P. 1
Peran Pendidikan Dalam Pembentukan Karakter Umat

Peran Pendidikan Dalam Pembentukan Karakter Umat

|Views: 17|Likes:
Published by Ahsan Elhusna
Salam....Semoga Bermanfaat
Salam....Semoga Bermanfaat

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Ahsan Elhusna on Mar 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

Peran Pendidikan Dalam Pembentukan Karakter Umat

*
Oleh Ahsnaul Husna, Lc

Muqoddimah Kerangka intelektual Islam adalah satu dasar yang sangat urgen dan bahkan menjadi perioritas utama sebagai alat mediasi guna menunjang kesuksesan dan kebangkitan umat. Wacana ini muncul ketika kita mengetahui bahwa problem umat Islam saat ini terletak pada kesenjangan yang sangat mencolok antara masa lalu umat dan masa kekinian, antara realitas dan aspirasi, antara potensi dan prestasi. Kesenjangan ini jelas tak akan bisa dipahami dan ditemukan solusi yang tepat jika kita hanya terus menerus berputar pada lingkaran setan. Artinya kebanyakan akademisi kita kurang menaruh respek pada pola sejarah. Sehinga mereka buta akan penyebab kemunduran peradaban Islam sepanjang sejarah terlebih setelah masa Khilafah Arrasyidin, buta akan penyabab terjadinya penyimpangan di dalam tubuh umat ini yang berakhir pada perpecahan antara pemimpin intelektual (ilmuan) dan pemimpin politik dan social kemasyarakatan (pemimpin negeri). Hingga pada akhirnya terjadilah apa yang kita sebut intelektual lemah dan politikus idiot. Karena itulah kenapa pemikir Islam Indonesia kita kehilangan faktor-faktor penggerak yang mampu menghidupkan umat ini, dan kemampuan untuk memahami dimensi ruang dan waktu dalam mengelola warisan keislaman (turats islami). Seiring dengan itu, tidak mungkin kesenjangan ini bisa dipahami dan ditemukan solusinya jika usaha perbaikan itu bertumpu pada budaya tiruan dari barat, yang baru saja masuk dan tumbuh kedalam tubuh umat ini. Sebab, hal itu hanya akan melahirkan masalah yang sangat berbahya. Jauhnya umat ini dari mengenal betul dimensi waktu dan ruang di dalam tubuh umat. Dan secara natural akan kehilangan demensi khusus yang dimilki umat ini yang terdiri dari „aqidah, jiwa, historis dan peradaban. Yang sangat ampuh memporak-porandakan bentuh system kemajuan baik dari segi administratif, ekonomi, sain, peradaban dan terlebih dorongan spiritual („aqidah). Kesemua aspek ini melemah sepanjang abad terutama sejak periode kekhilafahan ustmaniah. Berlanjut sampai melanda dunia Islam mulai dari Mesir yang diduduki oleh Napoleon pada 1798, Negara-negara Arab, sebagian India dan Asia tenggara seperti Malaka, yang segera setelah konversinya ke Islam pada awal abad kelima belas telah menjadi pusat perdagangan dunia Islam serta pusat penyebaran ajaran Islam di dunia Melayu, telah dikuasi secara bergantian sejak 1511 oleh Portugis, Belanda dan Inggris hingga paro kedua abad kedua puluh.

Dunia Islam memiliki sejarah panjang dan pertemuan-pertemuannya dengan Barat. Dan kedua peradaban ini telah saling mempengaruhi dalam proses itu. jika kita amati secara umum awal pengaruh Barat terhadap dunia Islam, sebanarnya hanya pada saat tertentu pengaruh itu mulai menggurita. Yaitu ketika dunia Islam tidak lagi memiliki kekuatan batin atau spiritual yang kuat untuk menahan tantangan eksternal yang dihembus oleh peradaban Barat. Tidak seperti di masa lalu ketika vitalitas dan pemikiran kreatif dunia Islam mampu untuk memadukan semua yang positif dari peradaban lain serta memiliki ketetapan hati. Hal ini disebabkan karena kelemahan batin serta serangan dari kekuatan material barat yang begitu dahsyat, umat ini terbukti impoten untuk mengahadapi aliran deras peradaban Barat, meskipun kita sadari bukan tanpa penentangan yang keras. Inilah yang terjadi pada dunia Islam sejak awal abad kesembilan belas dan sampai sekarang.1 Akan tetapi kita patut bersyukur dan bergembira melihat komunitas pemuda Islam yang tersebar di seluruh universitas dan pusat-pusat kajian di dunis Islam, bahkan di tengah penduduk non Islam, Yang wujudnya sebagai kelompok pemuda yang beriman penuh dengan „akidah Islam. Sadar akan tanggung jawab sebagai muslim dan sanggup berkorban demi semangat Islam yang terus menggema diperguruan tinggi tersebut. Penomena tersebut sungguh layak mendapatkan penghargaan dan sambutan dari orang-orang yang mempunyai perasaan tulus ikhlas kepada dunia Islam, karena Allah Swt dengan keagungan dan kemurahanNya telah menganugrah kepada umatNya yang lemah ini pemuda-pemuda yang tahu akan tanggungjawab. Mereka melaksanakan tanggungjawab itu secara aktif dengan penuh kesadaran di semua bidang pendidikan, meskipun sistem pendidikan di seluruh dunia Islam sekrang ini dikuasai oleh corak pemikiran dan tradisi barat. Kamu adalah bangsa (ummah) yang terbaik dari seluruh manusia; mengajak kepada kebaikan, mencegak kemungkaran dan beriman kepada Allah.2

Kenapa umat Islam mundur dan umat lain maju ?
1. Salah satu sebab yang paling mendasar keterbelakangan umat Islam adalah kebodohan, sehingga banyak diantara umat ini tidak mampu membedakan mana tuak dan mana cuka, maka tak ayal tiba-tiba muncul pola pikir yang menyesatkan. Hal ini menjadi salah satu problema yang sangat sulit untuk dilawan.

1

. Lihat Osman Bakar, Tauhid & Sain, alih bahasa Yuliani liputo dan M.S Nasrullah, (2008),hlm.328

2

. Alquran, surah III, ayat 110

2. Kemudian sebab berikutnya yang tidak kalah mengerikan adalah sok tau (al-ilmu al-naqis). Sifat ini lebih berbahaya dibandingkan hanya sekedar bodoh. Karena kebodohon apabila ditaqdirkan Allah seorang guru kepadanya dia akan sadar bahwa dia itu tidak tahu dan butuh seorang guru serta tidak banyak berfilosofi. Sedangkan jiwa yang sok tau dia tidak sadar, bahkan kadang tidak mau sadar jika dia itu orang yang tidak tahu. Seperti pepatah pernah mengatakan ; “kamu diuji dengan orang gila lebih baik dari pada diuji dengan orang separuh gila.” Artinya, kita berhadapan dengan orang bodoh lebih baik dari pada berhadapan dengan orang yang seolah-olah berilmu alias sok tau. 3. Sebab berikutnya adalah, kebobrokan moral. Kehilangan nilai-nilai kebajikan yang tertuang di dalam Al-Qur‟an, dan nilai-nilai luhur dan akhlak yang di wariskan oleh pendahulu umat ini. Karena dengan nilai-nilai inilah umat ini akan tahu apa yang mendorong umat terdahulu mencapai kegemilangan. Seperti kata seorang penyair arab Ahmad Syauqi : ‫و انما األمم ما بقيت االخالق‬ ‫فان هم ذهبت أخالقهم ذهبىا‬ “eksisnya sebuah negeri tergantung eksisnya akhlak Jika akhlaknya hilang maka hilanglah sebuah negeri itu”. Apalagi jika akhlak itu hilang dari jiwa para pemimpin umat ini. Meraka menyangka- kecuali hamba Allah yang dirahmati- bahwa masyarakat diciptakan untuk melayani segala bentuk keinginannya. Jika ada orang yang berusaha untuk meluruskan kekeliruan mereka, tak ayal meraka dibekuk dan dilenyapkan. Inilah bentuk dari tirani pemimpin yang dictator. Satu hal yang sangat disayangkan adalah, justru situasi yang seperti ini para ulama penjilat (Ulama Al-su‟) dan ulama hypocrite mengambil muka para pemimpin ini dengan mengeluarkan fatwa murahan yang melegalkan perbuatan tirani pemimpin, sehingga dengan leluasa membantai para penyambung lidah rakyat yang dianggap keluar dari jam‟ah dan tidak loyal pada pemimpin, dengan dalih menjaga persatuan hanya untuk mendapat kesengan sementara.3

3

. Al-amir Syakib Arsalan, “limaza taakharal muslimun wa lamaza taqaddama gairuhum”, hal.63

4. Sebab berikutnya yang menjadi sebab kemunduran umat ini adalah, sifat pengecut dan cepat panik. Sedangkan dalam sejarahnya, umat ini sangat dikenal dengan keberanian dan tidak takut mati. Masih ingatkah kita pada perang badar ketika itu seorang muslim harus berhadapan dengan sepuluh orang musyrik yahudi ?. sehingga dari dua sifat ini lahirlah sifat rasa putus asa atau desparasi dari rahmat Allah yang terbentang luas. Kondisi ini hemat saya masih mengakar didalam dada umat islam secara umum. Sehingga meraka merasa rendah dan lemah jika berhadapan orang-orang dari Negara lain seperti Eropa, Amerika dsb. Maka tidak heran kekayaan kita dirampas ditengah ketakutan dan sifat pengecut yang menyelimuti diri. “janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan, sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan Allah adalah Maha Mengetahuilagi Maha bijaksana”.4

Jangan Biarkan Kaum Jahili Yang Pengecut Menguasai Kita.
Setelah revolusi Perancis antara tahuun 1789 dan 1799 dimana para demokrat dan pendukung republikanisme menjatuhkan monarki absolute di Perancis dan memaksa Gereja Katolik Roma menjalani restrukturisasi yang radikal, sehingga Perancis pada awal abad ke 19 mulai mengembangkan alutsista modern yang berteknology tinggi. Mereka mengembangkan berbagai jenis tank, meriam, pesawat tempur dsb. Seingga Perancis menjadi salah satu kekuatan bersenjata yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang paling ditakuti. 5 Melihat kemajuan itu, para pemimpin pengecut umat ini hanya mengatakan “ya memang sudah seperti itu” tanpa ada rasa tanggung jawab untuk mengimbanginya. Jika kita melihat kebelakang perjalan sejarah umat ini, pada abad pertengahan dari awal abad ke 10 sampai awal abad ke 17 adalah masa keemasan. Kajian-kajian mengenai sains Islam pada periode ini tanpak memberi dukungan kuat terhadap pandangan bahwa sains Islam tidak berhenti berkembang hanya sampai abad ketujuh belas. Dari abad keenam belas sampai hingga kedelapan belas ada tiga pusat sains Islam yang besar, yakni Turki Utsmani, Iran Safawi dan India Mughal. Di antara ketiganya, sains „Utsmaniyyah mungkin yang paling maju dan paling terkenal, disamping memilki ciri-ciri khusus, yang

4

. AlQuran, Surat IV, ayat ke 104.
. http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Prancis

5

paling penting diantaranya adalah pemakaian bahasa Turki klasik sebagai bahasa sains dan teknologi, disamping bahasa Arab dan Persia.6 Sebanarnya bukanlah tenk-tenk, pesawat tempur dan segala macam senjata yang akan membangkitkan ruh cita-cita yang tinggi dan menyalakan api semangat yang membara ditubuh manusia, akan tetapi ruh dari semangat dan kemauan tinggi itulah yang akan menciptakan alat-alat itu. Maka jika ruh ini bergerak dan berkobar maka ketika itu kita akan memperoleh tenk-tenk, pesawat tempur dan alat-alat meliter lainya. Akan tetapi para pemimpin pengecut mengatakan : kita tidak memiliki ilmu modern, kita telah kehilangan ilmu itu. Maka tidak mungkin kita bisa menguasinya. (Kita jawab), ilmu modern tidak terlepas dari ide, cita-cita dan kemauan. Jika ini telah dimiliki maka kita akan menguasai ilmu modern dan menciptakan belbagai produkproduk modern. Kita bisa melihat sejarah Jepang hingga pada tahun 1868 mereka setingkat dengan Negara-negara timur yang lain yang masih terbelakang. Sampai pada waktunya dengan keinginan kuat untuk bisa setara dengan Negara-negara kuat lainya meraka mengirim para pelajar ke negeri-negeri Eropa untuk mengambil ilmu dari mereka. Sehingga pada akhirnya kita kenal Jepang sampai sekrang menjadi negara terkuat di dunia setelah Amerika. Keberhasilan mereka tempuh hanya memakan waktu lebih kurang 50 tahun, hingga meraka mencapai keemasan. Tapi yang paling penting untuk direnungi adalah meskipun mereka menggali ilmu-ilmu dari eropa mereka tetap menjaga agama dan budaya mereka yang tidak kurang sepersenpun.7 Maka jika umat ini ingin maju maka ada tiga unsure yang harus dijaga, Agama, Budaya dan Penguasaan Teknologi. Sebanarnya sumber dari segala kemajuan adalah “kemauan”, jika ada kemauan maka akan tercapai segala keinginan. Kemudian yang menjadi catatan penting untuk dapat menguasai teknologi adalah rela berkorban secara materi. Anehnya umat ini, mereka berkeingin kuat untuk menguasai dan menciptakan kekuatan meliter yang berteknologi akan tetapi meraka pelit untuk mengorbankan hartanya. Meraka bercita-cita ingin menang dan disegani oleh musuh tapi enggan berkorban secara materi. Ketika meraka berada didalam kepungan dan embargo musuh, dengan lantang meraka berteriak, mana janji Allah yang akan menjamin kemengan bagi umatNya.8
6

. Osman Bakar, Tauhid & Sains, 2008, hal 333.

7

. Al-amir Syakib Arsalan, “limaza taakharal muslimun wa lamaza taqaddama gairuhum”, hal.79 .AlQuran, Surat Arrum, ayat 47.

8

Mereka mengira seolah-olah Allah Swt menjamin kemengan untuk umatNya didalam AlQuran tanpa diiringi dengan usaha dan upaya keras, semangat juang dan pengorbanan dengan harta dan jiwa, bahkan hanya mengandalkan tasbih dan do‟a ?. Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw : Bahwa umat Islam akan datang pada suatu masa dimana meraka diperebutkan dari berbagai arah seperti orang memperebutkan makanan di dalam jawan, kemudian para sahabat bertanya : apakah sedikit umat Islam ketika itu ya Rasulullah ?, nabi bersabda : tidak, justru kamu ketika itu banyak seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut di hati musuhmu terhadapmu, dan menanamkan sifat “alwahn” di hatimu. Orang bertanya, ya Rasulullah apa itu Alwahn ?, Nabi bersabda : Cinta dunia dan takut mati.9 Inilah masa umat Islam sekarang ini. Masa yang telah diingatkan oleh Rasulullah Saw sejak 14 abad yang lalu. Cacatnya umat Islam sa‟at ini bukan karena jumlah meraka yang sedikit, akan tetapi cacatnya meraka karena sifat pengecut dan bakhil. Yang tercermin dengan terlalu cinta harta dunia sehingga enggan untuk berkorban dan mempersiapkan diri untuk mengahdapi maut. Tidak dipungkiri, berlebih-lebihan mencintai dunia, menjadi penghalang tercapainya rasa keenikmatan dunia itu bahkan sampai menjerumus kepada kehancuran dan kebinasaan. Hal ini sudah menjadi sunatullah bagi umatNya. “Dan Belanjakanlah (hartamu) dijalan Allah,dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan”.10 Artinya, bahwa keenggananmu untuk mengorbankan harta di jalan Allah guna menegakkan agamaNya adalah kehancuran dan kebinasaan. Sekarang kita menyaksikan keterpurukan umat Islam lantaran rasa kikir yang menguasai mereka.

Kewajiban Mentransfrormasi Nilai Budaya Kepada Generasi Yang Akan Datang Sesungguhnya bumi tempat kita hidup saat ini merupakan waarisan yang telah diwarnai oleh para pendahulu kita, agar peradaban tetap terus berlayar diatas bumi ini. Perlu diingat, bahwa eksisnya generasi Islam bergantung penuh pada usaha generasi sekarang dan yang akan datang untuk mentransformasi peradaban Islam dalam kerangka

9

. HR.Abu Daud didalam sunanya dan al-Baihaqi didalam dalailunnubuah dari Attsuaban hadits Marfu‟.
. AlQuran, surat Al-Baqarah, ayat 195

10

petunjuk ketuhanan yang kita warisi dari Salafusholeh yang telah membedakan kita dari bangsa-bangsa lain di dunia. Sudah pasti bahwa setiap orang Islam tidak akan kekal, tetapi umat Islam boleh jadi akan kekal sepanjang masa, dengan syarat adanya kemampuan yang diperlukan untuk terus mentranformasi peradaban Islam kepada generasi yang akan datang. Transformasi ini mesti harus berkesinambungan dalam setiap pertukaran generasi. Sekiranya kita tidak mampu menjalankan usaha untuk melestarikan peradaban yang menjadi cirri khas umat ini, dan generasi muda kita terperangkap kedalam jerat budaya asing, katakanlah budaya Amerika, lalu terpengaruh dengannya dan terbentuklah karakter yang tidak lagi mengacu pada budaya Islam, maka lambat laun bumi ini akan bertukar menjadi bumi Amerika. Generasi Islam akan tinggal di bumi itu, tetapi dibentuk dengan acuan Amerika, yang menghapus identitas kita atau yang lebih tepat identitas keislaman kita. Maka hendaklah saudara-saudara mengamati kedudukan masalah yang dihadapi oleh akademisi dan para intelektual kita dan memahami betapa penting peran problema ini dalam sejarah. Hidup kita belum dikatakan eksis sebagai satu umat Islam apabila para pemuda kita belum berpegang teguh dengan budaya Islam, mengibarkan panjinya serta menyeru kepadanya. Ada dua cara mentransformasi kebudayaan Islam. Pertama, para pelajar, mahasiswa, akademisi dan intelktual Islam hendaklah bergerak melaksanakanya. Kedua, pemerintah hendaknya mengontrol kurikulum pelajaran dan pendidikan yang bisa menghambat tumbuhnya budaya Islam.11

Tantangan-tantangan Kontemporer dan Kesulitan-kesulitan Masa Kini Umat Islam dewasa ini hidup dalam masa yang sulit dan menantang. Berbicara secara demografis, mereka merupakan kekuatan besar yang harus diperhitungkan. Hampir 1,9 miliar jiwa atau seperlima dari seluruh manusia saat ini adalah muslim. Potensi ekonomi mereka besar. Negara-negara mereka yang mimiliki bagian tanah luas yang dihuni dianugrahi dengan sumber daya alam yang kaya. Namun demikian, pengaruh mereka mereka terhadap urusan ekonomi, politik international, serta kemajuan ilmiah dan teknologi masih marginal. Secara militer mereka juga lemah. Kini mereka masih belum memainkan peran yang signifikan dalam menentukan sejarah dunia.
11

. Abul A‟la Al-Maududi. “Peranan Pelajar”.pdf

Tetapi banyak perubahan radikal yang telah terjadi baik di dunia Islam maupun di dunia Barat sejak tokoh-tokoh seperti „Abdul Qadir al-jazairi, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan Zia Gokalp memberikan respon intelektual dan politis mereka terhadap pemikiran dan budaya barat, atau bahkan belakangan ini pada masa Muhammad Iqbal.12 Salah satu perubahan tersebut adalah hadirnya minoritas Muslim di Negara-negara barat, termasuk sejumlah besar kaum Muslimin yang berpendidikan tinggi. Perkembangan ini menjanjikan konsekuensi yang melampaui terhadap transformasi intelektual dan budaya barat masa depan. Perkembangan signifikan di barat yang lain adalah munculnya berbagai kelompok dan pergerakan intelektual dan sosio-kultural yang sangat kritis terhadap rasionalitas Barat dan keyakinan barat terhadap sains dan teknologi sebagai obat mujarab bagi seluruh penyakit umat manusia. Obsesi terhadap sains dan teknologi dengan mengenyampingkan nilai-nilai moral dan spiritual yang dijunjung tinggi merupakan salah satu kemalangan terbesar di zaman ini. Pandangan sekuler dan duniawi dari sains dan teknologi itu sama sekali asing bagi pandangan dunia Islam dan ajaran-ajaran Al-Quran tentang peradaban manusia, kemajuan, dan perkembangan.Al-Quran menyatakan dengan tegas : Kamu adalah bangsa (UMMAH) yang terbaik dari seluruh manusia; mengajak kepada kebaikan dan mencegak kemungkaran dan beriman kepada Allah.13 Ayat di atas adalah satu di atas adalah satu dari sekian banyak ayat dalam Alquran yang member kaum Muslimin rumusan eksplisit untuk keberhasilan menciptakan peradaban yang gemilang dan besar berdasarkan fondasi spiritual dan moral, sebagai bentuk kriteria kualitas peradaban manusia. Yang terkandung dalam tiga prinsip universal yang fundamental, yaitu : (1) (2) (3) Pengembangan, penanaman dan penyokongan apa-apa yang baik, benar dan berguna, serta apa-apa yang disebut dengan istilah ma‟ruf dalam Alquran, Mencekam dan mencegah kemungkaran dan keburukan serta segala sesuatu yang disebut dengan istilah munkar, dan Iman kepada Tuhan Yang Esa.

Secara umum, kita dapat mengatakan bahwa dalam peradaban Islam berbagai Ilmu seperti kosmologi, psikologi, dan ilmu-ilmu alam serta matematika pada akhirnya didasarkan pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam enam rukun iman.14

12 13

. Osman Bakar, Tauhid & Sains, 2008, hal 383. . Alquran, surah III, ayat 110

Kegemilangan Masa Silam: Sebuah Sumber Inspirasi Meskipun hingga kini belum ada karya yang komprehensif dan definitive tentang bangkit dan mundurnya sains dan teknologi Islam, masih tersedia bahan-bahan historis yang memadai untuk mengidentifikasi factor-faktor utama yang menentukan kebangkitan dan kegemilangan sains Islam selama masa keemasan : (1) Peran kesadaran religius sebagai daya dorong untuk menuntut sains dan teknologi. Dari pemahaman yang benar terhadap tauhid mengalirlah penghargaan terhadap pengetahuan. Ketaatan terhadap syari‟ah mengilhami studi atas berbagai ilmu. Kelahiran dan kebangkitan gerakan penerjemah besar-besaran yang bertahan selama beberapa abad. Suburnya filsafat yang ditujukan pada pengajaran, kemajuan dan pengembangan ilmu. Luasnya santunan bagi aktivitas sains dan teknologi oleh para penguasa dan wazir. Adanya iklim intelektual yang sehat sebagaimana yang tergambar oleh fakta bahwa sarjana dari berbagai mazhab pemikiran (hukum, teologi, filosofis, dan spiritual) melangsungkan debat intelektual secara sehat dan jujur dalam semangat saling menghormati. Peran penting yang dimainkan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan ilmiah. Terutama dengan adanya universitas-universitas. Keseimbangan yang dicapai oleh perspektif-perspektif intelektual Islam yang utama.

(2) (3) (4) (5) (6)

(7) (8)

Namun faktor utama yang bertanggung jawab atas kemunduran sains Islam dan teknologi seperti yang di kutip oleh Dr.Osman Bakar di dalam bukunya yang berjudul “Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains” dapat dikenal dari kekuatan-kekuatan internal dan eksternal yang menyebabkan hilangnya factor-faktor positif di atas secara perlahan. Seperti korupsi, perselisihan internal, munculnya legalisme dan sektarianisme agama, pengabaian dimensi batin pengetahuan dalam agama, dan penghancuran tak terbundungi di tangan kaum Mongol.15 Sebenarnya kita telah mendapati didalam Alquran tek yang mendasari terbentuknya sebuah beradaban.

14

. Osman Bakar, Tauhid & Sains, 2008, hal 387. . Osman Bakar, Tauhid & Sains, 2008, hal 400.

15

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib satu kaum sampai kaum itu sendiri yang akan merubahnya sendiri”.16 Yang menjadi pertanyaan adalah : pertama, adakah Alquran benar-benar telah menjadi dasar pengaruh terbentuknya sebuah kemajuan peradaban ?. kedua, apakah mungkin bagi masyarakat Islam untuk menerapkan sumber inspirasi ini kedalam realitas kehidupan mereka ?.17

8 KEISTIMEWAAN PEMBELAJARAN DI AL-AZHAR MESIR
Sepanjang sejarah beberapa lembaga kajian telah berperan besar dalam menyandang dan menyebarkan dakwah Islam. Sebut saja Masjid Zaitunah di Tunisia, universitas Utsmaniyah di Tripoli, Masjid Qarawain di Fas (Maroko), Masjid Umawy di Damaskus, Masjid Al Fatih di Istanbul, Berbagai lembaga ilmiah di Hadramaut, Shan`a, India, Shinqit (Mauritania), dan di tempat yang tersebar di timur dan barat belahan bumi lainnya yang cendrung memiliki manhaj yang sama. Sampai saat ini Al Azhar salah satu di antara sekian lembaga besar dunia dan masih eksis dengan manhajnya yang orisinil. Ketika diperhatikan lebih seksama, maka seorang Syaikh Usamah Al Sayyid Mahmud Al Azhari menemukan beberapa keistimewaan pembelajaran di Al Azhar, sebagai berikut;18 1. Adanya ketersambungan sanad; perhatian terhadap riwayat, dirayat (penguasaan) dan tazkiyah (rekomendasi). Diantara keistimewaan manhaj Al Azhar adalah ilmu dan wawasannya diwariskan secara naqal (transfer ilmu) yang bersambungan sanad. Setiap generasi mempelajari dari generasi sebelumnya dengan sanad yang bersambungan dan pemahaman yang berkesinambungan. Tidak ada seorangpun para penuntut ilmu di Al Azhar yang mengajar kecuali setelah melalui proses talaqqi (belajar langsung) dan suhbah (bergaul) dengan para ulama dalam rentang waktu yang lama, sampai mereka diberikan izin dan diberikan ijazah (legalitas) untuk meriwayatkan, mendidik, menulis dan mengajarkan ilmu. Apabila Anda bertanya kepada salah seorang diantara mereka tentang para guru mereka, Ia akan menyebutkan beberapa orang diantara (guru-guru) mereka. Dan Apabila Anda bertanya; "berapa lama Anda bergaul dengan seorang guru Anda atau para guru Anda?" Ia akan menyebutkan kepada Anda bahwa Ia telah bergaul dengan guru mereka selama rentang waktu yang panjang, sehingga mereka memahami dan menguasai dengan
16

. Alquran, surah Ar-ra‟ad, ayat 11.

17
18

. 3. Malik bin Nabi, “Syurutu al-Nahdhah”, hal. 49

. Syaikh Usamah Al Sayyid Mahmud Al Azhary, Al Ihya`ul Kabir Li Ma`alimil Manhajil Azharil Munir, terjemahan oleh Alnofiandri Dinar, Lc, Cairo, 2011

baik dari mereka (para guru) manhaj (metodologi) pemahaman dan pengantar-pengantar keilmuan. Beda halnya dengan manhaj-manhaj lainnya, akan didapati bahwa manhaj mereka terputus dan tidak berkesinambungan. Akan ditemukan bahwa diantara mereka sudah mulai mengajarkan ilmu tanpa bergaul bersama ulama. Apabila Anda tanya salah seorang diantara mereka; "berapa lama Anda bergaul dengan guru Anda?" Ia akan menyebutkan kepada Anda bahwa Ia telah bertemu dengan gurunya sekali atau bergaul dengannya beberapa jam saja. Bagaimana mungkin Ia akan memperoleh ilmu dan bagaimana mungkin bisa diyakini pemahamannya?! 2. Mementingkan penguasaan terhadap ilmu alat.

Manhaj ini merupakan manhaj yang sangat memperhatikan tarbiyah anak-anaknya dengan pendidikan yang komprehensif dan matang serta mendalami ilmu-ilmu alat, seperti: Nahwu, Sharf, Isytiqaq, Balaghah dengan segala cabangnya, Ushul Fiqh, Ilmu Hadits, dan ilmu-ilmu lain yang membantu seorang pelajar dan menopangnya untuk membangun keahlian yang mengantarkannya memiliki kapabalitas untuk menceburkan diri dalam pemahaman al Qur`an dan sunnah dengan dukungan ilmu pengetahuan, penguasaan ilmu yang baik, dan ketajamanan ilmu. Mereka mendalami semua ilmu tersebut dengan berpedoman kepada manhaj mu`tamad (metodologi yang bisa diyakini kebenarannya), yang mengantarkan seorang pelajar dari mukaddimat (permulaan ilmu) kepada pendalaman inti-inti ilmu. Seolah-olah keistimewaan pertama yaitu menyertai ulama dalam waktu yang panjang melahirkan keistimewaan kedua. Dari pergaulan yang lama dengan para ulama membuahkan talaqqi berbagai ilmu dan transfer pemahaman. 3. Penguasaan yang matang terhadap maqashid syariah.

Dari pergaulan panjang bersama para ulama dan penguasaan ilmu alat, menyebabkan terbukanya pemahaman yang komprehensif terhadap maqashid syariah (tujuan disyariatkannya suatu syariat). Dan memunculkan pemahaman bahwa agama Allah datang bertujuan untuk; mewujudkan fungsi beribadah kepada Allah, mensucikan dan membersihkan jiwa, membangun jagad raya, menyampaikan hidayah kepada seluruh umat, menjadi pewaris para Nabi, membangun karakter manusia yang rabbani dan memiliki keshalihan pribadi, memprioritaskan pencapaian kehidupan akhirat, meraih akhlaq yang mulia, membangun peradaban, dan melakonkan kebangkitan. Sehingga umat Nabi Muhammad Saw. menjadi rahmat bagi sekalian alam, sebagaimana Rasul Saw., menjadi rahmat bagi sekalian alam. Ketika seorang penuntut ilmu meraih ilmu maqashid, maka pemahamannya terhadap agama Allah akan menjadi luas dan pengkajiannya terhadap pemahaman furu` (cabang-cabang) fiqh dan berbagai masalah-masalah parsial akan semakin cemerlang. Pemahaman ini juga akan mengeluarkan pelajar dari karakter yang kaku dan bengis. Mereka akan mengajarkan orang-orang bodoh dan orang-orang yang memiliki

pemahaman berseberangan dengan cara yang lemah lembut serta berakhlaq dengan akhlaq Nabi Saw., yang agung. Sedangkan manhaj-manhaj lainnya, mereka tidak mengetahui maqashid syariah, tidak menguasainya, tidak didapati di dalam pembicaraan mereka adanya maqashid syariah, tidak ditemukan di dalam pemahaman dan tidak didapati prakteknya di dalam manhaj mereka. 4. Memposisikan Al Qur`an secara proporsional.

Sebagai buah dari kebersamaan dengan para ulama dalam waktu yang panjang, penguasaan ilmu alat, dan pemahaman yang komprehensif terhadap maqashid syariah berdampak yang sangat luar biasa, yaitu kapabalitas pemilik manhaj tersebut dalam `membaca` Al Qur`an. Ia mampu memposisikan ayat-ayatnya yang mulia sesuai dengan porsinya. Ia tidak menempatkan ayat-ayat yang turun berkenaan dengan orang kafir terhadap orang-orang mukmin dan tidak menempatkan ayat-ayat yang turun berkenaan dengan orang mukmin terhadap orang-orang kafir. Ia tidak mengfungsikan ayat-ayat yang turun bersifat umum terhadap perkara khusus. Atau sebaliknya, Ia tidak mengfungsikan ayat yang bersifat khusus terhadap perkara yang bersifat umum, dst.. Sungguh Ia memilki pemahaman yang baik terhadap Al Qur`an dan tepat dalam penempatan ayat-ayat Al Qur`an sesuai dengan realita tanpa kerancuan dan syubhat. Beda halnya dengan beberapa manhaj lainnya, mereka sangat berani menceburkan diri dalam pemahaman Al Qur`an tanpa dibekali oleh sedikitpun ketajaman ilmu, yang berdampak terhadap pemahaman yang penuh dengan cacat. 5. Sangat memuliakan kedudukan umat Nabi Muhammad Saw..

Dari semua keistimewaan yang telah disebutkan sebelumnya, muncul pemahaman yang matang dari seorang penuntut ilmu terhadap keagungan umat Nabi Muhammad Saw., yang merupakan wadah islam. Ia memahami umat Nabi Muhammad Saw. adalah umat yang berilmu, memiliki hidayah, umat yang dirahmati, umat pewaris para Nabi, umat penyampai dakwah dari Allah, dan umat yang diberikan amanat dengan syariat yang mulia, umat yang berfungsi diantara sekalian umat untuk membawa hidayah dan menyampaikan syariat kepada seluruh umat. Dipahami juga bahwa umat Nabi Muhammad semestinya berperan dalam membangun peradaban dunia dengan peran yang signifikan, berpandangan progresif, yang berfungsi menunjuki seluruh umat menuju Allah dengan ilmu, seni, adab, etika, dan wawasannya di dalam seluruh medan ilmu yang sangat variatif; humaniora, empiris, logika dan ilmu-ilmu lainnya. Ketika seseorang memahami dengan seksama hal-hal tersebut di atas, Ia akan mengagungkan umat Nabi Muhammad Saw.. Maka ia tidak akan pernah berlaku sembrono kepada mereka, dengan menuduh fasiq, syirik, bid`ah, dan tidak akan menebar kebencian serta tidak pula menebar kedengkian terhadap umat islam.

Beghitulah manhaj Al Azhar sebagaimana yang telah diketahui oleh masyarakat luas dan dipahami dengan baik oleh para pelajar asing dari berbagai penjuru dan pelosok negeri. Tidak ditemukan dari mereka dakwah yang imitasi atau klaim fasiq, akan tetapi mereka justru menebar ilmu dan hidayah. 6. Menyandang tanggungjawab hidayah secara umum (umat secara keseluruhan). Apabila seorang pelajar sudah menguasai keistimewaan-keistimewaan sebelumnya dengan matang, maka mereka akan mampu berkomunikasi dengan orang lain dengan tampilan terbaik dalam pandangan syariat dan mempraktekkan yang paling paripurna diantara kewajiban-kewajiban yang ada. Adalah manhaj Nabi Saw. yang mulia dipenuhi oleh sikap proaktif untuk membawa seluruh makhluk menuju hidayah dan menyampaikan hidayah kepada seluruh manusia dengan perjuangan maksimal, yang dibarengi rasa kasih dan sayang kepada makhluk. Diantara ciri-ciri manhaj Al Azhar yang paling nampak menonjol adalah penanaman di dalam jiwa para peserta didiknya terhadap makna-makna agung seperti disebutkan. Beda halnya dengan manhaj-manhaj lainnya, yang dalam komunikasi mereka tidak memperhatikan sedikitpun hak-hak umat yang mesti kita tunaikan. 7. Memadukan pilar-pilar yang sempurna dalam penguasaan ilmu.

Manhaj Al Azhar sejak dulu kala telah eksis sepanjang masa dalam membina anakanaknya untuk memahami bahwa ilmu itu terdiri dari tiga komponen utama: pertama, sumber dan dalil-dalil yang terdiri dari Al Qur`an, sunnah, ijma` dan qiyas. Kedua, manhaj yang terpercaya dan tertata dengan sistematis dalam pemahaman tekstual syariat dan cara menganalisa serta metode menelurkan makna-maknanya. Ketiga, karakteristik, kemampuan, dan kepakaran yang dimiliki oleh seseorang yang menekuni ilmu, mendalaminya dan menjadi pakar spesialisasi di dalam ilmu-ilmu syariat. Karena masdar saja tidak akan menghasilkan ilmu dan mendatangkan hidayah, sehingga didukung oleh metodologi yang matang dan terpercaya dalam pemahaman seorang yang memiliki keahlian, ketika Ia menekuni sebuah ilmu. Sedangkan manhaj lainnya, telah mencabik-cabik ilmu dan menjadikannya lumpuh. Sehingganya seseorang tidak akan mengenali ilmu kecuali mengetahui dalil tanpa memahami korelasi yang ditunjukkan oleh dalil! Manhaj itu juga tidak memahami metode mengumpulkan berbagai dalil yang ada di dalam satu masalah tertentu, kemudian metode menyelaraskan, menyusun, memahami, menganalisa dengan memperhatikan keadaan orang yang memahaminya, dan memastikan bahwa kemampuan, bakat dan kapabalitasnya buntu terhadap semua itu. Idealnya, pilar-pilar ilmu yang paripurna adalah ketika seseorang mampu menggabungkan antara ilmu–ilmu tekstual syariat (naqal) dengan ilmu-ilmu logika (aqal), sehingga Ia mampu melihat segala sesuatu dengan kedua mata kepalanya sendiri. Dan Ia mampu untuk mengkompromikan dan memahami dengan komprehensif serta

mendalami corak keilmuan yang membentuk paradigma dunia, sehingganya Ia bisa untuk menyampaikan rambu-rambu agama ini kepada seluruh dunia. 8. Berpegang teguh dan memberdayakan turats (warisan) umat, merintis jalan bersamanya, kontiniutas berjalan dengannya dan membangun pemahaman di atas pemahamannya. Diantara keistimewaan yang paling menonjol dari manhaj Al Azhar adalah bahwa manhaj Al Azhar sangat memprioritaskan terhadap penguasaan turats (warisan) umat dalam berbagai ilmu yang variatif dan memiliki hubungan yang sangat erat dengan turats tersebut. Melalui turats, manhaj Al Azhar dikenal keorisinilan dan nilainya yang beghitu mahal. Dengan turats, mereka mengetahui cara menfilter semua yang bermanfaat dan bernilai agung, mengetahui bagaimana cara membangun keilmuan di atasnya, dan bagaimana cara menyandarkan kepadanya. Sangat beda halnya dengan berbagai manhaj lainnya yang membuat jurang dan jarak bahkan berani menyesatkan turats umat islam.

*disampaikan pada acara Seminar Nasional dan Musyawarah Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten kerinci, 12 Novenber 2011, di Gedung National kab. Kerinci.

Daftar Pustaka Al-Quranul Karim Bakar, Osman, Tauhid & Sain, alih bahasa Yuliani liputo dan M.S Nasrullah, Selangor Darul Ihsan, Malaysia, 2008 Annadwah al-„alamiah lissyabab al-Islami, al-Islam wal Hadharaah wa daur Assyabab al-Muslim,Riyad, 1985 Al-Amir Syakib Arsalan, limaza taakharal Muslimun walimaza taqadama gairuhum, Mansyurat Dar Maktabah Al-hayah, Bairut, Al-Maududi, Abul A‟la,Peranan Pelajar, tek Malaysia. Pdf Syaikh Usamah Al Sayyid Mahmud Al Azhary, Al Ihya`ul Kabir Li Ma`alimil Manhajil Azharil Munir, terjemahan oleh Alnofiandri Dinar, Lc, Cairo, 2011. Wikipedia.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->