P. 1
Hukum Dan Etika Dalam Pelayanan Geriatri

Hukum Dan Etika Dalam Pelayanan Geriatri

|Views: 145|Likes:
Published by Amar Akper II
g
g

More info:

Published by: Amar Akper II on Mar 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/04/2013

pdf

text

original

Kelompok 5 07.04.004 Antika 07.04.013 Diah Purwaning 07.04.022 Herman Adi S 07.04.031 07.04.040 07.04.

049 Meida Fitri y Ririh Vina Rosita D

HUKUM DAN ETIKA DALAM PELAYANAN GERIATRI

PENDAHULUAN Dalam bidang geriatri, masalah etika (termasuk hukum) sangat penting artinya, bahkan diantara berbagai cabang kedokteran mungkin pada cabang inilah etika dan hukum paling berperan. Kane (1994) dkk menyatakan : ”.... ethic is fundamental part of geriatrics. While it is central to the practice of medicine it self, the dependent nature of geriatric patients, makes it a special concern.............”. Bebagai hal yang sangat perlu diperhatikan adalah, antara lain, keputusan tentang mati hidup penderita. Apakah pengobatan diteruskan atau dihentikan. Apakah perlu tindakan resusitasi. Apakah makanan tambahan per infuse tetap diberikan pada penderita kondisi yang sudah jelas akan meninggal? Dalam geriatric aspek etika ini erat dengan aspek hokum, sehingga pembicaraan mengenai kedua aspek ini sering disatukan dalam satu pembicaraan. Aspek hokum penderita denagn kemampuan kognitif yang sudah sangat rendah seperti pada penderita dementia sangat erat kaitannya dengan segi etik. Antara lain berbagai hal mengenai pengurusan harta benda enderita lansia yang tidak mempunyai anak dan lain sebagainya.

Beberapa hal tersebut perlu mendapatkan perhatian di Indonesia, Dimana giriatri merupakan bidang ilmu yang baru saja mulai berkembang. Oleh karena itu, beberapa dari prinsip etika yang dikemukakan berikut ini sering belum terdapat / dilaksanakan di Indonesia. Pengertian dan pengetahuan mengenai hal ini akan memberi gambaran bagaimana seharusnya masalah etika dan hukum pada perumatan penderita lanjut usi diberlakukan.

PRINSIP ETIKA PELAYANAN KESEHATAN PADA LANSIA Beberapa prinsip etika yang harus dijalankan dalam pelayanan pada penderita usia lanjut adalah (Kane et al, 1994, Reuben et al, 1996) : • Empati : istilah empati menyangkut pengertian :

”simpati atas dasar pengertian yang dalam”. Dalam istilah ini diharapkan upaya pelayanan geriatri harus memandang seorang lansia yang sakit denagn pengertian, kasih sayang dan memahami rasa penderitaan yang dialami oleh penderita tersebut. Tindakan empati harus dilaksanakan dengan wajar, tidak berlebihan, sehingga tidak memberi kesan over-protective dan belas-kasihan. Oleh karena itu semua petugas geriatrik harus memahami peroses fisiologis dan patologik dari penderita lansia. • Yang harus dan yang ”jangan” : prinsip ini sering

dikemukakan sebagai non-maleficence dan beneficence. Pelayanan geriatri selalu didasarkan pada keharusan untuka mngerjakan yang baik untuk pnderita dan harus menghindari tindakan yang menambah penderita (harm) bagi penderita. Terdapat adagium primum non nocere (”yang penting jangan membuat seseorang menderita”). Dalam pengertian ini, upaya pemberian posisi baring yang tepat untuk menghindari rasa nyeri, pemberian analgesik (kalau perlu dengan derivat morfina) yang cukup, pengucapan kata-kata hiburan merupakan contoh berbagai hal yang mungkin mudah dan praktis untuk dikerjakan. • Otonomi : yaitu suatu prinsip bahwa seorang

inidividu mempunyai hak untuk menentukan nasibnya, dan mengemukakan

. 2. penderita harus ikut berpartisipasi dalam prosea pengambilan keutusan dan pembuatan keputusan. Tentu saja hak tersebut mempunyai batasan. Kewajiban untuk memperlakukan seorang penderita secara wajar dan tidak mengadakan pembedaan atas dasar karakteristik yang tidak relevan.. apakah penderita dapat membuat putusan secara mandiri dan bebas.. Jadi secara hakiki.. . it is usually conceded that paternalism can be justified if certain criteria are met.. if the dangers averted or benefits gained for the person outweigh the loss of autonomy resulting from intervention.. Meier dan Cassel menulis sebagai berikut : ”.. akan tetapi di bidang geriatri hal tersebut berdasar pada keadaan. Dalam berbagai hal aspek etik ini seolah-olah memakai prinsip paternalisme. Dalam etika ketimuran... Pada akhirnya pengambilan keputusan harus bersifat sukarela..although the medical community has ferquently been attacked for its attitude toward patients.. Seorang ayah membuat keuitusan bagi anaknya yang belum dewasa). dimana seseorang menjadi wakil dari orang lain untuk membuat suatu keputusan (mis.keinginannya sendiri. • Keadilan : yaitu prinsip pelayanan geriatri harus memberikan perlakuan yang sama bagi semua penderita. prinsip otonomi berupaya untuk melindungi penderita yang fungsional masih kapabel (sedanagkan non-maleficence dan beneficence lebih bersifat melindungi penderita yang inkapabel). seringakali hal ini dibantu (atau menjadi semakin rumit ?) oleh pendapat keluarga dekat. asek etika pada pelayanan geriatric berdasarkan prinsip otonomi kemudian di titik beratkan pada berbagai hal sebagai berikut : 1.. if the person is too ill to choose the same intervention…………………………”. Mengenai keharusan untuk berbuat baik dan otonomi. • Kesungguhan Hati : yaitu suatu prinsip untuk selalu memenuhi semua janji yang diberikan pada seorang penderita.. Dengan melihat prinsip diatas tersebut. keputusan harus telah mendapat penjelasan cukup tentang tindakan atau keputusan yang akan diambil secara lengkap dan jelas.

Pada usia lanjut serinkali sudah terdapat gangguan komunikasi akibat menurunnya pendengaran. sehingga perlu pertimbangan beberapa faktor.3. Atas dasar hal diatas maka aspek etika tentang otonomi ini kemudian ituangkan dalam bentuk hukum sebagai persetujuan tindakan meik (pertindik) atau informed consent. maka penderita berha menolak tindakan medik yang disarankan oleh dokter. tetapi tidak berarti boleh memilih tindakan. tetapi fungsi yagn lain sudah tidak baik. antara lain terlihat dari : • secara benar ? • pilihan yang dibuat ? • apakah alasan penderita tersebut rasional (artinya dapatkah penderita memberi alasan tentang apakan penderita bisa buat/tunjukan keinginan setelah penderita mendapatkan penjelasan yang lengkap dan benar) ? • apakah penderita mengerti implikasi bagi dirinya ? (misalnya tentang keuntungan dan kerugian dari tindakan tersebut ? dan mengerti pula berbagai pilihan yang ada) ? pendekatan fungsional tersebut memang sukar. apabila berdasarkan pertimbangan dokter yang bersangkutan tindakan yang dipilih tersebut tidak berguan (useless) atau bahkan berbahaya (harmful). Dasar dari penilaian kapasitas pengambilan keputusan penderita tersebut haruslah dari kapasitas fungsional penderita dan bukan atas dasar label iagnosis. Kapasitas untuk mengambil keputusan. sehingga perlu waktu. Dalam hal seperti diatas. karena seringkali masih terdapat fungsi yagn baik dari 1 aspek. Pada dasarnya prinsip etika ini mnyatakan bahwa kapasitas penderita untuk mengambil/menentukan keputusan (prinsip otonomi) dibatasi oleh : . upaya dan kesabaran yang lebih guna mengetahui kapasitas fungsional penderita. keputuan yang diambil hanya dianggap sah bial penderita secara mental dianggap kapabel. merupakan aspek etik dan hokum yang sangat rumit.

• Apabila keputusan yang diharapkan bantuannya bukan saja mengenai aspek medis. kepercayaan penderita atau latar belakang budaya dapat menyebabkan penderita mengambil keputusan yang salah ( antara lain menolak tramfusi / tindakan bedah yagn live saving). (Brocklehurst and Allen 1987. misalnya gangguan komunikasi.• realitas klinik adanya gangguan proses pengambilan keputusan (misalnya pada keadaan depresi berat. dokter dihadapkan pada keadaan yang sulit. Kane et al. 1996. karena hal yang terkhir ini sering tidak praktis. 1994) Dalam hal menghargai hak otonomi penderita. maka keputusan bisa dialihkan kepada wakil hukum atau walimkeluarga (istri/suami/anak atau pengacara). waktu lama. salah pengertian. dikenal apa yang disebut sebagai arahan keinginan penderita. ARAHAN KEINGINAN PENDERITA (ADVANCE DIRECTIVES) (Reuben et al. 1994). dinbanding keadaan de-jure oleh pengacara. dan sering melelahkan baik secara fisik maupun emosional. Dalam hal ini. Yang penting adalah bahwa dokter mau mendengar semua keluhan atau alas an penderita dan kalau mungkin memperbaiki keputusan penderita tersebut denagn pemberian edukasi. tidak sadar atau dementia). yaitu ucapan atau keingginan penderita yang . Dalam kenyatannya pengambila keputusan ini sering dilakukan berdasarkan keadaan de-facto yaitu oleh suami/istri/anggota kelurga. Bila gangguan tersebut demikian berat. harta benda dll) maka sebaiknya terdapat suatu badan pemerintah yang melindungi kepentingan penderita yang disebut badan perlindungan hokum (guardianship board). Dalam istilah asing keadaan ini disebut sebagai surrogate decission maker. tetapi mengenai semua aspek kehidupan (hokum. Oleh Karen suatu hal. Kane et al. sedangakan keputusan harus segera diambil. Seringkali perlu diambil tindakan “kompromi” antara apa yang baik menurut pertimbangan dokter dan apa yang diinginkan oleh penderita. dimana atas otonomi penderita tetap harus dihargai.

. penghentian peralatan penpanjangan hidup (ventilator dsb) harus diberi pertimbangan yang sama dengan pertimbangan apakah alat tersebut perlu dipasang atau tidak. yaitu suatu pernyataan dari penderita saat masih kapabel secara fungsional didepan seorang petugas hukum (pengacara/notaries). PEMBERIAN PERALATAN PERPANJANGN HIDUP (Life Sustaining Device) Salah satu aspek etika yang penting dan tetpa controversial dalam pelayanan geriatric adalah penggunaan perpanjangan hidup. Bahkan apabila arahan tersebut tidak dicatat/direkam. tetap mempunyai kekuatan hukum. Dikatakan sebagai “kekejaman fisiologik” bila terapi/tindakan yang diberikan tidaka akan memberikan perbaikan (plausible effect) sama sekali pada kesehatan penderita. menghentikan atau melepas segala tindakan pemberian alat Bantu perpanjangan hidup. Pada usia lanjut apalagi kalau penyakitnya sudah meluas (advanced) pemberian peralatan tersebut seringkali diperdebatkan justru merupakan tindakan yang “kejam” (futile treatment). “kekejaman kuantitatif” bila tindakan atau terapi tampaknya tidak ada gunanya. Testament kematian ini bisa memberi kekuatan hokum atas tindakan dokter unruk memberikan. Walaupun sering menimbulakan tanggapan emosional dari keluarga. “Kekejaman kualitatif” bila tindakan atau terapi perpanjangn hidup tidak menunjukan perbaiakan atau justru mengurangi kualitas hidup penderita.bilan keputusan pada saat kapasitas fungsional penderita terganggu atau menurun. karena sering diharapkan hidup penderita masihj akan berlangsung lama bila jiwanya bisa ditolong. antara lain ventilator dan upaya perpanjangan hidup yang lai (resusitasi kardio-pulmoner dll). Arahan keinginan yang diucapkan ini sebaiknya dicatat/direkam untuk kemudian digunakan sebagai pedoman bilamana diperlukan untuk pengam. Pada penderita dewasa muda hal ini sering klai tidak menjadi masalah. Yang lebih kuat dari arahan keinginan pendeita adalah apa yang disebut sebagai testament kematian (living will).diucapkan pada saat penderita masih dalam keadaan kapasitas fungsional yagn baik. asalkan terdapat saksi-saksi yang cukup pada saat arahan tersebut diucapkan.

Akan tetapi pada penderita yang masih sadar penuh. beberapa hal perlu ditimbangkan : • • Apakah penderita perlu diberitahu Kalau jelas-jelas semua tindakan medis/operatif tidak bisa dikerjakan. nafas agonal dan keadaan yang jelas ”tidak memberi harapan”. Oleh karena itulah perawatan hospis atau erawatan bagi penderita terminal atau menuju kematian merupakan bagian yang penting dari pelayanan geriatri. Bagi penderita yang keadaannya tidak sadar/koma dalam. 1994. Pearlman. akan tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa sebagaian besar merupakan penderita berusia lanjut. 1996. 1990) Penderita yang secara medik di dignosis dalam keadaa terminal tidak terbatas hanya pada penderita lanjut usia. Pada penderita ini (misalnya dengan diagnosis karsinoma metastasis lanjut). semua fungsi organ sudah jelas tidak bisa membaik dengan berbagai pengobatan. masalhnya mungkin tidak begitu sulit. Ruben et al. Kane et al. persoalan etika dan hukum menjadi lebih rumit.Pemasangan alat ini tidak dengan sendirintya menghalangi untuk suatu saat menghentikannya bila dianggap tidak ada gunannya lagi. masih mobilitas dengana berbagai fungsi organ masih cukup baik. apakah ada hal lain yang perlu dilakukan. PERUMATAN PENDERITA TERMINAL DAN HOSPIS (Shaw. Dokter harus menjelaskan hal ini kepada keluarga penderita dan memberi pengertian bahwa evaluasi menunjukkan pemberian peralatan tersebut perlu dihentikan. 1984. atau apakah etis kalau dokter tetap memaksakan pemberian sotostatika atau tindakan lain ? Hal-ha seperti diatas merupakan masalah yang kemudian menimbulkan upaya hospis menjadi penting .

Dari prinsip otonomi seperti dijelaskan diatas jelas bahwa penderita harus dibertahu keadaan yang sebenarnya. Juga telah ditentukan ratio tempat tidur per lanjut usia dan continuing care. . Social Service block Plan (Title XX) dan Supplemental Security Income (Title XVI). Medicare (Title XIX. The Home and Community Care Program (1985). Medicaid (Title VII). Section 47 (1948) dan telah ditetapkan standardisasi pelaytanan di rumah sakit serta di masyarakat. 1965). Di Amerika Serikat di undangkan Social Security Act yang meliputi older American Act (Title III). Charter for Resident’s Right (1992). Outcome Standards of Residential Care (1992). Singapore Action Group of Elders (SAGE) dan The Elders’ Village. Omnibus Budget Reconcilliation Act (OBRA. The Continuun of Long-term Care (1987) dan Program of All Care of the Elderly (PACE. ASPEK HUKUM DAN ETIKA Poduk hukum tentang Lanjut Usia dan penerapannya disuatu negara merupakan gambaran sampai berapa jauh perhatian negara terhadap para Lanjut Usianya. telah diundangkan Aged Person Home Act (1954). di negara berkembang perhatian terhadap Lanjut Usia belum begitu besar. 1987). Community Option Program (1994). Selanjutnya diterbitkan Tax Equity and Fiscal Responsibility Act (1982). Walaupun di Indonesia. Di Australia. Bureau for the Aged (1986). 1990). misalnya. Di Inggris di undangkan National Assistence Act. Bila dibandingkan dengan keadaan di negara maju. dan Aged Care Reform Strategy (1996). Baru sejak tahun 1965 di indonesia diletakkan landasan hukum. yaitu Undang-Undang nomor 4 tahun 1965 tentang Bantuan bagi Orang Jompo. Home Nursing Subsidy Act (1956). Di Singapura dibentuk Advisory Council on the Aged. seringkali atas pertimbangan keluarga hal ini sering tidak dilaksanakan.

Peraturan Pemerintah Nomor 27 ahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera.] 10. 5. beberapa di antaranya adalah : 1. . 3. Undang-undang Nomor 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Undang-undang Nomor 2 tahun 1982 tentang Usaha Perasuransian. 13. 4. Undang-undang Nomor 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan nasional. Undang-undang Nomor 14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja. 7. 8. 11. Undang-undang Nomor 3 tahun 1982 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Undang-undang Nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. 2.LANDASAN HUKUM DI INDONESIA Berbagai nproduk hokum dan perundang-undangan yang langsung mengenai Lanjut Usia atau yang tidak langsung terkai dengan kesejahteraan Lanjut Usia telah diterbitkan sejak 1965. Undang-undang nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian bantuan bagi Orang Jompo (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1965 nomor 32 dan tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 2747). Undang-undang Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. 6. Undang-undang Nomor 23 tentang Kesehatan. 9. Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang PErkembangan Kependudukan dan Pembangunan keluarga Sejahtera.

Petunjuk Pelaksanaan serta Ptunjuk Teknisnya. Begitu pula. Ketentuan pidana dan sanksi administrasi. kewajiban. Upaya pemberdayaan. i. Ketentuan peralihan. bila ditinjau dari aspek hokum dan etika. sehingga penerapannya di lapangan sering menimbulkan permasalahan. Uaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia potensial dan tidak potensial. sebagai pengganti undang-Undang nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian bantuan bagi Orang jompo. Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia (Tambahan lembaran Negara nomor 3796). h. Hak. e. b. belum semua produk hokum dan perundang-undangan mempunyai Peraturan Pelakisanaan. belum diterbirkan Peraturan Daerah. Undang-undang terakhir yang diterbitkan yaitu Undang-undang . Pelayanan terhadap Lanjut Usia. Bantuan sosial.14. tugas dan tanggung jawab pemerintah. dapat disebabkan ole factor. Perlindungan sosial. Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 ini berisikan antara lain : a. g. PERMASALAHAN Permasalahan yang masih terdapat pada Lanjut Usia. masyarakat dan kelembagaan. d. Koordinasi. f. c. seperti berikut : 1. Produk Hukum Walaupun telah diterbitkan dalam jumlah banyak.

baru mengatur kesejahteraan sosial Lanjut Usia. Tenaga ahli gerontology b. sehingga perlu dipertimbangkan diterbitkannya undang-undang lainnya yang dapat mengatasi permasalahan Lanjut Usia secara spesifik. neurogeriatri. e. konselor. Tebaga sosisal : sosiolog. perawat terlatih. Dengan demikian. psikogeriatri. antara lain : a. pelayanan tingkat dasar. fisioterapis. sehingga persoalanya menjadi berat pada saat diberikan pelayanan. Keterbatasan sumberdaya Manusia Terbatasntya kuantitas dan kualitas tenaga yang dapat memberi pelayanan serta perawatan kepada Lanjut Usia secara bermutu dan berkelanjutan mengakibatkan keterlambatan dalam mengetahui tanda-tanda dini adanya suatu permasalahan hukum dan etika yang sedang terjadi. jaksa penunutut umum. c. . lembaga sosial masyarakat dan ortganisasi sosial dan kemsyarakatan lainnya yang menaruh minat pada permasalahan ini terbatas jumlahnya. konselor. Demikian pula. hakim terlatih. sering menimbulkanpermasalahan bagi para Lanjut Usia. pelayanan rujuikan tingkat I dan tingkat II. Tenaga kesehatan : dokter spesalis geriatric. Ahli psikolog : psikolog terlatih dalam gerontology. Ahli hukum: sarjana hokum terlatih dalam gerontology. d. dokter spesialis dan dokter umum terlatih. pengacara terlatih. Tenaga yang dimaksud berasal dari berbagai disiplin ilmu. 2. Keterbatasan prasarana Prasarana pelayanan terhadap Lanjut Usia yang terbatas di tingkat masyarakat.Nomor 13 tahun 1998. Hal ini mengakibatkan para Lanjut Usia tak dapat diberi pelayanan sedini mungkin. 3. upaya mengatasinya secara benar oleh tenaga yang berkompeten sering dilakukan terlambat dan permasalahan sudah berlarut. speech therapist. petugas sosial masyarakat. petuga syang mengorganisasi kegiatan (case managers).

pribadi. Tindak kejahatan (crime) c. Pelecehan dan ditentarkan (abuse and neglect) Pelecehan dan ditelantarkan merupakan keadaan atau tindakan yang menempatkan seseorang dalam situasi kacau. Persetujuan tertulis (informed consent) e. pengurus lembaga ketahanan masyarakat desa. berbagai isu hokum dan etika yang sering terjadi pada hubungan Lanjut Usia dengan keluarganya adalah : a. Pelaku pelecehan dapat dari pasangan hidup. Pelecehan atau ditelantarkan dapat berlangsung lama ata8u dapat terjadi reaksi akut. mahasiswa. Penyebab pelecehan menurut International Institute on Agening (INIA. ibu rumah tangga.f. pelayanan kesehatan. Kualitas kehidupan dan isu etika (quality of life and related ethical issues) a. Rukun Tetangga/RT terlatih. Rukun Warga/RW. Hubungan Lanjut Usia dengan Keluarga Menurut Mary Ann Christ. anak lelaki atau perempuan bila pasangan hidupnya telah meninggal dunia atau orang lain. bila suasana sudah tidak tertanggungkan lagi. (1993). Pelayanan perlindungan (protective services) d. et al. kepemilikan maupun pendapatannya. Pelecehan dan ditentarkan (abuse and neglect) b. pramuka. 1996) adalah :  berat. baik mencakup status kesehatan. Beban orang yang merawat Lanjut usia tersebut sudah terlalu . pemuda. United Ntions-Malta. hak memutuskan. Tenaga relawan : kelompok masyarakat terlatih seperti sarjana. 4.

Penyalahgunaan narkotika. memperlihatkan tanda bahwa miliknya akan diambil orang lain dan adanya kekurangan biaya transpor. Faktor lainnya yang terdapat di keluarga seperti : Perlakuan salah terhadap Lanjut Usia. kepribadian dan perilaku Lanjut usia atau    • • Lanjut Usia yang diasingkan oleh keluarganya. • • Konflik lama di antara Lanjut Usia dengan keluarganya. Ketidaksiapan dari orang yang akan merawat Lanjut Usia. alkohol dan zat adiktif lainnya. Kelainan keluarganya. • • Tidak adannya dukungan masyarakat. malnutrisi dan adanya bukti melakukan pengobatan yang tidak benar. patah tulang yang tidak jelas sebabnya. Keluarga mengalami kehilangan pekerjaan/pemutusan hubungan kerja. menyalahkan diri. . • Adanya riwayat kekerasan dalam keluarga. higiena jelek. Gejala yanag terlihat pada pelecehan atau ditelantarkan antara lain :  Gejala fisik berupa memar. biaya berobat atau biaya memperbaikik rumahnya. menolak bila akan disentuh orang yang melecehkan.  Kelainan perilaku berupa rasa ketakutan yang berlebihan menjadi penurut atau tergantung. Perilaku psikopat dari Lanjut Usia dan atau keluarganya.

serta cara cara mengungkapkan rasa salah atau penyesalan yang tidak sesuai. Pengusiran. • kata.  tindak pelecehan: Terhadap keterlantaran aktif atau Mengusahakan bantuan Mendapatkan orang yang Teryhadap keterlantaran pasif di[ercaya untuk melakukan tindakan hukum atau melakukan transaksi . • Pelecehan seksual. Pelecehan di bidang materi atau Pelecehan psikis atau melalui tutur Pelecehan fisik atau menelantarkan Upaya pencegahan terhadap terjadinya kelantaran pasif (passive neglect) dan keterlantaran aktif (active neglect) pada lanjut Usia dapat dekelompokan sebagai berikut :  atau tak disengaja: • keuangan. • hukum dari seorang pengacara. Pelanggaran hak. mengatasi suatu Adanya persoalan gejala secara psikis tidak seperti benar stres. • • • keuangan. Jenis pelecehan dan ditelantarkan adalah : • fisik. baik dari Lanjut Usia itu sendiri maupun orang yang melecehkan.

 Mengajukan tuntutan hukum kepada orang yagn melecehakan Lanjut Usia tersebut. .• terisolir. Tindak intervensi bila telah terjadi tindak pelecehan terhadap Lanjut Usia adalah sebagai berikut :  korban pelecehan. • Orang yang merawat lanjut Usia menyadari keterbatasannya tidak ragu-ragu mencari pertolongan atau melimpahkan tanggung jawaabnya kepada fasilitas yang lebih mampu. • Masyarakat mengemban sistem pengamatan terhadap tindak pelecehan kepada Lanjut Usia (neighbourhood watch). cara melakukan intervensi dan melakukan rujuakn kepada fasilitas yang lebih mampu. pengenalan tanda-tanda terjadinya tidak pelecehan. maupiun keadaan keuangan Lanjut Usia tersebut.  melaksanakan tindakan pelayanan tertentu. • Melaksanakan program pelatihan tentang perawatan Lanjut Usia jompo di rumah.  Lanjut Usia di rumah dan panti Memberikan dukungan kepada Tresna Wredha berhak menolak tindakan intervensi tertentu.  Memberikan pertolongan dan Melatih keluarga untuk pengobatan kepada orang yang melecehakan Lanjut Usia tersebut. pemberian bantuan kepada Lanjut Usia. manakala mereka tidak sanggup lagi merawatnya. emosi. • Mengusahakan agar Lanjut Usia tidak Anggota keluarga tetap dekat dan memperhatikan Lanjut Usia selalu mendapatkan informasi baik tentang keadaan fisi.

kesepian. dll. Pelayanan perlindungan (protective services) Pelayanan perlindungan adalah pelayanan yang dibeikan kepada para Lanjut Usia yang tidak mempu melindungi dirinya terhadap kerugian yang terjadi akibat mereka tidak dapat merawat diri mereka sendiri atau dalam melakukan kiegiatan sehari-hari.  Penipuan dalam pengobatan penyakit. merasa terisolasi dan tidak berdaya. pemborong. . Faktor yang mempengaruhi tindak kejahatan berupa factor fisik. Hanya akibat yang ditimbulkan pada Lanjut Usia lebih parah.  Penjambretan. Jenis tindak kejahatan adalah:  Penodongan. c. Kerugian yang diderita oleh mereka tidak melebihi penderitaan yang dialami oleh kaum muda. keuangan dan kedaan lingkungan di sekitar Lanjut Usia tersebut. berupa rasa ketakutan. sales.  Pencurian dan perampokan.b. Tindak kejahatan (crime) Lanjut usia pada umumnya lebih takut terhadap tindak kejahatan bila dibandingakan dengan ketakutan terhadap penyalit dan pendapatan yang berkurang.  Penipuan oleh orang tak dapat dipercaya.  Perkosaan.

Joint tenancy. Bantuan keuangan/sembako. d. Pelayanan medik: pelayanan perorangan. Pelayanan hokum:bantuan pengacara (power of attorney).Pelayanan perlindungan bertujuan memberikan perlindungan kepada para Lanjut Usia. sosial atau hukum. Jenis pelayanan yang diberikan dapat berupa pelayanan medik. Pelayanan yang diberikan akan menimbulkan keseimbangan di antara kebebasan dan keamanan. Intervivos trust. . agar kerugian yang terjadi ditekan seminimal mungkin. Perlindungan hokum Perlindungan hokum uang dapat diberikan kepada Lanjut Usia dapat berupa:  Bantuan pengacara (power of attorney). Pelayanan gawat darurat. Penunjukan (conservatorship). Perlindungan (informal guardianship). Pelayanan berupadukungan guna meningkatkan ADL (activities of daily life). Bantuan perumahan. Pelayanan Sosial: dukungan sosial.

panti atau suatu perusahaan. Persetujuan tertulis (Informed consent).  Conservatorship. Joint tenancy merupakan suatu produk hokum yang memungkinkan Lanjut Usia lain atau seorang pengacara untuk mengurus urusan seorang Lanjut Usia. Pada keadaan ini seorang lanjut usia menunjuk orang lain sebagai pewaris. e.Lanjut Usia harus cukup kompeten untuk mengambil inisitif dalam menyerahkan urusannya kepada orang lain.  Informal guardianship. akan tetapi meruakan suatu kesepakatan bahwa pelindung bagi lanjut usia tersebut adalah tetangganya. .  Intervivos trust. Pengaturan jenis ini berdasakan suatu hokum. Permohonan suatu Conservatorship biasanya diajukan oleh keluarga atau instansi. seorang lanjut usia tak lagi dapat bersuara dan megurus keuangannya serta menentukan tempat tinggalnya atau mengambil suatu keputusan penting lainnya. pada umumnya bila lanjut usia tersebut berusia lebih dari 75 tahun.  Joint Tenancy. Perorangan atau sebuah badan ditunjuk oleh pengadilan untuk melindungi ha milik seorang lanjut usia yang telah dianggap ta sanggup atau inkompeten. Dengan adanya Conservatorship ini.

Kualitas kehidupan dan isu etika (quality of life and related ethical issue). MRI.     keputusan. Berbagai factor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang yang mempengaruhi kualitas kehidupan lanjuy usia adalah:  Kemajuan ilmu kedoktean di bidang diagnostic seperti CT- scan dan katerisasi jantung. persetujuan diberikan oleh pelindung atau seorang walui. Bila seoang lanjut usia inkompeten.Persetujuan tertulis merupakan suatu persetujuan yang diberikan sebelum prosedur atau pengobatan diberikan kepada seorang lanjut usia atau penghuni panti. misalnya : . Isu etika muncul bila terjadi suatu pertentangan antara pendapat ilmiah atau ilmu kedokteran dengan pandangan etika atau perikemanusiaan. Manfaat pengobatan yang masih diragukan. dsb. Syarat yang diperlukan bila seorang lanjut usia memberikan persetujuan ialah ia masih kompeten dan telah mendapatkan informasi tentang manfaat dan risiko dari suatu prosedur atau pengobatan tertentu yan g diberikan kepadanya. Bertambahnya risiko pengobatan. f. Biaya pengobatan yang meningkat. Database yang diperlukan sebagai dasar pengambilan Kemajuan dibidang pengobatan seperti transplatasi organ.  raidasi.

  Melakukan tindakan yang biayanya mahal.    Prognosa penyakit yang diderita. Kualitas kehidupan dari lanjut usia. Perawatan yang sedang diberikan. tetapi belum merupakan hal yang penting di Indonesia. mengingat hal ini bertentangan denagn hokum dan perundang-undangan serta kode etik kedokteran di Indonesia. Untukm mengawali atau melanjutkan pengobatan terhadap lanjut usia yang sakit berat. Euthanasia. Di luar negeri keputusan yang diambil berupa :   usia tersebut. Keinginan lanjut usia dan keluarganya. Mempertahankan atau melepaskan infuse atau tube Isu euthanasia merupakan isu yang hangat dipertentangan di luar negeri. Derajat penderitaan dan derajat gangguan kognitif lanjut Jenis euthanasia yang diberikan adalah active euthanasia (orang luar mempercepat lanjut usia untuk mengakhiri hidupnya) dan passive euthanasia (orang lain atau petugas kesehatan menolak memberikan pertolongan ytertentu kepada penderita terminal) RANGKUMAN .  feeding.

Tony. • Jakarta. Pandaun Darmojo. Stiabudi. Hardiwinoto. . antara lain belum adanya undang-undang tentang lanjut usia (Senior Citizen’s Act). PT Gramedia Pustaka Utama.com (online) diakses pada tanggal SKM. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tetang kesejahteran lanjut usia merupaan langkah awal guna m3ningkatkan perhatian pemerintah dan masyarakat kepada lanjut usia. tunjangan pelayanan dan peraawatan terhadap lanjut usai (Medicare). hukum perundang-undangan terhadap lanjut usia di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan. 2005. elayanan berkelanjutan bagi lanjut usai 9Continuum of Care). hak penghuni panti (Charter of Resident’s Right) dan pelayanan lanjut usia di masyarakat. Balai Penerbit FKUI. Keadaaan ini menimbulkan berbagai permasalahn. dan Martono. Gerontologi. 2000. Tinjauan Dari Berbagai Aspek. www. Edisi 2. • 07 Maret 2013. DAFTAR PUSTAKA • Jakarta.google.Dibandungkan dengan keadaan negara maju. Hadi. Boedhi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->