P. 1
WISNU

WISNU

|Views: 96|Likes:
Published by anatahara

More info:

Published by: anatahara on Mar 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/01/2013

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

A . Latar Belakang

Pendidikan Anak Usia Dini adalah proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun. Secara menyeluruh yang mencangkup aspek fisik dan nonfisik. Dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani, motorik, akal pikiran, sosial emosional yang tepat. Agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Masa kanak-kanak merupakan masa paling penting karena merupakan pembentukan pondasi kepribadian yang menentukan pengalaman anak selanjutnya.

Mengembangkan kreativitan anak memerlukan peran penting bagi pendidik dan anak kreatif memuaskan rasa keingintahuannya melalui berbagai cara, seperti bereksperimen, bereksplorasi, dan banyak mengajukan pertanyanan pada orang lain. Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab 1 ayat 14, menyatakan Pendidikan Anak Usia Dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lebih lanjut (Danar Santi, 2009 : 7). Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan karena itu usia dini dikatakan sebagai golden age (usia emas) yaitu usia yang berharga dibanding usia selanjutnya. Usia tersebut

2

merupakan fase kehidupan yang unik dengan karakteristik khas, baik secara fisik, psikis, sosial dan moral. Pendidikan di Kelompok Bermain (PAUD) merupakan pendidikan yang menyenangkan. Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan yang berguna untuk kelangsungan hidup selanjutnya. Dengan memperoleh pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan, ia dapat memberdayakan dirinya sendiri yang pada akhirnya mampu hidup secara lebih manusiawi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses dalam Anak-anak usia dini yang tergolong usia pra-sekolah adalah mereka yang memiliki usia 3-6 tahun (belum waktunya sekolah tetapi sedang dalam masa peka untuk belajar). Elizabeth B. Hurlock (1978), mengatakan, “Bahwa kurun usia prasekolah disebut sebagai masa keemasan (the golden age)”. Pada masa keemasan tersebut, anak mulai sensitif untuk menerima berbagai usaha pengembangan seluruh potensi dirinya. Perkembangan kecerdasan anak pada usia ini hampir mencapai 80% dari perkembangan kecerdasan secara keseluruhan (sampai dewasa). Di usia ini anak mengalami banyak perubahan fisik maupun mental dengan berbagai karakteristik, antara lain: (1) berkembangnya konsep diri, (2) munculnya egosentris, (3) rasa ingin tahu yang tinggi, (4) imajinasi yang tinggi, (5) munculnya kontrol internal, (6) belajar dari lingkungannya, (7) berkembangnya cara berpikir.

Jika potensi seorang anak tidak dikembangkan sejak dini, maka masa emas pengembangan potensi akan terlewati begitu saja, meskipun dapat dikembangkan pada tahun-tahun sesudahnya. Namun hasil yang dicapai tidak akan seoptimal apabila dikembangkan pada masa emasnya. Potensi seni anak harus dikembangkan sejak dini dengan membekali diri anak dengan wawasan

3

tentang seni. Tanpa bekal yang cukup, potensi anak tidak dapat berkembang secara optimal. Kegiatan seni merupakan tempat untuk menumbuh kembangkan kreativitas, imajinasi, inisiatif dan rasa keindahan anak. Suasana yang menyenangkan dan suasana gembira akan membuat anak dapat berkreasi serta mengekspresikan diri sebebas-bebasnya. Pelatihan

ketrampilan, pengarahan dan kesempatan harus diberikan kepada anak agar ia dapat mencapai tahapan perkembangannya. Setiap anak merupakan individu yang unik, dan apabila diberi kesempatan serta fasilitas yang memadai untuk berekspresi, maka dia akan menjelajahi berbagai peralatan dan bahan yang disediakan, melakukan percobaan-percobaan yang menakjubkan dan menguji ide-ide kreatifnya serta membuat berbagai penemuan yang berguna sebagai dasar pengetahuan selanjutnya. Program pendidikan seni dapat mengarahkan anak pada kegiatan seni yang akan menciptakan pengalaman-pengalaman berharga bagi anak. Pengalaman-pengalaman ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan sikap positif yang bermanfaat bagi perkembangan anak secara optimal. Ruang, bahan-bahan dan peralatan yang digunakan anak hendaknya dapat dipenuhi dalam melakukan kegiatan seni agar anak dapat dengan bebas berkreasi dan berinisiatif membuat suatu karya seni. Kegiatan seni yang dapat dilakukan oleh anak-anak usia dini, misalnya; menggambar, melukis, mencetak dan menggunting.

4

Bagi

anak

usia

dini,

kegiatan

menggambar

dengan

media

fingerpainting merupakan kegiatan bermain dan sekaligus mengembangkan kemampuan dalam meningkatkan seni, kreasi, serta ekspresinya. Bermain dengn media fingerpainting adalah kegiatan naluri bagi setiap anak usia dini yang bermanfaat dalam proses mematangkan emosionalnya, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan di setiap fase perkembangannya. Menurut Harjanto (1997), penggunaan media sebagai alat bantu komunikasi dalam pembelajaran harus memenuhi kriteria media pendidikan, dan tidak sekedar menampilkan program pengajaran di dalam kelas, namun juga harus berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Dengan adanya media pembelajaran yang memadai, maka anak-anak yang mengikuti proses pendidikan dapat terbantu dalam memahami pelajaran yang kurang dimengerti. Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses/dialog mental pada diri anak-anak (Udin S. Winaputra, 2002).

Aktivitas menggambar sambil bermain merupakan proses belajar, berpikir, pelatihan, dan pemahaman serta pengamatan terhadap

lingkungannya yang kemudian hasil pengamatannya diungkapkan dalam bentuk karya seni. Agar kegiatan bermain memiliki makna dalam hubungannya dengan seni menggambar dengan media fingerpainting, maka anak-anak perlu mendapatkan kegiatan pelatihan menggambar fingerpainting sejak dini mungkin. Dengan memperoleh pelatihan menggambar sejak dini tersebut, maka anak-anak diharapkan juga dapat melatih kemampuan kognitif, psikomotor, serta afektifnya.

5

Guru tidak menyajikan proses secara berurutan dan mudah diterima oleh anak bahkan tidak jarang, seorang guru kurang menghargai hasil kreativitas anak dalam menggambar. Pendek kata, guru hanya memperhatikan hasil akhir dan bukan proses pembuatannya. Dengan mengetahui proses pembuatan secara berurutan, anak-anak akan semakin terlatih dalam mengkoordinasikan antara indera penglihat dan indera peraba (tangan), dengan demikian anak-anak semakin mampu mengembangkan serta melatih motorik halus dan menambah pengetahuan tentang seni. PAUD Kusuma Sawo adalah salah satu bagian dari pendidikan pra sekolah yang bertujuan untuk membantu mengembangkan seluruh aspek kepribadian anak didiknya. Salah satu aspek yang hendak dikembangkan adalah dalam hal pembelajaran kemampuan menggambar dengan media finger painting. Pembelajaran kemampuan menggambar fingerpainting mendapat perhatian khusus karena kemampuan anak-anak dalam

melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut masih belum optimal, indikatornya terlihat dari beberapa fakta yang ada, antara lain: (1) perolehan hasil nilai kegiatan seni menggambar rata-rata masih rendah, (2) pada saat pembelajaran sentra seni menggambar, dari 20 anak yang mampu melaksanakan tugas sesuai dengan perintah dari guru hanya 2-3 anak saja atau sekitar 12,5% - 18,75%, (3) sekitar 75% anak lebih senang dengan kegiatan mewarnai, dan bermain. Menggambar dengan media fingerpainting anak dapat lebih

berekspresi dan menuangkan perasaan sesuai dengan imajinasinya dengan cara membuat coretan dengan jari-jarinya dengan menggunakan warna (bubur

6

warna) diatas bidang kertas secara bebas, sedangkan kalau anak mewarnai anak hanya bersikap pasif dan hanya tahu gambar yang sudah jadi tanpa dapat berekspresi dan menuangkan imajinasinya.

Kurangnya kemampuan motorik halus anak dalam mengkordinasikan warna dan jari tangan pada saat kegiatan menggambar, selain itu juga kebanyakan anak dalam memegang pensil warna dan krayon hampir 60% masih belum sempurna, sehingga dalam menggerakkan jari tangannya saat menggambar anak merasa kurang puas dengan hasil karyanya. Dan

disamping itu juga materi yang disampaikan pada anak kurang bervariasi dan jarang sekali diberikan sehingga membuat anak menjadi bosan, bahan dan alat yang digunakan hanya krayon dan pensil warna saja. Selain hal tersebut selama ini kegiatan pembelajaran guru lebih banyak pada penggunaan kegiatan pemberian tugas yang cenderung pada lembar kerja. Dari pengamatan saya anak-anak lebih antusias serta termotivasi untuk melakukan kegiatan ini. Hasil dari kegiatan ini sangat baik dilihat dari keceriaan anak-anak dan hasil dari menggambar fingerpainting anak-anak yang sangat bervariatif. Berdasarkan beberapa fakta tersebut di atas , peneliti mengakat permasalahan tersebut dengan judul “ PENINGKATAN KEMAMPUAN

MENGGAMBAR MENGGUNAKAN MEDIA FINGERPAINTING DAN METODE EXPLICIT INTRUKTION PADA PAUD KUSUMA SAWO – KARANGJATI NGAWI TAHUN PELAJARAN 2012 - 2013“

7

A. Rumusan Masalah Bagaimana cara meningkatkan kemampuan menggambar menggunakan media fingerpainting dan metode explixit intruktion ? Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Meningkatkan kemampuan menggambar menggunakan media

fingerpainting dan metode explicit intruktion pada PAUD Kusuma Sawo Karangjati Tahun Pelajaran 2012 - 2013 2. Tujuan Khusus a. Meningkatkan kemampuan menggambar menggunakan media fingerpainting dan metode expliscit Intruktion pada siswa PAUD Kusuma Sawo Karangjati Tahun Pelajaran 2012 - 2013. b. Meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran menggambar menggunakan media finger painting dan metode explicit intruktion pada anak PAUD Kusuma Sawo Karangjati Tahun Pelajaran 2012 - 2013.

B. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Bagi Siswa Meningkatnya ketrampilan menggambar menggunakan media finger painting dan metode explisit intruktion pada siswa PAUD Kusuma Sawo KarangjatiTahun Pelajaran 2012 - 2013.

8

2. Bagi Guru Meningkatnya kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran menggambar menggunakan media fingerpainting dan metode explisit Intruktion PAUD Kusuma Sawo Karangjati Tahun Pelajaran 2012 - 2013. 3. Bagi sekolah Bertambahnya jumlah siswa yang terampil khususnya peningkatan kemampuan menggambar menggunakan media fingerpainting dan metode explisit Intruktion pada PAUD Kusuma Sawo - Karangjati Tahun Pelajaran 2012 - 2013.

9

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Landasasan Teori 1. Kemampuan menggambar Kemampuan merupakan keinginan manusia untuk menciptakan sesuatu. Dalam pendidikan, anak bukan saja belajar mengerti berbagai bidang pengetahuan dan ketrampilan, melainkan belajar bersikap secara lebih profesional untuk menemukan nilai-nilai yang ada di dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaga formal maupun non formal hendaknya memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan setiap anak. Pengembangan kemampuan belajar anak KB (PAUD) bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir agar anak dapat menemukan bermacam-macam kreatifitasnya. Pendidikan non formal untuk

mengembangkan berbagai aspek pengetahuan maupun ketrampilan anak-anak usia dini. Kanak-kanak adalah unik dan berbakat dalam seni. Guru yang

berperanan sebagai pembolehubah perlu kreatif dan mempunyai tahap sensitif yang tinggi dalam menyediakan pengalaman seni untuk kanak-kanak. Disamping itu, guru juga perlu berupaya meletakkan diri mereka dalam diri kanak-kanak bagi memahami keperluan kanak-kanak tersebut dalam memperkembangkan pemahaman kanak-kanak melalui pemikiran dan pengalaman.

10

Mengikut Sukatan Pelajaran Pendidikan Seni Visual KBSR, bidang menggambar adalah satu bidang yang menegaskan perkembangan persepsi dan kemahiran seseorang murid. Bidang ini melihat kemampuan murid

terhadap aspek serta kegiatan mereka dalam membuat gambar dengan menggunakan pelbagai media dan teknik disamping itu, ia menekankan

aspek ruang, struktur, imbangan dan komposisi dalam sesuatu karya. Antara kegiatan yang dijalankan dalam bidang ini ialah lukisan, catan, kolaj, montaj, cetakan, resis, gosokan, stensilan, percikan, gurisan, capan dan mozek . Tehnik menggambar antara lain : 1) Teknik lukisan. Lukisan merupakan hasil kerja seni yang dibuat untuk meluahkan perasaan berbentuk imej dengan menggunakan media kering atau menggunakan warna yang paling sedikit yang dihasilkan diatas sesuatu permukaan rata dengan aplikasi garisan, rupa, bentuk, saiz warna dan jalinan. Penggunaan alat dalam sesebuah lukisan terhad kepada media kering seperti pensel, pensel warna, pastel, arang, pen dan dakwat. Setiap proses melakukan garisan, melorek ton dan menggosok juga dinamakan lukisan dan diaplikasikan melalui garisan, rupa, bentuk, saiz, warna dan jalinan ke atas sesuatu hasil kerja dengan pelbagai teknik yang boleh dihasilkan bergantung kepada kesan jalinan sesuatu permukaan dari aras mudah ke aras sukar 2) Teknik Catan Catan adalah satu proses menyapu warna atau cat ke atas sesuatu permukaan rata yang mewakili gambaran pemikiran atau rekaan tertentu sama ada yang nyata atau abstrak melalui sapuan warna ke atas permukaan rata dengan menggunakan berus. Ianya merupakan satu ciptaan gambar yang berwarna yang diaplikasikan pigmen dari satu media ke atas permukaan seperti media ke atas permukaan seperti kertas, kanvas dan dinding dengan mengaplikasikan warna basah ke atas permukaan 2D dengan teknik menyapu warna basah .Ianya banyak menggunakan warna sebagai bahan pewarna untuk menghasilkan gambar seperti cat poster, cat air, cat minyak, cat tempera, cat gouache dan cat akrilik dengan pelbagai . jenis warna dan caracara mewarna dengan betul. 3) Teknik Kolaj Kolaj bermakna potong, koyak, gunting, gam dan tampal sesuatu bahan ke atas sesuatu permukaan seperti cebisan kertas-kertas, kain atau bahan lain di atas permukaan 2D yang mengandungi sebahagian imej seperti gambar foto atau dari cetakan majalah disusun dan ditindih untuk menjadi

11

satu komposisi. Berbagai jenis bahan dilekat disatu permukaan khas daripada imej yang berlainan dan daripada berbagai media. Ia juga dapat menghasilkan satu komposisi artis daripada imej atau gambar yang berlainan, latarbelakang yang berbeza dan daripada berbagai warna dan corak berjalinan dihasilkan secara „superimpose‟ di antara satu sama lain dengan menggam berbagai elemen supaya menjadi satu gambar bagi sesuatu tajuk atau tema tertentu. 4) Teknik Montaj Montaj itu adalah satu teknik menampal dan melekatkan gambargambar pada suatu permukaan untuk menimbulkan mesej pengajaran, kecintaan, kecuaian, peperangan. Alam sekitar. Menggunakan potongan gambar-gambar yang berkaitan dari mana-mana media cetak untuk menghasilkan satu tajuk atau tema. Ia mengandungi sebahagian daripada imej yang ada seperti dalam gambar foto, majalah, cetakan yang disusun supaya bercantum, bertindih, diubahsuai untuk menghasilkan satu imej dengan menggunakan teknik superimpose dengan menyusun berbagai cebisan gambar dengan cara yang kreatif untuk menghasilkan satu hasil karya montaj yang disusun menjadi satu hasil kerja seni. 5) Teknik Cetakan Cetakan ialah satu proses hasil kerja seni menggunakan dakwat yang dicipta melalui perpindahan dakwat ke atas satu permukaan . Seseorang pelukis biasanya akan menetukan berapa banyak cetakan yang hendak dihasilkan dalam sesuatu edisi. Merupakan satu proses ulangan imej daripada satu permukaan yang disediakan ke atas sesuatu permukaan lain. Proses dimana satu hasil kerja seni dicipta dalam beberapa kuantiti . Imej atau gambar yang dihasilkan dengan menggunakan acuan plat yang dilakukan pada permukaan rata. Proses penerapan blok, plat atau skrin ke atas sesuatu permukaan yang lain. Ianya menggunakan acuan cetakan untk menghasilkan satu atau beberapa siri cetakan. Perpindahan imej yang berdakwat daripada satu permukaan blok kepada permukaan lain seperti kertas atau kain atau bahan lain. 6) Teknik Resis Resis atau dalam perkataan inggeris resis ialah satu aktiviti menggambar yang dihasilkan dari warna basah dan contengan lilin. Ianya satu aktiviti dalam kegiatan menggambar yang menggunakan warna-warna basah dan contengan lilin. Lilin digunakan untuk menutup kawasan permukaan kertas atau kain. Ini menyebabkan permukaan kertas yang diliputi lilin tidak akan menyerap warna dan dalam keadaan warna asal. Resis juga boleh dijalankan dengan cara menggunakan tindihan-tindihan lilin dan menyapu warna dari peringkat warna terang ke peringkat warna gelap. Teknik ini membolehkan murid meneroka dengan lebih jauh lagi tentang alatan dan bahan dalam kegiatan menggambar.

12

7) Teknik Gosokan Gosokan adalah satu proses menggosok dan merekod corak daripada permukaan yang berjalinan. Ia adalah satu psoses penerokaan murid mula menggambar melalui deria sentuh yang terdapat di sekeliling mereka. Gosokan adalah satu cara paling mudah dan terbaik untuk merakamkan berbagai jalinan pada sesuatu permukaan. Apabila salah satu atau kedua-dua objek digerakkan di antara satu sama lain, maka gosokan akan terhasil. Hasil cetakan dibuat dengan menggosok dakwat, pensel, kapur ke atas sekeping kertas yang diletakkan di atas suatu permukaan yang berjalin. Satu representasi yang mengandungi salinan dibuat supaya dapat mengembangkan pemahaman dalam penggunaan jalinan dan ton. 8) Teknik stensilan Bagi teknik ini, rupa bentuk gambar dikeluarkan dari alat stensil dengan sesuatu cara supaya meninggalkan ruang kosong di atas alat stensil tersebut. Apabila bahan warna disapu atas stensil yang diletakkan atas kertas, bahan warna akan melalui ruang yang kosong atau lubang di atas stensil dan diserap oleh kertas. Garis luar pada lubang itu memberi kesan kepada sifat garis luar rupa bentuk yang dihasilkan. 9) Teknik percikan Percikan adalah salah satu teknik hiasan catan dengan mendetik, mengetuk atau menjentik bahagian bulu berus yang akan menghasilkan kesan „a speckled granite- style finish‟ yang akan kelihatan lebih moden daripada kesan warna yang lain. Percikan-percikan halus warna disembur ke serata tempat untuk menghasilkan kesan antik. Mengikut kamus dewan bahasa dan pustaka pula percikan ialah titik-titik air atau warna yang berserak-serak ke sana sini setelah air atau warna itu terhempas ke suatu permukaan. Alatan penting yang digunakan ialah berus dari pelbagai jenis, warna-warna basah dan kertas. Ianya boleh dihasilkan dengan menggunakan berbagai jenis warna dengan kaedah yang berlainan. 10) Teknik Gurisan. Gurisan ini merupakan satu karya yang dihasilkan dengan teknik gurisan dengan menggunakan sesuatu objek atau alat yang tajam untuk mengguris keluar sesuatu bahan yang lembut dari sesuatu permukaan. Permukaan kertas boleh disapu dengan warna krayon secara berlapis-lapis supaya bahan krayon yang tebal melekat di atas kertas. Alat yang keras atau tajam seperti kayu, paku atau plastik boleh digunakan untuk mengguris pada krayon tebal itu supaya menghasilkan gambar. Berbagai jenis alat yang keras dan tajam itu akan memberi berbagai kesan yang berlainan pada garisan yang dihasilkan. 11) Teknik Capan Secara amnya, teknik capan juga boleh digolongkan dibawah kategori cetakan. Teknik capan ialah cara untuk menghasilkan karya dengan menggunakan bahan yang disapukan warna (cat air atau poster) dan dicatkan ke atas sesuatu permukaan. Capan boleh dihasilkan dengan berbagai rupa

13

bentuk dengan menggunakan berbagai jenis bahan. Contohnya adalah seperti capan bahan buangan, capan bahan alam semulajadi ( sayuran, cengkerang). Jalinan berbagai bahan itu akan memberi berbagai kesan jalinan pada hasil capan. 12) Teknik Mozek Mengikut rujukan dari kamus Glosari Seni Lukis, mozek boleh didefinisikan sebagai satu reka bantuk atau gambar yang dibuat daripada serpihan kaca, kayu , marmar atau pecahan tembikar. Mengikut sejarah lama mozek telah diperkenalkan oleh orang Greek. Pada asalnya mereka mencipta mozek untuk tujuan menghias permukaan lantai. Kini teknik mozek luas digunakan dalam pembinaan bangunan dan aktivtiti seni disekolah. Diperingkat sekolah rendah aktiviti mozek dipserkenalkan dalam subjek pendidikan seni. Aktiviti mozek ini sesuai dijalankan secara berkumpulan di dalam kelas dimana berlainan kumpulan menghasilkan tema yang sama tetapi menggunakan teknik yang berlainan.

Bidang ini menekankan perkembangan imaginasi, kreativiti dan ekspresi diri seseorang murid. Bidang menggambar meliputi penerokaan kesan seni serta mengenali pelbagai alat bahan dan kegunaannya. Kegiatan menggambar membolehkan murid mengenali dengan lebih dekat lagi pelbagai kemahiran asas dan teknik dalam proses rekaan. Kesedaran murid terhadap alam sekitar melalui pemerhatiannya menjadi fokus utama bidang menggambar ini. Anak usia dini sering disebut dengan “usia emas” (the golden age) yang hanya datang sekali dan tidak dapat diulangi lagi, yang sangat menentukan untuk pengembangan kualitas manusia. Pada usia 4 tahun, variabilitas kecerdasan sudah mencapai 50%. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Kehidupan pada masa kanak-kanak adalah masa kehidupan yang sangat penting khususnya berkaitan dengan diterimanya stimulasi dan perlakuan dari lingkungan hidupnya. Kehidupan pada masa tersebut merupakan suatu periode sensitif di mana kualitas stimulasi harus diatur sebaikbaiknya, tentunya memerlukan intervensi baik dari guru maupun orang tua. (Keith Osborn, dkk. Dalam Mutiah, 2010:2-3)

14

Pendidikan bagi anak usia dini sangat penting dilakukan, karena dalam pendidikan tersebut merupakan dasar bagi pembentukan kepribadian manusia, sebagai peletak dasar budi pekerti luhur, kepandaian dan ketrampilan. Tujuan secara umum dari pendidikan usia dini sebagaimana disampaikan Depdiknas (2002:4), disebutkan bahwa pendidikan usia dini bertujuan untuk membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, emosional, moral dan agama secara optimal dalam lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis, dan kompetitif.

Berdasarkan tujuan umum tersebut, dapat dirinci bahwa pendidikan usia dini bertujuan sebagai berikut: 1 Mampu mengelola gerakan dan keterampilan tubuh, termasuk gerakan gerakan yang mengontrol motorik halus dan kasar. 2 Memperoleh pengetahuan tentang pemeliharaan tubuh, kesehatan, dan kebugaran tubuh. 3 Mampu memanfaatkan indera penglihatan, dan dapat memvisualisasikan suatu obyek, termasuk mampu menciptakan imajinasi mental internal dan gambar-gambar. 4 Mampu mengembangkan konsep diri dan sikap positif terhadap belajar, kontrol diri, dan rasa memiliki. 5 Mampu mengembangkan keingintahuan tentang dunia, kepercayaan diri sebagai anak didik, kreativitas dan inisiatif pribadi. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan usia dini memiliki tujuan membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, emosional, moral, dan agama secara optimal dalam lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis, dan kompetitif. Dengan memperoleh pendidikan sejak dini, dimungkinkan anak memiliki persiapan mental dan fisik yang cukup untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya.

15

2. Manfaat menggambar Bagi Perkembangan Anak a. Kesehatan yang baik Terutama pada jari-jari tangan, dengan melatih otot jari tangan memegang alat mencetak maka koordinasi jari tangan dengan lengan akan terjadi baik sehingga tercipta gerakan tangan yang lentur dan terkendali b. Kemandirian Semakin sering anak melakukan kegiatan sendiri, maka semakin besar kebahagiaan dan rasa percaya atas dirinya. c. Sosialisasi Dengan kegiatan mencetak anak dapat mengenali lingkungan sekitar. Anak tidak hanya bergulat dengan bahan-bahan cetakan, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan lingkungan yang berada di sekitar dirinya sendiri. d. Hiburan diri Kegiatan menggambar menggunakan fingerpainting memungkinkan anak untuk mengekspresikan kreasinya secara berkesinambungan dalam kegiatan yang dapat menimbulkan kesenangan baginya meskipun tidak ada teman sebaya. e. Konsep diri Pengendalian motorik menimbulkan rasa aman secara fisik, yang akan melahirkan perasaan aman secara psikologis. 3. Media Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa Latin medius, yang secara harafiah berarti tengah; perantara; pengantar (Arsyad, 2011:3). Pendapat lain

16

mengatakan media adalah kata jamak dari medium, yang berarti perantara. (Suwarna, dkk., 2006:127). Pada sistem pembelajaran tradisional, penggunaan media sebagai sumber pengajaran masih terbatas pada informasi yang disampaikan oleh guru, ditambah sedikit dari buku. Sedangkan media lainnya belum mendapat perhatian, sehingga aktivitas belajar siswa sangat kurang berkembang. Siswa hanya mendengarkan apa yang diucapkan guru, kemudian mencatat, dan menghafal. (Suwarna, dkk., 2006:115). Pada awalnya, media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang digunakan berupa visual, yaitu; gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Dalam perkembangan waktu, media bukan lagi dipandang sebagai alat bantu belaka, melainkan sebagai sarana penyalur pesan dari guru kepada siswa. Dalam dunia pendidikan seperti sekarang ini, media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting bagi proses belajar mengajar. Ada dua unsur yang terkandung di dalam media pembelajaran, yaitu (1) pesan atau bahan pembelajaran yang akan disampaikan, atau yang disebut sebagai software (perangkat lunak); dan (2) alat penampil atau hardware (perangkat keras). Dilihat dari jenisnya, media pembelajaran dibagi menjadi; (1) Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, video-cassette, piringan audio. (2) Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media ini ada yang menampilkan gambar diam, seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai), foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media gerak, seperti film bisu, film kartun. (3) Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi jenis auditif dan visual. Media ini dibagi lagi menjadi (a) audiovisual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, cetak suara; dan (b)

17

audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video-cassette. Dilihat dari segi bahan dan pembuatannya, media dapat dibedakan menjadi 2, yaitu (a) Media sederhana, yakni media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, bahkan penggunaannya juga tidak sulit. (b) Media kompleks, yaitu media yang bahan dan alatnya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya pun memerlukan ketrampilan yang memadai (Suwarna, dkk., 2006:118).

Secara umum penggunaan media pembelajaran sangat dianjurkan supaya proses belajar mengajar antara guru dan siswa tidak membosankan, serta dapat menstimulasi minat, kreativitas, dan keaktifan peserta didik. Selain itu pula media pembelajaran bermanfaat, karena dapat memperlancar interaksi antara guru dan siswa, dengan maksud untuk membantu siswa sehingga mereka dapat belajar secara optimal. Secara khusus manfaat media pembelajaran, diantaranya; (a) Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan. Melalui media, penafsiran yang beraneka ragam dapat direduksi, sehingga materi tersampaikan secara seragam, (b) Proses pembelajaran lebih menarik. Media dapat menyampaikan informasi yang dapat didengar (audio) dan dapat dilihat (visual), sehingga dapat mendiskripsikan prinsip, konsep, proses maupun prosedur yang bersifat abstrak dan tidak lengkap menjadi lebih jelas dan lengkap. (c) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, pemilihan media secara tepat dan digunakan dengan benar, akan membantu guru dan siswa dalam komunikasi dua arah secara aktif. Tanpa media, mungkin komunikasi akan cenderung “satu arah”. (d) Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan, penggunaan media tidak hanya membuat proses pembelajaran lebih efektif dan efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi pembelajaran secara utuh serta lebih mendalam, (Suwarna, dkk., 2006:129).

Pada dasarnya media sebagai benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen yang

18

dipergunakan untuk kegiatan pembelajaran yang terdiri dari berbagai jenis komponen dalam lingkungan peserta didik sehingga dapat merangsang untuk belajar (National Educational Assosiation / NEA, yang dikutip oleh Ngadino Y, 1986:3) 4. Penggunaan Media fingerpainting dalam Pembelajaran menggambar Media dalam menggambar terdiri dari bahan dan alat, bahan merupakan material yang akan dirubah wujud atau bentuknya baik dicampur dengan material lain atau berdiri sendiri untuk digunakan membuat karya atau bahan lain, sesuai dengan pola yang telah ditentukan/dirancang. Bahan mempunyai sifat sekali pakai, setelah dipakai tidak dapat digunakan lagi. Contoh bahan dalam menggambar fingerpainting, diantaranya:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 5.

1/2 cangkir tepung kanji 3 sdm gula pasir 1/2 sdt garam halus 2 cangkir air dingin pewarna kue karton tebal celemek koran untuk alas menggambar

Mengambar dengan jari (fingerpainting) Pendekatan Seni sebagai suatu proses pembelajaran pada saat ini, sering dianggap tidak terlalu penting. Banyak sekolah-sekolah yang malah menghilangkan kegiatan kesenian dalam proses pendidikan anak di sekolah. Seni mempunyai nilai penting yang sama dengan pelajaran-pelajaran yang terdapat pada kurikulum pendidikan (Dewey, 1934). Apabila pendekatan seni digunakan secara baik dan benar, dapat menjadi suatu pendekatan yang sangat berguna untuk membantu anak

19

mengatasi masalahnya sehingga dapat memperbaiki perilaku anak. Salah satunya adalah pendekatan seni dengan metode melukis dengan jari atau lebih dikenal dengan fingerpainting. Bermain coret-coret sangat digemari anak-anak apalagi jika

menggunakan jari-jari mereka. Beraneka kreasi coretan indah bisa dibuat dari lukisan dengan jari ini (finger painting). Dan untuk lebih amannya cat untuk finger painting ini bisa dibuat sendiri dirumah, tanpa harus menggunakan cat yang dijual di toko. Tujuan dari Seni mengajar menggunakan teknik melukis dengan jari (finger painting) ini adalah : 1. Mengembangkan kebebasan dalam bereksplorasi 2. 3. 4. Mengembangkan kreativitas Meningkatkankan koordinasi motorik halus Mengembangkan kemandirian dan keyakinan diri

Pelaksanaan teknik mengajar fingerpainting adalah sebagai berikut: 1. Ambil dua sendok makan tepung terigu, kemudian tambahkan sedikit air. Aduklah sampai anda mendapatkan adonan yang lembut seperti pasta 2. Tambahkan beberapa tetes pewarna kue. Taruh adonan ini diatas kertas yang sudah tergerai di atas meja. 3. Lindungi pakaian anak dengan T-Shirt beka atau celemek sebelum melatih anak melukis dengan jari-jarinya. 4. Selanjutnya anak memainkan jari-jarinya di kertas yang berisi adonan itu. Gunakan kata “licin” dan “basah” ketika bercakap -cakap dengan

20

anak. Anjurkan ia untuk memainkan jari-jarinya ke depan, kebelakang, memutar, kesamping kiri dan kanan. Atau membuat cap telapak tangannya di atas kertas, atau bisa juga membuat bunga dan tangkainya dari cetakan telapak tangan mereka dan lengan mereka. Atau Gunakan jari telunjuk untuk membuat bulatan-bulatan di seluruh kertas dan biarkan anak bermain bebas dengan tangannya.

Sebagai penutup di aktivitas ini buatlah anak bangga dengan hasil karyanya dengan memasang hasil karyanya itu. Kalau lukisan itu sudah kering, biarkan anak merasakannya. Katakan pada anak kalau lukisan itu mengering karena air di adonan itu sudah menguap. Gambar yang dihasilkan berbentuk abstrak dan hasil gambar tidak menggambarkan apa yang sedang dipikirkan oleh anak, tetapi pada apa yang dirasakan. Hasil gambar terlihat sangat ekspresif, penuh warna, bidang kertas penuh dengan hasil lumuran cat dan gambar sangat spontan. Dan dari hasil karya anak pengungkapan perasaan anak sangat terlihat, ia sangat relax, tenang dan bersemangat. Dengan hasil ini, kita menemukan bahwa pendekatan finger painting sangat mempengaruhi anak. Ia dapat mengekspresikan emosinya dengan pendekatan media ini.

6. Model Pembelajaran Dalam setiap kegiatan pendidikan, yang menjadi titik sentral pencapaian kegiatan tersebut adalah tercapainya tujuan pendidikan, supaya tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal diperlukan adanya model pembelajaran. Pendidikan yang diselenggarakan bagi anak usia dini sangat

21

membutuhkan model pembelajaran yang menarik, menyenangkan, penuh dinamika dan kreativitas. Dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat, maka tujuan dari pendidikan akan tercapai secara efektif dan efisien. Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. Model Direct Intruction merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Pendekatan mengajar ini sering disebut Model Pengajaran Langsung (Kardi dan Nur,2000a :2). Arends (2001:264) juga mengatakan hal yang sama yaitu :”A teaching model that is aimed at helping student learn basic skills and knowledge that can be taught in a step-by-step fashion. For our purposes here, the model is labeled the direct instruction model”. Apabila guru menggunakan model pengajaran langsung ini, guru mempunyai tanggung jawab untuk mengudentifikasi tujuan pembelajaran dan tanggung jawab yang besar terhadap penstrukturan isi/materi atau keterampilan, menjelaskan kepada siswa, pemodelan/mendemonstrasikan yang dikombinasikan dengan latihan, memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang telah dipelajari serta memberikan umpan balik. Model pengajaran langsung ini dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Hal yang sama dikemukakan oleh Arends (1997:66) bahwa: “The direct instruction model was specifically designed to promote student learning of procedural knowledge and declarative knowledge that is well structured and can be taught in a step-by-step fashion.” Lebih lanjut Arends (2001:265) menyatakan bahwa: ”Direct instruction is a teacher-centered model that has five steps:establishing set, explanation and/or demonstration, guided practice, feedback, and extended practiceA direct instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning environment that businesslike and task-oriented.” Hal yang sama dikemukakan oleh Kardi dan Nur (2000a : 27), bahwa suatu pelajaran dengan model pengajaran langsung berjalan melalui lima fase: (1) penjelasan tentang tujuan dan mempersiapkan siswa, (2) pemahaman/presentasi materi ajar yang akan diajarkan atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu, (3) memberikan latihan terbimbing, (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, (5) memberikan latiham mandiri.

22

Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.

Langkah-langkah: 1.Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. 2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan. 3. Membimbing pelatihan. 4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. 5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan Sintaknya adalah: 1. sajian informasi kompetensi, 2. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural, 3. membimbing pelatihan-penerapan, 4. mengecek pemahaman dan balikan, 5. penyimpulan dan evaluasi, 6. refleksi. 7. Kesimpulan Beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan pada anak usia dini, menurut pendapat Subarkah, antara lain; (a) model demonstrasi, (b) model eksperimen, (c) model picture and picture, (d) mind mapping, (e) examples non exmples, (f) take and give, (g) explicit instruction, (h)

23

pemberian tugas, (i) role playing, (j) cooperative learning, dan masih sebagainya (Subarkah, dalam http://muhamadsb.tekhnologipendidikan,blogspot.com.

Tanggal 8 Februari 2012) Model pembelajaran explicit instruction merupakan model

pembelajaran secara langsung agar sisiwa dapat memahami serta benar-benar mengetahui pengetahuan secara menyeluruh dan aktiv dalam suatu pembelajaran. Jadi model pembelajaran ini sangat cocok diterapakan dikelas dalam materi tertentu yang bersifat dalil pengetahuan agar proses berpikir siswa dapat mempunyai keterampilan procedural. Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan: 1. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya. 2. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran. Kekurangan: 1. Memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama. 2. Untuk mata pelajaran tertentu.
Sumber: : http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/model-pembelajaran-

explicit-instruction.html#ixzz2JeWCHp1T Dari beberapa contoh model pembelajaran tersebut, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, misalnya; model eksperimen. Kelebihan dari model ini adalah; (a) membuat anak lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaan, (b) dapat membina anak untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, (c) hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran manusia. Sedangkan kelemahan dari model ini antara lain; (a) model ini lebih sesuai untuk bidang sains dan tekhnologi, (b) model ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak

24

selalu mudah diperoleh dan mahal, (c) menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan, (d) setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan (Bahri dan Zain, 2010:84-85).

B. Hipotesis Tindakan Yang dimaksud dengan hipotesis adalah jawaban sementara terhadap persoalan yang diajukan oleh penelitian tindakan kelas. Jawaban ini masih bersifat teoritik, dan dianggap benar sebelum terbukti salah melalui pembuktian dengan menggunakan data sebenarnya (data empirik) yang didapatkan di kelas. Secara teoritis, jika proses pembelajaran kemampuan menggambar dengan menggunakan media fingerpainting anak PAUD Kusuma SawoKarangjati dapat meningkat. Jadi, hipotesis dalam peneleitian ini adalah strategi pembelajaran menggambar yang diterapkan akan dapat meningkatkan kemampuan mengambar dengan media fingerpainting pada anak PAUD Kusuma Sawo – Karangjati untuk tahun pelajaran 2011/2012. Adapun peningkatannya diperkirakan 75 %.

25

BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Dalam penulisan karya ilmiah yang berjudul peningkatan kemampuan menggambar menggunakan media fingerpainting dan metode explicit intruktion peneliti menggunakan rancangan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). Menurut pendapat Muslikah, susunan rancangan metode penelitian tindakan kelas meliputi; rancangan penelitian, setting dan subjek penelitian, dan prosedur pelaksanaan (Muslikah, 2010:109). Penelitian ini dilaksanakan selama 3 ( tiga ) bulan dimulai bulan Nopember 2012 sampai dengan bulan Januari 2013. Adapun rancangan penelitiannya adalah sebagai berikut : RancanganPenelitian BULAN Januari 4 1 2 3 4

N O

BULAN Nopember KEGIATAN 1 x x X x x x 2 3 4 1

BULAN Desember 2 3

1 Persiapan 2 PembuatanInstrumen 3 Pelaksanaan Instrumen 4 PelaksanaanSiklus I 5 Analisis Data Siklus I 6 PelaksanaanSiklus II 7 Analisis Data Siklus II 8 PembuatanLaporan 9 RevisiLaporan

x x x x x x x x

26

Dalam penelitian ini, peneliti mengadopsi prosedur penelitian dengan model dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, 2010:137). Langkahlangkah prosedur penelitian dalam pelaksanaan tindakan kelas dengan pembelajaran examples non examples ini dilakukan dalam dua siklus, masingmasing siklus terdiri dari : a) Perencanaan. b) Pelaksanaan. c) Pengamatan. d) Refleksi.

Arikunto memberikan skema atau bagan siklus penelitian tindakan kelas seperti tampak pada gambar skema dibawah ini:

Perencanaan Refleksi SIKLUS I Pengamatan Perencanaan Pelaksanaan Pelaksanaan

Refleksi

SIKLUS II

Pengamatan

27

Dari skema diatas, tampak bahwa penelitian tindakan kelas merupakan proses perbaikan terus menerus menuju kesempurnaan. Arikunto (2006;138140), mengatakan bahwa: “Secara garis besar penelitian tindakan kelas merupakan p embaharuan secara continue, karena dalam setiap penelitian tindakan masih terkandung kelemahan. Karena itu setiap kelemahan yang ada harus diperbaharui sehingga memperoleh hasil yang maksimal.” Adapun pelaksanaan tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti dalam setiap siklus adalah sebagai berikut : 1. Deskripsi Siklus Pertama

a) Rencana Siklus Pertama Tujuan: Untuk melihat kemampuan anak dalam seni menggambar dengan media fingerpainting Rencana: Melatih anak untuk menggunakan media fingerpainting yang ada dalam kegiatan menggambar tanpa pola. Tanggal: 15 s/d 21 Juni 2011.

28

Rencana Kegiatan pada Siklus I: SKH Ke I Sub Tema Tempat hidup binatang. Binatang yang hidup di tanah. Binatang liar. Yang ditingkatkan Menggambar Kegiatan Pengembangan menggambar dengan fingerpainting tanpa pola. Menggambar dengan fingerpaintig tanpa pola. Menggambar dengan fingerpainting tanpa pola. Menggambar dengan fingerpainting dengan pola binatang air Pengelolaan Kelas Klasikal membentuk huruf “U”.

II

Menggambar

Membentuk lingkaran. Kegiatan : individual.

III

Menggambar

Klasikal. Kegiatan : kelompok

IV

Macammacam binatang yang hidup di air

Menggambar

Demonstrasi: membentuk lingkaran. Kegiatan kelompok

b) Pelaksanaan a. Pelaksanaan siklus pertama meliputi perencanaan, pengamatan, pelaksanaan, dan refleksi. b. Yang direncanakan, antara lain: 1) Membuat rencana persiapan pembelajaran. 2) Membuat media, alat atau sumber belajar dan lembar penelitian perkembangan kemampuan anak secara individu. 3) Membuat lembar observasi. 4) Peneliti mengamati proses kegiatan dari awal sampai akhir pembelajaran.

29

5) Peneliti mencatat pada lembar observasi yang telah disediakan. 6) Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. 7) Proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

c) Proses pelaksanaan 1. Pelaksanaan SKH I: a) Pada kegiatan awal, anak-anak berbaris dan mengikuti senam irama. b) Berdoa, mengucap salam. Untuk mengkondisikan kelas, guru mengajak anak-anak berjalan “jinjit” seperti jalannya Pinguin. c) Setelah kelas tenang, guru mengajak bercakap-cakap tentang binatang yang hidup di udara. d) Guru menjelaskan kepada anak-anak tentang kegiatan

menggambar dengan fingerpainting dan langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan. e) Guru memberi contoh menggambar dengan fingerpaintng tanpa pola, sehingga menjadi bentuk pohon,awan dan burung terbang. f) Pemberian tugas dan praktik langsung menggambar pohon,awan dan burung terbang g) Selesai mengerjakan tugas, anak-anak berdoa, cuci tangan, makan dan bermain.

30

h) Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, guru mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan dan memberi informasi kegiatan untuk hari berikutnya. i) Kegiatan diakhiri dengan berdoa, mengucap salam dan pulang.

2. Proses pelaksanaan SKH II : a) Kegiatan awal, anak-anak berbaris dan senam irama. b) Berdoa, mengucap salam. Guru mengawali kegiatan SKH kedua dengan mengajak anak-anak berjalan melingkar sambil bernyanyi lagu “Semut-semut Kecil”. c) Kegiatan dilanjutkan dengan bercakap-cakap tentang binatang yang hidup di dalam tanah. d) Guru menjelaskan kepada anak-anak tentang kegiatan

menggambar dengan fingerpaiting dan langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan. e) Guru memberi contoh menggambar dengan fingerpainting tanpa pola sehingga menjadi bentuk kura-kura, ayam, dan kucing. f) Pemberian tugas dan praktik langsung menggambar dengan fingerpainting sehingga membentuk kura-kura, ayam, dan kucing. g) Istirahat, berdoa, cuci tangan, makan dan bermain di halaman. h) Kegiatan akhir, guru mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan, dan menginformasikan kegiatan hari esok. i) Berdoa, mengucap salam, dan pulang.

