5 Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

KEPENDUDUKAN Pendahuluan Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk kota telah menjadi bagian yang penting dalam pembangunan di Indonesia pada beberapa dekade terakhir. Berdasarkan definisi dari Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah penduduk kota meningkat dari 32,8 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 55,4 juta jiwa pada tahun 1990 dan meningkat kembali menjadi 86,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada saat yang sama, jumlah penduduk desa meningkat dari 114,5 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 122,8 juta jiwa pada tahun 1990. Namun, jumlah tersebut kemudian menurun menjadi 119,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada akhirnya, proporsi penduduk kota meningkat tajam dari 22 persen pada tahun 1980 menjadi 42 persen pada tahun 2000 (TABEL 5 - 1).1 Jumlah tersebut menunjukkan terjadinya transformasi yang besar dalam masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, dari yang masyarakat berciri desa, yang terlihat dari sistem pemerintahan dan perdagangannya (terutama adalah komoditas pertanian) yang mendukung pengembangan kota secara terbatas, menjadi masyarakat kota, gaya hidup kota dan yang paling penting adalah keterkaitan penduduk dengan ekonomi kota yang akan membentuk pola pembangunan dan pertumbuhan kota. Dalam hal ini, tingkat pertumbuhan penduduk desa yang rendah (berangka negatif pada tahun 1990-an) pada TABEL 5 - 1 tidak menunjukkan penurunan angka pada pertumbuhan penduduk desa yang sebenarnya, akan tetapi karena terjadinya perubahan dari tempat dengan karekateristik desa menjadi tempat dengan karakteristik kota walaupun jumlah penduduknya tetap statis.

1 Karena beberapa masalah pada sensus tahun 2000, jumlah penduduk yang diperkirakan sebesar 459.557 jiwa (kota) dan 1.857.659 jiwa (desa). Tambahan sebesar 566.403 jiwa penduduk kota dan 1.717.478 jiwa penduduk desa dihitung secara formal tetapi tidak menjawab karakteristik individual.

126

Metropolitan di Indonesia

TABEL 5 - 1 Jumlah dan Tingkat Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan Kota/Desa di Indonesia Tahun 1980, 1990 dan 2000
Tahun Kota Desa Jumlah % Kota

1980 1990 2000 1980-1990 1990-2000

Jumlah Penduduk 32.845.829 114.485.994 147.331.823 55.389.171 123.805.052 179.194.223 86.406.587 119.436.609 205.843.196 Tingkat Pertumbuhan Penduduk (%) 5,23 0,78 1,96 4,58 -0,37 1,43

22,3 30,9 42,0

Catatan: (1) Jumlah penduduk kota tidak memasukkan penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap (tuna wisma, penduduk yang tinggal di atas perahu, dll.) yang memiliki jumlah sekitar 158 ribu pada tahun 1980 dan 127 ribu pada tahun 1990. Jumlah penduduk tersebut pada tahun 2000 tidak diketahui. (2) Tingkat pertumbuhan dihitung berdasarkan rumus P(t)=P(0)ert Sumber: Biro Pusat Statistik (1991), Badan Pusat Statistik (2001)

Bagian ini akan menjelaskan secara singkat karakteristik urbanisasi di Indonesia berdasarkan kependudukannya yang dipusatkan pada lima kota besar yang secara umum didefinisikan sebagai kawasan metropolitan antara lain: (1) Mebidang yaitu Kawasan Metropolitan Medan yang meliputi Kota Medan dan sekitar Kota Binjai dan Kabupaten Deli Serdang; (2) Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur, meliputi Ibukota Jakarta dan kawasan sekitar Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota dan Kabupaten Tangerang, dan Kota dan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Cianjur; (3) Kawasan Bandung Metropolitan meliputi Kota dan Kabupaten Bandung dan sebagian dari Kabupaten Sumedang; (4) Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila yang terdiri dari Kota Surabaya sebagai pusat, kawasan sekitar meliputi Kabupaten Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, dan juga Kota Mojokerto; (5) Kawasan Metropolitan Mamminasata meliputi Kota Makassar dengan Kabupaten di sekitarnya, yaitu Maros, Takalar dan Gowa (dulunya bernama Sungguminasa). Tulisan ini akan melihat pola urbanisasi, yang menekankan pada pengelompokan kembali2 beberapa karakteristik sosial ekonomi penduduk dalam ruang lingkup metropolitan dan beberapa diskusi mengenai bagaimana terjadinya perubahan pola tersebut. Definisi Kota Bagaimanapun juga perlu kehati-hatian dalam menganalisis pola pertumbuhan penduduk kota. Ada dua alternatif definisi kota di Indonesia. Pertama adalah definisi secara administratif, yaitu berdasarkan unit pemerintah lokal yang otonomi yang disebut Kotamadya yang setara dengan status hukum pemerintahan kota. Kedua adalah secara
2

Pendekatan ini digunakan karena kurangnya data rinci mengenai penduduk untuk menghitung perubahan penduduk berdasarkan demografi-pertumbuhan alami (perbedaan antara kelahiran dan kematian) dan net-migrasi (perbedaan antara migrasi masuk dan keluar).

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

127

fungsional, yaitu setiap unit pemerintahan terkecil yang memiliki kesetaraan dengan status desa atau kota yang fungsional berdasarkan karakteristiknya. Ciri utama dalam definisi fungsional yang digunakan oleh BPS yaitu status desa/kelurahan dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan bertambah padatnya penduduk, berkurangnya kegiatan pertanian atau meningkatnya fasilitas dan pelayanan kota. Pengelompokan kembali (secara jelas antara desa dan kota) menjadi faktor utama dalam menjelaskan pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan yang cepat, yaitu membandingkan 30-35 persen dari pertumbuhan kota pada tahun 1990an dengan jumlah migrasi desa-kota sebesar 20-25 persen (World Bank 2003).
TABEL 5 - 2 Perubahan Definisi Kota Sebelum dan Sesudah Podes 2000
Kepadatan Penduduk (per Km2) 19802000Nilai 1990 Sekarang <500 500-999 1000-1499 1500-1999 2000-2499 2500-2999 3000-3499 3500-3999 4000-4999 5000+ <500 500-1249 1250-2499 3500-3999 4000-5999 6000-7499 7500-8499 8500+ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Persentase Rumah Nilai terhadap Tangga Pertanian Jumlah Fasilitas Umum 1980– 2000– Keter- KeterNilai Nilai 1990 sekarang sediaan jangkauan >95 91-95 86-90 76-85 66-75 56-65 46-55 36-45 26-35 2570,0 50-69 30-49 20-29 15-19 10-14 5-9 51 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Catatan: Definisi Kota tahun 2000 berdasarkan data PODES 2000 (a) dapat digunakan dari tahun 1980 sampai 1990-an; (b) dapat digunakan sejak tahun 2000 Tipe-tipe fasilitas publik: (a) Skor hanya untuk ketersediaan: SD, SMP, SMA, rumah sakit, klinik ibu dan anak, pusat kesehatan, jalan yang dapat digunakan kendaraan roda 3 atau 4, kantor pos, pasar permanen, pusat perbelanjaan, bank, pabrik, restoran, pelayanan umum listrik dan jasa penyewaan. (b) Skor untuk keterjangkauan (1 atau 0): TK (1 jika ≤ 2,5 Km), SMP dan SMA ((1 tiap ≤ 2,5 Km), pasar (1 jika ≤ 2Km), bioskop (1 jika ≤ 5 Km), pertokoan (1 jika ≤ 2 Km), rumah sakit (1 jika ≤ 5 Km), hotel/bilyard/diskotek/salon (1 jika tersedia), % rumah tangga yang memiliki telepon (1 jika ≥ 8%), dan % rumah tangga yang menggunakan listrik (1 jika ≥ 90%) Sumber: Definisi awal berasal dari Sigit dan Sutanti 1983 dalam Peter Gardiner 1993 dan juga pada BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 1990an. Definisi berdasarkan PODES 2000 didapatkan dari BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 2000an.

Perubahan definisi fungsional BPS – menganggap status kota berdasarkan sistem penilaian yang melibatkan kriteria kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga pertanian dan jumlah fasilitas kota – dapat dilihat pada TABEL 5 - 2. Definisi kota fungsional yang dikembangkan pada dekade 1970-an diterapkan pertama kali secara nasional pada Sensus Penduduk tahun 1980 dan dipertahankan sampai tahun 1990an. Perubahan yang

068 4. Setiap tahun penduduk kota di Jabotabek dan Metro Bandung masing-masing tumbuh sebesar 5. perhitungan berdasarkan data pada tingkat desa/ kelurahan menunjukkan bahwa perubahan pada Jabotabek dan Metropolitan Bandung selama tahun 1980-an telah berkontribusi secara signifikan pada pertumbuhan jumlah penduduk di kawasan metropolitan. TABEL 5 .322 1.8 (1.607 1.524 3.3 Definisi terkini sangat berbeda dengan definisi sebelumnya dalam hal isi (walaupun metodologi yang digunakan.337 4. Berdasarkan definisi baru tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk desa meningkat secara signifikan dan proporsi rumah tangga pertanian menurun.895 7.337 1.6 5. sementara definisi terkini mempertimbangkan akses yang kebanyakan diukur berdasarkan jarak capai. .4) 3.987 4.3 7. kode dan batas wilayah. Di dalam kawasan kota inti.2 persen di Metro Bandung sehingga masingmasing berkontribusi sebesar 41 persen dan 31 persen dari seluruh pertumbuhan penduduk di kawasan metropolitan tersebut (Gardiner 1993).322 1.6 persen.946 16.050 3.3 2.063 544 2.128 Metropolitan di Indonesia signifikan diperkenalkan berdasarkan PODES (Potensi Desa) 2000.6 3.3 persen dan 1. Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 3.7 Sumber: Peter Gardiner (1993).558 11.8 persen dan 4.946 5.4 2. Pentingnya pengelompokan dalam menghitung pertumbuhan penduduk kota tidak dapat diabaikan. Definisi awal hanya mempertimbangkan ketersediaan sebagai ukuran.8 (0.067 2.3 Dekomposisi Pertumbuhan Penduduk di Jabotabek dan Metropolitan Bandung tahun 1980 – 1990 Kawasan Jabotabek Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Metro Bandung Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Yang terdata Kota desa Total Kawasan stabil 1980 Kota Perluasan 1990 Kota Desa 7.996 9. Sensus Penduduk pada tahun yang berakhiran 0. dan Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 6.4) 2.131 2.2 2.830 13.063 2.4 persen.9 persen di Jabotabek dan 5. pertumbuhan penduduk per tahun pada dua kawasan metropolitan tersebut masing-masing adalah sebesar 2.987 5. berdasarkan analisis dari data-data tahun 1980 dan 1990 pada tingkat desa yang menjelaskan perubahan-perubahan nama.730 9.411 911 3. indeks komposit dan skor masih tetap sama).8 persen dan jumlah penduduk desa menurun dengan rata-rata per tahun sebesar 1.4 persen dan 0. Definisi baru juga memperkenalkan perubahan pada jenis fasilitas publik dan pada apa yang diukur.828 13.9 3. Sebagai contoh.6 2. sementara pertumbuhan penduduk pada wilayah yang lebih luas meningkat lebih tinggi yaitu sebesar 7. khususnya di Pulau Jawa yang pemerintah dan kegiatan ekonominya sangat berperan dalam konversi guna lahan dan untuk kepentingan pengelompokan yang 3 PODES (Potensi Desa) dilakukan untuk mempersiapkan tiga sensus utama yaitu.050 3.220 3.5 1.309 2.

Sosial. 5 Dikemukakan oleh Homer Hoyt tahun 1939 yang memodifikasi rencana Burgess dengan memfokuskan pada pergerakan-pergerakan antar sektor yang didesak dari arah luar dengan mengikuti jaringan jalan utama (Chinoy 1967: 279) 6 Dikembangkan oleh Edward Ullman dan Chauncey Harris yang mengidentifikasi pertumbuhan khusus di daerah inti yang mengalami perubahan karena fungsinya seperti komersial. tetapi belakangan ini perkembangan pergerakan penduduk menunjukkan fenomena seperti pada teori kombinasi antar sektor5 dan pola konsentrik6. industri ringan. Walaupun akhir-akhir ini (khususnya setelah krisis moneter) muncul perubahan ke arah jentrifikasi7 pada kawasan inti di beberapa kawasan metropolitan melalui peningkatan pembangunan apartemen dan town house yang sering kali dengan standar kenyamanan internasional. Kawasan inti dicirikan dengan berbagai faktor antara lain penurunan penduduk absolut. atau mengalami perubahan. ciri utama kota-kota besar di Indonesia adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang didefinisikan untuk kawasan inti kota yang sebagian besar proporsi guna lahan pada kawasan tersebut dimanfaatkan terutama untuk. Pengelompokan tersebut memberi kesan bahwa urbanisasi mempercepat peran parameter demografi. 7 jentrifikasi (gentrification) adalah perubahan sosial ekonomi kawasan pusat kota karena berpindahnya penduduk miskin digantikan oleh penduduk dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi. . pertumbuhan alami dan migrasi dalam pertumbuhan penduduk metropolitan yang akan dikelompokkan dan dikembangkan kembali. dan Kependudukan 129 lain. dan kawasan pinggiran kota digunakan sebagai perluasan permukiman penduduk. seperti pusat perbelanjaan dan supermarket mewah. dan perluasan kawasan permukiman. industri berat. tetapi hal tersebut tidak akan menyebabkan perubahan besar pada pertumbuhan penduduk di pusat kota karena pembangunan di pusat kota tersebut seringkali tidak menggantikan permukiman kumuh (untuk masyarakat miskin) sebelumnya yang lebih padat. dan karena pembangunan di kawasan pusat kota tersebut juga memerlukan fasilitas. tingkat migrasi keluar yang tinggi. sedangkan kawasan pinggiran kota dicirikan dengan tingkat migrasi ke dalam yang tinggi dan sebagai akibatnya adalah meningkatnya jumlah penduduk absolut. 4 Berdasarkan Ernest Burgess tahun 1925 dengan judul the pattern of growth of American cities (Chinoy 1967. bukan permukiman yang cukup luas. Secara demografis. Walaupun pada awalnya terlihat seperti pola konsentrik4. dari permukiman menjadi non-permukiman khususnya untuk kegiatan komersial. 279). Pola Permukiman Penduduk dan Pertumbuhan Kota Pola ekologi urbanisasi di Indonesia ditunjukkan oleh perkembangan Kawasan Metropolitan Jabodetabek yang semakin besar. sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan pengembangan wilayah dan jalur transportasi. hal. Ekonomi.

42 2.0 145.96 8.975 3.020.16 21.35 1.11 2.267 18.78 13.201 1.138.507 4.321 3.15 154.9 2.3 606.551 1.90 13.44 3.560 3.085 843 1.04 2.089 1.1 747.416 9.008 12.62 0. peran Jakarta di dalam negara maupun di dunia internasional menjadi menarik untuk diteliti seperti yang telah dilakukan oleh T.35 12.265 3.28 2.14 1.130 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .2 437.43 7.140 2.164.922 14.4 3.7 17.011 15.48 1.03 0.097 798 1.68 0.73 2. yang memiliki keistimewaan dibandingkan kota-kota lain.769 3.01 2.422 1.785 10.8 1.65 3. 1999 dan 2004).435 3.471 4.246 17.67 2. serta menunjukkan bahwa kawasan fringe yang sebagian besar masih merupakan kawasan perdesaan masih berada di dalam kawasan metropolitan yang besar dan menunjukkan bahwa perubahan ke arah kota sedang berjalan atau baru akan dimulai9. .509 0.62 1. Dinamika perubahan kawasan di core Jabotabek yang akan datang dapat menjadi indikasi pola pertumbuhan dan penurunan jumlah penduduk di kawasan metropolitan di Indonesia. 9 Sebagai ibukota negara.174.765 12.317 1.925 1.44 9.345 2.87 24.245 2. Pertumbuhan dan penurunan penduduk di kawasan core Jakarta menunjukkan pola konsentrik/memusat dengan Jakarta Pusat sebagai the inner core dan kawasan lain di dalam Jakarta sebagai lapisan 8 Sangat disayangkan pekerjaan Mamas dan Komalasari ini tidak dapat diulangi untuk tulisan ini karena memerlukan pemakaian data pada tingkat desa yang tidak bisa didapatkan.021 20.212 1.16 0.22 9.73 2.22 0.701 12.19 Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang 662.235 2.8 5.2 1.15 3.71 3.56 2.609 1.98 126.787 48. inner dan outer fringe.432 JABOTABEK 6.7 187.108 1.38 8.742 Catatan: Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data survey penduduk desa tahun 1995 Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Mamas dan Komalasari (akan datang)8 membagi Kawasan Metropolitan Jabodetabek menjadi core.1 1.44 3.289 2.9 536.35 10.3 1.28 2.526 3.7 8. Firman (1998.93 1.77 1.4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kawasan Metropolitan Jabotabek Tahun 1990-2000 Kawasan Luas (Km2) Jumlah Penduduk (Juta jiwa) 1990 1995 2000 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 1990 1995 2000 2.421 13.698 12.41 1.024 1.065 2.83 0.03 2.10 20.373.58 2.

1 -7.7 28.3 -19. kepadatan penduduknya masih kurang dari 1000 jiwa/km persegi (TABEL 5 . Secara umum.9 14.7 15.8 23.01 1.6 14.8 0.1 15.6 9.91 1.0 15.4 17.0 24.6 17.50 8.1 16.5 42.8 -41.08 -1. dan Kependudukan 131 pertama yaitu outer zone.1 -14.5 15.6 -14. Penurunan tingkat pertumbuhan penduduk terjadi meskipun pertumbuhan alami meningkat secara positif (selisih antara kelahiran dan kematian) ketika tingkat migrasi masuk menurun secara signifikan dari 6.56 4.91 6.5 Catatan : Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data Survey Penduduk Tahun 1995.52 Rata-rata Rata-rata Pertumbuhan Alami Net-migrasi (per 000) (per 000) 1990-1995 1995-2000 1990-1995 1995-2000 1.48 -3.8 17.9 18.34 5.80 0.12 -1.07 0.1persen (positif) selama paruh pertama menjadi -7.3 -39.4 16.5).4 30.00 2.4).5 17.82 16.2 -33.35 persen per tahun selama paruh pertama menjadi hanya 1 persen selama paruh kedua sampai akhir abad ini. tulisan ini melihat komponenkomponen pertumbuhan penduduk tersebut dari pertumbuhan alami dan net-migrasi (TABEL 5 .8 19.86 3.0 .5 -34. Perubahan pola pertumbuhan penduduk penting untuk dicatat.2 16.8 18.91 -1.35 1. Ekonomi.0 50.5 22.01 -3.9 19.74 5.0 3.23 -2.8 23.1 17.5 Rata-rata dari Pertumbuhan Penduduk.13 2.2 -62.84 5.9 24. bergerak ke luar dari Jakarta Pusat sebagai inner core ke daerah sekitarnya yang disebut outer zone disebabkan kepadatan permukiman yang rendah.33 7.4 -50.30 3. kepadatan penduduk mencapai 18 ribu jiwa/km2 sedangkan di kawasan outer fringes.3 16.37 -1. khususnya daerah Bogor. Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Untuk mengetahui penyebab pertumbuhan penduduk.Sosial.8 15.6 17.9 6.12 -0.2 44.0 13.98 -2. Dengan kata lain.0 -16. Pertumbuhan Alami dan Migrasi di Jabotabek Tahun 1990-1995 dan 1995-2000 Kawasan JABOTABEK Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang Rata-Rata Pertumbuhan Penduduk (%) 1990-1995 1995-2000 3.73 8.9 -37. Tanda positif menyatakan migrasi masuk dan tanda negatif menyatakan migrasi keluar.9 19. secara umum Jabotabek ditandai . Di Jakarta Pusat.47 -2.4 persen (negatif) selama paruh kedua dekade 1990-an.0 28.7 15.74 0. tingkat pertumbuhan penduduk di Jabodetabek pelahan-lahan menurun secara signifikan sepanjang dekade 1990-an dari 3. TABEL 5 .5 -40.4 13.0 -44.3 -44.3 19.67 -1.5.4 20.

(3) Bandung Raya terdiri dari Kota Bandung dan Cimahi. Tangerang. yang menyebabkan pertumbuhan negatif yang ditunjukkan dengan tingginya angka migrasi keluar. Metropolitanisasi – Lima Kawasan Metropolitan Tahun 1980-an dan paruh pertama dekade 1990-an (sampai krisis ekonomi) merupakan periode pengembangan metropolitan secara besar-besaran. khususnya Bekasi dan Tangerang. khususnya di Pulau Jawa. Pada tingkat lokal. Net-migrasi juga merupakan penyebab meluasnya kawasan metropolitan ini. Cepatnya perluasan kawasan perkotaan (urbanized area) ke kawasan-kawasan yang berdekatan merupakan salah satu ciri proses tersebut. penduduk di inner zone akan meningkat karena banyaknya migrasi yang masuk ke kawasan tersebut. sebagian besar migrasi sebenarnya terjadi di dalam metropolitan itu sendiri yaitu penduduk yang bergerak keluar dari kota induk (core) sekarang ke daerah-daerah lain di pinggiran atau perbatasan kota. yang terdiri dari Kota Medan dan Binjai serta Kabupaten Deli Serdang. Lima Kawasan Metropolitan yang menarik untuk diteliti antara lain: (1) Mebidang.33 persen per tahun selama pertengahan awal dan akhir tahun 1990-an. Penurunan ini diakibatkan oleh seluruh penurunan pada pertumbuhan alami dan net-migrasi. (4) . Secara demografis. orang-orang membangun kawasan industri pada pertengahan pertama 1990-an yang menyebabkan angka migrasi keluar tinggi. menggantikan villa dan rumah tinggal yang hanya satu lantai. serta Kabupaten Bogor. Depok. Walaupun demikian. tingkat pertumbuhan penduduk di inner zone perlahanlahan menurun. dan Bekasi. pada kawasan luar kota (outer fringe) Jabotabek.01 persen menjadi 5. hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan penduduk yang relatif cepat di beberapa kota utama. peningkatan harga lahan untuk kegiatan komersial dan permukiman mewah seperti mall. Dengan kata lain. lebih cepat lagi di kota-kota besar – Jabotabek (sekarang Jabodetabekjur). Pada kawasan core Jakarta. sektoral dan banyak pusat – dimulai dengan sebuah pusat atau core yang terdiri dari kota utama dan dikelilingi daerah-daerah yang sedang mengalami proses urbanisasi. dan apartemen. Bekasi. perubahan pertumbuhan penduduk terjadi karena beberapa alasan. Harga dan guna lahan mempengaruhi tingkat migrasi yang masuk dan keluar. bangunan-bangunan perkantoran bertingkat. pertumbuhan penduduk di Jabodetabek cenderung didorong oleh kekuatan pasar dan pemanfaatan lahan. yang berarti bahwa reklasifikasi merupakan faktor yang signifikan dalam menentukan pertumbuhan kota secara keseluruhan. (2) Jabodetabekjur terdiri dari DKI Jakarta dan Kota Bogor. Perubahan Jabotabek menunjukkan sebuah kombinasi tiga pola pertumbuhan kota – konsentrik. Surabaya dan Bandung – jika dibandingkan dengan daerah lain (baik desa maupun kota) yang berada di dalam kawasan tersebut. Tangerang. Bagaimanapun juga. Di antara dua kawasan ekstrim Jabotabek yaitu kawasan core dan outer. Hal tersebut menunjukkan bahwa aspek-aspek penting yang terjadi di Kawasan Metropolitan Jabotabek menjadi ciri perubahan yang juga terjadi pada kawasan-kawasan metropolitan lain. dan Cianjur. Gambaran pertumbuhan penduduk di Jabotabek tersebut menunjukkan bahwa sebagai sebuah kawasan metropolitan.132 Metropolitan di Indonesia dengan jumlah migrasi masuk selama paruh pertama dari dekade terakhir yang kemudian ditandai dengan migrasi keluar pada paruh akhir dekade tersebut. dari 6. serta Kabupaten Bandung dan Sumedang.

Gresik.4 52. Kabupaten: Sidoarjo.5 39.5 2. Mojokerto.0 37.8 56.5 67.3 8. Kabupaten: Bogor.8 53. dan Bangkalan.9 7.3 61. Goa dan Maros. dan Kabupaten: Takalar.5 35. dan Bekasi.9 32. Bekasi dan Cianjur. Pemakaian tahun dalam Podes oleh BPS berdasarkan tujuan tertentu.949 448 827 1.2 23.5 60.3 57.6 Total Penduduk (juta) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 3. Lamongan. TABEL 5 .Sosial. Ekonomi.9 7. Podes tahun 1999 sebagai persiapan Sensus Penduduk tahun 2000 dan Podes tahun 2005 untuk Sensus Ekonomi tahun 2006.2 2. dan Kependudukan 133 Gerbangkertosusila terdiri dari Kota Surabaya dan Mojokerto serta Kabupaten Sidoarjo.4 7.7 36.8 66.9 31.5 Catatan: Mebidang terdiri dari: Kota Medan dan Binjai.6 Pertumbuhan Penduduk Desa di beberapa Kawasan Metropolitan Kawasan Metropolitan Jumlah 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Kota (%) 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Desa (ribu) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 825 1.829 859 1.8 5. Gresik. 1999 dan 200510.7 40.1 3.762 855 1.0 67.3 18. Tangerang. Mojokerto.0 48.1 4. Kabupaten: Deli Serdang Jabodetabekjur terdiri dari: Semua Kota di wilayah DKI Jakarta.3 79. Bandung Raya terdiri dari: Kota Bandung dan Cimahi.6).0 41.1 2. Depok Tangerang.0 22.949 473 30. Tahun yang menjadi referensi disini menggambarkan tahun pengumpulan data . Jumlah Penduduk dari data Podes yang didapat dari kepala desa.0 47.2 69.4 39. (5) Mamminasata terdiri dari Kota Makassar dan Kabupaten Takalar. 10 Seperti penjelasan sebelumnya. Dengan menggunakan delineasi desa. yaitu tahun 1995.951 447 825 1. Goa dan Maros.2 65. unit data lebih kecil dari penelahan khusus oleh IHS berdasarkan data dari BPS Podes (Potensi Desa) dalam beberapa tahun.7 76. desa-desa yang dapat dikelompokkan sebagai kota dan penduduk yang bertempat tinggal di desa tersebut diidentifikasi sebagai dasar untuk menghitung persentase desa-desa yang menjadi kota dan persentase jumlah penduduk kota yang tinggal di desa tersebut (TABEL 5 .7 63. Podes dilibatkan dalam persiapan sensus utama: Podes tahun 1995 sebagai persiapan Sensus Pertanian tahun 1996.9 30. Kabupaten: Bandung dan Sumedang Gerbangkertosusila terdiri dari: Kota Surabaya dan Mojokerto.6 48. Data Podes (Potensi desa) BPS saat ini memungkinkan untuk dianalisis dengan memperhatikan sejarah perkembangan secara terbatas dalam memahami proses urbanisasi dengan memfokuskan pada tiga periode terakhir. dan Bangkalan Mamminasata terdiri dari: Kota Makassar.6 20. Bogor.6 6.6 22.847 863 1. Lamongan.

Jabodetabekjur memiliki jumlah penduduk sebanyak 23. hanya kurang dari setengah desa-desa tersebut sudah dikelompokkan menjadi kota. Data ini menunjukkan adanya kemungkinan sektor konstruksi kembali menjadi penggerak urbanisasi yang terjadi di semua kota-kota besar di negeri ini. proses urbanisasi secara ekologis di lima kawasan metropolitan jauh lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan demografisnya. yaitu dari tahun 1995 sampai tahun 2005. dengan Kota Makassar sebagai core-nya. Walaupun ada kecenderungan dalam pengambilan data podes kurang sistematis. tanpa kecuali. Pada saat itu. wilayah desa berciri kota serta jumlah penduduknya meningkat secara signifikan selama lima tahun terakhir dalam abad ini dibandingkan abad sebelumnya sedangkan secara anekdot dirasakan bahwa ketika bergerak keluar dari pusat kota dan melihat iklan-iklan untuk komplek perumahan. proses urbanisasi menjadi semakin cepat dan terlihat jelas bahkan dalam periode pendek selama sepuluh tahun. Kecenderungan ini terjadi meskipun definisi desa yang menjadi kota tersebut lebih ketat (lihat TABEL 5 . Dari lima kawasan metropolitan tersebut. terdapat tiga kawasan metropolitan besar yang terletak di Pulau Jawa– Jabodetabekjur yang memiliki keistimewaan dibandingkan kawasan metropolitan lain. dimana proses urbanisasi terjadi. Contohnya. Dari lima kawasan metropolitan yang diteliti. Lebih lanjut. Pertama.9 juta jiwa11 sedangkan kawasan metropolitan terbesar 11 Angka penduduk dalam Podes didapatkan dari wawancara kepada kepala desa. Perluasan kawasan metropolitan menunjukkan bahwa kecuali Jabodetabekjur. kecenderungan untuk mengkategorikan penduduk desa-desa tersebut menjadi penduduk kota secara umum meningkatkan tingkat urbanisasi secara tajam. Mebidang dan Jabodetabekjur memiliki lebih dari 3 dari 4 rumah tangga penduduk di desa yang berciri kota (urban village). Dengan kata lain. Kecenderungan ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi ekologi tetapi juga dari sisi demografi. Berdasarkan data kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan pulau lainnya. Kawasan metropolitan terbesar berada di Pulau Jawa. krisis pertama kali mempengaruhi dinamika sektor konstruksi yang menyebabkan pembuat kebijakan menjadi khawatir akan dampak sosialnya berupa demonstrasi para pekerja yang di-PHK di jalan-jalan Jakarta. Kondisi pada tahun 2005 digambarkan oleh peta pada gambar-gambar di bawah. Namun hasilnya masuk akal untuk membandingkan dengan proyeksi penduduk yang digunakan untuk SUSENAS (Survei Sosial-Ekonomi Nasional). diikuti oleh Gerbangkertosusilo.134 Metropolitan di Indonesia Pembahasan selanjutnya perlu diperhatikan dengan seksama. kawasan metropolitan lainnya secara ekologis masih lebih berciri desa daripada kota.2). Peta tersebut menunjukkan penyebaran desa berciri kota (urban village) dan desa berpenduduk paling sedikit 2000 jiwa atau lebih di lima kawasan metropolitan. Jabodetabekjur memiliki keistimewaan tidak hanya dalam cakupan wilayahnya tetapi juga dalam hal jumlah penduduknya. . Kawasan Metropolitan di Pulau Jawa lebih besar secara ekologis (jumlah desa) dan secara demografis (jumlah penduduk). Kedua. sedangkan tiga kawasan metropolitan lainnya antara 6 dan 7 dari 10 penduduk yang tinggal di desa berciri kota. perlu diingat bahwa kecenderungan percepatan urbanisasi pada saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 terus berlangsung dan tetap bertahan. Pada lima kawasan metropolitan tersebut. dan Metropolitan Bandung – yang keempat adalah Mebidang di Sumatera Utara. dan yang kelima adalah Mamminasata. Berdasarkan data Podes tahun 2005. dari perspektif kependudukan.

dan Metropolitan Bandung dengan 7.3 juta jiwa. jika pembangunan jalan arteri utama dibangun berdasarkan keputusan pemerintah maka perkembangan perkotaan juga ditentukan secara langsung oleh pemerintah.3 juta jiwa. Urbanisasi merupakan suatu bentuk pencarian atas pelayanan sosial dan ekonomi serta penghidupan yang lebih baik. Masyarakat miskin dengan sendirinya mengisi ruang-ruang antara yang tersisa baik yang legal maupun ilegal. Hal ini dapat dilihat dalam kasus Jabotabek yang perkembangan kotanya terjadi di sepanjang koridor arteri timur – barat.6).3 juta jiwa. Ekonomi.1 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mebidang Data SUSENAS 2004. Oleh karena itu.2 juta jiwa (TABEL 5 .8 juta jiwa. biasanya perluasan itu mengikuti jaringan transportasi utama khususnya pada jalan utama. Kawasan metropolitan di luar Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit. Pihak swasta dan pengembang merespon terhadap inisiatif-inisiatif tersebut dengan membangun lingkungan perkotaan dan kawasan tertutup (enclave) berupa real estate baik yang berskala besar maupun kecil. yaitu kurang dari sepertiga jumlah penduduk di Jabodetabekjur.2 juta jiwa dan Mamminasata hanya sebesar 2. GAMBAR 5 . 12 . peta-peta tersebut juga menunjukkan koridor perkotaan. Gerbangkertosusila hanya memiliki 8. yang selanjutnya ditunjang dengan pembangunan jalan-jalan arteri utama. proyeksi penduduk di lima wilayah metropolitan sebagai berikut: Mebidang 4.12 Disamping itu.Sosial. Pihak swasta membangun perumahan untuk golongan ekonomi menengah ke atas dengan mengesampingkan masyarakat miskin. dan Kependudukan 135 kedua. Jabodetabekjur 25.1 juta jiwa. Metropolitan Bandung 7. dengan Penduduk Mebidang hanya sebesar 4. bermula pada daerah inti yang berkembang menjadi lebih terbangun dan proses urbanisasi terus meluas.

3 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Bandung Raya .2 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur GAMBAR 5 .136 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .

5 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mamminasata .Sosial.4 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila GAMBAR 5 . Ekonomi. dan Kependudukan 137 GAMBAR 5 .

Angka yang menunjukkan daya tarik kota besar yang didapatkan dari perbandingan jumlah penduduk kota besar tersebut dengan jumlah penduduk di dua kota berikutnya 13 . yang memiliki primacy rate13 yang besar mengungguli kota-kota metropolitan lainnya. kedatangan penduduk. Namun. merupakan suatu masalah. Bagaimanapun mereka terlalu menggantungkan pada kondisi fisik dan sosial infrastruktur kota yang juga menyebabkan keterpurukan mereka. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak hanya dalam arti wilayah ataupun karakteristik desa-kotanya. sehingga kota-kota metropolitan di Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih besar. Para pendatang dituding sebagai penyebab meningkatnya kemacetan dan mereka menggunakan fasilitas dan pelayanan kota yang tidak direncanakan untuk mereka. tetapi terutama dalam hal penduduk. pendatang juga membayar pajak yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur fisik dan sosial perkotaan.138 Metropolitan di Indonesia Perbandingan pola kepadatan dan penyebaran desa-kota dan kota pada lima kotakota metropolitan ditunjukkan oleh TABEL 5 . Mengapa Tinggal di Kota-Kota Metropolitan? Pembahasan mengenai proses urbanisasi dan metropolitanisasi serta pertumbuhan dan penurunan penduduk di atas terlepas dari penilaian baik atau buruk.7 yang mengkombinasikan perbedaan mencolok antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Kota-kota metropolitan di Pulau Jawa biasanya lebih besar. Kota metropolitan terkecil yang dibahas dalam bab ini adalah Mamminasata yang relatif kurang terbangun. Pulau Sumatera. sehingga tidak mengherankan jika kota metropolitan pertama di luar Pulau Jawa adalah Kota Medan. Jika dilihat dari sudut pandang perencana atau pengelola kota. Pembangunan di masa lalu pun cenderung terpusatkan pada wilayah barat Indonesia. Kenyataan ini dapat dimaklumi karena Pulau Jawa sejak dahulu memiliki penduduk yang lebih besar jika dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. seperti Jabodetabekjur. terutama mereka yang miskin. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa penilaian dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang tertentu.

7 Sudut Pandang Ekologi dan Kependudukan Metropolitanisasi Penyebaran Kawasan Perkotaan Mebidang Berawal dari Kota Medan sebagai kota inti. meliputi sebagian besar wilayah Sidoarjo dan desa-desa sekitarnya hingga terhubung dengan Kota Mojokerto. dan Kependudukan 139 TABEL 5 . daerah sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang memiliki kawasan terbangun yang terbatas. Di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lamongan desa-kota nya lebih tersebar. Tangerang dan Bekasi pada proses terbangun dengan tingkat yang tinggi sedangkan Bogor masih memiliki wilayah pedesaan yang lebih luas. tetapi lebih terpusat di sekitar Kota Tingkat desa-kota yang tinggi tentu saja ditemukan di Kota Surabaya dan Kota Mojokerto bahkan juga di Kabupaten Sidoarjo. Gerbangkertosusila memiliki karakteristik tingkat urbanisasi penduduk yang tinggi yang dapat dilihat dari persebaran desa-desa dengan jumlah penduduk Hal yang sama. Ke arah timur Kabupaten Deli Serdang yang merupakan daerah pantai. Perkembangan ke arah barat menghubungkan Kota Medan dengan Kota Binjai. Gerbangkertosusila Perkembangan kawasan perkotaan di Gerbangkertosusila berawal dari pusat Kota Surabaya.Sosial. Ekonomi. angkaangka menunjukkan tingkat urbanisasi penduduk di kawasan metropolitan ini masih rendah. Bandung Perkembangan kawasan perkotaan di Metropolitan Bandung berawal dari pusat Kota Bandung ke wilayah sekitarnya hingga ke wilayah Kabupaten Bandung. Dibandingkan dengan lima kota metropolitan lain yang dibahas di sini. Pola urbanisasi ditunjukkan sebagai desa-kota dan desa dengan populasi 2000 jiwa atau lebih merupakan patokan yang dapat Diluar Kota Bandung. kawasan terbangun masih terpusat pada daerah inti dengan beberapa kantungkantung pertumbuhan disekitarnya. Tingkat Ekologi Perkotaan Tingkat Urbanisasi Penduduk Kepadatan desa-kota dengan populasi lebih dari 2000 jiwa tidak terlalu banyak dan di wilayah luar Kota Medan desa-desa ini lebih tersebar. Bekasi di bagian timur dan Bogor di bagian selatan. Mamminasata Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun dibandingkan dengan lima kota metropolitan yang dibahas disini. Mebidang bukan merupakan kawasan terbangun yang padat melainkan bentuk penyebaran desa-kota hingga ke wilayah kabupaten Deli Serdang Jabodetabekjur Lima wilayah kota di DKI Jakarta merupakan kawasan inti perkotaan dengan kepadatan tinggi yang terus berkembang ke arah utara – selatan dan timur – barat hingga ke wilayah Tangerang di bagian barat. Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun. Seluruh wilayah Jakarta merupakan kawasan terbangun. Desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tersebar hampir diseluruh kawasan metropolitan Bandung. secara dominan berkembang sepanjang koridor barat – timur . .

sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang masih terdapat banyak kawasan pedesaan. Mamminasata Masih serupa dengan Makassar dan menyebar secara lambat ke desa-desa sekitarnya. Seperti kawasan metropolitan lainnya di Pulau Jawa yang penduduknya sangat besar.140 Metropolitan di Indonesia Mebidang Perluasan Ekologi Perkotaan Perluasan kawasan metropolitan ke wilayah Kabupaten Deli Serdang menunjukkan tingkat kawasan terbangun yang relatif rendah. Desa-desa di Pulau Jawa. . dapat juga ditemukan pada sebagian besar wilayah metropolitan. dalam hal kependudukan wilayah ini sangat terbangun karena desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih secara luas tersebar di seluruh wilayah ini. Desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih. melalui Kota Medan menuju Kota Binjai dan ke arah selatan sepanjang pantai. Penyebaran Urbanisasi Penduduk Jabodetabekjur dibandingkan. Gerbangkertosusila 2000 jiwa atau lebih Desa-kota di kawasan metropolitan ini cenderung untuk mengelompok keluar dari wilayah inti Kota Surabaya menuju kabupaten-kabupaten sekitarnya. Penambahan wilayah Cianjur yang memiliki kawasan terbangun rendah ke dalam kawasan metropolitan mempengaruhi tingkat kawasan terbangun secara keseluruhan. Kawasan terbangun masih terjadi di sekitar Kota Bandung. memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak. Bandung Bandung. sebagian besar memiliki penduduk lebih dari 2000 jiwa. Penyebaran desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih menyerupai perluasan desa-kota. terpusat di sekitar Kota Bandung. termasuk Bogor dan Cianjur. desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tidak tersebar secara luas di wilayah metropolitan ini. Dalam hal urbanisasi penduduk.

pertambangan dan penggalian.8 Daya Tarik Permukiman di Kawasan Metropolitan Mebidang Indikator Kota Rasio Ketergantungan Rasio Registrasi Sekolah usia 16-18 tahun % populasi penduduk usia di atas 15 tahun lulusan SMA % Tenaga Kerja di Bidang Pertanian % Tenaga Kerja di Bidang Industri % Tenaga Kerja di Bidang Jasa Tingkat Pengangguran 49 72 Desa 60 59 Jabodetabekjur Kota Desa 42 65 63 27 Bandung Raya Kota Desa 47 59 54 40 Gerbangkertosusila Kota Desa 42 72 49 52 Mamminasata Kota Desa 47 66 59 39 47 29 48 16 38 18 48 30 55 38 7 29 64 19 59 17 34 16 3 33 65 17 45 17 39 17 8 36 56 21 39 27 34 15 6 33 61 13 58 17 26 12 4 18 77 20 58 13 29 17 Catatan: Rasio Ketergantungan merupakan pembagian antara jumlah penduduk usia 0 -14 tahun ditambah dengan usia diatas 65 tahun dengan jumlah penduduk usia 15 – 64 tahun (usia produktif). Sumber : Tabulasi khusus oleh IHS berdasarkan data Susenas BPS 2004 . akan tinggal di metropolitan yang merupakan pusat bisnis yang merupakan tempat kehidupan bagi mereka. pelayanan sosial dan lain-lain. pria dan wanita. jauh dari pengawasan sosial keluarga serta fasilitas-fasilitas hiburan yang banyak dan beragam. padahal kota-kota metropolitan itu identik dengan masalah kemacetan. polusi dan banyak terdapat penyakit-penyakit perkotaan lainnya. Kemacetan. atau di kota-kota metropolitan lainnya di Indonesia. perburuan dan perikanan. transportasi. Bidang Pertanian mencakup pertanian. polusi. Bidang Industri meliputi industri manufaktur. Generasi muda dapat memasuki lembaga-lembaga pendidikan yang lebih baik dan memperoleh ‘kebebasan’ berekspresi termasuk dalam hal berbusana. golongan kuat dan lemah. Ekonomi. Rasio Registrasi Sekolah adalah perbandingan antara penduduk yang bersekolah dengan jumlah penduduk pada rentang umur tertentu. TABEL 5 . Di kota-kota itulah terdapat banyak aktivitas. kriminalitas dan hal-hal negatif lainnya menjadi konsekuensi yang dapat diterima untuk mendapatkan semua keuntungan tersebut. Bidang Jasa mencakup perdagangan. kehutanan. tetapi disitulah tempat orang dapat menemukan susu dan madu walaupun tidak berlimpah. pemulung yang sangat miskin pun masih menganggap kehidupan di kota besar ‘lebih baik’ daripada di tempat asal mereka yang memiliki peluang ekonomi terbatas atau bahkan sama sekali tidak ada karena mereka tidak memiliki lahan. Para politisi akan berada di ibu kota yang merupakan pusat kekuasaan dan keuangan. Bisnis. Jawabannya sangatlah sederhana. muda dan tua. meskipun orang tahu bahwa jalan-jalan tidak berlapis emas.Sosial. dan konstruksi. dan Kependudukan 141 Seringkali orang ditanya mengapa ingin tinggal di Jakarta. Keberuntungan masih dapat ditemukan di kota-kota besar di kawasan metropolitan. keuangan. Bahkan. terutama bisnis skala besar. Hal yang sama juga dilihat oleh golongan kaya dan miskin.

masih merupakan fenomena perkotaan daripada perdesaan. penduduk kota jauh lebih terdidik daripada penduduk desa. Secara khusus. lebih banyak tersedia di daerah perkotaan daripada daerah perdesaan. Dengan harapan dapat memenuhi keinginan. Sebagaimana kita ketahui. termasuk industri skala kecil dan menengah. Hasilnya di beberapa metropolitan terpilih menunjukkan bahwa kedua indikator tersebut lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Ini menunjukkan bahwa penduduk kota memiliki beban tanggungan lebih ringan yang biasanya memiliki jumlah anak yang membutuhkan investasi sosial berupa kesehatan dan pendidikan yang lebih sedikit. menjadi pengangguran pun tidak masalah sekalipun kemungkinannya tinggi. sebagaimana ditunjukkan dengan perbandingan indikator kependudukan antara kota dan desa di beberapa metropolitan yang dibahas (TABEL 5 . Terdapat beberapa peluang penghidupan di perkotaan. tidak semuanya membawa sukses. Rasio ketergantungan (perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 dan >65 tahun dengan jumlah penduduk berumur 15-64 tahun) lebih rendah di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan di wilayah metropolitan yang menggambarkan dinamika pola ruang.142 Metropolitan di Indonesia Kenyataan di atas didukung oleh beberapa fakta dalam hal pendidikan dan pekerjaan. Dengan kata lain. karena ini hanyalah sementara. Inovasi terbaru tentu saja berupa bus way Jakarta. hanya sebagian kecil penduduk perkotaan yang bekerja atau terpaksa bekerja di sektor pertanian mengingat mereka memiliki pilihan kerja yang lebih luas. Sebaliknya. Kami telah memilih dua indikator pendidikan. Di samping itu. fasilitas dan pelayanan pendidikan. dan terutama dari segi jumlahnya. Namun. Penyerapan tenaga kerja di bidang industri. yaitu tingkat registrasi penduduk usia sekolah menengah atas dan persentase penduduk dewasa (di atas 15 tahun) yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan menengah atas. meskipun termasuk perdagangan skala kecil yang dikenal sebagai sektor informal. yang merupakan satu-satunya sistem transportasi yang diterapkan di negara yang membayar sopir dengan gaji tetap dan terbuka baik bagi pria maupun wanita. . Hal yang sama juga terjadi pada sektor pemerintahan yang terletak di kota pusat pemerintahan. yang biasanya menyulut gejolak sosial. mall hanya dibangun di daerah padat dimana penjual dapat menemukan sumber penghidupannya. termasuk angkutan kendaraan bermotor roda dua yang dikenal dengan nama “ojek” masih lebih banyak tersedia di daerah permukiman padat. seiring dengan semakin orang miskin lebih memilih tinggal di perdesaan dan status pengangguran seringkali menjadi sesuatu yang sulit diterima. namun. Sektor transportasi. Ketimpangan yang lebih signifikan terjadi pada sektor jasa. wilayah terbangun metropolitan dihuni oleh penduduk usia produktif yang dapat menikmati pendidikan yang lebih baik dan menemukan pilihan pekerjaan yang beragam meskipun di tengah-tengah ancaman pengangguran.8). Lebih beragamnya jenis pekerjaan dan peluang penghidupan di kota dibandingkan di desa adalah penyebab dan akibat dari kesemerawutan kota. Sektor keuangan atau perbankan biasanya ditemukan di perkotaan yang memiliki peluang bisnis. satu-satunya perbedaan tipis antara tingkat pengangguran yang tinggi di kota dan di desa menjadi tanda perlunya perhatian.

pusat perbelanjaan. wartel. Hal yang sama juga terjadi dalam hal ketersediaan fasilitas dan pelayanan kesehatan serta fasilitas dan infrastruktur yang mempengaruhi kualitas kehidupan. bank dan supermarket) lebih besar di perkotaan dibanding di pedesaaan. Proyeksi BPS menunjukkan bahwa jumlah total penduduk Indonesia terus bertambah dari 206 juta pada tahun 2000 menjadi 275 juta pada tahun 2025 (TABEL 5 . hotel. Hal ini mengingatkan pengelola kota dan perencana tata ruang . pompa atau sumur Jalan beraspal Kantor Pos Telepon Umum/Wartel Pusat Perbelanjaan Pasar Permanen/ Semi-permanen Hotel/guest house Bank Supermarket 34 44 3 99 143 31 21 75 Fasiltas/1000 penduduk 85 263 121 2370 38 56 33 44 4 32 3 24 % Desa-desa dengan fasilitas 98 82 88 52 73 35 3 90 55 21 74 51 33 4 99 23 33 71 82 13 89 42 26 20 30 30 41 2 30 1 5 3 92 32 99 60 34 24 42 64 59 3 70 7 7 4 1 4 93 23 99 51 26 23 35 48 81 4 65 6 9 4 2 3 91 13 97 39 26 13 24 32 53 1 67 6 12 1 2 1 95 15 98 52 24 29 32 19 62 2 59 5 21 2 4 1 0 Sumber : Tabulasi Khusus oleh IHS berdasarkan data PODES 2005 BPS Penegasan mengenai keberutungan di kota secara jelas ditunjukkan pada TABEL 5 9. tingkat urbanisasi nasional terutama dipengaruhi oleh kondisi Pulau Jawa.10). dan Kependudukan TABEL 5 . Dengan perkiraan jumlah penduduk Jawa akan mencapai 151 juta pada tahun 2025. Tantangan Urbanisasi bukan hanya fakta kehidupan tetapi juga terus meningkat.Sosial. jalan dan infrastruktur ekonomi (kantor pos.9 Ketersediaan Fasilitas dan Pelayanan Mebidang Kota 89 Desa 85 Jabodeta bekjur Kota Desa 93 69 Bandung Raya Kota Desa 86 74 Gerbangkertosusila Kota Desa 88 69 143 Mamminasata Kota 91 Desa 67 % Rumah Tangga dengan Listrik Rumah Sakit Puskesmas Praktek Dokter Sumber air minum/masak dari PAM. pasar. walau bagaimanapun. hampir separuh (49 persen) jumlah penduduk Pulau Jawa tinggal di perkotaan dan diperkirakan pada tahun 2025 hampir 8 dari 10 penduduk Pulau Jawa akan tinggal di perkotaan. Sementara 4 dari 10 orang tinggal di kota pada tahun 2000. Menurut sensus penduduk tahun 2000. Akses terhadap air bersih. dalam dua dekade ke depan diperkirakan bahwa hampir 7 dari 10 orang akan tinggal di kota. Yang terpenting untuk dicatat adalah. Ekonomi. Tabel itu memperlihatkan bahwa secara umum proporsi rumah tangga yang memiliki akses listrik di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan di pedesaan di beberapa kawasan metropolitan yang dibahas. berarti 120 juta akan tinggal di aglomerasi perkotaan.

