MODERNISASI SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN

Makalah
Di buat untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah

"Teknik Penulisan Karya Ilmiah”

Oleh : M. Adlan Fahmi D03209064 Dosen pembimbing: Dr. Phil. Khoirun Ni’am

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2009

1

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik-Nya, Tuhan semesta alam yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren”. Sholawat serta salam tetap terlimpah curah tiada henti kepada makhluk terbaik-Nya, Nabi Muhammad Saw, yang senantiasa kita harapkan syafaatnya. Makalah ini kami susun atas dasar tugas yang telah diamanatkan kepada kami oleh Bapak Dr. Phil. Khoirun Ni’am sebagai dosen pembimbing mata kuliah Teknik Penulisan Karya Ilmiah. Kami sebagai penyusun, menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini banyak sekali kekurangan. Untuk itu, kami senantiasa mengharap saran serta kritik yang membangun. Akan tetapi, kami juga tetap berharap semoga makalah yang telah kami susun ini senantiasa bermanfaat bagi pembacanya. Amin.

Surabaya, 31 Desember 2009

Penyusun

2

...... Pengaruh Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren................................................................................................. BAB II : PESANTREN A.......................... C.................................................... Beberapa Model Modernisasi Sistem Pendidikan Pesantren. B.................................................................. B......................... B...... 3 ................................................................................................................................ Latar Belakang ............ Sistem Pendidikan Pesantren............. C...... Rumusan Masalah. C.............. ii DAFTAR ISI.. Tujuan.................................................................................................................... Dinamika Pesantren.................................................................... Pengertian Pesantren......................................................................... DAFTAR PUSTAKA............................................................................... Macam-Macam Pesantren....................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.................................................................... i KATA PENGANTAR.............. iii BAB I : PENDAHULUAN A........... BAB III : MODERNISASI PENDIDIKAN PESANTREN A...................................................................................................................................................

Pada masa kolonialisme berlangsung.BAB I PENDAHULUAN A. H. serta telah menjangkau hamper seluruh lapisan masyarakat muslim. Paradigma “mempertahankan warisan lama yang 1 Sambutan Setiawan Djody dalam Jamaludin Malik. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Latar Belakang Masalah Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian.2 Semakin disadari. I Menuju Cet I. xii 2 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik. Sehingga terkadang lulusan pesantren kalah bersaing atau tidak siap berkompetisi dengan lulusan umum dalam urusan profesionalisme di dunia kerja. 4 . alienasi (keterasingan) dan differensiasi (pembedaan) antara keilmuan pesantren dengan dunia modern. jauh dari realitas social. 2005). xix-xxii Menuju Cet.1 Namun. yang dapat dipastikan mengandung beban tanggung jawab yang tidak ringan bagi pesantren. kini reputasi pesantren tampaknya dipertanyakan oleh sebagian masyarakat Muslim Indonesia. Problem sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan. elitis. Dunia pesantren dihadapkan kepada masalah-masalah globalisasi. pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi masyarakat dalam mencerahkan dunia pendidikan. H. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. tantangan dunia pesantren semakin besar dan berat dimasa kini dan mendatang. 2005). Pemberdayaan Pesantren. Pemberdayaan Pesantren. yaitu terjadi kesenjangan. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahun yang lalu. Mayoritas pesantren masa kini terkesan berada di menara gading. Tidak sedikit pemimpin bangsa yang ikut memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini adalah alumni atau setidak-tidaknya pernah belajar di pesantren. Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

yaitu sorogan.Cet I (Yogyakarta: PT. II ( Jakarta: Diva Pustaka. yang menurut beberapa kalangan harus segera dilakukan oleh kalangan pesantren. System pembelajaran tradisional. Bagaimana dinamika pesantren mulai ada hingga sekarang? 4. Pesantren harus mampu mengungkai secara cerdas problem kekiniankita dengan pendekatan-pendekatan kontemporer. Boleh jadi masa lalu tersebut akan tampak “basi” dan tak lagi relevan. Apa pengertian pesantren? 2. Cet. Moh. balaghan. Rumusan Masalah 1. v-ix. 4 Ibid. LKiS Pelangi Aksara. Imam Safe’I. atau halaqah seharusnya mulai diseimbangkan dengan system pembelajaran modern. Mereka harus membaca khazanah lama dan baru dalam frame yang terpisah. bandongan.4 Salah satu hal yang perlu dimodifikasi adalah system pendidikan pesantren. insane pesantren perlu memosisikan warisan masa lalu sebagai “teman dialog” bagi modernitas dengan segala produk yang ditawarkannya. lalu dihadapkan dengan kekinian.3 Dalam konteks yang dilematis ini. modernitas. Disisi lain. 2005) h.masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik” perlu direnungkan kembali. Manajemen Pondok Pesantren. Sulton Mashud. Maksudnya. Bagaimana system pendidikan pesantren? 3 Abd. Dalam aspek kurikulum juga seharusnya kalangan pesantren berani mengakomodasi dari kurikulum pemerintah. Masa lalu hadir atau dihadirkan dengan terang dan jujur. Mastuki HS. A’la. v-ix 5 Sigit Muryono. Pembaruan Pesantren. Apa saja macam-macam pesantren? 3.5 B. Khusnuridho. 2006) h. pilihan terbaik bagi insane pesantren adalah mendialogkannya dengan paradigm dan pandangan dunia yang telah diwariskan oleh generasi pencerahan Islam. namun tak menutup kemungkinan masih ada potensi yang dapat dikembangkan untuk zaman sekarang. ternyata berisi paradigm dan pandangan dunia yang telah merubah cara pandang lama terhadap dunia itu sendiri dan manusia. 5 5 .

5. Apa pengaruh modernisasi system pendidikan pesantren terhadap eksistensi pesantren itu sendiri? 6 . Apa saja dan bagaimana model pendidikan dalam proses modernisasi system pendidikan pesantren? 6.

Mungkin dari sinilah Nur Cholis Majid 6 Yasmadi. xix-xxii 8 Khozin. Islam dan Kebangkitan Indonesia. Gus Dur. Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional.96-99. pondok berasal dari bahasa Arab funduq. dan tempat tinggal sederhana. sebuah kata dari bahasa sansekerta yang artinya melek huruf. Gus Dur. Dalam hal ini menurut Nur Cholis Majid agaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literary bagi orang jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. lihat juga Abdurrahman Wahid dalam Muhaimin Iskandar. Cet. kata pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe. rumah. 7 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik. 2006) h. Modernisasi Pesantren. Ada juga yang mengatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa Jawa. Maksudnya. vii-ix. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia. vii-ix. Cet I (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. mengindikasikan bahwa secara kultural pesantren lahir dari budaya Indonesia. 6 Sedangkan secara istilah. 7 . 2007) h. Sedangkan kata santri sendiri berasal kata “sastri”. Pemberdayaan Pesantren. 2005). 2006) hal. H. Husein Nasr mendefinisikan pesantren dengan sebutan dunia tradisional Islam. Bandingkan dengan Khozin. asrama. istilah pesantren lebih populer dengan sebutan pondok pesantren. I (Jakarta: KLIK R. Pengertian Pesantren Secara bahasa. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia. II (Malang: UMM Press. yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru itu pergi menetap.BAB II PESANTREN A. Islam dan Kebangkitan Indonesia. I (Jakarta: KLIK R. yang berarti hotel. pesantren adalah dunia yang mewarisi dan memelihara kontinuitas tradisi Islam yang dikembangkan ulama’ (kiai) dari masa ke masa. Cet. 2007) h. Lain halnya dengan pesantren.dan akhiran -an (pesantrian) yang berarti tempat tinggal para santri.Cet.Cet.7 Di Indonesia.62. II (Malang: UMM Press. Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. dari kata “cantrik”. 61-62. Bandingkan dengan kata pengantar Abdurrahman Wahid dalam Muhaimin Iskandar. 2002) h. ( Jakarta: Ciputat Press.8 Dari terminology diatas. tidak terbatas pada periode tertentu dalam sejarah Islam.

62 10 Ibid. maupun lebih-lebih kitabnya. Pesantren salafi. Modernisasi Pesantren. ( Jakarta: Ciputat Press.9 B. yaitu: 1. xix-xxii 12 Yasmadi. beberapa pengamat mengklasifikasikan pesantren menjadi empat macam10. Pemberdayaan Pesantren. tetapi juga makna keaslian Indonesia. 11 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamallludin Malik. dan Islam tinggal meneruskan. bandingkan dengan Yasmadi. Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. memang cikal bakal lembaga pesantren sebenarnya sudah ada pada masa Hindu-Budha. 8 . Sebab. 67. pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman. 2002) hal. yaitu pesantren yang tetap mempertahankan pelajarannya dengan kitabkitab klasik. Sedangkan sorogan adalah pengajian yang merupakan permintaan dari seseorang atau beberapa orang santri kepada kyainya untuk diajarkan kitab-kitab tertentu. Cet. 2005). 2002) hal 70. Model pengajarannya pun sebagaimana yang lazim diterapkan dalam pesantren salaf. Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. 101. H.12 Sedangkan istilah salaf ini bagi kalangan pesantren mengacu kepada pengertian “pesantren tradisional” yang 9 Ibid. Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. ( Jakarta: Ciputat Press. baik dalam menentukan tempat. Bentuk-Bentuk Pesantren Tentang bentuk-bentuk pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. dan mengislamkannya.11 Weton adalah pengajian yang inisiatifnya berasal dari kyai sendiri. dan tanpa tanpa diberikan pengetahuan umum. waktu. melestarikan. hal. I (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. yaitu sorogan dan weton. hal.berpendapat bahwa secara historis. Modernisasi Pesantren.

xix-xxii 14 Yasmadi. yaitu pesantren yang berbentuk semacam training dalam waktu yang relatif singkat. ( Jakarta: Ciputat Press. dan lain sebagainya. 2. hal. H. 2002) hal 71.justru sarat dengan pandangan dunia dan praktek islam sebagai warisan sejarah. Pemberdayaan Pesantren. 15 Ibid. 4. Cet. Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. sebagaimana balai pelatihan kerja. 101 9 .13 Misalnya: pesantren Lirboyo Kediri. I (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. dan biasanya dilaksanakan pada waktu liburan sekolah. Pesantren khalafi. Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. Pesantren terintegrasi. khususnya dalam bidang syari’ah dan tasawwuf. yaitu pesantren yang lebih menekankan pada pendidikan vocasional atau kejujuran.14 Misalnya: Pesantren Tebuireng Jombang. metode khas pesantren tersebut. memberikan ilmu pengetahuan umum dan agama dan juga memberikan keterampilan umum. Pesantren kilat. Al Qur’an dan yang lain sebagainya dengan metode Hanifida. Santrinya kebanyakan berasal dari kalangan anak putus 13 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik. Modernisasi Pesantren. dengan program yang terintegrasi. 2005). Pesantren Tambak Beras Jombang. Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Jombang. sistem yaitu pesantren yang klasikal menerapkan pengajaran (madrasi0. Pesantren jenis ini juga membuka sekolah-sekolah umum. 3.15 Misalnya Pesantren La Raiba Jombang yang programnya adalah pelatihan menghafal asam’ul husna. dan lain sebagainya.

20 Muryono. khususnya menyangkut praktek kehidupan keagamaan. hal 1-2. Bentuk ini kemudian berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap bagi para pelajar (santri). Cet. 2006) hal 16. hal 107. Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar Islam. I (Malang: UMM Press. Cet. pada waktu itu pendidikan pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang terstruktur. Sulton Mashud.sekolah atau para pencari kerja.17 bahkan ada yang mengatakan sejak abad ke-13. Mastuki HS. 10 . jumlah pesantren mengalami peledakan jumlah yang sangat signifikan. I (Yogyakarta: PT. 1.16 C. 2006) hal. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia. Pembaruan Pesantren. Cet. Dinamika Pesantren Dalam perspektif sejarah.62. Mastuki HS. 16 Khozin. Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian. 17 Ibid. Khusnuridho. 18 Sigit Muryono. 21 Ibid. LKiS Pelangi Aksara. Cet. yang kemudian disebut pesantren. Moh. II( Jakarta: Diva Pustaka. Berarti sekitar 97% penduduk Indonesia buta huruf. Sulton Mashud. II (Jakarta: Diva Pustaka. Manajemen Pondok Pesantren.19 Meskipun bentuknya masih sangat sederhana.20 Lembaga ini semakin berkembang pesat dengan adanya sikap non kooperatif para ulama terhadap kebijakan “politik etis” pemerintah kolonial Belanda dengan memberikan pendidikan modern. terutama di Jawa yang diperkirakan 300 buah. hanya sekitar 3% penduduk Indonesia. Khusnuridho. sejak sekitar abad ke-18. Manajemen Pondok Pesantren. Moh. Imam Safe’I. 2005) hal. termasuk budaya barat. lembaga pendidikan yang terutama berbasis di pedesaan ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang.21 Pada tahun 1860-an. A’la. 2005) hal. Sikap para ulama tersebut dimanifestasikan dengan mendirikan pesantren di daerah-daerah yang jauh dari kota untuk menghindari intervensi Belanda serta memberi kesempatan kepada rakyat yang belum mendapat pendidikan. Imam Safe’I.18 Pesantren pertama didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim. 19 Abd. Namun pendidikan yang diberikan sangat terbatas. Sehingga pendidikan ini dianggap sangat bergengsi. 1.

baga pesantren di daerahnya masing-masing.661 pesantren dengan 938. ia mengunakan kurikulum sendiri. menyangkut penyelenggaraan pendidikan. Khusnuridho. ada 4.195 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 667. I (Malang: UMM Press. Mastuki HS. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional.Perkembangan tersebut ditengarai berkat dibukanya terusan Suez pada 1869 sehingga memungkinkan banyak pelajar Indonesia mengikuti pendidikan di Mekkah. Imam Safe’I. Sulton Mashud. Manajemen Pondok Pesantren. bandingkan dengan Muryono. Cet. Ccccet. 5. 24 Muryono. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia. dan lain-lain. II ( Jakarta: Diva Pustaka.23Kedua. peningkatan secara kuantitas terhadap jumlah pesantren. Pesantren Darul Ulum Jombang. Moh. pesantren mengalami perubahan yang sangat signifikan yang tampak dalam beberapa hal. mereka membentuk le. Sulton Mashud. Mastuki HS. 2005) hal. 4. Seperti Pesantren Modern Gontor 22 Ibid. baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan maupun yang juga memiliki sekolah umum. Jumlah tersebut meningkat menjadi 5. Moh. kemudian jumlah tersebut menjadi 15. Pertama. Manajemen Pondok Pesantren.397 orang santri pada tahun 1981. bahwa pada tahun 1977. Perkembangan bentuk-bentuk pendidikan di pesantren tersebut diklasifikasikan menjadi empat. 2005) hal. Cet. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk Madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional. 107. 11 . yaitu: 1.22 Pada era 1970-an. 2006) hal. Imam Safe’I. 23 Khozin. 2. Sepulangnya ke kampung halaman. II ( Jakarta: Diva Pustaka. hal. 2.900 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 5.24 Seperti Pesantren Denanyar Jombang. Khusnuridho.9 juta orang pada tahun 1985.384 orang. Dengan kata lain. Tercatat di Departemen Agama.

Cet. Perbedaan-perbedaan tipe pesantren diatas hanya 25 Ibid hal. 5. (2) Lembaga keagamaan yang melakukan kontrol sosial (social control). 27 Ibid hal. Seperti Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Pesantren semacam ini adalah pesantren yang kurikulumnya berdasarkan pemikiran akan kebutuhan santri dan masyarakat sekitarnya. sama sekali tidak mencerabut pesantren dari akar kulturnya. dan lain sebagainya. Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa beberapa pesantren ada yang tetap berjalan meneruskan segala tradisi yang diwarisinya secara turun temurun.28 Meskipun demikian. 108-109. Namun ada juga pesantren yang mencoba mencari jalan sendiri. kecuali sekedar bertahan. dan Darul Rahman Jakarta. (3) Lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa sosial (Social engineering). tanpa ada perubahan dan improvisasi yang berarti. Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan agama dalam bentuk Madrasah Diniyah. 12 . Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia. hal.Ponorogo.26 seperti Pesantren Lirboyo Kediri. Pesantren Sumber Sari Kediri. 4. Secara umum pesantren tetap memiliki fungsi-fungsi sebagai: (1) Lembaga pendidikan yang melakukan transfer ilmu-ilmu pengetahuan agama (tafaqquh fi addin) dan nilai-nilai islam (Islamic values). dengan harapan mendapatkan hasil yang lebih baik dalam waktu singkat. 5. Pesantren yang hanya sekedar manjadi tempat pengajian. Pesantren Ploso Kediri.25 3. 26 Ibid. 28 Khozin.27 seperti Pesantren milik Gus Khusain Mojokerto. II (Malang: UMM Press. dan Darul Rahman Jakarta. semua perubahan itu. kurikulum sendiri. 5. 2006) hal.

Cet. Khusnuridho. Mastuki HS. Imam Safe’I. II ( Jakarta: Diva Pustaka.29 BAB III MODERNISASI PENDIDIKAN PESNTREN A. 13 . baik berupa hasil penemuan (invention) maupun discovery. metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang . 6. Atau dengan kata lain. Manajemen Pondok Pesantren. Moh. Model Modernisasi Pendidikan Pesantren Modernisasi atau inovasi pendidikan pesantren dapat diartikan sebagai upaya untuk memecahkan masalah pendidikan pesantren. 2005) hal. barang.berpengaruh pada bentuk aktualisasi peran-peran ini. yang digunakan untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah pendidikan 29 Muryono. inovasi pendidikan pesantren adalah suatu ide. Sulton Mashud.

33 Menurut Nur Cholis Majid. sistem kenaikan pangkat. 65 33 Ibid hal.31 Dalam hal ini.pesantren. Bidang personalia. Tasawuf 30 Ibid hal. 66. b. 14 . dalam pesantren terlihat materinya hanya khusus yang disajikan dalam bahasa Arab. dan sebagainya. Pengaturan waktu. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya pengaturan waktu belajar. pesantren telah di bantu dengan adanya program Beasiswa S1 untuk guru diniyah oleh Departemen Agama. tentu menentukan personel sebagai komponen sistem. Inovasi pendidikan yang sesuai dengan komponen ini misalnya perubahan tempat duduk. yang paling penting untuk direvisi adalah kurikulum pesantren yang biasanya mengalami penyempitan orientasi kurikulum. Maksudnya. perubahan pengaturan dinding ruangan perlengkapan Laboratorium bahasa. 65 32 Ibid hal. Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial.32 c. dan sebagainya. aqa’id. Mata pelajarannya meliputi fiqh. dan lain-lain. perubahan jadwal pelajaran yang dapat memberi kesempatan siswa/mahasiswa untuk memilih waktu sesuai dengan keperluannya. Fasilitas fisik. dan lain sebagainya. Inovasi yang sesuai dengan komponen personel misalnya adalah peningkatan mutu guru. nahwusharf. 65 31 Ibid hal. laboratorium Komputer.30 Miles mencontohkan inovasi (modernisasi) pendidikan adalah sebagai berikut: a. Sedangkan tasawuf dan semangat keagamaan yang merupakan inti dari kurikulum keagamaan cenderung terabaikan. Suatu sistem pendidikan tentu memiliki perencanan penggunaan waktu.

Sebagai upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam sistem pendidikan pesantren.35 2. Plus Minus Modernisasi Pendidikan Pesantren Dalam menanggapi gagasan ini. Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan”.36 Sedangkan bagi kalangan pesantren yang tidak setuju dengan gagasan modernisasi berpendapat bahwa gagasan tersebut banyak sisi negatifnya. Adanya kontroversi ini mungkin lebih disebabkan pada perbedaan pendapat mereka tentang bagaimana sikap pesantren dalam menghadapi era globalisasi. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren.cetakan I. 15 . sehingga kemampuan santri biasanya samgat terbatas dan kurang mendapat pengakuan dari masyarakat umum. 34 B.hanya dipelajari sambil lalu saja. Maka dari itu. ( Jakarta: Ciputat Press. Di antara sisi positif tersebut adalah sebagai berikut: 1. Sebagai bentuk adaptasi pesantren terhadapperkembangan era globalisasi. Disisi lain. tampak kalangan pesantren terbelah menjadi dua. xix-xxii 36 Yasmadi. Hal ini mutlak harus dilakukan agar pesantren tetap eksis. H. 34 Yasmadi. “Pemberdayaan Pesantren. 2005). tidak secara sungguh-sungguh. Padahal justru inilah yang lebih berfungsi dalam masyarakat zaman modern. Modernisasi Pesantren. pengetahuan umum nampaknya masih dilaksanakan secara setengah-setengah. Modernisasi Pesantren. 35 Sambutan Azyumardi Azra dalam Jamaludin Malik. ( Jakarta: Ciputat Press. 2002) hal 77-111. Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. 2002) hal 58-59. Mereka menganggap bahwa banyak sisi positif yang akan diperoleh dengan modernisasi pendidikan di pesantren. Cak Nur menawarkan kurikulum Pesantren Modern Gontor sebagai model modernisasi pendidikan pesantren. yaitu pro dan kontra. Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. Mereka yang pro mengatakan bahwa modernisasi pesantren akan memberi angin segar bagi pesantren.

Hal ini mengubur paradigma bahwa santri hanya mampu di bidang agama saja. perbedaan pendapat yang terjadi telah mendatangkan sisi positif tersendiri bagi pesantren.37 2. banyak sekali santri yang ahli di bidang pengetahuan umum. Melahirkan bervariasi. Hal itu telah membuktikan hadits Nnabi Muhammad Saw ”ikhtilafu ummati rahmatun” yang artinya ”perbedaan pendapat dalam umatku adalah rahmat”. Modernisasi pendidikan merubah sistem tradisional kultur-kultur dikhawatirkan akan ikut positif yang telah lama terbentuk di pesantren. Diantara manfaat dari perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah: 1. A’la. (Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara. Saat ini. Pembaruan Pesantren. minat serta citacitanya. 2. 37 Abd. 16 . Lahirnya santri yang beraneka ragam. Modernitas akan merubah cara terhadap pandang dunia lama dan manusia. Ini memberikan banyak pilihan kepada calon santri dalam menentukan pesantren yang sesuai dengan bakat.diantaranya adalah: 1.cet I. banyak Banyak pesantren pesantren yang yang memiliki ciri khas masing-masing. 2006) hal vii. Terlepas dari polemik tersebut.

17 .

dari kata “cantrik”. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. Gus Dur.dan akhiran -an (pesantrian) yang berarti tempat tinggal para santri. Cet. yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru itu pergi menetap. memang cikal bakal lembaga 38 Sambutan Setiawan Djody dalam Jamaludin Malik. Tidak sedikit pemimpin bangsa yang ikut memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini adalah alumni atau setidak-tidaknya pernah belajar di pesantren. pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi masyarakat dalam mencerahkan dunia pendidikan. pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman. sebuah kata dari bahasa sansekerta yang artinya melek huruf. Ada juga yang mengatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa Jawa. 39 Secara historis. Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. vii-ix. serta telah menjangkau hamper seluruh lapisan masyarakat muslim. I (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Bandingkan dengan Khozin. 2006) h. xii 39 Yasmadi. Modernisasi Pesantren.96-99. Sedangkan kata santri sendiri berasal kata “sastri”. II (Malang: UMM Press. Sebab. tetapi juga makna keaslian Indonesia. 2002) h. Islam dan Kebangkitan Indonesia. Bandingkan dengan kata pengantar Abdurrahman Wahid dalam Muhaimin Iskandar. H. Pemberdayaan Pesantren. Pada masa kolonialisme berlangsung. 2005). Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional.38 Secara bahasa. Kesimpulan Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian. Dalam hal ini menurut Nur Cholis Majid agaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literary bagi orang jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Cet. Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. 18 . 61-62.BAB IV PENUTUP A. I (Jakarta: KLIK R. ( Jakarta: Ciputat Press. kata pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahun yang lalu. 2007) h.

42 Khozin. bandingkan dengan Yasmadi. Ccet.9 juta orang pada tahun 1985. hal 107. 62 41 Ibid. 2005) hal. 43 Ibid. 4. 40 Ibid.42 Bahkan ada yang mengatakan sejak abad ke-13. melestarikan.43 bisa dibayangkan berapa banyak jumlah pesantren dan santrinya saat ini. Manajemen Pondok Pesantren. bandingkan dengan Muryono. dan mengislamkannya. Mastuki HS. Dalam perspektif sejarah. lembaga pendidikan yang terutama berbasis di pedesaan ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Pesantren khalafi 3. salah satunya adalah Nur Cholis Majid. 107. Pesantren salafi.40 Bentuk-bentuk pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. II (Malang: UMM Press. 4. Ia berpendapat bahwa modernisasi ini sebaiknya dilakukan dengan model sistem pendidikan Gontor Ponorogo. dan berkembang menjadi 15. pekembang pesantren sangat pesat.900 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 5. Namun gagasan ini telah memecah kalangan pesantren menjadi dua kubu. Imam Safe’I. sejak sekitar abad ke-18. pro dan kontra. Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. Ini merupakan salah satu sisi positif dari perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan pesantren. hal. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia. dan Islam tinggal meneruskan. Khusnuridho. Pesantren Modern 19 . Moh. Cet. 2. II ( Jakarta: Diva Pustaka. Modernisasi Pesantren. yaitu: 1. beberapa pengamat mengklasifikasikan pesantren menjadi empat macam41.pesantren sebenarnya sudah ada pada masa Hindu-Budha. hal. 2002) hal 70. Pesantren terintegrasi. saat ini. 2006) hal. Pada awal perkembangannya hanya berjumlah 300 buah. Gagasan modernisasi dianggap perlu dilakukan oleh beberapa kalangan. ( Jakarta: Ciputat Press. Namun kontroversi ini telah menimbulkan variasi tersendiri dikalangan pesantren. 101. Pesantren kilat. Sulton Mashud.

DAFTAR PUSTAKA A’la. Kalangan pesantren harus bisa bersikap dewasa dan berpikir positif dalam hal ini.”Seeing good in the something”. tidak perlu dibesar-besarkan. Saran Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa dalam menyikapi suatu gagasan. Hal ini salah satu judul buku Harun Yahya. Abd. LKiS 20 . Pembaruan Pesantren.cet I.B. Yogyakarta: PT. 2006. Maka dari itu.

Jakarta: KLIK R.Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Cet. II. Islam dan Kebangkitan Indonesia. 2007. Imam Safe’I.I. . Jakarta: Diva Pustaka Yasmadi. Iskandar. Jamaludin. Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap PendidikanIslam Tradisional. 2005. Khozin. Cet. Malik. II. Jakarta: Ciputat Press. 2005. Mastuki HS. 2002. Sulton Mashud. Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. I. Muhaimin. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia. Cet.Pelangi Aksara. Moh. Pemberdayaan Pesantren. Modernisasi Pesantren. Manajemen Pondok Pesantren. Malang: UMM Press. Gus Dur. Cet. Muryono. 21 . 2006. Khusnuridho.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful