .2.20.27 = = 1.45 2 + 1389.203 + 2.504 cm4 Wx = Ix 84732.102 ⎟⎥ 12 12 ⎠⎦ ⎠⎦ ⎣ ⎝12 ⎣ ⎝12 = 84732.05 2 = 1389.707 0.63 Kg/cm2 te = f total 2818.4 3700.45 a= te 1.92 ⎟⎥ + ⎢2.23 + .4 fulas = φ.70.504 = = 3700.1 = 2214.4 3621.46 .8. f V = f total = f p + fV 2 2 = 2452.8 cm(amin) 0.20. f P = Pu Mx 595950 4916934.0.FE70xx = 0.45 Kg/cm2 Akibat beban P.134 ⎡ ⎛1 1 1 ⎞⎤ ⎞⎤ ⎡ ⎛ 1 Iy = ⎢2.75.22 .707 .504 Wy = = = 3621.

.70.1.5.4.1.3 Sehingga dipakai las dengan a = 18 mm Perhitungan Base Plate e= Mux 4916934.300.75.7 A1 .52 = = 18.120 = 840 mm= 84 cm B =900 mm = 90 cm Dimensi beton : Panjang : 90 cm Lebar : 90 cm A2 90 x90 1.25cm > 1 H = 11.tp = 1.6 = 5. . A2 = 0.8 cm = dipakai c1 = we = 5 cm h’ ≥ 6+ 5 = 10 cm.7cm 6 Pu 595950.db = 1.41.135 Syarat – syarat tebal kaki las Tebal minimum = tplat = 46 mm fu 4100 aeff max = 1. dipakai h’ = 12 cm h = H – 0.4cm f E 70 xx 70.85.28 = 290.28 = = A1 70 x70 Fcu = 0.6 d = 9 mm Direncanakan diameter baut : 28.41.6 h’ ≥ we + c1 we = jarak baut ke tepi = 1.db =4.85.125. f ' c.5h’ = 900 – 0.75.86 = 6 cm c1 = jarak minimum untuk kunci = 27/16.2.

25.4916934.1/4.108 ≥ 2.2 cm fy.B 52596.29 + 1.84 − 90) + 2. 7250.75.π.90 ≥ 2.6.862) = 14579 Kg φRn ≥ 2.(0.90.26.16667.6 = 52596.25 n .5.4 diambil jumlah baut = 12 buah baut angkur 28.6.5.B 595950.05 cm Tu = (0.5.5Ab) = 0.05) – 595950.136 a =h= 84- h2 − Pu (2h − H ) + 2Mu 0.85 cm Maka base plate dengan ukuran 90 x 90 cm dengan tp = 3 cm dapat digunakan sebagai alas kolom K500.15 n n = 8. fcu.16 Perhitungan Baut Angkur Dipakai baut angkur Ø28.7.200.10.6.6 mm φRn = 0.52 0.6 (2.290.f’cu.fub.a) – Pu = (0.(0.2.2) 2500. dimana Cv = 1.84 = 42 mm =4.90 842 − = 26.108 Tu (h'− we) .7.29(12 − 4.Vu .75.h = 0.6 mm 14579≥ 2Tu + Cv.6.B.290.29 Kg t ≥ 2.52596.we ≈ 0.

50.250 ⎣ ≥ 73.5))1/ 2 ≥⎢ 50. f c ( M + V .5cm))1/ 2 ⎤ L≥ ⎢ ⎥ d. fc ⎣ ⎦ ⎡ 2.16667.16667.15 .52 +16667.137 Panjang Angkur ⎡ 2V + (4V 2 + 6d .6 cm → diambil L = 120 cm .250(4916934.15+ (4.152+ 6.

138 ”Halaman ini sengaja dikosongkan” .

