Kongres Ke VI Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan Hospital Expo Ke VII I
Jakarta Hilton Convention Centre 21 - 25 Nopember 1993
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No . 90, 1994 1

Cermin Dunia Kedokteran
International Standard Serial Number: 0125 - 913X KETUA PENGARAH Prof. Dr Ocn L.H. KETUA PENYUNTING Dr Budi Riyanto W PEMIMPIN USAHA Rohalbani Robi PELAKSANA Sriwidodo WS TATA USAHA Sigit Hardiantoro ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran P.O. Box 3105 Jakarta 10002 Tclp. 4892808 Fax. 4893549, 4891502 NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 PENERBIT Grup PT Kalbc Farma PENCETAK PT Midas Surya Grafindo DR. B. Setiawan Ph.D DR. Ranti Atmodjo PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang mcmbahas bcrbagai aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penclitian di bidangbidang tersebut. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedoktcran; bila telah pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Naskah ditulis dalam bahasa lndonesia atau Inggris; bila menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa lndonesia yang berlaku. lstilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa lndonesia yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia . Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa lndonesia. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa lndonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa lnggris untuk karangan tersebut. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya, Iebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto. Nama (para) pengarang ditulis Iengkap, disertai keterangan Iembaga/fakultas/institut te mpat bekerjanya. Tabel/skema/grafik/i lustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelasjelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direpruduksi , diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Bila terpisah dalam lembar lain, hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Mcdicus dan/atau Uniform Requirements for Manuscripts Submittcd to Biomedical Joumals (Ann Intem Mcd 1979; 90 : 95-9). Contoh : Basmajian JV, Kirby RL. Medical Rehabilitation. lst cd. Baltimore, London: William and Wilkins, 1984. Hal 174-9. Weinstein L., Swartz MN. Pathogenctic properties of invading microorganisms. Dalam: Sodeman WA Jr, Sodeman WA, cds. Pathologic physiology: Mcchanisms of discascs. Philadclphia: WB Saundcrs, 1974 : 457-72. Sri Oemijati . Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64 : 7-10. Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih, se butkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran PO Box 3105 Jakarta 10002 Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu secara tertulis. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplo p beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. REDAKSI KEHORMATAN - Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro Guru Besar Ilmu Kedoktcran Jiwa Fakultas Kedoktcran Univcrsitas Indonesia, Jakarta - Prof. Dr. R.P. Sidabutar Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta - Prof. Dr. Sudarto Pringgoutomo Guru Bcsar IImu Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Prof. DR. Sumarmo Poorwo Soedarmo Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta - Prof.DR.B. Chandra Guru Bcsar Ilmu Pcnyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya Prof. Dr. R. Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Univcrsitas Diponegoro, Scmarang Drg. I. Sadrach Lembaga Penelitian Universitas Trisakti, Jakarta DR. Arini Scuawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

-

-

DEWAN REDAKSI - Drs. Victor S. Ringoringo, SE, MSc. - Dr. P.J. Gunadi Budipranoto

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian e mpat kerja si Penulis.

SE-19/PJ. Rumah Sakit dan Asuransi Kesehatan – Suatu perbandingan – Sonja Roesma 97. Penyusunan Amdal Rumah Sakit dan Penatalaksanaannya – Komisi Amdal Departemen Kesehatan Republik Indonesia 103. Paparan Kenangan Dr.23/1989 75.Cermin Dunia Kedokteran 90. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia no. 18 tahun 1986 67. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. Manfaat Alat Kedokteran Canggih dalam Pengembangan Iptek di Indonesia – Karjadi Wirjoatmodjo 90. Guwandi 61. Hubungan Rumah Sakit dan Pasien dipandang dari Sudut Hukum dan Etika – Emma Suratman 53. Pelayanan Lanjut Usia – persiapan rumah sakit dalam mengantisipasi kasus lanjut usia – H. Edisi Khusus (I) Kongres Ke Vl PERSI dan Hospital Expo Ke Vll Januari 1994 International Standard Serial Number: 0125 .04/ 1986 70. Current Issues and Future Trends in Health Care – Errol Pickering 28. 356/KMK. Surat Edaran Direktur Jendral Pajak no. Beberapa Masalah dalam Hubungan Rumah Sakit dan Pasien–J. 796/KMK. 51 tahun 1993 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan dan Penjelasannya 117. Waworoendeng 85. Strategic Planning and Marketing – James E. H. The Role of Marketing in Determining the Technology Investment Strategy of a Hospital – John Popper 92.431/1990 77. Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit – Brotowasisto 34.913X Daftar Isi : 5.03/PJ. Pengembangan Iptek PJPT II – Sudraji Sumapraja 64. Ceramah Menteri Sosial Republik Indonesia 50.04/ 1993 72. Keputusan Presiden Republik Indonesia no. Ahmad Sanoesi Tambunan 121. Laporan Ketua Panitia 6. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia no. SE. 23/1992 – Kartono Mohammad 56. Program Cost Containment di Rumah Sakit –Amal C. Tinjauan Perkembangan Perumahsakitan dalam PJPT II – Samsi Jacobalis 22. Suplemen – Usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang Islami bagi penderita lanjut usia di Rumah Sakit Islam Jakarta Karya Sriwidodo WS . Aspek Ekonomi Pelayanan Kesehatan – Ascobat Gani 41. Etika Rumah Sakit dalam Perspektif UU no. Amino Gondohutomo Makalah Sidang Pleno dan Panel Diskusi 7. Surat Edaran Direktur Jendral Pajak no. Kebijaksanaan Pengembangan Rumah Sakit dalam Pembangunan Jangka Panjang tahap II – Brotowasisto 16. Sjaaf 47.

Seperti sama-sama kita ketahui Pembangunan Jangka Panjang Tahap I telah kita lampaui dengan baik. Diharapkan para peserta bisa melihat. 4) Sebagai akhir dari Kongres akan diadakan Penataran Pasca Kongres di RS Kanker Dharmais dengan topik-topik yang ditawatkan : Cermin Dunia Kedokteran . Menteri Ristek. Menteri Lingkungan dan Bapak Dirjen maupun para pakar di bidang perumah sakitan yang bersedia memberikan pada kita ceramahceramah untuk bekal kita memasuki PJPT II dan bagi kita semua. Panitia mengucapkan selamat datang kepada para peserta Kongres dan Hospital Expo dari seluruh tanah air.25 Nopember 1993 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Pertama-tama mari kita panjatkan pujisyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas perkenanNya kita bersama-sama bisa menghadiri Kongres Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia ke VI dan Hospital Expo ke VII di Jakarta Hilton Convention Centre. mantap dan sempurna. Peralatan-peralatan tersebut ada yang didatangkan khusus dari pabrik-pabrik di luar negeri maupun perusahaan dalam negeri. Sesuai dengan tema Meningkatkan peran RS dalam menyongsong PJPT II perkenankanlah kami melaporkan beberapa hal mengenai penyelenggaraan Kongres dan Hospital Expo sebagai berikut : 1) Sidang organisasi sebagai pertemuan tertinggi organisasi akan dihadiri oleh seluruh cabang PERSI yang ada dari seluruh tanah air (21 cabang).Laporan Ketua Panitia Kongres Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia ke VI dan Hospital Expo ke VII di Jakarta Hilton Convention Centre 21 . Saudara-saudara sekalian. berdiskusi dengan perusahaanperusahaan tersebut bisa juga memesan dan membeli secara langsung sehingga peralatan dan teknologi yang dipakai oleh rumah sakit bisa sesuai. Di dalam sidang akan dibahas masalah organisasi sehingga diharapkan organisasi PERSI akan menjadi semakin baik. Menteri Sosial. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Kesehatan. telah banyak yang bisa dicapai selama ini. padat ilmu dan teknologi serta padat karya.1996. karena selain mempertahankan hasil yang telah dicapai pada PJPT I. berhasil guna dan berdaya guna. 1994 5 . 2) Seperti sama-sama kita ketahui rumah sakit memiliki kekhususan dalam manajemennya dan tidak jarang dihadapkan pada masalah-masalah yang kompleks. Kami berbahagia sekali bahwa pada kesempatan ini Errol Pickering Sekjen International Hospital Federation bisa hadir dan memberikan ceramah mengenai kecenderungan rumah sakit di dunia. Saudara-saudara sekalian. Edisi Khusus No. Sidang akan diakhiri dengan pemilihan ketua baru PERSI untuk periode 1993 . pameran peralatan rumah sakit terbesar di Indonesia. Terdapat sekitar 70 perusahaan yang akan ikut memamerkan peralatan-peralatan kedokteran canggih maupun peralatan-peralatan lain yang biasa dipakai di rumah sakit. Jelas bahwa PJPT II tidak bertambah ringan. karena rumah sakit padat modal. 3) Kongres PERSI selalu diikuti oleh Hospital Expo. diperlukan berbagai upaya pengembangan baru yang inovatif untuk mengejar ketinggalan kita dalam pembangunan kesehatan. bertanya. Pada acara ilmiah kali ini kita pilihkan para pembicara yang terdiri dari pakar-pakar bertaraf internasional dan nasional. 90.

90. Manajemen pemasaran. MBA. Pembahasan dalam penataran ini berkisar pada pemecahan permasalahan yang terjadi di lapangan. Paparan Kenangan DR H Amino Gondohutomo (Amino Gondohutomo Memorial Lecture) Pengurus Pusat PERSI memutuskan dalam Kongres ke-6 ini diadakan paparan pemikiran untuk mengenang sosok almarhum DR H. ketika beliau menjabat sebagai ketua eksekutif. Diharapkan kongres ke-6 ini nanti dapat menghasilkan keputusan yang menetapkan PAPARAN KENANGAN DR H.W.a) b) c) Manajemen keuangan. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Budiarso. Semoga arwah beliau mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah yang maha penyayang. Akhirul kata. sekali lagi kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi saudara-saudara sekalian. Saya merasa mendapat kehormatan besar menjadi pemapar pertama. Saya mengenal pribadinya cukup dekat ketika bekerja sama dengan beliau sebagai Sekjen PERSI. SKM. baik milik pemerintah maupun swasta.A. 1994 . Beliau adalah salah seorang tokoh yang telah memprakarsai kelahiran PERSI. Beliau pulalah yang telah membuka jalan sehingga PERSI menjadi anggota Asian Hospital Federation dan International Hospital Federation. Beliau pulalah yang kemudian bersama-sama dengan tokoh-tokoh lain sangat giat dan dengan penuh dedikasi mengembangkan PERSI menjadi organisasi yang menyatukan semua rumah sakit di Indonesia. Bagi saya pribadi hal ini mempunyai arti khusus. Amino Gondohutomo. Manajemen keperawatan. H. Ketua Panitia Dr. AMINO GONDOHUTOMO sebagai tradisi baru dalam kegiatan tahunan kongres-kongres PERSI selanjutnya. Edisi Khusus No. Almarhum adalah atasan saya dalam dinas di waktu yang lalu. Kiranya pantaslah nama beliau dibadikan dalam bentuk PAPARAN KENANGAN seperti ini. Samsi Jacobalis 6 Cermin Dunia Kedokteran .

Jakarta PENDAHULUAN Pembangunan Kesehatan bertujuan agar setiap penduduk mampu hidup sehat sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. perlu digali dan dikembangkan berbagai pola pemikiran serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang baru. yang pelaksanaannya perlu dipersiapkan bersama secara matang. sedangkan sejak Pelita III strategi pembangunan kesehatan menjadi lebih jelas dengan diterimanya pendekatan Primary Health Care (PKMD).Artikel Kebijaksanaan Pengembangan Rumah Sakit dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II Dr. yang memberikan kejelasan arah dan tujuan pembangunan kesehatan. Jakarta .25 November 1993. derajat kesehatan. Pembangunan Jangka Panjang Pertama yang meliputi jangka waktu 25 tahun telah dilaksanakan sejak 1968 dengan pentahapan lima tahunan. dan yang kini telah memasuki tahun terakhir Pelita V. Upaya pelayanan kesehatan yang semula hanya berupa upaya penyembuhan telah berkembang menjadi kesatuan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat. Pelita 11 telah meningkat kepada pembangunan kesehatan. Pelita I lebih menekankan pembangunan sarana kesehatan. Pada saat itu. 1994 7 . Kompleksitas atau karakteristik pela- Cermin Dunia Kedokleran. Walaupun derajat kesehatan penduduk telah membaik secara bermakna dalam 25 tahun terakhir. MPH Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Menjelang Pelita VI. Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan yang semula hanya melaksanakan upaya penyembuhan dan pemulihan. Upaya kesehatan di rumah sakit mempunyai sifat-sifat atau karakteristik tersendiri. 90. Edisi Khusus No. selaras dengan meningkatnya kesejahteraan. penyembuhan serta pemulihan secara menyeluruh. pada tahun 1982 telah diberlakukan Sistem Kesehatan Nasional (SKN). tetapi keadaannya masih ketinggalan jika dibanding dengan negara-negara tetangga di ASEAN. Karakteristik ini diakibatkan oleh karena rumah sakit merupakan organisasi yang unik dan kompleks. terpadu dan berkesinambungan. Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang Pertama merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional. serta tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dan terjangkau. Rendahnya anggaran sektor kesehatan serta prioritas untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan di Indonesia mempunyai dampak terhadap anggaran sektor perumahsakitan yang sangat terbatas. Untuk itu. dengan perubahan orientasi. pencegahan. tingkat kematian ibu hamil/bersalin pada tahun 1986 sebesar 4. Mengingat sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam pembangunan kesehatan sangat terbatas. serta dengan peran serta masyarakat yang meliputi upaya-upaya peningkatan. 5/1000 kelahiran hidup. memasuki masa Pembangunan Jangka Panjang Kedua. yang merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan Pembangunan Nasional. nilai dan pemikiran yang berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial budaya juga melaksanakan upaya peningkatan dan pencegahan secara terpadu. diharapkan bahwa kita akan berada dalam tahap tinggal landas. kita juga akan Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. Broto Wasisto. Penyelenggaraan upaya kesehatan yang sangat luas dan rumit ini dirasakan perlu dikelola secara berhasil guna dan berdaya guna. yang dikenal dengan Pelita. yang sesuai dengan Kesehatan Bagi Semua pada Tahun 2000 yang dicanangkan WHO pada tahun 1978. yang akan mampu mencari terobosan-terobosan baru untuk mengatasi keterbatasan tersebut dan sekaligus mempercepat laju pertumbuhan pembangunan kesehatan. 21 . Hal ini tampak dari masih tingginya tingkat kematian bayi yakni sebesar 58/1000 kelahirar hidup pada tahun 1990. SKN telah memuat rencana pembangunan kesehatan sampai akhir Repelita VI.

Indonesia akan masuk dalam kelompok negara-negara industri baru (NIC).yanan rumah sakit perlu diketahui dan dipahami oleh setiap orang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pembinaan dan penyelenggaraan rumah sakit. suara dan thermal. Lingkungan hidup khusus lingkungan fisik mempunyai arti penting bagi kelangsungan keadaan kesehatan dan kesejahteraan manusia. Edisi Khusus No. pupuk dan bahan lain dapat lebih sering terjadi. Tingkat pendidikan yang meningkat ini menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi lebih berpengetahuan dan lebih pandai memilih alternatif yang baik bagi dirinya serta lebih mudah menyerap informasi. tetapi lebih dari 50% penduduk Indonesia masih tinggal di pulau Jawa yang kepadatannya mungkin akan mencapai 1000 per km 2 . Menurunnya angka kelahiran dan angka kematian serta mengecilnya jumlah anggota keluarga menyebabkan struktur umur penduduk Indonesia menjadi lebih tua. Kecenderungan membaiknya keadaan ekonomi tadi akan tetap berlangsung dalam 25 tahun mendatang. Yang cukup menggembirakan adalah bahwa angka pertumbuhan menurun dengan pesat yakni dari 2. Urbanisasi akan meningkat. Namun demikian gerakan koperasi yang timbul dari bawah akan dapat semakin memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat strata menengah ke bawah. Migrasi keluar pulau Jawa masih lebih besar daripada imigrasi. Pemanfaatan jamban keluarga akan lebih meningkat. maka pada tahun 1990 ia telah meningkat menjadi lebih dari 95%. dikhawatirkan bahwa pada sebagian masyarakat akan timbul sikap hidup yang tak menguntungkan seperti misalnya kenakalan remaja. Iingkungan dan upaya kesehatan. Perbaikan ekonomi yang menggembirakan tadi akan memungkinkan bangsa dan negara Indonesia memobilisasi lebih 8 Cermin Dunia Kedokteran . Keadaan sosial masyarakat Indonesia terutama tingkat pendidikannya akan terus membaik. Sebagian besar penduduk yang hidup di kota-kota akan menikmati air minum yang lebih layak. menjadi 118 juta pada tahun 1971.31% pada dekade 70-an turun menjadi 1. Pengelolaan sampah akan semakin baik tetapi pengotoran kimiawi yang berasal dari insektisida. merokok. Keadaan ini dapat meluas dengan semakin tingginya tingkat urbanisasi yang tak seimbang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat tadi. Penduduk akan semakin mampu membeli pelayanan yang tersedia terutama melalui sisti m asuransi. Pada tahun 2005 diduga jumlah penduduk Indonesia sekitar 223. Begitu pula pemerataan pendapatan semakin membaik walaupun dirasakan agak lambat. Pulau Jawa dapat mengalami kesulitan air minum bila pengelolaan sumber-sumber yang ada tidak cermat. empat faktor pertama mempunyai peran yang lebih penting. Dalam 30 tahun terakhir jumlah penduduk Indonesia meningkat sangat cepat yakni dari 97 juta pada tahun 1961. sekitar 40% penduduk Indonesia tinggal di kota-kota dan pada tahun 2015 meningkat sampai lebih dari 50%. namun demikian di beberapa tempat air minum bersih masih menjadi masalah. Polusi limbah rumah tangga terhadap air sungai akan tetap terjadi meskipun sudah diambil langkahlangkah program kali bersih. sedangkan rata-rata harapan hidup waktu lahir pada tahun 2015 akan lebih dari 70 tahun. Hal ini tidak lepas dari tersedianya sumberdaya alam yang melimpah. Harus diakui kantong-kantong kemiskinan masih akan dijumpai terutama di kota-kota dan daerah terpencil. Pada tahun 2000. Jumlah penduduk dan struktur demografi sangat erat kaitannya dengan kesehatan karena ia akan mempengaruhi volume pelayanan dan pola pelayanan kesehatan. Persediaan air minum bersih seinakin tinggi cakupannya dalam 25 tahun mendatang. Pada dekade 90-an ini. Walaupun tingkat pendidikan menjadi lebih baik. Timbulnya konglomerasi akan tetap berlangsung karena keadaan pasar dan kebijaksanaan ekonomi yang memungkinkannya. penduduk yang semakin mampu mengolah dan mengelola sumberdaya alam tadi dan perkembangan teknologi serta kebijaksanaan pembangunan. Diduga bahwa pada tahun 2015 rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Indonesia sudah mencapai SLTA. Industrialisasi yang akan berkembang cepat pada masa mendatang dapat menyebabkan timbulnya polusi udara. Persentase kelompok lanjut usia (>65 tahun) semakin lama semakin tinggi. Dalam 25 tahun mendatang jumlah penduduk Indonesia masih akan bertambah dengan tingkat pertumbuhan yang semakin menurun. sedangkan buta huruf di kalangan wanita dewasa dapat dikatakan tidak ada lagi. kecanduan obat. Akan timbul kantong-kantong kumuh di banyak kota. Pada hakekatnya determinan kesehatan tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Meskipun mengalami krisis pada tahun 1982 dan 1987. Krisis ekonomi dunia masih dapat terjadi tetapi dampaknya terhadap Indonesia mungkin akan terbatas. permissiveness dan lain sebagainya. Pendapatan perkapita penduduk Indonesia akan meningkat menjadi $ 1000 pada akhir Repelita VI dan $ 2500 pada akhir PJPT II. 1994 banyak dana untuk upaya kesehatan. demografi. Krisis energi yang terjadi menyebabkan Indonesia harus .9% pada dekade 80-an.33 juta pada tahun 1980 dan 179. 147. Angka kematian yang menurun lebih cepat dari angka kelahiran menyebabkan Indonesia mengalami ledakan penduduk antara tahun-tahun 60 – 80. alkoholisme. air. mereka yang berumur lebih dari 16 tahun jumlahnya akan lebih banyak daripada yang berumur kurang dari 15 tahun. Dari sekian banyak faktor yang dapat berpengaruh tadi. 90. Dengan demikian beban dan pola pelayanan kesehatan akan sangat berubah. ekonomi. Sulawesi dan Irian. Bila pada tahun 1980 hanya 85% anak umur-sekolah (7 – 12 tahun) dapat memasuki sekolah dasar.18 juta dengan angka pertumbuhan yang akan mendekati 0%. Migrasi penduduk dari Jawa masih akan terjadi terutama menuju pulau-pulau Kalimantan. GNP dan pendapatan per kapita terus meningkat.32 juta pada tahun 1990. KECENDERUNGAN DETERMINAN KESEHATAN Determinan kesehatan atau faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap tingkat derajat kesehatan penduduk adalah faktor-faktor sosial. Keadaan ekonomi Indonesia dalam 20 tahun terakhir telah semakin membaik. Kota metropolitan dengan penduduk lebih dari l juta akan semakin banyak dan Jakarta akan menjadi mega metropolitan.

Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. ahli industrial health. Penggunaan obat juga cenderung meningkat baik jumlah maupun jenisnya. Kapasitas produksi obat jadi dan bahan baku obat Indonesia akan meningkat terus. Tenaga kesehatan wanita akan melebihi pria sedangkan penyebarannya akan cenderung mengelompok di kota-kota. Penggunaan analgetika. sesuai dengan kemajuan ekonomi secara umum dan kenaikan permintaan akan obat-obatan. Tinggi rendahnya status kesehatan penduduk merupakan hasil pengaruh multifaktorial dari determinan kesehatan dan faktor-faktor tersebut dapat berubah atau berkembang. Arus globalisasi ekonomi yang masuk Indonesia akan menyebabkan harga obat-obatan akan tetap meningkat. Desentralisasi kepada Daerah Tingkat II akan lebih luas. Bila dilihat kualifikasi pendidikan. Dalam 25 tahun mendatang jumlah dan jenis pelayanan kesehatan akan sangat berkembang karena jumlah populasi yang meningkat. dan lain-lain) akan lebih banyak diisi oleh tenaga fungsional yang profesional sedangkan tenaga pendukung akan minimal jumlahnya. begitu juga penggunaan zat-zat radioaktif akan meningkat. 1994 9 . Teknologi kedokteran akan tetap meningkat kemajuannya. KECENDERUNGAN KEADAAN KESEHATAN Keadaan kesehatan yang dimaksud di sini adalah status kesehatan penduduk dan pelayanan kesehatan. Tenaga fungsional pada rumah sakit pemerintah akan semakin banyak jumlah dan ragamnya. Ada kemungkinan PLTN akan bertambah lagi menjelang tahun 2015. Bertambah baiknya komunikasi dan transportasi akan mempunyai dampak positif maupun negatif terhadap keadaan kesehatan. Walaupun PLTN sebenarnya sangat aman namun kewaspadaan akan bencana tetap akan harus dipersiapkan. transportasi dan komunikasi yang mudah. Masalah pelayanan kesehatan yang dapat lebih rumit pada 25 tahun mendatang adalah hal-hal yang berhubungan dengan pelanggaran etik. tetapi kemajuan dalam teknologi diagnostik akan jauh melebihi kemajuan dalam teknologi terapeutik. sedangkan penggunaan antibiotika relatif akan menurun atau menetap sesudah tahun 2000. obat dan prosedur diagnostik. malpractice serta tuntutan di pengadilan terhadap para dokter. Namun demikian perlu diperhatikan pula bahwa asuransi kesehatan yang tidak dikelola dengan baik akan mendorong ongkos-ongkos pelayanan untuk meningkat pula. Tingkat employment-rate pada sektor formal yang meninggi dan pendapatan per kapita yang semakin meningkat serta kesadaran akan perlunya jaminan yang pasti di masa mendatang akan menumbuhkan asuransi kesehatan yang dapat menjangkau lebih banyak penduduk. baik untuk kebutuhan industri maupun kesehatan. Pelayanan kesehatan swasta akan Iebih banyak daripada pemerintah menjelang tahun 2000 nanti. Namun demikian antibiotika baru tetap akan bermunculan dan yang lama ditinggalkan. dokter spesialis. hospital pharmacist. Puskesmas yang berada pada tempat dengan lingkungan sosial ekonomi yang sangat berkembang.mencari sumber energi alternatif. 90. paramedis perawatan. Kantor administrasi kesehatan (Depkes. sarjana elektromedik. kecamatan dan desa-desa. sekitar 6000 Puskesmas dan 1500 RS swasta dan pemerintah. diagnostic center. Pada dekade pertama tahun 2000 Indonesia akan memiliki sebuah Pembangkit Tenaga Listrik Nuklir (PLTN). dapat berubah menjadi rumah sakit. occupational health. Rumah sakit yang spesialistik akan lebih banyak jumlahnya. vitamin dan obat adjuvan (penguat) akan terus meningkat. pelayanan (service) dan kualitas. dokter gigi. tenaga kesehatan lulusan D3. dan lain-lain. Perlunya pelayanan yang bermutu dan persaingan yang ketat mengakibatkan rumah sakit harus dikelola oleh direktur-direktur yang profesional yang didukung oleh staf middle-management yang tangguh. Obat-obatan baru untuk penyakitpenyakit menahun akan semakin banyak jenisnya. paramedis non perawatan dan tenaga non medik. sedangkan Posyandu secara alamiah akan berkurang. Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta derasnya arus informasi menyebabkan timbulnya sofistikasi pada banyak rumah sakit dan sarana pelayanan. dan spesialisasi lainnya akan lebih banyak dibutuhkan. Akan timbul fenomena seperti home-care. Keadaan tadi semuanya menyebabkan berubahnya sistem pendidikan dan latihan tenaga serta sistem rekrutmen. Career planning tenaga kesehatan menjadi lebih terbuka antara swasta dan pemerintah serta antara sektor yang satu dengan yang lainnya. Kesemuanya tadi telah dijalin dalam sistem rujukan timbal balik dari bawah ke atas. permintaan (demand) yang meninggi. dan rumah sakit pemerintah akan cenderung menjadi swadana. Perkembangan ini dapat mengubah fungsi Puskesmas menjadi consultative center. Rumah sakit pemerintah akan tampil bersaing terhadap swasta dalam artian penampilan fisik. S1 dan S2 jumlahnya akan lebih dominan pada masa mendatang baik pada sarana pemerintah maupun swasta. Sarana tersebut telah tersebar lebih merata sampai ke kabupaten. asuransi kesehatan harus ditetapkan menjadi suatu kewajiban. Berkembangnya pelayanan kesehatan akan diikuti oleh berkembangnya tenaga kesehatan yang jumlah dan jenisnya akan meningkat dalam 25 tahun mendatang. day-care. Pada saatnya.000 Puskesmas Pembantu. Bioteknologi semakin berperan terutama dalam produksi vaksin. Ongkos-ongkos umum yang meningkat dan introduksi teknologi baru menyebabkan ongkos pelayanan kesehatan akan semakin mahal. sedangkan golongan II dan III akan merupakan kelompok yang paling besar jumlahnya. Mutu produk akan bertambah baik dan kompetetif di dunia internasional. berubahnya pola penyakit dan lain sebagainya. Bioteknologi akan meningkat peranannya dalam produksi obatobatan. Pelayanan kesehatan di Indonesia dalam 20 tahun terakhir berkembang sangat pesat sehingga pada tahun 1990 telah terdapat 15. apoteker. Keadaan ini dapat mempercepat tumbuhnya asuransi kesehatan. Dokter dan perawat yang spesialistik. Dan umumnya sarana-sarana ini telah dilengkapi dengan tenaga dokter. clinical epidemiologist. Pelayanan kuratif akan semakin menonjol karena permintaan akan pelayanan preventif sudah menyatu (terintegrasi) dalam kehidupan sehari-hari. Ketimpangan distribusi tenaga tetap akan terjadi sedangkan rasio tenaga terhadap populasi akan membaik.

13 dengan rasio tenaga medis terhadap tempat tidur pada rumah sakit kelas A adalah 0. Bila kita melihat rasio tenaga yang bekerja pada rumah sakit kelas A. 90. C. Keadaan Perumahsakitan Pelayanan kesehatan di rumah sakit terdiri dari berbagai jenis pelayanan yaitu dari pelayanan yang sederhana sampai yang canggih sesuai dengan kemampuan dan kelas rumah sakit. Hal ini berbeda dengan wilayah luar Jawa-Bali yang semula 1 : 200 pada akhir Pelita I menurun menjadi 1 : 414 pada awal Pelita V. Dari 1. Jumlah rumah sakit umum meningkat 30%. Dikhawatirkan penjualan obat di pasar gelap akan bertambah begitu pula obat tentengan dan selundupan. Terlihat di sini kekurangan tenaga medis terutama pada rumah sakit-rumah sakit swasta dan juga rumah sakit pemerintah kelas C.1%. USA 1 : 170. Departemen lain 47. Kegiatan upaya kesehatan yang menyangkut rumah sakit termasuk di dalam upaya rujukan kesehatan dan rujukan medis. dari 113 pada akhir Pelita I menjadi 231 pada awal Pelita V.491 pada akhir Pelita IV (kenaikan 43%).8%.18.565 tempat tidur. dan sebaliknya 70% tenaga paramedis perawatan bertugas di luar Jawa-Bali. Konsumsi obat per kapita juga akan meningkat karena pola penyakit yang berubah dan masyarakat yang lebih mampu membelinya.9% pada tahun 1990. Tetapi pembagian klas tersebut hanya bisa mencerminkan fasilitas pelayanan secara kasar. Dengan demikian incidence dan intoksikasi dan efek samping obat dapat meningkat.06 pada rumah sakit-rumah sakit swasta.1% justru turun menjadi 52. Sedangkan rasio ini hanya 0. BOR rumah sakit umum yang pada Pelita I 54. Hal ini menyebabkan pergeseran a) yang cukup tajam pada perbandingan rumah sakit umum pemerintah dan swasta. B.018 pada akhir Pelita IV. Di rumah sakit milik pemerintah ada pembagian klas yakni A. dari 63. Demikian pula dengan tenaga paramedis perawatan yang meningkat dari 23. Prosentase rumah sakit umum swasta dari 19. (Bandingkan pada tahun 1985: Malaysia 1 : 370.951 pada akhir Pelita III menjadi 8. Dalam bidang ketenagaan khususnya tenaga dokter rumah sakit umum Departemen Kesehatan dan Pemda terjadi peningkatan dari 5. Pada akhir Pelita I rumah sakit di Indonesia berjumlah 1. sedang pada akhir tahun 1990 menjadi 244.0%. Dengan demikian dalam kurun waktu tersebut jumlah rumah sakit meningkat ± 37% dan tempat tidur meningkat 45%. D yang mencerminkan fasilitas pelayanannya. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan rumah sakit belum sebagaimana diharapkan. Sedangkan di rumah sakit swasta ada pembagian pratama. rumah sakit Pemda 53. Jumlah rumah sakit umum pemerintah pada tahun 1990 adalah 525 buah dengan 66. B.515 pada awal Pelita V. Dengan demikian rasio dokter terhadap tempat tidur membaik keadaannya dari 0.56 menjadi 0. Apabila kita melihat rasio tempat tidur terhadap penduduk berdasarkan wilayah terlihat perbaikan yang cukup besar untuk wilayah Jawa-Bali yaitu 1 : 1. Edisi Khusus No. Hal ini disebabkan peningkatan jumlah tempat tidur rumah sakit sejajar dengan peningkatan jumlah penderita yang dirawat. Distribusi tenaga medis pada rumah sakit pemerintah kurang merata.09 dan kelas D 0. dari 581 pada akhir Pelita I menjadi 756 pada awal Pelita V dengan tempat tidur meningkat 44%. sedangkan pada tahun I Pelita V telah mencapai 1.753 tempat tidur.3% pada awal Pelita V.70.7% dan rumah sakit ABRI 42. Sedangkan pada tahun 10 Cermin Dunia Kedokteran. 316 rumah sakit umum daerah. Sedangkan rujukan medik adalah rujukan pelayanan terutama meliputi upaya kuratif dan rehabilitatif.643 pada akhir Pelita I menjadi 91.11. kelas B 0. karena walaupun sama-sama rumah sakit klas C fasilitas pelayanannya bisa berbeda.892 pada akhir Pelita III menjadi 29.116 buah dengan 81. Rujukan kesehatan terutama berkaitan dengan upaya promotif dan preventif yang mencakup bantuan teknologi.2% pada tahun 1990.4%.338 pada awal Pelita V. Data yang menggambarkan fasilitas pelayanan yang sesungguhnya di rumah sakit masih susah ditemui. sarana dan operasional. yaitu 65.532 rumah sakit dengan 118.63. Singapura 1: 247. Kenaikan jumlah rumah sakit umum terbanyak adalah pada sektor swasta yaitu sebanyak 104%. Obat-obat tradisional masih tetap akan dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia tetapi jumlahnya tak akan meningkat dan relatif mungkin menurun. RUMAH SAKIT DI INDONESIA Bidang perumahsakitan di Indonesia diwarnai dengan pelayanan kesehatan yang sangat luas dan kompleks dengan berbagai jenis rumah sakit dan kepemilikannya. kelas C 0. b) Tingkat pemanfaatan dan mutu pelayanan Tingkat pemanfaatan rumah sakit (BOR) secara nasional dari Pelita ke Pelita tidak menunjukkan kenaikan yang berarti.259 tempat tidur. madya dan utama. Perkembangan rumah sakit di Indonesia dari Pelita ke Pelita cukup menggembirakan dalam berbagai segi.900 pada Pelita I menjadi 1 : 1.586 pada awal Pelita V.14 menjadi 0. apalagi bila dikaitkan dengan efisiensi dan efektifitasnya. 81 rumah sakit umum milik Departemen lain dan 231 rumah sakit umum swasta. 112 rumah sakit umum ABRI. Pada tahun 1988 rasio tenaga medis terhadap tempat tidur pada rumah sakit pemerintah adalah 0. yang selanjutnya naik menjadi 54. diikuti dengan Rumah Sakit Swasta 55. Padahal dengan adanya data tersebut sangat membantu pengembangan konsep rujukan.28.532 rumah sakit 756 di antaranya adalah rumah sakit umum dengan kepemilikan 16 rumah sakit umum vertikal. sehingga rata-rata tempat tidur perrumah sakit umum pemerintah adalah 126 tempat tidur. Kedokteran alternatif dapat timbul. Rasio paramedik perawatan terhadap tempat tidur membaik dari 0. Jepang 1: 86). karenanya dibutuhkan pusat informasi obat untuk mengatasi hal ini.579 pada akhir Pelita I menjadi 1 : 1.4% pada awal Pelita I menjadi 31.Distribusi obat di Indonesia akan tetap bertambah baik sehingga cakupannya lebih merata. C dan D terutama tenaga medis terdapat ketimpangan. 70% dokter bertugas di rumah sakit di wilayah Jawa-Bali. Berdasarkan kepemilikannya pada tahun 1990 BOR rumah sakit milik Departemen Kesehatan tertinggi. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk maka rasio tempat tidur terhadap jumlah penduduk membaik yaitu 1: 1. 1994 .

khususnya rumah sakit. c) Pembiayaan Pembiayaan kesehatan di Indonesia. 4. Dengan keterbatasan kemampuan pemerintah maka perlu adanya penambahan dana dari pihak swasta.8%. yaitu 10 hari. Walaupun sistem ini mudah dalam pelaksanaannya namun biaya sesungguhnya tidak dapat diketahui secara tepat. untuk meningkatkan efisiensi perlu diketahui pusat-pusat biaya agar dapat dilaksanakan intervensi yang diperlukan. Besarnya pembiayaan pelayanan RSU pemerintah yang berasal dari bantuan luar negeri dalam kurun waktu 1982/83 – 1986/87 rata-rata 4.1988 Rumah sakit Dep.Kes dan Pemda BORnya mencapai 57. yang meliputi biaya investasi. sehingga pada tahun 2000 jumlah rumah sakit/tempat tidur pemerintah dan swasta berimbang. 27.7% dan luar Jawa-Bali 48. Sistem ini sudah dilaksanakan pada sebagian rumah sakit swasta. banyak rumah sakit swasta yang telah menetapkan tarip berCermin Dunia Kedokteran . akan tetapi akhirakhir ini juga ada kecenderungan bantuan dalam biaya pemeliharaan dan operasional. Penggunaan dana oleh masyarakat/swasta daiam upaya kesehatan pada umumnya adalah untuk upaya kuratif. termasuk gaji dan upah. sedang pembelian obat-obatan tertinggi.9%. dengan LOS rumah sakit di DKI terpanjang yaitu 7 hari. yang sejalan dengan keinginan pemerintah agar pihak swasta lebih aktif berperan serta dalam pembangunan bidang kesehatan. Dana pelayanan rumah sakit sebagian besar (79. yaitu 37. yang pada tahun 1982/1983 mencapai 32. selanjutnya rumah sakit kelas B 7 hari. Berdasarkan uraian di atas maka nyatalah bahwa pelayanan rumah sakit merupakan salah satu komponen yang paling banyak menyerap biaya.3%. LOS rumah sakit swasta rata-rata 6 hari dengan LOS terendah 5 hari untuk wilayahJawa-Bali.6%. Namun bila dihitung dengan harga tetap tahun 1983. Dapat diperkirakan di sini bahwa pembiayaan oleh masyarakat/ swasta sebagian besar adalah untuk pelayanan rumah sakit ka rena sebagian pembelian obat-obatan juga merupakan akibat dari pelayanan rumah sakit. Prosentase anggaran kesehatan terhadap anggaran pemerintah pada tahun 1982/1983 hanya 3. LOS rumah sakit DepKes dan Pemda rata-rata 6 hari. Demikian pula prosentase pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) sangat kecil dan cenderung tidak berubah selama kurun waktu lima tahun (0.4%. ternyata rumah sakit kelas A mempunyai BOR tertinggi.1 % dari biaya yang dibutuhkan.90 pada tahun 1982/83 naik menjadi Rp. khususnya dalam bidang perumahsakitan. sedangkan wilayah lain 6 hari.198. Selain itu. berdasarkan kelas rumah sakit pada tahun 1989.7% berasal dari pemerintah dan 72. Jika dikaitkan antara BOR dan LOS wilayah DKI yang tinggi hal ini dimungkinkan karena adanya rumah sakit top referral. Diharapkan peran serta swasta dalam perumahsakitan dapat meningkat. rumah sakit menerima biaya dari bantuan luar negeri. Jawa-Bali 61. Perhitungan biaya satuan saat ini sudah merupakan suatu keharusan. Prosentase pembiayaan dari masyarakat/swasta untuk pelayanan rumah sakit pada tahun 1985/86 cukup tinggi.9%.1% dari seluruh biaya. sedangkan untuk daerah lain 6 hari. Untuk dapat mengurangi jumlah subsidi tersebut dapat dilakukan dengan dua pendekatan : a) menurunkan unit cost/biaya satuan Iayanan dengan meningkatkan pemanfaatan fasilitas yang saat ini masih rendah. pemeliharaan dan operasional. yaitu 40.8% tahun 1986/87).70 pada tahun 1986/87 atau sebesar 34. Diperkirakan sekitar 97% dari seluruh biaya yang dikeluarkan adalah untuk pengobatan dan hanya 3% untuk pendidikan dan lain-lain. Edisi Khusus No.300. Dengan makin berkembangnya asuransi kesehatan maka biaya satuahn sangat diperlukan untuk negosiasi penetapan premi.8% dan selanjutnya tahun 1983/1984 naik menjadi 36. b) meningkatkan tarif layanan rumah sakit yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Sanpai saat ini masih banyak rumah sakit. menurun terus sehingga pada tahun 1986/87 tinggal 30. Dari alokasi biaya rumah sakit ternyata jumlah subsidi pemerintah cukup besar. yaitu 72.5%. 90. kelas C 57. Anggaran kesehatan perkapita yang bersumber dari pemerintah dari tahun 1982/83 sampai dengan 1986/87 naik dari Rp. selanjutnya kelas B 60.3%) dimanfaatkan untuk pelayanan kuratif.6%. maka sistem akuntansi harus dilengkapi dengan sistem akuntansi akrual. LOS rumah sakit kelas A tertinggi.5%. dan juga akan diterapkan pada rumah sakit lembaga swadana. ternyata anggaran pada tahun 1982/83 dan 1986/87 tersebut relatif tetap.4% dan tahun 1986/1987 3. Bilamana biaya satuan diketahui. maka tarip rumah sakit yang sesuai dapat ditetapkan dengan tetap memperhatikan kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membayar. Besarnya alokasi tersebut belum dapat menjamin terlaksananya pelayanan yang baik karena dana yang tersedia baru 56. Prosentase pembiayaan kesehatan di rumah sakit dari anggaran kesehatan menurun sesuai dengan perubahan-perubahan dalam pola pemanfaatan dana. sedangkan untuk pelayanan preventif hanya 6%. yang pada umumnya merawat pasien rujukan.3%.7% dan kelas D masih rendah.3% dari masyarakat/swasta. Bantuan luar negeri ini pada umumnya untuk pembiayaan investasi. berasal dari berbagai sumber yaitu : 1) Pemerintah Pusat dan Daerah 2) Badan Swasta 3) Bantuan Luar Negeri 4) Asuransi 5) Masyarakat Anggaran kesehatan yang bersumber dari pemerintah. khususnya rumah sakit pemerintah yang menerapkan sistem akuntansi secara cash basis. dari tahun ke tahun relatif tetap dan kecil jika dihitung prosentasenya dari seluruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Jumlah alokasi dana rumah sakit pada tahun 1985/86 adalah 34. dengan perubahan pola pemanfaatan dana.6% dengan wilayah DKI mempunyai BOR tertinggi yaitu 62.8% tahun 1982/83 dan 0. dan rumah sakit kelas C serta D sama yaitu 5 hari. Selain dari pemerintah dan masyarakat. 3. 1994 11 .6%. Untuk mendapatkan informasi yang baik dan aktual dalam proses pengambilan keputusan.

3) Teknologi kedokteran Sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secaraumum. Keadaan tersebut perlu juga mendorong manajemen rumahsakit untuk memikirkan tentang kemungkinan perlu diperpanjangnya lama buka poliklinik rumah sakit (termasuk rumahsakit pemerintah) dan dikembangkannya sistem janji (appointment) menurut hari dan jam pelayanan. Tujuan UU tersebut adalah memberikan kepastian hukum terhadap pembangunan dan pelayanan kesehatan. tetapi formasi di rumahsakit pemerintah sangat terbatas karena ada kecenderungan membatasi pengangkatan pegawai negeri baru. bayaran untuk dokter dan perawat harus dinaikkan. tidak jarang penerapan tata hukum yang baru dapat menimbulkan masalah. Namun harus diakui bahwa pada masyarakat yang sedang berubah. Manajemen rumah sakit dituntut untuk pandai memilih alternatifdalam memanfaatkan teknologi yang ditawarkan. Rumah sakit dihadapkan dengan suatu dilema apakah akan menggunakan teknologi baru yang ditawarkan dengan implikasi naiknya ongkos pelayanan ataukah tetap menggunakan cara-cara konvensional yang masih efektif dengan risiko akan kehilangan pangsa pasar. Ada jenis-jenis pelayanan yang mungkin secara berangsur-angsur harus diciutkan tetapi sebaliknya ada juga pelayanan-pelayanan yang perlu dikembangkan bahkan mungkin perlu ada pelayanan baru yang harus mulai ditampilkan. Pengembangan pelayanan Pola penyakit dalam PJPT II secara berangsur-angsur akan berubah begitu pula permintaan (demand ) akan pelayanan kesehatan. Masyarakat mengingini pelayanan yang mudah dan nyaman serta akhirnya memberikan kepuasan dalam arti penyakit sembuh dalam waktu yang cepat dengan service yang baik. paling tidak untuk service-service tertentu. Perlu dikembangkan suatu sistim pelayanan yang didasari pada QCT (quality. Dengan kecenderungan rumahsakit pemerintah akan diubah menjadi RS unit swadana maka pada masa mendatang RS swasta harus lebih mandiri dalam merekrut tenaga dokter spesialis purna waktu. Dengan cara ini. investasi yang ditanam dapat dimanfaatkan secara bersama dengan optimal. Dibutuhkan kemampuan dari manajemen rumah sakit untuk melihat masa depan guna membuat pembaharuan-pembaharuan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Suatu koordinasi antar rumah sakit perlu dikembangkan untuk memanfaatkan secara bersama teknologi tertentu. Hampir semua rumah sakit swasta. secara tidak langsung rumah sakit swasta menikmati subsidi dari pemerintah. Jumlah lulusan perawat diduga mencukupi. Pembagian tempat-tempat perawatan menurut penyakit atau disiplin ilmu kedokteran perlu ditinjau lagi dan mungkin perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian agar pemanfaatan rumah sakit menjadi lebih efisien. kira-kira 80% dari tenaga spesialisasi direkrut dari rumah sakit pemerintah sebagai tenaga paruh waktu (part time) dalam bentuk honorer atau visiting-doctor atau on contract basis. 23 tahun 1992. Dengan diberlakukannya UU tersebut tuntut-menuntut (lawsues) antara 6) 12 Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. Keadaan dokter spesialis lebih kompleks lagi terutama pada rumah sakit swasta. dokter cenderung menggunakan prosedur-prosedur yang semakin banyak untuk menangani penyakit-penyakit kronik. Sistem appointment akan mendidik health providerdan health consumer menj adi lebih disiplin dalam mematuhi waktu. Pada bulan September 1992 Indonesia telah memberlakukan undang-undang baru dalam bidang kesehatan yakni UU No. 2) Tenaga Pada saat ini hampir semua rumah sakit pemerintah dan swasta sangat kekurangan tenaga perawat. 90 1994 . mutunyapun sering dikeluhkan masyarakat. time of delivery) yakni pelayanan dengan kualitas yang baik (Q) dan dengan ongkos yang dapat dipertanggung jawabkan (C) serta diberikan pada waktu yang cepat dan tepat (T). Sebagian rumah sakit swasta tak mampu mengangkat perawat baru apabila dari lulusan sekolah-sekolah perawat yang dianggap bermutu. Keadaan tersebut mengharuskan manajemen rumah sakit dapat mengembangkan pelayanan yang efektif tetapi dengan ongkos yang realistik yakni ongkos yang sesuai dengan nilai dari jasa dan barang yang diberikan kepada pasien ditambah dengan profit yang layak. Untuk ini rumah sakit harus memberikan informasi yang akurat dan tepat tentang service yang dapat diberikan kepada setiap pasien. Selain jumlahnya kurang. maka teknologi kedokteran pun berkembang sangat cepat dalam duapuluh tahun terakhir ini. Hukum dan Etik Dengan semakin majunya sebuah bangsa maka akan semakin tertib pula tata hukum di negara tersebut. TANTANGAN MANAJEMEN RUMAH SAKIT DALAM PJPT II Tantangan-tantangan penting dalam manajemen pelayanan rumah sakit pada masa mendatang antara lain : 1) Pembiayaan Ongkos-ongkos pelayanan rumahsakit sudah pasti akan meningkat karena : ongkos-ongkos umum untuk services (misal listrik. Keadaan ini mengharuskan manajemen rumahsakit mulai memikirkan pola pelayanan yang perlu dikembangkan pada masa mendatang. teknologi modern untuk diagnostik dan terapetik lebih banyak digunakan. Oleh karena itu diperlukan pengembangan manajemen keuangan rumah sakit yang baik. 4) 5) Permintaan masyarakat Pada periode PJPT II rumah sakit akan dihadapkan kepada masyarakat yang lebih terdidik dan lebih mampu membeli pelayanan yang ditawarkan atau yang dibutuhkan. air dan lain-lain) akan meningkat. Teknologi (termasuk alat) kedokteran untuk diagnosis maupun terapi berkembang sangat cepat dan ditawarkan secara sangat intensif. Ini berarti. perlindungan terhadap penerima pelayanan kesehatan dan perlindungan terhadap pemberi pelayanan kesehatan.dasarkan biaya satuan. cost. Masyarakat akan menuntut pelayanan yang lebih bermutu dan efektif.

ia harus mengembangkan cara pengumpulan data dan informasi yang akhirnya bisa memberi input kepada manajemen untuk mengambil keputusan guna pembaikan pelayanan. terutama bagi generasi muda. Maju mundurnya atau baik buruknya satu manajemen sangat dipengaruhi oleh mutu pengambilan keputusan dan hal terakhir ini sangat tergantung dari mutu informasi yang diperoleh dan kepandaian dari manajer untuk menggunakan informasi. Ada empat informasi yang dianggap prioritas untuk dikumpulkan dan dianalisis yakni : keuangan dan pembiayaan. terutama di kota-kota besar. mengharuskan manajemen rumah sakit untuk memperbaiki rumahsakitnya masing-masing disamping perlu ada koordinasi dan kerja sama antar rumah sakit.90. manajemen tidak lain suatu rangkaian pengambilan keputusan dengan mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan menuju suatu tujuan tertentu. dan pengembangan serta penemuan obat-obatan. daerah kumuh perkotaan. serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. daerah terpencil dan kelompok masyarakat yang hidupnya terasing. daerah transmigrasi. Suatu sistem untuk mencegah dan mengawasi pelanggaran etik ini perlu diperketat oleh manajemen rumah sakit. Penyediaan obat dan alat kesehatan yang makin merata dengan harga yang terjangkau oleh rakyat banyak ditingkatkan melalui pengembangan industri peralatan kesehatan dan industri farmasi yang makin maju dan mandiri. Untuk menghindari hal ini manajemen rumah sakit harus menyiapkan informasi-informasi umum tentang pelayanan rumah sakit. 7) Sistem Informasi Manajemen Dalam pelaksanaan sehari-hari. penyediaan lingkungan pemukiman. Semua usaha untuk mewujudkan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat perlu dikembangkan dengan upaya memasyarakatkan pembiayaan kesehatan oleh masyarakat berdasarkan prinsip gotong royong. meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Sedangkan arah dan kebi jaksanaan dari pembangunan telah ditetapkan dal am kebijaksanaan pokok pembangunan kesehatan seperti di bawah ini. 2) Pengelolaan kesehatan yang terpadu perlu lebih dikembangkan agar dapat lebih mendorong peran serta masyarakat. makanan dan minuman. Dengan demikian menjadi jelas bahwa bila rumah sakit mengingini manajemen yang baik sehingga dapat memberikan pelayanan yang bermutu. 6) Pengobatan tradisional yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan terus dibina dalam rangka perluasan dan pemerataan pengobatan tradisional sebagai warisan budaya bangsa terus ditingkatkan dan didorong usaha pengembangannya melalui penggalian. serta pencemaran lingkungan perlu diberikan perhatian khusus. KEBIJAKSANAAN POKOK PEMBANGUNAN KESEHATAN 1) Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup manusia. dalam pembangunan kesehatan. Sistem tersebut disebut sebagai : sistem informasi manajemen rumah sakit. pengujian. Perubahanperubahan yang tengah terjadi akan dapat pula menimbulkan benturan-benturan norma yang dapat mengakibatkan timbulnya pelanggaran-pelanggaran etik terutama pada rumah sakit-rumah sakit swasta. Perlindungan terhadap bahaya penyalahgunaan obat. KEBIJAKSANAAN PENGEMBANGAN RUMAH SAKIT Rumah Sakit merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan sehingga pengembangan Rumah Sakit pada saat ini tidak lepas dari Kebijaksanaan Pembangunan Kesehatan yaitu harus sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. Tenaga kesehatan dan tenaga penunjang kesehatan lainnya ditingkatkan kualitas dan kemampuannya serta persebarannya terus diupayakan agar merata dan menjangkau masyarakat di daerah terpencil. serta daerah pemukiman baru. Edisi Khusus No. 5) Pelayanan kesehatan baik oleh pemerintah maupun peran serta masyarakat harus mengindahkan prinsip kemanusiaan dan kepatutan dengan memberikan perhatian khusus kepada fakir miskin. Sistem Kesehatan Nasional dan Repelita bidang Kesehatan serta peraturan dan perundang-undangan lain. Pengembangan rumah sakit sangat dipengaruhi oleh faktor- Cermin Dunia Kedokteran. terutama yang berpenghasilan rendah. penyediaan air bersih.pasien dengan rumah sakit atau dokter akan lebih sering terjadi pada waktu-waktu mendatang. dapat menikmati pelayanan yang berkualitas dengan terus memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran secara serasi dan bertanggung jawab. Penelitian dan pengembangan kesehatan perlu terus dilanjutkan antara lain untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. zat adiktif. penyuluhan kesehatan. 4) Upaya perbaikan kesehatan masyarakat terus ditingkatkan antara lain melalui pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. Semuanya ini harus dikaitkan secara integratif sehingga mempunyai makna bagi pengambilan keputusan manajemen. Begitu pula standarstandar dan prosedur-prosedur teknis dan administrasi harus dibuat secara tertulis mengikuti referensi resmi yang dikembangkan oleh pemerintah dan atau ikatan profesi. juga pengawasan ketat terhadap obat. 1994 13 . anak-anak dan penduduk usia lanjut yang terlantar. logistik (terutama obat) dan pelayanan (besarnya inpatient-outpatient). 3) Pengadaan dan peningkatan sarana kesehatan perlu terus dikembangkan. tenaga. penelitian. Perhatian khusus diberikan pada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. yang didukung oleh industri bahan baku obat yang andal melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan narkotika. Persaingan yang semakin ketat antar rumah sakit-rumah sakit. daerah pedesaan. Kualitas pelayanan kesehatan ditingkatkan dan jangkauan serta kemampuannya diperluas agar masyarakat. perbaikan gizi. semakin besar dan semakin kompleks sebuah rumah sakit semakin perlu ia suatu sistem informasi manajemen yang komprehensif. termasuk budidaya tanaman obat tradisional yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan. serta pelayanan kesehatan ibu dan anak. termasuk dunia usaha.

faktor demografi, epidemiologi, sosial ekonomi, permintaan akan pelayanan, sistem pembiayaan dan kemajuan iptek. Karenanya, suatu kebijaksanaan dalam pengembangan rumah sakit harus memperhatikan kecenderungan faktor determinan di atas. Selain itu pengembangan rumah sakit juga tidak dapat lepas dari kebijaksanaan pokok pembangunan kesehatan. Dengan melihat kecenderungan determinan kesehatan, kecenderungan keadaan kesehatan, keadaan rumah sakit dan hasil-hasil yang telah dicapai pada saat ini serta tantangan manajemen rumah sakit pada PJPT II maka perlu ditetapkan kebijaksanaan pengembangan rumah sakit dalam PJPT 11. KEBUAKSANAAN PENGEMBANGAN RUMAH-SAKIT DALAM PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG TAHAP II : 1) Pembangunan Rumah Sakit baru • Pembangunan rumah sakit baru dan penambahan tempat tidur dari rumah sakit yang ada akan dijalankan terus sesuai dengan permintaan yang ada (mekanisme pasar). Penambahanpenambahan rumah sakit baru terutama dijalankan dengan memperhatikan perkembangan sosial ekonomi masyarakat. • Pemerintah tetap bertanggung jawab terhadap pembangunan rumah sakit di daerah-daerah yang kurang mampu guna menjamin pemerataan untuk menikmati hasil-hasil pembangunan. • Setiap pembangunan rumah akit baru harus didahului oleh studi kelayakan untuk menjamin tetap berjalannya rumah sakit tadi pada masa-masa mendatang dan dipenuhinya kaidah serta standar rumah sakit. • Jumlah rumah sakit di suatu tempat akan dikendalikan dengan memperhatikan rasio tempat tidur terhadap penduduk dan sistem pembiayaan serta pricing policy (misal asuransi), pembangunan rumah sakit dilaksanakan dengan menyertakan peran serta masyarakat dan swasta yang semakin besar. 2) Pelayanan Rumah Sakit • Pelayanan rumah sakit harus mendukung pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Posyandu. Dukungan ini dijalin dalam suatu sistem rujukan medik dan rujukan kesehatan yang selaras dengan pembangunan sistem pembiayaan melalui asuransi kesehatan/JPKM. • Rumah sakit dikelola secara efisien untuk menjamin meningkatnya mutu dan cakupan pelayanan yang akhirnya mempunyai dampak nyata terhadap perbaikan derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu perlu diterapkan dan dijalankan penggunaan standar pelayanan, dalam rangka peningkatan mutu dan akreditasi rumah sakit disamping penggunaan obat secara rasional dengan memanfaatkan obat generik. • Menjalankan fungsi sosial yang tercermin dalam pelayanan bagi mereka yang tak mampu, kegiatan pelayanan di luar rumah sakit, penyuluhan kesehatan, turut serta dalam sistem asuransi kesehatan/JPKM, dan lain sebagainya. 3) •
14

yang berasal dari masyarakat yang dimobilisasi melalui sistem asuransi/JOKM. Rumah sakit pemerintah secara berangsurangsur dikembangkan menjadi unit swadana sedangkan sumber dana yang berasal dari pemerintah dan yang dimobilisasi dari swasta dan masyarakat harus digunakan secara efisien dan dialokasikan secara cermat menurut prioritas dan masalah yang dihadapi. • Setiap orang yang menikmati pelayanan kesehatan di rumah sakit akan dikenai kewajiban membayar sesuai dengan nilai jasa yang diterimanya. Untuk ini perlu dikembangkan sistem tarif berjenjang yang mendasarkan kepada pengeluaran yang berimbang dengan pemasukan (cost recovery), satuan biaya (unit cost) dan kemampuan daya beli masyarakat. Agar terjamin adanya pemerataan pelayanan, tarif dikembangkan dengan asas subsidi bersilang (cross subsidy) sehingga mereka yang tak mampu tetap terlindungi dan dapat menikmati pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. 4) Peran Serta Masyarakat dan Swasta • Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta perlu dikembangkan sistem yang insentif termasuk kemudahan dalam perizinan, rumah sakit boleh didirikan oleh badan hukum (termasuk PMDN dan PMA) disamping oleh yayasan. Pemerintah akan tetap memberikan bantuan dan perlindungan terhadap rumah sakit. • Masyarakat dan swasta akan diberikan peran yang semakin besar dalam pelaksanaan pembangunan dan pengembangan rumah sakit. Pemerintah akan lebih banyak berperan dalam merumuskan kebijaksanaan (termasuk menetapkan standarstandar), pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan rumah sakit. Ikatan profesi akan membantu pemerintah dalam perumusan kebijaksanaan dan pengawasan serta peningkatan mutu pelayanan dan mutu tenaga kesehatan. 5) Ketenagaan • Penempatan dan penyebaran tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit akan terus ditingkatkan sehingga jumlah dan susunan tenaga kesehatan di rumah sakit mencapai standar yang sudah ditetapkan. Penempatan dokter spesialis akan ditingkatkan dengan prioritas melengkapi rumah sakit kelas C di seluruh Indonesia sesuai dengan pemerataan penempatan tenaga. • Guna mengatasi kekurangan pelayanan spesialistik di tempat-tempat terpencil yang membutuhkan, dokter-dokter umum terpilih akan dilatih secara khusus dalam bidang spesialisasi tertentu (semi spesialis). • Rumah sakit swasta diberikan kemudahan untuk memperoleh dokter-dokter spesialis khususnya para dokter spesialis yang sudah menyelesaikan masa bakti ke-2. Secara berangsurangsur rumah sakit swasta akan diberi bantuan agar mempunyai dokter dan dokter spesialis yang full time. Rumah sakit swasta diperkenankan mengirimkan dokter umumnya untuk mengikuti pendidikan spesialisasi. Prioritas diberikan kepada rumah sakit di periferi. 6) • Manajemen Rumah sakit secara berangsur-angsur harus dikelola dengan

Pembiayaan Pembiayaan rumah sakit mengutamakan sumber-sumber
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994

memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi pelayanan kesehatan, sebagai bentuk produksi jasa, dapat ditingkatkan mutunya. Dalam kaitan ini, rumah sakit akan dilengkapi dengan perangkat organisasi yang lebih sesuai sebagai institusi sosial-ekonomi. • Dengan semakin meningkatnya hubungan kerja dan semakin beragamnya jenis pelayanan, perlu dikembangkan sistem informasi manajemen rumah sakit yang menyangkut informasi sumber daya, pelayanan dan kegiatan rumah sakit. Untuk ini rumah sakit secara berangsur-angsur harus meningkatkan pengolahan data secara elektronik (electronic data processing). • Staf manajemen rumah sakit perlu memperoleh pendidikan dan latihan yang menunjang perubahan-perubahan sistem

manajemen rumah sakit menuju pembentukan career-planning dalam manajemen atau administrasi rumah sakit. 7) Teknologi Kedokteran Pemanfaatan teknologi kedokteran akan digalakkan terus • dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan menuju perbaikan derajat kesehatan yang merupakan bagian dari kesejahteraan umum masyarakat. Teknologi kedokteran yang digunakan harus disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan yang ada dan kemampuan pembiayaan pemerintah dan masyarakat. Pemanfaatan teknologi kesehatan harus dikaitkan dengan • upaya mengefisiensikan kegiatan-kegiatan rumah sakit.

Kalender Kegiatan Ilmiah
March 19–20, 1994 – Instructional Course & Video-Urogynecology Update Singapore Information : Secretariat, Society for Continence (Singapore), c/o Division of Urology, Department of Surgery, Toa Payoh Hospital, Toa Payoh Rise, Singapore 1129. April 29 – May 2, 1994 lst IFSSH Western Pacific Regional Workshop Hong Kong Information : Dr LK Hung, Secretary, lst IFSSH Western Pacific Regional Workshop, Department of Orthopaedics and Traumatology, Prince of Wales Hospital, Shatin, Hong Kong.

May 21–24, 1994 – 11th Regional Conference of Dermatology Singapore Information : Secretariat, 1 lth Regional Conference of Dermatology, c/o Conference and Exhibition Management Services Pte Ltd, #09-43 World Trade Centre, Singapore 0409. June 16-18, 1994 International Conference on Biomedical Periodicals Beijing Information : c/o Dr Jiang Yongmao, International Conference on Biomedical Periodicals, Chinese Medical Association, 42 Dongsi Xidajie, Beijing 100710, China.

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

15

Tinjauan Perkembangan Perumah-Sakitan dalam PJPT 11
Samsi Jacobalis Jakarta

Paul Samuelson :"........ akhirnya harus kita sadari bahwa ekonomi bukanlah ilmu eksakta, dan tidak ada di antara kita yang dapat melihat lebih jauh daripada dua tahun ke muka" (Algemeen Dagblad, 17 April 1993). George R. Terry :"The future begins with the present; it is not an immense and sudden jump to a distant destination" (Bukunya : Principles of Management). MEREKA MASA DEPAN Pendapat dua pakar di atas agaknya bertentangan satu dengan yang lain. Jika bersandar pada pendapat Samuelson tidak ada yang dapat memprakirakan bagaimana perkembangan ekonomi Indonesia (dan searah dengan itu bagaimana perkembangan perumah-sakitan kita) nanti dalam PJPT II (1994–2019). Sebaliknya jika mengandal pada Terry, PJPT II bukanlah loncatan mendadak ke sasaran yang jauh di depan. PJPT II adalah sinambung dengan PJPT I. PJPT II adalah era tinggal landas, setelah landasnya sendiri (PJPT I) cukup kokoh untuk menjamin keselarriatan "penerbangan" selanjutnya. Artinya hari esok dalam pembangunan adalah kelanjutan hari ini. Masa depan dibangun sehari demi sehari sejak masa lalu. Masa depan dapat direka berdasarkan kenyataan hari ini dan hari-hari yang sudah dilewati. Kita mencoba sepakat dengan Terry dengan membuat proyeksi tentang transisi kesehatan di masa depan bertolak dari data perkembangan selama PJPT I. Dari proyeksi itu dicoba dibuat tinjauan tentang kemungkinan perkembangan rumah sakit dalam PJPT II, sebagai rekaan respons terhadap tantangan memenuhi kebutuhan kesehatan di waktu itu nanti. Namun demikian disadari sepenuhnya proyeksi itu dapat meleset sama sekali, karena seperti kata Samuelson (pemenang hadiah Nobel yang dianggap ahli ekonomi terbesar yang sekaMakalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo , Jakarta . 21 — 25 November 1993.

rang masih hidup), tidak ada orang yang dapat melihat terlalu jauh ke depan. Apalagi kebutuhan kesehatan masa depan itu dipengaruhi oleh begitu banyak variabel yang sebagian besar tidak eksak sifatnya. AKHIR PJPT I, IDAMAN DALAM PJPT II Selama 25 tahun terakhir Indonesia telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat. Pembangunan kesehatan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi itu. Dalam naskah GarisGaris Besar Haluan Negara 1993 diikhtisarkan tentang pencapaian sektor kesehatan sebagai berikut :"Dalam PJPT I pelayanan kesehatan telah meningkat dan telah mampu menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Pembangunan di bidang kesehatan serta keluarga berencana telah berhasil meningkatkan usia harapan hidup dan menekan laju pertumbuhan penduduk yang didukung oleh perumahan dan pemukiman yang layak". Ikhtisar yang dinyatakan hanya dalam beberapa kalimat itu kedengarannya sederhana sekali. Padahal untuk mencapai itu sangat besar modal manusia (human capital) dan sumberdaya Iain yang sudah dikerahkan. Keberhasilan lain yang juga secara tidak langsung besar dampaknya pada status kesehatan bangsa adalah : – Kita sudah swasembada dalam kebutuhan paling pokok,

16

Cermin Dunia Kedokteran . Edisi Khusus No. 90, 1994

Transisi dan transformasi dalam unsur-unsur itu saling terkait dan mempengaruhi satu terhadap yang lain. yaitu proyeksi tentang penduduk Indonesia dan pola penyakit serta status kesehatannya dalam PJPT II. Hal khusus dalam PJPT II adalah dijadikannya manusia lndonesia sebagai fokus pembangunan. Dampak sosialnya adalah berlanjutnya proses urbanisasi. didukung dengan pembangunan perumahan dan pemukiman yang layak. Dari proyeksi keadaan itu akan diprakirakan kebutuhan kesehatan kita sebagai bangsa waktu itu nanti. "Health policy" adalah kebijakan pemerintah yang hcrtuiuan menyediakan dan menyampaikan layanan kesehatan yang bermutu kepada setiap warga negara tanpa membedakan kedudukan sosial dan kemampuan ekonominya. pendidikan dan kebudayaan. untuk y herperan dalam industri kesehatan kita. serta meningkatnya gizi dan membudayanya sikap hidup bersih dan sehat. Perkembangan kebutuhan kesehatan bangsa (health need). 3. Pengalaman ini meningkatkan harkat dan harga diri sebagai bangsa. 1994 17 . termasuk pembangunan kesehatannya. . Kepadatan penduduk kota tentu mengakibatkan masalah lingkungan hidup. karena meang masalah kesehatan bangsa pada dasarnya adalah masalah ekonomi. Indonesia diharapkan sudah menjadi negara industri dalam PJPT II. penyakit rakyat. Yang mungkin dapat dipastikan dari sekarang adalah bahwa pemerintah akan membuka kesm-patn ang makin luas bagi swasta. tidak semata-mata masalah mencegah dan mengobati penyakit. Sampah dan limbah akan makin sukar untuk ditanggulangi. Dalam PJPT II pembangunan sektor kesehatan dimasukkan dalam kelompok pembangunan bidang kesejahteraan rakyat . Di antara perubahan berlanjut yang akan besar dampaknya pada kebutuhan kesehatan kita dalam PJPT II adalah : • Transformasi ekonomi dan sosial • Transisi demografi • Transisi epidemiologi • Perkembangan ilmu dan teknologi • Perubahan dalam tatanan global. termasuk perkembangan perumah-sakitan. Dengan pengembangan manusia yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang mantap. 2. Industrialisasi dan urbanisasi besar dampaknya pada lingkungan. sosial dan budaya. Ini tepat sekali. Para ahli kependudukan memproyeksikan dalam tahun 2020 lebih daripada separuh penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. dan orang-orang muda akan semakin enggan meneruskan tradisi bertani. Beberapa bulan lagi kita akan mengawali PJPT II. sosial dan budaya yang akan berpengaruh dalam mencapai idaman nasional itu. Transisi ini akan lebih terpacu karena lahan bertani untuk petani perorangan akan semakin sempit. Pemukiman padat menimbulkan masalah. Keadaan ideal yang diidamkan (menurut GBHN 1993) adalah : meningkatnya derajat kesehatan masyarakat serta meningkatnya mutu dan kemudahan pelayanan kesehatan yang harus makin terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Perkembangan itu tergantung pada beberapa faktor utama : 1. Dinamika perubahan dalam unsur-unsur tersebut di atas sudah berlangsung sejak bagian terakhir Repelita I.Misi KhususNo. Dari prakiraan perkembangan kebutuhan itu akan dicoba diantisipasikan perkembangan perumah-sakitan kita. Dalam arti luas banyak variabel ekonomi. PERUBAHAN DALAM LINGKUNGAN LAYANAN KESEHATAN Perkembangan kebutuhan kesehatan di masa depan ditentukan oleh transformasi dan transisi dalam lingkungan layanan kesehatan yang sudah berlangsung sejak dua dekade terakhir dan akan berlanjut.Selama 25 tahun bangsa Indonesia sudah belajar dan berpengalaman membangun di segala bidang. Air Cermin Dunia Kedokteran.layanan kesehatan nasional. TRANSFORMASI EKONOMI DAN SOSIAL Sebagai kelanjutan kegiatan pembangunan sebelumnya. yang pada gilirannya berarti meningkatnya masalah kesehatan dan potensi bertambahnya jumlah dan jenis penyakit. termasuk seasta asing. Kebijakan kesehatan nasional (health policy). Garis-garis kebijakan itu ditentukan 5 tahun sekali dalam GBHN dan dirinci dalam Repelita. yaitu persentase penduduk kota akan makin meningkat dibandingkan dengan persentase penduduk desa. Di waktu itupun nanti titik berat pembangunan (masih) diletakkan pada pembangunan bidang ekonomi. Kemampuan sumberdaya untuk mendukung pemenuhan kebutuhan itu (health recources). Hal-hal yang pokok tentang beberapa transisi itu akan ditinjau. sejak ekonomi kita mulai ditata kembali dan diangkat dari tepi jurang keambrukan. Dalam arti lebih sempit pencapaian idaman itu akan tergantung dari perkembangan sistim . baik sebagai insan maupun sebagai sumberdaya untuk pembangunan itu sendiri. lingkungan hidup yang tidak sehat. 90.yaitu pangan dan sandang. Masih sangat besar modal manusia dan sumberdaya lain yang dibutuhkan untuk mendukungnya. Titik berat pada pembangunan ekonomi berarti transisi dari ekonomi yang didominasi oleh pekerjaan di sektor pertanian ke pekerjaan di sektor industri dan jasa akan berlanjut. Mereka akan lebih tergiur oleh lapangan kerja di sektor industri dan jasa. kebodohan dan jumlah anak yang terlalu banyak. Kurva belajar ini sangat besar artinya sebagai modal untuk meneruskan pembangunan. dengan tujuan mencoba memprakirakan keadaan pada akhir transisi demografi dan akhir transisi epidemiologi nanti. Pendapatan dari bertani umumnya kebih kecil dibandingkan dengan upah memburuh di pabrik atau proyek pembangunan. Semua itu tidak sesederhana seperti yang dirumuskan di atas. diidamkan bangsa Indonesia akan menjadi maju dan mandiri. yang merupakan penggerak utamapembangunan bidang-bidang lainnya. didasarkan pada perkembangan kebutuhan kesehatan dan perkembangan kemampuan sumberdaya untuk mendukungnya waktu itu nanti. termasuk sektor kesehatan. Memecahkan masalah kesehatan secara nasional adalah soal keluar dari lingkaran kemiskinan yang ditandai oleh kurang makan. Kebijakan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dalam PJPT II sukar diperkirakan sekarang. belum terhitung mereka yang tinggal di pedesaan tetapi pergi-pulang ke perkotaan (Ananta dan Sirait).

dampak sosial dan politiknya akan dapat merunyamkan. TRANSISI DEMOGRAFI Situasi kependudukan di Indonesia (dan hampir di semua negara berkembang) sedang mengalami perubahan secara dramatis. Angka kematian bayi (IMR) dan angka kematian ibu (MMR) sangat menurun.5% s/d tahun 2000) akan makin meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat. alkoholisme.21% Usia 60 s/d 75+ 24 446 290 = 9. melainkan juga oleh biayabiaya lain di luar kebutuhan kesehatan dalam arti sesungguhnya: Dapat dibandingkan dengan penentuan harga untuk menginap di hotel berbintang tiga dengan di hotel berbintang lima. Kesenjangan yang terlalu jauh antara 2 kelas layanan kesehatan itu perlu dicegah sejak jauh-jauh. Para ahli memperkirakan sekitar tahun 2000 episenter ledakan epidemi penyakit AIDS akan berada di Asia. 1994 . PERKEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI Perkembangan ilmu kedokteran sangat cepat. termasuk tindakan-tindakan heroik seperti transplantasi jantung dan organ-organ vital lain.97% Angka-angka yang diproyeksikan di atas menunjukkan bahwa pada akhir PJPT II nanti diperkirakan : • Penduduk Indonesia akan menjadi hampir 1/4 milyar • 1 di antara setiap 3 orang adalah balita sampai remaja (belum produktif) • 1 di antara setiap 10 orang adalah berusia lanjut (tidak produktif lagi dan cenderung tidak sehat). TRANSISI EPIDEMIOLOGI Dalam PJPT II pola penyakit diperkirakan sudah beralih kepada pola penyakit masyarakat sejahtera : penyakit kardiovaskuler. layanan untuk golongan mampu akan semakin berbeda dengan layanan untuk masyarakat golongan bawah. Dari aspek kuantitatif sasaran yang ingin dicapai dalam PJPT 11 tentulah zero-growth atau minimal growth. Kelompok ini akan meruipakan beban sosial dan beban ekonomi yang tidak kecil artinya. Transformasi dan mobilisasi semakin mudah. korban kecelakaan lalu limtas. Akan terjadi apa yang dinamakan two tiers health care system. 90. Tuntutan kelompok ini akan sumberdaya untuk layanan kesehatan akan cukup besar. ketergantungan obat. tetapi harga tidur di 2 tempat itu jauh berbeda. Demikian juga kasus kelainan kejiwaan akan meningkat sebagai akibat ketegangan kehidupan kota yang semakin kompetitif. Semua itu akan berakibat kebutuhan dan tuntutan secara umum akan makin meningkat. stroke. Dari aspek kualitatif hal yang dapat dipastikan akan terjadi adalah bahwa penduduk Indonesia akan semakin menua. terutama di antara orang-orang muda. Untuk masyarakat yang semakin sejahtera tingkat hidupnya. (Angka-angka di atas berasal dari penghitungan Ananta dan Arifin: Projection of Indonesian Population 1990–2020). Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia memproyeksikan penduduk Indonesia dalam tahun 2015 akan berstruktur sebagai berikut : Jumlah 245 388 204 Usia s/d 19 th 79 028 429 = 32. sekalipun tidak merata. Di sisi lain pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan akan tetap tinggi (6 – 6. Semua itu dimungkinkan karena didukung oleh perkembangan teknologi yang juga sangat menakjubkan. Semua itu diperkirakan akan mengakibatkan polarisasi yang semakin tajam dalam sistem layanan kesehatan. kanker. yang bukan hanya akan merupakan masalah kesehatan. Di satu pihak ingin dimiliki dan dikuasai untuk mengejar ketertinggalan. harga pemeliharaan kesehatan akan semakin meningkat karena ditambah dengan tuntutan kemudahan dan kenyamanan. secara kuantitatif maupun kualitatif. Tingkat pendidikan masyarakat akan makin meningkat. Informasi akan semakin global. Telekomunikasi makin lancar. risiko karena pekerjaan. Golongan yang sejahtera akan makin berubah gaya hidup dan pola budayanya. Masalah-masalah psiko-sosial sebagai akibat kepadatan pemukiman akan besar pula pengaruhnya pada kesehatan jiwa banyak orang. Sikap umum terhadap teknologi dalam bidang medis saat ini masih bermuka dua. Dikatakan orang sekitar 60% dari tingkat perkembangan saat ini telah terjadi dalam 2–3 dekade terakhir. Terutama karena masih sangat tingginya Cermin Dunia Kedokteran. di pihak lain masih besar kecurigaan terhadapnya. Sukar diramalkan bagaimana dampak pemanasan global dan kerusakan ekologi lainnya terhadap kesehatan manusia nanti. 18 sekalipun angka pertambahan penduduk suatu waktu nanti sudah dapat ditekan sampai di bawah satu persen. karena akan semakin panjangnya usia harapan hidup pada waktu lahir dan meningkatnya mutu kehidupan. sehingga jarak geografis makin menjadi tidak penting. entah dalam tahun berapa dan pada jumlah penduduk berapa juta. yaitu menumpang tidur. Narkotika dan ketergantungan obat akan pula menjadi masalah global yang makin sukar dikendalikan. Namun saat ini teknologi diidentikkan orang dengan alat untuk diagnosis dan terapi. Sebelum itu tercapai jumlah penduduk Indonesia akan tetap bertambah tiap tahun dengan angka jutaan. Kegiatan yang dilakukan di 2 hotel itu adalah sama. Harapan hidup waktu lahir sudah jauh meningkat. Harga itu bukan ditentukan oleh biaya pemeliharaan kesehatan an sich. keterampilan dan prosedur melakukan tindakan medis.bersih sebagai kebutuhan primer akan semakin kritis. Menteri Ketua Bappenas Ginanjar Kartasasmita yakin setelah dua Pelita pertama PJPT 11 tidak akan ada lagi rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan (Suara Pembaruan. penyakit degeneratif dan usia lanjut. Teknologi kedokteran adalah himpunan pengetahuan. Edisi Khusus No. Diperkirakan akan meningkat juga masalah sosio-medik yang terkait dengan alkoholisme yang tahun-tahun terakhir makin tampak di permukaan. Harga pemeliharaan kesehatan (atau harga mengobati penyakit) akan semakin mahal. juga terhadap layanan kesehatan. namun juga masalah sosial dan ekonomi yang berat. Sebenarnya alat hanyalah salah satu aspek saja dari pengertian teknologi secara luas itu. 20 September 1993). malahan akhir-akhir ini cenderung lebih disempitkan lagi dalam pengertian alat bertekno logi tinggi (hi-tech). Pengendalian penyakit yang dapat ditularkan harus semakin ketat. Sistem nilai mereka akan sangat berubah.

gangguan stabilitas dan keamanan. Ini antara lain harus berarti keberhasilan mengentas rakyat paling bawah ke atas garis kemiskinan dengan menyediakan lapangan kerja yang layak. Dengan health policy yang tepat saat itu nanti diharapkan teknologi akan menentukan tingkat layanan kesehatan yang dapat diberikan secara optimal. Peningkatan mutu layanan disesuaikan dengan tuntutan obyektif (transisi demografi dan epidemiologi. Berbagai penyakit yang sampai sekarang dianggap tidak dapat disembuhkan (seperti beberapa penyakit turunan. Perlu juga diikuti dengan seksama perkembangan Cina sebagai negara adikuasa baru. sosial dan budaya yang berlanjut (sustainable development). Hospitalisasi terutama hanya untuk kasus-kasus gawat darurat. dengan segala dampaknya terhadap kita. Ilmu kedokteran akan semakin maju. 1994 19 . Namun dalam PJPT II diharapkan sudah tercapai secara wajar keseimbangan antara kebutuhan dan pemanfaatan teknologi secara tepat. perkembangan il mu dan teknologi. Jika kecenderungan seperti sekarang akan berlanjut seluruh dunia akan menjadi satu pasar bebas yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan transnasional raksasa.investasi untuk itu dan kekuatiran kemungkinan terjadinya beberapa dampak negatif. bioteknologi. Ungkapan global village atau global supermarket akan benar . Dalam banyak negara memang terbukti bahwa teknologi tinggi adalah salah satu penyebab makin melonjaknya biaya layanan kesehatan. namun sukar diantisipasikan sekarang. dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan terus kuat. 90. barang dan jasa. hormon dan lain-lain. termasuk oleh bisnis kesehatan transnasional dengan jaringan global. Konsekuensi lain adalah biaya sosial untuk layanan kesehatan juga akan meningkat. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi di atas akan besar dampaknya terhadap kebutuhan dan profil rumah sakit dalam PJPT II. memperbaiki lingkungan hidup. meningkatkan pendidikan minimal. PERUBAHAN TATANAN GLOBAL Dunia akan menjadi semakin sempit. Sekarang pun orang sudah membuat antisipasi bahwa 70% dari pembedahan yang sekarang dilakukan di rumah sakit. Jaringan perumah-sakitan mereka akan menancapkan cabang atau satelitnya di negara kita. Ini berarti efisiensi dan kemudahan bagi pasien. Salah satu ciri utama daripada pasar bebas demikian adalah persaingan yang keras untuk memperebutkan konsumen. meningkatkan mutu gizi. serta kebutuhan tempat tidur rumah sakit akan berkurang. Kanker pun diharapkan sudah akan dapat dicegah dengan imunisasi . berkat keterbukaan informasi yang tidak mungkin dibendung dengan cara apapun. krisis ekonomi dan keuangan. berkat dukungan teknologi dalam waktu tidak terlalu lama lagi akan lazim dikerjakan tanpa pasien perlu dirawat. yang dalam banyak hal berarti bebas bagi yang kuat. pergeseran kekuatan politik nasional dan internasional. pengertian yang lebih mendalam tentang ensim. Peningkatan volume layanan karena jumlah manusia yang dilayani akan bertambah dengan sekitar 50 juta orang. Diharapkan dalam PJPT II Indonesia tidak lagi hanya se. teknologi akan menjadi lebih efektif-biaya. Budaya dan gaya hidup dengan segala dampak positif dan negatifnya menjadi global. kasus yang memerlukan tindakan "berat" seperti transplantasi organ. didukung oleh perkembangan biologi molekuler. rekayasa genetik. Semua itu akan mengakibatkan hidup manusia dapat diperpanjang. perang. kesejahteraan. akan merupakan pasar yang sangat diincar. membudayakan keluarga berencana. 2. Edisi Khusus No. Dalam PJPT II banyak penyakit diperkirakan sudah dapat dideteksi sebelum gejala paling dini terasa. Dengan pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan kemampuan penelitian Indonesia sudah akan lebih mandiri. bagai konsumen ilmu dan teknologi kedokteran yang diimpor dari negara lain. termasuk jasa kesehatan. cystic fibrosis) berkat teknologi terapi gen akan dapat dicegah dan diatasi. Ini akan berarti lebih lagi pergeseran perhatian pada upaya prevensi. dan pengobatannya akan menjadi lebih efektif. Di samping itu kecanggihan teknologi kedokteran akan membuat asuhan medis menjadi lebih aman dan Iebih menyenangkan bagi pasien. Teknologi tentu akan makin berkembang dan canggih. PENINGKATAN KEBUTUHAN KESEHATAN DALAM PJPT II Transisi kesehatan karena dinamika dalam unsur-unsur lingkungan kesehatan seperti dipaparkan di atas akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan kesehatan dalam PJPT II. Indonesia yang nanti akan berpenduduk seperempat milyar. memperbaiki pemukiman dan perumahan. Semua rekaan di atas tidak ada nilainya sama sekali jika terjadi kejutan-kejutan hebat dalam tatanan global (dan juga tatanan nasional atau regional) yang menyangkut perimbangan kekuatan senjata. benar menjadi kenyataan. Ingat : dua puluh tahun yang lalu tidak ada yang berpikir salah satu blok adikuasa dapat runtuh berkeping-keping. kematian bagi yang lemah ! Itu semua jika tatanan global dikaji hanya dari pendekatan sosialekonomi dan bisnis secara sederhana. desintegrasi suatu blok kekuatan atau suatu negara adikuasa. Di samping itu masih banyak variabel lain yang dapat sangat besar pengaruhnya. penyakit menahun dan penyakit karena usia lanjut. Batas-batas negara akan semakin tidak ada artinya dalam lalu lintas uang. sistem nilai Cermin Dunia Kedokteran. membudayakan gaya hidup sehat. Pemenuhan kebutuhan yang meningkat itu harus dapat didukung oleh keberhasilan pembangunan ekonomi. antara lain penyalah-gunaan teknologi (technology abuse). Hal-hal itu adalah sarana dasar untuk hidup sehat. Dalam arti lebih sempit pemenuhan kebutuhan itu akan berarti : 1. persaingan) dan tuntutan subyektif (karena peningkatan pendidikan. gaya hidup. Dalam kaitan ini perlu dikaji secara teliti saran World Bank dalam laporannya tahun 1993 : harus ada persaingan bebas dalam layanan kesehatan dan jangka ada proteksi untuk industri kesehatan domestik terhadap kompetisi internasional Rupanya Bank Dunia yang didominasi oleh negara-negara kaya ini benar-benar berorientasi pasar bebas. gangguan sistem immun. juga terhadap industri kesehatan dan perumah-sakitan.

Pemerintah jangan sampai menjadi pesaing bagi swasta dalam penyelenggaraan rumah sakit. Puskesmas diselenggarakan sebagai unit swadana yang disubsidi pemerintah. dana. diagnostic centers. 25 Sept 1993. yaitu penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna berdasarkan asas usaha bersama dan kekeluargaan. Memenuhi semua kebutuhan tadi dalam PJPT II (atau kapan saja) pada dasarnya adalah masalah penyediaan sumberdaya (sumberdaya manusia. Rumah sakit jenis lain seyogyanya diserahkan kepada swasta penyelenggaraannya. 3. Puskesmas dijadikan unit swadana. 7—8 Mei 1993. User Fees in Public Hospitals : Comparison of Three Country . perawatan penyakit menahun dan penyakit usia lanjut. pemerataan. Rumah sakit yang dibiayai atau disubsidi oleh pemerintah sebaiknya hanya tinggal rumah sakit pendidikan dan penelitian. 5. dan lain-lain. Indonesian Observer. Layanan Puskesmas tidak boleh lagi cuma-cuma. Edisi Khusus No. • Persaingan akan meningkat. pengawasan dan pengendalian. Antm bN. nursing homes. Melihat kecenderungan privatisasi yang sekarang terjadi secara global. Pembiayaan layanan kesehatan di masa yang akan datang mau tidak mau harus menjadi beban bersama antara pemerintah dan swasta menurut komposisi bauran (public-private mix) yang disesuaikan dengan perkembangan keadaan nanti. Sektor swasta (termasuk swasta asing) akan lebih berperan • dalam penyelenggaraan rumah sakit untuk tujuan pelayanan dan rujukan. teknologi. managed care) seperti yang didefinisikan dalam Undang-undang no. bukan hanya antara rumah sakit (di dalam dan di luar negeri) tapi juga dengan hospitals without beds. Black M. Dengan demikian pemerataan dan keterjangkauan layanan kesehatan akan terjamin. Sirait H. dan lain-lain) yang memadai. Dana pemerintah yang dapat dialihkan dari anggaran untuk penyelenggaraan rumah sakit ditambah dengan dana dari user fee hendaknya dapat meningkatkan kemampuan layanan kuantitatif dan kualitatif oleh Puskesmas. PMA) — Sistem-sistem JKPM (managed care) yang masih harus dikembangkan. besar kemungkinan dalam PJPT II peran serta swasta dalam pembiayaan kesehatan akan menjadi lebih besar lagi ketimbang peran pemerintah. Orang-orang pemerintah hendaknya menghilangkan paradigma bahwa "swasta mau enaknya saja. • Dana untuk penyelenggaraan kesehatan akan berasal dari gabungan: Anggaran pemerintah Dana masyarakat (pajak. perizinan. rumah sakit khusus tertentu dan rumah sakit untuk masyarakat kurang mampu. terutama untuk layanan kasus gawat darurat. rujukan diagnostik dan tindakan teknologi tinggi. Seperti diketahui sampai sekarang sekitar 60% anggaran belanja pemerintah untuk kesehatan terserap oleh subsektor rumah sakit. Ciloto. Tinjauan perkembangan adalah perkiraan strategic response yang mungkin terjadi didasarkan pada proyeksi kebutuhan kesehatan waktu itu nanti. Lembaga Demografi FEUI. Pemerintah terutama membiayai atau mengsubsidi rumah • sakit pendidikan. Ananta A. Untuk "yang tidak enak itu" masyarakat (termasuk sektor swasta) ikut membiayai melalui pajak dan iuran langsung maupun tidak langsung yang lain. namun perumah-sakitan tidak juga boleh sampai dilepaskan seluruhnya pada mekanisme pasar bebas. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah mengurangi jumlah rumah sakit yang dimiliki dan dioperasikannya sendiri. Dengan asumsi dan analisis yang terutama bersifat kualitatif (yang tentu saja mungkin saja meleset sama sekali). Di samping itu pemerintah sebaliknya terutama menyediakan layanan kesehatan primer yang semakin bermutu melalui Puskesmas. Alternatif Pembagian Peran antara Pemerintah dan Swasta dalam Pembangunan Kesehatan. 2. dalam PJPT II. perawatan intensif. An Emerging Crisis: AIDS in Asia. treatment centers. Transisi Kesehatan dan Pembangunan Ekonomi. akreditasi. rumah sakit khusus tertentu dan rumah sakit untuk masyarakat tidak mampu. Regulasi hendaknya tidak kaku dan keras. Penghimpunan dana masyarakat dan sektor swasta untuk layanan kesehatan akan sangat bertumpu pada sistem Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM. yang 2 0 Cermin Dunia Kedokteran berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan secara praupaya. Ananta A. Dengan demikian keterjangkauan. user fee) Investasi modal swasta (PMDN. Semiloka Peranan Pemerintah dan Swasta dalam Pembangunan Kesehatan Menghadapi PJPT 11. 1994 . diperkirakan perkembangan perumahsakitan akan ke arah : • Peran pemerintah sebagai pemilik dan penyelenggara rumah sakit akan berkurang. Lembaga Demografi FEUI Population Series No. Pemerintah hendaknya membatasi diri hanya dalam menjalankan fungsi legislasi. Kecenderungan badan penyelenggara JKPM dimonopoli oleh satu badan usaha saja hendaknya dicegah. Pemerintah dapat bekerja sama atau berpatungan dengan swasta (termasuk swasta asing) untuk investasi rumah sakit. Harus ada regulasi terbatas atau regulated deregulation. Transisi Demografi. termasuk rumah sakit. sarana. 4. Lewis MA. 90. Ini tidak mengherankan karena rumah sakit adalah konsentrasi tenaga ahli dan teknologi yang mahal. Jakarta. RINGKASAN Telah disampaikan tinjauan tentang kemungkinan perkembangan sistem layanan kesehatan. • Pemerintah terutama mengsubsidi atau membiayai penye lenggaraan Puskesmas yang akan menjadi makin bermutu. dan mutu layanan kesehatan primer akan makin terjamin. Projection of lndonesian Population. Sebagai akibat persaingan akan terjadi konglomerasi rumah sakit (hospital chains) atau bentuk usaha lain yang lebih menjanjikan efisiensi dan efektifitas. Jakarta. Yang mungkin dilakukan antara lain adalah mengurangi secara drastis perannya sebagai penyelenggara rumah sakit. 23 tahun 1992. pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan kesehatannya. Fungsi layanan rumah sakit akan berubah. Gani A. KEPUSTAKAAN 1. Untuk mengurangi beban anggaran pemerintah bagi layanan kesehatan. 2. pemerintah kebagian yang tidak enak". tapi sudah harus ditetapkan user fee untuk jasa yang dinikmati masyarakat. 1992.masyarakat). 1991.

Cermin Dunia Kedokteran. Health Transition. One Day Seminar on lnnovations in the Financing of the Health Sector Perspective on PJPT 11. Comparison of lndonesian and United States Health Care Financing Reforms. 1994 21 . Tangcharoensatien V. 7. Said Amin Tabish. Jakarta. 22 October 1993. World Bank Report 1993. Djisman S. 11. Jakarta.90.Case Studies. Ministry of Public Health. lndonesia Economic : Present and Near Future. 1993. Garis-garis Besar Haluan Negara. Undang-undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Bangkok. Jakarta. World Bank. Medium-term trends in the lndonesian Economy and Implicated upon the Health Sector. Vol 29. 1993. WHO. 8. 14. One day Seminar on Innovations in the Financing of the Health Sector Perspective on PJPT 11. Beberapa pokok pikiran dalam pembangunan sumberdaya manusia dalam PJPT 11 dan Repelita V1. Geneva. Tjiptoherijanto P. its impact on Health Sector Financing in Thailand. 9. 1992. FEUI. 1993. 12. Hospital Economics and Financing in Developing Countries. Newbrander W et al. 10. World Hospitals. Jakarta. 22 October 1993. Healthcare Finance and Economics. Edisi Khusus No. 15. Marzolf J. Health Planning Division. No 2. 6. 1993. 1993. 13. Sukirman. 1993. lnternational Science and Technology lnstitute.

The system has now been in operation for some two years and the impact of the reforms are becoming evident. inter alia a) Service duplication Presented at the Vlth Congress of the lndonesian Hospitals Association& Hospital Expo. This will in turn lead to a system of controlled competition of purchasing and providing care. Today. I. 90. I don't wish to imply that one is any more significant than the other. Another hoped for impact of the government was that there would be a reduction in waiting lists for elective surgery. This is likely to result in the near future in the closure of some of London's great. there has been a debate about the role of government versus private initiative in health care provision. I will review some of the important trends and ideas I see emerging in health services delivery. for the first time 100% of the American population will have access to health care irrespective of their ability to pay. If one considers the difference in the per capita income of citizens of the United States and the United Kingdom. The federation has members in all five continents and in 90 nations.Current lssues and Future Trends in Health Care Errol Pickering Director General. The 22 Cermin Dunia Kedokteran . Britain has had a government dominated health service whilst in the United Sates private initiative has been the driving force. I have identified 8 trends which I wish to describe. It is too early to say what will be the ultimate outcome of the reform movement in health care in the US but some elements of the President's package will clearly remain intact. 1994 . there has been improved productivity in hospital and health services. you can see what a dramatic difference there is. In the last few weeks I have been in the United States discussing the US President's proposed reforms with my American colleagues. Edisi Khusus No. Secondly. The United Kingdom has already moved to controlled competition through its internal market approach. therefore. Firstly. that health care financing will be organised on a state level through insurance alliances in each state. have the great privilege of seeing and hearing of health services developments around the world. which in turn represents 21 nations. This involves hospitals and other health care facilities competing for government funds to provide local services. 6. Jakarta 21 — 25 November 1993 b) Over supply of high technology c) Poor community health systems and status and d) Denial of access based on ability to pay of 37 million Americans.5%. In the United Kingdom that figure is only half of that. The final essential of President Clinton's programme is that there be community-wide managed care systems at the local level. International Hospital Federation INTRODUCTION It is a pleasure to bring greetings to our Indonesian colleagues from the 21 members of the Council of Management of the International Hospital Federation. The United States spends presently 13% of its Gross National Product on health care. While I will identify them as trends 1 to 8. world famous hospitals. It may be of interest then to reflect on one of the outcomes of these approaches. in both countries there is major change under way. Firstly. TREND 1 — CONTROLLED COMPETITION Throughout the history of health care organisation. employers both in large industries and in small businesses will be forced to carry health insurance for their staff and families and thirdly. This has had the impact of reducing usage of big city teaching hospitals. However. The United States has found that competition which is promoted by a system based on private initiative has resulted in. Until recently the United States and the United Kingdom have been at opposite ends of this spectrum.

Edisi KhususNo. In some way it can be seen that there is a re-definition of quality which expands the focus from the clinical level to the patient level and to the community level. 6. In the United States the Joint Commission on Accreditation of Hospitals and Health Facilities has spent many millions of dollars on identifying patient care outcomes as a means of measuring standards of health care. New Zealand has completely moved to this model and Sweden is in the midst of its implementation and many countries are about to adopt the system. That is. We can see from the listing which follows that the British definition of quality is quite different to that of the United States (see attachment 1). Existing accreditation systems are also becoming more sophisticated. To receive emergency medical care at any time. Waiting time in outpatient clinics 7. 6. TREND 2 – RE-DEFINING QUALITY Quality has become a central focus for nations in organising their health services. Attachment 2 British Patient's Charter Rights Existing 1. 2. Mr. To be given detailed information on local health services. Governments should be more cautious about adopting such radical reforms. 4. So for example. Waiting time for initial assessment in accident and emergency departments. Major. governments or regions are setting targets for reductions in infectious diseases of various kinds and in coronary disease etc. 7. To be given a clear explanation of any treatment proposed. In the United States there are sophisticated communityoriented information systems being developed with the use of Attachment 1 British Patient's Charter Rights National Standards 1. It is of concern to me that many countries are beginning to copy the UK model. 1994 23 . To have access to your health records. 3. Our communities are also becoming better educated and so demand a better quality of health care. TREND 3 – MANAGING WITH DATA Some years ago I visited Cuba to examine their health system. We can see this move focusing on quality in the expansion of accreditation systems throughout many countries. . lnformation to relatives and friends. 2. The listings which follow provide more detail of the patient's charter in Britain (see attachments 2 & 3) . Arrangements to ensure everyone. including quality standards and maximum waiting times. before you decide whether you will agree to the treatment. 9. To be referred to a consultant. acceptable to you. In particular they are setting targets for preventable diseases and health promotional activities. They have a very advanced system of community health mapping. It used to be that health service providers thought of quality as a lesser priority but now it is one of the major driving porces of health care delivery. Waiting time for an ambulance service. they have focused their standards on attempting to determine the patient's perspective on quality and service. A named qualified nurse. This concept of the patient's charter of rights is a personal initiative of the British prime minister. Attachment 3 British Patient's Charter Rights New 1. 90. through your GP or the emergency ambulance service and hospital accident and emergency departments. To be registered with a GP. can use services. 3. including people with special needs. These protocols set out what is necessary to be done for each diagnosis at each phase of care and identifying what diagnostic and treatment services are required and how the patient's treatment should be scheduled. The other unexpected outcome has been that increase in productivity has brought with it rapid patient throughput which has meant that hospitals have often spent their elective surgery budgets within the first half of the year and have no funds remaining to continue their elective surgery for the remainder of the year. their total organisational structure and their information systems are being re-designed to focus on quality. 5. Another approach that governments are using to define quality in health services is to look at the health status of the community. and to be referred for a second opinion if you and your GP agree this is desirable. midwife or health visitor responsible for each patient. Discharge of patients from hospital. To have any complaint about NHS services — whoever provides them — investigated and to receive a full and prompt written reply from the chief executive or general manager. To be guarantecd admission for treatment by a specific date no later than two years from the day when your consultant places you on a waiting list. The overall analysis suggests that there has been no real benefit in this context. To choose whether or not you wish to take part in medical research or medical studcnt training. dignity and religious and cultural beliefs. when your GP thinks it necessary. The British approach has been different. This charter of rights has been distributed widely through hospitals and thecommunity and each patient has access to the patient's charter booklet which sets out what they may expect of the health service provider. 5. Cermin Dunia Kedokteran. Around the world we see hospitals adopting continuous quality improvement and Total Quality Management Systems as apart of the central core of their management. Respect for privacy. Cancellation of operations. They then use this information to get a basis for the organisation of their health services and for developing priorities. and to know that those working for the NHS are under a legal duty to deep their contents confidential. My concern is that all the evidence on the system is not yet in. To receive health care on the basis of clinical needs regardless of ability to pay. One of the interesting developments in this regard is the increasing use by American hospitals of what have been called Standard Treatment Protocols. That is. 4. 8. including any risks and any alternatives.results in fact have been mixed. 3. that they are able to identify morbidity not only in every community but in every house in their cities. 2. This is because poor quality health care is a waste of resources.

med sheet on chart Transfer Complete record Discuss D/C plans Teaching Cath Booklet Begin post-op tcaching I Review meds./C&D8 Artline/CVP D/C NG D/C T. 90. labs. ROM NPO Dangie X 2 Ambulate tid Cardiac Diet or diet as at home-fluid restriction (DC when at pre-op wt) tid and ad lib Diet NPO 6 hrs before procedure NPO p MN Liquid diet Discharge Assess home support health habits coping ability Physician order on chart for DC mg nereds Predischarge D/C before orders. Activity UP BR —> UP Turn q 4 hr. diet. S&S to report. Labs. CXR. pacer D/C box Chest tubes D/C . activity level . appts. 1994 . IV HL (Change site) DC Central Lines Foley D/C Skin Care/ incision I & O/wt Analgesics Anticonguiartis D/C wires D/C DCI + O if at pre-op wt. Tcaching and tour Pre-op 2 4 Cermin Dunia Kedokteran . Sample Surgical Clinical Path-DRG 104: Valve Procedure with Catheterization Critical Preadmit: Occurances Tele Unit LOS Day 0 Consults SS Home nursing Dietician Tele Unitl Cath LOS Day 1 OR Day LOS Day 2 POD 1 LOS Day 3 Respiratory Therapy POD 2 POD 3 LOS Day 5 POD 4 POD 5 LOS Day 7 POD 6 LOS Day 8 POD 7 LOS Day 9 LOS Day 4 Cardiac rehab CNS Diabetic Cardiac LOS Day 6 Tests ECG.5. Neuro checks Monitor Ventilator DC ECG DC CXR D/C labs except PT continue GXT scheduled Done prior 9a Treatments (includes needs) Client lists home needs Old records to unit IV Sheath removal D/C D/C 02 D/C 2-4L 02 NC 02 pm 1. VS. Edisi Khusus No . Pre-op Labs Post-op ECG. 12 Noon scripts. labs. CXR.Attachment 4 Appendix A.

The health of the citizens of a country of course relates to the standard. Concepts of health promotion have also been with us for at least two decades. Are we then heading into a period of rationing of health care? Let's examine the situation a little more deeply. the Organisation for Economic Cooperation and Development. or the environment. transport.7 Valve Surgcry ( DRG 104-105) CABG Surgcry ( DRG 106-107) PTCA (DRG 112) * Includes anethesia fees .6 9. to local GPs. welfare and housing. breast cancer.2 2. Another aspects of community orientation of health services is our growing research base on health care screening economics. This system means that hospitals are reimbursed on the basis of the average cost of dealing with a particular diagnosis. Sometimes this extends beyond health care workers. Many of its hospitals have been carrying out community outreach programmes for more than a decade. CardiacPath'"' —Paticnt and Financial Outcomes Comparison Pre-CardiacPath Procedure Post-CardiacPath % % Averagc Total Avcragc Avcragc Total Avcragc Mortality Mortality Charges * LOS Charges * LOS $54.7 0.4 4. I think we will hear much more of this new concept. You can see. TREND 4 – COMMUNITY ORIENTATION Australia has been a leader for many years in orienting its health services to the community.7 0. I think we in health services often forget the need to coordinate with our colleagues in other sectors to help to improve the health status of our peoples. It has now been cleariy shown that cervical cancer. 90. from the chart setting out the "cardiac path" for the treatment of three types of surgery. hypertension and hypercholesterolemia are all targets for cost beneficial national screening programmes. This system which began in the United States about a decade ago has now reached Australia.computers these link hospitals to community health services.122 $33. for example in Sweden that postmen have been given a responsibility to ensure that the house-bound elderly in the community are "okay". colon cancer. disappointing.017 $37. It must be reported. It is estimated that through new bio-genetic techniques that some four thousand previously unmanageable diseases will become treatable. education. The World Health Organisation has long recognised that the health of a country is not primarily related to the nation's health services.8 10. Health care economists around the world are recognising the likely impact of these great leaps of medical science and putting them into the context of an already cash-starved health systems. Hospitals are still filled with the problems associated with lifestyle. estimates that hospital cost inflation is primarily caused by medical technology developments. Michigan Cermin Dunia Kedokteran .9 $4O. However. We can see that while bio-genetics has as potential for increasing costs it is likely that new vaccines will become available through this technology and therefore reduce infectious disease.Source : Borgess Medical Center . DRGS have now been extended. 1994 25 . Many European countries also have a regional basis for their health service delivery which puts an emphasis on care at the community level. You can see not only what will occur in each phase of care but when each phase ofcare will take place.9 2. This can all be distilled into one word –"poverty". The study which demonstrated this is now a few years old but it can be said that it is known that investment in biomedical research has increased to 4 billion dollars a year.1 3. Edisi Khusus No. Spain.3 2.e. Research I think is beginning to show us that what we mustdo in regard to influencing of lifestyles is to start withhealth promotion programmes for our children. Kalamazoo .738 10.648 $17. that the results of these programmes have been.913 $15. however. the potential cost saving implications of using these systems. Sweden and I understand parts of Asia. of managing health services through the use of data is that of "DRGS" (Diagnosis Related Groups). in large part. we already know that day surgery and diagnostic approaches have reduced costs. to standard protocols but further to the concept of developing patient critical paths for dealing with aparticular diagnosis. The most obvious example. Presently pharmaceutical products account for some 40% of a reduction of mobility in our communities and therefore there is the increased potential for further reduction as medical research proceeds also in terms of techniques. Further we can see that most nations are now setting up national programmes of technology assessments to ensure the appropriate introduction of high technology on a rational basis. In this context I have been delighted to find outMickeyMouse is coming to our aid in that the Disney Corporation is beginning to produce health promotion materials for children around the world. attachments 4 & 5) gives an indication of what is involved. of course. One example is in San Diego where half the population is covered through this network of information.4 11. The attached appendix (i. as indicated early. TREND 5 – RATIONING The Paris-based organisation – OECD.566 13. Attachment 5 Figure 4.

Attachment 7 Financial Disincentives Caesarian Sections US Data Rate 21% 23% 31% also cost savings have been demonstrated. In Africa of course the problem is deprivation. that is neither patients nor staff may smoke in the buildings or in the immediate surroundings of the hospital. This means that they have no possibility of importing drugs or equipment and as a result their pharmacies remain empty and their professionals helpless. has not held up in this horrible civil war. 90. In many countries it is now the law that the record belongs to the patient and they have access to it at all ti mes. any rational health system would lower the priority of fund allocation to bypass surgery because of its rather doubtful long-term benefits yet it would increase resources allocated to say. This multi-skilling has also occurred at the low level of employee.staggered to read recently that the health budget for some African countries is as little as 50 American cents per person per annum. The other dimension of patient focusing is in regard to medical ethics where it is now recognised that questions concerning the patient's fate or that of their family must be discussed with them and that the patient and his family take a major role in the decision-making concerning further medical procedures. In summary I think we can say that much can be done to reduce costs and pressures on services in health care but it is my personal view that rationing will have to come. The Geneva Convention whereby hospitals are sanctuaries of peace. 1994 . TREND 7– DEPRIVATION AND DISASTER Among all of the exciting developments in health care there is also a dark side and that of course is so evident in Africa and in the former Yugoslavia. Rand have also identified the impact of the health financing system on the utilization of services. This means that a true patient care team is developed at ward level. hip replacement because of the profound improvement of the quality of life of the reciopient of this particular procedure. there is a new level of professional which can carry out many of the basic professional functions. a pharmacist. That is. In government hospitals In voluntary not-for-profit hospitals In for-profit hospitals TREND 6– FOCUSING ON PATIENTS We in hospitals and health care have always put emphasis on patient care but experiments are going on in health service delivery facing a renewed examination of a health service from a patient's point of view. In Yugoslavia we have seen the grotesque sight of hospitals being targeted as military objectives. The British research on "qualies" has clearly demonstrated that health services can be delivered on a more rational basis by allocating resources relating to the quality of life expected following particular medical procedures. You can see from their data on caesarian sections what this impact is. 2 out of 5 medications unnecessary. Many us hospitals are now totally nonsmoking. This idea is also spreading internationally and is evident now in parts of Australia and in Britain and is gaining hold as a concept everywhere. The result of this restructuring has been shown to. there is also a trend to sharing information with the patient particularly the patient's records. emanating from the Rand Corporation in Los Angeles. There are also developments concerning staff training. a social worker etc. The most obvious example of this is Euthanasia in the Netherlands. whereby for example the ward cleaner takes on a broader function of food delivery to the patients and messages around the hospital as well as providing a patient comforting role. This involves the decentralisation of many of the allied health professional services so that they actually operate at ward level. in that they truly obtain the sense of being cared for by a small team of professionals. a laboratory technologist. It would seem to me that it is a model which we must all examine in a future where health care rationing seems imminent.Another interesting dimension of this question is that of appropriate utilization of resources. There is also a world wide trend to educate the patient concerning their condition and their health in general. 1 in 4 clinical procedures unnecessary. TREND 8– HEALTH SERVICE RESEARCH BASE POLICY One of the truly hopeful signs of health services development around the world in the establishment of National Health Service Research Institutes. Edisi Khusus No. That is. not only improve the patient's perspective of care. ranging to as much as 5% of operating costs. That is in each ward there will be a physiotherapist. For example in the United States there are several hospitals which have been restructured to become what are called "patient-focused hospitals". but 26 Cermin Dunia Kedokteran . that we have far to go in eliminating waste. That is for the first time countries are obtaining facts to base their health policy on rather than what has been in the past purely ideology or supposition. for example. The following chart demonstrates the phenomenon (attachment 7). I'm sure that the State of Oregon in the United States has developed this "quality" system into an operational programme which has just cleared the courts and is to be put in place in that state for Medicare patients. we can see from the attached data (attachment 6). That is there is a belief that a multi-skilled staff a more effective way of dealing with patients. These research institutes can provide information on the health of the country and the impact of its health service systems through their research activities. Another new patient-directed development is that of the non-smoking hospital. Attachment 6 Hospital Wastage (Rand Corporation Studies) 1 in 4 hospital days unnecessary. I was. Many hospitals have been destroyed and health service professionals have been killed and tortured. You will be aware.

Thank you for the honour of being invited to speak at your conference and may I wish the rest of your deliberations well. Can I then say that whilst all of the trends I've outlined today are of great interest. In short to develop Indonesian solutions to Indonesian problems. 1994 27 . 90. This means that health policy can be developed based on the following flow chart (attachment 8). The establishment of these Health Service Research Institutes and the use of data can result in rational health policy development. Cermin Dunia Kedokteran.This development is long overdue particularly when we make comparisons with industry where they spend very substantial proportions of their budget on research and development. CONTEMPLATIONS Indonesia has been one of the success stories of health status improvement over recent years. Ask yourself whether what you've just read or heard relates to a problem in your country and whether the Attachment 8 Rational Health Policy Development Community health status data ↓ Health morbidity geographic and social data ↓ Present resource allocation information ↓ Planned policy initiative ↓ Community and professional feedback ↓ Pilot initiative ↓ Evaluation of impact ↓ Policy amendment. in some industries this is as high as 30% of their input whereas in health care we tend to spend nothing or very little. Edisi Khusus No. Indeed it is true to say that you have much to show the world in regard to how to rapidly improve the health status of a nation. all countries need to carefully assess new trends before they take action to implement them. My advice would be to keep in touch with the world through reading and attendance at conferences but to digest the information carefully. abandonment or implementation problem is one which requires a priority solution.

pelayanan atau sarana. telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Mutu Pelayanan RS. 90. manajemen mutu. Sekitar 20 abad sebelum Masehi pada zaman Hammurabi dari Babilon telah dikenal upaya-upaya peningkatan mutu pelayanan. Perbaikan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia. SEJARAH PERKEMBANGAN Upaya peningkatan mutu pelayanan. Jakarta . dimanahasil penelitian Carnegie Foundation (Flexner Report) yang dipublikasikan pada tahun 1910. diikuti dengan ditutupnya beberapa fakultas kedokteran yang tidak memenuhi syarat. 21 . peningkatan mutu berkesinambungan. Selain persepsi yang berbeda. istilahpun sering menjadi topik yang menarik untuk diperdebatkan. Di Inggris. sebenarnya bukanlah yang baru. sistematik dan berlanjut serta memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan. 28 Cermin Dunia Kedokteran . tahun 1918 standar minimum saranaRS. program peni ngkatan mutu pada umumnya berupa penyusunan standar tenaga. dan memecahkan masalah-masalah yang terungkapkan sehingga pelayanan yang diberikan di rumah sakit berdaya guna dan berhasil guna. program peningkatan mutu. Jakarta PENDAHULUAN Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama yang akan berakhir dengan berakhirnya Repelita V ini. tahun 1946 di Amerika Serikat dikeluarkan Hill Burton Act yang mengatur tata laksana perluasan (termasuk biaya) rumah sakit. Pada tahun 1912 Joint Committee for Consideration of Standardization of Visiting Nurse menyusun standar ketenagaan perawat sedangkan Kongres Ahli Bedah Amerika Utara menyusun standar pelayanan bedah pada tahun 1915. termasuk pula pelayanan kesehatan. Florence Nightingale (1820— 1910) melakukan perbaikan mutu pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan. Konsumen mengartikan pelayanan yang bermutu apabila pelayanan tersebut ramah. Perbedaan persepsi tersebut sering mengakibatkan keluhan akan pelayanan. Walaupun banyak istilah yang digunakan namun pada dasarnya program peningkatan mutu adalah "keseluruhan upaya dan kegiatan yang komprehensifdan integratif yang memperbaiki struktur.25 November 1993 . Banyak istilah yang dipakai dalam program mutu ini seperti antara lain program menjaga mutu. Masyarakat semakin menginginkan pelayanan umum lebih baik. dan lain sebagainya.Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit Dr Broto Wasisto." Oleh karena tujuan akhir adalah meningkatkan mutu pelayanan maka Departemen Kesehatan telah menetapkan istilah untuk program mutu adalah Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. Sejarah perbaikan mutu. American Medical Association (1876) mulai melakukan pembenahan pendidikan dokter. Di Amerika Serikat. Tuntutan dan harapan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu semakin terasa. 1994 program peningkatan mutu pelayanan. demikian pula pada zaman Hippocrates sekitar 25 abad sebelum Masehi. Sebelum tahun 1950. Keadaan sosial-ekonomi dan pendidikan 'masyarakat semakin tinggi sehingga orientasi sistem nilaipun telah berubah. Makalah ini akan membahas manajemen mutu dengan sistematika sebagai berikut : Pendahuluan. program peningkatan . Edisi Khusus No. nyaman dan menyenangkan sedangkan provider mengartikan mutu apabila pelayanan sesuai dengan standar. MPH Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Setelah itu pada tahun 1917 telah disusun standar minimum staf inedik rumah sakit. program pengawasan mutu. Namun disadari ada perbedaan persepsi mutu antara konsumen dan provider. proses dan outcome dari pelayanan kesehatan yang dilakukan secara obyektif. Setelah tahun 1950 sampai tahun 1970.

Keadaan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadapmutu pelayanan yang diberikan. C. Apabila di luar negeri program peningkatan mutu dimulai sebelum tahun 1950. Ada yang melakukan penilaian mutu berdasarkan derajat kepuasan pasien.4% rumah sakit pemerintah. dan rumah sakit swasta setara. Hal ini tentunya juga akan mempengaruhi mutu pelayanan. Dari pengkajian diagnosis rumah sakit oleh HSF Usaid secara umum dapat dikemukakan bahwa rumah sakit kelas A dan B memiliki tenaga paramedik perawatan dan non medik yang cukup jumlahnya sedangkan tenaga medik nampaknya berlebihan.5% dan Jawa-Bali 58%. yang prinsip-prinsip dasar- komial. utilization review (1960) dan peer review (1970). 11. Setelah tahun 1983 mulai diperkenalkan quality improvement program. Untuk tahun 1991 telah dilengkapi dengan indikator kebersihan dan ketertiban rumah sakit dan yang dievaluasi kelas B. Kemudian tahun 1975 mulai diperkenalkan cost containment. Diagnostic Related Group System. namun standar kepegawaian yang digunakan sekarang masih perlu dievaluasi kembali dan komposisi tenaga medik masih kurang serasi.9% rumah sakit ABRI dan 7. Tenaga perawat penyebarannya lebih baik: DKI 17.7% rumah sakit milik BUMN. di mana masih banyak permasalahan yang dijumpai. Mutu pelayanan tak terlepas dari mutu keperawatan. mengadakan pelatihan dan bimbingan teknis petugas rumah sakit. kegiatan outcome audit dan risk management. a) b) Tenaga Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan rumah sakit maka dilakukan penyebaran dokter 4 spesialis dasar ke rumah sakit-rumah sakit pemerintah khususnya rumah sakit umum di kabupaten dan kotamadya. Dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Hampir 70% dokter bertugas di pulau Jawa-Bali dan 23% di DKI. dimana pada tahun 1952 komisi ini telah berhasil menyusun standar pelayanan terutama tentang tindakan pembedahan. maka di Indonesia langkah awal yang sangat mendasar dan terarah yang telah dilakukan Departemen Kesehatan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan adalah penetapan kelas rumah sakit pemerintah melalui SK Menkes No. penggunaan obat secara rasional dan yang akhir-akhir ini mulai berkembang di rumah sakit adalah penerapan gugus kendali mutu dan manajemen mutu terpadu. Program peningkatan mutu yang lainnya adalah pemenuhan standar ketenagaan yaitu dengan mengirim dokter empat spesialis dasar untuk rumah sakit kelas C. Kemudian dari tahun ke tahun disusun berbagai standar baik menyangkut pelayanan. keadaan tersebut merupakan perbaikan yang bermakna. Untuk rumah sakit swasta telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. Temuan lainnya adalah banyaknya tenaga dokter rumah sakit pemerintah yang bekerja sebagai tenaga parttimerdi rumah sakit swasta dan banyaknya tenaga honorer di semua rumah sakit. 90. Perkembangan program peningkatan mutu semakin pesat setelah tahun 1970. Tahun 1976 infection control standard. juga dilengkapi dengan standar berdasarkan kemampuan pelayanan. Dari jumlah rumah sakit tersebut 36% adalah rumah sakit swasta. Selain itu Departemen Kesehatan juga mengeluarkan berbagai pedoman (guidance) untuk meningkatkan penampilan rumah sakit. penilaian melalui infeksi noso- . Di rumah sakit kelas C dan D pada umumnya kekurangan tenaga untuk semua katagori. Hal tersebut karena adanya pengaruh dari program yang sama yang diterapkan pada sektor industri dan dimotori terutama oleh negara Jepang. Edisi Khusus No. Permasalahan umum mengenai tenaga adalah jumlah dan mutu yang tak memenuhi serta distribusi yang tidak merata. ANALISIS SITUASI MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT Gambaran umum rumah sakit Pada tahun 1990 terdapat 938 rumah sakit umum dengan 108. hanya distribusinya masih timpang. Indikator ini setiap dua tahun ditinjau kembali dan disempurnakan. 033Birhup/1972. Program yang berkembang setelah tahun 1970 adalah diperkenalkan Professional Standard Review Organization di Amerika pada tahun 1972. Hal tersebut terlihat dengan dibentuknya Joint Commision on the Acreditation of Hospital pada tahun 1950. Upaya lainnya dalam peningkatan mutu pelayanan adalah dilakukan medical audit (1956). Dengan telah disusunnya standar tersebut maka pada tahun 1953 dilakukan akreditasi rumah sakit. Untuk itu agar ada persamaan persepsi maka Departemen Kesehatan telah mengeluarkan buku pedoman program peningkatan mutu pelayanan yang kemudian dilanjutkan dengan pengadaan pelatihan peningkatan mutu. tahun 1979 quality assurance standard dan tahun 1983 peer review organization. Upaya peningkatan kemampuan dan ketrampilan tenaga perawat melalui pelatihan-pelatihan belum mampu Cermin Dunia Kedokteran. Pada tahun 1984 Departemen Kesehatan telah mengembangkan berbagai indikator untuk mengukur dan mengevaluasi penampilan rumah sakit pemerintah kelas C dan rumah sakit swasta yang setara yaitu dalam rangka Hari Kesehatan Nasional. penilaian mutu berdasarkan penilaian perilaku dan penampilan kerja perawat.133 jumlah tempat tidur. 806b/Menkes/SK/XII/1987 . Pada awalnya ditetapkan kriteria dari masingmasing kelas yang kemudian berkembang menjadi standarstandar. Tenaga yang merisaukan jumlahnya adalah tenaga paramedis. D. sarana dan prasarana untuk masing-masing kelas rumah sakit. 1994 29 nya sebenarnya tidaklah berbeda dengan program peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Selain hal di atas secara sendiri-sendiri beberapa rumah sakit telah mengadakan monitoring dan evaluasi pelayanan rumah sakit. Sampai saat ini belum ada standarisasi tenaga perawat yang sesuai dengan peran dan fungsinya. Namun disadari sampai saat ini banyak rumah sakit masih kekurangan tenaga medik demikian pula untuk tenaga paramedik.mutu semakin aktif diselenggarakan. yang selain menetapkan kelas rumah sakit. 44. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kesadaran untuk meningkatkan mutu sudah cukup meluas walaupun dalam penerapannya sering ada perbedaan. Pada tahun 1990 secara umum dokter yang bekerja di sarana-sarana pelayanan kesehatan jumlahnya sudah cukup memadai. ketenagaan. continuous quality improvement program dan total quality management.

mengatasi kesenjangan antara tuntutan peningkatan mutu pelayanan keperawatan dan kemajuan IPTEK kesehatan/keperawatan. Pengembangan karier tenaga perawat ke arah profesionalisme, melalui penyelenggaraan pendidikan berjenjang belum terarah jelas. Tanpa melalui pendidikan berkelanjutan, pengembangan profesionalisme sulit diwujudkan. Pemahaman terhadap budaya melayani dirasakan masih kurang, hal tersebut terlihat dalam melakukan tugasnya perawat kadang-kadang kurang tanggap dan kurang ramah. Selain itu uraian tugas, peran dan fungsi setiap katagori perawat berdasarkan jenjang pendidikan belum ditetapkan secara jelas dan kualifikasi tenaga perawat untuk jenjang dan jenis keperawatantertentu masih perlu ditetapkan. Kesemuanya itu tentunya akan mempengaruhi mutu pelayanan khususnya mutu asuhan keperawatan di RS. Managerial skill dan technical skill perawat masih kurang. Keadaan tersebut sering menjadi keluhan khalayak ramai. c) Dana Beberapa masalah yang dihadapi dalam pembiayaan kesehatan antara lain : keterbatasan biaya, penggunaan biaya yang kurang efisien dan distribusi yang kurang merata. Bila dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB), maka total biaya kesehatan secara relatif menunjukkan kecenderungan menurun. Untuk kurun waktu lima tahun (1982–1987) persentase biaya kesehatan terhadap PDB berturut-turut adalah 2,78%, 2,48%, 2,23%, 2,39% dan 2,51%. Angka tersebut belum pernah mencapai 3% PDB, apalagi mencapai 5% PDB seperti direkomendasikan oleh WHO. Di Thailand pengeluaran untuk kesehatan mencapai 5,1% GNP (1985), RRC mengeluarkan 3,1% (1985), Korea 4,3% (1986) dan Philipina 2,4% (1985). Bila dirinci lebih jauh mengenai anggaran pemerintah, maka anggaran yang dialokasikan oleh Departemen Kesehatan untuk rumah sakit hanya sekitar 45%, dan hampir 95% di antaranya untuk kegiatan kuratif. Sistem pembayaran di rumah sakit kebanyakan masih fee for service dan out of pocket, sedangkan pembayaran melalui sistem asuransi masih terbatas. Keseluruhan pendapatan rumah sakit pemerintah (revenue) harus disetor kepada kas negara pada hari yang sama. Akhir-akhir ini beberapa RS Pemerintah telah ditingkatkan menjadi RS Unit Swadana yang berarti RS dapat menggunakan langsung pendapatnya. Biaya rumah sakit pemerintah dapat berasal dari berbagai sumber yang disalurkan pemerintah, melalui jalur yang cukup banyak dan terpecah-pecah. Keadaan ini mencerminkan kurangnya koordinasi dan integrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan. Akibatnya penggunaannya menjadi kurang efisien. Di samping itu terjadi pula ketidak seimbangan antara biaya pembangunan dan biaya operasional dan pemeliharaan. Kenaikan anggaran pembangunan tidak selalu disertai dengan kenaikan yang memadai dari anggaran operasional dan pemeliharaan. Biaya operasional dan pemeliharaan pada RS Pemerintah hanya dialokasikan sebesar 50%. Subsidi pemerintah untuk rumah sakit pemerintah sangat besar karena tarif yang terlalu rendah. Adanya kendala dana tadi akhirnya akan mempengaruhi upaya peningkatan mutu pelayanan. Rumah sakit pemerintah

sangat sulit dapat memelihara sarana fisik dan kegiatan-kegiatannya. Dengan konversi beberapa rumah sakit menjadi unit swadana maka kendala-kendala di atas untuk sebagian dapat dikurangi. Fasilitas Gedung rumah sakit pemerintah maupun swasta kebanyakan dirancang tidak tuntas dan banyak yang belum mengikuti kaidah-kaidah rumah sakit, seperti zoning yang baik, flow of patients yang efisien dan etis, pembuangan limbah, erosi, dan lain sebagainya. Selain itu, lingkungan rumah sakit banyak yang masih kotor terutama di rumah sakit pemerintah. Hal ini menurunkan citra pelayanan pada banyak rumah sakit. Diharapkan secara bertahap citra ini akan menjadi lebih baik. Alat-alat di rumah sakit sangat bervariasi. Perbaikan sosial ekonomi dan kemajuan iptek kedokteran akan mempengaruhi perkembangan rumah sakit seperti misalnya penyediaan fasilitas dan alat di rumah sakit. Dengan berkembangnya iptek kedokteran, maka banyak ditemukan alat-alat canggih. Walaupun alat canggih tersebut dapat meningkatkan mutu pelayanan, namun banyak masalah yang dihadapi dengan banyaknya alat canggih yang ada misalnya biaya kesehatan yang dapat meningkat. Selain itu, diperlukan tenaga yang profesional untuk dapat menerapkan teknologi tersebut. Alat canggih, macam dan jenisnya sangat banyak. Departemen Kesehatan mencoba menginventarisir alat-alat canggih dan didapatkan data sementara (tahun 1990) bahwa alat canggih lebih banyak di rumah sakit swasta dari pada rumah sakit pemerintah. Sebagai contoh di rumah sakit pemerintah MRI = 1, CT scan = 5 dan ESWL = 1, sedangkan di rumah sakit swasta MRI = 2, CT scan = 10, ESWL = 9. Ternyata utilisasi (pemanfaatan) alat-alat canggih tersebut masih cukup rendah (35%). Hasil rangkuman pengkajian diagnosis rumah sakit yang dibiayai oleh Usaid mendapatkan data bahwa pada umumnya rumah sakit telah memiliki perangkat kemampuan maupun pengetahuan teknis untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kelasnya, meskipun perangkat di rumah sakit tersebut masih sederhana. Pelayanan dengan menggunakan alat-alat kadang-kadang terganggu, sebab-sebab gangguan adalah : • Pemeliharaan sarana tidak memadai, di antara rumah sakit yang dikaji, tidak satupun yang melaksanakan preventive maintenance. • Keterpaduan antara tenaga dan peralatan kurang serasi. • Alat pembantu seperti reagensia tidak tersedia pada waktunya. Pengkajian ini juga menemukan bahwa kemampuan manajemen sangat menentukan mutu pelayanan yang dicerminkan dari lama tunggu untuk memperoleh pelayanan. Contohnya ialah lama perawatan pra-bedah di rumah sakit kelas B ditemukan berkisar antara 5,8 dan 9,4 hari. Lama perawatan prabedah ini menunjukkan kurangnya koordinasi antara pelayanan penunjang seperti laboratorium, radiologi, ruang rawat dan ruang bedah. Selain itu, pengkajian diagnosis rumah sakit juga mend)

30

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

dapatkan data bahwa kelengkapan catatan medik masih terbatas sekali. Misalnya catatan mengenai penyakit terdahulu yang pernah diderita dan working diagnosis sering tidak ada. Telah dicoba untuk menilai mutu pelayanan terhadap penyakit-penyakit tertentu (tracer conditions). Upaya ini tidak berhasil karena tidak lengkapnya catatan medik. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu catatan medik belum memadai untuk dapat digunakan sebagai alat penilai mutu pelayanan medik di rumah sakit. e) Pemanfaatan Pemanfaatan rumah sakit masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan angka tingkat pemanfaatan tempat tidur yang masih rendah, yakni secara keseluruhan di bawah 55%, baik untuk rumah sakit pemerintah maupun swasta. Lima tahun terakhir pemanfaatan tempat tidur (BOR) rumah sakit pemerintah sekitar 57%, swasta 54%, sedangkan ABRI dan Departemen lain sangat rendah yaitu 45-50%. Menurut hasil penelitian Bank Dunia di Indonesia (1988) menunjukkan bahwa salah satu penyebab rendahnya pemanfaatan rumah sakit oleh masyarakat disebabkan mutu pelayanan yang rendah. Khususnya bilamana hal ini dikaitkan dengan ketenagaan yang tersedia dan pelayanan spesialistik yang ada. Data menunjukkan bahwa rumah sakit yang memberikan pelayanan bedah angka pemanfaatannya 42% lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumah sakit yang tingkatannya sama tetapi tidak memberikan pelayanan bedah. Penempatan seorang dokter ahli dapat meningkatkan angka pemanfaatan sebesar 83%. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa mutu pelayanan yang rendah merupakan faktor yang menonjol penyebab rendahnya tingkat pemanfaatan rumah sakit di Indonesia. Penempatan seorang dokter spesialis dan penyediaan fasilitas bedah di rumah sakit kabupaten dapat meningkatkan secara bermakna mutu dan juga kuantitas pelayanan. Total biaya dapat meningkat tetapi satuan biaya dapat menjadi rendah oleh karena pemanfaatan meningkat. Selama kurun waktu lima Pelita LOS dan NDR mengalami penurunan. Pada akhir Pelita I LOS =10 dan NDR = 50 dan pada tahun I Pelita V LOS = 6 dan NDR = 21. Dengan semakin rendahnya LOS dan NDR dapat diartikan bahwa mutu pelayanan di rumah sakit (diukur dengan output) bertambah baik. Pada tahun 1985, di beberapa tempat telah dilakukan evaluasi pemanfaatan rumah sakit oleh penduduk dan didapatkan angka hari rawat penduduk per tahun adalah 80 hari rawatper 100 penduduk. Sebagai perbandingan di Sri Langka adalah 161 hari rawat, di China 476 hari rawat, dan di Inggris 2000 hari rawat per 1000 penduduk. Rendahnya pemanfaatan rumah sakit di banyak tempat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kemampuan membayar dari masyarakat, sikap dan perilaku penduduk, mutu pelayanan rumah sakit, sikap dan perilaku petugas rumah sakit dan lain sebagainya. Pada pengkajian diagnosis rumah sakit ditemukan bahwa di Jawa Timur dan Bali tingkat kepuasan terhadap dokter di antara penderita asuransi kesehatan lebih rendah dibanding tingkat kepuasan penderita non peserta asuransi kesehatan. Sedangkan

di Sumatera Barat ditemukan bahwa penilaian masyarakat terhadap citra rumah sakit pemerintah lebih rendah dibanding dengan rumah sakit swasta. Kesemuanya ini tentunya mempengaruhi pemanfaatan rumah sakit. f) Peraturan Beberapa peraturan menyebabkan pula terj adinya inefisiensi dalam pengelolaan biaya-biaya yang ada. Sebagai contoh peraturan ICW mengharuskan agar semua penerimaan dari fasilitas kesehatan milik pemerintah disetorkan ke kas negara dan kemudian akan dikembalikan lagi ke fasilitas termaksud dalam bentuk anggaran rutin pemerintah pada tahun berikutnya. Cara ini memakan waktu dan birokrasi yang cukup rumit. Belum lagi biaya yang akan diterima kembali kadang-kadang jumlahnya lebih kecil dari yang disetorkan, di samping jadwal waktunya terlambat. Begitu pula anggaran yang sampai ke RS Pemerintah hanya boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang sudah sangat dirinci. Akibatnya penggunaan anggaran menjadi sangat kaku. PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN Peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat diartikan keseluruhan upaya dan kegiatan secara komprehensif dan integratif memantau dan menilai mutu pelayanan kesehatan, memecahkan masalah-masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya, sehingga mutu pelayanan kesehatan diharapkan akan lebih baik. Tinggi rendahnya mutu sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor : 1) Sumber daya rumah sakit, termasuk antara lain tenaga, pembiayaan, sarana dan teknologi yang digunakan. 2) Interaksi kegiatan yang digerakkan melalui proses dan prosedur tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan jasa atau pelayanan. Berhasil tidaknya peningkatan mutu sangat tergantung dari monitoring faktor-faktor di atas dan juga umpan balik dari hasilhasil pelayanan yang dihasilkan untuk perbaikan lebih lanjut terhadap faktor-faktor dalam butir 1 dan 2. Dengan demikian nampak bahwa peningkatan mutu merupakan proses yang kompleks yang pada akhirnya menyangkut managemen rumah sakit secara keseluruhan. Adanya berbagai aspek dan faktor yang terkait dan berperan dalam menentukan mutu pelayanan maka definisi yang tepat tentang mutu sangat sukar. Karena itu ada beraneka definisi yang dikemukakan dalam kepustakaan, tergantung dari sudut pendekatan mana yang dipilihnya. Joint Commision on Accreditation of Healthcare Organizations mendefinisikan mutu pelayanan kesehatan adalah dipenuhinya standar profesi yang baik dalam pelayanan medik dan terwujudnya hasil akhir (outcome) seperti yang selayaknyadiharapkan yang menyangkut : perawatan pasien, diagnosis, prosedur atau tindakan dan pemecahan masalah klinis. Dari definisi tersebut jelas kemudian untuk mengukur mutu diperlukan standar, kriteria dan indikator. Ada perbedaan yang relatif di antara ketiganya dalam arti konsep, namun seringkali dalam praktek istilah-istilah itu dipakai secara berbaur untuk maksud yang sama. Indikator tak lain adalah ukuran atau
31

Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994

cara mengukur sehingga menunjukkan suatu indikasi. Ia suatu variabel yang digunakan untuk bisa melihat perubahan. Indikator yang baik adalah yang sensitif tapi juga spesifik, sedangkan kriteria adalah spesifikasi dari indikator dan standar adalah spesifikasi yang eksak dan kwantitatif daripada kriteria, Dengan akan berakhirnya Repelita V, dimana kita akan memasuki tahap tinggal landas pembangunan, salah satu prakondisi yang harus dipenuhi adalah meningkatnya mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan yang nyata. Peningkatan mutu pelayanan merupakan prioritas, terutama di Rumah sakit Kelas C. Untuk meningkatkan mutu pelayanan tersebut, Departemen Kesehatan semenjak Pelita I hingga sekarang, telah melaksanakan upaya peningkatan mutu pelayanan secara bertahap. Upaya tersebut dilaksanakan melalui pembangunan sarana, prasarana, pengadaan peralatan dan ketenagaan serta perangkat lunak lainnya, sejalan dengan pembangunan rumah sakit pada umumnya. Namun demikian, disadari pula masih banyak kendala yang dihadapi, terutama yang berkaitan denhgan standar kebutuhan dan tuntutan sistem pelayanan yang masih belum selaras dengan perkembangan iptek kedokteran yang semakin pesat dimana pelayanan spesialistik dan sub spesialistik cenderung semakin berkembang. Mengingat masih adanya kendala dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan khususnya pelayanan rumah sakit maka dalam rangkapeningkatan mutu pelayanan kesehatan diperlukan perumusan tujuan, sasaran, program dan strategi di rumah sakit. 1) Tujuan
Umum

Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui program peningkatan mutu pelayanan secara efektif dan efisien agar tercapainya derajat kesehatan yang optimal.
Khusus

Tercapainya peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara efektif dan efisien melalui : – Optimasi tenaga, sarana dan prasarana. – Pemberian pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan yang dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan kebutuhan pasien. – Pemanfaatan teknologi, hasil penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan. 2) Sasaran Sasaran utama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah secara umum tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya melalui pelayanan kesehatan. Secara khusus, sasarannya adalah : – Menurunkan angka kematian – Menurunkan angka kesakitan (re admission rate untuk rumah sakit) Menurunkan angka kecacatan Penggunaan obat secara rasional Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan Efisiensi penggunaan tempat tidur, dan lain-lain.
32
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No . 90, 1994

Strategi Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit maka disusunlah sebagai berikut : 1) Rumah sakit harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip mutu pelayanan rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik sehingga dapat menyusun upaya peningkatan mutu di masing-masing rumah sakit. 2) Memberi prioritas kepada peningkatan sumber daya manusia di rumah sakit termasuk di dalamnya meningkatkan kesejahteraan karyawan, memberikan imbalan yang layak, program keselamatan dan kesehatan kerja, program diklat, dan sebagainya. 3) Menciptakan budaya mutu di rumah sakit. Termasuk di dalamnya menyusun program mutu rumah sakit, menyusun tema yang akan dipakai sebagai pedoman, memilih pendekatan yang dipakai (quality assurance, GKM, TQM, dan lain-lain). Kemudian juga menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi. 4) Intervensi pada 9 bidang pelayanan. Dalam upaya meningkatkan efisiensi manajemen dan mutu pelayanan serta meningkatkan cost recovery rumah sakit, maka pada tahun 1989 Departemen Kesehatan telah mengadakan survei diagnosis di rumah sakit kelas B, C, D dan swasta yang terletak di tiga propinsi yaitu Bali, Sumatera Barat dan Jawa Timur. Berdasarkan hasil survei, untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit perlu dilakukan intervensi pada 9 pelayanan yaitu : penyempurnaan rekam medis penyempurnaan sistem informasi manajemen penyempurnaan sistem akuntansi penyempurnaan sistem pembiayaan – penyempurnaan konsep pola penetapan tarif – penyusunan standar pelayanan rumah sakit – penyusunan standar pelayanan farmasi – penyempurnaan organisasi rumah sakit – penyempurnaan peraturan dan perundangan Sembilan intervensi ini telah mulai dilaksanakan di rumah sakit terutama yang dikonversi menjadi unit swadana. 4) a)
1)

3)

Langkah-langkah kegiatan Di tingkat nasional
Perizinan

• Sesuai dengan PP No. 1/1988 dan Permenkes No. 385/1988 tentang pelaksanaan masa bakti dan izin praktek bagi dokter dan dokter gigi, tenaga medis dalam melaksanakan tugas harus mempunyai Surat Penugasan (SP) dan Surat Izin Praktek (SIP). SP ini merupakan pengganti dari SID. • Sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, setiap sarana kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta harus mempunyai izin. Pelanggaran dari ketentuan tersebut akan mendapat sangsi bisa berupa kurungan atau denda sebesar 15 juta rupiah.
2)

Ketenagaan

• Pemberian ijasah bagi dokter yang baru lulus dan brevet keahlian kepada dokter spesialis yang telah lulus merupakan salah satu program menjaga mutu. Sedangkan untuk dokter

Dalam tahun anggaran 1991/1992 lomba tersebut ditambah dengan lomba Gerakan Rumah Sakit Bersih. standar ketenagaan. Juga ditetapkan adanya Komite Farmasi dan Terapi. 4) Pembiayaan • Untuk meningkatkan citra rumah sakit Pemerintah maka rumah sakit Pemerintah mendapat biaya operasional dan pemeliharaan rumah sakit (OPRS). 90. PKMRS. hematologi. . teknik kamar bedah. dialisis. koroner. Walaupun manajemen mutu terpadu tersebut Iebih cocok untuk perusahaan manufaktur. namun ada rumah sakit yang pernah melaksanakan TQM ini. • Untuk mengatasi keterbatasan biaya operasional maka secara bertahap rumah sakit pemerintah akan dikonversikan menjadi unit swadana. infeksi nosokomial. Peralatan dan Penampilan • Rumah sakit Pemerintah dilengkapi dengan sarana. perawatan ortopedi. Juga dilakukan penempatan tenaga dokter spesialis radiologi. Selain itu dokter spesialis mata. gigi ortotik prostetik. • Mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk tenaga medis maupun paramedis perawatan dan non perawatan. rehabilitasi medik ditempatkan untuk melengkapi RSU kelas C. ASI. Standar pelayanan rumah sakit merupakan langkah awal dari pelaksanaan akreditasi. b) Di tingkat sarana pelayanan kesehatan (rumah sakit) 1) Program Quality Assurance/Quality Improvement Pada umumnya yang telah dilaksanakan adalah case review. RS Husada melaksanakan pengukuran derajat kepuasan pasien. Edisi Khusus No. seminar dan latihan-latihan lainnya. Misalnya : Rumah Sakit Dr. medicaU surgical ICCU. • Untuk meningkatkan mutu pelayanan maka penempatan dokter spesialis 4 dasar di RSU kelas C lebih ditingkatkan. 2) Manajemen Mutu Terpadu (TQM) TQM merupakan suatu sistem manajemen yang melibatkan seluruh lapisan organisasi dalam mengendalikan dan meningkatkan mutu secara terpadu. • Standarisasi Telah disusun standar pelayanan rumah sakit yang merupakan integrasi dari standar pelayanan medik dan terapi. Rumah sakit unit swadana akan diberi kewenangan mengelola penerimaan fungsionalnya sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatannya. Sedangkan sertifikat diberikan kepada tenaga medis dan paramedis yang telah selesai mengikuti penataran. • Untuk meningkatkan mutu penampilan rumah sakit maka setiap memperingati Hari Kesehatan Nasional diadakan lomba penilaian penampilan rumah sakit Pemerintah maupun rumah sakit swasta. Soetomo Surabaya telah melaksanakan pengendalian infeksi nosokomial. dan lain-lain. Kegiatan ini terutama telah dilakukan di rumah sakit pendidikan. Kegiatan GKM ini telah dilaksanakan di beberapa rumah sakit yang akan dikonversikan menjadi rumah sakit unit swadana yaitu RS Pasar Rebo. 4) Program-program khusus Program khusus ini dilaksanakan di rumah sakit sesuai dengan kebutuhannya. dalam GKM masalah yang dibahas adalah masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari dalam bekerja di tingkat pelaksana atau operator. Untuk itu ada kewajiban penggunaan obat generik di sarana kesehatan pemerintah. • Akreditasi Untuk meningkatkan mutu pelayanan telah dipersiapkan standar dalam rangka akreditasi rumah sakit dan dipersiapkan instrumen dan uji coba. Selain itu dilakukan pula penelitian ulang manfaat obat yang beredar. cancer unit. Prasarana. 1994 33 . Klasifikasi • Telah disusun standar penetapan kelas rumah sakit baik untuk rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta. Semuanya tadi dapat memberikan gambaran tingkat pengetahuan dari berbagai macam tenaga kesehatan. Dengan adanya klasifikasi rumah sakit ini diharapkan dapat meningkatkan mutu rujukan pelayanan secara berjenjang. 5) Pengembangan standar profesi Penyusunan dan evaluasi terus menerus standar profesi di rumah sakit. dan lain-lain. dan lain-lain. Misalnya review kasus bedah. UGD. Perbaikan terus menerus akan terjadi kalau setiap orang melakukan usaha secara terus menerus dalam memecahkan masalah yang timbul. menilai atau me-review mutu dan kelayakan pemberian pelayanan kepada pasien. Falsafah dasar TQM adalah perbaikan terus menerus. Cermin Dunia Kedokteran. Misalnya : HMT. THT. patoIogi klinik. 5) Program-program • Penggunaan obat secara rasional Dalam rangka meningkatkan mutu pengobatan maka obat yang ada harus digunakan secara rasional. Setiap rumah sakit pemerintah maupun swasta secara bertahap diharapkan dapat menerapkan standar dan kriteria tersebut. Namun berlainan dengan TQM. dan lain-lain. 3) Sarana.lulusan luar negeri harus melakukan adaptasi dulu dan untuk dokter dari Fakultas Kedokteran swasta harus ikut ujian negara dulu sebelum dapat ijasah. Misalnya: peralatan mata dan THT untuk RS Kelas C. RS Tegalyoso. formularium rumah sakit. patologi anatomi dan forensik. Pendidikan dan pelatihan tersebut meliputi managerial skill dan technical skill. prasarana dan peralatan sesuai dengan kebutuhan. prasarana dan keperawatan. review penggunaan obat. disertai dengan tenaga paramedik perawatan dan paramedik non perawatan sesuai dengan kebutuhan. standar sarana. PICU. 3) Gugus Kendali Mutu (GKM) Merupakan salah satu bentuk penerapan falsafah dasar manajemen mutu terpadu yaitu melakukan perbaikan terus menerus. anestesi dan tenaga apoteker. Direncanakan rumah sakit yang akan dikonversikan ke dalam unit swadana harus melalui akreditasi terlebih dahulu atau setidak-tidaknya menggunakan dasar-dasar akreditasi. saraf.

3) Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak Para politisi dan pakar ilmu sosial termasuk ekonom dan 2) . 34 Cermin Dunia Kedokteran. 90. dan bagaimana konsumsinya serta berapa besar manfaatnya. 21 — 25 November 1993. yaitu : (1) pelayanan kesehatan apa yang perlu diproduksi. Oleh sebab itu. Ekonomi kesehatan jugamenyangkutpertanyaan-pertanyaan tersebut. Ciri-ciri khusus inilah yang membuat aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan muncul sebagai sub-disiplin il mu baru. manajemen dan evaluasi sektor kesehatan. (3) bagaimana mobilitasi dana kesehatan (siapa yang membayar dan berapa besar). yang merupakan inti pokok makalah ini. Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo . dan lain-lain. (2) berapa besar biaya produksinya. Seringkali keputusan p. pakaian. Oleh karena sektor kesehatan mempunyai ciri khusus yang menonjol.Aspek Ekonomi Pelayanan Kesehatan Ascobat Gani Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta PENDAHULUAN Selamaini dimensi ekonomi dalamperencanaan. Jakarta. umumnya orang tidak banyak bisa menduga tentang penyakit apa yang akan dialaminya di masa yang akan datang. dalam bagian pertama dibahas tentang ciri-ciri khusus tersebut. rumah. Edisi Khusus No. seperti akan diuraikan berikut ini. (4) bagaimana utilisasi pelayanan kesehatan (siapa yang menggunakan dan berapa banyak) dan (5) berapa besar manfaat (benefit) investasi pelayanan kesehatan tersebut. Makalah ini khusus menyoroti aspekproduksi dan konsumsi pelayanan kesehatan. Dalam bagian ke dua disampaikan aspek produksi (supply) dan konsumsi (demand) pelayanan kesehatan (khususnya RS). Ilmu ekonomi sendiri pada dasarnya adalah ilmu tentang pilihan. sebab itu juga tidak diketahui secara pasti pelayanan kesehatan apa yang ia butuhkan. yaitu pilihan tentang komoditi apa yang perlu diproduksi (kebutuhan manusia). Ini disebabkan karena umumnya konsumer tersebut tidak tahu banyak tentang jenis pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukannya. Oleh. yaitu dalam rangka keterbatasan sumberdaya. Adanya ketidak pastian (uncertainty) ini berarti seseorang menghadapi suatu risiko (risk) akan sakit dan oleh karenanya juga risiko harus mengeluarkan biaya pengobatan. banyak asumsi-asumsi yang lazim dipergunakan dalam telaah ekonomi tidak berlaku untuk sektor kesehatan. bagaimana memproduksinya. yaitu dalam suatu bentuk asuransi. manajemen dan evaluasi pelayanan kesehatan jarang atau sedikit sekali mendapat perhatian. menyebabkan asumsi-asumsi tertentu dalam ilmu ekonomi tidak berlaku atau tidak seluruhnya berlaku apabila diaplikasikan untuk sektor kesehatan.rofesional tersebut sama sekali lepas dari pertimbangan biaya dan kemampuan membayar si pasien. khususnya pelayanan rumah sakit. Kesadaran akan adanya risiko inilah yang mendorong orang untuk mau secara bersama-sama menanggungnya. aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan perlu memperhatikan sifat atau ciri khusus sektor kesehatan. Consumer ignorance Ciri yang sangat khusus adalah besarnya ketergantungan konsumer pada penyedia (provider) pelayanan kesehatan. Sifat atau ciri khusus tersebut. yaitu ketika sektor kesehatan menghadapi kenyataan bahwa sumberdaya yang tersedia (khususnya dana) semakin hari jumlahnya semakin jauh dari mencukupi. Providerlah (profesional) yang menentukan jenis dan volume pelayanan yang perlu dikonsumsi (jadi juga dibayar) oleh konsumer. Keterbatasan sumberdaya tersebut mendorong masuknya disiplin il mu ekonomi dalam perencanaan. Ciri khusus tersebut adalah sebagai berikut : 1) Kejadian penyakit tidak terduga Berbeda dengan pengetahuan orang tentang kebutuhannya akan berbagai komoditi ekonomi seperti makanan. Perubahan mendasar terjadi selama dua dekade terakhir. 1994 CIRI SEKTOR KESEHATAN Seperti dikemukakan di atas. bagaimana distribusinya.

Demikian pula. upaya kesehatan bisa juga menghasilkan output lain. 7) Mix outputs Cirilain adalahbanyaknya ragam "komoditi" yang dihasilkan daari berbagai program kesehatan. Bahkan manfaat yang diterima orang banyak tersebut secara kumulatif jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya untuk immunisasi individu bersangkutan.profesional kesehatan berpendapat bahwa makan. eksternalitasnya umumnya kecil. oleh karena bisa terjadi keadaan demand seseorang (dalam arti kemauan membayar) tidak tinggi dibandingkan dengan demand untuk pelayanan kuratif yang tidak mempunyai efek eksternal. yaitu bagi penduduk yang tidak mampu. perawatan. seperti misalnya rumah sakit tertentu milik swasta. Yang dikonsumsi oleh pasien adalah satu paket pelayanan: sejumlah pemeriksaan diagnosis. Ada pendapat yang mengatakan bahawa pelayanan kesehatan yang bersifat public goodseyogyanya mendapat subsidi ataubahkan disediakan oleh pemerintah secara gratis. 4. terapi dan nasihat kesehatan. sehingga digolongkan sebagai "komoditi masyazakat" atau public good. Memang efek eksternal tersebut bervariasi antar berbagai jenis pelayanan kesehatan. Kecenderungan spesialisasi dan superspesialisasi menyebabkan komponen tenaga dalam pelayanan kesehatan semakin besar. tempat tinggal dan hidup sehat adalah elemen kebutuhan dasar manusia yang harus senantiasa diusahakan untuk dipenuhi. Ini menyebabkan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan tidak bisa sesempurna mekanisme pasar untuk komoditi lain.). kebijaksanaan subsidi adalah dalam rangka menjamin hak tersebut. senantiasa mempertimbangkan implikasinya terhadap issu equity tersebut. 5) Motif non-profit Walaupun dalam praktek ada industri kesehatan yang memperoleh untung. EKONOMI PELAYANAN KESEHATAN Aspek Produksi (Supply) Cermin Dunia Kedokteran. Untuk jangka pendek pun. Eksternalitas Ciri khusus lainnya adalah efek eksternal yang ada dalam penggunaan pelayanan kesehatan. pakaian. tidak memberikan return on investment secaza jelas. Ini berarti bahwa sektor kesehatan adalah sektor yang bersifat padat karya. 1994 35 . paling tidak untuk jangka panj ang. Restriksi berkompetisi Ciri khusus selanjutnya adalah pembatasan praktek kompetisi. Pelayanan ini sering disebut sebagai private good. Pendapat umum yang secara tradisional dianut adalah "orang tidak layak mengambil keuntungan dari penyakit orang lain". maka pembangunan sektor kesehatan sesungguhnya adalah suatu investasi. Namun sekarang ini terjadi perubahan orientasi. Dalam ekonomi dikatakan bahwa social marginal benefit yang diperoleh dari immunisasi j auh lebih besar dari pada private marginal benefit bagi individu tersebut. Sebagai misal. immunisasi yang dilakukan seseorang untuk mencegah penyakit menularjuga akan memberi manfaat kepada masyarakat banyak. 8) Upaya kesehatan sebagai konsumsi dan investasi Dalam jangka pendek. dll. terutama setelah pemilik modal dan dunia bisnis melihat sektor kesehatan sebagai peluang investasi yang menguntungkan. sering kali sektor kesehatan ada pada urutan bawah dalam skala prioritas pembangunan. Itulah sebabnya. Kebijaksanaan dan program untuk menyesuaikan tarif pelayanan kesehatan seperti sekarang ramai dilakukan. Memang umumnya pelayanan kesehatan pada mulanya diselenggarakan dengan motif sosial. Analisis biaya RS misalnya menunjukkan bahwa komponen tenaga tersebut bisa mencapai antara 40-60% dari keseluruhan biaya. Keadaan ini menyebabkan analisis demand terhadap pelayanan kesehatan menjadi kompleks. kalau penduduk employed di usaha produktif. Namun kalau orientasi pembangunan pada akhirnya adalah pembangunan manusia. Sebaliknya pelayanan kesehatan yang tergolong sebagai private good hendaknya dibayar atau dibiayai sendiri oleh penggunaannya atau oleh pihak swasta. 90. Dalam sektor kesehatan tidak pernah terdengar adanya promosi discount atau bonus atau "banting harga" dalam pelayanan kesehatan. dalam pentarifan RS berkembang pemikiran perlunya cross subsidy untuk pemerataan. pemerintah perlu menjamin agar program-program semacam immunisasi betul-betul dapat terlaksana. Paket tersebut bervariasi antar individu dan sangat tergantung pada jenis penyakit. Oleh sebab itu. yaitu hasilhasil penelitian serta pendidikan dan latihan tenaga kesehatan. efek ekstemal adalah dampak (positif atau negatif) yang dialami orang lain sebagai akibat perbuatan seseorang. Dalam mekanisme pasar (intervensi pemerintah kecil). Di samping pelayanan kesehatan. Ini menyebabkan distribusi pelayanan kesehatan sering sekali dilakukan atas dasar kebutuhan (need) dan bukan atas dasar kemampuan membayar (demand). 6) Padat karya Otomatisasi ternyata tidak membuat pelayanan kesehatan semakin bebas dari input tenaga manusia. Ini menyebabkan issu pemerataan (equity) sangat menonjol dalam penyediaan pelayanan kesehatan. menurut perhitungan ekonomi. terlepas dari kemampuan seseorang untuk membayarnya. secara ideal memperoleh untung maksimum (profit maximization) bukanlah tujuan utama pelayanan kese- hatan. Edisi Khusus No. Pelayanan yang tergolong pencegahan umumnya mempunyai eksternalitas besar. Seperti diketahui. lebih-lebih pelayanan yang bertujuan kosmetika. wujud kompetisi adalah kegiatan pemasaran (promosi. pembangunan kesehatan jelas memberikan return on investment yang dapat diukur. 9). upaya kesehatan terlihat sebagai sektor yang konsumptif. Misalnya. terutama kalau titik berat pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Sedangkan pelayanan kuratif. seperti misalnya pelayanan RS. misalnya dalam bentuk Yayasan. iklan.

8. Perbaikan tersebut tidak terlepas dari keberhasilan Indonesia memperluas jangkauan pelayanan kesehatan sampai ke pedesaan. peran pemerintah memang sangat dominan.2%) adalah milik swasta. dan peranan BLN sebesar 5. yaitu rata-rata 59.6% dibandingkan dengan peranan propinsi (19. kenaikan tersebut hampir tidak berarti. Dari segi jumlah tempat tidur. Data tersebut mencakup waktu dari tahun 1984 sampai 1988.000 penduduk untuk seluruh Indonesia dan untuk masing-masing propinsi. biaya satuan pengobatan rawat jalan di Puskesmas adalah Rp 1700. turun menjadi 71/1000 pada tahun 1985 dan kini diperkirakan telah turun lagi sampai 56/1000. yaitu melalui Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Dampak krisis ekonomi terhadap sektor kesehatan. yakni antara 66-67 TTI 100. kesehatan lingkungan. 19.4%) dan Dati II (15. guna meningkatkan cost recovery rate pelayanan. swasta akan memilih jenis pelayanan yang memungkinkan diperolehnya pemasukan paling tidak sama dengan biaya. terjadi karena adanya strategi yang dianut banyak negara berkembang untuk mengurangi peranan pemerintah dalam memberikan subsidi untuk sektor sosial. termasuk industri pelayanan kesehatan. yaitu (1) peran dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan (2) peran dalam menyelenggarakan pembiayaan kesehatan. Artinya. 3) Pergeseran peran pemerintah dan swasta Dalam industri pelayanan kesehatan. 90. pemberantasan malaria. Pertumbuhan jumlah TT ini boleh dikatakan sama dengan laju pertumbuhan penduduk. 1) Situasi sejak kebijaksanaan penyesuaian ekonomi Selama dua dekade yang lalu terjadi perbaikan derajat kesehatan yang sangat mengesankan di Indonesia. Bentuk operasional kedua adalah memberi peluang dan mendorong pihak swasta untuk turut serta dalam penyediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan. dari total 95. Di bidang pelayanan primer.9%/ tahun. 313 (45. baik pemerintah maupun swasta. Keadaan tahun 1985 tersebut sudah menunjukkan bahwa fihak swasta memang lebih tertarik melakukan investasi di bidang pelayanan RS.450 TT. seperti pendidikan dan kesehatan.000 penduduk selama kurun waktu tersebut hampir tidak berubah.75%) disediakan oleh fihak swasta. Ini sangat besar dampaknya terhadap program kesehatan pemerintah. Hal tersebut dapat digambar dalam matriks sebagai berikut: Pelaksana program dan Pelayanan Pembiayaan Pemerintah Swasta A C B D 2) Pemerintah Swasta . Untuk RS situasi pada tahun 1985 menunjukkan bahwa dari total 683 RS yang ada di Indonesia. ada sebanyak 43.140 TT (45. Ini menunjukkan bahwa untuk pelayanan primer. Di sini masyarakat.2%/ tahun. jumlah TT dan Ratio TT/100. ada dua peran pokok yang dapat dilakukan oleh semua fihak. naik menjadi Rp. khususnya rumah sakit.25%) yang disediakan oleh pemerintah dan sisanya sebanyak 52. atau kalau bisa lebih dari biaya yang dikeluarkan. Dengan cara ini diharapkan beban pemerintah untuk memberikan subsidi berkurang. Bentuk operasional pertama kebijaksanaan tersebut adalah penyesuaian tarif pelayanan. Jelas bahwa jenis pelayanan kesehatan primer tidak memberi peluang banyak untuk maksud 36 Cermin Dunia Kedokteran. Angka kematian bayi. terutama di pedesaan.4%). Bahkan sejak 1983. Edisi Khusus No. Dari data tersebut dapat dihitung bahwa selama kurun waktu tersebut jumlah RS bertambah rata-rata sebesar 3.6%. Namun sejak turunnya harga minyak pada tahun 1982 dan meningkatnya beban hutang. di samping berbagai program kesehatan masyarakat seperti imunisasi. karena memang peranan anggaran pusat cukup dominan. atau users fee. pihak swasta akan sulit bersaing karena subsidi yang diberikan oleh pemerintah untuk pelayanan primer tersebut sangat tinggi. penyuluhan kesehatan dan lain-lain. Maka dapat dimengerti bahwa ratio TT 100.8%) adalah RS pemerintah dan sisanya sebanyak 370 (54.9%l tahun. akan tetapi pertambahan jumlah TT hanya mencapai 1.Ada beberapa issu pokok yang menonjol akhir-akhir ini sehubungan dengan produksi atau supply pelayanan kesehatan. Sampai tahun 1988 tercatat 5549 Puskesmas dan 12913 Puskesmas Pembantu yang sudah didirikan oleh pemerintah. alokasi anggaran pemerintah untuk kesehatan menjadi semakin ketat. 10. Dalam Tabel 1 disajikan data perkembangan jumlah RS.310 TT (54. Berikut ini disampaikan perkembangan situasi penyediaan pelayanan kesehatan (supply) pelayanan kesehatan yang tidak lepas dari perkembangan kebijaksanaan di bidang ekonomi.000/kapita/tahun pada tahun 1992. yakni 1. Anggaran pusat untuk kesehatan turun sebesar 45% antara 1982/83 sampai 1987/88. yang pada akhir tahun 1960'an adalah 132/1000.072/kapita/tahun. Sebagai contoh. sedangkan tarif yang dikenakan kepada pasien hanya Rp 300 sampai Rp 500. pihak swasta pada umumnya tertarik pada pelayanan kesehatan yang menjamin kesinambungan usahanya. Perluasan jangkauan ini sangat menonjol semasaboom minyak pada tahun 1970 sampai awal tahun 1980'an. Secara nominal. juga tidak terjadi peningkatan yang berarti. Namun kalau dihitung menurut harga konstan. Seperti nanti dijelaskan. gerakan masyarakat dalam menyelenggarakan Posyandu mempercepat naiknya cakupan program-program pencegahan penyakit. 1994 tersebut. pengeluaran masyarakat untuk kesehatan pada tahun 1982/83 adalah Rp. Bagaimana gambaran perkembangan industri pelayanan kesehatan selama periode adjustment policy tersebut ? Perkembangan sarana pelayanan kesehatan Industri pelayanan kesehatan di Indoensia ditandai oleh dominasi pemerintah sebagai penyedia pelayanan kesehatan primer (Puskesmas dan Puskesmas Pembantu) serta kombinasi seimbang antara pemerintah dan swasta untuk pelayanan kesehatan sekunder (RS).085/kapita/tahun dan akhirnya naik lagi menjadi sekitar Rp.000 penduduk. sehingga ancaman defisit neraca neraca pembayaran juga bisa dikurangi.

1 85.3 83. berikut contoh hasilnya dari sebuah RS-X.1 61.2 57. Misalnya adalah pelayanan-pelayanan yang dikontrakkan kepada fihak swasta.2 179. KalimantanTengah 19. (Tabel 2 dan 3 ) Tabel 2 .6 58.8 31 203 143 223 38 160 22 14 25 26 169 113 193 35 119 199 37 188 119 199 37 157 22 14 25 25 31 214 144 225 158 22 157 22 14 25 25 14 25 22 33 42 166 25 1780 13592 11039 15232 3018 16671 2214 762 14162 11231 15451 3137 16988 2156 786 364 1811 14643 11950 15660 3217 17236 2207 55.6 59.00% 224.4 108.swasta.3 54.1 38. RS-X Gedung Alat Non-medis Alat Medis + Penujang Medis 140.5 56.000 Penduduk Menurut Propinsi di Indonesia.1 110. Timor Timur Indonesia 1984 19 129 57 30 Jumlah Tempat Tidur 1988 19 132 59 37 Ratio TT/100.4 113.7 71. sesuai dengan motivasi masing-masing. di mana harga beli. Angka biaya investasi yang disampaikan pada Tabel 3 adalah nilai sekarang (present value) biaya investasi untuk satu tahun (annualized fixed cost). untuk RS di Indonesia.7 68.9 50.5 52.6 72.6 81.6 112. Yanmedik.1 90.1 84. yaitu kategori (C).4 93.4 55.3 36.2 66.6 54.1 115. Biaya Investasi Tahunan.1984 -1988. praktek dokter dan bidan.1 56. NTB 16.5 57.8 109.8 72.8 1312 1367 1367 1456 110318 111456 114318 66.8 61.3 103.8 88. pelayanan atau pelaksanaan upaya kesehatan dapatdilakukan oleh pemerintah sedangkan biayanyadari swasta.7 56.7 1885 15196 12546 16066 3337 15644 12876 16523 3493 179.9 50.9 118. program-program kesehatan masyarakatan yang baik pembiayaannya maupun penyelenggaranya adalah fihak pemerintah.4 84.6 13 21 23 5 13 21 23 5 13 21 23 5 13 21 24 10 1499 1404 1545 464 108307 1460 11539 439 1433 1470 386 715 1646 1539 1521 335 510 116757 89. Sulut 22.2 120. Lampung 9.2 62.4 179.8 38. JawaTengah 12.1 66.6 68.7 59. Angka-angka untuk RS tersebut adalah tipikal.1 62.1 67. Akhirnya ada pula kategori (D).9 69.3 86. Bali 15. Contohnya adalah pembayaran oleh pasien atau perusahaan swasta kepada fasilitas swasta (RS. Peranan swasta bisa berbentuk penyediaan pelayanan yang biayanya ditanggung oleh pemerintah.5 24.5 81.067 8.8 38.999.8 36.7 25.1 25. Puskesmas.7 66.5 54. Jumlah Rumah Sakit Propinsi 1.41% 100. Sultra 25. pemeliharaan alat dan lain-lain.9 179. SumatraUtara 3.3 109.4 21 37 7 30 21 37 7 28 188 34 21 37 7 28 21 37 7 21 55 7 1302 918 4162 307 59.2 37.9 115.5 36.3 1985 50. Selanjutnya.4 89.4 46. KalimantanSelatan 20. dan lain-lain.Yogyakarta 13. tahun beli.4 54. Tempat Tidur dan Ratio TT/100.2 60. Nampaknya dalam tahun-tahun mendatang.5 74. baik pemerintah maupun swasta akan melakukan eksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang paling menarik.3 54.6 53.5 70.8 30. Bengkulu 8.7 59.4 29. KalimantanBarat 18.3 53.5 66.3 54. JawaTimur 14.2 26.3 81.000 Penduduk 1987 1600 11141 3504 1566 999 1985 19 1986 19 130 62 1987 19 129 66 39 1984 1485 12247 2939 1985 1508 12193 3160 1487 965 1986 1600 11080 3338 1528 1005 3940 1988 1612 11022 3431 1600 893 4391 394 1892 1984 50.1 42.511.7 94.1 114.89% 33.500.5 107.1 118.7 (atau 224.9 36.1 52. laboratorium klinik. Tampak bahwa perbandingan antara biaya investasi tahunan dengan biaya operasional dan pemeliharaan 1:8.9 17384 2278 783 14 25 23 14 25 26 1537 1992 552 14 25 22 31 14 25 22 33 14 25 24 32 17 78 13 24 25 14 73 12 20 23 5 14 73 14 73 31 17 79 1369 1828 3171 749 5455 575 1579 1974 477 1422 1865 3103 951 5387 659 816 1600 1988 533 1585 1950 3035 992 5465 624 1682 1980 534 17609 2361 843 1756 2010 524 105.149 74. 1994 37 .9 28. 1.7 Sumber : Ditjen. JawaBarat 11. Aceh 2.8 27.7 1987 50.1 55. DI. atau pelayanan kesehatan untuk peserata asutansi kesehatan swasta oleh fasilitas pemerintah. Jambi 6.4 27.3 80.776.3 82. Depkes R1. IrianJaya 27. SumatraBarat 4.1 44.8 52.9 79. Sulteng 23. Edisi Khusus No .3 1988 50.3 137.000 banding Rp.1 33. Contohnya adalah pembayaran langsung oleh pasien di fasilitas Pemerintah.2 1986 52 86.Tabel 1.1 118. Jumlah Rumah Sakit. Puskesmas Pembantu.4 179.2 70.8 65. seperti cleaning service.013). masa pakai dan laju inflasi dihitung. Riau 5. tampak bahwa biaya personil dan biaya obat merupakan kompo- Cermin Dunia Kedokteran.736.7 129.4 108.1 37.2 130 62 34 132.782 Dalam kelompok biaya operasional dan pemeliharaan. yaitu baik pembiayaan maupun pelayanan kesehatan dilakukan oleh swasta.5 25.1 75. 90. SumatraSelatan 7.962.9 4071 354 1814 4152 394 79.1 67. Dari matriks tersebut dapat dilihat bahwa pergeseran peran antara pemerintah dan swata dapat terjadi dalam berbagai kemungkinan.2 40.7 54.1 114.3 75.2 82. Tabel 2 dan Tabel 3 menyajikan daftar elemen biaya tersebut.4 53.1 101.2 116. KalimantanTimur 21.9 83. 4) Inflasi biaya Elemen biaya RS secara garis besar dibagi dalam (1) biaya operasionaldan pemeliharaan dan (2) biaya investasi.6 52.2 1592 1944 2914 1090 5639 680 1584 1644 2032 2902 1149 5726 61.566 62. Sulsel 24. seperti juga ditemukan pada banyak RS lain.9 54. Maluku 26. -NTT 17.2 56. Pembiayaan tersebut bisa juga dilakukan oleh sebuah asuransi kesehatan.9 82. DKIJaya 10.1 126. yang tergolong kategori (B) dalam matriks di atas.1 118.4 50. pengoperasian pavilun swasta di RS Pemerintah.3 68.70% 3.397.5 73. rumah bersalin. Yang termasuk dalam kategori (A) dalam matriks tersebut misalnya adalah RS.

RS-X Unit Cost Operasional 1920 1845 722 929 9618 1598 13276 3766 1661 2994 2050 1570 1269 3117 Unit Unit Cost Cost Inves. Pertama.44 116.366.Total tasi 1884 691 2531 1048 10149 19632 22733 14580 Tarif (Rp) 10000 7500 25000 6000 3000 25000 6000 25000 6000 3000 3000 25000 6000 3000 75000 60000 75000 75000 60000 30000 10000 Ratarata 98. Klinik Rontgen Umum Tranfusi Darah Rumah Tangga Lab. Studi biaya operasional dan pemeliharaan pada 12 RS pemerintah yang dilakukan oleh Unit Analisis Kebijaksanaan Depkes RI menunjukkan bahwa biaya satuan operasional dan pemeliharaan (tanpa biaya investasi) untuk Rawat Nginap kelas III rata-rata berkisar antara Rp.03 28. maka merekalah yang lebih potensil menikmati subsidi dibandingkan dengan ma- Cermin Dunia Kedokteran. 2.15 118. Tot Nama Unit Poli Umum PoliMata Poli THT Poli Kulit Poli Jiwa Poli Anak Poli P.49 2.37 304.70 136. Biaya Satuan.03 108.529 33.52 0.53 1. Biaya Satuan. I Utama Kelas I/b ICU/ICCU Kmr.40 33. Dengan perkataan lain.91 123. Untuk rawat nginap.580 68. 11 Obgyn Kls.248.74 122. karena adanya surplus atau defisit ditentukan oleh tingkat penggunaan masing-masing poliklinik tersebut.Total tasi 231 198 99 178 894 146 1149 1001 494 507 298 196 110 166 2151 2043 821 1107 10512 1744 14425 4767 2155 3501 2348 1766 1379 3283 Cost Recovery % Thd.40 158.0 Tabel 4.43 90.01 80.71 1.51 83.33 263. 111 a&b P.485 46.45% atau keduanya sudah mencakup 77.13 35.000.13 179.03 89.397.82 54.407. inflasi tersebut mencapai 18% pertahun. yang tarifnya ditentukan melalui PeraturanDaerah (Perda) di daerah RS tersebut berada.51 225. 111 .26 30. 38 Tabel 5.66 4. Tarlf dan Cost Recovery Rawat Jalan . 8.68 139. 11 P.15 20.73 102.33 52. Dlm Kls.11 25.555.83 66. diperkirakan laju inflasi tersebut mencapai 12 sampai 14%.246.49 UC Nama Unit R. Di USA.000 .38 150.75 44.115 1.55 26. Sedangkan tarif yang berlaku adalah antara Rp.26 269.400 10.051.79 33. Antara lain adalah meningkatkan demand sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kenaikan pendapatan serta pendidikan.000.56 181.27 0. RS-X Cost Recovery % Thd.99 41.13 135.29 1.83 127.133 401. karenamasyarakatyang lebih mampu umumnya lebih memiliki akses ke RS tersebut.09 17.01 71.121. Dalam Poli Jantung Poli Gigi Mulut Poli Syarat Poli Orthopedi Poli Bedah Poli Kebidanan & KB Poli Kandungan Tarif (Rp) 1500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 Ratarata -> 78. Namun ini bukan berarti pelayanan rawat jalan secara keseluruhan memberikan profit.14 102.45 4. Rendahnya tarif tersebut. 5) Pentarifan dan cost recovery Umumnya tarif RS pemerintah di Indonesia sangat rendah.27 35. Post Partum Ruang Bayi Anak Kelas 11 Anak Kls .24 197. ternyata cost recovery ratenya lebih kecil dari 100% (rata-rata sekitar 89%). Biaya Operasional dan Pemeliharaan RS-X Klasifkasi Personalia Farmasi Gizi Gedung Lingkungan Administrasi Lab.46 62. 11 Bedah Kls.97 41.52 174.04 0.543.50 346. Banyak faktor yang menyebabkan inflasi tinggi tersebut.60% dari keseluruhan biaya). yang berarti adanya subsidi bagi pengguna pelayanan kesehatan.Rp.171.77 56.72 66. Tot 120.50 121.99 156.15% dan 20.47 141.639 30.962.46 70.77 100.00 153. jauh lebih tinggi daripada inflasi ekonomi secara keseluruhan. Di samping itu perkembangan teknologi canggih dan penggunaan fasilitas non medis dalam pelayanan RS juga merupakan faktor pendorong inflasi.41 106.34 15.Tabel 3. 90. Patologi Anatomi EKG Lain-lain Total Besar Biaya 1.579.15 14. Angka ini juga menunjukkan bahwa industri RS memang bersifat padat karya.01 293.348 91. yaitu 3 sampai 4 kali laju inflasi ekonomi. 111 a&b VIP/Kls.53 28. Pada Tabel 4 dan Tabel 5 disampaikan angka-angka yang menunjukkan biaya satuan.02 nen biaya terbesar (masing-masing sebesar 57.572. 1994 .53 40.650 25. 111 Bedah Kls.21 134. 3. Tarif dan Cost Recovery Rawat Nginap.19 51. yaitu sekitar 2 kali laju inflasi ekonomi.084. OP Th.77 3.66 287.013 Persen 57.41 18. Kls. Yang unik dalam hal biaya kesehatan adalah laju inflasinya yang sangat tinggi. a&b Obgyn Kls. Dlm. menimbulkan beberapa permasalahan.27 230.95 159.050 24.500 716.80 123.854.84 23.000 sampai Rp. Partus I II IIIa IIIb Operasional 8265 17941 20202 13532 UC UC Inves. Bahkan tarif tersebut masih lebih rendah dari pada biaya satuan operasional dan pemeliharaan (biaya satuan tanpa biaya investasi).78 143.25 109.35 17. Di Indonesia.29 76.96 27698 19557 17926 8539 12285 1195 2275 444 39983 20752 20201 8983 13907 10709 25540 20868 42930 55136 1888 709 7022 1946 5824 3581 1-5795 11418 32562 22814 48754 58717 tarif rawat nginap di RS tersebut lebih rendah daripada biaya satuannya. OP Th.160 15.93 69.45 18.28 52.35 1. 4. Tarif rendah tersebut juga terdapat pada beberapa RS swasta. Edisi Khusus No. tarif dan cost recovery rate rawat jalan di RS tersebut adalah 118%.384 93.

terjadi pula fenomena penggunaan subsidi oleh kelompok yang lebih mampu.069 1.541. Katakanlah segmen 70 juta penduduk yang berada di sekitar garis kemiskinan dan yang ada di bawah garis kemiskinan. seperti misalnya terjadi di kota dibandingkan di desa. di mana terjadi (juga sedang terjadi) pembangunan rumah sakit mewah di kota-kota besar seperti Jakarta. 1990 Urban Tempat Tidur RS Pemerintah RS Swasta Puskesmas Rumah Petugas Total Penduduk % Jml. Skenario ke tiga. walaupun akan menghambat perkembangan swasta ke arah industri kesehatan yang bersifat profit maximization. 882. Dalam skenario ini tidak berlebihan kalau juga disebut tentang kemungkinan meledaknya wabah AIDS. akan berkurang sebanyak 50% dari keadaan sekarang selama 5 .421 275.666 760. Hasil analisis tersebut disampaikan pada Tabel 6 berikut. distribusi pendapatan ini tidak cepat berubah. Bandung. Ada asumsi yang menyatakan bahwa investasi alat canggih tersebut memang diperlukan karena makin banyaknya penyakit-penyakit degeneratif dan kardiovaskuler yang memang memerlukan teknologi tinggi. Ada beberapa skenario yang bisa diproyeksikan untuk masa yang akan datang.530 417. Dari kacamata Cermin Dunia Kedokteran. yaitu jaminan pembayaran jasa pelayanan. 1994 39 3) . yang bertempat tinggal umumnya di luar kota. Jadi perkembangan tersebut. Semarang. dibandingkan dengan hanya 15% di pedesaan.414 1. Unit AKEK.10 tahun mendatang. ada 15% (sekitar 27 juta) penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan demikian.4 123. menarikuntuk disampaikan issu penggunaan alat-alatkedokteran canggih. dan lain-lain yang dirawat. 2) Dampak pertumbuhan GNP Implisit dari uraian butir 1 di atas adalah kesimpulan bahwa efektivitas dan kesinambungan investasi pelayanan kesehatan oleh swasta (khususnya rumah sakit). Skenario kedua. sekaligus standar harga. berkembangnya JPKM dan asuransi kesehatan sebetulnya memberikan semacam assurance bagi industri pelayanan kesehatan. 371. 90. Ini terlihat misalnya dari angka bahwa 34% penduduk kota yang pernah dirawat memilih RS swasta.359 204. 510. JPKM akan muncul sebagai sosok kekuatan baru dalam transaksitransaksi penawaran danpermintaan pelayanan kesehatan. Edisi Khusus No. juga akan menjga kelangsungan hidup investasi swasta tersebut. Dengan perkataan lain. maka investor di bidang perumah sakitan akan mempunyai posisi berbeda.337 2. karena makin banyak penduduk bekerja di sektor formal dan makin banyak pula penduduk yang mampu dan mau membayar premi JPKM. sangat dipengaruhi oleh adanya demand masyarakat. dan lain-lain. Provider pelayanan kesehatan tidak lagi berhadapan dengan individu (yang umumnya ignorant dan dalam posisi lemah di hadapan profesional).2 % 41 22 22 16 100 535. Diketahui pula bahwa tingkat penggunaan pelayanan kesehatan oleh peserta asuransi atau jaminan pemeliharaan kesehatan adalah lebih tinggi. JPKM misalnya akan datang dengan standar prosedur dan standar mutu pelayanan.899 69.syarakat yang kurang mampu. Tampaknya inilah yang sedang terjadi selama 5 . Konsumsi pelayanan alat canggih Sehubungan dengan aspek konsumsi pelayanan kesehatan. yang ditentukan oleh tingkat pendapatannya. Situasi sekarang. Tabel 6. renal failure. 700 di desa.1 Sumber : Ridwan Malik. ASPEK KONSUMSI (DEMAND) 1) Gambaran umum penggunaan RS Data Susenas 1990 memungkinkan analisis tentang pola penggunaan RS oleh penduduk Indonesia. Perkembangan dan aplikasi peralatan medis tersebut memang berlangsung sangat cepat.407. maka pangsa pasar bagi pelayanan RS swasta akan terbatas di kota-kota besar. Pola Rawat Nginap.876 176. pihak investor swasta akan sangat bersaing satu sama lain. 1000 di kota dan Rp. Depkes RI Angka dalam Tabel 6 menunjukkan bahwa bila pendapatan pendudukmembaik. gambaran seperti di Thailand bukan tidak mungkin akan terlihat juga di Indonesia. Dalam skenario ini. Transisi tersebut akan menghasilkan bertambahnya kebutuhan (need) terhadap pelayanan RS.10 tahun terakhir. Kedua. lebihlebih alat elektromedik yang semakin efektif dengan presisi tinggi karena memanfaatkan sistem komputer.884 262. Surabaya. Kalau ini terjadi.230. Keadaan ini akan memacu perkembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Statistik RS menunjukkan makin banyaknya kasus-kasus kardiovaskuler. Kalau hal yang sama terjadi di Indonesia.320 345. Medan. pertumbuhan GNP tidak diikuti dengan proses pemerataan pendapatan secara cepat.981 % 36 15 30 20 100 Total Jml.446 56. Di sisi lain.655 1. pihak penyelenggara Asuransi Kesehatan atau Badan Pengelola Sistem Jaminan Pemeliharaan Kesehatan akan me"maksa" RS bersangkutan untuk menggunakan tarif yang rendah tersebut. maka ada sekitar 70 juta penduduk yang sebetulnya berada di sekitar garis kemiskinan tersebut. akan tetapi provider tersebut akan berhadapan dengan JPKM yang "menguasai" sistem pembiayaan. bagaimana sekarang ini tempat tidur RS milik pemerintah sampai tingkat kabupaten sebagian besar dihuni oleh penderita AIDS.168.2432 466. Kalau batasnya dinaikkan menjadi Rp. kejenuhan pasar nampaknya tidak lama akan terjadi. diabetes. masyarakat kemudian cenderung menggunakan fasilitas pelayanan swasta. yang sebetulnya bisa inklusif baik dalam skenario pertama maupun kedua. Kota dan Desa. Pengalaman Thailand patut ditelaah. Kalau . pemerataan pendapatan akan mengalami percepatan. Skenario pertama. adalah terjadinya proses transisi epidemiologis yang lebih cepat mengikuti peningkatan pendapatan penduduk.671 1.976 474. 895 % 49 34 7 9 100 Rural Jml. Diketahui bahwa peserta asuransi atau jaminan pemeliharaan kesehatan secara umum adalah kelompok yang tingkat sosial-ekonominya sudah lebih baik.772.

karena suku cadangnya tidak lagi ada di pasar.5 20. Press. 40 Cermin Dunia Kedokteran. KEPUSTAKAAN 1. Unit Analisa Kebijaksanaan Depkes RI. Ascobat. Profil Kesehatan Indonesia. Karena biaya investasi alat tersebut mahal. Jakarta. keadaan ini bisa menyebabkan meningkatnya unnecessary procedures. Park. perbaikan tingkat pendapatan dan ekonomi). Dengan perkataan lain. Baltimore. 3) apakah tersedia cukup demand untuk menjamin operasionalisasi alat tersebut serta menjamin pengembalian modal investasi plus keuntungan. Badan Litbang Depkes. yang dapat dikoordinir sendiri oleh otoritas perumahsakitan. Jenis alat 1. 3) Cost effectiveness analysis suatu alat canggih yang mahal dibandingkan dengan alat lama yang bertujuan atau berfungsi sama. Keadaan penggunaan yang rendah membawa dampak besar terhadap sistem pembiayaan fasilitas bersangkutan. 2) khusus untuk alat diagnostik. 7. Studi tentangpemanfaatan alat kedokteran canggih di Jakarta yang dilakukan oleh Unit Analisis Kebijaksanaan dan Ekonomi KesehatanDepkes RI pada tahun 1991 yang lalu menunjukkan bahwa sebagian besar alat yang diteliti yang berada di beberapa RS besar di Jakarta ternyata mempunyai idle capacity sangat besar. Keadaan ini akan lebih memacu laju inflasi. Ascobat. 1965. maka ada beberapa kebijaksanaan atau langkah penting yang pelu dilakukan di masa yang akan datang. 90. G. Pusat Data Kesehatan. Dari segi supply dan demand.4 53. Ekonomi Kesehatan dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. 3. maka annualized fixed cost (present value biaya investasi tahunan) secara keseluruhan akan naik. apakah waktu tersebut terlalu lama sehingga alat yang bersangkutan menjadi obsolete.3 33. apakah hasil diagnosis diikuti dengan tersedianya teknologi atau kemampuan pengobatan. Termasuk dalam studi kelayakan ini adalah Break Even Analysis. misalnya oleh organisasi perhimpunan RS. Ekonoimi Kesehatan. Kondisi ini bisa mendorong kebijaksanaan pelayanan yang tidak profesional. bukan oleh RS. 2) Pelaksanaan studi kelayakan. 1992. Malik R. sebelum suatu alat canggih mahal diadakan oleh sebuah RS. 4. Dalam keadaan demikian RS bersangkutan menghadapi tekanan untuk menaikkan revenue. Jakarta Agustus 1993. 7. Inipun akan mendorong terj adinya inflasi biaya yang lebih tinggi. Tafal Z. 5. khususnya RS dan (3) konsumsi atau demand terhadap pelayanan RS. 1991.2 31. G. 6. issu pokoknya adalah : 1) apakah suatu alat lebih cost effective dibandingkan alat terdahulu lain yang sudah ada. 1980. Seminar Ekonomi Kesehatan. Jakarta 7 . 2. termasuk kelayakan ekonomis.5 50. Tabel 7. yaitu sebagai berikut : 1) Pelaksanaan utilization review (UR) secara berkala terhadap PENUTUP Dalam makalah ini telah disampaikan secara ringkas tentang (1) ciri khusus sektor kesehatan. Pola Pencarian Pelayanan dan Pengeluaran Masyarakat untuk Kesehatan Berdasarkan Susenas 1990. Press. 9. Pertemuan Tahunan PPEKI. nampak bahwa laju pertambahan penyediaan pelayanan RS tertinggal dibanding dengan laju pertambahan penduduk serta peningkatan kebutuhan akan pelayanan RS (akibat transisi epidemiologis. Z: Studi Pemanfaatan Alat Kedokteran Canggih. 1993. 1991. 8. Oktober 1989.ekonomi pelayanan kesehatan. yang antara lain akan mengungkapkan berapa tahun diperlukan untuk mencapai titik Break Even tersebut. Sehubungan dengan temuan tersebut. Selanjutnya. 3. The Economics of Health and Medical Care.5 18.8 Nopember 1990. Hasilnya bermanfaat sebagai dasar pengaturan pembelian alat canggih tertentu oleh suatu RS. Cimacan. 1994 . September 1992. Columbia Univ. FKM-UI. Khusus tentang alat-alat canggih di RS. Unit Analisis Kebijaksanaan Depkes RI. 2. G. 5. 4. yaitu karena demand melebihi supply. N. 10.6 67. Depkes RI. Hemodialisis Bronchoscopy Gastroscopy MRI Body CT Scan Head CT Scan Lithotriptor Biochemical analyzer USG Endoscopy Sumber : Tafal. Ini hendaknya dilakukan oleh suatu badan penelirian. 6. studi tersebut j uga mengungkapkan bahwa pengadaan alat canggih di suatu RS lebih banyak didasarkan pada pertimbangan profesional daripada pertimbangan ekonomis. 8. Ascobat. Pendekatan Ekonomi Makro dan Mikro Pelayanan Kesehatan.7 61. Jakarta. Proceeding Semiloka "Penggunaan Ilmu Ekonomi di bidang Kesehatan Masyarakat". Univ. The Economics of Health.9 alat-alat canggih dan mahal. Jakarta. Kapasitas terpakai beberapa alat canggih. Klarman E. et al : Studi Pemanfaatan Alat Kedokteran Canggih. 1991 Kapasitas terpakai (%) 96. (2) produksi atau supply pelayanan kesehatan. sebuah studi terbatas menunjukkan bahwa investasi alat-alat tersebut secara ekonomis umumnya tidak efisien.5 46. Lokakarya Ekonomi Kesehatan. Edisi Khusus No.Y. misalnya (1) menaikkan tarif penggunaan alat setinggi-tingginya yang akan sangat memberatkan pasien dan (2) memperlonggar indikasi profesi medis yang sesungguhnya. Jacobs.

pada akhir tahun 1990 ternyata bertambah menjadi sebesar 244 rumah sakit swasta di Indonesia. Untuk itu maka perlu diketahui beberapa faktor yangdiasumsikan terkait erat dengan biaya layanan rumah sakit.7% dari seluruh tempat tidur RSU di negeri ini berada di Jakarta. Sjaaf Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. yang jumlahnya relatif sama besar dengan rumah sakit khusus. Mengacu kepada angka pertumbuhan keadaan di daerah urban atau semi-urban lainnya di Indonesia tersebut maka dapat dikatakan bahwa tingkat kompetisi antar RSU terutama swasta di daerah urban akan cukup tinggi. Sedangkan jumlah tempat tidurnya menampilkan pertumbuhan sekitar 44% dalam waktu yang sama yaitu dari 63. dengan angka pertumbuhan tempat tidur RSU per tahun sebesar 0.643 TT menjadi 81. Angka ini. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Dengan tingkat kompetisi yang tinggi adalah wajar bagi setiap rumah sakit untuk melakukan segala upaya yang diperlukan dalam mempertahankan keber adaannya. tidak dapat disangkal bahwa peranan pembiayaan dalam menyediakan layanan di rumah sakit menjadi sangat penting. di bawah rata-rata nasional yang sekitar 125–150 tempat tidur per RS. Cermin Dunia Kedokteran.565 TT).8% per tahun sehingga pada tahun 1991 terdapat 86 RSU di Jakarta. Tetapi. 90. KOMPETISI DAN ECONOMIES OF SCALE LAYANAN DI RUMAH SAKIT Dalam situasi kompetisi yang ketat. pada akhir 1990 tumbuh menjadi sekitar 32% dari seluruh RSU di Indonesia. menunjukkan pertumbuhan sekitar 30% selama kurun waktu tersebut (dari 581 RSU menjadi 756 RSU). Edisi Khusus No. Jakarta. Yang menarik untuk diperhatikan adalah jumlah rumah sakit umum swasta pada kurun waktu 15 tahun menampilkan angka pertumbuhan sekitar 104% (dari 113 menjadi 231 rumah sakit).96% maka dapat dilihat bahwa di Jakarta terjadi kecenderungan tumbuhnya RSU dengan jumlah tempat tidur 50–100 buah per RS. tetapi jumlah tempat tidur RSU adalah sekitar 78% dari seluruh rumah sakit yang ada. Sebagai contoh.753 TT menjadi 118.888 TT. Sesuai dengan sifat layanan kesehatan di rumah sakit yang terutama diarahkan pada jenjang layanan kesehatan sekunder Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo.591 maka dapat dikatakan bahwa sekitar 12. Dalam kurun waktu 15 tahun ini (akhir Pelita I sampai awal Pelita V) angka pertumbuhan rumah sakit umum dan khusus adalah 37% atau rata-rata 2. Jumlah ini kemudian meningkat pesat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 11. 21 — 25 November 1993.1% per tahun (dari 1. dan tersier maka dapat dipahami bahwa rumah sakit secara relatif akan ada di daerah urban dan semi-urban. Dari pertumbuhan ini berarti jumlah rumah sakit umum swasta yang pada akhir Pelita I hanya sekitar 19% dari seluruh RSU. Universitas Indonesia. pada awal Pelita V hampir 9% dari RSU di Indonesia berada di Jakarta yaitu sebanyak 71 RSU. 1994 41 .116 menjadi 1. Sedangkan angka pertumbuhan tempat tidur di rumah sakit menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu 45% dalam 15 tahun atau 2. Hanya rumah sakit yang dapat menyediakan layanan yang bermutu dengan pembiayaan yang relatif rendah dapat unggul dapatkompetisi ketat tersebut. Rumah sakit umum sendiri. Ini menampilkan bahwa walaupun jumlah RSU dan RS Khusus hampir sama.533 RS). Ditinjau dari jumlah tempat tidur yang sebanyak 11.Program Cost Containment di Rumah Sakit Tanggapan dalam Mengantisipasi Perkembangan Teknologi Kesehatan di lndonesia Amal C.5% per tahun (dazi 81. Jakarta LATAR BELAKANG Rumah sakit sebagai salah satu mata rantai pelayanan dalam Sistim Kesehatan Nasional di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup bermakna.

melalui analisis regresi ganda. Variasi Hubungan Jumlah Tempat Tidur dengan Biaya RataDengan memanfaatkan model ini. rata Layanan di Rumah Sakit diharapkan dapat ditentukan faktor-faktor yang berpengaruh pada biaya rata-rata layanan rumah sakit di suatu daerah. JP. Edisi Khusus No. di p = faktor lain seperti jumlah penderita rawat jalan. dan antaranya jenis penderita yang dilayani (Gambar 2). Dikatakan bahwa hal ini sebagian terjadi karena pengaruh biaya tetap (fixed cost) dalam kegiatan layanan. Feldstein (1983) menggambarkanhubungkompetisi yang ketat maka jelas hanya rumah sakit dengan an antara biaya rata-rata layanan di rumah sakit dengan faktoreconomies of scale yang akan tetap bertahan hidup. P. FL. Tetapi. Adanya perbedaan ini memungkinkan rumah sakit dengan jumlah operasi yang dilakukan PU = penyesuaian rumah sakit berdasarkan upah yang diberi. Gambar 2. M. Misalnya. Artinya. Sebagai contoh. L lain-lain. Sebagai contoh. Atau dengan faktor tertentu sebagai berikut : kata lain.jumlah tempat tidur yang akan menampilkan biaya rata-rata layanan yang berbeda.telah mengalami diseconomies ofscale. PU. Kesemuanya ini akan mengarahkan rumah sakit untuk me- Cermin Dunia Kedokteran. Gambar 1. per hari rawat atau biaya per admisi Tetapi. sebuah rumah sakit umum dengan rumah sakit umum lainnya akan berbeda jenis layanan yang atau pemeriksaan penunjang yang dilakukan DP = derajat beratnya penyakit yang dapat diukur dengan diberikan oleh karena jenis penderita yang dilayani juga tidak sama. biaya ini akan meningkat lagi pada rumah sakit yang memiliki tempat tidur yang paling banyak. dan lain-lain. 1994 . DP. sukar untuk ditolak adanya asumsi bahwa hampir pada semuanya akan terkait langsung atau tidak langsung dengan pemanfaatan teknologi kesehatan. bila suatu rumah sakit mengalami diseconomies of BRL = f (TT. laboratorium. Memperhatikan faktor-faktor dengan cermat. . Hubungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 . Untuk rumah sakit yang memiliki tempat tidur sedikit dengan biaya tinggi dan yang memiliki banyak tempat tidur dengan biaya yang juga tinggi dikatakan 42 Dari bahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemahaman terhadap terjadinya economies dan diseconomies of scale padarumah sakitharus dilihatdalamlingkup yang relatif majemuk. Tanpa memperhatikan kemajemukan faktorfaktor tersebut bukannya tidak mungkin intervensi yang dilakukan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Hubungan Jumlah Tempat Tidur dengan Biaya Rata-rata Layanan di Rumah Sakit Dari bentuk kurva U di atas maka dapat dikatakan bahwa economies of scale terjadi pada rumah sakit dengan jumlah tempat tidur yang paling besar tetapi dengan biaya rata-rata layanan yang paling kecil. 90. rumah sakit dengan jumlah tempat tidur sedikit akan memiliki biaya rata-rata layanan lebih tinggi daripada rumah sakit yang memiliki tempat tidur lebih banyak. Lebih jauh dikatakan bahwa hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan biaya rumah sakit secara teoritis dapat digambarkan dengan bentuk kurva U. Dikaitkan dengan situasi Secara spesifik. E. makin banyak jumlah tempat tidur yang terpakai akan terkait dengan makin meningkatnya pemanfaatan kamar bedah maupun penunjang medik seperti radiologi. Dengan demikian. perlu juga diperhatikan bahwa rumah sakit selalu TT = jumlah tempat tidur terpasang memberikan jenis pelayanan yang tidak sama walaupun mereka diagnosis = jenis penderita menurut klasifikasi JP M = mutu layanan yang dapat diukur dengan tindakan dan/ klasifikasinya sama. dapat dipahami bahwa kan kepada tenaga RS = tingkat efisiensi layanan economies of scale dari rumah sakit dengan jumlah tempat tidur E = program pendidikan yang dilakukan di RS yang sama dapat berbeda tergantung dari faktor-faktor lain. apabila hasil analisis biaya rata-rata layanan rumah sakit dilakukan untuk menentukan faktor yang akan diintervensi untuk cost containment maka hal ini harus dilakukan dengan cukup cermat. L) scale tetapi masih tetap ingin hidup maka ia harus berusaha di mana : BRL = biaya rata-rata layanan yang dapat diukur dengan biaya melakukan upaya pembenahan pembiayaannya (cost containment). Makin majemuk jenis penyakit yang dierita maka makin tinggi pula pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan maupun kecanggihan tindakan invasifnya.

sukar pula dibantah bahwa dorongan akan pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan yang canggih ini merupakan daya tarik khusus. difusi. hal terakhirdapat terjadi karenafaktortersedia atau tidak tersedianya tenaga ahli yang akan menggunakan alat canggih tertentu. tanpa adanya teknologi canggih seperti ini maka mereka akan tertinggal dalam kompetisi yang ketat dalam menyediakan pelayanan yang ber"mutu" bagi masyarakat. adalah sukar bagi kita untuk menentukan korelasi antara hasil evaluasi badan pengawas di negara produsen dengan tingkat kepatuhan penggunaan teknologi tersebut Cermin Dunia Kedokteran. inkorporasi. jelas akan menempatkan kita dalam kedudukan sebagai bagian dari percepatan tahapan difusi itu sendiri. agar pemahaman tersebut dapat dilakukan secara menyeluruh. Dorongan yang terjadi seperti ini tidak jarang membawa rumah sakit ke arah pengertian yang kurang menguntungkan. juga sangat erat kaitannya dengan proses inovasi. utilisasi luas serta pengabdian teknologi yang sangat diwarnai oleh interes produsen alat-alat tersebut. Dengan demikian akan mudah dipahami bahwa pada era mendatang secara global akan terjadi perkembangan teknologi canggih kesehatan yang relatif lebih cepat dari masa sebelumnya. Walaupun demikian. Ironisnya. hal ini perlu diantisipasi dengan hati-hati. Antisipasi yang kurang tepat terhadap perkembangan teknologi kesehatan pada tahapan difusi dan inkorporasi di atas akibatnya akan diikuti oleh tahapan utilisasi yang juga tidak tepat. Ketidak ikut sertaan dalam tahapan ini jelas akan menempatkan kita dalam posisi hanya sebagai penerima dan pemakai teknologi canggih ini. Di lain pihak. Ironisnya. 1994 43 . Joskow (1981) mengatakan bahwa sekitar 60% biaya rumah sakit dihabiskan untuk mengadakan masukan atau input yang dibutuhkan bagi pelaksanaan kegiatan. pembahasan tentang cost containment di rumah sakit perlu didahului dengan bahasan terhadap beberapa aspek penting di dalamnya. Dari biaya untuk input ini ternyata sekitaz 75% dihabiskan untuk kegiatan yang dikaitkan dengan peningkatan jumlah. Kalau dilanjutkan maka jelas pembiayaan ini akan dibebankan kepadamasyarakatpemanfaat teknologi tanpa disertai dengan kesadaran yang cukup akan manfaatnya. bahasan berikut ini akan dibatasi pada aspek pembiayaan teknologi kesehatan dan penyediaan tenaga ahli penggunanya. Edisi Khusus No. tahapan berikutnya yaitu inkorporasi teknologi baru harus dapat diantisipasi untuk dikembangkan secara seksama. misalnya dengan cara pembiayaan out of pocket maka proses ini akan terjadi lambat. Memahami bahasan di atas. Sebenarnya tahapan difusi ini secara alamiah akan terhambat prosesnya apabila dana untuk pembiayaan pemanfaatan teknologi juga terbatas. Apabila disepakati bahwa ketiga hal terakhir ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan teknologi kesehatan maka dapat disebutkan bahwa biaya yang dihabiskan untuk pemanfaatan tadi cukup bermakna bagi layanan di rumah sakit. Untuk Indonesia yang secara murni masih jauh dari keikut sertaan dalam tahapan inovasi perkembangan teknologi kesehatan canggih. Sebagai ilustrasi. akan dapat dipahami bahwa biaya untuk "bertahan" tadi sebetulnya sudah melebihi kemampuan untuk bertahan itu sendiri. Keadaan ini akan lebih diperburuk lagi apabila teknologi yang dimanfaatkan tadi belum dipastikan derajat keamanan penggunaannya di Indonesia. Perlu ditambahkan di sini. 90. Secara spesifik. hal ini tanoa disadari dapat mendorong rumah sakit untuk memaksakan dirinyamenjadi "pusat unggulan" agar tetap dapat bertahan. Pengembangan cara pendanaan pelayanan kesehatan baik yang disubsidi oleh pemerintah atau murni oleh swasta apabila dilakukan tidak dengan seksama dan tepat guna jelas akan mendorong penerimaan dan pemanfaatan teknologi ke arah yang merugikan seluruh masyarakat. Salahnya antisipasi pada dua tahapan sebelumnya akan mengakibatkan "banjirnya" teknologi canggih di rumah sakit masa datang tanpa dapat dicegah. Inovasiinovasi "baru" akan cepat bermunculan walaupun "baru" di sini harus lebih banyak diartikan sebagai "penambahan yang non esensial tetapi peningkatan kemudahan fungsional". Dikaitkan dengan biaya yang telah dikeluarkan oleh rumah sakit dan cepatnya tingkat perkembangan yang terjadi maka wajar akan terjadi tingkat pemanfaatan yang juga tinggi. Di samping itu ada faktor lainnya yang juga terkait dengan hal di atas yaitu faktor peningkatan sosio-ekonomi masyarakat yang dikaitkan dengan peningkatan demand terhadap pemeriksaan dengan alat canggih. kualitas dan lingkup jenis layanan. Masuknya dunia ke era pasca perang dingin agaknya sukar untuk ditolak oleh produsen tersebut untuk tidak menekan produksi teknologi militernya. Ditambah dengan cepatnya perubahan produksi ke generasi berikutnya dan disertai dengan teknik percepatan tahapan difusi oleh produsen. Dapat diasumsikan di sini kesalahan antisipasi dalam tahapan inkorporasi ini bukannya tidak mungkin akan mengakibatkan biaya pelayanan kesehatan akan meningkat tajam seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Lebih jauh. apabila cara pembiayaan pemanfaatan tidak dapat ditentukan dengan tingkat kepastian yang tinggi. Diversifikasi yang relatif mudah dan tidak memerlukan biaya yang terlalu tinggi adalah dengan memfokuskan produksi mereka pada perkembangan teknologi canggih di bidang kesehatan. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KESEHATAN CANGGIH DAN COST CONTAINMENT DI RUMAH SAKIT Kalau disimak secara teliti dapat dilihat bahwa produsen teknologi kesehatan canggih sebenarnya merupakan produsen utama dari teknologi militer. Pada gilirannya. Daya tarik ini memiliki efek ganda yaitu daya tarik ekonomi bagi para administrator rumah sakit dan daya tarik peningkatan kualitas bagi tenaga profesi medik.lengkapi dirinya dengan teknologi kesehatan yang dibutuhkan. Hal ini terjadi karena evaluasi teknis umumnya dilakukan di negara produsen pada tahapan inovasi dan dengan tingkat reliabilitas yang relatif rendah. Yaitu. tingginya tingkat pemanfaatan (over utilization) tadi sukar untuk dapat disebutkan sesuai dengan tingkat kebutuhan pemeriksaan itu sendiri. dengan tanpa mengabaikan peranan faktor lain dalam upaya cost containment. karena adanya faktor prestise dan nilai tambah ekonomi di sini maka tidak jarang yang tumbuh adalah kebanggaan yang harus dibayar cukup mahal. Misalnya. Dan tentunya. Dengan kata lain.

Sehubungan dengan hal ini perlu diantisipasi akan terjadi dua hal pokok : a) Pemanfaatan teknologi akan terhenti sementara oleh karena perangkat pengganti yang dibutuhkan perlu disediakan dari negara produsen. Apabila hal ini terjadi setidaknya harus diantisipasi tiga hal pokok yaitu : a) Kekurangan relatif dari tenaga pelaksana yang pada gilirannya akan menyebabkan pemanfaatan teknologi yang kurang atau tidak tepat. Umumnya yang dilakukan adalah dengan menerapkan mekanisme pembiayaan layanan yang sebagian ditanggung oleh penderita. Adanya pengurangan demand seperti ini akan jelas mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh rumah sakit. Di beberapa negara industri secara resmi pemerintah menetapkan waktu produksi teknologi canggih ini guna menghindari hilangnya perangkat pengganti pada saat teknologi tadi habis masa hidupnya. Untuk negara berkembang dapat dipahami rentang waktu seperti ini akan menjadi lebih sempit. dalam menerima suatu layanan di rumah sakit dan tidak seluruh pembiayaannya ditanggung oleh pihak ke III (perusahaan dan/atau asuransi). b) Peningkatan pembiayaan layanan rumah sakit secara keseluruhan akibat adanya pemanfaatan pada butir a. hal yang perlu diantisipasi secara cermat adalah yang dikaitkan dengan cepatnya pertumbuhan inovasi di negara industri dan waktu yang diperlukan untuk didifusikan ke Indonesia. kebutuhan akan suku cadang untuk penggantian yang dibutuhkan agar dapat terus berfungsi jelas akan terancam. Apapun yang terjadi dampaknya sudah jelas yaitu terjadinya peningkatan biaya pemanfaatan teknologi canggih tersebut dan beban ini akan ditanggung oleh masyarakat luas baik yang memanfaatkannya maupun yang tidak memanfaatkannya.di luar negara produsen. Menyimak siklus hidup teknologi kesehatan canggih seperti diuraikan di atas maka secara mendasar efektifitas upaya cost containment harus dilakukan pada aspek demand terhadap layanan dan aspek supply dari layanan kesehatan di rumah sakit. b) Bila masa hidup alat sudah selesai dan perangkat pengganti tidak tersedia lagi akan terjadi kanibalisme dari teknologi tersebut. yang erat kaitannya dengan tahapan inkorporasi dalam siklus hidup teknologi kesehatan canggih. Edisi Khusus No. di atas akan mengarahkan rumah sakit untuk dengan teliti membuat perencanaan tentang pengadaan teknologi kesehatan canggih dengan melakukan perhitungan cermat terhadap tenaga ahli yang dibutuhkan untuk menggunakannya. Dari aspek supply tampaknya bentuk upaya yang dapat dilakukan cukup beragam dan majemuk yang secara sederhana dapat dibagi dalam : a) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Pendek yang mencakup kegiatan-kegiatan: Penetapan pagu anggaran Perampingan jumlah sumber daya manusia Pengawasan terhadap remunerasi sumber daya manusia Pengawasan terhadap pola tarif Pengawasan terhadap jumlah layanan tertentu Efek dari pelaksanaan upaya ini terhadappemanfaatan teknologi kesehatan canggih relatif akan lebih tampak pada tarif yang relatif bersaing sebagai akibat dari terjadinya economies of scale pemanfaatan teknologi tersebut. pengabaian yang perlu diantisipasi akan terjadi di Indonesia adalah karena cepatnya perkembangan dan mudahnya pengadaan teknologi terutama di kota besar maka besar kemungkinan akan terjadi dumping dari teknologi lama. 90. Mengacu kepada uraian di atas maka jelas terlihat bahwa upaya cost containment yang dilakukan pada faktor teknologi kesehatan dan tenaga ahli pemakainya dapat menampilkan hasil dalam waktu singkat dan juga lama. Pada tahapan akhir. Artinya. Dengan cara ini diharapkan penderita akan mengurangi demand terhadap layanan yang sebetulnya tidak diperlukan. Pada umumnya perkembangan teknologi canggih dan setiap suku cadang penggantinya (spare parts) setidaknya disiapkan untuk produksi selama 5 tahun. Dalam rentang waktu me- . Berikutnya. sebagian harus dibayar oleh 44 Cermin Dunia Kedokteran . Akibatnya. 1994 penderita. b) Upaya Pengawasan Tidak Langsung Jangka Pendek yang mencakup kegiatan-kegiatan : • Pembenahan skala nilai relatif dari produksi teknologi kesehatan yang ada pada saat ini • Pembuatan daftar positif dan negatif dari produk teknologi kesehatan canggih • Pembatasan terhadap promosi teknologi kesehatan canggih kepada calon pemakai • Penyampaian daftar harga teknologi kesehatan canggih kepada calon pemakai Pembuatan profil kegiatan dokter secara berkala terhadap • teknologi kesehatan yang ada pada saat ini Efek dari kegiatan ini jelas lebih diarahkan untuk mencegah terjadinya dua hal pokok: pengadaan teknologi yang tidak prioritas dan kemungkinan akan terjadinya pemanfaatan yang berlebihan. Dumping ini akan terjadi relatif cepat dari kota besar ke tempat yang relatif jauh dari pusat pengembangan iptek kesehatan dan pusatpengembangan ekonomi. Dalam rentang waktu singkat hal ini dibutuhkan agar rumah sakit dapat bertahan hidup dalam kompetisi yang relatif ketat. c) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Menengah yang mencakup kegiatan-kegiatan : • Pengawasan terhadap pembangunan dan pengembangan fisik • Pengawasan terhadap pengadaan alat kesehatan canggih • Pengawasan dan insentif bagi kegiatan inovasi d) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Panjang yang mencakup kegiatan-kegiatan: • Pengawasan terhadap jumlah mahasiswa baru kedokteran • Pengawasan terhadap jumlah peserta program spesialisasi Adanya kegiatan butir c. Pada aspek demand. di atas. dan c) Karena jauh dari pusat pengembangan ekonomi perlu diantisipasi akan terjadinya subsidi pemerintah terhadap pelayanan dengan pemanfaatan teknologi tadi. dan d. maka yang perlu diamati adalah bagaimana perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi tadi dikaitkan dengan tersedianya pembiayaan dari pihak ke tiga (asuransi kesehatan).

Maryland. Peningkatan seperti ini dalam pengertian yang kurang menguntungkan adalah dapat meningkatkan demand tenaga ahli yang sudah dilatih untuk mengadakan suatu alat kesehatan canggih. f) Dalam hal pengeluaran biaya tetap yang terkait dengan pendidikan dan pelatihan tenaga ahli perlu dikembangkan kerjasama yang saling menguntungkan bagi setiap pihak. Karena itu. KESIMPULAN DAN SARAN Dari bahasan yang mengacu kepada aspek rentang waktu dan komponen pelaksanaan upaya cost containment di atas maka dapat disimpulkan bahwa : a) Proses perencanaan komprehensif mencakup aspek supply dan demand terhadap pengadaan teknologi kesehatan canggih merupakan upaya pokok dalam menghindari pembiayaan yang tinggi dari pemanfaatan teknologi yang dimaksud. b) Dalam melakukan perencanaan di atas. Salah satu komponen pengeluaran yang cukup besar baik nilai nominal maupun pertumbuhannya adalah biaya tenaga kerja. d) Penghindaran terhadap Biaya yang tidak perlu : Dalam batasan tertentu dapat diambil sebagai contoh yaitu tentang pendidikan atau pelatihan sumber daya manusia yang diadakan dengan dalih pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Handbook of Health Care Accounting and Finance. 1994 45 . 90. c) Terjadinya economies of scale suatu rumah sakit dikaitkan dengan pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan secara tepat akan membuat kedudukan yang mantap bagi suatu rumah sakit dalam situasi kompetitif yang ada. Kalau uraian sebelumnya kelihatannya didasari atas aspek rentang waktu pelaksanaan maka ditinjau dari aspek komponen pelaksanaan upaya cost containment dapat diuraikan dalam tahapan sebagai berikut : a) Pengurangan Biaya Operasional : Pada tahapan ini pengamatan adalah terhadap pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai kegiatan layanan. Cermin Duniu Kedokteran. tahapan ini sebenarnya dapat dikelompokkan ke dalam tindakan jangka pendek langsung dan tidak langsung. Kebijaksanaan Departemen Kesehatan di Bidang Perumahsakitan dalam PJPT 11. h) Pihak yang samadiharapkandapat mengembangkanlangkahlangkah pokok upaya cost containment pemanfaatan teknologi kesehatan canggih secara nasional dan menyerahkan tetapi mengarahkan pelaksanaannya di setiap daerah disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. Essentials of Health Care Finance. 1983. Departemen Kesehatan. Maryland. PERSI dan ikatan profesi kesehatan secara bersama harus mengembangkan regulasi dan/atau kesepatan formal tentang pengawasan perkembangan teknologi kesehatan yang dibutuhkan bagi peningkatan kualitas layanan bagi masyarakat. Pengertian make-up di sini harus dilihat dalam arti teknologi baru yang tidak sepenuhnya baru dan dalam arti teknologi lama dengan perangkat tambahan tertentu. Tindakan ini akan menunjukkan manfaat langsung dan segera sehingga dapat dikelompokkan dalam tindakan jangka pendek langsung. Edisi Khusus No. Dalam klasifikasi berdasarkan rentang waktu. dan • Pelonjakan biaya layanan kesehatan di rumah sakit secara menyeluruh yang akan melebihi lonjakan biaya yang terjadi secara umum. dan h. c) Pengawasan Biaya Penggantian Teknologi : Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengganti teknologi seharusnya benar-benar dikeluarkan untuk penggantian alat baru bukan hanyamake-up dari yang lama. Apabila hal ini dapat disubstitusi oleh alat/cara lain yang relatif lebih murah maka hasilnya diharapkan akan timbul segera. 3. Broto Wasisto. hal yang perlu diperhatikan adalah adanya akibat pengadaan teknologi kesehatan canggih terhadap peningkatan biaya tetap (fixed cost) yang akan mempengaruhi terjadinya economies atau diseconomies of scale dari rumah sakit yang bersangkutan. Aspen System Corporation. g) Dalam skala luas. pihak pemerintah. Lebih jauh. Adanya pengeluaran yang dianggap terlalu besar akan secara langsung ditindak lanjuti dengan melakukan pengurangan/reduksi terhadapnya. Kedua fenomena di atas jelas harus sekuat mungkin diupayakan untuk tidak terjadi karena bukannya tidak mungkin akan menghasilkan keadaan di mana masyarakat yang tidak mampu akan semakin jauh dazi jangkauan layanan kesehatan rumah sakit dan yang dapat menjangkaupun dikhawatirkan akan menerima kualitas layanan yang relatif kurang baik. Aspen System Corporation. Rockville. tidak diperhatikan dan disertai dengan belum dikembangkannya regulasi tentang pembiayaan oleh pihak ke tiga terhadap pemanfaatan teknologi ini maka dapat diasumsikan akan terjadi dua hal penting yaitu : • Kompetisi layanan yang tidak sehat (termasuk dalam aspek ketenagaan) dan cenderung mengganggu mutu layanan yang diberikan dikaitkan dengan efisiensi biaya. Cleverly WO. Cleverly WO. 2. b) Pembenahan Biaya Operasional : Dalam lingkup yang diamati dan ditindak lanjuti adalah adanya peningkatan pengeluaran operasional yang dijaga untuk tidak melebihi pertumbuhan inflasi pada kurun waktu yang sama. Rockville. e) Upaya efisiensi komponen biaya tetap pengadaan teknologi yang dibutuhkan berdasarkan perencanaan matang sejauh mungkin dapat ditransformasikan ke biaya tidak tetap (variable cost) misalnya dengan cara bagi hasil. KEPUSTAKAAN 1.nengah dan lama di mana diperlukan perencanaan yang cermat dan matang maka hasilnya akan menempatkan rumah sakit yang bersangkutan sebagai pimpinan dalam kompetisi yang ada. Apabila hal-hal di atas terutama butir g. perlu juga diwaspadai adanya efek dumping teknologi seperti dibahas sebelumnya. upaya ini jelas termasuk dalam upaya langsung jangka menengah. 1986. Komponen biaya tetap seperti ini sewajarnya dikompensasikan dengan mekanisme ikatan kerja bagi tenaga ahli dengan memperhatikan pengembangan jenjang karirnya. d) Untuk menghindari terjadinya diseconomies of scale akibat pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan canggih perlu dilakukan upaya cost containment secara berkala dengan penekanan pada efisiensi komponen biaya tetap. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. 1993.

Miller R LeRoy. Oktober/Desember 1993. Theory-Issues-Applications. Antisipasi Investasi Terhadap Perkembangan Teknologi Kese- hatan Dalam Dasawarsa 90-an. Second ed. Sjaaf AC. Shorter Fourth Ed. Intermediate Microeconomics. 6. 1983. WHO. Feldstein PJ. Regulatory Approaches to Hospital Cost Containment. New York: McGraw-Hill Inc. Health Care Economics. 1986. 8. 11. Mansfield E. Thakur M et al. 9. unpublished. 1994 . 2. the Role of Government Regulation. Geneva: World Health Organization. No. 46 Cermin Dunia Kedokteran.. Theory and Application. in A New Approach to the Economics of Health Care. Economic Support for National Health For A11 Strategies. Cost Containment in Small Hospitals: Targeting Strategies beyod this Decade. Vol 1.. Norton & Co. 1982. 1981. Joskow PL. 2nd ed. Microeconomics. New York: W. New York: John Wiley and Sons. 1993. edited by Mancur Olson. 10.4. 90. 1982.W. Controlling Hospital Costs. 1981. 5. Cost Containment • Challenge to the Health Care Industry. a Synthetic of the Empirical Evidence. May/ June. Cambridge: Massachusetts: MIT Press. Steinwald B. Sobak SJ. Edisi Khusus No. Sloan F. 7. Hospital and Health Services Administration. akan diterbitkan dalam Jurnal Administrasi Rumah Sakit. 1988. 12. the American Enterprise Institute.

atau pelayanan non panti. belum jenis panti lainnya. tuna susila. Moderator. 90. Sdr. penyandang cacat. Apabila pelayanan sosial yang diberikan oleh Departemen Sosial dibandingkan dengan jumlah penyandang masalah yang harus dilayani. Memang penanganan masalah sosial tidak akan mampu ditangani Cermin Dunia Kedokteran. Sdr. Panti Pengasuhan Anak 19 buah. bahwa seluruh pelayanan yang diberikanoleh Departemen Sosial tanpa dipungut imbalan biaya. Pertama-tama marilah kita bersama mengucapkan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. khususnya bagi para peserta Kongres yang datang dari luar Jakarta. korban bencana. karena tugas pokok Departemen Sosial memang pada dasarnya menangani orang yang tidak mampu. kelompok. Departemen Sosial mengundang peran serta masyarakat. karena Departemen Sosial merasa mendapat perhatian dan dapat berbagi rasa tentang penanganan masalah orang tidak mampu. Panti Gelandangan dan Pengemis 6 buah. Yth. anak nakal. anak bekas korban penyalahgunaan obat dan narkotika. Panti Anak Nakal/bekas korban narkotika 12 buah. Panti Cacat 36 buah. Tidak sedikit organisasiorganisasi sosial masyarakat yang berperan aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di sini sebenarnya saya hanya akan memberikan gambaran. bahkan tidak sedikit yang berwujud pelayanan langsung. Panti Lanjut Usia 46 buah. dan sebagainya. yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang saya kemukakan tersebut. yang dikelola swasta. keuangan. Pe nyandang masalah yang dilayani tersebut semuanya dalam keadaan tidak mampu. karena atas perkenan dan ridla-Nya hari ini kita dapat berkumpul di sini. jumlah berbagai jenis panti tersebut belum meliputi yang ditangani oleh Pemerintah Daerah dan Swasta. Lingkungan Pondok Sosial 10 buah. anak terlantar. Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. kepada seluruh peserta Kongres. Kemudian. seperti panti-panti. Sebagai suatu misal. Panti Pengasuhan Anak yang dikelola oleh Pemerintah hanya 19 buah. Mereka itu biasanya dicakup dengan sebutan fakir miskin. dan selamat datang di Jakarta. perkenankan saya mengucapkan terima kasih dan merasa bahagia. tuna sosial dan sebagainya. Panti Tuna Susila 23 buah. Mereka memperoleh pelayanan sebagian melalui pantipanti sosial yang ada dan sebagian dalam bentuk tidak melalui panti. seperti pekerja sosial sukarela. 1994 47 . dan masyarakat. Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo . dan Hadirin yang berbahagia. Untuk mengatasi masalah tersebut. 23 Nopember 1993 Assallamu'alaikum Warokhmatullohi Wabarokatuh. sama sekali tidak seimbang. Edisi Khusus No . karena mendapat kesempatan untuk membahas peranan Departemen Sosial dalam penanganan pasien tidak mampu di rumah sakit.903. Saya katakan terimakasih dan bahagia. perkenankan saya menyampaikan selamat ber-Kongres Nasional VI. pikiran berwujud saran-saran. Jakarta . kaitannya dengan masalah keberfungsian sosial dari orang-orang.25 November 1993.Ceramah Menteri Sosial Republik Indonesia pada Kongres Nasional Vl Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia di Jakarta. Peserta Kongres Nasional VI PERSI. untuk membahas Peranan Departemen Sosial dalam Penanganan Pasien Tidak Mampu di Rumah Sakit. Peran serta mereka ada yang berupa tenaga. Sebelum membahas masalahnya. Jumlah penyandang masalah yang harus dilayani jumlahnya jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kemampuan pelayanan. dapat dilihat dari jumlah panti pemerintah (baca Departemen Sosial) yang ada. 21. lanjut usia terlantar. Sekedar untuk memperoleh gambaran masalahnya. Saya katakan berbagi rasa.

yang sejalan dengan apa yang tersirat dalam ketentuan mengenai Rumah Sakit tersebut. Mungkin apabila hal itu dapat diuji cobakan. Saya sangat mendukung pada ketentuan mengenai fungsi sosial Rumah Sakit tersebut. Secara bertahap kita perbaiki bersama untuk mengembangkan total treatment. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (No. gizi. saya dihadapkan pada pertanyaan "Peranan Departemen Sosial dalam Penanganan Pasien Tidak Mampu di Rumah Sakit". sedangkan bagi Rumah Sakit Swasta sekurang-kurangnya 25% dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. khususnya yang masih membutuhkan uluran tangan. Bagi Rumah Sakit Pemerintah sekurang-kurangnya 75% dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. namun yang jelas kini pertanyaan dilemparkan kepada Departemen Sosial. 159 b/ MEN. Saya kira untuk menangani masalah pasien tidak mampu. Dari ketentuan yang saya kutip tadi. mungkin Rumah Sakit dapat mempekerjakan Pekerja Sosial. dan tenaga non medik. Rumah Sakit Umum Beth Israel di Boston. Selanjutnya mengenai fungsi sosial Rumah Sakit. 90. dan dimungkinkan adanya tenaga non medik yang dipekerjakan di Rumah Sakit. semuanya yang tidak mampu dan terlantar. pelayanan di Rumah Sakit berupa Pelayanan Rawat Jalan. tugas Rumah Sakit melaksanakan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) serta melaksanakan rujukan. Kini. yang dapat dicapai melalui program pelayanan "obat jalan". pelayanan di rumah. bedah. suku. laboratorium teknis dan berafiliasi dengan sekolah tinggi perawat dan sekolah tinggi pekerjaan sosial Simmons College dan Smith College. Dari uraian tersebut sebenarnya saya hanya akan berbagi rasa dengan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. Sementara angka kemiskinan adalah ± 15%. saya mohon jangan buruk sangka. Departemen Sosial dapat memberikan bantuan tenaga Pekerja Sosial yang diperlukan. akan ada manfaatnya. 1994 Sosial kerjakan untuk turut memikirkan masalahnya. mengira saya berkiblat ke luar negeri. penanganannya harus bersama-sama dengan masyarakat. Edisi Khusus No. pada tahap awal. dapat saya angkat sebagai suatu model pendekatan interdisipliner. dan Pelayanan Gawat Darurat. Orang yang sakit fisik yang ditangani oleh rumah sakit. kedokteran umum. mempunyai 450 tempat tidur. begitu seseorang menderita sakit. Saya tidak tahu sejauh mana ketentuan itu dapat dilaksana. sebagian ada yang tidak mampu. apabila hal itu diuji cobakan. Dengan demikian memudahkan m gmberikan pelayanan secara interdisipliner dengan memperkenalkan pelayanan melalui total treatment team. Pelayanan Rawat Nginap. Permasalahan ini tentunya tidak akan dapat saya jawab sendiri. sebenarnya penderita tersebut termasuk penyandang masalah sosial. dan penduduk di wilayah yang seluas-luasnya. dan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat dicapai oleh masyarakat seluas-Iuasnya melalui total treatment team tersebut. paramedik non perawat.oleh Pemerintah sendiri. Tujuan yang ingin dicapai adalah peningkatan derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi pasiennya. melainkan saya akan mengajak pihah Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia untuk mencari jawaban yang sebaik-baiknya. Hal itu dimungkinkan karena berbagai disiplin terlibatkan. Kita sama-sama memberikan pelayanan kepada orang yang menderita. gigi. warna kulit dan agama. Sekiranya hal itu dapat dipikirkan.kan. sedangkan Departemen Sosial memberikan pelayanan kepada penderita sakit sosial. Prinsip pencegahan/pengobatan (preventive medicine). memberikan pelayanan yang meliputi batas geografis yang tak terbatas di rumah sakit saja. sebagian besar banyak yang mampu. yang . Dari kepustakaan dan pengalaman yang dilaporkan.KES/PER/IU1988). Massachusetts. fasilitas untuk golongan yang tidak mampu tersedia ± 75% bagi Rumah Sakit Pemerintah dan 25% bagi Rumah Sakit Swasta dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. perawat. Rumah sakit memberikan pelayanan kepada orang yang pada dasarnya menderita sakit fisik. sakit apa pun. Kalau saya kemukakan hal ini. penderita dari segala lapisan pendapatan. Saya yakin. suatu contoh kasus yang dilaksanakan oleh salah satu rumah sakit umum di Amerika. mengobati penyakit dengan mencari sumber sebabnya dapat dilaksanakan. Hadirin sekalian. Hadirin sekalian. Profesi Pekerja Sosial dalam perkembangan spesialisasinya ada Pekerja Sosial Medik. tentu tidak akan dapat sekaligus memuaskan. Mungkin mereka tidak sekedar dapat membantu bagaimana menangani pasien tidak mampu. mencakup pelayanan medik dan penunjang medik. termasuk profesi pekerjaan sosial. Berdasarkan ketentuan tersebut. Hal itu menunjukkan benar-benar bahwa perhatian Pemerintah sangat besar kepada rakyatnya. yang dapat dicapai penduduk dan mudah dikendalikan oleh rumah sakit dan sebagainya. satu di antaranya adalah pelayanan Rumah Sakit diberikan secara terpadu. ahli diet. Namun kebiasaan penanganan seperti itu di Indonesia masih belum berkembang. ditentukan bahwa setiap Rumah Sakit harus melaksanakan fungsi sosialnya dengan antara lain menyediakan fasilitas untuk merawat penderita yang tidak/kurang mampu. Sementara itu. di klinik-klinik yang tersebar di banyak daerah. anggap saja contoh tersebut merupakan salah satu yang kebetulan saya ketahui. dikatakan pula bahwa setiap Rumah Sakit mempunyai kategori ketenagaan yang terdiri dari tenaga medik. melainkan menangani pasien yang mampu pun pada saatnya tentu dibutuhkan. antara lain internis. Sebab pada dasarnya. sedangkan yang ditangani Departemen Sosial. Persoalannya kini apa yang bisa Departemen 48 Cermin Dunia Kedokteran. paramedik. Sekaligus rumah sakit ini memberikan kemudahan menjadi rumah sakit Fakultas Kedokteran Harvard ( Harvard Medical School) untuk training pasca sarjana bagi berbagai spesialisasi ilmu.

waktu tersedia. Demikianlah sekedar arahan saya tentang Peranan Departemen Sosial menangani pasien tidak mampu di Rumah Sakit. dengan harapan semoga Kongres Nasional VI Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia berhasil dan membuahkan manfaat seperti yang kita harapkan. sebab Departemen Sosial. Hal tersebut saya tawarkan untuk kita pecahkan bersama. Kesemuanya membutuhkan kerja sama. mengangkat. dapat dijadikan landasan awal untuk Departemen Sosial dapat berperan dalam menangani pasien tidak mampu. kemauan dan kemampuan diarahkan untuk itu. saya juga khawatir akan memperkecil fungsi sosial Rumah Sakit. sekarang ini dapat mengadakan.interdisipliner. guna mendapatkan konsep-konsep pemikiran penyelesaian. dengan kesanggupan membayar semua biaya yang ada. 90. Rupanya bantuan semacam itu. atau bentuk-bentuk lain dukungan untuk dana sehat bagi yang tidak mampu. telah dipahami oleh seluruh Peserta Kongres. Wassallamu'alaikum Warokhmatullohi Wabarokatuh. apabila diperlukan. saudara-saudara telah memahami dengan jelas. Selanjutnya perlu saya lemparkan juga. membahas masalahnya lebih mendalam. apabila masalahnya dapat dianggap mendesak. Dra. saya yakin. Menteri Sosial R. dan selamat bekerja. Apa yang saya ungkapkan tadi. 1994 49 . sesuai dengan peraturan yang ada adalah untuk orang yang menderita sakit. Terimakasih. bahwa peranan yang saya ungkapkan tidak jelas. Hadirin sekalian. dan menetapkan Pekerja Sosial profesional yang diperlukan. di samping dana untuk itu tidak tersedia. Mengapa saya tidak dengan serta merta menjawab tentang peranan Departemen Sosial dalam menangani pasien tidak mampu di Rumah Sakit. Inten Soeweno Wisdom will add years to your life Cermin Dunia Kedokteran . dan kerja sama membutuhkan kerelaan. Saya yakin. Mungkinkah kita mengembangkan semacam asuransi sosial bagipasien tidak mampu. Akhirnya semoga uraian singkat tersebut bermanfaat adanya. Namun dapat kita perjelas bersama-sama. Sebab kerja team bagi tenaga-tenaga kesehatan sudah merupakan barang biasa. baru apa yang bisa saya pikirkan. Hadirin sekalian. dan atau terpadu itu.I. Sebab. Memang keberadaan Rumah Sakit. Edisi Khusus No. agar pengabdian kita kepada pasien yang tidak mampu dapat kita laksanakan sebaik-baiknya. termasuk orang yang tidak mampu. hanya jangkauan pelibatan profesi lain masih belum meluas. perlu kiranya pihak Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia bekerja sama dengan Departemen Sosial. Konsep yang saya kemukakan tersebut.

Emma Suratman. natuurlijk persoon). Dengan demikian rumah sakit adalah tempat untuk menyelenggarakan salah satu upaya kesehatan yaitu upaya pelayanan kesehatan (health services). 90. apakah yayasan suatu badan hukum atau bukan. Rumah Sakit sebagai sarana kesehatan memegang peranan penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tetapi ada suatu yurisprudensi yang menyatakan bahwa yayasan adalah badan hukum. Jelas disini bahwa rumah sakit tidak dapat diselenggarakan oleh sebuah firma atau perseroan komanditer karena keduanya bukanlah badan hukuin. 21— 25 November 1993. 50 Cermin Dunia Kedokteran. DalamKetentuan Peralihan dari Undang-undang Nomor 23/ 1992 dinyatakan dalam waktu 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang ini. SH Ketua Pengurus Pusat PERHUKI. promotif (peningkatan). 1994 . Saat ini penyelenggara berbagai upaya tersebut telah secara tegas diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. diberi batasan mengenai sarana kesehatan yaitu :"Sarana kesehatan adalah tempat untuk menyelenggarakan upaya kesehatan". RUMAH SAKIT SEBAGAI SARANA KESEHATAN Dalam Undang-Undang Nomor 23/1992 tentang Kesehatan Bab I Ketentuan Umum. Sedangkan dalam Bab VI Bagian Ketiga Pasal 56 dikatakan bahwa Sarana kesehatan meliputi Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo. Kesemua upaya ini harus dilaksanakan secara terpadu serasi dan berkesinambungan. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut berbagai upaya harus diselenggarakan yang meliputi upaya preventif (pencegahan). ETIKA RUMAH SAKIT (HOSPITAL ETHICS) Dalam menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan terdapat ikatan antara berbagai fihak yaitu pasien. balai pengobatan. Jakarta. rumah sakit khusus dan seterusnya. kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan). rumah sakitumum. yayasan atau perseroan terbatas. Dalam kenyataannya ada perbedaan pendapat mengenai yayasan. Dalam makalah ini hanya akan dibicarakan hubungan antara dua fihak saja yaitu pasien dan rumah sakit. tetapi harus diselenggarakan oleh suatu badan hukum (rechts persoon) yang dapat berupa perkumpulan. maka pembangunan kesehatan ditujukan pada tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari Tujuan Nasional. Salah satu aspek yang penting dalam kaitan ini adalah hubungan pasien dengan Rumah Sakit dengan penekanan pada aspek etik dan hukum. semua sarana kesehatan tertentu yang belum berbentuk badan hukum harus menyesuaikan statusnya menjadi badan hukum. karena memang pengaturan mengenai yayasan berupa peraturan perundang-undangan belum ada. Salah satu unsur penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut adalah Sarana Kesehatah. Dalam pasal 58 dinyatakan pula bahwa sarana kesehatan tertentu harus berbentuk badan hukum antara lain rumah sakit. Edisi Khusus No. Ini berarti bahwa rumah sakit tidak dapat diselenggarakan oleh orang perorangan (individu. pusat kesehatan masyarakat. dokter dan rumah sakit yang kesemuanya diatur hak dan kewajibannya. Jakarta PENDAHULUAN Sesuai dengan apa yang digariskan dalasm Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Namun kadangkadang usaha mulia rumah sakit ini dapat membawa malapetaka yang pada akhirnya akan berurusan dengan meja hijau.Hubungan Rumah Sakit dengan Pasien Dipandang dari Sudut Hukum dan Etika Ny. H.

HUKUM RUMAH SAKIT (HOSPITAL LAW) Hukum Rumah Sakit adalah sebagian dari hukum kesehatan (health law) yang merupakan pula bagian dari hukum pada umumnya. dengan perbedaan antara baik dan buruk. Memang antara Etika dan Hukum tidak dapat dipisahkan meskipun keduanya dapat dibedakan (Ethiek en recht zijn niet te scheiden. Selanjutnya dikatakan bahwa :"Etika mengandung nilai mengenai benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat". 4) RumahSakitmembinahubungan kerjainterdan antarrumah sakit dengan didasarkan rasa kebersamaan. jelas bahwa etika berhubungan erat dengan moral. SH memberi definisi Etika sebagai berikut :"Etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan melihat pada amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui akal fikiran". rumah sakit adalah sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 1) Van Apeldoorn menyatakan bahwa tidak mungkin memberikan definisi yang tepat tentang hukum mengingat banyak aspek yang tercakup di dalamnya. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa etika menyangkut suatu kelompok tertentu. maar wel te ondercheiden). dalam keadaan sehari-hari ada kalanya tidak nyata. Pada pelanggaran hukum maka sanksi diberikan oleh fihak penguasa dan sanksi ini dapat berupa sanksi administratif. Keempat butir aturan ini dijabarkan lebih lanjut dalam butirbutir yang lebih rinci. Edisi Khusus No. Dalam Etik Rumah Sakit Indonesia (PERSI) antara lain dinyatakan bahwa : 1) Pancasila merupakan asas Etik Rumah Sakit Indonesia 2) Rumah Sakit mengutamakan misi kemanusiaan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. apa yang baik dan apa yang buruk : segala ucapan atau tindakan harus senantiasa berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan tentang peri keadaan hidup dalam arti kata seluas-Iuasnya. group etc"." 4) Kamus Bahasa Inggris Webster's Dictionary memberi definisi sebagai berikut : • "Ethics is the science that treats of the principles of human morals and duty : moral philosophy". Dari definisi tersebut jelaslah bahwa hukum bermaksud mengatur tata tertib dalam masyarakat dan memberikan kedamaian antara anggota masyarakat tersebut (handhaving van rust en orde). Dari definisi-definisi tersebut di atas. etika hanya mengikat suatu kelompok orang saja. kaidah hukum dilengkapi dengan unsur yang memaksa (dwang element) yang lazim disebut sanksi. 3) Rumah Sakit telah berkembang menjadi unit sosio ekonomis yang makin kompleks dan oleh karena itu perlu dikelola secara profesional hingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Dalam pelanggaran Etika maka sanksi diberikan oleh kelompok itu sendiri atas dasar pelanggaran moral (kesusilaan) atau dignity (harga diri). Perbedaan yang jelas antara keduanya terlihat pada unsur sanksi. 2) Dr. • "Character or the ideals of character manifested by a race or people". • The moral system of an individual. E. baik rumah sakit maupun tenaga kesehatan/ medis harus memperhatikan norma etika dan hukum yang berlaku. Dalam penjabaran sehubungan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia terdapat suatu kejanggalan ditinjau dari segi ilmu hukum. 2) Kamus Umum Bahasa Indonesia memberi definisi sebagai berikut :"Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)".Hubungan antara pasien dan rumah sakit diatur oleh dua macam norma yaitu norma etika dan norma hukum. Jadi meskipun terdapat perbedaan antara keduanya. PERBEDAAN ETIKA DAN HUKUM Jika kita simak uraian di atas tentang Etika Rumah Sakit dan Hukum Rumah Sakit maka terdapat beberapa perbedaan. meskipun perbedaan tersebut tidak terlalu besar. 90. Norma etika rumah sakit telah diatur dalam Keputusan MenteriKesehatan No. 1) Drs. Utrecht dalam bukunya Pengantar dalam Hukum Indonesia memberi definisi sebagai berikut :"Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya ditaati oleh masyarakat yang bersangkutan oleh karena pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan dari fihak pemerintah (penguasa) masyarakat tersebut". khususnya pasien. Hukum dalam hal ini berbeda dengan etika. HUBUNGAN RUMAH SAKIT DAN PASIEN Sebagaimana telah disebutkan di atas. 1994 51 . dan untuk menjamin bahwa setiap anggota masyarakat mentaati petunjukhidup tersebut. 3) Ensiklopedi Indonesia (hal 973) menyatakan :"Ei i ka adalah il mu tentang kesusilaan (moral) yang menentukan bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat. sedangkan hukum merupakan suatu norma yang mengikat seluruh masyarakat (algemeen bindend) dan mengatur seluruh masyarakat (algemeen regelend). H. Dalam memberikan pelayanan kesehatan/medis kepada pasien. Bagi rumah sakit berlaku Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (ERSI) sedangkan bagi para dokter dan dokter gigi berlaku Cermin Dunia Kedokteran . Rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien memerlukan tenaga kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan profesinya. maka berlakunya Kode Etik sebaiknya tidak diatur dengan suatu Keputusan Pemerintah karena penetapan berlakunya suatu Kode Etik dengan suatu Keputusan Penguasa akan mengubah Kode Etik tersebut menjadi Hukum Positif yang algemeen bindend dan algemeen regelend tadi. jika ditinjau arti dari kata "Etika" itu sendiri. 924/Menkes/SK/XII/1986 yang menyatakan berlakunya Kode Etik Rumah Sakit Indonesia. Sanksi ini ditetapkan oleh kelompok itu sendiri dan penegakannya juga dilaksanakan oleh kelompok itu sendiri. sanksi perdata (ganti rugi) atau sanksi pidana (denda atau penjara/ kurungan). Oleh karena antara kedua hal ini tidak ada perbedaan yang jelas. Hasbullah Bakry. Menurut literatur terdapat beberapa definisi atau batasan mengenai Etika.

Tetapi jika pada operasi. maka dalam hal ini tuntutan ditujukan kepada Direksi. jelas itu adalah tanggung jawab rumah sakit. Kalau kita amati hubungan rumah sakit dan pasien. maka terlihat bahwa hubungan tersebut dikategorikan dalam sautu Perikatan (Verbintennis) Sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jika pelanggaran hukum dilakukan tenaga kesehatan. Kode Etik profesi ataupun rumah sakit berlaku di kalangan profesi yang bersangkutan dan tidak perlu dikukuhkan dengan suatu keputusan dari pihak penguasa. maka sebenarnya agak sukar menentukan wanprestatie terhadap kontrak terapeutik tersebut karena pelanggaran etika menyangkut moral yang agak sukar dijadikan obyek tuntutan di depan pengadilan. maka yang dituntut adalah ahli bedah tersebut. Perikatan antara rumah sakit dan pasien merupakan suatu therapeutiek kontrakt atau kontrak terapeutik di mana rumah sakit mempunyai kewajiban menyembuhkan pasien dan pasien berkewajiban membayar biaya pelayanan tersebut. Mengingatbahwa dalam keadaan sehari-hari lebih banyak terjadi kasus pelanggaran hukum. dan diduga ada unsur kriminal (sengaja atau karena kelalaian menyebabkan mati atau cedera pada orang lain). maka sebaiknya Panitia Etika Rumah Sakit diganti menjadi Panitia Etika dan Hukum Rumah Sakit sehingga dapat menangani baik pelanggaran etika maupun pelanggaran hukum. maka pihak lainnya dapat menuntut lawannya ke depan pengailan. misalnya seorang ahli bedah meninggalkan gunting dalam perut pasien. jika ada salah satu pihak yang melakukan wanprestatie atau ingkar janji. Jika wanprestatie tersebut berupa kerugian yang maka diajukan tuntutan ganti rugi ke Pengadilan Perdata. karena rumah sakit merupakan Badan Hukum. Dengan adanya keputusan dari pihak pemerintah. tuntutan dapat ditujukan kepada tenaga kesehatan yang menyebabkan kerugian bagi pasien dan dapat pula diajukan kepada rumah sakit. Jika kerugian tersebut berupa cacat atau kematian. Karena obyek Peradilan Pidana adalah orang. maka Kode Etik akan berubah menjadi Hukum Positif dengan segala sanksinya. perdata maupun pidana. listrik mati atau tabung oksigen meledak. 90. pada tenaga kesehatan yang melanggar atau pada rumah sakit. Edisi Khusus No.KODEKI dan Kode Etik Dokter Gigi Indonesia. menyebabkan seseorang dapat dikenakan sanksi. 1994 . sedangkan pelanggaran terhadap Kode Etik adalah suatu pelanggaran terhadap moral dan dignity yang harus dinilai oleh kelompok atau profesi itu sendiri. dalam hal ini Direksi. Untuk menegakkan etika rumah sakit pada tiap-tiap rumah sakit telah dibentuk Panitia Etika Rumah Sakit yang harus menegakkan etika dalam rumah sakit yang bersangkutan. PENUTUP Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara Etika dan Hukum. Dalam hal tuntutan ganti rugi. Dengan demikian. we triumph without glory when we conquer without danger 52 Cermin Duniu Kedokteran . Dalam hal pelanggaran Etika. maka pasien dapat mengadukan hal tersebut kepada pihak yang berwajib untuk diajukan ke depan Pengadilan Pidana. Pelanggaran terhadap hukum positif. meskipun antara keduanya tidak dapat dipisahkan. baik administratif. Sedangkan dalam tuntutan pidana harus dilihat pada siapa kesalahan tersebut dapat dituduhkan.

memenuhi kriteria (memiliki eksternalitas) untuk dapat digolongkan sebagai private commodity. Rumah sakit adalah sebuah institusi penyedia jasa pelayanan kuratif yang kompleks dan perlu dikelola secara profesional (baik yang for profit maupun yang non-profit). honest. hospitals must at all times strive to provide the best possible care and treatment to all in need of hospitalization 2) Hospitals should be fair. dan pelayanan kuratif tidak seharusnya diperdagangkan. dan tidak perlu dikaitkan dengan masalah dagang. Karena betapa pun juga rumah sakit adalah lembaga bisnis. Kita perhatikan beberapa pasal etika rumah sakit di Amerika Serikat 2 . Maka perhitungan bisnis. Jakarla. and impartial in all their business relationship . Di sini tersirat bahwa dalam etika bisnis pun (termasuk bisnis rumah sakit) dituntut adanya sikap jujur. Kembali di sini ada keengganan menggunakan kata "bisnis" karena beranggapan bahwa "bisnis" identik dengan berdagang. misalnya : 1) Recognizing that the care of the sick is their first responsibility and a sacred trust. pegawainya. Dan selama ini pun baik dokter maupun masyarakat memperlakukan pelayanan kuratif sebagai private commodity. Artinya. staf yang bekerja di sana. Jakarta Pelayanan kuratif.Etika Rumah Sakit dalam Perspektif UU Nomor 23/1992 Kartono Mohamad Ikatan Dokter Indonesia. . . Jujur terhadap konsumen (pasien) dalam memberikan pelayanan. meskipun itu rumah sakit pemerintah. 1994 53 . serta konsumen (khususnya pasien) yang menggunakan atau membeli jasa pelayanan rumah sakit tersebut. jujur dalam melakukan pemasaran untuk mencari klien. maka penyedia pelayanan kuratif akan berhadapan dengan masalah tentang bagaimana memberikan pelayanan yang dapat memuaskan konsumen (dalam hal ini : pasien). 90. Bahkan sejak sebelum program swadana pun rumah sakit pemerintah seharusnya sudah dikelola secara business. Edisi Khusus No.25 November 1993. dan konsumen. . menggunakan uang negara (rakyat). Perhitungan tentang kelaikan suatu rencana dipandang dari segi cost and benefit pada rumah sakit pemerintah justru harus lebih ketat karena rumah sakit pemerintah Makalah ini disajikan pada Kongres Vl 21 . Demikian juga seharusnya etika bisnis rumah sakit. Pengertian pengelolaan profesional di sini mencakup pula perhitungan aspek ekonomi dan bisnis. PERSI & Hospilal Expo. baik yang diberikan oleh dukun maupun dokter. Karena pelayanan kuratif adalah suatu private commodity. ditujukan untuk menegakkan dan menjaga hubungan baik antara pengusaha (pemilik) rumah sakit. betapapun juga. maka etika rumah sakit pun lebih didasari oleh etika bisnis dan harus dibedakan dari etika profesi kedokteran. Etika bisnis. Kata "komoditi" dalam hal ini adalah istilah dalam ilmu ekonomi. sedangkan anggapan yang berlaku di masyarakat menghendaki agar dokter menjauhkan diri dari berdagang dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Keengganan kita untuk melihat pelayanan kuratif sebagai private commodity hanyalah karena kata "komoditi" memberikan konotasi adanya unsur dagang. kalau ada dokter yang mau memberikan pelayanan kuratif tanpa dibayar tentu boleh-boleh saja. menurut Thiroux'. berkaitan dengan menegakkan dan menjaga hubungan baikdi antarapengusaha. betapapun (diakui atau tidak) juga sudah masuk dalam pikiran para penyedia pelayanan jasa kuratif. Kalau di Indonesia tampaknya terjadi kerancuan dalam Cermin Dunia Kedokteran. terutama rumah sakit daerah yang dibebani untuk membantu target Pendapatan Asli Daerah (PAD). dan dalam membuka tempat pelayanan akan selalu memperhitungkan aspek need dan demand. dan jujur dalam bersaing. Pasien bersedia menunggu untuk dilayani dan bersedia membayar untuk mendapatkan pelayanan kuratif.

8) Pasien berhak meminta agar segala komunikasi dan catatan tentang pelayanan dirinya dirahasiakan. 3) Pasien berhak mendapat informasi yang memadai tentang hal-hal yang akan ia hadapi selama di rumah sakit. baik yang lama maupun yang diperbaharui. Hal ini pula yang membuat etika rumah sakit di Indonesia belum bersedia mengakui kenyataan-kenyataan dari perkembangan tersebut. Dalam etika rumah sakit di Amerika Serikat ada pasal yang berbunyi : 3) Hospitals should maintain and promote harmonious relationship within the organization to ensure the proper environment for the considerate and successful care and treatment of patient. 9) Pasien berhak mendapat informasi yang memadai dan jelas jika ia harus dipindahkan dari ruangan semula atau dipindahkan ke rumah sakit lain. Yang sering dimenangkan adalah dirinya sebagai pemegang saham. Edisi Khusus No. 1994 . terutama jika ditambahi dengan persepsi bahwa orang sakit adalah orang yang perlu pertolongan dan perlu dikasihani. AS. hal itu terjadi antara lain karena ada keengganan untuk melihat rumah sakit sebagai suatu institusi bisnis. Dalam undang-undang tersebut kita lihat ada : 1) Ancaman untuk dokter yang melakukan "tindakan medik tertentu" (abortus) tanpa indikasi yang jelas (Pasa115). transplantasi organ. Pada akhirnya yang menjadi korban adalah pasien (konsumen). dan dokter. yang memang tidak menampilkan perilaku for profit. sejauh dibolehkan oleh undang-undang. yang tercermin dari ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Permenkes 920/1986. pasal 33 dan 34. perkumpulan keagamaan. misalnya mengeluarkan apa yang mereka sebut sebagai Patients Bill of Rights yang isinya( 3 ) 1) Pasien mempunyai hak untuk mendapat pelayanan yang layak dan terhormat. dan sering didasari perjanjian lisan. bedah plastik. sehingga pelayanan ditujukan untuk memperbesar keuntungan finansial semata-mata. dan mendapat penjelasan dari tenaga kesehatan yang berwenang. Bahkan pemerintah pun mencoba mengelak mengakui kenyataan itu. pasal 37) hanya boleh dilakukan oleh tenaga ahli yang berwenang. 2) Manajer pemasaran atau keuangan. 2) Ketentuan yang mengharuskan agarpelayanan medik tertentu lainnya (kehamilan di luar cara alami. 4) Pengamanan kegiatan penelitian dengan menggunakan manusia (Pasal 40 dan 41). 11) Pasien berhak untuk mengharapkan bahwa pelayanan lanjutan kepadanya akan tetap diberikan. rumah sakit perkebunan. Kemudian dalam tahap berikut rumah sakit di Indonesia dikembangkan oleh pemerintah. Dari rumah sakit yang dimiliki oleh dokter ini. lalu rumah sakit militer. Pasal-pasal tersebut masih memerlukan peraturan pelaksanaan yang lebih jelas. 5) Pasien berhak mengetahui rekam medis tentang dirinya. Rumah sakit semacam ini sebagian lagi memang merupakan usaha patungan di antara para dokter. yaitu ketika : 1) Dokter tidak dapat membedakan posisinya antara sebagai pemberi jasa pelayanan medik (yang berlandaskan pada etika profesi). Dalam perilaku mencari untung beberapa rumah sakit di Indonesia malah terjadi hal-hal yang lebih tidak etis. mengetahui nama dan kualifikasi tenaga kesehatan yang akan memberikan pelayanan kepadanya. sebagai pemilik (pemegang saham) rumah sakit. perkumpulan sosial. Perkembangan ini menanamkan anggapan bahwa rumah sakit memang suatu lembaga yang bersifat non profit. Dokter bekerja di sebuah rumah sakit berdasarkan atas hubungan kenal. 5) Keharusan bagi penyedia pelayanan medik untuk menghormati hak pasien (Pasal 53). Sejarah perumah sakitan di Indonesia juga memunculkan rumah sakit yang dimiliki oleh dokter. dan obat (Pasal 40 dan 41). Ambivalensi pemerintah (melalui Permenkes 920-nya). Tetapi tidak berarti bahwa semua itu tidak dilandasi oleh perhitungan ekonomis. yang bukan dokter cenderung mendorong dokter agar melanggar kode etik profesinya dan mengutamakan mencari pendapatan yang setinggi-tingginya bagi rumah sakit. Tetapi karena sudah tertanam anggapan bahwa rumah sakit harus lembaga non profit. Maka etika rumah sakit dalam hubungannya dengan karyawan serta personil yang bekerja di sana pun tidak jelas. meskipun bukan ia sendiri yang 54 Cermin Dunia Kedokteran. serta cenderung memanfaatkan ketidak tahuan pasien. 23/1992 tentang kesehatan cenderung hendak melindungi pasien sebagai konsumen jasa pelayanan medis. 90. Masalah ini berawal dari sejarah perkembangan perumah sakitan di Indonesia. 4) Pasien berhak . dan ambivalensi para pengelola rumah sakit (yang malu menyebut dirinya institusi bisnis) membuat semua itu tidak dikendalikan baik oleh etika PERSI maupun oleh peraturan pemerintah. termasuk rincian tentang hak-hak pasien. 10) Pasien berhak mengetahui jika dirinya hendak dimasukkan dalam obyek penelitian. 7) Pasien berhak dihormati privacy-nya yang mencakup juga konfidensialitas diagnosis. atau pemilik rumah sakit. terutama pada rumah sakit yang dikembangkan oleh beberapa perkumpulan sosial dan dokter. terutama. 12) Pasien berhak mengetahui rincian dan jumlah tagihan terhadap perawatannya. Ciri perlaku for profit mulai tampak di sini. 2) Pasien berhak mendapat informasi yang jelas tentang perkembangan penyakitnya. baik pribadi maupun kolektif. tindakan. Dalam kaitan seperti itu kita melihat bahwa UU no. pasal 161. 6) Pasien berhak mencari pendapat kedua atau menolak pengobatan yang akan dilakukan terhadap dirinya. 3) Pengamanan makanan dan minuman (Pasal 21). New Hampshire. dan hal-hal lain tentang dirinya. muncul hubungan dokter dengan rumah sakit yang tidak tegas. Perkembangan rumah sakit di Indonesia dimulai oleh VOC (rumah sakit perusahaan untuk melayani karyawan VOC). maka semua mengelak dari mengakui bahwa mereka sebenarnya sudah mencari keuntungan finansial. dan ' sebagai manajer rumah sakit.masalah etika rumah sakit. dan rumah sakit milik zending atau missie.

membayar biaya tersebut. Ketiga hal di atas sulit untuk dijadikan peraturan perundangundangan. jika benarbenar mereka memang beritikad untuk berperilaku etis. Kalau ada rumah sakit swasta yang akan melakukan fungsi charitative. 14) Pasien berhak untuk mengadukan keluhannya jika ia merasa bahwa hak-haknya telah dilanggar. Hal-hal yang masih perlu diatur dalam etikaperumah sakitan dan tidak perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan formal antara lain adalah : 1) Etika persaingan Dalam kehidupan berbisnis. yaitu tentang peranan atau fungsi sosial rumah sakit. peranan atau fungsi sosial sebuah rumah sakit ditafsirkan sebagai fungsi charitative rumah sakit. Panitia-panitia itu adalah : a) Panitia Kredensial b) Panitia Etika c) Panitia Jaringan d) Panitia lnfeksi Nosokomial e) Panitia Kematian f) Panitia Farmasi dan Terapi Rumah sakit yang membentuk panitia-panitia tersebut dan bersungguh-sungguh memanfaatkan panitia-panitia itu untuk menjaga dan meningkatkan mutu pelayannya. hal itu dapat dijadikan sebagai nilai "plus" dalam proses akreditasi. yang harus tercermin dalam sistem manajemennya. 3) Etika untuk menjaga mutu pelayanannya. e) Menghormati hak pasien untuk memilih rumah sakit yang manapun juga. seharusnya pihak pengelola rumah sakit tidak menunggu sampai peraturan pelaksanaan keluar. adanya persaingan tidak dapat dihindari dan tidak pula dapat dipungkiri. peranan sosial rumah sakit haruslah ditafsirkan secara lebih luas dan ditujukan untuk menampilkan peranan rumah sakit (swasta) dalam pembangunan bangsa. d) Memberi kesempatan kepada pasien atau calon pasien untuk bertanya dan dijawab dengan sejujur-jujurnya. Seharusnya peranan (fungsi) sosial rumah sakit harus dijabarkan sebagai keharusan rumah sakit untuk menjalankan : (1) fungsi pelayanan. Edisi Khusus No. 13) Pasien berhak mengetahui peraturan yang berlaku di rumah sakit tersebut. serta meningkatkan kemampuan sumber daya manusia lndonesia. Juga ada hal-hal lain yang masih perlu diatur dalam etika perumah sakitan yang sebaiknya dibicarakan di dalam kongres PERSI. terutama untuk masa yang akan datang. Bahkan rumah sakit pemerintah pun tidak jarang melihat kehadiran rumah sakit swasta sebagai pesaing. Jadi pada dasarnya kita melihat bahwa undang-undang tersebut lebih banyak diarahkan untuk melindungi pasien dan masyarakat pemakai jasa pelayanan medik pada umumnya. b) Memberikaninformasiyangjujurdan tidakberlebih-lebihan. adalah rumah sakit yang memahami etika bisnis. Etika persaingan yang perlu diperhatikan adalah : a) Tidak boleh saling memburuk-burukkan pesaing. Seharusnya. tetapi penting untuk dijaga agar tidak menyimpang. apalagi melarang pasien untuk memilih rumah sakit lain. Di sinilah PERSI kemudian perlu mengaturnya dalam Kode Etik Rumah Sakit. 2) Etika pemasaran atau promosi. dan mengawasinya agar dilaksanakan. Tetapi dalam melakukan pemasaran. Promosi atau pemasaran rumah sakit harus dianggap sebagai suatu yang wajar. dan (3) fungsi penelitian. Rumah Sakit yang berusaha untuk menjaga mutu pelayanannya akan membentuk panitia-panitia yang dapat dijadikan alat pemantau mutu oleh pimpinannya. Pada waktu yang lalu. (2) fungsi pendidikan. untuk menutupi kenyataan bahwa rumah sakit memang harus dikelola secara business like dan dapat mencari keuntungan. Ada satu hal lagi yang seharusnya ditetapkan dengan peraturan pemerintah. b) Harus menghargai hak hidup sesama rumah sakit. 1994 55 . yaitu menetapkan agar 25% tempat tidur disediakan untuk orang miskin. ada hal-hal yang perlu diperhatikan : a) Tidak boleh meremehkan atau menjelekkan rumah sakit lain. Penjabaran seperti itu akan mendorong rumah sakit memperhatikan mutu pelayanan. c) Rumah sakit pemerintah tidak boleh menggunakan kekua saan dan wewenang yang melekat pada instansi pemerintah untuk menjegal pertumbuhan rumah sakit swasta. Cermin Dunia Kedokteran. Meskipun demikian. c) Tidak menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin diberikan. atau dapat diberi insentif dalam perpajakan. 90.

sudah berwarna dagang. – Etika Farmasi.Beberapa Masalah dalam Hubungan Rumah Sakit dan Pasien J. – Etika Bisnis (?). pandangan dan fungsi rumah sakit telah mengalami perubahan yang drastis. Kini ia dimasuki pula disiplin hukum. – Etika Biomedik. Relman. Dalam satu dekade ini tampaknya falsafah. 90. 56 Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta. Guwandi. Jika salah satu pihak tidak memberikan prestasinya. Faktor yang masih tetap adalah subjeknya. maka menurut hukum perdata ia dikatakan telah ingkar janji alias melakukan wanprestasi. while the poor and weak watch and pray. Edisi Khusus No.health receiver). more and more patients will be denied access to urgently needed care simply because they cannot pay for it". psikologi. Kalau dahulu pemberian pelayanan rumah sakit melalui profesi kedokteran lebih bersifat paternalistik. seorang dokter menulis: As economics pressures on hospitals grow and hospital managers are encouraged or forced to act like businessman concerned primarily with profit margins. 1994 .(1) Kalau sudah berbicara tentang jualMakalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo. dan lain-lain. SH Jakarta Marketplace medicine will become a medicine in the service of the rich and powerful. namun juga bisa saling berhadapan dan berbenturan. Karena bukankah rumah sakit (dokter) hanya berusaha sedapat mungkin untuk menyembuhkan penyakitnya (inspanningsverbintenis) dan tidak menjamin akan hasil (resultaats-verbintenis). Kesemua bentuk etika ini saling berjalinan satu sama lain. Berbagai disiplin dan profesi kini bernaung di bawah satu atap. – Etika Kebidanan. 21 — 25 November 1993. namun juga sarat berbagai nilai dan etika. – Etika Profesi Hukum. Masing-masing pihak sudah mempunyai hak dan kewajiban. Mulanya hanya bidang Kedokteran dan Keperawatan saja yang memegang peran utama di rumah sakit. Atau jika ditinjau dari segi ekonomi: antara penjual dan pembeli (jasa kesehatan). Allen Verhey in "MORAL MEDICINE" PENDAHULUAN Rumah Sakit makin bertambah kompleks. padat sarana. Kini rumah sakit tidak saja padat tenaga kerja. Wajib saling memberikan prestasi. beli. – Etika Keperawatan. Namun di bidang pemberian pelayanan medik hal ini merupakan masalah pelik. – Etika Kedokteran. ialah sang manusia sebagai pasien. seperti: – Etika Rumah Sakit. Arnold S. Wanprestasi pada pihak dokter tidak dengan begitu saja dapat terlihat dan dibuktikan. padat ilmu pengetahuan dan teknologi. maka sifatnyapun sudah berlainan. berlainan. sosiologi dan berbagai bidang lainnya. kini hubungan antara rumah sakit – pasien menjadi hubungan yang seakan-akan bersifat zakelijk antara pemberi jasa pelayanan medis (perumahsakitan) dan penerimanya (health provider . ekonomi dan manajemen. Namun sifat hubungan antara Rumah Sakit – Pasien turut berubah pula. karena sifatnya unik.

Hippocrates. Yang paling sukar adalah apabila kepentingan (baca: pengobatan) pasien berbenturan dengan kepentingan finansial rumah sakit. karena disiplin kedokteran berasal dari satu sumber yang sama. Di dalam Bab III tentang Kewajiban Rumah Sakit terhadap Pasien di antaranya disebutkan bahwa: Rumah sakit harus mengutamakan kepentingan pasien Hal ini bcrarti bahwa kepentingan pasien di rumah sakit harus didahulukan dari kepentingan lainnya. karena kedua segi berjalinan satu sama lain (untuk meminjam istilah Roscam Abbing: intertwined and interconnected). 1994 57 . Die voor ons dringed noodzakelijke rechtsvergelijking geeft ons de gelegenheid een achterstand ten opzichte van enkele grote ianden in te lopen en hier en daar om te zeeten in een voorsprong. terdengar berita. 90. Yang beda terletak pada sistemnya. Globalisasi yang diikuti dengan erosi moral dan perubahan nilainilai (values) telah mendesak rumah sakit untuk mencari "wajah dan bentuk" baru yang sesuai dengan permintaan zaman. schingga sisanya harus ditanggung sendiri olch pasien? Dokter yang menangani pasicn mcng- Cermin Dunia Kedokteran. Dalam menghadapi masalah ini. maka dalam kontek ini yang ditinjau adalah buhunghan rumah sakit – pasien dari sudut Kode Etik Rumah Sakit yang baru. Sluyters dari negeri Belanda yang mengatakan bahwa: "Hu- kum mengenai tanggungjawab medik negeri Belanda tidak bisa berkembang tanpa perbandingan hukum. Kini Rumah Sakit sedang dalam masa transisi. Negeri Belanda terlampau kecil untuk dapat membentuk dengan tenaga sendiri suatu kepustakaan dan hukum yurisprudensi di dalam bidang tanggungjawab hukum ini yang cukup luas. PERSI sebagai wadah tunggal rumah sakit di Indonesia dan sebagai mitra Pemerintah di bidang kesehatan seyogyanya diberi peranan yang lebih besar menjelang PJPT-II. gevarieerd. baik dari Anglo Saxon maupun Eropa Kontinental. Sistimnya tidak usah dihiraukan. Dengan demikian. Kini selain rumah sakit yang bersifat IPSM. Kita bisa menghindari kesalahankesalahan yang telah dibuat di luar negeri dan mengambil alih pemecahan persolaan yang baik. termasuk Hukum di bidang perumahsakitan. yaitu: sistem Anglo Saxon dan Eropa Kontinental. terperinci dan mendalam. Materi pembuatan hukum yang menyangkut perumah sakitan terdapat pada dua sistem hukum yang berbeda. maka dalam tahun 1993 ini tampaknya ada dua bentuk etika mengalami penyesuaian. gedetailleerd en diepgaand is. PEMBAHASAN Agak sukar untuk memilah-milah segi Etik dan Hukum. Di samping itu hukumnya pun sudah jauh ketinggalan. Etika Rumah Sakit bahkan mengalami penggantian secara menyeluruh yang diusulkan 21-23 Nopember 1992. Sesuai dengan judul makalah. cara mengadilinya. maka tolok ukur yang lama pun harus turut berubah pula. Di atas telah dikemukakan bahwa terdapat berbagai etik di rumah sakit. Bagi saya hukum negara lain yang mengatur tentang tanggungjawab hukum di bidang medik adalah penting dipelajari dan sangat bermanfaat dan berharga untuk hukum medik negeri Belanda" ( 2) (Het Nederlandse medische aansprakelijkheidsrecht kan zonder rechtsvergelijking niet tot bloei komen. Namun menurut hemat saya hal ini tidak merupakan kendala bagi perkembangan Hukum Kedokteran Indonesia. atau mengkambinghitamkan rumah sakit lain. Perbandingan hukum sangat penting karena akan memberikan kesempatan untuk mengejar ketinggalan kita terhadap negara besar lainnya dan membuat lompatan jauh ke depan. Diberikan wewenang dan tanggungjawab terhadap perkembangan di bidang perumahsakitan. Dalam kaitan ini ingin saya mengutip ucapan Prof. Materinya yang cocok diambil dan yang tidak sesuai ditinggalkan atau disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Kita dapat langsung mengambil hikmah dan pelajaran yang sangat berharga dari pengalaman mereka yang telah dibayarnya dengan mahal. bahwa terhadap Etika Kedokteran sedang dilakukan evaluasi. peraturan hukumnya pun ada juga yang pembentukannya melalui keputusan pengadilan (Paul Scholten: rechtsvinding). Konsep baru ini telah disetujui untuk disahkan di dalam Kongres PERSI ke VI 1993 sekarang ini. Termasuk Etika Rumah Sakitnya yang harus ada penyesuaian. sedangkan ia tidak ada asuransinya? Atau masuk asuransi. tetapi yang di cover oleh asuransi hanya sebahagian. Hakim dari negara yang menganut sistem kontinental yang sistim hukumnya mengutamakan kondifikasi. Sistim Anglo Saxon yang memakai peradilan juri yang berdasarkan Common law. bukan materinya. Sewaktu makalah ini dibuat. pembentukan peraturan hukumnya dapat dikatakan paralel dengan apa yang dinamakan penemuan hukum di negara yang memakai sistem kontinental. Yang bersifat murni Etik paling-paling adalah yang menyangkut sopan-santun yang tolok-ukumya dapat diambil dari ukuran etik. Wij kunnen trachlen de buitenlandse fouten te vermijden en de geode oplossingen over te neme. diperbolehkan pula bentuk PT yang tentunya tujuannya adalah for profit.Sebagai antisipasi terhadap perubahan situasi dan kondisi. Hal ini tidak begitu sukar untuk dilaksanakan. padahal kelalaiannya adalah di rumah sakit sendiri. die voldoende o omvangrijk. Bagaimana jika pasien tidak mampu lagi membayar biaya rumah sakit dan dokter dan belum sembuh. Voor mij in elk geval bleek de studie van elk onderdeel van het Nederlandse medische aansprakelijkheidsrecht kennis van het vreemde recht nuttig en waardevol). dapat diambil dan disaring dengan falsafah Pancasila kita. bervariasi. Patut disayangkan bahwa belum ada yang mengadakan studi komparatif di antara kedua sistim hukum ini di bidang Hukum Kedokteran. tata-cara beradab yang umum terdapat di dalam masyarakat. Edisi Khusus No. Nederland is eenvoudingweg te klein voor het genereren op eigen kracht van een litteratuur en jurispdent-ch ver dit onderdeel van het aansprake lijkheidcrecht. Materi hukum dari kedua sistim. Misalnya adalah tidak etis untuk menjelek-jelekkan atau mendiskreditkan rumah sakit lain. Literatur dan yudisprudensi di luar negeri mengenai Hukum Kedokteran sudah banyak diterbitkan.

. beneficence.. admission clerks. because the less fortunate will always suffer" ( 5) Rumah Sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien Hak asasi manusia (HAM) yang . menjadi pasien rumah sakit harus diindahkan. Persetujuan Tindakan Medik sebagaimana sudah diatur di dalam Permenkes No.. cost containment.. Jika tadinya sebagaimana biasa beban untuk membuktikan terletak pada yang menggugat (pasien). Thus. either he "betrays" his medical origin (if he decides to follow the management policy) or he is considered weak (if he doesn't undertake the restrictive policy)" Di dalam kasus semacam tampak dua disiplin yang berlawanan satu sama lain. dan lain sebagainya dokter sebagai health provider dan pasien health receiver terjepit di antara kedua pola pengertian tersebut... emergency. non-maleficence. barulah terasa betapa pentingnya catatan tersebut yang tadinya dianggap hal-hal sepele. 90. or business managers should not have the final say in determining who gets health care. demi efisiensi rumah sakit secara keseluruhan. perawat dan tenaga kesehatan lainnya selama pasien dirawat.. fidelity. Di Amerika telah diterbitkan suatu Hospital Patient 's Charter. justice. Sebenarnya dengan mudah masalah ini dapat diselesaikan asalkan pihakpihak yang berkepentingan sudah mengetahui hukumnya dan mau mengerti serta mentaatinya. Bagaimana kalau di dalam satu kasus harus mengadakan pilihan.. Permintaan keterangan medis. pihak rumah sakit sama sekali tidak tahu-menahu. . Namun tulisan itu harus dapat dibaca dan dapat memberi gambaran secara kronologis mengenai apa-apa saja yang telah dilakukan oleh dokter.. dsb). Edisi Khusus No. 585 tahun 1989 secara berangsur-angsur harus diterapkan. . cost effectiveness.. Urusan administrasi dan keuangan terpaksa menjadi birokratis dan seringkali kurang "berperikemanusiaan". sedangkan perusahaan asuransi itu permintaan- nya juga dilakukan misalnya oleh seorang dokter? Bukankah antara teman sejawat tidak ada rahasia? Mungkin hal ini harus di clear kan.outcome.. Hak atas informasi pasien merupakan hal yang harus diperhatikan oleh rumah sakit. profit margin. Sedangkan bio-etik dan disiplin kedokteran menggeluti istilah-istilah: life-saving. karena setiap kali dokter yang merawatnya direpotkan dengan hal-hal semacam ini yang sebenarnya terletak di bidang administratif dan hukum. Harus diketahui bahwa sewaktu pasien dan pihak asuransi mengadakan perjanjian. . (6) Seorang dokter dapat membuktikan dirinya dari kesan telah berlaku lalai atau teliti dalam memberikan pelayanan dengan catatancatatan yang telah ditulisnya. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan pada Penjelasan pasal 53 ayat 2. Mengapa? Kazena bukti yang utama di dalam perkara tuntutan malpraktek medik yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterima di depan Pengadilan adalah catatan-catatan yang telah ditulis di dalam Rekam Medis tersebut (yang asli dan tidak ditambah/dicoret/diganti/ diubah.. namun tidak dengan pihak asuransi (Lain halnya Astek. sehingga dapat dikenakan honor terpisah. Memang informed consent merupakan barang impor dari Amerika yang masih belum begitu dihayati maknanya. truthtelling. Ada juga yang tidak lengkap menulis. Sesudah pasien masuk rumah sakit dan dirawat. Di dalamnya dicantumkan hak atas informasi. death. Ini sudah berlaku universal dan dijelaskan dalam yuriprudensi berbagai negara di dalam pertimbangan hakim. Jasa Raharja yang memang sudah ada perjanjian dengan rumah sakit sebelumnya). Penelantaran dari kewajiban membawa akibat bahwa beban pembuktian (onus. Masalah lain adalah menyangkut Rahasia Kedokteran (baca: pasien) yang harus disimpan dan tidak boleh diungkapkan kepada pihak lain tanpa izin pasien. misalnya dari pihak asuransi harus ada Surat Pernyataan Persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga terdekatnya.process . 58 Cermin Dunia Kedokteran. (3) Luis Bohigas pada tahun 1989 pemah menulis. yang mana harus dipilih? Salah satu pandangan adalah dari Keith Wrenn yang mengatakan bahwa: Hospital administrators. dan sebagainya. efficiency. Persoalan lain adalah yang menyangkut Rekam Medis. Surat tersebut diserahkan kepada rumah sakit untuk disimpan di dalam berkas Rekam Medis sebagai alat bukti jika ada tuntutan kelak.. rumah sakit/dokternyalah yang harus membuktikan ketidaksalahannya/ketidak. bahwa . 1994 ... Masih belum disadari bahwa berkas ini merupakan alat bukti yang kuat dan sangat penting.hadapi dilema apabila ia mendapat "pesan sponsor" dari pihak manajemen/pemilik. Tentu timbul pertanyaan: mengapa pihak asuransi tidak dapat secara langsung meminta informasi medik dari rumah sakit. the medical director faces a dilemma. Gemala Hatta di dalam Rakernas Pormiki I telah mengutip Leslie Ann Fox: ". lalaiannya ( 2 ). burden of proof) menjadi terbalik. input . kini dalam kasus malpraktek medik yang rekam medisnya tidak terbaca. baru timbul hubungan antara rumah sakit pasien. yang dalam praktek masih belum disadari sepenuhnya. Apalagi sekarang sudah dicantumkan juga di dalam UU No.. Berapa menitkah harus dikorbankan untuk menulis suatu catatan? Kalau sudah ada tuntutan malpraktek medik. Namun menjelang PJPT-II. Di Jerman oleh Bundesgerichtshof ( Mahkamah Agung) bahkan telah dikembangkan suatu ajaran bahwa kepada dokter dan rumah sakit dibebankan suatu wajib dokumentasi. patient's autonomy.. Dari pihak perawat tampak sudah banyak kemajuan dan memberi catatan lengkap tentang pasien yang di bawah perawatannya. Banyak tulisan dokter pada Rekam Medis tersebut tak terbaca. Maka antara rumah sakit dan pihak asuransi sama sekali tidak ada kaitan secara langsung. Selain itu pemberian keterangan kepada pihak asuransi tersebut tidak termasuk perjanjian terapetik rumah sakit (dokter) – pasien. a physician can protect himself from the appearence of negligence by the care and diligence with which he writes his notes . Disiplin ekonomi dan menajemen yang berbicara dengan bahasa: money.

6) Pasien gawat-darurat yang belum stabilized. rumah sakit bisa dipersalahkan karena melakukan patient 's dumping.cr spcsialis on call yang pada waktu malam tidak mau datang. 12) Masalah yang menyangkut Euthanasia dan Kematian: • Tidak mulai memberikan life support treatment pada pasien in faust. Hanya bisa diadakan pembedaan (onderscheiden). Hal ini bisa menjadi kasus hukum kalau sampai mengakibatkan matinya sang pasien. Beberapa contoh: 1) Rumah Sakit (dokter) menahan-nahan pasien VIP yang sebenarnya sudah dapat dipulangkan. 7) Tidak menerima pasien yang dalam keadaan terminal untuk menekan mortaliry rate dan memelihara nama baik rumah sakit atau pasien demikian cepat-cepat dipindahkan dengan berbagai dalih ke rumah sakit lain. 5) Bagian Administrasi Rumah Sakit yang tidak memperbolehkan pasien pulang karena tidak bisa melunasi biaya rumah sakit/dokter. 11 di atas) • Penghentian atas dasar finansial atau pulang paksa apakah tidak merupakan pseudo-euthanasia? • Arti ordinary and extra-ordinary means yang dengan perkembangan pesat iptek kedokteran menjadi pengertian yang samar. indien er. 8) Menahan pasien dan tidak merujuk ke rumah sakit lain. Pernah dari pihak agama Katholik mengemukakan perumusan lain: treatment which is disproportinately burdensome. tidak akan ada gunanya (Een arts dient derhalve niet met een therapie te beginnen noch deze voort te zetten. Tampaknya pandangan klinis (klinische blik) sementara dokter sudah ada yang memudar. tetapi tidak melepaskan pasiennya. Bahkan cenderung untuk mendapat penyakit iatrogenik dari rumah sakit sehingga jadi berkepanjangan dan bisa dijadikan dasar tuntutan. Di dalam literatur dibedakan dua bentuk interhospital transfer (pasien gawat darurat yang belum stabil dan wanita yag sedang mau melahirkan). 2) Atas dasar "indikasi medik" terhadap pasien yang mampu dilakukan berbagai pemeriksaan (mahal) yang sebenarnya tidak perlu atau tak ada gunanya. 9) Masalah etik yang pelik bisa timbul di ruang ICU apabila misalnya alat ventilator yang tersedia. Bahkan masih dicoba-coba dengan obat diuretik. karena tidak mampu membayar (undertreatment). tetapi masih belum dirujuk untuk hemodialisis. 1994 59 . 90. Bisa terkena KUH Pidana tentang Penipuan. 3) Pasien yang sebenarnya harus dirujuk ke spesialis/bagian lain masih ditahan-tahan sehingga penyakitnya bertambah parah. Di dalam yurisprudensi hukum kedokteran penuntutannya didasarkan atas lack of diagnostic information and the failure to refer to another hospital. sehingga lebih tergantung kepada peralatan penunjang medik. Bisa terkena KUH Pidana pasal 333 tentang Penyanderaan yang tidak sah (onrechtmatige vrijheidsberoving). (economic reasons). is not obligatory (9). tetapi sang dokter masih tetap menulis honornya walaupun belum pemah melihatnya. apalagi memeriksanya. Bagaimana pertimbangan etis di Indonesia tentang: NCO (Nursing Care Only). yang bisa mengakibatkan transfer associated death (7): a) Atas dasar alasan medis (karena kekurangan sarana. peralatan yang diperlukan atau tidak adanya tenaga spesialisnya (medical reasons). Dan pasien yang dianggap tebal kantongnya di-pingpong lebih dahulu ke beberapa spesialis supaya lebih "yakin" akan penyakitnya. 4) Dokt. Misalnya: pasien yang fungsi ginjalnya sudah minim (gagal ginjal) yang kadar ureumnya sudah di atas 200 dan kreatininnya sudah jauh melebihi angka 7. tetapi dikirim ke rumah sakit lain karena tidak bisa membayar uang muka. Edisi Khusus No. namun jika sampai terlampau lama pasien pun akan bertanya-tanya di dalam hati: sakit apa saya sebenamya sehingga harus dirawat sedemikian lama. Besoknya pasien meninggal. Memang sukar dibuktikan. medisch gezien. semuanya sedang dipasang pada pasien. DNR (Do Not Rescuscitate) order? Kode Etik mana yang menilai dan memutuskan: Kode Etik Kedokteran atau Kode Etik Rumah Sakit? 11) Apakah suatu usaha pengobatan yang sudah tak bisa menolong lagi (Prof. Demikian pula antara rumah sakit dan doktemya. • Bilamana pemberian life support treatment tersebut boleh dihentikan? (bandingkan butir no. Bagaimana pendirian kita dalam masalah ini? Cermin Dunia Kedokteran . Leenen: zinlose medische behandeling) boleh dihentikan atau harus diteruskan? Menurut Leenen seorang dokter tidak usah mulai memberikan suatu terapi atau meneruskan suatu terapi. Jika sampai meninggal di jalan. Atau sebaliknya pasien yang harus diperiksa dengan alat tersebut untuk dapat diketahui persis penyakitnya tidak dilakukan. geen resultaat van te verwachten valt). sekedar untuk memenuhi ruangan yang kosong. or futile. Sesudah keluar dari rumah sakit ia akan menceritakan pengalaman pahitnya dengan dokter tersebut. memperpanjang length of stay.Di atas telah dikatakan bahwa antara Etik dan Hukum sukar dipisah-pisahkan. termasuk pasien yang sudah tak ada harapan pulih kembali. sekedar untuk pengembalian kredit Bank sehingga terjadi overuse dari peralatan mahal. Bagaimana jika kemudian diperlukan untuk pasien lain yang masih banyak harapan? 10) Pasien dengan multiple sclerosis yang sebelumnya sudah beberapa kali menyatakan minta diakhiri hidupnya saja. b) Atas dasar pertimbangan finansial (butir 6 di atas). Sebenarnya hasil penunjang medik seharusnya adalah sekedar untuk meyakinkan kebenaran dugaan diagnosisnya. jika dilihat dari segi medis. tetapi tidak bisa dipisahkan (scheiden). walaupun sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Nama rumah sakit sedikit banyak pun akan tercemar. walaupun alat diagnosis yang diperlukan untuk mendeteksi penyakitnya tidak dipunyai (CT Scan) dan tidak ada tenaga dokter spesialisnya. atau tidak menerimanya dengan berbagai dalih.

7. p. Preadvies Nederlandse Vereniging voor Rechtsvergelijking. N. al. Pada footnote membandingkan "Sacred Congregation of the Doctrine of Faith. Who Runs the Hospital? Hospital Management International. BLKM Cilandak. Engl. Oxford (1984). Etika Medis. 1988. De aansprakelijkheid van Arts en Ziekenhuis. Gemala Hatta. What are hospitals for? Economic Considerations in Emergency Care. N. Seminar Sehari dan Rakemas I PORMIKI. p 54. 1989. Peranan Rekam Medis dalam tanggung gugat praktek profesional Tenaga Kesehatan. Al Purwa Hadiwardoyo. Leenen HJJ. 8. Med 1985. No Admission. 90. Wrenn K. 1989. 239. Pustaka Filsafat. 2. et. 319(10):643. 60 Cermin Dunia Kedokteran. Sluyters B. Interhospital patient transfer. 1985. " Iura et Bona (Declaration on Euthanasia). 1984. Brussel: Samson Uitgeverij Alphen aan den Rijn. 312 (6) : 372. Deventer. p. Kellennann AL.Med. Engl. 5. J. 6. Kluwer. 72 Acta Apostolicae Sedits 542-52 Clarendon Press. 3. 1. 1980). J.KEPUSTAKAAN Relman AS. Penerbit Kanisius. 4. Edisi Khusus No. Engl. 147. N. an Medicine. 312 (6). 1978. J. Rechten van Mensen in de Gezondheidszorg. Law. Ethics. 7-8 Agustus 1993. p 60. 1994 . Bohigas L. No Insurance. Med. 9. Skegg PDG.

Sebentar lagi kita akan memasuki Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) VI. dapat juga yang paling canggih yang ada di dunia. Prinsip ke empat. dan keberhasilan mempertahankan kesatuan nasionalnya sendiri: Indonesia. dan tidak selalu mengandalkan impor IPTEK buatan luar negeri. yaitu sumber daya manusia (SDM) Indonesia. sudah barang tentu pada awalnya setiap Cermin Dunia Kedokteran . Ada lima prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam menerapkan IPTEK untuk pembangunan bangsa.Pengembangan IPTEK PJPT-11 Prof Dr Sudraji Sumapraja Staf Ahli Menristek Bidang IPTEK Kedokteran. Dalam tahap-tahap inilah. Edisi Khusus No. baik di dalam negeri maupun di luar negeri. kalau teknologi yang diperlukan itu belum ada di Indonesia. kepada para peserta Kongres PERSI VI dan Hospital Expo VII yang saya hormati. sejahtera. kemampuan itu. yang akan mengantarkan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang maju. tumpuan pembangunan nasional akan beralih dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA) ke pemanfaatan sumber daya yang selalu terbaharukan.25 November 1993. Oleh karena itu sekali lagi: pembangunan sumberdaya manusia adalah konsep inti pengembangan IPTEK Indonesia. dimana kita semua terlibat di dalamnya. konsep inti pengembangan IPTEK adalah pembangunan manusia lndonesia itu sendiri. adalah pembangunan bangsa. 21 . tentang masyarakat yang ingin dibangun. Jakarta Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan beberapa kebijaksanaan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Pengembangan IPTEK PJPT-II. Lain halnya kalau IPTEK dapat dikuasai. Oleh karena itulah. dimana pembangunan nasional Indonesia akan mulai tinggal landas dengan kekuatan sendiri. perlu diselenggarakan pendidikan dan latihan di berbagai bidang IPTEK yang gayut untuk pembangunan bangsa. Prinsip ke dua. pemilikan sumber daya alam yang berlimpah sekalipun tidak ada artinya. Tanpa Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & H ospital Expo. Oleh karena itulah. Prinsip pertama. Yang penting adalah kegunaannya untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam negeri. Karena. Prinsip ke tiga. Bangsa Indonesia telah bertekad untuk secara sistematis. Contohnya. sumberdaya alam yang langka sekalipun bukan merupakan hambatan. 90. Jakarta. mentransformasikan diri menjadi bangsa yang modern. tahap demi tahap. Di dalamnya tersirat kemandirian ekonomi. untuk dapat menjadi bangsa yang dihormati oleh bangsa lain kita harus bertekad untuk mampu memecahkan masalah-masalah kita sendiri. Pembangunan Nasional. dan teknologi yang akan dipakai untuk mewujudkannya. maka teknologi itu harus dialihkan dari negara maju. Bangsa di sini memiliki arti yang lebih luas dari pada hanya kemerdekaan politik. kemampuan pengembangan IPTEK menjadi sangat penting. yaitu bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk memenuhi keperluan-keperluan dasarnya sendiri. diterapkan dan dikembangkan di Indonesia. 1994 61 . Prinsip ke lima. adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. kemampuan mempertahankan budayanya. teknologi itu tidak dapat dimengerti kalau dikembangkan secara abstrak. untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata kita hadapi. dapat menjadi negara industri maju karena kemampuan membangun IPTEK-nya. menyediakan prasarana ekonominya sendiri. Jepang dan Korea yang sumber daya alamnya langka. yang merupakan REPELITA pertama dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT-II). serta menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kualitas hidupnya sendiri yang semakin meningkat. Teknologi-teknologi itu tidak harus yang paling sederhana. perlu dikembangkan konsep yang jelas dan realistis serta dilaksanakan secara konsekuen.

Oleh karena itulah. merealisasikan potensinya untuk berproduksi. Kualitas manusia Indonesia dan masyarakat Indonesia serta penguasaannya terhadap IPTEK merupakan satu kesatuan sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional. Proses nilai tambah itu ditempuh dalam dua tahap: (1) proses persiapan. yang secara garis besar dikelompokkan ke dalam lima bidang utama Matriks Nasional Riset dan Teknologi. Tahap ke empat. sedangkan tahap keempat merupakan tahap kunci bagi negara-negara yang ingin mempertahankan keunggulan teknologinya. 90. dan ke dua. adalah integrasi teknologi-teknologi yang sudah ada ke dalam desain dan produksi barang-barang yang baru sama sekali. dan memperhatikan pula pertimbangan-pertimbangan geografik. yang kesemuanya itu untuk merancang produk-produk masa depan. Ia harus terlebih dahulu menempuh proses nilai tambah. maka wahana kesembilan pun akan turut berkembang melalui tarikan dan dorongan melewati berbagai kaitannya. yang memerlukan penelitian dasar untuk menjawabnya. dan kemudian menjadi unggul dalam bidangnya. dan untuk mempertahankan keberhasilan serta keunggulan yang telah dicapainya. yaitu unsur penciptaan. Tahap ke tiga. yang telah sama-sama kita siapkan dalam menyongsong tinggal landas di tahun 1994. dan teknologi-teknologi baru pun dikembangkan. Tahap pertama. politik dan strategi. Tahap ke dua. kedokteran. Selanjutnya IPTEK telah ditetapkan sebagai bidang pembangunan nasional. yang rata-rata lebih produktif dan lebih efisien. Proses persiapan yang lebih dikenal dengan proses pendidikan dimulai sejak prasekolah dan mungkin berakhir di perguruan tinggi. sedangkan proses penyempurnaan dimulai sejak ia bekerja. Karena kita memulai transformasi teknologi dan industri itu dengan sumber dana dan daya yang terbatas. pariwisata. kemampuan. 1994 bertumpang-tindih. Karena inti pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan potensi manusia lndonesia. Dengan demikian ada unsur baru di sini. wahana-wahananya. Tetapi. terdapat dua unsur strategi penerapan IPTEK untuk transformasi teknologi dan industri suatu negara sedang berkembang: pertama. Jalan pintas yang paling masuk akal adalah melakukan mengalihkan teknologi-teknologi dari luar negeri untuk memproduksi barang-barang tersebut di dalam negeri. artinya yang belum ada di pasaran. perpmah-sakitan. kita tidak boleh mainmain dengan proses pendidikan. IPTEK yang diperoleh melalui pendidikan baru merupakan landasan untuk dapat berkembang menjadi manusia yang mampu dalam bidangnya. dimana putra-putri bangsa yang terbaik mendapat kesempatan untuk menyempurnakan dirinya. tetapi tidak untuk waktu yang terlampau lama. GBHN 1993 telah mengamanatkan bahwa IPTEK merupakan salah satu asas pembangunan nasional. dan yang paling mendasar adalah tahap penggunaan teknologi-teknologi yang ada di dunia untuk prosesproses nilai tambah dalam rangka memproduksi barang-barang yang sudah ada di pasaran. Teknologi yang sudah ada dikembangkan lebih lanjut. IPTEK semakin berperan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional yang memberikan kesejahteraan kepada rakyat yang setinggi-tingginya. pendidikan.negara harus melindungi pengembangan IPTEK nasionalnya. yaitu proses untuk memperoleh dan menyempurnakan kemampuannya secara terus menerus. dan (2) proses penyempurnaan. dan lain-lain. seperti industri kesehatan. Edisi Khusus No. Kemampuan yang bermutu tinggi dan lestari hanya akan diperoleh melalui wahana-wahana yang melakukan proses nilai tambah terus-menerus untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih bermutu. adalah tahap pengembangan teknologi itu sendiri. maka kita harus pandai-pandai membuat prioritas. seminar atau membuat satu-dua produk lantas berhenti. Selain strategi transformasi teknologi dan industri seperti diuraikan di atas. sedangkan untuk proses penyempurnaan diperlukan wahana-wahana transformasi teknologi dan industri. Berdasarkan kondisi. sedangkan kemampuan untuk menerapkan dan mengintegrasikan teknologi. Pada tahap ini dikembangkan desain dan cetak biru. dan 9) Industri pendukung lainnya. Tiga yang pertama gayut untuk negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. daya dukung dan daya tampung yang ada. maka sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan upaya mengubah mentalitas bangsa menjadi bangsa yang menghayati dan menerapkan nilainilai negara industri maju. sampai ia mampu bersaing di dunia internasional. manusia tidak dengan sendirinya dapat menjadi pembawa IPTEK. maka telah diputuskan untuk memprioritaskan pengembangan sembilan wahana industri sebagai berikut : 1) Industri angkutan udara 2) Industri angkutan laut 3) Industri angkutan darat 4) Industri telekomunikasi 5) Industri energi 6) Industri rekayasa 7) Industri alat dan mesin pertanian 8) Industri pertahanan-keamanan. dan mengelola penerapan dan pengintegrasian teknologi itu tidak cukup hanya diperoleh dari pendidikan melalui observasi. sebagai berikut : . Dengan berkembangnya delapan wahana industri pertama tersebut di atas. lebih bersaing harganya dan lebih tepat waktu penyampaiannya. Secara konsepsional. wahana-wahana industri mana yang perlu dikembangkan lebih dulu. Dengan demikian. Proses transformasi masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang maju teknologi dan industrinya dapat dipikirkan terdiri dari empat tahap transformasi teknologi dan industri yang 62 Cermin Dunia Kedokteran. Perusahaan-perusahaan atau negaranegara yang sedang melaksanakan tahap ketiga itu seringkali dihadapkan kepada kurangnya teori untuk mengembangkan teknologi baru. Untuk proses persiapan ini diperlukan sistem pendidikan yang rasional dan efektif. Dewan Riset Nasional (DRN) telah merumuskan Program Utama Nasional Riset dan Teknologi (PUNAS RISTEK). dan juga tidak boleh main-main memilih wahana tempat manusia lndonesia menyempurnakan dirinya menjadi manusia yang unggul. pentahapannya.

90. dan pada garis besarnya berlaku juga untuk Indonesia. Program Teknologi B. Falsafah dan PerundangUndangan Selain itu. Program Utama Kesehatan Subprogram Utama Masalah Kedokteranl Kesehatan Penyakit menular +++ Penyakit degeneratif +++ Penyakit keganasan +++ Penyakitgangguan jiwa +++ Kecelakaan ++ Gizi salah +++ Subprogram Utama Keilmuan Biologi molekuler + Reproduksi manusia + Genetika + Pengobatan tradisional + Subprogram Utama Komponen Pelayanan Kedokteran/ Kesehatan ++ Kebijaksanaan Alat-alat +++ Obat-obatan +++ Proses/metoda pelaksanaan pelayanan kedokteran/ kesehatan +++ ++ + + + ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + ++ + ++ + + + + + + + + + + + + + + + ++ ++ ++ + ++ +++ +++ ++ +++ + + +++ +++ +++ +++ +++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + ++ ++ + + + ++ ++ Keterangan : TP : Program Teknik Produksi Tek : Program Teknologi IPT : Program Ilmu Pengetahuan Terapan IPD : Program Ilmu Pengetahuan Dasar Lem : Program Pembinaan Kelembagaan IPTEK Sar : Program Pengembangan Prasarana dan Sarana IPTEK Inf : Program Pengembangan Sistem Informasi Sta : Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik Prioritas tertinggi ditandai oleh +++ (tiga notasi plus) Cermin Dunia Kedokteran. Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik. Kebutuhan Dasar Manusia (Butsarman) II. Energi dan Lingkungan Hidup III. yang sudah dikembangkan di negara-negara maju. yang diduga akan bergerak sangat pesat. Perancis. Sub Sektor Ilmu Pengetahuan Terapan dan Ilmu Pengetahuan Dasar 3. memang banyak masalah yang khas Indonesia. Jepang. Dalam hal perumahsakitan. yang ditampilkan dalam delapan program sebagai berikut : A. sesuai dengan keperluan pemanfaatan. Pertahanan dan Keamanan V. IPT IPD Lem Sar. Hukum. Pemerintah juga telah berketetapan bahwa IPTEK yang diperlukan untuk pembangunan nasional. Sumber Daya Alam. sejauh mungkin dimanfaatkan. DRN telah merumuskan pula PUNAS RISTEK PELITA VI yang mengacu kepada GBHN 1993.I. Program Utama RISTEK PELITA VI Bidang Kebutuhan dasar Manusia (BUTSARMAN) Program-program Utama TP Tek. Belanda dan Inggris. Edisi Khusus No. riset yang akan dilakukan sendiri itu harus pragmatis untuk memecahkan masalah-masalah nasional yang nyata. Bagaimana kalau IPTEK yang kita perlukan itu belum dikembangkan di negara-negara maju? Dalam hal itu bangsa Indonesia harus mengerahkan sebagian dari dana dan dayanya untuk memperoleh IPTEK yang diperlukan itu. Dalam rangka kebijaksanaan inilah Indonesia telah menandatangani perjanjian kerjasama IPTEK dengan berbagai negara maju seperti Amerika Serikat. Program Ilmu Pengetahuan Dasar C. dan menjadi acuan untuk mengajukan dan menyaring usulan kegiatan IPTEK. Budaya. Ekonomi. yang tidak mungkin dikaji dari temuan-temuan di luar negeri. Hal tersebut digambarkan dengan menempatkan tanda prioritas (+) pada program yang bersangkutan. pengembangan dan penguasaan IPTEK bagi pembangunan nasional. Prasarana dan Sarana IPTEK 5. Program Ilmu Pengetahuan Terapan 4. Program Teknik Produksi 2. Program Pengembangan Sistem Informasi 8. 1994 63 . Pemanfaatannya dilakukan melalui empat tahap pengalihan IPTEK seperti telah diuraikan sebelumnya. Sosial. Program Pembinaan Kelembagaan IPTEK 6. Dalam penyusunan PUNAS RISTEK. dan dengan badan-badan internasional. Inf. DRN telah memberi penekanan prioritas yang berlainan. Industri IV. Sub Sektor Kelembagaan. Setiap tahun DRN akan menilai kembali PUNAS RISTEK itu untuk lebih disempurnakan dan disesuaikan dengan perubahan pembangunan dan perkembangan IPTEK. Sub Sektor Informasi dan Statistik 7. Sta. Jerman. Sub Sektor Teknik Produksi dan Teknologi 1. Hanya yang tidak boleh dilupakan adalah. memberikan arah pengembangan IPTEK. Program Pengembangan Prasarana dan Sarana IPTEK D.

MEMUTUSKAN : Dengan mencabut Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1985 tentang Pajak Pertambahan Nilai Yang Terhitung Atas Penyerahan dan Impor Barang Kena Pajak Tertentu Yang Ditanggung Oleh Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 30). 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3287). 4.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1986 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI YANG TERHUTANG ATAS IMPOR DAN PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN JASA KENA PAJAK TERTENTU YANG DITANGGUNG OLEH PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk lebih menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dan meningkatkan program pembangunan di bidang kesejahteraan rakyat dan pertahanan-keamanan. Edisi Khusus No. 1994 . 90. dipandang perlu meninjau kembali Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1985 tentang Pajak Pertambahan Nilai Yang Terhitung Atas Penyerahan dan Impor Barang Kena Pajak Tertentu Yang Ditanggung Oleh Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 30). 5. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1984 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1984 tentang Penangguhan Mulai Berlakunya Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1984 nomor 47. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 51. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3280). Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1985 Penetapan Mulai Berlakunya Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 3). Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1985 tentang Pelaksanaan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 28. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264). dan menyesuaikannya dengan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan program-progran tersebut di atas. 64 Cermin Dunia Kedokteran. 3. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Mengingat 1.

1994 65 . Makanan ternak dan unggas dan/atau bahan baku untuk pembuatan makan temak dan unggas. 10. kendaraan lapis baja. Barang Kena Pajak yang bersifat strategis untuk keperluan pembangunan nasional yang ditetapkan Menteri Keuangan. Bahan baku untuk pembuatan uang kertas. Pondok Boro. Asrama Mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar pendapat Menteri Negara Urusan Perumahan Rakyat. 3. Alat perlengkapan kedokteran dan perawatan kesehatan yang digunakan langsung untuk keperluan Rumah Sakit Umum milik Pemerintah maupun swasta yang belum diproduksi di dalam negeri serta tidak untuk diperdagangkan. Rumah Sederhana. Emas batangan yang dilakukan oleh badan usaha yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. yaitu : 1. pita cukai. pita cukai. Rumah Murah. dan bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri yang dilakukan oleh dan untuk keperluan badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Hankam. Buku-buku ilmu pengetahuan yang belum diterbitkan di dalam negeri. Mesin. 5. Pasal 1 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas impor Barang Kena Pajak tertentu ditanggung oleh Pemerintah. dan kendaraan angkutan khusus lain untuk keperluan ABRI yang belum dibuat di dalam negeri. Emas batangan yang dilakukan oleh badan usaha yang ditunjuk oleh Menteri Perdagangan. benda meterai. 2. Cermin Dunia Kedokteran. uang logam. 90. serta tidak untuk diperdagangkan.Menetapkan : KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK WDONESIA TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI YANG TERHUTANG ATAS I MPOR DAN PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN JASA KENA PAJAK TERTENTU YANG DITANGGUNG OLEH PEMERINTAH. perangkat lunak. dan pita (sticker) Pajak Pertambahan Nilai yang dicetak oleh Perum PERURI. Uang kertas. uang logam. 3. di bawah air dan di udara. alat angkutan di air. yaitu : 1. 2. 6. amunisi. 4. 9. Senjata. uang logam. Uang kertas. Pasal 2 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas penyerahan Barang Kena Pajak tertentu ditanggung oleh Pemerintah. dan pita (sticker) Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan oleh Pemerintah atas badan usaha yang ditunjuk oleh Pemerintah atas badan usaha yang ditunjuk oleh Pemerintah. 7. Alat kontrasepsi untuk keperluan Program Keluarga Berencana Nasional. dan traveller's cheque. Edisi Khusus No. benda meterai. 8. peralatan.

M. Senjata. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1986 NOMOR 33 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum Perundang-undangan Bambang Kesowo.H. 6. 5. Pasal 3 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas penyerahan Jasa Kena Pajak dari Kontraktor kepada Perum Perumnas untuk pemborongan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 angka 2. 7. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1986 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. 66 Cermin Dunia Kedokteran. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1986 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd SUDHARMONO. Pasal 4 Ketentuan teknis yang diperlukan bagi pelaksanaan lebih lanjut Keputusan Presiden ini diatur oleh Menteri Keuangan. alat angkutan di air.. Makanan ternak dan unggas. Edisi Khusus No. Pasal 5 Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.H. kendaraan lapis baja serta kendaraan angkutan khusus lain untuk keperluan ABRI. Alat kontrasepsi untuk keperluan Program Keluarga Berencana Nasional. 1994 . Agar setiap orang mengetahuinya. ditanggung oleh Pemerintah. amunisi. di bawah air. 90. S. S. Air bersih yang disalurkan melalui pipa. LL. memerintahkan pengundangan Keputusan Presiden ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan di udara.4.

c. Edisi Khusus No.04/1984 tentang Cermin Dunia Kedokteran. 90.04/1986 TENTANG PELAKSANAAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN DARI TENAGA AHLI ATAU PERSEKUTUAN TENAGA AHLI SEBAGAI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI BERUPA HONORARIUM ATAU PEMBAYARAN LAIN SEBAGAI IMBALAN ATAS JASA PROFESI YANG DILAKUKAN DI INDONESIA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3309).04/1984. Pasal 33 Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 1985 (Lembaaran Negara Tahun 1985 Nomor 63.Lampiran II surat DJP Nomor : S-068/PJ.04/1984 perlu disempurnakan. 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3236).22/1986 Tgl. 1994 Mengingat 2. bahwa berhubung dengan itu perlu ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan sebagai pengganti Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 655/KMK. : 20 Mei 1986 MENTERI KEUANGAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 356/KMK. Pasal 21 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 50. MEMUTUSKAN Dengan mencabut: Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 655/KMK. bahwa perkiraan penghasilan netto sebagaimana ditentukan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 655/KMK. b. bahwa untuk pemotongan Pajak Penghasilan atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuan tenaga ahli berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa yang dilakukan di Indonesia. 67 . perlu diatur lebih lanjut pelaksanaannya.

diterapkan tarif lapisan terendah sebesar 15% (lima belas persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-undang Pajak penghasilan 1984. 5. Edisi Khusus No. Pasal 1 (1) Dalam pelaksanaan pemotongan Pajak Penghasilan atas penghasilan Sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuaan tenaga ahli sebagai Wajib Pajak dalam negeri berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa profesi yang dilakukan di Indonesia. langsung diterapkan atas honorarium atau pembayaran lain tersebut. (4) Pemotongan PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Pelaksanaan pemotongan PPH atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuaan tenaga ahli sebagai Wajib Pajak dalam negeri berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa yang dilakukan di Indonesia. yaitu telah ada pengurangan sehubungan biaya untuk memberikan jasa tersebut. 1994 . (2) Tarif lapisan terendah sebesar 15% (lima belas persen) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterangkan atas perkiraan penghasilan netto dari masing-masing tenaga ahli sebagai berikut: Nomor Jenis tenaga ahli Persentase dari penghasilan bruto 60 60 50 40 60 60 50 1. Pengacara/advokat/penasehat ahli hukum lainnya Akuntan Arsitek Dokter Konsultan Notaris Tenaga ahli pemberi jasa porofesi lainnya (3) Apabila penghasilan berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa profesi tersebut pada ayat (1) dibayarkan sudah merupakan jumlah netto. 6. 3. 4. (2) dan (3) merupakan pembayaran pendahuluan dari PPh yang terhutang oleh tenaga ahli atau persekutuan tenaga ahli atas tahun dilaksanakannya pemotongan tersebut. maka tarif lapisan terendah sebesar 15%. 2. Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAKSANAAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN DARI TENAGA AHLI ATAU PERSEKUTUAN TENAGA AHLI SEBAGAI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI BERUPA HONORARIUM ATAU PEMBAYARAN LAIN SEBAGAI IMBALAN ATAS JASA PROFESI YANG DILAKUKAN DI INDONESIA. 68 Cermin Dunia Kedokteran. 90. 7.

Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Bangkok 10700. Bangkok Information : Secretariat. Cermin Dunia Kedokteran . Department of Medicine. Thailand. 1994 — 10th ASEAN Congress of Cardiology . Department of Anaesthesiology. 1994 — 7th ASEAN Congress of Plastic and Reconstructive Surgery Bangkok Information : Congress Secretariat. Dept of Plastic Surgery. November 26—30. Department of Anatomical and Cellular Pathology. 1994 — 9th Asian Australasian Congress of Anaesthesiologist Bangkok Information : Secretariat 9th AACA. 1994 — of Pathology & llth World Congress of Academic and Environmental Pathology Hong Kong Information : Congress Coordinator. Dr Y Sahasakul. Bangkok 10700. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Mei 1986 MENTERI KEUANGAN RADIUS PRAWIRO Kalender Kegiatan llmiah August 16—18. Division of Cardiology.Pasal 2 Pelaksanaan Keputusan ini diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pajak. Siriraj Hospital. The Chinese University of Hong Kong. Agar setiap orang mengetahui. 270 Rama VI Road. Room 38019. 90. Ramathibodi Hospital. 1/F. 1994 69 . Edisi Khusus No. Shatin. Siriraj Hospital. Bangkok 10400. memerintahkan pengumuman Keputusan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Thailand. Prince of Wales Hospital. Hong Kong. November 6—1 1. 20th International Congress of the International Academy October 9—14. Thailand.

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 68. atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki/dikuasai/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tersebut dapat dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada junlah tertentu atas pajak terutang dengan memperhatikan fungsi sosial rumah sakit tersebut.04/1993 TENTANG PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ATAS RUMAH SAKIT SWASTA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa walaupun terdapat pergeseran status dan fungsi rumah sakit swasta dimaksud. fungsi sosial rumah sakit swasta tetap melekat sebagai institusi yang memberikan jasa pelayanan kesehatan.PERATURAN-PERATURAN MENTERI KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 796/KMK. 1. 2. 1994 . b. 90. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3312). Tambahan Lembagaran Negara Nomor 3262). c. Mengingat MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ATAS RUMAH SAKIT. bahwa pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan dimaksud atas Rumah Sakit Swasta tersebut perlu diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia. Edisi Khusus No. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 49.04/1991 tanggal 13 Pebruari 1991 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan. 4. 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100). bahwa sehubungan dengan butir a dan b. bahwa sejalan dengan perkembangan sosial-ekonomi rumah sakit swasta dalam melakukan fungsi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan pelayanan dan jasa-jasa kesehatan telah berkembang sebagai institusi yang juga bersifat ekonomis dengan menitik-beratkan pada upaya mencari keuntungan. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 158/ KMK. d. sehingga turus menunjang program kesehatan nasional. 70 Cermin Dunia Kedokteran.

Edisi Khusus No. dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sebesar 50% dari jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang seharusnya terhutang. Sisa Hasil Usaha (SHU) digunakan untuk reinvestasi Rumah Sakit dalam rangka pengembangan Rumah Sakit dan tidak digunakan untuk Investasi di luar Rumah Sakit. Pasal 2 Runah Sakit Swasta Pemodal yang bukan merupakan Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dan didirikan oleh suatu badan yang berbentuk Perseroan Terbatas. 110016245 Cermin Dunia Kedokteran. 25% dari jumlah tempat tidur digunakan untuk pasien yang tidak mampu. (2) Atas bumi dan/atau bangunagan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Pasal 1 (1) Yang dimaksud dengan Rumah Sakit Swasta dalam keputusan ini adalah Rumah Sakit Swasta IPSM (Institusi Pelayanan Sosial Masyarakat) yang: a.U. tetap dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 90. Pasal 6 Keputusan ini mulai berlaku untuk tahun pajak 1993 Agar setiap orang mengetahuinya. Ditetapkan di :JAKARTA Pada tanggal : 20 Agustus 1993 MENTERI KEUANGAN ttd ttd.04/1991 tanggal 13 Februari 1991 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pasal 5 Pelaksanaan teknis keputusan ini diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pajak. memerintahkan pengumuman keputusan ini dalam berita negara Republik Indonesia. sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan nomor 158/ KMK. HERTATI MULATSIH NIP. Pasal 4 Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan. DEPARTEMEN .b. b. dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 3 Atas Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan secara langsung yang terletak di luar lingkungan Rumah Sakit. 1994 71 SALINAN sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO UMUM u. MAR'IE MUHAMMAD Ny. KEPALA BAGIAN T.

1994 72 . 2. 3. Dokter tamu menerima atau memperoleh penghasilan berupa honorarium dari rumah sakit sebagai imbalan atas jasa yang diberikannya. c. maka pelaksanaan Cermin Dunia Kedokteran. Dokter yang menyewa ruangan di rumah sakit sebagai tempat prakteknva menerima atau memoeroleh penghasil sebagai imbalan atas jasa dokter yang dibayar oleh pasien. d. serta imbalan lain. c.NOMOR : SIFAT LAMPIRAN : PERIHAL : SE-19/PJ. tunjangan-tunjangan. Dokter yang menyewa ruangan di rumah sakit sebagai tempat prakteknya . Edisi Khusus No. Dokter sebagai pegawai tetap atau pegawai honorer rumah sakit. (SERI PPh Pasal 21-38) Kepada Yth. Dokter sebagai pegawai tetap atau pegawai honorer dari rumah sakit menerima atau memperoleh penghasilan berupa gaji. 2. 3 April 1989 Pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit. Para Kepala Inspeksi Pajak di SELURUH INDONESIA Berdasarkan data yang diperoleh dari pemeriksaan rumah sakit sebagai pemotong pajak PPh Pasal 21 di seluruh Indonesia dan hasil pembicaraan antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) serta Pengurus Pusat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Dokter yang menjabat sebagai pengurus atau pimpinan rumah sakit.23/1989 Jakarta. bersama ini diberikan penegasan mengenai pedoman pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit sebagai berikut: 1. Penghasilan para dokter sebagaimana tersebut pada butir 1 adalah sebagai berikut: a. Dokter yang menjabat sebagaimana pengurus atau pimpinan rumah sakit menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari rumah sakit tersebut berupa gaji. Berdasarkan ketentuan Pasal 21 UU No. Para Kepala Kantor Wilayah DJP. yakni: a. yang berasal dari pasien dan dibayarkan melalui rumah sakit. 7 Tahun 1983 Jo. baik yang diterima secara langsung maupun melalui kas rumah sakit. yakni dokter yang merawat atau menitipkan pasiennya untuk di rawat di rumah sakit. 90. 1. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : Kep-41/PJ/1988 tanggal 28 April 1988 (Buku Petunjuk). honorarium. d. Dokter tamu. tunjangan-tunjangan honorarium. b. serta imbalan lain. b. Di rumah sakit pada umumnya terdapat tenaga dokter yang berdasarkan status hubungan kerjanya dapat dibagi dalam 4 golongan.

000.620. 2.. maka ia hanya berhak memperoleh potongan PTKP tetapi tidak berhak mendapat potongan biaya jabatan dan kepadanya diterapkan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Buku Petunjuk.000. 5. Rp. Rp. 150. Atas penghasilan berupa honorarium yang diterima dokter tamu.14. baik berupa gaji.700.1.19.tersebut.000.000. Atas penghasilan dokter sebagai pegawai tetap dari rumah sakit dipotong PPh Pasal 21 oleh rumah sakit tersebut sesuai dengan ketentuan pada butir 3.980. tergantung persetujuan antara dokter dengan rumah sakit tersebut. rumah sakit akan memotong pungutan rumah sakit (bagian rumah sakit) sebesar 15% s/d 20%. Rp. Rp. 3. 4. 6. 90. sebelum dipotong atau dikurangi dengan potongan-potongan oleh rumah sakit.. Atas penghasilan berupa imbalan jasa dokter dari pasien yang diterima langsung oleh dokter yang menyewa Cermin Duniu Kedoklerun.pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan dokter pada butir 1 adalah sebagai berikut: a.025.025. Biaya perawatan (sewa kamar) Radiologi Laboratorium Anesthesi Biaya obat Telepon/lnterlokal Jasa dokter Biaya administrasi Rp. jasa dokter wajib dibayarkan melalui rumah sakit. Penghasilan bruto diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh penghasilan. 630.877. Rp. Rp.a.700. tunjangan maupun honorarium serta imbalan lain yang dibayar oleh rumah sakit kepada dokter tersebut. dipotong PPh Pasal 21 oleh rumah sakit tersebut sesuai dengan ketentuan pemotongan PPh Pasal 21 untuk penghasilan pegawai tetap dengan diterapkan tarip Pasal 17 atas Penghasilan Kena Pajak (PKP). 7. 150. c. Rp.21. Edisi Khusus No.= Rp. 1994 73 . Rp. 8.- Jumlah biaya Dari jumlah jasa dokter sebesar Rp.15. Untuk lebih jelasnya bersama ini diberikan contoh perincian biaya perawatan dari rumah sakit sebagai berikut: Sebesar Jenis biaya 1. 9. Yang dimaksud dengan penghasilan bruto berupa honorarium adalah jumlah imbalan jasa dokter dari pasien yang dirawatnya di rumah sakit tersebut. b. dipotong PPh Pasal 21 oleh pihak rumah sakit sebesar: 15% x 40% x Penghasilan bruto berupa honorarium.000.Dalam hubungan ini berdasrkan kesempatan antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Pengurus Pusat Persi. Sedangkan apabila dokter tersebut statusnya masih pegawai honorer. d.24. Atas penghasilan dokter yang menjabat sebagai pengurus atau pimpinan rumah sakit.000. PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang harus dipotong oleh rumah sakit adalah sebagai berikut: 15% x 40% x Rp 150.

Berdasarkan ketentuan Pasal 13 UU No. Apabila hasil penjumlahan sebagaimana tersebut pada butir 5. ia diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. Fihak rumah sakit bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan pemotongan tersebut. untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. 5. d. yakni penerimaan bruto dari praktek dirumah atau ditempat praktek lainnya. b.000. Bapak Menteri Muda Keuangan RI (sebagai laporan) 2. yakni jumlah seluruh penerimaan bruto dari pekerjaan bebas telah mencapai jumlah Rp. Drs. Besarnya Norma Penghitungan penghasilan netto untuk dokter adalah 40% penghasilan bruto.-) digabungkan atau dijumlahkan dengan penerimaan bruto dari pekerjaan bebas.a. 5. 1. Perlu ditegaskan bahwa rumah sakit dan Yayasan Pengelola Rumah sakit wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan para dokter sebagaimana tersebut pada butir 2 sesuai ketentuan sebagaimana tersebut pada butir 3.000. Ketua Umum PERSI. Arsip.4. 060031307 Cermin Dunia Kedokteran. c. 120. 150.setahun. Dengan dikeluarkannya Surat Edaran ini maka dengan ini kami nyatakan bahwa Surat Edaran terdahulu yang mengatur mengenai hal yang sama yang tidak sesuai dengan Surat Edaran ini dinyatakan tidak berlaku lagi. Sdr. Tembusan : Kepada Yth. 90. Ketua Umum IDI. 1994 . maka atas imbalan jasa Dokter yang dibayarkan kepada dokter tersebut berlaku ketentuan sebagaimana tersebut pada butir 3. Edisi Khusus No.. Ketentuan pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit ini berlaku sejak tanggal dikeluarkannya Surat Edaran ini. Sdr. maka dokter tersebut berhak dan boleh memilih menggunakan Norma Penghitungan penghasilan netto. 6. yakni jumlah seluruh penerimaan bruto dari pekerjaan bebas. sebesar Rp. penghitungan penghasilannya didasarkan pada keadaan yang sebenarnya sesuai dengan pembukuan yang diselenggarakannya.000. Demikian.a. ruangan di rumah sakit untuk tempat prakteknya rumah sakit tidak wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21. Untuk maksud ini dokter tersebut diwajibkan memberitahukan kepada KIP selambat-lambatnya pada akhir bulan Maret dari tahun pajak yang bersangkutan. berjumlah kurang dari Rp. Namun dalam hal pasien membayar jasa dokter melalui kas rumah sakit dan rumah sakit tersebut memotong pungutan rumah sakit. 7 Tahun 1983. Apabila hasil penjumlahan sebagaimana tersebut pada butir 5.c. Sdr. Sekretaris DJP/Para Direktur/ Bintek/Staf Ahli DJP 74 DIREKTUR JENDERAL PAJAK 3.000. 120. 4.atau lebih setahun. Dalam hal dokter tersebut belum memiliki NPWP. Penghasilan bruto berupa honorarium dari rumah sakit (dalam contoh pada butir 4c. MAR'IE MUHAMMAD NIP. maka dokter tersebut tidak diperkenankan untuk menggunakan Norma. maka kepadanya supaya segera diberikan NPWP agar ia segera mengisi SPT Tahunan. Pengisian SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi (Formulir 1770) dari dokter dilaksanakan sebagai berikut: a.

Sehubungan dengan hal tersebut. Pembayaran honorarium oleh Yayasan Perguruan Tinggi Swasta kepada Dosen selaku pengajar. dengan ini kami tegaskan kembali bahwa pemotongan PPh. 90. sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (4) Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasl26 tahun 1988 dan selanjutnya. Apabila dokter dan dosen/pengajar/penceramah yang menerima honorarium tersebut di atas merupakan Wajib Pajak Perseorangan Luar Negeri maka dikenakan PPh Pasal 26 sebesar 20% dari penghasilan bruto sesuai dengan ketentuan Pasal 14 Cermin Dunia Kedokteran. penceramah dan sebagainya yang bukan merupakan pegawai tetap dari Yayasan Perguruan Tinggi Swasta yang bersangkutan wajib dipotong PPh Pasal 21 menurut tarif Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dari penghasilan bruto. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh beberapa Kantor Pelayanan Pajak. 1994 75 . 4. ternyata bahwa belum semua Bendaharawan Rumah Sakit yang membayar honorarium kepada para dokter dan Bendaharawan Perguruan Tinggi Swasta yang membayar honorarium kepada para dosen/pengajar/penceramah memotong dan menyetor PPh Pasal 21 dan 26 sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pembayaran honorarium dokter sebagai tenaga ahli dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf e ke 1 Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 tahun 1988 dan selanjutnya. Pembayaran honorarium dokter yang praktek di Rumah Sakit dipotong PPh Pasal 21 sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-19/ PJ. dipotong PPh Pasal 21 sebesar 15% dari perkiraan penghasilan netto (40% dari penghasilan bruto) atau penghasilan netto (dalam hal honorarium diterima bersih) sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (3) Buku Petunjuk Pemotongan tersebut.: 1. sesuai dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 tahun• 1988 dan selanjutnya.431/1990 Jakarta. 9 Pebruari 1990 Kepada Yth. Para Kepala Unit Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak di Seluruh Indonesia Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 atas Honorarium Dokter dan Dosen Perguruan Tinggi Swasta. Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak 2. Pasal 21 menurut tarif Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dari Penghasilan Kena Pajak. Sdr. Sdr. 5.NOMOR : SIFAT LAMPIRAN : PERIHAL : SE . Edisi Khusus No. 2. Pembayaran honorarium kepada dokter dan dosen/pengajar/ penceramah sebagai pegawai tetap atau tenaga lepas (dalam arti bekerja lebih 26 hari atau honorarium dibayar secara bulanan) dipotong PPh.03/PJ .23/1989 tanggal 3 April 1989. Pasal 21 dan Pasal 26 atas pembayaran honorarium kepada dokter dan dosen/pengajar/penceramah adalah dilakukan sebagai berikut: 1. 3.

atau dalam hal ada tax-treaty maka sesuai dengan ketentuan yang berlaku. WAHONO NIP. 060008997 Nothing can bring you peace but yourse f (Qalph Waldo Emerson) 76 Cermin Dunia Kedokteran. 1. Para Direktur/Kepala Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Tembusan kepada Yth. 3. Para Kanwil DJP di seluruh Indonesia.Buku Petunjuk pemotongan PPh Pasal 21 dan PasaI 26 tahun 1988 dan selanjutnya. 4. Edisi Khusus No. 90. Sdr. Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen Keuangan. Demikian untuk diketahui dan kepada Saudara diminta untuk melakukan pengawasan agar pemotongan PPh Pasal 212 dan Pasal 26 atas pembayaran honorarium dokter oleh Rumah Sakit dan pembayaran honorarium dosen/pengajar/penceramah oleh Perguruan Tinggi Swasta dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku tersebut di atas. 1994 . Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak. 5. DIREKTUR JENDERAL PAJAK DITREKTUR PAJAK PENGHASILAN Drs. Bapak Direktur Jenderal Pajak (sebagai laporan) 2.

Wawoeroendeng James E. • Plans should be based on a through assessment of the community needs. organizational capabilities. Edisi Khusus No. Subsequently. there are parallels and similarities between the two. and the need to contain rising health care costs. are a blueprint for operating decisions. The concept may be described as matching organizational resources and capabilities with environmental changes. the outcome of strategic planning process. providing the best health care possible. Key features in a effective plan are as follows : • Plans should strive for higher level of achievement. • Plans should be realistic. Changes brought by Indonesia's policy objective of development through industrialization. demographic shifts Resources – internal strengths and weaknesses Cermin Dunia Kedokteran. industry. evaluating and implementing goals selected from key alternatives to guide actions and decisionmaking. ongoing process of developing. Jakarta 21 — 25 November 1993 organization. USA Today. arguc for effective responses from hospitals. The process is comprehensive in that it involves consideration of the interrelatedness of problems and issues. Plans. • Assessing strategically important information. manufacturing and the push for export-oriented industries are creating new demands and expectations for the nation's hospitals. To this end. Strategic planning as a prerequisite to action is imperative. however. Wawoeroendeng & Associates. Strategic planning is a formal. the dynamics of health care. Inherent in the concept is the idea that an organization can best serve its overall purpose when there is a grand •design or a prethought scheme to develop and manage the Presented at the Vlth Congress of the Indonesian Hospitals Association & Hospital Expo. threats and opportunities. In my opinion it is a matter of degree. action-oriented. There are at least two dimensions of strategic management: the process of strategic planning and the content (programs and structures) of strategic activity. 1994 77 . to a great extent. These changes. STRATEGIC PLANNING DEFINED Strategic planning is an activity that supports strategic management. Trends – economic. The formulation of responses is an outcome associated with strategic planning and marketing. and seeks to understand the full implications or likely consequences of proposed actions in advance of making decisions. California. as the hospitals' environment become more complex. broad efforts and trends in the US to control cost and improve accessibility have indirect implications to Indonesia as these are goals both countries share. it is hoped that this paper will contribute positively to the discussions and debates on how we could perfect the nation's delivery system and meet its goal. within reason.Strategic Planning and Marketing James E. the essential elements of a generic strategic planning process include the following: • Defining the organization's mission. While there is not a single universal model on the sequence and process of planning. that of. Adjusting the positions of organizations to fit the changes in the environment is a function of strategic management. increasing number of organizations are developing strategic plans. 90. and the conditions in the external environment. Loma Linda. the need to improve the delivery of health services. Given there are differences between Indonesia's and United State's health care systems. such as. and continually evaluated as important changes occur. • Plans should be comprehensive in scope and developed with the broadest participation of key players. This paper is a review of some of the approaches US hospital management have used in responding to the rapid changes brought by intense competition and prospective payment system.

As the markets of hospitals change. Practicing state-of-the-art medicine. and as competition and technology intensify. hospitals must evaluate and realign the mix of services. • Identifying major or high impact issues Major opportunities. breaking up the hospital into distinct market-oriented programs allows management to define each program by such criteria as cost. This perspective derives from two closely held traditions in organization theory. The objective behind the product line management is to create something unique and different (differentiation). depth of service. the first of which stresses the idea that under norms of rational behavior of key members of the organization. Product Lines Management Product management. The second tradition is derived from the strategic management perspective positing that directors not only react to changing market and environmental forces but also anticipate and help shape these forces via aggressive strategic change. Republic has identified 10 "product lines" as follows (1 ) : • "Gift of Sight" – cataract surgery • "Step Lively" – podiatric services • "You're Becoming" – cosmetic surgery • "Call Me" – alcoholism treatment • "Sound Sense" – hearing examinations " • Impotency Solutions" – urology service 78 Cermin Dunia Kedokteran. segmentation of market. Product management looks at the product line as a competitive entity. a hardheaded assessment of the forces impinging on the hospital. these referral and consultation centers provide the highest quality of caze in a given clinical specialty and serve as distinguishing centerpiece of their network. Thus a purposeful scanning of the environment. target. low income programs. Two disciplines are helpful in developing product line management. perceptions. the organization's position and service within the organization life cycle and marketplace life cycle. Edisi Khusus No. products and programs offered. • Be involved in research and education. Portfolio Analysis The importance of portfolio analysis to strategy choice and marketing has to do with the degree to which decision-makers recognize the high growth. Another application in the spectrum of product line management is an approach used by Republic Health Corporation of Dallas. • Practice state-of-the art medicine and remain current with progress. Their value lies in establishing groups that are identifiable and manageable as separate businesses within the hospital. the organization's tendency to adapt toward changes described in such terms as defensive. prospective and reactive. 1994 . the outcome of a portfolio analysis. capabilities and limitations. concentrating on product lines or programs that may offer atraction but whose relative size is too small to merit attention. its stage in the marketplace life cycle. and determining the capability of the hospital resource base to respond to the dynamic and changing environment. As some program cut across departmental boundary lines and involve multidisciplinary teams. The range of alternative strategies considered and eventually chosen is influenced by among others. redefine its directions to capitalize on opportunities to meet the market needs. Most Favorable Position Generally. reactor organizations are those that analyze changes. cost accounting and marketing.Competition – competitors' profiles. high income programs from the low growth. MARKETING ORIENTATION AND REALIGNMENT Improving management's ability to assess and be responsive to the needs of the market constituencies is one of the major purpose of strategic planning. This type of analysis is an effort to avoid mistakes such as: promoting or focusing on unprofitable lines. from time to ti me. Such realignment with market conditions obviously must be done consistent with the hospital's chosen mission. and a calculation of risks and benefits for hospital innovation are key actions that would be expected of hospital directors. 90. energy will be exerted to align the institution vis-a-vis the environment and market so that it will be in the most favorable position possible. The Boston Consulting Group is credited for devising a matrix that assist management to examine the entire hospital portfolio of services. Realignment Realigning a hospital's direction in response to market changes is the responsibility of hospital directors. and the manpower required. The market situation is analyzed with an interest on identifying and defining needs on existing and future programs and or services. facilitates strategic planning by focusing on strategic issues program by program. True product lines have their focus on the marketplace. In contrast. hospital directors are empowered to make changes that reorient the hospital's direction in ways that are thought to improve its performance and chance of survival or growth. Some important features to consider in developing product lines are as follows: Be identifiable to the market by programlproduct line Be recognized as a unique or special program Have an identifiable market Be an administratively manageable unit Establish a reputation for excellence Aim to have complete diagnostic and therapeutic supports in terms of equipment and personnel. overlooking promising or potential services. Prospector organizations are those that. as health service needs. and attitudes shift and change. Two examples of product line application: HUMANA*. preferences. the managerial style of the hospital director. The development of a market plan links strategic planning to the external environment. a market-oriented approach. tend to be passive and seems to be lacking a sense of direction. Texas by branding their products or services. competitive position Market – needs and gaps. a for-profit healthcare corporation created what it calls regional Centers of Excellence strategically located among their 90-hospitals network. major threats and major shifts • Formulating goals and objectives • Selecting a grand strategy.

IV). Diversification • Entering into related or unrelated businesses: real estate. service. • Pursuing aggressive cost management and compete on cost. dialysis. home care. Oncology. socioeconomic class. except autonomy is retained. • Service to age group. there are only three major themes from which hospitals develop strategic responses: • Differentiating hospital products from the competitors. • Geographically dispersed. prosthesis. • Voluntary merger of two entities providing same or related . joint venture. divestment. Sport Medicine. avoid duplication. The structures and programs reviewed in this paper have to be viewed in the context of the prevailing conditions in the United States. • A strategy to achieve stability as risks are reduced. STRUCTURE AND PROGRAMS There are two main strategic variables at the disposal of hospital management that may be altered to meet changes in the environment: organizational structure or organizational programs. Mammography. • A strategy to protect against the risks of uncertainties. products. etc. Geriatric Care. Prenatal Care. eliminating unprofitable services or reducing in order to survive. • A strategy to spread risks or maximize earnings through investment opportunities. IPAs • increasing ambulatory services • declining average length of stay (ALOS) • increase in investor-owned corporations • growing participation in alliances. Edisi Khusus No. • A strategy to achieve economies of scale. or geographically proximate.• • • • "View" – women's health problems " Miracle Moments" – obstetrics "ReNew" – cocaine addiction treatment "Reach" – adolescent psychiatric treatment The examples serve to illustrate the need of differentiating programs and services so to be distinguished from competitors'. increased access to capital. • Identifying and focusing on segments of the market. diagnostic departement. physician-hospital-organization). shopping centers. chains Cermin Dunia Kedokteran. Oncology. mutual benefits and risks. housekeeping. Service Vertical Integration & Horizontal • Establishing organizational arrangements that provide a range of services. • A strategy to retain patients within the system or chain by providing more services. common and relevant (PHO. or non-price competition. differentiation. Service Specialization • A strategy to focus and serve a particular segment of the market. increase availability of skills and talents in management and clinical applications. Pre-admission services and postdischarge care. • Specialization in Pediatric. • Hospital and Physician groups joint ventures. longterm care. Retrenchment • Downsizing. diagnosis. and retrenchment. These are the variables and the focus of strategic planning when reviewing and analyzing the mazket.. EDS). Joint Venture • Similar to horizontal integration. service specialization or niche. by age. restaurants. • Establishing freestanding ambulatory service. Integration. income level. Naturally. vertical or horicontal integration. diversity or expand service. Expansion of the Product Line • A strategy to increase or maintain market share. Rehabilitation. and lower cost of capital. geographic location. • Selling of underused capacity. Hospitals compete in two distinguishable levels of the market: price-based competition. Post discharge care: skilled-nursing 'care. diversification. • A strategy to control the use of supplies and resources used by hospitals. diagnosis group. linen. The following summary are generic grand strategies applicable for health care organizations considered common: expansion of the product line or area. Pediatric Cardiovascular. medical plaza or medical office buildings. overbedded • intense consumer pressures and expectations for change • growing pressures from business community labor shortage in professional and technical categories • • new delivery systems. • A strategy to improve cash flow. backward. Burn Unit. 90. (dietary. • A strategy to shared opportunities and risks. or geographic area. laundry. 1994 79 STRATEGIES There are a number of patterns to describe the long-run strategic thrusts of hospitals. HMOs. etc. • Non-clinical integration include entering businesses that supply/manufacture hospital products or services (pharmaceuticals. • A strategy to prevent insolvency by reprioritizing funds allocation. and they are: • growing trend of prospective payment system • decreasing reimbursement from third party payors • continued high health care costs • accelerated competition • tighter profit margins • decreasing inpatient census • large excess capacity. • May be used to integrate forward. PPOs. • Developing new product lines.

The other option is to maximize revenue by engaging in or entering promising markets. 3. The real value of joint ventures is when both hospitals and physicians recognize that there are overlapping values and benefits to be gained if both parties join their resources together and accept that they are better off joined than separate. partnership. Home health 8. Some measures used to enlist physicians loyalty and cooperation: • adequate and or reasonable compensation • assistance in new equipment financing • participation in the development of strategic planning • participation in joint ventures with the hospital • hospital-physician alliance. joint owners of hospitals business units • professional development allowances: continuing education. Edisi Khusus No. Women's medicine 6. Without incorporating physicians into the strategic plans of hospitals. Freestanding outpatient diagnosis 2. 1989 issue. or enlist their cooperation in the hospital's expansion program or cost reduction program. The area where joint ventures have been formed include the establishment and operation of urgent care centers. home loans food or meals. principally physicians. Hospital often is the general partner thus exposed to risks. From the hospital's perspective it is highly important to attract and retain the best qualified medical staff. How do they position their organizations in a way that ensure continued growth and survival. offer a broader range of services and in more markets. • funds for research and development. The joint ventures may be any of the following three forms: • Contractual Agreement. Incorporation limit the liability of both parties to the extent of their investment. Psychiatric outpatient services 7. skilled nursing facilities. Physicians are the key ingredient in maintaining a desired census. and (2) tying into potential new sources of patients. for specified purpose(s) and or a specified period. Hospital executives must gain the support and cooperation of physicians in order to continue a viable hospital operation. • The hospital seek feeders or satellite facilities to function as sources of referrals. A survey conducted by "HOSPITALS" as published in the January 5. Hospitals hope that engaging in join ventures will enable them to be more effective competitors in the marketplace by enabling them to 80 Cermin Dunia Kedokteran. it is unlikely that hospitals will develop a foundation for responding adequately to competition. Substance abuse . and incorporating physicians as partners and/or owners of hospital or hospital's business units. Key advantages of the partnerships are as follows: • shared risks and shared profits • higher motivation to control costs • improved capability of the partnership to offer diverse services Much is at stake if a hospital is unable to obtain and retain competent medical staff. Industrial medicine 5. Medical Staff Relations Medical Staff are the single most critical factor in a fiercely competitive climate. Diversification To compete effectively hospitals have to implement measures to control operations and attain high operational efficiency. The two main strategies employed in dealing with the medical staff as shown in the preceding list are. the hospital is just another clinic. the acquisition and operation of major medical equipment such as CT scanner. rank most successful hospitals' ventures as follows: 1. MRI. physicians as limited partners are precluded from sharing in the management. 90. such as diagnostic imaging equipment or MRI. by offering new services to unserved market segment. Some reasons given for diversification: • The hospital diversify its program in order to capture a larger share of all patients served in a community. such as ambulatory surgery centers. the extension of financial and non-financial benefits. In rural hospitals where funds are scarce and there is no excess of hospital beds. 2. national/overseas programs observation trips • hospital allowances for: club memberships. Control rest with a new entity and separate board of directors represented by both parties. ambulatory surgery centers. Hospital-Physicians Joint Ventures By engaging in joint ventures with those who control access to patients. They serve as gatekeepers for a hospital's flow of patients. ensuring their participation and mutual sharing of benefits and risks. medical office buildings. • Corporation. diversification may be an inappropriate strategy. hospitals can lock in their existing patient base (market share) and possibly increase it by (1) giving the physicians a financial stake in the operation of certain lines of business. To do so hospitals are better off to collaborate with physicians rather than be in opposition or competition with them. independent laboratories. related or unrelated to its core business. What are the measures hospitals undertake in order to survive in this increasingly hostile climate. Physicians gain liability protection. home health care agencies. 1994 1. Inpatient rehabilitation 3.• increased regulations Consequently. Freestanding outpatient surgery 4. • Limited Partnership. A form of alliance with the physicians. • The hospital seek to protect its exposure by entering into profitable ventures. and lithothripters. and without acute care. and How do they adapt to the changes? How should hospitals orient their strategies? The following I submit are some of the answers in terms of organizational structures and programs. • The hospital strive to become the sole source of a medical technology. all of which involve physicians. Acute care hospital is physician-intensive. housing and transportation. journals.

Obstetrics 14. and lacking the required support from physicians. Surgicenters The growth of ambulatory surgery has been due to advances in medical science such as the use of anesthesia in a precise manner. The following criteria are important when a hospital considers diversification: • Rate of Return Project generates positive cash flow Venture is compatible with mission • Mission Projects improves service to the community • Community Hospital gain market share • Market share Hospital gain new referrals • Patients Hospital are in control • Autonomy/ control Interest in quality is an important factor • Patient care Possess the education and skills • Physicians Approved by key participants • Support No conflict ofinterests withMDs/board • Interests Caveats for hospitals already diversifying into programs or services in their community: First. Trauma center 17. Urgent care centers owned and operated by physicians are a threat to hospitals as these tend to draw patient away from hospitals. while the number of freestanding ambulatory centers increased 57 percent from 19. Selected categories of surgicenter procedures : OB/Gyn .gynecological surgery. diversification's real value is revenue maximization. Nursing facility 11. medical plaza • Vendor relationships. laparoscopy/tubal ligation Orthopedics . it is a means of protecting the hospital from the risks of uncertainties. consolidation or combination. at least four types of strategies can be adopted : • Inpatient-oriented. to recognize as soon as possible when demand for a program is declining.9. In the evolving opportunities for outpatient care and referral. 1994 81 . equipment and information systems to support growing ambulatory care demands. Hospitals should not wait too long to discontinue the line or sell it. lack the entrepreneurial managerial skills. be financially ready to handle any temporary downturns for extended period of time. tonsillectomy or adenoidectomy Dermatology Plastic surgery Urgent Care Centers . hospitals emergency room have been used by patients for nonemergency cases. With significant technological advances. defensively. The number of hospitals decreased 5 percent from 1980 to 1990. specialty ambulatory care services • Comprehensive primary ambulatory care services • Ancillary ambulatory care services that are part of overall diversification • Joint ventures with physician group that may expand the current level of patient referrals. Satellite urgent care 18. HMO 16. Converting these into new profit centers. Preferred Provider Organization 12.516 to 45.510( 2) . Minors sugeries can be performed in some centers. Freestanding Dialysis Centers At one time kidney dialysis was an extremely expensive procedure and could be performed only in a hospital setting.orthopedic surgery. in order to remain viable in the emerging delivery model..To meet these needs. However. Outpatient Care and Referral Networks Outpatient revenues currently account for about 25% of community hospital's revenue. hospitals must capture a significant share of the growing outpatient business. To shift to ambulatory care.. in several cases. An important source for diversification is the creative use and development of hospital's hidden and under-utilized assets. is the challenge for management.myringotomy. New technologies that offer greater precision in measuring blood gases and that permit a patient to be anesthetized just sufficiently for the procedure are expanding the number of operations that can be done on an outpatient basis.. Cardiac rehabilitation 10. Diversification does not have to include formal alliance with another health care organizations through merger. Prospectively.. most dialyses can now be Cermin Duniu Kedokteran . There are predictions that by year 2000 the percentage will increase to 50%. complete with laboratory and radiology facilities. This major change in health care delivery presents US hospitals with one of the most difficult strategic planning issues today. Wellness/health promotion Many hospitals experienced failures with diversification projects because they are undercapitalized. Retirement housing 19. endorsement for royalty • Reputation and image.hospitals have opened up Urgent Care Centers. Third party payers are reluctant to pay inpatient stays associated with surgical procedures that can be performed on an outpatient basis. Pediatrics 15. had conducted poor planning. This effort require physicians involvement. 4. Diversification implies that the hospital is rearranging its programs and services. capital investment in facilities. Edisi Khusus No.Freestanding Emergency Facilities In many cases. Intermediate care 13. second. 90. arthroscopy ENT . Examples of those hidden assets could be as diverse as: • Excess capacity or off-hours of plant and equipment • In-house support services • Proprietary software (developed in-house) • Real estate. acceptance • Technical expertise and technology A number of viable structural methods may be employed to facilitate diversification. is to place the hospital in direct competition with physicians. a cross between a physician's office and an emergency room.

Two organizations are integrated into one single legal body with one sole corporate board. 1. System affiliation was designed to provide the following benefits : • increased access to capital markets • reduction in duplication of services. leasing. hospitals responses could be either to let the physicians be joined owners with the hospitals or. The concept has now a spectrum of formats that begins with one that is highly informal to highly formal : Consortia on planning or education. Contract Management For agreed fees contract management companies provide specialized services ranging from hospital management. First. howcvcr fees will be based on capitated rates based on patient days or the number of enrolees. 1994 . Wellness Programs This strategy is used to approach the health conscious members of the population. laboratory. These programs may include hypertension screening. their expertise in food distribution and production result in high operating and cost efficiency. Multihospital Systems Some hospitals have turned to multi-institutional alliances in an effort to stem the adverse influence of prospective payment and competition. which is achieved through linkages with both the consortium management and other affiliated hospitals. increase in efficiency • economies of scale • access to management expertise • increased personnel benefits • improved patient access through geographical integration of various levels of care • improvement in quality through increased volume of services for specialized personnel • increased volume due to increased number of services Formerly it was possible to classify hospital cooperative arrangements in two classes. Merger is a strategy for capturing a larger market share by integrating vertically or horizontally. concentrate and focus on hospital core functions.462 812 662 566 421 352 223 155 147 82 1. Edisi Khusus No. This will help to limit major investment to fewer institutions and to improve utilization. injury prevention.performed on an outpatient basies. often including medical schools. retirement and benefit expenses. one of the largest contract management company. further eroding traditional source of inpatient revenue.476 1. patterns and thus may help to ensure efficient and quality services. etc. complete ownership. Hospitals benefit from reduced salary. second. diagnostic equipment Laundry Pharmacy Cardiology Services Rehabilitation/physical therapy Psychiatric Respiratory Therapy Home Care Materials Management 6. laundry. This growth has been Cermin Dunia Kedokteran. The more important benefits include reduced environmental uncertainty and complexity and improved access to resources. Con tracts are ty pically based on a fee or a fee bonuses. Hospitals join consortia because they find it difficult to survive as independent units. Studies have shown that the real benefits of wellness programs appears to be the positive commurity image that it fosters.833 1. More often than not. alliances that bring independent organizations together to share and cooperatie in solving problems.547 1. are memberhsip organizations with full time staff devoted to joint 82 5. Shared Services Sharing involves two or more organizations joining together to produce and/or use the same sercive for the member institutions. corporate ownership with separate management. Mariott Management Services. Being large and highly capitalized. 1993 issue growing trend for this mode of service as evidenced by the reveals increased number of contracts : 1992 1991 Food Service Hospital-based Emergency Housekeeping Clinical. 90. and laboratories to purchasing and specialized clinical facilities. complete ownership with large-scale system. contract management companies can deliver their services more efficiently and cheaper.639 726 593 545 404 302 214 168 152 75 Investor-owned Multihospital Systems Investor-owned systems are growing in terms of hospitals and hospital beds at the rate of 100% a year. This ranges from the joint use of computers. is a large hotel restaurantcorporation which diversi into the hospital industry business. planning and programming. emergency room staffing. food services to contracting hospitals. As more physician Group Practices provide comprehensive outpatient services by doing more of what traditionally are inpatient functions. Mergers Mergers by acquisition are when two entities merged to become one. Agreements usually include criteria for the size of investment which can be made by individual member institutions without efforts to plan the program jointly and/or share each major clinical service. shared or cooperative services. alcohol and drug rehabilitation. A survey published by Modern Health care August 30. Sharing of MRI and CT scanners are good examples of this model. medical evaluation. contract management. pharmacy. or as a menas of providing more comprehensive services. Consortia Consortia hospitals. housekeeping services. formal contractual associations. laundry. professional associations. independent organizations together combines under a common organizational framework. Increasingly.936 1. Indications are that these multhihospital systems will continue to expand as regulations and competition increases.

banks and nonbanks provide more favorable borrowing conditions to systems than to independent hospitals. etc) • Assumption of labor. investor-owned systems pay taxes. they are limited in their options in such areas as diversification. lease. They lack the flexibility enjoyed by private facilities in raising funds. of the solemn public interests. Lower levels of average case cost Lower ALOS-tighter control of medical practice patterns Higher rates but not high labor costs Higher outputs Government-owned Hospitals* Public hospitals in the US. (Continues obligation to provide indigent care. joint ventures and so forth. 8. many statelegislatures have amended pertinent statutes to provide latitude for the disposition. A study Cermin Dunia Kedokteran . planning and organizational benefits. contract managed of public hospitals. Systems are better able to spread risks among its units or member hospitals. the terms of transaction must include the following itens : • Protection of the constituents. On top of this. They pay better compensation therefore attract skilled professionals. rates. 330 rural hospitals were closed due to financial stress. 2) lncreased Efficiency and Economics of Scale Systems realize savings through mass purchasing. contract or sale of public hospitals.facilitating precise government budgeting. facility deterioration. Acquisiton of public hospitals through lease or contract management can be attractive. and known organization development experience.achieved largely through the acquisition of independentinvestorowned hospitals. separate lines of business offer the potential of offsetting cash flow demands during the downturn of the hospital's business cyle. Public hospitals also face particulary acute problems in raising sufficient capital to make the renovations and plant improvements necessary to furnish an acceptable level of care. The major advantage of systems is their ability to finance capital purchases. • Contracts/lease arrangements establish ahead of time the annual costs . and diagnostic imaging centers. Major theme in their strategic response has to do with networking or affiliation with larger organizations. and high administrative turnover. At a minumum. They are frequently forced to compete for funds with other equally i mportant government social programs.. Major benefits offered by this model are :. Major advantages for the government entity : • Management contracts or lease by multi-hospital bring the benefits of resource-strong organizations such as highly skilled professionals. burdened with the care of indigent. suffered from poor management and inadequate funds.832 billion. Recognizing the need for greater flexibility on the part of public hospitals. Empirical evidences indicates strong preference for system by capital markets. shortages of health care professionals. 90. Diversification into non-hospital markets provides additional financial stability. Systems uses capital facilities and equipment more efficiently through sharing and specialization. From 1980 to 1990. The financial performance of investor-owned system has been impressive. to meet accreditat vn standards. A report by the Insitution of Medicine. liability and pension and employee benefits. having stabilized or reduced costs. hours of operation. • Clear accountability line to the governing authority. personnel management. Washington states that a dollar invested in an investor-owned system has returned nearly 40 percent more in earnings than the average for other industries in recent years. economic benefits. $1 in equity may raise $15 or $20. urgent care centers. Rural Hospitals* Rural hospitals in the US are in crisis. 1994 83 . 3) System Diversification Profit from health and nonhealth lines of business provides a source of internal fund for financing new capitaLacquisitions. Investor-owned hospitals shows they provide care cheaper or equal to non-profit institutions. both for the government entity and for the acquiring entity. • Compliance with disclosure laws. As a result shareholders equity in the largest four investor-owned multihospital systems quadrupled during 1977 to 1981. System uses highly skilled and highly experience personnel than independent hospitals. System hospitals use fewer staff per bed than other systems. investor-owned systems may raise capital through the issuance of stock which means the cost of funds are low. Economic Benefits 1) Access to Capital The financial institutions. These prohibitions consequently limit the flexibility of public hospitals to participate financially with physicians or others in lucrative alternate delivery methods such as ambulatory surgical centers. Their problems include inadequate funding. Diversification into nonhospital markets provides additional financial stability to systems. Furthermore. the obvious economic benefits of multi institutional arrangements may be the following : • Abilityto afford specialized management talent • Standardization of supplies and equipment • Volume purchasing • Sufficient breadth and diversity to attract capital • • • • 7. Investor-owned systems are constructing and acquiring freestanding nursing homes and psychiatric hospitals at a rate more than three times that for community hospitals. Constrained by the peculiar nature of public hospitals. and to attract the increasingly important private pay patients. Important consideration when considering the lease. details of the level of staffing. from an aggregate of $461 million to $1. The trend shows growing trend of investor-owned hospitals 10.3 percent per year. In the US capital market. In summary. Edisi Khusus No. • Contractual agreement/lease reduce the politics present in the management of government-controlled instituions. economies of scale. asset and equity bases. Multi-institutions (both tax-exempt orinvestor-owned) are perceived as more stable therefore less risky because of their larger revenue. breadth of service.

and networking to share and widen the risks and costs among many.as opposed to the process. April 1993. Folger JC. IPAs) which compete on price. The use managed care models (PPOs. HMOs. to screen out excesses and inefficient hospitals. Strategic planning is a tool among many strategic planning I submit. integration among medical groups and integration between institutions. 1994 . As Indonesia moves into the rank of the newly industrialized countries (NICs). AHA. 1. commensureable responses from hospitals shall be evaluated for their appropriateness. 90. and achieve economies of scale resulting in lower costs. affiliation. health care organizations are intently concentrating on strategy formulation as the focal point of strategic planning. In the final analysis. Frustee. Preston Coe. Two main forces are rearranging hospital system in the United States : President Bill Clinton's proposed managed competiton and prospective payment system. There is greater interest in the output of strategic planning strategies . and select the most fit organisational structure and program and redeftne its destiny.reengineeri ng 53% Strategic planning 55% Merger activity 15% These planning activities indicate that in order to redefine the US imperfect health care system two trends will emerge : • Increased used of competition to enhance market efficiency.is the challenge hospital management must face with. These realignment are in search of lower costs and higher operating efficiency for the same high level of care. The race is on now in the United States for large-scale mergers. REFERENCES PLANNING AHEAD Expecting the worst. 84 Cermin Dunia Kedokteran. — Integrating hospitals and physicians and provide incentive to contain hospital costs jointly through prospective payment system or capitation. The changes are forcing organizations to be innovative and flexible in their organizational structures and program offerings. Edisi Khusus No. hospitals in the US are stepping up planning. organization 69% Affiliation with another hospital 62% Medical Staff development 59% Job. 1993 indicate the following hospital planning activities : Managed care planning 76% Expense reduction 74% Physician/hospital. AHA. effectiveness and cost efficiency. Selecting a strategy with a view of defining a destiny . A survey published by hospitals & health networks of October 5. E. Product Management for Hospitals.done in 1988 showed the following strategic activities engaged by rural hospitals : Multi-hospital system affiliation 34% Consortium affiliation 30% PPO affiliation 27% HMO affiliation 22% Corporate restructuring 20% Ambulatory Service 17% Downsizing 15% • Facilitate integration — Integrating providers through. doing the right thing at the right moment at the right place is what strategic management is all about. 2. may be the most effective tool available for the hospital management to span the entire horizon. CONCLUSION Today.

Surabaya Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita (Sumpah dokter). II. . akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita ". sosial. Karena ciri-ciri AKC tersebut timbul perbedaan pendapat tentang AKC ini. 90.menghilangkan atau mengurangi ancaman terhadap kelangsungan hidup. Jakarta . Bentuk teknologi dapat berupa perangkat keras (alat.kuratif dan rehabilitatif. salah satunya adalah AKC. salah satu di antaranya adalah cara penggunaannya agar didapat manfaat yang sebesar-besarnya dan dihindari atau dikurangi dampak negatipnya. Mempunyai dampak tidak saja pada bidang kesehatan tetapi juga pada ekonomi (biaya). Pada dasawarsa akhir-akhir ini banyak dikembangkan dan digunakan Alat Kedokteran Canggih (AKC). Soetomo. Perbedaan pendapat itu meliputi berbagai bidang. etik dan hukum. . Dalam upaya itu digunakan teknologi. Dalam melaksanakan tugasnya sudah biasa dokter menggunakan teknologi. 1994 855 . Pada waktu ini ukuran yang lazim dipakai walaupun tidak sempurna adalah angka kematian (diukur dari arah lain adalah survival rate) dan angka kesakitan. Apabila dijabarkan lebih rinci maka tujuan profesi dokter itu adalah : . PENDAHULUAN Landasan dan tujuan profesi dokter – seperti yang dinyatakan pada salah satu butir lafal sumpah dokter – tidak pernah berubah yaitu "Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita ". B) Manfaat dan Masalah 1) Pengertian dan jenis teknologi Ada berbagai pengertian dan pembagian teknologi.mencegah atau mengurangi kecacadan. Idealnya tujuan tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut ke tingkat yang dapat diukur dengan objektif. 1. Makalah ini mencoba untuk menguraikan dan mengajukan saran bagaimana meningkatkan efektivitas pemilihan dan penggunaan AKC. Jika itu dapat dilakukan maka penggunaan AKC dapat dinilai dalam arti apakah tujuan itu dapat dicapai. Harganya biasanya mahal. promotif. Untuk itu dilakukan upaya-upaya preventif. 21 — 25 November 1993.mempertahankan kehidupan yang berkualitas baik (offer years of life of good quality).Manfaat Alat Kedokteran Canggih dalam Pengembangan IPTEK di Indonesia Berbagai Upaya untuk Meningkatkan Efektivitas Pengembangan Pemilihan dan Penggunaan Alat Kedokteran Canggih Karjadi Wirjoatmodjo Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pada makalah ini digunakan pengertian dan pembagian sebagai berikut : Teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan atau temuan dalam praktek sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. salah satu bentuk teknologi itu adalah alat. AKC mempunyai beberapa ciri. adanya terbatas. Edisi Khusus No. AKC SEBAGAI SARANA A) Tujuan profesi dokter Landasan dan tujuan profesi dokter pada tingkat yang umum dinyatakan dalam salah satu butir lafal sumpah dokter: "Saya Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. sarana) Cermin Dunia Kedokteran.

Di dalam bidang kesehatan. pasien. Dampak di bidang ekonomi secara makro dapat berupa kenaikan pada anggaran/biaya kesehatan. Hasil dari kekuatan tersebut di atas menyebabkan adanya AKC dan penggunaannya dapat berbeda antara berbagai negara. dapat berupa perangkat lunak seperti prosedur medik atau prosedur bedah. rumah sakit. Para dokter dapat mengalami "ketergantungan" pada AKC. penggunaan alat tersebut sangat sedikit dan pasien-pasien tak dapat diberi terapi/tindakan sampai tuntas. Namun karena di rumah sakit tersebut tidak ada staf dokter spesialis bedah saraf. operasi tidak dapat segera dilakukan. kejang-kejang. orang tersebut embuh. Pada pemeriksaan dengan CT Scan didapat perdarahan otak (perdarahan epidural). Tetapi kemudian banyak rumah sakit sekitar membeli ESWL. Masyarakat dapat menuntut atau menolak adanya AKC. Dampak di bidang sosial adalah antara lain pengaruh AKC pada perilaku dokter dan perilaku masyarakat. sehat dan dapat bekerja produktif. alat bersaing untuk rumah sakit. • Di rumah sakit itu banyak pasien wanita.perangkat lunak (cara. Kesimpulan: pengadaan AKC harusnya disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kemampuan rumah sakit. • Di satu rumah sakit ada alat ESWL (pemecah batu ginjal) yang ternyata tidak banyak dipakai. tidak sadar. Halhal yang dapat mempengaruhi pengadaan AKC itu antara lain: media cetak/elektronik. Motivasi pengadaan AKC dapat positip semata-mata untuk menolong pasien. Dilakukan non stress test untuk mengetahui keadaan bayinya. keuntungan untuk investor atau industri AKC. Pada pemeriksaan didapat gangguan pada pacu jantungnya (Sick Sinus Syndrome). Dari uraian di atas jelas bahwa AKC adalah salah satu dari bentuk teknologi.000 penduduk di Inggris (UK) hanya 1/6 dari jumlah di USA. Di suatu Rumah Sakit dipasang CT Scan. Hasilnya penderita berkepanjangan bagi pasien dan keluarganya. 86 Pernapasan buatan dilakukan terus sampai lebih kurang 1. tampaknya bayi mulai kesulitan untuk mendapat oksigen ditandai dengan nadi 180/menit.5 tahun sampai respirator tersebut rusak total. 4) Pihak yang berkepentingan Banyak pihak berkepentingan untuk pengadaan AKC. • Pada suatu hari ada kecelakaan dengan ruda paksa kepala. Hasil. pembedahan otak. Dilakukan . orang tersebut sembuh. Hasil. Edisi Khusus No. industri AKC dan lain-lain. Pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata sudah terjadi kerusakan otak berat dan mati batang otak. Setelah diberi penjelasan orang tua menolak saran agar respiratornya dilepas. masyarakat. investor. beberapa kali pingsan. muntah dan aspirasi berat. metoda. 2) Dampak AKC/Teknologi Canggih Penggunaan AKC mempunyai dampak yang luas yang dapat positip atau negatip : dampak di bidang kesehatan dampak di bidang ekonomi dampak di bidang sosial dampak di bidang etika dan hukum. penyulit/bahaya (safety). Contoh-contoh konkrit di atas yang diambil dari keadaan riil menunjukkan bahwa AKC dapat membawa manfaat tetapi juga dapat menimbulkan masalah. Kesimpulan: adanya AKC saja tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan tim kesehatan yang diperlukan. Dilakukan bedah cesar. 1994 . Demikian juga dapat dibedakan teknologi untuk pencegahan dan teknologi untuk pengobatan/penyembuhan. Tetapi motivasi dapat juga negatip seperti status simbol untuk dokter spesialis. – Diperkirakan bahwa di Amerika dikeluarkan biaya 100 milyar dolar US per tahun untuk penggunaan AKC atau tekno- Cermin Dunia Kedokteran. Uri (placenta) mulai mundur fungsinya. – Jumlah alat CT Scan per 1. Dipasang alat pacu jantung internal. Dampak di bidang hukum dan etika berupa ketidak pastian atau ketidak siapan seperti pada masalah bayi tabung. Seorang ibu hamil pertama mengalami keterlambatan 3 hari • dari hari perkiraan persalinan. prosedur) bahkan ada juga yang memasukkan jenis ketenagaan (brain ware).000. Kesimpulan: apabila pengadaan AKC antar rumah sakit tidak ditata investasi AKC itu dapat merugikan. demam. Dampak di bidang kesehatan dapat berupa manfaat/kesembuhan (effectiveness). bayi dilahirkan hidup dan sehat. dokter spesialis bedah umum yang dengan alat rontgen untuk mamografi dapat menemukan tahap dini kanker payudara dan sekaligus melakukan pembedahan. Pembagian lain dalam teknologi kesehatan adalah teknologi untuk primary care (biasa digunakan dokter umum) teknologi untuk secondary care (biasa dipakai para dokter spesialis) dan teknologi untuk tertiary care (biasa dipakai para dokter super spesialis). 90. dan biaya. Di satu rumah sakit dibeli alat rontgen angiograf yang dapat • memeriksa pembuluh darah koroner. Dipasang alat napas (respirator). 3) Contoh konkrit Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh konkrit kasus-kasus individual dalam bidang kesehatan untuk dapat lebih memahami manfaat dan masalah penggunaan AKC/teknologi canggih. teknik. ada dokter spesialis radiologi. sehat dan hidup produktif. Hasil. Namun karena jumlah pasien sedikit dan belum ada dokter spesialis bedah jantung. Di samping itu dokter spesialis urologi yang dulu memakai ESWL itu pindah ke rumah sakit lain. • Seorang anak umur 8 bulan. Direktur Rumah Sakit tersebut menceritakan bahwa mula-mula ESWL itu pemakaiannya baik (optimal). penentuan kematian. Pada pemeriksaan CT Scan terdapat perdarahan kepala yang perlu segera dioperasi. • Seorang dewasa muda jatuh dari sepeda motor. sebagai contoh : – Bypass pembuluh koroner (CABG) di Amerika dilakukan 6 x lebih sering dari pada di Inggris (UK) walaupun angka kejadian penyakit jantung koroner di kedua negara itu lebih kurang sama. • Seorang dewasa muda aktif bekerja. dokter. teknologi dapat berupa perangkat keras seperti Alat Kedokteran Canggih. dan kerugian bagi pasien lain yang membutuhkan respirator. obat.

Pengukuran hasil (outcome assessment) pada AKC/ teknologi canggih Sebagaimana diuraikan di atas tujuan umum dari penggunaan AKC/teknologi canggih adalah : a) mengurangi atau meniadakan ancaman terhadap kelangsungan hidup (remove the threat of death). Namun yang dapat diukur adalah yang pertama dengan menghitung angka kelangsungan hidup (survival rate) atau angka kematian (death rate). 1994 87 . LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENINGKATKAN MANFAAT DAN MENGURANGI MASALAH PADA PENGGUNAAN AKC/TEKNOLOGI CANGGIH 1) Perbandingan pengembangan AKC/teknologi canggih dengan pengembangan obat Langkah-langkah pengembangan obat jauh lebih sistimatik dibandingkan dengan pengembangan AKC/teknologi canggih mungkin karena sudah lebih lama terjadi atau karena lebih sederhana. b) mengurangi kecacadan (reduce disability). Pada tiap fase itu apabila terdapat hasil-hasil/gejalagejala yang merugikan. upaya untuk menata pemilihan dan penggunaan AKC/teknologi canggih sudah dicoba di negara-negara maju. sukar melakukan randomized clinical trial seperti pada obat. Upaya untuk pengukuran hasil ada namun belum cukup dan belum sistimatik. hasil yang pertama tahun 1977. Masalah umum pada penggunaan AKC/teknologi canggih adalah menemukan indikasi yang tepat dalam arti kondisi pasien yang tepat untuk AKC/teknologi canggih tersebut dalam kata lain bagaimana menggunakan AKC/teknologi canggih secara rasional. 5) Kriteria pemilihan AKC/teknologi canggih Mengingat masalah-masalah yang dapat timbul seperti di atas maka untuk mendapat manfaat yang sebesar-besarnya dan mengurangi masalah sehingga sekecil-kecilnya. Kesulitan yang dihadapi antara lain : merumuskan tolok ukur yang objektif dan mudah dinilai. padahal apa artinya hidup apabila cacad atau kualitasnya tidak baik. kemudian penurunan. Pada penggunaan AKC/teknologi canggih ada pola 4 tahap yang mirip dengan daur hidup satu produk (product life cycle) yaitu tahap-tahap permulaan.logi canggih yang sebenarnya tidak diperlukan. Misalnya WHO Wilayah Eropa membuat kebijakan bahwa sebelum tahun 1990 semua negara anggota sudah harus mempunyai mekanisme yang formal untuk melakukan penilaian yang sistimatik yang berkaitan dengan efektivitasnya. Pada CTscan dinyatakan hanya pada kelompok pasien yang terbatas ada kemungkinan manfaat dalam arti perbaikan hasil (there are only limited group of patients likely to benefit in terms of improved outcome). peraturan-peraturan atau badan-badan yang bertujuan untuk menata AKC/teknologi canggih : 1972 — Office of Technology Assesment dari Kongres Amerika. a) Pendekatan pengaturan Di bawah ini diberi contoh apa yang telah dilakukan di Amerika. 2) Fase II pada orang sakit tertentu 3) Fase III pada pasien umum tertentu dengan RCT (Randomized Clinical Trial) 4) Fase IV penelitian pasca pemasaran. 1974 — Professional Standards Review Organization (PSRO) —Utilization Review Committees (URC) — Certificate of Need Law — Health Planning and Resource Development Act 1975 Health Care Program dari NIH (National Institute of Health) 1976 — The Medical Devices Law — Bureau of Quality Assurance — Bureau of Health Insurance 1978 — National Center for Health Care Technology. Contoh dari upaya semacam itu adalah The European Coronary Surgery Group (1979–1982) yang berusaha menilai hasil jangka pendek dan jangka panjang operasi. sedikitnya data yang ada untuk dianalisis. Dapat disimpulkan ada beberapa pola hasil untuk golongan pasien tertentu. III. Namun tampaknya cara penataan yang efektif dan efisien belum ditemukan. Contoh pada bypass koroner (CABS) dinyatakan bahwa pada kelompok pasien tertentu (selected group of patients) peluangnya 90% untuk perbaikan dalam latihan tanpa nyeri (pain-free exercise). b) Pendekatan kesepakatan NIH mengadakan Consensus Development Program. Proses yang sistimatik semacam itu pada AKC/teknologi canggih belum ada. 1) Percobaan efektivitas 2) Percobaan keracunan jangka pendek 3) Percobaan keracunan jangka panjang 4) Percobaan teratogenicity ( menimbulkan cacad) 5) Percobaan carcinogenicity (menimbulkan kanker). program ini bahkan meluas Cermin Dunia Kedokteran. 3) Pengalaman dan pemikiran upaya penataan Dari uraian di atas jelas bahwa agar didapat manfaat yang sebesar-besarnya dan masalah yang sekecil-kecilnya AKC dan teknologicanggih perlu ditata. B) Tahap penelitian pada manusia 1) Fase I pada orang sehat. penerimaan (acceptability) dengan memperhatikan kebijakan kesehatan nasional dan kendala yang ada. Edisi Khusus No. 90. pertumbuhan. Bagan sederhana proses pengembangan obat-obat adalah sebagai berikut : A) Tahap percobaan binatang. kejenuhan. Program ini masih berjalan walaupun ada yang meragukan keberhasilannya. Upaya-upaya ini berbentuk pembuatan undang-undang. keamanan. Peraturan dan badan-badan tersebut tampaknya masih belum memberikan hasil yang memuaskan. c) memperpanjang hidup dengan kualitas yang baik (offeryear of life of good quality): 2) Harapan yang ada adalah tercapainya ketiga tujuan tersebut. pemakaian pada pasien umum secara lebih luas. penelitian dapat dihentikan atau obat dapat ditarik dari pasaran. juga penilaian sistimatik yang berkaitan dengan penggunaan AKC/teknologi canggih secara tepat (appropriate use). efisiensi.

Dari uraian di atas jelas bahwa AKC adalah salah satu dari bentuk teknologi. 90. Di dalam bidang kesehatan. Kesimpulan: adanya AKC saja tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan tim kesehatan yang diperlukan. teknik. 3) Contoh konkrit Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh konkrit kasus-kasus individual dalam bidang kesehatan untuk dapat lebih memahami manfaat dan masalah penggunaan AKC/teknologi canggih. Edisi Khusus No. sebagai contoh : – Bypass pembuluh koroner (CABG) di Amerika dilakukan 6 x lebih sering dari pada di Inggris (UK) walaupun angka kejadian penyakit jantung koroner di kedua negara itu lebih kurang sama. Tetapi motivasi dapat juga negatip seperti status simbol untuk dokter spesialis. Hasil. Hasil. Di suatu Rumah Sakit dipasang CT Scan. 1994 . • Seorang dewasa muda jatuh dari sepeda motor. obat. Dampak di bidang kesehatan dapat berupa manfaat/kesembuhan (effectiveness). Di satu rumah sakit dibeli alat rontgen angiograf yang dapat • memeriksa pembuluh darah koroner. Pembagian lain dalam teknologi kesehatan adalah teknologi untuk primary care (biasa digunakan dokter umum) teknologi untuk secondary care (biasa dipakai para dokter spesialis) dan teknologi untuk tertiary care (biasa dipakai para dokter super spesialis). penyulit/bahaya (safety). keuntungan untuk investor atau industri AKC. Setelah diberi penjelasan orang tua menolak saran agar respiratornya dilepas. ada dokter spesialis radiologi. • Di satu rumah sakit ada alat ESWL (pemecah batu ginjal) yang ternyata tidak banyak dipakai.000. industri AKC dan lain-lain. sehat dan hidup produktif. Dilakukan bedah cesar. Hasil. bayi dilahirkan hidup dan sehat. sehat dan dapat bekerja produktif. Dampak di bidang ekonomi secara makro dapat berupa kenaikan pada anggaran/biaya kesehatan.perangkat lunak (cara.5 tahun sampai respirator tersebut rusak total. orang tersebut sembuh. Dilakukan . demam. • Seorang dewasa muda aktif bekerja. operasi tidak dapat segera dilakukan. tidak sadar. Dipasang alat pacu jantung internal. Dampak di bidang hukum dan etika berupa ketidak pastian atau ketidak siapan seperti pada masalah bayi tabung. dan biaya. Pada pemeriksaan CT Scan terdapat perdarahan kepala yang perlu segera dioperasi. 2) Dampak AKC/Teknologi Canggih Penggunaan AKC mempunyai dampak yang luas yang dapat positip atau negatip : dampak di bidang kesehatan dampak di bidang ekonomi dampak di bidang sosial dampak di bidang etika dan hukum. Dipasang alat napas (respirator). Tetapi kemudian banyak rumah sakit sekitar membeli ESWL. Namun karena di rumah sakit tersebut tidak ada staf dokter spesialis bedah saraf. alat bersaing untuk rumah sakit. Di samping itu dokter spesialis urologi yang dulu memakai ESWL itu pindah ke rumah sakit lain. penentuan kematian. pasien. – Diperkirakan bahwa di Amerika dikeluarkan biaya 100 milyar dolar US per tahun untuk penggunaan AKC atau tekno- Cermin Dunia Kedokteran. rumah sakit. Dampak di bidang sosial adalah antara lain pengaruh AKC pada perilaku dokter dan perilaku masyarakat. Hasilnya penderita berkepanjangan bagi pasien dan keluarganya. • Di rumah sakit itu banyak pasien wanita. masyarakat. Direktur Rumah Sakit tersebut menceritakan bahwa mula-mula ESWL itu pemakaiannya baik (optimal). Namun karena jumlah pasien sedikit dan belum ada dokter spesialis bedah jantung. pembedahan otak. investor. Motivasi pengadaan AKC dapat positip semata-mata untuk menolong pasien. Pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata sudah terjadi kerusakan otak berat dan mati batang otak. kejang-kejang. Halhal yang dapat mempengaruhi pengadaan AKC itu antara lain: media cetak/elektronik. • Seorang anak umur 8 bulan. muntah dan aspirasi berat.000 penduduk di Inggris (UK) hanya 1/6 dari jumlah di USA. Dilakukan non stress test untuk mengetahui keadaan bayinya. 4) Pihak yang berkepentingan Banyak pihak berkepentingan untuk pengadaan AKC. tampaknya bayi mulai kesulitan untuk mendapat oksigen ditandai dengan nadi 180/menit. Masyarakat dapat menuntut atau menolak adanya AKC. teknologi dapat berupa perangkat keras seperti Alat Kedokteran Canggih. Para dokter dapat mengalami "ketergantungan" pada AKC. beberapa kali pingsan. metoda. Kesimpulan: apabila pengadaan AKC antar rumah sakit tidak ditata investasi AKC itu dapat merugikan. Demikian juga dapat dibedakan teknologi untuk pencegahan dan teknologi untuk pengobatan/penyembuhan. • Pada suatu hari ada kecelakaan dengan ruda paksa kepala. 86 Pernapasan buatan dilakukan terus sampai lebih kurang 1. Hasil dari kekuatan tersebut di atas menyebabkan adanya AKC dan penggunaannya dapat berbeda antara berbagai negara. dapat berupa perangkat lunak seperti prosedur medik atau prosedur bedah. – Jumlah alat CT Scan per 1. Seorang ibu hamil pertama mengalami keterlambatan 3 hari • dari hari perkiraan persalinan. Pada pemeriksaan dengan CT Scan didapat perdarahan otak (perdarahan epidural). Kesimpulan: pengadaan AKC harusnya disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kemampuan rumah sakit. Pada pemeriksaan didapat gangguan pada pacu jantungnya (Sick Sinus Syndrome). dan kerugian bagi pasien lain yang membutuhkan respirator. Contoh-contoh konkrit di atas yang diambil dari keadaan riil menunjukkan bahwa AKC dapat membawa manfaat tetapi juga dapat menimbulkan masalah. orang tersebut sembuh. Uri (placenta) mulai mundur fungsinya. penggunaan alat tersebut sangat sedikit dan pasien-pasien tak dapat diberi terapi/tindakan sampai tuntas. prosedur) bahkan ada juga yang memasukkan jenis ketenagaan (brain ware). dokter. dokter spesialis bedah umum yang dengan alat rontgen untuk mamografi dapat menemukan tahap dini kanker payudara dan sekaligus melakukan pembedahan.

hukum dan etik. New York : Oxford Medical Publ. Oxford. ekonomi. WHO Regional Office For Europe. Pidato pengukuhan 1991. Berger Son. 90. Ini perlu mengingat AKC/teknologi canggih sering mempunyai dampak di luar kesehatan seperti bidang sosial. 1988. Priority Research For Health For A11. Dengan demikian akan terjadi keserasian dan kesepakatan antara kelompok profesi dokter dengan kelompok-kelompok lain dan masyarakat. New York Avon. Jennett B. 2) Pengembangan ketrampilan klinis Jika AKC digunakan sebagai "substitusi" pemeriksaan klinik yang kan terjadi adalah ketergantungan pada AKC. 3. Tantangan pada dunia kedokteran pada era pembangunan jangka panjang II. : 5. V. e) Perkembangan pada masa yang akan datang Dari segi metoda model yang diuraikan pada butir III/3g dapat secara bertahap dikembangkan. 6) Komunikasi yang terbuka dengan masyarakat perlu lebih dikembangkan sehingga akan terjadi kesamaan persepsi yang memudahkan timbulnya kesepakatan dan dicegah timbulnya konflik-konflik yang merugikan. hukum dan etika. KEPUSTAKAAN 1. 1994 89 . Hal lain yang perlu diupayakan adalah agar komunikasi terbuka antara profesi dokter dengan berbagai pihak di masyarakat lebih diperluas. nyai dampak yang luas di luar bidang kesehatan seperti bidang sosial. RINGKASAN DAN PENUTUP 1) AKC/teknologi kedokteran canggih (TKC) dapat mempu- Cermin Dunia Kedokteran . 1988. 2. Edisi Khusus No. 4) Perlu dikembangkan jaringan informasi tentang AKC/TKC 5) Penggunaan AKC/TKC perlu diarahkan untuk pengembangan AKC/TKC di Indonesia. 1988. 3) Perlu dipelajari penataan AKC/TKC dari negara-negara lain dan diterapkan metoda-metoda yang ternyata berhasil sebagai contoh program pengembangan konsensus. ekonomi. High Technology Medicine : benefits and burdens. What your doctor did not learn in medical school. WHO Regional Office For Europe. Karjadi Wirjoatmodjo.pemeriksaan sebagai gold standard dikembangkan teknologi yang lebih murah dan lebih sederhana. 4. 1988. Anestesiologi sebagai contoh pengkajian. Jika AKC digunakan sebagai alat verifikasi untuk mengecek keluhan dan gejala klinis maka untuk penyakit-penyakit tertentu dapat dirumuskan diagnosis klinik yang mempunyai positive predictive value yang tinggi. 2) Selain membawa manfaat AKC/TKC dapat juga menimbulkan masalah. Research Policies For Health For Al1.

Money invested in these capital intensive. Jakarta 21 — 25 November 1993 MARKETING AND ITS ROLE IN DEFINING THE INVESTMENT STRATEGY In marketing terms there are basically three strategies that are followed by hospitals. namely : • Undifferentiated • Niche • Market leader These three strategies can be expressed in graphical form relative to return on investment. low utilisation technologies offer no payback to the 90 Cermin Dunia Kedokteran. not upgrade. and the level of specialisation that it pursues. these levels of utilisation are not only not commercially viable they reflect a poor understanding of the cost of capital and the notion of opportunity cost of capital. A basic technology configuration would be two linear accelerators plus a simulator.The Role of Marketing in Determining the Technology of a Hospital John Popper BACKGROUND Amongst the more difficult decisions a hospital administrator has to grapple with is that of defining the investment strategy that the hospital should pursue. 1994 . Once entered upon. it was upon the request of a particular doctor rather than in terms of a clearly thought through strategy linking clinical service development with market needs. The strategy involving say cardiac diagnostic services are equally potentially capital intensive but the working life of the equipment is much shorter and the requirement for upgrades more frequent. Cardiac equipment normally has a working life of some six to bwecoiml eight years in total before replacement. Lithotripsy units servicing two or three patients a week. it is not easy to change emphasis or direction without significant financial penalty. necessary. radiotherapy unit. if oncology services were to be offered then once the primary decision has been made the investment strategy becomes self determining. cobalt unit and ancillary chemotherapy facilities. A life expectancy that is measured in terms of ten years or better. Edisi Khusus No. and retains. 90. Clearly the best financial returns are to be achieved by adopting either a market leader approach or in filling a niche opportunity with a particular clinical service or suite of services. For example. Where investment in specialised technology had been made. Presented at the Vlth Congress of the Indonesian Hospitals Association & Hospital Expo. cardiac catheterisation laboratories performing twenty angiograms a month. Earlier this year I surveyed thirteen private hospitaIs here in Jakarta and found that in fact virtually all were pursuing an undifferentiated strategy. The investment requirement though high at setup stage has a low recurrent capital requirement in terms of upgrade demands allied to long life expectancy of the equipment. The consequence was a very high level of under utilisation of equipment and subsequent lack of return on investment. A consequence of the investment strategy adopted is that it will define the type of clinician that the hospital attracts. This decision is in large part decided by defining the type and level of clinical services that a hospital elects to offer to the community that it is servicing.

threat of substitution of the service or product and consideration of the relative roles of suppliers and customers in i mpacting on the business. two.g. Once an investment strategy has been defined and embarked upon marketing concepts also help to define how a hospital should position itself relative to competitors. Once investment has occurred. It is a truism that if you can see an opportunity in the marketplace so can a competitor. or. is that demand sustainable? Affirmative answer to these questions still should not lead to an investment in the proposed technology yet though. By using this model it helps focus a hospital's marketing efforts and place them in a context that investors and staff can understand. This being the case : • What are the responses of a competitor likely to be? • Are they also investing in similar technologies. The second situation analysis needs to also be undertaken. or three areas of clinical service that your hospital is able to offer at a level of excellence that is not readily imitated by a competitor. that of consideration of competitor positioning. Marketing frameworks encourage consideration of two major aspects that should underpin any investment considerations. visitors and staff • Be a basis for potential. 90. Marketing concepts allow a clear framework to be applied to the decision making process in an objective and rational manner in determining which technologies a hospital should invest in. • Is there a market for the service under consideration? • If so. A core competence should : • Be difficult for competitors to imitate. patients. can your facility gain a sustainable competitive advantage relative to the proposed technology? • Apart from market. or actual. A third model that is of particular value in terms of developing responses to market opportunities considers the attractiveness of that market relative to its strategic value to the hospital. They are built around the concept of a core competence. This is a very comprehensive framework and leads to wide ranging considerations about the potential marketplace and its structure. The model has as its core the need to predict the degree of rivalry a business could be predicted to experience. Those one. SUMMARY The intention of each hospital should be to develop two or three distinctive clinical competencies that give it a sustainable competitive advantage over other facilities and from which it can therefore achieve economies of scale for those clinical services. especially if it is based on a combination of corporate culture and technologies • Be focussed on meeting a perceived need by the hospital's customers namely the doctors. Edisi Khusus No.investors and deny access to this money to other potentially viable projects that would yield a return on investment. To formulate considerations about whether or not a potential investment in a new service is likely to be attractive Porter's Industry Attractiveness Model is very useful to guide analysis. is the market big enough for two or more players. By performing this type of strategic value analysis it helps a hospital administrator to determine their marketing initiatives. demand considerations are there any other issues such as restriction of the number of clinicians or technicians associated with operating the technology? Is this a limiting resource? • What are the lead times involved for a competitor follow you into the market? • If your hospital entered the market with the proposed service would it make it nonviable for a competitor to set up in competition? These sorts of considerations need to be individually answered. business acquisition To assist in these sorts of analyses a number of different frameworks are useful. is the demand of sufficient level to be economic? • If the answer appears yes. Ansoffs product/market grip offers a useful framework from which to consider existing products and markets and potential new ones. In order to assess the threat of rivalry issues that impact on the attractiveness of an opportunity are considered such as threat of entry into the marketplace. marketing models help define how to position and develop a hospital's clinical products and how to respond to changes in competitor behaviour. systematically applied these frameworks offer considerable predictive capabilities for the astute administrator. It is through economies of scale that technology becomes viable and thus allows a hospital to build profitability. Indeed. In discussing with hospital administrators how these investment decisions were made it was clear that market demand and payback analyses were not performed with any discipline but rather the decisions tended to be made based on intuion and blind faith. They are those of target market demand e. that is to say those things that a hospital does that gives it a sustainable competitive advantage over a competitor. Cermin Dunia Kedokteran . 1994 91 . or contemplating doing so? • If so.

sebaliknya biaya pelayanannya semakin meningkat dan impersonal. Jakarta. duplication. Asuransi Kesehatan jika diselenggarakan secara luas dapat menjadi subsistem pembiayaan kesehatan. hari rawat (LOS) yang terpalu panjang. sertaefisiensi dan efektifitas agar tercapai pelayanan kesehatan yang me- 92 Cermin Dunia Kedokteran. penggunaan obat yang tidak rasional. Dalam menangani asuransi kesehatan di Rumah Sakit ditemukan berbagai masalah. yang dulu bersifat sosial dan samaritan yang dikembangkan lembaga keagamaan seperti Misi dan Muhammadiah. kapitasi dan sistem paket di samping bentuk tradisional fee for service. Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. Sumbangannya pada peningkatan dan pemulihan kesehatan tidak dapat dibntah. Masalah prinsip lainnya adalah masalah mutu. Perkembangan dan peranan rumah sakit semakin pesat terutama di daerah perkotaan. dan akan mengurangi beban Pemerintah sehingga dapat mengalihkan perhatiannya ke kesehatan masyarakat. QualityAssurance. 1994 . Di luar negeri juga telah dikembangkan DRG (Diagnostic Related Group). Dibentuk sebagai Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK) pada tahun 1968 untuk menangani pengobatan pegawai dan keluarganya yang tidak dapat lagi ditanggulangi oleh APBN maka dengan KEPRES ditetapkan bahwa pegawai negeri harus membayar premium sebesar 2% dari gaji pokoknya. Hanya Rumah Sakit Pemerintah sesuai dengan misinya masih menjalankan fungsi sosialnya dengan tarip yang relatif murah. PT Askes telah menerapkan prinsip asuransi dan akuntansinya masih menggunakan cash basis. Suatu penelitian di USA mememukan bahwa 30% dari pembiayaan kesehatan adalah adalah waste. Dalam memudahkan administrasi dikenal berbagai bentuk pembiayaan seperti sistim anggaran (budget system). dan pengendalian bersama. Setiap tahun sekitar 9% peserta Askes yang mengunjungi Puskesmas dirujuk ke Rumah Sakit. namun biaya pelayanan kesehatan Askes meningkat 17% per tahun. Pada tahun 1992 Perum Husada Bhakti berubah menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia. terutama di Rumah Sakit Pemerintah. antara lain belum tersedia dan belum dilaksanakannya SOP pelayanan kesehatan di sebagian besar rumah sakit. Pada tahun 1984 berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berIaku tidak memungkinkan lagi keberadaan "Badan " di luar struktur Departemen maka BPDPK dirubah menjadi suatu Perusahaan Umum di lingkungan Departemen Kesehatan yaitu Perum Husada Bhakti. Melalui PERSI PT Askes mengharapkan kerja sama dengan rumah sakit dalam mencapai tujuan akhir bersama yaitu peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia dengan peningkatan Etika. PT Askes telah menerapkan prinsip asuransi kesehatan di Rumah Sakit ditemukan berbagai masalah. 21 — 25 November 1993.Rumah Sakit dan Asuransi Kesehatan Suatu Perbandingan Sonja Roesma Direktur Utama PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia Pada dasarnya lahir dan berkembangnya asuransi kesehatan di BUMN miliki Departemen Kesehatan adalah dalam mengikuti perkembangan industri kesehatan. Edisi Khusus No. Dalam masa tersebut fungsi rumah sakit mengalami perubahan. Di samping itu dengan berubah status menjadi BUMN memudahkan dalam pengolahan dana guna mengembangkan serta meningkatkan pelayanan. serta adanya moral hazard. sekarang telah menjadi lembaga sosioekonomi bahkan menjadi profit centers. 90. fraud and abuse.

00 pada tahun 1990. 1. USA no. 6 dan Australia no. ini merupakan 6.7 (1971).92.2% GNP pada tahun 1990. 92.00 pada tahun 1980 menjadi US $ 2. Di Amerika Serikat angka harapan hidup pada tahun 1950 adalah 68 tahun dan tahun 1990 menjadi 76 tahun (Jelang 79 tahun). BIAYA PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT Kecenderungan naiknya biaya pelayanan kesehatan disebabkan berbagai hal. Kenaikan yang sangat dramatis terjadi di rumah sakit yaitu rata-rata biaya kamar per hari tahun 1980 adalah US $ 127.5% Rp.5 trilyun). ratarata biaya perawatan per hari adalah US $ 245.00 di Amerika Serikat angka ini adalah US $ 1. kalau perlu menggunakan surat miskin tetapi mendapat pelayanan kesehatan yang optimal. bahkan diobservasi bahwa tingkat kesehatannya hampir tidak berubah.00 tahun 1990. Namun biaya pemeliharaan kesehatan di rumah sakit terus meningkat sehingga tidak terjangkau oleh mayoritas penduduk apalagi bagi 15% penduduk desa tertinggal. 7.6 dan 9..00 menjadi US $ 297. Menurut Human Development Report 1993 (UNDP) urutan kemajuan negara berkembang. Indonesia tertera sebagai nomor 108 berdasarkan HDI (Human Development Index) yang meliputi angka harapan hidup.00 pada tahun 1980 naik menjadi US $ 1.9 tahun untuk laki-laki dan 66. Pembiayaan kesehatan terus meningkat bukan saja di negara maju tetapi juga di negara sedang berkembang termasuk juga Indonesia. Biaya rumah sakit merupakan 30. namun bagi dirinya berlaku prinsip ekonomi : yang bersangkutan ingin membayar serendah mungkin.630. Singapore no.000 tahun 1990. menjadi 9.pada tahun 1982 menjadi 2. antara lain teknologi canggih di rumah sakit yang berlebihan.2% GNP tahun 1980 dan 12. baik bagi rumah sakit maupun bagi PT Askes. Seandainya ia masuk asuransi kesehatan keinginannya adalah kebebasan berobat ke mana saja dan dibiayai untuk apa saja.5 di periode 1990 . 1. 74. 3 9 .1990 adalah 7. Biaya kesehatan per kapita per tahun Jepang adalah US $ 515.1 (1985) dan untuk periode 1985 . di samping adanya faktor inflasi serta sistem pembiayaan pelayanan kesehatan yang kurang mendukung.2 menurun pada tahun 1980 yaitu 12. Thailand US $ 73. Pada tahun 1991 pembiayaan kesehatan USA mencapai US $ 752 milyard (kira-kira Rp. B iaya kesehatan ini merupakan 9. serta penggunaan teknologi canggih yang berlebihan. Angka kematian kasar di Indonesia telah menurun dari 18. Patut dikemukakan bahwa negara yang rakyatnya paling baik kesejahteraannya berdasarkan HDI adalah Jepang no. 11.00 (1990) dan rata-rata biaya per kasus adalah US $ 1. Biaya kesehatan merupakan GNP. kecuali USA.muaskan bagi peserta serta akan memberikan keuntungan ekonomis.145. sedangkan sektor pemerintah hanya 45% untuk pengobatan. Merupakan fakta pula bahwa walaupun biaya kesehatan meningkat tidak berarti bahwa kesehatanya meningkat. Pembiayaan kesehatan terus menaik menjadi 14% GNP pada tahun 1992. Thailand no. Angka kematian bayi tahun 1959 adalah 29.7 tahun untuk wanita pada tahun 1990. Dari biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh masyarakat/ swasta 92% adalah untuk pengobatan. Biaya kesehatan per kapita pada tahun 1990 di Malaysia adalah US $ 67. maupun perusahaan atau keluarga seyogyanya tidak dibebani dengan pembiayaan kesehatan yang tinggi yang terjadi akibat tarif pelayanan spesialistis yang semakin tinggi. • Baik pemerintah. 2. pembelian obat-obatan yaitu 30% dari seluruh biaya kesehatan pemerintah 18% dan swastalmasyarakat 40%) di mana kita mengetahui bahwa sebagian besar biaya obat-obatan ini merupakan penggunaan obat di rumah sakit.851. ke 112 (1980) lalu ke 71 (1985) dan menjadi 65 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1991.7% dimana dalam kurun waktu '76-90' terjadi peningkatan program managed care yaitu program pemeliharaan kesehatah yang mengkaitkan sistim pembiayaan (prepaid & cost containment) dengan sistim pelayanan (pengendalian mutu). Bila dibandingkan dengan negara lain angka ini lebih rendah.947. Di Indonesia pembiayaan kesehatan per kapita per tahun adalah Rp. Angka harapan hidup telah meningkat dari 45 tahun untuk laki-laki dan 48 tahun untuk wanita pada tahun 1971 menjadi 62. Investasi rumah sakit swasta yang mahal dengan harapan ROI nya kembali secepat mungkin. Peningkatan kesehatan yang diukur dengan penurunan angka kematian ternyata bukan oleh pengobatan tetapi terutama disebabkan oleh faktor seperti gizi.4% GNP tahun 1980 dan 6. perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi (yang sebagian besar dapat dicegah) ke penyakit kardiovaskuler dan penyakit khronis lainnya serta peningkatan kasus-kasus katastrofik. 43 dan Brunai Darussalam no.00 (1990). 23/92). • Pemerintah telah berusaha agar seluruh masyarakat dapat memperoleh pelayanan yang dilakukan dengan memberi akses pada Puskesmas dan Posyandu serta Rumah Sakit yang dapat dibiayai melalui Dana Sehat (tingkat Puskesmas) dan sampai Rumah Sakit tipe A melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat/JPKM (UU No. Ada tiga fakta yang terjadi secara universal yaitu : • Masyarakat mengetahui bahwa untuk memperoleh kesehatan ia harus membayar. Tahun 1986 di Indonesia 78% dari total pembiayaan kesehatan digunakan untuk pengobatan.9 dan menurun menjadi 7. Angka kematian bayi telah turun dari 142 promil (1971). GNP/Income Per Kapita dan aksara orang dewasa. PEMBIAYAAN KESEHATAN Masalah yang dihadapi hampir semua negara di dunia saat ini adalah meningkatnya pembiayaan kesehatan. Jika diperhatikan maka semua negara tersebut menjalankan asuransi kesehatan sosial. 24.00 (1980) menjadi US $ 4. Malaysia no.566. sanitasi.4% dari seluruh biaya pada tahun 1990 yaitu 43.00.5% GNP pada tahun 1990. Negara ASEAN lain lebih baik kedudukannya seperti Philipina no. biaya rumah sakit merupakan 60% dari seluruh biaya kesehatan (pemerintah 27%. air bersih dan rumah sehat serta pendidikan. 44. Semua sadar bahwa biaya ini merupakan suatu yang berlebihan tetapi tidak mengetahui berapa persen yang sia-sia.1995. Canada no.267. 57.1 pada tahun 1990.00 (1980) menjadi US $ 687.00 pada tahun 1990. swasta/masyarakat 37%). menyebabkan pasien yang berada di posisi lemah terpaksa membayar berapapun tarif yang dikemukakan.

terutama dokter spesialis. responden diminta pendapatannya secara berurutan tentang penyebab utama peningkatan biaya kesehatan.1%.8 milyar pada tahun 1992. 90. Upaya kerjasama ini perlu ditingkatkan untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan pelayanan. PT.000 .826 tahun 1990 dengan biaya Rp. Pada tahun 1991 income rata-rata dokter di USA adalah US $ 139. Melihat potensi yang ada pada PT. 3.000. Pada saat ini sudah pula dikembangkan kerj asama dengan rumah sakit dalam program quality assurance. Seperempat (1 juta) bayi dilahirkan dengan caesar yang diragukan keuntungannya baik bagi ibu maupun bagi bayi. PP No.0%. 1994 . spesialis memperoleh antara US $ 280.9 hari. asuransi kesehatan yang menjalankan managed care (JPKM) mengemukakan bahwa jumlah operasi bypass sedikit. Edisi Khusus No. Hal yang sama ditemukan pula untuk diagnostic test. Pada suatu survey yang dilakukan untuk Johnson Foundation di USA. 0. diikuti dengan rumah sakit swasta 55.00.1 hari.97 milyar tahun 1989 menjadi Rp.31 milyar pada tahun 1988 menjadi Rp. 14/93 tentang penyelenggaraan JAMSOSTEK.3 hari dan RS Khusus 22.000 histerektomi per tahun.4%. 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) dan UU No.24% dari anggaran pelayanan kesehatan PT ASKES dipergunakan untuk pelayanan di rumah sakit (pengobatan).000 (1980) menjadi 1. Pemerintah telah menerbitkan beberapa PP yang No. 0. Di Indonesia angka income ini tidak diketahui. Sejalan dengan perubahan sistem pembiayaan PT. Dokter dan perusahaan obat sekarang banyak yang memperoleh untung dari profesinya. PT ASKES telah meningkatkan pelayanan hemodialisis dari penggunaan 14 fasilitas HD di 4 propinsi tahun 1989 menjadi 23 fasilitas HD di 12 propinsi tahun 1990. Sistem pembiayaan rumah sakit yang berlaku umum di Indonesia adalah secara tradisional yaitu fee for service. Kita me- 94 Cermin Dunia Kedokteran. Di Amerika LOS RS umum tahun 1990 ratarata adalah 6. Veteran dan Perintis Kemerdekaan serta Perluasan Kepesertaan ASKES. dan upaya preventif lainnya.00 per tahun. Pada saat ini BOR rumah sakit milik Depkes 65. LOS rata-rata untuk RS kelas A yaitu 10 hari. sehingga pada dekade 70 an dikembangkan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan dengan cara prepaid (capitation & budgetsystem) disertai pengendalian biaya melalui cost contaimment. Hasilnya adalah sebagai berikut : – 67% rakus dan cari untung (greed and profits) – 64% tuntutan karena mal practice – 61% sia-sia dan inefisiensi (waste & ineffeciency). Penurunan LOS sangat berarti dalam pembiayaan pelayanan kesehatan yang tentunya biaya ini dapat dipergunakan untuk kenaikan tarif per hari dan biaya pelayanan lainnya. Berdasarkan penelitian Rand Coprporation di California sepertujuh sampai sepertiga dari beberapa jenis operasi sebenarnya tidak perlu dilakukan. ASKES sejak tahun 1988 (Perum Husada Bhakti) telah mulai memperkenalkan sistem pembiayaan secara kapitasi untuk pelayanan kesehatan dasar. Seluruh income dokter mencapai US $ 74 milyar dalam tahun 1992.dan budget di samping pembiayaan secarafee for service. 69/91 tentang penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan PNS. berarti 84. yang memakan biaya lebih dari US $ 5 milyar. 45. paket pelayanan.Dari seluruh pembiayaan pelayanan kesehatan PT ASKES tahun 1992. untuk laki-laki diatas 65 tahun rata-rata 8. LOS tahun 1992 rata-rata untuk RS ABRI 11.7% dan rumah sakit ABRI 42. dan budget disamping pembiayaan paket per hari rawat. PP. Namun Kaiser Permanente. Di Indonesia diyakini hal ini terjadi pula. 3 Th. Pengalaman di Amerika menunjukkan bahwa pembiayaan dengan menggunakan sistem fee for service tanpa pengendalian telah mengakibatkan meningkatnya biaya pelayanan kesehatan secara cepat. Peningkatan biaya pelayanan rumah sakit dapat pula disebabkan karena meningkatnya biaya/jasa tenaga profesional. Departemen lain 47. rumah sakit Pemda 53.000. ASURANSI KESEHATAN / JPKM Saat ini ada 3 undang-undang yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan asuransi kesehatan yaitu UU No.450. Penyakit jantung yang telah menjadi penyakit nomer 1. Sistem pembiayaan ini terus disempurnakan guna mencapai kemudahan administrasi pembiyaaan pelayanan kesehatan persertanya melalui "Kapitasi Total" pada beberapa daerah.05%. 4.802 tahun 1989 menjadi 32.000. Untuk pembiayaan pelayanan rumah sakit telah diperkenalkan pembayaran paket per hari rawat. ASKES juga memperkenalkan program pengendalian mutu antara lain dengan menyusun daftar obat (DPHO) yang didasarkan Daftar Obat Esensial Nasional. tanpa mengurangi kesehatan pesertanya tetapi lebih menekankan pada kontrol hipertensi. paket pelayanan.4 hari. ASKES perlu dihitung berapa % penggunaan rumah sakit oleh peserta ASKES dan berapa dana yang diperoleh setiap rumah sakit per bulan dari ASKES.3 hari dan wanita 8. dan PP No.8%. PT ASKES merupakan suatu perusahaan asuransi kesehatan dengan penggunaan biaya pelayanan sangat tinggi dengan rata-rata biaya pelayanan kesehatanan menyerap 88% dari iuran.25 milyar tahun 1990 dan mencapai biaya Rp. kemungkinan untuk mengalami operasi ini 6 kali lebih besar dari wanita Norwegia. Di Amerika bypass telah meningkat 2800% sejak tahun 1970 yang jauh lebih tinggi dari negara lain. ASKES telah membiayai pelayanan jantung dari Rp. kelas B 7 hari. 2 Th 1992 tentang Usaha Asuransi. sedangkan untuk pasien ASKES. Di samping itu mutu pelayanan tetap dijaga melalui program quality assurance dan utilization review. CT Scan telah meningkat dari 300. termasuk di Indonesia juga menjadi sasaran operasi terutama bypass. penempatan dan penyebbaran alat canggih telah meningkatkan biaya pelayanan kesehatan secara bermakna.65 milyar tahun 1992. hal ini telah meningkatkan kasushaemodialisis dari 8. walaupun diketahui terdapat perbedaan yang mencolok. kelas C dan 5 hari. PT.5 juta (1991).29% merupakan biaya rumah sakit. RS Swasta 7. kadar cholesterol darah. 23 Th 1992 tentang Kesehatan yang di dalamnya tercakup pula program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Pada akhir-akhir ini terlihat kenaikan pada pasien rawat jalan dan atau one day care. UU No. Di Amerika dilakukan 600.3 hari. 73/92 tentang penyelenggaraan Usaha Asuransi. 7. obat pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah 29.

Cakupan asuransi kesehatan yang diselenggarakan oleh PT ASKES telah berkembang dengan mencakup masyarakat umum. Khasiat olah raga tidak. bagi kelompok ini perhitungan presmi dikaitkan dengan paket pelayanan (benefit package). penyakit degeneratif dan penyakit khronis lainnya.00 saat ini menjadi US $ 1. Pada awalnya peningkatan kesehatan masyarakat yang besar bukanlah hasil dari berbagai operasi atau teknologi baru. khususnya pembangunan kesehatan dapat tercapai. 1994 95 . Edisi Khusus No. untuk kelompok ini kepesertaannya bersifat sukarela. 20% karena obat jantung dan hipertensi. Peningkatan pelayanan rumah sakit dengan peningkatan penggunaan alat-alat canggih menyebabakan biaya pelayanan rumah sakit tidak terjangkau oleh sebagain masyarakat Indonesia apalagi masyarakat di desa tertinggal. Sebaliknya hal ini didukung oleh meningkatnya kemampuan masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan akibat peningkatan income per kapita dari US $ 650. Berkurangnya subsidi pemerintah terhadap pelayanan kesehatan (terutama pengobatan). Pap smears ternyata sangat mengurangi prevalensi kanker uterus (sampai 50%). Bahwa pencegahan itu lebih baik dari pengobatan ternyata juga lebih murah. tetapi juga oleh badan swasta konsekuensinya adalah bahwa kerjasama antara badan penyelenggara asuransi kesehatan dengan pihak penyelenggara kesehatan (terutama rumah sakit) baik dalam uapaya meningkat mutu pelayanan maupun dalam pengendalian biaya perlu dibina secara baik.4% penduduk pada tahun 2000) serta terjadi pergeseran jumlah penduduk di daerah perkotaan dari 30% saat ini menjadi 40% pada akhir Pelita VI.000 jiwa atau 10. yang ada gilirannya akan dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat. Pengaruh globalisasi. penerima pensiun ABRI dan Veteran. KESIMPULAN Telah dibahas beberapa permasalahan pembiayaan kesehatan umumnya dan khususnya pembiayaan kesehatan di rumah sakit. Askes berbeda dengan asuransi kesehatan lainnya.5% karena operasi bypass. sehingga akan sangat menghemat biaya.5 juta. di mana penyakit tbc. ternyata lebih dari 50% karena tidak merokok dan menurunkan cholesterol. Hasil studi menunjukkan bahwa hal ini tercapai bukanlah karena pengobatan tetapi lebih banyak karena perubahan dalam gaya hidup. 90. vaksin hepatitis menghindari seseorang dari Ca hepar dan vaksin-vaksin lainnya seperti untuk campak. John & Sonja Mc Kinlay (sosiolog) menunjukkan bahwa 90% kemajuan kesehatan masyarakat Amerika terjadi pada pertengahan abad pertama.7% penduduk pada tahun 1990 menjadi 22.000. AIDS pun dapat dicegah. dikemukakan. Berbeda dengan program pemeliharaan kesehatan yang selama ini diselenggarakan dengan kepesertaan bersifat wajib. yang jelas adalah upaya termahal mempunyai efek paling kecil. Pada hakekatnya hampir 70% penyakit yang diperiksakan pada dokter dapat dicegah. Upaya untuk meningkatkan kesehatan dan mengurangi biaya sebenarnya sejalan. Hal ini sejalan dengan kenaikan jumlah pegawai negeri sipil.00 pada akhir Pelita VI. Keberhasilan kerja sama ini akan berdampak masyarakat pengguna pelayanan kesehatan lainnya. PT. kesemuanya ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap asuransi kesehatan. sehingga tujuan pembangunan. UPAYA PREVENTIF LEBIH PRODUKT1F Dalam menjalankan JPKM. Dokter Lee Goldman seorang kardiolog pada tahun 1988 telah mengadakan penelitian tentang penyebab menurunnya penyakit jantung.nyadari bahwa semua peraturan perundang-undangan ini dimaksudkan agar perekembangan industri kesehatan termasuk perkembangan asuransi kesehatan tidak salah arah. perkembangan teknologi kedokteran. typhus dan campak telah dapat dikendalikan sebelum obat-obatan dan vaksin ditemukan. juga melakukan kegiatan promotif dan preventif. Melalui kerja sama ini dapat pula diciptakan standar pelayanan atas dasar standar profesi dan kemudahan-kemudahan prossedur. Selama 5 tahun terakhir kenaikan peserta ASKES berkisar antara 5% setiap tahun. ASKES sebagai salah satu BUMN di lingkungan Departemen Kesehatan mempunyai peserta 4. Adanya rencana pemerintah dalam memperketat penerimaan pegawai negeri tidak akan banyak mempengaruhi peningkatan jumlah peserta ASKES meningat telah dimulainya program perluasan kepesertaan ASKES kemasyarakatan umum sejak tahun 1992. peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan akibat perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi. Keppres tentang standar pelayanan kesehatan bagi peserta ASKES dan SKB. 69 tahun 1991. Kematian akibat penyakit jantung telah turun secara dramatis. tentang tarip pelayanan kesehatan di rumah sakit yang akan sangat mendukung operasionalnya. Terjadinya beberapa tindakan malpratice sebenarnya dapat dicegah dengan Cermin Dunia Kedokteran . disamping terjadinyaperubahan kulturmasyarakat dari extended family menjadi nucleus family. Untunglah tidak lama lagi akan terbit PP tentang JKPKM. sesuai dengan PP No. serta adanya peraturan perundang-undangan yang mengharuskan pengusaha memberi bantuan pemeliharaan kesehatan bagi karyawannya.000. melainkan dari perkembangan sosial yang mengakibatkan manusia atau masyarakat mencegah penyakit.000. Berkembangnya industri rumah sakit telah dapat meningkatkan upaya pelayanan kesehatan terutama upaya penyembuhan. beserta keluarganya menjadi 14 juta jiwa. dan 3. diphteri pertusis dan tetanus tentu sangat menguntungkan dalam menekan biaya dan meningkatkan kesehatan.000 jiwa atau 8. ke penyakit kardiovaskular. Akhir-akhir ini bisnis asuransi kesehatan tampak meningkat bukan saja yang diselenggarakan oleh BUMN. Dengan berkembangnya kepesertaan ASKES diharapkan makin dapat ditingkatkan pemanfaatan aspek kegotong royongan di samping peningkatan efektifitas dan efisiensi. Hal ini tentunya tidak lepas dari peningkatan profesionalisme dan manajemennya. hal mana telah terbukti dari sejarah kedokteran. bertambahnya kelompok "lansia" (dari 16. Menurut mereka penurunan angka kematian antara tahun 1900 dan 1974 hanya 4% disebabkan oleh upaya ke dokteran.

Sistem asuransi yang dianggap dapat menghindari peningkatan biaya pelayanan pembiayaan kesehatan secara cepat adalah mengkaitkan sistem pembiayaan kesehatan dengan sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit bila menjalankan program JPKM yaitu pembiayaan prepaid dengan cost containment disertai pengendalian mutu melalui upaya quality assurance dan utilization reviews. PT. Jakarta. PT. Kansas City: 1992. Drape W H. UNDP. 90. Jakarta. KEPUSTAKAAN 1. U. 1994 .S. ASKES hanya akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik dengan bantuan PERSI. Preston L T. 1993. ASKES sebagai salah satu BUMN yang diserahi tugas menyelenggarakan asuransi kesehatan mempunyai misi yang mulai untuk meningkatkan kesehatan pesertanya. 9. 1992. Jakarta. Untuk itu diperlukan kerja sama antara penyelenggara asuransi kesehatan/JPKM dengan rumah sakit. 1993. Jakarta. Departemen Kesehatan. Edisi Khusus No. New York: 1993. 1993. Jakarta. Departement of Health and Human Service : Health United States and Prevention Profile. Maryland: 1992. 1993. Repelita VI. 7. Dukungan Penelitian dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sakit. Hardjoprawiro H. World Development Report. 1993. ASKES. PT. Wright J W. 5. 8. 10. Bersamaan dengan itu usaha asuransi telah pula berkembang dengan pesat dengan termasuk usaha asuransi kesehatan. 3. 6. The Universal Almanc. smiles are to humanity 96 Cermin Dunia Kedokteran . 2. What sunshine is to ftowers. Gani. Melalui PERSI akan dapat dibina kerjasama dalam program peningkatan mutu pelayanan (quality assurance termasuk pelaksanaan etik kedokteran) dan menyempurnakan sistem pembiayaan yang mendukung pelayanan kesehatan di rumah sakit.2018/2019). Jakarta. PT.C: 1993. ASKES. Washington D. Rancangan 7 Rencana Pembangunan Kesehatan jangka Panjang Tahap II (1994/1995 . Statistik PT Asuransi Kesehatan Indonesia 1987-1992. Departemen Kesehatan. Laporan Manajemen 1992. Human Development Report 1993. 4. A : Pembiayaan Rumah Sakit dan Prospek Perkembangan Asuransi Kesehatan selama PJPT II. Peta Kesehatan Masyarakat dan Propek PJPT II.menjalankan etik kedokteran secara benar.

1994 97 . 512/ MENKES/PER/X/1990 tentang AMDAL Rumah Sakit yang tentunya harus disesuaikan dengan PP AMDAL yang baru. Akan tetapi kemudian perubahan tersebut semakin membesar. manusia secara sadar melakukan berbagai aktifitas mulai dari yang sederhana sampai kompleks yang pada dasarnya dapat dikatakan mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan. Proses pengambilan keputusan terhadap rencana kegiatan di masa lalu terutama didasarkan pada kelayakan dari segi teknis dan ekonomis serta mungkin dari segi politis saja. Pemikiran inilah yang mendasari perlunya studi tentang dampak lingkungan suatu kegiatan yang kemudian dikenal dengan Analisis Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment). 90. Analisis Dampak Lingkungan diperlukan untuk menjamin agar tujuan aktifitas manusia. Jakarta. Hakekat lingkungan pada mulanya perubahan pada lingkungan oleh kegiatan manusia masih berada di dalam kemampuan alam untuk memulihkan diri secara alamiah.Penyusunan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) Rumah Sakit dan Penatalaksanaannya Komisi AMDAL Departemen Kesehatan RI. Dalam pada itu kebutuhan akan sumber daya tersebut semakin meningkat sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk serta meningkatnya kebutuhan. Cennin Dunia Kedokteran. kemudian dicari usaha untuk menghindari timbulnya dampak negatif. Berdasarkan PP 29 tahun 1986 Menteri Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. Tidak jarang pula dampak tersebut berakibat mengurangi manfaat/keuntungan yang diperkirakan sebelumnya. Jadi AMDAL merupakan salah satu alat bagi pengambilan keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Edisi Khusus No. Apabila hal tersebut dipertimbangkan biasanya hanya dikaitkan dengan analisis biaya-manfaat (Cost Benefit Analysis) di mana variabel-variabel yang tergolong variabel ekonomi dicoba untuk dihitung nilai moneternya. 21 — 25 November 1993. Jakarta PENDAHULUAN Untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraannya. Sejalan dengan hal tersebut perubahan lingkungan yang terjadi seringkali masih dapat ditenggang (tidak) atau kurang dipedulikan oleh masyarakat karena tidak secara jelas menimbulkan kerugian yang berarti. sehingga dapat diambil keputusan yang paling baik terhadap kegiatan tersebut sebelum dilaksanakan atau dilanjutkan. terbatas tersebut tidak jarang dijumpai adanya dampak berbahaya yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan yang direncanakan. yaitu kesejahteraan hidup dapat tercapai tanpa merusak lingkungan. Akibat analisis yang Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. 51 tahun 1993 tentang AMDAL sebagai pengganti dari PP 29 tahun 1986 tentang AMDAL. sedang dampaknya terhadap lingkungan hidup sangat jarang dipertimbangkan. Bertolak dari keadaan tersebut. Di sinilah kemudian disadari perlunya dilakukan pertimbangan-pertimbangan yang seksama tentang risiko/gangguan lingkungan terhadap suatu rencana kegiatan. Secara nasional bagi semua kegiatan pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah No. dan bahkan kualitas hidup itu dapat menurun. kemudian timbul upaya untuk menelaah aktifitas yang telah dan akan dilakukan untuk mengetahui dampak apa yang mungkin merugikan kegiatan tersebut. Dengan dimasukkannya AMDAL ke dalam proses perencanaan suatu kegiatan maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai aspek kegiatan tersebut sehingga dapat diambil keputusan yang optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. mengganggu daya dukung lingkungan sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidupnya. yang tidak/belum dapat diperkirakan sebelumnya.

yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Namun dalam uraian makalah ini akan disampaikan langkah-langkah penyusunan AMDAL secara umum. Implikasi hal ini adalah bahwa studi AMDAL harus dilakukan secara lintas disiplin sesuai dengan karakteristik dampak yang ditimbulkan. 98 Cermin Dunia Kedokteran. dalam rangka menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan diharuskan melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkimgan (UPL). Hubungan sebab akibat ini semakin sulit ditelusuri apabila dampak yang ditimbulkan pada suatu komponen bersifat kumulatif dan baru tampak setelah kurun waktu yang cukup lama. Benturan kepentingan tersebut hanyalah mencerminkan adanya dampak yang merugikan (negatif) saja. Dalam perkembangannya kemudian. Namun demikian bagi kegiatan bidang kesehatan yang semula ditetapkan wajib SEMDAL tapi hingga saat ini belum membuat SEMDAL. dilakukan proses penapisan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut berdampak penting atau tidak. Departemen Kesehatan akan mengeluarkan ketentuan khusus yang mewajibkan pembuatan standard operating procedure pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dituangkan dalam rencana teknis pengelolaan lingkungan dan rencana teknis pemantauan lingkungan. dengan memperhatikan ketentuan mengenai AMDAL yang dituangkan dalam PP 51 tahun 1993. Berkenaan dengan dampak lingkungan suatu kegiatan ada dua hal pokok yang perlu dipahami yaitu : a) Dampak setiap kegiatan bersifat khas dan unik (site specific). Dengan ditetapkannya PP 51 tahun 1993 tentang AMDAL. Di samping itu diuraikan tentang penatalaksanaan penyusunan dan penilaian AMDAL Rumah Sakit yang meliputi organisasi (Komisi AMDAL) dan tatacara penyampaian dokumen AMDAL Rumah Sakit untuk penilaiannya. Pedoman teknis tersebut menetapkan sistematik dan isi laporan AMDAL Rumah Sakit yang harus diikuti oleh setiap penyusun AMDAL Rumah Sakit. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Edisi Khusus No.512/MENKES/PER/X/ 1990 tentang AMDAL Rumah Sakit di samping menetapkan pedoman teknis penyusunan AMDAL Rumah Sakit juga menetapkan penatalaksanaan AMDAL Rumah Sakit. setiap komponen lingkungan satu sama lain saling terkait. sebagai pengganti kewajiban pembuatan SEMDAL. Pada mulanya dampak lingkungan digambarkan sebagai adanya benturan antara dua kepentingan yaitu kepentingan antara perlunya pelaksanaan kegiatan dan kepentingan usaha melestarikan kualitas lingkungan yang baik. b) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi penyusunan berturut-turut : a) Kerangka Acuan bagi penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). b) AMDAL Kawasan yaitu hasil studi dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan menyangkut kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab. dewasa ini dikenal pengertian : a) AMDAL Kegiatan Terpadu/Multi Sektor yaitu hasil studi mengenai dampak penting kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Dampak lingkungan adalah perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. memprediksi. PENGERTIAN DAN MANFAAT AMDAL Pengertian AMDAL adalah salah satu studi yang mengidentifikasi. Bagi kegiatan yang diragukan dampak pentingnya. menginterpretasi dan mengkomunikasikan pengaruh dari suatu kegiatan manusia terhadap lingkungan. c) AMDAL Regional yaitu hasil studi dampak penting suatu kegiatan yang' direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Jadi pengertian AMDAL di sini dapat berarti proses studi dan dapat pula berarti hasil studi. Sedangkan dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dikenal istilah Analisis mengenai Dampak Lingkungan yang disingkat dengan AMDAL yang berarti hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. Di samping pengertian tersebut. Jadi diperlukan spesialis yang mengkaji masing-masing disiplin dari aspek yang terkait dan ahli analisis sistim yang mengintegrasikan hasil kajian para spesialis dalam kesatuan analisis. yang dianalisis bukan hanya dampak negatifnya saja tapi juga dampak positif suatu kegiatan dengan bobot analisis yang sama. b) Dampak suatu kegiatan bersifat kompleks. Bagi rencana kegiatan yang tidak ada dampak pentingnya. tidak terdapat lagi ketentuan tentang AMDAL bagi kegiatan yang sudah berjalan yang dikenal dengan SEMDAL. 1994 c) d) 1) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Implikasi dari asumsi ini adalah walaupun jenis kegiatannya sama. artinya dampak lingkungan suatu kegiatan hanya berlaku untuk ekosistem tertentu dan kelompok sosial tertentu yang menghuni ruang dan waktu tertentu.Peraturan Menteri Kesehatan No. Ini berarti . Asumsi ini berangkat dari pengertian bahwa. 2) Manfaat AMDAL Telah disebutkan terdahulu bahwa AMDAL diperlukan bagi proses pengambilan keputusan suatu kegiatan. 90. Asumsi ini berangkat dari suatu pengertian bahwa AMDAL hanya terfokus pada ruang tertentu dan kurun waktu tertentu yang dihipotesakan terkena dampak suatu kegiatan. dampak yang ditimbulkan akan berbeda bila berada di ruang yang berbeda. Bagi kegiatan wajib SEMDAL yang belum membuat SEMDAL akan diuraikan beberapa ketentuan yang akan diberlakukan dalam waktu dekat ini. Perubahan atau tekanan yang dialami oleh satu komponen lingkungan akan mempengaruhi komponen lainnya.

90. Diagram Alir Studi AMDAL dihasilkan seperti yang dimaksud dalam pengertian AMDAL menurut Peraturan Pemerintah No. untuk menetapkan apakah suatu kegiatan itu memungkinkan untuk dilaksanakan ditinjau dari sudut kepentingan kelestarian lingkungan hidup. LANGKAH-LANGKAH DALAM STUDI AMDAL Sesuai dengan definisi lingkungan yang berlaku di Indonesia (Undang-undang No. Edisi Khusus No. d) Penentuan ruang lingkup studi (scoping). dan sosial di wilayah yang diperkirakan terkena dampak kegiatan. jenis. rencana kegiatan yang akan dikaji.bahwa dokumen AMDAL merupakan salah satu bahan perti mbangan. e) Uraian kegiatan mulai dari fase persiapan sampai operasi. c) Pengenalan keadaan umum lokasi kegiatan (pra survai). 4) Langkah keempat : a) Identifikasi dampak yaitu mengidentifikasi komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak rencana kegiatan/ komponen kegiatan. d) Memberikan informasi sejauh mana keadaan lingkungan dapat menunjang perwujudan suatu rencana kegiatan. komponen lingkungan hayati dan komponen sosial ekonomi dan sosial budaya. seperti energi. f) Pelaksanaan pemantauan lingkungan yang diperlukan bagi penilaian ataupun pengawasan pelaksana pengelolaan lingkungan. Secara umum langkah-langkah pelaksanaan studi AMDAL secara berurutan dapat digambarkan pada diagram alir sebagai berikut (Diagram 1) : Diagram 1. g) Pengolahan. sekurang-kurangnya memuat : a) Nama dan alamat pemrakarsa kegiatan. terutama informasi tentang sumber daya yang diperlukan bagi kegiatan tersebut. tenaga manusia. f) Pelaksanaan pengukuran/penelitian di lapangan dan analisis di laboratorium. baku mutu lingkungan. 51 tahun 1993. biologis. meliputi kegiatan : a) Menetapkan komponenlingkungan yang akan dikaji. sarana dan prasarana angkutan dan sebagainya. b) Pemahaman mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan AMDAL. c) Menyusun daftar isian dan panduan-panduannya. analisis dan penyusunan hasil. b) Pendugaan dampak lingkungan yaitu memproyeksikan perubahan komponen lingkungan yang mungkin terjadi akibat dilaksanakannya rencana kegiatan. Dengan demikian maka AMDAL bermanfaat untuk : a) Mengetahui adanya dampak suatu rencana kegiatan terhadap kualitas lingkungan hidup yang melampaui ambang batas yang telah ditetapkan ataupun yang tidak dapat ditolerir serta membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia. b) Mengetahui adanya dampak suatu rencana kegiatan terhadap kegiatan lainnya yang dapat menimbulkan pertentangan. 5) Langkah-langkah yang digambarkan dalam diagram tersebut tidak menggambarkan bentuk dokumen yang akan Langkah kelima : Evaluasi dampak lingkungan dan alternatif pengelolaannya. Langkah kedua : Pengumpulan dan penyusunan informasi mengenai kegiatan yang akan dikaji (pemerian kegiatan). c) Lokasi kegiatan. f) Perkiraan biaya. tujuan. 1) Langkah pertama Persiapan meliputi : a) Pembentukan Tim Penyusun. pedoman-pedoman. g) Rencana operasional atau alur proses kegiatan. b) Status. h) Rincian mengenai limbah kegiatan. terutama dalam rangka mengendalikan dampak negatif dan mengembangkan dampak positifnya. 1994 99 . i) Uraian tentang sistim pengelolaan limbah. d) Hasil (output) dan umur kegiatan. e) Persiapan peralatan dan bahan-bahan. Langkahlangkah yang selanjutnya akan diuraikan di bawah ini lebih menjelaskan urutan pekerjaan studi AMDAL sejak persiapan studi sampai langkah dari studi AMDAL yaitu evaluasi dampak lingkungan dan alternatif pengelolaannya. c) Memberikan masukan bagi studi kelayakan teknis dan kelayakan ekonomi sehingga dapat dilakukan optimasi. meliputi : Cermin Dunia Kedokteran. d) Menetapkan cara pengolahan dan analisa data. e) Pelaksanaan upaya pengelolaan lingkungan berdasarkan hasil pendugaan dan evaluasi dampak lingkungan yang dilakukan dalam proses penyusunan AMDAL. 2) 3) Langkah ketiga : Penentuan rona lingkungan awal dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan fisik. b) Menetapkan metodologi pengukuran setiap komponen lingkungan termasuk sampling system dan sampling site-nya. e) Penyusunan rencana kerja/usulan teknis. 4 Tahun 1982) komponen lingkungan yang ditelaah dalam studi AMDAL bagi suatu kegiatan meliputi komponen lingkungan fisik kimia. dan kegunaan kegiatan.

280/MENKES/SK/I/1993 . PENATALAKSANAAN AMDAL RUMAH SAKIT Organisasi Sesuai dengan PP 51 tahun 1993. b) c) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Sesuai dengan pedoman teknis RKL dan RPL harus disusun dengan sistimatika sebagai berikut : RKL : 1) Identitas pemrakarsa 2) Uraian kegiatan 3) Tujuan. ruang lingkup. dan alternatif pemantauan lingkungan 4) Uraian rencana pemantauan lingkungan 5) Kepustakaan. Kerangka Acuan ANDAL Sesuai dengan pedoman teknis Kerangka Acuan ANDAL harus disusun dengan sistimatika sebagai berikut : 1) Peendahuluan 2) Tujuan studi 3) Ruang lingkup studi 4) Metodologi 5) Tim studi ANDAL 6) Biaya 7) Waktu pelaksanaan 8) Daftar pustaka.a) Penentuan hubungan sebab akibat antara komponen rencana kegiatan dan komponen lingkungan dengan dampak yang mungkin ditimbulkan. satuan kerja yang bertanggung jawab dalam penatalaksanaan AMDAL adalah Komisi AMDAL Bidang Kesehatan yang berstatus pusat (perijinan atau pemilikannya) adalah Komisi AMDAL Pusat Departemen Kesehatan yang pembentukannya ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. Uraian yang disajikan dalam laporan RKL dan RPL harus dapat mengungkap secara jelas tentang apa. Komisi AMDAL Departemen Kesehatan diketuai oleh Direktur Jenderal PPM & PLP dengan pertimbangan bahwa urusan pengelolaan lingkungan secara fungsional menjadi tanggung jawab Direktur Jenderal PPM & PLP. LAPORAN HASIL STUDI AMDAL Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. dan kapan pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilakukan. pemantauan. Hubungan kerja tersebut lebih lanjut akan diuraikan dalam tata cara penyampaian dokumen AMDAL Rumah Sakit. dan pengawasan pelaksanaan RKL dan RPL. Dalam melaksanakan tugasnya Komisi AMDAL Departemen Kesehatan melakukan hubungan kerja dengan instansi yang bertanggung jawab dalam Rumah Sakit dalam hal ini Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. RPL: 1) Identitas pemrakarsa 2) Uraian kegiatan 3) Tujuan. SISTIMATIKA LAPORAN Berikut ini akan diuraikan secara singkat butir-butir yang harus tercantum dalam setiap dokumen dan beberapa hal penting yang harus ada pada setiap dokumen. a) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) Sesuai dengan pedoman teknis secara sistimatis dokumen ANDAL rumah sakit harus memuat uraian tentang : Ringkasan: 1) Pendahuluan 2) Dasar pembangunan rumah sakit 3) Rencana rumah sakit 4) Rona lingkungan hidup awal 5) Perkiraan dampak penting 6) Evaluasi dampak penting 7) Kepustakaan 8) Lampiran Laporan hasil studi ANDAL harus disusun berdasarkan Kerangka Acuan yang telah ditetapkan oleh Komisi. Adapun anggota Komisi AMDAL Departemen Kesehatan terdiri dari pejabat di lingkungan unit utama Departemen Kesehatan yang tugas pokoknya berkaitan dengan pengelolaan lingkungan maupun berkaitan dengan kegiatan bidang kesehatan yang wajib AMDAL. laporan hasil studi AMDAL harus disusun dalam bentuk dokumen sebagai berikut : – Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL) – Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) – Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) – Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). bagaimana. 041/MENKES/SK/I/1989 . dimana. 1994 . ANDAL. Para pejabat tersebut terdiri dari : 1) Kepala Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan (sebagai Wakil Ketua Komisi) 2) Kepala Pusat Data Kesehatan (sebagai Sekretaris Komisi) 3) Kepala Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman 1) 100 Cermin Dunia Kedokteran. kegunaan. 90. dan telah diperbaharui dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Dalam rangka pelaksanaan PP 51 tahun 1993 keanggotaan Komisi AMDAL Departemen Kesehatan akan ditambah dengan wakil-wakil dari Badan Pertanahan Nasional dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. evaluasi. Untuk hal-hal yang bersifat sangat rahasia dan tidak mungkin diungkapkan dalam laporan misalnya menyangkut rahasia yang dipatenkan harus diberikan catatan tersendiri dan hal ini dituangkan dalam ringkasan ANDAL. siapa. Edisi Khusus No. serta RKL/RPL. Perlu diingat bahwa dokumen RKL dan RPL termasuk dokumen yuridis yang menjadi pegangan semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan. 51 tahun 1993. kegunaan. Dari langkah-langkah tersebut kemudian disusun laporan hasil studi yang berbentuk beberapa dokumen yang meliputi : KA ANDAL. b) Uraian alternatif pengelolaan dampak lingkungan. dan pendekatan pengelolaan lingkungan 4) Rencana pengelolaan lingkungan 5) Kepustakaan.

ANDAL. 1.4) Kepala Direktorat Penyehatan Air 5) Kepala Direktorat Pemberantasan Bersumber Binatang 6) Kepala Direktorat Pengawasan Obat dan Bahan Berbahaya 7) Kepala Direktorat Pengawasan Obat 8) Kepala Direktorat Pengawasan Obat Tradisional 9) Kepala Direktorat Instalasi Medik 10) Kepala Direktorat Rumah Sakit Umum dan Pendidikan 11) Kepala Direktorat Rumah Sakit Khusus dan Swasta 12) Kepala Direktorat Bina Peranserta Masyarakat 13) Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Dep.4.3.4.4. Direktur Jenderal Yanmed menetapkan keputusan tentang dokumen tersebut selambat-lambatnya 45 hari sejak tanggal pengajuan.2. f) Membantu menyelesaikan diterbitkannya surat keputusan tentang AMDAL.4. Diagram alir penyampaian dokumen AMDAL terlampir (Diagram 2) . 2) Dokumen ANDAL. Apabila hasil penilaian menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan IPTEK dan biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya.3.2. 2. Diagram 2. RKL dan RPL diajukan sekaligus oleh pemrakarsa kepada Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Komisi AMDAL dibantu oleh Tim Teknis AMDAL yang anggotanya terdiri dari tenaga-tenaga yang berkualifikasi AMDAL B yang berasal dari unit kerja di lingkungan Departemen Kesehatan yang terkait dengan AMDAL. 2. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik memberikan bukti penerimaan dokumen-dokumen tersebut kepada pemrakarsa dengan mencantumkan tanggal penerimaan. 2. Menteri Kesehatan akan memberikan keputusan terhadap pengajuan keberatan tersebut setelah mendapat pertimbangan dari Bapedal selambat-lambatnya 30 hari sejak diterima pengajuan tersebut dan keputusan ini merupakan keputusan terakhir. dan selambat-lambatnya 30 hari sejak pengajuan kembali harus sudah dikeluarkan keputusan atas dokumendokumen tersebut berdasarkan hasil penilaian Komisi AMDAL.1. 2. maka Dirjen Yanmed memutuskan menolak rencana kegiatan rumah sakit. Untuk membantu pelaksanaan penilaian AMDAL. RKL dan RPL 2.2 dapat disampaikan kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Bapedal selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya keputusan penolakan. 2. Apabila keputusan tersebut berupa penolakan karena dokumen-dokumen tersebut dinilai belum memenuhi persyaratan maka dokumen tersebut harus diajukan kembali kepada Dirjen Yanmed. Alur Pemrosesan Dokumen AMDAL Rumah Sakit Cermin Duniu Kedokteran .4.1. d) Menilai RKL dan RPL. Adapun tugas Komisi AMDAL Departemen Kesehatan adalah : a) Menyusun Pedoman Teknis Pembuatan AMDAL. e) Memberikan rekomendasi kepada Menteri Kesehatan berdasarkan hasil penilaian AMDAL. Pengajuan keberatan atas keputusan seperti pada 2. Berdasarkan hasil penilaian Komisi terhadap dokumen - dokumen tersebut. 2) Tata Cara Penyampaian Dokumen AMDAL Rumah Sakit 1) Dokumen Kerangka Acuan (KA) 1. Dokumen tersebut diteruskan kepada Komisi AMDAL Departemen Kesehatan untuk kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian. g) Memberikan bimbingan kepada Komisi Daerah.Kes. Komisi AMDAL setelah membahas Kerangka Acuan tersebut memberikan tanggapan dan komentar tertulis terhadap KA tersebut dan menyampaikannya kembali kepada pemrakarsa selambat-lambatnya 12 hari seiak dokumen tersebut diterima oleh Komisi AMDAL. 2. h) Menilai rencana teknis pengelolaan lingkungan dan rencana teknis pemantauan lingkungan.1. 2. Edisi Khusus No . 90. b) Menetapkan Kerangka Acuan bagi pembuatan ANDAL.4.4. 14) Kepala Pusat Laboratorium Kesehatan 15) Wakil dari Departemen Dalam Negeri 16) Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan/Kantor Menteri Negara KLH 17) Wakil dari Badan Pertanahan Nasional 18) Wakil dari Badan Koordinasi Penanaman Modal.2. 1994 101 . Dokumen KA ANDAL disampaikan oleh pemrakarsa kepada Komisi AMDAL Departemen Kesehatan. c) Menilai ANDAL.

Edisi Khusus No.. dan pengembangan AMDAL diselenggarakan dengan koordinasi BAPEDAL.. Pasal13: – Bagi kegiatan yang berada dalam kawasan sesuai peraturan perundangan – Pedoman teknis. AMDAL Kegiatan Terpadu – Menteri LH/Kepala BAPEDAL. Materi Kegiatan Wajib AMDAL (Penapisan) PP 29/1986 Pasal 2 ayat (2) : Ditetapkan oleh Menteri/ Pimpinan LPND yang membidangi .No. BKPM sebagai anggota tetap dan LSM sebagai anggota tidak tetap. AMDAL Kawasan – 7. Lisensi dihilangkan Pasal 20 : Pendidikan.dst PP 51/1993 Pasal 2 ayat (3) : Ditetapkan Menteri LH/ Kepala BAPEDAL setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. & 33 5. Pasal 5: Pemberianizinusahadan kegiatan oleh instansi yang berwenang untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. penelitian. Kedudukan dan AMDAL Pasal 6: ayat (1) : AMDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan 10. o PIL dihilangkan Pasal 7 : – KA hanya perlu tanggapan tertulis dari komisi – Batas waktu tanggapan tertulis KA sejak diterima oleh Komisi adalah 12 hari Pasal 10 : Batas waktu penetapan ANDAL.. penilaian dan persetujuan oleh instansi yang bertanggung jawab.. apabila dalam 5(lima) tahun rencana kegiatan tidak dilaksanakan Pasal 23 3. Pasal15: Kadaluwarsa. 2. penilaian dan persetujuan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Komisi AMDAL Terpadu merupakan komisi gabungan yang ditetapkan oleh 6. 32.. Komisi : – Komisi Pusat – Komisi Daerah Pasal21: Kadaluwarsa. Pasal 6: ayat (1) : AMDAL merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan kegiatan ayat (2) : Hasil studi AMDAL digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. dst. Pasal 5 : Kaitan antara AMDAL dengan Keputusan tentang pemberian izin terhadap Perizinan rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang perizinan hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKU RPL AMDAL Regional – 8. berada dalam satu ekosistem dan dimiliki oleh satu pemrakarsa Pedoman teknis. Pengawasan Pasal 31 .. 102 Cermin Dunia Kedokteran. Hanya ada 2 (dua) Komisi : – Komisi AMDAL Pusat – Komisi AMDAL Daerah Pasal 17 & 18 : (tetap) Keanggotaan komisi ditambahkan unsur BPN. Pasal 22 – 25 – Setiap rencana usaha/ kegiatan wajib diumumkan oleh instansi yang bertanggung jawab Dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umurn – Peransertamasyarakat dalam bentuk saran dan pemikiran (lisan atau tertulis) kepada Komisi sebelum dokumen AMDAL disetujui BAPEDAL menggunakan dokumen AMDAL sebagai bahan penguji hasil pemantauan BAPEDAL dapat melakukan koordinasi dalam pengawasan. 11. RKL/RPL sejak diterima oleh Komisi adalah 45 hari. Pembinaan 4. 1....1994 . Lama waktu penilaian AMDAL (Putusan persetujuan) Pasal 10 : PIL = 30 hari Pasal 12 : KA = 30 hari Pasal 16 : ANDAL = 90 hari Pasal 19 : RKL = 30 hari Pasal 20 : RPL = 30 hari Pasal 30 : Kualifikasi penyusun AMDAL dengan pemberian lisensi . Pasal 2 ayat (4) : Penapisan kegiatan ditinjau secara berkala sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. Pasal 12 : – Bagi kegiatan yang saling terkait. pelatihan. 90. Pasal 14 : AMDAL regional akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri LH/Kepala BAPEDAL. Kadaluwarsa persetujuan AMDAL 9. apabila dalam 3 (tiga) tahun rencana kegiatan tidak dilaksanakan.

sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. Menetapkan : PEATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN.. 5) Analisis mengenai dampak lingkungan regional adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Menimbang : a) bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. pengendalian. c) bahwa analisis mengenai dampak Iingkungan diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1) Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan. pemulihan.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 1994 103 . 3) Analisis mengenai dampak lingkungan kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. 8) Analisis dampak lingkungan adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana usaha atau kegiatan. 6) Kerangka acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan. pengawasan. 2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. 4) Analisis mengenai dampak lingkungan kawasan adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan menyangkut kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab. e) bahwa berdasarkan hal tersebut di atas dipandang perlu mengatur penyempurnaan tersebut dalam Peraturan Pemerintah. b) bahwa setiap usaha atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkunan hidup yang perlu dianalisa sejak awal perencanaannya. Cermin Dunia Kedokteran. Mengingat : 1) Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945. penataan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). 90. dan pengembangan lingkungan hidup. MEMUTUSKAN: Dengan mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 42). 2) Analisis mengenai dampak lingkungan adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. 7) Pelingkungan adalah proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak penting. d) bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 16 Undang-undang Nommor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selama ini berlaku perlu disempurnakan sesuai dengan berbagai perkembangan baru yang terjadi. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha atau kegiatan. Edisi Khusus No. pemeliharaan.

Pasal 3 (1) Dampak penting suatu usaha atau kegiatan terhadap lingkungan hidup ditentukan oleh : a) jumlah manusia yang akan terkena dampak. e) sifat kumulatif dampak. Pasal 2 (1) Usaha atau kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a) pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. banyakanya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. f) g) berbalik atau tidak berbaliknya dampak. 13) Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang pelaksanakan rencana usaha atau kegiatan. Pasal 5 Pemberian izin usaha tetap oleh instansi yang membidangi jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud 104 Cermin Dunia Kedokteran . setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. jenis hewan. dan kerusakan lingkungan.9) Dampak penting adalah perubahan Iingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. 12) Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. (4) Penapisan rencana usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud ayat (3) ditinjau secara berkala sekurangkurangnya sekali dalam lima tahun. luas wilayah persebaran dampak. dan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1. yang bertugas membantu pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan di dalam proses pengambilan keputusan. dan jasad renik. b) c) lamanya dampak berlangsung. d) proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumberdaya alam e) dan atau perlindungan cagar budaya. dengan pengertian bahwa kewenangan berada pada Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan dan pada Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 untuk usaha atau kegiatan yang berada di bawah wewenangnya. (1) Analisis dampak lingkungan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha atau kegiatan yang langsung dilaksanakan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. h) kegiatan yang mempunyai risiko tinggi. 15) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang mempunyai tugas pokok membantu Presiden dalam melaksanakan pengendalian dampak lingkungan hidup yang meliputi upaya pencegahan pencemaran. (2) Pedoman mengenai ukuran dampak penting sebagaimana dimaksud dalam ayat (l) ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan kemerosotan c) sumberdaya alam dalam pemanfaatannya. g) penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan. kerusakan. f) pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. 11) Rencana pemantauan lingkungan adalah dokumen yang mengandung upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting akibat dari rencana usaha atau kegiatan. 10) Rencana pengelolaan lingkungan adalah dokumen yang mengandung upaya penanganan dampak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha atau kegiatan. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan sosial dan budaya. 1994 . (3) Bagi jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib disusun analisis dampak lingkungan. i) (2) Menteri menetapkan jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu kcadaan darurat setelah mendengar saran-saran dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 16) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan adalah komisi yang dibentuk oleh Menteri/menteri atau Pimpinan Lembaga pemerintah Non Departemen di tingkat pusat. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. 14) Menteri adalah Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup dan mengendalikan dampak lingkungan. penanggulangan dampak penting dan pemulihan kualitias lingkungan. d) intensitas dampak. dan mempengaruhi pertahanan negara. Edisi Khusus No. 90. b) eksploitasi sumberdaya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui.

Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha atau kegiatan. (3) apabila dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja sejak diterimanya kerangka acuan tersebut komisi analisis mengenai dampak lingkungan tidak memberikan tanggapan tertulis. dan rencanapengelolaan lingkungan. kerangka acuan tersebut sah digunakan sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkunan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (3) Berdasarkan hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan atas dokumen analisis dampak lingkungan. 90. dan Rencana Pemantauan Lingkungan Pasal 8 (1) Analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. rencana pengelolaan lingkunagan. dan rencana pemantauan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya pengajuan analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan yang diajukan pemrakarsa. rencana pengelolaan lingkungan. Pasal 9 (1) Penilaian dokumen analisis dampak lingkungan. Bagian Kedua Analisis Dampak Lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. Rencana Pengelolaan Lingkungan. (6) Pedoman teknis tentang penyusunan kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. dan Pasal 19 ayat (1) dilakukan secara bersamaan. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. wajib menyusun kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan diajukan sekaligus oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan ditetapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan berdasarkan pedoman umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). (2) Apabila dokumen analisis dampak lingkungan. BAB II TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 7 (1) Pemrakarsa yang mempunyai rencana usaha atau kegiatan sebagaimana disebut dalam Pasal 2.dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan dinilai belum memenuhi persyaratan dalam pedoman teknis. instansi yang bertanggung jawab menetapkan keputusan terhadap analisis dampak lingkungan. pemrakarsa wajib memperbaiki sesuai petunjuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. 1 994 105 . Pasal 10 (1) Keputusan atas analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan. Pasal 18 ayat (3). (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bersangkutan. (5) Pedoman umum tentang penyusunan kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. (4) Pedoman teknis penyusunan analisis dampak lingkungan. Cermin Dunia Kedokteran . (2) Instansi yang bertanggung jawab memeberikan bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada pemrakarsa dengan mencantumkan tanggal penerimaan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3). dan rencana pemantauan lingkungan ditetapkan oleh Menteri. (4) Kerangka acuan disusun oleh pemrakarsa berdasarkan pedoman umum atau pedoman teknis. rencana pengelolaan lingkungan. Edisi Khusus No. (3) Pedoman umum penyusunan analisis dampak lingkungan.

90. rencana pengelolaan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya pengajuan kembali perbaikan analisis dampak lingkungan. maka keputusan atas perbaikan analisis dampak lingkungan. (2) Pedoman teknis penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan seperti tersebut dalam ayat (1) ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab. dengan memperhatikan pedoman teknis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Pasal 14 Ketentuan tentang pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan tentang usaha atau kegiatan yang direncanakan dalam satu zona rencana pengembangan wilayah. Pasal 13 (1) Penetapan kriteria tentang rencana usaha atau kegiatan. dan rencana pemantauan lingkungan tersebut dinyatakan diberikan persetujuan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (4) Persetujuan atas dokumen analisis mengenai dampak lingkungan kawasan ditetapkan oleh menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan Gugurnya Keputusan Persetujuan Analiais Dampak Lingkungan. (3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) instansi yang bertanggung jawab belum memberikan keputusan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan.(2) Apabila keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa penolakan karena dinilai belum memenuhi pedoman teknis analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (3) Komisi sebagaimana tersebut dalam ayat (2) merupakan komisi gabungan yang keanggotaannya terdiri dari wakil-wakil instansi dan lembaga terkait tingkat pusat dan daerah. (5) Persetujuan atas dokumen analisis mengenai dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan terpadu/ multisektor ditetapkan oleh Menteri. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dari instansi yang bertanggung jawab dengan menyampaikan tembusannya kepada instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dalam waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari sejak diterimanya keputusan penolakan. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 12 (1) Bagi rencana usaha atau kegiatan terpadu/multisektor dilakukan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu. ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri dengan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. (3) Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan seperti tersebut dalam ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. (2) Terhadap keputusan penolakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). maka terhadap analisis dampak lingkungan. serta lembaga swadaya masyarakat dan pihak lain yang dianggap perlu. 1994 . (2) Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan terpadu/multisektor dilaksanakan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan terpadu dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. apabila rencana usaha atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditetapkannya keputusan tersebut. Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan Pasal 15 (l) Keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. (4) Pedoman teknis penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 106 Cermin Dunia Kedokteran . Edisi Khusus No. dilaksanakan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan dari instansi yang bertanggung jawab. (4) Keputusan sebagaimanadimaksud dalam ayat (3) diberikan selambat-lambatnya 30 (tigapuluh) hari sejak diterimanya pemyataan keberatan dan merupakan keputusan terakhir. baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis yang berada dalam satu kawasan yang berada di bawah kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab tersebut. rencana pengelolaan lingkungan. dan ditetapkan oleh Menteri. rencana pengelolaan lingkungan. (3) Pejabat yang lebih tinggi dari instansi yang bertanggung jawab memberi keputusan atas pernyataan keberatan pemrakarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) setelah mendapat pertimbangan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 11 (1) Apabila analisis dampak lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya.

rencana pengelolaan lingkungan. lembaga swadaya masyarakat. Badan Pertahanan Nasional di daerah. sedangkan anggota tidak tetap diangkat dari unsur instansi pemerintah yang membina sektor Cermin Dunia Kedokteran . wakil yang ditunjuk oleh Badan Pertahanan Nasional dan para ahli dalam bidang yang berkaitan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. instansi pemerintah yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dan pusat studi lingkungan hidup di daerah. menetapkan telah terjadinya perubahan lingkungan yang sangat mendasar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di lokasi semula yang disetujui dan menjadi dasar pembuatan analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. instansi pemerintah yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dan pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi di daerah yang bersangkutan. dan rencana pemantauan lingkungan wajib diperbaharui. (2) Anggota tetap terdiri dari unsur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.(2) Apabila analisis dampak lingkungan. maka untuk melaksanakan rencana usaha atau kegiatannya. Bagian Keempat Komisi Pasal 17 (1) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan membentuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat yang terdiri dari anggota tetap dan anggota tidak tetap. dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan gugur atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah. Edisi Khusus No. e) menilkai dokumen rencana pemantauan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan berdasarkan rona lingkungan baru tersebut menurut tata laksana sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. setelah berkonsultasi dengan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. instansi yang membidangi lingkungan hidup di daerah. dan rencana pemantauan lingkungan kepada instansi yang bertanggung jawab. (3) Kriteria tentang perubahan lingkungan yang sangat mendasar ditetapkan menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang bertanggung jawab setelah berkonsultasi dengan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (2) Anggota tetap terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang bersangkutan. b) menanggapi dokumen kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan. renca f) pengelolaan lingkungan. 90. dan rencana pemantauan lingkungan. Pasal 18 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 membentuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah yang terdiri dari anggota tetap dan anggota tidak tetap. wakil yang ditunjuk oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. serta anggota lain yang dipandang perlu. analisis dampak lingkungan. c) menilai dokumen analisis dampak lingkungan. membantu penyelesaian diterbitkannyakeputusan tentang dokumen analisis dampak lingkungan. Badan Pertahanan Nasional di daerah. (5) Pedoman mengenai susunan keanggotan dan tata kerja komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 16 (1) Apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu rencana usaha atau kegiatan dilaksanakan. atau b) Analisis dampak lingkungan. 1994 107 . pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan. wakil yang ditunjuk oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. rencana pengelolaan lingkungan. (3) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertugas : menyusun pedoman teknis pembuatan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan yang meliputi a) pembuatan kerangka acuan analiais dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. wakil yang ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri. keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. sedangkan anggota tidak tetap diangkat dari unsur departemen dan atau lembaga pemerintah non departemen yang berkepentingan. (g) melaksanakan tugas lain yang ditentukan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan . (2) Instansi yang bertanggung jawab. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) instnasi yang bertanggung jawab memutuskan : a) Analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. (4) Dalam pelaksanakan tugasnya komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dapat dibantu oleh tim teknis yang bertugas menilai dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. d) menilai dokumen rencana pengelolaan lingkungan.

(1) lnstansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan pcnguji terhadap. Pasal 23 Bagi rencana usaha atau kegiatan yang menyangkut rahasia negara ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 tidakberlu. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. kepentingan pertahanan keamanan nasional. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. menilai dokumen rencana pengelolaan lingkungan. rencana e) pengelolaan lingkungan. ditetapkan lebih lanjutoleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. 108 Cermin Dunia Kedokteran . lembaga swadaya masyarakat. melaksanakan tugas lain yang ditentukan Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1. c) d) menilai dokumen rencana pemantauan lingkungan. instansi terkait yang berkepentingan. Edisi Khusus No. atau b) di tingkat daerah kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan instansi terkait yang berkepentingan. 1994 . (2) Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari setiap rencana usaha atau kegiatan serta keputusan mengenai persetujuannya bersifat terbuka untuk umum. pelatihan. (5) Pedoman mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. dan rencana pemantauan lingkungan. membantu penyelesaian diterbitkannya surat keputusan tentang analisis dampak lingkungan. penelitian. rencana tata ruang.yang bersangkutan di daerah. Salinan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan serta salinan keputusan atas persetujuan dokumen tersebut disampaikan oleh instansi yang bertanggung jawab. Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat 11 yang bersangkutan. a) b) menilai dokumen analisis dampak lingkungan. serta anggota lain yang dipandang perlu. Pasal 19 Dalam melaksanakan tugasnya. 90. (3) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertugas : menanggapi dokumen kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak Iingkungan. dan pembangunan daerah yang berwawasan lingkungan. f) (4) Dalam melaksanakan tugasnya komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah dapat dibantu oleh ti m teknis yang bertugas menilai dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. Usaha atau kegiatan golongan ekonomi lemah yang menimbulkan dampak penting serta bantuan pemerintah di bidang analisis mengenai dampak lingkungan. a) di tingkat pusat kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. BAB IV PENGAWASAN Pasal 22 (1) Setiap rencana usahaatau kegiatan yang perlu dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungannyawajib diumumkan oleh instansi yang bertanggung jawab. BAB III PEMBINAAN Pendidikan. komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dan komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18. (3) Sifat keterbukaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat dengan mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan atau tertulis kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat atau komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimanan dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18 sebelum keputusan persetujuan analisis mengenai dampak lingkungan terhadap rencana usaha atau kegiatan ditetapkan. rencana pengembangan wilayah.

S. Cermin Duniu Kedokleran.a) laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. BAB V PEMBIAYAAN Pasal 26 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi pusat dan komisi daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 dan Pasal 18 dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. Kepala Bagian Penelitian Perundang-undangan 1 Lambock V. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Oktober 1993 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 23 Oktober 1993 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1993 NOMOR 84 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIS KABINET Rl Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ub. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan c) yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab.H. 1994 109 . instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dalat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. b) laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. Nahattands. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 29 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya. Edisi Khusus No. 90. (2) Hasil pengujian sebagaimnana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen dan gubemur kepala daerah tingkat I yang bersangkutan. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. (2) Biaya pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dibebankan pada anggaran pelaksanaan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 27 (1) Biaya untuk menyusun dokumen analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari biaya usaha atau kegiatan yang direncanakan dan dibebankan pada pemrakarsa. Pasal 28 Biaya pemantauan yang dilaksanakan oleh pemerintah terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh pemrakarsa menjadi tanggung jawab instansi pemerintah yang bersangkutan.

pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat tersebut. 1994 . Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Dampak penting menurut penjelasan Pasal 16 tersebut ditentukan antara lain oleh : a) jumlah manusia yang akan terkena dampak. c) lamanya dampak berlangsung. baik generasi sekarang maupun generasi mendatang. Yang dimaksud dengan "analisis mengenai dampak lingkungan usahaatau kegiatan terpadu/multisektor" dalam angka 3 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan terpadu/multisektor yang secara berturut-turut meliputi : 110 Cermin Dunia Kednkterun.Penjelasan atas Peraturan Pemerintah Republik lndonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Kegiatan pembangunan dan jumlah penduduk yang meningkat dapat mengakibatkan tekanan terhadap sumberdaya alam. 90. Pasal 16 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. c) rencana pengelolaan lingkungan. Dengan demikian. e) banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. b) analisis dampak lingkungan. t) sifat kumulatif dampak tersebut. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha atau kegiatan pembangunan. Berdasarkan hal tersebut di atas perlu pengaturan lebih lanjut mengenai usaha atau kegiatan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. b) luas wilayah persebaran dampak. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan ke dalam proses perencanaan suatu usaha atau kegiatan. adalah pembangunan berwawasan lingkungan. sejak awal perencanaan usaha atau kegiatan sudah diperkirakan perubahan rona Iingkungan akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan yang baru. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha atau kegiatan tersebut. Edisi Khusus No. dan dilaksanakan dengan kebijaksanaan terpadu dan menyeluruh serta memperhitungkan kebutuhan generasi sekarang dan mendatang. sehingga dapat diambil keputusan yang optimal dari berbagai altematif yang tersedia. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Yang dimaksud dengan "analisis mengenai dampak lingkungan" dalam angka 2 sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka 10 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan secara berturut-turut : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. d) rencana pemantauan lingkungan. d) intensitas dampak. Untuk mencapai tujuan ini. Pendayagunaan sumberdaya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat harus disertai dengan upaya untuk melestarikan kemarnpuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. g) berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irreversible) dampak. tetapi di lain pihak ketersediaan sumberdaya alam terbatas. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana merupakan tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup.

b) masing-masing usaha atau kegiatan tersebut menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. dan proses produksinya. Cermin Dunia Kedokteran. Kriteria usaha atau kegiatan tersebut di atas meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. 1994 11 1 . d) Usaha atau kegiatan tersebut dapat berada di bawah satu pengelola atau lebih. c) usaha atau kegiatan tersebut berada dalam satu ekosistem yang sama. c) rencana pengelolaan lingkungan. sebagai contoh seperti usaha atau kegiatan : a) pembuatan jalan. pandangan dan atau cara hidup masyarakat setempat. d) kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. b) berbagai usaha atau kegiatan tersebut ada dan/atau tidak ada keterkaitannya satu sama lain dalam hal perencanaan. pengelolaan. c) rencana pengelolaan lingkungan. Pasal 2 Ayat (1) Usaha atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan usaha atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. b) berbagai usaha atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. 90. c) Usaha atau kegiatan tersebut berada dalam satu ekosistem yang sama. bendungan. b) analisis dampak lingkungan. c) rencana pengelolaan lingkungan. c) usaha atau kegiatan tersebut dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. atau badan hukum. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Yangdimaksud dengan "rencana pemantauan lingkungan" dalam angka 11 adalah dokumen upayapemantauan dampak lingkungan dari hasil rencana pengelolaan lingkungan berdasarkan analisis dampak lingkungan untuk mengawasi tingkat ketaatan pada pelaksanaan. Kriteria usaha atau kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu/multisektor meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang analisis mengenai dampak lingkungannya menjadi kewenangan berbagai instansi teknis yang membidanginya. b) analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan "kerangka acuan" dalam angka 6 adalah ruang lingkup studi rencana usaha atau kegiatan yang telah disepakati antara komisi dengan pemrakarsa untuk dilaksanakan di dalam studi analisis dampak lingkungan. d) rencana pemantauan lingkungan. Yang dimaksud dengan analisis mengenai dampak lingkungan kawasan dalam angka 4 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan yang sejenis danlatau yang tidak sejenis yang menjadi kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab berturutturut meliputi : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan "orang " dalam angka 12 adalah seorang. Yang dimaksud dengan " rencana pengelolaan lingkungan" dalam angka 10 adalah dokumen upaya penanganan dampak lingkungan dari hasil studi analisis dampak lingkungan. Kriteria usaha atau kegiatan tersebut di atas meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang analisis mengenai dampak lingkungannya menjadi kewenangan satu sektor yang membidanginya. d) usaha atau kegiatan tersebut terletak dalam satu zona rencana pengembangan wilayah sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah. c) pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya.a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. b) analisis dampak lingkungan. e) usaha atau kegiatan tersebut dapat terletak di lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. Yang dimaksud dengan analisis mengenai dampak lingkungan regional dalam angka 5 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya yang menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab berturut-turut meliputi : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan hal-hal penting dalam angka 7 adalah berbagai aspek usaha atau kegiatan dan parameter lingkungan yang dianggap penting untuk dikaji. dan proses produksinya. Edisi Khusus No. Yang dimaksud dengan "analisis dampak lingkungan" dalam angka 8 adalah dokumen hasil penelaahan secara mendalam dampak penting. Dengan demikian penyebutan jenis usaha atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. kelompok orang. d) usaha atau kegiatan tersebut dapat menjadi kewenangan satu pengelola atau lebih. d) rencana pemantauan lingkungan. "Badan" meliputi badan pemerintah dan badan usaha milik negara. pengelolaan. d) rencana pemantauan lingkungan. b) kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan.

g) penggunaan bahan hayati dan nonhayati mencakup pula pengertian pengubahan. berupa daftar jenis usaha atau kegiatan masing-masing sektor yang berpotensi menimbulkan dampak penting. 90. Misalnya dapat berupa syarat tambahan seperti yang disebutkan dalam Pasal 11 ayat (1) Ordonansi Gangguan (S. 1940-14 dan 450. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung risiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. Pasal 4 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan yang kondisi yang sedemikian rupa. ditinjau untuk penyempurnaannya sekurang-kurangnya satu kali dalam 5(Iima) tahun apabila dipandang perlu. Pasal 3 Ayat (1) Faktor yang menentukan adanya dampak penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat pengetahuan yang ada. Dalam menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan tetap diharuskan melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL). Ayat (2) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan memberikan masukan kepada Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. atau e) pencemaran benda cagar budaya. 1926-226) seperti yang telah diubah dan ditambah dengan S. kerusakan kawasan konservasi alam. h) penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatip terhadap kesehatan. introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulf) kan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Ayat (2) Untuk menetapkan ukuran mengenai dampak penting faktor (a) sampai dengan (g) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan mengadakan konsultasi dengan Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. dan analisis mengenai dampak lingkungan. Izin dimaksud adalah izin usaha tetap bagi usaha atau kegiatan industri sebelum kegiatan produksi komersialnya dilaksanakan. Pasal 5 Keputusan atas pelaksanaan yang baik terhadap rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan merupakan prasyarat dalam pemberian izin suatu usaha atau kegiatan bagi rencana usaha atau kegiatan yang ditetapkan wajib analisis mengenai dampak lingkungan. Pasal 7 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan merupakan pegangan yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses penyusunan analisis dampak lingkungan.kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. dan atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya tidak termasuk dalam kategori ini. analisis ekonomis finansial. Ayat (3) Cukup jelas. S. Faktor ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. maka studi kelayakan bagi usaha atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis. Dengan mempertimbangkan masukan tadi Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kemudian menetapkan jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan untuk masing-masing sektor. 1927-499. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. Edisi Khusus No. Bagi rencana usaha atau kegiatan yang tidak ada dampak pentingnya. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari studi kelayakan pada ekosistem tertentu. 1994 . Pasal 6 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan dari aspek ekonomis finansial. sehingga tidak bersifat limitatif. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. dan upaya pemantauan lingkungan (UPL) sesuai dengan yang ditetapkan di dalam syarat-syarat perizinannya menurut peraturan yang berlaku. Dengan adanya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. dan hak pengusahaan hutan (HPH) untuk bidang kehutanan dan izin-izin lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. hak kuasa pertambangan (KP) bagi usaha atau kegiatan di bidang pertambangan. Ayat (4) Penapisan usaha atau kegiatan yang telah ditetapkan oleh Menteri atau sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). 11 2 Cermin Dunia Kedokteran. Ayat (2) Penetapan adanya keadaan darurat harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan saran-saran yang dimaksudkan tersebut adalah berupa masukan secara tertulis dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.

dimaksudkan untuk memperoleh keseragaman di dalam penyusunan analisis dampak lingkungan. Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini tetap perlu memperhatikan hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18. Pasal 11 Ayat (1) Dalam kegiatan tertentu dampak negatif masih dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. dan rencana pemantauan lingkungan. maka berlaku ketentuan seperti tersebut dalam ayat (3). Ayat (2) Apabila pernyataan keberatan atas keputusan penolakan diajukan melewati jangka waktu 14 (empat belas) hari. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan tersebut tidak termasuk hari libur. sehingga rencana usaha atau kegiatan tersebut harus ditolak dengan memberikan alasan penolakannya. Namun terdapat pula kemungkinan bahwa dampak negatif tersebut tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. Ayat (4) Kegiatan setiap sektor berbeda sehingga diperlukan Pedoman Teknis untuk menampung sifat khas usaha atau kegiatan yang bersangkutan. juga dapat menghemat waktu. Apabila tanggapan tertulis belum diberikan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari. Apabila setelah dilakukan perbaikan atau penyempurnaan terhadap studi analisis dampak lingkungan. Pasal 9 Ayat (1) Hal ini dimaksudkan untuk menghemat waktu dan biaya di dalam penilaian dokumen analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan diajukan secara bersamaan disamping membantu penyusun menganalisis dokumen secara terpadu dan menyeluruh sebagai satu kesatuan. Pasal 8 Ayat (1) Perlunya dokumen analisis dampak lingkungan. kemudian diserahkan kepada instansi yang bertanggung jawab dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja ternyata belum mendapat jawabannya. Edisi Khusus No. maka keberatan yang diajukan pemrakarsa tersebut ditolak. rencana pengelolaan lingkungan. Ayat (3) Tanggapan tertulis diberikan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan bilamana kerangka acuan tersebut dinilai masih belum memenuhi Pedoman Teknis yang telah ditetapkan. Cermin Dunia Kedokterun. Ayat (5) Cukup jelas.Kerangka acuan terutama memuat hal-hal yang berdasarkan pelingkupan aspek usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak penting dan parameter lingkungan yang akan terkena dampak penting. rencana pengelolaan lingkungan. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (3) Ketentuan dalam ayat ini. 1994 11 3 . dan biaya penyusunan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. Pasal 10 Ayat (1) Ayat (3) Jangka waktu selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya pengajuan analisis dampak lingkungan. maka KA (Kerangka Acuan) dianggap sah sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkungan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas. maka instansi tersebut memberikan petunjuk tentang penyempurnaannya. rencana pengelolaan lingkungan. Ayat (4) Pedoman Umum penyusunan kerangka acuan digunakan bilamana Pedoman Teknis penyusunan kerangka acuan untuk usaha atau kegiatan di sektor yang bersangkutan belum ditetapkan. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. rencana pengelolaan lingkungan. 90. Pedoman Teknis ditetapkan oleh Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan yang ditolak tersebut. dan rencana pemantauan lingkungan. Ayat (2) Dalam hal instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan berupa penolakan atas analisis dampak lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas.

Pasal 15 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. Ayat (3) Cukup jelas. Edisi Khusus No . Pasal 12 Ayat (1) Bagi rencana usaha atau kegiatan yang memenuhi kriteria analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu/multisektor sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 butir 3 dan penjelasannya. rencana pengelolaan lingkungan. seperti antara lain : – Kawasan Industri sesuai Keputusan Presiden Nomor 53 tahun 1989 tentang Kawasan Industri. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk memperoleh keseragaman dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu/multisektor. Pertimbangan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan diperlukan dalam rangka keterpaduan dengan kebijaksanaan nasional secara menyeluruh maupun kebijaksanaan sektoral dalam pengendalian dampak lingkungan. pejabat yang lebih tinggi dimaksud adalah : a) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan.Ayat (3) Pejabat yang lebih tinggi bagi Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang dimaksud dalam ayat ini adalah Presiden. Ayat (2) Dalam hal ini. – Kawasan Pariwisata sesuai Undang-undang Nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan. Ayat (3) Pihak lain yang dianggap perlu dapat ditunjuk dari ahli atau wakil masyarakat yang akan terkena dampak. Perubahan yang disebabkan oleh peristiwa alam atau tindakan untuk mengatasi keadaan darurat tidak termasuk dalam pengertian ini. artinya terhadap keputusan tersebut tidak dapat lagi diajukan keberatan. sehingga mempermudah atau mempersulit tercapainya tujuan pengelolaan tersebut. Pasal 16 Ayat (1) Perubahan lingkungan yang sangat mendasar adalah perubahan yang mempengaruhi secara positif atau negatif pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 13 Ayat (1) Kawasan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kawasan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. sehingga rona lingkungan yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkungan tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah diberikan tersebut perlu ditinjau kembali. Ayat (4) Keputusan ini merupakan keputusan "akhir". Ayat (3) Cukup jelas. Keadaan ini menimbulkan konsekuensi gugurnya keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan tersebut. Pasal 14 Cukup jelas. dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona Iingkungan. 114 Cermin Dunia Kedokteran. bagi kegiatan penanaman modal asing dan penanaman b) modal dalam negeri. Ayat (2) Cukup jelas. Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal. Ayat (2) Cukup jelas. 1994 . Terjadinya perubahan lingkungan secara mendasar berarti hilangnya rona lingkungan awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan. Ayat (2) Pemrakarsa menyusun ulang dokumen analisis dampak lingkungan. keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan berdasarkan rona lingkungan yang baru. bagi kegiatan sektoral. 90. Ayat (4) Cukup jelas. pemrakarsa melakukan penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu. Untuk kegiatan yang merupakan wewenang Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1.

Ayat (3)

Pengertian berkonsultasi di sini adalah melakukan pembahasan bersama. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas.
Ayat (2)

Pengangkatan para ahli yang dipandang perlu sebagai anggota tetap komisi analisis mengenai dampak ling-kungan pusat adalah untuk memantapkan bobot penilaian dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. Duduknya wakil yang ditunjuk Menteri Dalam Negeri dan wakil yang ditunjuk instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektoral baik di pusat, maupun di daerah. Pengangkatan unsur departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang bersangkutan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan sektor yang berkaitan langsung dengan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Sedangkan kehadiran lembaga swadaya masyarakat diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat usaha atau kegiatan tersebut.
Ayat (3)

Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat menilai dan menetapkan dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan yang dibiayai : a) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sejauh mengenai usaha atau kegiatan instansi yang bersangkutan. b) oleh swasta, yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat. Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat melaksanakan pula tugas yang ditentukan Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan, sejauh berkaitan langsung dengan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf (a) sampai dengan huruf (g). Hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat terhadap dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dijadikan dasar bagi Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang bertanggung jawab dalam proses pengambilan keputusan.
Ayat (4)

Cukup jelas.
Ayat (5)

Cukup jelas. Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota tetap komisi daerah adalah untuk memantapkan bobot keilmuan dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan. Adanya wakil yang ditunjuk dari instansi yang membidangi lingkungan hidup di daerah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Pertanahan Nasional di daerah dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. Pengangkatan unsur instansi pemerintah pembina sektor yang bersangkutan di daerah dimaksudkan untuk menjamin kepentingan sektor yang berkaitan langsung dengan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Sedangkan kehadiran lembaga swadaya masyarakat diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha atau kegiatan tersebut.
Ayat (3)

Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah menilai dan menetapkan dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari rencana usaha dan kegiatan yang dibiayai : a) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; b) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, apabila penyelenggaraan rencana usaha atau kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah; c) oleh swasta, yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah melaksanakan pula tugas lain yang ditentukan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1, yang berkaitan langsung dengan tugas sebagaimana dimaksud dalam huruf (a) sampai dengan huruf (f) ayat ini. Hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah terhadap dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dijadikan dasar oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 dalam proses pengambilan keputusan. Ayat (4) Cukup jelas.
Ayat (5)

Cukup jelas. Pasal 19 Keterpaduan merupakan ciri utama pengelolaan lingkungan hidup, sehingga dalam menilai anbalisis mengenai dampak lingkungan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup serta pengembangan wilayah dan

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

11 5

pembangunan daerah perlu terkait dengan serasi Pasal 20 Pelaksanaan pendidikan, latihan dan penelitian dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan dapat pula dilakukan oleh usaha swasta atas prakarsa warga masyarakat dengan mengacu pada kurikulum yang ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Pengumuman rencana usaha atau kegiatan yang antara lin dapat melalui media massa dan/atau papan pengumuman pada instansi yang bertanggung jawab dimaksudkan agar masyarakat dapat mengajukan saran dan pemikirannya. Pengajuan saran dan pemikiran tersebut kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dan komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah merupakan peran serta setiap orang dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 6 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ayat (2) Yang dimaksud dengan terbuka untuk umum adalah bahwa setiap orang dapat memperoleh keterangan dan/atau salinan analisis dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan, dan rencana pemantauan lingkungan serta keputusan mengenai ketiga hal itu. Dokumen-dokumen tersebut tersedia pada instansi yang bertanggung jawab. Ayat (3) Masyarakat yang berkepentingan selalu perlu didorong dan diberikan kesempatan untuk memberikan masukan mengenai rencana usaha aau kegiatan tersebut kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bersangkutan agar keputusan komisi tersebut sedapat mungkin menampung aspirasi masyarakat yang berkepentingan tersebut, sebelum dokumen analisis dampak lingkungan disetujui. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Ketentuan ini dimaksudkan pula untuk memberikan pelayanan dan kemudahan informasi mengenai pengelolaan lingkungan yang berkaitan dengan pembangunan. Di samping itu dapat pula dimanfaatkan untuk mengembangkan jaringan informasi pusat dan daerah. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Maksud dikirimkannya hasil pengujian kepada Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan adalah agar dapat dipergunakan dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan. Hasil pengujian tersebut disertai saran tindakan yang perlu dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. Ayat (3) Tindakan tersebut sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dapat di antaranya berupa penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh perbedaan kepentingan antar sektor di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Ayat (1) Biaya yang dimaksudkan dalam pasal ni merupakan bagian dari biaya studi kelayakan. Ayat (2) Hasil rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan menetapkan perlunya pemrakarsa menyaediakan biaya untuk melalukan upaya-upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat mengikat, khususnya pada kegiatan di dalambatas wilayah proyeknya, sedangkan untuk biaya pemantauan di luar batas proyek \merupakan tanggung jawab pemerintah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 28 Pemerintah mempunyai wewenang untuk melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh pemrakarsa. Untuk melakukan aktifitas tersebut pemerintah menyediakan anggaran biaya melalui anggaran biaya instansinya. Pasal 29 Cukup jelas.

Pelayanan Penderita Lanjut Usia
Persiapan Rumah Sakit dalam Mengantisipasi Kasus Lanjut Usia
Dr. B. Ahmad Sanosal Tambunan Direktur Rumah Sakit Islam, Jakarta

PENDAHULUAN Mulai bulan April 1994 nanti kita memasuki tahun pertama rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). Tantangan pembangunan tahap ini berada dari tantangan yang dihadapi pada pembangunan jangka panjang tahap I. Perbedaan ini terasa pula dalam pembangunan di bidang kesehatan. Berkat kemjuan yang dicapai dalam pembangunan jangka panjang pertama, tampak adanya penurunan angka kematian kasar, kematian bayi dan balita serta ada peningkatan umur harapan hidup. Angka gangguan gizi menurun pula dengan sangat bermakna. Kemajuan tersebut menimbulkan perubahan struktur penduduk dan pola penyakit. Jumlah mausia mengantisipasi besarnya masalah penyakit-penyakit yang kebanyakan diderita oleh oleh kelompok berusia lanjut ini, marilah kita kaji kecendrungan perkembangan jumlah kelompok usia lanjut di Indonesia M. Alwi Dahlan mengemukakan bahwa: 1) Seseorang disebut sebagai usia lanjut bila telah berumur 60 tahun atau lebih. Bila didasarkan usia pensiun maka usia lanjut adalah 65 tahun ke atas. 2) Sensus penduduk menunjukkan peningkatan jumlah penduduk sebagai berikut: a. Usia 65 tahun : tahun 1971 sebesar 2,98 juta (2,5%) meningkat menjadi 6,96 juta (3,88%) pada tahun 1990. Menurut perkiraan Bank Dunia keompok ini akan menjadi 4,33% pada tahun 1995; 4,775 pada tahun 2000 dan 5,57% pada tahun 2010 serta 7,08% dalam tahun 2020. b. Untuk usia 55 tahun ke atas, terjadi kenaikan dari 8,9% atau 16,1 juta pada tahun 1990 menjadi 10,7% atau 18,67 juta pada tahun 2000. c. Kelompok usia 60+ mengalami kenaikan dari 6,9% (7,38 % juta) menjadi 7,4% atau 15,4 juta orang. 3) Dalam profil kualitatif, dikemukakan bahwa kemajuan kesehatan yang menyebabkan penurunan angka

kesakitan, peningkatan kebugaran, bertambah panjangnya umur, perubahan gaya hidup, serta pengembangan compression morbidity mempunyai potensi meningkatkan produktivitas kelompok lanjut usia. Dari apa yang dikemukakan di atas, bidang pembangunan kesehatan mempunyai peluang untuk menjadikan kelompok usia lanjut ini hidup produktif dan menjadi manusia berkualitas sebagai sumberdaya yang penting bagi pembangunan lebih lanjut, terutama didukung oleh makin tingginya jumlah mereka yang mempunyai pendidikan yang baik. Penelitian yang talh dilakukan tehadap kesehatan sekelompok usia lanjut, menunjukkan bahwa beberapa penyakit seperti kanker, diabetes melitus, CVD, penyakit jantung koroner, oeteoporosis, banyak diderita oleh kelompok ini. Penyakit-penyakit ini umumnya tidak dapat hanya ditangani oleh pelayanan kesehatan dasra seperti yang dilakukan di Puskesmas/Balkesmas, tetapi memerlukan penanganan spesialistis dan perawatapn inap yang terdapat di rumah sakit. Oleh karena itu, peran rumah sakit untuk saat ini dan masa mendatang makin penting. Orientasi pelayanan rumahs aikt tidak hanya pada pelayanan kuratif saja, tetapi lebih luas daripada itu, mulai dari pelayanan promotif, kuratif sampai pada rehabilitatif yang dilakukan secara terprogram dan terpadu. Untuk dapat melaksanakan pendekatan ini, rumah sakit harus melakukan koordinasi dengan bersbagai organisasi/instansi lainnya. Hal in didasarkan pada pemikiran bahwa beberapa penyakit yang diderita kelompok lanjut usia ini pada hakikatnya dapat dicegah atau sekurang-kurangnya dapat dicegah timbulnya gangguan yang lebih cbesar tehadap kesehatan kelompok lansia; contoh penyakit diabetes melitus yang dipengaruhi oleh gaya hidup, demikian pula hipertensi. Hal-hal ini dapat dicegah sejak usia muda. Dengan mengkaji hal-hal yang telah dikemukakan terdahulu, sudah sepantasnya kalau rumah sakit mempersiapkan diri untuk menerima kelompok lanjut usia afar dapat dilayani sebagaimana mestinya. KECENDRUNGAN KESEHATAN DI MASA YANG AKAN DATANG DAN PERAN RUMAH SAKIT

dalam mempersiapkan pelayanan kepada kelompok lanjut usia rumah sakit bukanlah merupakan salah satu nya institusi yang dibutuhkan. Rumah sakit akan makin mampu dalam mendeteksi penyakit dan penyebabnya maupun perjalanan penyakit. upaya ini berupa penyuluhan dan praktek pencegahan terjadinya gangguan kesehatan a. yang semula menunjukkan jumlah besar di kelompok usia bawah lima tahun. Upaya preventif khusus a. saat-saat akan meninggal menerima bimbingan rohani sehingga menghadapi maut secara tenang dan iman sesuai kepercayaan agama masing-masing. kandungan gizi seimbang dalam menu sehari. Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang mampu melaksanakan fungsi tersebut. a. jumlah kelompok usia lanjut makin besar. Gaya hidup yang kurang aktifitas fisik. dan lain-lain. hobby yang baik. Penyakit yang diderita kelompok usia lanjut pada hakikatnya beragam jenisnya. terapeutik. Kelompok sosial masyarakt juga berubah. dan kuantitas makanan). Gaya hidup juga berubah dan makin meningkatnya kesejahteraan dan majunya teknologi. . Dalam wawasan in. pelaksanaan imunisasi dan upaya spesifik lainnya seperti olahraga khusus bagi manula untuk mencegah atau mengurangi intensitas osteoporosis. Upaya yang bersifat promotif. berubah pula tata kehidupan keluarga. makin banyak masalah kesehatan/kedokteran yang dapat diatasi. Sikap dan perilaku hidup menimbulkan ketenangan lahir dan perilaku hidup yang menimbulkan ketenangan lahir dan batin. banyak suami dan istri bekerja dan anak-anak yang ditinggalkan di rumah bersama pengasuh atau diditpkan ke tempat penitipan anak.Kurun waktu pembangunan jangka panjang tahap kedua mempunyai ciri yang berbeda dari PJPT I. paling tidak hanya ia dapat melakukan tugas pemeliharaan dirinya sendiri sehingga tidak terlalu tergantung pada orang lain. selain itu diakui pula hubungan manusia itu dengan khaliknya dan hubungan manusia denganlingkungannya. preventif dan kuratif serta rehabilitatif perlu dilakukan melalui berbagai saluran pelayanan. juga memiliki aspek mental/spiritual dans osial. tekanan darah tinggi dan lain-lainnya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. iman. Upaya kuratif dan rehabilitatif meliputi kegiatan diagnostik. dan rehabilitasi. Hal ini dimungkinkan karena tersedianya sarana teknologi canggih. Bila penderita tidak dapat sembuh total. Dengan gambran tersebut di atas. pola makan yang makin menggemari fast food yang menyebabkan kurangnya intake gizi seimbang membantu timbulnya penyakit-penyakit jantung koroner.l. Sasaran tersebut hanyalah dapat dicapai bila rumah sakit telah mempersiapkan diri untuk melakukan pelayanan paripurna yang didasari pada wawasan pendekatan manusia seutuhnya yaitu bahwa setiap manusia selain terdiri dari aspek jasmani. Sedangkan untuk mereka yang meninggal. Hal-hal tersebut berpengaruh pada pola penyakit. sangat jelas peranan rumah sakit dalam mengentisipasi perubahan pola penyakit di masa mendatang. demikian pula dengan upaya penyembuhan dan rehabilitasi yang diperlukan. Susunan keluarga yang berupa extended family menjdai nuclear family.l. Struktur penduduk berubah. Penggunaan alat-alat canggih di satu pihak dan lahirnya spesialisasi/subspesialissasi kedokteran membantu fungsi tersebut.l. khususnya teknologi komunikasi. pada kurun waktu ini menjadi terbalik. Oleh karena itu peningkatan mutu pelayanan rumah sakit dalam sistem rujukan medik makin penting makna keberadaannya dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. diakui adanya sosok manusia itu sendiri. Dengan beralihnya kehidupan agraris ke kehidupan industrial. Untuk diagnostik dan terapeutik dilaksanakan oleh rumah sakit sedangkan rehabilitasi dilaksanakan di rumah sakit dan di luar rumah sakit. pada kurun waktu PJPT III akan makin menonjol penyakit non infeksi dan penyakit degeneratif.. Dan ini akan menimbulkan masalah bagi kehidupan kelompok usia lanjut ataupun kelompok anak dan remaja. Pola hidup ketiga generasi mulai ditinggalkna. penyakit-penyakit semula yang akan muncul penyakit-penyakit yang umumnya diderita oleh kelompok usia lanjut. Mengkaji keadaan yang akan datang sebagaimana telah disebutkan di atas. membaiknya status gizi juga ditunjukkan oleh meningkatnya angka harapan hidup. Oleh karena itu persiapan rumah sakit dalam penanganan kasus lanjut usia perlu diarahkan untuk dapat menampung kebutuhan itu. Sebagaimana telah disebutkan pada babpendahuluan. kebiasaan makan atau pola makan yang baik (ditinjau dari segi waktu. Upaya promotif dilakukan sejak dini yakni sejak manusia berusia muda. Hasil penelitian terhadap kelompok lansia Meningkatnya status kesehatan masyarakat selain ditunjukkan oleh menurunnya angka kematian dan kesakitan. olahraga kesehatan. takwa dan ikhlas. gaya hidup sehat yang menyangkut pembagian waktu kerja/kegiatan fisik dan istirahat yang seimbang. gangguan jiwa akan akan semakin menonjol pula. Berubahnya pola penyakit pada kurun waktu yang akan datang menyebabkan meningkatnya kebutuhan pelayanan rumah sakit. PERSIAPAN RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI TANTANGAN PELAYANAN KASUS LANJUT USIA Tujuan persiapan rumah sakit dalam mneghadapi tantangan pelayanan bagi kasus lanjut usia adalah kesembuhan penderita lanjut usia dari penyakit yang dideritanya dan menjaga serta meningkatkan produktifitas kehidupannya.

perubahan reaksi terhadap obat. Kerentaan sosial meningkat baik fisik maupun mentalnya. PENYAKIT PADA KELOMPOK LANJUT USIA Walaupun hasil SKRT terbaru 1990 belum ada tetapi menurut hasil SKRT 1980 dan SKRT 1986 menunjukkan angka kesakitan untuk masing-masing penyakit sebesar 11.650.49 1967 1976 1986 1990 Tabel 2.73 52. Edisi Khusus No.4% pada tahun 1989 dan 11. angka kesakitan untuk semua umur menurut SKRT 1980 adalah 25.8% pada tahun 1980 dan 9. Jumlah kelompok lanjut usia yang akan makin meningkat. menurunnya reaksi termal.2% tahun 1971 menjadi 98.17 53.4% pada tahun 1971 menjadi 7.1% pada tahun 1970 menjadi 14. Saat ini diperkirakan pada sekitar 16. Bila belum ada.3%. Infeksi saluran nafas akut Penyakit yang biasanya diderita oleh kelompok lanjut usia adalah a. struktur umur penduduk Indonesia masih tergolong "muda" artinya proporsi penduduk yang berumur di bawah 15 tahun masih tinggi walaupun secara berangsur mulai menurun. proporsi penduduk usia lanjut (> 55 tahun) semakin bertambah yaitu 6. Bronkhitis 10.5 tahun 65 tahun 61. Pertama. confusion (apathy leading characteristics).7% pada tahun 1990. padahal gejala-gejala ini merupakan gejala penting dari adanya kelainan kesehatan tertentu. Data di atas menunjukkan bahwa pendekatan paripurna yang meliputi kegiatan promotif.54 63. karena akan membantu pengenalan penyakit dan sebab-sebabnya serta penatalaksanaannya secara tepat dan cepat. sedangkan proporsi anak di bawah lima tahun terlihat menurun yaitu 16.97% pada tahun 1971 menjadi 40.2% pada tahun 1990. Gerontologi sebagai disiplin ilmu kedokteran yang mengkaji masalah lansia telah berkembang. TBC 12. serta penyakit endokrin. Ketiga. 90. yaitu 43. Peningkatan angka harapan hidup terjadi pada kedua jenis kelamin. Perbandingan usia harapan hidup dengan negara lain Negara Jepang Singapura Malaysia Philipina Thailand Indonesia Usia harapan hidup 78.l. Persiapan ini perlu dilakukan dalam bidang-bidang berikut : 1) Sumber Daya Manusia Pengembangan sumber daya manusia yang terpenting adalah : a) Tersedianya dokter yang menguasai pengetahuan dan cara penatalaksanaan kasus manusia lanjut usia. pe- . 1980 dan tahun 1990.5% pada tahun 1990.5 tahun 63.64 58.28 Laki-laki dan perempuan (tahun) 45.21/tahun 1976.7% sedangkan pada SKRT 1986 angka kesakitan pada semua umur turun menjadi 15. penyakit kardioserebrovaskular.73 pada tahun 1967 menjadi berturut-turut 52. Maka alangkah baiknya bila rumah sakit dapat memiliki tenaga dokter yang telah mendalami cabang ilmu ini. PERSIAPAN RS UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN PELAYANAN KELOMPOK LANJUT USIA Rincian penduduk Indonesia menurut golongan umur (dalam %) dan jenis kelamin tergambar dalam piramida pendudukan hasil sensus tahun 1971. Oleh karena itu perlu diwaspadai gejalagejala nonspesifik ini agar tidak terjadi kesalahan diagnosis.49/tahun 1990. Gambaran statistik penyakit yang diderita kelompok lanjut usia di rumah sakit adalah sbb : — 40% penyakit kardio serebrovaskular — 25% kanker — 15% non spesifik — 5% trauma — 15% lain-lain. Lima penyakit terbanyak yang diderita adalah( 3 ) : 15.5 tahun nyakit saraf.69 61.59 Perempuan (tahun) 47.21 59. Banyaknya wanita yang berusia lanjut pada dekade tahun 1990 akan membawa dampak terhadap pola pelayanan kesehatan di masa-masa yang akan datang. perbandingan laki-laki dan perempuan meningkat dari 97.06 59.80 61. walaupun pada wanita ternyata lebih tinggi dari pada laki-laki. preventif.49% pada tahun 1980 dan 1990.1%. Kedua. Tahun Laki-laki (tahun) 42. menjadi pendorong bagi rumah sakit untuk memnersiapkan diri.5% 2.20 50. 59. : penyakit degeneratif kronik. Penyakit pembuluh darah 14.8% pada tahun 1980 dan 99. penyakit saluran urogenital. serta data penelitian yang menyajikan fakta tentang kelompok lanjut usia.1% 4. 1994 119 Keterangan : Sumber Profil Kesehatan Indonesia 1992.5% dan 8. Cennin Dunia Kedokterun. penyakit sendi. menunjukkan ciri-ciri yang menarik.000 penduduk usia > 55 tahun. serta inkontinesia urine.6% 1.5 tahun 69.2% 5.8% 3. Estimasi angka harapan hidup menunjukkan adanya peningkatan dari 45. kuratif dan rehabilitatif sangat perlu diterapkan secara terpadu dan berkesinambungan.80/tahun 1986 dan 61. maka para dokter khususnya yang mempunyai peluang menangani kasus-kasus lanjut usia perlu memahami data/karakteristik kelompok ini sehingga mempunyai kewaspadaan yang tinggi dalam menegakkan diagnosis dan dalam melakukan pantauan terhadap efektivitas pengobatan. Tampak pula gejala non spesifik seperti menurunnya indera rasa sakit. Estimasi angka harapan hidup di Indonesia tahun 1967-1990.Tabel 1.9% dan 36.3 tahun 73. kehilangan nafsu makan. Penelitian terhadap kelompok lanjut usia menunjukkan bahwa pada usia lanjut terjadi secara umum penurunan vitalitas dan kemandiriannya. Gangguan muskuloskeletal 13. sasaran pelayanan bagi kelompok lanjut usia oleh rumah sakit.

Oleh karena itu. Edisi Khusus No. minum.7% berarti pada tahun 1990 ada sekitar 16. pembina rohani dan ahli jiwa (psikolog/psikiater). khususnya dalam membantu dirinya melakukan pekerjaan hidup sehari-hari (makan. namun di lain pihak terjadi penurunan nafsu makan. 64 tahun meningkat menjadi 59. Pusat Data Kesehatan Jakarta. 1992. Keadaan ini masih sulit dikembangkan saat ini. 2. Pusat Penelitian Kesehatan LPUI. Marilah kita wujudkan motto WHO : Add life to years bukan Add years to life. Orang tua di satu pihak memerlukan intake gizi yang tinggi. 6. Di negara-negara maju. Tentunya hal ini sangat ideal. Lembaga Demografi FEUI. perlu dipikirkan cara lain yakni mempersiapkan SDM untuk lebih siap menerima kelompok lanjut usia sebagaimana adanya. New Horizons in Aging Science. Japan.Dutch Foundation. 1992. c) Tersedianya tenaga lain yang terkait yang juga memahami hal-hal yang bersangkutan tentang kelompok lanjut usia. 3) Prasarana/sarana non medis Telah dikemukan bahwa kelompok lanjut usia mengalami kemunduran dalam tingkat kemandiriannya. Karena hidup yang bermakna akan mendatangkan keutungan pada diri sendiri dan masyarakat lingkungan.. Peringatan Hari Lanjut Usia lntemasional. bahkan rumah sakit khusus dan perkampungan khusus. Wanita pada tahun 1976. 69 tahun menjadi 63. Namun demikian hendaknya pemanfaatan alat-alat canggih ini berdasarkan indikasi medis yang kuat sehingga tidak membebani ekonomi pasien/keluarganya.b) Tersedianya tenaga paramedis yang memahami karakteristik kelompok lanjut usia sehingga mempunyai kewaspadaan yang tinggi akan gejala yang menyimpang akibat perubahan fisio-bio-fisiologik serta mental/spiritual dan sosial penderita lanjut usia. Pola penyakit juga bergeser dari infeksi saluran nafas menjadi penyakit-penyakit pembuluh darah (kardio. mungkin karena adanya handikap fisik. pelayanan kelompok lanjut usia dilakukan dalam ruangan khusus. laki-laki 50. Pada tahun 1976. Sebagai contoh : tenaga gizi. Jakarta 15 Oktober 1993. Pelaksanaan tugas secara terpadu antara berbagai jenis tenaga tersebut di atas akan membantu kelancaran. FKUI . 5. perlu ada penyesuaian sarana fisik untuk membantu agar mereka tidak sangat tergantung pada orang lain. BKKKS DKI Jakarta. 4) KESIMPULAN Telah dicoba menyusun pemikiran tentang Pelayanan Penderita Lanjut Usia : persiapan rumah sakit dalam mengantisipasi kasus lanjut usia.serebrovaskular).000 penduduk berusia > 55 tahun. efektivitas dan efisiensi pelayanan bagi kelompok lanjut usia. Proc. Berilah makna hidup selalu sekalipun pada usia yang telah lanjut. agar dapat dilakukan tindakan yang diperlukan secara cepat dan tepat pula sangat diperlukan. Tantangan pelayanan bagi kelompok lanjut usia telah dihadapai dan merupakan fakta. 90. Pelayanan yang sabar namun profesional diperlukan oleh kelompok lanjut usia. KEPUSTAKAAN 1. kepentingan pembangunan bangsa dan negara kita. 3.2% pada tahun 1990 menjadi 11. Menjalin hubungan dengan instansi/organisasi lain Tujuannya adalah untuk menciptakan suasana yang sesuai bagi kelompok lanjut usia. 4. 120 Cermin Dunia Kedokteran.59 pada tahun 1990. 53. 13 Oktober 1992. baik berupa rujukan keahlian maupun dalam menghimpun dana untuk membantu proses penyembuhan dan rehabilitasi penderita. 2) Penyediaan sarana diagnostik dan terapeutik Sarana diagnostik yang dapat mendeteksi kelainan secara tepat dan cepat. oleh karena itu. Maka marilah kita bersamasama menyambutnya dengan rencana dan langkah nyata untuk Indoesia. sosial dan spiritual pada lanjut usia perlu tersedianya tenaga yang dapat melayani aspek ini seperti tenaga pekerja sosial. Japan Aging Research Center. Tokyo 102. Dalam kaitan ini penerapan alat canggih untuk diagnostik dan terapeutik kiranya diperlukan. ke belakang.650. Jakarta 9-11 November 1992. dan gangguan muskuloskeletal sehingga pengelola rumah sakit dan sarana kesehatan lain harus tanggal terhadap estimasi untuk golongan usia lanjut ini. Peningkatan Kualitas Hidup Lansia. Hal ini berdasarkan fakta bahwa dengan meningkatnya status kesehatan dalam satu dasawarsa terakhir maka umur harapan hidup meningkat dengan tajam.28 tahun pada tahun 1990. maka pemantauan apakah makanan yang dihidangkan dimakan habis oleh penderita menjadi sangat penting artinya.I. 1994 . Jaringan Epidemiologi Nasional. Adanya fasilitas tersebut di atas. Fourth Asia/Ocenia Regional Congress of Gerontology. Naskah Iengkap Kursus Geriatri. dan lain-lainnya). Japan. Profil Kesehatan Indonesia 1992. diarahkan untuk memberi lingkungan kehidupan yang nyaman dan sesuai bagi kelompok lanjut usia. agar pelayanan yang disediakan sesuai dengan yang diharapkan. Upaya ini juga sangat bermanfaat bagi pemantauan keadaan penderita pasca perawatan. Jumlah penduduk yang berusia > 55 tahun pada tahun 1980 hanya 9. Aspek mental. Departemen Kesehatan R. Makalah-makalah yang disajikan pada Simposium Tantangan dan Peluang Usia Lanjut Tahun 2000.

.2.3. Penampilan/Hospitality 4) Manajemen : 4. Scan. Mushola 3.1.2 Karyawan : 3. 3.1. Tarif terjangkau Penekanan pada pencegahan 5. 5) 6) 7) 8) Efisien Sistem : Terbuka Adil Lugas Disepakati Orientasi misi Struktur : Adanyalembaga/eselon khusus yangdibinaterus-menerus masalah kelslaman 4.4.1. Dalam usianya yang ke-22 bulan Juli yang lalu RS Islam Jakarta saat ini telah mempunyai 495 TT dengan BOR rata-rata 75%. NILAI-NILAI ISLAM SEBUAH RUMAH SAKIT 1) Niat atau misi waktu mendirikan 2) Pemilikan aset 3) Penampilan : 3. Kelas 114. lain .3. 4. 3. dan motto ini menjadi motto utama pada semua RS Islam yang dimiliki oleh yayasanlorganisasi Muhammadiyah.2. Dari jumlah tersebut Poliklinik Penyakit Dalam mendapat kunjungan yang tertinggi. Amanah 4. Motto ini terpampang di depan bagian pendaftaran Rumah Sakit Islam Jakarta. Kemudahan pasien beribadah 3.3.4.4. Tidak boros/hemat 4.2.2. Kelas II 32. RS Islam Jakarta didirikan pada 23 Juni 1971.3. Motto/hiasan dinding 3.1. 8.1. 4. Pemeliharaan 4. berarti ada atensi khusus kepada golongan Lansia. ESWL dan sebagainya.5.6%. Kelas III 48.5. Kelas Utama 3. Modal : 4.3.5.2. Penjabaran tekhnis dalam praktek 8. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar. 2) Mengacu kepada ayat Allah pada Qur'an surat Ali Imron ayat 159 :"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.2. Infeksi lain.W. maka bertaqwalah kepada Allah. Infeksi saluran napas. Pasien-pasien baik pasien lansia dan pasien yang lain dilayani di 17 poliklinik yang disediakan yang dilengkapi dengan alat-alat canggih antara lain CT. 4. 4.4.1. RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA 1) Surat Al Isra 23 (17:23) :"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya . Azas keterbukaan 4. USG.2. Sistem kamar kecil 3.2. sayang sekali tidak terdapat data umur yang berobat di masing-masing poliklinik. 4.1 Mengutamankan cakupan Mengupayakan program kesehatan masyarakat 6.5. Infeksi saluran pencernaan. Penyakit yang terbanyak yang diderita dari bagian rawat jalan adalah : 1.1. 4. RAWAT INAP DI RS ISLAM JAKARTA Bagi pasien-pasien yang perlu mendapat perawatan di RS lslam Jakarta maka akan dilakukan asuhan keperawatan bagi pasien-pasien sebagaimana di rumah sakit lain. 4.1. Misi dari Rumah Sakit ini adalah memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan Islami serta berpihak pada kaum dhu'afa.4. Akhlak 3.1.5.1. Berfungsi sosial : 61. Lembaga khusus Studi Islam 4.1. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad.Suplemen : Usaha-usaha yang Dapat Dilakukan dalam Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang lslami Bagi Penderita Lanjut Usia di Rumah Sakit lslam Jakarta PENDAHULUAN Q.4.Sejak tahun 1989 RS Islam berdasarkan Surat Keputusan Gubernur dan Surat Keputusan dari direktur RS swasta dan khusus telah dinyatakan sebagai RS Swasta Tipe Utama. sopan dan berdedikasi tinggi dalam melayani pasien.2.3. jumlah pasien rawat jalan rata-rata 310 pasien/hari yang berobat ke 17 poliklinik. sebagai ujud nyata dari program sosial pemerintah di bidang Rumah Sakit maka penyediaan TT di RS Islam sebagai berikut : Kelas VIP 1.3.3.1.4. Kepegawaian : 4. Mengemban fungsi dawah Keilmuan/profesionalitas sebagai ciri Islam : Pengembangan tekhnis/spesialisasi 8. 4. Commotio Cerebri..3%.2.3. tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.3. Musyawarah 4. Kostum 3.2.4.1. Kejelasan hak dan kewajiban 4. 90.3. S: As-Syuara ayat 80 :"Dan bila aku sakit D1A (ALLAH) lah yang akan menyembuhkanku ". Mempraktekkan hukum syara dalam perawatan.2. Sedangkan dari bagian rawat inap adalah Oktober 1991-1992 : 1. 4.4. Mohonkanlah ampun bagi mereka dalam urusan itu. 4.3.T. Typhoid fever. Amanah 4. karena itu maafkanlah mereka.2. Petugas rohani akan memberi tuntunan rohani lslam bagi pasien-pasien yang menjelang operasi dan Cermin Dunia Kedokteran. 2. Febris. 1994 12 1 .2.1. merupakan amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan. Auditability dan accountability 4.1. Kebijakan/hikmah 4. Diabetes Mellitus. serta menjadikan rumah sakit sebagai sarana ibadah kepada Allah S. lnfeksi saluran napas. Edisi Khusus No.4. 5. Memberi kemungkinan pengemban lahan seperti diisyaratkan oleh studi Islam Berpihak kepada kaun Dhu afa : 5.2. Namun hingga saat ini RS Islam Jakarta belum mempunyai klinik khusus untuk pasien usia lanjut.1.1.4. an pria/wanita Memadukan syara dengan tata laksana teknis. Dalam melakukan pelayanan kepada pasien semua jajaran petugas RS Islam Jakarta diwajibkan untuk berlaku lemah lembut.4%. Infeksi 2.2. khususnya hubung8. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".4%.3. Keuangan : 4. yang membedakan adalah sclain perawatanjasmani/fisik medis juga perawatan rohani dan perawatan dari petugas sosial. Kepemimpinan 4.3%.2.2.

adzan serta pada waktu ada siaran sentral. dirawat sampai pulang baik dalam keadaan sembuh maupun dalam keadaan meninggal. Rumah Sakit Islam Jakarta atau Rumah Sakit lslam lain haruslah mempunyai suatu ciri khas untuk menangani pasien-pasien dengan kondisi tersebut di atas dengan cara pasien khusnul khotimah. Tujuan : Umum : Mengupayakan agar pasien meninggal secara "khusnul khotimah". Di dalam ajaran Islam sebelum ajal datang dianjurkan untuk membuat wasiat. perawatan rohani. dan cukup ruang untuk sholat. Edisi Khusus No. Dan bagi pasien-pasien yang dalam keadaan sakaratul maut akan dilakukan pelayanan khusus tersendiri yaitu pelayanan khusnul khatimah. yang kriterianya akan ditentukan bersama dengan team medis. 90. Letak ruangan di tempat yang tidak terlalu bising. bagaimana menghadapi pasien yang sedang dalam sakaratul maut. Khusus : Memberi perawatan terpadu secara Islami terhadap pasien-pasien dalam stadium terminal dan pasien-pasien tanpa harapan (hopless). dan membawa pasien pada ajaran agama antara lain untuk menuliskan wasiat. dan janganlah kamu sekali-kali mati. asuhan keperawatan sama seperti pasien lain. nyaman dan tidak terkesan angker. 122 Cermin Dunia Kedokteran. Setiap kamar untuk satu pasien. Pasien dipilih dari pasien dengan kriteria : – Pasien kanker dalam stadium terminal – Pasien dengan penyakit lain tanpa harapan. Kepada keluarganya lebih dahulu harus disadarkan akan kondisi si sakit. bahwa akhir hidupnya segera tiba. misalnya mempercayai bahwa penyakitnya merupakan "kiriman dari orang yang membencinya". Biroh harus berfungsi secara aktif mendukung perawatan dokterpsikiater. maupun bagi keluarganya. Ruang dilengkapi dengan sound system untuk memperdengarkan bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. kadang-kadang keluarga pasien tidak tahu dan tidak mampu untuk menyampaikan kepada pasien dimaksud. 1994 . misalnya : pasien AIDS. Penatalaksanaan Perawatan : Diperlukan satu ruangan khusus. Juga kondisi kejiwaan keluarganyaharus dipersiapkan untuk menghadapi saat-saat perpisahan yang selama-lamanya dengan keluarga yang dicintainya. Padahal ini merupakan sesuatu yang penting agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan sepeninggal si pasien kelak. Pesan-pesan yang dirawat di RS Islam Jakarta dengan keadaan yang sudah terminal state fidak selalu mengetahui hal tersebut. dan melepaskan kepergian orang (saudara) yang dicintainya dengan cara yang ma'ruf sesuai dengan tuntunan agama. Tidak jarang karena keadaannya itu pasien atau keluarganya menyalahkan petugas medis karena tidak ada kemajuan pengobatan. Dalam keadaan seperti itu mental (rohani) pasien dapat terguncang dan mudah sekali terjerumus dalam hal-hal yang berbau syirik. Pelayanan khas dari rumah sakit Islam adalah di samping pelayanan kesehatan secara medis. atau datang dalam keadaan terminal state.pasien-pasien yang akan melahirkan. Saat penting dalam tahap kehidupan manusia adalah akhir hayatnya. iklhas sehingga padawaktu menghadap Illahi pasien dalam keadaan berserah diri jauh dari rasa su'udhan kepada Allah SWT. Jadi secara lengkap RS lslam Jakarta melakukan sekaligus perawatan medis. mulai dari saat pasien datang ke rumah sakit. Psikiaterlah yang memahami kondisi kejiawaan si pasien pada saat tersebut. Perawatan oleh Ahli Agama/Pembimbing Rohani Bersamaan dengan perawatan oleh psikiater. atau menggelar tikar untuk keluarganya yang ingin membacakan Qur'an. Biroh memberikan tuntunan tata-cara menTalkin. bersih. perawatan sosial. gagal ginjal berat dan lain-lain. Perawatan : Perawatan secara medis : tetap diberikan sesuai dengan instruksi dokter. di mana pengobatan secara medis hanya dimaksudkan sebagai pengobatan simptomatis saja dan untuk memperpanjang umur. Adalah menjadi beban moral bagi petugas di bagian Bimbingan Rohani Pasien untuk memberi bimbingan bagi pasien maupun keluarganya agar pada saat sakaratul maut pasien tetap berada pada kondisi keimanan yang mantap. bertaqwalah kepada Allah dengan sebenaz-benar taqwa. Pasien yang dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta sebagian besar beragama Islam maka sudah sewajarnyalah biroh mempunyai tugas penting. jantung berat. menuntun talkin dan sebagainya. diberi pelayanan/bimbingan rohani kepada pasien pada waktu dirawat.Biroh bertugas memberi tuntunan sesuai dengan petunjuk agama baik bagi pasien. serta memberi tuntunan dalam tata cara pembagian warisan. serta menjauhkan pasien dari perilaku syirik dan su'udhon pada akhir hayatnya. 3 atau 4 kamar yang agak luas. Kondisi kejiwaan yang seperti inilah yang harus kita selamatkan. atau agak jauh dengan ruang perawatan lain. dalam pembinaan pelayanan pasien yang dirawat. Psikiater harus dipilih. PROGRAM PERAWATAN KHUSNUL KHATIMAH (DYING CARE) BAGI PASIEN RAWAT INAP DI RS ISLAM JAKARTA Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat : 102 "Wahai orang-orang yang beriman !. tata cara mengurus dan merawat jenazah serta tata cara mensholat-kan jenazah juga menguburkannya. semua orang Islam mengharapkan bahwa pada akhir hayatnya akan berakhir secara khusnul khotimah. dilengkapi dengan kamar mandi. terpisah dengan ruang perawatan lain. untuk kamar mandi keluarga yang menunggu. Binroh diharapkan berhasil menyadarkan pasien. Sasaran: Pasien-pasien yang dirawat di Rumah Sakit IslamJakartadengan persetujuan keluarganya untukdirawat secara khusnul khotimah. kita luruskan agar aqidah si sakit tidak menyeleweng di saat akhir hayatnya. tenang dan teduh. melainkan dalam beragama Islam (berserah diri)". Pada beberapa kasus pasien datang dengan penyakit yang belum ada obatnya misalnya kanker. Psikiater adalah untuk menjaga kestabilan jiwa pasien sekaligus menenangkan dan memberi pengertian kepada keluarganya untuk berbuat sesuatu yang akan lebih menentramkan si pasien. atau berwasiat dengan baik kepada yang akan ditinggalkan. dan diberi tuntunan secara agama. Rumah Sakit Islam Jakarta yang didirikan pada tahun 1971 mempunyai tujuan antara lain memberi pelayanan kesehatan yang Islami.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful