P. 1
Buku Toleransi Mahasiswa

Buku Toleransi Mahasiswa

|Views: 164|Likes:
Published by Abdul Patah

More info:

Published by: Abdul Patah on Mar 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2015

pdf

text

original

TOLERANSI BERAGAMA MAHASISWA

(Studi tentang Pengaruh Kepribadian, Keterlibatan Organisasi, Hasil Belajar Pendidikan Agama, dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri)

Editor : H. Bahari, MA

Kementerian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan Jakarta, 2010

Perpustakaan Nasional: katalog dalam terbitan (KDT) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Puslitbang Kehidupan Keagamaan Toleransi Beragama Mahasiswa (Studi tentang Pengaruh Kepribadian, Keterlibatan Organisasi, Hasil Belajar Pendidikan Agama, dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri) Ed. I. Cet. 1. ------Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama 2010 xiii + 171 hlm; 21 x 29 cm ISBN 978-979-797-287-5

Hak Cipta 2010, pada Penerbit
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara menggunakan mesin fotocopy, tanpa izin sah dari penerbit

Cetakan Pertama, September 2010 Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama

TOLERANSI BERAGAMA MAHASISWA (STUDI TENTANG PENGARUH KEPRIBADIAN, KETERLIBATAN ORGANISASI, HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA, DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN TERHADAP TOLERANSI MAHASISWA BERBEDA AGAMA PADA 7 PERGURUAN TINGGI UMUM NEGERI)

Editor: H. Bahari, MA Desain cover dan Lay out oleh: H. Zabidi
Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an Museum Istiqlal Komplek Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Telp/Fax. (021) 87790189, 87793540 Diterbitkan oleh: Maloho Jaya Abadi Press, Jakarta Anggota IKAPI No. 387/DKI/09 Jl. Jatiwaringin Raya No. 55 Jakarta 13620 Telp. (021) 862 1522, 8661 0137, 9821 5932 Fax. (021) 862 1522

ii

 

SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG DAN DIKLAT KEMENTERIAN AGAMA RI asalah toleransi beragama adalah masalah yang selalu hangat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sampai dewasa ini masih banyak kelompok masyarakat yang melakukan perbuatan intoleransi. Oleh karenanya, sikap intoleransi harus dideteksi sejak dini dan dijadikan dasar untuk mengembangkan budaya toleransi, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam realitasnya, konflik akibat intoleransi sampai saat ini masih sering terjadi dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mungkin juga termasuk mahasiswa. Padahal, mestinya kenyataan adanya perbedaan agama, paham, penafsiran dan organisasi keagamaan haruslah diterima sebagai kenyataan yang harus diterima. Solusi yang harus diupayakan adalah bagaimana mengelola perbedaan itu menjadi kekuatan dalam kehidupan sosial keagamaan dan mencerminkan kedewasaan beragama dalam kerangka kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sejak dini harus sudah ditanamkan kesadaran kepada anak-anak, pelajar, pemuda dan mahasiswa tentang adanya realitas kemajemukan bangsa ini. Mahasiswa sebagai harapan masa depan bangsa dalam mengemban amanah kepemimpinan dan agen perubahan sosial, kiranya harus dibekali dengan pengetahuan, pengalaman dan kebijaksanaan yang cukup dalam menyikapi pluralitas bangsa yang memang sangat tinggi. Untuk itulah sangat perlu dilakukan penelitian berkaitan dengan toleransi umat berbeda agama di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, kami menyambut baik diterbitkannya buku Toleransi

M

Beragama Mahasiswa (Studi tentang Pengaruh Kepribadian,
  iii

Dengan diterbitkannya hasil penelitian ini diharapkan dapat tersosialisasikan dengan baik bagaimana sebenarnya sikap mahasiswa berkaitan dengan pandangan keagamaan yang berhubungan dengan toleransi kehidupan beragama. tawazun dan toleran. Dr. Kedua.Keterlibatan Organisasi. bagaimana sikap para mahasiswa terhadap pandangan keagamaanya ber-kaitan dengan toleransi kehidupan beragama. Jakarta. Dengan pemahaman seperti itu diharapkan mendorong para mahasiswa untuk dapat memahami dirinya akan perlunya membangun toleransi kehidup-an keagamaan yang lebih baik di masa depan. Abdul Djamil. ketika akan mengelola negeri di segala bidang kehidupan. September 2010 Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. tawasuth. MA. Pertama. Hasil Belajar Pendidikan Agama. Semoga buku ini dapat memberikan kontribusi dalam membangun pemahaman masyarakat yang moderat. dalam hal ini Puslitbang Kehidupan Keagamaan. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada 7 Perguruan Tinggi Umum Negeri). Selama ini belum diketahui benar. penerbitan buku ini merupakan salah satu media untuk mensosialisasikan hasil-hasil pengembangan yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. NIP: 19570414 198203 1 003 iv   . dapat memberikan informasi tentang berbagai pandangan keagamaan para mahasiswa berkaitan dengan toleransi kehidupan beragamaan. H.

pada sisi lain. sekolah tinggi. kemajemukan bisa pula berpotensi mencuatkan social conflict antarumat beragama yang bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). prinsip-prinsip toleransi harus betul-betul bekerja mengatur perikehidupan masyarakat secara efektif. dewasa. serta menjadi entry point bagi terwujudnya suasana dialog dan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat. Lebih dari itu. Pendidikan tersebut dapat berupa perguruan tinggi. toleransi beragama merupakan isu penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. dan sebagainya. terutama bila kemajemukan tersebut tidak disikapi dan dikelola secara baik. Usia saat menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Namun. dari tingkat anakanak. Agar tidak terjadi konflik antarumat beragama. remaja. institut. akademi. Dalam konteks kemajemukan agama di Indonesia tersebut. hingga orang tua. Salah satu komponen penting masyarakat dalam rangka menjaga tetap bekerjanya prinsip-prinsip toleransi adalah para mahasiswa. umumnya   v K .KATA PENGANTAR KEPALA PUSLITBANG KEHIDUPAN KEAGAMAAN emajemukan agama bangsa Indonesia pada satu sisi menjadi modal kekayaan budaya dan memberikan keuntungan bagi bangsa karena dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang kaya bagi proses konsolidasi demokrasi. Mahasiswa merupakan sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan lanjutan setelah Sekolah Menengah Umum (SMU). baik pelajar. pegawai. birokrat maupun mahasiswa. toleransi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh kelompok masyarakat. Toleransi merupakan elemen dasar yang dibutuhkan untuk menumbuh kembangkan sikap saling memahami dan menghargai perbedaan yang ada.

seperti Halsey dan Psacharopoulos menyatakan bahwa pendidikan memainkan bagian penting dalam determinan-determinan status dan penghasilan. Secara fisiologis. Beberapa sosiolog pendidikan. Sebab. dari kalangan mahasiswa akan muncul tokoh-tokoh masyarakat yang akan berperan dominan dalam perkembangan masyarakat. Dari hasil penelitian dapat ditarik gambaran sementara bahwa setiap upaya meningkatkan toleransi di kalangan mahasiswa masih perlu dilakukan. termasuk dalam hal hubungan antarumat beragama. pada akhirnya nanti. mahasiswa dianggap sebagai salah satu kelompok yang menjadi sub elemen penting masyara-kat sebab memiliki potensi besar dalam menciptakan suatu bentuk tatanan tertentu. Di tangan para mahasiswa masa depan bangsa ini akan bergantung. meminjam istilah William Fulbright. wawasan dan daya kritis yang memungkinkan mahasiswa untuk memikirkan masa depan masyarakat tempat mereka hidup. ternyata mahasiswa berperan lebih besar sebagai agent of change. kejiwaan yang belum mapan dan selalu memegang idiom ketokohan. Tongkat estafet kepemimpinan ini akan diteruskan oleh mahasiswa. Potensi ini dipunyainya tidak terlepas dari tingkat pendidikannya yang tergolong tinggi dalam masyarakat. usia ini sangat rentan terhadap segala sesuatu. kendati survei SETARA Institute menunjukkan hasil menggembirakan terhadap kondisi toleransi kaum muda berbeda agama. Education is slow but a powerful force. Mahasiswa dianggap tunas-tunas baru yang akan menggantikan peran para pemimpin di masa yang akan datang. Karena tingkat pendidikan yang tinggi ini. Pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi cara pandang. namun pada sisi lain masih ditemukan konflik sosial yang melibatkan vi   . Dalam masyarakat. Mahasiswa adalah manusia yang dipenuhi idealisme. Di samping mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan bangsa ini.berkisar antara 18-21 tahun.

Amien. sehingga menjadi buku yang layak terbit.mahasiswa. Dari penelitian ini diketahui toleransi dan apresiasi antarmahasiswa. H. baik intra maupun antarumat beragama. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan yang telah memberi sambutan dan arahan untuk terbitnya buku ini. Rahman Mas`ud. Abd. maka diperlukan sebuah penelitian tentang toleransi mahasiswa berbeda agama pada perguruan tinggi. Juli 2010 Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Prof. Semoga Allah selalu memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita sekalian.D NIP. kami dengan senang hati akan menerima masukan dan kritik dari pembaca sekalian. Jakarta. Ph. Demi sempurnanya buku ini. Mudah-mudahan buku ini menjadi bahan pembelajaran yang berharga bagi para peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan khususnya dan pembaca pada umumnya. 19600416 198903 005   vii . Bertolak dari berbagai masalah dan kenyataan serta harapan seperti dikemukakan di atas. Kemudian tak lupa kami sampaikan terima kasih juga kepada Editor yang telah mengkoreksi ulang hasil penelitian ini. sebagai modal akademis guna mengarahkan kehidupan sosial yang lebih kohesif di masa depan.

viii   .

Keterlibatan Organisasi.PENGANTAR EDITOR A lhamdulillahi Rabbi al-`alamin. penelitian ini telah mampu menggambarkan bagaimana Pengaruh Kepribadian. Penelitian ini terasa dilakukan dengan cara cukup serius. yang telah mem-berikan kekuatan pada kami sehingga bisa menyelesaikan editorial tentang laporan penelitian Pengaruh Kepribadian. Sebagai hasil penelitian ilmiah. dan penyusunan laporan penelitian. display data. diseminasi hasil penelitian. Hasil Belajar Pendidikan Agama. dengan harapan penelitian berjalan sesuai harapan. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda   ix . Dengan adanya penelitian ini. Penyusunan desain operasional penelitian terutama berkaitan dengan kerangka teorinya tentu sangat melelahkan dibandingkan dengan penelitian yang bercorak kualitatif. penyusunan ulang kuesioner hasil uji coba. penyusunan kuesioner. Puslitbang Kehidupan Keagamaan cukup konsisten untuk terus mengembangkan pendekatan kuantitatif dalam beberapa penelitiannya. penyusunan pedoman wawancara. kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa. pengumpulan data. Penelitian ini merupakan 1 di antara 3 penelitian yang menggunakan pendekatan kuan-titatif. Dalam tahapan penelitian ini pastilah terasa agak berat mengingat bahwa penelitian bercorak kuantitaif saat ini relatif merupakan tradisi baru di Puslitbang Kehidupan Keagamaan. dan Lingkungan Pendidikan terhadap Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama pada Perguruan Tinggi Umum Negeri (Studi di 7 Universitas) dengan baik. validitasi dan reliabilitasi kuesioner. analisis data. yang dilakukan Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada tahun anggaran 2009. Keterlibatan Organisasi. uji coba kuesioner. Hasil Belajar Pendidikan Agama.

M. yang selama ini belum dilakukan. bahkan terkadang juga para mahasiswa. tetapi substansi dapat dicerna sendiri oleh para pembaca dalam buku ini. sehingga hasil penelitian ini juga membantu saya memahami sikap mahasiswa berkaitan dengan toleransi beragama itu. Namun hasil penelitian ini tetap menarik untuk tetap dibaca. Terakhir. Bahari. H. Juli 2010 Drs. Buku ini secara substansial memang sudah pernah terdengar dilakukan penelitian meskipun dengan judul yang berbeda. bagaimana sikap para mahasiswa di perguruan tinggi umum yang berkaitan dengan toleransi beragama.Agama pada Perguruan Tinggi Umum Negeri. Editor. Demikian semoga bermanfaat. MA x   . Jakarta. Nah dari buku ini akan terlihat. mengingat bahwa terjadinya ketidakrukunan di berbagai tempat di Indonesia selama ini selalu diawali oleh kaum muda. Kami tidak perlu menyimpulkan atau membuat ringkasan mengenai hasil penelitian ini. kami ucapkan terima kasih kepada Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengedit buku hasil penelitian ini.

.................................. Pembatasan Masalah .... iii v ix xi 1 1 12 26 27 28 28 Bab II 31 31 31 39 43 44 50 61 80 90 91 91 92 93 xi Bab III Metodologi Penelitian .................................. Metode dan Desain Penelitian ............................................... Tujuan Penelitian ......................... Variabel Kepribadian (X1) ............ C............................................................. B................... Lokasi dan Waktu Penelitian .......................... Variabel Hasil Belajar Pendidika Agama (X3) ........................................................... Variabel Toleransi Beragama (Y) ................ Kerangka Berpikir ................   .................. 4............... Variabel Keterlibantan Organisasi (X2) ............... Pengantar Editor ............................ Deskripsi Teoritik ...................................................... Daftar Isi ...DAFTAR ISI Sambutan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ....... 5................. B......... C....... Perumusan Masalah ......... B.................................................. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) ............... Hipotesis Penelitian .. 2.............................................. Bab I Pendahuluan ........ 1. E................................ F..................... Identifikasi Masalah ...................................... D. Hasil Penelitian yang Relevan ....................................... A........ Populasi dan Sampel ............................. A......................... Penyusunan Kerangka Teoritik dan Pengajuan Hipotesis . Kegunaan Hasil Penelitian .......................................... D.............................. A............. C.. Kata Pengantar Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan ........ Latar Belakang Masalah ........................................... 3...........................

................ Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama 7 Universitas ........... 1............. Pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan................................... Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) .... C......... Variabel Kepribadian (X1) ........ Deskripsi Data dan Temuan .................. 6........... Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan.................. 4....................... 2.... 94 1.......... Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi ... Instrumen Penelitian ............ 96 3......................... 95 2.................... Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama................................................. Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) ..................... 5.. 98 5... 1............... 7.. xii   105 105 107 108 110 116 117 119 121 121 122 124 125 126 127 127 129 ............................................. 102 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ..... Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan...........D.. 3............... Kepribadian ...... Analisis Inferensial .... Hasil Belajar Pendidikan Agama ........ Variabel Toleransi Beragama (Y) .. Profil Responden ............................. Lingkungan Pendidikan ...... Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama 4................................................ Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar ........................ 2........................... 97 4........... 100 E......... A.......................................... 3.......... Keterlibatan Organisasi ......................................................... 8.. B. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) .... Teknik Analisis Data ...................... Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama .......... 5......

............... Lampiran ................ Hasil Penelitian Kualitatif ........... Pembahasan .... Pedoman Wawancara ... Implikasi......9.......... Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama ................................................................................ 129 129 131 134 141 141 143 144 115 145 153 153 154 155 Daftar Pustaka ................ E.... D......................   xiii ........ Model Empiris Hubungan Antar Variabel ........................................................ 10.............................................. Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama ........ B........................................................ Bab V Penutup .......... Daftar Pertanyaan (Kuesioner) ..................................................... A............................. Daftar Pustaka ....................... Rekomendasi ................................................................................................................... Kesimpulan .......................................................................................... C...................

xiv   .

109 kelompok etnis berada di Indonesia belahan barat. Latar Belakang Masalah ndonesia adalah bangsa yang majemuk. Khonghucu (0. dan 0. Komposisi jumlah penduduk Islam dan Kristen cukup berimbang di Maluku.10%).8% Hindu. di Indonesia terdapat lebih kurang 658 etnis. tumbuh dan berkembang pula berbagai aliran atau kepercayaan lokal yang jumlahnya tidak kalah banyak. 1.2% agama serta kepercayaan lainnya. Buddha.08%). religious demography di Indonesia menunjukkan 213 juta jiwa penganut agama yang berbeda dengan komposisi 88. Sedangkan di Sumatera Utara. bahasa. etnis. yaitu pemeluk Islam (88. Buddha (0. Katolik.9% Kristen. sedangkan 1 . 3. Dari sisi agama. di negara ini hidup berbagai agama besar di dunia.79%).73%). Agama-agama tertentu lainnya menunjukkan jumlah mayoritas penduduk di propinsi tertentu seperti Hindu di Bali serta Kristen di Nusa Tenggara Timur. dan lainnya (0. 5. 0. Kristen. baik dari sisi budaya. Pada Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005 juga masih menunjukkan angka yang hampir sama. dan Maluku Utara penduduk Kristen merupakan minoritas tetapi dengan jumlah signifikan. dan Papua. Hindu. Selain itu.1% Katolik. Hindu (1. Data tersebut mengungkapkan bahwa penduduk beragama Islam merupakan mayoritas secara nasional.60%).8% Buddha. Dari enam ratusan etnis itu.2% pemeluk Islam.1 I                                                              1Dari sisi etnis. Kalimantan Barat. Kristen (5. dan agama.BAB I PENDAHULUAN A. dan Konghucu. Katolik (3. yaitu Islam. namun tidak demikian dalam sebaran perpropinsi atau kabupaten/kota.12%). Sulawesi Utara. Pada sensus tahun 2000.58%).

birokrat maupun mahasiswa. 2Muhammad Hisyam et. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik. kemajemukan etnis di belahan timur lebih tinggi dari belahan barat. kemajemukan bisa pula berpotensi mencuatkan social conflict antarumat beragama yang bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). hingga orang tua. hlm. 1. Salah satu subelemen penting masyarakat dalam rangka menjaga tetap bekerjanya prinsip-prinsip toleransi adalah para mahasiswa. baik pelajar. maka toleransi beragama---dalam pengertian kesediaan umat beragama hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain---merupakan isu penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Jakarta: LIPI Press. Volume V No. “Kekerasan Komunal di Indonesia: Sebuah Tinjauan Umum” dalam Jurnal Dignitas. prinsip-prinsip toleransi harus betul-betul bekerja mengatur perikehidupan masyarakat secara efektif. Agar tidak terjadi konflik antarumat beragama. 34. dewasa. 2006. 1 Tahun 2008. Namun. terutama bila kemajemukan tersebut tidak disikapi dan dikelola secara baik.Kemajemukan agama tersebut pada satu sisi menjadi modal kekayaan budaya dan memberikan keuntungan bagi bangsa Indonesia karena dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang sangat kaya bagi proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Toleransi merupakan elemen dasar yang dibutuhkan untuk menumbuhkembangkan sikap saling memahami dan menghargai perbedaan yang ada.2 Dalam konteks kemajemukan agama di Indonesia tersebut. pada sisi lain. hlm. serta menjadi entry point bagi terwujudnya suasana dialog dan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat.al. dari tingkat anak-anak. toleransi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh kelompok masyarakat. remaja. Dari 549 etnis itu 300 lebih di antaranya menyebar di Papua. Lebih dari itu. Amiruddin al Rahab. pegawai.     2 . Mahasiswa merupakan sebutan bagi mereka yang menempuh pendidikan lanjutan setelah Sekolah                                                                                                                                Indonesia timur terdiri atas 549 etnis. Dengan kata lain.

sekolah tinggi. Mahasiswa dianggap tunas-tunas baru yang akan menggantikan peran para pemimpin di masa yang akan datang.4                                                              3“Menggugat Intelektualisme Mahasiswa” dalam http:// bermula. Di samping mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan bangsa ini. usia ini sangat rentan terhadap segala sesuatu. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. Mahasiswa adalah manusia yang dipenuhi idealisme. Beberapa sosiolog pendidikan. dari kalangan mahasiswa akan muncul tokoh-tokoh masyarakat yang akan berperan dominan dalam perkembangan masyarakat. akademi. Di tangan para mahasiswa masa depan bangsa ini akan bergantung. Tongkat estafet kepemimpinan ini akan diteruskan oleh mahasiswa.Menengah Umum (SMU). Usia saat menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Pendidikan tersebut dapat berupa perguruan tinggi. pada akhirnya nanti.3 Potensi ini dipunyainya tidak terlepas dari tingkat pendidikannya yang tergolong tinggi dalam masyarakat.   4Lucia Ratih Kusumadewi. wordpress. seperti Halsey dan Psacharopoulos menyatakan bahwa pendidikan memainkan bagian penting dalam determinan-determinan status dan penghasilan. wawasan dan daya kritis yang memungkinkan mahasiswa untuk memikirkan masa depan masyarakat tempat mereka hidup. 1999.com/ 2008/06/25/menggugat-intelektualisme-mahasiswa/. hlm. 11-12. kejiwaan yang labil dan selalu memegang idiom ketokohan. ternyata mahasiswa berperan lebih besar sebagai agent of change. termasuk dalam hal hubungan antarumat beragama. Karena tingkat pendidikan yang tinggi ini. institut. mahasiswa dianggap sebagai salah satu kelompok yang menjadi subelemen penting masyarakat sebab memiliki potensi besar dalam menciptakan suatu bentuk tatanan tertentu. umumnya berkisar antara 18-21 tahun. Depok: FISIP UI.   3 . Skripsi. dan sebagainya. Dalam masyarakat. Pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi cara pandang. Secara fisiologis.

Kedua. dan Keempat. dengan idealismenya yang tinggi. dibutuhkan kesadaran penuh dari kalangan terdidik. Yewangoe dalam Agama dan Kerukunan. untuk: Pertama. mempengaruhi masyarakat supaya dapat bersikap dan berperilaku yang mengarah pada toleransi yang tinggi antarpemeluk agama. mahasiswa adalah calon-calon intelektual yang diharapkan dapat meninjau berbagai relasi antar manusia. Untuk mewujudkannya.co.id/books. bersikap dan berperilaku terhadap pemeluk agama lain yang secara konkret mendukung dan dapat menciptakan toleransi antarpemeluk agama. Saling pengertian yang dicapai hari ini di antara para mahasiswa berbeda-beda agama merupakan modal yang berharga apabila mereka nanti menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. paling tidak ditinjau dari sejarah kemahasiswaan di Indonesia selama ini masih belum terkontaminasi oleh berbagai tekanan di mana agama-agama cenderung diperalat. 31-32.   4 . mahasiswa adalah calon-calon pemimpin bangsa. Pertanyaan kemudian muncul.Andreas A.google. selalu berupaya mewujudkan persatuan dan kesatuan melalui perbuatan nyata. begitu pula untuk menemukan langkah maju dalam kehidupan antarumat beragama. yaitu: Pertama. dan Kedua. telah terdapat sikap-sikap yang berpotensi mendukung terciptanya toleransi antarumat                                                              5 http://books. mahasiswa. hlm. Ketiga. termasuk hubungan antarumat beragama secara rasional dan berkepala dingin.5 Banawiratma mengatakan bahwa selayaknya kaum terdidik (baca: mahasiswa) dapat menjadi fasilitator dalam mencoba untuk membaca dan menilai situasi hidup nyata ini. mahasiswa. apakah dari kalangan terdidik sendiri (baca: mahasiswa). Dia memberikan 4 (empat) alasan. optimis akan peran yang dapat dimainkan mahasiswa dalam meningkatkan kerukunan umat beragama.

maupun politik. memperlihatkan bahwa Universitas Pattimura menjadi basis perlawanan kalangan Kristiani. anak panah. Ed. Pekalongan (24-26 Maret 1997). etnis.6 Pertanyaan di atas sangat penting untuk dijawab. Di sana para mahasiswa Kristiani menggalang kekuatan dan turut terlibat secara aktif dalam konflik bernuansa agama tersebut. Dengan mengetahui gambaran tersebut diharapkan dapat disajikan kerangka pandang yang cukup memadai dalam usaha-usaha menuju kepada kehidupan antarumat beragama yang lebih baik. Banjarnegara (9 April 1997). Ataukah justru sebaliknya. xviii-xxi.beragama. misalnya peristiwa Situbondo (10 Oktober 1996). Konflik bernuansa etnik misalnya peristiwa Sanggauledo (Januari dan Februari 1997) dan peristiwa Sampit pada 7 Maret 1999 yang kemudian merembet ke Kualakapuas. dan tombak bermata besi. Tasikmalaya (26 Desember 1996). mengingat masalah hubungan antarumat beragama yang baik merupakan syarat bagi terciptanya integrasi sosial. 2008. yang pernah terjadi di Indonesia7 ternyata melibatkan banyak pihak. 2007. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan P2P-LIPI. Heru Cahyono. khususnya di kalangan terdidik. Semarang: Walisongo Mediation Centre.   6 7 5 . baik yang bernuansa agama. Sebab. Sikap serupa dilakukan pula oleh para mahasiswa muslim di STAIN Ambon atau mereka yang terlibat dalam organisasi                                                              Ibid. hlm. Mukhsin Jamil. strata dan jenis kelamin---dan itu berarti---mahasiswa juga patut diduga terlibat di dalamnya. M. Konflik Kalbar dan Kalteng: Jalan Panjang Meretas Perdamaian. dan lain-lain. konflik sosial. Konflik bernuansa agama di Ambon misalnya. Ambon (1999). Di Fakultas Teknik. Mediasi dan Resolusi Konflik. Wilayah kampus tersegregasi antara mahasiswa dari kalangan Kristen dan dari kalangan Islam. sikap-sikap yang diperlihatkan berpotensi untuk menciptakan intoleransi antarumat beragama. dengan memanfaatkan peralatan yang ada membuat senjata-senjata rakitan. Temanggung (6 April 1997).   Konflik bernuansa agama yang terjadi di Indonesia.

dalam www. serpihan kaca. pelaku lari menuju asrama putri. Mereka pun berkumpul menuju asrama putri meminta pertanggungjawaban. geocities.8 Konflik bernuansa agama yang melibatkan mahasiswa terjadi pula di Jakarta. misalnya kasus bentrok antara warga Kampung Pulo dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (SETIA) pada 25 Juli 2008. ketapel dan anak panah besi. pencurian. Setelah melakukan pelemparan. www.id.sabili. Sempat terjadi lempar batu tetapi berhenti setelah dilerai pihak kepolisian. Suasana menegang ketika ada teriakan provokasi dari dalam kampus yang tidak terima si pencuri dibawa ke kantor polisi. Kelakuan mahasiswa kriminal ini. Sesaat kondisi keamanan terkendali tetapi selang sehari kemudian kembali menegang ketika tiba-tiba ada seorang mahasiswa SETIA melempar Masjid Baiturrahim yang berjarak 50 meter dari kampus.com.9                                                              8“Gerakan Baku Bae Maluku Perlawanan terhadap Penganjur Perang” dalam Ambon Berdarah On-Line.   6 . yang saat itu tengah diadakan pengajian. bahkan warga sering menemukan kondom dan celana dalam di sepanjang jalan sepi tempat mahasiswa biasa jalan-jalan. mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang belakangan menjadi aktivis rekonsiliasi Gerakan Baku Bae Maluku.   9“Mahasiswa Kriminal Picu Konflik Kampung Pulo”. sebagaimana dituturkan Abu Bakar Riri. pacaran. Mahasiswa SETIA diduga sering terlibat bentrok antarsuku. mengundang reaksi warga.co. Bentrokan 25 Juli 2008 lalu bermula dari tertangkapnya seorang mahasiswa SETIA yang diduga melakukan pencurian mesin pompa di salah satu rumah warga.kemahasiswaan. namun kedatangan warga justru disambut lemparan batu. Pemicu terjadinya konflik disebabkan keberadaan SETIA dan perilaku mahasiswa yang sering meresahkan warga.

Mereka menginap selama dua malam di Komplek DPR/MPR Senayan Jakarta. Proses evakuasi berlangsung aman tanpa diganggu warga. Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia.11 Kali ini bernuansa etnis. sebuah kota budaya dan kota pendidikan yang selama ini dikenal sebagai miniatur Indonesia dan tempat persemaian multikulturalisme. Ed. tanggal 29 Juni 2007.   Multikulturalisme adalah gagasan yang merujuk pada sebuah truisme bahwa masyarakat-masyarakat manusia niscaya memiliki budaya yang beragam.   10 11 7 . pada 23 November 2004 dan penyerangan asrama mahasiswa Sulawesi Selatan. dan baru pada hari Jumat (1/8) sekitar 400 mahasiswa SETIA dievakuasi ke Wisma Transito. pada 15 Januari 2008. Yogyakarta. apa pun alasannya. Jakarta Timur. hlm. Babarsari. sekitar 200 mahasiswa SETIA didampingi beberapa dosen. Kab.Menjaga kondisi yang tak diharapkan sebab kemarahan warga meningkat. atau bentrokan antar mahasiswa di sebuah tempat kos di Tambakbayan. tutup dan bubarkan Yayasan SETIA dari Kampung Pulo. Jakarta: The Interseksi Foundation. Naman Kalimalang. Kecamatan Depok. Selasa (29/7).10 Konflik sosial yang melibatkan mahasiswa terjadi pula di D. Sleman. Modernitas” dalam Hikmat Budiman. pada Ahad sore puluhan mahasiswi putri dievakuasi ke Kantor Kecamatan Makasar. Hikmat Budiman. 2005. seperti penyerangan asrama mahasiswa Papua oleh orang tidak dikenal.I.                                                              Ibid. rektor dan pimpinan Aras Gereja Nasional (AGN) menyambangi perwakilan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Fraksi Partai Damai Sejahtera (PDS) di Komisi VII DPR. 3. Jl. Pascabentrokan warga menuntut tiga hal. yaitu pergi. Multikulturalisme. Mereka mengadu ke DPR agar tetap bisa kuliah di kampusnya. “Minoritas. Jakarta Timur.

  8 .co. Kedua. konflik terjadi antara: (a) kelompok mahasiswa pendatang dengan penduduk asli.Catatan yang dibuat berdasarkan pemberitaan media massa dan juga sejumlah penelitian sosial dari lingkungan perguruan tinggi. seperti saat pertandingan olahraga. Pertama.id. Tanah kosong tersebut pada mulanya digunakan                                                              12 www. konflik meletup hanya karena penyebab yang sangat sepele. misalnya dalam bentuk perusakan. (b) kelompok mahasiswa pendatang dari suatu daerah atau suatu etnis dengan kelompok mahasiswa dari daerah/etnis lain. dan (c) kelompok mahasiswa pendatang dengan kelompok profesi tertentu (misalnya pengemudi becak). Sebuah temuan menarik. Kalaupun kadang-kadang terjadi konflik antaretnis dari luar Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan kelompok mahasiswa asli Yogyakarta atau Jawa Tengah.antara. Hampir semua konflik antaretnis mahasiswa di Yogyakarta disebabkan oleh kesalahpahaman belaka. konflik antaretnis justru sangat jarang terjadi antara kelompok mahasiswa asli Yogyakarta dan juga Jawa Tengah. Pada umumnya. penyebabnya pun hanya berupa gesekan kecil. dengan kelompok mahasiswa dari etnis lain dari luar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sempat mesra pada saat menurunkan Soeharto hingga tahun 2000.12 Konflik antarmahasiwa yang bisa mengarah pada sentimen keagamaan terjadi antara mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (FH UKI) dan Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia (UPI YAI) patut juga dicatat. memperlihatkan adanya pola yang berulang. biasanya tidak berkembang menjadi konflik dalam skala cukup besar. konflik mulai terjadi ketika YAI membeli tanah kosong milik Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang berada persis di kampus tersebut.

www.   14“Polisi Temukan Senjata Tajam dalam Kampus”.14 Paparan beberapa kasus konflik yang melibatkan mahasiswa di atas hanya beberapa contoh yang barangkali                                                              13“Mahasiswa UKI dan YAI Sempat ‘Mesra’ di Era Reformasi”. dan sombong. Ajun Komisaris Besar Kamaruddin. Tidak bisa dipastikan bagaimana mulanya. 16 Oktober 2008. www.com. seorang mahasiswa bernama Mursal luka berat karena tikaman di bagian leher dan anak panah juga menancap di sekitar perutnya. Buntut tawuran antarfakultas tersebut. sedangkan dua mahasiswa lain mengalami luka ringan. arogan.untuk para pedagang berjualan. Perlawanan muncul saat mahasiswa Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)--sebagian besar mahasiswa UKI---mengadvokasi para pedagang yang sering bentrok dengan Satpol PP Jakarta Pusat. Hasilnya. Ini menyebabkan sikap mahasiswa yunior cenderung reaksioner. Sejak peristiwa itu muncul sentimen-sentimen antarmahasiswa kedua kampus yang berujung pada tawuran. misalnya bentrok antara mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik Universitas 45 Makassar.13 Bentrok antarmahasiswa juga terjadi di Sulawesi Selatan. pihak kepolisian menurut Kepala Kepolisian Resort Makassar.   9 .com. Ditambah lagi ada semacam doktrin menurut penuturan Mangapul Silalahi. Tawuran bisa terjadi meski hanya saling pandang atau bersenggolan. yang terjadi tanggal 19 November 2008.tempointeraktif. menemukan beberapa senjata tajam dan botol bekas minuman keras di wilayah kampus. yang dilakukan oleh mahasiswa senior terhadap yunior bahwa mahasiswa UKI adalah yang terbaik. 19 November 2008.vivanews. kemudian yang berhadap-hadapan bukan antara Satpol PP dengan mahasiswa GMNI tetapi antara mahasiswa UKI dan YAI. polisi melakukan razia di dalam kampus. Akibat tawuran tersebut. yang jelas.nasional.

mahasiswa tidak mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. ras dan golongan. Penelitian Melissa. tidak mampu memahami persoalan secara utuh.15 Konflik muncul ketika mahasiswa tidak mampu berpikir secara rasional dan berkepala dingin. atau punya pengalaman buruk dengan orang lain sehingga cenderung berprasangka (prejudice) pada satu etnis atau umat agama tertentu. khususnya dalam memilih presiden wanita. Bandung: Pustaka Setia. ada juga orang yang tinjau dari usia dianggap dewasa tetapi sikap dan perilakunya kekanakkanakkan. menunjukkan kemungkinan kecenderungan seperti itu. Namun. terhadap sejumlah mahasiswa di Jakarta. Jika temuan                                                              15 Enung Fatimah. yaitu bahwa untuk mahasiswa. Psikologi Perkembangan. agama tetap merupakan hal yang tidak dapat dikritik. tidak terkecuali pada mahasiswa sebagai komunitas terdidik. 2006. Dalam penelitiannya. tidak mengubah pola pikir mereka jika menyangkut agama. termasuk prasangka agama. Beberapa literatur psikologi memang menjelaskan bahwa tidak selalu bertambahnya usia itu membuat seseorang semakin dewasa---dalam arti--seseorang itu mampu berpikir abstrak serta bertindak mandiri dan sistematis. Kondisi di atas sangat mungkin terjadi pada semua orang.   10 . agama. hasil penelitiannya membuktikan lain. sehingga bebas prasangka. pemahaman agama yang sempit. membeda-bedakan orang berdasarkan suku. Dengan demikian. berarti bahwa faktor rasio yang seharusnya sudah terasah melalui proses pendidikan tinggi. ia mengasumsikan mahasiswa sebagai golongan muda yang kritis. Sebab.bisa menjadi dasar pemikiran bahwa usia yang relatif matang dan tingkat pendidikan yang tinggi ternyata tidak menjamin mahasiswa lepas dari konflik. sudah terkontaminasi dan sarat kepentingan sehingga cenderung bersikap emosional primordial.

id/books.17 Argumen tentang masih pentingnya posisi mahasiswa dalam ikut serta mengembangkan sikap toleransi beragama dapat merujuk pada hasil survei yang dilakukan SETARA Institute tahun 2008 terhadap 800 responden yang berumur antara 17-22 tahun dengan latar belakang agama beragam. khususnya yang menyangkut kehidupan antarumat beragama.co. hlm.1% responden tidak menjadikan perbedaan agama dalam berteman sebagai halangan dan 67.   17http://books. bahwa sebanyak 87. Sebab. 92. Hasilnya menunjukkan. bangsa ini akan menghadapi kesulitan yang cukup serius di masa yang akan datang. melainkan sudah merupakan gejala global.google. mahasiswa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.Melissa ini benar dan berlaku umum. Andreas A. ras dan golongan.16 Namun demikian. kiranya dapat membantu untuk mengambil jarak dari persoalan-persoalan dan sanggup pula memberikan solusi-solusi yang dapat menolong semua orang. hlm. Pergaulan mereka yang secara umum cenderung tidak membeda-bedakan suku. sehingga persoalan-persoalan yang dikemukakan di atas. 2006. 40. Yewangoe tetap memandang positif dan meyakini bahwa mahasiswa mampu tampil sebagai garda depan pengembangan toleransi dalam rangka peningkatan kerukunan umat beragama.4% responden dapat menerima fakta                                                              16Sarlito Wirawan Sarwono. Psikologi Prasangka Orang Indonesia. juga merupakan keprihatinan mereka. agama. Hal yang lebih mencemaskan adalah bahwa gejala ini bukan hanya tipikal Indonesia.   11 . Jakarta: RajaGrafindo Persada. Mahasiswa sebagai sebagai orang-orang intelektual dan masih muda tentu diharapkan akan sanggup memilih dan memilah persoalan dengan kritis dan obyektif.

Dalam perspektif psikologi diketahui                                                              18Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. baik intra maupun antarumat beragama. modal sosial (social capital) toleransi kaum muda sangat kuat sebagaimana teruji dalam beberapa indikator yang diajukan. Jakarta: SETARA Institute.perpindahan agama. sebagai modal akademis guna mengarahkan kehidupan sosial yang lebih kohesif di masa depan. dan keterbatasan teladan dari para penyelenggara negara. berikut akan ditelusuri faktor-faktor yang diduga menjadi sebab munculnya sikap toleransi dan intoleransi. Identifikasi Masalah Setelah memaparkan posisi penting mahasiswa dalam mengembangkan sikap toleransi. B. kendati survei SETARA Institute menunjukkan hasil mengembirakan terhadap kondisi toleransi kaum muda berbeda agama. Namun demikian. pola indoktrinasi pendidikan kewarganegaraan. karena para penyelenggara negara. menurut SETARA Institute. modal sosial itu tidak berkembang dan terpasung. Dengan demikian. Dengan penelitian ini diharapkan akan diketahui toleransi dan apresiasi antarmahasiswa. termasuk partai politik tidak menjalankan fungsinya dengan baik. namun pada sisi lain masih ditemukan konflik sosial yang melibatkan mahasiswa.18 Dari elobarasi di atas dapat ditarik gambaran sementara bahwa setiap upaya meningkatkan toleransi di kalangan mahasiswa masih perlu dilakukan. Bertolak dari berbagai masalah dan kenyataan serta harapan seperti dikemukakan di atas. telah membentuk pemahaman kaum muda akan Pancasila mengalami kontradiksi. 2008.   12 . maka diperlukan sebuah penelitian tentang toleransi mahasiswa berbeda agama pada perguruan tinggi. Sebab. Minusnya transformasi nilai-nilai Pancasila. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional.

minat. penyesuaian diri.   20Sarwono. Sedangkan secara sosiologis. keyakinan dan juga tindakan. keluarga. Psikologi Pendidikan. 3.19 Kurt Lewin menyatakan bahwa sikap dan perilaku manusia merupakan fungsi dari kepribadian (personality) dan pengalaman (experience). hlm. sikap.cit. partai politik. Jakarta: Nalar. pandangan. organisasi tertentu. baik di tingkat sikap. hlm. kewarganegaraan. 2005. Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang. bisa dikatakan muncul dari apa yang dipikirkan. prejudice adalah sebuah opini. dirasakan. sikap dan perilaku intoleran misalnya. kelas sosial. sifat. Ia adalah sikap individu yang muncul ketika ia berhadapan dengan sejumlah perbedaan dan bahkan pertentangan. ras.   13 . Ainul Yaqin sebagai “sebuah penilaian akhir yang tidak dilandasi dengan bukti-bukti terdahulu”.bahwa toleransi dan intoleransi adalah karakteristik mental yang merupakan bagian dari perilaku manusia (behavior).   21Djaali. op. Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat.20 Artinya. emosi.21 Artinya. Gagasan tersebut memberikan gambaran kesan tentang apa yang dipikirkan. yang tumbuh di tengah masyarakat. dan diperbuat. 92. yang terungkap melalui perilaku. kepercayaan. Jakarta: Bumi Aksara. Kata prejudice diartikan M. Aspek kepribadian meliputi watak. dan kemudian diperbuat seseorang terhadap orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya. dan lain                                                             19Saiful Mujani dkk. munculnya sikap toleransi dan intoleransi pada seseorang atau kelompok masyarakat dipengaruhi oleh faktor kepribadian dan pengalaman. salah satunya disebabkan adanya prasangka negatif (negative prejudice). sikap. secara umum. hlm. agama. dirasakan. jenis kelamin. dan motivasi. dan perasaan yang negatif dan tidak fair terhadap seseorang atau kelompok masyarakat yang lain (etnis. 2008. 77.

Menurut Turner dan Hogg. Yogyakarta: LKiS. Bandingkan dengan Alo Liliweri. menyatakan bahwa ada tiga hal yang dilakukan manusia dalam proses itu.22 Nelson mengatakan.   14 . manusia menyederhanakan dunia sosial dengan menggolong-golongkan berbagai hal yang dianggap mempunyai karakteristik yang sama ke dalam suatu kelompok tertentu. Hal ini kemudian dapat menciptakan munculnya persepsi ingroup-outgroup dalam perilaku kelompok. yaitu: (1) kategorisasi. prasangka merupakan suatu evaluasi negatif seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain. (2) identifikasi. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural. Ainul Yaqin. dan golongan sosial. Turner dan Tajfel. 199-203. etnik. Selanjutnya. individu akan memasukkan dirinya ke dalam salah satu kelompok yang sudah diimajinasikannya sendiri. dalam kehidupan. dan status sosial.lain). individu selalu akan mengindentifikasikan dan mendefinisikan diri berdasarkan kelompok sosialnya.                                                              22M. hlm. atau aku murid STM. Beberapa di antara pengelompokan sosial yang paling sering dilakukan adalah ras. atau tidak tertutup kemungkinan bahwa orang melakukan pengelompokan sosial berdasarkan hal-hal lain. agama. Dengan demikian. 17. tentunya ada proses tertentu. misalnya aku orang Jawa. 2005. agama. semata-mata karena orang atau orang-orang itu merupakan anggota kelompok lain yang berbeda dari kelompoknya sendiri. jenis kelamin. Yogyakarta: Pilar Media. definisi sosial mengenai siapa dirinya. dan (3) membandingkan. Pendidikan Multikultural. seperti dikutip Sarlito Wirawan Sarwono. aku muslim. Dalam kategorisasi sosial. Untuk sampai pada identifikasi dan definisi diri itu. serta pendidikan juga berarti mencakup siapa yang bukan dirinya. seperti etnik.

tidak toleran terhadap non-muslim. Selanjutnya.23 Prejudice biasanya cenderung melakukan generalisasi dalam melihat dan menilai seseorang atau kelompok lainnya tanpa memperdulikan kenyataan bahwa setiap individu mempunyai ciri-ciri dan karakter yang berbeda-beda. Sebaliknya. op. hlm. 17-26. tidak menghargai HAM.   15 . dan lain sebagainya. tidak menghargai perempuan. karena kemajuan Islam dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Islam bukan agama damai.Selanjutnya. ada anggapan dari sebagian masyarakat muslim bahwa orang Nasrani dan Yahudi tidak akan pernah merelakan orang Islam hidup dalam damai dan mencapai kemajuan. adanya prasangka atau anggapan umum dari sebagian masyarakat non-muslim di Barat bahwa orang Islam lebih suka melakukan kekerasan terhadap pengikut agama lain sebagai wujud dari pengamalan “jihad” dalam Islam. mereka mempersepsi anggota kelompoknya memiliki keunikan dan berbeda dibandingkan kelompok lainnya. Hal ini kemudian menyebabkan individu melakukan bias dalam memandang outgroup sehingga muncul stereotipe terhadap kelompok outgroup. membandingkan adalah bahwa anggota ingroup selalu akan memandang kelompoknya sendiri lebih menyenangkan. lebih baik. Kecenderungan berpikir seperti itu merupakan bentuk dari outgroup homogeneity dan ingroup bias. Kedua anggapan yang tidak berdasar dari kedua pemeluk agama yang berbeda ini adalah contoh dari prejudice                                                              23 Sarwono. ketika individu berada dalam ingroupnya.cit. Prejudice dalam masalah agama misalnya. tidak melindungi nilai-nilai moral. dan lebih positif dibanding anggota outgroup yang hampir selalu dipandang secara lebih negatif.

  16 . sedang aspek nonagama meliputi ekonomi. Fanatisme agama dan ketaatan merupakan aktualisasi jiwa keagamaan yang dibentuk dari tradisi keagamaan.                                                              24Yaqin. fanatisme agama menjadi salah satu pemicunya. ketika mencermati bahwa beberapa konflik sosial di masyarakat ternyata melibatkan mereka.cit. Tampak jelas. mengapa prejudice dan sikap toleran atau intoleran itu muncul di kalangan mahasiswa. Sedangkan dalam kasus bentrok antara masyarakat dan mahasiswa SETIA. loc. bahwa aspek agama dan nonagama dapat menjadi sebab sikap intoleran di kalangan umat beragama. dan lainlain. Secara umum telah disinggung di atas. sosial. Persoalannya sekarang. dalam kasus bentrok antara mahasiswa UKI dan YAI ada unsur fanatisme kelompok yang menganggap kelompoknya lebih hebat dibandingkan kelompok lain. tidak terkecuali para mahasiswa. sikap ini diwariskan oleh para senior ke yuniornya. Ironisnya. selain adanya mahasiswa yang bertindak kriminal. Sirry. Asumsi ini tidak terlalu berlebihan. tombol sentimen kesukuan dihidupkan sebagai pemicu bentrok. 2003. Penerjemah Mun`im A. politik. Islam Ditelanjangi: Pertanyaan-pertanyaan Subversif Seputar Doktrin dan Tradisi Kaum Muslim (Islam Unveiled). Aspek agama meliputi fanatisme agama dan ketaatan serta penyiaran agama. yang membuat masyarakat marah.yang sangat menyesatkan dan berbahaya bagi penciptaan kerukunan umat beragama. Dalam kasus di Yogyakarta.24 Prejudice yang kemudian tampil dalam bentuk sikap dan perilaku intoleran dapat dimiliki siapapun. Selengkapnya baca Robert Spencer. juga ketidaktoleran mahasiswa terhadap lingkungan dengan membuang barang-barang yang dianggap tabu secara sembarangan di jalan kampung. Dalam kasus konflik di Ambon dan penelitian Melissa. Jakarta: Paramadina. budaya.

Amin Abdullah. Jika kecenderungan taklid keagamaan tersebut dipengaruhi unsur emosional yang berlebihan. 1 Vol.   17 . seperti institusi keagamaan dan sejenisnya. Sikap eksklusif ini yang oleh Ian G. hlm. David Riesman melihat ada tiga model konfirmitas karakter. Suatu tradisi keagamaan membuka peluang bagi warganya untuk berhubungan dengan warga lainnya (sosialisasi). Buss. David Riesman25 melihat bahwa tradisi kultural sering dijadikan penentu di mana seseorang harus melakukan apa yang telah dilakukan nenek moyang. aspek emosional dipandang sebagai unsur dominan.Mengacu kepada pendapat Erich Fromm bahwa karakter terbina melalui asimilasi dan sosialisasi. Pendapat tersebut mengungkapkan bahwa karakter terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan dalam pembentukan kepribadian. No. Dalam menyikapi tradisi keagamaan juga tak jarang munculnya kecenderungan seperti itu. dan Plomin. maka terbuka peluang bagi pembenaran spesifik (truth claim) yang cenderung mengabaikan dialog yang jujur dan argumentatif. Selain itu juga. dan (3) arahan orang lain (other directed). Barbour dalam Issues in                                                              25M. IV Th. terjadi hubungan dengan benda-benda yang mendukung berjalannya tradisi keagamaan tersebut (asimilasi). “Keimanan Universal di Tengah Pluralisme Budaya: Tentang Kebenaran Agama dan Masa Depan Ilmu Agama” dalam Ulumul Qur’an. yaitu: (1) arahan tradisi (tradition directed). (2) arahan dalam (inner directed). 1993. Hubungan ini menurut tesis Erich Fromm berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. Tetapi tulis Gardon Allport. sebagai jabaran tipe karakter. 88-96. perkembangan emosional merupakan sentral bagi konsep temperamen dan kepribadian. Fanatisme dan ketaatan terhadap ajaran agama agaknya tak dapat dilepaskan dari peran aspek emosional.

288-289. Guna menjelaskan tentang pentingnya pendidikan keluarga bagi pembentukan sikap seseorang. Mereka menemukan dua orang bayi yang dipelihara oleh sekelompok serigala disebuah gua. hlm.   27Jalaluddin. melalui pendidikan pula dilakukan pembentukan sikap keagamaan tersebut.   28Zakiyuddin Baidhawy.26 Sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama. pada umumnya para ahli mengakui peran pendidikan dalam menanamkan rasa dan sikap keberagamaan pada manusia. Yogyakarta: Ittaqa Press. Jakarta: Erlangga. Amin Abdullah. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam upaya menanamkan rasa keagamaan pada seseorang. Dengan kata lain. dan (3) pendidikan di masyarakat.28 Kemudian.27 Berdasarkan argumen di atas maka penelitian ini mengasumsikan bahwa tradisi keagamaan berpengaruh terhadap pembentukan sikap toleransi dan intoleran seseorang. 1999. Sifat ini dibedakan dari ketaatan. . Keberagamaan yang Saling Menyapa: Perspektif Filsafat Perennial. kedua bayi tersebut tidak menunjukkan kemampuan yang                                                              26M. Namun. (2) pendidikan kelembagaan. yaitu: (1) pendidikan keluarga. Selain tradisi keagamaan. Sebab. Jalaluddin menyebutkan tiga lingkup pendidikan yang berpengaruh. kedua bayi manusia itu sudah berusia kanak-kanak. “Relevansi Studi Agama di Era Pluralisme Agama” dalam Mohammad Sabri. hlm. 2007. Jalaluddin mengutipkan kisah dua ahli psikologi anak Prancis bernama Itard dan Sanguin yang pernah meneliti anak-anak asuhan serigala. xiii.cit. Ketika ditemukan.   18 . ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan arahan dalam (inner direct) dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama. op.Science and Religion disebut-sebut sebagai ingridient yang paling dominan dalam proses pembentukan sikap dogmatism dan fanaticism.

Peristiwa yang serupa pernah terjadi pula di India. bahkan dia ditemukan pada usia 14 tahun. Setelah dikembalikan ke lingkungan masyarakat manusia. ternyata kedua anak-anak hasil asuhan serigala tersebut tak dapat menyesuaikan diri. sangat bergantung bagaimana orang tua menanamkan sikap keberagamaan kepada sang anak. namun di lingkungan pemeliharaan serigala potensi tersebut tidak berkembang. 19 . Tak seorang di antara keduanya yang mampu mengucapkan katakata. Keduanya juga berjalan merangkak dan makan dengan cara menjilat. Dan terlihat pertumbuhan gigi serinya paling pinggir lebih runcing menyerupai taring serigala. karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan manusia pada umumnya. Apakah anak akan bersikap terbuka (inklusif) atau tertutup (eksklusif). dogmatisme dan fanatisme.seharusnya dimiliki oleh manusia pada usia kanak-kanak. kecuali suara auman layaknya seekor serigala. Contoh di atas menunjukkan bagaimana pengaruh pendidikan. Sebagaimana juga terjadi di Prancis. pengawasan dan bimbingan yang serasi dan sesuai agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat berjalan secara baik dan benar. baik dalam bentuk pemeliharaan ataupun pembentukan kebiasaan terhadap masa depan perkembangan seorang anak. toleran atau intoleran. Meskipun Manu seorang bayi manusia yang dibekali potensi kemanusiaan. akhirnya mati. Kondisi seperti itu tampaknya menyebabkan manusia memerlukan pemeliharaan. anak yang ditemukan dalam asuhan serigala yang kemudian diberi nama Manu itu pun akhirnya mati. Di sinilah peran penting pendidikan keluarga---di mana orang tua sebagai pendidiknya---memberikan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan sang anak.

lingkungan masyarakat akan memberi dampak dan besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan sebagai bagian dari aspek kepribadian yang terintegrasi dalam pertumbuhan psikis. barangkali pendidikan agama yang diberikan di kelembagaan pendidikan ikut berpengaruh dalam pembentukan jiwa keagamaan anak. hlm. norma-norma kesopanan--dan itu berarti juga termasuk sikap toleransi dan intoleransi (pen.Adapun mengenai pendidikan kelembagaan. seminari maupun vihara. 273. . dapat diartikan bahwa sikap toleran dan intoleran akan lebih efektif jika seseorang berada dalam                                                              29 30 Jalaluddin.cit. 269-270. Young menulis bahwa pendidikan keagamaan (religious pedagogyc) sangat mempengaruhi tingkah laku keagamaan (religious behavior).)---menghendaki adanya norma-norma kesopanan atau sikap toleransi dan intoleransi pula pada orang lain.29 Pendidikan keluarga dan kelembagaan mempunyai masa asuhan yang terbatas. Menurut Emerson. para ahli mengaku kesulitan mengungkapkan secara tepat mengenai seberapa jauh pengaruh pendidikan agama melalui kelembagaan pendidikan terhadap perkembangan jiwa keagamaan para anak. Ibid. Sebagai contoh adalah adanya tokoh-tokoh keagamaan yang dihasilkan oleh pendidikan agama melalui kelembagaan pendidikan khusus seperti pondok pesantren. walaupun latar belakang agama di lingkungan keluarga lebih dominan dalam pembentukan jiwa keagamaan pada anak.     20 . Kenyataan sejarah menunjukkan kebenaran itu. Oleh sebab itu.30 Dengan demikian. Jiwa keagamaan yang memuat normanorma kesopanan tidak akan dikuasai hanya dengan mengenal saja. op. Berdasarkan penelitian Gillesphy dan Young. sedangkan masa asuhan pendidikan di masyarakat berlangsung selamanya.

yakni pengetahuan (aspek kognitif). Artinya apa. bahwa situasi dan kondisi pergaulan seseorang akan sangat menentukan tingkat toleransinya.31 Dari penjelasan di atas maka dapat diasumsikan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap pembentukan sikap toleran dan intoleran. namun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri                                                              31 Ibid. hasil penelitian Masri Singarimbun terhadap kasus kumpul kebo di Mojolama. Dalam ilmu psikologi sosial dinyatakan bahwa perilaku seseorang dapat dibedakan menjadi tiga aspek penyusunnya. Apabila mahasiswa tinggal di lingkungan masyarakat yang beragam pula . 274. yang diperoleh tanpa melalui daur hipotetiko-dedukto-verikatif (gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesa).lingkungan yang menjunjung tinggi sikap-sikap tersebut. Pengetahuan adalah semua buah pikiran dan pemahaman kita tentang dunia. Apabila dia hidup dalam sebuah keluarga atau kerabat yang mungkin menganut agama yang beragam. patut diduga pula dia mempunyai toleransi yang tinggi. di mana kasus seperti itu mungkin akan lebih kecil di lingkungan masyarakat yang menentang pola hidup seperti itu. Ia menemukan 13 kasus kumpul kebo ini ada hubungannya dengan sikap toleran masyarakat terhadap hidup bersama tanpa nikah. sikap (aspek persuasif). Apabila mahasiswa banyak berkecimpung dalam kegiatan intrakurikuler atau ekstrakulikuler yang di dalamnya tidak sedikit melibatkan mahasiswa beda agama. patut diduga dia mempunyai toleransi yang tinggi. Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku tertentu.   21 . atau tanpa metode ilmiah. dan keterampilan (aspek psikomotorik). Sebagai contoh.

yaitu faktor agama dan faktor nonagama. fanatisme sempit. Lebih spesifik lagi keterampilan ini dapat bermakna kemampuan (ability) yang menggambarkan suatu sifat (bawaan atau dipelajari) yang memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang bersifat mental atau fisik. secara garis besar. setiap pemeluk agama musti meyakini agamanya sebagai kebenaran yang mutlak (absolut). penyebab munculnya intoleransi terbagi ke dalam dua faktor. Oleh sebab itu. Namun pada sisi obyektif. Alimron menjelaskan. Keberagamaan manusia erat kaitannya dengan masalah keyakinan yang bersifat subyektif dan emosional. Namun demikian. Faktor agama meliputi fanatisme sempit dan pelaksanaan misi atau dakwah agama. dan mengatakan bahwa semua ajaran (agama) yang berbeda dan bertentangan dengan agamanya adalah ajaran yang salah. menurut Ajzen (1988) bahwa keyakinan tentang konsekuensi perilaku dan penilaian tentang keyakinan akan menumbuhkan sikap seseorang terhadap sesuatu obyek. 22 . Hubungan antara sikap dan perilaku seseorang. orang tersebut harus memberi hak kepada pemeluk agama lain untuk berkeyakinan dan mengatakan hal yang serupa. Pertama. keyakinan ini harus diletakkan dalam sisi subyektifitas dan obyektifitas. Dalam taksonomi Bloom.manusia itu. keterampilan ini merupakan terjemahan dari psychomotor yaitu kompetensi yang berkaitan dengan tugas dalam suatu sistem dan perilaku sistematis yang relevan untuk mencapai tujuan. Secara subyektifitas seorang penganut suatu agama lebih jauh akan meyakini bahwa agamanyalah sebagai satu-satunya agama yang benar. Sikap tersebut bersama-sama dengan norma subyektif yang mereka miliki selanjutnya melahirkan intensi untuk berperilaku.

Misi atau dakwah agama merupakan tugas suci bagi tiap pemeluk agama. Tesis. Memang dalam penganutan suatu agama harus didukung dengan fanatisme ini. Implikasi dari fenomena ini adalah lahirnya sikap eksklusif yang tertutup. Sedangkan fanatisme negatif adalah sikap fanatik yang tidak didasarkan pada pemahaman dan penghayatan ajaran agama yang benar atau hanya berdasarkan taqlid semata. fanatisme ini seringkali melahirkan sikap keberagamaan yang eksklusif. Dalam tataran praktis.   23 . sehingga terbentuk pribadi yang teguh dalam memegang ajaran agamanya. Tugas ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh pemeluk agama yang bersangkutan. serta cenderung lebih mengutamakan konfrontatif dengan pihak lain. Fanatisme positif adalah sikap fanatik yang bertolak dari pemahaman dan penghayatan ajaran agama. 1999. pelaksanaan misi atau dakwah agama. defensif. juga mau mengerti dengan pengalaman beragama orang lain. 21-25. atau bahkan berupaya memaksakan kemutlakan subyektif kepada orang lain. hlm. Dalam hal ini. dan tidak toleran terhadap perbedaan. dan reaktif. demi untuk mempertahankan ekstensinya atau untuk menyelamatkan                                                              32Alimron. positif dan negatif. Toleransi Antarumat Beragama dalam Perspektif al-Quran. Padang: IAIN Imam Bonjol. Hal ini sikap eksklusivisme agama.32 Kedua.Tidak bisa dipungkiri bahwa semua pemeluk agama mempunyai keyakinan sebagai tersebut di atas. intoleran. ada kategori fanatisme. Jika tidak agama tersebut akan kehilangan nilai dan makna bagi penganutnya bahkan besar kemungkinan akan terancam eksistensinya. tetapi pada waktu yang sama. otoriter. merasa benar sendiri. Dalam hal ini permasalahan akan muncul jika masing-masing umat beragama hanya mengutamakan sisi subyektifitasnya dan mengabaikan obyektifitas.

yakni Islam dan 24 . timbullah usaha-usaha untuk menunjukkan kesalahankesalahan agama orang lain sambil menyatakan kebenaran agamanya sendiri yang kemudian dilanjutkan lagi dengan usaha-usaha untuk menarik pemeluk agama lain untuk mengubah agamanya. dapat menimbulkan intoleransi beragama dan mengakibatkan tegangnya hubungan antara kedua masyarakat pemeluk agama bersangkutan. dan Khonghucu misalnya.manusia dari kesesatan. ia memandang agama lain salah. Berbeda dengan agama Hindu. Didorong oleh keinginan untuk memberi petunjuk kepada orang lain yang dianggap sesat dan untuk menyelamatkan sesama manusia. karena keyakinan bahwa agamanyalah yang benar. dibumbui dengan ungkapan-ungkapan. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari keyakinan akan kemutlakan ajaran agamanya. Buddha. pemeluk agama itu tidak akan mencapai keselamatan. Oleh karena itu. yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. karena keduanya sama-sama mengklaim sebagai agama universal. bagi Islam dan Kristen. Karena itu. penyebaran agama merupakan konsekuensi logis dan bagian inherent dalam agama masing-masing. sifat misionaris ini paling konkret memang terlihat pada Islam dan Kristen. Dari agama-agama yang ada. jika perlu dengan paksaan. Selain itu. Upaya-upaya ini pada mulanya mungkin didasari niat baik. Dalam hal ini ketegangan dalam penyebaran agama muncul ketika caracara yang digunakan dirasakan kurang wajar itu. jarang ada pertentangan atau ketegangan yang terjadi adalah ketegangan antara sesama agama misioner. tulisan maupun lisan yang mnyudutkan atau merendahkan agama lain. yang lebih mengutamakan pada aspek pembinaan pribadi pemeluknya. Pemeluk agama demikian merasa dirinya berkewajiban untuk menyiarkan agamanya kepada seluruh manusia. apalagi kalau agama yang bersangkutan diklaim sebagai agama yang universal.

secara hakiki. maka perlu diwujudkan adanya modus vivendi (cara hidup bersama) yang mengatur hubungan atau pergaulan antarumat beragama. Dalam hal ini faktor agama sebenarnya hanya menempel saja pada faktor-faktor tersebut. Oleh karena itu. sentimen agama telah dijadikan alat atau pemicu untuk membangkitkan emosi masyarakat sehingga termobilasi untuk melakukan tindakan destruktif dan kekerasan. berbagai kerusuhan dan konflik yang melibatkan antarumat beragama di Indonesia. seperti politik. pada dasarnya lebih didominasi oleh faktor-faktor eksternal tersebut. dan sosial budaya yang lain. Baik pada agama samawi (agama dengan kitab suci dari nabi) maupun agama ardhi (agama tanpa kitab suci dan nabi). serta cara keberagamaan para pemeluknya. melainkan bertolak dari pengertian dan pemahaman ajaran agama.   25 . termasuk tentang tata cara dan kode etik penyiaran agama. ekonomi. Sedangkan faktor nonagama dijelaskan Alimron. intoleransi dalam kehidupan beragama juga dapat timbul karena adanya pengaruh dari faktor-faktor lain. menghina atau menjelek-jelekkan agama atau penganut agama lain. melainkan bertolak dari pengertian dan pemahaman ajaran agama yang kurang utuh dan benar (kaffah). dengan kata lain. munculnya intoleransi antarumat beragama pada hakikatnya bukanlah berasal dari ajaran agama.Kristen. Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. sebagaimana telah disinggung di atas. Sebagai contoh.33 Berdasarkan elaborasi di atas dapat diidentifikasi beberapa faktor yang diduga mempengaruhi sikap toleran                                                              33 Ibid. pada dasarnya tidak ada agama di dunia ini yang lahir untuk bermusuhan. Selain karena sentimen keagamaan di atas.

dalam rangka lebih fokus. di antaranya kepribadian (personality). sosial-budaya. penelitian ini hanya membatasi diri pada upaya untuk mengkaji lebih jauh                                                              34Agus Purnomo. pesantren). Namun. seperti pribadi dan kepribadian. sikap inklusifeksklusif. Pribadi dan kepribadian bisa meliputi aspek genetis. masyarakat). pengetahuan dan pemahaman keagamaan. akademik. yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi internal mahasiswa. serta eksternal mahasiswa. lingkungan pendidikan (keluarga. interaksi dalam kegiatan intra dan ekstrakurikuler. ekonomi. tradisi keagamaan. jenis kelamin. Ideologi Kekerasan: Argumentasi Teologis-Sosial Radikalisme Islam. C. pemahaman keagamaan. prasangka (prejudice). atau pengalaman berinteraksi dengan pemeluk agama berbeda. politik. Pembatasan Masalah Sebagaimana telah diuraikan di atas. pendapatan. fanatisme keagamaan. masalah ini tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja tetapi harus dilihat dari berbagai sudut pandang. dan sebagainya). pekerjaan. penyiaran agama. tradisi keagamaan.dan intoleran mahasiswa. pengalaman berinteraksi dengan pemeluk agama berbeda. faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya sikap toleransi dan intoleransi cukup banyak. dan lain-lain. seperti pengalaman. 2009. Sedangkan kondisi eksternal---pengalaman--bisa meliputi aspek pendidikan kelembangaan (sekolah. pendidikan di masyarakat (lingkungan homogen atau heterogen. pola pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga. Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press & Pustaka Pelajar.34 Banyaknya faktor yang diduga mempengaruhi sikap toleran dan intoleran mahasiswa menunjukkan bahwa masalah toleransi merupakan masalah yang kompleks. usia.   26 . Artinya. persepsi ingroup-outgroup.

Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap hasil belajar? 3. keterlibatan organisasi. maka rumusan masalah penelitian ini dikonstruksikan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 5. dan pembatasan masalah di atas. D. Apakah keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 6. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 8. hasil belajar pendidikan agama. Apakah lingkungan pendidikan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 27 .mengenai pengaruh kepribadian. Apakah keterlibatan organsiasi berpengaruh langsung terhadap hasil belajar? 4. dan lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama. Apakah hasil belajar berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan? 7. Apakah keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 9. identifikasi. Apakah kepribadian berpengaruh langsung terhadap keterlibatan organisasi? 2. Apakah hasil belajar pendidikan agama berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama? 10. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang.

penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan bagi penyusunan dan pengembangan kurikulum nasional pendidikan agama di perguruan tinggi umum. Pengaruh beragama keterlibatan organisasi terhadap toleransi 9. Bagi Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. yaitu mengkaji: 1. yaitu: 1. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan 28 . Pengaruh keterlibatan organsiasi terhdap hasil belajar 4. Kegunaan Hasil Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi para pihak berkepentingan mengetahui gambaran toleransi mahasiswa berbeda agama perguruan tinggi umum negeri. Pengaruh keprbadian terhdap lingkugan pendidikan 5. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan 6. 2. Bagi Pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama). Pengaruh kepribadian terhada keterlibatan organisasi 2. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama 8. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar 3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah guna menjawab 10 butir rumusan masalah di atas. Pengaruh pendidikan terhadap toleransi beragama F. Pengaruh hasil belajar terhadap pendidikan 7. Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama 10.E.

penelitian ini diharapkan sebagai bahan renungan bersama dan pengetahuan bagi mahasiswa untuk mengembangkan wawasan toleransi beragama di komunitas mereka. penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penyusunan kurikulum lokal pendidikan agama yang berbasis kemajemukan. Bagi Masyarakat. 29 . penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam menyusun model pembinaan keagamaan dalam rangka menciptakan toleransi beragama di kalangan mahasiswa berbeda agama. penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan sosialisasi nilai-nilai kerukunan dan toleransi dalam keluarga dan masyarakat serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bertanggung jawab dalam memberikan penyadaran tentang toleransi beragama.terukur dalam menggali akar masalah intoleransi beragama di kalangan mahasiswa perguruan tinggi umum. penelitian ini juga sebagai pengejawantahan tugas dan fungsi Badan Litbang dan Diklat Dep. Bagi Perguruan Tinggi Umum. 3. Bagi Mahasiswa. 4. Agama untuk menyediakan data bagi pemerintah dalam perumusan kebijakan pendidikan agama di perguruan tinggi umum. 5. Selain itu. Selain itu.

30 .

1.1                                                              1Jalaluddin. lingkungan pendidikan. yaitu sifat kedirian sebagai suatu kesatuan dari sifat-sifat mempertahankan dirinya terhadap sesuatu dari luar (unity and persistance of personality). yang dalam Webters Dictionary dijelaskan sebagai the totality of personality’s characteristic dan an integrated group of constitution of trends behavior tendencies act.BAB II PENYUSUNAN KERANGKA TEORITIK DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A.   S   31 . Psikologi Agama. pengertian dari masing-masing variabel tersebut perlu dijelaskan terlebih dahulu guna menghindari kesalahpahaman terhadap pengertian dan batasan konsep lima variabel penelitian tersebut. Variabel Kepribadian (X1) Disiplin ilmu psikologi menjelaskan bahwa istilah yang dikenal untuk kepribadian bermacam-macam. yang secara konseptual barangkali tidak banyak diketahui. Oleh karena itu. hasil belajar pendidikan agama. sehubungan penelitian ini. adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat berbeda dari orang lainnya. (b) personality. yaitu situasi mental yang dihubungkan dengan kegiatan mental atau intelektual. (c) individuality. hlm. di antaranya adalah: (a) mentality. 191. 2008. keterlibatan organisasi. dan toleransi beragama. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Deskripsi Teoritik ebagaimana telah disinggung pada bab sebelumnya bahwa terdapat lima variabel penelitian. yaitu variabel kepribadian. dan (d) identity.

personalidad) adalah pola perilaku seseorang di dalam dunia.W.H.Personality atau kepribadian berasal dari kata persona yang berarti topeng. David Lykken mengatakan bahwa kepribadian sebagai suatu perangai dan langkah serta semua kekhasan yang membuat orang berbeda dari orang lain. tetapi uraian paling lengkap adalah yang dikemukakan oleh G. minat. May. Hartmann. Thorp. Dikatakan bahwa. emosi. atau persona dalam bahasa Latin yang berarti manusia sebagai perseorangan. sifat. Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang.P. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. Allport. personeidad) adalah akar struktural dari kepribadian. Adapun pribadi yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris person. L. Aspek kepribadian meliputi watak. sikap. dirasakan. Woodworth. yakni alat untuk menyembunyikan identitas diri. Sumber lain melihat. kepribadian merupakan                                                              2Djaali. 2008.2 Hariwijaya menyatakan. pribadi (persona. dan diperbuat yang terungkap melalui perilaku. dan diperbuat. Banyak definisi tentang kepribadian sebagaimana dikemukakan oleh Mark A. sedang kepribadian (personality.   32   . dan C. Di sini muncul gagasan umum bahwa kepribadian adalah kesan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang diperoleh dari apa yang dipikir. Morrison. Psikologi Pendidikan. 3. penyesuaian diri. yang terungkap melalui perilaku. Judd. kepribadian adalah organisasi (susunan) dinamis dari sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan. Gagasan tersebut memberikan gambaran dan kesan tentang apa yang dipikirkan. Secara filosofis dapat dikatakan bahwa pribadi adalah “aku yang sejati” dan kepribadian merupakan “penampakan sang aku” dalam bentuk perilaku tertentu. dirasakan. dan motivasi. diri manusia atau diri orang sendiri.

sosok tubuh. Sedangkan contoh karakteristik mental adalah kebijaksanaan. (d) kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis.kesatuan unik dari ciri-ciri fisik dan mental yang ada dalam diri seseorang. seperti bentuk badan atau ras tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang. 1. dan sebagainya.3 Selanjutnya Wetherington menjelaskan bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (a) manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya. toleransi dan ketekunan. senyum. setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial. terdapat dua unsur pembentuk kepribadian yang saling mempengaruhi. Dengan perkataan lain. Contoh karakteristik fisik misalnya pandangan mata. (b) kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dan keseluruhan itu. (c) kata kepribadian menyatakan ketentuan tertentu saja yang ada pada pikiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang. Hariwijaya. dan (e) kepribadian tidak berkembang secara pasif saja. 2009. Tes Kepribadian. yaitu hereditas (fisik dan mental) dan lingkungan.   33 .   3M. perangai. Berdasarkan elaborasi di atas. maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah perangai atau perilaku yang muncul sebagai akibat interaksi dinamis antara karakteristik fisik dan mental pada diri individu yang berkembang sesuai dengan pendidikan dan lingkungan sosialnya. Kombinasi yang muncul dari keduanya merupakan kepribadian seseorang. Adanya kedua unsur yang membentuk                                                              hlm. Yogyakarta: Media Ilmu.

Billah.5 Berkenaan dengan kepribadian. bebas dan terbuka secara sosial. 282-283. diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Dep. op. Makalah disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII.M. “Tipologi dan Praktek Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia”. keputusan yang diambil lebih ditentukan oleh                                                              4Tipologi (typology) adalah satu skema klasifikatori. tetapi rajin. Denpasar. maka para psikolog cenderung berpendapat bahwa tipologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kepribadian yang unik dan bersifat individu yang masing-masing berbeda.cit. atau peristiwa. oleh karenanya tipologi merupakan satu kategori niskal yang memiliki acuan empirikal. dan cenderung tertutup secara sosial. Carl Gustav Jung menjelaskan bahwa kepribadian dalam individu dapat dibedakan antara dua sisi yang introvert dan extrovert. hati-hati dalam mengambil keputusan.kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi4 dan karakter. 14-18 Juli 2003. suka bekerja sendiri. M. 4. benda-benda. Pada diri yang introvert umumnya memiliki sifat-sifat cenderung menarik diri. sehingga segala minat. Extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian keluar dari dirinya. tenang.   34   . Beranjak dari pemahaman tersebut. sikap. Sebaliknya karakter menunjukkan bahwa kepribadian manusia terbentuk berdasarkan pengalaman dengan lingkungan. pemalu. sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan. hlm. dan suka bekerja kelompok. Individu yang extrovert pada umumnya memiliki ciri-ciri suka berpandangan atau berorientasi keluar. berminat terhadap keanekaan. sigap dan tidak sabar dalam menghadapi pekerjaan yang lamban. Hukum dan HAM RI.   5Jalaluddin. Tipologi lebih ditekankan kepada unsur bawaan. hlm. yang merupakan hasil dari proses mentipekan (typication) yang mengacu pada ciri tipikal kualitas individu atau orang.

Di samping penampakkan umum tersebut.peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Umumnya orang introvert tidak suka diinterupsi apabila sedang bekerja dan cenderung melupakan muka dan nama orang. dan keputusan yang diambil selalu didasarkan perasaan. keduanya masing-masing memiliki kecenderungan ciri stable dan unstable. Pada perkembangan melalui adaptasi maupun intervensi terhadap lingkungan. Minat. kebudayaan. Meskipun demikian. dan agak tertutup secara sosial. mereka tenang. sikap. Adapun tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya. bekerja sendiri. pengambilan keputusan agak terlepas dari kendala dan penelaahan mengenai situasi. sebagian individu mengadakan penyesuaian. rajin. Pada dasarnya orangorang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. aktif. introvert menunjukkan tempat tertutup dan lebih berhati-hati. maka barulah dapat dianggap seseorang mempunyai kepribadian satu dari kedua tipe itu. Pada dasarnya orang yang introvert cenderung pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya dapat dipenuhinya sendiri. sehingga menjadi sifat yang   35 . dan pengalamannya sendiri. serta berupaya untuk mengambil keputusan sesuai dan serasi dengan permintaan dan harapan lingkungan. Meskipun demikian baik extrovert dan introvert hanya merupakan suatu tipe reaksi yang terus menerus. dan ramah tamah. Umumnya mereka sudah senada dengan kebudayaan dan orang-orang yang berada di sekitarnya. suka berteman. dan bila seseorang menunjukkan reaksi semacam itu secara kontinyu atau dengan kata lain reaksi semacam itu lelah menjadi kebiasaan. pemikiran. perorangan atau benda di sekitar mereka.

tenang.7                                                              op. yakni sifat di antara introvert dan extrovert. Sifat perasaannya mudah menyesuaikan diri. dan percaya diri. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pendiam. tidak peduli (acuh tak acuh). yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar selalu merasa kurang puas. dingin hati (tak mudah terharu). 36   . dan (d) Plegmatis. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar periang. dan suka menepati janji. hlm. cenderung beroposisi. (b) Melankolis. optimistis. Teori Kepribadian. sedih. sangat hemat. pesimistis.6 Berbeda dengan Jung. berhati-hati. Bandung: Sekolah Pascasarjana & Remaja Rosdakarya. konsekuen. baik hati. (c) Koleris. hlm. dan tertib/teratur. tidak toleran. pasif. Demkian juga seseorang extrovert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan tetapi percaya diri yang semakin berkurang akan cenderung bergerak ke arah introvert.ambivalen. Sifat lainnya merasa cukup puas. tidak mempunyai banyak minat. tidak mau mengalah. Juntika Nurihsan. netral (tidak ada warna perasaan yang jelas). kurang mempunyai rasa humor. kurang dapat dipercaya karena kurang begitu konsekuen. bereaksi negatif dan agresif. Seseorang yang mempunyai sifat introvert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan serta rasa percaya dirinya yang semakin bertambah akan cenderung bergerak ke arah extrovert.   7Syamsu 6Djaali. dan stabil. Sifat-sifat lainnya mudah tersinggung (emosional). tidak serius.   Yusuf LN dan A. tidak stabil. kurang percaya diri. jauh sebelumnya Galenus membagi secara umum kepribadian manusia menjadi empat kriteria yaitu: (a) Sanguinis. sulit menyesuaikan diri. tidak sabaran. bersifat lambat. Sifat lainnya merasa tertekan dengan masa lalunya. 26. 11-12.cit. suka membuat provokasi. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pemurung. dan banyak inisiatif (usaha). 2008.

memikirkan kegiatan baru. emosional dan demonstratif. Kepalanya penuh dengan rasa ingin tahu. idealis. bahwa emosi orang Sanguinis umumnya menarik. Ia cenderung jenius. gigih dan cermat. Ia sangat menghargai dan menjunjung tinggi keindahan. Ia pandai untuk mempesona dan mendorong orang lain untuk bekerja. Ia akan memendam emosinya demi menjaga harmoni. Ia realistis dalam cita-cita. sadar perincian. mulai dengan cara cemerlang. punya energi dan antusiasme. pandai menghidupkan forum dan punya rasa humor yang hebat. Seorang Sanguinis adalah sukarelawan untuk tugas. standar tinggi. Ciri emosi orang Melankolis adalah pemikir yang mendalam. tampak hebat di permukaan. perfeksionis. Bukan hanya pandai mengontrol emosinya sendiri. suka berkorban. serius dan tekun. ia juga pandai memainkan emosi orang lain. lugu dan polos dalam sikap. Karena itu ia sering dicemburui orang lain. berhati tulus dan kadang kekanak-kanakan. Ia mempunyai daya improvisasi yang tinggi sehingga pintar mencegah saat-saat membosankan dengan kegiatan spontan.Sedangkan Hariwijaya menjelaskan. orang Sanguinis mudah berteman karena ia mencintai orang. Di dalam forum. secara fisik mampu memukau pendengar. hidup di masa sekarang. periang dan penuh semangat. mudah diubah jika memang ada ide yang lebih baik. analitis. meski ia bukan pendendam dan cepat minta maaf jika merasa bersalah. artistik atau musical. Sebagai rekan. Ia adalah orator yang baik di panggung. orang Melankolis berorientasi pada jadwal. serta mampu mengilhami orang lain untuk ikut serta. perasa terhadap orang lain. penuh kesadaran. filosofis dan puitis. Ia mempunyai ingatan kuat untuk warna. berbakat dan kreatif. suka dipuji dan selalu tampak menyenangkan. kreatif dan inovatif. antusias dan ekspresif. pandai bicara. tertib dan terorganisasi. rasa dan gaya. teratur   37 . Di dalam hubungan dengan pekerjaan.

mau bekerja untuk kegiatan. sangat memerlukan perubahan. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zona kenyaman dan bergerak menuju tujuan mereka. mencari pemecahan praktis. melihat masalah secara cermat hingga mendapat pemecahan kreatif. memancarkan keyakinan. Ia fleksibel.dan rapih. bebas dan mandiri. Meski demikian orang Melankolis setia dan berbakti. Seorang Koleris tidak terlalu perlu teman. bisa memecahkan masalah orang lain. dan bisa menjalankan apa saja. Pemimpin yang berjiwa Koleris adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakan orang lain untuk melangkah. bergerak cepat untuk bertindak. progresif memperbaiki kesalahan. Keduanya menguntungkan bagi dia. suka diagram. membuat target. berkembang karena saingan. Ciri emosi orang Koleris berbakat sebagai pemimpin karena ia dinamis dan aktif. melihat seluruh gambaran. unggul dalam keadaan darurat. Kendali emosinya sangat tinggi. terharu oleh air mata penuh dengan belas kasihan. menekankan pada hasil. berorganisasi dengan baik. tidak mudah patah semangat. Ia akan memperoleh banyak pendukung dari teman-teman dekatnya. Emosinya sangat terjaga jika tidak dimulai oleh suatu pelanggaran kode etik yang mengganggu pribadinya. grafik. mau mendengarkan keluhan. mendelegasikan pekerjaan. perlu menyelesaikan apa yang dimulai. tidak emosional bertindak. Ia lebih puas tinggal sebagai orang kedua dalam sebuah organisasi dan menghindari perhatian. mampu bekerja sendiri maupun berkelompok. sangat memperhatikan orang lain. mau memimpin dan mengorganisasi. merangsang kegiatan. daftar. Mereka mampu 38   . Seorang Koleris berorientasi target. Dalam pengeluaran ia ekonomis. Orang melankolis hati-hati dalam berteman. bagan. mencari teman hidup ideal. Salah satu sifat penting orang Koleris adalah disiplin tinggi. biasanya selalu benar dan paling bijak. berkemauan kuat dan tegas.

8 2. hlm. Pengayaan pengalaman ditentukan oleh seberapa besar keinginan seseorang terlibat dalam kegiatan sosialkemasyarakatan. keterlibatan seseorang dalam berorganisasi atau berkelompok. Jalaluddin. Agus Sujanto.membangkitkan gairah. Kesempatan                                                              8M. sebagaimana dikutip Sismarni. Daya tarik ini ditimbulkan oleh adanya interaksi antara sesama organisasi.lppbifiba. Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) Salah satu sikap manusia ditentukan oleh pengalaman. 2008.cit.blogspot.9 Dalam hidup bersama atau berkelompok. Bila seseorang jarang melihat atau berbicara dengan pihak lain. atau bagi mahasiswa. dan Taufik Hadi. Keinginan untuk terlibat dalam organisasi kemahasiswaan sesungguhnya merupakan pemenuhan kebutuhan untuk hidup bermasyarakat (live of society) ataupun kehidupan berkelompok (live of group). “Teori Partisipasi dalam Dinamika Sosial” dalam www. op.     39 . Halem Lubis. Keterlibatan atau partisipasi menurut Soerjono Soekanto merupakan setiap proses identifikasi atau menjadi peserta. 195. Jakarta: Bumi Aksara.cit. op.com. manusia menginginkan penampilannya sebaik mungkin agar dapat memberikan manfaat bagi orang lain. kehidupan kampus melalui kegiatan organisasi kemahasiswaan atau sejenisnya. hlm. antusiasme. hlm. suatu proses komunikasi atau kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu. akan sulit dapat tertarik. 22. Hariwijaya. 118-130. ditentukan oleh adanya daya tarik. Psikologi Kepribadian. Oleh karena itu. dan tindakan para pengikut. Miftah Thoha mengatakan bahwa dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain.   9Soerjono Soekanto (1993: 355).

berinteraksi ini secara langsung mempunyai pengaruh terhadap daya tarik dan pembentukan kelompok. dikemukakan oleh George Hommans yang melihat keterlibatan itu didasarkan pada aktifitas-aktifitas. Kemudian semakin banyak interaksi antara seseorang dengan yang lainnya. Karyawankaryawan suatu organisasi. Menurut Thibaut dan Kelly. Ketiga elemen ini saling berhubungan secara langsung dengan alasan bahwa semakin banyak dilakukan aktifitas seseorang dengan hal yang berhubungan dengan orang lain. keamanan dan sosial. Di samping itu juga. Selanjutnya Thoha menyebutkan keterlibatan juga didasarkan atas alasanalasan praktis (practicalities of group formation). semakin banyak aktifitas yang ditularkan kepada orang lain dan semakin banyak sentimen seseorang dipahami oleh orang lain. Dan yang terakhir. teori persamaan sikap dan teori saling melengkapi. Menurut teori 40   . Teori lain. Menurut teori ini. interaksi-interaksi dan sentimen-sentimen (perasaan ataupun emosi). maka semakin banyak kemungkinan aktifitas dan sentimen yang ditularkan kepada orang lain. Yang terpenting dalam teori ini adalah bahwa kelompok-kelompok itu cenderung memberikan kepuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan sosial yang mendasar dan substansial dari orang-orang yang mengelompok tersebut. misalnya. semakin beraneka interaksinya dan juga semakin kuat tumbuhnya sentimen-sentimen mereka. akan mengelompok atas alasan ekonomi. seseorang tersebut dapat berhubungan dengan orang lain karena adanya kedekatan ruang dan daerahnya (spatial and geographical proximity). keterlibatan itu didasarkan atas teori kedekatan. bahwa terbentuknya suatu organisasi didasarkan atas teori tukar menukar. maka semakin banyak pula kemungkinan ditularkannya aktifitasaktifitas dan interaksi-interaksi.

Kemudian keterlibatan juga untuk memenuhi kebutuhan biologis seperti sandang. Di samping itu. Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya. yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan.10] Sementara itu. seseorang akan mengetahui pendapat orang lain mengenai dirinya termasuk apa yang baik. air. perumahan. pada hakikatnya mempunyai dorongan untuk mengadakan evaluasi terhadap dirinya. Dasar lainnya ialah karena organisasi merupakan mobilitas bagi usaha pencapaian tersebut. menurut Helbert dan Ray keterlibatan seseorang dalam berorganisasi didasarkan pada keinginan untuk memuaskan tujuan-tujuan pribadinya.                                                              10Ibid. Menurut teori tukar menukar ini. Festinger mengatakan bahwa orang yang memasuki suatu kelompok sosial. Dengan memasuki suatu organisasi. interaksi dalam suatu kelompok terjadi dalam proses tukar-menukar antara imbalan (reward) dengan ongkos (cost) dalam setiap terjadinya interaksi. Hal itu akan sulit atau kurang memungkinkan untuk diselesaikan tanpa keterlibatan organisasi.tukar menukar ini. gagasan dan pertimbangannya sesuai dengan kenyataan sosial.     41 . Seseorang selalu mendapatkan imbalan berupa kepuasan atau terpenuhinya sebahagian kebutuhannya. organisasi juga menjadikan seseorang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan atau menyempurnakan barang-barang (dalam arti luas) yang termasuk dalam tujuan pribadi. pangan. Organisasi dapat menuntunnya untuk mencapai cita-citanya yang tidak dapat dicapai dengan sendirian. seseorang menciptakan dan memelihara hubungan antarperorangan karena ia berpendapat bahwa imbalan yang diperolehnya masih lebih besar daripada ongkos yang harus ia keluarkan.

juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok. proses untuk mencapai tujuan tersebut dapat melalui kerjasama dan berfikir secara bersama-sama pula. Sementara itu. selain akan memperoleh informasi berharga. menurut Witch bahwa tertariknya seseorang untuk melakukan interaksi di tentukan oleh prinsip atau asas saling melengkapi (the principle of complementary). Selain itu.                                                              11Ibid. Melalui keterlibatan organisasi. dalam usaha untuk memenuhi kehendak dan kepentingan tersebut. Karena naluri manusia itu ingin hidup bersama atas kehendak dan kepentingan yang tidak terbatas. keterlibatan seorang dalam kelompok didasarkan karena hasratnya untuk bersatu dengan manusia-manusia yang lain disekitarnya. tidak dapat dilakukan sendirian melainkan harus dilakukan secara bersama-sama. Artinya. justru akan mendorong seseorang tersebut untuk mendapatkan yang kurang itu dari orang lain.   42   .udara dan lain-lain guna mempertahankan hidupnya. misalnya. Adanya perbedaan.11 Paparan di atas menggambarkan keuntungan yang dapat diperoleh oleh seseorang bila terlibat dalam organisasi. ide-ide berharga. Menurut Abdulsyani. tetapi justru karena adanya perbedan-perbedaan yang tercipta. Dengan demikian. dalam merasakan kekurangan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. juga untuk mengharapkan sejumlah keuntungan atau kontribusi tertentu dari organisasi dan menyempurnakan tujuan-tujuan tertentu. sehingga akan terwujud saling pengertian dan toleransi antaranggota. Karena itu. tanggapan dan saran. seseorang tertarik untuk mengadakan interaksi bukan karena adanya kesamaan sikap. Para mahasiswa yang terlibat dalam organisasi diasumsikan memiliki cakrawala pandang yang luas dan toleran terhadap orang lain.

  13Israq. 2005. kepandaian atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Kamus Besar Bahasa Indonesia. pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Senat Mahasiswa Fak. (b) ritus (ibadah).12 Definisi lain. “Substansi dan Definisi Pengetahuan” dalam www.13 Sedangkan keagamaan artinya “yang berhubungan dengan agama”. keterampilan. Pengetahuan ini meliputi emosi. akidah. ada dua jenis organisasi kemahasiswaan. 3. persentuhan. yang dalam kaca mata Wade Clark Roof sebagai hasil pengembangan gagasan Durkheim memiliki unsur: (a) kepercayaan (beliefs).     43 . dan lain-lain serta ekstrakampus. Dengan demikian. Jakarta: Balai Pustaka. Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui.com. Badan Eksekutif Mahasiswa.israq.Sedangkan organisasi (organization) artinya sistem disiplin yang mengatur sejumlah manusia dalam melaksanakan usaha sosial atau politik berdasarkan azas-azas dan mengikuti metode-metode yang terarah. informasi. tradisi. seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitar.wordpress. 1121. pengetahuan keagamaan dapat didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang diketahui. dan (c) komunitas moral. Dalam konteks kemahasiswaan. dan lain-lain. dan pikiran-pikiran. yaitu yang bersifat intrakampus seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan. Lembaga Dakwah Kampus. Hlm. kepandaian atau segala sesuatu yang berkenaan                                                              12Tim Penyusun.

Surabaya: Bina Ilmu. ritus. 4. E = 0. C (cukup).   14Bandingkan 44   .14 Dalam konteks pendidikan di perguruan tinggi. dengan penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat kurang maka diasumsikan mempunyai sikap toleransi beragama yang sangat kurang pula. D = 1. Sebaliknya. karena antara aspek kognitif (pengetahuan keagamaan) dan psikomotorik (toleransi beragama) tidak selalu mempunyai hubungan sebab-akibat. penguasaan pengetahuan keagamaan diukur melalui huruf dan angka tertentu. biasanya dalam 5 kategori: A = 4. Sebaliknya. 1987. bila ada mahasiswa memperoleh nilai A maka yang bersangkutan diasumsikan mempunyai penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat baik. dan E (sangat kurang). Artinya. Huruf A diasosiasikan sebagai simbol yang mewakili penguasaan pengetahuan keagamaan yang tertinggi (kategori sangat baik). sebab                                                              dengan pengertian pengetahuan keagamaan menurut Endang Saifuddin Anshari dalam Ilmu. 46. bila mendapat huruf E maka diasumsikan mempunyai penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat kurang. hlm. Banyak faktor---sebagaimana akan diuraikan pada penjelasan tentang toleransi beragama---yang mempengaruhi sikap toleransi beragama seseorang. baru menyusul kemudian peringkat di bawahnya B (baik). D (kurang). Dengan penguasaan pengetahuan keagamaan yang sangat baik maka diasumsikan mempunyai sikap toleransi beragama yang sangat baik pula. dan komunitas moral”. C = 2.dengan agama yang meliputi aspek kepercayaan. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) Memahami lingkungan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan konsepsi pendidikan. Asumsi di atas tentu tidak baku. B = 3. Filsafat dan Agama.

Dalam Dictionary of Education yang dikutip oleh A. kegiatan kependidikan seperti itu antara lain diwujudkan dalam keluarga. Pengantar Ilmu Pendidikan. 1996. pada dasarnya lingkungan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi:                                                              15A.16 Berdasarkan pendapat di atas. sikap dan bentuk tingkah laku lainnya yang berlaku dalam masyarakat di mana ia hidup. dan lembaga pendidikan formal lainnya”. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Mury Yusuf. kemampuan. sekolah/kampus. ditolong dan diarahkan agar mencapai kedewasaannya masing-masing sebagai tujuan. 7. hlm. dan tidak terkait pada organisasi yang lain.pendidikan itu merupakan suatu proses yang berlanjut dan berlangsung dalam bermacam-macam situasi dan lingkungan. Jakarta: Gunung Agung. (2) suatu proses di mana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan terpilih dan terkontrol (misalnya kampus) sehingga ia dapat mengembangkan diri pribadi secara optimum dan kompeten dalam kehidupan masyarakat (sosial). 1985.    45 . oleh Hadari Nawawi dijelaskan bahwa: “Di dalam kegiatan kependidikan sekurang-kurangnya dua orang atau lebih yang masing-masing menjalankan fungsi sebagai pendidik dan si terdidik atau anak yang harus dibantu.  16Hadari Nawawi. Dengan demikian interaksi dalam diri individu dan dengan masyarakat sekitarnya baik dilihat dari segi kecerdasan/ kemampuan. Jakarta: Ghalia Indonesia. hlm. Muri Yusuf. 23. mengatakan bahwa: “Pendidikan itu adalah merupakan (1) suatu proses (sejumlah proses secara bersamasama) perkembangan. minat maupun pengalamannya”15 Sehubungan dengan lingkungan pendidikan. Realita kegiatannya sengaja atau tidak sengaja akan berwujud organisasi atau kegiatan kelompok manusia sebagai suatu sistem yang bersifat tetap berlaku universal.

18 Pentingnya pendidikan anak-anak dalam keluarga sangat menentukan perkembangan anak itu pada fase-fase selanjutnya. rasa keagamaan.cit. Ayah dan Ibu sebagai pimpinan keluarga memberikan suatu konsekuensi berupa tanggung jawab memelihara dan mendidik setiap anak yang dilahirkannya. Mury Yusuf. 62. 18Slameto. a. op. 26. Dengan demikian sebuah keluarga tidak hanya sekadar berstatus sebagai lembaga sosial akan tetapi juga merupakan lembaga pendidikan informal. Tanpa adanya pendidikan anak yang terorganisasi dalam keluarga. Raymond W. (2) berkewajiban meletakkan dasar pendidikan. Di samping itu pula dilengkapi bahwa keluarga perlu meletakkan kerangka berpikir pada diri si anak. lingkungan sekolah. pengetahuan penjagaan pada diri si anak.  46   . Murray menyatakan fungsi keluarga sebagai berikut: (1) kesatuan turunan biologis dan juga kebahagiaan bermasyarakat.lingkungan keluarga. maka anak akan tumbuh dan                                                              17A. hlm. kemauan. dan lingkungan masyarakat (sosial). Lingkungan Keluarga Keluarga adalah unit terkecil di dalam masyarakat yang merupakan persekutuan hidup antarsekelompok orang dan mempunyai kepentingan masing-masing dalam mendidik. hlm. Konsekuensi itu didasarkan pada norma-norma sosial dan norma agama yang menempatkan manusia sebagai makhluk individual.  lot cit. kecakapan berekonomi.”17 Selanjutnya status keluarga sebagai lembaga pendidikan dijelaskan Sutjipto Wirawidjojo dengan pernyataannya: “Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama”. rasa kesukaan pada keindahan. sosial dan bermoral.

baik secara individual maupun sebagai anggota masayarakat. Dari konteks inilah sehingga kampus diimplementasikan sebagai lingkungan pendidikan. Perguruan Tinggi pada prinsipnya merupakan salah satu wadah tempat berlangsungnya pendidikan yang memiliki peranan dan kedudukan sebagai lembaga pendidikan. Oleh sebab itu Perguruan Tinggi dinamakan juga sebagai lembaga atau institusi. Peranan Sekolah/Perguruan Tinggi sebagai institusi dinyatakan sebagai berikut: “peranan sekolah/kampus sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia. Di dalamnya terdapat pengelompokan yang berbeda-beda tetapi merupakan satu kesatuan yang integral sebagai komponen-komponen yang saling berinteraksi. bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada.berkembang secara tidak sewajarnya. Dengan demikian mahasiswa yang mendapat keluarga yang baik akan mampu mengidentifikasikan pola sikap dan tingkah laku yang baik dalam keluarganya dan dalam konteks yang lebih luas (lingkungan sosial). Karena tujuan pendidikannya untuk membina. membimbing dan mengarahkan kepada tujuan suci. tujuan itu harus mengandung nilai-nilai yang serasi 47   . b. Lingkungan Perguruan Tinggi (Kampus) Perguruan Tinggi adalah organisasi kerja sebagai wadah kerjasama sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan. sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun. Kegiatan untuk mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana. yakni terbentuknya mental. terarah dan sistematik guna memncapai tujuan tertentu.

Nawawi. Jakarta: Irjen Dikti Depdiknas. Muhlas. Oleh sebab itu Perguruan Tinggi diharapkan bukan sekadar berfungsi untuk mempertahankan kebudayaan yang ada sesuai dengan martabat manusia yang selalu dituntut dengan kebutuhan yang selalu meningkat. menyatakan bahwa pendidikan memiliki tiga dimensi.20 Berdasarkan uraian di atas. berarti Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab mempersiapkan mahasiswa agar mampu meneruskan sejarah dan tata cara kehidupan manusia sebagai makhluk yang berbudaya.                                                              19Hadari 2009. 27. jangka menengah. 48   . dan dimensi jangka panjang adalah sebagai proses pengembangan budaya. yaitu: dimensi jangka pendek. Dilihat dari sudut sosial dan spiritual Perguruan Tinggi berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan. hlm.”19 Melalui Perguruan Tinggi mahasiswa dipersiapkan menjadi manusia yang memiliki pengetahuan. dimensi jangka menengah diartikan sebagai proses penyiapan sumber daya manusia. op. dan jangka panjang. Dimensi jangka pendek pendidikan diartikan sebagai proses kegiatan belajar mengajar.dengan kebudayaan masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan sebagai lembaga pendidikan.  Pendidikan Profesi Guru. Karena kebudayaan itu bukanlah sesuatu yang statis akan tetapi terus menerus berkembang secara dinamis.cit.  20Muhlas. keteram pilan/keahlian di dalam mengola lingkungannya yang terdiri atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial guna menciptakan berbagai kelengkapan untuk memper mudah dan menyenangkan kehidupannya.

yakni menyediakan pendidikan bukan sekadar tambahan atau pelengkap. (2) substitusi. pelatihan. maka bentuk dan jenis lingkungan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. lingkungan masyarakat adalah lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak.21 Dalam pendapat tersebut di atas terlihat bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat adalah sebagai: (1) komplemen. Lingkungan Masyarakat Menurut A. tingkah laku. organisasi. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dalam membina pribadi anak”. dan kegiatan dalam suatu organisasi kemasyarakatan.c. op. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bentuk dan jenis lingkungan pendidikan tidak bisa                                                              21A. dan agama). Berdasarkan pembahasan di atas. hlm. Muri Yusuf. karena keterbatasan dan kelengkapan lembaga tersebut. Tidak semua ilmu pengetahuan. Misalnya mengadakan kursuskursus. sikap. Mury Yusuf. penerimaan. sebagai akibat belum lengkapnya (mantapnya) apa yang mereka terima dalam sekolah atau dalam keluarga. keterampilan maupun performansi dapat dikembangkan oleh sekolah/kampus ataupun dalam keluarga. yaitu berorientasi untuk melengkapi kemampuan keterampilan kognitif. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yang berarti dalam diri anak apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat.cit.. dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis. dan (3) sebagai suplemen terhadap pendidikan yang diberikan oleh lingkungan yang lain yakni penambahan pengetahuan keterampilan. tetapi mengadakan pendidikan yang sama dengan sekolah. 34    49 . perfomansi seseorang.

22 kata “toleransi” secara etimologis berasal dari bahasa Latin. dan tabah”. p. Pengabaian terhadap masalah ini barangkali dapat membuat pembacaan terhadap toleransi beragama di kalangan mahasiswa itu tidak utuh (bias). hlm. William L. kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. kepercayaan. 1959. W. pandangan. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought. toleransi adalah sifat atau sikap toleran.wikipedia. 1204. membiarkan. dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan”.diabaikan sebagai faktor penting dalam mengukur toleransi beragama di kalangan mahasiswa. mengakui. membetahkan. Poerwadarminta. misalnya toleransi agama (ideologi. 774-775. membolehkan) pendirian (pendapat. 50   . menanggung.J. membiarkan. Webster’s World Dictionary of American Language. p. yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai. New York: The World Publishing Company. budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. mengutip Perez Zagorin. ras. Gularnic.   23www. dan sebagainya).   24Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. menjelaskan bahwa toleransi adalah terminologi yang berkembang dalam disiplin ilmu sosial. New York: Humanity Books.23 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan.. Dalam bahasa Inggris. 799.S. kata itu berubah menjadi tolerance yang berarti “sikap membiarkan. Jakarta: Balai Pustaka. 2005.24                                                              22David G. Reese. tolerare yang berarti “menahan. Wikipedia Ensiklopedia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. kebiasaan.id. Expanded Edition. 1999. 5. Variabel Toleransi Beragama (Y) Dalam Webster’s World Dictionary of American Language.org.

  26A. Toleransi adalah kerukunan dalam perbedaan”. Deklarasi Prinsip-prinsip Toleransi UNESCO menyatakan bahwa “toleransi adalah rasa hormat.com. 702. Lebih lanjut dijelaskan bahwa toleransi ini erat kaitannya dengan masalah kebebasan atau kemerdekaan hak asasi manusia dalam tata kehidupan bermasyarakat. dan Marcus. tasamuh (toleransi) adalah pendirian atau sikap yang termanifestasikan pada kesediaan untuk menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beranekaragam. 1994. Beirut: Maktabah Lubnan. 702. Kamus tersebut juga menggambarkan toleransi sebagai “kemampuan untuk menanggung penderitaan atau rasa sakit”. kata toleransi---mengutip Kamus alMunawir---biasa disebut dengan istilah tasamuh yang berarti sikap membiarkan atau lapang dada. sebagaimana dikutip Saiful Mujani. 1982. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Bandung: Arasy. Binsar A. 1989. 426. Kamus al-Munawir. hlm. yakni                                                                                                                                Kamus Umum Bahasa Indonesia.Dalam bahasa Arab.   25Ahmad Warson Munawir.google. Khaled Abou El Fadl.     51 . penerimaan. Kebebasan Beragama VS Toleransi Beragama. `Ala Abu Bakar. meskipun tidak sependapat dengannya. berbagai bentuk ekspresi diri. Jakarta: Balai Pustaka. Cita dan Fakta Toleransi Islam: Puritanisme versus Pluralisme. hlm. Mu`jam Musthalahat al-`Ulum al-Ijtima`iyat.26Kamus Oxford menegaskan bahwa toleransi adalah kemampuan untuk menenggang rasa atas keyakinan dan tindakan orang lain dan membiarkan mereka melakukannya. sehingga mengizinkan berlapang dada terhadap adanya perbedaan pendapat dan keyakinan dari setiap individu. hlm. dan cara-cara menjadi manusia. www. Hutabarat. Zaki Badawi mengatakan. dan penghargaan atas keragaman budaya dunia yang kaya. Zaki Badawi.25 A. 2006. toleransi didefinisikan sebagai a willingness to “put up with” those things one rejects or opposes. 2003. Pierson. Sullivan. Islam yang Paling Toleran: Kajian tentang Fanatisme dan Toleransi dalam Islam. Yogyakarta: PP Krapyak.

512. atau skeptisisme. Volume 7 and 8 Paul Edwars (New York & London: Macmillan Publisher. Kedua. atau menghormati segala sesuatu yang ditolak atau ditentang oleh seseorang”. hlm. hlm. Kamus Filsafat. praktik atau atribut. dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. melainkan lebih pada sikap hormat terhadap pluriformitas dan martabat manusia yang berbeda. 162. Jakarta: RajaGrafindo Persada.   28J. 2006. “Toleration” in The Encyclopedia of Pholosophy. toleransi adalah satu sikap liberalis. 1996.28 Lorens Bagus menjelaskan.27 J. Public Religion and the Pancasila-Based State of Indonesia mengutip David Little membagi pengertian toleransi dalam dua bagian: Pertama. Muslim Demokrat: Islam. hlm. Paul Edwards. menerima. yang pada awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima. toleransi adalah sikap seseorang yang bersabar terhadap keyakinan filosofis dan moral orang lain yang dianggap berbeda. dalam definisinya yang minimal. dengan ketidaksetujuan. Dengan sikap itu ia juga tidak mencoba memberangus ungkapan-ungkapan yang sah keyakinankeyakinan orang lain tersebut.“kesediaan untuk menghargai. atau tidak mau campur tangan dan tidak mau campur tangan dan tidak mengganggu tingkah laku dan keyakinan orang lain. atau bahkan keliru. dapat disanggah. Kamus Lengkap Psikologi.P. 2007. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm 143. Juga tidak berarti acuh tak acuh terhadap kebenaran dan kebaikan. Chaplin mengatakan. 1111-1112. 1967. dan tidak harus didasarkan atas agnostisisme.   52   .   29Lorens Bagus. tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”. dalam bentuknya yang paling kuat.29 Benyamin Intan dalam bukunya. yaitu “jawaban pada seperangkat kepercayaan. Chaplin. toleransi bisa didefinisikan sebagai “(sebuah) jawaban                                                              27Saiful Mujani. Sikap semacam ini tidak berarti setuju terhadap keyakinan-keyakinan tersebut. Editor in Chief.P. Budaya Demokrasi.

org. seperti hubungan antara kakak dan adik. baik di dalam bagian kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang itu sendiri atau di dalam proses memberi-menerima yang terjadi di antara para pendukung ide-ide yang sedang bertikai. orangtua dan anak. suatu kehidupan yang saling memberi dan menerima. namun tak ada kebersamaan. Yayah Khisbiyah menjelaskan. dengan ketidaksetujuan yang disublimasi. betapapun besarnya ketidaksepakatan yang ada”. Dalam definisi Little yang pertama ada hidup bersama. praktik atau atribut.30 Dengan menggunakan perspektif psikologi sosial. tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”. toleransi adalah kemampuan untuk menahankan hal-hal yang tidak kita setujui atau tidak kita sukai. Toleransi mensyaratkan adanya penerimaan dan penghargaan terhadap pandangan. muncul karena kita tidak bisa atau tidak mau menerima dan menghargai perbedaan. Dengan demikian. serta praktik orang/kelompok lain yang berbeda dengan kita. Intoleransi adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk bertoleran. tetapi juga semangat. Menurut Little. perjuangan dalam bersikap toleran demi hidup bersama yang lebih baik. dalam rangka membangun hubungan sosial yang lebih baik.kepada seperangkat kepercayaan.     53 . hidup bersama itu diwarnai dengan kebersamaan. sesuatu yang membangun.commongroundnews. sedang dalam definisi yang kedua. sikap toleran itu bukan hanya membutuhkan kesadaran. suami                                                              30www. nilai. Kehidupan bersama yang harmonis tentu saja mensyaratkan penerimaan definisi yang kedua. jelaslah. keyakinan. yang awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima. Intoleransi bisa terjadi pada tataran hubungan interpersonal. “ketidaksetujuan yang disublimasi” adalah “ada sesuatu yang bisa dinilai. gairah.

koeksistensi damai itu dapat mengambil bentuk pengaturan politik yang berbeda-beda. tetapi kehadirannya tidak bermakna apa-apa. mengambil pendekatan berbeda ketimbang para pemikir yang sibuk mencari kaidah-kaidah universal. koeksistensi damai kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki sejarah. agama. tidak sekadar mengakui dan terbuka. Soalnya. hlm. Jelas ini tidak cukup dan karenanya dapat dicandra gerak dinamis menuju matra kedua: ketidakpedulian yang lunak pada perbedaan. Surakarta: PSB-PS UMS. dan identitas berbeda---harus selalu diletakkan dalam situasi historis-konkret. atau antarkelompok. yakni matra kelima. 2007. Baginya praktik-praktik toleransi---atau. Pertama. dan ideologi. Menepis Prasangka. Toleransi sebagai suatu sikap. Matra ketiga melangkah lebih jauh: ada pengakuan secara prinsip bahwa sang liyan punya hak-hak sendiri sekalipun mungkin ekspresinya tidak disetujui. 4. menurut Walzer.   31Yayah 54   . Matra keempat bukan saja memperlihatkan pengakuan. Posisi paling jauh dalam kontinum ini. budaya. Di situ sang liyan diakui ada.dan isteri. bangsa. merujuk pada berbagai matra di dalam suatu garis kontinum.31 Penjelasan menarik tentang konsep dan praktik toleransi diungkapkan Walzer. Memupuk Toleransi untuk Multikulturalisme: Dukungan dari Psikologi Sosial. Walzer. misalnya suku. atau setidaknya keingintahuan untuk lebih dapat memahami sang liyan. sebagaimana dikutip Trisno Sutanto. tetapi juga mau mendukung atau bahkan merawat dan                                                              Khisbiyah. antarteman. masing-masing dengan implikasinya sendiri-sendiri. sederhananya. tetapi juga keterbukaan pada yang lain. yang mencerminkan toleransi keagamaan di Eropa sejak abad ke 16 dan 17 adalah sekadar penerimaan pasif perbedaan demi perdamaian setelah orang merasa capek saling membantai.

dan juga tidak boleh ditangani oleh kelompok agama tertentu. membiarkan. tetapi mengizinkan perbedaan itu tetap ada.                                                              32Trisno Sutanto.     55 .merayakan perbedaan. hlm. Secara historis. Dalam masyarakat muslim.   33www.34 Jadi.net. 2007. Kristen. membolehkan kepercayaan.in-christ. yakni Yahudi dan Kristen. “Melampaui Toleransi?: Merenung Bersama Walzer” dalam Ihsan Ali-Fauzi. Demi Toleransi Demi Pluralisme. dkk. hlm. Negara tidak boleh terlibat dalam urusan agama. toleransi secara khusus mengacu pada hubungan antara kaum muslim dan para pengikut agama Semitis lainnya. 346-353.   34Saiful Mujani. dan sebaliknya.cit.33 Toleransi beragama pertama kali ditelaah oleh John Locke dalam konteks hubungan antara gereja dan negara di Inggris. Hubungan antara kaum muslim. meskipun mereka tak disukai. sikap. toleransi merujuk pada sikap dan perilaku kaum muslim terhadap nonmuslim. entah karena alasan estetika-religius (keragaman sebagai ciptaan Tuhan) entah karena keyakinan ideologis (keragaman merupakan tanah subur bagi perkembangan umat manusia). agama yang berbeda itu tetap ada. Jakarta: Paramadina. Toleransi tidak berarti bahwa seseorang harus melepaskan kepercayaannya atau ajaran agamanya karena berbeda dengan yang lain. Toleransi di sini mengacu pada kesediaan untuk tidak mencampuri keyakinan. dan tindakan orang lain. walaupun berbeda dengan agama dan kepercayaan seseorang. toleransi berarti menghargai. op. dan Yahudi sangat rumit dan mengalami pasang surut dari abad ke abad. 32 Dalam hubungannya dengan agama dan kepercayaan. toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau sistem keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain. 159.

dan bekerjasama dalam membangun masyarakat yang harmonis. karena bagaimanapun perbedaan akan selalu ada di dunia ini. semua penganut agama setuju untuk hidup rukun dengan tetap memelihara eksistensi semua agama yang ada. yakni toleransi yang bersifat aktif dan dinamis. prinsip tersebut mengandung pengertian. Hal ini dapat terjadi karena keberadaan dan eksistensi suatu golongan. p. A. Pengakuan tersebut tidak terbatas pada persamaan derajat.35 Dalam toleransi ini semua umat beragama harus berpegang pada prinsip agree in disagreement (setuju dalam perbedaan).36 Perbedaan tidak harus mengakibatkan permusuhan. diakui atau dihormati oleh pihak lain. 1721-1726. ia tidak harus menimbulkan pertentangan. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.   56   . berbuat baik dan adil antarsesama. Jilid XVI. yang diaktualisasikan dalam bentuk hubungan saling menghargai dan menghormati. 1993. baik dalam tatanan kenegaraan. Oleh karena itu. agama atau kepercayaan. toleransi antarumat beragama bukan hanya sekadar hidup berdampingan secara pasif tanpa adanya saling keterlibatan satu sama lain. Ed. Dalam konteks ini. Kent: Burns & Oates. Mukti Ali. toleransi beragama adalah sikap bersedia menerima keanekaragaman dan kebebasan beragama yang dianut dan kepercayaan yang diyakini oleh pihak atau golongan lain. Dengan demikian. rukun dan damai. 384.Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia dijelaskan. melainkan lebih dari itu. Karl Rahner. Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi. tetapi juga perbedaan-perbedaan dalam cara penghayatan dan peribadatannya yang sesuai dengan alasan kemanusiaan yang adil dan beradab. Tunbridge Wells.   36Istilah agree in desagreement dipopulerkan oleh Menteri Agama. Ensiklopedi Nasional Indonesia. 1996. tatanan kemasyarakatan maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. North Farm Road.                                                              35Tim Penyusun. hlm. Wellwood.

hingga menumbuhkan perasaan solidaritas dan mengeliminir egoistis golongan.M. Sedangkan dalam toleransi praktis. aspek kedalaman dari agama itulah yang membuat seseorang lebih toleran terhadap orang lain. dibutuhkan adanya kejujuran. Para penganut agama dapat saling toleran dalam kedua hal itu. 128 Tahun XII/1988. kebesaran jiwa. kedua macam toleransi tersebut dapat bergabung atau terpisah.Sejalan dengan pendapat di atas. tetapi membiarkan praktiknya dan sebaliknya. Dalam toleransi beragama. menurut A. menjalankan ibadat dan praktik keagamaan lainnya dalam kehidupan bermasyarakat.37 Meskipun demikian dalam kaitannya dengan toleransi antarumat beragama. Toleransi dogmatis adalah toleransi yang terbatas atau hanya menyangkut ajaran agama.   37Djohan   57 . Dengan kata lain. sebagaimana dikemukakan Djohan Effendi. Dalam aplikasinya. para penganut agama saling membiarkan dalam mengungkapkan iman. dapat menentang di bidang yang satu. Hardjana. hlm. penghayatan terhadap aspek kedalaman dari agama akan dapat membuat seseorang lebih mampu bersikap menghormati orang lain secara lebih manusiawi. menurut Anwar Harjono. Sebab. Oleh karenanya. No. ada dua hal                                                              Effendi. yaitu toleransi dogmatis dan toleransi praktis. toleransi beragama terdiri atas dua kategori. 29-30. setiap pemeluk agama hendaknya dapat menghayati ajaran agamanya secara mendalam. misalnya ajaran. Hal ini membuat seseorang pada aspek kedalaman dari agama terdapat titik-titik temu yang lebih banyak dari agamaagama. “Persahabatan Lebih Penting Daripada Kesepakatan Formal” dalam Mimbar Ulama. Dalam hal ini para penganut agama tidak saling mengambil pusing akan ajaran agama orang lain. kebijaksanaan dan bertanggung jawab.

Semangat demikian kelihatannya sangat luhur karena didorong oleh motif suci melaksanakan perintah agama yang ganjarannya adalah surga. Jakarta: Gema Insani Press. baik terbuka maupun terselubung. mereka merumuskan apa yang disebut sebagai “hakikat” atau “intisari” agama---jika tidak diwaspadai--bahkan berpotensi pula untuk menegasikan agama yang sesungguhnya. akan mendorong seseorang melakukan pendangkalan terhadap ajaran agama. jika semua orang begitu keyakinan dan perilakunya. Muhammad Ali menjelaskan. yaitu eksklusif dan pluralis. Dicari-carilah persamaan-persamaan di antara agama-agama yang ada. apabila kita terlalu bersemangat menjalankan toleransi sehingga kita menganggap semua agama sama saja. Berdasarkan persamaanpersamaan itu. Guna lebih jelasnya perhatikan skema berikut.yang sama besar bahayanya. yaitu: Pertama. toleran merupakan satu sikap keberagamaan yang terletak antara dua titik ekstrim sikap keberagamaan. Kedua. Akan tetapi. supaya tidak terjebak atau terjerumus kepada bahaya di atas. sama benarnya. apabila kita hanya terpaku kepada tugas-tugas dalam lingkungan agama kita sendiri tanpa menghiraukan hak-hak golongan agama lain. atau sama salahnya. hlm. Oleh sebab itu. dalam menjalankan toleransi setiap umat beragama hendaknya berpedoman kepada prinsip-prinsip yang telah digariskan oleh ajaran agamanya masing-masing.   58   . 153. Indonesia Kita: Pemikiran Berwawasan Iman-Islam. 1995. sehingga siapa saja dijadikan sebagai sasaran penyiaran agama.38 Bahaya pertama akan mendorong seseorang kepada penyiaran agama tanpa mengindahkan peraturan yang ada.                                                              38Anwar Harjono. akibatnya akan terjadi “perang agama” secara permanen. Bahaya kedua.

sambil berusaha memahami. tanpa kehendak memahami. dan menerima kemungkinan kebenaran yang lain. al-Qardhawi mengategorikan toleransi keagamaan dalam tiga tingkatan.   40Ibid. namun masih secara pasif. serta lebih jauh lagi. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. toleransi dalam bentuk hanya sebatas memberikan kebebasan kepada orang lain untuk memeluk agama yang diyakininya. Sebaliknya. namun masih bersifat pasif sebab hanya sekadar membiarkan yang lain (the other). Yakni sikap meyakini kebenaran diri sendiri. tetapi tidak                                                              39Muhammad Ali. Namun demikian. Pertama.40 Yusuf al-Qardhawi berpendapat bahwa toleransi sebenarnya tidaklah bersifat pasif. dan tanpa keterlibatan aktif untuk bekerjasama.xii. Ada yang bersikap toleran: membiarkan yang lain. gesekan. ada mereka yang eksklusif: menutup diri dari (seluruh atau sebagian) kebenaran pada yang lain. Sehubungan hal tersebut. dan tanpa keterlibatan aktif untuk bekerjasama.39 Dari uraian di atas diketahui bahwa kendati toleransi merupakan sikap keberagamaan yang positif. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2003. bahkan konflik antarumat beragama.Eksklusif Toleran Pluralis Pada titik paling kiri. siap bekerja sama secara aktif di tengah perbedaan itu. hlm. tidak toleran (intolerant) merupakan satu sikap yang harus dijauhi karena dapat menimbulkan ketegangan. tetapi dinamis.     59 . menghargai. yaitu sikap pluralis. tanpa kehendak memahami. Bersikap toleran sangat dekat dengan sikap selanjutnya pada titik paling kanan. konsep tersebut tidak mengurangi nilai penting sikap toleran sebagai satu sikap yang sangat penting untuk dimiliki setiap warga negara demi terwujudnya kerukunan umat beragama.

43                                                              41Yusuf al-Qardhawi. toleransi beragama sebenarnya merujuk kepada suatu situasi relasional yang relatif damai di antara berbagai umat beragama yang berlainan. kemudian tidak memaksanya mengerjakan sesuatu sebagai larangan dalam agamanya. 2009. Kedua. memberinya hak untuk memeluk agama yang diyakininya. 1. Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan: Pandangan Kaum Muda Muhammadiyah. maka pertama. skala toleransi beragama sesungguhnya tidak mengalami perubahan yang berarti.   42Resume Studi Toleransi dan Kerentanan Religi di 4 Kota Jawa. secara konseptual dan metodologis. Terlepas dari kegaduhan dan ketegangan yang ditimbulkan oleh aktivitas-aktivitas berbagai kelompok partisan di ranah publik. tetapi penerimaan terhadap perbedaan. hlm. 95-97. Sebab itu berapapun besar dan jauhnya perbedaan tidak menggambarkan kondisi toleransi beragama.42 Hal tersebut berarti. 160. hlm. 2008. tidak mempersempit gerak mereka dalam melakukan hal-hal yang menurut agamanya halal. Malang: UMM Press. Bandung: Mizan. toleransi tidak merujuk kepada perbedaan. Ini seharusnya merujuk kepada salah satu indikator demokrasi yang memungkinkan siapa pun bebas mengekspresikan diri dalam ruang publik. konsep tentang toleransi mengandaikan pondasi nilai bersama sehingga idealitas bahwa agama-agama dapat hidup berdampingan secara koeksistensi harus diwujudkan. Hlm.memberinya kesempatan untuk melaksanakan tugas-tugas keagamaan yang diwajibkan atas dirinya. Ketiga.41 Berdasarkan elaborasi di atas. Kedua.   60   . termasuk penolakannya kepada kelompok beragama lain. dari Labsosio Departemen Sosiologi. Penerjemah Muhammad Baqir. FISIP Universitas Indonesia. Minoritas Nonmuslim di dalam Masyarakat Islam. 1985.   43Biyanto. meskipun hal tersebut diharamkan menurut agama kita. sepanjang mereka tidak benar-benar menolak apalagi menghilangkan eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain.

dan membolehkan pendirian. baik dalam bentuk buku maupun press release yang dimuat di media massa.Berangkat dari beberapa penjelasan mengenai pengertian toleransi beragama tersebut. pandangan. Penelitian tentang toleransi---termasuk toleransi beragama---banyak jenisnya dan bergantung pada pokok masalah dan metodenya. Hasil Penelitian yang Relevan Perhatian para sarjana terhadap isu-isu toleransi beragama di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya cukup intens. maka dapat disimpulkan bahwa toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. membiarkan. lokakarya. keyakinan. kepercayaan. Sebagian besar hasil kegiatan tersebut sudah dipublikasikan secara luas. dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik. menghormati. Penelitian yang layak disebut di sini misalnya penelitian yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat SETARA Institute. Beberapa penelitian berusaha untuk mengukur toleransi masyarakat dengan menentukan indikator yang akan diukur dan dilakukan dengan menggunakan pendekatan survei. Sungguh menarik apa yang diakukan lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini di mana pada tahun 2008 telah mensurvei 800 responden yang dipilih secara acak sistematik. Dalam rangka memperkaya penelitian ini berikut akan disajikan beberapa publikasi dimaksud. Hal itu setidaknya ditunjukkan dengan digelarnya banyak seminar. Sampel dalam   61 . perilaku. dan penelitian yang menjadikan isu toleransi beragama sebagai temanya. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. B.

Kaum muda menganggap sebaiknya urusan agama/keyakinan diatur oleh negara. karena para penyelenggara negara. Pandangan kaum muda muncul oleh karena teladan kontradiktif yang dipraktikkan para penyelenggara negara. Perda-perda.penelitian adalah generasi muda yang berumur 17-22 tahun dengan latar belakang agama majemuk. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 87. Sementara pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan panduan kuesioner. dan keterbatasan teladan dari para penyelenggara negara. disetujui oleh sebagian besar kaum muda. telah membentuk pemahaman kaum muda akan Pancasila mengalami kontradiksi. termasuk partai politik tidak menjalankan fungsinya dengan baik.1% responden tidak menjadikan perbedaan agama dalam berteman sebagai halangan dan 67. Namun demikian. modal sosial toleransi kaum muda sangat kuat. pola indoktrinasi pendidikan kewarganegaraan.5% pada tingkat kepercayaan 95%. Kontradiksi pertama terkait dengan kebolehan negara melakukan intervensi dalam urusan agama/keyakinan. Dengan demikian. toleransi kesalahan (margin of error) penelitian lebih kurang 3. Persetujuan kaum terhadap munculnya peraturan-peraturan daerah yang berbasis agama adalah kontradiksi kedua yang muncul dalam survei ini. merupakan gejala baru yang tidak berbasis pada karakter 62   . Dengan jumlah sampai 800 orang. modal sosial itu tidak berkembang dan terpasung. Minusnya transformasi nilai-nilai Pancasila. Atas fenomena ini penelitian mengkonstatasikan bahwa kecenderungan menurunnya semangat kebangsaan yang direpresentasikan oleh pandangan responden terhadap soal kebebasan beragama/berkeyakinan dan sikap akomodatifnya terhadap perda-perda berbasis agama. yang secara substantif mengancam kebangsaan Indonesia.4% responden dapat menerima fakta perpindahan agama.

Namun demikian. Penelitian mengungkapkan pula bahwa konflik dan kekerasan yang bernuansa agama dipahami oleh kaum muda sebagai sesuatu yang bukan disebabkan oleh faktor kebencian antarumat beragama ataupun karena persaingan ekonomi umat beragama. 2008. Pemicu yang hadir di tengah masyarakat yang bingung akibat tidak adanya panduan berbangsa dan bernegara serta fakta menguatnya fundamentalisme menjadi efektif memantik massa untuk berkonflik. Organisasi-organisasi tertentu yang sering melakukan tindakan kekerasan atas nama agama niscaya akan sulit diterima oleh kaum muda. Sebagian besar kaum muda menilai konflik bernuansa agama dipicu oleh adanya provokasi pihak-pihak tertentu. Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. merupakan pandangan yang membahayakan bagi kaum muda Indonesia. dan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara menunjukkan bahwa sikap pluralisme merupakan sikap yang dominan dimiliki oleh kalangan mahasiswa (55. Fundamentalisme adalah salah satu alat pasung toleransi yang saat ini berkembang. Kategori sikap lainnya.   44Tim   63 . Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional. yaitu non-pluralis yang terdiri atas sikap                                                              Penyusun. pembenaran intervensi negara dalam urusan agama dan persetujuannya terhadap perda berbasis agama. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah). di mana keduanya dianggap tidak bertentangan dengan Pancasila.dasar kaum muda. Hampir tak seorang pun di kalangan kaum muda yang dapat membenarkan atau menerima konflik dan kekerasan atas nama agama.8%).44 Penelitian serupa dilakukan oleh Lucia Ratih Kusumadewi yang mengambil sampel di Universitas Indonesia. Jakarta: SETARA Institute.

misalnya kitab suci dan nabi/rasul. didapat berdasarkan penjumlahan terhadap pengukuran tema-tema toleransi yang dirumuskan. Sedangkan yang berkaitan dengan variabel toleransi beragama di kalangan mahasiswa. Temuan di atas berkaitan dengan variabel sikap keberagamaan di kalangan mahasiswa. anggapan sebagai orang/golongan terpilih. temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki toleransi yang tinggi yaitu sebesar 61. anggapan terhadap kehidupan setelah mati bagi pemeluk agamanya dan pemeluk agama lain serta anggapan terhadap perangkat keagamaannya dari agama lain.7% dan selebihnya sejumlah 38. anggapan terhadap kedudukan ajaran agamanya terhadap nilai-nilai universal. Selanjutnya.inklusif dan eksklusif mendapat angka 44. Tema-tema tersebut adalah toleransi berkaitan dengan hal keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama. perpindahan agama mendapat prosentasi yang sedikit lebih besar (75%) dan kawin beda agama mendapat toleransi yang paling tinggi (85.2%.2%).3% dari 120 responden yang memiliki tingkat toleransi yang rendah. Kesimpulan yang dapat diambil berkaitan dengan data di atas adalah bahwa tema kawin beda agama merupakan tema yang paling dapat ditolerir dibanding perpindahan agama dan keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama. toleransi berkaitan dengan hal perpindahan agama dan toleransi berkaitan dengan hal kawin beda agama. faktor-faktor apakah yang turut mempengaruhi terjadinya kondisi di atas? Kusumadewi telah menentukan 64   . Tema-tema yang menjadi indikator bagi pengukuran sikap adalah sikap terhadap kebenaran ajaran agamanya dan agama lain. Keseluruhan pengukuran terhadap variabel toleransi secara umum itu. Angka yang ditunjukkan untuk toleransi dalam hal keinginan supaya orang lain memiliki sikap yang sama berada pada tingkat toleransi yang tinggi (74.8%).

terdapat juga ekskluisif dan pluralis. Sikap keberagamaan ini sedikit banyak kemudian mempengaruhi terciptanya toleransi pada tingkat tertentu. hlm. Dalam penelitian ini.45 Selanjutnya survei nasional yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2002. Dua di antara banyak dimensi agama yang dapat dilihat adalah ajaran dan institusi agama. Sedang faktor komunitas kampus disimpulkan tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. Agama Islam. Namun karena beragamnya sosialisasi ajaran karena banyaknya aliran pemikiran. Skripsi. kedua hal ini diidentifikasikan dapat melahirkan sikap keberagamaan yang berbeda dan tingkat toleransi yang berbeda pula. mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia (67%) menyatakan kebencian dan karenanya tidak bersedia hidup                                                              Ratih Kusumadewi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa agama adalah faktor dominan yang memiliki andil besar dalam pembentukan sikap keberagamaan setidaknya di kalangan mahasiswa yang diteliti. penjelasan ini setidaknya dapat diajukan. 65-78. Sedang agama Katolik yang memiliki ajaran yang bersifat pluralis dengan struktur institusi yang hirarkis sentralistis menghasilkan sikap cenderung pluralis dalam kelompoknya. 1999.dua faktor yaitu agama dan komunitas kampus. Sikap-sikap keberagamaan yang dimiliki kelompok ini kemudian cenderung inklusif. Jakarta: FISIP-UI. Pada dua agama yang diteliti yaitu Islam dan Katolik. memiliki ajaran yang dekat dengan sifat-sifat inklusifistik dan struktur institusinya tidak terikat.   45Lucia   65 . Kedua hal ini kemudian menimbulkan kondisi sosialisasi agama yang cenderung inklusif dan beragam dalam Islam.

yang selama ini dianggap radikal. satu kultur politik masyarakat yang juga bisa berdampak positif bagi penciptaan demokrasi di Indonesia. mereka yang tidak keberatan jika orang Kristen menjadi guru di sekolah umum juga kurang dari separuhnya (42%). Islam dan God Goverment. Survey yang melibatkan 1200 responden yang dipilih secara random lewat metode multistage random sampling dengan                                                              46Saeful Mujani. Dalam hal ini kultur politik masyarakat Indonesia tidak begitu mendukung. selanjutnya Yahudi (7%) dan Kristen (3%). bersama Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal tentang orientasi sosial politik Islam pada tahun 2004. Pada umumnya masyarakat menyatakan bahwa setiap orang harus hati-hati terhadap orang lain.berdampingan dengan kelompok sosial-politik dan keagamaan lain khususnya komunis. kalau orang Kristen melakukan kebaktian di daerah sekitar tempat tinggal responden (31%). persentase persetujuan tampak meningkat (40%). Begitu pula gambaran serupa terjadi menyangkut saling percaya sesama warga (interpersonal trust). Anggota masyarakat yang membolehkan orang Kristen menjadi Presiden hanya 22%. Hanya 29% yang menyatakan selalu atau sering percaya pada orang lain. Khusus menyangkut hubungan dengan kaum Kristen. Hasilnya terdapat cukup banyak warga Indonesia yang setuju dengan kegiatan aktivis Islam. Proporsi ini sangat besar. 2002. Di samping itu.  66   .46 Survey lain dilakukan kembali oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. dan menunjukkan masih tipisnya budaya kewargaan kalau dilihat sisi saling percaya sesama warga. jangan mudah percaya (86%). dan jika di lingkungan tersebut didirikan gereja. Jakarta: PPIM IAIN Syarif Hidayatullah. kondisi kurang toleran bisa dijelaskan sebagai berikut.

Data hasil penelitian itu menunjukkan 18% responden. Sedangkan dalam hal tingkat toleransi terhadap Kristen-Katolik. Dari hasil penelitian. seperti merazia tempat judi. Selain itu ada 2% yang pernah ikut merazia tempat-tempat maksiat dan 2% lainnya. proporsi laki-laki dan perempuan. data menunjukkan ada sekitar 6% responden dalam 5 tahun terakhir yang pernah ikut dalam kegiatan boikot produk atau jasa yang bertentangan dengan Islam. kemudian pelarangan bunga bank. setuju kegiatan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI). hukum rajam. Hasil survey lain yang juga menarik adalah sikap para responden terhadap agenda Islamis dan tingkat toleransi terhadap Kristen-Katolik. Bahkan ada sekitar 16% responden yang mendukung aksi pengeboman sebagai bentuk pembelaan terhadap Islam. yang dianggap menindas umat Islam di dunia. 5% mendukung kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memperjuangkan diterapkannya Syariat Islam. poligami. soal tindakan yang dilakukan aktivis Islam. dan hukuman potong tangan. Pe-   67 . serta 13% setuju dengan Jamaah Islamiyah (JI) melakukan tindakan kekerasan terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. pernah terlibat dalam kegiatan demonstrasi sebagai bentuk solidaritas. dan kegiatan maksiat atau hiburan malam di Bulan Ramadhan. nyaris separuh responden setuju bahwa masyarakat Nasrani tidak boleh melakukan kebaktian di lingkungan yang mayoritas beragama Islam dan separuh responden juga tidak setuju bila orang Kristiani membangun gereja di lingkungan muslim. meliputi sikap masyarakat terhadap aturan di mana perempuan tidak boleh jadi presiden. Data menunjukkan ada sekitar 40% responden yang setuju dengan agenda Islamis. 15% masyarakat responden mendukung kegiatan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). dan proporsi populasi di seluruh propinsi.terlebih dahulu menetapkan proporsionalitas populasi yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan.

nelitian ini juga mengukur tingkat pendidikan masyarakat dengan pengaruh dukungan terhadap aktivis muslim. dan (c) faktor-faktor penghambat adanya toleransi dan solusi untuk menghadapi adanya hambatan toleransi di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung-Bali. semakin tinggi pendidikan seseorang. Kesimpulannya. Saiful Mujani menganalisis bahwa cukup banyak di antara masyarakat muslim Indonesia yang terlibat dalam aktivitas Islamis. (b) faktor-faktor penghambat adanya sikap toleransi di Kamung Lebah Kabupaten Klungkung Bali. Masyarakat muslim Indonesia terbelah dalam mensikapi agendaagenda Islami dan itu ternyata cukup membuat banyak kaum muslim bersikap tidak toleran kepada umat Kristiani.47 Penelitian yang mencoba melihat hubungan antara Islam dan agama lain dengan pendekatan kualitatif pernah pula dilakukan. sifat-sifat serta karakteristik yang khas dari kasus. 12 November 2004  68   . Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang merupakan studi kasus di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung Bali. meski bukan menjadi kekuatan mayoritas. seperti yang dilakukan oleh Nurhayati berjudul Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung. Bali. makin besar kemungkinannya untuk setuju dengan kegiatan aktivis Islam. Hal tersebut memperlihatkan adanya dukungan yang cukup luas terhadap kelompok-kelompok Islamis. Pendekatan yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut adalah pendekatan studi kasus yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Pengumpulan data pada                                                              47“Umat Islam Indonesia Dukung Radikallisme” dalam Harian Tempo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (a) bentuk-bentuk toleransi antar umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung-Bali.

  48Nurhayati. toleransi pada saat hari raya. dan adanya kegiatan-kegiatan yang melibatkan antara umat Islam dan Hindu. Kecamatan Ceper. serta toleransi generasi muda dalam pergaulan. Kabupaten Klaten.   69 . Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) apa yang menjadi faktor terciptanya toleransi antara umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran. Sumberdata diperoleh dari informan yang terdiri dari: masyarakat Muslim dan Hindu serta para pemuka agama baik Islam maupun Hindu. Kabupaten Klaten. adanya sistem kekerabatan antara umat Islam dan Hindu. Bali. Desa Pasungan. Sedangkan solusi dalam menghadapi hambatan tersebut dengan diberlakukannya hukum adat atau yang biasa disebut dengan awig-awig. 2005. Dalam proses penelitiannya peneliti menggunakan field research yang terdiri dari data primer yaitu sumber utama penelitian ini adalah                                                              Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. adanya ajaran dalam agama Hindu yang menguatkan mereka untuk bersikap toleransi. Adapun faktorfaktor pendukung adanya toleransi yaitu. Penghambat adanya toleransi berupa. Skripsi. kecemburuan sosial yang terjadi antara penduduk asli dengan pendatang dan adanya krisis moralitas remaja. Desa Pasungan. wawancara dan dokumentasi.48 Penelitian sejenis dengan penelitian di atas dilakukan oleh Anis Faranita Dhanik Rachmawati berjudul Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. Melalui penelitian tersebut akhirnya diketahui bentuk-bentuk toleransi antarumat beragama khususnya Islam dan Hindu berupa toleransi dalam hal suka dan duka.penelitian ini menggunakan metode observasi. (2) seberapa jauh umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran memahami makna toleransi. Kecamatan Ceper.

Kecamatan Ceper. (2) bagaimana sikap atau pandangan mereka terhadap toleransi beragama. Sumber                                                              Faranita Dhanik Rachmawati. Selain itu dipengaruhi pula oleh faktor eksternal yaitu faktor keluarga dan faktor lingkungan masyarakat. Metode dalam pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan metode: (1) observasi. dan observasi. 2006. Skripsi. dan (3) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi sikap toleransi beragama di antara mereka. dan faktor pengetahuan. (3) dokumentasi. Penelitian tersebut menemukan: (1) faktor-faktor yang mempengaruhi terciptanya toleransi antara umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran adalah terdiri dari faktor internal yaitu faktor keimanan. (2) bahwa umat Islam dan Katolik di Dukuh Kasaran memahami betul tentang toleransi antarumat beragama. Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. Semarang: IAIN Walisongo. Pokok persoalan yang dibahas adalah: (1) bagaimana kehidupan beragama di kalangan komunitas Slankers Semarang.tokoh-tokoh agama dan masyarakat di Dukuh Kasaran. dan (4) angket. Kabupaten Klaten.49 Penelitian lainnya berjudul Toleransi Beragama Di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi BASIS Slankers Club oleh Teguh Setyawan. (2) interview. Desa Pasungan. faktor pengalaman keagamaan. masyarakat Dukuh Kasaran dapat hidup berdampingan secara damai.   49Anis 70   . Toleransi yang terbentuk pada masyarakat Dukuh Kasaran adalah berupa amalanamalan dan perbuatan yang bersifat positif yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama. Di dalam pengumpulan data digunakan metode interview. angket. Sebagai data pendukung yaitu buku-buku yang berkaitan dengan masalah tersebut. rasa tanggung jawab. dan selalu mengedepankan aspek toleransi dalam segala hal.

Pada dasarnya anggota Slankers menerima sikap toleransi. berdasarkan hasil pengisian angket dan interview dengan anggota BASIS Slankers Club. puasa. Bentuk toleransi beragama di antara mereka adalah berbentuk seperti amalan-amalan yang dilakukan atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat agamis.   71 . hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap saling menghormati dan menghargai. karena dipengaruhi oleh tingkat keimanan dan ketaqwaan seseorang kepada Tuhannya. SMU). Mereka tidak pernah membeda-bedakan teman yang berbeda agama apalagi berkelahi gara-gara beda keyakinan/agama. Walaupun dalam menjalankannya tidak selalu mulus. yang tergabung dalam organisasi BASIS Slankers Club. tidak menggunakan atau memakai narkoba dan ibadah lainnya (kebaktian). Dengan keterbukaan di antara mereka maka toleransi akan muncul dengan sendirinya. Kristen 5 orang dan Katolik 5 orang.data diperoleh melalui wawancara terhadap 20 orang informan yang terdiri atas: Islam 10 orang. Anggota yang tergabung dalam organisasi ini adalah rata-rata berasal dari kalangan anak muda. karena mereka selalu menerima siapa saja yang mau menjadi anggotanya. Mahasiswa dan pekerja. menunjukkan adanya kehidupan beragama yang dapat dikatakan baik. Sasaran penelitian adalah komunitas Slankers Semarang. Sedangkan mengenai sikap atau pandangan komunitas Slankers Semarang terhadap toleransi beragama di antara mereka. tidak memandang dari mana asalnya atau agama yang diyakininya. yang terdiri dari pelajar( SMP. Sebuah komunitas yang jelas keberadaannya dan diresmikan oleh Slank pada tanggal 12 Februari 2005 di Hotel Graha Santika Semarang. Mengenai kehidupan beragama di antara mereka. Di organisasi BASIS Slankers Club dalam merekrut anggotanya menggunakan pola terbuka. Hal ini ditandai dengan mereka mau menjalankan perintah agamanya seperti: shalat.

yang mengasumsikan bahwa manusia diperlukan sebagai abstrak yang menduduki status dan peran yang membentuk lembaga-lembaga atau struktur sosial dan secara implisit manusia sebagai pelaku yang memainkan                                                              Setiawan. Depok. pengalaman keagamaan yang dimiliki oleh setiap anggota Slankers serta pemahaman dan pengetahuan tentang Slank. Faktorfaktor yang mempengaruhi sikap toleransi di antara mereka. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi. Unity dan Respect).50 Penelitian berikutnya dilakukan oleh Fathurrahman berjudul Toleransi Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. Yogyakarta. Sedangkan faktor ekstern (lingkungan di mana anggota Slankers bersosialisasi dengan sesamanya) adalah nilai-nilai PLUR (Peace. wawancara. dan dokumentasi dengan pendekatan emik yaitu upaya memahami fenomena sosial dengan pemahaman dunia pelakunya sendiri. Toleransi Beragama di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi Basis Slankers Club. Love. Teori yang digunakan adalah fungsionalisme struktural yang dikonstruksikan oleh Robert K. Skripsi. Faktor intern (dari diri anggota Slankers) seperti: pengetahuan yang ada pada diri Slankers. seperti yang pernah diungkapkan oleh para agamawan dan cendekiawan. Desa Catur Tunggal. Semarang: IAIN Walisongo. Merton. 2007. pada intinya mereka tahu tentang toleransi walaupun belum menyamai wacana toleransi yang sesungguhnya.   50Teguh 72   . ada dua faktor yaitu: faktor intern dan ekstern. Penelitian ini berusaha mengungkapkan tentang bagaimana interaksi sosial antara pengguna jasa dengan para penyedia jasa kos yang beda agama dan bagaimana model (bentuk) toleransi yang dibangun oleh penyedia dengan pengguna jasa kos beda agama. Sleman.Pandangan para Slankers mengenai toleransi.

Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Skripsi. Depok. Sleman.Toleransi   73 .51 Penelitian menarik terkait toleransi dilakukan pula oleh YAPPIKA. dan ini juga yang diadopsi oleh para pendatang (pengguna jasa kos). sebuah Aliansi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Demokrasi. 2008. Desa Catur Tunggal. sesuai dengan norma-norma atau aturan-aturan masyarakat. penelitian ini menganalisis sejauhmana aktor-aktor masyarakat sipil dan organisasi masyarakat sipil (OMS) Indonesia mempraktikkan dan mempromosikan toleransi dalam aktivitas mereka sehari-hari. yaitu dalam rangka mengukur Indeks Masyarakat Sipil Indonesia (IMSI).                                                              Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. Pendekatan dan metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut dikembangkan oleh organisasi masyarakat sipil tingkat internasional CIVICUS (World Alliance for Citizen Participation) yang berkantor di Johannesburg. untuk itu masalah-masalah yang bersifat ketuhanan (suci) merupakan hak mutlak bagi setiap individu akan tetapi masalah-masalah yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan merupakan tanggung jawab bersama. Hasil dari penelitian ini adalah terbentuk (terwujudnya) toleransi beragama yang ada di Dusun Papringan karena adanya nilai budaya setempat yakni ewuh pakewuh yang diwarisi kepada setiap individu secara turun-temurun. Afrika Selatan. Penelitian ini merupakan subbagian dari agenda penelitian yang lebih besar. dengan biaya dari ACCESS (Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme). Dengan nilai budaya ini maka melahirkan kebebasan bagi setiap individu untuk memeluk agama menurut keyakinannya masing-masing. Berkenaan dengan subbagian toleransi. yang dilakukan antara akhir tahun 2005 hingga pertengahan tahun 2006.ketentuan-ketentuan yang telah dirancang sebelumnya.   51Fathurrahman. Yogyakarta.

Sementara sangat menarik bahwa hampir sepertiga (30%) responden menyatakan tidak tahu atau tidak bersedia menjawab pertanyaan yang diajukan. dan gender. Hanya sekitar seperlima yang berpendapat bahwa kekuatan tersebut ada (16%) atau signifikan (5%). Hasilnya. Kode etik yang disepakati sekitar 250 LSM pada tahun 2002 misalnya secara tegas menyatakan bahwa LSM adalah lembaga nonsektarian dan membebaskan dirinya dari prasangkaprasangka atas dasar segala perbedaan. Pada tingkat masyarakat. termasuk agama. pada umumnya kalangan OMS menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan mempraktikkannya dalam aktivitas sehari-hari. tidak dapat disangkal bahwa ada kekuatan-kekuatan dalam arena masyarakat sipil yang kurang toleran terutama dalam perbedaan agama seperti yang mengakibatkan terjadinya perusakan rumah ibadat agama minoritas Kristen/Katolik maupun terhadap pemeluk Islam Ahmadiyah. diskriminasi dan tidak toleran hampir tidak pernah ditemukan dalam pemberitaan media mengenai aktivitas Ornop. ras. Berkenaan dengan aksi 74   .Ada dua indikator yang digunakan untuk mengukurnya. Namun demikian. diskriminatif atau tidak toleran tersebut tidak signifikan atau hanya terbatas. toleransi dalam arena masyarakat sipil. yakni toleransi dalam arena masyarakat sipil dan aktivitas OMS dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi. suku. Sikap-sikap seperti rasis. golongan. RSS (Regional Stakeholder Survey) 2006 mengungkapkan bahwa hampir separuh responden (49%) berpendapat bahwa kekuatan-kekuatan dalam masyarakat yang secara eksplisit menunjukkan kecenderungan rasis. Kalau pun ada sifatnya sangat marginal dan akan dikecam komunitas OMS yang lain. adanya prasangka-prasangka atas dasar agama dan etnis tampaknya masih cukup tinggi yang ditandai dengan terjadinya kekerasan-kekerasan sosial di beberapa daerah di Indonesia. seks.

Survei                                                              52Tim Peneliti. Laporan Hasil Survei Pengetahuan. Meskipun OMS Indonesia cukup aktif dalam mempromosikan toleransi di dalam masyarakat. 21% dapat menunjukkan beberapa contoh dan 7% dapat menunjukkan banyak contoh. hasilnya dirasakan masih belum signifikan. Surakarta dan Cianjur) pada tahun 2006. Sikap dan Perilaku Stakeholders terhadap Organisasi Masyarakat Sipil. Juga terdapat OMS yang secara khusus mengkaji dan mempromosikan kerjasama antaragama dalam masyarakat Indonesia. 90-91. RSS 2006 menemukan bahwa hampir dua pertiga responden berpendapat bahwa mereka dapat mengingat contoh-contoh kampanye publik ataupun aktivitas OMS yang ditujukan untuk mempromosikan toleransi. 2006. Jakarta: YAPPIKA. Salah satu contoh yang banyak dikemukakan adalah perlunya meningkatkan toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia. Sebanyak 42% menyatakan bahwa mereka dapat menunjukkan satu atau dua contoh. Sebanyak 41% responden berpendapat bahwa peran OMS dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi tersebut cukup (35%) atau signifikan (7%). Tim Peneliti. Di Indonesia ada beberapa OMS yang khusus bekerja untuk menghapuskan diskriminasi rasial. Sementara yang berpendapat bahwa peran tersebut terbatas atau tidak signifikan dinyatakan oleh 45% responden. Indeks Masyarakat Sipil Indonesia.masyarakat sipil untuk mempromosikan toleransi. sejumlah OMS Indonesia menempatkan promosi toleransi sebagai bagian dari kegiatan pokok mereka. Survei organisasi peace building tahun 2002 menemukan bahwa 129 (27%) dari 465 OMS yang disurvei menyatakan bahwa mempromosikan toleransi dan pluralisme dalam masyarakat merupakan salah satu dari lima kegiatan utama yang mereka lakukan dalam dua tahun terkahir (2000-2002).     75 . 2006.52 Survei lain dilakukan oleh Tim LIPI di tiga daerah (Bogor. Jakarta: LP3ES dan YAPPIKA. hlm.

Jakarta: LIPI.4%.6%) yang mendukung. Praktik silaturrahmi dengan nonmuslim di hari besar keagamaan mereka. 2007.3% tidak bersikap. dan sisanya 6.9%.2%) tidak mendukung.9% pada tingkat kepercayaan 95%. sementara sebagian besar (72.7%. Ed. Sampel akhir yang valid dan dianalisis sebanyak 1.   53Muhammad 76   .2006. Proporsi responden yang membolehkan ucapan salam (assalamu`alaikum) kepada nonmuslim sangat kecil (8. sementara mereka yang tidak membolehkan mencapai angka 85. yang antara tanggal 23-27 Januari 2006 melakukan suvei opini publik tentang toleransi sosial masyarakat Indonesia. Secara umum bisa dikatakan bahwa kesediaan muslim Indonesia untuk hidup sejajar dengan pemeluk agama lain masih rendah. misalnya terhadap praktik memberi ucapan selamat kepada pemeluk agama lain yang merayakan hari besar keagamaan mereka. proporsi dukungan responden adalah 38. hanya sebagian kecil responden (15.173                                                              Hisyam. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Aman Konflik. Idem. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik.9% untuk praktik silaturrahmi di luar hari besar keagamaan nonmuslim. 4-5. Namun proporsi tersebut meningkat menjadi 59.53 Penelitian toleransi yang tidak boleh dilewatkan adalah apa yang telah dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI). Jakarta: LIPI.200 orang responden yang ditentukan dengan metode multistage random sampling yang tersebar di 33 propinsi dengan toleransi kesalahan (margin of error) sebesar lebih kurang 2.0%).menunjukkan bahwa sebagian kalangan muslim Indonesia masih memiliki persoalan menyangkut proses konsolidasi demokrasi. Persentase tersebut konsisten dengan jawaban responden yang mendukung gagasan bahwa sebaiknya kaum muslim hanya berteman dekat dengan orang yang sama-sama memeluk agama Islam saja. yakni 40. hlm. Survei dilakukan terhadap 1.

Survei ini menetapkan bahwa sikap toleransi dan pandangan tentang pluralisme masyarakat Indonesia diukur dalam dua dimensi. yakni dimensi sosial keagamaan dan dimensi sosial politik.7%). Sedangkan   77 . namun toleransi dengan orang yang berbeda agama lebih rendah (hanya 80-an %). ditanyakan juga kesediaan mereka untuk membiarkan pihak yang berkeyakinan beda untuk melaksanakan dan membangun sarana ibadat.3%). dan semakin rendah terhadap pihak lain yang dianggap memiliki orientasi dan perilaku seks yang berbeda seperti kaum waria (61. meskipun tidak mayoritas (pihak yang menyatakan tidak keberatan sebanyak 38. Temuan tentang toleransi sosial kemasyarakatan yang ditunjukkan dari hasil survei ini menunjukkan pola yang sangat menarik. Khusus tentang toleransi beragama.7%). Indikator yang diukur dalam dimensi sosial keagamaan adalah: bagaimana kesediaan masyarakat untuk hidup bertetangga dengan orang lain yang berbeda (the other) baik dari agama dan etnis. Dalam hal toleransi terhadap orang yang berbeda agama untuk melaksanakan dan membangun rumah ibadat mereka dalam lingkungan di sekitar responden. sikap terhadap perjuangan hak oleh kelompok lain. dan pandangan terhadap kebudayaan barat. kelompok lain. Meski secara umum masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cukup toleran.7%) dan homo seks (43.1%). Temuan lain menyatakan: warga non-muslim di Indonesia memandang masyarakat muslim Indonesia pada umumnya sangat toleran terhadap mereka (78. Selain itu. hal sangat terlihat dalam toleransi hidup bertetangga dengan orang lain yang berbeda etnis (di atas 90-an %). survei ini juga mengungkap derajat social trust dalam masyarakat Indonesia. pihak yang menyatakan keberatan cukup besar (42.orang responden. Sedang yang diukur dalam dimensi sosial politiknya adalah: pandangan masyarakat terhadap orang lain.

rata-rata mereka punya kecenderungan sikap eksklusif dan intoleran. Dari beberapa penelitian di atas diketahui pula bahwa banyak faktor yang mendorong sikap toleran tetapi tidak sedikit pula yang mendorong sikap intoleran. Kesimpulan ini didukung pula oleh hasil penelitian Kasinyo Harto yang setelah dibukukan berjudul Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang. Salah satu penyebab intoleransi adalah paham keagamaan yang cenderung tertutup (eksklusif) sebagai akibat pengajaran doktrin keagamaan yang menekankan tentang kebenaran tunggal.untuk pelaksanaan kegiatan keagamaan/kebaktian yang menyatakan tidak keberatan cukup besar (48%) dan yang menyatakan keberatan hanya 36. yakni kebenaran Islam kelompok sendiri.54 Beberapa penelitian di atas cukup bisa memberi gambaran bahwa sikap toleransi sangat diperlukan oleh masyarakat guna menciptakan harmonisasi antarumat beragama. Hasil penelitiannya berkesimpulan bahwa perilaku sosial kelompok-kelompok keagamaan di UNSRI terhadap masyarakat muslim mainstream. tidak cukup disukai keberadaannya. salah satunya berusaha mengungkapkan perilaku sosial-keagamaan para aktivis gerakan Islam fundamentalis di UNSRI. Harto melalui penelitiannya ini. Jakarta: LSI. Sebaliknya sikap intoleran bisa mengancam terciptanya harmonisasi antaraumat beragama. Kuatnya doktrin keagamaan mereka memunculkan keyakinan akan kebenaran tunggal.   78   . apalagi dengan non-muslim. Kelompok atau gerakan yang tidak                                                              54Tim Peneliti. Survei Opini Publik: Toleransi Sosial Masyarakat Indonesia.7%. 2006. Data tersebut dapat dipahami bahwa keberadaan rumah ibadat sebagai simbol adanya umat agama tertentu di suatu wilayah.

Konflik dan kekerasan sering mewarnai perkembangan Islam dan Kristen di Indonesia. hlm. yakni: eksklusif (exclusive) dan inklusif (inclusive). Cara pandang ini menurut Husein menimbulkan sikap tidak toleran (intolerance) terhadap keberadaan agama lain.56 Sekadar mempertegas definisi eksklusivisme                                                              55Mujiburrahman. Muslim eksklusif memiliki keyakinan Islam sebagai agama terakhir untuk mengoreksi (kesalahan) agama lain. 215.55 Kesimpulan bahwa sikap keberagamaan yang terbuka (inklusif) cenderung membuat orang toleran dan sikap keberagamaan yang tertutup (eksklusif) cenderung membuat orang intoleran merupakan kesimpulan penelitian Fatimah Husein. Muslim inklusif bersikap lebih terbuka terhadap kelompok agama lain.sepaham dipersepsikan sebagai golongan yang tersesat dan harus didakwahi agar kembali ke jalan yang benar. Steenbrink. 2008. Pengantar Karel A.     79 . relasi antara Islam dan Kristen tidak bisa dilepaskan dari cara pandang masing-masing pemeluk agama tersebut terhadap agamanya sendiri maupun agama kelompok lain. Mengindonesiakan Islam: Representasi dan Ideologi. Sedangkan Muslim inklusif memiliki keyakinan bahwa Islam merupakan agama yang benar. 2008. Meskipun begitu. Dalam pandangan Husein.   56Kasinyo Harto. Dengan cara pandang ini. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Muslim-Christian Relations in the New Order Indonesia: The Exclusivist and Inclusivist Muslim Perspectives (2005). Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang. mereka tidak menegasikan agama di luar Islam yang juga dapat memberikan keselamatan (salvation) bagi pemeluknya. Dalam studinya Husein mengungkap dua cara pandang dominan di kalangan Muslim yang mempengaruhi relasi Islam dan Kristen. Hubungan Muslim dan Kristen yang menjadi fokus studi Husein merupakan topik penting sekaligus sensitif. Jakarta: Balitbang dan Diklat Depag.

sigap dan tidak sabar dalam menghadapi pekerjaan yang lamban. dan suka bekerja kelompok. tenang. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. Pengruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Kepribadian dalam individu dapat dibedakan antara dua sisi yang introvert dan extrovert. Sebaliknya seseorang yang mempunyai kepribadian introvert cenderung tertutup secara sosial dan suka bekerja sendiri sehingga tidak senang terlibat dalam sebuah kelompok atau organisasi. bebas dan terbuka secara sosial. dan ramah tamah. hati-hati dalam mengambil keputusan. suka berteman. Pada diri yang introvert umumnya memiliki sifat-sifat cenderung menarik diri. pemalu. dia akan senang terlibat dalam sebuah kelompok atau organisasi karena keterlibatan nya dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain dan bekerja kelompok. dan cenderung tertutup secara sosial. Kerangka Berpikir 1. C. aktif. tetapi rajin. Mengapa ada yang berpandangan eksklusif. Sebaliknya individu yang extrovert pada umumnya memiliki ciri-ciri suka berpandangan atau berorientasi keluar. sedangkan agama dan kepercayaan lain salah. suka bekerja sendiri. berminat terhadap keanekaan. Dengan seseorang mempunyai kepribadian extrovert. sementara lainnya inklusif? Apakah cara pandang tersebut dipengaruhi oleh doktrin agama? Dari hasil penelitian Kasinyo Harto di atas sikap eksklusif dan inklusif sangat dipengaruhi doktrin keagamaan yang dikonstatasi oleh kelompoknya.dari Husein. Berdasarkan 80   . yakni sikap keagamaan yang menganggap bahwa satu-satunya agama yang benar hanya agama dan keyakinan yang dipeluknya. perlu dikutip juga penjelasan Joseph Runzo (2003) apa yang disebut dengan religious exclusivism.

emosi. Kepribadian juga merupakan kesatuan unik dari ciri-ciri fisik (pandangan mata.uraian di atas. toleransi dan ketekunan). senyum. penyesuaian diri. dan sebagainya) dan mental yang ada dalam diri seseorang ( kebijaksanaan. sifat. Aspek kepribadian meliputi watak. sosok tubuh. atau bagi mahasiswa melalui kegiatan   81 . sikap. Kombinasi yang muncul dari keduanya merupakan kepribadian seseorang. 3. emosi. dan motivasi. dapat di duga bahwa terdapat pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organsiasi. sikap dan motivasi) yang baik maka akan memiliki hasil belajar pendidkan agama yang tinggi karena termotivasi untuk memperdalam pelajaran agama. yang terungkap melalui perilaku. 2. dirasakan. Jadi di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama. Pengayaan pengalaman ditentukan oleh seberapa besar keinginan seseorang terlibat dalam kegiatan sosialkemasyarakatan. minat. sifat. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar Salah satu sikap manusia ditentukan oleh pengalaman. dan diperbuat. Berdasarkan uraian di atas. penyesuaian diri. Gagasan tersebut memberikan gambaran dan kesan tentang apa yang dipikirkan. Di sisi lain hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah pengetahuan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidikan agama. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang. perangai. dapat di lihat bahwa seseorang yang memiliki kepribadian (watak.

aktif. Sebaliknya pada tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat introvert akan menciptakan lingkungan yang tertutup dan individualis. Dengan memasuki suatu organisasi. Pada intervensi 82   perkembangan melalui terhadap lingkungan. Dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berorganisasi adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain Di sisi lain orang yang memasuki suatu kelompok sosial. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organsiasi terhadap hasil belajar pendidikan agama 4. cenderung pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya dapat dipenuhinya sendiri. Umumnya mereka sudah senada dengan kebudayaan dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Berkenaan dengan kepribadian. pada hakikatnya mempunyai dorongan untuk mengadakan evaluasi terhadap dirinya. yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan termasuk dalam hal pengetahuan agama islam. adaptasi sebagian maupun individu . dan ramah tamah. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert akan menciptakan lingkungan yang terbuka dan saling menghargai. orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. serta berupaya untuk mengambil keputusan sesuai dan serasi dengan permintaan dan harapan lingkungan.organisasi kemahasiswaan atau sejenisnya. suka berteman. seseorang akan mengetahui pendapat orang lain mengenai dirinya termasuk apa yang baik.

Karena itu. proses untuk mencapai tujuan tersebut dapat melalui kerjasama dan berfikir secara bersama-sama pula. Dengan demikian. Kesempatan berinteraksi ini secara langsung mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kelompok. tidak dapat dilakukan sendirian melainkan harus dilakukan secara bersama-sama. tetapi justru karena adanya perbedan-perbedaan yang tercipta. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan. Adanya   83 . Karena naluri manusia itu ingin hidup bersama atas kehendak dan kepentingan yang tidak terbatas. Keterlibatan seorang dalam kelompok didasarkan karena hasratnya untuk bersatu dengan manusia-manusia yang lain disekitarnya. Demkian juga seseorang extrovert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan tetapi percaya diri yang semakin berkurang akan cenderung bergerak ke arah introvert. sehingga menjadi sifat yang ambivalen. Seseorang yang mempunyai sifat introvert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan serta rasa percaya dirinya yang semakin bertambah akan cenderung bergerak ke arah extrovert. 5.mengadakan penyesuaian. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan. Di sisi nlain seseorang tertarik untuk mengadakan interaksi bukan karena adanya kesamaan sikap. dalam usaha untuk memenuhi kehendak dan kepentingan tersebut. yakni sifat di antara introvert dan extrovert. Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya dan gagasannya sesuai dengan kenyataan social yang ada di lingkungan kampus atau masyarakatnya. Dasar pokok yang amat penting atas keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok adalah kesempatannya untuk berinteraksi dengan pihak lain.

Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan Pengetahuan keagamaan adalah segala sesuatu yang diketahui. misalnya. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan. sehingga akan mempengaruhi lingkungan kampus yang lebih nyaman dan jauh dari gejolak akibat perbedaan pendapat. justru akan mendorong seseorang tersebut untuk mendapatkan yang kurang itu dari orang lain. ide-ide berharga. karena 84   . diharapkan dapat mengembangkan pribadi mahasiswa secara optimum dan kompeten dalam kehidupan di lingkungan keluarga. dan komunitas moral. Melalui keterlibatan organisasi. ritus. Hasil belajar Pendidikan agama yang meliputi aspek kognitif (pengetahuan keagamaan) dan psikomotorik yang di miliki mahasiswa. Dalam lingkungan keluarga. hasil belajar pendidikan agama yang di dapat mahasiswa diharapkan dapat memberikan suatu konsekuensi berupa tanggung jawab memelihara norma-norma sosial dan norma agama.perbedaan. selain akan memperoleh informasi berharga. dalam merasakan kekurangan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. kampus dan masyarakat (sosial). juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok. kepandaian atau segala sesuatu yang berkenaan dengan agama yang meliputi aspek kepercayaan. tanggapan dan saran. Paparan di atas menggambarkan keuntungan yang dapat diperoleh oleh seseorang bila terlibat dalam organisasi. 6. Hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah kemampuan pendidikan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidika agama.

pesimistis. Di sisi lain toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pemurung. aktif. dan (d) Plegmatis. suka berteman. pandangan. (b) Melankolis. tidak toleran. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar pendiam. (c) Koleris. Begitu juga melalui Perguruan Tinggi. dan ramah tamah. Sifat-sifat lainnya mudah tersinggung (emosional). optimistis. netral (tidak ada warna perasaan yang jelas). 7. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan. dan banyak inisiatif (usaha). cenderung beroposisi. dan stabil. diharapkan hasil belajar pendidikan agama yang dimiliki mahasiswa dapat berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan beragama di lingkungan kampus.   85 . bereaksi negatif dan agresif.. dan membolehkan pendirian. keyakinan. dan percaya diri. Pada dasarnya orang-orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan menerima masukkan dari pihak luar. kurang percaya diri. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi agama Secara umum kepribadian manusia menjadi empat kriteria yaitu: (a) Sanguinis. tidak mau mengalah.. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar periang. yaitu seseorang yang mempunyai sifat dasar selalu merasa kurang puas. suka membuat provokasi. sedih. tidak sabaran. tenang. kurang mempunyai rasa humor. menghormati. Adapun tipe introvert kecenderungan seseorang untuk menarik dari dari lingkungan sosialnya.sebuah keluarga tidak hanya sekadar berstatus sebagai lembaga sosial akan tetapi juga merupakan lembaga pendidikan informal. membiarkan.

sehingga akan terwujud saling pengertian dan toleransi antar anggota. dalam rangka membangun hubungan sosial yang lebih baik. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama. Melalui keterlibatan organisasi. dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik.kepercayaan. Intoleransi 86   . nilai. Dengan demikian orang-orang yang bersifat ekstrovert biasanya lebih mempunyai toleransi beragama yang baik karena sifatnya yang lebih terbuka secara sosial dan berminat terhadap keanekaan termasuk menerima keaneka ragaman agama yang ada di sekitar lingkungan dari pada orang-orang yang bersifat introvert yang cederung lebuh menarik diri dari lingkungan. Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama Keterlibatan seseorang dalam kehidupan berkelompok akan memberikan kesempatan berinteraksi dengan pihak lain. perilaku. gagasan dan pertimbangannya sesuai dengan kenyataan social. Tertariknya seseorang untuk melakukan interaksi di tentukan oleh prinsip atau asas saling melengkapi (the principle of complementary). keyakinan. Toleransi mensyaratkan adanya penerimaan dan penghargaan terhadap pandangan. Melalui interaksi dalam organisasi itulah ia dapat mengetahui apakah pendapatnya. tanggapan dan saran. Toleransi adalah kemampuan untuk menahankan hal-hal yang tidak kita setujui atau tidak kita sukai. ide-ide berharga. juga dapat memperkecil kesalahpahaman antarindividu dan kelompok. selain akan memperoleh informasi berharga. serta praktik orang/kelompok lain yang berbeda dengan kita. 8.

antarteman.adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk bertoleran. Intoleransi bisa terjadi pada tataran hubungan interpersonal. diharapkan mahasiswa mempunyai penghayatan terhadap aspek kedalaman dari agama sehingga dapat membuat mahasiswa lebih mampu bersikap menghormati orang lain secara lebih manusiawi. Oleh karenanya. bangsa. Dengan kata lain. aspek kedalaman dari agama itulah yang membuat seseorang lebih toleran terhadap orang lain.   87 . misalnya suku. dan ideologi. Dalam toleransi beragama. setiap pemeluk agama hendaknya dapat menghayati ajaran agamanya secara mendalam. muncul karena kita tidak bisa atau tidak mau menerima dan menghargai perbedaan. atau antarkelompok. kebijaksanaan dan bertanggung jawab. suami dan isteri. 9. Dari hasil belajar pendidikan agama yang dimiliki. kebesaran jiwa. Hal ini membuat seseorang pada aspek kedalaman dari agama terdapat titik-titik temu yang lebih banyak dari agama-agama. orangtua dan anak. agama. dibutuhkan adanya kejujuran. hingga menumbuhkan perasaan solidaritas dan mengeliminir egoistis golongan. seperti hubungan antara kakak dan adik. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama. Pengaruh hasil belajar terhadap toleransi beragama Hasil belajar Pendidikan agama adalah sejumlah kemampuan pendidikan agama pada ranah kognitif setelah menerima pengalaman belajar dalam jangka waktu tertentu berdasarkan tujuan pembelajaran dan hasilnya dapat dilihat nilai tes pendidika agama.

Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh hasil belajar organisasi terhadap toleransi beragama.Dalam toleransi ini semua umat beragama harus berpegang pada prinsip agree in disagreement (setuju dalam perbedaan). Dengan demikian. dan bekerjasama dalam membangun masyarakat yang harmonis. yakni toleransi yang bersifat aktif dan dinamis. sebab pendidikan itu merupakan suatu proses yang berlanjut dan berlangsung dalam bermacam-macam situasi dan lingkungan. rukun dan damai. Dalam konteks ini. toleransi antarumat beragama bukan hanya sekadar hidup berdampingan secara pasif tanpa adanya saling keterlibatan satu sama lain. melainkan lebih dari itu. prinsip tersebut mengandung pengertian. dan lingkungan masyarakat (sosial). karena bagaimanapun perbedaan akan selalu ada di dunia ini. Tujuan 88   . Perbedaan tidak harus mengakibatkan permusuhan. Pada dasarnya lingkungan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi: lingkungan keluarga. berbuat baik dan adil antarsesama. lingkungan sekolah. 10. Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama Memahami lingkungan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan konsepsi pendidikan. Di sisi lain pendidikan adalah suatu proses di mana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan terpilih dan terkontrol (misalnya kampus) sehingga ia dapat mengembangkan diri pribadi secara optimum dan kompeten dalam kehidupan masyarakat (sosial). yang diaktualisasikan dalam bentuk hubungan saling menghargai dan menghormati. semua penganut agama setuju untuk hidup rukun dengan tetap memelihara eksistensi semua agama yang ada. Oleh karena itu. ia tidak harus menimbulkan pertentangan.

Kegiatan untuk mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana. tujuan itu harus mengandung nilai-nilai yang serasi dengan kebudayaan masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan sebagai lembaga pendidikan.pendidikan di keluarga. berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan. penerimaan. sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun. terarah dan sistematik guna mencapai tujuan tertentu. Peranan Sekolah/Perguruan Tinggi sebagai institusi dinyatakan sebagai berikut: “peranan sekolah/kampus sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia. dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis. Dengan demikian mahasiswa yang mendapat keluarga yang baik akan mampu mengidentifikasikan pola sikap dan tingkah laku yang baik dalam keluarganya sehingga muncul sikap saling toleran masing-masing anggota keluarga. dilihat dari sudut sosial dan spiritual. dan agama). yakni terbentuknya mental. Berdasarkan pembahasan di atas. bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada. baik secara individual maupun sebagai anggota masyarakat. tingkah laku. Pengabaian terhadap masalah ini barangkali dapat membuat pembacaan terhadap toleransi beragama di kalangan mahasiswa itu tidak utuh   89 . Dengan demikian pendidikan di Perguruan Tinggi. organisasi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bentuk dan jenis lingkungan pendidikan tidak bisa diabaikan sebagai faktor penting dalam mengukur toleransi beragama di kalangan mahasiswa. maka bentuk dan jenis lingkungan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap.

(bias). Kepribadian berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 5. Lingkungan pendidikan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 90   . maka hipotesis penelitian ini adalah: 1. Hasil belajar pendidikan agama berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 10. Berdasarkan uraian di atas di duga terdapat pengaruh lingkungan belajar terhadap toleransi beragama D. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka berpikir di atas. Kepribadian berpengaruh langsung terhadap keterlibatan organisasi 2. Keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 6. Kepribadian berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 8. Keterlibatan organsiasi berpengaruh langsung terhadap hasil belajar 4. Keterlibatan organisasi berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama 9. Kepribadian berpengaruh langsung terhadap hasil belajar 3. Hasil belajar berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan 7.

Universitas Diponegoro. mulai dari tahap persiapan. yaitu Universitas Indonesia. baik laten maupun manifes. Universitas Udayana. P Penelitian ini. diseminasi hasil penelitian. Desember 2009. Universitas Gadjah Mada.d. dan Universitas Nusa Cendana. Heterogenitas itu diasumsikan berpotensi memunculkan konflik bernuansa agama atau etnis di kalangan mahasiswa. Universitas Padjadjaran. Lokasi dan Waktu Penelitian enelitian berlokasi di 7 perguruan tinggi umum negeri. (2) karena prestasinya tersebut. sehingga secara otomatis mahasiswanya heterogen dari sisi agama dan etnis. membutuhkan waktu kurang lebih 4 bulan yaitu dari bulan September s. pengolahan hasil penelitian. (3) 7 universitas tersebut diduga mempunyai kegiatan intra dan ekstra kampus yang cukup baik sehingga dapat membantu membentuk karakter mahasiswa yang tidak semata-mata pandai secara akademis tetapi juga baik sosialisasinya di masyarakat. 91 .BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Alasan dipilihnya 7 universitas tersebut sebagai lokasi penelitian adalah: (1) selama ini 7 universitas tersebut menjadi ajang perebutan bagi para mahasiswa baru menuntut ilmu karena dianggap berkualitas baik secara akademis maupun sosial sehingga menghasilkan sumber daya manusia mahasiswa atau lulusan yang kompetitif. pelaksanaan. 7 universitas tersebut mempunyai mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. dan pelaporan. Universitas Hasannuddin.

yang juga berfungsi sebagai dasar dalam penyusunan instrumen penelitian dalam bentuk kuesioner. Teknik ini dipergunakan untuk menganalisis hubungan antara 4 (empat) variabel bebas (independent variable). keterlibatan organisasi (X2). Survei cross-sectional hanya ingin memotret pendapat atau perilaku masyarakat pada satu periode waktu tertentu. hlm. yaitu toleransi beragama (Y). analisis korelasional dan analisis jalur (path analysis). Survei cross-sectional tidak punya maksud membuat perbandingan atau melihat perubahan pendapat dan perilaku. Imam Chourmain. dan lingkungan pendidikan (X4) dengan 1 (satu) variabel terikat (dependent variable). seperti gambar berikut X1 X3 Y X2 X4 1 Eriyanto dkk.2 Berdasarkan konsep. Metode Penelitian dengan Analisis Jalur (Metode Path Analysis). yaitu kepribadian (X1). 2007.p. 2009.A.   2 M. Jakarta: AROPI. hasil belajar pendidikan agama (X3).1 Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. dan pandangan dari berbagai pakar. Model Hipotesis penelitian berbentuk pengaruh kausal (sebab akibat) sesuai dengan model teori yang digunakan. Teknik analisis data dengan menggunakan metode analisis deskriptif.B.S. 8. Jakarta: t. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei cross-sectional yaitu survei yang dirancang untuk sekali waktu. Bagaimana Merancang dan Membuat Survei Opini Publik.                                                                92 . dalam setiap variabel penelitian telah dibangun konstruk dan indikator. teori.

Konghucu) di fakultas eksakta seperti teknik. DI Yogyakarta (Universitas Gadjah Mada). Kristen. ilmu komputer). kedokteran umum. filsafat. kepribadian juga diasumsikan mempengaruhi toleransi beragama melalui keterlibatan organisasi. C. 93 . MIPA. ekonomi.Keterangan: X1 = Kepribadian X2 = Keterlibatan organsiasi X3 = Hasil Belajar PA X4 = Lingkungan pendidikan Y = Toleransi beragama Dari skema di atas dapat dijelaskan bahwa variabel kepribadian. Sulawesi Selatan (Universitas Hasanuddin). hukum. hasil pendidikan agama mempengaruhi toleransi beragama melalui lingkungan pendidikan. keterlibatan organisasi. lingkungan pendidikan. keguruan. dan Nusa Tenggara Timur (Universitas Nusa Cendana). yang terdapat di perguruan tinggi tersebut. Bali (Universitas Udayana). pertanian. Jawa Tengah (Universitas Diponegoro). psikologi. Buddha. Hindu. kesehatan masyarakat. ilmu budaya. Populasi dan Sampel Populasi target dalam penelitian ini adalah mahasiswa perguruan tinggi umum negeri di wilayah DKI Jakarta (Universitas Indonesia). farmasi. perikanan. Katolik. dan fakultas sosial seperti ilmu sosial dan politik. Selain itu. hasil belajar pendidikan agama. Jawa Barat (Universitas Padjadjaran). kehutanan. lingkungan pendidikan. kedokteran gigi. lingkungan pendidikan diasumsikan mempengaruhi secara langsung toleransi beragama. hasil belajar pendidikan agama. keterlibatan organisasi mempengaruhi toleransi beragama melalui hasil belajar pendidikan agama. Sedangkan populasi terjangkaunya adalah mahasiswa yang berbeda agama (Islam.

Dari hasil pelacakan melalui internet diketahui bahwa mahasiswa Universitas Indonesia sebesar 40.Sampel penelitian secara keseluruhan sebanyak 610 mahasiswa dan penentuan sampel dilakukan dengan teknik purposive dengan perincian sebagai berikut: Perguruan Tinggi Jumlah Sampel Universitas Indonesia 100 Universitas Padjadjaran 80 Universitas Diponegoro 81 Universitas Gadjah Mada 98 Universitas Hasanuddin 101 Universitas Udayana 80 Universitas Nusa Cendana 70 610 Jumlah Tabel 1.000-an orang. Universitas Padjadjaran sebanyak 45.000-an orang. Universitas Udayana sebanyak 18. yaitu variabel 94 . proyeksi 100 responden diberikan kepada Universitas Hasanuddin.000-an orang.000-an orang. Universitas Gadjah Mada 45. Instrumen Penelitian Penyusunan instrumen penelitian didasarkan pada “matrik pengembangan instrumen” dan “kisi-kisi instrumen” yang merujuk kepada 5 variabel yang diukur.000-an orang.000-an orang. Sampel Responden Penetapan jumlah masing-masing responden universitas sebesar itu ditentukan setelah melihat jumlah mahasiswa keseluruhan dari masing-masing universitas.000-an. Dari data tersebut mestinya Universitas Padjadjaran memperoleh 100 responden. dan Universitas Nusa Cendana sebanyak 15. D. Universitas Diponegoro sebanyak 28. namun karena pertimbangan keterwakilan wilayah Timur. Universitas Hasanuddin sebanyak 30.

Metode Penelitian Kuantitatif. Kisi-kisi Tabel 3. Sanguinis. 3. hasil belajar pendidikan agama. dan toleransi beragama. Kisi-kisi Instrumen Variabel Kepribadian (X1) No. keterlibatan organisasi. Dimensi Ekstrovert atau introvert. c. 1. introvert. koleris. hlm. Definisi Operasional Kepribadian adalah skor yang diperoleh dari instrumen kepribadian dengan indikator yang mengukur temperamental seseorang apakah ia tergolong ekstrovert. 5. Definisi Konseptual Kepribadian adalah perangai atau perilaku yang muncul sebagai akibat interaksi dinamis antara karakteristik fisik dan mental pada diri individu yang berkembang sesuai dengan pendidikan dan lingkungan sosialnya. Variabel Kepribadian (X1) a.1. 2008. 8. Nomor Soal 13 14 15 16 17 Jumlah Jumlah Butir 15 15 15 15 15 75                                                              Sugiyono. 4. b. Bandung: Alfabeta. Melankolis.   3 95 . melankolis. Plegmatis.3 1. lingkungan pendidikan.kepribadian. sanguinis. Kualitatif dan R & D. 2. berdasarkan instrumen yang sudah baku. dan plegmatis. Koleris.

Dalam hal ini. Kisi-kisi Tabel 3. Instrumen variabel kepribadian diadaptasi dari instrumen uji kepribadian yang sudah baku dilakukan oleh kalangan psikolog. Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) a. b. 23. 22.2. setelah instrumen dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu. Dime Nomor Soal Jumlah nsi Butir 1. Definisi Operasional Keterlibatan organisasi adalah skor yang diperoleh dari instrumen keterlibatan organisasi dengan indikator yang mengukur kuantitas dalam pengetahuan organisasi. maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli. Definisi Konseptual Keterlibatan organisasi adalah setiap proses identifikasi. 25 6 3. Kisi-kisi Instrumen Variabel Keterlibatan Organisasi (X2) No. komunikasi atau kegiatan bersama individu atau kelompok dalam organisasi. kualitas dalam kegiatan organisasi. c. 24. 28 3 Jumlah 11 96 . pengambilan keputusan di organisasi. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konstruksi instrumen variabel kepribadian dilakukan dengan menggunakan pendapat dari ahli (judgment experts). Keterlibatan 20. Kedudukan 19 1 2. 27. 21. kedudukan dalam organisasi. dan manfaat organisasi. Manfaat 26. Pengetahuan 18 1 2. 2.d.

d. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen keterlibatan organisasi dengan cara mengonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. Selanjutnya, untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. Hasil uji coba instrumen keterlibatan organisasi diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 4 butir pernyataan tidak diterima. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 7 butir. Adapun pernyataan 4 butir yang ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian ini adalah, yaitu nomor 22, 25, 26 dan 27. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0.877. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel keterlibatan organisasi adalah instrumen final yang terdiri atas 7 butir. 3. Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) a. Definisi Konseptual Hasil belajar pendidikan agama adalah prestasi akademik yang diperoleh mahasiswa dalam mata kuliah pendidikan agama di perguruan tinggi. 97

b. Definisi Operasional Hasil belajar pendidikan agama adalah skor yang diperoleh dari instrumen pengetahuan agama dengan indikator yang mengukur prestasi akademik mata kuliah pendidikan agama. c. Kisi-kisi Tabel 3.1. Kisi-kisi Instrumen Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3) No. Dimensi Nomor Butir Jumlah 1. Nilai 29 1 Jumlah 1 d. Validitasi Instrumen

Validitasi instrumen dilakukan dengan membandingkan antara pengakuan responden dan hasil belajar yang dikeluarkan oleh pihak fakultas yang bersangkutan. 4. Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) a. Definisi Konseptual Lingkungan pendidikan adalah tempat di mana individu atau kelompok mendapatkan pengaruh konsepsional dan perilaku terhadap pandangan atau aturan tertentu yang kemudian menjadi pandangan dan perilaku dirinya. b. Definisi Operasional Lingkungan pendidikan adalah skor yang diperoleh dari instrumen lingkungan pendidikan dengan indikator yang mengukur pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat (sosial) terhadap toleransi beragama.

98

c. Kisi-kisi Tabel 4.1. Kisi-kisi Instrumen Variabel Lingkungan Pendidikan (X4) No. 1. Dimensi Keluarga Nomor Butir Jumlah 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 18 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 10 55, 56, 57 58, 59, 60, 61 4 Jumlah 32

2. 3.

Kampus Masyarakat.

d. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen variabel lingkungan pendidikan dengan cara mengkonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. Selanjutnya, untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. Hasil uji coba instrumen keterlibatan organisasi diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 23 butir pernyataan tidak diterima. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 9 butir. Adapun pernyataan 23 butir yang ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian 99

dan membolehkan pendirian. 42. 45. 58. yaitu nomor 30. Definisi Konseptual Toleransi beragama adalah kesadaran seseorang untuk menghargai. 5. perilaku. Variabel Toleransi Beragama (Y) a. kepercayaan. serta memberikan ruang bagi pelaksanaan kebiasaan. b. 53. keyakinan agama. 34. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel keterlibatan organisasi adalah instrumen final yang terdiri atas 9 butir.877. 32. 33. pandangan. 59 dan 61. 41. 54. dan kerjasama sosial. 57. membiarkan. 46. 48. Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. 51. penghormatan terhadap pelaksanaan ritual dan pendirian rumat ibadat. 44. dan praktik keagamaan orang lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri dalam rangka membangun kehidupan bersama dan hubungan sosial yang lebih baik. 100 . 56. 35. menghormati. 43. 47.ini adalah. keyakinan. Definisi Operasional Toleransi beragama adalah skor yang diperoleh dari instrumen toleransi beragama dengan indikator yang mengukur kebebasan beragama. 31. 37.

99. Kisi-kisi Instrumen Variabel Toleransi Beragama (Y) No. 105. 73. 106 Jumlah 45 d. Adapun pernyataan 7 butir yang 101 . 66. 97. 84. 101. 7 80. 94. 2. 8 67. Kisi-kisi Tabel 3. 81 25 82. 90. 98. 104. 71. 95. 83. 72. 100. 69 70. Selanjutnya. 63. Dimensi 1. 3. 88. 87. 103. 89. 64. 76. 86. untuk melihat validitas internal dilakukan analisis terhadap hasil uji coba instrumen. 92.5. 93. 68. 4. Validitasi Instrumen Penentuan validitas konten/konstruk untuk instrumen toleransi beragama dengan cara mengonsultasikan instrumen yang telah disusun kepada para ahli. 96. 91. 74 5 75. 78. Kebebasan beragama. 65. Keyakinan agama Ritual dan pendirian rumah ibadat Kerjasama sosial Nomor Butir Jumlah 62. 77. 85. Dari hasil uji coba yang dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa berbeda agama dan fakultas yang berbeda ternyata diperoleh 7 butir pernyataan tidak diterima.c. 102. Hasil uji coba instrumen toleransi beragama diolah dengan menggunakan program excell untuk melihat validitas internal setiap butir pernyataan secara keseluruhan dari instrumen tersebut dengan cara menghitung koefisien korelasi skor setiap butir dengan skor total. 79. Butir pernyataan yang diterima pada instrumen keterlibatan organisasi dapat digunakan dalam penelitian (valid) sebanyak 38 butir.

Selanjutnya dari perhitungan dengan menggunakan komputer program excell diperoleh hasil bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai (Alpha Cronbach) sebesar 0. Statistik deskriptif tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran karakteristik penyebaran skor setiap variabel yang diteliti dengan menghitung nilai rata-rata (mean). median. E. Teknis Analisis Data Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. yaitu nomor 62. 65. 79. dan 84. dan histogram. Dengan demikian instrumen yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data penelitian variabel toleransi beragama adalah instrumen final yang terdiri atas 38 butir. 68. 66.87. standar deviasi. Selanjutnya skor setiap variabel yang diperoleh dari hasil penelitian diklasifikasi menurut kategori berikut: Variabel Kepribadian Ekstrovert-Introvert 26-30 sangat luar biasa ekstrovert 9-12 agak ekstrovert 22-25 Sangat ekstrovert 5-8 sangat intrivert 18-21 Agak ekstrovert 0-4 sangat luar biasa introvert 13-17 Seimbang Sanguinis 26-30 sangat luar biasa sanguinis 9-12 Sedikit sanguinis 22-25 Sangat sanguinis 5-8 Tidak begitu sanguinis 18-21 Di atas Rata-rata 0-4 Bukan sanguinis 13-17 Rata Rata 102 .ditolak sehingga tidak digunakan dalam penelitian ini adalah. 64. Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan butir yang valid sesuai dengan hasil uji coba. frekuensi.

Melankolis 26-30 sangat luar biasa artistik 9-12 Dibawah rata rata 22-25 Sangat artistik 5-8 Tidak begitu artistik 18-21 agak artistik 0-4 tidak artistik 13-17 Rata Rata Koleris 26-30 Imajinasi yang kuat 9-12 Dibawah rata rata 22-25 Imajinasi yang bagus 5-8 kekurangan imajinasi 18-21 Agak imajinatif 0-4 tidak punya imajinasi 13-17 Rata Rata Plegmatis 26-30 luar biasa asertif 9-12 sangat lembut 22-25 sangat asertif 5-8 Tenang 18-21 Agak aserif 0-4 Sangat tenang 13-17 lembut Variabel Keterlibatan Organisasi Kurang terlibat apabila skor: 0 -20 Cukup terlibat apabila skor: 21 – 40 Terlibat apabila skor: 41 – 60 Sangat terlibat apabila skor: 61 – 80 Variabel Hasil Belajar Pendidikan Agama A = 4, B = 3, C = 2, D = 1, dan E = 0 Variabel Lingkungan Pendidikan Kurang kondusif apabila skor: 9 – 18 Cukup kondusif apabila skor: 19 – 27 Kondusif apabila skor 28: – 36 Sangat Kondusif apabila skor: 37 – 45

103

Variabel Toleransi Beragama Rendah apabila skor: 39 – 78 Sedang apabila skor: 79 – 117 Baik apabila skor: 118 – 156 Baik sekali apabila skor: 157 – 195 Analisis selanjutnya adalah dengan statistik inferensial (induktif), yaitu teknik analisis jalur. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan analisis data yang terdiri dari uji normalitas galat taksiran dan uji homogenitas varians. Pengujian normalitas galat taksiran masing-masing dilakukan terhadap taksiran Y atas X1, X2, X3 dan X4. Sedangkan pengujian homogenitas varians masing-masing dilakukan terhadap varians pengelompokan nilai Y atas kesamaan nilai variabel bebas Kepribadian (X1), Keterlibatan Organisasi (X2), Hasil Belajar Pendidikan Agama (X3), dan Lingkungan Pendidikan (X4).

104

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
A. Profil Responden 1. Sebaran Responden esponden penelitian ini tersebar di 7 (tujuh) universitas negeri di Indonesia yang tergolong universitas besar. Sebaran responden di 7 universitas tersebut adalah sebagai berikut:

R

Dari data di atas, penyumbang responden terbesar adalah Universitas Hasanuddin sebesar 16.6%, berikutnya kemudian Universitas Indonesia sebesar 16.4%, Universitas Gadjah Mada sebesar 16.1%, Universitas Diponegoro sebesar 13.3%, Universitas Padjadjaran sebesar 13.1%, Universitas Udayana sebesar 13.1%, dan Universitas Nusa Cendana sebesar 11.5%.

 

105

Dari tabel di atas diketahui bahwa responden perempuan sebanyak 295 orang (48%) dan responden laki-laki sebanyak 314 orang (51.8%). Jenis Kelamin Responden Ditinjau dari jenis kelamin. sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut. 106   .3%). Kristen sebanyak 133 orang (21. dan Khonghucu sebanyak 2 orang (0. Hindu sebanyak 76 orang (12.9%).2. Buddha sebanyak 34 orang (5.5%).6%).5%). 3. sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut. Katolik sebanyak 91 orang (14.8%). responden antara laki-laki dan perempuan hampir seimbang. Agama Responden Ditinjau dari sisi agama. responden kebanyakan pemeluk agama Islam dengan 273 orang (44.

5%).4%). semester 5 sebanyak 180 orang (29. Variabel bebas yang mempengaruhi variabel toleransi beragama beragama beragama dalam penelitian ini ditetapkan secara teoritis dan empiris. responden sebagian besar berasal dari semester 3 sebanyak 234 orang (38. keterlibatan organisasi (X2). dan semester 7 sebanyak 128 orang (21. Adapun paparan data dari variabel-variabel penelitian disajikan sebagai berikut:   107 . hasil belajar pendidikan agama (X3). B. dan lingkungan pendidikan (X4). Semester Ditinjau dari sisi semester. sebagaimana terlihat pada tabel berikut.4. Deskripsi Data dan Temuan Deskripsi data hasil penelitian meliputi variabel terikat (Y) yaitu toleransi beragama beragama beragama dan variabel bebas (X) meliputi kepribadian (X1).0%).

rata-rata toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas negeri berada dalam kategori baik (118-156). 108   . Deskripsi data toleransi beragama beragama beragama mahasiswa disajikan pada tabel berikut: Descriptive Statistics Dependent Variable: Toleransi_Y Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 144.84730 18. Toleransi beragama Agama 7 Universitas beragama Mahasiswa Berbeda Berdasarkan hasil uji instrumen toleransi beragama beragama beragama yang diberikan kepada 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas negeri diperoleh data toleransi beragama mahasiswa.68631 13. kategori sedang (79 – 117).32473 19. Deviation 13.69239 17.98305 23.1.2963 136.7500 136.07573 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Berdasarkan kategori yang telah ditetapkan. kategori baik (118 – 156).63689 16. dengan skor 140.6531 140. dan kategori baik sekali (157 – 195).0792 139. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan skor toleransi beragama beragama secara visual berikut ini.0393 Std.8600 138. Data tersebut selanjutnya dikategorikan menjadi 4 kategori yaitu kategori rendah (39 – 78).3375 145. Perolehan rata-rata skor tersebut berada di atas rata-rata skor teoritik dari variabel toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa.8429 140.78053 23.

018) Dari tabel di atas diperoleh F= 2. Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan toleransi beragama   109 .398a 11793615.027 (Adjusted R Squared = .537 1012.076 N =610 0.400 2.00 100.96 32995. .000 .832. Dev.00 50. =19.04 Std.00 200.00 0 Toleransi_Y Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor toleransi beragama beragama condong ke kanan atau sebagian besar skor toleransi beragama beragama di atas rata-rata. ternyata rata-rata skor toleransi beragama di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.832 357.398 215530.010 . R Squared = .05.056 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square F 1012. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut. dan p-value = 0.0 221605. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Toleransi_Y Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 6074.400 2. Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian.658 12184326.010 < 0.Toleransi_Y 100 80 Frequency 60 40 20 Mean =140.0 6074.010 a.00 150.431 Sig.832 11793614.

dan plegmatis. yaitu ekstrovert dan introvert. koleris. Deskripsi data kepribadian mahasiswa disajikan pada tabel berikut: 110   . Kepribadian Berdasarkan hasil uji instrumen kepribadian yang diberikan kepada 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas negeri diperoleh data kepribadian mahasiswa. sanguinis. melankolis. 2. Data tersebut selanjutnya dikategorikan menjadi 5 dimensi kepribadian.beragama beragama di kalangan mahasiswa di 7 universitas. Hal ini berarti karakteristik universitas tempat penelitian ini dilakukan berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama beragama beragama. dengan kategori skor sebagaimana telah disinggung di bab tiga.

77477 4.5429 14.4557 15.8429 20.Descriptive Statistics EKS_INTRO Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 17.97368 3.3673 19.1525 14.61934 4.59775 4.7901 14.21990 4.5100 15.5475 20. Deviation 4.2375 20.19069 4.18875 4.76306 3.1980 14.82889 3.10848 4.1800 17.5500 18.35970 4.62890 4.4574 Std.0625 16.52589 4.0988 14.3265 18.78602 N 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 80 70 101 100 81 80 98 610 SAGUINIS MELANKOLIS KOLERIS PLEGMATIS   111 .5248 19.51595 5.44126 4.0500 16.4898 16.63973 4.2571 17.70952 4.63630 4.71486 4.5500 19.91420 3.3000 19.68612 3.3143 14.50449 3.4444 17.2286 16.4321 16.59955 4.83513 3.46205 4.52912 3.50229 3.9802 15.66726 4.83589 3.5750 15.23066 4.9125 15.73814 4.89840 5.99226 4.9604 17.08226 4.3082 19.6000 18.1429 15.67040 3.74711 3.2346 17.2871 18.7750 13.58725 3.7800 14.5750 15.25231 3.0625 15.62340 4.9796 14.

Gambaran umum secara visual dapat dilihat pada grafik berikut ini.55 Std. dan dimensi plegmatis dalam kategori lembut (13 – 17). dimensi melankolis dalam kategori rata-rata (13 – 17). rata-rata kepribadian dalam dimensi ekstrovert-introvert di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas berada dalam kategori seimbang (13 – 17). Dev. dimensi sanguinis dalam kategori di atas rata-rata (18 – 21). EKS_INTRO 60 50 40 Frequency 30 20 10 Mean =16. Perolehan rata-rata skor dimensi-dimensi variabel kepribadian di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas secara umum di atas rata-rata skor teoritik.00 0 EKS_INTRO 112   .00 30. dimensi koleris dalam kategori agak imajinatif (18 – 21).00 10.00 20. =4.462 N =610 0.Berdasarkan kategori yang telah ditetapkan.

00 0. Dev.00 0 MELANKOLIS   113 .00 10.189 N =610 SAGUINIS MELANKOLIS 60 50 40 Frequency 30 20 10 Mean =15.SAGUINIS 60 Frequency 40 20 0 -10.00 10.00 20.00 30. =4. =4.667 N =610 -10. Dev.00 30.31 Std.46 Std.00 0.00 20.00 Mean =19.

KOLERIS

60

50

40

Frequency

30

20

10 Mean =18.15 Std. Dev. =4.502 N =610 -10.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00

0

KOLERIS

PLEGMATIS

80

60

Frequency

40

20

0 0.00 10.00 20.00 30.00

Mean =14.46 Std. Dev. =3.786 N =610

PLEGMATIS

Dari grafik-grafik di atas tampak bahwa dimensi sangunitas dan plegmatis di kalangan mahasiswa berbeda agama di 7 universitas merupakan dimensi yang cukup menonjol dibandingkan 3 dimensi yang lain. Jika dikomparasi antar 7 universitas ternyata hanya dimensi sanguinis dan koleris yang berbeda secara signifikan. Dengan kata lain, 114  

karakteristik universitas hanya berpengaruh nyata terhadap dimensi sangunitas dan koleritas. Hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tests of Between-Subjects Effects Type III Sum Source Dependent Variable of Squares Corrected Model EKS_INTRO 181.583a SAGUINIS 710.489b MELANKOLIS 54.653c KOLERIS 334.466d PLEGMATIS 153.014e Intercept EKS_INTRO 164054.815 SAGUINIS 227311.089 MELANKOLIS 140661.735 KOLERIS 198559.466 PLEGMATIS 125885.198 Kode_UN EKS_INTRO 181.583 SAGUINIS 710.489 MELANKOLIS 54.653 KOLERIS 334.466 PLEGMATIS 153.014 Error EKS_INTRO 11943.538 SAGUINIS 9974.816 MELANKOLIS 13211.406 KOLERIS 12010.356 PLEGMATIS 8576.378 Total EKS_INTRO 179156.000 SAGUINIS 241586.000 MELANKOLIS 156214.000 KOLERIS 213347.000 PLEGMATIS 136229.000 Corrected Total EKS_INTRO 12125.121 SAGUINIS 10685.305 MELANKOLIS 13266.059 KOLERIS 12344.821 PLEGMATIS 8729.392 a. R Squared = .015 (Adjusted R Squared = .005) b. R Squared = .066 (Adjusted R Squared = .057) c. R Squared = .004 (Adjusted R Squared = -.006) d. R Squared = .027 (Adjusted R Squared = .017) e. R Squared = .018 (Adjusted R Squared = .008) df 6 6 6 6 6 1 1 1 1 1 6 6 6 6 6 603 603 603 603 603 610 610 610 610 610 609 609 609 609 609 Mean Square F 30.264 1.528 118.415 7.158 9.109 .416 55.744 2.799 25.502 1.793 164054.815 8282.726 227311.089 13741.466 140661.735 6420.136 198559.466 9969.010 125885.198 8850.913 30.264 1.528 118.415 7.158 9.109 .416 55.744 2.799 25.502 1.793 19.807 16.542 21.909 19.918 14.223 Sig. .166 .000 .869 .011 .098 .000 .000 .000 .000 .000 .166 .000 .869 .011 .098

 

115

3. Keterlibatan Organisasi Berdasarkan data skor keterlibatan organisasi yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 perguruan tinggi umum diperoleh rata-rata sebesar 22,51. Dengan menggunakan kategori: Kurang terlibat (0 – 20), Cukup terlibat (21 – 40), Terlibat (41 – 60), dan Sangat terlibat (61 – 80), maka skor keterlibatan organisasi yang diperoleh dalam penelitian ini berada dalam kategori cukup terlibat. Deskripsi data keterlibatan organisasi mahasiswa disajikan pada tabel berikut:
Descriptive Statistics Dependent Variable: Terlibat_Organisasi_X2 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 24.6750 22.9571 22.0891 19.1700 22.2716 21.6500 25.1633 22.5098 Std. Deviation 7.87847 7.73742 8.07354 7.25865 8.61541 8.20173 7.20637 8.03670 N 80 70 101 100 81 80 98 610

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor keterlibatan organisasi kurang terlibat hingga sangat terlibat berturut-turut adalah UGM, Udayana, Undana, Unhas, Undip, Unpad, dan UI. Keterlibatan organisasi disajikan secara visual pada histogram berikut.
Histogram

80

60

Frequency

40

20

Mean =22.51 Std. Dev. =8.037 N =610 0 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00

Terlibat_Organisasi_X2

116  

173 Sig.000 39334.099 37058.Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor keterlibatan organisasi condong ke kiri atau sebagian besar skor tersebut di bawah rata-rata empiris. Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian. D. R Squared = .000 a. C. Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa di 7 universitas. .05.441 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 379.000 < 0.290 2276.058 (Adjusted R Squared = . dan p-value = 0.000 . 4.49.290 379. maka rata-rata hasil belajar pendidikan agama pada mahasiswa yang menjadi responden penelitian tergolong tinggi.000 .048) Dari tabel di atas diperoleh F= 6. B. dan E).173. ternyata rata-rata skor keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan. Dengan menggunakan skala 1 – 5 (A.457 F 6. Hal ini berarti karakteristik universitas tempat penelitian ini memberikan pengaruh yang nyata terhadap keterlibatan organisasi di kalangan mahasiswa.173 4968.192 6.350 305328.342 348417.350 61.099a 305328. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut. Deskripsi data hasil   117 . Hasil Belajar Pendidikan Agama Berdasarkan data hasil belajar pendidikan agama yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 universitas umum negeri diperoleh rata-rata sebesar 3. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Terlibat_Organisasi_X2 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 2276.

Udayana.81131 .70933 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar pendidikan agama tertinggi ke terendah berturutturut diperoleh Unhas. Undana.4286 3.00 Mean =3.00 2.4885 Std.00 4.5000 3. ternyata rata-rata skor hasil belajar pendidikan agama di 118   .70106 .69631 .4000 3. Ditinjau dari universitas-unversitas lokasi penelitian.68132 . Kecenderungan data hasil belajar pendidikan agama disajikan secara visual pada histogram berikut. Deviation . UGM.60460 .3827 3.00 5.belajar pendidikan agama mahasiswa disajikan pada tabel berikut: Descriptive Statistics Dependent Variable: Hasil_Belajar_Agama_X3 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 3.64386 .49 Std.6250 3. dan Undip. Dev.00 1. =0. Unpad. UI. Histogram 400 300 Frequency 200 100 0 -1.6634 3.709 N =610 Hasil_Belajar_Agama_X3 Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor hasil belajar pendidikan agama condong ke kanan atau sebagian besar skor tersebut di atas rata-rata empiris.00 3.00 0.80885 .4082 3.

92. Lingkungan Pendidikan Berdasarkan data skor lingkungan pendidikan yang diperoleh dari 610 mahasiswa yang tersebar di 7 perguruan tinggi umum diperoleh rata-rata sebesar 35. Kondusif (28 – 36). Cukup kondusif (19 – 27). maka skor lingkungan pendidikan tersebut berada dalam kategori kondusif.420 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 1. 5. Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan hasil belajar pendidikan agama di kalangan mahasiswa di 7 universitas.257 7730.194 . Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.406. Hal ini berarti universitas-universitas tempat penelitian ini dilakukan berpengaruh nyata terhadap hasil belajar pendidikan agama mahasiswa.026 a.kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.496 F 2.163a 7288.406 14686. .05.409 2. dan p-value = 0. Dengan menggunakan kategori lingkungan pendidikan: Kurang kondusif (9 – 18). R Squared = .000 .565 7.000 306.014) Dari tabel di atas diperoleh F= 2. Deskripsi data lingkungan disajikan pada tabel berikut: pendidikan mahasiswa   119 .194 7288.406 Sig.026 < 0. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Hasil_Belajar_Agama_X3 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 7.163 299.023 (Adjusted R Squared = .565 1. dan Sangat Kondusif (37 – 45).026 .

=4.14747 3.50181 3.00 10.57991 5.58835 3. Dev.153 N =610 Lingkungan_Pendidikan_X4 Dari grafik di atas tampak bahwa kecenderungan skor lingkungan pendidikan condong ke kanan atau sebagian besar skor tersebut di atas rata-rata empiris.Descriptive Statistics Dependent Variable: Lingkungan_Pendidikan_X4 Kode_UN UDAYANA UNDANA UNHAS UI UNDIP UNPAD UGM Total Mean 36. dan UI.00 Mean =35.1939 35.0594 34.00 30.9164 Std. Deviation 3.52463 3.1000 36.19684 4.2857 36. Unhas.5185 35. Unpad. Kecendrungan data lingkungan pendidikan disajikan secara visual pada histogram berikut. Undip.00 50.00 20.15321 N 80 70 101 100 81 80 98 610 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata skor lingkungan pendidikan terkondusif hingga ke kurang kondusif berturut-turut diperoleh Undana. Histogram 150 100 Frequency 50 0 0. Udayana.6250 37. UGM. Ditinjau dari 120   .9500 35.00 40.92 Std.50753 5.

  121 .568 10164. Hal ini berarti universitas-universitas tempat penelitian ini memberikan pengaruh yang nyata terhadap lingkungan pendidikan mahasiswa. C.367.736 df 6 1 6 603 610 609 Mean Square 56. yaitu (px21). Analisis Inferensial 1.003 a.367 Sig.168 797397. Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi terangkum pada tabel berikut.023) Dari tabel di atas diperoleh F= 3. ternyata rata-rata skor lingkungan pendidikan di kalangan mahasiswa di 7 universitas berbeda secara signifikan.761 16. dan p-value = 0. R Squared = .502 340.003 < 0. Dengan demikian hasil uji komparasi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan lingkungan pendidikan di kalangan mahasiswa di 7 universitas.751 3. .856 F 3.761 775287.000 10504.003 . Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi di analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan keterlibatan organisasi (X2).032 (Adjusted R Squared = .502 56. Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Lingkungan_Pendidikan_X4 Source Corrected Model Intercept Kode_UN Error Total Corrected Total Type III Sum of Squares 340.568a 775287.367 45994.05. Hal ini terlihat pada hasil analisis data yang terangkum pada tabel berikut.000 .universitas-unversitas lokasi penelitian.

2.633 57.902. yaitu (p31).115 .788 . Error 2.122 Std.000(a) a Predictors: (Constant).195 Standardized Coefficients Beta t B 12.665 4.989 36231. 24.05.032 .195 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 4. Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan hasil belajar (X3).902 Sig. Error .000 <0.326 F Sig.000 a Dependent Variabel: Keterlibatan organisasi Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (p21) = 0.195 terhadap keterlibatan organisasi. Variabel kepribadian memberi pengaruh sebesar 0. Std.621 df 1 608 609 Mean Square 1377.025 .633 34853. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p21) adalah signifikan. Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar terangkum pada tabel berikut: 122   . Dengan kata lain kepribadian mahasiswa berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama beragama beragama.ANOVA(b) Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 1377. Kepribadian b Dependent Variabel: Keterlibatan organisasi Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients B 1 (Constant) Kepribadian 26. p-value = 0.000 .

000 .196 .395 df 2 607 609 1 608 609 Mean Square 2.389 2.390 F 5. Keterlibatan organisasi. B Error 20.103 2.399 33.006 t .003 .003 .006(b) a Predictors: (Constant).098 Model 1 2 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi (Constant) Keterlibatan organisasi Unstandardize d Coefficients Std.124 .049 . Keterlibatan organisasi c Dependent Variabel: Hasil belajar Coefficients(a) Standardi zed Coefficie nts Beta .405 240.170 Sig.177 .067 . .000 1.990 .632 . Std.006(a) 7.026 236.008 4.013 .017 .767 a Dependent Variabel: Hasil belajar   123 .112 2.395 2.ANOVA(c) Model 1 Regression Residual Total 2 Regression Residual Total Sum of Squares 4. Kepribadian b Predictors: (Constant).009 .002 .369 240.621 .657 .929 . B Error 3.990 237.003 Sig.

62488 a Predictors: (Constant). Error of the Estimate . yaitu variabel kepribadian ke variabel hasil belajar pendidikan agama. Hasilnya ditunjukkan oleh model2 dan 124   . 3.05.632 . Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama Karena ada koefisien jalur yang tidak signifikan.103>0. Dengan demikian H0 diterima atau koefisien jalur (p31) adalah tidak signifikan.066 .014 . yaitu mengeluarkan variabel kepribadian dari model dan perhitungan koefisien jalur model 1 diulang. Dengan kata lain kepribadian tidak berpengaruh terhadap hasil belajar pendidikan agama.62402 .067(a) 1. p-value = 0.632. Kepribadian b Predictors: (Constant).011 Std. Keterlibatan organisasi.017 . maka perlu dilakukan trimming. Correlation Statistics Toleranc Toleranc Tolerance e e Tolerance Tolerance Beta In Kepriba dian .Excluded Variabels(b) Model Partial Collinearity t Sig.103 .012 .962 2 a Predictors in the Model: (Constant). Keterlibatan organisasi Dari tabel tersebut diperoleh koefisien jalur (p31) = 0.067 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1. Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Hasil belajar Model Summary Model 1 2 R .112(b) Adjusted R Square R Square .129(a) .

. Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Lingkungan pendidikan   125 . yaitu (p41).05. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (p32) = 0. 4. yaitu (p32).553 Mean Square 3 137. Kepribadian. ANOVA(b) Mode l 1 Regres sion Residu al Total Sum of Squares 412. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p32) adalah signifikan.diperoleh hasil bahwa pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar di analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar (X3). Hasil belajar.328 Sig.767.518 df F 8.000(a) 10006.85 609 9 a Predictors: (Constant). Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan (X1). Hasil pengujian pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama terangkum pada tabel di atas.512 6 10418. Dengan kata lain keterlibatan organisasi berpengaruh terhadap hasil belajar.30 606 16. Hasil pengujian terangkum pada tabel coefficients bagian 3.006 < 0. p-value = 0.112 dengan statistik ujit diperoleh: thit = 2.

Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dengan lingkungan pendidikan agama (X4). Dengan kata lain variabel keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan 126   .014 . dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3.022 . Error .072 .079 3.073 1.049 a Dependent Variabel: Lingkungan pendidikan Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p41) = 0. p-value = 0.143.072 > 0. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (p41) adalah signifikan.921 .Coefficients(a) Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients t Std.000 .073 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1.840 1.264 .143 .800.000 .645 16.969 Model 1 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi Hasil belajar Sig.077 . B Error Beta B 27.000 < 0.05.502. p-value = 0. Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p42) = 0. Dengan kata lain kepribadian berpengaruh nyata terhadap lingkungan pendidikan 5. Std.025 .05.502 1. yaitu (p42).800 .520 .

6. Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel kepribadian (X1) dan toleransi beragama (Y).969. Keterlibatan organisasi b Dependent Variabel: Toleransi beragama beragama Beragama   127 . yaitu (py1).000(a) a Predictors: (Constant). .708 Model 1 Regression Residual Total df 4 605 609 F 23.27 6 247104. Pengaruh hasil belajar terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan dianalisis melalui uji koefisien jalur antara variabel hasil belajar pendidikan agama (X3) dengan lingkungan pendidikan (X4).73 7 353.947 213993.079. Dari tabel tersebut diperoleh Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan dengan koefisien jalur (p43) = 0. dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 1.049 < 0. p-value = 0. Dengan kata lain variabel hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan 7. Kepribadian.22 3 Mean Square 8277. Hasil pengujian pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama beragama beragama terangkum pada tabel berikut.05. ANOVA(b) Sum of Squares 33110. Lingkungan pendidikan.403 Sig. yaitu (p43). Hasil belajar.

851 .005 . Error of the Estimate 18.000 .000 -.063 .366(a) R Square .147 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3.05. Hasil belajar. Std.118 Beta B 7.969 a Dependent Beragama Variabel: Toleransi beragama beragama Model Summary Model 1 a R .114 3.791.000 .240 . Error .003 . p-value = 0.791 3. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py1) adalah signifikan.147 .310 Error 9.269 6.740 .308 -3.498 1.188 .109 -2.102 1. Kepribadian. Dengan kata lain kepribadian mahasiswa berpengaruh nyata terhadap toleransi beragama.Coefficients(a) Unstandardized Model Coefficients Std.010 Standardized Coefficients t Sig.227 .240 .134 Adjusted R Square . Lingkungan pendidikan.128 Std. Keterlibatan organisasi Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py1) = 0.80712 Predictors: (Constant). 128   .000<0. B 1 (Constant) Kepribadian Keterlibatan organisasi Hasil belajar Lingkungan pendidikan 65.

Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py4) adalah signifikan. p-value = 0.010. Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel lingkungan pendidikan (X4) dan toleransi beragama (Y).118 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 3. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py3) adalah signifikan. Dengan kata lain hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama.109 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = -2. Pengaruh hasil belajar toleransi beragama pendidikan agama terhadap Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel hasil belajar pendidikan agama (X3) dan toleransi beragama (Y).003 <0.851.269 dengan statistik uji-t diperoleh: thit = 6.   129 . Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py2) = 0. yaitu (py3). 10.000 <0.05. yaitu (py4). Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama analisis melalui uji koefisien jalur antara variabel keterlibatan organisasi (X2) dan toleransi beragama (Y). yaitu (py2).969.05. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py4) = 0.005 <0. Dengan kata lain lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama.05. Dengan kata lain keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama. 9. Dengan demikian H0 ditolak atau koefisien jalur (py2) adalah signifikan.8. maka dapat diindikasikan apabila ingin meningkatkan toleransi beragama dapat dilakukan dengan memperbaiki lingkungan pendidikan. p-value = 0. Dari tabel coefficients diperoleh koefisien jalur (py3) = -0. p-value = 0.

767 0.791 0.143 3.073 1.067 1.006 ditolak Memiliki pengaruh langsung 4 H H 0 1 : p 41 = 0 : p 41 > 0 0.147 3.502 0.969 0.103 diterima Tidak memiliki pengaruh langsung 3 H H 0 1 : p 32 = 0 : p 32 > 0 0.000 ditolak 6 H H 0 1 : p 43 = 0 : p 43 > 0 0.00 ditolak Memiliki pengaruh langsung 130   .800 0.112 2.53 0.079 1.049 ditolak Memiliki pengaruh langsung 7 H H 0 1 : p : p y1 y1 = 0 > 0 0.000 ditolak Kesimpulan Memiliki pengaruh langsung 2 H H 0 1 : p 31 = 0 : p 31 > 0 0.072 diterima Tidak memiliki pengaruh langsung Memiliki pengaruh langsung 5 H H 0 1 : p 42 = 0 : p 42 > 0 0.195 t hitung p-value Keputusan 4.Rekapitulasi Hasil Pengujian Hipotesis No 1 Hipotesis Pengaruh kepribadian terhadap keterlibatan organisasi Pengaruh kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama Pengaruh kepribadian terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap lingkungan pendidikan Pengaruh kepribadian terhadap toleransi beragama beragama beragama Uji Statistik H H 0 1 : p 21 = 0 : p 21 > 0 Koefisien Jalur 0.902 0.

109   131 .118 3.118 p32 = 0.067 = 0.112 p42 = 0.969 0.143 p43 = 0.079 py3 = -0.8 9 10 Pengaruh keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama beragama beragama Pengaruh hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama beragama beragama Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama beragama beragama H H 0 1 : p : p y2 y2 = 0 > 0 0.000 ditolak Memiliki pengaruh langsung D.195 = 0.073 = 0.147 = 0.005 ditolak Memiliki pengaruh langsung H H 0 1 : p : p y4 y4 = 0 > 0 0.003 ditolak Memiliki pengaruh langsung H H 0 1 : p : p y3 y3 = 0 > 0 -0. Model Empiris Hubungan Antar Variabel Berdasarkan hasil penghitungan di atas.109 -2.269 p31 = py2 0. Nilai-nilai koefisien jalur p21 p41 py1 py4 = 0.269 6.010 0.851 0. maka diketahui skor dari masing-masing variabel sebagai berikut.

Dengan demikian model 1 perlu dimodifikasi dengan menghilangkan jalur pengaruh X1 terhadap X3 dan jalur pengaruh X1 terhadap X4. 132   .103>0.103>0.05) dan jalur p42 juga mempunyau tanda yang tidak signifikan (p-value = 0. jalur p31 mempunyai tanda yang tidak sinifikan (p-value = 0. Dengan kata lain bahwa kepribadian tidak berpengaruh langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama dan kepribadian juga tidak berpengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan. Karena model awal tidak terbukti.Kepribadian X1 XX X3 Hasil Belajar PA Y Toleransi beragama b X2 Keterlibatan Organisasi X4 Lingkungan Pendidikan Gambar 2: Skor Analisis Jalur (Path Analysis) Dari hasil perhitungan di atas terlihat dalam model 1. maka harus dicari model lain. Oleh karena itu dapat di simpulkan model awal atau satu tidak memenuhi persyaratan analisis jalur.05).

118 = 0.Hasil perhitungan koefisien jalur memberikan nilai-nilai sbb: Nilai-nilai koefisien jalur p21 p43 py3 = 0.118 Y Toleransi beragama b 0.147 X2 Keterlibatan 0.195 = 0.147 = 0.109 0. maka model 2 atau model baru empiris hubungan antar variabel dapat dikonstruksikan sebagai berikut X1 XX Kepribadian X3 Hasil Belajar PA 0.195 X4 Lingkungan Pendidikan 0.269 .143 = 0.079 = -0.079 Organisasi -0.109 p32 py1 py4 = 0. Selanjutnya perlu di uji   133 0.269 Dengan memasukkan angka koefisien jalur pada masing-masing jalur hubungan.112 p42 py2 = 0.143 Gambar 3: Model Baru Empiris Hubungan Antar Variabel Dari model 2 di atas dapat diketahui bahwa nilai masing-masing koefisen jalur di atas t hit< t tabel. sehingga persyaratan pertama telah terpenuhi.

yaitu dengan menggunakan uji ketepatan model dengan menggunakan program Software LISREL.013 Tidak Langsung Total Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) 0. Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai chi-square sebesar 0.022 0. maka selanjutnnya dapat dianalisis perhitungan langsung dan tidak langsung variabel eksogen (variabel yang mempengaruhi/sebab) terhadap variabel endogen (variabel yang dipengaruhi/akibat) dalam model struktural yang terbagi menjadi 4 substruktur. Untuk mengetahui apakah nilai hitung ketepatan model (goodness fit statistics) mendukung model 2 maka akan digunakan analisis dengan menggunakan stastistik chi-square.195 x 0.013 Kepribadian (X1) Keterlibatan Organisasi (X2) 134   . Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1 dan X2) terhadap variabel Endogen X3 pada substruktur 1 Variabel Langsung Terhadap Hasil belajar (X3) 0.00 dengan p-value sebesar 1 dan tidak perlu digunakan uji statistik yang lain lagi karena nilai chi-square sudah nol dan secara otomatis statistik uji yang lain akan menerima model 2 di atas. oleh Karena itu dapat di ambil kesimpulan bahwa model analisis jalur di atas sudah sempurna artinya sangat sesuai dengan data dan dapat di gunakan untuk penelitian ini. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data hasil perhitungan koefisen dan pengujian hipotesis.1122= 0.112 = 0. E.022 0.lagi dengan menggunakan persyaratan ke dua.

7%.195 x 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2. X2 dan X3) terhadap variabel Endogen X4 pada Variabel substruktur 2 Tidak Langsung Langsung Terhadap Melalui Lingkungan Keterlibatan Pendidikan Organsiasi (X2) (X4) 0.2%. hasil belajar juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0.112.98.028 0.112 x 0.983 atau 98% dengan koefisien pε31= 0.39%. Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 8.017 atau 1.029 0.009 Total Kepribadian (X1) Keterlibatan Organisasi (X2) Hasil Belajar PA (X3) 0. Adapun pengaruh kepribadian (X1) dan keterlibatan organisasi (X2) secara bersama-sama terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa tidak terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap hasil belajar (X3).013 atau 1.9%. Disamping ke dua variabel eksogen tersebut.006   135 .0792= 0.3% dengan koefisien jalur 0.006 Tidak langsung melaluiHasil Belajar PA (X3) 0. Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1.1432=0.020 0.079 = 0. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0.143 = 0. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 1.028 0.Dalam substruktur 1 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu hasil belajar dan 2 buah vaiabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi.

079.60 atau 60% dengan koefisien pε41= 0. keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar PA (X3) secara bersama-sama terhadap hasil belajar (X3) adalah sebesar 0. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organisasi (X2) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2. Adapun pengaruh kepribadian (X1). 136   .8%. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap hasil belajar (X3) sebesar 0.143. Disamping ke dua variabel eksogen tersebut.02 atau 2% dengan koefisien jalur 0.Dalam substruktur 2 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu lingkungan pendidikan dan 3 buah variabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi dan hasil belajar PA.006 atau 0. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung hasil belajar (X3) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0.60. Sedangkan hasil belajar PA memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terkecil terhadap lingkungan pendidikan. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organisasi (X2) terhadap lingkungan pendidikan (X4) melalui hasil belajar PA (X3) sebesar 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa tidak terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4).9%. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa keterlibatan organisasi memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terbesar terhadap lingkungan pendidikan.40 atau 40%. lingkungan pendidikan (X4) juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0.6% dengan koefisien jalur 0. Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2.8%.9%.

002 Tidak Langsung Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) dan lingk.072 Dalam substruktur 3 pada tabel di atas terdapat sebuah variabel endogen yaitu toleransi beragama dan 4 buah variabel eksogen yaitu keperibadian dan keterlibatan organsiasi.1092=0.021 0.0.042 0.269 = 0.112 x 0.112 x .079 x 0.269 = 0.118 dian = 0.143 x 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) sebesar 2.014 0.195 x 0.008 0. X3.012 0.269 0.109 = 0.038 0. hasil belajar PA dan lingkungan pendidikan.072 0. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 2. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) dan hasil Belajar (X3) sebesar 0.033 0.195 x 0.143 x 0. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap   137 .= 0.2692=0.Pddkn (X4) Kepriba 0.079 x 0.022 0. X4) terhadap variabel Endogen Y pada substruktur 3 Variabel Langsung Terhadap Toleransi beragama beragama (Y) Tidak Langsung Melalui Keterlibatan Organsiasi (X2) Tidak langsun g melalui Hasil Belajar PA (X3) Tidak langsung melalui Lingkungan pendidikan (X4) Tidak Langsung Melalui Keterlibat an Organsias i (X2) dan Hsl Belajar (X3) 0. X2.195 x 0.002 0.2%.Pddkn (X4) Total Tidak Langsung Melalui Hasil Belajar PA (X3) dan lingk.1472=0.1182=0.012 0.051 0.112 x 0.Tabel Besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel eksogen ( X1.2%.109 = .269 = 0.3%.023 (X1) Keterlib atan Organis asi (X2) Hasil Belajar PA (X3) Lingkun gan Pendidi kan (X4) 0.

8%.2%. Pengaruh tidak langsung kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar PA (X3) dan lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0.8%. keterlibatan organisasi (X2) dan hasil belajar PA (X3) lingkungan pendidikan (X4) secara bersama-sama terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 0.2%.1%. Dengan demikian pengaruh total keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 5.2%.toleransi beragama (Y) melalui keterlibatan organsiasi (X2) dan lingkungan pendidikan (X4)sebesar 0.1%.134 atau 13.2%.4%.2%. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar PA (X3) dan lingkungan pendidikan (X4) sebesar 0. Pengaruh tidak langsung hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) melalui lingkungan pendidikan (X4) sebesar 2. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui lingkungan pendidikan (X4) sebesar 3.1%. Adapun pengaruh kepribadian (X1). Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 1. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa pengaruh langsung lingkungan pendidikan (X4) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 7. Pengaruh tidak langsung keterlibatan organsiasi (X2) terhadap toleransi beragama (Y) melalui hasil belajar (X3) sebesar -1. Disamping ke dua 138   . Dengan demikian pengaruh total kepribadian (X1) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 5.3%. Dengan demikian pengaruh total hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 3. Dalam tabel di atas juga dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh langsung hasil belajar PA (X3) terhadap toleransi beragama (Y) sebesar 1.4%.

87. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terbesar terhadap toleransi beragama.866 atau 86. lingkungan pendidikan (X4) juga dipengaruhi oleh variabel lain dengan besar pengaruh 0.variabel eksogen tersebut.6% dengan koefisien pεy1= 0. Sedangkan hasil belajar PA memiliki total pengaruh langsung dan tidak langsung terkecil terhadap toleransi beragama.   139 .

140   .

2% dengan nilai koefisien jalur adalah -0.118.109.195. Terdapat Pengaruh langsung kepribadian terhadap toleransi beragama sebesar 2.147.6% dengan nilai koefisien jalur adalah 0.8% dengan nilai koefisien jalur adalah 0. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan sebesar 2.0% dengan nilai koefisien jalur adalah 0.2 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0. 141 B erdasarkan hasil analisis data dan perhitungan statistik dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut: . Terdapat Pengaruh langsung kepribadian terhadap keterlibatan organisasi sebesar 3.2 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0. Kesimpulan 1. Terdapat Pengaruh langsung hasil belajar pendidikan agama terhadap toleransi beragama sebesar 1. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap lingkungan pendidikan sebesar 0.BAB V PENUTUP A.112.4 % dengan nilai koefisien jalur adalah 0.269. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap hasil belajar pendidikan agama sebesar 1.143.079.3% dengan nilai koefisien jalur adalah 0. Terdapat Pengaruh langsung keterlibatan organisasi terhadap toleransi beragama sebesar 1. Tidak terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara kepribadian terhadap hasil belajar pendidikan agama. Tidak terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara kepribadian terhadap lingkungan pendidikan. Terdapat Pengaruh langsung lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama sebesar 7.

berfungsi mengembangkan sikap mental yang erat hubungannya dengan norma-norma kehidupan di kampus dan di lingkungan masyarakat. Variabel kepribadian mahasiswa tidak memiliki pengaruh langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama. Lingkungan pendidikan meliputi: lingkungan keluarga. dan lingkungan masyarakat (sosial). Dengan kata lain toleransi beragama pada mahasiswa di perguruan tinggi dapat meningkat jika di dukung atau ditumbuh suburkan oleh lingkungan pendidikan yang kondusif. lingkungan sekolah.2. Variabel Kepribadian mahasiswa tidak memiliki pengaruh langsung terhadap lingkungan pendidikan. tetapi kepribadian mahasiswa akan lebih efektif perananya terhadap lingkungan pendidikan jika di dukung oleh keterlibatan mahasiswa dalam organisasi. sikap serta penonjolan tingkah laku yang positif dan membangun. Peranan Sekolah/ Perguruan Tinggi sebagai. bukan saja dalam lingkungan keluarga tetapi disetiap lingkungan di mana ia berada. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa variabel lingkungan pendidikan merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh langsung terhadap toleransi beragama mahasiswa di perguruan tinggi. keterlibatan organsiasi. jika dilihat dari sudut sosial dan spiritual. 4. tetapi kepribadian mahasiswa akan lebih efektif perananya terhadap hasil pendidikan agama jika mahasiswa terlibat alam organisasi. hasil belajar dan lingkungan pendidikan mempunyai pengaruh langsung terhadap toleransi beragama. yakni terbentuknya mental. Secara umum variabel kepribadian. 3. Dengan demikian jenis 142 .Tujuan pendidikan di keluarga. Variabel lingkungan pendidikan mempunyai pengaruh langsung terbesar terhadap toleransi beragama.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis lingkungan pendidikan tidak bisa diabaikan sebagai faktor penting mengukur toleransi di kalangan mahasiswa. Perbaikan kepribadian akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama.lingkungan sangat menen tukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap. Peningkatan hasil belajar pendidikan agama akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama. penerimaan. Peningkatan hasil belajar pendidikan agama akan berdampak pada perbaikan lingkungan pendidikan. organisasi. tingkah laku. 9. Perbaikan kepribadian akan berdampak tidak langsung terhadap lingkungan pendidikan melalui keterlibatan organisasi. 5. dan toleransi setiap mahasiswa terhadap berbagai kemajemukan (etnis. 3. Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada perbaikan lingkungan pendidikan. 6. Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada peningkatan terhadap hasil belajar pendidikan agama. 4. 7. B. Perbaikan kepribadian akan berdampak pada peningkatan keterlibatan organisasi mahasiswa di perguruan tinggi. 8. Peningkatan keterlibatan organisasi akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama. Implikasi 1. dan agama). Perbaikan kepribadian akan berdampak tidak langsung terhadap hasil belajar pendidikan agama melalui keterlibatan organisasi. 2. 143 .

yang mampu menciptakan suasana yang sejuk bagi persemaian benih-benih toleransi beragama beragama dan kerukunan umat beragama. Menggunakan model empiris toleransi beragama di kalangan mahasiswa dari temuan penelitian ini. Menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan harmonis bagi penciptaan toleransi beragama beragama di lingkungan keluarga. 144 . sebagai acuan penyusunan kebijakan pemeliharaan toleransi beragama beragama beragama di kalangan mahasiswa dengan penyempurnaan lebih lanjut. 3. 4. Meningkatkan sikap toleran di kalangan mahasiswa melalui keteladanan orang tua dalam memberikan perilaku yang toleran terhadap orang beda agama. 2. dosen tidak mengajarkan doktrin agama yang cenderung intoleran terhadap umat yang berbeda agama. masyarakat melalui peningkatan revitalisasi peran dan komunikasi orang tua. dan 5. maka rekomendasi yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah: 1. dosen. C. Mengembangkan kurikulum pendidikan agama yang bernuansa multikulturalisme di Perguruan Tinggi. dan tokoh masyarakat.10. perguruan tinggi. Menciptakan kepribadian mahasiswa yang terbuka terhadap perbedaan melalui pengembangan program pendidikan dan pelatihan kepribadian yang dikelola oleh organisasi intra dan ekstra kampus. Perbaikan lingkungan pendidikan akan berdampak pada peningkatan toleransi beragama beragama beragama. Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan di atas.

Toleransi Antar Umat Islam dan Katolik: Studi Kasus di Dukuh Kasaran. Ideologi Kekerasan: Argumentasi Teologis-Sosial Radikalisme Islam. Tesis. Jakarta: Gema Insani Press. Yogyakarta: PP Krapyak. Kecamatan Ceper. David G. Biyanto. hlm. hlm. 160. hlm. Desa Pasungan. Alimron. 2008. Webster’s World Dictionary of American Language. 1995. Ahmad Warson Munawir. A Muri Yusuf. Malang: UMM Press. 2006. 2009. Indonesia Kita: Pemikiran Berwawasan Iman-Islam. Kabupaten Klaten. Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan: Pandangan Kaum Muda Muhammadiyah. hlm. 2009. p. New York: The World Publishing Company. Islam yang Paling Toleran: Kajian tentang Fanatisme dan Toleransi dalam Islam. 199-203. 702. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Zaki Badawi. “Kekerasan Komunal di Indonesia: Sebuah Tinjauan Umum” dalam Jurnal Dignitas. 145 . Agus Purnomo. 3. 2006. Kamus al-Munawir. 1204. 21-25. Yogyakarta: LKiS. Volume V No. hlm. Jakarta: Bumi Aksara. Alo Liliweri. Djaali. 1 Tahun 2008. Anwar Harjono.DAFTAR PUSTAKA Amiruddin al Rahab. Toleransi Antarumat Beragama dalam Perspektif al-Quran. hlm. Gularnic. Jakarta: Ghalia A. Mu`jam Musthalahat al-`Ulum al-Ijtima`iyat. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 153. hlm. Anis Faranita Dhanik Rachmawati. Padang: IAIN Imam Bonjol. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press & Pustaka Pelajar. Pengantar Ilmu Pendidikan. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural. 34. Skripsi. Jakarta: Balai Pustaka. 799. Ala Abu Bakar. Semarang: IAIN Walisongo. 1999. 1994. Psikologi Pendidikan. 1959.

wordpress. Konflik Kalbar dan Kalteng: Jalan Panjang Meretas Perdamaian. Istilah agree in desagreement dipopulerkan oleh Menteri Agama. Depok. 2008. Bandung: Pustaka Setia. 29-30. 2005. No. A. Filsafat dan Agama. 2006. Eriyanto dkk. 7. Psikologi Perkembangan.P. Hadari Nawawi.Toleransi Beragama Antara Penyedia dan Pengguna Jasa Kos-kosan Beda Agama di Dusun Papringan. Yogyakarta. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. “Minoritas. Skripsi. Jalaluddin. Heru Cahyono. Kamus Lengkap Psikologi. Ed.Djohan Effendi. 3. Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia. J. Jakarta: The Interseksi Foundation.israq. Hikmat Budiman. hlm. hlm.com. Mukti Ali.com. 46. hlm. Jakarta: Raja Grafindo Persada. “Gerakan Baku Bae Maluku Perlawanan terhadap Penganjur Perang” dalam Ambon Berdarah On-Line. geocities. 2009. 191. Multikulturalisme. Modernitas” dalam Hikmat Budiman. 2006. hlm. 8. Jakarta: AROPI. 2008. Sleman. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. hlm. 2008. hlm. Bagaimana Merancang dan Membuat Survei Opini Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan P2P-LIPI. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1987. hlm. Endang Saifuddin Anshari dalam Ilmu. 512. “Substansi dan Definisi Pengetahuan” dalam www. Enung Fatimah. 146 . www. Israq. “Persahabatan Lebih Penting Daripada Kesepakatan Formal” dalam Mimbar Ulama. Desa Catur Tunggal. 128 Tahun XII/1988. 1985. Jakarta: Gunung Agung. Fathurrahman. Surabaya: Bina Ilmu. Chaplin. Ed.

Kent: Burns & Oates. xviii-xxi.al. wordpress. hlm. 11-12. 1993.com/2008/06/25/menggugat-intelektualisme mahasiswa/. Jakarta: FISIP-UI. Wellwood. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik. 215. Encyclopedia of Theology: A Concise Sacramentum Mundi. 88-96. M. Ed. M. Mediasi dan Resolusi Konflik. Skripsi. Lucia Ratih Kusumadewi. Kasinyo Harto. Kamus Filsafat. 1996. Muhammad Hisyam et. Tunbridge Wells. Yogyakarta: Pilar Media. hlm. M. Mukhsin Jamil. hlm. 65-78. 2006. Amin Abdullah. Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum: Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang. hlm. hlm. Keberagamaan yang Saling 147 . 2008. Semarang: Walisongo Mediation Centre. No. 2003. IV Th. Ainul Yaqin. 1999. Menggugat Intelektualisme Mahasiswa” dalam http:// bermula. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. 2007. 1993. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Karl Rahner. 2005. “Relevansi Studi Agama di Era Pluralisme Agama” dalam Mohammad Sabri. 1. hlm. Cita dan Fakta Toleransi Islam: Puritanisme versus Pluralisme. “Keimanan Universal di Tengah Pluralisme Budaya: Tentang Kebenaran Agama dan Masa Depan Ilmu Agama” dalam Ulumul Qur’an. hlm. Sikap dan Toleransi Beragama di Kalangan Mahasiswa: Studi di Tiga Perguruan Tinggi di Jakarta. 1999. Amin Abdullah. Khaled Abou El Fadl. Depok: FISIP UI. Lorens Bagus. 1 Vol. 1111-1112. Bandung: Arasy. Pendidikan Multikultural. North Farm Road. p. 1721-1726. Lucia Ratih Kusumadewi. M. Skripsi. hlm. Jakarta: Balitbang dan Diklat Depag. 17. Jakarta: LIPI Press.

Denpasar. Nurhayati. M. Metode Penelitian dengan Analisis Jalur (Metode Path Analysis). dan Taufik Hadi. 148 . 1. dalam www. Toleransi Antara Umat Beragama: Studi Kasus Umat Islam dan Hindu di Kampung Lebah Kabupaten Klungkung. Pengantar Karel A.A. Hukum dan HAM RI. Tes Kepribadian. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Rentan Konflik. 2007.id. 14-18 Juli 2003 M. Jakarta: Bumi Aksara. Hariwijaya. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. 2009. op. Jakarta: t.sabili.tempointeraktif. “Mahasiswa UKI dan YAI Sempat ‘Mesra’ di Era Reformasi”.Menyapa: Perspektif Filsafat Perennial. xiii. 2009. 2003. Mengindonesiakan Islam: Representasi dan Ideologi. Jakarta: LIPI. Jalaluddin. Psikologi Kepribadian. Muhammad Hisyam. www. Skripsi. Bali. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008. Jakarta: Irjen Dikti Depdiknas. hlm. 2007.2006.cit. Hariwijaya. Makalah disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII. hlm. Billah. 2008. Pendidikan Profesi Guru. 16 Oktober 2008. op. Idem. 2005. 118-130. hlm. “Mahasiswa Kriminal Picu Konflik Kampung Pulo”. 1999. Ed. . Muhammad Ali. Budaya Kewargaan Komunitas Islam di Daerah Aman Konflik. “Tipologi dan Praktek Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia”. diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Dep. Halem Lubis. Jakarta: LIPI.co.com. Steenbrink. Muhlas.S. 195. Yogyakarta: Media Ilmu.p. Imam Chourmain. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Mujiburrahman. Yogyakarta: Ittaqa Press. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.M. hlm. Agus Sujanto. M.cit.

dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca Orde Baru. 19 November 2008.Paul Edwards. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1967. hlm.lppbifiba. Tempo. 92. 149 . 2006. 12 November 2004 Tim Peneliti. FISIP Universitas Indonesia. Jakarta: Nalar. dari Labsosio Departemen Sosiologi. Jakarta: PPIM IAIN Syarif Hidayatullah. Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat. 8. Survei Opini Publik: Toleransi Sosial Masyarakat Indonesia. “Polisi Temukan Senjata Tajam dalam Kampus”. 162.id/books.vivanews. 2002.com.nasional. hlm. www. Skripsi. Metode Penelitian Kuantitatif. 26. Volume 7 and 8 Paul Edwars (New York & London: Macmillan Publisher. hlm. 2008. Islam dan God Goverment. 2008. 2007.com.co. Psikologi Prasangka Orang Indonesia. 92. Bandung: Sekolah Pascasarjana & Remaja Rosda-karya. 2008. Jakarta: LSI. hlm. hlm 143. Bandung: Alfabeta.google. Teori Kepribadian. Teguh Setiawan. Sugiyono. “Toleration” in The Encyclopedia of Pholosophy. Editor in Chief. hlm. Saiful Mujani. 2007. Sarlito Wirawan Sarwono. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Toleransi Beragama di Kalangan Komunitas Slankers Semarang: Studi Kasus Organisasi Basis Slankers Club. 2006. sebagaimana dikutip Sismarni. Juntika Nurihsan. “Teori Partisipasi dalam Dinamika Sosial” dalam www. Saeful Mujani. http://books. Saiful Mujani dkk. Budaya Demokrasi. Syamsu Yusuf LN dan A.blogspot. Resume Studi Toleransi dan Kerentanan Religi di 4 Kota Jawa. 1. 2005. Soerjono Soekanto (1993: 355). Kualitatif dan R & D. 40. Muslim Demokrat: Islam. Semarang: IAIN Walisongo. hlm. hlm.

Kamus Umum Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Umat Islam Indonesia Dukung Radikallisme” dalam Harian Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. Binsar A. Indeks Masyarakat Sipil Indonesia. Reese.. William L. Tim Penyusun. 2007. www. Jakarta: SETARA Institute.wikipedia. Jakarta: Balai Pustaka. Expanded Edition. Kebebasan Beragama VS Toleransi Beragama. 702. Jakarta: Paramadina. 2005. www.co. Poerwadarminta. 384. Yayah Khisbiyah. Hlm. Jakarta: YAPPIKA. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought.J. W. 2007. www. p. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional. 150 . Toleransi dalam Pasungan: Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan. 2006. Demi Toleransi Demi Pluralisme. Tim Penyusun. Sikap dan Perilaku Stakeholders terhadap Organisasi Masyarakat Sipil. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.google.Tim Peneliti.id. 1999. hlm. Memupuk Toleransi untuk Multikulturalisme: Dukungan dari Psikologi Sosial. Surakarta: PSB-PS UMS. 90-91. 4. 2006. hlm. 2008. Trisno Sutanto. www.commongroundnews. Menepis Prasangka. Laporan Hasil Survei Pengetahuan. Jakarta: SETARA Institute. 1121.in-christ.id. 2008. Pluralitas dan Kepemimpinan Nasional. hlm. hlm. Jilid XVI.org. Jakarta: Balai Pustaka. 1989.S. Hutabarat. www. Ensiklopedi Nasional Indonesia. 1996. 774-775.antara. Tim Penyusun. dkk.net. New York: Humanity Books. Tim Peneliti. Jakarta: LP3ES dan YAPPIKA. “Melampaui Toleransi?: Merenung Bersama Walzer” dalam Ihsan Ali-Fauzi.com.org.

Jakarta: Erlangga. Hlm. 95-97. 1985. 151 .Yusuf al-Qardhawi. Minoritas Nonmuslim di dalam Masyarakat Islam. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. 2007. Penerjemah Muhammad Baqir. Bandung: Mizan. Zakiyuddin Baidhawy.

152 .

............. kami ucapkan terima kasih.. pengetahuan agama................... Jawaban kuesioner merupakan informasi utama yang akan menentukan kesimpulan penelitian sekaligus sebagai bahan masukan bagi penyusunan kebijakan pembinaan kerukunan umat beragama di Indonesia...................... Tujuan penelaitian adalah untuk mengkaji pengaruh kepribadian....... Atas bantuan teman-teman..........Lampiran Nomor : ...... Perguruan Tinggi : ............. Surveyor : ....... 153 ... dan lingkungan pendidikan terhadap toleransi beragama para mahasiswa............... Sehubungan hal tersebut.. kami mohon bantuan teman-teman untuk mengisi kuesioner ini..................... Kami peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama sedang menyelenggarakan penelitian tentang Toleransi Mahasiswa Berbeda Agama di Perguruan Tinggi Umum.... keterlibatan organisasi.......... DAFTAR PERTANYAAN (KUESIONER) PENELITIAN TENTANG MAHASISWA BERBEDA AGAMA DI PERGURUAN TINGGI UMUM TOLERANSI Hai teman-teman mahasiswa..

. Untuk jawaban isian mohon ditulis secara jelas dan ringkas. I. c.. c..... Perempuan : a. Madrasah Aliyah 154 .... Sebelum menjawab. b... Anak ke : ……… dari …. tahun : a. Agama : . 6. Buddha f. e. Umur 2. 7. tanyakan kepada petugas pengumpul data... 5... Apabila ada yang tidak jelas... Laki-laki b.……….. SMA b. Daerah Asal : ……………………….. Khonghucu d. Suku (yang dominan) : .. baca dengan teliti pertanyaan atau pernyataannya. 4... Bubuhkan tanda silang (x) atau lingkaran (O) pada huruf a..Petunjuk Pengisian a. d.. Jenis kelamin 3.... SMK c... Jawaban teman-teman dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Islam b.. Hindu e..... bersaudara Asal Sekolah : a. Identitas Responden 1. e.. dan/atau seterusnya untuk jawaban yang teman-teman anggap paling tepat. b..... Katolik d. Kristen c. Teman-teman mahasiswa dimohon menjawab/merespon pertanyaan atau pernyataan di bawah ini dengan sejujurnya. Dimohon untuk menjawab/merespon semua pertanyaan atau pernyataan.

. b. 9. h.. Bersepeda e. Motor c. a. Pertanyaan Apakah kamu pernah cidera saat berolahraga berbahaya? Apakah kamu suka bermain langsung di atas pentas? Apakah kamu suka menjadi seorang pilot? Apakah kamu akan mempelajari sesuatu jika kamu dihukum penjara? Apakah kamu pernah mengkomplain ke pemilik toko atau penjaga toko? Apakah kamu suka ambil bagian dalam reli jalanan? Apakah kamu mau mengetuai kereta hias dalam suatu arak-arakan? Apakah kamu punya banyak kawan? Apakah kamu suka kehidupan malam? Apakah kamu popular di lingkungan kampus? Apakah kamu suka bekerja di bidang keuangan di satu kota besar? Apakah kamu suka menjadi politikus? Apakah kamu suka menyentuh orang? Apakah kamu suka menjadi seorang dokter? Apakah kamu seorang yang energik? Jawaban Anda Tidak Tida Ya Tahu k 8. o..No. Fakultas : ………………. Biaya hidup perbulan : ………………………. 10. n.. Transportasi ke kampus: a... Mobil d. f. Berjalan kaki 155 .. i. Semester : ……. l..………………………. j. m.. g. Angkutan umum b. e. d. c.. k.

i. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom terhadap pertanyaan-pertanyaan di kiri! 14.. Pertanyaan a.. Kepribadian 13. Apakah kamu menjadi kacau kalau terganggu? Apakah kamu merasa khawatir jika ada pekerjaan yang belum diselesaikan? Apakah kamu membasuh tangan kamu lebih dari empat kali sehari? Apakah betul kamu tidak pernah berjalan di bawah tangga? Apakah kamu memerintahkan menyimpan surat-surat dengan ketat? Apakah kamu selalu tahu berapa uang yang ada di dompet kamu? Apakah kamu merencanakan liburan dengan baik? Apakah kamu segera mencuci piring setelah makan? Apakah kamu mengucapkan selamat hari raya pada sahabat Jawaban Kamu Tidak Ya Tidak Tahu c..11. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom terhadap pertanyaan-pertanyaan di kiri! No. Pekerjaan Ibu : ……………………….. Pekerjaan Bapak 12. g. : ………………………. d. e. f. b. h. 156 . sebelah kanan kolom sebelah sebelah kanan kolom sebelah II.

Pertanyaan Apakah kamu bisa menulis puisi? Apakah kamu percaya ada makhluk asing di jagat raya ini? Apakah kamu percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural? Apakah kamu dapat menulis buku cerita kanak-kanak? Apakah kamu berani tinggal di rumah angker sendirian di malam hari? Apakah kamu percaya setelah kematian ada kehidupan? Apakah kamu percaya adanya roh-roh jahat? Apakah kamu sering bermimpi pada malam hari? Apakah kamu percaya kepada spiritualisme? Apakah kamu pernah berencana seandainya kamu memenangkan lotere? Apakah kamu percaya ada hantu di sekitar rumahmu? Apakah kamu takut kalau keluar rumah di waktu malam? Apakah kamu suka hidup di Jawaban Kamu Tidak Tidak Ya Tahu d. e. f. l. a. k. l. i. k. h. 157 . lebih dahulu? Apakah kamu mencantumkan tanggal surat-surat kamu? Apakah kamu pernah tidak menepati janji? No. g. c.j. j. b. m.

n. abad ke-19? Apakah kamu suka pergi ke bulan? Apakah kamu mimpi di siang bolong? m. 158 . Pertanyaan Apakah kamu membaca majalah desain interior untuk mendapatkan ide untuk rumah kamu? Apakah kamu berpariwisata ke kawasan yang indah pemandangannya? Apakah kamu seorang yang modis? Apakah kamu pernah mengikuti kelas merangkai bunga? Apakah kamu punya kartu anggota perpustaakan? Apakah kamu pelukis cat air? Apakah kamu pernah menulis cerita pendek? Jawaban Kamu Tidak Tidak Ya Tahu b. d. e. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! No. a.n. c. f. o. Apakah kamu selalu memastikan pintu terkunci ketika malam? Apakah sepatu kamu selalu tampak bersih? Apakah kamu tidak pernah kehilangan kunci? Apakah kamu segera bersihbersih setelah bekerja? 15. o. g.

l. Apakah kamu akan komplain. m. Apakah kamu takut dengan orang yang punya wewenang? c. o. k. jika kamu menerima telepon ketika hendak keluar? 159 . Apakah kamu pernah mengunjungi rumah yang megah? Apakah kamu sering mengunjungi galeri seni? Apakah kamu suka berpuisi? Apakah kamu gemar berkebun? Apakah kamu gemar fotografi? Apakah kamu bagus jika tampil di pentas? Apakah kamu suka menjadi seorang arsitek? Apakah kamu suka menjadi illustrator untuk penerbitan komik? 16. n. Pertanyaan Tidak Tidak Ya Tahu a. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! Jawaban Kamu No. Apakah kamu menolak jika dikehendaki menjabat ketua sebuah klub? d.h. i. Apakah kamu akan mengatakan untuk menghubungi kembali. Berikan tanda (X) atau (V) di kolom sebelah kanan terhadap pertanyaan-pertanyaan di kolom sebelah kiri! 17. j. jika hidangan satu restoran tidak ada yang kamu sukai? b.

f. o. m. n. jika seekor kucing tetangga menggali rumput taman kamu? Apakah kamu keberatan. g. jika ada penumpang yang merokok di kereta api non-merokok? Apakah kamu merasa sulit untuk menerima nasihat dari orang lain? Apakah kamu akan komplain. i. jika tetangga kamu meminjam kendaraan? Apakah kamu tetap bisa bekerja. h. padahal kamu berusaha untuk diet? Apakah kamu akan komplain.e. jika kamu disuruh menunggu giliran di salah satu klinik gigi? Apakah kamu akan marah. Apakah kamu akan komplain. k. l. jika buah yang kamu beli ada yang busuk? Apakah kamu akan menolak. jika perlengkapan kantor ternyata rusak? Apakah kamu akan memakan sekotak coklat pemberian seseorang. j. jika seorang sales tidak memperhatikan permintaan kamu? 160 . jika tetangga kamu memanasi motornya? Apakah kamu akan komplain untuk diulang. jika kamu tidak puas dengan perbaikan kendaraan kamu? Apakah kamu keberatan.

........ Apakah ada organisasi-organisasi kemahasiswaan intra dan ekstra di kampus kamu seperti berikut? Keterangan Tidak Ada Ada Organisasi a...................... Pemuda Khonghucu m............III..................... d............................................... .............. b................. Pemuda Buddha l... Pemuda Hindu k............. Himpunan Mahasiswa Jurusan Senat Mahasiswa Fakultas Badan Eksekutif Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) e... 161 .......... . ............................................ c... Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) f...... Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) g..... Pemuda Katolik j................ Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) h....................................... Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) .. Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI) i.................. ....... Keterlibatan Organisasi 18.........................

....... Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) g.. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) .... ... Pemuda Khonghucu m.... Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI) i................... Senat Mahasiswa Fakultas c......... Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) f...... Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) h................. Peng urus Anggota aktif Anggota Tidak aktif Bukan Anggota 162 ... Apakah kamu pernah atau sedang menduduki posisi tertentu di organisasi-organisasi kemahasiswaan berikut? Terlibat sebagai Organisasi a...... Pemuda Buddha l... Badan Eksekutif Mahasiswa d........19....... Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) e.............. Himpunan Mahasiswa Jurusan b....... Pemuda Hindu k. Pemuda Katolik j.

20. Berapa banyak kamu memimpin rapat/diskusi dalam pertemuan organisasi kemahasiswaa di kampus? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 21. Berapa banyak kamu mengemukakan pendapat dalam setiap rapat/diskusi dalam pertemuan organisasi kemahasiswaan di kampus? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 22. Berapa banyak kamu menengahi perdebatan yang terjadi di antara teman-teman organisasi kemahasiswaanmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 23. Berapa banyak kamu mendukung teman yang hendak menduduki jabatan ketua di organisasi kemahasiswaanmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 24. Cara pandangmu terhadap masalah lebih arif sejak terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah

IV. Hasil Belajar Pendidikan Agama 25. Berapakah nilai mata kuliah agama kamu? a. A b. B c. C d. D e. E

163

V. Lingkungan Pendidikan 26. Apakah kamu terganggu belajar karena penghuni tempat tinggal kamu cukup banyak? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 27. Apakah hubungan antara orang tua dan kamu dilandasi rasa kasih sayang? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 28. Apakah hubungan antara orang tua dan saudara kamu dalam suasana keakraban? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 29. Apakah hubungan antara kamu dan saudara kamu dalam suasana keakraban? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 30. Apakah pengetahuan agama yang diperoleh di kampus dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari di tempat tinggalmu? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 31. Apakah kamu merasa tertarik dengan cara dosen kamu mengajar tentang perbedaan agama? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah

164

32. Apakah kamu diberi kesempatan untuk memberi pandangan berbeda saat pembelajaran agama berlangsung di ruang kuliah? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 33. Apakah dosen kamu mendukung sikap mahasiswa yang ekstrim? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah 34. Apakah di lingkungan tempat tinggal kamu melakukan kegiatan sosial yang melibatkan anggota masyarakat berbeda agama? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Pernah e. Tidak pernah VI. Toleransi Beragama Pilih salah satu pernyataan di bawah ini yang dianggap paling sesuai dengan hati nurani kamu. 35. Kebebasan beragama berarti berhak memeluk atau tidak memeluk suatu agama. a. Sangat setuju b. Setuju c. Netral d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju 36. Kebebasan beragama berarti setiap orang atas kesadaran dan keyakinannya sendiri, leluasa memeluk suatu agama tanpa tekanan, intimidasi atau paksaan. a. Sangat setuju b. Setuju c. Netral d. Tidak setuju e. Sangat tidak setuju

165

Tidak setuju e. Hanya ajaran agama kamu saja yang perlu diketahui dan dipelajari. Sangat setuju b. a. Setuju c. Netral d. Sangat tidak setuju 40. a. Setuju c. Netral d. Kebebasan beragama seseorang tidak boleh melanggar kebebasan beragama orang lain. Tidak setuju e. Netral d. Netral d. Setuju c. Tidak setuju e. Netral d.37. a. Sangat tidak setuju 39. Sangat setuju b. Sangat setuju b. Kebebasan beragama berarti bebas mengembangkan dan memelihara hakikat ajaran agama yang dianut. Sangat tidak setuju 42. Hanya yang memeluk agama kamu yang dijamin keselamatannya. Sangat setuju b. a. Tidak setuju e. Netral d. Sangat tidak setuju 38. Hanya agama kamu yang paling benar. Hanya kitab suci agama kamu yang paling benar. Sangat setuju b. Sangat tidak setuju 43. Setuju c. Setuju c. Sangat setuju b. a. Netral d. Setuju c. Setuju c. a. Sangat tidak setuju 41. Tidak setuju e. a. Sangat tidak setuju 166 . Tidak setuju e. Sangat setuju b. Satu-satu umat terpilih adalah mereka yang seagama denganmu. Tidak setuju e.

44. Netral d. Sering c. 167 . Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di lingkungan tempat tinggal. Sangat tidak setuju 45. a. Jarang d. c. d. b. e. Pernah e. Kamu tidak keberatan pendirian rumah ibadat agama lain di lingkungan RT-mu. b. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama dalam satu rumah. Tidak setuju e. Setuju c. c. berbeda berbeda berbeda berbeda berbeda 47. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama dalam satu kamar. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di masyarakat luas. Menghadiri undangan teman berbeda agama dalam perayaan hari besar agamanya. Tidak mengucapkan selamat atas perayaan hari besar teman berbeda agama dan tidak menyukai acara itu dilangsungkan. Sangat sering b. Memberi ucapan selamat pada teman berbeda agama atas perayaan hari besar agamanya. Tidak mengucapkan selamat atas perayaan hari besar teman berbeda agama tetapi tidak mengganggunya. a. e. Sangat setuju b. d. Tidak pernah 46. Kamu bersedia diajak mengunjungi tempat suci agama lain. a. a. Tidak keberatan dengan ibadat teman agama di Kampus. Berkunjung dan memberi ucapan selamat pada teman berbeda agama atas perayaan hari besar agamanya.

e. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama di masyarakat luas. c. Pernah e. Kamu mengizinkan teman berbeda agama menginap di kamar kamu. Sangat sering b. Sering c. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu kamar. Setuju bergaul dengan teman berbeda agama. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama yang satu kampus. Tidak pernah 49. a. Setuju membantu teman yang berbeda agama. Tidak pernah 50. Setuju mempunyai kelompok belajar dengan teman yang berbeda agama. e. Jarang b. a. c. Pernah e. Sangat sering b. d. b. Kamu mengikuti kegiatan doa bersama dengan orang berbeda agama? a. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu rumah. Jarang d. 52. Tidak pernah 168 . Setuju berorganisasi dengan teman berbeda agama. Jarang d. 51. a. Setuju tidak perduli dengan teman berbeda agama. d. Kamu membantu tenaga/dana dalam perayaan keagamaan umat agama lain? a.48. Tidak keberatan tinggal bersama teman berbeda agama dalam satu lingkungan tempat tinggal. Sering c. Pernah e. d. Sering c. b. Sangat sering b.

Tidak pernah 54. Tidak setuju e. Sangat sering b. Sering c. Setuju c. Kamu menitipkan kunci kamar kepada teman yang berbeda agama jika kamu ada acara ke luar kota. Jarang d. Kamu ragu menikmati makanan yang dihidangkan teman berbeda agama. Sangat tidak setuju 169 .53. Sangat sering b. Jarang d. a. Netral d. Tidak pernah 58. Kamu menghadiri upacara pernikahan di rumah ibadat agama lain. Sering c. Jarang d. Jarang 59. d. Kamu meminta tolong dibelikan sesuatu kepada teman berbeda agama yang pergi berbelanja. a. Tidak pernah 56. Pernah e. Sangat sering b. Tidak pernah 57. Tidak pernah c. Pernah e. a. Sering c. Sangat sering b. Jarang b. a. Kamu tidak ikut berdoa jika pembacaan doa dipimpin pemuka agama lain. Kamu bersedia memberikan alamat dan nomor telepon kamu kepada orang berbeda agama. Sangat setuju b. Tidak pernah 55. Pernah e. a. Kamu menghadiri undangan pesta orang berbeda agama. Pernah e. Jarang d. a. Sering c. Sering d. a. Sering c. Sangat sering b. Pernah e. Pernah e. Sangat sering b.

Pernah e. Sering c. Sering c.60. Tidak pernah 64. Kamu memberi bantuan untuk pendirian rumah ibadat agama lain. Kamu menjawab semua ucapan salam keagamaan yang diucapkan oleh penganut agama lain. Sangat tidak setuju 61. a. Sangat sering b. Tidak pernah 66. Sering c. Tidak pernah 62. Jarang d. Netral d. a. a. Sering c. Pernah e. Tidak pernah 170 . Sangat sering b. Kamu menghadiri upacara pemakaman penganut agama lain. Sangat setuju b. a. Jarang d. a. Pernah e. Sering c. Sangat sering b. Tidak pernah 65. Sangat sering b. Setuju c. Kamu meminjamkan buku/uang kepada teman berbeda agama. Pernah e. Sangat sering b. Sering c. a. Jarang d. Tidak pernah 63. Sangat sering b. Pernah e. Pernah e. Kamu membantu jika ada teman berbeda agama mendapat musibah. Jarang d. Kamu akan memilih orang yang berbeda agama untuk menjadi ketua organisasi kampus? a. Jarang d. Kamu melakukan ibadat di rumah temanmu yang berbeda agama. Jarang d. Tidak setuju e.

Sangat sering b. Pernah e. Jarang d. Tidak pernah 69. Sering c. Sering c. Sangat sering b. Sangat sering b. Kamu menolak tawaran bantuan dari teman berbeda agama? a. Pernah e. Jarang d. Pernah e. Pernah e. a. Tidak pernah 72. Kamu melakukan pinjam-meminjam barang/uang dengan orang berbeda agama? a. Kamu bertamu ke rumah orang berbeda agama? a. Sangat sering b. Sering c. Jarang d. Sering c. Pernah e. a. Sering c. Sangat sering b. Tidak pernah 68. Pernah e. Tidak pernah 171 . Jarang d. d. Pernah e. Kamu bertukar pikiran dengan orang berbeda agama. Sangat sering b. Tidak pernah 73. a. Sering c. Kamu mengikuti nasihat yang diberikan teman berbeda agama. Tidak pernah 70. Kamu meminjamkan kendaraan milikmu kepada orang berbeda agama? a. Jarang b. Tidak pernah 71. Jarang d.67. Sangat sering b. Jarang d. Kamu bertemu dan berbicara dengan orang lain yang berbeda agama. Sering c.

172 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->