P. 1
PUTUSAN MK 1

PUTUSAN MK 1

|Views: 20|Likes:

More info:

Published by: Anang Yuliardi Chaidir on Mar 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/11/2014

pdf

text

original

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

---------------------

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 1/PUU- VIII/2010 PERKARA NOMOR 5/PUU- VIII/2010 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 03 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK, PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR 1945

ACARA PENGUCAPAN PUTUSAN

JAKARTA KAMIS, 24 FEBRUARI 2011

PERKARA NOMOR 1/PUU- VIII/2010 PERKARA NOMOR 5/PUU- VIII/2010

PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 03 Tahun 1997 tentang Pengdilan Anak. Pengujian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

PEMOHON Hadi Supeno (Perkara Nomor 1/PUU-VIII/2010) Ahmad Sopian (Perkara Nomor 1/PUU-VIII/2010) Anggara (Perkara Nomor 5/PUU-VIII/2010) Supriyadi Widodo Eddyono (Perkara nomor 5/PUU-VIII/2010) Wahyudi (Perkara nomor 5/PUU-VIII/2010)

TERMOHON Pemerintah dan DPR RI

ACARA Pengucapan Putusan

Kamis, 24 Februari 2011, Pukul 16.00-17.00 WIB Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Moh. Mahfud MD Achmad Sodiki M. Akil Mochtar Maria Farida Indrati Ahmad Fadlil Sumadi Harjono Muhammad Alim Hamdan Zoelva (Ketua) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) Panitera Pengganti Panitera Pengganti

Ida Ria Tambunan Sunardi

1

Pihak yang Hadir: Pemohon: Hadi Sipeno (Ketua Komisi Perlindungan Anak) Anggara Supriadi Wahyudi

Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 1/PUU-VIII/2010: Despiyanti

Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 5/PUU-VIII/2010: Wahyu Wagiman Zainal Abidin Aziyani Pipiyana

Kuasa Hukum Permohon Perkara Nomor 5/PUU-VIII/2010: Adam Pantouw

Termohon Perkara Nomor 1/PUU-VIII/2010 dan Nomor 5/PUUVIII/2010: Heri (Kementerian Komunikasi dan Informatika) Anthonius Malau (Kementerian Komunikasi dan Informatika) Mualimin Abdi (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia) Joko Purboyo (Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak) Aswin Sasongko (Kementerian Komunikasi dan Informatika) Joko Agung (Kementerian Komunikasi dan Informatika) Gusti Marauran (DPRI RI)

dan

2

SIDANG DIBUKA PKL 16.20 WIB 1. KETUA: MOH. MAHFUD MD Sidang Mahkamah Konstitusi untuk Pengucapan Putusan Perkara Nomor 1 dan Nomor 5/PUU-VIII/2010, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. KETUK PALU 3X Pemohon Nomor 1? Silakan, perkenalkan siapa yang datang. 2. KUASA HUKUM PEMOHON NO.1: DESPIYANTI Saya Kuasa dari Pemohon KPAI. Nama saya Despiyanti, bersama ini saya dengan Pemohon Prinsipal dari KPAI. Terima kasih. 3. KETUA: MOH. MAHFUD MD Nomor 5? 4. KUASA HUKUM PEMOHON NO.5: WAHYU WAGIMAN Terima kasih, Yang Mulia. Kami dari Pemohon Nomor 5, telah hadir saya sendiri Kuasa Hukum Pemohon Wahyu Wagiman, sebelah kiri saya Zainal Abidin, sebelah kanan saya Aziyani Pipiyana dan di belakang ada Pemohon Prinsipal Anggara, Supriyadi, dan Wahyudi Jafar, serta Kuasa Hukum Adam Pantouw. Terima kasih, Yang Mulia. 5. KETUA: MOH. MAHFUD MD Ya. Pemerintah? 6. PEMERINTAH: MUALIMIN ABDI Makasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang, Salam sejahtera untuk kita semua. Pemerintah hadir saya sebutkan dari yang paling kanan ada Pak Heri, dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kemudian sebelahnya lagi ada Pak Anthonius Malau, sama dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Saya sendiri Mualimin Abdi,

3

tanggal lahir Pekerjaan : Anggara. PUTUSAN Nomor 5/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1. Makasih. Majelis Hakim yang kami muliakan.2] 1. dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. MAHFUD MD Baik akan dimulai dari pengucapan Perkara Nomor 5. Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika. menjatuhkan putusan dalam perkara Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. : Surabaya. Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dan di belakang ada kawan-kawan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. 9. dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir. Nama saya Gusti Marauran. Kemudian di sebelahnya lagi ada Pak Joko Agung. KETUA: MOH.H. S. 7.1] Yang memeriksa.dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. N a m a Tempat. DPR: GUSTI MARAURAN Makasih. dari Hukum dan Pemantauan Pelaksanaan Undang-Undang Sekretariat Jenderal DPR RI. KETUA: MOH. Yang Mulia. mengadili. Terima kasih. MAHFUD MD DPR? 8. Kemudian di sebelah kiri saya ada Pak Joko Purboyo. Sebelahnya lagi ada Aswin Sasongko. 23 Oktober 1979 : Advokat/Direktur Program Institute for Criminal Justice Reform 4 . yang diajukan oleh: [1.

selanjutnya disebut ----------Para Pemohon.3] Membaca permohonan dari para Pemohon. [1. 9 September 1976 : Advokat : Islam : Indonesia : Di jalan Teratai XV Blok Q Nomor 6 Tanjung Barat Indah Jagakarsa. Pemohon tersebut di atas. S. N a m a Tempat. 2. 5 . : Medan. Jakarta Selatan Selanjutnya disebut sebagai ------------------------------------Pemohon II.Agama Kewarganegaraan Tempat tinggal : Islam : Indonesia : Di Jalan Anggrek Bilan II Blok F/13 Bumi Serpong Damai.H. Tempat. Mendengar keterangan dari para Pemohon.H. 1 Desember 1984. tanggal lahir Pekerjaan Agama Kewarganegaraan Tempat tinggal : Supriyadi Widodo Eddyono. N a m a Pekerjaan Agama Kewarganegaraan Tempat tinggal : Wahyudi. Membaca keterangan tertulis dari Dewan Perwakilan Rakyat. 3. Serpong Tangerang Selatan Selanjutnya disebut sebagai--------------------------------------Pemohon I. Mendengar keterangan tertulis dari Pemerintah. S. : Peneliti : Islam : Indonesia : Di Cipinang Asem RT 004 RW 009 Kebon Pala Makasar Jakarta Timur Selanjutnya disebut sebagai -----------------------------------Pemohon III. tanggal lahir : Kebumen.

Membaca keterangan Ad Informandum ahli dari para Pemohon. Hal ini dikarenakan penyadapan merupakan sebuah tindakan yang melanggar privasi orang lain dan oleh karenanya melanggar hak asasi manusia (HAM). Pemohon mendalilkan bahwa ketentuan a quo bertentangan dengan konstitusi Pasal 28G ayat (1) dan Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. korupsi. Membaca kesimpulan dari para Pemohon. “Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Bahwa kegiatan dan kewenangan penyadapan merupakan hal yang sangat sensitif karena di satu sisi merupakan pembatasan HAM namun di sisi lain memiliki aspek kepentingan hukum. seperti penyelidikan kasus-kasus kriminal dalam mengungkap aksi teror. HAKIM ANGGOTA : AHMAD FADLIL SUMADI Pendapat Mahkamah [3. Oleh karena itu. [3. pengaturan (regulation) mengenai legalitas penyadapan harus dibentuk dan diformulasikan secara tepat sesuai dengan UUD 1945. dan tindak pidana narkoba. Memeriksa bukti-bukti yang diajukan oleh para Pemohon. Dalam perkembangannya penyadapan sering kali digunakan untuk membantu proses hukum tertentu. 6 .13] Menimbang bahwa sejatinya penyadapan (interception) adalah sebuah perbuatan melawan hukum. 10. Penyadapan yang diperbolehkan ini dikenal juga sebagai lawful interception (penyadapan yang legal/sah di mata hukum).14] Menimbang bahwa para Pemohon memohon kepada Mahkamah agar mencabut Pasal 31 ayat (4) UU 11/2008 yang menyatakan.

hanya dapat dilakukan melalui Undang-Undang dan bukan bentuk lain apalagi Peraturan Pemerintah. Pengaturan penyadapan dalam Peraturan Pemerintah tidak akan cukup menampung artikulasi pengaturan mengenai penyadapan. kehidupan keluarga maupun korespondensi. Penyimpangan terhadap HAM sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. khususnya pada Hukum Acara Pidana karena hukum yang mengatur penyadapan oleh institusi 7 . akan berpotensi pada penyalahgunaan yang berdampak pada pelanggaran HAM para Pemohon maupun masyarakat pada umumnya. bila berada pada hukum yang tidak tepat dikarenakan lemahnya pengaturan dan formulasi pengaturannya.Bahwa para Pemohon mendalilkan ketentuan tata cara mengenai penyadapan tidak seharusnya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah melainkan harus diatur melalui Undang-Undang. Bahwa penyadapan sebagai alat pendeteksi dan pencegah kejahatan juga memiliki kecenderungan yang berbahaya bagi hak asasi manusia. Bahwa para Pemohon juga mendalikan penyadapan oleh aparat hukum atau institusi resmi negara tetap menjadi kontroversial karena merupakan praktik invasi atas hak-hak privasi warga negaranya yang mencakup privasi atas kehidupan pribadi. Bahwa karena penyadapan merupakan pelanggaran atas hak asasi manusia maka sangat wajar dan sudah sepatutnya jika negara ingin menyimpangi hak privasi warga negara tersebut. Pemohon beralasan bahwasanya pembatasan terhadap Hak Asasi Manusia hanya dapat dilakukan menggunakan formula pengaturan Undang-Undang. maka negara haruslah menyimpangi dalam bentuk Undang-Undang dan bukan dalam bentuk Peraturan Pemerintah. Bahwa mengatur hal sensitif seperti halnya penyadapan haruslah diletakkan dalam kerangka Undang-Undang. Ketidakjelasan pengaturan mengenai penyadapan.

Bahwa keberadaan Peraturan Pemerintah sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 31 ayat (4) UU 11/2008 tidak bertentangan dengan UUD 1945 karena materi muatan dalam pasal a quo hanya mengamanatkan pembuatan tata cara penyadapan. dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c.15] Menimbang bahwa Mahkamah telah mendengar dan membaca keterangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) yang mendalilkan bahwa pasal a quo tidak dapat dipisahkan dari pasal sebelumnya yakni Pasal 31 ayat (3) UU 11/2008 yang menyatakan bahwa penyadapan hanya dapat dilakukan dalam rangka penegakan hukum oleh Kepolisian. penyelenggara jasa telekomunikasi dapat merekam informasi yang dikirim dan atau diterima oleh penyelenggara jasa komunikasi serta dapat memberikan informasi yang diperlukan atas: 8 . Pasal 12 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan. [3. dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang. Kejaksaan.negara harus lebih ditekankan pada perlindungan hak atas privasi individu dan/atau warga negara Indonesia. Pasal 42 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang menyatakan: Ayat (2): Untuk keperluan proses peradilan pidana. Adapun ketentuan mengenai penyadapan. sudah terlebih dahulu ada di sejumlah UndangUndang di antaranya: 1. Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyadapan dan merekam pembiacaraan. “Dalam melaksanakan tugas penyelidikan. penyidikan.” 2.

” 1. [3. agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dan gangguan ketertiban dalam penyelenggaraan negara. Bahwa oleh karena itu.” Bahwa pasal-pasal dalam Undang-Undang di atas telah memberikan payung hukum bagi pembuatan Peraturan Pemerintah. yaitu suatu kegiatan merekam/mendengar dengan/atau tanpa memasang alat/perangkat tambahan pada jaringan telekomunikasi untuk mendapatkan informasi baik secara diam-diam ataupun terang-terangan. b. Ayat (3): “Ketentuan mengenai tata cara permintaan dan pemberian rekaman informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 43 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang menyatakan: “Pemberian rekaman informasi oleh penyelenggara jasa telekomunikasi kepada pengguna jasa telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 dan untuk kepentingan proses peradilan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) tidak merupakan pelanggaran Pasal 40.16] Menimbang bahwa penyadapan informasi termasuk salah satu kegiatan intelijen komunikasi. sehingga keberadaan Peraturan Pemerintah sama sekali tidak bertentangan dengan UUD 1945. permintaan tertulis Jaksa Agung dan atau Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk tindak pidana tertentu.a. permintaan penyidik untuk tindak pidana tertentu sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. pemerintah 9 . Adapun muatan materi Peraturan Pemerintah tentang tata cara penyadapan tidak akan bertentangan dengan Undang-Undang disebabkan Peraturan Pemerintah merupakan aturan yang merupakan penjabaran dari Undang-Undang.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5062). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4250). antara lain: • Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143. Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 45. terdapat regulasi sebagai berikut: • Menteri Nomor 01/P/M. • Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4284). • Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137. Bahwa dari beberapa peraturan perundang-undangan tersebut di atas. • Peraturan Negara. Pasal 40 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi menyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan 10 . Regulasi penyadapan informasi telah dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia. • Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154.KOMINFO/03/2008 tentang Perekaman Informasi untuk Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Pertama. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881). • Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.harus mengatur aktivitas penyadapan.

”. terdapat badan lain yang berhak dan wajib dalam melakukan perekaman informasi. baik yang tidak menyebabkan perubahan apa pun maupun yang menyebabkan 11 .penyelenggara komunikasi wajib melakukan perekaman pemakaian fasilitas telekomunikasi yang digunakan oleh pengguna jasa telekomunikasi. • Kedua.”. ”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik orang lain. Selengkapnya Pasal 31 ayat (1) menyatakan.. Selanjutnya Pasal 42 ayat (1) menyatakan. Pasal 41 menyatakan.kegiatan penyadapan atas informasi yang disalurkan melalui jaringan telekomunikasi dalam bentuk apapun yang dimaksudkan dalam pasal tersebut adalah kegiatan penyadapan yang tidak sah/legal.. (2) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan intersepsi atas transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik dari. ke. Jika perusahaan penyedia telekomunikasi melanggar ketentuan yang terdapat dalam pasal tersebut yaitu dengan membocorkan informasi mengenai pelanggannya maka perusahaan tersebut akan mendapat sanksi pidana penjara atau denda sebanyak dua ratus juta rupiah. dan di dalam suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik orang lain. “Penyelenggara jasa telekomunikasi wajib merahasiakan informasi yang dikirim dan atau diterima... Ini berarti selain badan penegak hukum. oleh pelanggan jasa telekomunikasi melalui jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi yang diselenggarakannya”. Pasal 30 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur tentang larangan mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang lain untuk mencuri informasi/dokumen elektronik dengan cara apapun secara tanpa hak atau melawan hukum.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Penyadapan atas izin ketua pengadilan yaitu apabila terdapat bukti awal yang cukup dan dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan terhitung sejak surat penyadapan diterima penyidik. “Dalam melaksanakan tugas penyelidikan. Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyatakan. • Ketiga. dan/atau penghentian Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sedang ditransmisikan. dan Pasal 78 UU 35/2009). Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan”. Menjadi Undang-Undang memperbolehkan penyadapan informasi dengan ketentuan memperoleh izin dari pengadilan negeri dan waktu yang diberikan tidak lebih dari satu tahun. (3) Kecuali intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). intersepsi yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian. 12 . penyidikan. Pasaal 77. • Kelima. Pasal 31 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.adanya perubahan. kejaksaan. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menyatakan penyidik BNN membolehkan melakukan penyadapan baik atas izin pengadilan maupun tanpa izin ketua pengadilan lebih dahulu. dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c. penghilangan. dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang. sedangkan tanpa izin ketua pengadilan lebih dahulu apabila dalam keadaan mendesak dan setelah itu izin Ketua Pengadilan dalam waktu tidak lebih dari satu kali dua puluh empat jam (vide Pasal 75. • Keempat.

membelokkan. menghambat. c) Pasal 1 angka 19 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. informasi. yang menyatakan Penyadapan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan penyelidikan atau penyidikan dengan cara menyadap pembicaraan. dan/atau jaringan 13 tata cara penyadapan yang bertujuan untuk kepentingan negara tanpa mengabaikan etika dan kerahasiaan . baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel. b) Pasal 40 Undang-Undang alat atau Nomor 36 Tahun 1999 pada tentang jaringan Telekomunikasi. AKIL MOCHTAR Menimbang bahwa terdapat sejumlah definisi mengenai penyadapan yakni: a) Pasal 31 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik bahwa yang dimaksud dengan “intersepsi atau penyadapan” adalah kegiatan untuk mendengarkan. mengubah. [3.• Keenam. dan/atau mencatat transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik. yang dimaksud dengan penyadapan adalah kegiatan memasang perangkat tambahan telekomunikasi untuk tujuan mendapatkan informasi dengan cara tidak sah. Peraturan Menteri Nomor 01/P/M.KOMINFO/03/2008 tentang Perekaman Informasi untuk Kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara yang mengatur mengenai ketentuan teknis dari penyadapan. seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi. informasi. 11.17] HAKIM ANGGOTA : M. Pada dasarnya informasi yang dimiliki oleh seseorang adalah hak pribadi yang harus dilindungi sehingga penyadapan harus dilarang. pesan. merekam.

[3. b) kegiatan melanggar hukum dan oleh karenanya harus dilarang. namun tetap harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Bahwa dalam penyadapan terdapat prinsip velox et exactus yang artinya bahwa informasi yang disadap haruslah mengandung informasi terkini dan akurat.komunikasi yang dilakukan melalui telepon dan/atau alat komunikasi elektronik lainnya. di dalam penyadapan terdapat kepentingan yang mendesak. Bahwa mekanisme yang perlu diperhatikan dari penyadapan ini adalah penyadapan dapat dilakukan oleh seseorang yang mengatasnamakan lembaga yang memiliki kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang. sedangkan di Indonesia.19] Menimbang bahwa di beberapa negara pengaturan mengenai penyadapan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. dan Canada. Hal ini menunjukkan bahwa pengaturan mengenai penyadapan masih tersebar di beberapa Undang-Undang dengan mekanisme dan tata cara yang berbeda-beda. Tidak ada pengaturan yang baku mengenai penyadapan. sehingga tidak sewenang-wenang melanggar rights of privacy orang lain. Dalam hal ini penyadapan harus mengandung kepentingan khusus yang dilakukan dengan cepat dan akurat. Dalam kondisi inilah. 14 .18] Menimbang bahwa Mahkamah menilai hingga saat ini belum ada pengaturan secara komprehensif mengenai penyadapan. c) hanya dapat dilakukan oleh Penyidik Pejabat Kepolisian yang bewenang. sehingga memungkinkan terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya. Dalam hal inilah berlaku batasan penyadapan agar tidak melanggar privasi ataupun hak asasi warga negara. Bahwa dari ketiga definisi dapat disimpulkan bahwa penyadapan mencakup tiga aspek yakni: a) proses penghambatan atau merekam informasi. [3. antara lain di Amerika Serikat. Belanda.

20] Menimbang bahwa Mahkamah menilai bahwa ada tiga isu hukum yang menjadi permasalahan dalam pekara ini.21] Menimbang terhadap isu hukum di atas.pengaturan mengenai penyadapan tersebar di beberapa peraturan perundang-undangan. Practical Aspect: Bahwa kondisi pembangunan dan penegakan hukum di Indonesia belum stabil dan cenderung lemah bahkan terkesan karut marut. Tiga isu hukum tersebut adalah sebagai berikut: a. [3. sebagaimana ketentuan Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. Rights of privacy merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dapat dibatasi (derogable rights). [3. Sinkronisasi ini hanya dapat dilakukan oleh peraturan setingkat Undang-Undang dan bukan dengan Peraturan Pemerintah. b. Bahwa pada dasarnya sangat dibutuhkan regulasi yang komprehensif dan tepat untuk mengendalikan sejumlah kewenangan yang tersebar di beberapa Undang-Undang. dijamin oleh UUD 1945. Regulation form: para Pemohon menyatakan bahwa pasal a quo yang memperbolehkan pengaturan penyadapan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah adalah tidak tepat karena seharusnya diatur dalam Undang-Undang sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 karena hal tersebut masuk dalam pembatasan HAM yang hanya dapat dilakukan dengan Undang-Undang. Rights of Privacy: para Pemohon mendalilkan bahwa penyadapan merupakan bentuk dari pelanggaran HAM yang hak tersebut. namun pembatasan atas rights of privacy ini hanya dapat dilakukan dengan Undang-Undang. sehingga keberadaan pasal a quo amat dimungkinkan disalahgunakan untuk melanggar HAM orang lain. 15 . Mahkamah berpendapat bahwasanya penyadapan memang merupakan bentuk pelanggaran terhadap rights of privacy yang bertentangan dengan UUD 1945. c.

Hal ini dikarenakan hingga kini pengaturan mengenani penyadapan masih sangat tergantung pada kebijakan masing-masing instansi. Adapun pokok-pokok keterangan Mohammad 16 . (iii) pembatasan penanganan materi hasil penyadapan. Bahwa keberlakuan penyadapan sebagai salah satu kewenangan penyelidikan dan penyidikan telah membantu banyak proses hukum yang memudahkan para aparat penegak hukum untuk mengungkap tindak pidana. Bahwa meskipun para Pemohon menyatakan penyimpangan penyadapan terkadang tidak pernah terjadi. namun pengaturan tersebut masih belum memberikan tata cara yang lebih jelas mengenai penyadapan. Misalnya tentang prosedur pemberian izin. [3. Mahkamah berpendapat bahwa tata cara penyadapan tetap harus diatur UndangUndang. (iv) pembatasan mengenai orang yang dapat mengakses penyadapan. batas kewenangan penyadapan. Adapun pokok-pokok keterangan Ifdhal Kasim menyatakan mekanisme penyadapan di berbagai negara di dunia dilakukan dengan syarat (i) adanya otoritas resmi yang ditunjuk dalam Undang-Undang untuk memberikan izin penyadapan. kewenangan aparat penegak hukum tersebut tetap harus dibatasi juga agar penyalahgunaan kewenangan tidak terjadi. namun untuk memastikan keterbukaan dan legalitas dari penyadapan itu sendiri. (ii) adanya jaminan jangka waktu yang pasti dalam melakukan penyadapan. Hal ini masih belum diatur secara jelas dalam beberapa Undang-Undang. dan yang berhak untuk melakukan penyadapan. Namun demikian.Bahwa Mahkamah memang menemukan sejumlah UndangUndang yang telah memberikan kewenangan dan mengatur tentang penyadapan.22] Menimbang bahwa Mahkamah sependapat dengan keterangan ad informandum Ifdhal Kasim dan Mohammad Fajrul Falaakh.

Selain itu keseluruhan UU 11/2008 juga tidak mengatur tentang tata cara penyadapan yang diatur Iebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 31 ayat (3) dan ayat (4) UU 11/2008 bertentangan dengan UUD 1945 karena tidak memberikan kejelasan dan kepastian aturan tentang penyadapan. (ii) tujuan penyadapan secara spesifik. Pasal 31 ayat (4) UU 11/2008 tidak dapat dibenarkan karena Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang a quo tidak membolehkan adanya penyadapan. Undang-Undang ini amat dibutuhkan karena hingga saat ini masih belum ada pengaturan yang sinkron mengenai penyadapan sehingga berpotensi merugikan hak konstitutional warga negara pada umumnya. Bentuk Peraturan Pemerintah hanya merupakan pengaturan administratif dan tidak memiliki kewenangan untuk menampung pembatasan atas HAM. Bahwa pengaturan tata cara penyadapan dengan Peraturan Pemerintah sesuai dengan konsepsi delegated legislation di mana pembentukan Peraturan Pemerintah secara materi adalah untuk menjalankan Undang-Undang (vide Pasal 10 Undang-Undang Nomor 10 17 . (v) tata cara penyadapan.Fajrul Falaakh menyatakan Undang-Undang mengenai penyadapan seharusnya mengatur dengan jelas tentang: (i) wewenang untuk melakukan. (viii) penggunaan hasil penyadapan. menurut ahli. [3. Oleh karena itu. memerintahkan maupun meminta penyadapan. Menurut ahli.23] Menimbang bahwa Mahkamah menilai perlu adanya sebuah UndangUndang khusus yang mengatur penyadapan pada umumnya hingga tata cara penyadapan untuk masing-masing lembaga yang berwenang. Bahwa Peraturan Pemerintah tidak dapat mengatur pembatasan hak asasi manusia. (iv) adanya izin dari atasan atau izin hakim sebelum melakukan penyadapan. (iii) kategori subjek hukum yang diberi wewenang untuk melakukan penyadapan. (vii) pengawasan terhadap penyadapan.

24] Menimbang bahwa sejalan dengan penilaian hukum di atas. sedangkan dalam kasus a quo. Mahkamah dalam Putusan Nomor 006/PUU-I/2003. secara sistematika. sehingga dapat dikatakan bahwa Pasal 31 ayat (4) UndangUndang a quo mendelegasikan sesuatu yang belum diatur. “Untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan kewenangan untuk penyadapan dan perekaman Mahkamah Konstitusi berpendapat perlu ditetapkan perangkat peraturan yang mengatur syarat dan tata cara penyadapan dan perekaman dimaksud”. [3. Mahkamah menegaskan dan mengingatkan kembali pertimbangan hukum Putusan Nomor 006/PUU-I/2003. Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang a quo merujuk pada ayat (3) yang pada dasarnya mensyaratkan adanya Undang-Undang yang mengatur penyadapan yang sampai sekarang belum ada. bertanggal 30 Maret 2004 mempertimbangkan. melalui Putusan Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006. bertanggal 19 Desember 2006. bertanggal 30 Maret 2004 yang menyatakan bahwa pembatasan melalui penyadapan harus diatur dengan Undang-Undang guna menghindari penyalahgunaan wewenang 18 .Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan). sehingga negara dapat melakukan pembatasan terhadap pelaksanaan hak-hak tersebut dengan menggunakan undang-undang sebagaimana diatur dalam Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia”. Suatu peraturan yang secara hierarki lebih rendah merupakan derivasi atau turunan dari peraturan yang secara hierarki lebih tinggi dan hanya mengatur teknis operasional materi peraturan yang ada di atasnya. belum ada ketentuan yang mengatur syarat-syarat dan tata cara penyadapan yang diatur dalam Pasal 31 ayat (3) UU a quo. Berkaitan dengan pengaturan penyadapan. “Hak privasi bukanlah bagian dari hak-hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non-derogable rights). Lebih lanjut Mahkamah mempertimbangkan pula. Selain itu.

ataukan justru penyadapan dan perekaman pembicaraan itu sudah dapat dilakukan untuk mencari bukti permulaan yang cukup. Sesuai dengan perintah Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. dinyatakan bahwa: “Mahkamah memandang perlu untuk mengingatkan kembali bunyi pertimbangan hukum Mahkamah dalam Putusan Nomor 006/PUUI/2003 tersebut oleh karena penyadapan dan perekaman pembicaraan merupakan pembatasan terhadap hak-hak asasi manusia. mengenai dalil Pemohon atas Pasal 31 ayat (4) UU 11/2008 adalah tepat dan beralasan menurut hukum. MAHFUD MD KONKLUSI Berdasarkan seluruh penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas. sebagaimana ditentukan oleh Pasal 28J ayat (2) UUD 1945. [3. 12. Undangundang dimaksud itulah yang selanjutnya harus merumuskan.yang melanggar hak asasi. siapa yang berwenang mengeluarkan perintah penyadapan dan perekaman dapat dikeluarkan setelah diperoleh bukti permulaan yang cukup. Dalam pertimbangan hukum putusan a quo. yang berarti bahwa penyadapan dan perekaman pembicaraan itu untuk menyempurnakan alat bukti. di mana pembatasan demikian hanya dapat dilakukan dengan undang-undang. KETUA : MOH. dalam kaitannya yang satu dengan yang lain. antara lain.25] Menimbang bahwa dari rangkaian pendapat Mahkamah di atas. semua itu harus diatur dengan undang-undang guna menghindari penyalahgunaan wewenang yang melanggar hak asasi”. Mahkamah berkesimpulan: 19 .

2] [4. Mengadili. • Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya. Para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk bertindak selaku pemohon dalam perkara a quo. • Menyatakan Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58.1] [4.[4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. • Mengabulkan permohonan Para Pemohon untuk seluruhnya. 20 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. • Menyatakan Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316).3] Mahkamah berwenang memeriksa. mengadili. dan memutus perkara a quo. Dalil-dalil Pemohon tepat dan beralasan menurut hukum. AMAR PUTUSAN Dengan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan dengan mengingat Pasal 56 ayat (2) dan ayat (3) serta Pasal 57 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98.

Akil Mochtar. Maria Farida Indrati. sekarang putusan Nomor 1. dihadiri oleh Pemohon/Kuasanya. Harjono. menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. PUTUSAN Nomor 1/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1. Ahmad Fadlil Sumadi. Achmad Sodiki. M. Achmad Sodiki. yaitu Moh. Akil Mochtar. Mahfud MD. sebagai Ketua merangkap Anggota. mengadili dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir. Arsyad Sanusi. Pemerintah atau yang mewakili. Harjono.KETUK PALU 1X Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi.1] Yang memeriksa. M. Ahmad Fadlil Sumadi. dan Hamdan Zoelva masing-masing sebagai Anggota pada hari Rabu tanggal dua bulan Februari tahun dua ribu sebelas dan diucapkan dalam Sidang Pleno terbuka untuk umum pada hari Kamis tanggal dua puluh empat bulan Februari tahun dua ribu sebelas oleh kami tujuh Hakim Konstitusi. dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili. M. Muhammad Alim. Muhammad Alim. sebagai Ketua merangkap Anggota. Demikian Putusan Nomor 5. Mahfud MD. yang diajukan oleh: 21 . yaitu Moh. dan Hamdan Zoelva masing-masing sebagai Anggota dengan didampingi oleh Sunardi sebagai Panitera Pengganti.

Jakarta. 22 . S. S.H.. Selanjutnya disebut sebagai ------------------------------Para Pemohon. berkedudukan di Jalan Teuku Umar Nomor 10-12 Menteng. S. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 412 KPAI/XII/2009 bertanggal 23 November 2009 dan 25 November 2009 memberi kuasa kepada: 1.H. M. Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak Medan. Kecamatan Medan Selayang. Jakarta Pusat. Kesemuanya adalah Advokat yang tergabung pada ”Tim Litigasi Untuk Penghapusan Kriminalisasi Anak. yang diwakili oleh: Nama Pekerjaan : Ahmad Sopian. 2. yang diwakili oleh: Nama Pekerjaan : Drs. Kota Medan. Muhammad Joni. Azmiati Zuliah. M.. Disebut sebagai ----------------------------------------------------Pemohon I.[1. baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Indrawan. Hadi Supeno. 2.Si : Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia.3] Membaca permohonan dari para Pemohon. Membaca keterangan tertulis Pemerintah. Ariffani Abdullah. S. Pasar Satu Setia Budi.H.H. S. Komisi Perlindungan Anak Indonesia. berkedudukan di Jalan Abdul Hakim Nomor 5A. 3. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)” berkedudukan di Jalan Teuku Umar Nomor 10-12 Menteng.H. Kelurahan Tanjung Sari.H. 4. M. S. [1. Disebut sebagai -------------------------------------------------Pemohon II. Membaca keterangan tertulis DPR. S. bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa. Ade Irfan Pulungan. 5. Mendengar keterangan dari para Pemohon. 6.H.A : Ketua Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak Medan.H..2] 1. Despi Yanti. M.H.

13. mental. Sistem peradilan anak ini diarahkan kepada penerapan keadilan khusus kepada anak yang melakukan tindak pidana dengan lebih memperhatikan perlindungan sosial. 23 . HAKIM ANGGOTA : HARJONO Pendapat Mahkamah [3.Membaca dan mendengar keterangan Ahli dari para Pemohon dan Pemerintah. Apakah batas usia anak sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun merupakan batas usia yang terlalu rendah sehingga dapat melanggar hak-hak konstitusional anak dan bertentangan dengan UUD 1945? 2.21] Menimbang bahwa pada dasarnya sistem peradilan anak (juvenile justice system) merupakan sistem peradilan yang ditujukan untuk memberikan perlindungan dan kesesuaian antara kepentingan anak dan ketertiban umum secara adil dan seimbang. Apakah penerapan hukum melalui peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat merupakan ketentuan yang bertentangan dengan asas legalitas hukum pidana dan bertentangan dengan UUD 1945? 3. Memeriksa bukti-bukti tertulis yang diajukan para Pemohon. Membaca kesimpulan tertulis dari Pemohon. dan moral anak dibandingkan konsep pemidanaan (sentencing) semata-mata. Apakah klausul Anak Nakal dapat dipidana penjara di Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan tindakan yang melanggar hak konstitusional anak yang bertentangan dengan UUD 1945? [3.20] Menimbang bahwa isu hukum yang harus diberi penilaian oleh Mahkamah adalah: 1.

[3.22] dan [3. Pidana pengawasan”. [3. Pidana penjara. Keberadaan UU Pengadilan Anak sebagai UndangUndang yang secara khusus ditujukan bagi kepentingan terbaik bagi anak adalah bentuk dari affirmative action bagi Anak.22] Menimbang bahwa pendekatan pidana (penalty approach) yang ditujukan sistem peradilan anak adalah lebih pada proses rehabilitasi moral dan mental anak dibandingkan pada penerapan sanksi an sich. para Pemohon meminta tiga pasal dalam UU Pengadilan Anak untuk diputus bertentangan dengan UUD 1945 dan oleh karenanya harus dicabut dan 24 . Mahkamah memandang terdapat substansi atau materi Undang-Undang a quo yang perlu diperbaiki. Sistematika rumusan tersebut seharusnya mendahulukan pidana pengawasan dan yang terakhir barulah pidana penjara dengan rasio hukum sebagaimana terurai dalam paragraf [3. Pidana denda.26] Menimbang bahwa dari enam pasal yang dimohonkan untuk diuji.24] Menimbang bahwa Mahkamah berpendapat keberadaan UU Pengadilan Anak ini seharusnya ditujukan untuk memberikan perlindungan terbaik pada anak untuk dapat menjamin hak hidup (rights to life). dan hak tumbuh kembang anak (rights to develop). “Pidana pokok yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal ialah: a. hak kelangsungan hidup (rights to survival).[3. c. seperti Pasal 23 ayat (2) huruf a UU yang menyatakan. dan kompetensi akuntabilitas (development competency) (accountability). [3.23] Menimbang bahwa keseimbangan dari sistem peradilan anak memiliki tiga filosofi yang secara bersama-sama harus diterapkan yakni perlindungan pembangunan masyarakat (community protection). b. Filosofi keseimbangan ini secara cermat juga harus diterapkan di samping memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child).23] di atas. [3.25] Menimbang bahwa setelah mencermati keseluruhan ketentuan perundang-undangan tentang Pengadilan Anak. atau d. Pidana kurungan.

. [3. M. Dalam hal ini.H. yakni Dr.dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. tiga pasal yang dimohonkan untuk dinyatakan inkonstitusional bersyarat adalah Pasal 4 ayat (1).H. [3. asas Pemohon hukum menyatakan pidana dan bahwa telah keberadaan klausula dalam Pasal 1 angka 2 huruf b UU Pengadilan Anak bertentangan legalitas menimbulkan ketidakpastian hukum bagi anak karena tidak adanya standar atau ukuran yang jelas mengenai apa definisi anak nakal menurut ukuran-ukuran sosial yang amat beragam dan selalu berkembang. para Pemohon juga meminta Mahkamah untuk memberikan putusan inkonstitusional bersyarat.27] Menimbang bahwa selain ketiga pasal yang dimohonkan untuk dicabut dan dinyatakan inkonstitusional. Bahwa Mahkamah telah mendengarkan ahli Pemerintah. yang menyatakan bahwa keberadaan klausula dalam Pasal 1 angka 2 huruf b UU Pengadilan Anak tentang definisi Anak Nakal selain telah melakukan tindak pidana juga telah melakukan 25 . Pasal 31 ayat (1) UU Pengadilan Anak. kecuali dimaknai dengan pemahaman tertentu.. dan Pasal 22 UU Pengadilan Anak. S. Hal ini disebabkan frasa a quo telah menimbulkan relativitas pemaknaan di masing-masing budaya dan lingkup dengan masyarakat. Para Pemohon mendalilkan bahwa keberadaan frasa tersebut telah memberikan beban pidana yang lebih berat dan sumir dalam mendefinisikan “Anak Nakal”.. “.. Mudzakkir. Ketiga pasal tersebut adalah Pasal 1 angka 2 huruf b.28] Menimbang bahwa Pemohon memohon agar Mahkamah mencabut frasa. Pasal 23 ayat (2) huruf a.maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Putusan inkonstitusional bersyarat memberikan arti bahwa sebuah pasal dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 secara bersyarat (conditionally unconstitutional). Pasal 5 ayat (1).” dalam Pasal 1 angka 2 huruf b UU Pengadilan Anak.

M. Selain norma hukum yang telah ditetapkan dan ditulis oleh negara. yakni norma hukum agama.H. Bahwa Mahkamah mengakui adanya norma hukum lain yang hidup dan mengikat di dalam masyarakat Indonesia. adalah merupakan norma hukum yang lazim dan sesuai corak masyarakat yang heterogen dan sistem hukum pidana di Indonesia. S.. norma hukum adat. Norma-norma hukum yang hidup dalam masyarakat inilah yang secara sosiologis dan historis lebih dahulu diakui oleh masyarakat Indonesia dengan ragam budaya yang dimilikinya.H. yang menyatakan bahwa Pasal 1 angka 2 huruf b UU Pengadilan Anak adalah hukum tidak tertulis berupa hukum adat atau kebiasaan sehingga dapat ditafsirkan untuk memperluas kemungkinan seorang anak untuk dapat dijerat dengan sanksi pidana sehingga bertentangan dengan asas pidana. Menurut Mahkamah. Bahwa Mahkamah berpendapat norma hukum di Indonesia tidak dapat diklasifikasi hanya sebatas pada norma-norma hukum positif yang tertulis dalam Undang-Undang. berlaku pula norma hukum lain yang sejatinya telah mengakar dan berlaku secara kultural di tengah masyarakat Indonesia.perbuatan terlarang menurut peraturan hukum lain yang berlaku di masyarakat. Dr. Hal tersebut memberikan bukti bahwa Undang-Undang a quo telah mengakomodasi heterogenitas yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. 26 . “Nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali”. Bahwa sepanjang pendapat hukum ahli Pemohon. pendapat hukum tersebut adalah tidak tepat menurut hukum karena ketentuan a quo telah merupakan norma hukum (pidana) yang ditujukan tidak hanya kepada anak an sich melainkan juga untuk semua pencari keadilan yang sesuai dengan asas legalitas [vide Pasal 1 ayat (1) KUHP]. dan norma hukum kesusilaan yang tidak kesemuanya dimuat dalam hukum positif di Indonesia.. Surastini.

”.Bahwa alasan hukum dalam pokok permohonan adalah timbulnya relativitas dan ukuran yang tidak jelas dengan berlakunya pasal a quo yang pada akhirnya dapat dibuktikan melalui proses hukum di pengadilan. serta pemasyarakatan anak dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak sudah menjamin perlindungan hak-hak anak dan dengan adanya frasa.29] Menimbang bahwa sepanjang isu hukum tentang frasa. penahanan. Penafsiran bahwa seorang anak dapat dikategorikan sebagai “Anak Nakal” bukan merupakan proses tanpa prosedur dan dapat dijustifikasi oleh setiap orang. pada Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak agar dinyatakan bertentangan dengan Pasal 28B ayat (2). sehingga memberikan kesimpulan tentang batas usia anak. “. [3.sekurang- kurangnya 8 (delapan) tahun.. sehingga pendapat para Pemohon mengenai telah dilanggarnya asas legalitas dalam hukum pidana adalah tidak tepat dan tidak berdasar hukum. penuntutan.. dan menyatakan inkonstitutional bersyarat dan hanya berlaku jika proses penyidikan anak sudah menjamin perlindungan hak-hak anak. yakni 12 tahun sebagai batas minimal usia tanggung jawab pidana anak yang 27 . Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.”. Bahwa para Pemohon mendalilkan bahwa batas usia anak yang dibawa ke sidang anak adalah terlalu rendah.. dan sidang anak. sehingga tidak memenuhi rasa keadilan dan juga melanggar hak konstitutional anak.. Pemberian kategori “Anak Nakal” merupakan justifikasi yang dapat dilakukan melalui sebuah proses peradilan yang standarnya akan ditimbang dan dibuktikan di muka hukum. Para Pemohon membandingkan batas usia tanggung jawab pidana anak dengan batas usia anak yang diberlakukan di sejumlah negara dan rekomendasi Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Hak Anak. “.. pada Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak harus dinyatakan inkonstitutional bersyarat (conditionally unconstitutional) dan hanya berlaku jika proses penyidikan...belum mencapai umur 8 (delapan) tahun..

Selain itu.. Proses pemeriksaan dan persidangan bagi anak usia 8 tahun menurut para Pemohon telah menyebabkan kerugian konstitutional yang diderita oleh anak sehingga tidak memberikan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.. Bahwa para Pemohon mendalilkan sejumlah permasalahan yang terjadi dalam proses pemeriksaan dan persidangan anak yang terjadi di Indonesia. memberikan keterangan bahwa usia anak 8 tahun sampai 18 tahun sangat rawan dikenakan pidana karena pada usia inilah. Dr.H. Prof. menyatakan bahwa batas usia sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun terlalu rendah untuk diminta pertanggungjawaban pidana karena anak yang masih berusia 8 tahun masih sangat membutuhkan perlindungan.D. S. “Belum mencapai umur 8 (delapan) tahun” adalah terlalu rendah karena terhadap anak dalam usia tersebut dapat dilakukan proses hukum “pro justisia” oleh Penyidik. Surastini. Bahwa para Pemohon mendalilkan frasa. para Pemohon juga mendalilkan bahwa dalam Pasal 113 ayat (1) RUU KUHP telah dirancang batas usia anak yang belum mencapai usia 12 tahun tidak dapat diminta pertanggungjawaban atas tindak pidana yang dilakukan. Bahwa ahli Pemohon. Bismar Siregar. Adapun ahli Pemohon lainnya.H. Para Pemohon menyatakan bahwa dalam kenyataannya para Penyidik tidak membedakan perlakuan dalam pemeriksaan penyidikan terhadap anak yang belum berusia 8 tahun. Fentiny Nugroho.A.telah menjadi hukum kebiasaan internasional (international customary law). Ph. M. anak-anak tumbuh dan berkembang secara maksimal. Para Pemohon juga menyatakan fakta hukum bahwa pelanggaran hak anak seperti kekerasan dan kondisi tidak nyaman dalam lingkup proses pemeriksaan untuk kepentingan “pro justisia”. menyatakan bahwa 28 . M. Senada dengan pendapat ahli Pemohon tersebut.

Mudzakkir. Bahwa dari dua pandangan hukum baik ahli Pemohon maupun ahli pemerintah. ahli Pemohon. Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak menyatakan dalam hal anak belum mencapai umur 8 (delapan) tahun dapat dilakukan penyidikan. Bahwa sebaliknya. sedangkan 29 . maka usia 13 (tiga belas) tahun baru dapat dikenai pertanggungjawaban hukum karena telah mengetahui hak dan kewajibannya. dari keterangan ahli Pemerintah.. Dalam perspektif hukum Islam. Aisyah Amini.anak usia 8 tahun belum dapat diminta tanggung jawab pidana dan orang tuanya yang lebih tepat bertanggung jawab atas perbuatan anaknya. M. Adapun ahli Pemohon lainnya. S. Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak menyatakan bahwa batas umur Anak Nakal yang dapat diajukan ke Sidang Anak adalah sekurangkurangnya 8 (delapan) tahun. Adi Fahrudin. yakni 12 tahun.H. dan pemidanaan. proses persidangan. Mahkamah memandang batasan umur telah menimbulkan pelbagai penafsiran dan kontroversi pemikiran sehingga perlu ada batasan usia yang serasi dan selaras dalam pertanggunganjawaban hukum bagi anak yang terdapat dalam UU Pengadilan Anak dengan mendasarkan pada pertimbangan hak-hak konstitusional anak. menyatakan bahwa anak yang belum akil baligh atau belum sempurna akalnya belum dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. yang menyatakan meskipun Komite Hak-Hak Anak PBB telah merekomendasikan batas minimum pertanggungjawaban hukum anak. menyatakan bahwa dari tinjauan psikologi anak. Hj. Selanjutnya.H. namun batas usia demikian tidak dapat dijadikan dasar untuk menafsirkan konstitusionalitas batas usia pada Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak. Mahkamah menemukan adanya perbedaan antara batas usia minimal bagi anak yang dapat diajukan dalam proses penyidikan. Dr.

Penjelasan Undang-Undang a quo menentukan batas umur 8 (delapan) tahun secara sosiologis. dan pemidanaan tersebut merupakan jenis dan materi muatan dari pertanggungjawaban hukum (pidana) yang seharusnya ketiganya mengandung kesesuaian karena jenis dan materinya sama sehingga harus konsisten sesuai dengan asas-asas hukum yang dituangkan dalam Pasal 5 huruf c Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. umur a quo relatif rendah. psikologis. 14. pedagogis anak dapat dianggap sudah mempunyai rasa tanggung jawab. menetapkan dalam sehingga umur proses penyidikan. fakta hukum menunjukkan adanya beberapa dan perlu permasalahan persidangan. Dari pengaturan hukum mengenai batas umur.Pasal 26 ayat (3) dan ayat (4) UU Pengadilan Anak menyatakan bahwa apabila anak nakal belum mencukupi umur 12 tahun melakukan tindak pidana yang diancam hukuman mati atau seumur hidup maka terhadap anak nakal hanya dapat dijatuhkan tindakan sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (1) UU Pengadilan Anak tidak dapat dilakukan apabila belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun. Oleh karenanya. menurut Mahkamah. baik dalam proses penyidikan. batas . Mahkamah menciderai bagi anak konstitusional anak yang dijamin dalam UUD 1945. batas umur 8 (delapan) tahun bagi anak untuk diajukan ke sidang dan belum mencapai umur 8 (delapan) tahun dapat dilakukan pemeriksaan oleh penyidik. hak untuk 30 penahanan. Meskipun dalam Undang-Undang Pengadilan Anak menerapkan pula asas praduga tak bersalah. proses persidangan. HAKIM ANGGOTA : ACHMAD SODIKI Bahwa Mahkamah berpendapat. secara faktual benar.

Dengan batasan usia 12 (dua belas) tahun maka telah sesuai dengan ketentuan tentang pidana yang dapat dijatuhkan kepada anak dalam Pasal 26 ayat (3) dan ayat (4) UU Pengadilan Anak. Mahkamah dan berpendapat internasional rekomendasi PBB tidak dapat dijadikan batu uji an sich dalam menilai konstitusionalitas batas usia pertanggungjawaban hukum bagi anak. sehingga dapat bertanggung jawab secara hukum karena telah mengetahui hak dan kewajibannya. mental. penetapan batas umur tersebut sesuai dengan semangat revisi KUHP yang akan memberikan batasan usia yang lebih tinggi untuk menghindari adanya pelanggaran konstitusional anak sebagaimana didalilkan para Pemohon yang sama dengan RUU Peradilan Anak yang memberikan batasan usia 12 (dua belas) tahun. Berdasarkan pandangan hukum di atas. dan instrumen hukum internasional lainnya batas umur 12 tahun dapat dijadikan perbandingan dalam menentukan batas usia minimal bagi anak dalam pertanggungjawaban bahwa instrumen hukum. rekomendasi Hak-Hak Anak PBB. Mahkamah berpendapat bahwa konvensi internasional. Penetapan batas umur tersebut juga dengan mempertimbangkan bahwa anak secara relatif sudah memiliki kecerdasan emosional. Bahwa penetapan usia minimal 12 (dua belas) tahun sebagai ambang batas usia pertanggungjawaban hukum bagi anak telah diterima dalam praktik sebagian negara-negara sebagaimana juga direkomendasikan oleh Komite Hak Anak PBB dalam General Comment. Mahkamah berpendapat. batas umur 31 . Selain itu.melindungi perlindungan hak konstitusional anak terutama hak terhadap (protection right ) dan hak untuk tumbuh dan berkembang ( development right). hukum Namun. dan intelektual yang stabil serta sesuai dengan psikologi anak dan budaya bangsa Indonesia. 10 Februari 2007.

namun Pasal a quo merupakan jiwa atau ruh dari Undang-Undang Pengadilan Anak. Penghapusan frasa a quo ternyata juga secara mutatis mutandis 32 . Oleh karenanya.... menurut Mahkamah. terutama Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UU pengadilan Anak. “sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun” dan Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak sepanjang frasa “. yakni 12 (dua belas) tahun. bukan hanya Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak yang akan berpengaruh dengan dihapuskannya frasa. sehingga batas umur minimum juga harus disesuaikan agar tidak bertentangan dengan UUD 1945.. Dengan demikian.” dalam UU Pengadilan Anak. “Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin”. Mahkamah berpendapat bahwa meskipun Pasal a quo tidak dimintakan pengujiannya oleh para Pemohon. frasa sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun dalam Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak dan frasa belum mencapai umur 8 (delapan) tahun dalam Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak adalah inkonstitusional bersyarat.belum mencapai umur 8 (delapan) tahun.minimal 12 (dua belas) tahun lebih menjamin hak anak untuk tumbuh berkembang dan mendapatkan perlindungan sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (2) UUD 1945. Bahwa sejatinya. artinya inkonstitusional kecuali harus dimaknai telah mencapai usia 12 (dua belas) tahun sebagai ambang batas minimum pertanggungjawaban pidana. Bahwa dengan perubahan batasan usia minimal pertanggungjawaban hukum bagi anak adalah 12 (dua belas) tahun maka Mahkamah berpendapat hal tersebut membawa implikasi hukum terhadap batas umur minimum ( minimum age floor) bagi Anak Nakal ( deliquent child ) sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 ayat (1) UU Pengadilan Anak yang menyatakan.

norma-norma pasal yang lain dalam Undang-Undang ini. dan penjelasan Undang-Undang a quo sepanjang terkait dengan batas umur 8 tahun.. maka pasti akan berpengaruh terhadap pasal-pasal lain yang tidak dimohonkan pengujian. Bahwa dalam perkara konstitusi yang berkaitan dengan pengujian konstitutionalitas suatu Undang-Undang sesungguhnya tidak mengenal istilah putusan “ultra petita” (putusan melebihi yang diminta oleh Pemohon). Oleh karena itu.sekurang- kurangnya 8 (delapan) tahun.belum mencapai umur 8 (delapan) tahun... “..” dan Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak sepanjang frasa. “. berlaku pula terhadap Pasal 1 angka 1 serta penjelasan 33 . namun karena Undang-Undang merupakan satu kesatuan sistem yang apabila sebagian pasalnya dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat..”. Bahwa meskipun yang dimohonkan pengujian hanya Pasal 4 ayat (1) UU Pengadilan Anak sepanjang frasa. tidak akan membiarkan adanya norma dalam Undang-Undang yang tidak konsisten dan tidak sesuai dengan amanat perlindungan konstitutional yang dikonstruksikan oleh Mahkamah. pasal lain yang akan turut terpengaruh adalah Pasal 1 angka 1 bagian Ketentuan Umum yakni.. yaitu Pasal 1 angka 1 dan penjelasan UU Pengadilan Anak sepanjang mengandung frasa sebagaimana disebutkan dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak harus dinyatakan inkonstitusional bersyarat sebagaimana telah dipertimbangkan di atas.. “Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin”.mempengaruhi keberadaan frasa a quo pada pasal lainnya. Oleh karena itu. Adapun menurut perhatian Mahkamah. pernyataan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat terhadap Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) UndangUndang a quo.. namun Mahkamah sesuai dengan kewenangan konstitusionalnya.

..telah mencapai umur 8 (delapan) tahun. Bahwa para Pemohon mendalilkan.”. Mahkamah dapat memberikan tafsir dalam penghapusan frasa “....H) yang menyatakan Pasal 22 UU Pengadilan Anak mengenai penjatuhan 34 .. “.. S... pada Pasal 5 ayat (1) UU Pengadilan Anak untuk selanjutnya hanya dapat dilaksanakan apabila ditafsirkan sesuai dengan batas umur minimum yang ditentukan oleh Mahkamah yakni 12 (dua belas) tahun.. pada Pasal 4 ayat (1) dan frasa.sekurangkurangnya 8 (delapan) tahun.” bertentangan dengan ketentuan Pasal 28B ayat (2) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 dengan alasan bahwa untuk menjamin diperolehnya hak-hak anak harus didahulukan pemberian tindakan daripada penjatuhan pidana. [3.belum mencapai umur 8 (delapan) tahun.. Bahwa Pasal a quo tidak memberikan penekanan prioritas yakni upaya pemberian tindakan dan bukan pidana bagi anak sehingga tidak memberikan jaminan perlindungan dan kepastian hukum bagi tumbuh kembang anak.. merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan.H.” pada Pasal 1 angka 1.. Surastini.. meskipun tidak dimohonkan pengujian oleh para Pemohon...30] Menimbang bahwa para Pemohon memohon kepada Mahkamah untuk menyatakan inkonstitusional bersyarat Pasal 22 UU Pengadilan Anak sepanjang frasa “.. Bahwa dari keterangan ahli Pemohon (Dr. M...pidana atau.”. frasa “..UU Pengadilan Anak sepanjang frasa.. Pasal 22 UU Pengadilan Anak mengenai pemberian pidana akan berdampak traumatik pada anak yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi proses perkembangan kejiwaan anak mengingat status mantan narapidana akan terus disandang oleh anak hingga keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Anak.”. Bahwa sebagai “The Interpreter of Constitution”.”.telah mencapai umur 8 (delapan) tahun.

H. Hal ini dikarenakan setiap perkara dan kasus memiliki pertimbangan dan tindakan hukum yang berbeda pula sehingga alasan para Pemohon tidak tepat menurut hukum dan harus dikesampingkan. M. pidana penjara”. Pemohon mendalilkan bahwa pidana penjara di Indonesia telah memiliki sejumlah permasalahan tersendiri yang telah terbukti tidak akan efektif untuk memberikan pendidikan kesadaran atas tindak pidana yang telah dilakukan oleh seorang anak..H.pidana bagi anak bukanlah suatu yang tepat karena tidak membantu dan menolong anak untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. hak atas makan. yang menerangkan pilihan penjatuhan 35 . Bahwa dari pandangan hukum kedua ahli di atas.H.31] Menimbang bahwa para Pemohon juga memohon pada Mahkamah untuk mencabut frasa “a. pada Pasal 23 ayat (2) huruf a UU Pengadilan Anak dengan alasan bahwa penjatuhan pidana bagi anak merupakan pidana yang akan melanggar hak-hak anak seperti hak atas pendidikan.H. dan sosial anak dalam menerapkan hukum yang berbeda. yang memberikan penekanan pada proses pemberian pidana penjara kepada anak merupakan ranah kebijakan hakim yang juga didasarkan pada pertumbuhan dan perkembangan fisik. Bahwa Mahkamah dapat menerima keterangan ahli Pemerintah. hak atas berkumpul dengan keluarga dan hak atas hukum berkeadilan.. M.. hak atas bebas dari kekerasan. Dr. hak atas rasa aman. S. mental. Mudzakkir. Bahwa sebaliknya dari keterangan ahli Pemerintah yakni Dr. Bahwa ahli Pemohon berpendapat bahwa keberadaan pasal a quo mengenai penjatuhan pidana serta penjatuhan pidana penjara bagi anak adalah suatu pilihan yang tidak tepat dan tidak membantu ataupun menolong anak untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. [3. Mudzakkir. Mahkamah dapat menerima keterangan ahli Pemerintah bahwa proses penjatuhan dan pilihan mengenai pidana bagi anak sepenuhnya merupakan kewenangan bagi hakim untuk memutuskan setiap perkara. S.

kapasitas pribadi anak dan lain sebagainya.. pidana denda atau pidana pengawasan.”.di Lembaga Pemasyarakatan Anak. Mahkamah berpendapat. Pasal 31 ayat (1) UU Pengadilan Anak dengan alasan bahwa penempatan anak nakal yang telah diputus oleh Hakim dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan 36 . dan sosial anak. Dalam hal ini.pidana penjara terhadap anak diserahkan kepada kebijakan hakim. keberadaan pidana penjara bukan merupakan satu-satunya pilihan pidana bagi anak sehingga tidak secara mutlak dapat merugikan hak konstitutional anak. terjadinya kerugian yang dialami oleh anak dalam penjara bukan disebabkan berlakunya norma a quo melainkan dalam tataran implementasi bukan tataran konstitusional yang sama sekali secara mutlak tidak menyebabkan kerugian bagi semua anak yang tinggal dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak sehingga Pasal 23 ayat (2) huruf a UU Pengadilan Anak adalah konstitutional. Dari pandangan hukum di atas. [3. sedangkan pembedaan perlakuan dan pidana tentunya didasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan fisik. Keberadaan klausula pidana penjara merupakan bentuk pilihan yang keputusan akhirnya akan diserahkan pada hakim berdasarkan pertimbangan berat ringan tindakan pidana.32] Menimbang bahwa para Pemohon mendalilkan bahwa frasa. mental. Mahkamah berpendapat bahwa Pasal 23 ayat (2) huruf a UU Pengadilan Anak telah memberikan sejumlah alternatif pidana bagi anak nakal selain pidana penjara yakni pidana kurungan. “.... Hal ini tentunya dengan melihat sejumlah prinsip keseimbangan antara kepentingan terbaik anak (the best interest of child) dan ketertiban struktur sosial masyarakat. Bahwa sepanjang menyangkut isu hukum berupa kasus-kasus kekerasan yang diderita oleh anak dalam penjara merupakan tindakan secara sistematis terjadi disebabkan berlakunya norma dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a UU Pengadilan Anak.

Hal tersebut disebabkan keterbatasan sarana dan prasarana maupun belum maksimalnya tingkat profesionalitas petugas pemasyarakatan dalam melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Pemerintah mengaku juga telah melakukan upaya perbaikan dalam penanganan dan pembinaan anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak. Bahwa Mahkamah berpendapat ketentuan yang terdapat dalam Pasal 31 ayat (1) merupakan penegasan keberadaan Lembaga Pemasyarakatan Anak dan keharusan aparat penegak hukum untuk tidak menempatkan anak nakal yang dinyatakan bersalah di Lembaga Pemasyarakatan bagi orang dewasa. pembinaan. Keberadaan Pasal a quo telah mempertegas keberadaan Lembaga Pemasyarakatan Anak sebagai 37 . dan latihan kerja sebagaimana tercantum dalam Pasal 24 ayat (1) huruf b UU Pengadilan Anak. Dalam hal ini. dibandingkan bila anak tersebut berada di luar Lembaga Pemasyarakatan. sehingga harus ditempatkan dalam lembaga pemasyarakatan yang berbeda dengan lembaga pemasyarakatan orang dewasa. Para Pemohon berpendapat bahwa anak nakal tidak semestinya dimasukkan dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak seharusnya mengikuti pendidikan. Di samping itu Pemerintah juga telah mengakui adanya permasalahan seperti pelanggaran hukum yang diderita oleh anak selama dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak.“penempatan yang salah” atau “pemenjaraan yang keliru”. Pemerintah memberikan keterangan bahwa pembentukan Lembaga Pemasyarakatan Anak adalah dalam rangka untuk melindungi anak dari perbuatan yang tidak baik. Pemerintah kemudian memberikan keterangan yang pada pokoknya menyatakan ketentuan mengenai adanya Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan konsekuensi dari tindakan pidana yang dilakukan oleh anak. Sebaliknya atas dalil para Pemohon.

MAHFUD MD KONKLUSI Berdasarkan berikut: [4. Para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk bertindak selaku pemohon dalam perkara a quo. Pasal 31 ayat (1) UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak tidak terbukti menurut hukum. Pasal 22. dan memutus perkara a seluruh penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas. Pasal 23 ayat (2) huruf a. mengadili. dan latihan kerja bagi Anak Nakal yang diputus menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak. 38 . Oleh karenanya dalil para Pemohon tidak tepat dan tidak berdasar hukum.2] Mahkamah berwenang memeriksa. Bahwa pada prinsipnya permasalahan-permasalahan yang didalilkan oleh para Pemohon mengenai Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan permasalahan yang timbul karena penerapan hukum yang salah oleh aparat penegak hukum dan bukan disebabkan adanya norma yang bertentangan dengan UUD 1945.1] [4. [3. maka frasa-frasa yang dimohonkan oleh Pemohon yakni yang terdapat dalam Pasal 1 angka 2 huruf b. Mahkamah berkesimpulan sebagai quo. pembinaan. KETUA : MOH. sedangkan dalil Pemohon mengenai Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Pengadilan Anak beralasan hukum.wadah pendidikan.31] Menimbang bahwa dari rangkaian pendapat Mahkamah di atas dalam kaitannya yang satu dengan yang lain para Pemohon tidak dapat membuktikan dalil-dalil permohonannya. 15.

. • Menyatakan frasa.... 8 (delapan) tahun. Pasal 4 ayat (1). artinya inkonstitusional.” dalam Pasal 1 angka 1.”.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3668). Menyatakan frasa... Mengadili.[4....Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316). beserta penjelasan UndangUndang tersebut khususnya terkait dengan frasa “...8 (delapan) tahun..”.” adalah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara bersyarat (conditionally unconstitutional)... Pasal 4 ayat (1). kecuali dimaknai “.3] Dalil-dalil Pemohon dalam pokok permohonan terbukti menurut hukum untuk sebagian.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3668). • • Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk sebagian. beserta penjelasan Undang39 .”..12 (dua belas) tahun. dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3. 8 (delapan) tahun. dan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3. AMAR PUTUSAN Dengan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan dengan mengingat Pasal 56 ayat (2) dan ayat (3) serta Pasal 57 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98.” dalam Pasal 1 angka 1..

.. sebagai Ketua merangkap Anggota. 40 . dan Muhammad Alim. tanggal dua puluh empat Februari tahun dua ribu sebelas oleh tujuh Hakim Konstitusi. M.8 (delapan) tahun. Achmad Sodiki.. Akil Mochtar..12 (dua belas) tahun.” tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat (conditionally unconstitutional). dan Muhammad Alim. Ahmad Fadlil Sumadi. Achmad Sodiki. KETUK PALU 1X Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Moh. M. Ahmad Fadlil Sumadi.Undang tersebut khususnya terkait dengan frasa “. Memerintahkan pemuatan Putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya. Akil Mochtar. yaitu Moh. artinya inkonstitusional. Mahfud MD. kecuali dimaknai “. dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili. masing-masing sebagai Anggota pada hari Rabu. dihadiri oleh Pemohon/Kuasanya. Hamdan Zoelva. Mahfud MD... sebagai Ketua merangkap Anggota. Maria Farida Indrati.”. Harjono. Harjono. masing-masing sebagai Anggota dengan didampingi oleh Ida Ria Tambunan sebagai Panitera Pengganti. tanggal dua bulan Februari tahun dua ribu sebelas dan diucapkan dalam sidang pleno terbuka untuk umum pada hari Kamis. Hamdan Zoelva. Pemerintah atau yang mewakili... M. Arsyad Sanusi. • • Menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan selebihnya.

Di Indonesia asas legalitas diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia yang menyatakan. yaitu Hakim M. semua produk yang dihasilkan oleh negara termasuk produk hukumnya harus ditujukan untuk mensejahterakan masyarakat menuju masyarakat Indonesia adil dan makmur. “Tiada suatu perbuatan boleh dihukum. yang ada terlebih dahulu daripada perbuatan itu”. Asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin. melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang. Salah satu ciri yang diakui secara universal oleh negara hukum yang demokratis adanya pengakuan atas asas legalitas dalam segala bentuk.. Akil Mochtar Dissenting Opinion Hakim Konstitusi M. dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”. Akil Mochtar. diatur. yang dalam bahasa latinnya dikenal dengan sebutan ”Nullum delictum nulla poena sine praevia legi poenali”. 41 . Akil Mochtar terhadap Pasal 1 angka 2 huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak sepanjang frasa ” .PENDAPAT BERBEDA (DISSENTING OPINION) Terhadap putusan perkara ini terdapat 1 (satu) seorang Hakim Konstitusi yang pendapat berbeda (dissenting opinion). Oleh sebab itu. maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan”.1] Pendapat Berbeda (Dissenting Opinion) Hakim M. saya memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion) sebagai berikut: UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara menjamin negara hukum yang demokratis.. prinsip tersebut ditetapkan secara tegas di dalam Pasal 28I ayat (5) yang menyatakan ”Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis. antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi (Lunshof). sebagai berikut: [6.

menjamin adanya kepastian hukum. adanya kepastian hukum. 3. tidak dapat dipidana kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut Undang-Undang. tidak diberlakukan ketentuan pidana yang berlaku surut. 6. tidak multitafsir. yaitu prinsip lege praevia. tidak ada perbuatan pidana tanpa Undang-Undang tertulis. Asas lex certa prinsip: 1. dan pidana yang dijatuhkan bersumber kepada hukum yang tertulis. 5. prinsip lege certa. Hal yang demikian itu.Perumusan asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP tersebut mengandung makna asas lex temporis delicti. tidak ada perbuatan pidana tanpa aturan Undang-Undang yang jelas. prinsip lege scripta. artinya. artinya. bertolak dari nilai-nilai untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan penegak hukum. 2. Sesuai dengan asas lex certa maka perumusan hukum pidana harus mengutamakan kejelasan. tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan. tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan Undang-Undang. Artinya. artinya Undang-Undang yang berlaku adalah Undang-Undang yang ada pada saat delik terjadi (nonretroaktif). tidak ada perbuatan pidana tanpa Undang-Undang yang ketat. tidak ada penerapan Undang-Undang pidana secara analogis. Sejak kelahirannya hukum pidana dibentuk untuk mengatur dan menerapkan sanksi pidana terhadap perbuatan seseorang (daad– 42 menurut doktrin hukum pidana menganut . 4. dan prinsip lege stricta. penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan UndangUndang. Asas legalitas adalah asas yang sangat fundamental dalam hukum pidana yang di dalamnya mengandung beberapa hal. artinya tidak ada perbuatan pidana tanpa Undang-Undang sebelumnya.

43 . bertanggal 25 Juli 2006 terkait dengan Pengujian Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. sehingga dalam doktrin hukum pidana muncul sebutan daad-dader strafrecht. Pasal 28D ayat (1) mengakui dan melindungi hak konstitusional warga negara untuk memperoleh jaminan dan perlindungan hukum yang pasti.strafrecht). akan tetapi ketika perbuatan itu dilakukan yang bersangkutan di bawah umur atau dalam keadaan gila. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006. yang pertimbangannya adalah sebagai berikut: “… Menimbang bahwa dengan demikian Mahkamah menilai memang terdapat persoalan konstitusionalitas dalam kalimat pertama Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK sehingga Mahkamah perlu mempertimbangkan lebih lanjut hal-hal sebagai berikut: 1. maka pemberlakuan ketentuan pidana dikecualikan terhadap yang bersangkutan. telah memberikan pertimbangan terhadap ajaran sifat melawan hukum materiil dalam Undang-Undang a quo yang bertentangan dengan prinsip asas legalitas. dan bukan kepada status sosial atau status hukum orang yang bersangkutan (orang dewasa maupun anak) [Romli Atmasasmita (2005:2)]. sangat jelas adresat hukum pidana adalah perbuatan seseorang yang melanggar aturan pidana. dengan mana dalam bidang hukum pidana diterjemahkan sebagai asas legalitas yang dimuat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Dengan demikian. bahwa asas tersebut merupakan satu tuntutan akan kepastian hukum di mana orang hanya dapat dituntut dan diadili atas dasar suatu peraturan perundang-undangan yang tertulis (lex scripta) yang telah lebih dahulu ada. namun dalam perkembangannya kemudian dengan pengaruh gerakan humanisme maka hukum pidana juga diwajibkan mempertimbangkan seseorang yang melakukan tindak pidana.

3. dan berbeda-beda dari satu lingkungan masyarakat tertentu ke lingkungan masyarakat lainnya. sesuai dengan prinsip nullum crimen sine lege stricta. 2003:358) merupakan syarat untuk menjamin kepastian hukum (lex certa) atau yang dikenal juga dengan istilah Bestimmheitsgebot. yang merumuskan perbuatan apa atau akibat apa dari perbuatan manusia secara jelas dan ketat yang dilarang sehingga karenanya dapat dituntut dan dipidana. .. kehati-hatian dan kecermatan yang hidup dalam masyarakat.. Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK sepanjang mengenai frasa “Yang dimaksud dengan ‘secara melawan hukum’ dalam pasal ini mencakup perbuatan-perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil. sehingga apa yang melawan hukum di satu tempat mungkin di tempat lain diterima dan diakui sebagai sesuatu yang sah dan tidak melawan hukum. Dengan demikian. yang mewajibkan pembuat undang-undang untuk merumuskan secermat dan serinci mungkin (vide Jan Remmelink. Hukum Pidana. sebagai satu norma keadilan. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam 44 .2. Menimbang bahwa berdasarkan uraian di atas. yang merujuk pada hukum tidak tertulis dalam ukuran kepatutan. merupakan hal yang tidak sesuai dengan perlindungan dan jaminan kepastian hukum yang adil yang dimuat dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.dst. menurut ukuran yang dikenal dalam kehidupan masyarakat setempat. Menimbang bahwa oleh karenanya Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU PTPK kalimat pertama tersebut. Hal demikian menuntut bahwa suatu tindak pidana memiliki unsur melawan hukum. konsep melawan hukum materiil (materiele wederrechtelijk). yang harus secara tertulis lebih dahulu telah berlaku. adalah merupakan ukuran yang tidak pasti. Konsep melawan hukum yang secara formil tertulis (formele wederrechtelijk).

pasti. manahan. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau normanorma kehidupan sosial dalam masyarakat. 45 . dan cermat dalam Undang-Undang. yang merupakan pengakuan dan perlindungan hak konstitusional warga negara untuk memperoleh jaminan. kita akan cenderung menerima prinsip yang berlaku di Rusia pada jaman Stalin: perbuatan apapun yang secara sosial dipandang berbahaya akan dianggap sebagai tindak pidana (Jan Remmelink. Padahal tujuan asas legalitas adalah untuk melindungi setiap orang dari tindakan sewenang-wenang aparat penegak hukum dalam menangkap. Tujuan akhir dari hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum sehingga jika interprestasi dilakukan berdasarkan tujuan yang kabur berarti kita mengganti bendungan dengan pagar yang tidak mampu memberikan batasan yang tegas. harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. pelaksanaan asas legalitas yang termuat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP merupakan suatu tuntutan akan kepastian hukum di mana orang hanya dapat dituntut dan diadili atas dasar suatu peraturan perundang-undangan yang tertulis (lex scripta) yang telah lebih dahulu ada. tetapi tindakan tersebut tidak diatur secara rinci. 2003 53-54). dan kepastian hukum yang adil sesuai Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. atau menuntut seorang anak ke pengadilan tanpa menyebutkan ketentuan atau peristiwa pidana yang dilanggar. Hukum Pidana. adalah ketidakadilan jika seorang anak Indonesia yang kemudian diduga melakukan tindak pidana. Dengan demikian.…” Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi a quo. perlindungan. maka perbuatan tersebut dapat dipidana”. dijatuhi pidana yang hal tersebut merupakan tindakan mengkriminalisasi terhadap semua anak Indonesia.peraturan perundang-undangan. dalam hal seseorang yang diduga melakukan tindak pidana korupsi saja mendapat perlindungan dan jaminan konstitusional.

. KETUK PALU 3X SIDANG DITUTUP PUKUL 17:30 WIB Jakarta. 19610310 199203 1001 Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi.d. maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan” bertentangan dengan UUD 1945. 46 .t.. t. MAHFUD MD Dengan demikian. sidang dinyatakan selesai dan ditutup. 16. sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya. menurut saya seharusnya Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 1 angka 2 huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak sepanjang frasa. 24 Februari 2011 Kepala Sub Bagian Pelayanan Risalah. KETUA : MOH. ” . Mula Pospos NIP.Maka berdasarkan uraian tersebut di atas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->