BAB 1.

METODOLOGI

1.1.

PENGUMPULAN DATA-DATA SEKUNDER
Pengumpulan data-data sekunder meliputi pengumpulan data pendahuluan seperti

hasil survey, investigasi studi maupun desain terdahulu untuk menunjang desain, data-data sekunder ini juga sangat berperan dalam keandalan analisa yang akan dilakukan baik dalam analisa hidrologi, analisa hidrolika, analisa sedimen, analisa struktur dan lain-lain. Untuk itu data-data sekunder yang telah dikumpulkan meliputi : 1. Data hidroklimatologi meliputi data curah hujan yang diperoleh di daerah studi 2. Data-data daerah genangan banjir meliputi daerah rawan banjir, lama dan luas genangan, tinggi genangan dan penyebab banjir 3. Peta-peta dengan skala terbesar yang ada yaitu peta dari Bakorsurtanal skala 1 : 50.000 4. Titik-titik referensi 5. Kajian-kajian geologi terdahulu 6. Hasil pengukuran topografi terdahulu 7. dan lain-lain Dari data-data sekunder tersebut sebelum dipakai sebagai alat analisa perlu dilakukan kompilasi data dan studi pendahuluan, agar alat analisa yang dipakai dapat memberikan nilai validasi dan memberikan parameter desain yang dapat dipertanggung jawabkan. Kompilasi dan kegiatan pendahuluan yang dilakukan adalah sebagai berkut : a. Kompilasi data dilakukan pada data-data hidroklimatologi dengan tujuan melihat data yang hilang (missing data), dan kepuguhan/konsistensi data sehingga dapat diketahui data yang masih perlu dilengkapi dalam bentuk report maupun survey tambahan yang diperlukan. b. Studi pendahuluan yang dilakukan terhadap studi-studi yang terdahulu terutama yang menyangkut: 5 Kondisi Daerah Pengaliran Sungai (DPS) 5 Kondisi Topografi

5 Kondisi Geologi 5 Kondisi Hidrologi 5 Dasar-dasar perencanaan bangunan 5 Dan lain-lain c. Tinjauan lapangan yang dilakukan untuk memastikan atas kondisi berdasarkan studi terdahulu, melakukan identifikasi dan inventarisasi permasalahan yang menjadi penyebab banjir dan akibatnya dan juga untuk mempertajam studi pendahuluan.

1.2.

PENGUKURAN TOPOGRAFI (TOPOGRAPHIC SURVEY)

1.2.1. PENGUKURAN POLIGON
Dalam pekerjaan pengukuran poligon, data yang mutlak dibutuhkan adalah koordinat dan elevasi referensi, yang digunakan untuk mengikat titik awal poligon. Titik ini dapat diperoleh dari benchmark (BM) yang ada ataupun check poin (CP) pada daerah yang akan dipetakan. A. Pengukuran Poligon/Kontrol Horisontal Kontrol horizontal dilakukan dengan cara pengukuran poligon, poligon harus tertutup dan melingkupi daerah yang dipetakan, jika daerahnya cukup luas poligon utama dibagi dalam beberapa kring tertutup. Jadi secara umum kontrol horizontal dapat dilakukan sebagai berikut : Metode yang digunakan adalah poligon, dimana semua patok dan BM yang sudah dipasang merupakan titik poligon. Sudut diukur satu seri ganda (biasa dan luar biasa) menggunakan theodolith. Jarak diukur dua (2) kali menggunakan Alat Ukur Elektronik (EDM) pada poligon utama dan memakai pita ukur 50 m pada poligon cabang. Sisi poligon sama panjangnya, poligon cabang harus terikat kepada poligon utama. Diusahakan jalur poligon baik cabang atau utama melalui batas jalan yang ada. titik koordinat referensi yang digunakan harus mendapat persetujuan dari Direksi pekerjaan, jalur poligon baik cabang atau utama dibuat melalui rencana atau bantaran

sungai/saluran/jalan drainase/drainage.

yang

sudah

ada

demikian

juga

jalur

inspeksi

atau

Titik poligon selain bench mark adalah patok kayu berukuran 5 cm x 5 cm x 70 cm. Patok ini harus dicat untuk memudahkan identifikasi. Jika polygon utama diukur dengan EDM sedang poligon cabang diukur dengan pita ukur baja ketelitian linier poligon utama harus lebih kecil atau sama dengan 1 : 10.000 sedangkan poligon cabang harus lebih kecil atau sama dengan 1 : 5.000. B. Pengukuran kerangka Water Pass/Kontrol Vertikal Semua titik poligon harus diukur ketinggiannya, titik referensi untuk kontrol vertikal harus persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Pengukuran kontrol vertikal dilakukan pulang pergi, alat yang digunakan alat ukur otomatis (N12, NAK atau yang sejenis), sebelum dan sesudah pengukuran alat ukur harus diperiksa ketelitian garis bidiknya, jumlah jarak belakang diusahakan sama dengan jumlah jarak muka dan jarak dari alat ke rambu titik tidak lebih besar dari 60 m sedangkan alat terdekat dari alat ke rambu tidak lebih dari 5 m. Secara umum kontrol vertikal dapat dilakukan sebagai berikut : Metode yang digunakan adalah metode waterpass memanjang, melalui semua titik poligon Jalur waterpass utama merupakan Jalur Tertutup (Loop), sedangkan waterpass cabang merupakan jalur Terikat Sempurna. Menggunakan alat ukur “Automatic Level” Pengukuran dilakukan double stand, dimana stand I dibaca lengkap (benang atas, benang tengah dan benang bawah), sedangkan stand II dibaca benang tengah. Ketelitian pengukuran waterpass utama tidak lebih dari 10√ D dan waterpass utama tidak lebih 5√D, dimana D adalah jumlah jarak dalam satuan kilometer.

1.2.2. PEMASANGAN JARINGAN BENCH MARK (BM)
A. Umum Benchmark (BM) dipasang ditempat yang aman dari gangguan manusia atau binatang, BM dipasang setiap 0.50 km dan perpotongan jalur poligon diikat pada atau dekat bangunan yang permanen. Setiap BM dibuat diskripsinya dan diberi nomor urut yang teratur. Ukuran BM sesuai TOR dan di cat warna biru. Titik poligon lainnya selain benchmark adalah patok kayu berukuran 5 cm x 5cm x 60 cm dipasang disepanjang jalur saluran dengan setiap 50 m. Patok kayu, dicat dan diberi nomor untuk memudahkan identifikasi. B. Deskripsi Bench Mark Seluruh benchmark (BM) dibuat diskripsinya Kordinat (X, Y) dan elevasinya (Z). Seluruh Benchmark (BM) yang sudah di pasang, dibuat deskripsinya, kemudian

ditabelkan dan foto BM dihimpun pada formulir deskripsi, form terlampir. Semua benchmark dan patok poligon ditunjukkan pada peta situasi hasil pengukuran topografi yang berskala 1 : 2.000. Dan juga ditunjukkan pada gambar situasi yang berada pada long section. Nama Benchmark (BM) dan elevasi akan dicantumkan dengan jelas, elevasi tanah ditunjukkan sebagai pusat ketinggian dan untuk patok poligon akan ditulis nama/nomor dan elevasi tanah saja.

1.2.3. PENGUKURAN SITUASI
Situasi diukur berdasarkan jaringan kerangka horizontal dan vertikal yang telah dipasang, dengan melakukan pengukuran keliling serta pengukuran didalam daerah areal yang akan dipetakan. Jalur poligon dapat ditarik lagi dari kerangka utama dan cabang untuk mengisi detail planimetris berikut spot height yang cukup, sehingga diperoleh penggambaran kontur yang yang memadai.

Titik-titik spot height terlihat tidak lebih dari interval 5 cm pada peta skala 1 : 5.000. atau dengan kerapatan spot height 2 - 5 titik untuk tiap 1 hektar diatas tanah. Dan untuk peta skala 1 : 2.000 titik-titik spot height terlihat tidak lebih dari interval 10 cm pada peta, atau dengan kerapatan spot height 8 – 10 titik untuk setiap hektarnya diatas tanah. Beberapa titik spot height bervariasi tergantung kepada kecuraman dan ketidakteraturan terrain. Kerapatan titik-titik spot height yang dibutuhkan dalam daerah pengukuran tidak hanya daerah sungai, tetapi juga kampung, kebun, jalan setapak, tanaman sepanjang jalan pada lokasi rencana. Pengukuran situasi dilakukan dengan metode Tacheometry menggunakan theodolith T.0 atau yang sejenis. Jarak dari alat ke rambu tidak boleh lebih dari 100 meter. Kontur digambar apa adanya tetapi teliti, dan bagian luar daerah sungai kontur diplot hanya berdasarkan titik-titik spot height, efek artistik tidak diperlukan. Interval garis kontur sebagai berikut : Kemiringan Tanah kurang dari 2% 2% sampai 5% Lebih dari 5 % Interval Kontur 0,25 m 0,50 m 1,00 m

Pemberian angka kontur jelas terlihat, dimana setiap interval kontur 1.00 m dan setiap kontur 5.00 m digambarkan lebih tebal. a. Seluruh saluran, drainase, sungai (dasar terendah dan lebar harus jelas terlihat). b. Jalan-jalan desa dan jalan setapak. c. Bangunan irigasi dan drainase, batas kampung, rumah-rumah, jembatan dan saluran. Diameter atau dimensi berikut ketinggian lantai semua gorong-gorong dan jembatan, sekolah, masjid dan kantor pemerintah (camat, dll) harus terlihat. d. Pohon-pohon besar (berdiameter lebih besar dari 20 cm dengan ketinggian sekitar 12 m diatas tanah) bila pepohonan ini berada di site dan tiang telpon,tiang listrik dll. e. Daerah rawa.

i. Maksud dari pekerjaan ini adalah membuat gambar penampang memanjang dan melintang dari saluran rencana.f. Jaringan kerangka dasar. Penampang memanjang dilengkapi dengan: Elevasi tanah asli Elevasi dasar sungai atau saluran Elevasi tanggul sungai yang ada dan kemungkinan berhimpit dengan elevasi rencana tanggul Lokasi dari semua bangunan-bangunan prasarana dan sarana yang ada sepanjang sungai bangunan-bangunan lainnya.071 Ha ini merupakan pekerjaan . dan lain-lain). Penampang memanjang dilengkapi dengan elevasi pada tiap jarak 50m pada daerah lurus dan 25m pada belokan atau ditambah apabila ada perubahan kemiringan yang cukup signifikan pada kemiringan tanah.2. Batas pemerintahan (kecamatan. kebun. Pengukuran trase tersebut teliti terutama untuk elevasinya sehingga bisa diketahui mengenai slope (kemiringan) dari arah memanjang maupun melintang dimana saluran akan direncana: Pekerjaan pengukuran trase saluran seluas 1. sawah. h. Pengukuran trase saluran dapat dimulai setelah menyelesaikan pekerjaan inventarisasi jaringan dan kebutuhan pengukuran tersebut ditegaskan sesuai dengan hasil peninjauan lapangan terinci. Hasil pengukuran diplot pada gambar ukuran A. desa dan lain-lain).1. g. 1. Nama kampung. nama jalan dan lain-lain diperlukan. Batas tata guna tanah (misalnya belukar berupa rerumputan dan alang-alang. ladang. kecamatan. Tiap detail topografi setempat (seperti misalnya tanggul curam. rawa. kampung. PENGUKURAN TRASE SUNGAI Pengukuran untuk trase sungai meliputi penampang memanjang dan melintang.4. bukit kecil dan lain-lain).

1. IP. IP. Secara garis besar pekerjaan ini terdiri dari : 1. Penarikan BP.2 dan seterusnya sampai dengan EP untuk tiap saluran di lapangan dengan pemasangan patok kayu dolken atau kaso-kaso ukuran 5 x 7 x 100 cm untuk tiap-tiap titik IP tersebut dengan cat warna kuning dan nomor patok warna hitam kemudian untuk titk-titik BP dan EP berupa Bench Mark ukuran 10 x 10 x 100 (contoh kontruksi. bila tidak ada maka akan diadakan pengikatan terhadap yang terdekat • Pengukuran sudut horizontal dengan 2 seri dengan ketelitian sudut tidak lebih dari 10” untuk sekunder cukup 1 seri dengan ketelitian sudut tidak lebih dari 20” • Salah penutupsudut maksimum 10”√N.pengukuran lanjutan setelah kegiatan layout definitif (system planning). Pengukuran poligon Centerlining atau pematokan titik-titik untuk pengukuran profil melintang Pengukuran waterpass (profil memanjang) Pengukuran profil melintang Pengukuran situasi saluran Perhitungan Penggambaran Pengukuran Poligon Setting out titik-titik BP. ukuran dan marmer nama BM terlampir). Untuk saluran sekunder cukup dengan 20”√N • Sudut vertikal dibaca dalam 2 seri dengan ketelitian sudut 20” . dimana N banyaknya titik poligon. Setiap Bench Mark dan patok kayu (IP) di poligon syarat teknis pengukuran poligon adalah sebagai berikut : • Poligon akan dimulai dari titik referensi yang sudah ditentukan oleh direksi (dalam hal ini adalah titik-titik tetap atau Bench Mark hasil pengukuran situasi terdahulu) dan harus berakhir pada titik yang sudah diketahui koordinatnya. IP dan seterusnya harus sejajar dengan saluran dan tiap IP ditempatkan harus pada titik balok.

5 km antara IP dengan IP atau IP dengan BM d. Pengukuran detail dengan kerapatan titik tiap 25 cm f. untuk sekunder adalah ≤ 1 : 5. batas tambak. rumah. bila ada bangunan sadap maka akan diukur elevasi bangunan bagian atasnya. 3.• Pengamatan matahari pada stiap jarak ± 5 km dan diusahakan pada bangunan bagi (titik simpul poligon) juga pada tiapBP dan EP. c. back ukur. dimana D adalah jarak dalam km. IP. Alat yang digunakan Wild To atau yang tingkat ketelitiannya c. jembatan. Pengamatan pada pagi dan sore pada kemiringan matahari ≤ 30o. nivo back harus dilakukan sebelum pertengahan dan sesudah pengukuran pada hari itu. Pengukuran harus terikat pada titik poligon . Pengukuran detail situasi dilakukan dari patok poligon yang sudah diketahui kedudukan Planimetris dan elevasinya dari pengukuran poligon dan waterpass b. batas sawah.000 2. Tinggi tiap patok harus diukur atas muka tanahnya e. bila ada legokan atau sodetan maka di ukur dasar dan tepi-tepi atasnya dan sebagainya. Pengecekan garis bidik alat. b. Semua detail seperti jalan. Ketelitian azimuth ≤ 10”(untuk sekunder cukup < 20”) • Ketelitian linier poligon ≤ 1 : 10. Pengukuran Situasi Saluran a. statip. tengah dan bawah dan akan dicatat pada buku ukur f. Selisish 2 benang tengah dengan (benang atas + benag bawah) harus ≤ 2 mm g. Pembacaan adalah benang atas. Semua patok tiap 50 m. demikian juga bila melewati keadaan tanah yang ekstrim. Salah satu penutup harus ≤ 10 √D mm. Pengukuran dilakukan pergi dan pulang dalam 1 hari minimal 1 seksi atau ±1. Sketsa detail akan dibuat dengan rapi dan jelas sehingga memudahkan penggambaran dan koreksi apabila terjadi kesalahan dalam pengukuran e. bangunan lain. BP dan EP serta BM di waterpasss. Pengukuran Waterpass a. tinggi muka air dan sebagainya akan diambil/diukur d.000.

maka lebar penampang akan > 50 m dari as saluran.g. untuk bagian berbelok lebar minimal 50 m dari saluran rencana. jadi pada belokan minimal ada 3 profil melintang di dalam interval jarak 50 m c.000 Bila trase saluran memotong sungai/lembah kecil. skala 1 : 2. Pengukuran penampang melintang saluran adalah tegak lurus saluran dengan lebar minimal 50 m ke kiri dan 50 m ke kanan dari saluran rencana. Untuk saluran yang berbelok dilakukan tiap interval lebih kecil dari ketentuan tersebut di atas dengan memperhatikan busur kelengkungannya.000. maka akan dibuat penampang melintang dan memanjang sungai/lembah tersebut dengan ketentuan : • Penampang dibuat 100 m ke udik dan 100 m ke hilir dari pertemuan tersebut • Penampang melintang tiap 25 m untuk bagian lurus dan untuk belokan akan ditambah pada belokannya dengan lebar 25 m ke kiri dan 25 ke kanan dari tepi sungai • Penampang memanjang. maka akan dibuat : • Penampang 50 ke udik dan 50 ke hilir • Penampang melintang dibuat tiap 25 meter untuk bagian yang lurus dan untuk belokan ditambah pada belokannya. . Setiap perubahan elevasi tanah akan diambil sebagai titik detail untuk penampang melintang/memanjang. bangunan rumah. jalan. • Lebar penampang dan skala gambar sama dengan di atas 5. muka air dan dasar saluran dan sebagainya 6. 7. Pengukuran Profil Melintang a. lembah besar. yaitu tiap IP dan 2 patok yang mengapit IP. Arti minimal disini adalah bila terdapat detail penting yang perlu diambil. skala tinggi 1 : 2. Bila saluran melintasi (memotong)sungai besar. Untuk saluran induk dan sekunder tiap interval jarak 50 m (untuk bagian lurus) b. juga untuk tiap patok profil. Perhitungan situasi dengan cara Tachiometri 4.

e. d. 9. Skets dari pengukuran akan dibuat dengan rapi dan jelas untuk memudahkan penggambaran. Semua titik poligon akan dihitung koordinanatnya.000 yang sudah ada. gorng-gorong dan sebagainya akan ditulis pada peta. h. g. Semua titik detail digambar dan dituliskan elevasinya. Elevasi rencana bangunan penting seperti bendung. i. Pada tiap interval lima garis kontur.000 yang sudah ada. yaitu benang atas. f. Saluran hasil hitungan akan di assistensikan/didiskusikan dengan Direksi pekerjaan. Semua Bench Mark (BM) dan titik ikat digambar dengan legenda yang ditentukan dan dilengkapi dengan elevasi dan koordinat. Perhitungan • • • • Semua perhitungan akan dilakukan di lapangan. Penggambaran a. konsultan meminta penjelasan terlebih dahulu mengenai tatacara penggambaran kepada Direksi (bagian pengukuran). sehingga apabila ada kesalahan dapat langsung diukur kembali. garis kontur diputus untuk memperoleh ruangan guna menuliskan elevasi garis kontur tersebut. c. bangunan bagi. Garis silang untuk grid standar dibuat pada setiap 10 cm b. Jarak-jarak penampang melintang diambil secara optis dengan membaca ketiga benang pada alat ukur. Pada tempat-tempat tertentu yang tidak mengurangi ketelitian peta. Ukuran gambar A1 dan penggambaran dilakukan dengan sistem koordinat (tidak grafis) dan dalam proyeksi yang sama dengan 1 : 5. garis kontur dibuat tebal dan ditulis angka ketinggiannya. Jarak dan ketinggian titik detail dihitung dengan core Tachyometri. benang tengah dan benang bawah atau dengan pita ukur baja sampai pembacaan dalam centimeter. Sebelum mengerjakan penggambaran. satu sistem dengan hitungan skala 1 : 5. 11. Skala . jembatan syphon.8. 10.

• Gambar situasi trase skala 1 : 2. PENGOLAHAN DATA A. Gambar trase saluran skala 1 : 2.• Peta trase saluran skala 1 : 2. 14.000. Penggambaran trase saluran akan dimulai dari sungai (lokasi bendung) atau intake saluran.000 sama dengan gambar jalur lay out pada peta 1 : 5.5 m. yaitu perhitungan kontrol pengukuran sudut.000. 1. Perhitungan poligon kerangka utama 2. hitungan azimuth.5. Perhitungan poligon cabang Perhitungan poligon meliputi tiga perhitungan.Y) Yang perlu diperhatikan dalam perhitungan koordinat adalah data-data hitungan sudut. skala tinggi 1 : 100 12.Y. Poligon Kerangka . perhitungan kontrol pengukuran jarak dan perhitungan koordinat. Untuk menghasilkan hitungan koordinat yang baik.000 • Penampang melintang skala jarak 1 : 100 skala tinggi 1 : 100 • Penampang memanjang skala jarak 1 : 2.000 interval kontur 0. hitungan jarak dan akhirnya hitungan X. Hitungan Koordinat (X.2. Peta situasi saluran dan profil memanjang digambar dalam satu gambar di atas kertas kalkir 80/90 gr demikian juga untuk profil melintang 13. dalam arti bahwa kenampakan detail dan kontur tidak jauh berbeda. maka dilakukan perhitungan dengan prosedur sebagai berikut : Perhitungan Sudut Mendatar Perhitungan sudut mendatar hasil pengukuran poligon dibagi menjadi dua bagian: 1. untuk daerah datar dan 1 m untuk daerah yang berbukit.

• Kontrol Pengukuran Sudut Metoda yang digunakan untuk menghitung sudut mendatar adalah perhitungan azimuth awal dan azimuth akhir. Cos2 . dimana selisih bacaan jarak dengan pita ukur tidak boleh lebih dari 2 cm. maka data-data jarak tersebut harus .180 + fa dimana : A(akhir) A(awal) S(sudut) n fa = = = = = azimuth akhir azimuth awal jumlah sudut ukuran banyaknya titik poligon besarnya salah penutup sudut atau dengan menggunakan rumus : fa = (Aakhir – Aawal) . yang menggunakan rumus sebagai berikut : A(akhir) – A(awal) = S(sudut) – n. Kontrol Pengukuran Jarak 1. Jarak Optis Jarak datar dan jarak optis dihitung dengan menggunakan rumus : D = L . kedua azimuth itu didapat dari data BM yang telah ada .180 B. Jadi sebelum kita hitung harga rata-ratanya.Ssudut + n. Z Dimana : D = jarak datar L Z = jarak optis = sudut miring 2. Jarak Pita Ukur dan EDM Jarak pita ukur dilakukan dengan cara mencari harga rata-rata dari berberapa ukuran.

maka kemudian dilakukan hitungan koordinat dengan rumus sebagai berikut : X2 = Y2 = X1 + D Sin a I-2 Y1 + D Cos a I-2 Sedangkan untuk perhitungan koreksinya dipakai rumus : X Y (akhir) – X (awal) = D Sin a + fx – Y (awal) = D Cos a + fy (akhir) Koreksi per sisi dilakukan dengan membagi koreksi X (Y) dengan jumlah sisi yang ada. yaitu sebagai berikut : Kontrol bacaan benang Rumus yang digunakan dalam mengontrol bacaan benang adalah : Bt = Ba + Bb 2 Dimana : Bt Ba = bacaan benang tengah = bacaan benang atas . Perhitungan Elevasi Perhitungan elevasi terdapat beberapa bagian penting. sudut dan jarak). sedangkan untuk mengetahui kesalahan relatif dapat kita hitung dari rumus : S : D adalah 1 : ……. Dimana : S = fx 2 + fy 2 D = jumlah jarak polygon C.diseleksi terlebih dahulu. Setelah ketiga jenis hitungan selesai (azimuth matahari.

jadi hitungan jarak dan jumlahnya dihitung langsung pada saat pengukuran setelah mengukur beda tingginya agar juru ukur bisa mengatur kedudukan alat dan rambu sehingga Sdmuka ≈ Sdbelakang (mendekati).Btmuka (stand I) Dengan sedikit mengubah posisi alat. + dmn = dm1 + dm2 + dm3 + ….Btmuka (stand II) Jarak waterpass dihitung dengan rumus : dm db Dimana : Sm Sb dmuka dbelakang Sdmuka Sdbelakang = = = = = dm1 + dm2 + dm3 + …. + …..Bb = bacaan benang bawah Jika selisih antara Bt dan (Ba + Bb)/2 lebih dari 2 milimeter maka bacaan benang akan langsung diulang lagi sampai memperoleh selisih maksimum 2 mm. + …. + dmn jarak alat ke rambu muka jarak alat ke rambu belakang jumlah jarak ke muka jumlah jarak ke belakang = = Bamuka ...Bbbelakang x 100 Untuk menghindari kesalahan karena pengaruh garis visir diusahakan agar dmuka = dbelakang . Kontrol beda tinggi Rumus yang digunakan untuk kontrol beda tinggi antara 2 titik adalah sebagai berikut : H1 = Btbelakang . kemudian dilakukan pengukuran untuk stand II dan diperoleh : H2 Jarak waterpass = Btbelakang .Bbmuka x 100 Babelakang .. .

data jarak yang akan dipakai adalah jarak rata-rata. Sin2Z Dimana : H = L = Z = beda tinggi jarak miring/optis sudut miring/vertikal Untuk tinggi bidikan yang tidak sama dengan tinggi alat. Setelah perhitungan tiap seksi selesai dan semua masuk dalam toleransi. Jika tidak memenuhi toleransi maka harus dilakukan hal-hal sebagai berikut : 1) 2) Cek semua data perhitungan Deteksi kesalahan. dengan demikian akan memudahkan dalam proses penghitungan sistem hitungan perataan untuk koreksi ukuran dalam satu seksi akan digunakan sistem perataan biasa. kita dilakukan perhitungan dengan rumus : H = ½ I . maka rumus yang dipakai adalah : . Tiap seksi akan selalu dicek hitungannya apakah memenuhi toleransi 10√D atau tidak. Perataan beda tinggi Perhitungan beda tinggi perseksi dilakukan dalam bentuk kring/tertutup. Beda tinggi (pulang-pergi) Beda tinggi pergi didapat dari jumlah beda tinggi rata-rata stand II pada route pergi. maka dilakukan pengukuran ulang. beda tinggi pulang didapat dari jumlah beda tinggi rata-rata stand I dan stand II pada route pulang. yaitu mencari perkiraan dimana kira-kira kesalahan itu terjadi dan setelah didapat (dengan bahan pertimbangan/alasan yang kuat) maka langsung dicek ulang ke lapangan dengan alat ukur.Untuk hitungan ketelitian (toleransi 8√D). Selisih hpg (beda tinggi pergi) dan hpl (beda tinggi pulang) harus masuk toleransi 8√D km mm dan bila lebih dari toleransi.

dan kuantitias bahan timbunan yang ada di lokasi.H = ½ L Sin2 Z + TA – Bt Dimana : H L Z = beda tinggi = jarak miring/optis Æ (Ba – Bb) x 100 = sudut miring/vertikal TA = tinggi alat (dari atas patok) Bt = bacaan benang tengah 1.3. Pelaporan dan Foto Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika Tanah dilakukan pada lokasi di sepanjang bantaran dan daerah tangkapan hujannya/cathment area. Sondir/Cone Penetration Test d. . meliputi penyelidikan parit uji (test pit). Parameter tersebut meliputi parameter mekanik tanah. Hand Bor c. test laboratorium mekanika tanah (indeks properties dan dinamik properties). kegiatan geologi yang dipelukan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut : a. parameter timbunan tanah tanggul. Parit Uji (Test Pit) b. Parameter-parameter ini sangat berpengaruh terhadap hasil desain. Penyelidikan geologi/mekanika tanah diperlukan untuk mencari parameter desain untuk perencanaan bangunan-bangunan pengendalian banjir dan mencari bahan-bahan timbunan untuk tanggul retarding basin. PEKERJAAN GEOLOGI/MEKANIKA TANAH Dalam perencanaan diperlukan parameter-parameter geologi/mekanika tanah untuk desain oleh karena itu dibutuhkan kegiatan penyelidikan geologi/mekanika tanah. bor tangan (hand Borring). Laboratorium e.

. METODOLOGI PELAKSANAAN Metode pelaksanaan sangat diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan berhasil guna. Sondir (Cone Penetration Test). Secara garis besar langkah-langkah yang dilaksanakan dalam survey mekanika tanah ini terdiri dari : .1. test laboratorium mekanika tanah (indeks properties dan dinamik properties) dilaksanakan pada posisi yang telah disepakati bersama. .1.3. Pengiriman contoh tanah ke labaratorium Contoh tanah hasil penyelidikan lapangan dikirim ke laboratorium mekanika tanah Universitas Brawijaya. . Proses ini berupa diskusi-diskusi baik antara intern pelaksana pekerjaan maupun dengan pihak proyek dan pengumpulan data-data penyelidikan terdahulu . . test laboratorium mekanika tanah (indeks properties dan dinamik properties) (sesuai dengan TOR) dilaksanakan setelah disetujui oleh Direksi tentang posisi pengambilannya. Proses administrasi dan kegiatan koordinasi proyek Proses ini sangat penting baik bagi konsultan maupun pihak proyek karena akan diperoleh kesepakatan dalam pelaksanaan penyelidikan tanah. bor tangan (hand borring). Persetujuan program kerja dan persiapan pelaksanaan. Sondir (Cone Penetration Test). Pelaksanaan pekerjaan lapangan Pelaksanaan penyelidikan parit uji (test pit). yang mana harus ditentukan sebelum dilakukan penyelidikan mekanika tanah/geologi. Pelaksanaan pekerjaan penyelidikan parit uji (test pit). bor tangan (hand borring). Penyusunan program kerja dan persiapan pelaksanaan Penyusunan program kerja dan persiapan pelaksanaan penyelidikan mekanika tanah geologi direncanakan dengan kesepakatan bersama atau direncanakan oleh pelaksana dengan disetujui pihak proyek.

ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ Ukuran test pit adalah 1. Ukuran lubang 1 meter x 1. atau debit air tanahnya sangat tinggi sehingga tidak bisa dipompa atau dibuang. Penggalian dihentikan jika kedalaman test pit maksimum 3 meter telah tercapai.3. Kedalaman maksimum adalah 3 meter. 1. atau Terjadi keruntuhan yang dapat membahayakan pekerja. Pada pekerjaan ini jumlah test pit yang dilakukan sebanyak 4 lubang. atau tanahnya sangat labil. dilakukan pengambilan contoh tanah asli UDS dan bulk samplenya. ƒ Tanah/batuan pada dinding test pit kemudian dideskripsi.. Penggalian dihentikan bila : ƒ ƒ ƒ Kedalaman telah mencapai 5 meter. PENYELIDIKAN GEOLOGI DAN MEKANIKA TANAH Test Pit Test pit bertujuan untuk eksplorasi bahan timbunan dengan mengambil disturbed sample dan undisturbed sample. Jika terdapat air tanah dangkal maka harus dibuang atau dipompa.5 m x 1. atau Terdapat air tanah yang tidak terkendali. . Uraian pekerjaan test pit adalah sebagai berikut : ƒ Pekerjaan test pit dilakukan pada lokasi borrow area dan ditujukan untuk mengetahui urut-urutan vertikal lapisan batuan secara langsung/visual juga sebagai tempat pengambilan undisturbed sample dan bulk sample.2. Pengujian tanah di laboratorium Pemeriksaan tanah di laboratorium dilakukan terhadap seluruh contoh tanah yang dikirim ke laboratorium mekanika tanah.5 meter atau ukuran pekerja gali dapat bekerja dengan leluasa dengan serta memperhatikan faktor keamanan. dibuat lognya. Jika tanahnya mudah runtuh maka harus dibuat dinding penahan.5 m atau pada batas-batas ukuran dimana pelaksana pekerjaan dapat bergerak dengan leluasa. atau telah mencapai batuan keras.

Tabung contoh yang telah terisi harus segera disekat di kedua ujungnya dengan lilin/parafin dengan baik serta diberi label yang mencantumkan nama proyek. Pengambilan sample harus menggunakan sampler tube yang mampu mengambil sample sepanjang 30 hingga 45 cm (Shelby Tube). didiskusikan dengan Direksi dan dimintakan persetujuannya. dan interval kedalaman pengambilan. UDS yang diambil dari lubang bor dan dari Hand Bor sebanyak 12 unit. atau Terjadi keruntuhan yang dapat membahayakan pekerja. yaitu dari lubang pemboran dan dari Hand Bor.ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ Lubang test pit harus diamankan dengan cara ditimbun kembali atau diberi pagar. Pengambilan Sample Pengambilan Undisturbed Sample • • • • Undisturbed Sample / UDS (Contoh Tak Terganggu) diambil dari dua cara. Dinding test pit harus dideskripsi. lokasi. Penelitian ini dilakukan pada dua titik dengan kedalaman sampai 5 meter. . Hand Bor Hand boring bertujuan untuk mengambil contoh tanah asli dengan memakai win auger dengan tenaga manusia. • • • Untuk mendapatkan sample yang baik maka well site geologist harus selektif dan cermat dalam menentukan kedalaman pengambilan sample tersebut. Penggalian dihentikan jika : Kedalaman telah mencapai 3 meter. Penentuan rencana penyebaran dan interval titik pengambilan UDS harus diperhitungkan dengan cermat. nomor titik bor. Penentuan penyebaran dan interval titik pengambilan UDS pada lubang bor ditentukan oleh kebutuhan desain dan kondisi geologi setempat. Pada tiap lubang diambil disturbed dan undisturbed samplenya untuk di test di laboratorium. Contoh tanah yang telah diambil ditutup rapat dengan parafin agar kondisinya tetap terjaga sampai ke tempat pengujian di laboratorium mekanika tanah. atau Terdapat air tanah yang tidak terkendali. dibuat sketsa dan difoto.

. Pengujian index properties meliputi : • • • • • • • • Specific gravity Unit weight Water content Liquid limit Plastic limit Shrinkage limit Grain size analisys Hydrometer analisys Pengujian structure/enggineering properties meliputi: • • • • Unconfined Compression Direct Shear Triaxial Compression Laboratory Permeability Test Untuk contoh DS / bulk sample dilakukan pengujian kompaksi / pemadatan dengan metoda proctor. sampel yang diuji dilaboratorium adalah sebanyak 12 unit. • Sample yang sudah diambil harus segera dianalisis di laboratorium. Laboratorium Mekanika Tanah Pengujian laboratorium mekanika tanah terhadap contoh tanah yang telah diambil (UDS dan DS) harus meliputi pengujian index properties dan dynamic properties.• Untuk UDS yang diambil dari test pit maka pengambilannya harus hati-hati dan tidak boleh dilakukan pada tanah yang sudah terinjak-injak saat menggali ataupun pada tanah humus.

analisa ketidakadaan trend.1. analisa kestasioneran data (stationary test).4.2. UMUM Analisis Hidrologi diperlukan untuk penentuan debit banjir (design flood) berdasarkan kondisi topografi dan tata guna lahan di Daerah Pengaliran Sungainya (DPS). Menganalisis debit banjir pada masing-masing saluran untuk mengetahui debit banjir yang terjadi pada masing-masing saluran dan kapasitas saluran sungai untuk mengalirkan debit banjir tersebut. analisa kepuguhan data (consistency test).Semua pengujian laboratorium mekanika tanah yang dilakukan akan mengikuti standar ASTM.4. ditentukan dengan rumus sebagai berikut : . b. Analisis hidrologi tersebut akan dilaksanakan pada masing-masing sub Daerah Pengaliran Sungai (DPS) sehingga diperoleh debit banjir pada masing-masing sungai dalam sub DPSnya. dengan stasiun hujan yang tidak mempunyai data. dan Analisa ketidakadaan persistensi data . ANALISA DATA HILANG DAN KONSISTENSI DATA Stasiun hujan kadang-kadang tidak dapat bekerja dengan baik sehingga data curah hujan kurang lengkap. Menentukan hujan rata-rata pada stasiun terdekat. Analisa mutu data yang akan dipakai dalam studi meliputi data Curah hujan baik dari ARR (Automatic Rainfall Recorder) maupun MAR (Manual Rainfall Recorder) berupa analisa data yang hilang (missing data). ANALISA HIDROLOGI 1.4. Analisis hidrologi pada pekerjaan ini meliputi : . Pengumpulan data curah hujan dan data AWLR (Automatic Water Level Recorder) untuk analisa debit sungai yang terjadi. Pengisian kekosongan data hujan/analisa Data hilang (Missing Data) tersebut dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut : a. 1. Faktor bobot didasarkan pada suatu nilai ratio hujan tahunan. . 1.

PX = Anx Anx Anx ⎤ 1 ⎡ Anx Pa + Pb + Pc K + Pn ⎢ m ⎣ Ana Anb Anc Anm ⎥ ⎦ Dimana : Px Pa. b. 1. merupakan data dasar sebagai bahan untuk analisa hidrologi. penakar hujan terlindung pohon. berarti varian dan rata-ratanya homogen/stabil/sama jenis 9 Bersifat acak (randomnes).c Anx m = tinggi hujan pada stasiun yang datanya tidak lengkap (mm) = tinggi hujan pada stasiun a. misalkan analisa peluang. Hal tersebut dapat diselidiki dengan menggunakan lengkung massa ganda. Apabila suatu deret berkala setelah diuji ternyata menunjukkan : 9 Tidak menunjukkan adanya trend 9 Stasioner. perubahan letak. independent atau tidak adanya persistensi Maka data deret berkala tersebut selanjutnnya baru disarankan dapat digunakan untuk analisis hidrologi lanjutan. PENYARINGAN DATA (DATA SCREENING) Data hidrologi runtut waktu (data history). b. b. terletak berdekatan dengan gedung tinggi. dapat diolah dan disajikan dalam suatu distribusi (distribution) atau deret berkala (time series). b. data tersebut sebelum digunakan untuk analisis hidrologi harus dilakukan pengujian yang sering disebut dengan penyaringan data (data screening).3. dan c (mm) Selanjutnya dilakukan perhitungan Curah Hujan Areal untuk analisa lebih lanjut. Umumnya data lapangan setelah diolah dan disajikan dalam buku publikasi data hidrologi. Disajikan dalam bentuk distribusi apabila data hidrologi disusun berdasarkan urutan besarnya nilai sedangkan deret berkala (time series) disajikan secara kronologi sebagai fungsi dari waktu dengan interval waktu yang sama.4. Pengujian ini . c = tinggi hujan tahunan pada stasiun a. Data hujan dapat menjadi tidak konsisten yang disebabkan karena perubahan lingkungan atau gangguan lingkungan di sekitar tempat penakar hujan dipasang misalnya. dan c (mm) = tinggi hujan tahunan pada stasiun yang datangnya tidak lengkap (mm) = banyaknya stasiun Ana. dan simulasi. dll. perubahan cara penakaran dan pencatatan. Hal ini dapat menyebabkan perubahan trend semula.

Uji Ketidakadaan Trend Deret berkala yang nilainya menunjukkan gerakan yang berjangka panjang dan mempunyai kecenderungan menuju kesatu arah. diantaranya uji : Korelasi peringkat Metode Spearman . data tidak konsisten adalah penyimpangan data karena kesalahan acak dan kesalahan sistematisnya. arah menaik atau menurun disebut dengan pola atau trend. Umumnya meliputi gerakan yang lamanya lebih dari 10 tahun. Dalam melaksanakan pengujian diperlukan informasi tambahan seperti perubahan DPS atau alur sungai seperti bencana alam. Maka tahap penyaringan ini perlu pengetahuan lapangan dan informasi yang terkait dengan data dalam deret berkala. Deret berkala yang datanya kurang dari 10 tahun kadang-kadang sulit untuk menentukan gerakan dari suatu trend. Beberapa metode statistik yang dapat digunakan untuk menguji ketidakadaan trend dalam deret berkala. Trend musim sering disebut sebagai variasi musim (seasonal trend atau seasonal variation) dan hanya menujukkan gerakan dalam jangka waktu setahun saja. hasilnya dapat meragukan karena gerakan yang diperoleh hanya menujukkan suatu sikli (cycle time series) dari suatu trend. sikli merupakan gerakan yang tidak teratur dari suatu trend.dimaksudkan untuk memeriksa dan memilahkan atau mengelompokkan data yang bertujuan untuk memperoleh data hidrologi yang cukup handal untuk analisis sehingga kesimpulan yang diperoleh cukup baik. Data tidak homogen adalah penyimpangan data dari sifat statistiknya yang disebabkan oleh faktor alam dan pengaruh manusia 2. Kembali pada pengertian bahwa : 1. atau pengaruh manusia. Tahap penyaringan ini baru merupakan penyaringan untuk data dari suatu pos hidrologi dan belum membandingkan dengan data sejenis dari pos lain.

Perhitungan dengan uji korelasi peringkat metode spearman didasarkan pada nilai korelasi suatu data/variabel hidrologi. dapat dirumuskan dengan persamaan umum: 6∑ (dt ) 2 i =1 n KP = 1 − n3 − n dan ⎡ n − 2 ⎤2 t = KP ⎢ 2 ⎥ ⎣1 − KP ⎦ 1 keterangan : KP = koefisien korelasi peringkat spearmen n = jumlah data dt = Rt – Tt Tt = peringkat dari waktu Rt = peringkat dari variabel hidrologi dalam deret berkala T = nilai distribusi t. Mann dan Whitney Uji Mann dan Whitney dihitung dengan persamaan umum sebagai berikut : U 1 = N1 ⋅ N 2 + N1 (N 1 + 1) − Rm N2 dan U 2 = N 1 ⋅ N 2 − U 1 Z= U− N1 ⋅ N 2 2 1 ⎡1 ⎤2 ⎢12 ( N 1 N 2 ( N 1 + N 2 + 1)⎥ ⎣ ⎦ keterangan : N1 N2 U = jumlah kelompok data 1 = jumlah kelompok data 2 Rm = jumlah peringkat = nilai terkecil dari U1 dan U2 . pada derajat kebebasan (n – 2) untuk derajat kepercayaan tertentu Uji t digunakan untuk menentukan apakah variabel waktu dan variabel hidrologi itu saling tergantung (dependent) atau tidak tergantung (independent).

Pengujian deret berkala nilai varian dapat dilakukan dengan uji. maka pengujian selanjutnya adalah menguji kestabilan nilai rata-rata yaitu dengan menggunakan uji student-T (student-T .Z = nilai uji z yang tergantung dari besarnya derajat kepercayaan Uji stasioner/Kestabilan Data Setelah dilakukan pengujian ketidakadaan trend apabila deret berkala tersebut tidak menunjukkan adanya trend sebelum data deret berkala digunakan untuk analisis hidrologi lanjutan harus dilakukan uji stasioner. Apabila menujukkan adanya trend maka data deret berkala tersebut dilakukan analisis menurut trend yang dihasilkan. Uji kestabilan Varian Persamaan umum yang dipakai untuk menghitung kestabilan varian dengan uji F adalah sebagai berikut : F= n 2 ⋅ S 2 (n1 − 1) 2 n1 ⋅ S1 (n 2 − 1) 2 keterangan : n1 = jumlah kelompok data 1 n2 = jumlah kelompok data 2 S1 = standart deviasi 1 S2 = standart deviasi 2 - Uji Kestabilan Rata-Rata . bila nilai variannya tidak homogen berarti deret berkala tersebut tidak stasioner dan tidak perlu melakukan pengujian lanjutan. Apabila varian tersebut menujukkan stasiuner.test). Apabila menunjukkan tidak ada garis trend maka uji stasioner dimaksudkan untuk menguji kestabilan nilai varian dan rata-rata berkala dari deret berkala.F. Analisis garis trend dapat menggunakan analisis regresi.

yang dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : 6∑ (di ) 2 i =1 m KS = 1 − m3 − m dan ⎡ n − 2 ⎤2 t = KS ⎢ 2 ⎥ ⎣1 − KS ⎦ 1 keterangan : KS = koefisien korelasi spearman m = N–1 N = jumlah data di = perbedaan nilai antara peringkat kesatu dengan peringkat berikutnya . Untuk melaksanakan pengujian persistensi harus dihitung besarnya koefisien korelasi serial. Salah satu metode untuk menentukan koefisien korelasi serial adalah dengan metode Spearman. dengan persamaan sebagai berikut : ⎛ n1 ⋅ S1 2 + n 2 ⋅ S 2 2 σ =⎜ ⎜ n +n −2 1 2 ⎝ ⎞2 ⎟ ⎟ ⎠ 1 t= X1 − X 2 σ⎜ ⎜ ⎛1 1 ⎞ + ⎟ ⎟ ⎝ n1 n 2 ⎠ 1 2 dimana keterangan : X1 = rata-rata kelompok data 1 X2 = rata-rata kelompok data 2 n1 = jumlah kelompok data 1 n2 = jumlah kelompok data 2 S1 = standart deviasi 1 S2 = standart deviasi 2 Uji Persistensi Anggapan bahwa data berasal dari sampel acak harus diuji. yang umumnya merupakan persyaratan dalam analisis distribusi peluang. Persistensi (persistence) adalah ketidaktergantungan dari setiap nilai dalam deret berkala.Kestabilan rata-rata dapat dihitung dengan persamaan umum uji T.

Agihan Extreme E.J. Untuk Curah Hujan Rancangan dihitung dengan empat jenis agihan. Gumbel Tipe I Standart deviasi dihitung dengan rumus : . analisis curah hujan areal dan uji kesesuaian distribusi. Gumbel Tipe I Agihan Pearson Tipe III Agihan Log Pearson Tipe III Agihan Log Normal 3 Parameter Persamaan umum untuk estimasi curah hujan rancangan (design rainfall) untuk semua agihan. adalah sebagai berikut : XT = X + K ⋅Sx Dimana : XT = X = Sx = K = curah hujan rancangan untuk periode ulang pada T tahun (mm) rerata dari curah hujan (mm) standar deviasi Faktor frekuensi yang merupakan fungsi dari periode ulang (return periode) dan tipe distribusi frekuensi. analisis probabilitas curah hujan maksimum (curah hujan rancangan) untuk estimasi debit banjir rencana.4. pada derajat kebebasan (m – 2) untuk derajat kepercayaan tertentu 1.4. yaitu : • • • • Agihan Extreme E. ANALISA CURAH HUJAN RANCANGAN (DESIGN RAINFALL) Analisis data curah hujan umumnya mencakup analisis kepuguhan/konsistensi data.J.t = nilai distribusi t.

Ln (T .Ln [ . Fungsi kerapatan peluang distribusi dari distribusi Pearson Tipe III adalah sebagai berikut : 1 ⎡x −C⎤ P(x ) = ⎥ aΓ(b ) ⎢ ⎣ a ⎦ b −1 ⎛ x −C ⎞ −⎜ ⎟ ⎝ a ⎠ ⋅e dengan : x a b c Γ = variabel acak kontinue = parameter skala = parameter bentuk = parameter letak = fungsi gamma Standart deviasi dihitung dengan rumus ∑ X i2 − X ∑ X i 1 i n n SX = n−1 . mempunyai bentuk kurva seperti bel (bell shape).1)/T ] Yn = Reduced mean sebagai fungsi dari banyaknya data n Sn = Reduced standart deviasi sebagai fungsi dari banyaknya data n Agihan Pearson Tipe III Distribusi Pearson Tipe III.SX = ∑ X i2 − X ∑ X i 1 i n n n−1 faktor frekuensi dihitung dengan rumus K= YT −Yn Sn dengan : YT = Reduced variete sebagai fungsi periode ulang T = .

standart deviasi dihitung dengan rumus: ⎡ ∑( Log X − Log X ) 2 ⎤ σ ( Log X ) = ⎢ ⎥ n−1 ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ 1/ 2 koefisien kepencengan (skewness coefisien) n∑ log X − log X CS = (n − 1)(n − 2)(S ⋅ log X ) ( ) 3 Agihan Log Normal 3 Parameter Distribusi Log Normal 3 parameter merupakan modifikasi distribusi log normal dengan menambahkan suatu parameter β sebagai batas bawah.β) . Persamaan fungsi kerapatan peluang sama dengan distribusi Pearson Tipe III.β) μn = rata-rata dari sampel dari variat ln (x .koefisien kepencengan (skewness coefisien) n∑ X − X CS = (n − 1)(n − 2)(S ⋅ X ) ( ) 3 Agihan Log Pearson Tipe III Bentuk distribusi Log Pearson Tipe III merupakan hasil trasformasi dari distribusi Pearson Tipe III dengan menggantikan variat menjadi nilai logaritmik. dengan fungsi densitas peluang log normal (log normal probability density function) dari variabel acak kontinue x. dengan persamaan sebagai berikut : 1 ⎛ ln ( x − β )− μn ⎞ 2 ⎜ ⎟ 2⎝ σn ⎠ P(x ) = ln( x − β ) 2π 1 ⋅e dengan : x = variabel acak kontinue σn = deviasi standart dari sampel dari variat ln (x .

Uji Kesesuaian Distribusi Untuk mengetahui suatu kebenaran hipotesa distribusi frekuensi. diperoleh dari hubungan kala ulang atau probabilitas dengan koefisien kepencengan (skewness coefisien). • Kebenaran hipotesa (diterima/ditolak).Standart deviasi dihitung berdasarkan persamaan : SX = ∑ log( X 1 n i − β ) −log X ∑ log( X i − β ) i n n −1 koefisien kepencengan (skewness coefisien) n∑ log( X − β ) − log( X − β ) CS = (n − 1)(n − 2)(S ⋅ log( X − β )) ( ) 3 Faktor frekuensi K. maka dilakukan pemeriksaan uji kesesuaian distribusi. seperti : • Kebenaran antara hasil pengamatan dengan model distribusi yang diharapkan atau yang diperoleh secara teoritis. Probabilitas dihitung dengan persamaan Weibull sebagai berikut : 100.m (%) P= n+1 Dimana : P = Probabilitas (%) . Dengan pemeriksaan uji ini akan diketahui beberapa hal. dalam hal ini kami memakai dua metode uji yaitu uji Smirnov Kolmogorov dan uji Chi-Square. Uji Smirnov Kolmogorof Data curah hujan maksimum harian rerata tiap tahun disusun dari kecil ke besar.

yang untuk sebaran kai-kuadrat adalah sama dengan dua (2). dirumuskan : χ 2 =∑ ( E F −O F ) 2 EF Dimana : χ 2 = Harga kai-kuadrat Ef = Frekuansi (banyaknya pengamatan) yang diharapkan. untuk suatu derajat nyata tertentu (level of significance). Dalam hal ini.(P + 1) Dimana : DK = Derajat kebebasan K P = Banyaknya kelas = Banyaknya keterikatan atau sama dengan banyak-nya parameter. 2 2 Nilai χ hitungan harus lebih kecil dari harga χ cr (Kai-kuadrat kritis) dari tabel. maka dapat dilakukan penggabungan dengan kelas yang lainnya. Apabila ada kelas yang frekuensinya kurang dari lima. Derajat kebebasan ini secara umum dapat dihitung dengan : DK = K . sesuai dengan pembagian kelas nya Of = Frekuensi yang terbaca pada kelas yang sama. yang sering diambil sebesar 5%. disarankan pula agar banyaknya kelas tidak kurang dari lima dan frekuensi absolut tiap kelas tidak kurang dari lima pula. .m n = nomor urut data dari seri yang telah disusun = besarnya data Nilai delta kritis untuk uji Smirnov-Kolmogorov diperoleh dari tabel. Uji Kai Kuadrat (Chi Square) Dari distribusi (sebaran) Kai-kuadrat.

sehingga: . Prosentase distribusi hujan yang terjadi dapat dihitung dengan rumus Mononobe (Suyono. Namun demikian jika tersedia data hujan otomatis (Automatic Rainfall Recorder. POLA DISTRIBUSI HUJAN Distribusi Hujan Untuk mentransformasi curah hujan rancangan menjadi debit banjir rancangan diperlukan curah hujan jam-jaman. yaitu (1) waktu yang diperlukan untuk mengalir di permukaan lahan sampai saluran terdekat to dan (2) waktu perjalanan dari pertama masuk saluran sampai ke titik keluaran td.1. artinya data yang tercatat secara kumulatif selama 24 jam. maka pola distribusi hujan jam-jaman dapat dibuat dengan menggunakan metode Mass Curve untuk tiap kejadian hujan lebat dengan mengabaikan waktu kejadian. 1981:35): R Ro = 24 t ⎛ t ⎞3 Rt = Ro⎜ ⎟ ⎝T ⎠ 2 dimana : Rt = rerata hujan dari awal sampai T (mm) T = waktu mulai hujan hingga ke t (jam) Ro = hujan harian rerata (mm) Ri = intensitas hujan rerata dalam T – jam (mm) R24 = curah hujan netto dalam 24 jam (mm) t = waktu konsentrasi (jam) Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan membedakannya menjadi dua komponen. ARR).5.4. Pada umumnya data hujan yang tersedia pada suatu stasiun meteorologi adalah data hujan harian. Distribusi hujan jam-jaman dengan interval tertentu perlu diketahui untuk menghitung hidrograf banjir rancangan dengan cara hidrograf satuan (unit hidrograf). Setiap kejadian ini diplot untuk mendapatkan distribusi hujan harian menjadi setiap jam.

6) suhu udara dan angin serta evaporasi dan 7) tata guna tanah. didasarkan dengan suatu pertimbangan bahwa koefisien tersebut sangat tergantung pada faktor-faktor fisik. . 3) kemiringan daerah aliran dan kemiringan dasar sungai. 5) kebasahan tanah. Adapun kondisi dan karakteristik yang dimaksud adalah : 1) keadaan hujan.tc = t0 + t d Dimana : ⎡2 n ⎤ t o = ⎢ × 3.28 × L × ⎥ menit S⎦ ⎣3 Dan td = Ls menit 60V Dimana n = angka kekasaran manning S = kemiringan lahan L = panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m) Ls = panjang lintasan aliran di dalam salluran/sungai (m) V = kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik) Koefisien pengaliran Koefisien pengaliran adalah suatu variabel yang di dasarkan pada kondisi daerah pengaliran dan karakteristik hujan yang jatuh di daerah tersebut. 4) daya infiltrasi dan perkolasi tanah. Koefisien pengaliran seperti yang disajikan pada tabel berikut. 2) luas dan bentuk daerah aliran.

7 Rt 3 4 Dimana : f = koefisien pengaliran Rt = jumlah curah hujan (mm) Harga koefisien limpasan (runoff coefficient) dari untuk penggunaaan secara umum dapat diambil dari tabel sebagai berikut : .70 .45 .80 Sumber : Suyono Sosrodarsono.75 .60 0.0. f = 1− 15.85 0.0.45 .50 .75 0.80 0.0.Tabel 1-1 Angka Koefisien Pengaliran Kondisi DAS Pegunungan Pegunungan tersier Tanah berelief berat dan Berhutan kayu Dataran pertanian Daratan sawah irigasi Sungai di pegunungan Sungai di dataran rendah Sungai besar yang Sebagian alirannya berada di dataran rendah 0.0.75 .75 0.50 .0.0.75 Angka Pengaliran (C) 0. (1980) Dr Kawakami menyusun sebuah rumus yang mengemukakan bahwa untuk sungai-sungai tertentu. koefisien itu tidak tetap.0.70 .0. tetapi berbeda-beda tergantung dari curah hujan.90 0.

20/Rt3/4 f = 1 . datar 2% Tanah pasir.20 0.5.75 – 0.60 – 0.50 – 0.15 0.35 Rerumputan Business Daerah kota lama Daerah pinggiran 0. rata-rata 2 – 7 % Tanah gemuk.50 – 0.40 – 0.17 0.60/Rt3/4 No 1 2 3 4 5 Daerah Hulu Tengah Tengah Tengah Hilir Kondisi sungai Curah hujan Sumber : Suyono Sosrodarsono.25 – 0.90 .Tabel 1-2 Rumus-rumus koefisien limpasan (koefisien pengaliran) Rerata dalam sungai-sungai di Jepang Rumus Koefisien pengaliran f = 1 .25 – 0.70 Industri Daerah ringan Daerah berat 0.60 0.50 – 0.22 0.50 0. curam 7 % Tanah gemuk.10 – 0.75 0. terpisah-pisah “Multi unit”.3.7/Rt3/4 sungai biasa sungai di zone lava Rt > 200 mm Rt < 200 mm f = 1 .05 – 0.15 – 0.80 0.14/Rt3/4 f = 1 . (1980) Tabel 1-3 Angka Koefisien Pengaliran Yang Dipakai Secara Umum Type Daerah Aliran Kondisi Daerah Tanah pasir.18 – 0. tertutup “sub urban” daerah rumah-rumah apatemen 0.40 0.10 0. datar 2 % Tanah gemuk.30 – 0.15. curam 7 % Harga C 0.6. rata-rata 2 – 7 % Tanah pasir.65/Rt3/4 f = 1 .13 – 0.7.95 0.60 – 0.70 Perumahan Daerah “single family” “Multi unit”.

Untuk mendapatkan besaran debit banjir rencana yang lebih baik. kemudian dibandingkan hasil dari masing-masing untuk diambil sebagai debit banjir rencana (design flood).4. agar estimasi mendekati keadaan yang sebenarnya. maka hujan netto (Rn) dapat dinyatakan sebagai berikut : Rn = C x R Dengan : C R = koefisien limpasan = Intensitas curah hujan 1.6. diperlukan analisis nilai debit banjir yang mungkin terjadi di lokasi tersebut. Untuk perencanaan suatu pengedalian banjir dengan sistem tampungan sementara (retarding basin) perlu suatu perencanaan sistem pengaturan debit keluaran dengan dilakukan analisa dan simulasi debit yang masuk dengan menggunakan debit banjir berbagai kala ulang dengan menggunakan metode Hidrograf Satuan (Unit Hidrograf) seperti metode HSS Nakayasu dan HSS Gama I.Hujan netto Dengan menganggap bahwa proses tranformasi hujan menjadi limpasan langsung mengikuti proses linier dan tidak berubah oleh waktu. DEBIT BANJIR RENCANA (DESIGN FLOOD) Untuk merencanakan suatu bangunan pengendali banjir. Dalam analisa debit banjir rencana disini dihitung dengan metode-metode sebagai berikut : • • Rasional HSS Nakayasu Metode Rasional Dasar metode ini dalam teknik penyajiannya memasukkan faktor curah hujan. dalam perhitungan diperlukan beberapa metode perhitungan. Untuk mengetahui keadaan pola banjir diperlukan periode pengamatan. .

diperlukan beberapa karakteristik parameter daerah alirannya.278 ⋅ C ⋅ i ⋅ A dimana : C = Runoff coefficient i = Intensitas Maksimum selama waktu konsentrasi (mm/jam) A = Luas daerah pengaliran (km2) Metode ini mulanya diterapkan untuk daerah perkotaan kemudian metode ini dikembangkan untuk daerah pengaliran sungai dengan berdasarkan anggapan sebagai berikut : ƒ ƒ ƒ Curah hujan mempunyai intensitas merata diseluruh daerah aliran untuk durasi tertentu Lamanya curah hujan sama dengan waktu konsentrasi dari daerah aliran Puncak banjir dan intensitas curah hujan mempunyai tahun berulang yang sama Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu. Rumus dari hidrograf satuan Nakayasu adalah : . seperti : 1) Tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak hidrograf (time to peak magnitute) 2) Tenggang waktu dari titik berat hujan sampai titik berat hidrograf (time lag) 3) Tenggang waktu hidrograf (time base of hydrograph) 4) Luas daerah aliran 5) Panjang alur sungai utama terpanjang (length of the longest channel) dan 6) Koefisien pengaliran. persamaan umum dari metode ini adalah sebagai berikut : Qmax = 0.keadaan fisik dan sifat hidrolika daerah pengaliran.

3 digunakan pendekatan rumus. Tg dihitung dengan ketentuan sebagai berikut : Sungai dengan panjang lebih dari 15 km.3Tp +T0.6(0.40 + 0. maka Tg = 0.3 = Tg + 0.A.R0 3.8 tr = α x Tg Tg adalah time lag yaitu waktu antara hujan sampai debit puncak banjir (jam).Qp = C.4 .058 L Sungai dengan panjang kurang dari 15 km.70 = parameter hidrograf = satuan waktu hujan (1 jam) α tr Persamaan satuan hidrograf adalah : Pada waktu naik 0 ≤ t ≤ Tp ⎡t ⎤ Qt =Qmaks ⎢ ⎥ ⎢ ⎣Tp ⎥ ⎦ 2.3 ) Dimana : Qp Ro Tp = Debit puncak banjir (m3/det) = Hujan satuan (mm) = Tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam) T0.21 L0. maka Tg = 0. dari debit puncak sampai menjadi 30% dari debit puncak. Untuk menentukan Tp dan T0. sebagai berikut : Tp T0.3 = Waktu yang diperlukan oleh penurunan debit.

32) ⎡ t −Tp +1.32) ⎡ t −Tp +T0 . 5T0 .3 + T0. maka hidrograf banjir untuk berbagai kala ulang dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut: Qk = U1 Ri + U2Ri-1 + U3Ri-2 + . 3 ⎥ ⎦ Qt =Qmaks * (Tp + T0.- Pada kurva turun * Tp ≤ t ≤ (Tp + T0. 3 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ 1.3 Rumus tersebut diatas merupakan rumus empiris. + UnRi-n+1 + Bf Dengan : Qk Un Ri Bf = Ordinat hidrograf banjir pada jam ke k = Ordinat hidrograf satuan = Hujan netto pada jam ke i = Aliran dasar (Base flow) . 5T0 .0.. oleh karena itu dalam penerapannya terhadap suatu daerah aliran harus didahului dengan pemilihan parameterparameter yang sesuai seperti Tp. 3 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ 1. 3 ⎦ ⎥ ⎣ Qt =Qmaks .3) ≤ t ≤ (Tp + T0.3 + T0.3) ⎡ t −Tp ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎣ T0 . Hidrograf Banjir Rancangan Dengan telah dihitungnya hidrograf satuan.0.. 5T0 . 3 ⎦ ⎥ ⎣ Qt =Qmaks .3 * t ≥ (Tp + T0. α dan pola distribusi hujan agar didapatkan suatu pola hidrograf yang mendekati dengan hidrograf banjir yang diamati.

. Rm q5 . R2 q5 . Rm .. Analisa Profil muka air. Rm q2 . Rm q4 . R2 q4 . untuk menentukan kondisi aliran disepanjang saluran yang didesain. R1 q5 ... R1 q3 .. qn .Rumus hidrograf banjir tersebut dalam bentuk tabel dapat disajikan sebagai berikut : Hidrograf Satuan (m3/dt/mm) Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 . R1 R2 (mm) Rn Rm (mm) Debit (m3/dt) Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Qn+1 Qn+2 Qn+3 . agar dalam saluran tidak terjadi aliran superkritis. kapasitas/debit yang bisa dialirkan dan lengkung liku debit (rating curve).5.. untuk mengetahui besarnya debit yang keluar (release flow) berdasarkan operasi pintu untuk perencanaan pengendalian banjir dengan tampungan sementara (retarding basin) dan perencanaan bangunan peredam energi (stilling basin) pada hilir pintu. . . ANALISA HIDRAULIKA Fenomena hidrolika dalam perencanaan bangunan sebagai usaha untuk pengendalian banjir dapat diketahui dari Analisis Hidrolika. . Fenomena Hidrolika diperlukan untuk penentuan dimensi bangunan yang direncanakan berdasarkan debit banjir rencana dengan mengacu pada aspek hidrolika yang ada. qn Aliran Dasar (m3/dt) B q1 . R2 q3 .. .. R2 .... Rm q3 . ¾ Analisa debit keluaran pintu aliran bawah.... Analisis hidrolika meliputi : ¾ Data potongan memanjang dan melintang sungai untuk mengetahui slope rata-rata. Rm B B B B B B B B R1 (mm) q1 . qn .... R1 . ¾ Kondisi Aliran. untuk mengetahui tinggi muka air pada saluran berdasarkan perbedaan energi dan momentum pada penampang masing-masing section dan . R2 q2 ... qn . . .. q1 .. R1 q2 . Qn+m-1 1. R1 q4 . R2 ....

KEDALAMAN ALIRAN KRITIS Aliran kritis pada saluran prismatik dalam kemiringan seragam akan sama di semua penampang saluran (aliran seragam). 1.hb 1. pada keadaan ini kemiringan saluran yang membuat debit dan kedalaman kritisnya tetap disebut dengan kemiringan kritis (critical slope).bangunan yang ada. bangunan-bangunan yang ada sepanjang sungai dan pengaruh pasang surut pada pelepasan sungai. kekasaran dasar.3. analisa ini sangat berguna untuk melihat kapasitas saluran rencana dan tinggi freeboard juga untuk dasar perencanaan bangunan pengatur debit (regulator).5. Liku debit sangat diperlukan untuk mengetahui kapasitas pengaliran dari suatu tampang sungai. Untuk mempermudah dalam pemakaian suatu liku debit dapat digunakan dengan pemakaian grafik/kurva atau dengan menggunakan persamaan regresi yang dapat mewakili. yang dihitung dengan menggunakan pendekatan rumus hidrolika aliran seragam (uniform flow) dari Manning sebagai berikut: Q = AV = A 2 / 3 1/ 2 R S n untuk penampang yang berbeda pada suatu section sungai akan mempunyai liku debit yang berbeda sehingga kemampuan mengalirkan debit juga berbeda.5. kondisi aliran dan fenomena-fenomena hidrolika lainnya. karena pada ketinggian air (h) sama dengan 0 debit (Q) yang dialirkan juga 0 maka dapat dipakai regresi dengan pendekatan liku debit adalah Regresi Logaritmik : Q=a. material dasar. LIKU DEBIT (RATING CURVE) Liku debit adalah hubungan antara debit (Q) dengan tinggi muka air (h) pada suatu tampang sungai. kecepatan aliran. profil muka air. Dalam analisa hidrolika karakteristik sungai sangat diperlukan untuk analisa kapasitas pengaliran. 1. Kemiringan yang lebih besar dari kemiringan kritis akan menimbulkan aliran yang lebih .2.5. KARAKTERISTIK SUNGAI Karakteristik sungai sangat dipengaruhi morfologi sungai.1.

Bentuk pinggiran pintu.5. hal ini akan mengakibatkan aliran tidak stabil dimana perubahan kecil dalam energy spesifiknya menimbulkan perubahan kedalaman yang besar. bentuk atau kemiringan saluran harus diubah bila secara praktis memungkinkan. yang harus dihilangkan pada saat pintu air digunakan. Dalam merancang saluran bila ternyata keadaan mendekati atau sama dengan kedalam kritis sepanjang saluran. Pada rancangan pintu air demikian dua hal yang perlu diperhatikan yaitu hubungan tinggi energi pelepasan dengan distribusi tekanan pada permukaan pintu untuk berbagai posisi pintu dan pinggiran pintu. dalam hidraulika pintu tersebut dinamakan pintu air aliran bawah. Kedalaman aliran kritis dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : q2 g yc = 3 dimana : q = debit persatuan lebar (m3/dt/m) g = percepatan gravitasi (m/dt2) 1. tetapi juga menyebabkan timbulnya getaran-getaran pengganggu.cepat dari keadaan superkritis yang disebut dengan kemiringan curam (steep slope) atau kemiringan superkritis (super critical slope). . HIDROLIKA PINTU AIR BAWAH Untuk perencanaan pengendalian dengan tampungan sementara digunakan pintu pengendali banjir. Karena rancangan pinggiran pintu bervariasi maka biasanya diperlukan penelitian yang terpisah untuk berbagai kondisi rancangan tersebut.4. agar dihasilkan kestabilan aliran yang lebih baik. karena pada kenyataannya air mengalir melalui bagian bawah struktur. tekanan dan kehilangan energi. tidak saja mempengaruhi distribusi kecepatan.

60 β = 600 β = 750 β = 900 y1 β h 0.α 2 v 1 2g ΔE 2 α 2 v 1 2g ΔE 2 y1 h y2 α v 2 2g y1 h y2 α v 2 2g Besarnya debit yang dapat dikeluarkan (release flow) melalui pintu air bawah dapat dihitung dengan persamaan energi.80 β = 150 β = 300 β = 450 0. dengan persamaan sebagai berikut : 2 ⎛ v1 ⎞ ⎜ ⎟ Q = CLh 2 g ⎜ y1 + α ⎟ 2 g ⎝ ⎠ dimana : C = koefisien pelepasan = K.50 1 3 5 7 y1/h 9 11 13 Koefisien K untuk Debit tenggelam disajikan dalam grafik sebagai berikut : .μ L h = panjang pintu air (m) = tinggi bukaan pintu (m) y1 = kedalaman hulu aliran (m) α v1 = tinggi kecepatan aliran terdekat (m) 2g 2 Koefisien μ disajikan dalan grafik sebagai berikut : 0.70 μ 0.

Tekanan pada pintu radial dapat digambarkan sebagai berikut : Tekanan vertikal pada dasar saluran F1 F2 FH F3 Analisa debit keluaran pintu aliran bawah digunakan untuk menghitung pengaturan dan pola operasi dari pintu retarding basin baik untuk menahan banjir maupun untuk pengelontoran sungai.80 0.60 K 0.00 0.1.40 6 8 10 15 y1/h = 20 0. Peredam energi/Kolam olak (stilling basin) pada outlet pintu direncanakan berdasarkan harga kedalaman sebelum loncatan (y1) dan froude number sebelum loncatan . Tekanan yang bekerja pada permukaan pintu dapat ditentukan secara teliti dengan menggunakan analisa aliran netto atau pengukuran langsung pada model atau prototipe. untuk aliran terendam y1 pada persamaan diatas harus diganti dengan tinggi energi efektif.20 2 0 2 3 4 4 5 6 8 y2/h 10 12 14 16 18 20 Debit keluaran dari pintu mungkin terendam atau bebas tergantung pada kedalaman air bawah. perencanaan bangunan peredam energi (stilling basin) berdasarkan karakteristik debit dan pola aliran pada outlet pintu. atau perbedaan antara kedalaman aliran hulu dan aliran hilir.

biasanya diperlukan dilakukan penelitian lapangan untuk mengumpulkan data yang diperlukan pada setiap penampang yang akan dihitung. Pada saluran tak prismatik unsur hidrolik tergantung pada jarak di sepanjang saluran. Bilangan Froude dapat dihitung dengan persamaan : F= v g ⋅d 1. PROFIL MUKA AIR Perhitungan profil muka air dihitung dengan metode tahapan standart. Cara semacam ini biasanya dibuat berdasarkan perhitungan coba-coba. seperti gambar berikut : Tinggi muka air diatas bidang datar pada kedua ujung penampang adalah : Z 1 = S o Δx + y1 + z 2 Z 2 = y2 + z2 dan kehilangan tekan akibat gesekan adalah . Sedangkan tipe kolam olak sangat dipengaruhi oleh bilangan froudenya. tinggi gigi peredam dan chute block sangat dipengaruhi kedalam aliran sebelum loncatan (y1). Dari kedua harga tersebut dapat dihitung tinggi air setelah loncatan. Perhitungan dilakukan tahap demi tahap dari suatu titik tinjau ke titik tinjau yang lain yang sifat hidroliknya telah ditetapkan. Pada saluran alam. dengan persamaan : y2 1 = y1 2 ( 1 + 8F − 1) 1 Panjang kolam olak sangat dipengaruhi oleh bilangan froude (F1).5. Untuk penjelasan cara ini dianggap bahwa permukaan air terletak pada suatu ketinggian dan bidang datar. Dalam hal ini jarak setiap titik tinjau diketahui dan dilakukan penentuan kedalaman aliran di tiap pos. metode ini dapat dipakai untuk saluran tak prismatik.5. tinggi endsill.(F1).

Bangunan tersebut bisa berupa bangunan pelimpah ataupun pintu pengatur. . “Metode Tahapan Standart akan memberikan hasil yang terbaik bila dipakai menghitung saluran alam”.5. 1.h f = S f Δx = 1 (S1 + S 2 ) Δx 2 1 2 α 1 v 1 2 2g 2 hhf =Sf Δx v 1 α 1 2g y2 z2 y1 z1 S0 Δ x Δx Garis Persamaan (Datum) dengan kemiringan gesekan Sf diambil sebagai kemiringan rata-rata pada kedua ujung penampang S f . dimana pada saat muka air mencapai taraf muka air tertentu. yang direncanakan berdasarkan kapasitas debit pada masing-masing saluran. untuk mempermudah dalam pengoperasiannya maka pada pekerjaan ini bangunan pengatur debit (flow regulator) direncanakan menggunakan tipe pelimpah. HIDROLIKA AMBANG Untuk mengatur debit pada percabangan-percabangan perlu direncanakan bangunan pengatur debit (flow regulator). yang cukup besar pada saluran tak prismatik. air langsung melimpah dan di alirkan pada saluran. sehingga persamaan energi menjadi : v1 v = Z 2 + α 2 2 + h f + he 2g 2g 2 2 Z1 + α1 dengan he ditambahkan untuk kehilangan tekanan akibat pusaran.6.

Sehingga untuk masing-masing tempat pada periode tertentu dapat diperoleh gambaran karakteristik pasudnya dari faktor amplitudo (hj) yaitu beda tinggi antara elevasi pasang tertinggi dengan m.7.Secara umum debit yang lewat di atas mercu pelimpah dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : Q = C⋅B⋅H dimana : 3 2 Q C B H = debit yang lewat mercu pelimpah (m3/dt) = koefisien debit pelimpahan tergantung dari tipe pelimpah = lebar pelimpah (m) = tinggi air diatas pelimpah (m) Debit yang lewat mercu pelimpah dan lebar pelimpah dalam pekerjaan ini ditentukan berdasarkan kemampuan debit saluran. namun mengingat hanya bulan dan matahari saja yang mempunyai pengaruh yang besar. Meskipun banyak benda angkasa yang mempengaruhi gerakan pasang surut di bumi. tinggi pelimpah dan tinggi muka air di atas mercu pelimpah direncanakan berdasarkan profil muka air untuk debit banjir dengan kala ulang tertentu. HIDRAULIKA PASANG SURUT Dalam perhitungan pasang surut banyak faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pasang-surut. Sehingga untuk masing-masing benda angkasa terhadap lapisan air di bumi.5. dalam perhitungan ini didasarkan pada teori Harmonic Analysis atau lebih dikenal dengan Admiralty Method dikembangkan oleh Doodson (1930) dalam teori ini dinyatakan bahwa gerakan pasang surut adalah gerakan vertikal dari air laut yang terbentuk dari superposisi linier dari sejumlah gerakan yang harmonis dari pengaruh masing-masing benda angkasa terhadap lapisan air di bumi. untuk mempermudah dalam perhitungan faktor-faktor lokal yang mempengaruhi seperti tinggi muka air setempat karena pengaruh angin tidak dimasukkan dalam perhitungan. 1.a rata-rata. Dalam perhitungan matematis pasang surut banyak metode yang digunakan. periode (wj) yaitu waktu yang . maka dalam perhitungan hanya memperhitungkan kedua benda tersebut.

TANGGUL BANJIR Tanggul banjir adalah tipe bangunan pengendalian banjir yang sering digunakan. 1. normalisasi sungai. namun hal ini belum tentu sesuai untuk daerah yang relatif datar dan beda elevasi dengan laut sangat kecil karena tanggul yang dibuat akan besar dan tinggi sehingga cukup mahal. pembuatan tanggul banjir. Ada beberapa altenatif bangunan pengendali banjir antara lain. DETAIL DESAIN BANGUNAN PENGENDALI BANJIR Dalam penanganan banjir perlu dianalisa kondisi daerahnya. kondisi ekonomi. kondisi geologi tanah disekitarnya.1.6. Perhitungan stabilitas tanggul biasanya dilakukan dengan metode irisan bidang luncur bundar (slice methode on circular slip surface).diperlukan untuk suatu pengaruh dapat terulang lagi. Sehingga untuk suatu tempat tinggi pasang surut dapat dihitung atas dasar rumus tersebut sebagai berikut : ht = h0 + ∑ (h j cos (w j ⋅ t − a j )) dimana : ht h0 = tinggi muka air pada waktu t = tinggi muka air rata-rata t = waktu yang ditinjau 1. . pembuatan shortcut/sudetan/kanal banjir/floodway dan lain-lain. hal ini untuk memperoleh gambaran bangunan pengendali banjir yang sesuai dengan kondisi baik kondisi sosial. pembuatan retarding basin. dan phase lag (aj) yaitu untuk masingmasing tempat atas dasar waktu antara bulan dan matahari melintasi garis bujur lokasi dengan waktu kejadian yang sesungguhnya.6. kondisi morfologi sungainya. metode Bishop atau metode Fellenius.

Metode irisan bidang luncur bundar Andaikan bidang luncur bundar dibagi dalam beberapa irisan vertikal.γ.sin α) φ = Sudut gesekan dalam bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang luncur C = Angka kohesi bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang luncur Z = lebar setiap irisan bidang luncur e γ = Intensitas seismis horizontal = Berat isi dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur A = Luas dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur α = Sudut kemiringan rata-rata dasar setiap irisan bidang luncur V = Tekanan air pori .sin α) U = Tekanan air pori yang bekerja pada setiap irisan bidang luncur Ne = Komponen vertikal beban seismis yang bekerja pada setiap irisan bidang luncur (= e.l + ∑{γ . cos α ) dengan : = Fs = faktor keamanan N = Beban komponen vertikal yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur (= γ. maka faktor keamanan dari kemungkinan terjadinya longsoran dapat diperoleh dengan menggunakan keseimbangan sbb: Fs = ∑{C. A(cos α − e.A. A(sin α + e.γ.A.A. sin α ) − V }tan φ ∑ γ .cos α) T = Beban komponen tangensial yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur (γ.l + ( N − U − Ne ) tan φ } ∑(T + Te ) ∑ C.sin α) Te = Komponen tangensial yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur (= e.A.

ul Kemudian faktor keamanan yang dinyatakan dalam tegangan efektif Fs = c' La + tan φ ' ∑(W cos α − ul ) ∑ W sin α Komponen-komponen W cos α dan W sin α dapat ditentukan secara grafis untuk setiap irisan. A B Sehingga persamaan Keseimbangan gaya teori Simplied Bishop adalah sebagai berikut : . dengan asumsi bahwa resultante gaya pada sisi irisan adalah horisontal. digunakan parameterparameter cu dan φu dan nilai u = 0. Penyelesaian ini menghasilkan perkiraan faktor keamanan yang lebih kecil. Penyelesaian tersebut meliputi penyelesaian ulang untuk gaya-gaya pada setiap irisan yang tegak lurus terhadap dasar. Untuk suatu analisa menggunakan tegangan total. Bila φu = 0 faktor keamanannya adalah cu La ∑ W sin α Fs = Metode Simplied Bishop O R sin Gambaran secara grafis dari teori Simplied Bishop dapat dijabarkan dalam gambar r C disamping.Metode Fellenius Dalam penyelesaian ini diasumsikan bahwa setiap irisan resultan gaya-gaya antar irisan adalah nol. Alternatif lain. α dapat diukur dan dihitung. yaitu : N’ = W cosα . Jumlah permukaan keruntuhan coba-coba harus dipilih untuk mendapatkan faktor keamanan yang minimum.

2 Fs = 1.1 1. perhitungan stabilitas ditinjau tiga kondisi yang tidak menguntungkan.2 Kondisi penurunan tiba-tiba dengan gempa Fs = Kondisi penurunan tiba-tiba tanpa gempa Fs = Untuk memperoleh angka kemanan (safety factor) yang paling minimum perlu beberapa kali iterasi dalam beberapa koordinat dan radius untuk itu perlu bantuan perangkat lunak (software) untuk mempermudah dan mempercepat itersi yaitu dengan menggunakan program komputer untuk menghitung stabilitas lereng yaitu dengan program Pslope.6.5 Fs = Fs = Fs = 1.Fs = 1 ∑ W sin α ∑ C ' b + W 1 − ru tan φ [ ( ) ] Secα 1+ ⎜ ⎛ tan α ⋅ tan φ ⎞ ⎟ Fs ⎝ ⎠ Dalam analisa stabilitas lereng tanggul banjir.5 1.2.2 1. Batas angka keamanan (safety factor) minimum dalam analisis stabilitas lereng berdasarkan faktor keamanan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). yaitu: Kondisi I : Kondisi kosong dengan gempa Kondisi kosong tanpa gempa Kondisi II : Kondisi normal dengan gempa Kondisi normal tanpa gempa Kondisi III Kondisi IV : : Kondisi banjir tanpa gempa Fs = 1. konstruksi pintu operasi . yaitu: o o o o Kondisi kosong Kondisi muka air normal Kondisi Muka air maksimum (banjir) Kondisi penurunan muka air secara tiba-tiba (rapid drawn down) Keempat kondisi tersebut akan di analisa dalam kondisi tanpa gempa dan kondisi gempa. TINJAUAN STABILITAS BANGUNAN PENGENDALIAN BANJIR Bangunan pengendalian banjir seperti bangunan regulator aliran (flow regulator) yang berupa ambang.5 1. perkuatan lereng tanggul dengan pasangan. 1.

daya dukung tanah dan terhadap bahaya rayapan dalam berbagai keadaan pembebanan.2 pembebanan sementara dengan: e B = eksentrisitas (m) = lebar dasar konstruksi (m) ∑MV = Jumlah momen vertikal (ton m) ∑MH = Jumlah momen horisontal (ton m) ∑V = Jumlah gaya vertikal . Oleh karena itu perlu dilakukan analisa stabilitas bangunan terhadap potensi-potensi bangunan terhadap bahaya guling. geser.maupun tempat perletakkan harus stabil terhadap guling. dan terhadap bahaya rayapan.5 pembebanan tetap > 1. geser daya dukung tanah pondasi. Perhitungan stabilitas tersebut dapat dihitung dengan menggunakan metode sebagai berikut: Terhadap geser Dihitung dengan menggunakan rumus : Sf = (∑V.f)/ ∑H dengan: Sf ∑V ∑H = faktor keamanan = jumlah gaya vertikal (ton) = jumlah gaya horisontal (ton) = koefisien geser antara dasar konstruksi dan tanah pondasi f Terhadap guling Dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : e = ⎜B/2 – (∑MV-∑MH)/ ∑V ⎢ < B/6 (pembebanan tetap) < B/3 (pembebanan sementara) Sf = ∑MV/ ∑MH > 1.

maka panjang apron dirumuskan : .Sf = faktor keamanan Terhadap daya dukung tanah Dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Jika nilai eksentrisitasnya e < B/6 maka : σ = ∑V/B. 2 = .⎨ ⎬ ≤ 2qult 3⎪ ⎩ B − 2e ⎪ ⎭ dengan: σ = Tegangan tanah yang terjadi (ton/m2) ∑V = Gaya vertikal (ton) B = lebar pondasi (m) e = eksentrisitas (m) Kontrol terhadap panjang rayapan Perhitungan kontrol terhadap bahaya rayapan dapat dihitung atau metode Lane sebagai berikut : digunakan Ld ΔH = Cd dimana : Ld = panjang jalur rayapan (m) ΔH = beda tinggi muka air Cd = koefisien rayapan Untuk bagian depan bangunan (apron). (1 ± 6e/B) Jika nilai eksentrisitasnya e>B/6 ⎫ 4⎧ ⎪ ∑V ⎪ q1.

ta = 4(ΔH − ha ) . V dengan : Wc = gaya vertikal (ton) γc = berat jenis bahan konstruksi (ton/m3) V = volume konstruksi (m3) . L dengan: Pw = tekanan air statis (ton) w = berat jenis air (ton/m) H = kedalaman air (m) L = panjang konstruksi yang ditinjau (m) 5 Gaya vertikal akibat berat konstruksi Wc = γc . w. H2 . fu 3(γ − 1) Dimana : ta = panjang apron dari titik a (m) ΔH γ = beda tinggi muka air (m) ha = beda tinggi muka air di titik a (m) = berat jenis air fu = koefisien tekanan uplift Gaya-gaya yang bekerja pada konstruksi 5 Tekanan air statis Pw = ½ .

7. berdasarkan kondisi terakhir dari daerah tangkapan hujan/cathment area atau Daerah .sinφ)/(1 + sin φ) atau ka = tan2(45 -φ/2) φ = sudut geser dalam sedimen/tanah 5 Tekanan tanah pasif Ps = ½ .L dengan: Pa = tekanan tanah aktif (ton) γs = berat jenis tanah (ton/m3) H = kedalaman tanah (m) L = lebar konstruksi yang ditinjau (m) ka = (1 . H2 . ANALISIS MANAJEMEN HULU DPS Analisa ini akan dilakukan dengan menggunakan peta tata guna lahan yang ada.5 Gaya horisontal akibat gempa He = kh . γe . ka.L dengan: Pe = tekanan tanah (ton) H = kedalaman tanah (m) γe = berat jenis tanah (ton/m3) L = panjang konstruksi yang ditinjau Kp = koefisien tekanan tanah pasif = 1/ka 1. γs .H2 . ∑V dengan: He = gaya horisontal ∑V = gaya vertikal kh = koefisien gempa 5 Tekanan tanah aktif Pa = ½ . kp .

hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks erosivitas dapat dihitung menggunakan persamaan : . yang dalam hal ini akan dituangkan dalam peta usaha konservasi lahan dalam Daerah pengaliran Sungai (DPS)/Cathment Area lokasi studi. maka akan digunakan model perhitungan dengan menggunakan persamaan umum kehilangan tanah atau Universal Soil Less Equation (USLE) yang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut : E = RKLSCP dimana. E R K L C P : jumlah masa kehilangan tanah (t/ha/tahun) : indeks erosivitas hujan dan larian (tm/ha) : indeks erodibilitas tanah (t/ha per unit) : faktor panjang lereng : faktor pengelolaan tumbuhan (crop management) : faktor upaya-upaya pengendalian erosi (erosion control practices) Erosivitas hujan dan runoff R adalah indeks yang menunjukkan besarnya energi hujan yang mampu memukul dan memecah partikel tanah dan mengangkutnya keluar. Pada dasarnya. maka data tingkat erosi akan dapat dihitung dari sumber peta tersebut. jika telah tersedia peta TBE (Tingkat Bahaya Erosi) untuk wilayah Daerah Pengaliran Sungai (DPS) daerah studi di Balai (Sub Balai) RLKT setempat.Pengaliran sungai atau kalau terdapat photo citra satelit akan lebih mudah melakukan analisa kondisi cathment area. Untuk menentukan usaha konservasi dan manajemen DPS maka perlu menganalisa kondisi erodibilitas dan erosivitas lahan yang dapat dilakukan dengan perhitungan manual Tingkat Bahaya Erosi (TBE) pada Daerah Pengaliran Sungai (DPS). Di Indonesia. Berdasarkan kondisi tersebut dapat dianalisa kemungkinan daerah-daerah yang harus dikonservasi. Dari hasil analisa tersebut dapat diberikan suatu usaha konservasi dan manajemen Daerah Pengaliran Sungai yang lebih baik dan tepat sasaran. Tetapi bila belum tersedia.

maka erosivitas hujan dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus : R = 6.21 (N)-0.204).R= 25 PR 0. berpengaruh terhadap hilangnya tanah untuk standard panjang lereng yaitu panjang lereng overlandflow antar “brek-slope” yang dapat dihitung berdasarkan rumus standard sebagai berikut : ⎡ a ⎤ L=⎢ ⎥ ⎣ 22.140-0. dimana dari berbagai jenis tanah di Indonesia antara lain jenis tanah Latosol (berkisar 0.260) dan Grumusol (0.53 dimana.1⎦ m dimana.73 2 dimana.034 – 0.104). Lithosol (0. Faktor panjang L.134).47 (Pmaks)0.073PR + 0. Indeks erodibilitas ini dapat diadopsi dari Puslit Tanah. R Pm N : erosivitas hujan pada bulan yang bersangkutan : curah hujan rata-rata bulanan untuk bulan yang bersangkutan (cm) : rata-rata jumlah hari hujan pada bulan yang bersangkutan Pmaks : rata-rata hujan maksimum 24 jam pada bulan yang bersangkutan.5 untuk kemiringan lereng 5 – 10 % . PR : curah hujan dalam cm. a m : panjang lereng overlandflow (m) : 0.12 (Pm)1. Mediterranean (berkisar 0. Jika pencatatan hujan hanya tersedia bulanan. Nilai erosivitas tahunan berkisar antara 1900 tm/ha hingga 8000 tm/ha. Indeks erodibilitas tanah K adalah angka yang menunjukkan tingkat erosi yang terjadi pada jenis tanah tertentu dibawah standar kemiringan lereng dan pengolahan tertentu.6 untuk kemiringan lereng > 10 % 0.

0. dan sebagainya. ada resapan air. apakah terpelihara dengan baik atau tidak.43 + 0.3 untuk kemiringan lereng < 3 %. . Faktor kemiringan lereng S dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut : S= 0. Nilai factor pengelolaan tanaman (crop management factor) C dan upaya pengendalian erosi (erosion control practices) P.043S 2 6. sangat tergantung pada jenis tanaman atau vegetasi.4 untuk kemiringan lereng 3 – 4 % 0. S : kemiringan lereng yang dinyatakan dalam %. Angka-angka indeks C dan P ini dapat diperoleh dengan mengadopsi hasilhasil penelitian yang dilakukan oleh Puslit Tanah Bogor.30 S + 0. serta jenis pengendalian erosi yang dilakukan. misalnya ada tidaknya terasering.613 dimana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful