P. 1
Buku Pajak Dan Retribusi Daerah

Buku Pajak Dan Retribusi Daerah

5.0

|Views: 1,024|Likes:
Published by Afris

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Afris on Mar 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

08/11/2015

Sanksi pelanggaran Pasal 72

:
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 12 Tahun
1997 Pasal 44 Tentang Hak Cipta .
1. Barang siapa dengan sengaja dan t anpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau pasal49 ayat (1)
dan ayat (2) dipidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu)
bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta
rupiah) , atau pidana penjara paling lama 7 (tuj uh) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapadengansengajamenyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau baranghasil pelanggaran
hak cipta atau hak terkait, sebagaimana dimaksud ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (Iima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Iima ratus j uta rupiah)
LJ
KesitBambang Prakosa
Edisi Revisi
ffi
UII Press
Kesit , Bambang Prakosa
Pajak dan Retribusi Daerah/Bambang Kesit: penyunting, Sobirin Malian .--
Yogyakarta: UII Press, 2003; 2005
211 + xiii hlm. ; 15 x 21 x 1 cm
Bibliografi: Wm.
I SBN 979-33 33-14-6
1. Daerah .: Perpajakan.
I. Judul. 11 . Malian, Sobirin
320.9598
Cetakan Pertama, Juli 2003
Cetakan Kedua, Maret 2005
Cover-layout : Hasna-Tarisha
Penerbit : UII Press Yogyakarta (anggota lKAPI)
Tel.(0274)547865, Fax.(0274)547864
e-mail: uiipress@asia.com;uiipress@uiLac.id
Hak cipta e 2003; 2005 pada UII Press dilindungi undang-undang.
Untuk Buah Hatiku:
Isteriku dik Wied dan
Anakku Adri dan Bagas
Kata Pengantar
Bismillahirakhmanirakhimi
P
Uj i syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena
berkat ridho-Nya buku Pajak dan Retribusi Daerah ini dapat
diselesaikan. Penulis berharap buku ini dapat memberikan
sedikit sumbangan kepada para mahasiswa dan peminat perpajakan
untuk mendalami masalah perpajakan daerah. Hal ini mengingat
masih terbatasnya buku-buku yang membahas masalah perpajakan
daerah, selain itu hadirnya buku ini diharapkan semakin memperluas
wawasan mengenai pajak dan retribusi daerah dalam rangka
meningkatkan penerimaan daerah dari kedua sektor tersebut.
Buku ini dibagi menjadi 13 bab yang terdiri dari : Dasar-dasar
Perpajakan Daerah, Sistem Perpajakan Daerah, Sarana Pelaporan
Pajak Daerah, Kriteria Efektivitas Pajak Daerah, Pajak Daerah
Tingkat Kabupaten, Pajak Daerah Tingkat Propinsi, Kriteria
Retribusi Daerah, Retribusi Daerah Tingkat Kabupaten, Retribusi
Daerah Tingkat Propinsi, Tatacara Pemungutan Pajak dan Retribusi
Daerah, Kinerja Pajak dan Retribusi Daerah serta Teknik
Penyusunan Peraturan Perpajakan.
Pada kesempatanini penulis menyampaikan terima kasih kepada
teman-teman di UII Press khususnya, Mas Sobirin, Mas Tri Sihono
atas kerjasamanya dalam menerbitkan buku ini. Tak lupa juga terima
viii Pajak flan Retribusi Daerah
kasih kepada isteriku tercinta dik Wiwied dan juga anakku Adri dan
si bungsu Bagas yang telah banyak berkorban kehilangan waktu
untuk selalu bersama.
Akhirnya penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari
sempurna maka kritik dan saran dari para pembaca yang budiinan
sangat penulis harapkan baik langsung maupun melalui E_mail:
bambangkesit@fe.uii.ac.id untuk dapat memperbaiki buku ini pada
waktu yang akan datang.
Purwomartani, Juni 2003
Penulis.
;"."-,,,
Oaftar isi
Persembahan 5
Kata Pengantar ..... . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 7
BAB1 DASAR-DASAR PAJAK DAERAH 1
PENGERTIAN PAJAKDAERAH 1
KRITERIA PAJAKDAERAH 2
JENIS-JENIS PAJAKDAERAH : 3
PUNGUTANPAJAK 4
TARIF PAJAK ' 8
UTANGPAJAK 10
BAB 2 KRITERIA EFEKTIVITAS PAJAK DAERAH 13
KECUKUPAN DANELASTISITAS 13
KEADILAN :. .. . .. . ... .. .. . . .. .. . ... . . . . . ... .... 15
KEADILAN VERTIKAL 15
KEADILAN 16
KEADILAN SECARAGEC>GRAFIS 16
KEMAMPUAN ADMINISTRATIF 18
KESEPAKATANPC>LITIS 19
BAB3 ADMINISTRASI PAJAK DAERAH 23
PENGENAANPAJAKDANTARIFC>LEHDAERAH 23
PERBEDAAN C>BJEK YANGDlKENAKANPAJAKDANTARIF . 24
x I1Pajakdan RetribusiDaerah
Dqfiar[si11 xi
-PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH 79
PENERBITAN SURAT KETETAPAN PAJAK 79
PEMBAYARAN DAN PENAGIHAN 81
SURAT KETETAPAN PAJAK ; 82
SURAT TAGIHAN PAJAK DAERAH 82
KEBERATAN DAN BANDI NG 82
KEPUTUSAN KEBERATAN 83
PENGAJUAN BANDING : 83
PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN,
DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI
ADMINISTRASI 84
JAMINAN KERAHASIAAN 84
PENYIDIKAN 85
. . .. 1
BAB7 KETENTUANUMUM RETRIBUSI DAERAH 87
TERMINOLOGI RETRIBUSI DAERAH J 88
JENIS-JENIS RETRIBUSI DAERAH ······ i 89
SARANA PELAPORAN RETRIBUSI 91
SURAT SETORAN RETRIBUSI DAERAH '.'r y, 91
SURATKETETAPANRETRIBUSIDAERAH 91
. 1
SURAT KETETAPAN RETRIBUSI DAERAH LEBIH BAYAR 91
SURAT TAGIHAN RETRIBUSI DAERAH '" 92
TATA CARA PEMUNGUTAN 92
KEBERATAN '" . 92
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN 93
KEDALUWARSAPENAGIHAN 4
PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN .
KERAHASIAAN .
KETENTUAN PIDANA '" '" 9.
PENYIDIKAN 96
BAB8 PAJAK DAERAH DI TINGKAT PROPINSI 99
PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN KENDARAAN DI BADAN
YANG MENERIMA PENYERAHAN KENDARAANBERMOTOR,100
PENGENAAN DAN PEMUNGUTAN OLEH DAERAH 25
MENGUSAHAKAN PEMUNGUTAN PAJAK SECARA EFEKTIF
27
PEMBERIAN HASIL PAJAK UNTUK DAERAH 29
HUBUNGAN ANTARA OBJEK YANG DIKENAKAN PAJAK .. ,30
OBJEK YANG DIKENAKAN PAJAK ANTAR PEMERINTAHAN
31
PENGARUH INSENTIF 32
BAB 4 KRITERIA EFEKTIVITAS RETRIBUSI DAERAH
35
DASAR-DASAR RETRIBUSI 36
TINGKAT PENGENAAN RETRIBUSI 39
PERKIRAAN BIAYA 43
RETRIBUSI DI BAWAH BIAYA 49
RETRIBUSI DI ATAS BIAYA 52
PENILAIAN: KECUKUPAN DAN ELASTISITAS 53
PENILAIAN: KEADILAN 54
PENILAIAN: KEMAMPUAN ADMINISTRASI 56
PENILAIAN: KESEPAKATAN POLITIS :.. 57
PENILAIAN: RETRIBUSI OLEH PEMERINTAH DAERAH 58
KESIMPULAN 59
BAB 5 SISTEM PERPAJAKAN DAERAH 61
PENGERTIAN PERPAJAKAN 61
SISTEM PERPAJAKAN DAERAH 62
KEBIJAKAN PERPAJAKAN 63
HUKUM PAJAK 65
ADMINISTRASI PAJAK 67
IKLIM PERPAJAKAN 67
BAB6 KETENTUAN UMUM PAJAK DAERAH 71
TERMINOLOGI PAJAK DAERAH 72
SARANA PELAPORAN PAJAK DAERAH 77
xii PajakdiJn Retribusi Daerah
PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR 111
PAJAK PENGAMBILAN DAN PEMANFAATAN AIR BAWAH
TANAH DAN AIR PERMUKAAN 112
BAB 9 PAJAK DAERAH TINGKAT KABUPATENIKOTA
109
PAJAK HOTEL j 116
PAJAK RESTORAN , j 118
PAJAK HIBURAN \ 119
REKLAME . . ... . ... ...•. . . .. ... .... \ 121
PENERANGAN JALAN 122
PAJAK PENGAMBILAN BAHlAN GALIAN GOLONGAN C 124
PAJAK PA'RKIR - 126
I
BAB 10 RETRlBUSI DAERAH 129
t
A. Retribusi Jasa Umurn .. i ·· ··· ·· _ 129
B. Retribusi Jasa Usaha .. t.: ··· ·.. ··.. ···· _.. 131
C. Retribusi l
erizioaD
Tertentu ' 131
BAB11MYlNGUKURKINERJAPAJAKDANRETRIBUSI 133
'" I'
j .IJ
PENGU JJRAN KINEIUA 133
f '
PEMU POTENSIPENERIMAAN 135
11
PAJ!Mi HOTELDANRESTORAN 136
PM Al KHIBURAN 139
i
pAJ) \KREKLAME 142
PAl'AKKENDARAAN BERMOTOR(PKB) 142
BE A BALIKNAMAKENDARAAN BERMOTOR(BBM - KBM) .. 143
t
WETRIBUSI KEBERSIHAN 144
Ji.ffiTRIBUSI PARKIR. ., 145
. PENGUKURAN EFISIENSIPAJAKDANRETRIBUSI 146
BAB12 DESAIN TAX POLICY DAERAH .................•.. 149
DaftarIsill xiii
-PRINSIP KEBIJAKAN PAJAK YANG BAlK 150
TAX POLICY MERUPAKANALAT DARI KEBIJAKAN MONETER
DANFISKAL 151
SISTEMPERPAJAKAN YANG EFISIEN 153
PERANAN DANIMPLIKASI SUATUTAXPOLiCy " 156

PERPAJAKANDAERAH 161
KIATPENYUSUNANPRODUK HUKUMDAERAH 162
DASARTEKNIKPENYUSUNAN 168
JENIS-JENIS PRODUKHUKUM DAERAH 170
KAIDAH-KAIDAH HUKUM 172
TEKNIKPENYUSUNANPRODUK-PRODUKHUKUM 173
PENCABUTAN PRODUK-PRODUKHUKUMDAERAH 206
RAGAM BAHASA 208
DAFTAR PUSTAKA 215
A
DASAR·DASAR PAJAK DAERAH
B
ab ini akan membicarakan tentang dasar-dasar perpajakan
daerah atau pokok-pokok perpajakan daerah. Bab ini diawali
denganpembahasanmengenai pengertian secara umumpajak
daerah, kriteria pajak daerah dan pengertian pajak daerah menurut
UU No 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
sebagaimana terakhir telah diubah dengan UU No 34 Tahun 2000.
Selanjutnya, dibahas tentangjenis-jenis pajak daerah, yang dibedakan
menjadi dua yaitu pajak propinsi dan pajak kabupaten atau kota. Pada
bagiantengah dari bab ini membahas tentangazasdanteori pemungutan
pajak, hal ini penting karena untuk mendasari pola berpikir bahwa
memungut pajakituhams bersikap adildantidakdiskriminatif. Kemudian
bagianakhir daribabini membahastarifpajak, utangdanpenagihanpajak
serta hapusnya utangpajak.
PENGERTIANPAJAKDAERAH
Secaraumum, pajak adalahiuranwajibanggotamasyarakatkepada
negara karenaundang-undang, danataspembayarantersebutpemerintah
tidak memberikanbalasjasayanglangsung dapatditunjuk. Dalamkonteks
daerah, pajakdaerahadalahpajak-pajakyangdipungutolehpemerintah
daerah (misal: Propinsi, Kabupaten, Kota) yang diatur berdasarkan
2 ~ Pajakdan RetribusiDaerah , Dasar-dasar Pajak Daerah lJ 3
peraturandaerahmasing-masing danbasil pemungutannyadigunakanuntuk
pembiayaanrumahtanggadaerah. Sedangkanmenurut VUNo.18Tahun
1997tentangPajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana diubah
terakhir dengan VV No. 34 Tahun 2000, Pajak Daerah adalahiuran
wajib yangdilakukan olehorangpribadi ataubadankepada Daerahtanpa
imbalanlangsung yangseimbang. PajakDaerahdapat dipaksakanberdasar
peraturanperundang-undanganyangberlaku, dimana basilnya digunakan
untukmembiayai penyelenggaraanpemerintahanDaerahdanpembangunan
Daerah.
KRITERIAPAJAKDAERAH
Kriteriapajakdaerahtidakjauhberbedadengan kriteria pajakpusat,
yangmembedakankeduanya adalahpihakpemungutnya. Pajak pusat
yangmemungutadalahPemerintah Pusat, sedangkanpajakdaerahyang
memungut adalah PemerintahDaerah. Kriteriapajakdaerahsecara spesifik
diuraikanoleh Davey(1988)dalambukunya Financing Regional Gov-
ernment, yangterdiridad 4 (empat) ha! yaitu:
1. Pajakyangdipungut olehpemerintahdaerahberdasarkanpengaturan
daridaerahsendiri,
2. Pajak yang dipungut berdasarkan peraturan pemerintah pusat
tetapi penetapan tarifnyadilakukan olehpemerintah daerah,
3. Pajakyangditetapkandanataudipungut olehpemerintahdaerah,
4. Pajakyangdipungut dan diadministrasikan olehpemerintah pusat
tetapi hasil pungutannya diberikan kepada pemerintah daerah.
Dari kriteria pajak tersebut, dapat disimpulkanbahwapengertian
pajak daerah tersebut terdiri dari pajak yang ditetapkan dan atau
dipungut di wilayah daerah dan bagi hasil pajak dengan pemerintah
pusat. Pajak yang dipungut di wilayah daerah ini dikenal sebagai
pajak daerah terdiri dari: Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea
Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), Pajak Bahan Bakar
KendaraanBermotor, Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah
Tanah dan Air Permukaan, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak
Hiburan, Pajak Reklame, Pajak PeneranganJalandan PajakPengam-
bilanBahanGalianGolonganC. Sedangkan bagi hasilpajak, misalnya
PBB(PajakBumi danBangunan). PBBini pengadministrasiandataobjek
pajak melibatkan PemerintahDaerah, khususnyaditingkatpedesaan.
Demikian pula pemungutannya, Pemerintah Desa/Kecamatanjuga
terlibat.Hasil pemungutannya disetorke Kas Negara Pajakdaerahyang
dibahas disini hanyapajakyangdipungut di wilayah daerah saja.
JENIS-JENIS PAJAK DAERAH
Dalam literatur pajak dan public finance, pajak dapat
diklasifikasikan berdasar golongan, wewenang, sifat dan lain
sebagainya. Pajak Daerah termasuk klasifikasi pajak menurut
wewenang pemungutnya. Artinya, pihak yangberwenangdan berhak
memungut pajakdaerahadalahpemerintahdaerah. Selanjutnya, pajak
daerah ini dapat diklasifikasikan kembali menurut wilayahkekuasaan
pihak pemungutnya. Menurut wilayah pemungutannyapajak daerah
dibagi menjadi:
PajakPropinsi
PajakPropinsi adalahpajakdaerahyangdipungutolehpemerintah
daerahtingkat propinsi. PajakPropinsi yangberlaku di Indonesia sampai
saat ini, terdiri dari:
a. PajakKendaraan Bermotordan Kendaraandi atasAir
b. Bea BalikNama KendaraanBermotor dan Kendaraan di atas Air
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
d. Pajak Pengambilandan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air
Permukaan
Pajak Kabupaten/Kota
Pajak Kabupaten/Kota adalah pajak daerah yang dipungut oleh
pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota. Pajak Kabupaten/Kota
yang berlaku Indonesia sampai saat ini, terdiri dari:
a. Pajak Hotel
b. Pajak Restoran
c. Pajak Hiburan
4 I1 Pajakdon Retribusi Daerah
Dasar-dasar PajakDaerah 11 5
d. Pajak Reklame
e. Pajak Parkir
f. Pajak Penerangan Jalan
g. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
PUNGUTAN PAJAK
Disadari atau tidak pada hakekatnya pajak daerah merupakan
pungutan yang dikenakan terhadap seluruh rakyat di suatu daerah .
Segala bentuk pungutan yang dilakukan baik oleh pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah sebenarnya merupakan pengurangan hak
rakyat oleh pemerintah. Oleh karena itu, dalam pemungutannya tidak .
boleh diskriminatif dan harus diupayakan bersifat adil . Dalam
perpajakan keadilan haruslah obyektif dan dapat dirasakan merata
oleh rakyat. Atas dasar pemikiran tersebut maka diperlukan landasan
berpikir dalam melakukan pernungutan pajak. Landasan berpikir
yang mendasari pemungutan pajak ini dikenal dengan azas
pemungutan pajak. Azas saja tidaklali cukup, perlu justifikasi yang
melandasi konsep berpikir yang rasional dalam pelaksanaan
pemungutan pajak tersebut, konsep inilah yang dikenal dengan teori
pungutan pajak.
Asas Pemungutan Pajak
Menurut Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations
bahwa dalam pemungutan pajak agar diupayakan adanya keadilan
objektij. Artinya, asas pemungutan yang mendasarinya bersifat umum
dan merata. Asas pemungutan pajak ini dikenal The Four Maxims
atau Smith's Cannon, yaitu:
a. Equality, kesamaan dalam beban pajak, sesuai kemampuan wajib
pajak,
b. Certainty, dijalankansecara tegas, jelas dan pasti,
c. Convenience, tidak menekan wajib pajak, wajib pajak membayar
pajakdengan senangdan rela,
d. Efficiency/economy, biaya pemungutannya tidak lebih besar dari
jumlahpenerimaanpajaknya.
Teori Pungutan Pajak
Seperti telah diuraikan sebelumnya, teori pungutan pajak muncul
untuk mencari dasar konseptual pemungutan pajak bagi negara,
sehingga secara teoriti s pemungutan paj ak yang dilakukan negara
itu dapat dibenarkan baik dipandang dari sisi yuridis maupun sisi
ilmiah. Dengan kata lain bahwa, teori pungutan pajak ada guna
memberi dasar menyatakankeadilan (justification) kepada hak negara
untuk memungut pajak dari rakyatnya. Berikut ini beberapa teori
pungutan pajak yang pernah ada atau yang masih digunakan sebagai
dasar pemungutan pajak sampai sekarang.
a. Teori Asuransi
Pajak diasumsikan sebagai premi asuransi yang harus dibayar
oleh masyarakat (tertanggung) kepada negara (penanggung).
Kelemahan teori ini, jika rakyat mengalami kerugian seharusnya ada
penggantian dari negara, kenyataannya tidak ada. Selain itu, besarnya
pajak yang dibayar dan jasa yang diberikan tidak ada hubungan
langsung.
b. Teori Kepentingan
Pajak dibebankan atas dasar kepentingan (manfaat) bagi masing-
masing orang . Teori ini juga dikenal sebagai Benefit Approach
Theory.
c. Teori Daya Pikul
Kesamaan beban pajak untuk setiap .orang sesuai daya pikul
masing-masing. Ukuran daya pikul ini dapat berupa penghasilan
dan kekayaan atau pengeluaran seseorang. Teori ini dikenal sebagai
Ability to Pay Approach Theory.
d. Teori Bakti
Pajak (kewajiban asli) merupakan bukti tanda bakti seseorang
kepada negaranya.
6 \1 PajakdanRetribusi Daerah .
Dasar-dasar Pajak DaerahIJ 7
e. Teori Asas Daya Beli
Dasar keadilanpemungutanpajak, pada kepentinganmasyarakat,
bukan pada individu atau negara. Keadilan dipandang sebagai efek
dari pemungutan pajak.
PEMUNGUTAN PAJAK
Pemungutanpajakdapat dilakukanbergantung padadua hal yaitu
keadaan objek pajak dan kewenangan pungut. Keadaan objek pajak
merupakan dasar pengenaan pajak yang dibatasi oleh waktu atau
periode. Keadaan objek pajak di masa lalu, dengan masa sekarang
bisa sama, bisajuga berbeda. Karena sifat inilah, perlu carapenafsiran
keadaan objek pajak yang sesuai dengan kondisi yang sebenarnya
atau mendekati yang sesungguhnya. Cara penafsiran keadaan objek
inilahyangdikenal pengakuandan pengukuranobjekpajakataustelsel.
Sedangkan kewenangan pungut, menekankanpihak-pihakyangterlibat
dalampembayaranpajak. Artinya, siapayangberhakmemungutpajak
danbagaimana caranyamenghitung besarnyapajakyangharusdibayar.
Kewenangan pungut dan cara menetapkan besarnya pungutan pajak
inilahyang melahirkansistempemungutanpajak.
1. Dasar Pemungutan Pajak
Dasar Pemungutanpajak ini merupakan bentuk operasional dari
pengakuan dan pengukuran keadaan objek pajak atau stelsel. Berikut
ini dasar pemungutan pajak yang dikenal dalam berbagai literatur
perpajakan yaitu:
a. Stelsel Nyata (Riil Stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada keadaan objek yang
sesungguhnya (riil atau nyata), sehingga pemungutannya baru dapat
dilakukan pada akhir tahun setelah keadaan sesungguhnya objek
pajak diketahui. Keunggulan stelsel ini sebagai dasar pemungutan
pajak lebih realistis. Kelemahan dari stelsel ini, pajak baru dapat
dibayar atau dikenakan setelah akhir periode, yaitu ketika keadaan
objek pajak secara riil telah diketahui.
b. Stelsel Anggapan (Fictieve Stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada keadaan yang diatur oleh
ketentuan atauperaturanperundang-undanganyangberlaku. Keadaan
yang diatur ini merupakan suatu asumsi atau anggapan yang
ditetapkan oleh ketentuan atau peraturan. Misalnya, keadaan objek
pajak tahun sekarang sama dengan keadaan objek pajak tahun lalu,
sehingga pajak tahun sekarang dapat dikenakan pada awal tahun.
Keunggulan stelsel ini, pajakdapatdibayar selamatahunberjalan, tanpa
harusmenunggupacta akhir tahun. Kelemahannya, pajakyangdikenakan
atau dibayartidakmenggambarkan keadaanpajakyangsebenarnya.
c. Stelsel Campuran
Untukmengatasi kelemahanmasing-masing stelsel tersebut, maka
dalampelaksanaanpengenaanpajakdilakukan denganduacara. Di awal
tahun, pajakyangdikenakandidasarkanpada keadaanobjekpajakpacta
tahun lalu, dandi akhir tahunpajak dikenakanberdasar keadaanobjek
pajaksesungguhnya. Karenapelaksanaannya demikian, makastelsel ini
disebut Stelsel Campuran. Jika pajak yangdibayar di awal tahun lebih
besar dari pajakyangdihitung padaakhir tahun, makaterjadi kelebihan
pajak. Kelebihanpajak bayar ini dapat direstitusi (kelebihannyadapat
diminta kembali). Sebaliknya, jikaakhirtahunyang lebihbesar, makawajib
pajakyangbersangkutanmelunasi kekurangannya.
2. Sistem Pemungutan Pajak
Kewenangan pungutdancaramenetapkanbesarnyapungutanpajak
inilah yang melahirkan sistempemungutan pajak. Berikut ini sistem
pemungutanpajakyangdikenal dalamliteratur perpajakan, yaitu:
a. Official Assessment System
Sistempemungutan pajakyangmempercayakan kewenangan untuk
menentukanbesarnyapajakyangterutang padafiskus (pemerintah). Sistem
ini meletakkan wajib pajakpacta posisiyanglemahdanpasif, utangpajak
timbul setelah terbitnya suratketetapan pajakolehfiskus. Sisteminihanya
cocokditerapkanpadamasyarakat yangberpendidikanrendah dantingkat
8 ~ PajakdanRetribusi Daerah
Dasar-dasar Pajak DaerahIJ 9
Pajak Terutang
Rp 100.000,00
200.000,00
300.000,00
400.000,00
Pajak Terutang
Rp 1.500.000,00
10.000.000,00
21.000.000,00
Pajak Terutang
Rp 2.000.000,00
2.700 .000,00
4.000 .000,00
4.900.000,00
Tarif
10%
10%
10%
10%
Tarif
15%
25%
35%
Tar if
10%
9%
8%
7%
Contoh:
Dasar Pengenaan Pajak
Rp 1.000.000,00
2.000.000,00
3.000.000,00
4.000.000,00
2. Tarif Progresij
Tarif pajak yang persentasenya meningkat, sesuai besarnya
(meningkatnya) dasar pengenaan pajak
Contoh:
Dasar Pengenaan Pajak
Rp 10.000.000,00
40.000.000,00
60.000.000,00
3. Tarij Degresij
Tarif pajak yang persentasenya menurun, sesuai meningkatnya
dasar pengenaan pajaknya
Contoh:
Dasar Pengenaan Pajak
Rp 20.000.000,00
30.000.000,00
50.000.000,00
70.000.000,00.
kejujuran aparat pajak tinggi. Jika tidak, bisa menimbulkan
kesewenangan dari aparat pajak dan korupsi.
b. Self Assessment System
Sistem pemungutan pajak yang memberikan kepercayaan,
tanggungjawab dan kewenangan untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar dan melaporkan pajak yang terutang
atau harus dibayar kepada diri pribadi wajib pajak sendiri. Sistem
ini hanya cocok diterapkan bagi masyarakat yang sudah maju dan
iklim pajaknya sudah baik, tax minded tinggi, dan tingkat integritas
masyarakat tinggi.
c. Withholding System
Sistem pemungutan pajak yang memberikan kewenangan dan
kepercayaan kepada pihak ketiga untuk menghitung, memotong,
atau memungut besarnya pajak yang-terutang oleh wajib pajak.
TARIFPAJAK
Sebagaimana diuraikan dalam azas pemungutan pajak, bahwa
pemungutan pajak dilakukan secara adil, artinya umum dan merata .
Salah satu bentuk operasional penciptaan keadaan pemungutan pajak
yang adil yaitu melalui tarif pajak: Namun demikian, penerapan
tarif pajak di lapangan bergantung dari tujuan yang ingin dicapai
oleh fiskus. Misalnya, untuk masyarakat yang penghasilannya tidak
merata dan cenderung rendah, maka penerapan tarif pajak progres if-
progresif lebih mencerminkan keadilan dibandingkan dengan tarif
pajak lainnya. Tarif pajak, merupakan alat ukur untuk menilai
tingkatan besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak. Secara
teoritis terdapat4 macamtarif pajak, yaitu:
1. Tari! ProporsionaI
Tarif pajak yang persentasenya tetap dan tidak bergantung pada
besarnya dasar pengenaanpajak.
4. Tarif Tetap
Jumlah atau angkanya tetap, tidak bergantung besarnya dasar
pengenaan pajak
Tarif Pajak Terutang
Rp 1.000.000,00
1.000.000,00
1.000.000,00
1.000.000,00
10 ~ PajakdonRetribusi Daerah
Contoh:
Dasar Pengenaan Pajak
Rp 10.000.000,00'
20.000.000,00
40.000.000,00
50.000.000,00
UTANGPAJAK
Secara umum, utang timbul karena adanya perikatan antara
debitur dan kreditur. Namun, tidak demikian untuk utang pajak. ·
Utang pajak timbul karena undang-undang atau peraturan yang
ditetapkan oleh negara. Ada dua konsep teori yang menjelaskan
timbulnya utang pajak:
a. Konsep Materiel
Menurut konsep ini utang pajak timbul karena ada sebab-sebab
yang mengakibatkan seseorang dikenakan pajak. Artinya, utang pajak
timbul karena dipenuhinya syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh
undang-undang, dalam bahasa Belanda disebut tatsbestand. Syarat-
syarat tertentu tersebut berupa serangkaian perbuatan, keadaan dan
peristiwa yang dapat menimbulkan utang pajak. Dengan demikian,
menurut konsep ini utang pajak timbul tidak harus menunggu adanya
surat ketetapan pajak.
b. Konsep Formiel
Menurut konsep ini utang pajak timbul bila telah ada ketetapan
dari fiskus. Artinya, utang pajak timbul karena adanya surat ketetapan
dari fiskus. Meskipun dipenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan
oleh undang-undang tetapijika tidak ada surat ketetapan maka belum
terutang pajak atau timbul utang pajak.
Dasar-di1sar Pajak DaerahIJ 11
Penagihan Utang Pajak
Tindakan penagihan utang pajak dapat dilakukan dengan 2
langkah:
a. Penagihan secara pasif, pada umumnya dilakukan dengan
penyerahan Surat Ketetapan Pajak (SKP), Surat Ketetapan Pajak
Tambahan (SKPT) dan Surat Tagihan Pajak (STP) dan terakhir
menggunakan Surat Tegoran,
b. Penagihan secara aktif yaitu penagihan dengan menggunakan
Surat Paksa dan dilanjutkan dengan tindakan sita.
Berakhimya Utang Pajak
Setiap perikatan, termasuk pula utang pajak pada waktunya akan
berakhir, dan berakhirnya utang pajakjika terjadi hal-hal berikut ini:
a. Pembayaran
Utang pajak yang melekat pada diri wajib pajak akan hapus
dengan sendirinya jika telah ada pembayaran sejumlah pajak yang
terutang. Pembayaran dapat dilakukan ke Kas Negara atau lembaga
lain yang ditunjuk, misalnya Bank atau Kantor Pos dan Giro.
b. Kompensasi
Jika jumlah pembayaran pajak yang dilakukan oIeh wajib pajak
melebihi jumlah pajak yang terutang, maka timbuI selisih lebih.
Selisih lebih inilah yang dapat dikompensasikan dengan utang pajak
lainnya. Kompensasi pajak ini dapat dibedakan menjadi dua:
(1) Kompensasi Horisontal, adalah pengalihan kelebihan pembayaran
suatu jenis pajak pada tahun tertentu dengan utang pajak jenis
yang sama pada tahun berikutnya.
(2) Kompensasi Vertikal, adalah pengalihan kelebihan pembayaran
suatu jenis pajak pada tahun tertentu dengan utang pajak jenis
yang lain pada tahun yang sama.
12 ~ Pajak clan Retribusi Daerah
c. Daluwarsa
Daluwarsa terjadi jika waktu penagihan utang pajak telah lewat
waktu yang sudah ditentukan, akibatnya utang pajak tersebut tidak
dapat ditagih oleh fiskus dan dianggap lunas. Penentuanbatas waktu
penagihan utang pajak ini merupakan salah satu bentuk kepastian
hukumdalam undang-undangperpajakan.
d. Pembebasan
Jika utangpajakberakhir dengan tidak semestinya, tetapi karena
ditiadakan oleh fiskus, maka utang pajak ini disebut dibebaskan.
Pada umumnya pembebasan tidak diberikan terhadap pokok pajak
tetapi terhadap sanksi administrasi.
e. Penghapusan
Penghapusanutangpajak samasifatnyadenganpembebasan, hanya
sajapenghapusandiberikan karena keadaanpribadi wajib pajak, misalnya
bangkrut ataupailit.
~ r!!a ~
KRITERIA PAJAK DAERAH
B
ab ini membahas karakteristik pajak daerah secara umum.
Tidak semua potensi yang menjadi sumber pendapatan
Pemerintah Daerah dapat langsung dikenai pajak daerah.
Ada5 (lima) kriteriayangharusdipenuhi suatupotensi pendapatan agar
dapat menjadi obyekpengenaan pajakdaerah(Davey, 1988), meliputi
kecukupan danelastisitas, pemerataan, kemampuan administratife,
kesepakatan politik, dankecocokan suatupajak. Kriteriapajakdaerah
ini menjadi pentingberkaitanperanPemerintahDaerahuntukmeningkatkan
pendapatan daerahnya gunamencapai kemandirian pembiayaandaerah.
Hat ini diperlukan agarproses pungutan, administrasi danpenetapan tarif
terhadap sumber-sumber pendapatantersebut tidakmenyalahi kewenangan
Pemerintah Daerah.
KECUKUPANDANELASTISITAS
Kecukupan sumber pendapatanyangdapat dipajaki. Artinya, sumber
tersebuthams menghasilkanpendapatanpajaklebih besardibandingkan
seluruh atau sebagianbiayapelayananyangakandikeluarkan. Jikabiaya
pelayananmeningkat makapendapatanpajaknya jugameningkat. Keadaan
demikianmencerminkanpajakmenunjukkan elastisitasnya,artinya pajak-
14 11 PajakdonRetribusi Daerah
pajaktersebut marnpu menghasiIkan tambahanpendapatanuntukmenutup
kenaikan pengeluaran Pemerintah. Halini secaraotomatis berakibat pada
perkembangan besamyadasar pengenaan pajak. Elastisitas merupakan
derajat reaksi atau respons (tanggapan) dari suatu variabel karena
perubahan variabellain (Soetrisno, 1984). Misalnya, harga-harga
meningkat, jumlah penduduk bertambah, dan pendapatan individu
bertambah, maka pendapatan pun sebagai dasar pengenaan pajak
bertambah.
Elastisitas pajak mempunyai 2 (dua) dimensi. Pertama adalah
pertumbuhanpotensi dari dasar pengenaanpajak. Kedua, kemudahan
untukmemungut pertumbuhanpajaktersebut. Untukmemberi gambaran
perbedaan keduadimensi tersebut, ditunjukkan padaketerkaitan tingkat
inflasi denganpajakpenjualan danpajakhartatetap. Ketika harga-harga
barangdanjasa naik, dasar pengenaan pajakpenjualanpunbertambah
jumlahnya. Jikapajaktersebut merupakan persentase tertentu dari harga
barangdanjasa (nilai kotorpenjualan yangdikenakan pajak), maka hasil
pajakakanmeningkat secara otomatis sesuai denganperkembangan dasar
pengenaanpajaknya. Inflasi biasanya mendorong tingkat hargaataunilai
sewahartatetapnaik. Pertumbuhan potensidasar pengenaanpajakatas
harta tetaphanya dapat digali kalautarifnya ditingkatkan, atauhartanya
dinilai kembali (revaluasi) secara administrasi pajak. Dalamha! ini elastisitas
pajakditekankan padakemudahan untukmemungut pertumbuhan pajak
tersebut (dari selisihkenaikantarifdan selishnilaihartatetapdarirevaluasi),
jikalangkah ini akandiambil tergantung padakepekaanpembuat keputusan
dan kemampuanadministrasinya.
Elastisitas diukurdenganmembandingkan (rasio) hasilpenerimaan
pajakselama beberapa tahimdenganperubahan indeks harga, penduduk
atauproduk domestikbruto (PDB). Perhitunganelastisitas dapat pula
dilakukandengan membandingkandasar pengenaanpajakper kapita
secarariil (denganmemperhitungkan tingkat inflasi) denganperubahan
pendapatan per kapitadalamsatuperiode. Dasarpengenaanpajakyang
dimaksuddi sini adalahjumlah aktivatetap, pendapatanatautransaksi
komersial yangmenjadi dasarperhitungan pajak.Elastisitas pajakbukan
hanyasekedar gambarandata penerimaanpajaktetapi elastisitas pajak
KriteriaEfektivitasPajakDaerahlJ 15
dapat mencerminkanpertumbuhan potensipajak terlepas dari keputusan
untukmengubah tarifpajak.
KEADILAN
Kriteria ini merupakan konsep keadilan sosial yang secara luas
yang dianut oleh hampir semua negara, namun dalam praktek tidak
mudahdilaksanakan. Padaprinsipnya bebanpengeluaran Pemerintah
haruslah dipikul oleh semua golongan masyarakat sesuai dengan
kekayaan dan kesanggupan masing-masing. Konsep ini memandang
pajak merupakan suatu alat redistribusi pendapatan, golongan kaya
menyumbang lebih besar daripada nilai pelayanan yang diterimanya,
sebaliknya golongan miskin nilai pelayanan yang diperoleh lebih
besar dibanding sumbangan yang ia berikan. Dalam praktek, hal ini
juga dapat dicapai kalau golongan kaya menikmati manfaat layanan
yang sedikit lebih kecil dari pengeluaran layanan Pemerintah.
Keadilan dalam hal perpajakan daerah mempunyai 3 (tiga) dimensi,
yaitu keadilan vertikal, keadilan horisontaldan keadilan geograjis.
KeadiIan vertikal
Secara umum, pajak itu dikatakan baik jika pajak tersebut
'progresij'. Artinya, persentase pendapatan seseorang yang
dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat
pendapatannya. Pembebanan pajak masih dapat dikatakan pula baik
jika pajak yang dikenakan tersebut bersifat proporsional yaitu kalau
persentasependapatan yangdibayarkanuntukpajaksamauntuksemua
tingkat pendapatan. Pajak dikatakan tidak baikjika pembebanannya
'regresif" yakni persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak
menurun dengan adanya kenaikan tingkat pendapatan. Meskipun
pandangantersebut diterima secara luas, tetapi tidak selalu demikian
prakteknya. Pandangan lain adalah pajak itu adil kalau bebannya
proporsionalataspendapatanatau kekayaan, dansetiappenyimpangan
daripada itu apakah progresif atau regresif akan dapat berakibat
negatif.
16/1. \1 PajakdonRetribusi Daerah
. Keadilan horizontal
Seseorang yang menerima gaji seharusnya tidak membayar pajak
lebih besar daripada seseorang dengan pendapatan yang sama dari
bisnis atau pertanian, seorang petani yang mengusahakan tanaman
ekspor seharusnya tidak membayar lebih besar daripada petani dengan
pendapatan sama di bidang tanaman pangan. Artinya, dalam jumlah
pendapatan yang sama maka besarnya pajak yang dibayar juga sama
tidak memandang sumbernya.
Keadilan geografis
Pemerataan harus dilihat dalam kaitannya dengan penerimaan
dan pengeluaran. Pengenaan pajak atas penduduk adalah tepat kalau
mereka tinggal di daerah yang memperoleh pelayanan khusus dari
Pemerintah. Hal ini untuk memberikan keleluasaankepada Pemerintah
Daerah untuk menetapkan tingkat pajak yang dikenakannya, agar
mereka dapat membebani pajak yang berbeda-beda untuk berbagai
tingkat pelayanan yang diberikan.
Struktur tarif perpajakan yang progresif dikehendaki berdasarkan
pertimbangan keadilan sosial. Hal itu berarti kelompok
berpendapatan paling rendah harus dikenakan pajak yang paling
ringan atau dibebaskan samasekali dari pungutan pajak. Keadaan
ini lebih mudah dilaksanakan di perekonomian yang telah maju
yang sebagian besar penduduknya berada dalam kelompok
berpendapatan menengah. Golongan ini dapat memberikan
sumbangan untuk mempertahankan pengeluaran Pemerintah tanpa
atau sedikit memerlukan sumbangan dari golongan yang
berpendapatan rendah.
Masalah lebih besar akan timbul kalau hal itu dilaksanakan di
masyarakat miskin dengan struktur pendapatan seperti piramida di
mana sebagian besar masyarakat berada di kelompok yang
berpenghasilan paling rendah. Dasar pengenaan pajak dari golongan
berpendapatan atas dan menengah sangat kecil untuk memikul beban
pengeluaranPemerintah. Hambatanbiasanyatimbuldalambentukekonomi .
KriteriaEfektivitasPajakDaerah11 17
dan politis.Hal ini ditunjukkan adanya pembatasanjumlah pendapatan
tertinggi yang dapat dikenakan pajak, dan kekhawatiran pada
pengaruh pajak yang tinggi atas produksi dan investasi.Kekhawatiran
akan akibat buruk terhadap perusahaan dan pertumbuhan ekonomi
selalu dikemukakan oleh kalangan dunia usaha (golongan atas dalam
sistem politik) sungguh merupakan rintangan bagi penetapan tarif
yang progresif.
Pembebanan yang adil dari suatu pajak dipengaruhi oleh ruang
lingkupnya siapa yang membayar dan jenis pendapatan, kekayaan
dan struktur tarifnya. Selain itu juga tergantung metode penetapan
dan tingkat ketepatan perhitungan kekayaan (milik) masing-masing
pemilik. Setiap ketidaktepatan dalam penetapan dapat menyebabkan
ketidakadilan karena orang akan membayar pajak lebih atau kurang
dari yang seharusnya dibayar. Tetapi sejauhmana ketidakadilan
tersebut dirasakan akan tergantung pada tarif pajaknya .Sebagai
contoh pendapatan atau kekayaan seseorang sebesar Rp 200 juta.
Kalau dikenakan pajak dengan tarif pajaknya 5 persen maka baik
kesalahan pengenaan di bawah atau di atas yang seharusnya akan
berjumlah Rp 10 juta, kalau 30 persen maka akan menjadi Rp 60
j uta yang menambah ketidakpuasan lebih besar lagi. Dengan
bertambahnya beban pajak, keluhan juga akan bertambah terhadap
setiap metode pengenaan yang tidak sempurna dan tidak teliti.
Pemerataan diinginkan atas dasar keadilan sosial. Pada prinsip
ketidakadilanperluditekanseminimal mungkin, agar tidakhambatandalam
pembebananpajakdan dalammenggali potensi pendapatan.
KEMAMPUAN ADl\fiNlSTRATIF
Dalam menilai pajak yang ditetapkan atas sumber pendapatan
pajak memerlukan ketelitian administrasinya. Untuk mengetahui
keuntungan suatu perusahaan yang dapat dikenakan pajak penghasilan
atau untuk menetapkan nilai jual objektif gedung di pusat kota dalam
pengenaan pajak bumi dan bangunan memerlukan pengetahuan teknis
yang tinggi. Setiap transaksi antara wajib pajak dengan aparat pajak
dalam menetapkan besarnya pajak, membuka kesempatan untuk
18 • PajakdanRetrib1tsi Daerah
mengadakan kerjasama dan korupsi. Seorang pengusaha besar yang
tergantung pada Pemerintah dalam perizinan, . proteksi tarif dan
pembelian dapat mendorong untuk memperoleh keringanan dalam
depresiasi pada saat perhitungan paj ak atas keuntungan perusahaan.
Di banyak negara yang sedang berkembang sebagian besar
penduduk hidup di bidang usaha kecil, pedagang keeil, atau tenaga
lepas yang tersebar di daerah pedesaan yang luas dan tidak ada
penghasilan yang jelas yang dapat diperhitungkan dalam pengenaan
pajaknya. Pengenaan dan pemungutan setiap pajak pendapatan atau
pajak atas harta tetap memerlukan kunjungan pada saat-saat mereka
dapat ditemui di rumah dan di musim panen dimana mereka
memperoleh penghasilan. Ongkos administrasi dari kegiatan semacam
itu sangat tinggi meskipun jumlah rata-rata per kapita dapat dipungut
mungkin rendah.Sebaliknya, sejumlah besar pendapatan yang
diperoleh dari pungutan atas minyak misalnya dilaksanakan dengan
ongkos administrasi yang sangat rendah. Di dalam perekonomian
semaeam itu terdapat keeenderungan untuk menempuh administrasi
yang mudah dengan menggantungkan pendapatan langsung yang
dapat dipungut pada saat transaksi di sektor komersial formal melalui
pabrikan besar, importir atau distributor. Namun demikian hal ini
tidak selalu sesuai dengan pertimbangan pembebanan yang adil atau
desentralisasi fiskal.
KESEPAKATAN POLITIS
Tidak ada pajak yang populer. Meskipun demikian kemauan
politis diperlukan dalam mengenakan pajak, menetapkan struktur
tarif, memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak
tersebut ditetapkan, memungut pajak seeara fisik, dan memaksakan
sanksi terhadap para pelanggar. Hal ini pada gilirannya tergantung
pada dua faktor kepekaan dan kejelasan dari pajak tersebut dan
.adanya keleluasaan dalam mengambil keputusan.
Kepekaan politis kadang-kadang memusatkan pada masalah nilai-
nilai sosial. Ada masyarakat yang menganggap pajak atas tanah adalah
sensitif oleh karena tanah dipandang sebagai milik bersama tidak
KriteriaEfektivitas PajakDaerahIJ 19
sebagai milik pribadi, demikian pula pajak atas ternak tidak populer
karena ternak dianggap sebagai modal tidak sebagai sumber
pendapatan. Di pihak lain, pengenaan pajak tertentu dapat sensitif
karena berpengaruh terhadap kepentingan golongan berkuasa atau
golongan tertentu. Misal, usul pengenaan pajak atas tanah pertanian
di Inggris yang sudah tertunda lama, atau peningkatan Pajak atas
Bumi dan Bangunan perkotaan di Indonesia tidak dapat dilakukan
karena aspek politis tersebut di atas (Devas, 1989)
Unsur penting yang lain yang menentukan kepekaan suatu pajak
adalah kejelasan pajaknya. Pajak atas bumi dan bangunan (PBB)
mungkin merupakan pajak yang paling ringan atas wajib pajak di
Indonesia. Akan tetapi berlainan dengan pajak penghasilan yang
bersumber dari pegawai dan pajak pertambahan nilai yang dikenakan
pada saat penjualan atau penyerahan barang/jasa, pajak atas bumi
dan bangunan hams dibayar dengan eek atau uang kontan. Persyaratan
adanya tindakan pembayaran tersebut menarik perhatian tertentu yang
tidak menjadi kewajiban dari para wajib pajak. Ada saatnya perubahan
tiba-tiba dalampajak tidak langsung menjadi penyebab meningkatnya
harga-harga yang langsung dirasakan oleh masyarakat, juga apabila
ketidakpuasan terhadap tingkat inflasi maka perhatian ditujukan pada
pajak-pajak yang memberikan pengaruh terhadap kenaikan harga-
harga. Meskipun demikian pajak tidak langsung kurang pengaruhnya
sebab bebannya tidak langsung dirasakan.
Pada semua pajak terlihat kemauan politik. Peranannya tergantung
pacta frekuensi dari keputusan yang bersifat sensitif tersebut harus diambil.
Keputusanyang sangat sulit dannyata biasanya menyangkut kenaikan tarif.
Pajakdanretribusi akanmudah dipolitisasikalaumenghendaki penyesuaian
tarifuntuk menjaga dan menambah nilai riilnya. Dalamhal ini, pajak atas
bumi dan bangunan yang tidak didukung dengan penilaian kembali yang
sering dilakukan akan dianggap sangat tidak dikehendaki kalau
dibandingkan dengan pajak pendapatan yang seeara otomatis dapat
menyesuaikan dengan kenaikan tingkat inflasi. Sama halnya dengan
kenaikan tarif pajak penjualan atau eukai yang didasarkan pada jumlah
atau volume, jauh lebih menarik perhatian daripada pertambahan
20 I1 Pajak donRetribusi Daerah
secara otomatis yang timbul dari pajak-pajak bumi dan bangunan
dalammenyesuaikandengan tingkat inflasi.
Kepekaanpolitis merupakan hambatan atas potensi suatu pajak.
Meskipun demikian hal itu berguna untuk pertanggungjawabannya.
Kebutuhan untukmembuat suatukeputusan dalamrangka meningkatkan
tarif pajak yang tinggi dapat memaksa instansi Pemerintahlebihteliti
terhadap pertimbangan untuk pengeluaran tertentu atau mengurangi
pemborosan.
Seringkali diusahakan untukmembuatpajaklebihditerimadengan
mengkaitkanpenggunaannya secaralangsung (eannarking) yaitudengan
meningkatkan suatupungutan untukmembiayai pelayanantertentu yang
populersepertipelayananpendidikan. Setiappajakyangdipungut oleh
suatubadanpengelola untuktujuantertentu seperti halnya dengan Badan
Pengelola Air "subak" di Balisecaraotomatis dianggap mempunyai ciri
tersebut. Pungutan yangdikaitkan dengan pengeluarandapatmerupakan
carayangefektifuntukmenghubungkanperpajakandenganpelayananyang
tidakbanyak dipahami masyarakat. Pengalamanmenunjukkan seringkali
pajaklangsung dikaitkandenganpemerasanyanghams dihapuskandengan
segala carayangmemungkinkan. Kaitanlangsung antarabesarnya pajak
denganpengeluaranjugamendorong kebenaranpertanggungjawabannya.
Dalamjangka panjang, pengkaitanpajak denganpelayananyang
diberikan dapat bersifat tidak produktif. Hal itu akan mengundang
orang untuk membandingkan antara jumlah yang mereka bayar
dengan manfaat yang mereka terima, suatu perbandingan yang
mungkin tidak diterima oleh mereka. Ongkos pelayanan mungkin
akan lebih tinggi - lebih rendah - biasanya lebih tinggi daripada
hasil pajaknya sehingga timbul kesan yang keliru. Mengkaitkan
suatu pajak dengan pelayanan yang diberikan dapat mendorong
Pemerintah untukmenolakbantuankeuangan lainnyauntukpelayanan
dimaksud.
Pungutan yangdikaitkan denganpelayananjugadapat membuat or-
angkurang antusias untukmembayar pajaklainnya yang akandigunakan
untukpengeluaranumumPemerintah. Misalnya, seseoranghams membayar
Kriteria Efektivitas PajakDaerahIJ 21
untuk pelayanankepolisian. Pajak yang dikaitkan dengan pelayanan
merupakanpenambahan pajakyangtidakdikehendaki yangongkosnya
cukup tinggi tidak saja dalamwaktudan tenagatetapijuga kesabaran
para wajib pajak. Pajakyang bermacam-macammalahmempersulit untuk
pengenaan yang adil terhadap masyarakat.
~ ... ~
22 \1 Pajakclan Retribusi Daerah
ADMINISTRASI PAJAK
DAERAH
D
alam bab2 terdahulu telah dibahas mengenai kriteria
pajakdaerah. Setelah sumberpendapatan daerahdapat dikenai
pajak, makaperlujugadipertimbangkanapakah suatu pajakyang
tclah dapatsecara efektifdigali, dikenakan, dinilaiataudipungut tersebut
mampu diadministrasikan olehPemerintah Daerah . Teori development
frombelowberpendapat bahwa orang akan lebih bersedia membayar
pajak kepada Pemerintah Daerah daripada kepada Pemerintah Pusat
karena mereka dapat secara mudah melihat manfaat langsung dalam
pembangunan di daerah mereka (Davey, 1988). Berlandaskan teori
lcrsebut, dapat diidentifikasi berapapermasalahandalamadministrasi pajak
daerah. Pertama, apakah Pemerintah Daerah mempunyai cukup kemauan
politik untukmengenakansuatupajak secara efektif dan adil. Karena
pengenaanpajakdaerahyang adil membutuhkan pengadministrasiandata
pajak yang akurat. Pengadministrasian data pajak yang efektif akan
memudahkanmasyarakat dalammembayar pajak. Hatini akan mendorong
meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Kedua,
apakahPemerintah Daerahmemiliki kemampuan administrasi efektifatas
suatupajak. Hatini sangat penting, dalamrangka transparansi pengelolaan
24 mPajakdonRetribusi Daerah
dana yang berasal dari pajak. Bab ini akan menguraian permasalahan
dalamadministrasi pajakdaerahtersebutmeliputi pengenaanpajaksecara
efektifdanadil, perbedaanobjekpajak, pengenaandanpemungutan oleh
daerah.
PENGENAANPAJAKYANGEFEKTIFDANADIL
Teori developmentfrombelowyang dikemukakantersebut di atas,
menunjukkanbahwa masyarakat lebih cenderungmaumembayar pajak
karenakedekatannya denganmanfaat yangdiperolehdarimembayar pajak
tersebut Orangakan lebihbersediamembayarpajakkepadaPemerintah
Daerah daripada kepada Pemerintah Pusat merupakan hal yang logis,
karenaPemerintah Daerahjuga lebihdekatdibanding denganPemerintah
Pusat yang kadangmereka tidak dapat melihat manfaat langsungsecara
mudah dalampembangunan di daerah mereka. Dibalik kedekatan ini,
apakah Pemerintah Daerah mempunyai cukup kemauan politik untuk
mengenakansuatupajak secaraefektifdan adil.
/
Semakinrendahtingkatpemerintahanmakasemakindekathubungan
antararakyatdenganpemerintahnya, sehinggamerekayangmengenakan
pajak dengan mereka yang membayar pajak sangat dekat. Karena
kedekataninilah, dasar pengenaanpajakdan tarif pajak menjadi rendah
tingkat keadilannya. Misal, jika PemerintahDaerah mengenakanpajak
bergantung padadukunganpolitik, nilaisosial ataukerjasamabisnis dengan
wajibpajakmaka Pemerintah Daerahakanengganuntukmenaikkanpajak
pada saat inflasiatau kebutuhanlain yang diperlukannaikdan mungkiri
malahrnencari popularitas yaitudenganmenurunkanbebanpajak. Dernikian
pulahalnya kalau PemerintahDaerahdidominasi olehgolongankaya, maka
akantirnbul penolakanterhadappajakyangprogresif.
Permasalahan tersebut dikernukakan untuk rnenghindari kesewe-
nangansegelintir politisidanbirokratdi daerahdalamrnembuat kebijakail
perpajakannya. Kebijakanperpajakanyangefektifdanadil perludiupaya-
kanolehPernerintah Daerah. Adanyapembebananpajakyangrneningkat
<tan hanya rnendukung golongan kaya saja, sangat dikhawatirkan oleh
PemerintahPusat. Karenaakanmunculdesakandari Pernerintah Daerah
untuk rnenambahbelanja di satupihak dan menekanperpajakandaerah
Administrasi PajakDaerahIJ 25
di lain pihak. Oleh karena itu perlu ada kontrol dari Pemerintah Pusat
untukrnembatasi Pernerintah Daerahagar tidakmengenakanpajaksecara
berkelebihan terhadap masyarakatnya. UU 34/2000yang merupakan
penyempumaan dari UUNomor 18Tahun1997 dan peraturan pelaksanaan-
nya pp Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan pp Nomor 66
Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, rnemberi kewenangan kepada
Pemerintah Daerah untukmemungut 11 jenis pajakdan28jenis retribusi.
serta untukmemungut jenis pajak(kecuali propinsi) dan retribusi lainnya
sesuai kriteria-kriteria tertentu yang ditetapkan dalamundang-undang.
Kebebasan kewenangan ruang lingkup, metode penilaian dan
penetapan tarif pajak dan retribusi akan mendorong kebebasan dan
fleksibilitas PemerintahDaerahdalampembiayaankegiatannya. Adanya
kebebasankewenanganini rnendorong PemerintahDaerahberlombauntuk
memobilisasi dana daerah dari sektor pajak dan retribusi. Akibatnya,
masing-masing daerahberusaha rnenetapkanbesarnyaobjekdantarifpajak
sekehendak sendiri. Hal ini akan menimbulkan pertanyaan apakah
penyerahan adrninistrasi suatu pajak kepada daerah dapat mengatasi
perbedaandalarnobjek dan tarifpajak antar daerah.
Masalahtersebut muncul terutama apabila individuatau organisasi
membayar pajakpacta lebihdarisatudaerah. Dapatkahdiharapkanseorang
majikanmernotong dari gaji stafnyayang tinggal di berbagaidaerahatas
perbedaan tarif pajak pendapatan di daerah-daerah tersebut? Tingkat
kesulitantersebutjelasmenyangkut banyaknyajurnlahdaerah, sejauhrnana
perbedaan tersebut dan soal-soal teknis dari administrasi perpajakan.
Komputerisasi gaji misalnya, dapat membuat administrasi pajak lebih
sederhana. Pertanyaan yang berkaitan adalah apakah perbaikan pajak
daerahrnernpunyai pengaruhnegatif terhadap ekonornidan sejauhmana
pengaruh tersebut. Indonesia telah meninggalkan kebijaksanaan
menyerahkanlangsungpajakekspor kepada propinsi ketikaPemerintah
Daerah mernaksakanperdagangan melalui pelabuhan mereka sendiri.
Akibatnyabanyakfasilitas pelabuhanyang rusak berat karenakelebihan
daya tarnpung. Masalahnya bukankerusakanitusendiriyangtidakdapat
diterirna, tetapihal itumerupakanbagiandari jalan pikirandesentralisasi
bahwa rnasyarakat daerah seharusnya turut mernutuskan tingkat
26 mPajakdonRetribusi Daerah
pengeluaran Pemerintah dengan melihat pada implikasi ekonominya.
Jadi, masalahnyaadalahsejauhmanatingkat kerusakanserta akibatnya
terhadap seluruh masyarakat.
KEMAMPUANADMINISTRASI
Pertanyaanberikutnya adalahapakah Pemerintah Daerahmempunyai
kemampuan administratifyangefektifatassuatupajak. Tanggungjawab
atas penilaian atau pemungutan suatu pajak atau retribusi tidak selalu
bersamaandengankemudahanmemperolehhasilnya. Pemerintah Pusat
mungkin lebihbaikdalammelaksanakan ataumembantu pengenaan atau
pemungutan suatupajakdaerah. Tarif pajak- atasBumidanBangunan - .
di Indonesiamerupakan contoh yang tepat. Pengenaandilakukanoleh
Pemerintah Pusat yaitu Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan
(KPPB). Sedangkanpemungutanpajaknyadilakukanoleh Pemerintah
Daerahdan hasilnyadibagi antara Pemerintah Pusat danPemerintah Daerah
sesuai denganproporsi masing-masing. Sebaliknya PemerintahDaerah
dapat mengenakan atau memungut suatu pajak atas nama Pemerintah
Pusat. Misal, PemerintahDaerahmemungut PajakKendaraan Bermotor
atasnamaPemerintah Pusat.
Ada2 (dua) faktor yangmempengaruhi pelaksanaantanggungjawab
pengenaan dan pemungutan pajak. Pertama, tingkat kemampuandan
ketersediaan tenaga trampil di daerah yangdibutuhkansebagai tenaga
pelaksana administrasi perpajakan di daerah. Kedua, sejauhmana
kedekatanpemungut pajakdenganwajibpajakdaerahataudesakan politis
terhadap keadilandanketegasandalamprosespemungutanpajaktersebut.
Tingkat kemampuan dan tersedianya tenaga trampil administrasi
perpajakansangatdibutuhkan daerah. Tenagaterampil mungkin terbatas
dansulitbagiPemerintahDaerah meskipunadaalternatifseperti menyewa
konsultan ataubantuantenagadari suatuinstansi lain. Misal, kantor Pusat
StatistikatauJasa Asuransi. Instansi ini merupakantempat tersedianya
tenaga ahliyangdapatdimanfaatkan keahliannya danpengalamannya oleh
daerah.
Kedekatan pelaksanapemungut (penilai) pajakdenganwajibpajak
atau desakan politis dalam proses pemungutan pajak. Keadilan dan
Administrasi PajakDaerah11 27
ketegasan dalam proses pemungutan pajak tersebut akan terganggu
jika ada kedekatan pelaksana pemungut pajak dengan wajib pajak.
Demikian pula, jika ada desakan secara politis terhadap pelaksana
pemungut pajak. Sulit untuk menghindari dari tindakan yang
meringankan dan memihak wajib pajak apabila mereka pemungut
pajak yang dipekerjakan PemerintahDaerah terdapat hubungan yang
erat dengan wajibpajak.Hal demikianinijugajika terdapat hubungan
langsung antara pengambil keputusan (politikus) dengan pemungut '
pajak. Karena politikus sebagaipengambil keputusanakan cenderung
meringankan beban pajak bagi para pemilihnya atau kontituennya ,
agar di masa mendatangdapat dipilih kembali. Meskipun demikian,
situasinyaberbeda, jika pemungut pajaknyadari organisasi profesional
yang dapat menjamin integritas dan menjaga tekanan politis yang
tidak dikehendaki, walaupun organisasi mereka kecil. Selanjutnya,
pemisahan penilai dan pemungut dapat menyebabkan berkurangnya
rasa tanggung jawab, penilai dan pemungut tidak begitu giat
melakukantugasnyaapabilamereka tidak bekerja untuk instansi yang
tergantung pada pendapatan yang mereka kumpulkan.
Administrasi pajakjuga memerlukanjaringanpelaksanapemungut
yang tersebar luas sesuai dengan penyebaran penduduk serta
kemudahanuntuk memperolehdata dan pendapatanpara wajib pajak.
Hal ini penting terutama untuk pajak langsung di negara-negara
sangat luas wilayahnya, seperti Indonesia. Artinya, dalam hal ini
dibutuhkan tingkat pemerintahan yang mempunyai hubungan
administrasi sampai ke tingkat desa. Biasanya Pemerintah Daerah di
Indonesia mempunyai jaringan adminstrasi di lapangan yang paling
luas contohnya camat, lurah, kepala desa, kepala dusun atau kepala
dukuh. Kecuali, di India administrasi pendataan atas tanah di daerah
pedesaan India dilaksanakan oleh negara-bagian bukan oleh
Pemerintah Daerah (Davey,1988). Pada tahun 1960-an di Kenya,
Pemerintah Daerah yang berusaha memungut pajak pendapatan
perseorangan tetapi mengalami kesulitankarenajaringan administrasi
dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat bukan oleh Pemerintah Daerah.
Di negara-negara industri di mana sistem 'bayarlah segera sesudah
28 mPajakdan Retribusi Daerah
memperoleh pendapatan', sistem pos dan telepon mencukupi, maka
sebagianbesar proses pemungutanpajakdapat denganbaikolehkantor
pusat dalammeliput wajibpajakpadaumumnya.
Jika objekpajakyang dimiliki suatu perusahaanberada di wilayah
melampaui perbatasanbeberapa daerah, makapengenaansecara terpusat
mungkinlebihtepat, dibandingdikenakandi daerah. Artinya administrasi
pajaknya lebihtepat dilakukan olehPemerintah Pusat. Misalnya, sebuah
perusahaanmemiliki tanahdan bangunanyangberadapadaperbatasan
beberapawilayahPemerintah Daerah, makaPemerintah Daerahtertentu
hanyaakanmengenakanpajakatas tanahdanbangunanyangberadadi .
wilayahnya saja. Lebih rumit lagi, jika pajakpenghasilanperseorangan
maupunperusahaanpengenaannyadidasarkanpadabatas wilayah, padahal
kenyataannya dapat diperoleh dari beberapawilayahdaerahataulebih
dari satudaerah. Pengenaan secaraterpusat mungkinlebihtepatdibanding
pengenaantiap-tiapdaerah. Hal inidapatdilakukanjikadikehendaki untuk
keseragaman. Penetapanyangseragampentingartinyauntukdistribusi
subsidi dari pusat ke daerahsecaraadil (lihatsubbabbagihasilpajak).
BAGlHASILPAJAK
Bagi hasil suatu pajak kepada Pemerintah Daerah merupakan
permasalahan yang agakpelik. Jika suatupajakdipungutd i m a k s u d ~
untuk membiayai prasarana atau pelayanandi daerah setempat maka
penyerahanbagi hasil pungutanpajakuntukdaerahyangbersangkutan
tidakmasalah. Namun, masalahakantimbul apabilapengeluaranditujukan
pada pelayanan umum yang bersifat personal seperti pendidikandan
kesehatan.
Karena ketidakjelasan antara daerah tempat pembayaran pajak
dilakukandengandaerahyangmemperolehbasil pungutanpajaknya(kecuali
kalau hasil pungutandipusatkandan dibagi berdasar perhitunganyang tidak
dikaitkan dengandaerahtempatpungutantersebut dilakukan). Kesulitan
timbul, jika objek pajak yang dikenakan berada di beberapa daerah
misalnya, pajakataslabaataupajakpenjualanyangdikenakan padasuatu
perusahaanyangmempunyai cabangdi beberapa daerah.
Administrasi PajakDaerahll 29
Seringkali tempat suatu pajak dipungut berbeda dengan tempat
pembayarannya. Pajakpenjualanatas pakaianmisalnyadapat dipungut
dari suatu pabrik di daerah A oleh karena tidak praktis untuk
memungut langsung atas pengecer barang tersebut. Meskipun
demikian beban pungutan tersebut dibebankan pada harga eceran
dan akan lebih efektif dibayar oleh konsumen di daerah B. Masalah
yang sama dapat timbul pada pajak penghasilan yang dipungut oleh
perusahaanyangmempunyai kantor pusat di daerah tertentu terhadap
upah seorang pegawainya yang tinggal (dan mungkin juga bekerja)
di daerah lain. Berbeda, dengan pajak atas tanah dan bangunanjelas
tidak ada kesulitan dalammenetapkan Pemerintah Daerah yang akan
menerimapembayaranpajakatas harta tetaptersebut, karenakejelasan
dari objeknya yang relatif permanen.
Apakah daerah tempat pajak dipungut tersebut sebaiknya
mendapatkanbagi hasil pajakberdasar penetapannilai pungutanperkapita
rata-rataseperti yangdilakukandi Inggris ataupenetapandan pemungutan
pajakpenghasilan dilakukanolehdua ataulebihtingkatanpemerintaha
secarabersama-sama (Davey,1988). Misalnya, Pemerintah Federal dan
PemerintahPropinsi di Canada menggunakandasar pengenaan pajak
penghasilan secarabersamaan. Hal yangsamajuga dilakukan di negara-
negaraSkandinavia (kecuali Finlandia), mengenakanpajakpenghasilan
dilakukansecarabersama-sama olehPemerintahPusat dan Pemerintah
Daerah. -,
Pertentangan yang tajam akan timbul dalam pembayaran pajak
penghasilanperseorangandi mana wajib pajakbekerjadantinggal ditempat
yang berbeda. Setiappemisahanantara daerah di manapajakdipungut
dandaerahdi manapajaktersebutdibayar makadiperlukansatusistem
pemindahanuntukmengatasi kesulitan dalamalokasi hasil pungutan.
Pemindahanmemerlukan suatuproses administrasi yangefektif. Hal itu
juga memerlukankesediaandari Pemerintah yang harus memberikan
pungutantersebut, sehinggabagi hasil pajak untukPemerintahDaerah
menjadi jelasdasarbagi hasilnya, meskipun dasarhukumnya telah diatur
denganVUPerpajakan Nasional.
30 11 Pajakdon RetribusiDaerah
UPAYA PEMUNGUTAN PAJAK SECARA EFEKTIF
Penetapan dan pemungutan pajak harus didukung dengan sistem
pengawasanyangefisien. Keterlambatandalammembayar pajakseringkali
dikenakan dengantindakanmengenakandendadalambentukpersentase
atasjumlah pajak yang terutang. Sanksi apabilatidak membayar pajak
dapat dikenakandalamberbagaibentuk:
(1) tindakpidana menyangkut harta kekayaanmelalui penahanandan
hukumanpenjara;
(2) tindakanperdatayangsamadenganpengembalianutangpribadiyang
dilakukan melaluipenyitaandan penjualan kekayaan;
(3) penyitaandanpenjualanlangsung ataskekayaan;
(4) menghentikanpelayananmisalnyamemutuskanpelayananairminum,
telepon,atau listrik, pengusirandari rumah sewa, penolakanuntuk
mengikuti pendidikandan pengobatan atau '
(5) tidakada tindakansamasekali.
Tindak pidana, pemutusan pelayanan, atau penyitaankekayaan
biasanyamerupakancara yangefektifuntukmeningkatkanpembayaran.
Namun, kadang-kadang beberapa tindakan tersebut seringkali tidak
dilaksanakan. Akibatnya tindakanperdata seringkali merupakan satu-
satunya sanksihukumyangdilakukan tetapi seringkali jugatidakefektif.
Prosedur yangberbelit-belit dan kurang perhatianpengadilanterhadap
masalahpelanggaranpembayaranpajakdaerah ini, kadangmerupakan
penyumbang ketidakefektifan sanksihukumditerapkan. Kecenderungan
tingkat ketidakpatuhan membayar pajak yang tinggi dan tidak adanya
tindakan yang tegas untuk memaksakan wajib pajak membayarnya
merupakanpencerminandari kurangnya kemauanpolitis dalampengenaan
pajak. Ketidakpedulianpengadilanterhadapmasalahpemaksaanpajak
merupakan gejala umum di negara berkembang yang lemah dalam
pelaksanaan law-enforcement. Perlindungan pada individu terhadap
kesewenangan Pemerintah dalam tindakan pemaksaan pajak dalam
pelaksanaan hukumperlu dikurangi tetapiperludiimbangi denganiklim
perpajakankondusif. Keadaan ini tercapai jikasistemperpajakannyatelah
mampu menjadikan masyarakat pembayar pajak rela dan mampu. Di
beberapa negara seperti India, pengadilan khusus untuk pengadilan
Administrasi PajakDaerah IJ 31
pajak telah dibentuk sebagai upaya untuk pemaksaan yang lebih
keras terhadap tagihan-tagihan.Semuanya membutuhkan usaha
administrasi dan keadilan serta kemampuan politis yang wajar.
Pengenaan bunga atas keterlambatan pembayaran dapat efektif
apabila besarnya lebih tinggi daripada tingkat inflasi. Di Indonesia
pajak atas harta tetap sebesar 5 persen setiap tahun merupakan suatu
contoh dari sanksi yang ringan yang memungkinkan wajib pajak
memperoleh keuntunganmelalui penundaan pembayaran pajak. KOul
Ottawa sebaliknya mengenakan denda secara otomatis sebesar 2
persen atas tagihan yang terlambat satu hari atau lebih.
ADMlNISTRASI BAGI HASIL PAJAK
Pengenaan pajak oleh pemerintah pusat dan pernerintahdaerah
kepada seseorang terhadapobjekpajakyangsamadimungkinkan terjadi.
Misalnya, seorangpegawai perusahaanswastayangberpusatdi Jakarta
ditugaskan keperusahaananakdi daerah, makapenghasilanyangdierima
oleh pegawai tersebut dapat dipungut pajak oleh PemerintahPusat dan
PemerintahDaerah. Hal ini memangbelumterjadidi Indonesia, karena
semua penghasilan dari pegawai dikenakan pajak penghasilan oleh
Pemerintah Pusat.Namun, dalamperkembanganke depanhal demikian
dimungkinkan terjadi seiringdenganadanya tuntutanotonorni daerah. Jika
demikian maka perlu diatur kewenangan administrasi pengenaannya
terhadap objekpajak tersebut. Karenapegawaitersebut beradadi daerah,
makaadministrasi pajakdilakukanolehPemerintahDaerah, sehinggatimbul
pertanyaanapakahpembayaranpajak kepada PemerintahDaerahakan
mempengaruhi besarnyaobjekpajakyangakandikenakanolehPemerintah
Pusat. Adatigascenario ataualtematif(Davey, 1988) yaitu:
Alternatifpertama, objekpajak dikenakan oleh Pemerintah Pusat
dan PemerintahanDaerah seluruhnya terpisah dan tidak ada potongan
untukpajakserupayang diberikanoleh Pemerintahbaikpusat maupun
daerah. Artinya, bilaseseorang telahmembayar pajakpenghasilankepada
PemerintahDaerah, maka pembayaranpajak penghasilannyatersebut
tidak bisa mengurangi pajak penghasilan yang dibayarkan kepada
Pemerintah Pusat, demikian sebaliknya. Dengan kata lain besarnya
32 11 Pajak danRetribusi Daerah
Administrasi Pajak Daerah11 33
pajak yang dibayarkan ke satu pemerintahan tidak akan saling
mengurangi pajak yang dibayarkan kepada pemerintah tingkatan
lainnya.Contoh, di Skandinavia Pemerintah Daerah melakukan
pungutantambahanatas pajak penghasilan yang telah dilakukanoleh
Pemerintah Pusat dan semuanya dijumlahkan menjadi satu dengan
pajak penghasilan Pemeritah Pusat. Jika diperlukan dapat juga
ditentukan batas tertinggi untuk seluruh pajak pendapatan yang
dikenakan. Kalaujumlah pajak melebihi batas tertinggi tersebut maka
beberapa pajakharus dikurangi. Misal, di Jepang, Pemerintah Daerah
mengenakanpungutantambahan ataspajakPemerintahPusat, namunjika
besarnya pajak yang ditarik pemerintah melebihi batas tertinggi maka
pungutantambahannyayangdikurangi. Lainhalnya, di Skandinaviapajak
pusat yangdikurangi,
Alternatif kedua, pajak daerah dapat diperhitungkan sebagai
pengurangpenghasilanbruto wajibpajakbadandalarn menghitung pajak
penghasilan atas badan usaha yang terutang. Perusahaan selalu
memperhitungkanpajak atasharta tetapdanpajakdaerahlainnya sebagai
ongkos yangdapat mengurangi pendapatanmerekasebelum pengenaan
pajakpenghasilanmereka. Wajibpajakpendapatanperseoranganbiasanya
tidakbernasib sebaik itu. Memangadapengecualian. Pembayaranpajak
atashartatetap dapatdikurangi dari pendapatanperseorangan yangkena
pajaktetapseperti di Australia, Denmark, Norwegia, danJermanBarat.
Baikpembayaran pajak penjualan maupun pajak penghasilan kepada
negara-bagian dan Pemerintah Daerah dapat dikurangi dari pajak
pendapatanuntukPemerintah Federaldi Amerika Serikat.
Alternatif ketiga, pembayaran pajak untuk satu Pemerintah
menghasilkankredit atas pungutanPemerintahlainyaitujumlahpajakyang
dibayar kepadaPemerintahAdapat mengurangijumlah yang dibayar
kepadaPemerintahBdenganjumlahyangsarna. Hal itutidaklazim, tetapi
ada beberapa negara yang melakukan. Misal, di Canada pajak dari
Pemerintah Propinsisebesar 10persenataspajakpendapatanperusahaan
yangdikenakan olehPemerintah Federal. PajakPemerintah Daerahatas
perusahaan dan pendapatan perorangan dikredit terhadap jumlah
pajak pendapatannegara bagian di beberapa negara-bagian Amerika
khususnya New York. Pengurangan ini sebenarnya sama dengan
suatu subsidi atau bagi hasil pajak secara langsung.
PAJAK PENGGUNAAN ASSETDAERAH
Pemerintah Daerah sebenarnyabanyak memiliki asset yang bisa
dijadikan sumber penerimaanpajak. Tanahitulahmerupakan sumber as-
setterbesar. Pemerintah Pusat banyakmemakai fasilitas daerahtetapi tidak
membayar pajakatas tanahtersebut. Demikianpula, untuk pajakatas
pembelianbarang danjasayang dikenakan terhadap masyarakat di daerah
sertapajakatastanah danbangunan.
Biasanya Pemerintahmembeli barang danjasa denganharga yang
sudah sepenuhnya dikenakan pajak dan juga dikenakan pada saat
menjualnya. Perusahaan Telekomunikasi sebagai contoh, harus
membebankansetiapproyek pusat dan daerah yang dikenakan dalam
penjualanpelayanantelepon.
Meskipundemikian Pemerintah Pusatbiasanya tidakmembayar pajak
atashartatetapkepada Pemerintah Daerahatastanah danbangunannya.
PemerintahPusat diIndiamembayar pajakyang dikenakanolehPemerintah
Kotauntukpelayanan tertentuseperti- air, drainase, peneranganjalan,
tetapitidakdengantarif umum. Seringkali Pemerintah Pusat membayar
subsidiyangberkaitan denganpajakatasharta tetapuntukmenghindari
kesansebagai Pemerintahbawahan.
Kebanyakanpengamat menganggapadil kalau Pemerintah Pusat
membayar pajak dengan dasar yang sama seperti pihak lain yang
mempergunakan pelayananPemerintahDaerah. Laporan BankDunia
menunjukkan bahwa pemerintah kota telah menyediakan berbagai
pelayananperkotaankepada PemerintahPusatsebagaimana milikpribadi
dan setiappembebasan pungutanatas tanahdan bangunanPemerintah
Pusatmenyebabkan bebanyang beratbagi kota-kota besar. Pembebasan
jugadapat mendorong Pemerintahuntukmembuat pilihanlokasi yang tidak
rasional, mempergunakan lokasi komersial yangterbaikuntukbangunan
instalasi yangdapatdilakukan di manasaja. Pendapat yangmendukung
bahwa Pemerintah Pusat memberikan subsidi kepada daerah dalam
bentuk lain bukanmerupakanalasan untuk pembebasan karena lebih
34 mPajak danRetribusi Daerah
baik dan lebih adil suatu daerah menerima pembayaran di luar
kewajiban daripada subsidi atau sumbangan.
PemerintahPusat mungkin sangat tidakbertanggungjawab dalam
memenuhi kewajiban pajak kepadaPemerintahDaerah. RichardsBird
(1992) telah menunjukkan kerugian yangsangat besardalamvalorization
taxdariPemerintahKotaBogota karenapamalsuanhartatetap Pemerintah .
lainnya. Tunggakan penerimaan Pemerintah Pusat dan organisasi
kemasyarakatan AfrikaTimur menyebabkan krisiskeuangan yangberat
bagi pemerintahan Kota Nairobi pada awal tahun 1970-an.
PENGARUH INSENTIF
Perpajakan mempunyai tujuan ganda, menyediakan dana untuk
kepentingan umum dan mempengaruhi tingkah-laku ekonomi, .
Kebijaksanaan fiskal merupakan suatualatmanajemen ekonomi danpajak
dapatdinilai dari segi pengaruhnya atas keputusanwajib pajak, atas kemauan
untuk bekerja, memakai, menabung atau investasi. Tarifpajak dapat
ditingkatkan untukmenurunkanpermintaanapabila ekonomi 'sedang baik'
dan diturunkan kalauinginmeningkatkanpermintaanpadawakturesesi.
Pajakatas hartatetap dapatdilihat terutama sebagai alatuntukmendorong
ataumenghambat pembangunan fisik tertentu.
Beberapa literaturKeuangan Negarabanyakmemusatkan perhatian
pada pengaruh insentif perpajakan terhadap harga,namun
bukandimaksudkan olehPemerintah untukmeningkatkanpajakagardapat
membelanjakannya/membiayai tugas-tugasnya, Perpajakanyangdibahas
dandimaksudkandisini perpajakansebagai alatuntukmeningkatkan dana
yangdapat dipergunakanuntukpengeluaranPemerintah Daerah. Masalah
yangmenonjol mengenai pengaruh ekonomi dari perpajakan daerah akan
disinggung pulawalaupuntidakmerupakantitikperhatianpembahasan
ataupenelaahan.
Ada beberapa alasan untuk menjelaskannya, Pengelolaan
ekonomisecaramakro pada umumnyaadalahtugas PemerintahPusat,
dan terutama pajak-pajak nasionallah yang dimanfaatkan dan
disesuaikansebagai peralatan pengelolaan ekonominya. Perpajakan
/' 11 ,, _35
daerahterutamadikaitkan padapembelanjaan pengeluaranPemerintah
Daerah, perpajakan ini dapat saja diubah guna menghindari akibat
sampingan yang merugikan, tetapi peranannya dalam pengelolaan
ekonomi jarang lebih positif daripada tersebut terakhir ini. Lebih
dari itu, beban perpajakan daerah terhadap dasar-pajak tertentu
lazimnya tidaklah setinggi pungutan-pungutan nasional yang utama
seperti pajak-pajak penghasilan badan (comporate profit taxes) atau
bea masuk,sehinggacenderungkurang untuk mempengaruhi perilaku
ekonomi secara berarti. Bukan tidak lazim, misalnya, bagi suatu
pajakpenghasilan badannasional untukmenyita(appropriate) setengah
dari laba perusahaannya. Sebaliknya, pajak atas barang-barang yang
memasuki daerahperkotaan telah berhasilmembelanjai hampir separuh
pengeluarannegara-bagian Gujarat, di India, selama akhirtahun 1970-an,
sementara itu hanya mewakili 0,3 persen dari nilai perdagangan
negara-bagian tersebut Davey, 1988).
Ada beberapa pengecualian. Penurunan dalam perpajakan atas
kekayaanbarangtakbergerakdi California, AmerikaSerikat, menurut
PeraturanDaerah 13diperkirakan telah merangsangpeningkatanhakmilik
atas benda takbergerak. Dalampertengahantahun 1970-an pemerintah
setempat Swedia didesak untuk membatasi pengenaan berupa pajak
penghasilan karenadampaknya terhadappendapatanperorangandalam
masa'stagflasi' . Bebanpengenaanpajakatasbarangtakbergerakmenurut
pemerintahansetempat Inggris terhadap biayapengolahan dan komersial
mengalami kerisauanyangsamaawal tahun 1980-an. Ada kasus-kasus
(peristiwa)yangmenunjukkan bahwapengeluaranpemerintah daerah
merupakan bagian yangbesardari seluruhpengeluaranpublikdanyang
mengatakan bahwabesarnyajenispengeluaran yangtersebutterakhir itu
dipandang sebagai penambahan beban perekonomian yang tak
tertahankan. Suatugabungan keadaan yang lebihlazimterjadi di negara
Barat yang berindustri daripada di negara Dunia Ketiga.
~ ..
36 mPajakdonRetribusi Daerah
KRITERIA RETRIBUSI
DAERAH
B
ab inimembahas karak.ieristikretribusi daerah secara umum. Seca-
rateoritis pengertianpajakdanretribusi mudahdibedakan, namun
di prakteknya tidakdemikian. Setiap pembayaranpajakmemberi
kontribusi atas jasa-jasapelayananyang diselenggarakanolehPemerintah,
tetapi pembayarnya tidakmenerima kontraprestasi langsung yangdapat
dinikmati. Dalam beberapa kasus jasa pelayanan umum yang
diselenggarakanolehPemerintah dibiayai dengan pungutanpajak, namun
padajasapelayananumumlainnyadibiayai melalui pungutanretribusi yang
langsung kepada konsumen. Setiap pembayaran retribusi menerima
kontraprestasi langsung berupajasa-jasapelayanan yang telahdisediakan
ataudibuatuntukitu. Namun, dalampraktekperbedaan-perbedaan ini
menjadi kabur(tidakjelas), halinidapatdilihat dariduasegi:
1. Retribusi dapatdikenakan lebihbesarmelebihi biayajasa-jasa yang
diberikan.
Ini merupakan karakterisitk dari banyak retribusi untuk
pengaturandalamrangkamencapai tujuan lisensifee. Retribusi-retribusi
yangdemikian praktis merupakan pajak-pajak yang efektif.
38 Daerah
2. Suatujasamungkinhanyasebagianchbiayai olehretribusi, sisanyadatang
dari subsidikhusus atauterselubungdaripenerirnaanpajakmn
mn.
Dariduaperspektiftersebut makatimbul pertanyaan; Jenis danfungsi
pelayanan apa saja yang bisa dibiayai dari sumber pajak atau sumber
retribusi? Apakah sumberpajakatausumberretribusi hanyacocokuntuk
suatufungsi tertentu? Apayangmembedakansuatujasayangdibiayai oleh
pajakdenganjasayangdibiayai olehretribusi? Berdasar dariduaperspektif
tersebut, bab ini akandiawali denganuraian tentang barangpublikdan
barang privat, tingkatanpengenaanretribusi, pendekatanpembebanan
retribusi, dandiakhiri penilaianpotensi pendapatanyangdapat dikenai
retribusi ataudasarpengenaan retribusi.
Barang Publik dan Barang Privat
Untukmenjawab permasalahanketigapertanyaandi atasmakaperlu
diuraikanterlebihdahulujenis barang menurut public sector economic
yaitu publicgoods (barang publik) dan privat goods (barang privatI
pribadi). Hal ini diperlukankarenadenganmengklasifikasikankedalam
dua jenis barang tersebut, maka akan memudahkanlogikaberpikirnya
untukmenjawab pertanyaan tersebut.
Barang publik adalahsuatujasa yangmemberi keuntungan kepada
orang secara kolektif dan tidak diskriminatif seperti ketahanan atau
pengontrolanpenyakit. Untukmenjagaorangdari penyakitcacaradalah
merupakankepentingansetiaporang,bukanhanyamenguntungkansipasien
tetapi semuaorang, yangmungkin kena pengaruhnya. Pelayananyang
demikianpantasdiwajibkanuntuk dibiayai olehsetiappembayarpajak
dalamhubungannya dengan kekayaannnya danbukankonsumsinya (yang
mungkindalamkasusyanglainmenjaditidakdapatdihitungjumlahatau
besarnya). Pelayanan suatu barang privat jika konsumsi seseorang
memberikankeuntungan kepadadiri sendiri dantidakkepadatetangga-
tetangganya. Apakah suaturumahtangga yangmempunyai saluranlistrik,
tidakmemberikan pengaruhkepadatetangga-tetangganya dantidakada
alasan bagi mereka untuk turut membayar biaya tersebut; untuk ini
pembebananyangcocokadalahretribusilangsung.
Kriteria Efektivitas Retribusi Daerah U 39
Sekali lagipembedaanbarangpublikdan barangprivat tidakselalu
mudahditerapkandalampraktek. Hal ini didasarkankepada beberapa
alasan:
Pertama, batasandefinisibarang-barangpublikdan barang privat
sootdilakukan, misalpendidikan. Pendidikan, dapat dipandang merupakan
barangpublikkarenauntukkepentingan umum. Artinya, pendidikan ini
dapat dinikmati oleh semua penduduk, sehingga untuk mendapatkan
penduduk yang dapat membaca dan berhitung secara umum mudah
diperoleh. Padaakhirnya, untukmendapatkanpegawai yangkualitas tinggi
yang mengisi kantor-kantor Pemerintahtidak akan kesulitan. Adanya
pendudukyangmampumembaca dan berhitungkarena melalui proses
pendidikanini akandinikmati secara bersamaataumerupakan keuntungan
kolektif. Namun, apakah keuntungankolektifinijuga dinikmati oleh
golongan orangmiskin atauorang-orangjalanan yangbelajarpadakelas-
kelas malamuntukbelajarbacatulisdi sanggarsosial?
Disisi lain, pendidikanjugadapat dipandang sebagai barangprivat.
Misalnya, untukmemenuhi tenaga ahlidibidang hukumdanekonomi maka
diselenggarakan pendidikan tinggi ilmu hukum dan ekonomi. Untuk
memenuhi kebutuhanekonomdanahlihukumtersebut, tidak hams seluruh
pendudukdiajar ataudididikuntuk menjadi seorangekonomatauahli
hukum. Dengankatalain, tidaksemuapendudukyangdapat menikmati
pendidikan tinggi ini hanyaorang-orang tertentu sajaataupendidikan ini
memberikan keuntungan secarapribadiorang-orang yangmenikmatinya.
Artinya, pendidikandalamha! ini merupakanbarangprivat, karena adanya
pendidikantinggi ini hanyamenguntungkansegelintir orang saja atau
keuntungan daripendidikan ini bersifatprivat bukankolektif. Akhirnya,
pendidikanini menghasilkansegelintir orang (para ekonomdanahlihukum)
yangakanmeningkatkan standarhidupnyajauh lebihtinggi dibanding
komunitas tempat merekaberasal. Haruskah pembayar pajakmembiayai
pendidikantinggiyangmenghasilkan standar hiduprata-ratayangjauh
lebih tinggi?
Seluruhpertanyaan-pertanyaandiakhir alinea tersebut,menunjukandan
mengilustrasikansulitnyamenarikgaris pemisah antara keuntungan kolektif
40 11 Pajak donRetribusi Daerah
dan keuntunganpribadi. Dalamkonteks negara-negara miskin atau miskin
kebijakan, biasanya pendidikan tinggi menyediakanjalanuntukmencapai
gayakehidupan yanglebihistimewa, setelah selesai ataululuskemudian
sarjana-sarjana tersebuthidjrahke luar negeri mencari kehidupan yang
lebihlayakdibanding negaranya. Hidjrahnyasarjana-sarjana ini berarti
hilangnya keuntungan-keuntungan kolektif dari pendidikan, karena
masyarakat tidakdapatmenikmati layananjasaparalulusantersebut.
Kedua, aplikasi logis dari suatu peraturanatau kewajaranumumsering
mengakibatkan pembayar pajakharus membayar sesuatu yangmelebihi
baikdarisisi kapasitas maupun sisi batasan logikapikiransehat. Penampilan
luardarisuatu rumah ataupemeliharaandaripada tamandi depannya dapat
dengan mudahdianggap sebagai keuntungan umumdaripada keuntungan
pribadi. Kelancaranselokanpembuanganlimbahrumah tangga danpabrik,
seringpuladianggapsebagai keuntunganumumdaripada keuntungan
pribadi.
Ketiga, barang-barang pribadi seperti transport untukbekerjaatau
perumahan yang memadai dapat dianggap sebagai kebutuhan dasar
manusia. Apakah kesempatan untukmemperolehnya dibatasi hanya untuk
orang-orang yang mampu membayarnya? Secara umum mekanisme
pemerataan memungkinkanuntukmembolehkan setiaporangkayadan
miskin mempunyai kesempatan sama untuk membayar kebutuhan-
kebutuhan pokok. Namun, karena sebagianbesar negara-negara miskin
mempunyai keterbatasan kapasitas administrasi dan ekonomi untuk
mengoperasikan suatusistemjaminansosialnasional, maka subsidi dari
pajakmungkin tidakdapat dihindarkan, misal kredit pajakatauiurandana
pensiun. Apakah mungkinsubsidi-subsidi tersebutdibatasi hanyauntuk
masyarakat yang miskin atauhams diperluas untukmelayani kepentingan
umumdalamjumlahyang besar(segi politikdan administratif).
Keempat, pelayanan-pelayananjasa yangtidakdapatdikategorikan
sebagai barang publik, tetapi karena alasan tertentu ataumempunyai tujuan
tertentu makapelayanan tersebutharus dilakukan, Misalnya, pengguna
ataupemanfaatan sumberdayaalam. Apalagi, sumberdayaalamyang
dimanfaatkan tersebutmerupakansumberdayaalamyanglangkamaka
pemanfaatanyaharus dilakukansecara disiplin. Pelayananpenggunaanatau
Kriteria Efektivitas RetribusiDaerahIJ 41
pemanfaatanlahan yang memiliki sumber daya alamtersebut, perlu
di kelolasecaradisiplinagar dampakdari pemanfaatan lahan tersebut
tidak merusak sumber daya alam lainnya. Beberapa elemen berupa
kelangkaan, keterbatasan, kedisiplinan, dan ketertiban, perlu diatur
dengan pengenaan tertentu. Penggunaan retribusi sebagai alat
pembebananlangsungtidak dapat dihindarkan, hal ini dimaksudkan
untuk mengenakandisiplin kepada mereka yang menggunakannya.
Retribusi memaksaorang untukberhati-hati di dalammengkonsumsi
sumber-sumber yang langka atau mahal.
Terakhir, karena ada tekanan secara politik atau pertimbangan
praktis (karena mudah dipungut), maka untuk menutup biaya-biaya
pelayanan dilakukan melalui retribusi daripada melalui pajak. Bab-
bab sebelumnya telahmembahas kesulitan untukmencapai perpajakan
daerah yang pantas dan wajar, khususnya di negara-negara Dunia
Ketiga. Ada suatu kecenderungan di negara-negara Dunia Ketiga
berupa dorongan yang kuat untuk menggunakan retribusi sebagai
alat untuk mengendalikan penduduk yang memperoleh fasilitas
pelayanan pemerintah. Kadang-kadang mereka harus membayar
retribusi setingkat lebihtinggi dari pajakyangdisyaratkan. Rendahnya
keinginan bagi pengenaan pajak langsung di banyak negara miskin
sarnasekali bertolak-belakang dengan tingginya proporsigolongan yang
benar-benar rendahmengeluarkan pendapatannya untukuang sekolah,
tagihan air minum dan pelayanan kesehatan. Lebih lanjut ada yang
mempertanyakan (secara kontroversi) bahwa retribusi adalah benar-
benar demokratis sebab ia memperkuat pemilihan yang diinginkan:
penduduk dapat memilih kepada apa yang harus mereka bayar dan
apa yangtidakperlu dibayar, danbentukdaripadapengeluaranumum
tersebut, setidak-tidaknya sebagian langsung merupakan pilihan mereka.
Di dalam praktek, pungutan retribusi langsung atas konsumen
biasanya dikenakan karena satu atau lebih dari pertimbangan-
pertimbanganberikut:
(1) Apakahpelayanan tersebut merupakanbarang-barang publikatau
privat, mungkin pelayanan tersebutdapatdisediakan kepadasetiap
orang. Olehkarena itutidakwajaruntukmembebankan biaya-biaya
42 11 Pajak danRetribusi Daerah
tersebut kepada pembayar-pembayar pajak yang tidak
mendapatkanjasa/barang tersebut. Hal ini merupakan salah satu
alasanpembebasanretribusi bagi pengadaanair minumatauuntuk
pendidikan secara umum. (Alasan ini tidak dapat dilakukanjika
suatu jasa dibiayai oleh pajak kekayaan, dan ketersediaan atau
ketidaktersediaan jasa-jasa tersebut dipengaruhi oleh
penilaiannya).
(2) Suatujasayangmelibatkan suatusumberdaya yanglangka ataumaha1
danperlunyadisiplinmasyarakatdalammengkon-sumsinya. Hal ini
sering menjadi suatu alasan bagi pembebanan retribusi untuk
menyediakanair minum(khususnyamelalui sistemmeteran).
(3) Ada beberapajenis konsumsi yang dinikmati oleh individubukan
karena kebutuhan pokok sehingga lebih merupakan pilihan
daripadakeperluan. Contohfasilitas rekreasi.
(4) Jasa-jasa dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan mencari
keuntungandisamping memuaskankebutuhan-kebutuhan individu di
dalamnegeri. Sebagai contoh, airminum, listrik, pembuangansarnpah,
kantor pos, teleponseluruhnyadigunakansecaraluas olehindustri.
(Halini mungkinmengakibatkanpembebananretribusi kepada seluruh
konsumenatauhanyakepadasektorperdagangandan industri).
(5) Retribusi dapat mengetahui ataumenguji arahdan skaladari pennintaan
masyarakatakanjasa, jika kebutuhanpokokataubentuk-bentukdan
standar-standar dari penyediaantidakdapat ditentukan secarategas.
Suatu kasus pada setiap pengeluaran Pemerintah, keinginan atau
kemauan masyarakat untuk membayar langsung bagi pelayanan-
pelayanantersebut adalah suatupengujianyangpentingbagikeinginan
masyarakatatasjasa pelayanantersebut.
Tingkat Pengenaan Retribusi
Secaragarisbesar adabeberapatingkatanpengenaanretribusi yang
digunakan olehPemerintah terhadap masyarakat, yaituretribusi atasjasa-
jasa pelayanan umum atas pemakaian langsung (pelayanan secara
keseluruhan), retribusi untukjasa-jasapelayananumumyangmembutuhkan
tingkat pengembalian biaya langsung (direct cost) yang berbeda, dan
Kriteria Efektivitas Retribusi Daerah11 43
retribusi berdasar kewenangan tertentu Pemerintah atas penerimaan
retribusi tersebut.
Hampirsecara keseluruhan jasa-jasapelayananataspemakai langsung
bersifat umum(universal). Jasa-jasapelayananumum yang dikenakan
retribusi atas pemakai langsung (baik dengan atau tanpa subsidi)
antara lain :
(1) Jasapemenuhan kebutuhan airbersih untuk industri dapat dihitung
melaluitingkatpenggunaan air yangdikonsumsi dandiukur dengan
meterankubik, melaluipengkategorianperusahaanindustri dalam
suatutingkat tertentu(misal: besar, sedangdan kecil) berdasarkan
penilaian kekayaan, melalui dasar jarak antara lokasi perusahaan
denganpipapenghubungutama, atau melalui penjualan dari pusat
perusahaanairminum(pDAM).
(2) Jasa angkutan umum setidak-tidaknyasebagianditutup dari biaya
tiket penumpangatau barang (meskipun ditentukanoleh besamya
peningkatan subsididari penerimaan-penerimaanumumdi negara-
negaraBarat).
(3) Jasa-jasaposdan telepon, umumnya dijualberdasarkanunit daripada
jasa, meskipunpada kasusteleponada pengecualian. Untuk biaya
tetapnya(abodemen) tidakdidasarkankepadaunit tetapi didasarkan
padakategori atas nilaikekayaan pemakai. Abonemenuntukrumah
tangga lebihrendahdibandingkanuntukusaha.
(4) Gas dan listrik juga pada dasamya dikenakan pembayaran sesuai
dengan besamya volume konsumsi, meskipun biaya-biaya per
unit sering menurun apabila jumlah yang digunakan meningkat.
(5) Penghuni perumahan Pemerintah hampir selalu membayar sewa
(atau penghuni membeli secara cicilan) kecuali apabila
perumahangratis disediakankepada para pegawai sebagai bagian
daripada konsumsi pelayanan mereka.
(6) Beberapa bentuk biaya masuk biasanya dikenakan atas
penggunaanfasilitasfasilitas tertentu yangdimiliki Pemerintah Kota
sepertimusium, monumen-monumen bersejarah, kolamrenangdan
fasilitas olahragalainnya, kebun binatang, benda-benda cagarbudaya,
bioskop, meskipun tidakuntuksepertitaman.
44 11 PajakdonRetribusi Daerah
Penyediaan jasa-jasa kepentingan umum seperti air bersih, gas,
listrik dan telepon biasanya didasarkan pada biaya penyambungan
awal, namun kadang-kadangjuga dasar pengenaan biaya bergantung
pada penggunaan/konsumsinya.
Pengenaan retribusi yang didasarkan pada pengembalian biaya
langsung (direct cost) . Ada perbedaan mendasar pengenaan retribusi
antara jasa-jasa pelayanan umum atas pemakaian langsung dengan
jasa-jasa pelayanan umum pengembalian biaya langsung. Pengenaan
retribusi yang didasarkan pada pengembalian biaya langsung (direct
cost) biasanya digunakan untuk jasa-jasa umum yang
penyelenggaraannya menjadi tugas atau kewenangannya berada di
tangan Pemerintah, misalnya :
1. Pendidikan. Dewasa ini Pemerintah di banyak negara dalam
sistem pendidikannya memberikan pembebasan uang sekolah
untuk tingkat sekolah dasar, meskipun pengeluaran (biaya)
tambahan seperti seragam sekolah, makan, buku-buku mungkin
masihjuga ada. Hal ini merupakan suatu beban, khususnya bagi
keluarga-keluarga miskin. Pungutan di sekolah dasar tetap masih
ada terutama, jikajumlah kelas yang disediakan di sekolah tersebut
lebih keeil dari jumlah anak sekolahnya, meskipun biasanya
mendapat subsidi yang lebih tinggi. Sedangkan pada sekolah
tingkat menengah berbeda, pungutan uang sekolah makin
banyak. Pungutan uang sekolah ini merupakan bentuk lain dari
retribusi langsung oleh Pemerintah. Semakin banyak retribusi
yang dikenakan oleh Pemerintah terhadap pendidikan sekolah
menengah menjadi tingkat biaya benar-benar tinggi, maka sering
diimbangi dengan penyediaan yang lebih besar berupa potongan
uang sekolah atau bea siswa untuk pelajar-pelajar yang miskin.
Di dalam sekolah yang lebih tinggi, retribusi dimasukkan sekaligus
dalam suatu peraturan sekolah, jadi betapa bervariasinya tingkat
subsidi dan penyediaan bea siswa. Suatu alternatif konsep di
dalam pendidikan yang lebih tinggi adalah membebankan biaya-
biaya pendidikan kepada siswa melalui sistem kredit pinjaman
biaya pendidikan. Setiap siswa yang dibiayai dari kredit pinjaman
KriteriaEfektivitas RetribusiDaerah11 45
ini mempunyai suatu account pinjaman atas nama siswa tersebut.
Pinjaman ini akan dikembalikan oleh siswa tersebut jika yang
bersangkutan telah bekerja atau siswa dikenakan angsuran utang
pinjaman biaya pendidikan setelah yang bersangkutan mulai
meniti kariernya. Namun demikian, kontribusi dari orangtua siswa
masih sering dicari atau diperlukan untuk biaya pengadaan
bangunan atau sarana sekolah melalui usaha gotong-royong or-
ang tua siswa (masyarakat).
2. Jalan raya (OOn infrastruktur yangberkaitan).
Pembangunandan pemeliharaanjaIanraya biasanyadibiayaidari pajak
umum. Misalnya, pungutanpajak atas pemakianbahan bakar (bensin)
untuk kendaraan dan pungutan pajak atas bobot kendaraan/alat berat
yangmelewatijalan rayaumum.Kadang-kadanghubunganantarapajak
dengan penggunaannyadapat lebihspesifik, namun adajuga retribusi
pemakaiantertentu atasjalan. Misalnya,jaIanutamadenganakses terba-
tas seringdioperasikansebagaijalan tal.
Pembangunanperumahantennasukjalan-jalandi lingkungansekitarnya,
saluran air, lampujalanan sering dikenakan retribusi kepada pemilik
kavling yang tanahnya menghadap ke jalan atau pembayaran-
pembayaran pajak daerah. Biaya-biaya ini kemungkinanjuga dapat
ditutup oleh pengembang (developer) dan pembeli pada saat
melakukanpembuatanaktetransaksijual-belipropertymelaluipetugas
PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) atau Notaris . Hal ini
merupakansuatupraktekyangsudahbiasadilakukanolehpengembang
pembangunan pertokoan atau perusahaan-perusahaan property
perkotaan baru (new town corporation), atau melalui pengaturan
kembalipertanahan.
Biaya-biaya dari jalan-jalanpusat kota mungkindapat ditutuplangsung
melalui pungutan-pungutan parkir atau lisensi-lisensi daerah.
Pemeliharaanjalan--jalanlokaldan untukpejalankakidi daerahpedesaan
atausekitarpertokoandapat dibebankankepada kewajiban kerjabakti
ataubeberapakeringanankeuangan.
3. Pelayanan kesehatan. Pelayanankesehatansecaraumumdapat dilihat
dari 2 (dua) model. Model pertama, rumah sakit dan klinik-klinik
46 11 Pajak dim Retribusi Daerah
pemerintahan memberikan pelayanan dasar secara cuma-cuma
sedangkan retribusi dikenakan untukpilihan akomodasi atau prioritas
pengobatan untukkasus-kasus nonemergensi di rumahsakit; namun
demikian pelayandasarcuma-cuma yang lebihbesardapat dikaitkan
dengan tingkat biayapengobatanyangrendah, sedangkanbiaya obat-
obatantergantung padabesarnyapotonganyangditerapkan untuk
anak-anak danorangtuamiskin. Modelkedua, retribusi dikenakan
sebesar biaya seluruhnya (full cost charging) oleh rumah sakit-
rumah sakit dan klinik-klinik pemerintah baik dilakukansecara
umumataupun secarapribadidenganmelalui suatusistemasuransi
kesehatan nasional atau suatu sistem asuransi swasta, untuk
menutup biaya-biaya pengobatan atau beberapa bentuk
perlindungan biasanya diberikankepadagolonganberpenghasilan
rendah .
4. Pengairan. Selama ini irigasisecaraumumbenar-benar digunakan
untuk meningkatkan produktivitas tanah, cost recovery sering
diterapkan sebagai pembenanretribusi. Metodepembebanannyadapat
berbeda-beda. Retribusi air bersih biasanya dibebankan secara
langsung. Sebaiknyabiaya airbersihdapat dimasukkankedalamsuatu
biayasewakeseluruhan, petani membayar biayairigasi atas tanahnya
yang beradapadalokasiperkampunganyangberirigasi, padasaat
panen. Eisajugapadasaatpanendilakukanpemasaranhasil tanaman
yang terpusat, sehingga retribusi irigasi bisadipungut langsung pada
saatitu; sistemgezira di Sudanmerupakan suatumodel irigasi yang
telah lama didirikan. Di Indonesia, misalnya Subaksistemirigasi yang
diterapkandiBali.Tidakseluruhnegara mengenakanretribusi terhadap
pengairan, akantetapi beberapanegaramempertimbangkan bahwa
penilaian yangtinggi ataspajaktanahmerupakan suatu pembayaran
tidak langsung.
5. Kesehatan lingkungan. Sebagai suatubarangumum(publicgoods)
yang jelas , biaya pelayanan kesehatan masyarakat biasanya
merupakan bebanpajak. Namundi siniadabeberapa pengecualian,
pembuangankotoranatau sampahbiasanya dikenakan retribusi kepada
mereka yangmemerlukan pelayanannya, kadang-kadang dengan
Kriteria Efektivitas Retribusi DaerahIJ 47
bayaran tertentu (specific fees). Tetapi biasanya dalam hal
rumahtangga adalahmelalui suatutarif yangberdasarkanpenilaian
kekayaan. Pembuangan sampah atau pencemaran industri
biasanya, dikenakanretribusi khusus sesuai dengan volume dan
kekuatan pencemaran. Bilamana sarana kebersihan bersama
disediakan, maka pemakai dapat diharapkan untuk menjaganya
secara bersama-sama(collectively).
6. Pelayananpemadamkebakaran. Pengusaha persewaan pertokoan
biasanya menggunakan retribusi atas penyewanya untuk
penanganan kebakaran. Sebagai contoh, asrama di Ethiopia
membeda-bedakan retribusi sesuai dengan jumlah jam kerja
perorangan, air dan minyak yang digunakan.
Pendekatan Pembebanan Retribusi
Dasar dari pembebanan retribusi adalah cost recovery.
Pembebananbesarnya retribusi yang dikenakan terhadap suatu jasa
layananbiasanyamelalui kebijakanyang diputuskanoleh Pemerintah
Daerah. Kebijakan penentuan pembebanan besarnya retribusi ini
dapat kurang atau lebih dari full cost -nya. Hal yang perlu
dipertimbangkan dalam penentuan pembebanan besarnya retribusi
ini denganmelihat kontribusi penerimaanpelayanan tersebut(retribusi)
terhadap penerimaan umum. Dalam merumuskan kebijakan
pembebananretribusi masalah utama yang perlu dipecahkan adalah
mendefinisikandan mengkalkulasijUll cost dari pelayanan tersebut.
Ada 3 (tiga) masalah yang perlu diperhatikan dalam menentukan
dasar pembebananretribusi ini (Davey, 1988), meliputi :
Masalahpertama, adakahpengeluaran-pengeluaran yang dapat
dihubungkan langsung sebagai biaya atas suatupelayanantertentu tersebut.
Bagaimanakah memisahkan biayatersebutkedalampelayananindividu
danpelayanan masyarakat umum? Ataubagaimana memisahkan antara
biayapelayanandengan biaya-biaya administrasi umumdari Pemerintah
Daerah setempat? Misalnya dalampenetapan sewa pertokoan ataurumah
toko(ruko) di perkotaan, biaya-biaya apasajayang perludiperhitungkan,
dalam penetapan biayasewa tersebut, haruslahtermasukpengeluaran
48 11 PajakdanRetribusi poerah ., " ,
pelayanan-pelayanan offsite (jalan-jalan lokal, saluran-saluran air,
lampu layanan dan sebagainya), administrative overhead atau
pelayananmasyarakat dan sosial di lingkungan masyarakat? Dalam
hat' ini diperlukan adanya suatu account (rekening) yang meneatat
ftt'll cost termasuk untuk memasukkan gaji pegawai administrasi
khusus yangdisediakan untukpelayananjasa yangdikenakan retribusi
tersebut, misalnya Dinas Pengelola Asset Daerah. Beberapa sistem
cic coiJnting Pemerintah Daerah, dilaksanakan lebih lanjut pada satu
tahapderigan mengalokasikan biaya-biaya dari seluruhstrukturutama;
bendaharawan dan mungkin sampai ke pelayanan
dinas-dinas seeara keseluruhan. Suatu pendekatan moderat yaitu
menghubungkan antara marginal cost dari administrasi pelayanan
denganperluasanpelayanan. Marginal cost yang dimaksudkanyaitu
peningkatan overhead cost yang disebabkan adanya (khususnya)
perluasaripelayanan. Layanansarana umumdalamsuatu lingkungan
riiasyarakat perumahan mungkin dapat dianggap sebagai pelayanan
umum yang disediakan oleh Pemerintah Daerah kepada penghuni
perurnahan yang sekaligus pemilik. Jikademikianhalnya, berarti tidakakan
adapenilaianuntukmemasukkan mereka didalambiaya-biayaperumahan.
Kasus yang berbeda akan timbul jika pelayanan disediakan kepada
lingkuriganperkotaandenganstandar dankarakter yang khusus (luar biasa),
biasanya untuk perumahan mewah. Kemudiankegiatan usaha dapat
dilakukanmenurut prinsip retribusi marginal cost, yaitupeningkatan
pengeluaran Pemerintah yang diperoleh khususnya dari penyediaan
pelayan. Pengenaan retribusi seearafull cost dari suatu parkirkendaraan
dapatdianggap sebagai terlalumembebani penyediaandanpengelolaan
suatudaerah perparkirantermasukpenyediaanjalankeluarkejalur umum
atau keluar daerah. Termasukdidalamnya seluruh sistempenangananlalu-
lintas danjalandi daerah sekitar perumahan tersebut.
Masalahkedua adalah apakah biaya-biayadikalkulasikansesuai
dengan pengeluaran yang sebenarnya dari suatu unit pelayanan
tertentu-atau-berdasarkan suatu rata-rata pelayanan bersama. Pada
pelayanan biayanya relatif sama atau mungkin
beroedagBiaya':'biaya'penyusutan modal akan berbeda denganumuf
KriterioEfektivitas RetriblisiDaerahIJ 49
capital assets karenainflasi danfluktuas] tingkat bungasetiappinjaman
yang terkait. Lokasijuga mempengaruhi biaya. Air bersih dan listrik
akan lebih mahal biayapenyediaannya,ke daerah-daerah karena
adanya biaya-biaya transmisi - panjangnya bagian-bagianpenting, pompa,
tempat boeor, dan sebagainya. Kepadatan penduduk yang rendah
mengkonsurnsi kurang daridaerah-daerah padat, tetapi
daripenyediaannya tidakakanberfluktuasi secara proporsional. Suatu bis
setengah kosongyang melayani suatu-daerahpenduduk jarang akan
membiayai hampir samadengan biayasuatubisyangpenuhdi pusat kota,
biayapenyusutan dantenaga kerja mungkinhampir konstandankonsurnsi
tidak akan lebih rendah seeara proporsional.
Jika pelayanan-pelayanan yang dapat dikenakanretribusi ciilihat
sebagai suatuyang benar-benarprivate goods, dan retribusi sebagai
suatu instrumen harga pasar, maka masing-masing unit pelayanari
harus dikenakan retribusi sesuai dengan marginal cost-nya.
Konsumen hanya disediakan suatu pelayanan jika ia siap untuk
membayar biayayangsebenarnya dari penyediaanpetayanantersebut.
Hal ini mendorong penggunaanyang rasional dari suatu pelayanan
dan lokasi pemukiman yang optimal dari suatu daerah. Bagi para
commuter (orangyang pUlang-pergi setiap hari untuk bekerja) kaya
memilih hidup tinggal di pelosok dengan memiliki tanah Iahan
perkebunan yang luas dan jauh dari kota. Misalnya, tanah tersebut
luasnya4 akreuntukmemelihara kuda-kudamerekadanjarak tempat
tinggalnya berjarak 20 mil dari kota, mereka harus mampu
menanggulangi biaya-biaya yang eukup besar dari penyediaan/
pemompaan air bersih, maka menurut pengamat pereneana kota
pengenaan retribusi terhadap mereka mungkin mendorong mereka
untuk tinggal di suatu daerah yang lebih layak , tanpa dibebani
maeam-maeam pungutan (Davey, 1988).
Alasan pengenaan retribusi,sebaiknya dibedakan berdasar
kebutuhan dasar manusia. Jika biaya pelayanan tersebutuntuk
memenuhi kebutuhandasar manusia, maka tidakseharusnya mereka
tidak perlu dibebani biaya yang berlebih. Tetapi jika biaya suatu
pelayanan bertambah karena permintaan mereka sehihgga' biaya
50 mPajakdonRetribusi Daerah
pelayanan tersebut diatas biaya rata-rata maka kelebihan biaya
pelayanan tersebut yang dikenai beban retribusi. Bukannya, mereka
dikenai retribusi lebih tinggi sebagai bentuk sanksi hukum. Dalam
keadaanyang demikianapabilapelayanantersebut untuk memenuhi
kebutuhandasar manusia, dia seharusnya tidak dihukumjika biaya-
biaya tersebut berada di atas rata-rata, khususnya bagi masyarakat
miskin. Jika mereka yangmiskintinggal di pinggiran kota misalnya,
hal itu mungkin disebabkanbahwa hal itulah yang mereka mampu,
misalnyamerekaharus pindahdan lokasi pindahnyamengubahjarak
dari tempat mereka bekerja maka berakibat akan menaikkan
pengeluaranmereka. Tambahanbiaya sebagai kenaikanpengeluaran
ini bagi mereka sangat penting. Oleh karena itu, seyogyanya beban
mereka tidakdinaikkanlebihjauh lagi oleh retribusi di atas rata-rata
unit cost untuk pelayanan-pelayanan pokok.
Di dalam banyak kasus dan masalah ini sulit diselesaikan
pemecahannya. Misalnya, jikasuatumasyarakat daerah tertentu penguasa
pemerintahannya berganti. Pemerintah lamatelahmembangun sarana
pengadaan air danpengelolaanya diserahkan kepada perusahaan daerah
air minum. Pembangunan saranaair bersihtersebutdibiayai dariutang
ataupinjamanjangka panjang(80tahun), sampaipemerintahan yang
menggantikannya utang tersebut belumlunas. Masalahyang dihadapi pe-
nguasa pemerintahbarutersebut adalah biayapembangunanhistoris dan
bebanbungayanghams dibayar olehpemerintah daerah, artinya beban
bunga ini hamsdibebankan kepada masyarakat. Masyarakatpuntentunya
jugatelah berganti generasi, sehingga generasi tertentu atau generasi masa
kini yang hamsdibebani biaya danbebanbungatersebut. Halini terjadi di
Inggris di tahun1974, ketika Pemerintah Daerahmewarisi perusahaan-
perusahaanairminumbaikyang dikelolaperusahaandaerahmaupunswasta
makapembebanan retribusinya, benar-benar dibedakan sesuai dengan
umur, dan sifat geografis sertateknis penyediaannya. Akan tetapi adadua
pertanyaanyang mempengaruhi keseimbanganbiayapelayananyang harus
diputuskanantara biaya berdasar marginal cost dan biaya berdasar
keseimbangan retribusi. Pertama, sampai sejauh manasuatu pelayanan
(atau beberapa penyediaan minimumnya) memenuhi kebutuhan penting
KriteriaEfektivitas Retribusi D(wrahl l 51
manusia. Kedua, seberapa besar tingkatan di mana konsumen-
konsumen individu memilih keadaan lokasi'tempat tinggal, khususnya
lokasi yang mempengaruhi biaya pelayanan yang mereka gunakan.
Kedua pertanyaan tersebut benar-benar bergantung pada tingkat
pilihan konsumen, artinya sejauhmana penggunaan suatu pelayan
dihitung beradapada tingkat di atas biaya rata-rata.
Masalah ketiga di dalam perkiraan biaya adalah apakah biaya
modal dimasukkan dan dengan dasar apa. Ada banyak contoh
pelayananyangdiartikansebagai bagiandari membiayai sendiri(self
financing), tetapi hanya biaya-biaya pemeliharaan dan operasi
dibebankan kepada konsumen. Biaya modal telah dipenuhi oleh
penerimaan umum atau dari pinjaman-pinjaman yang sepenuhnya
telah disalurkan. Banyaksistemsanitasi dan saluran air yang sudah
berjalanlamajatuh kepadakategori ini, begitujuga kereta api bawah
tanah di New York.
Jelaslah bahwa tunggakan retribusi masih berlaku, hal ini akan
termasuk di dalam biaya-biaya yang dapat dikenakan retribusi dari
suatu pelayanan, kecuali jika hal itu memang sengaja disubsidi.
Meskipun demikian tungakan-tunggakan retribusi ini mungkin berada
di bawahtingkat hargapasarjika pinjaman bersifat lunakyaitumereka
belum ditingkatkan pada segi komersial penuh. Namun demikian
banyakpendapat-pendapat untukmemasukkan biaya modal di dalam
perkiraan retribusi-retribusi meskipun pengadministrasian yang
berwenang terhadap suatu pelayanan saat itu disalurkan kepada
mereka atau tidak. Investasi modal dianggap mempunyai suam op-
portunitycost; hal tersebutmungkin digunakan pada beberapa bentuk
pengeluaran Pemerintah yang lain atau tertinggal di dalam saku
pembayaran pajak, berdasarkan haI ini investasi modal di dalam
pelayanan tertentu hanya dapat diukur jika dia menghasilkan suaru
rate of return yang sebanding dengan bentuk-bentuk alternatif
penggunaan oIeh Pemerintah atau swasta. Keinginan masyarakat untuk
membeli suatu jasa pada tingkat suatu retribusi adalah sebanding
dengan kesediaannya untuk membeli barang atau jasa dari suatu
operator komersiaI yang menggunakan jumlah yang sama. Hal ini
52 11 Pajakdan Retribusi Daerah
sangat penting dalam pengujian kelangsungan hidup suatu pasar.
Hal tersebutbahkandipertanyakanbahwa tes perbandingan ini hanya
dapat sepenuhnya memenuhijika retribusi-retribusi termasukpajak
yang sebandingdihadapkan kepada operator swasta.
Sebaliknya, sia-siauntuk tidak mempertimbangkan biaya modal
daripada kekayaan hanyakarena merekatelahsepenuhnya dipenuhi oleh
badanPemerintah. Merekaakanmenggunakan waktuyangtepat, dan
menanyakanpenggantian pada tingkat biaya-biaya sekarang. Tidak
membayar biaya-biaya modaladalahmelalaikan pengorbanan generasi
sebelumnyadan yang akan datang. Dengandemikianretribusi harus
memasukkan penyusutandaripada assetmodal padawaktu yang berlaku
daripada nilai historisnya, yaitu biayauntukmemperolehatau membentuk
mereka sekarang. Marginal cost pricing adalah suatu pendekatan lainnya.
Marginal costpricing merupakan cara untuk membebankan seluruh
konsumen pacta unitcostdaripemenuhansetiap penambahanpermintaan;
jika tambahan permintaan akan keperluan pengeluaran modal baru, unit
cost yang bersangkutan akan tercermin di harga dari seluruh supply
yangada. Hargayangdemikian dianjurkanberdasarkan pertimbangan
bahwa setiapkonsumenharus dihadapkan dengan implikasi full cost
dari peningkatan permintaan. Hal ini terutama didorong oleh
hubungannya dengan kebutuhan seperti air dan listrik di mana
peningkatan-peningkatan konsumsi tersebut dapat berasal dari
keputusan-keputusanyang ada disamping potensi konsumen.
Memasukkan penyediaan kebutuhan-kebutuhan modal masa
mendatang melalui pembebanan penyusutan (depreciation charges), cur-
rent cost accounting, marginal cost pricing, atau pendekatan-
pendekatan lain yang relatif sama, biasanya dilakukan secara hati-
hatididalamteori. Halyang perludiperhatikandalampenggunaanprinsip
tersebut dapatmenimbulkanpeningkatan-peningkatanyangcukup besar
di dalamretribusi, ha! ini tentunya bertolakbelakang dengan kebijaksanaan
pengendalian inflasi. Diajugamendorong surplus uang yang besar, yang
tidakmendorong pelayanan manajer-manajer dengan kaitannya dengan
pengeluaran-pengeluaranyang efisiendan ekonomi. Kelebihandanayang
adaditangangunamengatasi komitmen-komitmen modal yang akandatang
KriteriaEfektivitasRetribusiDaerah11 53
terlalu terbuka untuk dialihkan bagi menutup kerugian-kerugian di
dalampembiayaanpelayanan-pelayanan yang lain (misalnya dana-
danaair bersih danpembuangan sampah dioperasikan olehPemerintah
daerah).
Dengan demikian ada berbagai variasi di dalam pelaksanaan
perkiraan biaya. Biaya-biaya yang dapat dibebankan mungkinhanya
dapat menutup biaya-biaya operasi dan pemeliharaan. Bahkan
mungkin hanyadapatmenutup biaya-biaya operasidanpemeliharaan.
Jika termasuk amortisasi dari biaya-biaya modal dalam hal yang
bersifat lunak, yaitu berupa pembebasan bunga atau pada tingkat
bunga submarket dan mungkin dengan penundaan pembayaran
kembali atau memperpanjang jangka waktu pinjaman. Mereka
mungkintermasukbiaya-biaya modal pada tingkat bunga komersial
penuh. Nilai asset-asset modal dapat dibebankan, tidak berdasarkan
pengeluaran pembayaran yang sekarang, tetapi berdasarkan
penyusutan perhitunganumur, ataurateofretum komersial. Mereka
dapat dinilai berdasar historis atau biaya yang berlaku, yaitu biaya
yang sebenarnya pada saat perolehan atau harga pasarnya sekarang
atau nilai gantinya sekarang. Mereka termasuk suatu elemen dari
pertanggungjawabanpajak. Mereka dibebani marginal cost, yaitubiaya-
biayamodaI yangmenyinggungseluruhunit atas tingkat supplyyang berIaku.
Beberapa diskripsi tersebut menggambarkan perubahan pola-pola
pemikiran ekonomi, sikap-sikap ideologis sosialis atau sikap pemerintahan
berorientasi kepada pasardanpadaakhirnya apayangmenjadi pendirian
konsumen atau apa yang menjadi pemikiran para politisi tersebut
didasarkan.
Pengenaan Retribusi di Bawah Full Cost
Prinsip dasaruntukmengenakan retribusi biasanya didasarkan pada
full costatas pelayanan-pelayanan yangdisediakan. Akantetapi adanya
tingkat perbedaanpembiayaanpelayanan sertafaktor sosial, politikdan
kepentingan yang mempengaruhi, maka dalam menentukan dasar
pembenananretnbusi hams melalui kompromi. Halini dapat mengakibatkan
retribusi dikenakan di bawah fuII-costnya dan kekurangannya
54 11 Pajakdan Retribusi Daerah
disubsidi dari penerimaan umum. Ada empat alasan utama mengapa
hal ini terjadi.
Pertama, timbul apabila suatu pelayanan pada dasarnya adalah
merupakan suatu public good yang disediakan karena keuntungan
kolektifnya, tetapi suaturetribusi harus dikenakanuntukmendisiplinkan
pemakai. Pembebanan kemudian harus ditetapkan pada suatu tingkat
kalkulasi untukmenghindari pemborosantetapimemperkenankantingkat
konsumsi minimum yang utama oleh seluruh kelompok-kelompok
pendapatan. Pembebanan resep kesehatan (dokter) untuk obat-obat
generikdan nongenerikatautingkat saluranpipaair minummungkinjatuh
padakategori ini.
Kedua, untuk subsidi terjadi apabila suatu pelayanan merupakan
bagiandari swastadan sebagianlagi merupakanbagiandari publicgood,
di manahal ituterutamamemberikan keuntunganpadaindividu pemakai,
tetapi konsumsinya perlu didorong bagi kepentingan tabungan atau
keuntunganmasyarakat. Contohyang palingmenyolokadalahdi mana
tarif kereta api atau bis disubsidi guna mendorong masyarakat untuk
menggunakanangkutanumumdaripada angkutanswasta, sebagai alat untuk
menurunkan kemacetan-kemacetan lalu-lintas dan pengeluaran biaya
perawatan jalan.
Ketiga, pelayanan di mana seluruhnya private good yang dapat
disubsidijika hal ini merupakanpermintaanyangpopuler danpenguasa
enggan menghadapi masyarakat denganfull costnya. Hal ini sering
dilaksanakanbagipenyediaanfasilitas-fasilitas rekreasi misal taman rekreasi,
pantai, kolamrenang , gedung seniataugedung pertunjukkan. Halitudapat
puladipertanyakanbahwadengan memiliki pendudukyangsehat atausuatu
orkestra tingkattinggi, adalahmerupakankeuntunganbersama(collec-
tivebenefit). Misalnya, disediakanlapanganbowling (bowling greens)
bukantempat mainbowling.
Keempat, pelayanan yangsebenarnya merupakanprivate goodtetapi
mungkinperludisubsidisebabhal itudianggapsebagaisuatukebutuhan
dasarmanusia dan kelompok-kelompokberpenghasilanrendah, serta tidak
mungkin mengharapkan mereka untuk memenuhifull cost-nya atas
pelayanan tersebut. Di dalam memberikan contoh-contoh perlu
KriteriaEfektivitas RetribusiDaerahIJ 55
berhati-hati karena konsepsi daripada kebutuhan pokok adalah benar-
benar subjektif dan relatif bagi standar kehidupan yang umum.
Keharusan menurut undang-undang untuk menyediakan para
tunawismadenganperumahan kota praja dengan sewa yang disubsidi
dilihat sebagianmemenuhikebutuhandasar di daerah; baik kewajiban
maupunstandar kebutuhandasar dapat dianggapsebagai yang realistis
di banyak negara Dunia Ketiga.
Bagi orang-orang tertentu, subsidi merupakan penyimpangan.
Denganalasan, hal tersebut dapatmenyebabkaninefisiensi-baik karena
penghamburansumber-sumber bagipenyediaanyangbukanmerupakan
biayayangefektif, ataukarenahal tersebut memberikankepada seluruh
konsumen apakahmerekaperludisubsidiatautidak. Olehkarena itusa-
randiajukan, pertama, pengurangan subsidi sebagianhanyadilaksanakan
kepada kategori-kategori pemakai tertentu; group-groupberpanghasilan
rendah, anak-anak, orang-orangtua dansebagainya. Ataukedua, subsidi
sebagiannya hanyadiberikan kepada tingkatkonsurnsi mimimum,di atas
harga pasar harusdilakukan. Suplaiair minum40 liter per hari pertama
kepada seseorang harus dikenakan retribusi, misalnyadenganrate yang
rendah di bawah biaya, konsumsi di atas level ini akan dikenakan
tarif pada marginal cost penuh. Hal ini kenal oleh Bank Dunia
sebagai the lifeline appoach. Tarif air bersih di Hongkong dan To-
kyo misalnya didasarkan pada prinsip ini. Pelaksanaan salah satu
dari approach tersebut diatas tergantung terutama pada kelayakan
administrasi dan tekanan politis. Akan lebih mudah mengidentifikasi
yang muda dan yang tua, jika setiap orang memiliki angka kelahiran
akan lebihmudahmengidentifikasi golongan miskin apabila sebagian
besar penduduk mempunyai pendapatan berupa gaji dan sebagian
kecil dikualifikasikan berupa lain-lain. The lifeline alternative juga
didasarkan pada kemampuanuntuk mengukur kecukupan konsumsi.
Di dalam kondisi-kondisi yang lain persyaratan-persyaratan untuk
memberi subsidi lebihmudahuntuk ditentukan.
Tekananpolitis merupakanha! yangpenting, sebabpengaruh golongan
berpendapatanmenengahdan tinggi sering mendominasi pengarahan
daripadasubsidi dan keuntungan-keuntungannya. Rumah-rumahyang
56 mPajakclan Retribusi Daerah
disubsidi di negara-negara Dunia Ketigaseringbertambahpadakelas-
kelas menengah daripada yangmiskin, investasi angkutan mungkin lebih
memihak pemilikkendaraan. Subsidi pendidikan tinggi dalampraktek
mungkin tersedia sebagian besar untuk anak-anakdari group-group
berpenghasilantinggi dan mungkin memperkuat politik mereka dan
kekuasaanprofesional.
Pengenaan Retribusi di Atas Full Cost
Di dalambeberapahal retribusimungkin lebihdidasarkan padare-
coveringdaripada full cost dari suatupelayanan, yaitu dasar mencari
keuntungan. Setidak-tidaknya adatigakasus di manahal ini bisaterjadi.
Pertama, di manaretribusi dikenakanuntuktujuan-tujuanpengaturanyang
melibatkan sedikit biaya langsung. Licensingfees atau meteranparkir
merupakan contoh.
Kedua, retribusi mungkin dikenakan padatingkat di atasbiayaguna
memperkuat pengaruh disiplinmerekaataskonsumsi. Retribusi telepon
mungkin dibagi-bagi sesuai denganperhatianuntuk tidakmendorong
kemacetanpadapuncak-puncakjam-jamsiness. Parkingfees ataudaerah
licensingfees mungkindikenakanpada tingkatpenghukuman, seperti
di Singapura yang mengeluarkan kendaraan pribadi dari pusat
kota.Akhimyasuatupelayananmungkinmempunyai permintaan yang
cukup banyak dan penduduk ingin membayar tinggi untuk hal itu
karena tingkat keperluannya atau popularitas dan keterbatasan
suplainya. Hal ini mungkin dioperasikan khususnya di mana suatu
pelayanan yang sama dikaitkan juga kepada penyediaan biaya
perusahaan-perusahaan swasta. Retribusi di atas biaya dapat juga
diukur dalam situasi yang demikian jika kelebihan penerimaan
ditanamkan kembali kepada perluasanpelayanan sehingga suatujumlah
yang besar mempunyai jaluruntukitu. Suatu contohyang baikuntukha! ini
dikaitkan padapenyediaan rumah Pemerintah di banyaknegaraDunia
Ketiga di mana suplai yang tidakmencukupi menimbulkanpemerasan sewa
di dalamsektor swasta, dan di mana para penghuni perumahanmilik
Pemerintah mungkinrelatifdianggapsebagai hak-hakistimewa. Akan
KriteriaEfektivitasRetribusiDaerah11 . 57
tetapi retribusi di atas biaya adalah analog dengan perpajakan.
Timbulnya dan pemerataannya harus dipertimbangkan. Seksi-seksi
mana di masyarakat yang membayar lebih dari suatu pelayanan, dan
seksi-seksi yang mana menerima keuntungan dari kelebihan
penerimaan? Retribusi parkir yang tinggi mungkin pantas bagi para
pemilik mobil yang umumnyamerupakan golonganmasyarakat yang
berpenghasilantinggi. Mencari keuntungandi luar para pemakai bis
melalui jawatan transportasi, lahan-Iahanpada stasiun bis, dan lain-
lain mungkin sebagian besar merupakan penghukuman golongan
miskin.
Dasar Pengenaan Retribusi
Untuk dapat menentukan dasar pengenaan retribusi atau objek
retribusi terhadappotensi pendapatan daerah, maka perlu dilakukan
penilaian terhadap potensipendapatan daerahtersebut. Ada beberapa
kriteria yang harus dipenuhi agar potensi pendapatan daerah yang
dapat dikenai retribusi, yaitu: kecukupan dan elastisitas, keadilan,
kemampuanadministrasi, kesepakatanpolitik dan penilaian retribusi
oleh pemerintah daerah (Davey, 1988).
Kecukupan dan Elastisitas
Tidakjauh dari kriteriapajakdaerah, makaretribusi daerahharus
memiliki kecukupandanelatisitas. Artinya, retribusi harus responsifterhadap
variabel-variabel yangmempengaruhinya, misalnyapertumbuhanpenduduk
dan pendapatan, selamaini umumnyadipengaruhi olehpertumbuhan
permintaan ataukonsumsi atassuatupelayanan. Akantetapiresponnya
sangat bergantung kepada ketersediaan modal untuk memperluas
pelayanan guna memenuhi pertumbuhanpenduduk, khususnya di sektor-
sektorbesarperkotaan. Hal iniseringdikaitkan dengan penurunan skala
ekonomi, sebagai contohsemakin tinggi biayapemompaan air semakin
besar kebocoran yangterkait di dalamsuplai air kepadadaerah-daerah
sekitar.
58 I1 Pajakdan Retribusi Daerah
Retribusi kadang cenderung tidak responsif terhadap inflasi,
karena Pemerintah hampir selalu mendasarkan kepada tarif per unit
pelayanan yang relatif tetap dan pengambilan keputusan untuk
meningkatkan tarif sangat diperlukan apabila terjadi kenaikan biaya
pelayanan, namun kadang sangat lamban. Peningkatan sewa tanah,
pungutan air bersih, karcis bis kurang populer dan mereka sering
jauh ketinggalan di belakang tingkat inflasi.
Keadilan
Struktur tarif retribusi secara tradisional bersifat regresif. Artinya,
semakin tinggi dasar pengenaan retribusinya semakin turuntarifnya. Hal
ini terjadi karena ada 3 (tiga) alasan (Davey, 1988). Pertama, retribusi
dikenakanterhadapbarang ataujasa konsurnsi, ha!ini dipengaruhilangsung
oleh kebutuhan-kebutuhan dasar daripada tingkat pendapatan. Kedua,
subsidi yang diberikan Pemerintah sering lebih dinikmati atau
menguntungkangolongan-golonganorang yang berpendapatanmenengah
dan tinggi dibandingkan golongan orang miskin, contohnya subsidi untuk
perumnas danpendidikanmenengah lebihbanyak dinikmatiolehgolongan
berpenghasilan menengah dan tinggi. Sedangkan, golongan miskin tidak
mampu menikmati subsidi perumnas dan pendidikan menengah
tersebut karena tidak terjangkau harganya. Ketiga, karena biaya
modal dari instalasi kasus diselesaikan tanpa memperhatikan tingkat
konsumsi dan benar-benar tidak berbeda menurut tingkat tersebut,
banyak tarif didasarkan kepada suatu penurunan unit cost, yaitu
semakin banyak air atau listrik yang digunakan semakin murah
mendapatkannya. Hal ini lebih memihak kepentingan-kepentingan
industrialis-industrialis besar atas biaya perusahaan-perusahaan kecil,
rumah-rumah tangga dengan dua kamar mandi , penyiraman rumput,
dan pembersih kendaraan Marcedes atas biaya keluarga-keluarga
miskin dengan satu keran (dengan satu arah).
Satu kegiatan kemunduran lain adalah biaya penyambungan awal
pada air minum dan listrik, penurunan dalam hal bahwa kebutuhan
suatu pembayaran yang tetap bagi instalasi awal sering menjaga
KriteriaEfektivitas RetribusiDaerahIJ 59
rumah-rumah tangga miskin dari perolehan suatu pelayanan secara
menyeluruh.
Retribusi biasanya tidak dipandang sebagai suatu alat pemeratan.
la merupakan suatu alat yang tidak efisien untuk tujuan ini tepatnya
karena konsumsi tidak berhubungan proporsional dengan pendapatan.
Akan tetapi ada suatu pertumbuhan untuk mengekang tendensi
penurunannya, dan bahkan menggunakannya sebagai suatu
mekanisme retribusi yang positif. Dalam hal ini ada dua alasan.
Pertama, adalah efek dimana kejadian penurunan mungkin terjadi
pada kesempatan-kesempatan golongan miskin untuk dapat dibebani
pelayanan-pelayanan tersebut sebagai kebutuhan pokok. Kedua,
adalah kegagalan sistem perpajakan di banyak negara untuk
menggeser resources dari golongan kaya kepada golongan miskin,
jika retribusi lebih mudah untuk dipastikan daripada pajak sebagai
suatu peralatan umum untuk membiayai pengeluaran Pemerintah,
hal ini dapat diperluas kepada keperluan-keperluan mereka di dalam
pemerataan.
Ada bermacam-macam metode di mana retribusi dapat dibuat
kurang regresif atau retributif secara positif. Pertama adalah
penyebaran dasar pengenaan retribusi-retribusi atas nilai-nilai
kekayaan; air minum dan kebersihan sering dikenakan biaya (diberi
harga) atas dasar ini, dan bahkan telepon di Kolombia. Pemerataan
kedua adalah penggunaan tarif-tarif yang berbeda dengan tarif yang
lebih tinggi atas kelas-kelas pemakai tertentu biasanya sektor komersial
dan industri, hal ni tentunya suatu peralatan yang dapat dipertanyakan
jika kejadiannya jatuh kepada konsumen daripada pemilih usaha.
Ketiga, adalah tarif progresif yang dikenakan meningkatkan harga
per unit apabila konsumsi meningkat. Keempat, adalah alat pengetes,
dengan menurunkan tarifataupengecualian orang-orangtua dan golongan
miskin (jarang merupakan suatu proses yang mundur untuk
diadministrasikan). Pola pengeluaran air minum yang dibiayai oleh Bank
Dunia ciri utamanya adalah dengan subsidi silang (cross- subsidization),
progresif tarif atas konsumen-konsumen domestik yang besar atau
60 mPajakdanRetribusi Daerah
komersial, menurunkan atau membatasi retribusi pada pengeluaran
bagi saluran-saluran umum dan rumah-rumah tangga yang hanya
mengkonsumsi dalam jumlah yangrelatif kecil . Akan tetapi hal ini
masih sedang dipertanyakan, dengan pertimbangan bahwa konsumsi
air minum yang tinggi mungkin dapat menggambarkan bentuk rumah
tangga lebih daripada kaya dan keluarga besar tersebut atau tempat
tinggal gabungan (shared dwelling) adalah merupakan hak istimewa
golongan miskin.
Pola perumahan cross-subsidi yang adalah suatu objek
peningkatan percobaan pembebanan sewa atau pembelian oleh
penghuni atas rumah-rumah yang besar atau komersial, merupakan
alasan-alasan pemberian subsidi bagi penyediaan tempat-tempat atau
unit-unit yang dilangkapi dengan pelayanan. Pertolongan atas beban
biaya-biaya penggabungan awal termasuk menjarakkan mereka atas
beberapa tahun melalui pertolongan dengan mengangsur biaya-biaya
konsumsi secara teratur.
Kemampuan Administrasi
Secara teoritis retribusi mudah untuk ditaksir dan dipungut.
Mereka mudah ditaksir karena pertanggungjawaban didasarkan atas
tingkat konsumsi yang dapat diukur, mudah dipungut sebab penduduk
hanya mendapatkan apa yang mereka bayar. Jika sewa tidak dapat
dibayar, penghuni dikeluarkan; air minum, listrik, atau telepon
diputuskan apabila tagihan (bill) tidak dibayar; penduduk hanya dapat
memasuki kolam renang atau bioskop melalui pintu putar.
Dalam praktek, ada tiga set kesulitan-kesulitan. Pertama adalah
masalah teknis, masalah pengontrolan pembayaran air minum ilegal
dan pelewatan meteran sebagai contoh, atau pemungutan sewa dari
suatu bis yang padat dengan penumpang. Kedua, adalah menyangkut
keinginan politik untuk mengenakan sanksi. Pengusiran jarang
memenangkan pemilihan (vote) dan dihina media massa; politikus
mungkin menghalangi atau campur tangan untuk menghentikan
pemutusan suplai air minum atau listrik bagi pendukung-pendukung
KriteriaEfektivitas RetribusiDaerahIJ 61
mereka. Masalah ketiga adalah integritas. Pertanggungjawaban pajak
adalah tetap, tetapi hal itu bagi retribusi berubah-ubah sesuai
konsumsi; adalah sulit untuk mencek apa yang harus sudah diterima
oleh pemungut.
Mencantumkan pembebanan sa nksi adal ah pen t ing
mengefisiensikan administrasi retribusi. Beberapa peralatan lain sudah
biasa digunakan. Pert ama, adalah memperkirakan pendapatan apa
yang harus diterima dan kemudian menggunakan target penerimaan
atas para pemungut. Bahkan crew bis kota di Jakarta diharapkan
untuk bergerak di dalam suatu target pungutan sewa per rute per
hari. Praktek kedua adalah mensubkontrakkan retribusi kepada
pemungut-pemungut komersial yang menawarkan penerimaan yang
bulat (lump-sun revenue) secara kompetitif; hal ini adalah analog
terhadap perpajakan petani. Salah satu di antara metode di atas
menstabiIisasi penerimaan tetapi dapat mengeksploitasi konsumen.
Subkontraktor menjadi monopoli suplai dan sering dapat membuat
pemerasan keuntungan, penjualan air langsung dari pipa pending
(standpipe waterselling) merupakan suatu kasus yang menonjol di
beberapa negara.
Praktek yang ketiga adalah meminta group-group lingkungan
kecil untuk memungut retribusi dan membayarkannya ber sama-sama
kepada pihak pemberi pelayanan. Hal ini telah diterapkan pada
retribusi-retribusi air minum dan bidang tanah (kapling) di daerah-
daerah penghunian liar yang telah di-up-grade di Lusaka
(Devey: 1988); pembayaran yang tepat diberikan potongan dalam
bentuk beberapa peningkatan prasarana-prasarana umum.
Kesepakatan Politis
Retribusi untuk penyediaan air minum, khususnya di daerah-
daerah pedesaan, dapat menimbulkan permusuhan mengingat bahwa
air adalah lebih merupakan pemberian Tuhan atau alam daripada
Pemerintah. Akan tetapi sebagian besar retribusi pada prinsipnya
dapat diterima. Sepanjang mereka langsung dikaitkan kepada suatu
62 11 PajakdanRetribusi Daerah
pelayanan dan konsumsi tertentu termasuk elemen pemilihan, retribusi
dapat dimengerti dan sesuai dengan keinginan yang layak.
Namun demikian tingkat atau besarnya retribusi lebih sensitif
secara politik. Sebagian besar retribusi harus dibayar dari kantong;
banyak berkaitan dengan kepada siapa dianggap sebagai kebutuhan
sehari-har i- pendidikan, traspor, air minum, perumahan dan
sebagainya. Peningkatan-peningkatan memerlukan keputusan-
keputusan politik tertentu dan kurang populer. Selanjutnya kebutuhan
untuk menaikkan retribusi Iambat-laun akan menimbulkan inflasi-
inflasi apabila Pemerintah ber ada dal am tekanan untuk tidak
menaikkan harga-harga mereka sendi ri. Badan-badan perwakilan
rakyat bahkan sering kurang berkeinginan meningkatkan harga karcis
bis , sewa rumah,atau tarif air minum dan pada peningkatan pajak.
Akan tetapi sebagai contoh tarifbis di Kairo adalah tetap, dan masih
berlaku /beroperasi pada tahun 1978.
Sebagai akibat dari kegagalan untuk menaikkan retribusi melalui
kelambanan politis, pelayananakan menurunkanatauperlumeningkatkan
subsidi. Tetapi pelayanan di Kalkuta telah menjadi semakin bertambah
tidak dipercaya dengan ketidaksanggupannya untuk mengganti
kendaraan-kendaraan yang sudah lesu/tua. Kerugian pada keuangan
penyaluran air minum di Karachi menutupnya dari penerimaan
penjualan di muka atas tanah telah semakin bertambah.
Kemungkinan lain, peningkatan retribusi karena peningkatan
biaya mungkin dapat mengakibatkan penurunan konsumsi. Selama
biaya-biaya modal dan overhead dapat konstan, peningkatan ini pada
gilirannya akan meningkatkan biaya-biaya per unit. Lingkaran setan
dari penurunan penggunaan dan peningkatan retribusi diciptakan.
Akhirnya, hubungan langsung antara konsumsi dan retribusi
tidak selalu merupakan suatu keuntungan politis. Masyarakat dapat
membuat perbandingan-perbandingan individu antara pelayanan yang
mereka ter ima dan jumlah yang mereka bayar untuk itu.
Ketidakpuasan yang demikian mungkin meningkatkan efisiensi, dia
juga dapat kurang memacu bilamana dia didasarkan atas kesalahan
konsepsi dari penyediaan.biaya yang sebenarnya.
- lJilo 63
. ~ ..._.,
Penilaian Retribusi olehPemerintah Daerah
Pembahasan kriteria penilaian retribusi yang telah diuraikan di
atas, belum memfokuskan pembahasan penilaian retribusi oleh
Pemerintah Daerah. Sebenarnya banyak pelayanan yang disediakan
oleh Pemerintah Daerah bersifat pembayaran retribusi langsung.
Selama ini, hanyalah perbedaan kecil antara praktek (pengalaman)
penanganan administrasi retribusi oleh Pemerintah Pusat atau BUMN
dengan Pemerintah Daerah.
Tidak ada masalah khus us yang dapat dikait kan dengan
penanganan administrasi retribusi oleh Pemerintah Daerah, kecuali
tarif retribusi. Hanya saja, perbedaan antar daerah atas tari f retribusi
dapat menimbulkan keadaan politik yang kurang menggembirakan,
tetapi secara administrasi biasanya tidak ada masalah. Namun , jika
bentuk pelayanan yang memuaskan dapat dirasakan langsung oleh
pembayarnya atau penerima pelayanan tersebut. Kenaikan tarif
retribusi biasanya akan menimbulkan reaksi masyarakat. Kenaikan
tarif retribusi dimungk inkan j ika memang kenaikan tari f itu
berdampak akan lebih meningkatkan pelayanan Pemerintah Daerah
terhadap masyarakatnya. Di sisi lainjuga akan meningkatkan kualitas
pelayanan. Permasalahan internal dalam institusi Pemerintah Daerah
yang tidak efisien dan program tidak tepat sasaran sebenarnya yang
harus dipecahkan terlebih dahulu sebelum menaikkan tarif retribusi
tersebut. Jika hal ini bisa dilakukan dan evaluasi terhadap biaya
pelayanan dapat diketahui secara past i akan mengurangi keenggan
masyarakat untuk tidak menerima kenaikan tarif tersebut, sehingga
menumbuhkan kerelaan untuk membayarnya. Kedekatan relatif antara
badan-badan perwakilan daerah dengan orang-orang yang berhak
memilih mungkin mempertajam keengganan mereka untuk menerima
kenaikan tarif.
Dalammelaksanakankenaikantari f retribusi iniperlu diperhatikan
atau dibedakan antara retribusi berupa pelayanan dengan retribusi
yang merupakan pengaturan atau perijinan. Banyak retribusi yang
bersifat relatif sensitif ; penerimaan dari retribusi tersebut mungkin
64 11 Pajakdim Retribusi Daerah
jauh di bawah tingkat biaya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan
pelayanan tersebut secara efektif, khususnya pada saat inflasi. Hal
ini terjadi, karena keengganan politik untuk meningkatkan tarif atau
mengenakan sanksi. Keterkaitan antara tarif retribusi sebagai bentuk
biaya pelayanan dengan pelayanan yang diterima sebagai bentuk
konsumsi yang bersifat langsung ini, sehingga dapat dengan mudah
diketahui unit-unit penyelenggara yang terlibat atau harus
bertanggungjawab.
Untuk retribusi berupa perijinan atau pengaturan, hubungan
khusus antara konsumsi dan biaya serta sifat langsung dari
pembayarannya, tidak dapat disamakan dengan retribusi pelayanan
meskipun keadaan hubungan tersebut dapat dengan mudah diketahui
institusi-institusi Pemerintah Daerah terlibat dan bertanggungjawab
atas keluarnya perijinan tersebut. Namun, konsekuensinya dapat
merusak kelangsungan hidup suatu pelayanan yang dapat dikenakan
retribusi. Karena akan terjadi cenderung unit-unit hanya sekedar
menerima pembayaran retribusi perijinan tanpa memperhatikan
sasaran pemberian perijinan tersebut, contoh kasus 1MB (Ijin
Mendirikan Bangunan). 1MB cepat terbit jika pembayar mau
membayar dengan jumlah yang tinggi, tanpa ditinjau lokasi tempat
bangunan itu berdiri. Akibatnya, banyak lahan produktif pertanian
beralih fungsi menjadi pemukiman.
Tingginya tarif retribusi perijinan atau untuk pengaturan ini ,
memang bukan sekedar untuk memperoleh sumber penerimaan
daerah , tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk mengatur
dan menata tata kehidupan masyarakat di daerah tersebut. Tarif
retribusi per ijinan yang tinggi dimaksudkan untuk mengurangi minat
agar masyarakat tidak sewenang-wenang dalam menggunakan potensi
daerah hanya untukhal-hal yang kepentingan praktis belaka. Demikian
pula, Pemerintah Daerah perlu menilai sasaran pengenaan retribusi
tersebut dan memiliki komitmen terhadap kebijakan publiknya
sehingga tidak merugikan kepentingan jangka panjang masyarakat
daerahnya.
~ &!s ~
SISTEM PERPAJAKAN DAERAH
B
ab ini akan membicarakan tentang sistem perpajakan daerah
yang berlaku di Indonesia. Bab ini akan diawali dengan
pembahasan mengenai .pengertian umum tentang masalah
perpajakan dan cara pendekatan dalam mengatasi permasalahan
tersebut. Bagian kedua, akan membahas tentang sistem perpajakan
daerah yang meliputi kebijakan perpajakan, undang-undang
perpajakan dan administrasi perpajakan. Bagian ketiga, membahas
tentang iklim perpajakan yaitu keadaan yang mendukung
keberhasilan pemungutan pajak.
PENGERTIAN PERPAJAKAN
Perpajakan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem
dan permasalahan pelaksanaan pajak-pajak.Masalah perpajakan
dapat ditinjau dari berbagai perspektif yaitu hukum, politik, sosial,
ekonomi, administrasi dan akuntansi. Namun, di banyak negara
pada dasarnya perspektif yang digunakan untuk melihat masalah
perpajakan ada 2 (dua) yaitu perspektif hukum dan perspektif
ekonomi. .
66 ~ PajakdimRetribusi Daerah
Perspektif Hukum
Karena masalah perpajakan merupakan public affairs maka
diperlukan proses politik untuk dapat memecahkannya. Oleh karena
itu, agar produk dari hasil proses politik tersebut memiliki kekuatan
formal (legal) maka perlu ditetapkan dalam bentuk aturan hukum,
sehingga pendekatan masalah perpajakan yang diperlukan adalah
dari perspektif hukum. Perspektif ini juga sering disebut dengan
aspek legalitas.
Perspektif Ekonomi
Fungsi utama dari pajak adalah fungsi budgeter, artinya sebagai
sumber pembiayaan daerah atau sumber keuangan daerah, maka
diperlukan pula pendekatan yang mengakomodasi tentang potensi
sumber keuangandaerah yaitu perspektif ekonomi. Denganperspektif
ekonomi ini dapat dilihat kemampuan daerah dalam membiayai
dirinya dan berapa jumlah pajak yang harus dibebankan kepada
masyarakat di daerah. Perspektif ini sering disebut pendekatan aspek
keuangan daerah.
SISTEM PERPAJAKAN DAERAH
Sistem perpajakan (tax system) adalah pola pelaksanaan
perpajakan yang terkoordinasi secara serasi meliputi tax policy, tax
law dan tax administration. Ketiga faktor tersebut saling terkait
satu dengan lainnya. Untuk mewujudkan sistem perpajakan daerah
yang baik dan sehat, maka ketiga faktor tersebut harus berjalan
secara seimbang dan harmonis (sinergis). Sehingga dalam
pelaksanaannya dapat menunjang penerimaan daerah. Di sisi lain,
usaha pelaksanaan sistem perpajakan daerah yang baik dan sehat
dapat melalui sistem perpajakan yang sederhana, mudah dan jelas,
intensifikasi pemungutan pajak, pemeliharaan aparat pajak yang
jujur dan bersih dan pening!\atan kualitas kemampuan aparat pajak.
Sistem Perpajakan Daerah11 67
KEBUAKAN PERPAJAKAN
Istilah fiskal berasal dari bahasa Latin 'fiscalis' dan fiscalis itu
sendiri berasal dari kata bendafiscus (Perancis,'fisc') yang berarti
keranjang uang. Dalam perkembangannya diartikan sebagai kas
negara. :Dalam konteks ini diartikan sebagai kas daerah.
Perkembangan selanjutnya kata fiscus sering dikaitkan dengan
perpaj akan yang memiliki arti berbeda; yaitu diartikan pihak yang
memungut pajak dalam hal ini pemerintah daerah. Sehingga timbul
persepsi di masyarakat bahwa kebijakan fiskal (fiscal policy)
disamakan dengan kebijakanpajak (tax policy), padahal jelas kedua
kata tersebut memiliki arti yang sangat berbeda.
Fiscal Policy Vs Tax Policy
Menurut John F.Due (Due, 1984) dalam bukunya Government
Finance: Economic Of The Public Sector mengemukakan Fiscal
Policy adalah kebijakan tentang penyesuaian antara pendapatan dan
pengeluaran pemerintah agar tercapai stabilitas ekonomi dan laju
pertumbuhan ekonomi yang dikehendaki. Lebih lanjut ia
mengemukakanbahwa kebijakanfiskal mempunyai tujuan yang sama
dengan kebijakan moneter atau kebijakan kredit. Faktor yang
menyamakan kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter ini karena
sasaran kedua kebijakan tersebut berusaha untuk mencapai tujuannya
dengan mengubah posisi cadangan bank komersial. Baik kebijakan
fiskal maupun kebijakan moneter, keduanya saling melengkapi atau
dikoordinasikan untuk digunakan mencapai tujuan-tujuan yang
dikehendaki. Ada tiga tujuan utama kebijakan fiskal yaitu:
1. Laju pertumbuhan ekonomi
2. Memelihara kestabilan harga yang wajar
3. Meningkatkan laju pertumbuhan potensial tanpa mengganggu
tercapai tujuan-tujuan lainnya.
Dengan demikian, kebijakan fiskal dapat diartikan sebagai
berbagai upaya atau tindakan pemerintah untuk melakukan
penyesuaian antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah untuk
68 11 PajakdunRetribusi Daerah
mencapai stabilitas ekonomi, laju pertumbuhan ekonomi yang mantap
dan keberhasilan pembangunan.
Tax Policy adalah kebijakan mengenai perubahan sistem
-perpaj akan yang berlaku sesuai dengan perkembangan, tujuan
ekonomi, politik dan sosial pemerintah . Dari pengertian taxpolicy
ini, maka dapat dikatakan bahwafiscalpolicylebih luas dibandingkan
dengan tax policy. Taxpolicy hanyalah merupakan bagian darifis-
calpolicy, misalnya tax reform yang dilakukan tahun 1983. Adanya
taxreform ini pemerintah mengharapkan terjadi peningkatan
penerimaan negara dari sektor pajak, dalam rangka untuk mencapai
kemandirian pembiayaan dan pembangunan negara dan bangsa ini.
Dalam konteks pajak daerah yaitu juga terjadi tax reform yang
ditandai dengan dikeluarkannya VV No.18 Tahun 1997 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Selama ini ketentuan pajak
daerah dan retribusi daerah menggunakan VV Darurat (Drt) No. 11
Tahun 1957 untuk Pajak Daerah dan VV Darurat (Drt) No. 12
Tahun 1957 untuk Retribusi Daerah. Selama kurun waktu 1957-
1997 berarti selama 40 tahun, pemungutan pajak daerah dan retribusi
daerah menggunakan undang-undang darurat yang sudah tidak up
to date lagi. Tidak dapat dipungkiri lagi, akibatnya pajak daerah
dan retribusi daerah Indonesia sangat ketinggalanjauh dibandingkan
dengan pajak daerah di negara-negara tetangga. Selain itu, juga
selama ini pajak daerah dan retribusi daerah ini banyak menimbulkan
persoalan tersendiri (lihat tulisan Anne Both, 1986, Central Gov-
ernment andLocalDevelopment inIndonesia). Adanya VV Otonomi
Daerah yaitu VV No.22 Tahun 2000 dan VV No.25 Tahun 2000,
semakin membuat tantangan pajak daerah dan retribusi daerah
menjadi semakin berat, sehingga perlu kebijakan pajak di tingkat
daerah yang tepat. Di sisi lain kualitas sumber daya manusia (SDM)
Pemerintah Daerah masih belum memadai.
Tax Reform
~ . ' ,
Tax Reform pajak daerah merupakan bagian dari tax reform
.'0." ;. ., ,. .•. .,
secara nasional, terjadi pada tahun 1983. Karena pada tahun 1983
Sistem Perpajakan Daerah IJ 69
ini terjadi perubahan yang sangat mendasar dari sistem perpajakan
yang berlaku di Indonesia, dari official assessment system(berlaku
sampai dengan tahun 1983) diubah menjadi self assessment system
(diberlakukan mulai tahun 1984). Tujuan utama tax reform adalah
untuk meningkatkan penerimaan pajak dari sektor, pajak untuk
menegakkan kemandiran dalam membiayai pembangunan nasional.
Upaya kebijakan pajak yang ditempuh antara lain:
. a. Penyerderhanaan struktur perpajakan meliputi jenis, tarif dan
tatacara pembayaran.
b. Pemerataan pengenaan dan pembebanan pajak yang makin adil
dan wajar .
c. Mengusahakan adanya kepastian hukum baik bagi wajib pajak
maupun fiskus .
d. Pembenahan aparatur perpajakan baik prosedur, tatakerja,
disiplin, penyelundupan maupun penyalahgunaan wewenang.
Tindak Ianjut tax reform untuk pajak daerah terjadi di tahun
1997, yaitu ditandai dengan dikeluarkan VV No. 18 Tahun 1997
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Selama ini (1957-1997)
ketentuan pajak daerah dan retribusi daerah menggunakan VV Darurat
(Drt) No. 11 Tahun 1957 untuk Pajak Daerah dan VV Darurat
(Drt) No. 12 Tahun 1957 untuk Retribusi Daerah. Adanya VV
pajak daerah dan retribusi daerah yang baru ini diharapkan bisa
terjadi peningkatan dan pengadministrasian penerimaan asli daerah
yang lebih baik dari tahun-tahun terdahulu.
HUKUMPAJAK
Hukum pajak memuat hukum tata negara, hukum administrasi
dan hukum pidana dengan acara pidananya. Karena memuat hukum
tata negara yang mengatur hubungan antara penguasa dan warganya
maka sering hukum pajak dianggap sebagai bagian dari hukum
publik. Di sisi lain, sering juga disebut merupakan bagian dari
hukum administrasi karena dalam hukum pajak peradilan adminis-
tratif diatur dengan sangat rapi. Namun, ada juga yang menolak
bila hukum pajak dimasukkan bagian dari hukum administrasi.
70 11 Pajakdan Retribusi Daerah
Karena hukum pajak memiliki tujuan yang berbeda dengan hukum
administrasi pada umumnya yaitu sebagai alat untuk menentukan
politik perekonomian. Lagi pula hukum pajak memiliki terminologi
tersendiri .
Hukum pajak biasanya diartikan sebagai suatu kumpulan
peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara pemerintah
sebagaifiskus dengan rakyat sebagai pembayar pajak. Produk hukum
pajak berupa Undang-undang, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah,
dan Keputusan Kepala Daerah. Adapun isi dari hukum pajak daerah
meliputi Subjek Pajak, Objek Pajak, Kewajiban Wajib Pajak kepada
Pemerintah, Timbulnya dan Hapusnya Utang Pajak, Tatacara
penagihan pajak, Tatacara pengajuan keberatan dan banding, dan
Pelanggaran dan Peradilan Pajak. Secara umumhukum pajak dibagi
menjadi 2 (dua) yaitu:
a. Hukum Pajak Materiil, berisi subjek pajak, objek pajak, dan
aturan-aturan hubungan hukum antara pemerintah dengan wajib
pajak.
b. Hukum Pajak Formil, berisi tatacara penetapan utang pajak,
pengawasan terhadap timbulnya utang pajak, kewajiban wajib
pajak.
Undang-Undang Perpajakan Daerah
Sampai akhir tahun 1997, pungutan pajak dan retribusi daerah
masih menggunakan UU Pajak UU Pajak Daerah No. 11 Darurat
(Drt) 1957 dan UU Retribusi Daerah No. 12 Darurat (Drt) tahun
1957, untuk menyempurnakan UU Pajak Daerah No. 11 Darurat
(Drt) 1957 dan UU Retribusi Daerah No.12 Darurat (Drt) tahun
1957 ini, maka Pemerintah menyusun UU Pajak dan Retribusi
Daerah, yaitu:
a. UU No. 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah
b. UU No. 34 tahun 2000 yaituPerubahan UU No. 18 Tahun
1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Sisrem Perpajakan Daerah11 71
ADMINISTRASI PAJAK
Adanya pembaharuan sistem perpajakan daerah yang lebih
sederhana, diharapkan administrasi perpajakan dapat dilaksanakan
dengan lebih rapi, terkendali, sederhana dan mudah dipahami baik
oleh masyarakat maupun aparat pajak daerah. Tidak dapat dipungkiri
bahwa sebenarnyakeberhasilandalampenerimaanpajak daerah sangat
ditunjang oleh pelaksanaan administrasi perpajakan daerah yang
baik dan efektif. Pelayanan Satu Atap merupakan salah satu alternatif
dan contoh pelaksanaan administrasi keuangan daerah yang efektif
dan efisien. Hal ini juga sangat diperlukan dalampengadministrasian
pajak daerah, sehingga ada kata kiasan bahwa administrasi
perpajakan kunci keberhasilan dari kebijakan perpajakan. Selain
pelaksanaan administrasi perpajakan yang baik dan efektif, juga
masalah produktivitas administrasi perpajakannya. Produktivitas
Administrasi Perpajakan dipengaruhi oleh:
a. Materi UU Perpajakan dan Peraturan-peraturan lainnya
b. Wadah Organisasi instansi Perpajakan dan perlengkapan
penunjangnya
c. Ketrampilan, kejujuran dan pengabdian aparatur perpajakan
d. Kesadaran dan Pengertian WP terhadap UU dan Peraturan
Perpajakan yang berlaku
e. Lingkungan, kondisi sosial-politik yang ada
Dengan demikian, pengelolaan pajak daerah akan baik jika
pengadministrasian pemungutan pajak daerahjuga baik. Untuk dapat
mencapai kondisi yang demikian, maka ada dua faktor yang perlu
dilakukan yaitu iklim pajak yang baik dan penataan organisasi
perpajakan yang memadai.
IKLIM: PERPAJAKAN
Untuk mencapai keberhasilan penyelenggaraaan administrasi
perpajakan, dapat diusahakan melalui iklimperpajakan yang meliputi
terciptanya iklim perpajakan yang baik dalam masyarakat dan tata
organisasi perpajakan yang memadai.
72 11 Pajakdon Retribusi Daerah
Tercipta lkIim Pajak yang baik
Iklim perpajakan adalah keadaan yang berada diantara tax-payer
resistance dan tax-payer compliance. Tax-payer resistance adalah
keengganan sikap wajib pajak untuk membayar pajak, sedangkan
tax-payer compliance adalah kesadaran sikap wajib pajak untuk
membayar pajak. Iklim perpajakan yang baik tercipta jika suatu
keadaan tax-payer resistance dapat berubah menjadi tax-payer com-
pliance. Artinya, derajat kepatuhan masyarakat untuk membayar
pajak menjadi semakin tinggi. Di sinilah peran penting aparat pajak
dalam mendorong iklim perpajakan ke arah kondisi yang baik. Oleh
karena itu diperlukan strategi di bidang perpajakan yang diarahkan
untuk mengubah .masyarakat meliputi:
a. pola pikir (thougth patterns)
b. kebiasaan (habits)
c. emosi (emotions)
Hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal maupun
non formal . Jalur pendidikan formal misalnya memasukkan materi
perpajakan daerah melalui kurikulum pendidikan/sekolah. Jalur non
formal melalui penjelasan khusus dari pemerintah, penerangan dan
informasi yang dilakukan oleh institusi perpajakan, penerangan dan
informasi dari organisasi kemasyarakatan tertentu .
Tataorganisasi perpajakan yang memadai
Terciptanya iklimperpajakan yang baik akan meringankan tugas
instansi dalam menjalankan fungsinya:
a. menentukan subjek pajak, objek pajak
b. menentukan besarnya pajak yang terutang
Namun demikian, instansi pajak perlu melakukan strategi untuk
menunjang terciptanya iklim perpajakan yang baik di lingkungannya
sendiri sehingga meningkatkan kepatuhan masyarakat untuk
membayar pajak. Usaha yang dapat dilakukan antara lain:
a. Mengelola dan melaksanakan UU Perpajakan secara baik dan
benar.
Sistem Perpajakan Daerah11 73
,
b. Memelihara integritas aparat pajak terhadap sikap yang jujur,
te gas, sopan dal am me layani sehingga menumbuhkan
kepercayaan wajib pajak
c. Mencegah timbulnya penghindaran atau penggelapan pajak.
Dalam rangka menciptakan iklimperpajakan yang baik ini, maka
institusi perpajakan perlu pula melakukan usaha-usaha lain,
misalnya:
a. Melaksanakan sistem perpajakan yang adil sebagai upaya
meningkatkan kesadaran membayar pajak
b. Memberikan pelayanan/bantuan wajib pajak terutama dalam
cara-cara memperolehhak dan menunaikan kewajibanperpajakan
c. Melaksanakan sanksi-sanksi perpajakan secara konsekuen bagi
wajib pajak yang lalai atau melanggar UU perpajakan
d. Mendorong aparat pajak bersikap jujur,' selalu meningkatkan
perbaikan kinerjanya, berintegritas tinggi dan profesional dalam
pekerjaannya .
e. Menginformasikan penggunaan pajak secara transparan
f. Meningkatkan penelitian di bidang perpajakan sehingga dapat
dievaluasi kinerja implementasi perpajakannya.
~ A ~
74 11 Pajakdon Retribusi Daerah
KETENTUAN UMUM PAJAK DAERAH
D
alam bab ini akan diuraikan tentang pajak-pajak daerah yang
diberlakukan di Indonesia dan sarana pelaporannya. Bab
ini akan membahas secara selintas tentang Pajak Daerah
menurut UU No. is Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 34 Tahun
2000 terdiri dari pajak kendaraan bermotor dan kendaraan di atas
air, bea balik nama kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air,
pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak pengambilan dan
pemanfaatan airbawah tanah dan air permukaan, pajak hotel, pajak
restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan,
dan pajak pengambilan bahan galian golongan C. pajak penghasilan
umum, pajak penghasilan bagi karyawan, pajak penghasilan bagi
badan usaha, dan pajak penghasilan bagi perseorangan. Selanjutnya
membahas tentangsarana-sarana pelaporan pajak daerah berupa surat
ketetapan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah, misalnya SPPD
(Surat Pemberitahuan Pajak Daerah), SKPD (Surat Ketetapan Pajak
Daerah), STPD (Surat Tagihan Pajak Daerah) dan sarana-sarana
lainnya.
76 11 PajakdanRetribusi Daerah
TERMINOLOGI PAJAK DAERAH
Terminologi pajakdaerahini berisi tentangpengertian -pengertian
khusus atau istilahteknis yang digunakanundang-undang perpajakan
daerah, meliputi:
1. PajakDaerah, yangselanjutnya disebut Pajak, adalahiuranwajib
yangdilakukan olehorangpribadiataubadankepada Daerahtanpa
imbalan langsung yang seimbang, yangdapatdipaksakanberdasarkan
peraturanperundang-undanganyangberlaku, yangdigunakan untuk
membiayai penyelenggaraanpemerintahandaerahdanpembangunan
daerah;
2. Badan adalahsuatubentuk badanusaha yang meliputi perseroan
terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya badanusaha milik
negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun,
persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi yayasanatau
organisasi yangsejenis, lembaga, danapensiun, bentukusahatetap
secta bentukbadan usahalainnya;
3. Subjekpajak adalah orangpribadiataubadanyangdapatdikenakan
pajak daerah; Wajib Pajak adalahorang pribadi atau badanyang
menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah
diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang,
termasuk pemungut ataupemotong pajaktertentu;
4. Masa Pajak adalahjangka waktuyang lamanyasamadengansatu
bulantakwimkecuali ditentukanlain; TahunPajakadalahjangkawaktu
yang larnanya satutabuntakwimkecuali bilaWajib Pajakmenggunakan
tabunbukuyang tidaksamadengan tabuntakwim;
5. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar oleh Wajib
Pajakpadasuatusaat, dalamMasaPajak, dalamTahunPajakatau
dalamBagianTahunPajakmenurut peraturanperundang-undangan
perpajakan daerah;
6. Pemungutan adalahsuatu rangkaiankegiatanmulai daripenghimpunan
dataobjekdansubjek pajakatauretribusi, penentuan besarnya pajak
atauretribusi yangterutangsampai kegiatanpenagihanpajakatau
KetentUlJJ1 Umum PajakDaerah IJ 77
retribusi kepada Wajib Pajak atau Wajib Retribusi serta
pengawasanpenyetorannya;
7 Putusan Banding adalah putusan Badan Penyelesaian Sengketa
Pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang
diajukanoleh Wajib Pajak;
8 Pembukuan adalahsuatuproses pencatatanyangdilakukansecara
teratur untukmengumpulkandatadaninformasi yang meliputi keadaan
harta, kewajibanatau utang, modal, penghasilandanbiaya sectajumlah
harga perolehandanpenyerahanbarang ataujasa, yang ditutup dengan
menyusun laporan keuangan berupa neraca danperhitunganrugilaba
padasetiap TahunPajakberakhir;
JENI8-JENIS PAJAKDAERAH
Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak Kendaraan Bermotor merupakan pajak yang dikenakan
terhadap kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor.
Kendaraanbermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih
beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat,
dan digerakkan oleh peralatan teknis berupa motor atau peralatan
lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi
tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang
bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang
bergerak.
Pajak Kendaraan di Atas Air
Pajak Kendaraan di Atas Air merupakan pajak yang dikenakan
terhadap kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan di atas air.
Kendaraan di atas air adalah semua kendaraan yang digerakkan
oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang
berfungsi untukmengubahsuatusumber daya energi tertentu menjadi
tenagagerakkendaraanbermotor yangbersangkutanyang digunakan
di atas air.
78 mPajakdanRetriblLSi Daerah
Bea Balik Nama Kendaraan Bennotor
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor merupakan pajak yang
dikenakanterhadappenyerahanhak milikKendaraanBermotorsebagai
akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaanyang
terjadi karenajual beli, tukar menukar, hibah, warisan, ataupemasukan
ke dalambadanusaha.
Bea Balik Nama Kendaraan di Alas Air
Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air merupakan pajak yang
dikenakan terhadap penyerahan hak milik Kendaraan di Atas Air
sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau
keadaanyang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan,
atau pemasukan ke dalam badan usaha.
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bennotor
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor merupakan pajak atas
bahan bakar yang disediakan atau dianggap digunakan untuk
kendaraan bermotor, termasuk bahan bakar yang digunakan untuk
kendaraan di atas air. Bahan bakar kendaraan bermotor dan/atau
kendaraan di atas air adalah bahan bakar yang digunakan untuk
menggerakkan kendaraan bermotor dan/atau kendaraan di atas air;
Pajak Pengambilan Dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air
Pennukaan
Pajak yang dikenakan terhadap pengambilan dan pemanfaatan
air, baik air bawah tanah maupun air permukaan untuk digunakan
bagi orang pribadi atau badan, kecuali untuk keperluan dasar rumah
tangga dan pertanian rakyat. Air bawah tanah adalah air yang berada
di perut bumi, termasuk mata air yang muncul secara alamiah di
atas permukaan tanah. Air permukaan adalah air yang berada di
atas permukaan bumi, tidak termasuk air laut.
KetentUi1ll UmumPajakDaerah11 79
Pajak Hotel
Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan hote1. Hotel adalah
bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/
istirahat, memperoleh pelayanan, dan/atau fasilitas lainnya dengan
dipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu,
dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan
dan perkantoran.
Pajak Restoran
Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan restoran. Restoran
adalah tempat menyantap makanan dan/atau minuman,yang
disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jasa
boga atau katering.
Pajak Hiburan
Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiiburan.
Hiburan adalah semua jenis pertunjukan, permainan, permainan
ketangkasan, dan/atau keramaian dengan nama dan bentuk apapun,
yang ditonton atau dinikmati oleh setiap orang dengan dipungut
bayaran, tidak termasuk penggunaan fasilitas untuk berolah raga;
Pajak Reklame
Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame.
Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang menurut
bentuk dan corak ragamnya untuk tujuan komersial, dipergunakan
untuk memperkenalkan, menganjurkan atau memujikan suatu barang,
jasa atau orang, ataupun untuk menarik perhatian umum kepada
suatu barang, jasa atau orang yang ditempatkan atau yang dapat
dilihat, dibaca, dan/ atau didengar dari suatu tempat oleh umum,
kecuali yang dilakukan oleh Pemerintah.
809 11 Pajakdan Retribusi Daerah
Pajak Penerangan Jalan
Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga
listrik dengan ketentuan bahwa di wilayah daerah tersebut tersedia
peneranganjalan yang rekeningnya dibayar olehPemerintah Daerah,
Penerangan jalan adalah penggunaan tenaga listrik untuk menerangi
jalan umum yang rekeningnya dibayar oleh Pemerintah Daerah.
Dalam hal tenaga listrik disediakan oleh PLN maka pemungutan
Pajak Penerangan Jalan dilakukan oleh PLN. Ketentuan lebih lanjut
mengenai pemungutan Pajak Penerangan Jalan tersebut diatur dengan
Keputusan Menteri Dalam Negeri dengan pertimbangan Menteri
Keuangan.
Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C adalah pajak atas
kegiatan pengambilan bahan galian Golongan C sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahan galian golongan
C adalah bahan galian golongan C terdiri dari Asbes, batu tulis,
batu setengah permata, batu kapur, batu apung batu permata,
bentonit, dolomit, feldspar, garam batu (halite); grafi, granitl
andesit, gips , kalsit; kaolin, leusit; magnesit, mika, marmer; nitrat;
opsidien; oker; pasir dan kerikil; pasir kuarsa; perlit; phospat; talk,
tanah serap (fullers earth); tanah diatome; tanah liat; tawas (alum);
tras; Yarosif; zeolit; basal; dan trakkit.
Pajak Parkir
Pajak Parkir adalah pajak yang dikenakan atas tempat parkir
yang disediakan oleh orang pribadi atau badan, baik yang disediakan
berkaitan atas pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu
usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor
dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran.
KetenJuan Umum PajakDaertlh11 81
SARANA PELAPORAN PAJAK DAERAH
Formulir-formulir isian yang digunakan untuk melaporkan,
menghitung, membayar dan menyetorkan pajak daerah yang terutang
menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah, meliputi:
Sural Pemberitahuan Pajak Daerah
Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang dapat disingkat SPTPD,
adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan
penghitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut peraturan
perundang-undanganperpajakandaerah;
Sural Setoran Pajak Daerah
Surat SetoranPajakDaerah, yangdapat disingkatSSPD, adalahsurat
yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau
penyetoran pajak yang terutang ke Kas Daerah atau ke tempat lain yang
ditetapkan olehKepala Daerah;
Sural Ketetapan Pajak Daerah
Surat Ketetapan Pajak Daerah, yang dapat disingkat SKPD, adalah
surat keputusanyang menentukanbesarnyajumlah pajakyang terutang;
Sural Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar
Surat KetetapanPajak Daerah Kurang Bayar, yang dapat disingkat
SKPDKB, adalah surat keputusan yang menentukan besarnyajurnlah
pajakyangterutang, jumlahkreditpajak, jumlahkekuranganpembayaran
pokokpajak, besarnya sanksi administrasi, danjumlah yang masih harus
dibayar;
Sural Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang
dapat disingkat SKPDKBT, adalah surat keputusan yang menentukan
tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan;
82 mPajakdonRetribusi Daerah
Surat Ketetapan PajakDaerah Lebih Bayar
Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang dapat disingkat
SKPDLB, adalah surat keputusan yang menentukanjumlah kelebihan
pembayaranpajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak yang
terutangatautidak seharusnya terutang;
Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil
Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang dapat disingkat SKPDN,
adalahsurat keputusanyang menentukanjumlah pajakyangterutangsama
besarnya denganjumlah kredit pajak , atau pajak tidak terutang dan tidak
ada kredit pajak;
Surat Tagihan Pajak Daerah
Surat TagihanPajakDaerah, yang dapat disingkatSTPD, adalahsurat
untukmelakukantagihanpajak danlatau sanksi administrasiberupa bunga
danlatau denda;
Surat Keputusan Pembetulan
Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan untuk
membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung danlatau kekeliruan
dalam penerapan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah
yang terdapat dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan
Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang
Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat
Ketetapan Pajak Daerah Nihil atau Surat Tagihan Pajak Daerah;
Surat Keputusan Keberatan
Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan
terhadap Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan,
Surat KetetapanPajakDaerah Lebih Bayar, Surat KetetapanPajakDaerah
Nihil atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga
yang diajukan oleh Wajib Pajak;
Ketentuan Umum PajakDaerahIJ 83
PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH
Pengertian Pemungutan baik untuk pajak daerah maupun retribusi
daerah adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan
data objek dan subjek pajak atau retribusi, penentuan besamya pajak
atau retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau
retribusi kepada Wajib Pajak atau Wajib Retribusi serta pengawas-
an penyetorannya. Pemungutan pajak dan retribusi daerah ini tidak
dapat diborongkan.
Pemungutan pajak tidak dapat diborongkan dan dipungut
berdasarkan penetapan Kepala Daerah atau dibayar sendiri oleh
Wajib Pajak. Pemungutan pajak berdasarkan penetapan dilaksanakan
dengan menggunakan Surat Ketetapan Pajak Daerah atau dokumen
lain yang dipersamakan. Sedangkan pembayaran pajak yang
dilakukan sendiri oleh Wajib Pajak dilakukan dengan menggunakari
Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Bayar danlatau Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar
Tambahan. Terhadap Wajib Pajak tersebut dapat diterbitkan Surat
Tagihan Pajak Daerah, Surat Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding sebagai dasar
pemungutan dan penyetoran pajak.
PENERBITANSURATKETETAPANPAJAK
Tatacara penerbitan Surat Ketetapan Pajak Daerah atau dokumen
lain yang dipersamakan, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat
Keputusan Pembetulan, dan Surat Keputusan Keberatan diatur
denganKeputusanKepalaDaerah. Demikianpula Tatacara pengisiandan
penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, penerbitan Surat
Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, atau Surat Ketetapan Pajak
Daerah Kurang Bayar Tambahan diatur dengan Keputusan Kepala
Daerah.
Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya
pajak, Kepala Daerah dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Bayar:
84 11 PajakdanRetribusi Daerah
1. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain,
pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar.
Jumlah kekurangan pajak yangterutang dalam Surat Ketetapan
Pajak Daerah Kurang Bayar dikenakan sanksi administrasi berupa
bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang
kurang atau terlambat dibayar untuk j angka waktu paling lama 24
(dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak.
2. Apabila Surat Pemberitahuan Pajak Daerah tidak disampaikan
kepada Kepala Daerah dalamjangka waktu tertentu dan setelah
ditegur secara tertulis.
Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan
Pajak Daerah Kurang Bayar dikenakan sanksi administrasi berupa
bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang
kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24
(dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak.
3. Apabila kewajiban mengisi Surat Pemberitahuan Pajak Daerah
tidak dipenuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan.
Jumlah pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Bayar dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar
25 % (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2 %(dua persen) sebulan dihitung
dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu
paling lama 24 (dua puluh empat ) bulan dihitung sej ak saat
terhutangnya pajak.
4. Apabila ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum
terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang
terutang, maka Kepala Daerah dapat menerbitkan Surat
Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan.
Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan
Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan dikenakan sanksi administrasi
berupa kenaikan sebesar 100 % (seratus persen) dari jumlah
kekurangan pajak tersebut. Kenaikan sebagaimana dimaksud tidak
dikenakan apabila Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelumdilakukan
tindakan pemeriksaan.
KetentUiUl Umum PajakDaerahlJ . 85
Namun jika dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat
terutangnya pajak, apabila jumlah pajak yang terutang sama besarnya
dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada
kredit pajak, maka Kepala Daerah dapat menerbitkan Surat Ketetapan
Pajak Daerah Nihil
PEMBAYARAN DANPENAGllIAN
Kepala Daerah menentukan tanggal jatuh 'tempo pembayaran
dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 (tiga puluh) hari
setelah saat terutangnya pajak. Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat
Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Bayar Tambahan, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat
Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan
Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang hams dibayar
bertambah harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu)
bulan sejak tanggal diterbitkan. Kepala Daerah atas permohonan
Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat
memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur
atau menunda pembayaran pajak, dengan dikenakan bunga sebesar
2%( dua persen) sebulan. Tatacara pembayaran, penyetoran, tempat
pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran pajak diatur
dengan Keputusan Kepala Daerah.
SURATKETETAPANPAJAK
Pajakyangterutang berdasarkan Surat Ketetapan PajakDaerah, Surat
Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah
KurangBayarTambahan, Surat TagihanPajakDaerah, Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang
tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya, dapat
ditagih dengan Surat Paksa. Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
dilaksanakan berdasarkan Peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
86 ~ PajakdanRetribusi Daerah
SURAT TAGllIANPAJAK DAERAH
Surat Tagihan Pajak Daerah diterbitkan oleh Kepala daerah
apabila pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang bayar dan atau
dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah terdapat
kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis danlatau salah
hitung. Jumlah kekuranganpajak yang terutang dalamSurat Tagihan
Pajak Daerah tersebut ditambah dengan sanksi administrasi berupa
bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15
(lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak.
Surat Tagihan Pajak Daerah akan diterbitkan pula oleh Kepala
Daerahjika Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga
danlatau denda. Hal ini terjadi karena Surat Ketetapan Pajak Daerah
yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran
tidakdilunasimaka wajibpajaktersebut dikenakansanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2%(dua persen) sebulan, dan ditagih melalui
Surat Tagihan Pajak Daerah.
KEBERATAN DANBANDING
Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala
Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas suatu Surat Ketetapan Pajak
Daerah,Surat KetetapanPajak Daerah KurangBayar, Surat Ketetapan
PajakDaerahKurangBayarTambahan; Surat Ketetapan PajakDaerah
Lebih Bayar; Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil; dan pemotongan
ataupemungutanolehpihak ketiga berdasarkanperaturan perundang-
undangan perpajakandaerahyangberlaku.
Keberatan diajukansecaratertulis dalamBahasaIndonesiadengan
disertai alasan-alasanyangjelas. Dalamhal Wajib Pajak mengajukan
keberatanatas ketetapan pajaksecarajabatan, WajibPajakharus dapat
membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak tersebut. Keberatan
harus diajukan dalamjangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak
tanggal surat, tanggal pemotongan atau pemungutan, kecuali apabila
Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwajangka waktu itu tidak dapat
dipenuhi karena keadaandiluar kekuasaannya. Keberatan yang tidak
Ketentuan Umum PajakDaerah11 87
memenuhi persyaratan yang disebutkan di atas maka tidak dianggap
sebagai Surat Keberatan, sehingga tidakdipertimbangkan. Pengaj uan
keberatantidakmenundakewajiban membayar pajak dan pelaksanaan
penagihan pajak sesuai ketentuanyang berIaku.
KEPUTVSAN KEBERATAN
Kepala Daerah dalamjangka waktu paling lama 12 (dua belas)
bulansejaktanggal Surat Keberatan diterimaharusmemberi keputusan
atas keberatan yangdiajukan. Keputusan Kepala Daerahatas keberatan
dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau
menambah besarnya pajak yang terutang. Apabilajangka waktudua
belas bulansejak diterimanya surat keberatan telah lewat dan Kepala
Daerah tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan
tersebut dianggapdikabulkan.
PENGAJUAN BANDING
WajibPajakdapat mengajukan permohonan banding hanyakepada
Badan Penyelesaian Sengketa Pajak terhadap keputusan mengenai
keberatannya yangditetapkan olehKepalaDaerah. Permohonanband-
ing diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia, dengan
mengungkapkan alasan yangjelas dan diajukan dalamjangka waktu
3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima serta dilampiri salinan dari
suratkeputusan tersebut. Pengajuanpermohonan banding tidakmenunda
kewajiban membayar pajakdanpelaksanaan penagihanpajak. Apabila
pengajuan keberatan ataupermohonan banding dikabulkan sebagian atau
seluruhnya, kelebihanpembayaranpajakdikembalikan denganditambah
imbalanbunga sebesar 2 %(duapersen) sebulanuntukjangkawaktu paling
lama24(dua puluh empat) bulan.
PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETE-
TAPAN, DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN
SANKSI ADMlNISTRASI
KepalaDaerahkarenajabatan atauatas permohonanWajib Pajak
dapat membetulkan Surat Ketetapan Pajak Daerah atau Surat
88 11 Pajakdan Retribusi Daerah
Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak
Daerah Kurang Bayar Tambahan atau Surat Tagihan Pajak Daerah
yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung
dan/atau kekeliruan dalam penerapan peraturan perundang-undangan
perpajakan daerah. Kepala Daerah dapat:
1. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa
bunga, denda, dan kenaikan pajak yang terutang menurut
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah, dalam hal
sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau
bukan karena kesalahannya;
2. Mengurangkan atau membatalkan Ketetapan Pajak yang tidak
benar.
Tatacara pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dan
pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diatur dengan Keputusan Kepala Daerah.
.JAMINAN KERAHASIAAN
Setiap pejabat baik petugas pajak maupun mereka yang
melakukan tugas dibidang perpajakan daerah dilarang
mengungkapkan kerahasiaan Wajib Pajak yang menyangkut masalah
perpajakan daerah.Hal ini diatur dalam UU Pajak dan Retribusi
daerahpacta pasal36 ayat (1) danayat (2). Pelanggaranterhadapketentuan
ini akan dikenakansanksi sebagai berikut:
1. Pejabat yang karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban
merahasiakan hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat
(1)danayat(2), dipidanadenganpidanakurunganpalinglama6 (enam)
bulan ataudenda paling banyak Rp2. 000.000,00 (duajuta rupiah).
2. Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau
seseorang yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban pejabat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) dan ayat (2),
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun
atau denda paling banyak Rp 5.000.000,00 (limajuta rupiah).
3. Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada
Ketentuan Umum PajakDaerah11 89
ayat (1) dan ayat (2) hanya dilakukan atas pengaduan orang
yang kerahasiaannya dilanggar.
4. Besarnya denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2) dapat ditinjau kembali dengan Peraturan
Pemerintah.
PENYIDIKAN
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan retribusi
dilaksanakanmenurutketentuanyangdiaturdalamUndang-undang Nomor
8 Tahun 1981 tentangHukumAcaraPidana.Penyidikdibidangperpajakan
daerahdanretribusi alahpejabatPegawaiNegeriSipiltertentudi lingkungan
PemerintahDaerahyangdiangkatoleh Menteri Kehakimansesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyidik berkewajiban
memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil
penyidikannya kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalamUndangundangNomor 8 Tahun 1981tentangHukum Acara
Pidana.WewenangPenyidikmeliputi:
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau
laporanberkenaandengantindakpidana di bidangperpajakan daerah
dan retribusi agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih
lengkap danjelas;
b. meneliti, mencari, dan mengumpulkail keterangan mengenai
orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang
dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah
dan retribusi;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan
retribusi;
d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen
lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah
dan retribusi;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti
pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta
melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;.
1.
f.
KETENTUAN UMUM RETRIBUSI
DAERAH
D
alambab ini akan diuraikan tentang ketentuan umum retribusi
daerah yang diberlakukan di Indonesia . Bab ini akan diawali
dengan membahas terminologi retribusi daerah menurut DD
No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
sebagaimana telah diubah terakhir dengan DD No. 34 Tahun 2000
dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001.Selain itu juga
diuraikan jenis-jenis retribusi yang dikenakan terhadap masyarakat
bai k ditingkat Propinsi maupun ditingkat Kabupaten/Kota .
Selanjutnya membahas tentang sarana-sarana pelaporan retribusi
daerah berupa surat ketetapan yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Daerah misalnya SPRD (Surat Pemberitahuan Retribusi Daerah) ,
SKRD (Surat Ketetapan Retribusi Daerah), STRD (Surat Tagihan
Retribusi Daerah) dan sarana-sarana lainnya. Bab ini diakhiri dengan
bahasan tentang sanksi perpajakan.
meminta bantuan tenaga ahli dalarn rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan
retribusi; .
g. menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan
ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung
dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa
sebagaimana dimaksud pada huruf e;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana
perpajakan daerah dan retribusi; .
memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa
sebagai tersangka atau saksi;
j . menghentikan penyidikan;
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan
tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan retribusi menurut
hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
~ .. ~
90 ~ Pajakdan Retribusi Daerah
92 ~ PajakdlInRetribusi Daerah
TERMINOLOGI RETRIBUSI DAERAH
Ketentuan umum ini berisi tentang pengertian-pengertian khusus
atau istilah-istilah teknis yang berkaitan dengan retribusi daerah
seperti yang dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan pajak dan retribusi daerah meliputi:
1. Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut retribusi, adalah
pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian
izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan;
2. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut
peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk
melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau
pemotongan retribusi tertentu;
3. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan
terbatas, perseroan komanditer ,perseroan lainnya badan usaha
milik negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun,
persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi yayasan atau
organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha
tetap serta bentuk badan usaha lainnya;
4. Jasa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan
pelayanan yang menyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan
lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan;
5. Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh
Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan
umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan;
6. Jasa Usahaadalahjasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah
dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya dapat
pula disediakan oleh sektor swasta;
7. Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah
dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan
yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian
dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan
sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas
Ketentuan Umum Retribusi DaerahIJ 93
tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga
kelestarian lingkungan;
8. Masa Retribusi adalah suatu jangka -waktu tertentu yang
merupakan batas-waktu bagi' Waji1:i ' Retribusi diwajibkan untuk
memanfaatkanjasa dan perizirian tertentu dari Pemerintah Daerah
yang bersangkutan; ..
9. Pembukuan adalah suatu proses pencatataii yang dilakukan secara
teratur untuk mengumpulkan data dan informasi yang meliputi
keadaan harta, kewajiban atauutang, modal, penghasilan dan
biaya serta jumlah harga perolehan dan.penyerahan barang atau
jasa, yang-ditutup'dengan menyusun laporan keuangan berupa
neraca dan perhitungan-rugi laba pada setiap Tahun Pajak
berakhir; ,
10. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari,
mengumpulkan, dan mengolah data dan/ atau keterangan lainnya
dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan daerah dan retribusi berdasarkan peraturan
perundang-undangan perpajakan daerah dan retribusi;
11. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan
retribusi adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh
Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut
Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan
bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan
daerah dan retribusi yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
JENIS-JENIS RETRIBUSI DAERAH
Q
Retribusi daerah menurut UU No. 18:Tahun ·1997tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah terakhir
dengan UU NO: 34 Tahun"2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor
66 Tahun 100r r'terithng Retribusi Daerah dapat dikelornpokkan
menjadi :r(tiga) y a i ~ ' ~ } .,' ,-1 -
1. Retribusi Jasa Urtlum adalah retribusi atas jasayang disediakan
atau diberikan oleh Pemefintah Daerah untuk tujuan kepentingan
94 mPajakdanRetribusi Daerah
dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oIeh orang pribadi
atau badan. Jenis-jenis Retribusi Jasa Umum terdiri dari:
a. Retribusi Pelayanan Kesehatan;
b. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;
c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk
dan Akte Catatan Sipil;
d. Retribusi Pelayanan Pemakaman danPengabuan Mayat;
e. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum;
f . Retribusi Pelayanan Pasar;
g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;
h. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran;
i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;
j . Retribusi Pengujian Kapal Perikanan.
2. Retribusi Jasa Usaha adalah retribusi atas jasa yang disediakan
oIeh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersiaI
karena pada dasarnya dapat pula disediakan oIeh sektor swasta.
Jenis-jenis Retribusi JasaUsaha terdiri dari:
a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;
b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan;
c. Retribusi Tempat Pelelangan;
d. Retribusi Terminal;
e. Retribusi Tempat Khusus Parkir;
f. Retribusi Tempat Penginapan/PesanggrahanlVilla;
g. Retribusi Penyedotan Kakus;
h. Retribusi Rumah Potong Hewan;
i. Retribusi Pelayanan Pelabuhan Kapal;
j . Retribusi Tempat Rekreasi dan OIah Raga;
k. Retribusi Penyeberangan di Atas Air;
1. Retribusi Pengolahan Limbah Cair;
m. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.
3. Retribusi Perizinan Tertentu adalah retribusi atas kegiatan
tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada
orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan,
pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan
Ketentuan Umum Retribusi DaerahIJ 95
pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang,
prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi
kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Jenis-
jenis Retribusi Perizinan Tertentu terdiri dari:
a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;
b. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman BeralkohoI;
c. Retribusi Izin Gangguan;
d. Retribusi Izin Trayek.
SARANA PELAPORAN RETRIBUSI DAERAH
Sarana-sarana pelaporan pajak daerah merupakan formulir-
formulir yang digunakan oIeh pemerintah daerah untuk melaporkan,
menghitung dan menyetor pajak daerah yang terutang oIeh wajib
pajak daerah. Sarana pelaporan pajak daerah berupa surat ketetapan
yang dikeluarkan oIeh Pemerintah Daerah meliputi:
Surat Setoran Retribusi Daerah
Surat Setoran Retribusi Daerah, yang dapat disingkat SSRD,
adalah surat yang digunakan oIeh Wajib Retribusi untuk melakukan
pembayaran atau penyetoran retribusi yang terutang ke Kas Daerah
atau ke tempat pembayaran lain yang ditetapkan oIeh Kepala Daerah;
Surat Ketetapan Retribusi Daerah
Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang dapat disingkat SKRD,
adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi
yang terutang;
Surat Ketetapan Retribusi DaerahLebihBayar
Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang dapat
disingkat SKRDLB, adalah surat keputusan yang menentukanjumlah
kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi Iebih
besar daripada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang;
96 \1 PajakdonRetribusi Daerah
Surat Tagihan Retribusi Daerah
Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang dapat disingkat STRD,
adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi
administrasi berupa bunga danlatau denda;
TATACARAPEMUNGUTAN
Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan dan dipungut
dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah atau
dokumen lain yang dipersamakan. Dalamhat Wajib Retribusi tertentu
tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar,
dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2%(dua persen)
setiap bulan dariretribusi yang terutang yang tidak atau kurang
dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi
Daerah.
KEBERATAN
Wajib Retribusi tertentu dapat mengajukan keberatan hanya
kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas Surat
Ketetapan Retribusi Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan,
dengan cara:
(1) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia
dengan disertai alasan-alasan yang jelas .
(2) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2
(dua) bulan sejak tanggal Surat Ketetapan Retribusi Daerah
diterbitkan, kecuali apabila Wajih Retribusi tertentu dapat
menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi
karena keadaan di luar kekuasaannya.
(3) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar
retribusi dan pelaksanaan penagihan retribusi.
(4) Kepala Daerah dalamjangka waktu paling lama 6 (enam) bulan
sejak tanggal Surat Keberatan diterima hams memberi keputusan
atas keberatan yang diajukan.
Ketentuan Umum RetribusiDaerahJJ 97
(5) KeputusanKepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima
seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya
retribusi yang terutang.
(6) Apabila jangka waktu 6 enam bulan telah lewat dan Kepala
Daerah tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan
tersebut dianggap dikabulkan.
PENGEMBALIAN KELEBllIAN PEMBAYARAN
Atas kelebihan pembayaran pajak atau retribusi, Wajib Pajak
atau Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian
kepada Kepala Daerah. Dalam jangka waktu paling lama 12 (dua
belas) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran
pajak tersebut, Kepala Daerah akan memberikan keputusan dalam
jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterimanya
permohonan kelebihan pembayaran retribusi Kepala Daerah harus
memberikan keputusan: Apabila jangka waktu 18 bulan sejak
diterimanya permohonan telah dilampaui dan Kepala Daerah tidak
memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian
pembayaran pajak atau retribusi dianggap dikabulkan dan Surat
Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar atau Surat Ketetapan Retribusi
Daerah Lebih Bayar harus diterbitkan dalam jangka waktu paling
lama 1 (satu) bulan.
Apabila Wajib Pajak atau Wajib Retribusi mempunyai utang
pajak atau utang retribusi lainnya, kelebihan pembayaran pajak atau
retribusi tersebut langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih
dahulu utang pajak atau utang retribusi tersebut. Pengembalian
kelebihan pembayaran pajak atau retribusi dilakukan dalam jangka
waktu paling lama2 (dua) bulan sejak diterbitkannya Surat Ketetapan
Pajak Daerah Lebih Bayar atau Surat Ketetapan Retribusi Daerah
Lebih Bayar.
Apabilapengembaliankelebihanpembayaran pajak atau retribusi
dilakukan setelah lewatjangka waktu 2 (dua) bulan, Kepala Daerah
98 ~ Pajak clan Retribusi Daerah
memberikan imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan atas
keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran pajak atau
retribusi. Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau
retribusi diatur dengan Peraturan Daerah.
KEDALUWARSA PENAGllIAN
Pedoman tata cara penghapusan piutang pajak dan retribusi yang
kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Pemerintah. Hak untuk
melakukan penagihan retribusi, kedaluwarsasetelab melampaui
jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi,
kecuali apabila Wajib Retribusi melakukan tindak pidana di bidang
retribusi. Kedaluwarsa penagihan retribusi tertangguhkan apabila:
a. diterbitkan Surat Teguran, atau;
b. ada pengakuan utangretnbusi dari Wajib Retribusi baik langsung
. maupun tidak langsung.
PEMBUKUAN DANPEMERIKSAAN
Wajib Pajak dan Wajib Retribusi yang memenuhi kriteria tertentu
wajib menyelenggarakan pembukuan dan tata cara pembukuan diatur
oleh Menteri Dalam Negeri. Kepala Daerah berwenang melakukan
pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpaj akan daerah dan kewajiban retribusi dalam rangka
melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah dan
retribusi. Tata cara pemeriksaan pajak dan retribusi diatur oleh
Menteri Dalam Negeri.Wajib Pajak atau Wajib Retribusi yang
diperiksa wajib:
a. memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang
berhubungan dengan objek paj ak atau objek retribusi yang
terutang;
b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan
yang dianggap perlu danmemberi bantuan guna kelancaran
pemeriksaan;
c. memberikan keterangan yang diperlukan.
KetentUQJl UmumRetribusi DaerahIJ 99
KERAHASIAAN
Untuk menjaga dan menjamin kerahasiaan mengenai perpajakan
daerah agar tidak diberitahukan kepada pihak lain maka perlu
ketentuan yang mengatur tentang kerahasiaannya. UU Pajak dan
Retribusi Daerah mengatur dalam pasal 40 ayat (1), (2) dan (3).
Setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain yang
tidak berhak, segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan
kepadanya oleh Wajib Pajak dalam rangkajabatan atau pekerjaannya
untuk menjalankan peraturan perundang-undangan perpajakan
daerah, kecuali sebagai saksi atau saksi ahli dalam sidang pengadilan.
Larangan ini berlaku juga terhadap ahli ahli yang ditunjuk oleh
Kepala Daerah untuk membantu dalam pelaksanaan peraturan
perundang-undangan perpajakan daerah, kecuali sebagai saksi atau
saksi ahli dalam sidang pengadilan. Untuk kepentingan daerah,
Kepala Daerah berwenang memberi izin tertulis kepada pejabat dan
tenaga-tenaga ahli yang diberi wewenang, supaya memberikan
keterangan, memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib
Pajak kepada pihak yang ditunjuknya.
Untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan dalam perkara
pidana atau perdata atas permintaan hakim sesuai dengan Hukum
Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata, Kepala Daerah dapat
memberi izin tertulis untuk meminta kepada pejabat dan tenaga ahli
yang ditunjuk, bukti tertulis dan keterangan Wajib Pajak yang ada
padanya. Permintaan hakim tersebut harus menyebutkan nama
terdakwa atau nama tergugat, keterangan-keterangan.yang diminta
serta kaitan antara perkara pidana atau perdata yang bersangkutan
dengan keterangan yang diminta tersebut.
KETENTUAN PIDANA
Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga
merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama
6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah
retribusi yang terutang.
i.
._..::190 ~ PajakdanRetribusi Daerah
PENYIDIKAN
Penyidik di bidang perpajakan daerah dan retribusi adalah
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah
Daerah yang diangkat oleh Menteri Kehakiman sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pejabat Pegawai Negeri
Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang
khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana
di bidang perpajakan daerah atau retribusi. Penyidik memberitahukan
dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya
kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
Undang undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Kewenangan penyidik meliputi:
a. menerima, mencari , mengumpulkan, dan meneliti keterangan
atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang
perpajakan daerah dan retribusi agar keterangan atau laporan
tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
b. meneliti, mencari , dan mengumpulkan keterangan mengenai
orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang
dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah
dan retribus i;
c. meminta keterangan dan bahan bukt i dari orang pribadi atau
badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan
daerah dan retribusi;
d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen
lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah
dan retribusi;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti
pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta
melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;.
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan
retribusi;
g. menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan
ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung
Ketentuan Umum RetribusiDaerahIJ 101
dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa
sebagaimana dimaksud pada huruf e;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana
perpajakan daerah dan retribus i;
memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa
sebagai tersangka atau saksi;
j . menghentikan penyidikan;
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan
tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan retribusi menurut
hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
~ I!!s ~
102 11 Pajak donRetribusi Daerah
PAJAK OAERAH 01 TINGKAT
PROPINSI
P
ajak Daerah menurut UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah
terakhir dengan UU No. 34 Tahun 2000 terdir i dari pajak
kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air , bea balik nama
kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air, pajak bahan bakar
kendaraan bermotor, pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah
tanah dan air permukaan, pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan,
pajak reklame, pajak peneranganjalan, dan pajak pengambilan bahan
galian golongan C. Dari sudut kewenangan pemungutannya pajak
daerah, secara garis besar dibedakan menjadi 2 (dua). Pertama,
pajak daerah yang dipungut oleh Pemerintah Daerah di Tingkat
Propinsi, yang sering disebut pajak propinsi. Kedua, pajak daerah
yang dipungut oleh Pemerintah Daerah di tingkat Kabupaten/Kota,
yang sering disebut pajak kabupaten/kota. Bab ini akan
membicarakan secara khusus tentang pajak daerah yang dipungut
oleh pemerintah tingkat propinsi, sedangkan pajak daerah yang
dipungut oleh pemerintah daerah kabupatenlkota akan dibicarakan
di bab selanjutnya.
104 ~ Pajak donRetribusiDaerah
PAJAK KENDARAANBERMOTORDAN KENDARAAN DI
ATASAIR
Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air adalah
pajak atas kepemilikan danlatau penguasaan kendaraan bermotor
dan kendaraan di atas air. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan
di Atas Air ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu Pajak Kendaraan
Bermotor (PKB) dan Pajak Kendaraan di Atas Air (PKAA). Berikut
ini penjelasan lebih lanjut masing-masing pajak tersebut.
Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) merupakan pajak yang
dikenakan terhadap kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan
bermotor. Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda dua
atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis
jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknis berupa motor atau
peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber
daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang
bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang
bergerak.
Subjek dan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor
Secara umum yang disebut subyek pajak daerah adalah orang
pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak daerah. Berkaitan
dengan Pajak Kendaraan Bermotor, maka yang disebut Subjek Pajak
Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki
dan/atau menguasai kendaraan bermotor. Pengertian memiliki berarti
orang yang bersangkutan mempunyai hak sepenuhnya kepemilikan
dan penggunaan atau pemanfaatan dari kendaraan bermotor tersebut,
sedangkan menguasai kendaraan mempunyai arti orang yang
bersangkutan hanya dapat memanfaatkan atau menggunakan saja
dari kendaraan bermotor tersebut tanpa memiliki.
Subjek Pajak akan menjadi Wajib Pajakjika yang bersangkutan
telah mememuhi ketentuan peraturan perudang-undangan perpajakan
PajakDaerah di Tingkat PropimiIJ 105'
daerah, sebagai wajib pajak daerah. Berdasar pengertian ini, maka
Wajib Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan
yang memiliki kendaraan bermotor dan diwajibkan untuk melakukan
pembayaran pajak kendaran bermotor yang terutang. Termasuk dalam
pengertian wajib pajak ini adalah pemungut atau pun pemotong
pajak.
Objek Pajak Kendaraan Bermotor
Objek pajak adalah sesuatu yang dapat dijadikan sasaran
pengenaan pajak.Sesuatu tersebut dapat berupa keadaan, perbuatan
dan peristiwa. Karena Pajak Kendaraan Bermotor termasuk pajak
obyektif atau kebendaan, maka yang menjadi obyek pajak adalah
keadaan benda tersebut. Dengan demikian, yang dimaksud Objek
Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan danlatau pengua-
saan kendaraan bermotor oleh orang pribadi atau badan.
Bukan Objek Pajak Kendaraan Bermotor
Dikecualikan sebagai objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah
kepemilikan danlatau penguasaan kendaraan bermotor oleh :
a. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
b. Kedutaan, konsulat perwakilan negara asing, dan perwakilan
lembaga-Iembaga Internasional dengan asas timbal balik;
c. Subjek Pajak lainnya yang diatur dengan Peraturan Daerah
Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor
Dasar Pengenaan Pajak merupakan ukuran atau pengakuan nilai
tertentu yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak. Nilai yang
menjadi dasar pengenaan pajak tersebut harus dapat diukur. Ukuran
nilai yang obyektif adalah nilai penyerahan barang. Berkaitan dengan
PKB, maka. Dengan demikian nilai penyerahan dapat berupa nilai
jual-beli, nilai tukar menukar dan lain sebagainya. Dasar pengenaan
Pajak Kendaraan Bermotor dihitung sebagai perkalian dari 2 (dua)
unsur pokok yaitu (1) nilai jual kendaraan bermotor dan (2) bobot
~ ~ • Pajakclan Retribusi Daerah
relatif kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan. Berikut
ini uraian dua unsur pokok tersebut:
1. Nila Jual Kendaraan Bermotor; '
Nilal Jual Kendaraan Bermotor diperoleh berdasarkan h ~ r g a
pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor Dalam hat harga
pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor tidak diketahui , Nilai
Jual Kendaraan Bermotor ditentukan berdasar-kan faktor-faktor :
a. isi silinder danJatau satuan daya;
b. penggunaan kendaraan bermotor;
c. jenis kendaraan bermotor;
d. ' merek kendaraan bermotor;
e. tahun pembuatan kendaraan bermotor;
f. berat total kendaraan bermotor dan banyaknya penumpang
yang diizinkan;
g. dokumen impor untuk jeniskendaraan bermotor tertentu.
2. Bobot yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan
dan pencemaran li ngkungan akibat penggunaan kendaraan
bermotor. Bobot ini dihi tung berda-sarkan faktor-faktor :
a. tekanan gandar ;
b. jenis bahan bakar kendaraan bermotor;
c. jenis, penggunaan, tahun pembuatan, dan ciri-ciri mesin dari
kendaraan bermotor;
Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, untuk memudahkan
penghitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor
dinyatakan dalam suatu tabel yang ditetap-kan oleh Menteri Dalam
Negeri dengan pertimbangan Menteri Keuangan. Dasar pengenaan
Pajak Kendaraan Bermotor akan selalu ditinjau kembali setiap tahun.
Tarif Pajak Kendaraan Bennotor
Besarnya pokok Pajak Kendaraan Bermotor yang terutang
dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak.
Adapun Tarif Pajak Kendaraan Bermotor ditetapkan sebesar :
a.. 1,5%(satu koma lima persen) untuk kendaraan bermotorbukan
umum;
PajakDaerah di Tingkat Propinsi IJ 107
b. 1% (satu persen) untuk kendaraan bermotor umum;
c. 0,5% (nol koma lima persen) untuk kendaraan bermotor alat-
alat berat dan alat -alat besar .
Pembayaran Pajak Kendaraan Bennotor Terutang
Pajak Kendaraan Bermotor dikenakan untuk masa paj ak 12 (dua
belas) bulan berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran kendaraan
bermotor. Pajak Kendaraan Bermotor yang terutang dipungut di
wilayah Daerah tempat kendaraan bermotor terdaftar dan dibayar
sekaligus di muka. Kar ena suatu hal masa pajaknya tidak sampai 12
(dua belas) bulan, maka kelebihan membayar PKB dapat dilakukan
restitusi. Tatacara pelak-sanaan restitusi ditetapkan oleh Gubernur .
Pajak Kendaraan di Atas Air
Pajak Kendaraan di Atas Air merupakan pajak yang dikenakan
terhadap kepemi-likan dan/ atau penguasaan kendaraan di atas air .
Kendaraan di atas air adalah semua kendaraan yang digerakkan
oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang
berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi
tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan yang digunakan
di atas air .
Subjek dan Objek Pajak Kendaraan di Atas Air
Subjek Pajak Kendaraan di Atas Air adalah orang pribadi atau
badan yang memiliki dan/ atau menguasai kendaraan di atas air.
Wajib Pajak Kendaraan di Atas Air adalah orang pribadi atau badan
yang memiliki kendaraan di atas air . Objek Pajak Kendaraan di
Atas Air adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan di atas
air. Objek Pajak Kendaraan di Atas Air meliputi :
a. kendaraan di atas air dengan ukuran isi kotor kurang dad 20 M3
atau kurang dari GT 7;
b. kendaraan di atas air yang digunakan untuk kepentingan
penangkapan ikan dengan mesin berkekuatan lebih besar dad 2
PK;
' ''11
10l!.;;, mPajakdonRetribusi Daerah
c. kendaraan di atas air untukkepentingan pesiar perseorangan
yang meliputi yacht/pleasure ship/sporty ship;
d. kendaraandi atas air untuk kepentinganangkutanperairan daratan.
Bukan Objek Pajak Kendaraan di Atas Air
Dikecualikan sebagai objek Pajak Kendaraan di Atas Air adalah
kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan di atas air oleh :
a. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
b. Kedutaan, konsulat perwakilan negara asing, dan perwakilan
lembaga-Iembaga internasional dengan asas timbal balik;
c. Orang pribadi atau badan atas kendaraan di atas air perintis;
d. Subjek pajaklainnya yang diatur dengan Peraturan Daerah.
Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan di Atas Air
Dasar pengenaan Pajak Kendaraan di Atas Air dihitung
berdasarkan Nilai Jual Kendaraan di Atas Air. Nilai Jual Kendaraan
di Atas Air diperoleh berdasar-kan harga pasaran umum atas suatu
kendaraan di atas air.Dalam hal harga pasaran umum atas suatu
kendaraan di atas air tidak diketahui, Nilai Jual Kendaraan di Atas
Air ditentukan berdasarkan faktor-faktor antara lain:
a. penggunaan kendaraan di atas air;
b. jenis kendaraan di atas air
c. merek kendaraan di atas air;
d, tahun pembuatan atau renovasi kendaraan di atas air;
e. isi kotor kendaraan di atas air;
f. banyaknya penumpang atau berat muatan maksimum yang
diizinkan;
g. dokumen impor untuk jenis kendaraan di atas air tertentu.
Penghitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan di Atas Air
dinyatakan dalam suatu tabel yang ditetapkan oleh Menteri Dalam
Negeri dengan pertimbangan Menteri Keuangan. Tabel tersebut
akan ditinjau kembali setiap tahun.
I"!."
PajakDaerah di Tingkol Propinsilj 109
Tan! Pajak Kendaraan di Atas Air
Besarnya pokok Pajak Kendaraan di Atas Air yang terutang
dihitung dengan cara mengalikan tarif Pajak Kendaraan di Atas Air
dengan dasar pengenaan pajak. Tarif Pajak Kendaraan di Atas Air
ditetapkan sebesar 1,5% (satu koma lima persen).
Pembayaran Pajak Kendaraan di Atas Air Terutang
Pajak Kendaraan di Atas Air dikenakan untuk masa pajak 12
(dua belas) bulan berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran
kendaraan di atas air. Pajak Kendaraan di Atas Air yang terutang
dipungut di wilayah Daenah tempat kendaraan di atas air terdaftar.
Pajak Kendaraan di Atas Air dibayar sekaligus di muka. Pajak
Kendaraan di Atas Air yang karena suatu dan lain hal masa pajaknya
tidak sampai 12 (dua belas) bulan, maka dapat dilakukan restitusi.
Tata cara pelaksanaan restitusi ditetapkan oleh Gubernur.
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Alas Air
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Di Atas
Air merupakan pajak yang dikenakan terhadap penyerahan hak milik
Kendaraan Bermotor dan/atau penyerahan Kendaraan Di Atas Air
sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau
keadaanyang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan,
atau pemasukan ke dalam badan usaha. Berikut ini penjelasan
masing-masing bea balik nama tersebut.
Bea Balik Nama Kendaraan Bennotor
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor merupakan pajak yang
dikenakan terhadap penyerahan hak milik Kendaraan Bermotor
sebagai .akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau
keadaanyang terjadi karenajual beli, tukar menukar, hibah, warisan,
atau pemasukan ke dalam badan usaha.
1 ~ ~ • Pajakclan Retribusi Daerah
Subjek dan Wajib Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bennotor
Subjek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah or-
ang pribadi atau badan yang menerima penyerahan kendaraan
bermotor. Wajib Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah
orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan kendaraan
bermotor.
Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah
penyerahan kendaraan bermotor. Penyerahan kendaraan bermotor
adalah pengalihan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat
perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi
karena jual beli, tukar menukar hibah termasuk hibah wasiat dan
hadiah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha. Termasuk
penyerahan kendaraan bermotor adalah pemasukan kendaraan
bermotor dari luar negeri untuk dipakai secara tetap di Indonesia,
kecuali:
a. untuk dipakai sendiri oleh orang pribadi yang bersangkutan;
b. untuk diperdagangkan;
c. untuk dikeluarkan kembali dari wilayah pabean Indonesia
(pengecualiantidak berlaku apabila selama 3 (tiga) tahunberturut-
turut tidak dikeluarkan kembali dari wilayah pabean Indonesia)
d. digunakan untuk pameran, penelitian, contoh, dan kegiatan olah
raga bertaraf internasional.
Bukan Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bennotor
Dikecualikan sebagai objek pajak Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor adalah penyerahan kendaraan bermotor kepada:
a. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
b. Kedutaan, konsulat, perwakilan asing, dan lembaga-Iembaga
internasional dengan asas timbal balik;
c. Subjek pajak lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
PajakDaerah di Tingkat Propinsi IJ 111
,Dasar Pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
Dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah
Nilai Jual Kendaraan Bermotor. Nilal Jual Kendaraan Bermotor
diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan
bermotor. Dalam hal harga pasaran umum atas suatu kendaraan
bermotor tidak diketahui, Nilai Jual Kendaraan Bermotor ditentukan
berdasarkan faktor--faktor:
a. isi silinder dan/atau satuan daya;
b. penggunaan kendaraan bermotor;
c. jenis kendaraan bermotor;
d. merek kendaraan bermotor;
e. tahun pembuatan kendaraan bermotor;
f . berat total kendaraan bermotor dan banyaknya penumpang yang
diizinkan;
g. dokumen impor untuk jenis kendaraan bermotor tertentu.
Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang dikenakan
atas penyerahan Kendaraan Bermotor dibedakan menjadi tiga jenis
tarif , yaitu:
(1) Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor atas penyerahan
pertama ditetapkan sebesar:
a. 10%(sepuluh persen)untukkendaraanbermotor bukanumum;
b. 10% (sepuluhpersen) untuk kendaraan bermotor umum;
c. 3% (tiga persen) untuk kendaraan bermotor alat-alat berat
dan alat-alat besar.
(2) TarifBea BalikNama kendaraan bermotor atas penyerahan kedua
dan selanjutnya ditetapkan sebesar:
a. 1%(satu persen) untuk kendaraan bermotor bukan umum;
b. 1%(satu persen) untuk kendaraan bermotor umum;
C. 0,3 %(nol koma tiga persen) untuk kendaraan bermotor alat-
alat berat dan alat-alat besar.
(3) Tarif BeaBalikNama kendaraan bermotor atas penyerahan karena
warisan ditetapkan sebesar:
112 • PajakdanRetribusi Daerah
~ " a. 0,1% (no1 koma satupersen) untukkendaraanbennotor bukan
umum;
b. 0,1% (no1 komasatupersen) untukkendaraanbennotor umum;
. c. 0,03% (no1 koma no1 tiga persen) untuk kendaraan bennotor
alat--alat berat dan alat-alat besar.
Pembayaran Rea Balik Nama Kendaraan Bermotor Terutang
Pembayaran Bea Balik Nama Kendaraan Barmotor dilakukan
pada saat pendaftaran. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang
terutang dipungut di wi1ayah Daerah tempat kendaraan bermotor
didaftarkan. Wajib Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bennotor wajib
mendaf-tarkan penyerahan kendaraan bennotor da1amjangka waktu
paling 1ambat 3 ~ {tiga pu1uh) had sejak saat penyerahan. Besarnya
Pokok Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang terutang
dihitung dengan cara mengalikan tarif BBNKB sesuai dengan jenis
penyerahannya dengan dasar pengenaan pajak atau nilai penyerahan.
Orang Pribadi atau badan yang menyerahkan kendaraan bermotor
me1aporkan secara tertu1is penyerahan tersebut kepada Gubernur
atau pejabat yang ditunjuk da1amjangka waktu 30 (tiga pu1uh) hari
sejak saat penyerahan.
REA RALJK NAMA KENDARAAN DJ ATAS AIR
Bea Balik Nama Kendaraan Di Atas Air merupakan pajak yang
dikenakan terhadap penyerahan hak milik Kendaraan Di Atas Air
sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau
keadaan yang terjadi karena jua1beli, tukar menukar, hibah, warisan,
atau pemasukan ke da1am badan usaha.
Subjek Pajak Rea Balik Nama Kendaraan di Atas Air
Subjek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air ada1ah
orang pribadi atau badan yang dapat menerima penyerahan kendaraan
di atas air. Wajib Pajak Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air
ada1ah orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan
kendaraan di atas air.
PajakDaerah di Tingkat Propinsi IJ 113
-Obj ek Rea Balik Nama Kendaraan di Atas Air
Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air ada1ah
penyerahan kendaraan di atas air. Kendaraan di atas air yang
dimaksud, meliputi:
a kendaraan di atas air dengan ukuran isi kotor kurang dari 20 M3
atau kurang dari GT 7;
b kendaraan di atas air yang digunakan untuk kepentingan
penangkapan ikan dengan mesin berkekuatan 1ebihbesar dari 2
PK;
c. kendaraan di atas air untuk kepentingan pesiar perseorangan
yang meliputi yacht/pleasure ship/sporty ship;
-d. kendaraan di atas air untuk kepentingan angkutan perairan
daratan.
Termasuk pemasukan kendaraan di atas air dari 1uar negeri
untuk dipakai secara tetap di Indonesia, kecua1i :
a. untuk dipakai sendiri oleh orang pribadi yang bersangkutan;
b. untuk diperdagangkan;
c. untuk dike1uarkan kembali dari wi1ayah pabean Indonesia
(pengecualian tidak berlaku apabila selama 3 (tiga) tahun
berturut-turut tidak dike1uarkan kembali dari wilayah pabean
Indonesia) .
d. digunakan untuk pameran, penelitian, contoh, dan kegiatan oIah
raga bertaraf intenasional.
Bukan Objek Rea Balik Nama Kendaraan di Atas Air
Dikecualikan sebagai objek pajak Bea Balik Nama Kendaraan
di Atas Air adalah penyerahan kendaraan di atas air kepada:
a. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
b. Kedutaan, konsu1at, perwaki1an asing, dan 1embaga-Iembaga
internasional dengan asas timbal balik;
c. Orang pribadi atau badan atas kendaraan di atas air perintis;
d. Subjek pajak lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
114 \1 Pajak danRetribusi Daerah
Dasar Pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air
Dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air adalah
Nilai Jual Kendaraan di Atas Air . Nilai Jual Kendaraan di Atas Air
diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan di
atas air. Dalam hal harga pasaran umum atas suatu kendaraan di alas
air tidak diketahui, Nilai Jual Kendaraan di Atas Air ditentukan
berdasarkan faktor-faktor antara lain:
a. penggunaan kendaraan di atas air;
b. jenis kendaraan diatas air-
c. merek kendaraan di atas air;
d. tahun pembuatan atau renovasi kendaraan di atas air;
e. isi kotor kendaraan di atas air;
f. banyaknya penumpang atau berat muatan maksimum yang
diizinkan; .
g. dokumen impor untuk jenis kendaraan di atas air tertentu.
Tarif Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air
Tarif Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air yang dikenakan
atas penyerahan Kendaraan Bermotor dibedakan menjadi tiga jenis
tar if , yaitu:
(1) Tarif Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air atas penyerahan
pertama ditetapkan sebesar 5% (lima persen). .
(2) Tarif Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air atas penyerahan
kedua dan selanjutnya ditetapkan sebesar 1% (satu persen).
(3) Tarif Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air atas penyerahan
karena warisan ditetapkan sebesar 0,1 %(nol koma satu persen).
Saat Terutangnya Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air
Orang pribadi atau badan yang menyerahkan kendaraan di atas
air melaporkan secara tertulis penyerahan tersebut kepada Gubernur
atau pejabat yang ditunjuk dalamjangka waktu 30 (tiga puluh) hari
sejak saat penyerahan. Wajib Pajak Bea Balik Nama Kendaraan di
Atas Air wajib mendaftarkan penyerahan kendaraan di atas air dalam
jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak saat penyerahan.
PajakDaerahdi TingkatPropinsi IJ 115
Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air yang terutang dipungut di
wilayah Daerah tempat kendaraan di atas air didaftarkan. Besarnya
Pokok Pajak Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air yang terutang
dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak.
Pembayaran Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air dilakukan pada
saat pendaftaran.
PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor merupakan pajak atas
bahan bakar yang disediakan atau dianggap digunakan untuk
kendaraan bermotor, termasuk bahan bakar yang digunakan untuk
kendaraan di atas air. Bahan bakar kendaraan bermotor dan/atau
kendaraan di atas air adalah bahan bakar yang digunakan untuk
menggerakkan kendaraan bermotor dan/atau kendaraan di atas air;
Subjek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bennotor
Subjek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah
konsumen bahan bakar kendaraan bermotor. Sedangkan Wajib Pajak
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan
yang menggunakan bahan bakar kendaraan bermotor. Pemungutan
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dilakukan oleh penyedia
bahan bakar kendaraan bermotor. Penyedia bahan bakar adalah
produsen bahan bakar kendaraan bermotor yaitu Pertamina dan/
atau produsen bahan bakar lainnya.
Objek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bennotor
Objek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah bahan
.bakar kendaraan bermotor yang disediakan atau dianggap digunakan
untuk kendaraan bermotor termasuk bahan bakar yang digunakan
untuk kendaraan di atas air. Bahan bakar kendaraan bermotor tersebut
adalah bensin, solar, dan bahan bakar gas.
116 • PqjakdanRetribusi Daerah
Pembayaran Pajak Bakar Kendaraan Bermotor Terutang
Dasar pengenaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah
nilai jual bahan bakar kendaraan bermotor. Tarif Pajak Bahan Bakar
Kendaraan Barmotor ditetapkan sebesar 5%(lima persen). Besarnya
pokok Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang terutang dihitung
dengan eara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak.
PAJAK PENGAMBILAN DAN PEMANFAATAN AIR
BAWAH TANAH DANAIR PERMUKAAN
Pajak yang dikenakan terhadap pengambilan dan pemanfaatan
air, baik air bawah tanah maupun air permukaan untuk digunakan
bagi orang pribadi atau badan, keeuali untuk keperluan dasar rumah
tangga dan pertanian rakyat. Air bawah tanah adalah air yang berada
di perut bumi, termasuk mata air yang muneul seeara alamiah di
atas permukaan tanah. Air permukaan adalah air yang berada di
atas permukaan bumi, tidak termasuk air laut.
Subjek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah
dan Air Permukaan
Subjek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah
dan Air Permukaan adalah orang pribadi atau badan yang
memanfaatkan, atau mengambil, dan memanfaatkan air bawah tanah
danlatau air permukaan.Wajib Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan
Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah orang pribadi atau
badan yang mengambil, atau memanfaatkan, atau mengambil dan
memanfaatkan air bawah tanah dan/atau air permukaan.
Objek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air,Bawah Tanah
dan Air Permukaan
Objek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah
dan Air Permukaan adalah (1) pengambilan air bawah tanah danl
atau air permukaan; (2) pemanfaatan air bawah tanah danlatau air
permukaan; (3) pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah danl
PajakDaerah di Tingkat Propinsi IJ 117
atau air permukaan. Dikeeualikan dari objek Pajak Pengambilan
dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah:
a. pengambilan, atau pemanfaatan, atau pengambilan dan pemanfaa-
tan air bawah tanah danlatau air permukaan oleh Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah;
b. pengambilan, atau pemanfaatan, atau pengambilan dan
pemanfaatan air permukaan oleh Badan Usaha Milik Negara
dan Badan Usaha Milik Daerah yang khusus didirikan untuk
menyelenggarakan usaha eksploitasi dan pemeliharaan pengairan
serta mengusahakan air dan sumber-sumber air;
e. pengambilan, atau pemaanfaatan, atau pengambilan dan
pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan untuk
kepentingan pengairan pertanian rakyat;
d. pengambilan, atau pemaanfaatan, atau pengambilan dan
pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan untuk
keperluan dasar rumah tangga;
e. pengambilan, atau pemanfaatan, atau pengambilan dan
pemanfaa-tan air bawah tanah danlatau air permukaan lainnya
yang diatur dengan Peraturan Daerah.
DasarPengenaan PajakPengambilandan Pemanfaatan AirBawah
Tanah dan Air Permukaan
Dasar pengenaan Pajak Pengambilan dan PemanfaatanAir Bawah
Tanah dan Air Permukaan adalah nilai perolehan air; Nilai perolehan
air dinyatakan dalam rupiah yang dihitung menurut sebagian atau
seluruh faktor-faktor:
a. jenis sumber air;
b. lokasi sumber air;
e. tujuan pengambiIan danlatau pemanfaatan air;
d. volumeairyangdiambiI, atai dimanfuatkan, ataudiambiI dandimanfuatkan;
e. kualitas air;
f. luas area tempat pengambilan danlatau pemanfaatan air;
g. musim pengambilan,atau pemanfaatan, atau pengambilan dan
pemanfaatan air;
118 • Pajak dimRetribusi Daerah
h. tingkat kerusakan lingkunganyang diakibatkan oleh pengambilan
atau pemanfaatan, atau pengambilan dan pemanfaatan air.
Sedangkan besarnya nilai perolehan air yang digunakan untuk
kegiatan Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah
yang memberikan pelayanan publik, pertambangan minyak bumi
dan gas alam ditetapkan oleh Menteri Dalam Nege ri dengan
pertimbangan Menteri Keuangan.
TarifPajak Pengambilan dan Pemanfaatan AirBawah Tanah dan
Air Permukaan
Tarif Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah
dan Air Permukaan ditetapkan sebagai berikut:
a. Air bawah tanah sebesar 20% (dua puluh persen);
b. Air permukaan sebesar 10% (sepuluh persen).
Pembayaran Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah
Tanah dan Air Permukaan Terutang
Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air
Permukaan yang terutang dipungut di wilayah Daerah tempat air
berada. Besarnya pokok Pajak Pengambilan dan pemanfaatan Air
Bawah Tanah dan Air Permukaan yang terutang dihitung dengan
cara mengalikan tari f pajak dengan dasar pengenaan pajak. Khusus
Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang ketenagalistrikan
untuk pemanfaatan umum yang tarifnya ditetapkan oleh Pemerintah
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka pokok
pajak diperhitungkan dalam harga jual listrik di Daerah yang
dijangkau oleh sistem pasokan tenaga listrik yang bersangkutan.
....
PAJAK DAERAH TINGKAT
KABUPATEN/KOTA
S
eperti telahdiuraikan di bab lalu, bahwa dari sudut kewenangan
pemungutannya, pajak daerah secara garis besar dibedakan
menjadi 2 (dua). Pertama, pajak daerah yang dipungut oIeh
Pemerintah Daerah di Tingkat Propinsi, yang sering disebut pajak
propinsi. Kedua, pajak daerah yang dipungut oIehPemerintah Daerah
di tingkat KabupatenlKota, yang sering disebut pajak kabupatenl
kota. Pajak Daerah yang dipungut oleh Pemerintah Daerah tingkat
KabupatenlKota menurut UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pa.iak
Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah terakhir
dengan UU No. 34 Tahun 2000 terdiri dari pajak hotel, pajak restoran,
pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan j alan, dan pajak
pengambilan bahan galian golongan C. Bab 9 ini akan membicarakan
khusus tentang pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah daerah
tingkat kabupaten/kota, sedangkan pajak daerah yang dipungut oleh
pemerintah daerah tingkat propinsi telah dibicarakan di bab
sebelumnya.
120 ~ Pajak danRetribusi Daerah
PAJAKHOTEL
.Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Hotel adalah
bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginapl
beristirahat, memperoleh pelayanan, dan/atau fasilitas lainnya
dengandipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu;
dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan
dan perkantoran.
Subjek Pajak Hotel
SubjekPajak Daerah adalah orang pribadi atau badan yang dapat
dikenakan pajak daerah. Berkaitan dengan pajak hotel maka yang
dimaksud dengan Subjek Pajak Hotel adalah orang pribadi atau
badan yang melakukan pembayaran kepada hotel. Sedangkan yang
dimaksud dengan Wajib Pajak Daerah adalah orang pribadi atau
badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak
yang terutang, termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu.
Dengan demikian yang dimaksud wajib pajak untuk pajak hotel
adalah orang atau badan yang membayar atas pelayanan hotel dan
pengusaha hotel. Namun, dalam pp No.65 Tahun 2001 tentang
Pajak Daerah yang dimaksud sebagai Wajib Pajak Hotel hanya
pengusaha hotel. Padahal secara logika kedua-duanya merupakan
Wajib Pajak. Bagi pembayar hotel merupakan wajib pajak (WAPA)
langsung, sedangkan bagi pengusaha hotel merupakan wajib pungut
(WAPU). Pengusaha hotel itu berkewajiban menyetorkan pajak ho-
tel ini ke Kas Daerah.
Objek Pajak Hotel
Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan hotel
dengan pembayaran, termasuk:
1. fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek;
2. pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan
atautinggaljangka pendek yang sifatnya memberikankemudahan
PajakDaerah Tingkat KabupatenlKotall 121
dan kenyamanan;
3. fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan khusus untuk
tamu hotel, bukan untuk umum;
4. jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di
hotel.
Bukan Objek Pajak Hotel
Sedangkan yang tidak termasuk objek pajak hotel adalah:
1. penyewaan rumah atau kamar, apartemen dan/atau fasilitas
tempat tinggal lainnya yang tidak menyatu dengan hotel;
2. pelayanan tinggal di asrama, dan pondok pesantren;
3. fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan di hotel yang
dipergunakan oleh bukan tamu hotel dengan -pembayaran;
4. pertokoan, perkantoran, perbankan, salon yang dipergunakan
oleh umum di hotel;
5. pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel
dan dapat dimanfaatkan oleh umum.
Dasar Pengenaan Pajak Hotel
Dasar pengenaan Pajak Hotel adalah jumlah pembayaran yang
dilakukan kepada hotel. Pembayaran adalah jumlah yang diterima
atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan barang
danlatau jasa sebagai pembayaran kepada pemilik hotel.
Tan! Pajak Hotel
Tarif Pajak Hotel paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen)
dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Pembayaran Pajak Hotel Terutang
Pajak Hotel yang terutang dipungut di wilayah Daerah tempat
hotel berlokasi. Besarnya pokok Pajak Hotel yang terutang dihitung
dengan cara mengalikan tarif pajak hotel setinggi-tingginya sebesar
10%(sepuluh persen)dengandasar pengenaanpajakyaitujumlah yang
122 • PajakdanRetribusi Daeroh
diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan
barang danlatau jasa sebagai pembayaran kepada pemilik hotel.
PAJAKRESTORAN
Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan restoran. Restoran
adalah tempat menyantap makanan dan/atau minuman,yang
disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jasa
boga atau katering.
Subjek Pajak Restoran
Subjek Pajak Daerah adalah orang pribadi atau badan yang dapat
dikenai pajak daerah. Berkaitan dengan pajak restoran maka yang
dimaksud dengan Subjek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau
badan yang melakukan pembayaran kepada restoran. Sedangkan
yang dimaksud dengan Wajib Pajak Daerah adalah orang pribadi
atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak
yang terutang, termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu.
Dengan demikian yang dimaksud wajib pajak untuk pajak restoran
adalah orang atau badan yang membayar atas pelayanan restoran
dan pengusaha restoran. Namun, dalam pp No.65 Tahun 2001
tentang Pajak Daerah yang dimaksud sebagai Wajib Pajak Restoran
hanya pengusaha restoran. Padahal secara logika kedua-duanya
merupakan Wajib Pajak. Bagi pembayar restoran merupakan wajib
pajak (WAPA) langsung, sedangkan bagi pengusaha restoran
merupakan wajib pungut (WAPU). Pengusaha restoran berkewajiban
menyetorkan pajak restoran ini ke Kas Daerah, sesuai pp No.65/
2001.
Objek Pajak Restoran
Objek pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan restoran
dengan pembayaran. Tidak termasuk objek pajak restoran adalah:
1. Pelayanan usaha jasa boga atau katering;
PajakDaerah Tingkat KabupatenlKotaIJ 123
. 2. Pelayananyang disediakan oleh restoran atau rumah makan yang
peredarannyatidakmelebihibatas tertentuyangditetapkandengan
Peraturan Daerah;
Dasar Pengenaan Pajak Restoran
Dasar pengenaan Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran
yang dilakukan kepada restoran. Pembayaran adalah jumlah yang
diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan
barang dan/atau jasa sebagai pembayaran kepada pemilik restoran.
Tarif Pajak Restoran
Tarif Pajak Restoran paling tinggi sebesar 10%(sepuluh persen)
dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah
Pembayaran Pajak Restoran Terutang
. Pajak Restoran yang terhutang dipungut di wilayah Daerah
tempat restoran berlokasi. Besarnya pokok Pajak Restoran yang
terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak restoran pal-
ing tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dengan dasar pengenaan
pajak,yaitu jumlah yang diterirria atau seharusnya diterima sebagai
imbalan atas penyerahan barang dan/atau jasa sebagai pembayaran
kepada pemilik restoran.
PAJAK HIBURAN
Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan.
Hiburan adalah semua jenis pertunjukan, permainan, permainan
ketangkasan, dan/atau keramaian dengan nama dan bentuk apapun,
yang ditonton atau dinikmati oleh setiap orang dengan dipungut
bayaran, tidak termasuk penggunaan fasilitas untuk berolah raga;
Subjek Pajak Hiburan
Subjek Pajak Daerah adalah orang pribadi atau badan yang dapat
dikenai pajak daerah. Berkaitan dengan pajak hiburan maka yang
124
dimaksud dengan Subjek Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau
badan yang menonton danlatau menikmati hiburan. Adapun yang
dimaksud dengan Wajib Pajak Daerah menurut VV No. 18.Tahun
1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan VV No.34 Tahun
2000 adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah diwajibkan untuk
melakukan pembayaran pajak yang terutang, termasuk pemungut
atau pemotong pajak tertentu. Dengan demikian yang dimaksud
wajib pajak untuk Wajib Pajak Hiburan menurut VV Pajak Daerah
dan Retribusi daerah adalah orang pribadi atau badan yang menonton
danlatau menikmati hiburan, dan orang pribadi atau badan yang
menyelenggarakan hiburan. Namun menurut pp No. 65 Tahun 2001
tentang Pajak Daerah yang dimaksudkan sebagai Wajib Pajak
Hiburan hanya orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan
hiburan.
Objek Pajak Hiburan
Objek Pajak Hiburan adalah penyelenggaraan hiburan dengan
dipungut bayaran. Tidak termasuk objek pajak hiburan adalah
penyelenggaraan hiburan yang tidak dipungut bayaran, seperti
hiburan yang diselenggarakan dalam rangka pernikahan, upacara
adat, kegiatan keagamaan.
Dasar Pengenaan Pajak Hiburan
Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah pembayaran atau
yang seharusnyadibayar untuk menontondanlataumenikmatihiburan.
Too! Pajak Hiburan
Tarif Pajak Hiburan paling tinggi sebesar 35%(tiga puluh lima
persen) dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Pembayaran Pajak Hiburan Terutang
Pajak Hiburan yang terutang dipungut di wilayah Daerah tempat
hiburan diselenggarakan. Besarnya pokok Pajak Hiburan yang
PajakDaerahTingkot KabupatenlKotaIJ 125
terutang dihitung dengan cara mengalikan Tarif Pajak Hiburan pal-
ing tinggi sebesar 35% (tiga puluh lima persen) dengan Dasar
Pengenaan Pajak, yaitu jumlah pembayaran atau yang seharusnya
dibayar untuk menonton dan/atau menikmati hiburan.
PAJAK REKLAME
Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame.
Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang menurut
bentuk dan corak ragarnnya untuk tujuan komersial. Dipergunakan
untuk memperkenalkan, menganjurkan atau memujikan suatu barang,
jasa atau orang, ataupun untuk menarik perhatian umum kepada
suatu barang, jasa atau orang yang ditempatkan atau yang dapat
dilihat, dibaca, dan/atau didengar dari suatu tempat oleh umum,
kecuali yang dilakukan oleh Pemerintah.
Subjek Pajak Reklame
Subjek Pajak Daerah adalah orang pribadi atau badan yang dapat
dikenai pajak daerah. Berkaitan dengan Pajak Reklame maka yang
dimaksud dengan Subjek Pajak Reklame adalah orang pribadi atau
badan yang menyelenggarakan atau melakukan pemesanan reklame.
Adapun yang dimaksud dengan Wajib Pajak Daerah menurut VV
No. 18 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan VV
No.34 Tahun 2000 adalah orang pribadi atau badan yang menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah
diwajibkan untuk melakukan pembayaran pajak yang terutang,
termasuk pemungut atau pemotong pajak tertentu. Dengan demikian
yang dimaksud wajib pajak untuk Wajib Pajak Reklame menurut
VV Pajak Daerah dan Retribusi daerah yang merupakan Wajib Pajak
Reklame adalahorang pribadi atau badan yang melakukan pemesanan
reklame dan orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan
reklame. Namun menurut pp No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak
Daerah yang dimaksudkan sebagai Wajib Pajak Reklame adalah
orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan reklame.
126 I Pajak dmlRetribusi Daerah .
Objek Pajak Reklame
Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan reklame.
Tidak termasuk sebagai objek Pajak Reklame adalah:
1. Penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, warta
harian, warta mingguan, warta bulanan, dan sejenisnya;
2. Penyelenggaraan reklame lainnya yang ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.
Dasar Pengenaan Pajak Reklame
Dasar pengenaan Pajak Reklame adalah nilai sewa reklame.
Nilai sewa reklame diperhitungkan dengan memperhatikan lokasi
penempatan, jenis, jangka waktu penyelenggaraan, dan ukuran media
reklame. Cara perhitungan nilai sewa reklame ditetapkan dengan
Peraturan Daerah. Hasil perhitungan nilai sewa reklame ditetapkan
dengan keputusan Kepala Daerah.
Tarif Pajak Reklame
Tarif Pajak Reklame paling tinggi sebesar 25%(dua puluh lima
persen) dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Pembayaran Pajak Reklame Terutang
Pajak Reklame yang terutang dipungut di wilayah Daerah tempat
reklame tersebut diselenggarakan. Besarnya pokok Pajak Reklame
yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak reklame
setinggi-tingginya sebesar 25% (dua puluh lima persen) dengan
dasar pengenaan pajak yaitu nilai sewa reklame.
PAJAK PENERANGAN JALAN
Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga
listrik dengan ketcntuan bahwa di wilayah daerah tersebut tersedia
peneranganjalan yang rekeningnya dibayar oleh Pemerintah Daerah.
Penerangan jalan adalah penggunaan tenaga listrik untuk menerangi
PajakDaerah 1ingkat KabupatenlKotaIJ 127
.. .
'jalan umum yang rekeningnya dibayar oleh Pemerintah Daerah.
Dalam hal tenaga listrik disediakan oleh PLN maka pemungutan
Pajak Penerangan Jalan dilakukan oleh PLN. Ketentuan lebih lanjut
mengenai pemungutanPajak Penerangan Jalan tersebut diatur dengan
Keputusan Menteri Dalam Negeri dengan pertimbangan Menteri
Keuangan.
Subjek Pajak Penerangan JaJan
Subjek Pajak Penerangan jalan adalah orang pribadi atau badan
yang menggunakan tenaga listrik. Wajib Pajak Penerangan Jalan
adalah orang pribadi atau badan yang menjadi pelanggan listrik
dan/atau pengguna tenaga listrik.
Objek Pajak Penerangan JaJan
Objek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik
di wilayah daerah yang tersedia peneranganjalan, yang rekeningnya
dibayar oleh Pemerintah Daerah. Dikecualikan dari objek Pajak
Penerangan Jalan yang dimaksud jika:
1. penggunaan tenaga listrik oleh instansi Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah;
2. penggunaan tenaga listrik pada tempat-tempat yang digunakan
oleh kedutaan, konsulat, perwakilan asing, dan lembaga-Iembaga
internasional dengan asas timbal balik;
3. penggunaan tenaga listrik yang berasal dari bukan PLN dengan
kapasitas tertentu yang tidak memerlukan izin dan instansi teknis
terkait;
4. penggunaan tenaga listrik lainnya yang diatur dengan Peraturan
Daerah.
Dasar Pengenaan Pajak Penerangan JaJan
Dasar pengenaan Pajak Penerangan Jalan adalah Nilal JuaI
Tenaga Listrik. Nilai Jual Tenaga listrik yang dimaksudkan tersebut,
ditetapkan sebagai berikut:
128 • PajakdonRetribusi Daerah
1. Dalam hal tenaga listrik berasal dari PLN dengan pembayaran,
Nilal Jual Tenaga Listrik adalah jumlah tagihan biaya beban
ditambah dengan biaya pemakaian kwh yang ditetapkan dalam
rekening listrik;
2. Dalam hal tenaga listrik berasal dari bukan PLN dengan tidak
dipungut bayaran, Nilai Jual Tenaga Listrik dihitung berdasarkan
kapasitas yang tersedia, penggunaan listrik atau taksiran
penggunaan listrik, dan harga satuan listrik yang berlaku di
wilayah Daerah yang bersangkutan.
Khusus untuk kegiatan industri, penambangan minyak bumi
dan gas alam, Nilai Jual Tenaga Listrik ditetapkan sebesar 30%
(tiga puluh persen) .
Tarif PajakPenerangan Jalan
TarifPajak Penerangan Jalan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh
persen) dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Pembayaran Pajak Penerangan Jalan Terutang
Pajak PeneranganJalan yang terutang dipungut di wilayahDaerah
tempat penggunaan tenaga listrik.Besarnya pokok Pajak Penerangan
Jalan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan Tarif Pajak
Penerangan Jalan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dengan
dasar pengenaan pajak, yaitu Nilal Jual Tenaga Listrik. Dalam hal
Pajak Penerangan Jalan dipungut oleh PLN maka besarnya pokok
pajak terutang dihitung berdasarkan jumlah rekening listrik yang
dibayarkan oleh pelanggan PLN.
PAJAK PENGAMBILAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C
Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C adalah pajak atas
kegiatan pengambilan bahan galian Golongan C sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahan galian golongan
Cadalahbahan galianyang terdiri dari Asbes, batu tulis, batu setengah
permata, batu kapur, batu apung batu permata, bentonit,
PajakDaerahTingkat Kabupatel/lKotaIJ 129
-dolomit, feldspar, garam batu (halite); grafi, granit/andesit, gips,
kalsit; kaolin, leusit; magnesit, mika, marmer; nitrat; opsidien; oker;
pasir dan kerikil; pasir kuarsa; perlit; phospat; talk, tanah serap
(fullers earth); tanah diatome; tanah liat; tawas (alum); tras; Yarosif;
zeolit; basal; dan trakkit.
Subjek PajakPengambilan Bahan Galian Golongan C
Subjek Pajak pengambilan ,Bahan Galian Golongan C adalah
orang pribadi atau badan yang mengambil bahan galian golongan
C. Sedang Wajib Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakanpengambilan
bahan galian golongan C.
Objek Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
Objek Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C adalah
kegiatan pengambiIan bahan galian golongan C. Bahan galian
golongan C sebagaimana dimaksud meliput i asbes, batu tulis, batu
setengah permata, batu kapur, batu apung, batu permata, bentonit,
dolomit, feldspar, garam batu (halite), grafi, granit/andesit, gips,
kalsit , kaolin, leusit, magnesit, mika, marmer; nitrat, opsidien,
oker, pasir dan kerikil, pasir kuarsa , perlit; phospat ; talk, tanah
serap (fullers earth), tanah diatome, tanah liat, tawas (alum), tras,
yarosif, zeolit, basal dan trakkit. Dikecualikan dari Objek Pajak
Pengambilan Bahan Galian Golongan C yang dimaksud jika:
1. Kegiatan pengambilan bahan galian golongan C yang nyata-
nyata tidakdimaksUdkan untukmengambil bahangalian golongan
C tersebut dan tidak dimanfaatkan secara ekonomis.
2. PengambiIan bahan galian golongan C lainnya yang ditetapkan
dalam Peraturan Daerah.
DasarPengenaan PajakPengambilan Bahan Galian Golongan C
Dasar pengenaan Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
adalah nilai jual hasil pengambilan bahan galian golongan C. NiIai
130 11 Pajakclan Retribusi Daerah
jual dihitung dengan: mengalikan volume/tonase hasil pengambilan
dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis bahan
galian golongan C.
Tarif Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
Tarif Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan Cpaling tinggi
sebesar 20% (dua puluh persen) dan ditetapkan dengan Peraturan
Daerah.
Pembayaran Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
Terutang
Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C yang terutang
dipungut di wilayah Daerah tempat pengambilan bahan galian
golongan C. Besarnya pokok Pajak Pengambilan Bahan Galian
Golongan C yang terutang dihitung dengan cara mengalikan Tarif
Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C paling tinggi sebesar
20% (dua puluh persen) dengan dasar pengenaan pajak yaitu nilai
jual dihitung dengan mengalikan volume/tonase hasil pengambilan
dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis bahan
galian golongan C.
PAJAKPARKIR
Pajak Parkir adalah pajak yang dikenakan atas tempat parkir
yang disediakan oleh orang pribadi atau badan, baik yang disediakan
berkaitan atas pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu
usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor
dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran.
Subjek Pajak Parkir
Subjek Pajak Parkir adalah orang pribadi atau badan yang
melakukan pembayaran atas tempat parkir. Pembayaran adalah
jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan
atas penyerahan barang dan/atau jasa sebagai pembayaran kepada
PajakDaerah Tingkat KabupatenlKotaIJ 131
.•
' pemilik atau penyelenggara tempat parkir. Tempat parkir adalah
tempat parkir di luar badanjalan yang disediakan oleh orang pribadi
atau badan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha
maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan
tempat penitipan kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor
yang memungut bayaran. Dengan demikian yang dimaksudWajib
Pajak Parkir adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan
tempat parkir.
Objek Pajak Parkir
Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat parkir di
luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok
usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk
penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor dan garasi
kendaraan bermotor yang memungut bayaran. Tidak termasuk objek
pajak adalah:
1. Penyelenggaraan tempatparkir oleh PemerintahPusat dan Pemer-
intah Daerah;
2. Penyelenggaraan parkir oleh kedutaan, konsulat, perwakilan
negara asing, dan perwakilan lembaga-Iembaga internasional
dengan asas timbal balik;
3. Penyelenggaraan tempat parkir lainnya yang diatur dengan
Peraturan Daerah.
Dasar Pengenaan Pajak Parkir
Dasar pengenaan Pajak Parkir adalah jumlah pembayaran atau
yang seharusnya dibayar untuk pemakaian tempat parkir.
Tarif Pajak Parkir
TarifPajak Parkir paling tinggi sebesar 20% (dua puluh persen)
dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
132 I1 PajakdunRetribusiDaerah
Pembayaran Pajak Parkir Terutang
Pajak Parkir y a ~ g terutang dipungut di wilayah Daerah tempat
parkir berlokasi. Besarnya pokok Pajak Parkir yang terutang dihitung
dengan cara mengalikan Tarif Pajak Parkir paling tinggi sebesar
20 %(dua puluh persen) dengan dasar pengenaan pajak yaitu jumlah
pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk pemakaian tempat
parkir.
~ ...
RETRIBUSI DAERAH
D
i bab lalu, telah diuriakan tentang jenis-jenis pajak daerah
baik pajak propinsi maupun pajak kabupaten /kota. UU No.
. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 34 Tahun 2000,
retribusi dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu retribusi jasa umum,
retribusijasa usaha dan retribusi perizinan tertentu. Bab 10 ini akan
membicarakan khusus tentang retribusi daerah yang dipungut oleh
Pemerintah Daerah.
Untuk menetapkan kebijaksanaan umum tentang prinsip dan
sasarandalampenetapantarif retribusi, baik retribusijasa umum, retribusi
jasa usahamaupunretribusiperizinantertentu, ketiganyaditetapkandengan
Peraturan Pemerintah. Besarnya retribusi yang hams dibayar oleh orang
pribadi atau badan yang menggunakan jasa yang bersangkutan dihitung
dari perkalian antara tingkat penggunaanjasa dan tarif retribusi. Tingkat
penggunaanjasa dapat dinyatakan sebagai kuantitas penggunaanjasa
sebagai dasar alokasi beban biaya yang dipikul daerah untuk
penyelenggaraanjasa yang bersangkutan, sedangkantarif retribusi adalah
nilai rupiah atau persentase tertentu yang ditetapkan untuk menghitung
besarnyaretribusiyangterutang. Tarif dapat ditentukanseragamataudapat
134 I1PajakdunRetribusi Daerah
diadakan pembedaan tentang golongan tarif sesuai dengan prinsip
dan sasaran tarif tertentu.
Retribusi Jasa Umum
Jasa Umummerupakanjasa yang disediakan atau diberikan oleh
PemerintahDaerahuntuktujuan kepentingandankemanfaatanmasyarakat
umum. BentukjasaumumyangdisediakanataudiberikanolehPemerintah
Daerah kepada masyarakat umumdiwujudkan dalamjasa pelayanan.
Dengandemikian, Retribusi JasaUmumadalahretribusiyangdikenakan
terhadaporangpribadi ataubadanyangmenggunakan/menikrnati pelayanan
jasaumumyangdisediakanataudiberikan olehPemerintah.
Dalammenetapkanjenisretribusi ke dalamkelompokretribusijasa
umum, kriteriayangdapatdigunakan adalah :
a Jasatersebuttermasukdalamkelompok urusanpemerintahanyang
diserahkankepadadaerahdalampelaksanaan asas desentralisasi,
b. Jasatersebutmemberimanfaatkhusus bagi orangpribadiataubadan
yangdiharuskanmembayar retribusi
c. Jasa tersebut, dianggaplayakjika hanyadisediakankepadabadan
atauorangpribadiyangmembayar retribusi
d. Retribusi untukpelayananpemerintah daerahitutidakbertentangan
dengankebijakan nasional
e. Retibusi tersebut dapatdipungut secaraefektifdanefisien, sertadapat
merupakan salahsatusumberpendapatan daerahyangpotensial
f Pelayanan yangbersangkutan dapat disediakansecarabaikdengan
kualitas pelayananyangmemadai
1. Jenis Retribusi Jasa Umum
Jenis-jenisnya yaitu Retribusi Pelayanan Kesehatan, Retribusi
Pelayanan PersampahanlKebersihan, Retribusi Penggantian BiayaCetak
KartuPendudukdanAkteCatatanSipil, Retribusi Pelayanan Pemakaman
dan Pengabuan Mayat, RetribusiParkir di Tepi Jalan Umum, Retribusi
Pasar, RetribusiAir Bersih, Retribusi PengujianKendaraanBermotor,
Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran, Retribusi
Retribusi Daerah IJ 135
' Penggantian Biaya Cetak Peta dan Retribusi Pengujian Kapal
Perikanan.
2. Objek Retribusi Jasa Umum
ObjeknyaadalahJasa Umum, antara lainpelayanankesehatandan
pelayanan persampahan dengan pengecualian urusan umum
pemerintahan.Berikut uraian dari bentuk-bentuk objek retribusijasa
pelayananumum:
a. PelayananKesehatan adalahpelayanan kesehatandi Puskesmas,
BalaiPengobatan danRumahSakit UmumDaerah, tidaktermasuk
pelayananpendaftaran
b. Pelayanan Kebersihan dan Persampahan meliputi pengambilan,
pengangkutan danpembuangan sertapenyediaan lokasi pembuanganl
pemusnahan smapah rumah tangga,sampah industri dan sampah
perdagangan; tidaktermasukpelayanankebersihanjalanumum, taman
danruanganltempat umum
c. PnggantianbiayacetakKTPdan Akta CatatanSipil. Akta Catatan
SipilmeIiputi aktekelahiran, akteperkawinan, akteperceraian, akte
pengesahan danpengakuan anak, akte ganti namabai warga negara
asingdanaktekematian
d. PelayananPemakamandanPengabuan Mayat meIiputi pelayanan
penguburan/pemakaman, pembakara/pengabuan mayat, dan sewa
tempat pemakaman ataupenguburanlpengabuanmayatyangdimiliki
ataudikelola olehPemerintah Daerah
e. Pelayananparkir ditepijalanumumadalahpenyediaanpelayananparkir
ditepi jalanumumyangditentukan olehPemerintah Daerah
f PelayananPasar adalahfasilitas pasar tradisionallsederhanayang
berupapelataran ataulosyangdikelolaolehPemerintah Daerahdan
khusus disediakanuntukpedagang, tidaktermasukyangdikelola oleh
Perusahaan DaerahPasar
g. Pelayanan Air Bersih adalah pelayanan penyediaan fasilitas air
bersih yang dimiliki atau dikelola langsung oleh Pemerintah
Daerah, tidak termasuk pelayanan oleh Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM)
136 mPajak donRetribusi Daerah
h. Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor meliputi pelayanan
pemeriksaankendaraanbermotor sesuai denganperundang-undangan
yangberlaku, yangdiselenggarakan olehPemerintah Daerah
i Pelayanan Pemeriksaan Alat PemadamKebakaran adalahpelyanan
pemeriksaan danpengujianolehPemerintah Daerahterhadap alat-
alat pemadam kebakaran yang dimiliki atau dipergunakan oleh
masyarakat
j. Pelayanan pengujiankapal perikananadalahpelayananpengujian
terhadap kapal penangkap ikanyangmenjadi kewenanganPemerintah
Daerah
3. Subjek Retribusi Jasa Umum
Subjeknya adalahorangpribadi ataubadanyangmenggunakanjasa
ini.
4. Tarif Retribusi Jasa Umum
Padadasamyadisesuaikan denganperaturanperundang-undangan
yangberlakumengenaijenis-jenisretribusi yangberhubungandengan
kepentingannasional.
Retribusi Jasa Usaha
Retribusi JasaUsahamerupakan pelayananyangdisediakanoleh
Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial karena pelayanan
tersebut belum cukup disediakan oleh swasta. Adapun kriteria jasa
pelayananusaha yangdapatdikenai retribusi jenisini yaitu
a. Jasatersebut bersifat komersial yang seyogyanya disediakanoleh
swasta, tetapi pelayanansektor swastadianggapbelummemadai
b. Hams terdapatharta yangdimiliki ataudikuasasiolehPemerintah
Daerah dan belumdimanfaaatkan secara penuh oleh Pemerintah
Daerah seperti tanah, bangunan dan alat-alat berat.
________------'IJ 137
-1. Jenis Retribusi Jasa Usaha
Jenis-jenisnya yaitu Retribusi PemakaianKekayaan Daerah, Retribusi
PasarGrosirdanatauPertokoan, Retribusi Terminal, Retribusi Tempat
Khusus Parkir, Retribusi Tempat Penitipan Anak, Retribusi Tempat
Penginapan, Retribusi Penyedotan Kakus, Retribusi Rumah Potong
Hewan, Retribusi Tempat Pendaratan Kapal, Retribusi TempatRekreasi
dan 0100 Raga, Retribusi Penyeberangandi Atas Air, Retribusi Pengolahan
Limbah CairdanRetribusi Penjualan Produksi UsOOa Daerah.
2. Objek Retribusi Jasa Usaha
Objeknya adalah JasaUsaha antara lainpenyewaanasetyang dimi1iki/
dikuasai olehpemerintah daerah, penyediaan tempatpenginapan, usaha
bengkel kendaraan, tempat pencucianmobildan penjualan bibit. Berikut
uraianjasa-jasausahayangmeruapakan objekretribusi jasa usaha:
a. PemakaianKekayaan Daerahmeliputi pemakaiantanahdanbangunan,
pemakianruangan untuk pesta, pemakaianuntukkendaraan atau alat-
alatberatmilik Pemerintah Daerah
b. Pasar GrosirdanatauPertokoanadalahpasar grosir berbagai jenis
barangtermasuk: tempat pelalanganikan,ternak, basil bumidanfasilitas
pasar/pertokoan yangdikontrakkan, disediakanataudiselenggarakan
oleh Pemerintah Daerah, tidak termasuk yang disediakan oleh
Perusahaan DaerahPasarataupihakswasta
c. Pelayaan Terminal, adalah pelayananpenyediaantempat parkir untuk
kendaraanpenumpangdan bis umum, tempat kegiatanusahadan
fasilitas lainnyadilingkunganterminal, yang dimiliki danatau dikelola
olehPemerintah Daerah
d. PelayananTempat Khusus Parkir adalah pelayanan penyediaan
tempat parkir yang khusus disediakan, dimiliki dan ataudikelola
oleh Pemerintah Daerah
e. Pelayanan Tempat Penitipan Anak adalah penyediaan tempat
penitipan anak yang dimiliki dan atau dikelola oleh Pemerintah
Daerah
138 ~ P a j a k donRetribusi Daerah
f. Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Vila adalah pelayanan
penginapan/pesanggrahan/vila yang dimiliki dan atau dikelola
oleh Pemerintah Derah
g Penyedotan Kakus adalahpelayananpenyedotan kakus ataujamban
yang dilakukanolehPemerintah Daerah
h Rumah PotongHewanadalahpelayananpenyediaan fasilitas rumah
pemotongan hewanternaktennasuk pemeriksaan kesehatan hewan
sebelumdipotong yangdimilki ataudikelola olehPemerintah Daerah
i TempatPendaratanKapaladalahpelayanan padatempat pendaratan
kapal ikandanataubukankapalikanyangdimiliki ataudikelola oleh
Pemerintah Daerah
j. TempatRekreasi danOlahRagaadalahpelayanan tempat rekreasi,
pariwisata, danolahragayngdimiliki olehPemerintah Daerah
k. Penyeberangan di AtasAir adalahpelayanan penyeberangan orang
ataubarang dengan menggunakan kendaraandi atasairyang dimiliki
danataudikelola olehPemerintah Daerah
1 Pengolahan LimbahCair adalahpelayananpengolahan limbah cair,
rumahtangga, perkantorandanindustri yang dimiliki danatau dikelola
olehPemerintahDaerah, tidaktermasukyang dikelola olehPerusahaan
daerah
m Penjualan UsahaProduksi Daerahadalahpenjualan hasilproduksi
usaha tertentu Pemerintah Daerahmisalnya bibittanaman, bibit ternak
danbibitikan
3. Subjek Retribusi Jasa Usaha
Subjeknya adalahorangpribadi ataubadanyangmenggunakanjasa
nu.
4. Tarif Retribusi Jasa Usaha
Tarif retribusi ini ditetapkan oleh daerah sehinggadapat tercapai
keuntunganyanglayak, yaitu keuntungan yangdapatdianggap memadai.
Jikajasayangbersangkutandiselenggarakan olehswasta.
---------------__~ I J 139
Retribusi Perizinan Tertentu
Retribusi Perizinan, memiliki peranganda. Selainberfungsiutarna
sebagai pengatur , retribusi perizinanjuga berfungsi sebagai sumber
pendapatandaerah. Tepatnya, fungsi utamaretribusi perizinanmerupakan
instrumenyangdigunakanuntukmelakukanpengaturan, pembinaan,
pengendalian, maupunpengawasan. Hal ini dimaksudkangunamelindungi
kepentingan umumdanmenjaga kelestarianlingkungan. Pengaturan,
pengawasan, pengendalian danpengarahanini diperlukan agarmasyarakat
tidaksesuka hatinya melakukankegiatan ekonomi dankegiatan lainnya di
luar ketentuan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah yang dapat
membahayakankepentingan umumdankelesrarian lingkungan.
1. Jenis Retribusi Perizinan Tettentu
Jenis-jenisnya ialahRetribusi PeruntukanPenggunaanTanah, Retribusi
IzinMendirikan Bangunan, Retribusi IzinTempatPenjualanMinuman
Beralkohol, Retribusi IzinGangguan, Retribusi IzinTrayekdanRetribusi
IzinPengambilanHasil HutanIkutan.
2. Objek Retribusi Perizinan Tertentu
Objeknya adalah perizinan tertentu antara lain Izin Mendirikan
Bangunan danIzinPeruntukkanPenggunaanTanah. Kemudian pengajuan
izintertentu olehBUMNatauBUMDtetapdikenakan retribusi, karena
badantersebut merupakan kekayaan negara/daerah yangtelah dipisahkan,
tetapi pengajuan izinolehPemerintah Pusatmaupun Pemerintah Daerah
tidakdikenakan retribusi perizinantertentu. Perijinnanyangmenjadi objek
retribusi perizinanmeliputi :
a. Ijin peruntukan penggunaan tanah adalah pemberian ijin atas
penggunaantanahkepada badan usaha yangakanmenggunakan tanah
seluas 5.000 meter atau lebihyang dikaitkan dengan rencana
tata ruang daerah yang bersangkutan
b. Ijin mendirikan bangunan (1MB) adalah pemberian ijin untuk
mendirikan bangunan, termasuk kegiatan peninjauan desain dan
pemantauanpelaksanaanpembangunannya agar tetapsesuaidengan
140 ~ PajakdanRetribusi Daerah.
rencana teknis bangunan dan rencana tata ruang yang berlaku,
serta pengawasanpenggunaan bangunan meliputi pemeriksaan
dalam rangka memenuhi syarat-syarat keselematan bagi yang
menempati bangunantersebut.
c. Ijintempat penjualanminumanberalkohol adalahpelayananpembetian
ijinuntukmelakukan penjualanminuman beralkohol di suatu tempat
tertentu dilingkungantertentudi wilayahkekuasaanPemerintahDaerah.
d. Ijingangguan adalah pelayananpemberian ijintempat usaha kepada
orangpribadiataubadandilokasi tertentuyangdapatmenimbulkan
bahaya, kerugiandangangguan, tidaktermasuktempatusahayang
lokasinya ditunjuk olehPemerintah PusatatauDaerah.
e. Ijintrayek adalah pelayananpemberian ijinkepada orangpribadi atau
badanuntukmenyediakanpelayananangkutanpenumpangumumpada
suatu trayektertentu.
f Ijinpengambilanhasil hutanialahpelayananpemberianijinpengambilan
hasil hutankepada orangpribadiataubadanuntukmelakukanusaha
pengambilanhasil hutan ikutan antara laindamar, rotan,gaharu, tidak
termasukpengambilankayuhutan.
3. Subjek Retribusi Perizinan Tertentu
Subjeknya adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan
perijinantertentu tersebut.
4. Tarif Retribusi Perizinan Tertentu
Tarifretribusi ini ditetapkan sedemkianrupasehinggahasil retribusinya
dapat menutup sebagianatausama denganperkiraanbiayayang diperlukan
untuk menyediakanjasa yang bersangkutan.
~ A ~
MENGUKUR KINERJA PAJAK DAN
RETRIBUSI
P
engukuran kinerja pajak dan retribusi dapat ditinjau baik
dari sisi efektivitasmaupunsisi efisiensinya. Menurut kamus
bahasa Indonesia, efisiensi memiliki arti sebagai: (1)
ketetapan cara (usaha, kerja) dalam menjalankan sesuatu (dengan
tidak membuang waktu dan biaya); (2) kemampuan menjalankan
tugas dengan baik dan tepat (dengantidak membuang-buangwaktu,
tenaga, biaya). Dilihat dari sisi teori akuntansi biaya, efisiensi dapat diartikan
sebagai penggunaanjumlah bahan danyangsesuai standar tersebut telah
ditetapkandalamartibahwa standar tersebut wajar dengan suatu toleransi
padatingkat yangdapat diterima. Secaraumumefisiensi dapatjugadiartikan
sebagai perbandingan antaramasukan (input) dengankeluaran(output)
dari suatu proses, danpadatingkatan tertentu efisiensi akan menyangkut
analisa hubungan antara rnanfaat yang diperoleh danbiayayangdikeluarkan.
Bab 11 ini menguraikan tentang caramengukur kinerja pemungutanpajak .
danretribusi daerah sertadiuraikan tentang mengukur potensi pajakdan
retribusi daerah sebagai daerah untukmengukur kinerjapajakdanretribusi
daerah.
142 11 PajakdonRetribusi Daerah
PENGUKURAN KINERJA
Dalamkonteks penghimpunan sumber pendapatandaerah, biaya,
sarana, tenaga dan cara yang digunakan merupakan ukuran dad
masukan, sedangkanpenerimaandaerah akanmenjadiukurandari pada
keluaran. Dalamkaitannyadenganpemungutansurnber pendapatandaerah,
efisiensi biayapengeluarandapat diartikansebagai efisiensi yangukuran
masukannya sudahtertentuyaitubiaya ataupengeluarannya, sedangkan
keluarannya dapatdiukur dengankeberhasilanpenerimaandaerah.
Selanjutnya yangdimaksuddenganpotensiadalah: daya, kekuatan,
atau kesanggupan untuk menghasilkan penerimaan daerah, atau
kemampuan yangpantasditerimadalamkeadaan seratuspersen. Potensi
penerimaan daerah dapat diukur melalui dua pendekatan yakni: (1)
berdasarkan fungsi penerimaan; (2) berdasarkan atas indikator sosial
ekonomi. Sebagai contoh digunakan pajak daerah sebagai sasaran
pengukuran potensi menurut fungsi perpajakan, dilakukan melalui
pengamatan atas pelaksanaan pemungutan pajak yang bersangkutan
dengancaramengalihkanpengenaanpajak(tax base)nya.
Menurut Devas eN (1989) seperti yang telah dijelaskan pada bab
sebelumnya, kinerja Administrasi Penerimaandaerahacta tiga, yaituupaya
pajak, efektifitas dan efisiensi. Definisi UpayaPajakadalah imbanganantara
pendapatanpajakdengankapasitas yangdapatdipajaki baiksecaranasional
maupun secara daerah. Dalamhat ini ukuranyangdipakai dalammengkaji
besarankapasitas yangdapatdipajaki ialahPDRB. Namunkonsep PDRB
sendiri tidak mencerminkan secara tepat pendapatan yang siap
dibelanjakan; PDRBtidak tidak hanya dimanfaatkanolehpajakdaerah
juganasional. Definisi efektivitas ialahimbanganantarapendapatan (pajak
atauretribusi) yangsebenarnyaterhadappendapatanyangpotensial dari
suatu pajak yaitu dengan anggapan bahwa mereka yang seharusnya
membayar, denganjumlah yang seharusnya dibayarkan, benar-benar
memenuhi kewajibannya. Pengukuran potensi pajak sangat
dipengaruhi oleh semua tahap kegiatan (fungsi) administrasi
pendapatan pajak/retribusi seperti tahap-tahap pendapatan,
penetapan penyetoran dan pembukuan.
Mengukur Kinerja PajakdanRetribusi11 143
Sedang Slamet Sularso (Diktat Adpenda) m e n u ~ u k k a n admin-
istrative efficiency ratio (AER) akan menggambarkan kemampuan
untuk mencapai tujuan dalam bentuk menggali dan mereallslr.
pemungutan sumber pendapatan daerah berdasarkan potensi yang
ada melalui tiga pendekatan: (1) sisi penerimaan pungutan; (2) sisi
subjek pungutan ; (3) sisi objek pungutan.
Dari sisi penerimaan pungutan, AER menggambarkanpersentase
kemampuanmemungut (taxing capacity) terhadappotensi (taxable ca-
pacity). AngkaAER"dari segipenerimaanpungutan ini, diperoleh melalui
perbandingan antarajumlOOrealisasi penerimaandenganpotensiyang ada,
biladirumuskansebagai berikut:
AER = Realisasi penerimaan x 100%
Potensi yang ada
Semakinbesar angka AERyangdiperoleh, makasernakintinggi tingkat
efisiensinya. AngkaAERinimenunjukkankemampuanmemungutdan
mengukur apakahtujuan aktivitaspemungutan dapat dicapai. Dengan
demikian,semakin besar AERmenunjukkan semakin efisien aktivitas
pemungutannya. Artinya, semakinbesar kernampuan memungutnya dan
tujuanaktivitas pemungutan semakin mendekati untukdapatdicapai. .
Dari sisi subjekpungutan, AERmenggambarkan persentasejumlah
subjekpungutanyang dapat dijaringolehunit/instansiyang menangani
pemungutan, baikuntuksubjekyangsudah terdaftar dalamarti intensifikasi
(deepening) maupun subjekyangbelurn terdaftar dalamarti ekstensifikasi
(widening). Biladigambarkan dalamrumusadalahsebaga] berikut:
AER sub1= jumlah subyek terdaftar x l 00%
jumlah potensi subyek
AER subE = jumlah subyekbelumterdaftar xl 00%
jumlah potensi subyek
Semakinbesar angka AERyang diperoleh, makasemakintinggi tingkat
efisiensinya. AngkaAERinimenunjukkan kernampuan menjaring subjek
144
pungutan dan mengukur apakah tujuan penjaringan subjek pungutan
telah dapat dicapai jumlahnya. Dengan demikian,semakin besar AER
menunjukkan semakin efisien aktivitas penjaringan subjekpungutannya.
Artinya, semakin besar kemampuan menjaringnya dan tujuan aktivitas
penjaringan subjek pungutan semakin mendekati dapat dicapai.
Dari sisi objek pungutan, AER menggambarkan persentase objek
pungutan yang telah terdaftar terhadap objek pungutan yang belum
terdaftar. Angka AERdari segi objek pungutan ini, diperoleh melalui
perbandingan antara jumlah objek pungutan yang telah terdaftar
denganjumlah objek pungutan yang belumterdaftar, bila dirumuskan
sebagai berikut:
AERobjek= jumlalDbjekterdaftar xlOO%
jumlalDbjekbelumterdaftar
Semakinbesar angkaAERyangdiperoleh, makasemakintinggitingkat
efisiensinya. Angka AER ini menunjukkan kemarnpuan menjaring objek
pungutan dan mengukur apakah tujuan penjaringanobjek pungutan telah
dapat dicapai jumlahnya. Dengan demikian,semakin besar AER
menunjukkan semakin efisien aktivitas penjaringan objek pungutannya.
Artinya, semakin besar kemampuan menjaringnya dan tujuan aktivitas
penjaringan objek pungutan semakin mendekati dapat dicapai.
PEMUNGUTAN POTENSI PENERIMAAN
Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa pengukuran potensi
penerimaan daerah didasarkan pada: (1) fungsi sumber pendapatan;
(2) indikator sosial, dengan uraian penjelasan tersebut di atas. Sebagai
gambaran untuk menghitung potensi pajak daerah berdasarkan
pengalaman (praktek), berikut ini disajikan contoh perhitungan potensi
untuk: (1) pajak hotel dan pajak restoran; (2) pajak hiburan; (3) pajak
reklame; (4) pajak kendaraan bermotor; (5) bea balik nama kendaraan
bermotor; (6)retribusi kebersihan; (7) retribusi parkir.
Mengukur KineTja PajakdanRetribusi IJ 145
. Potensi Pajak Hotel
Untuk menghitung potensi pajak hotel, maka kita perlu
mengetahui komponen yang membentuk potensi hotel. Komponen
yang membentuk potensi hotel dan sejenisnya meliputi jenis/klas
hotel, jumlah kamar, jumlah hari, waktu pergantian, tarip kamar,
penjualan makanan dan minuman, dan penyediaan fasilitas lainnya.
Pengertian potensi hotel adalah kemampuan (kekuatan) untuk
menghasilkan pajak hotel atau kemampuan yang layak (pantas) dikenai
pajak (taxable capacity) dalam keadaan normal (100%). Potensi
hotel tidak sama dengan peredaran hotel, hal ini perlu diperhatikan.
Peredaran usaha hotel biasanya menjadi dasar pengenaan pajak (tax
base). Bertolak dari pengertian tersebut di atas maka potensi hotel
dan.sejenisnya dapat diformulasikan dalam rumus berikut ini :
PotensiHotel = penjualankamar + penjualan makanan dan
minuman +ongkos pelayanan (servicecharge)
atau:
Penjualankamar = Rx D x T x Pr
Penjualanmakanan= %x (Rx D x T x Pr)
Ongkospelayanan = 10%x[RxDxTxPr + %(RxDxTxPr)]
Keterangan :
R = Jumlahkamar
D = Jumlahhari
T = Masapergantian(turn over)
Pr = Hargakamar
Penjualan makanan dan minuman termasuk other income biasanya
ditentukan sekian persen dari penjualan kamar (5% - 100%). Sedang
service charge adalah 10% dari penjualan kamar ditambah penjualan
makanandanminuman.
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa potensi hotel tidak sama
.dengan ornzet hotel, komponen yang membedakan dalam menghitung
[penjualan kamar x occupancy rate] +
makanan dan minuman +
146 ~ PajakdonRetribusi Daerah
ornzet hotel terletak pada adanya occupancy rate. Untuk menghitung
peredaran (ornzet) hotel yang dijadikan dasar pengenaan pajak,
biasanya dihitung sebagai berikut:
Ornzet Hotel =
penjualan
Ongkos pelayanan
atau:
Ornzet Hotel = (R x Or x D x T x Pr ) + (% x (R x D x T x
Pr)
+ 10% [R x D x T x Pr + % (R x D x T x Pr)]
Keterangan:
Or = Occupancy rate
Pajak Restoran
Untukmenghitung potensi pajakrestoran, maka kitaperlumengetahui
komponen yangmembentukpotensi restoran.Komponenyangmenentukan
potensi rumah makan dan sejenisnyaadalahjenis rumahmakan, jumlah
sarana (tempatduduk), jambuka, waktu pergantian, harga rata-ratadan
fasilitas lainyangdapat menambahpembayaran. Pengertianpotensi restoran
adalahkemampuan(kekuatan) untuk menghasilkanpajak restoran atau
kemampuanyanglayak(pantas)dikenai pajak (taxable capacity) dalam
keadaan normal (100%). Potensi restoran tidaksamadenganperedaran
restoran, hal ini perlu diperhatikan. Peredaran usaha restoran biasanya
menjadi dasar pengenaan pajak (tax base). Bertolak dari pengertian
tersebut di atasmaka potensi restorandan sejenisnya dapatdiformulasikan
dalamrumus berikutini :
Potensi restoran = Jumlahtempatdudukxhari xjambukaxturn over
x harga rata - rata
atau:
PotensiRestoran = S xD x0 xT xPr
Keterangan :
S = jumlahtempat duduk
Mengukur Kinerja PajakdonRetribusi IJ 147
L = jumlah hari
o = jam buka
T = masa pergantian
Pr = harga rata-rata
Catatan:
Dalammenentukanharga rata-rata bergantungjenis rumah makan yang
bersangkutan.
Seperti halnyapotensi hotel tidak sama denganornzethotel, ornzet
restoranpun juga berbeda dengan potensi restoran. Komponen yang
membedakan dalammenghitung ornzetrestoranterletakdiperhitungkan
masaramaidan masasepipembeli. Untukmenghitung peredaran (ornzet)
restoranyangdijadikan dasarpengenaanpajak, biasanya dihitung sebagai
berikut:
Ornzet restoran = (Jumlah kursi xmasaramaixturn over xjumlah
hari x harga rata-rata) + (jumlahkursi x masa sepi
x turn over xjumlah hari xharga rata-rata)
atau:
OrnzetRestoran = (SxPh xTo x DxPr) + (SxQh xTo x Pr)
Keterangan :
Jamramai (peak hours) dianggap semuakursitersedia biasanya 100%
terisi 1- 2jamjumlahbuka.
Jam sepi (quit/dull hour) adalah sisajam usaha, biasanya tempat
dudukyangterisi berkisarantara5 - 20 persen.
Data Pendukung untuk menghitung Potensi Pajak Hotel dan
Pajak Restoran
• Inforrnasi tambahan untukmemberigambarankorrlisi potensipajakhotel
di suatu daerah dapat diperoleh dari data statistik dari BPS atau
DinasPariwisata. Kondisi hotel misal di Jakarta, perbandinganantara
148 mPajak clan Retribusi Daerah
room sales danfood baverage danother income pacta hotel dapat di
rincisebagai berikut:
Hotel bintang V = 1 : 1
Hotel bintang IV = 1: 1
Hotel bintang ID = 1 : 0,75
Hotel bintangIT = 1 : 0,35
Hotel bintang I = 1 : 0,20
Hotel non bintang . = 1 : 0,10
Cottage/motel dsb = 1:0,35
• Selanjutnya untuk waktu pergantian sesuai jenisnya adalah sebagai
berikut:
Hoteldansejenisnya = 1x 1hari/malam
Motel = 4x 1hari/malam
MakananJepang/Korea = ±ljan
Seafood = 1-1,5jam
MakananIndonesia(umum) = ±ljam
Makanan Indonesia (Padang) = ± 40 menit
MakananChina = ±ljam
Makananfastfood = ±30mnit
• Harga rata-rata per tempat duduk untuk rumah makan dapat dirinci
sebagai berikut:
MakananJepangIKorea = ± Rp35.<ro/k
Makanan Jepang (fast) = ± Rp 3.500 /k
MakananLaut(seafood) = ±Rp20.<ro/k
Makanan Indonesia (umum) = ± Rp 3.000 /k
Makanan Indonesia (padang) = ± Rp 2.750 /k
Makanan Eropa = ± Rp 22.500 /k
Makanan China = ± Rp 4.500 /k
Makanan Indonesia (tegal) = ± Rp 1.000 /k
Fast food = ± Rp 2.000 /k
MakananIndonesia (sunda) = ± Rp5.<ro/k
Mengukur Kinerja Pajak dan Retribusi l l 149
.Pajak Hiburan
Objek pajak hiburan adalah pembayaran yang dilakukan untuk
menonton atau mendengar atau menikmati atau mempergunakan
hiburan atau alat-alat hiburan yang disediakan pada tempat
terselenggaranya hiburan. Hiburandibedakanmenjadi 2 (dua) yaituhiburan
rutindanhiburaninsidentil.
Hiburanrutinmeliputi bioskop, steambath, panti pijat tradisional..
nite club, diskotik, pusat kesegaranjasmani, bilyarddantempat hiburan
lainnya, seperti tempat-tempat rekreasi, kolamrenang, gelanggang, padang
golf, panggung sandiwara dansejenisnya.
Hiburaninsidentil adalahhiburanyangdiselenggarakan secaratidak
tetapseperti pagelaranseni, pertandinganolahraga,pagelaran, pertunjukan,
danlainsebagainyayangmenonton, menikmati, mempergunakandipungut
bayaran.
Komponenpotensihiburanrutinmeliputijumlahtempat duduk, jam
main, hari, harga tanda masuk.Sedangkan komponen potensi hiburan
insidentil meliputijumlahpenyelenggarahiburan, jumlahtempat duduk, hari
dan tandamasuk.
Untukmenghitungpotensi hiburanrutin(bioskop) dirumuskansebagai
berikut:
PHr (bioskop) = [jumlahkursi xjammainx hari besar xhargatanda
rnasuk] + [jumlahkursixjammainxhari biasax
hargatandamasuk]
atau:
PHr = (KxJmxHbxHr) + (KxJmxHsxHr)
Penjelasan:
PHr = Potensi Hiburanrutin(bioskop)
K = jumlahkursi(tempat duduk)
Jm =jammain
150 ~ Pajakclan Retribusi Daerah
Hb = hari besar
Hr = harga tanda masuk
Hs = haribiasa
Sedangkanuntuk menghitung potensi hiburan rutin non bioskop
menggunakan rumus sebagai berikut :
PHr nonbioskop = jumlahkursitersedia xjumlahhari x waktu
pergantian xhargatandamasuk,
atau:
PHir = SxDxToxPr
Khusus niteclubpotensianditambahhostes feeyangbiasanya dihitung
tiapjam, yangdapatditulis sebagai berikut:
PHil = SxDxToxOxPrxPxPfxO
Penjelasan:
PHil = potensi lnburanlain
S = jumlahtempat duduk
D = Jumlahhari
To = waktupergantian
Pr = hargatandamasuk
P =pramuria
Pf = hostes fee
o = jamkerja/buka
PHiN = potensi niteclub
Potensi hiburaninsidential adalah: Jumlahpenyelenggaraanxjumlah
tempatdudukxhargatandamasuk, atau:
PHil = PnxSxPr
Penjelasan:
PHil = potensi hiburaninsidential
Pn = Jumlah penyelenggara
S = jumlah tempat duduk
Pr = harga tanda masuk
Mengukur Kinerja Pajakclan Retribusi11 151
Potensi hiburananak-anakdan sejenisnyaadalah: jumlah sarana/
mainan x jumlah hari x masa pergantian x tarip masa pergantian
atau:
PRiM = ExDxToxPr
Penjelasan:
PRiM = potensi hiburan anak-anak
E = jumlahsaranapermainan
To = masa pergantian
Pr =tarip
Pajak Reklame
Dimaksud denganreklameadalah: benda alat atauperbuatanyang
menurut bentuk susunan dan corak ragamnya dipergunakan untuk
memperkenalkan, menganjurkan ataumemujikan suatu barang,jasaatau
.seseorang ataupun menarikperhatianumumyangditempatkan atauyang
dapatdilihat, dibaca danataudidengar dari suatutempat olehumum.
Objekpajakreklameadalahpenyelenggara reklameyangjenisnya
meliputi reklame papan, reklame kain, reklame bersinar, reklame
berjalan, reklame kendaraan, reklame slide/film, reklame selebaran, reklame
kedengaran, reklame peragaandan stiker/tin flate.
Komponenyang menentukanpotensi reklame adalah: jumlahreklame,
luas/ukuran, jumlahharipemasanganatautarip.
Potensi reklame nonselebaran atausejenisnyaadalahjumlahreklame
xukuran/luas xjumlahharixtarip atau:
PPrk = potensi reklame
R = jumlahreklame
S = ukuran/luas reklame
D = jumlah hari
Pr = tarip reklame
152 11 PajakdanRetribusi Daerah
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)
Pajak kendaraanbermotor dikenakanatas pemilikan/penguasaan
atas kendaraan bermotor.
Untuk kepentingan pengenaan pajak berdasarkan keputusan
menteri dalam negeri, penjenisan kendaraan ditetapkan sebagai
berikut: (a)sedan, sedanstationdansejenisnya, (b) sedan, sedanstation
dansejenisnyauntukumum(taksi), (c)jeepdansejenisnya, (d) Bus, mini
bus, lightbus, mikrobus, outoplet/opelet, suburbandansejenisnya, (e)
truk, lighttruk, pickup, dansejenisnya, (f) kendaraan bermotorberoda
tiga, (g)kendaraan bermotor rodadua.
Komponenyang menentukanpotensi pajak kendaraanbermotor
adalahjumlahkendaraan bermotor, tarippajakyangberlaku. Tarippajak
kendaraandirincimenurutjeniskendaraan, kelompoktahun dankelompok
isi cylinder (cc). Tarippajak pengelompokan isi (cylinder) ini sebagai
dasarpungutantambahan.
Potensi pajakkendaraan bermotor adalahjumlahkendaraan (menurut
jenis) dikalikantarip (menurut kelompokdanisicylinder) atau dirumuskan
sebagai berikut :
PKBm = [Kbma xTt xKBmb xTt] + [KBmc xTt] +
[KBmd xTt] +Kbme + [KBmfxTt] + [KBmg xTt]
Keterangan:
Kode a.b.c.d.e.f, dangadalah kode penjenisan kendaraan bermotor
PKbm = potensi pajakkendaraan bermotor
KBma s/d KBmg = Jumlah KBMmenurutjenisnya
Tt = tarip PKBmenurut rh/cc
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBM - KBm)
Beabaliknama kendaraan bermotor dikenakan atas penyerahanKBm
dalamhakmilik. Untukpengenaan BBNkendaraan bermotor didasarkan
nilaijual, merkkendaraan dantahunpembuatan
Mengukur Kinerja PajakdanRetribusiIJ 153
Penjelasan kendaraan bermotor untuk pengenaan BBN, tetap
dipertahankan menurut merk, namun penjelasan di atas dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun tabel nilai
jual KBm.
TaripBBN- KBm- 10%untukpenyerahan pertamadan5%untuk
penyerahan keduadanseterusnya tabel nilaijual disusunmenurutmerk
kendaraan dantahunpembuatan.
Komponen yang menentukanpotensi bea balik nama kendaraan
bermotor adalahjumlahkendaraan yangdiserahkan(jumlahtransaksil
penyerahan), tarip dantabel nilaijual.
Potensi BBN- KBmadalahjumlahpenyerahan (menurut merkdan
jenis kendaraan) dikalikandengantarip yangbersangkutan, dikalikandengan
tabel yang berlakuuntuk masing-masingjenis/merk atau,
PBBN = KBmxTxTtxPr
Penjelasan:
PBBN = potensi BBN - KBm
KBM = jumlahkendaraan
T = Jumlahpenyerahan
Tt = tarip BBN
Pr = tabel (nilaijual)
Retribusi Kebersihan
Dimaksuddenganretribusi kebersihanadalahpungutanolehpemerintah
daerahsebagai penggantianbiayaataspelayananyangsecaralangsung
yangdiberikan kepada masyarakat yangmemerlukan.
Bila diamati lebihmendalamjasapelayananyang diberikanpemerintah
daerah untukkebersihan, memiliki perananganda, dalamarti bermanfaat
bagi kotaitusendirimaupunbagi masyarakatkota, oleh karenaitubila
ditarikgarisyangtegas, makapelayanan kebersihan tersebut termasuk
dalamkelompok pelayanan perkotaan.
Sebagai suatu hasil yang dipungut atas pelayanan perkotaan,
dalammenghitung/mengukur potensinya dapat didekati melalui dua
154 • PajakdanRetribusi Daerah
cara: (1) mendasarkan padajumlah warga atau kepala keluarga; (2)
mendasarkan pada jumlah (Volume) sampah yang diproduksi oleh
setiap warga dengan satuan M3 atau tonage.
Penghitungan ataupengukuranpotensi tersebut sangattergantung
kepada peraturandaerah yangmengaturnya, apakah melalui volume/berar
sampahyangdiproduksi ataumelalui jumlahwargalkepala keluarga.
Berdasarkanuraiandiatas makapenghitunganlpengukuranpotensinya
adalah sebagai berikut:
(1) Melalui volume/bobot sampah yang diproduksi masyarakat,
potensinya adalah jumlah sampah dikalikan tarip yang berlaku
berdasarkanperaturandaerah, atau:
(2) PRy = SPh x Pr
Penjelasan: '
PRy = potensi retribusi kebersihan dihitung berdasarkan
kubikasilvolume sampah.
SPh = jumlah sampah yang diproduksi masyarakat
Pr = tarip yang ditetapkan dalamperaturan daerah.
PRw= potensi retribusi dihitung berdasarkanjumlahwarga/kepala
keluarga
W/KK= jumlah wargalkepala keluarga
Berdasarkan hasil pengamatandi DKIJakarta produksi sampahrata-
rata2,6liter per hari perorang(vide keterangan kepala Dinas Kebersihan
kepada Buana Minggu tanggallOSeptember 1989). Volume sampah2,6
liter tersebut tidaktermasukair kotor(tinja) yang menurut perkiraan ±1L/
orang/hari
Retribusi Parkir
Retribusi parkerdipungut pada kendaraan yang menggunakan parkir
yangdisediakan, yangumumnya amat dibutuhkandi dalamlingkungan
perkotaan.
Dalam lingkungan perkotaan biasanya pengenaan parkir
waktunya dibatasi, misalnya 2 jam pertama dengan tarip dasar dan
Mengukur Kinerja PajakdanRetribusi11 155
jam- jam berikutnya dihitung dengan tarip tambahan sesuai dengan
peraturan daerah yang bersangkutan.
Pada daerah perkotaan penyediaan ladang parkir tidak menjadi
monopoli pemerintahdaerah, tetapi swasta pun dimungkinkanuntuk
menyediakanjasa pelayanan inikarena frekuensi penggatian cepatsekali
yangakhirnya merupakan bentukusahayangmembawa hasil yangbaik.
Dalammenghitung/mengukur potensinyadapat ditempuhmelaluijumlah
markaparkir yangtersedia, ataujumlah kendaraanyangada di daerah
tersebut disamping memperhatikanpersentase kendaraan yangdatang di
luar kotayang bersangkutan.
Berdasarkan uraiandiataspotensi retribusi dapat dihitungsebagai
berikut:
(1) Melalui jumlah marka parkir yang tersedia, dikalikan dengan
masapergantian, dandikalikan dengan taripyangberlakuatau:
PRm = MxToxPr
(2) Melalui jumlah kendaraan yarig ada diperkotaan, potensi dapat
dihitung dari jumlah kendaraan, dikalikan perkiraan rata-rata
parkir dan dikalikan dengan tarip yang berlaku, atau:
PPkb = KBmx To x Pr
Penjelasan:
Prm = potensi retribusi parkirdihitung berdasarkanjumlahmarka
parkir
M = Jumlahmarkaparkir yang disediakan
To = masa pergantian rata-rata
Pr = taripmenurut PERDA
PPkb = potensi parkir dihitung berdasarkan jumlah kendaraan
bermotor.
Pengukuran Efisiensi Pajak dan Retribusi
Kinerja ini didasarkan atasproporsi dari pendapatan sesuatu pajak
maupunretribusi daerah, yangterpakai (dibelanjakan) dalamberbagai tahap,
sampai pengumpulan (penagihan).
156 ~ Pajak clan Retribusi Daerah
Konsep biaya pengumpulan (collection cost) dapat meliputi arti
langsung maupun tak langsung. Pengukuran unsur biaya
pengumpulan, dengan demikian juga tidak sederhana. Sekalipun
demikian kinerja ini sangat berpengaruh untuk pemanfaatan sumber
daya ekonomi seeara menyeluruh (nasional). Bahkan erat kaitarinya
dengan kriteria (pedoman)evaluasi pajak yang telah lama dikenal,
yaitu ekonomi sebagai satu diantara tax canons-nya A Smith.
1. Unsur biaya tak langsung dalam hal ini dapat meliputi :
Biaya pembuatan keputusan (rumusan raneangan sampai
menjadi Perda);
Biaya yang dikeluarkan oleh dan untuk organisasi lain dalam
membantu pengumpulan pajak (mungkin lebih dari yang
tereantum sebagai upah pungut)
Biaya peringatan, penuntutan, sampai menegakkan ketentuan
pajak (law enforcement).
2. Seyogyanya perlu dieatat bahwa peningkatan efisiensi (melalui)
penekanan biaya pengumpulan dapat dipermudah, antara lain:
- Penetapanotomatis (persentaseatas nota .....), asalkandisertai
dengan pembukuan yang cermat.
Pengumpulan pungutan dapat dikaitkan dengan tagihan yang
lain (biaya pemakaian listrik).
3. Biayamakintinggi(efisiensi minimum) apabila:
- Tagihan relatif sangat keeil dari pada kemungkinan biaya
pungutnya;
Pungutan hams ditagih dari rumah ke rumah.
~ I!!I ~
DESAIN TAXPOllCYDAERAH
I
mPlikasi dari suatu tax policy umumnya seeara makro akan
mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan pertumbuhan
penerimaan pajak daerah serta bermanfaat bagi masyarakat
(khususnya bagi Wajib Pajak). Tax policy adalah alat perpajakan
pemerintah daerah yang berfungsi sebagai peraturan pelaksana
maupun pedoman bagi pelaksanaan di lapangan, sehingga dapat
membantu Wajib Pajak dengan pasti melaksanakan kewajiban
perpajakannya. Sebagai salah satu dasar pembuatan kebijakan pajak
(taxpolicy) daerah berpedoman pada UU No. 18Tahun 2000 tentang
Pajak dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan
UU No.34 Tahun 2001 jueto pp No. 65 Tahun 2001 dan pp No. 66
Tahun 2001. Pedoman penyusunan peraturan perundang-undangan
di lingkungan Pemerintah Daerah ini diharapkan dapat menjustifikasi
atas segala kebijakan perpajakan daerah yang akan dibuat, dengan
tetap tidak mengabaikan variabel-variabel yang berlaku dalam
pembuatan suatu tax policy yang baik. Tax policy yang baik
(Devereux, 1996) haruslah memenuhi 2 (dua) unsur yaitu: pertama,
setiap pembuatan tax policy haruslah merupakan alat untuk
mengalokasikan sumber-sumber dana yang ada di kelompok atau
institusi tertentu guna mendukung program pemerintah; dan kedua,
158 ~ Pajak dunRetribusi Daerah
mendorong pertumbuhan ekonomi, artinya kebijakan ini didisain
khusus agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat
sesuai dengan sasaran pemerintah daerah. Bab ini akan membahas
dan menjelaskan desain tax policy daerah sesuai kriteria tersebut.
PRINSIP KEBUAKAN PAJAK YANG BAlK
Prinsip good tax policy adalah merupakan suatu sistem pajak
(berupa kebijakan perpajakan) terhadap kegiatan ekonomi makro
dan mikro yang harus bersifat netral, tanpa adanya suatu distorsi
agar terdapat pengalokasian sumber daya yang optimal sesuai dengan
keadaan atau dinamika pasar. Hal ini juga harus mendorong atau
mengendalikan kehidupan ekonomi khususnya dapat mendorong
investasi dari luar (investor luar negeri) sehingga dapat meningkatkan
penerimaan negara yang diperoleh dari penerimaan pajak. Biasanya
prinsip ini selalu diikuti dengan principles of good tax administra-
tion yang meliputi, antara lain: sedikit penggunaan atau beban
formulir perpajakan (paperwork), jelasnya aturan dalam menetapkan
pajak yang terhutang, mudah dalam penghitungan hutang pajak,
mudah untuk kepentingan pemeriksaan (taxaudit), bersifat objektif
dalam pemeriksaanrestitusi, dan sistem yang digunakan atau
dioperasikan melalui sistem komputer (misalnya menggunakan SIP-
Sistem Informasi Perpajakan) tetap menggunakan sumber-sumber
administrasi yang tersedia.
Hubunganantara Tax policy dengan Tax administration merupakan
hubungan inextricably related (Angelo G. A. Faria dan M. Zohto
Yocelik, 1995).Artinya hubungan ketergantungan kuat satu sama
lainnya. Dengan kata lain, keberhasilan dari pembuatan suatu tax
policy haruslah diikuti dengan perhatian dalam pelaksanaan
administrasinya, dan ukuran dalam meningkatkan administrasi pajak
(yang lebih efisien) haruslah dapat menolong pembuatan pelaksanaan
taxpolicy yang didisain secara lebih efektif. Secara sederhana dapatlah
dikatakan, taxpolicyyang terlalu idealis dapat membuat administrasi
pajak menjadi tambah rumit (complicated), sedangkan dilain pihak
adanya administrasi pajak yang tidak efektif dapat melemahkan atau
DesainTax PolicyDaerahll 159
-merusak pelaksanaantaxpolicy di lapangan. Selanjutnya, kegagalan
dalammengkoordinasikankeduaaktifitas tersebut berpengaruh buruk
terhadap kelancaran dan kelangsungan atas proses reformasi
perpajakan daerah yang telah dijalankan selama ini.
TAX POLICY ALAT KEBUAKAN MONETER DAN FISKAL
Dalam membuat suatu sistem perpajakan efisien bagi daerah
umumnya berkaitan dengan ekonomi daerah dan nasional, haruslah
secara esensial meningkatkanpenerimaan daerah tanpa meningkatkan
pinjaman luar negeri pemerintah pusat. Idealnya dengan car a
mendorong aktivitas perekonomian daerah tanpa terlalu banyak
menimbulkan deviasi terhadap sistem perpajakan ini. Untuk
menciptakan sistem perpajakan yang efisien ada 4 hal yang menjadi
permasalahan utama (Vito Tanzi dan Howell Zee,2001), yaitu:
1. Kebanyakan pekerja di negara berkembang adalah buruh
pertanian atau petani miskin, dalam perusahaan informal. Upah
mereka jarang di bayar secara regular (berupa upah tetap),
penghasilan mereka berfluktuasi, dan dibayar secara kas (cash)
diluar pembukuan (off the books), sehingga sulit untuk
dikalkulasi sebagai dasar perhitungan Pajak Penghasilan (M).
Jarang atau sulit ditemui pekerja/petani tipikal ini menghabiskan
penghasilannya dalam mengkonsumsikan barang kebutuhannya
dalam jumlah besar, yang merupakan hasil transaksi pembelian
dan penjualan yang diartikan dapat meningkatkan penerimaan,
seperti Pajak penjualan atau VAT atau Pajak Penghasilan,
sehingga sulit bagi pemerintah untuk menaikkan tarif pajak pada
level yang relatif lebih tinggi;
2. Sulitnya menciptakan administrasi pajak yang efisien tanpa
mempunyai aparatur pajak (SDM) yang memadai dan terlatih
dengan baik (skilled), karena keterbatasan pemerintah dalam
menggaji dengan layak untuk setiap aparatur pajak dan
mengkomputerisasi administrasi pajak yang ada. Di sisi lain
Wajib Pajak juga mempunyai keterbatasan dalam membuat
pembukuan atas kegiatan usaha mereka. Akhirnya pemerintah
160 I Pajakdon Retribusi Daerah
sering mengambil · langkah yang paling resistan dalam
mengembangkan administrasi pajak, yaitu dengan mengijinkan
mereka untuk mengeksploitasi pilihan-pilihan yang tersedia dari
pada melaksanakan hal-hal yang rasional, yang secara modern
merupakan suatu sistem pajak yang efisien;
3. Karena struktur ekonomi informal Negara-negara berkembang
mempunyai keterbatasan dalam: pendanaan, data statistik dan
kesulitan kantor-kantor pajak dalam memanfaatkan data statistik
yang tersedia. Akibat dari keterbatasan data ini akan melindungi
para pembuat kebijakan dalam menetapkan pengaruh potensial
atas perubahan terbesar dalam sistem perpajakan. Akhimya
perubahan-perubahan marginal seringkali lebih didahulukan
diatas perubahan-perubahan besar yang lebih terstruktur, bahkan
nantinya akan menjadi suatu preseden yang melanggengkan
struktur pajak yang tidak efisien;
4. Distribusi pendapatan yang tidak merata (disparitas income
distribution) merupakan suatu ciri khas yang sering terjadi di
negara-negara berkembang. Meskipun kenaikan penerimaan
pajak berasal dari situasi pemajakan atas orang-orang yang lebih
kaya, namun kekuatan ekonomis dan politis Wajib Pajak yang
kaya tersebut sering memperoleh perlindungan dari reformasi
perpajakan, yang sebenamya dapat meningkatkan beban pajak
mereka. Penjelasan ini merupakan bagian dari mengapa banyak
negara-negara berkembang tidak dapat secara penuh (optimal)
memberlakukan Pajak Penghasilan (personal income tax) dan
PBB (property taxes) dan mengapa sistem perpajakan mereka
jarang mencapai tingkat kepuasan yang progresif, atau dengan
kata lain orang kaya membayar pajak haruslah lebih proporsional.
Empat permasalahan tersebut tidakjauh berbeda dengan keadaan
kondisi daerah-daerah di Indonesia. Hal yang tidak mengejutkan
sering terjadi di beberapa daerah berkembang bahwa kebijakan
perpajakan (taxpolicy) sering dianggap sebagai aturan seni (hanya
diatas kertas) dari pada mengejar target penerimaan yang optimal
yang seharusnya dicapai, yang secara teoritis relatif mempunyai
Desain TaxPolicyDaerahlJ 161
' pengaruh yang sangat kecil terhadap pembuatan sistem perpajakan
negara tersebut. Pendapat ini searah dengan Roy Bahl dan Jorge
Martinez-Vazquez (1992-ha1.66-81) tentang penghargaan yang
kurang terhadap aparatur pajak dari pemerintah dan diikuti pula
dengan sistem perpajakan di negara-negara berkembang yang
cenderung terlalu complicated (inefisien). Dengan mengambil contoh
tax reform di Jamaica dan Guatemala, solusinya bagi pemerintah
tersebut adalah menerima bantuan LN (dari donor bilateral atau
Iembaga-lembaga internasional berupa technical assistances dalam
mereformasi sistemadministrasi pajaknya. Namun administrasi pajak
di negara-negara berkembang sulit (lambat) dalampenyempurnaannya
disebabkan oleh 3 (tiga) alasan yaitu: (1) kompleksitas struktur pajak
yang modem membutuhkan tingkat efisien administrasi yang tinggi;
(2) taxpolicyyang digunakan hanya sebagai instrumen dari kebijakan
ekonomi (khususnya ekonomi makro), sehingga terkadang
mengabaikan sanksi dalam adminstrasi pajak, yang diartikan terlalu
seringnya kebijakan yang dibuat dengan asumsi tidak ada pemaksaan
atau diikuti dengan administrasi yang baik; dan (3) kebanyakan
pemerintahan negara-negara berkembang lemah dalam tingkat
kepatuhan hukum, sehingga dimanfaatkan oleh sejumlah tax
evasioners maupun membuka peluang terjadinya penghindaran pajak,
sehingga hal ini sering membingungkan dalam penerapan kebijakan
pajak (taxpolicy) dengan administrasi yang rendah efisiennya.
SISTEM PERPAJAKAN YANG EFISIEN
Dalam pembuatan suatu taxpolicy selalu mempunyai pengaruh
langsung terhadap sistem perpajakan yang ada. Teori klasik tentang
sistem perpajakan yang baik dimulai sejak Adam Smith (1776: bk.5
eh. 2) yang secara umum meliputi: (1) equality (azas keadilan); (2)
certainty (azas kepastian dan kejelasan); (3) convenience of pay-
ment (azas kenyamanan bagi WP dalam membayar pajak) dan (4)
economy on collection (azas biaya minimal dan tidak mengganggu
kegiatan usaha). Azas keadilan dalam sistem perpajakan telah banyak
162 11 Pajakclan Retribusi Daerah
didiskusikan secara luas, dan hal ini masih merupakan bagian
terpenting dalam mengevaluasi setiap pengajuan dalam pembuatan
tax policy. Walaupun ide keadilan (tax payments in proportion to
income) dari Smith ini tidak merupakan sesuatu yang mutlak harus
didukung. Richard'A, Musgrave (1959: chps. 4, 5 dan 6) memberikan
pandangan yang adil tentang distribusi beban pajak, beban
administasi dan pengaruh insentif pajak terhadap penerimaan pajak.
Diantara keempat azas diatas, ia juga menekankan pada 3 (tiga)
azas lainnya, yaitu: (1) azas netralitas (neutrality); (2) azas perbaikan
(reformation); dan (3) azas kestabilan dan pertumbuhan (growth
and stability). Sedangkan Joseph E. Stiglitz (1988: hal.390-396)
menekankan pada efisiensi yang lebih luas dengan mengatakan bahwa
dalam sistem perpajakan haruslah mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut: (1) Efisiensi ekonomi (economic efficiency), sedapat
mungkin tidak mempengaruhi alokasi sumber daya ekonomi yang
efisien; (2) Kesederhanaan dalam pengadministrasian (administra-
tive simplicity), sistem perpajakan harus mudah, sederhana, dan
relatif murah dalam pengadministrasiannya; (3) Fleksibilitas
(jlexibillity); sistem perpajakan haruslah sedemikian fleksibel untuk
menyesuaikan dengan kondisi ekonomi suatu negara; (4) Diterima
secara politis (political responsibility), sistem perpajakan harus
dirancang sedemikian rupa sehingga terdapat kepastian tentang
seberapa besar masing-masing jenis pajak yang harus ditanggung
oleh seseorang (wajib pajak) yang merefleksikan keinginan masing-
masing individu dalam masyarakat; dan (5) Kejujuran (fairness),
sistem perpajakan harus mencerminkan keadilan terhadap masing-
masing individu dalam masyarakat.
Adanya pengembangan dari azas keadilan sehingga mempunyai
arti yang lebih luas, mempunyai pengaruh langsung terhadap pro-
posal tax policy yang seringkali dianalisa oleh para ekonom dalam
3 (tiga) kriteria:
(1) kebutuhan atas pajak haruslah bersifat fair (adil meskipun
keadilan sering diartikan sebagai suatu yang berbeda bagi or-
ang-orang yang berbeda);
Desain Tax Policy Daerah11 163
-(2) kebutuhan untuk beban administrasi yang minimal; dan
(3) kebutuhan untuk meminimalkan pengaruh pengecualian pajak
(tax incentive).
Michael P Devereux (1996) menambahkan diantara kriteria yang
telah dikatakan oleh Smith dan Musgrave, ia melihat proposal tax
policy haruslah memperhatikan 2 (dua) unsur yaitu: pertama, setiap
pembuatan taxpolicy haruslah dapat digunakan untuk mengalokasikan
sumber-sumber dana yang ada pada kelompok atau institusi tertentu -
yang mendukung atau berkaitan dengan program pemerintah; dan
kedua, mendorong pertumbuhan ekonomi, yang diartikan pembuatan
kebijakan ini haruslah didisain khusus agar dapat mendorong atau
memberikan pertumbuhan ekonomi yang cepat sesuai dengan sasaran
pemerintah.
Pentingnya mengevaluasi sistem perpajakan yang eksis dikaitkan
dengan excess burdens atau beban lebih pajak (Guritno
Mangkoesoebroto, 1993) agar dapat terciptanya efisiensi dalam
perpajakan. Harvey S. Rosen (1999) menyatakan sistem perpajakan
yang memberlakukan excess burden tidaklah dapat dikatakan bahwa
sistem perpajakan tersebut jelek. Namun, hal itu hanya dapat
digunakan apabila bermanfaat bagi masyarakat yang diartikan sebagai
peningkatan dalam keadilan atau efisiensi. Manfaat ini biasanya
diukur dengan biaya yang telah dikeluarkan, dan permintaan
kebijakan yang tepat atas excess burden termasuk didalamnya
perhitungan biaya sosialnya, sehingga secara ekstrem dapat
digunakan dalam membandingkan alternatif-alternatifyang ada dalam
sistem perpajakan. Menurut John E Due (1981) tax policy yang
dibuat berdasarkan hasil analisa ekonomi dapat membantu kepada
proses pengambilan keputusan dengan menunjukan persyaratan-
persyaratan yang harus dipenuhi oleh struktur pendapatan (sumber-
sumber dana) seandainya ingin dicapai efisiensi ekonomi yang op-
timal. Namun analisa ini tidak dapat menentukan kriteria mengenai
keadilan dalam memenuhi penerimaan pajak yang akan diperoleh,
karena sikap sebagian besar masyarakat tidak dapat ditelusuri secara
detail.
164 I1Pajak donRetribusiDaerah
Pada sisi lain, kurangnya koordinasi merupakan problem yang
sering terjadi pada saat pembuatan suatu tax policy (Victor Thuronyi-
1998, haI5-15), yang di negara-negara majujuga sering terjadi dan
disebabkan adanya 3 (tiga) komponen utama dalam merumuskan
formulasi tax policy, yaitu: pengembangan kebijakan (policy devel-
opment); analisis teknis (technical analysis); dan pengkonsepan
berdasarkan undang-undang (statutory drafting). Ketiga, komponen
ini dalam pelaksanaannya dikoordinir dalam satu atau beberapa tim
kerja, dimana anggota tim ini terdiri dari berbagai disiplin ilmu,
yaitu: untuk pengembangan kebijakan dilakukan oleh para ekonom,
sedangkan untuk analisis teknis dilakukan oleh profesional, ahli
hukum, akuntan, dsbnya yang berhubungan .dengan komisi di
legislatif (DPRD), dan untuk pengkonsepan tax policy dapat
dilakukan secara independen baik oleh pembuat undang-undang pajak
di parlemen atau melalui bagian hukum.
IMPLIKASI SUATU TAX POLICY
Pengaruh yang diperoleh daripembuatan suatu tax policy
umumnya meliputi 3 (tiga) hal yaitu: secara makro akan mendorong
pertumbuhan penerimaan pajak, bermanfaat terhadap masyarakat
(khususnya bagi Waiib Pajak), dan berpengaruh terhadap kebijakan
fiskal dan moneter bagi suatu pemerintahan. Dibawah ini dijelaskan
sebagai berikut:
1. Mendorong perlUmbuhan penerimaan pajak
Pajak mempunyai fungsi mengatur yang telah memperhitungkan
kepentingan dunia usaha, antara lain: peningkatan pelayanan,
penyederhanaan prosedur, adanya kepastian hukum, keadilan serta
adanya fasilitas tax exemption yang dapat berupa investment allow-
ances atau tax expenditure untuk mendorong investasi, dan
mempunyai tujuan untuk meningkatkan dan mengamankan
penerimaan negara.
Hal yang sering ditekankan dalam pembuatan tax policy untuk
mendorong pertumbuhan positif terhadap penerimaan pajak
Desain Tax Policy DaerahIJ 165
.mempunyai 4 (empat) alasan yang secara umum dapat digambarkan
sebagai berikut:
(1) memberikan pengertian yang terbaik atas alokasi sumber-sumber
dana yang dimiliki pemerintah baik secara eksplisit maupun
implisit;
(2) memberikan informasi yang baik dalam pembuatan suatu
kebijakan perpajakan;
(3) kepada pemerintah diberikan hak pengawasan yang lebih besar
atas sumber-sumber dana yang dimilikinya; dan
(4) dalam merespon analisis yang dibuat berdasarkan rekomendasi
kebijakan yang diusulkan kepada pemerintah, hendaknya untuk
kebijakan dalam pemberian fasilitas perpajakan tetap
membutuhkan suatu pengkajian yang mendalam dengan
melibatkan pihak-pihak terkait yang berkepentingan .
Yang terpenting dalam pembuatan tax policy walaupun tidak
terdapat perubahan kebijakan yang mendasar dalam
mengantisipasinya, mereka tetap mempunyai andil yang cukup besar
atas aktivitas pemerintah dalam perekonomian nasional maupun
meningkatkan penerimaan Negara.
2. Terhadap masyarakat (khususnya bagi wajib pajak)
Sebagai ilustrasi pengaruh dari tax policy terhadap masyarakat
dapat melihat kedua contoh di Jepang dan Indonesia, yaitu:
sebagaimana yang berlaku dalam sistem perpajakan Jepang, dengan
tidak pernah melupakan kepentingan wajib pajak di Jepang dan
selalu berfokus pada: (1) bagaimana wajib pajak dapat melaporkan
pajaknya secara independen, dan (2) apakah harus bertindak tegas
pada wajib pajak yang tidak jujur demi memikirkan kepentingan
masyarakat secara keseluruhan (Toshiyuki Fushimi, 2001). Adanya
perhatian yang intens terhadap wajib pajak atau masyarakat secara
keseluruhan, yang secara tidak langsung tetap mendorong kesadaran
wajib pajak atau masyarakat untuk meningkatkan penerimaan pajak.
Dalam hal ini terlihat tax policy yang dibuat di Jepang selalu
166 11 PajakdanRetribusiDaerah
berlandaskan kepada kepentingan wajib pajak dan merupakan suatu
tanggung jawab bersama antara pemerintah dan rakyat.
3. Terhadap kebijakan fiskal dan moneter bagisuatu pemerintahan
Bagi negara-negara berkembang dalam menghadapi kekuatan
pasar bebas hal yang terpenting adalah meningkatkan alokasi sumber-
sumber dana yang ada, ditunjang dengan pembuatan sistem
perpajakan yang harus senetral mungkin sebagai kesatuan yang
minimal dalam proses pengalokasiannya. Sistem ini juga harus
sederhana dan prosedur harus transparan, akan menjadi jelas apabila
sistem ini tidak dipaksa dalam pembuatannya (adanya intervensi
dari luar). Penyempurnaan undang-undang perpajakan melalui tax
reform dan memberlakukan aturan yang standar (benchmark) dalam
penghitungan pajak seringkali diartikan sebagai pengurangan atas
pengecualian yang khusus sebagaimana diberlakukan pula
pembatasan dalam administrasi pajak.
Pemerintah pada saat membuat kebijakan untuk merevisi APBN
2001, melalui suatu paket yang disebut dengan Paket Penyesuaian
Fiskal, yang fokusnya pada peningkatan penerimaanlpendapatan
negara, perampingan pengeluaran negara, dan mempertahankan
resiko dampak negatif atas kegiatan ekonomi pada tingkat minimal
(lower income society). Paket Penyesuaian Fiskal itu meliputi: (1)
memperluas basis pajak untuk jenis pajak tertentu (misal: PPh);
meningkatkan pengumpulan pajak, dan meningkatkan kepatuhan
Wajib Pajak (tax compliance) pada tingkatyang optimal; (2)
mengurangi subsidi bagi produk-produk minyak dan listrik; (3)
menggunakan dana cadangan dalam rangka desentralisasi secara
efisien mengalokasikan pemindahan dana cadangan pemerintah pusat
kepada pemerintahan daerah seefisien mungkin); (4) perampingan
pengeluaran dana-dana pembangunan; dan (5) mengambillangkah-
langkah penghematan dalam kerangka desentralisasi fiskal. Menurut
David N. Hyman (1996) program pemerintah dalam membantu
masyarakat miskin untuk memperoleh standar hidup yang minimal
haruslah dibantu dengan pemberian subsidi dari efisiensi
Desain Tax Policy DaerahlJ 167
perdagangan. Justifikasi perwujudannya yaitu melalui transfer dari
pengaruh pasar yang dapat mengurangi penghasilan rumah tangga
dibandingkan dengan persyaratan tingkat minimum untuk bertahan.
Hasilnya adalah income terendah yang diperoleh rumah tangga
tersebut akan sama dengan tingkat kebutuhan dasar yang cukup
mendukung kebutuhan pokok keluarganya dan kebutuhan dasar
lainnya (other basic needs).
Dalammenyempurnakan sebuahtaxpolicy yangmempunyai tujuan
agar proposal tax policy tersebut memenuhi standar haruslah
memperhatikan 2 (dua) unsur (Harry.Y.L.2001) yaitu: pertama,
setiap pembuatan tax policy haruslah dapat digunakan untuk
mengalokasikan sumber-sumber dana yang ada pada kelompok atau
institusi tertentu yang mendukung atau berkaitan dengan program
pemerintah; dan kedua, mendorong pertumbuhanI ekonomi, yang
diartikan pembuatan kebijakan ini haruslah didisain khusus agar tetap
dapat mendorong atau memberikanpertumbuhan ekonomi yang cepat
sesuai dengan sasaran pemerintah.
~ .. ~
168 ~ Pajak dunRetribusi Daerah
PENYUSUNAN PERATURAN
PERPAJAKAN DAERAH
B
ab ini membahas tentang teknik penyusunan peraturan
perpajakan daerah yang disarikan dari bahan manual
penyusunan produk hukum daerah yang dipublikasikan oleh
CIDES (CIDES, 30 Mei 2003, www.cides.or.id/otda) . Penyusunan
sebuah peraturan atau perundang-undangan daerah bukan suatu yang
sulit dan bukan pula suatu yang mudah. Ada kriteria atau persyaratan
khusus yang harus dipenuhi dalam proses perencanaannya, materi
dan proses pendokumentasiannya, yaitu hukum tatanegara dan
pemerintahan. Hal inilah kadang-kadang yang tidak diketahui oleh
masyarakat umum.
Peraturan Perpajakan Daerah yang merupakan produk hukum
daerah dalam penyusunan materi dan pendokumentasiannya juga
harus mengikuti proses perumusan kebijakan. Pada bagian awal
bab ini akan dibahas tentang cara-cara (teknik) penyusunan produk
hukum daerah, Dasar Teknik Penyusunan, Jenis-jenis produk hukum
daerah, Kaidah-Kaidah Hukum, Teknik Penyusunan Produk-Produk
Hukum Daerah, Perubahan Produk-Produk Hukum Daerah,
170 mPajakdanRetribusi Daerah
Pencabutan produk Hukum Daerah, dan. diakhiri dengan Ragam
Bahasa yang digunakan dalam peraturan tersebut.
KIAT PENYUSUNAN PRODUK HUKUMDAERAH
Mated ini merupakan salah satu bentuk manual pembentukan
produk-produk hukumdaerah dad Pusat KajianHukumdan Kebijakan
Daerah Departemen Dalam Negeri kepada Pemerintah Daerah, maka
untuk itu diharapkan beberapa pokok sebagai bahan kelengkapan
muatannya.
Pengertian kata kiat dapat diartikan suatu cara, yaitu cara dalam
menyusun Peraturan Daerah yang efektif. Keefektifan sebuah cara,
tidak bisa hanya ditinjau dad satu sisi, tetapi harus dilihat dad
beberapa faktor yang mendukungnya. Faktor-faktor yang selalu
mempengaruhi efektivitas dalam penyusunan Peraturan Daerah yaitu
Faktor Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu si perancang peraturan
perundang-undangan (legal drafter); Prosedur penyusunan; Teknik
penyusunan mated; dan Penggunaan bahasa perundang-undangan.
Selain faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas penyusunan
Peraturan Daerah, perlu melihat lembaga yang mempunyai
kewenangan membentuk Peraturan Daerah dan dasar hukumnya.
Hal .ini penting, karena tidak semua lembaga_terdapat beberapa
komponenlunit kerja (termasuk legal drafternya)_ yang menangani
atau terlibat dalam proses penyusunan Peraturan Daerah.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 69 Undang-undang Nomor 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa
"Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan
DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan
penjabaran lebih lanjut dad peraturan perundang-undangan yang
lebih tinggi". Dalam Pasal18 menyatakan bahwa DPRD mempunyai
tugas dan wewenang antara lain, "bersama dengan Gubernur, Bupati
atau walikota membentuk Peraturan Daerah ". Dalam Pasal19 ayat
(1) huruf d, DPRD mempunyai hak "mengadakan perubahan atas
Rancangan Peraturan Daerah " . Dad ketiga ketentuan tersebut diatas
menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah (eksekutif) pada umumnya
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 171
' Iebih berperan dalam membentuk Peraturan Daerah, sedangkan
DPRD mempunyai hak memberi persetujuan dan mempunyai hak
untuk mengadakan perubahan terhadap mated Peraturan Daerah.
Selain itu dalam Pasal19 ayat (1) huruffmenyatakan bahwa DPRD
(legislatif) juga mempunyai hak "mengajukan Rancangan Peraturan
Daerah " atau yang lebih dikenal dengan hak inisiatif DPRD. Hak
inisiatif ini (sebagai pemrakarsa) sewaktu-waktu dapat dipergunakan
oleh DPRD.
1. Faktor Sumber Daya Manusia
Kemampuan perancang Peraturan Daerah sangat menentukan
efektivitas penyusunannya. Sesuai dengan dasar kewenangan
penyusunan Peraturan Daerah, yang dimaksud dengan si perancang
Peraturan Daerah adalah aparat Pemerintah Daerah dan anggota
DPRD. Seorang legal drafter harus menguasai dasar-dasar
pengetahuan tentang peraturan perundang-undangan dengan segala
macam aspeknya serta menguasai substansi yang akan diatur,
sehingga produk hukumyang dihasilkan jelas urgensinya dan mampu
mengatur kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Sering yang menjadi permasalahan adalah sejauhmana
kemampuan aparatur lembaga eksekutifdan lembaga legislatif daerah
dalam bidang perundang-undangan, sehingga proses penyusunan
.dan pembahasan dalam sidang DPRD dapat berjalan secara efektif.
Dengan bertambahnya urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah (sesuai dengan konsepsi otonomi daerah) dan
belum tersedianya lembaga/perangkat daerah yang menanganinya,
akan menjadi faktor penghambat dalam penyusunan Peraturan
Daerah. Hal ini dikarenakan, tidak semua legal drafter yang tersedia .
saat ini menguasai semua pengaturan urusan pemerintahan yang
telah menjadi kewenangan daerah dan perlu diatur dalam Peraturan
Daerah. Disampingitu, anggota DPRD hasil Pemilihan UmumTahun
1999, latar belakang politiknya demikian beragam dan tingkat
pendidikannya yang beragampula, sehingga keadaan seperti ini akan
mempengaruhi jalannya pembahasan mated Peraturan Daerah.
172 mPajakclan RetribusiDaerah
Melihat permasalahan tersebut, maka untuk mengantisipasi
perkembangan pembangunan daerah sejalan dengan paradigma baru
otonomi daerah, seorang legal drafter tingkat daerah (lembaga
eksekutif dan legislatif) harus mempersiapkan diri dengan
memperdalamatau menambah pengetahuan dalambidang perundang-
undangan dan kebijakan publik (public policy), sehingga mampu
menjadi "perancang perundang-undangan" bukan "penjahit
perundang-undangan" .
Penguasaan materi dan teknis penyusunan Peraturan Daerah
akan membawa dampak positif terhadap perspektif produk hukum
daerah. Karakter Peraturan Daerah pada pemerintahan otonom
dimasa yang akan datang harus benar-benar responsif, populistik
dan akomodatif; sehingga dapat dikategorikan produk hukum yang
efektif Peraturan Daerah pada masa depan boleh dikatakan tidak
jauh berbeda dengan bobot sifat, karakter dan muatannya dengan
Undang-undang.
Dengan demikian, substansi Peraturan Daerah hams mampu
diantisipasi terjadinya perubahan lingkungan eksternal berupa
globalisasi, disamping itu tetap memperhatikan norma-norma yang
hidup dan berkembang dalam masyarakat.
2. Prosedur Penyusunan
Dalam penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis,
penyusunan Peraturan Daerah, perlu mengikutsertakan masyarakat
(berupa dengar pendapat) dengan tujuan agar dapat mengakomodir
kepentingan masyarakat luas untuk dituangkan dalam Peraturan
Daerah. Peran serta masyarakat tersebut akan mempermudah
sosialisasi dan penerapan substansi apabila Peraturan Daerah
ditetapkan dan diundangkan.
Mengenai prosedur penyusunan peraturan perundang-undangan
tingkat Daerah (yang terdiri dari Peraturan Daerah dan Keputusan
Kepala Daerah) belum diatur sebagaimana prosedur penyusunan
peraturan perundang-undangan tingkat Pusat yang ditetapkan dalam
Keputusan Presiden Nomor 188 Tahun 1998. Namun demikian,
Teknik Penyus/Ul(Jn Peraturan Perpajakan DaerahIJ 173
.Pusat Kajian Hukum dan Kebijakan Daerah Departernen Dalam
Negeri akan menyiapkankonsep prosedur penyusunanproduk hukum
daerah sebagai pedoman bagi Daerah dalam menyusun standar
mekanisme penyusunanproduk hukumdaerah, untuk kemudian dapat
diatur dalam Keputusan Kepala Daerah atau Peraturan Daerah.
Mekanisme penyusunan produk hukum daerah mengatur
mengenai tata urut penyusunan Peraturan Daerah baik atas prakarsa
Pemerintah Daerah maupun DPRD serta proses penyusunan
Keputusan Kepala Daerah (intern eksekutif) hingga penetapan dan
pengundangannya. Materi yang diatur dalam prosedur penyusunan
produk hukum daerah dimaksud akan mendudukkan Biro/Bagian
Hukum Pemerintah Daerah sebagai lembaga harmonisator peraturan
perundang-undangantingkat Daerah. Ha! ini penting, dalam kerangka
pembenahanbentukdan materi peraturan perundang-undangandaerah
kearah yang lebih baik.
3. Tehnik Penyusunan
Dalam rangka pembinaan dan pembangunan produk hukum
daerah, Pusat Kajian Hukum dan Kebijakan Daerah menyusun
Pedoman Teknis Penyusutan Produk Hukum Daerah ini(berdasarkan
pengalaman pengesahan Peraturan Daerah .selama ini) yang telah
disesuaikan dengan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999
tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan
Bentuk RancanganUndang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah
dan Rancangan Keputusan Presiden. Setiap perancangan dan
penyusunan produk hukum daerah hams senantiasa memperhatikan
dan berdasarkan pada Keputusan Presiden tersebut, yang secara
mutatismutandis berlaku dalam penyusunan produk hukum daerah.
Produk hukumdaerah hams dirancang, disusun dan diberlakukan
secara baik dan benar serta berdasarkan prosedur yang sah, sehingga
dapat dihasilkan produk hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk itu perlu adanya standarisasi bentuk produk hukum daerah
baik dari segi format,substansi maupun teknis penulisan, sehingga
terdapat pembakuan dalam teknik penyusunan produk hukum.
174 ~ PajakdanRetribusiDaerah
4. Penggunaan BahasaPerundang-undangan
Prinsip dasar yang dianut setiap peraturan perundang-undangan
adalah dapat dikomunikasikan dengan masyarakat. Apabila suatu
peraturan perundang-undangan tidak dapat ditransformasikan dengan
baik kepada masyarakat, berarti peraturan tersebut kurang ditaati
masyarakat. Demikian halnya dengan Peraturan Daerah yang
mengatur kehidupan masyarakat suatu Daerah, harus dapat
dimengerti/dipahami oleh masyarakat setempat,sehingga hal-hal
yang diatur dapat dilaksanakan.
Materi yang berisi larangan atau pembatasan terhadap kebebasan
masyarakat, apabila tidak bisa dikomunikasikan, tidak mungkin
dapat berlaku s ~ c 3 r a efektif. Berfungsinya produk hukum dengan
baik menuntut adanya aturanlketentuan yang mudah diketahui secara
jelas. Jika aturan/ketentuan itu kabur , maka akan timbul
ketidakpastian dalam penerapannya.
Hal-hal yang mempengaruhi gagalnya transformasi ide-ide
pengaturan pemerintahan dan kemasyarakatan (yang dituangkan)
dalam Peraturan Daerah, yaitu :
Rancangan Peraturan Daerah tidak mampu mentransformasikan
gagasan pengaturannya kedalambahasa perundang-undangan dengan
jelas dan dimengerti.
Rancangan Peraturan Daerah tidak mampu merumuskan hasil
transformasi idenya melalui bahasa perundang-undangan kedalam
bahasa yang mudah dan memahami perasaan masyarakat.
Karena kelemahan bahasa perundang-undangan itu sehingga
materi yang diatur menjadi kaku dan mati.
Untukmenghindarijangan sampai timbul kelemahan-kelemahan
diatas seorang legal drafter perlu menguasai penalaran (logika)
hukum dengan baik, menguasai materi yang akan diatur, dan
menguasai bahasa perundang-undangan, selain kemampuan
pemahaman perasaan bahasa masyarakat.
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah 11 175
.5. Pengawasan Terhadap ProdukHukum Daerah
,
Pasal 113 menyatakan bahwa, "Dalam pengawasan Peraturan
Daerah dan Keputusan KepalaDaerah disampaikan kepada Pemerintah
selambat-lambatnya 15 hari setelah ditetapkan ". Filosofi hal tersebut
mengandung pengertian bahwa pelaksanaan kewenangan daerah
otonom perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan dalam kerangka
negara kesatuan. Pemerintah Pusat mempunyai wewenang untuk
menilai Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah (hanya
yang bersifat mengatur) yang telah diundangkan dengan kriteria
bertentangan dengan kepentingan umum (norma yang hidup dan
berkembang di masyarakat), bertentangan dengan peraturan
perundang- undangan yanglebih tinggi,dan atau bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan lainnya (sejenis atau sederajat).
Namun demikian, penilaian yang berimplikasi pembatalan
terhadap Peraturan Daerah akan membawa dampak yang sangat
luas khususnya Peraturan Daerah yang mengatur mengenai keuangan
daerah/pendapatan daerah.
6. KuaIitas ProdukHukum Daerah
Untuk mendukung terwujudnya pelaksanaan otonomi daerah,
perancang Peraturan Daerah (baik dari eksekutif maupun legislatif)
harus mempersiapkan diri dengan memperdalampengetahuan bidang
perundang-undangan dan kebijakan publik, sehingga proses
penyusunan dan pembahasannya dapat berjalan secara efektif.
Upaya pembinaan dan peningkatan kualitas legal drafter Daerah
diarahkan agar tersedianya rancangan perundang-undangan bukan
penjahit perundang-undangan.
Penguasaan materi dan teknik penyusunan Peraturan Daerah,
akan membawa dampak positifterhadap perspektifPeraturan Daerah.
DASAR TEKNIK PENYUSUNAN
Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenallagi adanya pengawasan
176 11 Pajakclan Retribusi Daerah
preventif dari Menteri Dalam Negeri terhadap Peraturan Daerah
dan Keputusan Kepala Daerah yang dibuat oleh Pemerintah Daerah.
Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah sejak proses
penyusunan sampai dengan pengundangannya/berlakunya sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah yang bersangkutan:
Namun demikian, berdasarkan Pasal 113 dan 114 Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut, Peraturan Daerah dan
Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan
umum peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan atau
peraturan perundang-undangan dapat dicabut atau dibatalkan oleh
Pemerintah.
Berkenaan dengan itu untuk menghindarkan adanya Peraturan
Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang telah ditetapkan oleh
Pemerintah Daerah dicabut/dibatalkan oleh Pemerintah, diharapkan
adanya sumberdaya manusia yang handal dan mampu menyusun
seluruh jenis produk hukum yang dibutuhkan Daerah sebagai realisasi
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.
Untuk menyusun dan merumuskan setiap jenis produk hukum
Daerah, dituntut adanya pengetahuan aparatur yang memahami teori
dan praktek penyusunan produk-produk hukum di Daerah, berupa:
-Jenis-jenis produk hukum tingkat Daerah
-Kaidah-kaidah hukum
-Teknik Penyusunan Produk-produk Hukum
-Ragam Bahasa yang dipergunakan
-Materi muatan produk-produk Hukum Daerah
Dengan adanya pengetahuan dan pemahaman tersebut, maka
semua jenis produk hukum di Daerah diharapkan dapat dipenuhi
baik kualitas maupun kuantitasnya.
Untukmengantisipasi sekaligus mendukung tersedianya SumberDaya
Manusia (SDM) di Daerah, Pusat KajianHukumdan KebijakanDaerah
Departemen Dalam Negeri membuat manual tentang penyusunanjenis
produk-produk hukum di Daerah, yang dalam teknis penyusunannya
berdasarkan teori dan pengalaman dari proses pengesahan Peraturan
Daerah dan KeputusanKepala Daerah selamaini.
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan DaerahIJ 177
Diharapkan dengan penyusunan manual produk-produk hukum
Daerah ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan
Aparatur Pemerintah Daerah dalam rangka menyusun Peraturan
Daerah dan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan kebutuhan
sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintah Daerah.
Disamping itu, dengan adanya manual penyusunan produk-
produk hukum Daerah, maka tujuan untuk mewujudkan tersedianya
sumber daya manusia Pemerintah Daerah yang sesuai dengan kaidah-
kaidah legal drafting.
Dasar-dasar dalam menyusun produk-produk hukum dengan
memperhatikan:
Produk-produk hukum yang dibuat harus memperhatikan unsur
sosiologis, sehingga setiap produk hukum yang mempunyai akibat
atau dampak kepada masyarakat dapat diterima oleh masyarakat
secara wajar bahkan spontan.
Landasan filosofis, maksudnya agar produk hukum yang
diterbitkan oleh Pemerintah Daerah jangan sampai bertentangan
dengan nilai-nilai yang hakiki ditengah-tengah masyarakat : misal
agama.
Landasan ekonomis, maksudnya agar produk hukum yang
diterbitkan oleh Pemerintah Daerah, hal-hal yang berlaku dan
mencakup berbagai hal yang menyangkut kehidupan masyarakat:
misal kehutanan,pelestarian sumberdaya alam.
Landasan politis, maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan
oleh Pemerintah Daerah dapat berjalan sesuai dengan tujuan tanpa
menimbulkan gejolak di tengah masyarakat.
JENIS-JENIS PRODUK HUKUM DAERAH
Sesuai dengan teori perundang-undangan dikenal adanya jenis
produk hukum Daerah, yaitu:
178 I1Pajakdon Retribusi Daerah
1. Peraturan Daerah Propinsi
Peraturan Daerah Propinsi adalah peraturan yang ditetapkan oleh
Kepala Daerah atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) Propinsi , dalam rangka menyelenggarakan kewenangan
(Otonomi Daerah) yang diserahkan kepada Pemerintah Propinsi
sebagai pelaksanaan dan penjabaran peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi. Hal ini dipertegas lagi dalam Pasal 3 Peraturan
Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah
dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom.
2. Peraturan Daerah Kabupaten
Peraturan Daerah Kabupaten adalah peraturan yang ditetapkan
oleh Kepala Daerah atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kabupaten, dalam rangka menyelenggarakan
Otonomi Daerah yang diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten
sebagai pelaksanaan serta penjabaran peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi, terutama sebagai penjabaran Pasal 11 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah.
3. Peraturan Daerah Kota
Peraturan Daerah Kota adalah peraturan yang ditetapkan oleh
Kepala Daerah atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) Kota, dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah
yang diserahkan kepada Pemerintah Kota sebagai pelaksanaan dan
penjabaran peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,
terutama sebagai penjabaran Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
4. Keputusan Gubemur
Keputusan Gubernur adalah peraturan yang ditetapkan sebagai
pelaksanaan dari Peraturan Daerah Propinsi dan atau atas kuasa
peraturan perundangan yang lebih tinggi.
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 179
Keputusan Gubernur terdiri dari 2 jenis,yaitu:
a. Keputusan yang bersifat mengatur (regelling);
b. Keputusan yang bersifat penetapan (beschikking).
5. Keputusan Bupati/Walikota
Keputusan Bupati/Walikota adalah peraturan pelaksanaan dari
Peraturan Daerah KabupatenlKota dan atau atas kuasa dari peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi.
. Keputusan Bupati/Walikota terdiri dari 2 jenis, yaitu:
a. Keputusan yang bersifat mengatur(regelling);
b. Keputusan yang bersifat penetapan (beschikking) .
Penjelasan :
Keputusan Gubernur atau Keputusan Bupati/Walikota yang
bersifat mengatur adalah Keputusanyang materi muatannya mengatur
dan mengikat secara umum, maksudnya berlaku bagi setiap subjek
hukum yang memenuhi unsur-unsur yang terkandung dalam
ketentuan-ketentuan Keputusan tersebut.
Keputusan Gubernur atau Keputusan Bupati /Walikota yang
bersifat penetapan adalah Keputusan yang bersifat konkret (nyata),
individual dan final. Materi muatannya hanya mengikat hal-hal
tertentu,dan tidak mengikat secara umum.
6. Instruksi Gubemur atau Instruksi Bupati/ Walikota.
Instruksi Gubernur atau Instruksi Bupatil Walikota adalah jenis
produk hukum daerah yang bersifat perintah atau petunjuk teknis
kepada bawahan untuk melakukan ketentuan-ketentuan tertentu yang
sifatnya konkret (nyata) dan individual.
KAIDAH-KAIDAH HUKUM
Kaidah-kaidah yang perlu diperhatikandalampenyusunanproduk-
produk hukum Daerah adalah:
180 mPajakdan RetribusiDaerah
Keharusan adanya kewenangan dari pembuat produk-produk
hukum. Setiap produk-produk hukum harus dibuat oleh Pejabat yang
berwenang. Kalau tidak, produk-produk hukum itu batal demi hukum
(van rechtswegenieting) atau dianggap tidak pernah ada dan segala
akibatnya batal secara hukum.
Misalnya: Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah atas
persetujuan DPRD.
Peraturan Daerah yang ditetapkan oleh Kepala Daerah tanpa
persetujuan DPRD dengan sendirinya batal demi hukum.
Keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis produk-produk
hukum dengan materi yang diatur,terutama kalau jenis dan materi
produk-produk hukum yang bersangkutan diperintahkan oleh
peraturan perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi atau
sederajat, sehingga bila tidak sesuai dengan bentuk, jenis dan muatan
yang diatur dapat menjadi alasan bahwa produk hukum tersebut
batal demi hukum karena bertentangan dengan landasan yuridis
material.
Misalnya: Susunan organisasi dan tata kerja Kecamatan harus
diatur dalam Peraturan Daerah.
Kalau susunan organisasi dan tata kerja Kecamatan hanya diatur
dalam bentuk/jenis Keputusan Kepala Daerah, maka Keputusan
Kepala Daerah tersebut batal demi hukum (vernietigbaar). Keharusan
mengikuti tata cara tertentu. Apabila tata cara tersebut tidak diikuti,
maka produk-produk hukum tersebut belum mempunyai kekuatan
hukum mengikat dan dapat dibatalkan demi hukum.
Misalnya :
Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat
mengatur harus diundangkan dalam Lembaran Daerah, dan jika tidak
diundangkan dalam Lembaran Daerah, maka Peraturan Daerah
tersebut belurnmengikat.
Keharusantidakbertentangan dengan peraturan perundang undangan
yang lebihtinggitingkatannya.
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 181
-Misalnya :
Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah,kalau
bertentangan batal demi hukum.
TEKNIK PENYUSUNAN PRODUK-PRODUK HUKUM
Setiap produk-produk hukum pada umumnya disusun dalam suatu
kerangka dengan bentuk struktural sebagai berikut:
A. Penamaan/Judul;
B. Pembukaan;
C. Batang Tubuh;
D. Penutup;
E. Lampiran (bila diperlukan).
Uraian dari masing-masing Substansi Kerangka Produk-produk
Hukum adalah:
A. Penamaan/Judul
1. Setiap produk hukum mempunyai penamaan/judul
2. Penamaan/Judul produk-produk hukum memuat keterangan
mengenai Jenis, nomor,tahun,tentang nama produk hukum yang
diatur.
3. Nama produk hukum dibuat singkat dan mencerminkan isi
produk-produk hukum.
4. Judul ditulis dengan huruf kapital tanpa diakhiri tanda baca.
5. Judul tidak boleh disingkat dipendekkan dan tidak ada tanda
baca.
Contoh : Penulis Penamaan/JuduI
a) Jenis Peraturan Daerah
PERATURANDAERAHKABUPATENBOGOR
NOMOR.....TAHUN.....
TENTANG
PAJAK REKLAME
182 11 Pajak dan Retribusi Daerah
Teknik PenyuslUUlll Peraturan Perpajakan Daerah IJ 183
Daerah, dan KeputusanKepala Daerah. Jika konsiderans terdiri
lebih dari satu pokok pikiran, maka tiap-tiap pokok pikiran
dirumuskan pengertian, dantiap-tiap pokokpikirandiawali dengan
huruf a, b, c, dst dan diakhiri dengantanda titik koma(;).Contoh:
Menimbang:
d. Dasar Hukum.
Dasar Hukum diawali dengan kata "Mengingat" yang harus
memuat dasarhukumbagipembuatanprodukhukum. Padabagian
ini perlu dimuat pula jika ada peraturan perundang-undangan
yang memerintahkan produk hukum itu atau yang mempunyai
kaitan langsung denganmateri yang akandiatur.
(1) Dasar Hukumdapat dibagi 2yaitu:
(a) Landasan yuridis kewenangan membuat produk-produk
hukum;dan
(b) Landasanyuridis rnateri yangdiatur.
(2) Yang dapat dipakai sebagai dasar hukumhanyalahjenisperaturan
perundang-undanganyangtingkat derajatnya samaatau lebihtinggi
dariprodukhukumyangakan dibuat. Catatan: Keputusan yang
bersifat penetapan, Instruksi dan Surat Edaran tidak dapat
dipakai sebagai dasar hukum karma ketiga jenis keputusan
tersebut tidak masukjenisperaturan perundang- undangan.
(3) Dasar Hukumdirumuskansecarakronologis sesuai denganhierarki
peraturanperundang-undangan, atau apabilaperaturanperundang-
undangantersebut samatingkatannya, makadituliskanberdasarkan
urutantahunpembentukannya, atau apabila peraturanperundang-
undangan itudibentuk padatahunyangsama, makadituliskan
berdasarkan nomor urutan pembuatan peraturan perundang-
undangantersebut.
(4) Penulisandasar hukwn(DU, PP,Keppres, danPerda) hams lengkap
denganLembaranNegara, TambahanLembaranNegara, l..embaran
Daerah, dan Tambahan Lembaran Daerah. (kalau ada)
b) Jenis Keputusan Kepala Daerah
KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA BARAT
NOMOR. ... TAHUN....
TENTANG
TATA CARA PUNGUTAN PAJAK KENDARAAN
BERMOTOR
B. Pembukaaan
1. Pembukaan pada Peraturan Daerah, terdiri dari
A. Frasa Dengan Rakhmat Tuhan Yang Maha Esa;
B. Jabatan Pembentuk Peraturan Daerah;
C. Konsiderans;
D. Dasar Hukum;
E. FrasaDenganPersetujuan DewanPerwakilan Rakyat Daerah;
F. Memutuskan;
G. Menetapkan.
2. Pembukaan pada Keputusan dan Instruksi Kepala Daerah
Propinsi, Kabupaten dan Kota terdiri dari:
Jabatan pembentuk Keputusan dan Instruksi;
1. Konsiderans;
2. Dasar Hukurn;
3. Memutuskan;
4. Menetapkan.
Penjelasan
a. Frasa,Kata frasa yang berbunyi Dengan Rakhmat Tuhan Yang Maha
Esa merupakan katayang harus ditulis dalam Peraturan Daerah, cara
penulisannya seluruhnya huruf kapital dan tidak diakhiri tanda
baca.Contoh:DENGANRACHMATTUHANYANGMAHAESA
b. Jabatan,Jabatan pembentuk Peraturan Daerah atau Keputusan
Gubernur/BupatiIWalikota ditulis dengan hurufkapital dandiakhiri
dengan tandabacakoma(,). Contoh:BUPATI BOGOR,
c. Konsiderans,Konsiderans harusdiawali dengan kata"Menimbang"
yangmemuaturaian singkat mengenaipokok-pokok pikiranyang
menjadi latar belakang dan alasan alasan pembuatan Peraturan
a.
b.
c.
......................... ........... ,
. ,
.................................... ,
184 • Pajakdan Retribusi Daerah
(5) Jikadasar hukumlebihdari satuperaturan perundang-undangan,
makatiap dasar hukum diawali dengan angka arab 1,2,3 dst dan
diakhiri dengantandabacatitikkoma (;) ,
Contoh: PenulisanDasarhukum
Mengingat:
1. Undang-undang Nomor 22Tahun 1999tentang Pemerintahan
Daerah(LembaranNegaraTahun1999Nomor60 ,Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3839.);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2000 tentang
(Lembaran Negara Tahun... Nomor . . . , Tambahan
Lembaran Negara Nomor. .. );
3. KeputusanPresiden Nomor 44 Tahun 1999tentangTeknik
. \
Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk
Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan
Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden;
4. Keputusan Menteri Nomor. .. Tahun tentang... ;
5. Peraturan Daerah Nomor ... Tahun tentang . . .
(Lembaran Daerah Tahun... Nomor.- Tambahan
LembaranDaerahNomor...);
e. Frasa Kata frasa yang berbunyi Dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Propinsi/Kabupaten/Kota, merupakan aturan
kata yang harus dicantumkan dalam Peraturan Daerah dan cara
penulisannyadilakukansebagai berikut:
Ditulis sebelumkata MEMUTUSKAN;
(1) Katadenganpersetujuan, hanyahurufawalkata "Dengan" ditulis
hurufkapital;dan
(2) Kata Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi/Kabupaten/
Kota seluruhnya ditulis hurufkapital.
Contoh :
Dengan persetujuan
DEWANPERWAKILANRAKYATDAERAH
PROPINSI/KABUPATENIKOTA. ...
f. Memutuskan
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah 11 185
Kata Memutuskan ditulis dengan huruf kapital, dan diakhiri
dengan tanda baca titik dua (:) serta diletakkan ditengah marj in.
g. Menetapkan
Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata MEMUTUSKAN
yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat.
Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf Kapital dan diakhiri
dengan tanda baca titik dua(:).
Contoh:
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : ,; dst.
Penulisan kembali nama peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan dilakukan sesudah kata
Menetapkan,dan cara penulisannya adalah:
Menuliskan kembali nama yang tercantum dalam judul;
Nama tersebut sebagaimanadimaksud diatas, didahului dengan
jenis perundang- undangan yang bersangkutan;
Naura dan jenis produk hukum tersebut, ditulis dengan huruf
kapital dan diakhiridengantanda bacatitik(.).
Pada PeraturanDaerah sebelumkata MEMUTUSKANdicantumkan
frasa
Denganpersetujuan
DEWANPERWAKILANRAKYAT DAERAH
Contoh:
a. Jenis Peraturan Daerah
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR
TENTANGPAJAKREKLAME.
b. Jenis Keputusan Kepala Daerah
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSANBUPATI BOGOR TENTANG
TATA CARA PUNGUTAN PAJAK REKLAME.
186 mPajakdanRerribusi Daerah
Catatan:
Contoh Pembukaan produk-produk hukum secara keseluruhan
dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Peraturan Daerah
1) PeraturanDaerahPropinsi.
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNURJAWA BARAT,
Menimbang : a ;
b .
c dst
Mengingat : 1.. .
2 ..
3 dst
Dengan Persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
PROPINSI JAWA BARAT
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT
TENTANG PAJAK REKLAME.
2) Peraturan Daerah Kabupaten
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI BOGOR,
Menimbang : a .
b .
c dst
Mengingat : 1 .
'1
.., .
3 ~ dst
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah 11 187
. Dengan persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN BOGOR
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR
TENTANG PAJAK REKLAME.
3) Peraturan Daerah Kota
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA BOGOR,
Menimbang : a .
b ; .
c dst
Mengingat : 1 .
2 ; .
3 ..
4 dst.;
Dengan Persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA
BOGOR,
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR
TENTANG PAJAK REKLAME
b. Keputusan Kepala Daerah
1) Keputusan Gubemur.
GUBERNUR JAWA BARAT,
Menimbang : a .
b .
c dst
188 ~ PajakdonRetribusi Daerah
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 189 '
Menimbang
Untuk:
PERTAMA:
KEDUA:
2) InstruksiBupati.
· c. Instruksi Kepala Daerah
1) Instruksi Gu bernur
GUBENUR JAWA BARAT,
Menimbang : a .
b .
c dst
Mengingat : 1 ; .
2 .
3 dst
MENGINSTRUKSIKAN:
Kepada : 1 .
2 .
3 dst
BUPATIBOGOR,
a .
.b .
c dst
1 .
2 .
3 dst
MENGINSTRUKSIKAN:
1. .
2 .
3 .
Menimbang
Mengingat
Kepada
a .
b .
c dst
Mengingat : 1 .
2 .
3 dst
MEMUTUSKAN: .
Menetapkan: KEPUTUSAN WALIKOTA BOGOR TENTANG
TATA CARA PUNGUTAN PAJAK DAERAH.
Mengingat : 1 .
2 .
3 dst
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: KEPUTUSAN GUBENUR JAWA BARAT
TENTANGTATA CARA
PUNGUTANPAJAK DAERAH
2) Keputusan Bupati
BUPATI BOGOR,
Menimbang : a , ~ .
, ·b .
c dst
Mengingat : 1 .
2 .
3 dst
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: KEPUTUSAN BUPATI BOGOR TENTANG TATA
CARA PUNGUTAN PAJAK DAERAH.
3) KeputusanWalikota
WALIKOTA BOGOR,
190 mPajakdanRetribusiDaerah
Teknik PenyuslUUl1l Peraturan Perpajakan Daerah 11 191
c .
Mengingat : 1 dst
MENGINSTRUKSIKAN
Untuk:
PERTAMA:
KEDUA :
3) Instruksi Walikota.
WALIKOTA BOGOR,
Menimbang
Kepada
Untuk:
PERTAMA:
KEDUA:
a · .
b .
: . 1.. ;
2.. ;
3.. ;
4. Ketentuan Peralihan (kalau ada); dan
5. Ketentuan Penutup.
2. Pengelompokkan materi produk-produk hukum dalam Bab,
Bagian dan Paragraftidak merupakan keharusan.
Jika Peraturan Daerah mempunyai materi yang ruang lingkupnya
sangat luas danMempunyai banyak pasal, maka pasal-pasal tersebut
dapat dikelompokkan menjadi Bab, Bagian dan
Paragraf.Pengelompokkan materi-materi dalam Buku Bab, Bagian
dan Paragraf dilakukan atas dasar kesamaan kategori atau kesatuan
lingkup isi materi yang diatur. Urutan penggunaan kelompok adalah:
1. Bab dengan pasal-pasal, tanpa bagian dan paragraf;
2. Bab dengan bagian dan pasal-pasal tanpa paragraf
3. Bab dengan bagian dan paragraf yang terdiri dari pasal-
pasal
3. Tata cara penulisan Bab, Bagian, Paragraf Pasal dan ayat
ditulis sebagai berikut:
1. Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan Judul Bab
semua ditulis dan huruf kapital .
Contoh:
C. Batang Tubuh
Batang Tubuh suatu produk-produk hukum memuat semua materi
produk-produk hukum yang dirumuskan dalampasal-pasal dan diktum-
diktum.Produk-produk hukum yang batang tubuhnyadirumuskandalam
pasal-pasal adalah jenis Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala
Daerah yang bersifat mengatur (Regelling) sedangkan jenis keputusan
yang bersifat ketetapan (Beschikking) dan instruksi batang tubuhnya
dirumuskan dalamdiktum-diktum. Uraian masing-masingbatang tubuh
jenis produk-produk hukum adalah:
1. Batang Tubuh Peraturan Daerah
1. Peraturan Daerah, pengelompokkan batang tubuh terdiri atas:
1. Ketentuan Umum;
2. Materi yang diatur;
3. Ketentuan Pidana (kalau acta);
BABI
KETENTUANUMUM
2. Bagiandiberi nomor urut denganbhangan yang ditulis denganhuruf
dan diberi judul . Hurufawal kata bagian, urutan bilangan, danjudul
bagian ditulis dengan huruf kapitalkecualihuruf awaldarikata
partikel yang tidak terletak pada awal frasa .
Contoh:
BAB 11
( ••••J n l J I ) ~ BAB....)
Bagian Kedua
Kepala Dinas dan Wakil Kepala Dinas
3. Paragraf diberi nomor urut dengan angka arab dan diberi judu
L Huruf awal dalamjudul paragraf, dan huruf awal judul paragraf
192 mPajakdonRetribusiDaerah
ditulis dengan huruf kapital, sedangkan huruf lainnya setelah
huruf pertama ditulis dengan huruf keeil
Contoh:
Bagian Ketiga
( Judul Bagian )
Paragraf 1
Taman Kota dan Rekreasi
4. Pasal adalah satuan aturan dalam produk-produk hukum yang
memuat satu norma dan dirumuskan dalam satu kalimat. Materi
Peraturan Daerah lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal
yang singkat dan jelas daripada kedalam beberapa pasal yang
panjang dan rnemuat beberapa ayat keeuali ejika materi yang
menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak
dapat dipisahkan. Usakan rumusan materi Pasal eukup dalam
satu kalimat. Hindarkan perumusan Pasallebih dari satu kalimat.
Pasal diberi nomor urut dengan angka arab, dan huruf awal
kata pasal ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
Pasal5
5. Ayat adalahmerupakanrineiandari pasal, penulisannyadiberi nomor
urut dengan angka arab diantara tanda baea kurung tanpa diakhiri
tandabaca. Satuayat hanya mengatur satuha! dandirumuskandalam
satu kalimat.
Pasal21
6. Kepala Dinas berada dibawah dan bertanggung jawab kepada
Kepala Daerah
7 .
8.
Jika satu pasal atau ayat memuat rineian unsur, maka disamping
dirumuskan dalam bentuk kalimat yang biasa, dapat pula
dipertimbangkan penggunaan dalam bentuk tabulasi.
Contoh:
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 193
Pasal
Surat Paksa sekurang-kurangnya harus memuat nama wajib pajak,
atau nama wajib dan penanggungpajak besarnya pajak,dan perintah
untuk membayar.
Isi pasal inidapat lebih mudah dipahami dan jika dirumuskan
sebagai berikut:
Surat paksa sekurang-kurangnya harus memuat:
9. Nama wajib pajak,atau nama wajib pajak dan penanggung pajak;
10. Besarnya utang pajak; dan
11. Perintah untuk membayar.
Dalam membuat rumusan Pasal atau ayat dengan tabulasi
hendaknya diperhatikan hal-halsebagai berikut:
12. Setiap rincian harus dapat dibaea sebagai satu rangkaian kesatuan
dengan kalimat pembuka;
13. Setiap rincian diawali dengan huruf abjad kecil;
14. Setiaprinciandiakhiridengantanda baca titikkoma (;);
15. Jika suatu rincian dibagi lagi kedalam unsur yang lebih kecil, maka
unsur yanglebihkeeil dituliskanagak kedalam;
16. Kalimatyangmasihmempunyairincian lebihlanjut diberi tandabaea
titikdua 0
17. Pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat.Jika
rineian lebih dari empat tingkat, maka perlu dipertimbangkan
pemeeahan pasal yang bersangkutan kedalam beberapa pasal.
Jika unsur atau rincian dalamtabulasi dimaksudkan sebagai rincian
yangkwnulatif, makaperluditambahkankatadandibelakang rineiankedua
dari belakang. Jika rineian dalamtabulasi dimaksudkan sebagai rincian
yangalternatif, makaperluditambahkan kataataudibelakang rinciankedua
daribelakang.
Contoh:
a. Tiap-tiaprincianditandaidenganhurufa,dst.
(3) ; .
........... .................... ... ......
194 ' ~ Pajak dan Retribusi Daerah
~
Teknik Penyusunan Peraturall Perpajakan DaerahIJ 195
sub dari
(perincian sub ayat) .. a)
b)
c)
ISI sub ayat. . 1.
2.
3.
1) Perincian mendetail
ayat) .
2) .
Penjelasan masing-masing kelompok batang tubuh adalah :
(Judul Paragrat)
Pasal21
(1) (isi ayat) .
(2) (isi ayat) .
Perincian ayat
a. . .
b. .. .
a. Ketentuan Umum
Ketentuan umum diletakkan dalam Bab pertama atau dalam Pasal
pertama, jika dalam produk hukum itu tidak ada pengelompokkan
dalam bab.
Ketentuanumumberisi :
1. batasandari pengertian;
2. singkatanatau akronimyang digunakan dalamproduk hukum;
3. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal-
pasal berikutnya.
Jika ketentuanumum berisi lebih dari satu hal, maka setiap batasan
dari pengertian dan singkatan atau akronim diawali dengan angka
arab dan diakhiri dengan tanda baca titik (.).
BABI
KETENTUANUMUM
Pasall
(isi pasal 1 )
(isi pasal)
BAB 11
(Judul Bab)
Pasal
1.
2.
3.
BABIII
(Judul Bab)
Bagian Pertama
(Judul Bagian)
a)
b)
c)
1) ..
2) .
3) .
Gambaran penulisan kelompok Batang Tubuh secara keseluruhan
adalah:
a .
b.
c .
a ,
b ,
b. Jika suatu rincian ayat memerlukan perincian lebih lanjut, maka
perincian itu ditandai dengan angka 1,2,dst.
(4) ,.
Paragraf
196 11 Pajak donRetribusi Daerah
Contoh :
Pasall
Dalam Peraturan Daerah ini,yang dimaksud dengan :
1. PemerintahDaerahadalahPemerintahDaerahKabupatenBogor
2. . .
3. .. .
Urutan pengertian atau istilah dalam bab ketentuan umum hendaknya
mengikuti ketentuan sebagai berikut:
a. Pengertian atau istilah yang ditemukan lebih dahulu dalam materi
yang diatur ditempatkan teratas.
b. Jika pengertian atau istilah mempunyai hubungan atau kaitan
dengan pengertian atau istilah terdahulu, maka pengertian atau
istilah yang ada hubungannya itu diletakkan dalam satu kelompok
(berdekatan) .
c. Singkatan sesuatu penamaan dengan kalimat. Contoh : "yang
selanjutnya disebut DPRD"
b. Ketentuan Materi yang akan diatur
Materi yangdiatur dalamproduk-produk hukumadalahsemuaobyek
yang diatur secara sistimatikasesuai dengan luas lingkup dan pendekatan
yangdipergunakan.
Materi yang diatur dalam suatu produk-produk hukum hams
memperhatikan dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang ada, seperti:
1. Landasan hukum materi yang diatur, dalam menyusun materi
suatu produk hukum, harus memperhatikan dasar
hukumnya.Misalnya :
o BidangOrganisasi. SusunanOrganisasidanTatakerjaKecamatan
hams diatur dalamPeraturan Daerah Pasal61 ayat (5) Undang-
undangNomor22Tahun 1999tentangPemerintahDaerah); Kalau
susunanorganisasiKecamatantersebutdiatur denganKeputusan
Kepala Daerah batal demi hukum (vernietigbaar).
o Bidang Pajak Daerah. Pajak Daerah berdasarkan _Pasal 6
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997pengaturannya hams
memiliki ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah lJ 197
c. Pajak Daerah hams ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
d. Peraturan Daerah tentang Pajak tidak dapat berlaku surut.
e. Peraturan Daerah tentang Pajak sekurang-kurangnya
ketentuan mengenai:
1. nama, objek dan subjek pajak;
2. dasar penggunaan, tarif dan cara penghitungan pajak;
3. wilayah pemungutan;
4. nama pajak;
5. penetapan;
6. tata cara pembayaran dan penagihan;
7. kadaluarsa;
8. sanksi administratif/ pidana;
9. tanggal mulai berlakunya
f. Juga dapat mengatur mengenai:
1. pemberian pengurangan kurungan dan perriberian
dalam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan atau
sanksinya;
2. tatacarapenghapusanpiutangpajak yangkadaluarsa;
3. asas timbal balik.
Ketentuan-ketentuan huruf a,b,c dan d adalah merupakan acuan
materi muatan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah, yang
penulisannya hams sesuai dengan norma-norma dan prinsip-prinsip
yang terkandung dalam Undang Undang Nomor 18 Tahun 1997
dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1997 tentang Pajak
Daerah.
Misalnya
Pengenaan tarif pajak hams sesuai dengan ketentuan Pasal 3
Undang - Undang Nomor18 Tahun 1997.
Penatapan tarif dalamperaturan Daerah yang melebihi ketentuan
Pasal 3 tersebut dianggap bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi dan akibatnya Peraturan Daerah yang
bersangkutan hams dicabut atau dibatalkan.
g. Bidang Retribusi Daerah. Retribusi Daerah berdasarkan Pasal
24 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah
198 mPajakdan Retribusi Daerah
dan Retribusi Daerah, pengaturannya harus memenuhiketentuan-
ketentuan sebagai berikut:
1. Retribusi Daerah harus ditetapkandenganPeraturanDaerah.
2. Peraturan Daerahtentang Retribusi tidak dapat berlaku surut.
3. Peraturan Daerah sekurang-kurangnya mengatur ketentuan
mengenai:
1. nama,objek dan subjek retribusi;
2. golongan retribusi, apakah : Jasa Umum, Jasa U saha
atau Perizinan Tertentu;
3. cara mengukurtingkat penggunajasa yangbersangkutan;
4. prinsipyangdianutdalampenerapanstrukturdanbesarnya
tarif retribusi;
5. struktur dan besarnya tarif retribusi;
6. wilayah pemungutan;
7. tata cara pemungutan;
8. sanksi administrasi/pidana;
9. tata cara penagihan;
10. tanggal mulaiberlakunya.
4. Juga dapat mengatur mengenai:
1. masa retribusi:
2. pemberian keringanan, pengurangan dan pembebasan
dalam hal-hal tertentu atas pokok retribusi dan atau
sanksinya;
3. tata cara penghapusanpiutang retribusi yang kadaluarsa.
Ketentuan-ketentuan a, b, c dan d adalah merupakan kerangka
acuan materi muatan Peraturan Daerahtentang retribusi yangpenilaiannya
harus sesuai dengannorma-normadan prinsip-prinsip yangterkandung
dalamUndang-undang Nomor 18Tahun 1997danPeraturan Pemerintah
Nomor20Tahun1997tentang Retribusi Daerah.
Misalnya
5. JasaUmum. Prinsip dansasarandalampenetapantarifRetribusi
Jasa Umum didasarkan pada kebijaksanaan Daerah dengan
memperhatikan biaya penyediaan jasa yang berangkutan,
TeknikPenyusunan Peraturan Perpajakan Daerah 11 199
kemampuan masyarakat dan aspek keadilan (Pasal6 pp No.
20 tahun 1997).
6. Jasa Usaha. Prinsipdan sasarandalampenetapanbesartatarif
Retribusi Jasa Usaha pada tujuan untuk memperoleh
keuntungan yang layaksebagaimana keuntungan yang pantas
diterimaolehpengusaha swastasejenis yangberoperasi secara
efisiendan berorentasi pada harga pasar (Pasal 7 pp No.20
Tahun 1997).
7. Perizinan Tertentu. Prinsip dan sasaran dalam penetapan
tarif retribusi perizinan tertentu didasarkan pada tujuan
untuk menutup atau sama dengan biaya penyelenggaraan
pemberianizinyangbersangkutan(Pasal8 pp No. 20 Tahun
1997).Catatan:
1. Penentuan tarif retribusi Jasa umum dalam peraturan
Daerah yang tidak berdasarkanperhitungankemampuan
masyarakat dan aspek keadilan, dianggap bertentangan
denganperaturanperundang-undangan yang lebihtinggi,
sehingga Peraturan Daerah yang bersangkutan dapat
dicabut atau dibatalkan.
2. Kalau ada suatumateri yangakandiatur dalamprodukhukum
di Daerah, yang tidakadalandasan yuridis secarategas dalam
suatu peraturan perundang-undangan atau tidak ada
perintah secara tegas dari suatu peraturan perundang-
undangan tertentu mengenai ketentuan yang membebani
masyarakat harus diatur dalamPeraturanDaerah.
2).TatacarapenulisanMateri yang diatur adalah:
a. Materi yang diatur ditempatkan langsung setelah bab
ketentuanumumatau setelahpasal-pasal ketentuanumumjika
tidakadapengelompokkandalambab.
b. Dihindari adanyabab tentang ketentuan lain-lain. Materi
yangakan dijadikan materiketentuan lain-lain, hendaknya
ditempatkan dalamkelompokmeteri yang diatur denganjudul
yangsesuaidenganmateri tersebut.
200 mPajakdanRetribusi Daerah
Ketentuan lain-lain hanya dicantumkan untuk ketentuan
yang benar-benar lain dari materi yang diatur, namun
masih mempunyai kaitan dan perlu diatur. Penempatan
bab ketentuan lain-lain dicantumkan pada bab atau pasal
terakhir sebelumbab ketentuan pidana.
C. Ketentuan Penyidikan
Ketentuan penyidikan adalah merupakan penegasan atau
penunjukan Pejabat Penyidikatas pelanggaran terhadap Peraturan
Daerah. Ketentuan penyidikan ditempatkan setelah ketentuan pidana.
Catatan:
Ada atau tidak ada ketentuan penyidikan terhadap pelanggaran,
larangan dan kewajiban dalam materi yang diatur tergantung ada
dan tidak adanya ketentuan pidana. Kalau ketentuan pidana ada,
maka ketentuan penyidikan ada, dan jika ketentuan pidana tidak
ada, maka dengan sendirinya ketentuan penyidikan tidak ada.
Contoh:
BAB. ..
KETENTUANPENYIDlKAN
Pasal....
a. Penyidikan atas pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal
.... (Pasalketentuanpidana) .... dilakukanolehPejabatPenyidikPegawai
Negeri Sipil (PPNS) sesuaidengan wilayah hukum yang ditentukan.
b. Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat(l) adalah :
1. . .
2 .
d. Ketentuan Pidana
Ketentuan Pidana tidak mutlak harus ada dalam suatu Peraturan
Daerah. Ada atau tidak ada ketentuan pidana tergantung pada kaidah-
kaidah dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan.(ada larangan dan
kewajiban)
Ketentuan pidana berkaitan dengan adanya kaidah larangan atau
perintah yang memuat Undang-undang atau kebijakan Pemerintah
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 201
.Daerah berdasarkan Undang-undang harus dipertahankan ketentuan
pidana tersebut. Disamping ketentuan pidana dapat juga dirumuskan
sanksi administratif (Misalnya Pencabutan izin atau upaya paksa).
Dalam merumuskan ketentuan pidana,yang harus perlu
diperhatikan adalah:
c. Rumusan pidana harus berpegang pada ketentuan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi atau azas-azas umum
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Buku 1, yang menyatakan
bahwa ketentuan dalam Buku 1 berlaku juga bagi perbuatan
yang dipidana menurut peraturan perundang-undangan lain
kecuali oleh Undang-undang ditentukan lain.
d. Dalam merumuskan ancaman pidana harus memenuhi unsur-
unsur:
1. Penyebutan subjek pidana yaitu setiap orang atau badan
hukum.
2. Penyebutan sifat perbuatan apakah sengaja atau kelalaian,
dirumuskan sebagai berikut :
a. Setiaporang yangdengan sengaja.
b. Setiap orang yang karena kelalaiannya.
c. Penyebutanjenis perbuatan pidana,apakah kejahatan atau
pelanggaran. Penyebutanjenis perbuatan pidana dipisahkan
dalam ayat atau pasal tersendiri. Contoh:
1. Perbuatan(tindak) pidana sebagaimana dimaksud
dalam pasal ..... dan seterusnya adalah kejahatan ..
2. Perbuatan (tindak) pidana sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) adalah pelanggaran.
Penyebutanjenis pidana ini bertalian dengan sistem hukumpidana
Indonesia yang masih membedakan antara kejahatan dan pelanggaran.
Apabila KUH Pidana yang baru tidak membedakan lagi antara
kejahatandanpelanggaran, makapenyebutanpidana tidak diperlukan lagi.
3. Penyebutan ancaman lamanya pidana kurungan atau
besarnya denda yang disebutkan adalah ancaman
maksimum. Untuk pidana badan disebutkan paling
2 0 ~ 11 PajakdonRetribusi Daerah
lama, sedangkan untuk pidana denda disebutkan pal-
ingbanyak.
4. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri,
yaitu BAB KETENTUAN PIDANA yang letaknya
sesuai dengan materi yang diatur atau sebehim
KETENTUAN PERALIHAN.
Jika ketentuan peralihan tidak ada maka letaknya sebelum BAB
KETENTUAN PENUTUP.
Contoh:
BAB .
KETENTUAN PIDANA
Pasal .
e . Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan dalam
Pasal . - dan dipidana dengan pidana kurungan paling lama atau
Benda ? paling banyak Rp .
f . Setiap orang atau badan hukum yang karena kelalaiannya
melanggar ketentuan dalam Pasal .. . , dan dipidana dengan
pidana kurungan paling lama atau denda paling banyak Rp ( ).
g. Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2)
adalah pelanggaran.
e. Ketentuan Peralihan
Ketentuan peralihan timbul sebagai cara mempertemukan antara
asas mengenai akibat kehadiran peraturan baru dengan keadaan
sebelumperaturan baru itu berlaku. Pada asasnya pada saat peraturan
barn berlaku, maka semuaperaturanlamabeserta akibat-akibatnya menjadi
tidak berlaku. Kalau azas ini diterapkan tanpa memperhitungkan keadaan
yang sudahberlaku, makadapat timbul kekacauanhukum, ketidakpastian
hukum atau kesewenang-wenangan penerapan hukum.
Untuk menampung akibat berlakunya peraturan baru terhadap
peraturan lama atau pelaksanaan peraturan lama, · diadakanlah
ketentuan atau aturan peralihan. Dengan demikian, ketentuan
peralihan berfungsi:
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan DaerahIJ 203
.h. Menghindari kemungkinan terjadinya kekosongan hukum atau
kekosongan produk hukum tingkat Daerah (Rechtsvacuum).
i. Menjamin kepastian hukum (Rechtszekerheid) .
j . Perlindungan hukum (Rechtsbescherming) , bagi rakyat atau
kelompok tertentu atau orang tertentu.
Jadi, pada dasarnya, ketentuan peralihan merupakan
"penyimpangan" terhadap peraturan baru itu sendiri.Suatu
penyimpangan yang tidak dapat dihindari (Necessaryevil) dalam
rangka mencapai atau mempertahankan tujuan hukum secara
keseluruhan (ketertiban, keamanan dan keadilan).
Penyimpangan ini hanya bersifat sementara, karena itu dalam
rumusan ketentuan peralihan harus dimuat keadaan atau syarat-syarat
yang akan mengakhiri masa peralihan tersebut. Keadaan atau syarat
tersebut dapat berupa pembuatan peraturan pelaksanaan baru (dalam
rangka melaksanakan peraturan baru) atau penentuan jangka waktu
tertentu atau mengakui secara penuh keadaan yang lama menjadi
keadaan baru.
f. Ketentuan Penutup
Ketentuan Penutup merupakan bagian terakhir Batang Tubuh suatu
produk hukum, yang biasanyaberisi ketentuan-ketentuansebagai berikut:
k. Penunjukkan organ atau alat perlengkapan yang diikutsertakan
dalam melaksanakan produk-produk hukum yang termasukjenis
peraturan perundang-uridangan, yaitu berupa:
1. Pelaksanaan sesuatu yang bersifat menjalankan (eksekutif),
yaitu menunjukpejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk
melaksanakanhal-hal tertentu.
2. Pelaksanaan sesuatu yang bersifat mengatur (legislatif), yaitu
pendelegasian kewenangan untuk membuat peraturan
pelaksanaan bagi produk-produk hukum yang bersangkutan
dengan pejabat atau badan tertentu.
1. Nama singkatan (citeertitel)
m. Ketentuan tentang saat mulai berlakunya produk-produk hukum
yang bersangkutan. Ketentuan berlakunya suatu produk-produk
hukum dapat melalui cara-cara sebagai berikut:
204 \1 Pajakdon Retribusi Daerah
1. Penetapan mulai berlakunya produk-produk hukumpada suatu
tanggal tertentu.
2 . Saat mulai berlakunya produk-produk hukumtidak dapat harus
sama untuk seluruhnya. Untuk beberapa bagian dapat berbeda.
n. Ketentuan tentang pengaruh produk-produk hukum yang baru
terhadap produk-produk hukum yang lain.
2. Batang Tubuh Keputusan Kepala Daerah:
a. Yang bersifat Mengatur(Regelling)
o. Batang Tubuh Keputusan Kepala Daerah memuat semua
materi yang akan dirumuskan dalam pasal-pasal.
p. Pengelompokkan dalambatang tubuh terdiri atas:
1. Ketentuan Umum ;
2. Materi yangdiatur ;
3. Ketentuan Peralihan (kalau ada).
Contoh : Ketentuan pidana dengan ketentuan penyidikan tidak dimuat
dalam Keputusan Kepala Daerah.
q. Materi muatan Keputusan Kepala Daerah adalah merupakan
pelaksanaan dari Peraturan Daerah atau delegasi dari peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi.
r. Tatacara perumusan dan penulisan materi muatan batang tubuh
Keputusan Kepala Daerah, sama halnya dengan tatacara
perumusan dan penulisan materi muatan Peraturan Daerah .
s. Kerangka Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur
(Regelling) sebagaimana tercantumdalamLampiranII.
b. Yang bersifat Penetapan (Beschikking).
t Batang tubuh Keputusan Kepala Daerah yang bersifat penetapan
(Beschikking) memuat semua materi muatan keputusan yang
dirumuskan dalam Diktum-diktum.
u. Pengelompokkan dalam batang tubuh terdiri atas materi yang
diatur.
contoh:
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan DaerahIJ 205
' PERTAMA : .
KEDUA: .
v. Diktum terakhir menyatakan Keputusan dinyatakan telah berlaku
pada tanggal ditetatpkan. Catatan : Ketentuan Umum dan
Ketentuan Peralihan tidak perlu ada dalam batang tubuh, karena
Keputusan Kepala Daerah yang bersifat Penetapan adalah konkrit,
individual dan final (Misalnya Keputusan Pengangkatan Pegawai
dalam Jabatan).
w. Kerangka Keputusan Kepala Daerah yang bersifat penetapan
(Beschikking) sebagaimana tercantum dalam Lampiran angka
2.
3. Batang Tubuh Instruksi Kepala Daerah.
x. Batang tubuh Instruksi Kepala Daerah memuat semua materi yang
akan dirumuskan dalam Diktum-diktum.
y. Pengelompokkan dalam batang tubuh yaitu materi yang
ditetapkan.
z. Materi muatan batang tubuh Instruksi Kepala Daerah; seluruhnya
bersifat perintah.
aa. Kerangka Instruksi Kepala Daerah sebagaimana tercantum dalam
Lampiran.
Contoh: BATANG TUBUH PRODUK-PRODUK HUKUM
1) Batang Tubuh Peraturan Daerah Propinsi, Kabupaten atau Kota
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasall
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
bb. Daerah adalah
cc. Kepala Daerah adalah
dd. POAM adalah
ee. . ... dst.
206 ~ PajakdonRetribusi Daerah
BAB 11
SUBJEK DAN OBJEK RETRIBUSI
Pasal2
Pasal3
(1) ..
(2) ..
BABIII
(JuduIBAB)
Pasal .
(1) .
(2) .
BAB .
KETENTUAN PENYIDlKAN
Pasal .
(1) .
(2) .
(3) .
BAB .....
KETENTUAN PIDANA
Pasal ...
(1) .
(2) .
BAB .
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal .
(1) .
(2) .
BAB .
KETENTUAN PENUTUP
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 207
(1) ...... Pasal •....
(2) .
...... .. ......
..............................:: ' ::' ::: .
2) Batang Tubuh Keputusan Gubernur, Bupati atau Walikota yang
bersifat mengatur (regeling) adalah:
BABI .
Pasall
D. Penutup
Penutup suatu produk-produk hukum mernuat hal-hal sebagai
berikut:
1. Perintahpengundangan Peraturan Daerah atau KeputusanKepala
Daerah, Bupati atauWalikota dan penempatannya dalamLembaran
Daerah.
2. Rumusanperintahpengundangan, berbunyi sebagai berikut: Agar
setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
(namajenis Peraturan Daerah atau Keputusan Gubernur, Bupati
atau Walikota) ini dengan penempatannya dalam Lembaran
Daerah (nama Daerah yang bersangkutan).
3. Penandatanganan penetapan PeraturanDaerahdanatauKeputusan
Gubernur, Bupati atau Walikota, memuat:
1. Kata "penetapan"jugadipakai padajenisKeputusandan Instruksi
Gubemur, Bupati atauWalikota.
Contoh:
1) Pengesahan
Ditetapkandi Cibinong
pactatanggal ..
BUPATIBOGOR
dto
EDDIE YOSO MARTADIPUTRA
208 ~ Pajakdon Retribusi Daerah
2) Penetapan
Ditetapkan di Bogor
pada tanggal .
WALIKOTA BOGOR
dto
H. EDDY GUNADI
4. Pengundangan Peraturan Daerah atau Keputusan Gubernur,
Bupati atau Walikota, memuat:
1. Rumusan tempat tanggal pengundangan diletakkan sebelah
kiri (dibawah penanda tanganan penetapan).
2. Namajabatan ditulis dengan hurufkapital dan pada akhir kata
diberi tanda baca koma (,).
3. Namalengkappejabatyangmenandatangani, ditulis denganhuruf
kapital.
Contoh:
DiundangkandiBogor
padatanggal .
SEKRETARISDAERAH KOTA
BOGOR,
dto
NamaTerang
5. Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Daerah yang
bersangkutan yang memuat tahun dan nomor serta ditulis dengan
huruf kapital, Contoh:LEMBARAN DAERAH KABUPATEN
BOGORTAHUN2000NOMOR54
6. Penulisan tahun dan nomor dalam Lembaran Daerah, merupakan
bukti bahwa Peraturan Daerah atau Keputusan Gubernur, Bupati
atau Walikota telah diundangkan.
7. Peraturan Daerah atau Keputusan Gubernur, . Bupati atau
Walikota yang ditetapkan tanpa diundangkan dalam Lembaran
Daerah tidak mempunyai daya laku dan mengikat atau tidak
mempunyai kekuatan hukum.
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan DaerahIJ 209
"E. Penjelasan
Adakalanya suatu peraturan/produk hukum memerlukan
penjelasan, baik penjelasan umum maupun penjelasan pasal demi
pasal,
Produk Hukum Daerah yang memerlukan penjelasan pada
umurnnya adalah jenis produk hukum Daerah yang bersifat mengatur
baik Peraturan Daerah maupun Keputusan Kepala Daerah.
Pada bagian penjelasan umum biasanya dimuat politik hukum
yang melatar belakangi penerbitan produk hukum yang bersangkutan.
Pada bagian penjelasan pasaI demi pasal dijelaskan materi dari norma-
norma yang terkandung di dalam setiap pasal didalam batang tubuh.
Hal-hal yangperIudiperhatikandalampenjelasanadalah:
8. Pembuat produk-produk hukum di Daerah dihindarkan
menyandarkan argumentasi pada penjelasan,tetapi harusberusaha
membuat produk hukum yang dapat meniadakan keragu-raguan.
9. Naskah penjelasan disusun (dibuat) bersarna-sarna dengan
rancangan produk hukum yang bersangkutan.
10. Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran atau materi tertentu.
Penjelasan tidak dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk
rnembuat produk hukum Iebih Ianjut . Oleh karena itu jangan
membuat norma dalam penjelasan.
11. Judul penjelasan sama dengan judul produk-produk hukum yang
bersangkutan. Contoh
PENJELASAN
ATAS
PERATURANDAERAHKABUPATENBOGOR
NOMOR .•.. TAHUN...•
TENfANG
PAJAKREKLAME
12. Penjelasan terdiri dari atas penjelasan umum dan penjelasan pasaI,
pembagiannya dirinci dengan angka Romawi.
210 11 Pajakdan Retribusi Daerah
13. Penjelasan umum memuat uraian sistimatis mengenai latar
belakang pokok-pokok pernikiran, maksud dan tujuan
penyusunan produk hukum serta pokok-pokok atau asas yang
dibuat dalam produk hukum. Pada penjelasan umum dapat
memuat alasan atau pertimbangan dari aspek filosofis, sosiologis
atau politis.
14. Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan
angka Arab. Jika hal itu lebih memberikan kejelasan
PENJELASAN UMUM
1. Dasar pemikiran.
2 ..
3 .
15. Tidakbolehbertentangandenganapayangdiaturdalammateriproduk-
produkhukum.
16. Tidak boleh memperluas atau menambah norma yang sudah ada
dalam batang tubuh produk hukum. .
17. Tidak boleh sekedar pengulangan semata-matadari materi produk
hukum.
18. Tidak boleh memuat istilah atau pengertian yang sudah dimuat
dalam ketentuan umum.
19. Beberapa pasal yang tidak memerlukan penjelasan, disatukan
dan diberi keterangan cukupjelas.
Contoh
Pasal 5 cukup jelas .
Pasal7 sampai dengan PasallOcukupjelas.
20. Padaakhirnaskahpenjelasandimuat keterangan tentangpenempatan
dalamTambahanLembaranDaerahyangditulis denganhurufkapital
dandiikuti nomorurutpenempatantanpatahunpengeluaranyangditulis
denganangkaArab.
Contoh: TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH
KABUPATEN BOGORNOMOR 115
PERUBAHAN PRODUK-PODUK HUKUM DAERAH
Perubahan suatu Produk Hukum Daerah meliputi:
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 211
. 1. Menambah atau menyisipkan ketentuan baru, menyempurnakan
atau menghapus ketentuan yang sudah ada, baik yang berbentuk
Bab, Bagian, Paragaraf, Pasal, ayat maupun perkataan, angka,
huruf, tanda baca dan lain-lainnya.
2. Mengganti suatu ketentuan dengan ketentuan lain, baik yang
berbentuk Bab, Bagian, Paragraf, Pasal, ayat maupun perkataan,
angka, huruf,tanda baca dan lain-lainnya.
Dalam mengadakan perubahan terhadap suatu produk hukum
Daerah, hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Perubahan suatu produk hukum Daerah dilakukan olehpejabat
yang berwenang membentuknya ,berdasarkan prosedur yang
berlaku dan dengan suatu Peraturan Daerah.
b. Perubahan suatu produk hukum Daerah diharapkan dilakukan
secara baik tanpa mengubah sistematika peraturan perundang-
undangan yang diubah.
c. Dalam suatu peraturan perubahan, hendaknya dalam perumusan
penamaan disebut peraturan perundang-undangan mana yang
diubah dan perubahan yang diadakan itu adalah perubahan yang
keberapa kalinya.
Contoh:
(perubahan yang pertama kali)
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH
KABUPATEN BOGOR
NOMOR ..••. TAHUN..•. TENTANG PAJAK
PEMBANGUNAN I
(perubahan selanjutnya)
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR
NOMOR .... TAHUN .....
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DAERAH
KABUPATEN
BOGOR NOMOR ..... TAHUN...TENTANG PAJAK
PEMBANGUNAN I
212 mPajakdonRetribusiDaerah
d. Dalam konsiderans Menimbang suatu produk hukum Daerah
yang diubah harus dikemukakan alasan-alasan atau pertimbangan-
pertimbangan lainnya mengapa peraturan yang lama perlu
diadakan perubahan.
e. Batang tubuh suatu produk hukum Daerah yang diubah hanya
terdiri atas dua pasal yang ditulis dengan angka romawi, dimana
pasal-pasal tersebut dimuat ketentuan sebagai berikut:
1. Pasal I memuat segala sesuatu perubahan, dengan diawali
penyebutan produk hukum daerah yang diubah, dan urutan
perubahan-perubahan tersebut hendaknya ditandai dengan
huruf besar A,B,C dan seterusnya.
2. Pasal 11 memuat ketentuan mengenai mulai berlakunya
peraturan perubahan tersebut.
f . Apabila sutau produk hukum Daerah sudah mengalami perubahan
berulangkali, sebaiknya produk hukum Daerah tersebut dicabut
dan diganti dengan produk hukum Daerah yang baru.
g. Apabila mengubah suatuproduk hukum Daerah secara besar-
besaran, maka demi kepentingan pemakai produk hukum Daerah
tersebut, sebaiknya lebih baik apabila dibentuk dengan produk
hukum Daerah yang baru.
h. Cara-cara merumuskan perubahan produk hukum Daerah dalam
Pasal I undang-undang perubahan tersebut antara lain adalah
sebagai berikut:
1. Apabilasuatu BAB,bagian,pasalatauayatakandihapuskan, angka
satunomorpasal ituhendaknyatetapdituliskan,tetapi tanpaisi,hanya
dituliskandihapuskan.
Contoh:
BAB V Pasal15 dihapuskan.
2. Apabila diantara dua pasal akan disisipkan suatu pasal baru
yang tidak merupakan suatu penggantian dari suatu pasal yang
telah dihapuskan itu, maka pasal baru itu tidak dapat
ditempatkan pada tempat pasal yang dihapuskan. Dalam
penulisannya pasal baru itu ditempatkan diantara kedua pasal
tersebut dan diberi nomor sesuai dengan pasal yang terdahulu
dan ditambahkan dengan huruf A (besar).
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah lJ 213
'Contoh:
Apabila diantara pasal 14 dan 15 akan disisipkan pasal baru
maka pasal baru itu dituliskan dengan pasal14 A.
3. Apabila diantara dua ayat akan disisipkan ayat baru, maka
ayat baru tersebut ditempatkan diantara kedua ayat yang ada,
dan diberi nomor sesuai dengan ayat yang terdahulu dengan
menambahkan huruf a.
Contoh:
Apabiladiantaraayat (1)dan ayat (2) akandisisipkansuatuayat baru,
makadiletakkandiantara ayat(l) dan ayat(2) dan dituliskan ayat (la).
4. Apabila suatu perubahan itu mengenai suatu peristilahan yang
merupakansuatukesatuanmakna, maka perubahannyaharuslah
diusahakan agar tidak menimbulkan suatu pengertian baru.
Contoh:
Jika istilah "urusan perdagangan dalam negeri" akan diubah
menjadi "urusan perdagangan luar negeri", maka janganlah hanya
mengubah perkataan "dalam" menjadi "luar", tetapi seyogyanya
perubahan tersebut dilakukan sebagai berikut "urusan perdagangan
dalam negeri" diganti dengan urusan perdagangan luar negeri".
PENCABUTAN PRODUK-PRODUK HUKUM DAERAH
a. Pencabutan dengan penggantian
Suatu pencabutan dengan penggantian terjadi apabila suatu
produk hukum Daerah yang ada digantikan dengan suatu produk
hukum Daerah yang baru. Bentuk luar (kenvorm) dari produk hukurn
Daerah yang baru ini sama seperti lazimnya pada produk hukum
Daerah lainnya, hanya bedanya produk hukum Daerah yang baru
ini memuat adanya pencabutan terhadap produk hukum yang lama.
Dalam pencabutan dengan penggantian ini, ketentuan pencabutan
tersebut dapat diletakkan didepan, ataupun diletakkan dibelakang
(dalam ketentuan penutup).
214 • PajakdanRetribusi Daerah
Apabila ketentuan pencabutan tersebut diletakkan didepan (dalam
pembukaan), ketentuan pencabutan ini berakibat bahwa produk
hukum daerah yang dinyatakan dicabut tersebut akan tercabut beserta
akar-akarnya, dalam arti produk hukum Daerah tersebut tercabut
beserta seluruh peraturan pelaksananya.
Contoh:
MEMUTUSKAN:
Dengan mencabut : PERATURAN DAERAH JAWA
BARAT NOMOR ... .. TA..HUN....TENTANG PAJAK
REKLAME.
Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA
BARAT NOMOR... TAHUN....TENTANG PAJAK
REKLAME
Akan tetapi, apabila ketentuan pencabutan tersebut diletakkan di
belakang (dalamketentuanpenutup), produk hukumDaerah yang dicabut
tersebut akantercabut, tetapi tidak beserta akar-akarnya, dalamarti produk
hukumDaerahtersebuttercabut, tetapiperaturanpelaksananyamasihdapat
dinyatakanberlaku.
Contoh:
KETENTUAN PENUTUP
Pasal •...
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka Peraturan daerah
Nomor ... Tahun ... tentang.... dinyatakan tidak berlaku.
b. Pencabutan tanpa penggantian
1. Dalampencabutan suatu produk hukum Daerah yang dilakukan
tanpa penggantian, bentuk luar (kenvorm) produk hukum
Daerah tersebut mempunyai kesamaan dengan perubahan
produk hukumDaerah,yaitu bahwa batangtubuhproduk hukum
Daerah, yaitu bahwa batang tubuh produk hukum Daerah
tersebut akan terdiri atas dua pasal yang diberi angka Romawi,
dimana masing-masing pasal tersebut berisi:
o Pasall : berisi tentang ketentuanpencabutanproduk hukum
Daerah.
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah 11 215
o Pasal2 :berisi tentang ketentuan mulai berlakunya produk
hukum Daerah tersebut.
2. Seperti dalam perubahan suatu produk hukum Daerah,
pencabutan suatuproduk hukum Daerahjuga hanya dilakukan
olehpejabat yangberwenang membentuknyaberdasarkanprosedur
yangberlaku, dandengansuatuprodukhukumDaerahyangsejenis.
RAGAM BAHASA
Ragam Bahasa yang dapat dipakai dalam menyusun Produk-
produk Hukum Daerah adalah:
A. Bahasa Perundang-undangan
1. Ragam bahasa perundang-undangan termasuk bahasa Indonesia
yang tunduk kepada kaidah tata bahasa Indonesia yang
menyangkut pembentukan kata, penyusunan kalimat maupun
pengejaannya. Ragam bahasa perundang-undangan mempunyai
corak dan ragam yang khas yang bercirikan kejernihan pengertian,
kelugasan, kebakuan dan keserasian-.
2. Jika merumuskan ketentuan peraturan perundang-undangan,
maka pilihlah kalimat yang lugas dalam arti kalimatnya
tegas,jelas dan mudah ditangkap pengertiannya, tidak berbelit-belit
dan objektif Kalimat yang dirumuskan tidak menimbulkan salah
tafsiran atau menimbulkan pengertian yang berbeda setiap
pembaca. Hindari pemakaian istilah yang pengertiannya
sedemikian kabur dalam hubungan kalimat kurang jelas. Istilah
yang dipakai sebaiknya sesuai dengan pengertian yang biasa
dipakai dalam bahasa sehari-hari.
Upaya pemberian arti kepadaistilahyang menyimpang dan anti yang
biasa dipakai pada umurnnya.
Contoh:
Pertanian meliputi pula peternakan dan perikanan.
3. Hindari pemakaian:
a. beberapa istilahyang berbeda untuk pengertian yang sama.
Contoh:
Istilah gaji, upah, pendapatan digunakan untuk pengertian
penghasilan.
216 IlpajakdanRetribu.siDaerah
b. satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda.
Contoh:
Istilah penangkapan diartikanjuga penahanan atau pengamanan.
4. Untuk mendapatkan kepastian hukum, istilah dan anti dalam
peraturanpelaksanaanyang disesuaikandengan istilahdan arti yang
dipakai dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi
derajatnya.
Contoh:
Pengertian Pajak dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
1997 tentang Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor disesuaikan
dengan istilah Pajak dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
5. Apabila istilah tertentu dipakai berulang-ulang, maka untuk
menyederhanakan susunan peraturan perundang-undangan dapat
dibuat definisi yang ditempatkan dalam Bab (tentang) Ketentuan
Umum.
Contoh:
Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak adalah iuran wajib
yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa
imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku yang digunakan untuk
membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan
daerah.
6. Jika istilah tertentu dipakai berulang-ulang, maka untuk
menyederhanakan susunan suku kata dalam peraturan perundang-
undangan dapat menggunakan singkatan atau akronim.
Contoh:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah menjadi APBD
b. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah menjadi BAPPEDA
7. Singkatan nama atau badan atau lembaga yang belum begitu
dikenal umum dan bila tidak dimuat dalam Ketentuan Umum,
maka setelah tulisan lengkapnya, singkatannya dibuat diantara
tanda kurung . :
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 217
' Contoh:
a. Badan Koordinasi Surveidan Pemetaan Nasional(Bakosurtanal)
b. Kredit Usaha Tani(KUT)
8. · Dianjurkan sedapat mungkin menggunakan istilah pembentukan
bahasa Indonesia. Pemakaian (adopsi) istilah asing yang banyak
dipakai dansudahdisesuaikanejaannya dengankaidahbahasa Indo-
nesia dapat dipertimbangkan dan dibenarkan, jika istilah asing itu
memenuhi syarat:
a. Mempunyai konotasi yang cocok;
b. Lebihsingkat biladibandingkandenganpadanannyadalam
bahasa Indonesia;
c. Lebih mudah tercapainya kesepakatan;
d. Lebih mudah dipahami daripada terjemahan bahasa Indo-
nesia.
Contoh:
(1). apresiasi (memberikan penilaian atau penghargaan) .
(2). devaluasi(penurunari nilai mata uang) .
(3). devisa(alat-alatb pembayaranluar negeri).
B. Pilihan Data atau Istilah
1. Pemakaiankata paling
Untuk menyatakan pengertian maksimum (relatif) digunakan
kata paling :
Contoh
Diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan
atau denda paling banyak Rp.5 .000.000,-(1imajuta rupiah) .
Hindari penggunaan kata sekurang-kurangnya dalam merumuskan
norma ketentuanpidanaatau normayang menyangkut batasan waktu.
2. Pemakaiankata kecuali
Untuk menyatakan makna tidak termasuk dalam golongan
digunakan kata kecuali. Kata kecuali ditempatkan diawal kalimat
jika yang dikecualikan induk kalimat.
218 11 Pajakdan Retribusi Daerah
Contoh:
Kecuali A dan B, setiap orang wajib memberikan kesaksian
didepan sidang pengadilan
3. Pemakaiankata Disamping
Untuk menyatakan makna termasuk,dapat digunakan kata
disamping.
Contoh
Disamping menjalani pidana penjara,terpidana juga dikenai
denda.
4. Pemakaian kata jika dan kata makna
Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan
digunakan kata jika atau frasa dalam halo Gunakan kata jika bagi
kemungkinan atau keadaan yang akan terjadi lebih dari sekali dan
setelah anak kalimat diawali kata makna.
Contoh:
Jika perusahaan itu melanggar kewajiban yang dimaksudkan
dalam ... , maka... . .
5. Pemakaian kata apabila
Untuk menyatakan atau menunjukkan uraian atau penegasan
waktu terjadinya sesuatu, sebaiknya menggunakan kata apabila atau
bahwa.
Contoh:
Salah satu pihak dalam perjanjian kerjasama ini dapat
mengajukan pembatalan perjanjian apabila pada waktu perjanjian
ini dibuat terdapat unsur paksaan, kekhilafan dan penipuan.
6. Pemakaian kata dan, atau, dan atau
a. Untuk menyatakan sifat yang kumulatif digunakan kata dan.
Contoh:
A dan B wajib memberikan .. .
b. Untuk menyatakan sifat alternatif atau eksklusif digunakan
kata atau.
Teknik Penyusunan Peraturan Perpajakan Daerah11 219
-Contoh:
A atau B wajib memberikan ....
C. Untuk menyatakan sifat alternatif ataupun kumulatif digunakan
frasa dan atau.
Contoh:
Adan atau Bdapat memperoleh . . .
7. Untuk menyatakan istilahhak digunakan kata berhak
Contoh:
Setiap Pegawai Negeri Sipil berhak untuk mendapatkan pensiun.
8. Untuk menyatakan kewenangan, digunakan kata dapat atau
kata boleh
Kata dapat merupakan kewenangan yang melekat pada
seseorang, sedangkan kata boleh tidak melekat pada diri seseorang.
Untuk menyatakan istilah kewajiban digunakan kata wajib .
Contoh:
(4). Menteri Dalam Negeri dapat memberikan pertimbangan/:
penghargaan/sanksi kepada setiap PNS diJajaran Departemen
Dalam Negeri.
(5). Setiapwarga negara wajib membayar pajak.
9. Untuk menyatakan istilah sekedar kondisi atau persyaratan,
digunakan kata harus
Contoh:
Untuk menduduki suatu jabatan tertentu seseorang calon pejabat
harus terlebih dahulu mengikutipendidikan penjenjangan.
digunakan frasa tidak diwajibkan atau tidak wajib
Contoh:
Warga negara yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin
tidak diwajibkan untuk mengikuti pemilihan umum.
C. Teknik Pengacuan
a. Untuk mengacu ayat atau pasallain,digunakan frasa sebagaimana
dimaksud pada atau dalani.
220 ~ PajakdonRetribusi Daerah
Contoh:
.. .sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasall 8 .
Jika mengacu ke peraturan lain pengacuan dengan urutan pasal,
ayat dan judul peraturan perundang-undangan.
Contoh:
. . . sebagaimana dimaksud dalam Pasa128 ayat(3) Undang-
undang Nomor I Tahun 1974 tentang Perkawinan.
b. Usahakanlah agar setiap Pasal atau kebulatan ketentuan tanpa
mengacu ke Pasal lain. Pengacuan dilakukan dengan
mencantumkan secara singkat materi pokok yang diacu.
Contoh:
Izin penggalian tambang batubara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal18 ....
Pengacuan hanya boleh dilakukan ke peraturan yang tingkatnya
sama atau lebih tinggi .
c. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor
& tiap pasal atau ayat yang diacu dan hindarkan penggunaan
frasa pasal yang terdahulu atau pasal tersebut diatas atau Pasal
ini.
Contoh:
Panitia Pemilihan, sebagaimana dimaksud dalam Pasa134 ayat
(3), bertugas . ..
Jika ketentuan dari pengaturan yang diacu memang dapat
diberlakukan seluruhnya, maka istilah tetap berlaku dapat digunakan.
Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah yang telah ada dan terkait
dengan Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) dan Peraturan Daerah tentang
Retribusi yang telah ada dan terkait dengan Pasal 18 ayat (3) masih
tetap berlaku sebelumdiberlakukannya Peraturan Daerah berdasarkan
Undang-undang ini.
Pernyataan tetap berlaku dengan pengertian bahwa digunakan
jika ketentuan yang diacu itu sebagian diberlakukan atau
diberlakukan dengan perubahan.
Teknik Penyusunan PeraturanPerpajak(m Daerah11 221
Contoh:
Peraturan Daerah tentang Pajak selain sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dinyatakan tetap berlaku selama 1 (satu) tahun sejak
berlakunya Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah.
~ I!!s ~
222 I1 PajakdanRetribusi Daerah
DAfTA:R PUSTAKA
Agus SN, Suwondo, Gunadi, Pajak dan Retribusi Daerah, Univer-
sitas Terbuka, Depdikbud, Jakarta, 1994.
Atep Adya Barata dan Zul Afdi Ardian, Perpajakan, Jilid 1, CV.
Amrico, Bandung, 1989
Bird, Richard M., dan Milka Casanegra de jantscher.ed.el. 1992.
Improving Tax Administration In Developing Countries.
Washington D.e.: International Monetary Fund.
CIDES, www.cides.or.id/otda. 30 Mei 2003
Davey, K.J . Pembiayaan Pemerintahan Daerah, Jakarta, UI Press,
1988
Devas. C.N. Keuangan Pemerintah Daerab di Indonesia, Jakarta,
UI Press, 1989.
Devereux, Michael P 1996. The Economics of Tax Policy. London:
Bantam Press.
DitJen PUOD, Manual Pendapatan Daerah , Jakarta, Departemen
Dalam Negeri, 1989.
224 PajakdonRetribusi Daerah
Due, JohnE, clan AnnEFriedlaender. , Government Finance. 7, edition.
NewYork: RichardD. Irwin, Inc, 1984.
Fushimi, Toshiyuki, Administrasi PerpajakanTang Semestinya. Jakarta:
Makalah penelitiandari nCA expert(fromNational TaxAgency,
Japan) di DirektoratJenderal Pajak, 2001.
HarryYusufA.Laksana, Bagaimana Mendesain Pembuatan TaxPolicy
yang Baik, Jurnal Perpajakan Indonesia, PT. SalembaEmban
Patria, Jakarta,200l.
Hyman, David N., Public Finance a Contemporary Application of
Theory toPolicy. NewYork: TheDrydenPress. Hardcourt Brace
College Publisher, 1996.
Musgrave, Richard A., dan Peggy B. Musgrave., Public Finance in
Theory and Practice. ThirdEdition. NewYork: McGraw-Hill Book
Company, 1980.
Pemerintah RepublikIndonesia, PPNo. 65 Tahun 200] tentang Pajak
Daerah
PemerintahRepublikIndonesia, PPNo. 66Tahun 200]tentang Retribusi
Daerah
Pemerintah Republik Indonesia, UUNo.34Tahun 2000tentang Pajak
danRetribusi Daerah
Rochmat Soemitro, Dasar-dasarHukum Pajak danPajak Pendapatan,
Bandung, PTEresco, 1977.
Rosen, HarveyS., Public Finance. 6,h edition. NewYork. International
Edition. McGraw-Hill Companies, Inc, 1999.
_______________________________ _ 11 I
. Shome, Parthasarathi., Tax Policy Handbook. Washington l r.t ' IlIll 'l
national Monetary Fund, 1995.
Slamet Sularno (SeriDiktat), Administrasi Penerimaan Daerati, (f aliI
tahun).
Smith, Adam, An Enquiry intothe Nature and Causes oftlu : H
ofNation. Cannanedition. London: Methuen. 1904.
Soetrisno P.H., Dasar-dasar Ilmu Keuangan Negara; YogYiI
BPFE-UGM,1985.
Stiglitz, josephE., Economics ofThe Public Sector. 2th Edit 11111 N
York: WWNortonCompany, 1988.
Tanzi, Vito, dan Howell Zee. ,TaxPolicyfor Developing ( 't 111/1
Washington: D.C;: IMFWorking Paper, March 200J•
Thuronyi, Victor., TaxlawDesignandDrajting. Volume J dun VOIIII
n. WashingtonRC.: International Monetary Fund,J<)9X
Tubagus ChairulAmachiZandjani, Perpajakan, PAU-EK-l JJ dl 'lIlJ.llll
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992
..
"

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->