STUDI TENTANG SYARAT-SYARAT MUFASSIR AL-QURAN Oleh Muhammad Isa Anshory PENDAHULUAN Al-Quran merupakan kitab suci

umat Islam yang menjadi sumber hukum dan pandangan hidup (way of life) bagi mereka. Kitab ini dijunjung tinggi dan dihormati oleh setiap muslim di seluruh penjuru dunia selama berabad-abad. Allah Subhânahu wa Ta‘âla memberikan jaminan untuk memelihara Al-Quran dari segala penyimpangan hingga hari kiamat.1 Oleh karena itu, Al-Quran yang ada di tangan kita pada hari ini tetap otentik dan sama dengan Al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam 15 abad yang lampau. Al-Quran yang tetap otentik ini memberikan pengaruh kekuatan luar biasa kepada umat Islam selama mereka mau berpegang teguh dengannya. Kenyataan ini sangat dipahami dan disadari oleh musuh-musuh Islam. William Gladstone, mantan Perdana Menteri Inggris, pada 1882 menyampaikan pidatonya di hadapan parlemen, "Percuma memerangi ummat Islam. Kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam masih bertengger Al-Quran. Tugas kita adalah mencabut Al-Quran di hati mereka. Dan kita akan menang menguasai mereka,"2 Serangan terhadap Al-Quran pun beramai-ramai dilakukan oleh para orientalis Barat. Mereka berusaha untuk mengkritisi serta meragukan otentisitas dan kesakralan Al-Quran. Alphonse Mingana, seorang pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, pada 1927 mengumumkan, “Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Quran sebagaimana yang telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab-kitab Kristen yang berbahasa Yunani.”3 Kita tentu tidak akan heran jika orang yang melakukan penyerangan terhadap AlQuran tersebut berasal dari kalangan Yahudi dan Kristen. Akan tetapi, menjadi sangat tragis dan ironis jika penyerangan itu juga dilakukan oleh kalangan yang menyatakan dirinya sebagai muslim; bahkan berkembang dari dan di perguruan tinggi negeri yang memakai embel-embel Islam. Dalam hasil penelitian tentang perkembangan paham-paham liberal keagamaan di sejumlah kota besar di Indonesia, Litbang Departemen Agama pada 14 November 2006 memaparkan laporannya mengenai paham “Islam Liberal” yang berkembang di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta. Pada bagian “Memaknai teks AlQuran dan Al-Hadits secara liberal dengan mengutamakan semangat religio etik” dipaparkan bagaimana pandangan Islam Liberal terhadap Al-Quran, “Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah Subhânahu wa Ta‘âla kepada Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, melainkan merupakan produk budaya (muntâj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di
1

I.

Allah berfirman,

‫ن‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻓﻈ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﺤ‬ َ‫ﻪ‬ ُ‫ﻟ‬ َ ‫ﱠﺎ‬ ‫إﻧ‬ ِ‫و‬ َ ‫ﺮ‬ َ‫آ‬ ْ‫ﺬ‬ ‫َﺎ اﻟ ﱢ‬ ‫ﻟﻨ‬ ْ‫ﺰ‬ ‫ﻧﱠ‬ َ‫ﻦ‬ ُ‫ﺤ‬ ْ‫ﻧ‬ َ ‫ﱠﺎ‬ ‫إﻧ‬ ِ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr: 9) 2 http://abiridha.multiply.com/journal/item/4 3 Arif, Syamsuddin. “Al-Quran, Orientalisme, dan Luxenberg” dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan Vol. I No. 1 Januari 2005 hal.10. Dinukil dari artikel yang ditulis oleh Mingana dalam Bulletin of the John Rylands Library (Manchester, 1927) XI: 77.

www.aadesanjaya.blogspot.com

Muhammad Husain. Jakarta: RMBooks.5 Akan tetapi. menjelaskan maknanya. Imam Az-Zarkasy dalam kitabnya.blogspot. 2007. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam di Nusantara ini hermeneutika makin digemari. 13.com . www. Imam Jalaluddin As-Suyuthy mendefinisikan tafsir dengan: ‫ ﻓﻬﻮ ﺷﺎﻣﻞ ﻟﻜﻞ ﻣﺎﻳﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻬﻢ اﻟﻤﻌﻨﻰ‬.aadesanjaya. “Virus Abu Zaid di Indonesia” dalam pengantar: Shalahuddin. Hal. Dinukil dari Al-Burhân juz I hal. Xiii. Hal. siapakah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Al-Quran dan apa saja yang harus dipenuhi olehnya? Tulisan ini mencoba untuk menjelaskannya. serta menguraikan hukum dan hikmahnya. 8. Melampaui Pluralisme. Etika Al-Quran tentang Keragaman Agama. apakah setiap orang memiliki otoritas untuk menafsirkan Al-Quran? Lantas.”7 Sementara itu. Al-Quran Dihujat. 5 7 Ar-Rumy. intoleran dan tidak ramah terhadap orang-lainagama sebagai salah satu diantara tiga agenda pokok dalam rangka menampilkan kembali wajah agama (Islam) yang ramah. kata tafsir berasal dari derivasi (isytiqâq) al-fasru (‫ )اﻟﻔﺴﺮ‬yang berarti (‫“ )اﻹﺑﺎﻧﺔ واﻟﻜﺸﻒ‬menerangkan dan menyingkap”. 1419 H. DEFINISI TAFSIR DAN MUFASSIR Tafsir dalam disiplin ilmu Al-Quran tidak sama dengan interpretasi teks lainnya. Penafsiran ulang tersebut terutama dilakukan terhadap ayat-ayat yang dipandang tidak lagi relevan dengan konteks zaman ini atau dapat menimbulkan problem dengan penganut agama lain. Adian. Al-Burhân fî ‘Ulûm Al-Qurân. dan inklusif. kata tafsir (‫ )اﻟﺘﻔﺴﻴﺮ‬berarti (‫“ )اﻹﻳﻀﺎح واﻟﺘﺒﻴﻴﻦ‬menjelaskan”. para ulama mengemukakan beragam definisi mengenai tafsir yang saling melengkapi antara satu definisi dengan definisi lainnya. Selain itu. Jakarta: Al-Qalam. maka pengertiannya harus merujuk pada pengertian yang sesuai dengan sudut pandang (worldview) Islam. ‫ًا‬ ‫ِﻴﺮ‬ ‫ﻔﺴ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ﻦ‬ َ‫ﺴ‬ َ‫ﺣ‬ ْ‫أ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻖ‬ ‫ﺤﱢ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﺎ‬ ‫كﺑ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﺌﻨ‬ ْ‫ﺟ‬ ِ ‫ﻻ‬ ‫إﱠ‬ ِ‫ﻞ‬ ٍ‫ﺜ‬ َ‫ﻤ‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ﻚ‬ َ‫ﻧ‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﺄﺗ‬ ْ‫ﻳ‬ َ‫ﻻ‬ َ‫و‬ َ “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Endar Riyadi mengenai keharusan melakukan interpretasi terhadap teks-teks keagamaan yang selama ini dipandang dan melahirkan cara pandang yang membenci. paling baik penjelasan dan perinciannya. melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik tafsirnya. Lafal dengan makna ini disebutkan di dalam Al-Quran. Kairo: Dâr Al-Ma’ârif. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman.UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia.”4 Ajakan untuk melakukan penafsiran ulang (reinterpretasi) terhadap Al-Quran semakin sering terdengar.‫وﺑﻴﺎن اﻟﻤﺮاد‬ 4 Husaini. 2007. Buhûts fî Ushûl At-Tafsîr wa Manâhijuhu. Dalam bahasa Arab.6 Adapun secara istilah. II. Endar. baik itu teks karya sastra maupun teks suatu kitab yang dianggap sebagai kitab suci agama tertentu. kata al-fasru juga bermakna menerangkan dan menyingkap sesuatu yang tertutup. 5 Riyadi. Tt. Henri. Hal.” (QS Al-Furqan: 33) Maksudnya. toleran. 6 Adz-Dzahabi. Ketika kita membahas tafsir Al-Quran. mendefinisikan tafsir dengan: ‫ّﻢ وﺑﻴﺎن ﻣﻌﺎﻧﻴﻪ‬ ‫ّﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠ‬ ‫ّﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠ‬ ‫ﱠل ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴ‬ ‫ﻨﺰ‬ َ‫ﻤ‬ ُ ‫ب اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ اﻟ‬ ُ ‫ُﻔﻬﻢ ﺑﻪ آﺘﺎ‬ ‫ﻢ ﻳ‬ ٌ ‫ﻋﻠ‬ ‫ِﻪ‬ ‫ﻜﻤ‬ َ‫ﺣ‬ ِ ‫واﺳﺘﺨﺮاج أﺣﻜﺎﻣﻪ و‬ “Ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. ‘Ilmu At-Tafsir.‫ﻋﻠﻢ ﻳﺒﺤﺚ ﻋﻦ ﻣﺮاد اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻘﺪر اﻟﻄﺎﻗﺔ اﻟﺒﺸﺮﻳﺔ‬ . KSA: Maktabah At-Taubah. Hal. 14. Di dalam kamus.

‫ﺎ ﺑﺘﻌﻠﻴﻢ أو ﺗﺄﻟﻴﻒ‬ ً‫ وﻣﺎرس اﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻋﻤﻠﻴ‬. Hal. maka tidak termasuk di dalamnya ilmu-ilmu yang membahas perihal Al-Quran dari segi selain segi penunjukan dalilnya. hal. Perkataan kami.”8 Definisi tafsir lainnya dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Abdul Azhim AzZarqany: ‫ﻋﻠﻢ ﻳﺒﺤﺚ ﻓﻴﻪ ﻋﻦ أﺣﻮال اﻟﻘﺮﺁن اﻟﻜﺮﻳﻢ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ دﻻﻟﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺮاد اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻘﺪر اﻟﻄﺎﻗﺔ‬ ‫اﻟﺒﺸﺮﻳﺔ‬ “Ilmu yang membahas perihal Al-Quran Al-Karim dari segi penunjukan dalilnya sesuai dengan maksud Allah ta‘ala berdasarkan kadar kemampuan manusiawi” Oleh Az-Zarqany. “dari segi penunjukan dalilnya sesuai dengan maksud Allah ta‘ala”.cit. “berdasarkan kadar kemampuan manusiawi”. Muhammad Abdul Azhim. definisi di atas dijelaskan sebagai berikut: Maksud kata ilmu adalah pengetahuan-pengetahuan yang terkonsep. Demikian juga ilmu rasm ‘Utsmany yang membahas keadaan Al-Quran Al-Karim dari segi cara menuliskan lafal-lafalnya.‫اﻟﻄﺎﻗﺔ‬ . 6 www. Ia melatih dirinya di atas manhaj para mufassir dengan mengetahui banyak pendapat mengenai tafsir Kitâbullâh. Husain bin Ali bin Husain AlHarby menjelaskan definisi mufassir secara lebih panjang: ‫ ﻗﺪر‬.“Ilmu yang membahas maksud Allah ta‘ala sesuai dengan kadar kemampuan manusiawi yang mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan pemahaman dan penjelasan makna. sedangkan pelakunya disebut sebagai mufassir.‫آﺘﺎب اﷲ‬ “Mufassir adalah orang yang memiliki kapabilitas sempurna yang dengannya ia mengetahui maksud Allah ta‘ala dalam Al-Quran sesuai dengan kemampuannya. Beirut: Dâr AlKitâb Al-’Araby. akan tetapi kebanyakannya –bahkan semuanya— termasuk pengetahuan secara lafal.” Dengan perkataan kami.blogspot. Misalnya ilmu qira’ah yang membahas keadaan AlQuran dari segi pengaturan lafal dan cara membacanya. maka tidak termasuk di dalamnya ilmu-ilmu yang membahas perihal selain Al-Quran. 8 9 Adz-Dzahabi. 1995 Manâhilul ‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qurân.‫ وراض ﻧﻔﺴﻪ ﻋﻠﻲ ﻣﻨﺎهﺞ اﻟﻤﻔﺴﺮﻳﻦ‬. Sayid berpendapat bahwa tafsir termasuk legalisasi (tashdîqât) karena mencakup hukum atas lafal-lafal bahwa lafal-lafal tersebut bermanfaat bagi maknamakna terkait yang disebutkan dalam tafsir. 6 Az-Zarqany. “membahas tentang perihal Al-Quran”. adalah untuk menjelaskan bahwa tidak dianggap cacat dalam ilmu tentang tafsir ketidaktahuan terhadap makna mutasyabihat dan ketidaktahuan terhadap maksud Allah dalam sebuah peristiwa atau perkara. Dengan perkataan kami. “Sesungguhnya ilmu tafsir termasuk konsepsi (tashawwurât) karena tujuannya adalah memahami konsep makna lafal-lafal Al-Quran. Ilmu tafsir juga termasuk pengetahuan.com . Tidak termasuk juga dengan perkataan ini ilmu yang membahas keadaan Al-Quran dari segi ia makhluk atau bukan makhluk karena ini termasuk pembahasan dari ilmu kalam Demikian juga ilmu yang membahas keadaan Al-Quran dari segi diharamkan untuk membacanya bagi orang yang junub dan yang semisal karena ini termasuk pembahasan dari ilmu fikih. Tafsir adalah aktivitasnya. Op. Abdul Hakim menjelaskan secara lebih panjang.‫ّﺪ ﺑﺘﻼوﺗﻪ‬ ‫ّﺔ ﻳﻌﺮف ﺑﻬﺎ ﻣﺮاد اﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻜﻼﻣﻪ اﻟﻤﺘﻌﺒ‬ ‫ّﺮ هﻮ ﻣﻦ ﻟﻪ أهﻠﻴﺔ ﺗﺎﻣ‬ ‫اﻟﻤﻔﺴ‬ ‫ ﻣﻊ ﻣﻌﺮﻓﺘﻪ ﺟﻤﻼ آﺜﻴﺮة ﻣﻦ ﺗﻔﺴﻴﺮ‬.aadesanjaya. Juz II.9 Demikianlah definisi tafsir yang dikemukakan oleh para ulama.

ahlalhdeeth. Adanya persyaratan ini merupakan suatu hal yang wajar dalam semua bidang ilmu. 1996. Menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy. Imam Jalaluddin As-Suyuthy dalam Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân menyebutkan lima belas ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir.11 a. Hal. 11 Adh-Dhawy. Bahasa Arab karena dengannya seorang mufassir mengetahui penjelasan kosakata suatu lafal dan maksudnya sesuai dengan objek. ia menerapkan tafsir tersebut baik dengan mengajarkannya atau menuliskannya.com/vb/showthread. Riyadh: Dâr al-Qâsim. seseorang tidak diperkenankan menangani pasien jika tidak menguasai ilmu kedokteran dengan baik. Oleh karena itu. 3. Bab Ma‘rifah Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbihi E-book. Jalaluddin. Diakses dari Mauqi‘ Umm Al-Kitâb li Al-Abhâts wa Ad-Dirâsât Al-Ilikturûniyah: www. 12 As-Suyuthy. Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân.12 Lima belas ilmu tersebut adalah sebagai berikut: 1. 10 .‫ﺑﻠﻐﺎت اﻟﻌﺮب‬ “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara mengenai sesuatu yang terdapat dalam Kitâbullâh apabila ia tidak mengetahui bahasa Arab. www. Syarat yang berkaitan dengan aspek pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang mufassir ini dibagi menjadi dua. Bahkan jika ia nekad membuka praktek dan ternyata pasien malah bertambah sakit. Ahmad Bazawy. Husain bin Ali bin Husain. Nahwu karena suatu makna bisa saja berubah-ubah dan berlainan sesuai dengan perbedaan i’rab. Oleh karena demikian urgennya penguasaan terhadap bahasa Arab dalam menafsirkan Al-Quran. Mujahid bahkan mengatakan. yaitu: syarat pengetahuan murni dan syarat manhajiyah (berkaitan dengan metode).” 10 III.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007. Syarat Pertama: Aspek Pengetahuan Aspek pengetahuan adalah syarat yang berkaitan dengan seperangkat ilmu yang membantu dan memiliki urgensitas untuk menyingkap suatu hakikat. syarat yang ketat mutlak diperlukan agar tidak terjadi kesalahan atau kerancuan dalam penafsiran.blogspot. kita mengetahui bahwa menafsirkan Al-Quran merupakan amanah berat.Selain itu. tidak setiap orang memiliki otoritas untuk mengemban amanah tersebut. Dalam bidang kedokteran misalnya. Juz 1. Al-Harby. ‫ًﺎ‬ ‫ﻻ ﻳﺤﻞ ﻷﺣﺪ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﷲ واﻟﻴﻮم اﻵﺧﺮ أن ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻲ آﺘﺎب اﷲ إذا ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﺎﻟﻤ‬ .net pada 6 September 2007. Para ulama memberikan istilah untuk aspek pengetahuan ini dengan syaratsyarat seorang alim. syarat mufassir secara umum terbagi menjadi dua: aspek pengetahuan dan aspek kepribadian. Siapa saja yang ingin menafsirkan Al-Quran harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Qawâ‘id at-Tarjîh ‘Inda al-Mufassirîn. 29. Tashrîf (sharaf) karena dengannya dapat diketahui binâ’ (struktur) dan shîghah (tense) suatu kata. Tanpa seperangkat ilmu tersebut. seseorang tidak akan memiliki kapabilitas untuk menafsirkan Al-Quran karena tidak terpenuhi faktor-faktor yang menjamin dirinya dapat menyingkap suatu hakikat yang harus dijelaskan.com . SYARAT-SYARAT MUFASSIR Dari penjelasan mengenai definisi tafsir di atas. Dirâsah Nazhâriyyah Tathbîqiyyah. Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www.omelketab. Demikian juga halnya dengan tafsir Al-Quran.” 2. ia akan dituduh melakukan malpraktek sehingga bisa dituntut ke pengadilan.aadesanjaya.

Siapa saja yang menafsirkan Al-Quran tanpa menguasai ilmu-ilmu tersebut. 9. Ushûluddîn (prinsip-prinsip dien) yang terdapat di dalam Al-Quran berupa ayat yang secara tekstual menunjukkan sesuatu yang tidak boleh ada pada Allah ta‘ala. wajib. Ketiga ilmu di atas disebut ilmu balaghah yang merupakan ilmu yang harus dikuasai dan diperhatikan oleh seorang mufassir agar memiliki sense terhadap keindahan bahasa (i‘jâz) Al-Quran.” Ibnu Abid Dunya mengatakan.aadesanjaya. yaitu ilmu yang Allah ta‘ala anugerahkan kepada orang yang mengamalkan ilmunya. Ushul fikih karena dengannya dapat diketahui wajh al-istidlâl (segi penunjukan dalil) terhadap hukum dan istinbâth. Al-Badî‘ karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi keindahan suatu kalimat.blogspot. 14. 12. 5.4. Namun apabila menafsirkan dengan menguasai ilmu-ilmu tersebut. Fikih. Al-Bayân karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi perbedaannya sesuai dengan jelas tidaknya suatu makna. apakah berasal dari (‫ )اﻟﺴﻴﺎﺣﺔ‬atau (‫)اﻟﻤﺴﺢ‬. Ilmu muhibah.com . maka ia harus menguasai tiga syarat pengetahuan tambahan selain lima belas ilmu di atas.” Ilmu-ilmu di atas merupakan alat bagi seorang mufassir. Misalnya (‫)اﻟﻤﺴﻴﺢ‬. 7. 13.com/vb/showthread. Dalam sebuah hadits disebutkan.ahlalhdeeth. Al-Ma‘âni karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi manfaat suatu makna. ‫ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﻋﻠﻢ ورﺛﻪ اﷲ ﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ‬ “Siapa yang mengamalkan ilmunya. Isytiqâq (derivasi) karena suatu nama apabila isytiqâqnya berasal dari dua subjek yang berbeda. maka ia tidak menafsirkan dengan ra’yu (akal) yang dilarang. Seseorang tidak memiliki otoritas untuk menjadi mufassir kecuali dengan menguasai ilmu-ilmu ini. berarti ia menafsirkan dengan ra’yu (akal) yang dilarang. An-Nâsikh wa al-Mansûkh agar diketahui mana ayat yang muhkam (ditetapkan hukumnya) dari ayat selainnya. Mengetahui secara sempurna ilmu-ilmu kontemporer hingga mampu memberikan penafsiran terhadap Al-Quran yang turut membangun peradaban yang benar agar terwujud universalitas Islam. maka artinya pun juga pasti berbeda. 15. 10.php?t=82245 www. Hadits-hadits penjelas untuk menafsirkan yang mujmal (global) dan mubham (tidak diketahui). menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy13. 13 Silakan lihat: Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www. Adapun bagi seorang mufassir kontemporer. Tiga syarat pengetahuan tersebut adalah: 1. Seorang ahli ushul bertugas untuk menakwilkan hal itu dan mengemukakan dalil terhadap sesuatu yang boleh. Asbâbun Nuzûl (sebab-sebab turunnya ayat) karena dengannya dapat diketahui maksud ayat sesuai dengan peristiwa diturunkannya. 8. 6. dan tidak boleh. “Ilmu Al-Quran dan istinbâth darinya merupakan lautan yang tidak bertepi. maka Allah akan menganugerahinya ilmu yang belum ia ketahui. Ilmu qirâ’ah karena dengannya dapat diketahui cara mengucapkan Al-Quran dan kuat tidaknya model bacaan yang disampaikan antara satu qâri’ dengan qâri’ lainnya. 11.

‫ء‬ ِ ‫َا‬ ‫ﻬﺪ‬ َ‫ﺸ‬ ‫َاﻟ ﱡ‬ ‫ﻦو‬ َ ‫ِﻴ‬ ‫ﱢﻳﻘ‬ ‫ﺼﺪ‬ ‫َاﻟ ﱢ‬ ‫ﻦو‬ َ ‫ﱢﻴ‬ ‫ﺒﻴ‬ ِ‫ﻨ‬ ‫ﻦ اﻟ ﱠ‬ َ‫ﻣ‬ ِ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻬ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ﷲ‬ ُ ‫ﻢا‬ َ‫ﻌ‬ َ‫ﻧ‬ ْ‫أ‬ َ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫ﻊ اﱠ‬ َ‫ﻣ‬ َ ‫ﻚ‬ َ ‫ﺌ‬ ِ‫ﻟ‬ َ‫ُو‬ ‫ﻓﺄ‬ َ ‫ل‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﺮﺳ‬ ‫َاﻟ ﱠ‬ ‫ﷲو‬ َ ‫ﻊا‬ ِ‫ﻄ‬ ِ‫ﻳ‬ ُ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ َ‫و‬ َ ‫ًﺎ‬ ‫ِﻴﻘ‬ ‫رﻓ‬ َ ‫ﻚ‬ َ‫ﺌ‬ ِ‫ﻟ‬ َ‫ُو‬ ‫ﻦأ‬ َ‫ﺴ‬ ُ‫ﺣ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻴ‬ ‫ﻟﺤ‬ ِ‫ﱠﺎ‬ ‫َاﻟﺼ‬ ‫و‬ “Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya). (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka. Misalnya perbedaan pendapat mereka mengenai makna huruf-huruf hijâ’ (alphabet). 125 www. Demikian juga. “Siapa yang ingin menafsirkan Al-Quran yang mulia maka pertama kali ia harus mencari tafsirnya dari Al-Quran. Apabila tidak menemukannya. Mengetahui pemikiran filsafat. Sebab. ‘Maknanya adalah qasam (sumpah)’. Manhaj tafsîr bil ma’tsûr tersebut akan dijelaskan sekilas di bawah ini. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran Ayat Al-Quran terkadang disebutkan secara global dan ditafsirkan secara rinci pada ayat lain. maka ia harus mencarinya dari As-Sunnah karena ia (As-Sunnah) merupakan penjelas bagi Al-Quran. Shalahuddin.aadesanjaya. Selain harus menguasai ilmu-ilmu di atas. sosial. Imam Jalaluddin As-Suyuthy mengatakan. orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh.blogspot.”14 Manhaj (metode) seperti yang dikemukakan oleh Imam As-Suyuthy di atas di kalangan para ulama dikenal dengan istilah tafsîr bil ma’tsûr. maka harus dikembalikan pada pendapat orang yang mengatakan.” Orang-orang yang dianugerahi nikmat kepada mereka ditafsirkan dengan firman Allah ta‘ala. mereka juga diberi kekhususan berupa pemahaman yang sempurna. Mukhtashar Al-Itqân. ilmu yang shahih. ia telah berpartisipasi dalam menyadarkan umat terhadap hakikat Islam beserta keistimewaan pemikiran dan peradabannya. Apabila tidak menemukannya dari As-Sunnah. para shiddiiqiin. dan amal yang shalih.com .” (QS An-Nisa’: 69) Contoh lainnya adalah firman Allah. merekalah yang menyaksikan konteks dan kondisi pada saat turunnya ayat. 1. Ayat yang bermakna global pada suatu tempat ditafsirkan dengan ayat pada tempat lain dan ayat yang ringkas pada suatu tempat diperluas penjelasannya dengan ayat pada tempat lainnya. Contoh penafsiran Al-Quran dengan Al-Quran adalah firman Allah ta‘ala dalam surat Al-Fatihah: 67. Selain itu. maka harus dikembalikan kepada pendapat yang paling kuat dalilnya. Ketika terjadi kontradiksi antarpendapat para sahabat. dan politik yang sedang mendominasi dunia agar mufassir mampu mengcounter setiap syubhat yang ditujukan kepada Islam serta memunculkan hakikat dan sikap Al-Quran Al-Karim terhadap setiap problematika kontemporer. Fî ‘Ulûm Al-Qurân li As-Suyûthy. mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah. ayat yang ringkas ditafsirkan secara lusa pada ayat lain. ‫ﻦ‬ َ ‫ﱢﻴ‬ ‫ﱠﺎﻟ‬ ‫ﻻ اﻟﻀ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻬ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ب‬ ِ ‫ُﻮ‬ ‫ﻐﻀ‬ ْ‫ﻤ‬ َ‫ﻟ‬ ْ‫ﺮ ا‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻏ‬ َ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻬ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ﺖ‬ َ ‫ﻤ‬ ْ‫ﻌ‬ َ‫ﻧ‬ ْ‫أ‬ َ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫ط اﱠ‬ َ ‫َا‬ ‫ﺻﺮ‬ ِ *‫ﻢ‬ َ ‫ِﻴ‬ ‫ﺘﻘ‬ َ‫ﺴ‬ ْ‫ﻤ‬ ُ‫ﻟ‬ ْ‫ط ا‬ َ ‫َا‬ ‫ﺼﺮ‬ ‫َﺎ اﻟ ﱢ‬ ‫ﺪﻧ‬ ِ‫ه‬ ْ‫ا‬ “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Arqahwah. bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 3. seorang mufassir harus memperhatikan manhaj yang ditempuh dalam menafsirkan Al-Quran. maka ia harus mengembalikannya kepada pendapat para sahabat karena mereka lebih mengetahui penafsiran Al-Quran. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Dengan demikian. Pengetahuan ini sangat urgen untuk memperlihatkan bagaimana sikap dan solusi Islam terhadap problem tersebut. 1987. 14 . yaitu: Nabi-nabi. Hal. Beirut: Dâr AnNafâis. ekonomi.2. Memiliki kesadaran terhadap problematika kontemporer. Manhaj ini yang pertama kali harus ditempuh oleh seorang mufassir sebelum ia menafsirkan dengan ra’yu sebatas yang diperbolehkan.

Demikian juga firman Allah ta‘ala. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil perkataan Imam Asy-Syafi‘i. Demikian juga. 15 Ya’qub. www. Allah ta‘ala berfirman.‫ﻢ‬ ُ ‫ِﻴ‬ ‫ﺮﺣ‬ ‫ب اﻟ ﱠ‬ ُ ‫ﱠا‬ ‫ﺘﻮ‬ ‫ﻮ اﻟ ﱠ‬ َ‫ه‬ ُ ‫ﻪ‬ ُ‫ﱠ‬ ‫إﻧ‬ ِ‫ﻪ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ب‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻓﺘ‬ َ‫ت‬ ٍ ‫َﺎ‬ ‫ﻠﻤ‬ ِ‫آ‬ َ ‫ﻪ‬ ِ‫ﺑ‬ ‫رﱢ‬ َ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫م‬ ُ‫د‬ َ ‫َا‬ ‫ﱠﻰ ء‬ ‫ﻠﻘ‬ َ‫ﺘ‬ َ‫ﻓ‬ َ “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.com . ‘Ya Tuhan kami. dan memperlihatkan maksudnya. menjelaskan yang mujmal (global). 1425 H.blogspot. “Sesungguhnya mereka yang dimurkai adalah Yahudi dan mereka yang sesat adalah Nasrani. merinci yang ringkas. ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah. Sunnah Nabawiyah tidak keluar dari kaidah. memuqayyadkan yang mutlak. Tidak mungkin mencampakkan Sunnah Nabawiyah dan tidak boleh pula meremehkannya dalam kondisi apa pun. menyingkap bagian yang samar. dan Ibnu Hiban dalam Shahîhnya meriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim.” (QS Al-Maidah: 60) Yang dimaksud dengan mereka adalah Yahudi.” (QS Al-A‘raf: 23) Penafsiran ini diriwayatkan dari banyak mufassir dari kalangan tabi‘in. Ahmad. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. dan mengamalkannya. maka Allah menerima taubatnya. Dirâsah Ta’shîliyyah. 55. pokok. 2. yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah. di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. menafsirkan yang musykil (rumit). Sunnah Nabawiyah datang dengan hukum-hukum yang tidak terdapat dan tidak ditentukan dalam Kitabullah. ‫ة‬ َ‫د‬ َ‫ﺮ‬ َ‫ﻘ‬ ِ‫ﻟ‬ ْ‫ﻢ ا‬ ُ‫ﻬ‬ ُ‫ﻨ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ﻞ‬ َ‫ﻌ‬ َ‫ﺟ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻪ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻋ‬ َ ‫ﺐ‬ َ ‫ﻀ‬ ِ ‫ﻏ‬ َ‫و‬ َ ‫ﷲ‬ ُ ‫ﻪا‬ ُ‫ﻨ‬ َ‫ﻌ‬ َ‫ﻟ‬ َ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ َ ‫ﷲ‬ ِ ‫ﺪا‬ َ‫ﻨ‬ ْ‫ﻋ‬ ِ ‫ﺔ‬ ً‫ﺑ‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻣﺜ‬ َ ‫ﻚ‬ َ‫ﻟ‬ ِ‫ذ‬ َ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ﺮ‬ ‫ﺸﱟ‬ َ‫ﺑ‬ ِ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻜ‬ ُ‫ﺌ‬ ُ‫ﱢ‬ ‫ﻧﺒ‬ َ‫أ‬ ُ‫ﻞ‬ ْ‫ه‬ َ ‫ﻞ‬ ْ‫ﻗ‬ ُ ‫ﻞ‬ ِ ‫ِﻴ‬ ‫ﺴﺒ‬ ‫ء اﻟ ﱠ‬ ِ ‫َا‬ ‫ﺳﻮ‬ َ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻋ‬ َ ‫ﻞ‬ ‫ﺿﱡ‬ َ ‫أ‬ َ‫و‬ َ ‫ًﺎ‬ ‫َﺎﻧ‬ ‫ﻣﻜ‬ َ ‫ﺮ‬ ‫ﺷﱞ‬ َ ‫ﻚ‬ َ‫ﺌ‬ ِ‫ﻟ‬ َ‫ُو‬ ‫تأ‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﱠﺎﻏ‬ ‫ﺪ اﻟﻄ‬ َ‫ﺒ‬ َ‫ﻋ‬ َ‫و‬ َ ‫ﺮ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫َﺎز‬ ‫ﺨﻨ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫َا‬ ‫و‬ “Katakanlah. At-Tirmidzy. Juz I. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr.” Tafsir ini diperkuat dengan firman Allah ta‘ala. supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu. menafsirkan Kitab-Nya. Hal. menerangkan yang mubham (tidak dimengerti). Thahir Mahmud Muhammad. “Setiap hukum yang diputuskan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berasal dari pemahamannya terhadap Al-Quran. mengkhususkan yang umum. Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah Sunnah Nabawiyah berfungsi untuk mensyarah Al-Quran. dia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda. Hal itu karena urgensitasnya dalam memahami agama Allah. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah.” (QS An-Nisa’: 105)15 Contoh penafsiran Al-Quran dengan As-Sunnah di antaranya adalah tafsir almaghdhûb ‘alaihim (mereka yang dimurkai) dengan Yahudi dan adh-dhâllîn (mereka yang sesat) dengan Nasrani dalam surat Al-Fatihah. niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi’. kami telah menganiaya diri kami sendiri.” (QS AlBaqarah: 37) Beberapa kalimat dalam ayat ini ditafsirkan dalam ayat lainnya. maksud. dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami.aadesanjaya. dan tujuan Kitabullah. ‫ﷲ‬ ُ ‫كا‬ َ ‫َا‬ ‫أر‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﺑﻤ‬ ِ‫س‬ ِ ‫ﱠﺎ‬ ‫ﻦ اﻟﻨ‬ َ‫ﻴ‬ ْ‫ﺑ‬ َ‫ﻢ‬ َ‫ﻜ‬ ُ‫ﺤ‬ ْ‫ﺘ‬ َ‫ﻟ‬ ِ‫ﻖ‬ ‫ﺤﱢ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﺎ‬ ‫بﺑ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻜﺘ‬ ِ‫ﻟ‬ ْ‫ﻚ ا‬ َ‫ﻴ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫إ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﻨ‬ ْ‫ﺰ‬ َ‫ﻧ‬ ْ‫أ‬ َ ‫ﱠﺎ‬ ‫إﻧ‬ ِ “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran. ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﺳﺮ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﺨ‬ ْ‫ﻦ ا‬ َ‫ﻣ‬ ِ ‫ﻦ‬ ‫ﻧﱠ‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻨﻜ‬ َ‫ﻟ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻤﻨ‬ ْ‫ﺣ‬ َ‫ﺮ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫و‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﻨ‬ َ‫ﺮ‬ ْ‫ﻔ‬ ِ‫ﻐ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ﻢ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫ن‬ ْ‫إ‬ ِ‫و‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﺴﻨ‬ َ‫ﻔ‬ ُ‫ﻧ‬ ْ‫أ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻤﻨ‬ ْ‫ﻠ‬ َ‫ﻇ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﺑﻨ‬ ‫رﱠ‬ َ ‫ﻻ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻗ‬ “Keduanya berkata. yaitu firman Allah ta‘ala.

Kita mengambil tafsir sahabat dan 16 Silakan lihat: Abu Syuhbah. KSA: Maktabah As-Sunnah.com .” (QS Al-An‘am: 82) Ahmad. Kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah atsar mereka. 50-51 17 Abu Syuhbah. Sesungguhnya mereka adalah orangorang yang paling bersih hatinya di kalangan umat ini. paling sedikit bebannya. ‫ن‬ َ ‫ُو‬ ‫ﺘﺪ‬ َ‫ﻬ‬ ْ‫ﻣ‬ ُ ‫ﻢ‬ ْ‫ه‬ ُ‫و‬ َ ‫ﻦ‬ ُ‫ﻣ‬ ْ‫ﺄ‬ َ‫ﻟ‬ ْ‫ﻢ ا‬ ُ‫ﻬ‬ ُ‫ﻟ‬ َ‫ﻚ‬ َ‫ﺌ‬ ِ‫ﻟ‬ َ‫ُو‬ ‫ﻢأ‬ ٍ‫ﻠ‬ ْ‫ﻈ‬ ُ‫ﺑ‬ ِ‫ﻢ‬ ْ‫ﻬ‬ ُ‫ﻧ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ِﻳﻤ‬ ‫ُﻮا إ‬ ‫ﺒﺴ‬ ِ‫ﻠ‬ ْ‫ﻳ‬ َ‫ﻢ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫و‬ َ ‫ُﻮا‬ ‫ﻣﻨ‬ َ ‫َا‬ ‫ﻦء‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫اﱠ‬ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman. mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. ‘Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar’. 1408 H. cit. www. Al-Isrâiliyât wa Al-Maudhû‘ât fî Kutub At-Tafsîr. “Kami mempelajari Al-Quran. Muhammad. dan menghadiri majelis-majelis Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. ‘Sesungguhnya artinya bukanlah yang kalian maksudkan. dan perawi lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud. “Tatkala turun ayat ini. Bukhari. ‘Ya Rasulullah. Hal. hal. paling mendalam ilmunya. Mereka mengatakan. maka hendaknya ia meneladani para sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Contoh lainnya adalah tafsir azh-zhulmu (kezaliman) dalam firman Allah ta‘ala. dan amal secara keseluruhan.” (QS AlMaidah: 77) Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadikan Yahudi sebagai contoh tipikal terhadap setiap orang yang rusak irâdah (kemauan)nya. dan mereka tersesat dari jalan yang lurus’.‫ﱡﻮا‬ ‫ﺿﻠ‬ َ ‫أ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻞ‬ ُ‫ﺒ‬ ْ‫ﻗ‬ َ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ﱡﻮا‬ ‫ﺿﻠ‬ َ ‫ﺪ‬ ْ‫ﻗ‬ َ‫م‬ ٍ‫ﻮ‬ ْ‫ﻗ‬ َ‫ء‬ َ ‫َا‬ ‫هﻮ‬ ْ‫أ‬ َ ‫ُﻮا‬ ‫ﺒﻌ‬ ِ‫ﺘ‬ ‫ﺗﱠ‬ َ‫ﻻ‬ َ‫و‬ َ ‫ﻖ‬ ‫ﺤﱢ‬ َ‫ﻟ‬ ْ‫ﺮ ا‬ َ‫ﻴ‬ ْ‫ﻏ‬ َ ‫ﻢ‬ ْ‫ﻜ‬ ُ‫ﻨ‬ ِ ‫ِﻳ‬ ‫ِﻲ د‬ ‫ُﻮا ﻓ‬ ‫ﻐﻠ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ﻻ‬ َ ‫ب‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻜﺘ‬ ِ‫ﻟ‬ ْ‫ﻞ ا‬ َ‫ه‬ ْ‫أ‬ َ‫َﺎ‬ ‫ﻞﻳ‬ ْ‫ﻗ‬ ُ ‫ﻞ‬ ِ ‫ِﻴ‬ ‫ﺴﺒ‬ ‫ء اﻟ ﱠ‬ ِ ‫َا‬ ‫ﺳﻮ‬ َ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻋ‬ َ ‫ﱡﻮا‬ ‫ﺿﻠ‬ َ ‫و‬ َ ‫ًا‬ ‫ِﻴﺮ‬ ‫آﺜ‬ َ “Katakanlah. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba shalih (Lukman). siapakah di antara kita yang tidak berbuat kezaliman terhadap dirinya?’ Rasulullah bersabda. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadikan Nasrani sebagai contoh tipikal terhadap setiap orang yang tidak memiliki ilmu dan ingin meraih kebenaran. 18 Idem. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia). ‘Hai Ahli Kitab. menyaksikan turunnya Al-Quran. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan menegakkan din-Nya. sementara Al-Quran turun dengan bahasa Arab yang jelas. Sesungguhnya kezaliman (yang dimaksud dalam ayat itu) adalah syirik. ilmu. “Barangsiapa di antara kalian ingin meneladani seseorang. Mengambil pendapat para sahabat Abu Abdurrahman As-Salma. lalu dengan As-Sunnah.”18 Para sahabat menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. bahwa ia berkata. namun menyimpang darinya. dan paling baik keadaannya.aadesanjaya. ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman’. Mereka berkata. ia berkata. Apabila tidak mendapatkan tafsir dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mereka kebingungan dalam kesesatan dan tidak mendapatkan petunjuk menuju kebenaran. Muslim. meriwayatkan dari para senior penghapal Al-Quran dari sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa apabila turun kepada mereka sepuluh ayat.blogspot. Op. Mereka mengetahui kebenaran. Abdullah bin Mas‘ud. mereka tidak langsung melaluinya hingga mengetahui ilmu dan amal yang terdapat di dalamnya. 52. mereka melakukan ijtihad karena mereka adalah orang Arab tulen. para sahabat merasa keberatan.”16 3. seorang tabi’in yang mulia. paling lurus petunjuknya.”17 Diriwayatkan dari sahabat yang mulia. janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu.

mereka memiliki kekuatan dalam pemahaman dan pengetahuan. 29. maka hukumnya mauqûf selama sanadnya tidak bersandar kepada Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam. kami menganggap perkataan mereka sebagai hujjah. mereka mengetahui maksud dan rahasia bahasa Arab. (‫ﺮ‬ ِ‫ﻔ‬ ْ‫ﻜ‬ ُ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﻲ ا‬ ‫ةﻓ‬ ٌ‫د‬ َ ‫َﺎ‬ ‫زﻳ‬ ِ ‫ء‬ ُ ‫ِﻲ‬ ‫ﻨﺴ‬ ‫َﺎ اﻟ ﱠ‬ ‫ﻧﻤ‬ ‫إﱠ‬ ِ) “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran” (QS At-Taubah: 37) dan ( ‫ُﻮا‬ ‫ﺄﺗ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ن‬ ْ‫ﺄ‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ﺮ‬ ‫ﺒﱡ‬ ِ‫ﻟ‬ ْ‫ﺲ ا‬ َ ‫ﻴ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫و‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ره‬ ِ ‫ُﻮ‬ ‫ﻇﻬ‬ ُ ‫ﻦ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ت‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﺒﻴ‬ ُ‫ﻟ‬ ْ ‫“ )ا‬Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya” (QS Al-Baqarah: 189). Kedua. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman. Kairo: Maktabah Wahbah. Ia mengatakan. At-Tafsîr wa Al-Mufassirûn. mereka mengetahui keadaan yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab pada saat turunnya Al-Quran Al-Karim. mereka mengetahui adat dan karakter bangsa Arab. Hal. Allah telah menganugerahkan kepada mereka akal dan pemahaman yang dengannya mereka dapat melihat banyak faktor secara jelas. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr. Hal. Muqaddimah fî Ushûl At-Tafsîr. Apabila selain itu. Hal ini membantu mereka untuk memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan perbaikan adat dan perilaku mereka. Dengan faktor-faktor tersebut. Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir sahabat yang mauqûf karena mereka menyaksikan korelasi dan kondisi yang dikhususkan kepada mereka dan tidak dikhususkan kepada selain mereka. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui ayat-ayat yang pemahamannya berkaitan dengan pemahaman bahasa Arab. Adz-Dzahabi. yaitu perkara yang kembali pada ijtihad para sahabat. maka hukumnya marfû‘. Ayat seperti ini hanya dapat dipahami oleh orang yang mengetahui adat Arab pada masa jahiliyah. dan bagaimana mereka memusuhi kaum Muslimin. Pengetahuan mengenai hal itu membantu mereka untuk memahami banyak ayat. Buhûts fî Ushûl At-Tafsîr wa Manâhijuhu. 1419 H. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah.lebih memprioritaskannya daripada tafsir generasi sesudahnya karena pada diri mereka terpenuhi sarana-sarana untuk melakukan ijtihad sebagai berikut: Pertama. Keempat. Ini merupakan perkara yang sudah maklum dari sejarah perjalanan hidup para sahabat radhiyallâhu ‘anhum. misalnya perkara-perkara ghaib. Hal. 2. Hal.aadesanjaya. 48. “Adapun tafsir sahabat. Oleh karena itu.”22 19 20 .21 Imam Abu Ya‘la menyatakan wajibnya berpegang pada tafsir sahabat. Inilah kesimpulan dari pendapat Ahmad rahimahullâh di beberapa tempat dalam Musnadnya bagian kitab thâ‘ah Ar-Rasûl (menaati Rasul) shallallâhu ‘alaihi wa sallam … Alasannya adalah karena mereka menyaksikan peristiwa turunnya Al-Quran dan menghadiri takwil sehingga mengetahui penafsirannya. Muhammad Husain. asbâb an-nuzûl. KSA: Maktabah At-Taubah.com . www. Wajib mengambilnya. ‘Mengetahui asbâb an-nuzûl dapat membantu untuk memahami suatu ayat karena pengetahuan terhadap sebab akan melahirkan pengetahuan terhadap musabab. Oleh karena itu. mereka mengetahui asbâb an-nuzûl (sebab-sebab turunnya ayat) karena mereka menyaksikan turunnya ayat dan ikut terlibat dalam berbagai peristiwa yang disebutkan Al-Quran. Juz I. seperti firman Allah ta’ala. maka wajib kembali padanya.20 Tafsir sahabat berdasarkan hukumnya terbagi menjadi dua: 1. 45-46 21 Ar-Rumy. Ibnu Taimiyah. Thahir Mahmud Muhammad.blogspot. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui ayat-ayat yang membicarakan Yahudi dan Nasrani. 59-60. perkara-perkara yang mereka (Yahudi dan Nasrani) lakukan. Ketiga. Dirâsah Ta‘shîliyyah.’19 Kelima. Juz I. dan sebagainya. Ibnu Taimiyah rahimahullâh ta‘âlâ mengatakan. 1425 H. 2000. 22 Ya‘qub. Apabila termasuk perkara yang di luar wilayah akal. para sahabat banyak memahami ayat Al-Quran Al-Karim yang tidak terdapat tafsirnya dalam AlQuran dan As-Sunnah.

Pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama menyatakan bahwa tafsir tabi‘in termasuk tafsir bil ma’tsûr karena secara umum mereka mempelajarinya dari sahabat. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. Abdul Hayyie.com . yaitu tidak mengeluarkan tumbuhan. barulah seorang mufassir diperbolehkan menggunakan ra’yunya dalam menafsirkan Al-Quran dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tafsir. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Sa‘id Ibnu Jubair. tafsir bil ma’tsûr akan berhenti pada makna-makna. Dirâsah Ta’shîliyyah. KSA: Maktabah As-Sunnah. 55. dan pesan-pesan yang disampaikan oleh riwayat-riwayat yang ada. Hal. “Aku katakan. Hal. kalam. dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga berakhir pada zaman para imam Islam yang terkenal dan terteladani.Contoh tafsir sahabat di antaranya adalah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah ta‘ala. Ibnu Umar berkata. 24 Ya‘qub. dan problematika kehidupan lainnya. kemudian Kami pisahkan antara keduanya. menurut Syaikh Muhammad Al-Ghazali. I No. Sebab. Masruq bin Al-Ajda’. tafsir bir ra’yi –yang sesuai dengan kaidah— itulah yang justru berpotensi untuk terus berkembang dan tidak berhenti. 60.23 4. “Ilmu paling utama dalam tafsir Al-Quran. Juz I. Mengambil pendapat para kibâr (senior) tabi’in.25 Sementara itu. Bumi dahulu rapat. As-Suyuthy juga menyebutnya dalam Al-Itqân. Sa‘id bin Musayyib. tabi‘in. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr. “Langit dahulu rapat. Karena tafsir yang demikian yang terus berinteraksi dengan masalahmasalah sastra. Sekarang engkau telah mengetahui bahwa ia dianugerahi ilmu. ‫ﻲ‬ ‫ﺣﱟ‬ َ ‫ء‬ ٍ‫ﻲ‬ ْ ‫ﺷ‬ َ ‫ﱠ‬ ‫آﻞ‬ ُ ‫ء‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻟﻤ‬ ْ‫ﻦ ا‬ َ‫ﻣ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫ﻠﻨ‬ ْ‫ﻌ‬ َ‫ﺟ‬ َ‫و‬ َ ‫َﺎ‬ ‫هﻤ‬ ُ ‫َﺎ‬ ‫ﻘﻨ‬ ْ‫ﺘ‬ َ‫ﻔ‬ َ‫ﻓ‬ َ ‫ًﺎ‬ ‫ﺗﻘ‬ ْ‫ر‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻧﺘ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ضآ‬ َ ‫ر‬ ْ‫ﺄ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫َا‬ ‫تو‬ ِ ‫َا‬ ‫ﻤﻮ‬ َ‫ﺴ‬ ‫ن اﻟ ﱠ‬ ‫أﱠ‬ َ ‫ُوا‬ ‫ﻔﺮ‬ َ‫آ‬ َ ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫ﺮ اﱠ‬ َ‫ﻳ‬ َ‫ﻢ‬ ْ‫ﻟ‬ َ‫و‬ َ‫أ‬ َ ‫ن‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻣﻨ‬ ِ‫ﺆ‬ ْ‫ﻳ‬ ُ‫ﻼ‬ َ‫ﻓ‬ َ‫أ‬ َ “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang rapat.blogspot. 25 Problematika tafsir bil ma’tsûr menurut para ulama adalah banyaknya riwayat yang lemah dan palsu.” Seseorang kemudian datang kepada Ibnu Umar radhiyallâh ‘anhumâ dan memberitahukan apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Al-Hafizh Ibnu Rajab menyatakan bahwa ilmu yang paling utama dalam tafsir adalah atsar dari sahabat dan tabi‘in. hukum. Lalu Allah memisahkan langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan.aadesanjaya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam Al-Hilyah. bahasa.”24 Setelah menempuh manhaj tafsir bil ma’tsûr terlebih dahulu. Ia mengatakan. “Al-Quran dan Tafsir” dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan Vol. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiya‘: 30) Ibnu Abbas mengatakan. Thahir Mahmud Muhammad. makna hadits. Muhammad. yaitu tidak menurunkan hujan.26 Oleh karena itu. pemahaman. Karakteristik-karakteristik tafsir ideal tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut: 23 Silakan lihat: Abu Syuhbah. 1 Januari 2005 hal. mengapa aku harus heran terhadap keberanian Ibnu Abbas dalam menafsirkan Al-Quran. 26 Al-Kattani. 1425 H. dan sebagainya yang mempelajari langsung semua tafsir dari para sahabat ridhwânullâh ‘alaihim. 101. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi kemudian menawarkan karakteristik tafsir ideal yang diharapkan sesuai dengan kaidah yang diakui para ulama dan pada saat yang sama dapat mengiringi ritme perkembangan zaman. Ibnu Jabr. Al-Isrâiliyât wa Al-Maudhû‘ât fî Kutub At-Tafsîr. www. 1408 H. Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hukum mengambil tafsir yang dinukil dari tabi‘in. Al-Hasan Al-Bashry. ‘Ikrimah dan ‘Atha’ bin Abi Ribah. serta pembicaraan mengenai yang halal dan yang haram adalah atsar yang berasal dari sahabat. seperti Mujahid.

Hal. Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân. E-book. Kelima. Para ulama salaf shalih mengartikulasikan aspek ini sebagai adab-adab seorang alim. ‘Para ulama mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah dicabut dari mereka pemahaman mengenai Al-Quran. hawa nafsu. orang yang tertuduh dalam agamanya tidak dapat dipercaya dalam urusan duniawi. maka bagaimana dalam urusan agama? Kemudian ia tidak dipercaya dalam agama untuk memberitahukan dari seorang alim.aadesanjaya.Pertama. Salah seorang di antara mereka menyusun kitab dalam tafsir dengan maksud sebagai penjelasan paham mereka dan untuk menghalangi umat dari mengikuti salaf dan komitmen terhadap jalan petunjuk. Sebab. atau cinta dunia. Ketiga.’ Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.blogspot. mengambil kemutlakan bahasa Arab. Ahmad Bazawy Adh-Dhawy meringkaskan sejumlah adab yang harus dimiliki oleh seorang mufassir. Ketujuh. atau gemar melakukan dosa. atau lemah iman. 29 As-Suyuthy.”29 Berdasarkan perkataan Imam As-Suyuthy di atas. Semua ini merupakan penutup dan penghalang yang sebagiannya lebih kuat daripada sebagian lainnya. Ushûl At-Tafsîr wa Qawâ‘iduhu. atau merujuk kepada akalnya. kesombongan. maka bagaimana ia dipercaya untuk memberitahukan rahasia-rahasia Allah ta‘ala? Sebab seseorang tidak dipercaya apabila tertuduh sebagai atheis adalah ia akan mencari-cari kekacauan serta menipu manusia dengan kelicikan dan tipu dayanya seperti kebiasaan sekte Bathiniyah dan sekte Rafidhah ekstrim.” (QS Al-A‘raf: 146) Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan. Yang dimaksud dengan aspek kepribadian adalah akhlak dan nilai-nilai ruhiyah yang harus dimiliki oleh seorang mufassir agar layak untuk mengemban amanah dalam menyingkap dan menjelaskan suatu hakikat kepada orang yang tidak mengetahuinya. memperhatikan konteks redaksional ayat. Syarat Kedua: Aspek Kepribadian Adapun syarat kedua yang harus terpenuhi pada diri seorang mufassir adalah syarat yang berkaitan dengan aspek kepribadian. Khalid Abdurrahman.omelketab. www. Diakses dari Mauqi‘ Umm Al-Kitâb li AlAbhâts wa Ad-Dirâsât Al-Ilikturûniyah: www. Kedua. yaitu: 1. memperhatikan asbâb an-nuzul. Kedelapan. atau bersandar pada pendapat seorang mufassir yang tidak memiliki ilmu. memanfaatkan tafsir sahabat dan tabi‘in. Imam As-Suyuthy mengatakan. Saya katakan.com . “Ketahuilah bahwa di antara syarat mufassir yang pertama kali adalah benar akidahnya dan komitmen terhadap sunnah agama. Jalaluddin. menafsirkan Al-Quran dengan sunnah yang shahih. ia tetap tidak dapat dipercaya karena akan menafsirkan Al-Quran berdasarkan hawa nafsunya agar sesuai dengan bid‘ahnya seperti kebiasaan sekte Qadariyah. Akidah yang lurus 27 28 Idem. Keenam.net pada 6 September 2007.27 b. meletakkan Al-Quran sebagai referensi utama. inilah makna firman Allah ta‘ala. “Ketahuilah bahwa seseorang tidak dapat memahami makna wahyu dan tidak akan terlihat olehnya rahasia-rahasianya sementara di dalam hatinya terdapat bid‘ah.”28 Sementara itu. Apabila seseorang tertuduh sebagai pengikut hawa nafsu. menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. 189. Keempat. 1986. Al-‘Ik. menggabungkan antara riwayah dan dirayah. Imam Abu Thalib Ath-Thabary mengatakan di bagian awal tafsirnya mengenai adabadab seorang mufassir. ‫ﻖ‬ ‫ﺤﱢ‬ َ‫ﻟ‬ ْ‫ﺮ ا‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻐ‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ض‬ ِ ‫ر‬ ْ‫ﺄ‬ َ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﻲ ا‬ ‫نﻓ‬ َ ‫ُو‬ ‫ﺒﺮ‬ ‫ﻜﱠ‬ َ‫ﺘ‬ َ‫ﻳ‬ َ‫ﻦ‬ َ ‫ِﻳ‬ ‫ﻟﺬ‬ ‫ﻲ اﱠ‬ َ‫ﺗ‬ ِ ‫َﺎ‬ ‫َاﻳ‬ ‫ﻦء‬ ْ‫ﻋ‬ َ ‫ف‬ ُ ‫ﺮ‬ ِ‫ﺻ‬ ْ ‫ﺄ‬ َ‫ﺳ‬ َ “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Beirut: Dâr An-Nafâis.

Adh-Dhawy. Berani dalam menyampaikan kebenaran 5. Syarat-syarat terpenting tersebut di antaranya adalah sebagai berikut . wajib memilih makna yang sesuai dengan atsar yang shahih sehingga i‘rab mengikuti atsar . dan sebagainya . Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Berpenampilan simpatik 6. Khawarij.Mentadabburi dan mengamalkan Al-Quran secara mendalam . para pentakwil sifat Allah. Berjiwa mulia 4. Siap dan metodologis dalam membuat langkah-langkah penafsiran31 Syaikh Thahir Mahmud Muhammad Ya‘kub juga mengemukakan syarat yang berkaitan dengan sifat-sifat mufassir. www.Menghindari israiliyat 30 2. Hal. Hal. 5. 2007. Beirut: Mansyûrât Al-‘Ashr Al-Hadîts.Mengetahui bahasa Arab dan uslubnya . Mendahulukan orang yang lebih utama dari dirinya 8. Mabâhits fî ‘Ulûm Al-Qurân. nâsikh dan mansûkh . Manna‘. misalnya asma’ dan sifat-Nya.com/vb/showthread. .Tidak segera menafsirkan berdasarkan bahasa sebelum menafsirkan berdasarkan atsar .php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007. 31 Al-Qaththan.Akidah yang shahih dan pemikiran yang bersih . Bisa dipastikan bahwa ia tidak tunduk kepada akalnya dan menjadikan Kitâbullâh sebagai pemimpin yang diikuti.Mengetahui kaidah-kaidah tarjîh menurut para mufassir . 3. 417-418.Tidak membicarakan secara panjang lebar perkara-perkara yang hanya diketahui oleh Allah. 6. Manna‘.Maksud yang benar dan niat yang ikhlas .30 Selain sembilan point di atas. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. 4. 332. asbâb an-nuzûl.com .Bersandar pada naql (penukilan) yang benar .Mengetahui kaidah-kaidah yang dikemukakan salafush shalih untuk memahami dan menafsirkan Al-Quran .Terbebas dari hawa nafsu Niat yang baik Akhlak yang baik Tawadhu‘ dan lemah lembut Bersikap zuhud terhadap dunia hingga perbuatannya ikhlas semata-mata karena Allah ta‘ala 7. Syaikh Manna‘ Al-Qaththan menambahkan beberapa adab yang harus dimiliki oleh seorang mufassir.Tidak mengambil tafsir dari ahli bid’ah.aadesanjaya.blogspot.Berlepas diri dari hawa nafsu dan ta‘ashub madzhabi . serta tidak terburu-buru dalam menetapkan sifat Allah ta‘ala dari Al-Quran Al-Karim. seperti Mu‘tazilah. Jujur dan teliti dalam penukilan 3. Berbicara tenang dan mantap 7. Mengamalkan ilmunya dan bisa dijadikan teladan 2. 1973. yaitu: 1. Silakan lihat juga terjemahannya: Al-Qaththan.Mengetahui pokok-pokok ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran Al-Karim dan tafsirnya.Ketika terdapat beragam makna i‘rab. Tidak bersandar pada ahli bid‘ah dan kesesatan dalam menafsirkan 9. Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www.ahlalhdeeth. Memperlihatkan taubat dan ketaatan terhadap perkara-perkara syar‘i serta sikap menghindar dari perkara-perkara yang dilarang 8. seperti ilmu qiraah. Ahmad Bazawy.

58 34 Wan Daud. Kairo: Dâr Al-Ma’ârif. Perbuatan ini dilarang secara syar’i berdasarkan firman Allah ta‘ala. Ilmu At-Tafsir. Syed Naquib Al-Attas.blogspot. Mengikuti hawa nafsu dan anggapan baik (istihsân). sampailah kita pada satu kesimpulan bahwa tafsir Al-Quran adalah interpretasi berdasarkan pada ilmu pengetahuan yang mapan. 33 Adz-Dzahabi. di dalam tafsir tidak ada ruang bagi terkaan atau dugaan yang gegabah. Tafsir dengan memastikan bahwa maksud Allah begini dan begini tanpa landasan dalil. 58. yaitu hermeneutika. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr. Dinukil dari Al-Attas. 3. Metode tafsir Al-Quran para mufassirun dari kalangan ulama kita jauh lebih unggul daripada hermeneutika. Thahir Mahmud Muhammad. Oleh karena itu. I hal. Para mufassirun kita telah 32 Ya‘qub. Muhammad Husain. atau ruang bagi interpretasi yang berdasarkan pada penafsiran atau pemahaman yang subjektif atau yang berdasarkan hanya pada ide-ide relativisme historis. seseorang akan melakukan takwil sehingga memalingkan makna ayat sesuai dengan akidahnya dan mengembalikannya pada madzhabnya dengan segala cara. maka jelaslah sangat tidak sebanding. 4. Terlalu berani menjelaskan maksud Allah ta‘ala dalam firman-Nya padahal tidak mengetahui tata bahasa dan pokok-pokok syariat serta tidak terpenuhi ilmu-ilmu yang baru boleh menafsirkan jika menguasainya. Seorang mufassir tidak boleh terlalu berani membicarakan sesuatu yang ghaib setelah Allah ta‘ala menjadikannya sebagai salah satu rahasia-Nya dan hujjah atas hamba-hamba-Nya.aadesanjaya. No. 5. seakan-akan perubahan semantik telah terjadi dalam struktur-struktur konseptual kata-kata dan istilah-istilah yang membentuk kosa-kata kitab suci ini. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. Akibatnya. Terlalu jauh membicarakan perkara yang hanya diketahui oleh Allah. seperti perkaraperkara mutasyâbihât. Dirâsah Ta’shîliyyah. Hal. Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education.Menjauhi masalah-masalah kalamiah dan pemikiran-pemikiran filsafat yang jauh dari AlKitab dan As-Sunnah serta berkontradiksi dengan keduanya .com . 5. Jika ingin dibandingkan antara metode tafsir yang telah dikembangkan oleh para ulama kita selama berabad-abad dengan hermeneutika yang diadopsi dari metode kritik Bible. Kuala Lumpur: ISTAC hal. - ‫ن‬ َ ‫ُﻮ‬ ‫ﻠﻤ‬ َ‫ﻌ‬ ْ‫ﺗ‬ َ‫ﻻ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﷲﻣ‬ ِ ‫َﻰ ا‬ ‫ﻋﻠ‬ َ ‫ُﻮا‬ ‫ُﻮﻟ‬ ‫ﺗﻘ‬ َ‫ن‬ ْ‫أ‬ َ‫و‬ َ “Dan (janganlah) mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui. sebagaimana dinyatakan Prof. Tt. Dari uraian di atas.Tidak membebani diri dalam tafsir ilmiah . 1 Th. Tafsir untuk menetapkan madzhab yang rusak dengan menjadikan madzhab tersebut sebagai landasan.Jujur ketika menukil . sementara tafsir mengikutinya. batallah tudingan miring orang-orang yang menyatakan bahwa metode tafsir “klasik” Al-Quran tidak perlu digunakan lagi karena metode tafsir tradisional sangat “ahistoris” (mengabaikan konteks sejarah) dan “uncritical” (tidak kritis) sehingga kita perlu mencari alternatif ilmu tafsir pengganti yang cocok untuk saat ini. 73-74. PENUTUP Demikianlah penjelasan mengenai syarat-syarat mufassir Al-Quran yang sangat ketat. 1991. An address to the Second World Conference on Muslim Education. Juz I.34 Dengan begitu.Mendahulukan orang yang lebih utama darinya dalam mengambil dan menukil tafsir serta mengembalikan kepada orang yang ia mengambil darinya32 Termasuk adab yang harus diperhatikan oleh mufassir adalah ia wajib menghindari perkara-perkara berikut ketika menafsirkan Al-Quran: 1. 2.” (QS AlBaqarah: 169)33 IV. www. Hal. “Tafsir dan Ta’wil Sebagai Metode Ilmiah” dalam Majalah Islamia. Wan Mohd Nor. 1425 H.

Wallâhu a‘lam. sementara itu ada berapa jilid kitab yang telah dihasilkan oleh para pemuja buta hermeneutika tersebut? Menafsirkan Al-Quran tanpa landasan ilmu merupakan dosa besar yang sangat berat ancamannya.menghasilkan berjilid-jilid kitab dalam bidang tafsir Al-Quran.aadesanjaya.com . Akan tetapi jika seseorang tidak dapat mencapai kriteria syarat-syarat mufassir.blogspot. ‫ر‬ ِ ‫ﱠﺎ‬ ‫ﻦ اﻟﻨ‬ ْ‫ﻣ‬ ِ ‫ﻩ‬ ُ‫ﺪ‬ َ‫ﻌ‬ َ‫ﻘ‬ ْ‫ﻣ‬ َ ‫أ‬ ْ‫ﻮ‬ ‫ﺒﱠ‬ َ‫ﺘ‬ َ‫ﻴ‬ َ‫ﻠ‬ ْ‫ﻓ‬ َ‫ﻢ‬ ٍ‫ﻠ‬ ْ‫ﻋ‬ ِ ‫ﺮ‬ ِ‫ﻴ‬ ْ‫ﻐ‬ َ‫ﺑ‬ ِ‫ن‬ ِ ‫ﻘﺮْﺁ‬ ُ‫ﻟ‬ ْ ‫ِﻲ ا‬ ‫لﻓ‬ َ ‫َﺎ‬ ‫ﻦﻗ‬ ْ‫ﻣ‬ َ “Barangsiapa yang berkata tentang Al-Quran tanpa landasan ilmu hendaknya ia menempati posisinya di neraka.” (HR At-Tirmidzi [2874]) Orang yang terpenuhi pada dirinya syarat-syarat mufassir diperbolehkan untuk menafsirkan Al-Quran sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku. maka sikap yang mesti diambil adalah mengikuti penafsiran para ulama yang berkompeten dalam bidang ini. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda. bukan malah berani membuat model tafsir baru alias bid‘ah sehingga menimbulkan kerancuan (syubhât) dalam memahami Islam. www.

2007. Mukhtashar Al-Itqân Fî ‘Ulûm Al-Qurân li As-Suyûthy. Wan Mohd Nor. ‘Ilmu At-Tafsîr.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007. Ar-Rumy. Buhûts fî Ushûl At-Tafsîr wa Manâhijuhu. 1973. 1419 H. Tt. Adh-Dhawy. Husaini. Al-Quran Dihujat.DAFTAR PUSTAKA Abu Syuhbah. Juz I.omelketab. Adz-Dzahabi. 1987. Juz II. Juz 1. 1 Januari 2005. Shalahuddin. Adz-Dzahabi. I hal. Arif.com . Mabâhits fî ‘Ulûm Al-Qurân. Melampaui Pluralisme. Syamsuddin. Jalaluddin. 1 Th. Ahmad Bazawy. 101. Abdul Hayyie. KSA: Maktabah At-Taubah. Wan Daud.aadesanjaya. Husain bin Ali bin Husain. Kairo: Maktabah Wahbah. Adian. Dirâsah Nazhâriyyah Tathbîqiyyah. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman. Endar. www. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2007. Al-Kattani. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. I No. At-Tafsîr wa Al-Mufassirûn. 1995 Manâhilul ‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qurân. “Al-Quran dan Tafsir” dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan Vol. Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân. As-Suyuthy. Al-Isrâiliyât wa Al-Maudhû‘ât fî Kutub At-Tafsîr. Jakarta: Al-Qalam. Riyadh: Dâr al-Qâsim. 1408 H. Arqahwah. Muhammad Husain. Al-Harby.blogspot. Orientalisme. Henri. Kairo: Dâr Al-Ma’ârif. Manna‘. Al-Qaththan.ahlalhdeeth. 58. No. 2000. Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www. Jakarta: RMBooks. Riyadi. 1996. Beirut: Dâr An-Nafâis. Muhammad. KSA: Maktabah As-Sunnah.net pada 6 September 2007. “Tafsir dan Ta’wil Sebagai Metode Ilmiah” dalam Majalah Islamia. Muhammad Abdul Azhim. 2007. “Al-Quran. Qawâ‘id at-Tarjîh ‘Inda al-Mufassirîn. Az-Zarqany. “Virus Abu Zaid di Indonesia” dalam pengantar: Shalahuddin. Etika Al-Quran tentang Keragaman Agama. I No. Manna‘.com/vb/showthread. Beirut: Dâr Al-Kitâb Al-’Araby. E-book. Muhammad Husain. Diakses dari Mauqi‘ Umm AlKitâb li Al-Abhâts wa Ad-Dirâsât Al-Ilikturûniyah: www. 1 Januari 2005 hal. Beirut: Mansyûrât Al-‘Ashr AlHadîts. Al-Qaththan. dan Luxenberg” dalam Jurnal Kajian Islam AlInsan Vol.

1425 H. www.aadesanjaya. Juz I.Ya‘qub.blogspot. Dirâsah Ta’shîliyyah. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. Asbâb Al-Khatha’ fî At-Tafsîr.com . Thahir Mahmud Muhammad.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful