STUDI TENTANG SYARAT-SYARAT MUFASSIR AL-QURAN Oleh Muhammad Isa Anshory PENDAHULUAN Al-Quran merupakan kitab suci

umat Islam yang menjadi sumber hukum dan pandangan hidup (way of life) bagi mereka. Kitab ini dijunjung tinggi dan dihormati oleh setiap muslim di seluruh penjuru dunia selama berabad-abad. Allah Subhânahu wa Ta‘âla memberikan jaminan untuk memelihara Al-Quran dari segala penyimpangan hingga hari kiamat.1 Oleh karena itu, Al-Quran yang ada di tangan kita pada hari ini tetap otentik dan sama dengan Al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam 15 abad yang lampau. Al-Quran yang tetap otentik ini memberikan pengaruh kekuatan luar biasa kepada umat Islam selama mereka mau berpegang teguh dengannya. Kenyataan ini sangat dipahami dan disadari oleh musuh-musuh Islam. William Gladstone, mantan Perdana Menteri Inggris, pada 1882 menyampaikan pidatonya di hadapan parlemen, "Percuma memerangi ummat Islam. Kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam masih bertengger Al-Quran. Tugas kita adalah mencabut Al-Quran di hati mereka. Dan kita akan menang menguasai mereka,"2 Serangan terhadap Al-Quran pun beramai-ramai dilakukan oleh para orientalis Barat. Mereka berusaha untuk mengkritisi serta meragukan otentisitas dan kesakralan Al-Quran. Alphonse Mingana, seorang pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, pada 1927 mengumumkan, “Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Quran sebagaimana yang telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab-kitab Kristen yang berbahasa Yunani.”3 Kita tentu tidak akan heran jika orang yang melakukan penyerangan terhadap AlQuran tersebut berasal dari kalangan Yahudi dan Kristen. Akan tetapi, menjadi sangat tragis dan ironis jika penyerangan itu juga dilakukan oleh kalangan yang menyatakan dirinya sebagai muslim; bahkan berkembang dari dan di perguruan tinggi negeri yang memakai embel-embel Islam. Dalam hasil penelitian tentang perkembangan paham-paham liberal keagamaan di sejumlah kota besar di Indonesia, Litbang Departemen Agama pada 14 November 2006 memaparkan laporannya mengenai paham “Islam Liberal” yang berkembang di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta. Pada bagian “Memaknai teks AlQuran dan Al-Hadits secara liberal dengan mengutamakan semangat religio etik” dipaparkan bagaimana pandangan Islam Liberal terhadap Al-Quran, “Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah Subhânahu wa Ta‘âla kepada Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, melainkan merupakan produk budaya (muntâj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di
1

I.

Allah berfirman,

‫ن‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻓﻈ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﺤ‬ َ‫ﻪ‬ ُ‫ﻟ‬ َ ‫ﱠﺎ‬ ‫إﻧ‬ ِ‫و‬ َ ‫ﺮ‬ َ‫آ‬ ْ‫ﺬ‬ ‫َﺎ اﻟ ﱢ‬ ‫ﻟﻨ‬ ْ‫ﺰ‬ ‫ﻧﱠ‬ َ‫ﻦ‬ ُ‫ﺤ‬ ْ‫ﻧ‬ َ ‫ﱠﺎ‬ ‫إﻧ‬ ِ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr: 9) 2 http://abiridha.multiply.com/journal/item/4 3 Arif, Syamsuddin. “Al-Quran, Orientalisme, dan Luxenberg” dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan Vol. I No. 1 Januari 2005 hal.10. Dinukil dari artikel yang ditulis oleh Mingana dalam Bulletin of the John Rylands Library (Manchester, 1927) XI: 77.

www.aadesanjaya.blogspot.com

Dinukil dari Al-Burhân juz I hal. II. siapakah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Al-Quran dan apa saja yang harus dipenuhi olehnya? Tulisan ini mencoba untuk menjelaskannya. 5 7 Ar-Rumy. Hal. Xiii.‫وﺑﻴﺎن اﻟﻤﺮاد‬ 4 Husaini.aadesanjaya. maka pengertiannya harus merujuk pada pengertian yang sesuai dengan sudut pandang (worldview) Islam. Imam Az-Zarkasy dalam kitabnya. paling baik penjelasan dan perinciannya. kata tafsir (‫ )اﻟﺘﻔﺴﻴﺮ‬berarti (‫“ )اﻹﻳﻀﺎح واﻟﺘﺒﻴﻴﻦ‬menjelaskan”. Dalam bahasa Arab. para ulama mengemukakan beragam definisi mengenai tafsir yang saling melengkapi antara satu definisi dengan definisi lainnya. Hal. “Virus Abu Zaid di Indonesia” dalam pengantar: Shalahuddin. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman. Buhûts fî Ushûl At-Tafsîr wa Manâhijuhu. 5 Riyadi. Muhammad Husain.blogspot.UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia. www. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Endar Riyadi mengenai keharusan melakukan interpretasi terhadap teks-teks keagamaan yang selama ini dipandang dan melahirkan cara pandang yang membenci. 1419 H. Hal. Al-Burhân fî ‘Ulûm Al-Qurân. kata tafsir berasal dari derivasi (isytiqâq) al-fasru (‫ )اﻟﻔﺴﺮ‬yang berarti (‫“ )اﻹﺑﺎﻧﺔ واﻟﻜﺸﻒ‬menerangkan dan menyingkap”. melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik tafsirnya. toleran. 6 Adz-Dzahabi.5 Akan tetapi. menjelaskan maknanya. KSA: Maktabah At-Taubah. dan inklusif.com .” (QS Al-Furqan: 33) Maksudnya. Kairo: Dâr Al-Ma’ârif. Henri. ‫ًا‬ ‫ِﻴﺮ‬ ‫ﻔﺴ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ﻦ‬ َ‫ﺴ‬ َ‫ﺣ‬ ْ‫أ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻖ‬ ‫ﺤﱢ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﺎ‬ ‫كﺑ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﺌﻨ‬ ْ‫ﺟ‬ ِ ‫ﻻ‬ ‫إﱠ‬ ِ‫ﻞ‬ ٍ‫ﺜ‬ َ‫ﻤ‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ﻚ‬ َ‫ﻧ‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﺄﺗ‬ ْ‫ﻳ‬ َ‫ﻻ‬ َ‫و‬ َ “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil.”4 Ajakan untuk melakukan penafsiran ulang (reinterpretasi) terhadap Al-Quran semakin sering terdengar.‫ﻋﻠﻢ ﻳﺒﺤﺚ ﻋﻦ ﻣﺮاد اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻘﺪر اﻟﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﻳﺔ‬ . mendefinisikan tafsir dengan: ‫ّﻢ وﺑﻴﺎن ﻣﻌﺎﻧﻴﻪ‬ ‫ّﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠ‬ ‫ّﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠ‬ ‫ﱠل ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴ‬ ‫ﻨﺰ‬ َ‫ﻤ‬ ُ ‫ب اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ اﻟ‬ ُ ‫ُﻔﻬﻢ ﺑﻪ آﺘﺎ‬ ‫ﻢ ﻳ‬ ٌ ‫ﻋﻠ‬ ‫ِﻪ‬ ‫ﻜﻤ‬ َ‫ﺣ‬ ِ ‫واﺳﺘﺨﺮاج أﺣﻜﺎﻣﻪ و‬ “Ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. 14. Tt. 8. Hal. intoleran dan tidak ramah terhadap orang-lainagama sebagai salah satu diantara tiga agenda pokok dalam rangka menampilkan kembali wajah agama (Islam) yang ramah. Ketika kita membahas tafsir Al-Quran. Melampaui Pluralisme. Endar. serta menguraikan hukum dan hikmahnya. kata al-fasru juga bermakna menerangkan dan menyingkap sesuatu yang tertutup. 13. Imam Jalaluddin As-Suyuthy mendefinisikan tafsir dengan: ‫ ﻓﻬﻮ ﺷﺎﻣﻞ ﻟﻜﻞ ﻣﺎﻳﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻬﻢ اﻟﻤﻌﻨﻰ‬. 2007. Selain itu. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam di Nusantara ini hermeneutika makin digemari.”7 Sementara itu. Al-Quran Dihujat.6 Adapun secara istilah. apakah setiap orang memiliki otoritas untuk menafsirkan Al-Quran? Lantas. Penafsiran ulang tersebut terutama dilakukan terhadap ayat-ayat yang dipandang tidak lagi relevan dengan konteks zaman ini atau dapat menimbulkan problem dengan penganut agama lain. 2007. Di dalam kamus. Jakarta: Al-Qalam. Etika Al-Quran tentang Keragaman Agama. ‘Ilmu At-Tafsir. DEFINISI TAFSIR DAN MUFASSIR Tafsir dalam disiplin ilmu Al-Quran tidak sama dengan interpretasi teks lainnya. baik itu teks karya sastra maupun teks suatu kitab yang dianggap sebagai kitab suci agama tertentu. Lafal dengan makna ini disebutkan di dalam Al-Quran. Adian. Jakarta: RMBooks.

Ia melatih dirinya di atas manhaj para mufassir dengan mengetahui banyak pendapat mengenai tafsir Kitâbullâh. 6 Az-Zarqany. akan tetapi kebanyakannya –bahkan semuanya— termasuk pengetahuan secara lafal. definisi di atas dijelaskan sebagai berikut: Maksud kata ilmu adalah pengetahuan-pengetahuan yang terkonsep. maka tidak termasuk di dalamnya ilmu-ilmu yang membahas perihal Al-Quran dari segi selain segi penunjukan dalilnya.‫ﺎ ﺑﺘﻌﻠﻴﻢ أو ﺗﺄﻟﻴﻒ‬ ً‫ وﻣﺎرس اﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻋﻤﻠﻴ‬. hal. 1995 Manâhilul ‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qurân.” Dengan perkataan kami. adalah untuk menjelaskan bahwa tidak dianggap cacat dalam ilmu tentang tafsir ketidaktahuan terhadap makna mutasyabihat dan ketidaktahuan terhadap maksud Allah dalam sebuah peristiwa atau perkara. Demikian juga ilmu rasm ‘Utsmany yang membahas keadaan Al-Quran Al-Karim dari segi cara menuliskan lafal-lafalnya. “membahas tentang perihal Al-Quran”.9 Demikianlah definisi tafsir yang dikemukakan oleh para ulama. “dari segi penunjukan dalilnya sesuai dengan maksud Allah ta‘ala”. maka tidak termasuk di dalamnya ilmu-ilmu yang membahas perihal selain Al-Quran. Husain bin Ali bin Husain AlHarby menjelaskan definisi mufassir secara lebih panjang: ‫ ﻗﺪر‬. 8 9 Adz-Dzahabi. 6 www. Abdul Hakim menjelaskan secara lebih panjang. Dengan perkataan kami. Sayid berpendapat bahwa tafsir termasuk legalisasi (tashdîqât) karena mencakup hukum atas lafal-lafal bahwa lafal-lafal tersebut bermanfaat bagi maknamakna terkait yang disebutkan dalam tafsir. Ilmu tafsir juga termasuk pengetahuan. sedangkan pelakunya disebut sebagai mufassir. Juz II. Beirut: Dâr AlKitâb Al-’Araby. Tidak termasuk juga dengan perkataan ini ilmu yang membahas keadaan Al-Quran dari segi ia makhluk atau bukan makhluk karena ini termasuk pembahasan dari ilmu kalam Demikian juga ilmu yang membahas keadaan Al-Quran dari segi diharamkan untuk membacanya bagi orang yang junub dan yang semisal karena ini termasuk pembahasan dari ilmu fikih.”8 Definisi tafsir lainnya dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Abdul Azhim AzZarqany: ‫ﻋﻠﻢ ﻳﺒﺤﺚ ﻓﻴﻪ ﻋﻦ أﺣﻮال اﻟﻘﺮﺁن اﻟﻜﺮﻳﻢ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ دﻻﻟﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺮاد اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻘﺪر اﻟﻄﺎﻗﺔ‬ ‫اﻟﺒﺸﺮﻳﺔ‬ “Ilmu yang membahas perihal Al-Quran Al-Karim dari segi penunjukan dalilnya sesuai dengan maksud Allah ta‘ala berdasarkan kadar kemampuan manusiawi” Oleh Az-Zarqany.aadesanjaya. Tafsir adalah aktivitasnya.cit. Op.“Ilmu yang membahas maksud Allah ta‘ala sesuai dengan kadar kemampuan manusiawi yang mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan pemahaman dan penjelasan makna. “berdasarkan kadar kemampuan manusiawi”.‫ وراض ﻧﻔﺴﻪ ﻋﻠﻲ ﻣﻨﺎهﺞ اﻟﻤﻔﺴﺮﻳﻦ‬. Misalnya ilmu qira’ah yang membahas keadaan AlQuran dari segi pengaturan lafal dan cara membacanya. Hal. Muhammad Abdul Azhim.com . Perkataan kami.‫آﺘﺎب اﷲ‬ “Mufassir adalah orang yang memiliki kapabilitas sempurna yang dengannya ia mengetahui maksud Allah ta‘ala dalam Al-Quran sesuai dengan kemampuannya.blogspot. “Sesungguhnya ilmu tafsir termasuk konsepsi (tashawwurât) karena tujuannya adalah memahami konsep makna lafal-lafal Al-Quran.‫اﻟﻄﺎﻗﺔ‬ .‫ّﺪ ﺑﺘﻼوﺗﻪ‬ ‫ّﺔ ﻳﻌﺮف ﺑﻬﺎ ﻣﺮاد اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻜﻼﻣﻪ اﻟﻤﺘﻌﺒ‬ ‫ّﺮ هﻮ ﻣﻦ ﻟﻪ أهﻠﻴﺔ ﺗﺎﻣ‬ ‫اﻟﻤﻔﺴ‬ ‫ ﻣﻊ ﻣﻌﺮﻓﺘﻪ ﺟﻤﻼ آﺜﻴﺮة ﻣﻦ ﺗﻔﺴﻴﺮ‬.

Siapa saja yang ingin menafsirkan Al-Quran harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Bahasa Arab karena dengannya seorang mufassir mengetahui penjelasan kosakata suatu lafal dan maksudnya sesuai dengan objek.12 Lima belas ilmu tersebut adalah sebagai berikut: 1. Ahmad Bazawy. 1996. 10 . Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www. 29. yaitu: syarat pengetahuan murni dan syarat manhajiyah (berkaitan dengan metode). Diakses dari Mauqi‘ Umm Al-Kitâb li Al-Abhâts wa Ad-Dirâsât Al-Ilikturûniyah: www. Husain bin Ali bin Husain. Oleh karena demikian urgennya penguasaan terhadap bahasa Arab dalam menafsirkan Al-Quran. Syarat Pertama: Aspek Pengetahuan Aspek pengetahuan adalah syarat yang berkaitan dengan seperangkat ilmu yang membantu dan memiliki urgensitas untuk menyingkap suatu hakikat. Dirâsah Nazhâriyyah Tathbîqiyyah.Selain itu. Para ulama memberikan istilah untuk aspek pengetahuan ini dengan syaratsyarat seorang alim. Bahkan jika ia nekad membuka praktek dan ternyata pasien malah bertambah sakit.omelketab. Adanya persyaratan ini merupakan suatu hal yang wajar dalam semua bidang ilmu. Tanpa seperangkat ilmu tersebut. Jalaluddin. ia menerapkan tafsir tersebut baik dengan mengajarkannya atau menuliskannya.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007. kita mengetahui bahwa menafsirkan Al-Quran merupakan amanah berat.” 2.ahlalhdeeth. syarat yang ketat mutlak diperlukan agar tidak terjadi kesalahan atau kerancuan dalam penafsiran. tidak setiap orang memiliki otoritas untuk mengemban amanah tersebut.” 10 III. Nahwu karena suatu makna bisa saja berubah-ubah dan berlainan sesuai dengan perbedaan i’rab.aadesanjaya. SYARAT-SYARAT MUFASSIR Dari penjelasan mengenai definisi tafsir di atas.11 a. Juz 1. 3. Qawâ‘id at-Tarjîh ‘Inda al-Mufassirîn. www. Demikian juga halnya dengan tafsir Al-Quran. 12 As-Suyuthy. Tashrîf (sharaf) karena dengannya dapat diketahui binâ’ (struktur) dan shîghah (tense) suatu kata. Bab Ma‘rifah Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbihi E-book. ia akan dituduh melakukan malpraktek sehingga bisa dituntut ke pengadilan. Imam Jalaluddin As-Suyuthy dalam Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân menyebutkan lima belas ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir. Riyadh: Dâr al-Qâsim. seseorang tidak akan memiliki kapabilitas untuk menafsirkan Al-Quran karena tidak terpenuhi faktor-faktor yang menjamin dirinya dapat menyingkap suatu hakikat yang harus dijelaskan.‫ﺑﻠﻐﺎت اﻟﻌﺮب‬ “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara mengenai sesuatu yang terdapat dalam Kitâbullâh apabila ia tidak mengetahui bahasa Arab. syarat mufassir secara umum terbagi menjadi dua: aspek pengetahuan dan aspek kepribadian. Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân. Hal. Oleh karena itu. ‫ًﺎ‬ ‫ﻻ ﻳﺤﻞ ﻷﺣﺪ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﷲ واﻟﻴﻮم اﻵﺧﺮ أن ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻲ آﺘﺎب اﷲ إذا ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﺎﻟﻤ‬ . Al-Harby.com/vb/showthread. Mujahid bahkan mengatakan. Syarat yang berkaitan dengan aspek pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang mufassir ini dibagi menjadi dua. seseorang tidak diperkenankan menangani pasien jika tidak menguasai ilmu kedokteran dengan baik. Dalam bidang kedokteran misalnya.com .net pada 6 September 2007. Menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy.blogspot. 11 Adh-Dhawy.

6. An-Nâsikh wa al-Mansûkh agar diketahui mana ayat yang muhkam (ditetapkan hukumnya) dari ayat selainnya. maka artinya pun juga pasti berbeda. Al-Badî‘ karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi keindahan suatu kalimat. 9. maka ia harus menguasai tiga syarat pengetahuan tambahan selain lima belas ilmu di atas. Tiga syarat pengetahuan tersebut adalah: 1. wajib.php?t=82245 www.ahlalhdeeth. Seorang ahli ushul bertugas untuk menakwilkan hal itu dan mengemukakan dalil terhadap sesuatu yang boleh. 15.blogspot. Ushûluddîn (prinsip-prinsip dien) yang terdapat di dalam Al-Quran berupa ayat yang secara tekstual menunjukkan sesuatu yang tidak boleh ada pada Allah ta‘ala. menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy13. maka Allah akan menganugerahinya ilmu yang belum ia ketahui. “Ilmu Al-Quran dan istinbâth darinya merupakan lautan yang tidak bertepi. Ilmu qirâ’ah karena dengannya dapat diketahui cara mengucapkan Al-Quran dan kuat tidaknya model bacaan yang disampaikan antara satu qâri’ dengan qâri’ lainnya. dan tidak boleh. 11. Ketiga ilmu di atas disebut ilmu balaghah yang merupakan ilmu yang harus dikuasai dan diperhatikan oleh seorang mufassir agar memiliki sense terhadap keindahan bahasa (i‘jâz) Al-Quran. Hadits-hadits penjelas untuk menafsirkan yang mujmal (global) dan mubham (tidak diketahui). Isytiqâq (derivasi) karena suatu nama apabila isytiqâqnya berasal dari dua subjek yang berbeda.com/vb/showthread. Mengetahui secara sempurna ilmu-ilmu kontemporer hingga mampu memberikan penafsiran terhadap Al-Quran yang turut membangun peradaban yang benar agar terwujud universalitas Islam.com .aadesanjaya. ‫ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﻋﻠﻢ ورﺛﻪ اﷲ ﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ‬ “Siapa yang mengamalkan ilmunya. 5. Asbâbun Nuzûl (sebab-sebab turunnya ayat) karena dengannya dapat diketahui maksud ayat sesuai dengan peristiwa diturunkannya. Seseorang tidak memiliki otoritas untuk menjadi mufassir kecuali dengan menguasai ilmu-ilmu ini.” Ibnu Abid Dunya mengatakan. 7. berarti ia menafsirkan dengan ra’yu (akal) yang dilarang. Namun apabila menafsirkan dengan menguasai ilmu-ilmu tersebut. apakah berasal dari (‫ )اﻟﺴﻴﺎﺣﺔ‬atau (‫)اﻟﻤﺴﺢ‬. Siapa saja yang menafsirkan Al-Quran tanpa menguasai ilmu-ilmu tersebut.” Ilmu-ilmu di atas merupakan alat bagi seorang mufassir. Adapun bagi seorang mufassir kontemporer. Al-Bayân karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi perbedaannya sesuai dengan jelas tidaknya suatu makna.4. Misalnya (‫)اﻟﻤﺴﻴﺢ‬. yaitu ilmu yang Allah ta‘ala anugerahkan kepada orang yang mengamalkan ilmunya. 10. 8. Al-Ma‘âni karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi manfaat suatu makna. 13. 12. Ilmu muhibah. 13 Silakan lihat: Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www. maka ia tidak menafsirkan dengan ra’yu (akal) yang dilarang. Ushul fikih karena dengannya dapat diketahui wajh al-istidlâl (segi penunjukan dalil) terhadap hukum dan istinbâth. 14. Dalam sebuah hadits disebutkan. Fikih.

3. ekonomi. ‘Maknanya adalah qasam (sumpah)’. ia telah berpartisipasi dalam menyadarkan umat terhadap hakikat Islam beserta keistimewaan pemikiran dan peradabannya. para shiddiiqiin.blogspot.aadesanjaya. ‫ﻦ‬ َ ‫ﱢﻴ‬ ‫ﱠﺎﻟ‬ ‫ﻻ اﻟﻀ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻬ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ب‬ ِ ‫ُﻮ‬ ‫ﻐﻀ‬ ْ‫ﻤ‬ َ‫ﻟ‬ ْ‫ﺮ ا‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻏ‬ َ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻬ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ﺖ‬ َ ‫ﻤ‬ ْ‫ﻌ‬ َ‫ﻧ‬ ْ‫أ‬ َ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫ط اﱠ‬ َ ‫َا‬ ‫ﺻﺮ‬ ِ *‫ﻢ‬ َ ‫ِﻴ‬ ‫ﺘﻘ‬ َ‫ﺴ‬ ْ‫ﻤ‬ ُ‫ﻟ‬ ْ‫ط ا‬ َ ‫َا‬ ‫ﺼﺮ‬ ‫َﺎ اﻟ ﱢ‬ ‫ﺪﻧ‬ ِ‫ه‬ ْ‫ا‬ “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Beirut: Dâr AnNafâis. Apabila tidak menemukannya. mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka. 14 . ayat yang ringkas ditafsirkan secara lusa pada ayat lain. maka harus dikembalikan pada pendapat orang yang mengatakan. “Siapa yang ingin menafsirkan Al-Quran yang mulia maka pertama kali ia harus mencari tafsirnya dari Al-Quran.com . Arqahwah.”14 Manhaj (metode) seperti yang dikemukakan oleh Imam As-Suyuthy di atas di kalangan para ulama dikenal dengan istilah tafsîr bil ma’tsûr. 1. Manhaj tafsîr bil ma’tsûr tersebut akan dijelaskan sekilas di bawah ini. Ketika terjadi kontradiksi antarpendapat para sahabat. ‫ء‬ ِ ‫َا‬ ‫ﻬﺪ‬ َ‫ﺸ‬ ‫َاﻟ ﱡ‬ ‫ﻦو‬ َ ‫ِﻴ‬ ‫ﱢﻳﻘ‬ ‫ﺼﺪ‬ ‫َاﻟ ﱢ‬ ‫ﻦو‬ َ ‫ﱢﻴ‬ ‫ﺒﻴ‬ ِ‫ﻨ‬ ‫ﻦ اﻟ ﱠ‬ َ‫ﻣ‬ ِ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻬ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ﷲ‬ ُ ‫ﻢا‬ َ‫ﻌ‬ َ‫ﻧ‬ ْ‫أ‬ َ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫ﻊ اﱠ‬ َ‫ﻣ‬ َ ‫ﻚ‬ َ ‫ﺌ‬ ِ‫ﻟ‬ َ‫ُو‬ ‫ﻓﺄ‬ َ ‫ل‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﺮﺳ‬ ‫َاﻟ ﱠ‬ ‫ﷲو‬ َ ‫ﻊا‬ ِ‫ﻄ‬ ِ‫ﻳ‬ ُ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ َ‫و‬ َ ‫ًﺎ‬ ‫ِﻴﻘ‬ ‫رﻓ‬ َ ‫ﻚ‬ َ‫ﺌ‬ ِ‫ﻟ‬ َ‫ُو‬ ‫ﻦأ‬ َ‫ﺴ‬ ُ‫ﺣ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻴ‬ ‫ﻟﺤ‬ ِ‫ﱠﺎ‬ ‫َاﻟﺼ‬ ‫و‬ “Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya). sosial. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran Ayat Al-Quran terkadang disebutkan secara global dan ditafsirkan secara rinci pada ayat lain. Apabila tidak menemukannya dari As-Sunnah. Mukhtashar Al-Itqân. merekalah yang menyaksikan konteks dan kondisi pada saat turunnya ayat. 125 www. Shalahuddin. Memiliki kesadaran terhadap problematika kontemporer. Imam Jalaluddin As-Suyuthy mengatakan. Selain harus menguasai ilmu-ilmu di atas. Sebab. Misalnya perbedaan pendapat mereka mengenai makna huruf-huruf hijâ’ (alphabet). Fî ‘Ulûm Al-Qurân li As-Suyûthy. Ayat yang bermakna global pada suatu tempat ditafsirkan dengan ayat pada tempat lain dan ayat yang ringkas pada suatu tempat diperluas penjelasannya dengan ayat pada tempat lainnya. Pengetahuan ini sangat urgen untuk memperlihatkan bagaimana sikap dan solusi Islam terhadap problem tersebut. orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Selain itu. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. dan politik yang sedang mendominasi dunia agar mufassir mampu mengcounter setiap syubhat yang ditujukan kepada Islam serta memunculkan hakikat dan sikap Al-Quran Al-Karim terhadap setiap problematika kontemporer. seorang mufassir harus memperhatikan manhaj yang ditempuh dalam menafsirkan Al-Quran.2. maka ia harus mengembalikannya kepada pendapat para sahabat karena mereka lebih mengetahui penafsiran Al-Quran. maka harus dikembalikan kepada pendapat yang paling kuat dalilnya. Mengetahui pemikiran filsafat.” Orang-orang yang dianugerahi nikmat kepada mereka ditafsirkan dengan firman Allah ta‘ala. ilmu yang shahih. Demikian juga.” (QS An-Nisa’: 69) Contoh lainnya adalah firman Allah. maka ia harus mencarinya dari As-Sunnah karena ia (As-Sunnah) merupakan penjelas bagi Al-Quran. mereka juga diberi kekhususan berupa pemahaman yang sempurna. Contoh penafsiran Al-Quran dengan Al-Quran adalah firman Allah ta‘ala dalam surat Al-Fatihah: 67. Hal. Dengan demikian. Manhaj ini yang pertama kali harus ditempuh oleh seorang mufassir sebelum ia menafsirkan dengan ra’yu sebatas yang diperbolehkan. 1987. yaitu: Nabi-nabi. dan amal yang shalih.

dan mengamalkannya. Demikian juga firman Allah ta‘ala. 55. 15 Ya’qub. www. dan Ibnu Hiban dalam Shahîhnya meriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim. At-Tirmidzy.” (QS AlBaqarah: 37) Beberapa kalimat dalam ayat ini ditafsirkan dalam ayat lainnya. Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah Sunnah Nabawiyah berfungsi untuk mensyarah Al-Quran. 1425 H. kami telah menganiaya diri kami sendiri. “Setiap hukum yang diputuskan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berasal dari pemahamannya terhadap Al-Quran. yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah. 2. yaitu firman Allah ta‘ala. maka Allah menerima taubatnya.” Tafsir ini diperkuat dengan firman Allah ta‘ala.” (QS Al-A‘raf: 23) Penafsiran ini diriwayatkan dari banyak mufassir dari kalangan tabi‘in. Tidak mungkin mencampakkan Sunnah Nabawiyah dan tidak boleh pula meremehkannya dalam kondisi apa pun. ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﺳﺮ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﺨ‬ ْ‫ﻦ ا‬ َ‫ﻣ‬ ِ ‫ﻦ‬ ‫ﻧﱠ‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻨﻜ‬ َ‫ﻟ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻤﻨ‬ ْ‫ﺣ‬ َ‫ﺮ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫و‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﻨ‬ َ‫ﺮ‬ ْ‫ﻔ‬ ِ‫ﻐ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ﻢ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫ن‬ ْ‫إ‬ ِ‫و‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﺴﻨ‬ َ‫ﻔ‬ ُ‫ﻧ‬ ْ‫أ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻤﻨ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻇ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﺑﻨ‬ ‫رﱠ‬ َ ‫ﻻ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻗ‬ “Keduanya berkata. dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami. ‘Ya Tuhan kami. ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah. di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.blogspot.aadesanjaya. Allah ta‘ala berfirman. menerangkan yang mubham (tidak dimengerti). Sunnah Nabawiyah tidak keluar dari kaidah. Sunnah Nabawiyah datang dengan hukum-hukum yang tidak terdapat dan tidak ditentukan dalam Kitabullah. supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu. mengkhususkan yang umum. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. Hal. menafsirkan Kitab-Nya. ‫ة‬ َ‫د‬ َ‫ﺮ‬ َ‫ﻘ‬ ِ‫ﻟ‬ ْ‫ﻢ ا‬ ُ‫ﻬ‬ ُ‫ﻨ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ﻞ‬ َ‫ﻌ‬ َ‫ﺟ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻪ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ﺐ‬ َ ‫ﻀ‬ ِ ‫ﻏ‬ َ‫و‬ َ ‫ﷲ‬ ُ ‫ﻪا‬ ُ‫ﻨ‬ َ‫ﻌ‬ َ‫ﻟ‬ َ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ َ ‫ﷲ‬ ِ ‫ﺪا‬ َ‫ﻨ‬ ْ‫ﻋ‬ ِ ‫ﺔ‬ ً‫ﺑ‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻣﺜ‬ َ ‫ﻚ‬ َ‫ﻟ‬ ِ‫ذ‬ َ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ﺮ‬ ‫ﺸﱟ‬ َ‫ﺑ‬ ِ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻜ‬ ُ‫ﺌ‬ ُ‫ﱢ‬ ‫ﻧﺒ‬ َ‫أ‬ ُ‫ﻞ‬ ْ‫ه‬ َ ‫ﻞ‬ ْ‫ﻗ‬ ُ ‫ﻞ‬ ِ ‫ِﻴ‬ ‫ﺴﺒ‬ ‫ء اﻟ ﱠ‬ ِ ‫َا‬ ‫ﺳﻮ‬ َ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻋ‬ َ ‫ﻞ‬ ‫ﺿﱡ‬ َ ‫أ‬ َ‫و‬ َ ‫ًﺎ‬ ‫َﺎﻧ‬ ‫ﻣﻜ‬ َ ‫ﺮ‬ ‫ﺷﱞ‬ َ ‫ﻚ‬ َ‫ﺌ‬ ِ‫ﻟ‬ َ‫ُو‬ ‫تأ‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﱠﺎﻏ‬ ‫ﺪ اﻟﻄ‬ َ‫ﺒ‬ َ‫ﻋ‬ َ‫و‬ َ ‫ﺮ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫َﺎز‬ ‫ﺨﻨ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫َا‬ ‫و‬ “Katakanlah. menyingkap bagian yang samar. Thahir Mahmud Muhammad. Ahmad.” (QS An-Nisa’: 105)15 Contoh penafsiran Al-Quran dengan As-Sunnah di antaranya adalah tafsir almaghdhûb ‘alaihim (mereka yang dimurkai) dengan Yahudi dan adh-dhâllîn (mereka yang sesat) dengan Nasrani dalam surat Al-Fatihah. Juz I. memuqayyadkan yang mutlak. “Sesungguhnya mereka yang dimurkai adalah Yahudi dan mereka yang sesat adalah Nasrani. dia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda.‫ﻢ‬ ُ ‫ِﻴ‬ ‫ﺮﺣ‬ ‫ب اﻟ ﱠ‬ ُ ‫ﱠا‬ ‫ﺘﻮ‬ ‫ﻮ اﻟ ﱠ‬ َ‫ه‬ ُ ‫ﻪ‬ ُ‫ﱠ‬ ‫إﻧ‬ ِ‫ﻪ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ب‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻓﺘ‬ َ‫ت‬ ٍ ‫َﺎ‬ ‫ﻠﻤ‬ ِ‫آ‬ َ ‫ﻪ‬ ِ‫ﺑ‬ ‫رﱢ‬ َ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫م‬ ُ‫د‬ َ ‫َا‬ ‫ﱠﻰ ء‬ ‫ﻠﻘ‬ َ‫ﺘ‬ َ‫ﻓ‬ َ “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.” (QS Al-Maidah: 60) Yang dimaksud dengan mereka adalah Yahudi. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr. menafsirkan yang musykil (rumit). dan memperlihatkan maksudnya. merinci yang ringkas.com . Hal itu karena urgensitasnya dalam memahami agama Allah. ‫ﷲ‬ ُ ‫كا‬ َ ‫َا‬ ‫أر‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﺑﻤ‬ ِ‫س‬ ِ ‫ﱠﺎ‬ ‫ﻦ اﻟﻨ‬ َ‫ﻴ‬ ْ‫ﺑ‬ َ‫ﻢ‬ َ‫ﻜ‬ ُ‫ﺤ‬ ْ‫ﺘ‬ َ‫ﻟ‬ ِ‫ﻖ‬ ‫ﺤﱢ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﺎ‬ ‫بﺑ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻜﺘ‬ ِ‫ﻟ‬ ْ‫ﻚ ا‬ َ‫ﻴ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫إ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﻨ‬ ْ‫ﺰ‬ َ‫ﻧ‬ ْ‫أ‬ َ ‫ﱠﺎ‬ ‫إﻧ‬ ِ “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. maksud. Demikian juga. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil perkataan Imam Asy-Syafi‘i. menjelaskan yang mujmal (global). Dirâsah Ta’shîliyyah. niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi’. dan tujuan Kitabullah. pokok.

lalu dengan As-Sunnah. www. “Kami mempelajari Al-Quran. Al-Isrâiliyât wa Al-Maudhû‘ât fî Kutub At-Tafsîr. sementara Al-Quran turun dengan bahasa Arab yang jelas. dan paling baik keadaannya. paling sedikit bebannya. ‘Sesungguhnya artinya bukanlah yang kalian maksudkan. paling mendalam ilmunya. siapakah di antara kita yang tidak berbuat kezaliman terhadap dirinya?’ Rasulullah bersabda. mereka melakukan ijtihad karena mereka adalah orang Arab tulen. 52. para sahabat merasa keberatan. Kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah atsar mereka. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia).” (QS Al-An‘am: 82) Ahmad. ia berkata. bahwa ia berkata. ilmu. paling lurus petunjuknya. “Barangsiapa di antara kalian ingin meneladani seseorang. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadikan Nasrani sebagai contoh tipikal terhadap setiap orang yang tidak memiliki ilmu dan ingin meraih kebenaran. cit.”16 3.‫ﱡﻮا‬ ‫ﺿﻠ‬ َ ‫أ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻞ‬ ُ‫ﺒ‬ ْ‫ﻗ‬ َ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ﱡﻮا‬ ‫ﺿﻠ‬ َ ‫ﺪ‬ ْ‫ﻗ‬ َ‫م‬ ٍ‫ﻮ‬ ْ‫ﻗ‬ َ‫ء‬ َ ‫َا‬ ‫هﻮ‬ ْ‫أ‬ َ ‫ُﻮا‬ ‫ﺒﻌ‬ ِ‫ﺘ‬ ‫ﺗﱠ‬ َ‫ﻻ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻖ‬ ‫ﺤﱢ‬ َ‫ﻟ‬ ْ‫ﺮ ا‬ َ‫ﻴ‬ ْ‫ﻏ‬ َ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻜ‬ ُ‫ﻨ‬ ِ ‫ِﻳ‬ ‫ِﻲ د‬ ‫ُﻮا ﻓ‬ ‫ﻐﻠ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ﻻ‬ َ ‫ب‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻜﺘ‬ ِ‫ﻟ‬ ْ‫ﻞ ا‬ َ‫ه‬ ْ‫أ‬ َ‫َﺎ‬ ‫ﻞﻳ‬ ْ‫ﻗ‬ ُ ‫ﻞ‬ ِ ‫ِﻴ‬ ‫ﺴﺒ‬ ‫ء اﻟ ﱠ‬ ِ ‫َا‬ ‫ﺳﻮ‬ َ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻋ‬ َ ‫ﱡﻮا‬ ‫ﺿﻠ‬ َ ‫و‬ َ ‫ًا‬ ‫ِﻴﺮ‬ ‫آﺜ‬ َ “Katakanlah. namun menyimpang darinya. Op. ‫ن‬ َ ‫ُو‬ ‫ﺘﺪ‬ َ‫ﻬ‬ ْ‫ﻣ‬ ُ ‫ﻢ‬ ْ‫ه‬ ُ‫و‬ َ ‫ﻦ‬ ُ‫ﻣ‬ ْ‫ﺄ‬ َ‫ﻟ‬ ْ‫ﻢ ا‬ ُ‫ﻬ‬ ُ‫ﻟ‬ َ‫ﻚ‬ َ‫ﺌ‬ ِ‫ﻟ‬ َ‫ُو‬ ‫ﻢأ‬ ٍ‫ﻠ‬ ْ‫ﻈ‬ ُ‫ﺑ‬ ِ‫ﻢ‬ ْ‫ﻬ‬ ُ‫ﻧ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ِﻳﻤ‬ ‫ُﻮا إ‬ ‫ﺒﺴ‬ ِ‫ﻠ‬ ْ‫ﻳ‬ َ‫ﻢ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫و‬ َ ‫ُﻮا‬ ‫ﻣﻨ‬ َ ‫َا‬ ‫ﻦء‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫اﱠ‬ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman. maka hendaknya ia meneladani para sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mengambil pendapat para sahabat Abu Abdurrahman As-Salma.”17 Diriwayatkan dari sahabat yang mulia.com . Bukhari. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan menegakkan din-Nya. Contoh lainnya adalah tafsir azh-zhulmu (kezaliman) dalam firman Allah ta‘ala. mereka tidak langsung melaluinya hingga mengetahui ilmu dan amal yang terdapat di dalamnya. mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu.aadesanjaya. ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman’. Sesungguhnya kezaliman (yang dimaksud dalam ayat itu) adalah syirik. ‘Hai Ahli Kitab. KSA: Maktabah As-Sunnah. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba shalih (Lukman).” (QS AlMaidah: 77) Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadikan Yahudi sebagai contoh tipikal terhadap setiap orang yang rusak irâdah (kemauan)nya. Muslim. Mereka mengetahui kebenaran. 18 Idem. dan perawi lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud. Mereka mengatakan.blogspot. dan amal secara keseluruhan. menyaksikan turunnya Al-Quran. 50-51 17 Abu Syuhbah. 1408 H. “Tatkala turun ayat ini. dan menghadiri majelis-majelis Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. hal. dan mereka tersesat dari jalan yang lurus’. Mereka berkata. Apabila tidak mendapatkan tafsir dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”18 Para sahabat menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Mereka kebingungan dalam kesesatan dan tidak mendapatkan petunjuk menuju kebenaran. meriwayatkan dari para senior penghapal Al-Quran dari sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa apabila turun kepada mereka sepuluh ayat. Muhammad. Kita mengambil tafsir sahabat dan 16 Silakan lihat: Abu Syuhbah. ‘Ya Rasulullah. Sesungguhnya mereka adalah orangorang yang paling bersih hatinya di kalangan umat ini. seorang tabi’in yang mulia. Hal. ‘Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar’. Abdullah bin Mas‘ud.

Ibnu Taimiyah. Ini merupakan perkara yang sudah maklum dari sejarah perjalanan hidup para sahabat radhiyallâhu ‘anhum. Thahir Mahmud Muhammad. Ayat seperti ini hanya dapat dipahami oleh orang yang mengetahui adat Arab pada masa jahiliyah. Hal. 48. Dengan faktor-faktor tersebut.20 Tafsir sahabat berdasarkan hukumnya terbagi menjadi dua: 1. 59-60. mereka mengetahui keadaan yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab pada saat turunnya Al-Quran Al-Karim. Hal. perkara-perkara yang mereka (Yahudi dan Nasrani) lakukan. Hal. mereka memiliki kekuatan dalam pemahaman dan pengetahuan. 45-46 21 Ar-Rumy. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui ayat-ayat yang pemahamannya berkaitan dengan pemahaman bahasa Arab. asbâb an-nuzûl. Keempat. Kairo: Maktabah Wahbah. Oleh karena itu. Oleh karena itu.”22 19 20 .21 Imam Abu Ya‘la menyatakan wajibnya berpegang pada tafsir sahabat. 2.com . Juz I. maka wajib kembali padanya. mereka mengetahui maksud dan rahasia bahasa Arab. Muqaddimah fî Ushûl At-Tafsîr. seperti firman Allah ta’ala. Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir sahabat yang mauqûf karena mereka menyaksikan korelasi dan kondisi yang dikhususkan kepada mereka dan tidak dikhususkan kepada selain mereka. Allah telah menganugerahkan kepada mereka akal dan pemahaman yang dengannya mereka dapat melihat banyak faktor secara jelas. 1419 H. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui ayat-ayat yang membicarakan Yahudi dan Nasrani. dan bagaimana mereka memusuhi kaum Muslimin. Apabila termasuk perkara yang di luar wilayah akal. KSA: Maktabah At-Taubah. mereka mengetahui adat dan karakter bangsa Arab. Wajib mengambilnya. kami menganggap perkataan mereka sebagai hujjah. Apabila selain itu. Dirâsah Ta‘shîliyyah. maka hukumnya marfû‘. Buhûts fî Ushûl At-Tafsîr wa Manâhijuhu. maka hukumnya mauqûf selama sanadnya tidak bersandar kepada Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr. dan sebagainya. Hal ini membantu mereka untuk memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan perbaikan adat dan perilaku mereka. Hal. 2000. Muhammad Husain. Kedua. Pengetahuan mengenai hal itu membantu mereka untuk memahami banyak ayat.lebih memprioritaskannya daripada tafsir generasi sesudahnya karena pada diri mereka terpenuhi sarana-sarana untuk melakukan ijtihad sebagai berikut: Pertama. yaitu perkara yang kembali pada ijtihad para sahabat. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. 22 Ya‘qub. para sahabat banyak memahami ayat Al-Quran Al-Karim yang tidak terdapat tafsirnya dalam AlQuran dan As-Sunnah. ‘Mengetahui asbâb an-nuzûl dapat membantu untuk memahami suatu ayat karena pengetahuan terhadap sebab akan melahirkan pengetahuan terhadap musabab. Adz-Dzahabi. “Adapun tafsir sahabat. mereka mengetahui asbâb an-nuzûl (sebab-sebab turunnya ayat) karena mereka menyaksikan turunnya ayat dan ikut terlibat dalam berbagai peristiwa yang disebutkan Al-Quran.’19 Kelima. Ia mengatakan. 29. misalnya perkara-perkara ghaib.blogspot. Ibnu Taimiyah rahimahullâh ta‘âlâ mengatakan. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman. (‫ﺮ‬ ِ‫ﻔ‬ ْ‫ﻜ‬ ُ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﻲ ا‬ ‫ةﻓ‬ ٌ‫د‬ َ ‫َﺎ‬ ‫زﻳ‬ ِ ‫ء‬ ُ ‫ِﻲ‬ ‫ﻨﺴ‬ ‫َﺎ اﻟ ﱠ‬ ‫ﻧﻤ‬ ‫إﱠ‬ ِ) “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran” (QS At-Taubah: 37) dan ( ‫ُﻮا‬ ‫ﺄﺗ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ن‬ ْ‫ﺄ‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ﺮ‬ ‫ﺒﱡ‬ ِ‫ﻟ‬ ْ‫ﺲ ا‬ َ ‫ﻴ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫و‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ره‬ ِ ‫ُﻮ‬ ‫ﻇﻬ‬ ُ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ت‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﺒﻴ‬ ُ‫ﻟ‬ ْ ‫“ )ا‬Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya” (QS Al-Baqarah: 189). Inilah kesimpulan dari pendapat Ahmad rahimahullâh di beberapa tempat dalam Musnadnya bagian kitab thâ‘ah Ar-Rasûl (menaati Rasul) shallallâhu ‘alaihi wa sallam … Alasannya adalah karena mereka menyaksikan peristiwa turunnya Al-Quran dan menghadiri takwil sehingga mengetahui penafsirannya. Ketiga. At-Tafsîr wa Al-Mufassirûn. www.aadesanjaya. Juz I. 1425 H.

Hal. www. dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga berakhir pada zaman para imam Islam yang terkenal dan terteladani. Karena tafsir yang demikian yang terus berinteraksi dengan masalahmasalah sastra. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi kemudian menawarkan karakteristik tafsir ideal yang diharapkan sesuai dengan kaidah yang diakui para ulama dan pada saat yang sama dapat mengiringi ritme perkembangan zaman. Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hukum mengambil tafsir yang dinukil dari tabi‘in. KSA: Maktabah As-Sunnah. dan problematika kehidupan lainnya. Ibnu Umar berkata. Dirâsah Ta’shîliyyah. Sa‘id Ibnu Jubair. Mengambil pendapat para kibâr (senior) tabi’in. hukum. As-Suyuthy juga menyebutnya dalam Al-Itqân. Lalu Allah memisahkan langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan. 1408 H. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah.Contoh tafsir sahabat di antaranya adalah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah ta‘ala. ‘Ikrimah dan ‘Atha’ bin Abi Ribah. dan pesan-pesan yang disampaikan oleh riwayat-riwayat yang ada. “Ilmu paling utama dalam tafsir Al-Quran. Ia mengatakan. tafsir bir ra’yi –yang sesuai dengan kaidah— itulah yang justru berpotensi untuk terus berkembang dan tidak berhenti. barulah seorang mufassir diperbolehkan menggunakan ra’yunya dalam menafsirkan Al-Quran dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tafsir. Sekarang engkau telah mengetahui bahwa ia dianugerahi ilmu. tabi‘in.” Seseorang kemudian datang kepada Ibnu Umar radhiyallâh ‘anhumâ dan memberitahukan apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. 101. Sa‘id bin Musayyib.” Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam Al-Hilyah. kalam. Hal. 26 Al-Kattani. 24 Ya‘qub. mengapa aku harus heran terhadap keberanian Ibnu Abbas dalam menafsirkan Al-Quran. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Masruq bin Al-Ajda’. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr. yaitu tidak menurunkan hujan. Ibnu Jabr. makna hadits. menurut Syaikh Muhammad Al-Ghazali. bahasa. Muhammad.26 Oleh karena itu. 1425 H. serta pembicaraan mengenai yang halal dan yang haram adalah atsar yang berasal dari sahabat. Al-Isrâiliyât wa Al-Maudhû‘ât fî Kutub At-Tafsîr. dan sebagainya yang mempelajari langsung semua tafsir dari para sahabat ridhwânullâh ‘alaihim. Karakteristik-karakteristik tafsir ideal tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut: 23 Silakan lihat: Abu Syuhbah. tafsir bil ma’tsûr akan berhenti pada makna-makna. Pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama menyatakan bahwa tafsir tabi‘in termasuk tafsir bil ma’tsûr karena secara umum mereka mempelajarinya dari sahabat.blogspot. “Aku katakan. 25 Problematika tafsir bil ma’tsûr menurut para ulama adalah banyaknya riwayat yang lemah dan palsu.aadesanjaya. seperti Mujahid. kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Sebab. 1 Januari 2005 hal. Abdul Hayyie. Al-Hasan Al-Bashry.23 4. Juz I. Al-Hafizh Ibnu Rajab menyatakan bahwa ilmu yang paling utama dalam tafsir adalah atsar dari sahabat dan tabi‘in. I No. Bumi dahulu rapat. “Al-Quran dan Tafsir” dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan Vol. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiya‘: 30) Ibnu Abbas mengatakan.25 Sementara itu. ‫ﻲ‬ ‫ﺣﱟ‬ َ ‫ء‬ ٍ‫ﻲ‬ ْ ‫ﺷ‬ َ ‫ﱠ‬ ‫آﻞ‬ ُ ‫ء‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﻤ‬ ْ‫ﻦ ا‬ َ‫ﻣ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻠﻨ‬ ْ‫ﻌ‬ َ‫ﺟ‬ َ‫و‬ َ ‫َﺎ‬ ‫هﻤ‬ ُ ‫َﺎ‬ ‫ﻘﻨ‬ ْ‫ﺘ‬ َ‫ﻔ‬ َ‫ﻓ‬ َ ‫ًﺎ‬ ‫ﺗﻘ‬ ْ‫ر‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻧﺘ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ضآ‬ َ ‫ر‬ ْ‫ﺄ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫َا‬ ‫تو‬ ِ ‫َا‬ ‫ﻤﻮ‬ َ‫ﺴ‬ ‫ن اﻟ ﱠ‬ ‫أﱠ‬ َ ‫ُوا‬ ‫ﻔﺮ‬ َ‫آ‬ َ ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫ﺮ اﱠ‬ َ‫ﻳ‬ َ‫ﻢ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫و‬ َ‫أ‬ َ ‫ن‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻣﻨ‬ ِ‫ﺆ‬ ْ‫ﻳ‬ ُ‫ﻼ‬ َ‫ﻓ‬ َ‫أ‬ َ “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang rapat. pemahaman. Thahir Mahmud Muhammad.com . “Langit dahulu rapat. yaitu tidak mengeluarkan tumbuhan. 55. 60.”24 Setelah menempuh manhaj tafsir bil ma’tsûr terlebih dahulu.

Yang dimaksud dengan aspek kepribadian adalah akhlak dan nilai-nilai ruhiyah yang harus dimiliki oleh seorang mufassir agar layak untuk mengemban amanah dalam menyingkap dan menjelaskan suatu hakikat kepada orang yang tidak mengetahuinya. yaitu: 1. Apabila seseorang tertuduh sebagai pengikut hawa nafsu.blogspot. hawa nafsu.” (QS Al-A‘raf: 146) Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan. maka bagaimana dalam urusan agama? Kemudian ia tidak dipercaya dalam agama untuk memberitahukan dari seorang alim. 189. atau lemah iman. www. atau bersandar pada pendapat seorang mufassir yang tidak memiliki ilmu. ‘Para ulama mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah dicabut dari mereka pemahaman mengenai Al-Quran. Saya katakan. Diakses dari Mauqi‘ Umm Al-Kitâb li AlAbhâts wa Ad-Dirâsât Al-Ilikturûniyah: www. atau gemar melakukan dosa. ‫ﻖ‬ ‫ﺤﱢ‬ َ‫ﻟ‬ ْ‫ﺮ ا‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻐ‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ض‬ ِ ‫ر‬ ْ‫ﺄ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﻲ ا‬ ‫نﻓ‬ َ ‫ُو‬ ‫ﺒﺮ‬ ‫ﻜﱠ‬ َ‫ﺘ‬ َ‫ﻳ‬ َ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫ﻲ اﱠ‬ َ‫ﺗ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫َاﻳ‬ ‫ﻦء‬ ْ‫ﻋ‬ َ ‫ف‬ ُ ‫ﺮ‬ ِ‫ﺻ‬ ْ ‫ﺄ‬ َ‫ﺳ‬ َ “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. E-book. memperhatikan asbâb an-nuzul. meletakkan Al-Quran sebagai referensi utama. memperhatikan konteks redaksional ayat. ia tetap tidak dapat dipercaya karena akan menafsirkan Al-Quran berdasarkan hawa nafsunya agar sesuai dengan bid‘ahnya seperti kebiasaan sekte Qadariyah.”29 Berdasarkan perkataan Imam As-Suyuthy di atas. Imam Abu Thalib Ath-Thabary mengatakan di bagian awal tafsirnya mengenai adabadab seorang mufassir. Kedelapan. Semua ini merupakan penutup dan penghalang yang sebagiannya lebih kuat daripada sebagian lainnya. memanfaatkan tafsir sahabat dan tabi‘in. mengambil kemutlakan bahasa Arab. Imam As-Suyuthy mengatakan. maka bagaimana ia dipercaya untuk memberitahukan rahasia-rahasia Allah ta‘ala? Sebab seseorang tidak dipercaya apabila tertuduh sebagai atheis adalah ia akan mencari-cari kekacauan serta menipu manusia dengan kelicikan dan tipu dayanya seperti kebiasaan sekte Bathiniyah dan sekte Rafidhah ekstrim. inilah makna firman Allah ta‘ala.”28 Sementara itu. “Ketahuilah bahwa di antara syarat mufassir yang pertama kali adalah benar akidahnya dan komitmen terhadap sunnah agama. Jalaluddin. Ahmad Bazawy Adh-Dhawy meringkaskan sejumlah adab yang harus dimiliki oleh seorang mufassir. Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân. atau cinta dunia. Beirut: Dâr An-Nafâis. 29 As-Suyuthy.omelketab.net pada 6 September 2007.aadesanjaya. kesombongan. Keempat. atau merujuk kepada akalnya. Al-‘Ik.com . Hal. Ketiga. Kelima. Khalid Abdurrahman. menggabungkan antara riwayah dan dirayah. Para ulama salaf shalih mengartikulasikan aspek ini sebagai adab-adab seorang alim. 1986. menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Ushûl At-Tafsîr wa Qawâ‘iduhu. Kedua. Syarat Kedua: Aspek Kepribadian Adapun syarat kedua yang harus terpenuhi pada diri seorang mufassir adalah syarat yang berkaitan dengan aspek kepribadian. orang yang tertuduh dalam agamanya tidak dapat dipercaya dalam urusan duniawi. Keenam. Akidah yang lurus 27 28 Idem. Ketujuh.’ Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pertama. Salah seorang di antara mereka menyusun kitab dalam tafsir dengan maksud sebagai penjelasan paham mereka dan untuk menghalangi umat dari mengikuti salaf dan komitmen terhadap jalan petunjuk. Sebab. “Ketahuilah bahwa seseorang tidak dapat memahami makna wahyu dan tidak akan terlihat olehnya rahasia-rahasianya sementara di dalam hatinya terdapat bid‘ah. menafsirkan Al-Quran dengan sunnah yang shahih.27 b.

Mentadabburi dan mengamalkan Al-Quran secara mendalam . wajib memilih makna yang sesuai dengan atsar yang shahih sehingga i‘rab mengikuti atsar .Maksud yang benar dan niat yang ikhlas .Tidak membicarakan secara panjang lebar perkara-perkara yang hanya diketahui oleh Allah.ahlalhdeeth.Terbebas dari hawa nafsu Niat yang baik Akhlak yang baik Tawadhu‘ dan lemah lembut Bersikap zuhud terhadap dunia hingga perbuatannya ikhlas semata-mata karena Allah ta‘ala 7. asbâb an-nuzûl. serta tidak terburu-buru dalam menetapkan sifat Allah ta‘ala dari Al-Quran Al-Karim. Berbicara tenang dan mantap 7. Memperlihatkan taubat dan ketaatan terhadap perkara-perkara syar‘i serta sikap menghindar dari perkara-perkara yang dilarang 8. Bisa dipastikan bahwa ia tidak tunduk kepada akalnya dan menjadikan Kitâbullâh sebagai pemimpin yang diikuti. . Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www. para pentakwil sifat Allah. Syarat-syarat terpenting tersebut di antaranya adalah sebagai berikut . 3. Hal. Mabâhits fî ‘Ulûm Al-Qurân. Berjiwa mulia 4.Mengetahui kaidah-kaidah tarjîh menurut para mufassir .Bersandar pada naql (penukilan) yang benar . dan sebagainya . 5.aadesanjaya. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007. seperti ilmu qiraah. 2007. Hal.Akidah yang shahih dan pemikiran yang bersih . Adh-Dhawy. Berpenampilan simpatik 6. seperti Mu‘tazilah. Khawarij. 31 Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. 417-418. Manna‘.30 Selain sembilan point di atas.Mengetahui pokok-pokok ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran Al-Karim dan tafsirnya.Ketika terdapat beragam makna i‘rab. Manna‘.Menghindari israiliyat 30 2. Tidak bersandar pada ahli bid‘ah dan kesesatan dalam menafsirkan 9. Ahmad Bazawy. 332.Berlepas diri dari hawa nafsu dan ta‘ashub madzhabi . 1973.blogspot.com/vb/showthread. Mengamalkan ilmunya dan bisa dijadikan teladan 2.Mengetahui bahasa Arab dan uslubnya . nâsikh dan mansûkh .Tidak mengambil tafsir dari ahli bid’ah. Silakan lihat juga terjemahannya: Al-Qaththan. 4. Mendahulukan orang yang lebih utama dari dirinya 8. 6. www. Berani dalam menyampaikan kebenaran 5.Mengetahui kaidah-kaidah yang dikemukakan salafush shalih untuk memahami dan menafsirkan Al-Quran .com . Siap dan metodologis dalam membuat langkah-langkah penafsiran31 Syaikh Thahir Mahmud Muhammad Ya‘kub juga mengemukakan syarat yang berkaitan dengan sifat-sifat mufassir. Syaikh Manna‘ Al-Qaththan menambahkan beberapa adab yang harus dimiliki oleh seorang mufassir. misalnya asma’ dan sifat-Nya. yaitu: 1. Jujur dan teliti dalam penukilan 3.Tidak segera menafsirkan berdasarkan bahasa sebelum menafsirkan berdasarkan atsar . Beirut: Mansyûrât Al-‘Ashr Al-Hadîts.

An address to the Second World Conference on Muslim Education.Menjauhi masalah-masalah kalamiah dan pemikiran-pemikiran filsafat yang jauh dari AlKitab dan As-Sunnah serta berkontradiksi dengan keduanya . batallah tudingan miring orang-orang yang menyatakan bahwa metode tafsir “klasik” Al-Quran tidak perlu digunakan lagi karena metode tafsir tradisional sangat “ahistoris” (mengabaikan konteks sejarah) dan “uncritical” (tidak kritis) sehingga kita perlu mencari alternatif ilmu tafsir pengganti yang cocok untuk saat ini. di dalam tafsir tidak ada ruang bagi terkaan atau dugaan yang gegabah. Terlalu jauh membicarakan perkara yang hanya diketahui oleh Allah. 4. maka jelaslah sangat tidak sebanding. No.Mendahulukan orang yang lebih utama darinya dalam mengambil dan menukil tafsir serta mengembalikan kepada orang yang ia mengambil darinya32 Termasuk adab yang harus diperhatikan oleh mufassir adalah ia wajib menghindari perkara-perkara berikut ketika menafsirkan Al-Quran: 1. Kairo: Dâr Al-Ma’ârif. Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. sementara tafsir mengikutinya. seseorang akan melakukan takwil sehingga memalingkan makna ayat sesuai dengan akidahnya dan mengembalikannya pada madzhabnya dengan segala cara. Tafsir dengan memastikan bahwa maksud Allah begini dan begini tanpa landasan dalil. Perbuatan ini dilarang secara syar’i berdasarkan firman Allah ta‘ala. Metode tafsir Al-Quran para mufassirun dari kalangan ulama kita jauh lebih unggul daripada hermeneutika. Tafsir untuk menetapkan madzhab yang rusak dengan menjadikan madzhab tersebut sebagai landasan.Tidak membebani diri dalam tafsir ilmiah . Terlalu berani menjelaskan maksud Allah ta‘ala dalam firman-Nya padahal tidak mengetahui tata bahasa dan pokok-pokok syariat serta tidak terpenuhi ilmu-ilmu yang baru boleh menafsirkan jika menguasainya. seperti perkaraperkara mutasyâbihât. 73-74.blogspot.Jujur ketika menukil . 33 Adz-Dzahabi. Kuala Lumpur: ISTAC hal. seakan-akan perubahan semantik telah terjadi dalam struktur-struktur konseptual kata-kata dan istilah-istilah yang membentuk kosa-kata kitab suci ini.com . Ilmu At-Tafsir. 1991. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah.aadesanjaya.34 Dengan begitu. Juz I. 3. Hal. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr. 5. PENUTUP Demikianlah penjelasan mengenai syarat-syarat mufassir Al-Quran yang sangat ketat. atau ruang bagi interpretasi yang berdasarkan pada penafsiran atau pemahaman yang subjektif atau yang berdasarkan hanya pada ide-ide relativisme historis. 58 34 Wan Daud. 2. Dinukil dari Al-Attas. Dari uraian di atas. yaitu hermeneutika.” (QS AlBaqarah: 169)33 IV. sampailah kita pada satu kesimpulan bahwa tafsir Al-Quran adalah interpretasi berdasarkan pada ilmu pengetahuan yang mapan. Seorang mufassir tidak boleh terlalu berani membicarakan sesuatu yang ghaib setelah Allah ta‘ala menjadikannya sebagai salah satu rahasia-Nya dan hujjah atas hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu. Hal. 1 Th. 1425 H. Akibatnya. Dirâsah Ta’shîliyyah. www. Jika ingin dibandingkan antara metode tafsir yang telah dikembangkan oleh para ulama kita selama berabad-abad dengan hermeneutika yang diadopsi dari metode kritik Bible. 5. I hal. - ‫ن‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻠﻤ‬ َ‫ﻌ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ﻻ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﷲﻣ‬ ِ ‫َﻰ ا‬ ‫ﻋﻠ‬ َ ‫ُﻮا‬ ‫ُﻮﻟ‬ ‫ﺗﻘ‬ َ‫ن‬ ْ‫أ‬ َ‫و‬ َ “Dan (janganlah) mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui. Para mufassirun kita telah 32 Ya‘qub. “Tafsir dan Ta’wil Sebagai Metode Ilmiah” dalam Majalah Islamia. Syed Naquib Al-Attas. sebagaimana dinyatakan Prof. Wan Mohd Nor. Mengikuti hawa nafsu dan anggapan baik (istihsân). Tt. 58. Thahir Mahmud Muhammad. Muhammad Husain.

www. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda.blogspot. bukan malah berani membuat model tafsir baru alias bid‘ah sehingga menimbulkan kerancuan (syubhât) dalam memahami Islam. Wallâhu a‘lam. Akan tetapi jika seseorang tidak dapat mencapai kriteria syarat-syarat mufassir.aadesanjaya.” (HR At-Tirmidzi [2874]) Orang yang terpenuhi pada dirinya syarat-syarat mufassir diperbolehkan untuk menafsirkan Al-Quran sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku.menghasilkan berjilid-jilid kitab dalam bidang tafsir Al-Quran.com . sementara itu ada berapa jilid kitab yang telah dihasilkan oleh para pemuja buta hermeneutika tersebut? Menafsirkan Al-Quran tanpa landasan ilmu merupakan dosa besar yang sangat berat ancamannya. maka sikap yang mesti diambil adalah mengikuti penafsiran para ulama yang berkompeten dalam bidang ini. ‫ر‬ ِ ‫ﱠﺎ‬ ‫ﻦ اﻟﻨ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ﻩ‬ ُ‫ﺪ‬ َ‫ﻌ‬ َ‫ﻘ‬ ْ‫ﻣ‬ َ ‫أ‬ ْ‫ﻮ‬ ‫ﺒﱠ‬ َ‫ﺘ‬ َ‫ﻴ‬ َ‫ﻠ‬ ْ‫ﻓ‬ َ‫ﻢ‬ ٍ‫ﻠ‬ ْ‫ﻋ‬ ِ ‫ﺮ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻐ‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ن‬ ِ ‫ﻘﺮْﺁ‬ ُ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﻲ ا‬ ‫لﻓ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻦﻗ‬ ْ‫ﻣ‬ َ “Barangsiapa yang berkata tentang Al-Quran tanpa landasan ilmu hendaknya ia menempati posisinya di neraka.

1973. Endar. Beirut: Dâr Al-Kitâb Al-’Araby. Al-Qaththan. Shalahuddin. 1 Januari 2005 hal. 1995 Manâhilul ‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qurân. Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân. Adz-Dzahabi. Mukhtashar Al-Itqân Fî ‘Ulûm Al-Qurân li As-Suyûthy. Al-Quran Dihujat. Al-Kattani. Wan Daud. Tt.blogspot. Adz-Dzahabi. Ar-Rumy. Arqahwah. Al-Harby. Beirut: Mansyûrât Al-‘Ashr AlHadîts. Al-Isrâiliyât wa Al-Maudhû‘ât fî Kutub At-Tafsîr. 2000. Juz II. I hal. Jakarta: RMBooks. Jalaluddin. Ahmad Bazawy. Riyadi. “Al-Quran dan Tafsir” dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan Vol. Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www. 1987. Wan Mohd Nor. 1 Januari 2005. Adh-Dhawy.ahlalhdeeth. E-book. Mabâhits fî ‘Ulûm Al-Qurân.com .com/vb/showthread. 2007. Syamsuddin. Juz 1. “Al-Quran. As-Suyuthy. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. “Tafsir dan Ta’wil Sebagai Metode Ilmiah” dalam Majalah Islamia. Etika Al-Quran tentang Keragaman Agama.net pada 6 September 2007. Arif. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman. KSA: Maktabah As-Sunnah. Diakses dari Mauqi‘ Umm AlKitâb li Al-Abhâts wa Ad-Dirâsât Al-Ilikturûniyah: www. 1 Th. Abdul Hayyie. Muhammad Husain. Orientalisme. 2007. Melampaui Pluralisme. Manna‘. Kairo: Dâr Al-Ma’ârif.DAFTAR PUSTAKA Abu Syuhbah. 1408 H.omelketab. Henri. Buhûts fî Ushûl At-Tafsîr wa Manâhijuhu. 1996. Manna‘. Jakarta: Al-Qalam.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007. Az-Zarqany. Kairo: Maktabah Wahbah. Muhammad. Juz I. Husain bin Ali bin Husain. Muhammad Abdul Azhim. I No. 58. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. www. Muhammad Husain. Husaini. Beirut: Dâr An-Nafâis. “Virus Abu Zaid di Indonesia” dalam pengantar: Shalahuddin. 1419 H. Dirâsah Nazhâriyyah Tathbîqiyyah. 2007. At-Tafsîr wa Al-Mufassirûn. Riyadh: Dâr al-Qâsim.aadesanjaya. Adian. KSA: Maktabah At-Taubah. dan Luxenberg” dalam Jurnal Kajian Islam AlInsan Vol. 101. No. Al-Qaththan. I No. ‘Ilmu At-Tafsîr. Qawâ‘id at-Tarjîh ‘Inda al-Mufassirîn.

Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah.aadesanjaya. Thahir Mahmud Muhammad.blogspot. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr. Dirâsah Ta’shîliyyah. 1425 H. www. Juz I.com .Ya‘qub.