STERILISASI 1. Pengertian Steril 1.

SDF : 37 Steril adalah suatu kondisi absolut dan harus tidak pernah digunakan atau dianggap secara relatif sebagai bahan atau hampir steril 2. Lachman : 619 Steril adalah kondisi yang memungkinkan tercipatanya kebebasan penuh dari mikroorganisme dengan keterbatasan 3. RPS : 1470 Steril adalah tidak adanya mikoroorganisme yang aktif 4. Text book phar ; 526 Steril adalah keadaan bebas dari mikroorganisme hidup dari lingkungan 5. PDF Kenneth ; 325 Steril adalah produk biologis steril sebagai produk yang bebas dari kontaminasi mikroba sebagai hasil dari tes sterilisasi. Kesimpulan : Steril adalah suatu keadaan yang mutlak bebas dari mikroorganisme baik patogen maupun non patogen,baik vegetatif maupun sporanya, tidak setengah atau hampir steril. 2. Definisi sterilitas 1. RPS 18 th : 1470 Sterilitas adalah karakteristik yang disyaratkna untuk sediaan farmasetik bebas dari mikroorganisme hidup karena metode, wadah atau rute pemakaian 2. SDF : 15 Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan-sediaan farmasetik ini karena metode, wadah atau rute pemakaian Kesimpulan : Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan farmasetik yang bebas dari mikroorganisme hidup meliputi metode, wadah atau rute pemakaian. 3. Definisi sterilisasi 1. Scoville’s : 403 Sterilisasi adalah suatu proses membunuh atau menghilangkan bakteri dan mikroorganisme lain. 2. Ansel : 410 Sterilisasi adalah suatu proses seperti yang dilakukan terhadap sediaan farmasetik berarti penghancuran sempurna seluruh mikroorganisme dan sporanya atau penghilangan mikroorganisme dari sediaan 3. Lachman : 619 Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menghasilkan keadaan steril 4. Parrot : 274 Sterilisasi adalah proses pembunuhan atau penghilangan mikroorganisme dan spora yang hidup 5. RPS 18TH : 1470 Sterilisasi adalah suatu proses dimana semua bentuk organisme hidup dihilangkan atau dirusak fungsinya yang mungkin 6. DOM : 592 Sterilisasi adalah biasanya didefinisikan sebagai pemusnahan keseluruhan atau menghilangkan semua jenis-jenis kehidupan dari material-material

7. Text Book of Pharm ; 526 Sterilisasi adalah semua proses untuk mencapai status steril. Kesimpulan : Sterilasasi adalah suatu proses mengurangi, menghilangkan, menghancurkan, membunuh mikroorganisme dan sporanya dari sediaan untuk mencapai suatu keadaan yang steril. 4. Jenis-jenis sediaan steril SDF ; 15-18 1. Injeksi Larutan obat dalam pembawa yang sesuai dengan atau tanpa penambahan bahan-bahan dimaksudkan untuk pemakaian parenteral dibuat sebagai injeksi. 2. Cairan infuse Cairan infuse intravena dibuat sebagai sejumlah karakteristik infuse melalui cara pemakaiannya. 3. Radiasi Farmasetik Bahan kimia radio aktif digunakan untuk uji, fungsi bahan-bahan yang kadang dipastikan sejumlah infeksi dibawah radiofarmasetik. Ini berbeda dari infeksi lain dalam obat sebagi bentuk radioaktif. 4. Steril Padat Beberapa obat tidak mempunyai kestabilan yang cukup dalam larutan untuk dapat mewadahkannya seperti injeksi maka disediakan sebagai sediaan padat kering dalam larutan ketika digunakan. 5. Suspensi steril Suspensi obat dalam pembawa parenteral yang cocok dibuat sebagai suspensi obat steril seperti suspensi sediaan Hidrokortison Asetat. Jika obat ini bentuk kering dan suspensi dengan penambahan pembawa parenteral yang cocok disebut obat steril unutk suspensi seperti Kloramfenikol Steril untuk Suspensi. 6. Tetes Mata, Suspensi dan Salep Obat-obat dalam larutan atau suspensi digunakan melalui penetesan pada mata sebagai sediaan steril, walaupun tidak umum disebut steril seperti larutan mata Natrium Sulfametasol atau suspensi mata Hidrokortison asetat. 7. Larutan irigasi Larutan irigasi yang digunakan untuk mencuci atau menyembuhkan luka terbuka, rongga badan didefinisikan sebagai larutan irigasi dan diguanakn pada pemakaian luar tidak pernah secara parenteral 8. Bahan Diagnosis Larutan yang digunakan secara parenteral untuk tujuan diagnosa seperti injeksi yang digunakan unutk menentukan volume darah. 9. Ekstrak Allergenio Ekstrak allergenio adalah konsentrasi steril pada allergen atau bahan-bahan yang tidak bisa sensitif. Pada beberapa orang digunakan untuk diagnosa atau percobaan pada reaksi alergi. 10. Larutan Dialisis Peritonial Larutan yang digunakan pada teknik yang dikenal sebagai dialisis peritoneal utnuk menurunkan kelebihan larutan cairan tubuh, serum elektrolit, bahanbahan toksik seluruh pencernaan. 5. Metode-metode Sterilisasi

A. 1.

Sterilisasi Secara Fisika Pemanasan Kering a. Udara Panas Oven (Scoville`s :404) Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak., paraffin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alatalat gelas dan banyak alat-alat bedah. Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam aytoklaf. Salah satu elemen penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap aotoklaf. Atau dengan adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan. Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak dibunuh oleh suhu sampai 121o C (suhu yang biasanya digunakan dalam autoklaf bahkan setelah pemanasan sampai 45 menit). Untik alasan ini, autoklaf merupakan metodee yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak, produk yang dibuat dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali. Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi. Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 121 C selam 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 150 C sampai 170 C selama 1-4 jam. Suhu yang biasa digunakan pada sterilisasi panas kering 160 C paling cepat 1 jam, tapi lebih baik 2 jam. Suhu ini digunakan secara khusus untuk sterilisasi minyak lemak atau cairan anhidrat lainnya. Bagaimanapun juga range 150-170 C digunakan untuk streilisasi panas kering dan lain-lain, sebagi contoh : bahan-bahan gelas, dapat disterilkan pada suhu 170 C. dimana beberapa serbuk seperti sulfonilamid harus disterilkan pada suhu rendah dan waktu yang lebih lama. PTM : 123 Panas kering pada temperatur lebih 160 C efktif menghancurkan mikroorganisme hidup dengan sebuah proses kehilangan kelembaban secara inversible. Proses ini berjalan relativ lambat, mengisyaratkan sedikitnya 1 jam pada suhu 160 C tetapi lebih cepat pada temperatur yang tinggi. Panas kering ini sering merugikan beberapa produk. Penerapan panas dengan keberadaan lembab lebih efektif untuk pembunuhan mikroorganisme diIsyaratkan 15 menit pada suhu 121oC. RPS 18th : 1471 Beberapa bahan yang tidak dapat disterilkan dengan uap, paling baik disterilkan dengan panas kering,. Misalnya petrolatum jelly, minyak mineral, lilin, wax, serbuk talk. Karena panas kering

kurang efisien dibanding panas lembab, pemaparan lama dan temperature tinggi dibutuhkan. Range luas waktu inaktivasi dalam temperatur bervariasi telah diterapkan berdasarkan tipe indikator steril yang digunakan, kondisi kelembaban dan faktor lain. Jumlah air dalam sel mikroba diketahui mempengaruhi resistensinya terhadap destruksi panas kering. Umumnya, ini diterima bahwa sel mikroba dalam daerah yang betul-betul kering menunjukkan resistensi terhadap inaktivasi panas kering,. Ini jelas bahwa perhatian harus diberi untuk mendisain siklus sterilisasi panas kering untuk produkproduk rumah sakit dan validasi sistematis sterilisasi dengan metode sterilisasi standar. Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas. Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven : 170 C (340 F) sampai 1 jam 160 C (320 F) sampai 2 jam 150 C (300 F) sampai 2,5 jam 140 C (285 F) sampai 3 jam b. Penangas minyak dan lainnya (Scoville’s : 404) Bahan kimia yang stabil dalam ampul bersegel dapat disterilisasi dengan mencelupkannya, dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620 C. larutan jenuh panas dari natrium atau ammonia klorida dapat juga digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang mensterilisasi alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga alat tetap tajam, dan untuk memlihara cat penutup. c. Pemijaran langsung (Scoville’s : 404) Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumping dan alu dapat disterilisasi dengan metode ini. Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20 detik. Dalam keadaan darurat ampul dapat disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul kearah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan langsung dengan api dengan hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus segera diisi dan disegel. 2. Panas Lembab a. Uap bertekanan (Scoville`s :404) Penggunanaan uap bertekanan atau metode sterilisasi yang paling umum memuaskan dan efektif yang ada. Ini adalah metode yang diinginkan untuk sterilisasi larutan yang ditujukan untuk infeksi pada tubuh, pembawa pada sediaan mata, bahan-bahan gelas. Untuk penggunaan darurat, pakaian dan alat kesehatan dan benda-benda karet. Kerugian yang paling prinsip dan penggunaan uap ini adalah ketidaksesuaiannya untuk penggunaan pada bahan sensitiv terhadap panas dan kelembaban. Metode ini tidak dapat digunakan untuk sterilisasi misalnya, produk yang dibuat dari basis minyak dan serbuk. Uap jenih pada 120 C mampu membunuh

Penyebeb kematian dengan cara sterilisai panas terhadap lembab berbeda dengan cara panas kering. Suhu 2. Dengan metode ini bahkan dipaparkan pada uap mengalir pada periode waktu bervariasi dari 20-60 menit setiap hari selama 3 menit. tetapi tidak ada bentuk non spora yang bertahan. b. Metode ini jarang memuaskan untuk larutan yang mengandung bahan-bahan karena spora sering gagal tumbuh dibawah kondisi ini. Untuk meyakinkan penghancuran spora. RPS 18 th : 1471 Panas lembab merupakan bentuk uap jenuh di bawah tekanan yang merupakan cara sterilisasi yang paling banyak digunakan. 2 metode uap mengalir digunakan. Panas tersembunyi yang berlimpah 3. Kemapuan untuk membentuk kondensasi air 4. bentuk vegetatif dari kebanyakan bakteri yang tidak membentuk spora. berbeda dengan cara panas kering. Dalam prakteknya. Temperatur suhu titik mati bervariasi. Uap panas pada 100 C. kematian mikroorganisme oleh panas lembab adalah hasil koagulasi protein sel. kematian mikroorganisme yang paling penting adalah proses oksidasi. Bentuk yang paling sederhana dari autoklaf adalah “ home preasure cooker”. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora vegetatif yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Keefektifan sterilisasi uap bertekanan tergantung pada 4 sifat dari uap jenuh kering yaitu : 1. Uap panas pada suhu 100 C dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir atau air mendidih. Kontraksi volume yang timbul selama kondensasi Waktu yang dibutuhkan untuk mensterilkan larutan saat suhu 121 C selama 12 menit. Antara pemaparan bahan terhadap uap yang disimpan pada suhu kamar atau pada inkubator pada 37 C. sterilisasi berjeda yang juga disebut sterilisasi tidak berlanjut. banyak spora akan tumbuh ke dalam bentuk vegetatif bentuk spora yang telah tumbuh ini akan dimatikan pada pemanasan hari . ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah untuk mencapai 121 °C setelah termometer pensteril menunjukkan suhu ini. Penjedahan dan bertahap adalah tindalisasi digunakan. prinsip dari metode ini adalah pada saat waktu pertama kali pemaparan pada uap membunuh bakteri vegetatif tapi tidak sporanya.secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme hidup dalam waktu ½ menit. suatu perpanjangan pemaparan uap selama 20-60 menit akan membunuh semua bentuk vegetatif bakteri tapi tidak akan menghancurkan spora. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur. USP menentukan sterilisasi uap sebagai penerapan uap jenuh di baeah teakana paling kurang 15 menit dengan temperatur minimal 121 C dalam jaringan tekanan. Secara umum larutan dalam botol 100-200 ml akan membutuhkan kurang 5 menit botol 500 ml antara 10-15 menit. Tapi pada saat bahan disimpan pada inkubator atau pada suhu ruangan selam 24 jam.

0.ke dua. Bakterisida yang dapat digunakan termasuk 0. fenol. 5 % fenol.5%.002% fenil merkuri nitrat saat larutan dosis tunggal lebih dari 15 ml larutan obat untuk injeksi intratekal atau gastro intestinal sehingga tidak dibuat dengan metode ini. organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Aksi letal . penutup karet. Kesuksesan dari proses ini tergantung pada spora yang berkembang ke bentuk vegetatif selama masa istirahat. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 2537 . tetapi suatu penambahan garam atau bahan tersuspensi dalam air atau udara menyebabakan penurunan derajat penetrasi dengan cepat. d.Ketika sinar UV melewati bahan. Air mendidih Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi jarum spoit. Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air. Sinar gamma mempunyai keuntungan .2% kresol atau 0.5% klorbutanol. 1-2% Na-carbonat atau 2-3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat kondisi bahanbahan logam. 3. Larutan yang ditumbuhkan bakterisida ini dpanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100 C selama 20 menit dalam pensterilisasi uap atau penangas air. c. Stetelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Radiasi pengion (Lachman : 628) Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar katode. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan membunuh mikroorganisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel. adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. 0. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Bahan-bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit. Pemanasan dengan bakterisida Ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap pans pada 100 C. sinar UV menembus udara bersih dan air murni dengan baik. penutup dan alat-alat bedah. Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf. Cara Bukan Panas Sinar ultraviolet (Lachman : 628) Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya. sinar beta). yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang.

semua ini pada kahirnya. Perpindahan elektron ini kemudian bentindak sebagai partikel beta dalam reduksi. Beberapa informasi mengenai efek sterilisasi ultraviolet juga dihadirkan. tube palstik. Elektron dipercepat atau sinar gamma dapat digunakan untuk mensterilkan produk-produk pilahan dengan suatu proses berkesinambungan. Kebanyakan prosedur sterilisasi produk lain harus diselenggarakan dalam batch setrilisasi dengan proses berkesinambungan memerlukan pengendalian yang tepat. Kerugian penggunaan germisida radiasi sinar UV adalah penetrasinya terbatas. menurut teori langsung. Oleh sebab itu baik partikel maupun elektromagnetik. mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat) keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan output laju doisis yang lebih seragam. Radiasi Ionisasi (RPS 18 th : 1476) Radiasi ionisasi digunakan untuk sterilisasi industri untuk alatalat rumah sakit. kekurangan sinar ini adalah di hentikan dari. Radiasi produk juga dapat menghasilakn perubahan warna dan kerapuhan beberapa wadah gelas dan bahan plastik. vitamin. Satu-satunya sekarang yang digunakan untuk sterilisasi radiasi pada obat-obat rumah sakit dan laboratorium. diserap oleh banyak bahan dan membuat penggumpalan organisme dan hal . termasuk ultra dari bahan radioaktif seperti kobalt 60 atau sesium 137 adalah yang paling sering digunakan sebagai sumber energi sterilisasi adhesi elektromagnetik. katter. dimana molekulmolekul air diubah menjadi kesatuan yang berenergi tinggi seperti hidrogen dan ion hidroksil. Penerapan untuk sterilisasi ini. benang bedah dan cawan Petri. Mutasi ini disebabkan karena tarnsformasi radiasi menjadi molekul penerima pada sinar x. Aksi latal radiasi pengionan menghacurkan mikroorganisme dengan menghentikan rep-roduksi sebagai hasil mutasi letal. Radiasi ioniasasi dapat menghasilkan perubahan dalam molekul organik yang dapat mempengaruhi kemujaraban sediaan atau dapat menginduksi toksisitas. antibiotik. alat beda. Sterilisasi radiasi dapat dilakukan baik dengan radiasi elektromagnetil dan radiasi partikel. termasuk penjelasan singkatnya. sehingga tidak ada bagian yang lepas dari keefektifan sterilisasi. Mutasi ini dapat disebabkan oleh tindakan tidak langsung. namun demikian.mutlak karena tidak menyebebkan kerusakan mekanik. Radiasi partekel atau molekul termasuk daftar partikel yang steril. Bagaimanapun banyak prosedur sterilisasi industri manggunakan radiasi. jarum. pada panjang gelombang 253. Radiasi elektromagnetik dan energi photon. Prinsip bermuatan negativ sepeti elektron yang berinteraksi langsung dengan bahan menyebabkan ionisasi seperti elektron elektromagnetik menyebabkan ionisasi pada mekanisme yang bervariasi yang menghasilkan perpindahan suatu orbital elektron dengan mekanisme jumlah tertentu dari energi yang ditransfer dalam insiden sinar gamma. dipertimbangkan sebagai radiasi ionisasi yang berbeda dengan radiasi sinar ultraviolet. steroid hormon dan transplantasi tulang dan jaringan dan alat pengobatan seperti alat untuk suntik plastik.7 nm. menyebabkan perubahan energi pada asam nukleat dan molekul lain sehingga hilangnya keberadaannya bagi metabolisme molekul sel bakteri.

tersebut dilindungi oleh debu dan puing-puing. Untuk menghindari aksi letal panggunaan radiasi sinar UV sebagai cara sterilisasi tidak direkomendasikan lemak jika bahan-bahan yang diradiasi sangat bersih dan bebas yang dapat melindungi mikroorganisme. B. Sterilisasi Secara Kimia Parrot ; 280 Sterilisasi gas adalah cara menghilangkan mikroorganisme dengan menggunakan gas atau uap yang membunuh mikroorganusme dan sporanya. Meskipun gas dengan segera berpotensi menyerap serbuk padat. Streilisasi ini adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme occluded dengan kristal akan dibunuh. Sterilisasi gas digunakan dalam bidang farmasi unutk mensterilisasi bahan-bahan termolabil. Gas bakterisida yang paling sering digunakan adalah gas Etilen Oksida. Meskipun sterilisasi uap merusak beberapa bahan dan dipindahkan dari bahan yang dicobakan melalui jalur sterilisasi. Gas ini tidak inert dan kereaktivannya terhadap bahan yang disterilisasi antara lain : Tiamin, Riboflavin, Streptomisin kehilanngan potensi dengan adanya etilen oksida. Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkilasi asam, amin, hidroksil dan gugus sulfhidril dari protein dan sel enzim. Kelembaban dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan merusak sel. Etilen oksida bersifat eksplosif ketika bercampur dengan udara. Sifat ini dapat dihilangkan dengan menggunakan campuran etilen oksida dengan CO2. Carboxide ® 20 atau campuran etilen oksida dengan hidrokarbon berfluoresensi. Sterilisasi dengan gas berjalan lambat, waktu sterilisasi tergantung pada keberadaan kontaminasi, kelembaban, temperature dan konsentrasi dari gas etilen oksida. Konsentrasi minimum adalah 450 mg/l pada tekanan 27psi. Cara ini digunakan digunakan untuk mensterilkan obat serbuk seperti Penisilin, juga telah digunakan unutk sterilisasi benang, plastik, tube. Penggunaan etilen oksida juga untuk sterilisasi akhir peralatan parenteral tertentu seperti kertas kraft dan lapisan tipis polietilen. Semprot aerosol etilen oksida telah digunakan untuk mensterilkan daerah sempit dimana dilakukan teknik aseptic. C. Sterilisasi Cara Mekanik (Scoville`s : 417) Larutan dapat dibebaskan dari mikroorganisme vegetatif dan sporanya melalui filter bakteri. Filter bakteri tidak dapaat membebaskan larutan dari virus; bagaimanapun alat ini tidak mengurangi jumlah virus. Pada prinsipnya dengan absorbsi ke dalam dinding filter dan dengan menghilangkan partikel kasar dari bahan yang mengandung virus. Sterilisasi dengan filter bakteri digunakan untk larutan farmasetik atau bahan biologi yang dipengaruhi oleh pemanasan. Berbeda dengan metode filtrasi lain, filter bakteri ditujukan untuk fltrat bebas bakteri. Metode sterilisasi ini membutuhkan penggunaan teknik aseptic yang benar. Sediaan obat yang disterilkan dengan metode ini membutuhkan penggunaan bahan bakteriostatik kecuali diarahkan lain. Larutan yang ditujukan untuk injeksi intrathecal atau merupakan larutan dosis tunggal intravena dengan volum elebih dari 15 ml tidak boleh ditambahkan bahan bakterisid. Paraffin cair dan minyak lain, tidak disterilkan dengan metode ini karena dapat meningnkatkan permeabilitas dari filter terhadap bakteri. Unutk dapat membuat larutan bebas bakteri dan steril, digunakan filter dengan berbagai tipe. Tipe ini termasuk filter yang terbuat dari silicon murni, porselin, asbes,

dan glass-fritted. Karena alat-alat ini mudah dibersihkan, filter Seitz yang menggunakan lapisan asbes dan fliter fritted glass mungkin lebih berguna untuk farmasis. Yang kadang-kadang dubutuhkan untuk menyaring larutan dalam jumlah kecil. Mekanisme filtrasi bakteri adalah kompleks. Meskipun ukuran pori filetr penting, tapi bukan itu saja criteria untuk keefektifan filtrasi. Fliter dengan pori lebih kecil menghilangkan bakteri tetapi beberapa filtrasi sangat lambat umtuk tujuan praktek. Dengan meningkatkan ketebalan filter lilin memungkinkan untuk mencapai efisiensi filtrasi, tetapi nkerugiannya adalah bahwa kebanyakan bahan aktif dari larutan dihilangkan dengan penyerapan oleh lilin. Bagaimanapun, dengan mengatur ukuran pori dan ketebalan filter yang optimum, mungkin diperoleh filter yang efisien dan baik secara cepat. factor lain dilibatkan dalam filtrasi bakteri termasuk keseimbangan permukaan antara bahan filter dan bakteri dan larutan, suhu, tekanan yang digunakan, waktu filtrasi, muatan listril filter, pH bahan yang difiltrasi, dan adsorbsi protein dan bahan lain. Filter Seitz Filter ini dibuat dari bahan asbes yang dijepit pada dasar wadah besi. Keuntungan utama dari filter Seitz ini adalah lapisan filter dapat dibuang setelah digunakan dan masalah pembersihannya berkurang. Efisiensi tergantung pada pengembang serat dari lapisan filter dari air. Karena larutan alcohol pekat tidak membuat mengembang, filter ini tidak digunakan untuk mensterilkan larutan yang mengandung alcohol dalam jumlah besar. Filter ini mampu dengan volume dari 30 ml hingga lebih dari 100 ml. Kerugian pertama dari filter ini adalah cenderung memberikan komponen magnesium pada filtrate. Bahan alkali ini dapat menyebabkan konsentrasi pengendapan alkaloid bebas dari garamnya dan dapat menginaktifkan seperti insulin, ekstrak pituari, epinefrin dan apomorfin. Hal ini dapat diatasi dengan perawatan pertama filter dengan dibasahkan dengan HCl lalu dibilas dengan air. Kerugian kedua dari seitz adalah permukaan serat pada lapisan filter membuat larutan tidak cocok untuk injeksi. Ini dapat diatasi dengan menempatkan ayakan dari nilon atau sutra dibawah lapisan filter sebelum menempatkan lapisan dalam filter, atau sebuah filter gelas fritted dapat ditempatkan pada saluran keluar untuk menghilangkan serat. Filter seitz ini juga cenderung untuk menghilangkan bahan dari filtrat bahan adsorbsi. Filter Swinny Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny mempunyai adat terkhusus yang terdiri dari lapisan hasbes, bersama dengan screen dan pencuci. Utamanya untuk digunakan filter swinny dibungkus dengan kertas dan diotoklaf. Bagian yang dipasang dihubungkan pada spoit Luer-lola dan cairan dimasukkan melalui disk asbes dengan menggunakan tekanan pada saluran spoit. Filter Fritted-Glass Filter fritted-glass disusun dari dasar serbuk, tombol bulat dari gelas digabung bersama dengan penggunaan panas untuk menentukan sebelumnya ukuran dalam bentuk disk. Permeabilitas filter barbanding secara tidak langsung dengan ukuran butiran. Setelah disk dibentuk, kemudian disegel dengan pemanasan kedalam corong gelas pyrex dibentuk seperti corong buchner.

Filter fritted-glass yang baru harus dicuci dengan penghisap dengan HCl panas dan kemudian dibilas dengan air sebelum digunakan. Filter dapat dibersihkan dengan membilasnya dengan air dibawah tekanan. Jika air tidak dapat membersihkan filter, suatu konsentrasi larutan asam sulfat mengandung 1 % sodium nitrat dipanaskan pada suhu 80 oC dapat digunakan. Filter fritted dirancang utamanya untuk filtrasi vakum. Jika digunakan filtrasi dibawah tekanan, perbedaan maksimum pada diks harus tidak boleh dari 15 pouns inci persegi (p.si). Filter Berkefeld & Mandler Tes bentuk tube filter pembanding ini, yang dihubungkan dengan dasar logam dan saluran keluar tubuh adalah dama pada keduanya. Felter mandler dibuat dari silikat murni, hasbes, dan kalsium sulfat (gips dari paris); filter berkefeld terdiri dari silica murni. Kedua filter ini bermuatan negative. Fitlrer ini tersedia dalam beberapa tingkatan porositas berdasarkan pada permeabilitas terhadap air, pada berkefeld atau pada mandler berdasarkan pada jumlah tekana air dalam pons yang dibutuhkan untuk mendorong udara melalui saluran keluar melawan air. Saluran berkefeld dan mandler dibersihkan dengan menggunakan air destilasi melalui saluran dari luar kedalam diikuti dengan menggosok bagian luarnya menggunakan sikat dalam aliran air. Saluran berkefeld dan mandler dapat disterilkan dengan autoklaf pada 121oC selama 20 menit. Tabung harus dibungkus dengan kain atau kertas secara langsung setelah dibilas dan saat masih basah sebelum ditempatkan di autoklaf. Selas Filter Filter porselen buatan Amerika sekarang tersedia dengan nama selas filter porselen microporous. Filter ini secara kimia inert, menjadi tahan terhadap semua larutan yang tidak menyerang silica. Saluran selas filter dapat dibersihkan dengan menggosoknya dengan sikat, dengan membilas, pencucian, dengan menggunakan alkali atau detergen asam atau dengan pemanasan dalam tungku dilaboratorium pada temperatur maksimum 1200oC dan dapat disterilkan dengan autoklaf. Saluran Filter Chamberland Pasteur Filter ini mempunyai bentuk yang mirip dengan berkefeld tetapi filter ini terbuat dari porselen penyerap yang tidak berlapis dengan pori-pori kecil yang menghasilkan filtrasi yang lambat. Filter ini dapat dibersihkan dan disterilkan dengan cara yang sama dengan yang digunakan untuk saluran berkefeld. 6. Keuntungan dan kerugian metode sterilisasi a. Sterilisasi Panas Kering Keuntungan 1. Dapat digunakan untuk membunuh spora dan bentuk vegetatifnya dari semua mikroorganisme (Lachman Industri; 1263) 2. Umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas (Ansel; 413) 3. Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan yang kering atau wadah yang kering seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan air (Ansel; 414). Kerugian 1. Hanya digunakan untuk zat-zat yang tahan penguraian pada suhu diatas kira-kira 140oC (Lachman Industri; 1263)

2. Karena panas kering efektif membunuh mikroba dengan uap air panas, maka diperlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (Ansel; 413) b. Sterilisasi Uap Panas Keuntungan : 1. Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan pada temperatur yang relative rendah daripada tidak ada kelembaban (Ansel; 412) 2. Metode ini digunakan untuk sediaan farmasi dan bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperature yan digunakan dan penembusan uap tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air (Ansel :413) 3. Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih muidah dibunuh (Ansel : 413) 4. Dipergunakan unutk larutan jumlah besar, alat-alat gelas, pembalut operasi dan instrument (Ansel :413) 5. Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif (Scoville`s:408). Kerugian : 1. Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak lemak, sediaan berminyak dan sediaan yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap jenuh (Ansel :413) 2. Spora-spora yang kadar airnya rendah, sukar dihancurkan (Ansel :413) c. Sterilisasi Gas Keuntungan : 1. Beberapa senyawa yang tidak tahan terhadap panas dan uap dapat disterilkan dengan baik dengan memaparkan gas etilen oksida atau propilen oksida bila dibandingkan dengan cara lain (Ansel :416) 2. Dapat digunakan untuk membunuh mikroorganisme dan spora lain (Parrot : 280). Kerugian : 1. Gas-gas (etilen dan prop[ilen oksida) mudah terbakar bila tercampur dengan udara (Ansel :417) 2. Tidakan pengemasan yang lebih besar diperlukan untuk sterilisasi dengan car ini daripada dengan cara lain karena waktu, suhu, kadar gas dan kelembaban jumlhanya tidak setegas seperti pada sterilisasi panas kering dan lembab panas (Ansel : 417) 3. Gas-gas sulit hilang dan kebanyakan bahan-bahan setelah pemaparan (Lachman Industries :1283) 4. Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak dihilangkan sama sekali, sifat karsinogenik dan mutagenic dari etilen oksida dari sisa-sisa pada bahan yang digunakan pada manusia (Lachman Industries :1285) 5. Waktu siklus untuk sterilisasi dengan etilen oksida agak lama (Lachman :1286). Sterilisasi Dengan Penyaringan Keuntungan :

d.

Kesulitan mempertahankan kondisi aseptis seperti merupakan masalah besar sehubungan dengan sterilisasi melalui penyaringan (Lachman Industri: 1283 ). 4. Pemakaian radiasi meningkat dalam frekuensi dan luasnya pemakaian setelah diperoleh pengalaman dengan metode ini. Saringan tidak harus mengubah larutan/gas segala cara (Lachman Ind :1265) 3. Sterilisasi Irradiasi Keuntungan : 1. Penggunaan teknik ini terbatas karena memerlukan peralatan yang sangat khusus dan pengaruh radiasi dan produk-produk dan wadah-wadah (Ansel:418). 3. kemampuan untuk mensterilkan secara efektif bahan tahan panas (Ansel :416) 5. Tidak menghilangkan bahan yang diinginkan atau membawa komponen yang tidak diinginkan (Lachman Ind :1265) 4. Filter bakteri tidak efektif menghilangkan firus dari larutan (Scoville’s?: 419). dan hormone dalam keadaan kering setelah berhasil dibuat steril dengan radiasi (Lachman Indutri: 1276). Penyaringan dapat digunakan untuk memisahkan partikel termasuk mikroorganisme dari larutan gas tanpa menggunakan panas (Lachman Idustries :1285) 2. Peralatan yang digunakan relative tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan dari larutan (Ansel :416). e. cara ini diharuskan menjalani pengawasan yang ketat dan memonitoring karena efek hasil penyaringan dapat diperngaruhi oleh banyaknya miokroba dalam larutan (Ansel : 414). plastik. Kecepatan penyaringan sejumlah kecil larutan. Muatan dalam pH yang sesuai yang bersifat alkali menyebabkan kerusakan filter dan partiekel yang kecil pada filter merupakan problem yang khusus (Scoville’s: 419) 5.1. 2. Penyaringan cairan dengan voluime besar akan mermerlukan waktu yang lebih lama terutama bila cairan kental dibandingkan dengan bila memakai cara sterilisasi lembab panas (Ansel : 414). Kerugian : 1. Kerugian : 1. Tiap kebocoran yang mungkin terjadi pada system ini menyebabkan kerusakan pada bagian luar tanpa kontaminan filtrate yang steril (Lachman:1282-1283 ) 6. Sediaan farmasi dalam carian tubuh lebih sulit disterilkan karena efek radiasi terhadap sistem zat pembawa dari jaringan obat (Lachman Industri : 1276 ) . 2. sejumlah vitamin. khususnya untuk sterilisasi alat medis. antibiotic.

Pengertian Salep Mata a. Salep ini dibuat dari bahan steril dibawah kondisi aseptis atau pada sterilisasi tahap akhir f. 12 Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata c. 1587 . SDF. Scoville’s.SALEP MATA 1. 1513 Salep mata adalah salep untuk penggunaan pada mata. Obat jika tidak larut didispersikan kedalam basis yang disterilkan dengan panas kering dan dicampur secara aseptis dengan obat dan bahan tambahan yang steril e. FI III. campuran senyawa dan pengemasannya sesuai untuk pemakaian kedalam mata. Keuntungan Salep mata o RPS 18 th. 140 Salep mata adalah salep steril khusus untuk penggunaan pada mata. RPS 18 th. bebas dari partikel asing dan mempunyai komponen bahan dan pengepakan harus sesuai syarat sterilitas. kornea dan iris. 20 Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok b. 1585. Salep mata biasanya terdiri dari basis petrolatum putih-minyak mineral b. 1581 Sediaan mata adalah produk steril yang essensial dan bebas partikel asing. SDF. cocok untuk penggunaan pada mata 2. Keuntungan dan Kerugian Salep mata a. Sediaan mata meliputi larutan. dapat juga digunakan untuk memberikan efek pengobatan yang bervariasi pada bagian luar dan tepi kelopak mata. Basis untuk salep mata biasanya petrolatum putih walapun dalam beberapa kasus basis laruit air juga digunakan. 368 Salep mata memberikan arti lain dimana obat dapat mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. Pengertian Sediaan Mata a. RPS 18 th. 356 Salep mata adalah salep khusus untuk pemakaian pada mata dimana membutuhkan perhatian khusus pada pembuatannya d. suspensi tapi lebih banyak bentuk larutan. FI IV. yang digunakan pada mata dimana obat dapat kontak dengan mata dan jaringan tanpa tercuci oleh air mata dan memerlukan perhatian khusus dalam pembuatannya 3. DOM King. 357 Sediaan mata sama dengan produk lainnya yaitu steril dan bebas dari bahan partikulat Kesimpulan : Sediaaan mata adalah sediaan steril yang mempunyai ciri-ciri steril. konjungtiva. Perhatian yang khusus dilakukan dalam penyiapannya Kesimpulan : Salep mata adalah sediaan steril yang mengandung bahan kimia yang terbagi halus dalam basis.

Salep mata dapat mengganggu bila dimasukkan secara keras pada sel epitel kornea yang baru. 1502 Dari sisi positif adalah kurang atau tidak terjadinya iritasi pada penggunaan salep mata. 563 Satu kekurangan pada penggunaan salep mata yaitu kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh ndan menyebar pada lensa mata o RPS 16 th. Pengkajian telah menunjukkanm bahwa waktu kontak antara obat dengan mata. ada cara untuk meningkatkan konsentrasi obat terlarut dalam sistem dosis dengan memilih pembawa berminyak dimana obat tersebut dapat larut o Ansel Indonesia. 2 – 4 kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam Kerugian Salep mata o RPS 18 th. 563 Keuntungan utama suatu salep mata daripada larutan untuk mata adalah penambahan waktu hubungan atau kontak antara obat dengan mata. konjungtiva. 1502 Pada sisi negatif. Kelopak mata dilicinkan dan dijaga kandungan airnya oleh sekret kelenjar lakrimal dan . dan masalah kontaminasi yang kurang. Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata. Sebagai tambahan. Kelopak Mata Kelopak mata memeiliki 2 tujuan : perlindungan mekanik terhadap bola mata dan mensekresikan suatu cairan optimum untuk kornea. Salep mata memberikan keuntungan waktu kontak yang lebih lama dan bioavailabilitas obat yang lebih besar dengan onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama b. 368 Salep mata dapat dipertahankan kontak lama dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh air mata o RPS 16 th. a.b. salep mata cenderung membentuk lapiusan pada mata dan menyebabkan pandangan kabur. Tindakan perlidnungan dari kelopak mata dan sistem lakrimal adalah seperti penghilangan dengan cepat dari bahan yang dimasukkan kedalam mata. kecuali bahannya bervolume kecil dan secara kimia dan fisiologis dapat bercampur dengan jaringan permukaan. kornea dan iris o SDF. dapat menyebabkan masalah-masalah pencampuran antara pembawa salep dengan cairan mata dan termasuk tambahan parameter partisi untuk obat antara salep dengan lapisan air mata 4. kelenjar sebasea. 1581 Mata manusia adalah subjek yang menarik untuk pemberian topikal obat. untuk obat-obat yang tidak larut air. Dasar ini dapat ditemukan dalam susunan anatomi dari jaringan permukaan dan dalam permeabilitas kornea. Pada basis yang normal. stabilitas penyimpoanan lebih besar. 1585 Salep mata akan mengganggu penglihatan kecuali jika digunakan pada waktu tidur o Ansel indonesia. Anatomi Mata dan Fisiologi Mata RPS 18 th. pergerakan lebih lambat kedalam ductus lakrimal yang menyebabkan waktu kontak yang lebih panjang dan efek yang lebih lama.

Lapisan vaskular tengah – sistem uvea atau traktus uveal. badan siliar dan iris c. diantara ke beberapa duktus kecil ke dalam formix konjungtiva. mengandung berbagai garam-garam. Lapisan fibrous luas b. mengandung koroid. Secara berurutan alat optik terdiri dari : kornea. Ruang penyokong memiliki bentuk tipis yang terpisah secara langsung lewat didepan bola mata. cul-de-sac. . yang mana merupakan membran tipis yang tembus cahaya. Ini mencegah pembuluh darah. Tahanan yang ditemui selama pelewatan dan kecepatan pembentukan cairan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat tekanan intraokular. yang mana akan mengeluarkan tekanan yang sama pada jaringan disekitarnya. Lensa kristal adalah suatu unsur retraktif dengan kemampuan fungsi yang dikontrol dan didukung oleh suatu jaringan otot dalam badan siliar. dengan perluasan kantong menaik dan menurun. Sklera mengandung mikrosirkulasi yang memberikan nutrisis jaringan pada bagian atas anterior dan biasanya putih kecuali ketika terjadi iritasi dan dilatasi pembuluh darah Ruangan bola mata adalah suatu alat optik yang menyebabkan penampakan yang terbalik diperkecil yang terbentuk pada retina. dengan lapisan cairan yang jernih atau bahan seperti gel yang terjepit antara struktur yang padat. substrat dan metabolit untuk jaringan ovaskular mata. Sebagai tambahan untuk fungsi mekanis hidronya. pupil. bertindak sebagai fungsi penampakan dari sistem. air mata. Pada bagian depan. dapat disentuh dan sedikit longgar. lubang bulat dalam suatu bagian membran kontraktil (disebut iris). Pada kebanyak tempat terikat dengan longgar dan dengan demikian memungkinkan gerakan bebas dari bola mata. Celah antara kelopak mata disebut celah palbebra Bola mata Dinding bola mata manusia (bulbus. Sekresi dari kelenjar lakrimal. Koroid adalah metabolit yang mendukung retina Fungsi optikal dari mata harus stabil secara dimensi yang mana dilakukan oleh sebagian selaput bagian luar. sekretnya jernih. berair. lensa kristal dan retina. cairan humor bertindak sebagai carrier nutrient. Tekanan intraokuler ini menghasilkan produksi cairan spesifik yang mantap. cairan homur yang asli dari proses siliar dan mata menjadi sistem yang berbeli-belit dari kanal alirannya. konjungtiva merupakan bagian terluar dari mata Sistem lakrimal Permukaan konjungtiva dan kornea ditutupi dan dilicinkan oleh suatu lapisan air yang disekresi oleh kelenjar lakrimal dan konjungtiva. bagian yang menghadap keluar.dikhususkan pada sel-sel yang terletak pada konjungtiva bulbar. Tulang pada rangka juga mendukung bentuk yang mendekati piramid yang ditempati oleh bola mata. bula) disusun atas tiga lapisan konsentris : a. Diatas 2/3 dari selaput serat yang tersisa nampak buram (bagian putih dari mata) dan disebut sklera. disebut orbit Konjungtiva Membran konjungtiva menutupi permukaan terluar dari bagian putih mata dan bagian dalam dari kelopak mata. Ini memungkinkan pemberian injeksi subkonjungtival kecuali untuk kornea. Kantong-kantong tersebut disebut ruang superior dan inferior serta semua tempat. Lapisan saraf retina Lapisan terluar kuat. Struktur halus pada lapisan terluar sangat tertaur dan kandungan airnya sangat seksama diatur sehingga bertindak sebagai jendela yang jernih dan trasnparan (kornea). keefektifannya adalah suatu faktor penstabil pada tekanan intraokuler. Pupil.

bagian dari larutan air mata. Lapisan protein musin dari lapisan khususnya penting dalam mempertahankan stabilitas dari lapisan. disusun dari lapisan lipid tipis terluar. Substantia propia (stroma) 3. baik oleh obat atau secara mekanik. akhirnya akan mengering pada potongannya. Lapisan tersebut bercampur dengan sediaan mata berair dan lipid. sehingga memberikan pembukaan yang cepat dan penutupan pada celah palpebral. suatu daerah segitiga kecil terhampar pada sudut bagian paling dalam dari kelopak mata. Sekretnya cocok untuk meleicinkan dan membersihkan dibawah kondisi biasa dan untuk mempertahankan lapisan tipis berair yang menutupi kornea dan konjungtiva ) lapisan prekorneal). pH dibawah 4 atau diatas 9 akan menyebabkan kekacauan lapisan. Lapisan ini mempengaruhi gerakan lensa kontak dan terbentuk cepat dengan mudah pada gelas daripada plastik Kornea Kornea tebalnya 0. Kelebihan cairan menuju ke penampungan lakrimal. Sifat dari lapisan prekorneal tergantung dari kondisi epitel kornea. Kulit kelopak mata tipis dan dapat terlipat dengan mudah.glukosa. komponen organik lainnya. injkesi atau kekurangan O2 atau kelebihan air seperti yang dapat terjadi karena pemakaian kontak lensa. Kelenjar sebaseus terdapat pada kelopak mata mensekresi cairan berminyak yang membantu mencegah air mata yang berlebihan pada tepi kelopak dan mengurangi penguapan permukaaan yang terpapar pada mata dan menyebar diatas lapisan air mata Kedipan mata membantu lapisan cair dengan menekan lapisan tipis dari cairan didepan tepi kelopak mata pada saat keluar bersama-sama. Pengaburan kornea mengkin satu dari beberapa faktor termasuk tekanan bola mata sebagai glaukoma.7 % protein dan enzim lisosom. 5. o Syarat-Syarat Salep Mata RPS 18 th. Hal ini diperbaharui pada setiap kediapan dan ketika berkedip mengalami tekanan. Bagian kelenjar lakrimal dikondisikan pada fornix konjungtiva. Epitel kornea 2. Kelenjar lakrimal utama disebut memerankan hanya pada fungsi yang khusus. Ini memperlihatkan tidak berpengaruhnya penambahan konsentrasi hingga 2 % NaCl terhadap cairan konjungtiva. Lapisan berair yang tebal ditengah dan suatu lapisan mukoid tipis bagian dalam. Gerakan kelopak mata termasuk penyempitan celah palpebral dalam suatu kantong mata. besarnya cahaya karena susunan tegak lurus dari sel dan serat dan karena tidak adanya pembuluh darah. Ini akan membantu transport atau gerakan cairan melewati bagian lakrimal Lapisan Prekorneal Kornea harus basah untuk menjadi permukaan mata yang memadai. seperti tindakan chantus lateral melewati chantus (chant : sudut dimata bertemu). memberikan kelembaban yang penting pada permukaan. 1585 1. jaringan bebas luka karena dilukai. sekitar 0. Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang bernar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi . La[isan prekorneal.5 – 1 mm terdiri dari struktur berikut (dari depan ke belakang) : 1. ketika kurang basah kornea kehilangan permukaannya yang halus dan sifat transparannya. Endotel kornea Kornea transparan untuk mendifusikan cahaya secara luar biasa.

penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah memberikan kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel asing. Keduanya. Oleh karena itu tidak perlu bebas pirogen karena metode penggunaan dan pemakaian obat sediaan mata berbeda dengan bahan yang diberikan secara parenteral dalam hal bahan yang ditambahkan untuk meningkatkan aktivitas untuk memelihara stabilitasnya dan sterilitas produk b. Stabilitas 6. Kadangkadang injeksi mata digunakan untuk hal-hal yang khusus. paraben atau merkuri organik 4. Normalnya dilakukan tes sterilisasi b. Sediaan mata sama dengan produk steril lainnya yaitu kesterilan dan bebas dari bahan partikulat. bahaya yang paling utama adalah memasukkan produk nonsteril kemata saat kornea digososk. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan. membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai SDF. Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma 3. Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Dengan pengecualian jumlah yang terbatas dari injeksi mata. Wadah atau tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama dalam penyimpanan. pentingnya peralatan filtrasi agar jernih dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk menghilangkannya. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol. Kejernihan Larutan mata adalah dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi. 357 a. Pengerjaan penampilan untuk larutan dalam lingkungan yang bersih. Sediaan untuk mata merupakan bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal. .o 2. Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata. kejernihan dan sterilisasi dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien Karakteristik Sediaan Mata o RPS 18 th. Dalam beberapa permasalahan. steril dan tak tertumpahkan. tidak layak membuat sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. wadah dan tutup harus bersih. Sediaan untuk mata dari berbagai jenis produk yang berbeda dapat berupa larutan tetes mata. Salep akhir harus bebas dari partikel besar 5. Tentunya. pencuci mata atau salep mata. 1589 a. Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup.

namun pemilihannya dalam jumlah tertentu. keluar toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendahkhususnya suspensi steroid dan berhubungan dengan kejernihan larutan. Namun demikian ini tidak dibutuhkan ketika stabilitas produk dipertimbangkan e. zat tambahan larutanb dan tipe pengemasan Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6.8 % NaCl intraokuler. pH produk.9 % larutan NaCl Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari suatu waktu yang diusulkan. Mayoritas bahan aktif dalam optalmology adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini d. Larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0. Antioksidan ini berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. Surfaktan jarang digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan kelarutan . khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin.5 % . Mata biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0. bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Bahan-bahan seperti metil selulose. sediaan mata sebaiknya diformulasi pada pH yang ekuivalen dengan cairan air mata yaitu 7. dan prkteknya jarang dicapai.Stabilitas obat dalam larutan seperti produk mata tergantung sifat kimia bahan obat. digunakan dalam konsentrasi sampai 0. Namun demikian pH stabilitas kimia (atau ketidakstabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan.4. Bahan Tambahan Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata dibolehkan. Larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketikamagnitude sifat koligatif larutan adfalah sama.3 %. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. Buffer dan pH Idealnya. Ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak larut. pH diseleksi jadi optimum untuk stabil. polivinil alkohol dan hidroksil metil selulose ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan viskositas Investigator telah mempelajari efek peningkatan viskositas pada waktu kontak dalam mata.1. Antioksidan.8. Surfaktan nonionik. khususnya natrium bisulfit atau metasulfit. Suspensi biasanya paling stabil pada pH asam pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. Umumnya viskositas meningkat dari 25 – 50 cps range signifikan meningkatkan lama kontak dalam mata f. Dengan obat ini. Antioksidan lain seperti asam askobat atau asetilsistein dapat digunakan. Viskositas USP mengizinkan penggunaan peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Sebaliknya pada pH 5 kedua obat stabil dalam beberapa tahun c. Tonisitas Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garamgaram dalam larutan berair. metode penyiapan (khususnya penggunaan suhu).

Bentuk lemak dari alkaloid R3N melewati lapisan epitel kedalam substantia propia (stroma). tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep lainnya • Untuk memperbaiki aliran dari salep. sebaiknya dengan karakteristik bahan-bahan. obat masuk kedalam cairan humor dimana obat akan terdifusi dengan cepat kedalam iris dan badan siliar yaitu tempat dimana obat mempunyai aksi farmakologis 9. Benzalkonium klorida dalam range 0. kurang mengandung lipid dan kaya akan air.½ inci). Sambil melihat keatas. khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet. Buka tutup dari tube c. dll e. Obat yang berpenetrasi sebagian akan dirubah menjadi bentuk terprotonisasi tergantung pada pH lingkungan berair pada stroma. Lapisan stroma ini berlapis-lapis. Cuci tangan b. 882 Banyak obat mata adalah basa lemah dimana bentuk garamnya digunakan pada mata dalam larutan beriar. Tergantung dari sifat disosiasi dari alkaloida. Dengan satu tangan. Tutup kembali tube • Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka • Pada saat tube salep dibuka pertama kali. tekan sejumlah kecil salep kedalam kelopak mata bagian bawah (± ¼ . tekan keluar ¼ inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering • Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun • Jika mempunyai lebih dari satu tube untu salep mata yang sama. 1584 a. Surfaktan nonionik. sebagian dari garam akan dirubah menjadi bentuk basa bebas yang biasanya lebih larut lemak sehingga ion mudah ditransfer dalam sel epitel yang kaya akan lemak. pegang tube dalam tangan selama beberapa menit sebelum digunakan • Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengfan persis didepan cermin 8. Teori Kinsey DOM. pH dari tetes mata dengan cepat dirubah menjadi pH fisiologis. Kelopak mata yang tertutup dapat digosok dengan lembut dengan jari untuk mendistribusikan obat melalui fornix g. tarik kelopak mata bagian bawah perlahanlahan d.Penggunaan surfaktan.02 % dengan toksisitas faktor pembatas konsentrasi. Hati-hati agar tidak menyentuhkan ujung tube pada mata. Pada saat melewati lapisan lemak endotelium. jari. buka satu tube saja • Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep mata pada waktu yang sama.01 – 0. Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata kesegala arah pada saat mata ditutup. Kadang-kadang pengaburan dapat terjadi f. Karena kemampuan netralisasi dari air mata. sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar larutan dengan suspensi sediaan mata 7. Cara Pembuatan Salep mata . kelopak mata. khususnya beberapa konsentrasi signifikan. Cara Penggunaan Salep mata RPS 18 th.

Cara Memasukkan Salep Kedalam Tube Scoville’s. 181 Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Mengapa Salep Mata Harus Steril ? o Presc. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang. salep dalam kertas ditekan menjadi bentuk silinder.Scoville’s. 361 Cara yang paling mudah untuk mengisi tube adalah menempatkan salep pada sepotongn kertas berlilin atau kertas perkamen kemudian lipat kertas sehingga kedua ujungnya bertemu. Campuran yang dihasilkan digabungkan dengan sisa basis 10. penutup dari tube harus dibuka untuk memungkinkan pengisian yang sempurna. maka bahan obat dimikronisasi sampai menjadi sebur yang sangat halus dengan melevigasinya dengan sejumlah kecil basis. satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa (Bacilllus pyocyamis). ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk-produk nonsteril pada mata saat kornea terkena. namun juga ditemukan disaluran intestinal. 11. Tube seharusnya diisi sampai jarak 1 inci dari ujung tube sehingga memberikan tempat untuk penutupan tube. Pada saat memasukkan salep. Kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar dari tube yang dapat dilipat dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak mikroorganisme. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan. Dengan menempatkan batang pengaduk pada ujung lipatan dan menggulung kertas mengarah kebagian bawah lipatan. 357 Salep mata dibuat dengan menggunakan salah satu dari dua metode berikut : Jika bahan obat larut dalam air dan membentuk larutan stabil maka bahan obat dilarutkan dalam jumlah minimum air untuk injeksi. Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini ditunjukka dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. 359 Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. 1583 . larutan yang dihasilkan kemudian digabungkan dengan basis yang telah dilebur dan campuran diaduk terus-menerus sampai mengental Jika bahan obat tidak segera larut dalam air. Bahan partikulat dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien o RPS 18 th. Penutupan dilakukan dengan meratakan dasar salep dengan spatula dan melipatnya lebih dari dua kali dan menjaganya dengan penjepit khusus tube salep yang dilakukan dengan sepasang pinset. salep akan tertahan dan tertinggal didalam tube. dikulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara o SDF.

Untuk salep yang tidak larut dalam isopropil miristat. Sampel salep dilarutkan dalam pelarut untu tes steril. Bacillus gram negatif juga tumbuh pada sediaan mata yang menjadi sumber infeksi serius dari kornea. Ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan pada 24 -48 jam. Cenderung untuk membunuh kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni. P. Blue Pas bacillus). kemudian biarkan memadat. abaikan bekas salep yang diperkirakan berasala dari bagian luar dimana terdapat lipatan dari tube atau dari bagian ulir (tutup tube). Pada konsentrasi yang ditopleransi oleh jaringan mata menunjukkan bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari organisme ini. keluarkan isis dari 10 tube salep pertama-tama lebur dalam cawan petri. Letakkan tube pada posisi horisontal diatas lembaran kertas penyerap dalam oven dengan suhu yang diatur pada 60o + 3oC selama 8 jam. Lalu diamati dengan mikroskop berkekuatan rendah yang dilengkapi dengan mikrometer dan lensa okuler untuk partikel yang berukuran 50 µm atau lebih dalam beberapa dimensi. Uji Partikel dan Ukuran (RPS 18 th. Cara Pengujian Salep mata a. Pengujian memenuhi syarat jika jumlah total dari partikel logam dalam 10 tube tidak lebih dari 50 g atau tidak lebih dari 1 tube ditemukan mengandung 8 partikel yang sama c. 1086) Pilih 10 tube salep mata dengan segel khusus jika disebutkan. Jika terdapat kebocoran pada 1 tube tapi tidak lebih darfi 1 tube. 1585) Uji sterilitas dari salep mata dilakukan dengan uji steril atau membran yang menahan bakteri dengan nilai porositas 0. Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau setelah pengujian selesai. Ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opurtonis yang tumbuh baik pada banyak kultur media dan menghasilkan toksin dari produk antibakteri. pyocyanea. 12.22 µm. Uji Sterilitas (RPS 18 th. Uji Kebocoran Salep mata (FI IV. ulangi pengujian dengan tambahan 20 tube salep. Dalam uji ini.45 atau 0.Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyaneus. untuk salep yang larut dalam isopropil miristat (pelarut yang digunakan secara resmi untuk uji sterilitas). Bersihkan dan keringkan baik-baik permukaan luar tiap tube dengan kain penyerap. disuspensikan pada pembawa berair yang cocok yang mengandung bahan pendispersi dalanm prosedur umum yang konvensional . Pengujian ini memenuhi syarat jika tidak satu pun kebocoran dari 10 tube uji pertama atau kebocoran yang diamati tidak lebih dari 1 atau 30 tube yang diuji b. 1585) Undang-undang resmi memberikan suatu uji yang dirancang untuk membatasi tingkat yang dipertimbangkan untuk jumlah atau ukuran yang dapat disetujui untuk partikel yang berbeda yang mungkin terdapat dalam salep mata.

obat miontik seperti fisostigmin sulfat atau obat midriasis seperti atropin sulfat. Dengan pengeculian tertentu dari injeksi mata. Kesimpulan : Tetes mata adalah suatu sediaan steril yang mengandung air maupun minyak harus bebas dari partikel asing baik dalam bentuk alkalk atau garamnya atau bahan lain. pH. 221 Faktor. 231 Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid. larutan harus isotonis larutan mata digunakan untuk antibakterial. miotik atau maksud diagnosa larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium). 2.  Parrot . Syarat. 358 Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam succos konjungtival. 357 Sediaan untuk mata terdiri dari bermacam-macam tipe produk yang berbeda. kesesuaian pH dari pembawa untuk menjamin stabilitas optimum  SDF . Sediaan mata sama dengan sediaan steril lainnya yaitu harus steril dan bebas dari bahan partikalat.  Tekt bodes of pharmaclutik .faktor dibawah ini sangat penting dalam pembuatan sediaan mata : 1. garam-garam alkaloid. isotonisitas dari larutan 4. midriatik. 2.TETES MATA 1. anestetik. Dapat mengandung bahan-bahan AM seperti AB. . sterilitas akhir dari collyrium (tetes mata)dan adanya bahan antimikrobauntuk menahan pertumbuhan dari suatu organisme yang ada selama penggunaan sediaan.  Scoville’s . antibiotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam mata. ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan. Definisi tetes mata  FI III . suspensi/salep kadang-kadang injeksi mata digunakan dalam kasus khusus. bahan anti inflamasi seperti kortikosteroid. digunakan dengan cara meneteskan pada konjungtiva mata dengan memperhatikan stabilitasnya. Sediaan ini bisa berupa larutan (tetes mata/pencuci mata). kestabilan kekentalan dan sterilitas. 10 Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata atau bola mata.syarat sediaan mata  Scoville’s . 290 Bahan obat diteteskan kedalam mata harus diformulasi dengan tepat dan disiapkan dengan pemberian pertimbangan antara lain tonisitas. 880 Tetes mata sering diteteskan kedalam mata yang terluka akibat kecelakaan atau operasi dan tetes mata kemudian secara potensial lebih berbahaya dibandingkan injeksi intravena. sediaan untuk mata adalah bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal dan karena itu tidak perlu bebas pirogen. 3.  Dom Martin . Ketika cairan.

Bebas dari partikel yang tersuspensi 4. Sterilitas 8. Kekentalan 4. Kejernihan 7. Kesimpulan : 1. 1589 1. Isotonik/mendekati isotonik 6. Adanya bahan tambahan 3. Bahan-bahan yang akurat 5. Persyaratan yang harus dipertimbangkan pada sediaan dikontrol dari produk sediaan mata : 1. cara penyiapan (biasanya oleh pemaparan suhu) larutan tambahan dan tipe pengepakan 3. Komposisi tetes mata . Ini diinginkan bahwa larutan mata stabil. pH. Sayang sekali yang paling penting dari itu adalah sterilitas yang telah menerima sifat atau perhatian dari farmasis dan ahli mata. dan sifat pH. Bebas dari iritasi  3. Dimasukkan dalam wadah yang kecil 8. Zat tambahan 3. Tonisitas. Dimasukkan dalam wadah yang steril germisidal untuk DOM king . pH. Untuk alasan ini. dan tidak ada pernah kehilangan mata karena larutan sebagian terurai atau mengiritasi penggunaan larutan tidak steril kedalam mata yang terluka dilain hal sering menyebabkan kecelakaan. Viskositas 6. sediaan mata harus diformulasi pada pH yang ekivalen dengan nilai cairan mata yaitu 7. Dalam pembawa yang mengandung bahan meningkatkan sterilitas 3. Kestabilan dari obat pada sediaan mata tergantung daari sifat kimia bahan obat.4 4. pH 9. Kejernihan 2. steril 2. Pengawet 2. Stabilitas  RPS . stabilitas. Harus steril 5.9% larutan NaCl 5. Tonisitas 10. Buffer dan pH idealnya. mata itu bereaksi secara cepat terhadap tiap perubahan dari lingkungan. sediaan atau larutan mata dipertimbangkan isotailk yaitu tonisitas sama dengan 0. Sterilitas 6. Buffer 8. Stabilitas 4. Pengemasan 5. seleksi pengawet dan sterilisasi. 145 Mata manusia adalah organ yang sangat sensitif. 247 Farmasi seharusnya menyiapkan larutan mata yang : 1. Dibuffer dengan tepat 7. larutan yang digunakan pada mata seperti suspensi dan salep harus disiapkan dengan perawatan yang sangat teliti. Bebas dari partikel asing dan secara normal harus jernih yang dicapai dengan filtrsi 2. isotonis. Scoville’s . Isotonis 6. 880 Faktor yang paling penting dipertimbangkan ketika menyiapkan larutan mata adalah tonisitas. Pendaparan yang sesuai 7. viskositas. Bahan tambahan  Dom Martin .

Bahan pengkhelat. Kesimpulan : Komposisi tetes mata: 1. yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet terhadap obat yang terkandung didalamnya selama waktu tetes mata itudimungkinkan untuk digunakan. Pengawet pada dasarnya. Bahan tambahan : . 10 Tetes mata berair umumnya dibuat menggunakan cairan pembawa berair yang mengandung zat pengawet terutama fenil raksa (II) nitrat atau fenil raksi (II).002%. Larutan untuk tetes mata khusus yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan feril merkuri. Asam borat dan boraks dalam tetes mata dari krednisolon Na sulfat. Untuk menghasilkan larutan kental yang akan memperpanjang aksi dari larutan mata untuk penahanan yang lebih lama dalam kontak dengan permukaan mata. namun dalam beberapa kasus bahan obat membuat larutan hipertonis. 3. dimasukkansetelah pereduksi natrium meta bisulfit dalam [] 0. Pengaturan isotonisitas dengan sekresi laknimal. Banyak obat mata dengan mudah dioksidasi dan biasanya dalam suatu kasus. Antara lain dapat mengandung hal-hal sebagai berikut : 1. Oksidasi bahan obat.Buffer . Ketika ion logam dapat menyebabkan peruraian dari bahan obat dalam larutan. 184 Disamping bahan obat. 2. Secara normal digunakan untuk mengatur tekana osmatik yang cocok dari larutan tetes mata.01 atau klorhebsidine asetat 0. seperti tetes mata sulfisetanid. asetat 0. zat aktif 2.FI III .01%. Contoh dari penggunaan bahan pendapar Na sitrat digunakan dalam tetes mata perilefrin.pH .Pengawet . fenil etil alkohol dan benzol konium klorida. pengawet dimasukkan untuk mencegah perkembangan mikroorganisme yang dapat ada selama penggunaan tetes mata.Pengkhelat  . 6. benzolkonium klorida 0. nitrat. Suatu bahan pengkholat yang mengikat ion-ion dalam kompleks organik akan memberikan perlindungan Na EDTA adalah satu dari bahan pengkhelat terbaik yanh dikenal.  Dom Cooper . tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan tambahan untuk mempertahankan potensinya dan mencegah kemunduran zat aktifnya. bahan pengental digunakan yaitu metil selulosa 1% telah digunakan untuk tujuan ini. 5.1% sering digunakan untuk tujuan ini.Tonisitas . mata dapat sedikit bertoleransi pada variasi yang luas dalam tekana osmotik dari larutan mata tapi ini biasa dan mungkin untuk mengaturnya menjadi isotonis dengan sekresi lakrimal. Viskositas. Konsentrasi ion hidrogen. 4. Ini digunakan untuk contoh dalam tetes mata BDS dari fisostigmin. fenilefrin dan sulfatamia. Perlu suatu konsentrasi ion H+ yang stabil dan beberapa larutan buffer umumnya digunakan.

4. Infeksi serius yang disebabkan organisme ini ditunjukan dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. salep yang obat-obatnya larut dalam air.o dan penetesan dari larutan mata yang terkontanimasi kedalam mata yang luka oleh kecelakaan atau operasi dapat menghasilkan kehilangan penglihatan. USP XXI menggambarkan larutan mata. 3. Sediaan mata harus steril karena :  SDF . infeksi mata dari orgabisme ini telah membuat kebutaan khususnya. tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. hanya sedikit pengaruh sifat fisika dengan tujuan ini. Air mata. tidak seperti darah. keseragaman tidak menjadi maslah. dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lisosim) yang mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa m. Kerugian .  Prescription . Salep mata umumnya menghasilkan bentuk yang lebih besar daripada larutan berair  AMA Drugs : 1624 Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep. Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan 2. 181 Jika satu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata. 5. salah satu mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lisozim. meskipun salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan. Kemudian mekanisme utama dalam pertahanan melawan injeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata. namun juga ditemukan dalam saluran intestinal dari kulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada di udara (komersil atau persewaan) tidak mengejutkan jika tidak dirawat yang pantas. 357 Sterilitas adalah persyaratan yang sangat penting pembuatan larutan mata yang tidak layak dapat membawa banyak organisme yang paling berbahaya adalah pseodomonas aeroginosa. yakni paling mampu menyebabkan kerusakan mata adalahn pseudomonos aeroginosa (bacillus pyocyneus). 290 Sterilitas diinginkan karena kornea dan jaringan yang segaris dengan daerah arteria adalah media yang baik untuk m. Keuntungan dan kerugian tetes mata Keuntungan  RPS 18th . Penting untuk dicata bahwa ini bukanlah organisme yang jarang. berbahaya bagi produknon steril yang dimasukkan dalam mata ketika kornea terbuka. maka jelas dengan sendirinya bahwa dengan sediaan mata harus steril. dengan definisi semua bahan-bahan adalah lengkap dalam larutan.o.  Parrot .1584 1.

Ditempat kerjanya tetes mata bekerja dari konjungtiva. 1586-1587 1. Akan sangat membantu untuk latihan memakai obat dalam posisi didepan cermin g.6. Dengan satu tangan tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah 3. usahakan untuk menjaga mata tetap terbuka dengan tidak berkedip paling kurang 30 detik 6.  Cara penggunaan tetes mata  RPS 18th . sementara penetes gelas dapat dengan dibungkus dan diotoklaf secara komersial disiapkan unit dosis tunggaol 7. Perbedaan salep mata dan tetes mata  RPS 18th . jangan menyentuhnya penetes pada mata atau jari 5. 142 Bahan aktif obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara topikal untuk kebanyakan obat kurang 1-3% dari dosis yang dimasukkan melewati kornea. selalu tempatkan penetes dengan ujung mengarah kebawah b. Tempatkan penetes diatas mata. 367 Larutan mata disiapkan secara terus menerus dikemas dalam wadah tetes (dropsrainen) polietelin atau dalam botol tetes gelas untuk mempertahankan sterilitas larutan. Jika penetesnya terpisah. Sampai kurang interior. Cuci tangan 2. Jangan pernah mencuci penetes d. . kornea dan iris sedangkan salep mata bekerja pada kelopak mata. RPS 18th : 1585 Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsorpsi  DOM King . Pewadahan  SDF . wadah harus steril. 2. kelenjar sebaseus konjungtiva dan kornea serta iris. Setelah penggunaan jangan menutup mata terlalu cepat dan usahakan jangan berkedip lebih sering dari biasanya karena dapat menghilangkan obat dari tempat efektifnya. 8. salep mata umumnya menghasilkan bioavauabilitau yang lebih besar dibandingkan dengan larutan berair lainnya. buka satu tutup botol saja beberapa menit sebelum menggunakan tetes mata yang lain f. 1584 1. Sejak BA obat sangat lamvat. Lepaskan penutup. Jika penetes terpisah tekan bola karetnya sekali ketika penetes dimasukkan kedalam botol pembawa 4. Jangan pernah menyentuh penetes pada permukaan apapun c. Jangan menggerakkan tetes mata yang telah mengalami perubahan warna e. Wadah polietilen disterilkan dengan etilen oksida. Jika penetes terpisah. tempatkan kembali pada botol dan tutup erat a. Jika anda mempunyai lebih dari satu jenis botol tetes yang sama. pasien yang mematuhi aturan dari tekhnik pemakaian yang tepat.

5 ml adalah ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. P. Bahaya obat non steril  RPS 18th : 1568 Pseudomonas aerugunosa ( B. biasanya karena pembatasan stabilitas. Sebaiknya bahan-bahan menguap dapat menyerap dari larutan kedalam atau melalui wadah plastik. 9. Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan. . larutan mata sebaiknya dibuat dalam unit kecil. tinta dan warna juga dapat berpenetrasi polietilen dengan cepat. Scoville’s .  dengan volum0. mereka masih dilengkapi dan yang terbaik adalah untuk menulis secara langsung produksi untuk menghasilkan informasi terkini dalam perkembangan terakhir. Pyouganeus. Satu yang seharusnya masih dipikirkan adalah wadah plastik. Meskipun beberapa botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran. Blue Pus bacillus ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opportunis yang tambah baik pada kultur media yang menghasilkan toksin dan zat atau produk antibakteri cenderung untuk menambah kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeoginosa untuk tumbuh pada klur murni. Basanya polietilen densitas rendah adlah tidak boleh alat tergantikan dengan gelas. Penggunaan wadah kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah pemaparan kontaminan. menunjukkan bahwa semua zat beberapa strain dari organisme ini. Ini dapat menyebabkan keilangan penglihatan pada 24-48 jam pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata. Bacilus gram (-) juga menjadi sumber dari ineksi yang serius pada kornea. Siap dapat menggunakan plastik dan dalam wadah larutan. RPS 18th : 1590 Wadah gelas sediaan mata tradisional dengan dilengkapi penetes gelas telah dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polieblen densitas rendah yang disebut ”droptrainers” hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih digunakan. antioksidan. Larutan intraokulir vulome besar 250-5—ml telah dikemas dalam gelas.3ml atau kurang dikemasdalam tube polietilen steril edan disegel dengan pemanasan. 247 Wadah untuk larutan mata. reaksi quenchers dan yang mirip. Wadah gelas memberikan bahan wadah yang menyenangkan untuk penyiapan terus menerus larutan mata. Wadah plastik adalah permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan air. tidak pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. Penetes normalnya disegel dan dikemas dalam blaster pack yang menyenangkan.tipe I digunakan wadah sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril kemudian disterilkan dengan autoklaf. pyocyamea. Wadah plastik dapat mengandung variasi bahan-bahan ekraneus seperti bahan-bahan pelepas jamur. tetapi bahkan sediaan parenteral mulai dikemas dalam pabrik khusus wadah polieblen atau polipropilen. Lem label. A botol 7.

.

kadar tidak boleh lebih dari 0.01% b/v sampai 0.5 sampai 7. Dahulu kala. Cairan pembawa sedapat mungkin mempunyai pH antara 5. dapat mengandung zat pensuspensi. (7 : 252) Tetes hidung adalah obat tetes yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. isotonis atau hampir isotonis. polisorbat atau surfaktan lain yang cocok. Cairan pembawa umumnya digunakan air. Untuk alasan ini.1% b/v.5%) atau bahan antiseptik lain yang cocok. larutan minyak tidak direkomendasikan lebih lanjut. Definisi Tetes Hidung Larutan untuk digunakan pada hidung disebut juga spray atau collunaria atau tetes hidung didefinisikan sebagai larutan berair atau berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau daerah nasofaring. Zat pendapar dapat digunakan dapar yang cocok dengan pH 6.5 dan dibuat isotonis menggunakan natrium klorida secukupnya.01% b/v. Zat pensuspensi dapat digunakan sorbitan. (5 : 1526) Tetes hidung adalah larutan berair untuk dimasukkan ke dalam lubang hidung. (2 : 10) Larutan untuk hidung umumnya larutan berair yang dirancang untuk digunakan pada hidung sebagai tetes atau dapar. larutan minyak umum digunakan sebagai tetes hidung tetapi minyak dapat mengganggu aksi silia mukosa. kapasitas dapar sedang.TETES HIDUNG 1.5. pendapar dan pengawet. Zat pengawet umumnya digunakan benzalkonium klorida 0. (16 : 352) . mereka dapat menyebabkan pneumonia lipoid. jika tetesan minyak masuk ke dalam trakea. Mereka dapat mengandung obat-obat vasokontriksi untuk mengobati kongesti nasal dan sering dilindungi dengan klorobutanol (0.

Tetes hidung dibuat dalam jumlah kecil (10 atau 25 ml) dalam botol gelas berwarna bergalur dengan plastik penyegel dan penetes. dapat mengandung zat pensuspensi. larutan minyak jarang digunakan dan tidak direkomendasikan untuk penggunaan pada hidung. Mempunyai pH dalam rentang 5. Jenis-jenis Sediaan Hidung (9 : 157) 1. c. Isotonik atau mendekati isotonik. lebih dipilih kurang dari 7. Minyak. Mereka selalu bercampur dengan aksi silia normal dan tidak membebaskan obat tidak larut secara efisien. tetes hidung. khususnya minyak mineral berbahaya dan telah dibuktikan dapat menyebabkan pneumonia lipoid atau pneumonia inspirasi-minyak sehingga aspirasi atau inspirasi dalam beberapa cairan. Pemilik spray menyiapkan dalam wadah tipe bertekanan. b. Larutan (spray. Pembawa untuk larutan hidung sebaiknya: a. obat-obat vasokonstriksi dan antiseptik. Mempunyai kapasitas buffer yang baik. (16 : 352) Kesimpulan : Tetes hidung biasa juga disebut spray atau collunaria merupakan larutan berair atau berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau daerah nasofaring digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung.5. Penggunaan jangka waktu lama obat vasokontriktor dalam hidung dapat menyebabkan kerusakan mukosa hidung. pengawet. . collunaria) Paling banyak sediaan untuk penggunaan lokal untuk rongga hidung adalah larutan berair. 2. pendapar. Meskipun petrolatum cair terang secara luas digunakan pada masa lalu.5-7.

Penetes sebaiknya ditempatkan tepat masuk dalam nostril dan sejumlah yang diresepkan tetesan dimasukkan. Ujung nozzle kemudian ditempatkan ke dalam nostril tanpa penghambatan sempurna. Wadah spray ditekan secara lembut sementara pasien bernafas perlahan. atomizer atau kemasan spray. Pasien seharusnya diberitahu untuk menyandarkan punggungnya sementara memiringkan kepalanya ke belakang. sepanjang penggunaan pasien sendiri. Penetes hendaknya dibilas dengan air hangat dan dikeringkan dengan tissue sebelum menempatkannya kembali ke botol penetes. Kemasan spray plastik tersedia untuk pembuatan resep dengan instruksi "spray". Pasien sebaiknya diberitahukan untuk menjaga kepala tetap lurus atau membengkokkan kepala sedikit ke depan. h. pasien sebaiknya tetap pada posisi ini 2-4 menit untuk membiarkan obat berpenetrasi ke dalam sinus. Cukup stabil untuk menyimpan aktivitas diperpanjang. Mengandung pengawet untuk menekan pertumbuhan bakteri yang mungkin ada melalui penetes.d. g. Tidak mengubah viskositas normal mukus. Dapat bercampur dengan gerakan silia normal dan bahan ionik sekresi nasal. Nozzle hendaknya dibilas dengan air dan kemudian dikeringkan dengan tissue sebelum digunakan. f. e. Dapat bercampur dengan bahan aktif. Botol gelas amber konvensional dengan penetes obat atas sebaiknya digunakan untuk obat tetes. 2. Salep dan Jelly . Setelah pengobatan keduanya. Paling banyak larutan untuk hidung digunakan penetes.

Hidung sebaiknya menghembuskan untuk membersihkan nostril dan inhaler dikocok dengan segera sebelum digunakan. 3. Jelli larut air jarang digunakan untuk pengobatan vasokontriktor (Jelly efedrin) atau anestesi lokal (jelly Pramoxine) paling tinggi dalam kanal nasal ketika aksi diperpanjang diinginkan. vasokonstriktor menguap adalah bahan aktif yang secara luas digunakan untuk sediaan hidung (Benzedrex inhaler). Lubang hidung yang satu ditutup menggunakan tekanan jari. pengawet dan salep topikal penyejuk kadang-kadang digunakan untuk pengobatan inflamasi. Inhalan Obat-obat atau kombinasi obat yang oleh dengan tekanan uap tinggi dapat membawa udara dengan segera ke dalam rongga hidung. Canister ditekan ke bawah secara hati-hati antara jari dan jempol untuk membebaskan dosis obat. 4. Sediaan basis minyak sebaiknya tidak digunakan dalam basis umum. Biasanya. inhaler dimasukkan. Farmasis hendaknya secara hati-hati menginstruksikan pasien dalam penggunaan sehari bentuk dosis ini untuk memastikan keefektifan dan kelengkapan. dan timol secara luas digunakan dalam inhaler OTC.Antibakteri. Mentol. Propel Hexedril. Inhaler Hidung Bertekanan Beberapa produk inhaler bertekanan tersedia untuk penggunaan kortikosteroid untuk membran hidung. Sediaan ini tidak membingungkan dengan inhalasi dimana obat atau penggunaan larutan obat sebagai nebulizer (kabut) dimaksudkan untuk mencapai jaringan pernafasan. kepala dimiringkan ke belakang dan potongan plastik nasal (nozzle) secara hati-hati dimasukkan ke dalam satu nostril. metil selulosa. Sementara bernafas perlahan melalui nostril. dan bahan-bahan bercampur air. . Jelli-jelli ini disusun dari tragakan. kondisi dermatologi dan celah vestibula hidung. eukaliptol.

Lapisan mukus bergerak terus-menerus menuju ke faring dengan aksi pemukulan dari silia. Epitelium pada bagian hidung mengandung sel-sel silia kolumnar dimana diselingi sel goblet. Konsentrasi inhibitor kolinesterase yang sangat encer dan mempercepat pergerakan silia. Baik atropin . Bagian besar lubang hidung dilindungi dengan membran mukosa pernafasan. 3. Seperti berulang kali ia tekankan bahwa kelembaban adalah hal penting dalam mekanisme pertahanan utama hidung yang baik-pergerakan silia yang secara konstan menarik lapisan mukosa ke belakang ke arah nasofaring. Sementara konsentrasi yang amat tinggi memperlambatnya. Ada tidaknya kontrol netral terlibat dalam pemukulan silia dalam hidung manusia belum diketahui saat ini. Karakteristik lain dari membran mukosa adalah mempunyai jaringan kapiler yang sangat banyak dalam epitelium dan di sekitar kelenjar. Jaringan kapiler ini menghubungkan sistem vena superfisial pada sistem arteri yang lebih dalam. Burn dengan jelas mengindikasikan bahwa asetilkolin diproduksi lokal dan konsentrasi lokal kolinesterase telah dideteksi. membran mukosa pernafasan terbatas pada bagian atas dan bagian tengah turbin dalam septum hidung. Vena balik merupakan ruangan darah superfisial menuju pleksus vena yang lebih dalam dan biasanya sangatlah besar seperti membentuk sinus yang besar. seorang penulis fisiologi hidung menyatakan bahwa semua penyakit infeksi pada batang hidung disebabkan oleh satu sumber yaitu kegagalan menyaring dan membersihkan. Memastikan dengan mengocok lagi inhaler sebelum digunakan.Kemudian pasien hendaknya bernafas melalui mulut. Bagian terakhir merupakan lubang dan kelenjar mukosa. Prosedur ini diulang untuk lubang hidung lain. Anatomi dan Fisiologi Hidung Anatomi dan Fisiologi Hidung (11 : 912) Proetz.

trakea. serbuk atau tetesan minyak terperangkap dalam lapisan dan dikeluarkan dari hidung menuju nasofaring. sebagaimana dipercaya dahulu. pseudoplastik. Mukus merupakan sistem mukoprotein yang agak kental. tidak terjadi fluoresensi. Komposisi mukus hidung tidak diketahui secara tepat karena tidak mungkin untuk mendapatkan sampel yang cocok untuk analisis kimia. tapi pasien rhinitis atau sinusitis akut. Mukus juga merupakan perlindungan pada mukosa itu sendiri. Dengan ini menginjeksikan fluoresensi secara intravena. Arah aliran mukus masuk menuju nasofaring. esofagus dan ke dalam perut. Ingelsted dan Ivstam telah menunjukkan bahwa obat fluoresensi ini tidak dapat dideteksi dalam sekresi hidung normal. Kelenjar mukosa bersekresi terus-menerus melalui proses grandular secara aktif. bukan melalui proses pasif. faring. Di bawah kondisi normal benda-benda asing seperti debu. Pemberian parenteral antihistamin telah terbukti menghambat reaksi inflamasi ini. Semua efek ini bersifat reversibel. bakteri. Lapisan mukosa merupakan lapisan sekresi yang berlapis-lapis yang melindungi membran mukosa pada traktus pernafasan bagian atas dan memperluasnya di atas permukaan saluran hidung. Jika larutan histamin ditempatkan dalam hidung tanpa merusak lapisan mukosa. saliva dan cairan berair dan air mata. Bagaimanapun jika mukus dihilangkan fluoresensi ditandai dengan saluran nasal dan mukosa menjadi banyak. zat warna tersebut masuk melalui sekresi hidung dengan mudah seperti eksudasi.maupun kurare akan memperlambat pukulan silia. Lapisan mukosa bergerak terus-menerus. sinus paranasal. . Pada demam Hay akut derajat fluoresensi menyarankan bahwa setelah meningkat baik pada aktivitas eksudasi glandular. Pasien dengan rhinitis alergi kronis mengalami hal yang sama. meskipun ditransfer dari darah ke dalam cairan intestinal. bergerak melalui aksi silia. eksudatif atau transudatif.

Anderson dan Rubin percaya bahwa sedikitnya 20% kasus hidung gejalanya meningkat karena peningkatan viskositas yang menyebabkan kekeringan. Anatomi dan Fisiologi Hidung (9 : 156) Rongga hidung adalah panjang. debu dan alergi. ekuivalen (ester anhidrida. Mukus secara terus-menerus diproduksi dan disekresi dan lapisan mukus secara terus-menerus bergerak maju ke faring dengan aksi pemukulan silia. dibagi menjadi dua bagian oleh septum hidung. Mukus merupakan sistem yang kental. dikatakan 6 kali lebih kental dari mukus lambung. Kelembaban adalah bagian penting dalam mekanisme pertahanan hidung-silia yang baik.Mukoprotein telah ditemukan mengandung rantai polimer glukosamin dan atau asam glukoronat sebagai komponen protein. hidrogen dan ikatan-ikatan lainnya). Beberapa rongga terbuka dalam hidung disebut kolektif paranasal dan termasuk variasi sinus. Viskositas sekresi hidung penting untuk keefektifan aksi silia. Paling banyak rongga hidung ditutupi oleh membran mukosa yang secara ekstrim kaya akan jaringan kapiler dan mengandung sejumlah kelenjar mukus. projeksi rambut kecil menutupi paling banyak rongga hidung. yang secara konstan menarik lapisan mukosa ke belakang menuju nasofaring. Proetz. Ikatan ini dapat berupa ikatan ionik. seorang penulis fisiologi hidung menyatakan bahwa semua penyakit infeksi pada batang hidung berasal dari satu sumber yaitu kegagalan filter untuk membersihkan dirinya sendiri. sempit. stimulasi atau depresi dan serangan virus. Mukus hidung. Bila terlalu tipis atau terlalu tebal silia tidak mampu untuk menggerakkan lapisan mukus. obat (atropin). Banyak hal yang dapat meningkatkan atau menurunkan produksi mukus diantaranya temperatur. sistem mukoprotein yang bertindak sebagai pelindung untuk menutupi mukosa sebaik bahan-bahan yang . channel tinggi. psudoplastik.

Diantaranya adalah efek temperatur dan kelembaban. Banyak simptom yang tidak menyenangkan dalam penyakit nasal adalah peningkatan viskositas dan dehidrasi sekresi. debu. . serbuk. sementara sangat hipo atau larutan hipertonik dapat menyebabkan iritasi.5.9% NaCl) tampak dapat bercampur dan tidak mengiritasi hidung.terperangkap masuk ke dalam rongga hidung. Bagaimanapun sejumlah kecil penggunaan intranasal merupakan metode rute penggunaan yang baik untuk mencapai level darah signifikan dari obat. Beberapa obat diabsorpsi secara sistemik melalui vaskuler hidung setelah pemakaian intranasal dan sistem pembawa nasal semipadat dipelajari untuk mengontrol pembebasan obat. pH normal sekresi hidung kira-kira 5. Beberapa kondisi dapat meningkatkan atau mengurangi produksi dan atau viskositas mukus. larutan isotonis (0. infeksi bakteri dan virus. bakteri dan tetesan minyak terperangkap dalam lapisan mukus dan dikeluarkan dari hidung menuju nasofaring dimana ia akan tertelan atau dikeluarkan. Sekresi nasal muncul untuk mempunyai sedikit kapasitas dapar dan terus-menerus penggunaan sediaan yang mempunyai nilai pH beberapa unit menghilangkan dari nilai normal yang dapat mengiritasi dan menyebabkan kerusakan jaringan. Aksi silia efektif atau pemukulan silia tergantung pada viskositas mukus.5-6. Di bawah kondisi normal. serbuk. benda asing seperti debu. sinusitis dan lain-lain. Sediaan hidung alkali sebaiknya tidak digunakan untuk kondisi inflamasi akut ketika hanya membuat keadaan menjadi lebih baik untuk mentoleransi variasi tonisitas yang relatif besar. dan alergi lain variasi obat. rhinitis. pH cenderung lebih meningkat menuju alkali dengan kondisi tertentu seperti dingin umumnya.

Tanndorf dan pekerjanya. mempelajari absorpsi hiosin dan atropin dari mukosa hidung manusia. efektif yang biasa atau dirusak oleh saluran pencernaan. diikuti oleh penggunaan cairan oral. Pentingnya rute pemberian dijelaskan. Penundaan dalam kasus ini tampaknya tergantung pada waktu yang dibutuhkan untuk melarutkan kapsul dan garam alkaloid padat.Absorpsi obat yang diberikan secara intranasal dapat terjadi dari jaringan pencernaan setelah mereka dialiri dari rongga hidung. Untungnya. Rute intranasal tampaknya cukup ideal untuk tujuan ini karena kenyamanan dan kemudahan pemberian. Kapsul yang diberikan secara oral memberikan respon yang paling lambat. Absorpsi Obat Pada Hidung (11 : 915) Terdapat sejumlah kasus dimana absorpsi obat dibutuhkan pada kondisi saat injeksi parenteral atau pemberian rektal tidak praktis. Dalam semua kasus produksi saliva secara signifikan berkurang di bawah level kontrol. 4. Potensi untuk absorpsi melalui rute ini perlu dipertimbangkan. Injeksi subkutan memberikan respon yang paling nyata dan cepat. Pemberian obat pada pasien yang mual dan muntah memiliki kerugian nyata yaitu kesulitan menelan obat dan menahan obat dan relatif lambat. Mereka menggunakan derajat penghambatan produksi saliva sebagai test untuk sejumlah obat yang diabsorpsi. Penemuan mereka menunjukkan kegunaan pemberian nasal untuk penggunaan obat. paling banyak obat digunakan secara intranasal diberikan dalam jumlah kecil dari dosis. bagaimanapun khususnya jika sejumlah besar larutan digunakan atau diberikan untuk bayi atau anak kecil. dan penggunaan pada hidung menempati posisi tengah. diikuti pembalikan menuju level normal. Pemberian hiosin dalam garam normal dengan spray tidak menghasilkan respon sebaik penggunaan pada .

Penulis menemukan bahwa inhalasi kristalin vitamin B12 dalam larutan NaCl dan serbuk laktosa menghasilkan respon klinik cukup dan respon hematologikal dalam 12 persen pasien anemia yang kambuh. 5.9% maka aktivitas pada mula-mulanya berbeda dari . silia pada daerah tertentu berhenti bergerak. Monto dan Rebuck melaporkan penggunaan vitamin B12 dengan rute nasal. yang ditemukan lebih baik daripada rute nasal maupun subkutan dan hanya sedikit lebih baik daripada pemberian oral. dimana obat diabsorpsi dengan baik atau sedikit lebih baik daripada tetes hidung. ketika 0.01% natrium lauril sulfat ditambahkan.tetes hidung. Respon Silia Terhadap Obat Respon silia terhadap obat dan pengaruh lainnya telah diteliti oleh Proetz dan yang lain. semua aktivitas berhenti. Hasil penelitian ini telah diumumkan dan beberapa penemuan telah dirangkum sebagai berikut : (11 : 913-915) 1) Larutan NaCl Silia baik pada manusia maupun kelinci tetap aktif untuk waktu lama dalam larutan NaCl 0. Setelah perlambatan gerakan terjadi di daerah lain. Bagaimanapun. Bila konsentrasi NaCl ditingkatkan. pemberian jumlah obat yang tepat dengan penggunaan spray ditemukan agak sulit. Tidak ada komplikasi sekunder yang ditemukan.9% pada suhu antara 25 0C dan 30 0C. Penelitian tambahan terhadap kelompok yang termasuk pemberian sublingual. Bagaimanapun. Pada konsentrasi 4-4. pengurangan tegangan permukaan membiarkan obat berdifusi dengan cepat ke daerah absorpsi.5%. Jika membrane dicuci dengan air suling lalu dicelup lagi dalam larutan NaCl 0.

Penambahan NaCl pada berbagai konsentrasi tidak mampu mengembalikan pergerakan seperti semula. ketajaman silia bahkan perlahan-lahan akan berkurang dan permukaan menjadi berkabut. Pada dasarnya. Proetz menstimulasi sekresi mukus dengan penggunaan lokal larutan alkohol (4%) dan gliserin (4%) dalam larutan garam .2-0.3%. Meskipun propilenglikol murni sangat hipertonik yang akan menarik dari jaringan di sekitarnya.kontrol tapi kemudian akan kembali seperti semula. dalam jangka waktu yang cukup. sitrat. yang merupakan sistem yang digunakan untuk penggunaan klinis untuk jangka waktu yang lama. beberapa peneliti mempelajari penggunaan propilenglikol tidak larut sebagai pembawa untuk melarutkan bentuk asam dari sulfa. oksalat. Sejumlah tetesan mukus terbentuk pada silia. dan bahkan bahan pengkhelat lainnya untuk kalsium atau sulfat dan fosfat menghentikan pergerakan silia bila diberikan dalam garam fisiologis. sekelompok silia bahkan tidak dapat dibedakan. Bila konsentrasi larutan dikurangi. Alkohol dalam cairan isotonis telah digunakan dalam konsentrasi sampai 10% terhadap efek yang nyata. Silia menjadi rusak permanen bila dipaparkan larutan hipotonis. sehingga mengurangi kealkalian yang tinggi dari sulfonamida. Pemberian berulang pada tikus dan kelinci menyebabkan sinusitis akut. 2) Pengurangan Ion Kalsium Penggunaan tartrat. efek air suling setara dengan NaCl yang sangat encer. 3) Bahan Yang Bercampur Air Saat obat-obat sulfa populer dalam pengobatan hidung. Transfer kembali ke lingkungan normal akan mengembalikan aksi silia seperti semula. Semua pergerakan akan berhenti pada konsentrasi 0.

5% perak nitrat menghancurkan silia. Bila larutan digunakan dalam bentuk tetes. 7) Larutan Kokain . Hal ini menyebabkan turbinasi pada pasien dalam posisi duduk. 4) Minyak-minyak Bila digunakan dalam membran. Minyak-minyak juga berbahaya karena telah terbukti secara langsung menyebabkan pneumonia lipoid. maka akan timbul rasa sakit. minyak-minyak sayur yang mempunyai asam lemak bebas yang rendah dikatakan kurang berbahaya daripada minyak mineral atau minyak hewan. Edema dan fragmentasi epitelium terjadi setelah kontak panjang argyrols (10%) dengan mukosa sinus frontal(harus diketahui bahwa argyrols merupakan kompleks protein perak oksida yang membutuhkan reaksi alkali kuat). 6) Larutan Perak dan Zink Pada penggunaan paling sedikit 0. 5) Protein Perak Ringan Bila protein perak koloidal digunakan pada membran mukosa. Hasil semua sama ditemukan setelah pemberian zink sulfat. maka minyak terletak stasioner sebagai lapisan berat yang menyebabkan gangguan pada aksi silia normal. Penggunaan minyak teriodisasi sebagai medium opak dalam X-ray untuk sinus dan bronki telah ditunjukkan sebagai prosedur yang aman. Namun.normal. Minyak tidak cocok sebagai pembawa karena obat yang terlarut di dalamnya karena obat-obat tersebut tidak mampu menembus mukosa dan mencapai lapisan seluler. pergerakan silia awalnya dihambat tapi terpulihkan dengan baik setelah pemberian larutan garam hangat.

dan bahan-bahan Bahan-bahan ini dapat menyebabkan pengurangan pergerakan silia dan efek yang merugikan lainnya. Pada konsentrasi 5000 unit/ml terjadi penurunan kecepatan pukulan dan bahkan menghentikan aksi. kecuali dengan timol. timol.Pada konsentrasi lebih dari 2. Streptomisin dalam garam isotonis dalam 1000 unit/ml atau kurang. 10) Antibiotik Penisilin (garam natrium) tidak merusak silia bila digunakan dalam larutan yang mengandung 250 dan 500 unit/ml (dalam NaCl isotonis). tidak mempunyai efek pengurangan atau merugikan membran mukosa hidung. Suspensi berair tirotrisin (1:2000 dan 1:5000) menahan pergerakan silia dengan sempurna. dan hal yang sama dapat diasumsikan pada kebanyakan komponen simpatomimetik sintetik yang umum digunakan.5-1%) dalam larutan garam normal tidak menghasilkan perubahan aksi silia. Namun Fabricant melaporkan bahwa . kokain memparalisis silia. mentol. Pemulihan aktivitas normal diharapkan.1% tidak mempunyai efek yang berarti. Uap tidak berefek. Tidak diketahui apakah data ini dalam perlakuan di bawah kondisi isotonis.5%. eukaliptol. pada konsentrasi yang lebih rendah tidak ada efek selain pengerutan dan penyusutan permukaan. Larutan dengan konsentrasi kurang dari 0. 8) Larutan Efedrin Konsentrasi efedrin (0. 9) menguap lainnya Kamfer.

Garam-garam sulfonamida lainnya seperti Na-suldosetamida.penggunaan Na atau Ca Penisilin (Ca atau Na) sampai 5000 unit/ml tidak mempunyai efek pada membran mukosa pernafasan kelinci. terlarut dalam propilenglikol atau campuran propilenglikol-air dikatakan kurang mengiritasi. Tampaknya kuartener tidak merugikan bila digunakan dalam medium isotonis. yang dapat didapar di bawah pH tanpa pengendapan. silia bergerak aktif apabila dicelup selama 1 jam dalam larutan ini. akan menunjukkan sedikit reaksi kerusakan. yang mungkin dapat menyebabkan kerusakan. Baik pada kontrol garam dan larutan garam kuartener 1:10. efek menyengat terjadi setelah pemberian berulang. atropin menyebabkan pengeringan dan bahkan perhentian gerakan silia. 11) Atropin Bila diberikan secara oral. Pemakaian lokal mengurangi produksi mukosa. 14) Larutan Timerosol Konsentrasi 1:1000 timerosol atau lebih sangat ekstrim dan menyebabkan penghentian gerakan silia secara permanen setelah pemberian 4 menit. natrium sulfathiazol tidak mempengaruhi pemukulan silia dengan cepat dan berarti. Bentuk asam bebas dari sulfonamida. 13) Benzalkonium klorida dan Larutan Kuartener Lainnya Larutan berair benzalkonium klorida 1:1000 dan 1:2000. Tidak tercatat efek yang merugikan pada efektivitas silia bila digunakan kuartener pada konsentrasi yang sama dalam larutan ragam isotonis. sebagaimana air suling sendiri. . tidak hanya pada silia tapi juga pada berbagai lapisan pada mukosa hidung. 12) Natrium Sulfarthiazol Bila diberikan dalam larutan berair 5%.000. menyebabkan penghentian aksi. tapi pada pH sekitar 10 (alkali tinggi).

6. Hampir 0. Larutan yang sedikit asam lebih efektif dalam pengobatan flu dan infeksi sinus. Oleh karena .5-6.15) Surfaktan Anionik dan Nonionik Beberapa surfaktan anionik berbeda termasuk Na Lauril Sulfat. Surfaktan nonionik tampaknya ditoleransi pada konsentrasi yang lebih tinggi. pergeserannya menuju ke lebih asam. larutan dektrosa isotonis dan larutan NaCl isotonis telah menjadi bagian dari pelarut untuk sediaan ini. b. Syarat-syarat Tetes Hidung (7 : 253) a. Jadi.01% dapat ditoleransi tanpa efek. sementara pH hidung anakanak pada range 5-6. Sementara penggunaan larutan asam cenderung untuk meningkatkan keasaman sekresi. Konsentrasi Ion Hidrogen Fabricant telah menemukan bahwa pH sekresi hidung orang dewasa tidak tetap tetapi secara normal bervariasi dari 5.01% dan dilaporkan tidak terjadi sensasi yang berarti pada penggunaanya. Na-dioktil sulfosuksinat dan alkil benzen sulfonat telah dicuci pada membran excise dan intact. Larutan 0. Telah ditemukan bahwa penggunaan obat alkali dalam hidung cenderung untuk meningkatkan sekresi lebih alkali. Lebih dari 200 pasien menggunakan larutan yang mengandung 0.5. Isotonisitas Penggunaan larutan berair lambat laun memusatkan perhatian pada pertanyaan tonisitas karena ditemukan bahwa baik larutan konsentrasi rendah dan tinggi keduanya menyebabkan iritasi pada membran mukosa hidung yang tidak nampak jika larutan isotonis atau sedikit hipertonis digunakan.05% Na-Lauril Sulfat dilaporkan menyebabkan sedikit rasa membakar. pH cenderung naik menjadi alkali selama serangan rhinitis akut.7. Jika terdapat inflamasi kuat.

Pemilik spray menyiapkan dalam wadah tipe bertekanan.itu. Penggunaan jangka waktu lama obat vasokontriktor dalam hidung dapat menyebabkan kerusakan mukosa hidung. Untuk mengatasi alkali kuat. Pewadahan (16 : 352) Tetes hidung dibuat dalam jumlah kecil (10 atau 25 ml) dalam botol gelas berwarna bergalur dengan plastik penyegel dan penetes. 7.4-7.5) dan tidak menyebabkan iritasi disebabkan oleh sulfonamida yang lebih alkali. Asam rendah adalah tidak menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri. sifat mengiritasi dan penguraian sulfonamida. Perubahan pH juga berhubungan dengan aksi silia normal dan menghambat aksi perlindungan silia. yang sangat tidak diinginkan. Telah ditunjukkan bahwa obat dari garam Na sulfonamida telah merusak aksi silia. penggunaan tetes hidung yang lebih alkali selama rhinitis dan rhino sinusitis akut dikontraindikasikan karena cenderung untuk membuat sekresi abnormal yang sudah alkali lebih alkali. Yonkman telah merekomendasikan penggunaan propilenglikol untuk obat-obat ini. Dia menggunakan 3% larutan propilenglikol sulfathiazol dan 10% larutan sulfonamida. Bagaimanapun. . sulfonamida yang umum digunakan dalam tetes hidung adalah sulfasetamid Na dan sulfisoxazol dietanolamin. aksi menyengat pada membran mukosa dan cenderung menginduksi sensitivitas obat. Konsentrasi ion hidrogen dalam larutan hidung juga penting untuk alasan lain. Ini adalah sulfonamida larut dan esensial netral dalam reaksi (pH 7. atau sedikitnya memperpanjang kondisi ini. Larutan sedikit asam dalam reaksinya.

suspensi. suspensi.  Parrot : 283 Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril yang diberikan dengan menembus satu atau lebih lapisan kulit.  RPS 18th : 1545 Parenteral merupakan rute pemberian obat melalui injeksi di bawah untuk menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa. emulsi. atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan.  FN : 317 Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. emulsi.  Scoville's : 124 Injeksi adalah larutan yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik. atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan . yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.INJEKSI 1 Definisi Injeksi  FI III : 13 Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan.  PTM : 3 Injeksi adalah sediaan cair dari obat yang dimaksudkan ke tubuh atau melalui kulit atau selaput lendir.

lapisan pembuluh darah dalam kulit. II. pembuluh darah betul-betul kecil. maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme.1. Kesimpulan Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril berupa larutan. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir atau menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa menggunakan alat suntik. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.2 Rute-rute Injeksi  DOM Martin : 970 1. atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset . Intramuskular Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas. emulsi. b. Parenteral Volume Kecil a. Ketika sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi. suspensi. Intradermal Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis" yang berarti sensitif.lebih dahulu sebelum digunakan.

puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera. c. beberapa rute juga digunakan untuk aksi khusus. digunakan untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh. Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM. kadang-kadang untuk aksi lokal daripada efek sistemik.sedikit lebih normal daripada rute intravena. Ketika tidak ada absorpsi.  Rute intra-arterial. digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal jantung. . Subkutan Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. tetapi lebih besar daripada rute subkutan. Intravena Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. d. disuntikkan langsung ke dalam jantung. disuntikkan langsung ke dalam arteri. dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir sekejap. injeksi ke dalam serebrum. digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia. e. Rute Injeksi Lain Selain empat rute parenteral primer.  Intrakardial.  Intraserebral.

dan (4) pembatasan cairan berair. (3) efek sistemik dapat segera dicapai. b. (3) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septik. Parenteral Volume Besar Untuk pemberian larutan volume besar. (4) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan. injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia. (2) perkembangan potensial trombophlebitis. hanya rute intravena dan subkutan yang secara normal digunakan. a. dan (5) kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan. Kerugiannya adalah meliputi : (1) gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar. Subkutan Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika rute intravena tidak dapat . (2) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat. Intraspinal. Intravena Keuntungan rute ini adalah (1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC.  Intraperitoneal dan intrapleural 2.

Perhatian diinginkan untuk membuat formulasi yang berhubungan dengan kondisi pH dan tonisitas.c) Injeksi yang dimasukkan ke dalam jaringan lunak tepat di bawah permukaan kulit karena ketersediaan ruangan dalam jaringan terbatas. Subkutan (s.v) Injeksi yang dimasukkan langsung ke dalam aliran darah.digunakan.  PTM : 6-11 1. Dibandingkan dengan rute intravena. volume injeksi tidak lebih dari 1 ml. Intramuskular (i. Hal ini memungkinkan dengan hati-hati untuk memberikan volume kedil larutan pekat yang secara normal akan mengiritasi jaringan. umumnya tidak lebih dari 2 ml. jenis cairan yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat tambahannya. 3. Intravena (i. Rute ini diberikan secara perlahan-lahan sehingga larutan diencerkan oleh darah mengalir melewati titik dimana jarum . Volume injeksi harus tetap kecil. lebih nyeri dan tidak menyenangkan. biasanya lengan atau daerah panggul. Cairan volume besar secara relatif dapat digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat. Rute ini juga digunakan jika obat mengiritasi atau tidak larut dalam air atau minyak sehingga obat tersebut harus digunakan dalam bentuk suspensi. absorpsinya lebih lambat.m) Injeksi yang secara langsung dimasukkan ke dalam otot. 2.

c) Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah stratum corneum. Intrakardial Secara langsung ke dalam jantung. 5.1-0. Rute ini juga digunakan untuk pemberian volume besar dari penggantian dan larutan hiperalimentasi. Intra-artikular Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi. 6. Intratekal Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid.disuntikkan. Volume 1-2 ml biasa digunakan. 7. sesuai keadaan tubuh pasien. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal. Kateterisasi meliputi proses pembedahan dan secara . merupakan suatu rute yang mana digunakan untuk menginjeksi ke dalam aliran darah volume besar dari larutan hipertonik atau larutan teriritasi seperti dekstrosa 70%. 4. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0.5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin. Proses ini membutuhkan bantuan kateter. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal. Intrakutan (i.

disebut hipodermoklisis. cairan . dektrosa 2.5% dalam 0.umum hanya dilakukan dalam unit-unit tertentu dari rumah sakit yang lebih besar. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal. Intrasisternal dan Peridural Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal.  PDF : 26-29 o Hiperdermoklisis Deskripsi : kegunaan rute pemakaian subkutan untuk infus larutan volume besar ke dalam jaringan subkutan. Intraperitoneal (i. dan garam normal dapat diinjeksikan untuk mempertahankan atau pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit. 8. Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan. dengan keadaan kritis untuk injeksi. Larutan hipertonis. 9. Indikasi : Meskipun jarang digunakan sekarang.45% larutan garam.p) Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. pemakaian cairan secara hiperdermoklisis dapat diindikasikan jika kecepatan absorpsi lambat diinginkan atau jika tidak ada vena yang cocok (misal untuk bayi atau lanjut usia). Cairan seperti Ringer Laktat. Perhatian : Injeksi harus diberikan perlahan-lahan untuk mencegah pembengkakan jaringan.

atau arteri perifer). enterik. hati. seperti mengobati kanker lokal tertentu (seperti melanoma malignant pada ekstremitis bawah). Indikasi: Rute intra-arterial digunakan umumnya untuk tujuan diagnosis seperti menginjeksikan bahan-bahan radiopak untuk studi roentgenografik dari cadangan vaskuler pada berbagai organ atau jaringan (seperti koroner. Hampir semua arteri dicapai dengan kateterisasi arterial. dimana perfusi regional dengan konsentrasi tinggi dari obat toksis (yang bila diberikan secara i. sejumlah besar cairan dapat dibawa dari kompartemen vaskuler. serebral. renal. Penggunaan rute intra-arterial untuk tujuan pengobatan adalah jarang dan terbatas pada umumnya untuk kemoterapi organ tertentu. Perhatian: Rute ini sangat berbahaya karena produk-produk yang menggunakan rute ini tidak diencerkan secukupnya ataupun disaring untuk paru-paru.bebas elektrolit. Bila larutan noneletrolit hipertonik disuntikkan. o Intra-arterial Dekripsi : Injeksi atau infus ke dalam arteri yang membawa langsung pada organ target. asam amino. emulsi lemak. menghasilkan penurunan volume plasma dan shok. dan lainnya berbeda dari pH tubuh secara signifikan tidak digunakan. Infeksi lokal adalah umum dan mungkin menjadi masalah. pulmonari.v dapat dihubungkan dengan reaksi sistemik serius) yang dapat tercapai. ginjal sebelum kontak dengan jaringan perifer atau organ vital yang terlindung oleh .

o Intralesional Deskripsi: Injeksi bahan obat langsung ke dalam atau di sekitar luka. Produk yang terkontaminasi dengan mikroorganisme endotoksin dan atau bahan partikulat dapat menyebabkan komplikasi serius atau reaksi. infarksi. embolisme udara dengan akibat iskemia dan atau infarksi jaringan dapat terjadi. sarkoid. seperti infeksi (baik intra-arterial atau ekstra-arterial) atau tromboembolisme arteri atau vasospasme. untuk mencapai efek terapetik. biasanya pada atau dalam kulit atau jaringan lembut. herpes zoster (dan post-zoster neuralgia) dan jerawat sistik atau . Indikasi : Injeksi bahan-bahan obat ke dalam atau sekitar luka umumnya telah berguna jika diinginkan untuk menetralkan berbagai toksin seperti tetanus dimana injeksi antitoksin ke dalam atau sekitar luka telah digunakan. lichen simpleks. Dermatologis umumnya menggunakan rute ini untuk mengobati psoriasis.arteri. bila teknik pemasukannya salah. lichen planus hipertropikus. kerusakan pada intima arteri dan dinding pembuluh dapat terjadi. Terapi serupa ditemukan tidak berguna pada rabies. sehingga ekstravasi perdarahan serius ataupun aneurisme disserting dapat terjadi. yang dapat menyebabkan iskemia. Jika udara diinfuskan dengan tidak sengaja. dan keadaan yang biasanya tidak muncul apabila sejumlah kecil udara diinfuskan ke dalam sistem vena. Sebagai tambahan. dimana diinjeksikan langsung ke dalam atau di sekitar tempat gigitan. atau gangren pada jaringan atau organ.

Indikasi : Setiap rute digunakan untuk pengobatan infeksi dan inflamasi pada maya yang tidak diobati secara efektif oleh pengobatan secara topikal atau sistemik. biasanya dari organisme yang baru masuk pada nasokamial. Retrobulbar : injeksi di sekitar ( bukan ke dalam) bagian posterior bulat. Keloid juga telah sering ditangani dengan injeksi lokal seperti ini. tetapi biasanya dengan steroid berdosis tinggi. lingkungan steril harus disiapkan sebelum diinjeksikan. dengan steroid lokal. Dengan penyakit infeksi. 2.nedulus. o Intraokuler Deskripsi : Ada 4 tipe injeksi intraokuler yang digunakan : 1. sehingga obat-obat berdifusi melalui limbus dan sklera ke dalam mata. tergantung pada tipe luka yang diinjeksikan. untuk anestesi globe (retrobulbar) dan untuk dilatasi pupil dengan sikloplegik dan . 4. injeksi subkonjungtiva (dan retrobulbar) bukanlah injeksi intraokuler. Chamber arterior: injeksi atau irigasi langsung ke dalam chamber anterior mata. Perhatian : Komplikasi yang paling sering terjadi yaitu infeksi. Subkonjugtiva : meskipun termasuk di bawah intraokuler. Intravitreal : injeksi langsung ke dalam lubang vitreous pada mata. 3. penyebaran lokal dari proses yang diobati dapat terjadi. Injeksi semacam ini diberikan di bawah konjugtiva. Meskipun mengalami kesulitan.

sebab infeksi dapt menyebabkan kerusakan pada mata yang cepat dan atau kebutaan. Indikasi : Seringkali. terutama pada endotelium kornea. Perhatian : Perhatian ekstra dan teknik tepat diinginkan untuk meminimalkan atau mencegah kerusakan pada mata. Volume larutan yang dapat diinjeksikan ke dalam mata biasanya terbatas. sebagai transpor intraokuler dan difusi adalah miskin. Injeksi intraokuler adalah dilengkapi seringkali oleh infus intravena obat terapetik. o Intrapleural Deskripsi : Biasanya diinjeksikan tunggal ke dalam lubang pleura. umumnya tidak lebih dari 0. perdarahan. Memasukkan obat ke dalam mata adalah mengalami kesulitan. Komplikasi yang dapat timbul tergantung pada seleksi rute. pipa tidak permanent dimasukkan ke dada melalui pembedahan. infeksi atau keganasan meliputi lubang pleura. katarak dan injeksi obat langsung ke dalam sirkulasi dengan efek sistemik. rute ini dapat digunakan untuk tujuan irigasi atau untuk injeksi obat berulang.1-0. Oleh karena dibutuhkan pengetahuan yang baik tentang anatomi dan fungsi mata maka ahli mata yang dapat melakukannya. pelepasan retina. adalah kerusakan saraf mata. Seringkali. nekrosis retina. Pemilihan tipe injeksi intraokuler tergantung pada penyakit yang ada dan lokasi yang tepat pada penyakit tersebut pada mata.2 ml.midriatik. Infeksi selalu berbahaya dan harus sedapat mungkin dicegah. umumnya bila proses penyakit adalah kerusakan fungsi .

Hal yang terakhir lebih sering terjadi saat pipa dada berada di dalam dada untuk periode waktu yang panjang. aborsi medik melalui injeksi intrauterin ini berguna. empyemas dapat menyebabkan fibrasis. terutama bila infus berulang menjadi masalah. Meskipun kebanyakan aborsi dilakukan menggunakan terknik operasi. maka di tangan ahli yang kurang berpengalaman. prostaglandin E atau urea ke dalam rahim yang hamil digunakan setelah 16 minggu kehamilan untuk menginduksi kerja dalam aborsi medik atau membawa fetus yang masih hidup. penebalan pleura dan restriksi pernafasan. Perhatian : Komplikasi yang paling sering disebabkan oleh infeksi intrapleural adalah pneumothorax (kolaps paru-paru). o Intrauterin Deskripsi : Diinjeksikan atau diinfuskan melalui jarum yang dimasukkan secara perkutan ke dalam rahim yang hamil. perdarahan intrapleural dan atau infeksi superimposed. Bila bagian kiri tidak terobati. Indikasi : Injeksi atau infus bahan-bahan tertentu seperti garam 20%. maka digunakan rute ini. Juga penyebaran karsinoma atau mesothelomas pleura dapat diobati dengan injeksi intrapleural lokal dan bahan-bahan antitumor atau sclerosis. adhesi. bahan-bahan yang berbeda untuk . Enzim (seperti streptokinase dan streptodornase) dapat diinjeksikan pada empyemas cair tebal yang todak dapat dihilangkan oleh absorpsi atau repsorpsi secara alamiah. Sebagai tambahan.pernafasan.

Seringkali. Rute ini digunakan terutama dalam situasi dimana obat-obat yang digunakan berdifusi atau lewat dengan buruk dari kompartemen vaskuler ke dalam ventrikel dan ruang subarachnoid dan atau dimana efek samping sistemik dari bahan partikulat diinginkan (seperti dalam pengobatan meningitis fungi dengan amfoterisin β atau dalam terapi infiltrasi leukemia dengan methothexate). Perhatian : Oleh karena cairan serebrospinal adalah organ yang kritis sebagai otak dan cordspinal dank arena salah satu .studi roentgenografik dapat diinjeksikan untuk studi anomaly kongental yang potensial. yang diakibatkan oleh semua masalah yang disebabkan rute ini. kematian dapat terjadi. sindrom koagulopati intravaskular terhambur dapat terjadi. o Intraventrikuler Deskripsi : Diinjeksikan langsung ke dalam ventrikel lateral otak. Perhatian : Infeksi (amnionitis dan myometritis) adalah komplikasi yang paling umum terjadi. Bila garam 20% tidak diinginkan untuk diinfuskan secara i. Kemungkinan di tangan orang yang tidak berpengalaman.v pada pasien. Indikasi : Rute ini utamanya digunakan selama pengobatan infeksi (seperti meningitis bakteri atau fungi dan atau ventrikulitis) dan keganasan (seperti infiltrasi leukemia dari meningitis atau karsinomatosa) melibatkan membran dan cairan serebrospinal yang meliputi SSP. Untungnya hal ini jarang terjadi. pembengkakan rahim atai saluran kemih dapat diinjeksikan.

. 3.  Textbook of Pharmaceutics : 553 Injeksi parenteral adalah salah satu yang disuntikkan di bawah satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa ke dalam daerah khusus dari tubuh. (seperti Phytomenadion Injection. Injeksi Subkutan atau Hipodermik Obat-obat vasokontriksi seperti adrenalin dapat ditambahkan untuk efek lokal. jika diinjeksikan ke sistem dapat mengendapkan inflamasi. BP). operasi pembedahan. dan biologic. seperti pada kolera.fungsinya dipercaya untuk menjaga atau melindungi cairan dari organ ini. Jenis-jenis berikut yang tersedia : 1. tetapi kadang-kadang emulsi minyak dalam air. Derivat Protein Tuberculin Murni). atau cairan tubuh hilang oleh diarrhoeia. Intradermal atau injeksi intrakutan Untuk diagnosa atau test penyakit tertentu.v untuk mengganti cairan darah yang hilang akibat shok. Pemisahan cairan atau membran termasuk deleterius dan mungkin mati. Injeksi Intramuskular Larutan berair dan berminyak dan juga bentuk suspensi diberikan melalui rute intramuscular. seperti anestesi lokal. 5. kimia. luka. Intravena Larutan berair. 2. Injeksi Intra-arterial Digunakan ketika aksi segera diinginkan pada daerah perifer. Adanya bahan asing. Volume besar 500 ml atau lebih diberikan dalam bentuk infus i. tuberculosis (Old Tuberculin. 4. seperti diphtheria (shick test).

1.Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan. 7. Injeksi Intrasisternal Untuk pemberian antibiotik. . Juga dalam beberapa kasus.3 Keuntungan Injeksi  SDF : 11 1.Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif.Bila memungkinkan. lumbar dan sakral. terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien harus kembali untuk pengobatan selanjutnya. mual atau tidak sadar harus diberikan secara injeksi. 9. 8. 4. yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung. II. asma. pasien tidak dapat menerima obat secara oral. hormon dan antibiotik. shok. Tidak mengandung bakterisida. Injeksi Intratekal atau Subarachnoid Digunakan untuk anestesi spinal. seperti insulin. Injeksi Peridural Injeksi peridural dapat dibuat dalam daerah torax. bebas bahan partikulat. 2. Injeksi Intrakardial Diinjeksikan secara langsung pada otot jantung atau ventrikel untuk pengobatan darurat.Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan.6. 3.

secara lengkap tidak aktif ketika diberikan secara oral. termasuk injeksi steroid periode panjang secara intra-artikular dan penggunaan penisilin periode panjang secara i. 2. tetapi dapat ditoleransi ketika diberikan secara intravena. seperti insulin dan heparin. 4. misalnya larutan kuat dektrosa.  PTM : 6 1. 5. Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan elektrolit.m.Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut. 7.Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral.Beberapa obat.Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang.Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok. bentuk parenteral tersedia. 6. 8. 3. pemberian intravena dapat menyelamatkan hidupnya.Seluruh dosis obat digunakan.5.Aksi obat biasanya lebih cepat. .  Parrot : 283 Beberapa obat mempunyai keuntungan dibandingkan dengan pemberian secara oral.Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti pada gigi dan anestesi. dan harus diberikan secara parenteral. nutrisi total diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral.

2.Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya. II.1.Pemberian rute ini adalah penting ketika jalur gastrointestinal tidak dapat digunakan karena pembedahan atau kekurangan stabilitas.  PTM : 11 .4 Kerugian Injeksi  SDF : 11 1.Dalam kasus darurat dimana pasien tidak sadar atau tidak menerima obat oral. pemberian parenteral dapat memberikan efek yang segera dan menentu. 3. 2. 4. seperti obat-obat penisilin dan penisilin G.Injeksi dapat menghasilkan efek lokal. Anestesi lokal digunakan oleh dokter gigi untuk menginjeksi dekat batang dari serabut dan membantu sensasi nyeri segera pada daerahnya.1. bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute yang lain. 3. 4. karena pada pemberian dan pengemasan.Yang terakhir.Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian rute lain.Respon fisiologis dari injeksi lebih cepat dan efektif dibandingkan pemberian secara oral.Pada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat dihindari.

v.5 Komposisi Injeksi  SDF : 16 Obat-obat dalam larutan dalam pembawa yang cocok. 4.  Parrot : 283 Beberapa orang tidak menyukai pemberian injeksi karena : 1. II. dengan atau tanpa bahan tambahan.Reaksi sensitivitas lebih sering terjadi pada parenteral daripada bentuk sediaan lain. pada bagian yang diinjeksikan. efeknya sulit untuk dikembalikan lagi. terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i. dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis. ditujukan untuk penggunaan parenteral yang dikenal sebagai injeksi. 2. 2. 3. Injeksi dapat dikemas sebagai unit dosis .Dalam beberapa kasus.1.Terapi parenteral lebih mahal daripada bentuk yang lain karena penggunaan dan produksinya. injeksi itu tidak nyaman. 3.Dibutuhkan orang-orang yang terlatih untuk pemberiannya.Sekali digunakan. Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah penggunaan.Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh.Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien. Efek sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis. 5.Umumnya.1. 4.Perhatian harus diberikan untuk injeksi intravena. obat dengan segera menuju ke organ targetnya.

Selain itu digunakan :     b. seperti injeksi Atropin Sulfat atau sebanyak 1 L seperti injeksi dektrosa.Bahan tambahan a. termasuk bisulfit. volumenya dapat sejumlah setengah milliliter.Bahan aktif 2. Asam askorbat Sistein Monotiogliseril Tokoferol Bahan antimikroba atau pengawet  Benzalkonium klorida  Benzil alkohol  Klorobutanol  Metakreosol  Butil p-hidroksibenzoat  Metil p-hidroksibenzoat  Propil p-hidroksibenzoat  Fenol  Timerosol c. Buffer . metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan.  Modern Pharmeceutics : 450-457 1. Antioksidan Garam-garam sulfurdioksida.tunggal atau unit dosis ganda.

   d. Bahan pengisotonis   Dekstrosa NaCl i. Bahan pengkhelat Asetat Sitrat Fosfat Garam etilendiamintetraasetat (EDTA) e. Gas inert   f. Bahan pelindung     Dekstrosa Laktosa Maltosa Albumin serum manusia . Surfaktan   Polioksietilen Sorbitan monooleat h. Nitrogen Argon Bahan penambah kelarutan (Kosolven)      Etil alkohol Gliserin Polietilen glikol Propilen glikol Lecithin g.

Pembawa air Menggunakan air untuk injeksi b. mengontrol kondisi lingkungan dan pengemasan untuk menjamin bahwa pada penggunaan produk : Gliserin Etil alkohol Propilen glikol Polietilenglikol 300 Minyak jagung Minyak biji kapas Minyak kacang Minyak wijen .6 Syarat-syarat Injeksi  PTM : 11 Rangkuman dari syarat-syarat utama dari produk injeksi : Karena kritikal alami. Bahan penyerbuk     Laktosa Manitol Sorbitol Gliserin 3.1.j.Pembawa a. sediaan parenteral harus disiapkan secara hatihati. Pembawa nonair dan campuran o Minyak nabati     o Pelarut bercampur air     II.

Dalam injeksi volume besar. kebebasan dari mikoorganisme hidup dijamin pada awalnya dengan pembuatan produk dengan proses sterilisasi yang sah.a. pH dan tekanan osmotik.  SDF : 37 1) Sterilitas Semua bentuk sediaan yang diberikan secara parenteral. larutan optalmik dan beberapa dosis medis yang digunakan dalam hubungannya dengan pemberian bahan yang harus steril. Bebas dari mikroorganisme. kemudian pengemasan produk dalam dalam suatu bentuk yang meyakinkan penyimpanan dari sifat ini. pirogen dan iritasi. Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik lainnya. teknik aseptik dan manipulator akan . b. bebas dari semua mikroorganisme hidup. Istilah steril adalah mutlak dan seharusnya tidak pernah digunakan atau betul-betul dipertimbangkan dalam suatu cara relatif baik sebagian atau hampir steril juga diharapkan dalam penanganan berikutnya dari produk selama pemberian.  Parrot : 284 Semua bahan-bahan yang dimasukkan ke epidermis tubuh harus bebas dari mikroorganisme. dan aliran harus secara fisiologi bercampur dengan cairan tubuh. c. steril atau dibuat dari bahan-bahan steril di bawah kondisi yang kurang akan adanya kombinasi mikroorganisme (proses aseptik). Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut.

Dalam beberapa hal. bahan kimia tidak larut. Kehadiran bahan partikulat dalam sediaan larutan parenteral diperhatikan karena konsep rute pemberiannya. awalnya ini adalah alasan fisiologis misalnya pengaruh larutan terhadap bahan yang tampak terhadap pasien yang menerimanya dalam injeksi akan merupakan gambaran kesimpulan produk yang beredar di pasaran. yang tanpa sengaja ada dalam sediaan parenteral. penampilan. Pengaruh Secara Biologis Kejernihan. Walaupun rute parenteral dapat menyiapkan lama penyimpanan. dan metode efektif dari pemberian. serat kapas. logam. ketombe dan sebagainya. namun dipercaya bahwa bahan-bahan dari luar yang tidak disengaja dapat berbahaya. komposisi ini dari berbagai sumber. karet diatomae. gelas. 2) Bebas dari bahan partikulat Bahan partikulat mengacu kepada bahan yang bergerak. Teknik aseptik yang tepat untuk penyiapan dan pemberian bentuk sediaan steril akan didiskusikan selanjutnya. Bagaimanapun. Bahan asing yang ditemukan dalam sediaan parenteral meliputi selulosa. partikel plastik.menjamin pengeluaran berlanjut dari mikroorganisme hidup. karet. Komposisi dari bahan partikulat yang tidak diinginkan bervariasi. kebutuhan. mengingat yang lain memiliki sumber khusus tersendiri. atau tidak adanya bahan partikel yang tampak selalu dipertimbangkan sebagai persyaratan untuk produk parenteral. tidak larut. dengan adanya bahan yang mengapung. Saat gelas ampul mulai terkenal sebagai .

"protein fever". dan peningkatan suhu tubuh (demam). Definisi Pirogen didefinisikan sebagai produk metabolit yang berasal dari mikroorganisme hidup. dan "salvarsan fever". Pirogen diproduksi oleh mikroorganisme gram-negatif yang sangat poten. peralatan dan personil. atau mikroorganisme mati yang dapat menyebabkan respon demam setelah penyuntikan. umum digunakan untuk mengartikan reaksi ini. 2. 4. hal ini dapat dicatat bahwa kemungkinan partikel gelas akan masuk ke dalam larutan saat ampul dibuka. Komponen kemasan dan kandungannya. 3) Bebas dari Pirogen Sekarang dalam praktek pemberian obat secara parenteral. reaksi piretik sering diamati. Reaksi-reaksi ini antara lain malaise.wadah pengemasan. Alat dan peralatan yang digunakan saat pemberian produk. . Larutan itu sendiri dan bahan kimia yang dikandungnya. Sumber Bahan partikel dapat masuk dalam larutan parenteral dengan berbagai cara dan sumber : 1. Istilah seperti "sait fever". "serum fever". Ekstrak pirogen kering muncul menjadi stabil sepanjang waktu. Manipulasi yang melibatkan peralatan produk untuk pemberian sama baiknya dengan lingkungan saat produk tersebut dibuat. 5. Proses pabrikasi dan berbagai variabel seperti lingkungan. sakit kepala. 3.

Untuk larutan kestabilan secara fisika memperlihatkan pada kenampakan secara fisika dari produk saat penyimpanan. 4) Kestabilan Dalam perkembangan sediaan steril.bahkan larutan yang terpirogenik kehilangan beberapa aktivitasnya sampai beberapa tahun. II. Larutan nutrient hipertonik konsentrasi tinggi digunakan pada hiperalimentasi parenteral. larutan hipertonik atau hipotonik dapat diberikan dengan sukses. suatu larutan atau suspensi dibutuhkan atau berupa faktor kestabilan obat dipertimbangkan secara hati-hati. 5) Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah (SDF : 164) Walaupun diinginkan bahwa cairan intravena isotonik untuk meminimalkan trauma pada pembuluh darah.7 Injeksi Intravena Harus Steril (Lachman : 639) . Pemilihan bahan tambahan membantu dalam peranannya pada kestabilan secara fisika dan kimia. Pembentukan endapan atau warnanya biasanya mengindikasikan ketidakstabilan. larutan ini diberikan secara perlahan dengan kateter pada vena besar seperti subclavian. sutau larutan subpoten dapat tetap jernih dan tidak berwarna. Obat dalam sediaan cenderung menjadi kurang stabil daripada obat dalam bentuk kering. Penguraian obat tidak begitu nyata ditunjukkan oleh perubahan secara visual.1. Untuk meminimalkan iritasi pembuluh. perkembangan atau perhatian utama ditujukan pada kestabilan obat. Untuk penggunaan parenteral.

Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efesien yakni membran kulit dan mukosa. dinginkan.Sediaan parenteral merupakan sediaan yang unik di antara bentuk obat terbagi-bagi. harus memenuhi syarat keseragaman bobot berikut : Hilangkan etiket 10 wadah. II. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. keringkan. cuci bagian luar wadah dengan air. Timbang satu persatu. Keluarkan isi wadah. cuci wadah dengan air kemudian dengan etanol (95%)P.1. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih II.8 Uji Kesterilan (FI III : 18) Injeksi harus memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada uji keamanan hayati.1. keringkan pada suhu 105 0C hingga bobot tetap.5 +5 . dalam keadaan terbuka. timbang satu persatu.10 Keseragaman Volume (FI III L 19) Batas penyimpanan (%) +10 + 7. Karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam tubuh. II. maka sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksis dan harus mempunyai kemurnian yang tinggi.9 Uji Keseragaman Bobot (FI III : 19) Keseragaman bobot : Sediaan yang sebelum digunakan sebagai injeksi dilarutkan terlebih dahulu.1. Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera pada daftar berikut.

pada kasus tertentu.20 ml 2% 3% Wadah sebaiknya selalu diisi dengan volume larutan yang lebih besar daripada yang tertera pada label.Volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.0 ml 20.30 ml 0. khususnya ketika penggunaan vial silikon.50 ml 0.25 ml 0. Penggunaan vial dan ampul sebelumnya dibuat dengan silikon membuat pergerakan isi lebih mudah karena cairan dengan vial tidak basah dan berpisah dengan gelas tetapi agak mengalir dengan cepat dan bebas dari sini.50 ml 0.11 Wadah Injeksi  Scoville's : 207 Volume tambahan yang dianjurkan Cairan encer Cairan kental 0. Wadah dosis tunggal yang paling sering digunakan adalah ampul dimana kisaran ukurannya dari 1-100 ml.  Scoville's : 200 Ada dua tipe utama wadah untuk injeksi yaitu dosis tunggal dan dosis ganda.80 ml 1.0 ml 30.15 ml 0. Volume pada etiket 0.0 ml 10.5 ml 1. Sejumlah besar larutan perlu untuk menambahkan akan mengubah ukuran wadah dan viskositas larutan. bentuknya mirip .10 ml 0. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar di bawah ini.0 ml 2.90 ml 0.0 ml atau lebih II.0 ml 5.0 ml 50.1.70 ml 0.15 ml 0.60 ml 0. Ini perlu karena beberapa larutan akan selalu melekat pada sisi wadah dan tidak dapat terpisah.10 ml 0. Kapasitas vial serum 1-50 ml.12 ml 0. wadah dosis ganda dan sebagainya berupa vial serum atau botol serum.

Tipe II dapat digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7. membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim. disusun hampir ekslusif dan barosilikat (silikon dioksida). Gelas tipe II adalah gelas soda-lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi permukaan alkalinoksida). ini lebih disukai untuk produk terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas soda lime. potassium.0 sebaik sediaan asam dan netral. meskipun paling mahal. Tipe I adalah mempunyai derajat yang paling tinggi. USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipe gelas berbeda. sodium.ampul tetapi disegel dengan pemanasan. digunakan untuk cairan parenteral yang besar seperti NaCl isotonis. Labu atau tutup yang lebih besar mengandung 250-2000 ml.  Encyclopedia : 231 1. Botol serum juga dapat sebagai botol tipe army dengan kisaran ukuran dari 75-100 ml dan memiliki mulut yang lebar dimana ditutup dengan penutup karet spiral. Formulator harus mengetahuidan sadar bahwa masingmasing tipe gelas adalah berbeda dan level bahan tambahannya (boron. Gelas tipe II dan III digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak. Tipe II. dan magnesium) yang berefek terhadap sifat kimia dan fisika. Oleh karena itu. Ditutup dengan penutup karet spiral. Gelas tipe I. dan Tipe III (tabel 8). kalsium. besi. . Gelas Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam tipe I.

2. Gelas untuk parenteral volume kecil – Tabel 8 Definisi Tipe Umum I Paling resisten. Karet Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral volume kecil untuk penutup vial dan catridge dan penutup untuk Attack water Gelas serbuk Gelas serbuk 100 atau kurang lebih 100 Semua Semua 0. Namun demikian. dapat leach ke dalam formulasi dan mempercepat reaksi oksidasi.5 15. Warna ambar dihasilkan dengan penambahan besi dan mangan oksida untuk formulasi gelas.formulator sebaiknya mempunyai semua informasi yang diperlukan dari pembuatan gelas untuk memastikan bahwa formulasi gelas adalah konsisten dan dari batch dan spesifikasi bahan tambahan adalah konsisten ditemukan.0 Gelas serbuk Test USP Batas ml 0.7 0. gelas II borosilikat Gelas dibuat dari soda lime III IV Gelas soda lime Gelas soda lime-tujuan umum Wadah gelas ambar digunakan untuk produk yang sensitif terhadap cahaya.02 N Ukuran (ml) asam Semua 1.2 8.0 .

Butil karet lebih disukai karena ini diinginkan sedikit bahan tambahan. Formulasi ini betul-betul kompleks. tetapi juga banyak bahan tambahan seperti bahan pelunak. Silikonisasi penutp karet adalah umum dilakukan untuk memfasilitasi pergerakan karet melalui peralatan sepanjang proses dan peletakan ke dalam vial. Banyak bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi atau pemurnian dan dapat bersumber dari masalah degradasi fisika dan kimia dalam produk parenteral. vulkanishing. formulator harus bekerja dengan tertutup dengan pembuat karet untuk memilih formulasi karet yang tepat dengan spesifikasi tetap dan karakteristik untuk mempertahankan kestabilan produk. aktivator dan percepatan. pelunak. Paling banyak polimer karet digunakan dalam penutup sediaan parenteral volume kecil adalah alami dan butil karet dengan silikon dan karet neopren digunakan jarang. mempunyai penyerapan uap air rendah (oleh karena itu. baik untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban) dan sifat sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan reaktivitas dengan produk farmasetik. Masalah dengan penutup karet termasuk leaching bahan ke dalam produk. penyerapan bahan aktif atau pengawet antimikroba oleh elastomer dan coring karet oleh pengulangan insersi benang. Tidak hanya mereka mengandung basis polimer karet.pembedahan. Coring menghasilkan partikel karet yang berefek terhadap kualitas dan keamanan potensial produk. Seperti gelas. dan antioksidan. silikon tidak . Akan tetapi. pewarna.

formulasi polyolefin lebih luas digunakan sebaik polivinil klorida. eliminasi kerusakan gelas dari kenyamanan penggunaan. Wadah plastic parenteral volume kecil lain dari produk mata menjadi lebih luas dipakai karena pemeliharaan harga. Untuk sediaan parenteral volume kecdil yang lain. Pembuatan elastomer mempunyai perkembangan formulasi yang tidak menginginkan penggunaan silikon untuk menggunakan dalam operasi produksi kecepatan tinggi. polikarbonat dan kopolimer (seperti etilen-vinil asetat). Kontak yang luar biasa dengan karet tersilikonisasi dapat menghasilkan agregasi protein. Seperti formulasi karet. Plastik Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk bentuk sediaan mata yang diberikan oleh botol plastic fleksibel.bercampur dengan obat hidrofilik. 3. khususnya protein. poliamida (nilon). orang yang bersangkutan memeras untuk mengeluarkan tetesan larutan steril. menyebabkan masalah fisika dan kimia. formulasi plastik dapat berinteraksi dengan produk. Tabel 9. Kompleks daripada karet dan cenderung mempunyai potensial lebih rendah untuk bahannya. polipropilen.Komponen karet Dapat Diautoklaf Digunakan Dalam Sediaan Parenteral Volume Kecil Tipe Bahan Penyerapan Uap Reaksi Potensial . Paling umum digunakan plastik polimer untuk sediaan mata adalah polietilen densitas rendah. suspensi atau gel. Formulasi plastik adalah sedikit.

II. Keduanya digunakan untuk parenteral volume besar (LVP).12 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Obat Yang Diinjeksikan Secara Subkutan atau Intramuskular Ke Dalam Sirkulasi Umum (PDF Vol 1: 40-41) 1. Injeksi. Salep dengan tube logam digunakan untuk kemasan salep mata steril. Gelas ampul digunakan paling banyak untuk sistem pengemasan parenteral volume kecil. Wadah plastik digunakan untuk penggunaan produk mata. Masing-masing pembedahan dan wadah catridge mempunyai peningkatan popularitas dan penggunaan karena kenyamanan mereka dibandingkan vial dan ampul. tetapi jarang digunakan sekarang karena masalah aprtikel gelas ketika leher ampul dibuka.1. Container / wadah Tipe wadah yang paling umum digunakan untuk sediaan parenteral volume kecil adalah gelas atau vial polietilen dengan penutup karet dan besi.Butil Natural Neupre n Polisop Tambahan Sederhana Tinggi Tinggi Tinggi Air Rendah Sederhana Sederhana Sederhana Sangat tinggi Dengan Produk Sederhana Tinggi Tinggi Sederhana Rendah ren Silikon Sederhana 4. Kelarutan Obat . Vial dan ampul menginginkan kemunduran produk dari kemasan. sebaliknya produk-produk dalam pembedahan dan catridge adalah siap untuk diberikan.

2. Kecepatan Aliran Darah Pada Daerah Yang Disuntikkan Fakta yang telah diketahui bahwa aliran darah yang lebih besar dalam jaringan kapiler ke dan dari tempat dimana ia diinjeksikan. dan lebih lambat kecepatan absorpsinya ke dalam aliran darah dari tempat yang diinjeksikan. kecepatan disolusi obat dari pembawa bentuk sediaan. Koefesien Partisi Obat Kelarutan dalam lemak rendah dari obat. Injeksi ke dalam otot lateral paha atau bokong dihubungkan dengan absorpsi . secara lebih besar menentukan kecepatan absorpsi dari obat. Viskositas yang lebih tinggi. lebih rendah koefesien partisinya.Obat-obat perlu dilarutkan secara sempurna sebelum mereka dapat melewati obat atau hambatan jaringan dan masuk ke dalam sistem sirkulasi. sebaik kelarutan dalam jaringan cairan pada daerah yang disuntikkan. Sekali obat dalam larutan dari bentuk sediaan. Kecepatan disolusi dari obat yang diinjeksikan dalam bentuk suspensi tergantung dari ukuran partikel obat. dan koefesien difusi obat. sifat polimorfis dari bentuk kristal obat. Akan tetapi obat yang diberikan dalam bentuk suspensi. maka akan semakin tinggi kecepatan absorpsi dari obat. koefesien dari obat dikurangi. 3. Ada 2 tipe kelarutan yang penting yaitu kelarutan dalam pembawa dari bentuk sediaan dan kelarutan dalam cairan tubuh. kelarutan dari sediaan dicegah. kelarutannya dalam cairan pada jaringan subkutan atau otot tergantung pada koefesien partisi dan derajat ionisasi sebagai tanda oleh pH cairan yang ada pada daerah yang disuntikkan. pH cairan pada daerah yang disuntikkan. Untuk obat-obat yang diberikan dalam bentuk larutan.

luas permukaan obat kurang tersedia untuk interaksi dengan cairan tubuh. dan digoxin. Bahan-bahan Formulasi Bahan-bahan yang ditambahkan untuk formulasi sediaan obat untuk dapat disuspensikan kembali (seperti derivate selulosa). 4. seperti latihan. Faktorfaktor yang meningkatkan aliran darah. mereka tidak larut dalam cairan berair tubuh. Ukuran partikel yang lebih besar. jika diberikan secara concurrently pada daerah yang diinjeksikan mengurangi kecepatan absorpsi obat.obat yang lebih lambat dan rendah (karena vaskular yang kurang dan bahan lemak lebih tinggi) daripada injeksi dalam otot. seperti obat vasokonstriksi seperti epinefrin. Pengendapan partikel dapat dilarutkan kembali. 6. Degradasi Obat Pada Daerah Yang Diinjeksikan Distribusi dari bahan aktif obat secara biologis dikurangi jika obat dimetabolisme atau dalam cara lain didegradasi pada daerah terinjeksi. fenitoin. faktor-faktor yang dapat mengurangi aliran darah. seperti diazepam. kecepatan disolusi lebih lambat. 5. meskipun perlahan-lahan larut dalam bentuk kosolvennya. Sebaliknya. untuk melarutkan (seperti gliserin)dan atau untuk peningkatan kestabilan (antioksidan) yang secara potensial dapat . meningkatkan absorpsi obat setelah injeksi intramuscular atau subkutan. Obat-obat yang sedikit larut. tetapi kecepatan disolusinya lambat. Ukuran Partikel Dari Obat Ukuran partikel obat yang tersuspensi mempengaruhi kecepatan disolusinya dalam bentuk sediaan.

khususnya untuk mereka dengan tekanan uap tinggi. injeksi di daerah tersebut berhubungan dengan lag time antara waktu injeksi dan penampakannya dalam darah. Porsi obat yang dibersihkan oleh ekshalasi. yang mengurangi transport obat dari daerah injeksi ke sistem sirkulasi. obat-obat terabsorpsi juga dapat didistribusikan dari paruparu. Demikian efek-efek dapat dimanifestasikan dalam berbagai cara. Alur kapiler paru-paru seperti filter dan dalam beberapa keadaan bertindak sebagai reservoir jika partisi bahan yang terinjeksi dalam jaringan paru-paru dan secara subsequent terlepas balik ke dalam sistem sirkulasi.14 Cara Penyegelan Ampul (Lachman : 671) . Akan tetapi.1. Paru-paru bertindak sebagai organ distribusi dan eliminasi. Setelah pemberian injeksi intramuscular atau subkutan.mempengaruhi distribusi obat dari daerah pemberian. seperti kompleksi yang mengurangi kecepatan disolusi obat. Sebelum dipompakan masuk ke dalam sirkulasi arteri oleh jantung. bahan-bahan harus pertama melewati paru-paru. Setelah injeksi intravena atau infuse. II. obat-obat yang masuk ke dalam paru-paru didistribusikan melalui distribusi seluruh volumenya. II.13 Distribusi Obat Yang Diberikan Secara Parenteral Bahan-bahan yang diberikan secara intramuscular. menyediakan partisi obat yang menyenangkan.1. intravena atau subkutan masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui limfatik dan atau sistem transport vena.paur-paru juga bertindak sebagai daerah untuk metabolisme bahan-bahan tertentu. dan sebagai peningkat viskositas.

Leher ampul. II. Jarum harus dikeluarkan dari ampul tanpa menggunakan tetes larutan pada dinding primer dari leher ampul. Segel penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada bagian atas leher ampul bulatan gelas dan menutup bagian yang terbuka.1. jarum hipodermik panjang adalah penting karena lubangnya kecil.15 Cara Pengisian Ampul (Scoville's : 206) Untuk pengisian ampul. Segel tarik dibuat dengan memanaskan leher dari suatu ampul yang berputar di daerah ujungnya kemudian menarik ujungnya hingga membentuk kapiler kecil yang dapat diputar sebelum bagian yang meleleh tersebut ditutup.Ampul dapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas dari leher ampul sehingga membentuk segel penutup atau segel tarik. Jarum harus dimasukkan ke dalam ampul sampai di bawah. Metode ini digunakan untuk mencegah pengurangan dan pengotoran jika ampul disegel. tetapi tidak cukup jauh untuk masuk ke dalam larutan yang dimasukkan ke dalam ampul. .

Handbook of Pharmaceutical Excipient. (1995). Depkes RI. Lea and Febiger.G.. Marck Publishing Company. 12. (2003). 32nd Edition. Jakarta. The Pharmaceutical Press. Farmakope Indonesia. 28th Edition. Depkes RI. Ninth Edition. D. London. Goodman and Gilman's The Pharmaceutical Basis of Therapeutics. Philadelphia.H. Jakarta. Martindale The Extra Pharmacopeia. Reynolds. Obat-obat Penting. G. Remington's Pharmaceutical Science. 10.A. Eight Edition. Parfitt. (1995). (1971). Easton. (1994). L. A. 15. Bagian Farmakologi FKUI. EGC. (1995).H. Pergamen Press. London. 11. 16. (1984). et all. 18th Edition.. USA. Scoville's:The Art of Compounding.A. (1969). 3. 13. Dispensing of Medication.E.. 6.E. 4. Marck Publishing Co.. Pensilvania. 5. R. Edisi III. Jakarta. . (1994). Burgess Publishing Co. Edisi IV Depkes RI.R. (2000). Rawling. Edisi V. (1986).. (1998). 14. Martin.. T. Farmakologi dan Terapi. Marck Publishing Company. Tjay. America. Pharmacetical Press. Philadelphia. Jakarta.L. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy.J. Drug Evaluation Annual.DAFTAR PUSTAKA 1. 1995. American Medical Association. Martindale The Complete Drug Reference..A. AMA Drug Evaluation. Kamus Saku Kedokteran Dorland. 2. Lachman. Edisi IV. (1982). 7. Penerbit Buku Kedokteran. Third Edition. Farmakope Indonesia. Nuswantari. Gennaro. Dispensing of Medication. (1998). 8. Bailliere. Ditjen POM.F.. Kibbe. Jakarta...K. Tindall. Gilman. Ganiswara. Pharmacy Press. London... (1979).B. King. (1994). Jenkins. 9. S. Ditjen POM.E. Bentley Textbook of Pharmaceutics.

17. C. “ Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi ” Edisi IV. 1989. . Howard. Ansel. UI Press. Jakarta.