1 Denah Rencana Pondasi Pondasi pada gedung apartemen Albergo. Gambar 7. WIKA Beton.139 BAB VII PERENCANAAN PONDASI 7.1 Perencanaan Pondasi Kolom Pondasi pada umumnya berlaku sebagai komponen struktur pendukung bangunan yang terbawah dan berfungsi sebagai elemen terakhir yang meneruskan beban ke tanah. Jakarta ini direncanakan memakai pondasi tiang pancang jenis pencil pile shoe produk dari PT. Spesifikasi tiang pancang yang akan digunakan adalah sebagai berikut: : 500 mm • Diameter • Tebal : 90 mm : A3 • Type .

140
Allowable axial : 166,21 ton Bending Momen crack : 14 ton m Bending Momen ultimate : 21 ton m Dari hasil analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS, diambil output reaksi perletakan yang terbesar, hasilnya adalah sebagai berikut : Pu : 587339 kg : 74927,94 kgm Mx My : 74054,92 kgm : 12667,15 kg Hx : 11154,31 kg Hy • • •

7.1.1 Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal
Data yang diperoleh dan yang digunakan dalam merencanakan pondasi adalah data tanah berdasarkan hasil Standard Penetration Test (SPT). Daya dukung pada pondasi tiang pancang ditentukan oleh dua hal, yaitu daya dukung perlawanan tanah dari unsur dasar tiang pondasi (Qp) dan daya dukung tanah dari unsur lekatan lateral tanah (QS). Perhitungan daya dukung tanah memakai metode Luciano Decourt (1982) : QL = QP + QS Dimana : QL = daya dukung tanah maksimum pada pondasi QP = resistance ultimate di dasar tiang QS = resistance ultimate akibat lekatan lateral Qp = qp . Ap = (Np.K).Ap Qs = qs . As = (Ns/3 +1).As Dimana : Np = harga rata-rata SPT pada 4D pondasi di bawah dan di atasnya. K = koefisien karakteristik tanah Ap = luas penampang dasar tiang

141
Ns = rata-rata SPT sepanjang tiang tertanam, dengan batasan 3 ≤ N ≤ 50 As = luas selimut tiang Np =

46 + 42 + 54 = 47,33 3 AP = 0,25 × π × D 2 = 0,25 × π × 0,52 = 0,196m 2
K = 40 t/m2 (untuk tanah dominan pasir)

QP = N p × K × Ap = 47,33 × 40 × 0,196 = 371,73m 2
Ns =

22 + 44 + 38 + 48 + 42 = 38,8 5 2 AS = H × π × D = 10 × π × 0,5 2 = 7,854m 2

⎞ ⎛N ⎛ 38,8 ⎞ + 1⎟ × 7,854 = 109,43ton QS = ⎜ S + 1⎟ × AS = ⎜ ⎝ 3 ⎠ ⎠ ⎝ 3
QL = QP + QS = 371,73 + 109,43= 481,16 ton QU =

QL 481,16 = = 160,39 ton SF 3

7.1.2 Daya Dukung Tiang Pancang Kelompok
Pondasi tiang pancang direncanakan Ø50 cm. Jarak dari as ke as antar tiang pancang direncanakan seperti pada perhitungan di bawah ini : Untuk jarak antar tiang pancang : 2,5 D ≤ S ≤ 3 D dimana : S = jarak antar tiang pancang S1= jarak tiang pancang ke tepi 2,5 × 50 ≤ S ≤ 3 × 50 125 ≤ S ≤ 150 Untuk jarak tepi tiang pancang : 1,5 D ≤ S1 ≤ 2 D 1,5 × 50 ≤ S1 ≤ 2 × 50 75 ≤ S1 ≤ 100 Dipakai : jarak antar tiang pancang (S) = 130 cm jarak tepi tiang pancang (S1) = 80 cm

142

Gambar 7.2 Konfigurasi Rencana Tiang QL (group) = QL (1 tiang) × n × η

η = 1 - arc tan( D / S ) × ⎛ 2 − 1 − 1 ⎞ …………Converse Labarre ⎜ ⎟ 90° m n⎠ ⎝
Dimana : D = diameter tiang pancang S = jarak antar tiang pancang m = jumlah tiang pancang dalam 1 baris = 3 n = jumlah baris tiang pancang = 3 Efisiensi : (ή) =1QL (group)

arctan(500 / 1000) ⎛ 1 1⎞ × 2 − − ⎟ = 0,606 ⎜ 90 0 3 3⎠ ⎝ = 160390 × 9 × 0,606 = 874767,1 kg

Perhitungan beban aksial maksimum pada pondasi kelompok a. Reaksi kolom = 587339 kg = 42336 kg + b. Berat Poer = 4,2 × 4,2 × 1 × 2400 Berat total = 629675 kg QL (group) = 874767,1 kg > P = 629675 kg........OK

3 6 1 .143 7.1.21 ton • Allowable axial • Bending Momen crack : 14 ton m • Bending Momen ultimate : 21 ton m ¾ Kontrol terhadap Gaya Aksial Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification..3 Kontrol Beban Maksimum 1 Tiang (Pmax) Beban maksimum yang bekerja pada satu tiang dalam tiang kelompok dihitung berdasarkan gaya aksial dan momen yang bekerja pada tiang..OK 7.21 ton..OK . namun yang diperhitungkan hanya gaya tekan karena gaya tarik dianggap lebih kecil dari beban gravitasi struktur.3 ⎞ + + ⎟ ⎟ 2 2 9 × 6 1 .3 74. X max ∑X 2 + Mx. 3 × ⎝ ⎠ = 86.4 Kontrol Kekuatan Tiang Dari spesifikasi “Wika Pile Classification” direncanakan tiang pancang beton dengan : • Diameter : 500 mm • Tebal : 90 mm • Type : A3 : 166...05492 × 1.Ymax ⎞ ≤ Pijin 1 tiang ⎟ 2 ⎟ ∑Y ⎠ Pmax = ⎜ ⎜ ⎛ 643..1. gaya aksial tidak diperkenankan melebihi 166.19 ton …………………. Pmax = 86. sehingga berlaku persamaan : Pmax = ⎜ ⎜ ⎛V ⎝n + My.19 ton.390 x 0..2 ton < Pijin 97.92794 × 1.2 ton ≤ Pijin 1 tiang = 160. Momen pada tiang dapat menyebabkan gaya tekan atau tarik pada tiang.606 = 86.579 74.2 ton ≤ = 97.

144 ¾ Kontrol terhadap Gaya Momen Setelah tiang dipancang Perumusan yang dipakai diambil dari buku “Daya Dukung Pondasi Dalam” : Mmax = H (e + 1.5d + 0.66715 = 0.5(0..5) + 0.. (0 + 1.5(0. Ok .47 tm M = Mmax = 16. Cek kekuatan momen tiang : Mcrack = 14 tm > M = 13...66715....425 kg/cm 2 dari lampiran data tanah di ketahui qu = 0..47 tm ..627 m 9 × 4.Cu ..25 t/m2 f = 12..85 kg/cm2 Cu = = 4. momen tidak diperkenankan melebihi Mcrack = 14 tm..5f) f = H 9.5 = 13.d Dimana: H = Lateral Load e d = jarak antara lateral load (H) dengan muka tanah = diameter pondasi 1 2 qu = 0....627)) Untuk Ø50 cm kelas A3 pada Wika Piles Classification..25 × 0.

Hal ini sesuai yang disyaratkan pada SNI 03-2847-2002 pasal 13. Kuat geser yang disumbangkan beton dirumuskan : 2 ⎞ ⎛ fc ' ⎞ ⎛ φ .1.2 × 1 m3 Mutu beton (f’c) = 40 MPa Mutu baja (fy) = 410 MPa Diameter tulangan 25 mm Selimut beton = 50 mm Tinggi efektif (d) : dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937. Data perancangan poer : = 643.145 7.5 Perencanaan Poer Poer dirancang untuk meneruskan gaya dari struktur atas ke pondasi tiang pancang.2.Vc = φ ⎜ 1 + ⎟ × bo × d ⎟⎜ ⎝ βc ⎠⎝ 6 ⎠ tetapi tidak boleh kurang dari : φ Vc = φ × ⅓ × f ' c × bo × d Dimana : .579 ton Pu = 86.2 × 4.12. Oleh karena itu poer harus memiliki kekuatan yang cukup terhadap geser pons dan lentur.2 ton P max (1 tiang) ∑ tiang pancang tiap group =9 Dimensi kolom = 700 × 700 mm2 Dimensi poer = 4.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.5 mm • Kontrol Geser Pons Pada Poer Dalam merencanakan poer harus dipenuhi persyaratan kekuatan gaya geser nominal beton yang harus lebih besar dari geser pons yang terjadi.

5 = 7708051.146 βc = rasio dari sisi panjang terhadap sisi pendek beton dari 700 daerah beban terpusat atau reaksi = =1 700 bo = keliling dari penampang kritis pada poer bo = 2 (bk + d) + 2(hk + d) dimana : bk = lebar penampang kolom hk = tinggi penampang kolom d = tebal efektif poer • Kontrol geser pons pada tiang pancang tengah (akibat Kolom) bo = 2 (700 + 937.339.6 × ⅓.21 ton φ Vc = 0.6 × ⎜1 + ⎟⎜ ⎜ ⎟ 1 6 ⎠⎝ ⎝ ⎠ = 115620777.5) + 2 (700 + 912.08 ton < φ Vc = 770. .5) = 6500 mm Batas geser pons ⎛ 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 6500 × 937.805 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.08 ton P = 552.7 N = 1156.8 N = 770.805 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.5 φ Vc = 0. 40 × 6500 × 937.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.

08 ton < φ Vc = 574.08 ton P = 552.⎜ ⎟ 9 ⎝ ⎠ = 552.339.147 • Kontrol geser pons pada tiang pancang pojok β c = rasio sisi terpanjang terhadap sisi terpendek (daerah beban terpusat) = 500 =1 500 bo = penampang kritis poer = 1 x πD + 800 + 800 4 = 2385.4 N = 282.310 ton Jadi ketebalan dan ukuran poer memenuhi syarat terhadap geser ponds.310 ton φ Vc = 0.873 ton ⎛ 587339 ⎞ P yang bekerja = 587.4 mm Batas geser pons 2 ⎞⎛ 40 ⎞ ⎟ × 2385.5 φ Vc = 0. 40 × 2385.5 = 2828736.6 × ⅓.4 × 937.6 N = 574.6 × ⎛ 1 + ⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎜ 1 6 ⎝ ⎠⎝ ⎠ = 5743104. .4 × 937.

2.7.672) = 23711 kg m = 23.8⎛ ⎜ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12. poer dianalisa sebagai kantilever dengan perletakan jepit pada kolom. Gambar 7.85.3) ⎝ 1000 ⎠ .3 Analisa Poer Sebagai Balok Kantilever a = jarak poer ke tepi kolom + selimut kolom + db sengkang + 1/2 db kolom = 80 + 5 + 1.2 + ½. 1.2 × 2.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0. teori Untuk penulangan lentur.148 • Penulangan Poer balok beban yang poer. Sedangkan yang bekerja adalah beban terpusat di tiang kolom menyebabkan reaksi pada tanah dan berat sendiri Perhitungan gaya dalam pada poer didapat dengan mekanika statis tertentu.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.40 × 1 =10.6 = 87 cm b = jarak tepi tiang pancang = 80 cm Penulangan arah x Penulangan lentur : Pmax = 96231 kg q = 4.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.87) – (1/2 × 10080 x 1.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.

765 0.1) 400 = = 11.0803 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11.4.5.77 1000 ⎝ ⎠ ⎞ 0.85 × 0.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.0018 m= fy 0.5 = 7087.5 = 3543.039 = 0.85 × β 1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.8 × 4200 × 937.85 × f ' c (SNI 03-2847-2002 pasal 9.3) ρbalance = ⎜ 600 + f ⎟ fy y ⎠ ⎝ 600 ⎞ = 0.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.75 × ρb = 0.1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0.d = 0.3) ρmax = 0.77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.0018 × 4200 × 937.765 ⎝ ⎠ = 0.85 × 40 Mu 23.b.12.765 × 0.8⎛ ⎜ ⎟ = 0.149 40 − 30 ⎞ = 0.As = 0.0018 Maka dipakai ρmin = 0.0002 < ρ min = 0.039 (SNI 03-2847-2002 pasal 12. 7087.2.0803 N/mm 2 2 φbd 0.75 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) .029 ρmin = 0.5.3.5 ρ perlu 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ 2 × 11.711 10 7 2 Rn = = = 0.85.75 × 0.

711 10 7 Mu 2 N/mm Rn = = = 0 .77 × 40 ⎛ ⎜ ⎟ 410 ⎝ 600 + 410 ⎠ = 0.75 × 0.1) fy 400 = = 11.4.2 × 2.039 = 0.7.3) ⎟ ⎠ 600 ⎞ = 0.2.87) – (1/2 × 10080 x 1.85 × β1 × f c ' ⎛ ⎜ 600 ⎜ 600 + f fy y ⎝ ⎞ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 10.765 0.672) = 23711 kg m = 23.40 × 1 =10.85 × 40 23.77 = 0.85.711 × 107 Nmm dx = 1000 – 50 – ½ × 25 = 937.3) (SNI 03-2847-2002 pasal 9.85.5 2 .0018 m= (SNI 03-2847-2002 pasal 12.3.8⎛ ⎟ (SNI 03-2847-2002 ps 12.85 × 0.75 × ρb = 0.85 × f ' c 0.039 ρmax = 0.3) ⎜ 1000 ⎠ ⎝ ⎛ 40 − 30 ⎞ = 0.150 Penulangan arah y Pmax = 96231 kg q = 4.8⎜ ⎟ ⎝ 1000 ⎠ ρbalance = 0.5 mm dy = 1000 – 50 – 25 – ½ × 25 = 912.5 mm f ' c − 30 ⎞ β1 = 0.029 ρmin = 0.12. 0875 φbd 2 0.08 ton/m Momen momen yang bekerja : M = ( 3 × 96231 × 0.2.8 × 4200 × 912.

As = 0. beban aksial tekan atau tarik yang berasal dari 10% beban aksial kolom.0875 ⎞ 1 ⎛ ⎜ ⎟ = 1− 1− ⎜ ⎟ 410 11. Data – data perancangan : Dimensi sloof : b = 400 mm h = 600 mm Ag = 240000 mm2 Mutu bahan : fc’ = 30 MPa fy = 400 MPa Selimut Beton = 50 mm Tulangan utama D25 .1 mm2) Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’= 0. Adapun beban –beban yang ditimpakan ke sloof meliputi : berat sendiri sloof.765 ⎝ ⎠ = 0. berat dinding pada lantai paling bawah.1.5. 6898.0018 × 4200 × 912.0018 Tulangan tarik yang dibutuhkan : Asperl u = ρ.25 mm2 Digunakan tulangan D25 – 250 (As pakai = 3927 mm2) 7.5 = 3449.5 = 6898.151 2 m × Rn 1⎛ = ⎜1 − 1 − m⎜ fy ⎝ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ρ perlu 2 × 11.6 Perancangan Sloof Pondasi (Tie beam) Struktur sloof dalam hal ini digunakan dengan tujuan agar terjadi penurunan secara bersamaan pada pondasi atau dalam kata lain sloof mempunyai fungsi sebagai pengaku yang menghubungkan antar pondasi yang satu dengan yang lainnya.00021 < ρ min = 0.5 mm2 Digunakan tulangan D25 – 125 (As pakai = 7363.b.5.765 × 0.d = 0.0018 Maka dipakai ρmin = 0.

68 ky = Ag 400 x600 Mu 98535000 = = 0.6 kg Penulangan Lentur pada Sloof Pu = 10% Pukolom = 10 %.2 m Mutump = 1/12 x qu.01 x 400 x 600 = 2400 mm2 Dipasang Tulangan 6D25 ( As = 2945.22 = 9853.9.10 = = 2.643579 = 64357. L2 = 1/12 x 3076 x 6.2) + 0.8–2 .9kg Mutump = 9853. didapat ρ = 1 % Luas tulangan perlu : As = 0. L = ½ x 3076 x 6.4 = 6.5 mm Beban-beban yang terjadi pada sloof : Berat sendiri sloof = 0.h 400 x600 x1000 Dari diagram interaksi M-N F 400–30–0.22 = 14780.2 mm2) .4 × 0.152 Tulangan sengkang = ∅12 Tinggi efektif (d) = 600 – (50 + 12 + ½ .5 kgm = 98535000 Nmm Rasio tulangan pakai : P 64357. 25) = 525.41 kx = Ag.6 × 2400 Berat dinding = 10 m × 250 = 576 = 2500 qu = 3076 kg/m kg/m + kg/m Panjang sloof = (panjang bentang – lebar poer)+daerah penjepitan = (10– 4.2 = 9535.5 kgm Mulap = 1/8 x qu x L2 = 1/8 x 3076 x 6.18 kgm D (Vu) = ½ x qu.

5 bd 0.5 kgm = 98535000 Nmm D (Vu) = 10% Pukolom = 10 %.85 ⎛ 600 ⎞ = 0.22 = 9853.85f' c 0.643579 = 64357.75 Rn ⎛ 600 ⎞ ⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ ⎟ ⎝ ⎠ 0.68 0.4 1.75 ρb = 0.5 x 1608.Rn ⎞ ⎟ ⎜1 − 1 − ⎜ m⎝ fy ⎟ ⎠ .85 × 30 1.153 Penulangan Tarik pada Sloof qu = 3076 kg/m = 1/12 x qu.5 x As = 0.0035 ρmin = fy 400 ρmax = 0.85 × 30 × 0.024 Mn 123168750 = = 1.475 mm2 Mu 98535000 Mn = = = 123168750 Nmm 0.4 = = 0.f' c.12 = 2 2 400 × 525.85.95 = 804. L2 Mutump = 1/12 x 3076 x 6.9kg = 643579 kg Tulangan tarik yang dibutuhkan : Vu 643579 = 1608.β. fy ρperlu = 1⎛ 2m.75 ⎟ ⎜ 400 ⎝ 600 + 400 ⎠ = 0.95 mm2 = As = 400 fy Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’ = 0.8 ϕ 400 fy m = = = 15.

6 kg = 95356 N Vc = 2 × × ⎡ Nu ⎤ fc × bw × dx ⎢1 + ⎥ ⎣ 14.85 = 1172.0035 Tulangan tarik yang dibutuhkan : As1 = ρ b d = 0.6 mm2) ¾ Penulangan Geser Geser yang terjadi : Vu = 9535.95 + 735.75 × 437235.12 ⎞ 1 ⎛ ⎜1 − 1 − ⎟ = 0.5 x 735.5 = 735.475 + 367.7 mm2 Tulangan tekan yang dibutuhkan : As’1 = 0.13 = 327926.5 x As1 = 0.35 N > Vu = 92956.68 ⎜ ⎝ ⎠ = ρmin > ρperlu Æ ρ = ρmin = 0.0035 x 400 x 525.5 N Karena Vu < ØVc. Digunakan tulangan geser praktis Ø10 – 200. Ag ⎦ 95356 1 ⎡ ⎤ = 2 × × 35 × 400 × 539⎢1 + 6 ⎦ ⎣ 14 × 400 × 600 ⎥ 1 6 = 437235.7 = 367.154 2 × 15. maka tidak perlu tulangan geser.65 mm2 Digunakan tulangan 5D25 (As = 2454.13 N ØVc = 0.68 × 1.37 mm2) Jumlah tulangan tekan : As’ + As1’ = 804.00497 ⎟ 400 15.33 mm2 Digunakan tulangan 3D25 (As = 1472.7 = 2344. .85 mm2 Jumlah tulangan tarik : As + As1 = 1608.

