P. 1
Artikel Fiqih

Artikel Fiqih

|Views: 19|Likes:
Published by murianda

More info:

Published by: murianda on Mar 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2013

pdf

text

original

Beranda

Sabtu, 14 Mei 2011 Implementasi Fiqh Sosial dalam Berorganisasi

Oleh : Fahrie Sadah

Tahap awal dalam sebuah managemen organisasi telah dilalui yaitu Planning (Penencanaan). Jum’at malam, (13 Mei 2011) Pengurus Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Sudan menggelar Rapat kerja di Sekretariat KMA yang bertempat di Apartement Sabirin Lt. 3. Rapat Kerja yang berlangsung cukup alot itu telah melahirkan proker lengkap dengan Time Schedule dan budgeting masing-masing program. Baik program rutin, cash program maupun program yang bersifat tentatif. Langkah berikutnya adalah Actuating dan Monitoring. Perencanaan yang begitu rapi tidak akan ada artinya tanpa aksi.

Dengan semangat mengemban amanat organisasi, mari kita aktualisasikan program-program tersebut dalam bentuk rill, yang tentunya tidak lepas dari monitoring (pengawasan) secara berkala melalui rapat evaluasi program kerja. Ada tiga semangat besar yang saya lihat dalam KMA. Yaitu, Kekeluargaan, Pembekalan SDM dan Relation Building(membangun relasi). Kita tidak memposisikan KMA nomor satu atau dua, tujuan utama kita ke Sudan adalah untuk menuntut ilmu, pada titik ini kita sepakat. Dan semangat KEKELUARGAAN, PEMBEKALAN SDM dan RELATION BUILDING yang tersirat dalam tiap butir-butir program kerja KMA juga bagian dari manifestasi ilmu, yang mungkin tidak kita dapatkan di ruang kuliah. Bermu’amalah dengan sesama, berorganisasi, mulazamah dengan shekh dalam sebuah halqah juga merupakan bagian dari menuntut ilmu. Di sini KMA hadir sebagai sebuah organisasi yang menawarkan implementasi (ranah tathbiqi) dari kajian fiqih sosial yang mungkin telah kita kuasai secara teoritis (nadhari). Fiqih sosial bertujuan untuk melahirkan output yang memiliki keshalehan sosial, bukan kesalehan pribadi. Demikian halnya KMA, keberhasilan, kesuksesan dan keshalehan secara jama'ah (seluruh anggota) merupakan harapan

besar KMA. Karena, kesiapan mental untuk menghadapi interaksi sosial di Aceh nantinya, harus sudah dibangun dari sekarang.. Selamat berkarya ..

Beranda

Sabtu, 19 Maret 2011 FIQIH PRIORITAS (FIQH AULAWIYAH)

Report by: Fahrie Sadah

Kajian KMA Sudan kali ini bertemakan Fiqih Prioritas (Fiqh Aulawiyah). “Dalam kehidupan kita, harus ada prioritas-prioritas yang dijaga. Demikian halnya dalam ranah fiqih.” Kata Ustaz Asep Ami Azwar Farid, Lc. sebagai kalimat pembuka dalam kajian kali ini.

Fenomena yang jelas terlihat di tengah masyarakat saat ini, begitu marak dan megahnya kegiatan-kegiatan yang bersifat hiburan, sedangkan kegiatan keilmuan semakin sedikit. Lihat saja antusiasme masyarakat menghadiri nonton bola bareng atau konser band tertentu, dan bandingkan dengan kegiatankegiatan keilmuan seperti pengajian, ceramah atau seminar. Syeh Yusuf Qardawi memberi batasan prioritas, yaitu dengan menempatkan sesuatu sesuai kedudukannya ()‫مرتبته‬

‫وضع كل شيء في‬.

Sebagai contoh nyata (waqi‟), ada orang kaya yang zakat nya rajin, tetapi shalatnya masih bolong-bolong. Ia merasa sebagai orang dermawan yang rajin zakat, sedekah yang banyak ke mesjid, haji berkali-kali. Sehingga ia beranggapan bahwa ia tidak perlu shalat lagi. Atau sebaliknya, ada orang yang shalatnya sangat rajin, tetapi menyisihkan hartanya untuk zakat atau menunaikan haji sangat berat, padahal ia mampu. Abu Bakar r.a. pernah berkata:

‫من فرّ ق بين الصالة والذكاة‬ َ َّ‫ألقاتلن‬
(Sungguh, saya akan memerangi siapapun yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat) Kasus di atas adalah bukti penempatan prioritas yang sangat keliru. Shalat dan zakat,keduanya adalah fardhu yang harus ditunaikan. Tidak ada pilihan ataupun prioritas dalam ibadah yang sama-sama fardhu. Terlebih lagi, bila kita memprioritaskan ibadah yang hukumnya sunnah di atas yang fardhu! Berbicara tentang fiqih prioritas, maka kita tidak bisa lepas dari dasar-dasar penetapan hukum (usul) dan tujuan pensyari‟atan sebuah hukum (maqasid). Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam fiqih prioritas; 1. Mengedepankan kebaikan (mashlahah) di atas keburukan (mafsadah) Apabila ada dua kasus, yang pertama mengandung kebaikan (masalih) dan yang kedua mengandung keburukan (mafasid). Maka, tentunya kita harus mengedepankan yang memiliki kebaikan. Tapi, bagaimana jika kita dihadapkan pada dua pilihan yang keduanya sama-sama mengandung keburukan (mafasid)? Contohnya, dalam pemilihan seorang kepala Negara. Dan kita harus memilih satu di antara dua calon. Calon pertama, kuat fisik dan akalnya namun sering lalai beribadah (fasik). Sedangkan, calon kedua lemah fisik dan akalnya, tetapi sangat taat beribadah. Yang mana yang akan kita pilih?

Dalam kasus seperti ini, Yusuf Qardawi menawarkan solusi: Pilihlah yang paling sedikit keburukannya (‫مفسدة‬

‫)تقدم أخف‬.

Bila kita kaji kasus di atas, maka calon kedua lebih banyak keburukannya ketimbang calon pertama. Karena, lemahnya seorang pemimpin dapat menghancurkan satu negara, meskipun dia taat dalam ibadah, karena ketaatannya itu hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Demikian sebaliknya, pemimpin yang kuat fisik dan akalnya mampu menjalankan pemerintahan dengan baik. Adapun kefasikannya hanya akan merugikan dirinya sendiri. Jadi, pilihan jatuh pada calon pertama dengan pertimbangan kebaikan bagi orang banyak. Inilah fungsi fikih keseimbangan (fiqih muazanah)dalam penetapan sebuah hukum. 2. Memperhatikan tujuan pensyariatan hukum (maqasid asy-syar’iah) Setiap hukum yang ditetapkan mengandung tujuan pensyari‟atan. Shalat bertujuan untuk mencegah perbuatan keji dan munkar

(‫)إن الصالة تنهى عن الفحشاء والمنكر‬.
Dengan menunaikan zakat, diharapkan kita dapat membersihkan diri dan harta kita (..‫بها‬

‫)تطهرهم وتزكيهم‬. ‫)لعلكم‬. ‫)ليذكر اسم‬.

Berpuasa bertujuan untuk memperoleh gelar takwa (‫تتقون‬

Dan haji, bertujuan agar kita lebih mengingat Allah swt (‫هللا‬ 3. Mengedepankan ilmu daripada amal

Hal yang paling utama dalam fiqih prioritas adalah bagaimana seseorang dapat mengedepankan ilmu daripada amal. Dengan kata lain, segala amal yang kita perbuat, haruslah berlandaskan ilmu. Shalat dua raka‟at dengan berlandaskan ilmu lebih baik dibanding shalat seratus raka‟at tanpa ilmu. Dalam hal ini kwalitas lebih diutamakan ketimbang kwantitas. Ibadah yang berkualitas tentunya ibadah yang dijalankan sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan. Dan untuk mengetahuinya, yang kita butuhkan adalah ilmu. Umar bin Abdul Aziz berkata :

‫العامل على غير علم أكثر يفسد مما يصلح‬
“Seorang pekerja yang tidak berilmu, lebih banyak merusak daripada berbuat”

Masih senada dengan ungkapan di atas, Hasan Al-Basri menambahkan :

‫العامل على غير علم كسائر على غير طريقه‬
“Seorang pekerja yang tidak berilmu, seperti orang yang berjalan bukan pada jalannya (tersesat)”
Label: Kajian, Syari'ah

Reaksi:

Satu Risalah untuk MPU
Opini - 9 May 2011 | 1 Komentar Oleh Muhammad Syahrial Razali Ibrahim – Dalam fatwa MPU NAD Nomor 4 Tahun 2007 Tentang Pedoman Identifikasi Aliran Sesat disebutkan 13 kriteria aliran sesat, yaitu mengingkari salah satu dari rukun iman dan rukun Islam, meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesu ai dengan i‗tiqad ahlu sunnah wal-jama‘ah, meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran, mengingkari kemurnian dan atau kebenaran al-Quran, menafsirkan al-Quran tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir dan mengingkari kedudukan hadist nabi sebagai sumber ajaran Islam. Enam kriteria lain adalah, melakukan pensyarahan terhadap hadist nabi tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu musthalah hadist, menghina dan atau melecehkan para Nabi dan Rasul Allah SWT, mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir, menghina dan melecehkan para sahabat Nabi Muhammad SAW, mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh Syariat, misalnya berhaji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu dan sebagainya, serta mengkafirkan ses ama muslim tanpa dalil syr‗i yang sah, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan anggota kelompoknya. Sewajarnya semua kita berterimaksih kepada MPU atas usaha dan kesungguhannya dalam menerbitkan fatwa 13 kriteria aliran sesat seperti termaktub di atas. Mudah-mudahan ijtihad ini mendapat ganjaran yang setimpal di sisi Allah SWT, apalagi fatwa berkenaan dikeluarkan dengan maksud untuk menjaga dan membentengi agama Islam dan umatnya dari hal-hal yang menyesatkan. Kekaburan Makna ‘Sesat’ Namun ada beberapa hal—dalam pandangan penulis—yang masih terganjal dan perlu segera diperjelas oleh pihak MPU demi kesempurnaan fatwa tersebut. Antaranya adalah penggunaan kata ‗sesat‘ yang dalam pandangan penulis masih memiliki kekaburan makna. Secara umum dapat dipahami bahwa sesat adalah sesuatu yang menyimpang dari kebenaran. Akan tetapi ketika istilah ini dilabelkan pada sebuah ajaran, aliran atau mazhab tentu makna dan maksudnya perlu dipertegas. Di Indonesia, dari dulu setiap ada aliran yang keluar dari jalur mayoritas (mainstream) terutama dalam bidang aqidah selalu di-cap ‗sesat‘, tidak lebih dari itu, dan tidak ada penjelasan lebih lanjut yang lebih kongkrit. Lalu kita bertanya pada yang menuding atau menetapkan ‗sesat‘ terhadap sebuah aliran, sesat yang bagaiman a yang dimaksud? Karena sebagaimana dimaklumi, sesat adalah satu kata umum yang dimungkinkan memiliki ragam makna. Dalam tradisi ‗kitab kuning‘ sebuah istilah selalu diperkenalkan melalui dua definisi utama, lughawi (etomologi) dan isthilahi (terminologi). Lebih lanjut lagi, dalam literatur Islam yang lebih luas, kita menjumpai sejumlah kata yang berkemungkinan diartikan lebih dari satu makna, tergantung dari sudut mana ia dipandang atau siyaq (konteks) dari kata tersebut. Apakah ia dilihat dari sudut bahasa (haqiqah lughawiyah), atau dari segi agama (haqiqah syar‘iah), atau juga dimaknai dalam konteks budaya (haqiqah ‗urfiah). Dan setiap satunya memiliki konsekwensi tersendiri yang tidak sama dengan lainnya. Lalu ketika MPU mengeluarkan fatwa tentang 13 kriteria aliran sesat, ia dilihat dari sudut pandang mana, bahasa, budaya atau agama? Dan tentunya dengan mudah, semua akan menjawab, ‗sesat‘ yang dimaksud oleh MPU adalah tinjauan dari sudut pandang agama. Namun begitu, ‗sesat‘ dalam kacamata agama-pun masih perlu dipertegas maknanya. Karena kalau merujuk alQuran misalnya, kita akan menemukan sejumlah kata ‗sesat‘ yang digunakan, tetapi mengindikasikan makna yang

berbeda antara satu dengan lainnya. Dan didapati sekurang-kurangnya al-Quran membagikan ‗sesat‘ kepada dua bentuk utama. Yang pertama adalah sesat perbuatan (dhalalah ‗amaliah), dan kedua sesat aqidah (dhalalah i‘tiqadiyah). Keduanya bisa dirujuk melalui firman Allah dalam surah an -Nisa ayat 116, 119, dan al-Ahzab 36. Kemudian dari dhalalah i‘tiqadiah (sesat keyakinan/aqidah) masih menyisakan kekaburan, antaranya adalah, kesesatannya di tingkat ushul (pokok) atau pada tataran furu‘ (cabang). Hal ini perlu diperjelas untuk memudahkan proses identifikasi seseorang atau suatu kelompok apakah kesesatannya berbahaya atau tidak, stadium rendah atau tinggi. Soalnya jika kesesatannya sudah sampai pada tingkat ‗ushul‘ maka yang berkenaan sudah bisa divonis murtad atau kafir. Tetapi jika tidak, maka ia masih menjadi saudara kita se-Islam, walaupun di sana sini terjadi perbedaan antara satu dengan yang lainnya, tidak terkecuali dalam bab aqidah, asalkan itu soal furu‘. Umat Islam dari dulu masih saja berselisih dalam masalah furu‘, dan ini mustahil untuk didamaikan atau dipertemukan menjadi satu. Sampai hari ini, keyakinan yang ada pada pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahabi) misalnya, tidak pernah bisa menerima aqidah yang diyakini oleh pengikut Abu Mansur al-Maturidi (Maturidiah) atau Abu Hasan al-Asy‘ari (al-Asy‘ariyah) yang sebagian pengikutnya adalah masyarakat Aceh. Begitu juga dalam hal furu‘iyat fiqh, sampai kapanpun tetap tidak akan pernah sama. Dan ini juga digolongkan dalam bab ‗keyakinan‘, karena tidak mungkin memutuskan satu hukum ‗amali (fiqh) tanpa didasari pada satu keyakinan tentang keberadaan hukum tersebut. Namun semua ini bukanlah keyakinan yang bersifat ‗ushul‘ yang mendapat pridiket ‗kafir‘ atau ‗murtad‘ bagi yang mengingkarinya. Ini antara yang belum dan perlu segera dijelaskan oleh pihak MPU, tergolong dalam ‗sesat‘ yang bagaimana seandainya seseorang atau satu kelompok didapati melakukan kegiatan atau meyakini salah satu dari 13 poin kriteria aliran sesat di atas, sesat amali (perbuatan) atau sesat i‘tiqadi, dan jika i‘tiqadi, stadium rendah atau tinggi, tetap dianggap Muslim atau tidak? MPU sudah selayaknya memberi definisi dan batasan yang jelas dalam kasus ini. Karena apabila dilihat dengan teliti, 13 poin kriteria aliran sesat versi MPU ini tidak semua memberi konsekwensi ‗sesat i‘tiqadi‘ atau sesat aqidah, apalagi sampai ‗kafir‘ atau ‗murtad‘, seperti ―menafsirkan al-Quran tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir‖ dan ―melakukan pensyarahan terhadap hadist tidak berdasarkan kaidah -kaidah ilmu musthalah hadist‖. Bahkan dari kata-kata yang digunakan terang menunjukkan kalau dua poin di atas berkaitan dengan perbuatan, bukan keyakinan. Seseorang yang aqidahnya benar, keyakinannya bersih, boleh-boleh saja terjebak pada praktek tafsir yang ilegal sehingga menyimpang dan keluar dari koridor syar‘i. Begitu juga dengan pensyarah hadist yang gegabah, sok jagoan, lalu memberi makna yang tidak benar terhadap hadist nabi. Akan tetapi tidak serta merta orang tersebut dituding ‗sesat i‘tiqadi‘, meskipun perbuatan itu dilakukan dengan unsur kesengajaan.

Ahlu Sunnah wal-Jama’ah atau al-Asy’ariah?
Hal lain yang perlu diperjelas adalah poin yang menyebutkan ―meyakini dan atau mengikuti aqidah tidak sesuai dengan i‗tiqad ahlu Sunnah wal-jama‘ah‖. Artinya jika ada di antara orang Aceh, atau siapapun di luar orang Aceh yang memiliki keyakinan berseberangan dengan keyakinan ahlu sunnah wal-jama‘ah ia dianggap sesat. Dan sesat di sini tidak tanggung-tanggung, dalam pandangan penulis yang ‗cetek‘, tudingan sesat di sini berada pada stadium tinggi. Orang tersebut sama seperti yang tidak mau meyakini ‗hadits -nya al-Quran‘ pada masa al-Makmun, ia bisa

dipancung. Atau ia dipandang sama dengan orang yang tidak mau meyakini qadim-nya al-Quran pada masa Harun Rasyid atau al-Mutawakkil, ganjarannya dibunuh. Berdasarkan poin ini, antara aliran yang menjadi sasaran fatwa MPU adalah syi‘ah (syi‘ah imamiyah) yang kini sedang gencar-gencarnya menebar pesona di seantero Nusantara, termasuk di Aceh. Mereka bukan ahlu sunnah wal jama‘ah. Lantas apakah karena bukan ahlu sunnah kemudian mereka dituding sesat? Tentu bagi kaum sunni , syi‘ah itu sesat. Sama halnya dengan sunni di mata syi‘ah, mereka juga sesat. Namun kembali pada pertanyaan sebelumnya, ‗sesat‘ yang bagaimana yang dimaksud? Apakah kesesatan itu berada pada tataran ushul atau furu‘? Sungguh tulisan ini tidak lahir dari pikiran orang syi‘ah atau simpatisan syi‘ah, tetapi perlu diketahui kalau mayoritas masyarakat Islam dunia hari ini mengakui keberadaan syi‘ah, dan memandang mereka sebagai bagian dari kaum muslimin itu sendiri. Yusuf Qardhawi dalam banyak kesempatan selalu menegaskan, ‗mereka adalah saudara kita‘. Lalu apa yang dimaksud oleh MPU dengan keyakinan ahlu sunnah wal jama‘ah? Penulis melihat ini di antara pertanyaan penting dan esensial yang perlu segera dijelaskan ke publik. Karena sesuai dengan kriteria aliran sesat rumusan MUI pusat, kita tidak menjumpai ada kalimat semacam rumusan MPU. Oleh MUI pusat mereka hanya menyebutkan, ―Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan al-Quran dan sunnah‖. Rumusan MUI pusat terlihat jauh lebih ‗fair‘ dan objektif, di mana mereka masih memberi ruang kepada banyak aliran untuk berlindung di bawah nama Islam asalkan tidak keluar dari payung Quran dan sunnah. Dan tentu pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa ada perbedaan antara rumusan MPU dengan MUI dalam poin yang sama? Kita tidak mempermasalahkan ketika MPU menambah dari 10 kriteria rumusan MUI menjadi 13 kriteria. Karena seyogianya kriteria ini tidak harus 13, juga tidak musti 10, boleh saja lebih, karena ini tidak prinsip. Tetapi setiap poin yang dimasukkan dalam kriteria tersebut harus benar-benar dipertimbangkan kelayakannya. Karena ini terkait ‗sesat‘ tidaknya seseorang atau kelompok, yang secara tidak langsung ditentukan melalui salah satu poin tersebut, dan ini prinsip. Atau jangan-jangan yang dimaksud dengan ahlu sunnah wal jama‘ah adalah aliran asy‘ariah?

MPU Harus Tegas
Terakhir, dengan rendah hati penulis menyarankan kepada para ulama dan guru-guru kami yang duduk di MPU untuk bersikap tegas dalam masalah ini. Masyarakat tidak boleh dibuat bimbang yang pada akhirnya main hakim sendiri dalam menentukan sesat atau tidak sesat. Dalam bahasa yang cukup sederhana, ‗jangan membuat masyarakat sesat soal aliran sesat‘. Hemat penulis, melalui 13 kriteria yang telah dirumuskan sebagai acuan penentu sebuah aliran sesat atau tidak, MPU masih perlu menerangkan seterang-terangnya kepada masyarakat, aliran apa saja yang kini berada di Aceh yang masuk dalam kategori sesat sesuai dengan 13 kriteria tersebut. Masyarakat tidak cukup bijak dan tidak cukup ilmu dalam menentukan aliran mana yang sesat. Sungguh tidak memadai kalau mereka hanya dibekali dengan pengetahuan 13 kriteria aliran sesat tanpa ada penjelasan dan pendetilan. Para ulama jangan fobia dengan poin ―mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syr‗i yang sah dianggap sesat‖ sehingga tidak berani mengeluarkan fatwa tegas, bahwa aliran pulan dan pulen sesat. Kalau sememangnya memiliki cukup dalil yang kuat, mengapa tidak? Sehingga masyarakat tidak mengambang dan bingung dalam bersikap. Please….jangan buat masyarakat jikeumeukap sabee keudro dro jih….wallahua‘lam bisshawab.[] *Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Teungku Balee di Lhokseumawe

Follow Twitter @harianaceh dan Facebook Ha

Berita
Friday, 17 June 2011

Hukuman Cambuk tidak Melanggar HAM (Tanggapan Terhadap Amnesty Interntional)
Oleh Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA

Penerapan syariat Islam di Aceh kembali digugat dan “diserang”. Kali ini, gugatan dan “serangan” tersebut datang dari Direktur Asia Pasifik Amnesty Internasional (AI), Sam zarifi, yang mendesak pemerintah Indonesia untuk menghentikan penggunaan cambuk sebagai bentuk hukuman dan mencabut peraturan yang menerapkannya di Provinsi Aceh, karena dianggap melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) internasional, melalui siaran persnya yang diterima Harian Aceh, Minggu (22/5).

AI juga menyerukan kepada pemerintah pusat Indonesia untuk mengkaji semua hukum dan peraturan lokal untuk menjamin keselarasan mereka dengan hukum dan standar HAM internasional, juga dengan ketentuan ketentuan-ketentuan HAM dalam undang-undang domestik (Harian Aceh, 23/5/2011).

Sejak Aceh memproklamirkan sebagai “negeri syariat” pada tahun 2002, berbagai rintangan dan tantangan terus menghadang. Berbagai “serangan” dan gugatan dialamatkan kepada penerapan syariat Islam di Aceh, baik datangnya dari pihak luar (non muslim) maupun dari pihak dalam (muslim sekuler).

“Serangan” dan gugatan yang bertubi-tubi tersebut terus bermunculan sampai hari ini, seakan tak habis-habisnya. Dengan dalih HAM, para penentang syariat Allah berteriak lantang menentang penerapan syariat Islam di Aceh. Tujuannya jelas, mendiskriditkan syariat Islam dan tidak rela syariat Islam diterapkan di Aceh.

Berkaitan dengan hal ini, al-Quran telah mengingatkan kita terhadap pihak-pihak yang tidak rela dan senang dengan syariat Islam untuk selama-lamanya (QS. 2 : 120). Perasaan tidak suka terhadap syariat Islam juga telah merasuk ke dalam sanubari orang Islam yang sekuler dan liberal, yang notabenenya sebagai murid dan pengikut setia para misionaris dan orientalis.

Untuk menepis berbagai tuduhan negatif dan syubhat terhadap syariat Islam yang mulia ini, maka menurut penulis, kita perlu

menjelaskan maksud dan tujuan syariat Islam secara utuh, konfrehensif dan objektif. Agar syariat Islam tidak pandang negatif dan disalah dipahami.

Maksud dan tujuan syariat Islam Islam merupakan agama yang sempurna dan penutup agama samawi. Hanya Islam satu-satunya yang diakui dan diridha Allah Swt untuk umat manusia (QS. 3: 19 dan QS. 5 : 3). Syariat Islam datang sebagai penyempurna sekaligus penghapus syariat NabiNabi sebelumnya yang hanya bersifat temporer dan teritorial (QS. 5 : 48). Sebagai agama yang terakhir dan sempurna, Islam membawa misi perdamaian dan rahmatan lil’alamin (QS. 21 : 107 dan QS. 10 : 57).

Secara umum, maksud dan tujuan diturunkan syariat Islam adalah untuk mendatangkan kemaslahatan dan sekaligus menolak kemudharatan dalam kehidupan umat manusia. Konsep ini dikenal dengan sebutan maqashid syar’iah. Maqashid Syaria’h berarti tujuan Allah dan Rasul-Nya dalam merumuskan hukum-hukum Islam. Tujuan ini dapat ditelusuri dalam ayat-ayat alQuran dan Sunnah Rasulullah saw sebagai alasan logis bagi rumusan suatu hukum yaang berorientasi kepada kemaslahatan umat manusia.

Dalam kitabnya al-Mustashfa, Imam al-Ghazali menjelaskan konsep maqashid syariah. Menurutnya, tujuan syara’ yang berhubungan dengan makhluk ada lima, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta mereka. Maka, setiap hal yang mengandung upaya menjaga lima perkara pokok tersebut itu adalah maslahat. Sebaliknya, setiap hal yang tidak mengandung lima perkara pokok tersebut adalah mafsadah, dan menolaknya termasuk maslahat.

Menurut Imam Abu Zahrah, maslahat Islamiah yang diwujudkan melalui hukum-hukum Islam dan ditetapkan berdasarkan nashnash agama adalah maslahat hakiki. Maslahat ini mengacu kepada pemeliharaan terhadap lima hal, yaitu memelihara agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Ini disebabkan dunia, tempat manusia hidup, ditegakkan di atas pilar-pilar kehidupan yang lima itu.Tanpa terpeliharanya hal ini tidak akan tercapai kehidupan manusia yang luhur secara sempurna.

Oleh karena itu, kemuliaan manusia tidak bisa dipisahkan dari pemeliharaan terhadap lima hal tadi. Agama, misalnya, merupakan keharusan bagi manusia. Dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dibawa oleh ajaran agama, manusia menjadi lebih tinggi derajatnya dari derajat hewan. Sebab beragama adalah salah satu ciri khas manusia. Dalam memeluk suatu agama, manusia harus memperoleh rasa aman dan damai, tanpa ada intimidasi. Islam dengan peraturan-peraturan hukumnya melindungi kebebasan beragama (Ushul Fiqh, hal. 320).

Maka jelaslah bahwa dalam konsep maqashid syariah ada lima kebutuhan kehidupan primer manusia yang mesti ada (addharuriyyat al-khams) atau kini populer dengan sebutan HAM (Hak Asasi Manusia) yang dilindungi oleh syariat yaitu agama, jiwa, akal, nasab, dan harta. Syariat diturunkan untuk memelihara kelima HAM tersebut. Pelanggaran terhadap salah satu daripadanya dianggap sebagai suatu kriminal (jarimah).

Untuk menjaga kemaslahatan adh-dharuriyat al-khams atau HAM, Islam mensyariatkan sanksi (uqubat) yang cukup tegas, yaitu hukuman hudud, qishash dan ta’zi,r demi menciptakan kemaslahatan publik dan menolak kemudharatan. Hukuman murtad

(had ar-riddah) yaitu dibunuh, bertujuan untuk menjaga kemaslahatan agama, agar orang tidak mempermainkan agama dengan seenaknya. Hukuman minum minuman keras (had al-khamr) yaitu cambuk delapan puluh kali atau empat puluh kali bertujuan untuk menjaga akal agar tetap baik dan sehat.

Hukuman zina (had az-zina) yaitu seratus kali cambuk bagi yang belum kawin (ghair muhshan) dan rajam bagi yang sudah kawin (muhshan) bertujuan untuk menjaga nasab dan menghindari dari penyakit yang berbahaya. Hukuman tuduhan berzina (had alqazf) yaitu dicambuk delapan puluh kali bertujuan untuk menjaga kehormatan. Hukuman pencurian (had as-sariqah) yaitu potong tangan bertujuan untuk menjaga harta. Dan hukuman pembunuhan dan penganiayaan yaitu qishah (dibunuh atau dianiaya pula) bertujuan untuk menjaga jiwa manusia.

Oleh karena itu, dalam Islam dikenal beberapa jenis hukuman seperti potong tangan, cambuk, rajam, qishah dan bunuh. Hukuman ini diberikan sesuai dengan jenis dan tingkatan kriminalnya. Tujuan semua jenis hukuman ini adalah untuk menjaga kehormatan seseorang, menjaga masyarakat dari kekacauaan dan prilaku buruk atau hina, mensucikan jiwa yang telah ternoda dengan dosa, dan memelihara kemaslahatan asasi manusia yaitu agama, jiwa, akal, nasab, dan harta.

Di samping itu tujuan utamanya yaitu untuk memberi efek jera dan pembelajaran sehingga dapat mencegah perbuatan kriminal atau maksiat. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa hukuman dalam Islam bertujuan untuk menjaga dan melindungi HAM.

Meskipun secara kasat mata hukuman Islam terkesan kejam dan keras, namun sebenarnya syariat Islam dalam menentukan hukuman lebih banyak bertujuan sebagai sarana untuk mencapai kemaslahatan publik dan menjaganya. Hukuman yang ditetapkan untuk kriminal itu lebih bersifat preventif, sehingga orang akan menahan diri dari melakukan hal itu. Hukuman tidak akan efektif bila hanya sebatas melarang, tanpa ada sanksi yang tegas.

Dengan kata lain, tanpa sanksi yang tegas dan menjerakan, suatu aturan/hukum tidak punya konsekuensi apa-apa. Sebaliknya, bila disertai dengan hukuman yang tegas dan keras , maka segala aturan baik bersifat perintah atau larangan itu akan diperhitungkan dan memiliki arti. Inilah tabiat suatu hukuman.

Tanggapan terhadap Amnesty International (AI) Menyikapi pernyataaan dan desakan AI tersebut, maka penulis perlu menyampaikan tanggapan sebagai berikut;

Pertama, tuduhan AI tersebut telah mendiskriditkan Islam, bahkan melanggar HAM umat Islam. Umat Islam dimana pun berada –termasuk di Aceh- berhak dan bebas mengamalkan agamanya tanpa larangan dan intimidasi. Syariat Islam di Aceh hanya diperuntukkan bagi umat Islam yang berada di wilayah hukum Aceh, bukan bagi non Islam atau umat Islam di luar Aceh.

Kedua, salah satu point dari Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia bahwa setiap manusia dijamin untuk bebas beragama dan melaksanakan keyakinan agamanya. Hal ini juga dijamin oleh hukum di Indonesia yaitu UUD 1945 tentang kebebasan beragama dan melaksanakan keyakinan agamanya, sehingga pelaksanaan Syariat Islam di Aceh (secara legal formal telah diamanahkan

oleh Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia), dalam baik dalam dimensi privat dan publik merupakan pengejawantahan dari kebebasan beragama. Oleh karena itu tuduhan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan meminta hukuman cambuk di Aceh dicabut oleh Direktur Asia Pasifik Amnesty International, Sam Zarifi, menjadi tidak beralasan.

Ketiga, AI menuduh hukuman cambuk bertentangan dengan HAM. Namun, yang menjadi persoalan, HAM mana yang dimaksud AI? Karena, konsep HAM dalam paradigma Islam berbeda dengan konsep HAM dalam paradigma Barat yang cederung mengasihani si pelaku maksiat (kriminal), tanpa mengasihani korbannya. Dimana prinsip keadilan dalam HAM Barat?

Selain itu, menurut HAM made in Barat hubungan seks bebas dibolehkan asal suka-sama suka. Begitu pula mabuk-mabukkan asal tidak menggangu orang lain. Dimana nilai moral dalam HAM barat? Apa bedanya dengan binatang? Kalau HAM model barat ini yang dimaksud, maka AI telah salah sasaran dalam menuduh. Karena, orang Aceh itu muslim dan Aceh merupakan daerah yang resmi menerapkan syariat Islam. HAM model barat sangat bertentangan dengan Islam. Maka, tidak boleh dipakai oleh umat Islam dimanapun, termasuk di Aceh.

Keempat, AI telah mengintervensi urusan agama seseorang dan aturan sebuah negara, maka AI telah melanggar HAM pula. Padahal, Islam tidak pernah mencampuri urusan agama lainnya. Bahkan Islam memberi kebebasan bagi agama lain untuk beragama dan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya (QS. 109 : 6 dan QS. 2 : 256). Ini jelas melanggar HAM umat Islam dan berbagai aturan yang berlaku di negara RI seperti UUD 1945, UU no 44 tahun 1999, UU no 11 tahun 2006, dan sebagainya.

Kelima, salah satu alasan yang dikemukakan oleh Sam Zarifi bahwa cambukan bisa mengakibatkan cedera jangka panjang atau permanen terlalu mengada-ngada dan yang bersangkutan tidak memperoleh informasi yang utuh bagaimana mekanisme dan proses pelaksanaan hukum cambuk di Aceh. Kalau pun hukuman tersebut menimbulkan rasa sakit dan malu, itu merupakan bagian dari efek jera yang ingin dicapai dari suatu proses penerapan hukuman bagi pelaku kejahatan. Sehingga, menjadi pelajaran bagi pelaku dan orang lain.

Keenam, konsekwensi ketika sudah memilih Islam sebagai agama, maka suka tidak suka aturan hukum-hukum agama tersebut harus diberlakukan kepada yang bersangkutan. Dan ini sangat selaras dengan kebebasan beragama. Baru dikatakan melanggar HAM kalau kepada pemeluk agama selain Islam dipaksakan untuk menggunakan hukum Islam. Tidak ada aturan yang akan berjalan kalau tidak disertai dengan sanksi yang tegas.

Dengan penjelasan diatas maka jelaslah bahwa hukuman dalam Islam baik berupa potong tangan, rajam, bunuh maupun cambuk tidaklah melanggar hak asasi manusia, justru sebaliknya hukuman tersebut bertujuan untuk melindungi HAM dan memberikan keadilan yang sejati, serta menjamin keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Pemerintah, baik di Aceh maupun di Pusat, diharapkan komit terhadap amanah Undang-Undang yang melegalkan secara formal penerapan syariat Islam di Aceh dan tidak terpengaruh dengan desakan AI dan pihak lainnya. Kepada AI diminta untuk menghormati umat Islam dan hukum yang berlaku di Indonesia.

Penulis adalah Dosen fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Kandidat Doktor Fiqh & Ushul Fiqh, International Islamic University Malayasia (IIUM), Ketua Biro Dakwah Dewan Dakwah Aceh. Redaktur: Johar Arif

STMIK AMIKOM

Sumber Berita

http://www.republika.co.id/berita/nasional/op

Dayah masuki Era Baru
Dayah masuki Era Baru

Oleh Mulyadi Nurdin, Lc

Dayah (Pesantren) memasuki era baru, keberadaannya telah diakui pemerintah, pendidikan tinggi model dayah sudah terwujud, malah ada santri yang melanjutkan kuliah hingga jenjang S-2.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, orang Aceh menyebutnya dayah, jauh sebelum Indonesia merdeka lembaga pendidikan ini telah eksis di tengah masyarakat, bahkan menjadi satu-satunya lembaga pendidikan yang ada saat itu.

Seiiring perjalanan waktu posisi dayah semakin hari semakin terpinggirkan, sehingga menimbulkan kekhawatiran tersendiri di tengah masyarakat. Maklum saja anak bangsa yang menuntut ilmu di dayah jumlahnya sangat banyak, sehingga persoalan mereka secara langsung menjadi persoalan bangsa juga.

Di tengah keinginan berbagai pihak untuk melakukan legalisasi pendidikan dayah agar setara dengan pendidikan lainnya, gayung bersambut, pemerintah akhirnya mengeluarkan aturan yang menghapus diskriminasi dayah dalam sistem pendidikan nasional, adalah UU nomor 20 tahun 2003 sebagai cikal bakal payung hukum yang mengakui dayah sebagai salah satu lembaga pendidikan, ditambah lagi dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan yang semakin memperkuat posisi dayah.

Di Aceh juga tak kalah kencang, tahun 2008 qanun nomor 5 lahir sebagai payung hukum pelaksanaan pendidikan dayah, walau diakui qanun tersebut belum sempurna, minimal lompatan bersejarah telah dicetuskan dalam rangka pengembangan dayah ke depan.

Kepala Bidang Pekapontren Kanwil Kementerian agama Aceh, Drs. Saifuddin AR mengakui bahwa qanun tersebut masih bersifat umum sehingga perlu penjabaran lebih detil melalui Peraturan Gubernur. “Qanun nomor 5 tahun 2008 masih bersifat umum, oleh karenanya kita sedang menggarap, berupaya adanya tindak lanjut melalui Peraturan Gubernur guna penertiban tata kelola di dayah”. Ujar Saifuddin AR kepada Santunan Jumat (18/6).

Pembenahan dayah tidaklah sederhana karena berbagai aspek perlu disempurnakan, karena sekian lama sistem pendidikan dayah berjalan apa adanya tanpa ada evaluasi apalagi pengembangan sebagaimana layaknya sebuah lembaga pendidikan.

Kurikulum merupakan salah satunya, dimana mata pelajaran yang diajarkan di dayah tidak berubah dari masa ke masa, umumnya materi pelajaran lebih dominan di bidang fiqih, sementara jurusan lain, walaupun ada masih tergolong minim, di samping itu ilmu pendukung seperti sejarah, sains tidak tersentuh hingga kini, sehingga tak jarang banyak orang menyepelekan alumni dayah karena wawasan yang sempit dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Menurut wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, kemunduran pendidikan dayah terjadi sejak perang dengan Belanda, pada saat itu banyak ulama yang maju ke garis depan melawan penjajah sehingga tidak fokus lagi dalam menjalankan roda pendidikan di dayah, padahal sebelumnya dayah Aceh sangatlah maju, yang mengajarkan berbagai bidang ilmu pengetahuan hingga ilmu militer. “Sejak perang Belanda terjadi pendestruksian terhadap sistem pendidikan dayah, ketika itu ulama terpaksa ikut berperang dan tidak lagi sempat mengurus pendidikan secara kental, maka pada saat itu kurikulum dihentikan

sementara dan tinggal kurikulum agama murni” Ujar Wagub pada acara wisuda lulusan STAI Al-Aziziyah Samalanga (15/6).

Manajemen merupakan faktor lain yang harus dibenahi, berbagai upaya perlu terus dilakukan termasuk melatih tenaga administrasi yang profesional supaya standarisasi dapat diwujudkan, di samping melengkapi fasilitas, sarana dan pra sarana, berbagai penyempurnaan menjadi tekad bulat pemerintah terutama kementerian agama sebagaimana diungkapkan Kabid Pekapontren Kanwil Kemenag Aceh, Saifuddin AR. “Kita akan melakukan perubahan-perubahan terhadap pondok pesantren salafiah, dimana kita melihat kondisi program pembelajaran, ketenagaan, sarana dan prasarana masih memprihatinkan”. Ujarnya.

Selama ini manajemen dayah berjalan apa adanya, hal itu terjadi karena memang belajar disana tidak dipungut biaya apapun alias gratis, jangankan membiayai manajemen yang membutuhkan biaya tinggi, gaji guru saja tidak diberikan, semua bekerja dengan ikhlas, itu pula yang menyebabkan dayah dapat bertahan di tengah berbagai tantangan yang dihadapinya, semangat juang murid, guru, dan alumni telah membuat dayah tegar di tingkat akar rumput walau berbagai krisis silih berganti mewarnai negeri ini.

Semangat itu jelas terlihat dari pernyataan ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk. Ibrahim Bardan yang sering disapa dengan Abu Panton yang mengingatkan santri dayah untuk terus mengembangkan pendidikan agama dalam kondisi apapun walau yang tersisa hanya satu orang murid sekalipun. “Beliau mendoktrin kami yang belajar kepada beliau, untuk tidak meninggalkan mengajar, walaupun hanya mempunyai satu murid saja, sekurang-kurangnya mengajarkan anggota keluarga sendiri”. Ajak Abu Panton mengutip pesan Abon Samalanga (15/6).

Akreditasi Ijazah Namun semangat juang yang luar biasa dari para santri dayah masih direspon dingin oleh dunia kerja, ribuan lembar ijazah yang dikeluarkan dayah di Aceh belum diterima oleh lapangan kerja, sangat disayangkan setelah bertahun-tahun menuntut ilmu tidak mendapat pengakuan berarti dari pihak terkait, sehingga menjadi dilema baru bagi intelektual dayah tersebut, malah untuk melanjutkan kuliah saja belum semua perguruan tinggi menerimanya, ini memang kontra produktif sehingga berbagai pihak harus mencari solusinya.

Akreditasi merupakan salah satu penyebabnya, sehingga upaya untuk mengakreditasi dayah hendaklah dilakukan secara cepat dan serius dengan melibatkan berbagai pihak supaya tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Proses akreditasi tersebut akan menjadikan dayah setara dengan pendidikan umum lainnya, sehingga persoalan diskriminasi ijazah tidak lagi terjadi.

Pihak dayah sendiri pada prinsipnya siap menyahuti proses tersebut selama tidak menghilangkan ciri khas mereka sendiri, hal itu sebagaimana diungkapkan Waled Hasanoel Bashry HG, Pimpinan Dayah MUDI Mesra kepada santunan (15/6). “Kalau konsep yang telah kami buat ini disetujui oleh pemerintah, hal tersebut mungkin bisa-bisa saja. Ini harus terlebih dahulu kita sepakati bersama. Tapi kalau hanya sepihak saja dari pemerintah yang menyebabkan hilangnya kekhasan dayah itu tersendiri, ini tidak dapat kita penuhi, ini tidak dapat kita pertanggungjawabkan kepada masyarakat nantinya” tegasnya.

Akreditasi itu sendiri akan mengarah kepada standarisasi mutu dan kurikulum dayah itu sendiri supaya ada keseragaman, tidak berjalan sendiri-sendiri, adanya kejelasan antara dayah, diniyah, TPA dan lain-lain, kalau perlu adanya SK tersendiri dari lembaga pemerintah supaya tidak membingungkan masyarakat. “Dayah kita sekarang tata kelolanya masih kurang tertib, salah satu contoh dalam tata kelola lembaga yang belum rapi, dimana pemisahan antara dayah salafiah, pendidikan diniyah, TPA-TPQ belum begitu jelas dalam angka-angka pendataan, termasuk legalitasnya yang belum begitu sempurna dimana belum ada SK dari lembaga pemerintah, SK ketenagaan, tata usaha maupun tenaga kepustakaannya belum teratur”. jelas Kabid Pekapontren Kanwil Kemenag Aceh, Drs.Saifuddin AR.

Secara tegas ulama kharismatik Aceh, Abu Panton berpesan agar ijazah dayah dapat diterima semua kalangan, hal itu seperti dikutip Kabid Pekapontren Saifuddi AR kepada santunan. “Peulagot dayah (usahakan dayah bisa laku)”. Ujar kabid mengutip Abu Panton. Keuangan Sementara itu persoalan keuangan masih menjadi tantangan berat bagi dayah, ketika perubahan mendasar di bidang akademik dilakukan, tentu pula membutuhkan perubahan signifikan dalam sektor keuangan, sehingga pemerintah tidak boleh tinggal diam, ketika pengakuan terhadap pendidikan dayah telah diberikan, maka alokasi dana yang sesuai juga harus diperhatikan sebagaimana yang diberikan kepada pendidikan lainnya.

Pemerintah Aceh melalui Badan Pendidikan dan Pembinaan Dayah telah menganggarkan dana yang sangat besar dalam dua tahun terakhir, tahun 2009 saja lebih 200 Milyar Rupiah dikucurkan untuk pengembangan dayah, dibandingkan dana untuk sekolah dan madrasah yang mencapai Triliunan, angka tersebut memang

masih kecil dan jauh dari cukup, tetapi sudah cukup lumayan sebagai langkah awal pemerintah dalam membangun dayah.

Selebihnya dayah bisa melakukan usaha sendiri melalui berbagai usaha termasuk pengembangan pertanian dan usaha berkelanjutan lainnya.

Menanggapi masalah tersebut Abu Panton mengingatkan dayah supaya mandiri dan jangan hanya bisa meminta, tetapi harus mencari sumber ekonomi lain termasuk membuka perkebunan jika perlu. “jangan hanya bisa menjilat, jangan hanya bisa meminta, jangan pernah berpikir bahwa membuka kebun merupakan pekerjaan dunia, ini semua guna kehidupan akhirat kita juga” tegas Abu Panton (15/6).

Menteri BUMN Mustafa Abu Bakar menyambut gembira ide tersebut, seraya berjanji akan membantu merealisasikan keinginan tersebut melalui program revitalisasi pertanian yang tentu saja dengan dukungan Bupati/Walikota, ulama dan tokoh masyarakat. “Dalam hal ini kami mohon bantuan Bupati/ Walikota, tokoh masyarakat, para ulama, mendukung program ini, dimana 2010 ini juga akan kita laksanakan, dengan menggunakan fasilitas kredit Bank Mandiri dan Bank BRI dengan namanya kredit revitalisasi pertanian, Insyaallah ini akan dapat kita wujudkan”. Jelas Mustafa Abu Bakar.

Pendidikan tinggi Pentingnya pendidikan tinggi sebagai lanjutan dari meudagang di dayah sudah dirasakan oleh pimpinan dayah Aceh, langkah maju tersebut perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan daya saing alumni dan upaya untuk membuat mereka diakui sebagaimana layaknya seorang sarjana. Adalah STAI Al-Aziziyah Samalanga sebagai contohnya, berbekal tekad dari sang pendiri, Waled Hasanoel, untuk mencetak kader dayah yang intelek dan agamis, perguruan tinggi tingkat S-1 tersebut berdiri megah bersebelahan dengan dayah MUDI Mesra Samalanga.

Sistem yang dianut dalam STAI yang mayoritas mahasiswa dan dosennya berasal dari dayah tersebut mengadopsi kurikulum perguruan tinggi secara nasional, ditambah dengan muatan lokal yang mencerminkan khas dayah.

“Kita mengikuti kurikulum nasional, pada awal pendirian malah kita ada opsi 100% kurikulum IAIN” ujar ketua STAI Al-Aziziyah, Tgk. Muntasir, S.Ag, MA kepada santunan (15/6).

Pendidikan tinggi ala dayah ini bukanlah yang pertama di Aceh, sebelumnya Abu Panton sebagai Ulama kharismatik Aceh telah lebih dulu membuka STAI kelas jauh di dayah yang dipimpinnya di Panton Labu, sementara di Baktia juga telah berdiri Ma’had Ali di bawah asuhan Tgk. Ajidar.

Ini pertanda bahwa semangat untuk bangkit telah tumbuh di kalangan dayah Aceh, kekhawatiran berlebihan yang pernah menyelimuti sebelumnya sudah mulai pudar seiring banyaknya alumni yang kuliah dan kembali ke dayah untuk mengajar junior mereka.

Upaya untuk melengkapi guru dan dosen dayah agar memenuhi standar akademis juga gencar dilakukan, tahun lalu sebanyak 14 orang utusan STAI Samalanga mengambil program S-2 di IAIN Ar-Raniry. “Dari kita pun sudah ada yang mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Aceh untuk kuliah di Banda Aceh sebanyak 14 orang, sekarang sudah ada yang diminta ke Medan” Ujar Walid Hasanoel kepada santunan.

Target yang dipasang untuk lulusan STAI versi dayah ini tidak tanggung-tanggung, mereka ingin melahirkan generasi baru bahkan calon pejabat dan elit Aceh yang jujur di kemudian hari. “kita ingin mencetak generasi baru, generasi pesantren yang agak identik dengan kejujuran, jadi generasi jujur ini menjadi generasi intelektual. Elit-elit atau pejabat yang akan lahir di Aceh kelak bisa diwarnai oleh alumni STAI ini” Ujar Tgk. Muntasir.

Gayung telah bersambut, kebijakan pemerintah yang menghapus diskriminasi dayah sudah diterbitkan, sementara dayah sendiri sudah siap untuk mengembangkan diri, tinggal bagaimana mengisi peluang itu dengan kerja nyata demi kemajuan pendidikan di masa yang akan datang.

70 Persen Warga Aceh Barat Tidak Bisa Salat Wajib
Pantai Barat - 30 May 2011 | 10 Komentar Meulaboh | Harian Aceh – Pernyataan mengejutkan dikeluarkan Bupati Aceh Barat Ramli MS. Kata dia, 70 persen warganya tidak bisa salat wajib. ―Angka ketidakmampuan masyarakat Aceh Barat dalam melaksanakan salat wajib sangat signifikan, mencapai 70 persen,‖ kata Bupati Ramli MS dalam sambutannya pada pembekalan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) bagi 460 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tgk Dirundeng Meulaboh di Aula Akper Suak Ribee, Jumat (28/5). Sontak, pernyataan itu mencengangkan para dosen dan mahasiswa STAI. Jika benar apa yang dikatakan bupati, tentu akan mengherankan banyak pihak. Pasalnya, selama ini Aceh Barat dikenal sebagai daerah yang ketat dalam pelaksanaan syariat Islam. Ramli menjelaskan, angka ketidakmampuan melaksanakan salat wajib itu disimpulkan setelah pihaknya melakukan pengetesan salat wajib dan salat mayat di sejumlah kecamatan di daerah itu beberapa minggu lalu. ―Kebanyakan warga yang dites ternyata belum mampu melaksanakan rukun salat dengan baik. Mereka kami sarankan untuk terus belajar guna mensahkan salat wajibnya,‖ katanya. Menurut dia, ketidakmampuan masyarakat Aceh Barat dalam melaksanakan rukun salat dengan baik disebabkan kurang belajar dan tidak mau belajar. ―Ini tentu memalukan kita semua. Masa mengaku muslim tapi tidak bisa rukun salat. Bisa jadi mereka cuma Islam KTP,‖ ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin. Ketidakmampuan masyarakat dalam melaksanakan salat lima waktu, lanjut dia, menjadi peluang bagi pihak tertentu untuk mendangkalkan aqidah mereka. ―Mereka Islam tetapi rukun Islam tidak diketahuinya, sehingga sangat mudah bagi pihak misionaris memasukan ideologinya,‖ ujar Bupati Ramli. Karena itu, bupati meminta kepada mahasiswa STAI yang KPM di Kecamatan Bubon, Woyla Timur, dan Woyla Barat, agar menghidupkan Tempat Pengajian Al Quran (TPA) serta turut memakmurkan mesjid yang selama ini sepi dari jamaah. ―Ini tugas mahasiswa STAI untuk meluruskan mereka yang selama ini tidak paham rukun Islam dan tidak fasih membaca Al Quran. Inilah kegiatan PKM sebenarnya, mengabdi dan membimbing masyarakat dalam mempelajari dan mengamalkan Islam,‖ tandas Ramli MS.(cwn) Follow Twitter @harianaceh dan Facebook Ha

Antara

Hukum cambuk

TERKAIT :
Amnesty Internasional Minta Hukuman Cambuk di Aceh Dicabut Soal Hukuman Cambuk di Malaysia, Amnesti Internasional Minta Bantuan RI

Hukuman Cambuk tidak Melanggar HAM (Tanggapan Terhadap Amnesty Interntional)
Rabu, 01 Juni 2011 20:36 WIB

Oleh Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA Penerapan syariat Islam di Aceh kembali digugat dan ―diserang‖. Kali ini, gugatan dan ―serangan‖ tersebut datang dari Direktur Asia Pasifik Amnesty Internasional (AI), Sam zarifi, yang mendesak pemerintah Indonesia untuk menghentikan penggunaan cambuk sebagai bentuk hukuman dan mencabut peraturan yang menerapkannya di Provinsi Aceh, karena dianggap melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) internasional, melalui siaran persnya yang diterima Harian Aceh, Minggu (22/5). AI juga menyerukan kepada pemerintah pusat Indonesia untuk mengkaji semua hukum dan peraturan lokal untuk menjamin keselarasan mereka dengan hukum dan standar HAM internasional, juga dengan ketentuan ketentuanketentuan HAM dalam undang-undang domestik (Harian Aceh, 23/5/2011). Sejak Aceh memproklamirkan sebagai ―negeri syariat‖ pada tahun 2002, berbagai rintangan dan tantangan terus menghadang. Berbagai ―serangan‖ dan gugatan dialam atkan kepada penerapan syariat Islam di Aceh, baik datangnya dari pihak luar (non muslim) maupun dari pihak dalam (muslim sekuler). ―Serangan‖ dan gugatan yang bertubi-tubi tersebut terus bermunculan sampai hari ini, seakan tak habis-habisnya. Dengan dalih HAM, para penentang syariat Allah berteriak lantang menentang penerapan syariat Islam di Aceh. Tujuannya jelas, mendiskriditkan syariat Islam dan tidak rela syariat Islam diterapkan di Aceh. Berkaitan dengan hal ini, al-Quran telah mengingatkan kita terhadap pihak-pihak yang tidak rela dan senang dengan

syariat Islam untuk selama-lamanya (QS. 2 : 120). Perasaan tidak suka terhadap syariat Islam juga telah merasuk ke dalam sanubari orang Islam yang sekuler dan liberal, yang notabenenya sebagai murid dan pengikut setia para misionaris dan orientalis. Untuk menepis berbagai tuduhan negatif dan syubhat terhadap syariat Islam yang mulia ini, maka menurut penulis, kita perlu menjelaskan maksud dan tujuan syariat Islam secara utuh, konfrehensif dan objektif. Agar syariat Islam tidak pandang negatif dan disalah dipahami. Maksud dan tujuan syariat Islam Islam merupakan agama yang sempurna dan penutup agama samawi. Hanya Islam satu-satunya yang diakui dan diridha Allah Swt untuk umat manusia (QS. 3: 19 dan QS. 5 : 3). Syariat Islam datang sebagai penyempurna sekaligus penghapus syariat Nabi-Nabi sebelumnya yang hanya bersifat temporer dan teritorial (QS. 5 : 48). Sebagai agama yang terakhir dan sempurna, Islam membawa misi perdamaian dan rahmatan lil‘alamin (QS. 2 1 : 107 dan QS. 10 : 57). Secara umum, maksud dan tujuan diturunkan syariat Islam adalah untuk mendatangkan kemaslahatan dan sekaligus menolak kemudharatan dalam kehidupan umat manusia. Konsep ini dikenal dengan sebutan maqashid syar‘iah. Maqashid Syaria‘h berarti tujuan Allah dan Rasul-Nya dalam merumuskan hukum-hukum Islam. Tujuan ini dapat ditelusuri dalam ayat-ayat al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw sebagai alasan logis bagi rumusan suatu hukum yaang berorientasi kepada kemaslahatan umat manusia. Dalam kitabnya al-Mustashfa, Imam al-Ghazali menjelaskan konsep maqashid syariah. Menurutnya, tujuan syara‘ yang berhubungan dengan makhluk ada lima, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta mereka. Maka, setiap hal yang mengandung upaya menjaga lima perkara pokok tersebut itu adalah maslahat. Sebaliknya, setiap hal yang tidak mengandung lima perkara pokok tersebut adalah mafsadah, dan menolaknya termasuk maslahat. Menurut Imam Abu Zahrah, maslahat Islamiah yang diwujudkan melalui hukum-hukum Islam dan ditetapkan berdasarkan nash-nash agama adalah maslahat hakiki. Maslahat ini mengacu kepada pemeliharaan terhadap lima hal, yaitu memelihara agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Ini disebabkan dunia, tempat manusia hidup, ditegakkan di atas pilar-pilar kehidupan yang lima itu.Tanpa terpeliharanya hal ini tidak akan tercapai kehidupan manusia yang luhur secara sempurna. Oleh karena itu, kemuliaan manusia tidak bisa dipisahkan dari pemeliharaan terhadap lima hal tadi. Agama, misalnya, merupakan keharusan bagi manusia. Dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dibawa oleh ajaran agama, manusia menjadi lebih tinggi derajatnya dari derajat hewan. Sebab beragama adalah salah satu ciri khas manusia. Dalam memeluk suatu agama, manusia harus memperoleh rasa aman dan damai, tanpa ada intimidasi. Islam dengan peraturan-peraturan hukumnya melindungi kebebasan beragama (Ushul Fiqh, hal. 320). Maka jelaslah bahwa dalam konsep maqashid syariah ada lima kebutuhan kehidupan primer manusia yang mesti ada (ad-dharuriyyat al-khams) atau kini populer dengan sebutan HAM (Hak Asasi Manusia) yang dilindungi oleh syariat yaitu agama, jiwa, akal, nasab, dan harta. Syariat diturunkan untuk memelihara kelima HAM tersebut. Pelanggaran terhadap salah satu daripadanya dianggap sebagai suatu kriminal (jarimah). Untuk menjaga kemaslahatan adh-dharuriyat al-khams atau HAM, Islam mensyariatkan sanksi (uqubat) yang cukup tegas, yaitu hukuman hudud, qishash dan ta‘zi,r demi menciptakan kemaslahatan publik dan menolak kemudharatan. Hukuman murtad (had ar-riddah) yaitu dibunuh, bertujuan untuk menjaga kemaslahatan agama, agar orang tidak mempermainkan agama dengan seenaknya. Hukuman minum minuman keras (had al-khamr) yaitu cambuk delapan puluh kali atau empat puluh kali bertujuan untuk menjaga akal agar tetap baik dan sehat. Hukuman zina (had az-zina) yaitu seratus kali cambuk bagi yang belum kawin (ghair muhshan) dan rajam bagi yang sudah kawin (muhshan) bertujuan untuk menjaga nasab dan menghindari dari penyakit yang berbahaya. Hukuman tuduhan berzina (had al-qazf) yaitu dicambuk delapan puluh kali bertujuan untuk menjaga kehormatan. Hukuman pencurian (had as-sariqah) yaitu potong tangan bertujuan untuk menjaga harta. Dan hukuman pembunuhan dan penganiayaan yaitu qishah (dibunuh atau dianiaya pula) bertujuan untuk menjaga jiwa manusia.

Oleh karena itu, dalam Islam dikenal beberapa jenis hukuman seperti potong tangan, cambuk, rajam, qishah dan bunuh. Hukuman ini diberikan sesuai dengan jenis dan tingkatan kriminalnya. Tujuan semua jenis hukuman ini adalah untuk menjaga kehormatan seseorang, menjaga masyarakat dari kekacauaan dan prilaku buruk atau hina, mensucikan jiwa yang telah ternoda dengan dosa, dan memelihara kemaslahatan asasi manusia yaitu agama, jiwa, akal, nasab, dan harta. Di samping itu tujuan utamanya yaitu untuk memberi efek jera dan pembelajaran sehingga dapat mencegah perbuatan kriminal atau maksiat. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa hukuman dalam Islam bertujuan untuk menjaga dan melindungi HAM. Meskipun secara kasat mata hukuman Islam terkesan kejam dan keras, namun sebenarnya syariat Islam dalam menentukan hukuman lebih banyak bertujuan sebagai sarana untuk mencapai kemaslahatan publik dan menjaganya. Hukuman yang ditetapkan untuk kriminal itu lebih bersifat preventif, sehingga orang akan menahan diri dari melakukan hal itu. Hukuman tidak akan efektif bila hanya sebatas melarang, tanpa ada sanksi yang tegas. Dengan kata lain, tanpa sanksi yang tegas dan menjerakan, suatu aturan/hukum tidak punya konsekuensi apa-apa. Sebaliknya, bila disertai dengan hukuman yang tegas dan keras , maka segala aturan baik bersifat perintah atau larangan itu akan diperhitungkan dan memiliki arti. Inilah tabiat suatu hukuman. Tanggapan terhadap Amnesty International (AI) Menyikapi pernyataaan dan desakan AI tersebut, maka penulis perlu menyampaikan tanggapan sebagai berikut; Pertama, tuduhan AI tersebut telah mendiskriditkan Islam, bahkan melanggar HAM umat Islam. Umat Islam dimana pun berada –termasuk di Aceh- berhak dan bebas mengamalkan agamanya tanpa larangan dan intimidasi. Syariat Islam di Aceh hanya diperuntukkan bagi umat Islam yang berada di wilayah hukum Aceh, bukan bagi non Islam atau umat Islam di luar Aceh. Kedua, salah satu point dari Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia bahwa setiap manusia dijamin untuk bebas beragama dan melaksanakan keyakinan agamanya. Hal ini juga dijamin oleh hukum di Indonesia yaitu UUD 1945 tentang kebebasan beragama dan melaksanakan keyakinan agamanya, sehingga pelaksanaan Syariat Islam di Aceh (secara legal formal telah diamanahkan oleh Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia), dalam baik dalam dimensi privat dan publik merupakan pengejawantahan dari kebebasan beragama. Oleh karena itu tuduhan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan meminta hukuman cambuk di Aceh dicabut oleh Direktur Asia Pasifik Amnesty International, Sam Zarifi, menjadi tidak beralasan. Ketiga, AI menuduh hukuman cambuk bertentangan dengan HAM. Namun, yang menjadi persoalan, HAM mana yang dimaksud AI? Karena, konsep HAM dalam paradigma Islam berbeda dengan konsep HAM dalam paradigma Barat yang cederung mengasihani si pelaku maksiat (kriminal), tanpa mengasihani korbannya. Dimana prinsip keadilan dalam HAM Barat? Selain itu, menurut HAM made in Barat hubungan seks bebas dibolehkan asal suka-sama suka. Begitu pula mabukmabukkan asal tidak menggangu orang lain. Dimana nilai moral dalam HAM barat? Apa bedanya dengan binatang? Kalau HAM model barat ini yang dimaksud, maka AI telah salah sasaran dalam menuduh. Karena, orang Aceh itu muslim dan Aceh merupakan daerah yang resmi menerapkan syariat Islam. HAM model barat sangat bertentangan dengan Islam. Maka, tidak boleh dipakai oleh umat Islam dimanapun, termasuk di Aceh. Keempat, AI telah mengintervensi urusan agama seseorang dan aturan sebuah negara, maka AI telah melanggar HAM pula. Padahal, Islam tidak pernah mencampuri urusan agama lainnya. Bahkan Islam memberi kebebasan bagi agama lain untuk beragama dan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya (QS. 109 : 6 dan QS. 2 : 256). Ini jelas melanggar HAM umat Islam dan berbagai aturan yang berlaku di negara RI seperti UUD 1945, UU no 44 tahun 1999, UU no 11 tahun 2006, dan sebagainya. Kelima, salah satu alasan yang dikemukakan oleh Sam Zarifi bahwa cambukan bisa mengakibatkan cedera jangka

panjang atau permanen terlalu mengada-ngada dan yang bersangkutan tidak memperoleh informasi yang utuh bagaimana mekanisme dan proses pelaksanaan hukum cambuk di Aceh. Kalau pun hukuman tersebut menimbulkan rasa sakit dan malu, itu merupakan bagian dari efek jera yang ingin dicapai dari suatu proses penerapan hukuman bagi pelaku kejahatan. Sehingga, menjadi pelajaran bagi pelaku dan orang lain. Keenam, konsekwensi ketika sudah memilih Islam sebagai agama, maka suka tidak suka aturan hukum-hukum agama tersebut harus diberlakukan kepada yang bersangkutan. Dan ini sangat selaras dengan kebebasan beragama. Baru dikatakan melanggar HAM kalau kepada pemeluk agama selain Islam dipaksakan untuk menggunakan hukum Islam. Tidak ada aturan yang akan berjalan kalau tidak disertai dengan sanksi yang tegas. Dengan penjelasan diatas maka jelaslah bahwa hukuman dalam Islam baik berupa potong tangan, rajam, bunuh maupun cambuk tidaklah melanggar hak asasi manusia, justru sebaliknya hukuman tersebut bertujuan untuk melindungi HAM dan memberikan keadilan yang sejati, serta menjamin keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Pemerintah, baik di Aceh maupun di Pusat, diharapkan komit terhadap amanah Undang-Undang yang melegalkan secara formal penerapan syariat Islam di Aceh dan tidak terpengaruh dengan desakan AI dan pihak lainnya. Kepada AI diminta untuk menghormati umat Islam dan hukum yang berlaku di Indonesia.

Penulis adalah Dosen fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Kandidat Doktor Fiqh & Ushul Fiqh, International Islamic University Malayasia (IIUM), Ketua Biro Dakwah Dewan Dakwah Aceh. Redaktur: Johar Arif

STMIK AMIKOM

Type your keyw o

Anda Pengunjung ke :

11,992
“Senang sekali bisa melanglang di seluet-seluet pemikiran dan perjuangan bersama-sama. Jangan segan-segan berkreasi, selalu ada waktu untuk hal-hal semacam ini !!”

Kategori
Cerpen (2) Event (3) Haba Ketua(2) Info (2) Kajian (2)

Cairo (6)KMA (3) Motivasi (4) OASE (4)Opini (4) Panton Aceh (1) Puisi(7) SUDAN (5) Syari'ah (3)Tips (2)

Khartoum-

Tulisan Favorite

o

PUISI ULANG TAHUN ( Untuk sahabat... )

o

Mengapa Wanita Banyak Menghuni Neraka?

o

Implementasi Fiqh Sosial dalam Berorganisasi

o

INDAHNYA MENIKAH

o

Sepintas tentang KMA

ACEH UPDATE
o
Serambinews - Berita dari Aceh

Pedagang Ekolem Serbu Kota 2 bulan yang lalu

o

RAKYAT ACEH | News

Perusuh Pemilukada Ditindak Tegas 4 bulan yang lalu

o

HARIAN ACEH. com

Panti Rebah Lido ‘Rehab’ Enam Pecandu Narkoba 11 bulan yang lalu

Arsip
o                 o
▼ 2011 (42) ► Oktober (1) ► Mei (1) ► April (2) ▼ Maret (10) Mengapa Wanita Banyak Menghuni Neraka? Wula ul-Umur fi Syari’atul Islam Catatan kecil untuk saudaraku… FIQIH PRIORITAS (FIQH AULAWIYAH) Kumenangis Karenamu.. Untukmu yang sedang menunggu hari bahagia itu .. Jejak Sejarah Mahasiswa Aceh di Sudan EPISODE KEHIDUPAN (Sebuah Renungan) Lomba Blog dan Lomba Menulis Visit Banda Aceh 2011... Nyanyian Rindu ► Februari (5) ► Januari (23) ► 2010 (4)

Daftar Penulis

Recent Comments

Daftar Link KMA
o o o
Rasa tanpa jeda

JABANAH SADAH www.waa-aceh.org/ TULIP QTA IPPMA Malang ACEH LITERARY ALLIANCE AcehFeature.org Aceh Life IKATAN PELAJAR ACEH SEMARANG (IPAS) islam yang damai

Sadar Bencana = Azab Merawat Konflik Pilkada Aceh

o o o o o o

Mahasiswa Aceh di Malang jadi Finalis Eagle Awards 2011 124 SASTRAWAN PESERTA TSI 4 – TERNATE [MALUT] Berdamai dari Bawah Pemenang Lomba Menulis VBA 2011 Bantuan Biaya Pendidikan Pemerintah Aceh Tahun 2011 TARI SAMAN MEMPESONA DAN MENYIHIR AFRIKA

o o o o o o o o o o o o o
Cut Nyak Meutia

Banda Aceh Tourism Official Website Taman Pelajar Aceh Haba PIDIE JAYA Unit Kebudayaan Aceh ITB (UKA-ITB) KMPAN BLOG ppmisudan.co.cc/ .: SAMAN UI :. DETaK Unsyiah Aceh Forum SAMAN Cultural Magazine Inspiration for Managing People’s Actions Abati Busyra Ikatan Pemuda Mahasiswa Paya Bakong KOLOM LAIN el Asyi Mesir Love Gayo :::myp0s::: Aneuk Aceh Mesir Angkatan Dua Ribee Limoeng Langsa Blogger Community Atjeh Vacancy SePAt Blog Intelektual Muda | YAKIN … Maka Kita Akan Bisa STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa GEMA Taman Iskandar Muda IMAPA Jakarta

Lomba Menulis dan Blog Visit Banda Year 2011 Meusapat TPA 2011 MALAM PESONA BUDAYA KABUPATEN PIDIE JAYA Pemilu Sultan 2010/2011

Mahasiswa Unpad Ukir Prestasi di USACE 2011 Workshop UNDP Hadirkan Wartawan Senior Kompas dan Tempo 7 Mitos Tentang Komputer dan Software Rakyat, Pemerintah dan Budaya RAT KMS Tahun Buku 2008-2010 Pelajaran Bahasa Arab

o
Kasta Ikan Asin

o o o o o o o o o o

Tunggu Aku 1 Juz Lagi Musisi Muda Gayo Juga Galang Dana Korban Kebakaran 29 July, 2011 06:06 Ramadhan Sehat Ala Langsa Blogger REDD Community Specialist, FFI Indonesia Program (Based Aceh) One Night For Pidie Klasifikasi Masa Jabatan Pemimpin Kita Sekarang Rapat Kerja STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa Tahun 2010 Halal bi Halal Masyarakat Aceh Jabodetabek & Banten 2009 Lagi, IMAPA Jakarta Cabang Ciputat Gelar Sahur on the Road

Beranda

Jumat, 25 Maret 2011 Wula ul-Umur fi Syari’atul Islam

Gbr: http://zulchizar.wordpress.com/

Pada kajian rutin mingguan KMA-Sudan kali ini, yang menjadi pemateri adalah Ust. Yahya Sukaryadi. Beliau mengajak kita untuk mengupas secara

umum butir-butir ilmu seputar masalah pemimpin dalam sebuah negara. Ulama-ulama terdahulu, meletakkan masalah pengembansegala urusan (wula ul-umur) ini dalam bab khusus di antarapermasalahan-permasalahan fiqih lainnya. Imam al-Mawardi merangkum segala persoalan wula ul-umur ini dalam karyanya Al Ahkam as Sulthaniah. Al-Mawardi seorang ulama fiqih bermazhab Syafie. Beliau dianggap sebagai pemikir dan tokoh politik kenegaraan yang paling menonjol semasa pemerintahan kerajaan Abbasiah. Beliau juga alim dalam bidang tafsir, usul fiqh dan ilmu kemasyarakatan. Wula al-amri dapat diartikan sebagai pengemban sebuah perkara (ashabul amri), dalam hal ini adalah seorang pemimpin. Dalam sistem pemerintahan Islam, ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan, yaitu menjaga kemurnian Agama (shianah ad-din) dan urusan perpolitikan negara (siasah ad-dunyawiah). Maka, pemimpin ideal dalam Islamsetidaknya menguasai persoalan Agama dan negara sekaligus. Karena seluruh permasalahan Agama dan negara berada di bawahtanggungjawabnya. Sisi inilah yang dibidik oleh para orientalis, sampai akhirnya di Indonesia sendiri terjadi pemisahan (dikotomi) antara urusan Agama dan urusan negara dalam pemerintahan. Merujuk kepada pendapat Imam Mawardi ra, setiap kebijakan yang dilahirkan tanpa berlandaskan Agama, maka kebijakan tersebut bila diterapkan tidak akan bernilai apa-apa. Namum sebaliknya, setiap kebijakan yang ditelurkan berlandaskan nilai-nilai Agama dan sesuai dengan ketetapan Syari‟at Islam, maka kebijakan itu bila diterapkan akan bernilai ibadah. Logika sederhananya dapat kita temukan dalam kasus „nikah‟. Sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia jika timbul rasa Ketertarikan antara lain jenis. Dan jalur legal yang ditetapkan untuk menyatukan rasa ituadalah dengan menikah. Ketika nikah dijalankan tidak berlandaskan Agama, maka nikah itu tidak lebih sebagai sarana pemuas hasrat biologis semata. Namun, bila nikah dijalankan sesuai dengan tata cara yang telah diatur dalam Syariat Islam, maka nikah itu akan bernilai Ibadah. Pemimpin yang memenuhi kriteria di ataslah yang dimaksud sebagai ulil amri dalam ayat,

‫أطيعوا هللا وأطيعوا الرسول و أولي األمر منكم‬
“Patuhilah segala perintah Allah, Rasul dan pemimpin (ulul amri) di antara kamu” (Qs. An-Nisa: 59) Menurut Imam Mawardi, ulil amri di sini adalah para ulama dan umara (pemimpin). Sekarang masalahnya, apakah pemimpin kita termasuk dalam kategori pemimpin yang wajib dipatuhi?

Jumhur ulama mengatakan, selama pemimpin itu muslim dan tidak memerintahkan kita dalam perkara-perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka hukumnya tetap wajib untuk dipatuhi. Kecuali dalam persoalan-persoalan perbedaan pendapat (khilafiah), seperti penetapan awal atau akhir Bulan Ramadhan. Maka, perbedaan pendapat tetap dibolehkan. Walaupun demikian, mengikuti kebijakan pemimpin (pemerintah) tetap lebih diutamakan. Lain halnya jika pemimpin tersebut dhalim, dalam hal ini berlaku kaidah usul figh,

"‫"درء المفاسد مقدم على جلب المصالح‬
“Menolak keburukan lebih diutamakan daripada mencari kebaikan” Jadi, menentang pemimpin-pemimpin dhalim ini hukumnya wajib. Lalu bagaimana dengan sistem demokrasi yang berlaku di Indonesia? Kita samasama tahu bahwa demokrasi adalah produk barat. Dan demokrasi yang diterapkan sekarang tidak sesuai dengan sistem yang berlaku dalam Islam. Ulama-ulama kontemporer ada yang menganggap demokrasi sejalan dengan Syari‟at Islam. Pendapat ini berdasarkan adanya kemiripan antara demokrasi dan system pemerintahan Islam yaitu sistem syura (parlemen). Dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah), terdapat sebuah lembaga yang disebut sebagai ahlul ahli wal aqdi. Salah satu tugas lembaga tersebut adalah memilih pemimpin. Lembaga ini mirip dengan lembaga legislatif dalam demokrasi. Namum, ada perbedaan dalam proses pembentukan badan tersebut. Lembaga legislatif dalam sistem demokrasi dibentuk dari hasil pemilihan seluruh rakyat (dari rakyat untuk rakyat), melalui suara terbanyak. Sedangkan ahlul ahli wal aqdi, tidak dipilih melalui pemilihan selayaknya pemilu di Indonesia. Mereka terdiri dari para ulama yang sudah menjadi panutan masyarakat di zamannya, menjadi rujukan rakyat dalam segala persoalam Agama, dan dengan sendirinya dipercaya sebagai wakil rakyat dalam sebagai ahlul ahli wal aqdi. Perbedaan ini sangat mendasar, ulama yang menentang demokrasi saat ini melihat bahwa pemilihan „dari rakyat untuk rakyat‟ sebagai system yang salah. Karena, system ini menganut falsafah suara terbanyak, dan suara terbanyak belum tentu benar. Pembahasan dalam kajian kali ini cukup luas untuk dapat dituntaskan dalam waktu yang relatif singkat. Diskusipun terus mengalir hingga ketopik permasalahan tentang Khilafah Islamiyah, tata cara pemilihan pemimpin, hingga bagaimana langkah-langkah menentang seorang pemimpin yang dhalim. Meskipun belum tuntas, semoga kajian singkat ini menjadi stimulus bagi kita semua untuk terus membaca dan menela‟ah. Wallahu „A‟lam…
Label: Kajian, Syari'ah

Reaksi:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

NU, NKRI dan Khilafah

BeritaMantap.com -KH Mutawakkil ‗Alallah -- kebetulan nama beliau sama dengan salah satu gelar seorang Khalifah Bani Abasiyah -- Ketua PW NU Jatim menegaskan, bahwa siapapun dan apapun ormasnya yang mengganggu asas Pancasila dan keutuhan NKRI, maka akan berhadapan dengan NU. Pernyataan keras ini disampaikan sebagaimana dinukil eramuslim dari situs on-line NU oleh Kyai tersebut pada acara Harlah NU di Jombang. Ia juga dengan tegas meminta Negara bertindak tegas kepada pengusung ide Khilafah. Peryataan ini tentu mengandung ironi di tengah gagasan penegakan Khilafah yang semakin kuat mendapatkan sambutan hangat dari seluruh komponen ummat – tentu termasuk ummat Nahdliyin. Bahkan SETARA Institute – sebuah LSM Liberal -- dibuat kaget oleh hasil surveynya sendiri di akhir tahun 2010 ini, bahwa ternyata gagasan Khilafah yang semula asing itu sudah didukung oleh 34,6 % responden. Pernyataan di atas juga tak perlu direaksi secara emosional oleh para pejuang Khilafah, namun cukup ditanggapi secara arif dan argumentative berkepala dingin. Malah sebaiknya menurut kata hikmah Imam Syafii rahimahullah, FA KHOIRU MIN IJABATIHI AS SUKUUT, jawabnya lebih baik diam.

Sebagai respon atas kegelisahan Struktur Nahdliyin (karena tidak semua Nahdliyin menolak Khilafah), maka berbagai fakta empiris historis dan sejumlah narasi normative dari sumber turats Islam klasik serta kuatnya opini syariah dan khilafah di tengah ummat, dapat kiranya dijadikan bahan masukan para pihak penolak Khilafah. Dengan

ini mudah-mudahan mampu memberikan bayan (klarifikasi) atas kesalahfaman mereka kepada gagasan tersebut, yang kesemuanya akan diurai secara ringkas di bawah ini. Sejarah Jejak Keterkaitan Nusantara dengan Khilafah

Adalah sikap ahistoris menolak ide khilafah mengingat ditemukan sejumlah bukti sejarah yang terhubung sangat erat melalui peran Khilafah dengan sejarah lahirnya umat Islam di negeri ini. Terutama masuknya Islam di tanah Jawa tidak bisa dilepaskan peran Khilafah Utsmaniyah Sultan Muhammad I. Khalifah ini secara bergelombang mengutus dai-dai transnasional ke tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam.

Tersebutlah Maulnana Malik Ibrahim (pakar tata negara Turki), Syaikh Jumadil Kubro-Mesir (dimakamkan di komplek Trowulan), Syaikh Maulana Israil, Syaik Ahmad Subakir, Syaikh Samarkand (Asmarokondi), dsb. Dilanjutkan gelombang kedua yang dikenal dengan Wali Songo, diantaranya Sayyid Ja‘far Shodiq Al Quds (Sunan Qudus/Ahli Militer) dan Syarif Hidayatullah.

Tokoh-tokoh diatas tak dipungkiri lagi dalam komunitas Nahdliyin dikenal sebagai Waliyullah yang sangat dihormati. Fakta sejarah lain bisa disimak berikut ini:

Pasukan khilafah Turki Utsmani tiba di Aceh (1566-1577) termasuk para ahli senjata api, penembak dan para teknisi. untuk mengamankan wilayahSyamatiirah (Sumatera) dari Portugis. Dengan bantuan ini Aceh menyerang Portugis di Malaka.

Pengakuan terhadap kebesaran Khilafah dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan oleh Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah masa Bani Umayah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyah dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz.

 

Sebuah medali emas yang dipersembahkan oleh Khalifah Ustmani di Turki kepada utusan Sultan Thaha Syaifuddin yang datang meminta pertolongan Khalifah untuk melawan penjajahan Belanda di Jambi. Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayah meminta dikirimkan da`i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam.

 

Deureuham adalah mata uang Aceh pertama yang diambil dari bahasa Arab dirham. Beratnya 0,57gram kadar 18 karat diameter 1 cm, berhuruf Arab di kedua sisinya. Gelar Sultan Kesulatanan Islam di nusantara dinyatakan sah apalbila telah ditetapkan oleh Syarif Makkah. Syarif Makkah adalah pejabat Khilafah Utmaniah setingkat wali/ Gubernur yang diberi kewenangan mengankat para Sultan.Pada era kolonialisme gelar Sultan amat sangat ditakuti Belanda. Karenaya tidak mengherankan jika Pangeran Diponegoro menyematkan gelarnya: ― Senopati Ing Alogo Sultan Abdul Hamid Erucokro Amirul Mukminin Tanah Jowo Sayidi Panotogomo ‖. Sultan Abdul Hamid adah nama Khalifah Utmaniyah dan Erucokro adalah Sultan Mataram saat itu.

Dalam peran internasionalnya NU juga tidak bisa dipisahkan dari perjuangan penegakan Khilafah yang menjadi agenda penting umat Islam saat itu. Sebagai respon terhadap keruntuhan khilafah sebuah komite didirikan di Surabaya pada tanggal 4 Oktober 1924 diketuai oleh Wondosoedirdjo (kemudian dikenal sebagai Wondoamiseno) dari Sarekat Islam dan wakil ketua KHA. Wahab Hasbullah(salah satu pendiri NU). Tujuannya untuk membahas undangan kongres khilafah di Kairo.

Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan menyelenggarakan Kongres Al-Islam Hindia III di Surabaya pada tanggal 24-27 Desember 1924, Keputusan penting kongres ini adalah melibatkan diri dalam pergerakan khilafah dan mengirimkan utusan yang harus dianggap sebagai wakil umat Islam Indonesia ke kongres dunia Islam. Kongres ini memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Kairo yang terdiri dari Suryopranoto (SI), Haji Fakhruddin (Muhammadiyah) dan KHA. Wahab dari kalangan tradisi. Khilafah: Salah satu Prinsip Aswaja

Definisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, menurut Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, adalah golongan kaum muslimin yang berpegang dan mengikuti As-Sunnah (sehingga disebut ahlus sunnah) dan bersatu di atas kebenaran (al-haq), bersatu di bawah para imam (khalifah) dan tidak keluar dari jemaah mereka (sehingga disebut wal jamaah). (Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, Rumusan Praktis Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Solo : Pustaka Istiqomah, 1992, hal. 16). Definisi yang seumpamanya disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani di dalam kitabnya Al-Ghaniyah, yang menjelaskan tentang ahlus sunah sebagai perbuatan yang mengikuti segala yang ditetapkan Nabi SAW (maa sannahu rasulullah SAW). Dan disebut wal jamaah, kerana mengikuti ijma‘ sahabat mengenai keabsahan kekhilafahan empat khalifah dari Khulafa` Rasyidin) (maa ittifaqa ‘alaihi ashhabu rasulillah fi khilafah al-a`immah al-arba’ah al khulafa` ar-rasyidin). (Balukia Syakir, Ahlus Sunnah wal Jamaah, Bandung : Sinar Baru, 1992, hal. 31)

Dari pengertian Ahlus Sunah Wal Jamaah di atas, jelas sekali bahwa perjuangan menegakkan Khilafah dengan sendirinya sangat sinonim dengan ajaran Ahlus Sunah Wal Jamaah. Ini kerana, Khilafah berkati rapat dengan istilah wal jamaah. Jadi, jamaah di sini maksudnya adalah kaum muslimin yang hidup di bawah kepimpinan khalifah dalam negara Khilafah. Khilafah merupakan prinsip dasar yang sama sekali tidak terpisah dengan Ahlus Sunah Wal Jamaah.

Kesatuan Ahlus Sunah Wal Jamaah dan Khilafah ini akan lebih dapat dipastikan lagi, jika kita menelaah kitab-kitab yang membahaskan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dalam kitab-kitab aqidah itu, semuanya menetapkan wajibnya Khilafah. Dalam kitab Al Fiqhul Akbar (Bandung : Pustaka, 1988), karya Imam Abu Hanifah (w. 150 H) dan Imam Syafi‘i (w. 204 H), terdapat fasal yang menegaskan kewajiban mengangkat imam (khalifah) (fasal 61 -62). Dalam kitab Al-Farqu Baina Al-Firaq, karya Imam Abdul Qahir Al-Baghdadi (w. 429 H) menerangkan 15 prinsip Ahlus Sunah Wal Jamaah. Prinsip ke-12 adalah kewajiban adanya Khilafah (Imamah). Kata Abdul Qahir al-Baghdadi,‖Inna

al-imaamah fardhun ‘ala al-ummah.‖ (sesungguhnya Imamah [Khilafah] fardhu atas umat). (Lihat Imam Abdul Qahir Al-Baghdadi, Al-Farqu Baina Al-Firaq, Beirut : Darul Kutub Al-Ilmiah, 2005, hal. 270). Dalam kitab Al-Masa`il AlKhamsuun fi Ushul Ad-Din hal. 70, karya Imam Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H) beliau mengatakan, ―Mengangkat Imam [khalifah] adalah wajib ke atas umat Islam.‖ Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Imam Ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya ‗Ilmu Al-Kalam ‘Ala Mazhab Ahlis Sunnah wal Jamaah hal. 94 pada bab Mas`alah fi Al-Imamah. Hal yang sama juga terdapat dalam kitab Al-Hushuun Al-Hamidiyah Lil Muhafadhati ‘Ala al ‘Aqaidi al Islamiyah , karya Sayyid Husain Efendi, hal.189, beliau mengatakan,‖Ketahuilah bahawa wajib atas kaum muslimin secara syara‘ untuk mengangkat seorang Khalifah…‖ (i’lam annahu yajibu ‘ala al-muslimin syar’an nashb Imamin…). Kitab ini termasuk jenis Kitab Tauhid yang wajib diajarkan di Pesantren Salaf. Bab Khilafah sengaja diletakkan di bagian akhir sebagai pamungkas lantaran Khilafah adalah institusi paling penting untuk menjaga Aqidah Islam, penegak hudud, dan pengatur segala urusan politik dalam maupun luar negeri.

Selain dalam kitab-kitab aqidah seperti dicontohkan di atas, dalam kitab-kitab tafsir, hadis, atau fiqih akan ditemukan kesimpulan serupa bahawa Khilafah memang k ewajiban syar‘i menurut Ahlus Sunah Wal Jamaah. Imam Al -Qurthubi dalam tafsir Al-Qurthubi (1/264) menyatakan,‖Tidak ada perbezaan pendapat mengenai wajibnya yang demikian itu (Khilafah) di antara umat dan para imam, kecuali yang diriwayatkan dari Al-Asham, yang memang asham (tuli) dari syariah (laa khilaafa fi wujubi dzaalika baina al-ummah wa laa baina al-aimmah illa maa ruwiya ‘an al-asham haitsu kaana ‘an asy-syariah asham…). Imam Nawawi dalam Syarah Muslim (12/205) berkata,‖Ulama sepakat bahawa wajib atas kaum muslimin mengangkat seorang khalifah.‖ (ajma’uu ‘alaa annahu yajibu ‘ala al-muslimin nashbu khalifah). Imam Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthoniyah hal. 5 berkata,‖Mengadakan akad Imamah bagi orang yang melaksanakannya di tengah umat, adalah wajib menurut ijma‘.‖ (aqdul imamah liman yaquumu bihaa fi al-ummah waajibun bil ijma‘). Jelaslah, bahawa Khilafah adalah memang ajaran asli dan murni Ahlus Sunah Wal Jamaah dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Khilafah adalah wajib menurut Ahlus Sunah Wal Jamaah.

Dengan demikian adalah sungguh aneh bin ajaib jika ada individu atau kelompok yang mengaku penganut Ahlus Sunah Wal Jamaah, tetapi mengingkari atau bahkan menolak Khilafah. Pengingkaran penganut Ahlus Sunah Wal Jamaah terhadap Khilafah adalah batil. Ini jelas-jelas upaya keji dan jahat untuk membinasakan, menghancurkan, dan memalsukan ajaran Ahlus Sunah Wal Jamaah dari prinsip dasarnya.

Maka kepada para pihak penghadang khilafah, sebagian narasi teks di atas harus dibantah lebih dahulu sebelum mengeluarkan statemen menolak ide khilafah. Bentuknya harus berupa hasil kajian Bahtsul Masaail yang dipublkasikan dan diuji dalam forum intelektual yang kredibel. Tetapi ini akan sulit dilakukan, sebab ide khilafah apalagi tathbiq as-syariah itu termaktub dalam lembar demi lembar Kitab-kitab kuning yang terlanjur menjadi maraji‘, maqayis (standarisasi) dan qanaat (keyakinan) komunitas Ulama dan santri.

Jadi secara ‗fitrah‘ dan fikrah, dunia pesantren akan lebih mudah mengadopsi ide Khilafah daripada menolak nya. Menolak ide ini berarti harus ‗membakar‘ dan men -Delet kemapanan aqwal, fatwa dan ijtihad para Ulama Salaf. Tentu bila mengambil langkah ini, kita akan ‗kualat‘ dan pasti dikutuk oleh Allah SWT, sebagaimana firman -Nya …―KAMATSALI AL HIMARI YAHMILU ASFAARA‖. Dinamika Opini Syariah dan Khilafah Majalah Gatra edisi 25; Mei 2006 dengan cover menyolok NEGERI SYARIAH TINGGAL SELANGKAH‖, memuat Laporan Utama berbunyi ―Gelora Syariah Mengepung Kota‖ menyimpulkan bahwa saat ini Indonesia memang telah masuk dalam kategori ―Negeri Syariah & Insya Alloh ‗Negara syariah‘ hanya tinggal selangkah lagi. BBC News, 25/04/2007 menulis ―In solving all the problems of the curret wordl today, muslim in muslim countries agree to reestablish/restore Islamic State.

Sementara PPIM UNIS Syahid, melaporkan bahwa di tahun 2002 67 % responden setuju pemerintahan berdasarkan Syariat islam adalah yang terbaik buat Indonesia. Pada tahun 2003 angkanya meningkat menjadi 75 %.

Ketum GMPI M. Danial Nafis pada penutupan Konggres I GMPI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 03/032008 mengungkap hasilsurvey yang dilakukan gerakan nasionalis pada tahun 2006, sebanyak 80 % mahasiswa dari kampus ternama meliputi UI,ITB, UGM, Unair dan Unibraw, memilih Syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara.

Wajarlah kemudian jika engamat sekaligus pakar ekonomi & politik internasional Northwestern University Prof. Jeffrey A. Winter ketika berbicara di UK Atmajaya Jakarta 22/4/2009 menyatakan bahwa saat ini telah sangat jelas terlihat adanya fenomena gerakan yang mampu masuk ke grassroot dalam upaya menjawab berbagai masalah dan merubah politik di Indonesia kea rah lebih bernuansa islami hingga menjadi Negara Islam dalam tempo 5 – 25 tahun mendatang. Bahkan AM Hendropriyono mantan Kepala BIN dengan terbuka menyatakan: ―semestinya setelah thesis Liberal Kapitalisme gagal mensejahterkan dunia, Kekhalifahan seharusnya muncul sebagai penggantinya. Karenanya, Islam perlu menjawab tantangan globalisasi dengan membangun Kekhalifahan Universal. Hanya system ini yang bisa mengatur dan mensejahterkan dunia, karena tatanan Sekuler-Kapitalisme telah gagal‖. (Sabili No. 19/Th XVI, 9/4/2009).

Dinamika di atas mestinya membuat kita semakin antusias untuk menyambut abad The New Wordl Order di bawah naungan Khilafah. Arus Khilafah tak terbendung lagi, maka siapapun yang tidak mau mengambil bagian dalam arus ini akan terbuang dan terkubur dalam sampah sejarah.

Oleh karena itu begitu semangatnya para Ulama Akherat menyambut abad khilafah terucaplah suara hati dari lisan yang bersih dan mulia seorang Abah Hideung, Pimpinan Ponpes an-Nidzamiyah Cicurug Sukabumi Jabar pada Liqa‘

Besar Alim Ulama Penegak Syariah dan Khilafah di Surabaya. Beliau dengan nada bergetar menyatakan, ―Maka tampaklah kepada dunia konsep kehidupan yang telah dicontohkan oleh Rasul serta para Khalifah sesudahnya. Kini dunia tengah menunggu system baru. Percayalah, sebentar lagi –menurut ukuran sejarah, malam akan berganti siang. Sekali biji tertanam, akar akan terhujam, batang akan merindang, pohon Khilafah dan Syariah akan panen di setiap ruang dan waktu di ujung akhir nafas sejarah, dengan sezin Allah SWT‖. NKRI Yang Tersandera dan Terjajah

Adalah fakta dan problema internal NKRI hari ini telah direspon secara tegas dalam KUII ke V 7 .s.d 10 Mei 2010 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, yang dihadiri oleh sekitar 800 utusan MUI seluruh Indonesia, berbagai Lembaga & Badan serta ORmas Islam telah melahirkan Deklarasi Jakarta 2010 yang menyatakan: ―Pentingnya kepemimipinan umat sebagai perwujudan perjuangan menerapkan amar makruf nahi munkar dalam rangka menegakkan Syariah islam pada seluruh asepk kehidupan bangsa dan Negara. Seiring itu pranata system hokum warisankolinial Belanda dan yang bertentangan dengan Syariah Islam harus diperbaharui, dmeikian juga produk hokum yang mengandung Sekularisme, Liberalisme dan Kapitalisme harus ditangkal‖. (www.mui.or.id)

Statemen di atas menggambarkan dengan tegas NKRI tersandera dan terjajah oleh sekularisme, libelarilme dan kapitalisme. Jika pada Era Orde Lama Negeri ini jadi objek eksperimen Demokrasi Liberal (RIS), Demokrasi Terpimpin dan Sukarnoisme (Nasakom) dengan poros Soviet-Peking. Maka era Orde Baru arus SosialimeKomunisme diputarbalik ke arah kapitalisme Sekuler dengan poros AS.

Namun di era reformasi AS terpaksa mengikuti kehendak public untuk melengserkan rezim diktaktor ala Suharto. AS pun dengan cepat mendukung public guna reformasi wajah alias operasi plastik dengan mengganti rezim baru yang lebih demokratis. Yakni sebuah rezim yang lebih pro AS, mengadopsi neo-liberalisme dalam ekonomi, Demokrasi Sipil dalam politik, permisiv dalam budaya barat (pornografi-aksi), pluralism agama dan keyakinan, dan layanan public yang semakin kapitlistik.

Arena politIk yang mestinya sarat perjuangan untuk membela hak-hak rakyat kini berubah jadi ajang bisnis. Para politisi agar bisa duduk di singasana kekuasaan membutuhkan modal milyaran bahkan trilyunan untuk kursi yang lebih tenggi. Agar balik modal para politisi itu berlomba jadi makelar proyek disamping makelar undang-undang.

Konon tarif per undang-undang saat ini bisa mencapai 11 milyar. Penyebabnya kelompok kepentingan baik dalam negeri maupun asing untuk menjalankan agenda busuknya sangat membutuhkan payung hukum. Tidak ada cara lain kecuali mereka harus menyuap para legislator. Para legislator akhirnya bermandikan uang, sementara rakyat harus mengerang menahan lapar bernasib malang.

Era reformasi membawa negeri ini berlayar tanpa visi dan jatidiri. Harga dirinya tergadaikan. Kemandirian, kemerdekaan dan kepercayaan diri musnah. Benarlah curhat Prof. Habibie pada peringatan lahirnya Pancasila,

bahwa negeri ini dikendalikan oleh Neo-VOC. Beliau juga bersedih melihat 48.000 insinyur dengan well-educated lari mencari pekerjaan di luar negeri. Sebab industry dirgantara harus bubar demi mengikuti LOI IMF.

Belum lagi SDA berupa minyak, gas, mas dan mineral lain nyaris semua jatuh ke Multinasional Corparation. Ini semua konsekuensi kebijakan liberalisasi sector migas, dan UU Minerba. Regulasi ini lahir dari konspirasi jahat para kapitalis dan kompradornya melalui parlemen hasil pesta demokrasi.

Liberalisasi di sektor budaya melahirkan life style baru westomania. Remaja dugem, pesta narkoba hingga perilaku sex bebas mengancam generasi negeri ini. Ditemukan data dan fakta mengerikan bahwa lebih dari 50 % remaja putrid di kota-kota besar mengakui sudah tidak virgin lagi.

Angka kriminalitas pasca reformasi mengalami peningkatan luar biasa. Kejahatan di ibukota hitunganya tidak lagi menit namun sudah per detik. Inilah pengaruh langsung ideology Kapitalisme Sekuler. Jenis Ideologi transasional seperti inilah biang keladi masalah dan ancaman riel negeri ini. Jadi mana yang lebih berbahaya bagi NKRI, Kapitalisme-Sekuler atau Khilafah-Syariah? Wallahu A‘lam. (eramuslim,beritmantap) Penulis: Al-Faqir A. Baedlowi An-Nawy (Alumni Ponpes Salafiyah Al Huda Oro-oro Ombo Madiun) Alamat: Wonorejo, Kedungalar, Ngawi
Share 24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->