P. 1
Laporan Awal Geofisika 2 GRAVITY

Laporan Awal Geofisika 2 GRAVITY

|Views: 788|Likes:

More info:

Published by: Mohamad Fitrah Bahari on Mar 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2014

pdf

text

original

METODA GRAVITY

GRAV – 01
PENDAHULUAN

Metode gravity (gaya berat) dilakukan untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan
berdasarkan perbedaan rapat massa cebakan mineral dari daerah sekeliling. Metode ini
adalah metode geofisika yang sensitive terhadap perubahan vertical, oleh karena itu metode
ini disukai untuk mempelajari kontak intrusi, batuan dasar, struktur geologi, endapan
sungai purba, lubang di dalam masa batuan, shaff terpendam dan lain – lain. Eksplorasi
biasanya dilakukan dalam bentuk kisi atau lintasan penampang. Metode gravity merupakan
salah satu metode geofisika yang berlandaskan hukum Newton. Metode penyelidikan ini
didasarkan pada pengukuran adanya perbedaan kecil dari medan gravity. Perbedaan ini
disebabkan karena adanya distribusi massa yang tidak merata dikerak bumi dan
menyebabkan tidak meratanya distribusi massa jenis batuan. Adanya perbedaan massa
jenis batuan dari satu tempat dengan tempat lain menimbulkan medan gravit yang tidak
merata pula dan perbedaan inilah yang terukur di permukaan bumi.

Jadi dengan penyelidikan gaya berat di permukaan bumi diaharapkan untuk dapat
menafsirkan bentuk benda bawah permukaan (geologi subsurface) yang sangat penting
dalam dunia eksplorasi perminyakan. Dengan mengetahui struktur geologi bawah
permukaan kita dapat menafsirkan dimana akan terkumpulnya hidrokarbon. Karena
perbedaan medan gaya berat di suatu tempat dengan tempat lain relative kecil, maka dibuat
alat Gravimeter. Data yang diperoleh dalam pengukuran gravity harus direduksi dengan
beberapa koreksi yaitu koreksi apungan (drift correction), koreksi lintang, koreksi pasang
surut (tidal correction), koreksi medan (terrain correction), koreksi isostasi dan dihitung
sampai memperoleh harga anomali Bougeur. Anomali Bougeur ditimbulkan oleh adanya
medan gravity regional dan medan gravity lokal. Untuk memisahkan anomali regional dan
residual dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan metode smothing,
metode perata – rataan bergerak, dsb. Sedangkan interpretasi kwantitatif untuk menentukan
kedalaman suatu lapisan, dsb dapat dilakukan dengan cara langsung (direct interpretation
method) dan cara tidak langsung (inderect interpretation).
secara ringkas proses pada penyelidikan gaya berat dapat disimpulkan sebagai berikut:










METODA GRAVITY
GRAV – 02
PENGENALAN ALAT (GRAVITY METER)

I. Tujuan
- Memahami bagian-bagian alat Gravity Meter.
- Dapat membaca alat Gravity Meter.
- Mampu mengoperasikan alat Gravity Meter.

II. Alat – Alat Praktikum
- Satu buah Gravity Meter LaCoste Romberg.

III. Teori Dasar
Metode gravity (gaya berat) dilakukan untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan
berdasarkan perbedaan rapat massa cebakan mineral dari daerah sekeliling. Metode ini
adalah metode geofisika yang sensitive terhadap perubahan vertical, oleh karena itu metode
ini disukai untuk mempelajari kontak intrusi, batuan dasar, struktur geologi, endapan
sungai purba, lubang di dalam masa batuan, shaff terpendam dan lain – lain. Eksplorasi
biasanya dilakukan dalam bentuk kisi atau lintasan penampang. Metode gravity merupakan
salah satu metode geofisika yang berlandaskan hukum Newton. Metode penyelidikan ini
didasarkan pada pengukuran adanya perbedaan kecil dari medan gravity.

Dalam pengukuran gaya berat diperlukan peralatan dengan ketelitian yang cukup tinggi
yaitu bisa mengukur adanya perbedaan percepatan gaya berat lebih kecil dari 0.1 mgal.
Berdasarkan sifat – sifat fisikanya, ada 3 macam metode yang digunakan di dalam
penyelidikan geofisika yaitu torsion balance, pendulum, dan gravimeter. Gravity meter
merupakan metode yang digunakan dalam penyelidikan gravity. Gravity meter yang biasa
digunakan adalah gravity meter LaCoste Romber yang termasuk dalam type Zero Lenght
Spring. Gravity meter ini memiliki pembacaan dari 0 sampai dengan 7000 mgal, dengan
ketelitian 0,01 mgal dan drift rata-rata kurang dari 1 mgal setiap bulannya. Untuk
operasinya, gravity meter ini memerlukan temperatur yang tetap, oleh karena itu dilengkapi
dengan Thermostat untuk menjaga keadaan temperatur supaya tetap.Dengan adanya
thermostat ini, maka diperlukan baterai 12 volt, disamping untuk pembacaan benang palang
(cross hair) dan bubble level. Gravity meter LaCoste Romberg seismograph ini, terdiri
suatu beban (weight) pada ujung batang, yang ditahan oleh zero lenght spring yang
berfungsi sebagai spring utama. Perubahan besarnya gaya tarik bumi akan menyebabkan
perubahan kedudukan benda, dan pengamatan dilakukan dengan pengaturan kembali
kedudukan benda pada posisi semula (Null Adjusment). Hal ini dilakukan dengan memutar
measuring screw. Banyaknya pemutaran measuring screw terlihat pada dial counter, yang
berarti besarnya variasi gaya tarik bumi dari suatu tempat ke tempat lain. Perubahan
kedudukan pada ujung batang, disamping karena adanya gaya tarik bumi, juga disebabkan
oleh adanya goncangan-goncangan. Untuk menghilangkan goncangan, maka ujung batang
yang lain dipasang shock eliminating spring. Zero lenght spring dipakai pada keadaan
dimana gaya berbandingan lurus dengan jarak antara titik dimana gaya bekerja. Jika
keadaan zero lenght sempurna, maka berlaku :
s k P µ =
dimana k adalah konstanta Per, sedangkan s jarak adalah jarak antara titik ikat Per dimana
gaya bekerja.

Gambar. Schema dari prinsip kerja LaCoste Romberg Gravimeter
IV. Prosedur Percobaan
- Letakkan piringan pada titik amat yang telah ditentukan. Jika titik amat yang telah
ditentukan lokasi nya kurang bak ( tanah labil, miring, gembur, dll) disarankan
memindahkan titik amat tersebut. Kemudian catat serta buat sketsa pergeseran titik
amat tersebut.
- Letakkan kotak pembawa Gravity Meter di depan titik amat.
- Berdirilah membelakangi matahari, agar sinar matahari tidak langsung mengenai
gravity meter.
- Perhatikan arah angin agar tidak mengganggu pergerakan benang bacaan.
- Bila cuaca dalam keadaan panas terik atau hujan, gunakan paying untuk melindungi
Gravity Meter.
- Hindarkan benda – benda berat (kunci, koin, yopi, helm) agar Gravity Meter terhindar
dari kemungkinan kejatuhan atau terkena benturan benda – benda tersebut.
- Ambillah posisi berlutut sebaik dan seenak mungkin. Pada daerah pengamatan yang
berbatu atau berkerikil gunakan alas lutut (bantalan).
- Letakkan piringan pada titik amat / Bench Mark (BM) yang telah ditentukan. Kemudian
keluarkan dan angkat Gravity Meter.
- Letakkan Gravity Meter di atas piringan kemudian hidupkan lampu Gravity Meter.
- Geser Gravity Meter sampai nivo memanjang, dan nivo melintang mendekati posisi
tengah.
- Jika kedua nivo tersebut posisinya sudah di tengah, bukalah sekrup pengunci
berlawanan dengan arah jarum jam.
- Amati pergerakkan benang bacaan pada lensa pengamatan dan memutar sekrup
pembacaan secara poerlahan – lahan searah maupun berlawanan dengan arah jarum
jam.
- Untuk mendapatkan harga pembacaan, disarankan menggerakkan benang bacaan dari
arah kiri ke kanan.
- Lakukan pergerakan benang bacaan yang sama dari satu arah setiap melakukan
pembacaan Gravity Meter,
- Tempatkan posisi garis baca (reading line) dengan benar, yaitu keadaan dimana batas
bawah (bagian kiri) dari benang bacaan berimpit denagn garis baca.
- Baca angka – angka yang ditunjukkan oleh skala pembilang besar dan sekrup
pembacaan halus.
- Matikan lampu Gravity Meter.
- Kunci kembali Gravity Meter tersebut dengan menggunakan sekrup pengunci searah
jarum jam.
- Angkat gravity Meter, masukkan kembali ke dalam kotak pembawa. Hati – hati
terhadap soket penghubung Gravity Meter dengan sumber arus, jangan sampai terlepas
ketika memasukkan Gravity Meter.
- Tutup kotak pembawa Gravity Meter.\

V. Tugas Pendahuluan
SOAL:
1. Jelaskan kelebihan dan kekurangan metode Torsion Balance (keseimbangan torsi),
Pendulum, dan Gravity Meter!

PENYELESAIAN:
- Metode Torsion Balance
Kelebihannya ialah bandul torsi lebih mudah bergerak, pengaruh gaya gravitasi yang
kecil dapat menghasilkan perubahan yang besar dari posisi kesetimbangan.
Kekurangannya ialah Peralatan pendulum sangat kompleks dan bentuknya besar dan
juga memiliki tingkat kesensitifan alat yang kurang.
- Pendulum
Kelebihannya ialah Dilengkapi alat untuk mengatur kesetimbangan sehingga dapat
mengatasi pengaruh suhu dan tekanan. Kekurangan metode ini ialah Peralatan
pendulum sangat kompleks dan bentuknya besar dan memiliki tingkat kesensitifan alat
hanya sebesar 0,25 mGal.
- Gravitymeter
Kelebihannya ialah alat ini memiliki ketelitian sampai 0,01 mGal, pembacaan sampai
dengan 7000 mGal, dan drift rata-ratanya < 1mGal setiap bulannya. Kekurangannya
ialah harganya sangat mahal dan alat ini sangat berat dan sensitive.

METODA GRAVITY
GRAV – 03
KALIBRASI GRAVITY METER DAN AKUISISI DATA

I. Tujuan
- Untuk menera kembali koefisien pegas yang berubah sehingga mengakibatkan
perubahan skala.
- Menentukan harga CCF (Correction Calibration Factor / Faktor Koreksi Kalibrasi).
- Memahami cara akuisisi data.

II. Alat – Alat Praktikum
- Gravity Meter LaCoste Romberg
- Barometer / Altimeter
- Arloji
- Global Positioning System (GPS)
- Tabel harga pasang surut
- Kalkulator dan alat tulis

III. Teori Dasar
Dalam praktikum ini digunakan kembali alat altimeter. Altimeter adalah alat untuk
mengukur ketinggian suatu titik dari permukaan laut. Biasanya digunakan sebagai navigasi
dalam penerbangan, pendakian, dan kegiatan yang berhubungan dengan ketinggian.
Altimeter bekerja dengan beberapa prinsip, yaitu:
- tekanan udara (yang paling umum digunakan)
- Mangnet bumi (dengan sudut inclinasi)
- Gelombang (ultra sonic maupun infra merah, dan lainnya)

Sebelum melakukan pengambilan data, gravity meter harus dikalibrasi terlebih dahulu.
Kalibrasi gravity meter dilakukan karena keadaan komponen-komponen alat ukur tersebut
setiap saat dapat berubah dari keadaan baku. Yang bisa disebabkan oleh temperatur,
tekanan udara atau penyebab mekanisme lainnya. Kalibrasi gravity meter dilakukan untuk
menera kembali koefisien pegas yang berubah sehingga mengakibatkan perubahan skala.
Peneraan dilakukan dengan membaca gravity meter melalui suatu jalur kalibrasi dengan
titik-titik yang mempunyai nilai gravity baku. Dengan cara membandingkan nilai bacaan
gravity r dari pengukuran dengan nilai gravity baku sehingga diperoleh faktor skala.
Kalibrasi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu cara dan cara lapangan yang bertujuan untuk
menguji nilai skala gravity meter yaitu dengan menentukan nilai skala baru untuk
kemudian dibandingkan terhadap nilai pada tabel konversi Dengan demikian dapat
diketahui apakah nilai skala masih sesuai atau perlu dikoreksi.
CCF = g
1
– g
2

r
1
– r
2
dengan:
g
1
, g
2
: nilai gravity yang telah diketahui pada stasiun 1 dan 2
r
1
– r
2
: nilai bacaan Gravity Meter yang telah dikonversi dalam mGal pada stasiun 1 dan
2 setelah dikoreksi pasang surut dan apungan.
Dalam pembuatan jalur kalibrasi, diperlukan pemilihan stasiun yang tepat sesuai dengan
beberapa persyaratan berikut :
Jalur kalibrasi harus mempunyai jarak yang relatif pendek, dengan beda ketinggian
yang cukup besar
Apabila jalur kalibrasi terdiri dari beberapa statiun, maka beda gravity antar statiun
kalibrasi sebaiknya antara 50-60 m Gal
Lokasi statiun sebaiknya mudah dicapai dengan kendaraan pada setiap saat, bebas
dari getaran ataupun gangguan alam lainnya
Statiun harus permanen dan stabil
Pembuatan jalur kalibrasi minimal menggunakan tiga alat
Pembuatan jalur kalibrasi yang baru hendaknya dilaporkan pada komite gaya berat
nasional
Setelah kalibrasi dilakukan tahapan berikutnya yaitu akuisisi data. Dalam akuisisi data
gravity, kita harus dapat membaca medan dan kondisi lapangan, misalnya menempatkan
titik amat pada lokasi yang stabil da mudah dijangkau. Akuisisi data dialpangan harus
dialkukan secara looping, artinya pengukuran dimulai dan diakhiri di titik yang sama.
Pengukuran gravity dapat dilakukan di darat (land gravity), udar (airbone gravity) ataupun
laut (marine gravity). Pengukuran gravity di lapangan dilakukan dengan beberapa tahapan
berikut :
Penentuan lokasi atau daerah target
Pengukuran topografi untuk menentukan ketinggian titik pengamatan
Pembuatan grid, lintasan atau desain survey
Kalibrasi alat
Pelaksanaan pengukuran dan quality control
Sedangkan data yang diperoleh dalam pengukuran gravity, antar lain:
Harga bacaan gravity meter
Waktu
Posisi (L,B) dari GPS, theodolite atau peta kerja
Ketingian dari altimeter, barometer atau theodolite
Sedangkan harga pasang surut bisa diperoleh dari program pasut yang terdapat di
pusat survey geologi (PSG), teknik geodesi ITB, teknik geofisika ITB, BMG, dll.

IV. Prosedur Percobaan
1. Prosedur Pengukuran Kalibrasi
- Gravity Meter yang akan dikalibrasi terlebih dahulu diuji kepekaan dan kebenaran
posisi garis bacanya (reading line).
- Melakukan pengukuran pada jalur kalibrasi yang mempunyai perbedaan nilai gravity
yang lebih teliti dan stabil.
- Pengukuran dilakukan minimal 3 seri : A – B – A – B – A – B.
- Waktu maksimum yang diperbolehkan untuk setiap kitaran adalah 2 – 4 jam.
- Setiap hasil bacaan harus dikoreksikan dengan koreksi pasang surut dan apungan.
2. Prosedur Pengukuran Akuisisi Data
- Mulai pengukuran pada titik yang telah diketahui harga gravitynya, misalnya : DG -
0 (museum Geologi), Base Camp (BC) LIPI (Karang Sambung), DG – 6 (Subang)
dan lain – lain.
- Lakukan pengukuran dengan membentuk suatu loop (missal : DG – 0 – BS, BS –
DG-0, BS – titik amat – BS.
V. Tugas Pendahuluan
SOAL:
1. Mengapa alat gravity meter harus dikalibrasi?
2. Mengapa waktu yang diperlukan dalam pengukuran kalibrasi ini tidak boleh terlalu
lama (1 kitaran < 3 jam) ?
3. Sebutkan fungsi harga CCF dalam pengolahan data!
4. Jelaskan mengapa dalam akuisisi data gravity disarankan harus membentuk looping
(pengukuran dimulai dan di akhiri di titik yang sama) ?
5. Jika pengukuran gravity tidak membentuk looping, apakah pengukuran bisa dilakukan?

PENYELESAIAN:
1. Karena keadaan komponen-komponen alat ukur tersebut setiap saat dapat berubah dari
keadaan baku yang bisa disebabkan oleh temperatur, tekanan udara atau penyebab
mekanisme lainnya.
2. Karena jalur kalibrasi harus mempunyai jarak yang relatif pendek.
3. CCF digunakan pada saat pengukuran lapangan untuk mengetahui apakah nilai
konversi dari pabrik masih benar.
4. Dalam pengukuran gravity perlu dilakukan koreksi drift, yaitu perubahan pembacaan
alat terhadap waktu. Dalam gravity meter perubahan ini diduga akibat perubahan pelan-
pelan pada pegas alat atau mungkin dari goncangan selama transportasi. Koreksi drift
ini dilakukan dengan melakukan pengukuran dalam looping tertutup, yaitu dimulai dan
diakhiri pada titik yang sama. Titik awal dan akhir ini merupakan daerah yang nilai
gravity mutlaknya sudah diketahui. Karena alasan inilah semua pengukuran gravity
dilakukan dalam looping tertutup.
5. Tidak bisa, karena koreksi drift tidak bisa dilakukan.






METODA GRAVITY
GRAV – 04
PENGOLAHAN DATA GRAVITY

I. Tujuan
- Memahami cara melakukan konversi pembacaan dalam mGal dari data bacaan Gravity
Meter
- Memahami dan dapat menghitung koreksi drift, koreksi udara bebas, koreksi Bouguer,
dan menentukan koreksi pasang surut dengan cara interpolasi linier dari tabel pasut
- Memahami cara menentukan koreksi medan inner zone dengan metode Robins – Oliver
dan metode Hammer serta menentukan koreksi medan outer zone dengan menggunakan
Hammer chart
- Memahami dan dapat menghitung nilai gravitasi pengamatan dan menghitung gravitasi
normal dengan menggunakan beberapa rumus formula gravitasi normal
- Memahami dan dapat menghitung anomali gravitasi dan anomali Bouguer.

II. Alat – Alat Praktikum
- Data pengukuran gravity
- Tabel konversi pembacaan dalam mGal
- Tabel koreksi pasang surut
- GPS
- Kalkulator dan alat tulis

III. Teori Dasar
Penyelidikan gaya berat dimaksudkan untuk membuat peta anomali gaya berat dengan
tujuan mengetahui pola penyebaran batuan dan kondisi geologi serta struktur daerah
tersebut, berdasarkan sebaran pola anomalinya. Metoda gaya berat pada dasarnya adalah
mengukur besaran densitas batuan. Inhomogenitas batuan pembentuk litosfer akan
memberikan kontras densitas batuan yang merupakan sasaran dalam pengukuran dengan
metode ini, dimana keterdapatan struktur maupun perubahan jenis batuan baik secara
vertikal maupun horizontal terdeteksi. Metoda gaya berat merupakan salah satu metoda
penyelidikan dengan menggunakan hukum Newton II tentang gracitasi, yang mengukur
adanya perbedaan kecil dari massa bumi yang besar. Perbedaan terjadi karena distribusi
massa yang tidak meratanya distribusi massa jenis batuan. Adanya perbedaan massa jenis
batuan dari suatu tempat dengan tempat lain, akan menimbulkan medan gaya berat yang
tidak merata, dan perbedaan inilah yang terukur di permukaan bumi. Karena perbedaan
gaya berat di suatu tempat dengan tempat lain relatif kecil, maka diperlukan alat ukur yang
peka terhadap perbedaan tersebut dan alat tersebut disebut gravimeter. Hasil pengukuran
gaya berat kemudian dikoreksi dengan berbagai koreksi yaitu koreksi pasang surut, koreksi
drift, koreksi udara bebas, koreksi Bouguer, koreksi medan dan koreksi lintang sehingga
menghasilkan suatu nilai anomali Bouguer. Hukum Newton II menyatakan bahwa gaya
tarik menarik antara dua benda yang masing-masing mempunyai massa m1 dan m2 dengan
jarak r, dirumuskan sebagai berikut:
2
2
det /
2 1
) ( m
r
m m
G r F =
Dimana: F = Gaya (Newton)
r =Jarak antara dua massa benda (meter)
m1,m2 = Massa benda (kg)
G = Konstata umum gayaberat = 6.67 x 10-11m3/kg det
3


dengan G adalah konstanta gaya berat yang besarnya 6,672x10
-8
dalam satuan cgs atau
sebesar 6.670x10
-11
m
3
/Kgdet
2
sebagi konstanta gravitasi universal. Intensitas medan
gravity adalah gaya persatuan massa :
2
2
det / m
r
M
G
m
F
g = =
Dari persamaan Hukum Newton diatas dapat dimengerti bahwa intensitas medan gravity
masing-masing benda adalah:

Benda 1 : a1 = F/m1 dan benda 2 : a2 = F/m2



Berdasarkan persamaan diatas, sekarang kita tinjau interaksi sebuah benda dengan bumi.
Elemen percepatan benda tersebut akibat elemen massa bumi sebesar dm1 adalah :
2
1
1
R
dm
G da =
Untuk model bumi bulat, homogen isotropis, maka pusat massa bumi terletak pada pusat
bumi, sehingga percepatan garvitasi akibat massa total bumi Mb adalah :
2
R
Mb
G g a = = dengan R = jari-jari bumi

Reduksi Gravity
Karena bumi mempunyai bentuk hampir spheroid dan homogen isotropis, sehingga
terdapat variasi harga percepatan gravitasi untuk masing-masig tempat. Hal-hal yang
dapat mempengaruhi harga percepatan gravitasi adalah :
- Perbedaan derajat garis lintang
- Perbedaan topogravi
- Kedudukan bumi dalam tatasurya
- Variasi rapat massa batuan di bawah permukaan bumi
- Perbedaan elevasi tempat pengukuran

Beberapa koreksi dan konversi yang dilakukan dalam pemrosesan data metoda gayaberat,
dapat dinyatakan sebagai berikut :
1. Koreksi Pasang Surut (Tide Corection)
Harga-harga koreksi pasang surut/pasut dapat diperoleh secara teoritis dari harga-
harganya pada waktu survey dan langsung dapat ditabelkan. Harga ini langsung
ditambahkan pada harga pembacaan alat pada titik amat. Jika koreksi ini merupakan
gaya tarik bulan dan matahari pada permukaan bumi, maka harga tersebut ditambahkan
pada harga baca pada pengamatan. Besarnya potensial pasang surut yang diakibatkan
oleh bulan adalah (Garland G.D,1970) :
} cos cos cos cos 2 sin 2 sin ] sin ) 3 / 1 ][ sin ) 3 / 1 [( 3 { ) / (
2 2 2 2 2 2 2 2
t t R c G Ub | o | o | o ¢ + ÷ ÷ ÷ =


Dengan:
(
¸
(

¸

=
3
2
4 / 3
c
r
GM G¢
G = konstanta gaya berat
M = massa bulan
R = jarak titik amat dengan pusat bumi
C = jari-jari bulan rat-rata
T = hour angle bulan
α = deklinasi bulan
β = lintang titik amat
2. Koreksi Apungan
Koreksi ini merupakan koreksi yang dilakukan karena adanya efek perubahan sifat
elastik komponen mekanis alat, perubahan tekanan dan perubahan suhu. Koreksi
apungan biasanya dilakukan bersama-sama koreksi pasang surut.
Tahapan pelaksanaan koreksi apungan :
Menentukan harga titik acuan yang telah diketahui atau diikat pada station acuan
lain, misal titik g*
Survey pengamatan harus dilakukan secara looping.
Station acuan g* diamati dua kali, demikian pula ujung lintasan lainnya ada titik
kendali (satu station sebelum dan sesudah) ujung.
Maka terdapat dua harga g* yaitu g*(t
0
) dan g*(t
1
), kedua harga ini harus telah
dikoreksi terhadap koreksi pasang surut.Perbedaan ini dapat disebut sebagai gejala
apungan alat. Harga g * antara (t
0
) dan (t
1
), ini akan digunakan sebagai harga acuan
bagi station lain (misal x) yang diamati pada waktu 1 :
) ( * )] ( * arg ) ( arg [
0
t g t abacag h t abacag h g
x x x
+ ÷ =
3. Koreksi Udara Bebas (kub) / free air corection (fac)
Merupakan koreksi akibat perbedaan ketinggian sebesar h, dimana dalam selang
ketinggian tersebut terisi oleh udara. Percepatan gravitasi di station :
(
¸
(

¸

+ ÷ =
+
= + ....
2
1
) (
) (
2 2
R
h
R
GM
h R
M
G h R g

Dari rumus percepatan gaya berat di permukaan bumi (h=0) :
2
) (
R
GM
R g =
dimana M adalah massa bumi dan R adalah jari-jari bumi dan h merupakan ketinggian
suatu tempat. Koreksi udara bebas (KUB) sama dengan perbedaan harga graviti akibat
perbedaan ketinggian tersebut diman penerapannya perlu dikurangkan pada harga g
yang lebih rendah (h=0).
hmGals KUB
R
GM
R g h R g KUB
3086 . 0
2 ) ( ) (
2
=
= ÷ + =

dengan h = hp – h0. Dan tanda negatif pada pengunaan dalammemperkirakan gn. Ini
merupakan besar koreksi udara bebas jika ketinggiannnya naik tiap satu meter.
4. Koreksi Bougeur / Bougeur Corection (BC)
Koreksi dilakukan untuk menghilangkan efek massa yang mengisi antara bidang acuan
dan titik pengamatan. Massa ini dianggap sebagai lempeng massa (slab) denga jari-jari
tak terhingga dengan tebal h (m) dan rapat massa (gr/cm
3
). Berdasarkan anggapan
tersebut koreksi Bougeur dapat ditulis sebagai berikut :
h G BC µ t 2 =
Jika G = (6.673 ± 0.001)x10
-11
m
3
kg
-1
s
-2
(resolusi IAG,1983) maka :
BC = 0.04193 ρh m Gal

5. Koreksi Medan (KM) / Terrain Corection (TC)
Koreksi ini diperlukan karena bumi disekitar kita amat tidak rata. Besar koreksi medan
terlampir di modul praktikum. Pembagian zone-zone oleh Hammer adalah sbb :
A terdiri dari 1 komponen (Inner zone)
B terdiri dari 4 kompartemen (Inner Zone)
C dan D terdiri dari 6 kompartemen (Inner Zone)
E dan F terdiri dari 8 kompartemen (Outer Zone)
G,H,I terdiri dari 12 kompartemen (Outer Zone)
J s/d M terdiri dari 16 kompartemen (Outer Zone)
Faktor h yang dipergunakan adalah beda ketinggian antara ketinggian stasion P dengan
ketinggian rata – rata dalam kompartemen, dan faktor rho juga diambil rata – ratanya.
6. Koreksi Lintang (Latitude Correction)
Koreksi ini sebagai akibat bahwa harga gravity disetiap lintang geografis berbeda-beda,
hal ini dikarenakan adanya gaya sentripetal dan bentuk elipsoide. Rumus persamaan
untuk menghitung koreksi lintang, yaitu :
mGals g ) 2 sin 0000059 . 0 sin 0052884 , 0 1 ( 85 . 978031 ) (
2 2
¢ ¢ ¢ ÷ + =
7. Anomali Bougeur (Bougeur Anomaly-BA)
Besarnya anomali bougeur adalah harga pengamatan gravity yang telah dikoreksi oleh
koreksi-koreksi yang telah dibahas siatas.
mGal KM KB KUB g G BA
KM h h g G BA
obs
obs
) ) ( (
04191 . 0 3086 . 0 ) (
÷ + ÷ =
+ ÷ + ÷ =
¢
µ ¢

dengan :
BA = Bougeur Anomaly
G
obs
= harga gravity pengamatan
G(φ) = harga gravity pada suatu lintang
KUB = koreksi udara bebas
KB = koreksi bougeur
KM = koreksi medan

IV. Tugas Pendahuluan
SOAL:
1. Apa yang dimaksud dengan lempeng Bouguer?
2. Apakah ketinggian suatu tempat dapat mempengaruhi harga gravity? Jelaskan!
3. Apa perbedaan antara koreksi udara bebas dengan koreksi Bouguer?
4. Apa yang dimaksud koreksi medan Outer zone dan Inner zone?
5. Jelaskan pengaruh massa topografi terhadap harga gravity!
6. Jelaskan perbedaan gravity pengamatan dengan gravity normal?
7. Apakah perbedaan gravity relatif dengan gravity absolut?
8. Apakah perbedaan anomali Bouguer dengan anomali gravity?
9. Apakah perbedaan anomali Bouguer dengan anomali udara bebas?
10. Apabila pengukuran di laut, apakah anomali Bougeur bisa dihitung?

PENYELESAIAN:
1. Lempeng Bouguer atau disebut juga dengan lempeng massa adalah efek massa yang
mengisi antara bidang acuan dengan titik pengamatan akibat adanya perbedaan
ketinggian.
2. Ketinggian dapat mempengaruhi harga gravity karena perbedaan tinggi akan
mengakibatkan adanya pengaruh massa (m) dan jarak (R) pada ketinggian tersebut
sehingga akan mempengaruhi harga gravity (g).
3. Koreksi udara bebas merupakan koreksi akibat perbedaan ketinggian sebesar h, dimana
dalam selang ketinggian tersebut terisi oleh udara bebas. Sedangkan koreksi Bougeur
merupakan koreksi akibat perbedaan massa, koreksi ini dilakukan untuk
menghilangkan efek massa yang mengisi antara bidang acuan dan titik pengamatan.
4. Koreksi medan dilakukan karena permukaan bumi di sekitar kita amat tidak rata.
Koreksi inner zone atau zona bagian dalam yaitu koreksi medan pada zone A, B, C dan
D pada Hammer Chart. Sedangkan koreksi Outer zone atau zone bagian luar adalah
koreksi medan pada zone E sampai M pada Hammer Chart.
5. Pengaruh massa terhadap harga gravity yaitu semakin besar massa topografi maka
harga percepatan gravitasinya semakin besar, dan semakin kecil massa topografi maka
harga percepatan gravitasinya semakin kecil.
6. Gravity pengamatan (g
obs
) adalah nilai mutlak observasi hasil pengukuran setelah
dilakukan koreksi drift dan tide. Sedangkan gravity normal adalah nilai medan gravity
yang di ukur pada permukaan berdasarkan referensi geoid dan spheroid.
7. Gravity relatif adalah selisih nilai gravity hasil pengukuran medan gravity di suatu titik
pengukuran terhadap suatu titik tetap yang nilai gravity mutlaknya diketahui.
Sedangkan Gravity absolut adalah nilai gravity sebenarnya pada titik tertentu yang
sudah ditetapkan dan dijadikan acuan dalam pengukuran gravity.
8. Anomali Bougeur adalah harga pengamatan gravity setelah dilakukan koreksi udara
bebas, koreksi bougeur dan koreksi medan. Anomali gravity adalah harga pengamatan
gravity sebelum dilakukan koreksi udara bebas, koreksi bougeur dan koreksi medan.
9. Anomaly udara bebas adalah harga pengamatan gravity setelah dilakukan koreksi
udara bebas saja tanpa pengaruh koreksi lain.
10. Bisa.

METODA GRAVITY
GRAV – 05
PENENTUAN RAPAT MASSA RATA - RATA

I. Tujuan
- menentukan harga rapat massa rata – rata dengan menggunakan metode Nettleton dan
Parasnis.

II. Alat – Alat Praktikum
- Peta rupa bumi Bakosurtanal / peta topografi
- Data gravity
- Kertas mmBlock
- Kertas kalkir
- Kalkulator dan alat tulis

III. Teori Dasar
Rapat massa batuan merupakan besaran utama dalam menentukan nilai gravity. Terdapat
beberapa definisi rapat massa dan batuan sedimen yang umum digunakn antara lain, rapat
massa kering dan basah. Variasi rapat massa pada batuan sedimen ditunjukkan oleh
rekahan karena gaya tektonik. Rapat massa batuan beku pada umumnya membesar dengan
berkurangnya kandungan silika yang berartibahwa menurunnya nilai rapat massa dalam
batuan beku. Variasi rapat massa berhubungan dengan perubahan tekstur dan juga pada
kesarangan dan rekahan-rekahan.Batuan ubah memilki rapat massa sangat heterogen dan
tidak mengikuti aturan yang berlaku. Walaupun demikian rapat massa cenderung
membesar dengan derajat ubah (degree of metemorphism), karena terjadi rekristalisasi
bahan-bahan dan berubah menjadi mineral yang padat.
Untuk menentukan rapat massa rata-rata ada beberapa cara, antara lain :
- Analisa rapat massa di laboratorium, Analisa terhadap contoh batuan di daerah survey.


- Metode Nettleton Profile.
Analisa bouguer titik amat pada suatu lintasan diplot dengan berbagai macam harga
rapat massa (ρ). Kurva anomali bouguer yang dihasilkan, yang tidak terkoreksi atau
paling sedikit dengan peta topografi dianggap dihitung dengan harga ρ yang paling
tepat, karena diasumsikan bahwa kondisi geologi daerah yang dipilih tidak terlalu
kompleks sehingga anomali bouguer relatif konstan atau dipengaruhi oleh topografi
jika dihitung dengan ρ yang tepat.
- Metode Parasnis
Persamaan anomali bouguer dapat ditulis dalam bentuk ;
BA T h h g G
obs
+ ÷ = + ÷ ) 04193 . 0 ( 3086 . 0 ) (¢
Pada metode ini harga ( ) 3086 . 0 ) ( h g G
obs
+ ÷ ¢ diplot terhadap (0.04193h – T),
sehingga rapat massa rata-rata adalah kemiringan dari garis regresinya.

IV. Tugas Pendahuluan
SOAL:
1. Apakah hubungan massa dengan kemiringan suatu daerah pengamatan terhadap nilai
gravity?
2. Mengapa secara lateral bentuk topografi adalah berbanding terbalik dengan penampang
nilai gravity pengamatan ?

PENYELESAIAN:
1. Rapat massa batuan merupakan besaran utama dalam menentukan nilai gravity. Faktor
rapat massa juga sangat penting dalam pengolahan data gravity dan penafsirannya.
Massa dengan kemiringan suatu daerah pengamatan mempunyai jarak terhadap pusat
bumi yang lebih besar dibandingkan massa pada keadaan datar suatu daerah
pengamatan. Sehingga nilai gravity pada suatu daerah dgn kondisi tertentu lebih kecil
dibandingkan nilai gravity pada daerah yang diarsir.
2. Karena topografi yang tinggi posisinya lebih jauh dari pusat bumi sehingga nilai
gravitynya lebih rendah jika dibandingkan dengan topografi yang rendah.


METODA GRAVITY
GRAV – 06
PEMISAHAN ANOMALY REGIONAL DAN RESIDUAL

I. Tujuan
- Memahami cara melakukan pemisahan anomali regional dan residual dengan
menggunakan metode analitic (second vertikal derivative, moving average, griffin) dan
metode grafis.

II. Alat – Alat Praktikum
- Data anomali Bouguer
- Peta anomali Bouguer
- Kertas mmBlock
- Kalkulator dan alat tulis

III. Teori Dasar
Anomaly boiguer disebabkan oleh anomaly regional dan anomaly residual. Anomaly
regional ialah anomaly yang berhubungan dengan massa homogen. Sedangkan anomaly
residual ialah anomaly yang berhubungan dengan target eksplorasi. Pemisahan anomaly
regional dengan anomaly residual dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya:

- Metode Griffin
Prinsip metode ini adalah mencari anomaly regional dengan merata-ratakan harga
anomali bouguer yang berjarak R dari titik pengamatannya.Besarnya jari-jari R
disesuaikan dengan besarnya radius kontur tertutup dari kontur anomali bouguer.
Anomali Regional =
n
g g g
n
A + A + A ...
2 1

Anomali Residual = BA
titik amat
– anomali bouguer



- Metode Smoothing
Metode ini merupakan metode yang menggunakan cara grafis. Anomali regional
mempunyai tendensi lebih smooth bila dibandingkan dengan bouguer anomalinya.
Berdasarkan gambar pada modul praktikum di dapat bahwa:
Anomali residual = anomali bouguer – anomali regional

- Moving Average
Penurunan anomali residual denagn metode ini adalah proses secara tidak langsung
dimana keluaran dari perata-rataan bergerak adalah regionalnya. Sehingga residual
didapat dengan mengurangkan regionalnya terhadap anomali hasil pengukuran (data ini
sebagai input dalam prosesnya).

- Second Vertical Derivative
Keluarannya adalah anomali second vertical derivative yang menggambar sumber-
sumber anomali yang kecil/dangkal, sehingga identik denagn anomali residual. Secara
teoritis, metode ini diturunkan dari persamaan laplace dalam gravity yang diukur
dipermukaan, yaitu ;
0
2
= A V g
Untuk data 1D (data penampang) persamaannya diberikan oleh :
2
2
2
2
x
g
z
g
c
A c
÷ =
c
A c

Beberapa rumus second vertical derivative pendekatan, diantaranya :
Elkins formula (13)
)) 5 ( 5 ) 2 ( 4 ) ( 2 ) 0 ( 64 (
60
1
2 2
2
r g r g r g g
r z
g
÷ ÷ ÷ =
c
c

Nettleton formula 7
)) 5 ( 091 . 1 ) 2 ( 273 . 0 ) ( 364 . 0 ) 0 ( (
710 . 0
2 2
2
r g r g r g g
r z
g
÷ ÷ + =
c
c




IV. Tugas Pendahuluan
SOAL:
1. Apa perbedaan metode turunan tegak kedua (SVD) dengan metode Griffin ?
2. Apa perbedaan metode graffis dan analitis ?
3. Apa perbedaan anomaly regional dan anomaly residual ?

PENYELESAIAN:
1. Metode SVD menghasilkan keluaran yaitu anomaly second vertical derivate yang
menggambarkan sumber-sumber anomaly yang bersifat local/dangkal. Sedangkan
Metode griffin menghasilkan keluaran berupa anomaly regional yang dicari dengan
merata-ratakan harga anomaly Bouger yang berjarak R dari titik pengamatan dimana
besar jari-jari R disesuaikan dengan radius kontur tertutup dari kontur anomaly Bouger.
2. Dalam graffis, anomaly regional mempunyai tendensi lebih smooth dibandingkan
dengan Bouger anomalinya. Anomali regional dapat dipetakan sehingga menghasilkan
peta residual atau struktur bawah permukaan yang disebabkan sedimen atau mineral.
Sedangkan dalam metode analitis, anomaly residual tidak dapat dipetakan. Hanya bisa
ditentukan dengan perhitungan.
3. Anomaly regional ialah anomaly yang berhubungan dengan massa homogen.
Sedangkan anomaly residual ialah anomaly yang berhubungan dengan target
eksplorasi.







METODA GRAVITY
GRAV – 07
INTERPRETASI

I. Tujuan
- Memahami cara melakukan interpretasi kualitatif dan interpretasi kuantitatif sederhana
dengan metode ke depan (interpretasi tidak langsung).

II. Alat – Alat Praktikum
- Peta anomali residual
- Kertas mmBlock
- Kalkulator dan alat tulis

III. Teori Dasar
Terdapat dua jenis interpretasi, yaitu:
- Interpretasi Kualitatif
Interpretasi ini dilakukan dengan mengamati peta gravity untuk membuat suatu analisis
tentang sebab akibat gambaran anomali dalam peta tersebut. Dari anomali bouguer,
seorang ahli berusaha untuk menafsirkan struktur geologi bawah permukaan,
sedangkan peta anomali udara bebas memperlihatkan hubungan langsung dengan
ketinggian atau model rupa bumi suatu daerah. Adakalanya peta anomali bouguer dapat
menggambarkan secara kasar keadaan struktur geologi bawah permukaan. Tetapi
banyak kasus sulit untuk ditafsirkan karena sangat rumit atau sangat sederhana,
sehingga perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan menajamkan penyebaran
anomali agar lebih mudah ditafsirkan. Pada umumnya, peta anomali gravity
memperlihatkan bagian dengan penyebaran ke arah samping dari yang lainnya. Pada
keadaan pertama anomali lebar-lebar dengan frekuensi rendah berhubungan dengan
struktur regional, misalnya cekungan-cekungan seperti geosinklin atau gejala tektonik
global sedangkan yang lainnya dengan frekuensi tinggi berhubungan dengan srtuktur
setempat yang dapat disebut struktur geologi sisa atau residual.
- Interoretasi kuantitatif
Anomali gravity berasal dari variasi rapat massa ke arah lateral. Bila benda-benda bumi
misalnya lapisan formasi batuan mempunyai rapat massa sama, walaupun tidak akan
menimbulkan anomali. Sebaliknya, jika beberapa lapisan yang penyebarannya
mendatar dengan berbagai rapat massa akan terjadi anomali. Nettleton (1983)
menggambarkan masalah tersebut dengan beberapa lapisan dengan rapat massa tertentu
yang memperbesar ke arah tegak, misalnya
4 3 2 1
, , , µ µ µ µ dan yang teganggu karena
proses tektonik (gambar 7.1). Lapisan pada ujung-ujung kiri dan kanan tidak
menghasilkan anomali karena tidak ada variasi rapat massa ke arah datar. Dibagian
tengah terdapat gangguan sehingga menonjol yang berarti terjadi variasi rapatmassa ke
arah samping atau mendatar. Penonjolan pada lapisan pertama sebesar
1 3 1 2
µ µ µ µ ÷ ÷ dan , pada lapisan kedua
2 4 2 3
µ µ µ µ ÷ ÷ dan dan pada lapisan ketiga
3 4
µ µ ÷ dan seterusnya. Penonjolan tersebut merupakan perubahan rapatmassa ke arah
samping yang menimbulkan anomali. Penafsiran metode kuantitatif ke depan (tak
langsung), sebagai penentuan bentuk diskontinuitas massa (struktur geologi). Untuk
anomali bola dengan rapat massa µ , jari-jari R dan terletak pada kedalaman Z di
bawah permukaan bumi dengan gravitasi total; permukaan dengan jarak x dari pusat
bola, dirumuskan sebagai berikut:
) ( 3
4
2 2
3
2
x z
R
r
M
g
+
= =
µ t¸
¸ dengan
2
1
2 2
) ( x z r + =
komponen vertikal
r
z
g g g
z
= = u cos
2
3
2 2
3
2
) (
3
4
x z
z
R z
r
M
g
+
= = t¸µ ¸
untuk x = 0,
max
2 3
/ 52 . 8 ) 0 ( g z R x g
z
= = = µ , maka:
2
3
2
max
] ) / ( 1 [
) (
z x
g
x g
z
+
=
dari persamaan ini dapat diturunkan kedalaman pusat: w z 652 . 0 =
dan massa benda anomali:
2 max
) 652 . 0 (
¸
g
m =
REFERENSI

1. http://metoda-gravitasi-prosedurpenelitian.blogspot.com/
2. http://portal.vsi.esdm.go.id/portal/volcano/tangkuban/geofisika.html
3. artono.1998.Geofisika eksplorasi.Jakarta : Dewan riset Nasional
4. Laboratorium Jurusan Fisika, 2007, Modul Praktikum geofisika 2. UNPAD: Bandung.
5. http://www.scribd.com/doc.24889472/Metode-gravitasi
























You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->