STERILISASI 1. Pengertian Steril 1.

SDF : 37 Steril adalah suatu kondisi absolut dan harus tidak pernah digunakan atau dianggap secara relatif sebagai bahan atau hampir steril 2. Lachman : 619 Steril adalah kondisi yang memungkinkan tercipatanya kebebasan penuh dari mikroorganisme dengan keterbatasan 3. RPS : 1470 Steril adalah tidak adanya mikoroorganisme yang aktif 4. Text book phar ; 526 Steril adalah keadaan bebas dari mikroorganisme hidup dari lingkungan 5. PDF Kenneth ; 325 Steril adalah produk biologis steril sebagai produk yang bebas dari kontaminasi mikroba sebagai hasil dari tes sterilisasi. Kesimpulan : Steril adalah suatu keadaan yang mutlak bebas dari mikroorganisme baik patogen maupun non patogen,baik vegetatif maupun sporanya, tidak setengah atau hampir steril. 2. Definisi sterilitas 1. RPS 18 th : 1470 Sterilitas adalah karakteristik yang disyaratkna untuk sediaan farmasetik bebas dari mikroorganisme hidup karena metode, wadah atau rute pemakaian 2. SDF : 15 Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan-sediaan farmasetik ini karena metode, wadah atau rute pemakaian Kesimpulan : Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan farmasetik yang bebas dari mikroorganisme hidup meliputi metode, wadah atau rute pemakaian. 3. Definisi sterilisasi 1. Scoville’s : 403 Sterilisasi adalah suatu proses membunuh atau menghilangkan bakteri dan mikroorganisme lain. 2. Ansel : 410 Sterilisasi adalah suatu proses seperti yang dilakukan terhadap sediaan farmasetik berarti penghancuran sempurna seluruh mikroorganisme dan sporanya atau penghilangan mikroorganisme dari sediaan 3. Lachman : 619 Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menghasilkan keadaan steril 4. Parrot : 274 Sterilisasi adalah proses pembunuhan atau penghilangan mikroorganisme dan spora yang hidup 5. RPS 18TH : 1470 Sterilisasi adalah suatu proses dimana semua bentuk organisme hidup dihilangkan atau dirusak fungsinya yang mungkin 6. DOM : 592 Sterilisasi adalah biasanya didefinisikan sebagai pemusnahan keseluruhan atau menghilangkan semua jenis-jenis kehidupan dari material-material

7. Text Book of Pharm ; 526 Sterilisasi adalah semua proses untuk mencapai status steril. Kesimpulan : Sterilasasi adalah suatu proses mengurangi, menghilangkan, menghancurkan, membunuh mikroorganisme dan sporanya dari sediaan untuk mencapai suatu keadaan yang steril. 4. Jenis-jenis sediaan steril SDF ; 15-18 1. Injeksi Larutan obat dalam pembawa yang sesuai dengan atau tanpa penambahan bahan-bahan dimaksudkan untuk pemakaian parenteral dibuat sebagai injeksi. 2. Cairan infuse Cairan infuse intravena dibuat sebagai sejumlah karakteristik infuse melalui cara pemakaiannya. 3. Radiasi Farmasetik Bahan kimia radio aktif digunakan untuk uji, fungsi bahan-bahan yang kadang dipastikan sejumlah infeksi dibawah radiofarmasetik. Ini berbeda dari infeksi lain dalam obat sebagi bentuk radioaktif. 4. Steril Padat Beberapa obat tidak mempunyai kestabilan yang cukup dalam larutan untuk dapat mewadahkannya seperti injeksi maka disediakan sebagai sediaan padat kering dalam larutan ketika digunakan. 5. Suspensi steril Suspensi obat dalam pembawa parenteral yang cocok dibuat sebagai suspensi obat steril seperti suspensi sediaan Hidrokortison Asetat. Jika obat ini bentuk kering dan suspensi dengan penambahan pembawa parenteral yang cocok disebut obat steril unutk suspensi seperti Kloramfenikol Steril untuk Suspensi. 6. Tetes Mata, Suspensi dan Salep Obat-obat dalam larutan atau suspensi digunakan melalui penetesan pada mata sebagai sediaan steril, walaupun tidak umum disebut steril seperti larutan mata Natrium Sulfametasol atau suspensi mata Hidrokortison asetat. 7. Larutan irigasi Larutan irigasi yang digunakan untuk mencuci atau menyembuhkan luka terbuka, rongga badan didefinisikan sebagai larutan irigasi dan diguanakn pada pemakaian luar tidak pernah secara parenteral 8. Bahan Diagnosis Larutan yang digunakan secara parenteral untuk tujuan diagnosa seperti injeksi yang digunakan unutk menentukan volume darah. 9. Ekstrak Allergenio Ekstrak allergenio adalah konsentrasi steril pada allergen atau bahan-bahan yang tidak bisa sensitif. Pada beberapa orang digunakan untuk diagnosa atau percobaan pada reaksi alergi. 10. Larutan Dialisis Peritonial Larutan yang digunakan pada teknik yang dikenal sebagai dialisis peritoneal utnuk menurunkan kelebihan larutan cairan tubuh, serum elektrolit, bahanbahan toksik seluruh pencernaan. 5. Metode-metode Sterilisasi

A. 1.

Sterilisasi Secara Fisika Pemanasan Kering a. Udara Panas Oven (Scoville`s :404) Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak., paraffin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alatalat gelas dan banyak alat-alat bedah. Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam aytoklaf. Salah satu elemen penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap aotoklaf. Atau dengan adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan. Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak dibunuh oleh suhu sampai 121o C (suhu yang biasanya digunakan dalam autoklaf bahkan setelah pemanasan sampai 45 menit). Untik alasan ini, autoklaf merupakan metodee yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak, produk yang dibuat dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali. Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi. Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 121 C selam 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 150 C sampai 170 C selama 1-4 jam. Suhu yang biasa digunakan pada sterilisasi panas kering 160 C paling cepat 1 jam, tapi lebih baik 2 jam. Suhu ini digunakan secara khusus untuk sterilisasi minyak lemak atau cairan anhidrat lainnya. Bagaimanapun juga range 150-170 C digunakan untuk streilisasi panas kering dan lain-lain, sebagi contoh : bahan-bahan gelas, dapat disterilkan pada suhu 170 C. dimana beberapa serbuk seperti sulfonilamid harus disterilkan pada suhu rendah dan waktu yang lebih lama. PTM : 123 Panas kering pada temperatur lebih 160 C efktif menghancurkan mikroorganisme hidup dengan sebuah proses kehilangan kelembaban secara inversible. Proses ini berjalan relativ lambat, mengisyaratkan sedikitnya 1 jam pada suhu 160 C tetapi lebih cepat pada temperatur yang tinggi. Panas kering ini sering merugikan beberapa produk. Penerapan panas dengan keberadaan lembab lebih efektif untuk pembunuhan mikroorganisme diIsyaratkan 15 menit pada suhu 121oC. RPS 18th : 1471 Beberapa bahan yang tidak dapat disterilkan dengan uap, paling baik disterilkan dengan panas kering,. Misalnya petrolatum jelly, minyak mineral, lilin, wax, serbuk talk. Karena panas kering

kurang efisien dibanding panas lembab, pemaparan lama dan temperature tinggi dibutuhkan. Range luas waktu inaktivasi dalam temperatur bervariasi telah diterapkan berdasarkan tipe indikator steril yang digunakan, kondisi kelembaban dan faktor lain. Jumlah air dalam sel mikroba diketahui mempengaruhi resistensinya terhadap destruksi panas kering. Umumnya, ini diterima bahwa sel mikroba dalam daerah yang betul-betul kering menunjukkan resistensi terhadap inaktivasi panas kering,. Ini jelas bahwa perhatian harus diberi untuk mendisain siklus sterilisasi panas kering untuk produkproduk rumah sakit dan validasi sistematis sterilisasi dengan metode sterilisasi standar. Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas. Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven : 170 C (340 F) sampai 1 jam 160 C (320 F) sampai 2 jam 150 C (300 F) sampai 2,5 jam 140 C (285 F) sampai 3 jam b. Penangas minyak dan lainnya (Scoville’s : 404) Bahan kimia yang stabil dalam ampul bersegel dapat disterilisasi dengan mencelupkannya, dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620 C. larutan jenuh panas dari natrium atau ammonia klorida dapat juga digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang mensterilisasi alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga alat tetap tajam, dan untuk memlihara cat penutup. c. Pemijaran langsung (Scoville’s : 404) Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumping dan alu dapat disterilisasi dengan metode ini. Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20 detik. Dalam keadaan darurat ampul dapat disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul kearah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan langsung dengan api dengan hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus segera diisi dan disegel. 2. Panas Lembab a. Uap bertekanan (Scoville`s :404) Penggunanaan uap bertekanan atau metode sterilisasi yang paling umum memuaskan dan efektif yang ada. Ini adalah metode yang diinginkan untuk sterilisasi larutan yang ditujukan untuk infeksi pada tubuh, pembawa pada sediaan mata, bahan-bahan gelas. Untuk penggunaan darurat, pakaian dan alat kesehatan dan benda-benda karet. Kerugian yang paling prinsip dan penggunaan uap ini adalah ketidaksesuaiannya untuk penggunaan pada bahan sensitiv terhadap panas dan kelembaban. Metode ini tidak dapat digunakan untuk sterilisasi misalnya, produk yang dibuat dari basis minyak dan serbuk. Uap jenih pada 120 C mampu membunuh

Metode ini jarang memuaskan untuk larutan yang mengandung bahan-bahan karena spora sering gagal tumbuh dibawah kondisi ini. Kontraksi volume yang timbul selama kondensasi Waktu yang dibutuhkan untuk mensterilkan larutan saat suhu 121 C selama 12 menit. Penjedahan dan bertahap adalah tindalisasi digunakan. ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah untuk mencapai 121 °C setelah termometer pensteril menunjukkan suhu ini. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora vegetatif yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Penyebeb kematian dengan cara sterilisai panas terhadap lembab berbeda dengan cara panas kering. Kemapuan untuk membentuk kondensasi air 4. Untuk meyakinkan penghancuran spora. Suhu 2. banyak spora akan tumbuh ke dalam bentuk vegetatif bentuk spora yang telah tumbuh ini akan dimatikan pada pemanasan hari . USP menentukan sterilisasi uap sebagai penerapan uap jenuh di baeah teakana paling kurang 15 menit dengan temperatur minimal 121 C dalam jaringan tekanan. Secara umum larutan dalam botol 100-200 ml akan membutuhkan kurang 5 menit botol 500 ml antara 10-15 menit. prinsip dari metode ini adalah pada saat waktu pertama kali pemaparan pada uap membunuh bakteri vegetatif tapi tidak sporanya. Bentuk yang paling sederhana dari autoklaf adalah “ home preasure cooker”. Antara pemaparan bahan terhadap uap yang disimpan pada suhu kamar atau pada inkubator pada 37 C.secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme hidup dalam waktu ½ menit. Keefektifan sterilisasi uap bertekanan tergantung pada 4 sifat dari uap jenuh kering yaitu : 1. Dalam prakteknya. Temperatur suhu titik mati bervariasi. berbeda dengan cara panas kering. b. Dengan metode ini bahkan dipaparkan pada uap mengalir pada periode waktu bervariasi dari 20-60 menit setiap hari selama 3 menit. RPS 18 th : 1471 Panas lembab merupakan bentuk uap jenuh di bawah tekanan yang merupakan cara sterilisasi yang paling banyak digunakan. 2 metode uap mengalir digunakan. kematian mikroorganisme yang paling penting adalah proses oksidasi. Uap panas pada suhu 100 C dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir atau air mendidih. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur. kematian mikroorganisme oleh panas lembab adalah hasil koagulasi protein sel. Panas tersembunyi yang berlimpah 3. Uap panas pada 100 C. tetapi tidak ada bentuk non spora yang bertahan. suatu perpanjangan pemaparan uap selama 20-60 menit akan membunuh semua bentuk vegetatif bakteri tapi tidak akan menghancurkan spora. Tapi pada saat bahan disimpan pada inkubator atau pada suhu ruangan selam 24 jam. bentuk vegetatif dari kebanyakan bakteri yang tidak membentuk spora. sterilisasi berjeda yang juga disebut sterilisasi tidak berlanjut.

fenol.5%. sinar beta). Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf. Radiasi pengion (Lachman : 628) Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar katode. Sinar gamma mempunyai keuntungan . sinar UV menembus udara bersih dan air murni dengan baik. 5 % fenol. Kesuksesan dari proses ini tergantung pada spora yang berkembang ke bentuk vegetatif selama masa istirahat. Larutan yang ditumbuhkan bakterisida ini dpanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100 C selama 20 menit dalam pensterilisasi uap atau penangas air. 3. Air mendidih Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi jarum spoit. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan membunuh mikroorganisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan. adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. penutup karet. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel.5% klorbutanol.Ketika sinar UV melewati bahan.2% kresol atau 0. energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. penutup dan alat-alat bedah. 1-2% Na-carbonat atau 2-3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat kondisi bahanbahan logam.ke dua. 0. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Stetelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya. Bahan-bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit. tetapi suatu penambahan garam atau bahan tersuspensi dalam air atau udara menyebabakan penurunan derajat penetrasi dengan cepat. organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pemanasan dengan bakterisida Ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap pans pada 100 C. 0. Bakterisida yang dapat digunakan termasuk 0. d. yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 2537 . c. Cara Bukan Panas Sinar ultraviolet (Lachman : 628) Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air. Aksi letal .002% fenil merkuri nitrat saat larutan dosis tunggal lebih dari 15 ml larutan obat untuk injeksi intratekal atau gastro intestinal sehingga tidak dibuat dengan metode ini.

alat beda. jarum. Satu-satunya sekarang yang digunakan untuk sterilisasi radiasi pada obat-obat rumah sakit dan laboratorium. menurut teori langsung. diserap oleh banyak bahan dan membuat penggumpalan organisme dan hal . Aksi latal radiasi pengionan menghacurkan mikroorganisme dengan menghentikan rep-roduksi sebagai hasil mutasi letal. steroid hormon dan transplantasi tulang dan jaringan dan alat pengobatan seperti alat untuk suntik plastik. Elektron dipercepat atau sinar gamma dapat digunakan untuk mensterilkan produk-produk pilahan dengan suatu proses berkesinambungan. Beberapa informasi mengenai efek sterilisasi ultraviolet juga dihadirkan. mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat) keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan output laju doisis yang lebih seragam. dipertimbangkan sebagai radiasi ionisasi yang berbeda dengan radiasi sinar ultraviolet. Mutasi ini dapat disebabkan oleh tindakan tidak langsung. sehingga tidak ada bagian yang lepas dari keefektifan sterilisasi. pada panjang gelombang 253. Radiasi elektromagnetik dan energi photon.semua ini pada kahirnya. tube palstik. Perpindahan elektron ini kemudian bentindak sebagai partikel beta dalam reduksi. Oleh sebab itu baik partikel maupun elektromagnetik. vitamin. Radiasi ioniasasi dapat menghasilkan perubahan dalam molekul organik yang dapat mempengaruhi kemujaraban sediaan atau dapat menginduksi toksisitas. termasuk penjelasan singkatnya. Radiasi Ionisasi (RPS 18 th : 1476) Radiasi ionisasi digunakan untuk sterilisasi industri untuk alatalat rumah sakit. Bagaimanapun banyak prosedur sterilisasi industri manggunakan radiasi.mutlak karena tidak menyebebkan kerusakan mekanik. Kebanyakan prosedur sterilisasi produk lain harus diselenggarakan dalam batch setrilisasi dengan proses berkesinambungan memerlukan pengendalian yang tepat. Mutasi ini disebabkan karena tarnsformasi radiasi menjadi molekul penerima pada sinar x.7 nm. Penerapan untuk sterilisasi ini. Radiasi partekel atau molekul termasuk daftar partikel yang steril. Sterilisasi radiasi dapat dilakukan baik dengan radiasi elektromagnetil dan radiasi partikel. dimana molekulmolekul air diubah menjadi kesatuan yang berenergi tinggi seperti hidrogen dan ion hidroksil. menyebabkan perubahan energi pada asam nukleat dan molekul lain sehingga hilangnya keberadaannya bagi metabolisme molekul sel bakteri. antibiotik. Radiasi produk juga dapat menghasilakn perubahan warna dan kerapuhan beberapa wadah gelas dan bahan plastik. namun demikian. katter. kekurangan sinar ini adalah di hentikan dari. Prinsip bermuatan negativ sepeti elektron yang berinteraksi langsung dengan bahan menyebabkan ionisasi seperti elektron elektromagnetik menyebabkan ionisasi pada mekanisme yang bervariasi yang menghasilkan perpindahan suatu orbital elektron dengan mekanisme jumlah tertentu dari energi yang ditransfer dalam insiden sinar gamma. Kerugian penggunaan germisida radiasi sinar UV adalah penetrasinya terbatas. termasuk ultra dari bahan radioaktif seperti kobalt 60 atau sesium 137 adalah yang paling sering digunakan sebagai sumber energi sterilisasi adhesi elektromagnetik. benang bedah dan cawan Petri.

tersebut dilindungi oleh debu dan puing-puing. Untuk menghindari aksi letal panggunaan radiasi sinar UV sebagai cara sterilisasi tidak direkomendasikan lemak jika bahan-bahan yang diradiasi sangat bersih dan bebas yang dapat melindungi mikroorganisme. B. Sterilisasi Secara Kimia Parrot ; 280 Sterilisasi gas adalah cara menghilangkan mikroorganisme dengan menggunakan gas atau uap yang membunuh mikroorganusme dan sporanya. Meskipun gas dengan segera berpotensi menyerap serbuk padat. Streilisasi ini adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme occluded dengan kristal akan dibunuh. Sterilisasi gas digunakan dalam bidang farmasi unutk mensterilisasi bahan-bahan termolabil. Gas bakterisida yang paling sering digunakan adalah gas Etilen Oksida. Meskipun sterilisasi uap merusak beberapa bahan dan dipindahkan dari bahan yang dicobakan melalui jalur sterilisasi. Gas ini tidak inert dan kereaktivannya terhadap bahan yang disterilisasi antara lain : Tiamin, Riboflavin, Streptomisin kehilanngan potensi dengan adanya etilen oksida. Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkilasi asam, amin, hidroksil dan gugus sulfhidril dari protein dan sel enzim. Kelembaban dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan merusak sel. Etilen oksida bersifat eksplosif ketika bercampur dengan udara. Sifat ini dapat dihilangkan dengan menggunakan campuran etilen oksida dengan CO2. Carboxide ® 20 atau campuran etilen oksida dengan hidrokarbon berfluoresensi. Sterilisasi dengan gas berjalan lambat, waktu sterilisasi tergantung pada keberadaan kontaminasi, kelembaban, temperature dan konsentrasi dari gas etilen oksida. Konsentrasi minimum adalah 450 mg/l pada tekanan 27psi. Cara ini digunakan digunakan untuk mensterilkan obat serbuk seperti Penisilin, juga telah digunakan unutk sterilisasi benang, plastik, tube. Penggunaan etilen oksida juga untuk sterilisasi akhir peralatan parenteral tertentu seperti kertas kraft dan lapisan tipis polietilen. Semprot aerosol etilen oksida telah digunakan untuk mensterilkan daerah sempit dimana dilakukan teknik aseptic. C. Sterilisasi Cara Mekanik (Scoville`s : 417) Larutan dapat dibebaskan dari mikroorganisme vegetatif dan sporanya melalui filter bakteri. Filter bakteri tidak dapaat membebaskan larutan dari virus; bagaimanapun alat ini tidak mengurangi jumlah virus. Pada prinsipnya dengan absorbsi ke dalam dinding filter dan dengan menghilangkan partikel kasar dari bahan yang mengandung virus. Sterilisasi dengan filter bakteri digunakan untk larutan farmasetik atau bahan biologi yang dipengaruhi oleh pemanasan. Berbeda dengan metode filtrasi lain, filter bakteri ditujukan untuk fltrat bebas bakteri. Metode sterilisasi ini membutuhkan penggunaan teknik aseptic yang benar. Sediaan obat yang disterilkan dengan metode ini membutuhkan penggunaan bahan bakteriostatik kecuali diarahkan lain. Larutan yang ditujukan untuk injeksi intrathecal atau merupakan larutan dosis tunggal intravena dengan volum elebih dari 15 ml tidak boleh ditambahkan bahan bakterisid. Paraffin cair dan minyak lain, tidak disterilkan dengan metode ini karena dapat meningnkatkan permeabilitas dari filter terhadap bakteri. Unutk dapat membuat larutan bebas bakteri dan steril, digunakan filter dengan berbagai tipe. Tipe ini termasuk filter yang terbuat dari silicon murni, porselin, asbes,

dan glass-fritted. Karena alat-alat ini mudah dibersihkan, filter Seitz yang menggunakan lapisan asbes dan fliter fritted glass mungkin lebih berguna untuk farmasis. Yang kadang-kadang dubutuhkan untuk menyaring larutan dalam jumlah kecil. Mekanisme filtrasi bakteri adalah kompleks. Meskipun ukuran pori filetr penting, tapi bukan itu saja criteria untuk keefektifan filtrasi. Fliter dengan pori lebih kecil menghilangkan bakteri tetapi beberapa filtrasi sangat lambat umtuk tujuan praktek. Dengan meningkatkan ketebalan filter lilin memungkinkan untuk mencapai efisiensi filtrasi, tetapi nkerugiannya adalah bahwa kebanyakan bahan aktif dari larutan dihilangkan dengan penyerapan oleh lilin. Bagaimanapun, dengan mengatur ukuran pori dan ketebalan filter yang optimum, mungkin diperoleh filter yang efisien dan baik secara cepat. factor lain dilibatkan dalam filtrasi bakteri termasuk keseimbangan permukaan antara bahan filter dan bakteri dan larutan, suhu, tekanan yang digunakan, waktu filtrasi, muatan listril filter, pH bahan yang difiltrasi, dan adsorbsi protein dan bahan lain. Filter Seitz Filter ini dibuat dari bahan asbes yang dijepit pada dasar wadah besi. Keuntungan utama dari filter Seitz ini adalah lapisan filter dapat dibuang setelah digunakan dan masalah pembersihannya berkurang. Efisiensi tergantung pada pengembang serat dari lapisan filter dari air. Karena larutan alcohol pekat tidak membuat mengembang, filter ini tidak digunakan untuk mensterilkan larutan yang mengandung alcohol dalam jumlah besar. Filter ini mampu dengan volume dari 30 ml hingga lebih dari 100 ml. Kerugian pertama dari filter ini adalah cenderung memberikan komponen magnesium pada filtrate. Bahan alkali ini dapat menyebabkan konsentrasi pengendapan alkaloid bebas dari garamnya dan dapat menginaktifkan seperti insulin, ekstrak pituari, epinefrin dan apomorfin. Hal ini dapat diatasi dengan perawatan pertama filter dengan dibasahkan dengan HCl lalu dibilas dengan air. Kerugian kedua dari seitz adalah permukaan serat pada lapisan filter membuat larutan tidak cocok untuk injeksi. Ini dapat diatasi dengan menempatkan ayakan dari nilon atau sutra dibawah lapisan filter sebelum menempatkan lapisan dalam filter, atau sebuah filter gelas fritted dapat ditempatkan pada saluran keluar untuk menghilangkan serat. Filter seitz ini juga cenderung untuk menghilangkan bahan dari filtrat bahan adsorbsi. Filter Swinny Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny mempunyai adat terkhusus yang terdiri dari lapisan hasbes, bersama dengan screen dan pencuci. Utamanya untuk digunakan filter swinny dibungkus dengan kertas dan diotoklaf. Bagian yang dipasang dihubungkan pada spoit Luer-lola dan cairan dimasukkan melalui disk asbes dengan menggunakan tekanan pada saluran spoit. Filter Fritted-Glass Filter fritted-glass disusun dari dasar serbuk, tombol bulat dari gelas digabung bersama dengan penggunaan panas untuk menentukan sebelumnya ukuran dalam bentuk disk. Permeabilitas filter barbanding secara tidak langsung dengan ukuran butiran. Setelah disk dibentuk, kemudian disegel dengan pemanasan kedalam corong gelas pyrex dibentuk seperti corong buchner.

Filter fritted-glass yang baru harus dicuci dengan penghisap dengan HCl panas dan kemudian dibilas dengan air sebelum digunakan. Filter dapat dibersihkan dengan membilasnya dengan air dibawah tekanan. Jika air tidak dapat membersihkan filter, suatu konsentrasi larutan asam sulfat mengandung 1 % sodium nitrat dipanaskan pada suhu 80 oC dapat digunakan. Filter fritted dirancang utamanya untuk filtrasi vakum. Jika digunakan filtrasi dibawah tekanan, perbedaan maksimum pada diks harus tidak boleh dari 15 pouns inci persegi (p.si). Filter Berkefeld & Mandler Tes bentuk tube filter pembanding ini, yang dihubungkan dengan dasar logam dan saluran keluar tubuh adalah dama pada keduanya. Felter mandler dibuat dari silikat murni, hasbes, dan kalsium sulfat (gips dari paris); filter berkefeld terdiri dari silica murni. Kedua filter ini bermuatan negative. Fitlrer ini tersedia dalam beberapa tingkatan porositas berdasarkan pada permeabilitas terhadap air, pada berkefeld atau pada mandler berdasarkan pada jumlah tekana air dalam pons yang dibutuhkan untuk mendorong udara melalui saluran keluar melawan air. Saluran berkefeld dan mandler dibersihkan dengan menggunakan air destilasi melalui saluran dari luar kedalam diikuti dengan menggosok bagian luarnya menggunakan sikat dalam aliran air. Saluran berkefeld dan mandler dapat disterilkan dengan autoklaf pada 121oC selama 20 menit. Tabung harus dibungkus dengan kain atau kertas secara langsung setelah dibilas dan saat masih basah sebelum ditempatkan di autoklaf. Selas Filter Filter porselen buatan Amerika sekarang tersedia dengan nama selas filter porselen microporous. Filter ini secara kimia inert, menjadi tahan terhadap semua larutan yang tidak menyerang silica. Saluran selas filter dapat dibersihkan dengan menggosoknya dengan sikat, dengan membilas, pencucian, dengan menggunakan alkali atau detergen asam atau dengan pemanasan dalam tungku dilaboratorium pada temperatur maksimum 1200oC dan dapat disterilkan dengan autoklaf. Saluran Filter Chamberland Pasteur Filter ini mempunyai bentuk yang mirip dengan berkefeld tetapi filter ini terbuat dari porselen penyerap yang tidak berlapis dengan pori-pori kecil yang menghasilkan filtrasi yang lambat. Filter ini dapat dibersihkan dan disterilkan dengan cara yang sama dengan yang digunakan untuk saluran berkefeld. 6. Keuntungan dan kerugian metode sterilisasi a. Sterilisasi Panas Kering Keuntungan 1. Dapat digunakan untuk membunuh spora dan bentuk vegetatifnya dari semua mikroorganisme (Lachman Industri; 1263) 2. Umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas (Ansel; 413) 3. Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan yang kering atau wadah yang kering seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan air (Ansel; 414). Kerugian 1. Hanya digunakan untuk zat-zat yang tahan penguraian pada suhu diatas kira-kira 140oC (Lachman Industri; 1263)

2. Karena panas kering efektif membunuh mikroba dengan uap air panas, maka diperlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (Ansel; 413) b. Sterilisasi Uap Panas Keuntungan : 1. Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan pada temperatur yang relative rendah daripada tidak ada kelembaban (Ansel; 412) 2. Metode ini digunakan untuk sediaan farmasi dan bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperature yan digunakan dan penembusan uap tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air (Ansel :413) 3. Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih muidah dibunuh (Ansel : 413) 4. Dipergunakan unutk larutan jumlah besar, alat-alat gelas, pembalut operasi dan instrument (Ansel :413) 5. Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif (Scoville`s:408). Kerugian : 1. Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak lemak, sediaan berminyak dan sediaan yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap jenuh (Ansel :413) 2. Spora-spora yang kadar airnya rendah, sukar dihancurkan (Ansel :413) c. Sterilisasi Gas Keuntungan : 1. Beberapa senyawa yang tidak tahan terhadap panas dan uap dapat disterilkan dengan baik dengan memaparkan gas etilen oksida atau propilen oksida bila dibandingkan dengan cara lain (Ansel :416) 2. Dapat digunakan untuk membunuh mikroorganisme dan spora lain (Parrot : 280). Kerugian : 1. Gas-gas (etilen dan prop[ilen oksida) mudah terbakar bila tercampur dengan udara (Ansel :417) 2. Tidakan pengemasan yang lebih besar diperlukan untuk sterilisasi dengan car ini daripada dengan cara lain karena waktu, suhu, kadar gas dan kelembaban jumlhanya tidak setegas seperti pada sterilisasi panas kering dan lembab panas (Ansel : 417) 3. Gas-gas sulit hilang dan kebanyakan bahan-bahan setelah pemaparan (Lachman Industries :1283) 4. Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak dihilangkan sama sekali, sifat karsinogenik dan mutagenic dari etilen oksida dari sisa-sisa pada bahan yang digunakan pada manusia (Lachman Industries :1285) 5. Waktu siklus untuk sterilisasi dengan etilen oksida agak lama (Lachman :1286). Sterilisasi Dengan Penyaringan Keuntungan :

d.

Kerugian : 1. dan hormone dalam keadaan kering setelah berhasil dibuat steril dengan radiasi (Lachman Indutri: 1276). 2. Kesulitan mempertahankan kondisi aseptis seperti merupakan masalah besar sehubungan dengan sterilisasi melalui penyaringan (Lachman Industri: 1283 ). Penyaringan cairan dengan voluime besar akan mermerlukan waktu yang lebih lama terutama bila cairan kental dibandingkan dengan bila memakai cara sterilisasi lembab panas (Ansel : 414). Filter bakteri tidak efektif menghilangkan firus dari larutan (Scoville’s?: 419). antibiotic. sejumlah vitamin. 3. Kerugian : 1. Muatan dalam pH yang sesuai yang bersifat alkali menyebabkan kerusakan filter dan partiekel yang kecil pada filter merupakan problem yang khusus (Scoville’s: 419) 5. Pemakaian radiasi meningkat dalam frekuensi dan luasnya pemakaian setelah diperoleh pengalaman dengan metode ini. kemampuan untuk mensterilkan secara efektif bahan tahan panas (Ansel :416) 5. Kecepatan penyaringan sejumlah kecil larutan. Tiap kebocoran yang mungkin terjadi pada system ini menyebabkan kerusakan pada bagian luar tanpa kontaminan filtrate yang steril (Lachman:1282-1283 ) 6. 2. Saringan tidak harus mengubah larutan/gas segala cara (Lachman Ind :1265) 3. Penggunaan teknik ini terbatas karena memerlukan peralatan yang sangat khusus dan pengaruh radiasi dan produk-produk dan wadah-wadah (Ansel:418). Tidak menghilangkan bahan yang diinginkan atau membawa komponen yang tidak diinginkan (Lachman Ind :1265) 4. Peralatan yang digunakan relative tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan dari larutan (Ansel :416). Penyaringan dapat digunakan untuk memisahkan partikel termasuk mikroorganisme dari larutan gas tanpa menggunakan panas (Lachman Idustries :1285) 2.1. cara ini diharuskan menjalani pengawasan yang ketat dan memonitoring karena efek hasil penyaringan dapat diperngaruhi oleh banyaknya miokroba dalam larutan (Ansel : 414). plastik. khususnya untuk sterilisasi alat medis. 4. Sterilisasi Irradiasi Keuntungan : 1. Sediaan farmasi dalam carian tubuh lebih sulit disterilkan karena efek radiasi terhadap sistem zat pembawa dari jaringan obat (Lachman Industri : 1276 ) . e.

20 Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok b. Salep ini dibuat dari bahan steril dibawah kondisi aseptis atau pada sterilisasi tahap akhir f. Keuntungan dan Kerugian Salep mata a. campuran senyawa dan pengemasannya sesuai untuk pemakaian kedalam mata. 368 Salep mata memberikan arti lain dimana obat dapat mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. konjungtiva. Obat jika tidak larut didispersikan kedalam basis yang disterilkan dengan panas kering dan dicampur secara aseptis dengan obat dan bahan tambahan yang steril e. Pengertian Salep Mata a. bebas dari partikel asing dan mempunyai komponen bahan dan pengepakan harus sesuai syarat sterilitas. 356 Salep mata adalah salep khusus untuk pemakaian pada mata dimana membutuhkan perhatian khusus pada pembuatannya d. 1587 . yang digunakan pada mata dimana obat dapat kontak dengan mata dan jaringan tanpa tercuci oleh air mata dan memerlukan perhatian khusus dalam pembuatannya 3. 12 Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata c. Salep mata biasanya terdiri dari basis petrolatum putih-minyak mineral b. FI III. Sediaan mata meliputi larutan. suspensi tapi lebih banyak bentuk larutan. RPS 18 th. kornea dan iris. 140 Salep mata adalah salep steril khusus untuk penggunaan pada mata. RPS 18 th. Pengertian Sediaan Mata a. Perhatian yang khusus dilakukan dalam penyiapannya Kesimpulan : Salep mata adalah sediaan steril yang mengandung bahan kimia yang terbagi halus dalam basis. FI IV. SDF.SALEP MATA 1. 1513 Salep mata adalah salep untuk penggunaan pada mata. 357 Sediaan mata sama dengan produk lainnya yaitu steril dan bebas dari bahan partikulat Kesimpulan : Sediaaan mata adalah sediaan steril yang mempunyai ciri-ciri steril. SDF. Keuntungan Salep mata o RPS 18 th. Scoville’s. Basis untuk salep mata biasanya petrolatum putih walapun dalam beberapa kasus basis laruit air juga digunakan. dapat juga digunakan untuk memberikan efek pengobatan yang bervariasi pada bagian luar dan tepi kelopak mata. 1585. DOM King. 1581 Sediaan mata adalah produk steril yang essensial dan bebas partikel asing. cocok untuk penggunaan pada mata 2.

Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata. konjungtiva. 368 Salep mata dapat dipertahankan kontak lama dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh air mata o RPS 16 th.b. Pengkajian telah menunjukkanm bahwa waktu kontak antara obat dengan mata. Kelopak Mata Kelopak mata memeiliki 2 tujuan : perlindungan mekanik terhadap bola mata dan mensekresikan suatu cairan optimum untuk kornea. dan masalah kontaminasi yang kurang. salep mata cenderung membentuk lapiusan pada mata dan menyebabkan pandangan kabur. Tindakan perlidnungan dari kelopak mata dan sistem lakrimal adalah seperti penghilangan dengan cepat dari bahan yang dimasukkan kedalam mata. 563 Satu kekurangan pada penggunaan salep mata yaitu kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh ndan menyebar pada lensa mata o RPS 16 th. Salep mata dapat mengganggu bila dimasukkan secara keras pada sel epitel kornea yang baru. stabilitas penyimpoanan lebih besar. ada cara untuk meningkatkan konsentrasi obat terlarut dalam sistem dosis dengan memilih pembawa berminyak dimana obat tersebut dapat larut o Ansel Indonesia. kelenjar sebasea. 1502 Dari sisi positif adalah kurang atau tidak terjadinya iritasi pada penggunaan salep mata. Dasar ini dapat ditemukan dalam susunan anatomi dari jaringan permukaan dan dalam permeabilitas kornea. 1502 Pada sisi negatif. kornea dan iris o SDF. Pada basis yang normal. Salep mata memberikan keuntungan waktu kontak yang lebih lama dan bioavailabilitas obat yang lebih besar dengan onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama b. untuk obat-obat yang tidak larut air. Sebagai tambahan. Anatomi Mata dan Fisiologi Mata RPS 18 th. a. kecuali bahannya bervolume kecil dan secara kimia dan fisiologis dapat bercampur dengan jaringan permukaan. Kelopak mata dilicinkan dan dijaga kandungan airnya oleh sekret kelenjar lakrimal dan . 2 – 4 kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam Kerugian Salep mata o RPS 18 th. 1585 Salep mata akan mengganggu penglihatan kecuali jika digunakan pada waktu tidur o Ansel indonesia. dapat menyebabkan masalah-masalah pencampuran antara pembawa salep dengan cairan mata dan termasuk tambahan parameter partisi untuk obat antara salep dengan lapisan air mata 4. pergerakan lebih lambat kedalam ductus lakrimal yang menyebabkan waktu kontak yang lebih panjang dan efek yang lebih lama. 563 Keuntungan utama suatu salep mata daripada larutan untuk mata adalah penambahan waktu hubungan atau kontak antara obat dengan mata. 1581 Mata manusia adalah subjek yang menarik untuk pemberian topikal obat.

badan siliar dan iris c. keefektifannya adalah suatu faktor penstabil pada tekanan intraokuler. Ini mencegah pembuluh darah. substrat dan metabolit untuk jaringan ovaskular mata. Lapisan saraf retina Lapisan terluar kuat. Sekresi dari kelenjar lakrimal. cairan humor bertindak sebagai carrier nutrient. diantara ke beberapa duktus kecil ke dalam formix konjungtiva. berair. Pupil. Sebagai tambahan untuk fungsi mekanis hidronya. Ruang penyokong memiliki bentuk tipis yang terpisah secara langsung lewat didepan bola mata. Koroid adalah metabolit yang mendukung retina Fungsi optikal dari mata harus stabil secara dimensi yang mana dilakukan oleh sebagian selaput bagian luar. Tahanan yang ditemui selama pelewatan dan kecepatan pembentukan cairan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat tekanan intraokular. Diatas 2/3 dari selaput serat yang tersisa nampak buram (bagian putih dari mata) dan disebut sklera. Tekanan intraokuler ini menghasilkan produksi cairan spesifik yang mantap. bagian yang menghadap keluar. mengandung koroid. dengan perluasan kantong menaik dan menurun. Sklera mengandung mikrosirkulasi yang memberikan nutrisis jaringan pada bagian atas anterior dan biasanya putih kecuali ketika terjadi iritasi dan dilatasi pembuluh darah Ruangan bola mata adalah suatu alat optik yang menyebabkan penampakan yang terbalik diperkecil yang terbentuk pada retina. Pada bagian depan. Lapisan fibrous luas b. mengandung berbagai garam-garam. cairan homur yang asli dari proses siliar dan mata menjadi sistem yang berbeli-belit dari kanal alirannya. Kantong-kantong tersebut disebut ruang superior dan inferior serta semua tempat. Secara berurutan alat optik terdiri dari : kornea. pupil. disebut orbit Konjungtiva Membran konjungtiva menutupi permukaan terluar dari bagian putih mata dan bagian dalam dari kelopak mata. air mata. sekretnya jernih. .dikhususkan pada sel-sel yang terletak pada konjungtiva bulbar. dengan lapisan cairan yang jernih atau bahan seperti gel yang terjepit antara struktur yang padat. bertindak sebagai fungsi penampakan dari sistem. Struktur halus pada lapisan terluar sangat tertaur dan kandungan airnya sangat seksama diatur sehingga bertindak sebagai jendela yang jernih dan trasnparan (kornea). Lapisan vaskular tengah – sistem uvea atau traktus uveal. dapat disentuh dan sedikit longgar. yang mana merupakan membran tipis yang tembus cahaya. konjungtiva merupakan bagian terluar dari mata Sistem lakrimal Permukaan konjungtiva dan kornea ditutupi dan dilicinkan oleh suatu lapisan air yang disekresi oleh kelenjar lakrimal dan konjungtiva. Lensa kristal adalah suatu unsur retraktif dengan kemampuan fungsi yang dikontrol dan didukung oleh suatu jaringan otot dalam badan siliar. yang mana akan mengeluarkan tekanan yang sama pada jaringan disekitarnya. Ini memungkinkan pemberian injeksi subkonjungtival kecuali untuk kornea. bula) disusun atas tiga lapisan konsentris : a. lubang bulat dalam suatu bagian membran kontraktil (disebut iris). Tulang pada rangka juga mendukung bentuk yang mendekati piramid yang ditempati oleh bola mata. lensa kristal dan retina. Pada kebanyak tempat terikat dengan longgar dan dengan demikian memungkinkan gerakan bebas dari bola mata. Celah antara kelopak mata disebut celah palbebra Bola mata Dinding bola mata manusia (bulbus. cul-de-sac.

La[isan prekorneal. Sekretnya cocok untuk meleicinkan dan membersihkan dibawah kondisi biasa dan untuk mempertahankan lapisan tipis berair yang menutupi kornea dan konjungtiva ) lapisan prekorneal). bagian dari larutan air mata.7 % protein dan enzim lisosom. Hal ini diperbaharui pada setiap kediapan dan ketika berkedip mengalami tekanan. suatu daerah segitiga kecil terhampar pada sudut bagian paling dalam dari kelopak mata. o Syarat-Syarat Salep Mata RPS 18 th. Lapisan berair yang tebal ditengah dan suatu lapisan mukoid tipis bagian dalam. sehingga memberikan pembukaan yang cepat dan penutupan pada celah palpebral. pH dibawah 4 atau diatas 9 akan menyebabkan kekacauan lapisan. akhirnya akan mengering pada potongannya. injkesi atau kekurangan O2 atau kelebihan air seperti yang dapat terjadi karena pemakaian kontak lensa. Endotel kornea Kornea transparan untuk mendifusikan cahaya secara luar biasa.glukosa. sekitar 0. komponen organik lainnya. Bagian kelenjar lakrimal dikondisikan pada fornix konjungtiva. Ini akan membantu transport atau gerakan cairan melewati bagian lakrimal Lapisan Prekorneal Kornea harus basah untuk menjadi permukaan mata yang memadai. Substantia propia (stroma) 3. Lapisan protein musin dari lapisan khususnya penting dalam mempertahankan stabilitas dari lapisan. 1585 1. 5. Lapisan ini mempengaruhi gerakan lensa kontak dan terbentuk cepat dengan mudah pada gelas daripada plastik Kornea Kornea tebalnya 0. ketika kurang basah kornea kehilangan permukaannya yang halus dan sifat transparannya. Kelenjar sebaseus terdapat pada kelopak mata mensekresi cairan berminyak yang membantu mencegah air mata yang berlebihan pada tepi kelopak dan mengurangi penguapan permukaaan yang terpapar pada mata dan menyebar diatas lapisan air mata Kedipan mata membantu lapisan cair dengan menekan lapisan tipis dari cairan didepan tepi kelopak mata pada saat keluar bersama-sama.5 – 1 mm terdiri dari struktur berikut (dari depan ke belakang) : 1. memberikan kelembaban yang penting pada permukaan. jaringan bebas luka karena dilukai. seperti tindakan chantus lateral melewati chantus (chant : sudut dimata bertemu). Pengaburan kornea mengkin satu dari beberapa faktor termasuk tekanan bola mata sebagai glaukoma. Lapisan tersebut bercampur dengan sediaan mata berair dan lipid. disusun dari lapisan lipid tipis terluar. besarnya cahaya karena susunan tegak lurus dari sel dan serat dan karena tidak adanya pembuluh darah. Sifat dari lapisan prekorneal tergantung dari kondisi epitel kornea. baik oleh obat atau secara mekanik. Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang bernar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi . Kulit kelopak mata tipis dan dapat terlipat dengan mudah. Gerakan kelopak mata termasuk penyempitan celah palpebral dalam suatu kantong mata. Epitel kornea 2. Kelenjar lakrimal utama disebut memerankan hanya pada fungsi yang khusus. Kelebihan cairan menuju ke penampungan lakrimal. Ini memperlihatkan tidak berpengaruhnya penambahan konsentrasi hingga 2 % NaCl terhadap cairan konjungtiva.

pencuci mata atau salep mata. Sediaan untuk mata merupakan bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal. kejernihan dan sterilisasi dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata. Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. paraben atau merkuri organik 4.o 2. pentingnya peralatan filtrasi agar jernih dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk menghilangkannya. Dalam beberapa permasalahan. steril dan tak tertumpahkan. tidak layak membuat sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. . Salep akhir harus bebas dari partikel besar 5. Keduanya. Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma 3. wadah dan tutup harus bersih. Normalnya dilakukan tes sterilisasi b. Stabilitas 6. Dengan pengecualian jumlah yang terbatas dari injeksi mata. membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai SDF. Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. 1589 a. Wadah atau tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama dalam penyimpanan. Pengerjaan penampilan untuk larutan dalam lingkungan yang bersih. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol. Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien Karakteristik Sediaan Mata o RPS 18 th. Kejernihan Larutan mata adalah dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi. Sediaan untuk mata dari berbagai jenis produk yang berbeda dapat berupa larutan tetes mata. Tentunya. Sediaan mata sama dengan produk steril lainnya yaitu kesterilan dan bebas dari bahan partikulat. Kadangkadang injeksi mata digunakan untuk hal-hal yang khusus. 357 a. penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah memberikan kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel asing. Oleh karena itu tidak perlu bebas pirogen karena metode penggunaan dan pemakaian obat sediaan mata berbeda dengan bahan yang diberikan secara parenteral dalam hal bahan yang ditambahkan untuk meningkatkan aktivitas untuk memelihara stabilitasnya dan sterilitas produk b. bahaya yang paling utama adalah memasukkan produk nonsteril kemata saat kornea digososk. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan.

Tonisitas Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garamgaram dalam larutan berair. Surfaktan jarang digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan kelarutan .4. Sebaliknya pada pH 5 kedua obat stabil dalam beberapa tahun c. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0. Antioksidan ini berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. khususnya natrium bisulfit atau metasulfit. bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun.1. Bahan Tambahan Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata dibolehkan. Bahan-bahan seperti metil selulose. zat tambahan larutanb dan tipe pengemasan Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6.5 % . pH produk. pH diseleksi jadi optimum untuk stabil. Antioksidan. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. Namun demikian pH stabilitas kimia (atau ketidakstabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan. Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini d. Larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketikamagnitude sifat koligatif larutan adfalah sama. Viskositas USP mengizinkan penggunaan peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0.Stabilitas obat dalam larutan seperti produk mata tergantung sifat kimia bahan obat. namun pemilihannya dalam jumlah tertentu. Antioksidan lain seperti asam askobat atau asetilsistein dapat digunakan.9 % larutan NaCl Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari suatu waktu yang diusulkan. Dengan obat ini. metode penyiapan (khususnya penggunaan suhu). khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin. Mayoritas bahan aktif dalam optalmology adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. Suspensi biasanya paling stabil pada pH asam pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator.3 %. digunakan dalam konsentrasi sampai 0. Buffer dan pH Idealnya. Surfaktan nonionik. dan prkteknya jarang dicapai.8 % NaCl intraokuler.8. Namun demikian ini tidak dibutuhkan ketika stabilitas produk dipertimbangkan e. Ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak larut. Umumnya viskositas meningkat dari 25 – 50 cps range signifikan meningkatkan lama kontak dalam mata f. keluar toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendahkhususnya suspensi steroid dan berhubungan dengan kejernihan larutan. sediaan mata sebaiknya diformulasi pada pH yang ekuivalen dengan cairan air mata yaitu 7. polivinil alkohol dan hidroksil metil selulose ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan viskositas Investigator telah mempelajari efek peningkatan viskositas pada waktu kontak dalam mata.

jari. pegang tube dalam tangan selama beberapa menit sebelum digunakan • Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengfan persis didepan cermin 8. Kelopak mata yang tertutup dapat digosok dengan lembut dengan jari untuk mendistribusikan obat melalui fornix g. Buka tutup dari tube c. Karena kemampuan netralisasi dari air mata. Cara Pembuatan Salep mata . Dengan satu tangan. Surfaktan nonionik. kelopak mata. tekan sejumlah kecil salep kedalam kelopak mata bagian bawah (± ¼ . Hati-hati agar tidak menyentuhkan ujung tube pada mata.01 – 0.½ inci). pH dari tetes mata dengan cepat dirubah menjadi pH fisiologis. khususnya beberapa konsentrasi signifikan. khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet. obat masuk kedalam cairan humor dimana obat akan terdifusi dengan cepat kedalam iris dan badan siliar yaitu tempat dimana obat mempunyai aksi farmakologis 9. Kadang-kadang pengaburan dapat terjadi f. dll e. 1584 a. tekan keluar ¼ inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering • Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun • Jika mempunyai lebih dari satu tube untu salep mata yang sama. Obat yang berpenetrasi sebagian akan dirubah menjadi bentuk terprotonisasi tergantung pada pH lingkungan berair pada stroma. Cara Penggunaan Salep mata RPS 18 th. sebaiknya dengan karakteristik bahan-bahan. Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata kesegala arah pada saat mata ditutup. sebagian dari garam akan dirubah menjadi bentuk basa bebas yang biasanya lebih larut lemak sehingga ion mudah ditransfer dalam sel epitel yang kaya akan lemak. buka satu tube saja • Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep mata pada waktu yang sama. tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep lainnya • Untuk memperbaiki aliran dari salep. tarik kelopak mata bagian bawah perlahanlahan d. Lapisan stroma ini berlapis-lapis. Tergantung dari sifat disosiasi dari alkaloida.Penggunaan surfaktan. Sambil melihat keatas. Benzalkonium klorida dalam range 0. Cuci tangan b. 882 Banyak obat mata adalah basa lemah dimana bentuk garamnya digunakan pada mata dalam larutan beriar. Pada saat melewati lapisan lemak endotelium. kurang mengandung lipid dan kaya akan air.02 % dengan toksisitas faktor pembatas konsentrasi. Teori Kinsey DOM. Tutup kembali tube • Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka • Pada saat tube salep dibuka pertama kali. Bentuk lemak dari alkaloid R3N melewati lapisan epitel kedalam substantia propia (stroma). sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar larutan dengan suspensi sediaan mata 7.

satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa (Bacilllus pyocyamis). salep akan tertahan dan tertinggal didalam tube. 357 Salep mata dibuat dengan menggunakan salah satu dari dua metode berikut : Jika bahan obat larut dalam air dan membentuk larutan stabil maka bahan obat dilarutkan dalam jumlah minimum air untuk injeksi. Campuran yang dihasilkan digabungkan dengan sisa basis 10. Cara Memasukkan Salep Kedalam Tube Scoville’s. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan. 1583 . Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme. Pada saat memasukkan salep. Tube seharusnya diisi sampai jarak 1 inci dari ujung tube sehingga memberikan tempat untuk penutupan tube. Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini ditunjukka dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. salep dalam kertas ditekan menjadi bentuk silinder. dikulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara o SDF. 359 Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Bahan partikulat dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien o RPS 18 th. Mengapa Salep Mata Harus Steril ? o Presc. Kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar dari tube yang dapat dilipat dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari. Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak mikroorganisme. 11. maka bahan obat dimikronisasi sampai menjadi sebur yang sangat halus dengan melevigasinya dengan sejumlah kecil basis. penutup dari tube harus dibuka untuk memungkinkan pengisian yang sempurna. ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk-produk nonsteril pada mata saat kornea terkena. Penutupan dilakukan dengan meratakan dasar salep dengan spatula dan melipatnya lebih dari dua kali dan menjaganya dengan penjepit khusus tube salep yang dilakukan dengan sepasang pinset. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. 181 Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. namun juga ditemukan disaluran intestinal. larutan yang dihasilkan kemudian digabungkan dengan basis yang telah dilebur dan campuran diaduk terus-menerus sampai mengental Jika bahan obat tidak segera larut dalam air. Dengan menempatkan batang pengaduk pada ujung lipatan dan menggulung kertas mengarah kebagian bawah lipatan.Scoville’s. 361 Cara yang paling mudah untuk mengisi tube adalah menempatkan salep pada sepotongn kertas berlilin atau kertas perkamen kemudian lipat kertas sehingga kedua ujungnya bertemu.

Lalu diamati dengan mikroskop berkekuatan rendah yang dilengkapi dengan mikrometer dan lensa okuler untuk partikel yang berukuran 50 µm atau lebih dalam beberapa dimensi. Uji Sterilitas (RPS 18 th. Sampel salep dilarutkan dalam pelarut untu tes steril. untuk salep yang larut dalam isopropil miristat (pelarut yang digunakan secara resmi untuk uji sterilitas). Ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opurtonis yang tumbuh baik pada banyak kultur media dan menghasilkan toksin dari produk antibakteri. Ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan pada 24 -48 jam. Untuk salep yang tidak larut dalam isopropil miristat. Letakkan tube pada posisi horisontal diatas lembaran kertas penyerap dalam oven dengan suhu yang diatur pada 60o + 3oC selama 8 jam. Bacillus gram negatif juga tumbuh pada sediaan mata yang menjadi sumber infeksi serius dari kornea. 1585) Uji sterilitas dari salep mata dilakukan dengan uji steril atau membran yang menahan bakteri dengan nilai porositas 0. Cenderung untuk membunuh kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni. 1585) Undang-undang resmi memberikan suatu uji yang dirancang untuk membatasi tingkat yang dipertimbangkan untuk jumlah atau ukuran yang dapat disetujui untuk partikel yang berbeda yang mungkin terdapat dalam salep mata. 1086) Pilih 10 tube salep mata dengan segel khusus jika disebutkan. Uji Partikel dan Ukuran (RPS 18 th. P. Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau setelah pengujian selesai. Cara Pengujian Salep mata a. Bersihkan dan keringkan baik-baik permukaan luar tiap tube dengan kain penyerap. disuspensikan pada pembawa berair yang cocok yang mengandung bahan pendispersi dalanm prosedur umum yang konvensional . 12. Dalam uji ini. Uji Kebocoran Salep mata (FI IV. Jika terdapat kebocoran pada 1 tube tapi tidak lebih darfi 1 tube.45 atau 0.Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyaneus. keluarkan isis dari 10 tube salep pertama-tama lebur dalam cawan petri. kemudian biarkan memadat.22 µm. abaikan bekas salep yang diperkirakan berasala dari bagian luar dimana terdapat lipatan dari tube atau dari bagian ulir (tutup tube). Pada konsentrasi yang ditopleransi oleh jaringan mata menunjukkan bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari organisme ini. Pengujian memenuhi syarat jika jumlah total dari partikel logam dalam 10 tube tidak lebih dari 50 g atau tidak lebih dari 1 tube ditemukan mengandung 8 partikel yang sama c. pyocyanea. Pengujian ini memenuhi syarat jika tidak satu pun kebocoran dari 10 tube uji pertama atau kebocoran yang diamati tidak lebih dari 1 atau 30 tube yang diuji b. ulangi pengujian dengan tambahan 20 tube salep. Blue Pas bacillus).

