P. 1
Sosial, Ekonomi Dan Kependudukan

Sosial, Ekonomi Dan Kependudukan

|Views: 71|Likes:
Published by greenakses
sosekbudkesmas
sosekbudkesmas

More info:

Published by: greenakses on Mar 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2013

pdf

text

original

5 Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

KEPENDUDUKAN Pendahuluan Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk kota telah menjadi bagian yang penting dalam pembangunan di Indonesia pada beberapa dekade terakhir. Berdasarkan definisi dari Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah penduduk kota meningkat dari 32,8 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 55,4 juta jiwa pada tahun 1990 dan meningkat kembali menjadi 86,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada saat yang sama, jumlah penduduk desa meningkat dari 114,5 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 122,8 juta jiwa pada tahun 1990. Namun, jumlah tersebut kemudian menurun menjadi 119,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada akhirnya, proporsi penduduk kota meningkat tajam dari 22 persen pada tahun 1980 menjadi 42 persen pada tahun 2000 (TABEL 5 - 1).1 Jumlah tersebut menunjukkan terjadinya transformasi yang besar dalam masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, dari yang masyarakat berciri desa, yang terlihat dari sistem pemerintahan dan perdagangannya (terutama adalah komoditas pertanian) yang mendukung pengembangan kota secara terbatas, menjadi masyarakat kota, gaya hidup kota dan yang paling penting adalah keterkaitan penduduk dengan ekonomi kota yang akan membentuk pola pembangunan dan pertumbuhan kota. Dalam hal ini, tingkat pertumbuhan penduduk desa yang rendah (berangka negatif pada tahun 1990-an) pada TABEL 5 - 1 tidak menunjukkan penurunan angka pada pertumbuhan penduduk desa yang sebenarnya, akan tetapi karena terjadinya perubahan dari tempat dengan karekateristik desa menjadi tempat dengan karakteristik kota walaupun jumlah penduduknya tetap statis.

1 Karena beberapa masalah pada sensus tahun 2000, jumlah penduduk yang diperkirakan sebesar 459.557 jiwa (kota) dan 1.857.659 jiwa (desa). Tambahan sebesar 566.403 jiwa penduduk kota dan 1.717.478 jiwa penduduk desa dihitung secara formal tetapi tidak menjawab karakteristik individual.

126

Metropolitan di Indonesia

TABEL 5 - 1 Jumlah dan Tingkat Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan Kota/Desa di Indonesia Tahun 1980, 1990 dan 2000
Tahun Kota Desa Jumlah % Kota

1980 1990 2000 1980-1990 1990-2000

Jumlah Penduduk 32.845.829 114.485.994 147.331.823 55.389.171 123.805.052 179.194.223 86.406.587 119.436.609 205.843.196 Tingkat Pertumbuhan Penduduk (%) 5,23 0,78 1,96 4,58 -0,37 1,43

22,3 30,9 42,0

Catatan: (1) Jumlah penduduk kota tidak memasukkan penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap (tuna wisma, penduduk yang tinggal di atas perahu, dll.) yang memiliki jumlah sekitar 158 ribu pada tahun 1980 dan 127 ribu pada tahun 1990. Jumlah penduduk tersebut pada tahun 2000 tidak diketahui. (2) Tingkat pertumbuhan dihitung berdasarkan rumus P(t)=P(0)ert Sumber: Biro Pusat Statistik (1991), Badan Pusat Statistik (2001)

Bagian ini akan menjelaskan secara singkat karakteristik urbanisasi di Indonesia berdasarkan kependudukannya yang dipusatkan pada lima kota besar yang secara umum didefinisikan sebagai kawasan metropolitan antara lain: (1) Mebidang yaitu Kawasan Metropolitan Medan yang meliputi Kota Medan dan sekitar Kota Binjai dan Kabupaten Deli Serdang; (2) Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur, meliputi Ibukota Jakarta dan kawasan sekitar Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota dan Kabupaten Tangerang, dan Kota dan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Cianjur; (3) Kawasan Bandung Metropolitan meliputi Kota dan Kabupaten Bandung dan sebagian dari Kabupaten Sumedang; (4) Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila yang terdiri dari Kota Surabaya sebagai pusat, kawasan sekitar meliputi Kabupaten Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, dan juga Kota Mojokerto; (5) Kawasan Metropolitan Mamminasata meliputi Kota Makassar dengan Kabupaten di sekitarnya, yaitu Maros, Takalar dan Gowa (dulunya bernama Sungguminasa). Tulisan ini akan melihat pola urbanisasi, yang menekankan pada pengelompokan kembali2 beberapa karakteristik sosial ekonomi penduduk dalam ruang lingkup metropolitan dan beberapa diskusi mengenai bagaimana terjadinya perubahan pola tersebut. Definisi Kota Bagaimanapun juga perlu kehati-hatian dalam menganalisis pola pertumbuhan penduduk kota. Ada dua alternatif definisi kota di Indonesia. Pertama adalah definisi secara administratif, yaitu berdasarkan unit pemerintah lokal yang otonomi yang disebut Kotamadya yang setara dengan status hukum pemerintahan kota. Kedua adalah secara
2

Pendekatan ini digunakan karena kurangnya data rinci mengenai penduduk untuk menghitung perubahan penduduk berdasarkan demografi-pertumbuhan alami (perbedaan antara kelahiran dan kematian) dan net-migrasi (perbedaan antara migrasi masuk dan keluar).

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

127

fungsional, yaitu setiap unit pemerintahan terkecil yang memiliki kesetaraan dengan status desa atau kota yang fungsional berdasarkan karakteristiknya. Ciri utama dalam definisi fungsional yang digunakan oleh BPS yaitu status desa/kelurahan dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan bertambah padatnya penduduk, berkurangnya kegiatan pertanian atau meningkatnya fasilitas dan pelayanan kota. Pengelompokan kembali (secara jelas antara desa dan kota) menjadi faktor utama dalam menjelaskan pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan yang cepat, yaitu membandingkan 30-35 persen dari pertumbuhan kota pada tahun 1990an dengan jumlah migrasi desa-kota sebesar 20-25 persen (World Bank 2003).
TABEL 5 - 2 Perubahan Definisi Kota Sebelum dan Sesudah Podes 2000
Kepadatan Penduduk (per Km2) 19802000Nilai 1990 Sekarang <500 500-999 1000-1499 1500-1999 2000-2499 2500-2999 3000-3499 3500-3999 4000-4999 5000+ <500 500-1249 1250-2499 3500-3999 4000-5999 6000-7499 7500-8499 8500+ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Persentase Rumah Nilai terhadap Tangga Pertanian Jumlah Fasilitas Umum 1980– 2000– Keter- KeterNilai Nilai 1990 sekarang sediaan jangkauan >95 91-95 86-90 76-85 66-75 56-65 46-55 36-45 26-35 2570,0 50-69 30-49 20-29 15-19 10-14 5-9 51 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Catatan: Definisi Kota tahun 2000 berdasarkan data PODES 2000 (a) dapat digunakan dari tahun 1980 sampai 1990-an; (b) dapat digunakan sejak tahun 2000 Tipe-tipe fasilitas publik: (a) Skor hanya untuk ketersediaan: SD, SMP, SMA, rumah sakit, klinik ibu dan anak, pusat kesehatan, jalan yang dapat digunakan kendaraan roda 3 atau 4, kantor pos, pasar permanen, pusat perbelanjaan, bank, pabrik, restoran, pelayanan umum listrik dan jasa penyewaan. (b) Skor untuk keterjangkauan (1 atau 0): TK (1 jika ≤ 2,5 Km), SMP dan SMA ((1 tiap ≤ 2,5 Km), pasar (1 jika ≤ 2Km), bioskop (1 jika ≤ 5 Km), pertokoan (1 jika ≤ 2 Km), rumah sakit (1 jika ≤ 5 Km), hotel/bilyard/diskotek/salon (1 jika tersedia), % rumah tangga yang memiliki telepon (1 jika ≥ 8%), dan % rumah tangga yang menggunakan listrik (1 jika ≥ 90%) Sumber: Definisi awal berasal dari Sigit dan Sutanti 1983 dalam Peter Gardiner 1993 dan juga pada BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 1990an. Definisi berdasarkan PODES 2000 didapatkan dari BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 2000an.

Perubahan definisi fungsional BPS – menganggap status kota berdasarkan sistem penilaian yang melibatkan kriteria kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga pertanian dan jumlah fasilitas kota – dapat dilihat pada TABEL 5 - 2. Definisi kota fungsional yang dikembangkan pada dekade 1970-an diterapkan pertama kali secara nasional pada Sensus Penduduk tahun 1980 dan dipertahankan sampai tahun 1990an. Perubahan yang

4) 2. Pentingnya pengelompokan dalam menghitung pertumbuhan penduduk kota tidak dapat diabaikan.987 5. TABEL 5 .9 3.7 Sumber: Peter Gardiner (1993).309 2.050 3.3 persen dan 1. berdasarkan analisis dari data-data tahun 1980 dan 1990 pada tingkat desa yang menjelaskan perubahan-perubahan nama.8 (1.8 persen dan jumlah penduduk desa menurun dengan rata-rata per tahun sebesar 1. perhitungan berdasarkan data pada tingkat desa/ kelurahan menunjukkan bahwa perubahan pada Jabotabek dan Metropolitan Bandung selama tahun 1980-an telah berkontribusi secara signifikan pada pertumbuhan jumlah penduduk di kawasan metropolitan.4) 3.3 Definisi terkini sangat berbeda dengan definisi sebelumnya dalam hal isi (walaupun metodologi yang digunakan. pertumbuhan penduduk per tahun pada dua kawasan metropolitan tersebut masing-masing adalah sebesar 2. Sensus Penduduk pada tahun yang berakhiran 0. sementara definisi terkini mempertimbangkan akses yang kebanyakan diukur berdasarkan jarak capai.050 3.607 1. Setiap tahun penduduk kota di Jabotabek dan Metro Bandung masing-masing tumbuh sebesar 5.946 5.4 persen. .830 13.063 544 2.8 persen dan 4. Di dalam kawasan kota inti.524 3. kode dan batas wilayah.6 2.411 911 3.558 11.337 1.2 persen di Metro Bandung sehingga masingmasing berkontribusi sebesar 41 persen dan 31 persen dari seluruh pertumbuhan penduduk di kawasan metropolitan tersebut (Gardiner 1993).8 (0. indeks komposit dan skor masih tetap sama). Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 3.4 persen dan 0.3 2.337 4.9 persen di Jabotabek dan 5.4 2.6 5.131 2.068 4.6 3. Definisi baru juga memperkenalkan perubahan pada jenis fasilitas publik dan pada apa yang diukur.067 2.322 1.5 1.128 Metropolitan di Indonesia signifikan diperkenalkan berdasarkan PODES (Potensi Desa) 2000.946 16.996 9. sementara pertumbuhan penduduk pada wilayah yang lebih luas meningkat lebih tinggi yaitu sebesar 7.220 3.895 7. Definisi awal hanya mempertimbangkan ketersediaan sebagai ukuran.6 persen. khususnya di Pulau Jawa yang pemerintah dan kegiatan ekonominya sangat berperan dalam konversi guna lahan dan untuk kepentingan pengelompokan yang 3 PODES (Potensi Desa) dilakukan untuk mempersiapkan tiga sensus utama yaitu.2 2.3 7.322 1. Berdasarkan definisi baru tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk desa meningkat secara signifikan dan proporsi rumah tangga pertanian menurun.3 Dekomposisi Pertumbuhan Penduduk di Jabotabek dan Metropolitan Bandung tahun 1980 – 1990 Kawasan Jabotabek Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Metro Bandung Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Yang terdata Kota desa Total Kawasan stabil 1980 Kota Perluasan 1990 Kota Desa 7.828 13.063 2. dan Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 6.730 9.987 4. Sebagai contoh.

Sosial. . tingkat migrasi keluar yang tinggi. 4 Berdasarkan Ernest Burgess tahun 1925 dengan judul the pattern of growth of American cities (Chinoy 1967. 7 jentrifikasi (gentrification) adalah perubahan sosial ekonomi kawasan pusat kota karena berpindahnya penduduk miskin digantikan oleh penduduk dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi. dan kawasan pinggiran kota digunakan sebagai perluasan permukiman penduduk. dan perluasan kawasan permukiman. dan Kependudukan 129 lain. industri berat. Pengelompokan tersebut memberi kesan bahwa urbanisasi mempercepat peran parameter demografi. industri ringan. pertumbuhan alami dan migrasi dalam pertumbuhan penduduk metropolitan yang akan dikelompokkan dan dikembangkan kembali. tetapi hal tersebut tidak akan menyebabkan perubahan besar pada pertumbuhan penduduk di pusat kota karena pembangunan di pusat kota tersebut seringkali tidak menggantikan permukiman kumuh (untuk masyarakat miskin) sebelumnya yang lebih padat. seperti pusat perbelanjaan dan supermarket mewah. Secara demografis. sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan pengembangan wilayah dan jalur transportasi. 5 Dikemukakan oleh Homer Hoyt tahun 1939 yang memodifikasi rencana Burgess dengan memfokuskan pada pergerakan-pergerakan antar sektor yang didesak dari arah luar dengan mengikuti jaringan jalan utama (Chinoy 1967: 279) 6 Dikembangkan oleh Edward Ullman dan Chauncey Harris yang mengidentifikasi pertumbuhan khusus di daerah inti yang mengalami perubahan karena fungsinya seperti komersial. dari permukiman menjadi non-permukiman khususnya untuk kegiatan komersial. 279). tetapi belakangan ini perkembangan pergerakan penduduk menunjukkan fenomena seperti pada teori kombinasi antar sektor5 dan pola konsentrik6. bukan permukiman yang cukup luas. Walaupun akhir-akhir ini (khususnya setelah krisis moneter) muncul perubahan ke arah jentrifikasi7 pada kawasan inti di beberapa kawasan metropolitan melalui peningkatan pembangunan apartemen dan town house yang sering kali dengan standar kenyamanan internasional. atau mengalami perubahan. Ekonomi. dan karena pembangunan di kawasan pusat kota tersebut juga memerlukan fasilitas. hal. Pola Permukiman Penduduk dan Pertumbuhan Kota Pola ekologi urbanisasi di Indonesia ditunjukkan oleh perkembangan Kawasan Metropolitan Jabodetabek yang semakin besar. sedangkan kawasan pinggiran kota dicirikan dengan tingkat migrasi ke dalam yang tinggi dan sebagai akibatnya adalah meningkatnya jumlah penduduk absolut. Walaupun pada awalnya terlihat seperti pola konsentrik4. ciri utama kota-kota besar di Indonesia adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang didefinisikan untuk kawasan inti kota yang sebagian besar proporsi guna lahan pada kawasan tersebut dimanfaatkan terutama untuk. Kawasan inti dicirikan dengan berbagai faktor antara lain penurunan penduduk absolut.

246 17.22 0.742 Catatan: Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data survey penduduk desa tahun 1995 Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Mamas dan Komalasari (akan datang)8 membagi Kawasan Metropolitan Jabodetabek menjadi core.265 3.8 5.44 3.008 12.01 2. inner dan outer fringe.551 1.089 1. serta menunjukkan bahwa kawasan fringe yang sebagian besar masih merupakan kawasan perdesaan masih berada di dalam kawasan metropolitan yang besar dan menunjukkan bahwa perubahan ke arah kota sedang berjalan atau baru akan dimulai9.435 3. yang memiliki keistimewaan dibandingkan kota-kota lain.212 1.507 4.22 9.41 1.15 3.421 13.4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kawasan Metropolitan Jabotabek Tahun 1990-2000 Kawasan Luas (Km2) Jumlah Penduduk (Juta jiwa) 1990 1995 2000 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 1990 1995 2000 2.42 2.787 48.130 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .43 7.4 3.62 0.560 3.90 13.15 154.10 20.174.108 1. peran Jakarta di dalam negara maupun di dunia internasional menjadi menarik untuk diteliti seperti yang telah dilakukan oleh T.77 1.164.975 3.140 2.35 10.93 1.1 747.03 0.35 12.785 10.201 1.698 12.769 3.73 2.7 187.235 2.62 1.16 21.65 3.925 1.3 606.024 1.14 1.289 2.509 0.56 2.71 3.471 4.065 2.011 15.422 1.58 2.98 126. 1999 dan 2004).432 JABOTABEK 6.73 2.021 20.48 1.68 0.020.67 2.38 8.7 17.78 13.085 843 1.373. Dinamika perubahan kawasan di core Jabotabek yang akan datang dapat menjadi indikasi pola pertumbuhan dan penurunan jumlah penduduk di kawasan metropolitan di Indonesia.0 145. Pertumbuhan dan penurunan penduduk di kawasan core Jakarta menunjukkan pola konsentrik/memusat dengan Jakarta Pusat sebagai the inner core dan kawasan lain di dalam Jakarta sebagai lapisan 8 Sangat disayangkan pekerjaan Mamas dan Komalasari ini tidak dapat diulangi untuk tulisan ini karena memerlukan pemakaian data pada tingkat desa yang tidak bisa didapatkan.04 2.922 14.3 1.245 2.317 1.321 3.526 3.9 2.765 12.609 1.19 Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang 662. .8 1. Firman (1998.35 1.2 1.44 9.44 3.28 2.28 2.11 2.03 2.345 2. 9 Sebagai ibukota negara.16 0.267 18.1 1.2 437.416 9.097 798 1.96 8.87 24.9 536.701 12.7 8.138.83 0.

56 4.74 5.9 19.12 -1.34 5.9 14.73 8.2 16.5 17.0 50.9 -37.0 3.50 8.2 44.Sosial. Tanda positif menyatakan migrasi masuk dan tanda negatif menyatakan migrasi keluar.3 -19.9 19.84 5.4 13.4 17.23 -2.12 -0.6 -14.8 15.5.6 17. Di Jakarta Pusat.33 7.5 -40.91 -1.0 -16.35 1.3 16.5 15. bergerak ke luar dari Jakarta Pusat sebagai inner core ke daerah sekitarnya yang disebut outer zone disebabkan kepadatan permukiman yang rendah.5).5 Catatan : Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data Survey Penduduk Tahun 1995.52 Rata-rata Rata-rata Pertumbuhan Alami Net-migrasi (per 000) (per 000) 1990-1995 1995-2000 1990-1995 1995-2000 1.8 -41. khususnya daerah Bogor.7 28.7 15.8 19.48 -3.07 0.98 -2.3 19.08 -1.67 -1.4 -50.74 0.00 2.1 -7.4). Secara umum.82 16. secara umum Jabotabek ditandai .91 6.4 persen (negatif) selama paruh kedua dekade 1990-an.0 -44.9 18.9 6.2 -33.1persen (positif) selama paruh pertama menjadi -7.47 -2.6 14.8 18.4 16.1 15.0 13.4 30.3 -39.1 -14. Penurunan tingkat pertumbuhan penduduk terjadi meskipun pertumbuhan alami meningkat secara positif (selisih antara kelahiran dan kematian) ketika tingkat migrasi masuk menurun secara signifikan dari 6.8 17.13 2. tulisan ini melihat komponenkomponen pertumbuhan penduduk tersebut dari pertumbuhan alami dan net-migrasi (TABEL 5 .5 42. dan Kependudukan 131 pertama yaitu outer zone.8 23.5 22.0 15.2 -62.8 0.1 17.30 3.01 -3. Ekonomi.86 3.6 17.0 . kepadatan penduduk mencapai 18 ribu jiwa/km2 sedangkan di kawasan outer fringes.80 0.8 23. TABEL 5 .5 -34.91 1. Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Untuk mengetahui penyebab pertumbuhan penduduk.7 15.0 24.35 persen per tahun selama paruh pertama menjadi hanya 1 persen selama paruh kedua sampai akhir abad ini. Dengan kata lain.4 20. tingkat pertumbuhan penduduk di Jabodetabek pelahan-lahan menurun secara signifikan sepanjang dekade 1990-an dari 3.3 -44.0 28.6 9.1 16.5 Rata-rata dari Pertumbuhan Penduduk. kepadatan penduduknya masih kurang dari 1000 jiwa/km persegi (TABEL 5 . Perubahan pola pertumbuhan penduduk penting untuk dicatat.37 -1.9 24.01 1. Pertumbuhan Alami dan Migrasi di Jabotabek Tahun 1990-1995 dan 1995-2000 Kawasan JABOTABEK Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang Rata-Rata Pertumbuhan Penduduk (%) 1990-1995 1995-2000 3.

peningkatan harga lahan untuk kegiatan komersial dan permukiman mewah seperti mall. dan Cianjur. menggantikan villa dan rumah tinggal yang hanya satu lantai. orang-orang membangun kawasan industri pada pertengahan pertama 1990-an yang menyebabkan angka migrasi keluar tinggi. tingkat pertumbuhan penduduk di inner zone perlahanlahan menurun. khususnya Bekasi dan Tangerang.132 Metropolitan di Indonesia dengan jumlah migrasi masuk selama paruh pertama dari dekade terakhir yang kemudian ditandai dengan migrasi keluar pada paruh akhir dekade tersebut. Net-migrasi juga merupakan penyebab meluasnya kawasan metropolitan ini. serta Kabupaten Bandung dan Sumedang. yang terdiri dari Kota Medan dan Binjai serta Kabupaten Deli Serdang. khususnya di Pulau Jawa. Surabaya dan Bandung – jika dibandingkan dengan daerah lain (baik desa maupun kota) yang berada di dalam kawasan tersebut. pada kawasan luar kota (outer fringe) Jabotabek. Bekasi. pertumbuhan penduduk di Jabodetabek cenderung didorong oleh kekuatan pasar dan pemanfaatan lahan. Bagaimanapun juga.33 persen per tahun selama pertengahan awal dan akhir tahun 1990-an. yang berarti bahwa reklasifikasi merupakan faktor yang signifikan dalam menentukan pertumbuhan kota secara keseluruhan. Dengan kata lain. penduduk di inner zone akan meningkat karena banyaknya migrasi yang masuk ke kawasan tersebut. Cepatnya perluasan kawasan perkotaan (urbanized area) ke kawasan-kawasan yang berdekatan merupakan salah satu ciri proses tersebut. Tangerang. yang menyebabkan pertumbuhan negatif yang ditunjukkan dengan tingginya angka migrasi keluar. Depok. Hal tersebut menunjukkan bahwa aspek-aspek penting yang terjadi di Kawasan Metropolitan Jabotabek menjadi ciri perubahan yang juga terjadi pada kawasan-kawasan metropolitan lain. lebih cepat lagi di kota-kota besar – Jabotabek (sekarang Jabodetabekjur). Gambaran pertumbuhan penduduk di Jabotabek tersebut menunjukkan bahwa sebagai sebuah kawasan metropolitan. Di antara dua kawasan ekstrim Jabotabek yaitu kawasan core dan outer. serta Kabupaten Bogor. hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan penduduk yang relatif cepat di beberapa kota utama. Lima Kawasan Metropolitan yang menarik untuk diteliti antara lain: (1) Mebidang. Tangerang. dari 6. sebagian besar migrasi sebenarnya terjadi di dalam metropolitan itu sendiri yaitu penduduk yang bergerak keluar dari kota induk (core) sekarang ke daerah-daerah lain di pinggiran atau perbatasan kota. Perubahan Jabotabek menunjukkan sebuah kombinasi tiga pola pertumbuhan kota – konsentrik. Secara demografis.01 persen menjadi 5. bangunan-bangunan perkantoran bertingkat. Pada kawasan core Jakarta. Penurunan ini diakibatkan oleh seluruh penurunan pada pertumbuhan alami dan net-migrasi. Walaupun demikian. perubahan pertumbuhan penduduk terjadi karena beberapa alasan. Pada tingkat lokal. (3) Bandung Raya terdiri dari Kota Bandung dan Cimahi. dan Bekasi. Metropolitanisasi – Lima Kawasan Metropolitan Tahun 1980-an dan paruh pertama dekade 1990-an (sampai krisis ekonomi) merupakan periode pengembangan metropolitan secara besar-besaran. (4) . (2) Jabodetabekjur terdiri dari DKI Jakarta dan Kota Bogor. Harga dan guna lahan mempengaruhi tingkat migrasi yang masuk dan keluar. dan apartemen. sektoral dan banyak pusat – dimulai dengan sebuah pusat atau core yang terdiri dari kota utama dan dikelilingi daerah-daerah yang sedang mengalami proses urbanisasi.

5 Catatan: Mebidang terdiri dari: Kota Medan dan Binjai. dan Kabupaten: Takalar. unit data lebih kecil dari penelahan khusus oleh IHS berdasarkan data dari BPS Podes (Potensi Desa) dalam beberapa tahun.0 37.0 48.951 447 825 1.3 8. Podes tahun 1999 sebagai persiapan Sensus Penduduk tahun 2000 dan Podes tahun 2005 untuk Sensus Ekonomi tahun 2006. dan Bekasi.8 5.3 61.9 31.6 6.2 69.9 30.8 56. Dengan menggunakan delineasi desa.0 22.5 67. Bandung Raya terdiri dari: Kota Bandung dan Cimahi. Lamongan. Podes dilibatkan dalam persiapan sensus utama: Podes tahun 1995 sebagai persiapan Sensus Pertanian tahun 1996. Kabupaten: Sidoarjo.8 66.949 448 827 1. Gresik. Kabupaten: Bandung dan Sumedang Gerbangkertosusila terdiri dari: Kota Surabaya dan Mojokerto.9 7. Goa dan Maros.0 47. dan Bangkalan. dan Kependudukan 133 Gerbangkertosusila terdiri dari Kota Surabaya dan Mojokerto serta Kabupaten Sidoarjo. Lamongan.7 63.5 60.2 65.3 57.829 859 1.0 67.4 39.4 7. Bekasi dan Cianjur. desa-desa yang dapat dikelompokkan sebagai kota dan penduduk yang bertempat tinggal di desa tersebut diidentifikasi sebagai dasar untuk menghitung persentase desa-desa yang menjadi kota dan persentase jumlah penduduk kota yang tinggal di desa tersebut (TABEL 5 . Data Podes (Potensi desa) BPS saat ini memungkinkan untuk dianalisis dengan memperhatikan sejarah perkembangan secara terbatas dalam memahami proses urbanisasi dengan memfokuskan pada tiga periode terakhir.Sosial. Gresik.6 48.2 2. yaitu tahun 1995. Tangerang. (5) Mamminasata terdiri dari Kota Makassar dan Kabupaten Takalar.6 20.0 41. Pemakaian tahun dalam Podes oleh BPS berdasarkan tujuan tertentu.1 4. 1999 dan 200510.7 40.8 53. Jumlah Penduduk dari data Podes yang didapat dari kepala desa.6 Total Penduduk (juta) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 3.949 473 30. Goa dan Maros. Kabupaten: Deli Serdang Jabodetabekjur terdiri dari: Semua Kota di wilayah DKI Jakarta.3 18.6).5 2.762 855 1.9 7.4 52.7 76. Kabupaten: Bogor.5 35. Bogor.3 79. Mojokerto.1 3. Tahun yang menjadi referensi disini menggambarkan tahun pengumpulan data . 10 Seperti penjelasan sebelumnya.1 2. dan Bangkalan Mamminasata terdiri dari: Kota Makassar.7 36.6 Pertumbuhan Penduduk Desa di beberapa Kawasan Metropolitan Kawasan Metropolitan Jumlah 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Kota (%) 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Desa (ribu) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 825 1.9 32.6 22. Depok Tangerang. TABEL 5 .847 863 1.2 23. Mojokerto. Ekonomi.5 39.

Namun hasilnya masuk akal untuk membandingkan dengan proyeksi penduduk yang digunakan untuk SUSENAS (Survei Sosial-Ekonomi Nasional). tanpa kecuali. Dari lima kawasan metropolitan tersebut. Kawasan Metropolitan di Pulau Jawa lebih besar secara ekologis (jumlah desa) dan secara demografis (jumlah penduduk). Contohnya. Pada lima kawasan metropolitan tersebut. diikuti oleh Gerbangkertosusilo. kawasan metropolitan lainnya secara ekologis masih lebih berciri desa daripada kota. Pertama. dimana proses urbanisasi terjadi.134 Metropolitan di Indonesia Pembahasan selanjutnya perlu diperhatikan dengan seksama. Dari lima kawasan metropolitan yang diteliti. hanya kurang dari setengah desa-desa tersebut sudah dikelompokkan menjadi kota. dan yang kelima adalah Mamminasata. krisis pertama kali mempengaruhi dinamika sektor konstruksi yang menyebabkan pembuat kebijakan menjadi khawatir akan dampak sosialnya berupa demonstrasi para pekerja yang di-PHK di jalan-jalan Jakarta. Dengan kata lain. Peta tersebut menunjukkan penyebaran desa berciri kota (urban village) dan desa berpenduduk paling sedikit 2000 jiwa atau lebih di lima kawasan metropolitan. Jabodetabekjur memiliki jumlah penduduk sebanyak 23. dari perspektif kependudukan. Jabodetabekjur memiliki keistimewaan tidak hanya dalam cakupan wilayahnya tetapi juga dalam hal jumlah penduduknya. . Berdasarkan data Podes tahun 2005. Perluasan kawasan metropolitan menunjukkan bahwa kecuali Jabodetabekjur. Lebih lanjut. sedangkan tiga kawasan metropolitan lainnya antara 6 dan 7 dari 10 penduduk yang tinggal di desa berciri kota. yaitu dari tahun 1995 sampai tahun 2005. Walaupun ada kecenderungan dalam pengambilan data podes kurang sistematis.2). dengan Kota Makassar sebagai core-nya. perlu diingat bahwa kecenderungan percepatan urbanisasi pada saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 terus berlangsung dan tetap bertahan.9 juta jiwa11 sedangkan kawasan metropolitan terbesar 11 Angka penduduk dalam Podes didapatkan dari wawancara kepada kepala desa. Mebidang dan Jabodetabekjur memiliki lebih dari 3 dari 4 rumah tangga penduduk di desa yang berciri kota (urban village). dan Metropolitan Bandung – yang keempat adalah Mebidang di Sumatera Utara. proses urbanisasi menjadi semakin cepat dan terlihat jelas bahkan dalam periode pendek selama sepuluh tahun. Kedua. Kondisi pada tahun 2005 digambarkan oleh peta pada gambar-gambar di bawah. Kecenderungan ini terjadi meskipun definisi desa yang menjadi kota tersebut lebih ketat (lihat TABEL 5 . Pada saat itu. Berdasarkan data kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan pulau lainnya. Kecenderungan ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi ekologi tetapi juga dari sisi demografi. terdapat tiga kawasan metropolitan besar yang terletak di Pulau Jawa– Jabodetabekjur yang memiliki keistimewaan dibandingkan kawasan metropolitan lain. proses urbanisasi secara ekologis di lima kawasan metropolitan jauh lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan demografisnya. Data ini menunjukkan adanya kemungkinan sektor konstruksi kembali menjadi penggerak urbanisasi yang terjadi di semua kota-kota besar di negeri ini. kecenderungan untuk mengkategorikan penduduk desa-desa tersebut menjadi penduduk kota secara umum meningkatkan tingkat urbanisasi secara tajam. wilayah desa berciri kota serta jumlah penduduknya meningkat secara signifikan selama lima tahun terakhir dalam abad ini dibandingkan abad sebelumnya sedangkan secara anekdot dirasakan bahwa ketika bergerak keluar dari pusat kota dan melihat iklan-iklan untuk komplek perumahan. Kawasan metropolitan terbesar berada di Pulau Jawa.

Masyarakat miskin dengan sendirinya mengisi ruang-ruang antara yang tersisa baik yang legal maupun ilegal. biasanya perluasan itu mengikuti jaringan transportasi utama khususnya pada jalan utama. bermula pada daerah inti yang berkembang menjadi lebih terbangun dan proses urbanisasi terus meluas.2 juta jiwa (TABEL 5 . dengan Penduduk Mebidang hanya sebesar 4.3 juta jiwa. proyeksi penduduk di lima wilayah metropolitan sebagai berikut: Mebidang 4. Urbanisasi merupakan suatu bentuk pencarian atas pelayanan sosial dan ekonomi serta penghidupan yang lebih baik. GAMBAR 5 . Jabodetabekjur 25. Kawasan metropolitan di luar Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit. dan Metropolitan Bandung dengan 7.8 juta jiwa. jika pembangunan jalan arteri utama dibangun berdasarkan keputusan pemerintah maka perkembangan perkotaan juga ditentukan secara langsung oleh pemerintah. Pihak swasta membangun perumahan untuk golongan ekonomi menengah ke atas dengan mengesampingkan masyarakat miskin. Pihak swasta dan pengembang merespon terhadap inisiatif-inisiatif tersebut dengan membangun lingkungan perkotaan dan kawasan tertutup (enclave) berupa real estate baik yang berskala besar maupun kecil.1 juta jiwa.6).1 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mebidang Data SUSENAS 2004. Gerbangkertosusila hanya memiliki 8.3 juta jiwa. 12 . Oleh karena itu. Hal ini dapat dilihat dalam kasus Jabotabek yang perkembangan kotanya terjadi di sepanjang koridor arteri timur – barat.Sosial. dan Kependudukan 135 kedua. Metropolitan Bandung 7.2 juta jiwa dan Mamminasata hanya sebesar 2.12 Disamping itu. peta-peta tersebut juga menunjukkan koridor perkotaan.3 juta jiwa. yaitu kurang dari sepertiga jumlah penduduk di Jabodetabekjur. Ekonomi. yang selanjutnya ditunjang dengan pembangunan jalan-jalan arteri utama.

136 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .3 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Bandung Raya .2 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur GAMBAR 5 .

dan Kependudukan 137 GAMBAR 5 . Ekonomi.5 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mamminasata .4 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila GAMBAR 5 .Sosial.

7 yang mengkombinasikan perbedaan mencolok antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.138 Metropolitan di Indonesia Perbandingan pola kepadatan dan penyebaran desa-kota dan kota pada lima kotakota metropolitan ditunjukkan oleh TABEL 5 . tetapi terutama dalam hal penduduk. kedatangan penduduk. pendatang juga membayar pajak yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur fisik dan sosial perkotaan. merupakan suatu masalah. seperti Jabodetabekjur. Bagaimanapun mereka terlalu menggantungkan pada kondisi fisik dan sosial infrastruktur kota yang juga menyebabkan keterpurukan mereka. Kota metropolitan terkecil yang dibahas dalam bab ini adalah Mamminasata yang relatif kurang terbangun. Pulau Sumatera. Kota-kota metropolitan di Pulau Jawa biasanya lebih besar. terutama mereka yang miskin. Kenyataan ini dapat dimaklumi karena Pulau Jawa sejak dahulu memiliki penduduk yang lebih besar jika dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. sehingga tidak mengherankan jika kota metropolitan pertama di luar Pulau Jawa adalah Kota Medan. yang memiliki primacy rate13 yang besar mengungguli kota-kota metropolitan lainnya. Para pendatang dituding sebagai penyebab meningkatnya kemacetan dan mereka menggunakan fasilitas dan pelayanan kota yang tidak direncanakan untuk mereka. Pembangunan di masa lalu pun cenderung terpusatkan pada wilayah barat Indonesia. Angka yang menunjukkan daya tarik kota besar yang didapatkan dari perbandingan jumlah penduduk kota besar tersebut dengan jumlah penduduk di dua kota berikutnya 13 . sehingga kota-kota metropolitan di Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih besar. Namun. Jika dilihat dari sudut pandang perencana atau pengelola kota. Mengapa Tinggal di Kota-Kota Metropolitan? Pembahasan mengenai proses urbanisasi dan metropolitanisasi serta pertumbuhan dan penurunan penduduk di atas terlepas dari penilaian baik atau buruk. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa penilaian dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang tertentu. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak hanya dalam arti wilayah ataupun karakteristik desa-kotanya.

Dibandingkan dengan lima kota metropolitan lain yang dibahas di sini. dan Kependudukan 139 TABEL 5 . Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun. Perkembangan ke arah barat menghubungkan Kota Medan dengan Kota Binjai. Di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lamongan desa-kota nya lebih tersebar. Tingkat Ekologi Perkotaan Tingkat Urbanisasi Penduduk Kepadatan desa-kota dengan populasi lebih dari 2000 jiwa tidak terlalu banyak dan di wilayah luar Kota Medan desa-desa ini lebih tersebar. . Ke arah timur Kabupaten Deli Serdang yang merupakan daerah pantai. secara dominan berkembang sepanjang koridor barat – timur .7 Sudut Pandang Ekologi dan Kependudukan Metropolitanisasi Penyebaran Kawasan Perkotaan Mebidang Berawal dari Kota Medan sebagai kota inti. Mamminasata Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun dibandingkan dengan lima kota metropolitan yang dibahas disini. Ekonomi.Sosial. tetapi lebih terpusat di sekitar Kota Tingkat desa-kota yang tinggi tentu saja ditemukan di Kota Surabaya dan Kota Mojokerto bahkan juga di Kabupaten Sidoarjo. kawasan terbangun masih terpusat pada daerah inti dengan beberapa kantungkantung pertumbuhan disekitarnya. Gerbangkertosusila Perkembangan kawasan perkotaan di Gerbangkertosusila berawal dari pusat Kota Surabaya. angkaangka menunjukkan tingkat urbanisasi penduduk di kawasan metropolitan ini masih rendah. Bandung Perkembangan kawasan perkotaan di Metropolitan Bandung berawal dari pusat Kota Bandung ke wilayah sekitarnya hingga ke wilayah Kabupaten Bandung. Mebidang bukan merupakan kawasan terbangun yang padat melainkan bentuk penyebaran desa-kota hingga ke wilayah kabupaten Deli Serdang Jabodetabekjur Lima wilayah kota di DKI Jakarta merupakan kawasan inti perkotaan dengan kepadatan tinggi yang terus berkembang ke arah utara – selatan dan timur – barat hingga ke wilayah Tangerang di bagian barat. Tangerang dan Bekasi pada proses terbangun dengan tingkat yang tinggi sedangkan Bogor masih memiliki wilayah pedesaan yang lebih luas. meliputi sebagian besar wilayah Sidoarjo dan desa-desa sekitarnya hingga terhubung dengan Kota Mojokerto. Bekasi di bagian timur dan Bogor di bagian selatan. Desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tersebar hampir diseluruh kawasan metropolitan Bandung. Pola urbanisasi ditunjukkan sebagai desa-kota dan desa dengan populasi 2000 jiwa atau lebih merupakan patokan yang dapat Diluar Kota Bandung. daerah sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang memiliki kawasan terbangun yang terbatas. Seluruh wilayah Jakarta merupakan kawasan terbangun. Gerbangkertosusila memiliki karakteristik tingkat urbanisasi penduduk yang tinggi yang dapat dilihat dari persebaran desa-desa dengan jumlah penduduk Hal yang sama.

Bandung Bandung. Seperti kawasan metropolitan lainnya di Pulau Jawa yang penduduknya sangat besar. Desa-desa di Pulau Jawa. Penyebaran desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih menyerupai perluasan desa-kota. Penyebaran Urbanisasi Penduduk Jabodetabekjur dibandingkan.140 Metropolitan di Indonesia Mebidang Perluasan Ekologi Perkotaan Perluasan kawasan metropolitan ke wilayah Kabupaten Deli Serdang menunjukkan tingkat kawasan terbangun yang relatif rendah. memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak. Kawasan terbangun masih terjadi di sekitar Kota Bandung. . sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang masih terdapat banyak kawasan pedesaan. termasuk Bogor dan Cianjur. desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tidak tersebar secara luas di wilayah metropolitan ini. melalui Kota Medan menuju Kota Binjai dan ke arah selatan sepanjang pantai. terpusat di sekitar Kota Bandung. Penambahan wilayah Cianjur yang memiliki kawasan terbangun rendah ke dalam kawasan metropolitan mempengaruhi tingkat kawasan terbangun secara keseluruhan. Gerbangkertosusila 2000 jiwa atau lebih Desa-kota di kawasan metropolitan ini cenderung untuk mengelompok keluar dari wilayah inti Kota Surabaya menuju kabupaten-kabupaten sekitarnya. Dalam hal urbanisasi penduduk. Desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih. Mamminasata Masih serupa dengan Makassar dan menyebar secara lambat ke desa-desa sekitarnya. dalam hal kependudukan wilayah ini sangat terbangun karena desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih secara luas tersebar di seluruh wilayah ini. sebagian besar memiliki penduduk lebih dari 2000 jiwa. dapat juga ditemukan pada sebagian besar wilayah metropolitan.

padahal kota-kota metropolitan itu identik dengan masalah kemacetan. Jawabannya sangatlah sederhana. Bidang Pertanian mencakup pertanian. Para politisi akan berada di ibu kota yang merupakan pusat kekuasaan dan keuangan. Keberuntungan masih dapat ditemukan di kota-kota besar di kawasan metropolitan. Rasio Registrasi Sekolah adalah perbandingan antara penduduk yang bersekolah dengan jumlah penduduk pada rentang umur tertentu. meskipun orang tahu bahwa jalan-jalan tidak berlapis emas. polusi. terutama bisnis skala besar. Generasi muda dapat memasuki lembaga-lembaga pendidikan yang lebih baik dan memperoleh ‘kebebasan’ berekspresi termasuk dalam hal berbusana. Bidang Industri meliputi industri manufaktur. Hal yang sama juga dilihat oleh golongan kaya dan miskin. TABEL 5 . muda dan tua. pelayanan sosial dan lain-lain. Bidang Jasa mencakup perdagangan. kriminalitas dan hal-hal negatif lainnya menjadi konsekuensi yang dapat diterima untuk mendapatkan semua keuntungan tersebut. kehutanan. atau di kota-kota metropolitan lainnya di Indonesia. jauh dari pengawasan sosial keluarga serta fasilitas-fasilitas hiburan yang banyak dan beragam. Kemacetan. Bisnis.Sosial. keuangan. transportasi.8 Daya Tarik Permukiman di Kawasan Metropolitan Mebidang Indikator Kota Rasio Ketergantungan Rasio Registrasi Sekolah usia 16-18 tahun % populasi penduduk usia di atas 15 tahun lulusan SMA % Tenaga Kerja di Bidang Pertanian % Tenaga Kerja di Bidang Industri % Tenaga Kerja di Bidang Jasa Tingkat Pengangguran 49 72 Desa 60 59 Jabodetabekjur Kota Desa 42 65 63 27 Bandung Raya Kota Desa 47 59 54 40 Gerbangkertosusila Kota Desa 42 72 49 52 Mamminasata Kota Desa 47 66 59 39 47 29 48 16 38 18 48 30 55 38 7 29 64 19 59 17 34 16 3 33 65 17 45 17 39 17 8 36 56 21 39 27 34 15 6 33 61 13 58 17 26 12 4 18 77 20 58 13 29 17 Catatan: Rasio Ketergantungan merupakan pembagian antara jumlah penduduk usia 0 -14 tahun ditambah dengan usia diatas 65 tahun dengan jumlah penduduk usia 15 – 64 tahun (usia produktif). Ekonomi. Di kota-kota itulah terdapat banyak aktivitas. Bahkan. akan tinggal di metropolitan yang merupakan pusat bisnis yang merupakan tempat kehidupan bagi mereka. polusi dan banyak terdapat penyakit-penyakit perkotaan lainnya. golongan kuat dan lemah. dan Kependudukan 141 Seringkali orang ditanya mengapa ingin tinggal di Jakarta. perburuan dan perikanan. dan konstruksi. pria dan wanita. pertambangan dan penggalian. Sumber : Tabulasi khusus oleh IHS berdasarkan data Susenas BPS 2004 . tetapi disitulah tempat orang dapat menemukan susu dan madu walaupun tidak berlimpah. pemulung yang sangat miskin pun masih menganggap kehidupan di kota besar ‘lebih baik’ daripada di tempat asal mereka yang memiliki peluang ekonomi terbatas atau bahkan sama sekali tidak ada karena mereka tidak memiliki lahan.

satu-satunya perbedaan tipis antara tingkat pengangguran yang tinggi di kota dan di desa menjadi tanda perlunya perhatian. menjadi pengangguran pun tidak masalah sekalipun kemungkinannya tinggi. yang merupakan satu-satunya sistem transportasi yang diterapkan di negara yang membayar sopir dengan gaji tetap dan terbuka baik bagi pria maupun wanita. dan terutama dari segi jumlahnya. Sebagaimana kita ketahui. Sektor transportasi. Dengan harapan dapat memenuhi keinginan. Terdapat beberapa peluang penghidupan di perkotaan. sebagaimana ditunjukkan dengan perbandingan indikator kependudukan antara kota dan desa di beberapa metropolitan yang dibahas (TABEL 5 . Kami telah memilih dua indikator pendidikan. fasilitas dan pelayanan pendidikan. Di samping itu. Ketimpangan yang lebih signifikan terjadi pada sektor jasa. termasuk angkutan kendaraan bermotor roda dua yang dikenal dengan nama “ojek” masih lebih banyak tersedia di daerah permukiman padat.142 Metropolitan di Indonesia Kenyataan di atas didukung oleh beberapa fakta dalam hal pendidikan dan pekerjaan. termasuk industri skala kecil dan menengah. namun. yang biasanya menyulut gejolak sosial. Lebih beragamnya jenis pekerjaan dan peluang penghidupan di kota dibandingkan di desa adalah penyebab dan akibat dari kesemerawutan kota. seiring dengan semakin orang miskin lebih memilih tinggal di perdesaan dan status pengangguran seringkali menjadi sesuatu yang sulit diterima. karena ini hanyalah sementara. Sebaliknya. Secara khusus. mall hanya dibangun di daerah padat dimana penjual dapat menemukan sumber penghidupannya. Hasilnya di beberapa metropolitan terpilih menunjukkan bahwa kedua indikator tersebut lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Namun. penduduk kota jauh lebih terdidik daripada penduduk desa. Sektor keuangan atau perbankan biasanya ditemukan di perkotaan yang memiliki peluang bisnis. . tidak semuanya membawa sukses.8). Inovasi terbaru tentu saja berupa bus way Jakarta. lebih banyak tersedia di daerah perkotaan daripada daerah perdesaan. yaitu tingkat registrasi penduduk usia sekolah menengah atas dan persentase penduduk dewasa (di atas 15 tahun) yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan menengah atas. masih merupakan fenomena perkotaan daripada perdesaan. meskipun termasuk perdagangan skala kecil yang dikenal sebagai sektor informal. hanya sebagian kecil penduduk perkotaan yang bekerja atau terpaksa bekerja di sektor pertanian mengingat mereka memiliki pilihan kerja yang lebih luas. wilayah terbangun metropolitan dihuni oleh penduduk usia produktif yang dapat menikmati pendidikan yang lebih baik dan menemukan pilihan pekerjaan yang beragam meskipun di tengah-tengah ancaman pengangguran. Hal yang sama juga terjadi pada sektor pemerintahan yang terletak di kota pusat pemerintahan. Dengan kata lain. Ini menunjukkan bahwa penduduk kota memiliki beban tanggungan lebih ringan yang biasanya memiliki jumlah anak yang membutuhkan investasi sosial berupa kesehatan dan pendidikan yang lebih sedikit. Penyerapan tenaga kerja di bidang industri. Rasio ketergantungan (perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 dan >65 tahun dengan jumlah penduduk berumur 15-64 tahun) lebih rendah di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan di wilayah metropolitan yang menggambarkan dinamika pola ruang.

Hal ini mengingatkan pengelola kota dan perencana tata ruang . pusat perbelanjaan.9 Ketersediaan Fasilitas dan Pelayanan Mebidang Kota 89 Desa 85 Jabodeta bekjur Kota Desa 93 69 Bandung Raya Kota Desa 86 74 Gerbangkertosusila Kota Desa 88 69 143 Mamminasata Kota 91 Desa 67 % Rumah Tangga dengan Listrik Rumah Sakit Puskesmas Praktek Dokter Sumber air minum/masak dari PAM. pompa atau sumur Jalan beraspal Kantor Pos Telepon Umum/Wartel Pusat Perbelanjaan Pasar Permanen/ Semi-permanen Hotel/guest house Bank Supermarket 34 44 3 99 143 31 21 75 Fasiltas/1000 penduduk 85 263 121 2370 38 56 33 44 4 32 3 24 % Desa-desa dengan fasilitas 98 82 88 52 73 35 3 90 55 21 74 51 33 4 99 23 33 71 82 13 89 42 26 20 30 30 41 2 30 1 5 3 92 32 99 60 34 24 42 64 59 3 70 7 7 4 1 4 93 23 99 51 26 23 35 48 81 4 65 6 9 4 2 3 91 13 97 39 26 13 24 32 53 1 67 6 12 1 2 1 95 15 98 52 24 29 32 19 62 2 59 5 21 2 4 1 0 Sumber : Tabulasi Khusus oleh IHS berdasarkan data PODES 2005 BPS Penegasan mengenai keberutungan di kota secara jelas ditunjukkan pada TABEL 5 9. Tabel itu memperlihatkan bahwa secara umum proporsi rumah tangga yang memiliki akses listrik di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan di pedesaan di beberapa kawasan metropolitan yang dibahas. Akses terhadap air bersih. tingkat urbanisasi nasional terutama dipengaruhi oleh kondisi Pulau Jawa. dan Kependudukan TABEL 5 . hampir separuh (49 persen) jumlah penduduk Pulau Jawa tinggal di perkotaan dan diperkirakan pada tahun 2025 hampir 8 dari 10 penduduk Pulau Jawa akan tinggal di perkotaan. wartel. bank dan supermarket) lebih besar di perkotaan dibanding di pedesaaan. jalan dan infrastruktur ekonomi (kantor pos. Proyeksi BPS menunjukkan bahwa jumlah total penduduk Indonesia terus bertambah dari 206 juta pada tahun 2000 menjadi 275 juta pada tahun 2025 (TABEL 5 . dalam dua dekade ke depan diperkirakan bahwa hampir 7 dari 10 orang akan tinggal di kota. berarti 120 juta akan tinggal di aglomerasi perkotaan.Sosial. walau bagaimanapun. Dengan perkiraan jumlah penduduk Jawa akan mencapai 151 juta pada tahun 2025. Yang terpenting untuk dicatat adalah. Tantangan Urbanisasi bukan hanya fakta kehidupan tetapi juga terus meningkat. Hal yang sama juga terjadi dalam hal ketersediaan fasilitas dan pelayanan kesehatan serta fasilitas dan infrastruktur yang mempengaruhi kualitas kehidupan. Sementara 4 dari 10 orang tinggal di kota pada tahun 2000. pasar.10). hotel. Ekonomi. Menurut sensus penduduk tahun 2000.

4 27. Dengan kata lain.5 26.2025 2000 2005 2010 2015 2020 2025 Jumlah Penduduk (juta) Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 43 47 51 121 128 134 11 12 13 11 13 14 15 16 17 4 4 5 206 220 234 Penduduk Perkotaan (juta) 33.5 44.6 49.9 memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada menyediakan jawaban.3 Sumber: BPS. jika ada permasalahan yang diidentifikasi oleh perencana dan pengelola kota.1 40.6 43.8 24.3 69.8 53. Pembangunan infrastruktur fisik perkotaan harus direncanakan sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan berlangsung terus menerus dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik di kawasan metropolitan. Indikator-indikator yang ditunjukkan TABEL 5 .5 44. UNFPA.8 dan TABEL 5 .9 48.5 54.1 54. paling tidak bagi mereka yang gaya hidupnya terpenuhi oleh fasilitas-fasilitas dan pelayanan yang tersedia.5 38.4 74.3 35.8 28. Atau mungkin sudut pandang lain harus juga diperhatikan. perencana kota harus merencanakan masa depan dan masa depan berarti meningkatnya kawasan terbangun dan meluasnya kawasan metropolitan yang ada saat ini. Seseorang bisa hanya mengasumsikan mengapa desa tumbuh menjadi kota yang terus meluas kemudian .0 57. solusinya harus ditujukan untuk mereka yang menikmati berbagai macam aktivitas kehidupan metropolitan karena mereka tidak meninggalkan metropolitan tetapi justru terus mengajak orang lain untuk tinggal di kota. BAPPENAS.8 34. Peran apa yang ingin mereka mainkan? Apakah mereka akan berperan sebagai fasilitator atau justru berupaya menghalau kecenderungan ini? TABEL 5 .3 79.144 Metropolitan di Indonesia akan tantangan yang akan mereka hadapi.7 48.2 55 141 14 15 18 5 248 59 147 14 17 19 5 262 63 151 15 18 20 6 274 Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 49.0 30.7 48.10 Proyeksi Jumlah Penduduk dan Proporsi Penduduk Perkotaan Indonesia Menurut Pulau-pulau Utama Tahun 2000 .3 44.1 27. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000–2025 Penutup Secara jelas telah dinyatakan bahwa metropolitanisasi menguntungkan.1 25.1 63.0 58.2 59.0 38.4 37.3 59.0 41.8 32.0 68.6 54.8 56. atau bukan suatu masalah.6 24.1 64.3 42.

Jumlah kota-kota besar ini ada sekitar 14 kota. perbedaan tersebut tidak mempengaruhi pesan yang disampaikan oleh buku ini.Sosial. Medan. Sebagai kota besar dengan jumlah penduduk yang besar. Dibandingkan dengan kota-kota atau daerah-daerah lain. 14 . Surabaya. 15 Hasil penelitian empiris oleh Bambang dan Ringgi (2003) dalam pengelompokan besaran kota-kota di Indonesia ditemukan 3 kelompok. Bandung. Titik tolaknya selalu terkait dengan keuntungan lokasi kota bersangkutan. Pertumbuhan ini dapat diwakili oleh pertumbuhan penduduk yang pesat dan sekaligus pertumbuhan ekonominya. Namun demikian. Semua ini berwujud kegiatan ekonomi riil baik ekonomi formal maupun informal. Kota sedang berpenduduk antara 200 ribu jiwa dan 700 ribu jiwa. • • • • • Mengapa pola pertumbuhan kota metropolitan menjadi seperti yang selama ini terjadi. Kota-kota besar yang ada sekarang ini. apakah ada ‘invisible hand’ yang mengarahkan proses itu? Apa peran dan tanggung jawab pemerintah? Pemerintah pada tingkat mana? Bagaimana dengan peraturan zoning? Apakah ada dan dijalankan? Apakah pemerintah mengarahkan di mana seharusnya pihak swasta harus membangun atau sebaliknya? Apakah proses urbanisasi dan metropolitanisasi merupakan proses ‘alami’ dengan pasar merupakan kekuatan satu-satunya? EKONOMI PERKOTAAN14 Pendahuluan Pertumbuhan kota-kota selalu berbasis pada faktor ekonomi. Catatan editor: Analisis ekonomi di bab ini menggunakan batasan jumlah penduduk perkotaan yang berbeda dengan analisis kependudukan di bab sebelumnya. ada beberapa kota di Indonesia mempunyai ukuran besar dengan penduduk lebih dari 700 ribu jiwa15. yang paling kecil adalah Kota Padang dengan penduduk 702 ribu jiwa (tahun 2000). kota-kota tersebut mengalami berbagai persoalan. dan Kependudukan 145 bersama-sama dengan desa disekitarnya berubah menjadi permukiman perkotaan. Persoalan ini semakin kronis ketika jumlah penduduk terus meningkat yang umumnya berasal dari migrasi masuk ke kota yang disebut dengan urbanisasi. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga mengandung rekomendasi untuk diteliti lebih lanjut. seperti Jakarta. Ekonomi. Kota-kota yang cepat berkembang pada dua dekade terakhir ini dapat ditengarai adanya potensi lokasi yang sangat menonjol. sedangkan kota kecil berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa. dan Makassar yang sering disebut dengan metropolitan menunjukkan kekuatan lokasi yang strategis sehingga terus tumbuh dan berkembang. utamanya dalam pelayanan. yaitu: kota besar/metropolitan mempunyai penduduk lebih dari 700 ribu jiwa.

4 persen adalah hasil penelitian oleh penulis. jumlah TKI di Luar Negeri sekitar 5 juta jiwa).9 -6.11 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota 1980-1990 dan 1990-2000 1980-1990 (%) 1990-2000 (%) Kota Besar (>700 ribu) 2.4 persen tersebut terdapat kesalahan yaitu memasukkan desa-desa yang menjadi kota dan memasukkan daerah-daerah perluasan kota dalam perhitungan pertumbuhan.146 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .12 Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota-kota dan Nasional Sebelum dan Pasca Krisis Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Skala Wilayah Kota Kecil (<200 ribu) Kota Sedang (>200 ribu.4 persen. yaitu 1990-2000. terjadi penurunan drastis dari 2. Selama ini laju pertumbuhan yang diakui pada periode tersebut sebesar 3. Menurut penulis angka pertumbuhan 3.1 -6. menurunnya tingkat urbanisasi ini selain dampak menurunnya tingkat ekonomi kota akibat krisis ekonomi 1998 yang lalu.13.8 6.4 persen menjadi 1. <700 ribu) Kota Besar + Metropolitan(>700 ribu) Rata-rata Kota Nasional 1996 7. tetapi bila terjadi krisis ekonomi.4 3. BPS Pada TABEL 5 .5 Kota Kecil (<200 ribu) 2.11. Pertumbuhan penduduk kota yang paling dramatis terjadi pada periode 1980-1990 dengan laju pertumbuhan 2. Lihat TABEL 5 . TABEL 5 . maka kota-kota besar/metropolitan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang sangat tajam.4 0.1 4. juga karena adanya alternatif bagi migran untuk menjadi TKI di luar negeri (menurut informasi dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.1* Kota Sedang (>200 ribu.2 1. <700 ribu) 2.5 -0.2 -0. 16 . Namun kemudian pada periode berikutnya.07 Rata-rata Kota 2.12 di bawah ini menunjukkan kemungkinan tersebut.7 1. TABEL 5 . Data PDRB Kabupaten/Kota. Baca penjelasan TABEL 5 .9 5. Kota-kota besar/metropolitan mempunyai tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi. Dengan demikian.6 1998 -5.0 1999 -0.3 persen (hampir sama dengan laju pertumbuhan penduduk nasional).0 -13. Seperti yang bisa disimak pada Perhitungan laju pertumbuhan pada periode 1980-1990 sebesar 2. pertumbuhan kota besar jauh lebih besar dari angka 1.5 2002 1. sedangkan kota-kota besar sekitar 2.7 persen. pada periode 1990-2000 terjadi penurunan urbanisasi.12 di atas juga dapat dikenali karakteristik kota-kota besar yang berbeda dengan kota-kota ukuran lebih rendah yaitu : 1.9 -13.4 3.0 -1. Diduga.0 8.1persen.1 5.3 Sumber: Hasil Analisis *) Secara fungsional.4 1.4 persen16.3 11.4 9.0 Sumber: Hasil analisis.

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

147

TABEL 5 - 12, pada periode 1996 pertumbuhan ekonomi sebesar 11 persen, tetapi

pasca krisis tahun 1997 yang lalu, laju pertumbuhan ekonomi mendadak kontraksi (minus) 13 persen. Namun demikian, ketika kondisi normal, maka laju pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan kembali ”leading”. Ini menunjukkan bahwa ekonomi kota-kota besar/metropolitan cukup ”vulnerable”. 2. Bandingkan dengan kota-kota kecil yaitu ketika situasi normal mempunyai laju pertumbuhan moderat sebesar 7,4 persen dan ketika terjadi krisis hanya mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen. Kemudian ketika situasi normal hanya terangkat menjadi 1,8 persen. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kota-kota kecil kelihatannya sudah steady atau mungkin terhambat.
TABEL 5 - 13 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota Metropolitan
Laju Pert. Penddk 1980-1900 (%) 2,41 4,13 Laju Pert. Penddk 1990-2000 (%) 0,16 2,25

No. 1.

Nama Kota Jakarta Kab. Bogor

Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi 2. Surabaya

0,94 6,10 6,29 2,05

10,97 4,12 4,70 0,43

3.

Kab. Sidoarjo Medan Kab. Deliserdang Bandung

3,17 2,30 2,59 3,47

2,97 0,97 2,09 0,41

Keterangan Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan Terjadi pengurangan wilayah akibat pemekaran kota Bogor dan kota Depok. Terjadi pemekaran wilayah kota Belum terbentuk. Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan. Laju pertumbuhan tetap tinggi Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan Laju pertumbuhan tetap tinggi

Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan. Kab. Bandung 1,83 2,71 Kenaikan laju pertumbuhan Sumber: Penduduk Indonesia, Hasil Sensus Penduduk 2000, BPS

4.

Berdasarkan kajian di atas memperteguh kesimpulan bahwa : 1. Kota-kota besar/metropolitan sangatlah lentur dalam menanggapi pertumbuhan, sementara kota-kota kecil terlalu kenyal. Dengan sifat yang lentur, maka kota-kota besar/metropolitan akan selalu menghadapi dinamika pertumbuhan dan sekaligus menghadapi dampak pertumbuhan itu sendiri.

148

Metropolitan di Indonesia

2. Dampak dari pertumbuhan yang mulai meningkat lagi pada pasca krisis adalah meningkatnya lagi urbanisasi pada pasca tahun 2000 walaupun tidak sedramatis tahun sebelum 1990 yang lalu. Angka-angka urbanisasi memang sulit diidentifikasi, tetapi bisa ditandai dari laju pertumbuhan penduduk yang tinggi pada kota bersangkutan. Namun demikian, perkembangan kota-kota besar/metropolitan umumnya sudah melampaui batas administrasinya atau mengalami kejenuhan sehingga laju pertumbuhan penduduk (dengan data penduduk sesuai dengan batas administrasi) akan terdata rendah (karena sedikitnya pemukiman baru). Dengan demikian, pertumbuhan penduduk di kota-kota besar/metropolitan akan terdata rendah dan kecenderungan urbanisasi itu akan terdata pada daerah-daerah/kota-kota yang berada di sekitar kota metropolitan bersangkutan dengan laju pertumbuhan yang tinggi. Hal ini dapat dikaji pada beberapa kota besar/ metropolitan seperti Jakarta dengan Bodetabek, Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo, Medan dengan Deli Serdang dan Binjai, atau Bandung dengan Kabupaten Bandung sebagaimana yang bisa diteliti pada TABEL 5 - 13. Pertumbuhan penduduk kota-kota metropolitan tersebut akan berimplikasi pada corak ekonomi kota-kota bersangkutan. Secara agregat, pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah bersangkutan. Seberapa jauh pertumbuhan penduduk kota-kota besar dibarengi oleh pertumbuhan ekonominya. maka bisa dikaji bagaimana corak PDRB perkapita dengan data-data PDRB tahun 1998 dan 2002 atas dasar harga tetap (1993) dan estimasi data penduduk tahun 1998 dan 200217 sehingga dapat dihitung PDRB per kapita dan laju pertumbuhan PDRB per kapita sebagaimana yang dapat disimak pada TABEL 5 - 14 di atas. Dengan demikian, ada empat kategori pertumbuhan ekonomi yang dapat diberikan sebutan sebagai berikut: a. Kota besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB per kapita juga lebih tinggi dari rata-rata. Kota seperti ini disebut sebagai kota ”star”. Hanya Jakarta Pusat dan Jakarta Utara yang pertumbuhan “leading” dan termasuk kota “star”;

b. Kota besar dengan PDRB per kapita lebih rendah dari rata-rata tetapi pertumbuhan PDRB perkapitanya lebih tinggi dari rata-rata, disebut sebagai kota “growing”. Kota Bandung, Padang, dan Palembang termasuk kota yang sedang tumbuh atau “growing”. c. Kota Besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB perkapitanya juga lebih rendah dari rata-rata, disebut Kota “steady”. Ada sembilan kota dari 19 kotakota besar/metropolitan yang termasuk dalam kota “teady” atau kota yang pertumbuhan ekonominya terhambat.

d. Kota Besar dengan PDRB per kapita lebih tinggi dari rata-rata, tetapi pertumbuhan PDRB per kapitanya lebih rendah dari rata-rata disebut sebagai Kota ”mature”. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Surabaya.
Data PDRB tahun 1998 digunakan atas pertimbangan linearitas. Seperti diketahui bahwa pada tahun 1997 terjadi krisis dan terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang drastis sehingga data-data tahun 1997 dan sebelumnya tidak bisa dibandingkan atau tidak linear. Data PDRB tahun 2002 digunakan karena data ini sudah merupakan data final.
17

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

149

TABEL 5 - 14 PDRB Per kapita dan Laju Pertumbuhannya
PDRB 1998 (juta) (1) 4.833.911,19 2.321.172,65 2.652.629,00 1.584.900.00 12.264.754,68 16.074.778,28 6.109.404,20 13.074.022,33 9.857.557,04 5.680.177,00 5.294.952,14 3.060.637,00 1.327.648,33 915.583,00 4.737.732,57 2.323.694,19 15.429.196,46 2.589.506,89 JML PDDK 1998 (2) 1.881.080 702.638 1.406.774 731.406 1.783.298 2.337.276 888.309 1.900.966 1.433.291 1.259.840 2.133.091 1.565.698 1.120.836 727.118 1.335.042 743.965 2.577.732 1.075.404 PDRB/ KAPITA 1998 Po (3) = (1)/(2) 2,570 3,304 1,886 2,167 6,878 6,878 6,878 6,878 6,878 4,509 2,482 1,955 1,185 1,259 3,549 3,123 5,986 2,408 PDRB 2002 (juta) (4) 5.799.222,07 2.682.462,36 3.179.588,00 1.815.272,00 11.644.849,21 12.305.853,81 15.929.738,60 10.353.071,91 14.050.749,60 6.616.456,50 6.694.331,05 3.732.084,00 1.459.981,62 1.279.881,96 5.626.854,73 2.692.919,81 14.565.521,28 3.205.558,44 JML PDDK 2002 / 2003 (5) 1.993.602 765.450 1.339.315 790.895 1.707.093 2.103.525 893.195 1.565.708 1.182.749 1.416.840 1.867.010 1.809.306 1.247.233 789.423 1.350.002 772.642 2.659.566 1.148.312 Rata-rata PDRB/ KAPITA Pt (6) = (4)/(5) 2.909 3.504 2.374 2.295 6.821 5.850 17.835 6.612 11.880 4.670 3.586 2.063 1.171 1.621 4.168 3.485 5.477 2.792 4.950 LAJU PERTBH PDRB / KAPITA 1998 - 2002 α=(Pt/Po)¼ -1 (7) 0.0315 0.0149 0.0593 0.0145 -0.0020 -0.0396 0.2690 -0.0098 0.1464 0.0088 0.0963 0.0135 -0.0030 0.0652 0.0410 0.0278 -0.0220 0.0376 0.0416

NAMA KOTA (0) Medan Padang Palembang Bandar Lampung Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Tangerang Bandung Bekasi Depok Bogor Semarang Malang Surabaya Makassar

Dari kategorisasi kota-kota besar/metropolitan tersebut di atas. Jakarta Barat. pertumbuhannya tersendat dan berjalan tidak secepat kota-kota ”star”. tetapi masih mengalami hambatan karena layanan prasarana dan fungsi perumahan yang masih kuat. Kota-kota “star” seperti Jakarta Pusat dan Jakarta Utara merupakan kota yang ekonominya terus berkembang dan sangat dinamis.16 persen (lihat TABEL 5 .3 persen18. Kota-kota “rowing” seperti Bandung. Diperkirakan masih banyak faktor-faktor percepatan ekonomi yang belum kondusif. 2. Dengan demikian secara berangsur dan cepat. Karena tidak didukung oleh ketersediaan lahan yang mencukupi maka perkembangan kota akibat tekanan pertumbuhan ekonomi ini akan berimbas pada kawasan sekitar kota besar/ metropolitan yang bersangkutan (spread development). sehingga pertumbuhannya relatif melambat.6. 3. Kegiatan TA 2005. 3. Oleh karena itu. tetapi masih banyak hal yang menghambat. Pertumbuhan ”spread” adalah pertumbuhan kota yang tidak efisien dan menimbulkan banyak dampak antara lain: kemacetan lalu lintas. Akibat dari hambatan ini. dan Palembang sedang mengalami perkembangan yang sangat cepat. Terjadinya pergeseran peruntukan lahan kota dari perumahan menjadi kawasan komersial dengan tingkat perubahan yang berbeda-beda. 2. Padang. Kembalinya urbanisasi yang meningkat (butir 1). berkurangnya 18 PDRB Per Kapita dan pertumbuhannya secara nasional dari sumber: ”Kajian Pertumbuhan Kota-kota Dalam Rangka Pembangunan Prasarana Ke-PU-an”. 4.150 Metropolitan di Indonesia Berdasarkan kategori di atas maka implikasi pertumbuhan ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Kota-kota ”mature” seperti Jakarta Selatan. tetapi tetap kota-kota besar/metropolitan mempunyai posisi pertumbuhan PDRB per kapita yang rata-ratanya 4. Tetap mempunyai daya tarik ekonomi dan akan menarik kembali tingkat urbanisasi. Jakarta Timur. 4. Kota-kota ”steady” yang merupakan sebagian besar kota-kota besar/metropolitan ini walaupun sedang tumbuh. hanya saja modal ekonominya masih rapuh.14) adalah jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDRB per kapita total kota-kota yang sebesar 2. walaupun sebagian besar dikategorikan sebagai ”steady”. PUSTRA. pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan di Indonesia mempunyai implikasi sosial dan fisik sebagai berikut: 1. Karena terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka terjadi desakan-desakan pemanfaatan ruang ke arah penggunaan yang lebih komersial. Posisi pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan tersebut ditunjukan dalam GAMBAR 5 . . dan Surabaya mempunyai fenomena yang sama dengan ”star” di atas. termasuk implikasinya terhadap pergeseran tata ruang (perumahan menjadi komersial). Dalam banyak kasus yang mengalami tekanan seperti ini adalah peruntukan perumahan. Jakarta Pusat dan Jakarta Utara akan menjadi kawasan komersial.

Bogor. “growing” “star” Palembang. Lj. dan sulitnya mengembangkan jaringan prasarana secara terpadu. Tantangan Kota sebagai pusat aglomerasi ekonomi dengan pola pertumbuhan sebagaimana diuraikan sebelumnya diakui mempunyai peranan yang sangat penting bagi ekonomi kota masing-masing dan ekonomi secara nasional karena: 1.Lampung. Jakarta Barat. Pert. Bandung.Tangerang. dan Makassar Jakarta Pusat dan Jakarta Utara PDRB/Kap. Ekonomi. tidak termasuk kota-kota kabupaten yang tidak otonom. . Bekasi. Malang. Medan. Padang. dan Kependudukan 151 fungsi kawasan lindung akibat dimanfaatkan untuk perumahan. 19 Yang dimaksud kota adalah kota otonom. Semarang. Depok. Bd. Sekitar 40-50 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional disumbang oleh 90 kota19 atau sekitar 20 persen dari sekitar 430 kabupaten/ kota di Indonesia. PDRB/Kap. Jakarta Timur. dan Makassar Jakarta Selatan.Sosial.14 Bagaimanapun juga kota-kota besar/metropolitan tetap tumbuh ”leading” dibandingkan kota-kota lain yang kesemuanya didorong oleh fungsi ekonomi dan peranan ini tentunya juga ”leading” bagi perekonomian nasional. dan Surabaya “steady” “mature” GAMBAR 5 .6 Kategorisasi Kota-kota Besar/Metropolitan Cat: Analisis berdasarkan TABEL 5 .

PDRB per kapita kota-kota besar/metropolitan rata-rata Rp 4.7 juta. Diperkirakan 50 persen dari APBN berasal dari pajak kota-kota besar/ metropolitan21. Kemungkinan kedua: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan bekerja di ekonomi informal sementara angka PDRB tidak memasukkan kegiatan ekonomi informal. 2. Berdasarkan perkiraan perhitungan APBN 2005. 3. Sedangkan PDRB Nasional per kapita sebesar Rp 6. Seperti diketahui 80 persen APBN berasal dari pajak dan dari 80 persen pajak ini. pajak pribadi. Sekitar 14 kota-kota metropolitan atau 3 persen dari total daerah menyumbang 30 persen PDB Nasional20. c. pajak final yang kesemuanya bersumber dari perkotaan.152 Metropolitan di Indonesia 2. tetapi secara kapita kinerjanya lebih rendah dibandingkan kapita nasional yang dapat ditunjukkan bahwa : 1. Ini berarti tumbuhnya kota-kota besar/metropolitan selalu diikuti dengan jumlah kemiskinan yang besar dan berkembangnya ekonomi informal seiring dengan besaran PDRB itu sendiri. b.5 juta. 20 21 Berdasarkan data-data PDRB 1999 – 2003. 22 Data-data APBD dan PDB dari BPS. PPN. juga membawa resiko beban-beban berat yang selalu mengiringi potensi-potensi pertumbuhannya. kota-kota metropolitan juga mempunyai peranan bagi sumber fiskal nasional. semakin berkembang pula kegiatan ekonomi informalnya. 3. sekitar 70 persen berasal dari pajak badan.7 juta) menunjukkan 3 kemungkinan 22. Angka-angka per kapita kota-kota besar/metropolitan ini (yaitu Rp 4.5 juta) yang rendah ini dibandingkan dengan nasional (Rp 6. Kota-kota besar/metropolitan dengan kompleksitas dan intensitas yang demikian tinggi serta merupakan ”focal point” ekonomi yang potensial itu. Peranan ekonomi kota ini semakin menonjol pada kota-kota besar/metropolitan. . Potensi pertumbuhan yang sedang berlangsung itu tampaknya sulit dihentikan dan serta-merta beban-beban yang mengiringi juga terus menggelanjut. Semakin besar PDRB sebagai indikator ekonomi formal. Walaupun kota-kota metropolitan secara agregat merupakan sumber ekonomi dan keuangan nasional. Kemungkinan pertama: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan yang masih miskin dan tinggal di kawasan-kawasan kumuh dan juga berarti terdapat kesenjangan kesejahteraan yang besar di kota-kota metropolitan. Kemungkinan ketiga: kemungkinan butir 1 dan 2 ada semua. selain menjadi pusat pertumbuhan utama. yaitu: a. dan 4. Selain penting dalam perekonomian nasional.

masing-masing kota haruslah meningkatkan daya saing. maka sebenarnya upaya fiskal melalui belanja langsung APBD berupa belanja barang. Pada umumnya kapasitas fiskal kota-kota besar/metropolitan cukup potensial yang diperoleh melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam situasi ini kota-kota besar/metropolitan seolah mengalami obesitas yang beresiko tinggi. dan kota-kota kecil sebesar 20 persen (Samiaji 2003). Adapun belanja APBD yang dikeluarkan setiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kota. dan adanya ekonomi informal adalah kenyataan lain yang harus diatur agar menjadi kekuatan ekonomi alternatif. Artinya bahwa peranan fiskal daerah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah hanya 4 persen dan 96 persen berasal dari sektor riil atau ekonomi masyarakat (Lihat TABEL 5 . Ekonomi. dan bantuan Pemerintah melalui Dana Alokasi Umum (DAU). Namun demikian. kawasan kumuh. kekurangan prasarana pada umumnya. tantangan utama dalam pengelolaan kota-kota besar/metropolitan adalah strategi pembangunan prasarana yang memberi kemungkinan tumbuhnya investasi langsung baik dalam negeri maupun luar negeri (Foreign Direct Investment). Dalam rangka menyongsong investasi itu. dan menurunnya tingkat kualitas lingkungan. Namun bagi kota-kota besar/ metropolitan.15). Mengingat bahwa porsi fiskal terhadap ekonomi kota ternyata sangat tidak signifikan dengan rasio yang hanya 4 persen. Semua ini menengarai bahwa perekonomian kota yang tumbuh selama ini ditopang oleh ”tulang-tulang penyangga” yang rapuh. persampahan. yang mungkin bermanfaat adalah belanja modal berupa prasarana yang bisa lebih memacu ekonomi riil masyarakat serta memicu investasi langsung. Rasio APBD terhadap PDRB bagi kota-kota besar/metropolitan rata-rata hanya 4 persen. menyatakan bahwa daya saing kota-kota besar/metropolitan secara Rasio APBD/ PDRB secara nasional 23 persen. Cara pengentasan kemiskinan dan pengaturan ekonomi informal oleh pemerintah daerah dapat dilakukan melalui kebijakan fiskal daerah dengan kapasitas yang dimilikinya. kota-kota ukuran sedang 9. Laporan penelitian Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). bantuan tunai.8 persen. Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP). 23 . adanya kemiskinan adalah kenyataan dan menjadi tugas pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mengentaskannya. Penjumlahan penerimaan tersebut terangkum dalam APBD. dan semacam itu kemungkinan besar tidak memberikan tambahan nilai yang berarti. Sebagaimana telah diungkap di atas tentang adanya kemungkinan konsentrasi kemiskinan yang tinggi dengan corak praktik ekonomi informal yang berserak maka ada kesulitan bagi pemerintah kota-kota metropolitan untuk menanganinya. kenaikan gaji. maka keluaran persoalan yang muncul utamanya pada persoalan fisik klasik menyangkut soal kemacetan lalu lintas.Sosial. Bagi Hasil Pajak-pajak (BHP) yang ada (yang dikelola oleh Pemerintah). atau sensitif terhadap persoalan-persoalan yang mengiringi pertumbuhannya. jumlah kapasitas fiskal berupa APBD ini dibandingkan dengan kapasitas ekonomi daerah ternyata tidaklah seberapa. Dengan demikian. Porsi APBD terhadap PDRB sebesar 4 persen ini sangat kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 23 persen23. dan Kependudukan 153 Dengan kemungkinan masalah perekonomian seperti kemiskinan dan kesenjangan kesejahteraan serta corak ekonomi informal yang mewarnai kehidupan kota-kota besar/ metropolitan sebagaimana yang diperkirakan di atas.

Medan 1. Bandung BB C Penurunan 12. Bandar Lampung C BB Kenaikan 9.745 14.154 Metropolitan di Indonesia umum semakin meningkat. Makassar 531 13.290 13. TABEL 5 . Malang 336 9.15 Rasio APBD terhadap PDRB (Harga Berlaku) PDRB (2004) No.051 8.02 0.314 9.08 0. Milyar Dlm.06 0. Bogor 342 4. Depok Belum diteliti. Tangerang 523 20. Lampung 369 6. Milyar (2) (1) 1. Malang C AAA Kenaikan 2.360 3.078 2. Jakarta C AA Kenaikan 3.812 10.03 0.03 0. Bogor C C tetap 13.03 0. Bekasi D C Kenaikan 14.04 0. Palembang C AA Kenaikan 4. Sumber: KPPOD .250 12.127 Rata-rata Rasio (1)/(2) 0. Nama Kota 2003 2004 Keterangan 1. Padang B BB Kenaikan 8. Palembang 547 14.03 0. Padang 397 11. Bandung 962 27. Depok 390 6.04 0.04 0.04 0.06 0. Bd. Medan C BB Kenaikan 10.982 375. Daya saing kota-kota besar/metropolitan berdasarkan penelitian KPPOD secara berurutan adalah disajikan pada TABEL 5 .BPS TABEL 5 . Surabaya 1. Keuangan dan Data PDRB (atas Harga Berlaku) .507 4.825 6. Bekasi 542 14.399 11. Semarang BB BB Tetap 7.02 0. Makassar AA 2003 belum diteliti 5. Semarang 638 20.977 7.022 5. Tangerang C BB Kenaikan 11. Surabaya B BBB Kenaikan 6.16. Nama Kota APBD (2003) Dlm.320 59.16 Peringkat Daya Tarik Investasi Kota-kota Besar/Metropolitan Tahun 2004 Peringkat Peringkat No.168 33.03 0. DKI Jakarta 9.04 Sumber : Hasil Analisis dari Data Keuangan SIKD Dep.

Umumnya yang terjadi adalah pergeseran atau transformasi dari kegiatan perumahan menjadi kegiatan komersial. Untuk itu. Kota Malang malahan mempunyai daya saing yang paling tinggi di antara kota-kota besar/metropolitan lainnya. Walaupun prasarana suatu kota telah lengkap. Hubungan antara prasarana dan kelembagaan adalah: 1. 2. Kegagalan pengendalian tersebut diduga terjadi karena: . Perkembangan kota yang bersifat ke luar dan ke dalam di kota-kota besar/ metropolitan ini sampai sekarang belum bisa dikendalikan baik melalui instrumen rencana tata ruang maupun melalui pengendalian tata ruang.15 yang mengkategorikan Kota Malang sebagai kota ”steady”. daya tarik investasi akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor prasarana dan faktor kelembagaan. untuk meningkatkan daya tarik investasi kota-kota besar/ metropolitan diperlukan pengembangan kelembagaan yang lebih dinamis. termasuk zoning regulation. Ekonomi. Sebagai contoh: Semarang. tanpa kelengkapan prasarana tetap saja tidak akan mengundang investasi. tanpa pengembangan kelembagaan. pengembangan kelembagaan melalui kerja sama antar daerah khususnya dalam bidang pembangunan prasarana akan meningkatkan daya saing dan mampu mengundang investor untuk menanamkan modalnya di kota-kota metropolitan dan daerah-daerah yang berbatasan dengannya. Perkembangan ke dalam.Sosial. yaitu pergeseran di dalam kawasan terbangun kota. Sebagai kota besar/metropolitan dengan karakteristik perkembangan ”spread” dan bergabung dengan daerah-daerah di sekitarnya maka daya saing akan lebih mantap apabila ada sinerji antara kota besar/metropolitan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Dengan demikian. pada tahun 2003 peringkatnya turun menjadi peringkat sepuluh dan pada tahun 2006 terperosok ke peringkat sembilan belas. maka daya tarik terhadap investasi akan lebih nyata. Walaupun unsur kelembagaan juga menentukan. dan Kependudukan 155 Peringkat di atas berbeda dengan TABEL 5 . 2. Implikasi Tata Ruang Sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan kota-kota besar secara fisik telah melampaui batas administrasi sehingga ada tanda bahwa telah terjadi dua pola pertumbuhan fisik kota-kota besar sebagai berikut: 1. namun belum sempat menikmati datangnya investasi. apabila ada upaya peningkatan kualitas kelembagaan. Perkembangan ke luar yang terus melebar sehingga mulai menyatu secara fisik dengan daerah yang berbatasan. Oleh karena itu bagi kota-kota besar/metropolitan yang memiliki prasarana yang lebih lengkap dan kinerja ekonomi yang dinamis. 3. Pada tabel di atas. Bagaimanapun juga. maka pemanfaatan prasarana tidaklah optimal. Perbedaan ini terjadi karena pemantauan dan penilaian daya saing yang dilakukan oleh KPPOD adalah potret sesaat dengan kemungkinan setiap tahun peringkatannya bisa berbeda. di peringkat KPPOD. pada dua tahun lalu ada di peringkat pertama.16 menunjukkan kualitas yang konstan. sementara hasil analisis di TABEL 5 .

b. Sebagai akibat dari pola perubahan tata ruang dari dua sumber. maka kota menjadi terus meluas. 4. Pembentukan sub-pusat sub-pusat kota mendorong munculnya permukimanpermukiman baru. maka pada masa datang kota besar/metropolitan yang mengalami obesitas akan selalu beresiko (seperti manusia kegemukan yang beresiko tinggi terhadap penyakit degeneratif). 2. 3. nilai-nilai tambah ekonomi yang diciptakan oleh kota besar itu dikurangi sendiri oleh kebijakan tata ruang yang tidak efisien itu.156 Metropolitan di Indonesia 1. Kurangnya kapasitas pengawasan terhadap perubahan guna lahan dan kurangnya sistem data dan informasi geografi kota yang terbaharui untuk mendukung pengawasan. Pembangunan outer ring road akan merangsang tumbuhnya permukimanpermukiman baru. 3. dan pasar semakin memberi kemudahan bagi lokasi perumahan yang berada di luar lota. sekolah. tanpa berupaya reorientasi terhadap masalah melalui terobosan-terobosan baru dan jitu. Penutup Kebijakan tata ruang menyebabkan kota besar semakin membesar dan meluas semacam Kota Obesitas. ”Property Right” pemilik lahan lebih kuat daripada ”Development Right” pemerintah daerah. tetapi tergambarkan dalam perkembangan tata ruang yang justru tidak efisien. menyebabkan pengembang mencari lokasi yang harga tanahnya murah dan tentunya lokasinya jauh dari tempat kerja. yang harga jualnya ditentukan oleh pemerintah. Pengembangan struktur kota seperti: a. Zonasi-zonasi guna lahan. Kota yang mengalami obesitas ini merupakan akibat langsung dari perkembangan ekonomi kota yang maju. . Persepsi terhadap nilai-nilai ekonomi jangka pendek lebih kuat daripada nilai-nilai kelestarian yang efisien. Penyebaran fasilitas-fasilitas sosial-ekonomi seperti rumah sakit. 4. 2. yaitu ke dalam dan ke luar tersebut. Tidak adanya kerja sama antar daerah yang solid di antara kota besar/metropolitan dan daerah yang berbatasan. Berbagai kebijakan pengembangan tata ruang malahan semakin memicu dan memacu perkembangan kota yang meluas. Pembangunan perumahan murah. Jika kebijakan pengembangan tata ruang masih berkutat pada pola pikir yang lama. seperti: 1. terutama pemisahan zona bisnis dan zona industri dengan permukiman semakin memperbesar jarak antara kedua fungsi sehingga tidak efisien baik dalam pelayanan maupun pembangunan prasarana. Dengan demikian.

Di satu sisi kota hampir selalu menjadi sumber. sebagaimana disarikan oleh Smith 2002) melihat setidaknya ada lima jenis pemahaman tentang globalisasi: 1. pertukaran antar-negara (international exchange) serta kesalingtergantungan. Mengunjungi Kembali Globalisasi Sebelum melangkah lebih jauh. fenomena intensifikasi keterkaitan yang semakin mendunia sebenarnya dapat dirasakan oleh sebagian besar orang. pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan globalisasi akan mempengaruhi sikap terhadap globalisasi tersebut. dan Kependudukan 157 GLOBALISASI DAN METROPOLITAN DI INDONESIA Pendahuluan Walau sudah sering menjadi topik pembicaraan dalam. Dalam konteks inilah globalisasi dianggap telah terjadi selama berabad-abad walaupun kecepatan. Demikian pula.Sosial. besaran. kemampuan suatu bangsa dalam mengelola kota-kotanya sesuai dengan tuntutan global (yang bisa bersifat eksternal maupun internal) akan mempengaruhi kemajuan relatif bangsa tersebut di tengah-tengah masyarakat global yang semakin kompetitif. Proses urbanisasi (baik karena migrasi desa-kota ataupun akibat pengalihan fungsi lahan) pun menjadi atribut yang tidak terpisahkan dari globalisasi. Sungguh. Jan Art Scholte (2000. kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang pesat dalam dua puluh lima tahun terakhir telah membuat fenomena tersebut saat ini berlangsung jauh lebih cepat dan dalam skala yang jauh lebih besar. Dalam konteks inilah pembahasan globalisasi dan kota-kota metropolitan di Indonesia masih (dan selalu akan) dianggap perlu. serta memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi (UN-Habitat 2004). seperempat abad terakhir ini—bahkan cenderung menjadi jargon yang klise—istilah “globalisasi” yang mulai dikenal pada awal 1980-an masih belum memiliki definisi yang disepakati bersama (Centre for Developing Cities 2006). Hanya saja. yang menyebabkan semakin hari semakin banyak bagian dari bumi yang semakin terkait dan saling mempengaruhi. Padahal. Implikasinya. simpul dan penggerak dari berbagai perubahan. globalisasi dan kota adalah dua konsep yang tak terpisahkan. kemampuan pengelola kota dalam memahami berbagai perubahan global—yang bersifat terus menerus—serta pengaruhnya terhadap kehidupan kota yang dikelolanya akan sangat mempengaruhi kemampuan kota tersebut untuk berkembang dan bersaing dengan kota-kota lain di dunia yang semakin saling tergantung satu sama lain. kurang lebih. di sisi lain kota pun merupakan bagian bumi yang paling cepat dipengaruhi oleh berbagai perubahan global. khususnya mereka yang tinggal atau bekerja di kota-kota besar atau metropolitan. ada baiknya kita kunjungi kembali “globalisasi” sebagai suatu fenomena sosial-ekonomi-budaya dan demografi. lingkup dan kompleksitas . Ekonomi. Terlepas dari perdebatan akademik tentang arti globalisasi. Lebih-lebih. globalisasi dalam pengertian yang luas sebagai suatu fenomena interaksi dan proses pengaruh-mempengaruhi secara sosial-ekonomi-budaya-demografi dari bagian bumi yang satu ke bagian yang lain pun dapat dikatakan telah berlangsung selama berabad-abad sebagaimana yang tergambarkan dalam kisah Marco Polo atau Admiral Cheng Ho. Globalisasi dilihat sebagai internasionalisasi: yaitu proses meningkatnya hubungan antar-negara. dengan lingkup yang lebih luas menjangkau berbagai bidang.

apalagi mengingat bahwa justru banyak ahli geografi yang menekuni persoalan globalisasi. Termasuk dalam hal ini adalah penerimaan atau imposisi model ekonomi neo-klasik sebagai paradigma dominan (kalau tidak mau mengatakannya sebagai paradigma tunggal) untuk pembangunan ekonomi. secara lebih sempit. Karena Amerika Serikat—beserta budaya kontemporernya—sering dilihat sangat mendominasi proses-proses yang ada. media berita ala CNN. Globalisasi dilihat sebagai modernisasi dan. barang. informasi dan manusia sehingga akan terbentuk suatu ekonomi dunia yang tanpa batas. yaitu sebagai proses terhapusnya secara gradual hambatan-hambatan yang ditetapkan oleh masing-masing negara bagi pergerakan barang. jasa. rasionalisme. 5. norma-norma. IMF. ditunjukkan oleh struktur dan atribut sosial modern (kapitalisme. Peran globalisasi pendidikan— semakin banyaknya orang yang bersekolah di negaranegara lain. cara-pandang serta perilaku ke segala penjuru dunia akibat persebaran informasi. salah satu pandangan yang masuk dalam kategori ini melihat globalisasi secara lebih sempit lagi sebagai Amerikanisasi (sebagaimana merebaknya model celana jeans. minuman ala Coca Cola. Seringkali dalam proses memoderenisasi ini menghancurkan budaya serta atribut dan bahkan keswadayaan lokal yang ada. 3. Termasuk dalam kategori pemahaman ini adalah konsep kesaling-tergantungan (inter-dependency) yang juga merupakan ciri globalisasi. 24 25 Sebagai salah satu contoh baca Kwik 2006.158 Metropolitan di Indonesia perubahannya berbeda. industrialisme dan lain-lain) yang tersebar ke berbagai penjuru dunia. Globalisasi dilihat sebagai universalisasi. 4. dan oleh karenanya sistem ekonomi nasional pun harus menyesuaikan dengan prinsip-prinsip ekonomi neo-klasik. khususnya di negara-negara Barat yang dianggap “maju”—serta perkembangan teknologi komputer dan internet. bisnis multi-level marketing ala Amway dan lain-lain). Mahkamah Internasional dan belakangan WTO dan terkadang bahkan dapat mendikte kebijakan suatu negara24. serta televisi dan film dilihat sebagai sangat kuat mempengaruhi universalisasi tata-nilai ini. Globalisasi dilihat sebagai liberalisasi. orang dan lain-lain. Bank Dunia. akibat peran penting lembagalembaga seperti PBB. 2. pembaratan (westernization): yaitu sebagai dinamika. Pernyataan “death of geography” sebagaimana dikutip dalam Smith 2000 tentunya terlalu berlebihan. Pernyataan-pernyataan yang agak berlebih seperti terjadinya “death of distance” atau bahkan “death of geography”25 pun muncul sebagai salah satu penekanan cerminan sudut pandang ini. pengalaman. Globalisasi dilihat sebagai de-teritorialisasi (atau malah terbentuknya suatu suprateritorial). . yaitu proses rekonfigurasi geografis yang menyebabkan ruang-ruang sosial tidak lagi selalu diartikan secara fisik-teritorial. Namun pada kurun waktu setengah abad terakhir ini terjadi pula proses multilateralisasi yang lebih mendasar. gerai makan cepat saji ala McDonald atau KFC. yaitu sebagai proses terbentuknya kesamaan nilai-nilai. khususnya yang berkaitan dengan penyesuaian struktural (structural adjustment) negara-negara berkembang terhadap sistem ekonomi neo-klasik yang dipercaya oleh lembagalembaga multilateral tersebut sebagai pilihan terbaik dalam menghadapi globalisasi.

Berbagai ilustrasi di atas menggambarkan karakteristik kesaling-terkaitan (interconnectedness) dari globalisasi. mungkin saja memperoleh informasi tentang pasar global komoditasnya bahkan secara real-time melalui internet. perusahaan-perusahaan software di negara maju mensubkontrakkan sebagian pekerjaannya kepada perusahaan atau individu di negara berkembang— mungkin tanpa harus bertemu muka—demi menghemat biaya. jasa. bertinggal.Sosial. belajar. (ii) berkurangnya batas-batas bagi mobilitas barang. Sebaliknya. banyak murid-murid di Amerika Serikat mengambil semacam les dari guru-guru sekolah di India yang bisa menawarkan jasanya jauh lebih murah daripada guru-guru di Amerika Serikat (Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk lain dari fenomena e-subcontracting. Hal ini. baik dalam bekerja. (iv) industrialisasi barang dan jasa. dan Kependudukan 159 Dengan pemahaman semacam ini. Orang-orang di desa. jasa dan manusia dari satu tempat ke tempat lain. berbelanja. Suatu unit usaha di suatu negara bisa saja melakukan suatu sub-kontrak dengan suatu pihak dari belahan bumi yang lain tanpa harus bertemu muka. yaitu: (i) meningkatnya interaksi global. Demikian pula dengan timbulnya komunitas-komunitas maya (virtual) yang terbentuk melalui media internet dan tidak mengenal batas-batas geografis. Akses ke informasi pun semakin terbuka bagi semakin banyak orang. Oleh karenanya tulisan ini—dalam melihat pengaruh globalisasi kepada kota-kota—justru akan menggunakan secara komprehensif kelima pemahaman di atas secara lebih bebas sebagai atribut dari globalisasi. perusahaan-perusahaan atau produk-produk tertentu tidak lagi dapat diasosiasikan dengan suatu negara karena baik kepemilikan atau proses pembuatannya tidak lagi terbatas pada pihak-pihak dari satu negara. dikombinasikan dengan perkembangan pasar yang juga semakin kompetitif menyebabkan percepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (misalnya pada perangkat lunak . hanya berbeda aspek atau sudut pandang. namun sebenarnya masing-masing pemahaman di atas memiliki kandungan kebenaran jika dikaitkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi. (iii) merebaknya tata-nilai ‘universal’. bersosialisasi dan bahkan dalam berpikir. perluasan pasar yang semakin mengglobal mengakibatkan timbulnya perusahaan-perusahaan berskala besar yang mampu mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk penelitian dan pengembangan produknya. dan (v) de-teritorialisasi. Walaupun Scholte lebih cenderung menggunakan pemahaman yang terakhir (deteritorialisasi) sebagai penjelasan globalisasi. informasi dan manusia. Apapun definisinya. Lebih lanjut lagi. Ekonomi. berlibur. Anthony Giddens (1990. atau bisa juga merupakan bentuk lain dari kursus-kursus melalui internet yang ditawarkan sekolahsekolah di negara-negara maju kepada murid-murid di negara berkembang). misalnya. sebagaimana dikutip oleh Smith 2002) mendefinisikan globalisasi sebagai intensifikasi hubunganhubungan sosial yang menyeluruh dunia dan menghubungkan tempat-tempat yang berjauhan sedemikian sehingga apa yang terjadi di suatu tempat dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kejadian di tempat lain yang berjauhan. Dan hal-hal seperti ini mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia. telepon genggam atau media lainnya. globalisasi sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang telah mempermudah dan mempercepat arus informasi. barang. Salah satu fenomena menarik yang terjadi akhir-akhir ini adalah apa yang disebut e-tutoring.

Ketiga adalah dari cara pandang universal. Pertama adalah pergeseran dari cara pandang yang bersifat atomistic (dengan mana keseluruhan sistem dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya) ke cara pandang holistic (dengan mana keseluruhan sistem tidak selalu dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya. Kedua adalah pergeseran dari cara pandang yang mekanistik (Newtownian) yang menganggap suatu sistem selalu mempunyai ekuilibrium.Kampung Bugis. budaya (misalnya dengan kemunculan generasi MTV di kalangan generasi muda di belahan bumi mana pun dan merasa lebih memiliki kesamaan di antara mereka dibanding dengan generasi orang tua di negara yang sama). Masyarakat yang memiliki modal sosial besar walau secara individu mungkin memiliki kapasitas terbatas bisa saja lebih maju dan berkembang daripada masyarakat yang secara individu memiliki kapasitas tinggi tetapi secara kesuluruhan memiliki modal sosial yang lemah. politik-kelembagaan (misalnya dengan semakin diadopsinya sistem demokrasi ala Barat.pernah memiliki sudut-sudut kota yang dihuni oleh migran dari berbagai tempat di Nuantara secara berkelompok-kelompok (Kampung Ambon. Globalisasi juga dipahami tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi saja. telepon genggam. .dan lain-lain). New York atau Paris. televisi dan lain-lain). diskontinuitas dan bahkan chaos yang tak terjelaskan. konsep modal sosial menjadi lebih mudah dipahami. Globalisasi pun dipengaruhi oleh perubahan atau pergeseran cara pandang atau cara berpikir. proses yang sangat kompleks ini juga menyangkut dimensi sosial (misalnya dengan berubahnya struktur dan tingkat kerekatan komunitas di dalam masyarakat). Pergeseran dalam hal ini tidak bisa 26 “Urban ethnic space” sebagaimana yang dikemukakan dalam Habitat 2004 sebenarnya juga sudah terjadi sejak adanya proses migrasi besar-besaran selama berabad-abad. Kota-kota besar di Nusantara seperti Jakarta misalnya. Richard Norgaard (1994) melihat. waktu dan budaya sebagai faktor yang tidak hanya harus dipertimbangkan tetapi justru harus dominan. yang melihat prinsip-prinsip universal sebagai sesuatu yang tak terbantahkan. di dunia ini. lingkungan hidup (misalnya polusi antar-bangsa dalam bentuk asap dari kebakaran hutan di Indonesia yang diderita warga di Singapura. yang seringkali diterapkan hanya secara prosedural. Termasuk dalam hal ini adalah pengakuan terhadap eksistensi ekonomi informal perkotaan yang seringkali sulit dijelaskan dan didekati secara formal. Jadi keterkaitan antara globalisasi dan perkembangan teknologi adalah hubungan yang bersifat timbal balik dan saling mendorong. Demikian halnya dengan kota-kota dunia (global cities) seperti London. setidaknya terjadi lima pergeseran cara pandang. Malaysia dan lainnya). ke cara pandang yang lebih mengakui kemungkinan terjadinya ketidakpastian. Di sini aspek multi-kulturalisme menjadi atribut yang sangat kental bahkan menjadi ciri dari kota-kota global yang kosmopolitan. di berbagai belahan dunia). dan juga spatial atau tata-ruang (termasuk di dalamnya proses migrasi yang semakin meningkat sehingga menyebabkan tumbuh dan semakin beragamnya “urban ethnic space” atau bagian-bagian kota yang dihuni oleh berbagai suku-bangsa secara mengelompok26) (Habitat. Dengan pengertian ini. bisa lebih besar/kuat atau lebih kecil/lemah tergantung bagaimana berhubungan antar-bagian yang ada). 2004. 2005). yang kemudian mempengaruhi perilaku di berbagai bidang. Soegijoko. ke cara pandang “kontekstualistik” yang mengakui konteks lokal.160 Metropolitan di Indonesia maupun keras bagi komputer.Kampung Bali.Kampung Jawa. jauh dari kultur setempat.

Pada tataran yang lebih praktis. pada umumnya pembangunan maupun pengelolaan publik sangat didominasi oleh pemerintah (dan seringkali pemerintah pusat). terutama untuk mengurangi bias dari si pengambil keputusan. khususnya yang berkaitan dengan kegagalan pasar. cepat dan sangat berorientasi pada hasil. kekakuan birokrasi. Pendekatan dalam penelitian maupun perencanaan yang diakui pun tidak lagi harus yang bersifat positivistik dan bebas-nilai tetapi mencakup pendekatan penelitian “participant-observation” dan pendekatan perencanaan melalui proses-proses komunikasi (“planning through communication”). Oleh karenanya. Maka timbul era yang menganggap sektor swasta lebih mampu menyediakan berbagai pelayanan maupun melaksanakan pembangunan. Kelima. Keempat adalah pergeseran dari cara pandang (umumnya di dunia penelitian atau keilmuan) yang mengagung-agungkan “objektivitas positivisme” ke cara pandang yang mengakui kemungkinan adanya subyektivitas atau keberpihakan di dalam ilmu (yang bisa dianggap sebagai konstruksi sosial). Memang ada hal-hal yang lebih baik diserahkan kepada pihakpihak yang dapat bekerja lebih efisien. Terjadilah gelombang privatisasi di berbagai sektor sebagai bagian dari perubahan pola berpikir global. di dalam pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan publik sehari-hari pun telah terjadi pula pergeseran yang cukup berarti. Terkandung di dalam pergeseran paradigma yang kelima ini adalah multi-kulturalisme sebagai pengakuan bahwa dunia—khususnya kotakota besar—tidak hanya dihuni oleh manusia-manusia yang berbudaya sama. Di masa lalu. Ada hal-hal yang dikenal sebagai “government failures” seperti ketidakefisienan. Di era ini pemerintah diharapkan untuk berperan sebagai regulator saja. Namum pendekatan yang berorientasi swasta seperti ini pun tidak lepas dari berbagai persoalan. Namun pada saat yang hampir bersamaan bisa saja terjadi pula penguasaan cara pandang (misalnya pandangan neo-klasik sebagai paradigma dominan ekonomi dunia) atau pemaksaan cara pandang tertentu oleh kekuasaan adidaya (misalnya dalam hal terorisme global). kelembaman untuk berubah dan lain-lain. swasta tidak akan pernah mampu menyediakan barang atau pelayanan yang sepenuhnya bersifat publik (public goods) yang bisa dinikmati oleh semua orang tanpa harus membayar. sehingga tidak hanya penyediaan air minum yang diswastakan tetapi bahkan terdapat kota-kota yang hampir sepenuhnya dibangun oleh swasta. Kemudian disadari bahwa pemerintah tidak akan mampu mengerjakan semua hal. dan Kependudukan 161 dikatakan tuntas karena masih banyak pelaku pembangunan dunia yang sangat percaya dengan nilai-nilai yang sifatnya universal dan berusaha mempromosikan hal tersebut namun di sisi lain juga cukup banyak pelaku pembangunan yang selalu menekankan pentingnya konteks lokal. Ekonomi. Swasta pun cenderung tidak mau menyediakan barang atau pelayanan bagi kaum yang . Kini lebih banyak orang yang bisa (atau terpaksa) menerima perbedaan pendapat dibanding di masa lalu. tuntutan akan partisipasi masyarakat menjadi lebih tinggi.Sosial. Norgaard melihat adanya pergeseran dari cara pandang yang “monistik” yang hanya mengakui satu kebenaran atau penjelasan akan suatu fenomena ke cara pandang yang “pluralistik” yang mengakui kemungkinan adanya beberapa kebenaran atau penjelasan.

peran (atau tuntutan akan peran) masyarakat madani semakin meningkat untuk mengimbangi baik kegagalan pemerintah (government failures) maupun kegagalan pasar GAMBAR 5 . pergeseran peran-peran dalam pembangunan ini. regional. tahap 1 Pemerintah dianggap paling mengetahui apa yang dikehendaki rakyat tahap2 Sistem pasar dianggap paling efisien dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tahap 3 Kemitraan yang setara dianggap sebagai cara terbaik swasta swasta swasta pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat Terjadi “kegagalan pemerintah”.162 Metropolitan di Indonesia sangat miskin di mana marjin keuntungan dianggap sangat tipis atau bahkan tidak ada27. Ketegangan sendiri sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan (embedded) dalam globalisasi. penurunan kualitas ruang publik ? GAMBAR 5 . regional maupun lokal dan bahkan pada tataran komunitas dan keluarga. baik yang bersifat global. lokal. Salah satu implikasi dari situasi seperti ini adalah timbulnya berbagai ketegangan (tensions). komunitas maupun individu—tentunya dengan tahap dan skala maupun intensitas yang berbeda-beda. 27 . Maka pada tahap berikutnya.7 Diagram Pergeseran Peran Pelaku dalam Pembangunan/ Pengelolaan Publik Perubahan-perubahan semacam di atas terjadi di mana-mana. Swasta juga cenderung tidak mau melakukan investasi dengan modal yang sangat besar dengan pengembalian modal yang berjangka sangat panjang serta beresiko tinggi.7. namun di sisi lain juga terjadi pula gelombang desentralisasi atau lokalisasi di mana timbul tuntutan agar sebanyak mungkin keputusan publik dan pelaksanaannya di lakukan ditingkat lokal/komunitas Padahal Prahalad (2004) justru melihat potensi investasi di tengah-tengah masyarakat yang paling miskin sekalipun. masyarakat kehilangan kepercayaan Terjadi “kegagalan pasar”. Di satu sisi globalisasi membuat batas-batas negara semakin menipis. baik di negara maju maupun di negara berkembang—termasuk Indonesia—baik pada tingkatan negara.

Simbol-simbol globalisasi seperti McDonald. sehingga timbul penentangan-penentangan sebagaimana diilustrasikan di atas. Memang.Sosial. maka proses globalisasi dianggap dapat menyebarkan tata-nilai yang dianggap baik tersebut. Timbul fenomena “globalization” yang penuh ketegangan atau tarik ulur antara kekuatan-kekuatan global dan kekuatan-kekuatan lokal. Ketegangan (tension) juga timbul manakala produk-produk import yang bisa masuk secara lebih mudah ternyata mematikan atau melemahkan usaha lokal/domestik yang menghasilkan produk-produk sejenis. Atas dasar pertimbangan inilah kemudian timbul gerakan anti-globalisasi yang kemudian berubah menjadi “globalisasi dari bawah” dan menuntut adanya keadilan global. Namun proses-proses ini terjadi tidak tanpa ongkos. September 21. . Pada intinya. ruang kota untuk bersosialisasi. “putra daerah” dianggap punya hak lebih dalam banyak hal daripada “pendatang”). Bahkan tentangan terhadap lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan IMF sudah merupakan berita sehari-hari. selama akses kepada sumberdaya (termasuk teknologi dan informasi) masih belum merata—dan prospek untuk terjadi pemerataan belum terlihat jelas—maka distribusi manfaat dan biaya dari globalisasi masih akan selalu timpang28. penyediaan rumah-rumah. Terdapat pihak-pihak yang harus turut menanggung biaya tetapi tidak menikmati manfaat dari proses yang sedang berlangsung. dan Kependudukan 163 (atau bahkan primordialisme. baik melalui pemaksaan perubahan cara berpikir. Ketegangan juga timbul akibat dari semakin menguatnya proses privatisasi yang bahkan masuk ke ruang-ruang yang selama ini merupakan domain publik: taman-taman. Kentucky Fried Chicken. kebijakan sosial-ekonomi dan lain-lain melalui persyaratan-persyaratan hutang yang seringkali dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang. Selanjutnya. intensitas dan kompleksitas konflik yang 28 Kenyataan ironis di era yang sangat berorientasi kepada teknologi informasi adalah angka yang menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen penduduk dunia belum pernah menggunakan sarana telepon (lihat misalnya Jakarta Post. hal. prasarana air minum. Lembaga-lembaga global ini sering dilihat sebagai simbol neo-kolonialisme. ketegangan atau bahkan konflik sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari globalisasi—dengan skala. Bagi mereka yang memiliki akses kepada teknologi dan informasi serta sumberdaya finansial atau lainnya untuk berkompetisi maka globalisasi dapat dianggap sebagai menguntungkan (beneficial) secara ekonomi. yang seringkali harus dipikul oleh pihak-pihak yang tidak menikmati. Karena hal tersebut di ataslah globalisasi tidak selalu dianggap sebagai suatu yang positif. 17). Salah satu implikasi dari privatisasi adalah sulitnya dipenuhi kebutuhan kaum miskin karena pihak swasta tentunya lebih memberi perhatian kepada mereka yang mampu membeli layanan atau barang komoditasnya. Ekonomi. 2006. Demikian pula bagi mereka yang ingin memajukan nilai-nilai seperti demokratisasi. jalan utama bahkan pembangunan seluruh kota. Walmart atau Carrefour sering mendapat tentangan dari komunitas lokal yang tidak menghendaki bisnis-bisnis kecil dan khas tergusur oleh perusahaan global tersebut. Demikian pula dengan bertumbangannya tingkat keswadayaan lokal dan meningkatnya ketergantungan pada faktor-faktor eksternal yang lebih jauh dapat dianggap mengancam keberlanjutan pembangunan di tingkat lokal. banyak pengusaha-pengusaha kecil yang tidak terlindungi oleh pemerintah lokal terpaksa tergusur oleh toko-toko wholesale global seperti Walmart atau Carrefour.

Kota-kota. dan umumnya perguruan tinggi tersebut berada di dekat kota besar. University of California at Berkeley dan berbagai universitas lain. telah terjadi pergeseran pilihan lokasi investasi (khususnya di sektor jasa dan industri informasi-telekomunikasi) dengan adanya kecenderungan untuk memilih kota-kota kedua (secondary cities) yang dianggap lebih nyaman ditinggali daripada kota-kota metropolitan yang ditandai dengan harga properti yang semakin mahal. Namun pergeseran seperti ini hanya terjadi pada secondary cities yang memiliki akses teknologi komunikasi informasi serta amenities (atribut untuk kenyamanan. globalisasi dan urbanisasi merupakan dua konsep yang tidak terpisahkan. Kota-kota besar umumnya juga menawarkan pasar—atau akses ke pasar—yang relatif lebih besar daripada yang ada pada kota-kota yang lebih kecil. merupakan sumber. maka terjadi proses pelebaran kesenjangan penerimaan manfaat globalisasi antara kota-kota besar dan kota-kota yang lebih kecil atau kawasan perdesaan. sebagaimana dilaporkan dalam Newsweek July 3-10. kota-kota besar juga cenderung memiliki pool yang lebih besar akan tenaga ahli dengan pendidikan atau keterampilan yang sesuai dengan kebutuhannya. polusi yang semakin menyesakkan serta kriminalitas yang semakin mengkhawatirkan. simpul dan penggerak berbagai perubahan yang kemudian menggelinding menjadi apa yang disebut globalisasi. Contoh yang sering dirujuk adalah kota San Francisco dengan Bay Area-nya (tempat Silicon Valley berada) yang merupakan tempat bagi Stanford University. Berbagai inovasi yang kemudian mendunia sering muncul dari kedua kawasan perkotaan tersebut maupun dari tempat-tempat lain yang sejenis. atau Boston Metropolitan Area (tempat Route 128 berada) dengan Harvard University dan Massachussett Institute of Technology dan berbagai universitas terpandang lainnya. Upaya mengantisipasi dan merespon pun perlu memasukkan pertimbangan adanya keteganganketegangan atau konflik ini. kemacetan lalu-lintas yang semakin parah. Dan karena seringkali kotakota besar atau metropolitan memiliki keunggulan infrastruktur dibanding kota-kota yang lebih kecil. Dengan perkembangan . Namun dalam perkembangan paling akhir. tempat berkumpulnya berbagai bisnis sejenis atau terkait yang dapat menciptakan apa yang agglomeration of economies (pengumpulan berbagai ekonomi terkait). Manuel Castells menekankan pentingnya suatu milleu of innovation atau suatu kumpulan komunitas manusia yang berorientasi ke inovasi bagi perusahaanperusahaan yang berorientasi teknologi informasi untuk dapat selalu memiliki keunggulan komparatif di era globalisasi ini (Castells 1986). terutama karena keunggulan dalam ketersediaan sarana dan prasarana yang bersifat global (misalnya jaringan telekomunikasi global). Demikian pula. Lebih jauh lagi. 2006. khususnya kawasan metropolitan. Milleu of innovation semacam ini cenderung terbentuk di sekitar perguruan tinggi dengan lembaga-lembaga risetnya. Sebaliknya pengaruh globalisasi paling cepat dan paling besar dirasakan di kota-kota (oleh masyarakat kota). Pengusaha-pengusaha global cenderung memilih kota-kota besar sebagai pusat dan simpul operasinya. Implikasi bagi Kota-kota Metropolitan Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. baik secara fisik maupun sosiokultural) yang baik dan tidak kalah dengan kota-kota besar.164 Metropolitan di Indonesia lebih tinggi dibanding dengan apa yang terjadi di era pra-kontemporer.

Tersirat di sini adalah adanya kompetisi antar-kota untuk menjadi semacam “pusat” atau “hub” (simpul) kegiatan ekonomi dari suatu region—kalau bukan dunia—sebagaimana yang terlihat pada persaingan yang cukup ketat antara Singapura dan Bangkok dalam upaya mereka menjadi hub bagi lalu-lintas udara di Asia Tenggara. namun pada tingkatan-tingkatan di bawahnya susunan kota-kota lebih mudah berubah. yang seringkali tumbuh tidak teratur. menurut Sassen (1994). serta tingkatan-tingkatan di bawahnya yang menunjukkan besarnya/luasnya cakupan pengaruh kota-kota tersebut—khususnya di bidang ekonomi-finansial—baik di tingkat global maupun regional. atau bahkan dari rumah mereka masing-masing.Sosial. namun perkembangan teknologi-informasi telah sedikit-banyak mengurangi ketergantungan untuk aktifitas tatap-muka sehingga timbul pusat-pusat baru di pinggiran kota. Kecenderungan yang terjadi di banyak kawasan metropolitan di dunia—khususnya di negara-negara maju—adalah terbentuknya apa yang sering disebut sebagai decentralized concentration atau konsentrasi yang terdesentralisasi. kota-kota metropolitan pun bersaing dengan kota-kota yang lebih kecil dalam upaya mendatangkan investasi yang lebih memiliki nilai tambah relatif lebih besar yang ada pada sektor-sektor yang terkait dengan teknologi-telekomunikasiinformasi (dibanding pada sektor-sektor manufaktur konvesional yang sering lebih mengandalkan tenaga buruh murah sebagai basis pilihan lokasi). baik yang berskala kota-baru atau kota satelit maupun yang hanya berupa warung-warung telekomunikasi di kawasan-kawasan permukiman pinggiran. termasuk berkomunikasi dengan mitra usaha di mancanegara dari rumah atau kantor di pinggiran atau warung telekomunikasi terdekat. Kalau di masa lalu kota-kota sekunder sering dilihat hanya sebagai pendukung bagi kota-kota . London dan Tokyo. Toh mereka tetap bisa mengerjakan banyak hal. khususnya kota metropolitan dapat dilihat sebagai memiliki tiga tataran atau aras: [1] Pengaruh globalisasi pada sistem perkotaan global. Hal seperti ini tentunya dapat mengurangi biaya transportasi dan jumlah penglaju harian di kawasan kota metropolitan sekaligus mempengaruhi tata-ruang yang ada. pengaruh globalisasi terhadap kota-kota. terdapat kota-kota global tingkatan pertama seperti New York. Sementara di kota-kota besar di negara berkembang yang berpenduduk besar tetapi memiliki keterbatasan infrastruktur seperti Indonesia yang umumnya terjadi justru suatu mega urban sprawl. Walaupun pola aktifitas ekonomi yang berpusat pada kawasan pusat kota masih tetap mendominasi kegiatan sehari-hari di berbagai kota metropolitan di dunia (sehingga menimbulkan arus penglaju yang sangat besar dari pinggiran kota ke pusat kota di pagi hari dan sebaliknya di sore hari). sisanya mereka dapat berkantor di kantor-kantor cabang di pinggiran kota atau di fasilitas semacam warung telekomunikasi di dekat mereka tinggal. misalnya. Walau di tingkat teratas sistem perkotaan global mungkin tidak banyak terjadi perubahan (ketiga kota yang disebut di atas masih belum tergoyahkan oleh kotakota lainnya). kawasan perkotaan menyambung menjadi satu (walaupun mungkin saja masih terdapat kawasan berkarakter perdesaan di dalamnya). dan Kependudukan 165 terakhir seperti ini. [2] Pengaruh globalisasi pada hubungan yang juga dinamis (selalu berubah) antara kota-kota utama atau metropolitan dan kota-kota sekunder di sekitarnya. Di banyak kota-kota besar dunia. perusahaan-perusahaan tertentu membolehkan karyawannya untuk datang ke kantor pusat hanya dua atau tiga hari seminggu. Secara terstruktur. Globalisasi pun dapat mempengaruhi struktur tata ruang internal kawasan metropolitan. Ekonomi.

Sementara kota-kota di negara berkembang pun tidak luput dari ancaman yang sama dari apa yang disebut footloose industries tersebut. sangat tergantung kepada seberapa jauh kota metropolitan tersebut terbuka (exposed) terhadap globalisasi serta faktor-faktor sosial. dll. Konflik keruangan antara tekanan . Namun secara umum terdapat pola perubahan tata-ruang yang sangat dipengaruhi oleh berubahnya sistem ekonomi-bisnis dunia. yang mendesak atau mematikan usaha-usaha lokal yang Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) Privatisasi ruang-ruang publik serta berbagai pelayanan umum— seperti penyediaan air. maka dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan informasi banyak kota-kota sekunder yang kemudian berkembang menjadi kota-kota yang lebih mandiri (self-sustained) dan mempunyai aktifitas-aktifitas yang berhubungan langsung ke bagian dunia yang lain tanpa harus tergantung pada atau melalui kota metropolitan terdekat. terdapat pula kecenderungan pelaku dunia usaha global justru untuk memilih kota-kota sekunder yang memiliki amenities yang baik namun terbebas dari kemacetan dan polusi kota-kota metropolitan. Perkembangan ke depan akan sangat tergantung pada perkembangan teknologi telekomunikasi-informasi dan pola aktifitas sosial-ekonomi.17 Pengaruh Globalisasi Pada Umumnya dan Terhadap Tata Ruang Kota Dimensi Dimensi EkonomiFinansial Pengaruh Umum Paradigma neo-klasik sebagai paradigma tunggal/dominan. [3] Pengaruh globalisasi pada tata-ruang internal suatu kawasan metropolitan. pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan dapat disusun ke dalam suatu matriks atau kerangka analisis sebagai ditunjukan dalam tabel TABEL 5 . Sebagaimana yang diuraikan di atas. Akibatnya. Dalam hal ini. Sebagai contoh. banyak kotakota di negara maju yang harus berjuang untuk “mengisi kekosongan sosial-ekonomi” yang diakibatkan oleh perginya tempat-tempat usaha (dan sumber-sumber pekerjaan) tersebut. hambatan dan tarif perdagangan dikurangi. yang terjadi di suatu kota metropolitan tidak sama dengan yang terjadi di kawasan metroplitan lain. pengelolaan sampah. Walmart. Namun pergeseran semacam ini tidak bisa dibilang permanen. maka ongkos buruh akan semakin meningkat dan selalu ada saja negara atau kota lain yang dapat menawarkan lingkungan usaha dengan ongkos yang lebih murah. tetapi banyak pula yang memindahkan kantor pusatnya ke kota lain yang lebih strategis. pendidikan dan kesehatan—yang di masa lalu lebih banyak diasosiasikan sebagai pelayanan publik. ada yang berhasil mendapatkan basis ekonomi baru namun banyak juga yang masih struggling hingga kini. budaya dan geografis yang ada serta seberapa jauh pemerintah dan warga kota metropolitan tersebut mampu mempertahankan ciri-ciri khasnya.17 berikut: TABEL 5 . ekonomi. karena seiring dengan kemajuan ekonomi negara berkembang tersebut. atau setidaknya sebagai kota-kota pinggiran (edge cities). dengan banyaknya industri manufaktur yang pindah dari negara-negara dengan biaya buruh tinggi (umumnya di negara maju) ke negara-negara dengan biaya buruh rendah (umumnya di negara berkembang)— seringkali masih menyisakan kantor pusatnya di kota asal. Pasar bebas diagung-agungkan. Tumbuh dan tersebarnya perusahaan global seperti McDonald. Dari sudut berbagai dimensi yang ada. politik. khususnya dalam penyediaan hunian yang murah dan nyaman.166 Metropolitan di Indonesia metropolitan. Carrefour.

Tumbuhnya ruang-ruang kota yang terkait dengan etnik atau bangsa-bangsa tertentu dalam satu kota metropolitan (sesuai dengan negara atau tempat asal-usul dari para migran kota tersebut).) maupun yang bersifat negatif (hilangnya atau berkurangnya ke-khasan lokal) Arus migrasi yang semakin pesat dan semakin menglobal (semakin banyak orang yang tidak hanya berpindah dari desa ke kota tapi juga dari suatu negara ke negara lain). Arus aliran modal. Peran negara dalam pengelolaan kota semakin berkurang. Wajah kota “moderen” yang hampir sama di mana-mana (termasuk dalam wujud shopping mall atau pusat belanja yang tidak berbeda secara signifikan antara mall di Jakarta atau mal di Bangkok atau di Buenos Aires). diambil alih oleh peran pemerintah kota. Dimensi PolitikKelembagaan Peran atau pengaruh negara semakin berkurang seiring dengan menguatnya peran dan pengaruh lembaga-lembaga multi-lateral dan MNCs. Ekonomi. masyarakat kota dan swasta (termasuk swasta yang bersifat . Tumbuhnya multikulturalisme. Di sisi lain terdapat pula pengakuan (secara parsial) terhadap aktifitas ekonomi perkotaan informal.baik yang bersifat positif (saling memahami perbedaan. Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) ekonomi global dan keinginan untuk mempertahankan usahausaha yang bersifat lokal. Dimensi SosialBudaya Demografis Tumbuhnya budaya-budaya dan nilai-nilai sosial yang bersifat mendunia (diakui dan diadopsi di berbagai tempat di dunia). tergantung pengaturan mana yang paling menguntungkan). barang dan jasa (serta manusia) yang semakin deras meningkat Kesenjangan ekonomi cenderung melebar (lebih terasa di kota-kota negara berkembang. dan Kependudukan 167 Dimensi Pengaruh Umum kecil. sama setiap hari kerja). demokratis. Banyak pula perusahaan-perusahaan global yang bersifat footloose atau mudah berpindah tempat usaha (biasanya meninggalkan mitra lokal begitu saja). tetapi juga terjadi di kota-kota negara maju). tapi juga disertai dengan konflik antar budaya.Sosial. Salah satu akibatnya adalah pola commuting menjadi tidak sejelas pada tatanan yang konvensional (pagi berangkat sore pulang. termasuk akomodasi spasialnya. dll. Pembagian kerja yang bersifat global (komponen-komponen bisa dibuat terpisah. Berkembangnya kegiatankegiatan usaha di tempat-tempat tinggal (banyak yang bekerja dari rumah) atau di “warung telekomunikasi” terdekat. Kontras yang semakin lebar antara kawasan bagi orang-orang yang berpenghasilan menengah/tinggi (punya akses ke jaringan global) dan kawasan bagi mereka yang tidak punya akses ke jaringan global atau yang terdesak oleh globalisasi ekonomi.

Investor global pun turut memperhatikan kualitas lingkungan kota yang ada (terutama dalam kaitannya dengan kompetisi antar-kota yang sejenis). Semarang. Tuntutan akan pengelolaan kota yang demokratik dan terbentuknya wujud kota yang berkeadilan (pada saat yang bersamaan dengan semakin melebarnya kesenjangan sosialekonomi). kawasan Kemang. masing-masing dengan kota dan kabupaten di sekitarnya) dan apalagi dengan sekian banyak kota-kota kecil yang ada. Secara umum “ecological footprints” (tapak ekologis) yang semakin meluas dan bahkan mengglobal. Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) global). Dimensi Lingkungan (Ekologis) Dampak lingkungan suatu kegiatan yang bisa bersifat antar-negara seperti dalam pembuangan sampah baik yang bersifat berbahaya maupun yang tidak (umumnya dari negara lebih maju ke negara berkembang—seringkali tidak terbatas pada yang bertetangga). tetapi lebih berdasarkan kesamaan profesi. . Bahkan di dalam kawasan Jabodetabek pun. Tumbuhnya kerekatan komunitas yang tidak sepenuhnya berdasarkan kesamaan tempat. Bandung. Implikasi dan Tantangan bagi Kota-kota Metropolitan di Indonesia Di Indonesia. Tuntutan akan kerjasama antarkota (tidak terbatas pada kotakota yang berada dalam suatu region) semakin meningkat. peran pemerintah dan masyarakat daerah/kota semakin besar. atau bahkan Jalan Jaksa). hobby atau lainnya. Medan. kebun kota dan lain-lain. Pemerintah kota tidak lagi dapat dengan mudah mengurangi ruang hijau tanpa mendapat resistensi dari masyarakat. namun pada saat yang bersamaan. Berkembangnya kesadaran akan pentingnya lingkungan alam (termasuk taman-taman dan kehijauan) dalam mendukung keberlanjutan lingkungan binaan. maka tingkat keterbukaan (exposure) dan saling pengaruh-mempengaruhi antara kota dan globalisasi pun sangat berbeda. Tuntutan akan perhatian pemerintah kota kepada aspekaspek lingkungan dalam tata ruang kota seperti jumlah ruang hijau. tingkat keterbukaan terhadap globalisasi tidak merata—ada bagian-bagian kawasan yang sangat mencerminkan kota global (misalnya di Jakarta.168 Metropolitan di Indonesia Dimensi Pengaruh Umum Namun pada saat yang sama juga terjadi desentralisasi. Peran partisipasi masyarakat yang semakin penting (atau tuntutan akan partisipasi yang semakin besar). karena tingkat ketersediaan infrastruktur yang terkait dengan berbagai aspek globalisasi di atas sangat timpang antara kawasan metropolitan Jabodetabek dengan kawasan-kawasan metropolitan lainnya (Surabaya. Thamrin-Sudirman-Kuningan. pendidikan yang umumnya belum merata di masyarakat juga menyebabkan proses demokratisasi yang lebih “prosedural” daripada substantif.

terutama karena ketersediaan infrastruktur yang masih sangat terbatas. Jakarta bisa dikatakan masih kalah dari Singapura dan Bangkok sebagai pusat aktifitas internasional—baik yang bersifat ekonomi-finansial. perpustakaan asing dan lain-lain. jauh melampaui kotakota dengan pengaruh besar berikutnya. dapat dikatakan bahwa globalisasi juga belum secara signifikan mempengaruhi tata ruang perkotaan metropolitan di Indonesia. Sehingga boleh dikatakan bahwa globalisasi belum mempengaruhi. perwakilan kamar dagang asing dll. . pada tataran nasional Jakarta masih merupakan kawasan perkotaan yang paling berpengaruh. bandar udara Soekarno-Hatta pun merupakan bandara yang paling banyak melayani penerbangan internasional. Apalagi kalau diangkat ke tingkat Asia di mana terdapat Tokyo. yaitu Surabaya. apalagi mengubah. Kawasan perkotaan Denpasar-Kuta-Nusa Dua di Bali dan kota Yogyakarta mungkin secara nyata juga memiliki exposure internasional yang sangat besar. dan dalam taraf tertentu pendidikan (khusus untuk Yogyakarta). Hampir seluruh pusat perwakilan badan usaha internasional (perusahaan multinasional. namun terkonsentrasi pada satu sektor utama yaitu pariwisata. sistem kota-kota yang ada di Indonesia. namun sangat spesifik berkaitan dengan satu sektor ekonomi-budaya yaitu pariwisata. dan Kependudukan 169 namun masih banyak pula bagian-bagian kawasan yang seolah-olah tidak atau sangat sedikit tersentuh oleh globalisasi (misalnya di beberapa perkampungan-perkampungan kumuh)29. Dengan tingkat exposure yang masih sangat terbatas tersebut. Sementara itu. politik-kelembagaan (tempat lembaga-lembaga internasional dengan salah satu perkecualian Sekretariat ASEAN yang berada di Jakarta). pendidikan maupun sebagai hub lalu-lintas udara dan laut. 30 Sebenarnya Balipun merupakan bagian Indonesia yang sangat terimbas dan bersinggungan langsung dengan globalisasi (dalam arti “internasionalisasi” maupun lainnya).Sosial. Bandung dan Medan. Ekonomi. Ketika membicarakan pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan di Indonesia. budaya. bank internasional. Namun demikian. di tingkat global atau bahkan regional peran Jakarta masih sangat terbatas. Bagi Indonesia. masih terbatas pada tumbuhnya—secara sporadis—kawasan29 Dapat pula kita cermati bahwa di beberapa perkampungan kumuh pun terdapat berbagai aktivitas yang memiliki “nuansa globalisasi” seperti produksi kerajinan dari fiberglass di kawasan Prumpung yang sudah menjual produksi hingga ke Malaysia dan Timur Tengah. sebagaimana yang sudah ditulis di atas. Ketimpangan tersebut membuat generalisasi menjadi sesuatu hal yang sulit. Di Asia Tenggara saja. Jakarta—beserta wilayah di sekitarnya—dapat dikatakan merupakan kawasan metropolitan yang paling mendalam dan langsung bersinggungan (exposed) oleh globalisasi30. Kota-kota metropolitan Indonesia lain tentunya punya peran dan ketersinggungan dengan globalisasi yang jauh lebih kecil daripada Jakarta. demikian pula untuk aspek-aspek non-ekonomi seperti pusat kebudayaan asing. apa yang dialami oleh Jakarta dan sekitarnya tidak sama dengan apa yang dialami oleh kota-kota metropolitan lainnya.) di Indonesia berlokasi di Jakarta. Kawasan industri yang menampung berbagai industri yang bersifat internasional—kalau belum bisa dikatakan global—pun lebih banyak berada di sekitar Jakarta daripada di sekitar kota-kota metropolitan lain di Indonesia. Hong Kong dan Shanghai maupun Mumbai (khususnya untuk Asia Selatan). Fenomena global di mana kota-kota sekunder (bukan metropolitan) mulai bersinggungan dengan globalisasi belum cukup terasa di Indonesia.

baik di pejabat pemerintah maupun pelaku swasta. Hal di atas dapat disimpulkan kalau kita hanya melihat globalisasi dari sudut pandang “internasionalisasi” saja. Dari sudut pandang lain. Di kota-kota metropolitan lain pun terdapat kawasan hunian cukup luas—kalau belum bisa disebut kota—yang hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta. Implikasi peran besar swasta dalam tata ruang kota dapat dilihat dari banyaknya bagian-bagian kota yang mengalami proses “urban renewal” seperti misalnya kawasan Segitiga Emas (Sudirman-Kuningan-Gatot Subroto) yang kemudian diikuti oleh proses jentrifikasi masyarakat berpenghasilan rendah ke daerah-daerah pinggiran (GAMBAR 5 . Kita dapat menemui gerai-gerai internasional seperti McDonalds atau KFC tidak hanya di Jakarta tetapi bahkan hingga di kota-kota sekunder (sebagai perbandingan. Berbagai merek internasional mewarnai pusat-pusat perdagangan baik di Jakarta maupun di kota-kota besar lain. Bintaro Jaya.8). secara keseluruhan Indonesia sebenarnya sudah sangat terbuka. Wholesale retailers seperti Carrefour pun memiliki cukup banyak outlets di Jakarta. Kota Wisata dan lain-lain hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta. Dalam konteks “liberalisasi” misalnya. Lippo Karawaci. Bahkan sejumlah kota baru seperti Bumi Serpong Damai.170 Metropolitan di Indonesia kawasan industri yang melayani unit-unit usaha internasional atau melakukan subkontrak dari jaringan usaha internasional. Sudut pandang bernuansa “universalisasi” dan “modernisasi” pun sudah banyak merasuk ke dalam pola berpikir masyarakat kota. Hanoi hingga tulisan ini dibuat masih belum mengijinkan adanya gerai-gerai internasional semacam itu). Privatisasi pun telah berjalan cukup lama. Bukit Sentul.8 Kawasan “Segitiga Emas” di Jakarta . mungkin kita bisa mendapatkan gambaran yang agak berbeda. Seringkali jenis usaha dan sistem kerjasamanya memudahkan pemilik jaringan usaha internasional untuk memindahkan usahanya kemanapun mereka ingin lakukan (umumnya bargaining position pihak Indonesia—atau tuan rumah di mana pun di negara berkembang lainnya—dalam hal ini relatif rendah). GAMBAR 5 . Proses pergeseran peran dari situasi pemerintah mendominasi ke situasi swasta mengambil peran cukup signifikan dalam pembangunan hingga situasi di mana tuntutan akan peran masyarakat yang semakin besar pun terjadi di kota-kota di Indonesia.

. tanpa mengurangi kecenderungan pasar untuk membentuk apa yang disebut agglomeration of economies. terhadap berbagai persoalan. Ada saja—walaupun mungkin belum tersebar luas—kegiatan-kegiatan yang mencerminkan ketiadaan batas-batas negara atau kota seperti terlihat pada kegiatan-kegiatan sub-kontrak pembuatan software. positivistik dan monistik. persinggungan dengan globalisasi masih sangat terbatas. Jika Indonesia tidak mau ketinggalan di era globalisasi yang semakin kompetitif. Secara internal. sementara tidak sedikit yang masih berfikir dengan cara-pandang yang atomistik.Sosial. termasuk implikasinya dalam tata-ruang. lebih khusus lagi pada segmen-segmen masyarakat yang memiliki akses ke jaringan global secara mudah. Ekonomi. Namun kecuali kawasan metropolitan Jakarta. Kawasan-kawasan metropolitan lainnya harus mendapat dukungan infrastruktur secara lebih memadai sehingga tidak terlalu ketinggalan dan dapat turut berkompetisi di tingkat internasional. Penutup Secara umum dapat disimpulkan bahwa kota-kota metropolitan di Indonesia sebenarnya sudah mulai bersinggungan dengan globalisasi dengan derajat yang berbeda-beda. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah bagaimana mengambil manfaat sebesar mungkin dan secara merata dari proses-proses globalisasi dan mengurangi sejauh mungkin dampak negatifnya. Ada yang sudah membuka wawasannya dengan cara-pandang yang “baru” seperti yang bersifat holistik. gambar rancang-bangun dan lain-lain yang didapat dari perusahaan-perusahaan besar di negara maju untuk proyek-proyek yang mungkin di negara lainnya. Seringkali. namun ada pula bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sama sekali belum “tersentuh” oleh globalisasi. kontekstual dan pluralistik. konsentrasi pembangunan yang terlalu terpusat di Jakarta harus dikurangi. Sebagaimana yang terjadi di banyak negara berkembang lain. Demikian pula dengan cara berfikir. cara pandang. Persebaran pusat-pusat kegiatan pun menjadi sangat penting. dan Kependudukan 171 Atribut “de-teritorialisasi” dari globalisasi pun dalam skala yang relatif kecil dan terpisah-pisah telah terjadi di kota-kota besar Indonesia. Di dalam suatu kawasan metropolitanpun—termasuk Jakarta— ketimpangan globalisasi sangat besar. dan sebagian dari kelompok ini mampu memanfaatkan exposure ini secara baik. Peran kota-kota sekunder pun tidak dapat diabaikan. Newtonian. tata ruang kawasan metropolitan pun harus mampu mengikuti dinamika globalisasi tanpa harus mengabaikan kepentingan konteks dan kekhasan lokal. apalagi jika dikaitkan dengan keinginan untuk memajukan sektor pertanian—kota-kota sekunder tersebut dapat menjadi pusat koleksi dan distribusi komoditas pertanian (konsep agropolitan)—namun tidak harus terbatas pada konsep itu. Hal ini tentunya mengakibatkan berbagai ketegangan yang semakin terasa dengan semakin besar dan terbukanya suatu kota. mereka yang tidak turut mendapat manfaat dari globalisasi harus turut menanggung biaya atau beban yang ditimbulkan oleh globalisasi. khususnya di Jakarta. kota-kota besar di Indonesia juga mencerminkan kontras yang sangat tajam. animasi. Ada bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sudah sangat ter-exposed oleh globalisasi.

and extreme poverty”. Namun. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa kota – kota yang sudah termasuk kategori metropolitan di tanah air kita (Jakarta. disease violent crime. Dalam buku terbarunya berjudul “Recombinant Urbanism” (2005 : 19). class and ethnicity. super-malls marak di segenap penjuru kota. David Graham Shane mengutip pendapat Louis Wirth bahwa “A city is a relatively large. namun pasar tradisional. department stores. perilaku dan gaya hidup manusia yang selalu berubah dari waktu ke waktu. and permanent settlement of socially heterogenous individuals”. unemployment. Ditilik dari segi etimologi pun. pedagang kaki lima juga tidak berkurang. Tidak heran bila sampai saat ini selalu saja terjadi kisah-kisah penggusuran atau pembongkaran permukiman kumuh dan kios-kios pedagang kaki lima. Makassar) cenderung semakin tidak manusiawi. Fenomena dehumanisasi metropolitan di Indonesia merebak antara lain karena perhatian para pengelola dan aktor – aktor pembangunannya terlalu tercurah pada aspek fisik. Banyak yang tidak memahami betul bahwa berbeda dengan metropolitan di negara maju yang sudah affluent. Dimensi sosio-kultural di hampir seluruh kota metropolitan di segenap pelosok tanah air nyaris terabaikan. Di satu sisi. disilusi politik. tata ruang. kota – kota metropolitan di tanah air kita yang sedang berkembang ini merupakan kota – kota yang bersifat dualistik. Sektor formal dan sektor informal berkembang terus. Semarang. Pembangunan shopping centres. tidak nyaman. dense. Meminjam kata – kata Malcolm Miles et al dalam bukunya “The City Cultures Reader” (2000 : 2): “Cities are sites of constant flux. malls. sebagian warganya sudah mulai berubah menjadi modern. apalah artinya kota tanpa penduduknya? Kota dan warga dapat diibaratkan seperti cangkang dengan kerangnya yang tumbuh kembang bersamasama. ketidakadilan dan keterasingan sosio-budaya atau socio-cultural alienation (baca tulisan Badshah & Parlman berjudul “Mega-cities and The Urban Future” dalam buku suntingan Bridge & Watson “The Blackwell City Reader” 2004: 549). flats atau rumah susun sudah mulai digalakkan pembangunannya. tidak menyenangkan untuk kehidupan manusia yang berbudaya. Hampir seluruh metropolis atau mega-cities di dunia menghadapi masalah infrastruktur. namun perumahan kampung juga masih terus bertahan. Kota merupakan produk sosio-kultural. Ditilik dari sisi positifnya. kota metropolitan merupakan mesin pertumbuhan dan inkubator peradaban. seperti pernyataan Kofi Annan selaku Sekjen PBB yang dikutip oleh Girarde (2004: 86) “Cities can also be places of exploitation. toko – toko kecil. di sisi lain sebagian besar warganya masih berperilaku tradisional. Surabaya. kendati tokoh – tokoh di puncak kekuasaan cenderung lebih mengakomodasi kepentingan sektor formal yang modern. sejalan dengan perubahan situasi dan kondisi penduduknya. Medan. Saat ini kita sudah memasuki era perkotaan abad ke-21 atau milenium ketiga. their built form mediated by successive acts of destruction and creation … affected by social factors such as gender. kemiskinan. city dekat sekali kaitannya dengan citizen. dan pergulatan kepentingan ekonomi. Apartemen. sebagai pusat persilangan ide dan wadah inovasi.172 Metropolitan di Indonesia SOSIO-KULTURAL Sudah semenjak beberapa abad yang silam sastrawan Inggris Shakespeare menyatakan “What is a city but its people”. warung. .” Semakin besar kotanya semakin kompleks penduduknya semakin rumit masalahnya dan semakin banyak konflik yang dihadapinya.

Ekonomi. dan lain – lain tak akan bisa dihambat. tak terkecuali di kota metropolitan. model – model penyeragaman. perilaku. Gerbang Kertasusilo. komputer. psikosis. ide. processual analysis of labour in relation to the state and the regulation of the variable incursions. inclusions. Padahal bila diingat kembali bahwa kota merupakan karya seni sosial (a social work of art). Keduanya mesti dirangkul dan dikembangkan bersama – sama. aneka pengaruh globalisasi akan sulit ditangkal sehingga seperti dikatakan Manuel Castells: “Globalization must be understood in relation to an historical. Kebijakan pembangunan kota metropolitan yang keliru. elitis. apalagi yang bercitra Barat. or exclusions of the global networks”. Memang. tidak layak berada di kota metropolitan yang serba formal. yang mengakibatkan xenophobia. jangan sampai punah atau lenyap. jadi tidak Either-Or atau mementingkan salah satu pihak saja. seperti Jabodetabek. Rasa tempat atau sense of place yang tercipta dari keunikan budaya setempat mesti dipertahankan. dan lain-lain masih sulit diimplementasikan karena masih kentalnya sikap primordial dan sektoral dari para pimpinan daerah atau penentu kebijakan. dan Kependudukan 173 Sebagai kota yang dualistik. jati diri. McDonaldization. Namun. dan hilang. Sedangkan Rem Koolhas sebagai arsitek dan perencana kota mengungkapkannya dengan frasa “globalizing modernism” dan ”cultural homogenization” yang secara sistematik menghancurkan pusaka budaya atau warisan budaya yang unik. Itu pula sebabnya muncul tudingan bahwa kota metropolitan negara berkembang. Dari sebutannya. kebencian. . jangan sampai kekhawatiran Daniel Solomon (Global City Blues. dan artefak bersejarah yang amat kaya dan beragam di kota – kota metropolitan di tanah air kita bila tidak dijaga akan tergerus. seperti Indonesia. Pasti akan besar pengaruhnya terhadap pola habitat manusia. City of tomorrow pun jangan – jangan akan menjadi City of sorrow alias kota yang sarat dengan kesedihan. kekhasan. panik. luntur.Sosial. dan upaya-upaya untuk memadukan kota-kota metropolitan dengan daerah di sekitarnya dalam wujud conurbation (lihat pembahasan mengenai kependudukan dan bagian 1 buku ini). 2003: xi) mengejawantah menjadi kenyataan: “We obliterate the distinctiveness of places and create new forms of metropolitan confusion”. dan tidak pro-poor itu akan menjadikan metropolitan kita menjadi kota yang menyengsarakan warga kotanya. sektor informal mengandung konotasi tidak sah. di masa depan akan menjadi miseropolitan atau kota yang menyengsarakan. televisi. Jangan sampai obsesi terhadap modernitas dan teknologi lantas melunturkan atau bahkan menghancurkan kearifan tradisional dan budaya lokal yang ikut mewarnai wajah metropolitan kita. Itu pula sebabnya metropolis di Indonesia lantas diledek dan dipelesetkan menjadi metropolost alias kota ibu yang hilang. (Susser 2002: 11). Memang perkembangan teknologi abad 20 dan 21 seperti yang terwujud dalam bentuk mobil. pasti akan meluluhlantakkan identitas. norma. pendingin ruangan. Kota – kota metropolitan di era globalisasi yang tidak memperhatikan dimensi sosio-kultural dari warganya. Selain itu. Kedungsepur. dan bahkan teror. gagasan. atau Manhattanization. atau karakter dari kota – kota metropolitan. diduga akan terlanda arus McWorld. mestinya sikap yang diambil oleh penentu kebijakan pembangunan kota metropolitan adalah sikap Yin-Yang atau Both-And. Pernik-pernik tata nilai. Martin Heidegger sebagai seorang filsuf kelas dunia menyebutnya dengan istilah “cultural malaise” dan “loss of nearness”.

pusat dan periferi merupakan dua muka dari keping uang yang sama. tarik-menarik antara city centre dengan urban agglomerations. Dalam kiprah pembangunan kota – kota metropolitan di Indonesia seyogianya segenap pihak mengambil pelajaran dari kisah-sukses maupun kegagalan dari pembangunan kota – kota di negara maju. Kita juga jangan mengulangi kesalahan serupa seperti yang terjadi di kota Chicago ketika bangunan kuno bersejarah dihancurkan untuk memberi tempat pada bangunan pencakar langit yang modern. dan placelessness. urban sprawl. mengupayakan pusat – pusat pertumbuhan jamak (multiple centres atau polynuclei) untuk mencegah kecenderungan centremania agar terjadi penyebaran aktivitas pada berbagai pelosok kota metropolitan secara lebih merata dengan keunikan sendiri-sendiri sehingga tercipta mosaik perkotaan yang indah. menjaga eksistensi pusaka budaya sebagai historical precedents. ada baiknya kita merenungkan kaidah – kaidah pembangunan kota termasuk kota metropolitan yang antara lain dikemukakan oleh tokoh – tokoh garda depan gerakan New Urbanism yang berupaya menangkal kecenderungan social-cultural disintegration. dilandasi prinsip kota sebagai panggung kenangan. Muncullah gagasan tentang Sociopolis yang disebutkannya sebagai “A truly integrative and hybrid version of the metropolis for the future … setting new standards by realizing a dream of social balance. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. bahwa bagaimana pun juga “Metropolises are containers of dreams. akuntabilitas. Kedua. yang telah disesali di negara maju. melepaskan diri dari telikungan regressive identity melalui pengembangan budaya demokrasi. dan partisipasi segenap pemangku kepentingan sesuai tuntutan zaman. Pertama. Sebetulnya keseluruhannya ada 27 butir. Ketiga. keberlanjutan. Mesti selalu ditanamkan di benak kepala bahwa kota tanpa bangunan kuno bersejarah serupa saja dengan manusia tanpa . sampai muncul ledekan dengan nama paraban Sickago alias kota yang sakit. pertempuran kepentingan antara The Rich melawan The Poor. Konservasi dan pembangunan. Misalnya di kota Houston yang angka kriminalitasnya meningkat sehingga orang – orang kaya di Houston sampai ketakutan dan membuat jalur khusus di bawah tanah yang diberi nama Connexion yang menghubungkan kawasan pemukiman mewah dengan down-town. struktur dan kultur. dan lain-lain tak seyogianya terulang di masa depan sebagaimana disebutkan oleh Raffacle Poloscia dalam bukunya “The Contested Metropolis” (2004: 14). and hopes”. dengan prinsip change without loss mengakomodasi evolusi dan kesinambungan kehidupan warga metropolitan yang multikultur. keadilan. where all citizens potentially have the same opportunities”. Keempat. tapi saya peras menjadi 10 saja sehingga bisa disebut sebagai ‘The Ten Commandments’ atau ‘Sepuluh Perintah Tuhan’ dalam pembangunan kota metropolitan abad ke-21 atau di era milenium ketiga yang berwajah manusia dan berkelanjutan. desires. Vicente Guallart dkk mengungkapkan tentang kota metropolitan masa depan di Eropa dan Amerika yang selalu saja menghadapi persaingan antara The Old dengan The New. transportasi. akan menjadikannya sebagai monster yang mengerikan. memarjinalkan manusia dengan mengabaikan dimensi sosial-budayanya. Ke depan. demokratisasi.174 Metropolitan di Indonesia Kota – kota metropolitan yang berkembang tak terkendali. Aneka bencana perkotaan yang telah terjadi di masa silam akibat kurangnya perhatian terhadap isu-isu sosio-kultural. Dalam buku terbarunya berjudul “Sociopolis: Project for a City for the Future” (2004:9). tanpa henti mencoba menciptakan progressive identity dari kota metropolitan. Houston pun lantas memperoleh nick name ‘Ghost-town’.

mesti lebih ditingkatkan. Kawasan perkotaan akan menjadi lebih penting karena lebih dari 80 persen pertumbuhan ekonomi global terjadi di kota-kota. Kesepuluh. dan Kependudukan 175 ingatan alias gila. Perkembangan kawasan perkotaan terutama akan terjadi di kotakota besar dan metropolitan. lebih dari di kawasan-kawasan non-urban. terutama mass rapid transit. KETERKAITAN DESA – KOTA Pendahuluan Kinerja kota-kota di abad 21 akan menjadi perhatian global karena pesatnya peningkatan penduduk perkotaan. kota-kota mempunyai produktivitas yang tinggi karena kepadatan penduduknya menciptakan lingkungan transaksi yang tinggi. Kelima. yaitu meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan meningkatnya kontribusi sektor-sektor industri manufaktur dan jasa. pelibatan masyarakat dan segenap pemangku kepentingan dalam pembangunan untuk menciptakan kota metropolitan yang otentik dan rasa paguyuban (sense of community) yang kental. inovatif. Hal ini meningkatkan pendapatan rumah tangga. melainkan lebih merupakan fenomena sosio-kultural sebagai instrumen pembangunan manusia. Ketujuh. belanja. Kesembilan. bekerja. menyediakan fasilitas sosial dan infrastruktur atau prasarana umum yang memadai untuk segenap lapisan warga metropolitan tanpa terkecuali. dan bertanggung jawab atas keberlanjutan pembangunan kota metropolitan tempat mereka tinggal. lebih dari 80 persen penduduk dunia akan tinggal di kotakota (Cities Alliance 2006). Selain itu. Segenap agen pembangunan kota metropolitan dituntut untuk menyediakan fasilitas dan prasarana umum sesuai standar pelayanan minimum. Pada tahun 2030. Keenam. Tanpa rasa memiliki kota metropolitan. diharapkan bahwa penduduk atau warga kota metropolitan di masa depan akan termotivasi untuk ikut aktif berkiprah secara kreatif.Sosial. tidak dapat diharapkan tumbuh kembangnya secara berkelanjutan. Kawasan perkotaan merupakan tempat berkembangnya kegiatan industri manufaktur dan jasa. mengupayakan interconnected networks of streets yang menghargai pedestrian dan memberikan rasa nyaman serta arah yang jelas. penyediaan affordable housing pada lokasi yang tepat untuk mencegah konsentrasi kemiskinan. Pada tahun 2060. menata kawasan pinggiran secara dini untuk mencegah urban sprawl yang tidak terkendali. Ekonomi. yang akan meningkatkan nilai tambah perekonomian secara keseluruhan. dan beraktivitas budaya sebagai cerminan masyarakat yang beradab. Perlu dicamkan bahwa taman adalah sorganya perkotaan. dan biaya per kapita pembangunan infrastruktur lingkungan juga lebih rendah. Kota-kota juga menggunakan energi lebih rendah per unit output ekonomi. memelihara taman dan ruang terbuka dalam berbagai level sebagai shared public spaces yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa aman. Melalui penerapan dan pengejawantahan sepuluh butir panduan pembangunan seperti tersebut di atas. Kawasan pinggiran mesti disiapkan dengan prinsip kemandirian agar bisa self sufficient. Kedelapan. bersantai. Perkembangan kawasan perkotaan selalu diiringi arus transformasi. yang selanjutnya akan memicu pemanfaatan kawasan- . Perumahan jangan sekadar dilihat sebagai komoditas ekonomi. tidak tergantung pada pusat kota dan tidak sekadar sebagai bedroom community. Membongkar warisan budaya bukanlah dosa kecil. Perhatian pada public transport. minimal 61persen penduduk dunia akan tinggal di kota-kota.

Tidak mengacu pada suatu rencana tata ruang yang disepakati. Akibatnya. Tipologi ini dirumuskan berdasarkan karakteristik ke’kota’annya karena akan dapat menggambarkan isu atau masalah yang dihadapi. pertambahan penduduk perkotaan yang terjadi tidak tersebar secara merata. Kawasan pinggiran dikelompokkan dalam tiga tipologi untuk dapat mengembangkan program intervensi penanganan kawasan pinggiran. Kawasan pinggiran ini perlu mendapat perhatian karena di sana telah terjadi perkembangan yang campur aduk dan tidak terkendali.176 Metropolitan di Indonesia kawasan di sekitarnya. Dalam beberapa dekade terakhir. Antara lain karena tak tersedianya perumahan dan infrastruktur yang memadai. mengakibatkan meningkatnya perkembangan kotakota ini. perkebunan. jumlah penduduk perkotaan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat31. keterbatasan akses ke kota inti membebani jaringan transportasi yang telah ada serta membebani fasilitasfasilitas. Program intervensi dan keterkaitan dengan kota inti dapat diturunkan berdasarkan ketiga tipologi tersebut. dan terpisah-pisah. baik yang berkarakteristik desa maupun kota. Di kawasan pinggiran ini dapat diobservasi desa dan kota serta peranannya di kawasan metropolitan. keterbatasan infrastruktur lingkungan dasar. kawasan-kawasan perdesaan mengalami transformasi yang tidak terarah dan terkendali. Belum lagi dampak pada lingkungan alamnya – polusi udara (karena transportasi). terutama di Jabodetabek. terjadi pemusatan di beberapa lokasi. Ini semua terjadi secara acak. empang-empang. sendiri. pola hidup penduduknya. permukiman berkepadatan rendah menjadi perumahan berkepadatan tinggi memenuhi kebutuhan kota inti dan untuk pembangunanpembangunan industri yang membutuhkan lokasi mendekati kota inti. perekonomian. cenderung di kota-kota besar dan metropolitan. yaitu dari yang bersifat desa menjadi bersifat kota. seperti pendidikan dan kesehatan. Ketiga tipologi tersebut adalah: (a) kawasan pre dominantly urban. Hilanglah lahan-lahan pertanian. membebani jaringan transportasi dan membebani biaya hidup penghuni kawasan pinggiran. Berdasarkan itu dapat diperkirakan program dan intervensi yang sesuai. Meluasnya pemanfaatan ruang di sekitar kota-kota besar dan metropolitan akan mewujudkan keterhubungan dari kota inti dengan kawasan-kawasan baru dan kota-kota satelit di sekitarnya. Diperlukan program dan intervensi untuk menangani kawasan pinggiran kota. Sebagaimana halnya di dunia. juga akan mengalami kondisi yang jauh dari ideal. Pada gilirannya hal ini akan menambah beban kota inti. Perkembangan kawasan perkotaan juga terjadi di Indonesia. (c) kawasan potential urban. Kepadatan tinggi. perusakan ruang-ruang terbuka hijau. Secara lebih khusus di Indonesia akan berkonsentrasi di Jawa. Kawasan yang baru terbentuk. Guna lahan juga berubah – dari yang tadinya bersifat desa menjadi bersifat kota. polusi sungai (karena pembuangan limbah dan sampah). Tata guna lahan. (b) kawasan semi urban. di Indonesia. Terjadilah penyatuan kawasan-kawasan terbangun tersebut. meluap ke kawasan pinggirannya. dan lapangan kerja dapat memicu pengangguran yang pada gilirannya memicu penduduk masuk ke kota inti. 31 Lihat uraian di Bab 5 . polusi air – tercemarnya air bersih oleh limbah cair permukiman. dan sebagainya.

130 di Kabupaten dan Kodya Bogor. Pembangunan kota baru dimulai sekitar tahun 1989 dengan Kota Baru Mandiri BSD (Bumi Serpong Damai). dan kota-kota kecil sekitarnya yang tumbuh dengan pesat. Selanjutnya. seperti Citra Karya.763 km di Kota/Kabupaten . Di Bekasi ada Lippo Cikarang (5000 ha). yaitu Rancamaya (550 ha). ditambah dengan Lido Lake Resort dan Jonggol. atau kota-kota kecil lainnya. Royal Sentul (2000 ha). Baru mulai akhir tahun 1900-an mulai dibangun permukiman skala besar (> 500 ha) dan kota-kota baru oleh pengembang swasta. di Kabupaten Bogor ada lima wilayah baru. Ini semua akan membangkitkan pola pergerakan ulang alik ke kota inti (dalam hal ini DKI Jakarta) dan menggunakan jaringan transportasi yang ada. Sampai paruh kedua dekade 1990-an (+ 1996) ratusan kawasan permukiman baru dibangun di wilayah Jabodetabek. Kota Cileungsi (2000 ha). dan lain-lain. permukiman baru yang tersebar. Sisanya tersebar merata di seluruh kota/kabupaten di sekitarnya (1. Di Tangerang. Kawasan Jabodetabek dilayani jaringan jalan dan jaringan kereta api. b. a. Kawasan permukiman baru ini kebanyakan bukan merupakan kawasan permukiman skala besar. dan 152 di Kabupaten dan Kodya Tangerang (Uguy 2006). kota-kota baru. seperti kota baru atau permukiman skala besar. dan sebagainya. yaitu 103 kawasan di DKI Jakarta. kota-kota baru. lebih dari 50 persen jaringan jalan berada di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Selanjutnya. Alam Sutra.344 km. Pantai Indah Kapuk. Kota Legenda. Bintaro Jaya. Untuk menggambarkan karakteristik kawasan metropolitan ini akan digunakan kawasan metropolitan Jabodetabek sebagai contoh. Panjang jaringan jalan yang ada di wilayah Jabodetabek adalah 11.Sosial. Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan infrastruktur biasanya merupakan permasalahan utama kawasan pinggiran. Struktur Ruang dan Pergerakan Penduduk Struktur ruang kawasan Jabodetabek dibentuk oleh jaringan jalan dan kereta api serta pusat-pusat permukiman. 107 di Kabupaten dan Kodya Bekasi. persebaran. Gading Serpong. banyak perumahan lain. Lippo Karawaci.450 km di Kabupaten/Kota Bekasi. selain Bumi Serpong Damai (6000 ha) dan Tiga Raksa (3000 ha). Cikarang Baru. 1. Ekonomi. Tabel 4 memberikan luas kawasan-kawasan permukiman skala besar ini (> 500 ha). Kawasan ini sering disebut sebagai ”urban fringe”. 1. dan Kependudukan 177 Kawasan Metropolitan Kawasan metropolitan adalah kawasan yang terdiri dari kota inti dengan kawasan di sekitarnya yang mempunyai keterkaitan erat dengan kota inti dan berfungsi menerima luapan kegiatan atau kebutuhan permukiman dan kegiatan dari kota inti.358 km di Kota/Kabupaten Tangerang. dan Perumahan Modern. serta pola perubahannya. Lippo Cikarang. dibahas pola pengembangan kawasan-kawasan permukiman: pembangunan baru berskala besar. diikuti dengan Bintaro Jaya. Tiga Raksa. Kawasan sekitarnya ini dapat meliputi kawasan permukiman skala besar atau skala menengah. Lippo Karawaci. Kota Legenda (Bekasi 2000). Sebagai tambahan dari analisis kependudukan yang telah dijelaskan di bagian depan bab ini. akan dibahas di sini mengenai guna lahan: dominasi.

500 780 1.000 2. Bekasi Kab.000 800 500 3. Panjang jalan tol di DKI Jakarta juga mencapai lebih dari 50 km dari total panjang jalan tol (lihat TABEL 5 .500 1.19). Bogor Kab.000 2. Bogor Kab.000 1.000 1. Bekasi Kab. Bekasi Kab. dan 245 km di Depok).500 700 6.178 Metropolitan di Indonesia Bogor. Tangerang Kab. Tangerang Kab. Bekasi Kab & Kot. Bogor Kab. Tangerang DKI Jakarta .745 800 Lokasi Kab.145 3. Tangerang Kab.000 2. Bekasi Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab. Bogor Kab. TABEL 5 .000 500 1. Tangerang Kab. Tangerang Kab.000 7.400 500 850 2. Bogor Kab.700 1.100 750 3.000 800 30.679 500 3. Bekasi Kab. Bogor Kab. Bogor Kab. Nama 1 Milik PT Pembangunan Delta Bekasi 2 Milik PT Lippo City Development 3 Milik PT Pura Delta Bekasi 4 Cikarang Baru 5 Bekasi Matra Real Estate 6 Milik PT Dwigunatama Rintisprima 7 Kota Legenda (Bekasi 2000) 8 Milik PT Sinar Bahana Mulia 9 Pantai Modern 10 Lippo Cikarang 11 Harapan Indah 12 Bukit Jonggol Asri 13 Citra Indah 14 Kota Taman Metropolitan 15 Kota Wisata 16 Bukit Sentul 17 Rancamaya 18 Resort Danau Lido 19 Taruma Resort 20 Talaga Kahuripan 21 Kota Tenjo 22 Milik PT Bangun Jaya Triperkasa 23 Maharani Citra Pertiwi 24 Milik PT Banyu Buana Adhi Lestari 25 Kotabaru Tigaraksa 26 Puri Jaya 27 Citra Raya 28 Lippo Karawaci 29 Gading Serpong 30 Alam Sutera 31 Bumi Serpong Damai 32 Bintaro Jaya 33 Kota Modern 34 Kota Wisata Teluk Naga 35 Kota Jaya 36 Pantai Indah Kapuk Sumber : Bappeda DKI Jakarta. 1997 Luas (ha) 1.18 Kawasan Permukiman Skala Besar (>500 ha) di Jabotabek No.000 1. Bekasi Kab. Bogor Kab. Tangerang Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab. Bekasi Kab. Tangerang Kab. Bogor Kab. Bogor Kab.000 500 1. Bogor Kab. Tangerang Kab.000 600 1. Tangerang Kab. Bekasi Kab. Tangerang Kab.321 770 8.

610.762.174 n. Terpadat adalah jalur dari Jakarta Kota (di Utara) ke Bogor (Selatan) terutama jalur tengah. DKI Jakarta paling terlayani dengan baik dibandingkan kota/kabupaten lainnya. Tangerang Kota Depok TOTAL Jumlah Penduduk 7.605 3.9 100% Sumber : SITRAMP II.9 memberikan gambaran persebaran jaringan jalan dan jalan tol.357.280.20).2 36.0 23.1 1.7 12% Tangerang 5 Kota Depok 245. . Dari panjang jalan dan jalan tol.3 11% 16% 17% 4% 100% TABEL 5 .1 13% 3 Bekasi Kota/Kabupaten 4 1.357.0 2% 6 TOTAL 11.0 Jalan Tol Perkapita (km/1000 penduduk) 0.4 58% Kota/Kabupaten 1.762.9 34. Jaringan jalan kereta api dapat dilihat pada GAMBAR 5 .3 n.548.450.938 Perkapita (km/1000 penduduk) 0.212.450.0 52% 23.10.9 0.9 % 58% 16% 13% 12% 2% 100% Km 113. Perkapita (panjang jalan per jumlah penduduk) jalan dan jalan tol DKI Jakarta masih mendominasi (Lihat TABEL 5 .02 0.548.7 16% 2 Bogor Kota/Kabupaten 1.7 1. menggunakan KRL atau KRD.19 Panjang Jalan di Kawasan Jabodetabek Panjang Jalan Kota/Kabupaten Km % DKI Jakarta 6.196.01 n. Panjang jalan tol di DKI juga mencapai hampir 50 persen dari total panjang jalan tol di Jabodetabek. dan Kependudukan 179 TABEL 5 .363.20 Perkapita Jalan dan Jalan Tol Panjang Jalan Kota/Kabupaten DKI Jakarta Kota/Kab.9 34.05 Km 6.363.4 0.Sosial.8 215. Bogor Kota/Kab.349 4.2 36.4 7. 1 Jalan Tol Km % 113. Ekonomi.0 11.a 19. Bekasi Kota/Kab. GAMBAR 5 .4 0. Jaringan jalan dan jaringan kereta api saling melengkapi menghubungkan DKI Jakarta dengan pusat-pusat permukiman di sekitarnya. Dari DKI Jakarta ada 3 jalur utama yaitu menghubungkan dengan Kabupaten/Kota Tangerang dengan Kabupaten/Kota Bogor dan Kabupaten/Kota Bekasi.11 menunjukkan stasiun yang dilalui kereta api dengan jumlah penumpangnya per hari.7 245. 2006 No.4 1.a 2.8 215.01 0.810 4.01 0.3 % 52% 11% 16% 17% 4% 100% GAMBAR 5 .4 7.093.a 0.

jaringan jalan ----.9 Jaringan Jalan Jabodetabek Sumber : SITRAMP (Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek II) Railway Passenger Survey 2000 Legenda : .10 Jaringan Jalan Kereta Api Jabodetabek Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey 2000 .180 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .jaringan jalan tol GAMBAR 5 .

8 juta (+ 30 persen). Fasilitas-fasilitas dan peluang kerja yang ditawarkan masih besar sehingga menarik pendatang-pendatang baru ataupun pekerja/karyawan yang tinggal di kawasan pinggirannya. dan Kependudukan 181 GAMBAR 5 .0 juta – Rp 3. Pejalan ulang alik terbanyak adalah dari Kabupaten Tangerang (241. Jaringan jalan dan jalan kereta api tersebut di atas melayani pergerakan ulang alik dari kawasan Botabek ke DKI Jakarta (URDI 2006). Data tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar komuter ke Jakarta adalah dari golongan pendapatan Rp 1.020) dan Kota Depok (99. namun daya tariknya masih kuat sebagai penyedia lapangan kerja serta pelayanan sosial-ekonomi-budaya. Ekonomi.21). Ini mengakibatkan meningkatnya jumlah penglaju baik dengan angkutan umum. di Bodetabek.8 .570) diikuti Kota Bekasi (129. maupun kendaraan pribadi (Lihat TABEL 5 .Sosial. angkutan dari kantor.11 Peta Volume Penumpang Jalur Kereta Api Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey. Meskipun jumlah penduduk DKI Jakarta sebagai kota inti mengalami penurunan. 2000 c.413).2 juta – Rp 2 juta (+ 45 persen) dan dari golongan pendapatan Rp 2. Ini terutama dari kawasankawasan permukiman yang langsung berbatasan atau dekat dengan DKI Jakarta. Golongan pendapatan > Rp 3.

56%) (37. dan ruang terbuka (Lihat TABEL 5 .21 Pekerja Komuter Usia 15 Tahun Ke Atas Golongan Pendapatan (Rp 000) 100-1999 1200-1999 2000-3799 27.595 (3.52%) 18.690 (2.81%) 1.284 (4.000 ha).48%) (36. Penggunaan terbesar di Jabodetabek adalah untuk pertanian dan ruang terbuka di Kabupaten Bogor (+ 111.413 241.38%) 1.29%) 19.790 Kota Bekasi (14. GAMBAR 5 .934 32.927 4.00%) 4.04%) (49.576 (4.385 26.537 37. di Kabupaten Bekasi (+ 84. Luas penggunaan lahan lain (perumahan terencana. dengan berjalannya waktu. .570 76.94%) (30.23).36%) (52. industri dan gudang.70%) 52. Untuk menyederhanakan. 2006 Kab/Kot > 3799 1.168 Jumlah (21.35%) 141. fasilitas publik.84%) Kota 12.900 672.165 (4.736 302.000 ha).575 3.504 Kota Depok (19. telah terjadi perubahan guna lahan yang sangat pesat dalam kurun waktu + 1.83%) 5.839 16.53%) 44.534 (3.25%) (29.31%) (31.07%) (37.334 37.5 tahun (1985-2002) (Lihat TABEL 5 .735 Guna Lahan Dari studi SITRAMP II sebagaimana disebutkan dalam URDI (2006) pada tahun 2000.63%) 635 (5. Ini dapat disebabkan mereka bertempat tinggal di DKI Jakarta. kegiatan ekonomi. komersial dan bisnis) relatif rendah.22).182 Metropolitan di Indonesia paling sedikit (+ 4 persen).602 Kab Bekasi (22.906 72.907 10.98%) (34.38%) 2.51%) (21.19%) (32. TABEL 5 . klasifikasi penggunaan lahan di Kabupaten dan Kota meliputi 14 penggunaan. yang terbesar adalah untuk pertanian dan ruang terbuka (51 persen) diikuti dengan kampung berkepadatan rendah (20 persen) serta semak dan hutan (10 persen).35%) (29.352 202.31%) 10.691 42. Sedangkan semak dan hutan banyak terdapat di Kabupaten Bogor (+ 60.026 43.020 99.899 129.30%) 26.68%) (41.762 Kota Bogor (17.088 Kab Tangerang (21.871 15.07%) (44. Namun. kurang dari 10 persen.111 Tangerang (16. Hal tersebut berarti bahwa masih cukup banyak kawasan/kampung yang bersifat perdesaan.94%) Jumlah (100%) 71.05%) Sumber: diolah dari LP3E Unpad. kampung kepadatan tinggi.921 24.000 ha) dan Kota Depok (+ 304 ha).311 Kab Bogor (38.528 67.000 ha).000 106.479 (3.640 15.81%) (43.56%) 9.12 menunjukkan bahwa proporsi penggunaan lahan tahun 2000. maka penggunaan lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu permukiman. dan di Kabupaten Tangerang (+ 67.

228.4 229.4 61.1 0.7 475.185.5 55.0 .6 10.3 198.049.902.9 319.9 3.5 88.4 12.1 3.152.0 2.5 0.5 1.4 Kampung Kep.327 21.6 282.2 88.1 6.359.873.8 1.9 0.957.3 0.3 791.3 394.6 580.640.6 33.0 0.0 3. Ekonomi.Publik 505.3 Industri & Gudang 37.5 857.190.7 3.505.0 0.0 5. Bogor Kota Bekasi Kab.4 3.7 268.327 21.3 6.9 1.9 37.0 1.0 213.0 148.9 1.720.8 304.2 98.0 11. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.573 18.1 368.688.800.1 0.401 16.3 53.1 13.0 0.479.0 1.6 0.1 29.2 107.029 11.3 182.8 6.0 0.774.509.0 311.5 49.081.7 0.0 227.7 460.Rendah 836.4 Pendidikan & Fas.993.8 59.6 251.6 2.0 0.0 1.866.221.812.967.2 266.3 1.8 66.4 691. Bekasi Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.0 Komersial & Bisnis 1.962.8 3.4 743.772.0 1.4 5.0 165.4 299.615 15.0 6.6 156.038 20.5 1.0 38.9 403.0 230.0 499.6 3.455 111.0 0.954 14.2 111.790 12.561.1 0.9 23.4 75.336.9 699.2 0.341.8 30.0 1.9 122.5 14.0 585.0 0.3 1.5 1.0 4.5 0.790 12.0 2.4 2.1 88.1 89.4 130.0 0.5 406.049 127.262.0 0.872.4 0.0 0.038 20.629.5 181.1 1.850 206.671. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.0 0.370. dan Kependudukan 183 TABEL 5 .1 0.6 16.2 1.0 8.454.773 4.955.773 4.0 0.2 133.1 83.5 298.258.3 2.6 830.9 3.3 344.049.3 383.0 0.8 3.2 2.9 16.5 41. Bekasi Luas (ha) 14.727.047.5 38.376.633.573 18.340.3 38.006.7 6.049 127.1 124. tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 Penggunaan Lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kab/Kota Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.2 4.401 16.0 Kampung Kep.029 11.5 8.052.Tinggi 6.3 Pemerintahan 196.107.184.0 1.0 5.4 326.6 5.6 11.4 2.1 0.359.Sosial.6 16.5 94.7 1.0 41.1 679.6 195.2 314.963.850 206.3 2.22 Penggunaan Lahan per Kab/Kota Jabodetabek.832. Bogor Kota Bekasi Kab.6 29.0 0.6 26.546.455 111.6 24.954 Perumahan Terencana 3.8 5.615 15.1 1.7 118.8 880.6 2.

9 7.35 13. baik formal maupun informal.24 Perubahan Guna Lahan Guna Lahan Tahun 1985 (ha) Perumahan Formal 10. Dapat disimpulkan bahwa banyak lahan dan kegiatan yang mencirikan perdesaan terkonversikan menjadi kegiatan yang berciri urban – perumahan dan industri.08 ribu ha.346 7.2 Total 290.38 3.6 persen terkonversi menjadi perumahan.5 Kota Tangerang 18. Konversi lahan pertanian dalam kurun waktu tersebut dapat dilihat pada TABEL 5 .6 persen menjadi perkantoran dan lain-lain.7 67.8 1.4 Kab. 40. menunjukkan perubahan yang besar.44 5.5 23.4 1. Dari kelompok perumahan.184 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .9 0.167 44.900 22. Industri mengalami peningkatan hampir 3.4 0.000 ha. 2004 Tahun 2002 (ha) 20.54% 23.074 45.000 ha.23 Konversi Lahan Pertanian Luas Total Total Luas Prosentase Hasil Konversi (%) Wilayah Konversi PeruPerkanLainWilayah (ribu ha) (ribu ha) mahan Industri toran Lain Kota Bekasi 148.7 Sumber: BPS Jawa Barat. Tangerang 123. hampir 15.02% 43.6 49. sedangkan penggunaan untuk perumahan terencana .08 40.11% Perumahan Informal 37.53 4.621 4.816 11.8 1. 49.28 62. 1998 dalam Yulinawati 2005 TABEL 5 .9 37.24. Pertanian mengalami pengurangan yang cukup besar yakni sekitar 11.13% Perumahan.62 30.12 Rasio Penggunaan Lahan Jabodetabek tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 TABEL 5 .8 persen menjadi industri.501 24.865 38.000 ha.1 35. dan 9.18 36.75% Pertanian 44.26% Sumber : SITRAMP 2. paling tinggi menjadi kampung berkepadatan rendah (20 persen).33% 7. dari total wilayah 13. Dari Kabupaten/Kota Bekasi dan Tangerang.89% Industri 4.1 2.

14). Pada umumnya kawasan pinggiran ini terdiri dari penggunaan lahan yang campur aduk: permukiman. titik yang menyatakan batas antara wilayah desa dan kota akan bergeser menjauhi pusat kota (Lihat GAMBAR 5 . Ini yang diartikan sebagai kawasan pinggiran metropolitan. urban fringe merupakan titik perpotongan antara kurva permintaan lahan perkotaan dengan kurva permintaan lahan perdesaan (Lihat GAMBAR 5 . Ekonomi.0) adalah suatu titik yang ditetapkan sebagai pusat kota. Titik (0.13). yaitu kawasan yang terdapat di sekitar kota besar atau metropolitan. industri. Bersama sebuah atau lebih kota inti membentuk kawasan metropolitan. Jelas ini sudah merupakan kawasan berkarakteristik perkotaan. Sumber mendatar merupakan jarak dari pusat kota. sedangkan sumbu vertikal menyatakan nilai lahan. Titik perpotongan kedua kurva permintaan tersebut secara teoritis berupa suatu garis mengelilingi pusat kota. Dengan perkembangan kota. pada kenyataannya merupakan suatu kawasan dengan lebar yang bervariasi. Namun. dan Kependudukan 185 dan kampung berkepadatan tinggi mencapai 10 persen. Dinamika Kawasan Pinggiran Metropolitan Kawasan Pinggiran di sini diartikan urban fringe. GAMBAR 5 . pertanian.13 Lokasi Urban Fringe Secara Teoretis . Secara teoritis. lahan terbuka.Sosial. dan sebagainya.

Bogor. seperti kota Tangerang. penggunaan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. serta industri ringan/manufaktur.186 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 . kawasan pinggiran ini dapat dikelompokkan dalam tiga kategori atau tipologi: a. Depok. baik terencana (kawasan permukiman berskala kecil) maupun tidak terencana. Kegiatan-kegiatannya lebih berciri urban. jalan tol. perdagangan. dan sebagainya. Berdasarkan penggunaan lahan serta fungsi kegiatan ekonominya. dan sebagainya. Kawasan predominantly urban ini kemungkinan besar tercipta karena telah ada kota-kota atau permukiman sebelumnya di kawasan ini. serta industri yang berorientasi tenaga kerja (labor oriented industries). empang-empang dan ruang terbuka atau belum terbangun). Bekasi. Ciri utamanya adalah keberadaan perumahan hunian yang masih berkepadatan rendah.14 Pergeseran Urban Fringe Tipologi Kawasan Pinggiran Pada kenyataannya kawasan pinggiran tidak homogen. kepadatannya campuran antara kepadatan tinggi dan kepadatan rendah. Deltamas. Penggunaan lahan sebagian besar masih berupa pertanian dan ladang. Guna lahannya campur aduk. b. Proses ini adalah yang kita kenal sebagai ”suburbanisasi” dan biasanya berbatasan langsung dengan kota inti. Kemudian ditambah adanya pengembangan permukiman skala besar yang baru seperti kota-kota baru BSD. Kegiatannya juga sebagian masih rural (pertanian. . Semi Urban = kawasan ini adalah wilayah transisi dari perdesaan ke perkotaan. biasanya akses ke kota inti relatif baik. Kawasan ini juga meningkat perkembangannya karena sudah ada atau sedang direncanakan pengembangan infrastruktur regional seperti jaringan jalan arteri. industri. Karakteristik kota ini antara lain adalah perumahan berkepadatan tinggi. jasa pelayanan. perkebunan. antara untuk kegiatan rural dan kegiatan perkotaan (perumahan berkepadatan tinggi. Predominantly Urban = kawasan yang didominasi kondisi dan kegiatan berciri perkotaan.

yang pada gilirannya akan mempengaruhi kependudukan (jumlah dan struktur) dan perubahan tata guna lahan. Dikaitkan dengan jaringan transportasi. ini merupakan kawasan periurbanisasi atau awal proses suburbanisasi. tetapi mulai menyebar mengikuti jaringan transport dan konsentrasi permukiman terutama ke arah Selatan.15. Lokasi peningkatan kegiatan ekonomi tersebut akan menyebar sebagai berikut: industri jasa dan perdagangan akan tetap berkembang di pusat kawasan metropolitan yakni di kota inti DKI Jakarta (GAMBAR 5 . Akses ke kota inti sangat terbatas. Pola Perubahan Ketiga tipologi kawasan pinggiran akan turut mengalami perubahan dengan adanya perkembangan di kawasan metropolitan Jabodetabek dan di kota inti DKI Jakarta. ada yang sudah menunjukkan gejala-gejala menuju urban. Kepadatan relatif rendah. Ekonomi. Untuk kawasan metropolitan Jabodetabek ketiganya dapat dilihat dari GAMBAR 5 . a. dan Kependudukan 187 dan sebagainya).Sosial. kedua tipe kawasan ini dilalui jaringan jalan atau jalan kereta api. . peranan kawasan metropolitan Jabodetabek dalam perekonomian nasional untuk beberapa tahun ke depan masih akan tetap tinggi.19). Potential Urban = adalah kawasan yang pada saat ini ciri utamanya masih rural – berkarakteristik desa tapi mempunyai peluang besar untuk lambat laun menjadi urban.akan meningkatkan pula pertumbuhan sektor-sektor tersebut di Jabodetabek. namun dekat dengan kawasan semi urban. Dari GAMBAR 5 . kegiatan masih cenderung ke pertanian dan perkebunan serta masih banyak lahan-lahan yang belum terbangun. Salah satu faktor yang mendorong pengembangan kegiatan perkotaan ke kawasan ini adalah tersedianya aksesibilitas berupa jaringan jalan atau kereta api yang melalui kawasan ini serta harga lahan yang relatif masih murah. Akses ke kota inti terbatas. hampir tidak ada. dan ada yang sudah bersifat urban. yang secara nasional meningkat pangsanya – dari 23. Lihat juga pada peta 1 dan peta 2 (jaringan jalan dan kereta api). Juga adanya imbas dari daerah sekitarnya yang sudah atau menuju perkembangan perkotaan (URDI. Sektor industri pengolahan/manufaktur dan sektor jasa. Ekonomi dan konversi lahan Sebagaimana telah disampaikan di muka.8 persen . Terkait dengan kepadatan penduduk dan guna lahan serta aktivitas penduduknya. 2006).8 persen menjadi 26.15 maka terlihat bahwa kebanyakan kecamatan-kecamatan yang langsung berbatasan dengan DKI Jakarta berkarakteristik predominantly urban atau semi urban. Kawasan ini tidak berbatasan langsung ke kota inti. maka desa-desa di kawasan pinggiran ini ada yang masih bersifat rural. Perkembangan global akan mempengaruhi kawasan metropolitan Jabodetabek terutama dalam bidang perekonomian. Kegiatan ini terjadi di tipe kawasan predominantly urban. peta 4 (penggunaan lahan 2000) serta peta 5 dan peta 6 (jumlah penduduk Jabodetabek 2000 dan 2004 per kecamatan). c.

188 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .16 Pengunaan Lahan Jabodetabek 2000 .15 Peta Urban Fringe Jabodetabek Berdasarkan Tipologinya GAMBAR 5 .

Ekonomi.18 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2004 per Kecamatan .Sosial. dan Kependudukan 189 GAMBAR 5 .17 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2000 per Kecamatan GAMBAR 5 .

2004 GAMBAR 5 .190 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .19 Sebaran Lokasi Fasilitas Komersial dan Bisnis di Jabodetabek Sumber: SITRAMP2.20 Sebaran Kawasan Industri dan Pergudangan Jabodetabek .

Paling tinggi kepadatan masih tetap di DKI Jakarta sebagai pusat kegiatan Jabodetabek.25 Perubahan Kegiatan Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban peningkatan industri jasa dan perdagangan peningkatan industri manufaktur peningkatan industri manufaktur peningkatan permukiman peningkatan industri manufaktur konversi lahan pertanian ke perumahan dan industri b. Terkait dengan kepadatan penduduk dalam kurun waktu 5 tahun (2000-2004) telah terjadi juga kenaikan kepadatan penduduk.20) terkonsentrasi di kawasan pelabuhan kota inti DKI Jakarta. Kota-kota ini meningkat perannya sebagai sub pusat kegiatan dengan fungsi permukiman atau pendidikan. pertanian (lihat TABEL 5 . dan Kependudukan 191 - industri manufaktur dan pergudangan (GAMBAR 5 .4 ha lahan pertanian). Kemungkinan besar kawasan-kawasan ini akan menjadi predominantly urban dan kawasan yang potential urban akan menjadi semi urban. Kota Bogor. Perubahan tersebut terjadi di kawasan-kawasan sebagai berikut: - TABEL 5 . Konversi lahan pertanian ini paling agresif terjadi di Kabupaten Bekasi terutama untuk mewadahi kegiatan industri yang merupakan sektor utama di daerah tersebut. Kecamatankecamatan di atas berdasarkan jumlah penduduknya berubah dari tipologi semi urban dan potential urban menjadi predominantly urban dan semi urban. Ekonomi. seperti Kota Bekasi. Secara spasial peningkatan jumlah penduduk terdapat di kecamatan-kecamatan yang berdekatan atau berbatasan dengan DKI terutama di Kota Tangerang dan Kota Depok (kawasan predominantly urban). . kecuali di DKI Jakarta yang relatif stabil bahkan di Jakarta Pusat yang mengalami penyusutan. dan Kota Depok. Tangerang. dan Bogor yang relatif jauh dari DKI Jakarta. mengikuti jaringan transport ke Barat ke arah Tangerang. Kota Tangerang. Kependudukan Sebagaimana dibahas di bab sebelumnya. Walaupun ada juga di beberapa kecamatan di pinggiran Kabupaten-kabupaten Bekasi. Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi di tipe kawasan semi urban dan potential urban.5 H di tahun 2002. Di luar DKI Jakarta peningkatan kepadatan tinggi terjadi di kota-kota sekitar.Sosial. Kota-kota ini termasuk tipe kawasan predominantly urban dan di sekelilingnya adalah kebanyakan tipe kawasan semi urban. Persebaran ini terjadi di kawasan predominantly urban dekat Kota Depok.23) mengalami penyusutan luas dari sekitar 44 ha di tahun 1985 menjadi sekitar 23. jumlah penduduk selama 5 tahun terakhir meningkat di Jabodetabek. Konversi ini (lihatTABEL 5 22) terjadi di Kabupaten/Kota Tangerang dan Bekasi terutama untuk penggunaan perumahan dan industri (sekitar 13 ribu ha dari total 290.

Pembatasan ke arah selatan memerlukan regulasi yang cukup ketat dan diawasi pelaksanaannya secara konsisten.15 (tipologi urban fringe) maka poros Timur – Barat masih memungkinkan untuk dikembangkan terutama di kawasan-kawasan semi urban. dan predominantly rural. Pada saat ini strategi yang ingin digunakan di Kawasan Metropolitan Jabodetabek adalah mendorong pengembangan poros Timur – Barat dan membatasi pengembangan ke arah Selatan yang merupakan resapan air. jaringan air bersih dan pembuangan. potential urban. Kedua kegiatan tersebut akan menarik kegiatan-kegiatan terkait seperti pusat-pusat kegiatan dan pelayanan serta membutuhkan penyediaan sarana dan prasarana pendukung.27.26 dan TABEL 5 . industri dan perdagangan. serta masyarakat dan dunia usaha terkait di sektor-sektor terkait (seperti jaringan jalan raya. Kebijakan-kebijakan ini pada ujungnya akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan makro nasional dan sektoral seperti antara lain: Keputusan pembangunan jaringan transportasi baru – jalan tol. Masyarakat perlu dilibatkan dalam pengawasan ini. Keputusan pengembangan permukiman baru – antara lain dengan meningkatkan kepadatan (KLB tinggi. dan jalan raya (arteri nasional). dan sebagainya). Pengembangan saat ini banyak yang mengarah ke selatan. . KLB rendah). dari semi urban menjadi predominantly urban dan dari potential urban menjadi semi urban atau bahkan predominantly urban akan dipengaruhi oleh beberapa kebijakan atau intervensi dari pemerintah maupun dari masyarakat/dunia usaha. Penutup Bagaimana implikasi perkembangan metropolitan pada desa dan kota yang berada dalam Kawasan Metropolitan serta kebijakan dan kelembagaan seperti apa yang dapat mengelola/menanganinya merupakan isu yang akan dibahas dalam bagian ini. Bila dilihat GAMBAR 5 . jalan kereta api.192 Metropolitan di Indonesia Strategi dan Kebijakan Perubahan atau perkembangan tipologi kawasan dari predominantly urban menjadi fully urban – dalam arti kecamatan-kecamatannya mengalami transformasi menyatu dengan kota inti. Pemerintah-pemerintah Daerah. jalan kereta api. Keputusan-keputusan ini penting untuk menetapkan di mana akan dilaksanakan. Kebijakan umum dan khusus berupa program dan instrumen bagi ketiga tipologi dapat dilihat dari TABEL 5 . Seyogianya itu semua mengacu pada satu tata ruang Kawasan Metropolitan yang disepakati semua pihak – Pemerintah Pusat. Hal ini terkait pada kebijakan makro untuk Kawasan Metropolitan Jabodetabek – seberapa luas lahan yang akan dipertahankan dan di mana lokasinya untuk tetap menjadi kawasan perdesaan/pertanian (predominantly rural) yang saat ini masih cukup banyak yakni 51 persen.

Mempertahankan fungsi ekologis / lindung kawasan. Pembangunan secara vertikal (KLB tinggi. Pengembangan urban agriculture Kegiatan eknomi yang tidak merugikan fungsi ekologis (ecotourism. Mengembalikan Fungsi Ruang Terbuka Hijau Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol. Mengurangi Ijin-Ijin Pembangunan. dan Kependudukan 193 TABEL 5 . Meningkatkan Fungsi Lindung Kawasan Untuk Bagian Selatan Jabodetabek Meningkatkan Penyediaan Sarana Dan Prasarana Kota. Meningkatkan Pemanfaatan Lahan Terbangun Sumber : URDI 2006 .Sosial.26 Kebijakan Umum dan Usulan Program per Tipologi Urban Fringe No 1 Jenis Kebijakan Pemanfaatan lahan untuk kegiatan budi daya Predominantly Urban Pengembangan mixed use. Ekonomi. KDB rendah) Semi Urban Pengembangan lahan terbangun yang menunjang kegiatan perkotaan Potential Urban Dipertahankan sebagai lahan tidak terbangun. Membatasi Ijin-Ijin Untuk Kegiatan Yang Menyebabkan Degradasi Lingkungan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol.27 Contoh Instrumen untuk Kebijakan-kebijakan Khusus No Jenis Kebijakan Kebijakan Khusus Pengembangan Yang Ada Dibatasi Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban 1 2 Pengembangan Yang Ada Didorong Menaikkan Beban Pajak Untuk Kegiatan Perkotaan: Bisnis Dan Komersial. Meningkatkan Pembangunan Jalan Baru Untuk Pergerakan Internal Dan Eksternal Jabodetabek Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan. dll) Pengembangan urban agriculture 2 Pengembangan pusat-pusat kegiatan baru Pengembangan pusatpusat kegiatan regional Pengembangan urban agriculture dan industri padat karya 3 4 Mengefisienkan dan mengefektifkan lokasi pusat-pusat kegiatan ekonomi Peningkatan penyediaan prasarana Pengembangan kegiatan perkotaan Pengembangan urban agriculture dan industri yang berorientasi tenaga kerja Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture dan industri Penyediaan prasarana yang mendukung kegiatan perkotaan untuk skala regional Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture Sumber : URDI 2006 TABEL 5 .

serta dalam aspek pelayanan publik. Intervensi Strategi dan Kebijakan Intervensi yang dapat dilakukan perlu secara menyeluruh dari tingkat nasional. Dalam hal intervensi aspek pembangunan fisik dan lingkungan dapat dilakukan antara lain : penyusunan rencana tata ruang wilayah yang terintegrasi dan terpadu secara bersama-sama. . 127). merumuskan mekanisme kerja sama dan pembuatan keputusan. Kecamatan ini juga membangkitkan lalu lintas yang menyebabkan kemacetan di jalan lingkungan. Sebanyak 84 persen dari penghuni di kompleks perumahan dan 54 persen dari penghuni non perumahan (kampung) sebelumnya tinggal di DKI Jakarta.3 persen per tahun). Dari yang predominantly rural atau potential urban dapat menjadi semi urban dan predominantly urban. Jika tidak ada intervensi dari pemerintah. 2006). Kepadatan penduduknya 75 jiwa/ha lebih tinggi dari kepadatan kabupaten tapi belum setinggi kepadatan kota. (URDI. kini telah mengalami transformasi dalam transisi menjadi kecamatan berciri kota. Kompleks perumahan bertambah dari 32 kompleks (1992) menjadi 57 kompleks (2002) hampir dua kalinya (Uguy 2006: hal. hal ini akan menerus terjadi dan akan menimbulkan urban sprawl. yaitu di kawasan pinggiran yang semula hanya tipe potential urban menjadi predominantly urban. Ini merupakan fenomena yang umum terjadi di kecamatan-kecamatan sekitar DKI Jakarta. Perubahan peruntukan lahan yang sangat cepat untuk pembangunan permukiman. jalan arteri. Suatu studi kasus (Uguy 2006) di suatu kecamatan (Cimanggis) memberikan hasil sebagai berikut: Kecamatan Cimanggis merupakan kawasan peri urban yaitu mempunyai tata guna lahan campuran rural dan urban yang tak tertata. koordinasi perencanaan dan pendanaan pembangunan secara terpadu (lintas sektor dan lintas wilayah). dan lain-lain. industri. provinsi. Namun. dan jalan tol. Kegiatan utama Cimanggis sebagian masih berupa pertanian (sawah. Pertambahan penduduk terjadi terutama karena perpindahan dari DKI Jakarta.194 Metropolitan di Indonesia Hubungan Desa dan Kota Dari gambaran di atas terlihat bahwa desa dan kota sangat erat kaitannya dan dengan mudah terjadi perubahan dari desa menjadi kota. jalan. Desa-desa yang dilalui atau dekat dengan jaringan transportasi ke Jakarta akan mengalami transformasi menjadi kota yang lebih cepat. Hal ini semua menunjukkan bahwa kecamatan Cimanggis yang sekitar 5 tahun yang lalu masih berciri desa. sekitar 27 persen telah berubah menjadi perumahan. Dalam hal ini intervensi kelembagaan dan keuangan antara lain dapat dilakukan melalui: membentuk wadah kerja sama (baru atau revitalisasi/perluasan wadah yang sudah ada). Tetapi peningkatan kepadatan ini sangat tinggi (6. aspek pembangunan fisik dan lingkungan.. dan kabupaten/kota. meliputi intervensi dalam aspek kelembagaan dan keuangan. ladang. kebun campuran dengan rumah) sebesar 73 persen.

Ekonomi. dan Banten). seperti sumber air baku. dan Kependudukan 195 - perencanaan pengembangan jaringan transportasi dan pusat-pusat kegiatan secara bersama (spasial maupun temporal). dan sebagainya. pembuangan. pelayanan penyediaan air bersih. Dalam hal intervensi aspek pelayanan publik antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan program-program : pelayanan transportasi terpadu multimoda. sungai dan danau. Jawa Barat.Sosial. pembangunan skala besar dan banyak daerah seperti jaringan transportasi multimoda yang melayani ketiga propinsi. perencanaan pemanfaatan sumber daya alam. Beberapa intervensi itu harus dilakukan dari tingkat pusat. . seperti mekanisme perencanaan yang melibatkan propinsi-propinsi (DKI Jakarta. dan sebagainya. dan persampahan (disarikan dari URDI 2006).

196 Metropolitan di Indonesia .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->