MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

---------------------

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 1/PUU- VIII/2010 PERKARA NOMOR 5/PUU- VIII/2010 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 03 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK, PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR 1945

ACARA PENGUCAPAN PUTUSAN

JAKARTA KAMIS, 24 FEBRUARI 2011

PERKARA NOMOR 1/PUU- VIII/2010 PERKARA NOMOR 5/PUU- VIII/2010

PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 03 Tahun 1997 tentang Pengdilan Anak. Pengujian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

PEMOHON Hadi Supeno (Perkara Nomor 1/PUU-VIII/2010) Ahmad Sopian (Perkara Nomor 1/PUU-VIII/2010) Anggara (Perkara Nomor 5/PUU-VIII/2010) Supriyadi Widodo Eddyono (Perkara nomor 5/PUU-VIII/2010) Wahyudi (Perkara nomor 5/PUU-VIII/2010)

TERMOHON Pemerintah dan DPR RI

ACARA Pengucapan Putusan

Kamis, 24 Februari 2011, Pukul 16.00-17.00 WIB Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Moh. Mahfud MD Achmad Sodiki M. Akil Mochtar Maria Farida Indrati Ahmad Fadlil Sumadi Harjono Muhammad Alim Hamdan Zoelva (Ketua) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) Panitera Pengganti Panitera Pengganti

Ida Ria Tambunan Sunardi

1

Pihak yang Hadir: Pemohon: Hadi Sipeno (Ketua Komisi Perlindungan Anak) Anggara Supriadi Wahyudi

Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 1/PUU-VIII/2010: Despiyanti

Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 5/PUU-VIII/2010: Wahyu Wagiman Zainal Abidin Aziyani Pipiyana

Kuasa Hukum Permohon Perkara Nomor 5/PUU-VIII/2010: Adam Pantouw

Termohon Perkara Nomor 1/PUU-VIII/2010 dan Nomor 5/PUUVIII/2010: Heri (Kementerian Komunikasi dan Informatika) Anthonius Malau (Kementerian Komunikasi dan Informatika) Mualimin Abdi (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia) Joko Purboyo (Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak) Aswin Sasongko (Kementerian Komunikasi dan Informatika) Joko Agung (Kementerian Komunikasi dan Informatika) Gusti Marauran (DPRI RI)

dan

2

SIDANG DIBUKA PKL 16.20 WIB 1. KETUA: MOH. MAHFUD MD Sidang Mahkamah Konstitusi untuk Pengucapan Putusan Perkara Nomor 1 dan Nomor 5/PUU-VIII/2010, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. KETUK PALU 3X Pemohon Nomor 1? Silakan, perkenalkan siapa yang datang. 2. KUASA HUKUM PEMOHON NO.1: DESPIYANTI Saya Kuasa dari Pemohon KPAI. Nama saya Despiyanti, bersama ini saya dengan Pemohon Prinsipal dari KPAI. Terima kasih. 3. KETUA: MOH. MAHFUD MD Nomor 5? 4. KUASA HUKUM PEMOHON NO.5: WAHYU WAGIMAN Terima kasih, Yang Mulia. Kami dari Pemohon Nomor 5, telah hadir saya sendiri Kuasa Hukum Pemohon Wahyu Wagiman, sebelah kiri saya Zainal Abidin, sebelah kanan saya Aziyani Pipiyana dan di belakang ada Pemohon Prinsipal Anggara, Supriyadi, dan Wahyudi Jafar, serta Kuasa Hukum Adam Pantouw. Terima kasih, Yang Mulia. 5. KETUA: MOH. MAHFUD MD Ya. Pemerintah? 6. PEMERINTAH: MUALIMIN ABDI Makasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang, Salam sejahtera untuk kita semua. Pemerintah hadir saya sebutkan dari yang paling kanan ada Pak Heri, dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kemudian sebelahnya lagi ada Pak Anthonius Malau, sama dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Saya sendiri Mualimin Abdi,

3

Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika.1] Yang memeriksa. MAHFUD MD DPR? 8. 23 Oktober 1979 : Advokat/Direktur Program Institute for Criminal Justice Reform 4 .2] 1. MAHFUD MD Baik akan dimulai dari pengucapan Perkara Nomor 5. Yang Mulia. KETUA: MOH. S. : Surabaya. Dan di belakang ada kawan-kawan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. DPR: GUSTI MARAURAN Makasih. 9. dari Hukum dan Pemantauan Pelaksanaan Undang-Undang Sekretariat Jenderal DPR RI. mengadili.dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. 7. Sebelahnya lagi ada Aswin Sasongko.H. menjatuhkan putusan dalam perkara Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. KETUA: MOH. Makasih. Terima kasih. tanggal lahir Pekerjaan : Anggara. Nama saya Gusti Marauran. yang diajukan oleh: [1. dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir. Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika. Majelis Hakim yang kami muliakan. PUTUSAN Nomor 5/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1. Kemudian di sebelah kiri saya ada Pak Joko Purboyo. N a m a Tempat. Kemudian di sebelahnya lagi ada Pak Joko Agung. dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

tanggal lahir Pekerjaan Agama Kewarganegaraan Tempat tinggal : Supriyadi Widodo Eddyono. Jakarta Selatan Selanjutnya disebut sebagai ------------------------------------Pemohon II. : Medan. [1. 5 . 9 September 1976 : Advokat : Islam : Indonesia : Di jalan Teratai XV Blok Q Nomor 6 Tanjung Barat Indah Jagakarsa. S. S. : Peneliti : Islam : Indonesia : Di Cipinang Asem RT 004 RW 009 Kebon Pala Makasar Jakarta Timur Selanjutnya disebut sebagai -----------------------------------Pemohon III. Serpong Tangerang Selatan Selanjutnya disebut sebagai--------------------------------------Pemohon I. 2. N a m a Tempat. tanggal lahir : Kebumen. selanjutnya disebut ----------Para Pemohon. Pemohon tersebut di atas. 1 Desember 1984.H. 3. Tempat.Agama Kewarganegaraan Tempat tinggal : Islam : Indonesia : Di Jalan Anggrek Bilan II Blok F/13 Bumi Serpong Damai.H. Membaca keterangan tertulis dari Dewan Perwakilan Rakyat. Mendengar keterangan tertulis dari Pemerintah. Mendengar keterangan dari para Pemohon. N a m a Pekerjaan Agama Kewarganegaraan Tempat tinggal : Wahyudi.3] Membaca permohonan dari para Pemohon.

Membaca keterangan Ad Informandum ahli dari para Pemohon. pengaturan (regulation) mengenai legalitas penyadapan harus dibentuk dan diformulasikan secara tepat sesuai dengan UUD 1945.14] Menimbang bahwa para Pemohon memohon kepada Mahkamah agar mencabut Pasal 31 ayat (4) UU 11/2008 yang menyatakan. 6 . Dalam perkembangannya penyadapan sering kali digunakan untuk membantu proses hukum tertentu. [3.13] Menimbang bahwa sejatinya penyadapan (interception) adalah sebuah perbuatan melawan hukum. korupsi. 10. Penyadapan yang diperbolehkan ini dikenal juga sebagai lawful interception (penyadapan yang legal/sah di mata hukum). “Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Hal ini dikarenakan penyadapan merupakan sebuah tindakan yang melanggar privasi orang lain dan oleh karenanya melanggar hak asasi manusia (HAM). Memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh para Pemohon. seperti penyelidikan kasus-kasus kriminal dalam mengungkap aksi teror. Oleh karena itu. Membaca kesimpulan dari para Pemohon. Bahwa kegiatan dan kewenangan penyadapan merupakan hal yang sangat sensitif karena di satu sisi merupakan pembatasan HAM namun di sisi lain memiliki aspek kepentingan hukum. Pemohon mendalilkan bahwa ketentuan a quo bertentangan dengan konstitusi Pasal 28G ayat (1) dan Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. dan tindak pidana narkoba. HAKIM ANGGOTA : AHMAD FADLIL SUMADI Pendapat Mahkamah [3.

maka negara haruslah menyimpangi dalam bentuk Undang-Undang dan bukan dalam bentuk Peraturan Pemerintah. Pengaturan penyadapan dalam Peraturan Pemerintah tidak akan cukup menampung artikulasi pengaturan mengenai penyadapan.Bahwa para Pemohon mendalilkan ketentuan tata cara mengenai penyadapan tidak seharusnya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah melainkan harus diatur melalui Undang-Undang. Penyimpangan terhadap HAM sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. Pemohon beralasan bahwasanya pembatasan terhadap Hak Asasi Manusia hanya dapat dilakukan menggunakan formula pengaturan Undang-Undang. Bahwa penyadapan sebagai alat pendeteksi dan pencegah kejahatan juga memiliki kecenderungan yang berbahaya bagi hak asasi manusia. Bahwa karena penyadapan merupakan pelanggaran atas hak asasi manusia maka sangat wajar dan sudah sepatutnya jika negara ingin menyimpangi hak privasi warga negara tersebut. khususnya pada Hukum Acara Pidana karena hukum yang mengatur penyadapan oleh institusi 7 . hanya dapat dilakukan melalui Undang-Undang dan bukan bentuk lain apalagi Peraturan Pemerintah. Ketidakjelasan pengaturan mengenai penyadapan. akan berpotensi pada penyalahgunaan yang berdampak pada pelanggaran HAM para Pemohon maupun masyarakat pada umumnya. Bahwa mengatur hal sensitif seperti halnya penyadapan haruslah diletakkan dalam kerangka Undang-Undang. kehidupan keluarga maupun korespondensi. Bahwa para Pemohon juga mendalikan penyadapan oleh aparat hukum atau institusi resmi negara tetap menjadi kontroversial karena merupakan praktik invasi atas hak-hak privasi warga negaranya yang mencakup privasi atas kehidupan pribadi. bila berada pada hukum yang tidak tepat dikarenakan lemahnya pengaturan dan formulasi pengaturannya.

penyidikan. [3.negara harus lebih ditekankan pada perlindungan hak atas privasi individu dan/atau warga negara Indonesia. Pasal 42 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang menyatakan: Ayat (2): Untuk keperluan proses peradilan pidana.15] Menimbang bahwa Mahkamah telah mendengar dan membaca keterangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) yang mendalilkan bahwa pasal a quo tidak dapat dipisahkan dari pasal sebelumnya yakni Pasal 31 ayat (3) UU 11/2008 yang menyatakan bahwa penyadapan hanya dapat dilakukan dalam rangka penegakan hukum oleh Kepolisian. Kejaksaan. Adapun ketentuan mengenai penyadapan. dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang. “Dalam melaksanakan tugas penyelidikan. sudah terlebih dahulu ada di sejumlah UndangUndang di antaranya: 1. Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyadapan dan merekam pembiacaraan. penyelenggara jasa telekomunikasi dapat merekam informasi yang dikirim dan atau diterima oleh penyelenggara jasa komunikasi serta dapat memberikan informasi yang diperlukan atas: 8 . Pasal 12 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan.” 2. Bahwa keberadaan Peraturan Pemerintah sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 31 ayat (4) UU 11/2008 tidak bertentangan dengan UUD 1945 karena materi muatan dalam pasal a quo hanya mengamanatkan pembuatan tata cara penyadapan. dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c.

a.16] Menimbang bahwa penyadapan informasi termasuk salah satu kegiatan intelijen komunikasi. yaitu suatu kegiatan merekam/mendengar dengan/atau tanpa memasang alat/perangkat tambahan pada jaringan telekomunikasi untuk mendapatkan informasi baik secara diam-diam ataupun terang-terangan. Ayat (3): “Ketentuan mengenai tata cara permintaan dan pemberian rekaman informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. [3. agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dan gangguan ketertiban dalam penyelenggaraan negara.” 1. Bahwa oleh karena itu.” Bahwa pasal-pasal dalam Undang-Undang di atas telah memberikan payung hukum bagi pembuatan Peraturan Pemerintah. Adapun muatan materi Peraturan Pemerintah tentang tata cara penyadapan tidak akan bertentangan dengan Undang-Undang disebabkan Peraturan Pemerintah merupakan aturan yang merupakan penjabaran dari Undang-Undang. Pasal 43 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang menyatakan: “Pemberian rekaman informasi oleh penyelenggara jasa telekomunikasi kepada pengguna jasa telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 dan untuk kepentingan proses peradilan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) tidak merupakan pelanggaran Pasal 40. pemerintah 9 . permintaan penyidik untuk tindak pidana tertentu sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. permintaan tertulis Jaksa Agung dan atau Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk tindak pidana tertentu. b. sehingga keberadaan Peraturan Pemerintah sama sekali tidak bertentangan dengan UUD 1945.

• Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154. antara lain: • Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143. terdapat regulasi sebagai berikut: • Menteri Nomor 01/P/M. Bahwa dari beberapa peraturan perundang-undangan tersebut di atas. • Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137. Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 45. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843). • Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4250).harus mengatur aktivitas penyadapan. • Peraturan Negara.KOMINFO/03/2008 tentang Perekaman Informasi untuk Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Pertama. • Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4284). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5062). Pasal 40 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi menyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan 10 . Regulasi penyadapan informasi telah dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia.

Pasal 41 menyatakan...”. dan di dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik orang lain... oleh pelanggan jasa telekomunikasi melalui jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi yang diselenggarakannya”. terdapat badan lain yang berhak dan wajib dalam melakukan perekaman informasi. Pasal 30 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur tentang larangan mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang lain untuk mencuri informasi/dokumen elektronik dengan cara apapun secara tanpa hak atau melawan hukum. (2) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atas transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik dari. baik yang tidak menyebabkan perubahan apa pun maupun yang menyebabkan 11 . ke. • Kedua.penyelenggara komunikasi wajib melakukan perekaman pemakaian fasilitas telekomunikasi yang digunakan oleh pengguna jasa telekomunikasi.kegiatan penyadapan atas informasi yang disalurkan melalui jaringan telekomunikasi dalam bentuk apapun yang dimaksudkan dalam pasal tersebut adalah kegiatan penyadapan yang tidak sah/legal. Jika perusahaan penyedia telekomunikasi melanggar ketentuan yang terdapat dalam pasal tersebut yaitu dengan membocorkan informasi mengenai pelanggannya maka perusahaan tersebut akan mendapat sanksi pidana penjara atau denda sebanyak dua ratus juta rupiah. “Penyelenggara jasa telekomunikasi wajib merahasiakan informasi yang dikirim dan atau diterima. Selengkapnya Pasal 31 ayat (1) menyatakan. Selanjutnya Pasal 42 ayat (1) menyatakan. Ini berarti selain badan penegak hukum.”. ”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik orang lain.

(3) Kecuali intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah”. dan Pasal 78 UU 35/2009). • Kelima. Penyadapan atas izin ketua pengadilan yaitu apabila terdapat bukti awal yang cukup dan dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan terhitung sejak surat penyadapan diterima penyidik. sedangkan tanpa izin ketua pengadilan lebih dahulu apabila dalam keadaan mendesak dan setelah itu izin Ketua Pengadilan dalam waktu tidak lebih dari satu kali dua puluh empat jam (vide Pasal 75. • Keempat. Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyatakan.adanya perubahan. Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan”. • Ketiga. 12 . intersepsi yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian. penghilangan. Pasaal 77. kejaksaan. dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang. dan/atau penghentian Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sedang ditransmisikan. Menjadi Undang-Undang memperbolehkan penyadapan informasi dengan ketentuan memperoleh izin dari pengadilan negeri dan waktu yang diberikan tidak lebih dari satu tahun. “Dalam melaksanakan tugas penyelidikan. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menyatakan penyidik BNN membolehkan melakukan penyadapan baik atas izin pengadilan maupun tanpa izin ketua pengadilan lebih dahulu. dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c. Pasal 31 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. penyidikan.

• Keenam. yang dimaksud dengan penyadapan adalah kegiatan memasang perangkat tambahan telekomunikasi untuk tujuan mendapatkan informasi dengan cara tidak sah. AKIL MOCHTAR Menimbang bahwa terdapat sejumlah definisi mengenai penyadapan yakni: a) Pasal 31 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik bahwa yang dimaksud dengan “intersepsi atau penyadapan” adalah kegiatan untuk mendengarkan. informasi. yang menyatakan Penyadapan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan penyelidikan atau penyidikan dengan cara menyadap pembicaraan. informasi. mengubah. membelokkan.KOMINFO/03/2008 tentang Perekaman Informasi untuk Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara yang mengatur mengenai ketentuan teknis dari penyadapan. Peraturan Menteri Nomor 01/P/M. menghambat. 11. baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel. c) Pasal 1 angka 19 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. merekam. dan/atau mencatat transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik. pesan. b) Pasal 40 Undang-Undang alat atau Nomor 36 Tahun 1999 pada tentang jaringan Telekomunikasi.17] HAKIM ANGGOTA : M. dan/atau jaringan 13 tata cara penyadapan yang bertujuan untuk kepentingan negara tanpa mengabaikan etika dan kerahasiaan . seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi. Pada dasarnya informasi yang dimiliki oleh seseorang adalah hak pribadi yang harus dilindungi sehingga penyadapan harus dilarang. [3.

antara lain di Amerika Serikat. c) hanya dapat dilakukan oleh Penyidik Pejabat Kepolisian yang bewenang.18] Menimbang bahwa Mahkamah menilai hingga saat ini belum ada pengaturan secara komprehensif mengenai penyadapan. b) kegiatan melanggar hukum dan oleh karenanya harus dilarang. sehingga memungkinkan terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya. di dalam penyadapan terdapat kepentingan yang mendesak. Tidak ada pengaturan yang baku mengenai penyadapan. dan Canada. namun tetap harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Dalam kondisi inilah. Bahwa mekanisme yang perlu diperhatikan dari penyadapan ini adalah penyadapan dapat dilakukan oleh seseorang yang mengatasnamakan lembaga yang memiliki kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang. sedangkan di Indonesia. [3. Belanda. Bahwa dari ketiga definisi dapat disimpulkan bahwa penyadapan mencakup tiga aspek yakni: a) proses penghambatan atau merekam informasi. sehingga tidak sewenang-wenang melanggar rights of privacy orang lain.19] Menimbang bahwa di beberapa negara pengaturan mengenai penyadapan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Bahwa dalam penyadapan terdapat prinsip velox et exactus yang artinya bahwa informasi yang disadap haruslah mengandung informasi terkini dan akurat. Dalam hal inilah berlaku batasan penyadapan agar tidak melanggar privasi ataupun hak asasi warga negara. Dalam hal ini penyadapan harus mengandung kepentingan khusus yang dilakukan dengan cepat dan akurat. Hal ini menunjukkan bahwa pengaturan mengenai penyadapan masih tersebar di beberapa Undang-Undang dengan mekanisme dan tata cara yang berbeda-beda.komunikasi yang dilakukan melalui telepon dan/atau alat komunikasi elektronik lainnya. 14 . [3.

15 . [3. dijamin oleh UUD 1945. Sinkronisasi ini hanya dapat dilakukan oleh peraturan setingkat Undang-Undang dan bukan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana ketentuan Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. b. Tiga isu hukum tersebut adalah sebagai berikut: a.20] Menimbang bahwa Mahkamah menilai bahwa ada tiga isu hukum yang menjadi permasalahan dalam pekara ini.pengaturan mengenai penyadapan tersebar di beberapa peraturan perundang-undangan. namun pembatasan atas rights of privacy ini hanya dapat dilakukan dengan Undang-Undang. Rights of privacy merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dapat dibatasi (derogable rights). [3. sehingga keberadaan pasal a quo amat dimungkinkan disalahgunakan untuk melanggar HAM orang lain. Mahkamah berpendapat bahwasanya penyadapan memang merupakan bentuk pelanggaran terhadap rights of privacy yang bertentangan dengan UUD 1945. Regulation form: para Pemohon menyatakan bahwa pasal a quo yang memperbolehkan pengaturan penyadapan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah adalah tidak tepat karena seharusnya diatur dalam Undang-Undang sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 karena hal tersebut masuk dalam pembatasan HAM yang hanya dapat dilakukan dengan Undang-Undang. Rights of Privacy: para Pemohon mendalilkan bahwa penyadapan merupakan bentuk dari pelanggaran HAM yang hak tersebut.21] Menimbang terhadap isu hukum di atas. c. Bahwa pada dasarnya sangat dibutuhkan regulasi yang komprehensif dan tepat untuk mengendalikan sejumlah kewenangan yang tersebar di beberapa Undang-Undang. Practical Aspect: Bahwa kondisi pembangunan dan penegakan hukum di Indonesia belum stabil dan cenderung lemah bahkan terkesan karut marut.

(iv) pembatasan mengenai orang yang dapat mengakses penyadapan. [3. Bahwa meskipun para Pemohon menyatakan penyimpangan penyadapan terkadang tidak pernah terjadi. (iii) pembatasan penanganan materi hasil penyadapan. kewenangan aparat penegak hukum tersebut tetap harus dibatasi juga agar penyalahgunaan kewenangan tidak terjadi. batas kewenangan penyadapan. Namun demikian.Bahwa Mahkamah memang menemukan sejumlah UndangUndang yang telah memberikan kewenangan dan mengatur tentang penyadapan. (ii) adanya jaminan jangka waktu yang pasti dalam melakukan penyadapan. namun untuk memastikan keterbukaan dan legalitas dari penyadapan itu sendiri. Hal ini masih belum diatur secara jelas dalam beberapa Undang-Undang. Misalnya tentang prosedur pemberian izin. dan yang berhak untuk melakukan penyadapan. namun pengaturan tersebut masih belum memberikan tata cara yang lebih jelas mengenai penyadapan.22] Menimbang bahwa Mahkamah sependapat dengan keterangan ad informandum Ifdhal Kasim dan Mohammad Fajrul Falaakh. Adapun pokok-pokok keterangan Ifdhal Kasim menyatakan mekanisme penyadapan di berbagai negara di dunia dilakukan dengan syarat (i) adanya otoritas resmi yang ditunjuk dalam Undang-Undang untuk memberikan izin penyadapan. Bahwa keberlakuan penyadapan sebagai salah satu kewenangan penyelidikan dan penyidikan telah membantu banyak proses hukum yang memudahkan para aparat penegak hukum untuk mengungkap tindak pidana. Adapun pokok-pokok keterangan Mohammad 16 . Hal ini dikarenakan hingga kini pengaturan mengenani penyadapan masih sangat tergantung pada kebijakan masing-masing instansi. Mahkamah berpendapat bahwa tata cara penyadapan tetap harus diatur UndangUndang.

23] Menimbang bahwa Mahkamah menilai perlu adanya sebuah UndangUndang khusus yang mengatur penyadapan pada umumnya hingga tata cara penyadapan untuk masing-masing lembaga yang berwenang.Fajrul Falaakh menyatakan Undang-Undang mengenai penyadapan seharusnya mengatur dengan jelas tentang: (i) wewenang untuk melakukan. (v) tata cara penyadapan. [3. Bahwa pengaturan tata cara penyadapan dengan Peraturan Pemerintah sesuai dengan konsepsi delegated legislation di mana pembentukan Peraturan Pemerintah secara materi adalah untuk menjalankan Undang-Undang (vide Pasal 10 Undang-Undang Nomor 10 17 . (vii) pengawasan terhadap penyadapan. Bentuk Peraturan Pemerintah hanya merupakan pengaturan administratif dan tidak memiliki kewenangan untuk menampung pembatasan atas HAM. (viii) penggunaan hasil penyadapan. Selain itu keseluruhan UU 11/2008 juga tidak mengatur tentang tata cara penyadapan yang diatur Iebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 31 ayat (3) dan ayat (4) UU 11/2008 bertentangan dengan UUD 1945 karena tidak memberikan kejelasan dan kepastian aturan tentang penyadapan. Bahwa Peraturan Pemerintah tidak dapat mengatur pembatasan hak asasi manusia. Menurut ahli. menurut ahli. (ii) tujuan penyadapan secara spesifik. (iii) kategori subjek hukum yang diberi wewenang untuk melakukan penyadapan. Undang-Undang ini amat dibutuhkan karena hingga saat ini masih belum ada pengaturan yang sinkron mengenai penyadapan sehingga berpotensi merugikan hak konstitutional warga negara pada umumnya. (iv) adanya izin dari atasan atau izin hakim sebelum melakukan penyadapan. memerintahkan maupun meminta penyadapan. Pasal 31 ayat (4) UU 11/2008 tidak dapat dibenarkan karena Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang a quo tidak membolehkan adanya penyadapan. Oleh karena itu.

bertanggal 30 Maret 2004 mempertimbangkan. melalui Putusan Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006. Selain itu.24] Menimbang bahwa sejalan dengan penilaian hukum di atas. Mahkamah dalam Putusan Nomor 006/PUU-I/2003. Suatu peraturan yang secara hierarki lebih rendah merupakan derivasi atau turunan dari peraturan yang secara hierarki lebih tinggi dan hanya mengatur teknis operasional materi peraturan yang ada di atasnya. secara sistematika. [3. bertanggal 19 Desember 2006. sehingga negara dapat melakukan pembatasan terhadap pelaksanaan hak-hak tersebut dengan menggunakan undang-undang sebagaimana diatur dalam Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia”.Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan). Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang a quo merujuk pada ayat (3) yang pada dasarnya mensyaratkan adanya Undang-Undang yang mengatur penyadapan yang sampai sekarang belum ada. Lebih lanjut Mahkamah mempertimbangkan pula. sedangkan dalam kasus a quo. sehingga dapat dikatakan bahwa Pasal 31 ayat (4) UndangUndang a quo mendelegasikan sesuatu yang belum diatur. “Hak privasi bukanlah bagian dari hak-hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non-derogable rights). bertanggal 30 Maret 2004 yang menyatakan bahwa pembatasan melalui penyadapan harus diatur dengan Undang-Undang guna menghindari penyalahgunaan wewenang 18 . Berkaitan dengan pengaturan penyadapan. Mahkamah menegaskan dan mengingatkan kembali pertimbangan hukum Putusan Nomor 006/PUU-I/2003. “Untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan kewenangan untuk penyadapan dan perekaman Mahkamah Konstitusi berpendapat perlu ditetapkan perangkat peraturan yang mengatur syarat dan tata cara penyadapan dan perekaman dimaksud”. belum ada ketentuan yang mengatur syarat-syarat dan tata cara penyadapan yang diatur dalam Pasal 31 ayat (3) UU a quo.

12. semua itu harus diatur dengan undang-undang guna menghindari penyalahgunaan wewenang yang melanggar hak asasi”. Mahkamah berkesimpulan: 19 . Sesuai dengan perintah Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. mengenai dalil Pemohon atas Pasal 31 ayat (4) UU 11/2008 adalah tepat dan beralasan menurut hukum. di mana pembatasan demikian hanya dapat dilakukan dengan undang-undang.25] Menimbang bahwa dari rangkaian pendapat Mahkamah di atas.yang melanggar hak asasi. MAHFUD MD KONKLUSI Berdasarkan seluruh penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas. Dalam pertimbangan hukum putusan a quo. dalam kaitannya yang satu dengan yang lain. sebagaimana ditentukan oleh Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. siapa yang berwenang mengeluarkan perintah penyadapan dan perekaman dapat dikeluarkan setelah diperoleh bukti permulaan yang cukup. ataukan justru penyadapan dan perekaman pembicaraan itu sudah dapat dilakukan untuk mencari bukti permulaan yang cukup. antara lain. Undangundang dimaksud itulah yang selanjutnya harus merumuskan. dinyatakan bahwa: “Mahkamah memandang perlu untuk mengingatkan kembali bunyi pertimbangan hukum Mahkamah dalam Putusan Nomor 006/PUUI/2003 tersebut oleh karena penyadapan dan perekaman pembicaraan merupakan pembatasan terhadap hak-hak asasi manusia. [3. yang berarti bahwa penyadapan dan perekaman pembicaraan itu untuk menyempurnakan alat bukti. KETUA : MOH.

• Mengabulkan permohonan Para Pemohon untuk seluruhnya. • Menyatakan Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.2] [4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 20 .[4.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316). Mengadili. dan memutus perkara a quo.1] [4. Para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk bertindak selaku pemohon dalam perkara a quo. • Menyatakan Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58.3] Mahkamah berwenang memeriksa. mengadili. Dalil-dalil Pemohon tepat dan beralasan menurut hukum. • Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya. AMAR PUTUSAN Dengan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan dengan mengingat Pasal 56 ayat (2) dan ayat (3) serta Pasal 57 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98.

Achmad Sodiki. sekarang putusan Nomor 1. Pemerintah atau yang mewakili. Ahmad Fadlil Sumadi. Demikian Putusan Nomor 5. Arsyad Sanusi. Akil Mochtar. menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yaitu Moh. Muhammad Alim. Ahmad Fadlil Sumadi. yaitu Moh. dihadiri oleh Pemohon/Kuasanya. dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili. dan Hamdan Zoelva masing-masing sebagai Anggota pada hari Rabu tanggal dua bulan Februari tahun dua ribu sebelas dan diucapkan dalam Sidang Pleno terbuka untuk umum pada hari Kamis tanggal dua puluh empat bulan Februari tahun dua ribu sebelas oleh kami tujuh Hakim Konstitusi. Maria Farida Indrati. PUTUSAN Nomor 1/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1. dan Hamdan Zoelva masing-masing sebagai Anggota dengan didampingi oleh Sunardi sebagai Panitera Pengganti. Harjono. M. Mahfud MD. Mahfud MD.KETUK PALU 1X Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi. yang diajukan oleh: 21 . Muhammad Alim.1] Yang memeriksa. sebagai Ketua merangkap Anggota. Akil Mochtar. M. Harjono. mengadili dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir. M. Achmad Sodiki. sebagai Ketua merangkap Anggota.

bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa. S. Jakarta. 22 . 4.3] Membaca permohonan dari para Pemohon. berkedudukan di Jalan Abdul Hakim Nomor 5A. Kelurahan Tanjung Sari. S. Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak Medan. Mendengar keterangan dari para Pemohon. yang diwakili oleh: Nama Pekerjaan : Ahmad Sopian. yang diwakili oleh: Nama Pekerjaan : Drs. Despi Yanti. Muhammad Joni.H.H. M.. Jakarta Pusat.2] 1. Kota Medan.Si : Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia.H. Kecamatan Medan Selayang. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 412 KPAI/XII/2009 bertanggal 23 November 2009 dan 25 November 2009 memberi kuasa kepada: 1. M. 3. Pasar Satu Setia Budi. Hadi Supeno. Membaca keterangan tertulis DPR. baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Ade Irfan Pulungan.. 2. S. S.H. S.A : Ketua Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak Medan.H. Disebut sebagai -------------------------------------------------Pemohon II. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)” berkedudukan di Jalan Teuku Umar Nomor 10-12 Menteng. Disebut sebagai ----------------------------------------------------Pemohon I.H. Kesemuanya adalah Advokat yang tergabung pada ”Tim Litigasi Untuk Penghapusan Kriminalisasi Anak. 6.[1.H.. berkedudukan di Jalan Teuku Umar Nomor 10-12 Menteng. Membaca keterangan tertulis Pemerintah. M. S. 2. Ariffani Abdullah. M. Azmiati Zuliah. [1. 5. S.H. Indrawan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia.H. Selanjutnya disebut sebagai ------------------------------Para Pemohon.

23 . dan moral anak dibandingkan konsep pemidanaan (sentencing) semata-mata.20] Menimbang bahwa isu hukum yang harus diberi penilaian oleh Mahkamah adalah: 1. Sistem peradilan anak ini diarahkan kepada penerapan keadilan khusus kepada anak yang melakukan tindak pidana dengan lebih memperhatikan perlindungan sosial. HAKIM ANGGOTA : HARJONO Pendapat Mahkamah [3. Apakah klausul Anak Nakal dapat dipidana penjara di Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan tindakan yang melanggar hak konstitusional anak yang bertentangan dengan UUD 1945? [3. Memeriksa bukti-bukti tertulis yang diajukan para Pemohon. Apakah batas usia anak sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun merupakan batas usia yang terlalu rendah sehingga dapat melanggar hak-hak konstitusional anak dan bertentangan dengan UUD 1945? 2.Membaca dan mendengar keterangan Ahli dari para Pemohon dan Pemerintah. mental. Apakah penerapan hukum melalui peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat merupakan ketentuan yang bertentangan dengan asas legalitas hukum pidana dan bertentangan dengan UUD 1945? 3. 13.21] Menimbang bahwa pada dasarnya sistem peradilan anak (juvenile justice system) merupakan sistem peradilan yang ditujukan untuk memberikan perlindungan dan kesesuaian antara kepentingan anak dan ketertiban umum secara adil dan seimbang. Membaca kesimpulan tertulis dari Pemohon.

Pidana kurungan.22] Menimbang bahwa pendekatan pidana (penalty approach) yang ditujukan sistem peradilan anak adalah lebih pada proses rehabilitasi moral dan mental anak dibandingkan pada penerapan sanksi an sich. b. [3. dan hak tumbuh kembang anak (rights to develop). [3. Pidana penjara.23] di atas. para Pemohon meminta tiga pasal dalam UU Pengadilan Anak untuk diputus bertentangan dengan UUD 1945 dan oleh karenanya harus dicabut dan 24 . c. Pidana pengawasan”. atau d. Mahkamah memandang terdapat substansi atau materi Undang-Undang a quo yang perlu diperbaiki. seperti Pasal 23 ayat (2) huruf a UU yang menyatakan. [3. Keberadaan UU Pengadilan Anak sebagai UndangUndang yang secara khusus ditujukan bagi kepentingan terbaik bagi anak adalah bentuk dari affirmative action bagi Anak. hak kelangsungan hidup (rights to survival). “Pidana pokok yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal ialah: a.22] dan [3. Pidana denda.24] Menimbang bahwa Mahkamah berpendapat keberadaan UU Pengadilan Anak ini seharusnya ditujukan untuk memberikan perlindungan terbaik pada anak untuk dapat menjamin hak hidup (rights to life).26] Menimbang bahwa dari enam pasal yang dimohonkan untuk diuji. Filosofi keseimbangan ini secara cermat juga harus diterapkan di samping memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child).23] Menimbang bahwa keseimbangan dari sistem peradilan anak memiliki tiga filosofi yang secara bersama-sama harus diterapkan yakni perlindungan pembangunan masyarakat (community protection).25] Menimbang bahwa setelah mencermati keseluruhan ketentuan perundang-undangan tentang Pengadilan Anak.[3. [3. dan kompetensi akuntabilitas (development competency) (accountability). Sistematika rumusan tersebut seharusnya mendahulukan pidana pengawasan dan yang terakhir barulah pidana penjara dengan rasio hukum sebagaimana terurai dalam paragraf [3.

Pasal 31 ayat (1) UU Pengadilan Anak. para Pemohon juga meminta Mahkamah untuk memberikan putusan inkonstitusional bersyarat. [3. Bahwa Mahkamah telah mendengarkan ahli Pemerintah. tiga pasal yang dimohonkan untuk dinyatakan inkonstitusional bersyarat adalah Pasal 4 ayat (1).. [3. yakni Dr.H.28] Menimbang bahwa Pemohon memohon agar Mahkamah mencabut frasa. Hal ini disebabkan frasa a quo telah menimbulkan relativitas pemaknaan di masing-masing budaya dan lingkup dengan masyarakat. M. Ketiga pasal tersebut adalah Pasal 1 angka 2 huruf b. Pasal 23 ayat (2) huruf a. Dalam hal ini. yang menyatakan bahwa keberadaan klausula dalam Pasal 1 angka 2 huruf b UU Pengadilan Anak tentang definisi Anak Nakal selain telah melakukan tindak pidana juga telah melakukan 25 . kecuali dimaknai dengan pemahaman tertentu.. dan Pasal 22 UU Pengadilan Anak. S.” dalam Pasal 1 angka 2 huruf b UU Pengadilan Anak.H.maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. “. Para Pemohon mendalilkan bahwa keberadaan frasa tersebut telah memberikan beban pidana yang lebih berat dan sumir dalam mendefinisikan “Anak Nakal”. Mudzakkir..27] Menimbang bahwa selain ketiga pasal yang dimohonkan untuk dicabut dan dinyatakan inkonstitusional. Putusan inkonstitusional bersyarat memberikan arti bahwa sebuah pasal dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 secara bersyarat (conditionally unconstitutional).dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. asas Pemohon hukum menyatakan pidana dan bahwa telah keberadaan klausula dalam Pasal 1 angka 2 huruf b UU Pengadilan Anak bertentangan legalitas menimbulkan ketidakpastian hukum bagi anak karena tidak adanya standar atau ukuran yang jelas mengenai apa definisi anak nakal menurut ukuran-ukuran sosial yang amat beragam dan selalu berkembang.. Pasal 5 ayat (1).

Bahwa sepanjang pendapat hukum ahli Pemohon. Dr.. Bahwa Mahkamah mengakui adanya norma hukum lain yang hidup dan mengikat di dalam masyarakat Indonesia. S. pendapat hukum tersebut adalah tidak tepat menurut hukum karena ketentuan a quo telah merupakan norma hukum (pidana) yang ditujukan tidak hanya kepada anak an sich melainkan juga untuk semua pencari keadilan yang sesuai dengan asas legalitas [vide Pasal 1 ayat (1) KUHP]. Selain norma hukum yang telah ditetapkan dan ditulis oleh negara. M. Bahwa Mahkamah berpendapat norma hukum di Indonesia tidak dapat diklasifikasi hanya sebatas pada norma-norma hukum positif yang tertulis dalam Undang-Undang..perbuatan terlarang menurut peraturan hukum lain yang berlaku di masyarakat. adalah merupakan norma hukum yang lazim dan sesuai corak masyarakat yang heterogen dan sistem hukum pidana di Indonesia.H. Surastini. yang menyatakan bahwa Pasal 1 angka 2 huruf b UU Pengadilan Anak adalah hukum tidak tertulis berupa hukum adat atau kebiasaan sehingga dapat ditafsirkan untuk memperluas kemungkinan seorang anak untuk dapat dijerat dengan sanksi pidana sehingga bertentangan dengan asas pidana. dan norma hukum kesusilaan yang tidak kesemuanya dimuat dalam hukum positif di Indonesia. yakni norma hukum agama.H. Hal tersebut memberikan bukti bahwa Undang-Undang a quo telah mengakomodasi heterogenitas yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. berlaku pula norma hukum lain yang sejatinya telah mengakar dan berlaku secara kultural di tengah masyarakat Indonesia. Norma-norma hukum yang hidup dalam masyarakat inilah yang secara sosiologis dan historis lebih dahulu diakui oleh masyarakat Indonesia dengan ragam budaya yang dimilikinya. “Nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali”. norma hukum adat. Menurut Mahkamah. 26 .

pada Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak agar dinyatakan bertentangan dengan Pasal 28B ayat (2). dan sidang anak.sekurang- kurangnya 8 (delapan) tahun.. Bahwa para Pemohon mendalilkan bahwa batas usia anak yang dibawa ke sidang anak adalah terlalu rendah. yakni 12 tahun sebagai batas minimal usia tanggung jawab pidana anak yang 27 . sehingga tidak memenuhi rasa keadilan dan juga melanggar hak konstitutional anak. dan menyatakan inkonstitutional bersyarat dan hanya berlaku jika proses penyidikan anak sudah menjamin perlindungan hak-hak anak. “. sehingga memberikan kesimpulan tentang batas usia anak. Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.....29] Menimbang bahwa sepanjang isu hukum tentang frasa.belum mencapai umur 8 (delapan) tahun.Bahwa alasan hukum dalam pokok permohonan adalah timbulnya relativitas dan ukuran yang tidak jelas dengan berlakunya pasal a quo yang pada akhirnya dapat dibuktikan melalui proses hukum di pengadilan. Para Pemohon membandingkan batas usia tanggung jawab pidana anak dengan batas usia anak yang diberlakukan di sejumlah negara dan rekomendasi Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Hak Anak. sehingga pendapat para Pemohon mengenai telah dilanggarnya asas legalitas dalam hukum pidana adalah tidak tepat dan tidak berdasar hukum. penahanan. serta pemasyarakatan anak dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak sudah menjamin perlindungan hak-hak anak dan dengan adanya frasa.. pada Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak harus dinyatakan inkonstitutional bersyarat (conditionally unconstitutional) dan hanya berlaku jika proses penyidikan. Penafsiran bahwa seorang anak dapat dikategorikan sebagai “Anak Nakal” bukan merupakan proses tanpa prosedur dan dapat dijustifikasi oleh setiap orang. “..”. [3. Pemberian kategori “Anak Nakal” merupakan justifikasi yang dapat dilakukan melalui sebuah proses peradilan yang standarnya akan ditimbang dan dibuktikan di muka hukum. penuntutan..”.

Prof. Bahwa ahli Pemohon. S.A. M..D. Selain itu. Fentiny Nugroho. menyatakan bahwa 28 . Bismar Siregar. Senada dengan pendapat ahli Pemohon tersebut. Para Pemohon menyatakan bahwa dalam kenyataannya para Penyidik tidak membedakan perlakuan dalam pemeriksaan penyidikan terhadap anak yang belum berusia 8 tahun. para Pemohon juga mendalilkan bahwa dalam Pasal 113 ayat (1) RUU KUHP telah dirancang batas usia anak yang belum mencapai usia 12 tahun tidak dapat diminta pertanggungjawaban atas tindak pidana yang dilakukan. Proses pemeriksaan dan persidangan bagi anak usia 8 tahun menurut para Pemohon telah menyebabkan kerugian konstitutional yang diderita oleh anak sehingga tidak memberikan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. Ph. “Belum mencapai umur 8 (delapan) tahun” adalah terlalu rendah karena terhadap anak dalam usia tersebut dapat dilakukan proses hukum “pro justisia” oleh Penyidik. Dr. Adapun ahli Pemohon lainnya. Bahwa para Pemohon mendalilkan sejumlah permasalahan yang terjadi dalam proses pemeriksaan dan persidangan anak yang terjadi di Indonesia. Bahwa para Pemohon mendalilkan frasa. Surastini. Para Pemohon juga menyatakan fakta hukum bahwa pelanggaran hak anak seperti kekerasan dan kondisi tidak nyaman dalam lingkup proses pemeriksaan untuk kepentingan “pro justisia”.. M. menyatakan bahwa batas usia sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun terlalu rendah untuk diminta pertanggungjawaban pidana karena anak yang masih berusia 8 tahun masih sangat membutuhkan perlindungan.telah menjadi hukum kebiasaan internasional (international customary law). memberikan keterangan bahwa usia anak 8 tahun sampai 18 tahun sangat rawan dikenakan pidana karena pada usia inilah. anak-anak tumbuh dan berkembang secara maksimal.H.H.

Hj. S. Mudzakkir. Dr. namun batas usia demikian tidak dapat dijadikan dasar untuk menafsirkan konstitusionalitas batas usia pada Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak. Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak menyatakan dalam hal anak belum mencapai umur 8 (delapan) tahun dapat dilakukan penyidikan.H. yakni 12 tahun. dari keterangan ahli Pemerintah. Adi Fahrudin. Selanjutnya. Adapun ahli Pemohon lainnya. menyatakan bahwa dari tinjauan psikologi anak. dan pemidanaan. M. yang menyatakan meskipun Komite Hak-Hak Anak PBB telah merekomendasikan batas minimum pertanggungjawaban hukum anak.anak usia 8 tahun belum dapat diminta tanggung jawab pidana dan orang tuanya yang lebih tepat bertanggung jawab atas perbuatan anaknya. ahli Pemohon.. Bahwa sebaliknya. sedangkan 29 . maka usia 13 (tiga belas) tahun baru dapat dikenai pertanggungjawaban hukum karena telah mengetahui hak dan kewajibannya. Mahkamah memandang batasan umur telah menimbulkan pelbagai penafsiran dan kontroversi pemikiran sehingga perlu ada batasan usia yang serasi dan selaras dalam pertanggunganjawaban hukum bagi anak yang terdapat dalam UU Pengadilan Anak dengan mendasarkan pada pertimbangan hak-hak konstitusional anak. Bahwa dari dua pandangan hukum baik ahli Pemohon maupun ahli pemerintah. Mahkamah menemukan adanya perbedaan antara batas usia minimal bagi anak yang dapat diajukan dalam proses penyidikan. proses persidangan. Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak menyatakan bahwa batas umur Anak Nakal yang dapat diajukan ke Sidang Anak adalah sekurangkurangnya 8 (delapan) tahun. Dalam perspektif hukum Islam. menyatakan bahwa anak yang belum akil baligh atau belum sempurna akalnya belum dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.H. Aisyah Amini.

batas umur 8 (delapan) tahun bagi anak untuk diajukan ke sidang dan belum mencapai umur 8 (delapan) tahun dapat dilakukan pemeriksaan oleh penyidik. fakta hukum menunjukkan adanya beberapa dan perlu permasalahan persidangan. secara faktual benar. umur a quo relatif rendah.Pasal 26 ayat (3) dan ayat (4) UU Pengadilan Anak menyatakan bahwa apabila anak nakal belum mencukupi umur 12 tahun melakukan tindak pidana yang diancam hukuman mati atau seumur hidup maka terhadap anak nakal hanya dapat dijatuhkan tindakan sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (1) UU Pengadilan Anak tidak dapat dilakukan apabila belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun. menetapkan dalam sehingga umur proses penyidikan. batas . dan pemidanaan tersebut merupakan jenis dan materi muatan dari pertanggungjawaban hukum (pidana) yang seharusnya ketiganya mengandung kesesuaian karena jenis dan materinya sama sehingga harus konsisten sesuai dengan asas-asas hukum yang dituangkan dalam Pasal 5 huruf c Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. HAKIM ANGGOTA : ACHMAD SODIKI Bahwa Mahkamah berpendapat. baik dalam proses penyidikan. Oleh karenanya. Meskipun dalam Undang-Undang Pengadilan Anak menerapkan pula asas praduga tak bersalah. menurut Mahkamah. Dari pengaturan hukum mengenai batas umur. hak untuk 30 penahanan. Mahkamah menciderai bagi anak konstitusional anak yang dijamin dalam UUD 1945. 14. pedagogis anak dapat dianggap sudah mempunyai rasa tanggung jawab. psikologis. proses persidangan. Penjelasan Undang-Undang a quo menentukan batas umur 8 (delapan) tahun secara sosiologis.

dan intelektual yang stabil serta sesuai dengan psikologi anak dan budaya bangsa Indonesia. batas umur 31 . Penetapan batas umur tersebut juga dengan mempertimbangkan bahwa anak secara relatif sudah memiliki kecerdasan emosional. Bahwa penetapan usia minimal 12 (dua belas) tahun sebagai ambang batas usia pertanggungjawaban hukum bagi anak telah diterima dalam praktik sebagian negara-negara sebagaimana juga direkomendasikan oleh Komite Hak Anak PBB dalam General Comment. penetapan batas umur tersebut sesuai dengan semangat revisi KUHP yang akan memberikan batasan usia yang lebih tinggi untuk menghindari adanya pelanggaran konstitusional anak sebagaimana didalilkan para Pemohon yang sama dengan RUU Peradilan Anak yang memberikan batasan usia 12 (dua belas) tahun.melindungi perlindungan hak konstitusional anak terutama hak terhadap (protection right ) dan hak untuk tumbuh dan berkembang ( development right). Selain itu. Berdasarkan pandangan hukum di atas. Mahkamah dan berpendapat internasional rekomendasi PBB tidak dapat dijadikan batu uji an sich dalam menilai konstitusionalitas batas usia pertanggungjawaban hukum bagi anak. dan instrumen hukum internasional lainnya batas umur 12 tahun dapat dijadikan perbandingan dalam menentukan batas usia minimal bagi anak dalam pertanggungjawaban bahwa instrumen hukum. Mahkamah berpendapat bahwa konvensi internasional. Dengan batasan usia 12 (dua belas) tahun maka telah sesuai dengan ketentuan tentang pidana yang dapat dijatuhkan kepada anak dalam Pasal 26 ayat (3) dan ayat (4) UU Pengadilan Anak. hukum Namun. mental. rekomendasi Hak-Hak Anak PBB. 10 Februari 2007. Mahkamah berpendapat. sehingga dapat bertanggung jawab secara hukum karena telah mengetahui hak dan kewajibannya.

menurut Mahkamah. namun Pasal a quo merupakan jiwa atau ruh dari Undang-Undang Pengadilan Anak. Penghapusan frasa a quo ternyata juga secara mutatis mutandis 32 . bukan hanya Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak yang akan berpengaruh dengan dihapuskannya frasa. artinya inkonstitusional kecuali harus dimaknai telah mencapai usia 12 (dua belas) tahun sebagai ambang batas minimum pertanggungjawaban pidana.. sehingga batas umur minimum juga harus disesuaikan agar tidak bertentangan dengan UUD 1945. yakni 12 (dua belas) tahun. frasa sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun dalam Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak dan frasa belum mencapai umur 8 (delapan) tahun dalam Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak adalah inkonstitusional bersyarat.. Dengan demikian.minimal 12 (dua belas) tahun lebih menjamin hak anak untuk tumbuh berkembang dan mendapatkan perlindungan sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (2) UUD 1945. “Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin”..” dalam UU Pengadilan Anak..belum mencapai umur 8 (delapan) tahun. Oleh karenanya. terutama Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UU pengadilan Anak. Bahwa dengan perubahan batasan usia minimal pertanggungjawaban hukum bagi anak adalah 12 (dua belas) tahun maka Mahkamah berpendapat hal tersebut membawa implikasi hukum terhadap batas umur minimum ( minimum age floor) bagi Anak Nakal ( deliquent child ) sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 ayat (1) UU Pengadilan Anak yang menyatakan. Mahkamah berpendapat bahwa meskipun Pasal a quo tidak dimintakan pengujiannya oleh para Pemohon. “sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun” dan Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak sepanjang frasa “. Bahwa sejatinya.

.... dan penjelasan Undang-Undang a quo sepanjang terkait dengan batas umur 8 tahun. tidak akan membiarkan adanya norma dalam Undang-Undang yang tidak konsisten dan tidak sesuai dengan amanat perlindungan konstitutional yang dikonstruksikan oleh Mahkamah..” dan Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak sepanjang frasa. pasal lain yang akan turut terpengaruh adalah Pasal 1 angka 1 bagian Ketentuan Umum yakni. norma-norma pasal yang lain dalam Undang-Undang ini.mempengaruhi keberadaan frasa a quo pada pasal lainnya. “Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin”..belum mencapai umur 8 (delapan) tahun. namun Mahkamah sesuai dengan kewenangan konstitusionalnya. Adapun menurut perhatian Mahkamah. Bahwa dalam perkara konstitusi yang berkaitan dengan pengujian konstitutionalitas suatu Undang-Undang sesungguhnya tidak mengenal istilah putusan “ultra petita” (putusan melebihi yang diminta oleh Pemohon). “.. Oleh karena itu.”. pernyataan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat terhadap Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UndangUndang a quo.. yaitu Pasal 1 angka 1 dan penjelasan UU Pengadilan Anak sepanjang mengandung frasa sebagaimana disebutkan dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak harus dinyatakan inkonstitusional bersyarat sebagaimana telah dipertimbangkan di atas. Oleh karena itu. “.sekurang- kurangnya 8 (delapan) tahun. Bahwa meskipun yang dimohonkan pengujian hanya Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak sepanjang frasa. berlaku pula terhadap Pasal 1 angka 1 serta penjelasan 33 . maka pasti akan berpengaruh terhadap pasal-pasal lain yang tidak dimohonkan pengujian. namun karena Undang-Undang merupakan satu kesatuan sistem yang apabila sebagian pasalnya dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

.H) yang menyatakan Pasal 22 UU Pengadilan Anak mengenai penjatuhan 34 .. Pasal 22 UU Pengadilan Anak mengenai pemberian pidana akan berdampak traumatik pada anak yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi proses perkembangan kejiwaan anak mengingat status mantan narapidana akan terus disandang oleh anak hingga keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Anak. Bahwa para Pemohon mendalilkan..... Mahkamah dapat memberikan tafsir dalam penghapusan frasa “. merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan.H.”. pada Pasal 4 ayat (1) dan frasa... Bahwa sebagai “The Interpreter of Constitution”. M.telah mencapai umur 8 (delapan) tahun...sekurangkurangnya 8 (delapan) tahun.” pada Pasal 1 angka 1.”.”.belum mencapai umur 8 (delapan) tahun..UU Pengadilan Anak sepanjang frasa. frasa “.. pada Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak untuk selanjutnya hanya dapat dilaksanakan apabila ditafsirkan sesuai dengan batas umur minimum yang ditentukan oleh Mahkamah yakni 12 (dua belas) tahun. meskipun tidak dimohonkan pengujian oleh para Pemohon. Bahwa dari keterangan ahli Pemohon (Dr. Bahwa Pasal a quo tidak memberikan penekanan prioritas yakni upaya pemberian tindakan dan bukan pidana bagi anak sehingga tidak memberikan jaminan perlindungan dan kepastian hukum bagi tumbuh kembang anak.pidana atau..”.30] Menimbang bahwa para Pemohon memohon kepada Mahkamah untuk menyatakan inkonstitusional bersyarat Pasal 22 UU Pengadilan Anak sepanjang frasa “...telah mencapai umur 8 (delapan) tahun..... S.” bertentangan dengan ketentuan Pasal 28B ayat (2) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 dengan alasan bahwa untuk menjamin diperolehnya hak-hak anak harus didahulukan pemberian tindakan daripada penjatuhan pidana. Surastini. “... [3.

M. hak atas makan. pada Pasal 23 ayat (2) huruf a UU Pengadilan Anak dengan alasan bahwa penjatuhan pidana bagi anak merupakan pidana yang akan melanggar hak-hak anak seperti hak atas pendidikan. Mudzakkir. M. Hal ini dikarenakan setiap perkara dan kasus memiliki pertimbangan dan tindakan hukum yang berbeda pula sehingga alasan para Pemohon tidak tepat menurut hukum dan harus dikesampingkan. hak atas berkumpul dengan keluarga dan hak atas hukum berkeadilan. Mahkamah dapat menerima keterangan ahli Pemerintah bahwa proses penjatuhan dan pilihan mengenai pidana bagi anak sepenuhnya merupakan kewenangan bagi hakim untuk memutuskan setiap perkara.31] Menimbang bahwa para Pemohon juga memohon pada Mahkamah untuk mencabut frasa “a. dan sosial anak dalam menerapkan hukum yang berbeda. S.pidana bagi anak bukanlah suatu yang tepat karena tidak membantu dan menolong anak untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. yang memberikan penekanan pada proses pemberian pidana penjara kepada anak merupakan ranah kebijakan hakim yang juga didasarkan pada pertumbuhan dan perkembangan fisik.H.H. Mudzakkir.. Bahwa sebaliknya dari keterangan ahli Pemerintah yakni Dr. [3. Bahwa dari pandangan hukum kedua ahli di atas.H. hak atas rasa aman. S.. Bahwa ahli Pemohon berpendapat bahwa keberadaan pasal a quo mengenai penjatuhan pidana serta penjatuhan pidana penjara bagi anak adalah suatu pilihan yang tidak tepat dan tidak membantu ataupun menolong anak untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. pidana penjara”.. mental. Bahwa Mahkamah dapat menerima keterangan ahli Pemerintah. hak atas bebas dari kekerasan.H. Dr. yang menerangkan pilihan penjatuhan 35 . Pemohon mendalilkan bahwa pidana penjara di Indonesia telah memiliki sejumlah permasalahan tersendiri yang telah terbukti tidak akan efektif untuk memberikan pendidikan kesadaran atas tindak pidana yang telah dilakukan oleh seorang anak.

. mental. keberadaan pidana penjara bukan merupakan satu-satunya pilihan pidana bagi anak sehingga tidak secara mutlak dapat merugikan hak konstitutional anak. Mahkamah berpendapat bahwa Pasal 23 ayat (2) huruf a UU Pengadilan Anak telah memberikan sejumlah alternatif pidana bagi anak nakal selain pidana penjara yakni pidana kurungan. “. Hal ini tentunya dengan melihat sejumlah prinsip keseimbangan antara kepentingan terbaik anak (the best interest of child) dan ketertiban struktur sosial masyarakat. dan sosial anak.32] Menimbang bahwa para Pemohon mendalilkan bahwa frasa. Mahkamah berpendapat. Keberadaan klausula pidana penjara merupakan bentuk pilihan yang keputusan akhirnya akan diserahkan pada hakim berdasarkan pertimbangan berat ringan tindakan pidana. terjadinya kerugian yang dialami oleh anak dalam penjara bukan disebabkan berlakunya norma a quo melainkan dalam tataran implementasi bukan tataran konstitusional yang sama sekali secara mutlak tidak menyebabkan kerugian bagi semua anak yang tinggal dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak sehingga Pasal 23 ayat (2) huruf a UU Pengadilan Anak adalah konstitutional. [3. Dalam hal ini. pidana denda atau pidana pengawasan.. kapasitas pribadi anak dan lain sebagainya. Dari pandangan hukum di atas. Pasal 31 ayat (1) UU Pengadilan Anak dengan alasan bahwa penempatan anak nakal yang telah diputus oleh Hakim dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan 36 ..pidana penjara terhadap anak diserahkan kepada kebijakan hakim. sedangkan pembedaan perlakuan dan pidana tentunya didasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan fisik. Bahwa sepanjang menyangkut isu hukum berupa kasus-kasus kekerasan yang diderita oleh anak dalam penjara merupakan tindakan secara sistematis terjadi disebabkan berlakunya norma dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a UU Pengadilan Anak.”.di Lembaga Pemasyarakatan Anak..

sehingga harus ditempatkan dalam lembaga pemasyarakatan yang berbeda dengan lembaga pemasyarakatan orang dewasa. Dalam hal ini. Pemerintah mengaku juga telah melakukan upaya perbaikan dalam penanganan dan pembinaan anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak. Pemerintah kemudian memberikan keterangan yang pada pokoknya menyatakan ketentuan mengenai adanya Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan konsekuensi dari tindakan pidana yang dilakukan oleh anak. pembinaan. Keberadaan Pasal a quo telah mempertegas keberadaan Lembaga Pemasyarakatan Anak sebagai 37 . Bahwa Mahkamah berpendapat ketentuan yang terdapat dalam Pasal 31 ayat (1) merupakan penegasan keberadaan Lembaga Pemasyarakatan Anak dan keharusan aparat penegak hukum untuk tidak menempatkan anak nakal yang dinyatakan bersalah di Lembaga Pemasyarakatan bagi orang dewasa. Di samping itu Pemerintah juga telah mengakui adanya permasalahan seperti pelanggaran hukum yang diderita oleh anak selama dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak. dibandingkan bila anak tersebut berada di luar Lembaga Pemasyarakatan. dan latihan kerja sebagaimana tercantum dalam Pasal 24 ayat (1) huruf b UU Pengadilan Anak.“penempatan yang salah” atau “pemenjaraan yang keliru”. Sebaliknya atas dalil para Pemohon. Pemerintah memberikan keterangan bahwa pembentukan Lembaga Pemasyarakatan Anak adalah dalam rangka untuk melindungi anak dari perbuatan yang tidak baik. Hal tersebut disebabkan keterbatasan sarana dan prasarana maupun belum maksimalnya tingkat profesionalitas petugas pemasyarakatan dalam melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Para Pemohon berpendapat bahwa anak nakal tidak semestinya dimasukkan dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak seharusnya mengikuti pendidikan.

dan memutus perkara a seluruh penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas. Oleh karenanya dalil para Pemohon tidak tepat dan tidak berdasar hukum.wadah pendidikan. KETUA : MOH. Mahkamah berkesimpulan sebagai quo. [3. maka frasa-frasa yang dimohonkan oleh Pemohon yakni yang terdapat dalam Pasal 1 angka 2 huruf b. mengadili. Pasal 22.1] [4. sedangkan dalil Pemohon mengenai Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Pengadilan Anak beralasan hukum. Bahwa pada prinsipnya permasalahan-permasalahan yang didalilkan oleh para Pemohon mengenai Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan permasalahan yang timbul karena penerapan hukum yang salah oleh aparat penegak hukum dan bukan disebabkan adanya norma yang bertentangan dengan UUD 1945. Pasal 23 ayat (2) huruf a. 38 . Para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk bertindak selaku pemohon dalam perkara a quo.31] Menimbang bahwa dari rangkaian pendapat Mahkamah di atas dalam kaitannya yang satu dengan yang lain para Pemohon tidak dapat membuktikan dalil-dalil permohonannya. Pasal 31 ayat (1) UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak tidak terbukti menurut hukum. MAHFUD MD KONKLUSI Berdasarkan berikut: [4. dan latihan kerja bagi Anak Nakal yang diputus menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak. 15.2] Mahkamah berwenang memeriksa. pembinaan.

dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3. Pasal 4 ayat (1). kecuali dimaknai “.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316).”.... artinya inkonstitusional..3] Dalil-dalil Pemohon dalam pokok permohonan terbukti menurut hukum untuk sebagian.. beserta penjelasan Undang39 .12 (dua belas) tahun.. • Menyatakan frasa.”.” adalah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara bersyarat (conditionally unconstitutional).” dalam Pasal 1 angka 1... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3668). dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3. Mengadili... 8 (delapan) tahun.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3668).. Menyatakan frasa...” dalam Pasal 1 angka 1. beserta penjelasan UndangUndang tersebut khususnya terkait dengan frasa “.”.[4. • • Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk sebagian.. Pasal 4 ayat (1)... 8 (delapan) tahun.. AMAR PUTUSAN Dengan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan dengan mengingat Pasal 56 ayat (2) dan ayat (3) serta Pasal 57 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98.8 (delapan) tahun.

M. artinya inkonstitusional.. Memerintahkan pemuatan Putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.. Ahmad Fadlil Sumadi. masing-masing sebagai Anggota pada hari Rabu.8 (delapan) tahun. Pemerintah atau yang mewakili. Mahfud MD.12 (dua belas) tahun.. 40 .Undang tersebut khususnya terkait dengan frasa “. masing-masing sebagai Anggota dengan didampingi oleh Ida Ria Tambunan sebagai Panitera Pengganti... Harjono.” tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat (conditionally unconstitutional).. sebagai Ketua merangkap Anggota. yaitu Moh. Hamdan Zoelva. Akil Mochtar. M. Mahfud MD. sebagai Ketua merangkap Anggota. Akil Mochtar. dan Muhammad Alim. KETUK PALU 1X Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Moh. Harjono. Maria Farida Indrati. dihadiri oleh Pemohon/Kuasanya.. kecuali dimaknai “. dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili.”. Achmad Sodiki. M. Arsyad Sanusi. Hamdan Zoelva. Achmad Sodiki. • • Menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan selebihnya. Ahmad Fadlil Sumadi.. tanggal dua puluh empat Februari tahun dua ribu sebelas oleh tujuh Hakim Konstitusi. tanggal dua bulan Februari tahun dua ribu sebelas dan diucapkan dalam sidang pleno terbuka untuk umum pada hari Kamis. dan Muhammad Alim.

Akil Mochtar terhadap Pasal 1 angka 2 huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak sepanjang frasa ” . sebagai berikut: [6. maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin.. dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”. Salah satu ciri yang diakui secara universal oleh negara hukum yang demokratis adanya pengakuan atas asas legalitas dalam segala bentuk. saya memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion) sebagai berikut: UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara menjamin negara hukum yang demokratis. “Tiada suatu perbuatan boleh dihukum.. diatur.1] Pendapat Berbeda (Dissenting Opinion) Hakim M. Akil Mochtar. yaitu Hakim M.PENDAPAT BERBEDA (DISSENTING OPINION) Terhadap putusan perkara ini terdapat 1 (satu) seorang Hakim Konstitusi yang pendapat berbeda (dissenting opinion). Akil Mochtar Dissenting Opinion Hakim Konstitusi M. maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan”. yang ada terlebih dahulu daripada perbuatan itu”. Asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. 41 . Oleh sebab itu. yang dalam bahasa latinnya dikenal dengan sebutan ”Nullum delictum nulla poena sine praevia legi poenali”. semua produk yang dihasilkan oleh negara termasuk produk hukumnya harus ditujukan untuk mensejahterakan masyarakat menuju masyarakat Indonesia adil dan makmur. antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi (Lunshof). melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang. Di Indonesia asas legalitas diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia yang menyatakan. prinsip tersebut ditetapkan secara tegas di dalam Pasal 28I ayat (5) yang menyatakan ”Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis.

tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan. Sesuai dengan asas lex certa maka perumusan hukum pidana harus mengutamakan kejelasan. adanya kepastian hukum. artinya. tidak ada penerapan Undang-Undang pidana secara analogis. Artinya. 5. artinya Undang-Undang yang berlaku adalah Undang-Undang yang ada pada saat delik terjadi (nonretroaktif). dan pidana yang dijatuhkan bersumber kepada hukum yang tertulis. Asas legalitas adalah asas yang sangat fundamental dalam hukum pidana yang di dalamnya mengandung beberapa hal.Perumusan asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP tersebut mengandung makna asas lex temporis delicti. tidak ada perbuatan pidana tanpa Undang-Undang tertulis. 3. prinsip lege scripta. tidak diberlakukan ketentuan pidana yang berlaku surut. Sejak kelahirannya hukum pidana dibentuk untuk mengatur dan menerapkan sanksi pidana terhadap perbuatan seseorang (daad– 42 menurut doktrin hukum pidana menganut . artinya tidak ada perbuatan pidana tanpa Undang-Undang sebelumnya. 4. 6. Asas lex certa prinsip: 1. tidak multitafsir. artinya. dan prinsip lege stricta. tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan Undang-Undang. tidak dapat dipidana kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut Undang-Undang. menjamin adanya kepastian hukum. tidak ada perbuatan pidana tanpa Undang-Undang yang ketat. prinsip lege certa. penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan UndangUndang. tidak ada perbuatan pidana tanpa aturan Undang-Undang yang jelas. yaitu prinsip lege praevia. Hal yang demikian itu. bertolak dari nilai-nilai untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan penegak hukum. 2.

telah memberikan pertimbangan terhadap ajaran sifat melawan hukum materiil dalam Undang-Undang a quo yang bertentangan dengan prinsip asas legalitas. akan tetapi ketika perbuatan itu dilakukan yang bersangkutan di bawah umur atau dalam keadaan gila. dengan mana dalam bidang hukum pidana diterjemahkan sebagai asas legalitas yang dimuat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP.strafrecht). sangat jelas adresat hukum pidana adalah perbuatan seseorang yang melanggar aturan pidana. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006. Dengan demikian. Pasal 28D ayat (1) mengakui dan melindungi hak konstitusional warga negara untuk memperoleh jaminan dan perlindungan hukum yang pasti. maka pemberlakuan ketentuan pidana dikecualikan terhadap yang bersangkutan. sehingga dalam doktrin hukum pidana muncul sebutan daad-dader strafrecht. 43 . bertanggal 25 Juli 2006 terkait dengan Pengujian Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. dan bukan kepada status sosial atau status hukum orang yang bersangkutan (orang dewasa maupun anak) [Romli Atmasasmita (2005:2)]. yang pertimbangannya adalah sebagai berikut: “… Menimbang bahwa dengan demikian Mahkamah menilai memang terdapat persoalan konstitusionalitas dalam kalimat pertama Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK sehingga Mahkamah perlu mempertimbangkan lebih lanjut hal-hal sebagai berikut: 1. bahwa asas tersebut merupakan satu tuntutan akan kepastian hukum di mana orang hanya dapat dituntut dan diadili atas dasar suatu peraturan perundang-undangan yang tertulis (lex scripta) yang telah lebih dahulu ada. namun dalam perkembangannya kemudian dengan pengaruh gerakan humanisme maka hukum pidana juga diwajibkan mempertimbangkan seseorang yang melakukan tindak pidana.

Hukum Pidana. Menimbang bahwa oleh karenanya Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK kalimat pertama tersebut.dst. yang mewajibkan pembuat undang-undang untuk merumuskan secermat dan serinci mungkin (vide Jan Remmelink. . merupakan hal yang tidak sesuai dengan perlindungan dan jaminan kepastian hukum yang adil yang dimuat dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. sesuai dengan prinsip nullum crimen sine lege stricta. Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK sepanjang mengenai frasa “Yang dimaksud dengan ‘secara melawan hukum’ dalam pasal ini mencakup perbuatan-perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil.. Menimbang bahwa berdasarkan uraian di atas. yang merujuk pada hukum tidak tertulis dalam ukuran kepatutan.. adalah merupakan ukuran yang tidak pasti. kehati-hatian dan kecermatan yang hidup dalam masyarakat. sebagai satu norma keadilan. 3. yang harus secara tertulis lebih dahulu telah berlaku. sehingga apa yang melawan hukum di satu tempat mungkin di tempat lain diterima dan diakui sebagai sesuatu yang sah dan tidak melawan hukum. Hal demikian menuntut bahwa suatu tindak pidana memiliki unsur melawan hukum. konsep melawan hukum materiil (materiele wederrechtelijk). menurut ukuran yang dikenal dalam kehidupan masyarakat setempat. Konsep melawan hukum yang secara formil tertulis (formele wederrechtelijk). Dengan demikian. dan berbeda-beda dari satu lingkungan masyarakat tertentu ke lingkungan masyarakat lainnya. yang merumuskan perbuatan apa atau akibat apa dari perbuatan manusia secara jelas dan ketat yang dilarang sehingga karenanya dapat dituntut dan dipidana. 2003:358) merupakan syarat untuk menjamin kepastian hukum (lex certa) atau yang dikenal juga dengan istilah Bestimmheitsgebot. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam 44 .2.

maka perbuatan tersebut dapat dipidana”. perlindungan. dan cermat dalam Undang-Undang. tetapi tindakan tersebut tidak diatur secara rinci. yang merupakan pengakuan dan perlindungan hak konstitusional warga negara untuk memperoleh jaminan. 2003 53-54). manahan. dalam hal seseorang yang diduga melakukan tindak pidana korupsi saja mendapat perlindungan dan jaminan konstitusional. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau normanorma kehidupan sosial dalam masyarakat. harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. dijatuhi pidana yang hal tersebut merupakan tindakan mengkriminalisasi terhadap semua anak Indonesia. atau menuntut seorang anak ke pengadilan tanpa menyebutkan ketentuan atau peristiwa pidana yang dilanggar. Hukum Pidana.…” Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi a quo. dan kepastian hukum yang adil sesuai Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. pelaksanaan asas legalitas yang termuat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP merupakan suatu tuntutan akan kepastian hukum di mana orang hanya dapat dituntut dan diadili atas dasar suatu peraturan perundang-undangan yang tertulis (lex scripta) yang telah lebih dahulu ada. 45 . Tujuan akhir dari hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum sehingga jika interprestasi dilakukan berdasarkan tujuan yang kabur berarti kita mengganti bendungan dengan pagar yang tidak mampu memberikan batasan yang tegas. Dengan demikian. kita akan cenderung menerima prinsip yang berlaku di Rusia pada jaman Stalin: perbuatan apapun yang secara sosial dipandang berbahaya akan dianggap sebagai tindak pidana (Jan Remmelink. Padahal tujuan asas legalitas adalah untuk melindungi setiap orang dari tindakan sewenang-wenang aparat penegak hukum dalam menangkap. pasti. adalah ketidakadilan jika seorang anak Indonesia yang kemudian diduga melakukan tindak pidana.peraturan perundang-undangan.

t. menurut saya seharusnya Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 1 angka 2 huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak sepanjang frasa.. t. maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan” bertentangan dengan UUD 1945. 46 . sidang dinyatakan selesai dan ditutup. sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.d.. MAHFUD MD Dengan demikian. ” . KETUK PALU 3X SIDANG DITUTUP PUKUL 17:30 WIB Jakarta. 19610310 199203 1001 Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi. Mula Pospos NIP. KETUA : MOH.Maka berdasarkan uraian tersebut di atas. 16. 24 Februari 2011 Kepala Sub Bagian Pelayanan Risalah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful