STERILISASI 1. Pengertian Steril 1.

SDF : 37 Steril adalah suatu kondisi absolut dan harus tidak pernah digunakan atau dianggap secara relatif sebagai bahan atau hampir steril 2. Lachman : 619 Steril adalah kondisi yang memungkinkan tercipatanya kebebasan penuh dari mikroorganisme dengan keterbatasan 3. RPS : 1470 Steril adalah tidak adanya mikoroorganisme yang aktif 4. Text book phar ; 526 Steril adalah keadaan bebas dari mikroorganisme hidup dari lingkungan 5. PDF Kenneth ; 325 Steril adalah produk biologis steril sebagai produk yang bebas dari kontaminasi mikroba sebagai hasil dari tes sterilisasi. Kesimpulan : Steril adalah suatu keadaan yang mutlak bebas dari mikroorganisme baik patogen maupun non patogen,baik vegetatif maupun sporanya, tidak setengah atau hampir steril. 2. Definisi sterilitas 1. RPS 18 th : 1470 Sterilitas adalah karakteristik yang disyaratkna untuk sediaan farmasetik bebas dari mikroorganisme hidup karena metode, wadah atau rute pemakaian 2. SDF : 15 Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan-sediaan farmasetik ini karena metode, wadah atau rute pemakaian Kesimpulan : Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan farmasetik yang bebas dari mikroorganisme hidup meliputi metode, wadah atau rute pemakaian. 3. Definisi sterilisasi 1. Scoville’s : 403 Sterilisasi adalah suatu proses membunuh atau menghilangkan bakteri dan mikroorganisme lain. 2. Ansel : 410 Sterilisasi adalah suatu proses seperti yang dilakukan terhadap sediaan farmasetik berarti penghancuran sempurna seluruh mikroorganisme dan sporanya atau penghilangan mikroorganisme dari sediaan 3. Lachman : 619 Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menghasilkan keadaan steril 4. Parrot : 274 Sterilisasi adalah proses pembunuhan atau penghilangan mikroorganisme dan spora yang hidup 5. RPS 18TH : 1470 Sterilisasi adalah suatu proses dimana semua bentuk organisme hidup dihilangkan atau dirusak fungsinya yang mungkin 6. DOM : 592 Sterilisasi adalah biasanya didefinisikan sebagai pemusnahan keseluruhan atau menghilangkan semua jenis-jenis kehidupan dari material-material

7. Text Book of Pharm ; 526 Sterilisasi adalah semua proses untuk mencapai status steril. Kesimpulan : Sterilasasi adalah suatu proses mengurangi, menghilangkan, menghancurkan, membunuh mikroorganisme dan sporanya dari sediaan untuk mencapai suatu keadaan yang steril. 4. Jenis-jenis sediaan steril SDF ; 15-18 1. Injeksi Larutan obat dalam pembawa yang sesuai dengan atau tanpa penambahan bahan-bahan dimaksudkan untuk pemakaian parenteral dibuat sebagai injeksi. 2. Cairan infuse Cairan infuse intravena dibuat sebagai sejumlah karakteristik infuse melalui cara pemakaiannya. 3. Radiasi Farmasetik Bahan kimia radio aktif digunakan untuk uji, fungsi bahan-bahan yang kadang dipastikan sejumlah infeksi dibawah radiofarmasetik. Ini berbeda dari infeksi lain dalam obat sebagi bentuk radioaktif. 4. Steril Padat Beberapa obat tidak mempunyai kestabilan yang cukup dalam larutan untuk dapat mewadahkannya seperti injeksi maka disediakan sebagai sediaan padat kering dalam larutan ketika digunakan. 5. Suspensi steril Suspensi obat dalam pembawa parenteral yang cocok dibuat sebagai suspensi obat steril seperti suspensi sediaan Hidrokortison Asetat. Jika obat ini bentuk kering dan suspensi dengan penambahan pembawa parenteral yang cocok disebut obat steril unutk suspensi seperti Kloramfenikol Steril untuk Suspensi. 6. Tetes Mata, Suspensi dan Salep Obat-obat dalam larutan atau suspensi digunakan melalui penetesan pada mata sebagai sediaan steril, walaupun tidak umum disebut steril seperti larutan mata Natrium Sulfametasol atau suspensi mata Hidrokortison asetat. 7. Larutan irigasi Larutan irigasi yang digunakan untuk mencuci atau menyembuhkan luka terbuka, rongga badan didefinisikan sebagai larutan irigasi dan diguanakn pada pemakaian luar tidak pernah secara parenteral 8. Bahan Diagnosis Larutan yang digunakan secara parenteral untuk tujuan diagnosa seperti injeksi yang digunakan unutk menentukan volume darah. 9. Ekstrak Allergenio Ekstrak allergenio adalah konsentrasi steril pada allergen atau bahan-bahan yang tidak bisa sensitif. Pada beberapa orang digunakan untuk diagnosa atau percobaan pada reaksi alergi. 10. Larutan Dialisis Peritonial Larutan yang digunakan pada teknik yang dikenal sebagai dialisis peritoneal utnuk menurunkan kelebihan larutan cairan tubuh, serum elektrolit, bahanbahan toksik seluruh pencernaan. 5. Metode-metode Sterilisasi

A. 1.

Sterilisasi Secara Fisika Pemanasan Kering a. Udara Panas Oven (Scoville`s :404) Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak., paraffin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alatalat gelas dan banyak alat-alat bedah. Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam aytoklaf. Salah satu elemen penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap aotoklaf. Atau dengan adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan. Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak dibunuh oleh suhu sampai 121o C (suhu yang biasanya digunakan dalam autoklaf bahkan setelah pemanasan sampai 45 menit). Untik alasan ini, autoklaf merupakan metodee yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak, produk yang dibuat dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali. Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi. Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 121 C selam 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 150 C sampai 170 C selama 1-4 jam. Suhu yang biasa digunakan pada sterilisasi panas kering 160 C paling cepat 1 jam, tapi lebih baik 2 jam. Suhu ini digunakan secara khusus untuk sterilisasi minyak lemak atau cairan anhidrat lainnya. Bagaimanapun juga range 150-170 C digunakan untuk streilisasi panas kering dan lain-lain, sebagi contoh : bahan-bahan gelas, dapat disterilkan pada suhu 170 C. dimana beberapa serbuk seperti sulfonilamid harus disterilkan pada suhu rendah dan waktu yang lebih lama. PTM : 123 Panas kering pada temperatur lebih 160 C efktif menghancurkan mikroorganisme hidup dengan sebuah proses kehilangan kelembaban secara inversible. Proses ini berjalan relativ lambat, mengisyaratkan sedikitnya 1 jam pada suhu 160 C tetapi lebih cepat pada temperatur yang tinggi. Panas kering ini sering merugikan beberapa produk. Penerapan panas dengan keberadaan lembab lebih efektif untuk pembunuhan mikroorganisme diIsyaratkan 15 menit pada suhu 121oC. RPS 18th : 1471 Beberapa bahan yang tidak dapat disterilkan dengan uap, paling baik disterilkan dengan panas kering,. Misalnya petrolatum jelly, minyak mineral, lilin, wax, serbuk talk. Karena panas kering

kurang efisien dibanding panas lembab, pemaparan lama dan temperature tinggi dibutuhkan. Range luas waktu inaktivasi dalam temperatur bervariasi telah diterapkan berdasarkan tipe indikator steril yang digunakan, kondisi kelembaban dan faktor lain. Jumlah air dalam sel mikroba diketahui mempengaruhi resistensinya terhadap destruksi panas kering. Umumnya, ini diterima bahwa sel mikroba dalam daerah yang betul-betul kering menunjukkan resistensi terhadap inaktivasi panas kering,. Ini jelas bahwa perhatian harus diberi untuk mendisain siklus sterilisasi panas kering untuk produkproduk rumah sakit dan validasi sistematis sterilisasi dengan metode sterilisasi standar. Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas. Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven : 170 C (340 F) sampai 1 jam 160 C (320 F) sampai 2 jam 150 C (300 F) sampai 2,5 jam 140 C (285 F) sampai 3 jam b. Penangas minyak dan lainnya (Scoville’s : 404) Bahan kimia yang stabil dalam ampul bersegel dapat disterilisasi dengan mencelupkannya, dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620 C. larutan jenuh panas dari natrium atau ammonia klorida dapat juga digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang mensterilisasi alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga alat tetap tajam, dan untuk memlihara cat penutup. c. Pemijaran langsung (Scoville’s : 404) Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumping dan alu dapat disterilisasi dengan metode ini. Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20 detik. Dalam keadaan darurat ampul dapat disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul kearah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan langsung dengan api dengan hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus segera diisi dan disegel. 2. Panas Lembab a. Uap bertekanan (Scoville`s :404) Penggunanaan uap bertekanan atau metode sterilisasi yang paling umum memuaskan dan efektif yang ada. Ini adalah metode yang diinginkan untuk sterilisasi larutan yang ditujukan untuk infeksi pada tubuh, pembawa pada sediaan mata, bahan-bahan gelas. Untuk penggunaan darurat, pakaian dan alat kesehatan dan benda-benda karet. Kerugian yang paling prinsip dan penggunaan uap ini adalah ketidaksesuaiannya untuk penggunaan pada bahan sensitiv terhadap panas dan kelembaban. Metode ini tidak dapat digunakan untuk sterilisasi misalnya, produk yang dibuat dari basis minyak dan serbuk. Uap jenih pada 120 C mampu membunuh

Bentuk yang paling sederhana dari autoklaf adalah “ home preasure cooker”. suatu perpanjangan pemaparan uap selama 20-60 menit akan membunuh semua bentuk vegetatif bakteri tapi tidak akan menghancurkan spora. Uap panas pada suhu 100 C dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir atau air mendidih. kematian mikroorganisme oleh panas lembab adalah hasil koagulasi protein sel. Kemapuan untuk membentuk kondensasi air 4. Untuk meyakinkan penghancuran spora. Metode ini jarang memuaskan untuk larutan yang mengandung bahan-bahan karena spora sering gagal tumbuh dibawah kondisi ini. berbeda dengan cara panas kering. Suhu 2.secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme hidup dalam waktu ½ menit. kematian mikroorganisme yang paling penting adalah proses oksidasi. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur. Keefektifan sterilisasi uap bertekanan tergantung pada 4 sifat dari uap jenuh kering yaitu : 1. Uap panas pada 100 C. ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah untuk mencapai 121 °C setelah termometer pensteril menunjukkan suhu ini. Panas tersembunyi yang berlimpah 3. sterilisasi berjeda yang juga disebut sterilisasi tidak berlanjut. USP menentukan sterilisasi uap sebagai penerapan uap jenuh di baeah teakana paling kurang 15 menit dengan temperatur minimal 121 C dalam jaringan tekanan. banyak spora akan tumbuh ke dalam bentuk vegetatif bentuk spora yang telah tumbuh ini akan dimatikan pada pemanasan hari . Antara pemaparan bahan terhadap uap yang disimpan pada suhu kamar atau pada inkubator pada 37 C. bentuk vegetatif dari kebanyakan bakteri yang tidak membentuk spora. Temperatur suhu titik mati bervariasi. Penjedahan dan bertahap adalah tindalisasi digunakan. 2 metode uap mengalir digunakan. Dengan metode ini bahkan dipaparkan pada uap mengalir pada periode waktu bervariasi dari 20-60 menit setiap hari selama 3 menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora vegetatif yang tahan terhadap pemanasan tinggi. b. Kontraksi volume yang timbul selama kondensasi Waktu yang dibutuhkan untuk mensterilkan larutan saat suhu 121 C selama 12 menit. prinsip dari metode ini adalah pada saat waktu pertama kali pemaparan pada uap membunuh bakteri vegetatif tapi tidak sporanya. Tapi pada saat bahan disimpan pada inkubator atau pada suhu ruangan selam 24 jam. Penyebeb kematian dengan cara sterilisai panas terhadap lembab berbeda dengan cara panas kering. Secara umum larutan dalam botol 100-200 ml akan membutuhkan kurang 5 menit botol 500 ml antara 10-15 menit. RPS 18 th : 1471 Panas lembab merupakan bentuk uap jenuh di bawah tekanan yang merupakan cara sterilisasi yang paling banyak digunakan. tetapi tidak ada bentuk non spora yang bertahan. Dalam prakteknya.

Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air. Sinar gamma mempunyai keuntungan . 3. Air mendidih Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi jarum spoit. 0.5% klorbutanol. penutup dan alat-alat bedah. 1-2% Na-carbonat atau 2-3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat kondisi bahanbahan logam. 5 % fenol. Aksi letal . sinar UV menembus udara bersih dan air murni dengan baik. 0. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 2537 .5%. adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. sinar beta). Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel.ke dua. c. tetapi suatu penambahan garam atau bahan tersuspensi dalam air atau udara menyebabakan penurunan derajat penetrasi dengan cepat. Larutan yang ditumbuhkan bakterisida ini dpanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100 C selama 20 menit dalam pensterilisasi uap atau penangas air. d.002% fenil merkuri nitrat saat larutan dosis tunggal lebih dari 15 ml larutan obat untuk injeksi intratekal atau gastro intestinal sehingga tidak dibuat dengan metode ini. Cara Bukan Panas Sinar ultraviolet (Lachman : 628) Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Pemanasan dengan bakterisida Ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap pans pada 100 C. organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. penutup karet. yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang. energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Radiasi pengion (Lachman : 628) Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar katode.2% kresol atau 0. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya. fenol. Kesuksesan dari proses ini tergantung pada spora yang berkembang ke bentuk vegetatif selama masa istirahat.Ketika sinar UV melewati bahan. Bakterisida yang dapat digunakan termasuk 0. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan membunuh mikroorganisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan. Stetelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. Bahan-bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit.

Bagaimanapun banyak prosedur sterilisasi industri manggunakan radiasi. Beberapa informasi mengenai efek sterilisasi ultraviolet juga dihadirkan. tube palstik. antibiotik. termasuk ultra dari bahan radioaktif seperti kobalt 60 atau sesium 137 adalah yang paling sering digunakan sebagai sumber energi sterilisasi adhesi elektromagnetik. jarum.semua ini pada kahirnya. pada panjang gelombang 253. Radiasi produk juga dapat menghasilakn perubahan warna dan kerapuhan beberapa wadah gelas dan bahan plastik. Radiasi ioniasasi dapat menghasilkan perubahan dalam molekul organik yang dapat mempengaruhi kemujaraban sediaan atau dapat menginduksi toksisitas. termasuk penjelasan singkatnya. steroid hormon dan transplantasi tulang dan jaringan dan alat pengobatan seperti alat untuk suntik plastik. namun demikian. kekurangan sinar ini adalah di hentikan dari. Aksi latal radiasi pengionan menghacurkan mikroorganisme dengan menghentikan rep-roduksi sebagai hasil mutasi letal. benang bedah dan cawan Petri. Satu-satunya sekarang yang digunakan untuk sterilisasi radiasi pada obat-obat rumah sakit dan laboratorium. Sterilisasi radiasi dapat dilakukan baik dengan radiasi elektromagnetil dan radiasi partikel. Penerapan untuk sterilisasi ini. mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat) keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan output laju doisis yang lebih seragam. menyebabkan perubahan energi pada asam nukleat dan molekul lain sehingga hilangnya keberadaannya bagi metabolisme molekul sel bakteri. Mutasi ini dapat disebabkan oleh tindakan tidak langsung. katter. sehingga tidak ada bagian yang lepas dari keefektifan sterilisasi. diserap oleh banyak bahan dan membuat penggumpalan organisme dan hal . Oleh sebab itu baik partikel maupun elektromagnetik. Perpindahan elektron ini kemudian bentindak sebagai partikel beta dalam reduksi. vitamin. dimana molekulmolekul air diubah menjadi kesatuan yang berenergi tinggi seperti hidrogen dan ion hidroksil. Radiasi Ionisasi (RPS 18 th : 1476) Radiasi ionisasi digunakan untuk sterilisasi industri untuk alatalat rumah sakit. Mutasi ini disebabkan karena tarnsformasi radiasi menjadi molekul penerima pada sinar x. Kerugian penggunaan germisida radiasi sinar UV adalah penetrasinya terbatas. Radiasi partekel atau molekul termasuk daftar partikel yang steril. alat beda. menurut teori langsung. dipertimbangkan sebagai radiasi ionisasi yang berbeda dengan radiasi sinar ultraviolet. Kebanyakan prosedur sterilisasi produk lain harus diselenggarakan dalam batch setrilisasi dengan proses berkesinambungan memerlukan pengendalian yang tepat.7 nm. Elektron dipercepat atau sinar gamma dapat digunakan untuk mensterilkan produk-produk pilahan dengan suatu proses berkesinambungan. Prinsip bermuatan negativ sepeti elektron yang berinteraksi langsung dengan bahan menyebabkan ionisasi seperti elektron elektromagnetik menyebabkan ionisasi pada mekanisme yang bervariasi yang menghasilkan perpindahan suatu orbital elektron dengan mekanisme jumlah tertentu dari energi yang ditransfer dalam insiden sinar gamma. Radiasi elektromagnetik dan energi photon.mutlak karena tidak menyebebkan kerusakan mekanik.

tersebut dilindungi oleh debu dan puing-puing. Untuk menghindari aksi letal panggunaan radiasi sinar UV sebagai cara sterilisasi tidak direkomendasikan lemak jika bahan-bahan yang diradiasi sangat bersih dan bebas yang dapat melindungi mikroorganisme. B. Sterilisasi Secara Kimia Parrot ; 280 Sterilisasi gas adalah cara menghilangkan mikroorganisme dengan menggunakan gas atau uap yang membunuh mikroorganusme dan sporanya. Meskipun gas dengan segera berpotensi menyerap serbuk padat. Streilisasi ini adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme occluded dengan kristal akan dibunuh. Sterilisasi gas digunakan dalam bidang farmasi unutk mensterilisasi bahan-bahan termolabil. Gas bakterisida yang paling sering digunakan adalah gas Etilen Oksida. Meskipun sterilisasi uap merusak beberapa bahan dan dipindahkan dari bahan yang dicobakan melalui jalur sterilisasi. Gas ini tidak inert dan kereaktivannya terhadap bahan yang disterilisasi antara lain : Tiamin, Riboflavin, Streptomisin kehilanngan potensi dengan adanya etilen oksida. Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkilasi asam, amin, hidroksil dan gugus sulfhidril dari protein dan sel enzim. Kelembaban dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan merusak sel. Etilen oksida bersifat eksplosif ketika bercampur dengan udara. Sifat ini dapat dihilangkan dengan menggunakan campuran etilen oksida dengan CO2. Carboxide ® 20 atau campuran etilen oksida dengan hidrokarbon berfluoresensi. Sterilisasi dengan gas berjalan lambat, waktu sterilisasi tergantung pada keberadaan kontaminasi, kelembaban, temperature dan konsentrasi dari gas etilen oksida. Konsentrasi minimum adalah 450 mg/l pada tekanan 27psi. Cara ini digunakan digunakan untuk mensterilkan obat serbuk seperti Penisilin, juga telah digunakan unutk sterilisasi benang, plastik, tube. Penggunaan etilen oksida juga untuk sterilisasi akhir peralatan parenteral tertentu seperti kertas kraft dan lapisan tipis polietilen. Semprot aerosol etilen oksida telah digunakan untuk mensterilkan daerah sempit dimana dilakukan teknik aseptic. C. Sterilisasi Cara Mekanik (Scoville`s : 417) Larutan dapat dibebaskan dari mikroorganisme vegetatif dan sporanya melalui filter bakteri. Filter bakteri tidak dapaat membebaskan larutan dari virus; bagaimanapun alat ini tidak mengurangi jumlah virus. Pada prinsipnya dengan absorbsi ke dalam dinding filter dan dengan menghilangkan partikel kasar dari bahan yang mengandung virus. Sterilisasi dengan filter bakteri digunakan untk larutan farmasetik atau bahan biologi yang dipengaruhi oleh pemanasan. Berbeda dengan metode filtrasi lain, filter bakteri ditujukan untuk fltrat bebas bakteri. Metode sterilisasi ini membutuhkan penggunaan teknik aseptic yang benar. Sediaan obat yang disterilkan dengan metode ini membutuhkan penggunaan bahan bakteriostatik kecuali diarahkan lain. Larutan yang ditujukan untuk injeksi intrathecal atau merupakan larutan dosis tunggal intravena dengan volum elebih dari 15 ml tidak boleh ditambahkan bahan bakterisid. Paraffin cair dan minyak lain, tidak disterilkan dengan metode ini karena dapat meningnkatkan permeabilitas dari filter terhadap bakteri. Unutk dapat membuat larutan bebas bakteri dan steril, digunakan filter dengan berbagai tipe. Tipe ini termasuk filter yang terbuat dari silicon murni, porselin, asbes,

dan glass-fritted. Karena alat-alat ini mudah dibersihkan, filter Seitz yang menggunakan lapisan asbes dan fliter fritted glass mungkin lebih berguna untuk farmasis. Yang kadang-kadang dubutuhkan untuk menyaring larutan dalam jumlah kecil. Mekanisme filtrasi bakteri adalah kompleks. Meskipun ukuran pori filetr penting, tapi bukan itu saja criteria untuk keefektifan filtrasi. Fliter dengan pori lebih kecil menghilangkan bakteri tetapi beberapa filtrasi sangat lambat umtuk tujuan praktek. Dengan meningkatkan ketebalan filter lilin memungkinkan untuk mencapai efisiensi filtrasi, tetapi nkerugiannya adalah bahwa kebanyakan bahan aktif dari larutan dihilangkan dengan penyerapan oleh lilin. Bagaimanapun, dengan mengatur ukuran pori dan ketebalan filter yang optimum, mungkin diperoleh filter yang efisien dan baik secara cepat. factor lain dilibatkan dalam filtrasi bakteri termasuk keseimbangan permukaan antara bahan filter dan bakteri dan larutan, suhu, tekanan yang digunakan, waktu filtrasi, muatan listril filter, pH bahan yang difiltrasi, dan adsorbsi protein dan bahan lain. Filter Seitz Filter ini dibuat dari bahan asbes yang dijepit pada dasar wadah besi. Keuntungan utama dari filter Seitz ini adalah lapisan filter dapat dibuang setelah digunakan dan masalah pembersihannya berkurang. Efisiensi tergantung pada pengembang serat dari lapisan filter dari air. Karena larutan alcohol pekat tidak membuat mengembang, filter ini tidak digunakan untuk mensterilkan larutan yang mengandung alcohol dalam jumlah besar. Filter ini mampu dengan volume dari 30 ml hingga lebih dari 100 ml. Kerugian pertama dari filter ini adalah cenderung memberikan komponen magnesium pada filtrate. Bahan alkali ini dapat menyebabkan konsentrasi pengendapan alkaloid bebas dari garamnya dan dapat menginaktifkan seperti insulin, ekstrak pituari, epinefrin dan apomorfin. Hal ini dapat diatasi dengan perawatan pertama filter dengan dibasahkan dengan HCl lalu dibilas dengan air. Kerugian kedua dari seitz adalah permukaan serat pada lapisan filter membuat larutan tidak cocok untuk injeksi. Ini dapat diatasi dengan menempatkan ayakan dari nilon atau sutra dibawah lapisan filter sebelum menempatkan lapisan dalam filter, atau sebuah filter gelas fritted dapat ditempatkan pada saluran keluar untuk menghilangkan serat. Filter seitz ini juga cenderung untuk menghilangkan bahan dari filtrat bahan adsorbsi. Filter Swinny Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny mempunyai adat terkhusus yang terdiri dari lapisan hasbes, bersama dengan screen dan pencuci. Utamanya untuk digunakan filter swinny dibungkus dengan kertas dan diotoklaf. Bagian yang dipasang dihubungkan pada spoit Luer-lola dan cairan dimasukkan melalui disk asbes dengan menggunakan tekanan pada saluran spoit. Filter Fritted-Glass Filter fritted-glass disusun dari dasar serbuk, tombol bulat dari gelas digabung bersama dengan penggunaan panas untuk menentukan sebelumnya ukuran dalam bentuk disk. Permeabilitas filter barbanding secara tidak langsung dengan ukuran butiran. Setelah disk dibentuk, kemudian disegel dengan pemanasan kedalam corong gelas pyrex dibentuk seperti corong buchner.

Filter fritted-glass yang baru harus dicuci dengan penghisap dengan HCl panas dan kemudian dibilas dengan air sebelum digunakan. Filter dapat dibersihkan dengan membilasnya dengan air dibawah tekanan. Jika air tidak dapat membersihkan filter, suatu konsentrasi larutan asam sulfat mengandung 1 % sodium nitrat dipanaskan pada suhu 80 oC dapat digunakan. Filter fritted dirancang utamanya untuk filtrasi vakum. Jika digunakan filtrasi dibawah tekanan, perbedaan maksimum pada diks harus tidak boleh dari 15 pouns inci persegi (p.si). Filter Berkefeld & Mandler Tes bentuk tube filter pembanding ini, yang dihubungkan dengan dasar logam dan saluran keluar tubuh adalah dama pada keduanya. Felter mandler dibuat dari silikat murni, hasbes, dan kalsium sulfat (gips dari paris); filter berkefeld terdiri dari silica murni. Kedua filter ini bermuatan negative. Fitlrer ini tersedia dalam beberapa tingkatan porositas berdasarkan pada permeabilitas terhadap air, pada berkefeld atau pada mandler berdasarkan pada jumlah tekana air dalam pons yang dibutuhkan untuk mendorong udara melalui saluran keluar melawan air. Saluran berkefeld dan mandler dibersihkan dengan menggunakan air destilasi melalui saluran dari luar kedalam diikuti dengan menggosok bagian luarnya menggunakan sikat dalam aliran air. Saluran berkefeld dan mandler dapat disterilkan dengan autoklaf pada 121oC selama 20 menit. Tabung harus dibungkus dengan kain atau kertas secara langsung setelah dibilas dan saat masih basah sebelum ditempatkan di autoklaf. Selas Filter Filter porselen buatan Amerika sekarang tersedia dengan nama selas filter porselen microporous. Filter ini secara kimia inert, menjadi tahan terhadap semua larutan yang tidak menyerang silica. Saluran selas filter dapat dibersihkan dengan menggosoknya dengan sikat, dengan membilas, pencucian, dengan menggunakan alkali atau detergen asam atau dengan pemanasan dalam tungku dilaboratorium pada temperatur maksimum 1200oC dan dapat disterilkan dengan autoklaf. Saluran Filter Chamberland Pasteur Filter ini mempunyai bentuk yang mirip dengan berkefeld tetapi filter ini terbuat dari porselen penyerap yang tidak berlapis dengan pori-pori kecil yang menghasilkan filtrasi yang lambat. Filter ini dapat dibersihkan dan disterilkan dengan cara yang sama dengan yang digunakan untuk saluran berkefeld. 6. Keuntungan dan kerugian metode sterilisasi a. Sterilisasi Panas Kering Keuntungan 1. Dapat digunakan untuk membunuh spora dan bentuk vegetatifnya dari semua mikroorganisme (Lachman Industri; 1263) 2. Umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas (Ansel; 413) 3. Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan yang kering atau wadah yang kering seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan air (Ansel; 414). Kerugian 1. Hanya digunakan untuk zat-zat yang tahan penguraian pada suhu diatas kira-kira 140oC (Lachman Industri; 1263)

2. Karena panas kering efektif membunuh mikroba dengan uap air panas, maka diperlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (Ansel; 413) b. Sterilisasi Uap Panas Keuntungan : 1. Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan pada temperatur yang relative rendah daripada tidak ada kelembaban (Ansel; 412) 2. Metode ini digunakan untuk sediaan farmasi dan bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperature yan digunakan dan penembusan uap tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air (Ansel :413) 3. Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih muidah dibunuh (Ansel : 413) 4. Dipergunakan unutk larutan jumlah besar, alat-alat gelas, pembalut operasi dan instrument (Ansel :413) 5. Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif (Scoville`s:408). Kerugian : 1. Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak lemak, sediaan berminyak dan sediaan yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap jenuh (Ansel :413) 2. Spora-spora yang kadar airnya rendah, sukar dihancurkan (Ansel :413) c. Sterilisasi Gas Keuntungan : 1. Beberapa senyawa yang tidak tahan terhadap panas dan uap dapat disterilkan dengan baik dengan memaparkan gas etilen oksida atau propilen oksida bila dibandingkan dengan cara lain (Ansel :416) 2. Dapat digunakan untuk membunuh mikroorganisme dan spora lain (Parrot : 280). Kerugian : 1. Gas-gas (etilen dan prop[ilen oksida) mudah terbakar bila tercampur dengan udara (Ansel :417) 2. Tidakan pengemasan yang lebih besar diperlukan untuk sterilisasi dengan car ini daripada dengan cara lain karena waktu, suhu, kadar gas dan kelembaban jumlhanya tidak setegas seperti pada sterilisasi panas kering dan lembab panas (Ansel : 417) 3. Gas-gas sulit hilang dan kebanyakan bahan-bahan setelah pemaparan (Lachman Industries :1283) 4. Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak dihilangkan sama sekali, sifat karsinogenik dan mutagenic dari etilen oksida dari sisa-sisa pada bahan yang digunakan pada manusia (Lachman Industries :1285) 5. Waktu siklus untuk sterilisasi dengan etilen oksida agak lama (Lachman :1286). Sterilisasi Dengan Penyaringan Keuntungan :

d.

Muatan dalam pH yang sesuai yang bersifat alkali menyebabkan kerusakan filter dan partiekel yang kecil pada filter merupakan problem yang khusus (Scoville’s: 419) 5. 2. Tidak menghilangkan bahan yang diinginkan atau membawa komponen yang tidak diinginkan (Lachman Ind :1265) 4. e. 2. kemampuan untuk mensterilkan secara efektif bahan tahan panas (Ansel :416) 5. Peralatan yang digunakan relative tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan dari larutan (Ansel :416). 4. Penyaringan cairan dengan voluime besar akan mermerlukan waktu yang lebih lama terutama bila cairan kental dibandingkan dengan bila memakai cara sterilisasi lembab panas (Ansel : 414). Kesulitan mempertahankan kondisi aseptis seperti merupakan masalah besar sehubungan dengan sterilisasi melalui penyaringan (Lachman Industri: 1283 ). dan hormone dalam keadaan kering setelah berhasil dibuat steril dengan radiasi (Lachman Indutri: 1276). Tiap kebocoran yang mungkin terjadi pada system ini menyebabkan kerusakan pada bagian luar tanpa kontaminan filtrate yang steril (Lachman:1282-1283 ) 6. Kerugian : 1. Penggunaan teknik ini terbatas karena memerlukan peralatan yang sangat khusus dan pengaruh radiasi dan produk-produk dan wadah-wadah (Ansel:418). plastik. Sediaan farmasi dalam carian tubuh lebih sulit disterilkan karena efek radiasi terhadap sistem zat pembawa dari jaringan obat (Lachman Industri : 1276 ) . Kecepatan penyaringan sejumlah kecil larutan. Pemakaian radiasi meningkat dalam frekuensi dan luasnya pemakaian setelah diperoleh pengalaman dengan metode ini. 3. khususnya untuk sterilisasi alat medis. Kerugian : 1. Saringan tidak harus mengubah larutan/gas segala cara (Lachman Ind :1265) 3. Penyaringan dapat digunakan untuk memisahkan partikel termasuk mikroorganisme dari larutan gas tanpa menggunakan panas (Lachman Idustries :1285) 2. antibiotic. cara ini diharuskan menjalani pengawasan yang ketat dan memonitoring karena efek hasil penyaringan dapat diperngaruhi oleh banyaknya miokroba dalam larutan (Ansel : 414). sejumlah vitamin. Sterilisasi Irradiasi Keuntungan : 1. Filter bakteri tidak efektif menghilangkan firus dari larutan (Scoville’s?: 419).1.

1581 Sediaan mata adalah produk steril yang essensial dan bebas partikel asing. Sediaan mata meliputi larutan. SDF. DOM King. Perhatian yang khusus dilakukan dalam penyiapannya Kesimpulan : Salep mata adalah sediaan steril yang mengandung bahan kimia yang terbagi halus dalam basis. RPS 18 th. Scoville’s. Salep mata biasanya terdiri dari basis petrolatum putih-minyak mineral b. bebas dari partikel asing dan mempunyai komponen bahan dan pengepakan harus sesuai syarat sterilitas. 12 Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata c. campuran senyawa dan pengemasannya sesuai untuk pemakaian kedalam mata. Pengertian Sediaan Mata a. FI IV. kornea dan iris. SDF. Keuntungan dan Kerugian Salep mata a. yang digunakan pada mata dimana obat dapat kontak dengan mata dan jaringan tanpa tercuci oleh air mata dan memerlukan perhatian khusus dalam pembuatannya 3. 1585. 356 Salep mata adalah salep khusus untuk pemakaian pada mata dimana membutuhkan perhatian khusus pada pembuatannya d. 1587 . FI III. Pengertian Salep Mata a. dapat juga digunakan untuk memberikan efek pengobatan yang bervariasi pada bagian luar dan tepi kelopak mata. cocok untuk penggunaan pada mata 2. 140 Salep mata adalah salep steril khusus untuk penggunaan pada mata. Keuntungan Salep mata o RPS 18 th. Basis untuk salep mata biasanya petrolatum putih walapun dalam beberapa kasus basis laruit air juga digunakan. konjungtiva. Obat jika tidak larut didispersikan kedalam basis yang disterilkan dengan panas kering dan dicampur secara aseptis dengan obat dan bahan tambahan yang steril e. 368 Salep mata memberikan arti lain dimana obat dapat mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. Salep ini dibuat dari bahan steril dibawah kondisi aseptis atau pada sterilisasi tahap akhir f. RPS 18 th. suspensi tapi lebih banyak bentuk larutan. 20 Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok b. 357 Sediaan mata sama dengan produk lainnya yaitu steril dan bebas dari bahan partikulat Kesimpulan : Sediaaan mata adalah sediaan steril yang mempunyai ciri-ciri steril. 1513 Salep mata adalah salep untuk penggunaan pada mata.SALEP MATA 1.

Pengkajian telah menunjukkanm bahwa waktu kontak antara obat dengan mata. Dasar ini dapat ditemukan dalam susunan anatomi dari jaringan permukaan dan dalam permeabilitas kornea. Anatomi Mata dan Fisiologi Mata RPS 18 th. Salep mata dapat mengganggu bila dimasukkan secara keras pada sel epitel kornea yang baru. kelenjar sebasea. konjungtiva. dan masalah kontaminasi yang kurang. 563 Keuntungan utama suatu salep mata daripada larutan untuk mata adalah penambahan waktu hubungan atau kontak antara obat dengan mata. pergerakan lebih lambat kedalam ductus lakrimal yang menyebabkan waktu kontak yang lebih panjang dan efek yang lebih lama. untuk obat-obat yang tidak larut air. Sebagai tambahan. 563 Satu kekurangan pada penggunaan salep mata yaitu kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh ndan menyebar pada lensa mata o RPS 16 th. Kelopak Mata Kelopak mata memeiliki 2 tujuan : perlindungan mekanik terhadap bola mata dan mensekresikan suatu cairan optimum untuk kornea. 2 – 4 kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam Kerugian Salep mata o RPS 18 th. dapat menyebabkan masalah-masalah pencampuran antara pembawa salep dengan cairan mata dan termasuk tambahan parameter partisi untuk obat antara salep dengan lapisan air mata 4. 368 Salep mata dapat dipertahankan kontak lama dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh air mata o RPS 16 th. kecuali bahannya bervolume kecil dan secara kimia dan fisiologis dapat bercampur dengan jaringan permukaan. ada cara untuk meningkatkan konsentrasi obat terlarut dalam sistem dosis dengan memilih pembawa berminyak dimana obat tersebut dapat larut o Ansel Indonesia. a. 1502 Dari sisi positif adalah kurang atau tidak terjadinya iritasi pada penggunaan salep mata. 1585 Salep mata akan mengganggu penglihatan kecuali jika digunakan pada waktu tidur o Ansel indonesia. stabilitas penyimpoanan lebih besar. 1581 Mata manusia adalah subjek yang menarik untuk pemberian topikal obat.b. salep mata cenderung membentuk lapiusan pada mata dan menyebabkan pandangan kabur. Pada basis yang normal. Tindakan perlidnungan dari kelopak mata dan sistem lakrimal adalah seperti penghilangan dengan cepat dari bahan yang dimasukkan kedalam mata. Salep mata memberikan keuntungan waktu kontak yang lebih lama dan bioavailabilitas obat yang lebih besar dengan onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama b. Kelopak mata dilicinkan dan dijaga kandungan airnya oleh sekret kelenjar lakrimal dan . kornea dan iris o SDF. Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata. 1502 Pada sisi negatif.

Lapisan vaskular tengah – sistem uvea atau traktus uveal. . cairan humor bertindak sebagai carrier nutrient. Tahanan yang ditemui selama pelewatan dan kecepatan pembentukan cairan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat tekanan intraokular. Struktur halus pada lapisan terluar sangat tertaur dan kandungan airnya sangat seksama diatur sehingga bertindak sebagai jendela yang jernih dan trasnparan (kornea). Pupil. mengandung berbagai garam-garam. lubang bulat dalam suatu bagian membran kontraktil (disebut iris). dengan lapisan cairan yang jernih atau bahan seperti gel yang terjepit antara struktur yang padat. Tekanan intraokuler ini menghasilkan produksi cairan spesifik yang mantap. Sebagai tambahan untuk fungsi mekanis hidronya. bagian yang menghadap keluar. Tulang pada rangka juga mendukung bentuk yang mendekati piramid yang ditempati oleh bola mata. Lensa kristal adalah suatu unsur retraktif dengan kemampuan fungsi yang dikontrol dan didukung oleh suatu jaringan otot dalam badan siliar. Lapisan fibrous luas b. Lapisan saraf retina Lapisan terluar kuat. Ini memungkinkan pemberian injeksi subkonjungtival kecuali untuk kornea. dapat disentuh dan sedikit longgar. badan siliar dan iris c. Ini mencegah pembuluh darah. yang mana akan mengeluarkan tekanan yang sama pada jaringan disekitarnya. berair. pupil. bertindak sebagai fungsi penampakan dari sistem. Ruang penyokong memiliki bentuk tipis yang terpisah secara langsung lewat didepan bola mata.dikhususkan pada sel-sel yang terletak pada konjungtiva bulbar. air mata. Sklera mengandung mikrosirkulasi yang memberikan nutrisis jaringan pada bagian atas anterior dan biasanya putih kecuali ketika terjadi iritasi dan dilatasi pembuluh darah Ruangan bola mata adalah suatu alat optik yang menyebabkan penampakan yang terbalik diperkecil yang terbentuk pada retina. lensa kristal dan retina. dengan perluasan kantong menaik dan menurun. Koroid adalah metabolit yang mendukung retina Fungsi optikal dari mata harus stabil secara dimensi yang mana dilakukan oleh sebagian selaput bagian luar. mengandung koroid. konjungtiva merupakan bagian terluar dari mata Sistem lakrimal Permukaan konjungtiva dan kornea ditutupi dan dilicinkan oleh suatu lapisan air yang disekresi oleh kelenjar lakrimal dan konjungtiva. diantara ke beberapa duktus kecil ke dalam formix konjungtiva. keefektifannya adalah suatu faktor penstabil pada tekanan intraokuler. sekretnya jernih. Kantong-kantong tersebut disebut ruang superior dan inferior serta semua tempat. Celah antara kelopak mata disebut celah palbebra Bola mata Dinding bola mata manusia (bulbus. bula) disusun atas tiga lapisan konsentris : a. yang mana merupakan membran tipis yang tembus cahaya. Secara berurutan alat optik terdiri dari : kornea. Pada bagian depan. Diatas 2/3 dari selaput serat yang tersisa nampak buram (bagian putih dari mata) dan disebut sklera. Pada kebanyak tempat terikat dengan longgar dan dengan demikian memungkinkan gerakan bebas dari bola mata. cairan homur yang asli dari proses siliar dan mata menjadi sistem yang berbeli-belit dari kanal alirannya. substrat dan metabolit untuk jaringan ovaskular mata. cul-de-sac. Sekresi dari kelenjar lakrimal. disebut orbit Konjungtiva Membran konjungtiva menutupi permukaan terluar dari bagian putih mata dan bagian dalam dari kelopak mata.

o Syarat-Syarat Salep Mata RPS 18 th. Ini akan membantu transport atau gerakan cairan melewati bagian lakrimal Lapisan Prekorneal Kornea harus basah untuk menjadi permukaan mata yang memadai. akhirnya akan mengering pada potongannya. baik oleh obat atau secara mekanik. memberikan kelembaban yang penting pada permukaan.glukosa. Lapisan tersebut bercampur dengan sediaan mata berair dan lipid. Kelenjar lakrimal utama disebut memerankan hanya pada fungsi yang khusus. Kulit kelopak mata tipis dan dapat terlipat dengan mudah.7 % protein dan enzim lisosom. Lapisan berair yang tebal ditengah dan suatu lapisan mukoid tipis bagian dalam.5 – 1 mm terdiri dari struktur berikut (dari depan ke belakang) : 1. Bagian kelenjar lakrimal dikondisikan pada fornix konjungtiva. Lapisan ini mempengaruhi gerakan lensa kontak dan terbentuk cepat dengan mudah pada gelas daripada plastik Kornea Kornea tebalnya 0. La[isan prekorneal. Ini memperlihatkan tidak berpengaruhnya penambahan konsentrasi hingga 2 % NaCl terhadap cairan konjungtiva. Kelenjar sebaseus terdapat pada kelopak mata mensekresi cairan berminyak yang membantu mencegah air mata yang berlebihan pada tepi kelopak dan mengurangi penguapan permukaaan yang terpapar pada mata dan menyebar diatas lapisan air mata Kedipan mata membantu lapisan cair dengan menekan lapisan tipis dari cairan didepan tepi kelopak mata pada saat keluar bersama-sama. Gerakan kelopak mata termasuk penyempitan celah palpebral dalam suatu kantong mata. ketika kurang basah kornea kehilangan permukaannya yang halus dan sifat transparannya. besarnya cahaya karena susunan tegak lurus dari sel dan serat dan karena tidak adanya pembuluh darah. Substantia propia (stroma) 3. disusun dari lapisan lipid tipis terluar. jaringan bebas luka karena dilukai. Pengaburan kornea mengkin satu dari beberapa faktor termasuk tekanan bola mata sebagai glaukoma. seperti tindakan chantus lateral melewati chantus (chant : sudut dimata bertemu). suatu daerah segitiga kecil terhampar pada sudut bagian paling dalam dari kelopak mata. 1585 1. injkesi atau kekurangan O2 atau kelebihan air seperti yang dapat terjadi karena pemakaian kontak lensa. Sekretnya cocok untuk meleicinkan dan membersihkan dibawah kondisi biasa dan untuk mempertahankan lapisan tipis berair yang menutupi kornea dan konjungtiva ) lapisan prekorneal). Endotel kornea Kornea transparan untuk mendifusikan cahaya secara luar biasa. pH dibawah 4 atau diatas 9 akan menyebabkan kekacauan lapisan. bagian dari larutan air mata. sehingga memberikan pembukaan yang cepat dan penutupan pada celah palpebral. Sifat dari lapisan prekorneal tergantung dari kondisi epitel kornea. Epitel kornea 2. sekitar 0. komponen organik lainnya. 5. Lapisan protein musin dari lapisan khususnya penting dalam mempertahankan stabilitas dari lapisan. Hal ini diperbaharui pada setiap kediapan dan ketika berkedip mengalami tekanan. Kelebihan cairan menuju ke penampungan lakrimal. Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang bernar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi .

. paraben atau merkuri organik 4. Pengerjaan penampilan untuk larutan dalam lingkungan yang bersih. Dalam beberapa permasalahan. bahaya yang paling utama adalah memasukkan produk nonsteril kemata saat kornea digososk. Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata. Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. Salep akhir harus bebas dari partikel besar 5.o 2. Keduanya. Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma 3. pentingnya peralatan filtrasi agar jernih dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk menghilangkannya. Sediaan untuk mata dari berbagai jenis produk yang berbeda dapat berupa larutan tetes mata. Kadangkadang injeksi mata digunakan untuk hal-hal yang khusus. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan. Tentunya. penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah memberikan kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel asing. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol. wadah dan tutup harus bersih. tidak layak membuat sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Normalnya dilakukan tes sterilisasi b. pencuci mata atau salep mata. kejernihan dan sterilisasi dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Dengan pengecualian jumlah yang terbatas dari injeksi mata. Sediaan mata sama dengan produk steril lainnya yaitu kesterilan dan bebas dari bahan partikulat. Sediaan untuk mata merupakan bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal. Oleh karena itu tidak perlu bebas pirogen karena metode penggunaan dan pemakaian obat sediaan mata berbeda dengan bahan yang diberikan secara parenteral dalam hal bahan yang ditambahkan untuk meningkatkan aktivitas untuk memelihara stabilitasnya dan sterilitas produk b. Stabilitas 6. Wadah atau tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama dalam penyimpanan. 1589 a. Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien Karakteristik Sediaan Mata o RPS 18 th. Kejernihan Larutan mata adalah dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi. Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai SDF. 357 a. steril dan tak tertumpahkan.

Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini d. Viskositas USP mengizinkan penggunaan peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. pH diseleksi jadi optimum untuk stabil. Larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketikamagnitude sifat koligatif larutan adfalah sama. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0. Bahan-bahan seperti metil selulose.5 % .9 % larutan NaCl Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari suatu waktu yang diusulkan. Antioksidan.8 % NaCl intraokuler. digunakan dalam konsentrasi sampai 0.4. metode penyiapan (khususnya penggunaan suhu). Buffer dan pH Idealnya. Antioksidan lain seperti asam askobat atau asetilsistein dapat digunakan. Larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0. namun pemilihannya dalam jumlah tertentu. Surfaktan nonionik.8.3 %. Tonisitas Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garamgaram dalam larutan berair. khususnya natrium bisulfit atau metasulfit. sediaan mata sebaiknya diformulasi pada pH yang ekuivalen dengan cairan air mata yaitu 7. Antioksidan ini berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. Umumnya viskositas meningkat dari 25 – 50 cps range signifikan meningkatkan lama kontak dalam mata f. Namun demikian ini tidak dibutuhkan ketika stabilitas produk dipertimbangkan e. Namun demikian pH stabilitas kimia (atau ketidakstabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan.1. bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun.Stabilitas obat dalam larutan seperti produk mata tergantung sifat kimia bahan obat. dan prkteknya jarang dicapai. zat tambahan larutanb dan tipe pengemasan Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6. Sebaliknya pada pH 5 kedua obat stabil dalam beberapa tahun c. Surfaktan jarang digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan kelarutan . keluar toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendahkhususnya suspensi steroid dan berhubungan dengan kejernihan larutan. Bahan Tambahan Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata dibolehkan. Mayoritas bahan aktif dalam optalmology adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. polivinil alkohol dan hidroksil metil selulose ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan viskositas Investigator telah mempelajari efek peningkatan viskositas pada waktu kontak dalam mata. khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin. pH produk. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. Suspensi biasanya paling stabil pada pH asam pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. Dengan obat ini. Ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak larut.

kelopak mata. jari. Kelopak mata yang tertutup dapat digosok dengan lembut dengan jari untuk mendistribusikan obat melalui fornix g.½ inci). Bentuk lemak dari alkaloid R3N melewati lapisan epitel kedalam substantia propia (stroma). khususnya beberapa konsentrasi signifikan. 1584 a. khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet. tekan sejumlah kecil salep kedalam kelopak mata bagian bawah (± ¼ .01 – 0. sebaiknya dengan karakteristik bahan-bahan. Teori Kinsey DOM. pH dari tetes mata dengan cepat dirubah menjadi pH fisiologis. sebagian dari garam akan dirubah menjadi bentuk basa bebas yang biasanya lebih larut lemak sehingga ion mudah ditransfer dalam sel epitel yang kaya akan lemak. pegang tube dalam tangan selama beberapa menit sebelum digunakan • Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengfan persis didepan cermin 8. Hati-hati agar tidak menyentuhkan ujung tube pada mata. buka satu tube saja • Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep mata pada waktu yang sama. tarik kelopak mata bagian bawah perlahanlahan d. tekan keluar ¼ inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering • Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun • Jika mempunyai lebih dari satu tube untu salep mata yang sama. Sambil melihat keatas. Cara Pembuatan Salep mata .Penggunaan surfaktan. tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep lainnya • Untuk memperbaiki aliran dari salep. Obat yang berpenetrasi sebagian akan dirubah menjadi bentuk terprotonisasi tergantung pada pH lingkungan berair pada stroma. Karena kemampuan netralisasi dari air mata. Benzalkonium klorida dalam range 0. Dengan satu tangan. Tutup kembali tube • Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka • Pada saat tube salep dibuka pertama kali. Tergantung dari sifat disosiasi dari alkaloida.02 % dengan toksisitas faktor pembatas konsentrasi. Surfaktan nonionik. Lapisan stroma ini berlapis-lapis. Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata kesegala arah pada saat mata ditutup. Cuci tangan b. Buka tutup dari tube c. Kadang-kadang pengaburan dapat terjadi f. obat masuk kedalam cairan humor dimana obat akan terdifusi dengan cepat kedalam iris dan badan siliar yaitu tempat dimana obat mempunyai aksi farmakologis 9. Cara Penggunaan Salep mata RPS 18 th. sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar larutan dengan suspensi sediaan mata 7. Pada saat melewati lapisan lemak endotelium. kurang mengandung lipid dan kaya akan air. dll e. 882 Banyak obat mata adalah basa lemah dimana bentuk garamnya digunakan pada mata dalam larutan beriar.

Dengan menempatkan batang pengaduk pada ujung lipatan dan menggulung kertas mengarah kebagian bawah lipatan. yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. 357 Salep mata dibuat dengan menggunakan salah satu dari dua metode berikut : Jika bahan obat larut dalam air dan membentuk larutan stabil maka bahan obat dilarutkan dalam jumlah minimum air untuk injeksi. larutan yang dihasilkan kemudian digabungkan dengan basis yang telah dilebur dan campuran diaduk terus-menerus sampai mengental Jika bahan obat tidak segera larut dalam air. Kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar dari tube yang dapat dilipat dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari. Bahan partikulat dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien o RPS 18 th.Scoville’s. salep akan tertahan dan tertinggal didalam tube. 359 Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Tube seharusnya diisi sampai jarak 1 inci dari ujung tube sehingga memberikan tempat untuk penutupan tube. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang. Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak mikroorganisme. penutup dari tube harus dibuka untuk memungkinkan pengisian yang sempurna. 11. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme. Penutupan dilakukan dengan meratakan dasar salep dengan spatula dan melipatnya lebih dari dua kali dan menjaganya dengan penjepit khusus tube salep yang dilakukan dengan sepasang pinset. Pada saat memasukkan salep. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. maka bahan obat dimikronisasi sampai menjadi sebur yang sangat halus dengan melevigasinya dengan sejumlah kecil basis. Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini ditunjukka dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk-produk nonsteril pada mata saat kornea terkena. dikulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara o SDF. Cara Memasukkan Salep Kedalam Tube Scoville’s. Mengapa Salep Mata Harus Steril ? o Presc. 181 Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. salep dalam kertas ditekan menjadi bentuk silinder. Campuran yang dihasilkan digabungkan dengan sisa basis 10. 1583 . satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa (Bacilllus pyocyamis). 361 Cara yang paling mudah untuk mengisi tube adalah menempatkan salep pada sepotongn kertas berlilin atau kertas perkamen kemudian lipat kertas sehingga kedua ujungnya bertemu. namun juga ditemukan disaluran intestinal.

1585) Uji sterilitas dari salep mata dilakukan dengan uji steril atau membran yang menahan bakteri dengan nilai porositas 0. 1086) Pilih 10 tube salep mata dengan segel khusus jika disebutkan. Cenderung untuk membunuh kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni. abaikan bekas salep yang diperkirakan berasala dari bagian luar dimana terdapat lipatan dari tube atau dari bagian ulir (tutup tube). Pengujian ini memenuhi syarat jika tidak satu pun kebocoran dari 10 tube uji pertama atau kebocoran yang diamati tidak lebih dari 1 atau 30 tube yang diuji b. Jika terdapat kebocoran pada 1 tube tapi tidak lebih darfi 1 tube. disuspensikan pada pembawa berair yang cocok yang mengandung bahan pendispersi dalanm prosedur umum yang konvensional .Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyaneus. Uji Kebocoran Salep mata (FI IV. Dalam uji ini. Bacillus gram negatif juga tumbuh pada sediaan mata yang menjadi sumber infeksi serius dari kornea. Letakkan tube pada posisi horisontal diatas lembaran kertas penyerap dalam oven dengan suhu yang diatur pada 60o + 3oC selama 8 jam. P. Pada konsentrasi yang ditopleransi oleh jaringan mata menunjukkan bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari organisme ini. kemudian biarkan memadat. keluarkan isis dari 10 tube salep pertama-tama lebur dalam cawan petri. Cara Pengujian Salep mata a. pyocyanea. ulangi pengujian dengan tambahan 20 tube salep. Uji Partikel dan Ukuran (RPS 18 th. Uji Sterilitas (RPS 18 th. Bersihkan dan keringkan baik-baik permukaan luar tiap tube dengan kain penyerap. Untuk salep yang tidak larut dalam isopropil miristat.22 µm.45 atau 0. untuk salep yang larut dalam isopropil miristat (pelarut yang digunakan secara resmi untuk uji sterilitas). 1585) Undang-undang resmi memberikan suatu uji yang dirancang untuk membatasi tingkat yang dipertimbangkan untuk jumlah atau ukuran yang dapat disetujui untuk partikel yang berbeda yang mungkin terdapat dalam salep mata. 12. Ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opurtonis yang tumbuh baik pada banyak kultur media dan menghasilkan toksin dari produk antibakteri. Lalu diamati dengan mikroskop berkekuatan rendah yang dilengkapi dengan mikrometer dan lensa okuler untuk partikel yang berukuran 50 µm atau lebih dalam beberapa dimensi. Blue Pas bacillus). Sampel salep dilarutkan dalam pelarut untu tes steril. Pengujian memenuhi syarat jika jumlah total dari partikel logam dalam 10 tube tidak lebih dari 50 g atau tidak lebih dari 1 tube ditemukan mengandung 8 partikel yang sama c. Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau setelah pengujian selesai. Ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan pada 24 -48 jam.

suspensi/salep kadang-kadang injeksi mata digunakan dalam kasus khusus. isotonisitas dari larutan 4. midriatik.  Dom Martin . sterilitas akhir dari collyrium (tetes mata)dan adanya bahan antimikrobauntuk menahan pertumbuhan dari suatu organisme yang ada selama penggunaan sediaan. 358 Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam succos konjungtival. kesesuaian pH dari pembawa untuk menjamin stabilitas optimum  SDF . digunakan dengan cara meneteskan pada konjungtiva mata dengan memperhatikan stabilitasnya.  Tekt bodes of pharmaclutik .TETES MATA 1. Kesimpulan : Tetes mata adalah suatu sediaan steril yang mengandung air maupun minyak harus bebas dari partikel asing baik dalam bentuk alkalk atau garamnya atau bahan lain. Sediaan ini bisa berupa larutan (tetes mata/pencuci mata). Dengan pengeculian tertentu dari injeksi mata.syarat sediaan mata  Scoville’s . pH. sediaan untuk mata adalah bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal dan karena itu tidak perlu bebas pirogen. 2. 2. kestabilan kekentalan dan sterilitas. 3.  Scoville’s . 880 Tetes mata sering diteteskan kedalam mata yang terluka akibat kecelakaan atau operasi dan tetes mata kemudian secara potensial lebih berbahaya dibandingkan injeksi intravena. Dapat mengandung bahan-bahan AM seperti AB. 221 Faktor. . 290 Bahan obat diteteskan kedalam mata harus diformulasi dengan tepat dan disiapkan dengan pemberian pertimbangan antara lain tonisitas. larutan harus isotonis larutan mata digunakan untuk antibakterial. Syarat.faktor dibawah ini sangat penting dalam pembuatan sediaan mata : 1. miotik atau maksud diagnosa larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium). 357 Sediaan untuk mata terdiri dari bermacam-macam tipe produk yang berbeda. Ketika cairan. 231 Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid. Sediaan mata sama dengan sediaan steril lainnya yaitu harus steril dan bebas dari bahan partikalat.  Parrot . bahan anti inflamasi seperti kortikosteroid. 10 Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata atau bola mata. garam-garam alkaloid. obat miontik seperti fisostigmin sulfat atau obat midriasis seperti atropin sulfat. Definisi tetes mata  FI III . antibiotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam mata. anestetik. ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan.

isotonis. mata itu bereaksi secara cepat terhadap tiap perubahan dari lingkungan. Dibuffer dengan tepat 7. viskositas. Pengawet 2. Buffer dan pH idealnya.4 4. Sterilitas 6. Kesimpulan : 1. Harus steril 5. 247 Farmasi seharusnya menyiapkan larutan mata yang : 1. Sayang sekali yang paling penting dari itu adalah sterilitas yang telah menerima sifat atau perhatian dari farmasis dan ahli mata. Untuk alasan ini. 145 Mata manusia adalah organ yang sangat sensitif. Tonisitas. 1589 1. Dimasukkan dalam wadah yang steril germisidal untuk DOM king . 880 Faktor yang paling penting dipertimbangkan ketika menyiapkan larutan mata adalah tonisitas. Persyaratan yang harus dipertimbangkan pada sediaan dikontrol dari produk sediaan mata : 1. dan tidak ada pernah kehilangan mata karena larutan sebagian terurai atau mengiritasi penggunaan larutan tidak steril kedalam mata yang terluka dilain hal sering menyebabkan kecelakaan. Tonisitas 10. Isotonis 6. seleksi pengawet dan sterilisasi. steril 2. Sterilitas 8. Pengemasan 5. sediaan atau larutan mata dipertimbangkan isotailk yaitu tonisitas sama dengan 0. Bebas dari partikel yang tersuspensi 4. Pendaparan yang sesuai 7. Kejernihan 2. Kejernihan 7. Viskositas 6. Buffer 8. Dalam pembawa yang mengandung bahan meningkatkan sterilitas 3. Bebas dari iritasi  3. sediaan mata harus diformulasi pada pH yang ekivalen dengan nilai cairan mata yaitu 7. Bahan tambahan  Dom Martin . Bebas dari partikel asing dan secara normal harus jernih yang dicapai dengan filtrsi 2. cara penyiapan (biasanya oleh pemaparan suhu) larutan tambahan dan tipe pengepakan 3. pH. Stabilitas  RPS . Adanya bahan tambahan 3. Dimasukkan dalam wadah yang kecil 8. stabilitas. Isotonik/mendekati isotonik 6. dan sifat pH. Zat tambahan 3. Kestabilan dari obat pada sediaan mata tergantung daari sifat kimia bahan obat. larutan yang digunakan pada mata seperti suspensi dan salep harus disiapkan dengan perawatan yang sangat teliti. Bahan-bahan yang akurat 5.9% larutan NaCl 5. Komposisi tetes mata . Ini diinginkan bahwa larutan mata stabil. Kekentalan 4. Scoville’s . pH. pH 9. Stabilitas 4.

pengawet dimasukkan untuk mencegah perkembangan mikroorganisme yang dapat ada selama penggunaan tetes mata. Bahan pengkhelat. Oksidasi bahan obat. yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet terhadap obat yang terkandung didalamnya selama waktu tetes mata itudimungkinkan untuk digunakan.FI III . Contoh dari penggunaan bahan pendapar Na sitrat digunakan dalam tetes mata perilefrin. Untuk menghasilkan larutan kental yang akan memperpanjang aksi dari larutan mata untuk penahanan yang lebih lama dalam kontak dengan permukaan mata. fenilefrin dan sulfatamia. fenil etil alkohol dan benzol konium klorida.Buffer . Perlu suatu konsentrasi ion H+ yang stabil dan beberapa larutan buffer umumnya digunakan. Viskositas. mata dapat sedikit bertoleransi pada variasi yang luas dalam tekana osmotik dari larutan mata tapi ini biasa dan mungkin untuk mengaturnya menjadi isotonis dengan sekresi lakrimal. nitrat. 2. 10 Tetes mata berair umumnya dibuat menggunakan cairan pembawa berair yang mengandung zat pengawet terutama fenil raksa (II) nitrat atau fenil raksi (II). 6. Pengawet pada dasarnya. zat aktif 2. Secara normal digunakan untuk mengatur tekana osmatik yang cocok dari larutan tetes mata. seperti tetes mata sulfisetanid. benzolkonium klorida 0. Konsentrasi ion hidrogen. Pengaturan isotonisitas dengan sekresi laknimal. Larutan untuk tetes mata khusus yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan feril merkuri.1% sering digunakan untuk tujuan ini.01 atau klorhebsidine asetat 0. Kesimpulan : Komposisi tetes mata: 1.01%. 184 Disamping bahan obat. bahan pengental digunakan yaitu metil selulosa 1% telah digunakan untuk tujuan ini. Asam borat dan boraks dalam tetes mata dari krednisolon Na sulfat. 4.  Dom Cooper . Suatu bahan pengkholat yang mengikat ion-ion dalam kompleks organik akan memberikan perlindungan Na EDTA adalah satu dari bahan pengkhelat terbaik yanh dikenal. namun dalam beberapa kasus bahan obat membuat larutan hipertonis. asetat 0.pH . 3. dimasukkansetelah pereduksi natrium meta bisulfit dalam [] 0.Tonisitas . Ketika ion logam dapat menyebabkan peruraian dari bahan obat dalam larutan.Pengkhelat  . 5.002%. Banyak obat mata dengan mudah dioksidasi dan biasanya dalam suatu kasus. tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan tambahan untuk mempertahankan potensinya dan mencegah kemunduran zat aktifnya. Bahan tambahan : .Pengawet . Ini digunakan untuk contoh dalam tetes mata BDS dari fisostigmin. Antara lain dapat mengandung hal-hal sebagai berikut : 1.

keseragaman tidak menjadi maslah. Penting untuk dicata bahwa ini bukanlah organisme yang jarang. hanya sedikit pengaruh sifat fisika dengan tujuan ini. Infeksi serius yang disebabkan organisme ini ditunjukan dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea.o. namun juga ditemukan dalam saluran intestinal dari kulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada di udara (komersil atau persewaan) tidak mengejutkan jika tidak dirawat yang pantas. Kemudian mekanisme utama dalam pertahanan melawan injeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata. maka jelas dengan sendirinya bahwa dengan sediaan mata harus steril. infeksi mata dari orgabisme ini telah membuat kebutaan khususnya.1584 1. meskipun salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan. yakni paling mampu menyebabkan kerusakan mata adalahn pseudomonos aeroginosa (bacillus pyocyneus). Keuntungan dan kerugian tetes mata Keuntungan  RPS 18th .4. 357 Sterilitas adalah persyaratan yang sangat penting pembuatan larutan mata yang tidak layak dapat membawa banyak organisme yang paling berbahaya adalah pseodomonas aeroginosa. 3.  Parrot . berbahaya bagi produknon steril yang dimasukkan dalam mata ketika kornea terbuka. 181 Jika satu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata.o dan penetesan dari larutan mata yang terkontanimasi kedalam mata yang luka oleh kecelakaan atau operasi dapat menghasilkan kehilangan penglihatan. Kerugian . 290 Sterilitas diinginkan karena kornea dan jaringan yang segaris dengan daerah arteria adalah media yang baik untuk m. Sediaan mata harus steril karena :  SDF . Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan 2. USP XXI menggambarkan larutan mata. Air mata. 5. salah satu mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lisozim. salep yang obat-obatnya larut dalam air. tidak seperti darah. dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lisosim) yang mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa m. dengan definisi semua bahan-bahan adalah lengkap dalam larutan. Salep mata umumnya menghasilkan bentuk yang lebih besar daripada larutan berair  AMA Drugs : 1624 Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep. tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya.  Prescription .

8. Jangan pernah menyentuh penetes pada permukaan apapun c. sementara penetes gelas dapat dengan dibungkus dan diotoklaf secara komersial disiapkan unit dosis tunggaol 7. salep mata umumnya menghasilkan bioavauabilitau yang lebih besar dibandingkan dengan larutan berair lainnya. wadah harus steril. Sampai kurang interior. Akan sangat membantu untuk latihan memakai obat dalam posisi didepan cermin g. pasien yang mematuhi aturan dari tekhnik pemakaian yang tepat. 2. Tempatkan penetes diatas mata. Jika penetes terpisah. Setelah penggunaan jangan menutup mata terlalu cepat dan usahakan jangan berkedip lebih sering dari biasanya karena dapat menghilangkan obat dari tempat efektifnya. 1584 1. Jika penetesnya terpisah. selalu tempatkan penetes dengan ujung mengarah kebawah b. 1586-1587 1.6. RPS 18th : 1585 Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsorpsi  DOM King . Wadah polietilen disterilkan dengan etilen oksida. tempatkan kembali pada botol dan tutup erat a. Jangan menggerakkan tetes mata yang telah mengalami perubahan warna e. usahakan untuk menjaga mata tetap terbuka dengan tidak berkedip paling kurang 30 detik 6. Jika anda mempunyai lebih dari satu jenis botol tetes yang sama. 142 Bahan aktif obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara topikal untuk kebanyakan obat kurang 1-3% dari dosis yang dimasukkan melewati kornea. Perbedaan salep mata dan tetes mata  RPS 18th . 367 Larutan mata disiapkan secara terus menerus dikemas dalam wadah tetes (dropsrainen) polietelin atau dalam botol tetes gelas untuk mempertahankan sterilitas larutan. Dengan satu tangan tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah 3. jangan menyentuhnya penetes pada mata atau jari 5. Jika penetes terpisah tekan bola karetnya sekali ketika penetes dimasukkan kedalam botol pembawa 4. . Cuci tangan 2. Sejak BA obat sangat lamvat. kelenjar sebaseus konjungtiva dan kornea serta iris. buka satu tutup botol saja beberapa menit sebelum menggunakan tetes mata yang lain f. Lepaskan penutup. Jangan pernah mencuci penetes d. kornea dan iris sedangkan salep mata bekerja pada kelopak mata.  Cara penggunaan tetes mata  RPS 18th . Pewadahan  SDF . Ditempat kerjanya tetes mata bekerja dari konjungtiva.

Sebaiknya bahan-bahan menguap dapat menyerap dari larutan kedalam atau melalui wadah plastik. pyocyamea. Satu yang seharusnya masih dipikirkan adalah wadah plastik. Ini dapat menyebabkan keilangan penglihatan pada 24-48 jam pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata. Lem label. . Scoville’s . Wadah plastik adalah permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan air. Meskipun beberapa botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran. antioksidan. larutan mata sebaiknya dibuat dalam unit kecil. RPS 18th : 1590 Wadah gelas sediaan mata tradisional dengan dilengkapi penetes gelas telah dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polieblen densitas rendah yang disebut ”droptrainers” hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih digunakan. 9. tidak pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil.  dengan volum0. tinta dan warna juga dapat berpenetrasi polietilen dengan cepat. Bahaya obat non steril  RPS 18th : 1568 Pseudomonas aerugunosa ( B.3ml atau kurang dikemasdalam tube polietilen steril edan disegel dengan pemanasan. Penetes normalnya disegel dan dikemas dalam blaster pack yang menyenangkan. Larutan intraokulir vulome besar 250-5—ml telah dikemas dalam gelas. 247 Wadah untuk larutan mata. mereka masih dilengkapi dan yang terbaik adalah untuk menulis secara langsung produksi untuk menghasilkan informasi terkini dalam perkembangan terakhir. Siap dapat menggunakan plastik dan dalam wadah larutan. reaksi quenchers dan yang mirip. Bacilus gram (-) juga menjadi sumber dari ineksi yang serius pada kornea. Basanya polietilen densitas rendah adlah tidak boleh alat tergantikan dengan gelas. Wadah gelas memberikan bahan wadah yang menyenangkan untuk penyiapan terus menerus larutan mata. Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan.tipe I digunakan wadah sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril kemudian disterilkan dengan autoklaf. menunjukkan bahwa semua zat beberapa strain dari organisme ini. P.5 ml adalah ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah pemaparan kontaminan. tetapi bahkan sediaan parenteral mulai dikemas dalam pabrik khusus wadah polieblen atau polipropilen. Wadah plastik dapat mengandung variasi bahan-bahan ekraneus seperti bahan-bahan pelepas jamur. biasanya karena pembatasan stabilitas. Blue Pus bacillus ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opportunis yang tambah baik pada kultur media yang menghasilkan toksin dan zat atau produk antibakteri cenderung untuk menambah kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeoginosa untuk tumbuh pada klur murni. A botol 7. Pyouganeus.

.

pendapar dan pengawet. (5 : 1526) Tetes hidung adalah larutan berair untuk dimasukkan ke dalam lubang hidung. Zat pendapar dapat digunakan dapar yang cocok dengan pH 6. kapasitas dapar sedang. dapat mengandung zat pensuspensi. Cairan pembawa sedapat mungkin mempunyai pH antara 5.5 dan dibuat isotonis menggunakan natrium klorida secukupnya.5 sampai 7. (2 : 10) Larutan untuk hidung umumnya larutan berair yang dirancang untuk digunakan pada hidung sebagai tetes atau dapar.5.TETES HIDUNG 1. isotonis atau hampir isotonis. Dahulu kala. mereka dapat menyebabkan pneumonia lipoid. Untuk alasan ini.1% b/v. Mereka dapat mengandung obat-obat vasokontriksi untuk mengobati kongesti nasal dan sering dilindungi dengan klorobutanol (0. (7 : 252) Tetes hidung adalah obat tetes yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung.01% b/v sampai 0.5%) atau bahan antiseptik lain yang cocok.01% b/v. Definisi Tetes Hidung Larutan untuk digunakan pada hidung disebut juga spray atau collunaria atau tetes hidung didefinisikan sebagai larutan berair atau berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau daerah nasofaring. Zat pengawet umumnya digunakan benzalkonium klorida 0. larutan minyak tidak direkomendasikan lebih lanjut. kadar tidak boleh lebih dari 0. Cairan pembawa umumnya digunakan air. jika tetesan minyak masuk ke dalam trakea. polisorbat atau surfaktan lain yang cocok. Zat pensuspensi dapat digunakan sorbitan. larutan minyak umum digunakan sebagai tetes hidung tetapi minyak dapat mengganggu aksi silia mukosa. (16 : 352) .

Mempunyai kapasitas buffer yang baik. lebih dipilih kurang dari 7. Larutan (spray. Mempunyai pH dalam rentang 5. pendapar.5. tetes hidung. dapat mengandung zat pensuspensi. Pemilik spray menyiapkan dalam wadah tipe bertekanan. Pembawa untuk larutan hidung sebaiknya: a. Penggunaan jangka waktu lama obat vasokontriktor dalam hidung dapat menyebabkan kerusakan mukosa hidung. obat-obat vasokonstriksi dan antiseptik.Tetes hidung dibuat dalam jumlah kecil (10 atau 25 ml) dalam botol gelas berwarna bergalur dengan plastik penyegel dan penetes. collunaria) Paling banyak sediaan untuk penggunaan lokal untuk rongga hidung adalah larutan berair. pengawet. larutan minyak jarang digunakan dan tidak direkomendasikan untuk penggunaan pada hidung. 2. .5-7. c. Isotonik atau mendekati isotonik. Jenis-jenis Sediaan Hidung (9 : 157) 1. (16 : 352) Kesimpulan : Tetes hidung biasa juga disebut spray atau collunaria merupakan larutan berair atau berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau daerah nasofaring digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. Minyak. Meskipun petrolatum cair terang secara luas digunakan pada masa lalu. khususnya minyak mineral berbahaya dan telah dibuktikan dapat menyebabkan pneumonia lipoid atau pneumonia inspirasi-minyak sehingga aspirasi atau inspirasi dalam beberapa cairan. b. Mereka selalu bercampur dengan aksi silia normal dan tidak membebaskan obat tidak larut secara efisien.

f. Mengandung pengawet untuk menekan pertumbuhan bakteri yang mungkin ada melalui penetes. Botol gelas amber konvensional dengan penetes obat atas sebaiknya digunakan untuk obat tetes. atomizer atau kemasan spray.d. Nozzle hendaknya dibilas dengan air dan kemudian dikeringkan dengan tissue sebelum digunakan. Kemasan spray plastik tersedia untuk pembuatan resep dengan instruksi "spray". Penetes hendaknya dibilas dengan air hangat dan dikeringkan dengan tissue sebelum menempatkannya kembali ke botol penetes. Pasien sebaiknya diberitahukan untuk menjaga kepala tetap lurus atau membengkokkan kepala sedikit ke depan. Pasien seharusnya diberitahu untuk menyandarkan punggungnya sementara memiringkan kepalanya ke belakang. g. Tidak mengubah viskositas normal mukus. Salep dan Jelly . sepanjang penggunaan pasien sendiri. Dapat bercampur dengan gerakan silia normal dan bahan ionik sekresi nasal. pasien sebaiknya tetap pada posisi ini 2-4 menit untuk membiarkan obat berpenetrasi ke dalam sinus. h. Wadah spray ditekan secara lembut sementara pasien bernafas perlahan. Setelah pengobatan keduanya. 2. e. Ujung nozzle kemudian ditempatkan ke dalam nostril tanpa penghambatan sempurna. Cukup stabil untuk menyimpan aktivitas diperpanjang. Dapat bercampur dengan bahan aktif. Penetes sebaiknya ditempatkan tepat masuk dalam nostril dan sejumlah yang diresepkan tetesan dimasukkan. Paling banyak larutan untuk hidung digunakan penetes.

Jelli larut air jarang digunakan untuk pengobatan vasokontriktor (Jelly efedrin) atau anestesi lokal (jelly Pramoxine) paling tinggi dalam kanal nasal ketika aksi diperpanjang diinginkan. dan bahan-bahan bercampur air. . 3. Propel Hexedril. Lubang hidung yang satu ditutup menggunakan tekanan jari. pengawet dan salep topikal penyejuk kadang-kadang digunakan untuk pengobatan inflamasi. metil selulosa. kepala dimiringkan ke belakang dan potongan plastik nasal (nozzle) secara hati-hati dimasukkan ke dalam satu nostril. Hidung sebaiknya menghembuskan untuk membersihkan nostril dan inhaler dikocok dengan segera sebelum digunakan. Sementara bernafas perlahan melalui nostril. Canister ditekan ke bawah secara hati-hati antara jari dan jempol untuk membebaskan dosis obat. Sediaan ini tidak membingungkan dengan inhalasi dimana obat atau penggunaan larutan obat sebagai nebulizer (kabut) dimaksudkan untuk mencapai jaringan pernafasan. eukaliptol. kondisi dermatologi dan celah vestibula hidung.Antibakteri. vasokonstriktor menguap adalah bahan aktif yang secara luas digunakan untuk sediaan hidung (Benzedrex inhaler). Jelli-jelli ini disusun dari tragakan. Sediaan basis minyak sebaiknya tidak digunakan dalam basis umum. Biasanya. Farmasis hendaknya secara hati-hati menginstruksikan pasien dalam penggunaan sehari bentuk dosis ini untuk memastikan keefektifan dan kelengkapan. inhaler dimasukkan. Inhalan Obat-obat atau kombinasi obat yang oleh dengan tekanan uap tinggi dapat membawa udara dengan segera ke dalam rongga hidung. Inhaler Hidung Bertekanan Beberapa produk inhaler bertekanan tersedia untuk penggunaan kortikosteroid untuk membran hidung. Mentol. dan timol secara luas digunakan dalam inhaler OTC. 4.

Memastikan dengan mengocok lagi inhaler sebelum digunakan. Jaringan kapiler ini menghubungkan sistem vena superfisial pada sistem arteri yang lebih dalam. Prosedur ini diulang untuk lubang hidung lain. Anatomi dan Fisiologi Hidung Anatomi dan Fisiologi Hidung (11 : 912) Proetz. Baik atropin . membran mukosa pernafasan terbatas pada bagian atas dan bagian tengah turbin dalam septum hidung. Lapisan mukus bergerak terus-menerus menuju ke faring dengan aksi pemukulan dari silia. Konsentrasi inhibitor kolinesterase yang sangat encer dan mempercepat pergerakan silia. seorang penulis fisiologi hidung menyatakan bahwa semua penyakit infeksi pada batang hidung disebabkan oleh satu sumber yaitu kegagalan menyaring dan membersihkan.Kemudian pasien hendaknya bernafas melalui mulut. Bagian terakhir merupakan lubang dan kelenjar mukosa. Ada tidaknya kontrol netral terlibat dalam pemukulan silia dalam hidung manusia belum diketahui saat ini. Sementara konsentrasi yang amat tinggi memperlambatnya. Vena balik merupakan ruangan darah superfisial menuju pleksus vena yang lebih dalam dan biasanya sangatlah besar seperti membentuk sinus yang besar. Epitelium pada bagian hidung mengandung sel-sel silia kolumnar dimana diselingi sel goblet. Karakteristik lain dari membran mukosa adalah mempunyai jaringan kapiler yang sangat banyak dalam epitelium dan di sekitar kelenjar. Bagian besar lubang hidung dilindungi dengan membran mukosa pernafasan. 3. Seperti berulang kali ia tekankan bahwa kelembaban adalah hal penting dalam mekanisme pertahanan utama hidung yang baik-pergerakan silia yang secara konstan menarik lapisan mukosa ke belakang ke arah nasofaring. Burn dengan jelas mengindikasikan bahwa asetilkolin diproduksi lokal dan konsentrasi lokal kolinesterase telah dideteksi.

Lapisan mukosa merupakan lapisan sekresi yang berlapis-lapis yang melindungi membran mukosa pada traktus pernafasan bagian atas dan memperluasnya di atas permukaan saluran hidung. faring. Pasien dengan rhinitis alergi kronis mengalami hal yang sama. Dengan ini menginjeksikan fluoresensi secara intravena. Di bawah kondisi normal benda-benda asing seperti debu. Mukus juga merupakan perlindungan pada mukosa itu sendiri. Komposisi mukus hidung tidak diketahui secara tepat karena tidak mungkin untuk mendapatkan sampel yang cocok untuk analisis kimia. Lapisan mukosa bergerak terus-menerus. sebagaimana dipercaya dahulu. Semua efek ini bersifat reversibel. Mukus merupakan sistem mukoprotein yang agak kental. meskipun ditransfer dari darah ke dalam cairan intestinal. Pemberian parenteral antihistamin telah terbukti menghambat reaksi inflamasi ini. zat warna tersebut masuk melalui sekresi hidung dengan mudah seperti eksudasi. Kelenjar mukosa bersekresi terus-menerus melalui proses grandular secara aktif. bakteri.maupun kurare akan memperlambat pukulan silia. Pada demam Hay akut derajat fluoresensi menyarankan bahwa setelah meningkat baik pada aktivitas eksudasi glandular. Ingelsted dan Ivstam telah menunjukkan bahwa obat fluoresensi ini tidak dapat dideteksi dalam sekresi hidung normal. bukan melalui proses pasif. eksudatif atau transudatif. Bagaimanapun jika mukus dihilangkan fluoresensi ditandai dengan saluran nasal dan mukosa menjadi banyak. tapi pasien rhinitis atau sinusitis akut. sinus paranasal. pseudoplastik. Arah aliran mukus masuk menuju nasofaring. . Jika larutan histamin ditempatkan dalam hidung tanpa merusak lapisan mukosa. tidak terjadi fluoresensi. trakea. bergerak melalui aksi silia. esofagus dan ke dalam perut. serbuk atau tetesan minyak terperangkap dalam lapisan dan dikeluarkan dari hidung menuju nasofaring. saliva dan cairan berair dan air mata.

Anderson dan Rubin percaya bahwa sedikitnya 20% kasus hidung gejalanya meningkat karena peningkatan viskositas yang menyebabkan kekeringan. debu dan alergi. Paling banyak rongga hidung ditutupi oleh membran mukosa yang secara ekstrim kaya akan jaringan kapiler dan mengandung sejumlah kelenjar mukus. Viskositas sekresi hidung penting untuk keefektifan aksi silia. Bila terlalu tipis atau terlalu tebal silia tidak mampu untuk menggerakkan lapisan mukus. Beberapa rongga terbuka dalam hidung disebut kolektif paranasal dan termasuk variasi sinus. Mukus hidung. seorang penulis fisiologi hidung menyatakan bahwa semua penyakit infeksi pada batang hidung berasal dari satu sumber yaitu kegagalan filter untuk membersihkan dirinya sendiri. ekuivalen (ester anhidrida.Mukoprotein telah ditemukan mengandung rantai polimer glukosamin dan atau asam glukoronat sebagai komponen protein. Mukus secara terus-menerus diproduksi dan disekresi dan lapisan mukus secara terus-menerus bergerak maju ke faring dengan aksi pemukulan silia. Ikatan ini dapat berupa ikatan ionik. obat (atropin). dibagi menjadi dua bagian oleh septum hidung. Proetz. psudoplastik. yang secara konstan menarik lapisan mukosa ke belakang menuju nasofaring. dikatakan 6 kali lebih kental dari mukus lambung. Kelembaban adalah bagian penting dalam mekanisme pertahanan hidung-silia yang baik. projeksi rambut kecil menutupi paling banyak rongga hidung. channel tinggi. Banyak hal yang dapat meningkatkan atau menurunkan produksi mukus diantaranya temperatur. Mukus merupakan sistem yang kental. hidrogen dan ikatan-ikatan lainnya). stimulasi atau depresi dan serangan virus. sistem mukoprotein yang bertindak sebagai pelindung untuk menutupi mukosa sebaik bahan-bahan yang . Anatomi dan Fisiologi Hidung (9 : 156) Rongga hidung adalah panjang. sempit.

Bagaimanapun sejumlah kecil penggunaan intranasal merupakan metode rute penggunaan yang baik untuk mencapai level darah signifikan dari obat. rhinitis. Aksi silia efektif atau pemukulan silia tergantung pada viskositas mukus. Beberapa kondisi dapat meningkatkan atau mengurangi produksi dan atau viskositas mukus. serbuk. Banyak simptom yang tidak menyenangkan dalam penyakit nasal adalah peningkatan viskositas dan dehidrasi sekresi. Di bawah kondisi normal.5-6.terperangkap masuk ke dalam rongga hidung. benda asing seperti debu. Sekresi nasal muncul untuk mempunyai sedikit kapasitas dapar dan terus-menerus penggunaan sediaan yang mempunyai nilai pH beberapa unit menghilangkan dari nilai normal yang dapat mengiritasi dan menyebabkan kerusakan jaringan. sementara sangat hipo atau larutan hipertonik dapat menyebabkan iritasi. sinusitis dan lain-lain. Beberapa obat diabsorpsi secara sistemik melalui vaskuler hidung setelah pemakaian intranasal dan sistem pembawa nasal semipadat dipelajari untuk mengontrol pembebasan obat. bakteri dan tetesan minyak terperangkap dalam lapisan mukus dan dikeluarkan dari hidung menuju nasofaring dimana ia akan tertelan atau dikeluarkan. Diantaranya adalah efek temperatur dan kelembaban. debu.9% NaCl) tampak dapat bercampur dan tidak mengiritasi hidung. serbuk. Sediaan hidung alkali sebaiknya tidak digunakan untuk kondisi inflamasi akut ketika hanya membuat keadaan menjadi lebih baik untuk mentoleransi variasi tonisitas yang relatif besar. larutan isotonis (0. pH normal sekresi hidung kira-kira 5.5. pH cenderung lebih meningkat menuju alkali dengan kondisi tertentu seperti dingin umumnya. dan alergi lain variasi obat. . infeksi bakteri dan virus.

Injeksi subkutan memberikan respon yang paling nyata dan cepat. Pentingnya rute pemberian dijelaskan. diikuti oleh penggunaan cairan oral. bagaimanapun khususnya jika sejumlah besar larutan digunakan atau diberikan untuk bayi atau anak kecil. 4. Pemberian obat pada pasien yang mual dan muntah memiliki kerugian nyata yaitu kesulitan menelan obat dan menahan obat dan relatif lambat. dan penggunaan pada hidung menempati posisi tengah. mempelajari absorpsi hiosin dan atropin dari mukosa hidung manusia.Absorpsi obat yang diberikan secara intranasal dapat terjadi dari jaringan pencernaan setelah mereka dialiri dari rongga hidung. Kapsul yang diberikan secara oral memberikan respon yang paling lambat. Rute intranasal tampaknya cukup ideal untuk tujuan ini karena kenyamanan dan kemudahan pemberian. paling banyak obat digunakan secara intranasal diberikan dalam jumlah kecil dari dosis. Absorpsi Obat Pada Hidung (11 : 915) Terdapat sejumlah kasus dimana absorpsi obat dibutuhkan pada kondisi saat injeksi parenteral atau pemberian rektal tidak praktis. Mereka menggunakan derajat penghambatan produksi saliva sebagai test untuk sejumlah obat yang diabsorpsi. Penemuan mereka menunjukkan kegunaan pemberian nasal untuk penggunaan obat. Potensi untuk absorpsi melalui rute ini perlu dipertimbangkan. efektif yang biasa atau dirusak oleh saluran pencernaan. Untungnya. Dalam semua kasus produksi saliva secara signifikan berkurang di bawah level kontrol. diikuti pembalikan menuju level normal. Tanndorf dan pekerjanya. Pemberian hiosin dalam garam normal dengan spray tidak menghasilkan respon sebaik penggunaan pada . Penundaan dalam kasus ini tampaknya tergantung pada waktu yang dibutuhkan untuk melarutkan kapsul dan garam alkaloid padat.

Setelah perlambatan gerakan terjadi di daerah lain. Pada konsentrasi 4-4. ketika 0. silia pada daerah tertentu berhenti bergerak. Bila konsentrasi NaCl ditingkatkan. 5. Bagaimanapun. Hasil penelitian ini telah diumumkan dan beberapa penemuan telah dirangkum sebagai berikut : (11 : 913-915) 1) Larutan NaCl Silia baik pada manusia maupun kelinci tetap aktif untuk waktu lama dalam larutan NaCl 0.9% pada suhu antara 25 0C dan 30 0C.01% natrium lauril sulfat ditambahkan. Respon Silia Terhadap Obat Respon silia terhadap obat dan pengaruh lainnya telah diteliti oleh Proetz dan yang lain. Monto dan Rebuck melaporkan penggunaan vitamin B12 dengan rute nasal. Bagaimanapun. semua aktivitas berhenti.9% maka aktivitas pada mula-mulanya berbeda dari . pemberian jumlah obat yang tepat dengan penggunaan spray ditemukan agak sulit. Penelitian tambahan terhadap kelompok yang termasuk pemberian sublingual. yang ditemukan lebih baik daripada rute nasal maupun subkutan dan hanya sedikit lebih baik daripada pemberian oral. pengurangan tegangan permukaan membiarkan obat berdifusi dengan cepat ke daerah absorpsi.5%.tetes hidung. Tidak ada komplikasi sekunder yang ditemukan. dimana obat diabsorpsi dengan baik atau sedikit lebih baik daripada tetes hidung. Penulis menemukan bahwa inhalasi kristalin vitamin B12 dalam larutan NaCl dan serbuk laktosa menghasilkan respon klinik cukup dan respon hematologikal dalam 12 persen pasien anemia yang kambuh. Jika membrane dicuci dengan air suling lalu dicelup lagi dalam larutan NaCl 0.

kontrol tapi kemudian akan kembali seperti semula. Penambahan NaCl pada berbagai konsentrasi tidak mampu mengembalikan pergerakan seperti semula. sekelompok silia bahkan tidak dapat dibedakan. Semua pergerakan akan berhenti pada konsentrasi 0. yang merupakan sistem yang digunakan untuk penggunaan klinis untuk jangka waktu yang lama. 3) Bahan Yang Bercampur Air Saat obat-obat sulfa populer dalam pengobatan hidung. Alkohol dalam cairan isotonis telah digunakan dalam konsentrasi sampai 10% terhadap efek yang nyata. ketajaman silia bahkan perlahan-lahan akan berkurang dan permukaan menjadi berkabut. Transfer kembali ke lingkungan normal akan mengembalikan aksi silia seperti semula. beberapa peneliti mempelajari penggunaan propilenglikol tidak larut sebagai pembawa untuk melarutkan bentuk asam dari sulfa. dan bahkan bahan pengkhelat lainnya untuk kalsium atau sulfat dan fosfat menghentikan pergerakan silia bila diberikan dalam garam fisiologis. sehingga mengurangi kealkalian yang tinggi dari sulfonamida. efek air suling setara dengan NaCl yang sangat encer. Meskipun propilenglikol murni sangat hipertonik yang akan menarik dari jaringan di sekitarnya. 2) Pengurangan Ion Kalsium Penggunaan tartrat. oksalat. dalam jangka waktu yang cukup.2-0. Bila konsentrasi larutan dikurangi.3%. Pada dasarnya. sitrat. Silia menjadi rusak permanen bila dipaparkan larutan hipotonis. Proetz menstimulasi sekresi mukus dengan penggunaan lokal larutan alkohol (4%) dan gliserin (4%) dalam larutan garam . Sejumlah tetesan mukus terbentuk pada silia. Pemberian berulang pada tikus dan kelinci menyebabkan sinusitis akut.

6) Larutan Perak dan Zink Pada penggunaan paling sedikit 0. Edema dan fragmentasi epitelium terjadi setelah kontak panjang argyrols (10%) dengan mukosa sinus frontal(harus diketahui bahwa argyrols merupakan kompleks protein perak oksida yang membutuhkan reaksi alkali kuat). Minyak tidak cocok sebagai pembawa karena obat yang terlarut di dalamnya karena obat-obat tersebut tidak mampu menembus mukosa dan mencapai lapisan seluler. 7) Larutan Kokain . maka minyak terletak stasioner sebagai lapisan berat yang menyebabkan gangguan pada aksi silia normal. 4) Minyak-minyak Bila digunakan dalam membran.normal. pergerakan silia awalnya dihambat tapi terpulihkan dengan baik setelah pemberian larutan garam hangat. Bila larutan digunakan dalam bentuk tetes. Hasil semua sama ditemukan setelah pemberian zink sulfat.5% perak nitrat menghancurkan silia. Namun. Hal ini menyebabkan turbinasi pada pasien dalam posisi duduk. Penggunaan minyak teriodisasi sebagai medium opak dalam X-ray untuk sinus dan bronki telah ditunjukkan sebagai prosedur yang aman. 5) Protein Perak Ringan Bila protein perak koloidal digunakan pada membran mukosa. maka akan timbul rasa sakit. Minyak-minyak juga berbahaya karena telah terbukti secara langsung menyebabkan pneumonia lipoid. minyak-minyak sayur yang mempunyai asam lemak bebas yang rendah dikatakan kurang berbahaya daripada minyak mineral atau minyak hewan.

5%.5-1%) dalam larutan garam normal tidak menghasilkan perubahan aksi silia. dan hal yang sama dapat diasumsikan pada kebanyakan komponen simpatomimetik sintetik yang umum digunakan. kokain memparalisis silia. eukaliptol. Tidak diketahui apakah data ini dalam perlakuan di bawah kondisi isotonis. Suspensi berair tirotrisin (1:2000 dan 1:5000) menahan pergerakan silia dengan sempurna. Uap tidak berefek. Namun Fabricant melaporkan bahwa . Pemulihan aktivitas normal diharapkan. dan bahan-bahan Bahan-bahan ini dapat menyebabkan pengurangan pergerakan silia dan efek yang merugikan lainnya.1% tidak mempunyai efek yang berarti. pada konsentrasi yang lebih rendah tidak ada efek selain pengerutan dan penyusutan permukaan.Pada konsentrasi lebih dari 2. 9) menguap lainnya Kamfer. kecuali dengan timol. mentol. tidak mempunyai efek pengurangan atau merugikan membran mukosa hidung. 10) Antibiotik Penisilin (garam natrium) tidak merusak silia bila digunakan dalam larutan yang mengandung 250 dan 500 unit/ml (dalam NaCl isotonis). Pada konsentrasi 5000 unit/ml terjadi penurunan kecepatan pukulan dan bahkan menghentikan aksi. Streptomisin dalam garam isotonis dalam 1000 unit/ml atau kurang. Larutan dengan konsentrasi kurang dari 0. 8) Larutan Efedrin Konsentrasi efedrin (0. timol.

14) Larutan Timerosol Konsentrasi 1:1000 timerosol atau lebih sangat ekstrim dan menyebabkan penghentian gerakan silia secara permanen setelah pemberian 4 menit. . atropin menyebabkan pengeringan dan bahkan perhentian gerakan silia. sebagaimana air suling sendiri. Bentuk asam bebas dari sulfonamida. Tampaknya kuartener tidak merugikan bila digunakan dalam medium isotonis. Pemakaian lokal mengurangi produksi mukosa. Garam-garam sulfonamida lainnya seperti Na-suldosetamida.penggunaan Na atau Ca Penisilin (Ca atau Na) sampai 5000 unit/ml tidak mempunyai efek pada membran mukosa pernafasan kelinci. tidak hanya pada silia tapi juga pada berbagai lapisan pada mukosa hidung. silia bergerak aktif apabila dicelup selama 1 jam dalam larutan ini. efek menyengat terjadi setelah pemberian berulang. 12) Natrium Sulfarthiazol Bila diberikan dalam larutan berair 5%.000. yang mungkin dapat menyebabkan kerusakan. yang dapat didapar di bawah pH tanpa pengendapan. 13) Benzalkonium klorida dan Larutan Kuartener Lainnya Larutan berair benzalkonium klorida 1:1000 dan 1:2000. Tidak tercatat efek yang merugikan pada efektivitas silia bila digunakan kuartener pada konsentrasi yang sama dalam larutan ragam isotonis. akan menunjukkan sedikit reaksi kerusakan. terlarut dalam propilenglikol atau campuran propilenglikol-air dikatakan kurang mengiritasi. menyebabkan penghentian aksi. natrium sulfathiazol tidak mempengaruhi pemukulan silia dengan cepat dan berarti. 11) Atropin Bila diberikan secara oral. tapi pada pH sekitar 10 (alkali tinggi). Baik pada kontrol garam dan larutan garam kuartener 1:10.

b. Jika terdapat inflamasi kuat.05% Na-Lauril Sulfat dilaporkan menyebabkan sedikit rasa membakar. Surfaktan nonionik tampaknya ditoleransi pada konsentrasi yang lebih tinggi. larutan dektrosa isotonis dan larutan NaCl isotonis telah menjadi bagian dari pelarut untuk sediaan ini. Na-dioktil sulfosuksinat dan alkil benzen sulfonat telah dicuci pada membran excise dan intact.01% dapat ditoleransi tanpa efek. Larutan yang sedikit asam lebih efektif dalam pengobatan flu dan infeksi sinus. pergeserannya menuju ke lebih asam. Hampir 0. Konsentrasi Ion Hidrogen Fabricant telah menemukan bahwa pH sekresi hidung orang dewasa tidak tetap tetapi secara normal bervariasi dari 5.15) Surfaktan Anionik dan Nonionik Beberapa surfaktan anionik berbeda termasuk Na Lauril Sulfat. Jadi. Sementara penggunaan larutan asam cenderung untuk meningkatkan keasaman sekresi.5-6. 6.5. sementara pH hidung anakanak pada range 5-6. Lebih dari 200 pasien menggunakan larutan yang mengandung 0. Telah ditemukan bahwa penggunaan obat alkali dalam hidung cenderung untuk meningkatkan sekresi lebih alkali.7.01% dan dilaporkan tidak terjadi sensasi yang berarti pada penggunaanya. pH cenderung naik menjadi alkali selama serangan rhinitis akut. Larutan 0. Isotonisitas Penggunaan larutan berair lambat laun memusatkan perhatian pada pertanyaan tonisitas karena ditemukan bahwa baik larutan konsentrasi rendah dan tinggi keduanya menyebabkan iritasi pada membran mukosa hidung yang tidak nampak jika larutan isotonis atau sedikit hipertonis digunakan. Syarat-syarat Tetes Hidung (7 : 253) a. Oleh karena .

aksi menyengat pada membran mukosa dan cenderung menginduksi sensitivitas obat. Telah ditunjukkan bahwa obat dari garam Na sulfonamida telah merusak aksi silia. Larutan sedikit asam dalam reaksinya. Pemilik spray menyiapkan dalam wadah tipe bertekanan. sifat mengiritasi dan penguraian sulfonamida. atau sedikitnya memperpanjang kondisi ini. Ini adalah sulfonamida larut dan esensial netral dalam reaksi (pH 7. Pewadahan (16 : 352) Tetes hidung dibuat dalam jumlah kecil (10 atau 25 ml) dalam botol gelas berwarna bergalur dengan plastik penyegel dan penetes. Untuk mengatasi alkali kuat. Yonkman telah merekomendasikan penggunaan propilenglikol untuk obat-obat ini. sulfonamida yang umum digunakan dalam tetes hidung adalah sulfasetamid Na dan sulfisoxazol dietanolamin. Asam rendah adalah tidak menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri. . 7.itu. Penggunaan jangka waktu lama obat vasokontriktor dalam hidung dapat menyebabkan kerusakan mukosa hidung. Bagaimanapun.4-7. Konsentrasi ion hidrogen dalam larutan hidung juga penting untuk alasan lain. Perubahan pH juga berhubungan dengan aksi silia normal dan menghambat aksi perlindungan silia. Dia menggunakan 3% larutan propilenglikol sulfathiazol dan 10% larutan sulfonamida. penggunaan tetes hidung yang lebih alkali selama rhinitis dan rhino sinusitis akut dikontraindikasikan karena cenderung untuk membuat sekresi abnormal yang sudah alkali lebih alkali. yang sangat tidak diinginkan.5) dan tidak menyebabkan iritasi disebabkan oleh sulfonamida yang lebih alkali.

INJEKSI 1 Definisi Injeksi  FI III : 13 Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. emulsi.  FN : 317 Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan .  Scoville's : 124 Injeksi adalah larutan yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik. suspensi. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.  Parrot : 283 Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril yang diberikan dengan menembus satu atau lebih lapisan kulit.  PTM : 3 Injeksi adalah sediaan cair dari obat yang dimaksudkan ke tubuh atau melalui kulit atau selaput lendir. emulsi. atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan.  RPS 18th : 1545 Parenteral merupakan rute pemberian obat melalui injeksi di bawah untuk menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa. suspensi.

pembuluh darah betul-betul kecil. Ketika sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi. suspensi.2 Rute-rute Injeksi  DOM Martin : 970 1. II. lapisan pembuluh darah dalam kulit. maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir atau menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa menggunakan alat suntik. Intramuskular Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. b. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.1. Parenteral Volume Kecil a. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset . atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan.lebih dahulu sebelum digunakan. Intradermal Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis" yang berarti sensitif. Kesimpulan Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril berupa larutan. emulsi.

digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia. e. Rute Injeksi Lain Selain empat rute parenteral primer.  Rute intra-arterial. disuntikkan langsung ke dalam arteri. disuntikkan langsung ke dalam jantung. digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal jantung. kadang-kadang untuk aksi lokal daripada efek sistemik. digunakan untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh. c. tetapi lebih besar daripada rute subkutan.  Intrakardial. injeksi ke dalam serebrum. dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir sekejap. Ketika tidak ada absorpsi. puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera. Subkutan Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit.  Intraserebral. beberapa rute juga digunakan untuk aksi khusus. Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM. . Intravena Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena.sedikit lebih normal daripada rute intravena. d.

injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal. b. Kerugiannya adalah meliputi : (1) gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar. dan (5) kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan. (3) efek sistemik dapat segera dicapai. (4) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan. hanya rute intravena dan subkutan yang secara normal digunakan. dan (4) pembatasan cairan berair. (2) perkembangan potensial trombophlebitis. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.  Intraperitoneal dan intrapleural 2. Parenteral Volume Besar Untuk pemberian larutan volume besar. Intravena Keuntungan rute ini adalah (1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC. Intraspinal. a. (3) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septik. (2) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat. Subkutan Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika rute intravena tidak dapat .

Intramuskular (i. Subkutan (s. Hal ini memungkinkan dengan hati-hati untuk memberikan volume kedil larutan pekat yang secara normal akan mengiritasi jaringan. Dibandingkan dengan rute intravena.  PTM : 6-11 1. volume injeksi tidak lebih dari 1 ml. jenis cairan yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat tambahannya. Intravena (i. Rute ini diberikan secara perlahan-lahan sehingga larutan diencerkan oleh darah mengalir melewati titik dimana jarum .m) Injeksi yang secara langsung dimasukkan ke dalam otot. biasanya lengan atau daerah panggul. Cairan volume besar secara relatif dapat digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat. 3. Rute ini juga digunakan jika obat mengiritasi atau tidak larut dalam air atau minyak sehingga obat tersebut harus digunakan dalam bentuk suspensi. absorpsinya lebih lambat. Volume injeksi harus tetap kecil.digunakan. 2.c) Injeksi yang dimasukkan ke dalam jaringan lunak tepat di bawah permukaan kulit karena ketersediaan ruangan dalam jaringan terbatas. lebih nyeri dan tidak menyenangkan.v) Injeksi yang dimasukkan langsung ke dalam aliran darah. Perhatian diinginkan untuk membuat formulasi yang berhubungan dengan kondisi pH dan tonisitas. umumnya tidak lebih dari 2 ml.

Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal. Intrakutan (i.disuntikkan. Proses ini membutuhkan bantuan kateter. merupakan suatu rute yang mana digunakan untuk menginjeksi ke dalam aliran darah volume besar dari larutan hipertonik atau larutan teriritasi seperti dekstrosa 70%. sesuai keadaan tubuh pasien. Kateterisasi meliputi proses pembedahan dan secara .c) Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah stratum corneum. 4. 5. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal.5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin.1-0. Rute ini juga digunakan untuk pemberian volume besar dari penggantian dan larutan hiperalimentasi. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0. Intrakardial Secara langsung ke dalam jantung. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Intratekal Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. 6. 7. Intra-artikular Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi.

9. pemakaian cairan secara hiperdermoklisis dapat diindikasikan jika kecepatan absorpsi lambat diinginkan atau jika tidak ada vena yang cocok (misal untuk bayi atau lanjut usia). disebut hipodermoklisis. Intrasisternal dan Peridural Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Indikasi : Meskipun jarang digunakan sekarang. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal. dengan keadaan kritis untuk injeksi.p) Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. dektrosa 2.45% larutan garam. Intraperitoneal (i. dan garam normal dapat diinjeksikan untuk mempertahankan atau pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit. cairan . Larutan hipertonis.umum hanya dilakukan dalam unit-unit tertentu dari rumah sakit yang lebih besar.5% dalam 0.  PDF : 26-29 o Hiperdermoklisis Deskripsi : kegunaan rute pemakaian subkutan untuk infus larutan volume besar ke dalam jaringan subkutan. Perhatian : Injeksi harus diberikan perlahan-lahan untuk mencegah pembengkakan jaringan. 8. Cairan seperti Ringer Laktat. Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan.

hati. dan lainnya berbeda dari pH tubuh secara signifikan tidak digunakan. atau arteri perifer).v dapat dihubungkan dengan reaksi sistemik serius) yang dapat tercapai. dimana perfusi regional dengan konsentrasi tinggi dari obat toksis (yang bila diberikan secara i. pulmonari. emulsi lemak. Penggunaan rute intra-arterial untuk tujuan pengobatan adalah jarang dan terbatas pada umumnya untuk kemoterapi organ tertentu. Perhatian: Rute ini sangat berbahaya karena produk-produk yang menggunakan rute ini tidak diencerkan secukupnya ataupun disaring untuk paru-paru. asam amino. Indikasi: Rute intra-arterial digunakan umumnya untuk tujuan diagnosis seperti menginjeksikan bahan-bahan radiopak untuk studi roentgenografik dari cadangan vaskuler pada berbagai organ atau jaringan (seperti koroner. serebral. Infeksi lokal adalah umum dan mungkin menjadi masalah.bebas elektrolit. seperti mengobati kanker lokal tertentu (seperti melanoma malignant pada ekstremitis bawah). Hampir semua arteri dicapai dengan kateterisasi arterial. ginjal sebelum kontak dengan jaringan perifer atau organ vital yang terlindung oleh . renal. o Intra-arterial Dekripsi : Injeksi atau infus ke dalam arteri yang membawa langsung pada organ target. sejumlah besar cairan dapat dibawa dari kompartemen vaskuler. Bila larutan noneletrolit hipertonik disuntikkan. enterik. menghasilkan penurunan volume plasma dan shok.

Dermatologis umumnya menggunakan rute ini untuk mengobati psoriasis. sarkoid. seperti infeksi (baik intra-arterial atau ekstra-arterial) atau tromboembolisme arteri atau vasospasme. kerusakan pada intima arteri dan dinding pembuluh dapat terjadi. lichen simpleks. yang dapat menyebabkan iskemia. sehingga ekstravasi perdarahan serius ataupun aneurisme disserting dapat terjadi. Produk yang terkontaminasi dengan mikroorganisme endotoksin dan atau bahan partikulat dapat menyebabkan komplikasi serius atau reaksi. Terapi serupa ditemukan tidak berguna pada rabies. atau gangren pada jaringan atau organ.arteri. infarksi. embolisme udara dengan akibat iskemia dan atau infarksi jaringan dapat terjadi. Jika udara diinfuskan dengan tidak sengaja. dan keadaan yang biasanya tidak muncul apabila sejumlah kecil udara diinfuskan ke dalam sistem vena. bila teknik pemasukannya salah. o Intralesional Deskripsi: Injeksi bahan obat langsung ke dalam atau di sekitar luka. lichen planus hipertropikus. untuk mencapai efek terapetik. dimana diinjeksikan langsung ke dalam atau di sekitar tempat gigitan. herpes zoster (dan post-zoster neuralgia) dan jerawat sistik atau . Sebagai tambahan. Indikasi : Injeksi bahan-bahan obat ke dalam atau sekitar luka umumnya telah berguna jika diinginkan untuk menetralkan berbagai toksin seperti tetanus dimana injeksi antitoksin ke dalam atau sekitar luka telah digunakan. biasanya pada atau dalam kulit atau jaringan lembut.

dengan steroid lokal. Intravitreal : injeksi langsung ke dalam lubang vitreous pada mata. 3. injeksi subkonjungtiva (dan retrobulbar) bukanlah injeksi intraokuler. Subkonjugtiva : meskipun termasuk di bawah intraokuler. Keloid juga telah sering ditangani dengan injeksi lokal seperti ini. sehingga obat-obat berdifusi melalui limbus dan sklera ke dalam mata. Dengan penyakit infeksi.nedulus. tetapi biasanya dengan steroid berdosis tinggi. Indikasi : Setiap rute digunakan untuk pengobatan infeksi dan inflamasi pada maya yang tidak diobati secara efektif oleh pengobatan secara topikal atau sistemik. penyebaran lokal dari proses yang diobati dapat terjadi. Chamber arterior: injeksi atau irigasi langsung ke dalam chamber anterior mata. untuk anestesi globe (retrobulbar) dan untuk dilatasi pupil dengan sikloplegik dan . Retrobulbar : injeksi di sekitar ( bukan ke dalam) bagian posterior bulat. 2. biasanya dari organisme yang baru masuk pada nasokamial. Perhatian : Komplikasi yang paling sering terjadi yaitu infeksi. tergantung pada tipe luka yang diinjeksikan. o Intraokuler Deskripsi : Ada 4 tipe injeksi intraokuler yang digunakan : 1. 4. lingkungan steril harus disiapkan sebelum diinjeksikan. Injeksi semacam ini diberikan di bawah konjugtiva. Meskipun mengalami kesulitan.

umumnya bila proses penyakit adalah kerusakan fungsi . pipa tidak permanent dimasukkan ke dada melalui pembedahan. Perhatian : Perhatian ekstra dan teknik tepat diinginkan untuk meminimalkan atau mencegah kerusakan pada mata. Komplikasi yang dapat timbul tergantung pada seleksi rute.1-0. infeksi atau keganasan meliputi lubang pleura. katarak dan injeksi obat langsung ke dalam sirkulasi dengan efek sistemik.2 ml. sebab infeksi dapt menyebabkan kerusakan pada mata yang cepat dan atau kebutaan. rute ini dapat digunakan untuk tujuan irigasi atau untuk injeksi obat berulang. umumnya tidak lebih dari 0. pelepasan retina. Volume larutan yang dapat diinjeksikan ke dalam mata biasanya terbatas. Memasukkan obat ke dalam mata adalah mengalami kesulitan. terutama pada endotelium kornea. Oleh karena dibutuhkan pengetahuan yang baik tentang anatomi dan fungsi mata maka ahli mata yang dapat melakukannya. Seringkali. perdarahan. sebagai transpor intraokuler dan difusi adalah miskin. Injeksi intraokuler adalah dilengkapi seringkali oleh infus intravena obat terapetik. Pemilihan tipe injeksi intraokuler tergantung pada penyakit yang ada dan lokasi yang tepat pada penyakit tersebut pada mata.midriatik. adalah kerusakan saraf mata. nekrosis retina. Indikasi : Seringkali. Infeksi selalu berbahaya dan harus sedapat mungkin dicegah. o Intrapleural Deskripsi : Biasanya diinjeksikan tunggal ke dalam lubang pleura.

pernafasan. Perhatian : Komplikasi yang paling sering disebabkan oleh infeksi intrapleural adalah pneumothorax (kolaps paru-paru). maka di tangan ahli yang kurang berpengalaman. prostaglandin E atau urea ke dalam rahim yang hamil digunakan setelah 16 minggu kehamilan untuk menginduksi kerja dalam aborsi medik atau membawa fetus yang masih hidup. adhesi. penebalan pleura dan restriksi pernafasan. Juga penyebaran karsinoma atau mesothelomas pleura dapat diobati dengan injeksi intrapleural lokal dan bahan-bahan antitumor atau sclerosis. bahan-bahan yang berbeda untuk . o Intrauterin Deskripsi : Diinjeksikan atau diinfuskan melalui jarum yang dimasukkan secara perkutan ke dalam rahim yang hamil. Enzim (seperti streptokinase dan streptodornase) dapat diinjeksikan pada empyemas cair tebal yang todak dapat dihilangkan oleh absorpsi atau repsorpsi secara alamiah. maka digunakan rute ini. Meskipun kebanyakan aborsi dilakukan menggunakan terknik operasi. aborsi medik melalui injeksi intrauterin ini berguna. Hal yang terakhir lebih sering terjadi saat pipa dada berada di dalam dada untuk periode waktu yang panjang. Bila bagian kiri tidak terobati. terutama bila infus berulang menjadi masalah. Sebagai tambahan. perdarahan intrapleural dan atau infeksi superimposed. empyemas dapat menyebabkan fibrasis. Indikasi : Injeksi atau infus bahan-bahan tertentu seperti garam 20%.

yang diakibatkan oleh semua masalah yang disebabkan rute ini. Rute ini digunakan terutama dalam situasi dimana obat-obat yang digunakan berdifusi atau lewat dengan buruk dari kompartemen vaskuler ke dalam ventrikel dan ruang subarachnoid dan atau dimana efek samping sistemik dari bahan partikulat diinginkan (seperti dalam pengobatan meningitis fungi dengan amfoterisin β atau dalam terapi infiltrasi leukemia dengan methothexate). kematian dapat terjadi. Kemungkinan di tangan orang yang tidak berpengalaman. o Intraventrikuler Deskripsi : Diinjeksikan langsung ke dalam ventrikel lateral otak. Perhatian : Oleh karena cairan serebrospinal adalah organ yang kritis sebagai otak dan cordspinal dank arena salah satu . pembengkakan rahim atai saluran kemih dapat diinjeksikan.v pada pasien. sindrom koagulopati intravaskular terhambur dapat terjadi. Perhatian : Infeksi (amnionitis dan myometritis) adalah komplikasi yang paling umum terjadi. Untungnya hal ini jarang terjadi. Bila garam 20% tidak diinginkan untuk diinfuskan secara i. Indikasi : Rute ini utamanya digunakan selama pengobatan infeksi (seperti meningitis bakteri atau fungi dan atau ventrikulitis) dan keganasan (seperti infiltrasi leukemia dari meningitis atau karsinomatosa) melibatkan membran dan cairan serebrospinal yang meliputi SSP.studi roentgenografik dapat diinjeksikan untuk studi anomaly kongental yang potensial. Seringkali.

fungsinya dipercaya untuk menjaga atau melindungi cairan dari organ ini. dan biologic. tuberculosis (Old Tuberculin. Injeksi Intramuskular Larutan berair dan berminyak dan juga bentuk suspensi diberikan melalui rute intramuscular. 4. seperti anestesi lokal.v untuk mengganti cairan darah yang hilang akibat shok. Injeksi Intra-arterial Digunakan ketika aksi segera diinginkan pada daerah perifer. Intradermal atau injeksi intrakutan Untuk diagnosa atau test penyakit tertentu. BP). atau cairan tubuh hilang oleh diarrhoeia. Injeksi Subkutan atau Hipodermik Obat-obat vasokontriksi seperti adrenalin dapat ditambahkan untuk efek lokal. Adanya bahan asing. operasi pembedahan. 3. . (seperti Phytomenadion Injection. kimia. tetapi kadang-kadang emulsi minyak dalam air. Pemisahan cairan atau membran termasuk deleterius dan mungkin mati. luka. seperti diphtheria (shick test). Intravena Larutan berair. seperti pada kolera.  Textbook of Pharmaceutics : 553 Injeksi parenteral adalah salah satu yang disuntikkan di bawah satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa ke dalam daerah khusus dari tubuh. 2. jika diinjeksikan ke sistem dapat mengendapkan inflamasi. Volume besar 500 ml atau lebih diberikan dalam bentuk infus i. 5. Derivat Protein Tuberculin Murni). Jenis-jenis berikut yang tersedia : 1.

1. 2.6. 9.Bila memungkinkan. Injeksi Peridural Injeksi peridural dapat dibuat dalam daerah torax. Tidak mengandung bakterisida. Injeksi Intrasisternal Untuk pemberian antibiotik.Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan. asma. lumbar dan sakral. terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien harus kembali untuk pengobatan selanjutnya.3 Keuntungan Injeksi  SDF : 11 1. seperti insulin. Injeksi Intratekal atau Subarachnoid Digunakan untuk anestesi spinal. pasien tidak dapat menerima obat secara oral. 8. Juga dalam beberapa kasus. II. . yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung. Injeksi Intrakardial Diinjeksikan secara langsung pada otot jantung atau ventrikel untuk pengobatan darurat. 3. shok. hormon dan antibiotik.Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif.Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan. mual atau tidak sadar harus diberikan secara injeksi. 7. 4. bebas bahan partikulat.

 Parrot : 283 Beberapa obat mempunyai keuntungan dibandingkan dengan pemberian secara oral.Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok. nutrisi total diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral.  PTM : 6 1. 6.Beberapa obat. Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan elektrolit. bentuk parenteral tersedia. pemberian intravena dapat menyelamatkan hidupnya. termasuk injeksi steroid periode panjang secara intra-artikular dan penggunaan penisilin periode panjang secara i. tetapi dapat ditoleransi ketika diberikan secara intravena.Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut. 4. 7. 8. misalnya larutan kuat dektrosa. 2.Aksi obat biasanya lebih cepat. 3. .Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral. 5.Seluruh dosis obat digunakan. dan harus diberikan secara parenteral.5. secara lengkap tidak aktif ketika diberikan secara oral.Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang. seperti insulin dan heparin.Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti pada gigi dan anestesi.m.

pemberian parenteral dapat memberikan efek yang segera dan menentu. Anestesi lokal digunakan oleh dokter gigi untuk menginjeksi dekat batang dari serabut dan membantu sensasi nyeri segera pada daerahnya.Injeksi dapat menghasilkan efek lokal.Yang terakhir. 2. 4. bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute yang lain.Respon fisiologis dari injeksi lebih cepat dan efektif dibandingkan pemberian secara oral. karena pada pemberian dan pengemasan. 2. 4.4 Kerugian Injeksi  SDF : 11 1.Pemberian rute ini adalah penting ketika jalur gastrointestinal tidak dapat digunakan karena pembedahan atau kekurangan stabilitas.Pada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat dihindari.Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian rute lain.1.  PTM : 11 . 3. II.Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya.Dalam kasus darurat dimana pasien tidak sadar atau tidak menerima obat oral. 3.1. seperti obat-obat penisilin dan penisilin G.

dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis.Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. 5. Efek sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis.Sekali digunakan. II. 4.Reaksi sensitivitas lebih sering terjadi pada parenteral daripada bentuk sediaan lain. 2.v. pada bagian yang diinjeksikan.Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien.Dalam beberapa kasus. Injeksi dapat dikemas sebagai unit dosis .Perhatian harus diberikan untuk injeksi intravena. 3.1. ditujukan untuk penggunaan parenteral yang dikenal sebagai injeksi.Dibutuhkan orang-orang yang terlatih untuk pemberiannya. terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i. injeksi itu tidak nyaman.Terapi parenteral lebih mahal daripada bentuk yang lain karena penggunaan dan produksinya.Umumnya. Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah penggunaan.  Parrot : 283 Beberapa orang tidak menyukai pemberian injeksi karena : 1.5 Komposisi Injeksi  SDF : 16 Obat-obat dalam larutan dalam pembawa yang cocok. 2. 3. dengan atau tanpa bahan tambahan. efeknya sulit untuk dikembalikan lagi. obat dengan segera menuju ke organ targetnya.1. 4.

Asam askorbat Sistein Monotiogliseril Tokoferol Bahan antimikroba atau pengawet  Benzalkonium klorida  Benzil alkohol  Klorobutanol  Metakreosol  Butil p-hidroksibenzoat  Metil p-hidroksibenzoat  Propil p-hidroksibenzoat  Fenol  Timerosol c.tunggal atau unit dosis ganda.Bahan tambahan a.Bahan aktif 2. Selain itu digunakan :     b. Antioksidan Garam-garam sulfurdioksida. volumenya dapat sejumlah setengah milliliter. seperti injeksi Atropin Sulfat atau sebanyak 1 L seperti injeksi dektrosa.  Modern Pharmeceutics : 450-457 1. termasuk bisulfit. metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Buffer .

Bahan pengisotonis   Dekstrosa NaCl i. Bahan pelindung     Dekstrosa Laktosa Maltosa Albumin serum manusia .   d. Gas inert   f. Nitrogen Argon Bahan penambah kelarutan (Kosolven)      Etil alkohol Gliserin Polietilen glikol Propilen glikol Lecithin g. Surfaktan   Polioksietilen Sorbitan monooleat h. Bahan pengkhelat Asetat Sitrat Fosfat Garam etilendiamintetraasetat (EDTA) e.

6 Syarat-syarat Injeksi  PTM : 11 Rangkuman dari syarat-syarat utama dari produk injeksi : Karena kritikal alami.1. Pembawa air Menggunakan air untuk injeksi b. Pembawa nonair dan campuran o Minyak nabati     o Pelarut bercampur air     II.j. sediaan parenteral harus disiapkan secara hatihati.Pembawa a. Bahan penyerbuk     Laktosa Manitol Sorbitol Gliserin 3. mengontrol kondisi lingkungan dan pengemasan untuk menjamin bahwa pada penggunaan produk : Gliserin Etil alkohol Propilen glikol Polietilenglikol 300 Minyak jagung Minyak biji kapas Minyak kacang Minyak wijen .

teknik aseptik dan manipulator akan . pH dan tekanan osmotik. kebebasan dari mikoorganisme hidup dijamin pada awalnya dengan pembuatan produk dengan proses sterilisasi yang sah. Dalam injeksi volume besar. Istilah steril adalah mutlak dan seharusnya tidak pernah digunakan atau betul-betul dipertimbangkan dalam suatu cara relatif baik sebagian atau hampir steril juga diharapkan dalam penanganan berikutnya dari produk selama pemberian. Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik lainnya. Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut. b.a.  Parrot : 284 Semua bahan-bahan yang dimasukkan ke epidermis tubuh harus bebas dari mikroorganisme. Bebas dari mikroorganisme. c. kemudian pengemasan produk dalam dalam suatu bentuk yang meyakinkan penyimpanan dari sifat ini. bebas dari semua mikroorganisme hidup.  SDF : 37 1) Sterilitas Semua bentuk sediaan yang diberikan secara parenteral. dan aliran harus secara fisiologi bercampur dengan cairan tubuh. steril atau dibuat dari bahan-bahan steril di bawah kondisi yang kurang akan adanya kombinasi mikroorganisme (proses aseptik). larutan optalmik dan beberapa dosis medis yang digunakan dalam hubungannya dengan pemberian bahan yang harus steril. pirogen dan iritasi.

dan metode efektif dari pemberian. partikel plastik. 2) Bebas dari bahan partikulat Bahan partikulat mengacu kepada bahan yang bergerak.menjamin pengeluaran berlanjut dari mikroorganisme hidup. Dalam beberapa hal. yang tanpa sengaja ada dalam sediaan parenteral. komposisi ini dari berbagai sumber. Komposisi dari bahan partikulat yang tidak diinginkan bervariasi. ketombe dan sebagainya. karet. Teknik aseptik yang tepat untuk penyiapan dan pemberian bentuk sediaan steril akan didiskusikan selanjutnya. awalnya ini adalah alasan fisiologis misalnya pengaruh larutan terhadap bahan yang tampak terhadap pasien yang menerimanya dalam injeksi akan merupakan gambaran kesimpulan produk yang beredar di pasaran. dengan adanya bahan yang mengapung. penampilan. kebutuhan. serat kapas. Bahan asing yang ditemukan dalam sediaan parenteral meliputi selulosa. Saat gelas ampul mulai terkenal sebagai . Bagaimanapun. Kehadiran bahan partikulat dalam sediaan larutan parenteral diperhatikan karena konsep rute pemberiannya. gelas. bahan kimia tidak larut. Pengaruh Secara Biologis Kejernihan. Walaupun rute parenteral dapat menyiapkan lama penyimpanan. mengingat yang lain memiliki sumber khusus tersendiri. karet diatomae. tidak larut. logam. namun dipercaya bahwa bahan-bahan dari luar yang tidak disengaja dapat berbahaya. atau tidak adanya bahan partikel yang tampak selalu dipertimbangkan sebagai persyaratan untuk produk parenteral.

wadah pengemasan. 3. Definisi Pirogen didefinisikan sebagai produk metabolit yang berasal dari mikroorganisme hidup. Istilah seperti "sait fever". . Larutan itu sendiri dan bahan kimia yang dikandungnya. atau mikroorganisme mati yang dapat menyebabkan respon demam setelah penyuntikan. Pirogen diproduksi oleh mikroorganisme gram-negatif yang sangat poten. Proses pabrikasi dan berbagai variabel seperti lingkungan. Alat dan peralatan yang digunakan saat pemberian produk. 4. dan peningkatan suhu tubuh (demam). Sumber Bahan partikel dapat masuk dalam larutan parenteral dengan berbagai cara dan sumber : 1. Ekstrak pirogen kering muncul menjadi stabil sepanjang waktu. 3) Bebas dari Pirogen Sekarang dalam praktek pemberian obat secara parenteral. 5. dan "salvarsan fever". 2. "protein fever". Reaksi-reaksi ini antara lain malaise. Komponen kemasan dan kandungannya. sakit kepala. Manipulasi yang melibatkan peralatan produk untuk pemberian sama baiknya dengan lingkungan saat produk tersebut dibuat. reaksi piretik sering diamati. umum digunakan untuk mengartikan reaksi ini. peralatan dan personil. hal ini dapat dicatat bahwa kemungkinan partikel gelas akan masuk ke dalam larutan saat ampul dibuka. "serum fever".

Penguraian obat tidak begitu nyata ditunjukkan oleh perubahan secara visual. sutau larutan subpoten dapat tetap jernih dan tidak berwarna. suatu larutan atau suspensi dibutuhkan atau berupa faktor kestabilan obat dipertimbangkan secara hati-hati.7 Injeksi Intravena Harus Steril (Lachman : 639) . 4) Kestabilan Dalam perkembangan sediaan steril. 5) Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah (SDF : 164) Walaupun diinginkan bahwa cairan intravena isotonik untuk meminimalkan trauma pada pembuluh darah. Untuk penggunaan parenteral.1. perkembangan atau perhatian utama ditujukan pada kestabilan obat. larutan hipertonik atau hipotonik dapat diberikan dengan sukses. larutan ini diberikan secara perlahan dengan kateter pada vena besar seperti subclavian. Untuk larutan kestabilan secara fisika memperlihatkan pada kenampakan secara fisika dari produk saat penyimpanan. Untuk meminimalkan iritasi pembuluh. Pembentukan endapan atau warnanya biasanya mengindikasikan ketidakstabilan.bahkan larutan yang terpirogenik kehilangan beberapa aktivitasnya sampai beberapa tahun. Larutan nutrient hipertonik konsentrasi tinggi digunakan pada hiperalimentasi parenteral. Pemilihan bahan tambahan membantu dalam peranannya pada kestabilan secara fisika dan kimia. II. Obat dalam sediaan cenderung menjadi kurang stabil daripada obat dalam bentuk kering.

9 Uji Keseragaman Bobot (FI III : 19) Keseragaman bobot : Sediaan yang sebelum digunakan sebagai injeksi dilarutkan terlebih dahulu.8 Uji Kesterilan (FI III : 18) Injeksi harus memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada uji keamanan hayati. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efesien yakni membran kulit dan mukosa.1.1. Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera pada daftar berikut. maka sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksis dan harus mempunyai kemurnian yang tinggi. keringkan. dinginkan. cuci wadah dengan air kemudian dengan etanol (95%)P. harus memenuhi syarat keseragaman bobot berikut : Hilangkan etiket 10 wadah.1.Sediaan parenteral merupakan sediaan yang unik di antara bentuk obat terbagi-bagi.5 +5 . keringkan pada suhu 105 0C hingga bobot tetap. II. Karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam tubuh. II.10 Keseragaman Volume (FI III L 19) Batas penyimpanan (%) +10 + 7. cuci bagian luar wadah dengan air. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih II. timbang satu persatu. Keluarkan isi wadah. dalam keadaan terbuka. Timbang satu persatu.

11 Wadah Injeksi  Scoville's : 207 Volume tambahan yang dianjurkan Cairan encer Cairan kental 0.60 ml 0.12 ml 0. Kapasitas vial serum 1-50 ml.0 ml atau lebih II.90 ml 0.0 ml 5. bentuknya mirip . Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar di bawah ini.  Scoville's : 200 Ada dua tipe utama wadah untuk injeksi yaitu dosis tunggal dan dosis ganda. Ini perlu karena beberapa larutan akan selalu melekat pada sisi wadah dan tidak dapat terpisah.0 ml 10.15 ml 0. khususnya ketika penggunaan vial silikon. Volume pada etiket 0.20 ml 2% 3% Wadah sebaiknya selalu diisi dengan volume larutan yang lebih besar daripada yang tertera pada label.10 ml 0.1.80 ml 1.0 ml 20.50 ml 0.70 ml 0.5 ml 1.15 ml 0.10 ml 0.50 ml 0. Sejumlah besar larutan perlu untuk menambahkan akan mengubah ukuran wadah dan viskositas larutan.0 ml 30. wadah dosis ganda dan sebagainya berupa vial serum atau botol serum. Wadah dosis tunggal yang paling sering digunakan adalah ampul dimana kisaran ukurannya dari 1-100 ml. pada kasus tertentu.30 ml 0.Volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.0 ml 50. Penggunaan vial dan ampul sebelumnya dibuat dengan silikon membuat pergerakan isi lebih mudah karena cairan dengan vial tidak basah dan berpisah dengan gelas tetapi agak mengalir dengan cepat dan bebas dari sini.0 ml 2.25 ml 0.

Labu atau tutup yang lebih besar mengandung 250-2000 ml. Ditutup dengan penutup karet spiral. Gelas tipe II adalah gelas soda-lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi permukaan alkalinoksida). sodium. Gelas tipe II dan III digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak. Botol serum juga dapat sebagai botol tipe army dengan kisaran ukuran dari 75-100 ml dan memiliki mulut yang lebar dimana ditutup dengan penutup karet spiral. Oleh karena itu. Gelas tipe I. besi. Formulator harus mengetahuidan sadar bahwa masingmasing tipe gelas adalah berbeda dan level bahan tambahannya (boron. . potassium. dan magnesium) yang berefek terhadap sifat kimia dan fisika.0 sebaik sediaan asam dan netral. USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipe gelas berbeda. kalsium. Tipe II. ini lebih disukai untuk produk terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. dan Tipe III (tabel 8). digunakan untuk cairan parenteral yang besar seperti NaCl isotonis.  Encyclopedia : 231 1. membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim. meskipun paling mahal. Tipe II dapat digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7. Tipe I adalah mempunyai derajat yang paling tinggi. Gelas Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam tipe I. disusun hampir ekslusif dan barosilikat (silikon dioksida). sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas soda lime.ampul tetapi disegel dengan pemanasan.

gelas II borosilikat Gelas dibuat dari soda lime III IV Gelas soda lime Gelas soda lime-tujuan umum Wadah gelas ambar digunakan untuk produk yang sensitif terhadap cahaya.5 15. Karet Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral volume kecil untuk penutup vial dan catridge dan penutup untuk Attack water Gelas serbuk Gelas serbuk 100 atau kurang lebih 100 Semua Semua 0. 2.0 Gelas serbuk Test USP Batas ml 0. Namun demikian.7 0.2 8.0 . Gelas untuk parenteral volume kecil – Tabel 8 Definisi Tipe Umum I Paling resisten. dapat leach ke dalam formulasi dan mempercepat reaksi oksidasi.formulator sebaiknya mempunyai semua informasi yang diperlukan dari pembuatan gelas untuk memastikan bahwa formulasi gelas adalah konsisten dan dari batch dan spesifikasi bahan tambahan adalah konsisten ditemukan.02 N Ukuran (ml) asam Semua 1. Warna ambar dihasilkan dengan penambahan besi dan mangan oksida untuk formulasi gelas.

vulkanishing. aktivator dan percepatan. silikon tidak . Seperti gelas. Butil karet lebih disukai karena ini diinginkan sedikit bahan tambahan. Banyak bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi atau pemurnian dan dapat bersumber dari masalah degradasi fisika dan kimia dalam produk parenteral. Paling banyak polimer karet digunakan dalam penutup sediaan parenteral volume kecil adalah alami dan butil karet dengan silikon dan karet neopren digunakan jarang. formulator harus bekerja dengan tertutup dengan pembuat karet untuk memilih formulasi karet yang tepat dengan spesifikasi tetap dan karakteristik untuk mempertahankan kestabilan produk. Silikonisasi penutp karet adalah umum dilakukan untuk memfasilitasi pergerakan karet melalui peralatan sepanjang proses dan peletakan ke dalam vial. baik untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban) dan sifat sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan reaktivitas dengan produk farmasetik. mempunyai penyerapan uap air rendah (oleh karena itu. dan antioksidan. penyerapan bahan aktif atau pengawet antimikroba oleh elastomer dan coring karet oleh pengulangan insersi benang. pewarna. pelunak. Formulasi ini betul-betul kompleks. Tidak hanya mereka mengandung basis polimer karet. Coring menghasilkan partikel karet yang berefek terhadap kualitas dan keamanan potensial produk. Masalah dengan penutup karet termasuk leaching bahan ke dalam produk. tetapi juga banyak bahan tambahan seperti bahan pelunak. Akan tetapi.pembedahan.

bercampur dengan obat hidrofilik. suspensi atau gel. Plastik Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk bentuk sediaan mata yang diberikan oleh botol plastic fleksibel. Seperti formulasi karet. Formulasi plastik adalah sedikit. menyebabkan masalah fisika dan kimia. Wadah plastic parenteral volume kecil lain dari produk mata menjadi lebih luas dipakai karena pemeliharaan harga. 3. polipropilen. Paling umum digunakan plastik polimer untuk sediaan mata adalah polietilen densitas rendah. formulasi plastik dapat berinteraksi dengan produk.Komponen karet Dapat Diautoklaf Digunakan Dalam Sediaan Parenteral Volume Kecil Tipe Bahan Penyerapan Uap Reaksi Potensial . khususnya protein. poliamida (nilon). Kontak yang luar biasa dengan karet tersilikonisasi dapat menghasilkan agregasi protein. Untuk sediaan parenteral volume kecdil yang lain. Kompleks daripada karet dan cenderung mempunyai potensial lebih rendah untuk bahannya. formulasi polyolefin lebih luas digunakan sebaik polivinil klorida. Tabel 9. orang yang bersangkutan memeras untuk mengeluarkan tetesan larutan steril. polikarbonat dan kopolimer (seperti etilen-vinil asetat). eliminasi kerusakan gelas dari kenyamanan penggunaan. Pembuatan elastomer mempunyai perkembangan formulasi yang tidak menginginkan penggunaan silikon untuk menggunakan dalam operasi produksi kecepatan tinggi.

II.1. Keduanya digunakan untuk parenteral volume besar (LVP). tetapi jarang digunakan sekarang karena masalah aprtikel gelas ketika leher ampul dibuka. Wadah plastik digunakan untuk penggunaan produk mata.Butil Natural Neupre n Polisop Tambahan Sederhana Tinggi Tinggi Tinggi Air Rendah Sederhana Sederhana Sederhana Sangat tinggi Dengan Produk Sederhana Tinggi Tinggi Sederhana Rendah ren Silikon Sederhana 4. sebaliknya produk-produk dalam pembedahan dan catridge adalah siap untuk diberikan. Injeksi.12 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Obat Yang Diinjeksikan Secara Subkutan atau Intramuskular Ke Dalam Sirkulasi Umum (PDF Vol 1: 40-41) 1. Kelarutan Obat . Salep dengan tube logam digunakan untuk kemasan salep mata steril. Container / wadah Tipe wadah yang paling umum digunakan untuk sediaan parenteral volume kecil adalah gelas atau vial polietilen dengan penutup karet dan besi. Vial dan ampul menginginkan kemunduran produk dari kemasan. Masing-masing pembedahan dan wadah catridge mempunyai peningkatan popularitas dan penggunaan karena kenyamanan mereka dibandingkan vial dan ampul. Gelas ampul digunakan paling banyak untuk sistem pengemasan parenteral volume kecil.

kelarutan dari sediaan dicegah. Sekali obat dalam larutan dari bentuk sediaan. sifat polimorfis dari bentuk kristal obat. kelarutannya dalam cairan pada jaringan subkutan atau otot tergantung pada koefesien partisi dan derajat ionisasi sebagai tanda oleh pH cairan yang ada pada daerah yang disuntikkan. Koefesien Partisi Obat Kelarutan dalam lemak rendah dari obat. dan lebih lambat kecepatan absorpsinya ke dalam aliran darah dari tempat yang diinjeksikan. lebih rendah koefesien partisinya. pH cairan pada daerah yang disuntikkan. dan koefesien difusi obat. Akan tetapi obat yang diberikan dalam bentuk suspensi. Ada 2 tipe kelarutan yang penting yaitu kelarutan dalam pembawa dari bentuk sediaan dan kelarutan dalam cairan tubuh. 3. koefesien dari obat dikurangi. 2. maka akan semakin tinggi kecepatan absorpsi dari obat. sebaik kelarutan dalam jaringan cairan pada daerah yang disuntikkan. kecepatan disolusi obat dari pembawa bentuk sediaan. secara lebih besar menentukan kecepatan absorpsi dari obat. Injeksi ke dalam otot lateral paha atau bokong dihubungkan dengan absorpsi .Obat-obat perlu dilarutkan secara sempurna sebelum mereka dapat melewati obat atau hambatan jaringan dan masuk ke dalam sistem sirkulasi. Untuk obat-obat yang diberikan dalam bentuk larutan. Viskositas yang lebih tinggi. Kecepatan Aliran Darah Pada Daerah Yang Disuntikkan Fakta yang telah diketahui bahwa aliran darah yang lebih besar dalam jaringan kapiler ke dan dari tempat dimana ia diinjeksikan. Kecepatan disolusi dari obat yang diinjeksikan dalam bentuk suspensi tergantung dari ukuran partikel obat.

Degradasi Obat Pada Daerah Yang Diinjeksikan Distribusi dari bahan aktif obat secara biologis dikurangi jika obat dimetabolisme atau dalam cara lain didegradasi pada daerah terinjeksi. meskipun perlahan-lahan larut dalam bentuk kosolvennya. Ukuran partikel yang lebih besar. seperti latihan. kecepatan disolusi lebih lambat. 5. 4. seperti obat vasokonstriksi seperti epinefrin. jika diberikan secara concurrently pada daerah yang diinjeksikan mengurangi kecepatan absorpsi obat. Pengendapan partikel dapat dilarutkan kembali. seperti diazepam. Bahan-bahan Formulasi Bahan-bahan yang ditambahkan untuk formulasi sediaan obat untuk dapat disuspensikan kembali (seperti derivate selulosa). Sebaliknya. Ukuran Partikel Dari Obat Ukuran partikel obat yang tersuspensi mempengaruhi kecepatan disolusinya dalam bentuk sediaan. 6. mereka tidak larut dalam cairan berair tubuh. Faktorfaktor yang meningkatkan aliran darah. tetapi kecepatan disolusinya lambat.obat yang lebih lambat dan rendah (karena vaskular yang kurang dan bahan lemak lebih tinggi) daripada injeksi dalam otot. dan digoxin. meningkatkan absorpsi obat setelah injeksi intramuscular atau subkutan. Obat-obat yang sedikit larut. faktor-faktor yang dapat mengurangi aliran darah. luas permukaan obat kurang tersedia untuk interaksi dengan cairan tubuh. fenitoin. untuk melarutkan (seperti gliserin)dan atau untuk peningkatan kestabilan (antioksidan) yang secara potensial dapat .

yang mengurangi transport obat dari daerah injeksi ke sistem sirkulasi. Akan tetapi.14 Cara Penyegelan Ampul (Lachman : 671) . Paru-paru bertindak sebagai organ distribusi dan eliminasi. Sebelum dipompakan masuk ke dalam sirkulasi arteri oleh jantung. II.mempengaruhi distribusi obat dari daerah pemberian. obat-obat yang masuk ke dalam paru-paru didistribusikan melalui distribusi seluruh volumenya. Porsi obat yang dibersihkan oleh ekshalasi. II.paur-paru juga bertindak sebagai daerah untuk metabolisme bahan-bahan tertentu.1. intravena atau subkutan masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui limfatik dan atau sistem transport vena. dan sebagai peningkat viskositas.1. Demikian efek-efek dapat dimanifestasikan dalam berbagai cara. Setelah injeksi intravena atau infuse. obat-obat terabsorpsi juga dapat didistribusikan dari paruparu. seperti kompleksi yang mengurangi kecepatan disolusi obat. menyediakan partisi obat yang menyenangkan. Alur kapiler paru-paru seperti filter dan dalam beberapa keadaan bertindak sebagai reservoir jika partisi bahan yang terinjeksi dalam jaringan paru-paru dan secara subsequent terlepas balik ke dalam sistem sirkulasi. bahan-bahan harus pertama melewati paru-paru. Setelah pemberian injeksi intramuscular atau subkutan. injeksi di daerah tersebut berhubungan dengan lag time antara waktu injeksi dan penampakannya dalam darah. khususnya untuk mereka dengan tekanan uap tinggi.13 Distribusi Obat Yang Diberikan Secara Parenteral Bahan-bahan yang diberikan secara intramuscular.

1. Jarum harus dikeluarkan dari ampul tanpa menggunakan tetes larutan pada dinding primer dari leher ampul. jarum hipodermik panjang adalah penting karena lubangnya kecil. Leher ampul.Ampul dapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas dari leher ampul sehingga membentuk segel penutup atau segel tarik. Jarum harus dimasukkan ke dalam ampul sampai di bawah. . II. tetapi tidak cukup jauh untuk masuk ke dalam larutan yang dimasukkan ke dalam ampul. Segel tarik dibuat dengan memanaskan leher dari suatu ampul yang berputar di daerah ujungnya kemudian menarik ujungnya hingga membentuk kapiler kecil yang dapat diputar sebelum bagian yang meleleh tersebut ditutup. Metode ini digunakan untuk mencegah pengurangan dan pengotoran jika ampul disegel.15 Cara Pengisian Ampul (Scoville's : 206) Untuk pengisian ampul. Segel penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada bagian atas leher ampul bulatan gelas dan menutup bagian yang terbuka.

Jakarta.A. D.DAFTAR PUSTAKA 1.H. S. (1994).. Gilman. London. 13.. Jakarta.R. Eight Edition. Martindale The Extra Pharmacopeia. Edisi IV Depkes RI. Burgess Publishing Co. Ditjen POM. Drug Evaluation Annual.B. Edisi V. Scoville's:The Art of Compounding. America. Reynolds. 1995. Third Edition. (1998). Penerbit Buku Kedokteran. American Medical Association. (1994). (1994). Lea and Febiger.L. (1971).E. Edisi III...K. 5. The Pharmaceutical Press. London. Jakarta. Tindall. (1982). Pensilvania. 9. 3. (1995). USA. Handbook of Pharmaceutical Excipient. Farmakologi dan Terapi.G. Pharmacetical Press. 2. (1995). Jenkins. 6.F. T.A. Jakarta. Philadelphia. (1986). Martin. Goodman and Gilman's The Pharmaceutical Basis of Therapeutics. 18th Edition.A. Pharmacy Press. (2003)..E.. Kibbe. Remington's Pharmaceutical Science. 15. et all. (1998). Bagian Farmakologi FKUI.. Ganiswara. EGC. 8. Bailliere. Depkes RI. Ninth Edition. Jakarta. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Marck Publishing Company. (1979). (1984). Farmakope Indonesia.. 11. Dispensing of Medication. 10. L. Marck Publishing Co. Philadelphia. (1969).. Rawling. G.. Easton. Nuswantari. 32nd Edition. Martindale The Complete Drug Reference. London. (1995). .H. Bentley Textbook of Pharmaceutics. Ditjen POM. Depkes RI. A. Farmakope Indonesia. Dispensing of Medication. Pergamen Press. King..E. R. 14. Gennaro. (2000). Edisi IV. 12. 4. 16. 7.. 28th Edition. AMA Drug Evaluation.J. Obat-obat Penting. Lachman. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy. Parfitt. Marck Publishing Company. Tjay.

1989. Howard. . “ Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi ” Edisi IV. Jakarta. UI Press.17. C. Ansel.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful