Metode Tafsir dalam Islam

Oleh: Nadirsyah Hosen

Secara umum ada dua metode tafsir dalam Islam. Pertama, tafsir bir riwayah dan kedua tafsir bir ra'yi. Kita akan bahas satu persatu. 1. Tafsir bir riwayah Maksudnya adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur'an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur'an dan riwayat hadis. Isi tafsir dengan metode ini penuh dengan riwayat hadis dan jarang sekali pengarang tafsir tsb menaruh pemikirannya. Tafsir at-Thabari misalnya dianggap mewakili corak penafsiran model ini. Yang paling baik dari tafsir jenis ini adalah mufassir yang menggunakan ayat qur'an untuk menafsirkan ayat Qur'an yang lain. Atau dalam ungkapan bahasa arab disebut "AlQur'an yufassiruhu ba'dhuhu ba'dhan" (al-Qur'an itu menafsirkan sebagian ayatnya dengan sebagian ayat yang lain). Dari model tafsir bir riwayat dikelompokkan lagi dua macam bentuk penafsirannya: a. tafsir at-tahlili, artinya mufassir (ahli tafsir) memulai kitab tafsirnya dari al-Fatihah sampai surat an-nas. Ia uraikan tafsirnya menurut urutan surat dalam al-Qur'an. Semua kitab tafsir klasik mengikuti model ini. b. Tafsir maudhu'i (tematis), artinya mufassir tidak memulai dari surat pertama sampai surat ke-114, melainkan memilih satu tema dalam al-Qur'an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat Qur'an yang berkaitan dengan tema tersebut baru kemudian ditafsirkan untuk menjelaskan makna tema tersebut. Ambil contoh, kita ingin tahu apa makna Islam dalam al-Qur'an. Maka kita himpun semua ayat yang berisikan kata Islam (dan segala derivasinya) lalu kita tafsirkan. Jadi, tafsir model ini bersifat tematis. Konon metode seperti ini dimulai oleh Muhammad al-Biqa'i. Dari kalangan Syi'ah yang menganjurkan metode model ini adalah Muhammad Baqir as-Shadr. Pak Quraish Shihab adalah ahli tafsir Indonesia yang pertama kali memperkenalkan metode ini dalam tulisantulisannya di tanah air. Bukunya Wawasan al-Qur'an berisikan tema-tema penting dalam al-Qur'an yg dibahas dengan metode maudhu'i ini. 2. Tafsir bir ra'yi. Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dengan tafsir bir riwayah. Ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra'yu) dalam memahami kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadis namun porsinya lebih pada akal. Contoh tafsir model ini adalah Tafsir al-kasysyaf karya Zamakhsyari dari kalangan Mu'tazilah, tafsir Fakh ar-Razi, Tafsir al-Manar. de el el

Di dalamnya terdapat .. Makna ini tampak sesuai dengan Surat Al Furqan ayat 33: “wa laa ya`tuunaka bimatsalin illaa ji`naaka bil haqqi wa ahsana tafsiiran” Menurut pengertian terminologi. Urgensi Tafsir Al-Qur'an dalam Islam Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dalam bahasa Arab dengan segala macam kekayaan bahasanya. Tafsir berasal dari kata al-fusru yang mempunyai arti al-ibanah wa al-kasyf (menjelaskan dan menyingkap sesuatu). tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat utk membedah ayat Qur'an) b. dipandang dari sudut manapun tetap memancarkan cahaya.. Lalu yang mana metode tafsir yang terbaik? Kitab tafsir mana yang paling baik? Syeikh Abdullah Darraz berkata:"Al-Qur'an itu bagaikan intan berlian. Lebih menekankan aspek sastra dari ayat al-Qur'an. Begitupula tafsir al-Manar. Tafsir model maudhu'i (tematis) juga tak bisa secara kaku dianggap sebagai tafsir bir riwayah semata. menyimpulkan hikmah dan hukumhukumnya.. Kalau saja anda berikan kesempatan pada rekan anda untuk melihat kandungan ayat Qur'an boleh jadi ia akan melihat lebih banyak dari yang anda lihat. Tafsir sastra." Jadi? Tak usah khawatir mana yang terbaik.Kalau mau dipilah lagi maka tafsir model ini bisa dibagi kedalam: a. Alhamdulillah karya Bintusy Syathi ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Seperti tafsir-nya Bintusy Syathi setelah saya simak ternyata penuh dengan kandungan ayat Qur'an untuk memahami ayat lain. menjelaskan makna-maknanya. Sebagai catatan. pada sebagian ayatnya terlihat keliberalan penulisnya tapi pada bagian ayat lain justru terlihat kekakuan penulisnya.Semua metode tafsir bertujuan menyingkap cahaya al-Qur'an. tafsir bil 'ilmi (seperti menafsirkan fenemona alam dengan kemudian merujuk ayat Qur'an) b. untuk kajian modern sekarang. sesungguhnya penggolongan secara kaku dan ketat tafsir bir riwayah dan bir ra'yi itu tak lagi relevan. seperti dinukil oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dari Al-Imam Az-Zarkasyi ialah ilmu untuk memahami kitab Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Model tafsir ini pada masa sekarang dikembangkan oleh Aisyah Abdurrahman (dia perempuan lho) atau terkenal dengan nama Bintusy Syathi.

Atah ibn Abi Muslim al-Khurasani dan Marah al-Hamdani. Zaid bin Tsabit. Allah SWT tidak menjamin perincian-perincian dalam masalah-masalah itu sehingga banyak lafal AlQur’an yang membutuhkan tafsir. Namun. Untuk itulah diperlukan penjelasan yang berupa tafsir Al-Qur'an. Tafsir yang berasal dari para sahabat ini dinilai mempunyai nilai tersendiri menurut jumhur ulama karena disandarkan pada Rasulullah SAW terutama pada masalah azbabun nuzul. Ketika datang masa kodifikasi hadits. Al-Qur'an itu sendiri karena kadang-kadang satu hal yang dijelaskan secara global di satu tempat dijelaskan secara lebih terperinci di ayat lain. Abu Musa al-Asy’ari. menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan beramal. Ada tiga kota utama dalam pengajaran Al-Qur'an yang masing-masing melahirkan madrasah atau madzhab tersendiri yaitu Mekkah dengan madrasah Ibn Abbas dengan murid-murid antara lain Mujahid ibn Jabir. Abu al-Aliyah ar-Riyahi dan Zaid ibn Aslam dan Irak dengan madrasah Ibn Mas’ud dengan murid-murid al-Hasan al-Bashri. Ibn Abbas.penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah.innalloha ma'assobirin Sejarah Tafsir Al-Qur'an Sejarah ini diawali dengan masa Rasulullah SAW masih hidup seringkali timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat. Ibn Mas’ud. kaidah-kaidah syariat. Untuk itu mereka dapat langsung menanyakan pada Rasulullah SAW. apalagi sering digunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya. Atha ibn Abi Ribah. Ijtihad dan Pemahaman mereka sendiri karena mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat memahami makna perkataan dan mengetahui aspek kebahasaannya. Secara garis besar ada tiga sumber utama yang dirujuk oleh para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur'an : 1. Pada masa ini tafsir masih merupakan bagian dari hadits namun masing-masing madrasah meriwayatkan dari guru mereka sendiri-sendiri. asas-asas perilaku. Dalam lafazh yang sedikit saja dapat terhimpun sekian banyak makna. datanglah generasi tabi’in yang belajar Islam melalui para sahabat di wilayah masing-masing. Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al-Qur'an antara lain empat khalifah . Sesudah generasi sahabat. Qatadah ibnDi’amah. Thaus ibn Kisan al-Yamani dan Said ibn Jabir. Pada masa ini belum terdapat satupun pembukuan tafsir dan masih bercampur dengan hadits. riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri namun belum sistematis sampai . Sedangkan pada hal yang dapat dimasuki ra’yi maka statusnya terhenti pada sahabat itu sendiri selama tidak disandarkan pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW semasa masih hidup para sahabat dapat bertanya langsung pada Beliau SAW tentang makna suatu ayat yang tidak mereka pahami atau mereka berselisih paham tentangnya. Madinah dengan madrasah Ubay ibn Ka’ab dengan murid-murid Muhammad ibn Ka’ab al-Qurazhi. 3. Ikrimah Maula Ibn Abbas. Ubai bin Ka’b. 2. Abdullah bin Zubair. Masruq ibn al-Ajda.

Usaha ini dilakukan oleh para ulama sesudahnya seperti Ibn Majah. Contoh Tafsir Al Qur'an dengan Sunnah antara lain: "alladziina amanuu wa lam yalbisuu iimaanahum bizhulmin. Al-Qur'an dengan sunnah karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah.w." (Surat Al An'am: 82) Rasulullah s. Tafsir bi al-Matsur adalah tafsir yang berdasarkan pada kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan AlQur'an dengan Al-Qur'an. Abu Bakr ibn al-Munzir an-Naisaburi dan lainnya.. Mekipun begitu mereka tetap berpegangan pada Tafsir bi al-Matsur dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut.a. peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran seorang mufassir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya terus sampai kepada Nabi SAW. Ibn Jarir at-Thabari. Bentuk Tafsir Al-Qur'an Adapun bentuk-bentuk tafsir Al-Qur'an yang dihasilkan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga: [sunting] Tafsir bi al-Matsur Dinamai dengan nama ini (dari kata atsar yang berarti sunnah.. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metodologi tafsir dengan memasukan unsur ijtihad yang lebih besar. Contoh tafsir Al Qur'an dengan Al Qur'an antara lain: "wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadhu minal khaithil aswadi minal fajri... Metode pengumpulan inilah yang disebut tafsir bi al-Matsur.menafsirkan dengan mengacu pada ayat : "innasy syirka lazhulmun 'azhiim" (Surat Luqman: 13) Dengan itu Beliau menafsirkan makna zhalim dengan syirik.. Lebih lanjut perkembangan ajaran tasawuf melahirkan pula sebuah tafsir yang biasa disebut sebagai tafsir isyarah." (Surat Al Baqarah:187) Kata minal fajri adalah tafsir bagi apa yang dikehendaki dari kalimat al khaitil abyadhi.. hadits. jejak.masa sesudahnya ketika pertama kali dipisahkan antara kandungan hadits dan tafsir sehingga menjadi kitab tersendiri.. atau dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi'in karena mereka pada umumnya menerimanya dari para sahabat. Hal ini melahirkan apa yang disebut sebagai tafsir bi al-ray yang memperluas ijtihad dibandingkan masa sebelumnya. dengan perkataan sahabat karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah. ..

. Asbabun Nuzul (karya Al Wahidy) dan An Nasikh wal Mansukh (karya Abu Ja'far An Nahhas).. Tafsir At Tastary.Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih nafsu hewaniah. Contoh Tafsir bir ra'yi dalam Tafsir Jalalain: “khalaqal insaana min 'alaq” (Surat Al Alaq: 2) Kata alaq disini diberi makna dengan bentuk jamak dari lafaz alaqah yang berarti segumpal darah yang kental.. Tafsir Abu Laits As Samarkandy. Tafsir Abu Suud. Tafsir Al Khazin..Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina... hadits dan ilmu hadits. Tafsir Ibnu Araby.” tetapi dalam tafsir Isyari diberi makna dengan “.. Tafsir Al Alusy.... . Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan yang batin adalah yang isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya.. Beberapa karya tafsir Isyari yang terkenal antara lain: Tafsir An Naisabury...”. Tafsir Al Khatib. Tafsir An Nasafy. ilmu-ilmu Al-Qur'an. Tafsir Al Fakhrur Razy. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur'an inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan gaib pengetahuan yang dibawa ayat-ayat. Beberapa tafsir bir ra'yi yang terkenal antara lain: Tafsir Al Jalalain (karya Jalaluddin Muhammad Al Mahally dan disempurnakan oleh Jalaluddin Abdur Rahman As Sayuthi).. setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin.Tafsir Al Baidhawi. Tafsir Ibnu Katsir.Tafsir-tafsir bil ma'tsur yang terkenal antara lain: Tafsir Ibnu Jarir.... Tafsir Ad Dararul Ma'tsur fit Tafsiri bil Ma'tsur (karya Jalaluddin As Sayuthi). Tafsir bi ar-Rayi Seiring perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metode tafsir karena tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab. Tafsir Isyari Menurut kaum sufi.. ushul fikih dan ilmu-ilmu lain seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. Contoh bentuk penafsiran secara Isyari antara lain adalah pada ayat: '“..Innallaha ya`murukum an tadzbahuu baqarah. Tafsir Al Baghawy dan Tafsir Baqy ibn Makhlad.” (Surat Al Baqarah: 67) Yang mempunyai makna zhahir adalah “... ilmu qiraah..

Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al-Qur'an. [sunting] Metode Ijmali (Global) Metode ini adalah berusaha menafsirkan Al-Qur'an secara singkat dan global. metode ini. Menurut Muhammad Baqir ash-Shadr. balaghah. metode muqarin dan metode maudlu’i. tidak sepenuhnya mengacu kepada persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat mereka. norma-norma akhlak dan lain sebagainya. menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fiqih. tujuan utama ulama menafsirkan Al-Qur'an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukzizatan AlQur'an. dalil syar’i. Menurut Malik bin Nabi. menjelaskan arti yang dikehendaki. Hal ini dirasa terlalu “mengikat” generasi berikutnya. . Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.Metodologi Tafsir Al-Qur'an Metodologi Tafsir dibagi menjadi empat macam yaitu metode tahlili. sasaran yang dituju dan kandungan ayat. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh. yaitu unsurunsur I’jaz. [sunting] Metode Tahlili (Analitik) Metode ini adalah yang paling tua dan paling sering digunakan. dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Kelemahan lain dari metode ini adalah bahwa bahasan-bahasannya amat teoritis. yang ia sebut sebagai metode tajzi'i. arti secara bahasa. sehingga mengesankan bahwa uraian itulah yang merupakan pandangan Al-Qur'an untuk setiap waktu dan tempat. metode ijmali. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. adalah metode yang mufasir-nya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat al-Qur`an sebagaimana tercantum dalam al-Qur`an. dan keindahan susunan kalimat. Karena itu perlu pengembangan metode penafsiran karena metode ini menghasilkan gagasan yang beraneka ragam dan terpisah-pisah . Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum muslimin secara merata. sesuatu yang dirasa bukan menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini.

mahzab fiqih. [sunting] Metode Maudhu’i (Tematik) Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Qur'an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mempunyai tujuan satu. Abdullah Darraz mengatakan dalam an-Naba’ al-Azhim sebagai berikut: “ Ayat-ayat Al-Qur'an bagaikan intan. setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. Corak Fikih: akibat perkembangan ilmu fiqih dan terbentuknya madzhabmahzab fikih maka masing-masing golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran-penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum. dan tidak mustahil jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya. aliran kalam. keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya. Corak Filsafat dan Teologi : corak ini muncul karena adanya penerjemahan kitab-kitab filsafat yang memengaruhi beberapa pihak serta masuknya penganut agama-agama lain ke dalam Islam yang pada akhirnya menimbulkan pendapat yang dikemukakan dalam tafsir mereka. kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan. yang bersama-sama membahas topik atau judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya. [sunting] Macam Tafsir Al-Qur'an Setiap penafsir akan menghasilkan corak tafsir yang berbeda tergantung dari latar belakang ilmu pengetahuan. Corak Tasawuf : akibat munculnya gerakan-gerakan sufi maka muncul pula . kecenderungan sufisme dari mufassir itu sendiri sehingga tafsir yang dihasilkan akan mempunyai berbagai corak. maka ia akan melihat banyak dibandingkan apa yang kita lihat. ” Di antara berbagai corak itu antara lain adalah : • • • • • Corak Sastra Bahasa: munculnya corak ini diakibatkan banyaknya orang nonArab yang memeluk Islam serta akibat kelemahan orang-orang Arab sendiri di bidang sastra sehingga dirasakan perlu untuk menjelaskan kepada mereka tentang keistimewaan dan kedalaman arti kandungan Al-Qur'an di bidang ini. atau ayat dengan hadits. atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu.[sunting] Metode Muqarin Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat. Corak Penafsiran Ilmiah: akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka muncul usaha-usaha penafsiran Al-Qur'an sejalan dengan perkembangan ilmu yang terjadi.

Pada perkembangan terbaru mulai diadopsi metode-metode baru guna memenuhi tujuan tersebut. metode tafsir para ulama Salaf (Ahlussunnah) mereka anggap usang dan tidak kontemporer karena hanya membuat banyak pesan ayat Al Qur’an terpasung oleh penafsiran tekstual. . walau terhadap ayat-ayat muhkamat sekalipun. Pendapat di atas sepintas lalu terkesan benar. Perkembangan ini merupakan suatu keharusan agar Al Qur'an dapat bermakna bagi umat Islam. Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan: corak ini dimulai pada masa Syaikh Muhammad Abduh yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. usaha-usaha untuk menanggulangi masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat. dianggap sebagai dinamisasi ayat-ayat Al Qur’an dan prestasi akal yang brilyan. Memahami Metode Tafsir Yang Benar Rabu. Dengan mengambil beberapa metode dalam ilmu filsafat yang digunakan untuk membaca teks Al-Qur'an maka dihasilkanlah cara-cara baru dalam memaknai AlQur'an. Karenanya. Mereka tidak ingin ajaran Islam yang luhur dan suci itu bernasib sama dengan ajaran-ajaran Nabi terdahulu seperti Yahudi dan Kristen.• • tafsir-tafsir yang dilakukan oleh para sufi yang bercorak tasawuf. Dengan demikian. Mereka juga terlalu su’udhan (berburuk sangka) kepada para ulama yang susah payah mengkaji dan mengajarkan agama ini kepada ummat. Karenanya. Dasar mereka. “Alhukmu yataghoiyaru bi taghoiyuril amkinati wal azminati (Hukum itu berubah berdasarkan perubahan tempat dan jaman). [sunting] Perkembangan Ilmu tafsir Al Qur'an terus mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman. kaidah ushul fiqih yang berbunyi. 19 Agustus 2009 14:24 Opini Oleh Bahrul Ulum Sebagian orang berpendapat bahwa penafsiran ulama terdahulu terhadap Al Qur’an sudah tidak sesuai dengan konteks dan kondisi sekarang. Misalkan ia membuat tafsiran bahwa orang-orang Kristen yang bukan berasal dari latar belakang Yahudi tidak diwajibkan mengikuti tradisi dan pantangan Yahudi seperti sunat dan memakan makanan yang diharamkan. Para ulama membikin metode penafsiran semata-mata untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. ajaran Nabi Isa rusak karena penafsiran Paulus yang seenaknya terhadap Injil. tetapi bathil (menyesatkan). Sebagaimana kita ketahui. Ia yang tidak pernah berguru kepada Nabi Isa telah melakukan penafsiran yang berbeda dengan para murid Nabi Isa. Di antara metode-metode tersebut yang cukup populer antara lain adalah Metode Tafsir Hermeneutika dan Metode Tafsir Semiotika. Bahkan mereka menilai metode penafsiran itu sengaja dibikin oleh para ulama agar kaum Muslimin tergantung kepada mereka.” Berdasar kaidah ini mereka berpendapat bahwa upaya tafsir ulang. dengan mengemukakan petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti dan enak didengar. menurut mereka. perlu ada penafsiran ulang terhadap ayat-ayat Al Qur’an agar sesuai dengan konteks kekinian. Sementara konteks peradaban menuntut adanya berbagai penyesuaian signifikan. kaum Muslimin harus membebaskan diri dari metode penafsiran para ulama klasik.

ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): 'Hendaklah kamu (Muhammad) menerangkan isi kitab itu kepada manusia. Metode tersebut meliputi: Pertama. Kedua. Syaikhul Islam. maka baru ayat tersebut ditafsirkan secara lughah (bahasa). juga sahabat yang lain seperti Abdullah bin Mas'ud dan lain-lain. bila semua sandaran di atas juga tidak ditemukan. dan lain-lain. “Baiklah. yaitu ajaran yang meyakini bahwa dzat Allah dengan Yesus (Nabi Isa) menyatu. baru dicarikan pendapat para imam. Ayat ini oleh Paulus ditafsiri secara harfiah sehingga lahirlah ajaran Trinitas. Kelima. mewanti-wanti kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam penfasiran yang tercela. maka langkah selanjutnya dicarikan perkataan dari sahabat. Tafsir yang tercela adalah tafsir yang berdasarkan pada pandangan akal semata atau periwayatan yang tidak jujur. untuk menafsirkan sebuah ayat harus terlebih dulu dicari tafsirnya dengan ayat yang lain. Keempat. dan janganlah kamu menyembunyikannya'. dll. Mereka tidak berani menafsirkan Al Qur’an dengan akal murni. andaikata aku menafsirkan Al Qur’an dengan akalku?'' Artinya. Metode Tafsir Salafus Shalih Berdasar alasan tersebut kemudian para ulama salafus shalih membikin metode tafsir demi menjaga kemurnian ajaran Islam dari tangan-tangan jahil yang tidak berilmu sebagaimana Paulus. Demikian juga dalam menafsiri Injil Yohanes 10:30 yang berbunyi “(Kata Isa Al-Masih) Aku dan Bapa adalah satu”. Karenanya ia menolak mentah-mentah penafsiran Al Qur’an berdasarkan periwayatan lemah atau dusta yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Maliki. metode tafsir yang berlaku berarti tafsir birra’yi (dengan akal semata). seperti Hasan Basri. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. seperti Syafi'i.'' (QS 3:187). Hanbali. ''Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan kuinjak. Jadi menafsirkan Al Qur’an secara bahasa (leksikal) itu merupakan tingkat penafsiran terendah. Ibnu Qatadah. Tentu saja penafsiran ini ditentang oleh para murid Yesus sehingga mereka meninggalkannya. Mengingkari peranan para sahabat sama saja memotong mata rantai tafsir Al Qur'an. setelah perkataan generasi tabi'in pun tidak ada. bila tidak ada perkataan sahabat mengenai tafsir sebuah ayat. Mujahid. METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN . misalnya dari tim pencatat wahyu yang memang diakui Nabi SAW sebagai hablul ummah (penyambung ummat) yaitu Abdullah bin Abbas (Tafsir Ibn Abbas)." (2 Korintus 12:16). Hanafi. tetap sebuah kesalahan! Sebab itu.Padahal ajaran Nabi Isa yang benar yaitu sunat hukumnya wajib dan adanya larangan memakan makanan haram. Ia menafsiri Injil hanya berdasar pada tipu daya syaitan. Ketiga. Mereka adalah para pengikut sahabat yang setia sehingga kepercayaannya terjamin dan pantas diikuti oleh generasi kemudian. Ibnu Taimiyah. aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu. Di luar di atas. maka harus dicari sunnah (hadits) Nabi SAW karena ia merupakan penjelasan terhadap makna Al Qur’an sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT: ''Dan ingatlah. Penafsiran Paulus yang berbeda itu karena minimnya pemahaman terhadap ajaran Nabi Isa. Abu Bakar Ash-Shiddieq berkata. mereka menetapkan manhaj (metode) menafsirkan Al Qur’an demi menghindari kesalahan tersebut. para ulama Salaf sepakat bahwa jika menafsirkan Al Qur’an hanya dengan akal. Mereka juga generasi pertama penghafal Al Qur’an yang tsubut (percaya). bila tidak juga ditemukan sunnah yang menerangkan ayat tersebut. Para sahabat adalah orang yang mengetahui betul teks dan konteks ayat diturunkan. Para ulama membikin metode penafsiran itu juga semata-mata untuk menjaga tradisi yang telah dipegang teguh oleh para sahabat Rasulullah yang sangat hati-hati dalam menafsirkan isi Al Qur’an. tetapi dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya. maka kita melacaknya dari perkataan para tabi'in. Terakhir. lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. walaupun tafsirnya mungkin benar. bila tidak ada ayat yang menafsirkan ayat tersebut. Cara penafsiran ini disebut juga tafsir ayat bil ayat dan merupakan metode tertinggi tafsir Al Qur’an.

1) Bentuk Penafsiran Yang dimaksud dengan bentuk penafsiran disini ialah naw’ (macam atau jenis) penafsiran. Para ulama sendiri tidak ada kesepahaman tentang batasan metode tafsir riwayat. Menurutnya tafsir riwayat adalah model tafsir yang . muncul istilah “metode tafsir riwayat”. Tapi. seperti Al-Dzahabi. Sunnah Nabi. Sebab. meskipun mereka tidak menerima tafsir secara langsung ari Nabi Muhammad SAW. AlZarqani. sebagai variabel penting dalam proses penafsiran Al-Qur’an. memuat penafsiran mereka.[12] Sedang Al-Shabuni memberikan pengertian lain tentang tafsir riwayat. riwayat merupakan sumber penting di dalam pemahaman teks Al-Qur’an. membatasi dengan mendefinisikan sebagai tafsir yang diberikan oleh ayat Al-Qur’an. Apakah ada perbedaan antara metode dengan bentuk. Nabi Muhammad SAW. Dalam Ensiklopedi Indonesia Metoda adalah : cara melakukan sesuatu ata cara mencapai pengetahuan[7] Bentuk adalah : Sistem. Bentuk Riwayat (Al-Ma’tsur) Penafsiran yang berbentuk riwayat atau apa yang sering disebut dengan “tafsir bi alma’tsur” adalah bentuk penafsiran yang paling tua dalam sejarah kehadiran tafsir dalam khazanah intelektual Islam. Model metode tafsir ini adalah menjelaskan suatu ayat sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dan atau para sahabat. akal. pendekatan. Sepanjang sejarah penafsiran Al-Qur’an.[9] Sedangkan Corak adalah : Paham atau macam. Tafsir ibn Katsir. dan lainlain. merupakan suatu proses penafsiran Al-Qur’an yang menggunakan data riwayat dari Nabi SAW. Tafsir ini sampai sekarang masih terpakai dan dapat di jumpai dalam kitab-kitab tafsir seumpama tafsir al-Thabari. ataupun intuisi. Dalam konteks ini.[11] Ulama lain.[8] Dalam hal ini berarti berbicara menganai hubungan tafsir al-Qur’an dengan media atau alat yang digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an. dan atau dengan corak? Metode adalah : Cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud[6]. seperti Tafsir Al-Thabari. Dalam tradisi studi Al-Qur’an klasik. nyatanya kitab-kitab tafsir yang selama ini diklaim sebagai tafsir yang menggunakan metode riwayat.Sebelum berbicara tentang metode penafsiran al-Qur’an. memasukkan tafsir tabi’in dalam kerangka tafsir riwayat. diyakini sebagai penafsir pertama terhadap Al-Qur’an. a. Media untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman teks-teks atas nash al-Qur’an dapat berupa. nash (al-Qur’an dan al-Hadits). terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang pengertian metode itu sendiri. paling tidak ada dua bentuk penafsiran yang dipakai (diterapkan) oleh ulama’ yaitu al-ma’tsur (riwayat) dan al-ra’y (pemikiran).[10] Dalam hal ini corak penafsiran adalah sekitar hubungan tafsir al-Qur’an dengan kecenderungan yang dimiliki mufasir yang bersangkutan. Pengertian metode riwayat. misalnya. dalam sejarah hermeneutik Al-Qur’an klasik. dan atau sahabat. susunan. dan para sahabat.

[16] Dengan demikian jelas bahwa secara garis besar perkembangan tafsir sejak dulu sampai . Ketika inilah berkembangnya bentuk penafsiran al-ra’y (tafsir melalui pemikiran atau ijtihad). Dan juga harus diketahui bahwa tidak setiap ayat mempunyai asbab al-nuzul.[13] Definisi ini nampaknya lebih terfokus pada material tafsir dan bukan pada metodenya. metode riwayat di sini bisa didefinisikan sebagai metode penafsiran yang data materialnya “mengacu pada hasil penafsiran Nabi Muhammad SAW.tabarah (diakui sah secara bersama). maka lahirlah berbagai mazhab dan aliran di kalangan umat. Meskipun tafsir bi al-ra’y berkembang dengan pesat. mereka mencari ayat-ayat Al-Qur’an dan HaditsHadits Nabi. karena hanya tergantung pada data riwayat penafsiran Nabi. Sebaliknya. model metode riwayat dalam pengertian yang terakhir ini tentu statis. terlepas dari keragaman definisi yang selama ini diberikan para ulama ilmu tafsir tentang tafsir riwayat di atas. Masingmasing golongan berusaha menyakinkan pengikutnya dalam mengembangkan paham mereka. Untuk mencapai maksud itu. Namun secara metodologis bila kita menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat lain dan atau dengan hadits. namun dalam penerimaannya para ulama terbagi menadi dua : ada yang membolehkan ada pula yang melarangnya.bersumber dari Al-Qur’an. Jadi. dan atau perkataan sahabat.[15] b. Melihat berkembang pesatnya tafsir bi al-ra’y. tetapi proses metodologisnya itu bukan bersumber dari penafsiran yang dilakukan Nabi. ternyata kedua pendapat yang bertentangan itu hanya bersifat lafzhi (redaksional). tentu semua itu sepenuhnya merupakan hasil intelektualisasi penafsir. keduannya sepakat membolehkan penafsiran Al-Qur’an dengan sunnah Rasul serta kaedah-kaedah yang mu. Sunnah dan atau perkataan sahabat. ayat dengan hadits Nabi. Sebagai salah satu metode. Tapi setelah diteliti. menafsirkan Al-Qur’an memang bisa dilakukan dengan menafsirkan antarayat. menurut mereka tidak dianggap sebagai hujjah. Hal-hal yang dikutib dari para sahabat dan tabi’in. dan peradaban Islam semakin maju dan berkembang. yang ditarik dari riwayat pernyataan Nabi dan atau dalam bentuk asbab al-nuzul sebagai satu-satunya sember data otoritatif”. Maksudnya kedua belah pihak sama-sama mencela penafsiran berdasarkan ra’y (pemikiran) semata tanpa mengindahkan kaedah-kaedah dan kriteria yang berlaku. maka tepat apa yang dikatakan Manna’ alQaththan bahwa tafsir bi al-ra’y mengalahkan perkembangan tafsir bi al-ma’tsur. Bentuk Pemikiran (Al-Ra’y) Setelah berakhir masa salaf sekitar abad ke-3 H. tentu ini secara metodologis tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai metode tafsir riwayat. meskipun data materialnya dari ayat dan atau hadits Nabi dalam menafsirkan AlQur’an. Oleh karena itu. lalu mereka tafsirkan sesuai dengan keyakinan yang mereka anut.[14] Dari segi material. Ulamat Syi’ah berpandangan bahwa tafsir riwayat adalah tafsir yang dinukil dari Nabi dan para Imam Ahl-bayt.

Metode tafsir yang dimaksud di sini adalah suatu perangkat dan tata kerja yang digunakan dalam proses penafsiran Al-Qur’an. maka akan ditemukan bahwa dalam garis besarnya penafsiran Al-Qur’an ini dilakukan dalam empat cara (metode). namun uraian di dalam Metode Analitis lebih rinci daripada di dalam . serta Taj al-Tafasir karangan Muhammad ‘Utsman al-Mirghani. mudah dimengerti dan enak dibaca. yaitu : ijmaliy (global). [17] Jika ditelusuri perkembangan tafsir Al-Qur’an sejak dulu sampai sekarang. yaitu bi al-ma’tsur (melalui riwayat) dan bi al-ra’y (melalui pemikiran atau ijtihad). Sistematika penulisannya menurut susunan ayat-ayat di dalam mushhaf. [21] Kitab tafsir yang tergolong dalam metode ijmali (global) antara lain : Kitab Tafsir AlQur’an al-Karim karangan Muhammad Farid Wajdi.sekarang adalah melalui dua bentuk tersebut di atas. Di samping itu penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa AL-Qur’an sehingga pendengar dan pembacanya seakan-akan masih tetap mendengar Al-Qur’an padahal yang didengarnya itu tafsirnya. sebagaimana pandangan Al-Farmawi. al-Tafsir al-Wasith terbitan Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyat. Kedua. tahliliy (analistis). Pola serupa ini tak jauh berbeda dengan metode alalitis. Perangkat kerja ini.[18] Untuk lebih jelasnya di bawah ini diuraikan keempat metode tafsir tersebut secara rinci. secara teoritik menyangkut dua aspek penting yaitu : pertama. Ø Ciri-ciri Metode Ijmali Dalam metode ijmali seorang mufasir langsung menafsirkan Al-Qur’an dari awal sampai akhir tanpa perbandingan dan penetapan judul. 2) Metode Penafsiran Yang dimaksud dengan metodologi penafsiran ialah ilmu yang membahas tentang cara yang teratur dan terpikir baik untuk mendapatkan pemahaman yang benar dari ayat-ayat A. aspek konteks di dalam teks yang mempresentasikan ruang-ruang sosial dan budaya yang beragam di mana teks itu muncul.[20] Pengertian tersebut menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara ringkas tapi mencakup dengan bahasa yang populer. aspek teks dengan problem semiotik dan semantiknya. yaitu : [19] (a) Metode Ijmali (Global) Ø Pengertian Yang dimaksud dengan metode al-Tafsir al-Ijmali (global) ialah suatu metoda tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna global. dan mawdhu’iy (tematik).-Qur’an sesuai kemampuan manusia. dan Tafsir al-Jalalain. muqaran (perbandingan).

Kalau kita lihat dari bentuk tinjauan dan kandungan informasi yang terdapat dalam tafsir tahliliy yang jumlah sangat banyak. dapat dikemukakan bahwa paling tidak ada tujuh bentuk tafsir.” Ø Ciri-ciri Metode Tahlili . tapi tidak sampai pada wilayah tafsir analitis. mendirikan salat. dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka. yaitu : [22] Al-Tafsir bi al-Ma’tsur. Sebaliknya di dalam metode global. namun pada ayat-ayat tertentu diberikan juga penafsiran yang agak luas. dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. (b) Metode Tahliliy (Analisis) Ø Pengertian Yang dimaksud dengan Metode Tahliliy (Analisis) ialah menafsirkan ayat-ayat AlQur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya. Al-Tafsir alFiqhi. sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. dan mereka orang-orang yang beruntung. Sebagai contoh penafsiran metode tahliliy yang menggunakan bentuk Al-Tafsir bi alMa’tsur (Penafsiran ayat dengan ayat lain). tapi ringkas dan umum sehingga seakan-akan kita masih membaca Al-Qur’an padahal yang dibaca tersebut adalah tafsirnya. dan Al-Tafsir al-Adabi al-Ijtima’i. Al-Tafsir al-Shufi. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akherat. misalnya : kata-kata al-muttaqin (orang-orang bertakwa) dalam ayat 1 surat al-Baqarah dijabarkan ayat-ayat sesudahnya (ayat-ayat 3-5) yang menyatakan : ‫ﺍﻟﺬﻳﻦﻳﺆﻣﻨﻮﻥﺑﺎﺍﻟﻐﻴﺐﻭﻳﻘﻴﻤﻮﻥﺍﻟﺼﻠﻮﺓﻭﻣﻤﺎﺭﺯﻗﻨﺎﻫﻢﻳﻨﻔﻘﻮﻥﻭﺍﻟﺬﻳﻦﻳﺆﻣﻨﻮﻥﺑﻤﺎﺃﻧﺰﻝ‬ ‫ﺇﻟﻴﻚﻭﻣﺎﺃﻧﺰﻝﻣﻦﻗﺒﻠﻚﻭﺑﺎﻷﺧﺮﺓﻫﻢﻳﻮﻗﻨﻮﻥﺃﻭﻟﺌﻚﻋﻠﻰﻫﺪﯼﻣﻦﺭﺑﻬﻢﻭﺃﻭﻟﺌﻚ‬ ‫ﻫﻢﺍﻟﻤﻔﻠﺤﻮﻥ‬ “Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib. Itulah sebabnya kitab-kitab Tafsir Ijmali seperti disebutkan di atas tidak memberikan penafsiran secara rinci. At-Tafsir al-Ilmi.metode global sehingga mufasir lebih banyak dapat mengemukakan pendapat dan ideidenya. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya. Al-Tafsir bi al-Ra’yi. tidak ada ruang bagi mufasir untuk mengemukakan pendapat serupa itu.

karangan al-Baghawi (w. karangan Ibn Katsir. sebagaimana.Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur. Ø Ma’alim al-Tanzil. Ø Tafsir al-Manar. 691 H) Ø Al-Kasysyaf. Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih. dan atau memiliki redaksi yang berbeda . serta tak ketinggalan menerangkan asbab al-nuzul dari ayat-ayat yang ditafsirkan. karangan Ibn Jarir al-Thabari (w. 538 H) Ø Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an. 310 H) dan terkenal dengan Tafsir al-Thabari. karangan al-Baydhawi (w. karangan al-Fakhr al-Razi (w. baik yang berbentuk al-ma’tsur. 741 H) Ø Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. karangan Thanthawi Jauhari. 606 H) Ø Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an. Al-Qur’an ditafsirkan ayat demi ayat dan surat demi surat secara berurutan. Diantara kitab tahlili yang mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) adalah : Ø Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al-Qur’an al-Karim. 911 H) Adapun tafsir tahlili yang mengambil bentuk ra’y banyak sekali. antara lain : Ø Tafsir al-Khazin. karangan al-Syirazi (w.Pola penafsiran yang diterapkan para penafsir yang menggunakan metode tahlili terlihat jelas bahwa mereka berusaha menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara komprehenshif dan menyeluruh. karangan al-Suyuthi (w. maupun al-ra’y. 606 H) Ø Al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib. karangan Muhammad Rasyid Ridha (w. Penafsiran yang mengikuti metode ini dapat mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) atau ra’y (pemikiran). 1935 M). karangan al-Zamakhsyari (w. dan lain-lain (c) Metode Muqarin (Komparatif) Ø Pengertian Pengertian metode muqarin (komparatif) dapat dirangkum sebagai berikut : a. dan Ø Al. 516 H) Ø Tafsir al-Qur’an al-Azhim. karangan al-Khazin (w. Dalam penafsiran tersebut.

Sedangkan menurut terminologi sebagaimana didefinisikan oleh Manna Qathan. dan pakar-pakar di bidangnya masingmasing. atau kalam. • • • • Home Makalah Info Video Mengenal Metode Tafsir Birra'yi Berdasarkan etimologi. nasakh-mansukh. peranan akal sangat dominan. Al-farmawi mendefinisikan tafsir birra’yi sebagai penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad setelah mufassir yang bersangkutan mengetahui metode yang digunakan orang-orang arab ketika berbicara dan ia pun mengetahui kosakata Arab beserta muatan artinya. dan sebagainya.bagi satu kasus yang sama. Di antara mereka. ada yang lebih menekankan telaah balaghah seperti az-Zamakhsyari. b. Akibatnya. seseorang dapat saja ahli dalam bidang fiqh. berbagai metode penafsiran. walaupun sebelum itu ra’yu dalam pengertian akal sudah digunakan para sahabat ketika menafsirkan al-Qur’an. seperti as-Su’ud. astronomi. ialah: ‫وليس منلله الفهللم الللذى‬-‫التفسير بالرأى هو ما يعتمد فيه المفسر فى بيان المعنى على فهمه الخاص واستنباطه بالرأي المجرد‬ ‫يتفق مع روح الشريعة‬ “Tafsir Birra’yi ialah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istinbath) yang didasarkan pada ra’yu semata yakni bukan pemahaman yang sesuai dengan ruh syari’ah. Oleh karena itu. kedokteran. seperti ar-Razi dan telaah lainnya. karya tafsir seorang mufassir sangat diwarnai oleh latar belakang ilmu yang dikuasainya. Ra’yi berarti keyakinan (I'tiqad). Ra’yi dalam terminologi tafsir adalah Ijtihad. seperti an-Naisaburi dan anNasafi. dalam tafsir birra’yi. Membandingkan berbagai pendapat ulama’ tafsir dalam menafsirkan Al-Qur’an. . telaah hukum-hukum syara’ seperti al-Qurthubi. bahasa filsafat. serta problema penafsiran seperti asbab an-nuzul. Hal tersebut dapat dipahami sebab disamping sebagai seorang mufassir. Sebab Munculnya Tafsir Birra’yi Tafsir birra’yi muncul sebagai corak penafsiran setelah tafsir bilma’tsur muncul. dan Ijtihad. Kemunculan tafsir birra’yi dipicu pula oleh hasil interaksi ummat Islam dengan peradaban Yunani yang banyak menggunakan akal. Apalagi kalau kita menilik bahwa salah satu sumber penafsiran pada masa sahabat adalah ijtihad. c. Di antara sebab yang memicu kemunculan corak tafsir birra’yi adalah semakin majunya ilmu-ilmu keislaman yang diwarnai dengan kemunculan ragam disiplin ilmu.” Dengan demikian. yang pada lahirnya terlihat bertentangan. dalil hukum yang ditunjukkan. karyakarya para ulama. tafsir birra’yi sebagaimana didefinisikan Husen Adz-dzahabi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufassir yang telah mengetahui bahasa arab dan metodenya. telaah keistimewaan bahasa. telaah madzhab-madzhab kalam dan filsafat. atau qira’ah. Membandingkan ayat Al-Qur’an dengan Hadits Nabi SAW.

diantaranya : jami’al Bayan fi tafsiri Al-Qur’an .Tafsir al-manar : syaikh muhammad abduh dan syaikh rasyid ridla (W 1354 H/1935 M) -Al-Jawahiru fi tafsiri Al-Qur’an : Thanthawi al jauhari (W 1358 H) . Metode menurut Dr. Dr. HA dengan menambah satu dimensi lagi yaitu dari segi sumbernya.1977:290-291). ada 3 macam. Ibnu jarir atThobari (wafat 310 H) Al-Kasyfu wa al bayan fi tafsiri Al-Qur’an : Ahmad Ibnu ibrohim (427 H) Ma’alimu Al Tanzil : imam al-Husain Ibnu Mas’ud al Baghawi (516 H) b. Ibrohim Syarif adalah suatu cara atau alat untuk merealisasaikan tujuan aliran-aliran tafsir (Ibrohim Syarif). metode bil iqtironi (perpadun antara bi al-manqul dan bi al-ma’qul). Metode dalam bahasa arab disebut dengan “al-manhaj” atau “at-thariqat al-tanawih”. tata cara penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang didasarkan atas sumber penafsirn Al-Qur’an. Di antaranya : -mafatihu al ghaib : fahruddin ar-rozi (wafat 606 H) -Anwaru al tanzil wa haqaiqu al-ta’wil : Imam al-Baidhawi (692 H) c. atau sistem penjelasan tafsiran-tafsirannya. (1) bi al-ma’tsur dan (2) bi al-ro’yi (Subhi as-Shalih. baik didasarkan atas pemakain sumber-sumber penafsirannya. keluasan penjelasan tafdsirannya. Metode tafsir secara klasik dapat dibedakan jadi dua macam. tiori ilmu pengetahuan setelah dia menguasai sumber-sumber tadi. Berbeda dengan dengan pembagian Prof.metode tafsir bi al-Ra’yi / bi al-dirayah bi al-ma’qul. metode tafsir bi al-ma’tsur / bi al-Riwayah / bi al-Manqul. 1982 : 68) Yang dimaksud dengan metode Al-Quran ialah cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. adalah cara menafsirkan Al-Qur’an yang didasarkan atas perpaduan antara sunber tafsir riwayah kuat dan shahih dengan sumber hasil ijtihad pikiran yang sehat. yaitu cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang didsrkan atas sumber ijtihad dan pemikiran mufasir terhadap tuntutan kaidah bahasaarab dan kesusastraannya.Tafsir berdasarkan metodologi Selama ini sering terjadi kerancuan pemakaian istilah”manhaj”/metode dengan “naz’ah/ittijah” (kecenderungan /aliran). dari AlHadits. Metode tafsir ditinjau dari segi sumber penafsirannya. Abdul Jalil. dari riwayat sahabat dan tabi’in. H. maupun didasarkan atas sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan. Di antaranya : . yyaitu : a.

sehimngga cukup jelas dan terang yang banyak disenangi oleh para orang cerdik pandai. ma’alimu al tanzil : imam al-husain ibnu mas’ud al baghawi (516 H) berbiscara dalam masalah yang sama.Qur’an : imam Qurthubi (wafat 671 ) Metode tafsir bila ditinjau dari segi keluasan penjelasan tafsirannya. yaitu menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan cara urut dan tertib sesuai dengan uraian ayat-ayat dan surat-surat dalam mushaf. maka ada 2 macam : a. -Tafsir Al Manar :Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridha (W 14H). maka metode tafsir ada 2 macam : a.Metode tafsir ditinjau dari segi cara penjelasannya terhadap ayat-ayat Al. b. Tafsir Al-Qur’an al Karim : M. Metode tafsir tahlily. Metode tafsir ijmaly. metode tafsir muqarin / komparasi. antara pendapoat mufasir dengan mufasir lain dengan menonjolkan segi-segi perbedaan. dengan memeperhatikan masa turunnya dan asbabunnuzul ayat. -Tazfsir fi Dhilalil Qur’an : Sayyid Qutub (W 1966 M). yaitu penafsiran dengan cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an hanya secara global saja yakni tidak mendlam dan tidak secara panjang lebar. Metode tafsir ditinjau dari segi sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan. ayat dengan hadits (isi dan matan). yaitu penafsiran dengan cara menafsirkan ayatayat Al-Qur’an hanya dengan memberikan keterangan secara deskripsi tanpa membandingkan riwayat/pendapat dan tanpa menilai (tarjih) antar sumber. dari awal surat al fatihah hingga akhir surat an Naas. b. Al Jami’ li Ahkam AL. yaitu penafsiran dengan cara-cara menafsirkan ayat-ayat AlQur’an secara mendetail / rinci. Farid Wajdi Tafsir Wasith : Majma’ al bukhutsil islamiyah. -Tafsir Al Maraghi : Ahmad Musthafa Al Maraghi (W 137 H/ 1952 M).-Qur’an. metode bayani / metode deskripsi. Yaitu suatu penafsiran dengan cara mengumpulkan ayat-ayat mengenai satu judul / topik tertentu. maka metode metode penafsiran ada 3 macam yaitu: a. yaitu membandingkan ayat dengan ayat yang b. dengan uraian-uraian yang panjang lebar. Metode tafsir maudhu’iy. serta mempelajari ayat-ayat tersebut secara . metode tafsir iuthnabi. sehingga bagi orang awm akan lebih mudah untuk memahaminya.

cermat dan mendalam. H. -Ar Riba Fi AL Qur’an Al Karim : Abu Ala Al Maududi -Al Mahdatu Al Mankhiyah : Dr. Dr. . MA. c. Tafsir al Qur’an al Karim karya Prof. Muh Hijazi -Ayat Al Kauniyah : Dr. Abdullah Syahhatah. Suratu ar Rahman wa suearu qishar karya Syauqi Dhaif. Metode tafsir Nuzuly : yaitu menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan cara urut dan tertib sesuai dengan urutan turunnya ayat al Qur’an Al Tafsir AL BayaniLi al Qur’an al Karim Binti Asy Syathi’. -Al Mar’atu fi Al qur’an al Karim :Abbas Al Aqqad. Quraish Syihab. dengan memperhatikan hubungan ayatayat yang satu dengan ayat yang lainnya didalam menunjuk suatu masalah. kemudian mentimpulkan masalah yamg dibahas dari dailalah ayat-ayat yang ditafsirkan secara terpadu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful