P. 1
sejarah approweb

sejarah approweb

|Views: 102|Likes:
Published by Bayu Rahadian
darimana approweb berasal
darimana approweb berasal

More info:

Published by: Bayu Rahadian on Mar 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2013

pdf

text

original

Sejarah ApproweB

Kewajiban Profile Latar belakang munculnya aplikasi approweb adalah adanya kewajiban

pembuatan profile wajib pajak. Kantor Pusat mewajibkan untuk membuat profile wajib pajak tertentu terutama wajib pajak besar penentu penerimaan KPP. Namun, waktu itu belum ada petunjuk/pedoman bentuk baku profile wajib pajak. Maka bermunculah berbagai macam bentuk profile wajib pajak. Ada yang dibuat menggunakan MS Word, MS Excel. MS Publisher, MS PowerPoint, dsb. Bahkan ada yang sudah menggunakan metode client-server. Tidak ada keseragaman bentuk profile. Akibatnya banyak bentuk profile yang muncul. Ada yang lengkap dan bagus; ada juga yang ala kadarnya. Untuk memacu pembuatan profile dengan baik, beberapa kali dilakukan lomba pembuatan profile wp dengan format yang belum standar itu. Beberapa waktu kemudian, terbit surat S-142 yang berisi petunjuk pembuatan profile wp badan. Surat ini menjadi rujukan pembuatan profile wajib pajak badan karena sudah memberikan detil apa saja yang harus diisi dalam sebuah profile. Lampiran surat tersebut sudah memberikan petunjuk dan contoh point apa saja yang harus dibuat dalam sebuah profile. Disertakan pula file profile dalam bentuk MS Excel. Isi file tersebut terdiri dari banyak sheets MS Excel yang harus diisi. Sheet-sheet tersebut merupakan bagian dari profile WP. Para AR mengisi manual masing2 sheet tersebut. Sumber data yang dipakai AR untuk

mendapatkan informasi dan data wajib pajak berasal dari banyak sumber, misalnya dari SIDJP dan SIP. Sejak saat itu, file MS Excel tersebut menjadi format standar dalam pembuatan profile wajib pajak badan.

Kendala Data Dalam pengisian profile banyak sekali kendala yang ditemukan oleh AR. Kendala utama adalah masalah data wajib pajak. Untuk mengisi profile, diperlukan data

Masalah lainnya adalah akses SIDJP yang lambat dan kadang2 error. data tunggakan pajak. data pemeriksaan. pengguna profile juga akan kesulitan mendapatkan profile dalam bentuk file karena profile tersebut hanya dimiliki oleh AR. data penerimaan. Hal ini dapat menghemat waktu AR yang berharga untuk lebih fokus ke tugas yang diembannya terutama penerimaan pajak. Kenapa harus bersusah payah mengisi profile dengan data padahal sebenarnya kalau data yang ada di dalam database DJP bisa diberikan dan diisi langsung ke dalam profile. Integritas data dalam profile akan diragukan. Hal ini karena SIDJP belum memberikan data yang dibutuhkan dalam pembuatan profile secara lengkap. Hal ini dapat membuat profile yang dibuat menjadi tidak handal. Resiko kesalahan pengisian data ke profile dapat terjadi jika pengisian dilakukan secara manual. Baik dari sisi AR sebagai pembuat profile maupun pihak2 yang memanfaatkan profile. AR harus melakukan copy paste data tersebut ke dalam file profile satu demi satu. Jika data tersedia otomatis. Perlu waktu menunggu yang lumayan untuk mendapatkan data yang diperlukan. dsb. Hal ini sangat menyita waktu dan energi AR. AR memerlukan waktu dan energi yang tidak sedikit untuk membuat profile.seperti data master file wajib pajak. AR diwajibkan untuk menyelesaikan banyak profile WP sedangakan AR juga harus melaksankan tugas rutin yang menjadi tanggung jawab AR juga. AR mengalami dilema. KPP yang telah menggunakan aplikasi SIDJP sangat sulit mendapatkan data wajib pajak terutama data penerimaan. Ketidakefisienan Pembuatan profile dengan cara manual sangat membuang waktu dan energi. maka profile bukan lagi dianggap momok oleh AR tapi justru menjadi alat untuk lebih mengenal wajib pajaknya karena datadata wajib pajak dapat dilihat di dalam profile. data pelaporan. Kalaupun ada. Data-data tersebut tidak mudah diperoleh AR karena data tersebut kadang-kadang tidak tersedia dengan mudah. Banyak data dan informasi yang dibutuhkan tidak muncul di dalam SIDJP. Untuk memperoleh profile .

sekitar akhir tahun 2008. saya berusaha membuat aplikasi client-server berbasis web di KPP Madya Jakarta Barat. Client menggunakan browser melalui jaringan LAN untuk berinteraksi dengan server dalam proses pembuatan profile. Berawal dari informasi dari OC tentang adanya data-data wajib pajak di KPP Madya Jakbar di seksi PDI. Opera. aplikasi ini dapat diakses dari komputer mana saja dalam jaringan LAN. Tiap profile dapat dengan seketika di-edit oleh AR. mereka harus minta ke KPP lalu ke AR untuk memperolehnya. saya coba minta data tersebut untuk dikonversi ke dalam database yang akan saya gunakan (MySQL). Mozilla Firefox. Aplikasi client-server maksudnya adalah ada satu komputer (server) yang menjadi penyedia data dan antar muka. Jadi segala data profile akan tersimpan dengan aman di dalam server. Tidak terbatas pada komputer pemilik profile itu saja. Client Server Dengan dasar pemikiran itu. Data yang diperlukan dalam penyajian profile maupun penyimpanan data profile terdapat di dalam komputer server ini. Manfaat utama yang dapat diperoleh dengan menggunakan aplikasi clinet-server berbasis web antara lain adalah kemudahan akses. Hal ini memutus kesulitan akses ke profile jika masih menggunakan profile berbasis file. cukup web browser (Internet Explorer. Code aplikasi juga ada di komputer server ini. Awalnya aplikasi ini tidak ditujukan untuk pembuatan profile tapi untuk menyajikan data wajib pajak yang dimiliki KPP Madya Jakbar yang ada di seksi PDI karena selama ini kurang dimanfaatkan. SIPPWP Beberapa bulan setelah penempatan AR di KPP Madya Jakbar. dll). Lalu saya buat . Dengan web. Akses untuk file profile akan menyita waktu. muncul ide pembuatan aplikasi web ini.suatu wajib pajak. Tidak ada yang perlu diinstal di komputer client/pengguna. dilihat dan dimanfaatkan oleh pengguna Profile sesuai otoritasnya dari komputer mana pun yang tersambung ke server.

Dengan adanya modul profile wajib pajak. Informasi penerimaan dikelompokan dalam penerimaan per bulan. script PHP dan database MySQL. Informasi tersebut diharapkan dapat membantu memberikan data dalam pengisian profile yang selama ini masih menggunakan file excel. Aplikasi ini ditujukan untuk teman-teman AR untuk bisa memperoleh beberapa informasi wajib pajak yang menjadi tanggung jawabnya. Komputer server awalnya menggunakan komputer yang saya pakai untuk bekerja sehari-hari. dsb. Aplikasi tersebut baru menampilkan informasi dari data-data yang ada dalam kategori-kategori dan menu-menu yang informatif. Kemudian aplikasi tersebut dikembangkan lagi dengan data penerimaan yang bersumber dari MPN. maka aplikasi ini sekarang memiliki 2 modul yaitu Modul Penerimaan dan Modul Profile WP. AR dan Kepala Kantor dapat memperoleh informasi yang berguna terutama penerimaan dan data SPT WP. Data penerimaan yang masih berupa penerimaan per-SSP masih merupakan data mentah. Aplikasi ini mendapat tanggapan yang positif dari teman-teman AR dan Kepala Kantor. Dengan aplikasi ini. Diharapkan profile pemerimaan ini dapat membantu teman-teman AR dalam memahami profile penerimaan WP yang menjadi tanggung jawabnya. Data tersebut diolah lagi dengan script menjadi informasi penerimaan. Dengan dukungan Kepala Kantor dan teman2 AR. Awalnya. per jenis pajak. Itulah asal nama dari Aplikasi ini yaitu Sistem Informasi Penerimaan dan Profile Wajib Pajak (SIPPWP). aplikasi ini berkembang ke arah pembuatan profile wajib pajak berbasis website dengan tetap menggunakan struktur profile wajib pajak badan sesuai dengan S-142. pembandingan dengan rencana (pencapaian) dan penerimaan tahun lalu (pertumbuhan). modul profile WP dipakai untuk membuat profile dengan cara mengisi profile secara online dengan data yang bersumber dari pencarian AR sendiri. Aplikasi ini menggunakan webserver Apache. baik ke .aplikasi kecil berbasis web di komputer yang dipakai sehari-hari di kantor.

data tersebut kami peroleh walaupun tidak selengkap yang kami harapkan. pada akhir bulan yang sama. Begitu terkesannya Kepala Kanwil.SIDJP maupun sumber lain sebagaimana biasa dalam pencarian data dalam pengisian profile dalam bentuk file. Setelah beberapa waktu. dalam Rapim DJP yang dihadiri Dirjen Pajak dan Kepala Kanwil lainnya. Setelah diminta untuk melakukan demonstrasi. Paling tidak kami sudah mempunyai data yang cukup untuk melengkapi isi profile. Saya mengetahui bahwa Kanwil Jakarta Barat mempunya beberapa data di dalam databasenya yang dapat dimanfaatkan untuk pengisian profile. AR tidak perlu mencari data yang kemudian diisikan secara manual ke dalam aplikasi. Kanwil Jakarta Barat SIPPWP akhirnya terdengar juga sampai ke tingkat Kepala Kanwil. Selain itu. Dengan demikian. beliau memperkenalkan aplikasi ini. Kanwil sangat terkesan dengan aplikasi yang ada di KPP Madya Jakarta Barat ini. Data itu misalnya data master file wajib pajak (mfwp). sebagian data SPT dalam lingkup Kanwil DJP Jakarta Barat. Muncul pemikiran untuk memperoleh data yang diperlukan dalam pembuatan profile ke pihak2 yang memiliki data tersebut. Dengan cepat kanwil mengharapkan aplikasi ini bisa disempurnakan dan bisa dipakai di seluruh KPP yang ada di Kanwil Jakarta Barat. Dan berharap aplikasi ini dapat membantu dalam usaha mengumpulkan penerimaan yang . kami juga meminta data secara resmi ke Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan (TIP). akan diisi sendiri oleh AR masing2 dengan mencari ke berbagai sumber. Dengan demikian akan mengurangi kegiatan AR dalam pengumpulan data sehingga waktu tersebut dapat digunakan untuk kegiatan AR yang lain. Data-data tersebut kemudian akan dimasukkan ke dalam database untuk kemudian ditampilkan secara otomatis ke tiap2 bagian2 profile. Pada Maret 2010 kami meminta data secara resmi ke Kanwil Jakarta Barat. Bagian profile yang belum didukung data.

Sejak itu. Kepala Kanwil dan Dirjen ternyata cukup terkesan juga dan berharap aplikasi ini bisa dipakai di tempat mereka. satu OC KPP Pratama Tambora. Pertengahan April 2010. Data-data yang diperlukan harus tersedia untuk seluruh KPP yang ada di Kanwil Jakarta Barat dan SIPPWP perlu penyesuaian untuk bisa jalan dalam banyak KPP. Asal nama ApproweB berasal dari kesepakan tim karena Kepala Kanwil Jakbar sepertinya kurang sreg jika nama aplikasi ini mengandung kata-kata ‘Sistem Informasi’ (SI) karena tidak ingin aplikasi ini disamakan dengan aplikasi-aplikasi yang sudah ada yang mengandung kata-kata tersebut. nama aplikasi ini diubah dari SIPPWP menjadi ApproweB. Setelah beberapa waktu. Namun tidak serta merta hal ini bisa diimplementasikan dalam satu kanwil. Tim inti ini terdiri dari Kepala Kantor KPP Madya Jakarta Barat. Aplikasi ini berawal dari KPP Madya Jakbar yang semua WP adalah WP Badan. .menjadi tugas utama DJP. Aplikasi ini juga harus mendukung WP Orang Pribadi dan WP Pemungut (Bendahara). dua orang AR dari KPP Jakarta Koja. satu AR KPP Pratama Grogol Petamburan dan satu orang dari DPC. Kasi Duktekon Kanwil Jakarta Barat. Kanwil menyediakan Server untuk dijadikan server SIPPWP dan dilakukan instalasi dan konfigurasinya. ApproweB ApproweB singkatan dari Aplikasi Profile berbasis Web. Maka dimulailah pengembangan lebih lanjut dengan mendukung jenis Wajib Pajak lain. dua orang OC KPP Madya Jakarta Barat. SIPPWP telah dapat digunakan di seluruh KPP di Kanwil Jakbar. Disamping itu dikembangkan juga Modul baru yaitu modul Analisis yang berisi hasil analisa dari data-data yang ada di server untuk dimanfaatkan dalam proses penggalian potensi. Maka dibentuklan Tim yang terdiri dari orang2 yang dianggap mengerti IT untuk membantu pengembangan SIPPWP ini di Kanwil Jakarta Barat. Untuk bisa digunakan di KPP Pratama. Kelak Modul Potensi juga dikembangkan di dalam SIPPWP.

dan Kanwil Yogyakarta. Dengan demikian.Hasil Rapim Pada pertengahan Juni 2009. Kanwil Jawa Tengah II. Tim besar ini mengemban tugas untuk melanjutkan pengembangan ApproweB untuk dijadikan bentuk baku profile secara nasional. Bulan Maret 2010 terbit Surat Edaran tentang kewajiban penggunaan ApproweB. Kanwil Jakarta Barat dan Kanwil Jakarta Timur. Anggota Tim Besar ini cukup banyak. namun dalam proses pengembangan ApproweB. Tanggal 5-22 April 2010 dilakukan Implementasi ApproweB secara nasional. menambahkan permintaan features. yaitu SE-41/PJ/2010 tanggal 24 Maret 2010. Kanwil Jawa Tengah I. Tanggal 19-20 Agustus 2009. Semua anggota Tim ApproweB yang selama ini mengerjakan ApproweB di lingkungan Kanwil Jakbar masuk dalam Tim besar profiling. anggota tim lama saja yang berperan langsung dalam pengembangan lebih lanjut. dilaksanakan Rapat Persiapan Implementasi di Kanwil Jakarta Selatan. Implementasi terbatas Akhir Juli 2010. ApproweB diharapkan sudah dapat diimplementasikan di Kanwil selain Kanwil Jakarta Barat. Implementasi di perluas ke Kanwil Jawa Barat I. keluar Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-71/PJ/2009 tentang Pembentukan Tim Pembakuan Design dan Sistem Aplikasi Mapping. Profiling. Tanggal 31 Juli 2009. Pengambangan yang dilakukan terutama adalah untuk memperbaiki bugs. Benchmarking dan Pertukaran Data. . Kemudian dilanjutkan dengan instalasi dan implementasi di Kanwil2 tersebut. Implementasi Nasional Bulan Februari 2010 mulai disiapkan untuk implementasi secara nasional. dan menyempurnakan modul2 yang belum lengkap.

.

.

Data yang diperoleh memiliki format data Oracle. Ada dua modul utama yaitu Penerimaan MPN dan Profile WP. Aplikasi ini membantu Kepala Kantor untuk menganalisa penerimaan. harus diisi manual oleh AR. Namun demikian. Kepala Kantor merasa senang karena mudah dalam memantau penerimaan dan mengakses profile dan memutuskan bahwa bentuk profile yang akan dipakai di KPP Madya adalah aplikasi ini. Data yang dibutuhkan berupa data Master file Wajib Pajak. akhirnya aplikasi ini sudah mulai kelihatan bentuknya walaupun masih belum sempurna. Modul Profile WP dibuat mengacu pada struktur profile yang ada pada S-142 dengan penyesuaian di tampilan karena berbasis web. penerimaan per jenis pajak. sebagian data SPT dan data lain diperoleh dari Kanwil DJP Jakarta Barat. dsb. Dari data MPN itu kemudian dibuat informasi berupa summary penerimaan dilihat dari berbagai sisi. misalnya pencapaian dan pertumbuhan penerimaan. Penerimaan MPN merupakan informasi penerimaan pajak yang diterima oleh KPP yang berasal dari data MPN yang diambil dari SIDJP yang lalu dimasukkan ke database di server secara otomatis. Data yang dipakai dalam pembuata profile juga masih belum lengkap. Jika ada rapat yang dilakukan di Kanwil mengenai penerimaan. per AR. Data yang tidak ada di server. . profile dalam bentuk client-server sudah dapat digunakan. profile penerimaan dapat dijelaskan dengan baik dan mendetil. Setelah beberapa waktu melakukan coding. untuk itu data tersebut dikonversi ke dalam MySQL dan dimasukkan ke dalam database.Aplikasi pertama kali dirancang untuk memantau penerimaan kantor yang bersumber dari MPN dan untuk pembuatan profile Wajib Pajak. Hal ini membuat kagum Kepala Kanwil Jakarta Barat. Aplikasi ini saya beri nama Sistem Informasi Penerimaan dan Profile Wajib Pajak (SIPPWP).

.

Kalau ketersediaan data dalam approweb lengkap. Bahkan dapat dibilang. misalnya kontak person. Sehingga AR tidak perlu mencari. maka makin lengkap profile dalam approweb itu. Justru AR mendapatkan data dan informasi terhadap wajib pajak di dalam profile approweb. . foto produk dan lokasi.Syarat utama dalam approweb adalah Data. AR tinggal melengkapi data yang tidak ada di dalam database DJP. Saat ini yang bertugas menyediakan data adalah Direktorat TIP. dll. sebenarnya approweb itu sendiri adalah profile wajib pajak yang sudah jadi. sebagian data yang diperlukan dalam pengisian profile telah disediakan di dalam server approweb. melakukan copy paste ke dalam profile. Memang kelengkapan data mutlak menjadi syarat kelengkapan profile.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->