2.faktor dibawah ini sangat penting dalam pembuatan sediaan mata : 1. . ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan. 358 Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam succos konjungtival. sterilitas akhir dari collyrium (tetes mata)dan adanya bahan antimikrobauntuk menahan pertumbuhan dari suatu organisme yang ada selama penggunaan sediaan.  Dom Martin . kestabilan kekentalan dan sterilitas. 231 Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid.TETES MATA 1. Syarat. kesesuaian pH dari pembawa untuk menjamin stabilitas optimum  SDF .  Tekt bodes of pharmaclutik . 10 Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata atau bola mata. 2. garam-garam alkaloid.syarat sediaan mata  Scoville’s . Ketika cairan. 357 Sediaan untuk mata terdiri dari bermacam-macam tipe produk yang berbeda. miotik atau maksud diagnosa larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium). digunakan dengan cara meneteskan pada konjungtiva mata dengan memperhatikan stabilitasnya. 221 Faktor. Kesimpulan : Tetes mata adalah suatu sediaan steril yang mengandung air maupun minyak harus bebas dari partikel asing baik dalam bentuk alkalk atau garamnya atau bahan lain. antibiotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam mata. Sediaan ini bisa berupa larutan (tetes mata/pencuci mata). obat miontik seperti fisostigmin sulfat atau obat midriasis seperti atropin sulfat. isotonisitas dari larutan 4. anestetik. larutan harus isotonis larutan mata digunakan untuk antibakterial. 880 Tetes mata sering diteteskan kedalam mata yang terluka akibat kecelakaan atau operasi dan tetes mata kemudian secara potensial lebih berbahaya dibandingkan injeksi intravena.  Parrot . sediaan untuk mata adalah bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal dan karena itu tidak perlu bebas pirogen.  Scoville’s . Sediaan mata sama dengan sediaan steril lainnya yaitu harus steril dan bebas dari bahan partikalat. Dapat mengandung bahan-bahan AM seperti AB. suspensi/salep kadang-kadang injeksi mata digunakan dalam kasus khusus. Definisi tetes mata  FI III . midriatik. pH. Dengan pengeculian tertentu dari injeksi mata. 290 Bahan obat diteteskan kedalam mata harus diformulasi dengan tepat dan disiapkan dengan pemberian pertimbangan antara lain tonisitas. 3. bahan anti inflamasi seperti kortikosteroid.

dan tidak ada pernah kehilangan mata karena larutan sebagian terurai atau mengiritasi penggunaan larutan tidak steril kedalam mata yang terluka dilain hal sering menyebabkan kecelakaan. Dibuffer dengan tepat 7. larutan yang digunakan pada mata seperti suspensi dan salep harus disiapkan dengan perawatan yang sangat teliti. isotonis. Buffer 8. pH. viskositas. Stabilitas 4.9% larutan NaCl 5. Sterilitas 6. Scoville’s . Sayang sekali yang paling penting dari itu adalah sterilitas yang telah menerima sifat atau perhatian dari farmasis dan ahli mata. 145 Mata manusia adalah organ yang sangat sensitif. 880 Faktor yang paling penting dipertimbangkan ketika menyiapkan larutan mata adalah tonisitas. dan sifat pH.4 4. Bahan-bahan yang akurat 5. Harus steril 5. Dalam pembawa yang mengandung bahan meningkatkan sterilitas 3. Adanya bahan tambahan 3. Bebas dari partikel yang tersuspensi 4. Kesimpulan : 1. Isotonis 6. steril 2. Isotonik/mendekati isotonik 6. 247 Farmasi seharusnya menyiapkan larutan mata yang : 1. Viskositas 6. cara penyiapan (biasanya oleh pemaparan suhu) larutan tambahan dan tipe pengepakan 3. Dimasukkan dalam wadah yang steril germisidal untuk DOM king . Komposisi tetes mata . Stabilitas  RPS . Kejernihan 2. mata itu bereaksi secara cepat terhadap tiap perubahan dari lingkungan. Bahan tambahan  Dom Martin . Sterilitas 8. Pendaparan yang sesuai 7. Bebas dari partikel asing dan secara normal harus jernih yang dicapai dengan filtrsi 2. Persyaratan yang harus dipertimbangkan pada sediaan dikontrol dari produk sediaan mata : 1. Buffer dan pH idealnya. seleksi pengawet dan sterilisasi. Bebas dari iritasi  3. Dimasukkan dalam wadah yang kecil 8. Kejernihan 7. pH. stabilitas. Pengemasan 5. Tonisitas 10. 1589 1. Untuk alasan ini. Tonisitas. sediaan mata harus diformulasi pada pH yang ekivalen dengan nilai cairan mata yaitu 7. pH 9. Zat tambahan 3. Kekentalan 4. Pengawet 2. Kestabilan dari obat pada sediaan mata tergantung daari sifat kimia bahan obat. Ini diinginkan bahwa larutan mata stabil. sediaan atau larutan mata dipertimbangkan isotailk yaitu tonisitas sama dengan 0.

Buffer . 2. Asam borat dan boraks dalam tetes mata dari krednisolon Na sulfat. Oksidasi bahan obat. 3. benzolkonium klorida 0. tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan tambahan untuk mempertahankan potensinya dan mencegah kemunduran zat aktifnya. 10 Tetes mata berair umumnya dibuat menggunakan cairan pembawa berair yang mengandung zat pengawet terutama fenil raksa (II) nitrat atau fenil raksi (II). Pengaturan isotonisitas dengan sekresi laknimal.Pengawet . fenilefrin dan sulfatamia. Perlu suatu konsentrasi ion H+ yang stabil dan beberapa larutan buffer umumnya digunakan. zat aktif 2. Ketika ion logam dapat menyebabkan peruraian dari bahan obat dalam larutan.002%.FI III . Bahan tambahan : . Konsentrasi ion hidrogen. namun dalam beberapa kasus bahan obat membuat larutan hipertonis. dimasukkansetelah pereduksi natrium meta bisulfit dalam [] 0. Antara lain dapat mengandung hal-hal sebagai berikut : 1. Viskositas. seperti tetes mata sulfisetanid. 4. asetat 0. Bahan pengkhelat. bahan pengental digunakan yaitu metil selulosa 1% telah digunakan untuk tujuan ini.1% sering digunakan untuk tujuan ini.  Dom Cooper . mata dapat sedikit bertoleransi pada variasi yang luas dalam tekana osmotik dari larutan mata tapi ini biasa dan mungkin untuk mengaturnya menjadi isotonis dengan sekresi lakrimal. Banyak obat mata dengan mudah dioksidasi dan biasanya dalam suatu kasus.Tonisitas . Contoh dari penggunaan bahan pendapar Na sitrat digunakan dalam tetes mata perilefrin. 6. 184 Disamping bahan obat. Larutan untuk tetes mata khusus yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan feril merkuri.01 atau klorhebsidine asetat 0. Secara normal digunakan untuk mengatur tekana osmatik yang cocok dari larutan tetes mata. fenil etil alkohol dan benzol konium klorida. Ini digunakan untuk contoh dalam tetes mata BDS dari fisostigmin. nitrat.Pengkhelat  . yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet terhadap obat yang terkandung didalamnya selama waktu tetes mata itudimungkinkan untuk digunakan. 5.01%. Suatu bahan pengkholat yang mengikat ion-ion dalam kompleks organik akan memberikan perlindungan Na EDTA adalah satu dari bahan pengkhelat terbaik yanh dikenal. Pengawet pada dasarnya.pH . Kesimpulan : Komposisi tetes mata: 1. Untuk menghasilkan larutan kental yang akan memperpanjang aksi dari larutan mata untuk penahanan yang lebih lama dalam kontak dengan permukaan mata. pengawet dimasukkan untuk mencegah perkembangan mikroorganisme yang dapat ada selama penggunaan tetes mata.

5. Salep mata umumnya menghasilkan bentuk yang lebih besar daripada larutan berair  AMA Drugs : 1624 Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep. Penting untuk dicata bahwa ini bukanlah organisme yang jarang.4. Kemudian mekanisme utama dalam pertahanan melawan injeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata. 3. 290 Sterilitas diinginkan karena kornea dan jaringan yang segaris dengan daerah arteria adalah media yang baik untuk m. Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan 2. meskipun salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan. dengan definisi semua bahan-bahan adalah lengkap dalam larutan. maka jelas dengan sendirinya bahwa dengan sediaan mata harus steril. hanya sedikit pengaruh sifat fisika dengan tujuan ini. Keuntungan dan kerugian tetes mata Keuntungan  RPS 18th .  Prescription . Infeksi serius yang disebabkan organisme ini ditunjukan dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. tidak seperti darah. yakni paling mampu menyebabkan kerusakan mata adalahn pseudomonos aeroginosa (bacillus pyocyneus). infeksi mata dari orgabisme ini telah membuat kebutaan khususnya. USP XXI menggambarkan larutan mata.  Parrot . salah satu mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lisozim. berbahaya bagi produknon steril yang dimasukkan dalam mata ketika kornea terbuka. tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya.o. dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lisosim) yang mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa m. 357 Sterilitas adalah persyaratan yang sangat penting pembuatan larutan mata yang tidak layak dapat membawa banyak organisme yang paling berbahaya adalah pseodomonas aeroginosa. 181 Jika satu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata. Air mata. Kerugian . Sediaan mata harus steril karena :  SDF . keseragaman tidak menjadi maslah.1584 1. salep yang obat-obatnya larut dalam air.o dan penetesan dari larutan mata yang terkontanimasi kedalam mata yang luka oleh kecelakaan atau operasi dapat menghasilkan kehilangan penglihatan. namun juga ditemukan dalam saluran intestinal dari kulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada di udara (komersil atau persewaan) tidak mengejutkan jika tidak dirawat yang pantas.

salep mata umumnya menghasilkan bioavauabilitau yang lebih besar dibandingkan dengan larutan berair lainnya. Jangan pernah mencuci penetes d. usahakan untuk menjaga mata tetap terbuka dengan tidak berkedip paling kurang 30 detik 6. Jika penetes terpisah. 8. 142 Bahan aktif obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara topikal untuk kebanyakan obat kurang 1-3% dari dosis yang dimasukkan melewati kornea. Sampai kurang interior.  Cara penggunaan tetes mata  RPS 18th . Tempatkan penetes diatas mata. kornea dan iris sedangkan salep mata bekerja pada kelopak mata. Akan sangat membantu untuk latihan memakai obat dalam posisi didepan cermin g. 2. pasien yang mematuhi aturan dari tekhnik pemakaian yang tepat. Lepaskan penutup. Cuci tangan 2. Dengan satu tangan tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah 3. Jangan menggerakkan tetes mata yang telah mengalami perubahan warna e. jangan menyentuhnya penetes pada mata atau jari 5. kelenjar sebaseus konjungtiva dan kornea serta iris. Setelah penggunaan jangan menutup mata terlalu cepat dan usahakan jangan berkedip lebih sering dari biasanya karena dapat menghilangkan obat dari tempat efektifnya. Jika penetes terpisah tekan bola karetnya sekali ketika penetes dimasukkan kedalam botol pembawa 4. 1584 1. Perbedaan salep mata dan tetes mata  RPS 18th . buka satu tutup botol saja beberapa menit sebelum menggunakan tetes mata yang lain f. sementara penetes gelas dapat dengan dibungkus dan diotoklaf secara komersial disiapkan unit dosis tunggaol 7. wadah harus steril. Jika penetesnya terpisah. 367 Larutan mata disiapkan secara terus menerus dikemas dalam wadah tetes (dropsrainen) polietelin atau dalam botol tetes gelas untuk mempertahankan sterilitas larutan. Jangan pernah menyentuh penetes pada permukaan apapun c. . selalu tempatkan penetes dengan ujung mengarah kebawah b. Ditempat kerjanya tetes mata bekerja dari konjungtiva. Jika anda mempunyai lebih dari satu jenis botol tetes yang sama. RPS 18th : 1585 Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsorpsi  DOM King .6. Pewadahan  SDF . tempatkan kembali pada botol dan tutup erat a. Wadah polietilen disterilkan dengan etilen oksida. Sejak BA obat sangat lamvat. 1586-1587 1.

mereka masih dilengkapi dan yang terbaik adalah untuk menulis secara langsung produksi untuk menghasilkan informasi terkini dalam perkembangan terakhir. Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan. Penetes normalnya disegel dan dikemas dalam blaster pack yang menyenangkan. Bahaya obat non steril  RPS 18th : 1568 Pseudomonas aerugunosa ( B. antioksidan. biasanya karena pembatasan stabilitas. Ini dapat menyebabkan keilangan penglihatan pada 24-48 jam pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata. Scoville’s . Penggunaan wadah kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah pemaparan kontaminan.tipe I digunakan wadah sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril kemudian disterilkan dengan autoklaf. Siap dapat menggunakan plastik dan dalam wadah larutan. Bacilus gram (-) juga menjadi sumber dari ineksi yang serius pada kornea. reaksi quenchers dan yang mirip. . tidak pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. Meskipun beberapa botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran. tetapi bahkan sediaan parenteral mulai dikemas dalam pabrik khusus wadah polieblen atau polipropilen.3ml atau kurang dikemasdalam tube polietilen steril edan disegel dengan pemanasan. Satu yang seharusnya masih dipikirkan adalah wadah plastik. 247 Wadah untuk larutan mata. Blue Pus bacillus ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opportunis yang tambah baik pada kultur media yang menghasilkan toksin dan zat atau produk antibakteri cenderung untuk menambah kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeoginosa untuk tumbuh pada klur murni. Larutan intraokulir vulome besar 250-5—ml telah dikemas dalam gelas. larutan mata sebaiknya dibuat dalam unit kecil. pyocyamea. menunjukkan bahwa semua zat beberapa strain dari organisme ini. Wadah plastik dapat mengandung variasi bahan-bahan ekraneus seperti bahan-bahan pelepas jamur. 9. P. tinta dan warna juga dapat berpenetrasi polietilen dengan cepat. Wadah gelas memberikan bahan wadah yang menyenangkan untuk penyiapan terus menerus larutan mata.  dengan volum0. Sebaiknya bahan-bahan menguap dapat menyerap dari larutan kedalam atau melalui wadah plastik. Basanya polietilen densitas rendah adlah tidak boleh alat tergantikan dengan gelas. Pyouganeus. Lem label. RPS 18th : 1590 Wadah gelas sediaan mata tradisional dengan dilengkapi penetes gelas telah dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polieblen densitas rendah yang disebut ”droptrainers” hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih digunakan. A botol 7.5 ml adalah ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Wadah plastik adalah permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan air.

.

TETES HIDUNG 1. (16 : 352) . (7 : 252) Tetes hidung adalah obat tetes yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. Cairan pembawa sedapat mungkin mempunyai pH antara 5. isotonis atau hampir isotonis.5 dan dibuat isotonis menggunakan natrium klorida secukupnya. Dahulu kala. kadar tidak boleh lebih dari 0. larutan minyak tidak direkomendasikan lebih lanjut.01% b/v.5%) atau bahan antiseptik lain yang cocok. Zat pengawet umumnya digunakan benzalkonium klorida 0. Cairan pembawa umumnya digunakan air. (5 : 1526) Tetes hidung adalah larutan berair untuk dimasukkan ke dalam lubang hidung. Definisi Tetes Hidung Larutan untuk digunakan pada hidung disebut juga spray atau collunaria atau tetes hidung didefinisikan sebagai larutan berair atau berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau daerah nasofaring. Untuk alasan ini.01% b/v sampai 0. jika tetesan minyak masuk ke dalam trakea. Zat pensuspensi dapat digunakan sorbitan. polisorbat atau surfaktan lain yang cocok. Mereka dapat mengandung obat-obat vasokontriksi untuk mengobati kongesti nasal dan sering dilindungi dengan klorobutanol (0. mereka dapat menyebabkan pneumonia lipoid. (2 : 10) Larutan untuk hidung umumnya larutan berair yang dirancang untuk digunakan pada hidung sebagai tetes atau dapar. larutan minyak umum digunakan sebagai tetes hidung tetapi minyak dapat mengganggu aksi silia mukosa. pendapar dan pengawet.1% b/v.5.5 sampai 7. dapat mengandung zat pensuspensi. Zat pendapar dapat digunakan dapar yang cocok dengan pH 6. kapasitas dapar sedang.

tetes hidung. Jenis-jenis Sediaan Hidung (9 : 157) 1. Penggunaan jangka waktu lama obat vasokontriktor dalam hidung dapat menyebabkan kerusakan mukosa hidung. collunaria) Paling banyak sediaan untuk penggunaan lokal untuk rongga hidung adalah larutan berair. khususnya minyak mineral berbahaya dan telah dibuktikan dapat menyebabkan pneumonia lipoid atau pneumonia inspirasi-minyak sehingga aspirasi atau inspirasi dalam beberapa cairan. obat-obat vasokonstriksi dan antiseptik. Mempunyai kapasitas buffer yang baik. Pemilik spray menyiapkan dalam wadah tipe bertekanan. c. Pembawa untuk larutan hidung sebaiknya: a. (16 : 352) Kesimpulan : Tetes hidung biasa juga disebut spray atau collunaria merupakan larutan berair atau berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau daerah nasofaring digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. pengawet. Mempunyai pH dalam rentang 5. pendapar. Isotonik atau mendekati isotonik. b. lebih dipilih kurang dari 7. larutan minyak jarang digunakan dan tidak direkomendasikan untuk penggunaan pada hidung. Larutan (spray.5. .Tetes hidung dibuat dalam jumlah kecil (10 atau 25 ml) dalam botol gelas berwarna bergalur dengan plastik penyegel dan penetes. dapat mengandung zat pensuspensi. 2. Mereka selalu bercampur dengan aksi silia normal dan tidak membebaskan obat tidak larut secara efisien. Minyak. Meskipun petrolatum cair terang secara luas digunakan pada masa lalu.5-7.

f. Penetes hendaknya dibilas dengan air hangat dan dikeringkan dengan tissue sebelum menempatkannya kembali ke botol penetes. Tidak mengubah viskositas normal mukus. 2. pasien sebaiknya tetap pada posisi ini 2-4 menit untuk membiarkan obat berpenetrasi ke dalam sinus. Dapat bercampur dengan bahan aktif. g. Pasien seharusnya diberitahu untuk menyandarkan punggungnya sementara memiringkan kepalanya ke belakang. Mengandung pengawet untuk menekan pertumbuhan bakteri yang mungkin ada melalui penetes. Pasien sebaiknya diberitahukan untuk menjaga kepala tetap lurus atau membengkokkan kepala sedikit ke depan. Kemasan spray plastik tersedia untuk pembuatan resep dengan instruksi "spray". Ujung nozzle kemudian ditempatkan ke dalam nostril tanpa penghambatan sempurna. sepanjang penggunaan pasien sendiri. Botol gelas amber konvensional dengan penetes obat atas sebaiknya digunakan untuk obat tetes. Penetes sebaiknya ditempatkan tepat masuk dalam nostril dan sejumlah yang diresepkan tetesan dimasukkan. Salep dan Jelly . Setelah pengobatan keduanya. atomizer atau kemasan spray. Dapat bercampur dengan gerakan silia normal dan bahan ionik sekresi nasal. Wadah spray ditekan secara lembut sementara pasien bernafas perlahan. Nozzle hendaknya dibilas dengan air dan kemudian dikeringkan dengan tissue sebelum digunakan.d. Paling banyak larutan untuk hidung digunakan penetes. Cukup stabil untuk menyimpan aktivitas diperpanjang. e. h.

vasokonstriktor menguap adalah bahan aktif yang secara luas digunakan untuk sediaan hidung (Benzedrex inhaler). eukaliptol. metil selulosa. inhaler dimasukkan. Jelli larut air jarang digunakan untuk pengobatan vasokontriktor (Jelly efedrin) atau anestesi lokal (jelly Pramoxine) paling tinggi dalam kanal nasal ketika aksi diperpanjang diinginkan. Canister ditekan ke bawah secara hati-hati antara jari dan jempol untuk membebaskan dosis obat. dan bahan-bahan bercampur air. kondisi dermatologi dan celah vestibula hidung. Biasanya. 3. dan timol secara luas digunakan dalam inhaler OTC.Antibakteri. . Propel Hexedril. Mentol. 4. Inhaler Hidung Bertekanan Beberapa produk inhaler bertekanan tersedia untuk penggunaan kortikosteroid untuk membran hidung. Lubang hidung yang satu ditutup menggunakan tekanan jari. Hidung sebaiknya menghembuskan untuk membersihkan nostril dan inhaler dikocok dengan segera sebelum digunakan. pengawet dan salep topikal penyejuk kadang-kadang digunakan untuk pengobatan inflamasi. Sediaan basis minyak sebaiknya tidak digunakan dalam basis umum. Farmasis hendaknya secara hati-hati menginstruksikan pasien dalam penggunaan sehari bentuk dosis ini untuk memastikan keefektifan dan kelengkapan. Jelli-jelli ini disusun dari tragakan. kepala dimiringkan ke belakang dan potongan plastik nasal (nozzle) secara hati-hati dimasukkan ke dalam satu nostril. Sementara bernafas perlahan melalui nostril. Inhalan Obat-obat atau kombinasi obat yang oleh dengan tekanan uap tinggi dapat membawa udara dengan segera ke dalam rongga hidung. Sediaan ini tidak membingungkan dengan inhalasi dimana obat atau penggunaan larutan obat sebagai nebulizer (kabut) dimaksudkan untuk mencapai jaringan pernafasan.

Ada tidaknya kontrol netral terlibat dalam pemukulan silia dalam hidung manusia belum diketahui saat ini. Konsentrasi inhibitor kolinesterase yang sangat encer dan mempercepat pergerakan silia. Memastikan dengan mengocok lagi inhaler sebelum digunakan. Karakteristik lain dari membran mukosa adalah mempunyai jaringan kapiler yang sangat banyak dalam epitelium dan di sekitar kelenjar.Kemudian pasien hendaknya bernafas melalui mulut. Prosedur ini diulang untuk lubang hidung lain. Epitelium pada bagian hidung mengandung sel-sel silia kolumnar dimana diselingi sel goblet. Lapisan mukus bergerak terus-menerus menuju ke faring dengan aksi pemukulan dari silia. seorang penulis fisiologi hidung menyatakan bahwa semua penyakit infeksi pada batang hidung disebabkan oleh satu sumber yaitu kegagalan menyaring dan membersihkan. Seperti berulang kali ia tekankan bahwa kelembaban adalah hal penting dalam mekanisme pertahanan utama hidung yang baik-pergerakan silia yang secara konstan menarik lapisan mukosa ke belakang ke arah nasofaring. Sementara konsentrasi yang amat tinggi memperlambatnya. Jaringan kapiler ini menghubungkan sistem vena superfisial pada sistem arteri yang lebih dalam. 3. Baik atropin . Burn dengan jelas mengindikasikan bahwa asetilkolin diproduksi lokal dan konsentrasi lokal kolinesterase telah dideteksi. Bagian besar lubang hidung dilindungi dengan membran mukosa pernafasan. Vena balik merupakan ruangan darah superfisial menuju pleksus vena yang lebih dalam dan biasanya sangatlah besar seperti membentuk sinus yang besar. Bagian terakhir merupakan lubang dan kelenjar mukosa. Anatomi dan Fisiologi Hidung Anatomi dan Fisiologi Hidung (11 : 912) Proetz. membran mukosa pernafasan terbatas pada bagian atas dan bagian tengah turbin dalam septum hidung.

serbuk atau tetesan minyak terperangkap dalam lapisan dan dikeluarkan dari hidung menuju nasofaring. pseudoplastik. sinus paranasal. tidak terjadi fluoresensi. Arah aliran mukus masuk menuju nasofaring. Bagaimanapun jika mukus dihilangkan fluoresensi ditandai dengan saluran nasal dan mukosa menjadi banyak. meskipun ditransfer dari darah ke dalam cairan intestinal. trakea. Mukus juga merupakan perlindungan pada mukosa itu sendiri. zat warna tersebut masuk melalui sekresi hidung dengan mudah seperti eksudasi. Mukus merupakan sistem mukoprotein yang agak kental. tapi pasien rhinitis atau sinusitis akut. Jika larutan histamin ditempatkan dalam hidung tanpa merusak lapisan mukosa. . bukan melalui proses pasif. faring. Di bawah kondisi normal benda-benda asing seperti debu. bakteri. bergerak melalui aksi silia. esofagus dan ke dalam perut. sebagaimana dipercaya dahulu. Semua efek ini bersifat reversibel. Kelenjar mukosa bersekresi terus-menerus melalui proses grandular secara aktif. Lapisan mukosa bergerak terus-menerus. eksudatif atau transudatif. Pemberian parenteral antihistamin telah terbukti menghambat reaksi inflamasi ini.maupun kurare akan memperlambat pukulan silia. saliva dan cairan berair dan air mata. Dengan ini menginjeksikan fluoresensi secara intravena. Pada demam Hay akut derajat fluoresensi menyarankan bahwa setelah meningkat baik pada aktivitas eksudasi glandular. Komposisi mukus hidung tidak diketahui secara tepat karena tidak mungkin untuk mendapatkan sampel yang cocok untuk analisis kimia. Ingelsted dan Ivstam telah menunjukkan bahwa obat fluoresensi ini tidak dapat dideteksi dalam sekresi hidung normal. Pasien dengan rhinitis alergi kronis mengalami hal yang sama. Lapisan mukosa merupakan lapisan sekresi yang berlapis-lapis yang melindungi membran mukosa pada traktus pernafasan bagian atas dan memperluasnya di atas permukaan saluran hidung.

dikatakan 6 kali lebih kental dari mukus lambung.Mukoprotein telah ditemukan mengandung rantai polimer glukosamin dan atau asam glukoronat sebagai komponen protein. seorang penulis fisiologi hidung menyatakan bahwa semua penyakit infeksi pada batang hidung berasal dari satu sumber yaitu kegagalan filter untuk membersihkan dirinya sendiri. Bila terlalu tipis atau terlalu tebal silia tidak mampu untuk menggerakkan lapisan mukus. Kelembaban adalah bagian penting dalam mekanisme pertahanan hidung-silia yang baik. debu dan alergi. channel tinggi. Mukus merupakan sistem yang kental. Banyak hal yang dapat meningkatkan atau menurunkan produksi mukus diantaranya temperatur. Mukus secara terus-menerus diproduksi dan disekresi dan lapisan mukus secara terus-menerus bergerak maju ke faring dengan aksi pemukulan silia. Viskositas sekresi hidung penting untuk keefektifan aksi silia. Ikatan ini dapat berupa ikatan ionik. Beberapa rongga terbuka dalam hidung disebut kolektif paranasal dan termasuk variasi sinus. Anderson dan Rubin percaya bahwa sedikitnya 20% kasus hidung gejalanya meningkat karena peningkatan viskositas yang menyebabkan kekeringan. yang secara konstan menarik lapisan mukosa ke belakang menuju nasofaring. Paling banyak rongga hidung ditutupi oleh membran mukosa yang secara ekstrim kaya akan jaringan kapiler dan mengandung sejumlah kelenjar mukus. dibagi menjadi dua bagian oleh septum hidung. Proetz. psudoplastik. Anatomi dan Fisiologi Hidung (9 : 156) Rongga hidung adalah panjang. sempit. stimulasi atau depresi dan serangan virus. ekuivalen (ester anhidrida. Mukus hidung. hidrogen dan ikatan-ikatan lainnya). sistem mukoprotein yang bertindak sebagai pelindung untuk menutupi mukosa sebaik bahan-bahan yang . projeksi rambut kecil menutupi paling banyak rongga hidung. obat (atropin).

debu. rhinitis. benda asing seperti debu. Sediaan hidung alkali sebaiknya tidak digunakan untuk kondisi inflamasi akut ketika hanya membuat keadaan menjadi lebih baik untuk mentoleransi variasi tonisitas yang relatif besar. serbuk. bakteri dan tetesan minyak terperangkap dalam lapisan mukus dan dikeluarkan dari hidung menuju nasofaring dimana ia akan tertelan atau dikeluarkan.terperangkap masuk ke dalam rongga hidung.5. serbuk. sinusitis dan lain-lain. Diantaranya adalah efek temperatur dan kelembaban. Beberapa kondisi dapat meningkatkan atau mengurangi produksi dan atau viskositas mukus. Beberapa obat diabsorpsi secara sistemik melalui vaskuler hidung setelah pemakaian intranasal dan sistem pembawa nasal semipadat dipelajari untuk mengontrol pembebasan obat. sementara sangat hipo atau larutan hipertonik dapat menyebabkan iritasi. . pH cenderung lebih meningkat menuju alkali dengan kondisi tertentu seperti dingin umumnya. Aksi silia efektif atau pemukulan silia tergantung pada viskositas mukus. Sekresi nasal muncul untuk mempunyai sedikit kapasitas dapar dan terus-menerus penggunaan sediaan yang mempunyai nilai pH beberapa unit menghilangkan dari nilai normal yang dapat mengiritasi dan menyebabkan kerusakan jaringan. pH normal sekresi hidung kira-kira 5. Di bawah kondisi normal. dan alergi lain variasi obat. larutan isotonis (0. infeksi bakteri dan virus.9% NaCl) tampak dapat bercampur dan tidak mengiritasi hidung. Banyak simptom yang tidak menyenangkan dalam penyakit nasal adalah peningkatan viskositas dan dehidrasi sekresi.5-6. Bagaimanapun sejumlah kecil penggunaan intranasal merupakan metode rute penggunaan yang baik untuk mencapai level darah signifikan dari obat.

Pemberian hiosin dalam garam normal dengan spray tidak menghasilkan respon sebaik penggunaan pada .Absorpsi obat yang diberikan secara intranasal dapat terjadi dari jaringan pencernaan setelah mereka dialiri dari rongga hidung. paling banyak obat digunakan secara intranasal diberikan dalam jumlah kecil dari dosis. Pemberian obat pada pasien yang mual dan muntah memiliki kerugian nyata yaitu kesulitan menelan obat dan menahan obat dan relatif lambat. Rute intranasal tampaknya cukup ideal untuk tujuan ini karena kenyamanan dan kemudahan pemberian. Penundaan dalam kasus ini tampaknya tergantung pada waktu yang dibutuhkan untuk melarutkan kapsul dan garam alkaloid padat. Tanndorf dan pekerjanya. dan penggunaan pada hidung menempati posisi tengah. Injeksi subkutan memberikan respon yang paling nyata dan cepat. Penemuan mereka menunjukkan kegunaan pemberian nasal untuk penggunaan obat. mempelajari absorpsi hiosin dan atropin dari mukosa hidung manusia. Mereka menggunakan derajat penghambatan produksi saliva sebagai test untuk sejumlah obat yang diabsorpsi. 4. Kapsul yang diberikan secara oral memberikan respon yang paling lambat. Pentingnya rute pemberian dijelaskan. efektif yang biasa atau dirusak oleh saluran pencernaan. Absorpsi Obat Pada Hidung (11 : 915) Terdapat sejumlah kasus dimana absorpsi obat dibutuhkan pada kondisi saat injeksi parenteral atau pemberian rektal tidak praktis. bagaimanapun khususnya jika sejumlah besar larutan digunakan atau diberikan untuk bayi atau anak kecil. diikuti oleh penggunaan cairan oral. Untungnya. diikuti pembalikan menuju level normal. Dalam semua kasus produksi saliva secara signifikan berkurang di bawah level kontrol. Potensi untuk absorpsi melalui rute ini perlu dipertimbangkan.

Penulis menemukan bahwa inhalasi kristalin vitamin B12 dalam larutan NaCl dan serbuk laktosa menghasilkan respon klinik cukup dan respon hematologikal dalam 12 persen pasien anemia yang kambuh.01% natrium lauril sulfat ditambahkan. Hasil penelitian ini telah diumumkan dan beberapa penemuan telah dirangkum sebagai berikut : (11 : 913-915) 1) Larutan NaCl Silia baik pada manusia maupun kelinci tetap aktif untuk waktu lama dalam larutan NaCl 0. Respon Silia Terhadap Obat Respon silia terhadap obat dan pengaruh lainnya telah diteliti oleh Proetz dan yang lain. 5. dimana obat diabsorpsi dengan baik atau sedikit lebih baik daripada tetes hidung. ketika 0. Bagaimanapun. pemberian jumlah obat yang tepat dengan penggunaan spray ditemukan agak sulit. pengurangan tegangan permukaan membiarkan obat berdifusi dengan cepat ke daerah absorpsi. Bila konsentrasi NaCl ditingkatkan.tetes hidung. Penelitian tambahan terhadap kelompok yang termasuk pemberian sublingual. Bagaimanapun. semua aktivitas berhenti. Tidak ada komplikasi sekunder yang ditemukan. yang ditemukan lebih baik daripada rute nasal maupun subkutan dan hanya sedikit lebih baik daripada pemberian oral. Pada konsentrasi 4-4. Jika membrane dicuci dengan air suling lalu dicelup lagi dalam larutan NaCl 0.9% pada suhu antara 25 0C dan 30 0C. Setelah perlambatan gerakan terjadi di daerah lain.5%.9% maka aktivitas pada mula-mulanya berbeda dari . silia pada daerah tertentu berhenti bergerak. Monto dan Rebuck melaporkan penggunaan vitamin B12 dengan rute nasal.

Semua pergerakan akan berhenti pada konsentrasi 0. Pada dasarnya. efek air suling setara dengan NaCl yang sangat encer.2-0. dalam jangka waktu yang cukup. Transfer kembali ke lingkungan normal akan mengembalikan aksi silia seperti semula. Silia menjadi rusak permanen bila dipaparkan larutan hipotonis. Pemberian berulang pada tikus dan kelinci menyebabkan sinusitis akut. Proetz menstimulasi sekresi mukus dengan penggunaan lokal larutan alkohol (4%) dan gliserin (4%) dalam larutan garam . 3) Bahan Yang Bercampur Air Saat obat-obat sulfa populer dalam pengobatan hidung. beberapa peneliti mempelajari penggunaan propilenglikol tidak larut sebagai pembawa untuk melarutkan bentuk asam dari sulfa. Penambahan NaCl pada berbagai konsentrasi tidak mampu mengembalikan pergerakan seperti semula. 2) Pengurangan Ion Kalsium Penggunaan tartrat.3%. sehingga mengurangi kealkalian yang tinggi dari sulfonamida. dan bahkan bahan pengkhelat lainnya untuk kalsium atau sulfat dan fosfat menghentikan pergerakan silia bila diberikan dalam garam fisiologis. oksalat.kontrol tapi kemudian akan kembali seperti semula. Meskipun propilenglikol murni sangat hipertonik yang akan menarik dari jaringan di sekitarnya. Bila konsentrasi larutan dikurangi. Sejumlah tetesan mukus terbentuk pada silia. sekelompok silia bahkan tidak dapat dibedakan. sitrat. Alkohol dalam cairan isotonis telah digunakan dalam konsentrasi sampai 10% terhadap efek yang nyata. yang merupakan sistem yang digunakan untuk penggunaan klinis untuk jangka waktu yang lama. ketajaman silia bahkan perlahan-lahan akan berkurang dan permukaan menjadi berkabut.

Penggunaan minyak teriodisasi sebagai medium opak dalam X-ray untuk sinus dan bronki telah ditunjukkan sebagai prosedur yang aman.normal. Edema dan fragmentasi epitelium terjadi setelah kontak panjang argyrols (10%) dengan mukosa sinus frontal(harus diketahui bahwa argyrols merupakan kompleks protein perak oksida yang membutuhkan reaksi alkali kuat). Hasil semua sama ditemukan setelah pemberian zink sulfat. Bila larutan digunakan dalam bentuk tetes. Minyak-minyak juga berbahaya karena telah terbukti secara langsung menyebabkan pneumonia lipoid. pergerakan silia awalnya dihambat tapi terpulihkan dengan baik setelah pemberian larutan garam hangat. Hal ini menyebabkan turbinasi pada pasien dalam posisi duduk. 7) Larutan Kokain . maka akan timbul rasa sakit. 6) Larutan Perak dan Zink Pada penggunaan paling sedikit 0. 5) Protein Perak Ringan Bila protein perak koloidal digunakan pada membran mukosa. maka minyak terletak stasioner sebagai lapisan berat yang menyebabkan gangguan pada aksi silia normal. minyak-minyak sayur yang mempunyai asam lemak bebas yang rendah dikatakan kurang berbahaya daripada minyak mineral atau minyak hewan. Namun.5% perak nitrat menghancurkan silia. Minyak tidak cocok sebagai pembawa karena obat yang terlarut di dalamnya karena obat-obat tersebut tidak mampu menembus mukosa dan mencapai lapisan seluler. 4) Minyak-minyak Bila digunakan dalam membran.

Streptomisin dalam garam isotonis dalam 1000 unit/ml atau kurang. Larutan dengan konsentrasi kurang dari 0. Suspensi berair tirotrisin (1:2000 dan 1:5000) menahan pergerakan silia dengan sempurna. dan bahan-bahan Bahan-bahan ini dapat menyebabkan pengurangan pergerakan silia dan efek yang merugikan lainnya. Pada konsentrasi 5000 unit/ml terjadi penurunan kecepatan pukulan dan bahkan menghentikan aksi. timol. mentol. Pemulihan aktivitas normal diharapkan. kecuali dengan timol. dan hal yang sama dapat diasumsikan pada kebanyakan komponen simpatomimetik sintetik yang umum digunakan.Pada konsentrasi lebih dari 2. Tidak diketahui apakah data ini dalam perlakuan di bawah kondisi isotonis. kokain memparalisis silia. 8) Larutan Efedrin Konsentrasi efedrin (0. 9) menguap lainnya Kamfer. Namun Fabricant melaporkan bahwa . pada konsentrasi yang lebih rendah tidak ada efek selain pengerutan dan penyusutan permukaan. tidak mempunyai efek pengurangan atau merugikan membran mukosa hidung.1% tidak mempunyai efek yang berarti. 10) Antibiotik Penisilin (garam natrium) tidak merusak silia bila digunakan dalam larutan yang mengandung 250 dan 500 unit/ml (dalam NaCl isotonis).5%.5-1%) dalam larutan garam normal tidak menghasilkan perubahan aksi silia. Uap tidak berefek. eukaliptol.

menyebabkan penghentian aksi. efek menyengat terjadi setelah pemberian berulang. Baik pada kontrol garam dan larutan garam kuartener 1:10. 14) Larutan Timerosol Konsentrasi 1:1000 timerosol atau lebih sangat ekstrim dan menyebabkan penghentian gerakan silia secara permanen setelah pemberian 4 menit. yang mungkin dapat menyebabkan kerusakan. silia bergerak aktif apabila dicelup selama 1 jam dalam larutan ini. Tampaknya kuartener tidak merugikan bila digunakan dalam medium isotonis.penggunaan Na atau Ca Penisilin (Ca atau Na) sampai 5000 unit/ml tidak mempunyai efek pada membran mukosa pernafasan kelinci. Tidak tercatat efek yang merugikan pada efektivitas silia bila digunakan kuartener pada konsentrasi yang sama dalam larutan ragam isotonis. Pemakaian lokal mengurangi produksi mukosa. atropin menyebabkan pengeringan dan bahkan perhentian gerakan silia. yang dapat didapar di bawah pH tanpa pengendapan. Garam-garam sulfonamida lainnya seperti Na-suldosetamida. tapi pada pH sekitar 10 (alkali tinggi). . Bentuk asam bebas dari sulfonamida. 11) Atropin Bila diberikan secara oral. akan menunjukkan sedikit reaksi kerusakan. tidak hanya pada silia tapi juga pada berbagai lapisan pada mukosa hidung. sebagaimana air suling sendiri. terlarut dalam propilenglikol atau campuran propilenglikol-air dikatakan kurang mengiritasi. 13) Benzalkonium klorida dan Larutan Kuartener Lainnya Larutan berair benzalkonium klorida 1:1000 dan 1:2000.000. 12) Natrium Sulfarthiazol Bila diberikan dalam larutan berair 5%. natrium sulfathiazol tidak mempengaruhi pemukulan silia dengan cepat dan berarti.

Larutan 0. Jadi. Syarat-syarat Tetes Hidung (7 : 253) a. Telah ditemukan bahwa penggunaan obat alkali dalam hidung cenderung untuk meningkatkan sekresi lebih alkali.15) Surfaktan Anionik dan Nonionik Beberapa surfaktan anionik berbeda termasuk Na Lauril Sulfat. 6. Na-dioktil sulfosuksinat dan alkil benzen sulfonat telah dicuci pada membran excise dan intact. b. Isotonisitas Penggunaan larutan berair lambat laun memusatkan perhatian pada pertanyaan tonisitas karena ditemukan bahwa baik larutan konsentrasi rendah dan tinggi keduanya menyebabkan iritasi pada membran mukosa hidung yang tidak nampak jika larutan isotonis atau sedikit hipertonis digunakan.05% Na-Lauril Sulfat dilaporkan menyebabkan sedikit rasa membakar. larutan dektrosa isotonis dan larutan NaCl isotonis telah menjadi bagian dari pelarut untuk sediaan ini.5-6.01% dapat ditoleransi tanpa efek. pergeserannya menuju ke lebih asam.5. pH cenderung naik menjadi alkali selama serangan rhinitis akut. Oleh karena . Hampir 0. sementara pH hidung anakanak pada range 5-6. Larutan yang sedikit asam lebih efektif dalam pengobatan flu dan infeksi sinus. Surfaktan nonionik tampaknya ditoleransi pada konsentrasi yang lebih tinggi. Konsentrasi Ion Hidrogen Fabricant telah menemukan bahwa pH sekresi hidung orang dewasa tidak tetap tetapi secara normal bervariasi dari 5. Lebih dari 200 pasien menggunakan larutan yang mengandung 0.7.01% dan dilaporkan tidak terjadi sensasi yang berarti pada penggunaanya. Sementara penggunaan larutan asam cenderung untuk meningkatkan keasaman sekresi. Jika terdapat inflamasi kuat.

Konsentrasi ion hidrogen dalam larutan hidung juga penting untuk alasan lain. Telah ditunjukkan bahwa obat dari garam Na sulfonamida telah merusak aksi silia. . Perubahan pH juga berhubungan dengan aksi silia normal dan menghambat aksi perlindungan silia. atau sedikitnya memperpanjang kondisi ini. penggunaan tetes hidung yang lebih alkali selama rhinitis dan rhino sinusitis akut dikontraindikasikan karena cenderung untuk membuat sekresi abnormal yang sudah alkali lebih alkali.4-7. Asam rendah adalah tidak menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri.5) dan tidak menyebabkan iritasi disebabkan oleh sulfonamida yang lebih alkali. Bagaimanapun. Dia menggunakan 3% larutan propilenglikol sulfathiazol dan 10% larutan sulfonamida. 7. Pemilik spray menyiapkan dalam wadah tipe bertekanan. Penggunaan jangka waktu lama obat vasokontriktor dalam hidung dapat menyebabkan kerusakan mukosa hidung. aksi menyengat pada membran mukosa dan cenderung menginduksi sensitivitas obat. Untuk mengatasi alkali kuat. Larutan sedikit asam dalam reaksinya. Pewadahan (16 : 352) Tetes hidung dibuat dalam jumlah kecil (10 atau 25 ml) dalam botol gelas berwarna bergalur dengan plastik penyegel dan penetes. sifat mengiritasi dan penguraian sulfonamida. Yonkman telah merekomendasikan penggunaan propilenglikol untuk obat-obat ini. yang sangat tidak diinginkan. Ini adalah sulfonamida larut dan esensial netral dalam reaksi (pH 7.itu. sulfonamida yang umum digunakan dalam tetes hidung adalah sulfasetamid Na dan sulfisoxazol dietanolamin.

atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan.  FN : 317 Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan.  RPS 18th : 1545 Parenteral merupakan rute pemberian obat melalui injeksi di bawah untuk menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa.  Scoville's : 124 Injeksi adalah larutan yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik. emulsi.  Parrot : 283 Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril yang diberikan dengan menembus satu atau lebih lapisan kulit.INJEKSI 1 Definisi Injeksi  FI III : 13 Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan . suspensi. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. emulsi.  PTM : 3 Injeksi adalah sediaan cair dari obat yang dimaksudkan ke tubuh atau melalui kulit atau selaput lendir. suspensi.

Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas.1. emulsi. atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir atau menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa menggunakan alat suntik.lebih dahulu sebelum digunakan. Ketika sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi. suspensi. Parenteral Volume Kecil a. Intradermal Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis" yang berarti sensitif.2 Rute-rute Injeksi  DOM Martin : 970 1. maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme. II. lapisan pembuluh darah dalam kulit. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Kesimpulan Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril berupa larutan. pembuluh darah betul-betul kecil. Intramuskular Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. b. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset .

Intravena Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. injeksi ke dalam serebrum.sedikit lebih normal daripada rute intravena. digunakan untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh. disuntikkan langsung ke dalam arteri.  Intraserebral. Rute Injeksi Lain Selain empat rute parenteral primer. disuntikkan langsung ke dalam jantung.  Intrakardial. e. d. c. beberapa rute juga digunakan untuk aksi khusus. kadang-kadang untuk aksi lokal daripada efek sistemik. puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera. dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir sekejap.  Rute intra-arterial. tetapi lebih besar daripada rute subkutan. digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia. Subkutan Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM. Ketika tidak ada absorpsi. digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal jantung. .

 Intraspinal. dan (5) kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan. (3) efek sistemik dapat segera dicapai. dan (4) pembatasan cairan berair. (3) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septik. Intravena Keuntungan rute ini adalah (1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC. injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal.  Intraperitoneal dan intrapleural 2. b. (2) perkembangan potensial trombophlebitis. Kerugiannya adalah meliputi : (1) gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar. (4) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan. (2) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat. a. hanya rute intravena dan subkutan yang secara normal digunakan. Parenteral Volume Besar Untuk pemberian larutan volume besar. Subkutan Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika rute intravena tidak dapat . Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.

Rute ini juga digunakan jika obat mengiritasi atau tidak larut dalam air atau minyak sehingga obat tersebut harus digunakan dalam bentuk suspensi. Volume injeksi harus tetap kecil. Subkutan (s. volume injeksi tidak lebih dari 1 ml. Cairan volume besar secara relatif dapat digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat.  PTM : 6-11 1. umumnya tidak lebih dari 2 ml.digunakan. Intramuskular (i. jenis cairan yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat tambahannya. biasanya lengan atau daerah panggul. Dibandingkan dengan rute intravena.v) Injeksi yang dimasukkan langsung ke dalam aliran darah. Rute ini diberikan secara perlahan-lahan sehingga larutan diencerkan oleh darah mengalir melewati titik dimana jarum . absorpsinya lebih lambat. 2. Hal ini memungkinkan dengan hati-hati untuk memberikan volume kedil larutan pekat yang secara normal akan mengiritasi jaringan.c) Injeksi yang dimasukkan ke dalam jaringan lunak tepat di bawah permukaan kulit karena ketersediaan ruangan dalam jaringan terbatas. lebih nyeri dan tidak menyenangkan.m) Injeksi yang secara langsung dimasukkan ke dalam otot. 3. Perhatian diinginkan untuk membuat formulasi yang berhubungan dengan kondisi pH dan tonisitas. Intravena (i.

sesuai keadaan tubuh pasien. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0. Intratekal Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Intra-artikular Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi. merupakan suatu rute yang mana digunakan untuk menginjeksi ke dalam aliran darah volume besar dari larutan hipertonik atau larutan teriritasi seperti dekstrosa 70%.1-0. 4.c) Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah stratum corneum. Intrakutan (i. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal. 6. 7.5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal. Rute ini juga digunakan untuk pemberian volume besar dari penggantian dan larutan hiperalimentasi. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Kateterisasi meliputi proses pembedahan dan secara . Proses ini membutuhkan bantuan kateter.disuntikkan. 5. Intrakardial Secara langsung ke dalam jantung.

8. Perhatian : Injeksi harus diberikan perlahan-lahan untuk mencegah pembengkakan jaringan. 9.  PDF : 26-29 o Hiperdermoklisis Deskripsi : kegunaan rute pemakaian subkutan untuk infus larutan volume besar ke dalam jaringan subkutan.45% larutan garam. Cairan seperti Ringer Laktat. dengan keadaan kritis untuk injeksi. dan garam normal dapat diinjeksikan untuk mempertahankan atau pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit.p) Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. disebut hipodermoklisis. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal.umum hanya dilakukan dalam unit-unit tertentu dari rumah sakit yang lebih besar. Intraperitoneal (i. dektrosa 2. cairan . pemakaian cairan secara hiperdermoklisis dapat diindikasikan jika kecepatan absorpsi lambat diinginkan atau jika tidak ada vena yang cocok (misal untuk bayi atau lanjut usia). Intrasisternal dan Peridural Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Indikasi : Meskipun jarang digunakan sekarang. Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan. Larutan hipertonis.5% dalam 0.

emulsi lemak. hati. dimana perfusi regional dengan konsentrasi tinggi dari obat toksis (yang bila diberikan secara i. renal. o Intra-arterial Dekripsi : Injeksi atau infus ke dalam arteri yang membawa langsung pada organ target. menghasilkan penurunan volume plasma dan shok. pulmonari. dan lainnya berbeda dari pH tubuh secara signifikan tidak digunakan. enterik.bebas elektrolit. Bila larutan noneletrolit hipertonik disuntikkan. Indikasi: Rute intra-arterial digunakan umumnya untuk tujuan diagnosis seperti menginjeksikan bahan-bahan radiopak untuk studi roentgenografik dari cadangan vaskuler pada berbagai organ atau jaringan (seperti koroner. atau arteri perifer). serebral. Infeksi lokal adalah umum dan mungkin menjadi masalah. Hampir semua arteri dicapai dengan kateterisasi arterial.v dapat dihubungkan dengan reaksi sistemik serius) yang dapat tercapai. Penggunaan rute intra-arterial untuk tujuan pengobatan adalah jarang dan terbatas pada umumnya untuk kemoterapi organ tertentu. sejumlah besar cairan dapat dibawa dari kompartemen vaskuler. Perhatian: Rute ini sangat berbahaya karena produk-produk yang menggunakan rute ini tidak diencerkan secukupnya ataupun disaring untuk paru-paru. ginjal sebelum kontak dengan jaringan perifer atau organ vital yang terlindung oleh . seperti mengobati kanker lokal tertentu (seperti melanoma malignant pada ekstremitis bawah). asam amino.

o Intralesional Deskripsi: Injeksi bahan obat langsung ke dalam atau di sekitar luka. Sebagai tambahan. embolisme udara dengan akibat iskemia dan atau infarksi jaringan dapat terjadi. lichen planus hipertropikus. lichen simpleks. sarkoid. infarksi. untuk mencapai efek terapetik. seperti infeksi (baik intra-arterial atau ekstra-arterial) atau tromboembolisme arteri atau vasospasme. dan keadaan yang biasanya tidak muncul apabila sejumlah kecil udara diinfuskan ke dalam sistem vena. dimana diinjeksikan langsung ke dalam atau di sekitar tempat gigitan. kerusakan pada intima arteri dan dinding pembuluh dapat terjadi. Jika udara diinfuskan dengan tidak sengaja. herpes zoster (dan post-zoster neuralgia) dan jerawat sistik atau . bila teknik pemasukannya salah. atau gangren pada jaringan atau organ. yang dapat menyebabkan iskemia. Terapi serupa ditemukan tidak berguna pada rabies. Dermatologis umumnya menggunakan rute ini untuk mengobati psoriasis. sehingga ekstravasi perdarahan serius ataupun aneurisme disserting dapat terjadi.arteri. biasanya pada atau dalam kulit atau jaringan lembut. Indikasi : Injeksi bahan-bahan obat ke dalam atau sekitar luka umumnya telah berguna jika diinginkan untuk menetralkan berbagai toksin seperti tetanus dimana injeksi antitoksin ke dalam atau sekitar luka telah digunakan. Produk yang terkontaminasi dengan mikroorganisme endotoksin dan atau bahan partikulat dapat menyebabkan komplikasi serius atau reaksi.

3. Chamber arterior: injeksi atau irigasi langsung ke dalam chamber anterior mata. untuk anestesi globe (retrobulbar) dan untuk dilatasi pupil dengan sikloplegik dan . Intravitreal : injeksi langsung ke dalam lubang vitreous pada mata. tergantung pada tipe luka yang diinjeksikan. Keloid juga telah sering ditangani dengan injeksi lokal seperti ini. Retrobulbar : injeksi di sekitar ( bukan ke dalam) bagian posterior bulat. 2. o Intraokuler Deskripsi : Ada 4 tipe injeksi intraokuler yang digunakan : 1. Injeksi semacam ini diberikan di bawah konjugtiva. dengan steroid lokal. 4. Subkonjugtiva : meskipun termasuk di bawah intraokuler. penyebaran lokal dari proses yang diobati dapat terjadi. Indikasi : Setiap rute digunakan untuk pengobatan infeksi dan inflamasi pada maya yang tidak diobati secara efektif oleh pengobatan secara topikal atau sistemik. tetapi biasanya dengan steroid berdosis tinggi. Dengan penyakit infeksi.nedulus. Meskipun mengalami kesulitan. lingkungan steril harus disiapkan sebelum diinjeksikan. Perhatian : Komplikasi yang paling sering terjadi yaitu infeksi. biasanya dari organisme yang baru masuk pada nasokamial. sehingga obat-obat berdifusi melalui limbus dan sklera ke dalam mata. injeksi subkonjungtiva (dan retrobulbar) bukanlah injeksi intraokuler.

Infeksi selalu berbahaya dan harus sedapat mungkin dicegah. sebagai transpor intraokuler dan difusi adalah miskin. sebab infeksi dapt menyebabkan kerusakan pada mata yang cepat dan atau kebutaan. Pemilihan tipe injeksi intraokuler tergantung pada penyakit yang ada dan lokasi yang tepat pada penyakit tersebut pada mata. Indikasi : Seringkali. adalah kerusakan saraf mata. Seringkali. o Intrapleural Deskripsi : Biasanya diinjeksikan tunggal ke dalam lubang pleura. infeksi atau keganasan meliputi lubang pleura. rute ini dapat digunakan untuk tujuan irigasi atau untuk injeksi obat berulang. Injeksi intraokuler adalah dilengkapi seringkali oleh infus intravena obat terapetik. pelepasan retina. terutama pada endotelium kornea. katarak dan injeksi obat langsung ke dalam sirkulasi dengan efek sistemik. nekrosis retina. umumnya bila proses penyakit adalah kerusakan fungsi . Komplikasi yang dapat timbul tergantung pada seleksi rute. umumnya tidak lebih dari 0. Volume larutan yang dapat diinjeksikan ke dalam mata biasanya terbatas. Memasukkan obat ke dalam mata adalah mengalami kesulitan.2 ml.1-0. perdarahan. Perhatian : Perhatian ekstra dan teknik tepat diinginkan untuk meminimalkan atau mencegah kerusakan pada mata. pipa tidak permanent dimasukkan ke dada melalui pembedahan. Oleh karena dibutuhkan pengetahuan yang baik tentang anatomi dan fungsi mata maka ahli mata yang dapat melakukannya.midriatik.

Enzim (seperti streptokinase dan streptodornase) dapat diinjeksikan pada empyemas cair tebal yang todak dapat dihilangkan oleh absorpsi atau repsorpsi secara alamiah. o Intrauterin Deskripsi : Diinjeksikan atau diinfuskan melalui jarum yang dimasukkan secara perkutan ke dalam rahim yang hamil. perdarahan intrapleural dan atau infeksi superimposed. Indikasi : Injeksi atau infus bahan-bahan tertentu seperti garam 20%. Sebagai tambahan. maka di tangan ahli yang kurang berpengalaman. adhesi. Hal yang terakhir lebih sering terjadi saat pipa dada berada di dalam dada untuk periode waktu yang panjang. penebalan pleura dan restriksi pernafasan. Juga penyebaran karsinoma atau mesothelomas pleura dapat diobati dengan injeksi intrapleural lokal dan bahan-bahan antitumor atau sclerosis. Perhatian : Komplikasi yang paling sering disebabkan oleh infeksi intrapleural adalah pneumothorax (kolaps paru-paru). bahan-bahan yang berbeda untuk . Bila bagian kiri tidak terobati. prostaglandin E atau urea ke dalam rahim yang hamil digunakan setelah 16 minggu kehamilan untuk menginduksi kerja dalam aborsi medik atau membawa fetus yang masih hidup. terutama bila infus berulang menjadi masalah. empyemas dapat menyebabkan fibrasis. maka digunakan rute ini. Meskipun kebanyakan aborsi dilakukan menggunakan terknik operasi. aborsi medik melalui injeksi intrauterin ini berguna.pernafasan.

Indikasi : Rute ini utamanya digunakan selama pengobatan infeksi (seperti meningitis bakteri atau fungi dan atau ventrikulitis) dan keganasan (seperti infiltrasi leukemia dari meningitis atau karsinomatosa) melibatkan membran dan cairan serebrospinal yang meliputi SSP. Perhatian : Oleh karena cairan serebrospinal adalah organ yang kritis sebagai otak dan cordspinal dank arena salah satu . Rute ini digunakan terutama dalam situasi dimana obat-obat yang digunakan berdifusi atau lewat dengan buruk dari kompartemen vaskuler ke dalam ventrikel dan ruang subarachnoid dan atau dimana efek samping sistemik dari bahan partikulat diinginkan (seperti dalam pengobatan meningitis fungi dengan amfoterisin β atau dalam terapi infiltrasi leukemia dengan methothexate). Kemungkinan di tangan orang yang tidak berpengalaman. Bila garam 20% tidak diinginkan untuk diinfuskan secara i. sindrom koagulopati intravaskular terhambur dapat terjadi. yang diakibatkan oleh semua masalah yang disebabkan rute ini. pembengkakan rahim atai saluran kemih dapat diinjeksikan.studi roentgenografik dapat diinjeksikan untuk studi anomaly kongental yang potensial. o Intraventrikuler Deskripsi : Diinjeksikan langsung ke dalam ventrikel lateral otak. Perhatian : Infeksi (amnionitis dan myometritis) adalah komplikasi yang paling umum terjadi.v pada pasien. Untungnya hal ini jarang terjadi. kematian dapat terjadi. Seringkali.

. tuberculosis (Old Tuberculin. seperti diphtheria (shick test).  Textbook of Pharmaceutics : 553 Injeksi parenteral adalah salah satu yang disuntikkan di bawah satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa ke dalam daerah khusus dari tubuh. Injeksi Subkutan atau Hipodermik Obat-obat vasokontriksi seperti adrenalin dapat ditambahkan untuk efek lokal. Adanya bahan asing. seperti anestesi lokal. tetapi kadang-kadang emulsi minyak dalam air.v untuk mengganti cairan darah yang hilang akibat shok. Intradermal atau injeksi intrakutan Untuk diagnosa atau test penyakit tertentu. Volume besar 500 ml atau lebih diberikan dalam bentuk infus i.fungsinya dipercaya untuk menjaga atau melindungi cairan dari organ ini. 2. Injeksi Intra-arterial Digunakan ketika aksi segera diinginkan pada daerah perifer. dan biologic. atau cairan tubuh hilang oleh diarrhoeia. operasi pembedahan. kimia. Intravena Larutan berair. Derivat Protein Tuberculin Murni). 5. 4. Jenis-jenis berikut yang tersedia : 1. 3. (seperti Phytomenadion Injection. seperti pada kolera. Injeksi Intramuskular Larutan berair dan berminyak dan juga bentuk suspensi diberikan melalui rute intramuscular. jika diinjeksikan ke sistem dapat mengendapkan inflamasi. BP). Pemisahan cairan atau membran termasuk deleterius dan mungkin mati. luka.

Bila memungkinkan.1. . 3. hormon dan antibiotik. asma. 8. Injeksi Intrasisternal Untuk pemberian antibiotik. pasien tidak dapat menerima obat secara oral. Injeksi Intratekal atau Subarachnoid Digunakan untuk anestesi spinal. Tidak mengandung bakterisida. 7. lumbar dan sakral. 2. Injeksi Peridural Injeksi peridural dapat dibuat dalam daerah torax. II. shok. 4. yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung. bebas bahan partikulat.6.Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif.Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan. terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien harus kembali untuk pengobatan selanjutnya. Injeksi Intrakardial Diinjeksikan secara langsung pada otot jantung atau ventrikel untuk pengobatan darurat.3 Keuntungan Injeksi  SDF : 11 1. 9.Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan. seperti insulin. mual atau tidak sadar harus diberikan secara injeksi. Juga dalam beberapa kasus.

nutrisi total diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral.Aksi obat biasanya lebih cepat. Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan elektrolit. 7. 8.Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral. 3. tetapi dapat ditoleransi ketika diberikan secara intravena. 6. bentuk parenteral tersedia.Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok. dan harus diberikan secara parenteral. pemberian intravena dapat menyelamatkan hidupnya.Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut.  Parrot : 283 Beberapa obat mempunyai keuntungan dibandingkan dengan pemberian secara oral.Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti pada gigi dan anestesi.Seluruh dosis obat digunakan. 4. seperti insulin dan heparin.  PTM : 6 1. 5. secara lengkap tidak aktif ketika diberikan secara oral.5. termasuk injeksi steroid periode panjang secara intra-artikular dan penggunaan penisilin periode panjang secara i.Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang.Beberapa obat. 2. misalnya larutan kuat dektrosa. .m.

pemberian parenteral dapat memberikan efek yang segera dan menentu.Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian rute lain. 4. 3.1. karena pada pemberian dan pengemasan.Pemberian rute ini adalah penting ketika jalur gastrointestinal tidak dapat digunakan karena pembedahan atau kekurangan stabilitas. Anestesi lokal digunakan oleh dokter gigi untuk menginjeksi dekat batang dari serabut dan membantu sensasi nyeri segera pada daerahnya.4 Kerugian Injeksi  SDF : 11 1. 2. 4.  PTM : 11 .Yang terakhir. 3.Pada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat dihindari. seperti obat-obat penisilin dan penisilin G.1. II.Injeksi dapat menghasilkan efek lokal.Dalam kasus darurat dimana pasien tidak sadar atau tidak menerima obat oral.Respon fisiologis dari injeksi lebih cepat dan efektif dibandingkan pemberian secara oral. bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute yang lain. 2.Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya.

ditujukan untuk penggunaan parenteral yang dikenal sebagai injeksi. 4. II.Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien. dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis.  Parrot : 283 Beberapa orang tidak menyukai pemberian injeksi karena : 1. 2. Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah penggunaan. injeksi itu tidak nyaman. 4. pada bagian yang diinjeksikan. 3.Umumnya. 5. 2. obat dengan segera menuju ke organ targetnya.Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Injeksi dapat dikemas sebagai unit dosis .Dalam beberapa kasus.Perhatian harus diberikan untuk injeksi intravena.1. Efek sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis.1.5 Komposisi Injeksi  SDF : 16 Obat-obat dalam larutan dalam pembawa yang cocok. 3. terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i.Reaksi sensitivitas lebih sering terjadi pada parenteral daripada bentuk sediaan lain. efeknya sulit untuk dikembalikan lagi.v. dengan atau tanpa bahan tambahan.Terapi parenteral lebih mahal daripada bentuk yang lain karena penggunaan dan produksinya.Dibutuhkan orang-orang yang terlatih untuk pemberiannya.Sekali digunakan.

seperti injeksi Atropin Sulfat atau sebanyak 1 L seperti injeksi dektrosa. Asam askorbat Sistein Monotiogliseril Tokoferol Bahan antimikroba atau pengawet  Benzalkonium klorida  Benzil alkohol  Klorobutanol  Metakreosol  Butil p-hidroksibenzoat  Metil p-hidroksibenzoat  Propil p-hidroksibenzoat  Fenol  Timerosol c.tunggal atau unit dosis ganda.  Modern Pharmeceutics : 450-457 1. Buffer . volumenya dapat sejumlah setengah milliliter. termasuk bisulfit. Antioksidan Garam-garam sulfurdioksida. metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu digunakan :     b.Bahan tambahan a.Bahan aktif 2.

Gas inert   f. Surfaktan   Polioksietilen Sorbitan monooleat h. Bahan pengkhelat Asetat Sitrat Fosfat Garam etilendiamintetraasetat (EDTA) e. Nitrogen Argon Bahan penambah kelarutan (Kosolven)      Etil alkohol Gliserin Polietilen glikol Propilen glikol Lecithin g.   d. Bahan pelindung     Dekstrosa Laktosa Maltosa Albumin serum manusia . Bahan pengisotonis   Dekstrosa NaCl i.

6 Syarat-syarat Injeksi  PTM : 11 Rangkuman dari syarat-syarat utama dari produk injeksi : Karena kritikal alami.j.Pembawa a. Pembawa nonair dan campuran o Minyak nabati     o Pelarut bercampur air     II.1. Bahan penyerbuk     Laktosa Manitol Sorbitol Gliserin 3. mengontrol kondisi lingkungan dan pengemasan untuk menjamin bahwa pada penggunaan produk : Gliserin Etil alkohol Propilen glikol Polietilenglikol 300 Minyak jagung Minyak biji kapas Minyak kacang Minyak wijen . sediaan parenteral harus disiapkan secara hatihati. Pembawa air Menggunakan air untuk injeksi b.

a. pH dan tekanan osmotik.  Parrot : 284 Semua bahan-bahan yang dimasukkan ke epidermis tubuh harus bebas dari mikroorganisme. teknik aseptik dan manipulator akan . steril atau dibuat dari bahan-bahan steril di bawah kondisi yang kurang akan adanya kombinasi mikroorganisme (proses aseptik). kebebasan dari mikoorganisme hidup dijamin pada awalnya dengan pembuatan produk dengan proses sterilisasi yang sah.  SDF : 37 1) Sterilitas Semua bentuk sediaan yang diberikan secara parenteral. bebas dari semua mikroorganisme hidup. Bebas dari mikroorganisme. Istilah steril adalah mutlak dan seharusnya tidak pernah digunakan atau betul-betul dipertimbangkan dalam suatu cara relatif baik sebagian atau hampir steril juga diharapkan dalam penanganan berikutnya dari produk selama pemberian. pirogen dan iritasi. Dalam injeksi volume besar. Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut. kemudian pengemasan produk dalam dalam suatu bentuk yang meyakinkan penyimpanan dari sifat ini. larutan optalmik dan beberapa dosis medis yang digunakan dalam hubungannya dengan pemberian bahan yang harus steril. c. dan aliran harus secara fisiologi bercampur dengan cairan tubuh. Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik lainnya. b.

bahan kimia tidak larut. karet. dengan adanya bahan yang mengapung. gelas. mengingat yang lain memiliki sumber khusus tersendiri. Bahan asing yang ditemukan dalam sediaan parenteral meliputi selulosa. serat kapas. karet diatomae. logam. Kehadiran bahan partikulat dalam sediaan larutan parenteral diperhatikan karena konsep rute pemberiannya. Walaupun rute parenteral dapat menyiapkan lama penyimpanan. Bagaimanapun. partikel plastik. yang tanpa sengaja ada dalam sediaan parenteral. Teknik aseptik yang tepat untuk penyiapan dan pemberian bentuk sediaan steril akan didiskusikan selanjutnya. 2) Bebas dari bahan partikulat Bahan partikulat mengacu kepada bahan yang bergerak. kebutuhan. Pengaruh Secara Biologis Kejernihan. dan metode efektif dari pemberian. tidak larut. Komposisi dari bahan partikulat yang tidak diinginkan bervariasi. ketombe dan sebagainya. awalnya ini adalah alasan fisiologis misalnya pengaruh larutan terhadap bahan yang tampak terhadap pasien yang menerimanya dalam injeksi akan merupakan gambaran kesimpulan produk yang beredar di pasaran. atau tidak adanya bahan partikel yang tampak selalu dipertimbangkan sebagai persyaratan untuk produk parenteral. Saat gelas ampul mulai terkenal sebagai . namun dipercaya bahwa bahan-bahan dari luar yang tidak disengaja dapat berbahaya. komposisi ini dari berbagai sumber. Dalam beberapa hal. penampilan.menjamin pengeluaran berlanjut dari mikroorganisme hidup.

Pirogen diproduksi oleh mikroorganisme gram-negatif yang sangat poten. 5. umum digunakan untuk mengartikan reaksi ini. "protein fever". Manipulasi yang melibatkan peralatan produk untuk pemberian sama baiknya dengan lingkungan saat produk tersebut dibuat. Definisi Pirogen didefinisikan sebagai produk metabolit yang berasal dari mikroorganisme hidup. Ekstrak pirogen kering muncul menjadi stabil sepanjang waktu. sakit kepala. "serum fever". 2. dan "salvarsan fever". Proses pabrikasi dan berbagai variabel seperti lingkungan. peralatan dan personil. atau mikroorganisme mati yang dapat menyebabkan respon demam setelah penyuntikan. 3) Bebas dari Pirogen Sekarang dalam praktek pemberian obat secara parenteral.wadah pengemasan. . Komponen kemasan dan kandungannya. 3. Istilah seperti "sait fever". Larutan itu sendiri dan bahan kimia yang dikandungnya. Alat dan peralatan yang digunakan saat pemberian produk. 4. hal ini dapat dicatat bahwa kemungkinan partikel gelas akan masuk ke dalam larutan saat ampul dibuka. dan peningkatan suhu tubuh (demam). Sumber Bahan partikel dapat masuk dalam larutan parenteral dengan berbagai cara dan sumber : 1. Reaksi-reaksi ini antara lain malaise. reaksi piretik sering diamati.

7 Injeksi Intravena Harus Steril (Lachman : 639) . perkembangan atau perhatian utama ditujukan pada kestabilan obat. 5) Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah (SDF : 164) Walaupun diinginkan bahwa cairan intravena isotonik untuk meminimalkan trauma pada pembuluh darah. Penguraian obat tidak begitu nyata ditunjukkan oleh perubahan secara visual. Pemilihan bahan tambahan membantu dalam peranannya pada kestabilan secara fisika dan kimia. 4) Kestabilan Dalam perkembangan sediaan steril. larutan hipertonik atau hipotonik dapat diberikan dengan sukses. Pembentukan endapan atau warnanya biasanya mengindikasikan ketidakstabilan.bahkan larutan yang terpirogenik kehilangan beberapa aktivitasnya sampai beberapa tahun. Obat dalam sediaan cenderung menjadi kurang stabil daripada obat dalam bentuk kering. sutau larutan subpoten dapat tetap jernih dan tidak berwarna. Larutan nutrient hipertonik konsentrasi tinggi digunakan pada hiperalimentasi parenteral. larutan ini diberikan secara perlahan dengan kateter pada vena besar seperti subclavian. suatu larutan atau suspensi dibutuhkan atau berupa faktor kestabilan obat dipertimbangkan secara hati-hati. Untuk penggunaan parenteral. Untuk meminimalkan iritasi pembuluh. Untuk larutan kestabilan secara fisika memperlihatkan pada kenampakan secara fisika dari produk saat penyimpanan. II.1.

Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera pada daftar berikut. cuci bagian luar wadah dengan air. maka sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksis dan harus mempunyai kemurnian yang tinggi.10 Keseragaman Volume (FI III L 19) Batas penyimpanan (%) +10 + 7. timbang satu persatu.5 +5 . Timbang satu persatu.8 Uji Kesterilan (FI III : 18) Injeksi harus memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada uji keamanan hayati. dalam keadaan terbuka.1. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera.Sediaan parenteral merupakan sediaan yang unik di antara bentuk obat terbagi-bagi. Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efesien yakni membran kulit dan mukosa. keringkan. II.1. II.1. keringkan pada suhu 105 0C hingga bobot tetap. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih II. Karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam tubuh.9 Uji Keseragaman Bobot (FI III : 19) Keseragaman bobot : Sediaan yang sebelum digunakan sebagai injeksi dilarutkan terlebih dahulu. harus memenuhi syarat keseragaman bobot berikut : Hilangkan etiket 10 wadah. Keluarkan isi wadah. dinginkan. cuci wadah dengan air kemudian dengan etanol (95%)P.

0 ml 50.70 ml 0. Ini perlu karena beberapa larutan akan selalu melekat pada sisi wadah dan tidak dapat terpisah. wadah dosis ganda dan sebagainya berupa vial serum atau botol serum.0 ml atau lebih II.90 ml 0.0 ml 2.15 ml 0.25 ml 0.50 ml 0.10 ml 0.30 ml 0.Volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar di bawah ini.12 ml 0.60 ml 0. Penggunaan vial dan ampul sebelumnya dibuat dengan silikon membuat pergerakan isi lebih mudah karena cairan dengan vial tidak basah dan berpisah dengan gelas tetapi agak mengalir dengan cepat dan bebas dari sini.0 ml 5.80 ml 1.0 ml 30.15 ml 0.11 Wadah Injeksi  Scoville's : 207 Volume tambahan yang dianjurkan Cairan encer Cairan kental 0.20 ml 2% 3% Wadah sebaiknya selalu diisi dengan volume larutan yang lebih besar daripada yang tertera pada label.  Scoville's : 200 Ada dua tipe utama wadah untuk injeksi yaitu dosis tunggal dan dosis ganda.10 ml 0. pada kasus tertentu. Sejumlah besar larutan perlu untuk menambahkan akan mengubah ukuran wadah dan viskositas larutan. Wadah dosis tunggal yang paling sering digunakan adalah ampul dimana kisaran ukurannya dari 1-100 ml.0 ml 10. bentuknya mirip .0 ml 20. Kapasitas vial serum 1-50 ml.50 ml 0.5 ml 1. khususnya ketika penggunaan vial silikon.1. Volume pada etiket 0.

Oleh karena itu. Gelas tipe II dan III digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak. dan Tipe III (tabel 8). sodium. ini lebih disukai untuk produk terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. besi. kalsium. potassium. Formulator harus mengetahuidan sadar bahwa masingmasing tipe gelas adalah berbeda dan level bahan tambahannya (boron. Gelas Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam tipe I. USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipe gelas berbeda. Tipe II. sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas soda lime. Gelas tipe II adalah gelas soda-lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi permukaan alkalinoksida). dan magnesium) yang berefek terhadap sifat kimia dan fisika. . disusun hampir ekslusif dan barosilikat (silikon dioksida). Ditutup dengan penutup karet spiral. membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim. Tipe I adalah mempunyai derajat yang paling tinggi.0 sebaik sediaan asam dan netral. Labu atau tutup yang lebih besar mengandung 250-2000 ml. digunakan untuk cairan parenteral yang besar seperti NaCl isotonis. Botol serum juga dapat sebagai botol tipe army dengan kisaran ukuran dari 75-100 ml dan memiliki mulut yang lebar dimana ditutup dengan penutup karet spiral.ampul tetapi disegel dengan pemanasan.  Encyclopedia : 231 1. Tipe II dapat digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7. Gelas tipe I. meskipun paling mahal.

02 N Ukuran (ml) asam Semua 1.formulator sebaiknya mempunyai semua informasi yang diperlukan dari pembuatan gelas untuk memastikan bahwa formulasi gelas adalah konsisten dan dari batch dan spesifikasi bahan tambahan adalah konsisten ditemukan. Namun demikian. dapat leach ke dalam formulasi dan mempercepat reaksi oksidasi. Warna ambar dihasilkan dengan penambahan besi dan mangan oksida untuk formulasi gelas. Gelas untuk parenteral volume kecil – Tabel 8 Definisi Tipe Umum I Paling resisten.0 .2 8. Karet Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral volume kecil untuk penutup vial dan catridge dan penutup untuk Attack water Gelas serbuk Gelas serbuk 100 atau kurang lebih 100 Semua Semua 0.7 0.5 15.0 Gelas serbuk Test USP Batas ml 0. gelas II borosilikat Gelas dibuat dari soda lime III IV Gelas soda lime Gelas soda lime-tujuan umum Wadah gelas ambar digunakan untuk produk yang sensitif terhadap cahaya. 2.

tetapi juga banyak bahan tambahan seperti bahan pelunak. dan antioksidan. baik untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban) dan sifat sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan reaktivitas dengan produk farmasetik. Paling banyak polimer karet digunakan dalam penutup sediaan parenteral volume kecil adalah alami dan butil karet dengan silikon dan karet neopren digunakan jarang. Seperti gelas.pembedahan. Masalah dengan penutup karet termasuk leaching bahan ke dalam produk. aktivator dan percepatan. penyerapan bahan aktif atau pengawet antimikroba oleh elastomer dan coring karet oleh pengulangan insersi benang. Akan tetapi. mempunyai penyerapan uap air rendah (oleh karena itu. vulkanishing. Silikonisasi penutp karet adalah umum dilakukan untuk memfasilitasi pergerakan karet melalui peralatan sepanjang proses dan peletakan ke dalam vial. Coring menghasilkan partikel karet yang berefek terhadap kualitas dan keamanan potensial produk. Butil karet lebih disukai karena ini diinginkan sedikit bahan tambahan. Formulasi ini betul-betul kompleks. silikon tidak . pelunak. pewarna. Tidak hanya mereka mengandung basis polimer karet. Banyak bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi atau pemurnian dan dapat bersumber dari masalah degradasi fisika dan kimia dalam produk parenteral. formulator harus bekerja dengan tertutup dengan pembuat karet untuk memilih formulasi karet yang tepat dengan spesifikasi tetap dan karakteristik untuk mempertahankan kestabilan produk.

menyebabkan masalah fisika dan kimia. Plastik Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk bentuk sediaan mata yang diberikan oleh botol plastic fleksibel. Formulasi plastik adalah sedikit. Kontak yang luar biasa dengan karet tersilikonisasi dapat menghasilkan agregasi protein. Pembuatan elastomer mempunyai perkembangan formulasi yang tidak menginginkan penggunaan silikon untuk menggunakan dalam operasi produksi kecepatan tinggi. eliminasi kerusakan gelas dari kenyamanan penggunaan. Wadah plastic parenteral volume kecil lain dari produk mata menjadi lebih luas dipakai karena pemeliharaan harga.Komponen karet Dapat Diautoklaf Digunakan Dalam Sediaan Parenteral Volume Kecil Tipe Bahan Penyerapan Uap Reaksi Potensial . 3. Paling umum digunakan plastik polimer untuk sediaan mata adalah polietilen densitas rendah. polipropilen. orang yang bersangkutan memeras untuk mengeluarkan tetesan larutan steril.bercampur dengan obat hidrofilik. Seperti formulasi karet. suspensi atau gel. poliamida (nilon). khususnya protein. formulasi polyolefin lebih luas digunakan sebaik polivinil klorida. polikarbonat dan kopolimer (seperti etilen-vinil asetat). Tabel 9. Untuk sediaan parenteral volume kecdil yang lain. Kompleks daripada karet dan cenderung mempunyai potensial lebih rendah untuk bahannya. formulasi plastik dapat berinteraksi dengan produk.

1. Masing-masing pembedahan dan wadah catridge mempunyai peningkatan popularitas dan penggunaan karena kenyamanan mereka dibandingkan vial dan ampul.Butil Natural Neupre n Polisop Tambahan Sederhana Tinggi Tinggi Tinggi Air Rendah Sederhana Sederhana Sederhana Sangat tinggi Dengan Produk Sederhana Tinggi Tinggi Sederhana Rendah ren Silikon Sederhana 4. Injeksi. tetapi jarang digunakan sekarang karena masalah aprtikel gelas ketika leher ampul dibuka. Wadah plastik digunakan untuk penggunaan produk mata. Kelarutan Obat . Gelas ampul digunakan paling banyak untuk sistem pengemasan parenteral volume kecil. Salep dengan tube logam digunakan untuk kemasan salep mata steril.12 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Obat Yang Diinjeksikan Secara Subkutan atau Intramuskular Ke Dalam Sirkulasi Umum (PDF Vol 1: 40-41) 1. Vial dan ampul menginginkan kemunduran produk dari kemasan. sebaliknya produk-produk dalam pembedahan dan catridge adalah siap untuk diberikan. Keduanya digunakan untuk parenteral volume besar (LVP). II. Container / wadah Tipe wadah yang paling umum digunakan untuk sediaan parenteral volume kecil adalah gelas atau vial polietilen dengan penutup karet dan besi.

Viskositas yang lebih tinggi. pH cairan pada daerah yang disuntikkan. kelarutannya dalam cairan pada jaringan subkutan atau otot tergantung pada koefesien partisi dan derajat ionisasi sebagai tanda oleh pH cairan yang ada pada daerah yang disuntikkan. Kecepatan Aliran Darah Pada Daerah Yang Disuntikkan Fakta yang telah diketahui bahwa aliran darah yang lebih besar dalam jaringan kapiler ke dan dari tempat dimana ia diinjeksikan. Sekali obat dalam larutan dari bentuk sediaan. kelarutan dari sediaan dicegah. dan koefesien difusi obat. dan lebih lambat kecepatan absorpsinya ke dalam aliran darah dari tempat yang diinjeksikan. lebih rendah koefesien partisinya. Ada 2 tipe kelarutan yang penting yaitu kelarutan dalam pembawa dari bentuk sediaan dan kelarutan dalam cairan tubuh. sebaik kelarutan dalam jaringan cairan pada daerah yang disuntikkan. 2. Kecepatan disolusi dari obat yang diinjeksikan dalam bentuk suspensi tergantung dari ukuran partikel obat. 3. Koefesien Partisi Obat Kelarutan dalam lemak rendah dari obat. sifat polimorfis dari bentuk kristal obat. secara lebih besar menentukan kecepatan absorpsi dari obat. maka akan semakin tinggi kecepatan absorpsi dari obat.Obat-obat perlu dilarutkan secara sempurna sebelum mereka dapat melewati obat atau hambatan jaringan dan masuk ke dalam sistem sirkulasi. Akan tetapi obat yang diberikan dalam bentuk suspensi. Untuk obat-obat yang diberikan dalam bentuk larutan. kecepatan disolusi obat dari pembawa bentuk sediaan. koefesien dari obat dikurangi. Injeksi ke dalam otot lateral paha atau bokong dihubungkan dengan absorpsi .

Pengendapan partikel dapat dilarutkan kembali. fenitoin. Faktorfaktor yang meningkatkan aliran darah. 5. tetapi kecepatan disolusinya lambat. 6. 4. meningkatkan absorpsi obat setelah injeksi intramuscular atau subkutan. kecepatan disolusi lebih lambat. jika diberikan secara concurrently pada daerah yang diinjeksikan mengurangi kecepatan absorpsi obat. Sebaliknya. dan digoxin. Ukuran partikel yang lebih besar. Obat-obat yang sedikit larut. Degradasi Obat Pada Daerah Yang Diinjeksikan Distribusi dari bahan aktif obat secara biologis dikurangi jika obat dimetabolisme atau dalam cara lain didegradasi pada daerah terinjeksi. Ukuran Partikel Dari Obat Ukuran partikel obat yang tersuspensi mempengaruhi kecepatan disolusinya dalam bentuk sediaan. untuk melarutkan (seperti gliserin)dan atau untuk peningkatan kestabilan (antioksidan) yang secara potensial dapat .obat yang lebih lambat dan rendah (karena vaskular yang kurang dan bahan lemak lebih tinggi) daripada injeksi dalam otot. Bahan-bahan Formulasi Bahan-bahan yang ditambahkan untuk formulasi sediaan obat untuk dapat disuspensikan kembali (seperti derivate selulosa). faktor-faktor yang dapat mengurangi aliran darah. meskipun perlahan-lahan larut dalam bentuk kosolvennya. seperti latihan. mereka tidak larut dalam cairan berair tubuh. seperti obat vasokonstriksi seperti epinefrin. luas permukaan obat kurang tersedia untuk interaksi dengan cairan tubuh. seperti diazepam.

Akan tetapi. injeksi di daerah tersebut berhubungan dengan lag time antara waktu injeksi dan penampakannya dalam darah.14 Cara Penyegelan Ampul (Lachman : 671) . Alur kapiler paru-paru seperti filter dan dalam beberapa keadaan bertindak sebagai reservoir jika partisi bahan yang terinjeksi dalam jaringan paru-paru dan secara subsequent terlepas balik ke dalam sistem sirkulasi. II. Porsi obat yang dibersihkan oleh ekshalasi.1. khususnya untuk mereka dengan tekanan uap tinggi. Setelah injeksi intravena atau infuse. bahan-bahan harus pertama melewati paru-paru. II. dan sebagai peningkat viskositas. Paru-paru bertindak sebagai organ distribusi dan eliminasi. obat-obat terabsorpsi juga dapat didistribusikan dari paruparu.1. Sebelum dipompakan masuk ke dalam sirkulasi arteri oleh jantung.13 Distribusi Obat Yang Diberikan Secara Parenteral Bahan-bahan yang diberikan secara intramuscular. intravena atau subkutan masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui limfatik dan atau sistem transport vena. menyediakan partisi obat yang menyenangkan.mempengaruhi distribusi obat dari daerah pemberian. obat-obat yang masuk ke dalam paru-paru didistribusikan melalui distribusi seluruh volumenya. seperti kompleksi yang mengurangi kecepatan disolusi obat. yang mengurangi transport obat dari daerah injeksi ke sistem sirkulasi. Demikian efek-efek dapat dimanifestasikan dalam berbagai cara. Setelah pemberian injeksi intramuscular atau subkutan.paur-paru juga bertindak sebagai daerah untuk metabolisme bahan-bahan tertentu.

Jarum harus dikeluarkan dari ampul tanpa menggunakan tetes larutan pada dinding primer dari leher ampul.15 Cara Pengisian Ampul (Scoville's : 206) Untuk pengisian ampul. Segel tarik dibuat dengan memanaskan leher dari suatu ampul yang berputar di daerah ujungnya kemudian menarik ujungnya hingga membentuk kapiler kecil yang dapat diputar sebelum bagian yang meleleh tersebut ditutup. . Segel penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada bagian atas leher ampul bulatan gelas dan menutup bagian yang terbuka. Metode ini digunakan untuk mencegah pengurangan dan pengotoran jika ampul disegel. II. Leher ampul. jarum hipodermik panjang adalah penting karena lubangnya kecil. tetapi tidak cukup jauh untuk masuk ke dalam larutan yang dimasukkan ke dalam ampul.1.Ampul dapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas dari leher ampul sehingga membentuk segel penutup atau segel tarik. Jarum harus dimasukkan ke dalam ampul sampai di bawah.

Edisi IV. Martindale The Extra Pharmacopeia. Depkes RI. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy. Pensilvania. Scoville's:The Art of Compounding. Philadelphia. Ninth Edition. Marck Publishing Co. Marck Publishing Company. Ganiswara. AMA Drug Evaluation. . Penerbit Buku Kedokteran. (1998). Handbook of Pharmaceutical Excipient. Jakarta.E. Pharmacetical Press. 6. Pharmacy Press.L. Philadelphia.B. (1986). Marck Publishing Company. et all. Drug Evaluation Annual.F. D. Lea and Febiger.. (1995). (1982)... Third Edition. Martin. Lachman.J. Remington's Pharmaceutical Science. 11. 10. Edisi III. 8. Jakarta. Edisi V. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta. London. Jenkins. Farmakologi dan Terapi. King.. 12. America. (1979). (1994). 15. Parfitt. 18th Edition. EGC. (1994).R. (1998). Jakarta. T. Bailliere. 4.. London.. A. Goodman and Gilman's The Pharmaceutical Basis of Therapeutics.A. (1969). Tindall. Bentley Textbook of Pharmaceutics. Dispensing of Medication.E.E.. 28th Edition. Gilman. R. (1984). 7. American Medical Association. (1994). (1971).. Farmakope Indonesia. Obat-obat Penting. (2003). 2. Depkes RI. Gennaro. Eight Edition. S. 16. 9.K. Nuswantari. Jakarta.A. 14.H.. Dispensing of Medication. Ditjen POM.DAFTAR PUSTAKA 1. (1995).A. Tjay.. Reynolds. (1995).. Rawling. 32nd Edition. USA. Ditjen POM. 1995. 5. The Pharmaceutical Press.H. 3. Edisi IV Depkes RI. (2000).. 13. Martindale The Complete Drug Reference. G. Easton. Farmakope Indonesia. Bagian Farmakologi FKUI. Pergamen Press. London. Kibbe. L. Burgess Publishing Co.G.

17. Howard. C. UI Press. . 1989. “ Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi ” Edisi IV. Jakarta. Ansel.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful