INFORMED CONSENT Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no 29 th 2004 Pasal 45 serta Manual Persetujuan

Tindakan Kedokteran KKI tahun 2008. maka Informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Menurut Lampiran SKB IDI No. 319/P/BA./88 dan Permenkes no 585/Men.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis Pasal 4 ayat 2 menyebutkan dalam memberikan informasi kepada pasien / keluarganya, kehadiran seorang perawat / paramedik lainnya sebagai saksi adalah penting. Persetujuan yang ditanda tangani oleh pasien atau keluarga terdekatnya tersebut, tidak membebaskan dokter dari tuntutan jika dokter melakukan kelalaian. Tindakan medis yang dilakukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga terdekatnya, dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351. Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan kedokteran dilaksanakan adalah: 1. Diagnosa yang telah ditegakkan. 2. Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan. 3. Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut. 4. Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan kedokteran tersebut. 5. Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif cara pengobatan yang lain. 6. Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut. Resiko resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan persetujuan tindakan kedokteran : a. Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut. b. Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran, dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan ( Pasal 11 Ayat 1 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008 ). Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 merupakan dasar daripada persetujuan ( Ayat 2 ). Pengecualian terhadap keharusan pemberian informasi sebelum dimintakan persetujuan tindakan kedokteran adalah: 1. Dalam keadaan gawat darurat ( emergensi ), dimana dokter harus segera bertindak untuk menyelamatkan jiwa. 2. Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi situasi dirinya. Ini tercantum dalam PerMenKes no 290/Menkes/Per/III/2008. Tujuan Informed Consent: a. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya. b. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif, karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko ( Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 Pasal 3 ) Tindakan medis yang dilakukan tanpa izin pasien, dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351 ( trespass, battery, bodily assault ). Menurut Pasal 5 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008, persetujuan tindakan kedokteran dapat

Sumber: Buku Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di Indonesia PERNYATAAN IDI TENTANG INFORMED CONSENT 1. Untuk tindakan yang bukan bedah ( operasi ) dan tindakan invasif. Informasi harus diberikan secara jujur dan benar. 6. Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3. Dalam memberikan informasi kepada keluarga terdekat pasien. kehadiran seorang perawat / paramedik lain sebagai saksi adalah penting. Dalam hal ini dokter dapat memberikan informasi itu kepada keluarga terdekat. walaupun untuk kepentingan pasien itu sendiri. Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan ( Ayat 2 ). Dalam hal ini dokter dapat memberikan informasi yang benar itu kepada keluarga terdekat pasien. 7. Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien. hanya dibutuhkan persetujuan lisan atau sikap diam. sebelum dimulainya tindakan ( Ayat 1 ). Untuk yang dibawah umur dan tidak mempunyai orangtua / wali. "Informed Consent" diberikan oleh pasien dewasa yang berada dalam keadaan sehat rohaniah. Manusia dewasa dan sehat rohaniah berhak sepenuhnya menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya. terapeutik maupun paliatif. Menahan informasi tidak boleh.dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan. serta tidak didampingi oleh yang tersebut dalam butir . "Informed Consent" diberikan oleh orangtua / kurator / wali. Dalam hal pasien tidak sadar / pingsan. "Informed Consent" diberikan oleh keluarga terdekat / induk semang ( guardian ). informasi dapat diberikan oleh perawat atau dokter lain. informasi harus diberikan oleh dokter yang bersangkutan sendiri. 9. Informasi biasanya diberikan secara lisan. baik diminta oleh pasien maupun tidak. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan. sepengetahuan atau dengan petunjuk dokter yang merawat. Perluasan yang tidak dapat diduga sebelum tindakan dilakukan. 8. baik diagnostik. 4. 11. 10. setelah sebelumnya pasien itu memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta risiko yang berkaitan dengannya ( "Informed Consent" ). terkecuali bila dokter menilai bahwa hal ini dapat merugikan kepentingan pasien. Oleh karena itu. Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan kemauan pasien. tetapi dapat pula secara tertulis ( berkaitan dengan informasi "Informed Consent" ). Perluasan operasi yang dapat diduga sebelum tindakan dilakukan. tidak boleh dilakukan tanpa informasi sebelumnya kepada keluarga yang terdekat atau yang menunggu. mengharuskan adanya persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh pasien. 5. Untuk orang dewasa yang berada dibawah pengampuan. semua tindakan medis ( diagnostik. Dalam hal tindakan bedah ( operasi ) dan tindakan invasif lainnya. terapeutik maupun paliatif ) memerlukan "Informed Consent" secara lisan maupun tertulis. boleh dilaksanakan tanpa informasi sebelumnya bila perluasan operasi tersebut perlu untuk menyelamatkan nyawa pasien pada waktu itu. Setiap tindakan medis yang mengandung risiko cukup besar. kecuali bila dokter menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien.

Persetujuan tersebut disebut dengan Informed Consent. faktor genetik. adalah karena tindakan medik hasilnya penuh ketidakpastian. Tidak berupaya menekan ( Force ). Para pihak cakap untuk membuat perikatan. dll. tidak dapat diperhitungkan secara matematik. Dalam pemberian persetujuan berdasarkan informasi untuk tindakan medis di RS / Klinik. . untuk tindakan yang lebih kompleks biasanya dokter akan memberikan penjelasan terlebih dahulu untuk mendapatkan kesediaan dari pasien. Ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan dalam menyusun dan memberikan Informed Consent agar hukum perikatan ini tidak cacat hukum. 3.10. Akan tetapi./88 ASPEK HUKUM INFORMED CONSENT Pada dasarnya dalam praktik sehari hari. Sumber: Lampiran SKB IDI No. Ikhwal diperlukannya izin pasien. 2. pikiran pasien mudah terpengaruh. misalnya kesediaan untuk dilakukan suntikan. respon individual. diantaranya adalah: 1. yang dibenarkan. kualitas obat. Dari syarat pertama yaitu adanya kesepakatan antara kedua pihak ( antara petugas kesehatan dan pasien ). agar pasien bisa mengerti dan memahami isi pembicaraan. kekeliruan dan penipuan. Informed Consent hakikatnya adalah hukum perikatan. demikian pula dari pihak pasien harus memperoleh diagnosis dan terapi yang akan dilakukan. diharapkan dokter tidak memberikan informasi yang dapat mempengaruhi keputusan pasien. bebas dari paksaan. tidak diperlukan "Informed Consent" dari siapapun dan ini menjadi tanggung jawab dokter. yang memerlukan tindakan medis segera untuk kepentingan pasien.319/P/BA. pasien yang datang untuk berobat ke tempat praktik dianggap telah memberikan persetujuannya untuk dilakukan tindakan tindakan rutin seperti pemeriksaan fisik. Atas dasar itulah maka persetujuan pasien bagi setiap tindakan medik mutlak diperlukan. atau bahkan tindakan medik tertentu selalu diikuti oleh akibat yang tidak menyenangkan. Tidak menciptakan ketakutan ( Fear ). karena dalam keadaan tersebut. ketentuan perdata akan berlaku dan ini sangat berhubungan dengan tanggung jawab profesional menyangkut perjanjian perawatan dan perjanjian terapeutik. 2. Risiko baik maupun buruk yang menanggung adalah pasien. dan yang dinyatakan secara medis berada dalam keadaan gawat dan / atau darurat. Mengingat pasien biasanya datang dalam keadaan yang tidak sehat. kepatuhan pasien dalam mengikuti prosedur dan nasihat dokter. dan tidak dilarang oleh peraturan perundang undangan serta merupakan sebab yang masuk akal untuk dipenuhi. Dari pihak petugas harus mendapat informasi keluhan pasien sejujurnya. stadium penyakit. Tidak bersifat memperdaya ( Fraud ). kecuali pasien dalam kondisi emergensi. Adanya kesepakatan antar pihak. Selain itu dokter juga harus dapat menyesuaikan diri dengan tingkat pendidikan pasien. daya tahan tubuh pasien. Aspek perdata Informed Consent bila dikaitkan dengan Hukum Perikatan yang di dalam KUH Perdata BW Pasal 1320 memuat 4 syarat sahnya suatu perjanjjian yaitu: 1. Adanya suatu sebab yang halal. maka berarti harus ada informasi keluhan pasien yang cukup dari kedua belah pihak tersebut. seperti virulensi penyakit. 3. Selain itu tindakan medik mengandung risiko. 12. maka RS / Klinik yang bersangkutan ikut bertanggung jawab. karena dipengaruhi faktor faktor lain diluar kekuasaan dokter.

Dengan demikian dia akan dapat membuat keputusan yang berdasarkan pemahaman yang baik mengenai suatu intervensi medik. pasien atau klien harus mempunyai kesempatan untuk bertanya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai suatu pengobatan atau tindakan. intisari dari pendekatan secara hukum. Keputusan yang dia ambil bisa berupa persetujuan maupun penolakan akan intervensi tersebut. Informed consent baru dianggap sah kalau diberikan oleh seorang pasien/klien yang kompeten dan diberikan secara sukarela2 INFORMED CONSENT. dan 6. 2. ilmu hukum. Sifat dan manfaat dari pengobatan atau tindakan yang direncanakan. Risiko dan manfaat yang dihadapi apabila suatu pengobatan atau tindakan tidak dilakukan. dokter sebagai orang yang memberi terapi atau melakukan tindakan mediklah yang harus menjelaskan dan mendiskusikan bersama pasien hal-hal di bawah ini. Kedua disiplin ilmu ini. HUKUM. Visi legal ini lebih berfokus pada kompensasi finansial daripada pada pemberian informasi dan izin yang diberikan pasien secara umum. yang mempunyai kewajiban dan mempunyai risiko membayar ganti rugi . Belakangan ini. Informed consent adalah suatu proses komunikasi antara pasien dan dokter yang menghasilkan pemberian izin oleh pasien untuk menjalankan suatu intervensi medik tertentu1. informed consent berakar pada banyak disiplin ilmu pengetahuan. Pasien mempunyai hak untuk memberi izin atau menolak. Risiko dan manfaat dari pengobatan atau tindakan yang direncanakan. 5. keduanya dengan metoda dan objektifnya tersendiri. tidak pada riset. 3. bidang ilmu yang sangat berpengaruh dalam hal informed consent adalah ilmu hukum dan ilmu filsafat moral atau filsafat etika. ilmu perilaku sosial. kalau sudah diketahui. Walaupun pendekatan kedua bidang ilmu ini terhadap informed consent rumit dan kontroversial. Aswin W. DAN ETIKA3 Dalam sejarahnya. dan pendekatan secara etika mudah dimengerti. informed consent terutama menyangkut pilihan secara otonomi dari pasien dan subyek penelitian. Sastrowardoyo SpOG Informed consent adalah lebih daripada hanya sekedar mendapatkan tanda tangan seorang pasien pada suatu formulir persetujuan. Sebaliknya. Secara sederhana kita bisa menyingkat kedua pendekatan ini sebagai berikut: Pendekatan hukum datang dari teori pragmatis. dan ilmu filsafat moral/etika. Hal-hal yang harus dibicarakan1: 1. mempunyai fungsi sosial dan intelektual yang berbeda. dokter mempunyai kewajiban untuk pertama memberi informasi kepada pasiennya dan kedua untuk mendapatkan izinnya. Dari segi filsafat etika. Dalam kacamata hukum. Pilihan pengobatan atau tindakan yang lain yang tersedia (tanpa melihat biayanya maupun apakah termasuk di dalam pembiayaan yang dicakup oleh asuransi). Hukum memfokuskan diri terutama pada konteks klinis. Dalam proses komunikasi ini. Proses komunikasi ini tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Diagnosis pada pasien. Apabila seorang pasien cedera akibat dokter lalai dengan tidak memberikan informasi yang lengkap mengenai suatu pengobatan atau tindakan.INFORMED CONSENT Dr. akan tetapi fokusnya adalah pada dokter. maka pasien dapat menerima kompensasi finansial dari si dokter karena telah menyebabkan cedera tersebut. termasuk dalam ilmu kesehatan/kedokteran. Risiko dan manfaat dari pilihan pengobatan atau tindakan lain yang tersedia. 4.

Menghargai Otonomi (Voluntas aegroti suprema lex). dan juga untuk mengambil langkah positip mencegah dan menghilangkan kecederaan dari pasien3. kebaikan. suatu istilah yang diperkenalkan filosof Inggris. Kemaslahatan (beneficence) 4. benefit bagi pasien. dan tanpa pengaruh-pengaruh yang bisa menghilangkan kebebasannya3. INFORMED CONSENT DAN ETIKA3. Selain itu. dianggap bahwa keputusan yang dibuat setelah mendapatkan penjelasan itu dibuat secara sukarela dan berdasarkan pemikiran rasional.4. kedua kerangka berfikir ini sangatlah sederhana. Terdapat banyak sekali beda pendapat mengenai hal ini.4 Pemikiran etika mendasari diri pada prinsip.4. . Keadilan (justice) Keempat prinsip ini bersifat “prima facie”. Harga diri (dignity) 6. Adalah kewajiban petugas kesehatan untuk memberikan kemaslahatan. yang berarti: Suatu prinsip adalah memikat. selain 4 prinsip ini. Kemaslahatan (Salus aegroti suprema lex). kegunaan. Kebenaran dan kejujuran (truthfulness and honesty) Penjelasan keenam hal di atas: 1. Tidak menyebabkan yang buruk (non-maleficence / primum non nocere). Dalam bahasa sehari-hari: Akan dianggap lalai apabila seseorang memaparkan risiko atau cedera yang tidak layak (unreasonable) kepada orang lain. 3. baik manfaat maupun kekurangannya.4. Ada empat prinsip etika di dalam informed consent.: 1. dokter menghargai otonomi pasien berarti bahwa si pasien/klien mempunyai kemampuan untuk berlaku atau bertindak secara sadar dan intensional. Keadilan. 2 dan ad. 3: adalah kewajiban dokter untuk memberi penjelasan mengenai pengobatan atau tindakan. Dalam semua proses pengambilan keputusan. W. dan hak. Ross. Apabila terdapat konflik. dan fokusnya adalah pada pasien atau subyek. Standar perawatan yang meminimalkan risiko cedera atau perburukan merupakan hal yang diinginkan masyarakat secara common sense3. Di dalam informed consent. Selanjutnya dibahas mengenai dasar-dasar etika dalam informed consent. aturan. yang mempunyai hak untuk membuat pilihan secara otonomi. Pendekatan filsafat moral/etika datang dari prinsip menghargai otonomi. Respek/menghargai terhadap otonomi (respect for autonomy) 2. Di dalam prinsip ini. akan tetapi ternyata sulit untuk diinterpretasikan dan diperbandingkan. penjelasan bagi pasien harus diberikan sampai dengan pengobatan yang mungkin saja tidak terjangkau atau tidak dilindungi pihak asuransinya3. dengan pengertian penuh.4. sering juga ditambahkan5: 5. Di dalam dunia kedokteran. baik akibat tindakan (commission) atau tidak dilakukannya tindakan (omission). doktertidak boleh secara sengaja menyebabkan perburukan atau cedera pada pasien. Tidak menyebabkan yang buruk (non-maleficence) 3. kecuali apabila prinsip tersebut mempunyai konflik dengan prinsip lain. 4. 2.D.apabila tidak melaksanakan kewajibannya. Dengan demikian. Dalam hal informed consent untuk ad. kita harus memilih di antara keduanya. Keadilan di dalam pelayanan dan riset kesehatan digambarkan sebagai kesamaan hak bagi pasien-pasien dengan kondisi yang sama.

kurangnya pendidikan dan pemahaman masalah kesehatan. Membantu klien mengenali kebutuhannya dan membuat pilihan yang sesuai dengan kondisinya. keuntungan. dan dokter mempunyai hak atas harga dirinya5. petugas kesehatan termasuk bidan sungkan baik untuk membagikan informasi maupun membuat keputusan bersama dengan klien. Sebagai seorang bidan dalam memberikan inform choise kepada klien harus:     Memperlakukan klien dengan baik. tetapi untuk sebagian besar masih sulit karena berbagai alasan. Di negara manapun ada hambatan dalam memberdayakan wanita mengenai pelaksanaan informed choice ini. pengertian informed choice adalah membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang alternatif asuhan yang akan dialaminya. manfaat. dan kemungkinan hasil dari tiap pilihannya. Ini bertentangan dengan aspek hukum dan untuk sikap profesionalisme yang wajib dan bersusah payah untuk menjelaskan kepada klien semua kemungkinan pilihan tindakan dan hasil yang diharapkan dari setiap pilihannya. Kebenaran dan kejujuran adalah suatu keharusan di dalam hubungan dokter pasien / subyek. misalnya alasan social ekonomi. kesulitan bahasa dan pemahaman system kesehatan yang tersedia. Dari riwayat yang sudah lama berlangsung. Menurut kode etik internasional bidan yang dinyatakan oleh ICM tahun 1993 bahwa bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab terhadap hasil dari pilihannya. Informed consent diberikan oleh pasien / subyek berdasarkan informasi yang benar dan jujur5. mudah dimengerti dan diingat serta tidak berlebihan. 6. tentang pemahaman resiko.5. Kebenaran dan Kejujuran. Definisi informasi dalam konteks ini adalah meliputi: informasi yang lengkap sudah diberikan dan dipahami ibu. Harga Diri. Pasien. tujuannya adalah untuk mendorong wanita memilih asuhannya. Wanita dengan pendidikan tinggi dapat membuat pilihan karena banyak membaca atau mempunyai bekal untuk membuat keputusan. Hak dan keinginan wanita harus dihormati. Berinteraksi dengan nyaman Memberikan informasi obyektif. misalnya sangat kurang informasi yang diperoleh ketika wanita mulai hamil dan ada prasangka bahwa wanita sendiri enggan menggambil tanggung jawab untuk membuat keputusan yang sulit dalam kehamilan maupun persalinan. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan menunjukan bahwa wanita ingin membuat pilihan kalau diberikan informasi yang cukup dan justru para bidan yang enggan memberikan informasi yang lengkap agar wanita dapat membuat keputusan. .

2. 2. Bidan harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam berbagai aspek agar dapat membuat keputusan klinisdan secara teoritis agar dapat memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan kliennya. Dengan memfokuskan asuhan yang berpusat pada wanita dan berdasarkan fakta. karena berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedur yang akan dilakukan bidan. Rekomendasi yang Dianjurkan untuk Bidan 1. karena itu berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedur yang dilakukan oleh bidan. ada lebih dari satu pilihan dan klien mengerti perbedaannya sehinggga dia dapat menentukan mana yang disukai atau sesuai dengan kebutuhannya. diharapkan bahwa konflik dapat ditekan serendah mungkin. 3. Peran bidan tidak hanya membuat asuhan dalam manajemen asuhan kebidanan tetapi juga menjamin bahwa hak wanita untuk memilih asuhan dan keinginannya terpenuhi. bermitra dengan wanita dari system asuhan dan suatu tekanan positif terhadap perubahan. C. . 5. begitu juga tatap muka langsung. Informed choice berarti membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang alternatif asuhan yang akan dialaminya. Tujuannya adalah untuk mendorong wanita memilih asuhannya. Persetujuan penting dari sudut pandang bidan. Memberikan jaminan bahwa para petugas kesehatan sudah memberikan asuhan yang terbaik dan memastikan bahwa wanita itu sudah diberikan informasi yang lengkap tentang implikasi dari keputusan mereka dan mereka telah memenuhi tanggung jawab moral mereka. Hal ini sejalan dengan kode etik internasional bidan yang dinyatakan oleh ICM 1993. Bidan wajib memberikan informasi secara rinci dan jujur dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh si wanita dengan menggunakan media alternative dan penterjemah kalau perlu.B. 4. yang memberikan gambaran pemahaman masalah yang sesungguhnya dan merupakan aspek otonomi pribadi menentukan pilihannya sendiri. Pilihan atau choice penting dari sudut pandang klien sebagai penerima jasa asuhan kebidanan. Choice berarti ada alternatif lain. Bidan dan petugas kesehatan lain perlu belajar untuk membantu wanita melatih diri dalam menggunakan haknya dan menerima tanggung jawab untuk keputusan yang mereka ambil sendiri. Tidak perlu takut akan konflik tetapi menganggapnya sebagai suatu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang objektif. pilihan (choice) harus dibedakan dari persetujuan (concent). Persetujuan atau consent penting dari sudut pandang bidan. Ini tidak hanya dapat diterima secara etika tetapi juga melegakan para profesional kesehatan. Sedangkan pilihan (choice) lebih penting dari sudut pandang wanita (pasien)sebagai konsumen penerima jasa asuhan kebidanan. informed choice dan informed consent dan contoh kasus INC 1. bahwa bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab untuk hasil dari pilihannya. Perbedaan Pilihan (choice) dengan Persetujuan (consent) 1.

misalnya pemotongan tali pusat 16) Cara memberikan minuman bayi 17) Metode pengontrolan kesuburan 2. Informed concent bukan hal yang baru dalam bidang pelayanan kesehatan. Informed concent adalah suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapatkan informasi. yaitu informed (telah mendapat penjelasan/keterangan/informasi) dan concent (memberikan persetujuan/mengizinkan. yang urutannya adalah sebagai berikut : 1) Informed concent 2) Negosiasi 3) Persuasi 4) Komite etik Informed concent merupakan butir yang paling penting. Informed concent telah diakui sebagai langkah yang paling penting untuk mencegah terjadinya konflik dalam masalah etik. bermitra dengan wanita dari sistem asuhan dan suatu tekanan positif. bentuk pemeriksaan antenatal dan pemeriksaan laboratorium/screaning antenatal 2) Tempat bersalin (rumah. polindes. Menurut Veronika Komalawati pengertian informed concent adalah suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah pasien mendapatkan informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi Dalam PERMENES no 585 tahun 1989 (pasal 1) Informed concent diatfsirkan sebagai persetujuan tindakan medis adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang dilakukan terhadap pasien tersebut. atau RS) dan kelas perawatan di RS 3) Masuk kamar bersalin pada tahap awal persalinan 4) Pendampingan waktu bersalin 5) Clisma dan cukur daerah pubis 6) Metode monitor denyut jantung janin 7) Percepatan persalinan 8) Diet selama proses persalinan 9) Mobilisasi selama proses persalinan 10) Pemakaian obat pengurang rasa sakit 11) Pemecahan ketuban secara rutin 12) Posisi ketika bersalin 13) Episiotomi 14) Penolong persalinan 15) Keterlibatan suami waktu bersalin. kalau informed concent gagal. diharapkan bahwa konflik dapat ditekan serendah mungkin 5) Tidak perlu takut akan konflik tapi menganggapnya sebagai suatu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang objektif.Rekomendasi 1) Bidan harus terusmeningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam berbagai aspek agar dapat membuat keputusan klinis dan secara teoritis agar dapat memberikan pelayanan yang aman dan dapat memuaskan kliennya 2) Bidan wajib memberikan informasi secara rinci dan jujur dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh wanita dengan menggunakan media laternatif dan penerjemah. Informed concent berasal dari dua kata. RB. Bentuk pilihan (choice) yang ada dalam asuhan kebidanan Ada beberapa jenis pelayanan kebidanan yang dapat dipilih oleh pasien antara lain : 1) Gaya. maka butir selanjutnya perlu dipergunakan secara berurutan sesuasi dengan kebutuhan. RSB. kalau perlu dalam bentuk tatap muka secara langsung 3) Bidan dan petugas kesehatan lainnya perlu belajar untuk membantu wanita melatih diri dalam menggunakan haknya dan menerima tanggung jawab untuk keputusan yang mereka ambil sendiri 4) Dengan berfokus pada asuhan yang berpusat pada wanita dan berdasarkan fakta. Langkah-langkah pencegahan masalah etik Dalam pencegahan konflik etik dikenal ada 4. Informed concent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien/walinya yang berhak terhadap .

Hal ini sesuai dengan hak pasien untuk menentukan diri sendiri. apabila diperlukan apakah sanksi tersebut perlu menandatangani formulir yang ada. kesadaran. dan keluarganya belum . Timbul apabila pasien atau ibu tidak mampu secara hukum untuk menyatakan persetujuannya. Dalam keadaan darurat. maka secara hukum bidan mempunyai kekuatan hukum karena mempunyai bukti tertulis. Apakah orang dalam keadaan sakit mampu secara hukum menyatakan persetujuan. Sampai sejauh mana orang yang sedang merasa kesakitan. maka secara hukum bidan mempunyai kekuatan hukum karena mempunyai bukti tertulis yang menunjukkan bahwa prosedur pemberian informasi telah dilalui dan keputusan ada di tangan klien untuk menyetujui atau menolak. dimana proses informed concent sudah memuat : 1. kemudian terjadi pilihan (choice) dan pengambilan keputusan. 2. Bagaimana menentukan sanksi. 3. pada tahap pertama bidan dengan pasien dihubungkan dengan suatu dialog. misalnya kasus perdarahan pada ibu hamil. 4. STUDY KASUS INC PASIEN BIDAN INFORMASI CHOICE (PILIHAN) KEPUTUSAN CONSENT (PERSETUJUAN) MENOLAK ( REFUSAL) MENANDATANGANI FORM MENANDATANGANI FORM PERSETUJUAN PENOLAKAN Urutan pelaksanaan informed consent Dari bagan aliran diatas menunjukkan alur yang senantiasa berurutan. Pengertian kemampuan secara hukum dari orang yang akan menjalani tindakan. Masalah informasi yang diberikan yaitu seberap jauh informasi dianggap telah dijelaskan dengan cukup jelas. tetapi juga tidak terlalu terinci sehingga dianggap menakut-nakuti. Bidan menggali keinginan pasien baik yang dirasakan secara subjektif maupun sebagai hasil pemikiran yang rasional B. jika terjadi permasalahan. Terdapat 2 keluaran pengambilan keputusan. Dalam memberikan persetujuan. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk memberikan kesempatan yang baik 2) Dimensi yang meyangkut etik Dari proses informed concent terkandung nilai etik sebagai berikut : 1. Masalah wali yang sah. seperti misalnya ibu inpartu mampu menetapkan pilihan atau berkonsentrasi terhadap penjelasan yang diberikan. jika terjadi permasalahan. 1. Menyetujui sehingga menandatangani form persetujuan 2. kondisi mentalnya dsb.bidan untuk melakukan suatu tindakan kebidanan terhadap pasien sesudah memperoleh informasi lengkap dan yang dipahaminya mengenai tindakan itu. Dalam proses informed concent : 1) Dimensi yang menyangkut hukum dalam hal ini informed concent merupakan perlindungan bagi pasien terhadap bidan yang berprilaku memaksakan kehendak. yaitu pasien berhak menerima atau menolak tindakan atas dirinya setelah diberi penjelasan sejelas-jelasnya. forum informasi (informed). yaitu: 1. Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila dibutuhkan/diminta sesuai dengan informasi yang telah dibutuhkan 3. Keterbukaan informasi dari bidan kepada pasien 2. serta siapa yang berhak menandatangani surat persetujuan dimana harus ditentukan peraturan mengenai batas usia. apakah diperlukan sanksi. Dari uraian diatas ternyata pelaksanaan informed consent cukup sulit terbukti masih ditemukan beberapa masalah yang dihadapi oleh pihak bidan atau rumah sakit atau rumah bersalin. Menolak dengan menandatangani form penolakan. 5. Sehingga baik persetujuan maupun penolakan sebaiknya dituangkan dalam bentuk tertulis. Menghargai kemandirian/otonomi pasien 2. Informasi tersebut harus dimengerti pasien 3.

................. Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Tempat/Tinggal Lahir : Alamat : Kartu Identitas : Pekerjaan : Selaku individu yang meminta bantuan pada fasilitas kesehatan ini............ perlu dilakukan tindakan.... CONTOH INFORMED CONSENT DALAM TINDAKAN PERSALINAN Bidan Praktek Swasta...................................................................... sudah saya maklumi dan dijelaskan dengan kalimat yang jelas dan saya mengerti sehingga saya memaklumi arti tindakan atau asuhan kebidanan yang saya alami................... Kartu Identitas :......... Kode Pos............. Apabila dalam keadaan dimana saya tidak mampu untuk memperoleh penjelasan dan memberi persetujuan maka saya menyerahkan mandat kepada suami atau wali saya yaitu: Nama :......... 3.................... Pekerjaan :.... setiap tindakan mempunyai resiko............................................ 2.......... Dengan demikian terjadi kesalah pahaman diantara pasien dan bidan tentang upaya serta tujuan........ Alamat :. surat persetujuan ini saya buat tanpa paksaan dari pihak manapun dan agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.. Demikian agar saya maklum.... dalam keadaan seperti ini siapakah yang berhak memberikan persetujuan................ sementara pasien perlu segera ditolong............) (............... Diagnosis kebidanan........ bersama ini menyatakan kesediaannya untuk dilakukan tindakan dan prosedur pertolongan persalinan pada diri saya berikan setelah mendapat penjelasan dari bidan yang berwenang di fasilitas kesehatan tersebut diatas................. Untuk melakukan pertolongan persalinan... ......................... Tempat/Tanggal Lahir :..... Setiap tindakan kebidanan yang dipilih bertujuan untuk kesejahteraan dan keselamatan ibu dan janin............................................................ sebagaimana berikut ini: 1... Namun demikian...... PERSETUJUAN TINDAKAN PERTOLONGAN PERSALINAN nomor:......... Penolong telah pula menjelaskan bahwa ia akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan tindakan pertolongan persalinan dan menghindarkan kemungkinan risiko..........dapat dihubungi.....) .............. 4.................. Bagaimana perlindungan hukum kepada si bidan yang melakukan tindakan atas dasar keadaan darurat dan dalam upaya penyelamatan jiwa ibu dan janinnya............... 5.................................... baik yang telah diduga maupun yang tidak diduga sebelumnya............................................. Bidan Yang Memberi Persetujuan/ Pasien (.................................. Akhirnya bahwa manfaat informed consent adalah untuk mengurangi keadaan malpraktek dan agar bidan lebih berhati-hati dan alur pemberian informasi benar-benar dilakukan dalam memberikan pelayanan kebidanan............................... untuk mencegah timbulnya masalah hukum dikemudian hari.... sebagaimana telah dijelaskan terdahulu.............................. Semua penjelasan tersebut diatas...... Telp............................................ agar diperoleh hasil asuhan kebidanan yang optimal.. Alamat....

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful