P. 1
82786606-Metode-Tafsir

82786606-Metode-Tafsir

|Views: 26|Likes:
Published by Abrar Eel Zoldycks
Metode Tafsir
Metode Tafsir

More info:

Published by: Abrar Eel Zoldycks on Mar 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2013

pdf

text

original

Metode Tafsir dalam Islam

Oleh: Nadirsyah Hosen

Secara umum ada dua metode tafsir dalam Islam. Pertama, tafsir bir riwayah dan kedua tafsir bir ra'yi. Kita akan bahas satu persatu. 1. Tafsir bir riwayah Maksudnya adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur'an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur'an dan riwayat hadis. Isi tafsir dengan metode ini penuh dengan riwayat hadis dan jarang sekali pengarang tafsir tsb menaruh pemikirannya. Tafsir at-Thabari misalnya dianggap mewakili corak penafsiran model ini. Yang paling baik dari tafsir jenis ini adalah mufassir yang menggunakan ayat qur'an untuk menafsirkan ayat Qur'an yang lain. Atau dalam ungkapan bahasa arab disebut "AlQur'an yufassiruhu ba'dhuhu ba'dhan" (al-Qur'an itu menafsirkan sebagian ayatnya dengan sebagian ayat yang lain). Dari model tafsir bir riwayat dikelompokkan lagi dua macam bentuk penafsirannya: a. tafsir at-tahlili, artinya mufassir (ahli tafsir) memulai kitab tafsirnya dari al-Fatihah sampai surat an-nas. Ia uraikan tafsirnya menurut urutan surat dalam al-Qur'an. Semua kitab tafsir klasik mengikuti model ini. b. Tafsir maudhu'i (tematis), artinya mufassir tidak memulai dari surat pertama sampai surat ke-114, melainkan memilih satu tema dalam al-Qur'an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat Qur'an yang berkaitan dengan tema tersebut baru kemudian ditafsirkan untuk menjelaskan makna tema tersebut. Ambil contoh, kita ingin tahu apa makna Islam dalam al-Qur'an. Maka kita himpun semua ayat yang berisikan kata Islam (dan segala derivasinya) lalu kita tafsirkan. Jadi, tafsir model ini bersifat tematis. Konon metode seperti ini dimulai oleh Muhammad al-Biqa'i. Dari kalangan Syi'ah yang menganjurkan metode model ini adalah Muhammad Baqir as-Shadr. Pak Quraish Shihab adalah ahli tafsir Indonesia yang pertama kali memperkenalkan metode ini dalam tulisantulisannya di tanah air. Bukunya Wawasan al-Qur'an berisikan tema-tema penting dalam al-Qur'an yg dibahas dengan metode maudhu'i ini. 2. Tafsir bir ra'yi. Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dengan tafsir bir riwayah. Ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra'yu) dalam memahami kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadis namun porsinya lebih pada akal. Contoh tafsir model ini adalah Tafsir al-kasysyaf karya Zamakhsyari dari kalangan Mu'tazilah, tafsir Fakh ar-Razi, Tafsir al-Manar. de el el

sesungguhnya penggolongan secara kaku dan ketat tafsir bir riwayah dan bir ra'yi itu tak lagi relevan. dipandang dari sudut manapun tetap memancarkan cahaya. Model tafsir ini pada masa sekarang dikembangkan oleh Aisyah Abdurrahman (dia perempuan lho) atau terkenal dengan nama Bintusy Syathi. untuk kajian modern sekarang. tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat utk membedah ayat Qur'an) b.. Alhamdulillah karya Bintusy Syathi ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Lalu yang mana metode tafsir yang terbaik? Kitab tafsir mana yang paling baik? Syeikh Abdullah Darraz berkata:"Al-Qur'an itu bagaikan intan berlian. Tafsir model maudhu'i (tematis) juga tak bisa secara kaku dianggap sebagai tafsir bir riwayah semata. pada sebagian ayatnya terlihat keliberalan penulisnya tapi pada bagian ayat lain justru terlihat kekakuan penulisnya. Tafsir sastra. menjelaskan makna-maknanya. Makna ini tampak sesuai dengan Surat Al Furqan ayat 33: “wa laa ya`tuunaka bimatsalin illaa ji`naaka bil haqqi wa ahsana tafsiiran” Menurut pengertian terminologi. menyimpulkan hikmah dan hukumhukumnya. tafsir bil 'ilmi (seperti menafsirkan fenemona alam dengan kemudian merujuk ayat Qur'an) b. Lebih menekankan aspek sastra dari ayat al-Qur'an. Kalau saja anda berikan kesempatan pada rekan anda untuk melihat kandungan ayat Qur'an boleh jadi ia akan melihat lebih banyak dari yang anda lihat." Jadi? Tak usah khawatir mana yang terbaik. Urgensi Tafsir Al-Qur'an dalam Islam Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dalam bahasa Arab dengan segala macam kekayaan bahasanya. Tafsir berasal dari kata al-fusru yang mempunyai arti al-ibanah wa al-kasyf (menjelaskan dan menyingkap sesuatu).Semua metode tafsir bertujuan menyingkap cahaya al-Qur'an...Kalau mau dipilah lagi maka tafsir model ini bisa dibagi kedalam: a. Sebagai catatan. seperti dinukil oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dari Al-Imam Az-Zarkasyi ialah ilmu untuk memahami kitab Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Begitupula tafsir al-Manar. Di dalamnya terdapat . Seperti tafsir-nya Bintusy Syathi setelah saya simak ternyata penuh dengan kandungan ayat Qur'an untuk memahami ayat lain.

Atha ibn Abi Ribah. apalagi sering digunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya. Madinah dengan madrasah Ubay ibn Ka’ab dengan murid-murid Muhammad ibn Ka’ab al-Qurazhi. Pada masa ini belum terdapat satupun pembukuan tafsir dan masih bercampur dengan hadits. Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al-Qur'an antara lain empat khalifah . riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri namun belum sistematis sampai . Ibn Abbas. Dalam lafazh yang sedikit saja dapat terhimpun sekian banyak makna. Al-Qur'an itu sendiri karena kadang-kadang satu hal yang dijelaskan secara global di satu tempat dijelaskan secara lebih terperinci di ayat lain. kaidah-kaidah syariat. Ada tiga kota utama dalam pengajaran Al-Qur'an yang masing-masing melahirkan madrasah atau madzhab tersendiri yaitu Mekkah dengan madrasah Ibn Abbas dengan murid-murid antara lain Mujahid ibn Jabir. Pada masa ini tafsir masih merupakan bagian dari hadits namun masing-masing madrasah meriwayatkan dari guru mereka sendiri-sendiri. Qatadah ibnDi’amah. Sedangkan pada hal yang dapat dimasuki ra’yi maka statusnya terhenti pada sahabat itu sendiri selama tidak disandarkan pada Rasulullah SAW. Ubai bin Ka’b. menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan beramal. Ketika datang masa kodifikasi hadits. 2. Namun. Tafsir yang berasal dari para sahabat ini dinilai mempunyai nilai tersendiri menurut jumhur ulama karena disandarkan pada Rasulullah SAW terutama pada masalah azbabun nuzul. 3. Abu Musa al-Asy’ari. Abu al-Aliyah ar-Riyahi dan Zaid ibn Aslam dan Irak dengan madrasah Ibn Mas’ud dengan murid-murid al-Hasan al-Bashri. Ijtihad dan Pemahaman mereka sendiri karena mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat memahami makna perkataan dan mengetahui aspek kebahasaannya. Zaid bin Tsabit. Allah SWT tidak menjamin perincian-perincian dalam masalah-masalah itu sehingga banyak lafal AlQur’an yang membutuhkan tafsir. Secara garis besar ada tiga sumber utama yang dirujuk oleh para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur'an : 1. asas-asas perilaku. Masruq ibn al-Ajda.innalloha ma'assobirin Sejarah Tafsir Al-Qur'an Sejarah ini diawali dengan masa Rasulullah SAW masih hidup seringkali timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat.penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah. Ibn Mas’ud. Sesudah generasi sahabat. Untuk itulah diperlukan penjelasan yang berupa tafsir Al-Qur'an. Untuk itu mereka dapat langsung menanyakan pada Rasulullah SAW. Ikrimah Maula Ibn Abbas. Abdullah bin Zubair. Thaus ibn Kisan al-Yamani dan Said ibn Jabir. datanglah generasi tabi’in yang belajar Islam melalui para sahabat di wilayah masing-masing. Atah ibn Abi Muslim al-Khurasani dan Marah al-Hamdani. Rasulullah SAW semasa masih hidup para sahabat dapat bertanya langsung pada Beliau SAW tentang makna suatu ayat yang tidak mereka pahami atau mereka berselisih paham tentangnya.

" (Surat Al Baqarah:187) Kata minal fajri adalah tafsir bagi apa yang dikehendaki dari kalimat al khaitil abyadhi. Metode pengumpulan inilah yang disebut tafsir bi al-Matsur. Contoh tafsir Al Qur'an dengan Al Qur'an antara lain: "wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadhu minal khaithil aswadi minal fajri. Mekipun begitu mereka tetap berpegangan pada Tafsir bi al-Matsur dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut.... Bentuk Tafsir Al-Qur'an Adapun bentuk-bentuk tafsir Al-Qur'an yang dihasilkan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga: [sunting] Tafsir bi al-Matsur Dinamai dengan nama ini (dari kata atsar yang berarti sunnah. Abu Bakr ibn al-Munzir an-Naisaburi dan lainnya.. hadits.a.. Al-Qur'an dengan sunnah karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah..menafsirkan dengan mengacu pada ayat : "innasy syirka lazhulmun 'azhiim" (Surat Luqman: 13) Dengan itu Beliau menafsirkan makna zhalim dengan syirik. Tafsir bi al-Matsur adalah tafsir yang berdasarkan pada kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan AlQur'an dengan Al-Qur'an. Ibn Jarir at-Thabari. Lebih lanjut perkembangan ajaran tasawuf melahirkan pula sebuah tafsir yang biasa disebut sebagai tafsir isyarah. atau dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi'in karena mereka pada umumnya menerimanya dari para sahabat.. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metodologi tafsir dengan memasukan unsur ijtihad yang lebih besar. . Usaha ini dilakukan oleh para ulama sesudahnya seperti Ibn Majah. dengan perkataan sahabat karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah. peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran seorang mufassir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya terus sampai kepada Nabi SAW." (Surat Al An'am: 82) Rasulullah s.masa sesudahnya ketika pertama kali dipisahkan antara kandungan hadits dan tafsir sehingga menjadi kitab tersendiri. Contoh Tafsir Al Qur'an dengan Sunnah antara lain: "alladziina amanuu wa lam yalbisuu iimaanahum bizhulmin.w. Hal ini melahirkan apa yang disebut sebagai tafsir bi al-ray yang memperluas ijtihad dibandingkan masa sebelumnya.. jejak.

..Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab.. ilmu-ilmu Al-Qur'an.. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur'an inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan gaib pengetahuan yang dibawa ayat-ayat. Beberapa karya tafsir Isyari yang terkenal antara lain: Tafsir An Naisabury. Beberapa tafsir bir ra'yi yang terkenal antara lain: Tafsir Al Jalalain (karya Jalaluddin Muhammad Al Mahally dan disempurnakan oleh Jalaluddin Abdur Rahman As Sayuthi). Tafsir Abu Laits As Samarkandy. Tafsir Al Khazin. Asbabun Nuzul (karya Al Wahidy) dan An Nasikh wal Mansukh (karya Abu Ja'far An Nahhas)... Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan yang batin adalah yang isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya.. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari..” tetapi dalam tafsir Isyari diberi makna dengan “. Tafsir Abu Suud. Tafsir Al Khatib.. ilmu qiraah.... . hadits dan ilmu hadits. Tafsir Ibnu Araby. Tafsir Al Alusy. Contoh Tafsir bir ra'yi dalam Tafsir Jalalain: “khalaqal insaana min 'alaq” (Surat Al Alaq: 2) Kata alaq disini diberi makna dengan bentuk jamak dari lafaz alaqah yang berarti segumpal darah yang kental.. Tafsir Ibnu Katsir. Tafsir An Nasafy.” (Surat Al Baqarah: 67) Yang mempunyai makna zhahir adalah “...”... setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin.Innallaha ya`murukum an tadzbahuu baqarah. Tafsir Ad Dararul Ma'tsur fit Tafsiri bil Ma'tsur (karya Jalaluddin As Sayuthi).. Tafsir At Tastary. Tafsir bi ar-Rayi Seiring perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metode tafsir karena tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur.Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih nafsu hewaniah. Contoh bentuk penafsiran secara Isyari antara lain adalah pada ayat: '“..Tafsir Al Baidhawi.Tafsir-tafsir bil ma'tsur yang terkenal antara lain: Tafsir Ibnu Jarir. ushul fikih dan ilmu-ilmu lain seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.. Tafsir Al Fakhrur Razy.. Tafsir Al Baghawy dan Tafsir Baqy ibn Makhlad. Tafsir Isyari Menurut kaum sufi.

Menurut Malik bin Nabi. . [sunting] Metode Tahlili (Analitik) Metode ini adalah yang paling tua dan paling sering digunakan. sehingga mengesankan bahwa uraian itulah yang merupakan pandangan Al-Qur'an untuk setiap waktu dan tempat. arti secara bahasa. tujuan utama ulama menafsirkan Al-Qur'an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukzizatan AlQur'an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh. [sunting] Metode Ijmali (Global) Metode ini adalah berusaha menafsirkan Al-Qur'an secara singkat dan global. Karena itu perlu pengembangan metode penafsiran karena metode ini menghasilkan gagasan yang beraneka ragam dan terpisah-pisah . sesuatu yang dirasa bukan menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini. Menurut Muhammad Baqir ash-Shadr. menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fiqih.Metodologi Tafsir Al-Qur'an Metodologi Tafsir dibagi menjadi empat macam yaitu metode tahlili. adalah metode yang mufasir-nya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat al-Qur`an sebagaimana tercantum dalam al-Qur`an. Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al-Qur'an. dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. tidak sepenuhnya mengacu kepada persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat mereka. metode ijmali. norma-norma akhlak dan lain sebagainya. sasaran yang dituju dan kandungan ayat. yaitu unsurunsur I’jaz. Hal ini dirasa terlalu “mengikat” generasi berikutnya. metode muqarin dan metode maudlu’i. Kelemahan lain dari metode ini adalah bahwa bahasan-bahasannya amat teoritis. Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum muslimin secara merata. yang ia sebut sebagai metode tajzi'i. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. menjelaskan arti yang dikehendaki. dalil syar’i. balaghah. dan keindahan susunan kalimat. metode ini.

Corak Penafsiran Ilmiah: akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka muncul usaha-usaha penafsiran Al-Qur'an sejalan dengan perkembangan ilmu yang terjadi. kecenderungan sufisme dari mufassir itu sendiri sehingga tafsir yang dihasilkan akan mempunyai berbagai corak. atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu. maka ia akan melihat banyak dibandingkan apa yang kita lihat. [sunting] Macam Tafsir Al-Qur'an Setiap penafsir akan menghasilkan corak tafsir yang berbeda tergantung dari latar belakang ilmu pengetahuan. ” Di antara berbagai corak itu antara lain adalah : • • • • • Corak Sastra Bahasa: munculnya corak ini diakibatkan banyaknya orang nonArab yang memeluk Islam serta akibat kelemahan orang-orang Arab sendiri di bidang sastra sehingga dirasakan perlu untuk menjelaskan kepada mereka tentang keistimewaan dan kedalaman arti kandungan Al-Qur'an di bidang ini. yang bersama-sama membahas topik atau judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya. kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan. keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya. setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. mahzab fiqih. Corak Fikih: akibat perkembangan ilmu fiqih dan terbentuknya madzhabmahzab fikih maka masing-masing golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran-penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum. Corak Filsafat dan Teologi : corak ini muncul karena adanya penerjemahan kitab-kitab filsafat yang memengaruhi beberapa pihak serta masuknya penganut agama-agama lain ke dalam Islam yang pada akhirnya menimbulkan pendapat yang dikemukakan dalam tafsir mereka.[sunting] Metode Muqarin Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat. atau ayat dengan hadits. Corak Tasawuf : akibat munculnya gerakan-gerakan sufi maka muncul pula . dan tidak mustahil jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya. [sunting] Metode Maudhu’i (Tematik) Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Qur'an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mempunyai tujuan satu. Abdullah Darraz mengatakan dalam an-Naba’ al-Azhim sebagai berikut: “ Ayat-ayat Al-Qur'an bagaikan intan. aliran kalam.

19 Agustus 2009 14:24 Opini Oleh Bahrul Ulum Sebagian orang berpendapat bahwa penafsiran ulama terdahulu terhadap Al Qur’an sudah tidak sesuai dengan konteks dan kondisi sekarang. Pada perkembangan terbaru mulai diadopsi metode-metode baru guna memenuhi tujuan tersebut. menurut mereka. Perkembangan ini merupakan suatu keharusan agar Al Qur'an dapat bermakna bagi umat Islam. tetapi bathil (menyesatkan). ajaran Nabi Isa rusak karena penafsiran Paulus yang seenaknya terhadap Injil. “Alhukmu yataghoiyaru bi taghoiyuril amkinati wal azminati (Hukum itu berubah berdasarkan perubahan tempat dan jaman). perlu ada penafsiran ulang terhadap ayat-ayat Al Qur’an agar sesuai dengan konteks kekinian. metode tafsir para ulama Salaf (Ahlussunnah) mereka anggap usang dan tidak kontemporer karena hanya membuat banyak pesan ayat Al Qur’an terpasung oleh penafsiran tekstual. kaidah ushul fiqih yang berbunyi. Memahami Metode Tafsir Yang Benar Rabu. Dengan mengambil beberapa metode dalam ilmu filsafat yang digunakan untuk membaca teks Al-Qur'an maka dihasilkanlah cara-cara baru dalam memaknai AlQur'an. Para ulama membikin metode penafsiran semata-mata untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. kaum Muslimin harus membebaskan diri dari metode penafsiran para ulama klasik. Bahkan mereka menilai metode penafsiran itu sengaja dibikin oleh para ulama agar kaum Muslimin tergantung kepada mereka. Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan: corak ini dimulai pada masa Syaikh Muhammad Abduh yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Sebagaimana kita ketahui. Dasar mereka.• • tafsir-tafsir yang dilakukan oleh para sufi yang bercorak tasawuf. Dengan demikian. Di antara metode-metode tersebut yang cukup populer antara lain adalah Metode Tafsir Hermeneutika dan Metode Tafsir Semiotika. Misalkan ia membuat tafsiran bahwa orang-orang Kristen yang bukan berasal dari latar belakang Yahudi tidak diwajibkan mengikuti tradisi dan pantangan Yahudi seperti sunat dan memakan makanan yang diharamkan. Mereka juga terlalu su’udhan (berburuk sangka) kepada para ulama yang susah payah mengkaji dan mengajarkan agama ini kepada ummat. Sementara konteks peradaban menuntut adanya berbagai penyesuaian signifikan. Ia yang tidak pernah berguru kepada Nabi Isa telah melakukan penafsiran yang berbeda dengan para murid Nabi Isa. walau terhadap ayat-ayat muhkamat sekalipun. Pendapat di atas sepintas lalu terkesan benar. Mereka tidak ingin ajaran Islam yang luhur dan suci itu bernasib sama dengan ajaran-ajaran Nabi terdahulu seperti Yahudi dan Kristen.” Berdasar kaidah ini mereka berpendapat bahwa upaya tafsir ulang. dianggap sebagai dinamisasi ayat-ayat Al Qur’an dan prestasi akal yang brilyan. Karenanya. usaha-usaha untuk menanggulangi masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat. [sunting] Perkembangan Ilmu tafsir Al Qur'an terus mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman. . Karenanya. dengan mengemukakan petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti dan enak didengar.

dan lain-lain. bila semua sandaran di atas juga tidak ditemukan. ''Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan kuinjak. yaitu ajaran yang meyakini bahwa dzat Allah dengan Yesus (Nabi Isa) menyatu. Mereka tidak berani menafsirkan Al Qur’an dengan akal murni. misalnya dari tim pencatat wahyu yang memang diakui Nabi SAW sebagai hablul ummah (penyambung ummat) yaitu Abdullah bin Abbas (Tafsir Ibn Abbas). tetap sebuah kesalahan! Sebab itu. aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu.'' (QS 3:187)." (2 Korintus 12:16). walaupun tafsirnya mungkin benar. maka kita melacaknya dari perkataan para tabi'in. Ibnu Taimiyah. Mujahid. Demikian juga dalam menafsiri Injil Yohanes 10:30 yang berbunyi “(Kata Isa Al-Masih) Aku dan Bapa adalah satu”. Para ulama membikin metode penafsiran itu juga semata-mata untuk menjaga tradisi yang telah dipegang teguh oleh para sahabat Rasulullah yang sangat hati-hati dalam menafsirkan isi Al Qur’an. lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. dan janganlah kamu menyembunyikannya'. Tafsir yang tercela adalah tafsir yang berdasarkan pada pandangan akal semata atau periwayatan yang tidak jujur. maka harus dicari sunnah (hadits) Nabi SAW karena ia merupakan penjelasan terhadap makna Al Qur’an sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT: ''Dan ingatlah. Para sahabat adalah orang yang mengetahui betul teks dan konteks ayat diturunkan. Abu Bakar Ash-Shiddieq berkata. Metode Tafsir Salafus Shalih Berdasar alasan tersebut kemudian para ulama salafus shalih membikin metode tafsir demi menjaga kemurnian ajaran Islam dari tangan-tangan jahil yang tidak berilmu sebagaimana Paulus. Hanafi. bila tidak juga ditemukan sunnah yang menerangkan ayat tersebut. tetapi dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya. mereka menetapkan manhaj (metode) menafsirkan Al Qur’an demi menghindari kesalahan tersebut. mewanti-wanti kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam penfasiran yang tercela. Jadi menafsirkan Al Qur’an secara bahasa (leksikal) itu merupakan tingkat penafsiran terendah. dll. Kedua. Mereka juga generasi pertama penghafal Al Qur’an yang tsubut (percaya). “Baiklah. Penafsiran Paulus yang berbeda itu karena minimnya pemahaman terhadap ajaran Nabi Isa. Karenanya ia menolak mentah-mentah penafsiran Al Qur’an berdasarkan periwayatan lemah atau dusta yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Ayat ini oleh Paulus ditafsiri secara harfiah sehingga lahirlah ajaran Trinitas. seperti Hasan Basri. ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): 'Hendaklah kamu (Muhammad) menerangkan isi kitab itu kepada manusia. maka baru ayat tersebut ditafsirkan secara lughah (bahasa). Mengingkari peranan para sahabat sama saja memotong mata rantai tafsir Al Qur'an. Ia menafsiri Injil hanya berdasar pada tipu daya syaitan. metode tafsir yang berlaku berarti tafsir birra’yi (dengan akal semata). METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN . Syaikhul Islam. Kelima. Hanbali. Ibnu Qatadah. Ketiga. bila tidak ada perkataan sahabat mengenai tafsir sebuah ayat. Terakhir. seperti Syafi'i. Mereka adalah para pengikut sahabat yang setia sehingga kepercayaannya terjamin dan pantas diikuti oleh generasi kemudian. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. juga sahabat yang lain seperti Abdullah bin Mas'ud dan lain-lain. untuk menafsirkan sebuah ayat harus terlebih dulu dicari tafsirnya dengan ayat yang lain. para ulama Salaf sepakat bahwa jika menafsirkan Al Qur’an hanya dengan akal.Padahal ajaran Nabi Isa yang benar yaitu sunat hukumnya wajib dan adanya larangan memakan makanan haram. baru dicarikan pendapat para imam. Di luar di atas. maka langkah selanjutnya dicarikan perkataan dari sahabat. andaikata aku menafsirkan Al Qur’an dengan akalku?'' Artinya. Maliki. Metode tersebut meliputi: Pertama. setelah perkataan generasi tabi'in pun tidak ada. Keempat. Cara penafsiran ini disebut juga tafsir ayat bil ayat dan merupakan metode tertinggi tafsir Al Qur’an. bila tidak ada ayat yang menafsirkan ayat tersebut. Tentu saja penafsiran ini ditentang oleh para murid Yesus sehingga mereka meninggalkannya.

ataupun intuisi. merupakan suatu proses penafsiran Al-Qur’an yang menggunakan data riwayat dari Nabi SAW. Menurutnya tafsir riwayat adalah model tafsir yang . nyatanya kitab-kitab tafsir yang selama ini diklaim sebagai tafsir yang menggunakan metode riwayat.[9] Sedangkan Corak adalah : Paham atau macam. Pengertian metode riwayat. misalnya. Nabi Muhammad SAW.Sebelum berbicara tentang metode penafsiran al-Qur’an. paling tidak ada dua bentuk penafsiran yang dipakai (diterapkan) oleh ulama’ yaitu al-ma’tsur (riwayat) dan al-ra’y (pemikiran). a. dan atau dengan corak? Metode adalah : Cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud[6]. Dalam Ensiklopedi Indonesia Metoda adalah : cara melakukan sesuatu ata cara mencapai pengetahuan[7] Bentuk adalah : Sistem. riwayat merupakan sumber penting di dalam pemahaman teks Al-Qur’an. Media untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman teks-teks atas nash al-Qur’an dapat berupa. AlZarqani. Para ulama sendiri tidak ada kesepahaman tentang batasan metode tafsir riwayat. susunan. Model metode tafsir ini adalah menjelaskan suatu ayat sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dan atau para sahabat. muncul istilah “metode tafsir riwayat”.[11] Ulama lain.[12] Sedang Al-Shabuni memberikan pengertian lain tentang tafsir riwayat. dan lainlain. Sepanjang sejarah penafsiran Al-Qur’an. seperti Al-Dzahabi. Tafsir ini sampai sekarang masih terpakai dan dapat di jumpai dalam kitab-kitab tafsir seumpama tafsir al-Thabari. Sunnah Nabi. Tapi.[10] Dalam hal ini corak penafsiran adalah sekitar hubungan tafsir al-Qur’an dengan kecenderungan yang dimiliki mufasir yang bersangkutan.[8] Dalam hal ini berarti berbicara menganai hubungan tafsir al-Qur’an dengan media atau alat yang digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an. Tafsir ibn Katsir. dalam sejarah hermeneutik Al-Qur’an klasik. Bentuk Riwayat (Al-Ma’tsur) Penafsiran yang berbentuk riwayat atau apa yang sering disebut dengan “tafsir bi alma’tsur” adalah bentuk penafsiran yang paling tua dalam sejarah kehadiran tafsir dalam khazanah intelektual Islam. Dalam konteks ini. seperti Tafsir Al-Thabari. dan atau sahabat. Dalam tradisi studi Al-Qur’an klasik. membatasi dengan mendefinisikan sebagai tafsir yang diberikan oleh ayat Al-Qur’an. dan para sahabat. Sebab. Apakah ada perbedaan antara metode dengan bentuk. 1) Bentuk Penafsiran Yang dimaksud dengan bentuk penafsiran disini ialah naw’ (macam atau jenis) penafsiran. nash (al-Qur’an dan al-Hadits). sebagai variabel penting dalam proses penafsiran Al-Qur’an. memuat penafsiran mereka. akal. pendekatan. diyakini sebagai penafsir pertama terhadap Al-Qur’an. terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang pengertian metode itu sendiri. meskipun mereka tidak menerima tafsir secara langsung ari Nabi Muhammad SAW. memasukkan tafsir tabi’in dalam kerangka tafsir riwayat.

menurut mereka tidak dianggap sebagai hujjah. menafsirkan Al-Qur’an memang bisa dilakukan dengan menafsirkan antarayat. Jadi. metode riwayat di sini bisa didefinisikan sebagai metode penafsiran yang data materialnya “mengacu pada hasil penafsiran Nabi Muhammad SAW.[14] Dari segi material. dan peradaban Islam semakin maju dan berkembang. tetapi proses metodologisnya itu bukan bersumber dari penafsiran yang dilakukan Nabi. Sebaliknya. model metode riwayat dalam pengertian yang terakhir ini tentu statis. keduannya sepakat membolehkan penafsiran Al-Qur’an dengan sunnah Rasul serta kaedah-kaedah yang mu. Namun secara metodologis bila kita menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat lain dan atau dengan hadits. karena hanya tergantung pada data riwayat penafsiran Nabi. tentu semua itu sepenuhnya merupakan hasil intelektualisasi penafsir. Sebagai salah satu metode. Melihat berkembang pesatnya tafsir bi al-ra’y. Masingmasing golongan berusaha menyakinkan pengikutnya dalam mengembangkan paham mereka. Maksudnya kedua belah pihak sama-sama mencela penafsiran berdasarkan ra’y (pemikiran) semata tanpa mengindahkan kaedah-kaedah dan kriteria yang berlaku. Ulamat Syi’ah berpandangan bahwa tafsir riwayat adalah tafsir yang dinukil dari Nabi dan para Imam Ahl-bayt. dan atau perkataan sahabat. Hal-hal yang dikutib dari para sahabat dan tabi’in. Meskipun tafsir bi al-ra’y berkembang dengan pesat. terlepas dari keragaman definisi yang selama ini diberikan para ulama ilmu tafsir tentang tafsir riwayat di atas.[16] Dengan demikian jelas bahwa secara garis besar perkembangan tafsir sejak dulu sampai . Bentuk Pemikiran (Al-Ra’y) Setelah berakhir masa salaf sekitar abad ke-3 H. ternyata kedua pendapat yang bertentangan itu hanya bersifat lafzhi (redaksional). Dan juga harus diketahui bahwa tidak setiap ayat mempunyai asbab al-nuzul. maka tepat apa yang dikatakan Manna’ alQaththan bahwa tafsir bi al-ra’y mengalahkan perkembangan tafsir bi al-ma’tsur. tentu ini secara metodologis tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai metode tafsir riwayat. ayat dengan hadits Nabi. Ketika inilah berkembangnya bentuk penafsiran al-ra’y (tafsir melalui pemikiran atau ijtihad).bersumber dari Al-Qur’an. mereka mencari ayat-ayat Al-Qur’an dan HaditsHadits Nabi. namun dalam penerimaannya para ulama terbagi menadi dua : ada yang membolehkan ada pula yang melarangnya. lalu mereka tafsirkan sesuai dengan keyakinan yang mereka anut. maka lahirlah berbagai mazhab dan aliran di kalangan umat.tabarah (diakui sah secara bersama). meskipun data materialnya dari ayat dan atau hadits Nabi dalam menafsirkan AlQur’an. Sunnah dan atau perkataan sahabat.[15] b. yang ditarik dari riwayat pernyataan Nabi dan atau dalam bentuk asbab al-nuzul sebagai satu-satunya sember data otoritatif”. Tapi setelah diteliti.[13] Definisi ini nampaknya lebih terfokus pada material tafsir dan bukan pada metodenya. Oleh karena itu. Untuk mencapai maksud itu.

muqaran (perbandingan). tahliliy (analistis). yaitu bi al-ma’tsur (melalui riwayat) dan bi al-ra’y (melalui pemikiran atau ijtihad). sebagaimana pandangan Al-Farmawi. maka akan ditemukan bahwa dalam garis besarnya penafsiran Al-Qur’an ini dilakukan dalam empat cara (metode). Di samping itu penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa AL-Qur’an sehingga pendengar dan pembacanya seakan-akan masih tetap mendengar Al-Qur’an padahal yang didengarnya itu tafsirnya. namun uraian di dalam Metode Analitis lebih rinci daripada di dalam .[20] Pengertian tersebut menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara ringkas tapi mencakup dengan bahasa yang populer. Metode tafsir yang dimaksud di sini adalah suatu perangkat dan tata kerja yang digunakan dalam proses penafsiran Al-Qur’an. dan mawdhu’iy (tematik). Perangkat kerja ini. Ø Ciri-ciri Metode Ijmali Dalam metode ijmali seorang mufasir langsung menafsirkan Al-Qur’an dari awal sampai akhir tanpa perbandingan dan penetapan judul. yaitu : [19] (a) Metode Ijmali (Global) Ø Pengertian Yang dimaksud dengan metode al-Tafsir al-Ijmali (global) ialah suatu metoda tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna global.-Qur’an sesuai kemampuan manusia. serta Taj al-Tafasir karangan Muhammad ‘Utsman al-Mirghani. secara teoritik menyangkut dua aspek penting yaitu : pertama. [17] Jika ditelusuri perkembangan tafsir Al-Qur’an sejak dulu sampai sekarang.sekarang adalah melalui dua bentuk tersebut di atas. dan Tafsir al-Jalalain. yaitu : ijmaliy (global). Kedua.[18] Untuk lebih jelasnya di bawah ini diuraikan keempat metode tafsir tersebut secara rinci. aspek konteks di dalam teks yang mempresentasikan ruang-ruang sosial dan budaya yang beragam di mana teks itu muncul. Pola serupa ini tak jauh berbeda dengan metode alalitis. 2) Metode Penafsiran Yang dimaksud dengan metodologi penafsiran ialah ilmu yang membahas tentang cara yang teratur dan terpikir baik untuk mendapatkan pemahaman yang benar dari ayat-ayat A. Sistematika penulisannya menurut susunan ayat-ayat di dalam mushhaf. aspek teks dengan problem semiotik dan semantiknya. al-Tafsir al-Wasith terbitan Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyat. mudah dimengerti dan enak dibaca. [21] Kitab tafsir yang tergolong dalam metode ijmali (global) antara lain : Kitab Tafsir AlQur’an al-Karim karangan Muhammad Farid Wajdi.

sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. misalnya : kata-kata al-muttaqin (orang-orang bertakwa) dalam ayat 1 surat al-Baqarah dijabarkan ayat-ayat sesudahnya (ayat-ayat 3-5) yang menyatakan : ‫ﺍﻟﺬﻳﻦﻳﺆﻣﻨﻮﻥﺑﺎﺍﻟﻐﻴﺐﻭﻳﻘﻴﻤﻮﻥﺍﻟﺼﻠﻮﺓﻭﻣﻤﺎﺭﺯﻗﻨﺎﻫﻢﻳﻨﻔﻘﻮﻥﻭﺍﻟﺬﻳﻦﻳﺆﻣﻨﻮﻥﺑﻤﺎﺃﻧﺰﻝ‬ ‫ﺇﻟﻴﻚﻭﻣﺎﺃﻧﺰﻝﻣﻦﻗﺒﻠﻚﻭﺑﺎﻷﺧﺮﺓﻫﻢﻳﻮﻗﻨﻮﻥﺃﻭﻟﺌﻚﻋﻠﻰﻫﺪﯼﻣﻦﺭﺑﻬﻢﻭﺃﻭﻟﺌﻚ‬ ‫ﻫﻢﺍﻟﻤﻔﻠﺤﻮﻥ‬ “Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib. Al-Tafsir bi al-Ra’yi. dan Al-Tafsir al-Adabi al-Ijtima’i. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akherat. Sebagai contoh penafsiran metode tahliliy yang menggunakan bentuk Al-Tafsir bi alMa’tsur (Penafsiran ayat dengan ayat lain). At-Tafsir al-Ilmi. dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. Al-Tafsir al-Shufi. tapi tidak sampai pada wilayah tafsir analitis.” Ø Ciri-ciri Metode Tahlili . namun pada ayat-ayat tertentu diberikan juga penafsiran yang agak luas. (b) Metode Tahliliy (Analisis) Ø Pengertian Yang dimaksud dengan Metode Tahliliy (Analisis) ialah menafsirkan ayat-ayat AlQur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya. yaitu : [22] Al-Tafsir bi al-Ma’tsur.metode global sehingga mufasir lebih banyak dapat mengemukakan pendapat dan ideidenya. dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka. mendirikan salat. dan mereka orang-orang yang beruntung. Itulah sebabnya kitab-kitab Tafsir Ijmali seperti disebutkan di atas tidak memberikan penafsiran secara rinci. Al-Tafsir alFiqhi. tidak ada ruang bagi mufasir untuk mengemukakan pendapat serupa itu. tapi ringkas dan umum sehingga seakan-akan kita masih membaca Al-Qur’an padahal yang dibaca tersebut adalah tafsirnya. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya. dapat dikemukakan bahwa paling tidak ada tujuh bentuk tafsir. Kalau kita lihat dari bentuk tinjauan dan kandungan informasi yang terdapat dalam tafsir tahliliy yang jumlah sangat banyak. Sebaliknya di dalam metode global.

310 H) dan terkenal dengan Tafsir al-Thabari. karangan al-Fakhr al-Razi (w. karangan al-Baghawi (w. karangan Ibn Jarir al-Thabari (w. dan lain-lain (c) Metode Muqarin (Komparatif) Ø Pengertian Pengertian metode muqarin (komparatif) dapat dirangkum sebagai berikut : a. 691 H) Ø Al-Kasysyaf. Al-Qur’an ditafsirkan ayat demi ayat dan surat demi surat secara berurutan. Diantara kitab tahlili yang mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) adalah : Ø Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al-Qur’an al-Karim.Pola penafsiran yang diterapkan para penafsir yang menggunakan metode tahlili terlihat jelas bahwa mereka berusaha menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara komprehenshif dan menyeluruh. karangan Thanthawi Jauhari. karangan al-Zamakhsyari (w. 606 H) Ø Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an. antara lain : Ø Tafsir al-Khazin. karangan al-Suyuthi (w. Ø Tafsir al-Manar. Dalam penafsiran tersebut. 911 H) Adapun tafsir tahlili yang mengambil bentuk ra’y banyak sekali. karangan al-Syirazi (w. karangan Ibn Katsir. 516 H) Ø Tafsir al-Qur’an al-Azhim. 1935 M). Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih. dan atau memiliki redaksi yang berbeda . Ø Ma’alim al-Tanzil. maupun al-ra’y. Penafsiran yang mengikuti metode ini dapat mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) atau ra’y (pemikiran). karangan al-Baydhawi (w. 606 H) Ø Al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib.Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur. dan Ø Al. karangan Muhammad Rasyid Ridha (w. 741 H) Ø Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. 538 H) Ø Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an. karangan al-Khazin (w. serta tak ketinggalan menerangkan asbab al-nuzul dari ayat-ayat yang ditafsirkan. baik yang berbentuk al-ma’tsur. sebagaimana.

atau kalam. seperti ar-Razi dan telaah lainnya. karya tafsir seorang mufassir sangat diwarnai oleh latar belakang ilmu yang dikuasainya. dalil hukum yang ditunjukkan. Membandingkan berbagai pendapat ulama’ tafsir dalam menafsirkan Al-Qur’an. Oleh karena itu. • • • • Home Makalah Info Video Mengenal Metode Tafsir Birra'yi Berdasarkan etimologi. peranan akal sangat dominan. Membandingkan ayat Al-Qur’an dengan Hadits Nabi SAW. seseorang dapat saja ahli dalam bidang fiqh. Ra’yi dalam terminologi tafsir adalah Ijtihad. telaah keistimewaan bahasa.bagi satu kasus yang sama. Al-farmawi mendefinisikan tafsir birra’yi sebagai penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad setelah mufassir yang bersangkutan mengetahui metode yang digunakan orang-orang arab ketika berbicara dan ia pun mengetahui kosakata Arab beserta muatan artinya. telaah madzhab-madzhab kalam dan filsafat. b. atau qira’ah. dan Ijtihad. Di antara mereka. Di antara sebab yang memicu kemunculan corak tafsir birra’yi adalah semakin majunya ilmu-ilmu keislaman yang diwarnai dengan kemunculan ragam disiplin ilmu. Apalagi kalau kita menilik bahwa salah satu sumber penafsiran pada masa sahabat adalah ijtihad. Ra’yi berarti keyakinan (I'tiqad). dalam tafsir birra’yi. serta problema penafsiran seperti asbab an-nuzul. yang pada lahirnya terlihat bertentangan. ada yang lebih menekankan telaah balaghah seperti az-Zamakhsyari. .” Dengan demikian. c. seperti as-Su’ud. Hal tersebut dapat dipahami sebab disamping sebagai seorang mufassir. dan sebagainya. astronomi. walaupun sebelum itu ra’yu dalam pengertian akal sudah digunakan para sahabat ketika menafsirkan al-Qur’an. ialah: ‫وليس منلله الفهللم الللذى‬-‫التفسير بالرأى هو ما يعتمد فيه المفسر فى بيان المعنى على فهمه الخاص واستنباطه بالرأي المجرد‬ ‫يتفق مع روح الشريعة‬ “Tafsir Birra’yi ialah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istinbath) yang didasarkan pada ra’yu semata yakni bukan pemahaman yang sesuai dengan ruh syari’ah. Sedangkan menurut terminologi sebagaimana didefinisikan oleh Manna Qathan. karyakarya para ulama. telaah hukum-hukum syara’ seperti al-Qurthubi. dan pakar-pakar di bidangnya masingmasing. berbagai metode penafsiran. nasakh-mansukh. Akibatnya. Kemunculan tafsir birra’yi dipicu pula oleh hasil interaksi ummat Islam dengan peradaban Yunani yang banyak menggunakan akal. bahasa filsafat. kedokteran. seperti an-Naisaburi dan anNasafi. tafsir birra’yi sebagaimana didefinisikan Husen Adz-dzahabi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufassir yang telah mengetahui bahasa arab dan metodenya. Sebab Munculnya Tafsir Birra’yi Tafsir birra’yi muncul sebagai corak penafsiran setelah tafsir bilma’tsur muncul.

keluasan penjelasan tafdsirannya. atau sistem penjelasan tafsiran-tafsirannya. adalah cara menafsirkan Al-Qur’an yang didasarkan atas perpaduan antara sunber tafsir riwayah kuat dan shahih dengan sumber hasil ijtihad pikiran yang sehat.Tafsir al-manar : syaikh muhammad abduh dan syaikh rasyid ridla (W 1354 H/1935 M) -Al-Jawahiru fi tafsiri Al-Qur’an : Thanthawi al jauhari (W 1358 H) . yaitu cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang didsrkan atas sumber ijtihad dan pemikiran mufasir terhadap tuntutan kaidah bahasaarab dan kesusastraannya. HA dengan menambah satu dimensi lagi yaitu dari segi sumbernya. ada 3 macam. H. baik didasarkan atas pemakain sumber-sumber penafsirannya. dari riwayat sahabat dan tabi’in.1977:290-291). Ibrohim Syarif adalah suatu cara atau alat untuk merealisasaikan tujuan aliran-aliran tafsir (Ibrohim Syarif).Tafsir berdasarkan metodologi Selama ini sering terjadi kerancuan pemakaian istilah”manhaj”/metode dengan “naz’ah/ittijah” (kecenderungan /aliran). Ibnu jarir atThobari (wafat 310 H) Al-Kasyfu wa al bayan fi tafsiri Al-Qur’an : Ahmad Ibnu ibrohim (427 H) Ma’alimu Al Tanzil : imam al-Husain Ibnu Mas’ud al Baghawi (516 H) b. dari AlHadits. Di antaranya : . Dr. metode bil iqtironi (perpadun antara bi al-manqul dan bi al-ma’qul). maupun didasarkan atas sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan. (1) bi al-ma’tsur dan (2) bi al-ro’yi (Subhi as-Shalih. yyaitu : a. Metode tafsir secara klasik dapat dibedakan jadi dua macam. Metode menurut Dr.metode tafsir bi al-Ra’yi / bi al-dirayah bi al-ma’qul. metode tafsir bi al-ma’tsur / bi al-Riwayah / bi al-Manqul. 1982 : 68) Yang dimaksud dengan metode Al-Quran ialah cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Di antaranya : -mafatihu al ghaib : fahruddin ar-rozi (wafat 606 H) -Anwaru al tanzil wa haqaiqu al-ta’wil : Imam al-Baidhawi (692 H) c. Berbeda dengan dengan pembagian Prof. tata cara penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang didasarkan atas sumber penafsirn Al-Qur’an. Abdul Jalil. diantaranya : jami’al Bayan fi tafsiri Al-Qur’an . Metode tafsir ditinjau dari segi sumber penafsirannya. tiori ilmu pengetahuan setelah dia menguasai sumber-sumber tadi. Metode dalam bahasa arab disebut dengan “al-manhaj” atau “at-thariqat al-tanawih”.

yaitu penafsiran dengan cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an hanya secara global saja yakni tidak mendlam dan tidak secara panjang lebar. -Tafsir Al Maraghi : Ahmad Musthafa Al Maraghi (W 137 H/ 1952 M). yaitu membandingkan ayat dengan ayat yang b. b. ma’alimu al tanzil : imam al-husain ibnu mas’ud al baghawi (516 H) berbiscara dalam masalah yang sama.Qur’an : imam Qurthubi (wafat 671 ) Metode tafsir bila ditinjau dari segi keluasan penjelasan tafsirannya. metode tafsir muqarin / komparasi. maka metode metode penafsiran ada 3 macam yaitu: a. Al Jami’ li Ahkam AL. yaitu menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan cara urut dan tertib sesuai dengan uraian ayat-ayat dan surat-surat dalam mushaf. yaitu penafsiran dengan cara-cara menafsirkan ayat-ayat AlQur’an secara mendetail / rinci. dengan uraian-uraian yang panjang lebar. metode tafsir iuthnabi. Yaitu suatu penafsiran dengan cara mengumpulkan ayat-ayat mengenai satu judul / topik tertentu. Farid Wajdi Tafsir Wasith : Majma’ al bukhutsil islamiyah. Metode tafsir maudhu’iy. -Tazfsir fi Dhilalil Qur’an : Sayyid Qutub (W 1966 M). -Tafsir Al Manar :Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridha (W 14H). dengan memeperhatikan masa turunnya dan asbabunnuzul ayat. sehimngga cukup jelas dan terang yang banyak disenangi oleh para orang cerdik pandai. serta mempelajari ayat-ayat tersebut secara . metode bayani / metode deskripsi. Metode tafsir tahlily. maka ada 2 macam : a.Metode tafsir ditinjau dari segi cara penjelasannya terhadap ayat-ayat Al. b. Tafsir Al-Qur’an al Karim : M. ayat dengan hadits (isi dan matan). Metode tafsir ijmaly. yaitu penafsiran dengan cara menafsirkan ayatayat Al-Qur’an hanya dengan memberikan keterangan secara deskripsi tanpa membandingkan riwayat/pendapat dan tanpa menilai (tarjih) antar sumber.-Qur’an. Metode tafsir ditinjau dari segi sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan. antara pendapoat mufasir dengan mufasir lain dengan menonjolkan segi-segi perbedaan. maka metode tafsir ada 2 macam : a. sehingga bagi orang awm akan lebih mudah untuk memahaminya. dari awal surat al fatihah hingga akhir surat an Naas.

cermat dan mendalam. -Ar Riba Fi AL Qur’an Al Karim : Abu Ala Al Maududi -Al Mahdatu Al Mankhiyah : Dr. H. Quraish Syihab. Dr. dengan memperhatikan hubungan ayatayat yang satu dengan ayat yang lainnya didalam menunjuk suatu masalah. . Metode tafsir Nuzuly : yaitu menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan cara urut dan tertib sesuai dengan urutan turunnya ayat al Qur’an Al Tafsir AL BayaniLi al Qur’an al Karim Binti Asy Syathi’. kemudian mentimpulkan masalah yamg dibahas dari dailalah ayat-ayat yang ditafsirkan secara terpadu. Abdullah Syahhatah. c. Tafsir al Qur’an al Karim karya Prof. Suratu ar Rahman wa suearu qishar karya Syauqi Dhaif. MA. Muh Hijazi -Ayat Al Kauniyah : Dr. -Al Mar’atu fi Al qur’an al Karim :Abbas Al Aqqad.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->