Konsep Dasar Keperawatan Perioperatif

KONSEP DASAR KEPERAWATAN PERIOPERATIF

Posted on November 19, 2008 by kuliahbidan 1.KONSEP DASAR Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif maupun kedaruratan adalah peristiwa kompleks yang menegangkan. Kebanyakan prosedur bedah dilakukan di kamar operasi rumah sakit, meskipun beberapa prosedur yang lebih sederhana tidak memerlukan hospitalisasi dan dilakukan di klinik-klinik bedah dan unit bedah ambulatori. Individu dengan masalah kesehatan yang memerlukan intervensi pembedahan mencakup pula pemberian anastesi atau pembiusan yang meliputi anastesi lokal, regional atau umum. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang kian maju. Prosedur tindakan pembedahan pun mengalami kemajuan yang sagat pesat. Dimana perkembangan teknologi mutakhir telah mengarahkan kita pada penggunaan prosedur bedah yang lebih kompleks dengan penggunaan teknik-teknik bedah mikro (micro surgery techniques) atau penggunaan laser, peralatan by Pass yang lebih canggih dan peralatan monitoring yang kebih sensitif. Kemajuan yang sama juga ditunjukkan dalam bidang farmasi terkait dengan penggunaan obat-obatan anstesi kerja singkat, sehingga pemulihan pasien akan berjalan lebih cepat. Kemajuan dalam bidang teknik pembedahan dan teknik anastesi tentunya harus diikuti oleh peningkatan kemampuan masingmasing personel (terkait dengan teknik dan juga komunikasi psikologis) sehingga outcome yang diharapkan dari pasien bisa tercapai. Perubahan tidak hanya terkait dengan hal-hal tersebut diatas. Namun juga diikuti oleh perubahan pada pelayanan. Untuk pasien-pasien dengan kasus-kasus tertentu, misalnya : hernia. Pasien dapat mempersiapkan diri dengan menjalani pemeriksaan dignostik dan persiapan praoperatif lain sebelum masuk rumah sakit. Kemudian jika waktu pembedahannya telah tiba, maka pasien bisa langsung mendatangi rumah sakit untuk dilakukan prosedur pembedahan. Sehingga akan mempersingkat waktu perawatan pasien di rumah sakit. Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu preoperative phase, intraoperative phase dan post operative phase. Masing- masing fase di mulai pada waktu tertentu dan berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah dan masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yan dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standar praktik keperawatan. Disamping perawat kegiatan perioperatif ini juga memerlukan dukungan dari tim kesehatan lain yang berkompeten dalam perawatan pasien sehingga kepuasan pasien dapat tercapai sebagai suatu bentuk pelayanan prima. 2.GAMBARAN UMUM TAHAP DALAM KEPERAWATAN PERIOPERATIF Fase pra operatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika pasien dikirim ke meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun rumah, wawancara pra operatif dan menyiapkan pasien untuk anstesi yang diberikan dan pembedahan. Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup pemasangan IV cath, pemberian medikasi intaravena, melakukan pemantauan kondisi

diantaranya adalah : . Aktivitas keprawatan kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. 4)Memastikan kelengkapan pemeriksaan pra operatif 5)Mengkaji kebutuhan klien terhadap transportasi dan perawatan pasca operatif Unit Bedah : 1)Melengkapi pengkajian praoperatif 2)Koordianasi penyuluhan terhadap pasien dengan staf keperawatan lain. Dukungan Psikologis : 1)Memberitahukan pada klien apa yang terjadi 2)Menentukan status psikologis 3)Memberikan isyarat sebelumnya tentang rangsangan yang merugikan. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen anstesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi.PEMBEDAHAN : INDIKASI DAN KLASIFIKASI Tindakan pembedahan dilakukan dengan berbagai indikasi. Contoh : memberikan dukungan psikologis selama induksi anstesi. atau membantu mengatur posisi pasien d atas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesimetrisan tubuh. bertindak sebagai perawat scrub. 2)Menelaah ulang lembar observasi pasien (rekam medis) 3)Mengidentifikasi pasien 4)Memastikan daerah pembedahan Perencanaan : 1)Menentukan rencana asuhan 2)Mengkoordinasi pelayanan dan sumber-sumber yang sesuai (contoh: Tim Operasi). seperti : nyeri. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan.AKTIVITAS KEPERAWATAN DALAM PERAN PERAWAT PERIOPERATIF PENGKAJIAN : Rumah/Klinik: 1)Melakukan pengkajian perioperatif awal 2)Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien 3)Melibatkan keluarga dalam wawancara. 4)Membuat rencana asuhan keperawatan Ruang operasi : 1)Mengkaji tingkat kesadaran klien. 3)Menjelaskan fase-fase dalam periode perioperatif dan hal-hal yang diperkirakan terjadi. 4)Mengkomunikasikan status emosional pasien pada anggota tim kesehatan yang lain yang berkaitan.fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. 3. Lingkup aktivitas keperawaan mecakup renatang aktivitas yang luas selama periode ini. Fase pasca operatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan (recovery room) dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. 4.

5. 3)Diperlukan Pasien harus menjalani pembedahan. yaitu : 1)Kedaruratan/Emergency Pasien membutuhkan perhatian segera. batu ginjal atau batu pada uretra. katarak. obstruksi kandung kemih atau usus. 2)Urgen Pasien membutuhkan perhatian segera. sirkumsisi 2)Mayor Menimbulkan trauma fisik yang luas. fraktur tulang tengkorak. dll. Indikasi pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika. gangguan mungkin mengancam jiwa. Contoh : Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih. Contoh : bedah kosmetik. Gangguan tyroid. Contoh : perbaikan Scar. Contoh : incisi dan drainage kandung kemih. maka tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan menjadi 5 tingkatan. Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya.KEPERAWATAN PRE OPERATIF A. bila tidak dilakukan pembedahan maka idak terlalu membahayakan. Contoh : infeksi kandung kemih akut. 5)Pilihan Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya pada pasien. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa di tunda.PENDAHULUAN Keperawatan pre operatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif.1)Diagnostik : biopsi atau laparotomi eksplorasi 2)Kuratif : Eksisi tumor atau mengangakat apendiks yang mengalami inflamasi 3)Reparatif : Memperbaiki luka multipel 4)Rekonstruktif/Kosmetik : mammoplasty. luka tembak atau tusuk. Indikasi pembedahan. resiko kematian sangat serius. Contoh : perdarahan hebat. atau bedah platik 5)Palliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah. . contoh : pemasangan selang gastrostomi yang dipasang untuk mengkomponsasi terhadap ketidakmampuan menelan makanan. luka bakar sanagat luas. reseksi colon. Sedangkan menurut faktor resikonya. perbaikan vaginal. Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan. 4)Elektif Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Pembedahan dapat direncanakan dalam bebeapa minggu atau bulan. tindakan pembedahan di bagi menjadi : 1)Minor Menimbulkan trauma fisik yang minimal dengan resiko kerusakan yang minim. Contoh : Total abdominal histerektomi. hernia sederhana. Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30 jam.

status kardiovaskuler. Kadar elektrolit yang biasanya dilakuakan pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum (normal : 135 -145 mmol/l). tekanan darahnya dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal.Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. PERSIAPAN KLIEN DI UNIT PERAWATAN a)PERSIAPAN FISIK Persiapan fisik pre operasi yang dialami oleh pasien dibagi dalam 2 tahapan. penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara umum. Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal.5 – 5 mmol/l) dan kadar kreatinin serum (0. Pengakajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi. Demikaian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. kadar protein darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan nitrogen. pemeriksaan fisik lengkap. riwayat kesehatan keluarga. 4)Kebersihan lambung dan kolon Lambung dan kolon harus di bersihkan terlebih dahulu. karena dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami stres fisik. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi. fungsi imunologi. lipat kulit trisep. 2)Status Nutrisi Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan. insufisiensi renal akut. Intervensi keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema/lavement. demam dan penyembuhan luka yang lama. dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu). tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup. Lamanya puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam . Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. kadar kalium serum (normal : 3. B. antara lain status hemodinamika. fungsi endokrin. dan lain-lain. status pernafasan. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. yaitu : Persiapan di unit perawatan Persiapan di ruang operasi Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara lain : 1)Status kesehatan fisik secara umum Sebelum dilakukan pembedahan. lingkar lengan atas. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan baik. riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu.50 mg/dl).70 – 1. Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguri/anuria. Kecuali pada kasus-kasus yang mengancam jiwa. nefritis akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. fungsi ginjal dan hepatik. 3)Keseimbangan cairan dan elektrolit Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. meliputi identitas klien.

Tindakan pencukuran (scheren) harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. 6)Personal Hygine Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. seperti pada pasien kecelakaan lalu lintas. Tujuan dari pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. herniotomi. Dengan melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai . Sebaliknya jika pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan memeberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene. 7)Pengosongan kandung kemih Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Maka pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso gastric tube). Meskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak memerlukan pencukuran sebelum operasi. 8)Latihan Pra Operasi Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi. misalnya pada pasien luka incisi pada lengan. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Selain terkait daerah pembedahan. hemmoroidektomi. Sering kali pasien di berikan kesempatan untuk mencukur sendiri agar pasien merasa lebih nyaman.(biasanya puasa dilakukan mulai pukul 24. uretrolithiasis. Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain : Latihan Nafas Dalam¬ Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain untuk pengongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperluka untuk mengobservasi balance cairan. pencukuran pada lengan juga dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan. Biasanya daerah sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan pencukuran jika yang dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. batuk dan banyak lendir pada tenggorokan. seperti : nyeri daerah operasi. Misalnya : apendiktomi. Khusus pada pasien yang menbutuhkan operasi CITO (segera). 5)Pencukuran daerah operasi Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat bersembunyi kuman dan juga mengganggu/menghambat proses penyembuhan dan perawatan luka. Daeran yang dilakukan pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi.00 WIB). operasi pemasangan plate pada fraktur femur.

Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali) Segera lakukan batuk spontan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setalah operasi. Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara : Pasien condong ke depan dari posisi semifowler. Latihan Gerak Sendi¬ Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi. Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan. pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teranstesi. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri. pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada tenggorokan. namun tidak berbahaya terhadap incisi. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus.dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. udara dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut. jalinkan jari-jari tangan dan letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut/flatus. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). . Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk dan perut tidak boleh tegang. Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan. Lakukan hal ini berulang kali (15 kali) Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Latihan Batuk Efektif¬ Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan anstesi general. Ulangi lagi sesuai kebutuhan. Letakkan tangan diatas perut Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup rapat. pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.

vitamin C. . Selama pembedahan jaringan lemak. Merokok Pasien dengan riwayat merokok biasanya akan mengalami gangguan vaskuler. Nutrisi-nutrisi tersebut antara lain adalah protein. diabetes. Alkohol dan obat-obatan Individu dengan riwayat alkoholic kronik seringkali menderita malnutrisi dan masalah-masalah sistemik. Pada pasien yang mengalami obesitas. Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid beresiko mengalami insufisinsi adrenal. seperti dibetes mellitus yang tidak terkontrol. dan insufisiensi ginjal menjadi lebih sukar terkait dengan pemakian energi kalori untuk penyembuhan primer. terutama sekali sangat rentan terhadap infeksi. keadaan umum yang baik akan mendukung dan mempengaruhi proses penyembuhan. Demikian juga faktor usia/penuaan dapat mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan.Status kesehatan fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan mengalami pembedahan. Bahaya lain yang mengancam adalah asidosis atau glukosuria. Nutrisi Kondisi malnutrisi dan obesitas/kegemukan lebih beresiko terhadap pembedahan dibandingakan dengan orang normal dengan gizi baik terutama pada fase penyembuhan. vitamin A. vitamin B kompleks. obesitas meningkatkan permasalahan teknik dan mekanik. umum terjadi. Pengguanaan oabat-obatan kortikosteroid harus sepengetahuan dokter anastesi dan dokter bedahnya. pasien bernafas tidak optimal saat berbaaring miring dan karenanya mudah mengalami hipoventilasi dan komplikasi pulmonari pascaoperatif. Selain itu. air. terutama terjadi arterosklerosis pembuluh darah. yang akan meningkatkan tekanan darah sistemiknya. Maka sebelum dilakukan operasi darurat perlu dilakukan pengosongan lambung untuk menghindari asprirasi dengan pemasangan NGT. Pada kasus kecelakaan lalu lintas yang seringkali dialami oleh pemabuk. flebitis dan kardiovaskuler. Hal ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua sudah sangat menurun . Oleh karena itu sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan pembedahan/operasi. sedangkan pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh karena belum matur-nya semua fungsi organ. kalori. Penyakit Kronis Pada pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler. Vitamin K. Atau juga akibat masukan karbohidrat yang tidak adekuart pasca operasi atau pemberian insulin yang berlebihan. hepatik dan penyakit biliari terjadi lebih sering pada pasien obes. Sebaliknya. sperti gangguan ginjal dan hepar yang akan meningkatkan resiko pembedahan. Oleh karenanya dehisiensi dan infeksi luka. endokrin. Selain itu. Faktor resiko terhadap pembedahan antara lain : Usia Pasien dengan usia yang terlalu muda (bayi/anak-anak) dan usia lanjut mempunyai resiko lebih besar. Pada orang malnutisi maka orang tersebut mengalami defisiensi nutrisi yang sangat diperlukan untuk proses penyembuhan luka. Pasien obes sering sulit dirawat karena tambahan beraat badan. bahaya utama yang mengancam hidup pasien saat dilakukan pembedahan adalah terjadinya hipoglikemia yang mungkin terjadi selama pembiusan akibat agen anstesi. PPOM. Ketidaksempurnaan respon neuroendokrin Pada pasien yang mengalami gangguan fungsi endokrin. zat besi dan seng (diperlukan untuk sintesis protein). Dan juga pada penyakit ini banyak masalah sistemik yang mengganggu sehingga komplikasi pembedahan maupun pasca pembedahan sangat tinggi. distensi abdomen. berbagai kondisi fisiologis dapat mempengaruhi proses pembedahan.

Pemeriksaan penunjang antara lain : 1)Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik. CT/BT. Misal: penderita dengan . jumlah trombosit. 3)Biopsi. EKG/ECG (Electro Cardio Grafi). ECHO. Cystoscopy. 4)Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD). elektrolit serum. BUN. BNO-IVP. Bisa juga dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan kelainan darah. seperti : Foto thoraks. dll. Berikut adalah tabel pemeriksaan ASA. 2)Pemeriksaan Laboratorium. namun tergantung pada jenis penyakit dan operasi yang dijalani oleh pasien). Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA (American Society of Anasthesiologist). ureum kretinin. angka leukosit. c)PEMERIKSAAN STATUS ANASTESI Pemeriksaaan status fisik untuk dilakukan pembiuasan dilakukan untuk keselamatan selama pembedahan. limfosit. protein total (albumin dan globulin). 5)Pemeriksaan KGD dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan rentang normal atau tidak. Pemeriksaan ini dilakukan karena obat dan teknik anastesi pada umumnya akan mengganggu fungsi pernafasan. LED (laju enap darah).b)PERSIAPAN PENUNJANG Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tindakan pembedahan. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam 10 malam dan diambil darahnya jam 8 pagi) dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam PP (ppst prandial). Mammografi. Setelah dokter bedah memutuskan untuk dilakukan operasi maka dokter anstesi berperan untuk menentukan apakan kondisi pasien layak menjalani operasi. Sebelum dilakukan anastesi demi kepentingan pembedahan. dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks dan EKG. dan lain-lain. abdomen. protein darah. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai pemeriksaan radiologi. USG (Ultra Sono Grafi). laboratorium maupun pemeriksaan lain seperti ECG. Hemoglobin. EEG (Electro Enchephalo Grafi). yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh untuk memastikan penyakit pasien sebelum operasi. berupa pemeriksaan darah : hemoglobin. dan chlorida). Dibawah ini adalah berbagai jenis pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada pasien sebelum operasi (tidak semua jenis pemeriksaan dilakukan terhadap pasien. ASA grade I Status fisik : Tidak ada gangguan organik. biokimia dan psikiatri. Sebelum dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi pada pasien. Untuk itu dokter anastesi juga memerlukan berbagai macam pemrikasaan laboratorium terutama pemeriksaan masa perdarahan (bledding time) dan masa pembekuan (clotting time) darah pasien. foto tulang (daerah fraktur). CIL (Colon in Loop). dokter melakukan berbagai pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien sehingga dokter bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien. peredaran darah dan sistem saraf. dll. Biopsi biasanya dilakukan untuk memastikan apakah ada tumor ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja. natrium. elektrolit (kalium. maka dokter bedah tidak meungkin bisa menentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada pasien. MRI (Magnrtic Resonance Imagine). CT scan (computerized Tomography Scan) . Renogram. Tanpa adanya hasil pemeriksaan penunjang. pasien akan mengalami pemeriksaan status fisik yang diperlukan untuk menilai sejauh mana resiko pembiusan terhadap diri pasien.

Bahkan seringkali pasien dapat pulang kembali ke rumah dalam keadaan sehat tanpa komplikasi atau resiko apapun segera setelah mengalami operasi. ASA grade III Status fisik : Penyakit sistemik berat. ASA grade V Status fisik : Penyakit/gangguan sistemik berat yang menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan pembedahan. Jika petugas belum menjelaskan secara detail. kepatuhan terhadap pengobatan. maka pasien atau orang yang bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi.05. tidak semua tindakan operasi mengakibatkan komplikasi yang berlebihan bagi klien. maka pihak pasien/keluarganya berhak untuk menanyakan kembali sampai betul-betul paham. pembedahan serta pembiusan yang akan dijalani. . orang tua sehat. Inform Consent sebagai wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi aspek etik hukum. misalnya penderita diabetes mellitus dengan komplikasi pembuluh darah dan datang dengan appendisitis akut. Meskipun mengandung resiko tinggi tetapi seringkali tindakan operasi tidak dapat dihindari dan merupakan satu-satunya pilihan bagi pasien. ¬Mortality (%) : 4. Misal: penderita dengan obesitas.herinia ingunalis tanpa kelainan lain. cukup istirahat. wajib menuliskan surat pernyataan persetujuan dilakukan tindakan medis (pembedahan dan anastesi). kerjasama yang baik dengan perawat dan tim selama dalam perawatan. penderita dengan bronkitis dan penderita dengan diabetes mellitus ringan yang akan mengalami appendiktomi Mortality (%) : 0. misalnya : insufisiensi koroner atau infark miokard Mortality (%) : 50. misalnya : insufisiensi koroner atau infark miokard Mortality (%) : 25. Artinya apapun tindakan yang dilakukan pada pasien terkait dengan pembedahan. Baik pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa tindakan medis. Oleh karena itu setiap pasien yang akan menjalani tindakan medis.5. operasi sekecil apapun mempunyai resiko. ASA grade IV Status fisik : Penyakit/gangguan sistemik berat yang menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan pembedahan. Pasien maupun keluarganya sebelum menandatangani surat pernyataan tersut akan mendapatkan informasi yang detail terkait dengan segala macam prosedur pemeriksaan. bayi muda yang sehat. ASA grade II Status fisik : Gangguan sistemik ringan sampai sedang yang bukan diseababkan oleh penyakit yang akan dibedah. d)INFORM CONSENT Selain dilakukannya berbagai macam pemeriksaan penunjang terhadap pasien. hal lain yang sangat penting terkait dengan aspek hukum dan tanggung jawab dan tanggung gugat. yaitu Inform Consent. Tentunya hal ini terkait dengan berbagai faktor seperti: kondisi nutrisi pasien yang baik.4. keluarga mengetahui manfaat dan tujuan serta segala resiko dan konsekuensinya. Mortality (%) : 0. Dan dalam kondisi nyata.

dll. Long). peralatan pembedahan dan petugas. e)PERSIAPAN MENTAL/PSIKIS Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. sulit tidur. intra. akan tetapi sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi pembedahan. Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan . menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal (body image) Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti) Takut/cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyai penyakit yang sama. Takut operasi gagal. seperti adanya orang terdekat. antara lain : Pengalaman operasi sebelumnya Persepsi pasien dan keluarga tentang tujuan/alasan tindakan operasi Pengetahuan pasien dan keluarga tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang. Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan dan ketakutan antara lain : Pasien dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan. sering berkemih. menayakan pertanyaan yang sama berulang kali. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain : Takut nyeri setelah pembedahan Takut terjadi perubahan fisik. post operasi) Pengetahuan tentang latihan-latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus dijalankan setalah operasi. telapak tangan yang lembab. Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi. Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan adanya perubahan-perubahan fisik seperti : meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan. Disamping itu perawat perlu mengkaji hal-hal yang bisa digunakan untuk membantu pasien dalam menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini. Pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi lebih cepat dari biasanya. Untuk mengurangi / mengatasi kecemasan pasien. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integeritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis (Barbara C. Takut/ngeri menghadapi ruang operasi.Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena jika tidak meka penyesalan akan dialami oleh pasien/keluarga setelah tindakan operasi yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan gambaran keluarga. Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi pengalaman operasi sehingga akan memberikan respon yang berbeda pula. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang situasi/kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi. seperti : latihan nafas dalam. Perawat perlu mengkaji mekanisme koping yang biasa digunakan oleh pasien dalam menghadapi stres. ROM. tingkat perkembangan pasien. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang prosedur (pre. sehingga operasi terpaksa harus ditunda. perawat dapat menanyakan hal-hal yang terkait dengan persiapan operasi. gerakangerakan tangan yang tidak terkontrol. batuk efektif. gelisah. faktor pendukung/support system.

meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki pasien mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang akan dialami pasien. Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi.keluarganya. perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan samapai kapan. Untuk memberikan ketenangan pada pasien. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. f)OBAT-OBATAN PRE MEDIKASI Sebelum operasi dilakukan pada esok harinya. Antibiotik profilaksis biasanya di berikan sebelum pasien di operasi. petugas kesehatan di situ akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih tenang. Antibiotik profilaksis yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi selama tindakan operasi. Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan¬ operasi sesuai dengan tingkat perkembangan. Mengoreksi pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal¬ lain karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien. Pasien akan diberikan obat-obatan premedikasi untuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien.3 kali. Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi. dll. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap dan hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu. memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi. keluarga juga diberikan kesempatn untuk mengantar pasien samapi ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk menunggu di ruang tunggu yang terletak di depan kamar operasi. kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan baik Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang¬ segala prosedur yang ada. . Obat-obatan premedikasi yang diberikan biasanya adalah valium atau diazepam. manfaatnya untuk apa. Antibiotik yang dapat diberikan adalah ceftriakson 1gram dan lain-lain sesuai indikasi pasien. menunjukkan tempat kamar operasi. pasien perlu diberikan penjelasan tujuan dari pemeriksaan darah yang dilakukan. Pada saat pasien telah berada di ruang serah terima pasien di kamar¬ operasi. Diharapkan dengan pemberian informasi yang lengkap. Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Misalnya: jika pasien harus puasa. antibiotika profilaksis biasanya di berikan 1-2 jam sebelum operasi dimulai dan dilanjutkan pasca bedah 2. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersama-sama sebelum pasien di antar ke kamar operasi. memberikan doa dan dukungan pasien dengan kata-kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi. Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara: Membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami¬ pasien sebelum operasi. dan jika diambil darahnya. Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga/orang terdekat pasien. hal-hal yang akan dialami oleh pasien selama proses operasi.¬ seperti valium dan diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi. Dengan mengetahui¬ berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi lebih siap menghadapi operasi. dll.

gaya hidup. dekongestan. edema pulmonal. ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti. Integritas ego Gejala : perasaan cemas. antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas. steroid. membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).C. Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan . 1994 : 17). hubungan. GJK. penyakit vascular perifer. bronchodilator. dan larutan . plester. misalnya financial. 1994 : 10). Pengkajian pasien Pre operatif (Marilynn E. M. factor-faktor stress multiple. antiinflamasi. dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi). b)DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono.MANAJEMEN KEPERAWATAN a)PENGKAJIAN Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono. yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia. antihipertensi. diuretic. Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse. antidisritmia. Makanan / cairan Gejala : insufisiensi pancreas/DM. ancaman terhadap perubahan status kesehatan. Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) . demam. marah. Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) . Doenges. makanan. stimulasi simpatis. merokok. . atau obat-obatan rekreasional. Munculnya kanker / terapi kanker terbaru . Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat. antibiotic. Pernapasan Gejala : infeksi. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal. analgesic. peningkatan ketegangan/peka rangsang . apatis . Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : pengguanaan antikoagulasi. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson. malnutrisi (termasuk obesitas) . (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) . takut. kardiotonik glokosid.Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri. Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi . Judith. atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus. 2006) meliputi : 1. Tanda : tidak dapat istirahat. kondisi yang kronis/batuk. krisis situasi atau krisis maturasi. 1999) meliputi : Sirkulasi Gejala : riwayat masalah jantung.

Ansietas adalah suatu keresahan. efek samping penanganan. harapa-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani. hospitalisasi/perubahan lingkungan.Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan.klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress. Judith. Intervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson. M. 3.ini merupakan tanda bahya yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan memampukan individu untuk membuat pengukuran untuk mengatasi ancaman. kerusakan saraf/otot. R : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. 5. 1995:40).klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.Mobilitas fisik.tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan. Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan . INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien. Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu. 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. R : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan. .Koping individu. Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol. perubahan berhubungan dengan terapi yang kompleks. sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu .Proses keluarga. ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan.2. meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas. 6. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini. hambatan berhubungan dengan penurunan rentang gerak. keluhan terhadap reaksi orang lain. factor budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan. perasaan ketidaknyamanan yang tidak mudah atau dread yang disertai dengan respons autonomis . reaksi orang lain terhadap perubahan penampilan. Kriteria hasil : . c)INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono.klien mampu mempertahankan penampilan peran. diagnosis kanker. perasaan khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. ketidakberdayaan. R : mempertahankan mekanisme koping adaftif. 4. . R : memudahkan intervensi. dan nyeri.klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. 2006) adalah : 1.Ketakutan berhubungan dengan proses penyakit/prognosis (misalnya kanker). . kehilangan fungsi. .

Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. Tujuan : pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.Koping individu. Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis. Tujuan : pasien menunjukkan koping yang efektif. . Kriteria hasil : . Kriteria hasil : . R : mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kondisinya. mengurangi kecemasan. 3. R : meningkatkan pengetahuan. R : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya. Kaji harapan pasien tentang gambaran tubuh. dan akui realitas adanya perhatian terhadap perawatan. Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif. pilihan respons untuk bertindak secara tidak adekuat. Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi.mengidentifikasikan kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang efektif. . ketidakefektifan adalah ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadap stressor. R : mungkin realita saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga pasien tidak menyukai keadaan fisiknya.menggambarkan perubahan actual pada fungsi tubuh. jaga privasi dan martabat pasien. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Kaji pandangan pasien terhadap kondisinya dan kesesuaiannya dengan pandangan pemberi pelayanan kesehatan.berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS). R : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.cemas. dan atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber yang tersedia. R : meningkatkan perasaan berarti. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas. R : menciptakan suasana saling percaya. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang tubuhnya. kemajuan dan prognosis.menimbang serta memilih diantara alternative dan konsekuensinya. R : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan. meningkatkan harga diri dan perasaan berarti dalam diri pasien. R : factor yang mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh. memudahkan saran koping. perawatan dan prognosis.pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh. . .pasien akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi waktu luang. mengurangi kecemasan.memiliki keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan.Gangguan citra tubuh adalah konfusi pada gaambaran mental dari fisik seseorang. . 2. .

paien/keluarga berpartisipasi dalam proses membuat keputusan berhubungan dengan perawatan setelah rawat inap.menggunakan teknik relaksasi untuk menurnkan ketakutan. R : menghindari ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya. R : membantu keluarga dalam memilih mekanisme koping adaptif yang tepat . R : mengidentifikasi masalah. R : mengidentifikasi masalah. memberikan penguatan yang positif. memudahkan intervensi Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realitas.Proses keluarga. R : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. Bantu pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari orang lain. perasaan berarti. R : menciptakan suasana saling percaya.¬ R : mempengaruhi pilihan intervensi. Kriteria hasil : .mempertahankan penampilan peran dan hubungan social. Bantu keluarga dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin menghambat pengobatan. R : meningkatkan perasaan berarti. 5.mencari informasi untuk menurunkan ketakutan.Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.Ketakutan adalah ansietas yang disebabkan oleh sesuatu yang dikenali secara sadar dan bahaya nyata dan dipersepsikan sebagai bahaya yang nyata.pasien/keluarga mampu mengidentifikasi koping. Berikan penguatan positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat menurunkan atau mengurangi takut. Dukung kesempatan untuk mendapatkan pengalaman masa anak-anak yang normal pada anak yang berpenyakit kronis atau tidak mampu. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang tambahan ketrampilan koping yang digunakan. 4. . R : mempertahankan perilaku koping yang efektif. . R : memudahkan keluarga dalam menciptakan/memelihara fungsi anggota keluarga. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Kaji interaksi antara pasien dan keluarga. R : memberikan arahan pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada saat ini. Tujuan : pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan. . dan mengurangi kecemasan. perubahan adalah suatu perubahan dalam hubungan dan/atau fungsi keluarga. memudahkan intervensi. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Kaji respons takut subjektif dan objektif pasien. memudahkan intervensi. Kriteria hasil : . Libatkan sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam memberikan dukungan emosional untuk pasien dan keluarga. . Tujuan : pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga.

DAFTAR PUSTAKA . Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. 6. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. 2001).Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini. dan pengajaran. pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih. 4)Pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga. Kriteria hasil : . Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. 5)Pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.penampilan yang seimbang.Mobilitas fisik. R : mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani.mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi. 6)Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. tidak berpartisipasi dalam aktivitas. R : mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. . Christine. dengan karakteristik : 0 = mandiri penuh 1 = memerlukan alat Bantu. Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Tumor adalah : 1)Ansietas berkurang/terkontrol.melakukan pergerakkan dan perpindahan. R : sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. pengawasan. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. d)EVALUASI Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker. 3 =membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu. hambatan adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. ..¬ R : mengidentifikasi masalah. memudahkan intervensi. 2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.¬ R : menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. 4 =ketergantungan. 3)Pasien menunjukkan koping yang efektif. R : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan. 2)Pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.

2001.Nasrul Effendi. Judith M. Airlangga University Press : Surabaya. 1998. 5. 2001. Pedoman Teknik Operasi OPTEK. Doenges. Kamus Saku Keperawatan. Bare. 2004. Pengantar Proses Keperawatan. 1994. Suzanne C. Buku Ajar Imu Bedah. EGC : Jakarta. Operating Room. 2005. 6. 9. Vol. 12. Kiat Sukses menghadapi Operasi. 8. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah : Brunner Suddarth. 3.1. 4. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Sardjito Yogyakarta. Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.elearning. dkk. Sri Oktri Hastuti. EGC. 2. Jakarta. 10. Abror. Christantie dan Ag.ac. Sahabat Setia : Yogyakarta. Christantie. EGC : Jakarta. 2002. EGC : Jakarta. ed. edisi 7.unej.Wibowo. EGC : Jakarta. Handout Kuliah Keperawatan Medikal Bedah : Preoperatif Nursing.Effendy. 1999.3. 1. EGC : Jakarta. Edisi revisi. dan Wim de Jong. 11.Boedihartono.Wilkinson. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien. Instalasi Bedah Sentral RS dr.Sjamsulhidayat. Soetamto. 1995. 7. Christine. 2006.Effendy.Shodiq.Marilynn E.Smeltzer.id . R. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta. Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.www. and Brenda G.Brooker. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful