LAPORAN PENDAHULUAN DHF

LAPORAN PENDAHULUAN DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF

)

1. DEFINISI Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer dan Suprohaita :2000 ;419) Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah Infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus (arthropodhom virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah adalah penyakit demam yang berlangsung akut menyerang baik dewasa maupun anak-anak tetapi lebih banyak menimbulkan korban pada anak-anak berusia dibawah 15tahun disertai dengan perdarahan dan dapat menimbulkan syok yang disebabkan virus dengue dan penularan malalui gigitan nyamuk Aedes (Suedarto, 1990; 36)

2. ETIOLOGI 1.Virus dengue Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 1990; 36).

2.Vektor Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420). Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana – bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang – lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air

bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja hari. (Soedarto, 1990 ; 37). 3.Host Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue huntuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta. (Soedarto, 1990 ; 38).

3. PATOFISIOLOGI

Infeksi Virus Dengue

Perbanyak diri di hepar

Terbentuk komplek antigen-antibodi

Hepatomegali

Mengaktivasi sistem komplemen

Mual-Muntah

bradikinin. yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo regulasi instabil . C5a. trombin. serotinin. Histamin). Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun Antibodi – virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a.PGE2 Hipotalamus Dilepaskan C3a dan C5a (peptida) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Melepaskan histamine Peningkatan suhu tubuh Permeabilitas membran meningkat Kebocoran plasma Hipovolemia Renjatan hipovolemi dan hipotensi endotel Kerusakan pembuluh darah  Kekurangan volume cairan Agregasi Trombosit Ke ekstravaskuler Trombositopenia Merangsang dan Mengaktivasi faktor pembekuan Efusi pleura dan asites Dalam jangka waktu lama menurun dan terjadi DIC Perdarahan Gangguan perfusi jaringan Hipoksia jaringan   Gangguan pertukaran gas Intoleransi activity Asidosis Metabolik Kematian Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia.

(Soederita.yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. 1990 . nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya. Bersamaan dengan berlangsung demam. (2) agregasi trombosit menurun. 39). trombositopenia. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun jika tidak teratasi terjadi hipoxia jaringan. Adanya komplek imun antibodi – virus juga menimbulkan Agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit. Virus hanya dapat hidup dalam sel yang hidup. 296). yang disebabkan oleh vaskulopati. Nyeri punggung . apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia. 419). trombositopeni. MANIFESTASI KLINIS INFEKSI VIRUS DENGUE  Demam Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 – 7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. 2000. nyeri tulang dan persediaan. petekia dan purpura. (Nelson.sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular. 1993 . (Ngastiyah. gejala – gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. rata-rata 5-8 hari. ( Soedarto. 1995 . 1995 . 39). dan kuagulopati (Arief Mansjoer &Suprohaita. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi shock dan jika shock tidak teratasi terjadi Hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. 39). Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permiabilitas kapiler. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. (Soedarto. 4. Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. (2) kelainan hemostasis.  Hepatomegali Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba.  Perdarahan Perdaran biasanya terjadi pada hari ke 2 dan 3 dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniguet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena. coagulopati. . meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Perdarahan gastrointestinat biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. 349). Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita . Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari. sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. 1990 .

 Renjatan (Syok) Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita. jari kaki serta sianosis disekitar mulut. yaitu nadi cepat dan lemah. .Gejala klinik lain yaitu nyeri epigasstrium. 1994). isolasi virus. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSA Untuk mendiagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF) dapat dilakukan pemeriksaan dan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga dapat ditegakan dengan pemeriksaan laboratorium yakni : Trombositopenia (< 100. 6. (soedarto . jari tangan. Hb dan PCV meningkat (> 20%) leukopenia (mungkin normal atau leukositosis). serologis (UPF IKA. sopor koma. tanda dan gejala lain adalah : . d. . 1997) yaitu : a. dingin pada ujung hidung. dimulai dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab. (Soedarto. Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain. tekanan nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien menjadi gelisah. 5. 1995 .Hati membesar. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. gelisah. 39).Ensephalopati : kejang. Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi 4 derajat (WHO. nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan. TANDA DAN GEJALA Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya.Cairan dalam rongga pleura ( kanan ) .Asites . 7. c. muntah – muntah.000 / mm3) . KLASIFIKASI DHF Menurut derajat ringannya penyakit. Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi. diare maupun obstipasi dan kejang – kejang. Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur. b. Derajat I : Demam dengan test rumple leed positif. . 39).

Leukimia 2. Infeksi bakteri / virus lain (tonsilo faringitis. 1998 . tekanan darah menurun. Pembesaran hepar. PCV berulangkali (setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan) faal haemostasis xfoto dada. Renjatan septik oleh kuman gram negatif lain 3. Apabila titer HI pada fase akut > 1/1280 maka kadang titernya dalam stadium rekonvalensi tidak naik lagi. melena.000/ uL) dan terjadi hemokonsentrasi lebih dari 20%. Anemia aplastik 4. Dasar diagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF)WHO tahun 1997: Klinis: Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari. titer antibodi HI dalam fase akut > 1/20 dan akan meningkat dalam stadium rekovalensi sampai lebih dari pada 1/2560. akral dingin dan sianosis. Dengan kejang Ensefalitis meningitis . demam dari kelompok pnyakit exanthem. DIAGNOSA BANDING 1. Demam tipoid 2. (UPF IKA. Campak 2. cepat. 69). kreatinin serum. elektro kardio gram. Belum / tanpa renjatan : 1. yang hasilnya adalah Pada infeksi pertama dalam fase akut titer antibodi HI adalah kurang dari 1/20 dan akan meningkat sampai < 1/1280 pada stadium rekovalensensi pada infeksi kedua atau selanjutnya. chikungunya) 2. 202) Pada renjatan yang berat maka diperiksa : Hb. Dengan renjatan 1. hematemesis (test rumple leed). Laboratorium: Trombositopenia (< 100. Menifestasi perdarahan petikie. 1994 . hepatitis.Pemeriksaan serologik yaitu titer CF (complement fixation) dan anti bodi HI (Haemaglutination ingibition) (Who. 8. Syock yang ditandai dengan nadi lemah. Dengan perdarahan 1. dan gelisah.

344) Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak perlu dirawat.9. 3) Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah pengambaran yaitu sekolah dan RS. apabila orang tua dapat diikutsertakan dalam pengawasan penderita di rumah dengan kewaspadaan terjadinya syok yaitu perburukan gejala klinik pada hari 3-7 sakit ( Purnawan dkk. . 4) Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi Menurut Rezeki S. 1998 . aedes dan manusia. 1994 . (Soemarmo. 57) 1) manfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan pada saat hsedikit terdapatnya DHF / DSS 2) memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita veremia. terdiri dari virus. 203) yaitu: Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas. Dengue Haemoragic Fever (DHF) sedang kadang – kadang tidak memerlukan perawatan. PENATALAKSANAAN Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF) bersifat simtomatis dan suportif (Ngastiyah. pembesaran hati uji torniquet positif/negatif. 571) Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue (UPF IKA. Hb dan Ht/PCV meningkat. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit menular laibn didasarkan atas meutusan rantai penularan. muntah. 1998 : 22. Panas 3-5 hari disertai nyeri perut. Pemberantasan penyakit Dengue Haemoragic Fever (DHF) ini yang paling penting adalah upaya membasmi jentik nyamuk penularan ditempat perindukannya dengan melakukan “3M” yaitu 1) Menguras tempat – tampet penampungan air secara teratur sekurang – kurangnya sxeminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya 2) Menutup rapat – rapat tempat penampung air dan 3) Menguburkan / menyingkirkan barang kaleng bekas yang dapat menampung air hujan seperti dilanjutkan di baliknya. 1998 . 56) Prinsip tepat dalam pencegahan DHF (Sumarmo. Panas disertai renjatan. Panas disertai perdarahan. 12995 . 1995 . Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang efektif terdapat virus itu maka pemberantasan ditujukan pada manusia terutama pada vektornya. 10. kesakitan. masukan kurang) atau kejang–kejang. termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.

1. untuk anak dengan BB 26-30 kg 60 ml/KgBB/24 jam. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan asetaminofen. 4 kali sehari Umur 10 tahun keatas : 250 mg. Dengan Renjatan . 4 kali sehari Terapi cairan 1) Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 kg atau 50 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 10 kg bersama – sama di berikan minuman oralit. Belum atau tanpa renjatan: Grade I dan II Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan “surface cooling”. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat. untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 ml/KgBB/24 jam. 4 sehari Umur 5 – 10 tahun : 100 – 200 mg.Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA.asetosal tidak boleh diberikan Umur 6 – 12 bulan : 60 mg / kaji. air bauh susu secukupnya 2) Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak – banyaknya dan sesering mungkin. 4 kali sehari Umur 1 – 5 tahun : 50 – 100 mg. Grade III 1. 3) Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :      100 ml/Kg BB/24 jam. antipiretik untuk anti panas. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut : . 1994 . untuk anak dengan BB 31-40 kg 50 ml/KgBB/24 jam. 2. untuk anak dengan BB 41-50 kg Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain. 203 – 206 adalah.

Tetapi kematian lebih sering ditemukan pada anak perempuan daripada anak laki-laki. 3. 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg. tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah. IDENTITAS Umur: DHF merupakan penyakit daerah tropik yang sering menyebabkan kematian pada anak. kemudian menyebar kehampir seluruh kota besar di Indonesia. Tempat tinggal: penyakit ini semula hanya ditemukan di beberapa kota besar saja.    2. Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah. KELUHAN UTAMA . remaja dan dewasa (Effendy. akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Jenis kelamin: secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pada penderita DHF. Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi menurun lagi. ASUHAN KEPERAWATAN 1) PENGKAJIAN 1. akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. 11. bahkan sampai di pedesaan dengan jumlah penduduk yang padat dan dalam waktu relatif singkat. 1995). Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan. 2. 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg.

RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU Tidak ada hubungan antara penyakit yang pernah diderita dahulu dengan penyakit DHF yang dialami sekarang. 5. 4. tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF. 6. nyeri ulu hati. lemah. yaitu 2 nyamuk aedes: Aedes aigepty: Merupakan nyamuk yang hidup di daerah tropis terutama hidup dan berkembang biak di dalam rumah. Riwayat Tumbuh Kembang Teori Kepribadian anak Menurut Teori Psikoseksual Sigmund Freud Kepribadian ialah hasil perpaduan antara pengaruh lingkungan dan bawaan. seperti kaleng bekas. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Sering terdapat riwayat sakit kapala. 7. Tiori kepribadian yang dikemukakan oleh ahli psikoanlisa Sigmund freud (1856 . . tempat air minum burung yang jarang diganti airnya. kualitas total prilaku individu yang tampak dalam menyesuaikan diri secara unit dengan lingkungannya. RIWAYAT KESEHATAN LINGKUNGAN DHF ditularkan oleh 2 jenis nyamuk. e. usia antara 12 .3 Tahun Fase Falik. usia antara 5 . penyakit itu bisa terulang dengan strain yang berbeda. mual. bak mandi jarang dibersihkan.11/2 Tahun Fase anal. usia antara 11/2 . yaitu pada tempat penampungan air bersih.Penderita mengeluh badannya panas (peningkatan suhu tubuh) sakit kepala.5 Tahun Fase Laten. 3. usia antara 3 . RIWAYAT TUMBUH KEMBANG 1. nyeri otot dan pegal pada seluruh badan. Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain (yang tinggal didalam satu rumah atau beda rumah dengan jarak rumah yang berdekatan) sangat menentukan karena penyakit ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty. c. Aedes albapictus. mual dan nafsu makan menurun. usia antara 0 . Fase oral. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Penyakit ini tidak ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu. muntah dan penurunan nafsu makan. d. Dengan jarak terbang nyamuk + 100 meter.12 Tahun Fase Genital.18 Tahun Tahap perkembangan anak menurut Teori Psikososial Erik Erikson. Meliputi tahap-tahap : a. lemah. panas.1939). Sakit pada saat menelan. nyeri ulu hati. ban bekas. b.

Rasa rendah diri Difusi identitas . c.Erikson mengemukakan bahwa dalam tahap-tahap perkembangan manusia mengalami 8 fase yang saling terkait dan berkesinambungan.1 tahun)  Rasa percaya mencapai harapan.6 Tahun)  Perasaan inisiatif mencapai tujuan  Menyatakan diri sendiri dan lingkungan  Membedakan jenis kelamin.3 Tahun)  Perasaan otonomi. Bayi (oral) usia 0 . b. f. d.6 Tahun Usia sekolah (latent) yakni 6 .12 Tahun)  Perasaan berprestasi  Dapat menerima dan melaksanakan tugas dari orang tua dan guru Remaja ( 12 tahun lebih)  Rasa identitas  Mencapai kesetiaan yang menuju pada  Malu dan ragu-ragu  Rasa bersalah. Usia bermain (1 . e.1 Tahun Usia bermain (Anal ) yakni 1 .  Mencapai keinginan  Memulai kekuatan baru  Menerima kenyataan dan prinsip kesetiaan Usia pra sekolah ( 3 . a.3 Tahun Usia prasekolah (Phallic) yakni 3 . g. h.12 tahun Remaja (Genital) yakni 12 tahun lebih Remaja akhir dan dewasa muda Dewasa Dewasa akhir TUGAS PERKEMBANAGAN BILA TUGAS PERMKEMBANGAN TIDAK TERCAPAI  Tidak percaya Bayi (0 . Usia sekolah ( 6 .  Dapat menghadapi frustrasi dalam jumlah kecil  Mengenal ibu sebagai orang lain dan berbeda dari diri sendiri.

Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.110 %  Obesitas lebih dari 120 % 10. II. RIWAYAT NUTRISI Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.  Memilih pekerjaan  Mencapai keutuhan kepribadian Remaja akhir dan dewasa muda  Rasa keintiman dan solidaritas  Memperoleh cinta. RIWAYAT IMUNISASI Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. III.<80 %  Gizi baik 80 % . III.  Mampu berbuat hubungan dengan lawan jenis. 9.  Belajar menjadi kreatif dan produktif. DAMPAK HOSPITALISASI Sumber stressor : 1.  Belajar keterampilan efektif dalam  Absorpsi diri dan stagnasi  Isolasi berkomunikasi dan merawat anak  Menggantungkan keturunan Dewasa akhir  Perasaan integritas  Mencapai kebijaksanaan  Keputusasaan minat aktifitas pada 8. BBSekarang  100 % Status Gizi  BBideal Klasifikasinya sebagai berikut :  Gizi buruk kurang dari 60%  Gizi kurang 60 % . Dewasa  Perasaan keturunan  Memperoleh perhatian.II.pemahaman heteroseksual. POLIO I. dan campak. DPT I. Perpisahan .

pembesarn limpa. Sistem Pernapasan / Respirasi Sesak.Pada grade II disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain. Sistem integumen Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam). 4. depresi. pergerakan dada simetris. bersalah dan takut. pada auskultasi terdengar ronchi. penurunan nafsu makan. rewel. kadang kurang dari 30 cc/jam terutama pada grade III. nyeri kepala dan nyeri di berbagai bagian tubuh. effusi pleura (crackless).a. perdarahan melalui hidung (epistaksis). 4. regresi c. mual. menangis b. Grade 1 sampai dengan IV dapat terjadi kejang. ini akan menyebabkan anak malu. 6. memulai sosialisasi lingkungan. ketergantungan.tekanan nadi sempit. Sistem Cardiovaskuler Pada grade I : uji tourniquet positif. penglihatan fotopobia dan nyeri di belakang bola mata. cengeng → apatis → sopor → coma. Selaput mukosa kering. 3. Putus asa : tidak aktif. pernapasan dangkal. berak darah (melena). Menerima : tertarik dengan lingkungan. interaksi 2. 2) PEMERIKSAAN FISIK / PENGKAJIAN PERSISTEM 1. Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik. nyeri tekan pada epigastrik. kencing berwarna merah. hidung dan jari-jari. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit. Sistem Persyarafan / neurologi Pada grade I dan II kesadaran compos mentis. pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa disertai dengan ikterus. Lingkungan baru. akan mengungkapkan nyeri saat kencing. dapat muntah darah (hematemesis). abdomen teregang. menarik diri. Sistem perkemihan Produksi urine menurun. Protes : pergi. Pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah (tachycardia). tachypnea. 2. trombositipenia. perdarahan spontan dan hemokonsentrasi. kesulitan menelan. cyanosis sekitar mulut. perkusi sonor. kulit kering dan ruam makulopapular .Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. 5. nyeri saat menelan. muntah. perubahan rutinitas. Pada grade III dan IV gelisah. kulit dingin dan lembab. Sistem Pencernaan / Gastrointestinal Perdarahan pada gusi. hipotensi. menendang. 3.

nadi. tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering. Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan 7. Observasi intake dan output. pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler 4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Berikan kompres (air biasa / kran). nadi dalam batas normal (80-100 x/mnt). Anjurkan keluarga agar mengenakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat pada klien. Intervensi : a. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi. . Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi b. Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan. membran mukosa basah. 2. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37. d. Tujuan : Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan perawatan. c. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler 3. Resiko terjadinya cidera (perdarahan) berhubungan dengan penurunan factorfakto pembekuan darah ( trombositopeni ) 6. 4) INTERVENSI & RASIONAL 1.3) DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. tanda vital ( suhu. Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh. Nyeri otot hilang. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). 5.

Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. e. konsentrasi. Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer c. Capilarry refill < 3 detik. pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat antipiretik sesuai program. Observas vital sign tiap 3 jam/lebih sering Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler b. BJ urine. Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. Tidak ada tanda presyok. plasma atau darah. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok . Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan. Catat jumlah. Akral hangat. N: 80-120x/mnt). Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik. warna. Kriteria : Input dan output seimbang. Monitor keadaan umum pasien Raional . untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. 3. Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal Intervensi : a. Intervensi : a. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena. Vital sign dalam batas normal (TD 100/70 mmHg. Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh.Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Observasi intake dan output. d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi) Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral e. 2. Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Pulsasi kuat.

Kolaborasi : pemeriksaan : HB. d. d. tidak terjadi penurunan berat badan. termasuk makanan yang disukai Rasional : Mengidentifikasi defisiensi. dan segera laporkan jika terjadi perdarahan Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan. Observasi dan catat masukan makanan pasien Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan c. Berikan dan Bantu oral hygiene. menduga kemungkinan intervensi b. mual dan muntah berkurang.b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok c. e. porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan ) Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi. Kaji riwayat nutrisi. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. 4. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat. Berikan / Anjurkan pada klien untuk makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster. PCV. Intervensi : a. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral f. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan. e. . trombo Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut. Nafsu makan meningkat.

d. hidung(epistaksis). Observasi porsi makan klien. Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. f. e. c. pulsasi kuat. atau muntah darah (hematemesis). Kriteria : TD 100/60 mmHg. Monitor trombosit setiap hari . h. 5. b. ptike. hidung. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tandatanda klinis seperti epistaksis. nadi. Intervensi : a. berak darah (melena). trombosit dalam batas normal (150. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium secara berkala (darah lengkap). Jelaskan pada klien dan keluarga tentang penting nutrisi/ makanan bagi proses penyembuhan. tidak ada perdarahan spontan (gusi. pelihara kebersihan mulut. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ).Rasional : : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah. berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah dan Observasi tanda-tanda perdarahan serta tanda vital (tekanan darah. Anjurkan pada klien untuk banyak istirahat tirah baring ( bedrest ) Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. N: 80-100x/menit reguler. Kolaborasi dalam pemberian diet lunak dan rendah serat. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak. Tujuan : Tidak terjadi perdarahan selama dalam masa perawatan. Anjurkan pada klien untuk menarik nafas dalam jika mual. j. i. berat badan dan keluhan klien. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang bahaya yang dapat timbul akibat dari adanya perdarahan. hematemesis dan melena). suhu dan pernafasan). Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan. Sajikan makanan dalam keadaan hangat. dan anjurkan untuk segera melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti di gusi. k.000/uL). g.

Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit concentrate).Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari. . g. dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.

(terjemahan). Jakarta. Pedoman Diagnosis dan Terapi. F. Jakarata. Lynda Juall. Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Engram. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. (2000). Tumbuh Kembang Anak. Volume 2. Jakarta. Soeparman.K. Carpenito. (1999). Bandung. (terjemahan). (1987). Edisi 2. Lynda Juall. (1996). Volume I. Jakarta. (terjemahan). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. (1998). Penerbit buku Kedokteran EGC. Perawatan Anak Sakit. Mansjoer. (terjemahan). Suharso Darto (1994). (1995). Long. Ngastiyah (1997). Soetjiningsih. Jakarta. Arif & Suprohaita. Rencana Asuhan Keperawatan. Surabaya. Penerbit buku Kedokteran EGC. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Edisi 8. Barbara C. Penerbit buku Kedokteran EGC. Penerbit FKUI. Marilynn E. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Perawatan Medikal Bedah. Jakarta. Penerbit buku Kedokteran EGC. Penerbit buku Kedokteran EGC. Edisi 3.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. (terjemahan). Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. (2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.). Barbara. (1999). Universitas Airlangga. Doenges. Jakarta.

... DI RUANG THERESIA I . thanks) .dari kertas fotocopy-an.. ELISABETH SEMARANG (Lanjutkan . pathway’nya juga ya.ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DHF PADA AN…. RS...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful