UJI STABILITAS MENURUT WHO, CPOB DAN ICH

Disusun oleh: Fitri Khaironi Yunus Fredy Bagus Hariyanto Novita Anggraini Putri Yanti (1204017018) (1204017020) (1204017038) (1204017042)

UNIT BIDANG ILMU FARMAKOLOGI FAKULTAS FARMASI DAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat suatu obat atau sediaan farmasi biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang lama sampai ketenangan pasien yang membutuhkannya. Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahayakan dan dampak negatif bagi jiwa pasien. Oleh karena itu perlu diketahui faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu zat dapat sehingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat optimum. Olah karena itu pada percobaan ini dilakukan atau dimaksudkan dalam salah satu percobaan pada paraktikum farmasi fisika, sehingga setelah melakukan percobaan stabilitas obat, praktikum dapat mengetahui bagaimana karateristik obat tersebut, atau pada keadaan yang bagaimana suatu obat dapat bertahan lebih lama, serta mampu memperkirakan kadaluarsa suatu obat. Oleh karena itu adanya uji stabiliat sedian menurut ICH, WHO dan CPOB. CPOB secara singkat dapat didefinisikan suatu ketentuan bagi industri farmasi yang dibuat untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai persyaratan yang ditetapkan dan tujuan penggunaannya. Pedoman CPOB disusun sebagai petunjuk dan contoh bagi industri farmasi dalam menerapkan cara pembuatan obat yang baik untuk seluruh aspek dan rangkaian proses pembuatan obat. Uji stabilitas menurut ICH, CPOB dan WHO mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian

mutu. sehingga obat tersebut dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa menurunkan khasiat obat tersebut . Penjelasan di atas menjelaskan kepada kita bahwa betapa pentingnya kita mengetahui pada keadaan yang bagaimana suatu obat tersebut aman dan dapat bertahan lama.

dapat mengakibatkan perubahan fisik (seperti kekerasan. Selama penyimpanan ataupun transportasi. Penyebab ketidakstabilan sediaan obat ada dua watak. Mikrobiologi ketidakstabilan suatu produk obat steril juga bisa berbahaya. dapat mempengaruhi satabilitas sediaan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. pH. Stabilitas di definisikan sebagai kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan. Sebuah produk obat. radiasi. Faktor lingkungan seperti suhu (temperatur). pertama kali adalah labilitas dari bahan obat dan bahan pembantu sendiri. sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. sifat air dan pelarut yang di gunakan. keamanan dan kemanjuran dari produk obat. Penentuan kadaluarsa obat dilakukan melalui serangkaian pengujian yang disebut uji stabilitas obat. sehingga diperlukan suatu uji stabilitas terhadap produk yang akan dipasarkan. laju disolusi. Dekomposisi juga dapat menghasilkan obat beracun oleh produk yang berbahaya bagi pasien. udara (terutama oksigaen. Yang terakhir .. yaitu : ukuran partikel. karbondioksida dan uap air) dan kelembaban dapat mempengaruhi stabilitas. sifat kemasan dan keberadaan bahan kimia lain yang merupakan kontaminan atau dari pencampuran produk berbeda yang secara sadar ditambahkan.1 Definisi Stabilitas Stabilitas merupakan faktor penting dari kualitas. Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi stabilitas. dll fasa pemisahan) serta karakteristik kimia (pembentukan zat dekomposisi risiko tinggi) Stabilitas kimia obat sangat penting karena menjadi kurang efektif mengalami degradasi. yang tidak kestabilan yang cukup. cahaya. obat bisa mengalami perubahan secara fisik maupun kimia.

sterilisasi atau resistensi terhadap pertumbuhan mikroba dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang tertera. contoh dari perubahan fisika antara lain : migrasi (perubahan) warna. keseragaman.dan tablet. perubahan rasa. bau. dan kemampuan untuk disuspensikan. Kriteria stabilitas fisika:  penampilan fisika meliputi. ph.bubuk. tekstur. Faktor-faktor yang telah disebutkan menjadi efektif dalam skala tinggi adalah bergantung dari jenis galenik dari sediaan dalam obat padat. Stabilitas Farmakologi. Zat antimikroba yang ada mempertahankan efektifitas dalam batas yang ditetapkan. bentuk sediaan . yaitu : 1. 5. Ada lima jenis stabilitas yang umum dikenal. Stabilitas Fisika Stabilitas fisika adalah mengevaluasi perubahan sifat fisika dari suatu produk yang tergantung waktu (periode penyimpanan). Stabilitas Toksikologi. tiap zat aktif mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi. efek terapi tidak berubah selama usia guna sediaan. termasuk penampilan. seperti serbuk. rasa. Stabilitas Mikrobiologi. kesesuaian. disolusi. untuk lainnya adalah faktor luar seperti suhu.dihasilkan dari bahan kimia dan kimia fisika. mempertahankan sifat fisika awal. A. udara. homogenitas. Stabilitas Kimia. 4. Evaluasi dari uji stabilitas fisika meliputi : pemeriksaan organoleptik. 3. perubahan bau. Stabilitas Fisika. dan cahaya. bobot jenis. menginduksi atau mempercepat reaksi yang yang berkurang nilainya. kelembapan. warna. 2. tidak terjadi peningkatan bermakna dalam toksisitas selama usia guna sediaan. perubahan tekstur atau penampilan.

Dengan menghubungkan sifat fisik tertentu dengan sifat kimia dari molekul-molekul yang hubungannya sangat dekat. tanpa memperdulikan kesempurnaan prosesnya. kesimpulannya adalah :    menggambarkan susunan ruang dari molekul obat memberikan keterangan untuk sifat kimia atau fisik relatif dari sebuah molekul memberikan metode untuk analisis kualitatif dan kuantitatif untuk suatu zat farmasi tertentu. yang disebabkan oleh perubahan lingkungan. 2. Akan tetapi umumnya menyebabkan terjadinya perubahan dalam perilaku pembebasan dan resorpsi bahan obat. keseragaman bobot keseragaman kandungan suhu disolusi kekentalan bobot jenis visikositas Sifat fisik meliputi hubungan tertentu antara molekul dengan bentuk energi yang telah       ditentukan dengan baik atau pengukuran perbandingan standar luar lainnya. Perubahan struktur kristal Banyak bahan obat menunjkkan perilaku polomorfi. Ketidakstabilan Fisika Berikut ini akan diuraikan jenis ketidakstabilan yang paling penting. 1. Perubahan kondisi distribusi . yang tidak terdeteksi secara organoleptis.

Perubahan konsisitensi atau kondisi agregat Sediaan obat semi padat seperti salep atau pasta selama penyimpanan dapat mengalami pengerasan.Dengan aktifnya daya gravitasi akan terjadi fenomena pemisahan pada sistem cairan banyak fase. Dasar dari aktivitas bioogis adalah proses-proses kimia yang kompleks mulai dari saat obat diberikan sampai terjadinya respons biologis. 3. Untuk dapat berinteraksi dengan reseptor spesifik dan menimbulkan aktivitas spesifik. Perubahan perbandingan kelarutan Pada sistem dispersi molekular (misalnya larutan bahan obat) dapat terjadi pemisahan bahan terlarut (kristalisasi atau pengedapan) melalui perubahan konsentrasi akibat penguapan bahan pelarut. 4. Untuk dapat diabsorpsi senyawa obat harus dalam bentuk . Perubahan perbandingan hidratasi Melalui pengambilan atau pelepasan cairan dapat mempengaruhi perbandingan hidratasi senyawa sekaligus sifatnya secara nyata. Fasa farmasetik Fasa ini menentukan ketersediaan farmasetik yaitu ketersediaan senyawa aktif untuk dapat diabsorpsi oleh sistem biologis. Stabilitas Farmakologi Aktivitas senyawa bioaktif disebabkan oleh interaksi antara molekul obat dengan bagian molekul dari obyek biologis yaitu resptor spesifik. senyawa bioaktif harus mempunyai stuktur sterik dan distribusi muatan yang spesifi pula. namun dalam stadium lanjut dapat terlihat sebagai sedimentasi atau pengapungan. 5.7 B. Fasa-fasa yang mempengaruhi aktivitas obat 1.

Pengumpulan dan pengolahan data merupakan langkah menentukan baik buruknya . Fasa Farmakodinmik Meliputi proses fasa IV dan fasa V. yaitu senyawa aktif dalam cairan darah (Ph = 7. seperti kestabilan terhadap asam lambung dan larutan dalam air. metabolisme dan ekresi obat. formulasi farmasetis dan bentuk sediaan yang digunakan juga penting untuk aktivitas obat. 2. Stabilitas Kimia Stabilitas kimia suatu obat adalah lamanya waktu suatu obat untuk mempertahanakan integritas kimia dan potensinya seperti yang tercantum pada etiket dalam batas waktu yang ditentukan. Fasa IV adalah tahap interaksi molekul senyawa aktif dengan tempat aksi spesifik atau reseptor pada jaringan target. Fasa V adalah induksi rangsangan. C.molekul dan mempunyai lipofilitas yang sesuai. Pada fasa I selain sifat molekul obat. Fasa I. Bentuk molekul senyawa dipengaruhi oleh nilai pKa dan pH lingkungan (lambung pH= 1-3 dan usus pH = 5-8). Fasa III adalah fasa yang melibatkan proses distribusi. yang dipengaruhi oleh ikatan kimia yang terlibat. Fasa Farmakokinetik Meliputi proses fasa II dan fasa III. menyebabkan terjadinya respons biologis. dengan melalui proses biokimia. yang menentukan kadar senyawa aktif pada kompartemen tempat reseptor berbeda. II dan III menentukan kadar obat aktif yang dapat mencapai jaringan target. 3.4) yang akan didistribusikan ke jaringan atau organ tubuh. Fasa II adalah proses absorpsi molekul obat yang mengahasilkan ketersediaan biologis obat.

stabilitas zat aktif dan lain-lain. Dalam berbagai bentuk sediaan reaksireaksi ini dapat mengakibatkan rusaknya kandungan zat aktif. karbondioksida (turunnya pH larutan). kelembaban udara dan cahaya. Data yang paling dibutuhkan adalah data sifat. . kemasan primer. suhu (oksidasi). begitu juga untuk jenis sediaan sama tetapi cara pemberiannya lain.sediaan yang dihasilkan. cahaya. Sebagai contoh prokain akan terhidrolisa apabila di autoklaf. Data yang harus dikumpulkan untuk jenis sediaan yang berbeda tidak sama. kimia. Faktor kondisi lingkungan yang utama yang dapat mengurangi stabilitas termasuk di dalamnya Paparan temperatur yang ekstrim. oksigen (oksidasi). kompatibilitas anion dan kation. bahan tambahan kimia yang spesifik dan ikatan kimia dan difusi dari obat dan bahan tambahan. Hidrolisis Ikatan amida juga dpt terhidrolisa meskipun kecepatan hidrolisanya lebih lambat disbanding ester. kekuatan larutan ionik. dan kerja farmakologi zat aktif (data primer). antara lain adalah 1. Faktor utama dari bentuk sediaan yang dapat mempengaruhi stabilitas obat. Jadi sangat bervariasi tergantung pada jenis sediaan. didukung sifat zat pembantu (data sekunder). cara pemberian. meskipun tidak menutup kemungkinan adanya parameter lain yang harus diperhatikan. cahaya (fotolisis). tetapi senyawa prokainamid tidak terhidrolisa. air (hidrolisa). pH. kelembaban dan CO2. suhu. termasuk ukuran partikel. kimiafisik. komposisi sistem pelarutan. Secara reaksi kimia zat aktif dapat terurai karena beberapa faktor diantaranya ialah. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Kimia Masing-masing bahan tambahan baik yang memiliki efek terapetik atau non terapetik dapat mempengaruhi stabilitas senyawa aktif dan sediaan. Jadi jelasnya faktor luar juga mempengaruhi ketidakstabilan kimia seperti. sesepora ion logam sebagai katalisator reaksi oksidasi.

Dehidrasi Dehidrasi yg dikatalisis oleh asam pd gol tetrasiklin menghasilkan senyawa epianhidrotetrasiklin. Faktor kimia yang dapat menjadi katalis dalam reaksi hidrolisi adalah pH dan senyawa kimia tertentu (contohnya dextrose dan tembaga dalam kasus hidrolisa ampisilin) 2. gugus dien terkonjugasi (vit A dan asam lemak tak jenuh). Reaksi terjadi dengan cepat ketika obat dilarutkan dan terpapar dg pH lebih dari 3. gugus turunan nitroso dan nitrit dan . senyawa yg tdk memiliki efek anti bakteri dan memiliki efek toksisitas 5. Bentuk epimer dari tetrasiklin seperti epitetrasiklin tidak memiliki aktifitas anti bakteri. mengakibatkan terjadinya perubahan sterik pd gugus dimetilamin. Carbenicillin free acid. 3. Oksidasi Struktur molekular yang dapat mudah teroksidasi adalah gugus hidroksil yang terikat langsung pada cincin aromatik (contoh pd katekolamin dan morfin). cicin heterosiklik aromatik. Ticarcillin sodium. Produk urainya memiliki potensi farmakologi yang rendah. Dekarboksilasi Beberapa asam senyawa asam karboksilat terlarut seperti para-amini salisilic acid dapat kehilangan CO2 dari gugus karboksil ketika dipanaskan. Beta-keto dekarboksilasi dpt terjadi pada beberapa antibiotik yg memiliki gugus karbonil pada beta karbon dari asam karboksilat atau anion karboksilat. Ticarcillin free acid6 4. Dekarboksilasi akan terjadi pada beberapa antibiotik : Carbenicillin sodium. Epimerisasi Senyawa tetrasiklin paling umum mengalami epimerisasi.Gugus laktam dan azometin (imine) dalam benzodiazepine juga dapat tehidrolisis.

nitroprusin. akibat dari reaksi hidrolisis dan oksidasi.7 6. Nipedipin. Perubahan Nilai pH Degradasi dari banyak senyawa obat dalam larutan dapat dipercepat atau diperlambat secara ekponensial oleh nilai pH yg naik atau turun dari rentang pH nya. Sistem pH dapar yang biasanya terdegradasi dari asam atau basa lemah dan garamnya biasanya ditambahkan ke dalam sediaan cair ditambahkan untuk mempertahankan pHnya pada .aldehid (flavoring). Nilai pH yang di luar rentang dan paparan terhadap temperatur yang tinggi adalah faktor yang mudah mengkibatkan efek klinik dari obat secara signifikan.8 8. Secara umum konstanta kecepatan hidrolisis berbanding tebalik dengan kekeuatan ion dan sebaliknya dengan muatan ion. dan fenotiazin sangat tidak stabil terhadap foto oksidasi. Kekuatan Ion Efek dari jumlah elektrolit yang terlarut terhadap kecepatan hidrolisis dipengaruhi oleh kekuatan ion pada interaksi inter ionik. sebagai contoh obat-obat kation yang diformulasikan dengan bahan tambahan anion. paparan terhadap oksigen. senyawa aktif dapat terdegradasi dalam hitungan menit. ribovlavin. Oksidasi dapat dikatalisa oleh pH ion logam contohnya tembaga dan besi. Dekomposisi fotokimia Paparan pada UV dapat menyebabkan oksidasi (foto oksidasi) dan fotolisis pada ikatan kovalen. beberapa minggu. Produk hasil oksidasi biasanya memiliki efek terapetik lebih rendah. UV. Identifikasi secara visual bisa terlihat pada perubahan warna contohnya pada kasus efineprin. 7. Larutan obat atau suspensi obat dapat stabil dalam beberapa hari. tetapi ketika dicampurkan dengan larutan lain yg dapat mempengaruhi nilai pH nya. atau bertahun-tahun pada formulasi aslinya.

Pengaruh pH pada kestabilan fisik sistem dua fase contohnya emulsi juga penting.rentang dimana terjadinya degradasi obat minimum. Sebagai contoh refrigerator dapat mengkibatkan kenaikan viskositas pada sediaan cair dan . Temperatur Secara umum kecepatan reaksi kimia meningkat secara eksponensial setiap kenaikan 10 derajat suhu. karena kecepatan dekomposisinya diatur secara relatif oleh fraksi kecil dari obat yang muncul pada larutan jenuh yang letaknya pada permukaan atau atau di dalamnya. kecepatan dekomposisinya berubah sesuai dengan kecepatan kinetik orde nol. Kestabilan bentuk padat Reaksi pada kondisi padat relatif bersifat lambat. Pada kondisi kelembaban yang tinggi. Temperatur dingin juga dapat mengakibatkan ketidakstabilan. Jadi inkompatibilitasnya lebih mudah terjadi dengan penambahan sejumlah besar ion dengan muatan yang berlawanan. Interionik Kelarutan dari muatan ion yg berlawanan tergantung pada jumlah muatan ionnya dan ukuran molekulnya.8 10.1 11. Secara umum ion2 polivalen dengan muatan berlawanan bersifat inkompatibel. kecepatan degradasinya dikarakterisasi sesuai dengan kecepatan kinetik orde 1 atau sesuai dengan kurva signoid. Faktor nyata yg mengakibatkan kenaikan kecepatan reaksi kimia ini adalah karena aktifasi energi. sebagai contoh kestabilan emulsi intravena lemak dirusak oleh pH asam. Waktu simpan obat pd suhu ruang biasanya akan berkurang ¼ atau 1/25 dari waktu simpan di dalam refrigrator. 9. Sehingga obat-obat berbentuk padat dengan titik leleh yang rendah tidak boleh dikombinasikan dengan bahan kimia lain yang dapat membentuk campuran uetectic.

zat tambahan serta berbagai bentuk sediaan dan cara pemberian obat.5 Terdapat berbagai macam zat aktif obat. efek yang tidak diharapkan pada terapi atau penggunaan obat dan kosmetik. antara lain: 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Mikrobiologi Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan dapat dipengaruhi oleh beberap factor. cara pemberian dan bentuk sediaan memiliki karakteristik fisika-kimia tersendiri dan umumnya rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme dan/atau memang sudah mengandung mikroorganisme yang dapat mempengaruhi mutu sediaan karena berpotensi menyebabkan penyakit. dapat mendenaturasi protein atau pada kasus tertentu dapat menyebabkan kelarutan beberapa polimerik obat dapat berkurang. Zat yang bersifat higroskopik atau hidrofilik rentan terhadap kontaminasi . Stabilitas mikrobiologi diperlukan oleh suatu sediaan farmasi untuk menjaga atau mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorgansme yang terdapat dalam sediaan tersebut hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan. dingin atau beku dapat merubah ukuran droplet pd emulsi. Oleh karena itu farmakope telah mengatur ketentuan mengenai kandungan mikroorganisme pada sediaan obat maupun kosmetik dalam rangka memberikan hasil akhir berupa obat dan kosmetika yang efektif dan aman untuk digunakan atau dikonsumsi manusia. Faktor Sifat Fisika-Kimia Zat aktif dan Zat tambahan Sifat fisika kimia zat aktif maupun zat tambahan dapat mempengaruhi stabilitas mikrobiologi sediaan. Stabilitas Mikrobiologi Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana tetap sediaan bebas dari mikroorganisme atau memenuhi syarat batas miroorganisme hingga batas waktu tertentu. E. Tiap zat.menyebabkan supersaturasi pada kasus lain.

diproduksi maupun disediakan dalam bantuk cair juga rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme. spora Clostridium. kapang dan khusunya toksin fungi/jamur. Toksisitas jangka panjang.mikroorganisme. Hal ini berhubungan dengan adanya air yang merupakan media pertumbuhan bagi mikroorganisme. efek toksik baru muncul setelah periode waktu laten yang lama sebagai contoh kerja karsinogenik dan mutagenik. disperse atau pun emulsi dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme Gram negative seperti Enterobacter spp. 2. Bahan alami yang diekstrak. Citrobacter spp. terakumulasi. mempunyai korelasi langsung dengan absorpsi zat toksik 2.. Pseudomonas spp dan lainnya F. E. mikrobiologi dan farmakologi yang tidak menyebabkan peningkatan toksisitas secara signifikan. mencapai konsentrasi toksik akhirnya timbul keracunan. Staphylococci. Stabilitas Toksikologi Stabilitas toksikologi adalah ukuran yang menujukkan ketahanan suatu senyawa/bahan akan adanya pengaruh kimia. virus atau pun toksin mikroba. Efek toksik akut. yaitu : kerja / efek tidak . fisika.. Cara pengawetan yang tidak tepat ketiga digunakan utuk menghasilkan produk dalam bentuk larutan. zat toksik dalam jumlah kecil diabsorpsi sepanjang jangka waktu lama. Analisa terhadap bahan-bahan ini dapat menunjukkan keberadaan bakteri. Efek toksik dapat dibedakan. Kemungkinan keberadaan mereka mungkin sudah ada semenjak tahap persiapan produksi. Efek toksik kronis. Faktor Kontaminasi dari Bahan Baku dan Proses Bahan baku alami dalam bantuk air yang bebas serbuk atau granula dapat menjadi tempat tumbuhnya mikroorganisme. Penggolongan toksikologi dengan cara lain berdasarkan jenis zat dan keadaan yang mengakibatkan kerja toksik. coli. menjadi : 1.

pengujian terhadap toksisitas dan toleransi pada fase praklinik. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan toksisitas adalah : 1. Dosis Dosis menentukan apakah suatu zat kimia adalah racun. termasuk air. Zat kimia disebut xenobiotik (xeno = asing). 2. dapat ditentukan dosis kecil yang tidak berefek sama sekali atau dosis besar sekali yang dapat menimbulkan keracunan dan kematian. Kriteria pemilihan dapar. tujuannya adalah untuk mempetahankan ph. efek terapetik. Untuk setiap zat kimia. Faktor bahan penyusun a. meningkatkan kelarutan obat. stabilitas bahan aktif b. bahan pembantu a) Dapar Merupakan suatu campuran asam lemah dengan garamnya atau basa lemah dengan garamnya. dimana setiap zat kimia baru harus diteliti sifat-sifat toksiknya sebelum diperbolehkan penggunaannya secara luas. keracunan akut pada dosis berlebih. meningkatkan stabilitas obat.diinginkan. yaitu : (a) dapar mempunyai kapasitas yang memadai dalam kisaran pH yang dinginkan (untuk mempertahankan stabilitas obat maka daparnya kecil) (b) dapar harus aman secara biologis (c) dapar tidak mempunyai efek merusak stabilitas produk (d) memperbaiki rasa dan warna yang dapat diterima .

b) Pengawet Kemungkinan kontaminasi selama pembuatan. dengan kenaikan suhu berarti terjadi kenaikan aktivitas pengawet Syarat memilih bahan pengawet. Sumber kontaminan. bahan obat.11 c) Antioksidan Terjadinya oksidasi karena dipengaruhi oleh : 1) Harga pH semakin tinggi harga pH semakin rendah potensial redoks sehingga oksidasinya semakin lancar 2) Cahaya sebab cahaya mengandung energi oton yang dapat meningkatkan atau mempercepat proses oksidasi. lingkungan. efektif sebagai bakteriostatik atau bakterisid. alergi dan sensibilisasi. tidak berbau dan tidak berasa. tidak toksik. yaitu perlu dipilih bahan yang dapat tersatukan secara fisiologis. penyimpanan dan penggunaan. fungiostatik atau fungisid serta cukup larut dalam pembawa hingga mencapai konsentarsi yang memadai. berasal dari manusia. alat-alat dan bahan pengemas. bahan tambahan. dapat tercampur dengan bahan aktif dan bahan tambahan termasuk wadah dan tutup. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pengawet: (a) Koefisien distribusi liphoid-air yang dipilih pengawet yang larut (b) Harga pH karena pengawet yang dapat menimbulkan aktivitas adalah pengawet yang tidak terdisosiasi atau terdapat dalam bentuk molekul yang dapat menembus membran (c) Konsentrasi. ada yang menghambat pertumbuhan dan juga mematikan sel (d) Suhu. maka molekul-molekul obat semakin reaktif 3) O2 atau kandungan O2 akan meningkatkan proses oksidasi 4) Ion logam berat berfungsi sebagai katalisator proses oksidasi . yang kesemuanya tergantunng dosis.

dan tidak menimbulkan OTT. Faktor luar. . Suhu penyimpanan menurut farmakope indonesia terdiri dari: (a) Dingin adalah pada suhu tidak lebih dari 8°C. Suhu penyimpanan sediaan harus dijelaskan karena menyangkut aspek stabilitas dan masa kadaluwarsa sediaan. kondisi penyimpanan yang meliputi suhu. yaitu bahan pengemas primer yaitu bahan pengemas yang langsung bersentuhan atau kontak dengan sediaan (wadahnya). dan bahan pengemas sekunder. a. bahan pengemas Terbagi atas 2. tekanan.Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih antioksidan antara lain adalah harus efektif pada konsentrasi yang menurun. larut dalam pembawa dan dapat bercampur dengan bahan lainnya. kelembapan dan cahaya. cara pembuatan b. tidak merangsang. tidak toksik. Syarat dalam pemilihan bahan pengemas antara lain adalah : (a) melindungi preparat dari keadaan lingkungan (b) tidak boleh bereaksi dengan produk (c) tidak boleh memberikan rasa atau bau paa produk (d) tidak toksik (e) disetujui oleh lembaga kesehatan dunia (f) harus memenuhi tuntunan tahan banting yang sesuai (g) mudah mengeluarkan isi (h) menarik 4. 3. yaitu bahan pengemas yang tidak bersentuhan langsung dengan sediaan.

maka kondisi penyimpanan termasuk perlindungan terhadap kelembapan. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15°C dan 30°C. atau merusak dan mengubah sifat sediaan. (e) Panas berlebih adalah penyimpanan pada suhu di atas 40°C. Penyimpanan di bawah kondisi tidak khusus jika tidak ada petunjuk khusus penyimpanan atau pemabatasan dalam monografi. Pada etiket / label kemasan harus dicantumkan petunjuk untuk melindungi sediaan / artikel dari pembekuan. Menurut WHO WHO adalah salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum Uji stabilitas menurut WHO  Menurut WHO Q1A tidak sesuai untuk di gunakan secara universal karena tidak memperhatikan iklim ekstrim di banyak negara  Dokumen hanya berlaku untuk obat baru dan bentuk sediaanya. pembekuan suatu sediaan (artikel) dapat menyebabkan kehilangan kekuatan / potensi. Uji stabilitas sediaan di bagi menjadi beberapa cara yaitu : 1. Perlindungan dari pembekuan selain resiko kerusakan kemasan (wadah).tidak memperhatikan obat dan sediaan yang sudah beredar di negara-negara anggota WHO (established ) . (d) Hangat adalah penyimpanan pada suhu antara 30°C dan 40°C. (c) Suhu Kamar adalah penyimpanan pada suhu ruang kerja. pembekuan dan panas berlebihan.(b) Sejuk adalah penyimpanan pada suhu antara 8°C dan 15°C.

unuk produk yang frofil stabilitasnya sudah diketahui satu batch setiap 3-5 tahun .200C siklus freeze-thaw dan kondisi pendinginan 2-8 C. Uji hasil degradasi menggunakan TLC.1.  Uji stabilitas sediaan cair disarankan pada suhu yang lebih rendah misalnya > 0 10 sampai . Ekspose terhadap cahaya juga memungkinkan. Rekomendasi dokumen WHO   Untuk produk yang dipasarkan secara global diuji menurut kondisi zona iklim IV Real time dengan kondisi sedekat mungkin dengan keadaan sistem distribusi ( minimal 12 bulan )  Uji dipercepat 40oC+-200c/17%RH+-5%/6 bulan atau 3 bulan pada 45o-50oCdan RH75 %  Zona iklim 2 uji dipercepat 40oC+-20C/75%RH+-5%/3bulan atau disarankan 6 bulan jika barang aktif kurang stabil atau untuk produk di mana jumlah data tersedia terbatas.  Pengujian dilakukan pada 3 batch kecuali jika barang aktif digunakan sangat stabil. sedangkan zat tidak terurai dengan analisa semikuantitafif 2.batch harus representative mewakili proses manufaktur dan dibuat dengan skalapilot atau skala produksi penuh  Bacth produksi harus pula diuji setiap bacth selang tahun untuk skala yang stabil . Cara pengujian dengan tanpa memperhatikan pengaruh cahaya   Semua zat di ekspose 30 hari pada kondisi udara suhu 500c dan100 %RH Jika pada periode pengujian ini tidah terdeteksi adanya degradasi lanjutkan denga suhu di naikkan sampai 700C selama 3-7 hari lagi. Alternatif tidak lebih dari 150 C diatas suhu penyimpanan jangka panjang dan kondisi lembab yang relevan.

mikrobiologi. Uji stabilitas menurut ICH ICH ( international conference on harmonization) adalah konferensi internasional mengenai harmonisasi.  Beberapa ekstrapolasi data real time bila ditunjang data uji dipercepat dapat pula berguna. release atau simpan. tidak terjadi perubahan fisika. kemasan dan sebagainya 3.  Bacth untuk uji stabilitas harus terinci.kecuali perubahan besar dari produk misalnya formula atau proses / metode manufaktur. Pengambilan sampel untuk produk baru  Metode penentuan harus indikatif terhadap stabilitas yang digunakan untuk mengakuantifasi hasil urai dan zat terurai harus spesifik dan sensitifitas cukup. rekomendasi untuk kondisi penyimpanan dan usia guna terkait dengan formulasi tertentu dan metode produksi. ukuran bacth. Menurut ICH berubahan bermakna pada uji dipercepat : . tanggal manufaktur. 2. hasil dan kesimpulan.  Metode aplikasi harus sesuai untuk menjamin eksifien masih efektif dan tidah berubah selama masa simpan yang diusulkan  Suatu produk dinyatakan stabil jika tidak menunjukkan degradasi bersama.   Hasil uji stabilitas di tampilkan dalam bentuk tabel Report studi harus termasuk informasi design studi. kimia. evaluasi stabilitas. nomor bacth. sifat biologi dan produk tetap dalam batas spesifikasi.

pengawasan menyeluruh adalah sangat esensial untuk menjamin secara bahwa konsumen tidak menerima dapat jiwa obat yang bemutu bagi tinggi. pengerasan.     Kehilangan 5% potensi dari kadar awal 1 batch Bila hasil urai < dari nilai batas spesifikasi Produk melewati batas pH-nya Disolusi melewati batas spesifikasi untuk 12 kapsul/tablet Gagal memenuhi spesifikasi penampilan dan sifat-sifat fisika seperti warna. Uji stabilitas sediaan menurut CPOB Cara produksi obat Pembuatan dan Obat Yang mutu Baik dan (CPOB) bertujuan menyangkut untuk yang menjamin telah seluruh bahwa aspek produk sesuai pengendalian senantiasa dibuat memenuhi persyaratan mutu ditentukan dengan tujuan penggunaannya Pada pembuatan obat. produk dalam kemasan di pasarkan 3. Pengujian pada uji stabilitas sediaan menurut ICH   Bahan aktif : 2 fase yaitu degradasi stess dan uji konfermasi Sediaan farmasi : produk diexpose penuh. obat atau Pembuatan yang sembarangan untuk dibenarkan atau digunakan menyelamatkan memulihkan . produk dalam kemasan primer.dsb Q1B (PHOTOSTABILITY TESTING)     Pengujian bahan berkhasiat Pengujian produk formulasi di luar kemasan langsung Pengujian sediaan jadi dalam kemasan langsung jika ada gejala fotostabilitas Pengujian sediaan jadi dalam kemasan yang akan dipanaskan.

c. CPO dan WHO .Bagian dari sistem pemastian mutu yang mengatur dan memastikan obat diproduksi dan mutunya dikendalikan secara konsisten sehingga produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan 1. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat.memelihara kesehatan.2 Tujuan a. Mengetahui perbedaan uji stabilitas sediaan menurut ICH.Cara. . Mengetahui pengertian uji stabilitas sediaan obat b.

sedangkan ICH lebih kepada harmonisasinya dimana pengujian hanya pada bahan berkhasiat dan sediaan farmasi. CPOB dan ICH secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu ketentuan bagi industry farmasi yang di buat untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan tujuan dan penggunaanya. . . Uji stabilitas menurut WHO .Uji stabilitas sangat penting untuk mengetahui keadaan suatu obat tersebut aman atau tidak. CPOB sendiri meliputi semua aspek produksi dan pengendalian mutu serta pengawasan secara menyeluruh. 3. WHO merupakan badan PBB yang bertindak sebagai coordinator kesehatan umum. dapat bertahan lama atau tidak sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa menurunkan khasiat obat.BAB III KESIMPULAN 1. 2.

.ui. gadjah mada university. Press Jogjakarta. Farmasi fisik : Bagian larutan dan system disperse./uji stabilitas dipercepat kuliah s2 terna.2007pdf www. Staff.scibd.id/. 1989.com/doc/94125708/cpob Ghanis chemisty blog :uji stabilitas obat Materi kuliah stabilitas obat .ac.Daftar Pustaka Moechtar .