5 54.1 54.9 memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada menyediakan jawaban. UNFPA.4 27.8 34.1 63.3 69.3 44.4 74. jika ada permasalahan yang diidentifikasi oleh perencana dan pengelola kota. perencana kota harus merencanakan masa depan dan masa depan berarti meningkatnya kawasan terbangun dan meluasnya kawasan metropolitan yang ada saat ini. Seseorang bisa hanya mengasumsikan mengapa desa tumbuh menjadi kota yang terus meluas kemudian . BAPPENAS.9 48.4 37. solusinya harus ditujukan untuk mereka yang menikmati berbagai macam aktivitas kehidupan metropolitan karena mereka tidak meninggalkan metropolitan tetapi justru terus mengajak orang lain untuk tinggal di kota.0 58.8 24.10 Proyeksi Jumlah Penduduk dan Proporsi Penduduk Perkotaan Indonesia Menurut Pulau-pulau Utama Tahun 2000 .1 40.7 48. atau bukan suatu masalah. Indikator-indikator yang ditunjukkan TABEL 5 .2 59.6 43.2025 2000 2005 2010 2015 2020 2025 Jumlah Penduduk (juta) Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 43 47 51 121 128 134 11 12 13 11 13 14 15 16 17 4 4 5 206 220 234 Penduduk Perkotaan (juta) 33.8 56.8 28.5 26. paling tidak bagi mereka yang gaya hidupnya terpenuhi oleh fasilitas-fasilitas dan pelayanan yang tersedia.1 25. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000–2025 Penutup Secara jelas telah dinyatakan bahwa metropolitanisasi menguntungkan.3 59. Dengan kata lain.7 48.8 53.5 38.8 32.0 68.2 55 141 14 15 18 5 248 59 147 14 17 19 5 262 63 151 15 18 20 6 274 Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 49. Peran apa yang ingin mereka mainkan? Apakah mereka akan berperan sebagai fasilitator atau justru berupaya menghalau kecenderungan ini? TABEL 5 . Pembangunan infrastruktur fisik perkotaan harus direncanakan sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan berlangsung terus menerus dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik di kawasan metropolitan.6 24.0 41.3 Sumber: BPS. Atau mungkin sudut pandang lain harus juga diperhatikan.0 30.5 44.6 49.3 42.144 Metropolitan di Indonesia akan tantangan yang akan mereka hadapi.0 57.8 dan TABEL 5 .0 38.1 64.3 79.6 54.5 44.1 27.3 35.

Semua ini berwujud kegiatan ekonomi riil baik ekonomi formal maupun informal. Ekonomi. Sebagai kota besar dengan jumlah penduduk yang besar. Persoalan ini semakin kronis ketika jumlah penduduk terus meningkat yang umumnya berasal dari migrasi masuk ke kota yang disebut dengan urbanisasi. yaitu: kota besar/metropolitan mempunyai penduduk lebih dari 700 ribu jiwa.Sosial. Kota-kota yang cepat berkembang pada dua dekade terakhir ini dapat ditengarai adanya potensi lokasi yang sangat menonjol. sedangkan kota kecil berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa. Catatan editor: Analisis ekonomi di bab ini menggunakan batasan jumlah penduduk perkotaan yang berbeda dengan analisis kependudukan di bab sebelumnya. yang paling kecil adalah Kota Padang dengan penduduk 702 ribu jiwa (tahun 2000). Bandung. Titik tolaknya selalu terkait dengan keuntungan lokasi kota bersangkutan. utamanya dalam pelayanan. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga mengandung rekomendasi untuk diteliti lebih lanjut. Namun demikian. apakah ada ‘invisible hand’ yang mengarahkan proses itu? Apa peran dan tanggung jawab pemerintah? Pemerintah pada tingkat mana? Bagaimana dengan peraturan zoning? Apakah ada dan dijalankan? Apakah pemerintah mengarahkan di mana seharusnya pihak swasta harus membangun atau sebaliknya? Apakah proses urbanisasi dan metropolitanisasi merupakan proses ‘alami’ dengan pasar merupakan kekuatan satu-satunya? EKONOMI PERKOTAAN14 Pendahuluan Pertumbuhan kota-kota selalu berbasis pada faktor ekonomi. seperti Jakarta. Surabaya. 14 . dan Kependudukan 145 bersama-sama dengan desa disekitarnya berubah menjadi permukiman perkotaan. dan Makassar yang sering disebut dengan metropolitan menunjukkan kekuatan lokasi yang strategis sehingga terus tumbuh dan berkembang. Medan. • • • • • Mengapa pola pertumbuhan kota metropolitan menjadi seperti yang selama ini terjadi. Jumlah kota-kota besar ini ada sekitar 14 kota. Kota-kota besar yang ada sekarang ini. kota-kota tersebut mengalami berbagai persoalan. perbedaan tersebut tidak mempengaruhi pesan yang disampaikan oleh buku ini. Kota sedang berpenduduk antara 200 ribu jiwa dan 700 ribu jiwa. Dibandingkan dengan kota-kota atau daerah-daerah lain. Pertumbuhan ini dapat diwakili oleh pertumbuhan penduduk yang pesat dan sekaligus pertumbuhan ekonominya. ada beberapa kota di Indonesia mempunyai ukuran besar dengan penduduk lebih dari 700 ribu jiwa15. 15 Hasil penelitian empiris oleh Bambang dan Ringgi (2003) dalam pengelompokan besaran kota-kota di Indonesia ditemukan 3 kelompok.

1 4. Namun kemudian pada periode berikutnya.0 -1. pada periode 1990-2000 terjadi penurunan urbanisasi.0 1999 -0.1 5.7 persen.0 Sumber: Hasil analisis.07 Rata-rata Kota 2.4 1.4 persen menjadi 1. Menurut penulis angka pertumbuhan 3. Selama ini laju pertumbuhan yang diakui pada periode tersebut sebesar 3. BPS Pada TABEL 5 .9 -6. TABEL 5 . juga karena adanya alternatif bagi migran untuk menjadi TKI di luar negeri (menurut informasi dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.11.2 1.1persen. sedangkan kota-kota besar sekitar 2.3 11. TABEL 5 .4 persen tersebut terdapat kesalahan yaitu memasukkan desa-desa yang menjadi kota dan memasukkan daerah-daerah perluasan kota dalam perhitungan pertumbuhan. Baca penjelasan TABEL 5 .7 1.8 6.5 Kota Kecil (<200 ribu) 2.12 Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota-kota dan Nasional Sebelum dan Pasca Krisis Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Skala Wilayah Kota Kecil (<200 ribu) Kota Sedang (>200 ribu. Dengan demikian. Pertumbuhan penduduk kota yang paling dramatis terjadi pada periode 1980-1990 dengan laju pertumbuhan 2.13.9 5.1 -6. Kota-kota besar/metropolitan mempunyai tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi. maka kota-kota besar/metropolitan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang sangat tajam. jumlah TKI di Luar Negeri sekitar 5 juta jiwa).4 9.5 -0. pertumbuhan kota besar jauh lebih besar dari angka 1.4 persen adalah hasil penelitian oleh penulis.11 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota 1980-1990 dan 1990-2000 1980-1990 (%) 1990-2000 (%) Kota Besar (>700 ribu) 2.4 3. terjadi penurunan drastis dari 2.4 0.9 -13.4 3.12 di atas juga dapat dikenali karakteristik kota-kota besar yang berbeda dengan kota-kota ukuran lebih rendah yaitu : 1. menurunnya tingkat urbanisasi ini selain dampak menurunnya tingkat ekonomi kota akibat krisis ekonomi 1998 yang lalu. Diduga. <700 ribu) 2.0 -13. yaitu 1990-2000.3 persen (hampir sama dengan laju pertumbuhan penduduk nasional).4 persen.5 2002 1.4 persen16. Data PDRB Kabupaten/Kota. <700 ribu) Kota Besar + Metropolitan(>700 ribu) Rata-rata Kota Nasional 1996 7.2 -0. tetapi bila terjadi krisis ekonomi. Lihat TABEL 5 . Seperti yang bisa disimak pada Perhitungan laju pertumbuhan pada periode 1980-1990 sebesar 2.12 di bawah ini menunjukkan kemungkinan tersebut.146 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .0 8.1* Kota Sedang (>200 ribu.6 1998 -5. 16 .3 Sumber: Hasil Analisis *) Secara fungsional.

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

147

TABEL 5 - 12, pada periode 1996 pertumbuhan ekonomi sebesar 11 persen, tetapi

pasca krisis tahun 1997 yang lalu, laju pertumbuhan ekonomi mendadak kontraksi (minus) 13 persen. Namun demikian, ketika kondisi normal, maka laju pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan kembali ”leading”. Ini menunjukkan bahwa ekonomi kota-kota besar/metropolitan cukup ”vulnerable”. 2. Bandingkan dengan kota-kota kecil yaitu ketika situasi normal mempunyai laju pertumbuhan moderat sebesar 7,4 persen dan ketika terjadi krisis hanya mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen. Kemudian ketika situasi normal hanya terangkat menjadi 1,8 persen. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kota-kota kecil kelihatannya sudah steady atau mungkin terhambat.
TABEL 5 - 13 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota Metropolitan
Laju Pert. Penddk 1980-1900 (%) 2,41 4,13 Laju Pert. Penddk 1990-2000 (%) 0,16 2,25

No. 1.

Nama Kota Jakarta Kab. Bogor

Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi 2. Surabaya

0,94 6,10 6,29 2,05

10,97 4,12 4,70 0,43

3.

Kab. Sidoarjo Medan Kab. Deliserdang Bandung

3,17 2,30 2,59 3,47

2,97 0,97 2,09 0,41

Keterangan Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan Terjadi pengurangan wilayah akibat pemekaran kota Bogor dan kota Depok. Terjadi pemekaran wilayah kota Belum terbentuk. Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan. Laju pertumbuhan tetap tinggi Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan Laju pertumbuhan tetap tinggi

Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan. Kab. Bandung 1,83 2,71 Kenaikan laju pertumbuhan Sumber: Penduduk Indonesia, Hasil Sensus Penduduk 2000, BPS

4.

Berdasarkan kajian di atas memperteguh kesimpulan bahwa : 1. Kota-kota besar/metropolitan sangatlah lentur dalam menanggapi pertumbuhan, sementara kota-kota kecil terlalu kenyal. Dengan sifat yang lentur, maka kota-kota besar/metropolitan akan selalu menghadapi dinamika pertumbuhan dan sekaligus menghadapi dampak pertumbuhan itu sendiri.

148

Metropolitan di Indonesia

2. Dampak dari pertumbuhan yang mulai meningkat lagi pada pasca krisis adalah meningkatnya lagi urbanisasi pada pasca tahun 2000 walaupun tidak sedramatis tahun sebelum 1990 yang lalu. Angka-angka urbanisasi memang sulit diidentifikasi, tetapi bisa ditandai dari laju pertumbuhan penduduk yang tinggi pada kota bersangkutan. Namun demikian, perkembangan kota-kota besar/metropolitan umumnya sudah melampaui batas administrasinya atau mengalami kejenuhan sehingga laju pertumbuhan penduduk (dengan data penduduk sesuai dengan batas administrasi) akan terdata rendah (karena sedikitnya pemukiman baru). Dengan demikian, pertumbuhan penduduk di kota-kota besar/metropolitan akan terdata rendah dan kecenderungan urbanisasi itu akan terdata pada daerah-daerah/kota-kota yang berada di sekitar kota metropolitan bersangkutan dengan laju pertumbuhan yang tinggi. Hal ini dapat dikaji pada beberapa kota besar/ metropolitan seperti Jakarta dengan Bodetabek, Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo, Medan dengan Deli Serdang dan Binjai, atau Bandung dengan Kabupaten Bandung sebagaimana yang bisa diteliti pada TABEL 5 - 13. Pertumbuhan penduduk kota-kota metropolitan tersebut akan berimplikasi pada corak ekonomi kota-kota bersangkutan. Secara agregat, pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah bersangkutan. Seberapa jauh pertumbuhan penduduk kota-kota besar dibarengi oleh pertumbuhan ekonominya. maka bisa dikaji bagaimana corak PDRB perkapita dengan data-data PDRB tahun 1998 dan 2002 atas dasar harga tetap (1993) dan estimasi data penduduk tahun 1998 dan 200217 sehingga dapat dihitung PDRB per kapita dan laju pertumbuhan PDRB per kapita sebagaimana yang dapat disimak pada TABEL 5 - 14 di atas. Dengan demikian, ada empat kategori pertumbuhan ekonomi yang dapat diberikan sebutan sebagai berikut: a. Kota besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB per kapita juga lebih tinggi dari rata-rata. Kota seperti ini disebut sebagai kota ”star”. Hanya Jakarta Pusat dan Jakarta Utara yang pertumbuhan “leading” dan termasuk kota “star”;

b. Kota besar dengan PDRB per kapita lebih rendah dari rata-rata tetapi pertumbuhan PDRB perkapitanya lebih tinggi dari rata-rata, disebut sebagai kota “growing”. Kota Bandung, Padang, dan Palembang termasuk kota yang sedang tumbuh atau “growing”. c. Kota Besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB perkapitanya juga lebih rendah dari rata-rata, disebut Kota “steady”. Ada sembilan kota dari 19 kotakota besar/metropolitan yang termasuk dalam kota “teady” atau kota yang pertumbuhan ekonominya terhambat.

d. Kota Besar dengan PDRB per kapita lebih tinggi dari rata-rata, tetapi pertumbuhan PDRB per kapitanya lebih rendah dari rata-rata disebut sebagai Kota ”mature”. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Surabaya.
Data PDRB tahun 1998 digunakan atas pertimbangan linearitas. Seperti diketahui bahwa pada tahun 1997 terjadi krisis dan terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang drastis sehingga data-data tahun 1997 dan sebelumnya tidak bisa dibandingkan atau tidak linear. Data PDRB tahun 2002 digunakan karena data ini sudah merupakan data final.
17

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

149

TABEL 5 - 14 PDRB Per kapita dan Laju Pertumbuhannya
PDRB 1998 (juta) (1) 4.833.911,19 2.321.172,65 2.652.629,00 1.584.900.00 12.264.754,68 16.074.778,28 6.109.404,20 13.074.022,33 9.857.557,04 5.680.177,00 5.294.952,14 3.060.637,00 1.327.648,33 915.583,00 4.737.732,57 2.323.694,19 15.429.196,46 2.589.506,89 JML PDDK 1998 (2) 1.881.080 702.638 1.406.774 731.406 1.783.298 2.337.276 888.309 1.900.966 1.433.291 1.259.840 2.133.091 1.565.698 1.120.836 727.118 1.335.042 743.965 2.577.732 1.075.404 PDRB/ KAPITA 1998 Po (3) = (1)/(2) 2,570 3,304 1,886 2,167 6,878 6,878 6,878 6,878 6,878 4,509 2,482 1,955 1,185 1,259 3,549 3,123 5,986 2,408 PDRB 2002 (juta) (4) 5.799.222,07 2.682.462,36 3.179.588,00 1.815.272,00 11.644.849,21 12.305.853,81 15.929.738,60 10.353.071,91 14.050.749,60 6.616.456,50 6.694.331,05 3.732.084,00 1.459.981,62 1.279.881,96 5.626.854,73 2.692.919,81 14.565.521,28 3.205.558,44 JML PDDK 2002 / 2003 (5) 1.993.602 765.450 1.339.315 790.895 1.707.093 2.103.525 893.195 1.565.708 1.182.749 1.416.840 1.867.010 1.809.306 1.247.233 789.423 1.350.002 772.642 2.659.566 1.148.312 Rata-rata PDRB/ KAPITA Pt (6) = (4)/(5) 2.909 3.504 2.374 2.295 6.821 5.850 17.835 6.612 11.880 4.670 3.586 2.063 1.171 1.621 4.168 3.485 5.477 2.792 4.950 LAJU PERTBH PDRB / KAPITA 1998 - 2002 α=(Pt/Po)¼ -1 (7) 0.0315 0.0149 0.0593 0.0145 -0.0020 -0.0396 0.2690 -0.0098 0.1464 0.0088 0.0963 0.0135 -0.0030 0.0652 0.0410 0.0278 -0.0220 0.0376 0.0416

NAMA KOTA (0) Medan Padang Palembang Bandar Lampung Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Tangerang Bandung Bekasi Depok Bogor Semarang Malang Surabaya Makassar

tetapi masih banyak hal yang menghambat. tetapi masih mengalami hambatan karena layanan prasarana dan fungsi perumahan yang masih kuat. dan Surabaya mempunyai fenomena yang sama dengan ”star” di atas. hanya saja modal ekonominya masih rapuh. walaupun sebagian besar dikategorikan sebagai ”steady”. pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan di Indonesia mempunyai implikasi sosial dan fisik sebagai berikut: 1. 3. Oleh karena itu. 2.150 Metropolitan di Indonesia Berdasarkan kategori di atas maka implikasi pertumbuhan ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut: 1. 2. Tetap mempunyai daya tarik ekonomi dan akan menarik kembali tingkat urbanisasi. Pertumbuhan ”spread” adalah pertumbuhan kota yang tidak efisien dan menimbulkan banyak dampak antara lain: kemacetan lalu lintas. Jakarta Timur. Jakarta Pusat dan Jakarta Utara akan menjadi kawasan komersial. Dengan demikian secara berangsur dan cepat. pertumbuhannya tersendat dan berjalan tidak secepat kota-kota ”star”.16 persen (lihat TABEL 5 . Terjadinya pergeseran peruntukan lahan kota dari perumahan menjadi kawasan komersial dengan tingkat perubahan yang berbeda-beda. dan Palembang sedang mengalami perkembangan yang sangat cepat.6. Kegiatan TA 2005.3 persen18. 4. Posisi pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan tersebut ditunjukan dalam GAMBAR 5 . Akibat dari hambatan ini. Dari kategorisasi kota-kota besar/metropolitan tersebut di atas. Diperkirakan masih banyak faktor-faktor percepatan ekonomi yang belum kondusif. 3. berkurangnya 18 PDRB Per Kapita dan pertumbuhannya secara nasional dari sumber: ”Kajian Pertumbuhan Kota-kota Dalam Rangka Pembangunan Prasarana Ke-PU-an”. 4. sehingga pertumbuhannya relatif melambat. Padang. Kembalinya urbanisasi yang meningkat (butir 1). Dalam banyak kasus yang mengalami tekanan seperti ini adalah peruntukan perumahan. Kota-kota “star” seperti Jakarta Pusat dan Jakarta Utara merupakan kota yang ekonominya terus berkembang dan sangat dinamis.14) adalah jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDRB per kapita total kota-kota yang sebesar 2. Kota-kota ”mature” seperti Jakarta Selatan. Kota-kota “rowing” seperti Bandung. Karena tidak didukung oleh ketersediaan lahan yang mencukupi maka perkembangan kota akibat tekanan pertumbuhan ekonomi ini akan berimbas pada kawasan sekitar kota besar/ metropolitan yang bersangkutan (spread development). Karena terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka terjadi desakan-desakan pemanfaatan ruang ke arah penggunaan yang lebih komersial. Kota-kota ”steady” yang merupakan sebagian besar kota-kota besar/metropolitan ini walaupun sedang tumbuh. Jakarta Barat. PUSTRA. tetapi tetap kota-kota besar/metropolitan mempunyai posisi pertumbuhan PDRB per kapita yang rata-ratanya 4. . termasuk implikasinya terhadap pergeseran tata ruang (perumahan menjadi komersial).

Malang.14 Bagaimanapun juga kota-kota besar/metropolitan tetap tumbuh ”leading” dibandingkan kota-kota lain yang kesemuanya didorong oleh fungsi ekonomi dan peranan ini tentunya juga ”leading” bagi perekonomian nasional. Medan. dan sulitnya mengembangkan jaringan prasarana secara terpadu. Jakarta Barat. dan Makassar Jakarta Pusat dan Jakarta Utara PDRB/Kap. Pert. Bekasi. PDRB/Kap. tidak termasuk kota-kota kabupaten yang tidak otonom.Tangerang. dan Surabaya “steady” “mature” GAMBAR 5 . Jakarta Timur. Padang. Ekonomi. dan Kependudukan 151 fungsi kawasan lindung akibat dimanfaatkan untuk perumahan. dan Makassar Jakarta Selatan. Depok. Bandung. Sekitar 40-50 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional disumbang oleh 90 kota19 atau sekitar 20 persen dari sekitar 430 kabupaten/ kota di Indonesia.Lampung. Tantangan Kota sebagai pusat aglomerasi ekonomi dengan pola pertumbuhan sebagaimana diuraikan sebelumnya diakui mempunyai peranan yang sangat penting bagi ekonomi kota masing-masing dan ekonomi secara nasional karena: 1. “growing” “star” Palembang. Bd. Lj. Bogor. .Sosial. Semarang. 19 Yang dimaksud kota adalah kota otonom.6 Kategorisasi Kota-kota Besar/Metropolitan Cat: Analisis berdasarkan TABEL 5 .

Kemungkinan ketiga: kemungkinan butir 1 dan 2 ada semua. kota-kota metropolitan juga mempunyai peranan bagi sumber fiskal nasional. Diperkirakan 50 persen dari APBN berasal dari pajak kota-kota besar/ metropolitan21. juga membawa resiko beban-beban berat yang selalu mengiringi potensi-potensi pertumbuhannya. Kemungkinan kedua: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan bekerja di ekonomi informal sementara angka PDRB tidak memasukkan kegiatan ekonomi informal. 22 Data-data APBD dan PDB dari BPS. tetapi secara kapita kinerjanya lebih rendah dibandingkan kapita nasional yang dapat ditunjukkan bahwa : 1. Kemungkinan pertama: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan yang masih miskin dan tinggal di kawasan-kawasan kumuh dan juga berarti terdapat kesenjangan kesejahteraan yang besar di kota-kota metropolitan. PDRB per kapita kota-kota besar/metropolitan rata-rata Rp 4. c. yaitu: a. 20 21 Berdasarkan data-data PDRB 1999 – 2003. . Potensi pertumbuhan yang sedang berlangsung itu tampaknya sulit dihentikan dan serta-merta beban-beban yang mengiringi juga terus menggelanjut. pajak pribadi.5 juta. Walaupun kota-kota metropolitan secara agregat merupakan sumber ekonomi dan keuangan nasional.7 juta) menunjukkan 3 kemungkinan 22. PPN. 3. Kota-kota besar/metropolitan dengan kompleksitas dan intensitas yang demikian tinggi serta merupakan ”focal point” ekonomi yang potensial itu. 2. Sedangkan PDRB Nasional per kapita sebesar Rp 6. Ini berarti tumbuhnya kota-kota besar/metropolitan selalu diikuti dengan jumlah kemiskinan yang besar dan berkembangnya ekonomi informal seiring dengan besaran PDRB itu sendiri. Selain penting dalam perekonomian nasional.5 juta) yang rendah ini dibandingkan dengan nasional (Rp 6. b.152 Metropolitan di Indonesia 2. Sekitar 14 kota-kota metropolitan atau 3 persen dari total daerah menyumbang 30 persen PDB Nasional20. Angka-angka per kapita kota-kota besar/metropolitan ini (yaitu Rp 4. Seperti diketahui 80 persen APBN berasal dari pajak dan dari 80 persen pajak ini. Semakin besar PDRB sebagai indikator ekonomi formal. semakin berkembang pula kegiatan ekonomi informalnya. dan 4. selain menjadi pusat pertumbuhan utama. Berdasarkan perkiraan perhitungan APBN 2005. pajak final yang kesemuanya bersumber dari perkotaan. Peranan ekonomi kota ini semakin menonjol pada kota-kota besar/metropolitan. 3.7 juta. sekitar 70 persen berasal dari pajak badan.

Semua ini menengarai bahwa perekonomian kota yang tumbuh selama ini ditopang oleh ”tulang-tulang penyangga” yang rapuh. dan menurunnya tingkat kualitas lingkungan. maka keluaran persoalan yang muncul utamanya pada persoalan fisik klasik menyangkut soal kemacetan lalu lintas. masing-masing kota haruslah meningkatkan daya saing. Cara pengentasan kemiskinan dan pengaturan ekonomi informal oleh pemerintah daerah dapat dilakukan melalui kebijakan fiskal daerah dengan kapasitas yang dimilikinya.Sosial. Artinya bahwa peranan fiskal daerah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah hanya 4 persen dan 96 persen berasal dari sektor riil atau ekonomi masyarakat (Lihat TABEL 5 . bantuan tunai. adanya kemiskinan adalah kenyataan dan menjadi tugas pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mengentaskannya. kekurangan prasarana pada umumnya. menyatakan bahwa daya saing kota-kota besar/metropolitan secara Rasio APBD/ PDRB secara nasional 23 persen. Rasio APBD terhadap PDRB bagi kota-kota besar/metropolitan rata-rata hanya 4 persen. Porsi APBD terhadap PDRB sebesar 4 persen ini sangat kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 23 persen23. persampahan. dan semacam itu kemungkinan besar tidak memberikan tambahan nilai yang berarti. dan Kependudukan 153 Dengan kemungkinan masalah perekonomian seperti kemiskinan dan kesenjangan kesejahteraan serta corak ekonomi informal yang mewarnai kehidupan kota-kota besar/ metropolitan sebagaimana yang diperkirakan di atas. atau sensitif terhadap persoalan-persoalan yang mengiringi pertumbuhannya. Dalam rangka menyongsong investasi itu. Ekonomi.8 persen. Adapun belanja APBD yang dikeluarkan setiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kota. Namun demikian. dan bantuan Pemerintah melalui Dana Alokasi Umum (DAU). 23 . dan kota-kota kecil sebesar 20 persen (Samiaji 2003). Dengan demikian. tantangan utama dalam pengelolaan kota-kota besar/metropolitan adalah strategi pembangunan prasarana yang memberi kemungkinan tumbuhnya investasi langsung baik dalam negeri maupun luar negeri (Foreign Direct Investment). Pada umumnya kapasitas fiskal kota-kota besar/metropolitan cukup potensial yang diperoleh melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam situasi ini kota-kota besar/metropolitan seolah mengalami obesitas yang beresiko tinggi. dan adanya ekonomi informal adalah kenyataan lain yang harus diatur agar menjadi kekuatan ekonomi alternatif. Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP). jumlah kapasitas fiskal berupa APBD ini dibandingkan dengan kapasitas ekonomi daerah ternyata tidaklah seberapa. maka sebenarnya upaya fiskal melalui belanja langsung APBD berupa belanja barang. kota-kota ukuran sedang 9. Bagi Hasil Pajak-pajak (BHP) yang ada (yang dikelola oleh Pemerintah). Namun bagi kota-kota besar/ metropolitan. Penjumlahan penerimaan tersebut terangkum dalam APBD. kawasan kumuh.15). kenaikan gaji. Mengingat bahwa porsi fiskal terhadap ekonomi kota ternyata sangat tidak signifikan dengan rasio yang hanya 4 persen. Sebagaimana telah diungkap di atas tentang adanya kemungkinan konsentrasi kemiskinan yang tinggi dengan corak praktik ekonomi informal yang berserak maka ada kesulitan bagi pemerintah kota-kota metropolitan untuk menanganinya. Laporan penelitian Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). yang mungkin bermanfaat adalah belanja modal berupa prasarana yang bisa lebih memacu ekonomi riil masyarakat serta memicu investasi langsung.

977 7. Padang B BB Kenaikan 8. Surabaya 1. Makassar AA 2003 belum diteliti 5.022 5.04 Sumber : Hasil Analisis dari Data Keuangan SIKD Dep. Bandung BB C Penurunan 12. Milyar (2) (1) 1.250 12. Bandung 962 27.15 Rasio APBD terhadap PDRB (Harga Berlaku) PDRB (2004) No. Palembang 547 14. Tangerang C BB Kenaikan 11. Daya saing kota-kota besar/metropolitan berdasarkan penelitian KPPOD secara berurutan adalah disajikan pada TABEL 5 .320 59.154 Metropolitan di Indonesia umum semakin meningkat.399 11.02 0.03 0. Bekasi D C Kenaikan 14. TABEL 5 . Jakarta C AA Kenaikan 3.507 4. Semarang BB BB Tetap 7.314 9. Malang 336 9.051 8.08 0. Keuangan dan Data PDRB (atas Harga Berlaku) . Bd.04 0.04 0. Milyar Dlm. Depok Belum diteliti. DKI Jakarta 9. Tangerang 523 20. Bogor 342 4.03 0. Bandar Lampung C BB Kenaikan 9.360 3. Nama Kota 2003 2004 Keterangan 1. Surabaya B BBB Kenaikan 6.16 Peringkat Daya Tarik Investasi Kota-kota Besar/Metropolitan Tahun 2004 Peringkat Peringkat No.127 Rata-rata Rasio (1)/(2) 0. Palembang C AA Kenaikan 4.290 13.825 6.06 0.16. Lampung 369 6. Malang C AAA Kenaikan 2. Bekasi 542 14.BPS TABEL 5 .812 10.03 0. Medan C BB Kenaikan 10.02 0. Depok 390 6. Sumber: KPPOD .982 375. Padang 397 11. Nama Kota APBD (2003) Dlm.168 33.04 0. Makassar 531 13. Bogor C C tetap 13. Semarang 638 20.03 0.078 2.04 0.03 0.06 0.745 14. Medan 1.

Hubungan antara prasarana dan kelembagaan adalah: 1. Ekonomi. sementara hasil analisis di TABEL 5 .15 yang mengkategorikan Kota Malang sebagai kota ”steady”. maka pemanfaatan prasarana tidaklah optimal. dan Kependudukan 155 Peringkat di atas berbeda dengan TABEL 5 . Perkembangan ke luar yang terus melebar sehingga mulai menyatu secara fisik dengan daerah yang berbatasan. Perkembangan ke dalam. di peringkat KPPOD. namun belum sempat menikmati datangnya investasi. Bagaimanapun juga. Sebagai kota besar/metropolitan dengan karakteristik perkembangan ”spread” dan bergabung dengan daerah-daerah di sekitarnya maka daya saing akan lebih mantap apabila ada sinerji antara kota besar/metropolitan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Dengan demikian. Oleh karena itu bagi kota-kota besar/metropolitan yang memiliki prasarana yang lebih lengkap dan kinerja ekonomi yang dinamis. Sebagai contoh: Semarang. maka daya tarik terhadap investasi akan lebih nyata. 2. Kegagalan pengendalian tersebut diduga terjadi karena: . daya tarik investasi akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor prasarana dan faktor kelembagaan. pada tahun 2003 peringkatnya turun menjadi peringkat sepuluh dan pada tahun 2006 terperosok ke peringkat sembilan belas. Umumnya yang terjadi adalah pergeseran atau transformasi dari kegiatan perumahan menjadi kegiatan komersial. Perkembangan kota yang bersifat ke luar dan ke dalam di kota-kota besar/ metropolitan ini sampai sekarang belum bisa dikendalikan baik melalui instrumen rencana tata ruang maupun melalui pengendalian tata ruang. tanpa pengembangan kelembagaan. pada dua tahun lalu ada di peringkat pertama. 2. 3. Kota Malang malahan mempunyai daya saing yang paling tinggi di antara kota-kota besar/metropolitan lainnya.Sosial. yaitu pergeseran di dalam kawasan terbangun kota. apabila ada upaya peningkatan kualitas kelembagaan. Untuk itu. Implikasi Tata Ruang Sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan kota-kota besar secara fisik telah melampaui batas administrasi sehingga ada tanda bahwa telah terjadi dua pola pertumbuhan fisik kota-kota besar sebagai berikut: 1. Pada tabel di atas. Perbedaan ini terjadi karena pemantauan dan penilaian daya saing yang dilakukan oleh KPPOD adalah potret sesaat dengan kemungkinan setiap tahun peringkatannya bisa berbeda. Walaupun unsur kelembagaan juga menentukan. Walaupun prasarana suatu kota telah lengkap. tanpa kelengkapan prasarana tetap saja tidak akan mengundang investasi.16 menunjukkan kualitas yang konstan. pengembangan kelembagaan melalui kerja sama antar daerah khususnya dalam bidang pembangunan prasarana akan meningkatkan daya saing dan mampu mengundang investor untuk menanamkan modalnya di kota-kota metropolitan dan daerah-daerah yang berbatasan dengannya. untuk meningkatkan daya tarik investasi kota-kota besar/ metropolitan diperlukan pengembangan kelembagaan yang lebih dinamis. termasuk zoning regulation.

Pengembangan struktur kota seperti: a. tetapi tergambarkan dalam perkembangan tata ruang yang justru tidak efisien. 4. yang harga jualnya ditentukan oleh pemerintah. 3. 3. . yaitu ke dalam dan ke luar tersebut. Pembangunan outer ring road akan merangsang tumbuhnya permukimanpermukiman baru. Penutup Kebijakan tata ruang menyebabkan kota besar semakin membesar dan meluas semacam Kota Obesitas. seperti: 1. nilai-nilai tambah ekonomi yang diciptakan oleh kota besar itu dikurangi sendiri oleh kebijakan tata ruang yang tidak efisien itu.156 Metropolitan di Indonesia 1. 2. Persepsi terhadap nilai-nilai ekonomi jangka pendek lebih kuat daripada nilai-nilai kelestarian yang efisien. Zonasi-zonasi guna lahan. 4. b. Kurangnya kapasitas pengawasan terhadap perubahan guna lahan dan kurangnya sistem data dan informasi geografi kota yang terbaharui untuk mendukung pengawasan. tanpa berupaya reorientasi terhadap masalah melalui terobosan-terobosan baru dan jitu. Pembangunan perumahan murah. Pembentukan sub-pusat sub-pusat kota mendorong munculnya permukimanpermukiman baru. 2. maka kota menjadi terus meluas. Tidak adanya kerja sama antar daerah yang solid di antara kota besar/metropolitan dan daerah yang berbatasan. terutama pemisahan zona bisnis dan zona industri dengan permukiman semakin memperbesar jarak antara kedua fungsi sehingga tidak efisien baik dalam pelayanan maupun pembangunan prasarana. Kota yang mengalami obesitas ini merupakan akibat langsung dari perkembangan ekonomi kota yang maju. Sebagai akibat dari pola perubahan tata ruang dari dua sumber. Dengan demikian. Penyebaran fasilitas-fasilitas sosial-ekonomi seperti rumah sakit. Berbagai kebijakan pengembangan tata ruang malahan semakin memicu dan memacu perkembangan kota yang meluas. ”Property Right” pemilik lahan lebih kuat daripada ”Development Right” pemerintah daerah. dan pasar semakin memberi kemudahan bagi lokasi perumahan yang berada di luar lota. sekolah. Jika kebijakan pengembangan tata ruang masih berkutat pada pola pikir yang lama. maka pada masa datang kota besar/metropolitan yang mengalami obesitas akan selalu beresiko (seperti manusia kegemukan yang beresiko tinggi terhadap penyakit degeneratif). menyebabkan pengembang mencari lokasi yang harga tanahnya murah dan tentunya lokasinya jauh dari tempat kerja.

Sosial. Lebih-lebih. yang menyebabkan semakin hari semakin banyak bagian dari bumi yang semakin terkait dan saling mempengaruhi. Di satu sisi kota hampir selalu menjadi sumber. lingkup dan kompleksitas . pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan globalisasi akan mempengaruhi sikap terhadap globalisasi tersebut. kemampuan suatu bangsa dalam mengelola kota-kotanya sesuai dengan tuntutan global (yang bisa bersifat eksternal maupun internal) akan mempengaruhi kemajuan relatif bangsa tersebut di tengah-tengah masyarakat global yang semakin kompetitif. Hanya saja. besaran. Globalisasi dilihat sebagai internasionalisasi: yaitu proses meningkatnya hubungan antar-negara. Sungguh. sebagaimana disarikan oleh Smith 2002) melihat setidaknya ada lima jenis pemahaman tentang globalisasi: 1. kemampuan pengelola kota dalam memahami berbagai perubahan global—yang bersifat terus menerus—serta pengaruhnya terhadap kehidupan kota yang dikelolanya akan sangat mempengaruhi kemampuan kota tersebut untuk berkembang dan bersaing dengan kota-kota lain di dunia yang semakin saling tergantung satu sama lain. globalisasi dalam pengertian yang luas sebagai suatu fenomena interaksi dan proses pengaruh-mempengaruhi secara sosial-ekonomi-budaya-demografi dari bagian bumi yang satu ke bagian yang lain pun dapat dikatakan telah berlangsung selama berabad-abad sebagaimana yang tergambarkan dalam kisah Marco Polo atau Admiral Cheng Ho. Proses urbanisasi (baik karena migrasi desa-kota ataupun akibat pengalihan fungsi lahan) pun menjadi atribut yang tidak terpisahkan dari globalisasi. Terlepas dari perdebatan akademik tentang arti globalisasi. pertukaran antar-negara (international exchange) serta kesalingtergantungan. ada baiknya kita kunjungi kembali “globalisasi” sebagai suatu fenomena sosial-ekonomi-budaya dan demografi. dan Kependudukan 157 GLOBALISASI DAN METROPOLITAN DI INDONESIA Pendahuluan Walau sudah sering menjadi topik pembicaraan dalam. khususnya mereka yang tinggal atau bekerja di kota-kota besar atau metropolitan. Mengunjungi Kembali Globalisasi Sebelum melangkah lebih jauh. Dalam konteks inilah pembahasan globalisasi dan kota-kota metropolitan di Indonesia masih (dan selalu akan) dianggap perlu. Demikian pula. simpul dan penggerak dari berbagai perubahan. serta memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi (UN-Habitat 2004). globalisasi dan kota adalah dua konsep yang tak terpisahkan. di sisi lain kota pun merupakan bagian bumi yang paling cepat dipengaruhi oleh berbagai perubahan global. dengan lingkup yang lebih luas menjangkau berbagai bidang. seperempat abad terakhir ini—bahkan cenderung menjadi jargon yang klise—istilah “globalisasi” yang mulai dikenal pada awal 1980-an masih belum memiliki definisi yang disepakati bersama (Centre for Developing Cities 2006). Dalam konteks inilah globalisasi dianggap telah terjadi selama berabad-abad walaupun kecepatan. Implikasinya. Padahal. Ekonomi. kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang pesat dalam dua puluh lima tahun terakhir telah membuat fenomena tersebut saat ini berlangsung jauh lebih cepat dan dalam skala yang jauh lebih besar. kurang lebih. fenomena intensifikasi keterkaitan yang semakin mendunia sebenarnya dapat dirasakan oleh sebagian besar orang. Jan Art Scholte (2000.

dan oleh karenanya sistem ekonomi nasional pun harus menyesuaikan dengan prinsip-prinsip ekonomi neo-klasik. 2. jasa. pengalaman. Peran globalisasi pendidikan— semakin banyaknya orang yang bersekolah di negaranegara lain. yaitu proses rekonfigurasi geografis yang menyebabkan ruang-ruang sosial tidak lagi selalu diartikan secara fisik-teritorial. Pernyataan-pernyataan yang agak berlebih seperti terjadinya “death of distance” atau bahkan “death of geography”25 pun muncul sebagai salah satu penekanan cerminan sudut pandang ini. Globalisasi dilihat sebagai modernisasi dan. Pernyataan “death of geography” sebagaimana dikutip dalam Smith 2000 tentunya terlalu berlebihan. serta televisi dan film dilihat sebagai sangat kuat mempengaruhi universalisasi tata-nilai ini. informasi dan manusia sehingga akan terbentuk suatu ekonomi dunia yang tanpa batas. Globalisasi dilihat sebagai de-teritorialisasi (atau malah terbentuknya suatu suprateritorial). Termasuk dalam hal ini adalah penerimaan atau imposisi model ekonomi neo-klasik sebagai paradigma dominan (kalau tidak mau mengatakannya sebagai paradigma tunggal) untuk pembangunan ekonomi. norma-norma. gerai makan cepat saji ala McDonald atau KFC. Bank Dunia. IMF. yaitu sebagai proses terhapusnya secara gradual hambatan-hambatan yang ditetapkan oleh masing-masing negara bagi pergerakan barang.158 Metropolitan di Indonesia perubahannya berbeda. pembaratan (westernization): yaitu sebagai dinamika. rasionalisme. minuman ala Coca Cola. Globalisasi dilihat sebagai liberalisasi. cara-pandang serta perilaku ke segala penjuru dunia akibat persebaran informasi. Seringkali dalam proses memoderenisasi ini menghancurkan budaya serta atribut dan bahkan keswadayaan lokal yang ada. khususnya di negara-negara Barat yang dianggap “maju”—serta perkembangan teknologi komputer dan internet. barang. orang dan lain-lain. industrialisme dan lain-lain) yang tersebar ke berbagai penjuru dunia. . bisnis multi-level marketing ala Amway dan lain-lain). yaitu sebagai proses terbentuknya kesamaan nilai-nilai. Globalisasi dilihat sebagai universalisasi. Namun pada kurun waktu setengah abad terakhir ini terjadi pula proses multilateralisasi yang lebih mendasar. 24 25 Sebagai salah satu contoh baca Kwik 2006. 5. salah satu pandangan yang masuk dalam kategori ini melihat globalisasi secara lebih sempit lagi sebagai Amerikanisasi (sebagaimana merebaknya model celana jeans.apalagi mengingat bahwa justru banyak ahli geografi yang menekuni persoalan globalisasi. Mahkamah Internasional dan belakangan WTO dan terkadang bahkan dapat mendikte kebijakan suatu negara24. media berita ala CNN. khususnya yang berkaitan dengan penyesuaian struktural (structural adjustment) negara-negara berkembang terhadap sistem ekonomi neo-klasik yang dipercaya oleh lembagalembaga multilateral tersebut sebagai pilihan terbaik dalam menghadapi globalisasi. 3. Termasuk dalam kategori pemahaman ini adalah konsep kesaling-tergantungan (inter-dependency) yang juga merupakan ciri globalisasi. secara lebih sempit. Karena Amerika Serikat—beserta budaya kontemporernya—sering dilihat sangat mendominasi proses-proses yang ada. akibat peran penting lembagalembaga seperti PBB. ditunjukkan oleh struktur dan atribut sosial modern (kapitalisme. 4.

(ii) berkurangnya batas-batas bagi mobilitas barang. telepon genggam atau media lainnya. bertinggal. Oleh karenanya tulisan ini—dalam melihat pengaruh globalisasi kepada kota-kota—justru akan menggunakan secara komprehensif kelima pemahaman di atas secara lebih bebas sebagai atribut dari globalisasi. Suatu unit usaha di suatu negara bisa saja melakukan suatu sub-kontrak dengan suatu pihak dari belahan bumi yang lain tanpa harus bertemu muka. berlibur. namun sebenarnya masing-masing pemahaman di atas memiliki kandungan kebenaran jika dikaitkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi. perusahaan-perusahaan software di negara maju mensubkontrakkan sebagian pekerjaannya kepada perusahaan atau individu di negara berkembang— mungkin tanpa harus bertemu muka—demi menghemat biaya. Dan hal-hal seperti ini mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia. barang.Sosial. (iv) industrialisasi barang dan jasa. Anthony Giddens (1990. bersosialisasi dan bahkan dalam berpikir. globalisasi sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang telah mempermudah dan mempercepat arus informasi. hanya berbeda aspek atau sudut pandang. belajar. sebagaimana dikutip oleh Smith 2002) mendefinisikan globalisasi sebagai intensifikasi hubunganhubungan sosial yang menyeluruh dunia dan menghubungkan tempat-tempat yang berjauhan sedemikian sehingga apa yang terjadi di suatu tempat dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kejadian di tempat lain yang berjauhan. Hal ini. atau bisa juga merupakan bentuk lain dari kursus-kursus melalui internet yang ditawarkan sekolahsekolah di negara-negara maju kepada murid-murid di negara berkembang). Salah satu fenomena menarik yang terjadi akhir-akhir ini adalah apa yang disebut e-tutoring. perusahaan-perusahaan atau produk-produk tertentu tidak lagi dapat diasosiasikan dengan suatu negara karena baik kepemilikan atau proses pembuatannya tidak lagi terbatas pada pihak-pihak dari satu negara. Orang-orang di desa. jasa. berbelanja. (iii) merebaknya tata-nilai ‘universal’. Demikian pula dengan timbulnya komunitas-komunitas maya (virtual) yang terbentuk melalui media internet dan tidak mengenal batas-batas geografis. Sebaliknya. Apapun definisinya. jasa dan manusia dari satu tempat ke tempat lain. mungkin saja memperoleh informasi tentang pasar global komoditasnya bahkan secara real-time melalui internet. Ekonomi. dan (v) de-teritorialisasi. Lebih lanjut lagi. Walaupun Scholte lebih cenderung menggunakan pemahaman yang terakhir (deteritorialisasi) sebagai penjelasan globalisasi. dan Kependudukan 159 Dengan pemahaman semacam ini. perluasan pasar yang semakin mengglobal mengakibatkan timbulnya perusahaan-perusahaan berskala besar yang mampu mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk penelitian dan pengembangan produknya. dikombinasikan dengan perkembangan pasar yang juga semakin kompetitif menyebabkan percepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (misalnya pada perangkat lunak . Berbagai ilustrasi di atas menggambarkan karakteristik kesaling-terkaitan (interconnectedness) dari globalisasi. misalnya. yaitu: (i) meningkatnya interaksi global. Akses ke informasi pun semakin terbuka bagi semakin banyak orang. banyak murid-murid di Amerika Serikat mengambil semacam les dari guru-guru sekolah di India yang bisa menawarkan jasanya jauh lebih murah daripada guru-guru di Amerika Serikat (Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk lain dari fenomena e-subcontracting. baik dalam bekerja. informasi dan manusia.

Masyarakat yang memiliki modal sosial besar walau secara individu mungkin memiliki kapasitas terbatas bisa saja lebih maju dan berkembang daripada masyarakat yang secara individu memiliki kapasitas tinggi tetapi secara kesuluruhan memiliki modal sosial yang lemah. yang seringkali diterapkan hanya secara prosedural. proses yang sangat kompleks ini juga menyangkut dimensi sosial (misalnya dengan berubahnya struktur dan tingkat kerekatan komunitas di dalam masyarakat). Di sini aspek multi-kulturalisme menjadi atribut yang sangat kental bahkan menjadi ciri dari kota-kota global yang kosmopolitan. Dengan pengertian ini. Termasuk dalam hal ini adalah pengakuan terhadap eksistensi ekonomi informal perkotaan yang seringkali sulit dijelaskan dan didekati secara formal. Richard Norgaard (1994) melihat. waktu dan budaya sebagai faktor yang tidak hanya harus dipertimbangkan tetapi justru harus dominan. televisi dan lain-lain). jauh dari kultur setempat. telepon genggam. politik-kelembagaan (misalnya dengan semakin diadopsinya sistem demokrasi ala Barat. yang kemudian mempengaruhi perilaku di berbagai bidang.Kampung Bugis. Ketiga adalah dari cara pandang universal.Kampung Bali. budaya (misalnya dengan kemunculan generasi MTV di kalangan generasi muda di belahan bumi mana pun dan merasa lebih memiliki kesamaan di antara mereka dibanding dengan generasi orang tua di negara yang sama). Malaysia dan lainnya). Globalisasi juga dipahami tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi saja. setidaknya terjadi lima pergeseran cara pandang. diskontinuitas dan bahkan chaos yang tak terjelaskan.160 Metropolitan di Indonesia maupun keras bagi komputer. yang melihat prinsip-prinsip universal sebagai sesuatu yang tak terbantahkan. di berbagai belahan dunia). .pernah memiliki sudut-sudut kota yang dihuni oleh migran dari berbagai tempat di Nuantara secara berkelompok-kelompok (Kampung Ambon.Kampung Jawa. ke cara pandang yang lebih mengakui kemungkinan terjadinya ketidakpastian. di dunia ini. Kedua adalah pergeseran dari cara pandang yang mekanistik (Newtownian) yang menganggap suatu sistem selalu mempunyai ekuilibrium.dan lain-lain). Jadi keterkaitan antara globalisasi dan perkembangan teknologi adalah hubungan yang bersifat timbal balik dan saling mendorong. bisa lebih besar/kuat atau lebih kecil/lemah tergantung bagaimana berhubungan antar-bagian yang ada). dan juga spatial atau tata-ruang (termasuk di dalamnya proses migrasi yang semakin meningkat sehingga menyebabkan tumbuh dan semakin beragamnya “urban ethnic space” atau bagian-bagian kota yang dihuni oleh berbagai suku-bangsa secara mengelompok26) (Habitat. Pergeseran dalam hal ini tidak bisa 26 “Urban ethnic space” sebagaimana yang dikemukakan dalam Habitat 2004 sebenarnya juga sudah terjadi sejak adanya proses migrasi besar-besaran selama berabad-abad. Soegijoko. 2005). lingkungan hidup (misalnya polusi antar-bangsa dalam bentuk asap dari kebakaran hutan di Indonesia yang diderita warga di Singapura. Kota-kota besar di Nusantara seperti Jakarta misalnya. Pertama adalah pergeseran dari cara pandang yang bersifat atomistic (dengan mana keseluruhan sistem dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya) ke cara pandang holistic (dengan mana keseluruhan sistem tidak selalu dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya. Globalisasi pun dipengaruhi oleh perubahan atau pergeseran cara pandang atau cara berpikir. New York atau Paris. Demikian halnya dengan kota-kota dunia (global cities) seperti London. konsep modal sosial menjadi lebih mudah dipahami. 2004. ke cara pandang “kontekstualistik” yang mengakui konteks lokal.

Memang ada hal-hal yang lebih baik diserahkan kepada pihakpihak yang dapat bekerja lebih efisien. Oleh karenanya. Di masa lalu. Maka timbul era yang menganggap sektor swasta lebih mampu menyediakan berbagai pelayanan maupun melaksanakan pembangunan. sehingga tidak hanya penyediaan air minum yang diswastakan tetapi bahkan terdapat kota-kota yang hampir sepenuhnya dibangun oleh swasta. Ada hal-hal yang dikenal sebagai “government failures” seperti ketidakefisienan. di dalam pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan publik sehari-hari pun telah terjadi pula pergeseran yang cukup berarti. Namun pada saat yang hampir bersamaan bisa saja terjadi pula penguasaan cara pandang (misalnya pandangan neo-klasik sebagai paradigma dominan ekonomi dunia) atau pemaksaan cara pandang tertentu oleh kekuasaan adidaya (misalnya dalam hal terorisme global).Sosial. terutama untuk mengurangi bias dari si pengambil keputusan. khususnya yang berkaitan dengan kegagalan pasar. kelembaman untuk berubah dan lain-lain. Kelima. pada umumnya pembangunan maupun pengelolaan publik sangat didominasi oleh pemerintah (dan seringkali pemerintah pusat). cepat dan sangat berorientasi pada hasil. Di era ini pemerintah diharapkan untuk berperan sebagai regulator saja. Terjadilah gelombang privatisasi di berbagai sektor sebagai bagian dari perubahan pola berpikir global. Kemudian disadari bahwa pemerintah tidak akan mampu mengerjakan semua hal. Pada tataran yang lebih praktis. Terkandung di dalam pergeseran paradigma yang kelima ini adalah multi-kulturalisme sebagai pengakuan bahwa dunia—khususnya kotakota besar—tidak hanya dihuni oleh manusia-manusia yang berbudaya sama. tuntutan akan partisipasi masyarakat menjadi lebih tinggi. Norgaard melihat adanya pergeseran dari cara pandang yang “monistik” yang hanya mengakui satu kebenaran atau penjelasan akan suatu fenomena ke cara pandang yang “pluralistik” yang mengakui kemungkinan adanya beberapa kebenaran atau penjelasan. swasta tidak akan pernah mampu menyediakan barang atau pelayanan yang sepenuhnya bersifat publik (public goods) yang bisa dinikmati oleh semua orang tanpa harus membayar. Keempat adalah pergeseran dari cara pandang (umumnya di dunia penelitian atau keilmuan) yang mengagung-agungkan “objektivitas positivisme” ke cara pandang yang mengakui kemungkinan adanya subyektivitas atau keberpihakan di dalam ilmu (yang bisa dianggap sebagai konstruksi sosial). Kini lebih banyak orang yang bisa (atau terpaksa) menerima perbedaan pendapat dibanding di masa lalu. dan Kependudukan 161 dikatakan tuntas karena masih banyak pelaku pembangunan dunia yang sangat percaya dengan nilai-nilai yang sifatnya universal dan berusaha mempromosikan hal tersebut namun di sisi lain juga cukup banyak pelaku pembangunan yang selalu menekankan pentingnya konteks lokal. Ekonomi. Pendekatan dalam penelitian maupun perencanaan yang diakui pun tidak lagi harus yang bersifat positivistik dan bebas-nilai tetapi mencakup pendekatan penelitian “participant-observation” dan pendekatan perencanaan melalui proses-proses komunikasi (“planning through communication”). Swasta pun cenderung tidak mau menyediakan barang atau pelayanan bagi kaum yang . Namum pendekatan yang berorientasi swasta seperti ini pun tidak lepas dari berbagai persoalan. kekakuan birokrasi.

masyarakat kehilangan kepercayaan Terjadi “kegagalan pasar”.7 Diagram Pergeseran Peran Pelaku dalam Pembangunan/ Pengelolaan Publik Perubahan-perubahan semacam di atas terjadi di mana-mana. regional. lokal. 27 . Salah satu implikasi dari situasi seperti ini adalah timbulnya berbagai ketegangan (tensions). tahap 1 Pemerintah dianggap paling mengetahui apa yang dikehendaki rakyat tahap2 Sistem pasar dianggap paling efisien dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tahap 3 Kemitraan yang setara dianggap sebagai cara terbaik swasta swasta swasta pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat Terjadi “kegagalan pemerintah”. pergeseran peran-peran dalam pembangunan ini. baik yang bersifat global. baik di negara maju maupun di negara berkembang—termasuk Indonesia—baik pada tingkatan negara. Swasta juga cenderung tidak mau melakukan investasi dengan modal yang sangat besar dengan pengembalian modal yang berjangka sangat panjang serta beresiko tinggi. komunitas maupun individu—tentunya dengan tahap dan skala maupun intensitas yang berbeda-beda. penurunan kualitas ruang publik ? GAMBAR 5 . Ketegangan sendiri sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan (embedded) dalam globalisasi. Maka pada tahap berikutnya.162 Metropolitan di Indonesia sangat miskin di mana marjin keuntungan dianggap sangat tipis atau bahkan tidak ada27.peran (atau tuntutan akan peran) masyarakat madani semakin meningkat untuk mengimbangi baik kegagalan pemerintah (government failures) maupun kegagalan pasar GAMBAR 5 . Di satu sisi globalisasi membuat batas-batas negara semakin menipis.7. namun di sisi lain juga terjadi pula gelombang desentralisasi atau lokalisasi di mana timbul tuntutan agar sebanyak mungkin keputusan publik dan pelaksanaannya di lakukan ditingkat lokal/komunitas Padahal Prahalad (2004) justru melihat potensi investasi di tengah-tengah masyarakat yang paling miskin sekalipun. regional maupun lokal dan bahkan pada tataran komunitas dan keluarga.

Pada intinya. selama akses kepada sumberdaya (termasuk teknologi dan informasi) masih belum merata—dan prospek untuk terjadi pemerataan belum terlihat jelas—maka distribusi manfaat dan biaya dari globalisasi masih akan selalu timpang28. banyak pengusaha-pengusaha kecil yang tidak terlindungi oleh pemerintah lokal terpaksa tergusur oleh toko-toko wholesale global seperti Walmart atau Carrefour. Bahkan tentangan terhadap lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan IMF sudah merupakan berita sehari-hari. Namun proses-proses ini terjadi tidak tanpa ongkos. Walmart atau Carrefour sering mendapat tentangan dari komunitas lokal yang tidak menghendaki bisnis-bisnis kecil dan khas tergusur oleh perusahaan global tersebut. Ekonomi. Timbul fenomena “globalization” yang penuh ketegangan atau tarik ulur antara kekuatan-kekuatan global dan kekuatan-kekuatan lokal. ketegangan atau bahkan konflik sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari globalisasi—dengan skala. intensitas dan kompleksitas konflik yang 28 Kenyataan ironis di era yang sangat berorientasi kepada teknologi informasi adalah angka yang menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen penduduk dunia belum pernah menggunakan sarana telepon (lihat misalnya Jakarta Post.Sosial. penyediaan rumah-rumah. Terdapat pihak-pihak yang harus turut menanggung biaya tetapi tidak menikmati manfaat dari proses yang sedang berlangsung. Ketegangan (tension) juga timbul manakala produk-produk import yang bisa masuk secara lebih mudah ternyata mematikan atau melemahkan usaha lokal/domestik yang menghasilkan produk-produk sejenis. baik melalui pemaksaan perubahan cara berpikir. kebijakan sosial-ekonomi dan lain-lain melalui persyaratan-persyaratan hutang yang seringkali dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang. “putra daerah” dianggap punya hak lebih dalam banyak hal daripada “pendatang”). Memang. yang seringkali harus dipikul oleh pihak-pihak yang tidak menikmati. Ketegangan juga timbul akibat dari semakin menguatnya proses privatisasi yang bahkan masuk ke ruang-ruang yang selama ini merupakan domain publik: taman-taman. Simbol-simbol globalisasi seperti McDonald. hal. 17). Demikian pula dengan bertumbangannya tingkat keswadayaan lokal dan meningkatnya ketergantungan pada faktor-faktor eksternal yang lebih jauh dapat dianggap mengancam keberlanjutan pembangunan di tingkat lokal. 2006. prasarana air minum. . ruang kota untuk bersosialisasi. Salah satu implikasi dari privatisasi adalah sulitnya dipenuhi kebutuhan kaum miskin karena pihak swasta tentunya lebih memberi perhatian kepada mereka yang mampu membeli layanan atau barang komoditasnya. Atas dasar pertimbangan inilah kemudian timbul gerakan anti-globalisasi yang kemudian berubah menjadi “globalisasi dari bawah” dan menuntut adanya keadilan global. Karena hal tersebut di ataslah globalisasi tidak selalu dianggap sebagai suatu yang positif. sehingga timbul penentangan-penentangan sebagaimana diilustrasikan di atas. Demikian pula bagi mereka yang ingin memajukan nilai-nilai seperti demokratisasi. maka proses globalisasi dianggap dapat menyebarkan tata-nilai yang dianggap baik tersebut. Bagi mereka yang memiliki akses kepada teknologi dan informasi serta sumberdaya finansial atau lainnya untuk berkompetisi maka globalisasi dapat dianggap sebagai menguntungkan (beneficial) secara ekonomi. jalan utama bahkan pembangunan seluruh kota. Kentucky Fried Chicken. Selanjutnya. September 21. dan Kependudukan 163 (atau bahkan primordialisme. Lembaga-lembaga global ini sering dilihat sebagai simbol neo-kolonialisme.

Namun dalam perkembangan paling akhir. 2006. Kota-kota besar umumnya juga menawarkan pasar—atau akses ke pasar—yang relatif lebih besar daripada yang ada pada kota-kota yang lebih kecil.164 Metropolitan di Indonesia lebih tinggi dibanding dengan apa yang terjadi di era pra-kontemporer. baik secara fisik maupun sosiokultural) yang baik dan tidak kalah dengan kota-kota besar. khususnya kawasan metropolitan. terutama karena keunggulan dalam ketersediaan sarana dan prasarana yang bersifat global (misalnya jaringan telekomunikasi global). sebagaimana dilaporkan dalam Newsweek July 3-10. Namun pergeseran seperti ini hanya terjadi pada secondary cities yang memiliki akses teknologi komunikasi informasi serta amenities (atribut untuk kenyamanan. Berbagai inovasi yang kemudian mendunia sering muncul dari kedua kawasan perkotaan tersebut maupun dari tempat-tempat lain yang sejenis. simpul dan penggerak berbagai perubahan yang kemudian menggelinding menjadi apa yang disebut globalisasi. Contoh yang sering dirujuk adalah kota San Francisco dengan Bay Area-nya (tempat Silicon Valley berada) yang merupakan tempat bagi Stanford University. Kota-kota. kota-kota besar juga cenderung memiliki pool yang lebih besar akan tenaga ahli dengan pendidikan atau keterampilan yang sesuai dengan kebutuhannya. maka terjadi proses pelebaran kesenjangan penerimaan manfaat globalisasi antara kota-kota besar dan kota-kota yang lebih kecil atau kawasan perdesaan. tempat berkumpulnya berbagai bisnis sejenis atau terkait yang dapat menciptakan apa yang agglomeration of economies (pengumpulan berbagai ekonomi terkait). University of California at Berkeley dan berbagai universitas lain. Lebih jauh lagi. Manuel Castells menekankan pentingnya suatu milleu of innovation atau suatu kumpulan komunitas manusia yang berorientasi ke inovasi bagi perusahaanperusahaan yang berorientasi teknologi informasi untuk dapat selalu memiliki keunggulan komparatif di era globalisasi ini (Castells 1986). Milleu of innovation semacam ini cenderung terbentuk di sekitar perguruan tinggi dengan lembaga-lembaga risetnya. kemacetan lalu-lintas yang semakin parah. dan umumnya perguruan tinggi tersebut berada di dekat kota besar. Pengusaha-pengusaha global cenderung memilih kota-kota besar sebagai pusat dan simpul operasinya. globalisasi dan urbanisasi merupakan dua konsep yang tidak terpisahkan. Dan karena seringkali kotakota besar atau metropolitan memiliki keunggulan infrastruktur dibanding kota-kota yang lebih kecil. Implikasi bagi Kota-kota Metropolitan Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Upaya mengantisipasi dan merespon pun perlu memasukkan pertimbangan adanya keteganganketegangan atau konflik ini. Sebaliknya pengaruh globalisasi paling cepat dan paling besar dirasakan di kota-kota (oleh masyarakat kota). atau Boston Metropolitan Area (tempat Route 128 berada) dengan Harvard University dan Massachussett Institute of Technology dan berbagai universitas terpandang lainnya. Dengan perkembangan . merupakan sumber. Demikian pula. telah terjadi pergeseran pilihan lokasi investasi (khususnya di sektor jasa dan industri informasi-telekomunikasi) dengan adanya kecenderungan untuk memilih kota-kota kedua (secondary cities) yang dianggap lebih nyaman ditinggali daripada kota-kota metropolitan yang ditandai dengan harga properti yang semakin mahal. polusi yang semakin menyesakkan serta kriminalitas yang semakin mengkhawatirkan.

terdapat kota-kota global tingkatan pertama seperti New York. London dan Tokyo. misalnya.Sosial. [2] Pengaruh globalisasi pada hubungan yang juga dinamis (selalu berubah) antara kota-kota utama atau metropolitan dan kota-kota sekunder di sekitarnya. Di banyak kota-kota besar dunia. dan Kependudukan 165 terakhir seperti ini. baik yang berskala kota-baru atau kota satelit maupun yang hanya berupa warung-warung telekomunikasi di kawasan-kawasan permukiman pinggiran. sisanya mereka dapat berkantor di kantor-kantor cabang di pinggiran kota atau di fasilitas semacam warung telekomunikasi di dekat mereka tinggal. Walau di tingkat teratas sistem perkotaan global mungkin tidak banyak terjadi perubahan (ketiga kota yang disebut di atas masih belum tergoyahkan oleh kotakota lainnya). Ekonomi. Kecenderungan yang terjadi di banyak kawasan metropolitan di dunia—khususnya di negara-negara maju—adalah terbentuknya apa yang sering disebut sebagai decentralized concentration atau konsentrasi yang terdesentralisasi. Secara terstruktur. namun perkembangan teknologi-informasi telah sedikit-banyak mengurangi ketergantungan untuk aktifitas tatap-muka sehingga timbul pusat-pusat baru di pinggiran kota. Globalisasi pun dapat mempengaruhi struktur tata ruang internal kawasan metropolitan. Toh mereka tetap bisa mengerjakan banyak hal. Tersirat di sini adalah adanya kompetisi antar-kota untuk menjadi semacam “pusat” atau “hub” (simpul) kegiatan ekonomi dari suatu region—kalau bukan dunia—sebagaimana yang terlihat pada persaingan yang cukup ketat antara Singapura dan Bangkok dalam upaya mereka menjadi hub bagi lalu-lintas udara di Asia Tenggara. Walaupun pola aktifitas ekonomi yang berpusat pada kawasan pusat kota masih tetap mendominasi kegiatan sehari-hari di berbagai kota metropolitan di dunia (sehingga menimbulkan arus penglaju yang sangat besar dari pinggiran kota ke pusat kota di pagi hari dan sebaliknya di sore hari). yang seringkali tumbuh tidak teratur. menurut Sassen (1994). perusahaan-perusahaan tertentu membolehkan karyawannya untuk datang ke kantor pusat hanya dua atau tiga hari seminggu. namun pada tingkatan-tingkatan di bawahnya susunan kota-kota lebih mudah berubah. atau bahkan dari rumah mereka masing-masing. kawasan perkotaan menyambung menjadi satu (walaupun mungkin saja masih terdapat kawasan berkarakter perdesaan di dalamnya). khususnya kota metropolitan dapat dilihat sebagai memiliki tiga tataran atau aras: [1] Pengaruh globalisasi pada sistem perkotaan global. Hal seperti ini tentunya dapat mengurangi biaya transportasi dan jumlah penglaju harian di kawasan kota metropolitan sekaligus mempengaruhi tata-ruang yang ada. kota-kota metropolitan pun bersaing dengan kota-kota yang lebih kecil dalam upaya mendatangkan investasi yang lebih memiliki nilai tambah relatif lebih besar yang ada pada sektor-sektor yang terkait dengan teknologi-telekomunikasiinformasi (dibanding pada sektor-sektor manufaktur konvesional yang sering lebih mengandalkan tenaga buruh murah sebagai basis pilihan lokasi). Sementara di kota-kota besar di negara berkembang yang berpenduduk besar tetapi memiliki keterbatasan infrastruktur seperti Indonesia yang umumnya terjadi justru suatu mega urban sprawl. Kalau di masa lalu kota-kota sekunder sering dilihat hanya sebagai pendukung bagi kota-kota . pengaruh globalisasi terhadap kota-kota. termasuk berkomunikasi dengan mitra usaha di mancanegara dari rumah atau kantor di pinggiran atau warung telekomunikasi terdekat. serta tingkatan-tingkatan di bawahnya yang menunjukkan besarnya/luasnya cakupan pengaruh kota-kota tersebut—khususnya di bidang ekonomi-finansial—baik di tingkat global maupun regional.

dll. tetapi banyak pula yang memindahkan kantor pusatnya ke kota lain yang lebih strategis. Pasar bebas diagung-agungkan. Perkembangan ke depan akan sangat tergantung pada perkembangan teknologi telekomunikasi-informasi dan pola aktifitas sosial-ekonomi. pendidikan dan kesehatan—yang di masa lalu lebih banyak diasosiasikan sebagai pelayanan publik. Sebagai contoh. atau setidaknya sebagai kota-kota pinggiran (edge cities). budaya dan geografis yang ada serta seberapa jauh pemerintah dan warga kota metropolitan tersebut mampu mempertahankan ciri-ciri khasnya.17 Pengaruh Globalisasi Pada Umumnya dan Terhadap Tata Ruang Kota Dimensi Dimensi EkonomiFinansial Pengaruh Umum Paradigma neo-klasik sebagai paradigma tunggal/dominan.17 berikut: TABEL 5 . Tumbuh dan tersebarnya perusahaan global seperti McDonald. pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan dapat disusun ke dalam suatu matriks atau kerangka analisis sebagai ditunjukan dalam tabel TABEL 5 . [3] Pengaruh globalisasi pada tata-ruang internal suatu kawasan metropolitan. maka dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan informasi banyak kota-kota sekunder yang kemudian berkembang menjadi kota-kota yang lebih mandiri (self-sustained) dan mempunyai aktifitas-aktifitas yang berhubungan langsung ke bagian dunia yang lain tanpa harus tergantung pada atau melalui kota metropolitan terdekat. Dari sudut berbagai dimensi yang ada. banyak kotakota di negara maju yang harus berjuang untuk “mengisi kekosongan sosial-ekonomi” yang diakibatkan oleh perginya tempat-tempat usaha (dan sumber-sumber pekerjaan) tersebut. Konflik keruangan antara tekanan . yang mendesak atau mematikan usaha-usaha lokal yang Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) Privatisasi ruang-ruang publik serta berbagai pelayanan umum— seperti penyediaan air. ekonomi. ada yang berhasil mendapatkan basis ekonomi baru namun banyak juga yang masih struggling hingga kini. Walmart. dengan banyaknya industri manufaktur yang pindah dari negara-negara dengan biaya buruh tinggi (umumnya di negara maju) ke negara-negara dengan biaya buruh rendah (umumnya di negara berkembang)— seringkali masih menyisakan kantor pusatnya di kota asal. terdapat pula kecenderungan pelaku dunia usaha global justru untuk memilih kota-kota sekunder yang memiliki amenities yang baik namun terbebas dari kemacetan dan polusi kota-kota metropolitan. Dalam hal ini. pengelolaan sampah. Namun pergeseran semacam ini tidak bisa dibilang permanen. karena seiring dengan kemajuan ekonomi negara berkembang tersebut.166 Metropolitan di Indonesia metropolitan. politik. Sebagaimana yang diuraikan di atas. Akibatnya. hambatan dan tarif perdagangan dikurangi. Carrefour. khususnya dalam penyediaan hunian yang murah dan nyaman. Sementara kota-kota di negara berkembang pun tidak luput dari ancaman yang sama dari apa yang disebut footloose industries tersebut. sangat tergantung kepada seberapa jauh kota metropolitan tersebut terbuka (exposed) terhadap globalisasi serta faktor-faktor sosial. maka ongkos buruh akan semakin meningkat dan selalu ada saja negara atau kota lain yang dapat menawarkan lingkungan usaha dengan ongkos yang lebih murah. yang terjadi di suatu kota metropolitan tidak sama dengan yang terjadi di kawasan metroplitan lain. Namun secara umum terdapat pola perubahan tata-ruang yang sangat dipengaruhi oleh berubahnya sistem ekonomi-bisnis dunia.

diambil alih oleh peran pemerintah kota. Di sisi lain terdapat pula pengakuan (secara parsial) terhadap aktifitas ekonomi perkotaan informal. Peran negara dalam pengelolaan kota semakin berkurang. Tumbuhnya multikulturalisme. sama setiap hari kerja). tapi juga disertai dengan konflik antar budaya. dan Kependudukan 167 Dimensi Pengaruh Umum kecil. tetapi juga terjadi di kota-kota negara maju). dll.Sosial. Arus aliran modal. Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) ekonomi global dan keinginan untuk mempertahankan usahausaha yang bersifat lokal. Ekonomi.) maupun yang bersifat negatif (hilangnya atau berkurangnya ke-khasan lokal) Arus migrasi yang semakin pesat dan semakin menglobal (semakin banyak orang yang tidak hanya berpindah dari desa ke kota tapi juga dari suatu negara ke negara lain). Banyak pula perusahaan-perusahaan global yang bersifat footloose atau mudah berpindah tempat usaha (biasanya meninggalkan mitra lokal begitu saja). barang dan jasa (serta manusia) yang semakin deras meningkat Kesenjangan ekonomi cenderung melebar (lebih terasa di kota-kota negara berkembang. termasuk akomodasi spasialnya. Salah satu akibatnya adalah pola commuting menjadi tidak sejelas pada tatanan yang konvensional (pagi berangkat sore pulang. Berkembangnya kegiatankegiatan usaha di tempat-tempat tinggal (banyak yang bekerja dari rumah) atau di “warung telekomunikasi” terdekat. Tumbuhnya ruang-ruang kota yang terkait dengan etnik atau bangsa-bangsa tertentu dalam satu kota metropolitan (sesuai dengan negara atau tempat asal-usul dari para migran kota tersebut). tergantung pengaturan mana yang paling menguntungkan). Pembagian kerja yang bersifat global (komponen-komponen bisa dibuat terpisah. Dimensi PolitikKelembagaan Peran atau pengaruh negara semakin berkurang seiring dengan menguatnya peran dan pengaruh lembaga-lembaga multi-lateral dan MNCs. demokratis.baik yang bersifat positif (saling memahami perbedaan. masyarakat kota dan swasta (termasuk swasta yang bersifat . Kontras yang semakin lebar antara kawasan bagi orang-orang yang berpenghasilan menengah/tinggi (punya akses ke jaringan global) dan kawasan bagi mereka yang tidak punya akses ke jaringan global atau yang terdesak oleh globalisasi ekonomi. Dimensi SosialBudaya Demografis Tumbuhnya budaya-budaya dan nilai-nilai sosial yang bersifat mendunia (diakui dan diadopsi di berbagai tempat di dunia). Wajah kota “moderen” yang hampir sama di mana-mana (termasuk dalam wujud shopping mall atau pusat belanja yang tidak berbeda secara signifikan antara mall di Jakarta atau mal di Bangkok atau di Buenos Aires).

atau bahkan Jalan Jaksa). Dimensi Lingkungan (Ekologis) Dampak lingkungan suatu kegiatan yang bisa bersifat antar-negara seperti dalam pembuangan sampah baik yang bersifat berbahaya maupun yang tidak (umumnya dari negara lebih maju ke negara berkembang—seringkali tidak terbatas pada yang bertetangga). tetapi lebih berdasarkan kesamaan profesi. . maka tingkat keterbukaan (exposure) dan saling pengaruh-mempengaruhi antara kota dan globalisasi pun sangat berbeda. Tuntutan akan perhatian pemerintah kota kepada aspekaspek lingkungan dalam tata ruang kota seperti jumlah ruang hijau. Medan. Tuntutan akan kerjasama antarkota (tidak terbatas pada kotakota yang berada dalam suatu region) semakin meningkat. Thamrin-Sudirman-Kuningan. peran pemerintah dan masyarakat daerah/kota semakin besar. namun pada saat yang bersamaan. Secara umum “ecological footprints” (tapak ekologis) yang semakin meluas dan bahkan mengglobal. Bandung. Bahkan di dalam kawasan Jabodetabek pun. pendidikan yang umumnya belum merata di masyarakat juga menyebabkan proses demokratisasi yang lebih “prosedural” daripada substantif. Implikasi dan Tantangan bagi Kota-kota Metropolitan di Indonesia Di Indonesia. kawasan Kemang. Pemerintah kota tidak lagi dapat dengan mudah mengurangi ruang hijau tanpa mendapat resistensi dari masyarakat. Berkembangnya kesadaran akan pentingnya lingkungan alam (termasuk taman-taman dan kehijauan) dalam mendukung keberlanjutan lingkungan binaan. Peran partisipasi masyarakat yang semakin penting (atau tuntutan akan partisipasi yang semakin besar). Tuntutan akan pengelolaan kota yang demokratik dan terbentuknya wujud kota yang berkeadilan (pada saat yang bersamaan dengan semakin melebarnya kesenjangan sosialekonomi). kebun kota dan lain-lain.168 Metropolitan di Indonesia Dimensi Pengaruh Umum Namun pada saat yang sama juga terjadi desentralisasi. Semarang. Tumbuhnya kerekatan komunitas yang tidak sepenuhnya berdasarkan kesamaan tempat. karena tingkat ketersediaan infrastruktur yang terkait dengan berbagai aspek globalisasi di atas sangat timpang antara kawasan metropolitan Jabodetabek dengan kawasan-kawasan metropolitan lainnya (Surabaya. Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) global). Investor global pun turut memperhatikan kualitas lingkungan kota yang ada (terutama dalam kaitannya dengan kompetisi antar-kota yang sejenis). tingkat keterbukaan terhadap globalisasi tidak merata—ada bagian-bagian kawasan yang sangat mencerminkan kota global (misalnya di Jakarta. masing-masing dengan kota dan kabupaten di sekitarnya) dan apalagi dengan sekian banyak kota-kota kecil yang ada. hobby atau lainnya.

apa yang dialami oleh Jakarta dan sekitarnya tidak sama dengan apa yang dialami oleh kota-kota metropolitan lainnya. Dengan tingkat exposure yang masih sangat terbatas tersebut. Bandung dan Medan. namun terkonsentrasi pada satu sektor utama yaitu pariwisata. Kawasan industri yang menampung berbagai industri yang bersifat internasional—kalau belum bisa dikatakan global—pun lebih banyak berada di sekitar Jakarta daripada di sekitar kota-kota metropolitan lain di Indonesia. Sehingga boleh dikatakan bahwa globalisasi belum mempengaruhi. politik-kelembagaan (tempat lembaga-lembaga internasional dengan salah satu perkecualian Sekretariat ASEAN yang berada di Jakarta). Sementara itu. Kawasan perkotaan Denpasar-Kuta-Nusa Dua di Bali dan kota Yogyakarta mungkin secara nyata juga memiliki exposure internasional yang sangat besar. Hong Kong dan Shanghai maupun Mumbai (khususnya untuk Asia Selatan). yaitu Surabaya. Fenomena global di mana kota-kota sekunder (bukan metropolitan) mulai bersinggungan dengan globalisasi belum cukup terasa di Indonesia. terutama karena ketersediaan infrastruktur yang masih sangat terbatas. jauh melampaui kotakota dengan pengaruh besar berikutnya. 30 Sebenarnya Balipun merupakan bagian Indonesia yang sangat terimbas dan bersinggungan langsung dengan globalisasi (dalam arti “internasionalisasi” maupun lainnya). pendidikan maupun sebagai hub lalu-lintas udara dan laut. Hampir seluruh pusat perwakilan badan usaha internasional (perusahaan multinasional. Ekonomi. pada tataran nasional Jakarta masih merupakan kawasan perkotaan yang paling berpengaruh. di tingkat global atau bahkan regional peran Jakarta masih sangat terbatas. Bagi Indonesia.) di Indonesia berlokasi di Jakarta. namun sangat spesifik berkaitan dengan satu sektor ekonomi-budaya yaitu pariwisata. perwakilan kamar dagang asing dll.Sosial. sebagaimana yang sudah ditulis di atas. masih terbatas pada tumbuhnya—secara sporadis—kawasan29 Dapat pula kita cermati bahwa di beberapa perkampungan kumuh pun terdapat berbagai aktivitas yang memiliki “nuansa globalisasi” seperti produksi kerajinan dari fiberglass di kawasan Prumpung yang sudah menjual produksi hingga ke Malaysia dan Timur Tengah. demikian pula untuk aspek-aspek non-ekonomi seperti pusat kebudayaan asing. Apalagi kalau diangkat ke tingkat Asia di mana terdapat Tokyo. perpustakaan asing dan lain-lain. Kota-kota metropolitan Indonesia lain tentunya punya peran dan ketersinggungan dengan globalisasi yang jauh lebih kecil daripada Jakarta. apalagi mengubah. bandar udara Soekarno-Hatta pun merupakan bandara yang paling banyak melayani penerbangan internasional. dapat dikatakan bahwa globalisasi juga belum secara signifikan mempengaruhi tata ruang perkotaan metropolitan di Indonesia. Ketika membicarakan pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan di Indonesia. Ketimpangan tersebut membuat generalisasi menjadi sesuatu hal yang sulit. Jakarta bisa dikatakan masih kalah dari Singapura dan Bangkok sebagai pusat aktifitas internasional—baik yang bersifat ekonomi-finansial. bank internasional. Jakarta—beserta wilayah di sekitarnya—dapat dikatakan merupakan kawasan metropolitan yang paling mendalam dan langsung bersinggungan (exposed) oleh globalisasi30. Di Asia Tenggara saja. budaya. Namun demikian. dan Kependudukan 169 namun masih banyak pula bagian-bagian kawasan yang seolah-olah tidak atau sangat sedikit tersentuh oleh globalisasi (misalnya di beberapa perkampungan-perkampungan kumuh)29. dan dalam taraf tertentu pendidikan (khusus untuk Yogyakarta). . sistem kota-kota yang ada di Indonesia.

8 Kawasan “Segitiga Emas” di Jakarta . Sudut pandang bernuansa “universalisasi” dan “modernisasi” pun sudah banyak merasuk ke dalam pola berpikir masyarakat kota. Proses pergeseran peran dari situasi pemerintah mendominasi ke situasi swasta mengambil peran cukup signifikan dalam pembangunan hingga situasi di mana tuntutan akan peran masyarakat yang semakin besar pun terjadi di kota-kota di Indonesia. Dalam konteks “liberalisasi” misalnya. Berbagai merek internasional mewarnai pusat-pusat perdagangan baik di Jakarta maupun di kota-kota besar lain. Hal di atas dapat disimpulkan kalau kita hanya melihat globalisasi dari sudut pandang “internasionalisasi” saja. baik di pejabat pemerintah maupun pelaku swasta. mungkin kita bisa mendapatkan gambaran yang agak berbeda. GAMBAR 5 . Implikasi peran besar swasta dalam tata ruang kota dapat dilihat dari banyaknya bagian-bagian kota yang mengalami proses “urban renewal” seperti misalnya kawasan Segitiga Emas (Sudirman-Kuningan-Gatot Subroto) yang kemudian diikuti oleh proses jentrifikasi masyarakat berpenghasilan rendah ke daerah-daerah pinggiran (GAMBAR 5 . Seringkali jenis usaha dan sistem kerjasamanya memudahkan pemilik jaringan usaha internasional untuk memindahkan usahanya kemanapun mereka ingin lakukan (umumnya bargaining position pihak Indonesia—atau tuan rumah di mana pun di negara berkembang lainnya—dalam hal ini relatif rendah). Di kota-kota metropolitan lain pun terdapat kawasan hunian cukup luas—kalau belum bisa disebut kota—yang hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta. Lippo Karawaci. Privatisasi pun telah berjalan cukup lama. Wholesale retailers seperti Carrefour pun memiliki cukup banyak outlets di Jakarta. Kota Wisata dan lain-lain hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta.170 Metropolitan di Indonesia kawasan industri yang melayani unit-unit usaha internasional atau melakukan subkontrak dari jaringan usaha internasional. Dari sudut pandang lain. Bukit Sentul. Hanoi hingga tulisan ini dibuat masih belum mengijinkan adanya gerai-gerai internasional semacam itu).8). Kita dapat menemui gerai-gerai internasional seperti McDonalds atau KFC tidak hanya di Jakarta tetapi bahkan hingga di kota-kota sekunder (sebagai perbandingan. secara keseluruhan Indonesia sebenarnya sudah sangat terbuka. Bintaro Jaya. Bahkan sejumlah kota baru seperti Bumi Serpong Damai.

Penutup Secara umum dapat disimpulkan bahwa kota-kota metropolitan di Indonesia sebenarnya sudah mulai bersinggungan dengan globalisasi dengan derajat yang berbeda-beda. apalagi jika dikaitkan dengan keinginan untuk memajukan sektor pertanian—kota-kota sekunder tersebut dapat menjadi pusat koleksi dan distribusi komoditas pertanian (konsep agropolitan)—namun tidak harus terbatas pada konsep itu. Di dalam suatu kawasan metropolitanpun—termasuk Jakarta— ketimpangan globalisasi sangat besar. Namun kecuali kawasan metropolitan Jakarta. Ada bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sudah sangat ter-exposed oleh globalisasi. termasuk implikasinya dalam tata-ruang. persinggungan dengan globalisasi masih sangat terbatas. animasi. Seringkali. Jika Indonesia tidak mau ketinggalan di era globalisasi yang semakin kompetitif. Ada yang sudah membuka wawasannya dengan cara-pandang yang “baru” seperti yang bersifat holistik. namun ada pula bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sama sekali belum “tersentuh” oleh globalisasi. konsentrasi pembangunan yang terlalu terpusat di Jakarta harus dikurangi. tata ruang kawasan metropolitan pun harus mampu mengikuti dinamika globalisasi tanpa harus mengabaikan kepentingan konteks dan kekhasan lokal. terhadap berbagai persoalan. Persebaran pusat-pusat kegiatan pun menjadi sangat penting. gambar rancang-bangun dan lain-lain yang didapat dari perusahaan-perusahaan besar di negara maju untuk proyek-proyek yang mungkin di negara lainnya. mereka yang tidak turut mendapat manfaat dari globalisasi harus turut menanggung biaya atau beban yang ditimbulkan oleh globalisasi. khususnya di Jakarta. lebih khusus lagi pada segmen-segmen masyarakat yang memiliki akses ke jaringan global secara mudah. dan Kependudukan 171 Atribut “de-teritorialisasi” dari globalisasi pun dalam skala yang relatif kecil dan terpisah-pisah telah terjadi di kota-kota besar Indonesia. kontekstual dan pluralistik. Ekonomi.Sosial. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah bagaimana mengambil manfaat sebesar mungkin dan secara merata dari proses-proses globalisasi dan mengurangi sejauh mungkin dampak negatifnya. Kawasan-kawasan metropolitan lainnya harus mendapat dukungan infrastruktur secara lebih memadai sehingga tidak terlalu ketinggalan dan dapat turut berkompetisi di tingkat internasional. Newtonian. Secara internal. cara pandang. dan sebagian dari kelompok ini mampu memanfaatkan exposure ini secara baik. Peran kota-kota sekunder pun tidak dapat diabaikan. tanpa mengurangi kecenderungan pasar untuk membentuk apa yang disebut agglomeration of economies. Ada saja—walaupun mungkin belum tersebar luas—kegiatan-kegiatan yang mencerminkan ketiadaan batas-batas negara atau kota seperti terlihat pada kegiatan-kegiatan sub-kontrak pembuatan software. Sebagaimana yang terjadi di banyak negara berkembang lain. positivistik dan monistik. . sementara tidak sedikit yang masih berfikir dengan cara-pandang yang atomistik. kota-kota besar di Indonesia juga mencerminkan kontras yang sangat tajam. Hal ini tentunya mengakibatkan berbagai ketegangan yang semakin terasa dengan semakin besar dan terbukanya suatu kota. Demikian pula dengan cara berfikir.

department stores. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa kota – kota yang sudah termasuk kategori metropolitan di tanah air kita (Jakarta. Kota merupakan produk sosio-kultural. Dimensi sosio-kultural di hampir seluruh kota metropolitan di segenap pelosok tanah air nyaris terabaikan. disilusi politik. kota – kota metropolitan di tanah air kita yang sedang berkembang ini merupakan kota – kota yang bersifat dualistik. Ditilik dari sisi positifnya. David Graham Shane mengutip pendapat Louis Wirth bahwa “A city is a relatively large. Semarang. seperti pernyataan Kofi Annan selaku Sekjen PBB yang dikutip oleh Girarde (2004: 86) “Cities can also be places of exploitation. ketidakadilan dan keterasingan sosio-budaya atau socio-cultural alienation (baca tulisan Badshah & Parlman berjudul “Mega-cities and The Urban Future” dalam buku suntingan Bridge & Watson “The Blackwell City Reader” 2004: 549). dan pergulatan kepentingan ekonomi. apalah artinya kota tanpa penduduknya? Kota dan warga dapat diibaratkan seperti cangkang dengan kerangnya yang tumbuh kembang bersamasama. class and ethnicity. Saat ini kita sudah memasuki era perkotaan abad ke-21 atau milenium ketiga. tata ruang. Sektor formal dan sektor informal berkembang terus. Medan. tidak nyaman. perilaku dan gaya hidup manusia yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Hampir seluruh metropolis atau mega-cities di dunia menghadapi masalah infrastruktur. namun perumahan kampung juga masih terus bertahan. kemiskinan. malls. Dalam buku terbarunya berjudul “Recombinant Urbanism” (2005 : 19). flats atau rumah susun sudah mulai digalakkan pembangunannya. kendati tokoh – tokoh di puncak kekuasaan cenderung lebih mengakomodasi kepentingan sektor formal yang modern. warung. sebagian warganya sudah mulai berubah menjadi modern. Tidak heran bila sampai saat ini selalu saja terjadi kisah-kisah penggusuran atau pembongkaran permukiman kumuh dan kios-kios pedagang kaki lima.172 Metropolitan di Indonesia SOSIO-KULTURAL Sudah semenjak beberapa abad yang silam sastrawan Inggris Shakespeare menyatakan “What is a city but its people”. . city dekat sekali kaitannya dengan citizen. kota metropolitan merupakan mesin pertumbuhan dan inkubator peradaban. Namun. and extreme poverty”.” Semakin besar kotanya semakin kompleks penduduknya semakin rumit masalahnya dan semakin banyak konflik yang dihadapinya. Banyak yang tidak memahami betul bahwa berbeda dengan metropolitan di negara maju yang sudah affluent. Meminjam kata – kata Malcolm Miles et al dalam bukunya “The City Cultures Reader” (2000 : 2): “Cities are sites of constant flux. sejalan dengan perubahan situasi dan kondisi penduduknya. Fenomena dehumanisasi metropolitan di Indonesia merebak antara lain karena perhatian para pengelola dan aktor – aktor pembangunannya terlalu tercurah pada aspek fisik. pedagang kaki lima juga tidak berkurang. Apartemen. Makassar) cenderung semakin tidak manusiawi. and permanent settlement of socially heterogenous individuals”. their built form mediated by successive acts of destruction and creation … affected by social factors such as gender. unemployment. toko – toko kecil. tidak menyenangkan untuk kehidupan manusia yang berbudaya. di sisi lain sebagian besar warganya masih berperilaku tradisional. Surabaya. namun pasar tradisional. sebagai pusat persilangan ide dan wadah inovasi. super-malls marak di segenap penjuru kota. Pembangunan shopping centres. dense. disease violent crime. Ditilik dari segi etimologi pun. Di satu sisi.

dan hilang. perilaku. Memang. model – model penyeragaman. Ekonomi. ide. tak terkecuali di kota metropolitan. elitis. processual analysis of labour in relation to the state and the regulation of the variable incursions. Padahal bila diingat kembali bahwa kota merupakan karya seni sosial (a social work of art). . jati diri. 2003: xi) mengejawantah menjadi kenyataan: “We obliterate the distinctiveness of places and create new forms of metropolitan confusion”. jadi tidak Either-Or atau mementingkan salah satu pihak saja. atau Manhattanization. di masa depan akan menjadi miseropolitan atau kota yang menyengsarakan.Sosial. pendingin ruangan. jangan sampai kekhawatiran Daniel Solomon (Global City Blues. dan tidak pro-poor itu akan menjadikan metropolitan kita menjadi kota yang menyengsarakan warga kotanya. aneka pengaruh globalisasi akan sulit ditangkal sehingga seperti dikatakan Manuel Castells: “Globalization must be understood in relation to an historical. Kebijakan pembangunan kota metropolitan yang keliru. diduga akan terlanda arus McWorld. televisi. komputer. Keduanya mesti dirangkul dan dikembangkan bersama – sama. Rasa tempat atau sense of place yang tercipta dari keunikan budaya setempat mesti dipertahankan. kekhasan. Sedangkan Rem Koolhas sebagai arsitek dan perencana kota mengungkapkannya dengan frasa “globalizing modernism” dan ”cultural homogenization” yang secara sistematik menghancurkan pusaka budaya atau warisan budaya yang unik. Memang perkembangan teknologi abad 20 dan 21 seperti yang terwujud dalam bentuk mobil. Namun. Selain itu. Martin Heidegger sebagai seorang filsuf kelas dunia menyebutnya dengan istilah “cultural malaise” dan “loss of nearness”. dan upaya-upaya untuk memadukan kota-kota metropolitan dengan daerah di sekitarnya dalam wujud conurbation (lihat pembahasan mengenai kependudukan dan bagian 1 buku ini). kebencian. seperti Indonesia. or exclusions of the global networks”. dan bahkan teror. City of tomorrow pun jangan – jangan akan menjadi City of sorrow alias kota yang sarat dengan kesedihan. Itu pula sebabnya muncul tudingan bahwa kota metropolitan negara berkembang. dan lain-lain masih sulit diimplementasikan karena masih kentalnya sikap primordial dan sektoral dari para pimpinan daerah atau penentu kebijakan. seperti Jabodetabek. (Susser 2002: 11). yang mengakibatkan xenophobia. Gerbang Kertasusilo. dan artefak bersejarah yang amat kaya dan beragam di kota – kota metropolitan di tanah air kita bila tidak dijaga akan tergerus. tidak layak berada di kota metropolitan yang serba formal. Jangan sampai obsesi terhadap modernitas dan teknologi lantas melunturkan atau bahkan menghancurkan kearifan tradisional dan budaya lokal yang ikut mewarnai wajah metropolitan kita. Kota – kota metropolitan di era globalisasi yang tidak memperhatikan dimensi sosio-kultural dari warganya. gagasan. dan lain – lain tak akan bisa dihambat. apalagi yang bercitra Barat. pasti akan meluluhlantakkan identitas. Dari sebutannya. Pasti akan besar pengaruhnya terhadap pola habitat manusia. Kedungsepur. Pernik-pernik tata nilai. Itu pula sebabnya metropolis di Indonesia lantas diledek dan dipelesetkan menjadi metropolost alias kota ibu yang hilang. sektor informal mengandung konotasi tidak sah. jangan sampai punah atau lenyap. inclusions. luntur. atau karakter dari kota – kota metropolitan. norma. mestinya sikap yang diambil oleh penentu kebijakan pembangunan kota metropolitan adalah sikap Yin-Yang atau Both-And. psikosis. panik. McDonaldization. dan Kependudukan 173 Sebagai kota yang dualistik.

akan menjadikannya sebagai monster yang mengerikan. struktur dan kultur. demokratisasi. melepaskan diri dari telikungan regressive identity melalui pengembangan budaya demokrasi. Vicente Guallart dkk mengungkapkan tentang kota metropolitan masa depan di Eropa dan Amerika yang selalu saja menghadapi persaingan antara The Old dengan The New. ada baiknya kita merenungkan kaidah – kaidah pembangunan kota termasuk kota metropolitan yang antara lain dikemukakan oleh tokoh – tokoh garda depan gerakan New Urbanism yang berupaya menangkal kecenderungan social-cultural disintegration. Ke depan. dan lain-lain tak seyogianya terulang di masa depan sebagaimana disebutkan oleh Raffacle Poloscia dalam bukunya “The Contested Metropolis” (2004: 14). Pertama. dilandasi prinsip kota sebagai panggung kenangan. Mesti selalu ditanamkan di benak kepala bahwa kota tanpa bangunan kuno bersejarah serupa saja dengan manusia tanpa . pertempuran kepentingan antara The Rich melawan The Poor. tapi saya peras menjadi 10 saja sehingga bisa disebut sebagai ‘The Ten Commandments’ atau ‘Sepuluh Perintah Tuhan’ dalam pembangunan kota metropolitan abad ke-21 atau di era milenium ketiga yang berwajah manusia dan berkelanjutan. Dalam kiprah pembangunan kota – kota metropolitan di Indonesia seyogianya segenap pihak mengambil pelajaran dari kisah-sukses maupun kegagalan dari pembangunan kota – kota di negara maju. urban sprawl. and hopes”. Houston pun lantas memperoleh nick name ‘Ghost-town’. tarik-menarik antara city centre dengan urban agglomerations. akuntabilitas. Misalnya di kota Houston yang angka kriminalitasnya meningkat sehingga orang – orang kaya di Houston sampai ketakutan dan membuat jalur khusus di bawah tanah yang diberi nama Connexion yang menghubungkan kawasan pemukiman mewah dengan down-town. menjaga eksistensi pusaka budaya sebagai historical precedents. where all citizens potentially have the same opportunities”. yang telah disesali di negara maju. bahwa bagaimana pun juga “Metropolises are containers of dreams. Muncullah gagasan tentang Sociopolis yang disebutkannya sebagai “A truly integrative and hybrid version of the metropolis for the future … setting new standards by realizing a dream of social balance. pusat dan periferi merupakan dua muka dari keping uang yang sama. keadilan. Kita juga jangan mengulangi kesalahan serupa seperti yang terjadi di kota Chicago ketika bangunan kuno bersejarah dihancurkan untuk memberi tempat pada bangunan pencakar langit yang modern. keberlanjutan. Ketiga. dan placelessness. Aneka bencana perkotaan yang telah terjadi di masa silam akibat kurangnya perhatian terhadap isu-isu sosio-kultural. sampai muncul ledekan dengan nama paraban Sickago alias kota yang sakit. Kedua. Dalam buku terbarunya berjudul “Sociopolis: Project for a City for the Future” (2004:9). dengan prinsip change without loss mengakomodasi evolusi dan kesinambungan kehidupan warga metropolitan yang multikultur. desires. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. dan partisipasi segenap pemangku kepentingan sesuai tuntutan zaman. mengupayakan pusat – pusat pertumbuhan jamak (multiple centres atau polynuclei) untuk mencegah kecenderungan centremania agar terjadi penyebaran aktivitas pada berbagai pelosok kota metropolitan secara lebih merata dengan keunikan sendiri-sendiri sehingga tercipta mosaik perkotaan yang indah. memarjinalkan manusia dengan mengabaikan dimensi sosial-budayanya. Sebetulnya keseluruhannya ada 27 butir. Konservasi dan pembangunan. Keempat.174 Metropolitan di Indonesia Kota – kota metropolitan yang berkembang tak terkendali. transportasi. tanpa henti mencoba menciptakan progressive identity dari kota metropolitan.

Perkembangan kawasan perkotaan terutama akan terjadi di kotakota besar dan metropolitan. tidak dapat diharapkan tumbuh kembangnya secara berkelanjutan. menyediakan fasilitas sosial dan infrastruktur atau prasarana umum yang memadai untuk segenap lapisan warga metropolitan tanpa terkecuali. Kedelapan. Perkembangan kawasan perkotaan selalu diiringi arus transformasi. yaitu meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan meningkatnya kontribusi sektor-sektor industri manufaktur dan jasa. Perlu dicamkan bahwa taman adalah sorganya perkotaan. Tanpa rasa memiliki kota metropolitan. lebih dari di kawasan-kawasan non-urban. Kesepuluh. Selain itu. tidak tergantung pada pusat kota dan tidak sekadar sebagai bedroom community. bersantai. Ketujuh. inovatif. Kawasan perkotaan merupakan tempat berkembangnya kegiatan industri manufaktur dan jasa. Membongkar warisan budaya bukanlah dosa kecil. Kawasan perkotaan akan menjadi lebih penting karena lebih dari 80 persen pertumbuhan ekonomi global terjadi di kota-kota. mengupayakan interconnected networks of streets yang menghargai pedestrian dan memberikan rasa nyaman serta arah yang jelas. penyediaan affordable housing pada lokasi yang tepat untuk mencegah konsentrasi kemiskinan. yang akan meningkatkan nilai tambah perekonomian secara keseluruhan. Ekonomi. yang selanjutnya akan memicu pemanfaatan kawasan- . Perumahan jangan sekadar dilihat sebagai komoditas ekonomi. Keenam. kota-kota mempunyai produktivitas yang tinggi karena kepadatan penduduknya menciptakan lingkungan transaksi yang tinggi. Pada tahun 2060. KETERKAITAN DESA – KOTA Pendahuluan Kinerja kota-kota di abad 21 akan menjadi perhatian global karena pesatnya peningkatan penduduk perkotaan. dan biaya per kapita pembangunan infrastruktur lingkungan juga lebih rendah. Kawasan pinggiran mesti disiapkan dengan prinsip kemandirian agar bisa self sufficient. dan beraktivitas budaya sebagai cerminan masyarakat yang beradab. Perhatian pada public transport. Kesembilan. minimal 61persen penduduk dunia akan tinggal di kota-kota. pelibatan masyarakat dan segenap pemangku kepentingan dalam pembangunan untuk menciptakan kota metropolitan yang otentik dan rasa paguyuban (sense of community) yang kental. menata kawasan pinggiran secara dini untuk mencegah urban sprawl yang tidak terkendali. belanja. terutama mass rapid transit. Segenap agen pembangunan kota metropolitan dituntut untuk menyediakan fasilitas dan prasarana umum sesuai standar pelayanan minimum. memelihara taman dan ruang terbuka dalam berbagai level sebagai shared public spaces yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa aman. Melalui penerapan dan pengejawantahan sepuluh butir panduan pembangunan seperti tersebut di atas. lebih dari 80 persen penduduk dunia akan tinggal di kotakota (Cities Alliance 2006). diharapkan bahwa penduduk atau warga kota metropolitan di masa depan akan termotivasi untuk ikut aktif berkiprah secara kreatif.Sosial. dan Kependudukan 175 ingatan alias gila. Pada tahun 2030. Kota-kota juga menggunakan energi lebih rendah per unit output ekonomi. Kelima. dan bertanggung jawab atas keberlanjutan pembangunan kota metropolitan tempat mereka tinggal. Hal ini meningkatkan pendapatan rumah tangga. bekerja. melainkan lebih merupakan fenomena sosio-kultural sebagai instrumen pembangunan manusia. mesti lebih ditingkatkan.

mengakibatkan meningkatnya perkembangan kotakota ini. Tata guna lahan. baik yang berkarakteristik desa maupun kota. Tipologi ini dirumuskan berdasarkan karakteristik ke’kota’annya karena akan dapat menggambarkan isu atau masalah yang dihadapi. Kawasan pinggiran dikelompokkan dalam tiga tipologi untuk dapat mengembangkan program intervensi penanganan kawasan pinggiran. perusakan ruang-ruang terbuka hijau. Berdasarkan itu dapat diperkirakan program dan intervensi yang sesuai. Akibatnya. perekonomian. dan lapangan kerja dapat memicu pengangguran yang pada gilirannya memicu penduduk masuk ke kota inti.176 Metropolitan di Indonesia kawasan di sekitarnya. Perkembangan kawasan perkotaan juga terjadi di Indonesia. terutama di Jabodetabek. Secara lebih khusus di Indonesia akan berkonsentrasi di Jawa. keterbatasan akses ke kota inti membebani jaringan transportasi yang telah ada serta membebani fasilitasfasilitas. pertambahan penduduk perkotaan yang terjadi tidak tersebar secara merata. empang-empang. juga akan mengalami kondisi yang jauh dari ideal. Terjadilah penyatuan kawasan-kawasan terbangun tersebut. Pada gilirannya hal ini akan menambah beban kota inti. (b) kawasan semi urban. Program intervensi dan keterkaitan dengan kota inti dapat diturunkan berdasarkan ketiga tipologi tersebut. Kawasan pinggiran ini perlu mendapat perhatian karena di sana telah terjadi perkembangan yang campur aduk dan tidak terkendali. cenderung di kota-kota besar dan metropolitan. Antara lain karena tak tersedianya perumahan dan infrastruktur yang memadai. 31 Lihat uraian di Bab 5 . terjadi pemusatan di beberapa lokasi. Hilanglah lahan-lahan pertanian. Diperlukan program dan intervensi untuk menangani kawasan pinggiran kota. seperti pendidikan dan kesehatan. Guna lahan juga berubah – dari yang tadinya bersifat desa menjadi bersifat kota. permukiman berkepadatan rendah menjadi perumahan berkepadatan tinggi memenuhi kebutuhan kota inti dan untuk pembangunanpembangunan industri yang membutuhkan lokasi mendekati kota inti. Sebagaimana halnya di dunia. Belum lagi dampak pada lingkungan alamnya – polusi udara (karena transportasi). kawasan-kawasan perdesaan mengalami transformasi yang tidak terarah dan terkendali. sendiri. Tidak mengacu pada suatu rencana tata ruang yang disepakati. polusi air – tercemarnya air bersih oleh limbah cair permukiman. Meluasnya pemanfaatan ruang di sekitar kota-kota besar dan metropolitan akan mewujudkan keterhubungan dari kota inti dengan kawasan-kawasan baru dan kota-kota satelit di sekitarnya. Di kawasan pinggiran ini dapat diobservasi desa dan kota serta peranannya di kawasan metropolitan. yaitu dari yang bersifat desa menjadi bersifat kota. di Indonesia. meluap ke kawasan pinggirannya. perkebunan. dan sebagainya. Ketiga tipologi tersebut adalah: (a) kawasan pre dominantly urban. membebani jaringan transportasi dan membebani biaya hidup penghuni kawasan pinggiran. Kepadatan tinggi. keterbatasan infrastruktur lingkungan dasar. Kawasan yang baru terbentuk. dan terpisah-pisah. Ini semua terjadi secara acak. polusi sungai (karena pembuangan limbah dan sampah). (c) kawasan potential urban. pola hidup penduduknya. jumlah penduduk perkotaan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat31. Dalam beberapa dekade terakhir.

Sisanya tersebar merata di seluruh kota/kabupaten di sekitarnya (1. Lippo Cikarang. 1. kota-kota baru. Panjang jaringan jalan yang ada di wilayah Jabodetabek adalah 11. Ini semua akan membangkitkan pola pergerakan ulang alik ke kota inti (dalam hal ini DKI Jakarta) dan menggunakan jaringan transportasi yang ada. ditambah dengan Lido Lake Resort dan Jonggol. Cikarang Baru. Kawasan permukiman baru ini kebanyakan bukan merupakan kawasan permukiman skala besar. di Kabupaten Bogor ada lima wilayah baru. dibahas pola pengembangan kawasan-kawasan permukiman: pembangunan baru berskala besar. Kota Legenda. Selanjutnya. Di Tangerang. b. Pantai Indah Kapuk. dan Kependudukan 177 Kawasan Metropolitan Kawasan metropolitan adalah kawasan yang terdiri dari kota inti dengan kawasan di sekitarnya yang mempunyai keterkaitan erat dengan kota inti dan berfungsi menerima luapan kegiatan atau kebutuhan permukiman dan kegiatan dari kota inti. Selanjutnya. Pembangunan kota baru dimulai sekitar tahun 1989 dengan Kota Baru Mandiri BSD (Bumi Serpong Damai). permukiman baru yang tersebar. Kota Legenda (Bekasi 2000). Kota Cileungsi (2000 ha). Tiga Raksa. Tabel 4 memberikan luas kawasan-kawasan permukiman skala besar ini (> 500 ha). Sebagai tambahan dari analisis kependudukan yang telah dijelaskan di bagian depan bab ini. persebaran. Untuk menggambarkan karakteristik kawasan metropolitan ini akan digunakan kawasan metropolitan Jabodetabek sebagai contoh. Royal Sentul (2000 ha). serta pola perubahannya. Lippo Karawaci. Sampai paruh kedua dekade 1990-an (+ 1996) ratusan kawasan permukiman baru dibangun di wilayah Jabodetabek. atau kota-kota kecil lainnya. Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan infrastruktur biasanya merupakan permasalahan utama kawasan pinggiran.763 km di Kota/Kabupaten . Di Bekasi ada Lippo Cikarang (5000 ha). lebih dari 50 persen jaringan jalan berada di wilayah Provinsi DKI Jakarta.344 km. Lippo Karawaci. Kawasan sekitarnya ini dapat meliputi kawasan permukiman skala besar atau skala menengah. a. kota-kota baru. diikuti dengan Bintaro Jaya. seperti Citra Karya. Ekonomi. Kawasan Jabodetabek dilayani jaringan jalan dan jaringan kereta api. Kawasan ini sering disebut sebagai ”urban fringe”. Gading Serpong. selain Bumi Serpong Damai (6000 ha) dan Tiga Raksa (3000 ha). dan 152 di Kabupaten dan Kodya Tangerang (Uguy 2006). 1. Bintaro Jaya. seperti kota baru atau permukiman skala besar. yaitu 103 kawasan di DKI Jakarta. 107 di Kabupaten dan Kodya Bekasi. akan dibahas di sini mengenai guna lahan: dominasi. 130 di Kabupaten dan Kodya Bogor. dan Perumahan Modern. yaitu Rancamaya (550 ha).450 km di Kabupaten/Kota Bekasi. Baru mulai akhir tahun 1900-an mulai dibangun permukiman skala besar (> 500 ha) dan kota-kota baru oleh pengembang swasta. dan kota-kota kecil sekitarnya yang tumbuh dengan pesat.358 km di Kota/Kabupaten Tangerang. Alam Sutra. Struktur Ruang dan Pergerakan Penduduk Struktur ruang kawasan Jabodetabek dibentuk oleh jaringan jalan dan kereta api serta pusat-pusat permukiman. dan sebagainya. banyak perumahan lain. dan lain-lain.Sosial.

Bekasi Kab. Bogor Kab.000 2. Tangerang Kab. Tangerang Kab. Tangerang Kab. Bogor Kab.000 1.000 1.000 2.000 1.000 600 1. Bogor Kab. Tangerang Kab. Tangerang Kab. Bekasi Kab. Panjang jalan tol di DKI Jakarta juga mencapai lebih dari 50 km dari total panjang jalan tol (lihat TABEL 5 .100 750 3. Bekasi Kab & Kot. Bogor Kab. Bekasi Kab. Bekasi Kab.745 800 Lokasi Kab.700 1.178 Metropolitan di Indonesia Bogor.000 500 1. Tangerang DKI Jakarta .18 Kawasan Permukiman Skala Besar (>500 ha) di Jabotabek No.19). Bogor Kab.500 1. Bekasi Kab.000 2.500 780 1.679 500 3.145 3. Tangerang Kab.000 800 500 3. Bekasi Kab.400 500 850 2. Bogor Kab.000 500 1. Bekasi Kab. Bogor Kab. Bekasi Kab.321 770 8. Bogor Kab. Tangerang Kab. Bogor Kab. Bogor Kab.000 7. Bogor Kab. TABEL 5 . 1997 Luas (ha) 1. dan 245 km di Depok). Bekasi Kab. Bekasi Kab. Nama 1 Milik PT Pembangunan Delta Bekasi 2 Milik PT Lippo City Development 3 Milik PT Pura Delta Bekasi 4 Cikarang Baru 5 Bekasi Matra Real Estate 6 Milik PT Dwigunatama Rintisprima 7 Kota Legenda (Bekasi 2000) 8 Milik PT Sinar Bahana Mulia 9 Pantai Modern 10 Lippo Cikarang 11 Harapan Indah 12 Bukit Jonggol Asri 13 Citra Indah 14 Kota Taman Metropolitan 15 Kota Wisata 16 Bukit Sentul 17 Rancamaya 18 Resort Danau Lido 19 Taruma Resort 20 Talaga Kahuripan 21 Kota Tenjo 22 Milik PT Bangun Jaya Triperkasa 23 Maharani Citra Pertiwi 24 Milik PT Banyu Buana Adhi Lestari 25 Kotabaru Tigaraksa 26 Puri Jaya 27 Citra Raya 28 Lippo Karawaci 29 Gading Serpong 30 Alam Sutera 31 Bumi Serpong Damai 32 Bintaro Jaya 33 Kota Modern 34 Kota Wisata Teluk Naga 35 Kota Jaya 36 Pantai Indah Kapuk Sumber : Bappeda DKI Jakarta. Bogor Kab. Tangerang Kab. Tangerang Kab.500 700 6.000 800 30. Tangerang Kab. Bogor Kab.

0 11.9 % 58% 16% 13% 12% 2% 100% Km 113. Tangerang Kota Depok TOTAL Jumlah Penduduk 7.4 1. dan Kependudukan 179 TABEL 5 .548.174 n. Jaringan jalan dan jaringan kereta api saling melengkapi menghubungkan DKI Jakarta dengan pusat-pusat permukiman di sekitarnya.4 7.280.01 n.8 215.938 Perkapita (km/1000 penduduk) 0. Dari DKI Jakarta ada 3 jalur utama yaitu menghubungkan dengan Kabupaten/Kota Tangerang dengan Kabupaten/Kota Bogor dan Kabupaten/Kota Bekasi.810 4.357.0 23.4 7.1 1.01 0.20 Perkapita Jalan dan Jalan Tol Panjang Jalan Kota/Kabupaten DKI Jakarta Kota/Kab.9 memberikan gambaran persebaran jaringan jalan dan jalan tol.363.0 Jalan Tol Perkapita (km/1000 penduduk) 0.9 34. Ekonomi.3 n.2 36.9 34.605 3.7 1.610.2 36.0 52% 23.01 0.1 13% 3 Bekasi Kota/Kabupaten 4 1. .0 2% 6 TOTAL 11. Bekasi Kota/Kab.548.3 11% 16% 17% 4% 100% TABEL 5 .20).7 16% 2 Bogor Kota/Kabupaten 1.357.212.11 menunjukkan stasiun yang dilalui kereta api dengan jumlah penumpangnya per hari.349 4. Jaringan jalan kereta api dapat dilihat pada GAMBAR 5 .196.7 245.4 0. Bogor Kota/Kab.a 2.19 Panjang Jalan di Kawasan Jabodetabek Panjang Jalan Kota/Kabupaten Km % DKI Jakarta 6.363. Terpadat adalah jalur dari Jakarta Kota (di Utara) ke Bogor (Selatan) terutama jalur tengah. DKI Jakarta paling terlayani dengan baik dibandingkan kota/kabupaten lainnya. Perkapita (panjang jalan per jumlah penduduk) jalan dan jalan tol DKI Jakarta masih mendominasi (Lihat TABEL 5 .9 100% Sumber : SITRAMP II.093. Panjang jalan tol di DKI juga mencapai hampir 50 persen dari total panjang jalan tol di Jabodetabek.3 % 52% 11% 16% 17% 4% 100% GAMBAR 5 . 2006 No.762.762.Sosial.02 0.8 215. GAMBAR 5 .7 12% Tangerang 5 Kota Depok 245.450.9 0.4 0.10.450. Dari panjang jalan dan jalan tol. menggunakan KRL atau KRD.4 58% Kota/Kabupaten 1.a 19.05 Km 6.a 0. 1 Jalan Tol Km % 113.

jaringan jalan ----.jaringan jalan tol GAMBAR 5 .10 Jaringan Jalan Kereta Api Jabodetabek Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey 2000 .180 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .9 Jaringan Jalan Jabodetabek Sumber : SITRAMP (Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek II) Railway Passenger Survey 2000 Legenda : .

Fasilitas-fasilitas dan peluang kerja yang ditawarkan masih besar sehingga menarik pendatang-pendatang baru ataupun pekerja/karyawan yang tinggal di kawasan pinggirannya. angkutan dari kantor. Ini terutama dari kawasankawasan permukiman yang langsung berbatasan atau dekat dengan DKI Jakarta. 2000 c. Ini mengakibatkan meningkatnya jumlah penglaju baik dengan angkutan umum. di Bodetabek.0 juta – Rp 3. Jaringan jalan dan jalan kereta api tersebut di atas melayani pergerakan ulang alik dari kawasan Botabek ke DKI Jakarta (URDI 2006). namun daya tariknya masih kuat sebagai penyedia lapangan kerja serta pelayanan sosial-ekonomi-budaya.11 Peta Volume Penumpang Jalur Kereta Api Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey. Meskipun jumlah penduduk DKI Jakarta sebagai kota inti mengalami penurunan. Pejalan ulang alik terbanyak adalah dari Kabupaten Tangerang (241. Ekonomi. Golongan pendapatan > Rp 3.8 .8 juta (+ 30 persen). maupun kendaraan pribadi (Lihat TABEL 5 . Data tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar komuter ke Jakarta adalah dari golongan pendapatan Rp 1.570) diikuti Kota Bekasi (129. dan Kependudukan 181 GAMBAR 5 .413).2 juta – Rp 2 juta (+ 45 persen) dan dari golongan pendapatan Rp 2.Sosial.21).020) dan Kota Depok (99.

Untuk menyederhanakan. Penggunaan terbesar di Jabodetabek adalah untuk pertanian dan ruang terbuka di Kabupaten Bogor (+ 111.736 302.5 tahun (1985-2002) (Lihat TABEL 5 .000 ha) dan Kota Depok (+ 304 ha).29%) 19.25%) (29.22).21 Pekerja Komuter Usia 15 Tahun Ke Atas Golongan Pendapatan (Rp 000) 100-1999 1200-1999 2000-3799 27.56%) 9.51%) (21.934 32.23).53%) 44. . Ini dapat disebabkan mereka bertempat tinggal di DKI Jakarta. telah terjadi perubahan guna lahan yang sangat pesat dalam kurun waktu + 1. klasifikasi penggunaan lahan di Kabupaten dan Kota meliputi 14 penggunaan. TABEL 5 .05%) Sumber: diolah dari LP3E Unpad. GAMBAR 5 .12 menunjukkan bahwa proporsi penggunaan lahan tahun 2000.84%) Kota 12.570 76.088 Kab Tangerang (21.48%) (36.528 67. dan ruang terbuka (Lihat TABEL 5 .81%) 1.83%) 5.35%) 141.165 (4.182 Metropolitan di Indonesia paling sedikit (+ 4 persen).94%) (30.38%) 2.352 202.871 15.98%) (34.36%) (52.839 16.900 672. 2006 Kab/Kot > 3799 1.899 129.334 37.70%) 52.68%) (41.94%) Jumlah (100%) 71.690 (2. Luas penggunaan lahan lain (perumahan terencana.020 99.63%) 635 (5.691 42. Namun. yang terbesar adalah untuk pertanian dan ruang terbuka (51 persen) diikuti dengan kampung berkepadatan rendah (20 persen) serta semak dan hutan (10 persen).30%) 26.111 Tangerang (16.921 24.81%) (43.00%) 4.52%) 18.07%) (44. Sedangkan semak dan hutan banyak terdapat di Kabupaten Bogor (+ 60. dengan berjalannya waktu.311 Kab Bogor (38. kegiatan ekonomi.31%) (31.385 26.790 Kota Bekasi (14.575 3. komersial dan bisnis) relatif rendah.19%) (32.284 (4.000 ha). kampung kepadatan tinggi.504 Kota Depok (19.735 Guna Lahan Dari studi SITRAMP II sebagaimana disebutkan dalam URDI (2006) pada tahun 2000.04%) (49.479 (3. fasilitas publik.56%) (37. Hal tersebut berarti bahwa masih cukup banyak kawasan/kampung yang bersifat perdesaan.000 106.026 43.576 (4.602 Kab Bekasi (22.000 ha).537 37. dan di Kabupaten Tangerang (+ 67. di Kabupaten Bekasi (+ 84.595 (3. industri dan gudang.35%) (29.000 ha). maka penggunaan lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu permukiman.31%) 10.640 15.906 72.907 10.762 Kota Bogor (17.413 241.07%) (37.38%) 1.927 4. kurang dari 10 persen.534 (3.168 Jumlah (21.

688.4 Pendidikan & Fas.773 4.3 2.8 880.359.5 298.2 0.0 0.573 18.509.0 1.4 326.5 55.8 5.6 10.1 0.6 33.184.6 156.1 0.8 59.0 5.0 0.4 5.152.727.4 0. tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 Penggunaan Lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kab/Kota Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.0 8.7 118.0 Komersial & Bisnis 1.Sosial.0 0.3 2.0 2.0 0.327 21.1 679.6 2.2 4.615 15.479.2 133.1 1.8 6.5 1.7 475.9 1.3 383.107.4 229.038 20. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.258.8 304.228.7 460.2 1.006.1 124.6 24.3 791.505.6 0.720.6 2.455 111.963.5 857.7 3.4 743.4 75.6 195.993.Publik 505.0 0.774.9 122.5 0.049 127. Ekonomi.790 12.4 130.0 0.0 213.190.4 12.8 3.1 13.038 20.7 6.962.6 580.6 26.0 1.0 0.0 4. Bekasi Luas (ha) 14.6 282.3 182.812.2 88.327 21.2 98.872.049.1 0.546.573 18.5 406.052.3 38.957.850 206.5 41.561.0 1.850 206.8 30.370.0 2.6 3.1 83.2 2.0 0.049.1 3.5 38.4 Kampung Kep.5 14.455 111.9 37.1 0.0 11.3 1.0 0.2 107.0 .5 88.3 1.3 394.221.4 2.0 3.Tinggi 6.2 266.029 11.0 1.9 1.0 38.6 5.633.3 53.3 Pemerintahan 196.954 14.4 691. Bekasi Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.4 61.6 16.8 66.5 8.640.671.1 1.5 94.6 16.902.0 499.2 314.376.0 0.5 1.1 29.7 0.5 181.0 0.1 89.Rendah 836.341.0 5.0 230.4 3.0 165.454.0 0.3 198. Bogor Kota Bekasi Kab.047.359.0 585.954 Perumahan Terencana 3.9 3.0 41.1 6.955.3 Industri & Gudang 37.832.6 830.0 0. dan Kependudukan 183 TABEL 5 .0 1.6 11.0 227.800.5 1.081.9 3.0 6.4 299.0 0. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.7 1.5 49.5 0.3 0.1 88.340.790 12.8 1.9 16.9 319.1 368.401 16.615 15.401 16.049 127.029 11.7 268.772.3 6.0 148.2 111.967.0 Kampung Kep. Bogor Kota Bekasi Kab.4 2.0 311.0 1.336.873.9 403.9 0.6 29.773 4.9 699.262.185.6 251.9 23.866.629.8 3.3 344.22 Penggunaan Lahan per Kab/Kota Jabodetabek.1 0.

4 Kab. Industri mengalami peningkatan hampir 3.6 49.8 1. 1998 dalam Yulinawati 2005 TABEL 5 .13% Perumahan.24.4 0.24 Perubahan Guna Lahan Guna Lahan Tahun 1985 (ha) Perumahan Formal 10.5 Kota Tangerang 18.75% Pertanian 44.9 7.184 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .5 23.8 persen menjadi industri.816 11.2 Total 290.12 Rasio Penggunaan Lahan Jabodetabek tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 TABEL 5 . dan 9.18 36.33% 7.346 7.621 4. Tangerang 123.23 Konversi Lahan Pertanian Luas Total Total Luas Prosentase Hasil Konversi (%) Wilayah Konversi PeruPerkanLainWilayah (ribu ha) (ribu ha) mahan Industri toran Lain Kota Bekasi 148.6 persen terkonversi menjadi perumahan. Konversi lahan pertanian dalam kurun waktu tersebut dapat dilihat pada TABEL 5 .865 38.53 4.000 ha.6 persen menjadi perkantoran dan lain-lain.8 1. baik formal maupun informal.08 40.000 ha.26% Sumber : SITRAMP 2.4 1.11% Perumahan Informal 37. Pertanian mengalami pengurangan yang cukup besar yakni sekitar 11.7 Sumber: BPS Jawa Barat.28 62.167 44.900 22.1 2.9 37.62 30.44 5. 40. menunjukkan perubahan yang besar. hampir 15. 49.54% 23. Dapat disimpulkan bahwa banyak lahan dan kegiatan yang mencirikan perdesaan terkonversikan menjadi kegiatan yang berciri urban – perumahan dan industri. paling tinggi menjadi kampung berkepadatan rendah (20 persen).35 13.38 3.074 45. 2004 Tahun 2002 (ha) 20. Dari kelompok perumahan. Dari Kabupaten/Kota Bekasi dan Tangerang. sedangkan penggunaan untuk perumahan terencana .02% 43.9 0.08 ribu ha.89% Industri 4.1 35.501 24. dari total wilayah 13.000 ha.7 67.

yaitu kawasan yang terdapat di sekitar kota besar atau metropolitan. lahan terbuka. Titik (0. dan Kependudukan 185 dan kampung berkepadatan tinggi mencapai 10 persen.13). pada kenyataannya merupakan suatu kawasan dengan lebar yang bervariasi.14). urban fringe merupakan titik perpotongan antara kurva permintaan lahan perkotaan dengan kurva permintaan lahan perdesaan (Lihat GAMBAR 5 .Sosial. Namun. Ini yang diartikan sebagai kawasan pinggiran metropolitan. Sumber mendatar merupakan jarak dari pusat kota. sedangkan sumbu vertikal menyatakan nilai lahan. pertanian.0) adalah suatu titik yang ditetapkan sebagai pusat kota. dan sebagainya. titik yang menyatakan batas antara wilayah desa dan kota akan bergeser menjauhi pusat kota (Lihat GAMBAR 5 .13 Lokasi Urban Fringe Secara Teoretis . Jelas ini sudah merupakan kawasan berkarakteristik perkotaan. Dengan perkembangan kota. Titik perpotongan kedua kurva permintaan tersebut secara teoritis berupa suatu garis mengelilingi pusat kota. Secara teoritis. GAMBAR 5 . Pada umumnya kawasan pinggiran ini terdiri dari penggunaan lahan yang campur aduk: permukiman. Bersama sebuah atau lebih kota inti membentuk kawasan metropolitan. Dinamika Kawasan Pinggiran Metropolitan Kawasan Pinggiran di sini diartikan urban fringe. industri. Ekonomi.

dan sebagainya. Karakteristik kota ini antara lain adalah perumahan berkepadatan tinggi. biasanya akses ke kota inti relatif baik. jalan tol. Penggunaan lahan sebagian besar masih berupa pertanian dan ladang. perkebunan. Bekasi. b. Ciri utamanya adalah keberadaan perumahan hunian yang masih berkepadatan rendah. Deltamas. Kawasan ini juga meningkat perkembangannya karena sudah ada atau sedang direncanakan pengembangan infrastruktur regional seperti jaringan jalan arteri. Bogor.186 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 . serta industri yang berorientasi tenaga kerja (labor oriented industries). Semi Urban = kawasan ini adalah wilayah transisi dari perdesaan ke perkotaan. Depok. Berdasarkan penggunaan lahan serta fungsi kegiatan ekonominya. Proses ini adalah yang kita kenal sebagai ”suburbanisasi” dan biasanya berbatasan langsung dengan kota inti. kepadatannya campuran antara kepadatan tinggi dan kepadatan rendah. . kawasan pinggiran ini dapat dikelompokkan dalam tiga kategori atau tipologi: a. Kegiatan-kegiatannya lebih berciri urban. Predominantly Urban = kawasan yang didominasi kondisi dan kegiatan berciri perkotaan. seperti kota Tangerang. dan sebagainya. baik terencana (kawasan permukiman berskala kecil) maupun tidak terencana. antara untuk kegiatan rural dan kegiatan perkotaan (perumahan berkepadatan tinggi. industri. Kawasan predominantly urban ini kemungkinan besar tercipta karena telah ada kota-kota atau permukiman sebelumnya di kawasan ini. Guna lahannya campur aduk. Kegiatannya juga sebagian masih rural (pertanian. perdagangan.14 Pergeseran Urban Fringe Tipologi Kawasan Pinggiran Pada kenyataannya kawasan pinggiran tidak homogen. serta industri ringan/manufaktur. penggunaan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. empang-empang dan ruang terbuka atau belum terbangun). Kemudian ditambah adanya pengembangan permukiman skala besar yang baru seperti kota-kota baru BSD. jasa pelayanan.

15. Kawasan ini tidak berbatasan langsung ke kota inti. Juga adanya imbas dari daerah sekitarnya yang sudah atau menuju perkembangan perkotaan (URDI. namun dekat dengan kawasan semi urban. peranan kawasan metropolitan Jabodetabek dalam perekonomian nasional untuk beberapa tahun ke depan masih akan tetap tinggi. dan ada yang sudah bersifat urban. ada yang sudah menunjukkan gejala-gejala menuju urban. hampir tidak ada. Dikaitkan dengan jaringan transportasi. Pola Perubahan Ketiga tipologi kawasan pinggiran akan turut mengalami perubahan dengan adanya perkembangan di kawasan metropolitan Jabodetabek dan di kota inti DKI Jakarta. Kepadatan relatif rendah. c. Lihat juga pada peta 1 dan peta 2 (jaringan jalan dan kereta api). ini merupakan kawasan periurbanisasi atau awal proses suburbanisasi. peta 4 (penggunaan lahan 2000) serta peta 5 dan peta 6 (jumlah penduduk Jabodetabek 2000 dan 2004 per kecamatan). Dari GAMBAR 5 . tetapi mulai menyebar mengikuti jaringan transport dan konsentrasi permukiman terutama ke arah Selatan.8 persen . dan Kependudukan 187 dan sebagainya).8 persen menjadi 26. . Untuk kawasan metropolitan Jabodetabek ketiganya dapat dilihat dari GAMBAR 5 . Lokasi peningkatan kegiatan ekonomi tersebut akan menyebar sebagai berikut: industri jasa dan perdagangan akan tetap berkembang di pusat kawasan metropolitan yakni di kota inti DKI Jakarta (GAMBAR 5 . yang pada gilirannya akan mempengaruhi kependudukan (jumlah dan struktur) dan perubahan tata guna lahan. Akses ke kota inti terbatas.akan meningkatkan pula pertumbuhan sektor-sektor tersebut di Jabodetabek. Terkait dengan kepadatan penduduk dan guna lahan serta aktivitas penduduknya. maka desa-desa di kawasan pinggiran ini ada yang masih bersifat rural. Kegiatan ini terjadi di tipe kawasan predominantly urban.19). yang secara nasional meningkat pangsanya – dari 23. Sektor industri pengolahan/manufaktur dan sektor jasa. Potential Urban = adalah kawasan yang pada saat ini ciri utamanya masih rural – berkarakteristik desa tapi mempunyai peluang besar untuk lambat laun menjadi urban.15 maka terlihat bahwa kebanyakan kecamatan-kecamatan yang langsung berbatasan dengan DKI Jakarta berkarakteristik predominantly urban atau semi urban. Ekonomi dan konversi lahan Sebagaimana telah disampaikan di muka. Akses ke kota inti sangat terbatas. 2006). kegiatan masih cenderung ke pertanian dan perkebunan serta masih banyak lahan-lahan yang belum terbangun.Sosial. a. Perkembangan global akan mempengaruhi kawasan metropolitan Jabodetabek terutama dalam bidang perekonomian. Ekonomi. kedua tipe kawasan ini dilalui jaringan jalan atau jalan kereta api. Salah satu faktor yang mendorong pengembangan kegiatan perkotaan ke kawasan ini adalah tersedianya aksesibilitas berupa jaringan jalan atau kereta api yang melalui kawasan ini serta harga lahan yang relatif masih murah.

16 Pengunaan Lahan Jabodetabek 2000 .188 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .15 Peta Urban Fringe Jabodetabek Berdasarkan Tipologinya GAMBAR 5 .

17 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2000 per Kecamatan GAMBAR 5 . dan Kependudukan 189 GAMBAR 5 .18 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2004 per Kecamatan . Ekonomi.Sosial.

190 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .20 Sebaran Kawasan Industri dan Pergudangan Jabodetabek .19 Sebaran Lokasi Fasilitas Komersial dan Bisnis di Jabodetabek Sumber: SITRAMP2. 2004 GAMBAR 5 .

Kecamatankecamatan di atas berdasarkan jumlah penduduknya berubah dari tipologi semi urban dan potential urban menjadi predominantly urban dan semi urban. pertanian (lihat TABEL 5 . kecuali di DKI Jakarta yang relatif stabil bahkan di Jakarta Pusat yang mengalami penyusutan. dan Kota Depok. Tangerang. dan Kependudukan 191 - industri manufaktur dan pergudangan (GAMBAR 5 . seperti Kota Bekasi. Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi di tipe kawasan semi urban dan potential urban. Kependudukan Sebagaimana dibahas di bab sebelumnya. Terkait dengan kepadatan penduduk dalam kurun waktu 5 tahun (2000-2004) telah terjadi juga kenaikan kepadatan penduduk. Walaupun ada juga di beberapa kecamatan di pinggiran Kabupaten-kabupaten Bekasi. Ekonomi. Kota Bogor. Kota-kota ini termasuk tipe kawasan predominantly urban dan di sekelilingnya adalah kebanyakan tipe kawasan semi urban. Di luar DKI Jakarta peningkatan kepadatan tinggi terjadi di kota-kota sekitar.5 H di tahun 2002. Secara spasial peningkatan jumlah penduduk terdapat di kecamatan-kecamatan yang berdekatan atau berbatasan dengan DKI terutama di Kota Tangerang dan Kota Depok (kawasan predominantly urban).Sosial.20) terkonsentrasi di kawasan pelabuhan kota inti DKI Jakarta. Konversi ini (lihatTABEL 5 22) terjadi di Kabupaten/Kota Tangerang dan Bekasi terutama untuk penggunaan perumahan dan industri (sekitar 13 ribu ha dari total 290. mengikuti jaringan transport ke Barat ke arah Tangerang. Kemungkinan besar kawasan-kawasan ini akan menjadi predominantly urban dan kawasan yang potential urban akan menjadi semi urban.23) mengalami penyusutan luas dari sekitar 44 ha di tahun 1985 menjadi sekitar 23. Perubahan tersebut terjadi di kawasan-kawasan sebagai berikut: - TABEL 5 . Kota Tangerang. Kota-kota ini meningkat perannya sebagai sub pusat kegiatan dengan fungsi permukiman atau pendidikan.4 ha lahan pertanian). Konversi lahan pertanian ini paling agresif terjadi di Kabupaten Bekasi terutama untuk mewadahi kegiatan industri yang merupakan sektor utama di daerah tersebut. jumlah penduduk selama 5 tahun terakhir meningkat di Jabodetabek. . dan Bogor yang relatif jauh dari DKI Jakarta.25 Perubahan Kegiatan Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban peningkatan industri jasa dan perdagangan peningkatan industri manufaktur peningkatan industri manufaktur peningkatan permukiman peningkatan industri manufaktur konversi lahan pertanian ke perumahan dan industri b. Paling tinggi kepadatan masih tetap di DKI Jakarta sebagai pusat kegiatan Jabodetabek. Persebaran ini terjadi di kawasan predominantly urban dekat Kota Depok.

potential urban. industri dan perdagangan. dan sebagainya). Kebijakan umum dan khusus berupa program dan instrumen bagi ketiga tipologi dapat dilihat dari TABEL 5 . Masyarakat perlu dilibatkan dalam pengawasan ini.15 (tipologi urban fringe) maka poros Timur – Barat masih memungkinkan untuk dikembangkan terutama di kawasan-kawasan semi urban.27. Kedua kegiatan tersebut akan menarik kegiatan-kegiatan terkait seperti pusat-pusat kegiatan dan pelayanan serta membutuhkan penyediaan sarana dan prasarana pendukung. dan jalan raya (arteri nasional). KLB rendah). dari semi urban menjadi predominantly urban dan dari potential urban menjadi semi urban atau bahkan predominantly urban akan dipengaruhi oleh beberapa kebijakan atau intervensi dari pemerintah maupun dari masyarakat/dunia usaha.26 dan TABEL 5 . jalan kereta api. Keputusan-keputusan ini penting untuk menetapkan di mana akan dilaksanakan. . Kebijakan-kebijakan ini pada ujungnya akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan makro nasional dan sektoral seperti antara lain: Keputusan pembangunan jaringan transportasi baru – jalan tol. Bila dilihat GAMBAR 5 . Pemerintah-pemerintah Daerah. serta masyarakat dan dunia usaha terkait di sektor-sektor terkait (seperti jaringan jalan raya. Pada saat ini strategi yang ingin digunakan di Kawasan Metropolitan Jabodetabek adalah mendorong pengembangan poros Timur – Barat dan membatasi pengembangan ke arah Selatan yang merupakan resapan air. Hal ini terkait pada kebijakan makro untuk Kawasan Metropolitan Jabodetabek – seberapa luas lahan yang akan dipertahankan dan di mana lokasinya untuk tetap menjadi kawasan perdesaan/pertanian (predominantly rural) yang saat ini masih cukup banyak yakni 51 persen. Keputusan pengembangan permukiman baru – antara lain dengan meningkatkan kepadatan (KLB tinggi. dan predominantly rural. Pembatasan ke arah selatan memerlukan regulasi yang cukup ketat dan diawasi pelaksanaannya secara konsisten. Penutup Bagaimana implikasi perkembangan metropolitan pada desa dan kota yang berada dalam Kawasan Metropolitan serta kebijakan dan kelembagaan seperti apa yang dapat mengelola/menanganinya merupakan isu yang akan dibahas dalam bagian ini. jalan kereta api.192 Metropolitan di Indonesia Strategi dan Kebijakan Perubahan atau perkembangan tipologi kawasan dari predominantly urban menjadi fully urban – dalam arti kecamatan-kecamatannya mengalami transformasi menyatu dengan kota inti. jaringan air bersih dan pembuangan. Pengembangan saat ini banyak yang mengarah ke selatan. Seyogianya itu semua mengacu pada satu tata ruang Kawasan Metropolitan yang disepakati semua pihak – Pemerintah Pusat.

Membatasi Ijin-Ijin Untuk Kegiatan Yang Menyebabkan Degradasi Lingkungan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol. Mengurangi Ijin-Ijin Pembangunan.27 Contoh Instrumen untuk Kebijakan-kebijakan Khusus No Jenis Kebijakan Kebijakan Khusus Pengembangan Yang Ada Dibatasi Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban 1 2 Pengembangan Yang Ada Didorong Menaikkan Beban Pajak Untuk Kegiatan Perkotaan: Bisnis Dan Komersial. dll) Pengembangan urban agriculture 2 Pengembangan pusat-pusat kegiatan baru Pengembangan pusatpusat kegiatan regional Pengembangan urban agriculture dan industri padat karya 3 4 Mengefisienkan dan mengefektifkan lokasi pusat-pusat kegiatan ekonomi Peningkatan penyediaan prasarana Pengembangan kegiatan perkotaan Pengembangan urban agriculture dan industri yang berorientasi tenaga kerja Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture dan industri Penyediaan prasarana yang mendukung kegiatan perkotaan untuk skala regional Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture Sumber : URDI 2006 TABEL 5 . Mempertahankan fungsi ekologis / lindung kawasan. Meningkatkan Pemanfaatan Lahan Terbangun Sumber : URDI 2006 .26 Kebijakan Umum dan Usulan Program per Tipologi Urban Fringe No 1 Jenis Kebijakan Pemanfaatan lahan untuk kegiatan budi daya Predominantly Urban Pengembangan mixed use. Meningkatkan Pembangunan Jalan Baru Untuk Pergerakan Internal Dan Eksternal Jabodetabek Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan. Meningkatkan Fungsi Lindung Kawasan Untuk Bagian Selatan Jabodetabek Meningkatkan Penyediaan Sarana Dan Prasarana Kota. KDB rendah) Semi Urban Pengembangan lahan terbangun yang menunjang kegiatan perkotaan Potential Urban Dipertahankan sebagai lahan tidak terbangun. Ekonomi. Mengembalikan Fungsi Ruang Terbuka Hijau Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol. Pembangunan secara vertikal (KLB tinggi. Pengembangan urban agriculture Kegiatan eknomi yang tidak merugikan fungsi ekologis (ecotourism.Sosial. dan Kependudukan 193 TABEL 5 .

kebun campuran dengan rumah) sebesar 73 persen. Suatu studi kasus (Uguy 2006) di suatu kecamatan (Cimanggis) memberikan hasil sebagai berikut: Kecamatan Cimanggis merupakan kawasan peri urban yaitu mempunyai tata guna lahan campuran rural dan urban yang tak tertata. Jika tidak ada intervensi dari pemerintah. kini telah mengalami transformasi dalam transisi menjadi kecamatan berciri kota. Intervensi Strategi dan Kebijakan Intervensi yang dapat dilakukan perlu secara menyeluruh dari tingkat nasional. yaitu di kawasan pinggiran yang semula hanya tipe potential urban menjadi predominantly urban.194 Metropolitan di Indonesia Hubungan Desa dan Kota Dari gambaran di atas terlihat bahwa desa dan kota sangat erat kaitannya dan dengan mudah terjadi perubahan dari desa menjadi kota. Namun. (URDI. Kompleks perumahan bertambah dari 32 kompleks (1992) menjadi 57 kompleks (2002) hampir dua kalinya (Uguy 2006: hal. Tetapi peningkatan kepadatan ini sangat tinggi (6.. sekitar 27 persen telah berubah menjadi perumahan. Dari yang predominantly rural atau potential urban dapat menjadi semi urban dan predominantly urban. jalan arteri. dan lain-lain. meliputi intervensi dalam aspek kelembagaan dan keuangan. dan jalan tol. Perubahan peruntukan lahan yang sangat cepat untuk pembangunan permukiman. Dalam hal intervensi aspek pembangunan fisik dan lingkungan dapat dilakukan antara lain : penyusunan rencana tata ruang wilayah yang terintegrasi dan terpadu secara bersama-sama. Kegiatan utama Cimanggis sebagian masih berupa pertanian (sawah. dan kabupaten/kota. ladang. provinsi. 127). aspek pembangunan fisik dan lingkungan. Sebanyak 84 persen dari penghuni di kompleks perumahan dan 54 persen dari penghuni non perumahan (kampung) sebelumnya tinggal di DKI Jakarta. Kepadatan penduduknya 75 jiwa/ha lebih tinggi dari kepadatan kabupaten tapi belum setinggi kepadatan kota. .3 persen per tahun). koordinasi perencanaan dan pendanaan pembangunan secara terpadu (lintas sektor dan lintas wilayah). Hal ini semua menunjukkan bahwa kecamatan Cimanggis yang sekitar 5 tahun yang lalu masih berciri desa. industri. Dalam hal ini intervensi kelembagaan dan keuangan antara lain dapat dilakukan melalui: membentuk wadah kerja sama (baru atau revitalisasi/perluasan wadah yang sudah ada). merumuskan mekanisme kerja sama dan pembuatan keputusan. hal ini akan menerus terjadi dan akan menimbulkan urban sprawl. Desa-desa yang dilalui atau dekat dengan jaringan transportasi ke Jakarta akan mengalami transformasi menjadi kota yang lebih cepat. serta dalam aspek pelayanan publik. 2006). Ini merupakan fenomena yang umum terjadi di kecamatan-kecamatan sekitar DKI Jakarta. Kecamatan ini juga membangkitkan lalu lintas yang menyebabkan kemacetan di jalan lingkungan. Pertambahan penduduk terjadi terutama karena perpindahan dari DKI Jakarta. jalan.

Beberapa intervensi itu harus dilakukan dari tingkat pusat. . perencanaan pemanfaatan sumber daya alam. pembuangan. pembangunan skala besar dan banyak daerah seperti jaringan transportasi multimoda yang melayani ketiga propinsi. dan sebagainya. Ekonomi. pelayanan penyediaan air bersih. dan sebagainya. Jawa Barat. seperti mekanisme perencanaan yang melibatkan propinsi-propinsi (DKI Jakarta.Sosial. Dalam hal intervensi aspek pelayanan publik antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan program-program : pelayanan transportasi terpadu multimoda. sungai dan danau. dan Banten). dan Kependudukan 195 - perencanaan pengembangan jaringan transportasi dan pusat-pusat kegiatan secara bersama (spasial maupun temporal). seperti sumber air baku. dan persampahan (disarikan dari URDI 2006).

196 Metropolitan di Indonesia .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful