Kongres Ke VI Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan Hospital Expo Ke VII I
Jakarta Hilton Convention Centre 21 - 25 Nopember 1993
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No . 90, 1994 1

Cermin Dunia Kedokteran
International Standard Serial Number: 0125 - 913X KETUA PENGARAH Prof. Dr Ocn L.H. KETUA PENYUNTING Dr Budi Riyanto W PEMIMPIN USAHA Rohalbani Robi PELAKSANA Sriwidodo WS TATA USAHA Sigit Hardiantoro ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran P.O. Box 3105 Jakarta 10002 Tclp. 4892808 Fax. 4893549, 4891502 NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 PENERBIT Grup PT Kalbc Farma PENCETAK PT Midas Surya Grafindo DR. B. Setiawan Ph.D DR. Ranti Atmodjo PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang mcmbahas bcrbagai aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penclitian di bidangbidang tersebut. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedoktcran; bila telah pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Naskah ditulis dalam bahasa lndonesia atau Inggris; bila menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa lndonesia yang berlaku. lstilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa lndonesia yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia . Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa lndonesia. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa lndonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa lnggris untuk karangan tersebut. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya, Iebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto. Nama (para) pengarang ditulis Iengkap, disertai keterangan Iembaga/fakultas/institut te mpat bekerjanya. Tabel/skema/grafik/i lustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelasjelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direpruduksi , diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Bila terpisah dalam lembar lain, hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Mcdicus dan/atau Uniform Requirements for Manuscripts Submittcd to Biomedical Joumals (Ann Intem Mcd 1979; 90 : 95-9). Contoh : Basmajian JV, Kirby RL. Medical Rehabilitation. lst cd. Baltimore, London: William and Wilkins, 1984. Hal 174-9. Weinstein L., Swartz MN. Pathogenctic properties of invading microorganisms. Dalam: Sodeman WA Jr, Sodeman WA, cds. Pathologic physiology: Mcchanisms of discascs. Philadclphia: WB Saundcrs, 1974 : 457-72. Sri Oemijati . Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64 : 7-10. Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih, se butkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran PO Box 3105 Jakarta 10002 Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu secara tertulis. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplo p beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. REDAKSI KEHORMATAN - Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro Guru Besar Ilmu Kedoktcran Jiwa Fakultas Kedoktcran Univcrsitas Indonesia, Jakarta - Prof. Dr. R.P. Sidabutar Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta - Prof. Dr. Sudarto Pringgoutomo Guru Bcsar IImu Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Prof. DR. Sumarmo Poorwo Soedarmo Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta - Prof.DR.B. Chandra Guru Bcsar Ilmu Pcnyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya Prof. Dr. R. Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Univcrsitas Diponegoro, Scmarang Drg. I. Sadrach Lembaga Penelitian Universitas Trisakti, Jakarta DR. Arini Scuawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

-

-

DEWAN REDAKSI - Drs. Victor S. Ringoringo, SE, MSc. - Dr. P.J. Gunadi Budipranoto

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian e mpat kerja si Penulis.

Manfaat Alat Kedokteran Canggih dalam Pengembangan Iptek di Indonesia – Karjadi Wirjoatmodjo 90. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. Strategic Planning and Marketing – James E.04/ 1986 70. Beberapa Masalah dalam Hubungan Rumah Sakit dan Pasien–J. Waworoendeng 85. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia no. Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit – Brotowasisto 34. Etika Rumah Sakit dalam Perspektif UU no.913X Daftar Isi : 5. Sjaaf 47. Pengembangan Iptek PJPT II – Sudraji Sumapraja 64. Pelayanan Lanjut Usia – persiapan rumah sakit dalam mengantisipasi kasus lanjut usia – H. Rumah Sakit dan Asuransi Kesehatan – Suatu perbandingan – Sonja Roesma 97. Current Issues and Future Trends in Health Care – Errol Pickering 28. Laporan Ketua Panitia 6.431/1990 77. Keputusan Presiden Republik Indonesia no.Cermin Dunia Kedokteran 90. The Role of Marketing in Determining the Technology Investment Strategy of a Hospital – John Popper 92. Ceramah Menteri Sosial Republik Indonesia 50. 51 tahun 1993 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan dan Penjelasannya 117. SE-19/PJ. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia no. Aspek Ekonomi Pelayanan Kesehatan – Ascobat Gani 41. 356/KMK. 23/1992 – Kartono Mohammad 56. Penyusunan Amdal Rumah Sakit dan Penatalaksanaannya – Komisi Amdal Departemen Kesehatan Republik Indonesia 103. Surat Edaran Direktur Jendral Pajak no. Hubungan Rumah Sakit dan Pasien dipandang dari Sudut Hukum dan Etika – Emma Suratman 53. 796/KMK. Guwandi 61. Amino Gondohutomo Makalah Sidang Pleno dan Panel Diskusi 7. Edisi Khusus (I) Kongres Ke Vl PERSI dan Hospital Expo Ke Vll Januari 1994 International Standard Serial Number: 0125 . Kebijaksanaan Pengembangan Rumah Sakit dalam Pembangunan Jangka Panjang tahap II – Brotowasisto 16. H. Suplemen – Usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang Islami bagi penderita lanjut usia di Rumah Sakit Islam Jakarta Karya Sriwidodo WS . Surat Edaran Direktur Jendral Pajak no. 18 tahun 1986 67.23/1989 75. Ahmad Sanoesi Tambunan 121. SE. Paparan Kenangan Dr.04/ 1993 72. Tinjauan Perkembangan Perumahsakitan dalam PJPT II – Samsi Jacobalis 22. Program Cost Containment di Rumah Sakit –Amal C.03/PJ.

padat ilmu dan teknologi serta padat karya. Panitia mengucapkan selamat datang kepada para peserta Kongres dan Hospital Expo dari seluruh tanah air.Laporan Ketua Panitia Kongres Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia ke VI dan Hospital Expo ke VII di Jakarta Hilton Convention Centre 21 . Seperti sama-sama kita ketahui Pembangunan Jangka Panjang Tahap I telah kita lampaui dengan baik. Jelas bahwa PJPT II tidak bertambah ringan. berdiskusi dengan perusahaanperusahaan tersebut bisa juga memesan dan membeli secara langsung sehingga peralatan dan teknologi yang dipakai oleh rumah sakit bisa sesuai. 3) Kongres PERSI selalu diikuti oleh Hospital Expo. Di dalam sidang akan dibahas masalah organisasi sehingga diharapkan organisasi PERSI akan menjadi semakin baik. mantap dan sempurna.25 Nopember 1993 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Pertama-tama mari kita panjatkan pujisyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas perkenanNya kita bersama-sama bisa menghadiri Kongres Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia ke VI dan Hospital Expo ke VII di Jakarta Hilton Convention Centre. karena rumah sakit padat modal. Terdapat sekitar 70 perusahaan yang akan ikut memamerkan peralatan-peralatan kedokteran canggih maupun peralatan-peralatan lain yang biasa dipakai di rumah sakit. karena selain mempertahankan hasil yang telah dicapai pada PJPT I. diperlukan berbagai upaya pengembangan baru yang inovatif untuk mengejar ketinggalan kita dalam pembangunan kesehatan. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Kesehatan. telah banyak yang bisa dicapai selama ini. Sidang akan diakhiri dengan pemilihan ketua baru PERSI untuk periode 1993 . berhasil guna dan berdaya guna. Sesuai dengan tema Meningkatkan peran RS dalam menyongsong PJPT II perkenankanlah kami melaporkan beberapa hal mengenai penyelenggaraan Kongres dan Hospital Expo sebagai berikut : 1) Sidang organisasi sebagai pertemuan tertinggi organisasi akan dihadiri oleh seluruh cabang PERSI yang ada dari seluruh tanah air (21 cabang). Kami berbahagia sekali bahwa pada kesempatan ini Errol Pickering Sekjen International Hospital Federation bisa hadir dan memberikan ceramah mengenai kecenderungan rumah sakit di dunia. Peralatan-peralatan tersebut ada yang didatangkan khusus dari pabrik-pabrik di luar negeri maupun perusahaan dalam negeri. Saudara-saudara sekalian. 1994 5 . 2) Seperti sama-sama kita ketahui rumah sakit memiliki kekhususan dalam manajemennya dan tidak jarang dihadapkan pada masalah-masalah yang kompleks. pameran peralatan rumah sakit terbesar di Indonesia. Pada acara ilmiah kali ini kita pilihkan para pembicara yang terdiri dari pakar-pakar bertaraf internasional dan nasional.1996. bertanya. Menteri Lingkungan dan Bapak Dirjen maupun para pakar di bidang perumah sakitan yang bersedia memberikan pada kita ceramahceramah untuk bekal kita memasuki PJPT II dan bagi kita semua. Diharapkan para peserta bisa melihat. Edisi Khusus No. 90. Menteri Ristek. 4) Sebagai akhir dari Kongres akan diadakan Penataran Pasca Kongres di RS Kanker Dharmais dengan topik-topik yang ditawatkan : Cermin Dunia Kedokteran . Menteri Sosial. Saudara-saudara sekalian.

MBA. Edisi Khusus No. Akhirul kata. Saya mengenal pribadinya cukup dekat ketika bekerja sama dengan beliau sebagai Sekjen PERSI. 1994 . Diharapkan kongres ke-6 ini nanti dapat menghasilkan keputusan yang menetapkan PAPARAN KENANGAN DR H. Bagi saya pribadi hal ini mempunyai arti khusus. baik milik pemerintah maupun swasta. Almarhum adalah atasan saya dalam dinas di waktu yang lalu. Semoga arwah beliau mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah yang maha penyayang. Pembahasan dalam penataran ini berkisar pada pemecahan permasalahan yang terjadi di lapangan. Samsi Jacobalis 6 Cermin Dunia Kedokteran . Beliau pulalah yang telah membuka jalan sehingga PERSI menjadi anggota Asian Hospital Federation dan International Hospital Federation. H.A.a) b) c) Manajemen keuangan. sekali lagi kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi saudara-saudara sekalian. Paparan Kenangan DR H Amino Gondohutomo (Amino Gondohutomo Memorial Lecture) Pengurus Pusat PERSI memutuskan dalam Kongres ke-6 ini diadakan paparan pemikiran untuk mengenang sosok almarhum DR H. Beliau pulalah yang kemudian bersama-sama dengan tokoh-tokoh lain sangat giat dan dengan penuh dedikasi mengembangkan PERSI menjadi organisasi yang menyatukan semua rumah sakit di Indonesia. Saya merasa mendapat kehormatan besar menjadi pemapar pertama. Kiranya pantaslah nama beliau dibadikan dalam bentuk PAPARAN KENANGAN seperti ini. Budiarso. Beliau adalah salah seorang tokoh yang telah memprakarsai kelahiran PERSI. Manajemen pemasaran. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. ketika beliau menjabat sebagai ketua eksekutif. SKM. 90. Amino Gondohutomo. Ketua Panitia Dr.W. AMINO GONDOHUTOMO sebagai tradisi baru dalam kegiatan tahunan kongres-kongres PERSI selanjutnya. Manajemen keperawatan.

terpadu dan berkesinambungan. Pelita 11 telah meningkat kepada pembangunan kesehatan. Pelita I lebih menekankan pembangunan sarana kesehatan. serta dengan peran serta masyarakat yang meliputi upaya-upaya peningkatan.25 November 1993. serta tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dan terjangkau. yang akan mampu mencari terobosan-terobosan baru untuk mengatasi keterbatasan tersebut dan sekaligus mempercepat laju pertumbuhan pembangunan kesehatan. Edisi Khusus No. Walaupun derajat kesehatan penduduk telah membaik secara bermakna dalam 25 tahun terakhir. perlu digali dan dikembangkan berbagai pola pemikiran serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang baru. tetapi keadaannya masih ketinggalan jika dibanding dengan negara-negara tetangga di ASEAN. Mengingat sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam pembangunan kesehatan sangat terbatas. yang pelaksanaannya perlu dipersiapkan bersama secara matang. Rendahnya anggaran sektor kesehatan serta prioritas untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan di Indonesia mempunyai dampak terhadap anggaran sektor perumahsakitan yang sangat terbatas. pada tahun 1982 telah diberlakukan Sistem Kesehatan Nasional (SKN). penyembuhan serta pemulihan secara menyeluruh. Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang Pertama merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional. Untuk itu. Pada saat itu. pencegahan. nilai dan pemikiran yang berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial budaya juga melaksanakan upaya peningkatan dan pencegahan secara terpadu. derajat kesehatan. selaras dengan meningkatnya kesejahteraan. dan yang kini telah memasuki tahun terakhir Pelita V. Pembangunan Jangka Panjang Pertama yang meliputi jangka waktu 25 tahun telah dilaksanakan sejak 1968 dengan pentahapan lima tahunan. sedangkan sejak Pelita III strategi pembangunan kesehatan menjadi lebih jelas dengan diterimanya pendekatan Primary Health Care (PKMD). 21 . SKN telah memuat rencana pembangunan kesehatan sampai akhir Repelita VI. yang sesuai dengan Kesehatan Bagi Semua pada Tahun 2000 yang dicanangkan WHO pada tahun 1978. Jakarta . Upaya kesehatan di rumah sakit mempunyai sifat-sifat atau karakteristik tersendiri. Penyelenggaraan upaya kesehatan yang sangat luas dan rumit ini dirasakan perlu dikelola secara berhasil guna dan berdaya guna. Jakarta PENDAHULUAN Pembangunan Kesehatan bertujuan agar setiap penduduk mampu hidup sehat sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. 5/1000 kelahiran hidup. Broto Wasisto. Karakteristik ini diakibatkan oleh karena rumah sakit merupakan organisasi yang unik dan kompleks. diharapkan bahwa kita akan berada dalam tahap tinggal landas. tingkat kematian ibu hamil/bersalin pada tahun 1986 sebesar 4. Kompleksitas atau karakteristik pela- Cermin Dunia Kedokleran. Hal ini tampak dari masih tingginya tingkat kematian bayi yakni sebesar 58/1000 kelahirar hidup pada tahun 1990. MPH Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI.Artikel Kebijaksanaan Pengembangan Rumah Sakit dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II Dr. Upaya pelayanan kesehatan yang semula hanya berupa upaya penyembuhan telah berkembang menjadi kesatuan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat. 1994 7 . kita juga akan Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. 90. Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan yang semula hanya melaksanakan upaya penyembuhan dan pemulihan. Menjelang Pelita VI. yang merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan Pembangunan Nasional. dengan perubahan orientasi. yang memberikan kejelasan arah dan tujuan pembangunan kesehatan. yang dikenal dengan Pelita. memasuki masa Pembangunan Jangka Panjang Kedua.

31% pada dekade 70-an turun menjadi 1. Dari sekian banyak faktor yang dapat berpengaruh tadi. suara dan thermal. dikhawatirkan bahwa pada sebagian masyarakat akan timbul sikap hidup yang tak menguntungkan seperti misalnya kenakalan remaja.33 juta pada tahun 1980 dan 179. Urbanisasi akan meningkat. Sebagian besar penduduk yang hidup di kota-kota akan menikmati air minum yang lebih layak. Jumlah penduduk dan struktur demografi sangat erat kaitannya dengan kesehatan karena ia akan mempengaruhi volume pelayanan dan pola pelayanan kesehatan. Keadaan ekonomi Indonesia dalam 20 tahun terakhir telah semakin membaik. Timbulnya konglomerasi akan tetap berlangsung karena keadaan pasar dan kebijaksanaan ekonomi yang memungkinkannya. Begitu pula pemerataan pendapatan semakin membaik walaupun dirasakan agak lambat. penduduk yang semakin mampu mengolah dan mengelola sumberdaya alam tadi dan perkembangan teknologi serta kebijaksanaan pembangunan. Polusi limbah rumah tangga terhadap air sungai akan tetap terjadi meskipun sudah diambil langkahlangkah program kali bersih. Perbaikan ekonomi yang menggembirakan tadi akan memungkinkan bangsa dan negara Indonesia memobilisasi lebih 8 Cermin Dunia Kedokteran . pupuk dan bahan lain dapat lebih sering terjadi. Krisis ekonomi dunia masih dapat terjadi tetapi dampaknya terhadap Indonesia mungkin akan terbatas. demografi. Diduga bahwa pada tahun 2015 rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Indonesia sudah mencapai SLTA. Pada tahun 2005 diduga jumlah penduduk Indonesia sekitar 223. Meskipun mengalami krisis pada tahun 1982 dan 1987. Akan timbul kantong-kantong kumuh di banyak kota. Walaupun tingkat pendidikan menjadi lebih baik. Pada hakekatnya determinan kesehatan tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Harus diakui kantong-kantong kemiskinan masih akan dijumpai terutama di kota-kota dan daerah terpencil. merokok.32 juta pada tahun 1990. Kecenderungan membaiknya keadaan ekonomi tadi akan tetap berlangsung dalam 25 tahun mendatang. Dalam 30 tahun terakhir jumlah penduduk Indonesia meningkat sangat cepat yakni dari 97 juta pada tahun 1961. Pada dekade 90-an ini. kecanduan obat. Tingkat pendidikan yang meningkat ini menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi lebih berpengetahuan dan lebih pandai memilih alternatif yang baik bagi dirinya serta lebih mudah menyerap informasi. Keadaan ini dapat meluas dengan semakin tingginya tingkat urbanisasi yang tak seimbang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat tadi. KECENDERUNGAN DETERMINAN KESEHATAN Determinan kesehatan atau faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap tingkat derajat kesehatan penduduk adalah faktor-faktor sosial.9% pada dekade 80-an.yanan rumah sakit perlu diketahui dan dipahami oleh setiap orang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pembinaan dan penyelenggaraan rumah sakit. Dalam 25 tahun mendatang jumlah penduduk Indonesia masih akan bertambah dengan tingkat pertumbuhan yang semakin menurun. air. Penduduk akan semakin mampu membeli pelayanan yang tersedia terutama melalui sisti m asuransi. Pemanfaatan jamban keluarga akan lebih meningkat. Migrasi penduduk dari Jawa masih akan terjadi terutama menuju pulau-pulau Kalimantan. Pengelolaan sampah akan semakin baik tetapi pengotoran kimiawi yang berasal dari insektisida. Persediaan air minum bersih seinakin tinggi cakupannya dalam 25 tahun mendatang. menjadi 118 juta pada tahun 1971. 1994 banyak dana untuk upaya kesehatan. Menurunnya angka kelahiran dan angka kematian serta mengecilnya jumlah anggota keluarga menyebabkan struktur umur penduduk Indonesia menjadi lebih tua. Iingkungan dan upaya kesehatan. empat faktor pertama mempunyai peran yang lebih penting. sekitar 40% penduduk Indonesia tinggal di kota-kota dan pada tahun 2015 meningkat sampai lebih dari 50%. Keadaan sosial masyarakat Indonesia terutama tingkat pendidikannya akan terus membaik. namun demikian di beberapa tempat air minum bersih masih menjadi masalah. Pulau Jawa dapat mengalami kesulitan air minum bila pengelolaan sumber-sumber yang ada tidak cermat. Angka kematian yang menurun lebih cepat dari angka kelahiran menyebabkan Indonesia mengalami ledakan penduduk antara tahun-tahun 60 – 80. alkoholisme. Hal ini tidak lepas dari tersedianya sumberdaya alam yang melimpah. Pada tahun 2000. Kota metropolitan dengan penduduk lebih dari l juta akan semakin banyak dan Jakarta akan menjadi mega metropolitan. sedangkan buta huruf di kalangan wanita dewasa dapat dikatakan tidak ada lagi. Namun demikian gerakan koperasi yang timbul dari bawah akan dapat semakin memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat strata menengah ke bawah. tetapi lebih dari 50% penduduk Indonesia masih tinggal di pulau Jawa yang kepadatannya mungkin akan mencapai 1000 per km 2 . Industrialisasi yang akan berkembang cepat pada masa mendatang dapat menyebabkan timbulnya polusi udara. Migrasi keluar pulau Jawa masih lebih besar daripada imigrasi. mereka yang berumur lebih dari 16 tahun jumlahnya akan lebih banyak daripada yang berumur kurang dari 15 tahun. Krisis energi yang terjadi menyebabkan Indonesia harus . Indonesia akan masuk dalam kelompok negara-negara industri baru (NIC). permissiveness dan lain sebagainya. Edisi Khusus No.18 juta dengan angka pertumbuhan yang akan mendekati 0%. 90. Dengan demikian beban dan pola pelayanan kesehatan akan sangat berubah. Bila pada tahun 1980 hanya 85% anak umur-sekolah (7 – 12 tahun) dapat memasuki sekolah dasar. 147. Yang cukup menggembirakan adalah bahwa angka pertumbuhan menurun dengan pesat yakni dari 2. Sulawesi dan Irian. Pendapatan perkapita penduduk Indonesia akan meningkat menjadi $ 1000 pada akhir Repelita VI dan $ 2500 pada akhir PJPT II. GNP dan pendapatan per kapita terus meningkat. maka pada tahun 1990 ia telah meningkat menjadi lebih dari 95%. sedangkan rata-rata harapan hidup waktu lahir pada tahun 2015 akan lebih dari 70 tahun. ekonomi. Lingkungan hidup khusus lingkungan fisik mempunyai arti penting bagi kelangsungan keadaan kesehatan dan kesejahteraan manusia. Persentase kelompok lanjut usia (>65 tahun) semakin lama semakin tinggi.

day-care. Sarana tersebut telah tersebar lebih merata sampai ke kabupaten. sedangkan penggunaan antibiotika relatif akan menurun atau menetap sesudah tahun 2000. kecamatan dan desa-desa. 1994 9 . pelayanan (service) dan kualitas.mencari sumber energi alternatif. dan spesialisasi lainnya akan lebih banyak dibutuhkan. Penggunaan obat juga cenderung meningkat baik jumlah maupun jenisnya. Ongkos-ongkos umum yang meningkat dan introduksi teknologi baru menyebabkan ongkos pelayanan kesehatan akan semakin mahal. Penggunaan analgetika. clinical epidemiologist. dokter gigi. Arus globalisasi ekonomi yang masuk Indonesia akan menyebabkan harga obat-obatan akan tetap meningkat. Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. Desentralisasi kepada Daerah Tingkat II akan lebih luas. Career planning tenaga kesehatan menjadi lebih terbuka antara swasta dan pemerintah serta antara sektor yang satu dengan yang lainnya. Namun demikian perlu diperhatikan pula bahwa asuransi kesehatan yang tidak dikelola dengan baik akan mendorong ongkos-ongkos pelayanan untuk meningkat pula. Puskesmas yang berada pada tempat dengan lingkungan sosial ekonomi yang sangat berkembang. Bertambah baiknya komunikasi dan transportasi akan mempunyai dampak positif maupun negatif terhadap keadaan kesehatan. Dokter dan perawat yang spesialistik. vitamin dan obat adjuvan (penguat) akan terus meningkat. Dalam 25 tahun mendatang jumlah dan jenis pelayanan kesehatan akan sangat berkembang karena jumlah populasi yang meningkat. dokter spesialis. sarjana elektromedik. Bila dilihat kualifikasi pendidikan. Ada kemungkinan PLTN akan bertambah lagi menjelang tahun 2015. Bioteknologi semakin berperan terutama dalam produksi vaksin. KECENDERUNGAN KEADAAN KESEHATAN Keadaan kesehatan yang dimaksud di sini adalah status kesehatan penduduk dan pelayanan kesehatan. Mutu produk akan bertambah baik dan kompetetif di dunia internasional. sedangkan golongan II dan III akan merupakan kelompok yang paling besar jumlahnya. Kesemuanya tadi telah dijalin dalam sistem rujukan timbal balik dari bawah ke atas. Rumah sakit yang spesialistik akan lebih banyak jumlahnya. Perkembangan ini dapat mengubah fungsi Puskesmas menjadi consultative center. Kantor administrasi kesehatan (Depkes. Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta derasnya arus informasi menyebabkan timbulnya sofistikasi pada banyak rumah sakit dan sarana pelayanan. Kapasitas produksi obat jadi dan bahan baku obat Indonesia akan meningkat terus. transportasi dan komunikasi yang mudah. Walaupun PLTN sebenarnya sangat aman namun kewaspadaan akan bencana tetap akan harus dipersiapkan. tetapi kemajuan dalam teknologi diagnostik akan jauh melebihi kemajuan dalam teknologi terapeutik. dan lain-lain) akan lebih banyak diisi oleh tenaga fungsional yang profesional sedangkan tenaga pendukung akan minimal jumlahnya. baik untuk kebutuhan industri maupun kesehatan. occupational health. Tenaga fungsional pada rumah sakit pemerintah akan semakin banyak jumlah dan ragamnya. sekitar 6000 Puskesmas dan 1500 RS swasta dan pemerintah. Tingkat employment-rate pada sektor formal yang meninggi dan pendapatan per kapita yang semakin meningkat serta kesadaran akan perlunya jaminan yang pasti di masa mendatang akan menumbuhkan asuransi kesehatan yang dapat menjangkau lebih banyak penduduk. Pelayanan kesehatan swasta akan Iebih banyak daripada pemerintah menjelang tahun 2000 nanti. Pelayanan kuratif akan semakin menonjol karena permintaan akan pelayanan preventif sudah menyatu (terintegrasi) dalam kehidupan sehari-hari. ahli industrial health. Pelayanan kesehatan di Indonesia dalam 20 tahun terakhir berkembang sangat pesat sehingga pada tahun 1990 telah terdapat 15. Pada dekade pertama tahun 2000 Indonesia akan memiliki sebuah Pembangkit Tenaga Listrik Nuklir (PLTN). Perlunya pelayanan yang bermutu dan persaingan yang ketat mengakibatkan rumah sakit harus dikelola oleh direktur-direktur yang profesional yang didukung oleh staf middle-management yang tangguh. sesuai dengan kemajuan ekonomi secara umum dan kenaikan permintaan akan obat-obatan. Tinggi rendahnya status kesehatan penduduk merupakan hasil pengaruh multifaktorial dari determinan kesehatan dan faktor-faktor tersebut dapat berubah atau berkembang. paramedis perawatan. permintaan (demand) yang meninggi. Tenaga kesehatan wanita akan melebihi pria sedangkan penyebarannya akan cenderung mengelompok di kota-kota. Rumah sakit pemerintah akan tampil bersaing terhadap swasta dalam artian penampilan fisik. hospital pharmacist. Obat-obatan baru untuk penyakitpenyakit menahun akan semakin banyak jenisnya. Akan timbul fenomena seperti home-care.000 Puskesmas Pembantu. malpractice serta tuntutan di pengadilan terhadap para dokter. berubahnya pola penyakit dan lain sebagainya. sedangkan Posyandu secara alamiah akan berkurang. Bioteknologi akan meningkat peranannya dalam produksi obatobatan. dan rumah sakit pemerintah akan cenderung menjadi swadana. Namun demikian antibiotika baru tetap akan bermunculan dan yang lama ditinggalkan. Keadaan ini dapat mempercepat tumbuhnya asuransi kesehatan. tenaga kesehatan lulusan D3. Berkembangnya pelayanan kesehatan akan diikuti oleh berkembangnya tenaga kesehatan yang jumlah dan jenisnya akan meningkat dalam 25 tahun mendatang. Teknologi kedokteran akan tetap meningkat kemajuannya. Ketimpangan distribusi tenaga tetap akan terjadi sedangkan rasio tenaga terhadap populasi akan membaik. Dan umumnya sarana-sarana ini telah dilengkapi dengan tenaga dokter. begitu juga penggunaan zat-zat radioaktif akan meningkat. Keadaan tadi semuanya menyebabkan berubahnya sistem pendidikan dan latihan tenaga serta sistem rekrutmen. 90. apoteker. diagnostic center. S1 dan S2 jumlahnya akan lebih dominan pada masa mendatang baik pada sarana pemerintah maupun swasta. asuransi kesehatan harus ditetapkan menjadi suatu kewajiban. dapat berubah menjadi rumah sakit. Masalah pelayanan kesehatan yang dapat lebih rumit pada 25 tahun mendatang adalah hal-hal yang berhubungan dengan pelanggaran etik. dan lain-lain. paramedis non perawatan dan tenaga non medik. Pada saatnya. obat dan prosedur diagnostik.

11. Sedangkan pada tahun 10 Cermin Dunia Kedokteran.1% justru turun menjadi 52.4% pada awal Pelita I menjadi 31. Hal ini menyebabkan pergeseran a) yang cukup tajam pada perbandingan rumah sakit umum pemerintah dan swasta. dari 63. sehingga rata-rata tempat tidur perrumah sakit umum pemerintah adalah 126 tempat tidur.28. Hal ini disebabkan peningkatan jumlah tempat tidur rumah sakit sejajar dengan peningkatan jumlah penderita yang dirawat. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk maka rasio tempat tidur terhadap jumlah penduduk membaik yaitu 1: 1. (Bandingkan pada tahun 1985: Malaysia 1 : 370. b) Tingkat pemanfaatan dan mutu pelayanan Tingkat pemanfaatan rumah sakit (BOR) secara nasional dari Pelita ke Pelita tidak menunjukkan kenaikan yang berarti. sarana dan operasional. Departemen lain 47. sedangkan pada tahun I Pelita V telah mencapai 1.900 pada Pelita I menjadi 1 : 1.338 pada awal Pelita V.1%. Sedangkan rujukan medik adalah rujukan pelayanan terutama meliputi upaya kuratif dan rehabilitatif.13 dengan rasio tenaga medis terhadap tempat tidur pada rumah sakit kelas A adalah 0. Dari 1.9% pada tahun 1990. kelas C 0. C dan D terutama tenaga medis terdapat ketimpangan.18. D yang mencerminkan fasilitas pelayanannya. Jumlah rumah sakit umum pemerintah pada tahun 1990 adalah 525 buah dengan 66. sedang pada akhir tahun 1990 menjadi 244. 112 rumah sakit umum ABRI. 70% dokter bertugas di rumah sakit di wilayah Jawa-Bali. dari 113 pada akhir Pelita I menjadi 231 pada awal Pelita V. Sedangkan di rumah sakit swasta ada pembagian pratama. Dengan demikian incidence dan intoksikasi dan efek samping obat dapat meningkat. 316 rumah sakit umum daerah. Bila kita melihat rasio tenaga yang bekerja pada rumah sakit kelas A. 90. Prosentase rumah sakit umum swasta dari 19.Distribusi obat di Indonesia akan tetap bertambah baik sehingga cakupannya lebih merata.491 pada akhir Pelita IV (kenaikan 43%). madya dan utama. Jepang 1: 86). yaitu 65. Hal ini berbeda dengan wilayah luar Jawa-Bali yang semula 1 : 200 pada akhir Pelita I menurun menjadi 1 : 414 pada awal Pelita V. 81 rumah sakit umum milik Departemen lain dan 231 rumah sakit umum swasta. Edisi Khusus No. Kedokteran alternatif dapat timbul. Singapura 1: 247.06 pada rumah sakit-rumah sakit swasta. Demikian pula dengan tenaga paramedis perawatan yang meningkat dari 23.951 pada akhir Pelita III menjadi 8.14 menjadi 0. 1994 .116 buah dengan 81. C. Dalam bidang ketenagaan khususnya tenaga dokter rumah sakit umum Departemen Kesehatan dan Pemda terjadi peningkatan dari 5. yang selanjutnya naik menjadi 54. karenanya dibutuhkan pusat informasi obat untuk mengatasi hal ini. B.259 tempat tidur.70.643 pada akhir Pelita I menjadi 91. RUMAH SAKIT DI INDONESIA Bidang perumahsakitan di Indonesia diwarnai dengan pelayanan kesehatan yang sangat luas dan kompleks dengan berbagai jenis rumah sakit dan kepemilikannya. dan sebaliknya 70% tenaga paramedis perawatan bertugas di luar Jawa-Bali.4%. Di rumah sakit milik pemerintah ada pembagian klas yakni A. Sedangkan rasio ini hanya 0.532 rumah sakit dengan 118.0%. rumah sakit Pemda 53. Kegiatan upaya kesehatan yang menyangkut rumah sakit termasuk di dalam upaya rujukan kesehatan dan rujukan medis. Jumlah rumah sakit umum meningkat 30%. apalagi bila dikaitkan dengan efisiensi dan efektifitasnya.532 rumah sakit 756 di antaranya adalah rumah sakit umum dengan kepemilikan 16 rumah sakit umum vertikal. Konsumsi obat per kapita juga akan meningkat karena pola penyakit yang berubah dan masyarakat yang lebih mampu membelinya. Padahal dengan adanya data tersebut sangat membantu pengembangan konsep rujukan. Distribusi tenaga medis pada rumah sakit pemerintah kurang merata. Dengan demikian rasio dokter terhadap tempat tidur membaik keadaannya dari 0. Pada tahun 1988 rasio tenaga medis terhadap tempat tidur pada rumah sakit pemerintah adalah 0.565 tempat tidur. Pada akhir Pelita I rumah sakit di Indonesia berjumlah 1.753 tempat tidur.586 pada awal Pelita V.515 pada awal Pelita V. Tetapi pembagian klas tersebut hanya bisa mencerminkan fasilitas pelayanan secara kasar.018 pada akhir Pelita IV. BOR rumah sakit umum yang pada Pelita I 54.579 pada akhir Pelita I menjadi 1 : 1.2% pada tahun 1990. dari 581 pada akhir Pelita I menjadi 756 pada awal Pelita V dengan tempat tidur meningkat 44%. Terlihat di sini kekurangan tenaga medis terutama pada rumah sakit-rumah sakit swasta dan juga rumah sakit pemerintah kelas C.7% dan rumah sakit ABRI 42. Keadaan Perumahsakitan Pelayanan kesehatan di rumah sakit terdiri dari berbagai jenis pelayanan yaitu dari pelayanan yang sederhana sampai yang canggih sesuai dengan kemampuan dan kelas rumah sakit.09 dan kelas D 0. Perkembangan rumah sakit di Indonesia dari Pelita ke Pelita cukup menggembirakan dalam berbagai segi.3% pada awal Pelita V. karena walaupun sama-sama rumah sakit klas C fasilitas pelayanannya bisa berbeda. Rasio paramedik perawatan terhadap tempat tidur membaik dari 0. kelas B 0. Data yang menggambarkan fasilitas pelayanan yang sesungguhnya di rumah sakit masih susah ditemui. Apabila kita melihat rasio tempat tidur terhadap penduduk berdasarkan wilayah terlihat perbaikan yang cukup besar untuk wilayah Jawa-Bali yaitu 1 : 1. Obat-obat tradisional masih tetap akan dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia tetapi jumlahnya tak akan meningkat dan relatif mungkin menurun.63. diikuti dengan Rumah Sakit Swasta 55. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan rumah sakit belum sebagaimana diharapkan. Rujukan kesehatan terutama berkaitan dengan upaya promotif dan preventif yang mencakup bantuan teknologi.892 pada akhir Pelita III menjadi 29. USA 1 : 170. B.8%. Dengan demikian dalam kurun waktu tersebut jumlah rumah sakit meningkat ± 37% dan tempat tidur meningkat 45%. Kenaikan jumlah rumah sakit umum terbanyak adalah pada sektor swasta yaitu sebanyak 104%. Berdasarkan kepemilikannya pada tahun 1990 BOR rumah sakit milik Departemen Kesehatan tertinggi. Dikhawatirkan penjualan obat di pasar gelap akan bertambah begitu pula obat tentengan dan selundupan.56 menjadi 0.

Prosentase anggaran kesehatan terhadap anggaran pemerintah pada tahun 1982/1983 hanya 3. akan tetapi akhirakhir ini juga ada kecenderungan bantuan dalam biaya pemeliharaan dan operasional. menurun terus sehingga pada tahun 1986/87 tinggal 30. Dengan makin berkembangnya asuransi kesehatan maka biaya satuahn sangat diperlukan untuk negosiasi penetapan premi. kelas C 57. Jumlah alokasi dana rumah sakit pada tahun 1985/86 adalah 34.8% dan selanjutnya tahun 1983/1984 naik menjadi 36. untuk meningkatkan efisiensi perlu diketahui pusat-pusat biaya agar dapat dilaksanakan intervensi yang diperlukan. maka tarip rumah sakit yang sesuai dapat ditetapkan dengan tetap memperhatikan kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membayar. LOS rumah sakit swasta rata-rata 6 hari dengan LOS terendah 5 hari untuk wilayahJawa-Bali.4%.6% dengan wilayah DKI mempunyai BOR tertinggi yaitu 62.9%.1988 Rumah sakit Dep. ternyata anggaran pada tahun 1982/83 dan 1986/87 tersebut relatif tetap. sedangkan untuk pelayanan preventif hanya 6%. berdasarkan kelas rumah sakit pada tahun 1989.3%) dimanfaatkan untuk pelayanan kuratif.6%. Untuk mendapatkan informasi yang baik dan aktual dalam proses pengambilan keputusan.8%. yaitu 37.1 % dari biaya yang dibutuhkan. Walaupun sistem ini mudah dalam pelaksanaannya namun biaya sesungguhnya tidak dapat diketahui secara tepat. 90.300. yaitu 72.5%. ternyata rumah sakit kelas A mempunyai BOR tertinggi. Namun bila dihitung dengan harga tetap tahun 1983. Anggaran kesehatan perkapita yang bersumber dari pemerintah dari tahun 1982/83 sampai dengan 1986/87 naik dari Rp. Diharapkan peran serta swasta dalam perumahsakitan dapat meningkat.3% dari masyarakat/swasta. Demikian pula prosentase pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) sangat kecil dan cenderung tidak berubah selama kurun waktu lima tahun (0.7% dan kelas D masih rendah. Dari alokasi biaya rumah sakit ternyata jumlah subsidi pemerintah cukup besar.7% berasal dari pemerintah dan 72. banyak rumah sakit swasta yang telah menetapkan tarip berCermin Dunia Kedokteran .9%. Besarnya alokasi tersebut belum dapat menjamin terlaksananya pelayanan yang baik karena dana yang tersedia baru 56. dan rumah sakit kelas C serta D sama yaitu 5 hari. dan juga akan diterapkan pada rumah sakit lembaga swadana.3%.6%. dengan LOS rumah sakit di DKI terpanjang yaitu 7 hari. Perhitungan biaya satuan saat ini sudah merupakan suatu keharusan. khususnya rumah sakit pemerintah yang menerapkan sistem akuntansi secara cash basis. 3.1% dari seluruh biaya.5%. Berdasarkan uraian di atas maka nyatalah bahwa pelayanan rumah sakit merupakan salah satu komponen yang paling banyak menyerap biaya. rumah sakit menerima biaya dari bantuan luar negeri. Prosentase pembiayaan kesehatan di rumah sakit dari anggaran kesehatan menurun sesuai dengan perubahan-perubahan dalam pola pemanfaatan dana. sedangkan untuk daerah lain 6 hari. pemeliharaan dan operasional.7% dan luar Jawa-Bali 48. b) meningkatkan tarif layanan rumah sakit yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat.198. sedangkan wilayah lain 6 hari. dari tahun ke tahun relatif tetap dan kecil jika dihitung prosentasenya dari seluruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. yaitu 10 hari. sedang pembelian obat-obatan tertinggi. c) Pembiayaan Pembiayaan kesehatan di Indonesia.8% tahun 1982/83 dan 0. Diperkirakan sekitar 97% dari seluruh biaya yang dikeluarkan adalah untuk pengobatan dan hanya 3% untuk pendidikan dan lain-lain.4% dan tahun 1986/1987 3. selanjutnya kelas B 60. yang sejalan dengan keinginan pemerintah agar pihak swasta lebih aktif berperan serta dalam pembangunan bidang kesehatan. Bilamana biaya satuan diketahui. LOS rumah sakit kelas A tertinggi. Selain dari pemerintah dan masyarakat. yaitu 40. 4. Prosentase pembiayaan dari masyarakat/swasta untuk pelayanan rumah sakit pada tahun 1985/86 cukup tinggi.70 pada tahun 1986/87 atau sebesar 34. Sistem ini sudah dilaksanakan pada sebagian rumah sakit swasta. Besarnya pembiayaan pelayanan RSU pemerintah yang berasal dari bantuan luar negeri dalam kurun waktu 1982/83 – 1986/87 rata-rata 4.6%. Selain itu.Kes dan Pemda BORnya mencapai 57. Edisi Khusus No. yang pada umumnya merawat pasien rujukan. LOS rumah sakit DepKes dan Pemda rata-rata 6 hari. maka sistem akuntansi harus dilengkapi dengan sistem akuntansi akrual. yang meliputi biaya investasi. Sanpai saat ini masih banyak rumah sakit. Dapat diperkirakan di sini bahwa pembiayaan oleh masyarakat/ swasta sebagian besar adalah untuk pelayanan rumah sakit ka rena sebagian pembelian obat-obatan juga merupakan akibat dari pelayanan rumah sakit. khususnya dalam bidang perumahsakitan. termasuk gaji dan upah. Dengan keterbatasan kemampuan pemerintah maka perlu adanya penambahan dana dari pihak swasta. sehingga pada tahun 2000 jumlah rumah sakit/tempat tidur pemerintah dan swasta berimbang. yang pada tahun 1982/1983 mencapai 32. selanjutnya rumah sakit kelas B 7 hari. Bantuan luar negeri ini pada umumnya untuk pembiayaan investasi. Jawa-Bali 61. Untuk dapat mengurangi jumlah subsidi tersebut dapat dilakukan dengan dua pendekatan : a) menurunkan unit cost/biaya satuan Iayanan dengan meningkatkan pemanfaatan fasilitas yang saat ini masih rendah. Jika dikaitkan antara BOR dan LOS wilayah DKI yang tinggi hal ini dimungkinkan karena adanya rumah sakit top referral.3%.8% tahun 1986/87). 1994 11 . 27. Penggunaan dana oleh masyarakat/swasta daiam upaya kesehatan pada umumnya adalah untuk upaya kuratif. Dana pelayanan rumah sakit sebagian besar (79. dengan perubahan pola pemanfaatan dana. berasal dari berbagai sumber yaitu : 1) Pemerintah Pusat dan Daerah 2) Badan Swasta 3) Bantuan Luar Negeri 4) Asuransi 5) Masyarakat Anggaran kesehatan yang bersumber dari pemerintah.90 pada tahun 1982/83 naik menjadi Rp. khususnya rumah sakit.

3) Teknologi kedokteran Sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secaraumum. Pengembangan pelayanan Pola penyakit dalam PJPT II secara berangsur-angsur akan berubah begitu pula permintaan (demand ) akan pelayanan kesehatan. Pada bulan September 1992 Indonesia telah memberlakukan undang-undang baru dalam bidang kesehatan yakni UU No. paling tidak untuk service-service tertentu. Namun harus diakui bahwa pada masyarakat yang sedang berubah. Masyarakat mengingini pelayanan yang mudah dan nyaman serta akhirnya memberikan kepuasan dalam arti penyakit sembuh dalam waktu yang cepat dengan service yang baik. time of delivery) yakni pelayanan dengan kualitas yang baik (Q) dan dengan ongkos yang dapat dipertanggung jawabkan (C) serta diberikan pada waktu yang cepat dan tepat (T). air dan lain-lain) akan meningkat. Dengan kecenderungan rumahsakit pemerintah akan diubah menjadi RS unit swadana maka pada masa mendatang RS swasta harus lebih mandiri dalam merekrut tenaga dokter spesialis purna waktu. 90 1994 . Tujuan UU tersebut adalah memberikan kepastian hukum terhadap pembangunan dan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu diperlukan pengembangan manajemen keuangan rumah sakit yang baik. bayaran untuk dokter dan perawat harus dinaikkan. investasi yang ditanam dapat dimanfaatkan secara bersama dengan optimal. Ini berarti. 23 tahun 1992. 2) Tenaga Pada saat ini hampir semua rumah sakit pemerintah dan swasta sangat kekurangan tenaga perawat. teknologi modern untuk diagnostik dan terapetik lebih banyak digunakan. Masyarakat akan menuntut pelayanan yang lebih bermutu dan efektif. secara tidak langsung rumah sakit swasta menikmati subsidi dari pemerintah. Selain jumlahnya kurang. Sebagian rumah sakit swasta tak mampu mengangkat perawat baru apabila dari lulusan sekolah-sekolah perawat yang dianggap bermutu. kira-kira 80% dari tenaga spesialisasi direkrut dari rumah sakit pemerintah sebagai tenaga paruh waktu (part time) dalam bentuk honorer atau visiting-doctor atau on contract basis. Sistem appointment akan mendidik health providerdan health consumer menj adi lebih disiplin dalam mematuhi waktu. Dengan cara ini. Suatu koordinasi antar rumah sakit perlu dikembangkan untuk memanfaatkan secara bersama teknologi tertentu. Dibutuhkan kemampuan dari manajemen rumah sakit untuk melihat masa depan guna membuat pembaharuan-pembaharuan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. tidak jarang penerapan tata hukum yang baru dapat menimbulkan masalah. Ada jenis-jenis pelayanan yang mungkin secara berangsur-angsur harus diciutkan tetapi sebaliknya ada juga pelayanan-pelayanan yang perlu dikembangkan bahkan mungkin perlu ada pelayanan baru yang harus mulai ditampilkan. TANTANGAN MANAJEMEN RUMAH SAKIT DALAM PJPT II Tantangan-tantangan penting dalam manajemen pelayanan rumah sakit pada masa mendatang antara lain : 1) Pembiayaan Ongkos-ongkos pelayanan rumahsakit sudah pasti akan meningkat karena : ongkos-ongkos umum untuk services (misal listrik. Keadaan dokter spesialis lebih kompleks lagi terutama pada rumah sakit swasta. Hukum dan Etik Dengan semakin majunya sebuah bangsa maka akan semakin tertib pula tata hukum di negara tersebut. Manajemen rumah sakit dituntut untuk pandai memilih alternatifdalam memanfaatkan teknologi yang ditawarkan. dokter cenderung menggunakan prosedur-prosedur yang semakin banyak untuk menangani penyakit-penyakit kronik. maka teknologi kedokteran pun berkembang sangat cepat dalam duapuluh tahun terakhir ini. tetapi formasi di rumahsakit pemerintah sangat terbatas karena ada kecenderungan membatasi pengangkatan pegawai negeri baru. Keadaan tersebut mengharuskan manajemen rumah sakit dapat mengembangkan pelayanan yang efektif tetapi dengan ongkos yang realistik yakni ongkos yang sesuai dengan nilai dari jasa dan barang yang diberikan kepada pasien ditambah dengan profit yang layak. perlindungan terhadap penerima pelayanan kesehatan dan perlindungan terhadap pemberi pelayanan kesehatan. Teknologi (termasuk alat) kedokteran untuk diagnosis maupun terapi berkembang sangat cepat dan ditawarkan secara sangat intensif. Rumah sakit dihadapkan dengan suatu dilema apakah akan menggunakan teknologi baru yang ditawarkan dengan implikasi naiknya ongkos pelayanan ataukah tetap menggunakan cara-cara konvensional yang masih efektif dengan risiko akan kehilangan pangsa pasar. Keadaan ini mengharuskan manajemen rumahsakit mulai memikirkan pola pelayanan yang perlu dikembangkan pada masa mendatang. Untuk ini rumah sakit harus memberikan informasi yang akurat dan tepat tentang service yang dapat diberikan kepada setiap pasien. Keadaan tersebut perlu juga mendorong manajemen rumahsakit untuk memikirkan tentang kemungkinan perlu diperpanjangnya lama buka poliklinik rumah sakit (termasuk rumahsakit pemerintah) dan dikembangkannya sistem janji (appointment) menurut hari dan jam pelayanan.dasarkan biaya satuan. Dengan diberlakukannya UU tersebut tuntut-menuntut (lawsues) antara 6) 12 Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. Pembagian tempat-tempat perawatan menurut penyakit atau disiplin ilmu kedokteran perlu ditinjau lagi dan mungkin perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian agar pemanfaatan rumah sakit menjadi lebih efisien. mutunyapun sering dikeluhkan masyarakat. 4) 5) Permintaan masyarakat Pada periode PJPT II rumah sakit akan dihadapkan kepada masyarakat yang lebih terdidik dan lebih mampu membeli pelayanan yang ditawarkan atau yang dibutuhkan. Perlu dikembangkan suatu sistim pelayanan yang didasari pada QCT (quality. Jumlah lulusan perawat diduga mencukupi. Hampir semua rumah sakit swasta. cost.

anak-anak dan penduduk usia lanjut yang terlantar. 4) Upaya perbaikan kesehatan masyarakat terus ditingkatkan antara lain melalui pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. KEBIJAKSANAAN POKOK PEMBANGUNAN KESEHATAN 1) Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup manusia. dan narkotika. Pengembangan rumah sakit sangat dipengaruhi oleh faktor- Cermin Dunia Kedokteran. Kualitas pelayanan kesehatan ditingkatkan dan jangkauan serta kemampuannya diperluas agar masyarakat. daerah transmigrasi. termasuk dunia usaha. penelitian. Suatu sistem untuk mencegah dan mengawasi pelanggaran etik ini perlu diperketat oleh manajemen rumah sakit. Begitu pula standarstandar dan prosedur-prosedur teknis dan administrasi harus dibuat secara tertulis mengikuti referensi resmi yang dikembangkan oleh pemerintah dan atau ikatan profesi. perbaikan gizi. ia harus mengembangkan cara pengumpulan data dan informasi yang akhirnya bisa memberi input kepada manajemen untuk mengambil keputusan guna pembaikan pelayanan. juga pengawasan ketat terhadap obat. Untuk menghindari hal ini manajemen rumah sakit harus menyiapkan informasi-informasi umum tentang pelayanan rumah sakit. mengharuskan manajemen rumah sakit untuk memperbaiki rumahsakitnya masing-masing disamping perlu ada koordinasi dan kerja sama antar rumah sakit. Tenaga kesehatan dan tenaga penunjang kesehatan lainnya ditingkatkan kualitas dan kemampuannya serta persebarannya terus diupayakan agar merata dan menjangkau masyarakat di daerah terpencil. Semua usaha untuk mewujudkan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat perlu dikembangkan dengan upaya memasyarakatkan pembiayaan kesehatan oleh masyarakat berdasarkan prinsip gotong royong. Perlindungan terhadap bahaya penyalahgunaan obat. terutama yang berpenghasilan rendah. terutama bagi generasi muda. semakin besar dan semakin kompleks sebuah rumah sakit semakin perlu ia suatu sistem informasi manajemen yang komprehensif. terutama di kota-kota besar. daerah kumuh perkotaan. penyediaan lingkungan pemukiman. KEBIJAKSANAAN PENGEMBANGAN RUMAH SAKIT Rumah Sakit merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan sehingga pengembangan Rumah Sakit pada saat ini tidak lepas dari Kebijaksanaan Pembangunan Kesehatan yaitu harus sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. yang didukung oleh industri bahan baku obat yang andal melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.pasien dengan rumah sakit atau dokter akan lebih sering terjadi pada waktu-waktu mendatang. penyediaan air bersih. dan pengembangan serta penemuan obat-obatan. 2) Pengelolaan kesehatan yang terpadu perlu lebih dikembangkan agar dapat lebih mendorong peran serta masyarakat. Sistem tersebut disebut sebagai : sistem informasi manajemen rumah sakit. makanan dan minuman. 3) Pengadaan dan peningkatan sarana kesehatan perlu terus dikembangkan. Edisi Khusus No. Semuanya ini harus dikaitkan secara integratif sehingga mempunyai makna bagi pengambilan keputusan manajemen. Dengan demikian menjadi jelas bahwa bila rumah sakit mengingini manajemen yang baik sehingga dapat memberikan pelayanan yang bermutu. Penelitian dan pengembangan kesehatan perlu terus dilanjutkan antara lain untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. dalam pembangunan kesehatan. 6) Pengobatan tradisional yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan terus dibina dalam rangka perluasan dan pemerataan pengobatan tradisional sebagai warisan budaya bangsa terus ditingkatkan dan didorong usaha pengembangannya melalui penggalian. Ada empat informasi yang dianggap prioritas untuk dikumpulkan dan dianalisis yakni : keuangan dan pembiayaan. termasuk budidaya tanaman obat tradisional yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan. logistik (terutama obat) dan pelayanan (besarnya inpatient-outpatient). manajemen tidak lain suatu rangkaian pengambilan keputusan dengan mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan menuju suatu tujuan tertentu. meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. daerah terpencil dan kelompok masyarakat yang hidupnya terasing. Penyediaan obat dan alat kesehatan yang makin merata dengan harga yang terjangkau oleh rakyat banyak ditingkatkan melalui pengembangan industri peralatan kesehatan dan industri farmasi yang makin maju dan mandiri. daerah pedesaan. dapat menikmati pelayanan yang berkualitas dengan terus memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran secara serasi dan bertanggung jawab. penyuluhan kesehatan. Sedangkan arah dan kebi jaksanaan dari pembangunan telah ditetapkan dal am kebijaksanaan pokok pembangunan kesehatan seperti di bawah ini. Persaingan yang semakin ketat antar rumah sakit-rumah sakit. Sistem Kesehatan Nasional dan Repelita bidang Kesehatan serta peraturan dan perundang-undangan lain. Perubahanperubahan yang tengah terjadi akan dapat pula menimbulkan benturan-benturan norma yang dapat mengakibatkan timbulnya pelanggaran-pelanggaran etik terutama pada rumah sakit-rumah sakit swasta. zat adiktif. 7) Sistem Informasi Manajemen Dalam pelaksanaan sehari-hari. serta pelayanan kesehatan ibu dan anak. serta daerah pemukiman baru. 5) Pelayanan kesehatan baik oleh pemerintah maupun peran serta masyarakat harus mengindahkan prinsip kemanusiaan dan kepatutan dengan memberikan perhatian khusus kepada fakir miskin. tenaga.90. serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. pengujian. Maju mundurnya atau baik buruknya satu manajemen sangat dipengaruhi oleh mutu pengambilan keputusan dan hal terakhir ini sangat tergantung dari mutu informasi yang diperoleh dan kepandaian dari manajer untuk menggunakan informasi. 1994 13 . serta pencemaran lingkungan perlu diberikan perhatian khusus. Perhatian khusus diberikan pada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah.

faktor demografi, epidemiologi, sosial ekonomi, permintaan akan pelayanan, sistem pembiayaan dan kemajuan iptek. Karenanya, suatu kebijaksanaan dalam pengembangan rumah sakit harus memperhatikan kecenderungan faktor determinan di atas. Selain itu pengembangan rumah sakit juga tidak dapat lepas dari kebijaksanaan pokok pembangunan kesehatan. Dengan melihat kecenderungan determinan kesehatan, kecenderungan keadaan kesehatan, keadaan rumah sakit dan hasil-hasil yang telah dicapai pada saat ini serta tantangan manajemen rumah sakit pada PJPT II maka perlu ditetapkan kebijaksanaan pengembangan rumah sakit dalam PJPT 11. KEBUAKSANAAN PENGEMBANGAN RUMAH-SAKIT DALAM PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG TAHAP II : 1) Pembangunan Rumah Sakit baru • Pembangunan rumah sakit baru dan penambahan tempat tidur dari rumah sakit yang ada akan dijalankan terus sesuai dengan permintaan yang ada (mekanisme pasar). Penambahanpenambahan rumah sakit baru terutama dijalankan dengan memperhatikan perkembangan sosial ekonomi masyarakat. • Pemerintah tetap bertanggung jawab terhadap pembangunan rumah sakit di daerah-daerah yang kurang mampu guna menjamin pemerataan untuk menikmati hasil-hasil pembangunan. • Setiap pembangunan rumah akit baru harus didahului oleh studi kelayakan untuk menjamin tetap berjalannya rumah sakit tadi pada masa-masa mendatang dan dipenuhinya kaidah serta standar rumah sakit. • Jumlah rumah sakit di suatu tempat akan dikendalikan dengan memperhatikan rasio tempat tidur terhadap penduduk dan sistem pembiayaan serta pricing policy (misal asuransi), pembangunan rumah sakit dilaksanakan dengan menyertakan peran serta masyarakat dan swasta yang semakin besar. 2) Pelayanan Rumah Sakit • Pelayanan rumah sakit harus mendukung pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Posyandu. Dukungan ini dijalin dalam suatu sistem rujukan medik dan rujukan kesehatan yang selaras dengan pembangunan sistem pembiayaan melalui asuransi kesehatan/JPKM. • Rumah sakit dikelola secara efisien untuk menjamin meningkatnya mutu dan cakupan pelayanan yang akhirnya mempunyai dampak nyata terhadap perbaikan derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu perlu diterapkan dan dijalankan penggunaan standar pelayanan, dalam rangka peningkatan mutu dan akreditasi rumah sakit disamping penggunaan obat secara rasional dengan memanfaatkan obat generik. • Menjalankan fungsi sosial yang tercermin dalam pelayanan bagi mereka yang tak mampu, kegiatan pelayanan di luar rumah sakit, penyuluhan kesehatan, turut serta dalam sistem asuransi kesehatan/JPKM, dan lain sebagainya. 3) •
14

yang berasal dari masyarakat yang dimobilisasi melalui sistem asuransi/JOKM. Rumah sakit pemerintah secara berangsurangsur dikembangkan menjadi unit swadana sedangkan sumber dana yang berasal dari pemerintah dan yang dimobilisasi dari swasta dan masyarakat harus digunakan secara efisien dan dialokasikan secara cermat menurut prioritas dan masalah yang dihadapi. • Setiap orang yang menikmati pelayanan kesehatan di rumah sakit akan dikenai kewajiban membayar sesuai dengan nilai jasa yang diterimanya. Untuk ini perlu dikembangkan sistem tarif berjenjang yang mendasarkan kepada pengeluaran yang berimbang dengan pemasukan (cost recovery), satuan biaya (unit cost) dan kemampuan daya beli masyarakat. Agar terjamin adanya pemerataan pelayanan, tarif dikembangkan dengan asas subsidi bersilang (cross subsidy) sehingga mereka yang tak mampu tetap terlindungi dan dapat menikmati pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. 4) Peran Serta Masyarakat dan Swasta • Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta perlu dikembangkan sistem yang insentif termasuk kemudahan dalam perizinan, rumah sakit boleh didirikan oleh badan hukum (termasuk PMDN dan PMA) disamping oleh yayasan. Pemerintah akan tetap memberikan bantuan dan perlindungan terhadap rumah sakit. • Masyarakat dan swasta akan diberikan peran yang semakin besar dalam pelaksanaan pembangunan dan pengembangan rumah sakit. Pemerintah akan lebih banyak berperan dalam merumuskan kebijaksanaan (termasuk menetapkan standarstandar), pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan rumah sakit. Ikatan profesi akan membantu pemerintah dalam perumusan kebijaksanaan dan pengawasan serta peningkatan mutu pelayanan dan mutu tenaga kesehatan. 5) Ketenagaan • Penempatan dan penyebaran tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit akan terus ditingkatkan sehingga jumlah dan susunan tenaga kesehatan di rumah sakit mencapai standar yang sudah ditetapkan. Penempatan dokter spesialis akan ditingkatkan dengan prioritas melengkapi rumah sakit kelas C di seluruh Indonesia sesuai dengan pemerataan penempatan tenaga. • Guna mengatasi kekurangan pelayanan spesialistik di tempat-tempat terpencil yang membutuhkan, dokter-dokter umum terpilih akan dilatih secara khusus dalam bidang spesialisasi tertentu (semi spesialis). • Rumah sakit swasta diberikan kemudahan untuk memperoleh dokter-dokter spesialis khususnya para dokter spesialis yang sudah menyelesaikan masa bakti ke-2. Secara berangsurangsur rumah sakit swasta akan diberi bantuan agar mempunyai dokter dan dokter spesialis yang full time. Rumah sakit swasta diperkenankan mengirimkan dokter umumnya untuk mengikuti pendidikan spesialisasi. Prioritas diberikan kepada rumah sakit di periferi. 6) • Manajemen Rumah sakit secara berangsur-angsur harus dikelola dengan

Pembiayaan Pembiayaan rumah sakit mengutamakan sumber-sumber
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994

memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi pelayanan kesehatan, sebagai bentuk produksi jasa, dapat ditingkatkan mutunya. Dalam kaitan ini, rumah sakit akan dilengkapi dengan perangkat organisasi yang lebih sesuai sebagai institusi sosial-ekonomi. • Dengan semakin meningkatnya hubungan kerja dan semakin beragamnya jenis pelayanan, perlu dikembangkan sistem informasi manajemen rumah sakit yang menyangkut informasi sumber daya, pelayanan dan kegiatan rumah sakit. Untuk ini rumah sakit secara berangsur-angsur harus meningkatkan pengolahan data secara elektronik (electronic data processing). • Staf manajemen rumah sakit perlu memperoleh pendidikan dan latihan yang menunjang perubahan-perubahan sistem

manajemen rumah sakit menuju pembentukan career-planning dalam manajemen atau administrasi rumah sakit. 7) Teknologi Kedokteran Pemanfaatan teknologi kedokteran akan digalakkan terus • dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan menuju perbaikan derajat kesehatan yang merupakan bagian dari kesejahteraan umum masyarakat. Teknologi kedokteran yang digunakan harus disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan yang ada dan kemampuan pembiayaan pemerintah dan masyarakat. Pemanfaatan teknologi kesehatan harus dikaitkan dengan • upaya mengefisiensikan kegiatan-kegiatan rumah sakit.

Kalender Kegiatan Ilmiah
March 19–20, 1994 – Instructional Course & Video-Urogynecology Update Singapore Information : Secretariat, Society for Continence (Singapore), c/o Division of Urology, Department of Surgery, Toa Payoh Hospital, Toa Payoh Rise, Singapore 1129. April 29 – May 2, 1994 lst IFSSH Western Pacific Regional Workshop Hong Kong Information : Dr LK Hung, Secretary, lst IFSSH Western Pacific Regional Workshop, Department of Orthopaedics and Traumatology, Prince of Wales Hospital, Shatin, Hong Kong.

May 21–24, 1994 – 11th Regional Conference of Dermatology Singapore Information : Secretariat, 1 lth Regional Conference of Dermatology, c/o Conference and Exhibition Management Services Pte Ltd, #09-43 World Trade Centre, Singapore 0409. June 16-18, 1994 International Conference on Biomedical Periodicals Beijing Information : c/o Dr Jiang Yongmao, International Conference on Biomedical Periodicals, Chinese Medical Association, 42 Dongsi Xidajie, Beijing 100710, China.

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

15

Tinjauan Perkembangan Perumah-Sakitan dalam PJPT 11
Samsi Jacobalis Jakarta

Paul Samuelson :"........ akhirnya harus kita sadari bahwa ekonomi bukanlah ilmu eksakta, dan tidak ada di antara kita yang dapat melihat lebih jauh daripada dua tahun ke muka" (Algemeen Dagblad, 17 April 1993). George R. Terry :"The future begins with the present; it is not an immense and sudden jump to a distant destination" (Bukunya : Principles of Management). MEREKA MASA DEPAN Pendapat dua pakar di atas agaknya bertentangan satu dengan yang lain. Jika bersandar pada pendapat Samuelson tidak ada yang dapat memprakirakan bagaimana perkembangan ekonomi Indonesia (dan searah dengan itu bagaimana perkembangan perumah-sakitan kita) nanti dalam PJPT II (1994–2019). Sebaliknya jika mengandal pada Terry, PJPT II bukanlah loncatan mendadak ke sasaran yang jauh di depan. PJPT II adalah sinambung dengan PJPT I. PJPT II adalah era tinggal landas, setelah landasnya sendiri (PJPT I) cukup kokoh untuk menjamin keselarriatan "penerbangan" selanjutnya. Artinya hari esok dalam pembangunan adalah kelanjutan hari ini. Masa depan dibangun sehari demi sehari sejak masa lalu. Masa depan dapat direka berdasarkan kenyataan hari ini dan hari-hari yang sudah dilewati. Kita mencoba sepakat dengan Terry dengan membuat proyeksi tentang transisi kesehatan di masa depan bertolak dari data perkembangan selama PJPT I. Dari proyeksi itu dicoba dibuat tinjauan tentang kemungkinan perkembangan rumah sakit dalam PJPT II, sebagai rekaan respons terhadap tantangan memenuhi kebutuhan kesehatan di waktu itu nanti. Namun demikian disadari sepenuhnya proyeksi itu dapat meleset sama sekali, karena seperti kata Samuelson (pemenang hadiah Nobel yang dianggap ahli ekonomi terbesar yang sekaMakalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo , Jakarta . 21 — 25 November 1993.

rang masih hidup), tidak ada orang yang dapat melihat terlalu jauh ke depan. Apalagi kebutuhan kesehatan masa depan itu dipengaruhi oleh begitu banyak variabel yang sebagian besar tidak eksak sifatnya. AKHIR PJPT I, IDAMAN DALAM PJPT II Selama 25 tahun terakhir Indonesia telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat. Pembangunan kesehatan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi itu. Dalam naskah GarisGaris Besar Haluan Negara 1993 diikhtisarkan tentang pencapaian sektor kesehatan sebagai berikut :"Dalam PJPT I pelayanan kesehatan telah meningkat dan telah mampu menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Pembangunan di bidang kesehatan serta keluarga berencana telah berhasil meningkatkan usia harapan hidup dan menekan laju pertumbuhan penduduk yang didukung oleh perumahan dan pemukiman yang layak". Ikhtisar yang dinyatakan hanya dalam beberapa kalimat itu kedengarannya sederhana sekali. Padahal untuk mencapai itu sangat besar modal manusia (human capital) dan sumberdaya Iain yang sudah dikerahkan. Keberhasilan lain yang juga secara tidak langsung besar dampaknya pada status kesehatan bangsa adalah : – Kita sudah swasembada dalam kebutuhan paling pokok,

16

Cermin Dunia Kedokteran . Edisi Khusus No. 90, 1994

1994 17 . serta meningkatnya gizi dan membudayanya sikap hidup bersih dan sehat. dan orang-orang muda akan semakin enggan meneruskan tradisi bertani. "Health policy" adalah kebijakan pemerintah yang hcrtuiuan menyediakan dan menyampaikan layanan kesehatan yang bermutu kepada setiap warga negara tanpa membedakan kedudukan sosial dan kemampuan ekonominya.Selama 25 tahun bangsa Indonesia sudah belajar dan berpengalaman membangun di segala bidang. didasarkan pada perkembangan kebutuhan kesehatan dan perkembangan kemampuan sumberdaya untuk mendukungnya waktu itu nanti. yaitu proyeksi tentang penduduk Indonesia dan pola penyakit serta status kesehatannya dalam PJPT II. Titik berat pada pembangunan ekonomi berarti transisi dari ekonomi yang didominasi oleh pekerjaan di sektor pertanian ke pekerjaan di sektor industri dan jasa akan berlanjut. Pengalaman ini meningkatkan harkat dan harga diri sebagai bangsa. Dengan pengembangan manusia yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang mantap. Para ahli kependudukan memproyeksikan dalam tahun 2020 lebih daripada separuh penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. Kepadatan penduduk kota tentu mengakibatkan masalah lingkungan hidup. Transisi dan transformasi dalam unsur-unsur itu saling terkait dan mempengaruhi satu terhadap yang lain. 90. PERUBAHAN DALAM LINGKUNGAN LAYANAN KESEHATAN Perkembangan kebutuhan kesehatan di masa depan ditentukan oleh transformasi dan transisi dalam lingkungan layanan kesehatan yang sudah berlangsung sejak dua dekade terakhir dan akan berlanjut. Dinamika perubahan dalam unsur-unsur tersebut di atas sudah berlangsung sejak bagian terakhir Repelita I. termasuk sektor kesehatan. yang pada gilirannya berarti meningkatnya masalah kesehatan dan potensi bertambahnya jumlah dan jenis penyakit. diidamkan bangsa Indonesia akan menjadi maju dan mandiri. Transisi ini akan lebih terpacu karena lahan bertani untuk petani perorangan akan semakin sempit. TRANSFORMASI EKONOMI DAN SOSIAL Sebagai kelanjutan kegiatan pembangunan sebelumnya. Perkembangan kebutuhan kesehatan bangsa (health need). Indonesia diharapkan sudah menjadi negara industri dalam PJPT II. Dalam PJPT II pembangunan sektor kesehatan dimasukkan dalam kelompok pembangunan bidang kesejahteraan rakyat . dengan tujuan mencoba memprakirakan keadaan pada akhir transisi demografi dan akhir transisi epidemiologi nanti. Beberapa bulan lagi kita akan mengawali PJPT II. Air Cermin Dunia Kedokteran. Ini tepat sekali. penyakit rakyat.yaitu pangan dan sandang. 2. kebodohan dan jumlah anak yang terlalu banyak. yang merupakan penggerak utamapembangunan bidang-bidang lainnya. Hal khusus dalam PJPT II adalah dijadikannya manusia lndonesia sebagai fokus pembangunan. Di waktu itupun nanti titik berat pembangunan (masih) diletakkan pada pembangunan bidang ekonomi. Pemukiman padat menimbulkan masalah. Perkembangan itu tergantung pada beberapa faktor utama : 1. Keadaan ideal yang diidamkan (menurut GBHN 1993) adalah : meningkatnya derajat kesehatan masyarakat serta meningkatnya mutu dan kemudahan pelayanan kesehatan yang harus makin terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. pendidikan dan kebudayaan. Sampah dan limbah akan makin sukar untuk ditanggulangi. Dampak sosialnya adalah berlanjutnya proses urbanisasi. Dalam arti lebih sempit pencapaian idaman itu akan tergantung dari perkembangan sistim . Mereka akan lebih tergiur oleh lapangan kerja di sektor industri dan jasa. Semua itu tidak sesederhana seperti yang dirumuskan di atas.Misi KhususNo. termasuk seasta asing. sosial dan budaya. Yang mungkin dapat dipastikan dari sekarang adalah bahwa pemerintah akan membuka kesm-patn ang makin luas bagi swasta. sosial dan budaya yang akan berpengaruh dalam mencapai idaman nasional itu. Kemampuan sumberdaya untuk mendukung pemenuhan kebutuhan itu (health recources). Kebijakan kesehatan nasional (health policy). karena meang masalah kesehatan bangsa pada dasarnya adalah masalah ekonomi. Dari prakiraan perkembangan kebutuhan itu akan dicoba diantisipasikan perkembangan perumah-sakitan kita. Memecahkan masalah kesehatan secara nasional adalah soal keluar dari lingkaran kemiskinan yang ditandai oleh kurang makan. Kurva belajar ini sangat besar artinya sebagai modal untuk meneruskan pembangunan. Garis-garis kebijakan itu ditentukan 5 tahun sekali dalam GBHN dan dirinci dalam Repelita. Di antara perubahan berlanjut yang akan besar dampaknya pada kebutuhan kesehatan kita dalam PJPT II adalah : • Transformasi ekonomi dan sosial • Transisi demografi • Transisi epidemiologi • Perkembangan ilmu dan teknologi • Perubahan dalam tatanan global. Dari proyeksi keadaan itu akan diprakirakan kebutuhan kesehatan kita sebagai bangsa waktu itu nanti. 3. tidak semata-mata masalah mencegah dan mengobati penyakit. Masih sangat besar modal manusia dan sumberdaya lain yang dibutuhkan untuk mendukungnya.layanan kesehatan nasional. termasuk pembangunan kesehatannya. sejak ekonomi kita mulai ditata kembali dan diangkat dari tepi jurang keambrukan. baik sebagai insan maupun sebagai sumberdaya untuk pembangunan itu sendiri. Kebijakan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dalam PJPT II sukar diperkirakan sekarang. . Pendapatan dari bertani umumnya kebih kecil dibandingkan dengan upah memburuh di pabrik atau proyek pembangunan. belum terhitung mereka yang tinggal di pedesaan tetapi pergi-pulang ke perkotaan (Ananta dan Sirait). Industrialisasi dan urbanisasi besar dampaknya pada lingkungan. lingkungan hidup yang tidak sehat. didukung dengan pembangunan perumahan dan pemukiman yang layak. untuk y herperan dalam industri kesehatan kita. Hal-hal yang pokok tentang beberapa transisi itu akan ditinjau. yaitu persentase penduduk kota akan makin meningkat dibandingkan dengan persentase penduduk desa. termasuk perkembangan perumah-sakitan. Dalam arti luas banyak variabel ekonomi.

Edisi Khusus No. alkoholisme. Di satu pihak ingin dimiliki dan dikuasai untuk mengejar ketertinggalan. Diperkirakan akan meningkat juga masalah sosio-medik yang terkait dengan alkoholisme yang tahun-tahun terakhir makin tampak di permukaan. sehingga jarak geografis makin menjadi tidak penting. terutama di antara orang-orang muda. PERKEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI Perkembangan ilmu kedokteran sangat cepat. Tuntutan kelompok ini akan sumberdaya untuk layanan kesehatan akan cukup besar. Sebenarnya alat hanyalah salah satu aspek saja dari pengertian teknologi secara luas itu. secara kuantitatif maupun kualitatif. Namun saat ini teknologi diidentikkan orang dengan alat untuk diagnosis dan terapi. Di sisi lain pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan akan tetap tinggi (6 – 6. Sebelum itu tercapai jumlah penduduk Indonesia akan tetap bertambah tiap tahun dengan angka jutaan. Telekomunikasi makin lancar. termasuk tindakan-tindakan heroik seperti transplantasi jantung dan organ-organ vital lain. Dari aspek kualitatif hal yang dapat dipastikan akan terjadi adalah bahwa penduduk Indonesia akan semakin menua. karena akan semakin panjangnya usia harapan hidup pada waktu lahir dan meningkatnya mutu kehidupan. Golongan yang sejahtera akan makin berubah gaya hidup dan pola budayanya. Harga pemeliharaan kesehatan (atau harga mengobati penyakit) akan semakin mahal. Untuk masyarakat yang semakin sejahtera tingkat hidupnya. Demikian juga kasus kelainan kejiwaan akan meningkat sebagai akibat ketegangan kehidupan kota yang semakin kompetitif. Semua itu diperkirakan akan mengakibatkan polarisasi yang semakin tajam dalam sistem layanan kesehatan. korban kecelakaan lalu limtas. sekalipun tidak merata. 18 sekalipun angka pertambahan penduduk suatu waktu nanti sudah dapat ditekan sampai di bawah satu persen. Kesenjangan yang terlalu jauh antara 2 kelas layanan kesehatan itu perlu dicegah sejak jauh-jauh. Harapan hidup waktu lahir sudah jauh meningkat. Harga itu bukan ditentukan oleh biaya pemeliharaan kesehatan an sich. Narkotika dan ketergantungan obat akan pula menjadi masalah global yang makin sukar dikendalikan. harga pemeliharaan kesehatan akan semakin meningkat karena ditambah dengan tuntutan kemudahan dan kenyamanan. 1994 . kanker. Masalah-masalah psiko-sosial sebagai akibat kepadatan pemukiman akan besar pula pengaruhnya pada kesehatan jiwa banyak orang.5% s/d tahun 2000) akan makin meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat. Akan terjadi apa yang dinamakan two tiers health care system. yang bukan hanya akan merupakan masalah kesehatan.21% Usia 60 s/d 75+ 24 446 290 = 9. yaitu menumpang tidur.bersih sebagai kebutuhan primer akan semakin kritis. Terutama karena masih sangat tingginya Cermin Dunia Kedokteran. namun juga masalah sosial dan ekonomi yang berat. layanan untuk golongan mampu akan semakin berbeda dengan layanan untuk masyarakat golongan bawah. Kegiatan yang dilakukan di 2 hotel itu adalah sama. risiko karena pekerjaan.97% Angka-angka yang diproyeksikan di atas menunjukkan bahwa pada akhir PJPT II nanti diperkirakan : • Penduduk Indonesia akan menjadi hampir 1/4 milyar • 1 di antara setiap 3 orang adalah balita sampai remaja (belum produktif) • 1 di antara setiap 10 orang adalah berusia lanjut (tidak produktif lagi dan cenderung tidak sehat). Tingkat pendidikan masyarakat akan makin meningkat. Transformasi dan mobilisasi semakin mudah. Dari aspek kuantitatif sasaran yang ingin dicapai dalam PJPT 11 tentulah zero-growth atau minimal growth. stroke. penyakit degeneratif dan usia lanjut. TRANSISI DEMOGRAFI Situasi kependudukan di Indonesia (dan hampir di semua negara berkembang) sedang mengalami perubahan secara dramatis. Menteri Ketua Bappenas Ginanjar Kartasasmita yakin setelah dua Pelita pertama PJPT 11 tidak akan ada lagi rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan (Suara Pembaruan. melainkan juga oleh biayabiaya lain di luar kebutuhan kesehatan dalam arti sesungguhnya: Dapat dibandingkan dengan penentuan harga untuk menginap di hotel berbintang tiga dengan di hotel berbintang lima. juga terhadap layanan kesehatan. Informasi akan semakin global. Semua itu akan berakibat kebutuhan dan tuntutan secara umum akan makin meningkat. Kelompok ini akan meruipakan beban sosial dan beban ekonomi yang tidak kecil artinya. Sistem nilai mereka akan sangat berubah. Sikap umum terhadap teknologi dalam bidang medis saat ini masih bermuka dua. Teknologi kedokteran adalah himpunan pengetahuan. Sukar diramalkan bagaimana dampak pemanasan global dan kerusakan ekologi lainnya terhadap kesehatan manusia nanti. ketergantungan obat. malahan akhir-akhir ini cenderung lebih disempitkan lagi dalam pengertian alat bertekno logi tinggi (hi-tech). Pengendalian penyakit yang dapat ditularkan harus semakin ketat. di pihak lain masih besar kecurigaan terhadapnya. 90. TRANSISI EPIDEMIOLOGI Dalam PJPT II pola penyakit diperkirakan sudah beralih kepada pola penyakit masyarakat sejahtera : penyakit kardiovaskuler. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia memproyeksikan penduduk Indonesia dalam tahun 2015 akan berstruktur sebagai berikut : Jumlah 245 388 204 Usia s/d 19 th 79 028 429 = 32. tetapi harga tidur di 2 tempat itu jauh berbeda. Dikatakan orang sekitar 60% dari tingkat perkembangan saat ini telah terjadi dalam 2–3 dekade terakhir. Semua itu dimungkinkan karena didukung oleh perkembangan teknologi yang juga sangat menakjubkan. 20 September 1993). entah dalam tahun berapa dan pada jumlah penduduk berapa juta. dampak sosial dan politiknya akan dapat merunyamkan. Angka kematian bayi (IMR) dan angka kematian ibu (MMR) sangat menurun. (Angka-angka di atas berasal dari penghitungan Ananta dan Arifin: Projection of Indonesian Population 1990–2020). Para ahli memperkirakan sekitar tahun 2000 episenter ledakan epidemi penyakit AIDS akan berada di Asia. keterampilan dan prosedur melakukan tindakan medis.

Di samping itu masih banyak variabel lain yang dapat sangat besar pengaruhnya. Ini akan berarti lebih lagi pergeseran perhatian pada upaya prevensi. Pemenuhan kebutuhan yang meningkat itu harus dapat didukung oleh keberhasilan pembangunan ekonomi. akan merupakan pasar yang sangat diincar. perkembangan il mu dan teknologi. pengertian yang lebih mendalam tentang ensim. Edisi Khusus No. dan pengobatannya akan menjadi lebih efektif. desintegrasi suatu blok kekuatan atau suatu negara adikuasa. antara lain penyalah-gunaan teknologi (technology abuse). juga terhadap industri kesehatan dan perumah-sakitan. Dalam kaitan ini perlu dikaji secara teliti saran World Bank dalam laporannya tahun 1993 : harus ada persaingan bebas dalam layanan kesehatan dan jangka ada proteksi untuk industri kesehatan domestik terhadap kompetisi internasional Rupanya Bank Dunia yang didominasi oleh negara-negara kaya ini benar-benar berorientasi pasar bebas. 90. berkat dukungan teknologi dalam waktu tidak terlalu lama lagi akan lazim dikerjakan tanpa pasien perlu dirawat. PERUBAHAN TATANAN GLOBAL Dunia akan menjadi semakin sempit. Batas-batas negara akan semakin tidak ada artinya dalam lalu lintas uang. Sekarang pun orang sudah membuat antisipasi bahwa 70% dari pembedahan yang sekarang dilakukan di rumah sakit. Ingat : dua puluh tahun yang lalu tidak ada yang berpikir salah satu blok adikuasa dapat runtuh berkeping-keping. berkat keterbukaan informasi yang tidak mungkin dibendung dengan cara apapun. Peningkatan volume layanan karena jumlah manusia yang dilayani akan bertambah dengan sekitar 50 juta orang. 2. memperbaiki lingkungan hidup. benar menjadi kenyataan. Ilmu kedokteran akan semakin maju. Dalam arti lebih sempit pemenuhan kebutuhan itu akan berarti : 1.investasi untuk itu dan kekuatiran kemungkinan terjadinya beberapa dampak negatif. persaingan) dan tuntutan subyektif (karena peningkatan pendidikan. Jika kecenderungan seperti sekarang akan berlanjut seluruh dunia akan menjadi satu pasar bebas yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan transnasional raksasa. didukung oleh perkembangan biologi molekuler. kematian bagi yang lemah ! Itu semua jika tatanan global dikaji hanya dari pendekatan sosialekonomi dan bisnis secara sederhana. Peningkatan mutu layanan disesuaikan dengan tuntutan obyektif (transisi demografi dan epidemiologi. namun sukar diantisipasikan sekarang. Namun dalam PJPT II diharapkan sudah tercapai secara wajar keseimbangan antara kebutuhan dan pemanfaatan teknologi secara tepat. perang. kesejahteraan. Semua rekaan di atas tidak ada nilainya sama sekali jika terjadi kejutan-kejutan hebat dalam tatanan global (dan juga tatanan nasional atau regional) yang menyangkut perimbangan kekuatan senjata. Konsekuensi lain adalah biaya sosial untuk layanan kesehatan juga akan meningkat. barang dan jasa. meningkatkan pendidikan minimal. Dengan pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan kemampuan penelitian Indonesia sudah akan lebih mandiri. memperbaiki pemukiman dan perumahan. Perlu juga diikuti dengan seksama perkembangan Cina sebagai negara adikuasa baru. kasus yang memerlukan tindakan "berat" seperti transplantasi organ. Dalam PJPT II banyak penyakit diperkirakan sudah dapat dideteksi sebelum gejala paling dini terasa. teknologi akan menjadi lebih efektif-biaya. Hospitalisasi terutama hanya untuk kasus-kasus gawat darurat. Jaringan perumah-sakitan mereka akan menancapkan cabang atau satelitnya di negara kita. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi di atas akan besar dampaknya terhadap kebutuhan dan profil rumah sakit dalam PJPT II. Dengan health policy yang tepat saat itu nanti diharapkan teknologi akan menentukan tingkat layanan kesehatan yang dapat diberikan secara optimal. meningkatkan mutu gizi. serta kebutuhan tempat tidur rumah sakit akan berkurang. sistem nilai Cermin Dunia Kedokteran. Salah satu ciri utama daripada pasar bebas demikian adalah persaingan yang keras untuk memperebutkan konsumen. PENINGKATAN KEBUTUHAN KESEHATAN DALAM PJPT II Transisi kesehatan karena dinamika dalam unsur-unsur lingkungan kesehatan seperti dipaparkan di atas akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan kesehatan dalam PJPT II. termasuk jasa kesehatan. hormon dan lain-lain. Hal-hal itu adalah sarana dasar untuk hidup sehat. Budaya dan gaya hidup dengan segala dampak positif dan negatifnya menjadi global. bioteknologi. yang dalam banyak hal berarti bebas bagi yang kuat. Dalam banyak negara memang terbukti bahwa teknologi tinggi adalah salah satu penyebab makin melonjaknya biaya layanan kesehatan. pergeseran kekuatan politik nasional dan internasional. bagai konsumen ilmu dan teknologi kedokteran yang diimpor dari negara lain. Ini berarti efisiensi dan kemudahan bagi pasien. membudayakan keluarga berencana. krisis ekonomi dan keuangan. Indonesia yang nanti akan berpenduduk seperempat milyar. Semua itu akan mengakibatkan hidup manusia dapat diperpanjang. Ini antara lain harus berarti keberhasilan mengentas rakyat paling bawah ke atas garis kemiskinan dengan menyediakan lapangan kerja yang layak. Kanker pun diharapkan sudah akan dapat dicegah dengan imunisasi . gangguan stabilitas dan keamanan. gangguan sistem immun. gaya hidup. cystic fibrosis) berkat teknologi terapi gen akan dapat dicegah dan diatasi. penyakit menahun dan penyakit karena usia lanjut. rekayasa genetik. Diharapkan dalam PJPT II Indonesia tidak lagi hanya se. membudayakan gaya hidup sehat. Di samping itu kecanggihan teknologi kedokteran akan membuat asuhan medis menjadi lebih aman dan Iebih menyenangkan bagi pasien. 1994 19 . Teknologi tentu akan makin berkembang dan canggih. Ungkapan global village atau global supermarket akan benar . dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan terus kuat. Berbagai penyakit yang sampai sekarang dianggap tidak dapat disembuhkan (seperti beberapa penyakit turunan. sosial dan budaya yang berlanjut (sustainable development). dengan segala dampaknya terhadap kita. termasuk oleh bisnis kesehatan transnasional dengan jaringan global.

Harus ada regulasi terbatas atau regulated deregulation. • Dana untuk penyelenggaraan kesehatan akan berasal dari gabungan: Anggaran pemerintah Dana masyarakat (pajak. Di samping itu pemerintah sebaliknya terutama menyediakan layanan kesehatan primer yang semakin bermutu melalui Puskesmas. Pemerintah dapat bekerja sama atau berpatungan dengan swasta (termasuk swasta asing) untuk investasi rumah sakit. Layanan Puskesmas tidak boleh lagi cuma-cuma. rumah sakit khusus tertentu dan rumah sakit untuk masyarakat kurang mampu.masyarakat). Transisi Kesehatan dan Pembangunan Ekonomi. treatment centers. Regulasi hendaknya tidak kaku dan keras. Lembaga Demografi FEUI. • Persaingan akan meningkat. Lembaga Demografi FEUI Population Series No. 7—8 Mei 1993. Jakarta. Ananta A. dalam PJPT II. Ananta A. 2. rumah sakit khusus tertentu dan rumah sakit untuk masyarakat tidak mampu. Ciloto. dana. terutama untuk layanan kasus gawat darurat. • Pemerintah terutama mengsubsidi atau membiayai penye lenggaraan Puskesmas yang akan menjadi makin bermutu. managed care) seperti yang didefinisikan dalam Undang-undang no. Dengan demikian pemerataan dan keterjangkauan layanan kesehatan akan terjamin. perawatan penyakit menahun dan penyakit usia lanjut. nursing homes. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah mengurangi jumlah rumah sakit yang dimiliki dan dioperasikannya sendiri. Pemerintah terutama membiayai atau mengsubsidi rumah • sakit pendidikan. pengawasan dan pengendalian. User Fees in Public Hospitals : Comparison of Three Country . Pembiayaan layanan kesehatan di masa yang akan datang mau tidak mau harus menjadi beban bersama antara pemerintah dan swasta menurut komposisi bauran (public-private mix) yang disesuaikan dengan perkembangan keadaan nanti. Ini tidak mengherankan karena rumah sakit adalah konsentrasi tenaga ahli dan teknologi yang mahal. pemerintah kebagian yang tidak enak". Edisi Khusus No. Untuk mengurangi beban anggaran pemerintah bagi layanan kesehatan. Transisi Demografi. 3. Tinjauan perkembangan adalah perkiraan strategic response yang mungkin terjadi didasarkan pada proyeksi kebutuhan kesehatan waktu itu nanti. Dengan demikian keterjangkauan. dan mutu layanan kesehatan primer akan makin terjamin. 1994 . namun perumah-sakitan tidak juga boleh sampai dilepaskan seluruhnya pada mekanisme pasar bebas. Orang-orang pemerintah hendaknya menghilangkan paradigma bahwa "swasta mau enaknya saja. diagnostic centers. Projection of lndonesian Population. Indonesian Observer. dan lain-lain. dan lain-lain) yang memadai. teknologi. 2. Pemerintah hendaknya membatasi diri hanya dalam menjalankan fungsi legislasi. pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan kesehatannya. Antm bN. Gani A. Sebagai akibat persaingan akan terjadi konglomerasi rumah sakit (hospital chains) atau bentuk usaha lain yang lebih menjanjikan efisiensi dan efektifitas. user fee) Investasi modal swasta (PMDN. RINGKASAN Telah disampaikan tinjauan tentang kemungkinan perkembangan sistem layanan kesehatan. yang 2 0 Cermin Dunia Kedokteran berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan secara praupaya. Seperti diketahui sampai sekarang sekitar 60% anggaran belanja pemerintah untuk kesehatan terserap oleh subsektor rumah sakit. Lewis MA. sarana. 4. Untuk "yang tidak enak itu" masyarakat (termasuk sektor swasta) ikut membiayai melalui pajak dan iuran langsung maupun tidak langsung yang lain. Melihat kecenderungan privatisasi yang sekarang terjadi secara global. Rumah sakit yang dibiayai atau disubsidi oleh pemerintah sebaiknya hanya tinggal rumah sakit pendidikan dan penelitian. Fungsi layanan rumah sakit akan berubah. Dengan asumsi dan analisis yang terutama bersifat kualitatif (yang tentu saja mungkin saja meleset sama sekali). besar kemungkinan dalam PJPT II peran serta swasta dalam pembiayaan kesehatan akan menjadi lebih besar lagi ketimbang peran pemerintah. PMA) — Sistem-sistem JKPM (managed care) yang masih harus dikembangkan. pemerataan. Puskesmas diselenggarakan sebagai unit swadana yang disubsidi pemerintah. perawatan intensif. Alternatif Pembagian Peran antara Pemerintah dan Swasta dalam Pembangunan Kesehatan. 1992. diperkirakan perkembangan perumahsakitan akan ke arah : • Peran pemerintah sebagai pemilik dan penyelenggara rumah sakit akan berkurang. Dana pemerintah yang dapat dialihkan dari anggaran untuk penyelenggaraan rumah sakit ditambah dengan dana dari user fee hendaknya dapat meningkatkan kemampuan layanan kuantitatif dan kualitatif oleh Puskesmas. Sirait H. KEPUSTAKAAN 1. Pemerintah jangan sampai menjadi pesaing bagi swasta dalam penyelenggaraan rumah sakit. An Emerging Crisis: AIDS in Asia. 23 tahun 1992. 25 Sept 1993. yaitu penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna berdasarkan asas usaha bersama dan kekeluargaan. Semiloka Peranan Pemerintah dan Swasta dalam Pembangunan Kesehatan Menghadapi PJPT 11. Penghimpunan dana masyarakat dan sektor swasta untuk layanan kesehatan akan sangat bertumpu pada sistem Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM. Yang mungkin dilakukan antara lain adalah mengurangi secara drastis perannya sebagai penyelenggara rumah sakit. Black M. Jakarta. Rumah sakit jenis lain seyogyanya diserahkan kepada swasta penyelenggaraannya. perizinan. Memenuhi semua kebutuhan tadi dalam PJPT II (atau kapan saja) pada dasarnya adalah masalah penyediaan sumberdaya (sumberdaya manusia. 5. Sektor swasta (termasuk swasta asing) akan lebih berperan • dalam penyelenggaraan rumah sakit untuk tujuan pelayanan dan rujukan. bukan hanya antara rumah sakit (di dalam dan di luar negeri) tapi juga dengan hospitals without beds. rujukan diagnostik dan tindakan teknologi tinggi. akreditasi. Kecenderungan badan penyelenggara JKPM dimonopoli oleh satu badan usaha saja hendaknya dicegah. 90. 1991. termasuk rumah sakit. Puskesmas dijadikan unit swadana. tapi sudah harus ditetapkan user fee untuk jasa yang dinikmati masyarakat.

14.90. Vol 29. One Day Seminar on lnnovations in the Financing of the Health Sector Perspective on PJPT 11. Health Transition. Jakarta. 8. Jakarta. 1994 21 . One day Seminar on Innovations in the Financing of the Health Sector Perspective on PJPT 11.Case Studies. Newbrander W et al. WHO. its impact on Health Sector Financing in Thailand. 22 October 1993. Djisman S. FEUI. 9. 1992. Health Planning Division. Said Amin Tabish. 1993. 10. Bangkok. Sukirman. World Bank Report 1993. 1993. 22 October 1993. Comparison of lndonesian and United States Health Care Financing Reforms. World Bank. 11. 12. No 2. lnternational Science and Technology lnstitute. Edisi Khusus No. Geneva. 6. 15. Cermin Dunia Kedokteran. Ministry of Public Health. Garis-garis Besar Haluan Negara. Jakarta. Tjiptoherijanto P. 1993. Undang-undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. 1993. Healthcare Finance and Economics. Tangcharoensatien V. World Hospitals. lndonesia Economic : Present and Near Future. Jakarta. Medium-term trends in the lndonesian Economy and Implicated upon the Health Sector. Beberapa pokok pikiran dalam pembangunan sumberdaya manusia dalam PJPT 11 dan Repelita V1. Marzolf J. 13. 1993. 7. Hospital Economics and Financing in Developing Countries. 1993.

in both countries there is major change under way. world famous hospitals. This involves hospitals and other health care facilities competing for government funds to provide local services. It may be of interest then to reflect on one of the outcomes of these approaches. 6. I have identified 8 trends which I wish to describe. Until recently the United States and the United Kingdom have been at opposite ends of this spectrum. which in turn represents 21 nations. This will in turn lead to a system of controlled competition of purchasing and providing care. that health care financing will be organised on a state level through insurance alliances in each state.Current lssues and Future Trends in Health Care Errol Pickering Director General. for the first time 100% of the American population will have access to health care irrespective of their ability to pay. While I will identify them as trends 1 to 8. If one considers the difference in the per capita income of citizens of the United States and the United Kingdom. Britain has had a government dominated health service whilst in the United Sates private initiative has been the driving force. The United Kingdom has already moved to controlled competition through its internal market approach. Jakarta 21 — 25 November 1993 b) Over supply of high technology c) Poor community health systems and status and d) Denial of access based on ability to pay of 37 million Americans. The 22 Cermin Dunia Kedokteran . This is likely to result in the near future in the closure of some of London's great. Secondly. The federation has members in all five continents and in 90 nations. you can see what a dramatic difference there is. The United States has found that competition which is promoted by a system based on private initiative has resulted in. I don't wish to imply that one is any more significant than the other. Edisi Khusus No. there has been improved productivity in hospital and health services. It is too early to say what will be the ultimate outcome of the reform movement in health care in the US but some elements of the President's package will clearly remain intact. Another hoped for impact of the government was that there would be a reduction in waiting lists for elective surgery. Firstly. have the great privilege of seeing and hearing of health services developments around the world. International Hospital Federation INTRODUCTION It is a pleasure to bring greetings to our Indonesian colleagues from the 21 members of the Council of Management of the International Hospital Federation. This has had the impact of reducing usage of big city teaching hospitals. Firstly. The system has now been in operation for some two years and the impact of the reforms are becoming evident. However. Today. 1994 . inter alia a) Service duplication Presented at the Vlth Congress of the lndonesian Hospitals Association& Hospital Expo. In the last few weeks I have been in the United States discussing the US President's proposed reforms with my American colleagues. therefore.5%. The United States spends presently 13% of its Gross National Product on health care. there has been a debate about the role of government versus private initiative in health care provision. I. I will review some of the important trends and ideas I see emerging in health services delivery. TREND 1 — CONTROLLED COMPETITION Throughout the history of health care organisation. The final essential of President Clinton's programme is that there be community-wide managed care systems at the local level. employers both in large industries and in small businesses will be forced to carry health insurance for their staff and families and thirdly. In the United Kingdom that figure is only half of that. 90.

can use services. 2. they have focused their standards on attempting to determine the patient's perspective on quality and service. So for example. My concern is that all the evidence on the system is not yet in. This is because poor quality health care is a waste of resources. The overall analysis suggests that there has been no real benefit in this context. . when your GP thinks it necessary. 9. Respect for privacy. We can see from the listing which follows that the British definition of quality is quite different to that of the United States (see attachment 1). To have access to your health records. We can see this move focusing on quality in the expansion of accreditation systems throughout many countries. To be referred to a consultant. To receive emergency medical care at any time. To be registered with a GP. 7. governments or regions are setting targets for reductions in infectious diseases of various kinds and in coronary disease etc. Attachment 2 British Patient's Charter Rights Existing 1. 3. acceptable to you. 6. In the United States the Joint Commission on Accreditation of Hospitals and Health Facilities has spent many millions of dollars on identifying patient care outcomes as a means of measuring standards of health care. 6. Attachment 3 British Patient's Charter Rights New 1. 4. Mr. dignity and religious and cultural beliefs. before you decide whether you will agree to the treatment. Around the world we see hospitals adopting continuous quality improvement and Total Quality Management Systems as apart of the central core of their management.Edisi KhususNo. Arrangements to ensure everyone. The British approach has been different. 5. lnformation to relatives and friends.results in fact have been mixed. In the United States there are sophisticated communityoriented information systems being developed with the use of Attachment 1 British Patient's Charter Rights National Standards 1. Waiting time in outpatient clinics 7. A named qualified nurse. To have any complaint about NHS services — whoever provides them — investigated and to receive a full and prompt written reply from the chief executive or general manager. New Zealand has completely moved to this model and Sweden is in the midst of its implementation and many countries are about to adopt the system. 4. These protocols set out what is necessary to be done for each diagnosis at each phase of care and identifying what diagnostic and treatment services are required and how the patient's treatment should be scheduled. Existing accreditation systems are also becoming more sophisticated. To be given detailed information on local health services. Governments should be more cautious about adopting such radical reforms. 90. One of the interesting developments in this regard is the increasing use by American hospitals of what have been called Standard Treatment Protocols. It used to be that health service providers thought of quality as a lesser priority but now it is one of the major driving porces of health care delivery. The listings which follow provide more detail of the patient's charter in Britain (see attachments 2 & 3) . through your GP or the emergency ambulance service and hospital accident and emergency departments. The other unexpected outcome has been that increase in productivity has brought with it rapid patient throughput which has meant that hospitals have often spent their elective surgery budgets within the first half of the year and have no funds remaining to continue their elective surgery for the remainder of the year. Cancellation of operations. This concept of the patient's charter of rights is a personal initiative of the British prime minister. including people with special needs. That is. To be guarantecd admission for treatment by a specific date no later than two years from the day when your consultant places you on a waiting list. and to know that those working for the NHS are under a legal duty to deep their contents confidential. In some way it can be seen that there is a re-definition of quality which expands the focus from the clinical level to the patient level and to the community level. To be given a clear explanation of any treatment proposed. and to be referred for a second opinion if you and your GP agree this is desirable. Major. 8. Our communities are also becoming better educated and so demand a better quality of health care. 5. 1994 23 . In particular they are setting targets for preventable diseases and health promotional activities. They then use this information to get a basis for the organisation of their health services and for developing priorities. including any risks and any alternatives. midwife or health visitor responsible for each patient. TREND 2 – RE-DEFINING QUALITY Quality has become a central focus for nations in organising their health services. including quality standards and maximum waiting times. 3. that they are able to identify morbidity not only in every community but in every house in their cities. It is of concern to me that many countries are beginning to copy the UK model. To choose whether or not you wish to take part in medical research or medical studcnt training. They have a very advanced system of community health mapping. 2. Waiting time for initial assessment in accident and emergency departments. 2. This charter of rights has been distributed widely through hospitals and thecommunity and each patient has access to the patient's charter booklet which sets out what they may expect of the health service provider. their total organisational structure and their information systems are being re-designed to focus on quality. 3. To receive health care on the basis of clinical needs regardless of ability to pay. Cermin Dunia Kedokteran. Waiting time for an ambulance service. TREND 3 – MANAGING WITH DATA Some years ago I visited Cuba to examine their health system. Discharge of patients from hospital. That is. Another approach that governments are using to define quality in health services is to look at the health status of the community.

12 Noon scripts. Edisi Khusus No .5. activity level . VS. diet. 90. S&S to report. pacer D/C box Chest tubes D/C . CXR. 1994 . Activity UP BR —> UP Turn q 4 hr. appts. Sample Surgical Clinical Path-DRG 104: Valve Procedure with Catheterization Critical Preadmit: Occurances Tele Unit LOS Day 0 Consults SS Home nursing Dietician Tele Unitl Cath LOS Day 1 OR Day LOS Day 2 POD 1 LOS Day 3 Respiratory Therapy POD 2 POD 3 LOS Day 5 POD 4 POD 5 LOS Day 7 POD 6 LOS Day 8 POD 7 LOS Day 9 LOS Day 4 Cardiac rehab CNS Diabetic Cardiac LOS Day 6 Tests ECG. CXR. Tcaching and tour Pre-op 2 4 Cermin Dunia Kedokteran . Labs. med sheet on chart Transfer Complete record Discuss D/C plans Teaching Cath Booklet Begin post-op tcaching I Review meds. ROM NPO Dangie X 2 Ambulate tid Cardiac Diet or diet as at home-fluid restriction (DC when at pre-op wt) tid and ad lib Diet NPO 6 hrs before procedure NPO p MN Liquid diet Discharge Assess home support health habits coping ability Physician order on chart for DC mg nereds Predischarge D/C before orders. IV HL (Change site) DC Central Lines Foley D/C Skin Care/ incision I & O/wt Analgesics Anticonguiartis D/C wires D/C DCI + O if at pre-op wt. labs. labs. Neuro checks Monitor Ventilator DC ECG DC CXR D/C labs except PT continue GXT scheduled Done prior 9a Treatments (includes needs) Client lists home needs Old records to unit IV Sheath removal D/C D/C 02 D/C 2-4L 02 NC 02 pm 1.Attachment 4 Appendix A. Pre-op Labs Post-op ECG./C&D8 Artline/CVP D/C NG D/C T.

The health of the citizens of a country of course relates to the standard. DRGS have now been extended. 1994 25 . for example in Sweden that postmen have been given a responsibility to ensure that the house-bound elderly in the community are "okay".computers these link hospitals to community health services. of managing health services through the use of data is that of "DRGS" (Diagnosis Related Groups). welfare and housing. Attachment 5 Figure 4.017 $37. Many of its hospitals have been carrying out community outreach programmes for more than a decade. You can see not only what will occur in each phase of care but when each phase ofcare will take place. breast cancer. Edisi Khusus No. In this context I have been delighted to find outMickeyMouse is coming to our aid in that the Disney Corporation is beginning to produce health promotion materials for children around the world. The most obvious example. Kalamazoo . Hospitals are still filled with the problems associated with lifestyle. TREND 5 – RATIONING The Paris-based organisation – OECD.3 2. education. Concepts of health promotion have also been with us for at least two decades.738 10.7 0. Another aspects of community orientation of health services is our growing research base on health care screening economics. of course. to local GPs.2 2. The attached appendix (i.Source : Borgess Medical Center .8 10. the potential cost saving implications of using these systems. Presently pharmaceutical products account for some 40% of a reduction of mobility in our communities and therefore there is the increased potential for further reduction as medical research proceeds also in terms of techniques. CardiacPath'"' —Paticnt and Financial Outcomes Comparison Pre-CardiacPath Procedure Post-CardiacPath % % Averagc Total Avcragc Avcragc Total Avcragc Mortality Mortality Charges * LOS Charges * LOS $54.7 Valve Surgcry ( DRG 104-105) CABG Surgcry ( DRG 106-107) PTCA (DRG 112) * Includes anethesia fees .566 13. I think we will hear much more of this new concept. to standard protocols but further to the concept of developing patient critical paths for dealing with aparticular diagnosis. The World Health Organisation has long recognised that the health of a country is not primarily related to the nation's health services. disappointing. estimates that hospital cost inflation is primarily caused by medical technology developments. Research I think is beginning to show us that what we mustdo in regard to influencing of lifestyles is to start withhealth promotion programmes for our children.6 9. It must be reported. we already know that day surgery and diagnostic approaches have reduced costs.913 $15.1 3. I think we in health services often forget the need to coordinate with our colleagues in other sectors to help to improve the health status of our peoples.7 0. This system means that hospitals are reimbursed on the basis of the average cost of dealing with a particular diagnosis. Sometimes this extends beyond health care workers. Further we can see that most nations are now setting up national programmes of technology assessments to ensure the appropriate introduction of high technology on a rational basis. hypertension and hypercholesterolemia are all targets for cost beneficial national screening programmes. in large part. You can see. This can all be distilled into one word –"poverty". This system which began in the United States about a decade ago has now reached Australia. Michigan Cermin Dunia Kedokteran . It has now been cleariy shown that cervical cancer. TREND 4 – COMMUNITY ORIENTATION Australia has been a leader for many years in orienting its health services to the community.4 11.648 $17. One example is in San Diego where half the population is covered through this network of information. from the chart setting out the "cardiac path" for the treatment of three types of surgery. 90. that the results of these programmes have been. as indicated early. However. Many European countries also have a regional basis for their health service delivery which puts an emphasis on care at the community level.e. It is estimated that through new bio-genetic techniques that some four thousand previously unmanageable diseases will become treatable.4 4. attachments 4 & 5) gives an indication of what is involved. colon cancer. Sweden and I understand parts of Asia. Are we then heading into a period of rationing of health care? Let's examine the situation a little more deeply.9 $4O. Health care economists around the world are recognising the likely impact of these great leaps of medical science and putting them into the context of an already cash-starved health systems.9 2. or the environment. The study which demonstrated this is now a few years old but it can be said that it is known that investment in biomedical research has increased to 4 billion dollars a year. however. transport. Spain. the Organisation for Economic Cooperation and Development.122 $33. We can see that while bio-genetics has as potential for increasing costs it is likely that new vaccines will become available through this technology and therefore reduce infectious disease.

The result of this restructuring has been shown to. This multi-skilling has also occurred at the low level of employee. hip replacement because of the profound improvement of the quality of life of the reciopient of this particular procedure. I was. has not held up in this horrible civil war. In government hospitals In voluntary not-for-profit hospitals In for-profit hospitals TREND 6– FOCUSING ON PATIENTS We in hospitals and health care have always put emphasis on patient care but experiments are going on in health service delivery facing a renewed examination of a health service from a patient's point of view. It would seem to me that it is a model which we must all examine in a future where health care rationing seems imminent. 2 out of 5 medications unnecessary. In Yugoslavia we have seen the grotesque sight of hospitals being targeted as military objectives. The Geneva Convention whereby hospitals are sanctuaries of peace. Many hospitals have been destroyed and health service professionals have been killed and tortured. that we have far to go in eliminating waste. TREND 8– HEALTH SERVICE RESEARCH BASE POLICY One of the truly hopeful signs of health services development around the world in the establishment of National Health Service Research Institutes. This involves the decentralisation of many of the allied health professional services so that they actually operate at ward level. there is also a trend to sharing information with the patient particularly the patient's records. The other dimension of patient focusing is in regard to medical ethics where it is now recognised that questions concerning the patient's fate or that of their family must be discussed with them and that the patient and his family take a major role in the decision-making concerning further medical procedures. This idea is also spreading internationally and is evident now in parts of Australia and in Britain and is gaining hold as a concept everywhere. ranging to as much as 5% of operating costs.staggered to read recently that the health budget for some African countries is as little as 50 American cents per person per annum. The most obvious example of this is Euthanasia in the Netherlands. Another new patient-directed development is that of the non-smoking hospital. In Africa of course the problem is deprivation. Rand have also identified the impact of the health financing system on the utilization of services. Attachment 7 Financial Disincentives Caesarian Sections US Data Rate 21% 23% 31% also cost savings have been demonstrated. That is. there is a new level of professional which can carry out many of the basic professional functions. That is for the first time countries are obtaining facts to base their health policy on rather than what has been in the past purely ideology or supposition. For example in the United States there are several hospitals which have been restructured to become what are called "patient-focused hospitals". whereby for example the ward cleaner takes on a broader function of food delivery to the patients and messages around the hospital as well as providing a patient comforting role. You can see from their data on caesarian sections what this impact is. not only improve the patient's perspective of care. for example. a pharmacist. There is also a world wide trend to educate the patient concerning their condition and their health in general. The following chart demonstrates the phenomenon (attachment 7). Edisi Khusus No. Attachment 6 Hospital Wastage (Rand Corporation Studies) 1 in 4 hospital days unnecessary. These research institutes can provide information on the health of the country and the impact of its health service systems through their research activities. in that they truly obtain the sense of being cared for by a small team of professionals. I'm sure that the State of Oregon in the United States has developed this "quality" system into an operational programme which has just cleared the courts and is to be put in place in that state for Medicare patients. but 26 Cermin Dunia Kedokteran . 1 in 4 clinical procedures unnecessary. we can see from the attached data (attachment 6). a laboratory technologist. That is. emanating from the Rand Corporation in Los Angeles. that is neither patients nor staff may smoke in the buildings or in the immediate surroundings of the hospital. a social worker etc. Many us hospitals are now totally nonsmoking. You will be aware. This means that they have no possibility of importing drugs or equipment and as a result their pharmacies remain empty and their professionals helpless. any rational health system would lower the priority of fund allocation to bypass surgery because of its rather doubtful long-term benefits yet it would increase resources allocated to say. In many countries it is now the law that the record belongs to the patient and they have access to it at all ti mes. TREND 7– DEPRIVATION AND DISASTER Among all of the exciting developments in health care there is also a dark side and that of course is so evident in Africa and in the former Yugoslavia. 1994 .Another interesting dimension of this question is that of appropriate utilization of resources. That is there is a belief that a multi-skilled staff a more effective way of dealing with patients. This means that a true patient care team is developed at ward level. That is in each ward there will be a physiotherapist. 90. The British research on "qualies" has clearly demonstrated that health services can be delivered on a more rational basis by allocating resources relating to the quality of life expected following particular medical procedures. In summary I think we can say that much can be done to reduce costs and pressures on services in health care but it is my personal view that rationing will have to come. There are also developments concerning staff training.

My advice would be to keep in touch with the world through reading and attendance at conferences but to digest the information carefully. In short to develop Indonesian solutions to Indonesian problems. Indeed it is true to say that you have much to show the world in regard to how to rapidly improve the health status of a nation. The establishment of these Health Service Research Institutes and the use of data can result in rational health policy development. Ask yourself whether what you've just read or heard relates to a problem in your country and whether the Attachment 8 Rational Health Policy Development Community health status data ↓ Health morbidity geographic and social data ↓ Present resource allocation information ↓ Planned policy initiative ↓ Community and professional feedback ↓ Pilot initiative ↓ Evaluation of impact ↓ Policy amendment. Can I then say that whilst all of the trends I've outlined today are of great interest.This development is long overdue particularly when we make comparisons with industry where they spend very substantial proportions of their budget on research and development. Thank you for the honour of being invited to speak at your conference and may I wish the rest of your deliberations well. 90. abandonment or implementation problem is one which requires a priority solution. all countries need to carefully assess new trends before they take action to implement them. Edisi Khusus No. This means that health policy can be developed based on the following flow chart (attachment 8). Cermin Dunia Kedokteran. CONTEMPLATIONS Indonesia has been one of the success stories of health status improvement over recent years. 1994 27 . in some industries this is as high as 30% of their input whereas in health care we tend to spend nothing or very little.

program peningkatan mutu. 28 Cermin Dunia Kedokteran . Di Amerika Serikat. Setelah tahun 1950 sampai tahun 1970. sebenarnya bukanlah yang baru. Jakarta . MPH Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. 1994 program peningkatan mutu pelayanan. program pengawasan mutu. Mutu Pelayanan RS. Masyarakat semakin menginginkan pelayanan umum lebih baik. Sejarah perbaikan mutu. Florence Nightingale (1820— 1910) melakukan perbaikan mutu pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan. Perbaikan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia. proses dan outcome dari pelayanan kesehatan yang dilakukan secara obyektif. Namun disadari ada perbedaan persepsi mutu antara konsumen dan provider.Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit Dr Broto Wasisto. pelayanan atau sarana. istilahpun sering menjadi topik yang menarik untuk diperdebatkan. diikuti dengan ditutupnya beberapa fakultas kedokteran yang tidak memenuhi syarat. telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sekitar 20 abad sebelum Masehi pada zaman Hammurabi dari Babilon telah dikenal upaya-upaya peningkatan mutu pelayanan. Walaupun banyak istilah yang digunakan namun pada dasarnya program peningkatan mutu adalah "keseluruhan upaya dan kegiatan yang komprehensifdan integratif yang memperbaiki struktur. sistematik dan berlanjut serta memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan. program peningkatan . 21 . demikian pula pada zaman Hippocrates sekitar 25 abad sebelum Masehi. Selain persepsi yang berbeda. Pada tahun 1912 Joint Committee for Consideration of Standardization of Visiting Nurse menyusun standar ketenagaan perawat sedangkan Kongres Ahli Bedah Amerika Utara menyusun standar pelayanan bedah pada tahun 1915. Makalah ini akan membahas manajemen mutu dengan sistematika sebagai berikut : Pendahuluan. program peni ngkatan mutu pada umumnya berupa penyusunan standar tenaga. Sebelum tahun 1950. peningkatan mutu berkesinambungan. Tuntutan dan harapan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu semakin terasa. dimanahasil penelitian Carnegie Foundation (Flexner Report) yang dipublikasikan pada tahun 1910. dan memecahkan masalah-masalah yang terungkapkan sehingga pelayanan yang diberikan di rumah sakit berdaya guna dan berhasil guna. Setelah itu pada tahun 1917 telah disusun standar minimum staf inedik rumah sakit." Oleh karena tujuan akhir adalah meningkatkan mutu pelayanan maka Departemen Kesehatan telah menetapkan istilah untuk program mutu adalah Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. Edisi Khusus No. American Medical Association (1876) mulai melakukan pembenahan pendidikan dokter. Perbedaan persepsi tersebut sering mengakibatkan keluhan akan pelayanan.25 November 1993 . Banyak istilah yang dipakai dalam program mutu ini seperti antara lain program menjaga mutu. Konsumen mengartikan pelayanan yang bermutu apabila pelayanan tersebut ramah. termasuk pula pelayanan kesehatan. Di Inggris. Keadaan sosial-ekonomi dan pendidikan 'masyarakat semakin tinggi sehingga orientasi sistem nilaipun telah berubah. 90. Jakarta PENDAHULUAN Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama yang akan berakhir dengan berakhirnya Repelita V ini. manajemen mutu. tahun 1918 standar minimum saranaRS. dan lain sebagainya. SEJARAH PERKEMBANGAN Upaya peningkatan mutu pelayanan. nyaman dan menyenangkan sedangkan provider mengartikan mutu apabila pelayanan sesuai dengan standar. tahun 1946 di Amerika Serikat dikeluarkan Hill Burton Act yang mengatur tata laksana perluasan (termasuk biaya) rumah sakit.

Edisi Khusus No.4% rumah sakit pemerintah. 806b/Menkes/SK/XII/1987 . Kemudian tahun 1975 mulai diperkenalkan cost containment.mutu semakin aktif diselenggarakan. utilization review (1960) dan peer review (1970). Ada yang melakukan penilaian mutu berdasarkan derajat kepuasan pasien. Sampai saat ini belum ada standarisasi tenaga perawat yang sesuai dengan peran dan fungsinya. Hampir 70% dokter bertugas di pulau Jawa-Bali dan 23% di DKI. Upaya lainnya dalam peningkatan mutu pelayanan adalah dilakukan medical audit (1956). Pada tahun 1984 Departemen Kesehatan telah mengembangkan berbagai indikator untuk mengukur dan mengevaluasi penampilan rumah sakit pemerintah kelas C dan rumah sakit swasta yang setara yaitu dalam rangka Hari Kesehatan Nasional. Dari pengkajian diagnosis rumah sakit oleh HSF Usaid secara umum dapat dikemukakan bahwa rumah sakit kelas A dan B memiliki tenaga paramedik perawatan dan non medik yang cukup jumlahnya sedangkan tenaga medik nampaknya berlebihan. tahun 1979 quality assurance standard dan tahun 1983 peer review organization. Dari jumlah rumah sakit tersebut 36% adalah rumah sakit swasta. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kesadaran untuk meningkatkan mutu sudah cukup meluas walaupun dalam penerapannya sering ada perbedaan. hanya distribusinya masih timpang. Program yang berkembang setelah tahun 1970 adalah diperkenalkan Professional Standard Review Organization di Amerika pada tahun 1972. Apabila di luar negeri program peningkatan mutu dimulai sebelum tahun 1950. dan rumah sakit swasta setara. Untuk itu agar ada persamaan persepsi maka Departemen Kesehatan telah mengeluarkan buku pedoman program peningkatan mutu pelayanan yang kemudian dilanjutkan dengan pengadaan pelatihan peningkatan mutu. a) b) Tenaga Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan rumah sakit maka dilakukan penyebaran dokter 4 spesialis dasar ke rumah sakit-rumah sakit pemerintah khususnya rumah sakit umum di kabupaten dan kotamadya. Tenaga perawat penyebarannya lebih baik: DKI 17. Selain itu Departemen Kesehatan juga mengeluarkan berbagai pedoman (guidance) untuk meningkatkan penampilan rumah sakit. Program peningkatan mutu yang lainnya adalah pemenuhan standar ketenagaan yaitu dengan mengirim dokter empat spesialis dasar untuk rumah sakit kelas C. ANALISIS SITUASI MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT Gambaran umum rumah sakit Pada tahun 1990 terdapat 938 rumah sakit umum dengan 108. Di rumah sakit kelas C dan D pada umumnya kekurangan tenaga untuk semua katagori. 44. penggunaan obat secara rasional dan yang akhir-akhir ini mulai berkembang di rumah sakit adalah penerapan gugus kendali mutu dan manajemen mutu terpadu. Perkembangan program peningkatan mutu semakin pesat setelah tahun 1970. Tahun 1976 infection control standard. 11. Hal tersebut karena adanya pengaruh dari program yang sama yang diterapkan pada sektor industri dan dimotori terutama oleh negara Jepang. mengadakan pelatihan dan bimbingan teknis petugas rumah sakit.5% dan Jawa-Bali 58%. Untuk rumah sakit swasta telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. Hal tersebut terlihat dengan dibentuknya Joint Commision on the Acreditation of Hospital pada tahun 1950. Kemudian dari tahun ke tahun disusun berbagai standar baik menyangkut pelayanan. di mana masih banyak permasalahan yang dijumpai.7% rumah sakit milik BUMN. Untuk tahun 1991 telah dilengkapi dengan indikator kebersihan dan ketertiban rumah sakit dan yang dievaluasi kelas B. kegiatan outcome audit dan risk management. ketenagaan. Indikator ini setiap dua tahun ditinjau kembali dan disempurnakan. Setelah tahun 1983 mulai diperkenalkan quality improvement program. namun standar kepegawaian yang digunakan sekarang masih perlu dievaluasi kembali dan komposisi tenaga medik masih kurang serasi. 033Birhup/1972. Dengan telah disusunnya standar tersebut maka pada tahun 1953 dilakukan akreditasi rumah sakit. juga dilengkapi dengan standar berdasarkan kemampuan pelayanan. Diagnostic Related Group System. yang selain menetapkan kelas rumah sakit.133 jumlah tempat tidur. Permasalahan umum mengenai tenaga adalah jumlah dan mutu yang tak memenuhi serta distribusi yang tidak merata. 90. Pada tahun 1990 secara umum dokter yang bekerja di sarana-sarana pelayanan kesehatan jumlahnya sudah cukup memadai. Temuan lainnya adalah banyaknya tenaga dokter rumah sakit pemerintah yang bekerja sebagai tenaga parttimerdi rumah sakit swasta dan banyaknya tenaga honorer di semua rumah sakit. Keadaan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadapmutu pelayanan yang diberikan. penilaian mutu berdasarkan penilaian perilaku dan penampilan kerja perawat. Dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Namun disadari sampai saat ini banyak rumah sakit masih kekurangan tenaga medik demikian pula untuk tenaga paramedik.9% rumah sakit ABRI dan 7. sarana dan prasarana untuk masing-masing kelas rumah sakit. maka di Indonesia langkah awal yang sangat mendasar dan terarah yang telah dilakukan Departemen Kesehatan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan adalah penetapan kelas rumah sakit pemerintah melalui SK Menkes No. yang prinsip-prinsip dasar- komial. dimana pada tahun 1952 komisi ini telah berhasil menyusun standar pelayanan terutama tentang tindakan pembedahan. Tenaga yang merisaukan jumlahnya adalah tenaga paramedis. penilaian melalui infeksi noso- . Mutu pelayanan tak terlepas dari mutu keperawatan. Selain hal di atas secara sendiri-sendiri beberapa rumah sakit telah mengadakan monitoring dan evaluasi pelayanan rumah sakit. keadaan tersebut merupakan perbaikan yang bermakna. C. Pada awalnya ditetapkan kriteria dari masingmasing kelas yang kemudian berkembang menjadi standarstandar. continuous quality improvement program dan total quality management. D. 1994 29 nya sebenarnya tidaklah berbeda dengan program peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Hal ini tentunya juga akan mempengaruhi mutu pelayanan. Upaya peningkatan kemampuan dan ketrampilan tenaga perawat melalui pelatihan-pelatihan belum mampu Cermin Dunia Kedokteran.

mengatasi kesenjangan antara tuntutan peningkatan mutu pelayanan keperawatan dan kemajuan IPTEK kesehatan/keperawatan. Pengembangan karier tenaga perawat ke arah profesionalisme, melalui penyelenggaraan pendidikan berjenjang belum terarah jelas. Tanpa melalui pendidikan berkelanjutan, pengembangan profesionalisme sulit diwujudkan. Pemahaman terhadap budaya melayani dirasakan masih kurang, hal tersebut terlihat dalam melakukan tugasnya perawat kadang-kadang kurang tanggap dan kurang ramah. Selain itu uraian tugas, peran dan fungsi setiap katagori perawat berdasarkan jenjang pendidikan belum ditetapkan secara jelas dan kualifikasi tenaga perawat untuk jenjang dan jenis keperawatantertentu masih perlu ditetapkan. Kesemuanya itu tentunya akan mempengaruhi mutu pelayanan khususnya mutu asuhan keperawatan di RS. Managerial skill dan technical skill perawat masih kurang. Keadaan tersebut sering menjadi keluhan khalayak ramai. c) Dana Beberapa masalah yang dihadapi dalam pembiayaan kesehatan antara lain : keterbatasan biaya, penggunaan biaya yang kurang efisien dan distribusi yang kurang merata. Bila dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB), maka total biaya kesehatan secara relatif menunjukkan kecenderungan menurun. Untuk kurun waktu lima tahun (1982–1987) persentase biaya kesehatan terhadap PDB berturut-turut adalah 2,78%, 2,48%, 2,23%, 2,39% dan 2,51%. Angka tersebut belum pernah mencapai 3% PDB, apalagi mencapai 5% PDB seperti direkomendasikan oleh WHO. Di Thailand pengeluaran untuk kesehatan mencapai 5,1% GNP (1985), RRC mengeluarkan 3,1% (1985), Korea 4,3% (1986) dan Philipina 2,4% (1985). Bila dirinci lebih jauh mengenai anggaran pemerintah, maka anggaran yang dialokasikan oleh Departemen Kesehatan untuk rumah sakit hanya sekitar 45%, dan hampir 95% di antaranya untuk kegiatan kuratif. Sistem pembayaran di rumah sakit kebanyakan masih fee for service dan out of pocket, sedangkan pembayaran melalui sistem asuransi masih terbatas. Keseluruhan pendapatan rumah sakit pemerintah (revenue) harus disetor kepada kas negara pada hari yang sama. Akhir-akhir ini beberapa RS Pemerintah telah ditingkatkan menjadi RS Unit Swadana yang berarti RS dapat menggunakan langsung pendapatnya. Biaya rumah sakit pemerintah dapat berasal dari berbagai sumber yang disalurkan pemerintah, melalui jalur yang cukup banyak dan terpecah-pecah. Keadaan ini mencerminkan kurangnya koordinasi dan integrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan. Akibatnya penggunaannya menjadi kurang efisien. Di samping itu terjadi pula ketidak seimbangan antara biaya pembangunan dan biaya operasional dan pemeliharaan. Kenaikan anggaran pembangunan tidak selalu disertai dengan kenaikan yang memadai dari anggaran operasional dan pemeliharaan. Biaya operasional dan pemeliharaan pada RS Pemerintah hanya dialokasikan sebesar 50%. Subsidi pemerintah untuk rumah sakit pemerintah sangat besar karena tarif yang terlalu rendah. Adanya kendala dana tadi akhirnya akan mempengaruhi upaya peningkatan mutu pelayanan. Rumah sakit pemerintah

sangat sulit dapat memelihara sarana fisik dan kegiatan-kegiatannya. Dengan konversi beberapa rumah sakit menjadi unit swadana maka kendala-kendala di atas untuk sebagian dapat dikurangi. Fasilitas Gedung rumah sakit pemerintah maupun swasta kebanyakan dirancang tidak tuntas dan banyak yang belum mengikuti kaidah-kaidah rumah sakit, seperti zoning yang baik, flow of patients yang efisien dan etis, pembuangan limbah, erosi, dan lain sebagainya. Selain itu, lingkungan rumah sakit banyak yang masih kotor terutama di rumah sakit pemerintah. Hal ini menurunkan citra pelayanan pada banyak rumah sakit. Diharapkan secara bertahap citra ini akan menjadi lebih baik. Alat-alat di rumah sakit sangat bervariasi. Perbaikan sosial ekonomi dan kemajuan iptek kedokteran akan mempengaruhi perkembangan rumah sakit seperti misalnya penyediaan fasilitas dan alat di rumah sakit. Dengan berkembangnya iptek kedokteran, maka banyak ditemukan alat-alat canggih. Walaupun alat canggih tersebut dapat meningkatkan mutu pelayanan, namun banyak masalah yang dihadapi dengan banyaknya alat canggih yang ada misalnya biaya kesehatan yang dapat meningkat. Selain itu, diperlukan tenaga yang profesional untuk dapat menerapkan teknologi tersebut. Alat canggih, macam dan jenisnya sangat banyak. Departemen Kesehatan mencoba menginventarisir alat-alat canggih dan didapatkan data sementara (tahun 1990) bahwa alat canggih lebih banyak di rumah sakit swasta dari pada rumah sakit pemerintah. Sebagai contoh di rumah sakit pemerintah MRI = 1, CT scan = 5 dan ESWL = 1, sedangkan di rumah sakit swasta MRI = 2, CT scan = 10, ESWL = 9. Ternyata utilisasi (pemanfaatan) alat-alat canggih tersebut masih cukup rendah (35%). Hasil rangkuman pengkajian diagnosis rumah sakit yang dibiayai oleh Usaid mendapatkan data bahwa pada umumnya rumah sakit telah memiliki perangkat kemampuan maupun pengetahuan teknis untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kelasnya, meskipun perangkat di rumah sakit tersebut masih sederhana. Pelayanan dengan menggunakan alat-alat kadang-kadang terganggu, sebab-sebab gangguan adalah : • Pemeliharaan sarana tidak memadai, di antara rumah sakit yang dikaji, tidak satupun yang melaksanakan preventive maintenance. • Keterpaduan antara tenaga dan peralatan kurang serasi. • Alat pembantu seperti reagensia tidak tersedia pada waktunya. Pengkajian ini juga menemukan bahwa kemampuan manajemen sangat menentukan mutu pelayanan yang dicerminkan dari lama tunggu untuk memperoleh pelayanan. Contohnya ialah lama perawatan pra-bedah di rumah sakit kelas B ditemukan berkisar antara 5,8 dan 9,4 hari. Lama perawatan prabedah ini menunjukkan kurangnya koordinasi antara pelayanan penunjang seperti laboratorium, radiologi, ruang rawat dan ruang bedah. Selain itu, pengkajian diagnosis rumah sakit juga mend)

30

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

dapatkan data bahwa kelengkapan catatan medik masih terbatas sekali. Misalnya catatan mengenai penyakit terdahulu yang pernah diderita dan working diagnosis sering tidak ada. Telah dicoba untuk menilai mutu pelayanan terhadap penyakit-penyakit tertentu (tracer conditions). Upaya ini tidak berhasil karena tidak lengkapnya catatan medik. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu catatan medik belum memadai untuk dapat digunakan sebagai alat penilai mutu pelayanan medik di rumah sakit. e) Pemanfaatan Pemanfaatan rumah sakit masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan angka tingkat pemanfaatan tempat tidur yang masih rendah, yakni secara keseluruhan di bawah 55%, baik untuk rumah sakit pemerintah maupun swasta. Lima tahun terakhir pemanfaatan tempat tidur (BOR) rumah sakit pemerintah sekitar 57%, swasta 54%, sedangkan ABRI dan Departemen lain sangat rendah yaitu 45-50%. Menurut hasil penelitian Bank Dunia di Indonesia (1988) menunjukkan bahwa salah satu penyebab rendahnya pemanfaatan rumah sakit oleh masyarakat disebabkan mutu pelayanan yang rendah. Khususnya bilamana hal ini dikaitkan dengan ketenagaan yang tersedia dan pelayanan spesialistik yang ada. Data menunjukkan bahwa rumah sakit yang memberikan pelayanan bedah angka pemanfaatannya 42% lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumah sakit yang tingkatannya sama tetapi tidak memberikan pelayanan bedah. Penempatan seorang dokter ahli dapat meningkatkan angka pemanfaatan sebesar 83%. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa mutu pelayanan yang rendah merupakan faktor yang menonjol penyebab rendahnya tingkat pemanfaatan rumah sakit di Indonesia. Penempatan seorang dokter spesialis dan penyediaan fasilitas bedah di rumah sakit kabupaten dapat meningkatkan secara bermakna mutu dan juga kuantitas pelayanan. Total biaya dapat meningkat tetapi satuan biaya dapat menjadi rendah oleh karena pemanfaatan meningkat. Selama kurun waktu lima Pelita LOS dan NDR mengalami penurunan. Pada akhir Pelita I LOS =10 dan NDR = 50 dan pada tahun I Pelita V LOS = 6 dan NDR = 21. Dengan semakin rendahnya LOS dan NDR dapat diartikan bahwa mutu pelayanan di rumah sakit (diukur dengan output) bertambah baik. Pada tahun 1985, di beberapa tempat telah dilakukan evaluasi pemanfaatan rumah sakit oleh penduduk dan didapatkan angka hari rawat penduduk per tahun adalah 80 hari rawatper 100 penduduk. Sebagai perbandingan di Sri Langka adalah 161 hari rawat, di China 476 hari rawat, dan di Inggris 2000 hari rawat per 1000 penduduk. Rendahnya pemanfaatan rumah sakit di banyak tempat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kemampuan membayar dari masyarakat, sikap dan perilaku penduduk, mutu pelayanan rumah sakit, sikap dan perilaku petugas rumah sakit dan lain sebagainya. Pada pengkajian diagnosis rumah sakit ditemukan bahwa di Jawa Timur dan Bali tingkat kepuasan terhadap dokter di antara penderita asuransi kesehatan lebih rendah dibanding tingkat kepuasan penderita non peserta asuransi kesehatan. Sedangkan

di Sumatera Barat ditemukan bahwa penilaian masyarakat terhadap citra rumah sakit pemerintah lebih rendah dibanding dengan rumah sakit swasta. Kesemuanya ini tentunya mempengaruhi pemanfaatan rumah sakit. f) Peraturan Beberapa peraturan menyebabkan pula terj adinya inefisiensi dalam pengelolaan biaya-biaya yang ada. Sebagai contoh peraturan ICW mengharuskan agar semua penerimaan dari fasilitas kesehatan milik pemerintah disetorkan ke kas negara dan kemudian akan dikembalikan lagi ke fasilitas termaksud dalam bentuk anggaran rutin pemerintah pada tahun berikutnya. Cara ini memakan waktu dan birokrasi yang cukup rumit. Belum lagi biaya yang akan diterima kembali kadang-kadang jumlahnya lebih kecil dari yang disetorkan, di samping jadwal waktunya terlambat. Begitu pula anggaran yang sampai ke RS Pemerintah hanya boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang sudah sangat dirinci. Akibatnya penggunaan anggaran menjadi sangat kaku. PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN Peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat diartikan keseluruhan upaya dan kegiatan secara komprehensif dan integratif memantau dan menilai mutu pelayanan kesehatan, memecahkan masalah-masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya, sehingga mutu pelayanan kesehatan diharapkan akan lebih baik. Tinggi rendahnya mutu sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor : 1) Sumber daya rumah sakit, termasuk antara lain tenaga, pembiayaan, sarana dan teknologi yang digunakan. 2) Interaksi kegiatan yang digerakkan melalui proses dan prosedur tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan jasa atau pelayanan. Berhasil tidaknya peningkatan mutu sangat tergantung dari monitoring faktor-faktor di atas dan juga umpan balik dari hasilhasil pelayanan yang dihasilkan untuk perbaikan lebih lanjut terhadap faktor-faktor dalam butir 1 dan 2. Dengan demikian nampak bahwa peningkatan mutu merupakan proses yang kompleks yang pada akhirnya menyangkut managemen rumah sakit secara keseluruhan. Adanya berbagai aspek dan faktor yang terkait dan berperan dalam menentukan mutu pelayanan maka definisi yang tepat tentang mutu sangat sukar. Karena itu ada beraneka definisi yang dikemukakan dalam kepustakaan, tergantung dari sudut pendekatan mana yang dipilihnya. Joint Commision on Accreditation of Healthcare Organizations mendefinisikan mutu pelayanan kesehatan adalah dipenuhinya standar profesi yang baik dalam pelayanan medik dan terwujudnya hasil akhir (outcome) seperti yang selayaknyadiharapkan yang menyangkut : perawatan pasien, diagnosis, prosedur atau tindakan dan pemecahan masalah klinis. Dari definisi tersebut jelas kemudian untuk mengukur mutu diperlukan standar, kriteria dan indikator. Ada perbedaan yang relatif di antara ketiganya dalam arti konsep, namun seringkali dalam praktek istilah-istilah itu dipakai secara berbaur untuk maksud yang sama. Indikator tak lain adalah ukuran atau
31

Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994

cara mengukur sehingga menunjukkan suatu indikasi. Ia suatu variabel yang digunakan untuk bisa melihat perubahan. Indikator yang baik adalah yang sensitif tapi juga spesifik, sedangkan kriteria adalah spesifikasi dari indikator dan standar adalah spesifikasi yang eksak dan kwantitatif daripada kriteria, Dengan akan berakhirnya Repelita V, dimana kita akan memasuki tahap tinggal landas pembangunan, salah satu prakondisi yang harus dipenuhi adalah meningkatnya mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan yang nyata. Peningkatan mutu pelayanan merupakan prioritas, terutama di Rumah sakit Kelas C. Untuk meningkatkan mutu pelayanan tersebut, Departemen Kesehatan semenjak Pelita I hingga sekarang, telah melaksanakan upaya peningkatan mutu pelayanan secara bertahap. Upaya tersebut dilaksanakan melalui pembangunan sarana, prasarana, pengadaan peralatan dan ketenagaan serta perangkat lunak lainnya, sejalan dengan pembangunan rumah sakit pada umumnya. Namun demikian, disadari pula masih banyak kendala yang dihadapi, terutama yang berkaitan denhgan standar kebutuhan dan tuntutan sistem pelayanan yang masih belum selaras dengan perkembangan iptek kedokteran yang semakin pesat dimana pelayanan spesialistik dan sub spesialistik cenderung semakin berkembang. Mengingat masih adanya kendala dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan khususnya pelayanan rumah sakit maka dalam rangkapeningkatan mutu pelayanan kesehatan diperlukan perumusan tujuan, sasaran, program dan strategi di rumah sakit. 1) Tujuan
Umum

Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui program peningkatan mutu pelayanan secara efektif dan efisien agar tercapainya derajat kesehatan yang optimal.
Khusus

Tercapainya peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara efektif dan efisien melalui : – Optimasi tenaga, sarana dan prasarana. – Pemberian pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan yang dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan kebutuhan pasien. – Pemanfaatan teknologi, hasil penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan. 2) Sasaran Sasaran utama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah secara umum tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya melalui pelayanan kesehatan. Secara khusus, sasarannya adalah : – Menurunkan angka kematian – Menurunkan angka kesakitan (re admission rate untuk rumah sakit) Menurunkan angka kecacatan Penggunaan obat secara rasional Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan Efisiensi penggunaan tempat tidur, dan lain-lain.
32
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No . 90, 1994

Strategi Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit maka disusunlah sebagai berikut : 1) Rumah sakit harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip mutu pelayanan rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik sehingga dapat menyusun upaya peningkatan mutu di masing-masing rumah sakit. 2) Memberi prioritas kepada peningkatan sumber daya manusia di rumah sakit termasuk di dalamnya meningkatkan kesejahteraan karyawan, memberikan imbalan yang layak, program keselamatan dan kesehatan kerja, program diklat, dan sebagainya. 3) Menciptakan budaya mutu di rumah sakit. Termasuk di dalamnya menyusun program mutu rumah sakit, menyusun tema yang akan dipakai sebagai pedoman, memilih pendekatan yang dipakai (quality assurance, GKM, TQM, dan lain-lain). Kemudian juga menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi. 4) Intervensi pada 9 bidang pelayanan. Dalam upaya meningkatkan efisiensi manajemen dan mutu pelayanan serta meningkatkan cost recovery rumah sakit, maka pada tahun 1989 Departemen Kesehatan telah mengadakan survei diagnosis di rumah sakit kelas B, C, D dan swasta yang terletak di tiga propinsi yaitu Bali, Sumatera Barat dan Jawa Timur. Berdasarkan hasil survei, untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit perlu dilakukan intervensi pada 9 pelayanan yaitu : penyempurnaan rekam medis penyempurnaan sistem informasi manajemen penyempurnaan sistem akuntansi penyempurnaan sistem pembiayaan – penyempurnaan konsep pola penetapan tarif – penyusunan standar pelayanan rumah sakit – penyusunan standar pelayanan farmasi – penyempurnaan organisasi rumah sakit – penyempurnaan peraturan dan perundangan Sembilan intervensi ini telah mulai dilaksanakan di rumah sakit terutama yang dikonversi menjadi unit swadana. 4) a)
1)

3)

Langkah-langkah kegiatan Di tingkat nasional
Perizinan

• Sesuai dengan PP No. 1/1988 dan Permenkes No. 385/1988 tentang pelaksanaan masa bakti dan izin praktek bagi dokter dan dokter gigi, tenaga medis dalam melaksanakan tugas harus mempunyai Surat Penugasan (SP) dan Surat Izin Praktek (SIP). SP ini merupakan pengganti dari SID. • Sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, setiap sarana kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta harus mempunyai izin. Pelanggaran dari ketentuan tersebut akan mendapat sangsi bisa berupa kurungan atau denda sebesar 15 juta rupiah.
2)

Ketenagaan

• Pemberian ijasah bagi dokter yang baru lulus dan brevet keahlian kepada dokter spesialis yang telah lulus merupakan salah satu program menjaga mutu. Sedangkan untuk dokter

• Standarisasi Telah disusun standar pelayanan rumah sakit yang merupakan integrasi dari standar pelayanan medik dan terapi. . standar ketenagaan. Perbaikan terus menerus akan terjadi kalau setiap orang melakukan usaha secara terus menerus dalam memecahkan masalah yang timbul. prasarana dan peralatan sesuai dengan kebutuhan. Falsafah dasar TQM adalah perbaikan terus menerus. 4) Program-program khusus Program khusus ini dilaksanakan di rumah sakit sesuai dengan kebutuhannya. RS Husada melaksanakan pengukuran derajat kepuasan pasien. Misalnya : Rumah Sakit Dr. 4) Pembiayaan • Untuk meningkatkan citra rumah sakit Pemerintah maka rumah sakit Pemerintah mendapat biaya operasional dan pemeliharaan rumah sakit (OPRS). formularium rumah sakit. Juga ditetapkan adanya Komite Farmasi dan Terapi. anestesi dan tenaga apoteker. Direncanakan rumah sakit yang akan dikonversikan ke dalam unit swadana harus melalui akreditasi terlebih dahulu atau setidak-tidaknya menggunakan dasar-dasar akreditasi. Untuk itu ada kewajiban penggunaan obat generik di sarana kesehatan pemerintah. standar sarana. rehabilitasi medik ditempatkan untuk melengkapi RSU kelas C. dan lain-lain. teknik kamar bedah. koroner. prasarana dan keperawatan. RS Tegalyoso. 2) Manajemen Mutu Terpadu (TQM) TQM merupakan suatu sistem manajemen yang melibatkan seluruh lapisan organisasi dalam mengendalikan dan meningkatkan mutu secara terpadu. 3) Gugus Kendali Mutu (GKM) Merupakan salah satu bentuk penerapan falsafah dasar manajemen mutu terpadu yaitu melakukan perbaikan terus menerus. Soetomo Surabaya telah melaksanakan pengendalian infeksi nosokomial. Dengan adanya klasifikasi rumah sakit ini diharapkan dapat meningkatkan mutu rujukan pelayanan secara berjenjang. • Untuk meningkatkan mutu penampilan rumah sakit maka setiap memperingati Hari Kesehatan Nasional diadakan lomba penilaian penampilan rumah sakit Pemerintah maupun rumah sakit swasta. 3) Sarana. • Untuk mengatasi keterbatasan biaya operasional maka secara bertahap rumah sakit pemerintah akan dikonversikan menjadi unit swadana. Selain itu dokter spesialis mata. menilai atau me-review mutu dan kelayakan pemberian pelayanan kepada pasien. Semuanya tadi dapat memberikan gambaran tingkat pengetahuan dari berbagai macam tenaga kesehatan. dan lain-lain. dan lain-lain. 5) Program-program • Penggunaan obat secara rasional Dalam rangka meningkatkan mutu pengobatan maka obat yang ada harus digunakan secara rasional. Sedangkan sertifikat diberikan kepada tenaga medis dan paramedis yang telah selesai mengikuti penataran. saraf. Standar pelayanan rumah sakit merupakan langkah awal dari pelaksanaan akreditasi. ASI. review penggunaan obat. Kegiatan ini terutama telah dilakukan di rumah sakit pendidikan. patologi anatomi dan forensik. seminar dan latihan-latihan lainnya. Namun berlainan dengan TQM. 5) Pengembangan standar profesi Penyusunan dan evaluasi terus menerus standar profesi di rumah sakit.lulusan luar negeri harus melakukan adaptasi dulu dan untuk dokter dari Fakultas Kedokteran swasta harus ikut ujian negara dulu sebelum dapat ijasah. Walaupun manajemen mutu terpadu tersebut Iebih cocok untuk perusahaan manufaktur. Prasarana. Rumah sakit unit swadana akan diberi kewenangan mengelola penerimaan fungsionalnya sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatannya. infeksi nosokomial. medicaU surgical ICCU. PKMRS. UGD. namun ada rumah sakit yang pernah melaksanakan TQM ini. disertai dengan tenaga paramedik perawatan dan paramedik non perawatan sesuai dengan kebutuhan. dialisis. Klasifikasi • Telah disusun standar penetapan kelas rumah sakit baik untuk rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta. 1994 33 . cancer unit. Dalam tahun anggaran 1991/1992 lomba tersebut ditambah dengan lomba Gerakan Rumah Sakit Bersih. b) Di tingkat sarana pelayanan kesehatan (rumah sakit) 1) Program Quality Assurance/Quality Improvement Pada umumnya yang telah dilaksanakan adalah case review. • Untuk meningkatkan mutu pelayanan maka penempatan dokter spesialis 4 dasar di RSU kelas C lebih ditingkatkan. Juga dilakukan penempatan tenaga dokter spesialis radiologi. dalam GKM masalah yang dibahas adalah masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari dalam bekerja di tingkat pelaksana atau operator. PICU. THT. dan lain-lain. Misalnya : HMT. • Mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk tenaga medis maupun paramedis perawatan dan non perawatan. Pendidikan dan pelatihan tersebut meliputi managerial skill dan technical skill. Kegiatan GKM ini telah dilaksanakan di beberapa rumah sakit yang akan dikonversikan menjadi rumah sakit unit swadana yaitu RS Pasar Rebo. patoIogi klinik. Peralatan dan Penampilan • Rumah sakit Pemerintah dilengkapi dengan sarana. 90. perawatan ortopedi. Cermin Dunia Kedokteran. Setiap rumah sakit pemerintah maupun swasta secara bertahap diharapkan dapat menerapkan standar dan kriteria tersebut. hematologi. gigi ortotik prostetik. Misalnya: peralatan mata dan THT untuk RS Kelas C. Misalnya review kasus bedah. Selain itu dilakukan pula penelitian ulang manfaat obat yang beredar. • Akreditasi Untuk meningkatkan mutu pelayanan telah dipersiapkan standar dalam rangka akreditasi rumah sakit dan dipersiapkan instrumen dan uji coba. Edisi Khusus No.

umumnya orang tidak banyak bisa menduga tentang penyakit apa yang akan dialaminya di masa yang akan datang. Consumer ignorance Ciri yang sangat khusus adalah besarnya ketergantungan konsumer pada penyedia (provider) pelayanan kesehatan. Ciri khusus tersebut adalah sebagai berikut : 1) Kejadian penyakit tidak terduga Berbeda dengan pengetahuan orang tentang kebutuhannya akan berbagai komoditi ekonomi seperti makanan. Jakarta. yaitu : (1) pelayanan kesehatan apa yang perlu diproduksi. Oleh karena sektor kesehatan mempunyai ciri khusus yang menonjol. dan bagaimana konsumsinya serta berapa besar manfaatnya. Ciri-ciri khusus inilah yang membuat aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan muncul sebagai sub-disiplin il mu baru. Ekonomi kesehatan jugamenyangkutpertanyaan-pertanyaan tersebut. sebab itu juga tidak diketahui secara pasti pelayanan kesehatan apa yang ia butuhkan. 90. bagaimana distribusinya. yaitu dalam rangka keterbatasan sumberdaya. Providerlah (profesional) yang menentukan jenis dan volume pelayanan yang perlu dikonsumsi (jadi juga dibayar) oleh konsumer. 21 — 25 November 1993. seperti akan diuraikan berikut ini. Jakarta PENDAHULUAN Selamaini dimensi ekonomi dalamperencanaan. Oleh. 34 Cermin Dunia Kedokteran. manajemen dan evaluasi sektor kesehatan. dalam bagian pertama dibahas tentang ciri-ciri khusus tersebut. (2) berapa besar biaya produksinya. yaitu dalam suatu bentuk asuransi. 3) Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak Para politisi dan pakar ilmu sosial termasuk ekonom dan 2) . Perubahan mendasar terjadi selama dua dekade terakhir. Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo . (4) bagaimana utilisasi pelayanan kesehatan (siapa yang menggunakan dan berapa banyak) dan (5) berapa besar manfaat (benefit) investasi pelayanan kesehatan tersebut. banyak asumsi-asumsi yang lazim dipergunakan dalam telaah ekonomi tidak berlaku untuk sektor kesehatan. khususnya pelayanan rumah sakit. Ilmu ekonomi sendiri pada dasarnya adalah ilmu tentang pilihan.Aspek Ekonomi Pelayanan Kesehatan Ascobat Gani Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 1994 CIRI SEKTOR KESEHATAN Seperti dikemukakan di atas. menyebabkan asumsi-asumsi tertentu dalam ilmu ekonomi tidak berlaku atau tidak seluruhnya berlaku apabila diaplikasikan untuk sektor kesehatan. yaitu pilihan tentang komoditi apa yang perlu diproduksi (kebutuhan manusia). dan lain-lain. Dalam bagian ke dua disampaikan aspek produksi (supply) dan konsumsi (demand) pelayanan kesehatan (khususnya RS). Sifat atau ciri khusus tersebut.rofesional tersebut sama sekali lepas dari pertimbangan biaya dan kemampuan membayar si pasien. yaitu ketika sektor kesehatan menghadapi kenyataan bahwa sumberdaya yang tersedia (khususnya dana) semakin hari jumlahnya semakin jauh dari mencukupi. Makalah ini khusus menyoroti aspekproduksi dan konsumsi pelayanan kesehatan. Adanya ketidak pastian (uncertainty) ini berarti seseorang menghadapi suatu risiko (risk) akan sakit dan oleh karenanya juga risiko harus mengeluarkan biaya pengobatan. Kesadaran akan adanya risiko inilah yang mendorong orang untuk mau secara bersama-sama menanggungnya. bagaimana memproduksinya. Edisi Khusus No. rumah. (3) bagaimana mobilitasi dana kesehatan (siapa yang membayar dan berapa besar). Oleh sebab itu. pakaian. Seringkali keputusan p. Ini disebabkan karena umumnya konsumer tersebut tidak tahu banyak tentang jenis pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukannya. manajemen dan evaluasi pelayanan kesehatan jarang atau sedikit sekali mendapat perhatian. Keterbatasan sumberdaya tersebut mendorong masuknya disiplin il mu ekonomi dalam perencanaan. yang merupakan inti pokok makalah ini. aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan perlu memperhatikan sifat atau ciri khusus sektor kesehatan.

Misalnya. secara ideal memperoleh untung maksimum (profit maximization) bukanlah tujuan utama pelayanan kese- hatan. Analisis biaya RS misalnya menunjukkan bahwa komponen tenaga tersebut bisa mencapai antara 40-60% dari keseluruhan biaya. misalnya dalam bentuk Yayasan. Sebagai misal. sering kali sektor kesehatan ada pada urutan bawah dalam skala prioritas pembangunan. perawatan. Memang efek eksternal tersebut bervariasi antar berbagai jenis pelayanan kesehatan. kalau penduduk employed di usaha produktif. Sedangkan pelayanan kuratif. terlepas dari kemampuan seseorang untuk membayarnya. paling tidak untuk jangka panj ang.). Ini berarti bahwa sektor kesehatan adalah sektor yang bersifat padat karya. terutama setelah pemilik modal dan dunia bisnis melihat sektor kesehatan sebagai peluang investasi yang menguntungkan. Itulah sebabnya. 7) Mix outputs Cirilain adalahbanyaknya ragam "komoditi" yang dihasilkan daari berbagai program kesehatan. Eksternalitas Ciri khusus lainnya adalah efek eksternal yang ada dalam penggunaan pelayanan kesehatan. yaitu bagi penduduk yang tidak mampu. Edisi Khusus No. Kecenderungan spesialisasi dan superspesialisasi menyebabkan komponen tenaga dalam pelayanan kesehatan semakin besar. 5) Motif non-profit Walaupun dalam praktek ada industri kesehatan yang memperoleh untung. Yang dikonsumsi oleh pasien adalah satu paket pelayanan: sejumlah pemeriksaan diagnosis. Pelayanan ini sering disebut sebagai private good. pembangunan kesehatan jelas memberikan return on investment yang dapat diukur. iklan. maka pembangunan sektor kesehatan sesungguhnya adalah suatu investasi. Demikian pula. Bahkan manfaat yang diterima orang banyak tersebut secara kumulatif jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya untuk immunisasi individu bersangkutan. seperti misalnya rumah sakit tertentu milik swasta. yaitu hasilhasil penelitian serta pendidikan dan latihan tenaga kesehatan. Memang umumnya pelayanan kesehatan pada mulanya diselenggarakan dengan motif sosial. sehingga digolongkan sebagai "komoditi masyazakat" atau public good. senantiasa mempertimbangkan implikasinya terhadap issu equity tersebut. menurut perhitungan ekonomi. Keadaan ini menyebabkan analisis demand terhadap pelayanan kesehatan menjadi kompleks. pakaian. efek ekstemal adalah dampak (positif atau negatif) yang dialami orang lain sebagai akibat perbuatan seseorang. Dalam ekonomi dikatakan bahwa social marginal benefit yang diperoleh dari immunisasi j auh lebih besar dari pada private marginal benefit bagi individu tersebut. wujud kompetisi adalah kegiatan pemasaran (promosi. upaya kesehatan bisa juga menghasilkan output lain. Untuk jangka pendek pun. 90. Sebaliknya pelayanan kesehatan yang tergolong sebagai private good hendaknya dibayar atau dibiayai sendiri oleh penggunaannya atau oleh pihak swasta. Ini menyebabkan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan tidak bisa sesempurna mekanisme pasar untuk komoditi lain. Kebijaksanaan dan program untuk menyesuaikan tarif pelayanan kesehatan seperti sekarang ramai dilakukan. upaya kesehatan terlihat sebagai sektor yang konsumptif. 1994 35 . dll. Di samping pelayanan kesehatan. lebih-lebih pelayanan yang bertujuan kosmetika. oleh karena bisa terjadi keadaan demand seseorang (dalam arti kemauan membayar) tidak tinggi dibandingkan dengan demand untuk pelayanan kuratif yang tidak mempunyai efek eksternal. Dalam sektor kesehatan tidak pernah terdengar adanya promosi discount atau bonus atau "banting harga" dalam pelayanan kesehatan. EKONOMI PELAYANAN KESEHATAN Aspek Produksi (Supply) Cermin Dunia Kedokteran. tempat tinggal dan hidup sehat adalah elemen kebutuhan dasar manusia yang harus senantiasa diusahakan untuk dipenuhi. terutama kalau titik berat pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Namun sekarang ini terjadi perubahan orientasi. eksternalitasnya umumnya kecil. Seperti diketahui. immunisasi yang dilakukan seseorang untuk mencegah penyakit menularjuga akan memberi manfaat kepada masyarakat banyak.profesional kesehatan berpendapat bahwa makan. Restriksi berkompetisi Ciri khusus selanjutnya adalah pembatasan praktek kompetisi. 4. tidak memberikan return on investment secaza jelas. Ada pendapat yang mengatakan bahawa pelayanan kesehatan yang bersifat public goodseyogyanya mendapat subsidi ataubahkan disediakan oleh pemerintah secara gratis. Oleh sebab itu. dalam pentarifan RS berkembang pemikiran perlunya cross subsidy untuk pemerataan. 6) Padat karya Otomatisasi ternyata tidak membuat pelayanan kesehatan semakin bebas dari input tenaga manusia. Dalam mekanisme pasar (intervensi pemerintah kecil). kebijaksanaan subsidi adalah dalam rangka menjamin hak tersebut. pemerintah perlu menjamin agar program-program semacam immunisasi betul-betul dapat terlaksana. seperti misalnya pelayanan RS. Ini menyebabkan distribusi pelayanan kesehatan sering sekali dilakukan atas dasar kebutuhan (need) dan bukan atas dasar kemampuan membayar (demand). 9). Paket tersebut bervariasi antar individu dan sangat tergantung pada jenis penyakit. terapi dan nasihat kesehatan. Pelayanan yang tergolong pencegahan umumnya mempunyai eksternalitas besar. 8) Upaya kesehatan sebagai konsumsi dan investasi Dalam jangka pendek. Ini menyebabkan issu pemerataan (equity) sangat menonjol dalam penyediaan pelayanan kesehatan. Pendapat umum yang secara tradisional dianut adalah "orang tidak layak mengambil keuntungan dari penyakit orang lain". Namun kalau orientasi pembangunan pada akhirnya adalah pembangunan manusia.

Seperti nanti dijelaskan. yaitu melalui Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Anggaran pusat untuk kesehatan turun sebesar 45% antara 1982/83 sampai 1987/88. Jelas bahwa jenis pelayanan kesehatan primer tidak memberi peluang banyak untuk maksud 36 Cermin Dunia Kedokteran. Secara nominal. peran pemerintah memang sangat dominan. Ini menunjukkan bahwa untuk pelayanan primer. yaitu (1) peran dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan (2) peran dalam menyelenggarakan pembiayaan kesehatan. 19.25%) yang disediakan oleh pemerintah dan sisanya sebanyak 52. Namun kalau dihitung menurut harga konstan. yakni antara 66-67 TTI 100.140 TT (45. Data tersebut mencakup waktu dari tahun 1984 sampai 1988. Namun sejak turunnya harga minyak pada tahun 1982 dan meningkatnya beban hutang. pemberantasan malaria. Dengan cara ini diharapkan beban pemerintah untuk memberikan subsidi berkurang. Hal tersebut dapat digambar dalam matriks sebagai berikut: Pelaksana program dan Pelayanan Pembiayaan Pemerintah Swasta A C B D 2) Pemerintah Swasta . Sebagai contoh. atau kalau bisa lebih dari biaya yang dikeluarkan. sehingga ancaman defisit neraca neraca pembayaran juga bisa dikurangi. termasuk industri pelayanan kesehatan. karena memang peranan anggaran pusat cukup dominan. pihak swasta akan sulit bersaing karena subsidi yang diberikan oleh pemerintah untuk pelayanan primer tersebut sangat tinggi.000 penduduk.Ada beberapa issu pokok yang menonjol akhir-akhir ini sehubungan dengan produksi atau supply pelayanan kesehatan. yakni 1. di samping berbagai program kesehatan masyarakat seperti imunisasi. Maka dapat dimengerti bahwa ratio TT 100. terutama di pedesaan.2%) adalah milik swasta. Berikut ini disampaikan perkembangan situasi penyediaan pelayanan kesehatan (supply) pelayanan kesehatan yang tidak lepas dari perkembangan kebijaksanaan di bidang ekonomi.072/kapita/tahun. pihak swasta pada umumnya tertarik pada pelayanan kesehatan yang menjamin kesinambungan usahanya.310 TT (54. 90. dan peranan BLN sebesar 5.8%) adalah RS pemerintah dan sisanya sebanyak 370 (54. Keadaan tahun 1985 tersebut sudah menunjukkan bahwa fihak swasta memang lebih tertarik melakukan investasi di bidang pelayanan RS. juga tidak terjadi peningkatan yang berarti. 313 (45. ada dua peran pokok yang dapat dilakukan oleh semua fihak. Dalam Tabel 1 disajikan data perkembangan jumlah RS.75%) disediakan oleh fihak swasta.450 TT. Perluasan jangkauan ini sangat menonjol semasaboom minyak pada tahun 1970 sampai awal tahun 1980'an. Sampai tahun 1988 tercatat 5549 Puskesmas dan 12913 Puskesmas Pembantu yang sudah didirikan oleh pemerintah. khususnya rumah sakit. Perbaikan tersebut tidak terlepas dari keberhasilan Indonesia memperluas jangkauan pelayanan kesehatan sampai ke pedesaan. 8.9%l tahun. Edisi Khusus No.000 penduduk selama kurun waktu tersebut hampir tidak berubah. Ini sangat besar dampaknya terhadap program kesehatan pemerintah. Bentuk operasional kedua adalah memberi peluang dan mendorong pihak swasta untuk turut serta dalam penyediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan. Bentuk operasional pertama kebijaksanaan tersebut adalah penyesuaian tarif pelayanan.000 penduduk untuk seluruh Indonesia dan untuk masing-masing propinsi. Bagaimana gambaran perkembangan industri pelayanan kesehatan selama periode adjustment policy tersebut ? Perkembangan sarana pelayanan kesehatan Industri pelayanan kesehatan di Indoensia ditandai oleh dominasi pemerintah sebagai penyedia pelayanan kesehatan primer (Puskesmas dan Puskesmas Pembantu) serta kombinasi seimbang antara pemerintah dan swasta untuk pelayanan kesehatan sekunder (RS). 10. Dampak krisis ekonomi terhadap sektor kesehatan. sedangkan tarif yang dikenakan kepada pasien hanya Rp 300 sampai Rp 500. Di sini masyarakat. seperti pendidikan dan kesehatan. akan tetapi pertambahan jumlah TT hanya mencapai 1. pengeluaran masyarakat untuk kesehatan pada tahun 1982/83 adalah Rp. kenaikan tersebut hampir tidak berarti. Bahkan sejak 1983. gerakan masyarakat dalam menyelenggarakan Posyandu mempercepat naiknya cakupan program-program pencegahan penyakit. kesehatan lingkungan.9%/ tahun. yaitu rata-rata 59. turun menjadi 71/1000 pada tahun 1985 dan kini diperkirakan telah turun lagi sampai 56/1000. penyuluhan kesehatan dan lain-lain. terjadi karena adanya strategi yang dianut banyak negara berkembang untuk mengurangi peranan pemerintah dalam memberikan subsidi untuk sektor sosial. Dari data tersebut dapat dihitung bahwa selama kurun waktu tersebut jumlah RS bertambah rata-rata sebesar 3.4%).085/kapita/tahun dan akhirnya naik lagi menjadi sekitar Rp. Artinya. 3) Pergeseran peran pemerintah dan swasta Dalam industri pelayanan kesehatan. jumlah TT dan Ratio TT/100. naik menjadi Rp.000/kapita/tahun pada tahun 1992. alokasi anggaran pemerintah untuk kesehatan menjadi semakin ketat. Dari segi jumlah tempat tidur. guna meningkatkan cost recovery rate pelayanan. Pertumbuhan jumlah TT ini boleh dikatakan sama dengan laju pertumbuhan penduduk. yang pada akhir tahun 1960'an adalah 132/1000.6%. ada sebanyak 43. baik pemerintah maupun swasta.4%) dan Dati II (15. atau users fee.2%/ tahun. Angka kematian bayi. 1994 tersebut. 1) Situasi sejak kebijaksanaan penyesuaian ekonomi Selama dua dekade yang lalu terjadi perbaikan derajat kesehatan yang sangat mengesankan di Indonesia.6% dibandingkan dengan peranan propinsi (19. dari total 95. Di bidang pelayanan primer. Untuk RS situasi pada tahun 1985 menunjukkan bahwa dari total 683 RS yang ada di Indonesia. swasta akan memilih jenis pelayanan yang memungkinkan diperolehnya pemasukan paling tidak sama dengan biaya. biaya satuan pengobatan rawat jalan di Puskesmas adalah Rp 1700.

JawaBarat 11.3 75.2 116. Sulut 22.9 118.2 120. Sulteng 23.7 56. 90. yang tergolong kategori (B) dalam matriks di atas. seperti cleaning service.1 84.9 69.3 137.1 42. sesuai dengan motivasi masing-masing. RS-X Gedung Alat Non-medis Alat Medis + Penujang Medis 140.9 79.9 50.500.1 101.2 130 62 34 132.3 82.4 93.6 54.1 114.000 Penduduk 1987 1600 11141 3504 1566 999 1985 19 1986 19 130 62 1987 19 129 66 39 1984 1485 12247 2939 1985 1508 12193 3160 1487 965 1986 1600 11080 3338 1528 1005 3940 1988 1612 11022 3431 1600 893 4391 394 1892 1984 50. Puskesmas Pembantu. laboratorium klinik.2 57. rumah bersalin.9 4071 354 1814 4152 394 79.5 56.8 109.1 44.2 56. Riau 5.5 36.9 54.3 54. tampak bahwa biaya personil dan biaya obat merupakan kompo- Cermin Dunia Kedokteran.4 55. Depkes R1. KalimantanBarat 18.9 179. -NTT 17.4 84.9 50.6 72.2 66.7 1885 15196 12546 16066 3337 15644 12876 16523 3493 179.7 71.8 52.1984 -1988. atau pelayanan kesehatan untuk peserata asutansi kesehatan swasta oleh fasilitas pemerintah.5 66.2 1592 1944 2914 1090 5639 680 1584 1644 2032 2902 1149 5726 61.9 82.1 33. SumatraUtara 3. Yanmedik.397.1 37. Tempat Tidur dan Ratio TT/100.2 82.1 90.5 24.4 108.8 31 203 143 223 38 160 22 14 25 26 169 113 193 35 119 199 37 188 119 199 37 157 22 14 25 25 31 214 144 225 158 22 157 22 14 25 25 14 25 22 33 42 166 25 1780 13592 11039 15232 3018 16671 2214 762 14162 11231 15451 3137 16988 2156 786 364 1811 14643 11950 15660 3217 17236 2207 55.1 75.2 62.6 58. baik pemerintah maupun swasta akan melakukan eksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang paling menarik.776.1 66. Sultra 25.000 Penduduk Menurut Propinsi di Indonesia.6 112. Peranan swasta bisa berbentuk penyediaan pelayanan yang biayanya ditanggung oleh pemerintah. Tampak bahwa perbandingan antara biaya investasi tahunan dengan biaya operasional dan pemeliharaan 1:8. praktek dokter dan bidan.1 38.6 52.7 54.3 68. SumatraBarat 4. Lampung 9. 1. untuk RS di Indonesia. 4) Inflasi biaya Elemen biaya RS secara garis besar dibagi dalam (1) biaya operasionaldan pemeliharaan dan (2) biaya investasi.4 113. masa pakai dan laju inflasi dihitung. KalimantanSelatan 20.000 banding Rp.8 38. Sulsel 24.2 60. Yang termasuk dalam kategori (A) dalam matriks tersebut misalnya adalah RS. DI.4 89.4 50.5 25.1 110. Maluku 26. NTB 16.swasta.8 61. JawaTengah 12.8 88.6 53.4 54.6 13 21 23 5 13 21 23 5 13 21 23 5 13 21 24 10 1499 1404 1545 464 108307 1460 11539 439 1433 1470 386 715 1646 1539 1521 335 510 116757 89.7 94.5 107. Jumlah Rumah Sakit Propinsi 1. Timor Timur Indonesia 1984 19 129 57 30 Jumlah Tempat Tidur 1988 19 132 59 37 Ratio TT/100. Edisi Khusus No .1 62.2 1986 52 86. Angka biaya investasi yang disampaikan pada Tabel 3 adalah nilai sekarang (present value) biaya investasi untuk satu tahun (annualized fixed cost). di mana harga beli.4 108. Misalnya adalah pelayanan-pelayanan yang dikontrakkan kepada fihak swasta.3 80.9 115.9 83.7 129.3 81.70% 3.511. IrianJaya 27.3 83.7 66.3 36. 1994 37 .1 126.8 1312 1367 1367 1456 110318 111456 114318 66. pelayanan atau pelaksanaan upaya kesehatan dapatdilakukan oleh pemerintah sedangkan biayanyadari swasta.2 37. Nampaknya dalam tahun-tahun mendatang.1 118.8 36.566 62.Yogyakarta 13. pengoperasian pavilun swasta di RS Pemerintah.1 114.8 65.00% 224.782 Dalam kelompok biaya operasional dan pemeliharaan.4 179.1 67.4 46.3 1988 50.3 54. Bali 15.7 68. Dari matriks tersebut dapat dilihat bahwa pergeseran peran antara pemerintah dan swata dapat terjadi dalam berbagai kemungkinan.2 40. JawaTimur 14.736.8 72.8 38. Selanjutnya.5 74.1 56.Tabel 1.013).1 52. Pembiayaan tersebut bisa juga dilakukan oleh sebuah asuransi kesehatan.89% 33.6 81.6 59.7 59.3 54.4 27.3 86. Aceh 2.5 52. yaitu kategori (C).1 118.4 179. KalimantanTimur 21. Contohnya adalah pembayaran langsung oleh pasien di fasilitas Pemerintah.3 103.9 36. Contohnya adalah pembayaran oleh pasien atau perusahaan swasta kepada fasilitas swasta (RS. Jambi 6. Tabel 2 dan Tabel 3 menyajikan daftar elemen biaya tersebut. dan lain-lain.4 29. Biaya Investasi Tahunan.7 (atau 224.5 70.7 Sumber : Ditjen.1 115.8 27.9 17384 2278 783 14 25 23 14 25 26 1537 1992 552 14 25 22 31 14 25 22 33 14 25 24 32 17 78 13 24 25 14 73 12 20 23 5 14 73 14 73 31 17 79 1369 1828 3171 749 5455 575 1579 1974 477 1422 1865 3103 951 5387 659 816 1600 1988 533 1585 1950 3035 992 5465 624 1682 1980 534 17609 2361 843 1756 2010 524 105.5 54.5 73. DKIJaya 10.1 25. tahun beli.2 70. Jumlah Rumah Sakit. Akhirnya ada pula kategori (D). SumatraSelatan 7.6 68.4 21 37 7 30 21 37 7 28 188 34 21 37 7 28 21 37 7 21 55 7 1302 918 4162 307 59.1 118.7 1987 50. seperti juga ditemukan pada banyak RS lain.5 81. yaitu baik pembiayaan maupun pelayanan kesehatan dilakukan oleh swasta.1 67.41% 100.9 28.999.1 61.3 109.149 74. berikut contoh hasilnya dari sebuah RS-X. Angka-angka untuk RS tersebut adalah tipikal. KalimantanTengah 19. (Tabel 2 dan 3 ) Tabel 2 .2 179.3 53.3 1985 50.1 85.2 26.7 25.7 59.962. program-program kesehatan masyarakatan yang baik pembiayaannya maupun penyelenggaranya adalah fihak pemerintah.4 53.1 55. Bengkulu 8. pemeliharaan alat dan lain-lain. Puskesmas.5 57.067 8.8 30.

38 Tabel 5.485 46.246. Partus I II IIIa IIIb Operasional 8265 17941 20202 13532 UC UC Inves.11 25.41 18. Di samping itu perkembangan teknologi canggih dan penggunaan fasilitas non medis dalam pelayanan RS juga merupakan faktor pendorong inflasi.56 181.366.26 269.52 174.95 159.555. Di USA. Sedangkan tarif yang berlaku adalah antara Rp.45% atau keduanya sudah mencakup 77.70 136.46 62.050 24.000.00 153. Tarif rendah tersebut juga terdapat pada beberapa RS swasta. Biaya Satuan.013 Persen 57.49 2.49 UC Nama Unit R. 3. menimbulkan beberapa permasalahan.37 304. OP Th. Edisi Khusus No.04 0.33 263.115 1.13 135. Untuk rawat nginap.96 27698 19557 17926 8539 12285 1195 2275 444 39983 20752 20201 8983 13907 10709 25540 20868 42930 55136 1888 709 7022 1946 5824 3581 1-5795 11418 32562 22814 48754 58717 tarif rawat nginap di RS tersebut lebih rendah daripada biaya satuannya.572.384 93. 111 . karenamasyarakatyang lebih mampu umumnya lebih memiliki akses ke RS tersebut.15 20.14 102. Pertama.28 52.80 123.53 28.26 30. Biaya Operasional dan Pemeliharaan RS-X Klasifkasi Personalia Farmasi Gizi Gedung Lingkungan Administrasi Lab. Klinik Rontgen Umum Tranfusi Darah Rumah Tangga Lab.27 35.27 0.529 33.33 52.348 91. Yang unik dalam hal biaya kesehatan adalah laju inflasinya yang sangat tinggi.73 102.03 89.50 346. RS-X Unit Cost Operasional 1920 1845 722 929 9618 1598 13276 3766 1661 2994 2050 1570 1269 3117 Unit Unit Cost Cost Inves. 5) Pentarifan dan cost recovery Umumnya tarif RS pemerintah di Indonesia sangat rendah.000 sampai Rp.15% dan 20.Total tasi 231 198 99 178 894 146 1149 1001 494 507 298 196 110 166 2151 2043 821 1107 10512 1744 14425 4767 2155 3501 2348 1766 1379 3283 Cost Recovery % Thd. RS-X Cost Recovery % Thd.133 401. 2.13 179. diperkirakan laju inflasi tersebut mencapai 12 sampai 14%. Tot Nama Unit Poli Umum PoliMata Poli THT Poli Kulit Poli Jiwa Poli Anak Poli P.82 54. 90.500 716. 8. Dlm.01 80.13 35.77 100.25 109. Namun ini bukan berarti pelayanan rawat jalan secara keseluruhan memberikan profit.29 76.60% dari keseluruhan biaya).24 197.97 41. Dlm Kls.962. yang berarti adanya subsidi bagi pengguna pelayanan kesehatan.46 70.52 0.75 44.160 15.45 18.Rp.78 143.51 225. Biaya Satuan.72 66.74 122. inflasi tersebut mencapai 18% pertahun.51 83.83 127.400 10. Kls.93 69.171.27 230.15 14.50 121.051.248.71 1.45 4. tarif dan cost recovery rate rawat jalan di RS tersebut adalah 118%.77 3. 4.01 293.83 66.38 150. 1994 .02 nen biaya terbesar (masing-masing sebesar 57.43 90. Di Indonesia. 111 a&b P. 11 P.40 33.53 1. ternyata cost recovery ratenya lebih kecil dari 100% (rata-rata sekitar 89%). 11 Bedah Kls.66 4.09 17. 111 a&b VIP/Kls. 111 Bedah Kls.68 139.579.99 41.99 156. yaitu sekitar 2 kali laju inflasi ekonomi.639 30. Pada Tabel 4 dan Tabel 5 disampaikan angka-angka yang menunjukkan biaya satuan.01 71. Rendahnya tarif tersebut.84 23.41 106.000 .55 26.0 Tabel 4. yaitu 3 sampai 4 kali laju inflasi ekonomi.91 123.854. Dengan perkataan lain.580 68.121.03 108. Tot 120. Post Partum Ruang Bayi Anak Kelas 11 Anak Kls .34 15.29 1.084.53 40. jauh lebih tinggi daripada inflasi ekonomi secara keseluruhan. Dalam Poli Jantung Poli Gigi Mulut Poli Syarat Poli Orthopedi Poli Bedah Poli Kebidanan & KB Poli Kandungan Tarif (Rp) 1500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 Ratarata -> 78. Angka ini juga menunjukkan bahwa industri RS memang bersifat padat karya.03 28. OP Th.47 141.21 134. yang tarifnya ditentukan melalui PeraturanDaerah (Perda) di daerah RS tersebut berada.15 118. maka merekalah yang lebih potensil menikmati subsidi dibandingkan dengan ma- Cermin Dunia Kedokteran. karena adanya surplus atau defisit ditentukan oleh tingkat penggunaan masing-masing poliklinik tersebut.Tabel 3.77 56.35 17. Patologi Anatomi EKG Lain-lain Total Besar Biaya 1.000.543. Tarif dan Cost Recovery Rawat Nginap.44 116.40 158.407. 11 Obgyn Kls. Antara lain adalah meningkatkan demand sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kenaikan pendapatan serta pendidikan.Total tasi 1884 691 2531 1048 10149 19632 22733 14580 Tarif (Rp) 10000 7500 25000 6000 3000 25000 6000 25000 6000 3000 3000 25000 6000 3000 75000 60000 75000 75000 60000 30000 10000 Ratarata 98.35 1. Studi biaya operasional dan pemeliharaan pada 12 RS pemerintah yang dilakukan oleh Unit Analisis Kebijaksanaan Depkes RI menunjukkan bahwa biaya satuan operasional dan pemeliharaan (tanpa biaya investasi) untuk Rawat Nginap kelas III rata-rata berkisar antara Rp. Bahkan tarif tersebut masih lebih rendah dari pada biaya satuan operasional dan pemeliharaan (biaya satuan tanpa biaya investasi). Banyak faktor yang menyebabkan inflasi tinggi tersebut.66 287.650 25. Tarlf dan Cost Recovery Rawat Jalan .397.79 33. I Utama Kelas I/b ICU/ICCU Kmr. a&b Obgyn Kls.19 51.

maka ada sekitar 70 juta penduduk yang sebetulnya berada di sekitar garis kemiskinan tersebut.772. karena makin banyak penduduk bekerja di sektor formal dan makin banyak pula penduduk yang mampu dan mau membayar premi JPKM. 90. Kalau hal yang sama terjadi di Indonesia. 2) Dampak pertumbuhan GNP Implisit dari uraian butir 1 di atas adalah kesimpulan bahwa efektivitas dan kesinambungan investasi pelayanan kesehatan oleh swasta (khususnya rumah sakit).899 69. Katakanlah segmen 70 juta penduduk yang berada di sekitar garis kemiskinan dan yang ada di bawah garis kemiskinan.10 tahun terakhir.655 1. ASPEK KONSUMSI (DEMAND) 1) Gambaran umum penggunaan RS Data Susenas 1990 memungkinkan analisis tentang pola penggunaan RS oleh penduduk Indonesia. Hasil analisis tersebut disampaikan pada Tabel 6 berikut. terjadi pula fenomena penggunaan subsidi oleh kelompok yang lebih mampu.541.syarakat yang kurang mampu. Transisi tersebut akan menghasilkan bertambahnya kebutuhan (need) terhadap pelayanan RS.10 tahun mendatang. Skenario kedua. Tampaknya inilah yang sedang terjadi selama 5 . di mana terjadi (juga sedang terjadi) pembangunan rumah sakit mewah di kota-kota besar seperti Jakarta. masyarakat kemudian cenderung menggunakan fasilitas pelayanan swasta. ada 15% (sekitar 27 juta) penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Perkembangan dan aplikasi peralatan medis tersebut memang berlangsung sangat cepat. Statistik RS menunjukkan makin banyaknya kasus-kasus kardiovaskuler. Diketahui bahwa peserta asuransi atau jaminan pemeliharaan kesehatan secara umum adalah kelompok yang tingkat sosial-ekonominya sudah lebih baik. diabetes.414 1. Kalau ini terjadi.976 474. sekaligus standar harga.320 345.876 176. Edisi Khusus No. Bandung. Depkes RI Angka dalam Tabel 6 menunjukkan bahwa bila pendapatan pendudukmembaik.2432 466. renal failure. Kalau . Situasi sekarang. kejenuhan pasar nampaknya tidak lama akan terjadi.168. yang ditentukan oleh tingkat pendapatannya.359 204. 371. Pengalaman Thailand patut ditelaah. Pola Rawat Nginap. Keadaan ini akan memacu perkembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Kedua. Dari kacamata Cermin Dunia Kedokteran. Surabaya. maka investor di bidang perumah sakitan akan mempunyai posisi berbeda. 700 di desa. akan berkurang sebanyak 50% dari keadaan sekarang selama 5 . maka pangsa pasar bagi pelayanan RS swasta akan terbatas di kota-kota besar. dan lain-lain. Unit AKEK. Dalam skenario ini. juga akan menjga kelangsungan hidup investasi swasta tersebut.2 % 41 22 22 16 100 535. akan tetapi provider tersebut akan berhadapan dengan JPKM yang "menguasai" sistem pembiayaan.4 123. Dalam skenario ini tidak berlebihan kalau juga disebut tentang kemungkinan meledaknya wabah AIDS. 510.230. yang sebetulnya bisa inklusif baik dalam skenario pertama maupun kedua. Skenario pertama. sangat dipengaruhi oleh adanya demand masyarakat. Ada beberapa skenario yang bisa diproyeksikan untuk masa yang akan datang. Semarang. pertumbuhan GNP tidak diikuti dengan proses pemerataan pendapatan secara cepat. Konsumsi pelayanan alat canggih Sehubungan dengan aspek konsumsi pelayanan kesehatan. dan lain-lain yang dirawat. distribusi pendapatan ini tidak cepat berubah. gambaran seperti di Thailand bukan tidak mungkin akan terlihat juga di Indonesia. JPKM akan muncul sebagai sosok kekuatan baru dalam transaksitransaksi penawaran danpermintaan pelayanan kesehatan. pihak penyelenggara Asuransi Kesehatan atau Badan Pengelola Sistem Jaminan Pemeliharaan Kesehatan akan me"maksa" RS bersangkutan untuk menggunakan tarif yang rendah tersebut. adalah terjadinya proses transisi epidemiologis yang lebih cepat mengikuti peningkatan pendapatan penduduk.1 Sumber : Ridwan Malik. Medan. 1994 39 3) .530 417.337 2. Di sisi lain.069 1. Diketahui pula bahwa tingkat penggunaan pelayanan kesehatan oleh peserta asuransi atau jaminan pemeliharaan kesehatan adalah lebih tinggi. yaitu jaminan pembayaran jasa pelayanan. JPKM misalnya akan datang dengan standar prosedur dan standar mutu pelayanan. pihak investor swasta akan sangat bersaing satu sama lain. pemerataan pendapatan akan mengalami percepatan.407. Kota dan Desa. 1000 di kota dan Rp. bagaimana sekarang ini tempat tidur RS milik pemerintah sampai tingkat kabupaten sebagian besar dihuni oleh penderita AIDS.666 760. Tabel 6. Ini terlihat misalnya dari angka bahwa 34% penduduk kota yang pernah dirawat memilih RS swasta. Ada asumsi yang menyatakan bahwa investasi alat canggih tersebut memang diperlukan karena makin banyaknya penyakit-penyakit degeneratif dan kardiovaskuler yang memang memerlukan teknologi tinggi. Jadi perkembangan tersebut. walaupun akan menghambat perkembangan swasta ke arah industri kesehatan yang bersifat profit maximization. Kalau batasnya dinaikkan menjadi Rp. 882. Dengan perkataan lain. 1990 Urban Tempat Tidur RS Pemerintah RS Swasta Puskesmas Rumah Petugas Total Penduduk % Jml. Dengan demikian.421 275. Provider pelayanan kesehatan tidak lagi berhadapan dengan individu (yang umumnya ignorant dan dalam posisi lemah di hadapan profesional). Skenario ke tiga. berkembangnya JPKM dan asuransi kesehatan sebetulnya memberikan semacam assurance bagi industri pelayanan kesehatan.671 1.981 % 36 15 30 20 100 Total Jml. menarikuntuk disampaikan issu penggunaan alat-alatkedokteran canggih.446 56. seperti misalnya terjadi di kota dibandingkan di desa. 895 % 49 34 7 9 100 Rural Jml. dibandingkan dengan hanya 15% di pedesaan.884 262. lebihlebih alat elektromedik yang semakin efektif dengan presisi tinggi karena memanfaatkan sistem komputer. yang bertempat tinggal umumnya di luar kota.

Dari segi supply dan demand. Kapasitas terpakai beberapa alat canggih. Press. Edisi Khusus No. misalnya oleh organisasi perhimpunan RS. apakah hasil diagnosis diikuti dengan tersedianya teknologi atau kemampuan pengobatan.6 67. Pusat Data Kesehatan. KEPUSTAKAAN 1. The Economics of Health. Jakarta 7 . yaitu sebagai berikut : 1) Pelaksanaan utilization review (UR) secara berkala terhadap PENUTUP Dalam makalah ini telah disampaikan secara ringkas tentang (1) ciri khusus sektor kesehatan. perbaikan tingkat pendapatan dan ekonomi). termasuk kelayakan ekonomis. Ascobat. Oktober 1989. 6. Profil Kesehatan Indonesia. 1991. keadaan ini bisa menyebabkan meningkatnya unnecessary procedures. 9. nampak bahwa laju pertambahan penyediaan pelayanan RS tertinggal dibanding dengan laju pertambahan penduduk serta peningkatan kebutuhan akan pelayanan RS (akibat transisi epidemiologis. 10. studi tersebut j uga mengungkapkan bahwa pengadaan alat canggih di suatu RS lebih banyak didasarkan pada pertimbangan profesional daripada pertimbangan ekonomis. karena suku cadangnya tidak lagi ada di pasar. Hasilnya bermanfaat sebagai dasar pengaturan pembelian alat canggih tertentu oleh suatu RS. yang dapat dikoordinir sendiri oleh otoritas perumahsakitan. (2) produksi atau supply pelayanan kesehatan. Dengan perkataan lain. yaitu karena demand melebihi supply. Z: Studi Pemanfaatan Alat Kedokteran Canggih. 8. 5. Jenis alat 1. Seminar Ekonomi Kesehatan. Termasuk dalam studi kelayakan ini adalah Break Even Analysis.5 46. 3. Jakarta. misalnya (1) menaikkan tarif penggunaan alat setinggi-tingginya yang akan sangat memberatkan pasien dan (2) memperlonggar indikasi profesi medis yang sesungguhnya.Y. 5. 2) khusus untuk alat diagnostik. 1991 Kapasitas terpakai (%) 96. Khusus tentang alat-alat canggih di RS. Univ. G. Dalam keadaan demikian RS bersangkutan menghadapi tekanan untuk menaikkan revenue. Malik R. Jacobs. et al : Studi Pemanfaatan Alat Kedokteran Canggih. Karena biaya investasi alat tersebut mahal. Keadaan ini akan lebih memacu laju inflasi. Pertemuan Tahunan PPEKI. Columbia Univ. Park. 90.2 31. Unit Analisis Kebijaksanaan Depkes RI. Press. Jakarta. Ascobat. Keadaan penggunaan yang rendah membawa dampak besar terhadap sistem pembiayaan fasilitas bersangkutan. Depkes RI. sebuah studi terbatas menunjukkan bahwa investasi alat-alat tersebut secara ekonomis umumnya tidak efisien. 1992. Lokakarya Ekonomi Kesehatan. 8. Pendekatan Ekonomi Makro dan Mikro Pelayanan Kesehatan. Kondisi ini bisa mendorong kebijaksanaan pelayanan yang tidak profesional. FKM-UI. Ini hendaknya dilakukan oleh suatu badan penelirian. Selanjutnya. 1980. G. Jakarta Agustus 1993.9 alat-alat canggih dan mahal.5 50. September 1992. 7.4 53.8 Nopember 1990. 3. 1991. N. sebelum suatu alat canggih mahal diadakan oleh sebuah RS. 6.5 18. 3) apakah tersedia cukup demand untuk menjamin operasionalisasi alat tersebut serta menjamin pengembalian modal investasi plus keuntungan. Baltimore. apakah waktu tersebut terlalu lama sehingga alat yang bersangkutan menjadi obsolete. Cimacan. Badan Litbang Depkes. Pola Pencarian Pelayanan dan Pengeluaran Masyarakat untuk Kesehatan Berdasarkan Susenas 1990. Hemodialisis Bronchoscopy Gastroscopy MRI Body CT Scan Head CT Scan Lithotriptor Biochemical analyzer USG Endoscopy Sumber : Tafal. 2. Inipun akan mendorong terj adinya inflasi biaya yang lebih tinggi. maka annualized fixed cost (present value biaya investasi tahunan) secara keseluruhan akan naik. G. Unit Analisa Kebijaksanaan Depkes RI. 1993. bukan oleh RS. 2) Pelaksanaan studi kelayakan. khususnya RS dan (3) konsumsi atau demand terhadap pelayanan RS. Ekonomi Kesehatan dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Jakarta. Proceeding Semiloka "Penggunaan Ilmu Ekonomi di bidang Kesehatan Masyarakat". The Economics of Health and Medical Care.7 61. Tafal Z. maka ada beberapa kebijaksanaan atau langkah penting yang pelu dilakukan di masa yang akan datang. 3) Cost effectiveness analysis suatu alat canggih yang mahal dibandingkan dengan alat lama yang bertujuan atau berfungsi sama. Tabel 7. yang antara lain akan mengungkapkan berapa tahun diperlukan untuk mencapai titik Break Even tersebut.5 20. Klarman E.ekonomi pelayanan kesehatan. Ekonoimi Kesehatan. 40 Cermin Dunia Kedokteran. 7. Ascobat. 1994 . issu pokoknya adalah : 1) apakah suatu alat lebih cost effective dibandingkan alat terdahulu lain yang sudah ada. 4. 4. Sehubungan dengan temuan tersebut. 1965. 2. Studi tentangpemanfaatan alat kedokteran canggih di Jakarta yang dilakukan oleh Unit Analisis Kebijaksanaan dan Ekonomi KesehatanDepkes RI pada tahun 1991 yang lalu menunjukkan bahwa sebagian besar alat yang diteliti yang berada di beberapa RS besar di Jakarta ternyata mempunyai idle capacity sangat besar.3 33.

7% dari seluruh tempat tidur RSU di negeri ini berada di Jakarta.753 TT menjadi 118. pada akhir 1990 tumbuh menjadi sekitar 32% dari seluruh RSU di Indonesia. Dengan tingkat kompetisi yang tinggi adalah wajar bagi setiap rumah sakit untuk melakukan segala upaya yang diperlukan dalam mempertahankan keber adaannya. Angka ini. Sebagai contoh. dan tersier maka dapat dipahami bahwa rumah sakit secara relatif akan ada di daerah urban dan semi-urban.96% maka dapat dilihat bahwa di Jakarta terjadi kecenderungan tumbuhnya RSU dengan jumlah tempat tidur 50–100 buah per RS. di bawah rata-rata nasional yang sekitar 125–150 tempat tidur per RS. Universitas Indonesia. KOMPETISI DAN ECONOMIES OF SCALE LAYANAN DI RUMAH SAKIT Dalam situasi kompetisi yang ketat. Jakarta LATAR BELAKANG Rumah sakit sebagai salah satu mata rantai pelayanan dalam Sistim Kesehatan Nasional di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup bermakna. Sjaaf Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.643 TT menjadi 81.888 TT. Jakarta.8% per tahun sehingga pada tahun 1991 terdapat 86 RSU di Jakarta. Dari pertumbuhan ini berarti jumlah rumah sakit umum swasta yang pada akhir Pelita I hanya sekitar 19% dari seluruh RSU. Edisi Khusus No.533 RS). Ditinjau dari jumlah tempat tidur yang sebanyak 11. 21 — 25 November 1993. Ini menampilkan bahwa walaupun jumlah RSU dan RS Khusus hampir sama. tidak dapat disangkal bahwa peranan pembiayaan dalam menyediakan layanan di rumah sakit menjadi sangat penting. menunjukkan pertumbuhan sekitar 30% selama kurun waktu tersebut (dari 581 RSU menjadi 756 RSU). Fakultas Kesehatan Masyarakat.591 maka dapat dikatakan bahwa sekitar 12. Dalam kurun waktu 15 tahun ini (akhir Pelita I sampai awal Pelita V) angka pertumbuhan rumah sakit umum dan khusus adalah 37% atau rata-rata 2.116 menjadi 1. Sedangkan jumlah tempat tidurnya menampilkan pertumbuhan sekitar 44% dalam waktu yang sama yaitu dari 63.5% per tahun (dazi 81. Rumah sakit umum sendiri. Sedangkan angka pertumbuhan tempat tidur di rumah sakit menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu 45% dalam 15 tahun atau 2.1% per tahun (dari 1. 90.Program Cost Containment di Rumah Sakit Tanggapan dalam Mengantisipasi Perkembangan Teknologi Kesehatan di lndonesia Amal C. Hanya rumah sakit yang dapat menyediakan layanan yang bermutu dengan pembiayaan yang relatif rendah dapat unggul dapatkompetisi ketat tersebut. tetapi jumlah tempat tidur RSU adalah sekitar 78% dari seluruh rumah sakit yang ada. Mengacu kepada angka pertumbuhan keadaan di daerah urban atau semi-urban lainnya di Indonesia tersebut maka dapat dikatakan bahwa tingkat kompetisi antar RSU terutama swasta di daerah urban akan cukup tinggi. pada awal Pelita V hampir 9% dari RSU di Indonesia berada di Jakarta yaitu sebanyak 71 RSU. Jumlah ini kemudian meningkat pesat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 11. Cermin Dunia Kedokteran. pada akhir tahun 1990 ternyata bertambah menjadi sebesar 244 rumah sakit swasta di Indonesia. Sesuai dengan sifat layanan kesehatan di rumah sakit yang terutama diarahkan pada jenjang layanan kesehatan sekunder Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo.565 TT). yang jumlahnya relatif sama besar dengan rumah sakit khusus. Tetapi. 1994 41 . Yang menarik untuk diperhatikan adalah jumlah rumah sakit umum swasta pada kurun waktu 15 tahun menampilkan angka pertumbuhan sekitar 104% (dari 113 menjadi 231 rumah sakit). Untuk itu maka perlu diketahui beberapa faktor yangdiasumsikan terkait erat dengan biaya layanan rumah sakit. dengan angka pertumbuhan tempat tidur RSU per tahun sebesar 0.

Memperhatikan faktor-faktor dengan cermat. Sebagai contoh. perlu juga diperhatikan bahwa rumah sakit selalu TT = jumlah tempat tidur terpasang memberikan jenis pelayanan yang tidak sama walaupun mereka diagnosis = jenis penderita menurut klasifikasi JP M = mutu layanan yang dapat diukur dengan tindakan dan/ klasifikasinya sama. Tanpa memperhatikan kemajemukan faktorfaktor tersebut bukannya tidak mungkin intervensi yang dilakukan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Adanya perbedaan ini memungkinkan rumah sakit dengan jumlah operasi yang dilakukan PU = penyesuaian rumah sakit berdasarkan upah yang diberi. makin banyak jumlah tempat tidur yang terpakai akan terkait dengan makin meningkatnya pemanfaatan kamar bedah maupun penunjang medik seperti radiologi. Edisi Khusus No. L lain-lain. Artinya. Hubungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 . . Gambar 1. biaya ini akan meningkat lagi pada rumah sakit yang memiliki tempat tidur yang paling banyak.jumlah tempat tidur yang akan menampilkan biaya rata-rata layanan yang berbeda. Lebih jauh dikatakan bahwa hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan biaya rumah sakit secara teoritis dapat digambarkan dengan bentuk kurva U. 1994 . FL. rata Layanan di Rumah Sakit diharapkan dapat ditentukan faktor-faktor yang berpengaruh pada biaya rata-rata layanan rumah sakit di suatu daerah. Dikatakan bahwa hal ini sebagian terjadi karena pengaruh biaya tetap (fixed cost) dalam kegiatan layanan. Variasi Hubungan Jumlah Tempat Tidur dengan Biaya RataDengan memanfaatkan model ini. dan lain-lain. dan antaranya jenis penderita yang dilayani (Gambar 2). sukar untuk ditolak adanya asumsi bahwa hampir pada semuanya akan terkait langsung atau tidak langsung dengan pemanfaatan teknologi kesehatan. Misalnya. dapat dipahami bahwa kan kepada tenaga RS = tingkat efisiensi layanan economies of scale dari rumah sakit dengan jumlah tempat tidur E = program pendidikan yang dilakukan di RS yang sama dapat berbeda tergantung dari faktor-faktor lain. melalui analisis regresi ganda. Hubungan Jumlah Tempat Tidur dengan Biaya Rata-rata Layanan di Rumah Sakit Dari bentuk kurva U di atas maka dapat dikatakan bahwa economies of scale terjadi pada rumah sakit dengan jumlah tempat tidur yang paling besar tetapi dengan biaya rata-rata layanan yang paling kecil. sebuah rumah sakit umum dengan rumah sakit umum lainnya akan berbeda jenis layanan yang atau pemeriksaan penunjang yang dilakukan DP = derajat beratnya penyakit yang dapat diukur dengan diberikan oleh karena jenis penderita yang dilayani juga tidak sama. PU. laboratorium. P.telah mengalami diseconomies ofscale. Tetapi. Makin majemuk jenis penyakit yang dierita maka makin tinggi pula pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan maupun kecanggihan tindakan invasifnya. bila suatu rumah sakit mengalami diseconomies of BRL = f (TT. 90. apabila hasil analisis biaya rata-rata layanan rumah sakit dilakukan untuk menentukan faktor yang akan diintervensi untuk cost containment maka hal ini harus dilakukan dengan cukup cermat. Kesemuanya ini akan mengarahkan rumah sakit untuk me- Cermin Dunia Kedokteran. per hari rawat atau biaya per admisi Tetapi. Atau dengan faktor tertentu sebagai berikut : kata lain. Feldstein (1983) menggambarkanhubungkompetisi yang ketat maka jelas hanya rumah sakit dengan an antara biaya rata-rata layanan di rumah sakit dengan faktoreconomies of scale yang akan tetap bertahan hidup. E. di p = faktor lain seperti jumlah penderita rawat jalan. Sebagai contoh. rumah sakit dengan jumlah tempat tidur sedikit akan memiliki biaya rata-rata layanan lebih tinggi daripada rumah sakit yang memiliki tempat tidur lebih banyak. L) scale tetapi masih tetap ingin hidup maka ia harus berusaha di mana : BRL = biaya rata-rata layanan yang dapat diukur dengan biaya melakukan upaya pembenahan pembiayaannya (cost containment). Untuk rumah sakit yang memiliki tempat tidur sedikit dengan biaya tinggi dan yang memiliki banyak tempat tidur dengan biaya yang juga tinggi dikatakan 42 Dari bahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemahaman terhadap terjadinya economies dan diseconomies of scale padarumah sakitharus dilihatdalamlingkup yang relatif majemuk. M. DP. Dikaitkan dengan situasi Secara spesifik. Gambar 2. JP. Dengan demikian.

Ironisnya.lengkapi dirinya dengan teknologi kesehatan yang dibutuhkan. agar pemahaman tersebut dapat dilakukan secara menyeluruh. Dan tentunya. Dengan kata lain. Sebagai ilustrasi. sukar pula dibantah bahwa dorongan akan pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan yang canggih ini merupakan daya tarik khusus. Di lain pihak. Perlu ditambahkan di sini. Walaupun demikian. Apabila disepakati bahwa ketiga hal terakhir ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan teknologi kesehatan maka dapat disebutkan bahwa biaya yang dihabiskan untuk pemanfaatan tadi cukup bermakna bagi layanan di rumah sakit. bahasan berikut ini akan dibatasi pada aspek pembiayaan teknologi kesehatan dan penyediaan tenaga ahli penggunanya. pembahasan tentang cost containment di rumah sakit perlu didahului dengan bahasan terhadap beberapa aspek penting di dalamnya. akan dapat dipahami bahwa biaya untuk "bertahan" tadi sebetulnya sudah melebihi kemampuan untuk bertahan itu sendiri. juga sangat erat kaitannya dengan proses inovasi. Lebih jauh. kualitas dan lingkup jenis layanan. Daya tarik ini memiliki efek ganda yaitu daya tarik ekonomi bagi para administrator rumah sakit dan daya tarik peningkatan kualitas bagi tenaga profesi medik. tanpa adanya teknologi canggih seperti ini maka mereka akan tertinggal dalam kompetisi yang ketat dalam menyediakan pelayanan yang ber"mutu" bagi masyarakat. Salahnya antisipasi pada dua tahapan sebelumnya akan mengakibatkan "banjirnya" teknologi canggih di rumah sakit masa datang tanpa dapat dicegah. Misalnya. Hal ini terjadi karena evaluasi teknis umumnya dilakukan di negara produsen pada tahapan inovasi dan dengan tingkat reliabilitas yang relatif rendah. tahapan berikutnya yaitu inkorporasi teknologi baru harus dapat diantisipasi untuk dikembangkan secara seksama. Ketidak ikut sertaan dalam tahapan ini jelas akan menempatkan kita dalam posisi hanya sebagai penerima dan pemakai teknologi canggih ini. Kalau dilanjutkan maka jelas pembiayaan ini akan dibebankan kepadamasyarakatpemanfaat teknologi tanpa disertai dengan kesadaran yang cukup akan manfaatnya. Antisipasi yang kurang tepat terhadap perkembangan teknologi kesehatan pada tahapan difusi dan inkorporasi di atas akibatnya akan diikuti oleh tahapan utilisasi yang juga tidak tepat. apabila cara pembiayaan pemanfaatan tidak dapat ditentukan dengan tingkat kepastian yang tinggi. utilisasi luas serta pengabdian teknologi yang sangat diwarnai oleh interes produsen alat-alat tersebut. Dengan demikian akan mudah dipahami bahwa pada era mendatang secara global akan terjadi perkembangan teknologi canggih kesehatan yang relatif lebih cepat dari masa sebelumnya. Diversifikasi yang relatif mudah dan tidak memerlukan biaya yang terlalu tinggi adalah dengan memfokuskan produksi mereka pada perkembangan teknologi canggih di bidang kesehatan. Dari biaya untuk input ini ternyata sekitaz 75% dihabiskan untuk kegiatan yang dikaitkan dengan peningkatan jumlah. Masuknya dunia ke era pasca perang dingin agaknya sukar untuk ditolak oleh produsen tersebut untuk tidak menekan produksi teknologi militernya. tingginya tingkat pemanfaatan (over utilization) tadi sukar untuk dapat disebutkan sesuai dengan tingkat kebutuhan pemeriksaan itu sendiri. misalnya dengan cara pembiayaan out of pocket maka proses ini akan terjadi lambat. jelas akan menempatkan kita dalam kedudukan sebagai bagian dari percepatan tahapan difusi itu sendiri. Edisi Khusus No. 1994 43 . Memahami bahasan di atas. Dapat diasumsikan di sini kesalahan antisipasi dalam tahapan inkorporasi ini bukannya tidak mungkin akan mengakibatkan biaya pelayanan kesehatan akan meningkat tajam seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Inovasiinovasi "baru" akan cepat bermunculan walaupun "baru" di sini harus lebih banyak diartikan sebagai "penambahan yang non esensial tetapi peningkatan kemudahan fungsional". Ironisnya. Sebenarnya tahapan difusi ini secara alamiah akan terhambat prosesnya apabila dana untuk pembiayaan pemanfaatan teknologi juga terbatas. Ditambah dengan cepatnya perubahan produksi ke generasi berikutnya dan disertai dengan teknik percepatan tahapan difusi oleh produsen. hal terakhirdapat terjadi karenafaktortersedia atau tidak tersedianya tenaga ahli yang akan menggunakan alat canggih tertentu. Keadaan ini akan lebih diperburuk lagi apabila teknologi yang dimanfaatkan tadi belum dipastikan derajat keamanan penggunaannya di Indonesia. dengan tanpa mengabaikan peranan faktor lain dalam upaya cost containment. Secara spesifik. Pada gilirannya. Joskow (1981) mengatakan bahwa sekitar 60% biaya rumah sakit dihabiskan untuk mengadakan masukan atau input yang dibutuhkan bagi pelaksanaan kegiatan. Dikaitkan dengan biaya yang telah dikeluarkan oleh rumah sakit dan cepatnya tingkat perkembangan yang terjadi maka wajar akan terjadi tingkat pemanfaatan yang juga tinggi. karena adanya faktor prestise dan nilai tambah ekonomi di sini maka tidak jarang yang tumbuh adalah kebanggaan yang harus dibayar cukup mahal. hal ini tanoa disadari dapat mendorong rumah sakit untuk memaksakan dirinyamenjadi "pusat unggulan" agar tetap dapat bertahan. Untuk Indonesia yang secara murni masih jauh dari keikut sertaan dalam tahapan inovasi perkembangan teknologi kesehatan canggih. 90. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KESEHATAN CANGGIH DAN COST CONTAINMENT DI RUMAH SAKIT Kalau disimak secara teliti dapat dilihat bahwa produsen teknologi kesehatan canggih sebenarnya merupakan produsen utama dari teknologi militer. Yaitu. adalah sukar bagi kita untuk menentukan korelasi antara hasil evaluasi badan pengawas di negara produsen dengan tingkat kepatuhan penggunaan teknologi tersebut Cermin Dunia Kedokteran. Pengembangan cara pendanaan pelayanan kesehatan baik yang disubsidi oleh pemerintah atau murni oleh swasta apabila dilakukan tidak dengan seksama dan tepat guna jelas akan mendorong penerimaan dan pemanfaatan teknologi ke arah yang merugikan seluruh masyarakat. inkorporasi. hal ini perlu diantisipasi dengan hati-hati. Dorongan yang terjadi seperti ini tidak jarang membawa rumah sakit ke arah pengertian yang kurang menguntungkan. difusi. Di samping itu ada faktor lainnya yang juga terkait dengan hal di atas yaitu faktor peningkatan sosio-ekonomi masyarakat yang dikaitkan dengan peningkatan demand terhadap pemeriksaan dengan alat canggih.

dan d. dalam menerima suatu layanan di rumah sakit dan tidak seluruh pembiayaannya ditanggung oleh pihak ke III (perusahaan dan/atau asuransi). kebutuhan akan suku cadang untuk penggantian yang dibutuhkan agar dapat terus berfungsi jelas akan terancam. Mengacu kepada uraian di atas maka jelas terlihat bahwa upaya cost containment yang dilakukan pada faktor teknologi kesehatan dan tenaga ahli pemakainya dapat menampilkan hasil dalam waktu singkat dan juga lama. dan c) Karena jauh dari pusat pengembangan ekonomi perlu diantisipasi akan terjadinya subsidi pemerintah terhadap pelayanan dengan pemanfaatan teknologi tadi. b) Peningkatan pembiayaan layanan rumah sakit secara keseluruhan akibat adanya pemanfaatan pada butir a. Pada umumnya perkembangan teknologi canggih dan setiap suku cadang penggantinya (spare parts) setidaknya disiapkan untuk produksi selama 5 tahun. Dalam rentang waktu me- . Dengan cara ini diharapkan penderita akan mengurangi demand terhadap layanan yang sebetulnya tidak diperlukan. sebagian harus dibayar oleh 44 Cermin Dunia Kedokteran . Umumnya yang dilakukan adalah dengan menerapkan mekanisme pembiayaan layanan yang sebagian ditanggung oleh penderita. Berikutnya. Untuk negara berkembang dapat dipahami rentang waktu seperti ini akan menjadi lebih sempit. Adanya pengurangan demand seperti ini akan jelas mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh rumah sakit. Akibatnya. Pada tahapan akhir. 90. pengabaian yang perlu diantisipasi akan terjadi di Indonesia adalah karena cepatnya perkembangan dan mudahnya pengadaan teknologi terutama di kota besar maka besar kemungkinan akan terjadi dumping dari teknologi lama. Artinya. di atas akan mengarahkan rumah sakit untuk dengan teliti membuat perencanaan tentang pengadaan teknologi kesehatan canggih dengan melakukan perhitungan cermat terhadap tenaga ahli yang dibutuhkan untuk menggunakannya. hal yang perlu diantisipasi secara cermat adalah yang dikaitkan dengan cepatnya pertumbuhan inovasi di negara industri dan waktu yang diperlukan untuk didifusikan ke Indonesia. 1994 penderita. Edisi Khusus No. Dari aspek supply tampaknya bentuk upaya yang dapat dilakukan cukup beragam dan majemuk yang secara sederhana dapat dibagi dalam : a) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Pendek yang mencakup kegiatan-kegiatan: Penetapan pagu anggaran Perampingan jumlah sumber daya manusia Pengawasan terhadap remunerasi sumber daya manusia Pengawasan terhadap pola tarif Pengawasan terhadap jumlah layanan tertentu Efek dari pelaksanaan upaya ini terhadappemanfaatan teknologi kesehatan canggih relatif akan lebih tampak pada tarif yang relatif bersaing sebagai akibat dari terjadinya economies of scale pemanfaatan teknologi tersebut. Pada aspek demand. Menyimak siklus hidup teknologi kesehatan canggih seperti diuraikan di atas maka secara mendasar efektifitas upaya cost containment harus dilakukan pada aspek demand terhadap layanan dan aspek supply dari layanan kesehatan di rumah sakit. di atas. maka yang perlu diamati adalah bagaimana perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi tadi dikaitkan dengan tersedianya pembiayaan dari pihak ke tiga (asuransi kesehatan). b) Upaya Pengawasan Tidak Langsung Jangka Pendek yang mencakup kegiatan-kegiatan : • Pembenahan skala nilai relatif dari produksi teknologi kesehatan yang ada pada saat ini • Pembuatan daftar positif dan negatif dari produk teknologi kesehatan canggih • Pembatasan terhadap promosi teknologi kesehatan canggih kepada calon pemakai • Penyampaian daftar harga teknologi kesehatan canggih kepada calon pemakai Pembuatan profil kegiatan dokter secara berkala terhadap • teknologi kesehatan yang ada pada saat ini Efek dari kegiatan ini jelas lebih diarahkan untuk mencegah terjadinya dua hal pokok: pengadaan teknologi yang tidak prioritas dan kemungkinan akan terjadinya pemanfaatan yang berlebihan. Apabila hal ini terjadi setidaknya harus diantisipasi tiga hal pokok yaitu : a) Kekurangan relatif dari tenaga pelaksana yang pada gilirannya akan menyebabkan pemanfaatan teknologi yang kurang atau tidak tepat. b) Bila masa hidup alat sudah selesai dan perangkat pengganti tidak tersedia lagi akan terjadi kanibalisme dari teknologi tersebut. Apapun yang terjadi dampaknya sudah jelas yaitu terjadinya peningkatan biaya pemanfaatan teknologi canggih tersebut dan beban ini akan ditanggung oleh masyarakat luas baik yang memanfaatkannya maupun yang tidak memanfaatkannya. Dumping ini akan terjadi relatif cepat dari kota besar ke tempat yang relatif jauh dari pusat pengembangan iptek kesehatan dan pusatpengembangan ekonomi. c) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Menengah yang mencakup kegiatan-kegiatan : • Pengawasan terhadap pembangunan dan pengembangan fisik • Pengawasan terhadap pengadaan alat kesehatan canggih • Pengawasan dan insentif bagi kegiatan inovasi d) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Panjang yang mencakup kegiatan-kegiatan: • Pengawasan terhadap jumlah mahasiswa baru kedokteran • Pengawasan terhadap jumlah peserta program spesialisasi Adanya kegiatan butir c. Di beberapa negara industri secara resmi pemerintah menetapkan waktu produksi teknologi canggih ini guna menghindari hilangnya perangkat pengganti pada saat teknologi tadi habis masa hidupnya.di luar negara produsen. Dalam rentang waktu singkat hal ini dibutuhkan agar rumah sakit dapat bertahan hidup dalam kompetisi yang relatif ketat. yang erat kaitannya dengan tahapan inkorporasi dalam siklus hidup teknologi kesehatan canggih. Sehubungan dengan hal ini perlu diantisipasi akan terjadi dua hal pokok : a) Pemanfaatan teknologi akan terhenti sementara oleh karena perangkat pengganti yang dibutuhkan perlu disediakan dari negara produsen.

3.nengah dan lama di mana diperlukan perencanaan yang cermat dan matang maka hasilnya akan menempatkan rumah sakit yang bersangkutan sebagai pimpinan dalam kompetisi yang ada. Cleverly WO. Rockville. Tindakan ini akan menunjukkan manfaat langsung dan segera sehingga dapat dikelompokkan dalam tindakan jangka pendek langsung. Handbook of Health Care Accounting and Finance. b) Dalam melakukan perencanaan di atas. 1994 45 . Apabila hal ini dapat disubstitusi oleh alat/cara lain yang relatif lebih murah maka hasilnya diharapkan akan timbul segera. h) Pihak yang samadiharapkandapat mengembangkanlangkahlangkah pokok upaya cost containment pemanfaatan teknologi kesehatan canggih secara nasional dan menyerahkan tetapi mengarahkan pelaksanaannya di setiap daerah disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. 1993. pihak pemerintah. Cermin Duniu Kedokteran. Rockville. hal yang perlu diperhatikan adalah adanya akibat pengadaan teknologi kesehatan canggih terhadap peningkatan biaya tetap (fixed cost) yang akan mempengaruhi terjadinya economies atau diseconomies of scale dari rumah sakit yang bersangkutan. Essentials of Health Care Finance. Kedua fenomena di atas jelas harus sekuat mungkin diupayakan untuk tidak terjadi karena bukannya tidak mungkin akan menghasilkan keadaan di mana masyarakat yang tidak mampu akan semakin jauh dazi jangkauan layanan kesehatan rumah sakit dan yang dapat menjangkaupun dikhawatirkan akan menerima kualitas layanan yang relatif kurang baik. c) Terjadinya economies of scale suatu rumah sakit dikaitkan dengan pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan secara tepat akan membuat kedudukan yang mantap bagi suatu rumah sakit dalam situasi kompetitif yang ada. 1983. Kebijaksanaan Departemen Kesehatan di Bidang Perumahsakitan dalam PJPT 11. Maryland. Maryland. g) Dalam skala luas. dan • Pelonjakan biaya layanan kesehatan di rumah sakit secara menyeluruh yang akan melebihi lonjakan biaya yang terjadi secara umum. 1986. upaya ini jelas termasuk dalam upaya langsung jangka menengah. KESIMPULAN DAN SARAN Dari bahasan yang mengacu kepada aspek rentang waktu dan komponen pelaksanaan upaya cost containment di atas maka dapat disimpulkan bahwa : a) Proses perencanaan komprehensif mencakup aspek supply dan demand terhadap pengadaan teknologi kesehatan canggih merupakan upaya pokok dalam menghindari pembiayaan yang tinggi dari pemanfaatan teknologi yang dimaksud. Kalau uraian sebelumnya kelihatannya didasari atas aspek rentang waktu pelaksanaan maka ditinjau dari aspek komponen pelaksanaan upaya cost containment dapat diuraikan dalam tahapan sebagai berikut : a) Pengurangan Biaya Operasional : Pada tahapan ini pengamatan adalah terhadap pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai kegiatan layanan. Peningkatan seperti ini dalam pengertian yang kurang menguntungkan adalah dapat meningkatkan demand tenaga ahli yang sudah dilatih untuk mengadakan suatu alat kesehatan canggih. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. PERSI dan ikatan profesi kesehatan secara bersama harus mengembangkan regulasi dan/atau kesepatan formal tentang pengawasan perkembangan teknologi kesehatan yang dibutuhkan bagi peningkatan kualitas layanan bagi masyarakat. dan h. Karena itu. Aspen System Corporation. 90. Adanya pengeluaran yang dianggap terlalu besar akan secara langsung ditindak lanjuti dengan melakukan pengurangan/reduksi terhadapnya. e) Upaya efisiensi komponen biaya tetap pengadaan teknologi yang dibutuhkan berdasarkan perencanaan matang sejauh mungkin dapat ditransformasikan ke biaya tidak tetap (variable cost) misalnya dengan cara bagi hasil. Edisi Khusus No. Dalam klasifikasi berdasarkan rentang waktu. Departemen Kesehatan. 2. Pengertian make-up di sini harus dilihat dalam arti teknologi baru yang tidak sepenuhnya baru dan dalam arti teknologi lama dengan perangkat tambahan tertentu. Cleverly WO. perlu juga diwaspadai adanya efek dumping teknologi seperti dibahas sebelumnya. d) Untuk menghindari terjadinya diseconomies of scale akibat pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan canggih perlu dilakukan upaya cost containment secara berkala dengan penekanan pada efisiensi komponen biaya tetap. tidak diperhatikan dan disertai dengan belum dikembangkannya regulasi tentang pembiayaan oleh pihak ke tiga terhadap pemanfaatan teknologi ini maka dapat diasumsikan akan terjadi dua hal penting yaitu : • Kompetisi layanan yang tidak sehat (termasuk dalam aspek ketenagaan) dan cenderung mengganggu mutu layanan yang diberikan dikaitkan dengan efisiensi biaya. Salah satu komponen pengeluaran yang cukup besar baik nilai nominal maupun pertumbuhannya adalah biaya tenaga kerja. c) Pengawasan Biaya Penggantian Teknologi : Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengganti teknologi seharusnya benar-benar dikeluarkan untuk penggantian alat baru bukan hanyamake-up dari yang lama. Aspen System Corporation. b) Pembenahan Biaya Operasional : Dalam lingkup yang diamati dan ditindak lanjuti adalah adanya peningkatan pengeluaran operasional yang dijaga untuk tidak melebihi pertumbuhan inflasi pada kurun waktu yang sama. f) Dalam hal pengeluaran biaya tetap yang terkait dengan pendidikan dan pelatihan tenaga ahli perlu dikembangkan kerjasama yang saling menguntungkan bagi setiap pihak. Lebih jauh. Broto Wasisto. Apabila hal-hal di atas terutama butir g. Komponen biaya tetap seperti ini sewajarnya dikompensasikan dengan mekanisme ikatan kerja bagi tenaga ahli dengan memperhatikan pengembangan jenjang karirnya. tahapan ini sebenarnya dapat dikelompokkan ke dalam tindakan jangka pendek langsung dan tidak langsung. KEPUSTAKAAN 1. d) Penghindaran terhadap Biaya yang tidak perlu : Dalam batasan tertentu dapat diambil sebagai contoh yaitu tentang pendidikan atau pelatihan sumber daya manusia yang diadakan dengan dalih pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Edisi Khusus No. May/ June. New York: McGraw-Hill Inc. 1981. Shorter Fourth Ed. Second ed. 6. 90. unpublished. WHO. New York: W. 46 Cermin Dunia Kedokteran. 1993. akan diterbitkan dalam Jurnal Administrasi Rumah Sakit. 12. 2nd ed. Hospital and Health Services Administration. Cambridge: Massachusetts: MIT Press..W. 1986.4. 1981. a Synthetic of the Empirical Evidence. Theory-Issues-Applications. Intermediate Microeconomics. Mansfield E. Vol 1. Sobak SJ. 8. 1988. Cost Containment in Small Hospitals: Targeting Strategies beyod this Decade. Antisipasi Investasi Terhadap Perkembangan Teknologi Kese- hatan Dalam Dasawarsa 90-an. Sjaaf AC. 2. Economic Support for National Health For A11 Strategies. 11. Feldstein PJ. No. Cost Containment • Challenge to the Health Care Industry. 10. Thakur M et al. Health Care Economics. 5. Miller R LeRoy.. 1982. 1982. Norton & Co. Geneva: World Health Organization. 1994 . 1983. Microeconomics. Theory and Application. Oktober/Desember 1993. Regulatory Approaches to Hospital Cost Containment. New York: John Wiley and Sons. edited by Mancur Olson. 9. Steinwald B. Joskow PL. the Role of Government Regulation. 7. the American Enterprise Institute. Sloan F. Controlling Hospital Costs. in A New Approach to the Economics of Health Care.

25 November 1993. lanjut usia terlantar. Panti Anak Nakal/bekas korban narkotika 12 buah. Saya katakan berbagi rasa. Sdr. Edisi Khusus No . Tidak sedikit organisasiorganisasi sosial masyarakat yang berperan aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebagai suatu misal. untuk membahas Peranan Departemen Sosial dalam Penanganan Pasien Tidak Mampu di Rumah Sakit. yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang saya kemukakan tersebut. Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. jumlah berbagai jenis panti tersebut belum meliputi yang ditangani oleh Pemerintah Daerah dan Swasta. anak terlantar.Ceramah Menteri Sosial Republik Indonesia pada Kongres Nasional Vl Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia di Jakarta. dan selamat datang di Jakarta. Panti Pengasuhan Anak 19 buah. dan sebagainya. Memang penanganan masalah sosial tidak akan mampu ditangani Cermin Dunia Kedokteran. bahkan tidak sedikit yang berwujud pelayanan langsung. Peserta Kongres Nasional VI PERSI. Apabila pelayanan sosial yang diberikan oleh Departemen Sosial dibandingkan dengan jumlah penyandang masalah yang harus dilayani. Yth. Saya katakan terimakasih dan bahagia. Panti Lanjut Usia 46 buah. karena tugas pokok Departemen Sosial memang pada dasarnya menangani orang yang tidak mampu. dan Hadirin yang berbahagia. seperti panti-panti. Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo . korban bencana. Peran serta mereka ada yang berupa tenaga. dapat dilihat dari jumlah panti pemerintah (baca Departemen Sosial) yang ada. pikiran berwujud saran-saran. karena mendapat kesempatan untuk membahas peranan Departemen Sosial dalam penanganan pasien tidak mampu di rumah sakit. penyandang cacat. 23 Nopember 1993 Assallamu'alaikum Warokhmatullohi Wabarokatuh. 1994 47 . anak bekas korban penyalahgunaan obat dan narkotika.903. Moderator. Di sini sebenarnya saya hanya akan memberikan gambaran. Panti Tuna Susila 23 buah. dan masyarakat. kelompok. 90. Panti Pengasuhan Anak yang dikelola oleh Pemerintah hanya 19 buah. 21. Mereka memperoleh pelayanan sebagian melalui pantipanti sosial yang ada dan sebagian dalam bentuk tidak melalui panti. kepada seluruh peserta Kongres. anak nakal. perkenankan saya menyampaikan selamat ber-Kongres Nasional VI. Mereka itu biasanya dicakup dengan sebutan fakir miskin. Departemen Sosial mengundang peran serta masyarakat. perkenankan saya mengucapkan terima kasih dan merasa bahagia. atau pelayanan non panti. belum jenis panti lainnya. Jakarta . kaitannya dengan masalah keberfungsian sosial dari orang-orang. yang dikelola swasta. tuna susila. Pe nyandang masalah yang dilayani tersebut semuanya dalam keadaan tidak mampu. Jumlah penyandang masalah yang harus dilayani jumlahnya jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kemampuan pelayanan. Pertama-tama marilah kita bersama mengucapkan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sekedar untuk memperoleh gambaran masalahnya. Untuk mengatasi masalah tersebut. Lingkungan Pondok Sosial 10 buah. Panti Gelandangan dan Pengemis 6 buah. karena atas perkenan dan ridla-Nya hari ini kita dapat berkumpul di sini. sama sekali tidak seimbang. Sdr. bahwa seluruh pelayanan yang diberikanoleh Departemen Sosial tanpa dipungut imbalan biaya. karena Departemen Sosial merasa mendapat perhatian dan dapat berbagi rasa tentang penanganan masalah orang tidak mampu. Kemudian. seperti pekerja sosial sukarela. khususnya bagi para peserta Kongres yang datang dari luar Jakarta. Sebelum membahas masalahnya. tuna sosial dan sebagainya. keuangan. Panti Cacat 36 buah.

Bagi Rumah Sakit Pemerintah sekurang-kurangnya 75% dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. 90. dikatakan pula bahwa setiap Rumah Sakit mempunyai kategori ketenagaan yang terdiri dari tenaga medik. mencakup pelayanan medik dan penunjang medik.oleh Pemerintah sendiri. Pelayanan Rawat Nginap. kedokteran umum. Tujuan yang ingin dicapai adalah peningkatan derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi pasiennya. mengobati penyakit dengan mencari sumber sebabnya dapat dilaksanakan. fasilitas untuk golongan yang tidak mampu tersedia ± 75% bagi Rumah Sakit Pemerintah dan 25% bagi Rumah Sakit Swasta dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. sebenarnya penderita tersebut termasuk penyandang masalah sosial. Hadirin sekalian. gigi. pada tahap awal. sakit apa pun. Sementara angka kemiskinan adalah ± 15%. yang . laboratorium teknis dan berafiliasi dengan sekolah tinggi perawat dan sekolah tinggi pekerjaan sosial Simmons College dan Smith College. Kalau saya kemukakan hal ini.kan. di klinik-klinik yang tersebar di banyak daerah. sedangkan bagi Rumah Sakit Swasta sekurang-kurangnya 25% dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. Kini. sebagian ada yang tidak mampu. Berdasarkan ketentuan tersebut. yang dapat dicapai penduduk dan mudah dikendalikan oleh rumah sakit dan sebagainya. apabila hal itu diuji cobakan. dan penduduk di wilayah yang seluas-luasnya. sedangkan yang ditangani Departemen Sosial. Kita sama-sama memberikan pelayanan kepada orang yang menderita. Persoalannya kini apa yang bisa Departemen 48 Cermin Dunia Kedokteran. Hal itu dimungkinkan karena berbagai disiplin terlibatkan. dan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat dicapai oleh masyarakat seluas-Iuasnya melalui total treatment team tersebut. Saya kira untuk menangani masalah pasien tidak mampu. Dari ketentuan yang saya kutip tadi. Prinsip pencegahan/pengobatan (preventive medicine). dan dimungkinkan adanya tenaga non medik yang dipekerjakan di Rumah Sakit. penanganannya harus bersama-sama dengan masyarakat. Namun kebiasaan penanganan seperti itu di Indonesia masih belum berkembang. semuanya yang tidak mampu dan terlantar. antara lain internis. Sebab pada dasarnya. melainkan menangani pasien yang mampu pun pada saatnya tentu dibutuhkan. sedangkan Departemen Sosial memberikan pelayanan kepada penderita sakit sosial. Sekiranya hal itu dapat dipikirkan. namun yang jelas kini pertanyaan dilemparkan kepada Departemen Sosial. Sekaligus rumah sakit ini memberikan kemudahan menjadi rumah sakit Fakultas Kedokteran Harvard ( Harvard Medical School) untuk training pasca sarjana bagi berbagai spesialisasi ilmu. paramedik non perawat. dan tenaga non medik. Saya sangat mendukung pada ketentuan mengenai fungsi sosial Rumah Sakit tersebut. paramedik. Orang yang sakit fisik yang ditangani oleh rumah sakit. saya mohon jangan buruk sangka. tugas Rumah Sakit melaksanakan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) serta melaksanakan rujukan. suku. Hal itu menunjukkan benar-benar bahwa perhatian Pemerintah sangat besar kepada rakyatnya. khususnya yang masih membutuhkan uluran tangan. begitu seseorang menderita sakit. mungkin Rumah Sakit dapat mempekerjakan Pekerja Sosial. memberikan pelayanan yang meliputi batas geografis yang tak terbatas di rumah sakit saja.KES/PER/IU1988). Edisi Khusus No. Profesi Pekerja Sosial dalam perkembangan spesialisasinya ada Pekerja Sosial Medik. dan Pelayanan Gawat Darurat. Departemen Sosial dapat memberikan bantuan tenaga Pekerja Sosial yang diperlukan. sebagian besar banyak yang mampu. Mungkin mereka tidak sekedar dapat membantu bagaimana menangani pasien tidak mampu. warna kulit dan agama. Dari kepustakaan dan pengalaman yang dilaporkan. Rumah Sakit Umum Beth Israel di Boston. mempunyai 450 tempat tidur. bedah. Secara bertahap kita perbaiki bersama untuk mengembangkan total treatment. Permasalahan ini tentunya tidak akan dapat saya jawab sendiri. suatu contoh kasus yang dilaksanakan oleh salah satu rumah sakit umum di Amerika. perawat. yang dapat dicapai melalui program pelayanan "obat jalan". Dengan demikian memudahkan m gmberikan pelayanan secara interdisipliner dengan memperkenalkan pelayanan melalui total treatment team. termasuk profesi pekerjaan sosial. Hadirin sekalian. pelayanan di rumah. Saya yakin. Selanjutnya mengenai fungsi sosial Rumah Sakit. dapat saya angkat sebagai suatu model pendekatan interdisipliner. melainkan saya akan mengajak pihah Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia untuk mencari jawaban yang sebaik-baiknya. Saya tidak tahu sejauh mana ketentuan itu dapat dilaksana. penderita dari segala lapisan pendapatan. 1994 Sosial kerjakan untuk turut memikirkan masalahnya. 159 b/ MEN. ditentukan bahwa setiap Rumah Sakit harus melaksanakan fungsi sosialnya dengan antara lain menyediakan fasilitas untuk merawat penderita yang tidak/kurang mampu. Sementara itu. Massachusetts. Rumah sakit memberikan pelayanan kepada orang yang pada dasarnya menderita sakit fisik. ahli diet. pelayanan di Rumah Sakit berupa Pelayanan Rawat Jalan. mengira saya berkiblat ke luar negeri. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (No. saya dihadapkan pada pertanyaan "Peranan Departemen Sosial dalam Penanganan Pasien Tidak Mampu di Rumah Sakit". Dari uraian tersebut sebenarnya saya hanya akan berbagi rasa dengan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. anggap saja contoh tersebut merupakan salah satu yang kebetulan saya ketahui. Mungkin apabila hal itu dapat diuji cobakan. akan ada manfaatnya. gizi. tentu tidak akan dapat sekaligus memuaskan. satu di antaranya adalah pelayanan Rumah Sakit diberikan secara terpadu. yang sejalan dengan apa yang tersirat dalam ketentuan mengenai Rumah Sakit tersebut.

guna mendapatkan konsep-konsep pemikiran penyelesaian. atau bentuk-bentuk lain dukungan untuk dana sehat bagi yang tidak mampu. saya juga khawatir akan memperkecil fungsi sosial Rumah Sakit. Demikianlah sekedar arahan saya tentang Peranan Departemen Sosial menangani pasien tidak mampu di Rumah Sakit. baru apa yang bisa saya pikirkan. sesuai dengan peraturan yang ada adalah untuk orang yang menderita sakit. saudara-saudara telah memahami dengan jelas. Sebab kerja team bagi tenaga-tenaga kesehatan sudah merupakan barang biasa. Konsep yang saya kemukakan tersebut. Selanjutnya perlu saya lemparkan juga. Sebab. di samping dana untuk itu tidak tersedia. Hadirin sekalian. waktu tersedia. apabila diperlukan. Inten Soeweno Wisdom will add years to your life Cermin Dunia Kedokteran . dengan harapan semoga Kongres Nasional VI Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia berhasil dan membuahkan manfaat seperti yang kita harapkan. Kesemuanya membutuhkan kerja sama. Akhirnya semoga uraian singkat tersebut bermanfaat adanya. membahas masalahnya lebih mendalam. dengan kesanggupan membayar semua biaya yang ada. Dra. Menteri Sosial R. dan atau terpadu itu. kemauan dan kemampuan diarahkan untuk itu. Wassallamu'alaikum Warokhmatullohi Wabarokatuh. sebab Departemen Sosial. mengangkat.I. perlu kiranya pihak Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia bekerja sama dengan Departemen Sosial. telah dipahami oleh seluruh Peserta Kongres. agar pengabdian kita kepada pasien yang tidak mampu dapat kita laksanakan sebaik-baiknya. sekarang ini dapat mengadakan. Hal tersebut saya tawarkan untuk kita pecahkan bersama. Mengapa saya tidak dengan serta merta menjawab tentang peranan Departemen Sosial dalam menangani pasien tidak mampu di Rumah Sakit. Namun dapat kita perjelas bersama-sama.interdisipliner. Edisi Khusus No. Terimakasih. dan kerja sama membutuhkan kerelaan. bahwa peranan yang saya ungkapkan tidak jelas. dapat dijadikan landasan awal untuk Departemen Sosial dapat berperan dalam menangani pasien tidak mampu. Apa yang saya ungkapkan tadi. dan selamat bekerja. 1994 49 . Hadirin sekalian. termasuk orang yang tidak mampu. Memang keberadaan Rumah Sakit. 90. Mungkinkah kita mengembangkan semacam asuransi sosial bagipasien tidak mampu. dan menetapkan Pekerja Sosial profesional yang diperlukan. hanya jangkauan pelibatan profesi lain masih belum meluas. Rupanya bantuan semacam itu. saya yakin. Saya yakin. apabila masalahnya dapat dianggap mendesak.

Kesemua upaya ini harus dilaksanakan secara terpadu serasi dan berkesinambungan. SH Ketua Pengurus Pusat PERHUKI. rumah sakit khusus dan seterusnya. kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan). Emma Suratman. 90. Dalam makalah ini hanya akan dibicarakan hubungan antara dua fihak saja yaitu pasien dan rumah sakit. dokter dan rumah sakit yang kesemuanya diatur hak dan kewajibannya. Dalam kenyataannya ada perbedaan pendapat mengenai yayasan. rumah sakitumum.Hubungan Rumah Sakit dengan Pasien Dipandang dari Sudut Hukum dan Etika Ny. pusat kesehatan masyarakat. karena memang pengaturan mengenai yayasan berupa peraturan perundang-undangan belum ada. RUMAH SAKIT SEBAGAI SARANA KESEHATAN Dalam Undang-Undang Nomor 23/1992 tentang Kesehatan Bab I Ketentuan Umum. 21— 25 November 1993. Rumah Sakit sebagai sarana kesehatan memegang peranan penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. ETIKA RUMAH SAKIT (HOSPITAL ETHICS) Dalam menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan terdapat ikatan antara berbagai fihak yaitu pasien. Jelas disini bahwa rumah sakit tidak dapat diselenggarakan oleh sebuah firma atau perseroan komanditer karena keduanya bukanlah badan hukuin. Dengan demikian rumah sakit adalah tempat untuk menyelenggarakan salah satu upaya kesehatan yaitu upaya pelayanan kesehatan (health services). Salah satu aspek yang penting dalam kaitan ini adalah hubungan pasien dengan Rumah Sakit dengan penekanan pada aspek etik dan hukum. Jakarta. Namun kadangkadang usaha mulia rumah sakit ini dapat membawa malapetaka yang pada akhirnya akan berurusan dengan meja hijau. Dalam pasal 58 dinyatakan pula bahwa sarana kesehatan tertentu harus berbentuk badan hukum antara lain rumah sakit. yayasan atau perseroan terbatas. Edisi Khusus No. promotif (peningkatan). Salah satu unsur penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut adalah Sarana Kesehatah. natuurlijk persoon). balai pengobatan. 1994 . Ini berarti bahwa rumah sakit tidak dapat diselenggarakan oleh orang perorangan (individu. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut berbagai upaya harus diselenggarakan yang meliputi upaya preventif (pencegahan). semua sarana kesehatan tertentu yang belum berbentuk badan hukum harus menyesuaikan statusnya menjadi badan hukum. Saat ini penyelenggara berbagai upaya tersebut telah secara tegas diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. maka pembangunan kesehatan ditujukan pada tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari Tujuan Nasional. Sedangkan dalam Bab VI Bagian Ketiga Pasal 56 dikatakan bahwa Sarana kesehatan meliputi Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo. Tetapi ada suatu yurisprudensi yang menyatakan bahwa yayasan adalah badan hukum. H. tetapi harus diselenggarakan oleh suatu badan hukum (rechts persoon) yang dapat berupa perkumpulan. DalamKetentuan Peralihan dari Undang-undang Nomor 23/ 1992 dinyatakan dalam waktu 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang ini. apakah yayasan suatu badan hukum atau bukan. 50 Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta PENDAHULUAN Sesuai dengan apa yang digariskan dalasm Sistem Kesehatan Nasional (SKN). diberi batasan mengenai sarana kesehatan yaitu :"Sarana kesehatan adalah tempat untuk menyelenggarakan upaya kesehatan".

2) Dr. sanksi perdata (ganti rugi) atau sanksi pidana (denda atau penjara/ kurungan). Keempat butir aturan ini dijabarkan lebih lanjut dalam butirbutir yang lebih rinci. dengan perbedaan antara baik dan buruk. jika ditinjau arti dari kata "Etika" itu sendiri." 4) Kamus Bahasa Inggris Webster's Dictionary memberi definisi sebagai berikut : • "Ethics is the science that treats of the principles of human morals and duty : moral philosophy". Sanksi ini ditetapkan oleh kelompok itu sendiri dan penegakannya juga dilaksanakan oleh kelompok itu sendiri. group etc". Yang perlu diperhatikan adalah bahwa etika menyangkut suatu kelompok tertentu. Norma etika rumah sakit telah diatur dalam Keputusan MenteriKesehatan No. Menurut literatur terdapat beberapa definisi atau batasan mengenai Etika. sedangkan hukum merupakan suatu norma yang mengikat seluruh masyarakat (algemeen bindend) dan mengatur seluruh masyarakat (algemeen regelend). 3) Rumah Sakit telah berkembang menjadi unit sosio ekonomis yang makin kompleks dan oleh karena itu perlu dikelola secara profesional hingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik. H. • The moral system of an individual. 2) Kamus Umum Bahasa Indonesia memberi definisi sebagai berikut :"Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)". 4) RumahSakitmembinahubungan kerjainterdan antarrumah sakit dengan didasarkan rasa kebersamaan. HUBUNGAN RUMAH SAKIT DAN PASIEN Sebagaimana telah disebutkan di atas. Jadi meskipun terdapat perbedaan antara keduanya. 924/Menkes/SK/XII/1986 yang menyatakan berlakunya Kode Etik Rumah Sakit Indonesia. Dalam pelanggaran Etika maka sanksi diberikan oleh kelompok itu sendiri atas dasar pelanggaran moral (kesusilaan) atau dignity (harga diri). 90. Dari definisi-definisi tersebut di atas. SH memberi definisi Etika sebagai berikut :"Etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan melihat pada amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui akal fikiran". Edisi Khusus No. dalam keadaan sehari-hari ada kalanya tidak nyata. etika hanya mengikat suatu kelompok orang saja. • "Character or the ideals of character manifested by a race or people". Dalam Etik Rumah Sakit Indonesia (PERSI) antara lain dinyatakan bahwa : 1) Pancasila merupakan asas Etik Rumah Sakit Indonesia 2) Rumah Sakit mengutamakan misi kemanusiaan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien memerlukan tenaga kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan profesinya. dan untuk menjamin bahwa setiap anggota masyarakat mentaati petunjukhidup tersebut. PERBEDAAN ETIKA DAN HUKUM Jika kita simak uraian di atas tentang Etika Rumah Sakit dan Hukum Rumah Sakit maka terdapat beberapa perbedaan. Memang antara Etika dan Hukum tidak dapat dipisahkan meskipun keduanya dapat dibedakan (Ethiek en recht zijn niet te scheiden. Bagi rumah sakit berlaku Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (ERSI) sedangkan bagi para dokter dan dokter gigi berlaku Cermin Dunia Kedokteran . kaidah hukum dilengkapi dengan unsur yang memaksa (dwang element) yang lazim disebut sanksi. baik rumah sakit maupun tenaga kesehatan/ medis harus memperhatikan norma etika dan hukum yang berlaku. Perbedaan yang jelas antara keduanya terlihat pada unsur sanksi. meskipun perbedaan tersebut tidak terlalu besar. E. maka berlakunya Kode Etik sebaiknya tidak diatur dengan suatu Keputusan Pemerintah karena penetapan berlakunya suatu Kode Etik dengan suatu Keputusan Penguasa akan mengubah Kode Etik tersebut menjadi Hukum Positif yang algemeen bindend dan algemeen regelend tadi. apa yang baik dan apa yang buruk : segala ucapan atau tindakan harus senantiasa berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan tentang peri keadaan hidup dalam arti kata seluas-Iuasnya. Dalam memberikan pelayanan kesehatan/medis kepada pasien. 1994 51 . Pada pelanggaran hukum maka sanksi diberikan oleh fihak penguasa dan sanksi ini dapat berupa sanksi administratif. 3) Ensiklopedi Indonesia (hal 973) menyatakan :"Ei i ka adalah il mu tentang kesusilaan (moral) yang menentukan bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat. HUKUM RUMAH SAKIT (HOSPITAL LAW) Hukum Rumah Sakit adalah sebagian dari hukum kesehatan (health law) yang merupakan pula bagian dari hukum pada umumnya. Hasbullah Bakry. 1) Van Apeldoorn menyatakan bahwa tidak mungkin memberikan definisi yang tepat tentang hukum mengingat banyak aspek yang tercakup di dalamnya. Selanjutnya dikatakan bahwa :"Etika mengandung nilai mengenai benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat". Dari definisi tersebut jelaslah bahwa hukum bermaksud mengatur tata tertib dalam masyarakat dan memberikan kedamaian antara anggota masyarakat tersebut (handhaving van rust en orde). Utrecht dalam bukunya Pengantar dalam Hukum Indonesia memberi definisi sebagai berikut :"Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya ditaati oleh masyarakat yang bersangkutan oleh karena pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan dari fihak pemerintah (penguasa) masyarakat tersebut".Hubungan antara pasien dan rumah sakit diatur oleh dua macam norma yaitu norma etika dan norma hukum. Oleh karena antara kedua hal ini tidak ada perbedaan yang jelas. 1) Drs. rumah sakit adalah sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. khususnya pasien. Hukum dalam hal ini berbeda dengan etika. Dalam penjabaran sehubungan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia terdapat suatu kejanggalan ditinjau dari segi ilmu hukum. maar wel te ondercheiden). jelas bahwa etika berhubungan erat dengan moral.

Perikatan antara rumah sakit dan pasien merupakan suatu therapeutiek kontrakt atau kontrak terapeutik di mana rumah sakit mempunyai kewajiban menyembuhkan pasien dan pasien berkewajiban membayar biaya pelayanan tersebut. Tetapi jika pada operasi. baik administratif. jelas itu adalah tanggung jawab rumah sakit. 90. Jika wanprestatie tersebut berupa kerugian yang maka diajukan tuntutan ganti rugi ke Pengadilan Perdata. Dengan demikian. Dalam hal pelanggaran Etika. tuntutan dapat ditujukan kepada tenaga kesehatan yang menyebabkan kerugian bagi pasien dan dapat pula diajukan kepada rumah sakit. Jika kerugian tersebut berupa cacat atau kematian. Untuk menegakkan etika rumah sakit pada tiap-tiap rumah sakit telah dibentuk Panitia Etika Rumah Sakit yang harus menegakkan etika dalam rumah sakit yang bersangkutan. dalam hal ini Direksi. Edisi Khusus No.KODEKI dan Kode Etik Dokter Gigi Indonesia. dan diduga ada unsur kriminal (sengaja atau karena kelalaian menyebabkan mati atau cedera pada orang lain). Karena obyek Peradilan Pidana adalah orang. maka sebenarnya agak sukar menentukan wanprestatie terhadap kontrak terapeutik tersebut karena pelanggaran etika menyangkut moral yang agak sukar dijadikan obyek tuntutan di depan pengadilan. we triumph without glory when we conquer without danger 52 Cermin Duniu Kedokteran . misalnya seorang ahli bedah meninggalkan gunting dalam perut pasien. meskipun antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Jika pelanggaran hukum dilakukan tenaga kesehatan. maka Kode Etik akan berubah menjadi Hukum Positif dengan segala sanksinya. Dalam hal tuntutan ganti rugi. jika ada salah satu pihak yang melakukan wanprestatie atau ingkar janji. maka pihak lainnya dapat menuntut lawannya ke depan pengailan. maka sebaiknya Panitia Etika Rumah Sakit diganti menjadi Panitia Etika dan Hukum Rumah Sakit sehingga dapat menangani baik pelanggaran etika maupun pelanggaran hukum. Dengan adanya keputusan dari pihak pemerintah. maka pasien dapat mengadukan hal tersebut kepada pihak yang berwajib untuk diajukan ke depan Pengadilan Pidana. perdata maupun pidana. listrik mati atau tabung oksigen meledak. Pelanggaran terhadap hukum positif. Sedangkan dalam tuntutan pidana harus dilihat pada siapa kesalahan tersebut dapat dituduhkan. menyebabkan seseorang dapat dikenakan sanksi. maka yang dituntut adalah ahli bedah tersebut. Mengingatbahwa dalam keadaan sehari-hari lebih banyak terjadi kasus pelanggaran hukum. Kode Etik profesi ataupun rumah sakit berlaku di kalangan profesi yang bersangkutan dan tidak perlu dikukuhkan dengan suatu keputusan dari pihak penguasa. karena rumah sakit merupakan Badan Hukum. maka dalam hal ini tuntutan ditujukan kepada Direksi. PENUTUP Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara Etika dan Hukum. maka terlihat bahwa hubungan tersebut dikategorikan dalam sautu Perikatan (Verbintennis) Sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Kalau kita amati hubungan rumah sakit dan pasien. sedangkan pelanggaran terhadap Kode Etik adalah suatu pelanggaran terhadap moral dan dignity yang harus dinilai oleh kelompok atau profesi itu sendiri. pada tenaga kesehatan yang melanggar atau pada rumah sakit. 1994 .

berkaitan dengan menegakkan dan menjaga hubungan baikdi antarapengusaha. memenuhi kriteria (memiliki eksternalitas) untuk dapat digolongkan sebagai private commodity. serta konsumen (khususnya pasien) yang menggunakan atau membeli jasa pelayanan rumah sakit tersebut. Dan selama ini pun baik dokter maupun masyarakat memperlakukan pelayanan kuratif sebagai private commodity. maka penyedia pelayanan kuratif akan berhadapan dengan masalah tentang bagaimana memberikan pelayanan yang dapat memuaskan konsumen (dalam hal ini : pasien). pegawainya.Etika Rumah Sakit dalam Perspektif UU Nomor 23/1992 Kartono Mohamad Ikatan Dokter Indonesia. . kalau ada dokter yang mau memberikan pelayanan kuratif tanpa dibayar tentu boleh-boleh saja. PERSI & Hospilal Expo. betapapun (diakui atau tidak) juga sudah masuk dalam pikiran para penyedia pelayanan jasa kuratif. Kembali di sini ada keengganan menggunakan kata "bisnis" karena beranggapan bahwa "bisnis" identik dengan berdagang. Perhitungan tentang kelaikan suatu rencana dipandang dari segi cost and benefit pada rumah sakit pemerintah justru harus lebih ketat karena rumah sakit pemerintah Makalah ini disajikan pada Kongres Vl 21 . Kalau di Indonesia tampaknya terjadi kerancuan dalam Cermin Dunia Kedokteran. Pengertian pengelolaan profesional di sini mencakup pula perhitungan aspek ekonomi dan bisnis. Rumah sakit adalah sebuah institusi penyedia jasa pelayanan kuratif yang kompleks dan perlu dikelola secara profesional (baik yang for profit maupun yang non-profit). misalnya : 1) Recognizing that the care of the sick is their first responsibility and a sacred trust. . Demikian juga seharusnya etika bisnis rumah sakit. Karena betapa pun juga rumah sakit adalah lembaga bisnis. Jujur terhadap konsumen (pasien) dalam memberikan pelayanan. Kata "komoditi" dalam hal ini adalah istilah dalam ilmu ekonomi. Edisi Khusus No. dan konsumen. Kita perhatikan beberapa pasal etika rumah sakit di Amerika Serikat 2 . honest. Pasien bersedia menunggu untuk dilayani dan bersedia membayar untuk mendapatkan pelayanan kuratif. Karena pelayanan kuratif adalah suatu private commodity. 90. Jakarta Pelayanan kuratif. betapapun juga. dan jujur dalam bersaing. menggunakan uang negara (rakyat). staf yang bekerja di sana. and impartial in all their business relationship . meskipun itu rumah sakit pemerintah. Bahkan sejak sebelum program swadana pun rumah sakit pemerintah seharusnya sudah dikelola secara business. Etika bisnis. maka etika rumah sakit pun lebih didasari oleh etika bisnis dan harus dibedakan dari etika profesi kedokteran. Artinya. terutama rumah sakit daerah yang dibebani untuk membantu target Pendapatan Asli Daerah (PAD). dan tidak perlu dikaitkan dengan masalah dagang. hospitals must at all times strive to provide the best possible care and treatment to all in need of hospitalization 2) Hospitals should be fair. Jakarla. Keengganan kita untuk melihat pelayanan kuratif sebagai private commodity hanyalah karena kata "komoditi" memberikan konotasi adanya unsur dagang. . baik yang diberikan oleh dukun maupun dokter. sedangkan anggapan yang berlaku di masyarakat menghendaki agar dokter menjauhkan diri dari berdagang dalam memberikan pelayanan kepada pasien. 1994 53 . ditujukan untuk menegakkan dan menjaga hubungan baik antara pengusaha (pemilik) rumah sakit. Maka perhitungan bisnis.25 November 1993. Di sini tersirat bahwa dalam etika bisnis pun (termasuk bisnis rumah sakit) dituntut adanya sikap jujur. jujur dalam melakukan pemasaran untuk mencari klien. menurut Thiroux'. dan pelayanan kuratif tidak seharusnya diperdagangkan. dan dalam membuka tempat pelayanan akan selalu memperhitungkan aspek need dan demand.

Tetapi karena sudah tertanam anggapan bahwa rumah sakit harus lembaga non profit. Edisi Khusus No. 3) Pengamanan makanan dan minuman (Pasal 21). terutama jika ditambahi dengan persepsi bahwa orang sakit adalah orang yang perlu pertolongan dan perlu dikasihani. pasal 33 dan 34. Pada akhirnya yang menjadi korban adalah pasien (konsumen). sejauh dibolehkan oleh undang-undang. New Hampshire. perkumpulan sosial. 3) Pasien berhak mendapat informasi yang memadai tentang hal-hal yang akan ia hadapi selama di rumah sakit. 12) Pasien berhak mengetahui rincian dan jumlah tagihan terhadap perawatannya. yang memang tidak menampilkan perilaku for profit. yang bukan dokter cenderung mendorong dokter agar melanggar kode etik profesinya dan mengutamakan mencari pendapatan yang setinggi-tingginya bagi rumah sakit. pasal 161. Dokter bekerja di sebuah rumah sakit berdasarkan atas hubungan kenal. sehingga pelayanan ditujukan untuk memperbesar keuntungan finansial semata-mata. 5) Pasien berhak mengetahui rekam medis tentang dirinya. Sejarah perumah sakitan di Indonesia juga memunculkan rumah sakit yang dimiliki oleh dokter. 9) Pasien berhak mendapat informasi yang memadai dan jelas jika ia harus dipindahkan dari ruangan semula atau dipindahkan ke rumah sakit lain. Perkembangan ini menanamkan anggapan bahwa rumah sakit memang suatu lembaga yang bersifat non profit. 4) Pasien berhak . 5) Keharusan bagi penyedia pelayanan medik untuk menghormati hak pasien (Pasal 53). Dalam undang-undang tersebut kita lihat ada : 1) Ancaman untuk dokter yang melakukan "tindakan medik tertentu" (abortus) tanpa indikasi yang jelas (Pasa115). serta cenderung memanfaatkan ketidak tahuan pasien. maka semua mengelak dari mengakui bahwa mereka sebenarnya sudah mencari keuntungan finansial. lalu rumah sakit militer. dan rumah sakit milik zending atau missie. 2) Manajer pemasaran atau keuangan. pasal 37) hanya boleh dilakukan oleh tenaga ahli yang berwenang. 2) Pasien berhak mendapat informasi yang jelas tentang perkembangan penyakitnya. 23/1992 tentang kesehatan cenderung hendak melindungi pasien sebagai konsumen jasa pelayanan medis. 11) Pasien berhak untuk mengharapkan bahwa pelayanan lanjutan kepadanya akan tetap diberikan. Rumah sakit semacam ini sebagian lagi memang merupakan usaha patungan di antara para dokter. Kemudian dalam tahap berikut rumah sakit di Indonesia dikembangkan oleh pemerintah. dan ambivalensi para pengelola rumah sakit (yang malu menyebut dirinya institusi bisnis) membuat semua itu tidak dikendalikan baik oleh etika PERSI maupun oleh peraturan pemerintah. terutama. Masalah ini berawal dari sejarah perkembangan perumah sakitan di Indonesia. dan sering didasari perjanjian lisan.masalah etika rumah sakit. 4) Pengamanan kegiatan penelitian dengan menggunakan manusia (Pasal 40 dan 41). atau pemilik rumah sakit. mengetahui nama dan kualifikasi tenaga kesehatan yang akan memberikan pelayanan kepadanya. 7) Pasien berhak dihormati privacy-nya yang mencakup juga konfidensialitas diagnosis. baik yang lama maupun yang diperbaharui. yang tercermin dari ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Permenkes 920/1986. 6) Pasien berhak mencari pendapat kedua atau menolak pengobatan yang akan dilakukan terhadap dirinya. 1994 . Perkembangan rumah sakit di Indonesia dimulai oleh VOC (rumah sakit perusahaan untuk melayani karyawan VOC). bedah plastik. perkumpulan keagamaan. sebagai pemilik (pemegang saham) rumah sakit. Tetapi tidak berarti bahwa semua itu tidak dilandasi oleh perhitungan ekonomis. rumah sakit perkebunan. transplantasi organ. AS. yaitu ketika : 1) Dokter tidak dapat membedakan posisinya antara sebagai pemberi jasa pelayanan medik (yang berlandaskan pada etika profesi). meskipun bukan ia sendiri yang 54 Cermin Dunia Kedokteran. termasuk rincian tentang hak-hak pasien. Yang sering dimenangkan adalah dirinya sebagai pemegang saham. Maka etika rumah sakit dalam hubungannya dengan karyawan serta personil yang bekerja di sana pun tidak jelas. Dalam perilaku mencari untung beberapa rumah sakit di Indonesia malah terjadi hal-hal yang lebih tidak etis. muncul hubungan dokter dengan rumah sakit yang tidak tegas. 2) Ketentuan yang mengharuskan agarpelayanan medik tertentu lainnya (kehamilan di luar cara alami. tindakan. dan hal-hal lain tentang dirinya. Ciri perlaku for profit mulai tampak di sini. Pasal-pasal tersebut masih memerlukan peraturan pelaksanaan yang lebih jelas. 90. Bahkan pemerintah pun mencoba mengelak mengakui kenyataan itu. Ambivalensi pemerintah (melalui Permenkes 920-nya). dan mendapat penjelasan dari tenaga kesehatan yang berwenang. dan dokter. 10) Pasien berhak mengetahui jika dirinya hendak dimasukkan dalam obyek penelitian. baik pribadi maupun kolektif. Dari rumah sakit yang dimiliki oleh dokter ini. hal itu terjadi antara lain karena ada keengganan untuk melihat rumah sakit sebagai suatu institusi bisnis. Dalam etika rumah sakit di Amerika Serikat ada pasal yang berbunyi : 3) Hospitals should maintain and promote harmonious relationship within the organization to ensure the proper environment for the considerate and successful care and treatment of patient. Dalam kaitan seperti itu kita melihat bahwa UU no. dan ' sebagai manajer rumah sakit. misalnya mengeluarkan apa yang mereka sebut sebagai Patients Bill of Rights yang isinya( 3 ) 1) Pasien mempunyai hak untuk mendapat pelayanan yang layak dan terhormat. dan obat (Pasal 40 dan 41). terutama pada rumah sakit yang dikembangkan oleh beberapa perkumpulan sosial dan dokter. Hal ini pula yang membuat etika rumah sakit di Indonesia belum bersedia mengakui kenyataan-kenyataan dari perkembangan tersebut. 8) Pasien berhak meminta agar segala komunikasi dan catatan tentang pelayanan dirinya dirahasiakan.

dan mengawasinya agar dilaksanakan. tetapi penting untuk dijaga agar tidak menyimpang. Ada satu hal lagi yang seharusnya ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Cermin Dunia Kedokteran. seharusnya pihak pengelola rumah sakit tidak menunggu sampai peraturan pelaksanaan keluar. b) Harus menghargai hak hidup sesama rumah sakit. Pada waktu yang lalu. e) Menghormati hak pasien untuk memilih rumah sakit yang manapun juga. Penjabaran seperti itu akan mendorong rumah sakit memperhatikan mutu pelayanan. Tetapi dalam melakukan pemasaran. peranan sosial rumah sakit haruslah ditafsirkan secara lebih luas dan ditujukan untuk menampilkan peranan rumah sakit (swasta) dalam pembangunan bangsa. adalah rumah sakit yang memahami etika bisnis. Seharusnya peranan (fungsi) sosial rumah sakit harus dijabarkan sebagai keharusan rumah sakit untuk menjalankan : (1) fungsi pelayanan. adanya persaingan tidak dapat dihindari dan tidak pula dapat dipungkiri. ada hal-hal yang perlu diperhatikan : a) Tidak boleh meremehkan atau menjelekkan rumah sakit lain. 2) Etika pemasaran atau promosi. apalagi melarang pasien untuk memilih rumah sakit lain. jika benarbenar mereka memang beritikad untuk berperilaku etis. yang harus tercermin dalam sistem manajemennya. Bahkan rumah sakit pemerintah pun tidak jarang melihat kehadiran rumah sakit swasta sebagai pesaing. hal itu dapat dijadikan sebagai nilai "plus" dalam proses akreditasi. Juga ada hal-hal lain yang masih perlu diatur dalam etika perumah sakitan yang sebaiknya dibicarakan di dalam kongres PERSI. Kalau ada rumah sakit swasta yang akan melakukan fungsi charitative. Etika persaingan yang perlu diperhatikan adalah : a) Tidak boleh saling memburuk-burukkan pesaing. Panitia-panitia itu adalah : a) Panitia Kredensial b) Panitia Etika c) Panitia Jaringan d) Panitia lnfeksi Nosokomial e) Panitia Kematian f) Panitia Farmasi dan Terapi Rumah sakit yang membentuk panitia-panitia tersebut dan bersungguh-sungguh memanfaatkan panitia-panitia itu untuk menjaga dan meningkatkan mutu pelayannya. terutama untuk masa yang akan datang. Edisi Khusus No. Hal-hal yang masih perlu diatur dalam etikaperumah sakitan dan tidak perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan formal antara lain adalah : 1) Etika persaingan Dalam kehidupan berbisnis. peranan atau fungsi sosial sebuah rumah sakit ditafsirkan sebagai fungsi charitative rumah sakit. Jadi pada dasarnya kita melihat bahwa undang-undang tersebut lebih banyak diarahkan untuk melindungi pasien dan masyarakat pemakai jasa pelayanan medik pada umumnya. 90. yaitu menetapkan agar 25% tempat tidur disediakan untuk orang miskin. b) Memberikaninformasiyangjujurdan tidakberlebih-lebihan. atau dapat diberi insentif dalam perpajakan. 13) Pasien berhak mengetahui peraturan yang berlaku di rumah sakit tersebut. Rumah Sakit yang berusaha untuk menjaga mutu pelayanannya akan membentuk panitia-panitia yang dapat dijadikan alat pemantau mutu oleh pimpinannya. serta meningkatkan kemampuan sumber daya manusia lndonesia. (2) fungsi pendidikan. untuk menutupi kenyataan bahwa rumah sakit memang harus dikelola secara business like dan dapat mencari keuntungan. Seharusnya. Di sinilah PERSI kemudian perlu mengaturnya dalam Kode Etik Rumah Sakit. Promosi atau pemasaran rumah sakit harus dianggap sebagai suatu yang wajar. Meskipun demikian. c) Rumah sakit pemerintah tidak boleh menggunakan kekua saan dan wewenang yang melekat pada instansi pemerintah untuk menjegal pertumbuhan rumah sakit swasta. Ketiga hal di atas sulit untuk dijadikan peraturan perundangundangan. d) Memberi kesempatan kepada pasien atau calon pasien untuk bertanya dan dijawab dengan sejujur-jujurnya. 1994 55 . 14) Pasien berhak untuk mengadukan keluhannya jika ia merasa bahwa hak-haknya telah dilanggar. 3) Etika untuk menjaga mutu pelayanannya.membayar biaya tersebut. c) Tidak menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin diberikan. yaitu tentang peranan atau fungsi sosial rumah sakit. dan (3) fungsi penelitian.

psikologi. SH Jakarta Marketplace medicine will become a medicine in the service of the rich and powerful. Wanprestasi pada pihak dokter tidak dengan begitu saja dapat terlihat dan dibuktikan. pandangan dan fungsi rumah sakit telah mengalami perubahan yang drastis. Kesemua bentuk etika ini saling berjalinan satu sama lain. seperti: – Etika Rumah Sakit. 21 — 25 November 1993. – Etika Kedokteran. berlainan. kini hubungan antara rumah sakit – pasien menjadi hubungan yang seakan-akan bersifat zakelijk antara pemberi jasa pelayanan medis (perumahsakitan) dan penerimanya (health provider . maka menurut hukum perdata ia dikatakan telah ingkar janji alias melakukan wanprestasi. – Etika Profesi Hukum. beli. Kalau dahulu pemberian pelayanan rumah sakit melalui profesi kedokteran lebih bersifat paternalistik. Berbagai disiplin dan profesi kini bernaung di bawah satu atap. Jakarta. – Etika Keperawatan. Karena bukankah rumah sakit (dokter) hanya berusaha sedapat mungkin untuk menyembuhkan penyakitnya (inspanningsverbintenis) dan tidak menjamin akan hasil (resultaats-verbintenis). more and more patients will be denied access to urgently needed care simply because they cannot pay for it". Kini ia dimasuki pula disiplin hukum. Masing-masing pihak sudah mempunyai hak dan kewajiban.Beberapa Masalah dalam Hubungan Rumah Sakit dan Pasien J. karena sifatnya unik. Kini rumah sakit tidak saja padat tenaga kerja. 56 Cermin Dunia Kedokteran. Dalam satu dekade ini tampaknya falsafah. ialah sang manusia sebagai pasien. Wajib saling memberikan prestasi.health receiver).(1) Kalau sudah berbicara tentang jualMakalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo. 1994 . Allen Verhey in "MORAL MEDICINE" PENDAHULUAN Rumah Sakit makin bertambah kompleks. maka sifatnyapun sudah berlainan. namun juga bisa saling berhadapan dan berbenturan. Relman. padat sarana. dan lain-lain. Edisi Khusus No. Arnold S. Jika salah satu pihak tidak memberikan prestasinya. 90. sosiologi dan berbagai bidang lainnya. sudah berwarna dagang. Atau jika ditinjau dari segi ekonomi: antara penjual dan pembeli (jasa kesehatan). Mulanya hanya bidang Kedokteran dan Keperawatan saja yang memegang peran utama di rumah sakit. namun juga sarat berbagai nilai dan etika. – Etika Biomedik. seorang dokter menulis: As economics pressures on hospitals grow and hospital managers are encouraged or forced to act like businessman concerned primarily with profit margins. – Etika Kebidanan. Namun di bidang pemberian pelayanan medik hal ini merupakan masalah pelik. ekonomi dan manajemen. Namun sifat hubungan antara Rumah Sakit – Pasien turut berubah pula. – Etika Bisnis (?). Guwandi. Faktor yang masih tetap adalah subjeknya. padat ilmu pengetahuan dan teknologi. while the poor and weak watch and pray. – Etika Farmasi.

Kita bisa menghindari kesalahankesalahan yang telah dibuat di luar negeri dan mengambil alih pemecahan persolaan yang baik. Voor mij in elk geval bleek de studie van elk onderdeel van het Nederlandse medische aansprakelijkheidsrecht kennis van het vreemde recht nuttig en waardevol). Bagi saya hukum negara lain yang mengatur tentang tanggungjawab hukum di bidang medik adalah penting dipelajari dan sangat bermanfaat dan berharga untuk hukum medik negeri Belanda" ( 2) (Het Nederlandse medische aansprakelijkheidsrecht kan zonder rechtsvergelijking niet tot bloei komen. Di samping itu hukumnya pun sudah jauh ketinggalan. terperinci dan mendalam. Etika Rumah Sakit bahkan mengalami penggantian secara menyeluruh yang diusulkan 21-23 Nopember 1992. PERSI sebagai wadah tunggal rumah sakit di Indonesia dan sebagai mitra Pemerintah di bidang kesehatan seyogyanya diberi peranan yang lebih besar menjelang PJPT-II. 1994 57 . sedangkan ia tidak ada asuransinya? Atau masuk asuransi. Materi hukum dari kedua sistim. Yang bersifat murni Etik paling-paling adalah yang menyangkut sopan-santun yang tolok-ukumya dapat diambil dari ukuran etik. Di dalam Bab III tentang Kewajiban Rumah Sakit terhadap Pasien di antaranya disebutkan bahwa: Rumah sakit harus mengutamakan kepentingan pasien Hal ini bcrarti bahwa kepentingan pasien di rumah sakit harus didahulukan dari kepentingan lainnya. Hippocrates. terdengar berita. bukan materinya. PEMBAHASAN Agak sukar untuk memilah-milah segi Etik dan Hukum. atau mengkambinghitamkan rumah sakit lain. karena kedua segi berjalinan satu sama lain (untuk meminjam istilah Roscam Abbing: intertwined and interconnected). padahal kelalaiannya adalah di rumah sakit sendiri. bervariasi. Kini Rumah Sakit sedang dalam masa transisi. peraturan hukumnya pun ada juga yang pembentukannya melalui keputusan pengadilan (Paul Scholten: rechtsvinding). Sluyters dari negeri Belanda yang mengatakan bahwa: "Hu- kum mengenai tanggungjawab medik negeri Belanda tidak bisa berkembang tanpa perbandingan hukum. Edisi Khusus No. Misalnya adalah tidak etis untuk menjelek-jelekkan atau mendiskreditkan rumah sakit lain. tetapi yang di cover oleh asuransi hanya sebahagian. Konsep baru ini telah disetujui untuk disahkan di dalam Kongres PERSI ke VI 1993 sekarang ini. diperbolehkan pula bentuk PT yang tentunya tujuannya adalah for profit. Yang paling sukar adalah apabila kepentingan (baca: pengobatan) pasien berbenturan dengan kepentingan finansial rumah sakit. cara mengadilinya. Materinya yang cocok diambil dan yang tidak sesuai ditinggalkan atau disesuaikan dengan situasi dan kondisi. gevarieerd. Hal ini tidak begitu sukar untuk dilaksanakan. Die voor ons dringed noodzakelijke rechtsvergelijking geeft ons de gelegenheid een achterstand ten opzichte van enkele grote ianden in te lopen en hier en daar om te zeeten in een voorsprong. baik dari Anglo Saxon maupun Eropa Kontinental. Yang beda terletak pada sistemnya. maka tolok ukur yang lama pun harus turut berubah pula. yaitu: sistem Anglo Saxon dan Eropa Kontinental. tata-cara beradab yang umum terdapat di dalam masyarakat. die voldoende o omvangrijk. 90. Sesuai dengan judul makalah. karena disiplin kedokteran berasal dari satu sumber yang sama. Perbandingan hukum sangat penting karena akan memberikan kesempatan untuk mengejar ketinggalan kita terhadap negara besar lainnya dan membuat lompatan jauh ke depan. Termasuk Etika Rumah Sakitnya yang harus ada penyesuaian. Wij kunnen trachlen de buitenlandse fouten te vermijden en de geode oplossingen over te neme. Diberikan wewenang dan tanggungjawab terhadap perkembangan di bidang perumahsakitan. gedetailleerd en diepgaand is. Materi pembuatan hukum yang menyangkut perumah sakitan terdapat pada dua sistem hukum yang berbeda. Dengan demikian. Sistim Anglo Saxon yang memakai peradilan juri yang berdasarkan Common law. Dalam kaitan ini ingin saya mengutip ucapan Prof. Dalam menghadapi masalah ini. Sistimnya tidak usah dihiraukan. schingga sisanya harus ditanggung sendiri olch pasien? Dokter yang menangani pasicn mcng- Cermin Dunia Kedokteran. maka dalam tahun 1993 ini tampaknya ada dua bentuk etika mengalami penyesuaian.Sebagai antisipasi terhadap perubahan situasi dan kondisi. Bagaimana jika pasien tidak mampu lagi membayar biaya rumah sakit dan dokter dan belum sembuh. Kita dapat langsung mengambil hikmah dan pelajaran yang sangat berharga dari pengalaman mereka yang telah dibayarnya dengan mahal. maka dalam kontek ini yang ditinjau adalah buhunghan rumah sakit – pasien dari sudut Kode Etik Rumah Sakit yang baru. Patut disayangkan bahwa belum ada yang mengadakan studi komparatif di antara kedua sistim hukum ini di bidang Hukum Kedokteran. Nederland is eenvoudingweg te klein voor het genereren op eigen kracht van een litteratuur en jurispdent-ch ver dit onderdeel van het aansprake lijkheidcrecht. Negeri Belanda terlampau kecil untuk dapat membentuk dengan tenaga sendiri suatu kepustakaan dan hukum yurisprudensi di dalam bidang tanggungjawab hukum ini yang cukup luas. Literatur dan yudisprudensi di luar negeri mengenai Hukum Kedokteran sudah banyak diterbitkan. Globalisasi yang diikuti dengan erosi moral dan perubahan nilainilai (values) telah mendesak rumah sakit untuk mencari "wajah dan bentuk" baru yang sesuai dengan permintaan zaman. dapat diambil dan disaring dengan falsafah Pancasila kita. Kini selain rumah sakit yang bersifat IPSM. Hakim dari negara yang menganut sistem kontinental yang sistim hukumnya mengutamakan kondifikasi. pembentukan peraturan hukumnya dapat dikatakan paralel dengan apa yang dinamakan penemuan hukum di negara yang memakai sistem kontinental. Sewaktu makalah ini dibuat. bahwa terhadap Etika Kedokteran sedang dilakukan evaluasi. termasuk Hukum di bidang perumahsakitan. Di atas telah dikemukakan bahwa terdapat berbagai etik di rumah sakit. Namun menurut hemat saya hal ini tidak merupakan kendala bagi perkembangan Hukum Kedokteran Indonesia.

Harus diketahui bahwa sewaktu pasien dan pihak asuransi mengadakan perjanjian. . Di dalamnya dicantumkan hak atas informasi. namun tidak dengan pihak asuransi (Lain halnya Astek. efficiency. Dari pihak perawat tampak sudah banyak kemajuan dan memberi catatan lengkap tentang pasien yang di bawah perawatannya. Masalah lain adalah menyangkut Rahasia Kedokteran (baca: pasien) yang harus disimpan dan tidak boleh diungkapkan kepada pihak lain tanpa izin pasien. input . rumah sakit/dokternyalah yang harus membuktikan ketidaksalahannya/ketidak.. Sesudah pasien masuk rumah sakit dan dirawat. dan lain sebagainya dokter sebagai health provider dan pasien health receiver terjepit di antara kedua pola pengertian tersebut. dan sebagainya. Selain itu pemberian keterangan kepada pihak asuransi tersebut tidak termasuk perjanjian terapetik rumah sakit (dokter) – pasien.. because the less fortunate will always suffer" ( 5) Rumah Sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien Hak asasi manusia (HAM) yang . Ini sudah berlaku universal dan dijelaskan dalam yuriprudensi berbagai negara di dalam pertimbangan hakim. Penelantaran dari kewajiban membawa akibat bahwa beban pembuktian (onus. demi efisiensi rumah sakit secara keseluruhan. Sebenarnya dengan mudah masalah ini dapat diselesaikan asalkan pihakpihak yang berkepentingan sudah mengetahui hukumnya dan mau mengerti serta mentaatinya. lalaiannya ( 2 ).. bahwa . Namun menjelang PJPT-II. 90. (6) Seorang dokter dapat membuktikan dirinya dari kesan telah berlaku lalai atau teliti dalam memberikan pelayanan dengan catatancatatan yang telah ditulisnya. beneficence. Masih belum disadari bahwa berkas ini merupakan alat bukti yang kuat dan sangat penting. Berapa menitkah harus dikorbankan untuk menulis suatu catatan? Kalau sudah ada tuntutan malpraktek medik. admission clerks.. non-maleficence. karena setiap kali dokter yang merawatnya direpotkan dengan hal-hal semacam ini yang sebenarnya terletak di bidang administratif dan hukum. Edisi Khusus No. (3) Luis Bohigas pada tahun 1989 pemah menulis. either he "betrays" his medical origin (if he decides to follow the management policy) or he is considered weak (if he doesn't undertake the restrictive policy)" Di dalam kasus semacam tampak dua disiplin yang berlawanan satu sama lain. sehingga dapat dikenakan honor terpisah. truthtelling. cost effectiveness. Persoalan lain adalah yang menyangkut Rekam Medis.. yang dalam praktek masih belum disadari sepenuhnya. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan pada Penjelasan pasal 53 ayat 2. emergency. Bagaimana kalau di dalam satu kasus harus mengadakan pilihan. justice.. Mengapa? Kazena bukti yang utama di dalam perkara tuntutan malpraktek medik yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterima di depan Pengadilan adalah catatan-catatan yang telah ditulis di dalam Rekam Medis tersebut (yang asli dan tidak ditambah/dicoret/diganti/ diubah. a physician can protect himself from the appearence of negligence by the care and diligence with which he writes his notes . fidelity. Ada juga yang tidak lengkap menulis. yang mana harus dipilih? Salah satu pandangan adalah dari Keith Wrenn yang mengatakan bahwa: Hospital administrators. baru timbul hubungan antara rumah sakit pasien.process . Urusan administrasi dan keuangan terpaksa menjadi birokratis dan seringkali kurang "berperikemanusiaan"... burden of proof) menjadi terbalik. 58 Cermin Dunia Kedokteran. barulah terasa betapa pentingnya catatan tersebut yang tadinya dianggap hal-hal sepele. Disiplin ekonomi dan menajemen yang berbicara dengan bahasa: money. Maka antara rumah sakit dan pihak asuransi sama sekali tidak ada kaitan secara langsung. Apalagi sekarang sudah dicantumkan juga di dalam UU No.hadapi dilema apabila ia mendapat "pesan sponsor" dari pihak manajemen/pemilik. Sedangkan bio-etik dan disiplin kedokteran menggeluti istilah-istilah: life-saving. profit margin. Hak atas informasi pasien merupakan hal yang harus diperhatikan oleh rumah sakit. pihak rumah sakit sama sekali tidak tahu-menahu. sedangkan perusahaan asuransi itu permintaan- nya juga dilakukan misalnya oleh seorang dokter? Bukankah antara teman sejawat tidak ada rahasia? Mungkin hal ini harus di clear kan. Jika tadinya sebagaimana biasa beban untuk membuktikan terletak pada yang menggugat (pasien). Jasa Raharja yang memang sudah ada perjanjian dengan rumah sakit sebelumnya). . Thus. Namun tulisan itu harus dapat dibaca dan dapat memberi gambaran secara kronologis mengenai apa-apa saja yang telah dilakukan oleh dokter. Di Jerman oleh Bundesgerichtshof ( Mahkamah Agung) bahkan telah dikembangkan suatu ajaran bahwa kepada dokter dan rumah sakit dibebankan suatu wajib dokumentasi. 1994 . Tentu timbul pertanyaan: mengapa pihak asuransi tidak dapat secara langsung meminta informasi medik dari rumah sakit. death. cost containment. dsb).. kini dalam kasus malpraktek medik yang rekam medisnya tidak terbaca. Memang informed consent merupakan barang impor dari Amerika yang masih belum begitu dihayati maknanya.. or business managers should not have the final say in determining who gets health care. Permintaan keterangan medis. Persetujuan Tindakan Medik sebagaimana sudah diatur di dalam Permenkes No. menjadi pasien rumah sakit harus diindahkan. Banyak tulisan dokter pada Rekam Medis tersebut tak terbaca.. the medical director faces a dilemma.. . Surat tersebut diserahkan kepada rumah sakit untuk disimpan di dalam berkas Rekam Medis sebagai alat bukti jika ada tuntutan kelak... 585 tahun 1989 secara berangsur-angsur harus diterapkan.. Gemala Hatta di dalam Rakernas Pormiki I telah mengutip Leslie Ann Fox: "...outcome. misalnya dari pihak asuransi harus ada Surat Pernyataan Persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga terdekatnya. patient's autonomy. Di Amerika telah diterbitkan suatu Hospital Patient 's Charter. perawat dan tenaga kesehatan lainnya selama pasien dirawat.

Bahkan masih dicoba-coba dengan obat diuretik. sekedar untuk pengembalian kredit Bank sehingga terjadi overuse dari peralatan mahal. 8) Menahan pasien dan tidak merujuk ke rumah sakit lain. tetapi tidak bisa dipisahkan (scheiden). Hanya bisa diadakan pembedaan (onderscheiden). 3) Pasien yang sebenarnya harus dirujuk ke spesialis/bagian lain masih ditahan-tahan sehingga penyakitnya bertambah parah. Bahkan cenderung untuk mendapat penyakit iatrogenik dari rumah sakit sehingga jadi berkepanjangan dan bisa dijadikan dasar tuntutan. medisch gezien. karena tidak mampu membayar (undertreatment). DNR (Do Not Rescuscitate) order? Kode Etik mana yang menilai dan memutuskan: Kode Etik Kedokteran atau Kode Etik Rumah Sakit? 11) Apakah suatu usaha pengobatan yang sudah tak bisa menolong lagi (Prof. 2) Atas dasar "indikasi medik" terhadap pasien yang mampu dilakukan berbagai pemeriksaan (mahal) yang sebenarnya tidak perlu atau tak ada gunanya. Di dalam literatur dibedakan dua bentuk interhospital transfer (pasien gawat darurat yang belum stabil dan wanita yag sedang mau melahirkan). Tampaknya pandangan klinis (klinische blik) sementara dokter sudah ada yang memudar. Jika sampai meninggal di jalan. walaupun alat diagnosis yang diperlukan untuk mendeteksi penyakitnya tidak dipunyai (CT Scan) dan tidak ada tenaga dokter spesialisnya. tidak akan ada gunanya (Een arts dient derhalve niet met een therapie te beginnen noch deze voort te zetten. Di dalam yurisprudensi hukum kedokteran penuntutannya didasarkan atas lack of diagnostic information and the failure to refer to another hospital. 12) Masalah yang menyangkut Euthanasia dan Kematian: • Tidak mulai memberikan life support treatment pada pasien in faust. Besoknya pasien meninggal. Bagaimana jika kemudian diperlukan untuk pasien lain yang masih banyak harapan? 10) Pasien dengan multiple sclerosis yang sebelumnya sudah beberapa kali menyatakan minta diakhiri hidupnya saja.Di atas telah dikatakan bahwa antara Etik dan Hukum sukar dipisah-pisahkan. Bisa terkena KUH Pidana tentang Penipuan. 5) Bagian Administrasi Rumah Sakit yang tidak memperbolehkan pasien pulang karena tidak bisa melunasi biaya rumah sakit/dokter. tetapi tidak melepaskan pasiennya. Edisi Khusus No. Pernah dari pihak agama Katholik mengemukakan perumusan lain: treatment which is disproportinately burdensome. Bagaimana pendirian kita dalam masalah ini? Cermin Dunia Kedokteran . Bagaimana pertimbangan etis di Indonesia tentang: NCO (Nursing Care Only). 7) Tidak menerima pasien yang dalam keadaan terminal untuk menekan mortaliry rate dan memelihara nama baik rumah sakit atau pasien demikian cepat-cepat dipindahkan dengan berbagai dalih ke rumah sakit lain. or futile. Beberapa contoh: 1) Rumah Sakit (dokter) menahan-nahan pasien VIP yang sebenarnya sudah dapat dipulangkan. Misalnya: pasien yang fungsi ginjalnya sudah minim (gagal ginjal) yang kadar ureumnya sudah di atas 200 dan kreatininnya sudah jauh melebihi angka 7. Hal ini bisa menjadi kasus hukum kalau sampai mengakibatkan matinya sang pasien. rumah sakit bisa dipersalahkan karena melakukan patient 's dumping. peralatan yang diperlukan atau tidak adanya tenaga spesialisnya (medical reasons). Sesudah keluar dari rumah sakit ia akan menceritakan pengalaman pahitnya dengan dokter tersebut. is not obligatory (9). 9) Masalah etik yang pelik bisa timbul di ruang ICU apabila misalnya alat ventilator yang tersedia. (economic reasons). Demikian pula antara rumah sakit dan doktemya. termasuk pasien yang sudah tak ada harapan pulih kembali. 1994 59 . 4) Dokt. walaupun sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. 6) Pasien gawat-darurat yang belum stabilized. Bisa terkena KUH Pidana pasal 333 tentang Penyanderaan yang tidak sah (onrechtmatige vrijheidsberoving). Nama rumah sakit sedikit banyak pun akan tercemar.cr spcsialis on call yang pada waktu malam tidak mau datang. geen resultaat van te verwachten valt). tetapi masih belum dirujuk untuk hemodialisis. Atau sebaliknya pasien yang harus diperiksa dengan alat tersebut untuk dapat diketahui persis penyakitnya tidak dilakukan. atau tidak menerimanya dengan berbagai dalih. 11 di atas) • Penghentian atas dasar finansial atau pulang paksa apakah tidak merupakan pseudo-euthanasia? • Arti ordinary and extra-ordinary means yang dengan perkembangan pesat iptek kedokteran menjadi pengertian yang samar. Sebenarnya hasil penunjang medik seharusnya adalah sekedar untuk meyakinkan kebenaran dugaan diagnosisnya. indien er. apalagi memeriksanya. sekedar untuk memenuhi ruangan yang kosong. Leenen: zinlose medische behandeling) boleh dihentikan atau harus diteruskan? Menurut Leenen seorang dokter tidak usah mulai memberikan suatu terapi atau meneruskan suatu terapi. namun jika sampai terlampau lama pasien pun akan bertanya-tanya di dalam hati: sakit apa saya sebenamya sehingga harus dirawat sedemikian lama. 90. jika dilihat dari segi medis. Memang sukar dibuktikan. • Bilamana pemberian life support treatment tersebut boleh dihentikan? (bandingkan butir no. tetapi dikirim ke rumah sakit lain karena tidak bisa membayar uang muka. Dan pasien yang dianggap tebal kantongnya di-pingpong lebih dahulu ke beberapa spesialis supaya lebih "yakin" akan penyakitnya. semuanya sedang dipasang pada pasien. sehingga lebih tergantung kepada peralatan penunjang medik. yang bisa mengakibatkan transfer associated death (7): a) Atas dasar alasan medis (karena kekurangan sarana. tetapi sang dokter masih tetap menulis honornya walaupun belum pemah melihatnya. b) Atas dasar pertimbangan finansial (butir 6 di atas). memperpanjang length of stay.

BLKM Cilandak. Deventer. No Admission. Penerbit Kanisius. What are hospitals for? Economic Considerations in Emergency Care. 1. 7. an Medicine. De aansprakelijkheid van Arts en Ziekenhuis. et. Ethics. Preadvies Nederlandse Vereniging voor Rechtsvergelijking. 1989. J. 147. Who Runs the Hospital? Hospital Management International. Kellennann AL.KEPUSTAKAAN Relman AS. Al Purwa Hadiwardoyo. Interhospital patient transfer. Etika Medis. 312 (6) : 372. Med 1985. p 60. Law. Skegg PDG. Bohigas L. Med. 7-8 Agustus 1993. Engl. Rechten van Mensen in de Gezondheidszorg. p 54. Pustaka Filsafat. N. Engl. 239. 5. 3. Seminar Sehari dan Rakemas I PORMIKI. N. 1989. Pada footnote membandingkan "Sacred Congregation of the Doctrine of Faith. 72 Acta Apostolicae Sedits 542-52 Clarendon Press. 2. al. 1984.Med. 9. Leenen HJJ. p. p. 1994 . 90. Kluwer. 1980). 1985. J. 6. Engl. Edisi Khusus No. " Iura et Bona (Declaration on Euthanasia). 4. Wrenn K. Oxford (1984). 312 (6). 8. Peranan Rekam Medis dalam tanggung gugat praktek profesional Tenaga Kesehatan. 319(10):643. Brussel: Samson Uitgeverij Alphen aan den Rijn. J. 1978. 60 Cermin Dunia Kedokteran. Gemala Hatta. No Insurance. N. 1988. Sluyters B.

1994 61 . adalah pembangunan bangsa. untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata kita hadapi. sejahtera.25 November 1993. yang akan mengantarkan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang maju. baik di dalam negeri maupun di luar negeri. tahap demi tahap. dan tidak selalu mengandalkan impor IPTEK buatan luar negeri. konsep inti pengembangan IPTEK adalah pembangunan manusia lndonesia itu sendiri. Oleh karena itulah. serta menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kualitas hidupnya sendiri yang semakin meningkat. Lain halnya kalau IPTEK dapat dikuasai. kemampuan pengembangan IPTEK menjadi sangat penting. yaitu bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk memenuhi keperluan-keperluan dasarnya sendiri. yaitu sumber daya manusia (SDM) Indonesia. 90. Edisi Khusus No. dimana kita semua terlibat di dalamnya. Prinsip ke dua. untuk dapat menjadi bangsa yang dihormati oleh bangsa lain kita harus bertekad untuk mampu memecahkan masalah-masalah kita sendiri. maka teknologi itu harus dialihkan dari negara maju. sudah barang tentu pada awalnya setiap Cermin Dunia Kedokteran . Karena. Prinsip pertama. Prinsip ke tiga. Prinsip ke lima. dapat juga yang paling canggih yang ada di dunia. Ada lima prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam menerapkan IPTEK untuk pembangunan bangsa. Bangsa di sini memiliki arti yang lebih luas dari pada hanya kemerdekaan politik. sumberdaya alam yang langka sekalipun bukan merupakan hambatan. teknologi itu tidak dapat dimengerti kalau dikembangkan secara abstrak. kepada para peserta Kongres PERSI VI dan Hospital Expo VII yang saya hormati. mentransformasikan diri menjadi bangsa yang modern. Jepang dan Korea yang sumber daya alamnya langka. tumpuan pembangunan nasional akan beralih dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA) ke pemanfaatan sumber daya yang selalu terbaharukan. dimana pembangunan nasional Indonesia akan mulai tinggal landas dengan kekuatan sendiri. Pembangunan Nasional. Yang penting adalah kegunaannya untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam negeri. Dalam tahap-tahap inilah. Contohnya. yang merupakan REPELITA pertama dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT-II). kemampuan mempertahankan budayanya. dan keberhasilan mempertahankan kesatuan nasionalnya sendiri: Indonesia. Jakarta. Teknologi-teknologi itu tidak harus yang paling sederhana. 21 . adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Prinsip ke empat. Sebentar lagi kita akan memasuki Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) VI. perlu dikembangkan konsep yang jelas dan realistis serta dilaksanakan secara konsekuen. diterapkan dan dikembangkan di Indonesia. Bangsa Indonesia telah bertekad untuk secara sistematis. Di dalamnya tersirat kemandirian ekonomi. Tanpa Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & H ospital Expo.Pengembangan IPTEK PJPT-11 Prof Dr Sudraji Sumapraja Staf Ahli Menristek Bidang IPTEK Kedokteran. pemilikan sumber daya alam yang berlimpah sekalipun tidak ada artinya. dapat menjadi negara industri maju karena kemampuan membangun IPTEK-nya. Oleh karena itu sekali lagi: pembangunan sumberdaya manusia adalah konsep inti pengembangan IPTEK Indonesia. menyediakan prasarana ekonominya sendiri. dan teknologi yang akan dipakai untuk mewujudkannya. Oleh karena itulah. kemampuan itu. tentang masyarakat yang ingin dibangun. Jakarta Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan beberapa kebijaksanaan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Pengembangan IPTEK PJPT-II. perlu diselenggarakan pendidikan dan latihan di berbagai bidang IPTEK yang gayut untuk pembangunan bangsa. kalau teknologi yang diperlukan itu belum ada di Indonesia.

yang memerlukan penelitian dasar untuk menjawabnya. sedangkan proses penyempurnaan dimulai sejak ia bekerja. Proses transformasi masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang maju teknologi dan industrinya dapat dipikirkan terdiri dari empat tahap transformasi teknologi dan industri yang 62 Cermin Dunia Kedokteran. sedangkan untuk proses penyempurnaan diperlukan wahana-wahana transformasi teknologi dan industri. dan juga tidak boleh main-main memilih wahana tempat manusia lndonesia menyempurnakan dirinya menjadi manusia yang unggul. sedangkan tahap keempat merupakan tahap kunci bagi negara-negara yang ingin mempertahankan keunggulan teknologinya. Tahap pertama. manusia tidak dengan sendirinya dapat menjadi pembawa IPTEK. dan kemudian menjadi unggul dalam bidangnya. kedokteran. seperti industri kesehatan. pariwisata. yang rata-rata lebih produktif dan lebih efisien. Dengan demikian ada unsur baru di sini. Tahap ke tiga. sebagai berikut : . dan mengelola penerapan dan pengintegrasian teknologi itu tidak cukup hanya diperoleh dari pendidikan melalui observasi. seminar atau membuat satu-dua produk lantas berhenti. Tahap ke dua. GBHN 1993 telah mengamanatkan bahwa IPTEK merupakan salah satu asas pembangunan nasional. kita tidak boleh mainmain dengan proses pendidikan. yang telah sama-sama kita siapkan dalam menyongsong tinggal landas di tahun 1994. yaitu proses untuk memperoleh dan menyempurnakan kemampuannya secara terus menerus. dan teknologi-teknologi baru pun dikembangkan. dan (2) proses penyempurnaan. maka kita harus pandai-pandai membuat prioritas. IPTEK yang diperoleh melalui pendidikan baru merupakan landasan untuk dapat berkembang menjadi manusia yang mampu dalam bidangnya. yang kesemuanya itu untuk merancang produk-produk masa depan. wahana-wahananya. yang secara garis besar dikelompokkan ke dalam lima bidang utama Matriks Nasional Riset dan Teknologi. perpmah-sakitan. Tiga yang pertama gayut untuk negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. dimana putra-putri bangsa yang terbaik mendapat kesempatan untuk menyempurnakan dirinya. Selanjutnya IPTEK telah ditetapkan sebagai bidang pembangunan nasional. dan lain-lain. adalah tahap pengembangan teknologi itu sendiri. maka sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan upaya mengubah mentalitas bangsa menjadi bangsa yang menghayati dan menerapkan nilainilai negara industri maju. Proses persiapan yang lebih dikenal dengan proses pendidikan dimulai sejak prasekolah dan mungkin berakhir di perguruan tinggi. Edisi Khusus No. Teknologi yang sudah ada dikembangkan lebih lanjut. yaitu unsur penciptaan. Kualitas manusia Indonesia dan masyarakat Indonesia serta penguasaannya terhadap IPTEK merupakan satu kesatuan sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional. kemampuan. politik dan strategi. Karena kita memulai transformasi teknologi dan industri itu dengan sumber dana dan daya yang terbatas. sedangkan kemampuan untuk menerapkan dan mengintegrasikan teknologi. Oleh karena itulah. artinya yang belum ada di pasaran. maka wahana kesembilan pun akan turut berkembang melalui tarikan dan dorongan melewati berbagai kaitannya. lebih bersaing harganya dan lebih tepat waktu penyampaiannya. Perusahaan-perusahaan atau negaranegara yang sedang melaksanakan tahap ketiga itu seringkali dihadapkan kepada kurangnya teori untuk mengembangkan teknologi baru. terdapat dua unsur strategi penerapan IPTEK untuk transformasi teknologi dan industri suatu negara sedang berkembang: pertama. merealisasikan potensinya untuk berproduksi. maka telah diputuskan untuk memprioritaskan pengembangan sembilan wahana industri sebagai berikut : 1) Industri angkutan udara 2) Industri angkutan laut 3) Industri angkutan darat 4) Industri telekomunikasi 5) Industri energi 6) Industri rekayasa 7) Industri alat dan mesin pertanian 8) Industri pertahanan-keamanan. Selain strategi transformasi teknologi dan industri seperti diuraikan di atas. Dengan demikian.negara harus melindungi pengembangan IPTEK nasionalnya. Tetapi. Dengan berkembangnya delapan wahana industri pertama tersebut di atas. Proses nilai tambah itu ditempuh dalam dua tahap: (1) proses persiapan. 1994 bertumpang-tindih. daya dukung dan daya tampung yang ada. IPTEK semakin berperan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional yang memberikan kesejahteraan kepada rakyat yang setinggi-tingginya. Ia harus terlebih dahulu menempuh proses nilai tambah. Dewan Riset Nasional (DRN) telah merumuskan Program Utama Nasional Riset dan Teknologi (PUNAS RISTEK). tetapi tidak untuk waktu yang terlampau lama. Berdasarkan kondisi. 90. Untuk proses persiapan ini diperlukan sistem pendidikan yang rasional dan efektif. Secara konsepsional. wahana-wahana industri mana yang perlu dikembangkan lebih dulu. Pada tahap ini dikembangkan desain dan cetak biru. dan untuk mempertahankan keberhasilan serta keunggulan yang telah dicapainya. dan 9) Industri pendukung lainnya. pendidikan. dan ke dua. Kemampuan yang bermutu tinggi dan lestari hanya akan diperoleh melalui wahana-wahana yang melakukan proses nilai tambah terus-menerus untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih bermutu. sampai ia mampu bersaing di dunia internasional. dan memperhatikan pula pertimbangan-pertimbangan geografik. Jalan pintas yang paling masuk akal adalah melakukan mengalihkan teknologi-teknologi dari luar negeri untuk memproduksi barang-barang tersebut di dalam negeri. pentahapannya. dan yang paling mendasar adalah tahap penggunaan teknologi-teknologi yang ada di dunia untuk prosesproses nilai tambah dalam rangka memproduksi barang-barang yang sudah ada di pasaran. Karena inti pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan potensi manusia lndonesia. adalah integrasi teknologi-teknologi yang sudah ada ke dalam desain dan produksi barang-barang yang baru sama sekali. Tahap ke empat.

Program Teknologi B. pengembangan dan penguasaan IPTEK bagi pembangunan nasional. yang ditampilkan dalam delapan program sebagai berikut : A. Sub Sektor Ilmu Pengetahuan Terapan dan Ilmu Pengetahuan Dasar 3. memang banyak masalah yang khas Indonesia. dan menjadi acuan untuk mengajukan dan menyaring usulan kegiatan IPTEK. Hukum. Sumber Daya Alam. Sub Sektor Kelembagaan. Dalam hal perumahsakitan. Program Teknik Produksi 2. dan dengan badan-badan internasional. Kebutuhan Dasar Manusia (Butsarman) II. Bagaimana kalau IPTEK yang kita perlukan itu belum dikembangkan di negara-negara maju? Dalam hal itu bangsa Indonesia harus mengerahkan sebagian dari dana dan dayanya untuk memperoleh IPTEK yang diperlukan itu. Belanda dan Inggris. Pemerintah juga telah berketetapan bahwa IPTEK yang diperlukan untuk pembangunan nasional. riset yang akan dilakukan sendiri itu harus pragmatis untuk memecahkan masalah-masalah nasional yang nyata. Sosial. sesuai dengan keperluan pemanfaatan. Program Ilmu Pengetahuan Dasar C. Program Utama Kesehatan Subprogram Utama Masalah Kedokteranl Kesehatan Penyakit menular +++ Penyakit degeneratif +++ Penyakit keganasan +++ Penyakitgangguan jiwa +++ Kecelakaan ++ Gizi salah +++ Subprogram Utama Keilmuan Biologi molekuler + Reproduksi manusia + Genetika + Pengobatan tradisional + Subprogram Utama Komponen Pelayanan Kedokteran/ Kesehatan ++ Kebijaksanaan Alat-alat +++ Obat-obatan +++ Proses/metoda pelaksanaan pelayanan kedokteran/ kesehatan +++ ++ + + + ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + ++ + ++ + + + + + + + + + + + + + + + ++ ++ ++ + ++ +++ +++ ++ +++ + + +++ +++ +++ +++ +++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + ++ ++ + + + ++ ++ Keterangan : TP : Program Teknik Produksi Tek : Program Teknologi IPT : Program Ilmu Pengetahuan Terapan IPD : Program Ilmu Pengetahuan Dasar Lem : Program Pembinaan Kelembagaan IPTEK Sar : Program Pengembangan Prasarana dan Sarana IPTEK Inf : Program Pengembangan Sistem Informasi Sta : Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik Prioritas tertinggi ditandai oleh +++ (tiga notasi plus) Cermin Dunia Kedokteran. Edisi Khusus No. Hal tersebut digambarkan dengan menempatkan tanda prioritas (+) pada program yang bersangkutan. Jepang. Hanya yang tidak boleh dilupakan adalah. Sub Sektor Informasi dan Statistik 7. yang tidak mungkin dikaji dari temuan-temuan di luar negeri. Ekonomi. Sub Sektor Teknik Produksi dan Teknologi 1. Program Ilmu Pengetahuan Terapan 4. Program Pembinaan Kelembagaan IPTEK 6. Perancis. Setiap tahun DRN akan menilai kembali PUNAS RISTEK itu untuk lebih disempurnakan dan disesuaikan dengan perubahan pembangunan dan perkembangan IPTEK. yang sudah dikembangkan di negara-negara maju. Industri IV. DRN telah merumuskan pula PUNAS RISTEK PELITA VI yang mengacu kepada GBHN 1993. Program Utama RISTEK PELITA VI Bidang Kebutuhan dasar Manusia (BUTSARMAN) Program-program Utama TP Tek. yang diduga akan bergerak sangat pesat. Dalam penyusunan PUNAS RISTEK. Prasarana dan Sarana IPTEK 5. memberikan arah pengembangan IPTEK. Budaya. IPT IPD Lem Sar. Dalam rangka kebijaksanaan inilah Indonesia telah menandatangani perjanjian kerjasama IPTEK dengan berbagai negara maju seperti Amerika Serikat. Program Pengembangan Prasarana dan Sarana IPTEK D. Sta. 1994 63 . dan pada garis besarnya berlaku juga untuk Indonesia. 90. Inf. Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik. Pemanfaatannya dilakukan melalui empat tahap pengalihan IPTEK seperti telah diuraikan sebelumnya. Program Pengembangan Sistem Informasi 8. Jerman.I. Energi dan Lingkungan Hidup III. Falsafah dan PerundangUndangan Selain itu. DRN telah memberi penekanan prioritas yang berlainan. sejauh mungkin dimanfaatkan. Pertahanan dan Keamanan V.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1985 tentang Pelaksanaan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 28. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. 1994 . 2. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1985 Penetapan Mulai Berlakunya Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 3). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3287). Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 51. dan menyesuaikannya dengan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan program-progran tersebut di atas.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1986 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI YANG TERHUTANG ATAS IMPOR DAN PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN JASA KENA PAJAK TERTENTU YANG DITANGGUNG OLEH PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk lebih menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dan meningkatkan program pembangunan di bidang kesejahteraan rakyat dan pertahanan-keamanan. 5. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1984 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1984 tentang Penangguhan Mulai Berlakunya Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1984 nomor 47. 64 Cermin Dunia Kedokteran. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3280). MEMUTUSKAN : Dengan mencabut Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1985 tentang Pajak Pertambahan Nilai Yang Terhitung Atas Penyerahan dan Impor Barang Kena Pajak Tertentu Yang Ditanggung Oleh Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 30). 90. Mengingat 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264). 4. Edisi Khusus No. dipandang perlu meninjau kembali Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1985 tentang Pajak Pertambahan Nilai Yang Terhitung Atas Penyerahan dan Impor Barang Kena Pajak Tertentu Yang Ditanggung Oleh Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 30).

10. dan kendaraan angkutan khusus lain untuk keperluan ABRI yang belum dibuat di dalam negeri. dan pita (sticker) Pajak Pertambahan Nilai yang dicetak oleh Perum PERURI. peralatan. serta tidak untuk diperdagangkan. yaitu : 1. perangkat lunak. uang logam. di bawah air dan di udara. Bahan baku untuk pembuatan uang kertas. Pasal 1 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas impor Barang Kena Pajak tertentu ditanggung oleh Pemerintah. Makanan ternak dan unggas dan/atau bahan baku untuk pembuatan makan temak dan unggas. Cermin Dunia Kedokteran. 9. Edisi Khusus No. Asrama Mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar pendapat Menteri Negara Urusan Perumahan Rakyat. Buku-buku ilmu pengetahuan yang belum diterbitkan di dalam negeri. dan pita (sticker) Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan oleh Pemerintah atas badan usaha yang ditunjuk oleh Pemerintah atas badan usaha yang ditunjuk oleh Pemerintah. 1994 65 . Alat perlengkapan kedokteran dan perawatan kesehatan yang digunakan langsung untuk keperluan Rumah Sakit Umum milik Pemerintah maupun swasta yang belum diproduksi di dalam negeri serta tidak untuk diperdagangkan. Uang kertas. pita cukai. uang logam. amunisi. Rumah Murah. benda meterai. 3. benda meterai. 8. alat angkutan di air. dan traveller's cheque. 3. Barang Kena Pajak yang bersifat strategis untuk keperluan pembangunan nasional yang ditetapkan Menteri Keuangan. kendaraan lapis baja. 4. 2. 2. Emas batangan yang dilakukan oleh badan usaha yang ditunjuk oleh Menteri Perdagangan. pita cukai. Rumah Sederhana. 90. Senjata. Pasal 2 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas penyerahan Barang Kena Pajak tertentu ditanggung oleh Pemerintah. 7. Alat kontrasepsi untuk keperluan Program Keluarga Berencana Nasional. yaitu : 1. Pondok Boro. uang logam. dan bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri yang dilakukan oleh dan untuk keperluan badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Hankam. 5. 6.Menetapkan : KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK WDONESIA TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI YANG TERHUTANG ATAS I MPOR DAN PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN JASA KENA PAJAK TERTENTU YANG DITANGGUNG OLEH PEMERINTAH. Uang kertas. Mesin. Emas batangan yang dilakukan oleh badan usaha yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

90. LL. Pasal 4 Ketentuan teknis yang diperlukan bagi pelaksanaan lebih lanjut Keputusan Presiden ini diatur oleh Menteri Keuangan. Senjata. alat angkutan di air.H. Alat kontrasepsi untuk keperluan Program Keluarga Berencana Nasional. Makanan ternak dan unggas. Agar setiap orang mengetahuinya. dan di udara. memerintahkan pengundangan Keputusan Presiden ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 3 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas penyerahan Jasa Kena Pajak dari Kontraktor kepada Perum Perumnas untuk pemborongan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 angka 2.M. 66 Cermin Dunia Kedokteran. ditanggung oleh Pemerintah. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1986 NOMOR 33 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum Perundang-undangan Bambang Kesowo. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1986 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd SUDHARMONO. 7. 5. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1986 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. Air bersih yang disalurkan melalui pipa. Edisi Khusus No. S.. 6. 1994 . di bawah air. Pasal 5 Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. amunisi.H. kendaraan lapis baja serta kendaraan angkutan khusus lain untuk keperluan ABRI. S.4.

90. bahwa berhubung dengan itu perlu ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan sebagai pengganti Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 655/KMK. bahwa untuk pemotongan Pajak Penghasilan atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuan tenaga ahli berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa yang dilakukan di Indonesia.04/1984 tentang Cermin Dunia Kedokteran.22/1986 Tgl. perlu diatur lebih lanjut pelaksanaannya. bahwa perkiraan penghasilan netto sebagaimana ditentukan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 655/KMK. 1.04/1986 TENTANG PELAKSANAAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN DARI TENAGA AHLI ATAU PERSEKUTUAN TENAGA AHLI SEBAGAI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI BERUPA HONORARIUM ATAU PEMBAYARAN LAIN SEBAGAI IMBALAN ATAS JASA PROFESI YANG DILAKUKAN DI INDONESIA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. MEMUTUSKAN Dengan mencabut: Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 655/KMK. Edisi Khusus No.04/1984 perlu disempurnakan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3309). c. Pasal 33 Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 1985 (Lembaaran Negara Tahun 1985 Nomor 63. 1994 Mengingat 2. b. : 20 Mei 1986 MENTERI KEUANGAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 356/KMK.04/1984.Lampiran II surat DJP Nomor : S-068/PJ. Pasal 21 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 50. 67 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3236).

4.Pelaksanaan pemotongan PPH atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuaan tenaga ahli sebagai Wajib Pajak dalam negeri berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa yang dilakukan di Indonesia. 2. Pasal 1 (1) Dalam pelaksanaan pemotongan Pajak Penghasilan atas penghasilan Sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuaan tenaga ahli sebagai Wajib Pajak dalam negeri berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa profesi yang dilakukan di Indonesia. diterapkan tarif lapisan terendah sebesar 15% (lima belas persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-undang Pajak penghasilan 1984. 1994 . yaitu telah ada pengurangan sehubungan biaya untuk memberikan jasa tersebut. (4) Pemotongan PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 90. 3. (2) Tarif lapisan terendah sebesar 15% (lima belas persen) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterangkan atas perkiraan penghasilan netto dari masing-masing tenaga ahli sebagai berikut: Nomor Jenis tenaga ahli Persentase dari penghasilan bruto 60 60 50 40 60 60 50 1. 7. Pengacara/advokat/penasehat ahli hukum lainnya Akuntan Arsitek Dokter Konsultan Notaris Tenaga ahli pemberi jasa porofesi lainnya (3) Apabila penghasilan berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa profesi tersebut pada ayat (1) dibayarkan sudah merupakan jumlah netto. langsung diterapkan atas honorarium atau pembayaran lain tersebut. 5. Edisi Khusus No. Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAKSANAAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN DARI TENAGA AHLI ATAU PERSEKUTUAN TENAGA AHLI SEBAGAI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI BERUPA HONORARIUM ATAU PEMBAYARAN LAIN SEBAGAI IMBALAN ATAS JASA PROFESI YANG DILAKUKAN DI INDONESIA. (2) dan (3) merupakan pembayaran pendahuluan dari PPh yang terhutang oleh tenaga ahli atau persekutuan tenaga ahli atas tahun dilaksanakannya pemotongan tersebut. 6. 68 Cermin Dunia Kedokteran. maka tarif lapisan terendah sebesar 15%.

Agar setiap orang mengetahui. Department of Anatomical and Cellular Pathology. Department of Medicine. Thailand. Bangkok 10700. Bangkok 10700. Cermin Dunia Kedokteran . memerintahkan pengumuman Keputusan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. 1994 69 . November 26—30. 1994 — of Pathology & llth World Congress of Academic and Environmental Pathology Hong Kong Information : Congress Coordinator. Division of Cardiology. Siriraj Hospital. 1994 — 10th ASEAN Congress of Cardiology . Department of Anaesthesiology. Room 38019. Bangkok Information : Secretariat. Shatin. Hong Kong. 270 Rama VI Road. 1994 — 7th ASEAN Congress of Plastic and Reconstructive Surgery Bangkok Information : Congress Secretariat.Pasal 2 Pelaksanaan Keputusan ini diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pajak. 90. 1/F. Thailand. The Chinese University of Hong Kong. 20th International Congress of the International Academy October 9—14. Siriraj Hospital. Dept of Plastic Surgery. November 6—1 1. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Edisi Khusus No. Bangkok 10400. 1994 — 9th Asian Australasian Congress of Anaesthesiologist Bangkok Information : Secretariat 9th AACA. Ramathibodi Hospital. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Mei 1986 MENTERI KEUANGAN RADIUS PRAWIRO Kalender Kegiatan llmiah August 16—18. Thailand. Prince of Wales Hospital. Dr Y Sahasakul.

Tambahan Lembagaran Negara Nomor 3262). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3312). Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 158/ KMK. bahwa sejalan dengan perkembangan sosial-ekonomi rumah sakit swasta dalam melakukan fungsi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan pelayanan dan jasa-jasa kesehatan telah berkembang sebagai institusi yang juga bersifat ekonomis dengan menitik-beratkan pada upaya mencari keuntungan. bahwa walaupun terdapat pergeseran status dan fungsi rumah sakit swasta dimaksud. 3.04/1991 tanggal 13 Pebruari 1991 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 68. 1. 90. c. 4. Mengingat MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ATAS RUMAH SAKIT. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 49.04/1993 TENTANG PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ATAS RUMAH SAKIT SWASTA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100). d. b.PERATURAN-PERATURAN MENTERI KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 796/KMK. bahwa pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan dimaksud atas Rumah Sakit Swasta tersebut perlu diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia. Edisi Khusus No. atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki/dikuasai/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tersebut dapat dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada junlah tertentu atas pajak terutang dengan memperhatikan fungsi sosial rumah sakit tersebut. 2. sehingga turus menunjang program kesehatan nasional. bahwa sehubungan dengan butir a dan b. fungsi sosial rumah sakit swasta tetap melekat sebagai institusi yang memberikan jasa pelayanan kesehatan. 70 Cermin Dunia Kedokteran. 1994 .

Pasal 4 Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan.b. DEPARTEMEN . 110016245 Cermin Dunia Kedokteran. HERTATI MULATSIH NIP. MAR'IE MUHAMMAD Ny. KEPALA BAGIAN T. Edisi Khusus No.U. Ditetapkan di :JAKARTA Pada tanggal : 20 Agustus 1993 MENTERI KEUANGAN ttd ttd.04/1991 tanggal 13 Februari 1991 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pasal 5 Pelaksanaan teknis keputusan ini diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pajak. 90.Pasal 1 (1) Yang dimaksud dengan Rumah Sakit Swasta dalam keputusan ini adalah Rumah Sakit Swasta IPSM (Institusi Pelayanan Sosial Masyarakat) yang: a. 1994 71 SALINAN sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO UMUM u. dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) Atas bumi dan/atau bangunagan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. Sisa Hasil Usaha (SHU) digunakan untuk reinvestasi Rumah Sakit dalam rangka pengembangan Rumah Sakit dan tidak digunakan untuk Investasi di luar Rumah Sakit. memerintahkan pengumuman keputusan ini dalam berita negara Republik Indonesia. 25% dari jumlah tempat tidur digunakan untuk pasien yang tidak mampu. Pasal 3 Atas Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan secara langsung yang terletak di luar lingkungan Rumah Sakit. sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan nomor 158/ KMK. dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sebesar 50% dari jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang seharusnya terhutang. tetap dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 6 Keputusan ini mulai berlaku untuk tahun pajak 1993 Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 2 Runah Sakit Swasta Pemodal yang bukan merupakan Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dan didirikan oleh suatu badan yang berbentuk Perseroan Terbatas.

Para Kepala Inspeksi Pajak di SELURUH INDONESIA Berdasarkan data yang diperoleh dari pemeriksaan rumah sakit sebagai pemotong pajak PPh Pasal 21 di seluruh Indonesia dan hasil pembicaraan antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) serta Pengurus Pusat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Berdasarkan ketentuan Pasal 21 UU No. Dokter tamu menerima atau memperoleh penghasilan berupa honorarium dari rumah sakit sebagai imbalan atas jasa yang diberikannya. Dokter tamu. baik yang diterima secara langsung maupun melalui kas rumah sakit. Para Kepala Kantor Wilayah DJP. tunjangan-tunjangan.NOMOR : SIFAT LAMPIRAN : PERIHAL : SE-19/PJ. yang berasal dari pasien dan dibayarkan melalui rumah sakit. Dokter yang menyewa ruangan di rumah sakit sebagai tempat prakteknva menerima atau memoeroleh penghasil sebagai imbalan atas jasa dokter yang dibayar oleh pasien. Dokter yang menyewa ruangan di rumah sakit sebagai tempat prakteknya . yakni: a. Dokter yang menjabat sebagai pengurus atau pimpinan rumah sakit. d. 3 April 1989 Pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit. Penghasilan para dokter sebagaimana tersebut pada butir 1 adalah sebagai berikut: a. 2. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : Kep-41/PJ/1988 tanggal 28 April 1988 (Buku Petunjuk). b. bersama ini diberikan penegasan mengenai pedoman pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit sebagai berikut: 1. d. c. serta imbalan lain. c. serta imbalan lain. 1. 90. 1994 72 . yakni dokter yang merawat atau menitipkan pasiennya untuk di rawat di rumah sakit. Dokter sebagai pegawai tetap atau pegawai honorer rumah sakit. 3. maka pelaksanaan Cermin Dunia Kedokteran. b. Edisi Khusus No. tunjangan-tunjangan honorarium.23/1989 Jakarta. 2. Dokter sebagai pegawai tetap atau pegawai honorer dari rumah sakit menerima atau memperoleh penghasilan berupa gaji. honorarium. Di rumah sakit pada umumnya terdapat tenaga dokter yang berdasarkan status hubungan kerjanya dapat dibagi dalam 4 golongan. 7 Tahun 1983 Jo. Dokter yang menjabat sebagaimana pengurus atau pimpinan rumah sakit menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari rumah sakit tersebut berupa gaji. (SERI PPh Pasal 21-38) Kepada Yth.

Rp. Atas penghasilan dokter sebagai pegawai tetap dari rumah sakit dipotong PPh Pasal 21 oleh rumah sakit tersebut sesuai dengan ketentuan pada butir 3. Penghasilan bruto diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh penghasilan. 630. Rp.700. tergantung persetujuan antara dokter dengan rumah sakit tersebut.a. Biaya perawatan (sewa kamar) Radiologi Laboratorium Anesthesi Biaya obat Telepon/lnterlokal Jasa dokter Biaya administrasi Rp. 2. 150. rumah sakit akan memotong pungutan rumah sakit (bagian rumah sakit) sebesar 15% s/d 20%.620. 8. 9. tunjangan maupun honorarium serta imbalan lain yang dibayar oleh rumah sakit kepada dokter tersebut. 3.24. dipotong PPh Pasal 21 oleh rumah sakit tersebut sesuai dengan ketentuan pemotongan PPh Pasal 21 untuk penghasilan pegawai tetap dengan diterapkan tarip Pasal 17 atas Penghasilan Kena Pajak (PKP).025. Rp.025. Atas penghasilan berupa imbalan jasa dokter dari pasien yang diterima langsung oleh dokter yang menyewa Cermin Duniu Kedoklerun. baik berupa gaji..= Rp. Yang dimaksud dengan penghasilan bruto berupa honorarium adalah jumlah imbalan jasa dokter dari pasien yang dirawatnya di rumah sakit tersebut. Untuk lebih jelasnya bersama ini diberikan contoh perincian biaya perawatan dari rumah sakit sebagai berikut: Sebesar Jenis biaya 1.14. 4. 90. Atas penghasilan berupa honorarium yang diterima dokter tamu.000. Rp. 5.000.1. b. c.15.700.pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan dokter pada butir 1 adalah sebagai berikut: a. 6. Rp.Dalam hubungan ini berdasrkan kesempatan antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Pengurus Pusat Persi. 1994 73 . dipotong PPh Pasal 21 oleh pihak rumah sakit sebesar: 15% x 40% x Penghasilan bruto berupa honorarium. maka ia hanya berhak memperoleh potongan PTKP tetapi tidak berhak mendapat potongan biaya jabatan dan kepadanya diterapkan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Buku Petunjuk.tersebut.000. 7.- Jumlah biaya Dari jumlah jasa dokter sebesar Rp. jasa dokter wajib dibayarkan melalui rumah sakit. Rp. PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang harus dipotong oleh rumah sakit adalah sebagai berikut: 15% x 40% x Rp 150. Edisi Khusus No.000. Rp.000.000.980. 150. d. sebelum dipotong atau dikurangi dengan potongan-potongan oleh rumah sakit.21. Atas penghasilan dokter yang menjabat sebagai pengurus atau pimpinan rumah sakit. Sedangkan apabila dokter tersebut statusnya masih pegawai honorer. Rp.19..877.

Namun dalam hal pasien membayar jasa dokter melalui kas rumah sakit dan rumah sakit tersebut memotong pungutan rumah sakit. 1994 . Arsip. 5.setahun. Ketentuan pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit ini berlaku sejak tanggal dikeluarkannya Surat Edaran ini.a.000. yakni penerimaan bruto dari praktek dirumah atau ditempat praktek lainnya. 150. 7 Tahun 1983. Ketua Umum PERSI.4. Dengan dikeluarkannya Surat Edaran ini maka dengan ini kami nyatakan bahwa Surat Edaran terdahulu yang mengatur mengenai hal yang sama yang tidak sesuai dengan Surat Edaran ini dinyatakan tidak berlaku lagi. penghitungan penghasilannya didasarkan pada keadaan yang sebenarnya sesuai dengan pembukuan yang diselenggarakannya. Berdasarkan ketentuan Pasal 13 UU No. ruangan di rumah sakit untuk tempat prakteknya rumah sakit tidak wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21. maka kepadanya supaya segera diberikan NPWP agar ia segera mengisi SPT Tahunan. Perlu ditegaskan bahwa rumah sakit dan Yayasan Pengelola Rumah sakit wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan para dokter sebagaimana tersebut pada butir 2 sesuai ketentuan sebagaimana tersebut pada butir 3.. Sekretaris DJP/Para Direktur/ Bintek/Staf Ahli DJP 74 DIREKTUR JENDERAL PAJAK 3. Penghasilan bruto berupa honorarium dari rumah sakit (dalam contoh pada butir 4c. ia diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. Apabila hasil penjumlahan sebagaimana tersebut pada butir 5. 120. 1. c. Apabila hasil penjumlahan sebagaimana tersebut pada butir 5.atau lebih setahun. 6. Bapak Menteri Muda Keuangan RI (sebagai laporan) 2. maka atas imbalan jasa Dokter yang dibayarkan kepada dokter tersebut berlaku ketentuan sebagaimana tersebut pada butir 3. maka dokter tersebut berhak dan boleh memilih menggunakan Norma Penghitungan penghasilan netto.000. Tembusan : Kepada Yth. yakni jumlah seluruh penerimaan bruto dari pekerjaan bebas. d. 5.000. Fihak rumah sakit bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan pemotongan tersebut. Untuk maksud ini dokter tersebut diwajibkan memberitahukan kepada KIP selambat-lambatnya pada akhir bulan Maret dari tahun pajak yang bersangkutan. Drs. Demikian. 90. 120.c. yakni jumlah seluruh penerimaan bruto dari pekerjaan bebas telah mencapai jumlah Rp. Sdr. MAR'IE MUHAMMAD NIP. Sdr. berjumlah kurang dari Rp. Sdr.000.a. maka dokter tersebut tidak diperkenankan untuk menggunakan Norma. Edisi Khusus No. untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Besarnya Norma Penghitungan penghasilan netto untuk dokter adalah 40% penghasilan bruto. Ketua Umum IDI. 4. 060031307 Cermin Dunia Kedokteran. Dalam hal dokter tersebut belum memiliki NPWP. b.-) digabungkan atau dijumlahkan dengan penerimaan bruto dari pekerjaan bebas. Pengisian SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi (Formulir 1770) dari dokter dilaksanakan sebagai berikut: a. sebesar Rp.

431/1990 Jakarta.23/1989 tanggal 3 April 1989.03/PJ . Edisi Khusus No. Pembayaran honorarium oleh Yayasan Perguruan Tinggi Swasta kepada Dosen selaku pengajar. 90. ternyata bahwa belum semua Bendaharawan Rumah Sakit yang membayar honorarium kepada para dokter dan Bendaharawan Perguruan Tinggi Swasta yang membayar honorarium kepada para dosen/pengajar/penceramah memotong dan menyetor PPh Pasal 21 dan 26 sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dipotong PPh Pasal 21 sebesar 15% dari perkiraan penghasilan netto (40% dari penghasilan bruto) atau penghasilan netto (dalam hal honorarium diterima bersih) sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (3) Buku Petunjuk Pemotongan tersebut. 2. 4. Sdr. 9 Pebruari 1990 Kepada Yth. Apabila dokter dan dosen/pengajar/penceramah yang menerima honorarium tersebut di atas merupakan Wajib Pajak Perseorangan Luar Negeri maka dikenakan PPh Pasal 26 sebesar 20% dari penghasilan bruto sesuai dengan ketentuan Pasal 14 Cermin Dunia Kedokteran. 5. Para Kepala Unit Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak di Seluruh Indonesia Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 atas Honorarium Dokter dan Dosen Perguruan Tinggi Swasta.NOMOR : SIFAT LAMPIRAN : PERIHAL : SE . Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak 2. Pembayaran honorarium dokter sebagai tenaga ahli dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf e ke 1 Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 tahun 1988 dan selanjutnya. Pembayaran honorarium dokter yang praktek di Rumah Sakit dipotong PPh Pasal 21 sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-19/ PJ. dengan ini kami tegaskan kembali bahwa pemotongan PPh. 3. 1994 75 . penceramah dan sebagainya yang bukan merupakan pegawai tetap dari Yayasan Perguruan Tinggi Swasta yang bersangkutan wajib dipotong PPh Pasal 21 menurut tarif Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dari penghasilan bruto. Sdr. Sehubungan dengan hal tersebut. Pasal 21 menurut tarif Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dari Penghasilan Kena Pajak. Pasal 21 dan Pasal 26 atas pembayaran honorarium kepada dokter dan dosen/pengajar/penceramah adalah dilakukan sebagai berikut: 1. sesuai dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 tahun• 1988 dan selanjutnya.: 1. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh beberapa Kantor Pelayanan Pajak. sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (4) Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasl26 tahun 1988 dan selanjutnya. Pembayaran honorarium kepada dokter dan dosen/pengajar/ penceramah sebagai pegawai tetap atau tenaga lepas (dalam arti bekerja lebih 26 hari atau honorarium dibayar secara bulanan) dipotong PPh.

Para Kanwil DJP di seluruh Indonesia. 060008997 Nothing can bring you peace but yourse f (Qalph Waldo Emerson) 76 Cermin Dunia Kedokteran. Tembusan kepada Yth. 3. WAHONO NIP. 90.Buku Petunjuk pemotongan PPh Pasal 21 dan PasaI 26 tahun 1988 dan selanjutnya. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak. 5. Bapak Direktur Jenderal Pajak (sebagai laporan) 2. DIREKTUR JENDERAL PAJAK DITREKTUR PAJAK PENGHASILAN Drs. Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen Keuangan. Edisi Khusus No. 4. 1. 1994 . Sdr. Demikian untuk diketahui dan kepada Saudara diminta untuk melakukan pengawasan agar pemotongan PPh Pasal 212 dan Pasal 26 atas pembayaran honorarium dokter oleh Rumah Sakit dan pembayaran honorarium dosen/pengajar/penceramah oleh Perguruan Tinggi Swasta dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku tersebut di atas. Para Direktur/Kepala Pusat Direktorat Jenderal Pajak. atau dalam hal ada tax-treaty maka sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

and continually evaluated as important changes occur. ongoing process of developing. California. there are parallels and similarities between the two. such as. 1994 77 . Inherent in the concept is the idea that an organization can best serve its overall purpose when there is a grand •design or a prethought scheme to develop and manage the Presented at the Vlth Congress of the Indonesian Hospitals Association & Hospital Expo. Plans. Wawoeroendeng James E. Jakarta 21 — 25 November 1993 organization. Given there are differences between Indonesia's and United State's health care systems. • Assessing strategically important information. broad efforts and trends in the US to control cost and improve accessibility have indirect implications to Indonesia as these are goals both countries share. Subsequently. industry. Strategic planning is a formal. Loma Linda. the dynamics of health care. To this end. manufacturing and the push for export-oriented industries are creating new demands and expectations for the nation's hospitals. STRATEGIC PLANNING DEFINED Strategic planning is an activity that supports strategic management. the essential elements of a generic strategic planning process include the following: • Defining the organization's mission. it is hoped that this paper will contribute positively to the discussions and debates on how we could perfect the nation's delivery system and meet its goal. The process is comprehensive in that it involves consideration of the interrelatedness of problems and issues. These changes. evaluating and implementing goals selected from key alternatives to guide actions and decisionmaking. the need to improve the delivery of health services. that of. action-oriented. are a blueprint for operating decisions. to a great extent. Trends – economic. as the hospitals' environment become more complex. and the need to contain rising health care costs. While there is not a single universal model on the sequence and process of planning. Changes brought by Indonesia's policy objective of development through industrialization. however. increasing number of organizations are developing strategic plans. arguc for effective responses from hospitals. 90. threats and opportunities.Strategic Planning and Marketing James E. within reason. • Plans should be based on a through assessment of the community needs. Edisi Khusus No. Wawoeroendeng & Associates. In my opinion it is a matter of degree. Key features in a effective plan are as follows : • Plans should strive for higher level of achievement. USA Today. This paper is a review of some of the approaches US hospital management have used in responding to the rapid changes brought by intense competition and prospective payment system. Adjusting the positions of organizations to fit the changes in the environment is a function of strategic management. and seeks to understand the full implications or likely consequences of proposed actions in advance of making decisions. providing the best health care possible. Strategic planning as a prerequisite to action is imperative. organizational capabilities. the outcome of strategic planning process. and the conditions in the external environment. demographic shifts Resources – internal strengths and weaknesses Cermin Dunia Kedokteran. • Plans should be comprehensive in scope and developed with the broadest participation of key players. The formulation of responses is an outcome associated with strategic planning and marketing. The concept may be described as matching organizational resources and capabilities with environmental changes. • Plans should be realistic. There are at least two dimensions of strategic management: the process of strategic planning and the content (programs and structures) of strategic activity.

Prospector organizations are those that. Portfolio Analysis The importance of portfolio analysis to strategy choice and marketing has to do with the degree to which decision-makers recognize the high growth. high income programs from the low growth. cost accounting and marketing. 1994 . • Be involved in research and education. target. Realignment Realigning a hospital's direction in response to market changes is the responsibility of hospital directors. 90. and the manpower required. Their value lies in establishing groups that are identifiable and manageable as separate businesses within the hospital. facilitates strategic planning by focusing on strategic issues program by program. and a calculation of risks and benefits for hospital innovation are key actions that would be expected of hospital directors. preferences. from time to ti me. The second tradition is derived from the strategic management perspective positing that directors not only react to changing market and environmental forces but also anticipate and help shape these forces via aggressive strategic change. MARKETING ORIENTATION AND REALIGNMENT Improving management's ability to assess and be responsive to the needs of the market constituencies is one of the major purpose of strategic planning. Two examples of product line application: HUMANA*. a hardheaded assessment of the forces impinging on the hospital. as health service needs. energy will be exerted to align the institution vis-a-vis the environment and market so that it will be in the most favorable position possible. a market-oriented approach. Practicing state-of-the-art medicine. The development of a market plan links strategic planning to the external environment. the organization's position and service within the organization life cycle and marketplace life cycle. True product lines have their focus on the marketplace. and attitudes shift and change.Competition – competitors' profiles. low income programs. the outcome of a portfolio analysis. perceptions. The market situation is analyzed with an interest on identifying and defining needs on existing and future programs and or services. This type of analysis is an effort to avoid mistakes such as: promoting or focusing on unprofitable lines. The objective behind the product line management is to create something unique and different (differentiation). Republic has identified 10 "product lines" as follows (1 ) : • "Gift of Sight" – cataract surgery • "Step Lively" – podiatric services • "You're Becoming" – cosmetic surgery • "Call Me" – alcoholism treatment • "Sound Sense" – hearing examinations " • Impotency Solutions" – urology service 78 Cermin Dunia Kedokteran. major threats and major shifts • Formulating goals and objectives • Selecting a grand strategy. tend to be passive and seems to be lacking a sense of direction. Edisi Khusus No. Product management looks at the product line as a competitive entity. Another application in the spectrum of product line management is an approach used by Republic Health Corporation of Dallas. Texas by branding their products or services. overlooking promising or potential services. the first of which stresses the idea that under norms of rational behavior of key members of the organization. depth of service. • Identifying major or high impact issues Major opportunities. Product Lines Management Product management. segmentation of market. hospital directors are empowered to make changes that reorient the hospital's direction in ways that are thought to improve its performance and chance of survival or growth. The Boston Consulting Group is credited for devising a matrix that assist management to examine the entire hospital portfolio of services. redefine its directions to capitalize on opportunities to meet the market needs. and as competition and technology intensify. prospective and reactive. a for-profit healthcare corporation created what it calls regional Centers of Excellence strategically located among their 90-hospitals network. these referral and consultation centers provide the highest quality of caze in a given clinical specialty and serve as distinguishing centerpiece of their network. products and programs offered. Such realignment with market conditions obviously must be done consistent with the hospital's chosen mission. breaking up the hospital into distinct market-oriented programs allows management to define each program by such criteria as cost. • Practice state-of-the art medicine and remain current with progress. Thus a purposeful scanning of the environment. As some program cut across departmental boundary lines and involve multidisciplinary teams. and determining the capability of the hospital resource base to respond to the dynamic and changing environment. Some important features to consider in developing product lines are as follows: Be identifiable to the market by programlproduct line Be recognized as a unique or special program Have an identifiable market Be an administratively manageable unit Establish a reputation for excellence Aim to have complete diagnostic and therapeutic supports in terms of equipment and personnel. competitive position Market – needs and gaps. The range of alternative strategies considered and eventually chosen is influenced by among others. As the markets of hospitals change. the managerial style of the hospital director. its stage in the marketplace life cycle. Two disciplines are helpful in developing product line management. the organization's tendency to adapt toward changes described in such terms as defensive. reactor organizations are those that analyze changes. hospitals must evaluate and realign the mix of services. concentrating on product lines or programs that may offer atraction but whose relative size is too small to merit attention. capabilities and limitations. In contrast. Most Favorable Position Generally. This perspective derives from two closely held traditions in organization theory.

Pediatric Cardiovascular. diagnosis. backward. • Hospital and Physician groups joint ventures. 1994 79 STRATEGIES There are a number of patterns to describe the long-run strategic thrusts of hospitals. The following summary are generic grand strategies applicable for health care organizations considered common: expansion of the product line or area. there are only three major themes from which hospitals develop strategic responses: • Differentiating hospital products from the competitors. Hospitals compete in two distinguishable levels of the market: price-based competition. etc. Rehabilitation. Expansion of the Product Line • A strategy to increase or maintain market share. laundry. diversification. • Developing new product lines. • Specialization in Pediatric. home care. restaurants. mutual benefits and risks. etc. • Service to age group. • A strategy to spread risks or maximize earnings through investment opportunities. physician-hospital-organization). medical plaza or medical office buildings. Post discharge care: skilled-nursing 'care. Sport Medicine. Naturally. avoid duplication. Joint Venture • Similar to horizontal integration. overbedded • intense consumer pressures and expectations for change • growing pressures from business community labor shortage in professional and technical categories • • new delivery systems. increase availability of skills and talents in management and clinical applications. EDS). vertical or horicontal integration. housekeeping. joint venture. shopping centers. Integration. Edisi Khusus No. except autonomy is retained.. Service Specialization • A strategy to focus and serve a particular segment of the market. IPAs • increasing ambulatory services • declining average length of stay (ALOS) • increase in investor-owned corporations • growing participation in alliances. diagnosis group. • A strategy to improve cash flow. Retrenchment • Downsizing. Pre-admission services and postdischarge care. divestment. income level. • Pursuing aggressive cost management and compete on cost. or geographic area. common and relevant (PHO. increased access to capital. • Establishing freestanding ambulatory service. STRUCTURE AND PROGRAMS There are two main strategic variables at the disposal of hospital management that may be altered to meet changes in the environment: organizational structure or organizational programs. longterm care. • Identifying and focusing on segments of the market. These are the variables and the focus of strategic planning when reviewing and analyzing the mazket. • A strategy to achieve stability as risks are reduced. Service Vertical Integration & Horizontal • Establishing organizational arrangements that provide a range of services. Burn Unit. Diversification • Entering into related or unrelated businesses: real estate. and they are: • growing trend of prospective payment system • decreasing reimbursement from third party payors • continued high health care costs • accelerated competition • tighter profit margins • decreasing inpatient census • large excess capacity.• • • • "View" – women's health problems " Miracle Moments" – obstetrics "ReNew" – cocaine addiction treatment "Reach" – adolescent psychiatric treatment The examples serve to illustrate the need of differentiating programs and services so to be distinguished from competitors'. • Non-clinical integration include entering businesses that supply/manufacture hospital products or services (pharmaceuticals. or non-price competition. service. diversity or expand service. The structures and programs reviewed in this paper have to be viewed in the context of the prevailing conditions in the United States. IV). (dietary. products. geographic location. by age. Prenatal Care. differentiation. prosthesis. linen. diagnostic departement. HMOs. • Geographically dispersed. and retrenchment. • A strategy to shared opportunities and risks. • Selling of underused capacity. socioeconomic class. PPOs. dialysis. Oncology. service specialization or niche. • A strategy to control the use of supplies and resources used by hospitals. • May be used to integrate forward. 90. • A strategy to prevent insolvency by reprioritizing funds allocation. • Voluntary merger of two entities providing same or related . • A strategy to retain patients within the system or chain by providing more services. • A strategy to protect against the risks of uncertainties. • A strategy to achieve economies of scale. Geriatric Care. Mammography. eliminating unprofitable services or reducing in order to survive. or geographically proximate. Oncology. chains Cermin Dunia Kedokteran. and lower cost of capital.

Hospitals hope that engaging in join ventures will enable them to be more effective competitors in the marketplace by enabling them to 80 Cermin Dunia Kedokteran.• increased regulations Consequently. Home health 8. Some reasons given for diversification: • The hospital diversify its program in order to capture a larger share of all patients served in a community. Physicians are the key ingredient in maintaining a desired census. The area where joint ventures have been formed include the establishment and operation of urgent care centers. by offering new services to unserved market segment. it is unlikely that hospitals will develop a foundation for responding adequately to competition. Hospital-Physicians Joint Ventures By engaging in joint ventures with those who control access to patients. The real value of joint ventures is when both hospitals and physicians recognize that there are overlapping values and benefits to be gained if both parties join their resources together and accept that they are better off joined than separate. Women's medicine 6. and incorporating physicians as partners and/or owners of hospital or hospital's business units. and lithothripters. The other option is to maximize revenue by engaging in or entering promising markets. national/overseas programs observation trips • hospital allowances for: club memberships. Edisi Khusus No. A survey conducted by "HOSPITALS" as published in the January 5. the acquisition and operation of major medical equipment such as CT scanner. 3. Some measures used to enlist physicians loyalty and cooperation: • adequate and or reasonable compensation • assistance in new equipment financing • participation in the development of strategic planning • participation in joint ventures with the hospital • hospital-physician alliance. • Corporation. housing and transportation. or enlist their cooperation in the hospital's expansion program or cost reduction program. • The hospital seek feeders or satellite facilities to function as sources of referrals. The joint ventures may be any of the following three forms: • Contractual Agreement. 90. the hospital is just another clinic. such as diagnostic imaging equipment or MRI. They serve as gatekeepers for a hospital's flow of patients. skilled nursing facilities. Diversification To compete effectively hospitals have to implement measures to control operations and attain high operational efficiency. In rural hospitals where funds are scarce and there is no excess of hospital beds. 1989 issue. partnership. home health care agencies. for specified purpose(s) and or a specified period. Psychiatric outpatient services 7. Hospital often is the general partner thus exposed to risks. What are the measures hospitals undertake in order to survive in this increasingly hostile climate. The two main strategies employed in dealing with the medical staff as shown in the preceding list are. 2. Freestanding outpatient diagnosis 2. MRI. and without acute care. Freestanding outpatient surgery 4. joint owners of hospitals business units • professional development allowances: continuing education. Incorporation limit the liability of both parties to the extent of their investment. Without incorporating physicians into the strategic plans of hospitals. home loans food or meals. and (2) tying into potential new sources of patients. • funds for research and development. • The hospital seek to protect its exposure by entering into profitable ventures. rank most successful hospitals' ventures as follows: 1. principally physicians. Industrial medicine 5. Substance abuse . • The hospital strive to become the sole source of a medical technology. physicians as limited partners are precluded from sharing in the management. the extension of financial and non-financial benefits. ambulatory surgery centers. hospitals can lock in their existing patient base (market share) and possibly increase it by (1) giving the physicians a financial stake in the operation of certain lines of business. related or unrelated to its core business. 1994 1. • Limited Partnership. diversification may be an inappropriate strategy. offer a broader range of services and in more markets. Medical Staff Relations Medical Staff are the single most critical factor in a fiercely competitive climate. journals. Inpatient rehabilitation 3. and How do they adapt to the changes? How should hospitals orient their strategies? The following I submit are some of the answers in terms of organizational structures and programs. independent laboratories. Hospital executives must gain the support and cooperation of physicians in order to continue a viable hospital operation. To do so hospitals are better off to collaborate with physicians rather than be in opposition or competition with them. Control rest with a new entity and separate board of directors represented by both parties. Physicians gain liability protection. medical office buildings. ensuring their participation and mutual sharing of benefits and risks. all of which involve physicians. Acute care hospital is physician-intensive. How do they position their organizations in a way that ensure continued growth and survival. such as ambulatory surgery centers. Key advantages of the partnerships are as follows: • shared risks and shared profits • higher motivation to control costs • improved capability of the partnership to offer diverse services Much is at stake if a hospital is unable to obtain and retain competent medical staff. A form of alliance with the physicians. From the hospital's perspective it is highly important to attract and retain the best qualified medical staff.

had conducted poor planning. to recognize as soon as possible when demand for a program is declining. Hospitals should not wait too long to discontinue the line or sell it. 90.myringotomy.516 to 45. diversification's real value is revenue maximization. Freestanding Dialysis Centers At one time kidney dialysis was an extremely expensive procedure and could be performed only in a hospital setting. lack the entrepreneurial managerial skills. complete with laboratory and radiology facilities. equipment and information systems to support growing ambulatory care demands. while the number of freestanding ambulatory centers increased 57 percent from 19. Intermediate care 13. This major change in health care delivery presents US hospitals with one of the most difficult strategic planning issues today. medical plaza • Vendor relationships.orthopedic surgery. Edisi Khusus No. capital investment in facilities. Third party payers are reluctant to pay inpatient stays associated with surgical procedures that can be performed on an outpatient basis. Trauma center 17. However. Diversification does not have to include formal alliance with another health care organizations through merger.9. in order to remain viable in the emerging delivery model. Pediatrics 15. is the challenge for management. HMO 16.. be financially ready to handle any temporary downturns for extended period of time. Selected categories of surgicenter procedures : OB/Gyn . most dialyses can now be Cermin Duniu Kedokteran . laparoscopy/tubal ligation Orthopedics . hospitals must capture a significant share of the growing outpatient business. and lacking the required support from physicians. Retirement housing 19. Preferred Provider Organization 12. second. New technologies that offer greater precision in measuring blood gases and that permit a patient to be anesthetized just sufficiently for the procedure are expanding the number of operations that can be done on an outpatient basis. Outpatient Care and Referral Networks Outpatient revenues currently account for about 25% of community hospital's revenue. defensively. consolidation or combination. 4. Examples of those hidden assets could be as diverse as: • Excess capacity or off-hours of plant and equipment • In-house support services • Proprietary software (developed in-house) • Real estate. The following criteria are important when a hospital considers diversification: • Rate of Return Project generates positive cash flow Venture is compatible with mission • Mission Projects improves service to the community • Community Hospital gain market share • Market share Hospital gain new referrals • Patients Hospital are in control • Autonomy/ control Interest in quality is an important factor • Patient care Possess the education and skills • Physicians Approved by key participants • Support No conflict ofinterests withMDs/board • Interests Caveats for hospitals already diversifying into programs or services in their community: First. Nursing facility 11. Satellite urgent care 18.hospitals have opened up Urgent Care Centers. specialty ambulatory care services • Comprehensive primary ambulatory care services • Ancillary ambulatory care services that are part of overall diversification • Joint ventures with physician group that may expand the current level of patient referrals. Surgicenters The growth of ambulatory surgery has been due to advances in medical science such as the use of anesthesia in a precise manner. a cross between a physician's office and an emergency room.. endorsement for royalty • Reputation and image. Cardiac rehabilitation 10.. Wellness/health promotion Many hospitals experienced failures with diversification projects because they are undercapitalized.Freestanding Emergency Facilities In many cases.gynecological surgery. There are predictions that by year 2000 the percentage will increase to 50%. Converting these into new profit centers. Diversification implies that the hospital is rearranging its programs and services.. 1994 81 . at least four types of strategies can be adopted : • Inpatient-oriented. In the evolving opportunities for outpatient care and referral. Obstetrics 14. arthroscopy ENT . Minors sugeries can be performed in some centers. hospitals emergency room have been used by patients for nonemergency cases. This effort require physicians involvement. The number of hospitals decreased 5 percent from 1980 to 1990. tonsillectomy or adenoidectomy Dermatology Plastic surgery Urgent Care Centers . With significant technological advances. An important source for diversification is the creative use and development of hospital's hidden and under-utilized assets. Prospectively. in several cases. it is a means of protecting the hospital from the risks of uncertainties. Urgent care centers owned and operated by physicians are a threat to hospitals as these tend to draw patient away from hospitals. To shift to ambulatory care. acceptance • Technical expertise and technology A number of viable structural methods may be employed to facilitate diversification.To meet these needs.510( 2) . is to place the hospital in direct competition with physicians.

diagnostic equipment Laundry Pharmacy Cardiology Services Rehabilitation/physical therapy Psychiatric Respiratory Therapy Home Care Materials Management 6. Studies have shown that the real benefits of wellness programs appears to be the positive commurity image that it fosters. Multihospital Systems Some hospitals have turned to multi-institutional alliances in an effort to stem the adverse influence of prospective payment and competition. corporate ownership with separate management. laundry. 1994 .performed on an outpatient basies. Merger is a strategy for capturing a larger market share by integrating vertically or horizontally. Increasingly. The more important benefits include reduced environmental uncertainty and complexity and improved access to resources.462 812 662 566 421 352 223 155 147 82 1.476 1. contract management. Indications are that these multhihospital systems will continue to expand as regulations and competition increases. Two organizations are integrated into one single legal body with one sole corporate board. patterns and thus may help to ensure efficient and quality services. housekeeping services. First. contract management companies can deliver their services more efficiently and cheaper. medical evaluation. or as a menas of providing more comprehensive services. A survey published by Modern Health care August 30. professional associations. formal contractual associations. planning and programming. Shared Services Sharing involves two or more organizations joining together to produce and/or use the same sercive for the member institutions. and laboratories to purchasing and specialized clinical facilities. etc. emergency room staffing. often including medical schools. complete ownership. further eroding traditional source of inpatient revenue. The concept has now a spectrum of formats that begins with one that is highly informal to highly formal : Consortia on planning or education. Con tracts are ty pically based on a fee or a fee bonuses. their expertise in food distribution and production result in high operating and cost efficiency. retirement and benefit expenses. 90. Mergers Mergers by acquisition are when two entities merged to become one. hospitals responses could be either to let the physicians be joined owners with the hospitals or. laundry. second. This ranges from the joint use of computers. which is achieved through linkages with both the consortium management and other affiliated hospitals. Being large and highly capitalized. independent organizations together combines under a common organizational framework. As more physician Group Practices provide comprehensive outpatient services by doing more of what traditionally are inpatient functions. These programs may include hypertension screening. Sharing of MRI and CT scanners are good examples of this model. laboratory. increase in efficiency • economies of scale • access to management expertise • increased personnel benefits • improved patient access through geographical integration of various levels of care • improvement in quality through increased volume of services for specialized personnel • increased volume due to increased number of services Formerly it was possible to classify hospital cooperative arrangements in two classes. Edisi Khusus No. Consortia Consortia hospitals. This will help to limit major investment to fewer institutions and to improve utilization. 1993 issue growing trend for this mode of service as evidenced by the reveals increased number of contracts : 1992 1991 Food Service Hospital-based Emergency Housekeeping Clinical.936 1. Mariott Management Services. More often than not. injury prevention. howcvcr fees will be based on capitated rates based on patient days or the number of enrolees. Hospitals join consortia because they find it difficult to survive as independent units.639 726 593 545 404 302 214 168 152 75 Investor-owned Multihospital Systems Investor-owned systems are growing in terms of hospitals and hospital beds at the rate of 100% a year. concentrate and focus on hospital core functions. leasing. Wellness Programs This strategy is used to approach the health conscious members of the population. are memberhsip organizations with full time staff devoted to joint 82 5. complete ownership with large-scale system. This growth has been Cermin Dunia Kedokteran. pharmacy. Agreements usually include criteria for the size of investment which can be made by individual member institutions without efforts to plan the program jointly and/or share each major clinical service. alcohol and drug rehabilitation. 1. one of the largest contract management company. System affiliation was designed to provide the following benefits : • increased access to capital markets • reduction in duplication of services. is a large hotel restaurantcorporation which diversi into the hospital industry business. food services to contracting hospitals. Hospitals benefit from reduced salary.547 1. alliances that bring independent organizations together to share and cooperatie in solving problems. shared or cooperative services.833 1. Contract Management For agreed fees contract management companies provide specialized services ranging from hospital management.

90. suffered from poor management and inadequate funds. both for the government entity and for the acquiring entity. contract or sale of public hospitals. and known organization development experience. Investor-owned systems are constructing and acquiring freestanding nursing homes and psychiatric hospitals at a rate more than three times that for community hospitals. shortages of health care professionals. These prohibitions consequently limit the flexibility of public hospitals to participate financially with physicians or others in lucrative alternate delivery methods such as ambulatory surgical centers. Economic Benefits 1) Access to Capital The financial institutions. A report by the Insitution of Medicine. economies of scale. from an aggregate of $461 million to $1. 330 rural hospitals were closed due to financial stress. Investor-owned hospitals shows they provide care cheaper or equal to non-profit institutions.facilitating precise government budgeting. The financial performance of investor-owned system has been impressive. Edisi Khusus No. investor-owned systems pay taxes. etc) • Assumption of labor. separate lines of business offer the potential of offsetting cash flow demands during the downturn of the hospital's business cyle. 3) System Diversification Profit from health and nonhealth lines of business provides a source of internal fund for financing new capitaLacquisitions. details of the level of staffing. hours of operation. asset and equity bases. the obvious economic benefits of multi institutional arrangements may be the following : • Abilityto afford specialized management talent • Standardization of supplies and equipment • Volume purchasing • Sufficient breadth and diversity to attract capital • • • • 7. • Contracts/lease arrangements establish ahead of time the annual costs . having stabilized or reduced costs. On top of this. joint ventures and so forth. A study Cermin Dunia Kedokteran . • Clear accountability line to the governing authority. Important consideration when considering the lease. Empirical evidences indicates strong preference for system by capital markets. personnel management. • Contractual agreement/lease reduce the politics present in the management of government-controlled instituions. Systems uses capital facilities and equipment more efficiently through sharing and specialization.achieved largely through the acquisition of independentinvestorowned hospitals. 2) lncreased Efficiency and Economics of Scale Systems realize savings through mass purchasing. In the US capital market. facility deterioration. burdened with the care of indigent. 8. they are limited in their options in such areas as diversification. Their problems include inadequate funding. and high administrative turnover. System uses highly skilled and highly experience personnel than independent hospitals. liability and pension and employee benefits. Diversification into nonhospital markets provides additional financial stability to systems. Rural Hospitals* Rural hospitals in the US are in crisis. From 1980 to 1990. Recognizing the need for greater flexibility on the part of public hospitals. As a result shareholders equity in the largest four investor-owned multihospital systems quadrupled during 1977 to 1981. contract managed of public hospitals. to meet accreditat vn standards. and diagnostic imaging centers. They are frequently forced to compete for funds with other equally i mportant government social programs. investor-owned systems may raise capital through the issuance of stock which means the cost of funds are low. of the solemn public interests. Major advantages for the government entity : • Management contracts or lease by multi-hospital bring the benefits of resource-strong organizations such as highly skilled professionals. At a minumum. Acquisiton of public hospitals through lease or contract management can be attractive. Constrained by the peculiar nature of public hospitals. banks and nonbanks provide more favorable borrowing conditions to systems than to independent hospitals. rates. Systems are better able to spread risks among its units or member hospitals. lease. planning and organizational benefits. Diversification into non-hospital markets provides additional financial stability. and to attract the increasingly important private pay patients. They pay better compensation therefore attract skilled professionals. Furthermore. System hospitals use fewer staff per bed than other systems. Major benefits offered by this model are :. 1994 83 . Major theme in their strategic response has to do with networking or affiliation with larger organizations. $1 in equity may raise $15 or $20. Washington states that a dollar invested in an investor-owned system has returned nearly 40 percent more in earnings than the average for other industries in recent years.. breadth of service. urgent care centers. • Compliance with disclosure laws.832 billion. many statelegislatures have amended pertinent statutes to provide latitude for the disposition. Multi-institutions (both tax-exempt orinvestor-owned) are perceived as more stable therefore less risky because of their larger revenue. The major advantage of systems is their ability to finance capital purchases. economic benefits. In summary.3 percent per year. Lower levels of average case cost Lower ALOS-tighter control of medical practice patterns Higher rates but not high labor costs Higher outputs Government-owned Hospitals* Public hospitals in the US. They lack the flexibility enjoyed by private facilities in raising funds. The trend shows growing trend of investor-owned hospitals 10. Public hospitals also face particulary acute problems in raising sufficient capital to make the renovations and plant improvements necessary to furnish an acceptable level of care. (Continues obligation to provide indigent care. the terms of transaction must include the following itens : • Protection of the constituents.

Product Management for Hospitals. IPAs) which compete on price. 1993 indicate the following hospital planning activities : Managed care planning 76% Expense reduction 74% Physician/hospital. AHA. Strategic planning is a tool among many strategic planning I submit. 84 Cermin Dunia Kedokteran. may be the most effective tool available for the hospital management to span the entire horizon. The use managed care models (PPOs.done in 1988 showed the following strategic activities engaged by rural hospitals : Multi-hospital system affiliation 34% Consortium affiliation 30% PPO affiliation 27% HMO affiliation 22% Corporate restructuring 20% Ambulatory Service 17% Downsizing 15% • Facilitate integration — Integrating providers through. 1. doing the right thing at the right moment at the right place is what strategic management is all about. E. organization 69% Affiliation with another hospital 62% Medical Staff development 59% Job. Folger JC. 90. effectiveness and cost efficiency. affiliation. Preston Coe. A survey published by hospitals & health networks of October 5. REFERENCES PLANNING AHEAD Expecting the worst. and select the most fit organisational structure and program and redeftne its destiny. Frustee.is the challenge hospital management must face with. There is greater interest in the output of strategic planning strategies . integration among medical groups and integration between institutions. Edisi Khusus No. HMOs.as opposed to the process. Selecting a strategy with a view of defining a destiny . In the final analysis. CONCLUSION Today. The race is on now in the United States for large-scale mergers. AHA. The changes are forcing organizations to be innovative and flexible in their organizational structures and program offerings. health care organizations are intently concentrating on strategy formulation as the focal point of strategic planning. and networking to share and widen the risks and costs among many. 1994 . These realignment are in search of lower costs and higher operating efficiency for the same high level of care. commensureable responses from hospitals shall be evaluated for their appropriateness. April 1993. to screen out excesses and inefficient hospitals. Two main forces are rearranging hospital system in the United States : President Bill Clinton's proposed managed competiton and prospective payment system. As Indonesia moves into the rank of the newly industrialized countries (NICs). hospitals in the US are stepping up planning. 2. and achieve economies of scale resulting in lower costs.reengineeri ng 53% Strategic planning 55% Merger activity 15% These planning activities indicate that in order to redefine the US imperfect health care system two trends will emerge : • Increased used of competition to enhance market efficiency. — Integrating hospitals and physicians and provide incentive to contain hospital costs jointly through prospective payment system or capitation.

salah satu di antaranya adalah cara penggunaannya agar didapat manfaat yang sebesar-besarnya dan dihindari atau dikurangi dampak negatipnya. promotif. Pada dasawarsa akhir-akhir ini banyak dikembangkan dan digunakan Alat Kedokteran Canggih (AKC).menghilangkan atau mengurangi ancaman terhadap kelangsungan hidup. Edisi Khusus No.kuratif dan rehabilitatif. Untuk itu dilakukan upaya-upaya preventif. Dalam melaksanakan tugasnya sudah biasa dokter menggunakan teknologi. . Idealnya tujuan tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut ke tingkat yang dapat diukur dengan objektif. 90. II. sosial. 1.mencegah atau mengurangi kecacadan. 21 — 25 November 1993. Jika itu dapat dilakukan maka penggunaan AKC dapat dinilai dalam arti apakah tujuan itu dapat dicapai. AKC mempunyai beberapa ciri.mempertahankan kehidupan yang berkualitas baik (offer years of life of good quality). Makalah ini mencoba untuk menguraikan dan mengajukan saran bagaimana meningkatkan efektivitas pemilihan dan penggunaan AKC. Mempunyai dampak tidak saja pada bidang kesehatan tetapi juga pada ekonomi (biaya). . akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita ". 1994 855 . Jakarta . AKC SEBAGAI SARANA A) Tujuan profesi dokter Landasan dan tujuan profesi dokter pada tingkat yang umum dinyatakan dalam salah satu butir lafal sumpah dokter: "Saya Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. Karena ciri-ciri AKC tersebut timbul perbedaan pendapat tentang AKC ini. Bentuk teknologi dapat berupa perangkat keras (alat.Manfaat Alat Kedokteran Canggih dalam Pengembangan IPTEK di Indonesia Berbagai Upaya untuk Meningkatkan Efektivitas Pengembangan Pemilihan dan Penggunaan Alat Kedokteran Canggih Karjadi Wirjoatmodjo Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pada waktu ini ukuran yang lazim dipakai walaupun tidak sempurna adalah angka kematian (diukur dari arah lain adalah survival rate) dan angka kesakitan. Dalam upaya itu digunakan teknologi. sarana) Cermin Dunia Kedokteran. B) Manfaat dan Masalah 1) Pengertian dan jenis teknologi Ada berbagai pengertian dan pembagian teknologi. PENDAHULUAN Landasan dan tujuan profesi dokter – seperti yang dinyatakan pada salah satu butir lafal sumpah dokter – tidak pernah berubah yaitu "Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita ". salah satu bentuk teknologi itu adalah alat. Pada makalah ini digunakan pengertian dan pembagian sebagai berikut : Teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan atau temuan dalam praktek sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Harganya biasanya mahal. salah satunya adalah AKC. Soetomo. Apabila dijabarkan lebih rinci maka tujuan profesi dokter itu adalah : . adanya terbatas. etik dan hukum. Perbedaan pendapat itu meliputi berbagai bidang. Surabaya Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita (Sumpah dokter).

teknik. demam.000 penduduk di Inggris (UK) hanya 1/6 dari jumlah di USA. Dampak di bidang sosial adalah antara lain pengaruh AKC pada perilaku dokter dan perilaku masyarakat. Pada pemeriksaan CT Scan terdapat perdarahan kepala yang perlu segera dioperasi. orang tersebut embuh. Kesimpulan: pengadaan AKC harusnya disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kemampuan rumah sakit. Dampak di bidang kesehatan dapat berupa manfaat/kesembuhan (effectiveness). tampaknya bayi mulai kesulitan untuk mendapat oksigen ditandai dengan nadi 180/menit. teknologi dapat berupa perangkat keras seperti Alat Kedokteran Canggih. Seorang ibu hamil pertama mengalami keterlambatan 3 hari • dari hari perkiraan persalinan. ada dokter spesialis radiologi. Di suatu Rumah Sakit dipasang CT Scan. industri AKC dan lain-lain. Uri (placenta) mulai mundur fungsinya. Pembagian lain dalam teknologi kesehatan adalah teknologi untuk primary care (biasa digunakan dokter umum) teknologi untuk secondary care (biasa dipakai para dokter spesialis) dan teknologi untuk tertiary care (biasa dipakai para dokter super spesialis). 4) Pihak yang berkepentingan Banyak pihak berkepentingan untuk pengadaan AKC. Dilakukan . 90. penggunaan alat tersebut sangat sedikit dan pasien-pasien tak dapat diberi terapi/tindakan sampai tuntas. Hasilnya penderita berkepanjangan bagi pasien dan keluarganya. Pada pemeriksaan dengan CT Scan didapat perdarahan otak (perdarahan epidural). • Seorang anak umur 8 bulan. operasi tidak dapat segera dilakukan. 86 Pernapasan buatan dilakukan terus sampai lebih kurang 1. Dampak di bidang hukum dan etika berupa ketidak pastian atau ketidak siapan seperti pada masalah bayi tabung. Demikian juga dapat dibedakan teknologi untuk pencegahan dan teknologi untuk pengobatan/penyembuhan. Di samping itu dokter spesialis urologi yang dulu memakai ESWL itu pindah ke rumah sakit lain. 1994 . Contoh-contoh konkrit di atas yang diambil dari keadaan riil menunjukkan bahwa AKC dapat membawa manfaat tetapi juga dapat menimbulkan masalah. metoda. kejang-kejang. dan kerugian bagi pasien lain yang membutuhkan respirator. pasien. • Seorang dewasa muda jatuh dari sepeda motor. Di satu rumah sakit dibeli alat rontgen angiograf yang dapat • memeriksa pembuluh darah koroner. penentuan kematian. sehat dan dapat bekerja produktif. dokter spesialis bedah umum yang dengan alat rontgen untuk mamografi dapat menemukan tahap dini kanker payudara dan sekaligus melakukan pembedahan.5 tahun sampai respirator tersebut rusak total. masyarakat. Direktur Rumah Sakit tersebut menceritakan bahwa mula-mula ESWL itu pemakaiannya baik (optimal). Namun karena di rumah sakit tersebut tidak ada staf dokter spesialis bedah saraf. Masyarakat dapat menuntut atau menolak adanya AKC. • Pada suatu hari ada kecelakaan dengan ruda paksa kepala. pembedahan otak. – Diperkirakan bahwa di Amerika dikeluarkan biaya 100 milyar dolar US per tahun untuk penggunaan AKC atau tekno- Cermin Dunia Kedokteran. Kesimpulan: adanya AKC saja tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan tim kesehatan yang diperlukan. sehat dan hidup produktif. beberapa kali pingsan. • Di satu rumah sakit ada alat ESWL (pemecah batu ginjal) yang ternyata tidak banyak dipakai. Namun karena jumlah pasien sedikit dan belum ada dokter spesialis bedah jantung. Tetapi kemudian banyak rumah sakit sekitar membeli ESWL. Dipasang alat napas (respirator). penyulit/bahaya (safety). Dilakukan bedah cesar. bayi dilahirkan hidup dan sehat. • Seorang dewasa muda aktif bekerja. Pada pemeriksaan didapat gangguan pada pacu jantungnya (Sick Sinus Syndrome). Hasil. Motivasi pengadaan AKC dapat positip semata-mata untuk menolong pasien.perangkat lunak (cara. Dampak di bidang ekonomi secara makro dapat berupa kenaikan pada anggaran/biaya kesehatan. dan biaya. obat. Kesimpulan: apabila pengadaan AKC antar rumah sakit tidak ditata investasi AKC itu dapat merugikan. dokter. keuntungan untuk investor atau industri AKC. Dari uraian di atas jelas bahwa AKC adalah salah satu dari bentuk teknologi. Tetapi motivasi dapat juga negatip seperti status simbol untuk dokter spesialis. Para dokter dapat mengalami "ketergantungan" pada AKC. Hasil dari kekuatan tersebut di atas menyebabkan adanya AKC dan penggunaannya dapat berbeda antara berbagai negara. • Di rumah sakit itu banyak pasien wanita. Pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata sudah terjadi kerusakan otak berat dan mati batang otak. muntah dan aspirasi berat. sebagai contoh : – Bypass pembuluh koroner (CABG) di Amerika dilakukan 6 x lebih sering dari pada di Inggris (UK) walaupun angka kejadian penyakit jantung koroner di kedua negara itu lebih kurang sama. Di dalam bidang kesehatan. Dipasang alat pacu jantung internal. prosedur) bahkan ada juga yang memasukkan jenis ketenagaan (brain ware). alat bersaing untuk rumah sakit. Dilakukan non stress test untuk mengetahui keadaan bayinya. Hasil. rumah sakit. Setelah diberi penjelasan orang tua menolak saran agar respiratornya dilepas. 2) Dampak AKC/Teknologi Canggih Penggunaan AKC mempunyai dampak yang luas yang dapat positip atau negatip : dampak di bidang kesehatan dampak di bidang ekonomi dampak di bidang sosial dampak di bidang etika dan hukum. Hasil. Edisi Khusus No.000. tidak sadar. dapat berupa perangkat lunak seperti prosedur medik atau prosedur bedah. orang tersebut sembuh. – Jumlah alat CT Scan per 1. investor. 3) Contoh konkrit Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh konkrit kasus-kasus individual dalam bidang kesehatan untuk dapat lebih memahami manfaat dan masalah penggunaan AKC/teknologi canggih. Halhal yang dapat mempengaruhi pengadaan AKC itu antara lain: media cetak/elektronik.

b) Pendekatan kesepakatan NIH mengadakan Consensus Development Program. 1994 87 . Program ini masih berjalan walaupun ada yang meragukan keberhasilannya.logi canggih yang sebenarnya tidak diperlukan. padahal apa artinya hidup apabila cacad atau kualitasnya tidak baik. 3) Pengalaman dan pemikiran upaya penataan Dari uraian di atas jelas bahwa agar didapat manfaat yang sebesar-besarnya dan masalah yang sekecil-kecilnya AKC dan teknologicanggih perlu ditata. Pada tiap fase itu apabila terdapat hasil-hasil/gejalagejala yang merugikan. efisiensi. Contoh dari upaya semacam itu adalah The European Coronary Surgery Group (1979–1982) yang berusaha menilai hasil jangka pendek dan jangka panjang operasi. Peraturan dan badan-badan tersebut tampaknya masih belum memberikan hasil yang memuaskan. 2) Fase II pada orang sakit tertentu 3) Fase III pada pasien umum tertentu dengan RCT (Randomized Clinical Trial) 4) Fase IV penelitian pasca pemasaran. Misalnya WHO Wilayah Eropa membuat kebijakan bahwa sebelum tahun 1990 semua negara anggota sudah harus mempunyai mekanisme yang formal untuk melakukan penilaian yang sistimatik yang berkaitan dengan efektivitasnya. program ini bahkan meluas Cermin Dunia Kedokteran. penelitian dapat dihentikan atau obat dapat ditarik dari pasaran. Upaya-upaya ini berbentuk pembuatan undang-undang. Proses yang sistimatik semacam itu pada AKC/teknologi canggih belum ada. 5) Kriteria pemilihan AKC/teknologi canggih Mengingat masalah-masalah yang dapat timbul seperti di atas maka untuk mendapat manfaat yang sebesar-besarnya dan mengurangi masalah sehingga sekecil-kecilnya. kemudian penurunan. Namun tampaknya cara penataan yang efektif dan efisien belum ditemukan. upaya untuk menata pemilihan dan penggunaan AKC/teknologi canggih sudah dicoba di negara-negara maju. LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENINGKATKAN MANFAAT DAN MENGURANGI MASALAH PADA PENGGUNAAN AKC/TEKNOLOGI CANGGIH 1) Perbandingan pengembangan AKC/teknologi canggih dengan pengembangan obat Langkah-langkah pengembangan obat jauh lebih sistimatik dibandingkan dengan pengembangan AKC/teknologi canggih mungkin karena sudah lebih lama terjadi atau karena lebih sederhana. b) mengurangi kecacadan (reduce disability). kejenuhan. 1974 — Professional Standards Review Organization (PSRO) —Utilization Review Committees (URC) — Certificate of Need Law — Health Planning and Resource Development Act 1975 Health Care Program dari NIH (National Institute of Health) 1976 — The Medical Devices Law — Bureau of Quality Assurance — Bureau of Health Insurance 1978 — National Center for Health Care Technology. Masalah umum pada penggunaan AKC/teknologi canggih adalah menemukan indikasi yang tepat dalam arti kondisi pasien yang tepat untuk AKC/teknologi canggih tersebut dalam kata lain bagaimana menggunakan AKC/teknologi canggih secara rasional. Pada penggunaan AKC/teknologi canggih ada pola 4 tahap yang mirip dengan daur hidup satu produk (product life cycle) yaitu tahap-tahap permulaan. Bagan sederhana proses pengembangan obat-obat adalah sebagai berikut : A) Tahap percobaan binatang. c) memperpanjang hidup dengan kualitas yang baik (offeryear of life of good quality): 2) Harapan yang ada adalah tercapainya ketiga tujuan tersebut. sedikitnya data yang ada untuk dianalisis. hasil yang pertama tahun 1977. pertumbuhan. juga penilaian sistimatik yang berkaitan dengan penggunaan AKC/teknologi canggih secara tepat (appropriate use). Pengukuran hasil (outcome assessment) pada AKC/ teknologi canggih Sebagaimana diuraikan di atas tujuan umum dari penggunaan AKC/teknologi canggih adalah : a) mengurangi atau meniadakan ancaman terhadap kelangsungan hidup (remove the threat of death). Upaya untuk pengukuran hasil ada namun belum cukup dan belum sistimatik. peraturan-peraturan atau badan-badan yang bertujuan untuk menata AKC/teknologi canggih : 1972 — Office of Technology Assesment dari Kongres Amerika. 1) Percobaan efektivitas 2) Percobaan keracunan jangka pendek 3) Percobaan keracunan jangka panjang 4) Percobaan teratogenicity ( menimbulkan cacad) 5) Percobaan carcinogenicity (menimbulkan kanker). pemakaian pada pasien umum secara lebih luas. Edisi Khusus No. 90. sukar melakukan randomized clinical trial seperti pada obat. penerimaan (acceptability) dengan memperhatikan kebijakan kesehatan nasional dan kendala yang ada. B) Tahap penelitian pada manusia 1) Fase I pada orang sehat. Dapat disimpulkan ada beberapa pola hasil untuk golongan pasien tertentu. a) Pendekatan pengaturan Di bawah ini diberi contoh apa yang telah dilakukan di Amerika. Pada CTscan dinyatakan hanya pada kelompok pasien yang terbatas ada kemungkinan manfaat dalam arti perbaikan hasil (there are only limited group of patients likely to benefit in terms of improved outcome). Contoh pada bypass koroner (CABS) dinyatakan bahwa pada kelompok pasien tertentu (selected group of patients) peluangnya 90% untuk perbaikan dalam latihan tanpa nyeri (pain-free exercise). Kesulitan yang dihadapi antara lain : merumuskan tolok ukur yang objektif dan mudah dinilai. Namun yang dapat diukur adalah yang pertama dengan menghitung angka kelangsungan hidup (survival rate) atau angka kematian (death rate). keamanan. III.

Pembagian lain dalam teknologi kesehatan adalah teknologi untuk primary care (biasa digunakan dokter umum) teknologi untuk secondary care (biasa dipakai para dokter spesialis) dan teknologi untuk tertiary care (biasa dipakai para dokter super spesialis). alat bersaing untuk rumah sakit. Kesimpulan: pengadaan AKC harusnya disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kemampuan rumah sakit. dan kerugian bagi pasien lain yang membutuhkan respirator. bayi dilahirkan hidup dan sehat.000. investor.5 tahun sampai respirator tersebut rusak total. Pada pemeriksaan CT Scan terdapat perdarahan kepala yang perlu segera dioperasi. obat. Di suatu Rumah Sakit dipasang CT Scan. pasien. sehat dan hidup produktif. Edisi Khusus No. Halhal yang dapat mempengaruhi pengadaan AKC itu antara lain: media cetak/elektronik. • Di rumah sakit itu banyak pasien wanita. demam. • Seorang dewasa muda aktif bekerja. dokter spesialis bedah umum yang dengan alat rontgen untuk mamografi dapat menemukan tahap dini kanker payudara dan sekaligus melakukan pembedahan. • Pada suatu hari ada kecelakaan dengan ruda paksa kepala. Dilakukan . Hasilnya penderita berkepanjangan bagi pasien dan keluarganya. penggunaan alat tersebut sangat sedikit dan pasien-pasien tak dapat diberi terapi/tindakan sampai tuntas. 4) Pihak yang berkepentingan Banyak pihak berkepentingan untuk pengadaan AKC. Dampak di bidang kesehatan dapat berupa manfaat/kesembuhan (effectiveness). sehat dan dapat bekerja produktif. Di samping itu dokter spesialis urologi yang dulu memakai ESWL itu pindah ke rumah sakit lain. Di dalam bidang kesehatan. masyarakat. kejang-kejang. Hasil. pembedahan otak. • Seorang anak umur 8 bulan. Contoh-contoh konkrit di atas yang diambil dari keadaan riil menunjukkan bahwa AKC dapat membawa manfaat tetapi juga dapat menimbulkan masalah. • Seorang dewasa muda jatuh dari sepeda motor. orang tersebut sembuh. sebagai contoh : – Bypass pembuluh koroner (CABG) di Amerika dilakukan 6 x lebih sering dari pada di Inggris (UK) walaupun angka kejadian penyakit jantung koroner di kedua negara itu lebih kurang sama. Tetapi kemudian banyak rumah sakit sekitar membeli ESWL. Tetapi motivasi dapat juga negatip seperti status simbol untuk dokter spesialis. Dilakukan bedah cesar. Dilakukan non stress test untuk mengetahui keadaan bayinya. • Di satu rumah sakit ada alat ESWL (pemecah batu ginjal) yang ternyata tidak banyak dipakai. Namun karena jumlah pasien sedikit dan belum ada dokter spesialis bedah jantung. rumah sakit. Pada pemeriksaan didapat gangguan pada pacu jantungnya (Sick Sinus Syndrome). Dipasang alat pacu jantung internal. 1994 . Di satu rumah sakit dibeli alat rontgen angiograf yang dapat • memeriksa pembuluh darah koroner. ada dokter spesialis radiologi. penentuan kematian. teknologi dapat berupa perangkat keras seperti Alat Kedokteran Canggih. 3) Contoh konkrit Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh konkrit kasus-kasus individual dalam bidang kesehatan untuk dapat lebih memahami manfaat dan masalah penggunaan AKC/teknologi canggih. Masyarakat dapat menuntut atau menolak adanya AKC. Dampak di bidang ekonomi secara makro dapat berupa kenaikan pada anggaran/biaya kesehatan. Hasil dari kekuatan tersebut di atas menyebabkan adanya AKC dan penggunaannya dapat berbeda antara berbagai negara. teknik. Direktur Rumah Sakit tersebut menceritakan bahwa mula-mula ESWL itu pemakaiannya baik (optimal). 2) Dampak AKC/Teknologi Canggih Penggunaan AKC mempunyai dampak yang luas yang dapat positip atau negatip : dampak di bidang kesehatan dampak di bidang ekonomi dampak di bidang sosial dampak di bidang etika dan hukum. – Jumlah alat CT Scan per 1. tidak sadar. Dampak di bidang hukum dan etika berupa ketidak pastian atau ketidak siapan seperti pada masalah bayi tabung. dapat berupa perangkat lunak seperti prosedur medik atau prosedur bedah. beberapa kali pingsan. Hasil. industri AKC dan lain-lain. Kesimpulan: adanya AKC saja tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan tim kesehatan yang diperlukan. tampaknya bayi mulai kesulitan untuk mendapat oksigen ditandai dengan nadi 180/menit. Demikian juga dapat dibedakan teknologi untuk pencegahan dan teknologi untuk pengobatan/penyembuhan. Setelah diberi penjelasan orang tua menolak saran agar respiratornya dilepas. Namun karena di rumah sakit tersebut tidak ada staf dokter spesialis bedah saraf. operasi tidak dapat segera dilakukan. orang tersebut sembuh. prosedur) bahkan ada juga yang memasukkan jenis ketenagaan (brain ware). muntah dan aspirasi berat. – Diperkirakan bahwa di Amerika dikeluarkan biaya 100 milyar dolar US per tahun untuk penggunaan AKC atau tekno- Cermin Dunia Kedokteran. Uri (placenta) mulai mundur fungsinya. penyulit/bahaya (safety). Dari uraian di atas jelas bahwa AKC adalah salah satu dari bentuk teknologi. Para dokter dapat mengalami "ketergantungan" pada AKC. keuntungan untuk investor atau industri AKC. 86 Pernapasan buatan dilakukan terus sampai lebih kurang 1.000 penduduk di Inggris (UK) hanya 1/6 dari jumlah di USA. Dampak di bidang sosial adalah antara lain pengaruh AKC pada perilaku dokter dan perilaku masyarakat. Hasil. 90. Motivasi pengadaan AKC dapat positip semata-mata untuk menolong pasien.perangkat lunak (cara. Pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata sudah terjadi kerusakan otak berat dan mati batang otak. dan biaya. Kesimpulan: apabila pengadaan AKC antar rumah sakit tidak ditata investasi AKC itu dapat merugikan. Seorang ibu hamil pertama mengalami keterlambatan 3 hari • dari hari perkiraan persalinan. dokter. metoda. Dipasang alat napas (respirator). Pada pemeriksaan dengan CT Scan didapat perdarahan otak (perdarahan epidural).

ekonomi. Tantangan pada dunia kedokteran pada era pembangunan jangka panjang II. Edisi Khusus No. 4) Perlu dikembangkan jaringan informasi tentang AKC/TKC 5) Penggunaan AKC/TKC perlu diarahkan untuk pengembangan AKC/TKC di Indonesia. Hal lain yang perlu diupayakan adalah agar komunikasi terbuka antara profesi dokter dengan berbagai pihak di masyarakat lebih diperluas. RINGKASAN DAN PENUTUP 1) AKC/teknologi kedokteran canggih (TKC) dapat mempu- Cermin Dunia Kedokteran . hukum dan etika. 1988. V. Berger Son. Dengan demikian akan terjadi keserasian dan kesepakatan antara kelompok profesi dokter dengan kelompok-kelompok lain dan masyarakat. Ini perlu mengingat AKC/teknologi canggih sering mempunyai dampak di luar kesehatan seperti bidang sosial.pemeriksaan sebagai gold standard dikembangkan teknologi yang lebih murah dan lebih sederhana. WHO Regional Office For Europe. New York : Oxford Medical Publ. 2) Selain membawa manfaat AKC/TKC dapat juga menimbulkan masalah. Research Policies For Health For Al1. ekonomi. 6) Komunikasi yang terbuka dengan masyarakat perlu lebih dikembangkan sehingga akan terjadi kesamaan persepsi yang memudahkan timbulnya kesepakatan dan dicegah timbulnya konflik-konflik yang merugikan. 2. 1988. Jennett B. WHO Regional Office For Europe. New York Avon. 1994 89 . Jika AKC digunakan sebagai alat verifikasi untuk mengecek keluhan dan gejala klinis maka untuk penyakit-penyakit tertentu dapat dirumuskan diagnosis klinik yang mempunyai positive predictive value yang tinggi. What your doctor did not learn in medical school. Priority Research For Health For A11. 1988. Oxford. 2) Pengembangan ketrampilan klinis Jika AKC digunakan sebagai "substitusi" pemeriksaan klinik yang kan terjadi adalah ketergantungan pada AKC. 3. Pidato pengukuhan 1991. 90. 3) Perlu dipelajari penataan AKC/TKC dari negara-negara lain dan diterapkan metoda-metoda yang ternyata berhasil sebagai contoh program pengembangan konsensus. 1988. Anestesiologi sebagai contoh pengkajian. Karjadi Wirjoatmodjo. KEPUSTAKAAN 1. nyai dampak yang luas di luar bidang kesehatan seperti bidang sosial. hukum dan etik. : 5. e) Perkembangan pada masa yang akan datang Dari segi metoda model yang diuraikan pada butir III/3g dapat secara bertahap dikembangkan. 4. High Technology Medicine : benefits and burdens.

cobalt unit and ancillary chemotherapy facilities.The Role of Marketing in Determining the Technology of a Hospital John Popper BACKGROUND Amongst the more difficult decisions a hospital administrator has to grapple with is that of defining the investment strategy that the hospital should pursue. low utilisation technologies offer no payback to the 90 Cermin Dunia Kedokteran. This decision is in large part decided by defining the type and level of clinical services that a hospital elects to offer to the community that it is servicing. 90. Jakarta 21 — 25 November 1993 MARKETING AND ITS ROLE IN DEFINING THE INVESTMENT STRATEGY In marketing terms there are basically three strategies that are followed by hospitals. Edisi Khusus No. Where investment in specialised technology had been made. Presented at the Vlth Congress of the Indonesian Hospitals Association & Hospital Expo. it is not easy to change emphasis or direction without significant financial penalty. Earlier this year I surveyed thirteen private hospitaIs here in Jakarta and found that in fact virtually all were pursuing an undifferentiated strategy. A basic technology configuration would be two linear accelerators plus a simulator. if oncology services were to be offered then once the primary decision has been made the investment strategy becomes self determining. not upgrade. 1994 . Money invested in these capital intensive. For example. Once entered upon. Lithotripsy units servicing two or three patients a week. cardiac catheterisation laboratories performing twenty angiograms a month. Clearly the best financial returns are to be achieved by adopting either a market leader approach or in filling a niche opportunity with a particular clinical service or suite of services. namely : • Undifferentiated • Niche • Market leader These three strategies can be expressed in graphical form relative to return on investment. radiotherapy unit. The investment requirement though high at setup stage has a low recurrent capital requirement in terms of upgrade demands allied to long life expectancy of the equipment. it was upon the request of a particular doctor rather than in terms of a clearly thought through strategy linking clinical service development with market needs. and the level of specialisation that it pursues. Cardiac equipment normally has a working life of some six to bwecoiml eight years in total before replacement. The strategy involving say cardiac diagnostic services are equally potentially capital intensive but the working life of the equipment is much shorter and the requirement for upgrades more frequent. A life expectancy that is measured in terms of ten years or better. and retains. these levels of utilisation are not only not commercially viable they reflect a poor understanding of the cost of capital and the notion of opportunity cost of capital. The consequence was a very high level of under utilisation of equipment and subsequent lack of return on investment. necessary. A consequence of the investment strategy adopted is that it will define the type of clinician that the hospital attracts.

• Is there a market for the service under consideration? • If so. This being the case : • What are the responses of a competitor likely to be? • Are they also investing in similar technologies. especially if it is based on a combination of corporate culture and technologies • Be focussed on meeting a perceived need by the hospital's customers namely the doctors. Cermin Dunia Kedokteran . To formulate considerations about whether or not a potential investment in a new service is likely to be attractive Porter's Industry Attractiveness Model is very useful to guide analysis. demand considerations are there any other issues such as restriction of the number of clinicians or technicians associated with operating the technology? Is this a limiting resource? • What are the lead times involved for a competitor follow you into the market? • If your hospital entered the market with the proposed service would it make it nonviable for a competitor to set up in competition? These sorts of considerations need to be individually answered. The model has as its core the need to predict the degree of rivalry a business could be predicted to experience. is the market big enough for two or more players. or. or contemplating doing so? • If so. In order to assess the threat of rivalry issues that impact on the attractiveness of an opportunity are considered such as threat of entry into the marketplace. Once an investment strategy has been defined and embarked upon marketing concepts also help to define how a hospital should position itself relative to competitors. can your facility gain a sustainable competitive advantage relative to the proposed technology? • Apart from market. A third model that is of particular value in terms of developing responses to market opportunities considers the attractiveness of that market relative to its strategic value to the hospital. It is a truism that if you can see an opportunity in the marketplace so can a competitor. visitors and staff • Be a basis for potential. 1994 91 . Ansoffs product/market grip offers a useful framework from which to consider existing products and markets and potential new ones. patients. By using this model it helps focus a hospital's marketing efforts and place them in a context that investors and staff can understand. Indeed. two. Marketing concepts allow a clear framework to be applied to the decision making process in an objective and rational manner in determining which technologies a hospital should invest in. systematically applied these frameworks offer considerable predictive capabilities for the astute administrator. that is to say those things that a hospital does that gives it a sustainable competitive advantage over a competitor.investors and deny access to this money to other potentially viable projects that would yield a return on investment. They are built around the concept of a core competence. threat of substitution of the service or product and consideration of the relative roles of suppliers and customers in i mpacting on the business. In discussing with hospital administrators how these investment decisions were made it was clear that market demand and payback analyses were not performed with any discipline but rather the decisions tended to be made based on intuion and blind faith. They are those of target market demand e. 90. It is through economies of scale that technology becomes viable and thus allows a hospital to build profitability. or actual. or three areas of clinical service that your hospital is able to offer at a level of excellence that is not readily imitated by a competitor. is that demand sustainable? Affirmative answer to these questions still should not lead to an investment in the proposed technology yet though. This is a very comprehensive framework and leads to wide ranging considerations about the potential marketplace and its structure. A core competence should : • Be difficult for competitors to imitate. Once investment has occurred. By performing this type of strategic value analysis it helps a hospital administrator to determine their marketing initiatives. The second situation analysis needs to also be undertaken. Those one. marketing models help define how to position and develop a hospital's clinical products and how to respond to changes in competitor behaviour. that of consideration of competitor positioning. is the demand of sufficient level to be economic? • If the answer appears yes.g. business acquisition To assist in these sorts of analyses a number of different frameworks are useful. SUMMARY The intention of each hospital should be to develop two or three distinctive clinical competencies that give it a sustainable competitive advantage over other facilities and from which it can therefore achieve economies of scale for those clinical services. Edisi Khusus No. Marketing frameworks encourage consideration of two major aspects that should underpin any investment considerations.

Setiap tahun sekitar 9% peserta Askes yang mengunjungi Puskesmas dirujuk ke Rumah Sakit. Sumbangannya pada peningkatan dan pemulihan kesehatan tidak dapat dibntah. Edisi Khusus No. Melalui PERSI PT Askes mengharapkan kerja sama dengan rumah sakit dalam mencapai tujuan akhir bersama yaitu peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia dengan peningkatan Etika. QualityAssurance. terutama di Rumah Sakit Pemerintah. Dalam menangani asuransi kesehatan di Rumah Sakit ditemukan berbagai masalah. Hanya Rumah Sakit Pemerintah sesuai dengan misinya masih menjalankan fungsi sosialnya dengan tarip yang relatif murah. Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. Pada tahun 1992 Perum Husada Bhakti berubah menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia. kapitasi dan sistem paket di samping bentuk tradisional fee for service. PT Askes telah menerapkan prinsip asuransi kesehatan di Rumah Sakit ditemukan berbagai masalah. duplication. Di samping itu dengan berubah status menjadi BUMN memudahkan dalam pengolahan dana guna mengembangkan serta meningkatkan pelayanan. PT Askes telah menerapkan prinsip asuransi dan akuntansinya masih menggunakan cash basis. antara lain belum tersedia dan belum dilaksanakannya SOP pelayanan kesehatan di sebagian besar rumah sakit. Pada tahun 1984 berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berIaku tidak memungkinkan lagi keberadaan "Badan " di luar struktur Departemen maka BPDPK dirubah menjadi suatu Perusahaan Umum di lingkungan Departemen Kesehatan yaitu Perum Husada Bhakti. hari rawat (LOS) yang terpalu panjang. Dibentuk sebagai Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK) pada tahun 1968 untuk menangani pengobatan pegawai dan keluarganya yang tidak dapat lagi ditanggulangi oleh APBN maka dengan KEPRES ditetapkan bahwa pegawai negeri harus membayar premium sebesar 2% dari gaji pokoknya. 1994 . fraud and abuse. sertaefisiensi dan efektifitas agar tercapai pelayanan kesehatan yang me- 92 Cermin Dunia Kedokteran. serta adanya moral hazard. sebaliknya biaya pelayanannya semakin meningkat dan impersonal.Rumah Sakit dan Asuransi Kesehatan Suatu Perbandingan Sonja Roesma Direktur Utama PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia Pada dasarnya lahir dan berkembangnya asuransi kesehatan di BUMN miliki Departemen Kesehatan adalah dalam mengikuti perkembangan industri kesehatan. 90. Di luar negeri juga telah dikembangkan DRG (Diagnostic Related Group). penggunaan obat yang tidak rasional. yang dulu bersifat sosial dan samaritan yang dikembangkan lembaga keagamaan seperti Misi dan Muhammadiah. Masalah prinsip lainnya adalah masalah mutu. dan pengendalian bersama. dan akan mengurangi beban Pemerintah sehingga dapat mengalihkan perhatiannya ke kesehatan masyarakat. Suatu penelitian di USA mememukan bahwa 30% dari pembiayaan kesehatan adalah adalah waste. 21 — 25 November 1993. Perkembangan dan peranan rumah sakit semakin pesat terutama di daerah perkotaan. Jakarta. sekarang telah menjadi lembaga sosioekonomi bahkan menjadi profit centers. namun biaya pelayanan kesehatan Askes meningkat 17% per tahun. Dalam masa tersebut fungsi rumah sakit mengalami perubahan. Dalam memudahkan administrasi dikenal berbagai bentuk pembiayaan seperti sistim anggaran (budget system). Asuransi Kesehatan jika diselenggarakan secara luas dapat menjadi subsistem pembiayaan kesehatan.

• Baik pemerintah.9 tahun untuk laki-laki dan 66. Canada no. Angka kematian bayi telah turun dari 142 promil (1971). 44.00 pada tahun 1990. 43 dan Brunai Darussalam no.4% dari seluruh biaya pada tahun 1990 yaitu 43. Angka kematian kasar di Indonesia telah menurun dari 18. Kenaikan yang sangat dramatis terjadi di rumah sakit yaitu rata-rata biaya kamar per hari tahun 1980 adalah US $ 127. air bersih dan rumah sehat serta pendidikan. serta penggunaan teknologi canggih yang berlebihan. Investasi rumah sakit swasta yang mahal dengan harapan ROI nya kembali secepat mungkin. Semua sadar bahwa biaya ini merupakan suatu yang berlebihan tetapi tidak mengetahui berapa persen yang sia-sia.1995. Angka harapan hidup telah meningkat dari 45 tahun untuk laki-laki dan 48 tahun untuk wanita pada tahun 1971 menjadi 62. 1. Menurut Human Development Report 1993 (UNDP) urutan kemajuan negara berkembang. GNP/Income Per Kapita dan aksara orang dewasa. 1. 2.00 pada tahun 1980 naik menjadi US $ 1. 57. Dari biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh masyarakat/ swasta 92% adalah untuk pengobatan. baik bagi rumah sakit maupun bagi PT Askes.1990 adalah 7. Jika diperhatikan maka semua negara tersebut menjalankan asuransi kesehatan sosial.00 di Amerika Serikat angka ini adalah US $ 1. Biaya kesehatan merupakan GNP.1 (1985) dan untuk periode 1985 . Pada tahun 1991 pembiayaan kesehatan USA mencapai US $ 752 milyard (kira-kira Rp. Singapore no. kecuali USA. Di Indonesia pembiayaan kesehatan per kapita per tahun adalah Rp.5% GNP pada tahun 1990.7 (1971). 23/92).851.5 di periode 1990 . ke 112 (1980) lalu ke 71 (1985) dan menjadi 65 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1991. 74.muaskan bagi peserta serta akan memberikan keuntungan ekonomis. Negara ASEAN lain lebih baik kedudukannya seperti Philipina no.5% Rp.000 tahun 1990.2% GNP tahun 1980 dan 12. Ada tiga fakta yang terjadi secara universal yaitu : • Masyarakat mengetahui bahwa untuk memperoleh kesehatan ia harus membayar. Biaya kesehatan per kapita pada tahun 1990 di Malaysia adalah US $ 67. maupun perusahaan atau keluarga seyogyanya tidak dibebani dengan pembiayaan kesehatan yang tinggi yang terjadi akibat tarif pelayanan spesialistis yang semakin tinggi.00 menjadi US $ 297.. 24.145.92. Namun biaya pemeliharaan kesehatan di rumah sakit terus meningkat sehingga tidak terjangkau oleh mayoritas penduduk apalagi bagi 15% penduduk desa tertinggal. sanitasi.267. 7. Thailand no.9 dan menurun menjadi 7.2 menurun pada tahun 1980 yaitu 12.00 (1980) menjadi US $ 687. Angka kematian bayi tahun 1959 adalah 29.7 tahun untuk wanita pada tahun 1990. USA no. Pembiayaan kesehatan terus meningkat bukan saja di negara maju tetapi juga di negara sedang berkembang termasuk juga Indonesia.1 pada tahun 1990. ratarata biaya perawatan per hari adalah US $ 245.566. pembelian obat-obatan yaitu 30% dari seluruh biaya kesehatan pemerintah 18% dan swastalmasyarakat 40%) di mana kita mengetahui bahwa sebagian besar biaya obat-obatan ini merupakan penggunaan obat di rumah sakit.4% GNP tahun 1980 dan 6.00 tahun 1990.00 (1990) dan rata-rata biaya per kasus adalah US $ 1. di samping adanya faktor inflasi serta sistem pembiayaan pelayanan kesehatan yang kurang mendukung. Biaya rumah sakit merupakan 30. Seandainya ia masuk asuransi kesehatan keinginannya adalah kebebasan berobat ke mana saja dan dibiayai untuk apa saja. sedangkan sektor pemerintah hanya 45% untuk pengobatan. bahkan diobservasi bahwa tingkat kesehatannya hampir tidak berubah. Biaya kesehatan per kapita per tahun Jepang adalah US $ 515.00 (1980) menjadi US $ 4.pada tahun 1982 menjadi 2. Merupakan fakta pula bahwa walaupun biaya kesehatan meningkat tidak berarti bahwa kesehatanya meningkat. menyebabkan pasien yang berada di posisi lemah terpaksa membayar berapapun tarif yang dikemukakan. Patut dikemukakan bahwa negara yang rakyatnya paling baik kesejahteraannya berdasarkan HDI adalah Jepang no. perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi (yang sebagian besar dapat dicegah) ke penyakit kardiovaskuler dan penyakit khronis lainnya serta peningkatan kasus-kasus katastrofik. biaya rumah sakit merupakan 60% dari seluruh biaya kesehatan (pemerintah 27%. Thailand US $ 73. Di Amerika Serikat angka harapan hidup pada tahun 1950 adalah 68 tahun dan tahun 1990 menjadi 76 tahun (Jelang 79 tahun). Pembiayaan kesehatan terus menaik menjadi 14% GNP pada tahun 1992.5 trilyun). 92. Indonesia tertera sebagai nomor 108 berdasarkan HDI (Human Development Index) yang meliputi angka harapan hidup. PEMBIAYAAN KESEHATAN Masalah yang dihadapi hampir semua negara di dunia saat ini adalah meningkatnya pembiayaan kesehatan.947. antara lain teknologi canggih di rumah sakit yang berlebihan. ini merupakan 6. Tahun 1986 di Indonesia 78% dari total pembiayaan kesehatan digunakan untuk pengobatan.00 pada tahun 1990.00 (1990). BIAYA PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT Kecenderungan naiknya biaya pelayanan kesehatan disebabkan berbagai hal. swasta/masyarakat 37%).6 dan 9. Bila dibandingkan dengan negara lain angka ini lebih rendah.630. 6 dan Australia no. 3 9 .00 pada tahun 1980 menjadi US $ 2.2% GNP pada tahun 1990. kalau perlu menggunakan surat miskin tetapi mendapat pelayanan kesehatan yang optimal. Malaysia no.7% dimana dalam kurun waktu '76-90' terjadi peningkatan program managed care yaitu program pemeliharaan kesehatah yang mengkaitkan sistim pembiayaan (prepaid & cost containment) dengan sistim pelayanan (pengendalian mutu). 11. B iaya kesehatan ini merupakan 9. Peningkatan kesehatan yang diukur dengan penurunan angka kematian ternyata bukan oleh pengobatan tetapi terutama disebabkan oleh faktor seperti gizi.00. menjadi 9. namun bagi dirinya berlaku prinsip ekonomi : yang bersangkutan ingin membayar serendah mungkin. • Pemerintah telah berusaha agar seluruh masyarakat dapat memperoleh pelayanan yang dilakukan dengan memberi akses pada Puskesmas dan Posyandu serta Rumah Sakit yang dapat dibiayai melalui Dana Sehat (tingkat Puskesmas) dan sampai Rumah Sakit tipe A melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat/JPKM (UU No.

Untuk pembiayaan pelayanan rumah sakit telah diperkenalkan pembayaran paket per hari rawat. dan budget disamping pembiayaan paket per hari rawat. kadar cholesterol darah. Penurunan LOS sangat berarti dalam pembiayaan pelayanan kesehatan yang tentunya biaya ini dapat dipergunakan untuk kenaikan tarif per hari dan biaya pelayanan lainnya. Edisi Khusus No. Pada tahun 1991 income rata-rata dokter di USA adalah US $ 139. RS Swasta 7. Penyakit jantung yang telah menjadi penyakit nomer 1.000 (1980) menjadi 1.000 histerektomi per tahun. kelas B 7 hari. Pada suatu survey yang dilakukan untuk Johnson Foundation di USA. Pengalaman di Amerika menunjukkan bahwa pembiayaan dengan menggunakan sistem fee for service tanpa pengendalian telah mengakibatkan meningkatnya biaya pelayanan kesehatan secara cepat. Sistem pembiayaan rumah sakit yang berlaku umum di Indonesia adalah secara tradisional yaitu fee for service. 2 Th 1992 tentang Usaha Asuransi. LOS tahun 1992 rata-rata untuk RS ABRI 11. Di Indonesia diyakini hal ini terjadi pula. 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) dan UU No. Di Amerika dilakukan 600. termasuk di Indonesia juga menjadi sasaran operasi terutama bypass. Kita me- 94 Cermin Dunia Kedokteran. sehingga pada dekade 70 an dikembangkan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan dengan cara prepaid (capitation & budgetsystem) disertai pengendalian biaya melalui cost contaimment. Upaya kerjasama ini perlu ditingkatkan untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan pelayanan.9 hari. Pada saat ini BOR rumah sakit milik Depkes 65. paket pelayanan.3 hari dan wanita 8. ASKES juga memperkenalkan program pengendalian mutu antara lain dengan menyusun daftar obat (DPHO) yang didasarkan Daftar Obat Esensial Nasional. Pada saat ini sudah pula dikembangkan kerj asama dengan rumah sakit dalam program quality assurance. 1994 .8 milyar pada tahun 1992. Dokter dan perusahaan obat sekarang banyak yang memperoleh untung dari profesinya. spesialis memperoleh antara US $ 280. Di Indonesia angka income ini tidak diketahui.65 milyar tahun 1992. penempatan dan penyebbaran alat canggih telah meningkatkan biaya pelayanan kesehatan secara bermakna. Pada akhir-akhir ini terlihat kenaikan pada pasien rawat jalan dan atau one day care. Di Amerika bypass telah meningkat 2800% sejak tahun 1970 yang jauh lebih tinggi dari negara lain. diikuti dengan rumah sakit swasta 55.1%. PP. sedangkan untuk pasien ASKES. Departemen lain 47.3 hari. paket pelayanan. Hal yang sama ditemukan pula untuk diagnostic test.4%. Seperempat (1 juta) bayi dilahirkan dengan caesar yang diragukan keuntungannya baik bagi ibu maupun bagi bayi. 4. 23 Th 1992 tentang Kesehatan yang di dalamnya tercakup pula program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat.dan budget di samping pembiayaan secarafee for service. walaupun diketahui terdapat perbedaan yang mencolok. PP No. dan upaya preventif lainnya. PT ASKES telah meningkatkan pelayanan hemodialisis dari penggunaan 14 fasilitas HD di 4 propinsi tahun 1989 menjadi 23 fasilitas HD di 12 propinsi tahun 1990.29% merupakan biaya rumah sakit.8%. Seluruh income dokter mencapai US $ 74 milyar dalam tahun 1992. 69/91 tentang penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan PNS. responden diminta pendapatannya secara berurutan tentang penyebab utama peningkatan biaya kesehatan. PT.000 . rumah sakit Pemda 53. terutama dokter spesialis. Namun Kaiser Permanente. obat pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah 29.00 per tahun. 0.4 hari. 90. Sistem pembiayaan ini terus disempurnakan guna mencapai kemudahan administrasi pembiyaaan pelayanan kesehatan persertanya melalui "Kapitasi Total" pada beberapa daerah. hal ini telah meningkatkan kasushaemodialisis dari 8.24% dari anggaran pelayanan kesehatan PT ASKES dipergunakan untuk pelayanan di rumah sakit (pengobatan).05%. 3.00.31 milyar pada tahun 1988 menjadi Rp. 14/93 tentang penyelenggaraan JAMSOSTEK.3 hari dan RS Khusus 22. LOS rata-rata untuk RS kelas A yaitu 10 hari. 7. ASKES telah membiayai pelayanan jantung dari Rp. Sejalan dengan perubahan sistem pembiayaan PT. yang memakan biaya lebih dari US $ 5 milyar. PT.1 hari. Berdasarkan penelitian Rand Coprporation di California sepertujuh sampai sepertiga dari beberapa jenis operasi sebenarnya tidak perlu dilakukan. kemungkinan untuk mengalami operasi ini 6 kali lebih besar dari wanita Norwegia. Melihat potensi yang ada pada PT. dan PP No. UU No. ASKES sejak tahun 1988 (Perum Husada Bhakti) telah mulai memperkenalkan sistem pembiayaan secara kapitasi untuk pelayanan kesehatan dasar. ASURANSI KESEHATAN / JPKM Saat ini ada 3 undang-undang yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan asuransi kesehatan yaitu UU No. CT Scan telah meningkat dari 300.000.7% dan rumah sakit ABRI 42. 0. Pemerintah telah menerbitkan beberapa PP yang No.97 milyar tahun 1989 menjadi Rp. 3 Th.000.826 tahun 1990 dengan biaya Rp. tanpa mengurangi kesehatan pesertanya tetapi lebih menekankan pada kontrol hipertensi.5 juta (1991). Di Amerika LOS RS umum tahun 1990 ratarata adalah 6.Dari seluruh pembiayaan pelayanan kesehatan PT ASKES tahun 1992. Hasilnya adalah sebagai berikut : – 67% rakus dan cari untung (greed and profits) – 64% tuntutan karena mal practice – 61% sia-sia dan inefisiensi (waste & ineffeciency). PT ASKES merupakan suatu perusahaan asuransi kesehatan dengan penggunaan biaya pelayanan sangat tinggi dengan rata-rata biaya pelayanan kesehatanan menyerap 88% dari iuran.000. ASKES perlu dihitung berapa % penggunaan rumah sakit oleh peserta ASKES dan berapa dana yang diperoleh setiap rumah sakit per bulan dari ASKES.25 milyar tahun 1990 dan mencapai biaya Rp. kelas C dan 5 hari. Di samping itu mutu pelayanan tetap dijaga melalui program quality assurance dan utilization review.802 tahun 1989 menjadi 32.450. 45.0%. Peningkatan biaya pelayanan rumah sakit dapat pula disebabkan karena meningkatnya biaya/jasa tenaga profesional. 73/92 tentang penyelenggaraan Usaha Asuransi. asuransi kesehatan yang menjalankan managed care (JPKM) mengemukakan bahwa jumlah operasi bypass sedikit. berarti 84. Veteran dan Perintis Kemerdekaan serta Perluasan Kepesertaan ASKES. untuk laki-laki diatas 65 tahun rata-rata 8.

PT.00 pada akhir Pelita VI. tentang tarip pelayanan kesehatan di rumah sakit yang akan sangat mendukung operasionalnya. Berbeda dengan program pemeliharaan kesehatan yang selama ini diselenggarakan dengan kepesertaan bersifat wajib. ke penyakit kardiovaskular.5 juta. perkembangan teknologi kedokteran. ternyata lebih dari 50% karena tidak merokok dan menurunkan cholesterol.00 saat ini menjadi US $ 1. John & Sonja Mc Kinlay (sosiolog) menunjukkan bahwa 90% kemajuan kesehatan masyarakat Amerika terjadi pada pertengahan abad pertama. Kematian akibat penyakit jantung telah turun secara dramatis. sehingga tujuan pembangunan. vaksin hepatitis menghindari seseorang dari Ca hepar dan vaksin-vaksin lainnya seperti untuk campak. Edisi Khusus No. Pap smears ternyata sangat mengurangi prevalensi kanker uterus (sampai 50%). Terjadinya beberapa tindakan malpratice sebenarnya dapat dicegah dengan Cermin Dunia Kedokteran . AIDS pun dapat dicegah. Berkurangnya subsidi pemerintah terhadap pelayanan kesehatan (terutama pengobatan).4% penduduk pada tahun 2000) serta terjadi pergeseran jumlah penduduk di daerah perkotaan dari 30% saat ini menjadi 40% pada akhir Pelita VI. Adanya rencana pemerintah dalam memperketat penerimaan pegawai negeri tidak akan banyak mempengaruhi peningkatan jumlah peserta ASKES meningat telah dimulainya program perluasan kepesertaan ASKES kemasyarakatan umum sejak tahun 1992. yang jelas adalah upaya termahal mempunyai efek paling kecil. Cakupan asuransi kesehatan yang diselenggarakan oleh PT ASKES telah berkembang dengan mencakup masyarakat umum. melainkan dari perkembangan sosial yang mengakibatkan manusia atau masyarakat mencegah penyakit. juga melakukan kegiatan promotif dan preventif. serta adanya peraturan perundang-undangan yang mengharuskan pengusaha memberi bantuan pemeliharaan kesehatan bagi karyawannya. KESIMPULAN Telah dibahas beberapa permasalahan pembiayaan kesehatan umumnya dan khususnya pembiayaan kesehatan di rumah sakit. Untunglah tidak lama lagi akan terbit PP tentang JKPKM. penerima pensiun ABRI dan Veteran. khususnya pembangunan kesehatan dapat tercapai. Bahwa pencegahan itu lebih baik dari pengobatan ternyata juga lebih murah. Akhir-akhir ini bisnis asuransi kesehatan tampak meningkat bukan saja yang diselenggarakan oleh BUMN. dikemukakan. Sebaliknya hal ini didukung oleh meningkatnya kemampuan masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan akibat peningkatan income per kapita dari US $ 650. bagi kelompok ini perhitungan presmi dikaitkan dengan paket pelayanan (benefit package). dan 3. 69 tahun 1991. Khasiat olah raga tidak. 1994 95 . Hal ini sejalan dengan kenaikan jumlah pegawai negeri sipil. disamping terjadinyaperubahan kulturmasyarakat dari extended family menjadi nucleus family. diphteri pertusis dan tetanus tentu sangat menguntungkan dalam menekan biaya dan meningkatkan kesehatan. sesuai dengan PP No.nyadari bahwa semua peraturan perundang-undangan ini dimaksudkan agar perekembangan industri kesehatan termasuk perkembangan asuransi kesehatan tidak salah arah. Hasil studi menunjukkan bahwa hal ini tercapai bukanlah karena pengobatan tetapi lebih banyak karena perubahan dalam gaya hidup. Melalui kerja sama ini dapat pula diciptakan standar pelayanan atas dasar standar profesi dan kemudahan-kemudahan prossedur. Askes berbeda dengan asuransi kesehatan lainnya. hal mana telah terbukti dari sejarah kedokteran. beserta keluarganya menjadi 14 juta jiwa. yang ada gilirannya akan dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat. Upaya untuk meningkatkan kesehatan dan mengurangi biaya sebenarnya sejalan. typhus dan campak telah dapat dikendalikan sebelum obat-obatan dan vaksin ditemukan. untuk kelompok ini kepesertaannya bersifat sukarela. UPAYA PREVENTIF LEBIH PRODUKT1F Dalam menjalankan JPKM.000 jiwa atau 8. Dokter Lee Goldman seorang kardiolog pada tahun 1988 telah mengadakan penelitian tentang penyebab menurunnya penyakit jantung. Pengaruh globalisasi. Keppres tentang standar pelayanan kesehatan bagi peserta ASKES dan SKB. Selama 5 tahun terakhir kenaikan peserta ASKES berkisar antara 5% setiap tahun.000. bertambahnya kelompok "lansia" (dari 16.000. penyakit degeneratif dan penyakit khronis lainnya. 20% karena obat jantung dan hipertensi. Keberhasilan kerja sama ini akan berdampak masyarakat pengguna pelayanan kesehatan lainnya. sehingga akan sangat menghemat biaya. Pada awalnya peningkatan kesehatan masyarakat yang besar bukanlah hasil dari berbagai operasi atau teknologi baru. Peningkatan pelayanan rumah sakit dengan peningkatan penggunaan alat-alat canggih menyebabakan biaya pelayanan rumah sakit tidak terjangkau oleh sebagain masyarakat Indonesia apalagi masyarakat di desa tertinggal. Menurut mereka penurunan angka kematian antara tahun 1900 dan 1974 hanya 4% disebabkan oleh upaya ke dokteran. di mana penyakit tbc.7% penduduk pada tahun 1990 menjadi 22.000. Pada hakekatnya hampir 70% penyakit yang diperiksakan pada dokter dapat dicegah.5% karena operasi bypass. Hal ini tentunya tidak lepas dari peningkatan profesionalisme dan manajemennya. tetapi juga oleh badan swasta konsekuensinya adalah bahwa kerjasama antara badan penyelenggara asuransi kesehatan dengan pihak penyelenggara kesehatan (terutama rumah sakit) baik dalam uapaya meningkat mutu pelayanan maupun dalam pengendalian biaya perlu dibina secara baik.000 jiwa atau 10. ASKES sebagai salah satu BUMN di lingkungan Departemen Kesehatan mempunyai peserta 4. Berkembangnya industri rumah sakit telah dapat meningkatkan upaya pelayanan kesehatan terutama upaya penyembuhan. Dengan berkembangnya kepesertaan ASKES diharapkan makin dapat ditingkatkan pemanfaatan aspek kegotong royongan di samping peningkatan efektifitas dan efisiensi. peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan akibat perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi. kesemuanya ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap asuransi kesehatan. 90.

KEPUSTAKAAN 1. 90. Jakarta. 6. Departement of Health and Human Service : Health United States and Prevention Profile. smiles are to humanity 96 Cermin Dunia Kedokteran . Human Development Report 1993. 3. 9. Departemen Kesehatan. Gani. Edisi Khusus No. 2. Departemen Kesehatan. Kansas City: 1992. ASKES. Laporan Manajemen 1992. 1993. ASKES hanya akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik dengan bantuan PERSI. The Universal Almanc. Repelita VI. Jakarta. 5. 1993. Rancangan 7 Rencana Pembangunan Kesehatan jangka Panjang Tahap II (1994/1995 . Bersamaan dengan itu usaha asuransi telah pula berkembang dengan pesat dengan termasuk usaha asuransi kesehatan. Jakarta.C: 1993. 1993. 10. Jakarta. Hardjoprawiro H. U. Wright J W. Preston L T. Drape W H. ASKES sebagai salah satu BUMN yang diserahi tugas menyelenggarakan asuransi kesehatan mempunyai misi yang mulai untuk meningkatkan kesehatan pesertanya. Jakarta. Untuk itu diperlukan kerja sama antara penyelenggara asuransi kesehatan/JPKM dengan rumah sakit. 1993. 4. World Development Report. 1994 . What sunshine is to ftowers. ASKES.S. A : Pembiayaan Rumah Sakit dan Prospek Perkembangan Asuransi Kesehatan selama PJPT II. 1993. 8. Melalui PERSI akan dapat dibina kerjasama dalam program peningkatan mutu pelayanan (quality assurance termasuk pelaksanaan etik kedokteran) dan menyempurnakan sistem pembiayaan yang mendukung pelayanan kesehatan di rumah sakit. PT. Sistem asuransi yang dianggap dapat menghindari peningkatan biaya pelayanan pembiayaan kesehatan secara cepat adalah mengkaitkan sistem pembiayaan kesehatan dengan sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit bila menjalankan program JPKM yaitu pembiayaan prepaid dengan cost containment disertai pengendalian mutu melalui upaya quality assurance dan utilization reviews. Peta Kesehatan Masyarakat dan Propek PJPT II. Dukungan Penelitian dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sakit. PT.menjalankan etik kedokteran secara benar. Statistik PT Asuransi Kesehatan Indonesia 1987-1992. 7. UNDP. New York: 1993. Washington D. 1992. Maryland: 1992. Jakarta. PT.2018/2019). PT.

Di sinilah kemudian disadari perlunya dilakukan pertimbangan-pertimbangan yang seksama tentang risiko/gangguan lingkungan terhadap suatu rencana kegiatan. Akibat analisis yang Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. manusia secara sadar melakukan berbagai aktifitas mulai dari yang sederhana sampai kompleks yang pada dasarnya dapat dikatakan mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan. Apabila hal tersebut dipertimbangkan biasanya hanya dikaitkan dengan analisis biaya-manfaat (Cost Benefit Analysis) di mana variabel-variabel yang tergolong variabel ekonomi dicoba untuk dihitung nilai moneternya. Hakekat lingkungan pada mulanya perubahan pada lingkungan oleh kegiatan manusia masih berada di dalam kemampuan alam untuk memulihkan diri secara alamiah. Dalam pada itu kebutuhan akan sumber daya tersebut semakin meningkat sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk serta meningkatnya kebutuhan. Edisi Khusus No. Proses pengambilan keputusan terhadap rencana kegiatan di masa lalu terutama didasarkan pada kelayakan dari segi teknis dan ekonomis serta mungkin dari segi politis saja. Bertolak dari keadaan tersebut. sedang dampaknya terhadap lingkungan hidup sangat jarang dipertimbangkan. Analisis Dampak Lingkungan diperlukan untuk menjamin agar tujuan aktifitas manusia. Jakarta. Secara nasional bagi semua kegiatan pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah No. kemudian dicari usaha untuk menghindari timbulnya dampak negatif. Dengan dimasukkannya AMDAL ke dalam proses perencanaan suatu kegiatan maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai aspek kegiatan tersebut sehingga dapat diambil keputusan yang optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Pemikiran inilah yang mendasari perlunya studi tentang dampak lingkungan suatu kegiatan yang kemudian dikenal dengan Analisis Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment). 90. Tidak jarang pula dampak tersebut berakibat mengurangi manfaat/keuntungan yang diperkirakan sebelumnya. 1994 97 . sehingga dapat diambil keputusan yang paling baik terhadap kegiatan tersebut sebelum dilaksanakan atau dilanjutkan. Sejalan dengan hal tersebut perubahan lingkungan yang terjadi seringkali masih dapat ditenggang (tidak) atau kurang dipedulikan oleh masyarakat karena tidak secara jelas menimbulkan kerugian yang berarti. Jakarta PENDAHULUAN Untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraannya. 51 tahun 1993 tentang AMDAL sebagai pengganti dari PP 29 tahun 1986 tentang AMDAL. Jadi AMDAL merupakan salah satu alat bagi pengambilan keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. yang tidak/belum dapat diperkirakan sebelumnya. Akan tetapi kemudian perubahan tersebut semakin membesar. kemudian timbul upaya untuk menelaah aktifitas yang telah dan akan dilakukan untuk mengetahui dampak apa yang mungkin merugikan kegiatan tersebut. yaitu kesejahteraan hidup dapat tercapai tanpa merusak lingkungan. terbatas tersebut tidak jarang dijumpai adanya dampak berbahaya yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan yang direncanakan. dan bahkan kualitas hidup itu dapat menurun.Penyusunan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) Rumah Sakit dan Penatalaksanaannya Komisi AMDAL Departemen Kesehatan RI. mengganggu daya dukung lingkungan sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidupnya. 512/ MENKES/PER/X/1990 tentang AMDAL Rumah Sakit yang tentunya harus disesuaikan dengan PP AMDAL yang baru. Berdasarkan PP 29 tahun 1986 Menteri Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. Cennin Dunia Kedokteran. 21 — 25 November 1993.

Ini berarti .Peraturan Menteri Kesehatan No. b) Dampak suatu kegiatan bersifat kompleks. Edisi Khusus No. Asumsi ini berangkat dari suatu pengertian bahwa AMDAL hanya terfokus pada ruang tertentu dan kurun waktu tertentu yang dihipotesakan terkena dampak suatu kegiatan. Departemen Kesehatan akan mengeluarkan ketentuan khusus yang mewajibkan pembuatan standard operating procedure pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dituangkan dalam rencana teknis pengelolaan lingkungan dan rencana teknis pemantauan lingkungan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dikenal istilah Analisis mengenai Dampak Lingkungan yang disingkat dengan AMDAL yang berarti hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. Pedoman teknis tersebut menetapkan sistematik dan isi laporan AMDAL Rumah Sakit yang harus diikuti oleh setiap penyusun AMDAL Rumah Sakit. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Di samping pengertian tersebut. sebagai pengganti kewajiban pembuatan SEMDAL. Sedangkan dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. Bagi rencana kegiatan yang tidak ada dampak pentingnya. Asumsi ini berangkat dari pengertian bahwa. dampak yang ditimbulkan akan berbeda bila berada di ruang yang berbeda. 90. AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi penyusunan berturut-turut : a) Kerangka Acuan bagi penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Berkenaan dengan dampak lingkungan suatu kegiatan ada dua hal pokok yang perlu dipahami yaitu : a) Dampak setiap kegiatan bersifat khas dan unik (site specific). 1994 c) d) 1) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). memprediksi. Implikasi hal ini adalah bahwa studi AMDAL harus dilakukan secara lintas disiplin sesuai dengan karakteristik dampak yang ditimbulkan. Di samping itu diuraikan tentang penatalaksanaan penyusunan dan penilaian AMDAL Rumah Sakit yang meliputi organisasi (Komisi AMDAL) dan tatacara penyampaian dokumen AMDAL Rumah Sakit untuk penilaiannya. dewasa ini dikenal pengertian : a) AMDAL Kegiatan Terpadu/Multi Sektor yaitu hasil studi mengenai dampak penting kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. dengan memperhatikan ketentuan mengenai AMDAL yang dituangkan dalam PP 51 tahun 1993. Bagi kegiatan yang diragukan dampak pentingnya. b) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Hubungan sebab akibat ini semakin sulit ditelusuri apabila dampak yang ditimbulkan pada suatu komponen bersifat kumulatif dan baru tampak setelah kurun waktu yang cukup lama. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Dalam perkembangannya kemudian. PENGERTIAN DAN MANFAAT AMDAL Pengertian AMDAL adalah salah satu studi yang mengidentifikasi. Jadi diperlukan spesialis yang mengkaji masing-masing disiplin dari aspek yang terkait dan ahli analisis sistim yang mengintegrasikan hasil kajian para spesialis dalam kesatuan analisis. Namun demikian bagi kegiatan bidang kesehatan yang semula ditetapkan wajib SEMDAL tapi hingga saat ini belum membuat SEMDAL. menginterpretasi dan mengkomunikasikan pengaruh dari suatu kegiatan manusia terhadap lingkungan. Implikasi dari asumsi ini adalah walaupun jenis kegiatannya sama. Dengan ditetapkannya PP 51 tahun 1993 tentang AMDAL. Pada mulanya dampak lingkungan digambarkan sebagai adanya benturan antara dua kepentingan yaitu kepentingan antara perlunya pelaksanaan kegiatan dan kepentingan usaha melestarikan kualitas lingkungan yang baik. artinya dampak lingkungan suatu kegiatan hanya berlaku untuk ekosistem tertentu dan kelompok sosial tertentu yang menghuni ruang dan waktu tertentu. Benturan kepentingan tersebut hanyalah mencerminkan adanya dampak yang merugikan (negatif) saja.512/MENKES/PER/X/ 1990 tentang AMDAL Rumah Sakit di samping menetapkan pedoman teknis penyusunan AMDAL Rumah Sakit juga menetapkan penatalaksanaan AMDAL Rumah Sakit. dalam rangka menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan diharuskan melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkimgan (UPL). dilakukan proses penapisan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut berdampak penting atau tidak. tidak terdapat lagi ketentuan tentang AMDAL bagi kegiatan yang sudah berjalan yang dikenal dengan SEMDAL. Namun dalam uraian makalah ini akan disampaikan langkah-langkah penyusunan AMDAL secara umum. Perubahan atau tekanan yang dialami oleh satu komponen lingkungan akan mempengaruhi komponen lainnya. Jadi pengertian AMDAL di sini dapat berarti proses studi dan dapat pula berarti hasil studi. setiap komponen lingkungan satu sama lain saling terkait. 98 Cermin Dunia Kedokteran. 2) Manfaat AMDAL Telah disebutkan terdahulu bahwa AMDAL diperlukan bagi proses pengambilan keputusan suatu kegiatan. b) AMDAL Kawasan yaitu hasil studi dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan menyangkut kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab. Dampak lingkungan adalah perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. c) AMDAL Regional yaitu hasil studi dampak penting suatu kegiatan yang' direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Bagi kegiatan wajib SEMDAL yang belum membuat SEMDAL akan diuraikan beberapa ketentuan yang akan diberlakukan dalam waktu dekat ini. yang dianalisis bukan hanya dampak negatifnya saja tapi juga dampak positif suatu kegiatan dengan bobot analisis yang sama.

g) Pengolahan. h) Rincian mengenai limbah kegiatan. biologis. b) Pendugaan dampak lingkungan yaitu memproyeksikan perubahan komponen lingkungan yang mungkin terjadi akibat dilaksanakannya rencana kegiatan. c) Pengenalan keadaan umum lokasi kegiatan (pra survai). sekurang-kurangnya memuat : a) Nama dan alamat pemrakarsa kegiatan. 1) Langkah pertama Persiapan meliputi : a) Pembentukan Tim Penyusun. Langkahlangkah yang selanjutnya akan diuraikan di bawah ini lebih menjelaskan urutan pekerjaan studi AMDAL sejak persiapan studi sampai langkah dari studi AMDAL yaitu evaluasi dampak lingkungan dan alternatif pengelolaannya. rencana kegiatan yang akan dikaji. sarana dan prasarana angkutan dan sebagainya. b) Mengetahui adanya dampak suatu rencana kegiatan terhadap kegiatan lainnya yang dapat menimbulkan pertentangan. meliputi : Cermin Dunia Kedokteran. terutama dalam rangka mengendalikan dampak negatif dan mengembangkan dampak positifnya. c) Memberikan masukan bagi studi kelayakan teknis dan kelayakan ekonomi sehingga dapat dilakukan optimasi. Langkah kedua : Pengumpulan dan penyusunan informasi mengenai kegiatan yang akan dikaji (pemerian kegiatan). 51 tahun 1993. 90. 2) 3) Langkah ketiga : Penentuan rona lingkungan awal dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan fisik. LANGKAH-LANGKAH DALAM STUDI AMDAL Sesuai dengan definisi lingkungan yang berlaku di Indonesia (Undang-undang No. i) Uraian tentang sistim pengelolaan limbah. c) Menyusun daftar isian dan panduan-panduannya. Edisi Khusus No. d) Penentuan ruang lingkup studi (scoping). e) Pelaksanaan upaya pengelolaan lingkungan berdasarkan hasil pendugaan dan evaluasi dampak lingkungan yang dilakukan dalam proses penyusunan AMDAL. 4 Tahun 1982) komponen lingkungan yang ditelaah dalam studi AMDAL bagi suatu kegiatan meliputi komponen lingkungan fisik kimia. e) Penyusunan rencana kerja/usulan teknis. dan kegunaan kegiatan. Diagram Alir Studi AMDAL dihasilkan seperti yang dimaksud dalam pengertian AMDAL menurut Peraturan Pemerintah No. b) Pemahaman mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan AMDAL. Dengan demikian maka AMDAL bermanfaat untuk : a) Mengetahui adanya dampak suatu rencana kegiatan terhadap kualitas lingkungan hidup yang melampaui ambang batas yang telah ditetapkan ataupun yang tidak dapat ditolerir serta membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia. b) Menetapkan metodologi pengukuran setiap komponen lingkungan termasuk sampling system dan sampling site-nya. 1994 99 . terutama informasi tentang sumber daya yang diperlukan bagi kegiatan tersebut. komponen lingkungan hayati dan komponen sosial ekonomi dan sosial budaya. seperti energi. e) Uraian kegiatan mulai dari fase persiapan sampai operasi. f) Pelaksanaan pengukuran/penelitian di lapangan dan analisis di laboratorium. d) Memberikan informasi sejauh mana keadaan lingkungan dapat menunjang perwujudan suatu rencana kegiatan. b) Status. jenis. Secara umum langkah-langkah pelaksanaan studi AMDAL secara berurutan dapat digambarkan pada diagram alir sebagai berikut (Diagram 1) : Diagram 1. tenaga manusia. untuk menetapkan apakah suatu kegiatan itu memungkinkan untuk dilaksanakan ditinjau dari sudut kepentingan kelestarian lingkungan hidup. f) Pelaksanaan pemantauan lingkungan yang diperlukan bagi penilaian ataupun pengawasan pelaksana pengelolaan lingkungan. analisis dan penyusunan hasil. g) Rencana operasional atau alur proses kegiatan. d) Hasil (output) dan umur kegiatan. c) Lokasi kegiatan. meliputi kegiatan : a) Menetapkan komponenlingkungan yang akan dikaji. tujuan. 4) Langkah keempat : a) Identifikasi dampak yaitu mengidentifikasi komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak rencana kegiatan/ komponen kegiatan. f) Perkiraan biaya.bahwa dokumen AMDAL merupakan salah satu bahan perti mbangan. dan sosial di wilayah yang diperkirakan terkena dampak kegiatan. d) Menetapkan cara pengolahan dan analisa data. e) Persiapan peralatan dan bahan-bahan. 5) Langkah-langkah yang digambarkan dalam diagram tersebut tidak menggambarkan bentuk dokumen yang akan Langkah kelima : Evaluasi dampak lingkungan dan alternatif pengelolaannya. pedoman-pedoman. baku mutu lingkungan.

LAPORAN HASIL STUDI AMDAL Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 280/MENKES/SK/I/1993 . Dalam melaksanakan tugasnya Komisi AMDAL Departemen Kesehatan melakukan hubungan kerja dengan instansi yang bertanggung jawab dalam Rumah Sakit dalam hal ini Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. dan telah diperbaharui dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. dan kapan pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilakukan. siapa. Dari langkah-langkah tersebut kemudian disusun laporan hasil studi yang berbentuk beberapa dokumen yang meliputi : KA ANDAL. Adapun anggota Komisi AMDAL Departemen Kesehatan terdiri dari pejabat di lingkungan unit utama Departemen Kesehatan yang tugas pokoknya berkaitan dengan pengelolaan lingkungan maupun berkaitan dengan kegiatan bidang kesehatan yang wajib AMDAL. Untuk hal-hal yang bersifat sangat rahasia dan tidak mungkin diungkapkan dalam laporan misalnya menyangkut rahasia yang dipatenkan harus diberikan catatan tersendiri dan hal ini dituangkan dalam ringkasan ANDAL. RPL: 1) Identitas pemrakarsa 2) Uraian kegiatan 3) Tujuan. Uraian yang disajikan dalam laporan RKL dan RPL harus dapat mengungkap secara jelas tentang apa. evaluasi.a) Penentuan hubungan sebab akibat antara komponen rencana kegiatan dan komponen lingkungan dengan dampak yang mungkin ditimbulkan. Kerangka Acuan ANDAL Sesuai dengan pedoman teknis Kerangka Acuan ANDAL harus disusun dengan sistimatika sebagai berikut : 1) Peendahuluan 2) Tujuan studi 3) Ruang lingkup studi 4) Metodologi 5) Tim studi ANDAL 6) Biaya 7) Waktu pelaksanaan 8) Daftar pustaka. dan pengawasan pelaksanaan RKL dan RPL. dan pendekatan pengelolaan lingkungan 4) Rencana pengelolaan lingkungan 5) Kepustakaan. 90. kegunaan. b) Uraian alternatif pengelolaan dampak lingkungan. PENATALAKSANAAN AMDAL RUMAH SAKIT Organisasi Sesuai dengan PP 51 tahun 1993. dimana. 51 tahun 1993. pemantauan. laporan hasil studi AMDAL harus disusun dalam bentuk dokumen sebagai berikut : – Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL) – Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) – Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) – Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). kegunaan. Perlu diingat bahwa dokumen RKL dan RPL termasuk dokumen yuridis yang menjadi pegangan semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan. 041/MENKES/SK/I/1989 . dan alternatif pemantauan lingkungan 4) Uraian rencana pemantauan lingkungan 5) Kepustakaan. 1994 . serta RKL/RPL. a) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) Sesuai dengan pedoman teknis secara sistimatis dokumen ANDAL rumah sakit harus memuat uraian tentang : Ringkasan: 1) Pendahuluan 2) Dasar pembangunan rumah sakit 3) Rencana rumah sakit 4) Rona lingkungan hidup awal 5) Perkiraan dampak penting 6) Evaluasi dampak penting 7) Kepustakaan 8) Lampiran Laporan hasil studi ANDAL harus disusun berdasarkan Kerangka Acuan yang telah ditetapkan oleh Komisi. SISTIMATIKA LAPORAN Berikut ini akan diuraikan secara singkat butir-butir yang harus tercantum dalam setiap dokumen dan beberapa hal penting yang harus ada pada setiap dokumen. Hubungan kerja tersebut lebih lanjut akan diuraikan dalam tata cara penyampaian dokumen AMDAL Rumah Sakit. Dalam rangka pelaksanaan PP 51 tahun 1993 keanggotaan Komisi AMDAL Departemen Kesehatan akan ditambah dengan wakil-wakil dari Badan Pertanahan Nasional dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. Komisi AMDAL Departemen Kesehatan diketuai oleh Direktur Jenderal PPM & PLP dengan pertimbangan bahwa urusan pengelolaan lingkungan secara fungsional menjadi tanggung jawab Direktur Jenderal PPM & PLP. b) c) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Sesuai dengan pedoman teknis RKL dan RPL harus disusun dengan sistimatika sebagai berikut : RKL : 1) Identitas pemrakarsa 2) Uraian kegiatan 3) Tujuan. ruang lingkup. satuan kerja yang bertanggung jawab dalam penatalaksanaan AMDAL adalah Komisi AMDAL Bidang Kesehatan yang berstatus pusat (perijinan atau pemilikannya) adalah Komisi AMDAL Pusat Departemen Kesehatan yang pembentukannya ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. ANDAL. bagaimana. Para pejabat tersebut terdiri dari : 1) Kepala Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan (sebagai Wakil Ketua Komisi) 2) Kepala Pusat Data Kesehatan (sebagai Sekretaris Komisi) 3) Kepala Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman 1) 100 Cermin Dunia Kedokteran. Edisi Khusus No.

4. ANDAL.4. Pengajuan keberatan atas keputusan seperti pada 2. Dokumen KA ANDAL disampaikan oleh pemrakarsa kepada Komisi AMDAL Departemen Kesehatan. Apabila hasil penilaian menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan IPTEK dan biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. Diagram 2. 2. Komisi AMDAL dibantu oleh Tim Teknis AMDAL yang anggotanya terdiri dari tenaga-tenaga yang berkualifikasi AMDAL B yang berasal dari unit kerja di lingkungan Departemen Kesehatan yang terkait dengan AMDAL. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik memberikan bukti penerimaan dokumen-dokumen tersebut kepada pemrakarsa dengan mencantumkan tanggal penerimaan. Edisi Khusus No . 2) Tata Cara Penyampaian Dokumen AMDAL Rumah Sakit 1) Dokumen Kerangka Acuan (KA) 1. 2. Menteri Kesehatan akan memberikan keputusan terhadap pengajuan keberatan tersebut setelah mendapat pertimbangan dari Bapedal selambat-lambatnya 30 hari sejak diterima pengajuan tersebut dan keputusan ini merupakan keputusan terakhir. 2) Dokumen ANDAL. h) Menilai rencana teknis pengelolaan lingkungan dan rencana teknis pemantauan lingkungan. dan selambat-lambatnya 30 hari sejak pengajuan kembali harus sudah dikeluarkan keputusan atas dokumendokumen tersebut berdasarkan hasil penilaian Komisi AMDAL. Adapun tugas Komisi AMDAL Departemen Kesehatan adalah : a) Menyusun Pedoman Teknis Pembuatan AMDAL. g) Memberikan bimbingan kepada Komisi Daerah. Direktur Jenderal Yanmed menetapkan keputusan tentang dokumen tersebut selambat-lambatnya 45 hari sejak tanggal pengajuan.2. 2. c) Menilai ANDAL. b) Menetapkan Kerangka Acuan bagi pembuatan ANDAL. maka Dirjen Yanmed memutuskan menolak rencana kegiatan rumah sakit. 2.3. f) Membantu menyelesaikan diterbitkannya surat keputusan tentang AMDAL. 2.1.2. Berdasarkan hasil penilaian Komisi terhadap dokumen - dokumen tersebut. 2.4. 1. Diagram alir penyampaian dokumen AMDAL terlampir (Diagram 2) .1.4. 1994 101 . RKL dan RPL 2. Apabila keputusan tersebut berupa penolakan karena dokumen-dokumen tersebut dinilai belum memenuhi persyaratan maka dokumen tersebut harus diajukan kembali kepada Dirjen Yanmed. Alur Pemrosesan Dokumen AMDAL Rumah Sakit Cermin Duniu Kedokteran .Kes.3. 2.4. Dokumen tersebut diteruskan kepada Komisi AMDAL Departemen Kesehatan untuk kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian. Untuk membantu pelaksanaan penilaian AMDAL.4. 14) Kepala Pusat Laboratorium Kesehatan 15) Wakil dari Departemen Dalam Negeri 16) Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan/Kantor Menteri Negara KLH 17) Wakil dari Badan Pertanahan Nasional 18) Wakil dari Badan Koordinasi Penanaman Modal.2 dapat disampaikan kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Bapedal selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya keputusan penolakan. 90. d) Menilai RKL dan RPL. Komisi AMDAL setelah membahas Kerangka Acuan tersebut memberikan tanggapan dan komentar tertulis terhadap KA tersebut dan menyampaikannya kembali kepada pemrakarsa selambat-lambatnya 12 hari seiak dokumen tersebut diterima oleh Komisi AMDAL.4. RKL dan RPL diajukan sekaligus oleh pemrakarsa kepada Direktur Jenderal Pelayanan Medik.2.1. e) Memberikan rekomendasi kepada Menteri Kesehatan berdasarkan hasil penilaian AMDAL.4) Kepala Direktorat Penyehatan Air 5) Kepala Direktorat Pemberantasan Bersumber Binatang 6) Kepala Direktorat Pengawasan Obat dan Bahan Berbahaya 7) Kepala Direktorat Pengawasan Obat 8) Kepala Direktorat Pengawasan Obat Tradisional 9) Kepala Direktorat Instalasi Medik 10) Kepala Direktorat Rumah Sakit Umum dan Pendidikan 11) Kepala Direktorat Rumah Sakit Khusus dan Swasta 12) Kepala Direktorat Bina Peranserta Masyarakat 13) Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Dep.

Pasal 14 : AMDAL regional akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri LH/Kepala BAPEDAL.1994 . 90.. Kadaluwarsa persetujuan AMDAL 9.. Komisi : – Komisi Pusat – Komisi Daerah Pasal21: Kadaluwarsa. 1. penilaian dan persetujuan oleh instansi yang bertanggung jawab. apabila dalam 3 (tiga) tahun rencana kegiatan tidak dilaksanakan. Pasal13: – Bagi kegiatan yang berada dalam kawasan sesuai peraturan perundangan – Pedoman teknis. Pembinaan 4.No. Hanya ada 2 (dua) Komisi : – Komisi AMDAL Pusat – Komisi AMDAL Daerah Pasal 17 & 18 : (tetap) Keanggotaan komisi ditambahkan unsur BPN. Lama waktu penilaian AMDAL (Putusan persetujuan) Pasal 10 : PIL = 30 hari Pasal 12 : KA = 30 hari Pasal 16 : ANDAL = 90 hari Pasal 19 : RKL = 30 hari Pasal 20 : RPL = 30 hari Pasal 30 : Kualifikasi penyusun AMDAL dengan pemberian lisensi . Lisensi dihilangkan Pasal 20 : Pendidikan. Kedudukan dan AMDAL Pasal 6: ayat (1) : AMDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan 10. apabila dalam 5(lima) tahun rencana kegiatan tidak dilaksanakan Pasal 23 3. penilaian dan persetujuan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Komisi AMDAL Terpadu merupakan komisi gabungan yang ditetapkan oleh 6.. Pasal15: Kadaluwarsa. Pengawasan Pasal 31 . berada dalam satu ekosistem dan dimiliki oleh satu pemrakarsa Pedoman teknis. 32. penelitian. Pasal 2 ayat (4) : Penapisan kegiatan ditinjau secara berkala sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. dst. Pasal 12 : – Bagi kegiatan yang saling terkait... Pasal 5: Pemberianizinusahadan kegiatan oleh instansi yang berwenang untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. Pasal 22 – 25 – Setiap rencana usaha/ kegiatan wajib diumumkan oleh instansi yang bertanggung jawab Dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umurn – Peransertamasyarakat dalam bentuk saran dan pemikiran (lisan atau tertulis) kepada Komisi sebelum dokumen AMDAL disetujui BAPEDAL menggunakan dokumen AMDAL sebagai bahan penguji hasil pemantauan BAPEDAL dapat melakukan koordinasi dalam pengawasan. & 33 5. Pasal 5 : Kaitan antara AMDAL dengan Keputusan tentang pemberian izin terhadap Perizinan rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang perizinan hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKU RPL AMDAL Regional – 8. 102 Cermin Dunia Kedokteran. pelatihan.dst PP 51/1993 Pasal 2 ayat (3) : Ditetapkan Menteri LH/ Kepala BAPEDAL setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. Pasal 6: ayat (1) : AMDAL merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan kegiatan ayat (2) : Hasil studi AMDAL digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. RKL/RPL sejak diterima oleh Komisi adalah 45 hari. 11..... AMDAL Kegiatan Terpadu – Menteri LH/Kepala BAPEDAL. AMDAL Kawasan – 7. Materi Kegiatan Wajib AMDAL (Penapisan) PP 29/1986 Pasal 2 ayat (2) : Ditetapkan oleh Menteri/ Pimpinan LPND yang membidangi . o PIL dihilangkan Pasal 7 : – KA hanya perlu tanggapan tertulis dari komisi – Batas waktu tanggapan tertulis KA sejak diterima oleh Komisi adalah 12 hari Pasal 10 : Batas waktu penetapan ANDAL. Edisi Khusus No. 2. BKPM sebagai anggota tetap dan LSM sebagai anggota tidak tetap. dan pengembangan AMDAL diselenggarakan dengan koordinasi BAPEDAL.

pengawasan. Edisi Khusus No. 3) Analisis mengenai dampak lingkungan kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Mengingat : 1) Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 4) Analisis mengenai dampak lingkungan kawasan adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan menyangkut kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab. 90. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). pemeliharaan. dan pengembangan lingkungan hidup. e) bahwa berdasarkan hal tersebut di atas dipandang perlu mengatur penyempurnaan tersebut dalam Peraturan Pemerintah. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1) Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan. d) bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 16 Undang-undang Nommor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selama ini berlaku perlu disempurnakan sesuai dengan berbagai perkembangan baru yang terjadi. c) bahwa analisis mengenai dampak Iingkungan diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. 2) Analisis mengenai dampak lingkungan adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. MEMUTUSKAN: Dengan mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 42). perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha atau kegiatan. pemulihan. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. penataan. 7) Pelingkungan adalah proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak penting. 5) Analisis mengenai dampak lingkungan regional adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. 8) Analisis dampak lingkungan adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana usaha atau kegiatan.. pengendalian. 6) Kerangka acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan. 1994 103 . Menetapkan : PEATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN. 2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. Menimbang : a) bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. b) bahwa setiap usaha atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkunan hidup yang perlu dianalisa sejak awal perencanaannya. Cermin Dunia Kedokteran.

d) proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumberdaya alam e) dan atau perlindungan cagar budaya. 15) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang mempunyai tugas pokok membantu Presiden dalam melaksanakan pengendalian dampak lingkungan hidup yang meliputi upaya pencegahan pencemaran. dan jasad renik. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. dan kemerosotan c) sumberdaya alam dalam pemanfaatannya. Pasal 3 (1) Dampak penting suatu usaha atau kegiatan terhadap lingkungan hidup ditentukan oleh : a) jumlah manusia yang akan terkena dampak. luas wilayah persebaran dampak. yang bertugas membantu pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan di dalam proses pengambilan keputusan. 10) Rencana pengelolaan lingkungan adalah dokumen yang mengandung upaya penanganan dampak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha atau kegiatan. (4) Penapisan rencana usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud ayat (3) ditinjau secara berkala sekurangkurangnya sekali dalam lima tahun. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan sosial dan budaya. penanggulangan dampak penting dan pemulihan kualitias lingkungan. dengan pengertian bahwa kewenangan berada pada Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan dan pada Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 untuk usaha atau kegiatan yang berada di bawah wewenangnya. d) intensitas dampak. dan mempengaruhi pertahanan negara. 14) Menteri adalah Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup dan mengendalikan dampak lingkungan. Edisi Khusus No. (2) Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu kcadaan darurat setelah mendengar saran-saran dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. jenis hewan. (1) Analisis dampak lingkungan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha atau kegiatan yang langsung dilaksanakan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. dan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1. kerusakan. 13) Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang pelaksanakan rencana usaha atau kegiatan. 90. Pasal 5 Pemberian izin usaha tetap oleh instansi yang membidangi jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud 104 Cermin Dunia Kedokteran . Pasal 2 (1) Usaha atau kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a) pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. banyakanya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. 12) Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. i) (2) Menteri menetapkan jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 11) Rencana pemantauan lingkungan adalah dokumen yang mengandung upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting akibat dari rencana usaha atau kegiatan. dan kerusakan lingkungan. b) eksploitasi sumberdaya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. b) c) lamanya dampak berlangsung. h) kegiatan yang mempunyai risiko tinggi. f) g) berbalik atau tidak berbaliknya dampak. 1994 .9) Dampak penting adalah perubahan Iingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. f) pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. g) penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan. (2) Pedoman mengenai ukuran dampak penting sebagaimana dimaksud dalam ayat (l) ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 16) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan adalah komisi yang dibentuk oleh Menteri/menteri atau Pimpinan Lembaga pemerintah Non Departemen di tingkat pusat. (3) Bagi jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib disusun analisis dampak lingkungan. setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. e) sifat kumulatif dampak.

wajib menyusun kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan. Pasal 9 (1) Penilaian dokumen analisis dampak lingkungan. 90. dan rencana pemantauan lingkungan diajukan sekaligus oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. dan Pasal 19 ayat (1) dilakukan secara bersamaan. 1 994 105 . dan rencana pemantauan lingkungan yang diajukan pemrakarsa. kerangka acuan tersebut sah digunakan sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkunan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Cermin Dunia Kedokteran . rencana pengelolaan lingkunagan. rencana pengelolaan lingkungan. (2) Instansi yang bertanggung jawab memeberikan bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada pemrakarsa dengan mencantumkan tanggal penerimaan. (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bersangkutan. Pasal 10 (1) Keputusan atas analisis dampak lingkungan. (3) Pedoman umum penyusunan analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. dan rencana pemantauan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya pengajuan analisis dampak lingkungan. Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha atau kegiatan. (6) Pedoman teknis tentang penyusunan kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan.dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. instansi yang bertanggung jawab menetapkan keputusan terhadap analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3). BAB II TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 7 (1) Pemrakarsa yang mempunyai rencana usaha atau kegiatan sebagaimana disebut dalam Pasal 2. dan rencana pemantauan lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan dinilai belum memenuhi persyaratan dalam pedoman teknis. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan ditetapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan berdasarkan pedoman umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). (3) apabila dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja sejak diterimanya kerangka acuan tersebut komisi analisis mengenai dampak lingkungan tidak memberikan tanggapan tertulis. pemrakarsa wajib memperbaiki sesuai petunjuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bertanggung jawab. dan Rencana Pemantauan Lingkungan Pasal 8 (1) Analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. (3) Berdasarkan hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan atas dokumen analisis dampak lingkungan. Bagian Kedua Analisis Dampak Lingkungan. (5) Pedoman umum tentang penyusunan kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. (2) Apabila dokumen analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan ditetapkan oleh Menteri. dan rencanapengelolaan lingkungan. Pasal 18 ayat (3). rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. Edisi Khusus No. (4) Pedoman teknis penyusunan analisis dampak lingkungan. Rencana Pengelolaan Lingkungan. (4) Kerangka acuan disusun oleh pemrakarsa berdasarkan pedoman umum atau pedoman teknis.

Pasal 14 Ketentuan tentang pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan tentang usaha atau kegiatan yang direncanakan dalam satu zona rencana pengembangan wilayah. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dari instansi yang bertanggung jawab dengan menyampaikan tembusannya kepada instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dalam waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari sejak diterimanya keputusan penolakan. rencana pengelolaan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya pengajuan kembali perbaikan analisis dampak lingkungan. (2) Pedoman teknis penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan seperti tersebut dalam ayat (1) ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab. (4) Pedoman teknis penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. maka keputusan atas perbaikan analisis dampak lingkungan. dilaksanakan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan dari instansi yang bertanggung jawab. Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan Pasal 15 (l) Keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. Edisi Khusus No. (3) Komisi sebagaimana tersebut dalam ayat (2) merupakan komisi gabungan yang keanggotaannya terdiri dari wakil-wakil instansi dan lembaga terkait tingkat pusat dan daerah. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan tersebut dinyatakan diberikan persetujuan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) instansi yang bertanggung jawab belum memberikan keputusan. (2) Terhadap keputusan penolakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan Gugurnya Keputusan Persetujuan Analiais Dampak Lingkungan. (3) Pejabat yang lebih tinggi dari instansi yang bertanggung jawab memberi keputusan atas pernyataan keberatan pemrakarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) setelah mendapat pertimbangan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 1994 . (3) Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan seperti tersebut dalam ayat (1).(2) Apabila keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa penolakan karena dinilai belum memenuhi pedoman teknis analisis dampak lingkungan. baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis yang berada dalam satu kawasan yang berada di bawah kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab tersebut. dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. serta lembaga swadaya masyarakat dan pihak lain yang dianggap perlu. 90. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. dengan memperhatikan pedoman teknis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Pasal 11 (1) Apabila analisis dampak lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. (2) Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan terpadu/multisektor dilaksanakan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan terpadu dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 106 Cermin Dunia Kedokteran . (4) Keputusan sebagaimanadimaksud dalam ayat (3) diberikan selambat-lambatnya 30 (tigapuluh) hari sejak diterimanya pemyataan keberatan dan merupakan keputusan terakhir. maka terhadap analisis dampak lingkungan. (4) Persetujuan atas dokumen analisis mengenai dampak lingkungan kawasan ditetapkan oleh menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan. Pasal 12 (1) Bagi rencana usaha atau kegiatan terpadu/multisektor dilakukan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu. rencana pengelolaan lingkungan. apabila rencana usaha atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditetapkannya keputusan tersebut. Pasal 13 (1) Penetapan kriteria tentang rencana usaha atau kegiatan. (5) Persetujuan atas dokumen analisis mengenai dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan terpadu/ multisektor ditetapkan oleh Menteri. dan ditetapkan oleh Menteri. ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri dengan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan.

dan rencana pemantauan lingkungan wajib diperbaharui. analisis dampak lingkungan. 1994 107 . renca f) pengelolaan lingkungan. 90. (g) melaksanakan tugas lain yang ditentukan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan . dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Anggota tetap terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang bersangkutan. menetapkan telah terjadinya perubahan lingkungan yang sangat mendasar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di lokasi semula yang disetujui dan menjadi dasar pembuatan analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan. instansi pemerintah yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dan pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi di daerah yang bersangkutan. Bagian Keempat Komisi Pasal 17 (1) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan membentuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat yang terdiri dari anggota tetap dan anggota tidak tetap. (4) Dalam pelaksanakan tugasnya komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dapat dibantu oleh tim teknis yang bertugas menilai dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan. Pasal 18 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 membentuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah yang terdiri dari anggota tetap dan anggota tidak tetap. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. dan rencana pemantauan lingkungan berdasarkan rona lingkungan baru tersebut menurut tata laksana sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) instnasi yang bertanggung jawab memutuskan : a) Analisis dampak lingkungan. (2) Anggota tetap terdiri dari unsur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Badan Pertahanan Nasional di daerah. wakil yang ditunjuk oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. sedangkan anggota tidak tetap diangkat dari unsur departemen dan atau lembaga pemerintah non departemen yang berkepentingan. rencana pengelolaan lingkungan. atau b) Analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. maka untuk melaksanakan rencana usaha atau kegiatannya. wakil yang ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri. dan rencana pemantauan lingkungan kepada instansi yang bertanggung jawab. Edisi Khusus No. (2) Instansi yang bertanggung jawab. (5) Pedoman mengenai susunan keanggotan dan tata kerja komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. c) menilai dokumen analisis dampak lingkungan. e) menilkai dokumen rencana pemantauan lingkungan. lembaga swadaya masyarakat. wakil yang ditunjuk oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. d) menilai dokumen rencana pengelolaan lingkungan. instansi pemerintah yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dan pusat studi lingkungan hidup di daerah. setelah berkonsultasi dengan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Badan Pertahanan Nasional di daerah. (3) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertugas : menyusun pedoman teknis pembuatan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan yang meliputi a) pembuatan kerangka acuan analiais dampak lingkungan. Pasal 16 (1) Apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu rencana usaha atau kegiatan dilaksanakan. serta anggota lain yang dipandang perlu. keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. membantu penyelesaian diterbitkannyakeputusan tentang dokumen analisis dampak lingkungan. instansi yang membidangi lingkungan hidup di daerah. b) menanggapi dokumen kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan. wakil yang ditunjuk oleh Badan Pertahanan Nasional dan para ahli dalam bidang yang berkaitan. dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan gugur atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. rencana pengelolaan lingkungan. Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah.(2) Apabila analisis dampak lingkungan. sedangkan anggota tidak tetap diangkat dari unsur instansi pemerintah yang membina sektor Cermin Dunia Kedokteran . (3) Kriteria tentang perubahan lingkungan yang sangat mendasar ditetapkan menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang bertanggung jawab setelah berkonsultasi dengan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.

a) di tingkat pusat kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. f) (4) Dalam melaksanakan tugasnya komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah dapat dibantu oleh ti m teknis yang bertugas menilai dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. kepentingan pertahanan keamanan nasional. BAB IV PENGAWASAN Pasal 22 (1) Setiap rencana usahaatau kegiatan yang perlu dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungannyawajib diumumkan oleh instansi yang bertanggung jawab. instansi terkait yang berkepentingan. lembaga swadaya masyarakat. (1) lnstansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan pcnguji terhadap. Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat 11 yang bersangkutan. Pasal 19 Dalam melaksanakan tugasnya. rencana e) pengelolaan lingkungan. rencana pengembangan wilayah. (3) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertugas : menanggapi dokumen kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak Iingkungan. 108 Cermin Dunia Kedokteran . membantu penyelesaian diterbitkannya surat keputusan tentang analisis dampak lingkungan. (3) Sifat keterbukaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat dengan mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan atau tertulis kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat atau komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimanan dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18 sebelum keputusan persetujuan analisis mengenai dampak lingkungan terhadap rencana usaha atau kegiatan ditetapkan. melaksanakan tugas lain yang ditentukan Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1. BAB III PEMBINAAN Pendidikan. Edisi Khusus No. Salinan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan serta salinan keputusan atas persetujuan dokumen tersebut disampaikan oleh instansi yang bertanggung jawab. komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dan komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18. dan rencana pemantauan lingkungan. (2) Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari setiap rencana usaha atau kegiatan serta keputusan mengenai persetujuannya bersifat terbuka untuk umum. menilai dokumen rencana pengelolaan lingkungan. (5) Pedoman mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. penelitian. a) b) menilai dokumen analisis dampak lingkungan.yang bersangkutan di daerah. Pasal 23 Bagi rencana usaha atau kegiatan yang menyangkut rahasia negara ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 tidakberlu. Usaha atau kegiatan golongan ekonomi lemah yang menimbulkan dampak penting serta bantuan pemerintah di bidang analisis mengenai dampak lingkungan. pelatihan. 90. dan pembangunan daerah yang berwawasan lingkungan. atau b) di tingkat daerah kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan instansi terkait yang berkepentingan. ditetapkan lebih lanjutoleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. rencana tata ruang. serta anggota lain yang dipandang perlu. 1994 . c) d) menilai dokumen rencana pemantauan lingkungan.

H. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan c) yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. Pasal 28 Biaya pemantauan yang dilaksanakan oleh pemerintah terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh pemrakarsa menjadi tanggung jawab instansi pemerintah yang bersangkutan. BAB V PEMBIAYAAN Pasal 26 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi pusat dan komisi daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 dan Pasal 18 dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Oktober 1993 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 23 Oktober 1993 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1993 NOMOR 84 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIS KABINET Rl Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ub. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 29 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (2) Biaya pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dibebankan pada anggaran pelaksanaan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 1994 109 . Kepala Bagian Penelitian Perundang-undangan 1 Lambock V. Agar setiap orang mengetahuinya. b) laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. Pasal 27 (1) Biaya untuk menyusun dokumen analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari biaya usaha atau kegiatan yang direncanakan dan dibebankan pada pemrakarsa. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dalat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Hasil pengujian sebagaimnana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen dan gubemur kepala daerah tingkat I yang bersangkutan. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. 90. Edisi Khusus No. Cermin Duniu Kedokleran. Nahattands. S.a) laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan.

Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Edisi Khusus No. d) intensitas dampak. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan ke dalam proses perencanaan suatu usaha atau kegiatan. Dengan demikian. t) sifat kumulatif dampak tersebut. b) analisis dampak lingkungan. b) luas wilayah persebaran dampak. 90. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha atau kegiatan tersebut. 1994 . baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Pendayagunaan sumberdaya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat harus disertai dengan upaya untuk melestarikan kemarnpuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Yang dimaksud dengan "analisis mengenai dampak lingkungan usahaatau kegiatan terpadu/multisektor" dalam angka 3 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan terpadu/multisektor yang secara berturut-turut meliputi : 110 Cermin Dunia Kednkterun.Penjelasan atas Peraturan Pemerintah Republik lndonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. sejak awal perencanaan usaha atau kegiatan sudah diperkirakan perubahan rona Iingkungan akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan yang baru. Untuk mencapai tujuan ini. c) rencana pengelolaan lingkungan. baik generasi sekarang maupun generasi mendatang. Kegiatan pembangunan dan jumlah penduduk yang meningkat dapat mengakibatkan tekanan terhadap sumberdaya alam. dan dilaksanakan dengan kebijaksanaan terpadu dan menyeluruh serta memperhitungkan kebutuhan generasi sekarang dan mendatang. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Yang dimaksud dengan "analisis mengenai dampak lingkungan" dalam angka 2 sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka 10 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan secara berturut-turut : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. c) lamanya dampak berlangsung. d) rencana pemantauan lingkungan. Dampak penting menurut penjelasan Pasal 16 tersebut ditentukan antara lain oleh : a) jumlah manusia yang akan terkena dampak. adalah pembangunan berwawasan lingkungan. sehingga dapat diambil keputusan yang optimal dari berbagai altematif yang tersedia. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana merupakan tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup. Berdasarkan hal tersebut di atas perlu pengaturan lebih lanjut mengenai usaha atau kegiatan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. e) banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha atau kegiatan pembangunan. g) berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irreversible) dampak. Pasal 16 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat tersebut. tetapi di lain pihak ketersediaan sumberdaya alam terbatas.

c) rencana pengelolaan lingkungan. jalan kereta api dan pembukaan hutan. dan proses produksinya. dan proses produksinya. pengelolaan. c) pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Penyebutan tersebut bersifat alternatif.a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. d) rencana pemantauan lingkungan. d) rencana pemantauan lingkungan. Kriteria usaha atau kegiatan tersebut di atas meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang analisis mengenai dampak lingkungannya menjadi kewenangan satu sektor yang membidanginya. c) usaha atau kegiatan tersebut berada dalam satu ekosistem yang sama. 1994 11 1 . b) masing-masing usaha atau kegiatan tersebut menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Kriteria usaha atau kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu/multisektor meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang analisis mengenai dampak lingkungannya menjadi kewenangan berbagai instansi teknis yang membidanginya. Yang dimaksud dengan "kerangka acuan" dalam angka 6 adalah ruang lingkup studi rencana usaha atau kegiatan yang telah disepakati antara komisi dengan pemrakarsa untuk dilaksanakan di dalam studi analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan analisis mengenai dampak lingkungan kawasan dalam angka 4 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan yang sejenis danlatau yang tidak sejenis yang menjadi kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab berturutturut meliputi : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. Pasal 2 Ayat (1) Usaha atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan usaha atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. bendungan. Yang dimaksud dengan "analisis dampak lingkungan" dalam angka 8 adalah dokumen hasil penelaahan secara mendalam dampak penting. 90. kelompok orang. c) Usaha atau kegiatan tersebut berada dalam satu ekosistem yang sama. atau badan hukum. d) usaha atau kegiatan tersebut terletak dalam satu zona rencana pengembangan wilayah sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah. d) rencana pemantauan lingkungan. e) usaha atau kegiatan tersebut dapat terletak di lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. c) rencana pengelolaan lingkungan. b) analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan "orang " dalam angka 12 adalah seorang. b) berbagai usaha atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. Yang dimaksud dengan " rencana pengelolaan lingkungan" dalam angka 10 adalah dokumen upaya penanganan dampak lingkungan dari hasil studi analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan analisis mengenai dampak lingkungan regional dalam angka 5 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya yang menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab berturut-turut meliputi : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. c) rencana pengelolaan lingkungan. b) berbagai usaha atau kegiatan tersebut ada dan/atau tidak ada keterkaitannya satu sama lain dalam hal perencanaan. pandangan dan atau cara hidup masyarakat setempat. sebagai contoh seperti usaha atau kegiatan : a) pembuatan jalan. Cermin Dunia Kedokteran. b) kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. Kriteria usaha atau kegiatan tersebut di atas meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Edisi Khusus No. d) kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. d) usaha atau kegiatan tersebut dapat menjadi kewenangan satu pengelola atau lebih. d) Usaha atau kegiatan tersebut dapat berada di bawah satu pengelola atau lebih. Yangdimaksud dengan "rencana pemantauan lingkungan" dalam angka 11 adalah dokumen upayapemantauan dampak lingkungan dari hasil rencana pengelolaan lingkungan berdasarkan analisis dampak lingkungan untuk mengawasi tingkat ketaatan pada pelaksanaan. b) analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan hal-hal penting dalam angka 7 adalah berbagai aspek usaha atau kegiatan dan parameter lingkungan yang dianggap penting untuk dikaji. c) usaha atau kegiatan tersebut dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. b) analisis dampak lingkungan. Dengan demikian penyebutan jenis usaha atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengelolaan. "Badan" meliputi badan pemerintah dan badan usaha milik negara.

Ayat (2) Untuk menetapkan ukuran mengenai dampak penting faktor (a) sampai dengan (g) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan mengadakan konsultasi dengan Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 7 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan merupakan pegangan yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses penyusunan analisis dampak lingkungan. 1994 . analisis ekonomis finansial. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung risiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. ditinjau untuk penyempurnaannya sekurang-kurangnya satu kali dalam 5(Iima) tahun apabila dipandang perlu. Misalnya dapat berupa syarat tambahan seperti yang disebutkan dalam Pasal 11 ayat (1) Ordonansi Gangguan (S. Ayat (4) Penapisan usaha atau kegiatan yang telah ditetapkan oleh Menteri atau sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). sehingga tidak bersifat limitatif. Pasal 4 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan yang kondisi yang sedemikian rupa. 11 2 Cermin Dunia Kedokteran. dan atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya tidak termasuk dalam kategori ini. Dalam menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan tetap diharuskan melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL). atau e) pencemaran benda cagar budaya. 1926-226) seperti yang telah diubah dan ditambah dengan S. Dengan adanya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 5 Keputusan atas pelaksanaan yang baik terhadap rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan merupakan prasyarat dalam pemberian izin suatu usaha atau kegiatan bagi rencana usaha atau kegiatan yang ditetapkan wajib analisis mengenai dampak lingkungan. introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulf) kan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Izin dimaksud adalah izin usaha tetap bagi usaha atau kegiatan industri sebelum kegiatan produksi komersialnya dilaksanakan. dan analisis mengenai dampak lingkungan. S. Faktor ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 1940-14 dan 450. 90. maka studi kelayakan bagi usaha atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis. Dengan mempertimbangkan masukan tadi Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kemudian menetapkan jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan untuk masing-masing sektor. Pasal 6 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan dari aspek ekonomis finansial. h) penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatip terhadap kesehatan. kerusakan kawasan konservasi alam. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari studi kelayakan pada ekosistem tertentu. Edisi Khusus No. berupa daftar jenis usaha atau kegiatan masing-masing sektor yang berpotensi menimbulkan dampak penting. Bagi rencana usaha atau kegiatan yang tidak ada dampak pentingnya. dan hak pengusahaan hutan (HPH) untuk bidang kehutanan dan izin-izin lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 3 Ayat (1) Faktor yang menentukan adanya dampak penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat pengetahuan yang ada. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. dan upaya pemantauan lingkungan (UPL) sesuai dengan yang ditetapkan di dalam syarat-syarat perizinannya menurut peraturan yang berlaku. Ayat (2) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan memberikan masukan kepada Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Ayat (2) Penetapan adanya keadaan darurat harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan saran-saran yang dimaksudkan tersebut adalah berupa masukan secara tertulis dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. hak kuasa pertambangan (KP) bagi usaha atau kegiatan di bidang pertambangan. 1927-499. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. g) penggunaan bahan hayati dan nonhayati mencakup pula pengertian pengubahan.kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran.

Ayat (3) Tanggapan tertulis diberikan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan bilamana kerangka acuan tersebut dinilai masih belum memenuhi Pedoman Teknis yang telah ditetapkan. Edisi Khusus No. Pasal 8 Ayat (1) Perlunya dokumen analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan diajukan secara bersamaan disamping membantu penyusun menganalisis dokumen secara terpadu dan menyeluruh sebagai satu kesatuan. Pasal 9 Ayat (1) Hal ini dimaksudkan untuk menghemat waktu dan biaya di dalam penilaian dokumen analisis dampak lingkungan. 1994 11 3 . maka berlaku ketentuan seperti tersebut dalam ayat (3). rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. juga dapat menghemat waktu. Ayat (3) Cukup jelas. Namun terdapat pula kemungkinan bahwa dampak negatif tersebut tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. dimaksudkan untuk memperoleh keseragaman di dalam penyusunan analisis dampak lingkungan. Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini tetap perlu memperhatikan hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18. Apabila setelah dilakukan perbaikan atau penyempurnaan terhadap studi analisis dampak lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas. dan rencana pemantauan lingkungan. Ayat (2) Dalam hal instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan berupa penolakan atas analisis dampak lingkungan. Ayat (5) Cukup jelas. dan biaya penyusunan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. 90.Kerangka acuan terutama memuat hal-hal yang berdasarkan pelingkupan aspek usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak penting dan parameter lingkungan yang akan terkena dampak penting. Pasal 11 Ayat (1) Dalam kegiatan tertentu dampak negatif masih dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. Ayat (2) Apabila pernyataan keberatan atas keputusan penolakan diajukan melewati jangka waktu 14 (empat belas) hari. dan rencana pemantauan lingkungan. Ayat (6) Cukup jelas. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan tersebut tidak termasuk hari libur. rencana pengelolaan lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. Ayat (4) Pedoman Umum penyusunan kerangka acuan digunakan bilamana Pedoman Teknis penyusunan kerangka acuan untuk usaha atau kegiatan di sektor yang bersangkutan belum ditetapkan. rencana pengelolaan lingkungan. Pasal 10 Ayat (1) Ayat (3) Jangka waktu selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya pengajuan analisis dampak lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas. rencana pengelolaan lingkungan. kemudian diserahkan kepada instansi yang bertanggung jawab dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja ternyata belum mendapat jawabannya. maka instansi tersebut memberikan petunjuk tentang penyempurnaannya. Pedoman Teknis ditetapkan oleh Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. sehingga rencana usaha atau kegiatan tersebut harus ditolak dengan memberikan alasan penolakannya. Cermin Dunia Kedokterun. maka keberatan yang diajukan pemrakarsa tersebut ditolak. maka KA (Kerangka Acuan) dianggap sah sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkungan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Ayat (4) Kegiatan setiap sektor berbeda sehingga diperlukan Pedoman Teknis untuk menampung sifat khas usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas. dan rencana pemantauan lingkungan yang ditolak tersebut. Ayat (3) Ketentuan dalam ayat ini. Apabila tanggapan tertulis belum diberikan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari.

seperti antara lain : – Kawasan Industri sesuai Keputusan Presiden Nomor 53 tahun 1989 tentang Kawasan Industri. Terjadinya perubahan lingkungan secara mendasar berarti hilangnya rona lingkungan awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan. sehingga rona lingkungan yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkungan tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal. Pasal 15 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. Ayat (4) Cukup jelas. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah diberikan tersebut perlu ditinjau kembali. 90. Pasal 12 Ayat (1) Bagi rencana usaha atau kegiatan yang memenuhi kriteria analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu/multisektor sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 butir 3 dan penjelasannya. pejabat yang lebih tinggi dimaksud adalah : a) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Pemrakarsa menyusun ulang dokumen analisis dampak lingkungan. pemrakarsa melakukan penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu. Pasal 14 Cukup jelas. Keadaan ini menimbulkan konsekuensi gugurnya keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan tersebut. bagi kegiatan sektoral. bagi kegiatan penanaman modal asing dan penanaman b) modal dalam negeri.Ayat (3) Pejabat yang lebih tinggi bagi Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang dimaksud dalam ayat ini adalah Presiden. Pertimbangan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan diperlukan dalam rangka keterpaduan dengan kebijaksanaan nasional secara menyeluruh maupun kebijaksanaan sektoral dalam pengendalian dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. Edisi Khusus No . dan rencana pemantauan lingkungan berdasarkan rona lingkungan yang baru. 1994 . Pasal 16 Ayat (1) Perubahan lingkungan yang sangat mendasar adalah perubahan yang mempengaruhi secara positif atau negatif pengelolaan lingkungan hidup. sehingga mempermudah atau mempersulit tercapainya tujuan pengelolaan tersebut. artinya terhadap keputusan tersebut tidak dapat lagi diajukan keberatan. Perubahan yang disebabkan oleh peristiwa alam atau tindakan untuk mengatasi keadaan darurat tidak termasuk dalam pengertian ini. Ayat (4) Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk memperoleh keseragaman dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu/multisektor. Ayat (4) Keputusan ini merupakan keputusan "akhir". – Kawasan Pariwisata sesuai Undang-undang Nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan. dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona Iingkungan. Pasal 13 Ayat (1) Kawasan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kawasan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ayat (5) Cukup jelas. Untuk kegiatan yang merupakan wewenang Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Pihak lain yang dianggap perlu dapat ditunjuk dari ahli atau wakil masyarakat yang akan terkena dampak. keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. 114 Cermin Dunia Kedokteran. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Dalam hal ini.

Ayat (3)

Pengertian berkonsultasi di sini adalah melakukan pembahasan bersama. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas.
Ayat (2)

Pengangkatan para ahli yang dipandang perlu sebagai anggota tetap komisi analisis mengenai dampak ling-kungan pusat adalah untuk memantapkan bobot penilaian dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. Duduknya wakil yang ditunjuk Menteri Dalam Negeri dan wakil yang ditunjuk instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektoral baik di pusat, maupun di daerah. Pengangkatan unsur departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang bersangkutan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan sektor yang berkaitan langsung dengan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Sedangkan kehadiran lembaga swadaya masyarakat diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat usaha atau kegiatan tersebut.
Ayat (3)

Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat menilai dan menetapkan dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan yang dibiayai : a) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sejauh mengenai usaha atau kegiatan instansi yang bersangkutan. b) oleh swasta, yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat. Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat melaksanakan pula tugas yang ditentukan Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan, sejauh berkaitan langsung dengan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf (a) sampai dengan huruf (g). Hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat terhadap dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dijadikan dasar bagi Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang bertanggung jawab dalam proses pengambilan keputusan.
Ayat (4)

Cukup jelas.
Ayat (5)

Cukup jelas. Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota tetap komisi daerah adalah untuk memantapkan bobot keilmuan dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan. Adanya wakil yang ditunjuk dari instansi yang membidangi lingkungan hidup di daerah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Pertanahan Nasional di daerah dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. Pengangkatan unsur instansi pemerintah pembina sektor yang bersangkutan di daerah dimaksudkan untuk menjamin kepentingan sektor yang berkaitan langsung dengan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Sedangkan kehadiran lembaga swadaya masyarakat diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha atau kegiatan tersebut.
Ayat (3)

Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah menilai dan menetapkan dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari rencana usaha dan kegiatan yang dibiayai : a) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; b) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, apabila penyelenggaraan rencana usaha atau kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah; c) oleh swasta, yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah melaksanakan pula tugas lain yang ditentukan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1, yang berkaitan langsung dengan tugas sebagaimana dimaksud dalam huruf (a) sampai dengan huruf (f) ayat ini. Hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah terhadap dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dijadikan dasar oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 dalam proses pengambilan keputusan. Ayat (4) Cukup jelas.
Ayat (5)

Cukup jelas. Pasal 19 Keterpaduan merupakan ciri utama pengelolaan lingkungan hidup, sehingga dalam menilai anbalisis mengenai dampak lingkungan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup serta pengembangan wilayah dan

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

11 5

pembangunan daerah perlu terkait dengan serasi Pasal 20 Pelaksanaan pendidikan, latihan dan penelitian dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan dapat pula dilakukan oleh usaha swasta atas prakarsa warga masyarakat dengan mengacu pada kurikulum yang ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Pengumuman rencana usaha atau kegiatan yang antara lin dapat melalui media massa dan/atau papan pengumuman pada instansi yang bertanggung jawab dimaksudkan agar masyarakat dapat mengajukan saran dan pemikirannya. Pengajuan saran dan pemikiran tersebut kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dan komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah merupakan peran serta setiap orang dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 6 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ayat (2) Yang dimaksud dengan terbuka untuk umum adalah bahwa setiap orang dapat memperoleh keterangan dan/atau salinan analisis dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan, dan rencana pemantauan lingkungan serta keputusan mengenai ketiga hal itu. Dokumen-dokumen tersebut tersedia pada instansi yang bertanggung jawab. Ayat (3) Masyarakat yang berkepentingan selalu perlu didorong dan diberikan kesempatan untuk memberikan masukan mengenai rencana usaha aau kegiatan tersebut kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bersangkutan agar keputusan komisi tersebut sedapat mungkin menampung aspirasi masyarakat yang berkepentingan tersebut, sebelum dokumen analisis dampak lingkungan disetujui. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Ketentuan ini dimaksudkan pula untuk memberikan pelayanan dan kemudahan informasi mengenai pengelolaan lingkungan yang berkaitan dengan pembangunan. Di samping itu dapat pula dimanfaatkan untuk mengembangkan jaringan informasi pusat dan daerah. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Maksud dikirimkannya hasil pengujian kepada Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan adalah agar dapat dipergunakan dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan. Hasil pengujian tersebut disertai saran tindakan yang perlu dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. Ayat (3) Tindakan tersebut sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dapat di antaranya berupa penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh perbedaan kepentingan antar sektor di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Ayat (1) Biaya yang dimaksudkan dalam pasal ni merupakan bagian dari biaya studi kelayakan. Ayat (2) Hasil rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan menetapkan perlunya pemrakarsa menyaediakan biaya untuk melalukan upaya-upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat mengikat, khususnya pada kegiatan di dalambatas wilayah proyeknya, sedangkan untuk biaya pemantauan di luar batas proyek \merupakan tanggung jawab pemerintah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 28 Pemerintah mempunyai wewenang untuk melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh pemrakarsa. Untuk melakukan aktifitas tersebut pemerintah menyediakan anggaran biaya melalui anggaran biaya instansinya. Pasal 29 Cukup jelas.

Pelayanan Penderita Lanjut Usia
Persiapan Rumah Sakit dalam Mengantisipasi Kasus Lanjut Usia
Dr. B. Ahmad Sanosal Tambunan Direktur Rumah Sakit Islam, Jakarta

PENDAHULUAN Mulai bulan April 1994 nanti kita memasuki tahun pertama rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). Tantangan pembangunan tahap ini berada dari tantangan yang dihadapi pada pembangunan jangka panjang tahap I. Perbedaan ini terasa pula dalam pembangunan di bidang kesehatan. Berkat kemjuan yang dicapai dalam pembangunan jangka panjang pertama, tampak adanya penurunan angka kematian kasar, kematian bayi dan balita serta ada peningkatan umur harapan hidup. Angka gangguan gizi menurun pula dengan sangat bermakna. Kemajuan tersebut menimbulkan perubahan struktur penduduk dan pola penyakit. Jumlah mausia mengantisipasi besarnya masalah penyakit-penyakit yang kebanyakan diderita oleh oleh kelompok berusia lanjut ini, marilah kita kaji kecendrungan perkembangan jumlah kelompok usia lanjut di Indonesia M. Alwi Dahlan mengemukakan bahwa: 1) Seseorang disebut sebagai usia lanjut bila telah berumur 60 tahun atau lebih. Bila didasarkan usia pensiun maka usia lanjut adalah 65 tahun ke atas. 2) Sensus penduduk menunjukkan peningkatan jumlah penduduk sebagai berikut: a. Usia 65 tahun : tahun 1971 sebesar 2,98 juta (2,5%) meningkat menjadi 6,96 juta (3,88%) pada tahun 1990. Menurut perkiraan Bank Dunia keompok ini akan menjadi 4,33% pada tahun 1995; 4,775 pada tahun 2000 dan 5,57% pada tahun 2010 serta 7,08% dalam tahun 2020. b. Untuk usia 55 tahun ke atas, terjadi kenaikan dari 8,9% atau 16,1 juta pada tahun 1990 menjadi 10,7% atau 18,67 juta pada tahun 2000. c. Kelompok usia 60+ mengalami kenaikan dari 6,9% (7,38 % juta) menjadi 7,4% atau 15,4 juta orang. 3) Dalam profil kualitatif, dikemukakan bahwa kemajuan kesehatan yang menyebabkan penurunan angka

kesakitan, peningkatan kebugaran, bertambah panjangnya umur, perubahan gaya hidup, serta pengembangan compression morbidity mempunyai potensi meningkatkan produktivitas kelompok lanjut usia. Dari apa yang dikemukakan di atas, bidang pembangunan kesehatan mempunyai peluang untuk menjadikan kelompok usia lanjut ini hidup produktif dan menjadi manusia berkualitas sebagai sumberdaya yang penting bagi pembangunan lebih lanjut, terutama didukung oleh makin tingginya jumlah mereka yang mempunyai pendidikan yang baik. Penelitian yang talh dilakukan tehadap kesehatan sekelompok usia lanjut, menunjukkan bahwa beberapa penyakit seperti kanker, diabetes melitus, CVD, penyakit jantung koroner, oeteoporosis, banyak diderita oleh kelompok ini. Penyakit-penyakit ini umumnya tidak dapat hanya ditangani oleh pelayanan kesehatan dasra seperti yang dilakukan di Puskesmas/Balkesmas, tetapi memerlukan penanganan spesialistis dan perawatapn inap yang terdapat di rumah sakit. Oleh karena itu, peran rumah sakit untuk saat ini dan masa mendatang makin penting. Orientasi pelayanan rumahs aikt tidak hanya pada pelayanan kuratif saja, tetapi lebih luas daripada itu, mulai dari pelayanan promotif, kuratif sampai pada rehabilitatif yang dilakukan secara terprogram dan terpadu. Untuk dapat melaksanakan pendekatan ini, rumah sakit harus melakukan koordinasi dengan bersbagai organisasi/instansi lainnya. Hal in didasarkan pada pemikiran bahwa beberapa penyakit yang diderita kelompok lanjut usia ini pada hakikatnya dapat dicegah atau sekurang-kurangnya dapat dicegah timbulnya gangguan yang lebih cbesar tehadap kesehatan kelompok lansia; contoh penyakit diabetes melitus yang dipengaruhi oleh gaya hidup, demikian pula hipertensi. Hal-hal ini dapat dicegah sejak usia muda. Dengan mengkaji hal-hal yang telah dikemukakan terdahulu, sudah sepantasnya kalau rumah sakit mempersiapkan diri untuk menerima kelompok lanjut usia afar dapat dilayani sebagaimana mestinya. KECENDRUNGAN KESEHATAN DI MASA YANG AKAN DATANG DAN PERAN RUMAH SAKIT

juga memiliki aspek mental/spiritual dans osial. Oleh karena itu peningkatan mutu pelayanan rumah sakit dalam sistem rujukan medik makin penting makna keberadaannya dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Upaya preventif khusus a. Sikap dan perilaku hidup menimbulkan ketenangan lahir dan perilaku hidup yang menimbulkan ketenangan lahir dan batin. khususnya teknologi komunikasi. demikian pula dengan upaya penyembuhan dan rehabilitasi yang diperlukan. Upaya yang bersifat promotif. Hasil penelitian terhadap kelompok lansia Meningkatnya status kesehatan masyarakat selain ditunjukkan oleh menurunnya angka kematian dan kesakitan. a. pada kurun waktu ini menjadi terbalik. Berubahnya pola penyakit pada kurun waktu yang akan datang menyebabkan meningkatnya kebutuhan pelayanan rumah sakit. dan rehabilitasi. Susunan keluarga yang berupa extended family menjdai nuclear family.l.l. dalam mempersiapkan pelayanan kepada kelompok lanjut usia rumah sakit bukanlah merupakan salah satu nya institusi yang dibutuhkan. sangat jelas peranan rumah sakit dalam mengentisipasi perubahan pola penyakit di masa mendatang.. pola makan yang makin menggemari fast food yang menyebabkan kurangnya intake gizi seimbang membantu timbulnya penyakit-penyakit jantung koroner. Sebagaimana telah disebutkan pada babpendahuluan. Sedangkan untuk mereka yang meninggal. Oleh karena itu persiapan rumah sakit dalam penanganan kasus lanjut usia perlu diarahkan untuk dapat menampung kebutuhan itu. preventif dan kuratif serta rehabilitatif perlu dilakukan melalui berbagai saluran pelayanan. Gaya hidup yang kurang aktifitas fisik. tekanan darah tinggi dan lain-lainnya. terapeutik. Upaya kuratif dan rehabilitatif meliputi kegiatan diagnostik. dan lain-lain. . Kelompok sosial masyarakt juga berubah. kebiasaan makan atau pola makan yang baik (ditinjau dari segi waktu. Hal-hal tersebut berpengaruh pada pola penyakit. penyakit-penyakit semula yang akan muncul penyakit-penyakit yang umumnya diderita oleh kelompok usia lanjut. Upaya promotif dilakukan sejak dini yakni sejak manusia berusia muda. kandungan gizi seimbang dalam menu sehari. Dalam wawasan in. Dengan gambran tersebut di atas. Dengan beralihnya kehidupan agraris ke kehidupan industrial. Mengkaji keadaan yang akan datang sebagaimana telah disebutkan di atas. hobby yang baik. Sasaran tersebut hanyalah dapat dicapai bila rumah sakit telah mempersiapkan diri untuk melakukan pelayanan paripurna yang didasari pada wawasan pendekatan manusia seutuhnya yaitu bahwa setiap manusia selain terdiri dari aspek jasmani. Hal ini dimungkinkan karena tersedianya sarana teknologi canggih. upaya ini berupa penyuluhan dan praktek pencegahan terjadinya gangguan kesehatan a. Rumah sakit akan makin mampu dalam mendeteksi penyakit dan penyebabnya maupun perjalanan penyakit. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. Penyakit yang diderita kelompok usia lanjut pada hakikatnya beragam jenisnya. yang semula menunjukkan jumlah besar di kelompok usia bawah lima tahun. Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang mampu melaksanakan fungsi tersebut.Kurun waktu pembangunan jangka panjang tahap kedua mempunyai ciri yang berbeda dari PJPT I. Penggunaan alat-alat canggih di satu pihak dan lahirnya spesialisasi/subspesialissasi kedokteran membantu fungsi tersebut. membaiknya status gizi juga ditunjukkan oleh meningkatnya angka harapan hidup. iman.l. olahraga kesehatan. banyak suami dan istri bekerja dan anak-anak yang ditinggalkan di rumah bersama pengasuh atau diditpkan ke tempat penitipan anak. saat-saat akan meninggal menerima bimbingan rohani sehingga menghadapi maut secara tenang dan iman sesuai kepercayaan agama masing-masing. diakui adanya sosok manusia itu sendiri. paling tidak hanya ia dapat melakukan tugas pemeliharaan dirinya sendiri sehingga tidak terlalu tergantung pada orang lain. Pola hidup ketiga generasi mulai ditinggalkna. Dan ini akan menimbulkan masalah bagi kehidupan kelompok usia lanjut ataupun kelompok anak dan remaja. pelaksanaan imunisasi dan upaya spesifik lainnya seperti olahraga khusus bagi manula untuk mencegah atau mengurangi intensitas osteoporosis. Untuk diagnostik dan terapeutik dilaksanakan oleh rumah sakit sedangkan rehabilitasi dilaksanakan di rumah sakit dan di luar rumah sakit. Bila penderita tidak dapat sembuh total. selain itu diakui pula hubungan manusia itu dengan khaliknya dan hubungan manusia denganlingkungannya. takwa dan ikhlas. makin banyak masalah kesehatan/kedokteran yang dapat diatasi. pada kurun waktu PJPT III akan makin menonjol penyakit non infeksi dan penyakit degeneratif. PERSIAPAN RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI TANTANGAN PELAYANAN KASUS LANJUT USIA Tujuan persiapan rumah sakit dalam mneghadapi tantangan pelayanan bagi kasus lanjut usia adalah kesembuhan penderita lanjut usia dari penyakit yang dideritanya dan menjaga serta meningkatkan produktifitas kehidupannya. jumlah kelompok usia lanjut makin besar. berubah pula tata kehidupan keluarga. Struktur penduduk berubah. Gaya hidup juga berubah dan makin meningkatnya kesejahteraan dan majunya teknologi. gaya hidup sehat yang menyangkut pembagian waktu kerja/kegiatan fisik dan istirahat yang seimbang. gangguan jiwa akan akan semakin menonjol pula. dan kuantitas makanan).

80/tahun 1986 dan 61.5 tahun 65 tahun 61.1% pada tahun 1970 menjadi 14. Persiapan ini perlu dilakukan dalam bidang-bidang berikut : 1) Sumber Daya Manusia Pengembangan sumber daya manusia yang terpenting adalah : a) Tersedianya dokter yang menguasai pengetahuan dan cara penatalaksanaan kasus manusia lanjut usia. serta inkontinesia urine.97% pada tahun 1971 menjadi 40. Banyaknya wanita yang berusia lanjut pada dekade tahun 1990 akan membawa dampak terhadap pola pelayanan kesehatan di masa-masa yang akan datang. struktur umur penduduk Indonesia masih tergolong "muda" artinya proporsi penduduk yang berumur di bawah 15 tahun masih tinggi walaupun secara berangsur mulai menurun.1% 4.49/tahun 1990. 59. yaitu 43. perbandingan laki-laki dan perempuan meningkat dari 97.4% pada tahun 1989 dan 11.4% pada tahun 1971 menjadi 7. Gangguan muskuloskeletal 13. penyakit sendi. Tampak pula gejala non spesifik seperti menurunnya indera rasa sakit.2% pada tahun 1990. angka kesakitan untuk semua umur menurut SKRT 1980 adalah 25. Lima penyakit terbanyak yang diderita adalah( 3 ) : 15. Peningkatan angka harapan hidup terjadi pada kedua jenis kelamin. Gerontologi sebagai disiplin ilmu kedokteran yang mengkaji masalah lansia telah berkembang. penyakit saluran urogenital. Bronkhitis 10.54 63. PENYAKIT PADA KELOMPOK LANJUT USIA Walaupun hasil SKRT terbaru 1990 belum ada tetapi menurut hasil SKRT 1980 dan SKRT 1986 menunjukkan angka kesakitan untuk masing-masing penyakit sebesar 11.2% 5. 1994 119 Keterangan : Sumber Profil Kesehatan Indonesia 1992.5% dan 8. Kerentaan sosial meningkat baik fisik maupun mentalnya.1%.8% pada tahun 1980 dan 9. Tahun Laki-laki (tahun) 42.l. Penyakit pembuluh darah 14. Bila belum ada. padahal gejala-gejala ini merupakan gejala penting dari adanya kelainan kesehatan tertentu.73 pada tahun 1967 menjadi berturut-turut 52.73 52.9% dan 36. Edisi Khusus No. Cennin Dunia Kedokterun. Pertama. sasaran pelayanan bagi kelompok lanjut usia oleh rumah sakit. Saat ini diperkirakan pada sekitar 16. Oleh karena itu perlu diwaspadai gejalagejala nonspesifik ini agar tidak terjadi kesalahan diagnosis.59 Perempuan (tahun) 47. kehilangan nafsu makan. Data di atas menunjukkan bahwa pendekatan paripurna yang meliputi kegiatan promotif. Kedua.49% pada tahun 1980 dan 1990. karena akan membantu pengenalan penyakit dan sebab-sebabnya serta penatalaksanaannya secara tepat dan cepat.20 50. sedangkan proporsi anak di bawah lima tahun terlihat menurun yaitu 16. proporsi penduduk usia lanjut (> 55 tahun) semakin bertambah yaitu 6. penyakit kardioserebrovaskular. serta penyakit endokrin. confusion (apathy leading characteristics). kuratif dan rehabilitatif sangat perlu diterapkan secara terpadu dan berkesinambungan. Jumlah kelompok lanjut usia yang akan makin meningkat.21/tahun 1976. : penyakit degeneratif kronik. pe- . 90.5 tahun 69. walaupun pada wanita ternyata lebih tinggi dari pada laki-laki. serta data penelitian yang menyajikan fakta tentang kelompok lanjut usia. perubahan reaksi terhadap obat.06 59. 1980 dan tahun 1990. preventif. Maka alangkah baiknya bila rumah sakit dapat memiliki tenaga dokter yang telah mendalami cabang ilmu ini. Penelitian terhadap kelompok lanjut usia menunjukkan bahwa pada usia lanjut terjadi secara umum penurunan vitalitas dan kemandiriannya. Perbandingan usia harapan hidup dengan negara lain Negara Jepang Singapura Malaysia Philipina Thailand Indonesia Usia harapan hidup 78.7% sedangkan pada SKRT 1986 angka kesakitan pada semua umur turun menjadi 15.3 tahun 73. TBC 12.8% pada tahun 1980 dan 99. menjadi pendorong bagi rumah sakit untuk memnersiapkan diri.69 61.64 58. Gambaran statistik penyakit yang diderita kelompok lanjut usia di rumah sakit adalah sbb : — 40% penyakit kardio serebrovaskular — 25% kanker — 15% non spesifik — 5% trauma — 15% lain-lain.650. Estimasi angka harapan hidup di Indonesia tahun 1967-1990. Infeksi saluran nafas akut Penyakit yang biasanya diderita oleh kelompok lanjut usia adalah a.5% pada tahun 1990.000 penduduk usia > 55 tahun.6% 1. menunjukkan ciri-ciri yang menarik.21 59.3%. menurunnya reaksi termal.7% pada tahun 1990.17 53. Estimasi angka harapan hidup menunjukkan adanya peningkatan dari 45.5% 2.28 Laki-laki dan perempuan (tahun) 45.8% 3.49 1967 1976 1986 1990 Tabel 2.5 tahun nyakit saraf. maka para dokter khususnya yang mempunyai peluang menangani kasus-kasus lanjut usia perlu memahami data/karakteristik kelompok ini sehingga mempunyai kewaspadaan yang tinggi dalam menegakkan diagnosis dan dalam melakukan pantauan terhadap efektivitas pengobatan.80 61.Tabel 1.2% tahun 1971 menjadi 98. Ketiga.5 tahun 63. PERSIAPAN RS UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN PELAYANAN KELOMPOK LANJUT USIA Rincian penduduk Indonesia menurut golongan umur (dalam %) dan jenis kelamin tergambar dalam piramida pendudukan hasil sensus tahun 1971.

Menjalin hubungan dengan instansi/organisasi lain Tujuannya adalah untuk menciptakan suasana yang sesuai bagi kelompok lanjut usia. Jumlah penduduk yang berusia > 55 tahun pada tahun 1980 hanya 9.000 penduduk berusia > 55 tahun. Lembaga Demografi FEUI. Pusat Data Kesehatan Jakarta. mungkin karena adanya handikap fisik. Adanya fasilitas tersebut di atas. 120 Cermin Dunia Kedokteran. 5. Peningkatan Kualitas Hidup Lansia. Jakarta 9-11 November 1992. Peringatan Hari Lanjut Usia lntemasional. 6. Jakarta 15 Oktober 1993. 3) Prasarana/sarana non medis Telah dikemukan bahwa kelompok lanjut usia mengalami kemunduran dalam tingkat kemandiriannya.. Japan.28 tahun pada tahun 1990. 4. Pada tahun 1976. Proc. sosial dan spiritual pada lanjut usia perlu tersedianya tenaga yang dapat melayani aspek ini seperti tenaga pekerja sosial. agar pelayanan yang disediakan sesuai dengan yang diharapkan. perlu ada penyesuaian sarana fisik untuk membantu agar mereka tidak sangat tergantung pada orang lain. khususnya dalam membantu dirinya melakukan pekerjaan hidup sehari-hari (makan. namun di lain pihak terjadi penurunan nafsu makan. Fourth Asia/Ocenia Regional Congress of Gerontology. 1994 . baik berupa rujukan keahlian maupun dalam menghimpun dana untuk membantu proses penyembuhan dan rehabilitasi penderita. Marilah kita wujudkan motto WHO : Add life to years bukan Add years to life. dan lain-lainnya). New Horizons in Aging Science. Jaringan Epidemiologi Nasional. laki-laki 50.serebrovaskular). Tokyo 102. Berilah makna hidup selalu sekalipun pada usia yang telah lanjut. Namun demikian hendaknya pemanfaatan alat-alat canggih ini berdasarkan indikasi medis yang kuat sehingga tidak membebani ekonomi pasien/keluarganya. Naskah Iengkap Kursus Geriatri. Aspek mental. pelayanan kelompok lanjut usia dilakukan dalam ruangan khusus. Orang tua di satu pihak memerlukan intake gizi yang tinggi. Departemen Kesehatan R. 4) KESIMPULAN Telah dicoba menyusun pemikiran tentang Pelayanan Penderita Lanjut Usia : persiapan rumah sakit dalam mengantisipasi kasus lanjut usia. Japan. 13 Oktober 1992. maka pemantauan apakah makanan yang dihidangkan dimakan habis oleh penderita menjadi sangat penting artinya. Wanita pada tahun 1976. Di negara-negara maju. oleh karena itu. 90. ke belakang. Pelaksanaan tugas secara terpadu antara berbagai jenis tenaga tersebut di atas akan membantu kelancaran. Profil Kesehatan Indonesia 1992. bahkan rumah sakit khusus dan perkampungan khusus. dan gangguan muskuloskeletal sehingga pengelola rumah sakit dan sarana kesehatan lain harus tanggal terhadap estimasi untuk golongan usia lanjut ini. Keadaan ini masih sulit dikembangkan saat ini. diarahkan untuk memberi lingkungan kehidupan yang nyaman dan sesuai bagi kelompok lanjut usia. perlu dipikirkan cara lain yakni mempersiapkan SDM untuk lebih siap menerima kelompok lanjut usia sebagaimana adanya. Oleh karena itu. Maka marilah kita bersamasama menyambutnya dengan rencana dan langkah nyata untuk Indoesia. 1992.2% pada tahun 1990 menjadi 11. minum. Tantangan pelayanan bagi kelompok lanjut usia telah dihadapai dan merupakan fakta. 64 tahun meningkat menjadi 59.b) Tersedianya tenaga paramedis yang memahami karakteristik kelompok lanjut usia sehingga mempunyai kewaspadaan yang tinggi akan gejala yang menyimpang akibat perubahan fisio-bio-fisiologik serta mental/spiritual dan sosial penderita lanjut usia. Edisi Khusus No. Sebagai contoh : tenaga gizi. Pelayanan yang sabar namun profesional diperlukan oleh kelompok lanjut usia. agar dapat dilakukan tindakan yang diperlukan secara cepat dan tepat pula sangat diperlukan. 3. 69 tahun menjadi 63. kepentingan pembangunan bangsa dan negara kita.650. Pusat Penelitian Kesehatan LPUI.Dutch Foundation.I. Karena hidup yang bermakna akan mendatangkan keutungan pada diri sendiri dan masyarakat lingkungan. 2) Penyediaan sarana diagnostik dan terapeutik Sarana diagnostik yang dapat mendeteksi kelainan secara tepat dan cepat. c) Tersedianya tenaga lain yang terkait yang juga memahami hal-hal yang bersangkutan tentang kelompok lanjut usia.59 pada tahun 1990. Upaya ini juga sangat bermanfaat bagi pemantauan keadaan penderita pasca perawatan. KEPUSTAKAAN 1. Hal ini berdasarkan fakta bahwa dengan meningkatnya status kesehatan dalam satu dasawarsa terakhir maka umur harapan hidup meningkat dengan tajam. Makalah-makalah yang disajikan pada Simposium Tantangan dan Peluang Usia Lanjut Tahun 2000.7% berarti pada tahun 1990 ada sekitar 16. 1992. pembina rohani dan ahli jiwa (psikolog/psikiater). FKUI . BKKKS DKI Jakarta. Pola penyakit juga bergeser dari infeksi saluran nafas menjadi penyakit-penyakit pembuluh darah (kardio. Dalam kaitan ini penerapan alat canggih untuk diagnostik dan terapeutik kiranya diperlukan. 53. efektivitas dan efisiensi pelayanan bagi kelompok lanjut usia. Tentunya hal ini sangat ideal. 2. Japan Aging Research Center.

Azas keterbukaan 4. Typhoid fever.1. 2) Mengacu kepada ayat Allah pada Qur'an surat Ali Imron ayat 159 :"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.1.4. lnfeksi saluran napas.2.5. Mengemban fungsi dawah Keilmuan/profesionalitas sebagai ciri Islam : Pengembangan tekhnis/spesialisasi 8. Namun hingga saat ini RS Islam Jakarta belum mempunyai klinik khusus untuk pasien usia lanjut. Tarif terjangkau Penekanan pada pencegahan 5. an pria/wanita Memadukan syara dengan tata laksana teknis.1. Mohonkanlah ampun bagi mereka dalam urusan itu. lain . Sedangkan dari bagian rawat inap adalah Oktober 1991-1992 : 1. Musyawarah 4. Infeksi saluran pencernaan. Misi dari Rumah Sakit ini adalah memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan Islami serta berpihak pada kaum dhu'afa.3. 5.6%. Kejelasan hak dan kewajiban 4. maka bertaqwalah kepada Allah.2. Diabetes Mellitus. Motto/hiasan dinding 3. Kostum 3.5.1 Mengutamankan cakupan Mengupayakan program kesehatan masyarakat 6. Kepegawaian : 4. Penjabaran tekhnis dalam praktek 8. Kebijakan/hikmah 4.1.3. Berfungsi sosial : 61. Penyakit yang terbanyak yang diderita dari bagian rawat jalan adalah : 1. USG.2. Amanah 4.2.2. Akhlak 3.2. 4. Pemeliharaan 4. Infeksi 2.Suplemen : Usaha-usaha yang Dapat Dilakukan dalam Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang lslami Bagi Penderita Lanjut Usia di Rumah Sakit lslam Jakarta PENDAHULUAN Q. sebagai ujud nyata dari program sosial pemerintah di bidang Rumah Sakit maka penyediaan TT di RS Islam sebagai berikut : Kelas VIP 1. Infeksi lain. Petugas rohani akan memberi tuntunan rohani lslam bagi pasien-pasien yang menjelang operasi dan Cermin Dunia Kedokteran.1.1. 4.5. S: As-Syuara ayat 80 :"Dan bila aku sakit D1A (ALLAH) lah yang akan menyembuhkanku ". sopan dan berdedikasi tinggi dalam melayani pasien. Amanah 4..3. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar. 3. sayang sekali tidak terdapat data umur yang berobat di masing-masing poliklinik.4%. Lembaga khusus Studi Islam 4.T. Penampilan/Hospitality 4) Manajemen : 4. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".3.2. Kelas III 48. serta menjadikan rumah sakit sebagai sarana ibadah kepada Allah S. Commotio Cerebri. 4.4. karena itu maafkanlah mereka.4.3. Infeksi saluran napas. ESWL dan sebagainya. 1994 12 1 . 4. Febris. 4. khususnya hubung8. RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA 1) Surat Al Isra 23 (17:23) :"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya .2. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad. Kemudahan pasien beribadah 3. Kelas Utama 3. 4. dan motto ini menjadi motto utama pada semua RS Islam yang dimiliki oleh yayasanlorganisasi Muhammadiyah. Mempraktekkan hukum syara dalam perawatan. 3. Scan. Kelas 114.1.4. Mushola 3.2.1.2. Dalam usianya yang ke-22 bulan Juli yang lalu RS Islam Jakarta saat ini telah mempunyai 495 TT dengan BOR rata-rata 75%.1. Sistem kamar kecil 3.3.4%. RS Islam Jakarta didirikan pada 23 Juni 1971. Tidak boros/hemat 4.4. NILAI-NILAI ISLAM SEBUAH RUMAH SAKIT 1) Niat atau misi waktu mendirikan 2) Pemilikan aset 3) Penampilan : 3.1. Kepemimpinan 4. Auditability dan accountability 4.2..3. 90.1.2. yang membedakan adalah sclain perawatanjasmani/fisik medis juga perawatan rohani dan perawatan dari petugas sosial. Pasien-pasien baik pasien lansia dan pasien yang lain dilayani di 17 poliklinik yang disediakan yang dilengkapi dengan alat-alat canggih antara lain CT.3.5. 4.2 Karyawan : 3. merupakan amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan.4.2. Motto ini terpampang di depan bagian pendaftaran Rumah Sakit Islam Jakarta.3. 2. Memberi kemungkinan pengemban lahan seperti diisyaratkan oleh studi Islam Berpihak kepada kaun Dhu afa : 5.1.3.W.2.3%.Sejak tahun 1989 RS Islam berdasarkan Surat Keputusan Gubernur dan Surat Keputusan dari direktur RS swasta dan khusus telah dinyatakan sebagai RS Swasta Tipe Utama. Keuangan : 4.3.5. Dari jumlah tersebut Poliklinik Penyakit Dalam mendapat kunjungan yang tertinggi. 8.4.2.3.1. 4. 4. Edisi Khusus No.3. Modal : 4.4. 5) 6) 7) 8) Efisien Sistem : Terbuka Adil Lugas Disepakati Orientasi misi Struktur : Adanyalembaga/eselon khusus yangdibinaterus-menerus masalah kelslaman 4.4.2. RAWAT INAP DI RS ISLAM JAKARTA Bagi pasien-pasien yang perlu mendapat perawatan di RS lslam Jakarta maka akan dilakukan asuhan keperawatan bagi pasien-pasien sebagaimana di rumah sakit lain. 4. Dalam melakukan pelayanan kepada pasien semua jajaran petugas RS Islam Jakarta diwajibkan untuk berlaku lemah lembut.4. berarti ada atensi khusus kepada golongan Lansia.1.1.4. Kelas II 32.1.2. jumlah pasien rawat jalan rata-rata 310 pasien/hari yang berobat ke 17 poliklinik.1.3%. tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.2.

Khusus : Memberi perawatan terpadu secara Islami terhadap pasien-pasien dalam stadium terminal dan pasien-pasien tanpa harapan (hopless). Tujuan : Umum : Mengupayakan agar pasien meninggal secara "khusnul khotimah". Edisi Khusus No. bagaimana menghadapi pasien yang sedang dalam sakaratul maut. Ruang dilengkapi dengan sound system untuk memperdengarkan bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. misalnya mempercayai bahwa penyakitnya merupakan "kiriman dari orang yang membencinya". Kondisi kejiwaan yang seperti inilah yang harus kita selamatkan. nyaman dan tidak terkesan angker. Biroh harus berfungsi secara aktif mendukung perawatan dokterpsikiater.pasien-pasien yang akan melahirkan. Dan bagi pasien-pasien yang dalam keadaan sakaratul maut akan dilakukan pelayanan khusus tersendiri yaitu pelayanan khusnul khatimah. Di dalam ajaran Islam sebelum ajal datang dianjurkan untuk membuat wasiat. Padahal ini merupakan sesuatu yang penting agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan sepeninggal si pasien kelak. perawatan rohani. atau menggelar tikar untuk keluarganya yang ingin membacakan Qur'an. 122 Cermin Dunia Kedokteran. Binroh diharapkan berhasil menyadarkan pasien. Kepada keluarganya lebih dahulu harus disadarkan akan kondisi si sakit. semua orang Islam mengharapkan bahwa pada akhir hayatnya akan berakhir secara khusnul khotimah. Psikiater adalah untuk menjaga kestabilan jiwa pasien sekaligus menenangkan dan memberi pengertian kepada keluarganya untuk berbuat sesuatu yang akan lebih menentramkan si pasien. 90. untuk kamar mandi keluarga yang menunggu. atau datang dalam keadaan terminal state. Saat penting dalam tahap kehidupan manusia adalah akhir hayatnya. Dalam keadaan seperti itu mental (rohani) pasien dapat terguncang dan mudah sekali terjerumus dalam hal-hal yang berbau syirik. terpisah dengan ruang perawatan lain. iklhas sehingga padawaktu menghadap Illahi pasien dalam keadaan berserah diri jauh dari rasa su'udhan kepada Allah SWT. Letak ruangan di tempat yang tidak terlalu bising. tata cara mengurus dan merawat jenazah serta tata cara mensholat-kan jenazah juga menguburkannya. Setiap kamar untuk satu pasien. diberi pelayanan/bimbingan rohani kepada pasien pada waktu dirawat. Rumah Sakit Islam Jakarta yang didirikan pada tahun 1971 mempunyai tujuan antara lain memberi pelayanan kesehatan yang Islami. Juga kondisi kejiwaan keluarganyaharus dipersiapkan untuk menghadapi saat-saat perpisahan yang selama-lamanya dengan keluarga yang dicintainya. dirawat sampai pulang baik dalam keadaan sembuh maupun dalam keadaan meninggal. bertaqwalah kepada Allah dengan sebenaz-benar taqwa. dan melepaskan kepergian orang (saudara) yang dicintainya dengan cara yang ma'ruf sesuai dengan tuntunan agama. serta memberi tuntunan dalam tata cara pembagian warisan. Biroh memberikan tuntunan tata-cara menTalkin. PROGRAM PERAWATAN KHUSNUL KHATIMAH (DYING CARE) BAGI PASIEN RAWAT INAP DI RS ISLAM JAKARTA Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat : 102 "Wahai orang-orang yang beriman !. bersih. tenang dan teduh. gagal ginjal berat dan lain-lain. Pesan-pesan yang dirawat di RS Islam Jakarta dengan keadaan yang sudah terminal state fidak selalu mengetahui hal tersebut. Psikiaterlah yang memahami kondisi kejiawaan si pasien pada saat tersebut. Rumah Sakit Islam Jakarta atau Rumah Sakit lslam lain haruslah mempunyai suatu ciri khas untuk menangani pasien-pasien dengan kondisi tersebut di atas dengan cara pasien khusnul khotimah. kita luruskan agar aqidah si sakit tidak menyeleweng di saat akhir hayatnya. Penatalaksanaan Perawatan : Diperlukan satu ruangan khusus. adzan serta pada waktu ada siaran sentral. bahwa akhir hidupnya segera tiba. asuhan keperawatan sama seperti pasien lain. atau berwasiat dengan baik kepada yang akan ditinggalkan. mulai dari saat pasien datang ke rumah sakit. dan cukup ruang untuk sholat. Adalah menjadi beban moral bagi petugas di bagian Bimbingan Rohani Pasien untuk memberi bimbingan bagi pasien maupun keluarganya agar pada saat sakaratul maut pasien tetap berada pada kondisi keimanan yang mantap. di mana pengobatan secara medis hanya dimaksudkan sebagai pengobatan simptomatis saja dan untuk memperpanjang umur. Sasaran: Pasien-pasien yang dirawat di Rumah Sakit IslamJakartadengan persetujuan keluarganya untukdirawat secara khusnul khotimah. Pasien dipilih dari pasien dengan kriteria : – Pasien kanker dalam stadium terminal – Pasien dengan penyakit lain tanpa harapan. Jadi secara lengkap RS lslam Jakarta melakukan sekaligus perawatan medis. jantung berat. kadang-kadang keluarga pasien tidak tahu dan tidak mampu untuk menyampaikan kepada pasien dimaksud. Pasien yang dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta sebagian besar beragama Islam maka sudah sewajarnyalah biroh mempunyai tugas penting. menuntun talkin dan sebagainya. serta menjauhkan pasien dari perilaku syirik dan su'udhon pada akhir hayatnya.Biroh bertugas memberi tuntunan sesuai dengan petunjuk agama baik bagi pasien. 3 atau 4 kamar yang agak luas. dilengkapi dengan kamar mandi. atau agak jauh dengan ruang perawatan lain. 1994 . dalam pembinaan pelayanan pasien yang dirawat. melainkan dalam beragama Islam (berserah diri)". Perawatan : Perawatan secara medis : tetap diberikan sesuai dengan instruksi dokter. dan janganlah kamu sekali-kali mati. maupun bagi keluarganya. Psikiater harus dipilih. Pelayanan khas dari rumah sakit Islam adalah di samping pelayanan kesehatan secara medis. misalnya : pasien AIDS. yang kriterianya akan ditentukan bersama dengan team medis. dan membawa pasien pada ajaran agama antara lain untuk menuliskan wasiat. dan diberi tuntunan secara agama. Perawatan oleh Ahli Agama/Pembimbing Rohani Bersamaan dengan perawatan oleh psikiater. Pada beberapa kasus pasien datang dengan penyakit yang belum ada obatnya misalnya kanker. perawatan sosial. Tidak jarang karena keadaannya itu pasien atau keluarganya menyalahkan petugas medis karena tidak ada kemajuan pengobatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful