P. 1
Cdk 090 Kongres Ke Vi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Dan Hospital Expo Ke Viii i

Cdk 090 Kongres Ke Vi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Dan Hospital Expo Ke Viii i

|Views: 66|Likes:
Published by greenakses
perhimpunan rumah sakit seluruh indonesia dan hospital expo ke delapan di Jakarta
perhimpunan rumah sakit seluruh indonesia dan hospital expo ke delapan di Jakarta

More info:

Published by: greenakses on Mar 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2013

pdf

text

original

Kongres Ke VI Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan Hospital Expo Ke VII I
Jakarta Hilton Convention Centre 21 - 25 Nopember 1993
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No . 90, 1994 1

Cermin Dunia Kedokteran
International Standard Serial Number: 0125 - 913X KETUA PENGARAH Prof. Dr Ocn L.H. KETUA PENYUNTING Dr Budi Riyanto W PEMIMPIN USAHA Rohalbani Robi PELAKSANA Sriwidodo WS TATA USAHA Sigit Hardiantoro ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran P.O. Box 3105 Jakarta 10002 Tclp. 4892808 Fax. 4893549, 4891502 NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 PENERBIT Grup PT Kalbc Farma PENCETAK PT Midas Surya Grafindo DR. B. Setiawan Ph.D DR. Ranti Atmodjo PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang mcmbahas bcrbagai aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penclitian di bidangbidang tersebut. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedoktcran; bila telah pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Naskah ditulis dalam bahasa lndonesia atau Inggris; bila menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa lndonesia yang berlaku. lstilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa lndonesia yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia . Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa lndonesia. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa lndonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa lnggris untuk karangan tersebut. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya, Iebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto. Nama (para) pengarang ditulis Iengkap, disertai keterangan Iembaga/fakultas/institut te mpat bekerjanya. Tabel/skema/grafik/i lustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelasjelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direpruduksi , diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Bila terpisah dalam lembar lain, hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Mcdicus dan/atau Uniform Requirements for Manuscripts Submittcd to Biomedical Joumals (Ann Intem Mcd 1979; 90 : 95-9). Contoh : Basmajian JV, Kirby RL. Medical Rehabilitation. lst cd. Baltimore, London: William and Wilkins, 1984. Hal 174-9. Weinstein L., Swartz MN. Pathogenctic properties of invading microorganisms. Dalam: Sodeman WA Jr, Sodeman WA, cds. Pathologic physiology: Mcchanisms of discascs. Philadclphia: WB Saundcrs, 1974 : 457-72. Sri Oemijati . Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64 : 7-10. Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih, se butkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran PO Box 3105 Jakarta 10002 Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu secara tertulis. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplo p beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. REDAKSI KEHORMATAN - Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro Guru Besar Ilmu Kedoktcran Jiwa Fakultas Kedoktcran Univcrsitas Indonesia, Jakarta - Prof. Dr. R.P. Sidabutar Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta - Prof. Dr. Sudarto Pringgoutomo Guru Bcsar IImu Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Prof. DR. Sumarmo Poorwo Soedarmo Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta - Prof.DR.B. Chandra Guru Bcsar Ilmu Pcnyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya Prof. Dr. R. Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Univcrsitas Diponegoro, Scmarang Drg. I. Sadrach Lembaga Penelitian Universitas Trisakti, Jakarta DR. Arini Scuawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

-

-

DEWAN REDAKSI - Drs. Victor S. Ringoringo, SE, MSc. - Dr. P.J. Gunadi Budipranoto

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian e mpat kerja si Penulis.

04/ 1993 72. Sjaaf 47. Strategic Planning and Marketing – James E. Pengembangan Iptek PJPT II – Sudraji Sumapraja 64. Suplemen – Usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang Islami bagi penderita lanjut usia di Rumah Sakit Islam Jakarta Karya Sriwidodo WS . Tinjauan Perkembangan Perumahsakitan dalam PJPT II – Samsi Jacobalis 22. Aspek Ekonomi Pelayanan Kesehatan – Ascobat Gani 41.23/1989 75. Pelayanan Lanjut Usia – persiapan rumah sakit dalam mengantisipasi kasus lanjut usia – H. Kebijaksanaan Pengembangan Rumah Sakit dalam Pembangunan Jangka Panjang tahap II – Brotowasisto 16. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia no. Surat Edaran Direktur Jendral Pajak no. 51 tahun 1993 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan dan Penjelasannya 117. Guwandi 61. Waworoendeng 85. Rumah Sakit dan Asuransi Kesehatan – Suatu perbandingan – Sonja Roesma 97. Edisi Khusus (I) Kongres Ke Vl PERSI dan Hospital Expo Ke Vll Januari 1994 International Standard Serial Number: 0125 . Paparan Kenangan Dr.04/ 1986 70.431/1990 77. Current Issues and Future Trends in Health Care – Errol Pickering 28. The Role of Marketing in Determining the Technology Investment Strategy of a Hospital – John Popper 92. 796/KMK. Ceramah Menteri Sosial Republik Indonesia 50. SE. Hubungan Rumah Sakit dan Pasien dipandang dari Sudut Hukum dan Etika – Emma Suratman 53. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. Ahmad Sanoesi Tambunan 121.Cermin Dunia Kedokteran 90.03/PJ. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia no. Program Cost Containment di Rumah Sakit –Amal C. Etika Rumah Sakit dalam Perspektif UU no. Keputusan Presiden Republik Indonesia no. 23/1992 – Kartono Mohammad 56. Laporan Ketua Panitia 6. H.913X Daftar Isi : 5. 18 tahun 1986 67. Amino Gondohutomo Makalah Sidang Pleno dan Panel Diskusi 7. Beberapa Masalah dalam Hubungan Rumah Sakit dan Pasien–J. 356/KMK. Penyusunan Amdal Rumah Sakit dan Penatalaksanaannya – Komisi Amdal Departemen Kesehatan Republik Indonesia 103. Surat Edaran Direktur Jendral Pajak no. Manfaat Alat Kedokteran Canggih dalam Pengembangan Iptek di Indonesia – Karjadi Wirjoatmodjo 90. Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit – Brotowasisto 34. SE-19/PJ.

Diharapkan para peserta bisa melihat. karena selain mempertahankan hasil yang telah dicapai pada PJPT I.1996. Sidang akan diakhiri dengan pemilihan ketua baru PERSI untuk periode 1993 . Edisi Khusus No. 90. 2) Seperti sama-sama kita ketahui rumah sakit memiliki kekhususan dalam manajemennya dan tidak jarang dihadapkan pada masalah-masalah yang kompleks. padat ilmu dan teknologi serta padat karya. berhasil guna dan berdaya guna. Menteri Lingkungan dan Bapak Dirjen maupun para pakar di bidang perumah sakitan yang bersedia memberikan pada kita ceramahceramah untuk bekal kita memasuki PJPT II dan bagi kita semua. 3) Kongres PERSI selalu diikuti oleh Hospital Expo. berdiskusi dengan perusahaanperusahaan tersebut bisa juga memesan dan membeli secara langsung sehingga peralatan dan teknologi yang dipakai oleh rumah sakit bisa sesuai. pameran peralatan rumah sakit terbesar di Indonesia. Pada acara ilmiah kali ini kita pilihkan para pembicara yang terdiri dari pakar-pakar bertaraf internasional dan nasional. 4) Sebagai akhir dari Kongres akan diadakan Penataran Pasca Kongres di RS Kanker Dharmais dengan topik-topik yang ditawatkan : Cermin Dunia Kedokteran . Saudara-saudara sekalian. karena rumah sakit padat modal. 1994 5 . Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Kesehatan.25 Nopember 1993 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Pertama-tama mari kita panjatkan pujisyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas perkenanNya kita bersama-sama bisa menghadiri Kongres Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia ke VI dan Hospital Expo ke VII di Jakarta Hilton Convention Centre. Peralatan-peralatan tersebut ada yang didatangkan khusus dari pabrik-pabrik di luar negeri maupun perusahaan dalam negeri. bertanya. Terdapat sekitar 70 perusahaan yang akan ikut memamerkan peralatan-peralatan kedokteran canggih maupun peralatan-peralatan lain yang biasa dipakai di rumah sakit. Kami berbahagia sekali bahwa pada kesempatan ini Errol Pickering Sekjen International Hospital Federation bisa hadir dan memberikan ceramah mengenai kecenderungan rumah sakit di dunia. Jelas bahwa PJPT II tidak bertambah ringan. telah banyak yang bisa dicapai selama ini. Menteri Ristek. Sesuai dengan tema Meningkatkan peran RS dalam menyongsong PJPT II perkenankanlah kami melaporkan beberapa hal mengenai penyelenggaraan Kongres dan Hospital Expo sebagai berikut : 1) Sidang organisasi sebagai pertemuan tertinggi organisasi akan dihadiri oleh seluruh cabang PERSI yang ada dari seluruh tanah air (21 cabang). Panitia mengucapkan selamat datang kepada para peserta Kongres dan Hospital Expo dari seluruh tanah air. Menteri Sosial. diperlukan berbagai upaya pengembangan baru yang inovatif untuk mengejar ketinggalan kita dalam pembangunan kesehatan. Saudara-saudara sekalian. Di dalam sidang akan dibahas masalah organisasi sehingga diharapkan organisasi PERSI akan menjadi semakin baik. mantap dan sempurna. Seperti sama-sama kita ketahui Pembangunan Jangka Panjang Tahap I telah kita lampaui dengan baik.Laporan Ketua Panitia Kongres Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia ke VI dan Hospital Expo ke VII di Jakarta Hilton Convention Centre 21 .

Pembahasan dalam penataran ini berkisar pada pemecahan permasalahan yang terjadi di lapangan.A. Amino Gondohutomo. Kiranya pantaslah nama beliau dibadikan dalam bentuk PAPARAN KENANGAN seperti ini. Saya mengenal pribadinya cukup dekat ketika bekerja sama dengan beliau sebagai Sekjen PERSI. SKM. Samsi Jacobalis 6 Cermin Dunia Kedokteran . MBA. H. Diharapkan kongres ke-6 ini nanti dapat menghasilkan keputusan yang menetapkan PAPARAN KENANGAN DR H. baik milik pemerintah maupun swasta. Budiarso. Akhirul kata. 90. AMINO GONDOHUTOMO sebagai tradisi baru dalam kegiatan tahunan kongres-kongres PERSI selanjutnya. 1994 . Ketua Panitia Dr. Edisi Khusus No. Manajemen keperawatan. ketika beliau menjabat sebagai ketua eksekutif. Paparan Kenangan DR H Amino Gondohutomo (Amino Gondohutomo Memorial Lecture) Pengurus Pusat PERSI memutuskan dalam Kongres ke-6 ini diadakan paparan pemikiran untuk mengenang sosok almarhum DR H. Beliau pulalah yang telah membuka jalan sehingga PERSI menjadi anggota Asian Hospital Federation dan International Hospital Federation. Bagi saya pribadi hal ini mempunyai arti khusus. Beliau pulalah yang kemudian bersama-sama dengan tokoh-tokoh lain sangat giat dan dengan penuh dedikasi mengembangkan PERSI menjadi organisasi yang menyatukan semua rumah sakit di Indonesia. Beliau adalah salah seorang tokoh yang telah memprakarsai kelahiran PERSI. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saya merasa mendapat kehormatan besar menjadi pemapar pertama. sekali lagi kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi saudara-saudara sekalian. Almarhum adalah atasan saya dalam dinas di waktu yang lalu.a) b) c) Manajemen keuangan. Semoga arwah beliau mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah yang maha penyayang. Manajemen pemasaran.W.

Upaya kesehatan di rumah sakit mempunyai sifat-sifat atau karakteristik tersendiri. 90. Hal ini tampak dari masih tingginya tingkat kematian bayi yakni sebesar 58/1000 kelahirar hidup pada tahun 1990. dengan perubahan orientasi. perlu digali dan dikembangkan berbagai pola pemikiran serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang baru. tetapi keadaannya masih ketinggalan jika dibanding dengan negara-negara tetangga di ASEAN. dan yang kini telah memasuki tahun terakhir Pelita V. MPH Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Rendahnya anggaran sektor kesehatan serta prioritas untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan di Indonesia mempunyai dampak terhadap anggaran sektor perumahsakitan yang sangat terbatas. yang pelaksanaannya perlu dipersiapkan bersama secara matang. Pelita I lebih menekankan pembangunan sarana kesehatan. Pembangunan Jangka Panjang Pertama yang meliputi jangka waktu 25 tahun telah dilaksanakan sejak 1968 dengan pentahapan lima tahunan.25 November 1993. 21 . memasuki masa Pembangunan Jangka Panjang Kedua. kita juga akan Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. yang sesuai dengan Kesehatan Bagi Semua pada Tahun 2000 yang dicanangkan WHO pada tahun 1978. Mengingat sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam pembangunan kesehatan sangat terbatas. yang dikenal dengan Pelita. Untuk itu.Artikel Kebijaksanaan Pengembangan Rumah Sakit dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II Dr. serta tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dan terjangkau. Jakarta PENDAHULUAN Pembangunan Kesehatan bertujuan agar setiap penduduk mampu hidup sehat sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Broto Wasisto. penyembuhan serta pemulihan secara menyeluruh. pada tahun 1982 telah diberlakukan Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Pada saat itu. terpadu dan berkesinambungan. 5/1000 kelahiran hidup. Karakteristik ini diakibatkan oleh karena rumah sakit merupakan organisasi yang unik dan kompleks. Menjelang Pelita VI. yang merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan Pembangunan Nasional. yang akan mampu mencari terobosan-terobosan baru untuk mengatasi keterbatasan tersebut dan sekaligus mempercepat laju pertumbuhan pembangunan kesehatan. Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan yang semula hanya melaksanakan upaya penyembuhan dan pemulihan. Pelita 11 telah meningkat kepada pembangunan kesehatan. Edisi Khusus No. 1994 7 . yang memberikan kejelasan arah dan tujuan pembangunan kesehatan. SKN telah memuat rencana pembangunan kesehatan sampai akhir Repelita VI. nilai dan pemikiran yang berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial budaya juga melaksanakan upaya peningkatan dan pencegahan secara terpadu. Walaupun derajat kesehatan penduduk telah membaik secara bermakna dalam 25 tahun terakhir. serta dengan peran serta masyarakat yang meliputi upaya-upaya peningkatan. diharapkan bahwa kita akan berada dalam tahap tinggal landas. Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang Pertama merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional. tingkat kematian ibu hamil/bersalin pada tahun 1986 sebesar 4. Kompleksitas atau karakteristik pela- Cermin Dunia Kedokleran. Jakarta . Penyelenggaraan upaya kesehatan yang sangat luas dan rumit ini dirasakan perlu dikelola secara berhasil guna dan berdaya guna. derajat kesehatan. selaras dengan meningkatnya kesejahteraan. Upaya pelayanan kesehatan yang semula hanya berupa upaya penyembuhan telah berkembang menjadi kesatuan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat. pencegahan. sedangkan sejak Pelita III strategi pembangunan kesehatan menjadi lebih jelas dengan diterimanya pendekatan Primary Health Care (PKMD).

Menurunnya angka kelahiran dan angka kematian serta mengecilnya jumlah anggota keluarga menyebabkan struktur umur penduduk Indonesia menjadi lebih tua. Yang cukup menggembirakan adalah bahwa angka pertumbuhan menurun dengan pesat yakni dari 2. air. maka pada tahun 1990 ia telah meningkat menjadi lebih dari 95%. Pengelolaan sampah akan semakin baik tetapi pengotoran kimiawi yang berasal dari insektisida. merokok. Persentase kelompok lanjut usia (>65 tahun) semakin lama semakin tinggi.31% pada dekade 70-an turun menjadi 1. Iingkungan dan upaya kesehatan.32 juta pada tahun 1990. Walaupun tingkat pendidikan menjadi lebih baik. Migrasi penduduk dari Jawa masih akan terjadi terutama menuju pulau-pulau Kalimantan.33 juta pada tahun 1980 dan 179. Dari sekian banyak faktor yang dapat berpengaruh tadi. demografi. Keadaan ini dapat meluas dengan semakin tingginya tingkat urbanisasi yang tak seimbang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat tadi. 147. Krisis energi yang terjadi menyebabkan Indonesia harus . tetapi lebih dari 50% penduduk Indonesia masih tinggal di pulau Jawa yang kepadatannya mungkin akan mencapai 1000 per km 2 . GNP dan pendapatan per kapita terus meningkat. kecanduan obat. Bila pada tahun 1980 hanya 85% anak umur-sekolah (7 – 12 tahun) dapat memasuki sekolah dasar. Pada tahun 2005 diduga jumlah penduduk Indonesia sekitar 223. Pemanfaatan jamban keluarga akan lebih meningkat. Pada tahun 2000. dikhawatirkan bahwa pada sebagian masyarakat akan timbul sikap hidup yang tak menguntungkan seperti misalnya kenakalan remaja. namun demikian di beberapa tempat air minum bersih masih menjadi masalah. sedangkan rata-rata harapan hidup waktu lahir pada tahun 2015 akan lebih dari 70 tahun. Industrialisasi yang akan berkembang cepat pada masa mendatang dapat menyebabkan timbulnya polusi udara. Penduduk akan semakin mampu membeli pelayanan yang tersedia terutama melalui sisti m asuransi. Polusi limbah rumah tangga terhadap air sungai akan tetap terjadi meskipun sudah diambil langkahlangkah program kali bersih. sekitar 40% penduduk Indonesia tinggal di kota-kota dan pada tahun 2015 meningkat sampai lebih dari 50%. Perbaikan ekonomi yang menggembirakan tadi akan memungkinkan bangsa dan negara Indonesia memobilisasi lebih 8 Cermin Dunia Kedokteran . Urbanisasi akan meningkat. Dalam 25 tahun mendatang jumlah penduduk Indonesia masih akan bertambah dengan tingkat pertumbuhan yang semakin menurun. Krisis ekonomi dunia masih dapat terjadi tetapi dampaknya terhadap Indonesia mungkin akan terbatas. Migrasi keluar pulau Jawa masih lebih besar daripada imigrasi. Edisi Khusus No. KECENDERUNGAN DETERMINAN KESEHATAN Determinan kesehatan atau faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap tingkat derajat kesehatan penduduk adalah faktor-faktor sosial. empat faktor pertama mempunyai peran yang lebih penting. Keadaan ekonomi Indonesia dalam 20 tahun terakhir telah semakin membaik. Pada dekade 90-an ini. 1994 banyak dana untuk upaya kesehatan. menjadi 118 juta pada tahun 1971. Meskipun mengalami krisis pada tahun 1982 dan 1987. Keadaan sosial masyarakat Indonesia terutama tingkat pendidikannya akan terus membaik. Namun demikian gerakan koperasi yang timbul dari bawah akan dapat semakin memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat strata menengah ke bawah. pupuk dan bahan lain dapat lebih sering terjadi. Timbulnya konglomerasi akan tetap berlangsung karena keadaan pasar dan kebijaksanaan ekonomi yang memungkinkannya. Pendapatan perkapita penduduk Indonesia akan meningkat menjadi $ 1000 pada akhir Repelita VI dan $ 2500 pada akhir PJPT II. mereka yang berumur lebih dari 16 tahun jumlahnya akan lebih banyak daripada yang berumur kurang dari 15 tahun. permissiveness dan lain sebagainya. Persediaan air minum bersih seinakin tinggi cakupannya dalam 25 tahun mendatang. Harus diakui kantong-kantong kemiskinan masih akan dijumpai terutama di kota-kota dan daerah terpencil. Sebagian besar penduduk yang hidup di kota-kota akan menikmati air minum yang lebih layak. Indonesia akan masuk dalam kelompok negara-negara industri baru (NIC). Lingkungan hidup khusus lingkungan fisik mempunyai arti penting bagi kelangsungan keadaan kesehatan dan kesejahteraan manusia. Diduga bahwa pada tahun 2015 rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Indonesia sudah mencapai SLTA. Kota metropolitan dengan penduduk lebih dari l juta akan semakin banyak dan Jakarta akan menjadi mega metropolitan. Angka kematian yang menurun lebih cepat dari angka kelahiran menyebabkan Indonesia mengalami ledakan penduduk antara tahun-tahun 60 – 80. Hal ini tidak lepas dari tersedianya sumberdaya alam yang melimpah.9% pada dekade 80-an.18 juta dengan angka pertumbuhan yang akan mendekati 0%.yanan rumah sakit perlu diketahui dan dipahami oleh setiap orang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pembinaan dan penyelenggaraan rumah sakit. penduduk yang semakin mampu mengolah dan mengelola sumberdaya alam tadi dan perkembangan teknologi serta kebijaksanaan pembangunan. sedangkan buta huruf di kalangan wanita dewasa dapat dikatakan tidak ada lagi. suara dan thermal. Jumlah penduduk dan struktur demografi sangat erat kaitannya dengan kesehatan karena ia akan mempengaruhi volume pelayanan dan pola pelayanan kesehatan. Sulawesi dan Irian. Dengan demikian beban dan pola pelayanan kesehatan akan sangat berubah. ekonomi. Begitu pula pemerataan pendapatan semakin membaik walaupun dirasakan agak lambat. alkoholisme. Pada hakekatnya determinan kesehatan tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. 90. Akan timbul kantong-kantong kumuh di banyak kota. Kecenderungan membaiknya keadaan ekonomi tadi akan tetap berlangsung dalam 25 tahun mendatang. Tingkat pendidikan yang meningkat ini menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi lebih berpengetahuan dan lebih pandai memilih alternatif yang baik bagi dirinya serta lebih mudah menyerap informasi. Dalam 30 tahun terakhir jumlah penduduk Indonesia meningkat sangat cepat yakni dari 97 juta pada tahun 1961. Pulau Jawa dapat mengalami kesulitan air minum bila pengelolaan sumber-sumber yang ada tidak cermat.

Tinggi rendahnya status kesehatan penduduk merupakan hasil pengaruh multifaktorial dari determinan kesehatan dan faktor-faktor tersebut dapat berubah atau berkembang. kecamatan dan desa-desa. Keadaan ini dapat mempercepat tumbuhnya asuransi kesehatan. dan lain-lain) akan lebih banyak diisi oleh tenaga fungsional yang profesional sedangkan tenaga pendukung akan minimal jumlahnya. Rumah sakit pemerintah akan tampil bersaing terhadap swasta dalam artian penampilan fisik. 90. Perlunya pelayanan yang bermutu dan persaingan yang ketat mengakibatkan rumah sakit harus dikelola oleh direktur-direktur yang profesional yang didukung oleh staf middle-management yang tangguh. Ongkos-ongkos umum yang meningkat dan introduksi teknologi baru menyebabkan ongkos pelayanan kesehatan akan semakin mahal. Ketimpangan distribusi tenaga tetap akan terjadi sedangkan rasio tenaga terhadap populasi akan membaik. Kantor administrasi kesehatan (Depkes. Perkembangan ini dapat mengubah fungsi Puskesmas menjadi consultative center. hospital pharmacist. sarjana elektromedik. permintaan (demand) yang meninggi. Dan umumnya sarana-sarana ini telah dilengkapi dengan tenaga dokter. sedangkan penggunaan antibiotika relatif akan menurun atau menetap sesudah tahun 2000. S1 dan S2 jumlahnya akan lebih dominan pada masa mendatang baik pada sarana pemerintah maupun swasta. Akan timbul fenomena seperti home-care. Bioteknologi semakin berperan terutama dalam produksi vaksin. Desentralisasi kepada Daerah Tingkat II akan lebih luas. obat dan prosedur diagnostik. apoteker. berubahnya pola penyakit dan lain sebagainya. Berkembangnya pelayanan kesehatan akan diikuti oleh berkembangnya tenaga kesehatan yang jumlah dan jenisnya akan meningkat dalam 25 tahun mendatang. Namun demikian antibiotika baru tetap akan bermunculan dan yang lama ditinggalkan. paramedis non perawatan dan tenaga non medik. Pada saatnya. day-care. dan rumah sakit pemerintah akan cenderung menjadi swadana. Rumah sakit yang spesialistik akan lebih banyak jumlahnya. Bertambah baiknya komunikasi dan transportasi akan mempunyai dampak positif maupun negatif terhadap keadaan kesehatan. Mutu produk akan bertambah baik dan kompetetif di dunia internasional. ahli industrial health. sesuai dengan kemajuan ekonomi secara umum dan kenaikan permintaan akan obat-obatan. Pelayanan kesehatan swasta akan Iebih banyak daripada pemerintah menjelang tahun 2000 nanti. Kesemuanya tadi telah dijalin dalam sistem rujukan timbal balik dari bawah ke atas. baik untuk kebutuhan industri maupun kesehatan.000 Puskesmas Pembantu. paramedis perawatan. Tenaga fungsional pada rumah sakit pemerintah akan semakin banyak jumlah dan ragamnya. Pada dekade pertama tahun 2000 Indonesia akan memiliki sebuah Pembangkit Tenaga Listrik Nuklir (PLTN). sekitar 6000 Puskesmas dan 1500 RS swasta dan pemerintah. sedangkan Posyandu secara alamiah akan berkurang. Ada kemungkinan PLTN akan bertambah lagi menjelang tahun 2015. Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. Penggunaan analgetika. tetapi kemajuan dalam teknologi diagnostik akan jauh melebihi kemajuan dalam teknologi terapeutik. Tingkat employment-rate pada sektor formal yang meninggi dan pendapatan per kapita yang semakin meningkat serta kesadaran akan perlunya jaminan yang pasti di masa mendatang akan menumbuhkan asuransi kesehatan yang dapat menjangkau lebih banyak penduduk. dapat berubah menjadi rumah sakit. Sarana tersebut telah tersebar lebih merata sampai ke kabupaten. Puskesmas yang berada pada tempat dengan lingkungan sosial ekonomi yang sangat berkembang. Bila dilihat kualifikasi pendidikan. Penggunaan obat juga cenderung meningkat baik jumlah maupun jenisnya. asuransi kesehatan harus ditetapkan menjadi suatu kewajiban. Keadaan tadi semuanya menyebabkan berubahnya sistem pendidikan dan latihan tenaga serta sistem rekrutmen. diagnostic center. tenaga kesehatan lulusan D3. occupational health. Pelayanan kesehatan di Indonesia dalam 20 tahun terakhir berkembang sangat pesat sehingga pada tahun 1990 telah terdapat 15. Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta derasnya arus informasi menyebabkan timbulnya sofistikasi pada banyak rumah sakit dan sarana pelayanan. dan lain-lain. sedangkan golongan II dan III akan merupakan kelompok yang paling besar jumlahnya. Tenaga kesehatan wanita akan melebihi pria sedangkan penyebarannya akan cenderung mengelompok di kota-kota. dan spesialisasi lainnya akan lebih banyak dibutuhkan. Dokter dan perawat yang spesialistik. KECENDERUNGAN KEADAAN KESEHATAN Keadaan kesehatan yang dimaksud di sini adalah status kesehatan penduduk dan pelayanan kesehatan. Walaupun PLTN sebenarnya sangat aman namun kewaspadaan akan bencana tetap akan harus dipersiapkan. vitamin dan obat adjuvan (penguat) akan terus meningkat. Teknologi kedokteran akan tetap meningkat kemajuannya. Arus globalisasi ekonomi yang masuk Indonesia akan menyebabkan harga obat-obatan akan tetap meningkat. pelayanan (service) dan kualitas. clinical epidemiologist. transportasi dan komunikasi yang mudah. Pelayanan kuratif akan semakin menonjol karena permintaan akan pelayanan preventif sudah menyatu (terintegrasi) dalam kehidupan sehari-hari. dokter spesialis. Career planning tenaga kesehatan menjadi lebih terbuka antara swasta dan pemerintah serta antara sektor yang satu dengan yang lainnya. Obat-obatan baru untuk penyakitpenyakit menahun akan semakin banyak jenisnya.mencari sumber energi alternatif. Bioteknologi akan meningkat peranannya dalam produksi obatobatan. Dalam 25 tahun mendatang jumlah dan jenis pelayanan kesehatan akan sangat berkembang karena jumlah populasi yang meningkat. begitu juga penggunaan zat-zat radioaktif akan meningkat. 1994 9 . malpractice serta tuntutan di pengadilan terhadap para dokter. dokter gigi. Namun demikian perlu diperhatikan pula bahwa asuransi kesehatan yang tidak dikelola dengan baik akan mendorong ongkos-ongkos pelayanan untuk meningkat pula. Kapasitas produksi obat jadi dan bahan baku obat Indonesia akan meningkat terus. Masalah pelayanan kesehatan yang dapat lebih rumit pada 25 tahun mendatang adalah hal-hal yang berhubungan dengan pelanggaran etik.

81 rumah sakit umum milik Departemen lain dan 231 rumah sakit umum swasta. BOR rumah sakit umum yang pada Pelita I 54.643 pada akhir Pelita I menjadi 91.951 pada akhir Pelita III menjadi 8.18. karena walaupun sama-sama rumah sakit klas C fasilitas pelayanannya bisa berbeda. (Bandingkan pada tahun 1985: Malaysia 1 : 370. Hal ini berbeda dengan wilayah luar Jawa-Bali yang semula 1 : 200 pada akhir Pelita I menurun menjadi 1 : 414 pada awal Pelita V. Padahal dengan adanya data tersebut sangat membantu pengembangan konsep rujukan. rumah sakit Pemda 53. Dengan demikian incidence dan intoksikasi dan efek samping obat dapat meningkat. Tetapi pembagian klas tersebut hanya bisa mencerminkan fasilitas pelayanan secara kasar.579 pada akhir Pelita I menjadi 1 : 1. Rasio paramedik perawatan terhadap tempat tidur membaik dari 0. karenanya dibutuhkan pusat informasi obat untuk mengatasi hal ini. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk maka rasio tempat tidur terhadap jumlah penduduk membaik yaitu 1: 1. Berdasarkan kepemilikannya pada tahun 1990 BOR rumah sakit milik Departemen Kesehatan tertinggi.4% pada awal Pelita I menjadi 31. madya dan utama. dari 63. USA 1 : 170. Sedangkan rasio ini hanya 0.532 rumah sakit 756 di antaranya adalah rumah sakit umum dengan kepemilikan 16 rumah sakit umum vertikal.63.565 tempat tidur.491 pada akhir Pelita IV (kenaikan 43%).259 tempat tidur. Dikhawatirkan penjualan obat di pasar gelap akan bertambah begitu pula obat tentengan dan selundupan.28. Edisi Khusus No.11.0%. apalagi bila dikaitkan dengan efisiensi dan efektifitasnya. Obat-obat tradisional masih tetap akan dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia tetapi jumlahnya tak akan meningkat dan relatif mungkin menurun. Terlihat di sini kekurangan tenaga medis terutama pada rumah sakit-rumah sakit swasta dan juga rumah sakit pemerintah kelas C. dari 581 pada akhir Pelita I menjadi 756 pada awal Pelita V dengan tempat tidur meningkat 44%. kelas B 0. sedangkan pada tahun I Pelita V telah mencapai 1. kelas C 0. Dari 1. Jumlah rumah sakit umum pemerintah pada tahun 1990 adalah 525 buah dengan 66. Bila kita melihat rasio tenaga yang bekerja pada rumah sakit kelas A. Hal ini disebabkan peningkatan jumlah tempat tidur rumah sakit sejajar dengan peningkatan jumlah penderita yang dirawat. 70% dokter bertugas di rumah sakit di wilayah Jawa-Bali. Kenaikan jumlah rumah sakit umum terbanyak adalah pada sektor swasta yaitu sebanyak 104%.338 pada awal Pelita V. Jepang 1: 86). Apabila kita melihat rasio tempat tidur terhadap penduduk berdasarkan wilayah terlihat perbaikan yang cukup besar untuk wilayah Jawa-Bali yaitu 1 : 1. Sedangkan di rumah sakit swasta ada pembagian pratama.1% justru turun menjadi 52. RUMAH SAKIT DI INDONESIA Bidang perumahsakitan di Indonesia diwarnai dengan pelayanan kesehatan yang sangat luas dan kompleks dengan berbagai jenis rumah sakit dan kepemilikannya.4%. Dalam bidang ketenagaan khususnya tenaga dokter rumah sakit umum Departemen Kesehatan dan Pemda terjadi peningkatan dari 5. yaitu 65. D yang mencerminkan fasilitas pelayanannya.13 dengan rasio tenaga medis terhadap tempat tidur pada rumah sakit kelas A adalah 0.892 pada akhir Pelita III menjadi 29. Dengan demikian rasio dokter terhadap tempat tidur membaik keadaannya dari 0. Data yang menggambarkan fasilitas pelayanan yang sesungguhnya di rumah sakit masih susah ditemui.06 pada rumah sakit-rumah sakit swasta. Keadaan Perumahsakitan Pelayanan kesehatan di rumah sakit terdiri dari berbagai jenis pelayanan yaitu dari pelayanan yang sederhana sampai yang canggih sesuai dengan kemampuan dan kelas rumah sakit. Jumlah rumah sakit umum meningkat 30%. B.9% pada tahun 1990. sehingga rata-rata tempat tidur perrumah sakit umum pemerintah adalah 126 tempat tidur. 112 rumah sakit umum ABRI.753 tempat tidur. Pada tahun 1988 rasio tenaga medis terhadap tempat tidur pada rumah sakit pemerintah adalah 0. yang selanjutnya naik menjadi 54.2% pada tahun 1990. Kegiatan upaya kesehatan yang menyangkut rumah sakit termasuk di dalam upaya rujukan kesehatan dan rujukan medis. Sedangkan pada tahun 10 Cermin Dunia Kedokteran. diikuti dengan Rumah Sakit Swasta 55.70. 90. Rujukan kesehatan terutama berkaitan dengan upaya promotif dan preventif yang mencakup bantuan teknologi. Distribusi tenaga medis pada rumah sakit pemerintah kurang merata.56 menjadi 0. Konsumsi obat per kapita juga akan meningkat karena pola penyakit yang berubah dan masyarakat yang lebih mampu membelinya.1%.532 rumah sakit dengan 118.3% pada awal Pelita V. 1994 . C dan D terutama tenaga medis terdapat ketimpangan. Demikian pula dengan tenaga paramedis perawatan yang meningkat dari 23.14 menjadi 0. C. Perkembangan rumah sakit di Indonesia dari Pelita ke Pelita cukup menggembirakan dalam berbagai segi. Singapura 1: 247. Departemen lain 47. Dengan demikian dalam kurun waktu tersebut jumlah rumah sakit meningkat ± 37% dan tempat tidur meningkat 45%. Hal ini menyebabkan pergeseran a) yang cukup tajam pada perbandingan rumah sakit umum pemerintah dan swasta.515 pada awal Pelita V.900 pada Pelita I menjadi 1 : 1.018 pada akhir Pelita IV. sedang pada akhir tahun 1990 menjadi 244. Kedokteran alternatif dapat timbul. sarana dan operasional. dan sebaliknya 70% tenaga paramedis perawatan bertugas di luar Jawa-Bali. b) Tingkat pemanfaatan dan mutu pelayanan Tingkat pemanfaatan rumah sakit (BOR) secara nasional dari Pelita ke Pelita tidak menunjukkan kenaikan yang berarti. 316 rumah sakit umum daerah. Prosentase rumah sakit umum swasta dari 19.8%.586 pada awal Pelita V.Distribusi obat di Indonesia akan tetap bertambah baik sehingga cakupannya lebih merata. B. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan rumah sakit belum sebagaimana diharapkan. Di rumah sakit milik pemerintah ada pembagian klas yakni A. Pada akhir Pelita I rumah sakit di Indonesia berjumlah 1.09 dan kelas D 0. dari 113 pada akhir Pelita I menjadi 231 pada awal Pelita V.7% dan rumah sakit ABRI 42. Sedangkan rujukan medik adalah rujukan pelayanan terutama meliputi upaya kuratif dan rehabilitatif.116 buah dengan 81.

Berdasarkan uraian di atas maka nyatalah bahwa pelayanan rumah sakit merupakan salah satu komponen yang paling banyak menyerap biaya.70 pada tahun 1986/87 atau sebesar 34. LOS rumah sakit swasta rata-rata 6 hari dengan LOS terendah 5 hari untuk wilayahJawa-Bali.1 % dari biaya yang dibutuhkan. akan tetapi akhirakhir ini juga ada kecenderungan bantuan dalam biaya pemeliharaan dan operasional. b) meningkatkan tarif layanan rumah sakit yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat.6% dengan wilayah DKI mempunyai BOR tertinggi yaitu 62.9%. yaitu 10 hari. Diperkirakan sekitar 97% dari seluruh biaya yang dikeluarkan adalah untuk pengobatan dan hanya 3% untuk pendidikan dan lain-lain. Sanpai saat ini masih banyak rumah sakit. maka tarip rumah sakit yang sesuai dapat ditetapkan dengan tetap memperhatikan kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membayar. Penggunaan dana oleh masyarakat/swasta daiam upaya kesehatan pada umumnya adalah untuk upaya kuratif. Jika dikaitkan antara BOR dan LOS wilayah DKI yang tinggi hal ini dimungkinkan karena adanya rumah sakit top referral.5%. yang sejalan dengan keinginan pemerintah agar pihak swasta lebih aktif berperan serta dalam pembangunan bidang kesehatan. 90. yaitu 40. Prosentase pembiayaan dari masyarakat/swasta untuk pelayanan rumah sakit pada tahun 1985/86 cukup tinggi.8% tahun 1982/83 dan 0. selanjutnya rumah sakit kelas B 7 hari. Diharapkan peran serta swasta dalam perumahsakitan dapat meningkat. dan rumah sakit kelas C serta D sama yaitu 5 hari. Jawa-Bali 61. selanjutnya kelas B 60. ternyata rumah sakit kelas A mempunyai BOR tertinggi. yaitu 37.3%. pemeliharaan dan operasional. banyak rumah sakit swasta yang telah menetapkan tarip berCermin Dunia Kedokteran . c) Pembiayaan Pembiayaan kesehatan di Indonesia. 3. Selain dari pemerintah dan masyarakat. Jumlah alokasi dana rumah sakit pada tahun 1985/86 adalah 34. Besarnya pembiayaan pelayanan RSU pemerintah yang berasal dari bantuan luar negeri dalam kurun waktu 1982/83 – 1986/87 rata-rata 4. LOS rumah sakit DepKes dan Pemda rata-rata 6 hari.1% dari seluruh biaya. Sistem ini sudah dilaksanakan pada sebagian rumah sakit swasta. yaitu 72. Selain itu. Walaupun sistem ini mudah dalam pelaksanaannya namun biaya sesungguhnya tidak dapat diketahui secara tepat. berasal dari berbagai sumber yaitu : 1) Pemerintah Pusat dan Daerah 2) Badan Swasta 3) Bantuan Luar Negeri 4) Asuransi 5) Masyarakat Anggaran kesehatan yang bersumber dari pemerintah.3% dari masyarakat/swasta.8% dan selanjutnya tahun 1983/1984 naik menjadi 36.3%) dimanfaatkan untuk pelayanan kuratif. yang pada tahun 1982/1983 mencapai 32. Dari alokasi biaya rumah sakit ternyata jumlah subsidi pemerintah cukup besar. dan juga akan diterapkan pada rumah sakit lembaga swadana. dari tahun ke tahun relatif tetap dan kecil jika dihitung prosentasenya dari seluruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. LOS rumah sakit kelas A tertinggi.90 pada tahun 1982/83 naik menjadi Rp. sedangkan untuk pelayanan preventif hanya 6%. Prosentase anggaran kesehatan terhadap anggaran pemerintah pada tahun 1982/1983 hanya 3. Dengan makin berkembangnya asuransi kesehatan maka biaya satuahn sangat diperlukan untuk negosiasi penetapan premi. Untuk dapat mengurangi jumlah subsidi tersebut dapat dilakukan dengan dua pendekatan : a) menurunkan unit cost/biaya satuan Iayanan dengan meningkatkan pemanfaatan fasilitas yang saat ini masih rendah.3%. rumah sakit menerima biaya dari bantuan luar negeri. Namun bila dihitung dengan harga tetap tahun 1983. Edisi Khusus No. berdasarkan kelas rumah sakit pada tahun 1989.4%. sedang pembelian obat-obatan tertinggi. 1994 11 . Demikian pula prosentase pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) sangat kecil dan cenderung tidak berubah selama kurun waktu lima tahun (0. sedangkan untuk daerah lain 6 hari. dengan perubahan pola pemanfaatan dana. Bantuan luar negeri ini pada umumnya untuk pembiayaan investasi.4% dan tahun 1986/1987 3. ternyata anggaran pada tahun 1982/83 dan 1986/87 tersebut relatif tetap.6%. Untuk mendapatkan informasi yang baik dan aktual dalam proses pengambilan keputusan. Dana pelayanan rumah sakit sebagian besar (79. dengan LOS rumah sakit di DKI terpanjang yaitu 7 hari.1988 Rumah sakit Dep.7% dan kelas D masih rendah. untuk meningkatkan efisiensi perlu diketahui pusat-pusat biaya agar dapat dilaksanakan intervensi yang diperlukan. 4. khususnya rumah sakit pemerintah yang menerapkan sistem akuntansi secara cash basis. Dapat diperkirakan di sini bahwa pembiayaan oleh masyarakat/ swasta sebagian besar adalah untuk pelayanan rumah sakit ka rena sebagian pembelian obat-obatan juga merupakan akibat dari pelayanan rumah sakit.7% berasal dari pemerintah dan 72.300.7% dan luar Jawa-Bali 48. Prosentase pembiayaan kesehatan di rumah sakit dari anggaran kesehatan menurun sesuai dengan perubahan-perubahan dalam pola pemanfaatan dana.Kes dan Pemda BORnya mencapai 57. khususnya dalam bidang perumahsakitan. maka sistem akuntansi harus dilengkapi dengan sistem akuntansi akrual. kelas C 57. termasuk gaji dan upah. Bilamana biaya satuan diketahui.6%. Perhitungan biaya satuan saat ini sudah merupakan suatu keharusan. khususnya rumah sakit. sehingga pada tahun 2000 jumlah rumah sakit/tempat tidur pemerintah dan swasta berimbang. sedangkan wilayah lain 6 hari.8% tahun 1986/87).198. 27. Dengan keterbatasan kemampuan pemerintah maka perlu adanya penambahan dana dari pihak swasta. yang pada umumnya merawat pasien rujukan. menurun terus sehingga pada tahun 1986/87 tinggal 30.9%. Besarnya alokasi tersebut belum dapat menjamin terlaksananya pelayanan yang baik karena dana yang tersedia baru 56.5%.8%. Anggaran kesehatan perkapita yang bersumber dari pemerintah dari tahun 1982/83 sampai dengan 1986/87 naik dari Rp. yang meliputi biaya investasi.6%.

Oleh karena itu diperlukan pengembangan manajemen keuangan rumah sakit yang baik. Hampir semua rumah sakit swasta. air dan lain-lain) akan meningkat. Ini berarti. Masyarakat akan menuntut pelayanan yang lebih bermutu dan efektif. Dengan kecenderungan rumahsakit pemerintah akan diubah menjadi RS unit swadana maka pada masa mendatang RS swasta harus lebih mandiri dalam merekrut tenaga dokter spesialis purna waktu. Rumah sakit dihadapkan dengan suatu dilema apakah akan menggunakan teknologi baru yang ditawarkan dengan implikasi naiknya ongkos pelayanan ataukah tetap menggunakan cara-cara konvensional yang masih efektif dengan risiko akan kehilangan pangsa pasar. Dengan diberlakukannya UU tersebut tuntut-menuntut (lawsues) antara 6) 12 Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. cost. paling tidak untuk service-service tertentu. Untuk ini rumah sakit harus memberikan informasi yang akurat dan tepat tentang service yang dapat diberikan kepada setiap pasien. 23 tahun 1992. 90 1994 . Sistem appointment akan mendidik health providerdan health consumer menj adi lebih disiplin dalam mematuhi waktu. Keadaan tersebut perlu juga mendorong manajemen rumahsakit untuk memikirkan tentang kemungkinan perlu diperpanjangnya lama buka poliklinik rumah sakit (termasuk rumahsakit pemerintah) dan dikembangkannya sistem janji (appointment) menurut hari dan jam pelayanan. time of delivery) yakni pelayanan dengan kualitas yang baik (Q) dan dengan ongkos yang dapat dipertanggung jawabkan (C) serta diberikan pada waktu yang cepat dan tepat (T). Manajemen rumah sakit dituntut untuk pandai memilih alternatifdalam memanfaatkan teknologi yang ditawarkan. Sebagian rumah sakit swasta tak mampu mengangkat perawat baru apabila dari lulusan sekolah-sekolah perawat yang dianggap bermutu. TANTANGAN MANAJEMEN RUMAH SAKIT DALAM PJPT II Tantangan-tantangan penting dalam manajemen pelayanan rumah sakit pada masa mendatang antara lain : 1) Pembiayaan Ongkos-ongkos pelayanan rumahsakit sudah pasti akan meningkat karena : ongkos-ongkos umum untuk services (misal listrik. Pembagian tempat-tempat perawatan menurut penyakit atau disiplin ilmu kedokteran perlu ditinjau lagi dan mungkin perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian agar pemanfaatan rumah sakit menjadi lebih efisien. Dibutuhkan kemampuan dari manajemen rumah sakit untuk melihat masa depan guna membuat pembaharuan-pembaharuan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit.dasarkan biaya satuan. Keadaan dokter spesialis lebih kompleks lagi terutama pada rumah sakit swasta. Keadaan tersebut mengharuskan manajemen rumah sakit dapat mengembangkan pelayanan yang efektif tetapi dengan ongkos yang realistik yakni ongkos yang sesuai dengan nilai dari jasa dan barang yang diberikan kepada pasien ditambah dengan profit yang layak. dokter cenderung menggunakan prosedur-prosedur yang semakin banyak untuk menangani penyakit-penyakit kronik. mutunyapun sering dikeluhkan masyarakat. bayaran untuk dokter dan perawat harus dinaikkan. Teknologi (termasuk alat) kedokteran untuk diagnosis maupun terapi berkembang sangat cepat dan ditawarkan secara sangat intensif. Suatu koordinasi antar rumah sakit perlu dikembangkan untuk memanfaatkan secara bersama teknologi tertentu. teknologi modern untuk diagnostik dan terapetik lebih banyak digunakan. Pengembangan pelayanan Pola penyakit dalam PJPT II secara berangsur-angsur akan berubah begitu pula permintaan (demand ) akan pelayanan kesehatan. kira-kira 80% dari tenaga spesialisasi direkrut dari rumah sakit pemerintah sebagai tenaga paruh waktu (part time) dalam bentuk honorer atau visiting-doctor atau on contract basis. 3) Teknologi kedokteran Sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secaraumum. Keadaan ini mengharuskan manajemen rumahsakit mulai memikirkan pola pelayanan yang perlu dikembangkan pada masa mendatang. Hukum dan Etik Dengan semakin majunya sebuah bangsa maka akan semakin tertib pula tata hukum di negara tersebut. perlindungan terhadap penerima pelayanan kesehatan dan perlindungan terhadap pemberi pelayanan kesehatan. Dengan cara ini. Jumlah lulusan perawat diduga mencukupi. Selain jumlahnya kurang. tetapi formasi di rumahsakit pemerintah sangat terbatas karena ada kecenderungan membatasi pengangkatan pegawai negeri baru. Masyarakat mengingini pelayanan yang mudah dan nyaman serta akhirnya memberikan kepuasan dalam arti penyakit sembuh dalam waktu yang cepat dengan service yang baik. 2) Tenaga Pada saat ini hampir semua rumah sakit pemerintah dan swasta sangat kekurangan tenaga perawat. Ada jenis-jenis pelayanan yang mungkin secara berangsur-angsur harus diciutkan tetapi sebaliknya ada juga pelayanan-pelayanan yang perlu dikembangkan bahkan mungkin perlu ada pelayanan baru yang harus mulai ditampilkan. maka teknologi kedokteran pun berkembang sangat cepat dalam duapuluh tahun terakhir ini. Tujuan UU tersebut adalah memberikan kepastian hukum terhadap pembangunan dan pelayanan kesehatan. Pada bulan September 1992 Indonesia telah memberlakukan undang-undang baru dalam bidang kesehatan yakni UU No. secara tidak langsung rumah sakit swasta menikmati subsidi dari pemerintah. tidak jarang penerapan tata hukum yang baru dapat menimbulkan masalah. Perlu dikembangkan suatu sistim pelayanan yang didasari pada QCT (quality. Namun harus diakui bahwa pada masyarakat yang sedang berubah. investasi yang ditanam dapat dimanfaatkan secara bersama dengan optimal. 4) 5) Permintaan masyarakat Pada periode PJPT II rumah sakit akan dihadapkan kepada masyarakat yang lebih terdidik dan lebih mampu membeli pelayanan yang ditawarkan atau yang dibutuhkan.

terutama bagi generasi muda. Sistem Kesehatan Nasional dan Repelita bidang Kesehatan serta peraturan dan perundang-undangan lain. Pengembangan rumah sakit sangat dipengaruhi oleh faktor- Cermin Dunia Kedokteran. Edisi Khusus No.90. 7) Sistem Informasi Manajemen Dalam pelaksanaan sehari-hari. dan pengembangan serta penemuan obat-obatan. ia harus mengembangkan cara pengumpulan data dan informasi yang akhirnya bisa memberi input kepada manajemen untuk mengambil keputusan guna pembaikan pelayanan. dan narkotika. Tenaga kesehatan dan tenaga penunjang kesehatan lainnya ditingkatkan kualitas dan kemampuannya serta persebarannya terus diupayakan agar merata dan menjangkau masyarakat di daerah terpencil. meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. penyediaan lingkungan pemukiman. daerah terpencil dan kelompok masyarakat yang hidupnya terasing. Persaingan yang semakin ketat antar rumah sakit-rumah sakit. KEBIJAKSANAAN POKOK PEMBANGUNAN KESEHATAN 1) Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup manusia. manajemen tidak lain suatu rangkaian pengambilan keputusan dengan mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan menuju suatu tujuan tertentu. 6) Pengobatan tradisional yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan terus dibina dalam rangka perluasan dan pemerataan pengobatan tradisional sebagai warisan budaya bangsa terus ditingkatkan dan didorong usaha pengembangannya melalui penggalian. terutama di kota-kota besar. Sedangkan arah dan kebi jaksanaan dari pembangunan telah ditetapkan dal am kebijaksanaan pokok pembangunan kesehatan seperti di bawah ini. perbaikan gizi. anak-anak dan penduduk usia lanjut yang terlantar. termasuk dunia usaha. 1994 13 . Begitu pula standarstandar dan prosedur-prosedur teknis dan administrasi harus dibuat secara tertulis mengikuti referensi resmi yang dikembangkan oleh pemerintah dan atau ikatan profesi. mengharuskan manajemen rumah sakit untuk memperbaiki rumahsakitnya masing-masing disamping perlu ada koordinasi dan kerja sama antar rumah sakit. Dengan demikian menjadi jelas bahwa bila rumah sakit mengingini manajemen yang baik sehingga dapat memberikan pelayanan yang bermutu. penelitian. Sistem tersebut disebut sebagai : sistem informasi manajemen rumah sakit. Suatu sistem untuk mencegah dan mengawasi pelanggaran etik ini perlu diperketat oleh manajemen rumah sakit. Perlindungan terhadap bahaya penyalahgunaan obat. serta daerah pemukiman baru. penyuluhan kesehatan. penyediaan air bersih. Ada empat informasi yang dianggap prioritas untuk dikumpulkan dan dianalisis yakni : keuangan dan pembiayaan. Penelitian dan pengembangan kesehatan perlu terus dilanjutkan antara lain untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. semakin besar dan semakin kompleks sebuah rumah sakit semakin perlu ia suatu sistem informasi manajemen yang komprehensif. logistik (terutama obat) dan pelayanan (besarnya inpatient-outpatient). Penyediaan obat dan alat kesehatan yang makin merata dengan harga yang terjangkau oleh rakyat banyak ditingkatkan melalui pengembangan industri peralatan kesehatan dan industri farmasi yang makin maju dan mandiri. serta pencemaran lingkungan perlu diberikan perhatian khusus. 2) Pengelolaan kesehatan yang terpadu perlu lebih dikembangkan agar dapat lebih mendorong peran serta masyarakat. daerah kumuh perkotaan. terutama yang berpenghasilan rendah. yang didukung oleh industri bahan baku obat yang andal melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maju mundurnya atau baik buruknya satu manajemen sangat dipengaruhi oleh mutu pengambilan keputusan dan hal terakhir ini sangat tergantung dari mutu informasi yang diperoleh dan kepandaian dari manajer untuk menggunakan informasi. KEBIJAKSANAAN PENGEMBANGAN RUMAH SAKIT Rumah Sakit merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan sehingga pengembangan Rumah Sakit pada saat ini tidak lepas dari Kebijaksanaan Pembangunan Kesehatan yaitu harus sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara. pengujian. Semuanya ini harus dikaitkan secara integratif sehingga mempunyai makna bagi pengambilan keputusan manajemen. Perubahanperubahan yang tengah terjadi akan dapat pula menimbulkan benturan-benturan norma yang dapat mengakibatkan timbulnya pelanggaran-pelanggaran etik terutama pada rumah sakit-rumah sakit swasta. juga pengawasan ketat terhadap obat. 3) Pengadaan dan peningkatan sarana kesehatan perlu terus dikembangkan. dapat menikmati pelayanan yang berkualitas dengan terus memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran secara serasi dan bertanggung jawab. dalam pembangunan kesehatan.pasien dengan rumah sakit atau dokter akan lebih sering terjadi pada waktu-waktu mendatang. tenaga. Untuk menghindari hal ini manajemen rumah sakit harus menyiapkan informasi-informasi umum tentang pelayanan rumah sakit. makanan dan minuman. daerah pedesaan. termasuk budidaya tanaman obat tradisional yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan. daerah transmigrasi. 5) Pelayanan kesehatan baik oleh pemerintah maupun peran serta masyarakat harus mengindahkan prinsip kemanusiaan dan kepatutan dengan memberikan perhatian khusus kepada fakir miskin. Kualitas pelayanan kesehatan ditingkatkan dan jangkauan serta kemampuannya diperluas agar masyarakat. serta pelayanan kesehatan ibu dan anak. Perhatian khusus diberikan pada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. zat adiktif. 4) Upaya perbaikan kesehatan masyarakat terus ditingkatkan antara lain melalui pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. Semua usaha untuk mewujudkan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat perlu dikembangkan dengan upaya memasyarakatkan pembiayaan kesehatan oleh masyarakat berdasarkan prinsip gotong royong. serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.

faktor demografi, epidemiologi, sosial ekonomi, permintaan akan pelayanan, sistem pembiayaan dan kemajuan iptek. Karenanya, suatu kebijaksanaan dalam pengembangan rumah sakit harus memperhatikan kecenderungan faktor determinan di atas. Selain itu pengembangan rumah sakit juga tidak dapat lepas dari kebijaksanaan pokok pembangunan kesehatan. Dengan melihat kecenderungan determinan kesehatan, kecenderungan keadaan kesehatan, keadaan rumah sakit dan hasil-hasil yang telah dicapai pada saat ini serta tantangan manajemen rumah sakit pada PJPT II maka perlu ditetapkan kebijaksanaan pengembangan rumah sakit dalam PJPT 11. KEBUAKSANAAN PENGEMBANGAN RUMAH-SAKIT DALAM PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG TAHAP II : 1) Pembangunan Rumah Sakit baru • Pembangunan rumah sakit baru dan penambahan tempat tidur dari rumah sakit yang ada akan dijalankan terus sesuai dengan permintaan yang ada (mekanisme pasar). Penambahanpenambahan rumah sakit baru terutama dijalankan dengan memperhatikan perkembangan sosial ekonomi masyarakat. • Pemerintah tetap bertanggung jawab terhadap pembangunan rumah sakit di daerah-daerah yang kurang mampu guna menjamin pemerataan untuk menikmati hasil-hasil pembangunan. • Setiap pembangunan rumah akit baru harus didahului oleh studi kelayakan untuk menjamin tetap berjalannya rumah sakit tadi pada masa-masa mendatang dan dipenuhinya kaidah serta standar rumah sakit. • Jumlah rumah sakit di suatu tempat akan dikendalikan dengan memperhatikan rasio tempat tidur terhadap penduduk dan sistem pembiayaan serta pricing policy (misal asuransi), pembangunan rumah sakit dilaksanakan dengan menyertakan peran serta masyarakat dan swasta yang semakin besar. 2) Pelayanan Rumah Sakit • Pelayanan rumah sakit harus mendukung pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Posyandu. Dukungan ini dijalin dalam suatu sistem rujukan medik dan rujukan kesehatan yang selaras dengan pembangunan sistem pembiayaan melalui asuransi kesehatan/JPKM. • Rumah sakit dikelola secara efisien untuk menjamin meningkatnya mutu dan cakupan pelayanan yang akhirnya mempunyai dampak nyata terhadap perbaikan derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu perlu diterapkan dan dijalankan penggunaan standar pelayanan, dalam rangka peningkatan mutu dan akreditasi rumah sakit disamping penggunaan obat secara rasional dengan memanfaatkan obat generik. • Menjalankan fungsi sosial yang tercermin dalam pelayanan bagi mereka yang tak mampu, kegiatan pelayanan di luar rumah sakit, penyuluhan kesehatan, turut serta dalam sistem asuransi kesehatan/JPKM, dan lain sebagainya. 3) •
14

yang berasal dari masyarakat yang dimobilisasi melalui sistem asuransi/JOKM. Rumah sakit pemerintah secara berangsurangsur dikembangkan menjadi unit swadana sedangkan sumber dana yang berasal dari pemerintah dan yang dimobilisasi dari swasta dan masyarakat harus digunakan secara efisien dan dialokasikan secara cermat menurut prioritas dan masalah yang dihadapi. • Setiap orang yang menikmati pelayanan kesehatan di rumah sakit akan dikenai kewajiban membayar sesuai dengan nilai jasa yang diterimanya. Untuk ini perlu dikembangkan sistem tarif berjenjang yang mendasarkan kepada pengeluaran yang berimbang dengan pemasukan (cost recovery), satuan biaya (unit cost) dan kemampuan daya beli masyarakat. Agar terjamin adanya pemerataan pelayanan, tarif dikembangkan dengan asas subsidi bersilang (cross subsidy) sehingga mereka yang tak mampu tetap terlindungi dan dapat menikmati pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. 4) Peran Serta Masyarakat dan Swasta • Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta perlu dikembangkan sistem yang insentif termasuk kemudahan dalam perizinan, rumah sakit boleh didirikan oleh badan hukum (termasuk PMDN dan PMA) disamping oleh yayasan. Pemerintah akan tetap memberikan bantuan dan perlindungan terhadap rumah sakit. • Masyarakat dan swasta akan diberikan peran yang semakin besar dalam pelaksanaan pembangunan dan pengembangan rumah sakit. Pemerintah akan lebih banyak berperan dalam merumuskan kebijaksanaan (termasuk menetapkan standarstandar), pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan rumah sakit. Ikatan profesi akan membantu pemerintah dalam perumusan kebijaksanaan dan pengawasan serta peningkatan mutu pelayanan dan mutu tenaga kesehatan. 5) Ketenagaan • Penempatan dan penyebaran tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit akan terus ditingkatkan sehingga jumlah dan susunan tenaga kesehatan di rumah sakit mencapai standar yang sudah ditetapkan. Penempatan dokter spesialis akan ditingkatkan dengan prioritas melengkapi rumah sakit kelas C di seluruh Indonesia sesuai dengan pemerataan penempatan tenaga. • Guna mengatasi kekurangan pelayanan spesialistik di tempat-tempat terpencil yang membutuhkan, dokter-dokter umum terpilih akan dilatih secara khusus dalam bidang spesialisasi tertentu (semi spesialis). • Rumah sakit swasta diberikan kemudahan untuk memperoleh dokter-dokter spesialis khususnya para dokter spesialis yang sudah menyelesaikan masa bakti ke-2. Secara berangsurangsur rumah sakit swasta akan diberi bantuan agar mempunyai dokter dan dokter spesialis yang full time. Rumah sakit swasta diperkenankan mengirimkan dokter umumnya untuk mengikuti pendidikan spesialisasi. Prioritas diberikan kepada rumah sakit di periferi. 6) • Manajemen Rumah sakit secara berangsur-angsur harus dikelola dengan

Pembiayaan Pembiayaan rumah sakit mengutamakan sumber-sumber
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994

memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi pelayanan kesehatan, sebagai bentuk produksi jasa, dapat ditingkatkan mutunya. Dalam kaitan ini, rumah sakit akan dilengkapi dengan perangkat organisasi yang lebih sesuai sebagai institusi sosial-ekonomi. • Dengan semakin meningkatnya hubungan kerja dan semakin beragamnya jenis pelayanan, perlu dikembangkan sistem informasi manajemen rumah sakit yang menyangkut informasi sumber daya, pelayanan dan kegiatan rumah sakit. Untuk ini rumah sakit secara berangsur-angsur harus meningkatkan pengolahan data secara elektronik (electronic data processing). • Staf manajemen rumah sakit perlu memperoleh pendidikan dan latihan yang menunjang perubahan-perubahan sistem

manajemen rumah sakit menuju pembentukan career-planning dalam manajemen atau administrasi rumah sakit. 7) Teknologi Kedokteran Pemanfaatan teknologi kedokteran akan digalakkan terus • dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan menuju perbaikan derajat kesehatan yang merupakan bagian dari kesejahteraan umum masyarakat. Teknologi kedokteran yang digunakan harus disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan yang ada dan kemampuan pembiayaan pemerintah dan masyarakat. Pemanfaatan teknologi kesehatan harus dikaitkan dengan • upaya mengefisiensikan kegiatan-kegiatan rumah sakit.

Kalender Kegiatan Ilmiah
March 19–20, 1994 – Instructional Course & Video-Urogynecology Update Singapore Information : Secretariat, Society for Continence (Singapore), c/o Division of Urology, Department of Surgery, Toa Payoh Hospital, Toa Payoh Rise, Singapore 1129. April 29 – May 2, 1994 lst IFSSH Western Pacific Regional Workshop Hong Kong Information : Dr LK Hung, Secretary, lst IFSSH Western Pacific Regional Workshop, Department of Orthopaedics and Traumatology, Prince of Wales Hospital, Shatin, Hong Kong.

May 21–24, 1994 – 11th Regional Conference of Dermatology Singapore Information : Secretariat, 1 lth Regional Conference of Dermatology, c/o Conference and Exhibition Management Services Pte Ltd, #09-43 World Trade Centre, Singapore 0409. June 16-18, 1994 International Conference on Biomedical Periodicals Beijing Information : c/o Dr Jiang Yongmao, International Conference on Biomedical Periodicals, Chinese Medical Association, 42 Dongsi Xidajie, Beijing 100710, China.

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

15

Tinjauan Perkembangan Perumah-Sakitan dalam PJPT 11
Samsi Jacobalis Jakarta

Paul Samuelson :"........ akhirnya harus kita sadari bahwa ekonomi bukanlah ilmu eksakta, dan tidak ada di antara kita yang dapat melihat lebih jauh daripada dua tahun ke muka" (Algemeen Dagblad, 17 April 1993). George R. Terry :"The future begins with the present; it is not an immense and sudden jump to a distant destination" (Bukunya : Principles of Management). MEREKA MASA DEPAN Pendapat dua pakar di atas agaknya bertentangan satu dengan yang lain. Jika bersandar pada pendapat Samuelson tidak ada yang dapat memprakirakan bagaimana perkembangan ekonomi Indonesia (dan searah dengan itu bagaimana perkembangan perumah-sakitan kita) nanti dalam PJPT II (1994–2019). Sebaliknya jika mengandal pada Terry, PJPT II bukanlah loncatan mendadak ke sasaran yang jauh di depan. PJPT II adalah sinambung dengan PJPT I. PJPT II adalah era tinggal landas, setelah landasnya sendiri (PJPT I) cukup kokoh untuk menjamin keselarriatan "penerbangan" selanjutnya. Artinya hari esok dalam pembangunan adalah kelanjutan hari ini. Masa depan dibangun sehari demi sehari sejak masa lalu. Masa depan dapat direka berdasarkan kenyataan hari ini dan hari-hari yang sudah dilewati. Kita mencoba sepakat dengan Terry dengan membuat proyeksi tentang transisi kesehatan di masa depan bertolak dari data perkembangan selama PJPT I. Dari proyeksi itu dicoba dibuat tinjauan tentang kemungkinan perkembangan rumah sakit dalam PJPT II, sebagai rekaan respons terhadap tantangan memenuhi kebutuhan kesehatan di waktu itu nanti. Namun demikian disadari sepenuhnya proyeksi itu dapat meleset sama sekali, karena seperti kata Samuelson (pemenang hadiah Nobel yang dianggap ahli ekonomi terbesar yang sekaMakalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo , Jakarta . 21 — 25 November 1993.

rang masih hidup), tidak ada orang yang dapat melihat terlalu jauh ke depan. Apalagi kebutuhan kesehatan masa depan itu dipengaruhi oleh begitu banyak variabel yang sebagian besar tidak eksak sifatnya. AKHIR PJPT I, IDAMAN DALAM PJPT II Selama 25 tahun terakhir Indonesia telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat. Pembangunan kesehatan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi itu. Dalam naskah GarisGaris Besar Haluan Negara 1993 diikhtisarkan tentang pencapaian sektor kesehatan sebagai berikut :"Dalam PJPT I pelayanan kesehatan telah meningkat dan telah mampu menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Pembangunan di bidang kesehatan serta keluarga berencana telah berhasil meningkatkan usia harapan hidup dan menekan laju pertumbuhan penduduk yang didukung oleh perumahan dan pemukiman yang layak". Ikhtisar yang dinyatakan hanya dalam beberapa kalimat itu kedengarannya sederhana sekali. Padahal untuk mencapai itu sangat besar modal manusia (human capital) dan sumberdaya Iain yang sudah dikerahkan. Keberhasilan lain yang juga secara tidak langsung besar dampaknya pada status kesehatan bangsa adalah : – Kita sudah swasembada dalam kebutuhan paling pokok,

16

Cermin Dunia Kedokteran . Edisi Khusus No. 90, 1994

didukung dengan pembangunan perumahan dan pemukiman yang layak. Dalam PJPT II pembangunan sektor kesehatan dimasukkan dalam kelompok pembangunan bidang kesejahteraan rakyat . Sampah dan limbah akan makin sukar untuk ditanggulangi. Transisi ini akan lebih terpacu karena lahan bertani untuk petani perorangan akan semakin sempit. Kebijakan kesehatan nasional (health policy). Di waktu itupun nanti titik berat pembangunan (masih) diletakkan pada pembangunan bidang ekonomi. baik sebagai insan maupun sebagai sumberdaya untuk pembangunan itu sendiri.yaitu pangan dan sandang. yang pada gilirannya berarti meningkatnya masalah kesehatan dan potensi bertambahnya jumlah dan jenis penyakit. Dari prakiraan perkembangan kebutuhan itu akan dicoba diantisipasikan perkembangan perumah-sakitan kita. Keadaan ideal yang diidamkan (menurut GBHN 1993) adalah : meningkatnya derajat kesehatan masyarakat serta meningkatnya mutu dan kemudahan pelayanan kesehatan yang harus makin terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Dari proyeksi keadaan itu akan diprakirakan kebutuhan kesehatan kita sebagai bangsa waktu itu nanti. dan orang-orang muda akan semakin enggan meneruskan tradisi bertani. Garis-garis kebijakan itu ditentukan 5 tahun sekali dalam GBHN dan dirinci dalam Repelita. Kebijakan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dalam PJPT II sukar diperkirakan sekarang. belum terhitung mereka yang tinggal di pedesaan tetapi pergi-pulang ke perkotaan (Ananta dan Sirait). termasuk seasta asing. Transisi dan transformasi dalam unsur-unsur itu saling terkait dan mempengaruhi satu terhadap yang lain. Indonesia diharapkan sudah menjadi negara industri dalam PJPT II. Dalam arti luas banyak variabel ekonomi. "Health policy" adalah kebijakan pemerintah yang hcrtuiuan menyediakan dan menyampaikan layanan kesehatan yang bermutu kepada setiap warga negara tanpa membedakan kedudukan sosial dan kemampuan ekonominya. pendidikan dan kebudayaan. Kemampuan sumberdaya untuk mendukung pemenuhan kebutuhan itu (health recources). serta meningkatnya gizi dan membudayanya sikap hidup bersih dan sehat. Ini tepat sekali. Kurva belajar ini sangat besar artinya sebagai modal untuk meneruskan pembangunan. Dalam arti lebih sempit pencapaian idaman itu akan tergantung dari perkembangan sistim . Titik berat pada pembangunan ekonomi berarti transisi dari ekonomi yang didominasi oleh pekerjaan di sektor pertanian ke pekerjaan di sektor industri dan jasa akan berlanjut. didasarkan pada perkembangan kebutuhan kesehatan dan perkembangan kemampuan sumberdaya untuk mendukungnya waktu itu nanti. Pemukiman padat menimbulkan masalah. Dengan pengembangan manusia yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang mantap. sejak ekonomi kita mulai ditata kembali dan diangkat dari tepi jurang keambrukan.Selama 25 tahun bangsa Indonesia sudah belajar dan berpengalaman membangun di segala bidang. diidamkan bangsa Indonesia akan menjadi maju dan mandiri. Para ahli kependudukan memproyeksikan dalam tahun 2020 lebih daripada separuh penduduk Indonesia tinggal di perkotaan.layanan kesehatan nasional. lingkungan hidup yang tidak sehat. Dinamika perubahan dalam unsur-unsur tersebut di atas sudah berlangsung sejak bagian terakhir Repelita I.Misi KhususNo. Masih sangat besar modal manusia dan sumberdaya lain yang dibutuhkan untuk mendukungnya. 3. Perkembangan kebutuhan kesehatan bangsa (health need). yaitu persentase penduduk kota akan makin meningkat dibandingkan dengan persentase penduduk desa. sosial dan budaya. 2. Industrialisasi dan urbanisasi besar dampaknya pada lingkungan. tidak semata-mata masalah mencegah dan mengobati penyakit. Air Cermin Dunia Kedokteran. sosial dan budaya yang akan berpengaruh dalam mencapai idaman nasional itu. 1994 17 . termasuk pembangunan kesehatannya. Memecahkan masalah kesehatan secara nasional adalah soal keluar dari lingkaran kemiskinan yang ditandai oleh kurang makan. yaitu proyeksi tentang penduduk Indonesia dan pola penyakit serta status kesehatannya dalam PJPT II. termasuk perkembangan perumah-sakitan. TRANSFORMASI EKONOMI DAN SOSIAL Sebagai kelanjutan kegiatan pembangunan sebelumnya. penyakit rakyat. Di antara perubahan berlanjut yang akan besar dampaknya pada kebutuhan kesehatan kita dalam PJPT II adalah : • Transformasi ekonomi dan sosial • Transisi demografi • Transisi epidemiologi • Perkembangan ilmu dan teknologi • Perubahan dalam tatanan global. Dampak sosialnya adalah berlanjutnya proses urbanisasi. Hal-hal yang pokok tentang beberapa transisi itu akan ditinjau. Perkembangan itu tergantung pada beberapa faktor utama : 1. yang merupakan penggerak utamapembangunan bidang-bidang lainnya. PERUBAHAN DALAM LINGKUNGAN LAYANAN KESEHATAN Perkembangan kebutuhan kesehatan di masa depan ditentukan oleh transformasi dan transisi dalam lingkungan layanan kesehatan yang sudah berlangsung sejak dua dekade terakhir dan akan berlanjut. Kepadatan penduduk kota tentu mengakibatkan masalah lingkungan hidup. . Beberapa bulan lagi kita akan mengawali PJPT II. Pengalaman ini meningkatkan harkat dan harga diri sebagai bangsa. kebodohan dan jumlah anak yang terlalu banyak. Semua itu tidak sesederhana seperti yang dirumuskan di atas. Pendapatan dari bertani umumnya kebih kecil dibandingkan dengan upah memburuh di pabrik atau proyek pembangunan. Yang mungkin dapat dipastikan dari sekarang adalah bahwa pemerintah akan membuka kesm-patn ang makin luas bagi swasta. Hal khusus dalam PJPT II adalah dijadikannya manusia lndonesia sebagai fokus pembangunan. termasuk sektor kesehatan. untuk y herperan dalam industri kesehatan kita. karena meang masalah kesehatan bangsa pada dasarnya adalah masalah ekonomi. 90. dengan tujuan mencoba memprakirakan keadaan pada akhir transisi demografi dan akhir transisi epidemiologi nanti. Mereka akan lebih tergiur oleh lapangan kerja di sektor industri dan jasa.

Angka kematian bayi (IMR) dan angka kematian ibu (MMR) sangat menurun.bersih sebagai kebutuhan primer akan semakin kritis. Sebelum itu tercapai jumlah penduduk Indonesia akan tetap bertambah tiap tahun dengan angka jutaan. Semua itu diperkirakan akan mengakibatkan polarisasi yang semakin tajam dalam sistem layanan kesehatan. PERKEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI Perkembangan ilmu kedokteran sangat cepat. juga terhadap layanan kesehatan. namun juga masalah sosial dan ekonomi yang berat.21% Usia 60 s/d 75+ 24 446 290 = 9. Akan terjadi apa yang dinamakan two tiers health care system. 90. 18 sekalipun angka pertambahan penduduk suatu waktu nanti sudah dapat ditekan sampai di bawah satu persen. alkoholisme. Edisi Khusus No. TRANSISI EPIDEMIOLOGI Dalam PJPT II pola penyakit diperkirakan sudah beralih kepada pola penyakit masyarakat sejahtera : penyakit kardiovaskuler. Terutama karena masih sangat tingginya Cermin Dunia Kedokteran. Para ahli memperkirakan sekitar tahun 2000 episenter ledakan epidemi penyakit AIDS akan berada di Asia. Informasi akan semakin global.5% s/d tahun 2000) akan makin meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat. Di satu pihak ingin dimiliki dan dikuasai untuk mengejar ketertinggalan. TRANSISI DEMOGRAFI Situasi kependudukan di Indonesia (dan hampir di semua negara berkembang) sedang mengalami perubahan secara dramatis. termasuk tindakan-tindakan heroik seperti transplantasi jantung dan organ-organ vital lain. 1994 . Kesenjangan yang terlalu jauh antara 2 kelas layanan kesehatan itu perlu dicegah sejak jauh-jauh. Dikatakan orang sekitar 60% dari tingkat perkembangan saat ini telah terjadi dalam 2–3 dekade terakhir. melainkan juga oleh biayabiaya lain di luar kebutuhan kesehatan dalam arti sesungguhnya: Dapat dibandingkan dengan penentuan harga untuk menginap di hotel berbintang tiga dengan di hotel berbintang lima. secara kuantitatif maupun kualitatif. Kelompok ini akan meruipakan beban sosial dan beban ekonomi yang tidak kecil artinya. tetapi harga tidur di 2 tempat itu jauh berbeda. Dari aspek kuantitatif sasaran yang ingin dicapai dalam PJPT 11 tentulah zero-growth atau minimal growth. penyakit degeneratif dan usia lanjut. yaitu menumpang tidur. Untuk masyarakat yang semakin sejahtera tingkat hidupnya. Namun saat ini teknologi diidentikkan orang dengan alat untuk diagnosis dan terapi. sehingga jarak geografis makin menjadi tidak penting. Transformasi dan mobilisasi semakin mudah. sekalipun tidak merata. (Angka-angka di atas berasal dari penghitungan Ananta dan Arifin: Projection of Indonesian Population 1990–2020). Tingkat pendidikan masyarakat akan makin meningkat. Harga itu bukan ditentukan oleh biaya pemeliharaan kesehatan an sich. Dari aspek kualitatif hal yang dapat dipastikan akan terjadi adalah bahwa penduduk Indonesia akan semakin menua. Sistem nilai mereka akan sangat berubah. Diperkirakan akan meningkat juga masalah sosio-medik yang terkait dengan alkoholisme yang tahun-tahun terakhir makin tampak di permukaan. 20 September 1993). Menteri Ketua Bappenas Ginanjar Kartasasmita yakin setelah dua Pelita pertama PJPT 11 tidak akan ada lagi rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan (Suara Pembaruan. Telekomunikasi makin lancar. Sukar diramalkan bagaimana dampak pemanasan global dan kerusakan ekologi lainnya terhadap kesehatan manusia nanti. entah dalam tahun berapa dan pada jumlah penduduk berapa juta. kanker. Pengendalian penyakit yang dapat ditularkan harus semakin ketat. Sikap umum terhadap teknologi dalam bidang medis saat ini masih bermuka dua. di pihak lain masih besar kecurigaan terhadapnya. dampak sosial dan politiknya akan dapat merunyamkan. Di sisi lain pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan akan tetap tinggi (6 – 6. keterampilan dan prosedur melakukan tindakan medis. Sebenarnya alat hanyalah salah satu aspek saja dari pengertian teknologi secara luas itu. risiko karena pekerjaan. yang bukan hanya akan merupakan masalah kesehatan. Kegiatan yang dilakukan di 2 hotel itu adalah sama. terutama di antara orang-orang muda. Harga pemeliharaan kesehatan (atau harga mengobati penyakit) akan semakin mahal. stroke. Teknologi kedokteran adalah himpunan pengetahuan. Semua itu akan berakibat kebutuhan dan tuntutan secara umum akan makin meningkat. Narkotika dan ketergantungan obat akan pula menjadi masalah global yang makin sukar dikendalikan. Demikian juga kasus kelainan kejiwaan akan meningkat sebagai akibat ketegangan kehidupan kota yang semakin kompetitif. malahan akhir-akhir ini cenderung lebih disempitkan lagi dalam pengertian alat bertekno logi tinggi (hi-tech). Golongan yang sejahtera akan makin berubah gaya hidup dan pola budayanya. layanan untuk golongan mampu akan semakin berbeda dengan layanan untuk masyarakat golongan bawah. Semua itu dimungkinkan karena didukung oleh perkembangan teknologi yang juga sangat menakjubkan.97% Angka-angka yang diproyeksikan di atas menunjukkan bahwa pada akhir PJPT II nanti diperkirakan : • Penduduk Indonesia akan menjadi hampir 1/4 milyar • 1 di antara setiap 3 orang adalah balita sampai remaja (belum produktif) • 1 di antara setiap 10 orang adalah berusia lanjut (tidak produktif lagi dan cenderung tidak sehat). Tuntutan kelompok ini akan sumberdaya untuk layanan kesehatan akan cukup besar. harga pemeliharaan kesehatan akan semakin meningkat karena ditambah dengan tuntutan kemudahan dan kenyamanan. Harapan hidup waktu lahir sudah jauh meningkat. ketergantungan obat. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia memproyeksikan penduduk Indonesia dalam tahun 2015 akan berstruktur sebagai berikut : Jumlah 245 388 204 Usia s/d 19 th 79 028 429 = 32. karena akan semakin panjangnya usia harapan hidup pada waktu lahir dan meningkatnya mutu kehidupan. Masalah-masalah psiko-sosial sebagai akibat kepadatan pemukiman akan besar pula pengaruhnya pada kesehatan jiwa banyak orang. korban kecelakaan lalu limtas.

sistem nilai Cermin Dunia Kedokteran. rekayasa genetik. Dengan health policy yang tepat saat itu nanti diharapkan teknologi akan menentukan tingkat layanan kesehatan yang dapat diberikan secara optimal. Ingat : dua puluh tahun yang lalu tidak ada yang berpikir salah satu blok adikuasa dapat runtuh berkeping-keping. 90. perang. PERUBAHAN TATANAN GLOBAL Dunia akan menjadi semakin sempit. pergeseran kekuatan politik nasional dan internasional. dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan terus kuat. cystic fibrosis) berkat teknologi terapi gen akan dapat dicegah dan diatasi. meningkatkan mutu gizi. hormon dan lain-lain. membudayakan keluarga berencana. Peningkatan mutu layanan disesuaikan dengan tuntutan obyektif (transisi demografi dan epidemiologi. Semua rekaan di atas tidak ada nilainya sama sekali jika terjadi kejutan-kejutan hebat dalam tatanan global (dan juga tatanan nasional atau regional) yang menyangkut perimbangan kekuatan senjata. yang dalam banyak hal berarti bebas bagi yang kuat. Ini berarti efisiensi dan kemudahan bagi pasien. akan merupakan pasar yang sangat diincar. Batas-batas negara akan semakin tidak ada artinya dalam lalu lintas uang. Jika kecenderungan seperti sekarang akan berlanjut seluruh dunia akan menjadi satu pasar bebas yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan transnasional raksasa. meningkatkan pendidikan minimal. sosial dan budaya yang berlanjut (sustainable development). antara lain penyalah-gunaan teknologi (technology abuse). Dalam banyak negara memang terbukti bahwa teknologi tinggi adalah salah satu penyebab makin melonjaknya biaya layanan kesehatan. pengertian yang lebih mendalam tentang ensim. Ini antara lain harus berarti keberhasilan mengentas rakyat paling bawah ke atas garis kemiskinan dengan menyediakan lapangan kerja yang layak. Dalam arti lebih sempit pemenuhan kebutuhan itu akan berarti : 1.investasi untuk itu dan kekuatiran kemungkinan terjadinya beberapa dampak negatif. termasuk jasa kesehatan. Ungkapan global village atau global supermarket akan benar . Teknologi tentu akan makin berkembang dan canggih. Di samping itu kecanggihan teknologi kedokteran akan membuat asuhan medis menjadi lebih aman dan Iebih menyenangkan bagi pasien. termasuk oleh bisnis kesehatan transnasional dengan jaringan global. Sekarang pun orang sudah membuat antisipasi bahwa 70% dari pembedahan yang sekarang dilakukan di rumah sakit. desintegrasi suatu blok kekuatan atau suatu negara adikuasa. kesejahteraan. didukung oleh perkembangan biologi molekuler. Peningkatan volume layanan karena jumlah manusia yang dilayani akan bertambah dengan sekitar 50 juta orang. berkat dukungan teknologi dalam waktu tidak terlalu lama lagi akan lazim dikerjakan tanpa pasien perlu dirawat. memperbaiki pemukiman dan perumahan. Konsekuensi lain adalah biaya sosial untuk layanan kesehatan juga akan meningkat. teknologi akan menjadi lebih efektif-biaya. Hospitalisasi terutama hanya untuk kasus-kasus gawat darurat. berkat keterbukaan informasi yang tidak mungkin dibendung dengan cara apapun. juga terhadap industri kesehatan dan perumah-sakitan. Pemenuhan kebutuhan yang meningkat itu harus dapat didukung oleh keberhasilan pembangunan ekonomi. Ilmu kedokteran akan semakin maju. Ini akan berarti lebih lagi pergeseran perhatian pada upaya prevensi. Perlu juga diikuti dengan seksama perkembangan Cina sebagai negara adikuasa baru. Namun dalam PJPT II diharapkan sudah tercapai secara wajar keseimbangan antara kebutuhan dan pemanfaatan teknologi secara tepat. perkembangan il mu dan teknologi. gangguan stabilitas dan keamanan. Dengan pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan kemampuan penelitian Indonesia sudah akan lebih mandiri. 1994 19 . Hal-hal yang terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi di atas akan besar dampaknya terhadap kebutuhan dan profil rumah sakit dalam PJPT II. PENINGKATAN KEBUTUHAN KESEHATAN DALAM PJPT II Transisi kesehatan karena dinamika dalam unsur-unsur lingkungan kesehatan seperti dipaparkan di atas akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan kesehatan dalam PJPT II. Kanker pun diharapkan sudah akan dapat dicegah dengan imunisasi . Hal-hal itu adalah sarana dasar untuk hidup sehat. memperbaiki lingkungan hidup. Edisi Khusus No. gaya hidup. bioteknologi. dan pengobatannya akan menjadi lebih efektif. gangguan sistem immun. benar menjadi kenyataan. Semua itu akan mengakibatkan hidup manusia dapat diperpanjang. Jaringan perumah-sakitan mereka akan menancapkan cabang atau satelitnya di negara kita. barang dan jasa. Dalam kaitan ini perlu dikaji secara teliti saran World Bank dalam laporannya tahun 1993 : harus ada persaingan bebas dalam layanan kesehatan dan jangka ada proteksi untuk industri kesehatan domestik terhadap kompetisi internasional Rupanya Bank Dunia yang didominasi oleh negara-negara kaya ini benar-benar berorientasi pasar bebas. Indonesia yang nanti akan berpenduduk seperempat milyar. serta kebutuhan tempat tidur rumah sakit akan berkurang. Berbagai penyakit yang sampai sekarang dianggap tidak dapat disembuhkan (seperti beberapa penyakit turunan. namun sukar diantisipasikan sekarang. 2. krisis ekonomi dan keuangan. penyakit menahun dan penyakit karena usia lanjut. bagai konsumen ilmu dan teknologi kedokteran yang diimpor dari negara lain. membudayakan gaya hidup sehat. Diharapkan dalam PJPT II Indonesia tidak lagi hanya se. Dalam PJPT II banyak penyakit diperkirakan sudah dapat dideteksi sebelum gejala paling dini terasa. persaingan) dan tuntutan subyektif (karena peningkatan pendidikan. kasus yang memerlukan tindakan "berat" seperti transplantasi organ. Budaya dan gaya hidup dengan segala dampak positif dan negatifnya menjadi global. dengan segala dampaknya terhadap kita. Salah satu ciri utama daripada pasar bebas demikian adalah persaingan yang keras untuk memperebutkan konsumen. Di samping itu masih banyak variabel lain yang dapat sangat besar pengaruhnya. kematian bagi yang lemah ! Itu semua jika tatanan global dikaji hanya dari pendekatan sosialekonomi dan bisnis secara sederhana.

Layanan Puskesmas tidak boleh lagi cuma-cuma. Black M. Ini tidak mengherankan karena rumah sakit adalah konsentrasi tenaga ahli dan teknologi yang mahal. Penghimpunan dana masyarakat dan sektor swasta untuk layanan kesehatan akan sangat bertumpu pada sistem Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM. Sebagai akibat persaingan akan terjadi konglomerasi rumah sakit (hospital chains) atau bentuk usaha lain yang lebih menjanjikan efisiensi dan efektifitas. 90. Jakarta. Puskesmas diselenggarakan sebagai unit swadana yang disubsidi pemerintah. user fee) Investasi modal swasta (PMDN. dan lain-lain. Pemerintah terutama membiayai atau mengsubsidi rumah • sakit pendidikan. akreditasi. dan lain-lain) yang memadai. Pemerintah jangan sampai menjadi pesaing bagi swasta dalam penyelenggaraan rumah sakit. Pembiayaan layanan kesehatan di masa yang akan datang mau tidak mau harus menjadi beban bersama antara pemerintah dan swasta menurut komposisi bauran (public-private mix) yang disesuaikan dengan perkembangan keadaan nanti. An Emerging Crisis: AIDS in Asia. 2. pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan kesehatannya. • Persaingan akan meningkat. 25 Sept 1993. 1994 . Di samping itu pemerintah sebaliknya terutama menyediakan layanan kesehatan primer yang semakin bermutu melalui Puskesmas. 2. Antm bN. Regulasi hendaknya tidak kaku dan keras. Untuk "yang tidak enak itu" masyarakat (termasuk sektor swasta) ikut membiayai melalui pajak dan iuran langsung maupun tidak langsung yang lain. Indonesian Observer. Harus ada regulasi terbatas atau regulated deregulation. Transisi Demografi. dan mutu layanan kesehatan primer akan makin terjamin. dana. besar kemungkinan dalam PJPT II peran serta swasta dalam pembiayaan kesehatan akan menjadi lebih besar lagi ketimbang peran pemerintah. 5. Seperti diketahui sampai sekarang sekitar 60% anggaran belanja pemerintah untuk kesehatan terserap oleh subsektor rumah sakit. Sektor swasta (termasuk swasta asing) akan lebih berperan • dalam penyelenggaraan rumah sakit untuk tujuan pelayanan dan rujukan. Pemerintah dapat bekerja sama atau berpatungan dengan swasta (termasuk swasta asing) untuk investasi rumah sakit. nursing homes. Tinjauan perkembangan adalah perkiraan strategic response yang mungkin terjadi didasarkan pada proyeksi kebutuhan kesehatan waktu itu nanti. PMA) — Sistem-sistem JKPM (managed care) yang masih harus dikembangkan. Transisi Kesehatan dan Pembangunan Ekonomi. Dengan demikian keterjangkauan. Fungsi layanan rumah sakit akan berubah. perawatan penyakit menahun dan penyakit usia lanjut. Projection of lndonesian Population. Rumah sakit yang dibiayai atau disubsidi oleh pemerintah sebaiknya hanya tinggal rumah sakit pendidikan dan penelitian. termasuk rumah sakit. rumah sakit khusus tertentu dan rumah sakit untuk masyarakat kurang mampu. namun perumah-sakitan tidak juga boleh sampai dilepaskan seluruhnya pada mekanisme pasar bebas. Sirait H. • Pemerintah terutama mengsubsidi atau membiayai penye lenggaraan Puskesmas yang akan menjadi makin bermutu. yaitu penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna berdasarkan asas usaha bersama dan kekeluargaan. pemerintah kebagian yang tidak enak". diperkirakan perkembangan perumahsakitan akan ke arah : • Peran pemerintah sebagai pemilik dan penyelenggara rumah sakit akan berkurang. Ananta A. Memenuhi semua kebutuhan tadi dalam PJPT II (atau kapan saja) pada dasarnya adalah masalah penyediaan sumberdaya (sumberdaya manusia. yang 2 0 Cermin Dunia Kedokteran berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan secara praupaya. Untuk mengurangi beban anggaran pemerintah bagi layanan kesehatan. Rumah sakit jenis lain seyogyanya diserahkan kepada swasta penyelenggaraannya.masyarakat). pemerataan. 1991. • Dana untuk penyelenggaraan kesehatan akan berasal dari gabungan: Anggaran pemerintah Dana masyarakat (pajak. Dana pemerintah yang dapat dialihkan dari anggaran untuk penyelenggaraan rumah sakit ditambah dengan dana dari user fee hendaknya dapat meningkatkan kemampuan layanan kuantitatif dan kualitatif oleh Puskesmas. Lembaga Demografi FEUI Population Series No. User Fees in Public Hospitals : Comparison of Three Country . dalam PJPT II. 7—8 Mei 1993. rumah sakit khusus tertentu dan rumah sakit untuk masyarakat tidak mampu. RINGKASAN Telah disampaikan tinjauan tentang kemungkinan perkembangan sistem layanan kesehatan. 23 tahun 1992. 4. terutama untuk layanan kasus gawat darurat. Melihat kecenderungan privatisasi yang sekarang terjadi secara global. perawatan intensif. Yang mungkin dilakukan antara lain adalah mengurangi secara drastis perannya sebagai penyelenggara rumah sakit. Jakarta. sarana. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah mengurangi jumlah rumah sakit yang dimiliki dan dioperasikannya sendiri. treatment centers. managed care) seperti yang didefinisikan dalam Undang-undang no. perizinan. Pemerintah hendaknya membatasi diri hanya dalam menjalankan fungsi legislasi. teknologi. bukan hanya antara rumah sakit (di dalam dan di luar negeri) tapi juga dengan hospitals without beds. KEPUSTAKAAN 1. tapi sudah harus ditetapkan user fee untuk jasa yang dinikmati masyarakat. Puskesmas dijadikan unit swadana. Edisi Khusus No. Alternatif Pembagian Peran antara Pemerintah dan Swasta dalam Pembangunan Kesehatan. 3. diagnostic centers. 1992. rujukan diagnostik dan tindakan teknologi tinggi. pengawasan dan pengendalian. Lewis MA. Lembaga Demografi FEUI. Orang-orang pemerintah hendaknya menghilangkan paradigma bahwa "swasta mau enaknya saja. Semiloka Peranan Pemerintah dan Swasta dalam Pembangunan Kesehatan Menghadapi PJPT 11. Ciloto. Dengan asumsi dan analisis yang terutama bersifat kualitatif (yang tentu saja mungkin saja meleset sama sekali). Ananta A. Dengan demikian pemerataan dan keterjangkauan layanan kesehatan akan terjamin. Gani A. Kecenderungan badan penyelenggara JKPM dimonopoli oleh satu badan usaha saja hendaknya dicegah.

WHO. 10. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta. Geneva. World Hospitals. No 2.90. 1993. Sukirman. FEUI. 22 October 1993. One Day Seminar on lnnovations in the Financing of the Health Sector Perspective on PJPT 11. Edisi Khusus No. 9. 8. Jakarta. World Bank. Undang-undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. 1993. Tjiptoherijanto P. 11. Garis-garis Besar Haluan Negara. 1993. 1994 21 . Djisman S. 6. lndonesia Economic : Present and Near Future. Comparison of lndonesian and United States Health Care Financing Reforms. 1992. 1993. 7. 13. Jakarta. 1993. 22 October 1993. 14.Case Studies. Health Transition. World Bank Report 1993. 1993. Hospital Economics and Financing in Developing Countries. Marzolf J. Beberapa pokok pikiran dalam pembangunan sumberdaya manusia dalam PJPT 11 dan Repelita V1. its impact on Health Sector Financing in Thailand. 12. Vol 29. Health Planning Division. Jakarta. Healthcare Finance and Economics. Bangkok. lnternational Science and Technology lnstitute. 15. Ministry of Public Health. Medium-term trends in the lndonesian Economy and Implicated upon the Health Sector. Newbrander W et al. One day Seminar on Innovations in the Financing of the Health Sector Perspective on PJPT 11. Tangcharoensatien V. Said Amin Tabish.

which in turn represents 21 nations. Jakarta 21 — 25 November 1993 b) Over supply of high technology c) Poor community health systems and status and d) Denial of access based on ability to pay of 37 million Americans. The United States spends presently 13% of its Gross National Product on health care. This involves hospitals and other health care facilities competing for government funds to provide local services. 1994 . inter alia a) Service duplication Presented at the Vlth Congress of the lndonesian Hospitals Association& Hospital Expo. therefore. Until recently the United States and the United Kingdom have been at opposite ends of this spectrum. I will review some of the important trends and ideas I see emerging in health services delivery. International Hospital Federation INTRODUCTION It is a pleasure to bring greetings to our Indonesian colleagues from the 21 members of the Council of Management of the International Hospital Federation. Another hoped for impact of the government was that there would be a reduction in waiting lists for elective surgery. you can see what a dramatic difference there is. Firstly. If one considers the difference in the per capita income of citizens of the United States and the United Kingdom. It is too early to say what will be the ultimate outcome of the reform movement in health care in the US but some elements of the President's package will clearly remain intact. 6. The final essential of President Clinton's programme is that there be community-wide managed care systems at the local level. The system has now been in operation for some two years and the impact of the reforms are becoming evident. in both countries there is major change under way. It may be of interest then to reflect on one of the outcomes of these approaches. world famous hospitals. that health care financing will be organised on a state level through insurance alliances in each state. have the great privilege of seeing and hearing of health services developments around the world. In the last few weeks I have been in the United States discussing the US President's proposed reforms with my American colleagues. The United Kingdom has already moved to controlled competition through its internal market approach. TREND 1 — CONTROLLED COMPETITION Throughout the history of health care organisation. The federation has members in all five continents and in 90 nations. This is likely to result in the near future in the closure of some of London's great. employers both in large industries and in small businesses will be forced to carry health insurance for their staff and families and thirdly. I have identified 8 trends which I wish to describe. there has been a debate about the role of government versus private initiative in health care provision. there has been improved productivity in hospital and health services. In the United Kingdom that figure is only half of that. While I will identify them as trends 1 to 8.Current lssues and Future Trends in Health Care Errol Pickering Director General. I. The 22 Cermin Dunia Kedokteran . I don't wish to imply that one is any more significant than the other. The United States has found that competition which is promoted by a system based on private initiative has resulted in. for the first time 100% of the American population will have access to health care irrespective of their ability to pay. Edisi Khusus No. Firstly. However. Secondly. Today. Britain has had a government dominated health service whilst in the United Sates private initiative has been the driving force. This has had the impact of reducing usage of big city teaching hospitals. This will in turn lead to a system of controlled competition of purchasing and providing care. 90.5%.

90. TREND 2 – RE-DEFINING QUALITY Quality has become a central focus for nations in organising their health services. One of the interesting developments in this regard is the increasing use by American hospitals of what have been called Standard Treatment Protocols. can use services. they have focused their standards on attempting to determine the patient's perspective on quality and service. To have any complaint about NHS services — whoever provides them — investigated and to receive a full and prompt written reply from the chief executive or general manager. So for example. through your GP or the emergency ambulance service and hospital accident and emergency departments. and to know that those working for the NHS are under a legal duty to deep their contents confidential. 6. The listings which follow provide more detail of the patient's charter in Britain (see attachments 2 & 3) .results in fact have been mixed. This is because poor quality health care is a waste of resources. 4. 5. It used to be that health service providers thought of quality as a lesser priority but now it is one of the major driving porces of health care delivery. In some way it can be seen that there is a re-definition of quality which expands the focus from the clinical level to the patient level and to the community level. To be registered with a GP. To be given a clear explanation of any treatment proposed. They then use this information to get a basis for the organisation of their health services and for developing priorities. 2. dignity and religious and cultural beliefs. We can see from the listing which follows that the British definition of quality is quite different to that of the United States (see attachment 1). Existing accreditation systems are also becoming more sophisticated. Cermin Dunia Kedokteran. Waiting time in outpatient clinics 7. 7. That is. Attachment 2 British Patient's Charter Rights Existing 1. That is. In particular they are setting targets for preventable diseases and health promotional activities. In the United States there are sophisticated communityoriented information systems being developed with the use of Attachment 1 British Patient's Charter Rights National Standards 1. We can see this move focusing on quality in the expansion of accreditation systems throughout many countries. lnformation to relatives and friends. To have access to your health records. Around the world we see hospitals adopting continuous quality improvement and Total Quality Management Systems as apart of the central core of their management. acceptable to you. New Zealand has completely moved to this model and Sweden is in the midst of its implementation and many countries are about to adopt the system. They have a very advanced system of community health mapping. These protocols set out what is necessary to be done for each diagnosis at each phase of care and identifying what diagnostic and treatment services are required and how the patient's treatment should be scheduled. The British approach has been different. Attachment 3 British Patient's Charter Rights New 1. Governments should be more cautious about adopting such radical reforms. when your GP thinks it necessary. In the United States the Joint Commission on Accreditation of Hospitals and Health Facilities has spent many millions of dollars on identifying patient care outcomes as a means of measuring standards of health care. My concern is that all the evidence on the system is not yet in. and to be referred for a second opinion if you and your GP agree this is desirable. To choose whether or not you wish to take part in medical research or medical studcnt training. Waiting time for initial assessment in accident and emergency departments. To be referred to a consultant. Another approach that governments are using to define quality in health services is to look at the health status of the community. Major. Arrangements to ensure everyone. Mr. To receive health care on the basis of clinical needs regardless of ability to pay. This concept of the patient's charter of rights is a personal initiative of the British prime minister. 3. The overall analysis suggests that there has been no real benefit in this context. . The other unexpected outcome has been that increase in productivity has brought with it rapid patient throughput which has meant that hospitals have often spent their elective surgery budgets within the first half of the year and have no funds remaining to continue their elective surgery for the remainder of the year. that they are able to identify morbidity not only in every community but in every house in their cities. 3. governments or regions are setting targets for reductions in infectious diseases of various kinds and in coronary disease etc. To be given detailed information on local health services. including quality standards and maximum waiting times. midwife or health visitor responsible for each patient. including people with special needs. Respect for privacy. 5. before you decide whether you will agree to the treatment. 3. Waiting time for an ambulance service. 4. including any risks and any alternatives. Discharge of patients from hospital. To be guarantecd admission for treatment by a specific date no later than two years from the day when your consultant places you on a waiting list. Our communities are also becoming better educated and so demand a better quality of health care. 9. 6. 1994 23 . To receive emergency medical care at any time. Cancellation of operations. 2. It is of concern to me that many countries are beginning to copy the UK model. 8. TREND 3 – MANAGING WITH DATA Some years ago I visited Cuba to examine their health system. This charter of rights has been distributed widely through hospitals and thecommunity and each patient has access to the patient's charter booklet which sets out what they may expect of the health service provider. A named qualified nurse. 2. their total organisational structure and their information systems are being re-designed to focus on quality.Edisi KhususNo.

/C&D8 Artline/CVP D/C NG D/C T. appts. med sheet on chart Transfer Complete record Discuss D/C plans Teaching Cath Booklet Begin post-op tcaching I Review meds. labs. pacer D/C box Chest tubes D/C . Pre-op Labs Post-op ECG. ROM NPO Dangie X 2 Ambulate tid Cardiac Diet or diet as at home-fluid restriction (DC when at pre-op wt) tid and ad lib Diet NPO 6 hrs before procedure NPO p MN Liquid diet Discharge Assess home support health habits coping ability Physician order on chart for DC mg nereds Predischarge D/C before orders. Neuro checks Monitor Ventilator DC ECG DC CXR D/C labs except PT continue GXT scheduled Done prior 9a Treatments (includes needs) Client lists home needs Old records to unit IV Sheath removal D/C D/C 02 D/C 2-4L 02 NC 02 pm 1. 90. Activity UP BR —> UP Turn q 4 hr. diet. CXR. VS. activity level . Edisi Khusus No .Attachment 4 Appendix A. 12 Noon scripts. CXR. IV HL (Change site) DC Central Lines Foley D/C Skin Care/ incision I & O/wt Analgesics Anticonguiartis D/C wires D/C DCI + O if at pre-op wt. Sample Surgical Clinical Path-DRG 104: Valve Procedure with Catheterization Critical Preadmit: Occurances Tele Unit LOS Day 0 Consults SS Home nursing Dietician Tele Unitl Cath LOS Day 1 OR Day LOS Day 2 POD 1 LOS Day 3 Respiratory Therapy POD 2 POD 3 LOS Day 5 POD 4 POD 5 LOS Day 7 POD 6 LOS Day 8 POD 7 LOS Day 9 LOS Day 4 Cardiac rehab CNS Diabetic Cardiac LOS Day 6 Tests ECG.5. 1994 . Tcaching and tour Pre-op 2 4 Cermin Dunia Kedokteran . S&S to report. Labs. labs.

DRGS have now been extended. The study which demonstrated this is now a few years old but it can be said that it is known that investment in biomedical research has increased to 4 billion dollars a year. however. Research I think is beginning to show us that what we mustdo in regard to influencing of lifestyles is to start withhealth promotion programmes for our children. We can see that while bio-genetics has as potential for increasing costs it is likely that new vaccines will become available through this technology and therefore reduce infectious disease.648 $17. Sometimes this extends beyond health care workers. breast cancer. TREND 5 – RATIONING The Paris-based organisation – OECD. transport.2 2. 1994 25 . for example in Sweden that postmen have been given a responsibility to ensure that the house-bound elderly in the community are "okay".7 0. attachments 4 & 5) gives an indication of what is involved. Health care economists around the world are recognising the likely impact of these great leaps of medical science and putting them into the context of an already cash-starved health systems.6 9. as indicated early. the Organisation for Economic Cooperation and Development. The World Health Organisation has long recognised that the health of a country is not primarily related to the nation's health services. This system means that hospitals are reimbursed on the basis of the average cost of dealing with a particular diagnosis. CardiacPath'"' —Paticnt and Financial Outcomes Comparison Pre-CardiacPath Procedure Post-CardiacPath % % Averagc Total Avcragc Avcragc Total Avcragc Mortality Mortality Charges * LOS Charges * LOS $54. welfare and housing. or the environment.1 3.9 $4O. It must be reported.738 10. Hospitals are still filled with the problems associated with lifestyle.Source : Borgess Medical Center . The attached appendix (i. Are we then heading into a period of rationing of health care? Let's examine the situation a little more deeply. The health of the citizens of a country of course relates to the standard. estimates that hospital cost inflation is primarily caused by medical technology developments. One example is in San Diego where half the population is covered through this network of information. Attachment 5 Figure 4.4 4. the potential cost saving implications of using these systems. It has now been cleariy shown that cervical cancer. 90. TREND 4 – COMMUNITY ORIENTATION Australia has been a leader for many years in orienting its health services to the community. we already know that day surgery and diagnostic approaches have reduced costs. In this context I have been delighted to find outMickeyMouse is coming to our aid in that the Disney Corporation is beginning to produce health promotion materials for children around the world. of managing health services through the use of data is that of "DRGS" (Diagnosis Related Groups). from the chart setting out the "cardiac path" for the treatment of three types of surgery. Many of its hospitals have been carrying out community outreach programmes for more than a decade. Concepts of health promotion have also been with us for at least two decades.9 2.7 0.017 $37.3 2. You can see. I think we in health services often forget the need to coordinate with our colleagues in other sectors to help to improve the health status of our peoples. Michigan Cermin Dunia Kedokteran . You can see not only what will occur in each phase of care but when each phase ofcare will take place.7 Valve Surgcry ( DRG 104-105) CABG Surgcry ( DRG 106-107) PTCA (DRG 112) * Includes anethesia fees . The most obvious example. Further we can see that most nations are now setting up national programmes of technology assessments to ensure the appropriate introduction of high technology on a rational basis. hypertension and hypercholesterolemia are all targets for cost beneficial national screening programmes. in large part. This can all be distilled into one word –"poverty".4 11.e. I think we will hear much more of this new concept.913 $15.8 10. This system which began in the United States about a decade ago has now reached Australia.computers these link hospitals to community health services.122 $33. Sweden and I understand parts of Asia. Another aspects of community orientation of health services is our growing research base on health care screening economics. colon cancer. that the results of these programmes have been. Many European countries also have a regional basis for their health service delivery which puts an emphasis on care at the community level. Kalamazoo . Edisi Khusus No. education.566 13. of course. to local GPs. to standard protocols but further to the concept of developing patient critical paths for dealing with aparticular diagnosis. disappointing. However. It is estimated that through new bio-genetic techniques that some four thousand previously unmanageable diseases will become treatable. Spain. Presently pharmaceutical products account for some 40% of a reduction of mobility in our communities and therefore there is the increased potential for further reduction as medical research proceeds also in terms of techniques.

This idea is also spreading internationally and is evident now in parts of Australia and in Britain and is gaining hold as a concept everywhere. It would seem to me that it is a model which we must all examine in a future where health care rationing seems imminent. The result of this restructuring has been shown to.staggered to read recently that the health budget for some African countries is as little as 50 American cents per person per annum. The British research on "qualies" has clearly demonstrated that health services can be delivered on a more rational basis by allocating resources relating to the quality of life expected following particular medical procedures. in that they truly obtain the sense of being cared for by a small team of professionals. There is also a world wide trend to educate the patient concerning their condition and their health in general. This involves the decentralisation of many of the allied health professional services so that they actually operate at ward level. not only improve the patient's perspective of care. This means that they have no possibility of importing drugs or equipment and as a result their pharmacies remain empty and their professionals helpless. has not held up in this horrible civil war. Edisi Khusus No. a laboratory technologist. That is for the first time countries are obtaining facts to base their health policy on rather than what has been in the past purely ideology or supposition. TREND 7– DEPRIVATION AND DISASTER Among all of the exciting developments in health care there is also a dark side and that of course is so evident in Africa and in the former Yugoslavia. This multi-skilling has also occurred at the low level of employee. This means that a true patient care team is developed at ward level. You can see from their data on caesarian sections what this impact is. Rand have also identified the impact of the health financing system on the utilization of services.Another interesting dimension of this question is that of appropriate utilization of resources. For example in the United States there are several hospitals which have been restructured to become what are called "patient-focused hospitals". Another new patient-directed development is that of the non-smoking hospital. that is neither patients nor staff may smoke in the buildings or in the immediate surroundings of the hospital. TREND 8– HEALTH SERVICE RESEARCH BASE POLICY One of the truly hopeful signs of health services development around the world in the establishment of National Health Service Research Institutes. Attachment 7 Financial Disincentives Caesarian Sections US Data Rate 21% 23% 31% also cost savings have been demonstrated. In government hospitals In voluntary not-for-profit hospitals In for-profit hospitals TREND 6– FOCUSING ON PATIENTS We in hospitals and health care have always put emphasis on patient care but experiments are going on in health service delivery facing a renewed examination of a health service from a patient's point of view. that we have far to go in eliminating waste. 2 out of 5 medications unnecessary. I was. 1994 . That is. You will be aware. Many us hospitals are now totally nonsmoking. there is a new level of professional which can carry out many of the basic professional functions. That is in each ward there will be a physiotherapist. The most obvious example of this is Euthanasia in the Netherlands. 1 in 4 clinical procedures unnecessary. whereby for example the ward cleaner takes on a broader function of food delivery to the patients and messages around the hospital as well as providing a patient comforting role. Attachment 6 Hospital Wastage (Rand Corporation Studies) 1 in 4 hospital days unnecessary. a social worker etc. In summary I think we can say that much can be done to reduce costs and pressures on services in health care but it is my personal view that rationing will have to come. These research institutes can provide information on the health of the country and the impact of its health service systems through their research activities. In Africa of course the problem is deprivation. a pharmacist. That is there is a belief that a multi-skilled staff a more effective way of dealing with patients. ranging to as much as 5% of operating costs. any rational health system would lower the priority of fund allocation to bypass surgery because of its rather doubtful long-term benefits yet it would increase resources allocated to say. 90. I'm sure that the State of Oregon in the United States has developed this "quality" system into an operational programme which has just cleared the courts and is to be put in place in that state for Medicare patients. In Yugoslavia we have seen the grotesque sight of hospitals being targeted as military objectives. In many countries it is now the law that the record belongs to the patient and they have access to it at all ti mes. There are also developments concerning staff training. The following chart demonstrates the phenomenon (attachment 7). The other dimension of patient focusing is in regard to medical ethics where it is now recognised that questions concerning the patient's fate or that of their family must be discussed with them and that the patient and his family take a major role in the decision-making concerning further medical procedures. hip replacement because of the profound improvement of the quality of life of the reciopient of this particular procedure. there is also a trend to sharing information with the patient particularly the patient's records. but 26 Cermin Dunia Kedokteran . The Geneva Convention whereby hospitals are sanctuaries of peace. Many hospitals have been destroyed and health service professionals have been killed and tortured. emanating from the Rand Corporation in Los Angeles. That is. for example. we can see from the attached data (attachment 6).

abandonment or implementation problem is one which requires a priority solution. all countries need to carefully assess new trends before they take action to implement them. Indeed it is true to say that you have much to show the world in regard to how to rapidly improve the health status of a nation. 90. The establishment of these Health Service Research Institutes and the use of data can result in rational health policy development. Ask yourself whether what you've just read or heard relates to a problem in your country and whether the Attachment 8 Rational Health Policy Development Community health status data ↓ Health morbidity geographic and social data ↓ Present resource allocation information ↓ Planned policy initiative ↓ Community and professional feedback ↓ Pilot initiative ↓ Evaluation of impact ↓ Policy amendment. CONTEMPLATIONS Indonesia has been one of the success stories of health status improvement over recent years. Thank you for the honour of being invited to speak at your conference and may I wish the rest of your deliberations well. This means that health policy can be developed based on the following flow chart (attachment 8). Edisi Khusus No. In short to develop Indonesian solutions to Indonesian problems. My advice would be to keep in touch with the world through reading and attendance at conferences but to digest the information carefully. Can I then say that whilst all of the trends I've outlined today are of great interest.This development is long overdue particularly when we make comparisons with industry where they spend very substantial proportions of their budget on research and development. 1994 27 . Cermin Dunia Kedokteran. in some industries this is as high as 30% of their input whereas in health care we tend to spend nothing or very little.

sistematik dan berlanjut serta memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan. Setelah tahun 1950 sampai tahun 1970. Keadaan sosial-ekonomi dan pendidikan 'masyarakat semakin tinggi sehingga orientasi sistem nilaipun telah berubah. Namun disadari ada perbedaan persepsi mutu antara konsumen dan provider." Oleh karena tujuan akhir adalah meningkatkan mutu pelayanan maka Departemen Kesehatan telah menetapkan istilah untuk program mutu adalah Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. diikuti dengan ditutupnya beberapa fakultas kedokteran yang tidak memenuhi syarat. program pengawasan mutu. Perbaikan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia. tahun 1946 di Amerika Serikat dikeluarkan Hill Burton Act yang mengatur tata laksana perluasan (termasuk biaya) rumah sakit. 90. SEJARAH PERKEMBANGAN Upaya peningkatan mutu pelayanan. 21 . Jakarta PENDAHULUAN Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama yang akan berakhir dengan berakhirnya Repelita V ini. Selain persepsi yang berbeda. Walaupun banyak istilah yang digunakan namun pada dasarnya program peningkatan mutu adalah "keseluruhan upaya dan kegiatan yang komprehensifdan integratif yang memperbaiki struktur. tahun 1918 standar minimum saranaRS. Jakarta . dan lain sebagainya. Perbedaan persepsi tersebut sering mengakibatkan keluhan akan pelayanan. peningkatan mutu berkesinambungan. Di Amerika Serikat. 28 Cermin Dunia Kedokteran . dan memecahkan masalah-masalah yang terungkapkan sehingga pelayanan yang diberikan di rumah sakit berdaya guna dan berhasil guna. Pada tahun 1912 Joint Committee for Consideration of Standardization of Visiting Nurse menyusun standar ketenagaan perawat sedangkan Kongres Ahli Bedah Amerika Utara menyusun standar pelayanan bedah pada tahun 1915. Masyarakat semakin menginginkan pelayanan umum lebih baik. telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. program peningkatan . program peningkatan mutu. demikian pula pada zaman Hippocrates sekitar 25 abad sebelum Masehi. Makalah ini akan membahas manajemen mutu dengan sistematika sebagai berikut : Pendahuluan. Edisi Khusus No. termasuk pula pelayanan kesehatan. program peni ngkatan mutu pada umumnya berupa penyusunan standar tenaga.25 November 1993 . Di Inggris.Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit Dr Broto Wasisto. Setelah itu pada tahun 1917 telah disusun standar minimum staf inedik rumah sakit. sebenarnya bukanlah yang baru. Sekitar 20 abad sebelum Masehi pada zaman Hammurabi dari Babilon telah dikenal upaya-upaya peningkatan mutu pelayanan. pelayanan atau sarana. dimanahasil penelitian Carnegie Foundation (Flexner Report) yang dipublikasikan pada tahun 1910. Banyak istilah yang dipakai dalam program mutu ini seperti antara lain program menjaga mutu. MPH Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. American Medical Association (1876) mulai melakukan pembenahan pendidikan dokter. Sejarah perbaikan mutu. 1994 program peningkatan mutu pelayanan. manajemen mutu. istilahpun sering menjadi topik yang menarik untuk diperdebatkan. Tuntutan dan harapan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu semakin terasa. nyaman dan menyenangkan sedangkan provider mengartikan mutu apabila pelayanan sesuai dengan standar. Mutu Pelayanan RS. proses dan outcome dari pelayanan kesehatan yang dilakukan secara obyektif. Sebelum tahun 1950. Florence Nightingale (1820— 1910) melakukan perbaikan mutu pelayanan kesehatan terutama pelayanan keperawatan. Konsumen mengartikan pelayanan yang bermutu apabila pelayanan tersebut ramah.

Upaya lainnya dalam peningkatan mutu pelayanan adalah dilakukan medical audit (1956). utilization review (1960) dan peer review (1970). yang selain menetapkan kelas rumah sakit. Apabila di luar negeri program peningkatan mutu dimulai sebelum tahun 1950. 806b/Menkes/SK/XII/1987 . 1994 29 nya sebenarnya tidaklah berbeda dengan program peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. D. Untuk rumah sakit swasta telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. kegiatan outcome audit dan risk management. Dibandingkan 10 tahun sebelumnya. C. sarana dan prasarana untuk masing-masing kelas rumah sakit. ketenagaan. Mutu pelayanan tak terlepas dari mutu keperawatan. Indikator ini setiap dua tahun ditinjau kembali dan disempurnakan. tahun 1979 quality assurance standard dan tahun 1983 peer review organization. Kemudian dari tahun ke tahun disusun berbagai standar baik menyangkut pelayanan. 44. continuous quality improvement program dan total quality management. Ada yang melakukan penilaian mutu berdasarkan derajat kepuasan pasien. Permasalahan umum mengenai tenaga adalah jumlah dan mutu yang tak memenuhi serta distribusi yang tidak merata. Pada awalnya ditetapkan kriteria dari masingmasing kelas yang kemudian berkembang menjadi standarstandar.7% rumah sakit milik BUMN. Namun disadari sampai saat ini banyak rumah sakit masih kekurangan tenaga medik demikian pula untuk tenaga paramedik. penggunaan obat secara rasional dan yang akhir-akhir ini mulai berkembang di rumah sakit adalah penerapan gugus kendali mutu dan manajemen mutu terpadu. dan rumah sakit swasta setara. penilaian melalui infeksi noso- . Di rumah sakit kelas C dan D pada umumnya kekurangan tenaga untuk semua katagori. 033Birhup/1972. Pada tahun 1990 secara umum dokter yang bekerja di sarana-sarana pelayanan kesehatan jumlahnya sudah cukup memadai.4% rumah sakit pemerintah. mengadakan pelatihan dan bimbingan teknis petugas rumah sakit. Dengan telah disusunnya standar tersebut maka pada tahun 1953 dilakukan akreditasi rumah sakit. Untuk tahun 1991 telah dilengkapi dengan indikator kebersihan dan ketertiban rumah sakit dan yang dievaluasi kelas B. Dari jumlah rumah sakit tersebut 36% adalah rumah sakit swasta. Dari pengkajian diagnosis rumah sakit oleh HSF Usaid secara umum dapat dikemukakan bahwa rumah sakit kelas A dan B memiliki tenaga paramedik perawatan dan non medik yang cukup jumlahnya sedangkan tenaga medik nampaknya berlebihan. Kemudian tahun 1975 mulai diperkenalkan cost containment.5% dan Jawa-Bali 58%. 11. dimana pada tahun 1952 komisi ini telah berhasil menyusun standar pelayanan terutama tentang tindakan pembedahan. Diagnostic Related Group System. ANALISIS SITUASI MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT Gambaran umum rumah sakit Pada tahun 1990 terdapat 938 rumah sakit umum dengan 108. Perkembangan program peningkatan mutu semakin pesat setelah tahun 1970. Pada tahun 1984 Departemen Kesehatan telah mengembangkan berbagai indikator untuk mengukur dan mengevaluasi penampilan rumah sakit pemerintah kelas C dan rumah sakit swasta yang setara yaitu dalam rangka Hari Kesehatan Nasional. Program peningkatan mutu yang lainnya adalah pemenuhan standar ketenagaan yaitu dengan mengirim dokter empat spesialis dasar untuk rumah sakit kelas C. Temuan lainnya adalah banyaknya tenaga dokter rumah sakit pemerintah yang bekerja sebagai tenaga parttimerdi rumah sakit swasta dan banyaknya tenaga honorer di semua rumah sakit. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa kesadaran untuk meningkatkan mutu sudah cukup meluas walaupun dalam penerapannya sering ada perbedaan. Tahun 1976 infection control standard. Selain hal di atas secara sendiri-sendiri beberapa rumah sakit telah mengadakan monitoring dan evaluasi pelayanan rumah sakit. Sampai saat ini belum ada standarisasi tenaga perawat yang sesuai dengan peran dan fungsinya. maka di Indonesia langkah awal yang sangat mendasar dan terarah yang telah dilakukan Departemen Kesehatan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan adalah penetapan kelas rumah sakit pemerintah melalui SK Menkes No. a) b) Tenaga Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan rumah sakit maka dilakukan penyebaran dokter 4 spesialis dasar ke rumah sakit-rumah sakit pemerintah khususnya rumah sakit umum di kabupaten dan kotamadya. hanya distribusinya masih timpang. Hampir 70% dokter bertugas di pulau Jawa-Bali dan 23% di DKI. Program yang berkembang setelah tahun 1970 adalah diperkenalkan Professional Standard Review Organization di Amerika pada tahun 1972. yang prinsip-prinsip dasar- komial. Keadaan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadapmutu pelayanan yang diberikan. Untuk itu agar ada persamaan persepsi maka Departemen Kesehatan telah mengeluarkan buku pedoman program peningkatan mutu pelayanan yang kemudian dilanjutkan dengan pengadaan pelatihan peningkatan mutu. Setelah tahun 1983 mulai diperkenalkan quality improvement program. di mana masih banyak permasalahan yang dijumpai. Hal tersebut terlihat dengan dibentuknya Joint Commision on the Acreditation of Hospital pada tahun 1950. namun standar kepegawaian yang digunakan sekarang masih perlu dievaluasi kembali dan komposisi tenaga medik masih kurang serasi. Hal ini tentunya juga akan mempengaruhi mutu pelayanan. penilaian mutu berdasarkan penilaian perilaku dan penampilan kerja perawat. Tenaga yang merisaukan jumlahnya adalah tenaga paramedis. Tenaga perawat penyebarannya lebih baik: DKI 17. Selain itu Departemen Kesehatan juga mengeluarkan berbagai pedoman (guidance) untuk meningkatkan penampilan rumah sakit.133 jumlah tempat tidur. juga dilengkapi dengan standar berdasarkan kemampuan pelayanan. Hal tersebut karena adanya pengaruh dari program yang sama yang diterapkan pada sektor industri dan dimotori terutama oleh negara Jepang. Edisi Khusus No.9% rumah sakit ABRI dan 7. Upaya peningkatan kemampuan dan ketrampilan tenaga perawat melalui pelatihan-pelatihan belum mampu Cermin Dunia Kedokteran. 90.mutu semakin aktif diselenggarakan. keadaan tersebut merupakan perbaikan yang bermakna.

mengatasi kesenjangan antara tuntutan peningkatan mutu pelayanan keperawatan dan kemajuan IPTEK kesehatan/keperawatan. Pengembangan karier tenaga perawat ke arah profesionalisme, melalui penyelenggaraan pendidikan berjenjang belum terarah jelas. Tanpa melalui pendidikan berkelanjutan, pengembangan profesionalisme sulit diwujudkan. Pemahaman terhadap budaya melayani dirasakan masih kurang, hal tersebut terlihat dalam melakukan tugasnya perawat kadang-kadang kurang tanggap dan kurang ramah. Selain itu uraian tugas, peran dan fungsi setiap katagori perawat berdasarkan jenjang pendidikan belum ditetapkan secara jelas dan kualifikasi tenaga perawat untuk jenjang dan jenis keperawatantertentu masih perlu ditetapkan. Kesemuanya itu tentunya akan mempengaruhi mutu pelayanan khususnya mutu asuhan keperawatan di RS. Managerial skill dan technical skill perawat masih kurang. Keadaan tersebut sering menjadi keluhan khalayak ramai. c) Dana Beberapa masalah yang dihadapi dalam pembiayaan kesehatan antara lain : keterbatasan biaya, penggunaan biaya yang kurang efisien dan distribusi yang kurang merata. Bila dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB), maka total biaya kesehatan secara relatif menunjukkan kecenderungan menurun. Untuk kurun waktu lima tahun (1982–1987) persentase biaya kesehatan terhadap PDB berturut-turut adalah 2,78%, 2,48%, 2,23%, 2,39% dan 2,51%. Angka tersebut belum pernah mencapai 3% PDB, apalagi mencapai 5% PDB seperti direkomendasikan oleh WHO. Di Thailand pengeluaran untuk kesehatan mencapai 5,1% GNP (1985), RRC mengeluarkan 3,1% (1985), Korea 4,3% (1986) dan Philipina 2,4% (1985). Bila dirinci lebih jauh mengenai anggaran pemerintah, maka anggaran yang dialokasikan oleh Departemen Kesehatan untuk rumah sakit hanya sekitar 45%, dan hampir 95% di antaranya untuk kegiatan kuratif. Sistem pembayaran di rumah sakit kebanyakan masih fee for service dan out of pocket, sedangkan pembayaran melalui sistem asuransi masih terbatas. Keseluruhan pendapatan rumah sakit pemerintah (revenue) harus disetor kepada kas negara pada hari yang sama. Akhir-akhir ini beberapa RS Pemerintah telah ditingkatkan menjadi RS Unit Swadana yang berarti RS dapat menggunakan langsung pendapatnya. Biaya rumah sakit pemerintah dapat berasal dari berbagai sumber yang disalurkan pemerintah, melalui jalur yang cukup banyak dan terpecah-pecah. Keadaan ini mencerminkan kurangnya koordinasi dan integrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan. Akibatnya penggunaannya menjadi kurang efisien. Di samping itu terjadi pula ketidak seimbangan antara biaya pembangunan dan biaya operasional dan pemeliharaan. Kenaikan anggaran pembangunan tidak selalu disertai dengan kenaikan yang memadai dari anggaran operasional dan pemeliharaan. Biaya operasional dan pemeliharaan pada RS Pemerintah hanya dialokasikan sebesar 50%. Subsidi pemerintah untuk rumah sakit pemerintah sangat besar karena tarif yang terlalu rendah. Adanya kendala dana tadi akhirnya akan mempengaruhi upaya peningkatan mutu pelayanan. Rumah sakit pemerintah

sangat sulit dapat memelihara sarana fisik dan kegiatan-kegiatannya. Dengan konversi beberapa rumah sakit menjadi unit swadana maka kendala-kendala di atas untuk sebagian dapat dikurangi. Fasilitas Gedung rumah sakit pemerintah maupun swasta kebanyakan dirancang tidak tuntas dan banyak yang belum mengikuti kaidah-kaidah rumah sakit, seperti zoning yang baik, flow of patients yang efisien dan etis, pembuangan limbah, erosi, dan lain sebagainya. Selain itu, lingkungan rumah sakit banyak yang masih kotor terutama di rumah sakit pemerintah. Hal ini menurunkan citra pelayanan pada banyak rumah sakit. Diharapkan secara bertahap citra ini akan menjadi lebih baik. Alat-alat di rumah sakit sangat bervariasi. Perbaikan sosial ekonomi dan kemajuan iptek kedokteran akan mempengaruhi perkembangan rumah sakit seperti misalnya penyediaan fasilitas dan alat di rumah sakit. Dengan berkembangnya iptek kedokteran, maka banyak ditemukan alat-alat canggih. Walaupun alat canggih tersebut dapat meningkatkan mutu pelayanan, namun banyak masalah yang dihadapi dengan banyaknya alat canggih yang ada misalnya biaya kesehatan yang dapat meningkat. Selain itu, diperlukan tenaga yang profesional untuk dapat menerapkan teknologi tersebut. Alat canggih, macam dan jenisnya sangat banyak. Departemen Kesehatan mencoba menginventarisir alat-alat canggih dan didapatkan data sementara (tahun 1990) bahwa alat canggih lebih banyak di rumah sakit swasta dari pada rumah sakit pemerintah. Sebagai contoh di rumah sakit pemerintah MRI = 1, CT scan = 5 dan ESWL = 1, sedangkan di rumah sakit swasta MRI = 2, CT scan = 10, ESWL = 9. Ternyata utilisasi (pemanfaatan) alat-alat canggih tersebut masih cukup rendah (35%). Hasil rangkuman pengkajian diagnosis rumah sakit yang dibiayai oleh Usaid mendapatkan data bahwa pada umumnya rumah sakit telah memiliki perangkat kemampuan maupun pengetahuan teknis untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kelasnya, meskipun perangkat di rumah sakit tersebut masih sederhana. Pelayanan dengan menggunakan alat-alat kadang-kadang terganggu, sebab-sebab gangguan adalah : • Pemeliharaan sarana tidak memadai, di antara rumah sakit yang dikaji, tidak satupun yang melaksanakan preventive maintenance. • Keterpaduan antara tenaga dan peralatan kurang serasi. • Alat pembantu seperti reagensia tidak tersedia pada waktunya. Pengkajian ini juga menemukan bahwa kemampuan manajemen sangat menentukan mutu pelayanan yang dicerminkan dari lama tunggu untuk memperoleh pelayanan. Contohnya ialah lama perawatan pra-bedah di rumah sakit kelas B ditemukan berkisar antara 5,8 dan 9,4 hari. Lama perawatan prabedah ini menunjukkan kurangnya koordinasi antara pelayanan penunjang seperti laboratorium, radiologi, ruang rawat dan ruang bedah. Selain itu, pengkajian diagnosis rumah sakit juga mend)

30

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

dapatkan data bahwa kelengkapan catatan medik masih terbatas sekali. Misalnya catatan mengenai penyakit terdahulu yang pernah diderita dan working diagnosis sering tidak ada. Telah dicoba untuk menilai mutu pelayanan terhadap penyakit-penyakit tertentu (tracer conditions). Upaya ini tidak berhasil karena tidak lengkapnya catatan medik. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu catatan medik belum memadai untuk dapat digunakan sebagai alat penilai mutu pelayanan medik di rumah sakit. e) Pemanfaatan Pemanfaatan rumah sakit masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan angka tingkat pemanfaatan tempat tidur yang masih rendah, yakni secara keseluruhan di bawah 55%, baik untuk rumah sakit pemerintah maupun swasta. Lima tahun terakhir pemanfaatan tempat tidur (BOR) rumah sakit pemerintah sekitar 57%, swasta 54%, sedangkan ABRI dan Departemen lain sangat rendah yaitu 45-50%. Menurut hasil penelitian Bank Dunia di Indonesia (1988) menunjukkan bahwa salah satu penyebab rendahnya pemanfaatan rumah sakit oleh masyarakat disebabkan mutu pelayanan yang rendah. Khususnya bilamana hal ini dikaitkan dengan ketenagaan yang tersedia dan pelayanan spesialistik yang ada. Data menunjukkan bahwa rumah sakit yang memberikan pelayanan bedah angka pemanfaatannya 42% lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumah sakit yang tingkatannya sama tetapi tidak memberikan pelayanan bedah. Penempatan seorang dokter ahli dapat meningkatkan angka pemanfaatan sebesar 83%. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa mutu pelayanan yang rendah merupakan faktor yang menonjol penyebab rendahnya tingkat pemanfaatan rumah sakit di Indonesia. Penempatan seorang dokter spesialis dan penyediaan fasilitas bedah di rumah sakit kabupaten dapat meningkatkan secara bermakna mutu dan juga kuantitas pelayanan. Total biaya dapat meningkat tetapi satuan biaya dapat menjadi rendah oleh karena pemanfaatan meningkat. Selama kurun waktu lima Pelita LOS dan NDR mengalami penurunan. Pada akhir Pelita I LOS =10 dan NDR = 50 dan pada tahun I Pelita V LOS = 6 dan NDR = 21. Dengan semakin rendahnya LOS dan NDR dapat diartikan bahwa mutu pelayanan di rumah sakit (diukur dengan output) bertambah baik. Pada tahun 1985, di beberapa tempat telah dilakukan evaluasi pemanfaatan rumah sakit oleh penduduk dan didapatkan angka hari rawat penduduk per tahun adalah 80 hari rawatper 100 penduduk. Sebagai perbandingan di Sri Langka adalah 161 hari rawat, di China 476 hari rawat, dan di Inggris 2000 hari rawat per 1000 penduduk. Rendahnya pemanfaatan rumah sakit di banyak tempat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kemampuan membayar dari masyarakat, sikap dan perilaku penduduk, mutu pelayanan rumah sakit, sikap dan perilaku petugas rumah sakit dan lain sebagainya. Pada pengkajian diagnosis rumah sakit ditemukan bahwa di Jawa Timur dan Bali tingkat kepuasan terhadap dokter di antara penderita asuransi kesehatan lebih rendah dibanding tingkat kepuasan penderita non peserta asuransi kesehatan. Sedangkan

di Sumatera Barat ditemukan bahwa penilaian masyarakat terhadap citra rumah sakit pemerintah lebih rendah dibanding dengan rumah sakit swasta. Kesemuanya ini tentunya mempengaruhi pemanfaatan rumah sakit. f) Peraturan Beberapa peraturan menyebabkan pula terj adinya inefisiensi dalam pengelolaan biaya-biaya yang ada. Sebagai contoh peraturan ICW mengharuskan agar semua penerimaan dari fasilitas kesehatan milik pemerintah disetorkan ke kas negara dan kemudian akan dikembalikan lagi ke fasilitas termaksud dalam bentuk anggaran rutin pemerintah pada tahun berikutnya. Cara ini memakan waktu dan birokrasi yang cukup rumit. Belum lagi biaya yang akan diterima kembali kadang-kadang jumlahnya lebih kecil dari yang disetorkan, di samping jadwal waktunya terlambat. Begitu pula anggaran yang sampai ke RS Pemerintah hanya boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang sudah sangat dirinci. Akibatnya penggunaan anggaran menjadi sangat kaku. PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN Peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat diartikan keseluruhan upaya dan kegiatan secara komprehensif dan integratif memantau dan menilai mutu pelayanan kesehatan, memecahkan masalah-masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya, sehingga mutu pelayanan kesehatan diharapkan akan lebih baik. Tinggi rendahnya mutu sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor : 1) Sumber daya rumah sakit, termasuk antara lain tenaga, pembiayaan, sarana dan teknologi yang digunakan. 2) Interaksi kegiatan yang digerakkan melalui proses dan prosedur tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan jasa atau pelayanan. Berhasil tidaknya peningkatan mutu sangat tergantung dari monitoring faktor-faktor di atas dan juga umpan balik dari hasilhasil pelayanan yang dihasilkan untuk perbaikan lebih lanjut terhadap faktor-faktor dalam butir 1 dan 2. Dengan demikian nampak bahwa peningkatan mutu merupakan proses yang kompleks yang pada akhirnya menyangkut managemen rumah sakit secara keseluruhan. Adanya berbagai aspek dan faktor yang terkait dan berperan dalam menentukan mutu pelayanan maka definisi yang tepat tentang mutu sangat sukar. Karena itu ada beraneka definisi yang dikemukakan dalam kepustakaan, tergantung dari sudut pendekatan mana yang dipilihnya. Joint Commision on Accreditation of Healthcare Organizations mendefinisikan mutu pelayanan kesehatan adalah dipenuhinya standar profesi yang baik dalam pelayanan medik dan terwujudnya hasil akhir (outcome) seperti yang selayaknyadiharapkan yang menyangkut : perawatan pasien, diagnosis, prosedur atau tindakan dan pemecahan masalah klinis. Dari definisi tersebut jelas kemudian untuk mengukur mutu diperlukan standar, kriteria dan indikator. Ada perbedaan yang relatif di antara ketiganya dalam arti konsep, namun seringkali dalam praktek istilah-istilah itu dipakai secara berbaur untuk maksud yang sama. Indikator tak lain adalah ukuran atau
31

Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994

cara mengukur sehingga menunjukkan suatu indikasi. Ia suatu variabel yang digunakan untuk bisa melihat perubahan. Indikator yang baik adalah yang sensitif tapi juga spesifik, sedangkan kriteria adalah spesifikasi dari indikator dan standar adalah spesifikasi yang eksak dan kwantitatif daripada kriteria, Dengan akan berakhirnya Repelita V, dimana kita akan memasuki tahap tinggal landas pembangunan, salah satu prakondisi yang harus dipenuhi adalah meningkatnya mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan yang nyata. Peningkatan mutu pelayanan merupakan prioritas, terutama di Rumah sakit Kelas C. Untuk meningkatkan mutu pelayanan tersebut, Departemen Kesehatan semenjak Pelita I hingga sekarang, telah melaksanakan upaya peningkatan mutu pelayanan secara bertahap. Upaya tersebut dilaksanakan melalui pembangunan sarana, prasarana, pengadaan peralatan dan ketenagaan serta perangkat lunak lainnya, sejalan dengan pembangunan rumah sakit pada umumnya. Namun demikian, disadari pula masih banyak kendala yang dihadapi, terutama yang berkaitan denhgan standar kebutuhan dan tuntutan sistem pelayanan yang masih belum selaras dengan perkembangan iptek kedokteran yang semakin pesat dimana pelayanan spesialistik dan sub spesialistik cenderung semakin berkembang. Mengingat masih adanya kendala dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan khususnya pelayanan rumah sakit maka dalam rangkapeningkatan mutu pelayanan kesehatan diperlukan perumusan tujuan, sasaran, program dan strategi di rumah sakit. 1) Tujuan
Umum

Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui program peningkatan mutu pelayanan secara efektif dan efisien agar tercapainya derajat kesehatan yang optimal.
Khusus

Tercapainya peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara efektif dan efisien melalui : – Optimasi tenaga, sarana dan prasarana. – Pemberian pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan yang dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan kebutuhan pasien. – Pemanfaatan teknologi, hasil penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan. 2) Sasaran Sasaran utama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah secara umum tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya melalui pelayanan kesehatan. Secara khusus, sasarannya adalah : – Menurunkan angka kematian – Menurunkan angka kesakitan (re admission rate untuk rumah sakit) Menurunkan angka kecacatan Penggunaan obat secara rasional Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan Efisiensi penggunaan tempat tidur, dan lain-lain.
32
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No . 90, 1994

Strategi Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit maka disusunlah sebagai berikut : 1) Rumah sakit harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip mutu pelayanan rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik sehingga dapat menyusun upaya peningkatan mutu di masing-masing rumah sakit. 2) Memberi prioritas kepada peningkatan sumber daya manusia di rumah sakit termasuk di dalamnya meningkatkan kesejahteraan karyawan, memberikan imbalan yang layak, program keselamatan dan kesehatan kerja, program diklat, dan sebagainya. 3) Menciptakan budaya mutu di rumah sakit. Termasuk di dalamnya menyusun program mutu rumah sakit, menyusun tema yang akan dipakai sebagai pedoman, memilih pendekatan yang dipakai (quality assurance, GKM, TQM, dan lain-lain). Kemudian juga menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi. 4) Intervensi pada 9 bidang pelayanan. Dalam upaya meningkatkan efisiensi manajemen dan mutu pelayanan serta meningkatkan cost recovery rumah sakit, maka pada tahun 1989 Departemen Kesehatan telah mengadakan survei diagnosis di rumah sakit kelas B, C, D dan swasta yang terletak di tiga propinsi yaitu Bali, Sumatera Barat dan Jawa Timur. Berdasarkan hasil survei, untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit perlu dilakukan intervensi pada 9 pelayanan yaitu : penyempurnaan rekam medis penyempurnaan sistem informasi manajemen penyempurnaan sistem akuntansi penyempurnaan sistem pembiayaan – penyempurnaan konsep pola penetapan tarif – penyusunan standar pelayanan rumah sakit – penyusunan standar pelayanan farmasi – penyempurnaan organisasi rumah sakit – penyempurnaan peraturan dan perundangan Sembilan intervensi ini telah mulai dilaksanakan di rumah sakit terutama yang dikonversi menjadi unit swadana. 4) a)
1)

3)

Langkah-langkah kegiatan Di tingkat nasional
Perizinan

• Sesuai dengan PP No. 1/1988 dan Permenkes No. 385/1988 tentang pelaksanaan masa bakti dan izin praktek bagi dokter dan dokter gigi, tenaga medis dalam melaksanakan tugas harus mempunyai Surat Penugasan (SP) dan Surat Izin Praktek (SIP). SP ini merupakan pengganti dari SID. • Sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, setiap sarana kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta harus mempunyai izin. Pelanggaran dari ketentuan tersebut akan mendapat sangsi bisa berupa kurungan atau denda sebesar 15 juta rupiah.
2)

Ketenagaan

• Pemberian ijasah bagi dokter yang baru lulus dan brevet keahlian kepada dokter spesialis yang telah lulus merupakan salah satu program menjaga mutu. Sedangkan untuk dokter

disertai dengan tenaga paramedik perawatan dan paramedik non perawatan sesuai dengan kebutuhan. menilai atau me-review mutu dan kelayakan pemberian pelayanan kepada pasien. PICU. 3) Sarana. cancer unit. standar sarana. seminar dan latihan-latihan lainnya. Kegiatan GKM ini telah dilaksanakan di beberapa rumah sakit yang akan dikonversikan menjadi rumah sakit unit swadana yaitu RS Pasar Rebo. standar ketenagaan. Setiap rumah sakit pemerintah maupun swasta secara bertahap diharapkan dapat menerapkan standar dan kriteria tersebut. Edisi Khusus No. review penggunaan obat. • Akreditasi Untuk meningkatkan mutu pelayanan telah dipersiapkan standar dalam rangka akreditasi rumah sakit dan dipersiapkan instrumen dan uji coba. perawatan ortopedi. saraf. 4) Program-program khusus Program khusus ini dilaksanakan di rumah sakit sesuai dengan kebutuhannya. Soetomo Surabaya telah melaksanakan pengendalian infeksi nosokomial. anestesi dan tenaga apoteker. Untuk itu ada kewajiban penggunaan obat generik di sarana kesehatan pemerintah. namun ada rumah sakit yang pernah melaksanakan TQM ini. • Mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk tenaga medis maupun paramedis perawatan dan non perawatan. Juga ditetapkan adanya Komite Farmasi dan Terapi. Sedangkan sertifikat diberikan kepada tenaga medis dan paramedis yang telah selesai mengikuti penataran. Selain itu dilakukan pula penelitian ulang manfaat obat yang beredar. patoIogi klinik. Peralatan dan Penampilan • Rumah sakit Pemerintah dilengkapi dengan sarana. dalam GKM masalah yang dibahas adalah masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari dalam bekerja di tingkat pelaksana atau operator. 5) Program-program • Penggunaan obat secara rasional Dalam rangka meningkatkan mutu pengobatan maka obat yang ada harus digunakan secara rasional. • Untuk mengatasi keterbatasan biaya operasional maka secara bertahap rumah sakit pemerintah akan dikonversikan menjadi unit swadana. dan lain-lain. UGD. Klasifikasi • Telah disusun standar penetapan kelas rumah sakit baik untuk rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta. dialisis. Kegiatan ini terutama telah dilakukan di rumah sakit pendidikan. THT. hematologi. • Standarisasi Telah disusun standar pelayanan rumah sakit yang merupakan integrasi dari standar pelayanan medik dan terapi. Perbaikan terus menerus akan terjadi kalau setiap orang melakukan usaha secara terus menerus dalam memecahkan masalah yang timbul. • Untuk meningkatkan mutu pelayanan maka penempatan dokter spesialis 4 dasar di RSU kelas C lebih ditingkatkan. Misalnya: peralatan mata dan THT untuk RS Kelas C. Walaupun manajemen mutu terpadu tersebut Iebih cocok untuk perusahaan manufaktur. prasarana dan keperawatan. PKMRS. • Untuk meningkatkan mutu penampilan rumah sakit maka setiap memperingati Hari Kesehatan Nasional diadakan lomba penilaian penampilan rumah sakit Pemerintah maupun rumah sakit swasta. Semuanya tadi dapat memberikan gambaran tingkat pengetahuan dari berbagai macam tenaga kesehatan. 4) Pembiayaan • Untuk meningkatkan citra rumah sakit Pemerintah maka rumah sakit Pemerintah mendapat biaya operasional dan pemeliharaan rumah sakit (OPRS). Dengan adanya klasifikasi rumah sakit ini diharapkan dapat meningkatkan mutu rujukan pelayanan secara berjenjang. Namun berlainan dengan TQM. Direncanakan rumah sakit yang akan dikonversikan ke dalam unit swadana harus melalui akreditasi terlebih dahulu atau setidak-tidaknya menggunakan dasar-dasar akreditasi. dan lain-lain. gigi ortotik prostetik. Juga dilakukan penempatan tenaga dokter spesialis radiologi. dan lain-lain. formularium rumah sakit. 5) Pengembangan standar profesi Penyusunan dan evaluasi terus menerus standar profesi di rumah sakit. b) Di tingkat sarana pelayanan kesehatan (rumah sakit) 1) Program Quality Assurance/Quality Improvement Pada umumnya yang telah dilaksanakan adalah case review. infeksi nosokomial. medicaU surgical ICCU. . Misalnya : HMT. 1994 33 . RS Tegalyoso. prasarana dan peralatan sesuai dengan kebutuhan. rehabilitasi medik ditempatkan untuk melengkapi RSU kelas C. koroner. Prasarana. Pendidikan dan pelatihan tersebut meliputi managerial skill dan technical skill.lulusan luar negeri harus melakukan adaptasi dulu dan untuk dokter dari Fakultas Kedokteran swasta harus ikut ujian negara dulu sebelum dapat ijasah. Misalnya : Rumah Sakit Dr. 90. Misalnya review kasus bedah. 2) Manajemen Mutu Terpadu (TQM) TQM merupakan suatu sistem manajemen yang melibatkan seluruh lapisan organisasi dalam mengendalikan dan meningkatkan mutu secara terpadu. 3) Gugus Kendali Mutu (GKM) Merupakan salah satu bentuk penerapan falsafah dasar manajemen mutu terpadu yaitu melakukan perbaikan terus menerus. Rumah sakit unit swadana akan diberi kewenangan mengelola penerimaan fungsionalnya sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatannya. teknik kamar bedah. RS Husada melaksanakan pengukuran derajat kepuasan pasien. Dalam tahun anggaran 1991/1992 lomba tersebut ditambah dengan lomba Gerakan Rumah Sakit Bersih. Falsafah dasar TQM adalah perbaikan terus menerus. dan lain-lain. patologi anatomi dan forensik. ASI. Cermin Dunia Kedokteran. Selain itu dokter spesialis mata. Standar pelayanan rumah sakit merupakan langkah awal dari pelaksanaan akreditasi.

Jakarta. 3) Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak Para politisi dan pakar ilmu sosial termasuk ekonom dan 2) . Oleh. pakaian. manajemen dan evaluasi pelayanan kesehatan jarang atau sedikit sekali mendapat perhatian. 34 Cermin Dunia Kedokteran. yaitu : (1) pelayanan kesehatan apa yang perlu diproduksi. Dalam bagian ke dua disampaikan aspek produksi (supply) dan konsumsi (demand) pelayanan kesehatan (khususnya RS). dan lain-lain.rofesional tersebut sama sekali lepas dari pertimbangan biaya dan kemampuan membayar si pasien. Jakarta PENDAHULUAN Selamaini dimensi ekonomi dalamperencanaan. yaitu dalam rangka keterbatasan sumberdaya. Providerlah (profesional) yang menentukan jenis dan volume pelayanan yang perlu dikonsumsi (jadi juga dibayar) oleh konsumer. 1994 CIRI SEKTOR KESEHATAN Seperti dikemukakan di atas. manajemen dan evaluasi sektor kesehatan. 90. Sifat atau ciri khusus tersebut. Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo . yaitu pilihan tentang komoditi apa yang perlu diproduksi (kebutuhan manusia). Ciri khusus tersebut adalah sebagai berikut : 1) Kejadian penyakit tidak terduga Berbeda dengan pengetahuan orang tentang kebutuhannya akan berbagai komoditi ekonomi seperti makanan. (3) bagaimana mobilitasi dana kesehatan (siapa yang membayar dan berapa besar). Makalah ini khusus menyoroti aspekproduksi dan konsumsi pelayanan kesehatan. seperti akan diuraikan berikut ini. banyak asumsi-asumsi yang lazim dipergunakan dalam telaah ekonomi tidak berlaku untuk sektor kesehatan. Oleh sebab itu. yaitu ketika sektor kesehatan menghadapi kenyataan bahwa sumberdaya yang tersedia (khususnya dana) semakin hari jumlahnya semakin jauh dari mencukupi. Adanya ketidak pastian (uncertainty) ini berarti seseorang menghadapi suatu risiko (risk) akan sakit dan oleh karenanya juga risiko harus mengeluarkan biaya pengobatan. yang merupakan inti pokok makalah ini. bagaimana distribusinya.Aspek Ekonomi Pelayanan Kesehatan Ascobat Gani Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ciri-ciri khusus inilah yang membuat aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan muncul sebagai sub-disiplin il mu baru. Seringkali keputusan p. Ini disebabkan karena umumnya konsumer tersebut tidak tahu banyak tentang jenis pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukannya. Kesadaran akan adanya risiko inilah yang mendorong orang untuk mau secara bersama-sama menanggungnya. bagaimana memproduksinya. yaitu dalam suatu bentuk asuransi. Consumer ignorance Ciri yang sangat khusus adalah besarnya ketergantungan konsumer pada penyedia (provider) pelayanan kesehatan. (2) berapa besar biaya produksinya. Edisi Khusus No. Oleh karena sektor kesehatan mempunyai ciri khusus yang menonjol. dan bagaimana konsumsinya serta berapa besar manfaatnya. aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan perlu memperhatikan sifat atau ciri khusus sektor kesehatan. Keterbatasan sumberdaya tersebut mendorong masuknya disiplin il mu ekonomi dalam perencanaan. 21 — 25 November 1993. dalam bagian pertama dibahas tentang ciri-ciri khusus tersebut. rumah. sebab itu juga tidak diketahui secara pasti pelayanan kesehatan apa yang ia butuhkan. Ekonomi kesehatan jugamenyangkutpertanyaan-pertanyaan tersebut. (4) bagaimana utilisasi pelayanan kesehatan (siapa yang menggunakan dan berapa banyak) dan (5) berapa besar manfaat (benefit) investasi pelayanan kesehatan tersebut. umumnya orang tidak banyak bisa menduga tentang penyakit apa yang akan dialaminya di masa yang akan datang. khususnya pelayanan rumah sakit. menyebabkan asumsi-asumsi tertentu dalam ilmu ekonomi tidak berlaku atau tidak seluruhnya berlaku apabila diaplikasikan untuk sektor kesehatan. Perubahan mendasar terjadi selama dua dekade terakhir. Ilmu ekonomi sendiri pada dasarnya adalah ilmu tentang pilihan.

Keadaan ini menyebabkan analisis demand terhadap pelayanan kesehatan menjadi kompleks. Ini menyebabkan issu pemerataan (equity) sangat menonjol dalam penyediaan pelayanan kesehatan. kalau penduduk employed di usaha produktif. Analisis biaya RS misalnya menunjukkan bahwa komponen tenaga tersebut bisa mencapai antara 40-60% dari keseluruhan biaya. Kecenderungan spesialisasi dan superspesialisasi menyebabkan komponen tenaga dalam pelayanan kesehatan semakin besar. paling tidak untuk jangka panj ang. Misalnya. Ini menyebabkan distribusi pelayanan kesehatan sering sekali dilakukan atas dasar kebutuhan (need) dan bukan atas dasar kemampuan membayar (demand). perawatan. menurut perhitungan ekonomi. sering kali sektor kesehatan ada pada urutan bawah dalam skala prioritas pembangunan.). tidak memberikan return on investment secaza jelas. pemerintah perlu menjamin agar program-program semacam immunisasi betul-betul dapat terlaksana. sehingga digolongkan sebagai "komoditi masyazakat" atau public good. pembangunan kesehatan jelas memberikan return on investment yang dapat diukur. Namun sekarang ini terjadi perubahan orientasi. oleh karena bisa terjadi keadaan demand seseorang (dalam arti kemauan membayar) tidak tinggi dibandingkan dengan demand untuk pelayanan kuratif yang tidak mempunyai efek eksternal. iklan. seperti misalnya rumah sakit tertentu milik swasta. tempat tinggal dan hidup sehat adalah elemen kebutuhan dasar manusia yang harus senantiasa diusahakan untuk dipenuhi. 90. 9). Sedangkan pelayanan kuratif. immunisasi yang dilakukan seseorang untuk mencegah penyakit menularjuga akan memberi manfaat kepada masyarakat banyak. Dalam mekanisme pasar (intervensi pemerintah kecil). 7) Mix outputs Cirilain adalahbanyaknya ragam "komoditi" yang dihasilkan daari berbagai program kesehatan. efek ekstemal adalah dampak (positif atau negatif) yang dialami orang lain sebagai akibat perbuatan seseorang. misalnya dalam bentuk Yayasan. Pelayanan ini sering disebut sebagai private good. Edisi Khusus No. dalam pentarifan RS berkembang pemikiran perlunya cross subsidy untuk pemerataan. Memang efek eksternal tersebut bervariasi antar berbagai jenis pelayanan kesehatan. pakaian. Sebaliknya pelayanan kesehatan yang tergolong sebagai private good hendaknya dibayar atau dibiayai sendiri oleh penggunaannya atau oleh pihak swasta. yaitu bagi penduduk yang tidak mampu. yaitu hasilhasil penelitian serta pendidikan dan latihan tenaga kesehatan. Ini menyebabkan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan tidak bisa sesempurna mekanisme pasar untuk komoditi lain. terlepas dari kemampuan seseorang untuk membayarnya. EKONOMI PELAYANAN KESEHATAN Aspek Produksi (Supply) Cermin Dunia Kedokteran. Sebagai misal. terutama setelah pemilik modal dan dunia bisnis melihat sektor kesehatan sebagai peluang investasi yang menguntungkan. Seperti diketahui. Bahkan manfaat yang diterima orang banyak tersebut secara kumulatif jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya untuk immunisasi individu bersangkutan. kebijaksanaan subsidi adalah dalam rangka menjamin hak tersebut. 4. 8) Upaya kesehatan sebagai konsumsi dan investasi Dalam jangka pendek. 6) Padat karya Otomatisasi ternyata tidak membuat pelayanan kesehatan semakin bebas dari input tenaga manusia. Dalam ekonomi dikatakan bahwa social marginal benefit yang diperoleh dari immunisasi j auh lebih besar dari pada private marginal benefit bagi individu tersebut. Itulah sebabnya. Memang umumnya pelayanan kesehatan pada mulanya diselenggarakan dengan motif sosial. dll. Ada pendapat yang mengatakan bahawa pelayanan kesehatan yang bersifat public goodseyogyanya mendapat subsidi ataubahkan disediakan oleh pemerintah secara gratis. terutama kalau titik berat pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Restriksi berkompetisi Ciri khusus selanjutnya adalah pembatasan praktek kompetisi. Demikian pula. Ini berarti bahwa sektor kesehatan adalah sektor yang bersifat padat karya. Yang dikonsumsi oleh pasien adalah satu paket pelayanan: sejumlah pemeriksaan diagnosis. Paket tersebut bervariasi antar individu dan sangat tergantung pada jenis penyakit. seperti misalnya pelayanan RS. terapi dan nasihat kesehatan. upaya kesehatan terlihat sebagai sektor yang konsumptif. Di samping pelayanan kesehatan. upaya kesehatan bisa juga menghasilkan output lain. Untuk jangka pendek pun. Pendapat umum yang secara tradisional dianut adalah "orang tidak layak mengambil keuntungan dari penyakit orang lain". senantiasa mempertimbangkan implikasinya terhadap issu equity tersebut. 1994 35 . Namun kalau orientasi pembangunan pada akhirnya adalah pembangunan manusia. Oleh sebab itu. Eksternalitas Ciri khusus lainnya adalah efek eksternal yang ada dalam penggunaan pelayanan kesehatan.profesional kesehatan berpendapat bahwa makan. 5) Motif non-profit Walaupun dalam praktek ada industri kesehatan yang memperoleh untung. maka pembangunan sektor kesehatan sesungguhnya adalah suatu investasi. eksternalitasnya umumnya kecil. secara ideal memperoleh untung maksimum (profit maximization) bukanlah tujuan utama pelayanan kese- hatan. wujud kompetisi adalah kegiatan pemasaran (promosi. lebih-lebih pelayanan yang bertujuan kosmetika. Pelayanan yang tergolong pencegahan umumnya mempunyai eksternalitas besar. Dalam sektor kesehatan tidak pernah terdengar adanya promosi discount atau bonus atau "banting harga" dalam pelayanan kesehatan. Kebijaksanaan dan program untuk menyesuaikan tarif pelayanan kesehatan seperti sekarang ramai dilakukan.

Perbaikan tersebut tidak terlepas dari keberhasilan Indonesia memperluas jangkauan pelayanan kesehatan sampai ke pedesaan.140 TT (45. karena memang peranan anggaran pusat cukup dominan. yaitu melalui Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. kenaikan tersebut hampir tidak berarti. Edisi Khusus No. yakni 1. termasuk industri pelayanan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa untuk pelayanan primer. Bentuk operasional pertama kebijaksanaan tersebut adalah penyesuaian tarif pelayanan. ada sebanyak 43.4%).9%/ tahun.9%l tahun. Dari data tersebut dapat dihitung bahwa selama kurun waktu tersebut jumlah RS bertambah rata-rata sebesar 3. Pertumbuhan jumlah TT ini boleh dikatakan sama dengan laju pertumbuhan penduduk.4%) dan Dati II (15. 313 (45. 19.000 penduduk untuk seluruh Indonesia dan untuk masing-masing propinsi. turun menjadi 71/1000 pada tahun 1985 dan kini diperkirakan telah turun lagi sampai 56/1000. Berikut ini disampaikan perkembangan situasi penyediaan pelayanan kesehatan (supply) pelayanan kesehatan yang tidak lepas dari perkembangan kebijaksanaan di bidang ekonomi. Di sini masyarakat. Secara nominal. Dengan cara ini diharapkan beban pemerintah untuk memberikan subsidi berkurang. Namun sejak turunnya harga minyak pada tahun 1982 dan meningkatnya beban hutang. akan tetapi pertambahan jumlah TT hanya mencapai 1. Di bidang pelayanan primer. 1) Situasi sejak kebijaksanaan penyesuaian ekonomi Selama dua dekade yang lalu terjadi perbaikan derajat kesehatan yang sangat mengesankan di Indonesia.75%) disediakan oleh fihak swasta. 90. Anggaran pusat untuk kesehatan turun sebesar 45% antara 1982/83 sampai 1987/88. atau kalau bisa lebih dari biaya yang dikeluarkan. pemberantasan malaria.000 penduduk selama kurun waktu tersebut hampir tidak berubah. Perluasan jangkauan ini sangat menonjol semasaboom minyak pada tahun 1970 sampai awal tahun 1980'an. terjadi karena adanya strategi yang dianut banyak negara berkembang untuk mengurangi peranan pemerintah dalam memberikan subsidi untuk sektor sosial. gerakan masyarakat dalam menyelenggarakan Posyandu mempercepat naiknya cakupan program-program pencegahan penyakit. sehingga ancaman defisit neraca neraca pembayaran juga bisa dikurangi. ada dua peran pokok yang dapat dilakukan oleh semua fihak. Sebagai contoh.000/kapita/tahun pada tahun 1992. Dampak krisis ekonomi terhadap sektor kesehatan. baik pemerintah maupun swasta.6%. yang pada akhir tahun 1960'an adalah 132/1000. swasta akan memilih jenis pelayanan yang memungkinkan diperolehnya pemasukan paling tidak sama dengan biaya. terutama di pedesaan. Data tersebut mencakup waktu dari tahun 1984 sampai 1988. khususnya rumah sakit. Hal tersebut dapat digambar dalam matriks sebagai berikut: Pelaksana program dan Pelayanan Pembiayaan Pemerintah Swasta A C B D 2) Pemerintah Swasta . peran pemerintah memang sangat dominan. penyuluhan kesehatan dan lain-lain. jumlah TT dan Ratio TT/100. 1994 tersebut. pihak swasta pada umumnya tertarik pada pelayanan kesehatan yang menjamin kesinambungan usahanya.25%) yang disediakan oleh pemerintah dan sisanya sebanyak 52. naik menjadi Rp.310 TT (54. Seperti nanti dijelaskan.6% dibandingkan dengan peranan propinsi (19. Artinya. Keadaan tahun 1985 tersebut sudah menunjukkan bahwa fihak swasta memang lebih tertarik melakukan investasi di bidang pelayanan RS. Bagaimana gambaran perkembangan industri pelayanan kesehatan selama periode adjustment policy tersebut ? Perkembangan sarana pelayanan kesehatan Industri pelayanan kesehatan di Indoensia ditandai oleh dominasi pemerintah sebagai penyedia pelayanan kesehatan primer (Puskesmas dan Puskesmas Pembantu) serta kombinasi seimbang antara pemerintah dan swasta untuk pelayanan kesehatan sekunder (RS). di samping berbagai program kesehatan masyarakat seperti imunisasi. biaya satuan pengobatan rawat jalan di Puskesmas adalah Rp 1700. Maka dapat dimengerti bahwa ratio TT 100. 10. yaitu rata-rata 59. kesehatan lingkungan. pengeluaran masyarakat untuk kesehatan pada tahun 1982/83 adalah Rp. yakni antara 66-67 TTI 100. alokasi anggaran pemerintah untuk kesehatan menjadi semakin ketat. juga tidak terjadi peningkatan yang berarti.450 TT. Sampai tahun 1988 tercatat 5549 Puskesmas dan 12913 Puskesmas Pembantu yang sudah didirikan oleh pemerintah. Untuk RS situasi pada tahun 1985 menunjukkan bahwa dari total 683 RS yang ada di Indonesia. Bentuk operasional kedua adalah memberi peluang dan mendorong pihak swasta untuk turut serta dalam penyediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan.8%) adalah RS pemerintah dan sisanya sebanyak 370 (54. pihak swasta akan sulit bersaing karena subsidi yang diberikan oleh pemerintah untuk pelayanan primer tersebut sangat tinggi.2%/ tahun. dan peranan BLN sebesar 5. atau users fee. dari total 95.072/kapita/tahun.085/kapita/tahun dan akhirnya naik lagi menjadi sekitar Rp. Dari segi jumlah tempat tidur.2%) adalah milik swasta.000 penduduk. Dalam Tabel 1 disajikan data perkembangan jumlah RS. Namun kalau dihitung menurut harga konstan. 3) Pergeseran peran pemerintah dan swasta Dalam industri pelayanan kesehatan.Ada beberapa issu pokok yang menonjol akhir-akhir ini sehubungan dengan produksi atau supply pelayanan kesehatan. yaitu (1) peran dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan (2) peran dalam menyelenggarakan pembiayaan kesehatan. Jelas bahwa jenis pelayanan kesehatan primer tidak memberi peluang banyak untuk maksud 36 Cermin Dunia Kedokteran. 8. seperti pendidikan dan kesehatan. Ini sangat besar dampaknya terhadap program kesehatan pemerintah. Angka kematian bayi. Bahkan sejak 1983. sedangkan tarif yang dikenakan kepada pasien hanya Rp 300 sampai Rp 500. guna meningkatkan cost recovery rate pelayanan.

1 67.2 70. Timor Timur Indonesia 1984 19 129 57 30 Jumlah Tempat Tidur 1988 19 132 59 37 Ratio TT/100. Tabel 2 dan Tabel 3 menyajikan daftar elemen biaya tersebut. 1. Aceh 2.3 54.8 27.8 36.9 4071 354 1814 4152 394 79. 1994 37 .6 53.8 1312 1367 1367 1456 110318 111456 114318 66.7 129. Jambi 6. SumatraUtara 3.7 1987 50.3 75.6 52.1 115.5 74.4 29. masa pakai dan laju inflasi dihitung.1 66.3 109. Pembiayaan tersebut bisa juga dilakukan oleh sebuah asuransi kesehatan.4 53.1 42.1 118.2 130 62 34 132.9 83.7 66.6 72.4 179.2 116. Bali 15.4 89.6 81. rumah bersalin. NTB 16.397.2 82.1 25.1 61.6 13 21 23 5 13 21 23 5 13 21 23 5 13 21 24 10 1499 1404 1545 464 108307 1460 11539 439 1433 1470 386 715 1646 1539 1521 335 510 116757 89.2 56.5 56.2 37.Tabel 1. Angka-angka untuk RS tersebut adalah tipikal.8 30.1 55.3 36.1 101. Peranan swasta bisa berbentuk penyediaan pelayanan yang biayanya ditanggung oleh pemerintah.9 54.2 62. yaitu kategori (C).7 59.7 1885 15196 12546 16066 3337 15644 12876 16523 3493 179.3 137.6 112.3 81.89% 33.1 118.3 54.3 82. atau pelayanan kesehatan untuk peserata asutansi kesehatan swasta oleh fasilitas pemerintah.7 (atau 224.1 33. Puskesmas Pembantu. KalimantanSelatan 20.70% 3.9 115.9 79.4 93.999. DKIJaya 10.2 40. tahun beli. Sultra 25.7 68.1 90. SumatraSelatan 7. Selanjutnya. untuk RS di Indonesia.3 68.2 1986 52 86.149 74.9 50.1 62.1 118.1 37. RS-X Gedung Alat Non-medis Alat Medis + Penujang Medis 140.3 86.8 65. 4) Inflasi biaya Elemen biaya RS secara garis besar dibagi dalam (1) biaya operasionaldan pemeliharaan dan (2) biaya investasi. JawaTengah 12.4 54. Puskesmas. Contohnya adalah pembayaran oleh pasien atau perusahaan swasta kepada fasilitas swasta (RS. Sulteng 23.2 1592 1944 2914 1090 5639 680 1584 1644 2032 2902 1149 5726 61. Bengkulu 8.8 109.5 57. 90.3 80. JawaBarat 11.4 108.6 68.1 75.1 52.566 62. (Tabel 2 dan 3 ) Tabel 2 .swasta.2 57. -NTT 17. KalimantanBarat 18.2 60.41% 100.013). Nampaknya dalam tahun-tahun mendatang. Riau 5.3 54. Edisi Khusus No . yaitu baik pembiayaan maupun pelayanan kesehatan dilakukan oleh swasta.8 38.511.9 179. seperti cleaning service.8 38.1 85.067 8.3 103.9 69. Tempat Tidur dan Ratio TT/100. JawaTimur 14.4 27.7 54. Misalnya adalah pelayanan-pelayanan yang dikontrakkan kepada fihak swasta. Akhirnya ada pula kategori (D).5 54.1 56.1 38.4 179.5 24.9 82. praktek dokter dan bidan. Angka biaya investasi yang disampaikan pada Tabel 3 adalah nilai sekarang (present value) biaya investasi untuk satu tahun (annualized fixed cost).1 114.9 36.782 Dalam kelompok biaya operasional dan pemeliharaan.4 21 37 7 30 21 37 7 28 188 34 21 37 7 28 21 37 7 21 55 7 1302 918 4162 307 59. dan lain-lain. pengoperasian pavilun swasta di RS Pemerintah. yang tergolong kategori (B) dalam matriks di atas.9 118.7 56.7 59.6 54. pemeliharaan alat dan lain-lain.3 83. program-program kesehatan masyarakatan yang baik pembiayaannya maupun penyelenggaranya adalah fihak pemerintah.9 28.5 81. Yanmedik.4 84.2 120. Yang termasuk dalam kategori (A) dalam matriks tersebut misalnya adalah RS. berikut contoh hasilnya dari sebuah RS-X.3 53.000 Penduduk 1987 1600 11141 3504 1566 999 1985 19 1986 19 130 62 1987 19 129 66 39 1984 1485 12247 2939 1985 1508 12193 3160 1487 965 1986 1600 11080 3338 1528 1005 3940 1988 1612 11022 3431 1600 893 4391 394 1892 1984 50. KalimantanTengah 19.6 59. Depkes R1.5 52.00% 224.7 25. Sulut 22.4 50.8 61. SumatraBarat 4.7 94.1 84.5 107.000 Penduduk Menurut Propinsi di Indonesia.2 66.5 66.8 31 203 143 223 38 160 22 14 25 26 169 113 193 35 119 199 37 188 119 199 37 157 22 14 25 25 31 214 144 225 158 22 157 22 14 25 25 14 25 22 33 42 166 25 1780 13592 11039 15232 3018 16671 2214 762 14162 11231 15451 3137 16988 2156 786 364 1811 14643 11950 15660 3217 17236 2207 55. Dari matriks tersebut dapat dilihat bahwa pergeseran peran antara pemerintah dan swata dapat terjadi dalam berbagai kemungkinan.5 36. KalimantanTimur 21.776. baik pemerintah maupun swasta akan melakukan eksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang paling menarik.1 114.1 67.1984 -1988. Jumlah Rumah Sakit Propinsi 1.3 1988 50.7 Sumber : Ditjen. IrianJaya 27.962.4 46.4 108.8 88.8 72. Jumlah Rumah Sakit.2 26.5 25.000 banding Rp. DI.4 55. Tampak bahwa perbandingan antara biaya investasi tahunan dengan biaya operasional dan pemeliharaan 1:8.5 73.Yogyakarta 13.9 17384 2278 783 14 25 23 14 25 26 1537 1992 552 14 25 22 31 14 25 22 33 14 25 24 32 17 78 13 24 25 14 73 12 20 23 5 14 73 14 73 31 17 79 1369 1828 3171 749 5455 575 1579 1974 477 1422 1865 3103 951 5387 659 816 1600 1988 533 1585 1950 3035 992 5465 624 1682 1980 534 17609 2361 843 1756 2010 524 105. seperti juga ditemukan pada banyak RS lain.1 44. sesuai dengan motivasi masing-masing.1 126.500. laboratorium klinik. Biaya Investasi Tahunan. di mana harga beli.3 1985 50. Maluku 26. Sulsel 24.4 113.9 50. Lampung 9. Contohnya adalah pembayaran langsung oleh pasien di fasilitas Pemerintah.6 58.8 52.5 70.7 71. pelayanan atau pelaksanaan upaya kesehatan dapatdilakukan oleh pemerintah sedangkan biayanyadari swasta. tampak bahwa biaya personil dan biaya obat merupakan kompo- Cermin Dunia Kedokteran.1 110.736.2 179.

karenamasyarakatyang lebih mampu umumnya lebih memiliki akses ke RS tersebut.580 68.084. Tot Nama Unit Poli Umum PoliMata Poli THT Poli Kulit Poli Jiwa Poli Anak Poli P.80 123.962.45 4.248. Partus I II IIIa IIIb Operasional 8265 17941 20202 13532 UC UC Inves. Rendahnya tarif tersebut. Tarif dan Cost Recovery Rawat Nginap.60% dari keseluruhan biaya). Yang unik dalam hal biaya kesehatan adalah laju inflasinya yang sangat tinggi. Tarlf dan Cost Recovery Rawat Jalan . Patologi Anatomi EKG Lain-lain Total Besar Biaya 1. RS-X Unit Cost Operasional 1920 1845 722 929 9618 1598 13276 3766 1661 2994 2050 1570 1269 3117 Unit Unit Cost Cost Inves.Total tasi 1884 691 2531 1048 10149 19632 22733 14580 Tarif (Rp) 10000 7500 25000 6000 3000 25000 6000 25000 6000 3000 3000 25000 6000 3000 75000 60000 75000 75000 60000 30000 10000 Ratarata 98. Angka ini juga menunjukkan bahwa industri RS memang bersifat padat karya. Bahkan tarif tersebut masih lebih rendah dari pada biaya satuan operasional dan pemeliharaan (biaya satuan tanpa biaya investasi). Dlm Kls.70 136.555.04 0.26 30. tarif dan cost recovery rate rawat jalan di RS tersebut adalah 118%. maka merekalah yang lebih potensil menikmati subsidi dibandingkan dengan ma- Cermin Dunia Kedokteran.77 3.21 134.24 197.46 62. Biaya Satuan.19 51.52 174.485 46.500 716.99 41. Tarif rendah tersebut juga terdapat pada beberapa RS swasta.13 179.579. 3. 5) Pentarifan dan cost recovery Umumnya tarif RS pemerintah di Indonesia sangat rendah.82 54. 38 Tabel 5.01 293.14 102.56 181.33 263. Tot 120.45% atau keduanya sudah mencakup 77.78 143.407.33 52.15% dan 20.639 30.11 25. 4. Banyak faktor yang menyebabkan inflasi tinggi tersebut. Pertama.40 158.52 0.53 28. 2.133 401.99 156.50 121.543. jauh lebih tinggi daripada inflasi ekonomi secara keseluruhan.13 135. a&b Obgyn Kls.49 UC Nama Unit R.Total tasi 231 198 99 178 894 146 1149 1001 494 507 298 196 110 166 2151 2043 821 1107 10512 1744 14425 4767 2155 3501 2348 1766 1379 3283 Cost Recovery % Thd.41 106. yaitu 3 sampai 4 kali laju inflasi ekonomi. OP Th. inflasi tersebut mencapai 18% pertahun. Untuk rawat nginap.400 10.84 23. Studi biaya operasional dan pemeliharaan pada 12 RS pemerintah yang dilakukan oleh Unit Analisis Kebijaksanaan Depkes RI menunjukkan bahwa biaya satuan operasional dan pemeliharaan (tanpa biaya investasi) untuk Rawat Nginap kelas III rata-rata berkisar antara Rp.51 225.44 116.01 71. 111 .72 66.47 141.53 1. Edisi Khusus No.41 18. Dengan perkataan lain.03 108.91 123.000 . OP Th. Biaya Satuan.26 269.384 93. diperkirakan laju inflasi tersebut mencapai 12 sampai 14%.38 150.35 17.02 nen biaya terbesar (masing-masing sebesar 57. Dalam Poli Jantung Poli Gigi Mulut Poli Syarat Poli Orthopedi Poli Bedah Poli Kebidanan & KB Poli Kandungan Tarif (Rp) 1500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 Ratarata -> 78.160 15.15 14.66 287.Tabel 3. karena adanya surplus atau defisit ditentukan oleh tingkat penggunaan masing-masing poliklinik tersebut.121. yang tarifnya ditentukan melalui PeraturanDaerah (Perda) di daerah RS tersebut berada.29 76.115 1. Di USA.051. RS-X Cost Recovery % Thd.171.71 1.40 33.43 90. 111 Bedah Kls.01 80.15 118.000 sampai Rp. 90. 11 Obgyn Kls. Kls.53 40.95 159.00 153.83 127.650 25. I Utama Kelas I/b ICU/ICCU Kmr.09 17.68 139. 111 a&b VIP/Kls. yaitu sekitar 2 kali laju inflasi ekonomi. Antara lain adalah meningkatkan demand sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kenaikan pendapatan serta pendidikan.13 35.73 102.000. 8.050 24.854. Di samping itu perkembangan teknologi canggih dan penggunaan fasilitas non medis dalam pelayanan RS juga merupakan faktor pendorong inflasi.Rp.013 Persen 57. yang berarti adanya subsidi bagi pengguna pelayanan kesehatan.15 20.529 33.29 1.27 35.46 70.97 41. 111 a&b P. menimbulkan beberapa permasalahan.35 1.37 304.03 28.246.28 52.93 69.572.0 Tabel 4.27 0.000. Dlm. Klinik Rontgen Umum Tranfusi Darah Rumah Tangga Lab.75 44.51 83.34 15.25 109. 1994 .77 100.55 26.45 18.366. Post Partum Ruang Bayi Anak Kelas 11 Anak Kls . Pada Tabel 4 dan Tabel 5 disampaikan angka-angka yang menunjukkan biaya satuan.49 2.79 33. Di Indonesia.96 27698 19557 17926 8539 12285 1195 2275 444 39983 20752 20201 8983 13907 10709 25540 20868 42930 55136 1888 709 7022 1946 5824 3581 1-5795 11418 32562 22814 48754 58717 tarif rawat nginap di RS tersebut lebih rendah daripada biaya satuannya. ternyata cost recovery ratenya lebih kecil dari 100% (rata-rata sekitar 89%).66 4. 11 P.77 56.03 89. 11 Bedah Kls.348 91. Namun ini bukan berarti pelayanan rawat jalan secara keseluruhan memberikan profit. Sedangkan tarif yang berlaku adalah antara Rp. Biaya Operasional dan Pemeliharaan RS-X Klasifkasi Personalia Farmasi Gizi Gedung Lingkungan Administrasi Lab.83 66.74 122.397.27 230.50 346.

diabetes.414 1. Pola Rawat Nginap. Jadi perkembangan tersebut. 700 di desa.168. Perkembangan dan aplikasi peralatan medis tersebut memang berlangsung sangat cepat. maka investor di bidang perumah sakitan akan mempunyai posisi berbeda. pemerataan pendapatan akan mengalami percepatan. Skenario pertama. Tabel 6. renal failure. adalah terjadinya proses transisi epidemiologis yang lebih cepat mengikuti peningkatan pendapatan penduduk. Hasil analisis tersebut disampaikan pada Tabel 6 berikut. walaupun akan menghambat perkembangan swasta ke arah industri kesehatan yang bersifat profit maximization. 1000 di kota dan Rp.337 2. Edisi Khusus No. Dengan perkataan lain.069 1. distribusi pendapatan ini tidak cepat berubah. yang bertempat tinggal umumnya di luar kota. Pengalaman Thailand patut ditelaah.899 69. 1994 39 3) . Kalau batasnya dinaikkan menjadi Rp. dibandingkan dengan hanya 15% di pedesaan.671 1.1 Sumber : Ridwan Malik.2 % 41 22 22 16 100 535. Ini terlihat misalnya dari angka bahwa 34% penduduk kota yang pernah dirawat memilih RS swasta. gambaran seperti di Thailand bukan tidak mungkin akan terlihat juga di Indonesia. Skenario ke tiga.10 tahun mendatang. akan berkurang sebanyak 50% dari keadaan sekarang selama 5 . Di sisi lain. yaitu jaminan pembayaran jasa pelayanan. maka pangsa pasar bagi pelayanan RS swasta akan terbatas di kota-kota besar. Kalau . 882. Semarang. Transisi tersebut akan menghasilkan bertambahnya kebutuhan (need) terhadap pelayanan RS. di mana terjadi (juga sedang terjadi) pembangunan rumah sakit mewah di kota-kota besar seperti Jakarta.655 1. Dalam skenario ini.981 % 36 15 30 20 100 Total Jml. akan tetapi provider tersebut akan berhadapan dengan JPKM yang "menguasai" sistem pembiayaan. dan lain-lain yang dirawat.446 56. Surabaya.666 760. pertumbuhan GNP tidak diikuti dengan proses pemerataan pendapatan secara cepat. Keadaan ini akan memacu perkembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Ada asumsi yang menyatakan bahwa investasi alat canggih tersebut memang diperlukan karena makin banyaknya penyakit-penyakit degeneratif dan kardiovaskuler yang memang memerlukan teknologi tinggi. 895 % 49 34 7 9 100 Rural Jml.4 123.421 275. ASPEK KONSUMSI (DEMAND) 1) Gambaran umum penggunaan RS Data Susenas 1990 memungkinkan analisis tentang pola penggunaan RS oleh penduduk Indonesia. sekaligus standar harga.407. Katakanlah segmen 70 juta penduduk yang berada di sekitar garis kemiskinan dan yang ada di bawah garis kemiskinan. Situasi sekarang. Diketahui bahwa peserta asuransi atau jaminan pemeliharaan kesehatan secara umum adalah kelompok yang tingkat sosial-ekonominya sudah lebih baik. JPKM misalnya akan datang dengan standar prosedur dan standar mutu pelayanan. yang sebetulnya bisa inklusif baik dalam skenario pertama maupun kedua. 2) Dampak pertumbuhan GNP Implisit dari uraian butir 1 di atas adalah kesimpulan bahwa efektivitas dan kesinambungan investasi pelayanan kesehatan oleh swasta (khususnya rumah sakit). Depkes RI Angka dalam Tabel 6 menunjukkan bahwa bila pendapatan pendudukmembaik.230.syarakat yang kurang mampu.976 474. yang ditentukan oleh tingkat pendapatannya. pihak investor swasta akan sangat bersaing satu sama lain. maka ada sekitar 70 juta penduduk yang sebetulnya berada di sekitar garis kemiskinan tersebut. Skenario kedua.884 262. Bandung. 1990 Urban Tempat Tidur RS Pemerintah RS Swasta Puskesmas Rumah Petugas Total Penduduk % Jml.359 204. 90. Unit AKEK. Ada beberapa skenario yang bisa diproyeksikan untuk masa yang akan datang. ada 15% (sekitar 27 juta) penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Statistik RS menunjukkan makin banyaknya kasus-kasus kardiovaskuler. Konsumsi pelayanan alat canggih Sehubungan dengan aspek konsumsi pelayanan kesehatan. Provider pelayanan kesehatan tidak lagi berhadapan dengan individu (yang umumnya ignorant dan dalam posisi lemah di hadapan profesional). Dari kacamata Cermin Dunia Kedokteran. Dalam skenario ini tidak berlebihan kalau juga disebut tentang kemungkinan meledaknya wabah AIDS. menarikuntuk disampaikan issu penggunaan alat-alatkedokteran canggih.530 417. dan lain-lain. terjadi pula fenomena penggunaan subsidi oleh kelompok yang lebih mampu. Medan.10 tahun terakhir. lebihlebih alat elektromedik yang semakin efektif dengan presisi tinggi karena memanfaatkan sistem komputer. juga akan menjga kelangsungan hidup investasi swasta tersebut. JPKM akan muncul sebagai sosok kekuatan baru dalam transaksitransaksi penawaran danpermintaan pelayanan kesehatan. Tampaknya inilah yang sedang terjadi selama 5 . bagaimana sekarang ini tempat tidur RS milik pemerintah sampai tingkat kabupaten sebagian besar dihuni oleh penderita AIDS.876 176. kejenuhan pasar nampaknya tidak lama akan terjadi. 371. sangat dipengaruhi oleh adanya demand masyarakat.2432 466.320 345. 510. Kedua. Dengan demikian. Kota dan Desa. masyarakat kemudian cenderung menggunakan fasilitas pelayanan swasta. pihak penyelenggara Asuransi Kesehatan atau Badan Pengelola Sistem Jaminan Pemeliharaan Kesehatan akan me"maksa" RS bersangkutan untuk menggunakan tarif yang rendah tersebut. seperti misalnya terjadi di kota dibandingkan di desa.541. karena makin banyak penduduk bekerja di sektor formal dan makin banyak pula penduduk yang mampu dan mau membayar premi JPKM. berkembangnya JPKM dan asuransi kesehatan sebetulnya memberikan semacam assurance bagi industri pelayanan kesehatan. Diketahui pula bahwa tingkat penggunaan pelayanan kesehatan oleh peserta asuransi atau jaminan pemeliharaan kesehatan adalah lebih tinggi.772. Kalau hal yang sama terjadi di Indonesia. Kalau ini terjadi.

5. Jenis alat 1. Hemodialisis Bronchoscopy Gastroscopy MRI Body CT Scan Head CT Scan Lithotriptor Biochemical analyzer USG Endoscopy Sumber : Tafal. sebelum suatu alat canggih mahal diadakan oleh sebuah RS. Ascobat. 2. maka annualized fixed cost (present value biaya investasi tahunan) secara keseluruhan akan naik. Press. 2) Pelaksanaan studi kelayakan.2 31. Pendekatan Ekonomi Makro dan Mikro Pelayanan Kesehatan. 8. Khusus tentang alat-alat canggih di RS. Cimacan. 1980.ekonomi pelayanan kesehatan. 6. 3) Cost effectiveness analysis suatu alat canggih yang mahal dibandingkan dengan alat lama yang bertujuan atau berfungsi sama. 1965. Keadaan penggunaan yang rendah membawa dampak besar terhadap sistem pembiayaan fasilitas bersangkutan. 7. Unit Analisis Kebijaksanaan Depkes RI. Ascobat. keadaan ini bisa menyebabkan meningkatnya unnecessary procedures. Ekonoimi Kesehatan. Jakarta.5 18. (2) produksi atau supply pelayanan kesehatan. 40 Cermin Dunia Kedokteran. Karena biaya investasi alat tersebut mahal. 4.5 20. Jakarta Agustus 1993. Lokakarya Ekonomi Kesehatan. G. Inipun akan mendorong terj adinya inflasi biaya yang lebih tinggi. 3. Profil Kesehatan Indonesia. 4. yang dapat dikoordinir sendiri oleh otoritas perumahsakitan. studi tersebut j uga mengungkapkan bahwa pengadaan alat canggih di suatu RS lebih banyak didasarkan pada pertimbangan profesional daripada pertimbangan ekonomis. Jacobs. misalnya oleh organisasi perhimpunan RS. misalnya (1) menaikkan tarif penggunaan alat setinggi-tingginya yang akan sangat memberatkan pasien dan (2) memperlonggar indikasi profesi medis yang sesungguhnya. et al : Studi Pemanfaatan Alat Kedokteran Canggih. Ekonomi Kesehatan dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Termasuk dalam studi kelayakan ini adalah Break Even Analysis. sebuah studi terbatas menunjukkan bahwa investasi alat-alat tersebut secara ekonomis umumnya tidak efisien. Sehubungan dengan temuan tersebut. apakah waktu tersebut terlalu lama sehingga alat yang bersangkutan menjadi obsolete. Park. Dalam keadaan demikian RS bersangkutan menghadapi tekanan untuk menaikkan revenue. perbaikan tingkat pendapatan dan ekonomi). karena suku cadangnya tidak lagi ada di pasar. Depkes RI. Keadaan ini akan lebih memacu laju inflasi. yang antara lain akan mengungkapkan berapa tahun diperlukan untuk mencapai titik Break Even tersebut. yaitu karena demand melebihi supply.8 Nopember 1990. Ascobat. 1994 . Jakarta 7 . nampak bahwa laju pertambahan penyediaan pelayanan RS tertinggal dibanding dengan laju pertambahan penduduk serta peningkatan kebutuhan akan pelayanan RS (akibat transisi epidemiologis. Edisi Khusus No. Press. The Economics of Health and Medical Care. Malik R. Z: Studi Pemanfaatan Alat Kedokteran Canggih.5 46. Dari segi supply dan demand. 1991. apakah hasil diagnosis diikuti dengan tersedianya teknologi atau kemampuan pengobatan. 5. 9. Jakarta. Proceeding Semiloka "Penggunaan Ilmu Ekonomi di bidang Kesehatan Masyarakat". FKM-UI.9 alat-alat canggih dan mahal. Oktober 1989. 1991 Kapasitas terpakai (%) 96. 1993. 1992. 3. Kapasitas terpakai beberapa alat canggih. 3) apakah tersedia cukup demand untuk menjamin operasionalisasi alat tersebut serta menjamin pengembalian modal investasi plus keuntungan. 8. khususnya RS dan (3) konsumsi atau demand terhadap pelayanan RS. maka ada beberapa kebijaksanaan atau langkah penting yang pelu dilakukan di masa yang akan datang.6 67. issu pokoknya adalah : 1) apakah suatu alat lebih cost effective dibandingkan alat terdahulu lain yang sudah ada. yaitu sebagai berikut : 1) Pelaksanaan utilization review (UR) secara berkala terhadap PENUTUP Dalam makalah ini telah disampaikan secara ringkas tentang (1) ciri khusus sektor kesehatan. Kondisi ini bisa mendorong kebijaksanaan pelayanan yang tidak profesional.Y. 2) khusus untuk alat diagnostik. Baltimore. Unit Analisa Kebijaksanaan Depkes RI. Columbia Univ. Badan Litbang Depkes. Tabel 7. Seminar Ekonomi Kesehatan. The Economics of Health. 10.5 50. G. Ini hendaknya dilakukan oleh suatu badan penelirian. 2. Dengan perkataan lain. September 1992. Pola Pencarian Pelayanan dan Pengeluaran Masyarakat untuk Kesehatan Berdasarkan Susenas 1990. Selanjutnya. KEPUSTAKAAN 1.4 53.7 61. Tafal Z. 90. G. Studi tentangpemanfaatan alat kedokteran canggih di Jakarta yang dilakukan oleh Unit Analisis Kebijaksanaan dan Ekonomi KesehatanDepkes RI pada tahun 1991 yang lalu menunjukkan bahwa sebagian besar alat yang diteliti yang berada di beberapa RS besar di Jakarta ternyata mempunyai idle capacity sangat besar. 7. Univ. Hasilnya bermanfaat sebagai dasar pengaturan pembelian alat canggih tertentu oleh suatu RS. Pertemuan Tahunan PPEKI.3 33. Pusat Data Kesehatan. 1991. Jakarta. N. Klarman E. bukan oleh RS. 6. termasuk kelayakan ekonomis.

Edisi Khusus No.5% per tahun (dazi 81. KOMPETISI DAN ECONOMIES OF SCALE LAYANAN DI RUMAH SAKIT Dalam situasi kompetisi yang ketat. tetapi jumlah tempat tidur RSU adalah sekitar 78% dari seluruh rumah sakit yang ada. Fakultas Kesehatan Masyarakat. menunjukkan pertumbuhan sekitar 30% selama kurun waktu tersebut (dari 581 RSU menjadi 756 RSU). yang jumlahnya relatif sama besar dengan rumah sakit khusus.116 menjadi 1.96% maka dapat dilihat bahwa di Jakarta terjadi kecenderungan tumbuhnya RSU dengan jumlah tempat tidur 50–100 buah per RS. Mengacu kepada angka pertumbuhan keadaan di daerah urban atau semi-urban lainnya di Indonesia tersebut maka dapat dikatakan bahwa tingkat kompetisi antar RSU terutama swasta di daerah urban akan cukup tinggi. Angka ini. Sebagai contoh. Rumah sakit umum sendiri. Jakarta. Jakarta LATAR BELAKANG Rumah sakit sebagai salah satu mata rantai pelayanan dalam Sistim Kesehatan Nasional di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup bermakna. Tetapi. 21 — 25 November 1993. Dari pertumbuhan ini berarti jumlah rumah sakit umum swasta yang pada akhir Pelita I hanya sekitar 19% dari seluruh RSU. Ini menampilkan bahwa walaupun jumlah RSU dan RS Khusus hampir sama. Sedangkan jumlah tempat tidurnya menampilkan pertumbuhan sekitar 44% dalam waktu yang sama yaitu dari 63.1% per tahun (dari 1. Universitas Indonesia.7% dari seluruh tempat tidur RSU di negeri ini berada di Jakarta.533 RS). Hanya rumah sakit yang dapat menyediakan layanan yang bermutu dengan pembiayaan yang relatif rendah dapat unggul dapatkompetisi ketat tersebut. 90. tidak dapat disangkal bahwa peranan pembiayaan dalam menyediakan layanan di rumah sakit menjadi sangat penting. dengan angka pertumbuhan tempat tidur RSU per tahun sebesar 0. 1994 41 . pada akhir tahun 1990 ternyata bertambah menjadi sebesar 244 rumah sakit swasta di Indonesia. Ditinjau dari jumlah tempat tidur yang sebanyak 11. Dengan tingkat kompetisi yang tinggi adalah wajar bagi setiap rumah sakit untuk melakukan segala upaya yang diperlukan dalam mempertahankan keber adaannya.8% per tahun sehingga pada tahun 1991 terdapat 86 RSU di Jakarta. Sjaaf Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.643 TT menjadi 81.888 TT.753 TT menjadi 118. Cermin Dunia Kedokteran. Yang menarik untuk diperhatikan adalah jumlah rumah sakit umum swasta pada kurun waktu 15 tahun menampilkan angka pertumbuhan sekitar 104% (dari 113 menjadi 231 rumah sakit).591 maka dapat dikatakan bahwa sekitar 12. Jumlah ini kemudian meningkat pesat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 11. di bawah rata-rata nasional yang sekitar 125–150 tempat tidur per RS.Program Cost Containment di Rumah Sakit Tanggapan dalam Mengantisipasi Perkembangan Teknologi Kesehatan di lndonesia Amal C.565 TT). Untuk itu maka perlu diketahui beberapa faktor yangdiasumsikan terkait erat dengan biaya layanan rumah sakit. Sedangkan angka pertumbuhan tempat tidur di rumah sakit menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu 45% dalam 15 tahun atau 2. Sesuai dengan sifat layanan kesehatan di rumah sakit yang terutama diarahkan pada jenjang layanan kesehatan sekunder Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. dan tersier maka dapat dipahami bahwa rumah sakit secara relatif akan ada di daerah urban dan semi-urban. Dalam kurun waktu 15 tahun ini (akhir Pelita I sampai awal Pelita V) angka pertumbuhan rumah sakit umum dan khusus adalah 37% atau rata-rata 2. pada akhir 1990 tumbuh menjadi sekitar 32% dari seluruh RSU di Indonesia. pada awal Pelita V hampir 9% dari RSU di Indonesia berada di Jakarta yaitu sebanyak 71 RSU.

Dikatakan bahwa hal ini sebagian terjadi karena pengaruh biaya tetap (fixed cost) dalam kegiatan layanan. dan antaranya jenis penderita yang dilayani (Gambar 2). dan lain-lain. Makin majemuk jenis penyakit yang dierita maka makin tinggi pula pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan maupun kecanggihan tindakan invasifnya. M. Hubungan Jumlah Tempat Tidur dengan Biaya Rata-rata Layanan di Rumah Sakit Dari bentuk kurva U di atas maka dapat dikatakan bahwa economies of scale terjadi pada rumah sakit dengan jumlah tempat tidur yang paling besar tetapi dengan biaya rata-rata layanan yang paling kecil. dapat dipahami bahwa kan kepada tenaga RS = tingkat efisiensi layanan economies of scale dari rumah sakit dengan jumlah tempat tidur E = program pendidikan yang dilakukan di RS yang sama dapat berbeda tergantung dari faktor-faktor lain. Gambar 1. DP. Variasi Hubungan Jumlah Tempat Tidur dengan Biaya RataDengan memanfaatkan model ini. L) scale tetapi masih tetap ingin hidup maka ia harus berusaha di mana : BRL = biaya rata-rata layanan yang dapat diukur dengan biaya melakukan upaya pembenahan pembiayaannya (cost containment). Hubungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 . di p = faktor lain seperti jumlah penderita rawat jalan. 90. rata Layanan di Rumah Sakit diharapkan dapat ditentukan faktor-faktor yang berpengaruh pada biaya rata-rata layanan rumah sakit di suatu daerah.jumlah tempat tidur yang akan menampilkan biaya rata-rata layanan yang berbeda. perlu juga diperhatikan bahwa rumah sakit selalu TT = jumlah tempat tidur terpasang memberikan jenis pelayanan yang tidak sama walaupun mereka diagnosis = jenis penderita menurut klasifikasi JP M = mutu layanan yang dapat diukur dengan tindakan dan/ klasifikasinya sama. Sebagai contoh. Feldstein (1983) menggambarkanhubungkompetisi yang ketat maka jelas hanya rumah sakit dengan an antara biaya rata-rata layanan di rumah sakit dengan faktoreconomies of scale yang akan tetap bertahan hidup. 1994 . Memperhatikan faktor-faktor dengan cermat. JP. Dikaitkan dengan situasi Secara spesifik. Untuk rumah sakit yang memiliki tempat tidur sedikit dengan biaya tinggi dan yang memiliki banyak tempat tidur dengan biaya yang juga tinggi dikatakan 42 Dari bahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemahaman terhadap terjadinya economies dan diseconomies of scale padarumah sakitharus dilihatdalamlingkup yang relatif majemuk. Sebagai contoh. Atau dengan faktor tertentu sebagai berikut : kata lain. Tetapi. apabila hasil analisis biaya rata-rata layanan rumah sakit dilakukan untuk menentukan faktor yang akan diintervensi untuk cost containment maka hal ini harus dilakukan dengan cukup cermat. E. rumah sakit dengan jumlah tempat tidur sedikit akan memiliki biaya rata-rata layanan lebih tinggi daripada rumah sakit yang memiliki tempat tidur lebih banyak. Edisi Khusus No. sebuah rumah sakit umum dengan rumah sakit umum lainnya akan berbeda jenis layanan yang atau pemeriksaan penunjang yang dilakukan DP = derajat beratnya penyakit yang dapat diukur dengan diberikan oleh karena jenis penderita yang dilayani juga tidak sama. Gambar 2. Adanya perbedaan ini memungkinkan rumah sakit dengan jumlah operasi yang dilakukan PU = penyesuaian rumah sakit berdasarkan upah yang diberi. sukar untuk ditolak adanya asumsi bahwa hampir pada semuanya akan terkait langsung atau tidak langsung dengan pemanfaatan teknologi kesehatan. per hari rawat atau biaya per admisi Tetapi. biaya ini akan meningkat lagi pada rumah sakit yang memiliki tempat tidur yang paling banyak. Misalnya. PU. makin banyak jumlah tempat tidur yang terpakai akan terkait dengan makin meningkatnya pemanfaatan kamar bedah maupun penunjang medik seperti radiologi. laboratorium. Dengan demikian. Artinya. . melalui analisis regresi ganda. L lain-lain. P. Tanpa memperhatikan kemajemukan faktorfaktor tersebut bukannya tidak mungkin intervensi yang dilakukan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.telah mengalami diseconomies ofscale. bila suatu rumah sakit mengalami diseconomies of BRL = f (TT. FL. Lebih jauh dikatakan bahwa hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan biaya rumah sakit secara teoritis dapat digambarkan dengan bentuk kurva U. Kesemuanya ini akan mengarahkan rumah sakit untuk me- Cermin Dunia Kedokteran.

juga sangat erat kaitannya dengan proses inovasi. tanpa adanya teknologi canggih seperti ini maka mereka akan tertinggal dalam kompetisi yang ketat dalam menyediakan pelayanan yang ber"mutu" bagi masyarakat. Sebagai ilustrasi. jelas akan menempatkan kita dalam kedudukan sebagai bagian dari percepatan tahapan difusi itu sendiri. hal terakhirdapat terjadi karenafaktortersedia atau tidak tersedianya tenaga ahli yang akan menggunakan alat canggih tertentu. Ironisnya. adalah sukar bagi kita untuk menentukan korelasi antara hasil evaluasi badan pengawas di negara produsen dengan tingkat kepatuhan penggunaan teknologi tersebut Cermin Dunia Kedokteran. Yaitu. kualitas dan lingkup jenis layanan. Lebih jauh. Dengan kata lain. Pada gilirannya.lengkapi dirinya dengan teknologi kesehatan yang dibutuhkan. Di lain pihak. misalnya dengan cara pembiayaan out of pocket maka proses ini akan terjadi lambat. Antisipasi yang kurang tepat terhadap perkembangan teknologi kesehatan pada tahapan difusi dan inkorporasi di atas akibatnya akan diikuti oleh tahapan utilisasi yang juga tidak tepat. bahasan berikut ini akan dibatasi pada aspek pembiayaan teknologi kesehatan dan penyediaan tenaga ahli penggunanya. Ironisnya. Dorongan yang terjadi seperti ini tidak jarang membawa rumah sakit ke arah pengertian yang kurang menguntungkan. Kalau dilanjutkan maka jelas pembiayaan ini akan dibebankan kepadamasyarakatpemanfaat teknologi tanpa disertai dengan kesadaran yang cukup akan manfaatnya. Daya tarik ini memiliki efek ganda yaitu daya tarik ekonomi bagi para administrator rumah sakit dan daya tarik peningkatan kualitas bagi tenaga profesi medik. Inovasiinovasi "baru" akan cepat bermunculan walaupun "baru" di sini harus lebih banyak diartikan sebagai "penambahan yang non esensial tetapi peningkatan kemudahan fungsional". PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KESEHATAN CANGGIH DAN COST CONTAINMENT DI RUMAH SAKIT Kalau disimak secara teliti dapat dilihat bahwa produsen teknologi kesehatan canggih sebenarnya merupakan produsen utama dari teknologi militer. Walaupun demikian. Keadaan ini akan lebih diperburuk lagi apabila teknologi yang dimanfaatkan tadi belum dipastikan derajat keamanan penggunaannya di Indonesia. akan dapat dipahami bahwa biaya untuk "bertahan" tadi sebetulnya sudah melebihi kemampuan untuk bertahan itu sendiri. dengan tanpa mengabaikan peranan faktor lain dalam upaya cost containment. Untuk Indonesia yang secara murni masih jauh dari keikut sertaan dalam tahapan inovasi perkembangan teknologi kesehatan canggih. Memahami bahasan di atas. Diversifikasi yang relatif mudah dan tidak memerlukan biaya yang terlalu tinggi adalah dengan memfokuskan produksi mereka pada perkembangan teknologi canggih di bidang kesehatan. utilisasi luas serta pengabdian teknologi yang sangat diwarnai oleh interes produsen alat-alat tersebut. Dan tentunya. Pengembangan cara pendanaan pelayanan kesehatan baik yang disubsidi oleh pemerintah atau murni oleh swasta apabila dilakukan tidak dengan seksama dan tepat guna jelas akan mendorong penerimaan dan pemanfaatan teknologi ke arah yang merugikan seluruh masyarakat. Dapat diasumsikan di sini kesalahan antisipasi dalam tahapan inkorporasi ini bukannya tidak mungkin akan mengakibatkan biaya pelayanan kesehatan akan meningkat tajam seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Perlu ditambahkan di sini. Di samping itu ada faktor lainnya yang juga terkait dengan hal di atas yaitu faktor peningkatan sosio-ekonomi masyarakat yang dikaitkan dengan peningkatan demand terhadap pemeriksaan dengan alat canggih. apabila cara pembiayaan pemanfaatan tidak dapat ditentukan dengan tingkat kepastian yang tinggi. hal ini perlu diantisipasi dengan hati-hati. tingginya tingkat pemanfaatan (over utilization) tadi sukar untuk dapat disebutkan sesuai dengan tingkat kebutuhan pemeriksaan itu sendiri. karena adanya faktor prestise dan nilai tambah ekonomi di sini maka tidak jarang yang tumbuh adalah kebanggaan yang harus dibayar cukup mahal. Apabila disepakati bahwa ketiga hal terakhir ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan teknologi kesehatan maka dapat disebutkan bahwa biaya yang dihabiskan untuk pemanfaatan tadi cukup bermakna bagi layanan di rumah sakit. 1994 43 . Masuknya dunia ke era pasca perang dingin agaknya sukar untuk ditolak oleh produsen tersebut untuk tidak menekan produksi teknologi militernya. inkorporasi. Joskow (1981) mengatakan bahwa sekitar 60% biaya rumah sakit dihabiskan untuk mengadakan masukan atau input yang dibutuhkan bagi pelaksanaan kegiatan. 90. Edisi Khusus No. Salahnya antisipasi pada dua tahapan sebelumnya akan mengakibatkan "banjirnya" teknologi canggih di rumah sakit masa datang tanpa dapat dicegah. tahapan berikutnya yaitu inkorporasi teknologi baru harus dapat diantisipasi untuk dikembangkan secara seksama. Sebenarnya tahapan difusi ini secara alamiah akan terhambat prosesnya apabila dana untuk pembiayaan pemanfaatan teknologi juga terbatas. Dengan demikian akan mudah dipahami bahwa pada era mendatang secara global akan terjadi perkembangan teknologi canggih kesehatan yang relatif lebih cepat dari masa sebelumnya. sukar pula dibantah bahwa dorongan akan pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan yang canggih ini merupakan daya tarik khusus. difusi. Misalnya. hal ini tanoa disadari dapat mendorong rumah sakit untuk memaksakan dirinyamenjadi "pusat unggulan" agar tetap dapat bertahan. Secara spesifik. Dikaitkan dengan biaya yang telah dikeluarkan oleh rumah sakit dan cepatnya tingkat perkembangan yang terjadi maka wajar akan terjadi tingkat pemanfaatan yang juga tinggi. Hal ini terjadi karena evaluasi teknis umumnya dilakukan di negara produsen pada tahapan inovasi dan dengan tingkat reliabilitas yang relatif rendah. Dari biaya untuk input ini ternyata sekitaz 75% dihabiskan untuk kegiatan yang dikaitkan dengan peningkatan jumlah. pembahasan tentang cost containment di rumah sakit perlu didahului dengan bahasan terhadap beberapa aspek penting di dalamnya. agar pemahaman tersebut dapat dilakukan secara menyeluruh. Ditambah dengan cepatnya perubahan produksi ke generasi berikutnya dan disertai dengan teknik percepatan tahapan difusi oleh produsen. Ketidak ikut sertaan dalam tahapan ini jelas akan menempatkan kita dalam posisi hanya sebagai penerima dan pemakai teknologi canggih ini.

Dalam rentang waktu me- . Apapun yang terjadi dampaknya sudah jelas yaitu terjadinya peningkatan biaya pemanfaatan teknologi canggih tersebut dan beban ini akan ditanggung oleh masyarakat luas baik yang memanfaatkannya maupun yang tidak memanfaatkannya. maka yang perlu diamati adalah bagaimana perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi tadi dikaitkan dengan tersedianya pembiayaan dari pihak ke tiga (asuransi kesehatan). dalam menerima suatu layanan di rumah sakit dan tidak seluruh pembiayaannya ditanggung oleh pihak ke III (perusahaan dan/atau asuransi). yang erat kaitannya dengan tahapan inkorporasi dalam siklus hidup teknologi kesehatan canggih. dan c) Karena jauh dari pusat pengembangan ekonomi perlu diantisipasi akan terjadinya subsidi pemerintah terhadap pelayanan dengan pemanfaatan teknologi tadi. Di beberapa negara industri secara resmi pemerintah menetapkan waktu produksi teknologi canggih ini guna menghindari hilangnya perangkat pengganti pada saat teknologi tadi habis masa hidupnya. Untuk negara berkembang dapat dipahami rentang waktu seperti ini akan menjadi lebih sempit. Dari aspek supply tampaknya bentuk upaya yang dapat dilakukan cukup beragam dan majemuk yang secara sederhana dapat dibagi dalam : a) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Pendek yang mencakup kegiatan-kegiatan: Penetapan pagu anggaran Perampingan jumlah sumber daya manusia Pengawasan terhadap remunerasi sumber daya manusia Pengawasan terhadap pola tarif Pengawasan terhadap jumlah layanan tertentu Efek dari pelaksanaan upaya ini terhadappemanfaatan teknologi kesehatan canggih relatif akan lebih tampak pada tarif yang relatif bersaing sebagai akibat dari terjadinya economies of scale pemanfaatan teknologi tersebut. Dumping ini akan terjadi relatif cepat dari kota besar ke tempat yang relatif jauh dari pusat pengembangan iptek kesehatan dan pusatpengembangan ekonomi. Sehubungan dengan hal ini perlu diantisipasi akan terjadi dua hal pokok : a) Pemanfaatan teknologi akan terhenti sementara oleh karena perangkat pengganti yang dibutuhkan perlu disediakan dari negara produsen. Dalam rentang waktu singkat hal ini dibutuhkan agar rumah sakit dapat bertahan hidup dalam kompetisi yang relatif ketat. Berikutnya. Menyimak siklus hidup teknologi kesehatan canggih seperti diuraikan di atas maka secara mendasar efektifitas upaya cost containment harus dilakukan pada aspek demand terhadap layanan dan aspek supply dari layanan kesehatan di rumah sakit. Dengan cara ini diharapkan penderita akan mengurangi demand terhadap layanan yang sebetulnya tidak diperlukan. di atas akan mengarahkan rumah sakit untuk dengan teliti membuat perencanaan tentang pengadaan teknologi kesehatan canggih dengan melakukan perhitungan cermat terhadap tenaga ahli yang dibutuhkan untuk menggunakannya. b) Peningkatan pembiayaan layanan rumah sakit secara keseluruhan akibat adanya pemanfaatan pada butir a. di atas. Pada umumnya perkembangan teknologi canggih dan setiap suku cadang penggantinya (spare parts) setidaknya disiapkan untuk produksi selama 5 tahun. Mengacu kepada uraian di atas maka jelas terlihat bahwa upaya cost containment yang dilakukan pada faktor teknologi kesehatan dan tenaga ahli pemakainya dapat menampilkan hasil dalam waktu singkat dan juga lama. Apabila hal ini terjadi setidaknya harus diantisipasi tiga hal pokok yaitu : a) Kekurangan relatif dari tenaga pelaksana yang pada gilirannya akan menyebabkan pemanfaatan teknologi yang kurang atau tidak tepat. Akibatnya. c) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Menengah yang mencakup kegiatan-kegiatan : • Pengawasan terhadap pembangunan dan pengembangan fisik • Pengawasan terhadap pengadaan alat kesehatan canggih • Pengawasan dan insentif bagi kegiatan inovasi d) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Panjang yang mencakup kegiatan-kegiatan: • Pengawasan terhadap jumlah mahasiswa baru kedokteran • Pengawasan terhadap jumlah peserta program spesialisasi Adanya kegiatan butir c. 90. pengabaian yang perlu diantisipasi akan terjadi di Indonesia adalah karena cepatnya perkembangan dan mudahnya pengadaan teknologi terutama di kota besar maka besar kemungkinan akan terjadi dumping dari teknologi lama. dan d. b) Bila masa hidup alat sudah selesai dan perangkat pengganti tidak tersedia lagi akan terjadi kanibalisme dari teknologi tersebut. 1994 penderita. Artinya. Edisi Khusus No.di luar negara produsen. sebagian harus dibayar oleh 44 Cermin Dunia Kedokteran . Pada aspek demand. Pada tahapan akhir. kebutuhan akan suku cadang untuk penggantian yang dibutuhkan agar dapat terus berfungsi jelas akan terancam. Umumnya yang dilakukan adalah dengan menerapkan mekanisme pembiayaan layanan yang sebagian ditanggung oleh penderita. b) Upaya Pengawasan Tidak Langsung Jangka Pendek yang mencakup kegiatan-kegiatan : • Pembenahan skala nilai relatif dari produksi teknologi kesehatan yang ada pada saat ini • Pembuatan daftar positif dan negatif dari produk teknologi kesehatan canggih • Pembatasan terhadap promosi teknologi kesehatan canggih kepada calon pemakai • Penyampaian daftar harga teknologi kesehatan canggih kepada calon pemakai Pembuatan profil kegiatan dokter secara berkala terhadap • teknologi kesehatan yang ada pada saat ini Efek dari kegiatan ini jelas lebih diarahkan untuk mencegah terjadinya dua hal pokok: pengadaan teknologi yang tidak prioritas dan kemungkinan akan terjadinya pemanfaatan yang berlebihan. Adanya pengurangan demand seperti ini akan jelas mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh rumah sakit. hal yang perlu diantisipasi secara cermat adalah yang dikaitkan dengan cepatnya pertumbuhan inovasi di negara industri dan waktu yang diperlukan untuk didifusikan ke Indonesia.

Kebijaksanaan Departemen Kesehatan di Bidang Perumahsakitan dalam PJPT 11. 1994 45 . Departemen Kesehatan. PERSI dan ikatan profesi kesehatan secara bersama harus mengembangkan regulasi dan/atau kesepatan formal tentang pengawasan perkembangan teknologi kesehatan yang dibutuhkan bagi peningkatan kualitas layanan bagi masyarakat. Peningkatan seperti ini dalam pengertian yang kurang menguntungkan adalah dapat meningkatkan demand tenaga ahli yang sudah dilatih untuk mengadakan suatu alat kesehatan canggih. Rockville. d) Penghindaran terhadap Biaya yang tidak perlu : Dalam batasan tertentu dapat diambil sebagai contoh yaitu tentang pendidikan atau pelatihan sumber daya manusia yang diadakan dengan dalih pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam klasifikasi berdasarkan rentang waktu.nengah dan lama di mana diperlukan perencanaan yang cermat dan matang maka hasilnya akan menempatkan rumah sakit yang bersangkutan sebagai pimpinan dalam kompetisi yang ada. Adanya pengeluaran yang dianggap terlalu besar akan secara langsung ditindak lanjuti dengan melakukan pengurangan/reduksi terhadapnya. KESIMPULAN DAN SARAN Dari bahasan yang mengacu kepada aspek rentang waktu dan komponen pelaksanaan upaya cost containment di atas maka dapat disimpulkan bahwa : a) Proses perencanaan komprehensif mencakup aspek supply dan demand terhadap pengadaan teknologi kesehatan canggih merupakan upaya pokok dalam menghindari pembiayaan yang tinggi dari pemanfaatan teknologi yang dimaksud. Komponen biaya tetap seperti ini sewajarnya dikompensasikan dengan mekanisme ikatan kerja bagi tenaga ahli dengan memperhatikan pengembangan jenjang karirnya. hal yang perlu diperhatikan adalah adanya akibat pengadaan teknologi kesehatan canggih terhadap peningkatan biaya tetap (fixed cost) yang akan mempengaruhi terjadinya economies atau diseconomies of scale dari rumah sakit yang bersangkutan. Aspen System Corporation. 1993. dan h. b) Pembenahan Biaya Operasional : Dalam lingkup yang diamati dan ditindak lanjuti adalah adanya peningkatan pengeluaran operasional yang dijaga untuk tidak melebihi pertumbuhan inflasi pada kurun waktu yang sama. Edisi Khusus No. 90. b) Dalam melakukan perencanaan di atas. tahapan ini sebenarnya dapat dikelompokkan ke dalam tindakan jangka pendek langsung dan tidak langsung. Pengertian make-up di sini harus dilihat dalam arti teknologi baru yang tidak sepenuhnya baru dan dalam arti teknologi lama dengan perangkat tambahan tertentu. Salah satu komponen pengeluaran yang cukup besar baik nilai nominal maupun pertumbuhannya adalah biaya tenaga kerja. Lebih jauh. Cermin Duniu Kedokteran. Tindakan ini akan menunjukkan manfaat langsung dan segera sehingga dapat dikelompokkan dalam tindakan jangka pendek langsung. 1986. c) Terjadinya economies of scale suatu rumah sakit dikaitkan dengan pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan secara tepat akan membuat kedudukan yang mantap bagi suatu rumah sakit dalam situasi kompetitif yang ada. Cleverly WO. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. d) Untuk menghindari terjadinya diseconomies of scale akibat pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan canggih perlu dilakukan upaya cost containment secara berkala dengan penekanan pada efisiensi komponen biaya tetap. Kedua fenomena di atas jelas harus sekuat mungkin diupayakan untuk tidak terjadi karena bukannya tidak mungkin akan menghasilkan keadaan di mana masyarakat yang tidak mampu akan semakin jauh dazi jangkauan layanan kesehatan rumah sakit dan yang dapat menjangkaupun dikhawatirkan akan menerima kualitas layanan yang relatif kurang baik. f) Dalam hal pengeluaran biaya tetap yang terkait dengan pendidikan dan pelatihan tenaga ahli perlu dikembangkan kerjasama yang saling menguntungkan bagi setiap pihak. pihak pemerintah. dan • Pelonjakan biaya layanan kesehatan di rumah sakit secara menyeluruh yang akan melebihi lonjakan biaya yang terjadi secara umum. Maryland. Karena itu. 2. 1983. Apabila hal ini dapat disubstitusi oleh alat/cara lain yang relatif lebih murah maka hasilnya diharapkan akan timbul segera. Apabila hal-hal di atas terutama butir g. upaya ini jelas termasuk dalam upaya langsung jangka menengah. Handbook of Health Care Accounting and Finance. Cleverly WO. Broto Wasisto. Maryland. tidak diperhatikan dan disertai dengan belum dikembangkannya regulasi tentang pembiayaan oleh pihak ke tiga terhadap pemanfaatan teknologi ini maka dapat diasumsikan akan terjadi dua hal penting yaitu : • Kompetisi layanan yang tidak sehat (termasuk dalam aspek ketenagaan) dan cenderung mengganggu mutu layanan yang diberikan dikaitkan dengan efisiensi biaya. Rockville. Essentials of Health Care Finance. e) Upaya efisiensi komponen biaya tetap pengadaan teknologi yang dibutuhkan berdasarkan perencanaan matang sejauh mungkin dapat ditransformasikan ke biaya tidak tetap (variable cost) misalnya dengan cara bagi hasil. g) Dalam skala luas. Aspen System Corporation. c) Pengawasan Biaya Penggantian Teknologi : Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengganti teknologi seharusnya benar-benar dikeluarkan untuk penggantian alat baru bukan hanyamake-up dari yang lama. h) Pihak yang samadiharapkandapat mengembangkanlangkahlangkah pokok upaya cost containment pemanfaatan teknologi kesehatan canggih secara nasional dan menyerahkan tetapi mengarahkan pelaksanaannya di setiap daerah disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. perlu juga diwaspadai adanya efek dumping teknologi seperti dibahas sebelumnya. Kalau uraian sebelumnya kelihatannya didasari atas aspek rentang waktu pelaksanaan maka ditinjau dari aspek komponen pelaksanaan upaya cost containment dapat diuraikan dalam tahapan sebagai berikut : a) Pengurangan Biaya Operasional : Pada tahapan ini pengamatan adalah terhadap pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai kegiatan layanan. 3. KEPUSTAKAAN 1.

8. in A New Approach to the Economics of Health Care. 1982. Economic Support for National Health For A11 Strategies. 90. New York: McGraw-Hill Inc. Thakur M et al. 7. 6. Miller R LeRoy. 1981. 12. Norton & Co.W.. 11. Hospital and Health Services Administration.. No. edited by Mancur Olson. 10. Shorter Fourth Ed. 1988. the American Enterprise Institute. New York: W. Geneva: World Health Organization. 5. Theory and Application. WHO. 1981. unpublished. Intermediate Microeconomics. Joskow PL. 1994 . Sobak SJ. Feldstein PJ. Microeconomics. Steinwald B. Antisipasi Investasi Terhadap Perkembangan Teknologi Kese- hatan Dalam Dasawarsa 90-an. May/ June. Regulatory Approaches to Hospital Cost Containment. Edisi Khusus No. New York: John Wiley and Sons. 1986. a Synthetic of the Empirical Evidence. Health Care Economics. Second ed. Cost Containment • Challenge to the Health Care Industry. Oktober/Desember 1993. 1983. Controlling Hospital Costs. Sloan F. Cost Containment in Small Hospitals: Targeting Strategies beyod this Decade. the Role of Government Regulation. 9. 2nd ed. 2.4. 1982. Sjaaf AC. 1993. Cambridge: Massachusetts: MIT Press. 46 Cermin Dunia Kedokteran. Vol 1. Mansfield E. Theory-Issues-Applications. akan diterbitkan dalam Jurnal Administrasi Rumah Sakit.

Peran serta mereka ada yang berupa tenaga.Ceramah Menteri Sosial Republik Indonesia pada Kongres Nasional Vl Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia di Jakarta. Sebelum membahas masalahnya. Peserta Kongres Nasional VI PERSI. kaitannya dengan masalah keberfungsian sosial dari orang-orang. perkenankan saya mengucapkan terima kasih dan merasa bahagia. Sebagai suatu misal. untuk membahas Peranan Departemen Sosial dalam Penanganan Pasien Tidak Mampu di Rumah Sakit. dan selamat datang di Jakarta. khususnya bagi para peserta Kongres yang datang dari luar Jakarta. seperti pekerja sosial sukarela. anak nakal. sama sekali tidak seimbang. Jakarta . dapat dilihat dari jumlah panti pemerintah (baca Departemen Sosial) yang ada. Pe nyandang masalah yang dilayani tersebut semuanya dalam keadaan tidak mampu. tuna sosial dan sebagainya. seperti panti-panti. keuangan. Sdr. dan masyarakat. Panti Cacat 36 buah. pikiran berwujud saran-saran. Tidak sedikit organisasiorganisasi sosial masyarakat yang berperan aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mereka itu biasanya dicakup dengan sebutan fakir miskin. kelompok. tuna susila. Departemen Sosial mengundang peran serta masyarakat. Saya katakan terimakasih dan bahagia. Edisi Khusus No . Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang saya kemukakan tersebut. bahkan tidak sedikit yang berwujud pelayanan langsung. Pertama-tama marilah kita bersama mengucapkan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. karena mendapat kesempatan untuk membahas peranan Departemen Sosial dalam penanganan pasien tidak mampu di rumah sakit. Sekedar untuk memperoleh gambaran masalahnya. Sdr. Lingkungan Pondok Sosial 10 buah. 90. penyandang cacat. Moderator. Saya katakan berbagi rasa. lanjut usia terlantar. dan sebagainya. korban bencana. jumlah berbagai jenis panti tersebut belum meliputi yang ditangani oleh Pemerintah Daerah dan Swasta. Yth. dan Hadirin yang berbahagia. 21. Apabila pelayanan sosial yang diberikan oleh Departemen Sosial dibandingkan dengan jumlah penyandang masalah yang harus dilayani. atau pelayanan non panti. karena Departemen Sosial merasa mendapat perhatian dan dapat berbagi rasa tentang penanganan masalah orang tidak mampu. 23 Nopember 1993 Assallamu'alaikum Warokhmatullohi Wabarokatuh. anak bekas korban penyalahgunaan obat dan narkotika. yang dikelola swasta. anak terlantar. belum jenis panti lainnya. kepada seluruh peserta Kongres. Panti Pengasuhan Anak 19 buah. Panti Gelandangan dan Pengemis 6 buah. Untuk mengatasi masalah tersebut.25 November 1993. Memang penanganan masalah sosial tidak akan mampu ditangani Cermin Dunia Kedokteran. Panti Tuna Susila 23 buah. 1994 47 . karena tugas pokok Departemen Sosial memang pada dasarnya menangani orang yang tidak mampu. Di sini sebenarnya saya hanya akan memberikan gambaran. Panti Anak Nakal/bekas korban narkotika 12 buah. perkenankan saya menyampaikan selamat ber-Kongres Nasional VI. Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo . karena atas perkenan dan ridla-Nya hari ini kita dapat berkumpul di sini. Panti Lanjut Usia 46 buah. Panti Pengasuhan Anak yang dikelola oleh Pemerintah hanya 19 buah.903. Jumlah penyandang masalah yang harus dilayani jumlahnya jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kemampuan pelayanan. Kemudian. bahwa seluruh pelayanan yang diberikanoleh Departemen Sosial tanpa dipungut imbalan biaya. Mereka memperoleh pelayanan sebagian melalui pantipanti sosial yang ada dan sebagian dalam bentuk tidak melalui panti.

Dari uraian tersebut sebenarnya saya hanya akan berbagi rasa dengan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. sedangkan yang ditangani Departemen Sosial. Persoalannya kini apa yang bisa Departemen 48 Cermin Dunia Kedokteran. tugas Rumah Sakit melaksanakan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) serta melaksanakan rujukan. 159 b/ MEN. Sementara angka kemiskinan adalah ± 15%. pada tahap awal. Dengan demikian memudahkan m gmberikan pelayanan secara interdisipliner dengan memperkenalkan pelayanan melalui total treatment team. penderita dari segala lapisan pendapatan. Tujuan yang ingin dicapai adalah peningkatan derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi pasiennya. Pelayanan Rawat Nginap. tentu tidak akan dapat sekaligus memuaskan. dan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat dicapai oleh masyarakat seluas-Iuasnya melalui total treatment team tersebut. ahli diet. Departemen Sosial dapat memberikan bantuan tenaga Pekerja Sosial yang diperlukan. Saya yakin. mengira saya berkiblat ke luar negeri. mencakup pelayanan medik dan penunjang medik. Hadirin sekalian. laboratorium teknis dan berafiliasi dengan sekolah tinggi perawat dan sekolah tinggi pekerjaan sosial Simmons College dan Smith College. saya dihadapkan pada pertanyaan "Peranan Departemen Sosial dalam Penanganan Pasien Tidak Mampu di Rumah Sakit". Dari ketentuan yang saya kutip tadi. yang dapat dicapai penduduk dan mudah dikendalikan oleh rumah sakit dan sebagainya. dan Pelayanan Gawat Darurat. suatu contoh kasus yang dilaksanakan oleh salah satu rumah sakit umum di Amerika. Kalau saya kemukakan hal ini. Massachusetts. anggap saja contoh tersebut merupakan salah satu yang kebetulan saya ketahui. satu di antaranya adalah pelayanan Rumah Sakit diberikan secara terpadu. pelayanan di rumah. sebenarnya penderita tersebut termasuk penyandang masalah sosial. Kita sama-sama memberikan pelayanan kepada orang yang menderita. Berdasarkan ketentuan tersebut. sebagian besar banyak yang mampu. Rumah sakit memberikan pelayanan kepada orang yang pada dasarnya menderita sakit fisik. sakit apa pun. perawat. Profesi Pekerja Sosial dalam perkembangan spesialisasinya ada Pekerja Sosial Medik. Saya kira untuk menangani masalah pasien tidak mampu. Selanjutnya mengenai fungsi sosial Rumah Sakit. semuanya yang tidak mampu dan terlantar. Hal itu dimungkinkan karena berbagai disiplin terlibatkan. Sebab pada dasarnya. Hal itu menunjukkan benar-benar bahwa perhatian Pemerintah sangat besar kepada rakyatnya. yang . antara lain internis. kedokteran umum. 1994 Sosial kerjakan untuk turut memikirkan masalahnya. melainkan menangani pasien yang mampu pun pada saatnya tentu dibutuhkan. penanganannya harus bersama-sama dengan masyarakat. dan dimungkinkan adanya tenaga non medik yang dipekerjakan di Rumah Sakit. Sementara itu. akan ada manfaatnya. Rumah Sakit Umum Beth Israel di Boston. fasilitas untuk golongan yang tidak mampu tersedia ± 75% bagi Rumah Sakit Pemerintah dan 25% bagi Rumah Sakit Swasta dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. begitu seseorang menderita sakit. apabila hal itu diuji cobakan. warna kulit dan agama. memberikan pelayanan yang meliputi batas geografis yang tak terbatas di rumah sakit saja. Sekiranya hal itu dapat dipikirkan. Saya tidak tahu sejauh mana ketentuan itu dapat dilaksana. paramedik non perawat. Prinsip pencegahan/pengobatan (preventive medicine). suku. Sekaligus rumah sakit ini memberikan kemudahan menjadi rumah sakit Fakultas Kedokteran Harvard ( Harvard Medical School) untuk training pasca sarjana bagi berbagai spesialisasi ilmu. dan penduduk di wilayah yang seluas-luasnya. melainkan saya akan mengajak pihah Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia untuk mencari jawaban yang sebaik-baiknya. di klinik-klinik yang tersebar di banyak daerah. mungkin Rumah Sakit dapat mempekerjakan Pekerja Sosial. Mungkin mereka tidak sekedar dapat membantu bagaimana menangani pasien tidak mampu. paramedik. Namun kebiasaan penanganan seperti itu di Indonesia masih belum berkembang. gigi. sedangkan bagi Rumah Sakit Swasta sekurang-kurangnya 25% dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. Permasalahan ini tentunya tidak akan dapat saya jawab sendiri. Mungkin apabila hal itu dapat diuji cobakan. khususnya yang masih membutuhkan uluran tangan.KES/PER/IU1988). ditentukan bahwa setiap Rumah Sakit harus melaksanakan fungsi sosialnya dengan antara lain menyediakan fasilitas untuk merawat penderita yang tidak/kurang mampu. 90.oleh Pemerintah sendiri. Edisi Khusus No. termasuk profesi pekerjaan sosial. sedangkan Departemen Sosial memberikan pelayanan kepada penderita sakit sosial. pelayanan di Rumah Sakit berupa Pelayanan Rawat Jalan. Hadirin sekalian. gizi. namun yang jelas kini pertanyaan dilemparkan kepada Departemen Sosial. Kini. dapat saya angkat sebagai suatu model pendekatan interdisipliner. dan tenaga non medik. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (No. mengobati penyakit dengan mencari sumber sebabnya dapat dilaksanakan. Bagi Rumah Sakit Pemerintah sekurang-kurangnya 75% dari kapasitas tempat tidur yang tersedia. sebagian ada yang tidak mampu. Secara bertahap kita perbaiki bersama untuk mengembangkan total treatment. yang sejalan dengan apa yang tersirat dalam ketentuan mengenai Rumah Sakit tersebut.kan. dikatakan pula bahwa setiap Rumah Sakit mempunyai kategori ketenagaan yang terdiri dari tenaga medik. Saya sangat mendukung pada ketentuan mengenai fungsi sosial Rumah Sakit tersebut. Dari kepustakaan dan pengalaman yang dilaporkan. mempunyai 450 tempat tidur. saya mohon jangan buruk sangka. Orang yang sakit fisik yang ditangani oleh rumah sakit. yang dapat dicapai melalui program pelayanan "obat jalan". bedah.

bahwa peranan yang saya ungkapkan tidak jelas. dan menetapkan Pekerja Sosial profesional yang diperlukan. sesuai dengan peraturan yang ada adalah untuk orang yang menderita sakit. Edisi Khusus No. Apa yang saya ungkapkan tadi. Namun dapat kita perjelas bersama-sama. Sebab kerja team bagi tenaga-tenaga kesehatan sudah merupakan barang biasa.interdisipliner. dan selamat bekerja. saya juga khawatir akan memperkecil fungsi sosial Rumah Sakit. Hadirin sekalian. Rupanya bantuan semacam itu. guna mendapatkan konsep-konsep pemikiran penyelesaian. Mengapa saya tidak dengan serta merta menjawab tentang peranan Departemen Sosial dalam menangani pasien tidak mampu di Rumah Sakit. Hal tersebut saya tawarkan untuk kita pecahkan bersama. Selanjutnya perlu saya lemparkan juga. apabila diperlukan. Memang keberadaan Rumah Sakit. Konsep yang saya kemukakan tersebut. dan atau terpadu itu. agar pengabdian kita kepada pasien yang tidak mampu dapat kita laksanakan sebaik-baiknya. dengan kesanggupan membayar semua biaya yang ada. Terimakasih. Menteri Sosial R. membahas masalahnya lebih mendalam. baru apa yang bisa saya pikirkan. saudara-saudara telah memahami dengan jelas. dengan harapan semoga Kongres Nasional VI Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia berhasil dan membuahkan manfaat seperti yang kita harapkan. telah dipahami oleh seluruh Peserta Kongres. dapat dijadikan landasan awal untuk Departemen Sosial dapat berperan dalam menangani pasien tidak mampu. Saya yakin. atau bentuk-bentuk lain dukungan untuk dana sehat bagi yang tidak mampu.I. sebab Departemen Sosial. Kesemuanya membutuhkan kerja sama. Dra. Akhirnya semoga uraian singkat tersebut bermanfaat adanya. Inten Soeweno Wisdom will add years to your life Cermin Dunia Kedokteran . Demikianlah sekedar arahan saya tentang Peranan Departemen Sosial menangani pasien tidak mampu di Rumah Sakit. sekarang ini dapat mengadakan. Sebab. Hadirin sekalian. 1994 49 . saya yakin. Mungkinkah kita mengembangkan semacam asuransi sosial bagipasien tidak mampu. di samping dana untuk itu tidak tersedia. dan kerja sama membutuhkan kerelaan. waktu tersedia. perlu kiranya pihak Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia bekerja sama dengan Departemen Sosial. 90. mengangkat. Wassallamu'alaikum Warokhmatullohi Wabarokatuh. hanya jangkauan pelibatan profesi lain masih belum meluas. termasuk orang yang tidak mampu. kemauan dan kemampuan diarahkan untuk itu. apabila masalahnya dapat dianggap mendesak.

balai pengobatan. Namun kadangkadang usaha mulia rumah sakit ini dapat membawa malapetaka yang pada akhirnya akan berurusan dengan meja hijau. Edisi Khusus No. diberi batasan mengenai sarana kesehatan yaitu :"Sarana kesehatan adalah tempat untuk menyelenggarakan upaya kesehatan". Jelas disini bahwa rumah sakit tidak dapat diselenggarakan oleh sebuah firma atau perseroan komanditer karena keduanya bukanlah badan hukuin. RUMAH SAKIT SEBAGAI SARANA KESEHATAN Dalam Undang-Undang Nomor 23/1992 tentang Kesehatan Bab I Ketentuan Umum. Jakarta. maka pembangunan kesehatan ditujukan pada tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari Tujuan Nasional. Emma Suratman. Jakarta PENDAHULUAN Sesuai dengan apa yang digariskan dalasm Sistem Kesehatan Nasional (SKN). H. rumah sakit khusus dan seterusnya. promotif (peningkatan). Salah satu aspek yang penting dalam kaitan ini adalah hubungan pasien dengan Rumah Sakit dengan penekanan pada aspek etik dan hukum. apakah yayasan suatu badan hukum atau bukan. yayasan atau perseroan terbatas. 90. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut berbagai upaya harus diselenggarakan yang meliputi upaya preventif (pencegahan). Tetapi ada suatu yurisprudensi yang menyatakan bahwa yayasan adalah badan hukum. Salah satu unsur penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut adalah Sarana Kesehatah. SH Ketua Pengurus Pusat PERHUKI. ETIKA RUMAH SAKIT (HOSPITAL ETHICS) Dalam menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan terdapat ikatan antara berbagai fihak yaitu pasien. Ini berarti bahwa rumah sakit tidak dapat diselenggarakan oleh orang perorangan (individu. Dengan demikian rumah sakit adalah tempat untuk menyelenggarakan salah satu upaya kesehatan yaitu upaya pelayanan kesehatan (health services). Kesemua upaya ini harus dilaksanakan secara terpadu serasi dan berkesinambungan. 1994 . kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan). Rumah Sakit sebagai sarana kesehatan memegang peranan penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. tetapi harus diselenggarakan oleh suatu badan hukum (rechts persoon) yang dapat berupa perkumpulan. 50 Cermin Dunia Kedokteran. Dalam makalah ini hanya akan dibicarakan hubungan antara dua fihak saja yaitu pasien dan rumah sakit. semua sarana kesehatan tertentu yang belum berbentuk badan hukum harus menyesuaikan statusnya menjadi badan hukum. natuurlijk persoon). Saat ini penyelenggara berbagai upaya tersebut telah secara tegas diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. rumah sakitumum.Hubungan Rumah Sakit dengan Pasien Dipandang dari Sudut Hukum dan Etika Ny. karena memang pengaturan mengenai yayasan berupa peraturan perundang-undangan belum ada. Dalam kenyataannya ada perbedaan pendapat mengenai yayasan. Dalam pasal 58 dinyatakan pula bahwa sarana kesehatan tertentu harus berbentuk badan hukum antara lain rumah sakit. 21— 25 November 1993. dokter dan rumah sakit yang kesemuanya diatur hak dan kewajibannya. Sedangkan dalam Bab VI Bagian Ketiga Pasal 56 dikatakan bahwa Sarana kesehatan meliputi Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo. pusat kesehatan masyarakat. DalamKetentuan Peralihan dari Undang-undang Nomor 23/ 1992 dinyatakan dalam waktu 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang ini.

etika hanya mengikat suatu kelompok orang saja. 1) Van Apeldoorn menyatakan bahwa tidak mungkin memberikan definisi yang tepat tentang hukum mengingat banyak aspek yang tercakup di dalamnya.Hubungan antara pasien dan rumah sakit diatur oleh dua macam norma yaitu norma etika dan norma hukum. Menurut literatur terdapat beberapa definisi atau batasan mengenai Etika. HUBUNGAN RUMAH SAKIT DAN PASIEN Sebagaimana telah disebutkan di atas. Keempat butir aturan ini dijabarkan lebih lanjut dalam butirbutir yang lebih rinci. 924/Menkes/SK/XII/1986 yang menyatakan berlakunya Kode Etik Rumah Sakit Indonesia. Memang antara Etika dan Hukum tidak dapat dipisahkan meskipun keduanya dapat dibedakan (Ethiek en recht zijn niet te scheiden. maka berlakunya Kode Etik sebaiknya tidak diatur dengan suatu Keputusan Pemerintah karena penetapan berlakunya suatu Kode Etik dengan suatu Keputusan Penguasa akan mengubah Kode Etik tersebut menjadi Hukum Positif yang algemeen bindend dan algemeen regelend tadi. Selanjutnya dikatakan bahwa :"Etika mengandung nilai mengenai benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat". 3) Rumah Sakit telah berkembang menjadi unit sosio ekonomis yang makin kompleks dan oleh karena itu perlu dikelola secara profesional hingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik. 4) RumahSakitmembinahubungan kerjainterdan antarrumah sakit dengan didasarkan rasa kebersamaan. Hukum dalam hal ini berbeda dengan etika. Perbedaan yang jelas antara keduanya terlihat pada unsur sanksi. Edisi Khusus No. dengan perbedaan antara baik dan buruk. khususnya pasien. Dari definisi tersebut jelaslah bahwa hukum bermaksud mengatur tata tertib dalam masyarakat dan memberikan kedamaian antara anggota masyarakat tersebut (handhaving van rust en orde). Dalam penjabaran sehubungan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia terdapat suatu kejanggalan ditinjau dari segi ilmu hukum. HUKUM RUMAH SAKIT (HOSPITAL LAW) Hukum Rumah Sakit adalah sebagian dari hukum kesehatan (health law) yang merupakan pula bagian dari hukum pada umumnya. Dari definisi-definisi tersebut di atas. sedangkan hukum merupakan suatu norma yang mengikat seluruh masyarakat (algemeen bindend) dan mengatur seluruh masyarakat (algemeen regelend). dalam keadaan sehari-hari ada kalanya tidak nyata. • The moral system of an individual. Jadi meskipun terdapat perbedaan antara keduanya. 3) Ensiklopedi Indonesia (hal 973) menyatakan :"Ei i ka adalah il mu tentang kesusilaan (moral) yang menentukan bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat. Hasbullah Bakry. E. PERBEDAAN ETIKA DAN HUKUM Jika kita simak uraian di atas tentang Etika Rumah Sakit dan Hukum Rumah Sakit maka terdapat beberapa perbedaan. apa yang baik dan apa yang buruk : segala ucapan atau tindakan harus senantiasa berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan tentang peri keadaan hidup dalam arti kata seluas-Iuasnya. kaidah hukum dilengkapi dengan unsur yang memaksa (dwang element) yang lazim disebut sanksi. Utrecht dalam bukunya Pengantar dalam Hukum Indonesia memberi definisi sebagai berikut :"Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya ditaati oleh masyarakat yang bersangkutan oleh karena pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan dari fihak pemerintah (penguasa) masyarakat tersebut". Dalam memberikan pelayanan kesehatan/medis kepada pasien. 90. Pada pelanggaran hukum maka sanksi diberikan oleh fihak penguasa dan sanksi ini dapat berupa sanksi administratif. jelas bahwa etika berhubungan erat dengan moral. 2) Kamus Umum Bahasa Indonesia memberi definisi sebagai berikut :"Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)". group etc". jika ditinjau arti dari kata "Etika" itu sendiri. maar wel te ondercheiden). Sanksi ini ditetapkan oleh kelompok itu sendiri dan penegakannya juga dilaksanakan oleh kelompok itu sendiri. baik rumah sakit maupun tenaga kesehatan/ medis harus memperhatikan norma etika dan hukum yang berlaku. 2) Dr. meskipun perbedaan tersebut tidak terlalu besar. 1994 51 . Dalam pelanggaran Etika maka sanksi diberikan oleh kelompok itu sendiri atas dasar pelanggaran moral (kesusilaan) atau dignity (harga diri). Rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien memerlukan tenaga kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan profesinya. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa etika menyangkut suatu kelompok tertentu. Dalam Etik Rumah Sakit Indonesia (PERSI) antara lain dinyatakan bahwa : 1) Pancasila merupakan asas Etik Rumah Sakit Indonesia 2) Rumah Sakit mengutamakan misi kemanusiaan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. • "Character or the ideals of character manifested by a race or people". Norma etika rumah sakit telah diatur dalam Keputusan MenteriKesehatan No. sanksi perdata (ganti rugi) atau sanksi pidana (denda atau penjara/ kurungan). 1) Drs. H. dan untuk menjamin bahwa setiap anggota masyarakat mentaati petunjukhidup tersebut. Bagi rumah sakit berlaku Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (ERSI) sedangkan bagi para dokter dan dokter gigi berlaku Cermin Dunia Kedokteran ." 4) Kamus Bahasa Inggris Webster's Dictionary memberi definisi sebagai berikut : • "Ethics is the science that treats of the principles of human morals and duty : moral philosophy". SH memberi definisi Etika sebagai berikut :"Etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan melihat pada amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui akal fikiran". rumah sakit adalah sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena antara kedua hal ini tidak ada perbedaan yang jelas.

maka pihak lainnya dapat menuntut lawannya ke depan pengailan. Dengan adanya keputusan dari pihak pemerintah. listrik mati atau tabung oksigen meledak. maka Kode Etik akan berubah menjadi Hukum Positif dengan segala sanksinya. Karena obyek Peradilan Pidana adalah orang. dan diduga ada unsur kriminal (sengaja atau karena kelalaian menyebabkan mati atau cedera pada orang lain). jelas itu adalah tanggung jawab rumah sakit. Jika wanprestatie tersebut berupa kerugian yang maka diajukan tuntutan ganti rugi ke Pengadilan Perdata. maka sebaiknya Panitia Etika Rumah Sakit diganti menjadi Panitia Etika dan Hukum Rumah Sakit sehingga dapat menangani baik pelanggaran etika maupun pelanggaran hukum. maka terlihat bahwa hubungan tersebut dikategorikan dalam sautu Perikatan (Verbintennis) Sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. perdata maupun pidana. Jika kerugian tersebut berupa cacat atau kematian. 1994 . Untuk menegakkan etika rumah sakit pada tiap-tiap rumah sakit telah dibentuk Panitia Etika Rumah Sakit yang harus menegakkan etika dalam rumah sakit yang bersangkutan. menyebabkan seseorang dapat dikenakan sanksi. we triumph without glory when we conquer without danger 52 Cermin Duniu Kedokteran . PENUTUP Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara Etika dan Hukum. Mengingatbahwa dalam keadaan sehari-hari lebih banyak terjadi kasus pelanggaran hukum. maka pasien dapat mengadukan hal tersebut kepada pihak yang berwajib untuk diajukan ke depan Pengadilan Pidana. Kalau kita amati hubungan rumah sakit dan pasien. maka sebenarnya agak sukar menentukan wanprestatie terhadap kontrak terapeutik tersebut karena pelanggaran etika menyangkut moral yang agak sukar dijadikan obyek tuntutan di depan pengadilan. tuntutan dapat ditujukan kepada tenaga kesehatan yang menyebabkan kerugian bagi pasien dan dapat pula diajukan kepada rumah sakit. 90. sedangkan pelanggaran terhadap Kode Etik adalah suatu pelanggaran terhadap moral dan dignity yang harus dinilai oleh kelompok atau profesi itu sendiri.KODEKI dan Kode Etik Dokter Gigi Indonesia. Tetapi jika pada operasi. maka yang dituntut adalah ahli bedah tersebut. Sedangkan dalam tuntutan pidana harus dilihat pada siapa kesalahan tersebut dapat dituduhkan. pada tenaga kesehatan yang melanggar atau pada rumah sakit. jika ada salah satu pihak yang melakukan wanprestatie atau ingkar janji. misalnya seorang ahli bedah meninggalkan gunting dalam perut pasien. Dengan demikian. meskipun antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Perikatan antara rumah sakit dan pasien merupakan suatu therapeutiek kontrakt atau kontrak terapeutik di mana rumah sakit mempunyai kewajiban menyembuhkan pasien dan pasien berkewajiban membayar biaya pelayanan tersebut. Edisi Khusus No. Pelanggaran terhadap hukum positif. dalam hal ini Direksi. Jika pelanggaran hukum dilakukan tenaga kesehatan. karena rumah sakit merupakan Badan Hukum. maka dalam hal ini tuntutan ditujukan kepada Direksi. baik administratif. Dalam hal pelanggaran Etika. Kode Etik profesi ataupun rumah sakit berlaku di kalangan profesi yang bersangkutan dan tidak perlu dikukuhkan dengan suatu keputusan dari pihak penguasa. Dalam hal tuntutan ganti rugi.

misalnya : 1) Recognizing that the care of the sick is their first responsibility and a sacred trust.Etika Rumah Sakit dalam Perspektif UU Nomor 23/1992 Kartono Mohamad Ikatan Dokter Indonesia. ditujukan untuk menegakkan dan menjaga hubungan baik antara pengusaha (pemilik) rumah sakit. Kata "komoditi" dalam hal ini adalah istilah dalam ilmu ekonomi. dan jujur dalam bersaing. . terutama rumah sakit daerah yang dibebani untuk membantu target Pendapatan Asli Daerah (PAD). maka etika rumah sakit pun lebih didasari oleh etika bisnis dan harus dibedakan dari etika profesi kedokteran. menggunakan uang negara (rakyat). 90. . serta konsumen (khususnya pasien) yang menggunakan atau membeli jasa pelayanan rumah sakit tersebut. 1994 53 . Kalau di Indonesia tampaknya terjadi kerancuan dalam Cermin Dunia Kedokteran. baik yang diberikan oleh dukun maupun dokter. Di sini tersirat bahwa dalam etika bisnis pun (termasuk bisnis rumah sakit) dituntut adanya sikap jujur. Etika bisnis. Pasien bersedia menunggu untuk dilayani dan bersedia membayar untuk mendapatkan pelayanan kuratif. Perhitungan tentang kelaikan suatu rencana dipandang dari segi cost and benefit pada rumah sakit pemerintah justru harus lebih ketat karena rumah sakit pemerintah Makalah ini disajikan pada Kongres Vl 21 . . and impartial in all their business relationship . jujur dalam melakukan pemasaran untuk mencari klien. Demikian juga seharusnya etika bisnis rumah sakit. Kembali di sini ada keengganan menggunakan kata "bisnis" karena beranggapan bahwa "bisnis" identik dengan berdagang. maka penyedia pelayanan kuratif akan berhadapan dengan masalah tentang bagaimana memberikan pelayanan yang dapat memuaskan konsumen (dalam hal ini : pasien). Karena pelayanan kuratif adalah suatu private commodity. berkaitan dengan menegakkan dan menjaga hubungan baikdi antarapengusaha. Pengertian pengelolaan profesional di sini mencakup pula perhitungan aspek ekonomi dan bisnis. PERSI & Hospilal Expo. Kita perhatikan beberapa pasal etika rumah sakit di Amerika Serikat 2 . pegawainya. menurut Thiroux'. meskipun itu rumah sakit pemerintah. betapapun juga. dan tidak perlu dikaitkan dengan masalah dagang. Maka perhitungan bisnis. kalau ada dokter yang mau memberikan pelayanan kuratif tanpa dibayar tentu boleh-boleh saja. dan dalam membuka tempat pelayanan akan selalu memperhitungkan aspek need dan demand. Jakarla. Edisi Khusus No. honest. Rumah sakit adalah sebuah institusi penyedia jasa pelayanan kuratif yang kompleks dan perlu dikelola secara profesional (baik yang for profit maupun yang non-profit). memenuhi kriteria (memiliki eksternalitas) untuk dapat digolongkan sebagai private commodity.25 November 1993. Keengganan kita untuk melihat pelayanan kuratif sebagai private commodity hanyalah karena kata "komoditi" memberikan konotasi adanya unsur dagang. dan konsumen. Jujur terhadap konsumen (pasien) dalam memberikan pelayanan. Bahkan sejak sebelum program swadana pun rumah sakit pemerintah seharusnya sudah dikelola secara business. Jakarta Pelayanan kuratif. staf yang bekerja di sana. Artinya. betapapun (diakui atau tidak) juga sudah masuk dalam pikiran para penyedia pelayanan jasa kuratif. sedangkan anggapan yang berlaku di masyarakat menghendaki agar dokter menjauhkan diri dari berdagang dalam memberikan pelayanan kepada pasien. dan pelayanan kuratif tidak seharusnya diperdagangkan. Karena betapa pun juga rumah sakit adalah lembaga bisnis. hospitals must at all times strive to provide the best possible care and treatment to all in need of hospitalization 2) Hospitals should be fair. Dan selama ini pun baik dokter maupun masyarakat memperlakukan pelayanan kuratif sebagai private commodity.

atau pemilik rumah sakit. Dalam kaitan seperti itu kita melihat bahwa UU no. sebagai pemilik (pemegang saham) rumah sakit. 2) Ketentuan yang mengharuskan agarpelayanan medik tertentu lainnya (kehamilan di luar cara alami. 1994 . sejauh dibolehkan oleh undang-undang. Maka etika rumah sakit dalam hubungannya dengan karyawan serta personil yang bekerja di sana pun tidak jelas. Masalah ini berawal dari sejarah perkembangan perumah sakitan di Indonesia. serta cenderung memanfaatkan ketidak tahuan pasien. yang memang tidak menampilkan perilaku for profit. terutama. dan dokter. 9) Pasien berhak mendapat informasi yang memadai dan jelas jika ia harus dipindahkan dari ruangan semula atau dipindahkan ke rumah sakit lain. 3) Pengamanan makanan dan minuman (Pasal 21). terutama pada rumah sakit yang dikembangkan oleh beberapa perkumpulan sosial dan dokter. bedah plastik. 7) Pasien berhak dihormati privacy-nya yang mencakup juga konfidensialitas diagnosis. baik pribadi maupun kolektif. dan obat (Pasal 40 dan 41). dan mendapat penjelasan dari tenaga kesehatan yang berwenang. meskipun bukan ia sendiri yang 54 Cermin Dunia Kedokteran. Sejarah perumah sakitan di Indonesia juga memunculkan rumah sakit yang dimiliki oleh dokter. termasuk rincian tentang hak-hak pasien. dan sering didasari perjanjian lisan. Dokter bekerja di sebuah rumah sakit berdasarkan atas hubungan kenal. terutama jika ditambahi dengan persepsi bahwa orang sakit adalah orang yang perlu pertolongan dan perlu dikasihani. Bahkan pemerintah pun mencoba mengelak mengakui kenyataan itu. perkumpulan keagamaan. yaitu ketika : 1) Dokter tidak dapat membedakan posisinya antara sebagai pemberi jasa pelayanan medik (yang berlandaskan pada etika profesi). pasal 37) hanya boleh dilakukan oleh tenaga ahli yang berwenang. 4) Pasien berhak . lalu rumah sakit militer. 6) Pasien berhak mencari pendapat kedua atau menolak pengobatan yang akan dilakukan terhadap dirinya. hal itu terjadi antara lain karena ada keengganan untuk melihat rumah sakit sebagai suatu institusi bisnis. Tetapi tidak berarti bahwa semua itu tidak dilandasi oleh perhitungan ekonomis. 10) Pasien berhak mengetahui jika dirinya hendak dimasukkan dalam obyek penelitian. 8) Pasien berhak meminta agar segala komunikasi dan catatan tentang pelayanan dirinya dirahasiakan. muncul hubungan dokter dengan rumah sakit yang tidak tegas. 3) Pasien berhak mendapat informasi yang memadai tentang hal-hal yang akan ia hadapi selama di rumah sakit. Dari rumah sakit yang dimiliki oleh dokter ini. tindakan. transplantasi organ. 5) Pasien berhak mengetahui rekam medis tentang dirinya. 90. 12) Pasien berhak mengetahui rincian dan jumlah tagihan terhadap perawatannya. pasal 161. dan rumah sakit milik zending atau missie. 5) Keharusan bagi penyedia pelayanan medik untuk menghormati hak pasien (Pasal 53). rumah sakit perkebunan.masalah etika rumah sakit. 11) Pasien berhak untuk mengharapkan bahwa pelayanan lanjutan kepadanya akan tetap diberikan. baik yang lama maupun yang diperbaharui. Dalam perilaku mencari untung beberapa rumah sakit di Indonesia malah terjadi hal-hal yang lebih tidak etis. perkumpulan sosial. mengetahui nama dan kualifikasi tenaga kesehatan yang akan memberikan pelayanan kepadanya. Tetapi karena sudah tertanam anggapan bahwa rumah sakit harus lembaga non profit. Perkembangan rumah sakit di Indonesia dimulai oleh VOC (rumah sakit perusahaan untuk melayani karyawan VOC). Hal ini pula yang membuat etika rumah sakit di Indonesia belum bersedia mengakui kenyataan-kenyataan dari perkembangan tersebut. 2) Pasien berhak mendapat informasi yang jelas tentang perkembangan penyakitnya. Ambivalensi pemerintah (melalui Permenkes 920-nya). Dalam undang-undang tersebut kita lihat ada : 1) Ancaman untuk dokter yang melakukan "tindakan medik tertentu" (abortus) tanpa indikasi yang jelas (Pasa115). dan ' sebagai manajer rumah sakit. Yang sering dimenangkan adalah dirinya sebagai pemegang saham. maka semua mengelak dari mengakui bahwa mereka sebenarnya sudah mencari keuntungan finansial. sehingga pelayanan ditujukan untuk memperbesar keuntungan finansial semata-mata. dan hal-hal lain tentang dirinya. 2) Manajer pemasaran atau keuangan. 4) Pengamanan kegiatan penelitian dengan menggunakan manusia (Pasal 40 dan 41). New Hampshire. yang tercermin dari ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Permenkes 920/1986. Pada akhirnya yang menjadi korban adalah pasien (konsumen). Edisi Khusus No. 23/1992 tentang kesehatan cenderung hendak melindungi pasien sebagai konsumen jasa pelayanan medis. AS. pasal 33 dan 34. Dalam etika rumah sakit di Amerika Serikat ada pasal yang berbunyi : 3) Hospitals should maintain and promote harmonious relationship within the organization to ensure the proper environment for the considerate and successful care and treatment of patient. misalnya mengeluarkan apa yang mereka sebut sebagai Patients Bill of Rights yang isinya( 3 ) 1) Pasien mempunyai hak untuk mendapat pelayanan yang layak dan terhormat. Rumah sakit semacam ini sebagian lagi memang merupakan usaha patungan di antara para dokter. Kemudian dalam tahap berikut rumah sakit di Indonesia dikembangkan oleh pemerintah. Pasal-pasal tersebut masih memerlukan peraturan pelaksanaan yang lebih jelas. Perkembangan ini menanamkan anggapan bahwa rumah sakit memang suatu lembaga yang bersifat non profit. Ciri perlaku for profit mulai tampak di sini. yang bukan dokter cenderung mendorong dokter agar melanggar kode etik profesinya dan mengutamakan mencari pendapatan yang setinggi-tingginya bagi rumah sakit. dan ambivalensi para pengelola rumah sakit (yang malu menyebut dirinya institusi bisnis) membuat semua itu tidak dikendalikan baik oleh etika PERSI maupun oleh peraturan pemerintah.

Seharusnya peranan (fungsi) sosial rumah sakit harus dijabarkan sebagai keharusan rumah sakit untuk menjalankan : (1) fungsi pelayanan. 2) Etika pemasaran atau promosi. (2) fungsi pendidikan. peranan atau fungsi sosial sebuah rumah sakit ditafsirkan sebagai fungsi charitative rumah sakit. ada hal-hal yang perlu diperhatikan : a) Tidak boleh meremehkan atau menjelekkan rumah sakit lain. Hal-hal yang masih perlu diatur dalam etikaperumah sakitan dan tidak perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan formal antara lain adalah : 1) Etika persaingan Dalam kehidupan berbisnis. Tetapi dalam melakukan pemasaran. untuk menutupi kenyataan bahwa rumah sakit memang harus dikelola secara business like dan dapat mencari keuntungan. jika benarbenar mereka memang beritikad untuk berperilaku etis. Cermin Dunia Kedokteran. Etika persaingan yang perlu diperhatikan adalah : a) Tidak boleh saling memburuk-burukkan pesaing. Ada satu hal lagi yang seharusnya ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Juga ada hal-hal lain yang masih perlu diatur dalam etika perumah sakitan yang sebaiknya dibicarakan di dalam kongres PERSI. Bahkan rumah sakit pemerintah pun tidak jarang melihat kehadiran rumah sakit swasta sebagai pesaing. Pada waktu yang lalu. adanya persaingan tidak dapat dihindari dan tidak pula dapat dipungkiri. c) Tidak menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin diberikan. Panitia-panitia itu adalah : a) Panitia Kredensial b) Panitia Etika c) Panitia Jaringan d) Panitia lnfeksi Nosokomial e) Panitia Kematian f) Panitia Farmasi dan Terapi Rumah sakit yang membentuk panitia-panitia tersebut dan bersungguh-sungguh memanfaatkan panitia-panitia itu untuk menjaga dan meningkatkan mutu pelayannya. hal itu dapat dijadikan sebagai nilai "plus" dalam proses akreditasi. yang harus tercermin dalam sistem manajemennya. peranan sosial rumah sakit haruslah ditafsirkan secara lebih luas dan ditujukan untuk menampilkan peranan rumah sakit (swasta) dalam pembangunan bangsa. Seharusnya. seharusnya pihak pengelola rumah sakit tidak menunggu sampai peraturan pelaksanaan keluar. adalah rumah sakit yang memahami etika bisnis. serta meningkatkan kemampuan sumber daya manusia lndonesia. dan mengawasinya agar dilaksanakan. 3) Etika untuk menjaga mutu pelayanannya. Ketiga hal di atas sulit untuk dijadikan peraturan perundangundangan. d) Memberi kesempatan kepada pasien atau calon pasien untuk bertanya dan dijawab dengan sejujur-jujurnya. 1994 55 . atau dapat diberi insentif dalam perpajakan. b) Memberikaninformasiyangjujurdan tidakberlebih-lebihan. Kalau ada rumah sakit swasta yang akan melakukan fungsi charitative. 90. Rumah Sakit yang berusaha untuk menjaga mutu pelayanannya akan membentuk panitia-panitia yang dapat dijadikan alat pemantau mutu oleh pimpinannya. terutama untuk masa yang akan datang. Jadi pada dasarnya kita melihat bahwa undang-undang tersebut lebih banyak diarahkan untuk melindungi pasien dan masyarakat pemakai jasa pelayanan medik pada umumnya. Promosi atau pemasaran rumah sakit harus dianggap sebagai suatu yang wajar. 14) Pasien berhak untuk mengadukan keluhannya jika ia merasa bahwa hak-haknya telah dilanggar. 13) Pasien berhak mengetahui peraturan yang berlaku di rumah sakit tersebut. dan (3) fungsi penelitian.membayar biaya tersebut. e) Menghormati hak pasien untuk memilih rumah sakit yang manapun juga. Meskipun demikian. c) Rumah sakit pemerintah tidak boleh menggunakan kekua saan dan wewenang yang melekat pada instansi pemerintah untuk menjegal pertumbuhan rumah sakit swasta. b) Harus menghargai hak hidup sesama rumah sakit. Di sinilah PERSI kemudian perlu mengaturnya dalam Kode Etik Rumah Sakit. tetapi penting untuk dijaga agar tidak menyimpang. apalagi melarang pasien untuk memilih rumah sakit lain. yaitu menetapkan agar 25% tempat tidur disediakan untuk orang miskin. yaitu tentang peranan atau fungsi sosial rumah sakit. Penjabaran seperti itu akan mendorong rumah sakit memperhatikan mutu pelayanan. Edisi Khusus No.

Allen Verhey in "MORAL MEDICINE" PENDAHULUAN Rumah Sakit makin bertambah kompleks. beli. Atau jika ditinjau dari segi ekonomi: antara penjual dan pembeli (jasa kesehatan). dan lain-lain. 90. namun juga sarat berbagai nilai dan etika. 1994 . Namun sifat hubungan antara Rumah Sakit – Pasien turut berubah pula. Wajib saling memberikan prestasi.(1) Kalau sudah berbicara tentang jualMakalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI & Hospital Expo. kini hubungan antara rumah sakit – pasien menjadi hubungan yang seakan-akan bersifat zakelijk antara pemberi jasa pelayanan medis (perumahsakitan) dan penerimanya (health provider . ialah sang manusia sebagai pasien. karena sifatnya unik. ekonomi dan manajemen. Relman. Dalam satu dekade ini tampaknya falsafah. seperti: – Etika Rumah Sakit. Wanprestasi pada pihak dokter tidak dengan begitu saja dapat terlihat dan dibuktikan. psikologi. – Etika Farmasi. – Etika Profesi Hukum. Arnold S. padat sarana. Namun di bidang pemberian pelayanan medik hal ini merupakan masalah pelik. – Etika Bisnis (?). 56 Cermin Dunia Kedokteran. Kini rumah sakit tidak saja padat tenaga kerja. Karena bukankah rumah sakit (dokter) hanya berusaha sedapat mungkin untuk menyembuhkan penyakitnya (inspanningsverbintenis) dan tidak menjamin akan hasil (resultaats-verbintenis). Jakarta. Masing-masing pihak sudah mempunyai hak dan kewajiban. – Etika Keperawatan. padat ilmu pengetahuan dan teknologi. Faktor yang masih tetap adalah subjeknya.health receiver). sosiologi dan berbagai bidang lainnya. while the poor and weak watch and pray. 21 — 25 November 1993. Kalau dahulu pemberian pelayanan rumah sakit melalui profesi kedokteran lebih bersifat paternalistik. Kesemua bentuk etika ini saling berjalinan satu sama lain. pandangan dan fungsi rumah sakit telah mengalami perubahan yang drastis. sudah berwarna dagang. Jika salah satu pihak tidak memberikan prestasinya. – Etika Biomedik. Guwandi. seorang dokter menulis: As economics pressures on hospitals grow and hospital managers are encouraged or forced to act like businessman concerned primarily with profit margins. – Etika Kebidanan. SH Jakarta Marketplace medicine will become a medicine in the service of the rich and powerful. – Etika Kedokteran. berlainan.Beberapa Masalah dalam Hubungan Rumah Sakit dan Pasien J. Mulanya hanya bidang Kedokteran dan Keperawatan saja yang memegang peran utama di rumah sakit. maka sifatnyapun sudah berlainan. more and more patients will be denied access to urgently needed care simply because they cannot pay for it". Kini ia dimasuki pula disiplin hukum. Berbagai disiplin dan profesi kini bernaung di bawah satu atap. Edisi Khusus No. maka menurut hukum perdata ia dikatakan telah ingkar janji alias melakukan wanprestasi. namun juga bisa saling berhadapan dan berbenturan.

Kita bisa menghindari kesalahankesalahan yang telah dibuat di luar negeri dan mengambil alih pemecahan persolaan yang baik. Hippocrates. terdengar berita. sedangkan ia tidak ada asuransinya? Atau masuk asuransi. tetapi yang di cover oleh asuransi hanya sebahagian. Kita dapat langsung mengambil hikmah dan pelajaran yang sangat berharga dari pengalaman mereka yang telah dibayarnya dengan mahal. maka dalam kontek ini yang ditinjau adalah buhunghan rumah sakit – pasien dari sudut Kode Etik Rumah Sakit yang baru. cara mengadilinya. Bagaimana jika pasien tidak mampu lagi membayar biaya rumah sakit dan dokter dan belum sembuh. Perbandingan hukum sangat penting karena akan memberikan kesempatan untuk mengejar ketinggalan kita terhadap negara besar lainnya dan membuat lompatan jauh ke depan. diperbolehkan pula bentuk PT yang tentunya tujuannya adalah for profit. termasuk Hukum di bidang perumahsakitan. 1994 57 . atau mengkambinghitamkan rumah sakit lain. padahal kelalaiannya adalah di rumah sakit sendiri. Die voor ons dringed noodzakelijke rechtsvergelijking geeft ons de gelegenheid een achterstand ten opzichte van enkele grote ianden in te lopen en hier en daar om te zeeten in een voorsprong. bukan materinya. Bagi saya hukum negara lain yang mengatur tentang tanggungjawab hukum di bidang medik adalah penting dipelajari dan sangat bermanfaat dan berharga untuk hukum medik negeri Belanda" ( 2) (Het Nederlandse medische aansprakelijkheidsrecht kan zonder rechtsvergelijking niet tot bloei komen. Namun menurut hemat saya hal ini tidak merupakan kendala bagi perkembangan Hukum Kedokteran Indonesia. dapat diambil dan disaring dengan falsafah Pancasila kita. baik dari Anglo Saxon maupun Eropa Kontinental. Sluyters dari negeri Belanda yang mengatakan bahwa: "Hu- kum mengenai tanggungjawab medik negeri Belanda tidak bisa berkembang tanpa perbandingan hukum. Materinya yang cocok diambil dan yang tidak sesuai ditinggalkan atau disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Hal ini tidak begitu sukar untuk dilaksanakan. Sistim Anglo Saxon yang memakai peradilan juri yang berdasarkan Common law. Literatur dan yudisprudensi di luar negeri mengenai Hukum Kedokteran sudah banyak diterbitkan. Materi pembuatan hukum yang menyangkut perumah sakitan terdapat pada dua sistem hukum yang berbeda. Voor mij in elk geval bleek de studie van elk onderdeel van het Nederlandse medische aansprakelijkheidsrecht kennis van het vreemde recht nuttig en waardevol). Sesuai dengan judul makalah. 90. Patut disayangkan bahwa belum ada yang mengadakan studi komparatif di antara kedua sistim hukum ini di bidang Hukum Kedokteran. Nederland is eenvoudingweg te klein voor het genereren op eigen kracht van een litteratuur en jurispdent-ch ver dit onderdeel van het aansprake lijkheidcrecht. maka dalam tahun 1993 ini tampaknya ada dua bentuk etika mengalami penyesuaian. Dalam kaitan ini ingin saya mengutip ucapan Prof. bervariasi. Di dalam Bab III tentang Kewajiban Rumah Sakit terhadap Pasien di antaranya disebutkan bahwa: Rumah sakit harus mengutamakan kepentingan pasien Hal ini bcrarti bahwa kepentingan pasien di rumah sakit harus didahulukan dari kepentingan lainnya. terperinci dan mendalam. Termasuk Etika Rumah Sakitnya yang harus ada penyesuaian. Dengan demikian. Yang bersifat murni Etik paling-paling adalah yang menyangkut sopan-santun yang tolok-ukumya dapat diambil dari ukuran etik. Negeri Belanda terlampau kecil untuk dapat membentuk dengan tenaga sendiri suatu kepustakaan dan hukum yurisprudensi di dalam bidang tanggungjawab hukum ini yang cukup luas. bahwa terhadap Etika Kedokteran sedang dilakukan evaluasi. Kini selain rumah sakit yang bersifat IPSM. peraturan hukumnya pun ada juga yang pembentukannya melalui keputusan pengadilan (Paul Scholten: rechtsvinding). Di atas telah dikemukakan bahwa terdapat berbagai etik di rumah sakit. Diberikan wewenang dan tanggungjawab terhadap perkembangan di bidang perumahsakitan. die voldoende o omvangrijk. Materi hukum dari kedua sistim. Yang beda terletak pada sistemnya. maka tolok ukur yang lama pun harus turut berubah pula. Hakim dari negara yang menganut sistem kontinental yang sistim hukumnya mengutamakan kondifikasi. gevarieerd. Misalnya adalah tidak etis untuk menjelek-jelekkan atau mendiskreditkan rumah sakit lain. Wij kunnen trachlen de buitenlandse fouten te vermijden en de geode oplossingen over te neme. Kini Rumah Sakit sedang dalam masa transisi. Etika Rumah Sakit bahkan mengalami penggantian secara menyeluruh yang diusulkan 21-23 Nopember 1992. gedetailleerd en diepgaand is. Yang paling sukar adalah apabila kepentingan (baca: pengobatan) pasien berbenturan dengan kepentingan finansial rumah sakit. pembentukan peraturan hukumnya dapat dikatakan paralel dengan apa yang dinamakan penemuan hukum di negara yang memakai sistem kontinental. Globalisasi yang diikuti dengan erosi moral dan perubahan nilainilai (values) telah mendesak rumah sakit untuk mencari "wajah dan bentuk" baru yang sesuai dengan permintaan zaman. Dalam menghadapi masalah ini. PEMBAHASAN Agak sukar untuk memilah-milah segi Etik dan Hukum. Edisi Khusus No. karena kedua segi berjalinan satu sama lain (untuk meminjam istilah Roscam Abbing: intertwined and interconnected). yaitu: sistem Anglo Saxon dan Eropa Kontinental. Di samping itu hukumnya pun sudah jauh ketinggalan. PERSI sebagai wadah tunggal rumah sakit di Indonesia dan sebagai mitra Pemerintah di bidang kesehatan seyogyanya diberi peranan yang lebih besar menjelang PJPT-II. tata-cara beradab yang umum terdapat di dalam masyarakat. Sistimnya tidak usah dihiraukan.Sebagai antisipasi terhadap perubahan situasi dan kondisi. karena disiplin kedokteran berasal dari satu sumber yang sama. Konsep baru ini telah disetujui untuk disahkan di dalam Kongres PERSI ke VI 1993 sekarang ini. Sewaktu makalah ini dibuat. schingga sisanya harus ditanggung sendiri olch pasien? Dokter yang menangani pasicn mcng- Cermin Dunia Kedokteran.

Surat tersebut diserahkan kepada rumah sakit untuk disimpan di dalam berkas Rekam Medis sebagai alat bukti jika ada tuntutan kelak. rumah sakit/dokternyalah yang harus membuktikan ketidaksalahannya/ketidak. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan pada Penjelasan pasal 53 ayat 2. emergency. cost containment. 585 tahun 1989 secara berangsur-angsur harus diterapkan.. . Disiplin ekonomi dan menajemen yang berbicara dengan bahasa: money. Maka antara rumah sakit dan pihak asuransi sama sekali tidak ada kaitan secara langsung.. . Edisi Khusus No. . Gemala Hatta di dalam Rakernas Pormiki I telah mengutip Leslie Ann Fox: ". dan lain sebagainya dokter sebagai health provider dan pasien health receiver terjepit di antara kedua pola pengertian tersebut. Banyak tulisan dokter pada Rekam Medis tersebut tak terbaca... Permintaan keterangan medis.. or business managers should not have the final say in determining who gets health care. Namun tulisan itu harus dapat dibaca dan dapat memberi gambaran secara kronologis mengenai apa-apa saja yang telah dilakukan oleh dokter. 1994 . demi efisiensi rumah sakit secara keseluruhan. Memang informed consent merupakan barang impor dari Amerika yang masih belum begitu dihayati maknanya. yang dalam praktek masih belum disadari sepenuhnya. Bagaimana kalau di dalam satu kasus harus mengadakan pilihan. 58 Cermin Dunia Kedokteran.. karena setiap kali dokter yang merawatnya direpotkan dengan hal-hal semacam ini yang sebenarnya terletak di bidang administratif dan hukum.. Sebenarnya dengan mudah masalah ini dapat diselesaikan asalkan pihakpihak yang berkepentingan sudah mengetahui hukumnya dan mau mengerti serta mentaatinya. Penelantaran dari kewajiban membawa akibat bahwa beban pembuktian (onus.. Di Jerman oleh Bundesgerichtshof ( Mahkamah Agung) bahkan telah dikembangkan suatu ajaran bahwa kepada dokter dan rumah sakit dibebankan suatu wajib dokumentasi. Apalagi sekarang sudah dicantumkan juga di dalam UU No. menjadi pasien rumah sakit harus diindahkan. yang mana harus dipilih? Salah satu pandangan adalah dari Keith Wrenn yang mengatakan bahwa: Hospital administrators. Tentu timbul pertanyaan: mengapa pihak asuransi tidak dapat secara langsung meminta informasi medik dari rumah sakit. fidelity.. a physician can protect himself from the appearence of negligence by the care and diligence with which he writes his notes . burden of proof) menjadi terbalik. namun tidak dengan pihak asuransi (Lain halnya Astek. the medical director faces a dilemma. (6) Seorang dokter dapat membuktikan dirinya dari kesan telah berlaku lalai atau teliti dalam memberikan pelayanan dengan catatancatatan yang telah ditulisnya. 90..hadapi dilema apabila ia mendapat "pesan sponsor" dari pihak manajemen/pemilik. Masih belum disadari bahwa berkas ini merupakan alat bukti yang kuat dan sangat penting. barulah terasa betapa pentingnya catatan tersebut yang tadinya dianggap hal-hal sepele. Di dalamnya dicantumkan hak atas informasi.. Urusan administrasi dan keuangan terpaksa menjadi birokratis dan seringkali kurang "berperikemanusiaan". pihak rumah sakit sama sekali tidak tahu-menahu. lalaiannya ( 2 ). profit margin. dan sebagainya. Namun menjelang PJPT-II. because the less fortunate will always suffer" ( 5) Rumah Sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien Hak asasi manusia (HAM) yang .process . input . Mengapa? Kazena bukti yang utama di dalam perkara tuntutan malpraktek medik yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterima di depan Pengadilan adalah catatan-catatan yang telah ditulis di dalam Rekam Medis tersebut (yang asli dan tidak ditambah/dicoret/diganti/ diubah. Di Amerika telah diterbitkan suatu Hospital Patient 's Charter. bahwa . misalnya dari pihak asuransi harus ada Surat Pernyataan Persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga terdekatnya. efficiency. Persoalan lain adalah yang menyangkut Rekam Medis.outcome. Harus diketahui bahwa sewaktu pasien dan pihak asuransi mengadakan perjanjian. beneficence. kini dalam kasus malpraktek medik yang rekam medisnya tidak terbaca. (3) Luis Bohigas pada tahun 1989 pemah menulis. cost effectiveness.. justice. Hak atas informasi pasien merupakan hal yang harus diperhatikan oleh rumah sakit. Masalah lain adalah menyangkut Rahasia Kedokteran (baca: pasien) yang harus disimpan dan tidak boleh diungkapkan kepada pihak lain tanpa izin pasien. either he "betrays" his medical origin (if he decides to follow the management policy) or he is considered weak (if he doesn't undertake the restrictive policy)" Di dalam kasus semacam tampak dua disiplin yang berlawanan satu sama lain.. Ini sudah berlaku universal dan dijelaskan dalam yuriprudensi berbagai negara di dalam pertimbangan hakim. Dari pihak perawat tampak sudah banyak kemajuan dan memberi catatan lengkap tentang pasien yang di bawah perawatannya. baru timbul hubungan antara rumah sakit pasien. sedangkan perusahaan asuransi itu permintaan- nya juga dilakukan misalnya oleh seorang dokter? Bukankah antara teman sejawat tidak ada rahasia? Mungkin hal ini harus di clear kan. Jika tadinya sebagaimana biasa beban untuk membuktikan terletak pada yang menggugat (pasien). Persetujuan Tindakan Medik sebagaimana sudah diatur di dalam Permenkes No. non-maleficence. truthtelling.. Jasa Raharja yang memang sudah ada perjanjian dengan rumah sakit sebelumnya). admission clerks.. Sesudah pasien masuk rumah sakit dan dirawat. sehingga dapat dikenakan honor terpisah. perawat dan tenaga kesehatan lainnya selama pasien dirawat. patient's autonomy.. Ada juga yang tidak lengkap menulis. Sedangkan bio-etik dan disiplin kedokteran menggeluti istilah-istilah: life-saving. Selain itu pemberian keterangan kepada pihak asuransi tersebut tidak termasuk perjanjian terapetik rumah sakit (dokter) – pasien.. death. Berapa menitkah harus dikorbankan untuk menulis suatu catatan? Kalau sudah ada tuntutan malpraktek medik. dsb). Thus.

jika dilihat dari segi medis. Dan pasien yang dianggap tebal kantongnya di-pingpong lebih dahulu ke beberapa spesialis supaya lebih "yakin" akan penyakitnya. tetapi sang dokter masih tetap menulis honornya walaupun belum pemah melihatnya. Pernah dari pihak agama Katholik mengemukakan perumusan lain: treatment which is disproportinately burdensome. Bagaimana pertimbangan etis di Indonesia tentang: NCO (Nursing Care Only). peralatan yang diperlukan atau tidak adanya tenaga spesialisnya (medical reasons). sekedar untuk memenuhi ruangan yang kosong. 5) Bagian Administrasi Rumah Sakit yang tidak memperbolehkan pasien pulang karena tidak bisa melunasi biaya rumah sakit/dokter. tetapi tidak melepaskan pasiennya. Memang sukar dibuktikan. 2) Atas dasar "indikasi medik" terhadap pasien yang mampu dilakukan berbagai pemeriksaan (mahal) yang sebenarnya tidak perlu atau tak ada gunanya. sekedar untuk pengembalian kredit Bank sehingga terjadi overuse dari peralatan mahal. 3) Pasien yang sebenarnya harus dirujuk ke spesialis/bagian lain masih ditahan-tahan sehingga penyakitnya bertambah parah. tidak akan ada gunanya (Een arts dient derhalve niet met een therapie te beginnen noch deze voort te zetten. Misalnya: pasien yang fungsi ginjalnya sudah minim (gagal ginjal) yang kadar ureumnya sudah di atas 200 dan kreatininnya sudah jauh melebihi angka 7. 12) Masalah yang menyangkut Euthanasia dan Kematian: • Tidak mulai memberikan life support treatment pada pasien in faust. 4) Dokt. tetapi tidak bisa dipisahkan (scheiden). 8) Menahan pasien dan tidak merujuk ke rumah sakit lain. termasuk pasien yang sudah tak ada harapan pulih kembali. is not obligatory (9).Di atas telah dikatakan bahwa antara Etik dan Hukum sukar dipisah-pisahkan. • Bilamana pemberian life support treatment tersebut boleh dihentikan? (bandingkan butir no. 11 di atas) • Penghentian atas dasar finansial atau pulang paksa apakah tidak merupakan pseudo-euthanasia? • Arti ordinary and extra-ordinary means yang dengan perkembangan pesat iptek kedokteran menjadi pengertian yang samar. sehingga lebih tergantung kepada peralatan penunjang medik. Tampaknya pandangan klinis (klinische blik) sementara dokter sudah ada yang memudar. tetapi masih belum dirujuk untuk hemodialisis. Hanya bisa diadakan pembedaan (onderscheiden).cr spcsialis on call yang pada waktu malam tidak mau datang. Di dalam literatur dibedakan dua bentuk interhospital transfer (pasien gawat darurat yang belum stabil dan wanita yag sedang mau melahirkan). Bagaimana jika kemudian diperlukan untuk pasien lain yang masih banyak harapan? 10) Pasien dengan multiple sclerosis yang sebelumnya sudah beberapa kali menyatakan minta diakhiri hidupnya saja. walaupun sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. tetapi dikirim ke rumah sakit lain karena tidak bisa membayar uang muka. Bagaimana pendirian kita dalam masalah ini? Cermin Dunia Kedokteran . indien er. Edisi Khusus No. 9) Masalah etik yang pelik bisa timbul di ruang ICU apabila misalnya alat ventilator yang tersedia. Demikian pula antara rumah sakit dan doktemya. b) Atas dasar pertimbangan finansial (butir 6 di atas). Di dalam yurisprudensi hukum kedokteran penuntutannya didasarkan atas lack of diagnostic information and the failure to refer to another hospital. 7) Tidak menerima pasien yang dalam keadaan terminal untuk menekan mortaliry rate dan memelihara nama baik rumah sakit atau pasien demikian cepat-cepat dipindahkan dengan berbagai dalih ke rumah sakit lain. Sesudah keluar dari rumah sakit ia akan menceritakan pengalaman pahitnya dengan dokter tersebut. atau tidak menerimanya dengan berbagai dalih. Hal ini bisa menjadi kasus hukum kalau sampai mengakibatkan matinya sang pasien. rumah sakit bisa dipersalahkan karena melakukan patient 's dumping. Bisa terkena KUH Pidana tentang Penipuan. 1994 59 . medisch gezien. geen resultaat van te verwachten valt). (economic reasons). or futile. Beberapa contoh: 1) Rumah Sakit (dokter) menahan-nahan pasien VIP yang sebenarnya sudah dapat dipulangkan. Leenen: zinlose medische behandeling) boleh dihentikan atau harus diteruskan? Menurut Leenen seorang dokter tidak usah mulai memberikan suatu terapi atau meneruskan suatu terapi. Nama rumah sakit sedikit banyak pun akan tercemar. namun jika sampai terlampau lama pasien pun akan bertanya-tanya di dalam hati: sakit apa saya sebenamya sehingga harus dirawat sedemikian lama. Sebenarnya hasil penunjang medik seharusnya adalah sekedar untuk meyakinkan kebenaran dugaan diagnosisnya. yang bisa mengakibatkan transfer associated death (7): a) Atas dasar alasan medis (karena kekurangan sarana. semuanya sedang dipasang pada pasien. karena tidak mampu membayar (undertreatment). Besoknya pasien meninggal. 6) Pasien gawat-darurat yang belum stabilized. Bahkan cenderung untuk mendapat penyakit iatrogenik dari rumah sakit sehingga jadi berkepanjangan dan bisa dijadikan dasar tuntutan. Atau sebaliknya pasien yang harus diperiksa dengan alat tersebut untuk dapat diketahui persis penyakitnya tidak dilakukan. walaupun alat diagnosis yang diperlukan untuk mendeteksi penyakitnya tidak dipunyai (CT Scan) dan tidak ada tenaga dokter spesialisnya. Bahkan masih dicoba-coba dengan obat diuretik. 90. Bisa terkena KUH Pidana pasal 333 tentang Penyanderaan yang tidak sah (onrechtmatige vrijheidsberoving). Jika sampai meninggal di jalan. apalagi memeriksanya. DNR (Do Not Rescuscitate) order? Kode Etik mana yang menilai dan memutuskan: Kode Etik Kedokteran atau Kode Etik Rumah Sakit? 11) Apakah suatu usaha pengobatan yang sudah tak bisa menolong lagi (Prof. memperpanjang length of stay.

No Insurance. Who Runs the Hospital? Hospital Management International. N. 90. Sluyters B. Kluwer. Engl. et. J. Gemala Hatta. 1984. Ethics. 5. Med 1985. Edisi Khusus No. 1980). Leenen HJJ. Etika Medis. Pada footnote membandingkan "Sacred Congregation of the Doctrine of Faith. 4. Kellennann AL. an Medicine. 1989. De aansprakelijkheid van Arts en Ziekenhuis. Law. " Iura et Bona (Declaration on Euthanasia). BLKM Cilandak. 1988. p 54. p. Skegg PDG. 3. Preadvies Nederlandse Vereniging voor Rechtsvergelijking. Rechten van Mensen in de Gezondheidszorg. 2. 6. 1989. 1994 . Med. 7-8 Agustus 1993. Pustaka Filsafat. 147. What are hospitals for? Economic Considerations in Emergency Care.KEPUSTAKAAN Relman AS. 1978. Brussel: Samson Uitgeverij Alphen aan den Rijn. Oxford (1984). 60 Cermin Dunia Kedokteran. 9. 7. Interhospital patient transfer. p 60. 312 (6). 72 Acta Apostolicae Sedits 542-52 Clarendon Press. al.Med. Wrenn K. Bohigas L. 1985. p. Al Purwa Hadiwardoyo. Peranan Rekam Medis dalam tanggung gugat praktek profesional Tenaga Kesehatan. 239. N. 8. 319(10):643. Penerbit Kanisius. J. N. Deventer. Engl. Seminar Sehari dan Rakemas I PORMIKI. 312 (6) : 372. J. 1. Engl. No Admission.

Prinsip pertama. Prinsip ke empat. Contohnya. Teknologi-teknologi itu tidak harus yang paling sederhana. Bangsa di sini memiliki arti yang lebih luas dari pada hanya kemerdekaan politik. sumberdaya alam yang langka sekalipun bukan merupakan hambatan. tahap demi tahap. Karena. Jepang dan Korea yang sumber daya alamnya langka. mentransformasikan diri menjadi bangsa yang modern. dan keberhasilan mempertahankan kesatuan nasionalnya sendiri: Indonesia. pemilikan sumber daya alam yang berlimpah sekalipun tidak ada artinya. 1994 61 . kemampuan mempertahankan budayanya. menyediakan prasarana ekonominya sendiri. baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang penting adalah kegunaannya untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam negeri. tentang masyarakat yang ingin dibangun. kepada para peserta Kongres PERSI VI dan Hospital Expo VII yang saya hormati. yaitu sumber daya manusia (SDM) Indonesia. untuk dapat menjadi bangsa yang dihormati oleh bangsa lain kita harus bertekad untuk mampu memecahkan masalah-masalah kita sendiri. kalau teknologi yang diperlukan itu belum ada di Indonesia. Ada lima prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam menerapkan IPTEK untuk pembangunan bangsa. adalah pembangunan bangsa. yaitu bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk memenuhi keperluan-keperluan dasarnya sendiri. dapat juga yang paling canggih yang ada di dunia. 21 . maka teknologi itu harus dialihkan dari negara maju. dimana kita semua terlibat di dalamnya. dan teknologi yang akan dipakai untuk mewujudkannya. Sebentar lagi kita akan memasuki Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) VI. Oleh karena itulah. adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tanpa Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & H ospital Expo.25 November 1993. sejahtera. sudah barang tentu pada awalnya setiap Cermin Dunia Kedokteran . Pembangunan Nasional. Di dalamnya tersirat kemandirian ekonomi. yang akan mengantarkan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang maju. yang merupakan REPELITA pertama dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT-II). perlu diselenggarakan pendidikan dan latihan di berbagai bidang IPTEK yang gayut untuk pembangunan bangsa. dapat menjadi negara industri maju karena kemampuan membangun IPTEK-nya. kemampuan pengembangan IPTEK menjadi sangat penting. Oleh karena itulah. Oleh karena itu sekali lagi: pembangunan sumberdaya manusia adalah konsep inti pengembangan IPTEK Indonesia. Dalam tahap-tahap inilah. Jakarta. tumpuan pembangunan nasional akan beralih dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA) ke pemanfaatan sumber daya yang selalu terbaharukan. Lain halnya kalau IPTEK dapat dikuasai. serta menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kualitas hidupnya sendiri yang semakin meningkat. Prinsip ke tiga. Prinsip ke lima. untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata kita hadapi. dimana pembangunan nasional Indonesia akan mulai tinggal landas dengan kekuatan sendiri. teknologi itu tidak dapat dimengerti kalau dikembangkan secara abstrak. Jakarta Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan beberapa kebijaksanaan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Pengembangan IPTEK PJPT-II. Edisi Khusus No.Pengembangan IPTEK PJPT-11 Prof Dr Sudraji Sumapraja Staf Ahli Menristek Bidang IPTEK Kedokteran. 90. diterapkan dan dikembangkan di Indonesia. Prinsip ke dua. konsep inti pengembangan IPTEK adalah pembangunan manusia lndonesia itu sendiri. Bangsa Indonesia telah bertekad untuk secara sistematis. kemampuan itu. dan tidak selalu mengandalkan impor IPTEK buatan luar negeri. perlu dikembangkan konsep yang jelas dan realistis serta dilaksanakan secara konsekuen.

perpmah-sakitan. Proses nilai tambah itu ditempuh dalam dua tahap: (1) proses persiapan. Untuk proses persiapan ini diperlukan sistem pendidikan yang rasional dan efektif. Tahap ke dua. Dengan demikian. Selain strategi transformasi teknologi dan industri seperti diuraikan di atas. Berdasarkan kondisi. Secara konsepsional. sedangkan tahap keempat merupakan tahap kunci bagi negara-negara yang ingin mempertahankan keunggulan teknologinya. Selanjutnya IPTEK telah ditetapkan sebagai bidang pembangunan nasional. maka wahana kesembilan pun akan turut berkembang melalui tarikan dan dorongan melewati berbagai kaitannya. manusia tidak dengan sendirinya dapat menjadi pembawa IPTEK. dan yang paling mendasar adalah tahap penggunaan teknologi-teknologi yang ada di dunia untuk prosesproses nilai tambah dalam rangka memproduksi barang-barang yang sudah ada di pasaran. adalah tahap pengembangan teknologi itu sendiri. dan 9) Industri pendukung lainnya. artinya yang belum ada di pasaran. terdapat dua unsur strategi penerapan IPTEK untuk transformasi teknologi dan industri suatu negara sedang berkembang: pertama. dan untuk mempertahankan keberhasilan serta keunggulan yang telah dicapainya. Dengan demikian ada unsur baru di sini. yang memerlukan penelitian dasar untuk menjawabnya. sampai ia mampu bersaing di dunia internasional. merealisasikan potensinya untuk berproduksi. Dengan berkembangnya delapan wahana industri pertama tersebut di atas. maka sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan upaya mengubah mentalitas bangsa menjadi bangsa yang menghayati dan menerapkan nilainilai negara industri maju. IPTEK yang diperoleh melalui pendidikan baru merupakan landasan untuk dapat berkembang menjadi manusia yang mampu dalam bidangnya. pariwisata. Kualitas manusia Indonesia dan masyarakat Indonesia serta penguasaannya terhadap IPTEK merupakan satu kesatuan sebagai faktor dominan dalam pembangunan nasional. Oleh karena itulah. kedokteran. yaitu proses untuk memperoleh dan menyempurnakan kemampuannya secara terus menerus. Perusahaan-perusahaan atau negaranegara yang sedang melaksanakan tahap ketiga itu seringkali dihadapkan kepada kurangnya teori untuk mengembangkan teknologi baru. Jalan pintas yang paling masuk akal adalah melakukan mengalihkan teknologi-teknologi dari luar negeri untuk memproduksi barang-barang tersebut di dalam negeri.negara harus melindungi pengembangan IPTEK nasionalnya. dan ke dua. Dewan Riset Nasional (DRN) telah merumuskan Program Utama Nasional Riset dan Teknologi (PUNAS RISTEK). Tahap pertama. politik dan strategi. Tahap ke tiga. yaitu unsur penciptaan. sedangkan proses penyempurnaan dimulai sejak ia bekerja. wahana-wahana industri mana yang perlu dikembangkan lebih dulu. dan mengelola penerapan dan pengintegrasian teknologi itu tidak cukup hanya diperoleh dari pendidikan melalui observasi. 90. kita tidak boleh mainmain dengan proses pendidikan. sedangkan untuk proses penyempurnaan diperlukan wahana-wahana transformasi teknologi dan industri. yang rata-rata lebih produktif dan lebih efisien. Proses transformasi masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang maju teknologi dan industrinya dapat dipikirkan terdiri dari empat tahap transformasi teknologi dan industri yang 62 Cermin Dunia Kedokteran. dan juga tidak boleh main-main memilih wahana tempat manusia lndonesia menyempurnakan dirinya menjadi manusia yang unggul. sebagai berikut : . GBHN 1993 telah mengamanatkan bahwa IPTEK merupakan salah satu asas pembangunan nasional. dan memperhatikan pula pertimbangan-pertimbangan geografik. Tiga yang pertama gayut untuk negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Edisi Khusus No. yang telah sama-sama kita siapkan dalam menyongsong tinggal landas di tahun 1994. dimana putra-putri bangsa yang terbaik mendapat kesempatan untuk menyempurnakan dirinya. Teknologi yang sudah ada dikembangkan lebih lanjut. pendidikan. Karena kita memulai transformasi teknologi dan industri itu dengan sumber dana dan daya yang terbatas. lebih bersaing harganya dan lebih tepat waktu penyampaiannya. sedangkan kemampuan untuk menerapkan dan mengintegrasikan teknologi. pentahapannya. kemampuan. Tahap ke empat. maka kita harus pandai-pandai membuat prioritas. wahana-wahananya. Kemampuan yang bermutu tinggi dan lestari hanya akan diperoleh melalui wahana-wahana yang melakukan proses nilai tambah terus-menerus untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih bermutu. daya dukung dan daya tampung yang ada. yang secara garis besar dikelompokkan ke dalam lima bidang utama Matriks Nasional Riset dan Teknologi. Pada tahap ini dikembangkan desain dan cetak biru. seperti industri kesehatan. dan kemudian menjadi unggul dalam bidangnya. maka telah diputuskan untuk memprioritaskan pengembangan sembilan wahana industri sebagai berikut : 1) Industri angkutan udara 2) Industri angkutan laut 3) Industri angkutan darat 4) Industri telekomunikasi 5) Industri energi 6) Industri rekayasa 7) Industri alat dan mesin pertanian 8) Industri pertahanan-keamanan. IPTEK semakin berperan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional yang memberikan kesejahteraan kepada rakyat yang setinggi-tingginya. dan lain-lain. tetapi tidak untuk waktu yang terlampau lama. Karena inti pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan potensi manusia lndonesia. seminar atau membuat satu-dua produk lantas berhenti. Proses persiapan yang lebih dikenal dengan proses pendidikan dimulai sejak prasekolah dan mungkin berakhir di perguruan tinggi. dan teknologi-teknologi baru pun dikembangkan. dan (2) proses penyempurnaan. yang kesemuanya itu untuk merancang produk-produk masa depan. Ia harus terlebih dahulu menempuh proses nilai tambah. 1994 bertumpang-tindih. adalah integrasi teknologi-teknologi yang sudah ada ke dalam desain dan produksi barang-barang yang baru sama sekali. Tetapi.

Sumber Daya Alam. Hukum. Dalam penyusunan PUNAS RISTEK. 90. yang tidak mungkin dikaji dari temuan-temuan di luar negeri. Program Pengembangan Sistem Informasi 8. Sta. 1994 63 . Sub Sektor Teknik Produksi dan Teknologi 1. Sub Sektor Informasi dan Statistik 7. Hal tersebut digambarkan dengan menempatkan tanda prioritas (+) pada program yang bersangkutan. Prasarana dan Sarana IPTEK 5. memberikan arah pengembangan IPTEK. memang banyak masalah yang khas Indonesia. Perancis. Bagaimana kalau IPTEK yang kita perlukan itu belum dikembangkan di negara-negara maju? Dalam hal itu bangsa Indonesia harus mengerahkan sebagian dari dana dan dayanya untuk memperoleh IPTEK yang diperlukan itu. Program Utama Kesehatan Subprogram Utama Masalah Kedokteranl Kesehatan Penyakit menular +++ Penyakit degeneratif +++ Penyakit keganasan +++ Penyakitgangguan jiwa +++ Kecelakaan ++ Gizi salah +++ Subprogram Utama Keilmuan Biologi molekuler + Reproduksi manusia + Genetika + Pengobatan tradisional + Subprogram Utama Komponen Pelayanan Kedokteran/ Kesehatan ++ Kebijaksanaan Alat-alat +++ Obat-obatan +++ Proses/metoda pelaksanaan pelayanan kedokteran/ kesehatan +++ ++ + + + ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + ++ + ++ + + + + + + + + + + + + + + + ++ ++ ++ + ++ +++ +++ ++ +++ + + +++ +++ +++ +++ +++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + ++ ++ + + + ++ ++ Keterangan : TP : Program Teknik Produksi Tek : Program Teknologi IPT : Program Ilmu Pengetahuan Terapan IPD : Program Ilmu Pengetahuan Dasar Lem : Program Pembinaan Kelembagaan IPTEK Sar : Program Pengembangan Prasarana dan Sarana IPTEK Inf : Program Pengembangan Sistem Informasi Sta : Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik Prioritas tertinggi ditandai oleh +++ (tiga notasi plus) Cermin Dunia Kedokteran. Sub Sektor Ilmu Pengetahuan Terapan dan Ilmu Pengetahuan Dasar 3. IPT IPD Lem Sar. Edisi Khusus No. DRN telah merumuskan pula PUNAS RISTEK PELITA VI yang mengacu kepada GBHN 1993. Program Ilmu Pengetahuan Terapan 4. yang ditampilkan dalam delapan program sebagai berikut : A. Pemerintah juga telah berketetapan bahwa IPTEK yang diperlukan untuk pembangunan nasional. Program Teknik Produksi 2. pengembangan dan penguasaan IPTEK bagi pembangunan nasional. Budaya. Falsafah dan PerundangUndangan Selain itu. Program Pengembangan Prasarana dan Sarana IPTEK D. sesuai dengan keperluan pemanfaatan. Industri IV. Ekonomi. DRN telah memberi penekanan prioritas yang berlainan. Inf. Setiap tahun DRN akan menilai kembali PUNAS RISTEK itu untuk lebih disempurnakan dan disesuaikan dengan perubahan pembangunan dan perkembangan IPTEK. Sub Sektor Kelembagaan. Program Ilmu Pengetahuan Dasar C. Pertahanan dan Keamanan V. riset yang akan dilakukan sendiri itu harus pragmatis untuk memecahkan masalah-masalah nasional yang nyata. dan dengan badan-badan internasional. Program Utama RISTEK PELITA VI Bidang Kebutuhan dasar Manusia (BUTSARMAN) Program-program Utama TP Tek. yang sudah dikembangkan di negara-negara maju. Program Teknologi B. Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik. Dalam rangka kebijaksanaan inilah Indonesia telah menandatangani perjanjian kerjasama IPTEK dengan berbagai negara maju seperti Amerika Serikat. Hanya yang tidak boleh dilupakan adalah. Sosial. yang diduga akan bergerak sangat pesat. Jerman. dan menjadi acuan untuk mengajukan dan menyaring usulan kegiatan IPTEK. sejauh mungkin dimanfaatkan. Jepang. Dalam hal perumahsakitan. dan pada garis besarnya berlaku juga untuk Indonesia.I. Belanda dan Inggris. Energi dan Lingkungan Hidup III. Pemanfaatannya dilakukan melalui empat tahap pengalihan IPTEK seperti telah diuraikan sebelumnya. Program Pembinaan Kelembagaan IPTEK 6. Kebutuhan Dasar Manusia (Butsarman) II.

Mengingat 1. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3287). MEMUTUSKAN : Dengan mencabut Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1985 tentang Pajak Pertambahan Nilai Yang Terhitung Atas Penyerahan dan Impor Barang Kena Pajak Tertentu Yang Ditanggung Oleh Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 30). Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1985 tentang Pelaksanaan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 28. dan menyesuaikannya dengan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan program-progran tersebut di atas. 1994 . 5. 90. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1985 Penetapan Mulai Berlakunya Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 3). Edisi Khusus No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264). dipandang perlu meninjau kembali Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1985 tentang Pajak Pertambahan Nilai Yang Terhitung Atas Penyerahan dan Impor Barang Kena Pajak Tertentu Yang Ditanggung Oleh Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 30). Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3280). Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 51. 3.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1986 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI YANG TERHUTANG ATAS IMPOR DAN PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN JASA KENA PAJAK TERTENTU YANG DITANGGUNG OLEH PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk lebih menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dan meningkatkan program pembangunan di bidang kesejahteraan rakyat dan pertahanan-keamanan. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1984 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1984 tentang Penangguhan Mulai Berlakunya Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1984 nomor 47. 64 Cermin Dunia Kedokteran.

1994 65 . Pasal 2 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas penyerahan Barang Kena Pajak tertentu ditanggung oleh Pemerintah. serta tidak untuk diperdagangkan. yaitu : 1. Mesin. di bawah air dan di udara. 7. Emas batangan yang dilakukan oleh badan usaha yang ditunjuk oleh Menteri Perdagangan. yaitu : 1. Pondok Boro.Menetapkan : KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK WDONESIA TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI YANG TERHUTANG ATAS I MPOR DAN PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN JASA KENA PAJAK TERTENTU YANG DITANGGUNG OLEH PEMERINTAH. alat angkutan di air. Asrama Mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar pendapat Menteri Negara Urusan Perumahan Rakyat. 8. Edisi Khusus No. 2. uang logam. perangkat lunak. 10. pita cukai. Cermin Dunia Kedokteran. dan traveller's cheque. kendaraan lapis baja. Rumah Murah. benda meterai. Alat kontrasepsi untuk keperluan Program Keluarga Berencana Nasional. 3. uang logam. Uang kertas. 6. 2. 3. dan bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri yang dilakukan oleh dan untuk keperluan badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1983 tentang Pembentukan Dewan Pembina dan Pengelola Industri-industri Strategis dan Industri Hankam. 9. Buku-buku ilmu pengetahuan yang belum diterbitkan di dalam negeri. Uang kertas. Rumah Sederhana. Pasal 1 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas impor Barang Kena Pajak tertentu ditanggung oleh Pemerintah. 90. dan pita (sticker) Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan oleh Pemerintah atas badan usaha yang ditunjuk oleh Pemerintah atas badan usaha yang ditunjuk oleh Pemerintah. uang logam. dan pita (sticker) Pajak Pertambahan Nilai yang dicetak oleh Perum PERURI. dan kendaraan angkutan khusus lain untuk keperluan ABRI yang belum dibuat di dalam negeri. Senjata. 5. Barang Kena Pajak yang bersifat strategis untuk keperluan pembangunan nasional yang ditetapkan Menteri Keuangan. pita cukai. Alat perlengkapan kedokteran dan perawatan kesehatan yang digunakan langsung untuk keperluan Rumah Sakit Umum milik Pemerintah maupun swasta yang belum diproduksi di dalam negeri serta tidak untuk diperdagangkan. Bahan baku untuk pembuatan uang kertas. Makanan ternak dan unggas dan/atau bahan baku untuk pembuatan makan temak dan unggas. 4. benda meterai. Emas batangan yang dilakukan oleh badan usaha yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. amunisi. peralatan.

Alat kontrasepsi untuk keperluan Program Keluarga Berencana Nasional. S. 7. Edisi Khusus No. 66 Cermin Dunia Kedokteran. 6. amunisi. 5. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1986 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. LL. di bawah air. 90. memerintahkan pengundangan Keputusan Presiden ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.M. Pasal 4 Ketentuan teknis yang diperlukan bagi pelaksanaan lebih lanjut Keputusan Presiden ini diatur oleh Menteri Keuangan. Senjata. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1986 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd SUDHARMONO. Agar setiap orang mengetahuinya. alat angkutan di air. Pasal 5 Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.H. 1994 .4. Makanan ternak dan unggas. S.. ditanggung oleh Pemerintah. dan di udara.H. Air bersih yang disalurkan melalui pipa. Pasal 3 Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang atas penyerahan Jasa Kena Pajak dari Kontraktor kepada Perum Perumnas untuk pemborongan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 angka 2. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1986 NOMOR 33 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum Perundang-undangan Bambang Kesowo. kendaraan lapis baja serta kendaraan angkutan khusus lain untuk keperluan ABRI.

Lampiran II surat DJP Nomor : S-068/PJ. Pasal 33 Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 1985 (Lembaaran Negara Tahun 1985 Nomor 63. MEMUTUSKAN Dengan mencabut: Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 655/KMK.04/1984. Edisi Khusus No.04/1984 perlu disempurnakan.22/1986 Tgl. bahwa untuk pemotongan Pajak Penghasilan atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuan tenaga ahli berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa yang dilakukan di Indonesia. Pasal 21 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 50. 90. c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3309).04/1984 tentang Cermin Dunia Kedokteran. bahwa berhubung dengan itu perlu ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan sebagai pengganti Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 655/KMK. 1. : 20 Mei 1986 MENTERI KEUANGAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 356/KMK. perlu diatur lebih lanjut pelaksanaannya. 1994 Mengingat 2. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3236). 67 . bahwa perkiraan penghasilan netto sebagaimana ditentukan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 655/KMK.04/1986 TENTANG PELAKSANAAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN DARI TENAGA AHLI ATAU PERSEKUTUAN TENAGA AHLI SEBAGAI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI BERUPA HONORARIUM ATAU PEMBAYARAN LAIN SEBAGAI IMBALAN ATAS JASA PROFESI YANG DILAKUKAN DI INDONESIA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a.

Pengacara/advokat/penasehat ahli hukum lainnya Akuntan Arsitek Dokter Konsultan Notaris Tenaga ahli pemberi jasa porofesi lainnya (3) Apabila penghasilan berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa profesi tersebut pada ayat (1) dibayarkan sudah merupakan jumlah netto. (4) Pemotongan PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) dan (3) merupakan pembayaran pendahuluan dari PPh yang terhutang oleh tenaga ahli atau persekutuan tenaga ahli atas tahun dilaksanakannya pemotongan tersebut. yaitu telah ada pengurangan sehubungan biaya untuk memberikan jasa tersebut. 5. 90. langsung diterapkan atas honorarium atau pembayaran lain tersebut. 2. Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAKSANAAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN DARI TENAGA AHLI ATAU PERSEKUTUAN TENAGA AHLI SEBAGAI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI BERUPA HONORARIUM ATAU PEMBAYARAN LAIN SEBAGAI IMBALAN ATAS JASA PROFESI YANG DILAKUKAN DI INDONESIA. (2) Tarif lapisan terendah sebesar 15% (lima belas persen) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterangkan atas perkiraan penghasilan netto dari masing-masing tenaga ahli sebagai berikut: Nomor Jenis tenaga ahli Persentase dari penghasilan bruto 60 60 50 40 60 60 50 1.Pelaksanaan pemotongan PPH atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuaan tenaga ahli sebagai Wajib Pajak dalam negeri berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa yang dilakukan di Indonesia. 3. 68 Cermin Dunia Kedokteran. diterapkan tarif lapisan terendah sebesar 15% (lima belas persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-undang Pajak penghasilan 1984. maka tarif lapisan terendah sebesar 15%. 6. 7. 1994 . Pasal 1 (1) Dalam pelaksanaan pemotongan Pajak Penghasilan atas penghasilan Sehubungan dengan pekerjaan dari tenaga ahli atau persekutuaan tenaga ahli sebagai Wajib Pajak dalam negeri berupa honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan atas jasa profesi yang dilakukan di Indonesia. Edisi Khusus No. 4.

1994 — 9th Asian Australasian Congress of Anaesthesiologist Bangkok Information : Secretariat 9th AACA. Dr Y Sahasakul. 1994 69 . Dept of Plastic Surgery. 1994 — of Pathology & llth World Congress of Academic and Environmental Pathology Hong Kong Information : Congress Coordinator. Prince of Wales Hospital. Siriraj Hospital. Department of Medicine. Agar setiap orang mengetahui. November 26—30. 1994 — 7th ASEAN Congress of Plastic and Reconstructive Surgery Bangkok Information : Congress Secretariat. 270 Rama VI Road. Ramathibodi Hospital.Pasal 2 Pelaksanaan Keputusan ini diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pajak. Thailand. 20th International Congress of the International Academy October 9—14. Division of Cardiology. Room 38019. Thailand. Department of Anatomical and Cellular Pathology. November 6—1 1. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Mei 1986 MENTERI KEUANGAN RADIUS PRAWIRO Kalender Kegiatan llmiah August 16—18. 1994 — 10th ASEAN Congress of Cardiology . 90. The Chinese University of Hong Kong. Cermin Dunia Kedokteran . memerintahkan pengumuman Keputusan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Thailand. Hong Kong. Bangkok 10700. Edisi Khusus No. Bangkok Information : Secretariat. Department of Anaesthesiology. Bangkok 10400. Siriraj Hospital. Shatin. Bangkok 10700. 1/F. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Tambahan Lembagaran Negara Nomor 3262). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3312). bahwa pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan dimaksud atas Rumah Sakit Swasta tersebut perlu diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 158/ KMK. b. atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki/dikuasai/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tersebut dapat dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada junlah tertentu atas pajak terutang dengan memperhatikan fungsi sosial rumah sakit tersebut. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 49. sehingga turus menunjang program kesehatan nasional. Edisi Khusus No. Mengingat MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ATAS RUMAH SAKIT. 1994 . fungsi sosial rumah sakit swasta tetap melekat sebagai institusi yang memberikan jasa pelayanan kesehatan. 90. bahwa sejalan dengan perkembangan sosial-ekonomi rumah sakit swasta dalam melakukan fungsi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan pelayanan dan jasa-jasa kesehatan telah berkembang sebagai institusi yang juga bersifat ekonomis dengan menitik-beratkan pada upaya mencari keuntungan. 2. 4.04/1993 TENTANG PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ATAS RUMAH SAKIT SWASTA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. 70 Cermin Dunia Kedokteran. 3. 1.PERATURAN-PERATURAN MENTERI KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 796/KMK. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 68.04/1991 tanggal 13 Pebruari 1991 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan. c. d. bahwa sehubungan dengan butir a dan b. bahwa walaupun terdapat pergeseran status dan fungsi rumah sakit swasta dimaksud. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100).

MAR'IE MUHAMMAD Ny.Pasal 1 (1) Yang dimaksud dengan Rumah Sakit Swasta dalam keputusan ini adalah Rumah Sakit Swasta IPSM (Institusi Pelayanan Sosial Masyarakat) yang: a. Pasal 6 Keputusan ini mulai berlaku untuk tahun pajak 1993 Agar setiap orang mengetahuinya. (2) Atas bumi dan/atau bangunagan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). DEPARTEMEN . KEPALA BAGIAN T. 25% dari jumlah tempat tidur digunakan untuk pasien yang tidak mampu. dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sebesar 50% dari jumlah Pajak Bumi dan Bangunan yang seharusnya terhutang. Pasal 4 Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan. memerintahkan pengumuman keputusan ini dalam berita negara Republik Indonesia. 1994 71 SALINAN sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO UMUM u. b. 110016245 Cermin Dunia Kedokteran. sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan nomor 158/ KMK. HERTATI MULATSIH NIP. Pasal 2 Runah Sakit Swasta Pemodal yang bukan merupakan Rumah Sakit Swasta IPSM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dan didirikan oleh suatu badan yang berbentuk Perseroan Terbatas. Pasal 3 Atas Bumi dan/atau bangunan yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan oleh Rumah Sakit Swasta tetapi secara nyata tidak dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan secara langsung yang terletak di luar lingkungan Rumah Sakit.U. Ditetapkan di :JAKARTA Pada tanggal : 20 Agustus 1993 MENTERI KEUANGAN ttd ttd.b. 90.04/1991 tanggal 13 Februari 1991 tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pasal 5 Pelaksanaan teknis keputusan ini diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pajak. tetap dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Edisi Khusus No. Sisa Hasil Usaha (SHU) digunakan untuk reinvestasi Rumah Sakit dalam rangka pengembangan Rumah Sakit dan tidak digunakan untuk Investasi di luar Rumah Sakit.

Edisi Khusus No. c. (SERI PPh Pasal 21-38) Kepada Yth. bersama ini diberikan penegasan mengenai pedoman pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit sebagai berikut: 1. 2. Dokter tamu. Dokter yang menyewa ruangan di rumah sakit sebagai tempat prakteknva menerima atau memoeroleh penghasil sebagai imbalan atas jasa dokter yang dibayar oleh pasien. yakni: a. 3. Dokter sebagai pegawai tetap atau pegawai honorer rumah sakit. tunjangan-tunjangan honorarium. 1. Para Kepala Kantor Wilayah DJP. d.23/1989 Jakarta. Berdasarkan ketentuan Pasal 21 UU No. tunjangan-tunjangan. Dokter yang menjabat sebagaimana pengurus atau pimpinan rumah sakit menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari rumah sakit tersebut berupa gaji. 3 April 1989 Pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit. baik yang diterima secara langsung maupun melalui kas rumah sakit.NOMOR : SIFAT LAMPIRAN : PERIHAL : SE-19/PJ. Dokter yang menyewa ruangan di rumah sakit sebagai tempat prakteknya . c. yakni dokter yang merawat atau menitipkan pasiennya untuk di rawat di rumah sakit. Dokter tamu menerima atau memperoleh penghasilan berupa honorarium dari rumah sakit sebagai imbalan atas jasa yang diberikannya. 2. d. 1994 72 . serta imbalan lain. 90. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : Kep-41/PJ/1988 tanggal 28 April 1988 (Buku Petunjuk). yang berasal dari pasien dan dibayarkan melalui rumah sakit. Dokter yang menjabat sebagai pengurus atau pimpinan rumah sakit. Dokter sebagai pegawai tetap atau pegawai honorer dari rumah sakit menerima atau memperoleh penghasilan berupa gaji. Di rumah sakit pada umumnya terdapat tenaga dokter yang berdasarkan status hubungan kerjanya dapat dibagi dalam 4 golongan. honorarium. Penghasilan para dokter sebagaimana tersebut pada butir 1 adalah sebagai berikut: a. maka pelaksanaan Cermin Dunia Kedokteran. b. serta imbalan lain. b. 7 Tahun 1983 Jo. Para Kepala Inspeksi Pajak di SELURUH INDONESIA Berdasarkan data yang diperoleh dari pemeriksaan rumah sakit sebagai pemotong pajak PPh Pasal 21 di seluruh Indonesia dan hasil pembicaraan antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) serta Pengurus Pusat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).

90. 8.tersebut.19. d. Atas penghasilan berupa honorarium yang diterima dokter tamu..025.15. Atas penghasilan dokter yang menjabat sebagai pengurus atau pimpinan rumah sakit. Biaya perawatan (sewa kamar) Radiologi Laboratorium Anesthesi Biaya obat Telepon/lnterlokal Jasa dokter Biaya administrasi Rp. 630. Penghasilan bruto diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh penghasilan.- Jumlah biaya Dari jumlah jasa dokter sebesar Rp.a.000. 150. baik berupa gaji. sebelum dipotong atau dikurangi dengan potongan-potongan oleh rumah sakit. rumah sakit akan memotong pungutan rumah sakit (bagian rumah sakit) sebesar 15% s/d 20%. 9.1. Atas penghasilan berupa imbalan jasa dokter dari pasien yang diterima langsung oleh dokter yang menyewa Cermin Duniu Kedoklerun. jasa dokter wajib dibayarkan melalui rumah sakit. 1994 73 . dipotong PPh Pasal 21 oleh rumah sakit tersebut sesuai dengan ketentuan pemotongan PPh Pasal 21 untuk penghasilan pegawai tetap dengan diterapkan tarip Pasal 17 atas Penghasilan Kena Pajak (PKP).= Rp.14. 6. Atas penghasilan dokter sebagai pegawai tetap dari rumah sakit dipotong PPh Pasal 21 oleh rumah sakit tersebut sesuai dengan ketentuan pada butir 3.980.pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan dokter pada butir 1 adalah sebagai berikut: a. 3.000. Rp.000. 150. Rp.000.700. Rp. 5.24. PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang harus dipotong oleh rumah sakit adalah sebagai berikut: 15% x 40% x Rp 150.21.000. Untuk lebih jelasnya bersama ini diberikan contoh perincian biaya perawatan dari rumah sakit sebagai berikut: Sebesar Jenis biaya 1. Rp. 4. Sedangkan apabila dokter tersebut statusnya masih pegawai honorer. Rp. b. 7. Rp. Yang dimaksud dengan penghasilan bruto berupa honorarium adalah jumlah imbalan jasa dokter dari pasien yang dirawatnya di rumah sakit tersebut.. 2.877. maka ia hanya berhak memperoleh potongan PTKP tetapi tidak berhak mendapat potongan biaya jabatan dan kepadanya diterapkan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Buku Petunjuk.000. c. tergantung persetujuan antara dokter dengan rumah sakit tersebut. Edisi Khusus No.700.Dalam hubungan ini berdasrkan kesempatan antara Direktorat Jenderal Pajak dengan Pengurus Pusat Persi. Rp. Rp.025. tunjangan maupun honorarium serta imbalan lain yang dibayar oleh rumah sakit kepada dokter tersebut.620. dipotong PPh Pasal 21 oleh pihak rumah sakit sebesar: 15% x 40% x Penghasilan bruto berupa honorarium.

120. 5.a. 6. 5. b. yakni penerimaan bruto dari praktek dirumah atau ditempat praktek lainnya. Bapak Menteri Muda Keuangan RI (sebagai laporan) 2. 7 Tahun 1983. Penghasilan bruto berupa honorarium dari rumah sakit (dalam contoh pada butir 4c.setahun. 120.. Fihak rumah sakit bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan pemotongan tersebut. 1.c. Namun dalam hal pasien membayar jasa dokter melalui kas rumah sakit dan rumah sakit tersebut memotong pungutan rumah sakit. Pengisian SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi (Formulir 1770) dari dokter dilaksanakan sebagai berikut: a. Perlu ditegaskan bahwa rumah sakit dan Yayasan Pengelola Rumah sakit wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan para dokter sebagaimana tersebut pada butir 2 sesuai ketentuan sebagaimana tersebut pada butir 3. penghitungan penghasilannya didasarkan pada keadaan yang sebenarnya sesuai dengan pembukuan yang diselenggarakannya. Dalam hal dokter tersebut belum memiliki NPWP. Sekretaris DJP/Para Direktur/ Bintek/Staf Ahli DJP 74 DIREKTUR JENDERAL PAJAK 3. Sdr. Sdr. 1994 .4. Tembusan : Kepada Yth. yakni jumlah seluruh penerimaan bruto dari pekerjaan bebas telah mencapai jumlah Rp.000. Ketentuan pemotongan PPh Pasal 21 atas honorarium dokter yang praktek di rumah sakit ini berlaku sejak tanggal dikeluarkannya Surat Edaran ini. Apabila hasil penjumlahan sebagaimana tersebut pada butir 5. 90.000. Arsip. berjumlah kurang dari Rp. yakni jumlah seluruh penerimaan bruto dari pekerjaan bebas. MAR'IE MUHAMMAD NIP. d. Besarnya Norma Penghitungan penghasilan netto untuk dokter adalah 40% penghasilan bruto. Ketua Umum IDI. Drs. maka dokter tersebut berhak dan boleh memilih menggunakan Norma Penghitungan penghasilan netto. Apabila hasil penjumlahan sebagaimana tersebut pada butir 5. Dengan dikeluarkannya Surat Edaran ini maka dengan ini kami nyatakan bahwa Surat Edaran terdahulu yang mengatur mengenai hal yang sama yang tidak sesuai dengan Surat Edaran ini dinyatakan tidak berlaku lagi. maka kepadanya supaya segera diberikan NPWP agar ia segera mengisi SPT Tahunan. Untuk maksud ini dokter tersebut diwajibkan memberitahukan kepada KIP selambat-lambatnya pada akhir bulan Maret dari tahun pajak yang bersangkutan. 060031307 Cermin Dunia Kedokteran. Berdasarkan ketentuan Pasal 13 UU No.atau lebih setahun.-) digabungkan atau dijumlahkan dengan penerimaan bruto dari pekerjaan bebas. untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.a. Ketua Umum PERSI.000. ia diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. ruangan di rumah sakit untuk tempat prakteknya rumah sakit tidak wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21. Demikian. 4. 150. maka dokter tersebut tidak diperkenankan untuk menggunakan Norma. Sdr. Edisi Khusus No. c. maka atas imbalan jasa Dokter yang dibayarkan kepada dokter tersebut berlaku ketentuan sebagaimana tersebut pada butir 3. sebesar Rp.000.

Edisi Khusus No. dipotong PPh Pasal 21 sebesar 15% dari perkiraan penghasilan netto (40% dari penghasilan bruto) atau penghasilan netto (dalam hal honorarium diterima bersih) sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (3) Buku Petunjuk Pemotongan tersebut. Pasal 21 menurut tarif Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dari Penghasilan Kena Pajak.NOMOR : SIFAT LAMPIRAN : PERIHAL : SE . 1994 75 . Pembayaran honorarium dokter yang praktek di Rumah Sakit dipotong PPh Pasal 21 sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-19/ PJ. dengan ini kami tegaskan kembali bahwa pemotongan PPh. Para Kepala Unit Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak di Seluruh Indonesia Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 atas Honorarium Dokter dan Dosen Perguruan Tinggi Swasta. Pasal 21 dan Pasal 26 atas pembayaran honorarium kepada dokter dan dosen/pengajar/penceramah adalah dilakukan sebagai berikut: 1. Pembayaran honorarium kepada dokter dan dosen/pengajar/ penceramah sebagai pegawai tetap atau tenaga lepas (dalam arti bekerja lebih 26 hari atau honorarium dibayar secara bulanan) dipotong PPh.: 1. Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak 2. 3. penceramah dan sebagainya yang bukan merupakan pegawai tetap dari Yayasan Perguruan Tinggi Swasta yang bersangkutan wajib dipotong PPh Pasal 21 menurut tarif Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dari penghasilan bruto. 9 Pebruari 1990 Kepada Yth.23/1989 tanggal 3 April 1989. Sdr. 4. sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (4) Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasl26 tahun 1988 dan selanjutnya. 2. Sehubungan dengan hal tersebut. sesuai dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 tahun• 1988 dan selanjutnya. 5.431/1990 Jakarta. 90. Pembayaran honorarium dokter sebagai tenaga ahli dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf e ke 1 Buku Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 dan Pasal 26 tahun 1988 dan selanjutnya. ternyata bahwa belum semua Bendaharawan Rumah Sakit yang membayar honorarium kepada para dokter dan Bendaharawan Perguruan Tinggi Swasta yang membayar honorarium kepada para dosen/pengajar/penceramah memotong dan menyetor PPh Pasal 21 dan 26 sesuai dengan ketentuan yang berlaku.03/PJ . Apabila dokter dan dosen/pengajar/penceramah yang menerima honorarium tersebut di atas merupakan Wajib Pajak Perseorangan Luar Negeri maka dikenakan PPh Pasal 26 sebesar 20% dari penghasilan bruto sesuai dengan ketentuan Pasal 14 Cermin Dunia Kedokteran. Pembayaran honorarium oleh Yayasan Perguruan Tinggi Swasta kepada Dosen selaku pengajar. Sdr. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh beberapa Kantor Pelayanan Pajak.

Demikian untuk diketahui dan kepada Saudara diminta untuk melakukan pengawasan agar pemotongan PPh Pasal 212 dan Pasal 26 atas pembayaran honorarium dokter oleh Rumah Sakit dan pembayaran honorarium dosen/pengajar/penceramah oleh Perguruan Tinggi Swasta dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku tersebut di atas. Para Direktur/Kepala Pusat Direktorat Jenderal Pajak. DIREKTUR JENDERAL PAJAK DITREKTUR PAJAK PENGHASILAN Drs. Tembusan kepada Yth. 4. 3. Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen Keuangan. Para Kanwil DJP di seluruh Indonesia. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak. 1. 060008997 Nothing can bring you peace but yourse f (Qalph Waldo Emerson) 76 Cermin Dunia Kedokteran. 1994 . 5. 90. atau dalam hal ada tax-treaty maka sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Edisi Khusus No. WAHONO NIP.Buku Petunjuk pemotongan PPh Pasal 21 dan PasaI 26 tahun 1988 dan selanjutnya. Sdr. Bapak Direktur Jenderal Pajak (sebagai laporan) 2.

90. • Plans should be realistic. Strategic planning as a prerequisite to action is imperative. • Plans should be comprehensive in scope and developed with the broadest participation of key players. providing the best health care possible. and the need to contain rising health care costs. that of. California. the outcome of strategic planning process.Strategic Planning and Marketing James E. broad efforts and trends in the US to control cost and improve accessibility have indirect implications to Indonesia as these are goals both countries share. arguc for effective responses from hospitals. there are parallels and similarities between the two. STRATEGIC PLANNING DEFINED Strategic planning is an activity that supports strategic management. demographic shifts Resources – internal strengths and weaknesses Cermin Dunia Kedokteran. the essential elements of a generic strategic planning process include the following: • Defining the organization's mission. USA Today. The process is comprehensive in that it involves consideration of the interrelatedness of problems and issues. Wawoeroendeng & Associates. 1994 77 . manufacturing and the push for export-oriented industries are creating new demands and expectations for the nation's hospitals. Loma Linda. These changes. and continually evaluated as important changes occur. Subsequently. are a blueprint for operating decisions. Strategic planning is a formal. it is hoped that this paper will contribute positively to the discussions and debates on how we could perfect the nation's delivery system and meet its goal. and seeks to understand the full implications or likely consequences of proposed actions in advance of making decisions. ongoing process of developing. however. To this end. Changes brought by Indonesia's policy objective of development through industrialization. the need to improve the delivery of health services. to a great extent. • Assessing strategically important information. The formulation of responses is an outcome associated with strategic planning and marketing. Trends – economic. and the conditions in the external environment. Plans. increasing number of organizations are developing strategic plans. the dynamics of health care. Wawoeroendeng James E. Given there are differences between Indonesia's and United State's health care systems. such as. threats and opportunities. Inherent in the concept is the idea that an organization can best serve its overall purpose when there is a grand •design or a prethought scheme to develop and manage the Presented at the Vlth Congress of the Indonesian Hospitals Association & Hospital Expo. This paper is a review of some of the approaches US hospital management have used in responding to the rapid changes brought by intense competition and prospective payment system. Key features in a effective plan are as follows : • Plans should strive for higher level of achievement. • Plans should be based on a through assessment of the community needs. Edisi Khusus No. evaluating and implementing goals selected from key alternatives to guide actions and decisionmaking. Adjusting the positions of organizations to fit the changes in the environment is a function of strategic management. industry. There are at least two dimensions of strategic management: the process of strategic planning and the content (programs and structures) of strategic activity. Jakarta 21 — 25 November 1993 organization. within reason. The concept may be described as matching organizational resources and capabilities with environmental changes. action-oriented. In my opinion it is a matter of degree. While there is not a single universal model on the sequence and process of planning. organizational capabilities. as the hospitals' environment become more complex.

1994 . hospitals must evaluate and realign the mix of services. products and programs offered. low income programs. the first of which stresses the idea that under norms of rational behavior of key members of the organization. Some important features to consider in developing product lines are as follows: Be identifiable to the market by programlproduct line Be recognized as a unique or special program Have an identifiable market Be an administratively manageable unit Establish a reputation for excellence Aim to have complete diagnostic and therapeutic supports in terms of equipment and personnel. Such realignment with market conditions obviously must be done consistent with the hospital's chosen mission. Realignment Realigning a hospital's direction in response to market changes is the responsibility of hospital directors. cost accounting and marketing. the outcome of a portfolio analysis. Thus a purposeful scanning of the environment. The objective behind the product line management is to create something unique and different (differentiation). and attitudes shift and change. Product Lines Management Product management. the managerial style of the hospital director. Most Favorable Position Generally. 90. • Practice state-of-the art medicine and remain current with progress. the organization's tendency to adapt toward changes described in such terms as defensive. capabilities and limitations. the organization's position and service within the organization life cycle and marketplace life cycle. Republic has identified 10 "product lines" as follows (1 ) : • "Gift of Sight" – cataract surgery • "Step Lively" – podiatric services • "You're Becoming" – cosmetic surgery • "Call Me" – alcoholism treatment • "Sound Sense" – hearing examinations " • Impotency Solutions" – urology service 78 Cermin Dunia Kedokteran. high income programs from the low growth. • Be involved in research and education. as health service needs. hospital directors are empowered to make changes that reorient the hospital's direction in ways that are thought to improve its performance and chance of survival or growth. a for-profit healthcare corporation created what it calls regional Centers of Excellence strategically located among their 90-hospitals network. Two examples of product line application: HUMANA*. Texas by branding their products or services. a market-oriented approach. and the manpower required. target. In contrast. True product lines have their focus on the marketplace. these referral and consultation centers provide the highest quality of caze in a given clinical specialty and serve as distinguishing centerpiece of their network. The second tradition is derived from the strategic management perspective positing that directors not only react to changing market and environmental forces but also anticipate and help shape these forces via aggressive strategic change. Two disciplines are helpful in developing product line management. Portfolio Analysis The importance of portfolio analysis to strategy choice and marketing has to do with the degree to which decision-makers recognize the high growth. prospective and reactive. Practicing state-of-the-art medicine. MARKETING ORIENTATION AND REALIGNMENT Improving management's ability to assess and be responsive to the needs of the market constituencies is one of the major purpose of strategic planning. depth of service. breaking up the hospital into distinct market-oriented programs allows management to define each program by such criteria as cost. overlooking promising or potential services. tend to be passive and seems to be lacking a sense of direction. • Identifying major or high impact issues Major opportunities. facilitates strategic planning by focusing on strategic issues program by program. major threats and major shifts • Formulating goals and objectives • Selecting a grand strategy. Edisi Khusus No. redefine its directions to capitalize on opportunities to meet the market needs. segmentation of market. As some program cut across departmental boundary lines and involve multidisciplinary teams. preferences. Their value lies in establishing groups that are identifiable and manageable as separate businesses within the hospital. and a calculation of risks and benefits for hospital innovation are key actions that would be expected of hospital directors. This perspective derives from two closely held traditions in organization theory. from time to ti me. Prospector organizations are those that. a hardheaded assessment of the forces impinging on the hospital. reactor organizations are those that analyze changes. The market situation is analyzed with an interest on identifying and defining needs on existing and future programs and or services. This type of analysis is an effort to avoid mistakes such as: promoting or focusing on unprofitable lines. The Boston Consulting Group is credited for devising a matrix that assist management to examine the entire hospital portfolio of services. Product management looks at the product line as a competitive entity.Competition – competitors' profiles. The development of a market plan links strategic planning to the external environment. its stage in the marketplace life cycle. As the markets of hospitals change. Another application in the spectrum of product line management is an approach used by Republic Health Corporation of Dallas. concentrating on product lines or programs that may offer atraction but whose relative size is too small to merit attention. competitive position Market – needs and gaps. energy will be exerted to align the institution vis-a-vis the environment and market so that it will be in the most favorable position possible. and determining the capability of the hospital resource base to respond to the dynamic and changing environment. The range of alternative strategies considered and eventually chosen is influenced by among others. perceptions. and as competition and technology intensify.

Retrenchment • Downsizing. socioeconomic class. service specialization or niche. • Establishing freestanding ambulatory service. service. avoid duplication. Naturally. Sport Medicine. diagnostic departement. Oncology. • Identifying and focusing on segments of the market. or non-price competition. • A strategy to protect against the risks of uncertainties. Diversification • Entering into related or unrelated businesses: real estate. The structures and programs reviewed in this paper have to be viewed in the context of the prevailing conditions in the United States. • A strategy to control the use of supplies and resources used by hospitals. diagnosis group. divestment. The following summary are generic grand strategies applicable for health care organizations considered common: expansion of the product line or area. • A strategy to retain patients within the system or chain by providing more services. increased access to capital. • Voluntary merger of two entities providing same or related . Mammography. Rehabilitation. Expansion of the Product Line • A strategy to increase or maintain market share. STRUCTURE AND PROGRAMS There are two main strategic variables at the disposal of hospital management that may be altered to meet changes in the environment: organizational structure or organizational programs. prosthesis. medical plaza or medical office buildings. eliminating unprofitable services or reducing in order to survive. by age. diversification. chains Cermin Dunia Kedokteran. except autonomy is retained. • A strategy to prevent insolvency by reprioritizing funds allocation. • Non-clinical integration include entering businesses that supply/manufacture hospital products or services (pharmaceuticals. etc. overbedded • intense consumer pressures and expectations for change • growing pressures from business community labor shortage in professional and technical categories • • new delivery systems. Prenatal Care. increase availability of skills and talents in management and clinical applications. • A strategy to achieve stability as risks are reduced. laundry. Post discharge care: skilled-nursing 'care. common and relevant (PHO. housekeeping. • A strategy to improve cash flow. and lower cost of capital. income level. Geriatric Care. dialysis. backward. • Pursuing aggressive cost management and compete on cost. and they are: • growing trend of prospective payment system • decreasing reimbursement from third party payors • continued high health care costs • accelerated competition • tighter profit margins • decreasing inpatient census • large excess capacity. Edisi Khusus No. IV). longterm care.. home care. diagnosis. or geographic area. Pediatric Cardiovascular. differentiation. or geographically proximate. there are only three major themes from which hospitals develop strategic responses: • Differentiating hospital products from the competitors. • May be used to integrate forward. joint venture. restaurants. products. Pre-admission services and postdischarge care. EDS). and retrenchment. • A strategy to spread risks or maximize earnings through investment opportunities. • Service to age group. • Developing new product lines. mutual benefits and risks. physician-hospital-organization). HMOs. (dietary. Integration. Burn Unit. PPOs. • Selling of underused capacity. Service Vertical Integration & Horizontal • Establishing organizational arrangements that provide a range of services. • Specialization in Pediatric. Hospitals compete in two distinguishable levels of the market: price-based competition. 1994 79 STRATEGIES There are a number of patterns to describe the long-run strategic thrusts of hospitals. etc. These are the variables and the focus of strategic planning when reviewing and analyzing the mazket. IPAs • increasing ambulatory services • declining average length of stay (ALOS) • increase in investor-owned corporations • growing participation in alliances. 90. shopping centers. • A strategy to shared opportunities and risks. • A strategy to achieve economies of scale. vertical or horicontal integration. • Geographically dispersed.• • • • "View" – women's health problems " Miracle Moments" – obstetrics "ReNew" – cocaine addiction treatment "Reach" – adolescent psychiatric treatment The examples serve to illustrate the need of differentiating programs and services so to be distinguished from competitors'. Joint Venture • Similar to horizontal integration. geographic location. diversity or expand service. Oncology. linen. • Hospital and Physician groups joint ventures. Service Specialization • A strategy to focus and serve a particular segment of the market.

90. independent laboratories. Acute care hospital is physician-intensive. the extension of financial and non-financial benefits. • Corporation. Key advantages of the partnerships are as follows: • shared risks and shared profits • higher motivation to control costs • improved capability of the partnership to offer diverse services Much is at stake if a hospital is unable to obtain and retain competent medical staff. Diversification To compete effectively hospitals have to implement measures to control operations and attain high operational efficiency. such as ambulatory surgery centers. • The hospital seek to protect its exposure by entering into profitable ventures. offer a broader range of services and in more markets. MRI. joint owners of hospitals business units • professional development allowances: continuing education. The real value of joint ventures is when both hospitals and physicians recognize that there are overlapping values and benefits to be gained if both parties join their resources together and accept that they are better off joined than separate. Without incorporating physicians into the strategic plans of hospitals. hospitals can lock in their existing patient base (market share) and possibly increase it by (1) giving the physicians a financial stake in the operation of certain lines of business. physicians as limited partners are precluded from sharing in the management. The joint ventures may be any of the following three forms: • Contractual Agreement. Medical Staff Relations Medical Staff are the single most critical factor in a fiercely competitive climate. Hospital-Physicians Joint Ventures By engaging in joint ventures with those who control access to patients. The two main strategies employed in dealing with the medical staff as shown in the preceding list are. or enlist their cooperation in the hospital's expansion program or cost reduction program. Control rest with a new entity and separate board of directors represented by both parties. • Limited Partnership. skilled nursing facilities. 1994 1. 2. Physicians are the key ingredient in maintaining a desired census. • funds for research and development. A survey conducted by "HOSPITALS" as published in the January 5. all of which involve physicians. Industrial medicine 5. housing and transportation. home loans food or meals. Hospitals hope that engaging in join ventures will enable them to be more effective competitors in the marketplace by enabling them to 80 Cermin Dunia Kedokteran. related or unrelated to its core business. Some reasons given for diversification: • The hospital diversify its program in order to capture a larger share of all patients served in a community. From the hospital's perspective it is highly important to attract and retain the best qualified medical staff. • The hospital strive to become the sole source of a medical technology. medical office buildings. Home health 8. Inpatient rehabilitation 3. The other option is to maximize revenue by engaging in or entering promising markets. Hospital executives must gain the support and cooperation of physicians in order to continue a viable hospital operation. To do so hospitals are better off to collaborate with physicians rather than be in opposition or competition with them. Physicians gain liability protection. Psychiatric outpatient services 7. • The hospital seek feeders or satellite facilities to function as sources of referrals. How do they position their organizations in a way that ensure continued growth and survival. such as diagnostic imaging equipment or MRI. The area where joint ventures have been formed include the establishment and operation of urgent care centers. In rural hospitals where funds are scarce and there is no excess of hospital beds. national/overseas programs observation trips • hospital allowances for: club memberships. the acquisition and operation of major medical equipment such as CT scanner. partnership. home health care agencies. What are the measures hospitals undertake in order to survive in this increasingly hostile climate. 1989 issue. and without acute care. principally physicians. the hospital is just another clinic. Substance abuse . Hospital often is the general partner thus exposed to risks. Freestanding outpatient diagnosis 2. for specified purpose(s) and or a specified period. it is unlikely that hospitals will develop a foundation for responding adequately to competition. ambulatory surgery centers. rank most successful hospitals' ventures as follows: 1. and (2) tying into potential new sources of patients. Edisi Khusus No. 3. diversification may be an inappropriate strategy. journals. A form of alliance with the physicians. and lithothripters. Incorporation limit the liability of both parties to the extent of their investment. Freestanding outpatient surgery 4. Women's medicine 6. and How do they adapt to the changes? How should hospitals orient their strategies? The following I submit are some of the answers in terms of organizational structures and programs. ensuring their participation and mutual sharing of benefits and risks. Some measures used to enlist physicians loyalty and cooperation: • adequate and or reasonable compensation • assistance in new equipment financing • participation in the development of strategic planning • participation in joint ventures with the hospital • hospital-physician alliance. and incorporating physicians as partners and/or owners of hospital or hospital's business units. They serve as gatekeepers for a hospital's flow of patients.• increased regulations Consequently. by offering new services to unserved market segment.

and lacking the required support from physicians. it is a means of protecting the hospital from the risks of uncertainties. be financially ready to handle any temporary downturns for extended period of time. tonsillectomy or adenoidectomy Dermatology Plastic surgery Urgent Care Centers . laparoscopy/tubal ligation Orthopedics . Edisi Khusus No. hospitals must capture a significant share of the growing outpatient business. Examples of those hidden assets could be as diverse as: • Excess capacity or off-hours of plant and equipment • In-house support services • Proprietary software (developed in-house) • Real estate. second. 4. Urgent care centers owned and operated by physicians are a threat to hospitals as these tend to draw patient away from hospitals..516 to 45. This effort require physicians involvement. Intermediate care 13.orthopedic surgery. In the evolving opportunities for outpatient care and referral. in several cases. at least four types of strategies can be adopted : • Inpatient-oriented. This major change in health care delivery presents US hospitals with one of the most difficult strategic planning issues today.To meet these needs.gynecological surgery. Diversification implies that the hospital is rearranging its programs and services.. is to place the hospital in direct competition with physicians. lack the entrepreneurial managerial skills.Freestanding Emergency Facilities In many cases. endorsement for royalty • Reputation and image. most dialyses can now be Cermin Duniu Kedokteran . Diversification does not have to include formal alliance with another health care organizations through merger. 90. Obstetrics 14. hospitals emergency room have been used by patients for nonemergency cases. Converting these into new profit centers. while the number of freestanding ambulatory centers increased 57 percent from 19. To shift to ambulatory care. Wellness/health promotion Many hospitals experienced failures with diversification projects because they are undercapitalized. consolidation or combination. acceptance • Technical expertise and technology A number of viable structural methods may be employed to facilitate diversification. diversification's real value is revenue maximization. Nursing facility 11. Selected categories of surgicenter procedures : OB/Gyn . in order to remain viable in the emerging delivery model. Hospitals should not wait too long to discontinue the line or sell it. Outpatient Care and Referral Networks Outpatient revenues currently account for about 25% of community hospital's revenue. The number of hospitals decreased 5 percent from 1980 to 1990. defensively.. is the challenge for management. had conducted poor planning. New technologies that offer greater precision in measuring blood gases and that permit a patient to be anesthetized just sufficiently for the procedure are expanding the number of operations that can be done on an outpatient basis. Third party payers are reluctant to pay inpatient stays associated with surgical procedures that can be performed on an outpatient basis. Cardiac rehabilitation 10. With significant technological advances. Preferred Provider Organization 12. 1994 81 .myringotomy. Retirement housing 19. There are predictions that by year 2000 the percentage will increase to 50%. However. Minors sugeries can be performed in some centers.9. capital investment in facilities. medical plaza • Vendor relationships. HMO 16. Freestanding Dialysis Centers At one time kidney dialysis was an extremely expensive procedure and could be performed only in a hospital setting. to recognize as soon as possible when demand for a program is declining. a cross between a physician's office and an emergency room.510( 2) . Prospectively.hospitals have opened up Urgent Care Centers. arthroscopy ENT . Pediatrics 15. An important source for diversification is the creative use and development of hospital's hidden and under-utilized assets. specialty ambulatory care services • Comprehensive primary ambulatory care services • Ancillary ambulatory care services that are part of overall diversification • Joint ventures with physician group that may expand the current level of patient referrals. complete with laboratory and radiology facilities. The following criteria are important when a hospital considers diversification: • Rate of Return Project generates positive cash flow Venture is compatible with mission • Mission Projects improves service to the community • Community Hospital gain market share • Market share Hospital gain new referrals • Patients Hospital are in control • Autonomy/ control Interest in quality is an important factor • Patient care Possess the education and skills • Physicians Approved by key participants • Support No conflict ofinterests withMDs/board • Interests Caveats for hospitals already diversifying into programs or services in their community: First. equipment and information systems to support growing ambulatory care demands. Surgicenters The growth of ambulatory surgery has been due to advances in medical science such as the use of anesthesia in a precise manner. Trauma center 17. Satellite urgent care 18..

Contract Management For agreed fees contract management companies provide specialized services ranging from hospital management. increase in efficiency • economies of scale • access to management expertise • increased personnel benefits • improved patient access through geographical integration of various levels of care • improvement in quality through increased volume of services for specialized personnel • increased volume due to increased number of services Formerly it was possible to classify hospital cooperative arrangements in two classes. concentrate and focus on hospital core functions. often including medical schools. The more important benefits include reduced environmental uncertainty and complexity and improved access to resources. second. complete ownership with large-scale system.547 1. injury prevention.639 726 593 545 404 302 214 168 152 75 Investor-owned Multihospital Systems Investor-owned systems are growing in terms of hospitals and hospital beds at the rate of 100% a year. Wellness Programs This strategy is used to approach the health conscious members of the population. professional associations. Con tracts are ty pically based on a fee or a fee bonuses. 1. Sharing of MRI and CT scanners are good examples of this model. and laboratories to purchasing and specialized clinical facilities. Agreements usually include criteria for the size of investment which can be made by individual member institutions without efforts to plan the program jointly and/or share each major clinical service. leasing. These programs may include hypertension screening. laundry.476 1. Studies have shown that the real benefits of wellness programs appears to be the positive commurity image that it fosters. Increasingly. hospitals responses could be either to let the physicians be joined owners with the hospitals or. housekeeping services. one of the largest contract management company. Shared Services Sharing involves two or more organizations joining together to produce and/or use the same sercive for the member institutions. This will help to limit major investment to fewer institutions and to improve utilization. Hospitals join consortia because they find it difficult to survive as independent units. is a large hotel restaurantcorporation which diversi into the hospital industry business. Consortia Consortia hospitals. Edisi Khusus No. their expertise in food distribution and production result in high operating and cost efficiency. The concept has now a spectrum of formats that begins with one that is highly informal to highly formal : Consortia on planning or education. Merger is a strategy for capturing a larger market share by integrating vertically or horizontally. This ranges from the joint use of computers. Hospitals benefit from reduced salary. or as a menas of providing more comprehensive services. More often than not. independent organizations together combines under a common organizational framework. pharmacy.936 1.462 812 662 566 421 352 223 155 147 82 1. First. System affiliation was designed to provide the following benefits : • increased access to capital markets • reduction in duplication of services. patterns and thus may help to ensure efficient and quality services. As more physician Group Practices provide comprehensive outpatient services by doing more of what traditionally are inpatient functions. laundry. which is achieved through linkages with both the consortium management and other affiliated hospitals. etc.833 1. diagnostic equipment Laundry Pharmacy Cardiology Services Rehabilitation/physical therapy Psychiatric Respiratory Therapy Home Care Materials Management 6. Being large and highly capitalized. formal contractual associations. Indications are that these multhihospital systems will continue to expand as regulations and competition increases. alliances that bring independent organizations together to share and cooperatie in solving problems. shared or cooperative services. laboratory. corporate ownership with separate management. planning and programming. howcvcr fees will be based on capitated rates based on patient days or the number of enrolees. contract management. This growth has been Cermin Dunia Kedokteran. 90. Mergers Mergers by acquisition are when two entities merged to become one. medical evaluation. 1994 . further eroding traditional source of inpatient revenue. 1993 issue growing trend for this mode of service as evidenced by the reveals increased number of contracts : 1992 1991 Food Service Hospital-based Emergency Housekeeping Clinical. Mariott Management Services. Multihospital Systems Some hospitals have turned to multi-institutional alliances in an effort to stem the adverse influence of prospective payment and competition. are memberhsip organizations with full time staff devoted to joint 82 5. contract management companies can deliver their services more efficiently and cheaper. alcohol and drug rehabilitation. Two organizations are integrated into one single legal body with one sole corporate board. food services to contracting hospitals.performed on an outpatient basies. A survey published by Modern Health care August 30. retirement and benefit expenses. emergency room staffing. complete ownership.

Diversification into nonhospital markets provides additional financial stability to systems.. 2) lncreased Efficiency and Economics of Scale Systems realize savings through mass purchasing. Economic Benefits 1) Access to Capital The financial institutions. Furthermore. suffered from poor management and inadequate funds. $1 in equity may raise $15 or $20. Major advantages for the government entity : • Management contracts or lease by multi-hospital bring the benefits of resource-strong organizations such as highly skilled professionals. System uses highly skilled and highly experience personnel than independent hospitals. investor-owned systems may raise capital through the issuance of stock which means the cost of funds are low. Edisi Khusus No. As a result shareholders equity in the largest four investor-owned multihospital systems quadrupled during 1977 to 1981. They are frequently forced to compete for funds with other equally i mportant government social programs. Major theme in their strategic response has to do with networking or affiliation with larger organizations. • Compliance with disclosure laws. planning and organizational benefits. from an aggregate of $461 million to $1. Their problems include inadequate funding. liability and pension and employee benefits. details of the level of staffing. burdened with the care of indigent. etc) • Assumption of labor. A report by the Insitution of Medicine. many statelegislatures have amended pertinent statutes to provide latitude for the disposition. On top of this. and to attract the increasingly important private pay patients. they are limited in their options in such areas as diversification. Washington states that a dollar invested in an investor-owned system has returned nearly 40 percent more in earnings than the average for other industries in recent years. Important consideration when considering the lease. • Contractual agreement/lease reduce the politics present in the management of government-controlled instituions. banks and nonbanks provide more favorable borrowing conditions to systems than to independent hospitals. Recognizing the need for greater flexibility on the part of public hospitals. economic benefits. 1994 83 . Acquisiton of public hospitals through lease or contract management can be attractive. • Clear accountability line to the governing authority. shortages of health care professionals. investor-owned systems pay taxes. Systems uses capital facilities and equipment more efficiently through sharing and specialization. (Continues obligation to provide indigent care. 330 rural hospitals were closed due to financial stress. They pay better compensation therefore attract skilled professionals. The financial performance of investor-owned system has been impressive. 8. Constrained by the peculiar nature of public hospitals. and high administrative turnover. Multi-institutions (both tax-exempt orinvestor-owned) are perceived as more stable therefore less risky because of their larger revenue. A study Cermin Dunia Kedokteran .3 percent per year. In summary. Investor-owned hospitals shows they provide care cheaper or equal to non-profit institutions. Investor-owned systems are constructing and acquiring freestanding nursing homes and psychiatric hospitals at a rate more than three times that for community hospitals. They lack the flexibility enjoyed by private facilities in raising funds. asset and equity bases. These prohibitions consequently limit the flexibility of public hospitals to participate financially with physicians or others in lucrative alternate delivery methods such as ambulatory surgical centers.achieved largely through the acquisition of independentinvestorowned hospitals. separate lines of business offer the potential of offsetting cash flow demands during the downturn of the hospital's business cyle. • Contracts/lease arrangements establish ahead of time the annual costs . lease. Systems are better able to spread risks among its units or member hospitals. facility deterioration. Public hospitals also face particulary acute problems in raising sufficient capital to make the renovations and plant improvements necessary to furnish an acceptable level of care. hours of operation. The major advantage of systems is their ability to finance capital purchases. of the solemn public interests. 90.facilitating precise government budgeting. At a minumum. contract or sale of public hospitals. rates. urgent care centers. In the US capital market. the terms of transaction must include the following itens : • Protection of the constituents. Diversification into non-hospital markets provides additional financial stability. Lower levels of average case cost Lower ALOS-tighter control of medical practice patterns Higher rates but not high labor costs Higher outputs Government-owned Hospitals* Public hospitals in the US. From 1980 to 1990. personnel management. and known organization development experience. contract managed of public hospitals. 3) System Diversification Profit from health and nonhealth lines of business provides a source of internal fund for financing new capitaLacquisitions. and diagnostic imaging centers. Empirical evidences indicates strong preference for system by capital markets. having stabilized or reduced costs.832 billion. the obvious economic benefits of multi institutional arrangements may be the following : • Abilityto afford specialized management talent • Standardization of supplies and equipment • Volume purchasing • Sufficient breadth and diversity to attract capital • • • • 7. economies of scale. Rural Hospitals* Rural hospitals in the US are in crisis. Major benefits offered by this model are :. The trend shows growing trend of investor-owned hospitals 10. joint ventures and so forth. to meet accreditat vn standards. both for the government entity and for the acquiring entity. breadth of service. System hospitals use fewer staff per bed than other systems.

and select the most fit organisational structure and program and redeftne its destiny. Two main forces are rearranging hospital system in the United States : President Bill Clinton's proposed managed competiton and prospective payment system. HMOs. effectiveness and cost efficiency.reengineeri ng 53% Strategic planning 55% Merger activity 15% These planning activities indicate that in order to redefine the US imperfect health care system two trends will emerge : • Increased used of competition to enhance market efficiency. — Integrating hospitals and physicians and provide incentive to contain hospital costs jointly through prospective payment system or capitation. In the final analysis. CONCLUSION Today. E. The race is on now in the United States for large-scale mergers. A survey published by hospitals & health networks of October 5.is the challenge hospital management must face with. AHA.done in 1988 showed the following strategic activities engaged by rural hospitals : Multi-hospital system affiliation 34% Consortium affiliation 30% PPO affiliation 27% HMO affiliation 22% Corporate restructuring 20% Ambulatory Service 17% Downsizing 15% • Facilitate integration — Integrating providers through. REFERENCES PLANNING AHEAD Expecting the worst. 1993 indicate the following hospital planning activities : Managed care planning 76% Expense reduction 74% Physician/hospital. organization 69% Affiliation with another hospital 62% Medical Staff development 59% Job. These realignment are in search of lower costs and higher operating efficiency for the same high level of care. commensureable responses from hospitals shall be evaluated for their appropriateness. doing the right thing at the right moment at the right place is what strategic management is all about. 2. 84 Cermin Dunia Kedokteran. Folger JC. may be the most effective tool available for the hospital management to span the entire horizon. to screen out excesses and inefficient hospitals. 90. hospitals in the US are stepping up planning. As Indonesia moves into the rank of the newly industrialized countries (NICs). integration among medical groups and integration between institutions. 1994 . health care organizations are intently concentrating on strategy formulation as the focal point of strategic planning. Frustee. affiliation. Strategic planning is a tool among many strategic planning I submit. The changes are forcing organizations to be innovative and flexible in their organizational structures and program offerings. 1. Edisi Khusus No.as opposed to the process. and networking to share and widen the risks and costs among many. Preston Coe. April 1993. Selecting a strategy with a view of defining a destiny . The use managed care models (PPOs. and achieve economies of scale resulting in lower costs. There is greater interest in the output of strategic planning strategies . AHA. Product Management for Hospitals. IPAs) which compete on price.

adanya terbatas. Bentuk teknologi dapat berupa perangkat keras (alat.menghilangkan atau mengurangi ancaman terhadap kelangsungan hidup. salah satu di antaranya adalah cara penggunaannya agar didapat manfaat yang sebesar-besarnya dan dihindari atau dikurangi dampak negatipnya. Soetomo. Dalam melaksanakan tugasnya sudah biasa dokter menggunakan teknologi. etik dan hukum. Apabila dijabarkan lebih rinci maka tujuan profesi dokter itu adalah : .mempertahankan kehidupan yang berkualitas baik (offer years of life of good quality). sosial. Idealnya tujuan tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut ke tingkat yang dapat diukur dengan objektif. Dalam upaya itu digunakan teknologi. . Jakarta . salah satu bentuk teknologi itu adalah alat. II. Pada waktu ini ukuran yang lazim dipakai walaupun tidak sempurna adalah angka kematian (diukur dari arah lain adalah survival rate) dan angka kesakitan. Untuk itu dilakukan upaya-upaya preventif. Pada dasawarsa akhir-akhir ini banyak dikembangkan dan digunakan Alat Kedokteran Canggih (AKC). . AKC mempunyai beberapa ciri. akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita ". Surabaya Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita (Sumpah dokter).kuratif dan rehabilitatif. 21 — 25 November 1993. sarana) Cermin Dunia Kedokteran. Makalah ini mencoba untuk menguraikan dan mengajukan saran bagaimana meningkatkan efektivitas pemilihan dan penggunaan AKC. 1. Jika itu dapat dilakukan maka penggunaan AKC dapat dinilai dalam arti apakah tujuan itu dapat dicapai. 1994 855 . B) Manfaat dan Masalah 1) Pengertian dan jenis teknologi Ada berbagai pengertian dan pembagian teknologi. Mempunyai dampak tidak saja pada bidang kesehatan tetapi juga pada ekonomi (biaya). Karena ciri-ciri AKC tersebut timbul perbedaan pendapat tentang AKC ini. Harganya biasanya mahal. 90. Perbedaan pendapat itu meliputi berbagai bidang. promotif. AKC SEBAGAI SARANA A) Tujuan profesi dokter Landasan dan tujuan profesi dokter pada tingkat yang umum dinyatakan dalam salah satu butir lafal sumpah dokter: "Saya Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. salah satunya adalah AKC. PENDAHULUAN Landasan dan tujuan profesi dokter – seperti yang dinyatakan pada salah satu butir lafal sumpah dokter – tidak pernah berubah yaitu "Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita ". Pada makalah ini digunakan pengertian dan pembagian sebagai berikut : Teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan atau temuan dalam praktek sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.Manfaat Alat Kedokteran Canggih dalam Pengembangan IPTEK di Indonesia Berbagai Upaya untuk Meningkatkan Efektivitas Pengembangan Pemilihan dan Penggunaan Alat Kedokteran Canggih Karjadi Wirjoatmodjo Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Edisi Khusus No.mencegah atau mengurangi kecacadan.

metoda. 2) Dampak AKC/Teknologi Canggih Penggunaan AKC mempunyai dampak yang luas yang dapat positip atau negatip : dampak di bidang kesehatan dampak di bidang ekonomi dampak di bidang sosial dampak di bidang etika dan hukum. Di samping itu dokter spesialis urologi yang dulu memakai ESWL itu pindah ke rumah sakit lain. demam. Pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata sudah terjadi kerusakan otak berat dan mati batang otak. Dari uraian di atas jelas bahwa AKC adalah salah satu dari bentuk teknologi. prosedur) bahkan ada juga yang memasukkan jenis ketenagaan (brain ware). Namun karena jumlah pasien sedikit dan belum ada dokter spesialis bedah jantung. tampaknya bayi mulai kesulitan untuk mendapat oksigen ditandai dengan nadi 180/menit. Edisi Khusus No. Hasilnya penderita berkepanjangan bagi pasien dan keluarganya. Hasil. • Seorang anak umur 8 bulan. Di suatu Rumah Sakit dipasang CT Scan. Di satu rumah sakit dibeli alat rontgen angiograf yang dapat • memeriksa pembuluh darah koroner. – Diperkirakan bahwa di Amerika dikeluarkan biaya 100 milyar dolar US per tahun untuk penggunaan AKC atau tekno- Cermin Dunia Kedokteran. Pada pemeriksaan dengan CT Scan didapat perdarahan otak (perdarahan epidural). Dampak di bidang sosial adalah antara lain pengaruh AKC pada perilaku dokter dan perilaku masyarakat. beberapa kali pingsan. teknik. • Seorang dewasa muda jatuh dari sepeda motor. Di dalam bidang kesehatan. Kesimpulan: pengadaan AKC harusnya disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kemampuan rumah sakit. • Di rumah sakit itu banyak pasien wanita. ada dokter spesialis radiologi. penentuan kematian. Kesimpulan: apabila pengadaan AKC antar rumah sakit tidak ditata investasi AKC itu dapat merugikan. sehat dan hidup produktif. Setelah diberi penjelasan orang tua menolak saran agar respiratornya dilepas. Dipasang alat pacu jantung internal. Dilakukan bedah cesar. Pada pemeriksaan CT Scan terdapat perdarahan kepala yang perlu segera dioperasi. • Seorang dewasa muda aktif bekerja. 3) Contoh konkrit Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh konkrit kasus-kasus individual dalam bidang kesehatan untuk dapat lebih memahami manfaat dan masalah penggunaan AKC/teknologi canggih. Demikian juga dapat dibedakan teknologi untuk pencegahan dan teknologi untuk pengobatan/penyembuhan. 4) Pihak yang berkepentingan Banyak pihak berkepentingan untuk pengadaan AKC. Contoh-contoh konkrit di atas yang diambil dari keadaan riil menunjukkan bahwa AKC dapat membawa manfaat tetapi juga dapat menimbulkan masalah. 86 Pernapasan buatan dilakukan terus sampai lebih kurang 1. penggunaan alat tersebut sangat sedikit dan pasien-pasien tak dapat diberi terapi/tindakan sampai tuntas. investor. masyarakat. Hasil. bayi dilahirkan hidup dan sehat. Dilakukan . Hasil dari kekuatan tersebut di atas menyebabkan adanya AKC dan penggunaannya dapat berbeda antara berbagai negara. Halhal yang dapat mempengaruhi pengadaan AKC itu antara lain: media cetak/elektronik. Dipasang alat napas (respirator). Seorang ibu hamil pertama mengalami keterlambatan 3 hari • dari hari perkiraan persalinan. dokter spesialis bedah umum yang dengan alat rontgen untuk mamografi dapat menemukan tahap dini kanker payudara dan sekaligus melakukan pembedahan. Dilakukan non stress test untuk mengetahui keadaan bayinya. • Di satu rumah sakit ada alat ESWL (pemecah batu ginjal) yang ternyata tidak banyak dipakai. Tetapi kemudian banyak rumah sakit sekitar membeli ESWL. dan biaya. Uri (placenta) mulai mundur fungsinya. – Jumlah alat CT Scan per 1. Dampak di bidang kesehatan dapat berupa manfaat/kesembuhan (effectiveness).5 tahun sampai respirator tersebut rusak total. orang tersebut embuh. Direktur Rumah Sakit tersebut menceritakan bahwa mula-mula ESWL itu pemakaiannya baik (optimal). Dampak di bidang hukum dan etika berupa ketidak pastian atau ketidak siapan seperti pada masalah bayi tabung.perangkat lunak (cara. dapat berupa perangkat lunak seperti prosedur medik atau prosedur bedah. 1994 . teknologi dapat berupa perangkat keras seperti Alat Kedokteran Canggih. pembedahan otak. dan kerugian bagi pasien lain yang membutuhkan respirator.000 penduduk di Inggris (UK) hanya 1/6 dari jumlah di USA. tidak sadar. Para dokter dapat mengalami "ketergantungan" pada AKC. kejang-kejang. • Pada suatu hari ada kecelakaan dengan ruda paksa kepala. pasien.000. orang tersebut sembuh. obat. Namun karena di rumah sakit tersebut tidak ada staf dokter spesialis bedah saraf. Pada pemeriksaan didapat gangguan pada pacu jantungnya (Sick Sinus Syndrome). penyulit/bahaya (safety). Dampak di bidang ekonomi secara makro dapat berupa kenaikan pada anggaran/biaya kesehatan. muntah dan aspirasi berat. Kesimpulan: adanya AKC saja tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan tim kesehatan yang diperlukan. sehat dan dapat bekerja produktif. Motivasi pengadaan AKC dapat positip semata-mata untuk menolong pasien. sebagai contoh : – Bypass pembuluh koroner (CABG) di Amerika dilakukan 6 x lebih sering dari pada di Inggris (UK) walaupun angka kejadian penyakit jantung koroner di kedua negara itu lebih kurang sama. operasi tidak dapat segera dilakukan. Masyarakat dapat menuntut atau menolak adanya AKC. dokter. Hasil. Tetapi motivasi dapat juga negatip seperti status simbol untuk dokter spesialis. rumah sakit. keuntungan untuk investor atau industri AKC. 90. industri AKC dan lain-lain. Pembagian lain dalam teknologi kesehatan adalah teknologi untuk primary care (biasa digunakan dokter umum) teknologi untuk secondary care (biasa dipakai para dokter spesialis) dan teknologi untuk tertiary care (biasa dipakai para dokter super spesialis). alat bersaing untuk rumah sakit.

1974 — Professional Standards Review Organization (PSRO) —Utilization Review Committees (URC) — Certificate of Need Law — Health Planning and Resource Development Act 1975 Health Care Program dari NIH (National Institute of Health) 1976 — The Medical Devices Law — Bureau of Quality Assurance — Bureau of Health Insurance 1978 — National Center for Health Care Technology. keamanan. Pengukuran hasil (outcome assessment) pada AKC/ teknologi canggih Sebagaimana diuraikan di atas tujuan umum dari penggunaan AKC/teknologi canggih adalah : a) mengurangi atau meniadakan ancaman terhadap kelangsungan hidup (remove the threat of death). pertumbuhan. III. Proses yang sistimatik semacam itu pada AKC/teknologi canggih belum ada. Kesulitan yang dihadapi antara lain : merumuskan tolok ukur yang objektif dan mudah dinilai. Masalah umum pada penggunaan AKC/teknologi canggih adalah menemukan indikasi yang tepat dalam arti kondisi pasien yang tepat untuk AKC/teknologi canggih tersebut dalam kata lain bagaimana menggunakan AKC/teknologi canggih secara rasional. LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENINGKATKAN MANFAAT DAN MENGURANGI MASALAH PADA PENGGUNAAN AKC/TEKNOLOGI CANGGIH 1) Perbandingan pengembangan AKC/teknologi canggih dengan pengembangan obat Langkah-langkah pengembangan obat jauh lebih sistimatik dibandingkan dengan pengembangan AKC/teknologi canggih mungkin karena sudah lebih lama terjadi atau karena lebih sederhana. 1) Percobaan efektivitas 2) Percobaan keracunan jangka pendek 3) Percobaan keracunan jangka panjang 4) Percobaan teratogenicity ( menimbulkan cacad) 5) Percobaan carcinogenicity (menimbulkan kanker). 1994 87 . kemudian penurunan. 5) Kriteria pemilihan AKC/teknologi canggih Mengingat masalah-masalah yang dapat timbul seperti di atas maka untuk mendapat manfaat yang sebesar-besarnya dan mengurangi masalah sehingga sekecil-kecilnya. penelitian dapat dihentikan atau obat dapat ditarik dari pasaran. Upaya untuk pengukuran hasil ada namun belum cukup dan belum sistimatik. Contoh dari upaya semacam itu adalah The European Coronary Surgery Group (1979–1982) yang berusaha menilai hasil jangka pendek dan jangka panjang operasi. Pada penggunaan AKC/teknologi canggih ada pola 4 tahap yang mirip dengan daur hidup satu produk (product life cycle) yaitu tahap-tahap permulaan. b) mengurangi kecacadan (reduce disability). pemakaian pada pasien umum secara lebih luas. Dapat disimpulkan ada beberapa pola hasil untuk golongan pasien tertentu.logi canggih yang sebenarnya tidak diperlukan. Namun yang dapat diukur adalah yang pertama dengan menghitung angka kelangsungan hidup (survival rate) atau angka kematian (death rate). juga penilaian sistimatik yang berkaitan dengan penggunaan AKC/teknologi canggih secara tepat (appropriate use). efisiensi. Edisi Khusus No. b) Pendekatan kesepakatan NIH mengadakan Consensus Development Program. Bagan sederhana proses pengembangan obat-obat adalah sebagai berikut : A) Tahap percobaan binatang. peraturan-peraturan atau badan-badan yang bertujuan untuk menata AKC/teknologi canggih : 1972 — Office of Technology Assesment dari Kongres Amerika. c) memperpanjang hidup dengan kualitas yang baik (offeryear of life of good quality): 2) Harapan yang ada adalah tercapainya ketiga tujuan tersebut. Contoh pada bypass koroner (CABS) dinyatakan bahwa pada kelompok pasien tertentu (selected group of patients) peluangnya 90% untuk perbaikan dalam latihan tanpa nyeri (pain-free exercise). 2) Fase II pada orang sakit tertentu 3) Fase III pada pasien umum tertentu dengan RCT (Randomized Clinical Trial) 4) Fase IV penelitian pasca pemasaran. Upaya-upaya ini berbentuk pembuatan undang-undang. Namun tampaknya cara penataan yang efektif dan efisien belum ditemukan. Misalnya WHO Wilayah Eropa membuat kebijakan bahwa sebelum tahun 1990 semua negara anggota sudah harus mempunyai mekanisme yang formal untuk melakukan penilaian yang sistimatik yang berkaitan dengan efektivitasnya. kejenuhan. upaya untuk menata pemilihan dan penggunaan AKC/teknologi canggih sudah dicoba di negara-negara maju. B) Tahap penelitian pada manusia 1) Fase I pada orang sehat. padahal apa artinya hidup apabila cacad atau kualitasnya tidak baik. 90. Peraturan dan badan-badan tersebut tampaknya masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Pada CTscan dinyatakan hanya pada kelompok pasien yang terbatas ada kemungkinan manfaat dalam arti perbaikan hasil (there are only limited group of patients likely to benefit in terms of improved outcome). penerimaan (acceptability) dengan memperhatikan kebijakan kesehatan nasional dan kendala yang ada. Program ini masih berjalan walaupun ada yang meragukan keberhasilannya. program ini bahkan meluas Cermin Dunia Kedokteran. hasil yang pertama tahun 1977. a) Pendekatan pengaturan Di bawah ini diberi contoh apa yang telah dilakukan di Amerika. sukar melakukan randomized clinical trial seperti pada obat. Pada tiap fase itu apabila terdapat hasil-hasil/gejalagejala yang merugikan. 3) Pengalaman dan pemikiran upaya penataan Dari uraian di atas jelas bahwa agar didapat manfaat yang sebesar-besarnya dan masalah yang sekecil-kecilnya AKC dan teknologicanggih perlu ditata. sedikitnya data yang ada untuk dianalisis.

90. Demikian juga dapat dibedakan teknologi untuk pencegahan dan teknologi untuk pengobatan/penyembuhan. Contoh-contoh konkrit di atas yang diambil dari keadaan riil menunjukkan bahwa AKC dapat membawa manfaat tetapi juga dapat menimbulkan masalah. Namun karena di rumah sakit tersebut tidak ada staf dokter spesialis bedah saraf. Di dalam bidang kesehatan. sehat dan hidup produktif. orang tersebut sembuh. investor.5 tahun sampai respirator tersebut rusak total. Masyarakat dapat menuntut atau menolak adanya AKC. bayi dilahirkan hidup dan sehat. 2) Dampak AKC/Teknologi Canggih Penggunaan AKC mempunyai dampak yang luas yang dapat positip atau negatip : dampak di bidang kesehatan dampak di bidang ekonomi dampak di bidang sosial dampak di bidang etika dan hukum. industri AKC dan lain-lain. Pada pemeriksaan dengan CT Scan didapat perdarahan otak (perdarahan epidural). dan biaya. prosedur) bahkan ada juga yang memasukkan jenis ketenagaan (brain ware). dokter spesialis bedah umum yang dengan alat rontgen untuk mamografi dapat menemukan tahap dini kanker payudara dan sekaligus melakukan pembedahan.perangkat lunak (cara. Halhal yang dapat mempengaruhi pengadaan AKC itu antara lain: media cetak/elektronik. Para dokter dapat mengalami "ketergantungan" pada AKC. teknik. sebagai contoh : – Bypass pembuluh koroner (CABG) di Amerika dilakukan 6 x lebih sering dari pada di Inggris (UK) walaupun angka kejadian penyakit jantung koroner di kedua negara itu lebih kurang sama. Uri (placenta) mulai mundur fungsinya. • Seorang dewasa muda aktif bekerja. Edisi Khusus No. 4) Pihak yang berkepentingan Banyak pihak berkepentingan untuk pengadaan AKC. Hasilnya penderita berkepanjangan bagi pasien dan keluarganya. keuntungan untuk investor atau industri AKC. Dari uraian di atas jelas bahwa AKC adalah salah satu dari bentuk teknologi. Dilakukan non stress test untuk mengetahui keadaan bayinya. sehat dan dapat bekerja produktif. pasien. Dipasang alat pacu jantung internal. Pada pemeriksaan didapat gangguan pada pacu jantungnya (Sick Sinus Syndrome). • Seorang dewasa muda jatuh dari sepeda motor. Tetapi motivasi dapat juga negatip seperti status simbol untuk dokter spesialis. Hasil. Hasil. – Diperkirakan bahwa di Amerika dikeluarkan biaya 100 milyar dolar US per tahun untuk penggunaan AKC atau tekno- Cermin Dunia Kedokteran. Di suatu Rumah Sakit dipasang CT Scan. obat. ada dokter spesialis radiologi. Dampak di bidang sosial adalah antara lain pengaruh AKC pada perilaku dokter dan perilaku masyarakat. Dilakukan . penggunaan alat tersebut sangat sedikit dan pasien-pasien tak dapat diberi terapi/tindakan sampai tuntas.000. pembedahan otak. Tetapi kemudian banyak rumah sakit sekitar membeli ESWL. metoda. masyarakat. tidak sadar. Dipasang alat napas (respirator). Kesimpulan: apabila pengadaan AKC antar rumah sakit tidak ditata investasi AKC itu dapat merugikan. dokter. • Di rumah sakit itu banyak pasien wanita. kejang-kejang. teknologi dapat berupa perangkat keras seperti Alat Kedokteran Canggih. alat bersaing untuk rumah sakit. – Jumlah alat CT Scan per 1. • Di satu rumah sakit ada alat ESWL (pemecah batu ginjal) yang ternyata tidak banyak dipakai. Namun karena jumlah pasien sedikit dan belum ada dokter spesialis bedah jantung.000 penduduk di Inggris (UK) hanya 1/6 dari jumlah di USA. Dilakukan bedah cesar. • Pada suatu hari ada kecelakaan dengan ruda paksa kepala. Kesimpulan: pengadaan AKC harusnya disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kemampuan rumah sakit. Pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata sudah terjadi kerusakan otak berat dan mati batang otak. Kesimpulan: adanya AKC saja tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan tim kesehatan yang diperlukan. penyulit/bahaya (safety). Hasil dari kekuatan tersebut di atas menyebabkan adanya AKC dan penggunaannya dapat berbeda antara berbagai negara. Dampak di bidang hukum dan etika berupa ketidak pastian atau ketidak siapan seperti pada masalah bayi tabung. • Seorang anak umur 8 bulan. demam. 86 Pernapasan buatan dilakukan terus sampai lebih kurang 1. 1994 . Hasil. tampaknya bayi mulai kesulitan untuk mendapat oksigen ditandai dengan nadi 180/menit. dapat berupa perangkat lunak seperti prosedur medik atau prosedur bedah. Di satu rumah sakit dibeli alat rontgen angiograf yang dapat • memeriksa pembuluh darah koroner. muntah dan aspirasi berat. orang tersebut sembuh. Pada pemeriksaan CT Scan terdapat perdarahan kepala yang perlu segera dioperasi. Motivasi pengadaan AKC dapat positip semata-mata untuk menolong pasien. beberapa kali pingsan. Seorang ibu hamil pertama mengalami keterlambatan 3 hari • dari hari perkiraan persalinan. penentuan kematian. rumah sakit. operasi tidak dapat segera dilakukan. Setelah diberi penjelasan orang tua menolak saran agar respiratornya dilepas. Direktur Rumah Sakit tersebut menceritakan bahwa mula-mula ESWL itu pemakaiannya baik (optimal). Pembagian lain dalam teknologi kesehatan adalah teknologi untuk primary care (biasa digunakan dokter umum) teknologi untuk secondary care (biasa dipakai para dokter spesialis) dan teknologi untuk tertiary care (biasa dipakai para dokter super spesialis). dan kerugian bagi pasien lain yang membutuhkan respirator. 3) Contoh konkrit Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh konkrit kasus-kasus individual dalam bidang kesehatan untuk dapat lebih memahami manfaat dan masalah penggunaan AKC/teknologi canggih. Dampak di bidang kesehatan dapat berupa manfaat/kesembuhan (effectiveness). Di samping itu dokter spesialis urologi yang dulu memakai ESWL itu pindah ke rumah sakit lain. Dampak di bidang ekonomi secara makro dapat berupa kenaikan pada anggaran/biaya kesehatan.

Priority Research For Health For A11. 6) Komunikasi yang terbuka dengan masyarakat perlu lebih dikembangkan sehingga akan terjadi kesamaan persepsi yang memudahkan timbulnya kesepakatan dan dicegah timbulnya konflik-konflik yang merugikan. 3) Perlu dipelajari penataan AKC/TKC dari negara-negara lain dan diterapkan metoda-metoda yang ternyata berhasil sebagai contoh program pengembangan konsensus. nyai dampak yang luas di luar bidang kesehatan seperti bidang sosial. hukum dan etik. : 5. Edisi Khusus No. Hal lain yang perlu diupayakan adalah agar komunikasi terbuka antara profesi dokter dengan berbagai pihak di masyarakat lebih diperluas. 3. 90. hukum dan etika. 1988. RINGKASAN DAN PENUTUP 1) AKC/teknologi kedokteran canggih (TKC) dapat mempu- Cermin Dunia Kedokteran . Karjadi Wirjoatmodjo. 2. Anestesiologi sebagai contoh pengkajian. Jika AKC digunakan sebagai alat verifikasi untuk mengecek keluhan dan gejala klinis maka untuk penyakit-penyakit tertentu dapat dirumuskan diagnosis klinik yang mempunyai positive predictive value yang tinggi. 2) Selain membawa manfaat AKC/TKC dapat juga menimbulkan masalah. 1988. WHO Regional Office For Europe. 1994 89 . ekonomi. 4) Perlu dikembangkan jaringan informasi tentang AKC/TKC 5) Penggunaan AKC/TKC perlu diarahkan untuk pengembangan AKC/TKC di Indonesia. Jennett B. New York : Oxford Medical Publ. e) Perkembangan pada masa yang akan datang Dari segi metoda model yang diuraikan pada butir III/3g dapat secara bertahap dikembangkan. Research Policies For Health For Al1. 4. Pidato pengukuhan 1991. Oxford. 2) Pengembangan ketrampilan klinis Jika AKC digunakan sebagai "substitusi" pemeriksaan klinik yang kan terjadi adalah ketergantungan pada AKC. Dengan demikian akan terjadi keserasian dan kesepakatan antara kelompok profesi dokter dengan kelompok-kelompok lain dan masyarakat. V. Ini perlu mengingat AKC/teknologi canggih sering mempunyai dampak di luar kesehatan seperti bidang sosial. Berger Son. 1988. ekonomi.pemeriksaan sebagai gold standard dikembangkan teknologi yang lebih murah dan lebih sederhana. New York Avon. KEPUSTAKAAN 1. Tantangan pada dunia kedokteran pada era pembangunan jangka panjang II. WHO Regional Office For Europe. 1988. What your doctor did not learn in medical school. High Technology Medicine : benefits and burdens.

The consequence was a very high level of under utilisation of equipment and subsequent lack of return on investment. necessary. Once entered upon. radiotherapy unit. it is not easy to change emphasis or direction without significant financial penalty. The strategy involving say cardiac diagnostic services are equally potentially capital intensive but the working life of the equipment is much shorter and the requirement for upgrades more frequent. A consequence of the investment strategy adopted is that it will define the type of clinician that the hospital attracts. 90. Jakarta 21 — 25 November 1993 MARKETING AND ITS ROLE IN DEFINING THE INVESTMENT STRATEGY In marketing terms there are basically three strategies that are followed by hospitals. it was upon the request of a particular doctor rather than in terms of a clearly thought through strategy linking clinical service development with market needs. For example. This decision is in large part decided by defining the type and level of clinical services that a hospital elects to offer to the community that it is servicing. these levels of utilisation are not only not commercially viable they reflect a poor understanding of the cost of capital and the notion of opportunity cost of capital. cardiac catheterisation laboratories performing twenty angiograms a month.The Role of Marketing in Determining the Technology of a Hospital John Popper BACKGROUND Amongst the more difficult decisions a hospital administrator has to grapple with is that of defining the investment strategy that the hospital should pursue. not upgrade. Earlier this year I surveyed thirteen private hospitaIs here in Jakarta and found that in fact virtually all were pursuing an undifferentiated strategy. Clearly the best financial returns are to be achieved by adopting either a market leader approach or in filling a niche opportunity with a particular clinical service or suite of services. if oncology services were to be offered then once the primary decision has been made the investment strategy becomes self determining. Lithotripsy units servicing two or three patients a week. cobalt unit and ancillary chemotherapy facilities. Where investment in specialised technology had been made. and the level of specialisation that it pursues. Money invested in these capital intensive. namely : • Undifferentiated • Niche • Market leader These three strategies can be expressed in graphical form relative to return on investment. Cardiac equipment normally has a working life of some six to bwecoiml eight years in total before replacement. Edisi Khusus No. The investment requirement though high at setup stage has a low recurrent capital requirement in terms of upgrade demands allied to long life expectancy of the equipment. low utilisation technologies offer no payback to the 90 Cermin Dunia Kedokteran. 1994 . A basic technology configuration would be two linear accelerators plus a simulator. and retains. Presented at the Vlth Congress of the Indonesian Hospitals Association & Hospital Expo. A life expectancy that is measured in terms of ten years or better.

They are those of target market demand e. systematically applied these frameworks offer considerable predictive capabilities for the astute administrator. demand considerations are there any other issues such as restriction of the number of clinicians or technicians associated with operating the technology? Is this a limiting resource? • What are the lead times involved for a competitor follow you into the market? • If your hospital entered the market with the proposed service would it make it nonviable for a competitor to set up in competition? These sorts of considerations need to be individually answered. Edisi Khusus No. business acquisition To assist in these sorts of analyses a number of different frameworks are useful. especially if it is based on a combination of corporate culture and technologies • Be focussed on meeting a perceived need by the hospital's customers namely the doctors. Once an investment strategy has been defined and embarked upon marketing concepts also help to define how a hospital should position itself relative to competitors. In order to assess the threat of rivalry issues that impact on the attractiveness of an opportunity are considered such as threat of entry into the marketplace. two. A core competence should : • Be difficult for competitors to imitate. The second situation analysis needs to also be undertaken. It is through economies of scale that technology becomes viable and thus allows a hospital to build profitability.g. or actual. patients. Indeed. or contemplating doing so? • If so. that is to say those things that a hospital does that gives it a sustainable competitive advantage over a competitor. To formulate considerations about whether or not a potential investment in a new service is likely to be attractive Porter's Industry Attractiveness Model is very useful to guide analysis. A third model that is of particular value in terms of developing responses to market opportunities considers the attractiveness of that market relative to its strategic value to the hospital. 90. or. The model has as its core the need to predict the degree of rivalry a business could be predicted to experience. Cermin Dunia Kedokteran .investors and deny access to this money to other potentially viable projects that would yield a return on investment. They are built around the concept of a core competence. is the demand of sufficient level to be economic? • If the answer appears yes. Once investment has occurred. threat of substitution of the service or product and consideration of the relative roles of suppliers and customers in i mpacting on the business. or three areas of clinical service that your hospital is able to offer at a level of excellence that is not readily imitated by a competitor. • Is there a market for the service under consideration? • If so. is the market big enough for two or more players. By performing this type of strategic value analysis it helps a hospital administrator to determine their marketing initiatives. is that demand sustainable? Affirmative answer to these questions still should not lead to an investment in the proposed technology yet though. 1994 91 . Those one. This is a very comprehensive framework and leads to wide ranging considerations about the potential marketplace and its structure. SUMMARY The intention of each hospital should be to develop two or three distinctive clinical competencies that give it a sustainable competitive advantage over other facilities and from which it can therefore achieve economies of scale for those clinical services. This being the case : • What are the responses of a competitor likely to be? • Are they also investing in similar technologies. Ansoffs product/market grip offers a useful framework from which to consider existing products and markets and potential new ones. Marketing frameworks encourage consideration of two major aspects that should underpin any investment considerations. In discussing with hospital administrators how these investment decisions were made it was clear that market demand and payback analyses were not performed with any discipline but rather the decisions tended to be made based on intuion and blind faith. that of consideration of competitor positioning. can your facility gain a sustainable competitive advantage relative to the proposed technology? • Apart from market. marketing models help define how to position and develop a hospital's clinical products and how to respond to changes in competitor behaviour. Marketing concepts allow a clear framework to be applied to the decision making process in an objective and rational manner in determining which technologies a hospital should invest in. It is a truism that if you can see an opportunity in the marketplace so can a competitor. visitors and staff • Be a basis for potential. By using this model it helps focus a hospital's marketing efforts and place them in a context that investors and staff can understand.

sertaefisiensi dan efektifitas agar tercapai pelayanan kesehatan yang me- 92 Cermin Dunia Kedokteran. 1994 . hari rawat (LOS) yang terpalu panjang. Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. Perkembangan dan peranan rumah sakit semakin pesat terutama di daerah perkotaan. duplication.Rumah Sakit dan Asuransi Kesehatan Suatu Perbandingan Sonja Roesma Direktur Utama PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia Pada dasarnya lahir dan berkembangnya asuransi kesehatan di BUMN miliki Departemen Kesehatan adalah dalam mengikuti perkembangan industri kesehatan. Pada tahun 1984 berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berIaku tidak memungkinkan lagi keberadaan "Badan " di luar struktur Departemen maka BPDPK dirubah menjadi suatu Perusahaan Umum di lingkungan Departemen Kesehatan yaitu Perum Husada Bhakti. 21 — 25 November 1993. Melalui PERSI PT Askes mengharapkan kerja sama dengan rumah sakit dalam mencapai tujuan akhir bersama yaitu peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia dengan peningkatan Etika. Dalam menangani asuransi kesehatan di Rumah Sakit ditemukan berbagai masalah. Asuransi Kesehatan jika diselenggarakan secara luas dapat menjadi subsistem pembiayaan kesehatan. kapitasi dan sistem paket di samping bentuk tradisional fee for service. Di samping itu dengan berubah status menjadi BUMN memudahkan dalam pengolahan dana guna mengembangkan serta meningkatkan pelayanan. Dalam masa tersebut fungsi rumah sakit mengalami perubahan. dan pengendalian bersama. yang dulu bersifat sosial dan samaritan yang dikembangkan lembaga keagamaan seperti Misi dan Muhammadiah. PT Askes telah menerapkan prinsip asuransi kesehatan di Rumah Sakit ditemukan berbagai masalah. Sumbangannya pada peningkatan dan pemulihan kesehatan tidak dapat dibntah. Jakarta. Hanya Rumah Sakit Pemerintah sesuai dengan misinya masih menjalankan fungsi sosialnya dengan tarip yang relatif murah. QualityAssurance. antara lain belum tersedia dan belum dilaksanakannya SOP pelayanan kesehatan di sebagian besar rumah sakit. Suatu penelitian di USA mememukan bahwa 30% dari pembiayaan kesehatan adalah adalah waste. serta adanya moral hazard. PT Askes telah menerapkan prinsip asuransi dan akuntansinya masih menggunakan cash basis. Pada tahun 1992 Perum Husada Bhakti berubah menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia. penggunaan obat yang tidak rasional. Di luar negeri juga telah dikembangkan DRG (Diagnostic Related Group). terutama di Rumah Sakit Pemerintah. fraud and abuse. Dibentuk sebagai Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK) pada tahun 1968 untuk menangani pengobatan pegawai dan keluarganya yang tidak dapat lagi ditanggulangi oleh APBN maka dengan KEPRES ditetapkan bahwa pegawai negeri harus membayar premium sebesar 2% dari gaji pokoknya. namun biaya pelayanan kesehatan Askes meningkat 17% per tahun. dan akan mengurangi beban Pemerintah sehingga dapat mengalihkan perhatiannya ke kesehatan masyarakat. Setiap tahun sekitar 9% peserta Askes yang mengunjungi Puskesmas dirujuk ke Rumah Sakit. sebaliknya biaya pelayanannya semakin meningkat dan impersonal. Edisi Khusus No. Dalam memudahkan administrasi dikenal berbagai bentuk pembiayaan seperti sistim anggaran (budget system). sekarang telah menjadi lembaga sosioekonomi bahkan menjadi profit centers. Masalah prinsip lainnya adalah masalah mutu. 90.

Biaya kesehatan per kapita per tahun Jepang adalah US $ 515. USA no.pada tahun 1982 menjadi 2. Thailand no.00. antara lain teknologi canggih di rumah sakit yang berlebihan. biaya rumah sakit merupakan 60% dari seluruh biaya kesehatan (pemerintah 27%. Kenaikan yang sangat dramatis terjadi di rumah sakit yaitu rata-rata biaya kamar per hari tahun 1980 adalah US $ 127. 1. kecuali USA.1 (1985) dan untuk periode 1985 . bahkan diobservasi bahwa tingkat kesehatannya hampir tidak berubah.00 pada tahun 1980 menjadi US $ 2. sanitasi.1990 adalah 7. namun bagi dirinya berlaku prinsip ekonomi : yang bersangkutan ingin membayar serendah mungkin. kalau perlu menggunakan surat miskin tetapi mendapat pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia tertera sebagai nomor 108 berdasarkan HDI (Human Development Index) yang meliputi angka harapan hidup.5% Rp.92.00 menjadi US $ 297. ke 112 (1980) lalu ke 71 (1985) dan menjadi 65 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1991. • Pemerintah telah berusaha agar seluruh masyarakat dapat memperoleh pelayanan yang dilakukan dengan memberi akses pada Puskesmas dan Posyandu serta Rumah Sakit yang dapat dibiayai melalui Dana Sehat (tingkat Puskesmas) dan sampai Rumah Sakit tipe A melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat/JPKM (UU No.5% GNP pada tahun 1990. Seandainya ia masuk asuransi kesehatan keinginannya adalah kebebasan berobat ke mana saja dan dibiayai untuk apa saja.00 pada tahun 1990. 43 dan Brunai Darussalam no. Tahun 1986 di Indonesia 78% dari total pembiayaan kesehatan digunakan untuk pengobatan. Angka kematian bayi telah turun dari 142 promil (1971). Biaya rumah sakit merupakan 30. 92.2% GNP pada tahun 1990. 74. Semua sadar bahwa biaya ini merupakan suatu yang berlebihan tetapi tidak mengetahui berapa persen yang sia-sia. Investasi rumah sakit swasta yang mahal dengan harapan ROI nya kembali secepat mungkin.muaskan bagi peserta serta akan memberikan keuntungan ekonomis.5 di periode 1990 . baik bagi rumah sakit maupun bagi PT Askes.00 di Amerika Serikat angka ini adalah US $ 1. di samping adanya faktor inflasi serta sistem pembiayaan pelayanan kesehatan yang kurang mendukung.947.5 trilyun). Di Indonesia pembiayaan kesehatan per kapita per tahun adalah Rp. 44. Singapore no. Pada tahun 1991 pembiayaan kesehatan USA mencapai US $ 752 milyard (kira-kira Rp. sedangkan sektor pemerintah hanya 45% untuk pengobatan. 1.1995. Angka kematian bayi tahun 1959 adalah 29.9 dan menurun menjadi 7.6 dan 9. Ada tiga fakta yang terjadi secara universal yaitu : • Masyarakat mengetahui bahwa untuk memperoleh kesehatan ia harus membayar.7% dimana dalam kurun waktu '76-90' terjadi peningkatan program managed care yaitu program pemeliharaan kesehatah yang mengkaitkan sistim pembiayaan (prepaid & cost containment) dengan sistim pelayanan (pengendalian mutu). pembelian obat-obatan yaitu 30% dari seluruh biaya kesehatan pemerintah 18% dan swastalmasyarakat 40%) di mana kita mengetahui bahwa sebagian besar biaya obat-obatan ini merupakan penggunaan obat di rumah sakit. Canada no. Pembiayaan kesehatan terus menaik menjadi 14% GNP pada tahun 1992. Biaya kesehatan merupakan GNP.00 tahun 1990.7 (1971). • Baik pemerintah.7 tahun untuk wanita pada tahun 1990. Jika diperhatikan maka semua negara tersebut menjalankan asuransi kesehatan sosial.2% GNP tahun 1980 dan 12.9 tahun untuk laki-laki dan 66. menyebabkan pasien yang berada di posisi lemah terpaksa membayar berapapun tarif yang dikemukakan. Pembiayaan kesehatan terus meningkat bukan saja di negara maju tetapi juga di negara sedang berkembang termasuk juga Indonesia. 7. Biaya kesehatan per kapita pada tahun 1990 di Malaysia adalah US $ 67. 6 dan Australia no. Menurut Human Development Report 1993 (UNDP) urutan kemajuan negara berkembang. Patut dikemukakan bahwa negara yang rakyatnya paling baik kesejahteraannya berdasarkan HDI adalah Jepang no.00 (1980) menjadi US $ 687. Thailand US $ 73. 3 9 . PEMBIAYAAN KESEHATAN Masalah yang dihadapi hampir semua negara di dunia saat ini adalah meningkatnya pembiayaan kesehatan. 57. BIAYA PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT Kecenderungan naiknya biaya pelayanan kesehatan disebabkan berbagai hal. 23/92). Malaysia no. Di Amerika Serikat angka harapan hidup pada tahun 1950 adalah 68 tahun dan tahun 1990 menjadi 76 tahun (Jelang 79 tahun). Negara ASEAN lain lebih baik kedudukannya seperti Philipina no. serta penggunaan teknologi canggih yang berlebihan.851. menjadi 9. ini merupakan 6.2 menurun pada tahun 1980 yaitu 12. perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi (yang sebagian besar dapat dicegah) ke penyakit kardiovaskuler dan penyakit khronis lainnya serta peningkatan kasus-kasus katastrofik. 2. maupun perusahaan atau keluarga seyogyanya tidak dibebani dengan pembiayaan kesehatan yang tinggi yang terjadi akibat tarif pelayanan spesialistis yang semakin tinggi. 11. ratarata biaya perawatan per hari adalah US $ 245.00 (1990)..00 pada tahun 1980 naik menjadi US $ 1. Bila dibandingkan dengan negara lain angka ini lebih rendah.4% GNP tahun 1980 dan 6. Merupakan fakta pula bahwa walaupun biaya kesehatan meningkat tidak berarti bahwa kesehatanya meningkat.145. Angka harapan hidup telah meningkat dari 45 tahun untuk laki-laki dan 48 tahun untuk wanita pada tahun 1971 menjadi 62. Peningkatan kesehatan yang diukur dengan penurunan angka kematian ternyata bukan oleh pengobatan tetapi terutama disebabkan oleh faktor seperti gizi. swasta/masyarakat 37%).1 pada tahun 1990.566.000 tahun 1990.00 (1980) menjadi US $ 4. Dari biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh masyarakat/ swasta 92% adalah untuk pengobatan.267. Namun biaya pemeliharaan kesehatan di rumah sakit terus meningkat sehingga tidak terjangkau oleh mayoritas penduduk apalagi bagi 15% penduduk desa tertinggal. Angka kematian kasar di Indonesia telah menurun dari 18. air bersih dan rumah sehat serta pendidikan. GNP/Income Per Kapita dan aksara orang dewasa.00 (1990) dan rata-rata biaya per kasus adalah US $ 1.4% dari seluruh biaya pada tahun 1990 yaitu 43.630. 24.00 pada tahun 1990. B iaya kesehatan ini merupakan 9.

asuransi kesehatan yang menjalankan managed care (JPKM) mengemukakan bahwa jumlah operasi bypass sedikit. PT. kelas C dan 5 hari. Upaya kerjasama ini perlu ditingkatkan untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan pelayanan.3 hari. untuk laki-laki diatas 65 tahun rata-rata 8. termasuk di Indonesia juga menjadi sasaran operasi terutama bypass.31 milyar pada tahun 1988 menjadi Rp. Pada suatu survey yang dilakukan untuk Johnson Foundation di USA.7% dan rumah sakit ABRI 42.000 . obat pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah 29. penempatan dan penyebbaran alat canggih telah meningkatkan biaya pelayanan kesehatan secara bermakna. Di Amerika dilakukan 600.4%. PT. 14/93 tentang penyelenggaraan JAMSOSTEK. Pemerintah telah menerbitkan beberapa PP yang No.29% merupakan biaya rumah sakit. yang memakan biaya lebih dari US $ 5 milyar.65 milyar tahun 1992.0%. 2 Th 1992 tentang Usaha Asuransi. Kita me- 94 Cermin Dunia Kedokteran. dan budget disamping pembiayaan paket per hari rawat.25 milyar tahun 1990 dan mencapai biaya Rp.24% dari anggaran pelayanan kesehatan PT ASKES dipergunakan untuk pelayanan di rumah sakit (pengobatan). Pada saat ini BOR rumah sakit milik Depkes 65. Berdasarkan penelitian Rand Coprporation di California sepertujuh sampai sepertiga dari beberapa jenis operasi sebenarnya tidak perlu dilakukan. 0. 0. 45.00 per tahun.000. kemungkinan untuk mengalami operasi ini 6 kali lebih besar dari wanita Norwegia. PT ASKES merupakan suatu perusahaan asuransi kesehatan dengan penggunaan biaya pelayanan sangat tinggi dengan rata-rata biaya pelayanan kesehatanan menyerap 88% dari iuran. responden diminta pendapatannya secara berurutan tentang penyebab utama peningkatan biaya kesehatan. 3.1%. dan PP No.05%. Seperempat (1 juta) bayi dilahirkan dengan caesar yang diragukan keuntungannya baik bagi ibu maupun bagi bayi. ASKES telah membiayai pelayanan jantung dari Rp. diikuti dengan rumah sakit swasta 55. PP. Di Amerika LOS RS umum tahun 1990 ratarata adalah 6. Dokter dan perusahaan obat sekarang banyak yang memperoleh untung dari profesinya. Hasilnya adalah sebagai berikut : – 67% rakus dan cari untung (greed and profits) – 64% tuntutan karena mal practice – 61% sia-sia dan inefisiensi (waste & ineffeciency). Departemen lain 47. hal ini telah meningkatkan kasushaemodialisis dari 8.4 hari. rumah sakit Pemda 53. Pada tahun 1991 income rata-rata dokter di USA adalah US $ 139.450. paket pelayanan. sehingga pada dekade 70 an dikembangkan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan dengan cara prepaid (capitation & budgetsystem) disertai pengendalian biaya melalui cost contaimment. LOS rata-rata untuk RS kelas A yaitu 10 hari. PT ASKES telah meningkatkan pelayanan hemodialisis dari penggunaan 14 fasilitas HD di 4 propinsi tahun 1989 menjadi 23 fasilitas HD di 12 propinsi tahun 1990.8%. 1994 . Sejalan dengan perubahan sistem pembiayaan PT. Pengalaman di Amerika menunjukkan bahwa pembiayaan dengan menggunakan sistem fee for service tanpa pengendalian telah mengakibatkan meningkatnya biaya pelayanan kesehatan secara cepat. ASKES sejak tahun 1988 (Perum Husada Bhakti) telah mulai memperkenalkan sistem pembiayaan secara kapitasi untuk pelayanan kesehatan dasar.3 hari dan RS Khusus 22. tanpa mengurangi kesehatan pesertanya tetapi lebih menekankan pada kontrol hipertensi. Pada saat ini sudah pula dikembangkan kerj asama dengan rumah sakit dalam program quality assurance. Veteran dan Perintis Kemerdekaan serta Perluasan Kepesertaan ASKES. ASURANSI KESEHATAN / JPKM Saat ini ada 3 undang-undang yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan asuransi kesehatan yaitu UU No.826 tahun 1990 dengan biaya Rp. Sistem pembiayaan rumah sakit yang berlaku umum di Indonesia adalah secara tradisional yaitu fee for service. Di Indonesia diyakini hal ini terjadi pula.8 milyar pada tahun 1992. 23 Th 1992 tentang Kesehatan yang di dalamnya tercakup pula program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. walaupun diketahui terdapat perbedaan yang mencolok. 73/92 tentang penyelenggaraan Usaha Asuransi. Penyakit jantung yang telah menjadi penyakit nomer 1. 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) dan UU No.00. 4. sedangkan untuk pasien ASKES.000 (1980) menjadi 1. Untuk pembiayaan pelayanan rumah sakit telah diperkenalkan pembayaran paket per hari rawat. 90.5 juta (1991).3 hari dan wanita 8. Di Indonesia angka income ini tidak diketahui. Edisi Khusus No. Melihat potensi yang ada pada PT. Penurunan LOS sangat berarti dalam pembiayaan pelayanan kesehatan yang tentunya biaya ini dapat dipergunakan untuk kenaikan tarif per hari dan biaya pelayanan lainnya.000. berarti 84.97 milyar tahun 1989 menjadi Rp. 3 Th. Seluruh income dokter mencapai US $ 74 milyar dalam tahun 1992.Dari seluruh pembiayaan pelayanan kesehatan PT ASKES tahun 1992. kadar cholesterol darah. dan upaya preventif lainnya.9 hari. spesialis memperoleh antara US $ 280.1 hari. 7. 69/91 tentang penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan PNS. Namun Kaiser Permanente. Peningkatan biaya pelayanan rumah sakit dapat pula disebabkan karena meningkatnya biaya/jasa tenaga profesional.000 histerektomi per tahun. Pada akhir-akhir ini terlihat kenaikan pada pasien rawat jalan dan atau one day care. ASKES juga memperkenalkan program pengendalian mutu antara lain dengan menyusun daftar obat (DPHO) yang didasarkan Daftar Obat Esensial Nasional. Di samping itu mutu pelayanan tetap dijaga melalui program quality assurance dan utilization review. terutama dokter spesialis.dan budget di samping pembiayaan secarafee for service. Hal yang sama ditemukan pula untuk diagnostic test. PP No.000. paket pelayanan. Di Amerika bypass telah meningkat 2800% sejak tahun 1970 yang jauh lebih tinggi dari negara lain. CT Scan telah meningkat dari 300. kelas B 7 hari. ASKES perlu dihitung berapa % penggunaan rumah sakit oleh peserta ASKES dan berapa dana yang diperoleh setiap rumah sakit per bulan dari ASKES. UU No. Sistem pembiayaan ini terus disempurnakan guna mencapai kemudahan administrasi pembiyaaan pelayanan kesehatan persertanya melalui "Kapitasi Total" pada beberapa daerah.802 tahun 1989 menjadi 32. RS Swasta 7. LOS tahun 1992 rata-rata untuk RS ABRI 11.

hal mana telah terbukti dari sejarah kedokteran. Terjadinya beberapa tindakan malpratice sebenarnya dapat dicegah dengan Cermin Dunia Kedokteran . Dokter Lee Goldman seorang kardiolog pada tahun 1988 telah mengadakan penelitian tentang penyebab menurunnya penyakit jantung. Hal ini tentunya tidak lepas dari peningkatan profesionalisme dan manajemennya. Peningkatan pelayanan rumah sakit dengan peningkatan penggunaan alat-alat canggih menyebabakan biaya pelayanan rumah sakit tidak terjangkau oleh sebagain masyarakat Indonesia apalagi masyarakat di desa tertinggal. disamping terjadinyaperubahan kulturmasyarakat dari extended family menjadi nucleus family. juga melakukan kegiatan promotif dan preventif. dan 3. yang ada gilirannya akan dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat. bagi kelompok ini perhitungan presmi dikaitkan dengan paket pelayanan (benefit package). serta adanya peraturan perundang-undangan yang mengharuskan pengusaha memberi bantuan pemeliharaan kesehatan bagi karyawannya. vaksin hepatitis menghindari seseorang dari Ca hepar dan vaksin-vaksin lainnya seperti untuk campak. tetapi juga oleh badan swasta konsekuensinya adalah bahwa kerjasama antara badan penyelenggara asuransi kesehatan dengan pihak penyelenggara kesehatan (terutama rumah sakit) baik dalam uapaya meningkat mutu pelayanan maupun dalam pengendalian biaya perlu dibina secara baik.000. yang jelas adalah upaya termahal mempunyai efek paling kecil. Hasil studi menunjukkan bahwa hal ini tercapai bukanlah karena pengobatan tetapi lebih banyak karena perubahan dalam gaya hidup. UPAYA PREVENTIF LEBIH PRODUKT1F Dalam menjalankan JPKM. Selama 5 tahun terakhir kenaikan peserta ASKES berkisar antara 5% setiap tahun. typhus dan campak telah dapat dikendalikan sebelum obat-obatan dan vaksin ditemukan.000 jiwa atau 10. Khasiat olah raga tidak. 69 tahun 1991. Cakupan asuransi kesehatan yang diselenggarakan oleh PT ASKES telah berkembang dengan mencakup masyarakat umum.00 saat ini menjadi US $ 1.7% penduduk pada tahun 1990 menjadi 22. Pada awalnya peningkatan kesehatan masyarakat yang besar bukanlah hasil dari berbagai operasi atau teknologi baru. 1994 95 . khususnya pembangunan kesehatan dapat tercapai. untuk kelompok ini kepesertaannya bersifat sukarela. sehingga akan sangat menghemat biaya. Berkurangnya subsidi pemerintah terhadap pelayanan kesehatan (terutama pengobatan). kesemuanya ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap asuransi kesehatan. Keppres tentang standar pelayanan kesehatan bagi peserta ASKES dan SKB. 20% karena obat jantung dan hipertensi.4% penduduk pada tahun 2000) serta terjadi pergeseran jumlah penduduk di daerah perkotaan dari 30% saat ini menjadi 40% pada akhir Pelita VI.5% karena operasi bypass. di mana penyakit tbc. Sebaliknya hal ini didukung oleh meningkatnya kemampuan masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan akibat peningkatan income per kapita dari US $ 650. Akhir-akhir ini bisnis asuransi kesehatan tampak meningkat bukan saja yang diselenggarakan oleh BUMN.nyadari bahwa semua peraturan perundang-undangan ini dimaksudkan agar perekembangan industri kesehatan termasuk perkembangan asuransi kesehatan tidak salah arah. Berbeda dengan program pemeliharaan kesehatan yang selama ini diselenggarakan dengan kepesertaan bersifat wajib. Adanya rencana pemerintah dalam memperketat penerimaan pegawai negeri tidak akan banyak mempengaruhi peningkatan jumlah peserta ASKES meningat telah dimulainya program perluasan kepesertaan ASKES kemasyarakatan umum sejak tahun 1992. Edisi Khusus No. peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan akibat perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi. perkembangan teknologi kedokteran. 90. Melalui kerja sama ini dapat pula diciptakan standar pelayanan atas dasar standar profesi dan kemudahan-kemudahan prossedur. beserta keluarganya menjadi 14 juta jiwa. ASKES sebagai salah satu BUMN di lingkungan Departemen Kesehatan mempunyai peserta 4. Untunglah tidak lama lagi akan terbit PP tentang JKPKM. Pengaruh globalisasi. PT. Pap smears ternyata sangat mengurangi prevalensi kanker uterus (sampai 50%). Bahwa pencegahan itu lebih baik dari pengobatan ternyata juga lebih murah. ternyata lebih dari 50% karena tidak merokok dan menurunkan cholesterol.000. Berkembangnya industri rumah sakit telah dapat meningkatkan upaya pelayanan kesehatan terutama upaya penyembuhan. penyakit degeneratif dan penyakit khronis lainnya. AIDS pun dapat dicegah. ke penyakit kardiovaskular. Hal ini sejalan dengan kenaikan jumlah pegawai negeri sipil.000 jiwa atau 8.5 juta. Menurut mereka penurunan angka kematian antara tahun 1900 dan 1974 hanya 4% disebabkan oleh upaya ke dokteran. Keberhasilan kerja sama ini akan berdampak masyarakat pengguna pelayanan kesehatan lainnya. diphteri pertusis dan tetanus tentu sangat menguntungkan dalam menekan biaya dan meningkatkan kesehatan. Pada hakekatnya hampir 70% penyakit yang diperiksakan pada dokter dapat dicegah. tentang tarip pelayanan kesehatan di rumah sakit yang akan sangat mendukung operasionalnya. KESIMPULAN Telah dibahas beberapa permasalahan pembiayaan kesehatan umumnya dan khususnya pembiayaan kesehatan di rumah sakit.000. sehingga tujuan pembangunan. Kematian akibat penyakit jantung telah turun secara dramatis. melainkan dari perkembangan sosial yang mengakibatkan manusia atau masyarakat mencegah penyakit. bertambahnya kelompok "lansia" (dari 16. penerima pensiun ABRI dan Veteran. Askes berbeda dengan asuransi kesehatan lainnya. dikemukakan. Dengan berkembangnya kepesertaan ASKES diharapkan makin dapat ditingkatkan pemanfaatan aspek kegotong royongan di samping peningkatan efektifitas dan efisiensi. Upaya untuk meningkatkan kesehatan dan mengurangi biaya sebenarnya sejalan. John & Sonja Mc Kinlay (sosiolog) menunjukkan bahwa 90% kemajuan kesehatan masyarakat Amerika terjadi pada pertengahan abad pertama. sesuai dengan PP No.00 pada akhir Pelita VI.

U. What sunshine is to ftowers. 10. 1993. 8. Jakarta. Preston L T. 1993. 1993. The Universal Almanc. PT. A : Pembiayaan Rumah Sakit dan Prospek Perkembangan Asuransi Kesehatan selama PJPT II. Departement of Health and Human Service : Health United States and Prevention Profile. KEPUSTAKAAN 1. Laporan Manajemen 1992. Washington D. 5. 4. Human Development Report 1993. 3. 1993.C: 1993. Drape W H. 6. 1993. New York: 1993. Edisi Khusus No. Melalui PERSI akan dapat dibina kerjasama dalam program peningkatan mutu pelayanan (quality assurance termasuk pelaksanaan etik kedokteran) dan menyempurnakan sistem pembiayaan yang mendukung pelayanan kesehatan di rumah sakit. PT. 9. Departemen Kesehatan. Untuk itu diperlukan kerja sama antara penyelenggara asuransi kesehatan/JPKM dengan rumah sakit. Jakarta. PT. ASKES. Departemen Kesehatan. Statistik PT Asuransi Kesehatan Indonesia 1987-1992. Jakarta. ASKES. PT. 2. Wright J W. Jakarta. Maryland: 1992. ASKES sebagai salah satu BUMN yang diserahi tugas menyelenggarakan asuransi kesehatan mempunyai misi yang mulai untuk meningkatkan kesehatan pesertanya.2018/2019). Peta Kesehatan Masyarakat dan Propek PJPT II. Jakarta. Bersamaan dengan itu usaha asuransi telah pula berkembang dengan pesat dengan termasuk usaha asuransi kesehatan. World Development Report. smiles are to humanity 96 Cermin Dunia Kedokteran . Sistem asuransi yang dianggap dapat menghindari peningkatan biaya pelayanan pembiayaan kesehatan secara cepat adalah mengkaitkan sistem pembiayaan kesehatan dengan sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit bila menjalankan program JPKM yaitu pembiayaan prepaid dengan cost containment disertai pengendalian mutu melalui upaya quality assurance dan utilization reviews. Repelita VI. Rancangan 7 Rencana Pembangunan Kesehatan jangka Panjang Tahap II (1994/1995 .menjalankan etik kedokteran secara benar. Kansas City: 1992. 90.S. UNDP. 7. Jakarta. Gani. ASKES hanya akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik dengan bantuan PERSI. Hardjoprawiro H. Dukungan Penelitian dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sakit. 1992. 1994 .

terbatas tersebut tidak jarang dijumpai adanya dampak berbahaya yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan yang direncanakan. Sejalan dengan hal tersebut perubahan lingkungan yang terjadi seringkali masih dapat ditenggang (tidak) atau kurang dipedulikan oleh masyarakat karena tidak secara jelas menimbulkan kerugian yang berarti. Edisi Khusus No. Proses pengambilan keputusan terhadap rencana kegiatan di masa lalu terutama didasarkan pada kelayakan dari segi teknis dan ekonomis serta mungkin dari segi politis saja. Analisis Dampak Lingkungan diperlukan untuk menjamin agar tujuan aktifitas manusia. yaitu kesejahteraan hidup dapat tercapai tanpa merusak lingkungan. Jakarta PENDAHULUAN Untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraannya. Akibat analisis yang Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI & Hospital Expo. Tidak jarang pula dampak tersebut berakibat mengurangi manfaat/keuntungan yang diperkirakan sebelumnya. Secara nasional bagi semua kegiatan pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah No. 21 — 25 November 1993. Jakarta. 51 tahun 1993 tentang AMDAL sebagai pengganti dari PP 29 tahun 1986 tentang AMDAL. sedang dampaknya terhadap lingkungan hidup sangat jarang dipertimbangkan. Akan tetapi kemudian perubahan tersebut semakin membesar. kemudian dicari usaha untuk menghindari timbulnya dampak negatif. 90. Cennin Dunia Kedokteran. Pemikiran inilah yang mendasari perlunya studi tentang dampak lingkungan suatu kegiatan yang kemudian dikenal dengan Analisis Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment). Dengan dimasukkannya AMDAL ke dalam proses perencanaan suatu kegiatan maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai aspek kegiatan tersebut sehingga dapat diambil keputusan yang optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. 1994 97 . kemudian timbul upaya untuk menelaah aktifitas yang telah dan akan dilakukan untuk mengetahui dampak apa yang mungkin merugikan kegiatan tersebut. Berdasarkan PP 29 tahun 1986 Menteri Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. manusia secara sadar melakukan berbagai aktifitas mulai dari yang sederhana sampai kompleks yang pada dasarnya dapat dikatakan mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan. Apabila hal tersebut dipertimbangkan biasanya hanya dikaitkan dengan analisis biaya-manfaat (Cost Benefit Analysis) di mana variabel-variabel yang tergolong variabel ekonomi dicoba untuk dihitung nilai moneternya. Di sinilah kemudian disadari perlunya dilakukan pertimbangan-pertimbangan yang seksama tentang risiko/gangguan lingkungan terhadap suatu rencana kegiatan. dan bahkan kualitas hidup itu dapat menurun. sehingga dapat diambil keputusan yang paling baik terhadap kegiatan tersebut sebelum dilaksanakan atau dilanjutkan. Bertolak dari keadaan tersebut. Hakekat lingkungan pada mulanya perubahan pada lingkungan oleh kegiatan manusia masih berada di dalam kemampuan alam untuk memulihkan diri secara alamiah. yang tidak/belum dapat diperkirakan sebelumnya. 512/ MENKES/PER/X/1990 tentang AMDAL Rumah Sakit yang tentunya harus disesuaikan dengan PP AMDAL yang baru. mengganggu daya dukung lingkungan sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam pada itu kebutuhan akan sumber daya tersebut semakin meningkat sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk serta meningkatnya kebutuhan. Jadi AMDAL merupakan salah satu alat bagi pengambilan keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif.Penyusunan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) Rumah Sakit dan Penatalaksanaannya Komisi AMDAL Departemen Kesehatan RI.

yang dianalisis bukan hanya dampak negatifnya saja tapi juga dampak positif suatu kegiatan dengan bobot analisis yang sama. Dengan ditetapkannya PP 51 tahun 1993 tentang AMDAL. Implikasi hal ini adalah bahwa studi AMDAL harus dilakukan secara lintas disiplin sesuai dengan karakteristik dampak yang ditimbulkan. artinya dampak lingkungan suatu kegiatan hanya berlaku untuk ekosistem tertentu dan kelompok sosial tertentu yang menghuni ruang dan waktu tertentu. Perubahan atau tekanan yang dialami oleh satu komponen lingkungan akan mempengaruhi komponen lainnya.512/MENKES/PER/X/ 1990 tentang AMDAL Rumah Sakit di samping menetapkan pedoman teknis penyusunan AMDAL Rumah Sakit juga menetapkan penatalaksanaan AMDAL Rumah Sakit. Namun dalam uraian makalah ini akan disampaikan langkah-langkah penyusunan AMDAL secara umum. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dikenal istilah Analisis mengenai Dampak Lingkungan yang disingkat dengan AMDAL yang berarti hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup. PENGERTIAN DAN MANFAAT AMDAL Pengertian AMDAL adalah salah satu studi yang mengidentifikasi. Namun demikian bagi kegiatan bidang kesehatan yang semula ditetapkan wajib SEMDAL tapi hingga saat ini belum membuat SEMDAL. Asumsi ini berangkat dari suatu pengertian bahwa AMDAL hanya terfokus pada ruang tertentu dan kurun waktu tertentu yang dihipotesakan terkena dampak suatu kegiatan. setiap komponen lingkungan satu sama lain saling terkait.Peraturan Menteri Kesehatan No. Sedangkan dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. Benturan kepentingan tersebut hanyalah mencerminkan adanya dampak yang merugikan (negatif) saja. 90. Pedoman teknis tersebut menetapkan sistematik dan isi laporan AMDAL Rumah Sakit yang harus diikuti oleh setiap penyusun AMDAL Rumah Sakit. Di samping pengertian tersebut. b) AMDAL Kawasan yaitu hasil studi dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan menyangkut kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab. Pada mulanya dampak lingkungan digambarkan sebagai adanya benturan antara dua kepentingan yaitu kepentingan antara perlunya pelaksanaan kegiatan dan kepentingan usaha melestarikan kualitas lingkungan yang baik. Jadi diperlukan spesialis yang mengkaji masing-masing disiplin dari aspek yang terkait dan ahli analisis sistim yang mengintegrasikan hasil kajian para spesialis dalam kesatuan analisis. sebagai pengganti kewajiban pembuatan SEMDAL. Hubungan sebab akibat ini semakin sulit ditelusuri apabila dampak yang ditimbulkan pada suatu komponen bersifat kumulatif dan baru tampak setelah kurun waktu yang cukup lama. Edisi Khusus No. Bagi kegiatan yang diragukan dampak pentingnya. yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Dampak lingkungan adalah perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. Berkenaan dengan dampak lingkungan suatu kegiatan ada dua hal pokok yang perlu dipahami yaitu : a) Dampak setiap kegiatan bersifat khas dan unik (site specific). tidak terdapat lagi ketentuan tentang AMDAL bagi kegiatan yang sudah berjalan yang dikenal dengan SEMDAL. menginterpretasi dan mengkomunikasikan pengaruh dari suatu kegiatan manusia terhadap lingkungan. dewasa ini dikenal pengertian : a) AMDAL Kegiatan Terpadu/Multi Sektor yaitu hasil studi mengenai dampak penting kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Bagi kegiatan wajib SEMDAL yang belum membuat SEMDAL akan diuraikan beberapa ketentuan yang akan diberlakukan dalam waktu dekat ini. 98 Cermin Dunia Kedokteran. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Implikasi dari asumsi ini adalah walaupun jenis kegiatannya sama. b) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). AMDAL merupakan keseluruhan proses yang meliputi penyusunan berturut-turut : a) Kerangka Acuan bagi penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL). Di samping itu diuraikan tentang penatalaksanaan penyusunan dan penilaian AMDAL Rumah Sakit yang meliputi organisasi (Komisi AMDAL) dan tatacara penyampaian dokumen AMDAL Rumah Sakit untuk penilaiannya. Bagi rencana kegiatan yang tidak ada dampak pentingnya. Jadi pengertian AMDAL di sini dapat berarti proses studi dan dapat pula berarti hasil studi. 2) Manfaat AMDAL Telah disebutkan terdahulu bahwa AMDAL diperlukan bagi proses pengambilan keputusan suatu kegiatan. 1994 c) d) 1) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Dalam perkembangannya kemudian. memprediksi. dengan memperhatikan ketentuan mengenai AMDAL yang dituangkan dalam PP 51 tahun 1993. b) Dampak suatu kegiatan bersifat kompleks. Asumsi ini berangkat dari pengertian bahwa. dalam rangka menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan diharuskan melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkimgan (UPL). c) AMDAL Regional yaitu hasil studi dampak penting suatu kegiatan yang' direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. dampak yang ditimbulkan akan berbeda bila berada di ruang yang berbeda. dilakukan proses penapisan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut berdampak penting atau tidak. Departemen Kesehatan akan mengeluarkan ketentuan khusus yang mewajibkan pembuatan standard operating procedure pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dituangkan dalam rencana teknis pengelolaan lingkungan dan rencana teknis pemantauan lingkungan. Ini berarti .

Langkah kedua : Pengumpulan dan penyusunan informasi mengenai kegiatan yang akan dikaji (pemerian kegiatan). sekurang-kurangnya memuat : a) Nama dan alamat pemrakarsa kegiatan. 1994 99 . e) Uraian kegiatan mulai dari fase persiapan sampai operasi. c) Memberikan masukan bagi studi kelayakan teknis dan kelayakan ekonomi sehingga dapat dilakukan optimasi. terutama informasi tentang sumber daya yang diperlukan bagi kegiatan tersebut. untuk menetapkan apakah suatu kegiatan itu memungkinkan untuk dilaksanakan ditinjau dari sudut kepentingan kelestarian lingkungan hidup. 1) Langkah pertama Persiapan meliputi : a) Pembentukan Tim Penyusun. b) Pendugaan dampak lingkungan yaitu memproyeksikan perubahan komponen lingkungan yang mungkin terjadi akibat dilaksanakannya rencana kegiatan. i) Uraian tentang sistim pengelolaan limbah. seperti energi. e) Persiapan peralatan dan bahan-bahan. g) Pengolahan. meliputi kegiatan : a) Menetapkan komponenlingkungan yang akan dikaji. meliputi : Cermin Dunia Kedokteran. terutama dalam rangka mengendalikan dampak negatif dan mengembangkan dampak positifnya. dan kegunaan kegiatan. 5) Langkah-langkah yang digambarkan dalam diagram tersebut tidak menggambarkan bentuk dokumen yang akan Langkah kelima : Evaluasi dampak lingkungan dan alternatif pengelolaannya. 4) Langkah keempat : a) Identifikasi dampak yaitu mengidentifikasi komponen lingkungan yang mungkin terkena dampak rencana kegiatan/ komponen kegiatan. 51 tahun 1993. rencana kegiatan yang akan dikaji. Langkahlangkah yang selanjutnya akan diuraikan di bawah ini lebih menjelaskan urutan pekerjaan studi AMDAL sejak persiapan studi sampai langkah dari studi AMDAL yaitu evaluasi dampak lingkungan dan alternatif pengelolaannya. d) Penentuan ruang lingkup studi (scoping). f) Perkiraan biaya.bahwa dokumen AMDAL merupakan salah satu bahan perti mbangan. b) Menetapkan metodologi pengukuran setiap komponen lingkungan termasuk sampling system dan sampling site-nya. Dengan demikian maka AMDAL bermanfaat untuk : a) Mengetahui adanya dampak suatu rencana kegiatan terhadap kualitas lingkungan hidup yang melampaui ambang batas yang telah ditetapkan ataupun yang tidak dapat ditolerir serta membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia. jenis. dan sosial di wilayah yang diperkirakan terkena dampak kegiatan. pedoman-pedoman. c) Menyusun daftar isian dan panduan-panduannya. d) Memberikan informasi sejauh mana keadaan lingkungan dapat menunjang perwujudan suatu rencana kegiatan. Diagram Alir Studi AMDAL dihasilkan seperti yang dimaksud dalam pengertian AMDAL menurut Peraturan Pemerintah No. sarana dan prasarana angkutan dan sebagainya. b) Pemahaman mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan AMDAL. biologis. f) Pelaksanaan pemantauan lingkungan yang diperlukan bagi penilaian ataupun pengawasan pelaksana pengelolaan lingkungan. f) Pelaksanaan pengukuran/penelitian di lapangan dan analisis di laboratorium. 2) 3) Langkah ketiga : Penentuan rona lingkungan awal dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan fisik. h) Rincian mengenai limbah kegiatan. d) Hasil (output) dan umur kegiatan. Edisi Khusus No. tenaga manusia. Secara umum langkah-langkah pelaksanaan studi AMDAL secara berurutan dapat digambarkan pada diagram alir sebagai berikut (Diagram 1) : Diagram 1. b) Status. g) Rencana operasional atau alur proses kegiatan. e) Penyusunan rencana kerja/usulan teknis. e) Pelaksanaan upaya pengelolaan lingkungan berdasarkan hasil pendugaan dan evaluasi dampak lingkungan yang dilakukan dalam proses penyusunan AMDAL. LANGKAH-LANGKAH DALAM STUDI AMDAL Sesuai dengan definisi lingkungan yang berlaku di Indonesia (Undang-undang No. baku mutu lingkungan. tujuan. c) Pengenalan keadaan umum lokasi kegiatan (pra survai). 90. d) Menetapkan cara pengolahan dan analisa data. analisis dan penyusunan hasil. b) Mengetahui adanya dampak suatu rencana kegiatan terhadap kegiatan lainnya yang dapat menimbulkan pertentangan. c) Lokasi kegiatan. 4 Tahun 1982) komponen lingkungan yang ditelaah dalam studi AMDAL bagi suatu kegiatan meliputi komponen lingkungan fisik kimia. komponen lingkungan hayati dan komponen sosial ekonomi dan sosial budaya.

b) c) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Sesuai dengan pedoman teknis RKL dan RPL harus disusun dengan sistimatika sebagai berikut : RKL : 1) Identitas pemrakarsa 2) Uraian kegiatan 3) Tujuan. kegunaan. dan pengawasan pelaksanaan RKL dan RPL. Komisi AMDAL Departemen Kesehatan diketuai oleh Direktur Jenderal PPM & PLP dengan pertimbangan bahwa urusan pengelolaan lingkungan secara fungsional menjadi tanggung jawab Direktur Jenderal PPM & PLP. Edisi Khusus No. 90. satuan kerja yang bertanggung jawab dalam penatalaksanaan AMDAL adalah Komisi AMDAL Bidang Kesehatan yang berstatus pusat (perijinan atau pemilikannya) adalah Komisi AMDAL Pusat Departemen Kesehatan yang pembentukannya ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. PENATALAKSANAAN AMDAL RUMAH SAKIT Organisasi Sesuai dengan PP 51 tahun 1993. Kerangka Acuan ANDAL Sesuai dengan pedoman teknis Kerangka Acuan ANDAL harus disusun dengan sistimatika sebagai berikut : 1) Peendahuluan 2) Tujuan studi 3) Ruang lingkup studi 4) Metodologi 5) Tim studi ANDAL 6) Biaya 7) Waktu pelaksanaan 8) Daftar pustaka. dan telah diperbaharui dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. bagaimana. Perlu diingat bahwa dokumen RKL dan RPL termasuk dokumen yuridis yang menjadi pegangan semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan. serta RKL/RPL. ANDAL. dan pendekatan pengelolaan lingkungan 4) Rencana pengelolaan lingkungan 5) Kepustakaan. evaluasi. Untuk hal-hal yang bersifat sangat rahasia dan tidak mungkin diungkapkan dalam laporan misalnya menyangkut rahasia yang dipatenkan harus diberikan catatan tersendiri dan hal ini dituangkan dalam ringkasan ANDAL. siapa. RPL: 1) Identitas pemrakarsa 2) Uraian kegiatan 3) Tujuan. dan kapan pengelolaan dan pemantauan lingkungan akan dilakukan. b) Uraian alternatif pengelolaan dampak lingkungan. ruang lingkup. Adapun anggota Komisi AMDAL Departemen Kesehatan terdiri dari pejabat di lingkungan unit utama Departemen Kesehatan yang tugas pokoknya berkaitan dengan pengelolaan lingkungan maupun berkaitan dengan kegiatan bidang kesehatan yang wajib AMDAL. dan alternatif pemantauan lingkungan 4) Uraian rencana pemantauan lingkungan 5) Kepustakaan. LAPORAN HASIL STUDI AMDAL Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. dimana. 1994 .a) Penentuan hubungan sebab akibat antara komponen rencana kegiatan dan komponen lingkungan dengan dampak yang mungkin ditimbulkan. 51 tahun 1993. 041/MENKES/SK/I/1989 . pemantauan. 280/MENKES/SK/I/1993 . Dari langkah-langkah tersebut kemudian disusun laporan hasil studi yang berbentuk beberapa dokumen yang meliputi : KA ANDAL. Dalam melaksanakan tugasnya Komisi AMDAL Departemen Kesehatan melakukan hubungan kerja dengan instansi yang bertanggung jawab dalam Rumah Sakit dalam hal ini Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Dalam rangka pelaksanaan PP 51 tahun 1993 keanggotaan Komisi AMDAL Departemen Kesehatan akan ditambah dengan wakil-wakil dari Badan Pertanahan Nasional dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. SISTIMATIKA LAPORAN Berikut ini akan diuraikan secara singkat butir-butir yang harus tercantum dalam setiap dokumen dan beberapa hal penting yang harus ada pada setiap dokumen. Hubungan kerja tersebut lebih lanjut akan diuraikan dalam tata cara penyampaian dokumen AMDAL Rumah Sakit. kegunaan. Uraian yang disajikan dalam laporan RKL dan RPL harus dapat mengungkap secara jelas tentang apa. laporan hasil studi AMDAL harus disusun dalam bentuk dokumen sebagai berikut : – Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL) – Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) – Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) – Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Para pejabat tersebut terdiri dari : 1) Kepala Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan (sebagai Wakil Ketua Komisi) 2) Kepala Pusat Data Kesehatan (sebagai Sekretaris Komisi) 3) Kepala Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman 1) 100 Cermin Dunia Kedokteran. a) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) Sesuai dengan pedoman teknis secara sistimatis dokumen ANDAL rumah sakit harus memuat uraian tentang : Ringkasan: 1) Pendahuluan 2) Dasar pembangunan rumah sakit 3) Rencana rumah sakit 4) Rona lingkungan hidup awal 5) Perkiraan dampak penting 6) Evaluasi dampak penting 7) Kepustakaan 8) Lampiran Laporan hasil studi ANDAL harus disusun berdasarkan Kerangka Acuan yang telah ditetapkan oleh Komisi.

2. Dokumen tersebut diteruskan kepada Komisi AMDAL Departemen Kesehatan untuk kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian.4. c) Menilai ANDAL. RKL dan RPL diajukan sekaligus oleh pemrakarsa kepada Direktur Jenderal Pelayanan Medik. RKL dan RPL 2.4. f) Membantu menyelesaikan diterbitkannya surat keputusan tentang AMDAL. maka Dirjen Yanmed memutuskan menolak rencana kegiatan rumah sakit. ANDAL. dan selambat-lambatnya 30 hari sejak pengajuan kembali harus sudah dikeluarkan keputusan atas dokumendokumen tersebut berdasarkan hasil penilaian Komisi AMDAL. 2) Dokumen ANDAL. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik memberikan bukti penerimaan dokumen-dokumen tersebut kepada pemrakarsa dengan mencantumkan tanggal penerimaan. 2. 2.2 dapat disampaikan kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Bapedal selambat-lambatnya 14 hari sejak diterimanya keputusan penolakan. Alur Pemrosesan Dokumen AMDAL Rumah Sakit Cermin Duniu Kedokteran . Menteri Kesehatan akan memberikan keputusan terhadap pengajuan keberatan tersebut setelah mendapat pertimbangan dari Bapedal selambat-lambatnya 30 hari sejak diterima pengajuan tersebut dan keputusan ini merupakan keputusan terakhir.4. Diagram 2.4. Diagram alir penyampaian dokumen AMDAL terlampir (Diagram 2) .1.4.2. Apabila keputusan tersebut berupa penolakan karena dokumen-dokumen tersebut dinilai belum memenuhi persyaratan maka dokumen tersebut harus diajukan kembali kepada Dirjen Yanmed. 2. g) Memberikan bimbingan kepada Komisi Daerah.4) Kepala Direktorat Penyehatan Air 5) Kepala Direktorat Pemberantasan Bersumber Binatang 6) Kepala Direktorat Pengawasan Obat dan Bahan Berbahaya 7) Kepala Direktorat Pengawasan Obat 8) Kepala Direktorat Pengawasan Obat Tradisional 9) Kepala Direktorat Instalasi Medik 10) Kepala Direktorat Rumah Sakit Umum dan Pendidikan 11) Kepala Direktorat Rumah Sakit Khusus dan Swasta 12) Kepala Direktorat Bina Peranserta Masyarakat 13) Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Dep. Untuk membantu pelaksanaan penilaian AMDAL. 1. 14) Kepala Pusat Laboratorium Kesehatan 15) Wakil dari Departemen Dalam Negeri 16) Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan/Kantor Menteri Negara KLH 17) Wakil dari Badan Pertanahan Nasional 18) Wakil dari Badan Koordinasi Penanaman Modal.1.Kes. Berdasarkan hasil penilaian Komisi terhadap dokumen - dokumen tersebut.3.2.2.4. Dokumen KA ANDAL disampaikan oleh pemrakarsa kepada Komisi AMDAL Departemen Kesehatan. 1994 101 . 2.4. Adapun tugas Komisi AMDAL Departemen Kesehatan adalah : a) Menyusun Pedoman Teknis Pembuatan AMDAL. h) Menilai rencana teknis pengelolaan lingkungan dan rencana teknis pemantauan lingkungan. Direktur Jenderal Yanmed menetapkan keputusan tentang dokumen tersebut selambat-lambatnya 45 hari sejak tanggal pengajuan.3.1. d) Menilai RKL dan RPL. Komisi AMDAL setelah membahas Kerangka Acuan tersebut memberikan tanggapan dan komentar tertulis terhadap KA tersebut dan menyampaikannya kembali kepada pemrakarsa selambat-lambatnya 12 hari seiak dokumen tersebut diterima oleh Komisi AMDAL. b) Menetapkan Kerangka Acuan bagi pembuatan ANDAL. 2. Komisi AMDAL dibantu oleh Tim Teknis AMDAL yang anggotanya terdiri dari tenaga-tenaga yang berkualifikasi AMDAL B yang berasal dari unit kerja di lingkungan Departemen Kesehatan yang terkait dengan AMDAL. e) Memberikan rekomendasi kepada Menteri Kesehatan berdasarkan hasil penilaian AMDAL. Apabila hasil penilaian menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan IPTEK dan biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. Edisi Khusus No . 2) Tata Cara Penyampaian Dokumen AMDAL Rumah Sakit 1) Dokumen Kerangka Acuan (KA) 1. 90. Pengajuan keberatan atas keputusan seperti pada 2. 2.

penilaian dan persetujuan oleh instansi yang bertanggung jawab. Edisi Khusus No. & 33 5.. pelatihan. penilaian dan persetujuan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Komisi AMDAL Terpadu merupakan komisi gabungan yang ditetapkan oleh 6. dst. Pembinaan 4. Materi Kegiatan Wajib AMDAL (Penapisan) PP 29/1986 Pasal 2 ayat (2) : Ditetapkan oleh Menteri/ Pimpinan LPND yang membidangi . Pasal15: Kadaluwarsa. berada dalam satu ekosistem dan dimiliki oleh satu pemrakarsa Pedoman teknis.. Pasal 6: ayat (1) : AMDAL merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan kegiatan ayat (2) : Hasil studi AMDAL digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah.. 11. Lama waktu penilaian AMDAL (Putusan persetujuan) Pasal 10 : PIL = 30 hari Pasal 12 : KA = 30 hari Pasal 16 : ANDAL = 90 hari Pasal 19 : RKL = 30 hari Pasal 20 : RPL = 30 hari Pasal 30 : Kualifikasi penyusun AMDAL dengan pemberian lisensi . dan pengembangan AMDAL diselenggarakan dengan koordinasi BAPEDAL. RKL/RPL sejak diterima oleh Komisi adalah 45 hari. Komisi : – Komisi Pusat – Komisi Daerah Pasal21: Kadaluwarsa. Pasal13: – Bagi kegiatan yang berada dalam kawasan sesuai peraturan perundangan – Pedoman teknis. Pasal 5: Pemberianizinusahadan kegiatan oleh instansi yang berwenang untuk jenis kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. apabila dalam 5(lima) tahun rencana kegiatan tidak dilaksanakan Pasal 23 3.. AMDAL Kawasan – 7. penelitian. 2. Pasal 12 : – Bagi kegiatan yang saling terkait. BKPM sebagai anggota tetap dan LSM sebagai anggota tidak tetap. o PIL dihilangkan Pasal 7 : – KA hanya perlu tanggapan tertulis dari komisi – Batas waktu tanggapan tertulis KA sejak diterima oleh Komisi adalah 12 hari Pasal 10 : Batas waktu penetapan ANDAL. AMDAL Kegiatan Terpadu – Menteri LH/Kepala BAPEDAL..dst PP 51/1993 Pasal 2 ayat (3) : Ditetapkan Menteri LH/ Kepala BAPEDAL setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. 90. apabila dalam 3 (tiga) tahun rencana kegiatan tidak dilaksanakan. Kadaluwarsa persetujuan AMDAL 9.1994 . Pasal 2 ayat (4) : Penapisan kegiatan ditinjau secara berkala sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. Pasal 22 – 25 – Setiap rencana usaha/ kegiatan wajib diumumkan oleh instansi yang bertanggung jawab Dokumen AMDAL bersifat terbuka untuk umurn – Peransertamasyarakat dalam bentuk saran dan pemikiran (lisan atau tertulis) kepada Komisi sebelum dokumen AMDAL disetujui BAPEDAL menggunakan dokumen AMDAL sebagai bahan penguji hasil pemantauan BAPEDAL dapat melakukan koordinasi dalam pengawasan. 102 Cermin Dunia Kedokteran.. 1. Lisensi dihilangkan Pasal 20 : Pendidikan.. Pasal 5 : Kaitan antara AMDAL dengan Keputusan tentang pemberian izin terhadap Perizinan rencana kegiatan oleh instansi yang berwenang di bidang perizinan hanya dapat diberikan setelah adanya keputusan persetujuan atas RKU RPL AMDAL Regional – 8. Pengawasan Pasal 31 .. 32. Kedudukan dan AMDAL Pasal 6: ayat (1) : AMDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan 10. Hanya ada 2 (dua) Komisi : – Komisi AMDAL Pusat – Komisi AMDAL Daerah Pasal 17 & 18 : (tetap) Keanggotaan komisi ditambahkan unsur BPN.No. Pasal 14 : AMDAL regional akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri LH/Kepala BAPEDAL..

sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan pengembangan lingkungan hidup. 2) Analisis mengenai dampak lingkungan adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Menetapkan : PEATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1) Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan. 6) Kerangka acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan. MEMUTUSKAN: Dengan mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 42). Menimbang : a) bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. b) bahwa setiap usaha atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkunan hidup yang perlu dianalisa sejak awal perencanaannya. e) bahwa berdasarkan hal tersebut di atas dipandang perlu mengatur penyempurnaan tersebut dalam Peraturan Pemerintah. 2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. 90. c) bahwa analisis mengenai dampak Iingkungan diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. pengendalian. 1994 103 . Edisi Khusus No. 8) Analisis dampak lingkungan adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana usaha atau kegiatan. Mengingat : 1) Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945. pemulihan. penataan. pemeliharaan. 4) Analisis mengenai dampak lingkungan kawasan adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan menyangkut kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab. d) bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 16 Undang-undang Nommor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selama ini berlaku perlu disempurnakan sesuai dengan berbagai perkembangan baru yang terjadi. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha atau kegiatan. Cermin Dunia Kedokteran.. 3) Analisis mengenai dampak lingkungan kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. 5) Analisis mengenai dampak lingkungan regional adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. 7) Pelingkungan adalah proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak penting. pengawasan.

(1) Analisis dampak lingkungan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha atau kegiatan yang langsung dilaksanakan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. dan kerusakan lingkungan. dengan pengertian bahwa kewenangan berada pada Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan dan pada Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 untuk usaha atau kegiatan yang berada di bawah wewenangnya. banyakanya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. penanggulangan dampak penting dan pemulihan kualitias lingkungan. f) g) berbalik atau tidak berbaliknya dampak. 15) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang mempunyai tugas pokok membantu Presiden dalam melaksanakan pengendalian dampak lingkungan hidup yang meliputi upaya pencegahan pencemaran. 1994 . introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. b) c) lamanya dampak berlangsung. g) penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan. jenis hewan. e) sifat kumulatif dampak. (2) Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu kcadaan darurat setelah mendengar saran-saran dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (2) Pedoman mengenai ukuran dampak penting sebagaimana dimaksud dalam ayat (l) ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan kemerosotan c) sumberdaya alam dalam pemanfaatannya. (3) Bagi jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib disusun analisis dampak lingkungan. dan jasad renik. 10) Rencana pengelolaan lingkungan adalah dokumen yang mengandung upaya penanganan dampak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha atau kegiatan. b) eksploitasi sumberdaya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. 11) Rencana pemantauan lingkungan adalah dokumen yang mengandung upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting akibat dari rencana usaha atau kegiatan. d) proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumberdaya alam e) dan atau perlindungan cagar budaya. 12) Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dilaksanakan. (4) Penapisan rencana usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud ayat (3) ditinjau secara berkala sekurangkurangnya sekali dalam lima tahun.9) Dampak penting adalah perubahan Iingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan sosial dan budaya. Edisi Khusus No. setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. 13) Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan tentang pelaksanakan rencana usaha atau kegiatan. Pasal 3 (1) Dampak penting suatu usaha atau kegiatan terhadap lingkungan hidup ditentukan oleh : a) jumlah manusia yang akan terkena dampak. h) kegiatan yang mempunyai risiko tinggi. yang bertugas membantu pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan di dalam proses pengambilan keputusan. 90. Pasal 2 (1) Usaha atau kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a) pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. luas wilayah persebaran dampak. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. i) (2) Menteri menetapkan jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan mempengaruhi pertahanan negara. dan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1. 14) Menteri adalah Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup dan mengendalikan dampak lingkungan. f) pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. Pasal 5 Pemberian izin usaha tetap oleh instansi yang membidangi jenis usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud 104 Cermin Dunia Kedokteran . kerusakan. 16) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan adalah komisi yang dibentuk oleh Menteri/menteri atau Pimpinan Lembaga pemerintah Non Departemen di tingkat pusat. d) intensitas dampak.

dan rencana pemantauan lingkungan yang diajukan pemrakarsa. dan rencana pemantauan lingkungan dinilai belum memenuhi persyaratan dalam pedoman teknis. (5) Pedoman umum tentang penyusunan kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. rencana pengelolaan lingkunagan. (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bersangkutan. Bagian Kedua Analisis Dampak Lingkungan. (4) Pedoman teknis penyusunan analisis dampak lingkungan. dan rencanapengelolaan lingkungan. Edisi Khusus No. (3) Berdasarkan hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan atas dokumen analisis dampak lingkungan. (6) Pedoman teknis tentang penyusunan kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan. wajib menyusun kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. (3) Pedoman umum penyusunan analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan.dalam Pasal 2 hanya dapat diberikan setelah adanya pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggung jawab. Pasal 18 ayat (3). (3) apabila dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja sejak diterimanya kerangka acuan tersebut komisi analisis mengenai dampak lingkungan tidak memberikan tanggapan tertulis. (2) Apabila dokumen analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan ditetapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan berdasarkan pedoman umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). 1 994 105 . dan rencana pemantauan lingkungan ditetapkan oleh Menteri. (2) Instansi yang bertanggung jawab memeberikan bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada pemrakarsa dengan mencantumkan tanggal penerimaan. BAB II TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 7 (1) Pemrakarsa yang mempunyai rencana usaha atau kegiatan sebagaimana disebut dalam Pasal 2. dan rencana pemantauan lingkungan diajukan sekaligus oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. pemrakarsa wajib memperbaiki sesuai petunjuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bertanggung jawab. (4) Kerangka acuan disusun oleh pemrakarsa berdasarkan pedoman umum atau pedoman teknis. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. 90. Pasal 10 (1) Keputusan atas analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. dan Pasal 19 ayat (1) dilakukan secara bersamaan. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. rencana pengelolaan lingkungan. Cermin Dunia Kedokteran . kerangka acuan tersebut sah digunakan sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkunan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Rencana Pengelolaan Lingkungan. Pasal 9 (1) Penilaian dokumen analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan oleh komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3). dan Rencana Pemantauan Lingkungan Pasal 8 (1) Analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya pengajuan analisis dampak lingkungan. instansi yang bertanggung jawab menetapkan keputusan terhadap analisis dampak lingkungan. Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha atau kegiatan.

rencana pengelolaan lingkungan. Pasal 11 (1) Apabila analisis dampak lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya.(2) Apabila keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa penolakan karena dinilai belum memenuhi pedoman teknis analisis dampak lingkungan. serta lembaga swadaya masyarakat dan pihak lain yang dianggap perlu. maka instansi yang bertanggung jawab memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. pemrakarsa dapat mengajukan keberatan kepada pejabat yang lebih tinggi dari instansi yang bertanggung jawab dengan menyampaikan tembusannya kepada instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dalam waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari sejak diterimanya keputusan penolakan. (3) Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan seperti tersebut dalam ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan. (3) Komisi sebagaimana tersebut dalam ayat (2) merupakan komisi gabungan yang keanggotaannya terdiri dari wakil-wakil instansi dan lembaga terkait tingkat pusat dan daerah. (5) Persetujuan atas dokumen analisis mengenai dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan terpadu/ multisektor ditetapkan oleh Menteri. dan rencana pemantauan lingkungan tersebut dinyatakan diberikan persetujuan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (4) Keputusan sebagaimanadimaksud dalam ayat (3) diberikan selambat-lambatnya 30 (tigapuluh) hari sejak diterimanya pemyataan keberatan dan merupakan keputusan terakhir. (4) Persetujuan atas dokumen analisis mengenai dampak lingkungan kawasan ditetapkan oleh menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. maka terhadap analisis dampak lingkungan. (2) Pedoman teknis penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan seperti tersebut dalam ayat (1) ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan. 90. Pasal 12 (1) Bagi rencana usaha atau kegiatan terpadu/multisektor dilakukan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu. 106 Cermin Dunia Kedokteran . dan rencana pemantauan lingkungan diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya pengajuan kembali perbaikan analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. (3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) instansi yang bertanggung jawab belum memberikan keputusan. 1994 . Pasal 13 (1) Penetapan kriteria tentang rencana usaha atau kegiatan. Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan Gugurnya Keputusan Persetujuan Analiais Dampak Lingkungan. baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis yang berada dalam satu kawasan yang berada di bawah kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab tersebut. dilaksanakan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan dari instansi yang bertanggung jawab. Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan Pasal 15 (l) Keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri dengan memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. dan ditetapkan oleh Menteri. apabila rencana usaha atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditetapkannya keputusan tersebut. (4) Pedoman teknis penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. maka keputusan atas perbaikan analisis dampak lingkungan. dengan memperhatikan pedoman teknis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab. (2) Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan bagi rencana usaha atau kegiatan terpadu/multisektor dilaksanakan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan terpadu dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 14 Ketentuan tentang pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan tentang usaha atau kegiatan yang direncanakan dalam satu zona rencana pengembangan wilayah. dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (3) Pejabat yang lebih tinggi dari instansi yang bertanggung jawab memberi keputusan atas pernyataan keberatan pemrakarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) setelah mendapat pertimbangan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Edisi Khusus No. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. (2) Terhadap keputusan penolakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

e) menilkai dokumen rencana pemantauan lingkungan. maka untuk melaksanakan rencana usaha atau kegiatannya. menetapkan telah terjadinya perubahan lingkungan yang sangat mendasar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di lokasi semula yang disetujui dan menjadi dasar pembuatan analisis dampak lingkungan. Pasal 18 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 membentuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah yang terdiri dari anggota tetap dan anggota tidak tetap. instansi yang membidangi lingkungan hidup di daerah. atau b) Analisis dampak lingkungan. lembaga swadaya masyarakat. rencana pengelolaan lingkungan. analisis dampak lingkungan. Badan Pertahanan Nasional di daerah. dan rencana pemantauan lingkungan wajib diperbaharui. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. wakil yang ditunjuk oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. (5) Pedoman mengenai susunan keanggotan dan tata kerja komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. sedangkan anggota tidak tetap diangkat dari unsur departemen dan atau lembaga pemerintah non departemen yang berkepentingan. 90. (2) Anggota tetap terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang bersangkutan. 1994 107 . dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan gugur atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. (g) melaksanakan tugas lain yang ditentukan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan . instansi pemerintah yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dan pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi di daerah yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan dinyatakan kadaluarsa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Anggota tetap terdiri dari unsur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. wakil yang ditunjuk oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. sedangkan anggota tidak tetap diangkat dari unsur instansi pemerintah yang membina sektor Cermin Dunia Kedokteran . Bagian Keempat Komisi Pasal 17 (1) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan membentuk komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat yang terdiri dari anggota tetap dan anggota tidak tetap. renca f) pengelolaan lingkungan. b) menanggapi dokumen kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan. Badan Pertahanan Nasional di daerah. serta anggota lain yang dipandang perlu. dan rencana pemantauan lingkungan kepada instansi yang bertanggung jawab. (3) Kriteria tentang perubahan lingkungan yang sangat mendasar ditetapkan menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang bertanggung jawab setelah berkonsultasi dengan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. Edisi Khusus No. Pasal 16 (1) Apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu rencana usaha atau kegiatan dilaksanakan. c) menilai dokumen analisis dampak lingkungan. setelah berkonsultasi dengan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah. d) menilai dokumen rencana pengelolaan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan. keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. (4) Dalam pelaksanakan tugasnya komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dapat dibantu oleh tim teknis yang bertugas menilai dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. wakil yang ditunjuk oleh Badan Pertahanan Nasional dan para ahli dalam bidang yang berkaitan. (2) Instansi yang bertanggung jawab. instansi pemerintah yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dan pusat studi lingkungan hidup di daerah. (3) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertugas : menyusun pedoman teknis pembuatan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan yang meliputi a) pembuatan kerangka acuan analiais dampak lingkungan. wakil yang ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri.(2) Apabila analisis dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan berdasarkan rona lingkungan baru tersebut menurut tata laksana sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) instnasi yang bertanggung jawab memutuskan : a) Analisis dampak lingkungan. membantu penyelesaian diterbitkannyakeputusan tentang dokumen analisis dampak lingkungan.

lembaga swadaya masyarakat. rencana tata ruang. dan pembangunan daerah yang berwawasan lingkungan. 108 Cermin Dunia Kedokteran . BAB III PEMBINAAN Pendidikan. 90. membantu penyelesaian diterbitkannya surat keputusan tentang analisis dampak lingkungan. rencana pengembangan wilayah. Pasal 23 Bagi rencana usaha atau kegiatan yang menyangkut rahasia negara ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 tidakberlu. Pasal 19 Dalam melaksanakan tugasnya. pelatihan. (3) Sifat keterbukaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk peran serta masyarakat dengan mengemukakan saran dan pemikirannya secara lisan dan atau tertulis kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat atau komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimanan dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18 sebelum keputusan persetujuan analisis mengenai dampak lingkungan terhadap rencana usaha atau kegiatan ditetapkan. kepentingan pertahanan keamanan nasional. (1) lnstansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan pcnguji terhadap. melaksanakan tugas lain yang ditentukan Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1. Edisi Khusus No. ditetapkan lebih lanjutoleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang bertanggung jawab. penelitian. serta anggota lain yang dipandang perlu. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. 1994 . dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Salinan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan serta salinan keputusan atas persetujuan dokumen tersebut disampaikan oleh instansi yang bertanggung jawab. atau b) di tingkat daerah kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan instansi terkait yang berkepentingan. dan rencana pemantauan lingkungan.yang bersangkutan di daerah. Usaha atau kegiatan golongan ekonomi lemah yang menimbulkan dampak penting serta bantuan pemerintah di bidang analisis mengenai dampak lingkungan. Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat 11 yang bersangkutan. (2) Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari setiap rencana usaha atau kegiatan serta keputusan mengenai persetujuannya bersifat terbuka untuk umum. BAB IV PENGAWASAN Pasal 22 (1) Setiap rencana usahaatau kegiatan yang perlu dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungannyawajib diumumkan oleh instansi yang bertanggung jawab. f) (4) Dalam melaksanakan tugasnya komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah dapat dibantu oleh ti m teknis yang bertugas menilai dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. (3) Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertugas : menanggapi dokumen kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak Iingkungan. rencana e) pengelolaan lingkungan. a) b) menilai dokumen analisis dampak lingkungan. menilai dokumen rencana pengelolaan lingkungan. (5) Pedoman mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dan komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18. c) d) menilai dokumen rencana pemantauan lingkungan. a) di tingkat pusat kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. instansi terkait yang berkepentingan.

Cermin Duniu Kedokleran. 1994 109 . instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dalat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. BAB V PEMBIAYAAN Pasal 26 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi pusat dan komisi daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 dan Pasal 18 dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. Pasal 27 (1) Biaya untuk menyusun dokumen analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari biaya usaha atau kegiatan yang direncanakan dan dibebankan pada pemrakarsa. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan c) yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. Edisi Khusus No. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. S.H. Nahattands. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Oktober 1993 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 23 Oktober 1993 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1993 NOMOR 84 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIS KABINET Rl Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ub. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.a) laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. (2) Hasil pengujian sebagaimnana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen dan gubemur kepala daerah tingkat I yang bersangkutan. Pasal 28 Biaya pemantauan yang dilaksanakan oleh pemerintah terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh pemrakarsa menjadi tanggung jawab instansi pemerintah yang bersangkutan. Agar setiap orang mengetahuinya. b) laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 29 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (2) Biaya pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dibebankan pada anggaran pelaksanaan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 90. Kepala Bagian Penelitian Perundang-undangan 1 Lambock V.

1994 . sejak awal perencanaan usaha atau kegiatan sudah diperkirakan perubahan rona Iingkungan akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan yang baru. sehingga dapat diambil keputusan yang optimal dari berbagai altematif yang tersedia. c) rencana pengelolaan lingkungan. d) intensitas dampak.Penjelasan atas Peraturan Pemerintah Republik lndonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. t) sifat kumulatif dampak tersebut. Dampak penting menurut penjelasan Pasal 16 tersebut ditentukan antara lain oleh : a) jumlah manusia yang akan terkena dampak. d) rencana pemantauan lingkungan. g) berbalik (reversible) atau tidak berbalik (irreversible) dampak. Pendayagunaan sumberdaya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat harus disertai dengan upaya untuk melestarikan kemarnpuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang guna menunjang pembangunan yang berkesinambungan. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha atau kegiatan tersebut. c) lamanya dampak berlangsung. Edisi Khusus No. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Yang dimaksud dengan "analisis mengenai dampak lingkungan" dalam angka 2 sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka 10 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan secara berturut-turut : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. Pasal 16 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. baik generasi sekarang maupun generasi mendatang. Dengan demikian. dan dilaksanakan dengan kebijaksanaan terpadu dan menyeluruh serta memperhitungkan kebutuhan generasi sekarang dan mendatang. adalah pembangunan berwawasan lingkungan. 90. Untuk mencapai tujuan ini. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan ke dalam proses perencanaan suatu usaha atau kegiatan. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha atau kegiatan pembangunan. Analisis mengenai dampak lingkungan merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. b) luas wilayah persebaran dampak. Berdasarkan hal tersebut di atas perlu pengaturan lebih lanjut mengenai usaha atau kegiatan yang akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Kegiatan pembangunan dan jumlah penduduk yang meningkat dapat mengakibatkan tekanan terhadap sumberdaya alam. b) analisis dampak lingkungan. tetapi di lain pihak ketersediaan sumberdaya alam terbatas. e) banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat tersebut. Yang dimaksud dengan "analisis mengenai dampak lingkungan usahaatau kegiatan terpadu/multisektor" dalam angka 3 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan terpadu/multisektor yang secara berturut-turut meliputi : 110 Cermin Dunia Kednkterun. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana merupakan tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup.

dan proses produksinya. Kriteria usaha atau kegiatan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu/multisektor meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang analisis mengenai dampak lingkungannya menjadi kewenangan berbagai instansi teknis yang membidanginya. Cermin Dunia Kedokteran. c) rencana pengelolaan lingkungan. atau badan hukum. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. Dengan demikian penyebutan jenis usaha atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. c) pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. d) kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. pengelolaan. d) usaha atau kegiatan tersebut terletak dalam satu zona rencana pengembangan wilayah sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah. Edisi Khusus No. c) rencana pengelolaan lingkungan. d) usaha atau kegiatan tersebut dapat menjadi kewenangan satu pengelola atau lebih. b) kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. bendungan. d) rencana pemantauan lingkungan. Yang dimaksud dengan analisis mengenai dampak lingkungan kawasan dalam angka 4 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan yang sejenis danlatau yang tidak sejenis yang menjadi kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab berturutturut meliputi : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. dan proses produksinya. Yang dimaksud dengan "kerangka acuan" dalam angka 6 adalah ruang lingkup studi rencana usaha atau kegiatan yang telah disepakati antara komisi dengan pemrakarsa untuk dilaksanakan di dalam studi analisis dampak lingkungan. b) analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan " rencana pengelolaan lingkungan" dalam angka 10 adalah dokumen upaya penanganan dampak lingkungan dari hasil studi analisis dampak lingkungan. b) analisis dampak lingkungan. b) masing-masing usaha atau kegiatan tersebut menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. sebagai contoh seperti usaha atau kegiatan : a) pembuatan jalan. c) Usaha atau kegiatan tersebut berada dalam satu ekosistem yang sama. Yang dimaksud dengan "analisis dampak lingkungan" dalam angka 8 adalah dokumen hasil penelaahan secara mendalam dampak penting. c) usaha atau kegiatan tersebut berada dalam satu ekosistem yang sama. Kriteria usaha atau kegiatan tersebut di atas meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. "Badan" meliputi badan pemerintah dan badan usaha milik negara. 1994 11 1 . Yang dimaksud dengan "orang " dalam angka 12 adalah seorang. pengelolaan. c) rencana pengelolaan lingkungan. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Kriteria usaha atau kegiatan tersebut di atas meliputi : a) berbagai jenis usaha atau kegiatan yang analisis mengenai dampak lingkungannya menjadi kewenangan satu sektor yang membidanginya. 90. d) Usaha atau kegiatan tersebut dapat berada di bawah satu pengelola atau lebih. b) analisis dampak lingkungan. b) berbagai usaha atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. Yang dimaksud dengan analisis mengenai dampak lingkungan regional dalam angka 5 adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan bagi berbagai usaha atau kegiatan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya yang menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab berturut-turut meliputi : a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan hal-hal penting dalam angka 7 adalah berbagai aspek usaha atau kegiatan dan parameter lingkungan yang dianggap penting untuk dikaji.a) kerangka acuan bagi penyusunan analisis dampak lingkungan. e) usaha atau kegiatan tersebut dapat terletak di lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. d) rencana pemantauan lingkungan. b) berbagai usaha atau kegiatan tersebut ada dan/atau tidak ada keterkaitannya satu sama lain dalam hal perencanaan. Pasal 2 Ayat (1) Usaha atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan usaha atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Yangdimaksud dengan "rencana pemantauan lingkungan" dalam angka 11 adalah dokumen upayapemantauan dampak lingkungan dari hasil rencana pengelolaan lingkungan berdasarkan analisis dampak lingkungan untuk mengawasi tingkat ketaatan pada pelaksanaan. d) rencana pemantauan lingkungan. pandangan dan atau cara hidup masyarakat setempat. kelompok orang. c) usaha atau kegiatan tersebut dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa.

Ayat (2) Penetapan adanya keadaan darurat harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan saran-saran yang dimaksudkan tersebut adalah berupa masukan secara tertulis dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan upaya pemantauan lingkungan (UPL) sesuai dengan yang ditetapkan di dalam syarat-syarat perizinannya menurut peraturan yang berlaku. 1926-226) seperti yang telah diubah dan ditambah dengan S. sehingga tidak bersifat limitatif. Ayat (2) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan memberikan masukan kepada Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Ayat (4) Penapisan usaha atau kegiatan yang telah ditetapkan oleh Menteri atau sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulf) kan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Dalam menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan tetap diharuskan melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UKL). Dengan adanya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung risiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. Misalnya dapat berupa syarat tambahan seperti yang disebutkan dalam Pasal 11 ayat (1) Ordonansi Gangguan (S. Bagi rencana usaha atau kegiatan yang tidak ada dampak pentingnya. atau e) pencemaran benda cagar budaya. Pasal 3 Ayat (1) Faktor yang menentukan adanya dampak penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat pengetahuan yang ada. h) penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatip terhadap kesehatan. Ayat (3) Cukup jelas. Edisi Khusus No. S. ditinjau untuk penyempurnaannya sekurang-kurangnya satu kali dalam 5(Iima) tahun apabila dipandang perlu. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. maka studi kelayakan bagi usaha atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis. Dengan mempertimbangkan masukan tadi Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kemudian menetapkan jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan untuk masing-masing sektor. kerusakan kawasan konservasi alam. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian dari studi kelayakan pada ekosistem tertentu. dan atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya tidak termasuk dalam kategori ini. Pasal 7 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan merupakan pegangan yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses penyusunan analisis dampak lingkungan.kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. Pasal 6 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan dari aspek ekonomis finansial. analisis ekonomis finansial. Pasal 5 Keputusan atas pelaksanaan yang baik terhadap rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan merupakan prasyarat dalam pemberian izin suatu usaha atau kegiatan bagi rencana usaha atau kegiatan yang ditetapkan wajib analisis mengenai dampak lingkungan. hak kuasa pertambangan (KP) bagi usaha atau kegiatan di bidang pertambangan. Izin dimaksud adalah izin usaha tetap bagi usaha atau kegiatan industri sebelum kegiatan produksi komersialnya dilaksanakan. dan hak pengusahaan hutan (HPH) untuk bidang kehutanan dan izin-izin lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. berupa daftar jenis usaha atau kegiatan masing-masing sektor yang berpotensi menimbulkan dampak penting. 1994 . 1927-499. Faktor ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 11 2 Cermin Dunia Kedokteran. g) penggunaan bahan hayati dan nonhayati mencakup pula pengertian pengubahan. 1940-14 dan 450. Pasal 4 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan yang kondisi yang sedemikian rupa. Ayat (2) Untuk menetapkan ukuran mengenai dampak penting faktor (a) sampai dengan (g) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan mengadakan konsultasi dengan Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan. dan analisis mengenai dampak lingkungan. 90.

Ayat (5) Cukup jelas. rencana pengelolaan lingkungan. Ayat (4) Kegiatan setiap sektor berbeda sehingga diperlukan Pedoman Teknis untuk menampung sifat khas usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini tetap perlu memperhatikan hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18. dan rencana pemantauan lingkungan. Namun terdapat pula kemungkinan bahwa dampak negatif tersebut tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. Pasal 8 Ayat (1) Perlunya dokumen analisis dampak lingkungan. Ayat (2) Apabila pernyataan keberatan atas keputusan penolakan diajukan melewati jangka waktu 14 (empat belas) hari. Pedoman Teknis ditetapkan oleh Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup/Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Ayat (2) Dalam hal instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan berupa penolakan atas analisis dampak lingkungan. 90. rencana pengelolaan lingkungan. Cermin Dunia Kedokterun. Ayat (2) Cukup jelas.Kerangka acuan terutama memuat hal-hal yang berdasarkan pelingkupan aspek usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak penting dan parameter lingkungan yang akan terkena dampak penting. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (3) Ketentuan dalam ayat ini. 1994 11 3 . rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan tersebut tidak termasuk hari libur. Pasal 9 Ayat (1) Hal ini dimaksudkan untuk menghemat waktu dan biaya di dalam penilaian dokumen analisis dampak lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas. dan rencana pemantauan lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan diajukan secara bersamaan disamping membantu penyusun menganalisis dokumen secara terpadu dan menyeluruh sebagai satu kesatuan. Ayat (2) Cukup jelas. maka keberatan yang diajukan pemrakarsa tersebut ditolak. dimaksudkan untuk memperoleh keseragaman di dalam penyusunan analisis dampak lingkungan. juga dapat menghemat waktu. dan rencana pemantauan lingkungan yang ditolak tersebut. rencana pengelolaan lingkungan. sehingga rencana usaha atau kegiatan tersebut harus ditolak dengan memberikan alasan penolakannya. Apabila tanggapan tertulis belum diberikan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari. dan biaya penyusunan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. Ayat (4) Pedoman Umum penyusunan kerangka acuan digunakan bilamana Pedoman Teknis penyusunan kerangka acuan untuk usaha atau kegiatan di sektor yang bersangkutan belum ditetapkan. Pasal 10 Ayat (1) Ayat (3) Jangka waktu selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya pengajuan analisis dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan. maka berlaku ketentuan seperti tersebut dalam ayat (3). Pasal 11 Ayat (1) Dalam kegiatan tertentu dampak negatif masih dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. Apabila setelah dilakukan perbaikan atau penyempurnaan terhadap studi analisis dampak lingkungan. maka instansi tersebut memberikan petunjuk tentang penyempurnaannya. Ayat (3) Tanggapan tertulis diberikan oleh komisi analisis mengenai dampak lingkungan instansi yang bertanggung jawab kepada pemrakarsa rencana usaha atau kegiatan bilamana kerangka acuan tersebut dinilai masih belum memenuhi Pedoman Teknis yang telah ditetapkan. Ayat (3) Cukup jelas. Edisi Khusus No. kemudian diserahkan kepada instansi yang bertanggung jawab dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja ternyata belum mendapat jawabannya. maka KA (Kerangka Acuan) dianggap sah sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkungan atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini.

Keadaan ini menimbulkan konsekuensi gugurnya keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan tersebut. Pasal 16 Ayat (1) Perubahan lingkungan yang sangat mendasar adalah perubahan yang mempengaruhi secara positif atau negatif pengelolaan lingkungan hidup. seperti antara lain : – Kawasan Industri sesuai Keputusan Presiden Nomor 53 tahun 1989 tentang Kawasan Industri. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pertimbangan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan diperlukan dalam rangka keterpaduan dengan kebijaksanaan nasional secara menyeluruh maupun kebijaksanaan sektoral dalam pengendalian dampak lingkungan. bagi kegiatan penanaman modal asing dan penanaman b) modal dalam negeri. Pasal 15 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. dan rencana pemantauan lingkungan berdasarkan rona lingkungan yang baru. pejabat yang lebih tinggi dimaksud adalah : a) Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan. sehingga mempermudah atau mempersulit tercapainya tujuan pengelolaan tersebut. rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah diberikan tersebut perlu ditinjau kembali.Ayat (3) Pejabat yang lebih tinggi bagi Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang dimaksud dalam ayat ini adalah Presiden. dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona Iingkungan. 1994 . Ayat (4) Keputusan ini merupakan keputusan "akhir". Ayat (2) Dalam hal ini. keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan. Ayat (5) Cukup jelas. Perubahan yang disebabkan oleh peristiwa alam atau tindakan untuk mengatasi keadaan darurat tidak termasuk dalam pengertian ini. Ayat (2) Pemrakarsa menyusun ulang dokumen analisis dampak lingkungan. 114 Cermin Dunia Kedokteran. Edisi Khusus No . sehingga rona lingkungan yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis dampak lingkungan tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. bagi kegiatan sektoral. Untuk kegiatan yang merupakan wewenang Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1. pemrakarsa melakukan penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan terpadu. Ayat (3) Pihak lain yang dianggap perlu dapat ditunjuk dari ahli atau wakil masyarakat yang akan terkena dampak. artinya terhadap keputusan tersebut tidak dapat lagi diajukan keberatan. Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal. Pasal 13 Ayat (1) Kawasan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kawasan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 12 Ayat (1) Bagi rencana usaha atau kegiatan yang memenuhi kriteria analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu/multisektor sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 butir 3 dan penjelasannya. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. rencana pengelolaan lingkungan. Pasal 14 Cukup jelas. – Kawasan Pariwisata sesuai Undang-undang Nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan. Ayat (4) Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk memperoleh keseragaman dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan usaha atau kegiatan terpadu/multisektor. Terjadinya perubahan lingkungan secara mendasar berarti hilangnya rona lingkungan awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan. 90. Ayat (3) Cukup jelas.

Ayat (3)

Pengertian berkonsultasi di sini adalah melakukan pembahasan bersama. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas.
Ayat (2)

Pengangkatan para ahli yang dipandang perlu sebagai anggota tetap komisi analisis mengenai dampak ling-kungan pusat adalah untuk memantapkan bobot penilaian dokumen analisis mengenai dampak lingkungan. Duduknya wakil yang ditunjuk Menteri Dalam Negeri dan wakil yang ditunjuk instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektoral baik di pusat, maupun di daerah. Pengangkatan unsur departemen atau lembaga pemerintah non departemen yang bersangkutan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan sektor yang berkaitan langsung dengan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Sedangkan kehadiran lembaga swadaya masyarakat diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat usaha atau kegiatan tersebut.
Ayat (3)

Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat menilai dan menetapkan dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan yang dibiayai : a) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sejauh mengenai usaha atau kegiatan instansi yang bersangkutan. b) oleh swasta, yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat pusat. Komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat melaksanakan pula tugas yang ditentukan Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan yang bersangkutan, sejauh berkaitan langsung dengan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf (a) sampai dengan huruf (g). Hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat terhadap dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dijadikan dasar bagi Menteri dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang bertanggung jawab dalam proses pengambilan keputusan.
Ayat (4)

Cukup jelas.
Ayat (5)

Cukup jelas. Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota tetap komisi daerah adalah untuk memantapkan bobot keilmuan dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan. Adanya wakil yang ditunjuk dari instansi yang membidangi lingkungan hidup di daerah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Pertanahan Nasional di daerah dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. Pengangkatan unsur instansi pemerintah pembina sektor yang bersangkutan di daerah dimaksudkan untuk menjamin kepentingan sektor yang berkaitan langsung dengan rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Sedangkan kehadiran lembaga swadaya masyarakat diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha atau kegiatan tersebut.
Ayat (3)

Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah menilai dan menetapkan dokumen-dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari rencana usaha dan kegiatan yang dibiayai : a) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; b) oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, apabila penyelenggaraan rencana usaha atau kegiatan tersebut diserahkan kepada daerah; c) oleh swasta, yang izin usahanya dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di tingkat daerah. Komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah melaksanakan pula tugas lain yang ditentukan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1, yang berkaitan langsung dengan tugas sebagaimana dimaksud dalam huruf (a) sampai dengan huruf (f) ayat ini. Hasil penilaian komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah terhadap dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dijadikan dasar oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 dalam proses pengambilan keputusan. Ayat (4) Cukup jelas.
Ayat (5)

Cukup jelas. Pasal 19 Keterpaduan merupakan ciri utama pengelolaan lingkungan hidup, sehingga dalam menilai anbalisis mengenai dampak lingkungan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup serta pengembangan wilayah dan

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994

11 5

pembangunan daerah perlu terkait dengan serasi Pasal 20 Pelaksanaan pendidikan, latihan dan penelitian dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan dapat pula dilakukan oleh usaha swasta atas prakarsa warga masyarakat dengan mengacu pada kurikulum yang ditetapkan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Pengumuman rencana usaha atau kegiatan yang antara lin dapat melalui media massa dan/atau papan pengumuman pada instansi yang bertanggung jawab dimaksudkan agar masyarakat dapat mengajukan saran dan pemikirannya. Pengajuan saran dan pemikiran tersebut kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan pusat dan komisi analisis mengenai dampak lingkungan daerah merupakan peran serta setiap orang dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 6 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ayat (2) Yang dimaksud dengan terbuka untuk umum adalah bahwa setiap orang dapat memperoleh keterangan dan/atau salinan analisis dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan, dan rencana pemantauan lingkungan serta keputusan mengenai ketiga hal itu. Dokumen-dokumen tersebut tersedia pada instansi yang bertanggung jawab. Ayat (3) Masyarakat yang berkepentingan selalu perlu didorong dan diberikan kesempatan untuk memberikan masukan mengenai rencana usaha aau kegiatan tersebut kepada komisi analisis mengenai dampak lingkungan yang bersangkutan agar keputusan komisi tersebut sedapat mungkin menampung aspirasi masyarakat yang berkepentingan tersebut, sebelum dokumen analisis dampak lingkungan disetujui. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Ketentuan ini dimaksudkan pula untuk memberikan pelayanan dan kemudahan informasi mengenai pengelolaan lingkungan yang berkaitan dengan pembangunan. Di samping itu dapat pula dimanfaatkan untuk mengembangkan jaringan informasi pusat dan daerah. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Maksud dikirimkannya hasil pengujian kepada Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang membidangi usaha atau kegiatan dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan adalah agar dapat dipergunakan dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan. Hasil pengujian tersebut disertai saran tindakan yang perlu dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. Ayat (3) Tindakan tersebut sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dapat di antaranya berupa penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh perbedaan kepentingan antar sektor di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Ayat (1) Biaya yang dimaksudkan dalam pasal ni merupakan bagian dari biaya studi kelayakan. Ayat (2) Hasil rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan menetapkan perlunya pemrakarsa menyaediakan biaya untuk melalukan upaya-upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat mengikat, khususnya pada kegiatan di dalambatas wilayah proyeknya, sedangkan untuk biaya pemantauan di luar batas proyek \merupakan tanggung jawab pemerintah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 28 Pemerintah mempunyai wewenang untuk melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh pemrakarsa. Untuk melakukan aktifitas tersebut pemerintah menyediakan anggaran biaya melalui anggaran biaya instansinya. Pasal 29 Cukup jelas.

Pelayanan Penderita Lanjut Usia
Persiapan Rumah Sakit dalam Mengantisipasi Kasus Lanjut Usia
Dr. B. Ahmad Sanosal Tambunan Direktur Rumah Sakit Islam, Jakarta

PENDAHULUAN Mulai bulan April 1994 nanti kita memasuki tahun pertama rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). Tantangan pembangunan tahap ini berada dari tantangan yang dihadapi pada pembangunan jangka panjang tahap I. Perbedaan ini terasa pula dalam pembangunan di bidang kesehatan. Berkat kemjuan yang dicapai dalam pembangunan jangka panjang pertama, tampak adanya penurunan angka kematian kasar, kematian bayi dan balita serta ada peningkatan umur harapan hidup. Angka gangguan gizi menurun pula dengan sangat bermakna. Kemajuan tersebut menimbulkan perubahan struktur penduduk dan pola penyakit. Jumlah mausia mengantisipasi besarnya masalah penyakit-penyakit yang kebanyakan diderita oleh oleh kelompok berusia lanjut ini, marilah kita kaji kecendrungan perkembangan jumlah kelompok usia lanjut di Indonesia M. Alwi Dahlan mengemukakan bahwa: 1) Seseorang disebut sebagai usia lanjut bila telah berumur 60 tahun atau lebih. Bila didasarkan usia pensiun maka usia lanjut adalah 65 tahun ke atas. 2) Sensus penduduk menunjukkan peningkatan jumlah penduduk sebagai berikut: a. Usia 65 tahun : tahun 1971 sebesar 2,98 juta (2,5%) meningkat menjadi 6,96 juta (3,88%) pada tahun 1990. Menurut perkiraan Bank Dunia keompok ini akan menjadi 4,33% pada tahun 1995; 4,775 pada tahun 2000 dan 5,57% pada tahun 2010 serta 7,08% dalam tahun 2020. b. Untuk usia 55 tahun ke atas, terjadi kenaikan dari 8,9% atau 16,1 juta pada tahun 1990 menjadi 10,7% atau 18,67 juta pada tahun 2000. c. Kelompok usia 60+ mengalami kenaikan dari 6,9% (7,38 % juta) menjadi 7,4% atau 15,4 juta orang. 3) Dalam profil kualitatif, dikemukakan bahwa kemajuan kesehatan yang menyebabkan penurunan angka

kesakitan, peningkatan kebugaran, bertambah panjangnya umur, perubahan gaya hidup, serta pengembangan compression morbidity mempunyai potensi meningkatkan produktivitas kelompok lanjut usia. Dari apa yang dikemukakan di atas, bidang pembangunan kesehatan mempunyai peluang untuk menjadikan kelompok usia lanjut ini hidup produktif dan menjadi manusia berkualitas sebagai sumberdaya yang penting bagi pembangunan lebih lanjut, terutama didukung oleh makin tingginya jumlah mereka yang mempunyai pendidikan yang baik. Penelitian yang talh dilakukan tehadap kesehatan sekelompok usia lanjut, menunjukkan bahwa beberapa penyakit seperti kanker, diabetes melitus, CVD, penyakit jantung koroner, oeteoporosis, banyak diderita oleh kelompok ini. Penyakit-penyakit ini umumnya tidak dapat hanya ditangani oleh pelayanan kesehatan dasra seperti yang dilakukan di Puskesmas/Balkesmas, tetapi memerlukan penanganan spesialistis dan perawatapn inap yang terdapat di rumah sakit. Oleh karena itu, peran rumah sakit untuk saat ini dan masa mendatang makin penting. Orientasi pelayanan rumahs aikt tidak hanya pada pelayanan kuratif saja, tetapi lebih luas daripada itu, mulai dari pelayanan promotif, kuratif sampai pada rehabilitatif yang dilakukan secara terprogram dan terpadu. Untuk dapat melaksanakan pendekatan ini, rumah sakit harus melakukan koordinasi dengan bersbagai organisasi/instansi lainnya. Hal in didasarkan pada pemikiran bahwa beberapa penyakit yang diderita kelompok lanjut usia ini pada hakikatnya dapat dicegah atau sekurang-kurangnya dapat dicegah timbulnya gangguan yang lebih cbesar tehadap kesehatan kelompok lansia; contoh penyakit diabetes melitus yang dipengaruhi oleh gaya hidup, demikian pula hipertensi. Hal-hal ini dapat dicegah sejak usia muda. Dengan mengkaji hal-hal yang telah dikemukakan terdahulu, sudah sepantasnya kalau rumah sakit mempersiapkan diri untuk menerima kelompok lanjut usia afar dapat dilayani sebagaimana mestinya. KECENDRUNGAN KESEHATAN DI MASA YANG AKAN DATANG DAN PERAN RUMAH SAKIT

. Dan ini akan menimbulkan masalah bagi kehidupan kelompok usia lanjut ataupun kelompok anak dan remaja. dan rehabilitasi.l. Penyakit yang diderita kelompok usia lanjut pada hakikatnya beragam jenisnya. Sebagaimana telah disebutkan pada babpendahuluan. preventif dan kuratif serta rehabilitatif perlu dilakukan melalui berbagai saluran pelayanan. Struktur penduduk berubah. Sasaran tersebut hanyalah dapat dicapai bila rumah sakit telah mempersiapkan diri untuk melakukan pelayanan paripurna yang didasari pada wawasan pendekatan manusia seutuhnya yaitu bahwa setiap manusia selain terdiri dari aspek jasmani. tekanan darah tinggi dan lain-lainnya. iman. Dalam wawasan in. makin banyak masalah kesehatan/kedokteran yang dapat diatasi. gaya hidup sehat yang menyangkut pembagian waktu kerja/kegiatan fisik dan istirahat yang seimbang. Sedangkan untuk mereka yang meninggal. penyakit-penyakit semula yang akan muncul penyakit-penyakit yang umumnya diderita oleh kelompok usia lanjut. paling tidak hanya ia dapat melakukan tugas pemeliharaan dirinya sendiri sehingga tidak terlalu tergantung pada orang lain. pola makan yang makin menggemari fast food yang menyebabkan kurangnya intake gizi seimbang membantu timbulnya penyakit-penyakit jantung koroner. Gaya hidup yang kurang aktifitas fisik. Dengan beralihnya kehidupan agraris ke kehidupan industrial. dan kuantitas makanan). Rumah sakit akan makin mampu dalam mendeteksi penyakit dan penyebabnya maupun perjalanan penyakit. Hasil penelitian terhadap kelompok lansia Meningkatnya status kesehatan masyarakat selain ditunjukkan oleh menurunnya angka kematian dan kesakitan. banyak suami dan istri bekerja dan anak-anak yang ditinggalkan di rumah bersama pengasuh atau diditpkan ke tempat penitipan anak. Berubahnya pola penyakit pada kurun waktu yang akan datang menyebabkan meningkatnya kebutuhan pelayanan rumah sakit. sangat jelas peranan rumah sakit dalam mengentisipasi perubahan pola penyakit di masa mendatang. demikian pula dengan upaya penyembuhan dan rehabilitasi yang diperlukan. Untuk diagnostik dan terapeutik dilaksanakan oleh rumah sakit sedangkan rehabilitasi dilaksanakan di rumah sakit dan di luar rumah sakit. Upaya promotif dilakukan sejak dini yakni sejak manusia berusia muda. Susunan keluarga yang berupa extended family menjdai nuclear family. Sikap dan perilaku hidup menimbulkan ketenangan lahir dan perilaku hidup yang menimbulkan ketenangan lahir dan batin. dalam mempersiapkan pelayanan kepada kelompok lanjut usia rumah sakit bukanlah merupakan salah satu nya institusi yang dibutuhkan. Oleh karena itu persiapan rumah sakit dalam penanganan kasus lanjut usia perlu diarahkan untuk dapat menampung kebutuhan itu. pada kurun waktu PJPT III akan makin menonjol penyakit non infeksi dan penyakit degeneratif. . juga memiliki aspek mental/spiritual dans osial. diakui adanya sosok manusia itu sendiri. PERSIAPAN RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI TANTANGAN PELAYANAN KASUS LANJUT USIA Tujuan persiapan rumah sakit dalam mneghadapi tantangan pelayanan bagi kasus lanjut usia adalah kesembuhan penderita lanjut usia dari penyakit yang dideritanya dan menjaga serta meningkatkan produktifitas kehidupannya. Dengan gambran tersebut di atas. pelaksanaan imunisasi dan upaya spesifik lainnya seperti olahraga khusus bagi manula untuk mencegah atau mengurangi intensitas osteoporosis.Kurun waktu pembangunan jangka panjang tahap kedua mempunyai ciri yang berbeda dari PJPT I. Upaya kuratif dan rehabilitatif meliputi kegiatan diagnostik.l. olahraga kesehatan. selain itu diakui pula hubungan manusia itu dengan khaliknya dan hubungan manusia denganlingkungannya. membaiknya status gizi juga ditunjukkan oleh meningkatnya angka harapan hidup. khususnya teknologi komunikasi. Gaya hidup juga berubah dan makin meningkatnya kesejahteraan dan majunya teknologi. gangguan jiwa akan akan semakin menonjol pula. Oleh karena itu peningkatan mutu pelayanan rumah sakit dalam sistem rujukan medik makin penting makna keberadaannya dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Mengkaji keadaan yang akan datang sebagaimana telah disebutkan di atas. terapeutik. Pola hidup ketiga generasi mulai ditinggalkna. Upaya yang bersifat promotif. takwa dan ikhlas. jumlah kelompok usia lanjut makin besar. Kelompok sosial masyarakt juga berubah. Upaya preventif khusus a.l. upaya ini berupa penyuluhan dan praktek pencegahan terjadinya gangguan kesehatan a. Penggunaan alat-alat canggih di satu pihak dan lahirnya spesialisasi/subspesialissasi kedokteran membantu fungsi tersebut. pada kurun waktu ini menjadi terbalik. Bila penderita tidak dapat sembuh total. saat-saat akan meninggal menerima bimbingan rohani sehingga menghadapi maut secara tenang dan iman sesuai kepercayaan agama masing-masing. dan lain-lain. Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang mampu melaksanakan fungsi tersebut. a. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. kandungan gizi seimbang dalam menu sehari. kebiasaan makan atau pola makan yang baik (ditinjau dari segi waktu. Hal-hal tersebut berpengaruh pada pola penyakit. Hal ini dimungkinkan karena tersedianya sarana teknologi canggih. hobby yang baik. berubah pula tata kehidupan keluarga. yang semula menunjukkan jumlah besar di kelompok usia bawah lima tahun.

maka para dokter khususnya yang mempunyai peluang menangani kasus-kasus lanjut usia perlu memahami data/karakteristik kelompok ini sehingga mempunyai kewaspadaan yang tinggi dalam menegakkan diagnosis dan dalam melakukan pantauan terhadap efektivitas pengobatan. Maka alangkah baiknya bila rumah sakit dapat memiliki tenaga dokter yang telah mendalami cabang ilmu ini. walaupun pada wanita ternyata lebih tinggi dari pada laki-laki.5% pada tahun 1990. padahal gejala-gejala ini merupakan gejala penting dari adanya kelainan kesehatan tertentu. 1980 dan tahun 1990.5 tahun 63.28 Laki-laki dan perempuan (tahun) 45.80/tahun 1986 dan 61.000 penduduk usia > 55 tahun.5% dan 8. struktur umur penduduk Indonesia masih tergolong "muda" artinya proporsi penduduk yang berumur di bawah 15 tahun masih tinggi walaupun secara berangsur mulai menurun. Peningkatan angka harapan hidup terjadi pada kedua jenis kelamin. 59. sedangkan proporsi anak di bawah lima tahun terlihat menurun yaitu 16. serta inkontinesia urine.1% pada tahun 1970 menjadi 14.9% dan 36.20 50.80 61. Perbandingan usia harapan hidup dengan negara lain Negara Jepang Singapura Malaysia Philipina Thailand Indonesia Usia harapan hidup 78.3 tahun 73. Gerontologi sebagai disiplin ilmu kedokteran yang mengkaji masalah lansia telah berkembang.2% tahun 1971 menjadi 98.5 tahun 69.69 61.4% pada tahun 1989 dan 11. Oleh karena itu perlu diwaspadai gejalagejala nonspesifik ini agar tidak terjadi kesalahan diagnosis.7% pada tahun 1990.2% pada tahun 1990. pe- .l. Cennin Dunia Kedokterun. menunjukkan ciri-ciri yang menarik. PENYAKIT PADA KELOMPOK LANJUT USIA Walaupun hasil SKRT terbaru 1990 belum ada tetapi menurut hasil SKRT 1980 dan SKRT 1986 menunjukkan angka kesakitan untuk masing-masing penyakit sebesar 11.97% pada tahun 1971 menjadi 40.21 59.54 63.73 52.7% sedangkan pada SKRT 1986 angka kesakitan pada semua umur turun menjadi 15. sasaran pelayanan bagi kelompok lanjut usia oleh rumah sakit.8% 3.8% pada tahun 1980 dan 9. Edisi Khusus No.17 53.21/tahun 1976. angka kesakitan untuk semua umur menurut SKRT 1980 adalah 25. perbandingan laki-laki dan perempuan meningkat dari 97.73 pada tahun 1967 menjadi berturut-turut 52. Persiapan ini perlu dilakukan dalam bidang-bidang berikut : 1) Sumber Daya Manusia Pengembangan sumber daya manusia yang terpenting adalah : a) Tersedianya dokter yang menguasai pengetahuan dan cara penatalaksanaan kasus manusia lanjut usia.5% 2. kuratif dan rehabilitatif sangat perlu diterapkan secara terpadu dan berkesinambungan. Lima penyakit terbanyak yang diderita adalah( 3 ) : 15. : penyakit degeneratif kronik. Data di atas menunjukkan bahwa pendekatan paripurna yang meliputi kegiatan promotif. yaitu 43. Penelitian terhadap kelompok lanjut usia menunjukkan bahwa pada usia lanjut terjadi secara umum penurunan vitalitas dan kemandiriannya. Infeksi saluran nafas akut Penyakit yang biasanya diderita oleh kelompok lanjut usia adalah a. kehilangan nafsu makan.Tabel 1.06 59.2% 5. Kerentaan sosial meningkat baik fisik maupun mentalnya. Kedua.59 Perempuan (tahun) 47.1%. menjadi pendorong bagi rumah sakit untuk memnersiapkan diri. Estimasi angka harapan hidup menunjukkan adanya peningkatan dari 45. karena akan membantu pengenalan penyakit dan sebab-sebabnya serta penatalaksanaannya secara tepat dan cepat. confusion (apathy leading characteristics).49% pada tahun 1980 dan 1990.1% 4. Gambaran statistik penyakit yang diderita kelompok lanjut usia di rumah sakit adalah sbb : — 40% penyakit kardio serebrovaskular — 25% kanker — 15% non spesifik — 5% trauma — 15% lain-lain. Tampak pula gejala non spesifik seperti menurunnya indera rasa sakit. 1994 119 Keterangan : Sumber Profil Kesehatan Indonesia 1992. Bronkhitis 10. PERSIAPAN RS UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN PELAYANAN KELOMPOK LANJUT USIA Rincian penduduk Indonesia menurut golongan umur (dalam %) dan jenis kelamin tergambar dalam piramida pendudukan hasil sensus tahun 1971. preventif. penyakit saluran urogenital. Jumlah kelompok lanjut usia yang akan makin meningkat.49/tahun 1990. Pertama.5 tahun nyakit saraf. proporsi penduduk usia lanjut (> 55 tahun) semakin bertambah yaitu 6. Gangguan muskuloskeletal 13. penyakit sendi. menurunnya reaksi termal. Saat ini diperkirakan pada sekitar 16.3%.4% pada tahun 1971 menjadi 7. Ketiga. 90. Tahun Laki-laki (tahun) 42. perubahan reaksi terhadap obat. penyakit kardioserebrovaskular.6% 1.8% pada tahun 1980 dan 99.64 58.5 tahun 65 tahun 61. Bila belum ada. Penyakit pembuluh darah 14. serta penyakit endokrin. serta data penelitian yang menyajikan fakta tentang kelompok lanjut usia. Banyaknya wanita yang berusia lanjut pada dekade tahun 1990 akan membawa dampak terhadap pola pelayanan kesehatan di masa-masa yang akan datang.49 1967 1976 1986 1990 Tabel 2. TBC 12.650. Estimasi angka harapan hidup di Indonesia tahun 1967-1990.

khususnya dalam membantu dirinya melakukan pekerjaan hidup sehari-hari (makan.000 penduduk berusia > 55 tahun. 120 Cermin Dunia Kedokteran. 4) KESIMPULAN Telah dicoba menyusun pemikiran tentang Pelayanan Penderita Lanjut Usia : persiapan rumah sakit dalam mengantisipasi kasus lanjut usia. Marilah kita wujudkan motto WHO : Add life to years bukan Add years to life. ke belakang. Hal ini berdasarkan fakta bahwa dengan meningkatnya status kesehatan dalam satu dasawarsa terakhir maka umur harapan hidup meningkat dengan tajam. Orang tua di satu pihak memerlukan intake gizi yang tinggi. 3) Prasarana/sarana non medis Telah dikemukan bahwa kelompok lanjut usia mengalami kemunduran dalam tingkat kemandiriannya. perlu dipikirkan cara lain yakni mempersiapkan SDM untuk lebih siap menerima kelompok lanjut usia sebagaimana adanya. 69 tahun menjadi 63. pelayanan kelompok lanjut usia dilakukan dalam ruangan khusus. maka pemantauan apakah makanan yang dihidangkan dimakan habis oleh penderita menjadi sangat penting artinya.serebrovaskular).59 pada tahun 1990. Jaringan Epidemiologi Nasional.2% pada tahun 1990 menjadi 11. Lembaga Demografi FEUI. laki-laki 50. 1994 .28 tahun pada tahun 1990. namun di lain pihak terjadi penurunan nafsu makan. Sebagai contoh : tenaga gizi. Japan Aging Research Center. Profil Kesehatan Indonesia 1992. agar dapat dilakukan tindakan yang diperlukan secara cepat dan tepat pula sangat diperlukan.Dutch Foundation. Jakarta 15 Oktober 1993. KEPUSTAKAAN 1. kepentingan pembangunan bangsa dan negara kita. 5. 13 Oktober 1992. Pelayanan yang sabar namun profesional diperlukan oleh kelompok lanjut usia. Departemen Kesehatan R. 2. dan lain-lainnya). Tantangan pelayanan bagi kelompok lanjut usia telah dihadapai dan merupakan fakta. 3. 90. Menjalin hubungan dengan instansi/organisasi lain Tujuannya adalah untuk menciptakan suasana yang sesuai bagi kelompok lanjut usia. Proc. 6. Japan. Pusat Data Kesehatan Jakarta. bahkan rumah sakit khusus dan perkampungan khusus. Japan. Makalah-makalah yang disajikan pada Simposium Tantangan dan Peluang Usia Lanjut Tahun 2000. Berilah makna hidup selalu sekalipun pada usia yang telah lanjut. Dalam kaitan ini penerapan alat canggih untuk diagnostik dan terapeutik kiranya diperlukan. Tentunya hal ini sangat ideal. 1992. Tokyo 102. Karena hidup yang bermakna akan mendatangkan keutungan pada diri sendiri dan masyarakat lingkungan. Pusat Penelitian Kesehatan LPUI. efektivitas dan efisiensi pelayanan bagi kelompok lanjut usia. Peningkatan Kualitas Hidup Lansia. agar pelayanan yang disediakan sesuai dengan yang diharapkan. 64 tahun meningkat menjadi 59. minum. Pola penyakit juga bergeser dari infeksi saluran nafas menjadi penyakit-penyakit pembuluh darah (kardio. sosial dan spiritual pada lanjut usia perlu tersedianya tenaga yang dapat melayani aspek ini seperti tenaga pekerja sosial. Di negara-negara maju. mungkin karena adanya handikap fisik. Maka marilah kita bersamasama menyambutnya dengan rencana dan langkah nyata untuk Indoesia. Keadaan ini masih sulit dikembangkan saat ini. 4. Wanita pada tahun 1976.650. Pada tahun 1976. Naskah Iengkap Kursus Geriatri. FKUI . perlu ada penyesuaian sarana fisik untuk membantu agar mereka tidak sangat tergantung pada orang lain.b) Tersedianya tenaga paramedis yang memahami karakteristik kelompok lanjut usia sehingga mempunyai kewaspadaan yang tinggi akan gejala yang menyimpang akibat perubahan fisio-bio-fisiologik serta mental/spiritual dan sosial penderita lanjut usia. dan gangguan muskuloskeletal sehingga pengelola rumah sakit dan sarana kesehatan lain harus tanggal terhadap estimasi untuk golongan usia lanjut ini. diarahkan untuk memberi lingkungan kehidupan yang nyaman dan sesuai bagi kelompok lanjut usia. BKKKS DKI Jakarta. Aspek mental. 1992. 2) Penyediaan sarana diagnostik dan terapeutik Sarana diagnostik yang dapat mendeteksi kelainan secara tepat dan cepat. Adanya fasilitas tersebut di atas. Pelaksanaan tugas secara terpadu antara berbagai jenis tenaga tersebut di atas akan membantu kelancaran. New Horizons in Aging Science. Upaya ini juga sangat bermanfaat bagi pemantauan keadaan penderita pasca perawatan. baik berupa rujukan keahlian maupun dalam menghimpun dana untuk membantu proses penyembuhan dan rehabilitasi penderita. Oleh karena itu. Jakarta 9-11 November 1992. oleh karena itu. Edisi Khusus No. c) Tersedianya tenaga lain yang terkait yang juga memahami hal-hal yang bersangkutan tentang kelompok lanjut usia. Fourth Asia/Ocenia Regional Congress of Gerontology. Jumlah penduduk yang berusia > 55 tahun pada tahun 1980 hanya 9. 53.I. Namun demikian hendaknya pemanfaatan alat-alat canggih ini berdasarkan indikasi medis yang kuat sehingga tidak membebani ekonomi pasien/keluarganya. Peringatan Hari Lanjut Usia lntemasional.7% berarti pada tahun 1990 ada sekitar 16.. pembina rohani dan ahli jiwa (psikolog/psikiater).

1. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad.4.2. 3.4.2.5.2..3.3.2. Dari jumlah tersebut Poliklinik Penyakit Dalam mendapat kunjungan yang tertinggi. Mempraktekkan hukum syara dalam perawatan. Dalam usianya yang ke-22 bulan Juli yang lalu RS Islam Jakarta saat ini telah mempunyai 495 TT dengan BOR rata-rata 75%.2. an pria/wanita Memadukan syara dengan tata laksana teknis. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".2.2. karena itu maafkanlah mereka. 4. Kepegawaian : 4.1. Namun hingga saat ini RS Islam Jakarta belum mempunyai klinik khusus untuk pasien usia lanjut. Kelas 114. yang membedakan adalah sclain perawatanjasmani/fisik medis juga perawatan rohani dan perawatan dari petugas sosial. Pemeliharaan 4.3.2.3. 4. Febris.4%. Tarif terjangkau Penekanan pada pencegahan 5. Mushola 3.4%.1. maka bertaqwalah kepada Allah. Commotio Cerebri.4. 4. Diabetes Mellitus.2.1. Amanah 4. Infeksi 2. NILAI-NILAI ISLAM SEBUAH RUMAH SAKIT 1) Niat atau misi waktu mendirikan 2) Pemilikan aset 3) Penampilan : 3. Berfungsi sosial : 61.4.4.6%. Auditability dan accountability 4. 4.2.1.3. Infeksi saluran napas. ESWL dan sebagainya.5. Infeksi lain. Akhlak 3.2. Lembaga khusus Studi Islam 4.5.3. Scan. Penjabaran tekhnis dalam praktek 8. Azas keterbukaan 4. sopan dan berdedikasi tinggi dalam melayani pasien. RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA 1) Surat Al Isra 23 (17:23) :"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya . berarti ada atensi khusus kepada golongan Lansia.W.4. 90. Memberi kemungkinan pengemban lahan seperti diisyaratkan oleh studi Islam Berpihak kepada kaun Dhu afa : 5. 5.1.4.1. Kejelasan hak dan kewajiban 4. Kostum 3.2 Karyawan : 3. khususnya hubung8. Penampilan/Hospitality 4) Manajemen : 4. 8. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar. sayang sekali tidak terdapat data umur yang berobat di masing-masing poliklinik. Typhoid fever.3.Suplemen : Usaha-usaha yang Dapat Dilakukan dalam Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang lslami Bagi Penderita Lanjut Usia di Rumah Sakit lslam Jakarta PENDAHULUAN Q.3%. 4.2. S: As-Syuara ayat 80 :"Dan bila aku sakit D1A (ALLAH) lah yang akan menyembuhkanku ". serta menjadikan rumah sakit sebagai sarana ibadah kepada Allah S.4. 4.5. Kelas Utama 3. Keuangan : 4. Sistem kamar kecil 3.2. Motto/hiasan dinding 3. Tidak boros/hemat 4.1. tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.4.1.Sejak tahun 1989 RS Islam berdasarkan Surat Keputusan Gubernur dan Surat Keputusan dari direktur RS swasta dan khusus telah dinyatakan sebagai RS Swasta Tipe Utama. Kelas III 48.3. 4.3. sebagai ujud nyata dari program sosial pemerintah di bidang Rumah Sakit maka penyediaan TT di RS Islam sebagai berikut : Kelas VIP 1. 4. Kepemimpinan 4.3. RAWAT INAP DI RS ISLAM JAKARTA Bagi pasien-pasien yang perlu mendapat perawatan di RS lslam Jakarta maka akan dilakukan asuhan keperawatan bagi pasien-pasien sebagaimana di rumah sakit lain. Infeksi saluran pencernaan. 3.5. dan motto ini menjadi motto utama pada semua RS Islam yang dimiliki oleh yayasanlorganisasi Muhammadiyah.1 Mengutamankan cakupan Mengupayakan program kesehatan masyarakat 6.3. USG. 4.3%. Sedangkan dari bagian rawat inap adalah Oktober 1991-1992 : 1.1. Modal : 4. Mohonkanlah ampun bagi mereka dalam urusan itu. Kemudahan pasien beribadah 3. Amanah 4. 1994 12 1 .2. Kelas II 32. Penyakit yang terbanyak yang diderita dari bagian rawat jalan adalah : 1.1. Petugas rohani akan memberi tuntunan rohani lslam bagi pasien-pasien yang menjelang operasi dan Cermin Dunia Kedokteran. Musyawarah 4. 5) 6) 7) 8) Efisien Sistem : Terbuka Adil Lugas Disepakati Orientasi misi Struktur : Adanyalembaga/eselon khusus yangdibinaterus-menerus masalah kelslaman 4. Motto ini terpampang di depan bagian pendaftaran Rumah Sakit Islam Jakarta.4.1. Mengemban fungsi dawah Keilmuan/profesionalitas sebagai ciri Islam : Pengembangan tekhnis/spesialisasi 8. 2) Mengacu kepada ayat Allah pada Qur'an surat Ali Imron ayat 159 :"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.1. 4. merupakan amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan. lain . lnfeksi saluran napas.T. Edisi Khusus No. jumlah pasien rawat jalan rata-rata 310 pasien/hari yang berobat ke 17 poliklinik.1.1. Kebijakan/hikmah 4.3. Dalam melakukan pelayanan kepada pasien semua jajaran petugas RS Islam Jakarta diwajibkan untuk berlaku lemah lembut.3.2.2. Misi dari Rumah Sakit ini adalah memberikan pelayanan kesehatan yang profesional dan Islami serta berpihak pada kaum dhu'afa.2.1.2. RS Islam Jakarta didirikan pada 23 Juni 1971.. 2.1.4. Pasien-pasien baik pasien lansia dan pasien yang lain dilayani di 17 poliklinik yang disediakan yang dilengkapi dengan alat-alat canggih antara lain CT.

Dan bagi pasien-pasien yang dalam keadaan sakaratul maut akan dilakukan pelayanan khusus tersendiri yaitu pelayanan khusnul khatimah. Kondisi kejiwaan yang seperti inilah yang harus kita selamatkan. Tidak jarang karena keadaannya itu pasien atau keluarganya menyalahkan petugas medis karena tidak ada kemajuan pengobatan. adzan serta pada waktu ada siaran sentral. Pasien yang dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta sebagian besar beragama Islam maka sudah sewajarnyalah biroh mempunyai tugas penting. Ruang dilengkapi dengan sound system untuk memperdengarkan bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. Rumah Sakit Islam Jakarta atau Rumah Sakit lslam lain haruslah mempunyai suatu ciri khas untuk menangani pasien-pasien dengan kondisi tersebut di atas dengan cara pasien khusnul khotimah. Juga kondisi kejiwaan keluarganyaharus dipersiapkan untuk menghadapi saat-saat perpisahan yang selama-lamanya dengan keluarga yang dicintainya. Khusus : Memberi perawatan terpadu secara Islami terhadap pasien-pasien dalam stadium terminal dan pasien-pasien tanpa harapan (hopless). 122 Cermin Dunia Kedokteran. dilengkapi dengan kamar mandi. terpisah dengan ruang perawatan lain. yang kriterianya akan ditentukan bersama dengan team medis. dan cukup ruang untuk sholat. Psikiater adalah untuk menjaga kestabilan jiwa pasien sekaligus menenangkan dan memberi pengertian kepada keluarganya untuk berbuat sesuatu yang akan lebih menentramkan si pasien.Biroh bertugas memberi tuntunan sesuai dengan petunjuk agama baik bagi pasien. Perawatan oleh Ahli Agama/Pembimbing Rohani Bersamaan dengan perawatan oleh psikiater. dirawat sampai pulang baik dalam keadaan sembuh maupun dalam keadaan meninggal. mulai dari saat pasien datang ke rumah sakit. Saat penting dalam tahap kehidupan manusia adalah akhir hayatnya. gagal ginjal berat dan lain-lain. Sasaran: Pasien-pasien yang dirawat di Rumah Sakit IslamJakartadengan persetujuan keluarganya untukdirawat secara khusnul khotimah. atau agak jauh dengan ruang perawatan lain. kadang-kadang keluarga pasien tidak tahu dan tidak mampu untuk menyampaikan kepada pasien dimaksud. Letak ruangan di tempat yang tidak terlalu bising. dan janganlah kamu sekali-kali mati. asuhan keperawatan sama seperti pasien lain. Pada beberapa kasus pasien datang dengan penyakit yang belum ada obatnya misalnya kanker. dan diberi tuntunan secara agama. Pelayanan khas dari rumah sakit Islam adalah di samping pelayanan kesehatan secara medis. 1994 . Psikiaterlah yang memahami kondisi kejiawaan si pasien pada saat tersebut. bahwa akhir hidupnya segera tiba. atau datang dalam keadaan terminal state. Jadi secara lengkap RS lslam Jakarta melakukan sekaligus perawatan medis. Binroh diharapkan berhasil menyadarkan pasien. PROGRAM PERAWATAN KHUSNUL KHATIMAH (DYING CARE) BAGI PASIEN RAWAT INAP DI RS ISLAM JAKARTA Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat : 102 "Wahai orang-orang yang beriman !. perawatan sosial. Pasien dipilih dari pasien dengan kriteria : – Pasien kanker dalam stadium terminal – Pasien dengan penyakit lain tanpa harapan. serta menjauhkan pasien dari perilaku syirik dan su'udhon pada akhir hayatnya.pasien-pasien yang akan melahirkan. Dalam keadaan seperti itu mental (rohani) pasien dapat terguncang dan mudah sekali terjerumus dalam hal-hal yang berbau syirik. bagaimana menghadapi pasien yang sedang dalam sakaratul maut. kita luruskan agar aqidah si sakit tidak menyeleweng di saat akhir hayatnya. dan melepaskan kepergian orang (saudara) yang dicintainya dengan cara yang ma'ruf sesuai dengan tuntunan agama. 3 atau 4 kamar yang agak luas. Kepada keluarganya lebih dahulu harus disadarkan akan kondisi si sakit. misalnya : pasien AIDS. Biroh memberikan tuntunan tata-cara menTalkin. Psikiater harus dipilih. jantung berat. Rumah Sakit Islam Jakarta yang didirikan pada tahun 1971 mempunyai tujuan antara lain memberi pelayanan kesehatan yang Islami. 90. untuk kamar mandi keluarga yang menunggu. Pesan-pesan yang dirawat di RS Islam Jakarta dengan keadaan yang sudah terminal state fidak selalu mengetahui hal tersebut. maupun bagi keluarganya. tenang dan teduh. Adalah menjadi beban moral bagi petugas di bagian Bimbingan Rohani Pasien untuk memberi bimbingan bagi pasien maupun keluarganya agar pada saat sakaratul maut pasien tetap berada pada kondisi keimanan yang mantap. dalam pembinaan pelayanan pasien yang dirawat. nyaman dan tidak terkesan angker. dan membawa pasien pada ajaran agama antara lain untuk menuliskan wasiat. iklhas sehingga padawaktu menghadap Illahi pasien dalam keadaan berserah diri jauh dari rasa su'udhan kepada Allah SWT. Tujuan : Umum : Mengupayakan agar pasien meninggal secara "khusnul khotimah". di mana pengobatan secara medis hanya dimaksudkan sebagai pengobatan simptomatis saja dan untuk memperpanjang umur. diberi pelayanan/bimbingan rohani kepada pasien pada waktu dirawat. menuntun talkin dan sebagainya. Setiap kamar untuk satu pasien. melainkan dalam beragama Islam (berserah diri)". misalnya mempercayai bahwa penyakitnya merupakan "kiriman dari orang yang membencinya". Di dalam ajaran Islam sebelum ajal datang dianjurkan untuk membuat wasiat. atau berwasiat dengan baik kepada yang akan ditinggalkan. perawatan rohani. semua orang Islam mengharapkan bahwa pada akhir hayatnya akan berakhir secara khusnul khotimah. atau menggelar tikar untuk keluarganya yang ingin membacakan Qur'an. Perawatan : Perawatan secara medis : tetap diberikan sesuai dengan instruksi dokter. bersih. Edisi Khusus No. serta memberi tuntunan dalam tata cara pembagian warisan. Biroh harus berfungsi secara aktif mendukung perawatan dokterpsikiater. Padahal ini merupakan sesuatu yang penting agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan sepeninggal si pasien kelak. tata cara mengurus dan merawat jenazah serta tata cara mensholat-kan jenazah juga menguburkannya. Penatalaksanaan Perawatan : Diperlukan satu ruangan khusus. bertaqwalah kepada Allah dengan sebenaz-benar taqwa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->