31

3. Proses pelaksanaan SKH III a) Kegiatan awal, anak-anak baris dan mengikuti senam irama. b) Berdoa, salam dan penjelasan tentang kegiatan SKH ketiga. Guru melakukan tanya jawab tentang binatang liar. c) Guru menjelaskan kepada anak-anak tentang kegiatan

menggambar dengan fingerpainting dan langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan. d) Guru memberi contoh menggambar dengan fingerpainting pada pola gambar harimau, dan ular . e) Praktik langsung menggambar dengan fingerpainting pada pola gambar harimau dan ular, menyusun puzle binatang. Selesai mengerjakan tugas, anak-anak berdoa sebelum makan, cuci tangan, makan dan istirahat. f) Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, guru mengajak anakanak bernyanyi “Ular Naga”. g) Guru mengevaluasi kegiatan pada hari ini dan memberi informasi untuk kegiatan hari esok, berdoa, mengucap salam, dan pulang.

4. Proses pelaksanaan SKH IV a) Sebelum kegiatan awal dimulai, anak-anak berbaris dan mengikuti senam irama. b) Berdoa, mengucap salam dan mengawali kegiatan dengan menirukan gerakan ikan berenang.

32

c) Guru mengadakan tanya jawab dan bercakap-cakap tentang binatang yang hidup di air. d) Guru menjelaskan tentang kegiatan menggambar dengan

fingerpainting dan langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan. e) Guru memberi contoh menggambar fingerpainting. f) Praktik langsung membuat menggambar dengan fingerpainting dengan pola ikan, menunjukkan kejanggalan gambar, dan mencocok gambar buaya. g) Selesai mengerjakan tugas, anak-anak diajak berdoa, cuci tangan, makan dan istirahat atau bermain di luar kelas. h) Anak-anak bernyanyi lihat ikanku. i) Sebelum kegiatan berakhir, guru mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan dan menginformasikan kegiatan hari esok, berdoa, mengucap salam dan pulang.

d) Pengamatan atau Pengumpulan data/instrumen Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti mengamati seluruh kegiatan mulai dari awal sampai akhir, baik saat pembelajaran dari guru maupun reaksi anak-anak saat proses pembelajaran. Pengumpulan data diperoleh melalui, tes, praktik menggambar dengan fingerpainting dan observasi. e) Refleksi Setelah kegiatan pembelajaran selesai, peneliti melakukan refleksi dengan tujuan untuk mengevaluasi hasil kegiatan yang sudah

33

berlangsung. Dari hasil refleksi siklus I tersebut diatas banyak anak yang masih di bawah KKM, untuk itu peneliti melanjtkan ke Siklus II.

B. Setting dan Subyek Penelitian

1.

Setting Penelitian Setting penelitian ini di PAUD Kusuma Sawo, Desa Sawo Kecamatan -Karangjati, Kabupaten Ngawi. PAUD Kusuma Sawo termasuk KB yang berada dipedesaan, jarak dari kota kecamatan lebih kurang 2 ( Dua ) KM. Desa Sawo berada di pinggir Jalan Utama CarubanNgawi No.102 Kode pos 63284 Desa Sawo ada 4 ( empat ) pendidikan setingkat PAUD, yakni TK Dharma Wanita, TK AB, PAUD Adinda Pertiwi dan PAUD Kusuma. Alasan peneliti memilih PAUD Kusuma, karena peneliti sebagai tenaga edukatif ( Pengajar ) di KB tersebut.

2.

Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa PAUD kusuma Sawo yang berjumlah 20 ( Dua Puluh) siswa yang terdiri dari siswa perempuan sebanyak 9 (sembilan) siswa dan siswa laki-laki sebanyak 11 (sebelas) siswa. Semua siswa berasal dari Desa Sawo.

34

C. Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan instrumen non tes berupa pengamatan,yakni berupa lembar pengamatan.Adapun lembar pengamatannya adalah sebagai berikut :

INSTRUMEN PENILAIAN Nama No. Absen :……………………………….. :………………………………

NO

KEGIATAN PENGAMATAN

NILAI

1

Minat

2

Kemampuan menggambar dengan fingerpainting

3

Kerapian

4

Hasil Karya

JUMLAH

35

Untuk melihat bobot masing-masing aspek yang diberi penilaian, peneliti menggunakan tanda penilaian berupa angka (4, 3, 2, 1) yang memiliki kriteria bobot sebagai berikut: 1. Minat a. Nilai 4 : Mempunyai pengertian sangat baik, anak

mempunyai minat yang lebih dan mampu melakukan kegiatan dengan baik tanpa bantuan dari guru. b. Nilai 3 : Mempunyai pengertian baik, anak mempunyai minat dan dapat melakukan kegiatan dengan benar tanpa bantuan guru. c. Nilai 2 : Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang berminat dalam melakukan kegiatan dan masih membutuhkan bantuan guru. d. Nilai 1 : Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum berminat melakukan kegiatan dan masih

membutuhkan bantuan guru maupun bimbingan dari orang lain.

2. Kemampuan Menggambar Fingerpainting a. Nilai 4 : Mempunyai pengertian sangat baik, anak sudah mampu Menggambar dengan sempurna tanpa

bantuan dari guru.

36

b. Nilai 3 :

Mempunyai pengertian baik, anak sudah mampu menggambar dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru.

c. Nilai 2 :

Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang mampu dalam melakukan kegiatan menggambar, masih membutuhkan bantuan guru.

d. Nilai 1 :

Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum mampu melakukan kegiatan menggambar, masih membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain.

3. Kerapian b. Nilai 4 : Mempunyai pengertian sangat baik, dalam kegiatan menggambar anak sudah mampu melakukannya secara rapi, tanpa bantuan guru. c. Nilai 3 : Mempunyai pengertian baik, anak sudah rapi dalam menggambar dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru. d. Nilai 2 : Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang rapi dalam melakukan kegiatan menggambar, masih membutuhkan bantuan guru. e. Nilai 1 : Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum rapi melakukan kegiatan menggambar, masih

membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain.

37

4.

Hasil Karya a. Nilai 4 : Mempunyai pengertian sangat baik, hasil

menggambar anak sudah baik dengan sempurna tanpa bantuan dari guru. b. Nilai 3 : Mempunyai pengertian baik, hasil menggambar anak sudah baik dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru. c. Nilai 2 : Mempunyai pengertian yang cukup, hasil anak kurang rapi dalam melakukan kegiatan menggambar, dan masih membutuhkan bantuan guru. d. Nilai 1 : Mempunyai pengertian yang kurang, hasil anak belum sempurna dalam melakukan kegiatan

menggambar, masih membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain.

Teknik analisa yang digunakan untuk memperoleh data yang dihasilkan dari penilaian perkembangan anak dengan model

pengembangan permainan menggunakan rumus (Arikunto, 2010:146).

(n x 4) + (n x 3) + (n x 2) + (n x 1) X = N x Skor tertinggi X 100%

38

Keterangan : X n N = Nilai rata-rata = Jumlah jawaban = Jumlah anak

1,2,3,4 = Bobot atau skor jawaban

Prosentase keseluruhan analisa data dari hasil penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran dihitung dengan menggunakan rumus: ∑xi X = N

Keterangan: X ∑xi N = Nilai rata-rata = Prosentase masing-masing kriteria = Jumlah anak (responden)

39

DAFTAR NAMA SISWA DAN DAFTAR NILAI TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012

N0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

NO INDUK 0301 0302 0303 0304 0305 0306 0307 0308 0309 0310 0311 0312 0313 0314 0315 0316 0317 0318 0319 0320

NAMA ADIMAS EKO PRASETYO ARDAN ILHAM M ARVEL DERYL EGA AZIZAH YODHA BAGAS R BIANCA ANNO SOLELUNA DHISTYAN KHIAR RAJENDRA MAHARDIKA ANDROMEDA SELFI LIA MARGARETA PUTRA WIJAYA YULIA DEWI PAMBAYUN REIHAN ANGGA HAYUDA REIHAN WAHYU AJI SAPUTRA ZIVANA LISTISYA FAHRI SAPTA NUGRAHA HESTI PURWANDARI SITI NURAZIZAH DAVID NUGRAHA ANDIKA PRIAGUNG ZUHUROL ADIT

L/P L L L P L P L L P L P L L P L P P L L L

NILAI

40

D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pengamatan, yakni mengamati hasil karya siswa, dengan berpedoman lembar pengamatan sebagai berikut : Lembar Pengamatan Nama No. Absen :……………………………….. :………………………………

NO

KEGIATAN PENGAMATAN

NILAI

1

Minat

2

Kemampuan menggambar dengan fingerpainting

3

Kerapian

4

Hasil Karya

JUMLAH

41

DAFTAR NAMA SISWA DAN DAFTAR NILAI TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012

N0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

NO INDUK 0301 0302 0303 0304 0305 0306 0307 0308 0309 0310 0311 0312 0313 0314 0315 0316 0317 0318 0319 0320

NAMA ADIMAS EKO PRASETYO ARDAN ILHAM M ARVEL DERYL EGA AZIZAH YODHA BAGAS R BIANCA ANNO SOLELUNA DHISTYAN KHIAR RAJENDRA MAHARDIKA ANDROMEDA SELFI LIA MARGARETA PUTRA WIJAYA YULIA DEWI PAMBAYUN REIHAN ANGGA HAYUDA REIHAN WAHYU AJI SAPUTRA ZIVANA LISTISYA FAHRI SAPTA NUGRAHA HESTI PURWANDARI SITI NURAZIZAH DAVID NUGRAHA ANDIKA PRIAGUNG ZUHUROL ADIT

L/P L L L P L P L L P L P L L P L P P L L L

NILAI

42

E. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data berpedoman lembar pengamatan, dan berdasarkan kriteria penilaian sebagai berikut : RUBRIK ANALISIS DATA

NO

KEGIATAN 4

NILAI 3 2 1

A

Minat Mempunyai pengertian sangat baik, anak mempunyai minat yang lebih dan mampu melakukan kegiatan dengan baik tanpa bantuan dari guru. X Mempunyai pengertian baik, anak mempunyai minat dan dapat melakukan kegiatan dengan benar tanpa bantuan guru. Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang berminat dalam melakukan kegiatan dan masih membutuhkan bantuan guru. Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum berminat melakukan kegiatan dan masih membutuhkan bantuan guru maupun bimbingan dari orang lain. KemampuanMenggambar Mempunyai pengertian sangat baik, anak sudah mampu menggambar dengan sempurna tanpa bantuan dari guru. X Mempunyai pengertian baik, anak sudah mampu menggambar dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru. Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang mampu dalam melakukan kegiatan menggambar, masih membutuhkan bantuan guru.

1

2

X

3

X

4 B

X

1

2

X

3

X

43

Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum mampu melakukan kegiatan mengambar, masih membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain. 4 C Kerapian Mempunyai pengertian sangat baik, dalam kegiatan menggambar anak sudah mampu mlakukannya secara rapi, tanpa bantuan guru. X Mempunyai pengertian baik, anak sudah rapi dalam menggambar dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru. Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang rapi dalam melakukan kegiatan menggambar, masih membutuhkan bantuan guru. Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum rapi melakukan kegiatan mengggambar, masih membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain. HasilKarya Mempunyai pengertian sangat baik, hasil menggambar anak sudah baik dengan sempurna tanpa bantuan dari guru. X Mempunyai pengertian baik, hasil menggambar anak sudah baik dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru. Mempunyai pengertian yang cukup, hasil anak kurang rapi dalam melakukan kegiatan menggambar, dan masih membutuhkan bantuan guru. Mempunyai pengertian yang kurang, hasil anak belum sempurna dalam melakukan kegiatan menggambar, masih membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain. X

1

2

X

3

X

4 D

X

1

2

X

3

X

4

X

44

KETERANGAN : Nilai 4 =

Nilai 3

=

Nilai 2

=

Nilai 1

=

45

DAFTAR NAMA SISWA DAN DAFTAR NILAI TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012

N0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

NO INDUK 0301 0302 0303 0304 0305 0306 0307 0308 0309 0310 0311 0312 0313 0314 0315 0316 0317 0318 0319 0320

NAMA ADIMAS EKO PRASETYO ARDAN ILHAM M ARVEL DERYL EGA AZIZAH YODHA BAGAS R BIANCA ANNO SOLELUNA DHISTYAN KHIAR RAJENDRA MAHARDIKA ANDROMEDA SELFI LIA MARGARETA PUTRA WIJAYA YULIA DEWI PAMBAYUN REIHAN ANGGA HAYUDA REIHAN WAHYU AJI SAPUTRA ZIVANA LISTISYA FAHRI SAPTA NUGRAHA HESTI PURWANDARI SITI NURAZIZAH DAVID NUGRAHA ANDIKA PRIAGUNG ZUHUROL ADIT

L/P L L L P L P L L P L P L L P L P P L L L

NILAI

46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan yang berguna untuk kelangsungan hidup selanjutnya. Dengan memperoleh pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan, ia dapat

memberdayakan dirinya sendiri yang pada akhirnya mampu hidup secara lebih manusiawi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses dalam menghantarkan manusia menuju suatu kehidupan yang lebih baik. Dalam pendidikan, anak bukan saja belajar mengerti berbagai bidang pengetahuan dan ketrampilan, melainkan belajar bersikap secara lebih profesional untuk menemukan nilai-nilai yang ada di dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaga formal maupun non formal hendaknya memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan setiap anak. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan terstruktur dan berjenjang, yang terdiri dari pendidikan pra-sekolah (TK pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara teratur dan berjenjang. Untuk itu pendidikan prasekolah (TK) merupakan salah satu pendidikan formal untuk mengembangkan berbagai aspek pengetahuan maupun ketrampilan anak-anak usia dini.

47

Anak-anak usia dini yang tergolong usia pra-sekolah adalah mereka yang memiliki usia 3-6 tahun (belum waktunya sekolah tetapi sedang dalam masa peka untuk belajar). Elizabeth B. Hurlock (1978), mengatakan, “Bahwa kurun usia prasekolah disebut sebagai masa keemasan (the golden age)”. Pada masa keemasan tersebut, anak mulai sensitif untuk menerima berbagai usaha pengembangan seluruh potensi dirinya. Perkembangan kecerdasan anak pada usia ini hampir mencapai 80% dari perkembangan kecerdasan secara keseluruhan (sampai dewasa). Di usia ini anak mengalami banyak perubahan fisik maupun mental dengan berbagai karakteristik, antara lain: (1) berkembangnya konsep diri, (2) munculnya egosentris, (3) rasa ingin tahu yang tinggi, (4) imajinasi yang tinggi, (5) munculnya kontrol internal, (6) belajar dari lingkungannya, (7) berkembangnya cara berpikir. Jika potensi seorang anak tidak dikembangkan sejak dini, maka masa emas pengembangan potensi akan terlewati begitu saja, meskipun dapat dikembangkan pada tahun-tahun sesudahnya. Namun hasil yang dicapai tidak akan seoptimal apabila dikembangkan pada masa emasnya. Potensi seni anak harus dikembangkan sejak dini dengan membekali diri anak dengan wawasan tentang seni. Tanpa bekal yang cukup, potensi anak tidak dapat berkembang secara optimal. Kegiatan seni merupakan tempat untuk

menumbuhkembangkan kreativitas, imajinasi, inisiatif dan rasa keindahan anak. Suasana yang menyenangkan dan suasana gembira akan membuat anak dapat berkreasi serta mengekspresikan diri sebebas-bebasnya. Pelatihan ketrampilan, pengarahan dan kesempatan harus diberikan kepada anak agar ia dapat mencapai tahapan perkembangannya. Setiap anak merupakan individu yang unik, dan apabila diberi kesempatan serta fasilitas yang memadai untuk berekspresi, maka dia akan menjelajahi berbagai peralatan dan bahan yang disediakan, melakukan

48

percobaan-percobaan yang menakjubkan dan menguji ide-ide kreatifnya serta membuat berbagai penemuan yang berguna sebagai dasar pengetahuan selanjutnya. Program pendidikan seni dapat mengarahkan anak pada kegiatan seni yang akan menciptakan pengalaman-pengalaman berharga bagi anak. Pengalaman-pengalaman ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan sikap positif yang bermanfaat bagi perkembangan anak secara optimal. Ruang, bahan-bahan dan peralatan yang digunakan anak hendaknya dapat dipenuhi dalam melakukan kegiatan seni agar anak dapat dengan bebas berkreasi dan berinisiatif membuat suatu karya seni. Kegiatan seni yang dapat dilakukan oleh anak-anak usia dini, misalnya; menggambar, melukis, mencetak dan menggunting. Bagi anak usia dini, kegiatan menggambar dengan fingerpainting merupakan kegiatan bermain dan sekaligus mengembangkan kemampuan dalam meningkatkan seni, kreasi, serta ekspresinya. Bermain adalah naluri bagi setiap anak usia dini yang bermanfaat dalam proses mematangkan emosionalnya, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan di setiap fase perkembangannya. Dalam undang-undang Pendidikan No. 2 tahun 1989 pada penjelasan pasal 35 tercantum bahwa pelaksanaan pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik, apabila para pendidik dan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar tidak didukung oleh media dan sumber belajar yang memadai. Penggunaan media pembelajaran yang memadai, menjadi salah satu hal yang penting dalam proses pembelajaran di TK yang menerapkan prinsip

49

pembelajaran

PAKEM

(Pembelajaran

Aktif,

Kreatif,

Efektif,

dan

Menyenangkan) (Depdiknas, 2003). Menurut Harjanto (1997), penggunaan media sebagai alat bantu komunikasi dalam pembelajaran harus memenuhi kriteria media pendidikan, dan tidak sekedar menampilkan program pengajaran di dalam kelas, namun juga harus berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Dengan adanya media pembelajaran yang memadai, maka anak-anak yang mengikuti proses pendidikan dapat terbantu dalam memahami pelajaran yang kurang dimengerti. Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses/dialog mental pada diri anak-anak (Udin S. Winaputra, 2002). Aktivitas bermain merupakan proses belajar, berpikir, pelatihan, dan pemahaman serta pengamatan terhadap lingkungannya yang kemudian hasil pengamatannya diungkapkan dalam bentuk karya seni. Agar kegiatan bermain memiliki makna dalam hubungannya dengan seni menggambar, maka anak-anak perlu mendapatkan kegiatan pelatihan menggambar sejak dini mungkin. Dengan memperoleh pelatihan menggambar sejak dini tersebut, maka anak-anak diharapkan juga dapat melatih kemampuan kognitif, psikomotor, serta afektifnya. Di sekolah, hal tersebut sering terabaikan karena tidak semua guru TK memiliki ketrampilan dalam hal Bermain Peran. Pada umumnya, guru TK hanya memberikan ulasan atau bentuk gambar yang sudah jadi. Guru TK tidak menyampaikan cara (proses) membuat suatu bentuk Peran dari awal sampai akhir, yang dapat dilihat oleh semua anak didiknya. Padahal, yang lebih penting adalah prosesnya dan bukan hanya penjelasan atau hasilnya saja.

50

Guru tidak menyajikan proses secara berurutan dan mudah diterima oleh anak bahkan tidak jarang, seorang guru kurang menghargai hasil kreativitas anak dalam menggambar. Pendek kata, guru hanya memperhatikan hasil akhir dan bukan proses pembuatannya. Dengan mengetahui proses pembuatan secara berurutan, anak-anak akan semakin terlatih dalam mengkoordinasikan antara indera penglihat dan indera peraba (tangan), dengan demikian anak-anak semakin mampu mengembangkan serta melatih motorik halus dan menambah pengetahuan tentang seni. Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita Desa Sawo adalah salah satu bagian dari pendidikan pra sekolah yang bertujuan untuk membantu mengembangkan seluruh aspek kepribadian anak didiknya. Salah satu aspek yang hendak dikembangkan adalah dalam hal pembelajaran enggambar dengan fingerpainting. Pembelajaran kemampuan menggambar dengan fingerpainting mendapat perhatian khusus karena kemampuan anak-anak dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut masih belum optimal, indikatornya terlihat dari beberapa fakta yang ada, antara lain: (1) perolehan hasil nilai kegiatan bermain peran rata-rata masih rendah, (2) pada saat pembelajaran sentra seni bermain peran, dari 20 anak yang mampu melaksanakan tugas sesuai dengan perintah dari guru hanya 2-3 anak saja atau sekitar 12,5% - 18,75%, (3) sekitar 75% anak lebih senang dengan kegiatan mewarnai dan bermain. Dalam hal ini ketika melihat kondisi yang riil di TK DW Sawo – Karangjati dimana tempat saya mengajar, karena di TK saya adalah tergolong sekolah di pinggiran kota. Karena letak demografi TK saya adalah di daerah

51

pinggiran maka saya mencoba mencari jalan keluar untuk meningkatkan Kreatifitas siswa yang medianya berada di sekitar sekolah maka saya mencoba dengan media bermain peran . Setelah saya coba dan dari pengamatan saya anak-anak lebih antusias serta termotivasi untuk melakukan kegiatan ini. Hasil dari kegiatan ini sangat baik dilihat dari keceriaan anakanak dan hasil dari Bermain anak-anak yang sangat bervariatif.

B. Deskripsi Siklus Pertama 1. Pelaksanaan Tindakan SKH I Pada pelaksanaan tindakan berdasarkan SKH I, kegiatan yang dilakukan antara lain: (a) kegiatan awal, (b) kegiatan inti, (c) kegiatan akhir. Dalam kegiatan awal sebelum proses pelaksanaan pembelajaran, anak-anak diajak untuk mengikuti senam irama, berdoa dan mengucap salam. Kemudian untuk mengkondisikan kelas, mereka diajak untuk membentuk satu lingkaran penuh dan berjalan keliling sambil berjinjit Pada akhir kegiatan pembelajaran, anak-anak beristirahat, cuci tangan, berdoa dan makan. Setelah istirahat, peneliti mengevaluasi kegiatan yang sudah berlangsung dan mengadakan tanya jawab tentang kegiatan pembelajaran menggambar. Untuk mengetahui hasil kegiatan pembelajaran dengan model pemberian tugas, dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

52

Tabel 4.1. Lembar observasi pada proses kegiatan pembelajaran

3

Penjelasan pembelajaran oleh guru.

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya. √ Masih ada anak-anak yang belum optimal

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru memberi tugas untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel 4.2. Lembar penilaian hasil kegiatan pembelajaran menggambar SKH I Aspek yang dinilai No Nama Anak Minat 2 2 2 4 1 3 Kemampuan Bermain 2 1 3 3 2 3 Kerap ian 1 1 2 2 2 3 Hasil 1 2 2 3 1 3

1 2 3 4 5 6

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON

53

7 GALUH DINDA 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA ADENIA LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQIU RAHMADDAN F TEGU ROZIAN FAHLENWIAN DENATA

1

1

1

1

3 2 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3

3 1 2 4 2 2 3 1 1 4 2 2 3

3 1 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2

3 1 2 3 2 2 2 1 1 3 2 2 2

Hasil alisis data penilaian dalam kegiatan Bermain melalui pemberian tugas adalah sebagai berikut: (n x 4) + (n x 3) + (n x 2) + (n x 1) X = N x Skor tertinggi 1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan minat anak: (1 x 4) + (9 x 3) + (8 x 2) + (2 x 1) X = X 100% X 100%

54

20 x 4 (4 + 27 + 16 + 2) = 80 49 = 80 X 100% X 100%

= 61,3 % Hasil penghitungan data berdasarkan minat anak menunjukkan potensi sebesar 61,3 %. 2. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan anak :

(2 x 4) + (6 x 3) + (7 x 2) + (5 x 1) X = 20 x 4 (8 + 18 + 14 + 5) = 80 42 = 80 X 100% X 100% X 100%

55

= 52,5 % Hasil penghitungan data berdasarkan kemampuan anak dalam

menunjukkan potensi sebesar 52,5%. 3. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kegiatan dalam bermain peran (0 x 4) + (2 x 3) + (10 x 2) + (8 x 1) X = 20x 4 (0 + 6+ 20 + 8) = 80 34 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 42,5 % Hasil penghitungan data berdasarkan kerapian menunjukkan potensi sebesar 42,5 %. 4. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan hasil anak : (0 x 4) + (5 x 3) + (9 x 2) + (6 x 1) X = 80 X 100%

56

(0 + 15 + 18 + 6) = 80 39 = 80 X 100% X 100%

= 48,8% Hasil penghitungan data berdasarkan hasil karya anak menunjukkan potensi sebesar 48,8%. Prosentase keseluruhan dari analisis data, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : ∑xi X = N 61,3% + 52,5% + 42,5% + 48,8% X = 4 205,1 % = 4 = 51,3% Berdasarkan hasil analisis data keseluruhan dari pelaksanaan tindakan SKH I menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran Bermain dengan tanpa pola

57

dapat dikategorikan belum tuntas, karena hasil keseluruhan penilaian dari anak masih belum maksimal dengan prosentase sebesar 51,3%. Dari perolehan hasil pengolahan data secara keseluruhan tersebut, peneliti merefleksikan bahwa pelaksanaan tindakan SKH I, masih mengandung kelemahan, antara lain; (a) tingkat minat anak-anak belum maksimal. Dari 20 anak, hanya 1 anak saja yang berminat sangat tinggi. Penyebabnya adalah, pertama, penjelasan materi dari guru kurang mendetail. Kedua, guru kurang mendetail dalam memberikan apersepsi, sehingga beberapa anak masih belum memahami perintah yang diberikan oleh guru. Ketiga, beberapa anak juga belum mampu menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Dari hasil pengamatan, peneliti melihat bahwa kekurangan-kekurangan tersebut menjadi penyebab ketidak berhasilan kegiatan dengan Bermain peran tanpa pola sehingga menjadi bentuk pohon, awan, dan burung terbang. Akibatnya, hasil secara keseluruhan belum memuaskan dan masih jauh dari harapan. Hal tersebut diketahui dari pencapaian hasil masing-masing indikator. Misalnya, dari tingkat minat hasilnya menunjukkan prosentase sebesar 61,3 %. Tingkat kemampuan hanya 52,5%, dan bermain peran 42,5%, dari hasil 48,8%. Sehingga hasil prosentase secara keseluruhan 51,3%. Hasil tersebut masih jauh dari target minimal yang sudah ditentukan.

2. Pelaksanaan Tindakan SKH II a. Perencanaan 1. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana SKH II yaitu”.

58

2. Membuat lembar penilaian secara individual dan membuat lembar observasi atau pengamatan. b. Pengamatan Pada siklus pertama SKH I, masih terdapat beberapa kelemahan sebagaimana sudah diungkapkan. Oleh sebab itu pada SKH II, guru bersama-sama dengan peneliti mencoba memperbaiki kelemahan dan meningkatkan minat, kemampuan bermain, kerapian dan hasil karya dari anak dalam kegiatan. Untuk mengetahui tingkat pemahaman anak-anak, peneliti bersama dengan guru memberikan tugas lagi kepada peserta didik supaya bermain peran dengan, dan hasilnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 4.3. Lembar observasi pada proses kegiatan pembelajaran Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam menggambar fingerpainting

59

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel 4.4. Hasil Penilaian Pada Bermain Peran SKH II Penilaian Anak No Nama Anak Minat 3 3 3 3 2 3 2 4 3 2 3 3 Kemampuan 3 2 2 3 2 3 2 4 2 3 3 2 Bermain Peran 2 2 1 2 2 3 2 3 1 2 2 2 Hasil 2 2 1 2 1 2 2 3 2 2 3 2

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH

60

13 14 15 16 17 18 19 20

M.RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMADDAN F TEGUH ROZIAN FHAHLEN WIAN DENATA

3 2 2 3 2 3 3 4

3 2 3 3 3 2 2 3

2 3 2 2 2 2 1 2

2 2 2 2 2 2 1 2

Analisis data penilaian dalam kegiatan Bermain peran: 1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan minat: (2 x 4) + (11x 3) + (6 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (8 + 33 + 12 + 0) = 80 53 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 66,3 %. Data hasil penghitungan berdasarkan minat menunujukkan potensi sebesar 66,3 %.

61

2. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan tanpa pola: (2 x 4) + (9 x 3) + (8 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (8 + 27 + 16 + 0) = 80 51 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 63,8 %. Data hasil penghitungan berdasarkan kemampuan menunjukkan potensi sebesar 63,8 %. 3. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan Bermain Peran: (0 x 4) + (4 x 3) + (14x 2) + (2 x 1) X = 20 x 4 (0 + 12 + 28 + 2) = 80 52 X 100% X 100%

62

= 80

X 100%

= 65 % Data hasil penghitungan berdasarkan bermain peran potensi sebesar 65 %. menunjukkan

4. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan hasil karya: (0 x 4) + (6 x 3) + (12 x 2) + (2 x 1) X = 20 x 4 (0 + 18+ 24 + 2) = 80 48 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 60% Data hasil penghitungan berdasarkan hasil anak menunjukkan potensi sebesar 60%. Prosentase keseluruhan dari analisis data, dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

63

∑xi X = N 66,3% + 63,8% + 65% + 60% X = 4

255,1% = 4 = 63,77 %

Berdasarkan analisis data keseluruhan dari siklus pertama SKH II, diperoleh hasil penilaian kegiatan bermain peran tanpa pola menunjukkan prosentase sebesar 63,77 %. c. Refleksi Dari hasil lembar observasi siklus pertama SKH II, menunjukkan adanya suatu peningkatan walaupun belum maksimal. Dalam menyampaikan tugas, guru sudah memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan. Namun demikian dalam siklus pertama SKH II, anak-anak masih kurang dalam berimajinasi sehingga hasil karyanya belum optimal. Dari lembar penilaian, tingkat minat tanpa pola sudah menunjukkan

prosentase sebesar 65 %. Tingkat kemampuan maupun dalam kerapian ada peningkatan meskipun belum optimal, prosentasenya sebesar 63,8 % dan 65 %. Sedangkan dari hasil karya prosentase hanya menunjukkan angka sebesar 60%.

64

Oleh karena itu dalam siklus pertama SKH III, peneliti bersama dengan guru akan mengadakan perbaikan.

3. Pelaksanaan SKH III a. Perencanaan 1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana SKH III. 2. Membuat media pembelajaran. 3. Membuat lembar penilaian secara individual dan membuat lembar observasi atau pengamatan. b. Pengamatan Pada saat melaksanakan kegiatan Bermain Peranen dari siklus pertama SKH III, peneliti mengamati dan menilai dalam lembar observasi maupun lembar penilaian. Siklus pertama SKH III, anak diberi tugas u, dan untuk mengetahui tingkat serta hasil pemahaman anak pada waktu pembelajaran dengan model pemberian tugas dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 4.5. Lembar observasi pada proses kegiatan pembelajaran Ada No 1 Aspek yang diobservasi Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Model pengembangan kegiatan untuk anak. Penyampaian cerita oleh guru Ya √ Tidak Keterangan Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan. Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil. Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

2

3

65

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan Mau menyelesaikan tugas sendiri Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam kegiatan. Masih ada anak yang memerlukan bantuan. Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

5 6

√ √

Tabel 4.6. Hasil Penilaian Pada Kegiatan Bermain Perann. SKH III Penilaian Anak No Nama Anak Minat 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 3 3 Kemampuan 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 Bermain peran 3 3 2 3 2 3 3 4 2 3 4 3 2 Hasil 3 3 2 4 2 3 3 4 2 2 3 3 2

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSYAD

66

14 15 16 17 18 19 20

OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI A RISQI RAHMADDAN F TEGUH ROZIAN FHAHLEN WIAN DENATA

2 2 3 3 3 3 4

3 3 3 3 3 3 4

3 3 3 3 3 2 3

3 3 2 3 3 2 3

1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan minat: (5 x 4) + (13 x 3) + (2 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (20 + 39 + 4 + 0) = 80 63 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 78,7 % Hasil penghitungan data berdasarkan minat anak menunjukkan potensi sebesar 78,7 %. 1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan

67

2. X =

(5 x 4) + (15x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X 100% 20 x 4

(20 + 45 + 0 + 0) = 80 65 = 80 X 100% X 100%

= 81,3 % Hasil penghitungan data berdasarkan kemampuan menunjukkan potensi sebesar 81,3%. 3. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan Bermain peran (2x 4) + (13 x 3) + (5x2) + (0 x 1) X = 20 x 4 X 100%

(8 + 36 + 10 + 0) = 80 X 100%

68

54 = 80 X 100%

= 67,5 % Hasil penghitungan data berdasarkan Kemampuan menunjukkan potensi sebesar 67,5%.

4. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan hasil: (2 x 4) + (11x 3) + (7 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 X 100%

(8 + 33 + 14 + 0) = 80 55 = 80 X 100% X 100%

= 68,8%

69

Hasil penghitungan data berdasarkan hasil karya menunjukkan potensi sebesar 68,8 %. Prosentase keseluruhan dari analisis data, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : ∑xi X = N 78,7% + 81,3% + 67,5% + 68,8% X = 4

296,3 % = 4

= 74,1 %

Berdasarkan analisis data keseluruhan dari siklus pertama SKH III, diperoleh hasil penilaian kegiatan menunjukkan prosentase sebesar 74,1%.

c. Refleksi Berdasarkan lembar observasi sudah menunjukkan guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan, model pengembangan pembelajaran yang digunakan guru juga sudah sesuai dengan rancangan dan

70

tujuan, dan pada akhir kegiatan anak senang ketika menempelkan hasil karyanya di papan tempel. Dalam siklus pertama SKH III, anak-anak sudah menunjukkan kreativitasnya, dan mampu berimajinasi. Guru juga sudah memberikan apersepsi secara lebih mendetail. Dengan demikian, anak mampu memahami perintah yang diberikan gurunya dan mampu mengerjakan tugasnya sendiri sampai selesai. Dari lembar penilaian, sudah menunjukkan adanya peningkatan yang lumayan. Hal tersebut tampak dari minat anak yang menunjukkan prosentase sebesar 78,7%. Kemampuan menunjukkan angka sebesar 81,3%. Pada tingkat kbermain peran menunjukkan angka sebesar 67,5%, sedangkan hasil karya sudah menunjukkan peningkatan sebesar 68,8%. Sehingga dari hasil keseluruhan siklus pertama SKH III prosentase menjadi 74,1%. Hal ini berarti bahwa anak-anak sudah menunjukkan ketuntasan dan ada keberhasilan dalam bermain dengan menggunakan fingerpainting, walaupun demikian masih perlu perbaikan lagi agar ada peningkatan yang signifikan. Oleh karena itu pada siklus pertama SKH IV, guru dan peneliti akan mengadakan perbaikan lagi untuk semakin meningkatkan minat, kemampuan, kerapian, dan hasil karya anak-anak.

4. Pelaksanaan SKH IV a. Perencanaan 1. Membuat rencana perbaikan pembelajaran. 2. Membuat media pembelajaran yang menarik minat anak.

71

3. Membuat lembar penilaian secara individual dan membuat lembar observasi atau pengamatan. b. Pengamatan Pada pengamatan siklus pertama SKH IV, guru bersama dengan peneliti melakukan pengamatan dan mencatat serta menilai hasil kegiatan pada lembar observasi maupun lembar penilaian yang sudah disediakan. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.7. Lembar observasi pada proses kegiatan pembelajaran

Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam kegiatan.

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

72

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel 4.8. Hasil Penilaian Pada Kegiatan Bermain Peran. SKH IV Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 3 4 Kemampuan Kerapian menggambar 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 3 Hasil Karya 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 3 3

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIASYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H

73

17 18 19 20

RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMADDAN F TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA 1.

4 3 4 4

4 4 4 4

4 3 3 4

4 4 3 4

2. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan minat anak : (12 x 4) + (8x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (48 + 24 + 0 + 0) = 80 72 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 90 % Hasil penghitungan data berdasarkan minat anak menunjukkan potensi sebesar 90 % 3. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan : (17 x 4) + (3 x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (68 + 9 + 0 + 0) X 100%

74

= 80

X 100%

77 = 80 = 96,3 % Hasil penghitungan data berdasarkan kemampuan menunjukkan potensi sebesar 96,3 %. 4. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan : (8 x 4) + (12 x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (24 + 36 + 0 + 0) = 80 60 = 80 = 75 % Hasil penghitungan data berdasarkan Kkemampuan bermain peran menunjukkan potensi sebesar 75% 5. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan hasil karya : X 100% X 100% X 100% X 100%

75

(9 x 4) + (11 x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20x 4 (36 + 33 + 0 + 0) = 80 69 = 80 = 86,3% Hasil penghitungan data berdasarkan hasil menunjukkan potensi sebesar 86,3%. Prosentase keseluruhan dari analisis data, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : ∑xi X = N 90% + 96,3% + 75% + 86,3% X = 4 X 100% X 100% X 100%

347,6% = 4 = 86,9 %

76

Berdasarkan analisis data keseluruhan dari siklus pertama SKH IV, diperoleh hasil penilaian kegiatan menunjukkan prosentase sebesar 86,9 %. c. Refleksi Hasil refleksi siklus pertama SKH IV dan berdasarkan lembar observasi sudah menunjukkan bahwa guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan, model pengembangan pembelajaran yang digunakan guru juga sudah sesuai dengan rancangan. Dari lembar penilaian untuk anak-anak, juga mengalami suatu peningkatan. Hal ini mau mengatakan bahwa ada keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran. Bukti yang dapat dilihat adalah sebagai berikut: dari penilaian minat menunjukkan prosesntase 90%. Tingkat kemampuan 96.3%, bermain peran 75%, dan hasil karya 86,3%. Sehingga secara keseluruhan diperoleh hasil 86,9 %. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan bermain peran dengan pola tertentu pada siklus pertama sudah berhasil. Namun demikian, masih perlu diadakan perbaikan agar tingkat minat dan kemampuan anak-anak mencapai hasil yang maksimal. Oleh sebab itu dalam siklus II akan dilihat lagi tingkat perkembangan kreativitas dari anak-anak. C. Deskripsi Siklus Kedua a. Pelaksanaan SKH I 1. Perencanaan a. Membuat rencana perbaikan pembelajaran. b. Membuat media pembelajaran yang menarik minat anak. c. Membuat lembar penilaian secara individual dan membuat lembar observasi atau pengamatan.

77

2. Pengamatan Pada siklus kedua SKH I, peneliti bersama-sama dengan guru melakukan pengamatan, mencatat, dan memberikan penilaian dalam lembar observasi maupun lembar hasil kegiatan . Anak-anak melakukan kegiatan pada siklus kedua SKH I . Untuk mengetahui hasil kegiatandari anak-anak, dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 4.9. Lembar observasi Siklus II pada proses kegiatan pembelajaran Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran.

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

78

Tabel 4.10. Hasil Penilaian Siklus II Pada Kegiatan bermain peran dalam Siklus Kedua SKH I Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 Kemampuan 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 Bermain peran 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 Hasil 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMADDAN F TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

79

Analisis data penilaian dalam kegiatan bermain peran

1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan minat anak: (16 x 4) + (4 x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (64 +12 + 0 + 0) = 80 76 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 95% Hasil penghitungan data berdasarkan minat anak menunjukkan prosentase sebesar 95%. 2. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan: (14 x 4) + (6x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 X 100%

(56 +18 + 0 + 0) = X 100%

80

80 74 = 80 X 100%

= 92,5% Hasil penghitungan data berdasarkan kemampuan mencetak menunjukkan prosentase sebesar 92,5%. 3. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kegiatan bermain peran: (4 x 4) + (16 x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20x 4 (16 +48 + 0 + 0) = 80 64 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 80 % Hasil penghitungan data berdasarkan bermain peran menunjukkan prosentase sebesar 80 %.

81

4. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan hasil anak: (4 x 4) + (16 x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (16 +48+ 0 + 0) = 80 64 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 80 % Hasil penghitungan data berdasarkan hasil karya anak menunjukkan prosentase sebesar 80%. Prosentase keseluruhan dari analisis data dihitung dengan menggunakan rumus: ∑xi X = N 95% + 92,5% + 80% + 80% X = 4 347,5 % = 4

82

= 86,9 % Berdasarkan hasil analisis data keseluruhan dari siklus kedua SKH I, penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran bermain peran sudah mencapai ketuntasan dengan prosentase 86,9%.

3. Refleksi Berdasarkan pengamatan pada siklus kedua SKH I, peneliti melihat dan mencatat bahwa guru sudah memberikan metode pengajaran yang sesuai dengan rancangan dan tujuan. Guru juga sudah menyampaikan apersepsi secara mendetail, sehingga anak-anak mampu menyerap materi yang disampaikan dan mampu berimajinasi. Dari lembar penilaian, diketahui bahwa tingkat minat anak-anak sudah cukup tinggi dengan prosentase sebesar 95%. Kemampuan menunjukkan prosentase sebesar 92,5%. Namun untuk bermain peran dan hasil karya samasama menunjukkan prosentase sebesar 80 %.

a.Siklus kedua SKH II 1. Perencanaan a. Membuat rencana perbaikan pembelajaran. b. Membuat media pembelajaran yang menarik minat anak. c. Membuat lembar penilaian secara individual dan membuat lembar observasi atau pengamatan.

83

2. Pengamatan Pada siklus kedua SKH II, guru mengajak anak-anak untuk dengan bermain sehingga memberntuk kegiatan.. Untuk mengetahui hasil kegiatan bermain, peneliti bersama dengan guru mencatat dalam lembar observasi dan lembar penilaian sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 4.11. Lembar observasi Siklus II pada proses kegiatan pembelajaran Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Model pengembangan kegiatan untuk anak. Penyampaian cerita oleh guru Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran Mau menyelesaikan tugas sendiri Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan. Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil. Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya. Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran. Masih ada anak yang memerlukan bantuan. Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

2

3 4

√ √

5 6

√ √

84

Tabel 4.12. Hasil Penilaian Siklus II Pada Bermain peran SKH II Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3 3 2 2 4 4 3 3 4 Kemampuan 3 2 3 4 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 4 Bermain peran 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 2 3 2 Hasil 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 2 3 2

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA COIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDEIANSYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD HIDAYAT RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMADDAN F TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

85

Analisis data penilaian dalam kegiatan Bermain peran: 1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan minat anak: (7x 4) + (11 x 3) + (2 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (28 +33 + 4 + 0) = 80 65 = 80 = 81,3 % Hasil penghitungan data berdasarkan minat anak menunjukkan prosentase sebesar 81,3%. 2. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan : (2 x 4) + (10 x 3) + (8 x 2) + (0 x 1) X = 20x 4 (8 +30 + 16 + 0) = 80 54 = X 100% X 100% X 100% X 100% X 100% X 100%

86

80 = 67,5% Hasil penghitungan data berdasarkan kemampuan menunjukkan

prosentase sebesar 67,5%. 3. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan Bermain peran: (0 x 4) + (6 x 3) + (14 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (0 +18 + 28 + 0) = 80 46 = 80 = 57,5% Hasil penghitungan data berdasarkan kerapian menunjukkan prosentase sebesar 57,5%. 4. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan hasil anak: (0 x 4) + (5x 3) + (15 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 X 100% X 100% X 100% X 100%

87

(0 +15+ 30 + 0) = 80 45 = 80 X 100% X 100%

= 56,3% Hasil penghitungan data berdasarkan hasil karya anak menunjukkan prosentase sebesar 56,3%. Prosentase keseluruhan dari analisis data dihitung dengan menggunakan rumus: ∑xi X = N 81,3% + 67,5% + 57,5% + 56,3% X = 4 262,6% = 4

= 65,7%

88

Berdasarkan hasil analisis data keseluruhan dari siklus kedua SKH II, penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran Bermain peran belum mencapai ketuntasan dengan prosentase 65,7%. 3. Refleksi Berdasarkan pengamatan, peneliti bersama-sama dengan guru melihat bahwa pada siklus kedua SKH II, hasil yang diperoleh mengalami penurunan dari sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan; pertama, apersepsi penjelasan dari guru kurang jelas sehingga sulit dipahami oleh anak-anak. Kedua, anak-anak mengalami kesulitan dalam Bermain peran. Ketiga, hasil penilaian membuktikan bahwa pelaksanaan kegiatan siklus kedua SKH II sangat rendah. dari tingkat minat memang sudah cukup tinggi dengan prosentase sebesar 81,5%. Namun untuk kemampuan bermain peran prosentasenya hanya 67,5%. Maka hasil bermain peran pun hanya mencapai 57,5% dan hasil karya menunjukkan 56,3%. Oleh sebab itu, peneliti bersama dengan guru akan mengadakan perbaikan lagi untuk meningkatkan kemampuan bermain peran, meningkatkan kerapian dan hasil karya dalam kegiatan siklus kedua SKH III.

a.Siklus kedua SKH III 1. Perencanaan a. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran SKH III. b. Membuat media pembelajaran yang menarik minat anak. c. Membuat lembar penilaian secara individual dan lembar observasi atau pengamatan.

89

2.Pengamatan Berdasarkan refleksi dari siklus kedua SKH II, peneliti bersama guru akan memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang mengakibatkan penurunan hasil penilaian. Pada siklus kedua SKH III, , anak-anak mengadakan praktik langsung bermain peran . Hasil yang diperoleh dapat dilihat dalam lembar observasi maupun penilaian berikut ini: Tabel 4.13. Lembar observasi Siklus II pada proses kegiatan pembelajaran Ada No 1 Aspek yang diobservasi Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Model pengembangan kegiatan untuk anak. Penyampaian cerita oleh guru Pemahaman anak terhadap Ya √ Tidak Keterangan Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan. Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil. Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya. Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran. Masih ada anak yang memerlukan bantuan. Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

2

3 4

√ √

5 6

Mau menyelesaikan tugas sendiri Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

√ √

90

Tabel 4.14. Hasil Penilaian Siklus II Pada Kegiatan Bermain peran SKH III

Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 4 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 2 4 4 4 4 Kemampuan Kerapian Hasil Menggambar Karya 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 2 3 3 3 4 3

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARDIANSYAH OKTRIAN KURNIAWAN FAHRI SAPTA NUGRAHA HESTI PURWANDARI SITI NURAZIZAH RISQI RAHMADDAN TEGUH ROZIAN FAHLEN WUIAN DENATA

91

Analisis data penilaian dalam kegiatan Bermain peran pada siklus kedua SKH III: 1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan minat anak: (13 x 4) + (6 x 3) + (1 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (52 + 24 + 2 + 0) = 80 78 = 80 = 97,5 % Hasil penghitungan data berdasarkan minat anak menunjukkan prosentase sebesar 97,5 %. 2. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan : (14x 4) + (6 x 3) + (0 x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 X 100% X 100% X 100% X 100%

(56+18+ 0 + 0)

92

= 80 74 = 80 X 100%

X 100%

= 92,5 % Hasil penghitungan data berdasarkan kemampuan menunjukkan prosentase sebesar 92,5 %. 3. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan Bermain peran: (10x 4) + (9 x 3) + (1 x 2) + (0 x 1) X = 20x 4 (40+27+ 2 + 0) = 80 69 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 86,3 % Hasil penghitungan data berdasarkan bermain peran menunjukkan prosentase sebesar 86,3 %.

93

4. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan hasil : (5 x 4) + (14 x 3) + (1 x 2) + (0 x 1) X = 20x 4 (20 +42+ 2 + 0) = 80 64 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 80 % Hasil penghitungan data berdasarkan hasil anak menunjukkan prosentase sebesar 80%. Prosentase keseluruhan dari analisis data dihitung dengan menggunakan rumus: ∑xi X = N 97,5% + 92,5% + 86,3% + 80% X = 4

94

356,3% = 4 = 89,1% Berdasarkan hasil analisis data keseluruhan dari siklus kedua SKH III, penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran Bermain peran ketuntasan dengan prosentase 89,1%. sudah mencapai

3. Refleksi Hasil pengamatan siklus kedua SKH III menunjukkan bahwa guru sudah memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan, model pengembangan pembelajaran juga sesuai dengan rancangan bahkan guru mau mencoba mengembangkan kegiatan pembelajaran dengan bercerita terlebih dahulu. Dengan menceritakan tempat bekerja , anak-anak lebih mudah menangkap kegiatan dan mampu mengembangkan imajinasinya, sehingga hasil bermain peran pun menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi. Dari tingkat minat menunjukkan prosentase 97,5%. Kemampuan menunjukkan prosentase 92,5%, Bermain peran sebesar 86,3%, dan hasil karya menunjukkan prosentase 80, %. Bahkan anak-anak merasa bangga ketika hasil karyanya ditempel pada papan yang sudah disediakan. Oleh sebab itu pada siklus kedua SKH III ini dapat dikatakan bahwa hasil kegiatan pembelajaran bermain peran

95

a.Siklus kedua SKH IV 1.Perencanaan d. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran SKH IV. e. Membuat media pembelajaran yang menarik minat anak. f. Membuat lembar penilaian secara individual dan lembar observasi atau pengamatan. 4. Pengamatan Pada siklus kedua SKH IV, guru bersama peneliti mengadakan kegiatan bermain peran sehingga yang sama dengan SKH III. Hasil penilaian dapat dilihat dalam tabel lembar observasi dan lembar penilaian berikut ini: Tabel 4.15. Lembar observasi Siklus II pada proses kegiatan pembelajaran Ada No 1 Aspek yang diobservasi Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Model pengembangan kegiatan untuk anak. Penyampaian cerita oleh guru Pemahaman anak terhadap kegiatan menggambar Ya √ Tidak Keterangan Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan. Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil. Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya. Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam Bermain peran. Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

2

3 4

√ √

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

96

Tabel 4.16. Hasil Penilaian Siklus II Pada Kegiatan Bermain peran SKH IV Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 Kemampuan 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 Bermain peran 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Hasil 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMADDANF TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

97

Analisis data penilaian dalam kegiatan Bermain peran SKH IV 1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan minat anak: (16 x 4) + (4x 3) + (0x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (64+12+ 0 + 0) = 80 X 100% X 100%

76 = X 100% 80

= 95% Hasil penghitungan data berdasarkan minat anak menunjukkan prosentase sebesar 95 %.

2. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan: (18 x 4) + (2x 3) + (0x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 X 100%

98

(72+6+ 0 + 0) = 80 78 = 80 X 100% X 100%

= 97,5% Hasil penghitungan data berdasarkan kemampuan menunjukkan prosentase sebesar 97,5%. 3. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan : (19 x 4) + (1 x 3) + (0x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 (76+3+ 0 + 0) = 80 79 = 80 X 100% X 100% X 100%

= 98,8 %

99

Hasil penghitungan data berdasarkan bermain peran menunjukkan prosentase sebesar 98,8%. 4. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan hasil karya anak: (14 x 4) + (6 x 3) + (0x 2) + (0 x 1) X = 20 x 4 X 100%

(56 +18+ 0 + 0) = 80 X 100%

74 = 80 X 100%

= 92,5 % Hasil penghitungan data berdasarkan hasil karya anak menunjukkan prosentase sebesar 92,5 %. Prosentase keseluruhan dari analisis data dihitung dengan menggunakan rumus: ∑xi X = N

100

95% + 97,5% + 98,8% + 92,5% X = 4 383,8% = 4 = 95,9% Berdasarkan hasil analisis data keseluruhan dari siklus kedua SKH IV, penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran Bermain peran ketuntasan dengan prosentase 95,9%. 5. Refleksi Dari hasil pengamatan maupun lembar observasi serta lembar penilaian siklus kedua SKH IV, anak-anak sudah menunjukkan bahwa kegiatan bermain peran sudah mencapai ketuntasan. Bukti nyata dari penialaian yang menunjukkan prosentase untuk tingkat minat sebesar 95%. Kemampuan menunjukkan prosentasenya 97,5%. Untuk bermain peran menunjukkan prosentase 98,8%, dan dari hasil karya menunjukkan prosentase 92,5%. Dari hasil data tersebut sudah membuktikan bahwa kegiatan bermain peran dapat dikatakan berhasil dan sudah mencapai ketuntasan dengan hasil keseluruhan mencapai prosentase 95,9 %. sudah mencapai

d. Hasil Penelitian Tindakan Siklus I dan II

101

Berdasarkan hasil pengolahan data observasi dan lembar penilaian anakanak, maka prosentase secara keseluruhan SKH dari siklus I dan SKH pada siklus II dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Pada siklus I : ∑xi X = N 51,3% + 63,8% + 72,3% + 86,9% X = 4 274,3% = 4 = 68,58%

Pada siklus II : ∑xi X = N 86,9% + 65,7% + 89,1% + 95,9% X = 4

102

337,6% = 4 =84,4%

Dari hasil penghitungan prosentase rata-rata keseluruhan siklus I dan siklus II dapat digambarkan dalam diagram berikut ini: D1

90 80 70 60 50 40 30 20 10

0
Siklus I Siklus II

103

e. Pembahasan Siklus I Pada proses siklus I kegiatan pembelajaran sudah sesuai dengan SKH, dan berdasarkan lembar observasi maupun lembar penilaian, diketahui tingkat perkembangan atau kemajuan yang diperoleh anak-anak selama melakukan kegiatan Bermain peran. Pada siklus I, peneliti melihat bahwa hasil penilaian yang diperoleh anak-anak masih belum maksimal, dan juga masih ada beberapa kelemahan, antara lain; pertama, guru kurang mendetail dalam memberikan apersepsi, sehingga anak-anak masih kesulitan dalam memahami perintah. Kedua, anak-anak belum mampu berimajinasi. Ketiga, beberapa anak belum mampu menyelesaikan tugasnya secara mandiri sehingga masih perlu bantuan dari guru. Selain menemukan kelemahan, peneliti menemukan segi-segi positif dari guru. Antara lain; pertama, guru cukup sabar dalam mendampingi anakanak selama proses kegiatan. Kedua, guru cukup telaten dalam melatih anakanak. Ketiga, anak-anak semakin bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran, apalagi hasil karyanya ditempel pada papan yang sudah disediakan. Keempat, guru berani melakukan inovasi dan kreasi dalam penyampaian cerita. Siklus II : Pada pelaksanaan siklus II, guru tetap konsisten dalam melaksanakan SKH dan semakin kreatif dalam penyampaian pembelajaran. Hasilnya, anakanak bukan saja semakin bersemangat dalam kegiatan bermain peran tetapi lebih-lebih sudah menunjukkan daya imajinasi yang cukup tinggi.

104

Dari lembar observasi maupun lembar hasil penilaian, menunjukkan bahwa tingkat kemajuan menggambar dengan fingerpainting sehingga membentuk pola binatang memperoleh hasil yang maksimal dan bisa dikatakan mencapai ketuntasan. Hal tersebut ditunjukkan dalam perolehan nilai prosentase sebesar 84,4% (lebih dari 69%).

105

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Perkembangan pembelajaran kreatifitas dengan menggunakan metode bermain peran pada siswa TK Dharma Wanita Sawo. Kecamatan Karanjati Kabupaten Ngawi, sebelum dikenai tindakan kelas masih belum mencapai ketuntasan minimal yang sudah ditentukan dan tergolong rendah. Indikatornya tampak dari kemampuan anak dalam pembelajaran seni peran yang tertinggi hanya mencapai prosentase sebesar 65,5 %, untuk anak yang tergolong sedang mencapai prosentase sebesar 12,5%, sedangkan 12 % tergolong rendah. Selain prosentase tersebut, beberapa fakta, antara lain; (a) jarang sekali ada anak yang mau melakukan kegiatan seni bermain peran, (b) kalaupun ada yang mau melakukan kegiatan pembelajaran seni peran jumlahnya terlalu sedikit, (c) area seni yang diminati oleh anak kebanyakan adalah mewarnai, dan bernyanyi, (d) guru yang mengampu bidang seni jarang sekali mengajari anak dalam hal bermain peran, (e) sebagian besar anak merasa takut kalau salah,ditertawakan, Dengan model pembelajaran tersebut, masing-masing anak diberi stimulasi dan dimotivasi supaya . Setelah dikenai tindakan kelas, dan keterampilan anak TK DW Sawo tidak takut salah. lebih berani mengekspresikan imajinasinya dalam dalam kegiatan pembelajaran seni Peran. mulai menunjukkan adanya peningkatan walupun belum mencapai ketuntasan minimal. Pada siklus I, kemampuan anak dalam kegiatan bermain peran secara keseluruhan mencapai prosentase sebesar

106

68,58%. Pada pelaksanaan tindakan siklus II, mulai diterapkan model pembelajaran seni peran, keterampilan seni peran diperoleh mencapai prosentase sebesar 84,4% B. Saran 1. Saran, kepada para guru TK, hendaknya selalu berusaha mencari alternatif cara-cara yang dapat menjadikan pembelajaran membaca lebih menarik dan menyenangkan, baik melalui metode, media atau alat peraga yang lebih bervariasi sehingga mutu seni menggambar pada anak semakin meningkat. Selain itu, hendaknya guru TK mau belajar mengembangkan metode pembelajaran, supaya dalam melaksanakan proses belajar mengajar semakin menyenangkan, menarik dan tidak membosankan. 2. Bagi TK lain yang memiliki kondisi hampir sama dengan TK Dharma Wanita Sawo, Kec Karangjati kiranya pembelajaran keterampilan seni bermain peran kiranya dapat sebagai acuan pembelajaran ketrampilan seni bermain peran.

107

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, Siti, dkk. (2007). Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka

Alwi, Hasan, dkk. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka: Jakarta. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT Rineka Cipta: Jakarta.

Asmawati, Luluk., dkk. (2008). Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.

Aulia. 2011. Mengajarkan Balita Anda Membaca. Intan Media: Jogjakarta. Dardjowidjojo, Soenjono. 2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.

Dedi, Supriadi. 2000. Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan Iptek. Alfabeta: Bandung.

Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Kurikulum 2004 Standar Kompetensi TK dan RA. Jakarta.

Djaali. 2011. Psikologi Pendidikan. PT Bumi Aksara: Jakarta.

108

Djamarah, Bahri Syaiful dan Zain Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. PT Rineka Cipta: Jakarta.

Gunarti, Winda, Lilis Suryani, Azizah Muis. (2008). Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.

http://bahaudin.amyasi.blogspot.com. 09/45/2/2011. Isjoni. 2010. Cooperatif Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Alfabeta: Bandung.

Jordan, Ayan. 2000. Bengkel Kreativitas. Kaifa: Bandung. Kamtini dan Tanjung Husni Wardi. 2009. Bermain Melalui Gerak dan Lagu di Taman Kanak-kanak. UNES: Semarang.

Maslihah. 2006. Perkembangan Anak Usia Pra Sekolah (makalah seminar Training For Trainer). Bumi Kitri: Bandung.

Musfiroh, Tadkiroatun. 2009. Menumbuhkembangkan Baca Tulis Anak Usia Dini. PT Grasindo: Jakarta.

Muslikah. 2010. Sukses Profesi Guru Dengan Penelitian Tindakan Kelas. Jogjakarta: Interprebook.

Mutiah, Diana. 2010. Sukses Profesi Guru dengan Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT Rineka Cipta: Jakarta.

109

Nursito. 2006. Kiat Menggali Kreativitas. Mitra Gama Widya: Yogyakarta. Olivia Femi dan Ariani Lita. 2009. Belajar Membaca Yang Menyenangkan Untuk Anak Usia Dini. Gramedia: Jakarta.

Rachmawati Yeni dan Kurniati Euis. 2010. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-kanak. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.

Rasyid, Fathur. 2010. Cerdaskan Anakmu Dengan Musik. DIVA Press: Jogjakarta. Semiawan, C.R. 2002. Belajar dan Pembelajaran Dalam Taraf Usia Dini (Pendidikan Prasekolah & Sekolah Dasar). Editor Yufiarti & Theodorus Imanuel Setiawan. PT Ikrar Mandiri Abadi: Jakarta.

Semiawan, C.R. 2003. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Grasindo: Jakarta. Silberg, Jackie (penerj. Nike Sinta Karina). 2004. Brain Games for Toddlers. Erlangga: Jakarta.

Sukardi, S. Evan dan Hajar Pamadhi. (2008). Seni Ketrampilan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka.

Suwarna, dkk., 2006. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Tentang: Sistem Pendidikan Nasional. (2003). Jakarta: Depdiknas. Utami, Munandar S. C. 1999. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Depdikbud: Jakarta.

110

Utami, Munandar S. C. 2001. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Peserta Didik Sekolah. Gramedia: Jakarta.

Van Tiel Julia Maria. 2008. Anakku Terlambat Bicara. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.

Wijana, Widarmi, D., dkk. (2008). Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wikipedia. 2011.http://www.google.com.08/15/4/2011. Yulaika, Ruslina. 2006. Psikologi Perkembangan Bahasa dan Bicara Anak Usia Dini (Diktat Mata Kuliah Psikologi). STKIP PGRI: Ngawi.

Yus, Anita. 2011. Penilaian Perkembangan Belajar Anak Taman Kanak-kanak. Kencana Prenada Media Group: Jakarta. Sumber: : http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/model-pembelajaranexplicit-instruction.html#ixzz2JeWCHp1T

111

112

Lampiran: 1 SATUAN KEGIATAN HARIAN TEMA : PEKERJAAN Sub tema Semester/Minggu Kelompok Hari/Tanggal Waktu : MACAM-MACAM PEKERJAAN : II/V :B : ………………………. : 07.15 – 10.00

INDIKATOR

KEGIATAN PEMBELAJARAN

METODE

SARANA / SUMBER BELAJAR

ALAT PENELIAN

a. Mengajak teman bermain (MAG.18) b. Menyanyikan lagu pak polisi(B.15) c. Bermain peran Guru (K.9) d. Menggambar bebas,mewarnai. e. ( FM.44)

I. Kegiatan Awal ( 30 menit) a. Berdoa, salam b. Berbagi cerita II. Kegiatan Inti ( 60 menit ) a. Menyebutkan macam-macam pekerjaan b. Bermain peran Guru mengajar. c. Menggambar bebas.

a. Bercerita b. Bercakapcakap c. P.Langsung d. Pemberian Tugas

a. Anak b. Papan majemuk c. Crayon d. Gambar Guru

a. Observasi b. Unjuk rasa c. Penufgasan d. Hasil Karya

113

f. Tidak bermain curang (SOS.16) g.

III. Istirahat ( 30 menit) a. Bermain bebas b. Cuci tangan, doa, makan,gosok gigi IV. Kegiatan Akhir a. Bercerita b. Diskusi kegiatan 1 hari c. Doa pulang, salam

Mengetahui Kepala TK Dharma Wanita Sawo

Guru Kelas

Surati

Sulistiana

114

Lampiran : 2 SATUAN KEGIATAN HARIAN TEMA : PEKERJAAN Sub tema Semester/Minggu Kelompok Hari/Tanggal Waktu : TUGAS/PEKERJAAN : II/V :B : …………………………. : 07.15 - 10.00

INDIKATOR

KEGIATAN PEMBELAJARAN

METODE

SARANA / SUMBER BELAJAR

ALAT PENELIAN

a. b. c. d. e.

Tidak / suka berbohong(MAG.19) Membaca buku cerita (B33) Bermain peran dokter (K10) Mewarnai gambar pak pos (FM. 45) Tidak bermain curang (SOS. 16)

1. Kegiatan Awal ( 30 menit ) a. Percakapan a. Berdoa salam b. P Langsung b. Berbagi cerita c. Menjawab pertanyaan tentang c. Demonstrsi tugas dokter. d. Berjalan jinjit seperti semut. II. Kegiatan Inti ( 60 menit ) a. Menyebutkan alat

a. Anak c. Gambar alat kedokteran d. Alat bermain e. Air, odol,

a. Observasi c. Penufgasan d. Hasil Karya

b. Gambar dokter b. Unjuk rasa

115

perlengkapan dokter b. Menjelaskan tema tugas dokter. c. Tempat kerja dokter. d. Mewarnai gambar bebas. III. Istirahat ( 30 menit ) a. Bermain, cuci tangan, makan, minum, gosok gigi. IV. Kegiatan Akhir ( 30 menit ) a. Menyanyi lagu “ semut = semut Kecil “ b. Diskusi kegiatan hari ini. c. Doa, Pulang, salam.

sabun, sikat gigi

Mengetahui Kepala TK Dharma Wanita Sawo

Guru Kelas

Sulistiana Surati

116

Lmpiran : 3

INSTRUMEN PENILAIAN Nama No. Absen :……………………………….. :………………………………

NO KEGIATAN PENGAMATAN 1 2 3 Minat Kemampuan Bermain peran

NILAI

4

Hasil

JUMLAH

SKOR PENILAIAN : Nilai 4 =

Nilai 3

=

Nilai 2

=

Nilai 1

=

117

Lampiran : 4 DAFTAR NAMA SISWA DAN DAFTAR NILAI TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012

N0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

NO INDUK 606 607 596 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 603 618 619 620 621 622 623

NAMA ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMAD DAN F TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

L/P P P L P L L P L P P P L L L P L P L L L

NILAI

118

Lampiran : 5

RUBRIK ANALISIS DATA

NO

KEGIATAN 4

NILAI 3 2 1

A

Minat Mempunyai pengertian sangat baik, anak mempunyai minat yang lebih dan mampu melakukan kegiatan dengan baik tanpa bantuan dari guru. X Mempunyai pengertian baik, anak mempunyai minat dan dapat melakukan kegiatan dengan benar tanpa bantuan guru. Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang berminat dalam melakukan kegiatan dan masih membutuhkan bantuan guru. Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum berminat melakukan kegiatan dan masih membutuhkan bantuan guru maupun bimbingan dari orang lain. Kemampuan Anak Mempunyai pengertian sangat baik, anak sudah mampu bermain peran dengan sempurna tanpa bantuan dari guru. X Mempunyai pengertian baik, anak sudah mampu bermain peran dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru. Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang mampu dalam melakukan kegiatan bermain peran masih membutuhkan bantuan guru. Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum mampu melakukan kegiatan bermain peran masih membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain.

1

2

X

3

X

4 B

X

1

2

X

3

X

4

X

119

C

Bermain peran Mempunyai pengertian sangat baik, dalam kegiatan bermain peran anak sudah mampu mlakukannya secara rapi, tanpa bantuan guru. X Mempunyai pengertian baik, anak sudah rapi dalam dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru. Mempunyai pengertian yang cukup, anak kurang rapi dalam melakukan kegiatan bermain peran, masih membutuhkan bantuan guru. Mempunyai pengertian yang kurang, anak belum rapi melakukan kegiatan bermain peran masih membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain. HasilKarya Mempunyai pengertian sangat baik, hasil bermain peran anak sudah baik dengan sempurna tanpa bantuan dari guru. X Mempunyai pengertian baik, hasil bermain peran anak sudah baik dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan guru. Mempunyai pengertian yang cukup, hasil anak kurang rapi dalam melakukan kegiatan bermain peran, dan masih membutuhkan bantuan guru. Mempunyai pengertian yang kurang, hasil anak belum sempurna dalam melakukan kegiatan bermain peran, masih membutuhkan bantuan guru dan bimbingan dari orang lain.

1

2

X

3

X

4 D

X

1

2

X

3

X

4

X

KETERANGAN : Nilai 4 =

Nilai 3

=

120

Nilai 2

=

Nilai 1

=

Tabel : 4.1

Lembar observasi Siklus I pada proses kegiatan pembelajaran Ada No 1 Aspek yang diobservasi Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Model pengembangan kegiatan. Penjelasan pembelajaran oleh guru. Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran Mau menyelesaikan tugas sendiri Guru memberi tugas untuk menempel hasil karya di papan hasil karya √ Ya √ Tidak Keterangan Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan. Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil. Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya. √ Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran. Masih ada anak yang memerlukan bantuan. Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

2

3 4

5 6

121

Tabel : 4.2 Lembar penilaian Siklus I hasil kegiatan pembelajaran bermain peranr SKH I Aspek yang dinilai N o Nama Anak Minat Kemampuan Berm ain peran 1 1 2 2 2 3 1 3 1 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 Hasil

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA ADENIA LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSAYD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD HIDAYAT RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMAD DAN F. TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

2 2 2 4 1 3 1 3 2 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3

2 1 3 3 2 3 1 3 1 2 4 2 2 3 1 1 4 2 2 3

1 2 2 3 1 3 1 3 1 2 3 2 2 2 1 1 3 2 2 2

122

Tabel : 4.3 Lembar observasi Siklus I pada proses kegiatan pembelajaran

Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran.

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

123

Tabel : 4.4 Hasil Penilaian Siklus I Pada Kegiatan menggambar Dengan bermain peran SKH II Penilaian Anak No Nama Anak Minat 3 3 3 3 2 3 2 4 3 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 4 Kemampuan 3 2 2 3 2 3 2 4 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 2 3 Bermain peran 2 2 1 2 2 3 2 3 1 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 Hasil 2 2 1 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMAD DAN F TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

124

Tabel : 4.5

Lembar observasi Silkus I pada proses kegiatan pembelajaran

Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran.

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran..

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel : 4.6

125

Hasil Penilaian Siklus I Pada Kegiatan Menggambar Dengan bermain peran SKH III Penilaian Anak No Nama Anak Minat Kemampuan Bermain peran 3 3 2 3 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 Hasil

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMAD DAN TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 3 3 2 2 3 3 3 3 4

3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4

3 3 2 3 2 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 2 3 Tabel : 4.7

126

Lembar observasi Siklus I pada proses kegiatan pembelajaran

Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan Bermain peran

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel :4.8

127

Hasil Penilaian Siklus I Pada Kegiatan menggambar Dengan Fingerpainting SKH IV Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 Kemampuan Kerapian Menggambar 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 3 3 4 Hasil Karya 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 3 3 3 4 4 3 4 Tabel : 4.9

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSAYD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAMMAD DAN TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

128

Lembar observasi pada proses kegiatan pembelajaran

Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran..

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel : 4.10

129

Hasil Penilaian Siklus I Pada Kegiatan Bermain peran SKH IV Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Kemampuan Bermain peran Hasil 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3 Tabel : 4.11

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARSAYAH M RAFFI ARSAYD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMADDAN TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

130

Lembar observasi Siklus II pada proses kegiatan pembelajaran

Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran.

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain perang.

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel : 4.12

131

Hasil Penilaian Siklus II Pada Kegiatan Bermain peran Siklus Kedua SKH I Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 Kemampuan 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 Bermain peran 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 Hasil 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 Tabel : 4.13

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMAD H TEGUH ROZIAN FAHLE4N WIAN DENATA

132

Lembar observasi Siklus II pada proses kegiatan pembelajaran

Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran.

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran.

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel : 4.14

133

Hasil Penilaian Siklus II Pada Kegiatan Bermain peran SKH II Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3 3 2 2 4 4 3 3 4 Kemampuan 3 2 3 4 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 4 Bermain peran 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 2 3 2 Hasil 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 2 3 2 Tabel : 4.15

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI MIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSYAD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMAD DAN TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

134

Lembar observasi Siklus II pada proses kegiatan pembelajaran

Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran.

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran.

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel : 4.16

135

Hasil Penilaian Siklus II Pada Kegiatan Bermain peran SKH III Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 4 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 2 4 4 4 4 Kemampuan 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 Bermain peran 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 2 3 3 4 4 4 Hasil 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 2 3 3 3 4 3

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA COIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO IRMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSAYD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMAD DAN TEGUH ROZIAN FAHLEN WIAN DENATA

136

Tabel : 4.17

Lembar observasi Siklus II pada proses kegiatan pembelajaran Ada No Aspek yang diobservasi Ya √ Tidak Keterangan

1

Metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.

Guru memberikan metode yang sesuai dengan rancangan dan tujuan.

2

Model pengembangan kegiatan untuk anak.

Kegiatan sesuai dengan rancangan, namun masih ada yang belum berhasil.

3

Penyampaian cerita oleh guru

Anak-anak belum mampu mengeluarkan imajinasinya.

4

Pemahaman anak terhadap kegiatan bermain peran.

Masih ada anak-anak yang belum optimal dalam bermain peran.

5

Mau menyelesaikan tugas sendiri

Masih ada anak yang memerlukan bantuan.

6

Guru menyuruh anak untuk menempel hasil karya di papan hasil karya

Anak merasa senang karena dapat membandingkan hasil karyanya.

Tabel : 4.18

137

Hasil Penilaian Siklus II Pada Kegiatan Bermain peran SKH IV Penilaian Anak No Nama Anak Minat 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 Kemampuan Bermain Hasil peran 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 3

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

ANISA NUR KAFAH ANISA PRATIWI AMIEN NUR EFENDI CALISTA CHOIRULIYA FATAKUL ABIMA GALANG ROMDON GALUH DINDA IMAM PURWANTO ITMA WULANDARI LAURENTI FLORA A LINTANG YONA MUFID ARDIANSYAH M RAFFI ARSAYD OKTRIAN KURNIAWAN PRIASIH ISNAINI RIAN AHMAD H RIRIN PUJI ASTUTIK RISQI RAHMAD DAN TEGUH ROZIAN

20 FA H FAHLEN WIAN DENATA LE

138

N WI A N D E N A T A

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->