perhitungan kuat lentur kolom. 2. Analisa balok dihitung terhadap kontrol lendutan.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit.200. kontrol penampang (local buckling). pelat lantai.10.8. Dilakukan perhitungan struktur sekunder terlebih dahulu seperti perhitungan tangga.9.14 Profil Balok Anak : WF 400. 3. beban hidup maupun beban terpusat. kontrol penampang (local buckling).10. 4.200.155 BAB VIII PENUTUP 8.16 Profil Balok Induk 1 : WF 500.200. maka dapat diambil kesimpulan antara lain : 1. Dari hasil pehitungan didapatkan data-data perencanaan sebagai berikut : Tebal Pelat Atap : 9 cm (atap) dan 10 cm (lantai) Tebal Pelat Lantai : 10 cm Dimensi Kolom : 70 x 70 cm Profil kolom : K 500. perhitungan kuat tekan aksial kolom. Dilakukan kontrol kekuatan struktur kolom komposit yang meliputi kontrol luas minimum beton pada kolom komposit.20 Profil Balok Induk 2 : WF 500. kontrol lateral buckling dan kontrol geser. dan kontrol kombinasi aksial dan lentur.13 . dan balok anak terhadap beban-beban yang bekerja baik beban mati.200. Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : kontrol lendutan. kontrol lateral buckling dan kontrol geser. 5.

agar dapat diperoleh hasil sesuai dengan yang direncanakan. keakuratan pemasangan sangat penting.2 Saran Pelaksanaan struktur dengan sistem komposit baja – beton harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat sebab pada bangunan baja.156 Struktur bawah bangunan menggunakan tiang pancang pracetak dengan diameter 50 cm. . 8.

Atanu. Rinaldy. Jakarta: Erlangga. 1999. Struktur Baja Desain Dan Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Charles & E. Purwono. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. 1999.1991. Daya Dukung Pondasi Dalam.157 DAFTAR PUSTAKA G. Rene . Muhammad. Bruce & Mazumder.Bandung : PT. John. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. . SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung. Salmon. Wira M.CE.Johnson. 1998 American Institute of Steel Construction – Load and Resistance Factor Design (AISC-LRFD). Amon. Vebriano & Rustailang. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983. Wahyudi. Surabaya : ITS. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. Knobloch. Diterjemahkan oleh: Ir. 2006. 2005 Spiegel & Limbrunner. Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitektur 2. Rahmat.Pradinya Paramita. Herman.S.

selain itu penulis pernah pernah mengikuti beberapa kompetisi dan perlombaan baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi lain maupun perlombaan tingkat Nasional. 2 Nopember 1985. Penulis aktif sebagai Anggota sekaligus Fungsionaris Civil Engineering Computer Club (CECC) HMS-FTSP ITS. Penulis aktif mengikuti beberapa kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Jurusan. . Fakultas dan Institut. merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Penulis telah menempuh pendidikan formal. pada tahun 2005 penulis diterima di S1 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. yaitu SDN Karang Pilang 446 Surabaya. Di jurusan Teknik Sipil ITS penulis mengambil bidang Struktur dan menyelesaikan studinya pada tahun 2009. SLTPN 16 Surabaya dan SMAN 15 Surabaya. Setelah lulus dari SMUN.158 BIODATA PENULIS Penulis dilahirkan di Surabaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful