5 Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

KEPENDUDUKAN Pendahuluan Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk kota telah menjadi bagian yang penting dalam pembangunan di Indonesia pada beberapa dekade terakhir. Berdasarkan definisi dari Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah penduduk kota meningkat dari 32,8 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 55,4 juta jiwa pada tahun 1990 dan meningkat kembali menjadi 86,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada saat yang sama, jumlah penduduk desa meningkat dari 114,5 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 122,8 juta jiwa pada tahun 1990. Namun, jumlah tersebut kemudian menurun menjadi 119,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada akhirnya, proporsi penduduk kota meningkat tajam dari 22 persen pada tahun 1980 menjadi 42 persen pada tahun 2000 (TABEL 5 - 1).1 Jumlah tersebut menunjukkan terjadinya transformasi yang besar dalam masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, dari yang masyarakat berciri desa, yang terlihat dari sistem pemerintahan dan perdagangannya (terutama adalah komoditas pertanian) yang mendukung pengembangan kota secara terbatas, menjadi masyarakat kota, gaya hidup kota dan yang paling penting adalah keterkaitan penduduk dengan ekonomi kota yang akan membentuk pola pembangunan dan pertumbuhan kota. Dalam hal ini, tingkat pertumbuhan penduduk desa yang rendah (berangka negatif pada tahun 1990-an) pada TABEL 5 - 1 tidak menunjukkan penurunan angka pada pertumbuhan penduduk desa yang sebenarnya, akan tetapi karena terjadinya perubahan dari tempat dengan karekateristik desa menjadi tempat dengan karakteristik kota walaupun jumlah penduduknya tetap statis.

1 Karena beberapa masalah pada sensus tahun 2000, jumlah penduduk yang diperkirakan sebesar 459.557 jiwa (kota) dan 1.857.659 jiwa (desa). Tambahan sebesar 566.403 jiwa penduduk kota dan 1.717.478 jiwa penduduk desa dihitung secara formal tetapi tidak menjawab karakteristik individual.

126

Metropolitan di Indonesia

TABEL 5 - 1 Jumlah dan Tingkat Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan Kota/Desa di Indonesia Tahun 1980, 1990 dan 2000
Tahun Kota Desa Jumlah % Kota

1980 1990 2000 1980-1990 1990-2000

Jumlah Penduduk 32.845.829 114.485.994 147.331.823 55.389.171 123.805.052 179.194.223 86.406.587 119.436.609 205.843.196 Tingkat Pertumbuhan Penduduk (%) 5,23 0,78 1,96 4,58 -0,37 1,43

22,3 30,9 42,0

Catatan: (1) Jumlah penduduk kota tidak memasukkan penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap (tuna wisma, penduduk yang tinggal di atas perahu, dll.) yang memiliki jumlah sekitar 158 ribu pada tahun 1980 dan 127 ribu pada tahun 1990. Jumlah penduduk tersebut pada tahun 2000 tidak diketahui. (2) Tingkat pertumbuhan dihitung berdasarkan rumus P(t)=P(0)ert Sumber: Biro Pusat Statistik (1991), Badan Pusat Statistik (2001)

Bagian ini akan menjelaskan secara singkat karakteristik urbanisasi di Indonesia berdasarkan kependudukannya yang dipusatkan pada lima kota besar yang secara umum didefinisikan sebagai kawasan metropolitan antara lain: (1) Mebidang yaitu Kawasan Metropolitan Medan yang meliputi Kota Medan dan sekitar Kota Binjai dan Kabupaten Deli Serdang; (2) Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur, meliputi Ibukota Jakarta dan kawasan sekitar Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota dan Kabupaten Tangerang, dan Kota dan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Cianjur; (3) Kawasan Bandung Metropolitan meliputi Kota dan Kabupaten Bandung dan sebagian dari Kabupaten Sumedang; (4) Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila yang terdiri dari Kota Surabaya sebagai pusat, kawasan sekitar meliputi Kabupaten Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, dan juga Kota Mojokerto; (5) Kawasan Metropolitan Mamminasata meliputi Kota Makassar dengan Kabupaten di sekitarnya, yaitu Maros, Takalar dan Gowa (dulunya bernama Sungguminasa). Tulisan ini akan melihat pola urbanisasi, yang menekankan pada pengelompokan kembali2 beberapa karakteristik sosial ekonomi penduduk dalam ruang lingkup metropolitan dan beberapa diskusi mengenai bagaimana terjadinya perubahan pola tersebut. Definisi Kota Bagaimanapun juga perlu kehati-hatian dalam menganalisis pola pertumbuhan penduduk kota. Ada dua alternatif definisi kota di Indonesia. Pertama adalah definisi secara administratif, yaitu berdasarkan unit pemerintah lokal yang otonomi yang disebut Kotamadya yang setara dengan status hukum pemerintahan kota. Kedua adalah secara
2

Pendekatan ini digunakan karena kurangnya data rinci mengenai penduduk untuk menghitung perubahan penduduk berdasarkan demografi-pertumbuhan alami (perbedaan antara kelahiran dan kematian) dan net-migrasi (perbedaan antara migrasi masuk dan keluar).

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

127

fungsional, yaitu setiap unit pemerintahan terkecil yang memiliki kesetaraan dengan status desa atau kota yang fungsional berdasarkan karakteristiknya. Ciri utama dalam definisi fungsional yang digunakan oleh BPS yaitu status desa/kelurahan dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan bertambah padatnya penduduk, berkurangnya kegiatan pertanian atau meningkatnya fasilitas dan pelayanan kota. Pengelompokan kembali (secara jelas antara desa dan kota) menjadi faktor utama dalam menjelaskan pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan yang cepat, yaitu membandingkan 30-35 persen dari pertumbuhan kota pada tahun 1990an dengan jumlah migrasi desa-kota sebesar 20-25 persen (World Bank 2003).
TABEL 5 - 2 Perubahan Definisi Kota Sebelum dan Sesudah Podes 2000
Kepadatan Penduduk (per Km2) 19802000Nilai 1990 Sekarang <500 500-999 1000-1499 1500-1999 2000-2499 2500-2999 3000-3499 3500-3999 4000-4999 5000+ <500 500-1249 1250-2499 3500-3999 4000-5999 6000-7499 7500-8499 8500+ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Persentase Rumah Nilai terhadap Tangga Pertanian Jumlah Fasilitas Umum 1980– 2000– Keter- KeterNilai Nilai 1990 sekarang sediaan jangkauan >95 91-95 86-90 76-85 66-75 56-65 46-55 36-45 26-35 2570,0 50-69 30-49 20-29 15-19 10-14 5-9 51 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Catatan: Definisi Kota tahun 2000 berdasarkan data PODES 2000 (a) dapat digunakan dari tahun 1980 sampai 1990-an; (b) dapat digunakan sejak tahun 2000 Tipe-tipe fasilitas publik: (a) Skor hanya untuk ketersediaan: SD, SMP, SMA, rumah sakit, klinik ibu dan anak, pusat kesehatan, jalan yang dapat digunakan kendaraan roda 3 atau 4, kantor pos, pasar permanen, pusat perbelanjaan, bank, pabrik, restoran, pelayanan umum listrik dan jasa penyewaan. (b) Skor untuk keterjangkauan (1 atau 0): TK (1 jika ≤ 2,5 Km), SMP dan SMA ((1 tiap ≤ 2,5 Km), pasar (1 jika ≤ 2Km), bioskop (1 jika ≤ 5 Km), pertokoan (1 jika ≤ 2 Km), rumah sakit (1 jika ≤ 5 Km), hotel/bilyard/diskotek/salon (1 jika tersedia), % rumah tangga yang memiliki telepon (1 jika ≥ 8%), dan % rumah tangga yang menggunakan listrik (1 jika ≥ 90%) Sumber: Definisi awal berasal dari Sigit dan Sutanti 1983 dalam Peter Gardiner 1993 dan juga pada BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 1990an. Definisi berdasarkan PODES 2000 didapatkan dari BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 2000an.

Perubahan definisi fungsional BPS – menganggap status kota berdasarkan sistem penilaian yang melibatkan kriteria kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga pertanian dan jumlah fasilitas kota – dapat dilihat pada TABEL 5 - 2. Definisi kota fungsional yang dikembangkan pada dekade 1970-an diterapkan pertama kali secara nasional pada Sensus Penduduk tahun 1980 dan dipertahankan sampai tahun 1990an. Perubahan yang

Berdasarkan definisi baru tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk desa meningkat secara signifikan dan proporsi rumah tangga pertanian menurun.063 544 2.3 Dekomposisi Pertumbuhan Penduduk di Jabotabek dan Metropolitan Bandung tahun 1980 – 1990 Kawasan Jabotabek Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Metro Bandung Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Yang terdata Kota desa Total Kawasan stabil 1980 Kota Perluasan 1990 Kota Desa 7. khususnya di Pulau Jawa yang pemerintah dan kegiatan ekonominya sangat berperan dalam konversi guna lahan dan untuk kepentingan pengelompokan yang 3 PODES (Potensi Desa) dilakukan untuk mempersiapkan tiga sensus utama yaitu.607 1.063 2.524 3.4) 3.337 1. perhitungan berdasarkan data pada tingkat desa/ kelurahan menunjukkan bahwa perubahan pada Jabotabek dan Metropolitan Bandung selama tahun 1980-an telah berkontribusi secara signifikan pada pertumbuhan jumlah penduduk di kawasan metropolitan.8 persen dan jumlah penduduk desa menurun dengan rata-rata per tahun sebesar 1. berdasarkan analisis dari data-data tahun 1980 dan 1990 pada tingkat desa yang menjelaskan perubahan-perubahan nama.309 2.895 7.067 2.411 911 3.050 3.987 4.8 persen dan 4.4 2.131 2.996 9. Setiap tahun penduduk kota di Jabotabek dan Metro Bandung masing-masing tumbuh sebesar 5.050 3.322 1.830 13. indeks komposit dan skor masih tetap sama). kode dan batas wilayah.3 2. Definisi baru juga memperkenalkan perubahan pada jenis fasilitas publik dan pada apa yang diukur. Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 3. Sensus Penduduk pada tahun yang berakhiran 0. Di dalam kawasan kota inti. pertumbuhan penduduk per tahun pada dua kawasan metropolitan tersebut masing-masing adalah sebesar 2.322 1.3 persen dan 1.2 persen di Metro Bandung sehingga masingmasing berkontribusi sebesar 41 persen dan 31 persen dari seluruh pertumbuhan penduduk di kawasan metropolitan tersebut (Gardiner 1993).6 5.6 3. sementara definisi terkini mempertimbangkan akses yang kebanyakan diukur berdasarkan jarak capai.4) 2.128 Metropolitan di Indonesia signifikan diperkenalkan berdasarkan PODES (Potensi Desa) 2000. TABEL 5 .3 Definisi terkini sangat berbeda dengan definisi sebelumnya dalam hal isi (walaupun metodologi yang digunakan. dan Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 6.987 5.9 persen di Jabotabek dan 5.6 persen.4 persen dan 0.2 2.4 persen. Sebagai contoh.068 4.828 13. .9 3. sementara pertumbuhan penduduk pada wilayah yang lebih luas meningkat lebih tinggi yaitu sebesar 7.946 16.337 4.730 9. Pentingnya pengelompokan dalam menghitung pertumbuhan penduduk kota tidak dapat diabaikan.8 (0.558 11.7 Sumber: Peter Gardiner (1993). Definisi awal hanya mempertimbangkan ketersediaan sebagai ukuran.8 (1.6 2.3 7.5 1.946 5.220 3.

7 jentrifikasi (gentrification) adalah perubahan sosial ekonomi kawasan pusat kota karena berpindahnya penduduk miskin digantikan oleh penduduk dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi. dan karena pembangunan di kawasan pusat kota tersebut juga memerlukan fasilitas. industri berat. pertumbuhan alami dan migrasi dalam pertumbuhan penduduk metropolitan yang akan dikelompokkan dan dikembangkan kembali. seperti pusat perbelanjaan dan supermarket mewah. hal. sedangkan kawasan pinggiran kota dicirikan dengan tingkat migrasi ke dalam yang tinggi dan sebagai akibatnya adalah meningkatnya jumlah penduduk absolut. 4 Berdasarkan Ernest Burgess tahun 1925 dengan judul the pattern of growth of American cities (Chinoy 1967. industri ringan. dan perluasan kawasan permukiman. dan kawasan pinggiran kota digunakan sebagai perluasan permukiman penduduk. tetapi hal tersebut tidak akan menyebabkan perubahan besar pada pertumbuhan penduduk di pusat kota karena pembangunan di pusat kota tersebut seringkali tidak menggantikan permukiman kumuh (untuk masyarakat miskin) sebelumnya yang lebih padat.Sosial. Kawasan inti dicirikan dengan berbagai faktor antara lain penurunan penduduk absolut. tetapi belakangan ini perkembangan pergerakan penduduk menunjukkan fenomena seperti pada teori kombinasi antar sektor5 dan pola konsentrik6. Pola Permukiman Penduduk dan Pertumbuhan Kota Pola ekologi urbanisasi di Indonesia ditunjukkan oleh perkembangan Kawasan Metropolitan Jabodetabek yang semakin besar. dan Kependudukan 129 lain. dari permukiman menjadi non-permukiman khususnya untuk kegiatan komersial. ciri utama kota-kota besar di Indonesia adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang didefinisikan untuk kawasan inti kota yang sebagian besar proporsi guna lahan pada kawasan tersebut dimanfaatkan terutama untuk. . Walaupun akhir-akhir ini (khususnya setelah krisis moneter) muncul perubahan ke arah jentrifikasi7 pada kawasan inti di beberapa kawasan metropolitan melalui peningkatan pembangunan apartemen dan town house yang sering kali dengan standar kenyamanan internasional. Ekonomi. 5 Dikemukakan oleh Homer Hoyt tahun 1939 yang memodifikasi rencana Burgess dengan memfokuskan pada pergerakan-pergerakan antar sektor yang didesak dari arah luar dengan mengikuti jaringan jalan utama (Chinoy 1967: 279) 6 Dikembangkan oleh Edward Ullman dan Chauncey Harris yang mengidentifikasi pertumbuhan khusus di daerah inti yang mengalami perubahan karena fungsinya seperti komersial. Walaupun pada awalnya terlihat seperti pola konsentrik4. tingkat migrasi keluar yang tinggi. Pengelompokan tersebut memberi kesan bahwa urbanisasi mempercepat peran parameter demografi. Secara demografis. sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan pengembangan wilayah dan jalur transportasi. atau mengalami perubahan. bukan permukiman yang cukup luas. 279).

138.416 9.96 8.3 1.19 Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang 662.065 2. Dinamika perubahan kawasan di core Jabotabek yang akan datang dapat menjadi indikasi pola pertumbuhan dan penurunan jumlah penduduk di kawasan metropolitan di Indonesia.787 48. inner dan outer fringe.28 2.432 JABOTABEK 6.435 3.48 1.2 1.7 187.35 10.68 0.345 2.742 Catatan: Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data survey penduduk desa tahun 1995 Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Mamas dan Komalasari (akan datang)8 membagi Kawasan Metropolitan Jabodetabek menjadi core.16 21.422 1.7 17.7 8.020.10 20.246 17.56 2.58 2.609 1. .9 2.44 9.2 437.765 12.71 3.212 1.73 2.0 145.87 24.321 3.16 0. peran Jakarta di dalam negara maupun di dunia internasional menjadi menarik untuk diteliti seperti yang telah dilakukan oleh T.44 3.235 2.8 5.085 843 1.024 1.65 3.44 3.267 18.4 3.14 1.317 1.22 0.507 4.021 20.67 2. 9 Sebagai ibukota negara.35 12.42 2.15 3. Pertumbuhan dan penurunan penduduk di kawasan core Jakarta menunjukkan pola konsentrik/memusat dengan Jakarta Pusat sebagai the inner core dan kawasan lain di dalam Jakarta sebagai lapisan 8 Sangat disayangkan pekerjaan Mamas dan Komalasari ini tidak dapat diulangi untuk tulisan ini karena memerlukan pemakaian data pada tingkat desa yang tidak bisa didapatkan.38 8.560 3.93 1.011 15.73 2.8 1.925 1.77 1.201 1.785 10.03 2.78 13.1 747.097 798 1.245 2.15 154.089 1.04 2.41 1. Firman (1998. serta menunjukkan bahwa kawasan fringe yang sebagian besar masih merupakan kawasan perdesaan masih berada di dalam kawasan metropolitan yang besar dan menunjukkan bahwa perubahan ke arah kota sedang berjalan atau baru akan dimulai9.130 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .373.108 1. yang memiliki keistimewaan dibandingkan kota-kota lain.701 12.471 4.769 3.140 2.3 606.265 3.289 2.975 3.62 0.83 0.698 12.551 1.28 2.43 7.922 14.9 536.526 3.01 2.35 1.4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kawasan Metropolitan Jabotabek Tahun 1990-2000 Kawasan Luas (Km2) Jumlah Penduduk (Juta jiwa) 1990 1995 2000 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 1990 1995 2000 2.174.98 126.11 2. 1999 dan 2004).008 12.22 9.03 0.421 13.1 1.509 0.164.90 13.62 1.

8 23.2 16. Penurunan tingkat pertumbuhan penduduk terjadi meskipun pertumbuhan alami meningkat secara positif (selisih antara kelahiran dan kematian) ketika tingkat migrasi masuk menurun secara signifikan dari 6. secara umum Jabotabek ditandai .1persen (positif) selama paruh pertama menjadi -7.4).Sosial. dan Kependudukan 131 pertama yaitu outer zone.0 50.8 0.8 -41.5 22.86 3.3 -39. Tanda positif menyatakan migrasi masuk dan tanda negatif menyatakan migrasi keluar.7 28.50 8.2 -33.80 0.5.08 -1.84 5.6 14. tingkat pertumbuhan penduduk di Jabodetabek pelahan-lahan menurun secara signifikan sepanjang dekade 1990-an dari 3.67 -1.2 -62. Dengan kata lain. Pertumbuhan Alami dan Migrasi di Jabotabek Tahun 1990-1995 dan 1995-2000 Kawasan JABOTABEK Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang Rata-Rata Pertumbuhan Penduduk (%) 1990-1995 1995-2000 3.0 28.8 19.82 16.5).6 -14.33 7.35 persen per tahun selama paruh pertama menjadi hanya 1 persen selama paruh kedua sampai akhir abad ini. kepadatan penduduk mencapai 18 ribu jiwa/km2 sedangkan di kawasan outer fringes.56 4.9 6.0 -16.34 5.6 17.91 -1.9 18.6 9.74 5.1 17.9 -37.4 -50. kepadatan penduduknya masih kurang dari 1000 jiwa/km persegi (TABEL 5 .23 -2.4 persen (negatif) selama paruh kedua dekade 1990-an.3 16.01 -3.37 -1. khususnya daerah Bogor.3 -44. Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Untuk mengetahui penyebab pertumbuhan penduduk.8 15.4 17.0 -44.3 19.6 17.0 24.5 Rata-rata dari Pertumbuhan Penduduk.8 18.0 3.0 .4 13.5 17.13 2.00 2.8 17.4 30.12 -1. bergerak ke luar dari Jakarta Pusat sebagai inner core ke daerah sekitarnya yang disebut outer zone disebabkan kepadatan permukiman yang rendah.5 -34.48 -3.5 -40.3 -19.1 15. Secara umum. tulisan ini melihat komponenkomponen pertumbuhan penduduk tersebut dari pertumbuhan alami dan net-migrasi (TABEL 5 . Perubahan pola pertumbuhan penduduk penting untuk dicatat.52 Rata-rata Rata-rata Pertumbuhan Alami Net-migrasi (per 000) (per 000) 1990-1995 1995-2000 1990-1995 1995-2000 1.9 14.91 1.74 0.2 44.4 16.12 -0.1 -7.47 -2.1 16.73 8.9 19.9 19.5 15.98 -2.5 Catatan : Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data Survey Penduduk Tahun 1995.9 24. Ekonomi.07 0.7 15.8 23.4 20.91 6.7 15.30 3.01 1.5 42. Di Jakarta Pusat. TABEL 5 .1 -14.0 13.0 15.35 1.

khususnya di Pulau Jawa. sebagian besar migrasi sebenarnya terjadi di dalam metropolitan itu sendiri yaitu penduduk yang bergerak keluar dari kota induk (core) sekarang ke daerah-daerah lain di pinggiran atau perbatasan kota. Harga dan guna lahan mempengaruhi tingkat migrasi yang masuk dan keluar. Walaupun demikian. bangunan-bangunan perkantoran bertingkat. dan apartemen. peningkatan harga lahan untuk kegiatan komersial dan permukiman mewah seperti mall. yang menyebabkan pertumbuhan negatif yang ditunjukkan dengan tingginya angka migrasi keluar. Bekasi. Depok. Cepatnya perluasan kawasan perkotaan (urbanized area) ke kawasan-kawasan yang berdekatan merupakan salah satu ciri proses tersebut. perubahan pertumbuhan penduduk terjadi karena beberapa alasan. Net-migrasi juga merupakan penyebab meluasnya kawasan metropolitan ini. menggantikan villa dan rumah tinggal yang hanya satu lantai. orang-orang membangun kawasan industri pada pertengahan pertama 1990-an yang menyebabkan angka migrasi keluar tinggi. pertumbuhan penduduk di Jabodetabek cenderung didorong oleh kekuatan pasar dan pemanfaatan lahan.33 persen per tahun selama pertengahan awal dan akhir tahun 1990-an. (2) Jabodetabekjur terdiri dari DKI Jakarta dan Kota Bogor. Penurunan ini diakibatkan oleh seluruh penurunan pada pertumbuhan alami dan net-migrasi. Dengan kata lain. Tangerang. Tangerang. Gambaran pertumbuhan penduduk di Jabotabek tersebut menunjukkan bahwa sebagai sebuah kawasan metropolitan. tingkat pertumbuhan penduduk di inner zone perlahanlahan menurun. pada kawasan luar kota (outer fringe) Jabotabek. Metropolitanisasi – Lima Kawasan Metropolitan Tahun 1980-an dan paruh pertama dekade 1990-an (sampai krisis ekonomi) merupakan periode pengembangan metropolitan secara besar-besaran.01 persen menjadi 5. dan Cianjur. Pada kawasan core Jakarta. lebih cepat lagi di kota-kota besar – Jabotabek (sekarang Jabodetabekjur). sektoral dan banyak pusat – dimulai dengan sebuah pusat atau core yang terdiri dari kota utama dan dikelilingi daerah-daerah yang sedang mengalami proses urbanisasi. (4) . Perubahan Jabotabek menunjukkan sebuah kombinasi tiga pola pertumbuhan kota – konsentrik. yang terdiri dari Kota Medan dan Binjai serta Kabupaten Deli Serdang. dari 6. yang berarti bahwa reklasifikasi merupakan faktor yang signifikan dalam menentukan pertumbuhan kota secara keseluruhan. Pada tingkat lokal.132 Metropolitan di Indonesia dengan jumlah migrasi masuk selama paruh pertama dari dekade terakhir yang kemudian ditandai dengan migrasi keluar pada paruh akhir dekade tersebut. hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan penduduk yang relatif cepat di beberapa kota utama. (3) Bandung Raya terdiri dari Kota Bandung dan Cimahi. Lima Kawasan Metropolitan yang menarik untuk diteliti antara lain: (1) Mebidang. Bagaimanapun juga. penduduk di inner zone akan meningkat karena banyaknya migrasi yang masuk ke kawasan tersebut. dan Bekasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa aspek-aspek penting yang terjadi di Kawasan Metropolitan Jabotabek menjadi ciri perubahan yang juga terjadi pada kawasan-kawasan metropolitan lain. khususnya Bekasi dan Tangerang. Secara demografis. Di antara dua kawasan ekstrim Jabotabek yaitu kawasan core dan outer. serta Kabupaten Bogor. Surabaya dan Bandung – jika dibandingkan dengan daerah lain (baik desa maupun kota) yang berada di dalam kawasan tersebut. serta Kabupaten Bandung dan Sumedang.

Lamongan.3 79. dan Kabupaten: Takalar.7 36. Pemakaian tahun dalam Podes oleh BPS berdasarkan tujuan tertentu. Ekonomi.5 67.Sosial. Mojokerto.6 20.5 60. Bandung Raya terdiri dari: Kota Bandung dan Cimahi. 10 Seperti penjelasan sebelumnya.2 65. yaitu tahun 1995. Depok Tangerang. Kabupaten: Deli Serdang Jabodetabekjur terdiri dari: Semua Kota di wilayah DKI Jakarta.0 48.0 41.0 47. Goa dan Maros.4 39.5 39.7 63. Tangerang.7 76. TABEL 5 . Mojokerto. Goa dan Maros. Bogor.6 48. Podes dilibatkan dalam persiapan sensus utama: Podes tahun 1995 sebagai persiapan Sensus Pertanian tahun 1996.1 3.5 2.949 448 827 1.5 35.0 22. Data Podes (Potensi desa) BPS saat ini memungkinkan untuk dianalisis dengan memperhatikan sejarah perkembangan secara terbatas dalam memahami proses urbanisasi dengan memfokuskan pada tiga periode terakhir.3 57.8 56.3 18. Jumlah Penduduk dari data Podes yang didapat dari kepala desa.2 2. Tahun yang menjadi referensi disini menggambarkan tahun pengumpulan data .829 859 1.9 31.9 7.8 53. Gresik.949 473 30.2 23.9 7. (5) Mamminasata terdiri dari Kota Makassar dan Kabupaten Takalar. dan Bekasi. Bekasi dan Cianjur. Gresik.2 69.951 447 825 1.9 32. dan Bangkalan.7 40. Kabupaten: Bogor.0 67.3 8.6 Pertumbuhan Penduduk Desa di beberapa Kawasan Metropolitan Kawasan Metropolitan Jumlah 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Kota (%) 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Desa (ribu) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 825 1.847 863 1. Kabupaten: Sidoarjo.6 22.6). unit data lebih kecil dari penelahan khusus oleh IHS berdasarkan data dari BPS Podes (Potensi Desa) dalam beberapa tahun. Dengan menggunakan delineasi desa. dan Kependudukan 133 Gerbangkertosusila terdiri dari Kota Surabaya dan Mojokerto serta Kabupaten Sidoarjo.0 37. Lamongan.3 61.8 5.8 66. dan Bangkalan Mamminasata terdiri dari: Kota Makassar.5 Catatan: Mebidang terdiri dari: Kota Medan dan Binjai.6 Total Penduduk (juta) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 3.4 52. Kabupaten: Bandung dan Sumedang Gerbangkertosusila terdiri dari: Kota Surabaya dan Mojokerto.762 855 1. Podes tahun 1999 sebagai persiapan Sensus Penduduk tahun 2000 dan Podes tahun 2005 untuk Sensus Ekonomi tahun 2006. 1999 dan 200510.1 4. desa-desa yang dapat dikelompokkan sebagai kota dan penduduk yang bertempat tinggal di desa tersebut diidentifikasi sebagai dasar untuk menghitung persentase desa-desa yang menjadi kota dan persentase jumlah penduduk kota yang tinggal di desa tersebut (TABEL 5 .9 30.4 7.6 6.1 2.

Kecenderungan ini terjadi meskipun definisi desa yang menjadi kota tersebut lebih ketat (lihat TABEL 5 . proses urbanisasi secara ekologis di lima kawasan metropolitan jauh lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan demografisnya. Dari lima kawasan metropolitan yang diteliti. Kondisi pada tahun 2005 digambarkan oleh peta pada gambar-gambar di bawah. kecenderungan untuk mengkategorikan penduduk desa-desa tersebut menjadi penduduk kota secara umum meningkatkan tingkat urbanisasi secara tajam. Kecenderungan ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi ekologi tetapi juga dari sisi demografi. Kawasan metropolitan terbesar berada di Pulau Jawa. Peta tersebut menunjukkan penyebaran desa berciri kota (urban village) dan desa berpenduduk paling sedikit 2000 jiwa atau lebih di lima kawasan metropolitan. Pada lima kawasan metropolitan tersebut. wilayah desa berciri kota serta jumlah penduduknya meningkat secara signifikan selama lima tahun terakhir dalam abad ini dibandingkan abad sebelumnya sedangkan secara anekdot dirasakan bahwa ketika bergerak keluar dari pusat kota dan melihat iklan-iklan untuk komplek perumahan. yaitu dari tahun 1995 sampai tahun 2005. Pada saat itu. tanpa kecuali. krisis pertama kali mempengaruhi dinamika sektor konstruksi yang menyebabkan pembuat kebijakan menjadi khawatir akan dampak sosialnya berupa demonstrasi para pekerja yang di-PHK di jalan-jalan Jakarta. Pertama.9 juta jiwa11 sedangkan kawasan metropolitan terbesar 11 Angka penduduk dalam Podes didapatkan dari wawancara kepada kepala desa.2). dengan Kota Makassar sebagai core-nya. Mebidang dan Jabodetabekjur memiliki lebih dari 3 dari 4 rumah tangga penduduk di desa yang berciri kota (urban village). sedangkan tiga kawasan metropolitan lainnya antara 6 dan 7 dari 10 penduduk yang tinggal di desa berciri kota. Kawasan Metropolitan di Pulau Jawa lebih besar secara ekologis (jumlah desa) dan secara demografis (jumlah penduduk). terdapat tiga kawasan metropolitan besar yang terletak di Pulau Jawa– Jabodetabekjur yang memiliki keistimewaan dibandingkan kawasan metropolitan lain. Jabodetabekjur memiliki jumlah penduduk sebanyak 23. hanya kurang dari setengah desa-desa tersebut sudah dikelompokkan menjadi kota. Berdasarkan data kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan pulau lainnya. Jabodetabekjur memiliki keistimewaan tidak hanya dalam cakupan wilayahnya tetapi juga dalam hal jumlah penduduknya. dan yang kelima adalah Mamminasata. Kedua. Dengan kata lain. Lebih lanjut. diikuti oleh Gerbangkertosusilo. kawasan metropolitan lainnya secara ekologis masih lebih berciri desa daripada kota. dari perspektif kependudukan. proses urbanisasi menjadi semakin cepat dan terlihat jelas bahkan dalam periode pendek selama sepuluh tahun. Berdasarkan data Podes tahun 2005. Dari lima kawasan metropolitan tersebut. Perluasan kawasan metropolitan menunjukkan bahwa kecuali Jabodetabekjur.134 Metropolitan di Indonesia Pembahasan selanjutnya perlu diperhatikan dengan seksama. dan Metropolitan Bandung – yang keempat adalah Mebidang di Sumatera Utara. Data ini menunjukkan adanya kemungkinan sektor konstruksi kembali menjadi penggerak urbanisasi yang terjadi di semua kota-kota besar di negeri ini. perlu diingat bahwa kecenderungan percepatan urbanisasi pada saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 terus berlangsung dan tetap bertahan. . Namun hasilnya masuk akal untuk membandingkan dengan proyeksi penduduk yang digunakan untuk SUSENAS (Survei Sosial-Ekonomi Nasional). dimana proses urbanisasi terjadi. Contohnya. Walaupun ada kecenderungan dalam pengambilan data podes kurang sistematis.

yaitu kurang dari sepertiga jumlah penduduk di Jabodetabekjur.8 juta jiwa. Metropolitan Bandung 7. peta-peta tersebut juga menunjukkan koridor perkotaan. proyeksi penduduk di lima wilayah metropolitan sebagai berikut: Mebidang 4. Kawasan metropolitan di luar Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit. Pihak swasta dan pengembang merespon terhadap inisiatif-inisiatif tersebut dengan membangun lingkungan perkotaan dan kawasan tertutup (enclave) berupa real estate baik yang berskala besar maupun kecil.3 juta jiwa. bermula pada daerah inti yang berkembang menjadi lebih terbangun dan proses urbanisasi terus meluas.12 Disamping itu. Ekonomi. Gerbangkertosusila hanya memiliki 8. Hal ini dapat dilihat dalam kasus Jabotabek yang perkembangan kotanya terjadi di sepanjang koridor arteri timur – barat. 12 . Urbanisasi merupakan suatu bentuk pencarian atas pelayanan sosial dan ekonomi serta penghidupan yang lebih baik. Jabodetabekjur 25. biasanya perluasan itu mengikuti jaringan transportasi utama khususnya pada jalan utama. dan Metropolitan Bandung dengan 7.3 juta jiwa. dan Kependudukan 135 kedua.2 juta jiwa dan Mamminasata hanya sebesar 2.2 juta jiwa (TABEL 5 .1 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mebidang Data SUSENAS 2004. Masyarakat miskin dengan sendirinya mengisi ruang-ruang antara yang tersisa baik yang legal maupun ilegal.Sosial. yang selanjutnya ditunjang dengan pembangunan jalan-jalan arteri utama. Pihak swasta membangun perumahan untuk golongan ekonomi menengah ke atas dengan mengesampingkan masyarakat miskin.6).3 juta jiwa. Oleh karena itu. jika pembangunan jalan arteri utama dibangun berdasarkan keputusan pemerintah maka perkembangan perkotaan juga ditentukan secara langsung oleh pemerintah. GAMBAR 5 .1 juta jiwa. dengan Penduduk Mebidang hanya sebesar 4.

3 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Bandung Raya .2 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur GAMBAR 5 .136 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .

5 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mamminasata .4 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila GAMBAR 5 . dan Kependudukan 137 GAMBAR 5 .Sosial. Ekonomi.

Pulau Sumatera. sehingga kota-kota metropolitan di Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih besar. pendatang juga membayar pajak yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur fisik dan sosial perkotaan. Kota metropolitan terkecil yang dibahas dalam bab ini adalah Mamminasata yang relatif kurang terbangun. Para pendatang dituding sebagai penyebab meningkatnya kemacetan dan mereka menggunakan fasilitas dan pelayanan kota yang tidak direncanakan untuk mereka. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak hanya dalam arti wilayah ataupun karakteristik desa-kotanya. merupakan suatu masalah. yang memiliki primacy rate13 yang besar mengungguli kota-kota metropolitan lainnya. seperti Jabodetabekjur. Angka yang menunjukkan daya tarik kota besar yang didapatkan dari perbandingan jumlah penduduk kota besar tersebut dengan jumlah penduduk di dua kota berikutnya 13 . sehingga tidak mengherankan jika kota metropolitan pertama di luar Pulau Jawa adalah Kota Medan. Bagaimanapun mereka terlalu menggantungkan pada kondisi fisik dan sosial infrastruktur kota yang juga menyebabkan keterpurukan mereka. Mengapa Tinggal di Kota-Kota Metropolitan? Pembahasan mengenai proses urbanisasi dan metropolitanisasi serta pertumbuhan dan penurunan penduduk di atas terlepas dari penilaian baik atau buruk. Kenyataan ini dapat dimaklumi karena Pulau Jawa sejak dahulu memiliki penduduk yang lebih besar jika dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa penilaian dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang tertentu. terutama mereka yang miskin.7 yang mengkombinasikan perbedaan mencolok antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Pembangunan di masa lalu pun cenderung terpusatkan pada wilayah barat Indonesia. Kota-kota metropolitan di Pulau Jawa biasanya lebih besar. Jika dilihat dari sudut pandang perencana atau pengelola kota. Namun. tetapi terutama dalam hal penduduk. kedatangan penduduk.138 Metropolitan di Indonesia Perbandingan pola kepadatan dan penyebaran desa-kota dan kota pada lima kotakota metropolitan ditunjukkan oleh TABEL 5 .

Sosial. Bekasi di bagian timur dan Bogor di bagian selatan. Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun. meliputi sebagian besar wilayah Sidoarjo dan desa-desa sekitarnya hingga terhubung dengan Kota Mojokerto. Desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tersebar hampir diseluruh kawasan metropolitan Bandung. secara dominan berkembang sepanjang koridor barat – timur . daerah sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang memiliki kawasan terbangun yang terbatas. Seluruh wilayah Jakarta merupakan kawasan terbangun. Bandung Perkembangan kawasan perkotaan di Metropolitan Bandung berawal dari pusat Kota Bandung ke wilayah sekitarnya hingga ke wilayah Kabupaten Bandung. Gerbangkertosusila memiliki karakteristik tingkat urbanisasi penduduk yang tinggi yang dapat dilihat dari persebaran desa-desa dengan jumlah penduduk Hal yang sama. Gerbangkertosusila Perkembangan kawasan perkotaan di Gerbangkertosusila berawal dari pusat Kota Surabaya. Tingkat Ekologi Perkotaan Tingkat Urbanisasi Penduduk Kepadatan desa-kota dengan populasi lebih dari 2000 jiwa tidak terlalu banyak dan di wilayah luar Kota Medan desa-desa ini lebih tersebar. dan Kependudukan 139 TABEL 5 . Ke arah timur Kabupaten Deli Serdang yang merupakan daerah pantai. angkaangka menunjukkan tingkat urbanisasi penduduk di kawasan metropolitan ini masih rendah. tetapi lebih terpusat di sekitar Kota Tingkat desa-kota yang tinggi tentu saja ditemukan di Kota Surabaya dan Kota Mojokerto bahkan juga di Kabupaten Sidoarjo. . Ekonomi. kawasan terbangun masih terpusat pada daerah inti dengan beberapa kantungkantung pertumbuhan disekitarnya. Mebidang bukan merupakan kawasan terbangun yang padat melainkan bentuk penyebaran desa-kota hingga ke wilayah kabupaten Deli Serdang Jabodetabekjur Lima wilayah kota di DKI Jakarta merupakan kawasan inti perkotaan dengan kepadatan tinggi yang terus berkembang ke arah utara – selatan dan timur – barat hingga ke wilayah Tangerang di bagian barat. Dibandingkan dengan lima kota metropolitan lain yang dibahas di sini.7 Sudut Pandang Ekologi dan Kependudukan Metropolitanisasi Penyebaran Kawasan Perkotaan Mebidang Berawal dari Kota Medan sebagai kota inti. Perkembangan ke arah barat menghubungkan Kota Medan dengan Kota Binjai. Di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lamongan desa-kota nya lebih tersebar. Mamminasata Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun dibandingkan dengan lima kota metropolitan yang dibahas disini. Tangerang dan Bekasi pada proses terbangun dengan tingkat yang tinggi sedangkan Bogor masih memiliki wilayah pedesaan yang lebih luas. Pola urbanisasi ditunjukkan sebagai desa-kota dan desa dengan populasi 2000 jiwa atau lebih merupakan patokan yang dapat Diluar Kota Bandung.

Penyebaran Urbanisasi Penduduk Jabodetabekjur dibandingkan. Desa-desa di Pulau Jawa. termasuk Bogor dan Cianjur. dalam hal kependudukan wilayah ini sangat terbangun karena desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih secara luas tersebar di seluruh wilayah ini. . Penyebaran desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih menyerupai perluasan desa-kota. Dalam hal urbanisasi penduduk. Bandung Bandung. terpusat di sekitar Kota Bandung. Mamminasata Masih serupa dengan Makassar dan menyebar secara lambat ke desa-desa sekitarnya. Desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih. dapat juga ditemukan pada sebagian besar wilayah metropolitan.140 Metropolitan di Indonesia Mebidang Perluasan Ekologi Perkotaan Perluasan kawasan metropolitan ke wilayah Kabupaten Deli Serdang menunjukkan tingkat kawasan terbangun yang relatif rendah. Gerbangkertosusila 2000 jiwa atau lebih Desa-kota di kawasan metropolitan ini cenderung untuk mengelompok keluar dari wilayah inti Kota Surabaya menuju kabupaten-kabupaten sekitarnya. Penambahan wilayah Cianjur yang memiliki kawasan terbangun rendah ke dalam kawasan metropolitan mempengaruhi tingkat kawasan terbangun secara keseluruhan. melalui Kota Medan menuju Kota Binjai dan ke arah selatan sepanjang pantai. Kawasan terbangun masih terjadi di sekitar Kota Bandung. Seperti kawasan metropolitan lainnya di Pulau Jawa yang penduduknya sangat besar. desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tidak tersebar secara luas di wilayah metropolitan ini. sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang masih terdapat banyak kawasan pedesaan. sebagian besar memiliki penduduk lebih dari 2000 jiwa. memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak.

pertambangan dan penggalian. Bidang Industri meliputi industri manufaktur. polusi dan banyak terdapat penyakit-penyakit perkotaan lainnya. pemulung yang sangat miskin pun masih menganggap kehidupan di kota besar ‘lebih baik’ daripada di tempat asal mereka yang memiliki peluang ekonomi terbatas atau bahkan sama sekali tidak ada karena mereka tidak memiliki lahan. akan tinggal di metropolitan yang merupakan pusat bisnis yang merupakan tempat kehidupan bagi mereka. Sumber : Tabulasi khusus oleh IHS berdasarkan data Susenas BPS 2004 . dan Kependudukan 141 Seringkali orang ditanya mengapa ingin tinggal di Jakarta. Generasi muda dapat memasuki lembaga-lembaga pendidikan yang lebih baik dan memperoleh ‘kebebasan’ berekspresi termasuk dalam hal berbusana. TABEL 5 . keuangan.8 Daya Tarik Permukiman di Kawasan Metropolitan Mebidang Indikator Kota Rasio Ketergantungan Rasio Registrasi Sekolah usia 16-18 tahun % populasi penduduk usia di atas 15 tahun lulusan SMA % Tenaga Kerja di Bidang Pertanian % Tenaga Kerja di Bidang Industri % Tenaga Kerja di Bidang Jasa Tingkat Pengangguran 49 72 Desa 60 59 Jabodetabekjur Kota Desa 42 65 63 27 Bandung Raya Kota Desa 47 59 54 40 Gerbangkertosusila Kota Desa 42 72 49 52 Mamminasata Kota Desa 47 66 59 39 47 29 48 16 38 18 48 30 55 38 7 29 64 19 59 17 34 16 3 33 65 17 45 17 39 17 8 36 56 21 39 27 34 15 6 33 61 13 58 17 26 12 4 18 77 20 58 13 29 17 Catatan: Rasio Ketergantungan merupakan pembagian antara jumlah penduduk usia 0 -14 tahun ditambah dengan usia diatas 65 tahun dengan jumlah penduduk usia 15 – 64 tahun (usia produktif). tetapi disitulah tempat orang dapat menemukan susu dan madu walaupun tidak berlimpah. Jawabannya sangatlah sederhana. muda dan tua. padahal kota-kota metropolitan itu identik dengan masalah kemacetan. Ekonomi. Bisnis. Para politisi akan berada di ibu kota yang merupakan pusat kekuasaan dan keuangan. pria dan wanita. Bahkan. atau di kota-kota metropolitan lainnya di Indonesia. perburuan dan perikanan. dan konstruksi. Di kota-kota itulah terdapat banyak aktivitas.Sosial. Hal yang sama juga dilihat oleh golongan kaya dan miskin. Keberuntungan masih dapat ditemukan di kota-kota besar di kawasan metropolitan. pelayanan sosial dan lain-lain. kehutanan. jauh dari pengawasan sosial keluarga serta fasilitas-fasilitas hiburan yang banyak dan beragam. Rasio Registrasi Sekolah adalah perbandingan antara penduduk yang bersekolah dengan jumlah penduduk pada rentang umur tertentu. golongan kuat dan lemah. transportasi. Bidang Pertanian mencakup pertanian. polusi. kriminalitas dan hal-hal negatif lainnya menjadi konsekuensi yang dapat diterima untuk mendapatkan semua keuntungan tersebut. terutama bisnis skala besar. Bidang Jasa mencakup perdagangan. meskipun orang tahu bahwa jalan-jalan tidak berlapis emas. Kemacetan.

tidak semuanya membawa sukses. namun. Penyerapan tenaga kerja di bidang industri. Secara khusus. Hal yang sama juga terjadi pada sektor pemerintahan yang terletak di kota pusat pemerintahan. Hasilnya di beberapa metropolitan terpilih menunjukkan bahwa kedua indikator tersebut lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Ini menunjukkan bahwa penduduk kota memiliki beban tanggungan lebih ringan yang biasanya memiliki jumlah anak yang membutuhkan investasi sosial berupa kesehatan dan pendidikan yang lebih sedikit. . Sebagaimana kita ketahui. Lebih beragamnya jenis pekerjaan dan peluang penghidupan di kota dibandingkan di desa adalah penyebab dan akibat dari kesemerawutan kota.142 Metropolitan di Indonesia Kenyataan di atas didukung oleh beberapa fakta dalam hal pendidikan dan pekerjaan. Sebaliknya. karena ini hanyalah sementara. menjadi pengangguran pun tidak masalah sekalipun kemungkinannya tinggi. meskipun termasuk perdagangan skala kecil yang dikenal sebagai sektor informal. Namun. sebagaimana ditunjukkan dengan perbandingan indikator kependudukan antara kota dan desa di beberapa metropolitan yang dibahas (TABEL 5 . yang biasanya menyulut gejolak sosial. Sektor transportasi. Rasio ketergantungan (perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 dan >65 tahun dengan jumlah penduduk berumur 15-64 tahun) lebih rendah di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan di wilayah metropolitan yang menggambarkan dinamika pola ruang. dan terutama dari segi jumlahnya. yang merupakan satu-satunya sistem transportasi yang diterapkan di negara yang membayar sopir dengan gaji tetap dan terbuka baik bagi pria maupun wanita. yaitu tingkat registrasi penduduk usia sekolah menengah atas dan persentase penduduk dewasa (di atas 15 tahun) yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan menengah atas. seiring dengan semakin orang miskin lebih memilih tinggal di perdesaan dan status pengangguran seringkali menjadi sesuatu yang sulit diterima. termasuk angkutan kendaraan bermotor roda dua yang dikenal dengan nama “ojek” masih lebih banyak tersedia di daerah permukiman padat. termasuk industri skala kecil dan menengah. Inovasi terbaru tentu saja berupa bus way Jakarta. Di samping itu. Ketimpangan yang lebih signifikan terjadi pada sektor jasa. lebih banyak tersedia di daerah perkotaan daripada daerah perdesaan. wilayah terbangun metropolitan dihuni oleh penduduk usia produktif yang dapat menikmati pendidikan yang lebih baik dan menemukan pilihan pekerjaan yang beragam meskipun di tengah-tengah ancaman pengangguran. penduduk kota jauh lebih terdidik daripada penduduk desa. fasilitas dan pelayanan pendidikan. hanya sebagian kecil penduduk perkotaan yang bekerja atau terpaksa bekerja di sektor pertanian mengingat mereka memiliki pilihan kerja yang lebih luas. Dengan harapan dapat memenuhi keinginan. Kami telah memilih dua indikator pendidikan. satu-satunya perbedaan tipis antara tingkat pengangguran yang tinggi di kota dan di desa menjadi tanda perlunya perhatian.8). Terdapat beberapa peluang penghidupan di perkotaan. Sektor keuangan atau perbankan biasanya ditemukan di perkotaan yang memiliki peluang bisnis. mall hanya dibangun di daerah padat dimana penjual dapat menemukan sumber penghidupannya. Dengan kata lain. masih merupakan fenomena perkotaan daripada perdesaan.

pusat perbelanjaan. Ekonomi. Sementara 4 dari 10 orang tinggal di kota pada tahun 2000. Tantangan Urbanisasi bukan hanya fakta kehidupan tetapi juga terus meningkat. Yang terpenting untuk dicatat adalah. dan Kependudukan TABEL 5 . pasar. berarti 120 juta akan tinggal di aglomerasi perkotaan. pompa atau sumur Jalan beraspal Kantor Pos Telepon Umum/Wartel Pusat Perbelanjaan Pasar Permanen/ Semi-permanen Hotel/guest house Bank Supermarket 34 44 3 99 143 31 21 75 Fasiltas/1000 penduduk 85 263 121 2370 38 56 33 44 4 32 3 24 % Desa-desa dengan fasilitas 98 82 88 52 73 35 3 90 55 21 74 51 33 4 99 23 33 71 82 13 89 42 26 20 30 30 41 2 30 1 5 3 92 32 99 60 34 24 42 64 59 3 70 7 7 4 1 4 93 23 99 51 26 23 35 48 81 4 65 6 9 4 2 3 91 13 97 39 26 13 24 32 53 1 67 6 12 1 2 1 95 15 98 52 24 29 32 19 62 2 59 5 21 2 4 1 0 Sumber : Tabulasi Khusus oleh IHS berdasarkan data PODES 2005 BPS Penegasan mengenai keberutungan di kota secara jelas ditunjukkan pada TABEL 5 9. hotel. bank dan supermarket) lebih besar di perkotaan dibanding di pedesaaan. Dengan perkiraan jumlah penduduk Jawa akan mencapai 151 juta pada tahun 2025. Tabel itu memperlihatkan bahwa secara umum proporsi rumah tangga yang memiliki akses listrik di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan di pedesaan di beberapa kawasan metropolitan yang dibahas.Sosial. wartel. Akses terhadap air bersih. hampir separuh (49 persen) jumlah penduduk Pulau Jawa tinggal di perkotaan dan diperkirakan pada tahun 2025 hampir 8 dari 10 penduduk Pulau Jawa akan tinggal di perkotaan.10). dalam dua dekade ke depan diperkirakan bahwa hampir 7 dari 10 orang akan tinggal di kota. walau bagaimanapun. Proyeksi BPS menunjukkan bahwa jumlah total penduduk Indonesia terus bertambah dari 206 juta pada tahun 2000 menjadi 275 juta pada tahun 2025 (TABEL 5 .9 Ketersediaan Fasilitas dan Pelayanan Mebidang Kota 89 Desa 85 Jabodeta bekjur Kota Desa 93 69 Bandung Raya Kota Desa 86 74 Gerbangkertosusila Kota Desa 88 69 143 Mamminasata Kota 91 Desa 67 % Rumah Tangga dengan Listrik Rumah Sakit Puskesmas Praktek Dokter Sumber air minum/masak dari PAM. Hal yang sama juga terjadi dalam hal ketersediaan fasilitas dan pelayanan kesehatan serta fasilitas dan infrastruktur yang mempengaruhi kualitas kehidupan. tingkat urbanisasi nasional terutama dipengaruhi oleh kondisi Pulau Jawa. Hal ini mengingatkan pengelola kota dan perencana tata ruang . jalan dan infrastruktur ekonomi (kantor pos. Menurut sensus penduduk tahun 2000.

1 25.8 28.5 54. perencana kota harus merencanakan masa depan dan masa depan berarti meningkatnya kawasan terbangun dan meluasnya kawasan metropolitan yang ada saat ini.3 35.3 Sumber: BPS.8 24.3 79.4 37.1 27.9 memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada menyediakan jawaban.8 32.0 41.9 48.144 Metropolitan di Indonesia akan tantangan yang akan mereka hadapi.0 38.0 58. Pembangunan infrastruktur fisik perkotaan harus direncanakan sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan berlangsung terus menerus dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik di kawasan metropolitan. Seseorang bisa hanya mengasumsikan mengapa desa tumbuh menjadi kota yang terus meluas kemudian .1 54.2 59.5 44.6 49.3 42.3 69. Indikator-indikator yang ditunjukkan TABEL 5 .10 Proyeksi Jumlah Penduduk dan Proporsi Penduduk Perkotaan Indonesia Menurut Pulau-pulau Utama Tahun 2000 .0 57.8 56. BAPPENAS.4 74.6 54.1 63.1 64. paling tidak bagi mereka yang gaya hidupnya terpenuhi oleh fasilitas-fasilitas dan pelayanan yang tersedia.0 68.6 24.5 38.8 53.1 40.3 44.6 43.7 48. Atau mungkin sudut pandang lain harus juga diperhatikan.4 27. Dengan kata lain.2025 2000 2005 2010 2015 2020 2025 Jumlah Penduduk (juta) Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 43 47 51 121 128 134 11 12 13 11 13 14 15 16 17 4 4 5 206 220 234 Penduduk Perkotaan (juta) 33.3 59. Peran apa yang ingin mereka mainkan? Apakah mereka akan berperan sebagai fasilitator atau justru berupaya menghalau kecenderungan ini? TABEL 5 . atau bukan suatu masalah.5 44. UNFPA.8 dan TABEL 5 . jika ada permasalahan yang diidentifikasi oleh perencana dan pengelola kota.5 26. solusinya harus ditujukan untuk mereka yang menikmati berbagai macam aktivitas kehidupan metropolitan karena mereka tidak meninggalkan metropolitan tetapi justru terus mengajak orang lain untuk tinggal di kota.8 34. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000–2025 Penutup Secara jelas telah dinyatakan bahwa metropolitanisasi menguntungkan.0 30.7 48.2 55 141 14 15 18 5 248 59 147 14 17 19 5 262 63 151 15 18 20 6 274 Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 49.

• • • • • Mengapa pola pertumbuhan kota metropolitan menjadi seperti yang selama ini terjadi. perbedaan tersebut tidak mempengaruhi pesan yang disampaikan oleh buku ini. Catatan editor: Analisis ekonomi di bab ini menggunakan batasan jumlah penduduk perkotaan yang berbeda dengan analisis kependudukan di bab sebelumnya. Dibandingkan dengan kota-kota atau daerah-daerah lain. Semua ini berwujud kegiatan ekonomi riil baik ekonomi formal maupun informal. Medan. Sebagai kota besar dengan jumlah penduduk yang besar. Namun demikian. yang paling kecil adalah Kota Padang dengan penduduk 702 ribu jiwa (tahun 2000). Titik tolaknya selalu terkait dengan keuntungan lokasi kota bersangkutan. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga mengandung rekomendasi untuk diteliti lebih lanjut. apakah ada ‘invisible hand’ yang mengarahkan proses itu? Apa peran dan tanggung jawab pemerintah? Pemerintah pada tingkat mana? Bagaimana dengan peraturan zoning? Apakah ada dan dijalankan? Apakah pemerintah mengarahkan di mana seharusnya pihak swasta harus membangun atau sebaliknya? Apakah proses urbanisasi dan metropolitanisasi merupakan proses ‘alami’ dengan pasar merupakan kekuatan satu-satunya? EKONOMI PERKOTAAN14 Pendahuluan Pertumbuhan kota-kota selalu berbasis pada faktor ekonomi. ada beberapa kota di Indonesia mempunyai ukuran besar dengan penduduk lebih dari 700 ribu jiwa15. yaitu: kota besar/metropolitan mempunyai penduduk lebih dari 700 ribu jiwa. Kota-kota yang cepat berkembang pada dua dekade terakhir ini dapat ditengarai adanya potensi lokasi yang sangat menonjol. utamanya dalam pelayanan. Jumlah kota-kota besar ini ada sekitar 14 kota. 15 Hasil penelitian empiris oleh Bambang dan Ringgi (2003) dalam pengelompokan besaran kota-kota di Indonesia ditemukan 3 kelompok. dan Kependudukan 145 bersama-sama dengan desa disekitarnya berubah menjadi permukiman perkotaan. 14 . Kota sedang berpenduduk antara 200 ribu jiwa dan 700 ribu jiwa. Pertumbuhan ini dapat diwakili oleh pertumbuhan penduduk yang pesat dan sekaligus pertumbuhan ekonominya. Ekonomi. Surabaya. kota-kota tersebut mengalami berbagai persoalan. Persoalan ini semakin kronis ketika jumlah penduduk terus meningkat yang umumnya berasal dari migrasi masuk ke kota yang disebut dengan urbanisasi.Sosial. seperti Jakarta. dan Makassar yang sering disebut dengan metropolitan menunjukkan kekuatan lokasi yang strategis sehingga terus tumbuh dan berkembang. Kota-kota besar yang ada sekarang ini. Bandung. sedangkan kota kecil berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa.

7 1.9 5.8 6. Kota-kota besar/metropolitan mempunyai tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi.0 8. Baca penjelasan TABEL 5 .5 -0.4 3.1* Kota Sedang (>200 ribu. Namun kemudian pada periode berikutnya.5 2002 1.1 5.4 persen16.4 1.0 1999 -0.2 -0.3 persen (hampir sama dengan laju pertumbuhan penduduk nasional). BPS Pada TABEL 5 . pada periode 1990-2000 terjadi penurunan urbanisasi. Pertumbuhan penduduk kota yang paling dramatis terjadi pada periode 1980-1990 dengan laju pertumbuhan 2.2 1.9 -6. Seperti yang bisa disimak pada Perhitungan laju pertumbuhan pada periode 1980-1990 sebesar 2.4 9. Selama ini laju pertumbuhan yang diakui pada periode tersebut sebesar 3.1 4.4 persen adalah hasil penelitian oleh penulis.0 -1.4 3. TABEL 5 . tetapi bila terjadi krisis ekonomi. TABEL 5 .11 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota 1980-1990 dan 1990-2000 1980-1990 (%) 1990-2000 (%) Kota Besar (>700 ribu) 2. 16 . Lihat TABEL 5 .0 -13.4 persen.12 di atas juga dapat dikenali karakteristik kota-kota besar yang berbeda dengan kota-kota ukuran lebih rendah yaitu : 1.07 Rata-rata Kota 2.4 persen tersebut terdapat kesalahan yaitu memasukkan desa-desa yang menjadi kota dan memasukkan daerah-daerah perluasan kota dalam perhitungan pertumbuhan.6 1998 -5.13.3 11. Data PDRB Kabupaten/Kota.146 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .12 Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota-kota dan Nasional Sebelum dan Pasca Krisis Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Skala Wilayah Kota Kecil (<200 ribu) Kota Sedang (>200 ribu.12 di bawah ini menunjukkan kemungkinan tersebut.0 Sumber: Hasil analisis. juga karena adanya alternatif bagi migran untuk menjadi TKI di luar negeri (menurut informasi dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. menurunnya tingkat urbanisasi ini selain dampak menurunnya tingkat ekonomi kota akibat krisis ekonomi 1998 yang lalu. Diduga. Menurut penulis angka pertumbuhan 3. terjadi penurunan drastis dari 2.4 persen menjadi 1.1persen. yaitu 1990-2000.4 0. jumlah TKI di Luar Negeri sekitar 5 juta jiwa). sedangkan kota-kota besar sekitar 2.3 Sumber: Hasil Analisis *) Secara fungsional. <700 ribu) 2. maka kota-kota besar/metropolitan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang sangat tajam. Dengan demikian.11. pertumbuhan kota besar jauh lebih besar dari angka 1. <700 ribu) Kota Besar + Metropolitan(>700 ribu) Rata-rata Kota Nasional 1996 7.1 -6.7 persen.5 Kota Kecil (<200 ribu) 2.9 -13.

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

147

TABEL 5 - 12, pada periode 1996 pertumbuhan ekonomi sebesar 11 persen, tetapi

pasca krisis tahun 1997 yang lalu, laju pertumbuhan ekonomi mendadak kontraksi (minus) 13 persen. Namun demikian, ketika kondisi normal, maka laju pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan kembali ”leading”. Ini menunjukkan bahwa ekonomi kota-kota besar/metropolitan cukup ”vulnerable”. 2. Bandingkan dengan kota-kota kecil yaitu ketika situasi normal mempunyai laju pertumbuhan moderat sebesar 7,4 persen dan ketika terjadi krisis hanya mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen. Kemudian ketika situasi normal hanya terangkat menjadi 1,8 persen. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kota-kota kecil kelihatannya sudah steady atau mungkin terhambat.
TABEL 5 - 13 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota Metropolitan
Laju Pert. Penddk 1980-1900 (%) 2,41 4,13 Laju Pert. Penddk 1990-2000 (%) 0,16 2,25

No. 1.

Nama Kota Jakarta Kab. Bogor

Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi 2. Surabaya

0,94 6,10 6,29 2,05

10,97 4,12 4,70 0,43

3.

Kab. Sidoarjo Medan Kab. Deliserdang Bandung

3,17 2,30 2,59 3,47

2,97 0,97 2,09 0,41

Keterangan Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan Terjadi pengurangan wilayah akibat pemekaran kota Bogor dan kota Depok. Terjadi pemekaran wilayah kota Belum terbentuk. Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan. Laju pertumbuhan tetap tinggi Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan Laju pertumbuhan tetap tinggi

Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan. Kab. Bandung 1,83 2,71 Kenaikan laju pertumbuhan Sumber: Penduduk Indonesia, Hasil Sensus Penduduk 2000, BPS

4.

Berdasarkan kajian di atas memperteguh kesimpulan bahwa : 1. Kota-kota besar/metropolitan sangatlah lentur dalam menanggapi pertumbuhan, sementara kota-kota kecil terlalu kenyal. Dengan sifat yang lentur, maka kota-kota besar/metropolitan akan selalu menghadapi dinamika pertumbuhan dan sekaligus menghadapi dampak pertumbuhan itu sendiri.

148

Metropolitan di Indonesia

2. Dampak dari pertumbuhan yang mulai meningkat lagi pada pasca krisis adalah meningkatnya lagi urbanisasi pada pasca tahun 2000 walaupun tidak sedramatis tahun sebelum 1990 yang lalu. Angka-angka urbanisasi memang sulit diidentifikasi, tetapi bisa ditandai dari laju pertumbuhan penduduk yang tinggi pada kota bersangkutan. Namun demikian, perkembangan kota-kota besar/metropolitan umumnya sudah melampaui batas administrasinya atau mengalami kejenuhan sehingga laju pertumbuhan penduduk (dengan data penduduk sesuai dengan batas administrasi) akan terdata rendah (karena sedikitnya pemukiman baru). Dengan demikian, pertumbuhan penduduk di kota-kota besar/metropolitan akan terdata rendah dan kecenderungan urbanisasi itu akan terdata pada daerah-daerah/kota-kota yang berada di sekitar kota metropolitan bersangkutan dengan laju pertumbuhan yang tinggi. Hal ini dapat dikaji pada beberapa kota besar/ metropolitan seperti Jakarta dengan Bodetabek, Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo, Medan dengan Deli Serdang dan Binjai, atau Bandung dengan Kabupaten Bandung sebagaimana yang bisa diteliti pada TABEL 5 - 13. Pertumbuhan penduduk kota-kota metropolitan tersebut akan berimplikasi pada corak ekonomi kota-kota bersangkutan. Secara agregat, pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah bersangkutan. Seberapa jauh pertumbuhan penduduk kota-kota besar dibarengi oleh pertumbuhan ekonominya. maka bisa dikaji bagaimana corak PDRB perkapita dengan data-data PDRB tahun 1998 dan 2002 atas dasar harga tetap (1993) dan estimasi data penduduk tahun 1998 dan 200217 sehingga dapat dihitung PDRB per kapita dan laju pertumbuhan PDRB per kapita sebagaimana yang dapat disimak pada TABEL 5 - 14 di atas. Dengan demikian, ada empat kategori pertumbuhan ekonomi yang dapat diberikan sebutan sebagai berikut: a. Kota besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB per kapita juga lebih tinggi dari rata-rata. Kota seperti ini disebut sebagai kota ”star”. Hanya Jakarta Pusat dan Jakarta Utara yang pertumbuhan “leading” dan termasuk kota “star”;

b. Kota besar dengan PDRB per kapita lebih rendah dari rata-rata tetapi pertumbuhan PDRB perkapitanya lebih tinggi dari rata-rata, disebut sebagai kota “growing”. Kota Bandung, Padang, dan Palembang termasuk kota yang sedang tumbuh atau “growing”. c. Kota Besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB perkapitanya juga lebih rendah dari rata-rata, disebut Kota “steady”. Ada sembilan kota dari 19 kotakota besar/metropolitan yang termasuk dalam kota “teady” atau kota yang pertumbuhan ekonominya terhambat.

d. Kota Besar dengan PDRB per kapita lebih tinggi dari rata-rata, tetapi pertumbuhan PDRB per kapitanya lebih rendah dari rata-rata disebut sebagai Kota ”mature”. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Surabaya.
Data PDRB tahun 1998 digunakan atas pertimbangan linearitas. Seperti diketahui bahwa pada tahun 1997 terjadi krisis dan terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang drastis sehingga data-data tahun 1997 dan sebelumnya tidak bisa dibandingkan atau tidak linear. Data PDRB tahun 2002 digunakan karena data ini sudah merupakan data final.
17

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

149

TABEL 5 - 14 PDRB Per kapita dan Laju Pertumbuhannya
PDRB 1998 (juta) (1) 4.833.911,19 2.321.172,65 2.652.629,00 1.584.900.00 12.264.754,68 16.074.778,28 6.109.404,20 13.074.022,33 9.857.557,04 5.680.177,00 5.294.952,14 3.060.637,00 1.327.648,33 915.583,00 4.737.732,57 2.323.694,19 15.429.196,46 2.589.506,89 JML PDDK 1998 (2) 1.881.080 702.638 1.406.774 731.406 1.783.298 2.337.276 888.309 1.900.966 1.433.291 1.259.840 2.133.091 1.565.698 1.120.836 727.118 1.335.042 743.965 2.577.732 1.075.404 PDRB/ KAPITA 1998 Po (3) = (1)/(2) 2,570 3,304 1,886 2,167 6,878 6,878 6,878 6,878 6,878 4,509 2,482 1,955 1,185 1,259 3,549 3,123 5,986 2,408 PDRB 2002 (juta) (4) 5.799.222,07 2.682.462,36 3.179.588,00 1.815.272,00 11.644.849,21 12.305.853,81 15.929.738,60 10.353.071,91 14.050.749,60 6.616.456,50 6.694.331,05 3.732.084,00 1.459.981,62 1.279.881,96 5.626.854,73 2.692.919,81 14.565.521,28 3.205.558,44 JML PDDK 2002 / 2003 (5) 1.993.602 765.450 1.339.315 790.895 1.707.093 2.103.525 893.195 1.565.708 1.182.749 1.416.840 1.867.010 1.809.306 1.247.233 789.423 1.350.002 772.642 2.659.566 1.148.312 Rata-rata PDRB/ KAPITA Pt (6) = (4)/(5) 2.909 3.504 2.374 2.295 6.821 5.850 17.835 6.612 11.880 4.670 3.586 2.063 1.171 1.621 4.168 3.485 5.477 2.792 4.950 LAJU PERTBH PDRB / KAPITA 1998 - 2002 α=(Pt/Po)¼ -1 (7) 0.0315 0.0149 0.0593 0.0145 -0.0020 -0.0396 0.2690 -0.0098 0.1464 0.0088 0.0963 0.0135 -0.0030 0.0652 0.0410 0.0278 -0.0220 0.0376 0.0416

NAMA KOTA (0) Medan Padang Palembang Bandar Lampung Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Tangerang Bandung Bekasi Depok Bogor Semarang Malang Surabaya Makassar

Karena tidak didukung oleh ketersediaan lahan yang mencukupi maka perkembangan kota akibat tekanan pertumbuhan ekonomi ini akan berimbas pada kawasan sekitar kota besar/ metropolitan yang bersangkutan (spread development). Kota-kota “star” seperti Jakarta Pusat dan Jakarta Utara merupakan kota yang ekonominya terus berkembang dan sangat dinamis. Diperkirakan masih banyak faktor-faktor percepatan ekonomi yang belum kondusif. . Dengan demikian secara berangsur dan cepat. Kota-kota “rowing” seperti Bandung. Kota-kota ”steady” yang merupakan sebagian besar kota-kota besar/metropolitan ini walaupun sedang tumbuh. Kota-kota ”mature” seperti Jakarta Selatan. Jakarta Pusat dan Jakarta Utara akan menjadi kawasan komersial. pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan di Indonesia mempunyai implikasi sosial dan fisik sebagai berikut: 1.3 persen18. Kembalinya urbanisasi yang meningkat (butir 1). pertumbuhannya tersendat dan berjalan tidak secepat kota-kota ”star”. Oleh karena itu. Tetap mempunyai daya tarik ekonomi dan akan menarik kembali tingkat urbanisasi.16 persen (lihat TABEL 5 . Posisi pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan tersebut ditunjukan dalam GAMBAR 5 . sehingga pertumbuhannya relatif melambat. termasuk implikasinya terhadap pergeseran tata ruang (perumahan menjadi komersial). berkurangnya 18 PDRB Per Kapita dan pertumbuhannya secara nasional dari sumber: ”Kajian Pertumbuhan Kota-kota Dalam Rangka Pembangunan Prasarana Ke-PU-an”.6. Padang. 4. 2. dan Palembang sedang mengalami perkembangan yang sangat cepat. Jakarta Barat. hanya saja modal ekonominya masih rapuh. Pertumbuhan ”spread” adalah pertumbuhan kota yang tidak efisien dan menimbulkan banyak dampak antara lain: kemacetan lalu lintas. dan Surabaya mempunyai fenomena yang sama dengan ”star” di atas. Kegiatan TA 2005. Jakarta Timur. PUSTRA. 2. 3. Akibat dari hambatan ini.14) adalah jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDRB per kapita total kota-kota yang sebesar 2. tetapi tetap kota-kota besar/metropolitan mempunyai posisi pertumbuhan PDRB per kapita yang rata-ratanya 4.150 Metropolitan di Indonesia Berdasarkan kategori di atas maka implikasi pertumbuhan ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut: 1. tetapi masih mengalami hambatan karena layanan prasarana dan fungsi perumahan yang masih kuat. Dari kategorisasi kota-kota besar/metropolitan tersebut di atas. Dalam banyak kasus yang mengalami tekanan seperti ini adalah peruntukan perumahan. Karena terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka terjadi desakan-desakan pemanfaatan ruang ke arah penggunaan yang lebih komersial. 3. Terjadinya pergeseran peruntukan lahan kota dari perumahan menjadi kawasan komersial dengan tingkat perubahan yang berbeda-beda. 4. walaupun sebagian besar dikategorikan sebagai ”steady”. tetapi masih banyak hal yang menghambat.

dan Makassar Jakarta Pusat dan Jakarta Utara PDRB/Kap. Medan.Tangerang. Jakarta Barat. PDRB/Kap. Jakarta Timur. Depok.Lampung. dan sulitnya mengembangkan jaringan prasarana secara terpadu.Sosial. tidak termasuk kota-kota kabupaten yang tidak otonom. Pert. Bekasi.14 Bagaimanapun juga kota-kota besar/metropolitan tetap tumbuh ”leading” dibandingkan kota-kota lain yang kesemuanya didorong oleh fungsi ekonomi dan peranan ini tentunya juga ”leading” bagi perekonomian nasional. Bd. Lj. . Padang. 19 Yang dimaksud kota adalah kota otonom.6 Kategorisasi Kota-kota Besar/Metropolitan Cat: Analisis berdasarkan TABEL 5 . dan Makassar Jakarta Selatan. “growing” “star” Palembang. Semarang. Malang. Tantangan Kota sebagai pusat aglomerasi ekonomi dengan pola pertumbuhan sebagaimana diuraikan sebelumnya diakui mempunyai peranan yang sangat penting bagi ekonomi kota masing-masing dan ekonomi secara nasional karena: 1. dan Kependudukan 151 fungsi kawasan lindung akibat dimanfaatkan untuk perumahan. dan Surabaya “steady” “mature” GAMBAR 5 . Ekonomi. Bogor. Bandung. Sekitar 40-50 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional disumbang oleh 90 kota19 atau sekitar 20 persen dari sekitar 430 kabupaten/ kota di Indonesia.

Berdasarkan perkiraan perhitungan APBN 2005. PDRB per kapita kota-kota besar/metropolitan rata-rata Rp 4.5 juta) yang rendah ini dibandingkan dengan nasional (Rp 6. Walaupun kota-kota metropolitan secara agregat merupakan sumber ekonomi dan keuangan nasional. b. 22 Data-data APBD dan PDB dari BPS. Kota-kota besar/metropolitan dengan kompleksitas dan intensitas yang demikian tinggi serta merupakan ”focal point” ekonomi yang potensial itu. tetapi secara kapita kinerjanya lebih rendah dibandingkan kapita nasional yang dapat ditunjukkan bahwa : 1. Kemungkinan kedua: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan bekerja di ekonomi informal sementara angka PDRB tidak memasukkan kegiatan ekonomi informal. 3.152 Metropolitan di Indonesia 2. juga membawa resiko beban-beban berat yang selalu mengiringi potensi-potensi pertumbuhannya.5 juta. Kemungkinan pertama: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan yang masih miskin dan tinggal di kawasan-kawasan kumuh dan juga berarti terdapat kesenjangan kesejahteraan yang besar di kota-kota metropolitan.7 juta) menunjukkan 3 kemungkinan 22. PPN. Peranan ekonomi kota ini semakin menonjol pada kota-kota besar/metropolitan. pajak pribadi. Angka-angka per kapita kota-kota besar/metropolitan ini (yaitu Rp 4.7 juta. pajak final yang kesemuanya bersumber dari perkotaan. Seperti diketahui 80 persen APBN berasal dari pajak dan dari 80 persen pajak ini. . yaitu: a. sekitar 70 persen berasal dari pajak badan. Selain penting dalam perekonomian nasional. 20 21 Berdasarkan data-data PDRB 1999 – 2003. Semakin besar PDRB sebagai indikator ekonomi formal. Sedangkan PDRB Nasional per kapita sebesar Rp 6. Diperkirakan 50 persen dari APBN berasal dari pajak kota-kota besar/ metropolitan21. c. Potensi pertumbuhan yang sedang berlangsung itu tampaknya sulit dihentikan dan serta-merta beban-beban yang mengiringi juga terus menggelanjut. 2. dan 4. Ini berarti tumbuhnya kota-kota besar/metropolitan selalu diikuti dengan jumlah kemiskinan yang besar dan berkembangnya ekonomi informal seiring dengan besaran PDRB itu sendiri. 3. kota-kota metropolitan juga mempunyai peranan bagi sumber fiskal nasional. semakin berkembang pula kegiatan ekonomi informalnya. Sekitar 14 kota-kota metropolitan atau 3 persen dari total daerah menyumbang 30 persen PDB Nasional20. Kemungkinan ketiga: kemungkinan butir 1 dan 2 ada semua. selain menjadi pusat pertumbuhan utama.

Dalam situasi ini kota-kota besar/metropolitan seolah mengalami obesitas yang beresiko tinggi. Cara pengentasan kemiskinan dan pengaturan ekonomi informal oleh pemerintah daerah dapat dilakukan melalui kebijakan fiskal daerah dengan kapasitas yang dimilikinya. Penjumlahan penerimaan tersebut terangkum dalam APBD. kekurangan prasarana pada umumnya. kota-kota ukuran sedang 9. bantuan tunai. Sebagaimana telah diungkap di atas tentang adanya kemungkinan konsentrasi kemiskinan yang tinggi dengan corak praktik ekonomi informal yang berserak maka ada kesulitan bagi pemerintah kota-kota metropolitan untuk menanganinya.15). Rasio APBD terhadap PDRB bagi kota-kota besar/metropolitan rata-rata hanya 4 persen. dan semacam itu kemungkinan besar tidak memberikan tambahan nilai yang berarti. 23 . Semua ini menengarai bahwa perekonomian kota yang tumbuh selama ini ditopang oleh ”tulang-tulang penyangga” yang rapuh. Namun demikian. dan adanya ekonomi informal adalah kenyataan lain yang harus diatur agar menjadi kekuatan ekonomi alternatif. maka keluaran persoalan yang muncul utamanya pada persoalan fisik klasik menyangkut soal kemacetan lalu lintas. dan bantuan Pemerintah melalui Dana Alokasi Umum (DAU). adanya kemiskinan adalah kenyataan dan menjadi tugas pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mengentaskannya. Ekonomi. masing-masing kota haruslah meningkatkan daya saing. Dengan demikian. tantangan utama dalam pengelolaan kota-kota besar/metropolitan adalah strategi pembangunan prasarana yang memberi kemungkinan tumbuhnya investasi langsung baik dalam negeri maupun luar negeri (Foreign Direct Investment). maka sebenarnya upaya fiskal melalui belanja langsung APBD berupa belanja barang. Artinya bahwa peranan fiskal daerah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah hanya 4 persen dan 96 persen berasal dari sektor riil atau ekonomi masyarakat (Lihat TABEL 5 . kawasan kumuh. Bagi Hasil Pajak-pajak (BHP) yang ada (yang dikelola oleh Pemerintah). Adapun belanja APBD yang dikeluarkan setiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kota. Laporan penelitian Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Pada umumnya kapasitas fiskal kota-kota besar/metropolitan cukup potensial yang diperoleh melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). Mengingat bahwa porsi fiskal terhadap ekonomi kota ternyata sangat tidak signifikan dengan rasio yang hanya 4 persen.Sosial.8 persen. Porsi APBD terhadap PDRB sebesar 4 persen ini sangat kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 23 persen23. atau sensitif terhadap persoalan-persoalan yang mengiringi pertumbuhannya. Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP). dan Kependudukan 153 Dengan kemungkinan masalah perekonomian seperti kemiskinan dan kesenjangan kesejahteraan serta corak ekonomi informal yang mewarnai kehidupan kota-kota besar/ metropolitan sebagaimana yang diperkirakan di atas. persampahan. Dalam rangka menyongsong investasi itu. jumlah kapasitas fiskal berupa APBD ini dibandingkan dengan kapasitas ekonomi daerah ternyata tidaklah seberapa. dan kota-kota kecil sebesar 20 persen (Samiaji 2003). yang mungkin bermanfaat adalah belanja modal berupa prasarana yang bisa lebih memacu ekonomi riil masyarakat serta memicu investasi langsung. dan menurunnya tingkat kualitas lingkungan. menyatakan bahwa daya saing kota-kota besar/metropolitan secara Rasio APBD/ PDRB secara nasional 23 persen. kenaikan gaji. Namun bagi kota-kota besar/ metropolitan.

16 Peringkat Daya Tarik Investasi Kota-kota Besar/Metropolitan Tahun 2004 Peringkat Peringkat No.022 5.812 10. Bd. Padang B BB Kenaikan 8. Depok Belum diteliti.825 6. Medan C BB Kenaikan 10.03 0.399 11.977 7.051 8. DKI Jakarta 9.16.03 0. Palembang 547 14.154 Metropolitan di Indonesia umum semakin meningkat. Sumber: KPPOD . Bandung BB C Penurunan 12.BPS TABEL 5 . Daya saing kota-kota besar/metropolitan berdasarkan penelitian KPPOD secara berurutan adalah disajikan pada TABEL 5 .507 4. Malang 336 9. Palembang C AA Kenaikan 4.06 0.982 375. Bekasi 542 14.360 3. Surabaya 1.320 59. Lampung 369 6.127 Rata-rata Rasio (1)/(2) 0. Nama Kota APBD (2003) Dlm. Tangerang 523 20. Medan 1.745 14.02 0. Bandar Lampung C BB Kenaikan 9.08 0.04 0.03 0.290 13. Surabaya B BBB Kenaikan 6.03 0.078 2. TABEL 5 . Milyar Dlm. Semarang BB BB Tetap 7. Makassar AA 2003 belum diteliti 5.250 12.04 0.02 0. Bogor C C tetap 13.314 9. Nama Kota 2003 2004 Keterangan 1. Tangerang C BB Kenaikan 11. Bekasi D C Kenaikan 14.15 Rasio APBD terhadap PDRB (Harga Berlaku) PDRB (2004) No. Milyar (2) (1) 1. Bandung 962 27. Keuangan dan Data PDRB (atas Harga Berlaku) . Bogor 342 4.04 0. Jakarta C AA Kenaikan 3.06 0.04 0.04 Sumber : Hasil Analisis dari Data Keuangan SIKD Dep.03 0. Semarang 638 20. Makassar 531 13. Malang C AAA Kenaikan 2.168 33. Padang 397 11. Depok 390 6.

daya tarik investasi akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor prasarana dan faktor kelembagaan. Untuk itu. Walaupun unsur kelembagaan juga menentukan. pengembangan kelembagaan melalui kerja sama antar daerah khususnya dalam bidang pembangunan prasarana akan meningkatkan daya saing dan mampu mengundang investor untuk menanamkan modalnya di kota-kota metropolitan dan daerah-daerah yang berbatasan dengannya. 2. Oleh karena itu bagi kota-kota besar/metropolitan yang memiliki prasarana yang lebih lengkap dan kinerja ekonomi yang dinamis. termasuk zoning regulation. maka daya tarik terhadap investasi akan lebih nyata. Perkembangan ke luar yang terus melebar sehingga mulai menyatu secara fisik dengan daerah yang berbatasan. 3. Hubungan antara prasarana dan kelembagaan adalah: 1. Bagaimanapun juga. apabila ada upaya peningkatan kualitas kelembagaan.15 yang mengkategorikan Kota Malang sebagai kota ”steady”.16 menunjukkan kualitas yang konstan. 2. Kegagalan pengendalian tersebut diduga terjadi karena: .Sosial. sementara hasil analisis di TABEL 5 . Umumnya yang terjadi adalah pergeseran atau transformasi dari kegiatan perumahan menjadi kegiatan komersial. Perbedaan ini terjadi karena pemantauan dan penilaian daya saing yang dilakukan oleh KPPOD adalah potret sesaat dengan kemungkinan setiap tahun peringkatannya bisa berbeda. tanpa kelengkapan prasarana tetap saja tidak akan mengundang investasi. Perkembangan ke dalam. Sebagai kota besar/metropolitan dengan karakteristik perkembangan ”spread” dan bergabung dengan daerah-daerah di sekitarnya maka daya saing akan lebih mantap apabila ada sinerji antara kota besar/metropolitan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Walaupun prasarana suatu kota telah lengkap. Kota Malang malahan mempunyai daya saing yang paling tinggi di antara kota-kota besar/metropolitan lainnya. yaitu pergeseran di dalam kawasan terbangun kota. di peringkat KPPOD. Sebagai contoh: Semarang. tanpa pengembangan kelembagaan. namun belum sempat menikmati datangnya investasi. untuk meningkatkan daya tarik investasi kota-kota besar/ metropolitan diperlukan pengembangan kelembagaan yang lebih dinamis. Ekonomi. maka pemanfaatan prasarana tidaklah optimal. Perkembangan kota yang bersifat ke luar dan ke dalam di kota-kota besar/ metropolitan ini sampai sekarang belum bisa dikendalikan baik melalui instrumen rencana tata ruang maupun melalui pengendalian tata ruang. Dengan demikian. pada tahun 2003 peringkatnya turun menjadi peringkat sepuluh dan pada tahun 2006 terperosok ke peringkat sembilan belas. pada dua tahun lalu ada di peringkat pertama. Implikasi Tata Ruang Sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan kota-kota besar secara fisik telah melampaui batas administrasi sehingga ada tanda bahwa telah terjadi dua pola pertumbuhan fisik kota-kota besar sebagai berikut: 1. dan Kependudukan 155 Peringkat di atas berbeda dengan TABEL 5 . Pada tabel di atas.

maka kota menjadi terus meluas. 3. Zonasi-zonasi guna lahan. 4. Pembentukan sub-pusat sub-pusat kota mendorong munculnya permukimanpermukiman baru. Pengembangan struktur kota seperti: a. Kurangnya kapasitas pengawasan terhadap perubahan guna lahan dan kurangnya sistem data dan informasi geografi kota yang terbaharui untuk mendukung pengawasan.156 Metropolitan di Indonesia 1. 2. Penutup Kebijakan tata ruang menyebabkan kota besar semakin membesar dan meluas semacam Kota Obesitas. menyebabkan pengembang mencari lokasi yang harga tanahnya murah dan tentunya lokasinya jauh dari tempat kerja. Kota yang mengalami obesitas ini merupakan akibat langsung dari perkembangan ekonomi kota yang maju. yang harga jualnya ditentukan oleh pemerintah. yaitu ke dalam dan ke luar tersebut. Penyebaran fasilitas-fasilitas sosial-ekonomi seperti rumah sakit. Pembangunan outer ring road akan merangsang tumbuhnya permukimanpermukiman baru. Sebagai akibat dari pola perubahan tata ruang dari dua sumber. Tidak adanya kerja sama antar daerah yang solid di antara kota besar/metropolitan dan daerah yang berbatasan. seperti: 1. maka pada masa datang kota besar/metropolitan yang mengalami obesitas akan selalu beresiko (seperti manusia kegemukan yang beresiko tinggi terhadap penyakit degeneratif). terutama pemisahan zona bisnis dan zona industri dengan permukiman semakin memperbesar jarak antara kedua fungsi sehingga tidak efisien baik dalam pelayanan maupun pembangunan prasarana. . Berbagai kebijakan pengembangan tata ruang malahan semakin memicu dan memacu perkembangan kota yang meluas. b. Dengan demikian. tetapi tergambarkan dalam perkembangan tata ruang yang justru tidak efisien. 2. Jika kebijakan pengembangan tata ruang masih berkutat pada pola pikir yang lama. Pembangunan perumahan murah. ”Property Right” pemilik lahan lebih kuat daripada ”Development Right” pemerintah daerah. nilai-nilai tambah ekonomi yang diciptakan oleh kota besar itu dikurangi sendiri oleh kebijakan tata ruang yang tidak efisien itu. 4. sekolah. dan pasar semakin memberi kemudahan bagi lokasi perumahan yang berada di luar lota. Persepsi terhadap nilai-nilai ekonomi jangka pendek lebih kuat daripada nilai-nilai kelestarian yang efisien. tanpa berupaya reorientasi terhadap masalah melalui terobosan-terobosan baru dan jitu. 3.

simpul dan penggerak dari berbagai perubahan. Padahal.Sosial. kurang lebih. besaran. Dalam konteks inilah globalisasi dianggap telah terjadi selama berabad-abad walaupun kecepatan. dan Kependudukan 157 GLOBALISASI DAN METROPOLITAN DI INDONESIA Pendahuluan Walau sudah sering menjadi topik pembicaraan dalam. Demikian pula. Implikasinya. Sungguh. sebagaimana disarikan oleh Smith 2002) melihat setidaknya ada lima jenis pemahaman tentang globalisasi: 1. Ekonomi. ada baiknya kita kunjungi kembali “globalisasi” sebagai suatu fenomena sosial-ekonomi-budaya dan demografi. Hanya saja. Dalam konteks inilah pembahasan globalisasi dan kota-kota metropolitan di Indonesia masih (dan selalu akan) dianggap perlu. globalisasi dalam pengertian yang luas sebagai suatu fenomena interaksi dan proses pengaruh-mempengaruhi secara sosial-ekonomi-budaya-demografi dari bagian bumi yang satu ke bagian yang lain pun dapat dikatakan telah berlangsung selama berabad-abad sebagaimana yang tergambarkan dalam kisah Marco Polo atau Admiral Cheng Ho. yang menyebabkan semakin hari semakin banyak bagian dari bumi yang semakin terkait dan saling mempengaruhi. seperempat abad terakhir ini—bahkan cenderung menjadi jargon yang klise—istilah “globalisasi” yang mulai dikenal pada awal 1980-an masih belum memiliki definisi yang disepakati bersama (Centre for Developing Cities 2006). Globalisasi dilihat sebagai internasionalisasi: yaitu proses meningkatnya hubungan antar-negara. Lebih-lebih. khususnya mereka yang tinggal atau bekerja di kota-kota besar atau metropolitan. pertukaran antar-negara (international exchange) serta kesalingtergantungan. kemampuan suatu bangsa dalam mengelola kota-kotanya sesuai dengan tuntutan global (yang bisa bersifat eksternal maupun internal) akan mempengaruhi kemajuan relatif bangsa tersebut di tengah-tengah masyarakat global yang semakin kompetitif. dengan lingkup yang lebih luas menjangkau berbagai bidang. globalisasi dan kota adalah dua konsep yang tak terpisahkan. serta memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi (UN-Habitat 2004). pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan globalisasi akan mempengaruhi sikap terhadap globalisasi tersebut. Proses urbanisasi (baik karena migrasi desa-kota ataupun akibat pengalihan fungsi lahan) pun menjadi atribut yang tidak terpisahkan dari globalisasi. fenomena intensifikasi keterkaitan yang semakin mendunia sebenarnya dapat dirasakan oleh sebagian besar orang. lingkup dan kompleksitas . Di satu sisi kota hampir selalu menjadi sumber. Mengunjungi Kembali Globalisasi Sebelum melangkah lebih jauh. kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang pesat dalam dua puluh lima tahun terakhir telah membuat fenomena tersebut saat ini berlangsung jauh lebih cepat dan dalam skala yang jauh lebih besar. kemampuan pengelola kota dalam memahami berbagai perubahan global—yang bersifat terus menerus—serta pengaruhnya terhadap kehidupan kota yang dikelolanya akan sangat mempengaruhi kemampuan kota tersebut untuk berkembang dan bersaing dengan kota-kota lain di dunia yang semakin saling tergantung satu sama lain. Jan Art Scholte (2000. di sisi lain kota pun merupakan bagian bumi yang paling cepat dipengaruhi oleh berbagai perubahan global. Terlepas dari perdebatan akademik tentang arti globalisasi.

Pernyataan-pernyataan yang agak berlebih seperti terjadinya “death of distance” atau bahkan “death of geography”25 pun muncul sebagai salah satu penekanan cerminan sudut pandang ini. khususnya di negara-negara Barat yang dianggap “maju”—serta perkembangan teknologi komputer dan internet. akibat peran penting lembagalembaga seperti PBB. ditunjukkan oleh struktur dan atribut sosial modern (kapitalisme. Termasuk dalam kategori pemahaman ini adalah konsep kesaling-tergantungan (inter-dependency) yang juga merupakan ciri globalisasi. yaitu proses rekonfigurasi geografis yang menyebabkan ruang-ruang sosial tidak lagi selalu diartikan secara fisik-teritorial. rasionalisme. khususnya yang berkaitan dengan penyesuaian struktural (structural adjustment) negara-negara berkembang terhadap sistem ekonomi neo-klasik yang dipercaya oleh lembagalembaga multilateral tersebut sebagai pilihan terbaik dalam menghadapi globalisasi.apalagi mengingat bahwa justru banyak ahli geografi yang menekuni persoalan globalisasi. Seringkali dalam proses memoderenisasi ini menghancurkan budaya serta atribut dan bahkan keswadayaan lokal yang ada. yaitu sebagai proses terhapusnya secara gradual hambatan-hambatan yang ditetapkan oleh masing-masing negara bagi pergerakan barang. Namun pada kurun waktu setengah abad terakhir ini terjadi pula proses multilateralisasi yang lebih mendasar. minuman ala Coca Cola. secara lebih sempit. Mahkamah Internasional dan belakangan WTO dan terkadang bahkan dapat mendikte kebijakan suatu negara24. salah satu pandangan yang masuk dalam kategori ini melihat globalisasi secara lebih sempit lagi sebagai Amerikanisasi (sebagaimana merebaknya model celana jeans. Pernyataan “death of geography” sebagaimana dikutip dalam Smith 2000 tentunya terlalu berlebihan. gerai makan cepat saji ala McDonald atau KFC. 24 25 Sebagai salah satu contoh baca Kwik 2006. yaitu sebagai proses terbentuknya kesamaan nilai-nilai. IMF. industrialisme dan lain-lain) yang tersebar ke berbagai penjuru dunia. Globalisasi dilihat sebagai liberalisasi. serta televisi dan film dilihat sebagai sangat kuat mempengaruhi universalisasi tata-nilai ini. . 2. bisnis multi-level marketing ala Amway dan lain-lain). Globalisasi dilihat sebagai universalisasi. informasi dan manusia sehingga akan terbentuk suatu ekonomi dunia yang tanpa batas. norma-norma. 4. Bank Dunia. barang.158 Metropolitan di Indonesia perubahannya berbeda. Globalisasi dilihat sebagai de-teritorialisasi (atau malah terbentuknya suatu suprateritorial). 3. Karena Amerika Serikat—beserta budaya kontemporernya—sering dilihat sangat mendominasi proses-proses yang ada. Termasuk dalam hal ini adalah penerimaan atau imposisi model ekonomi neo-klasik sebagai paradigma dominan (kalau tidak mau mengatakannya sebagai paradigma tunggal) untuk pembangunan ekonomi. Peran globalisasi pendidikan— semakin banyaknya orang yang bersekolah di negaranegara lain. pengalaman. 5. orang dan lain-lain. media berita ala CNN. dan oleh karenanya sistem ekonomi nasional pun harus menyesuaikan dengan prinsip-prinsip ekonomi neo-klasik. Globalisasi dilihat sebagai modernisasi dan. pembaratan (westernization): yaitu sebagai dinamika. jasa. cara-pandang serta perilaku ke segala penjuru dunia akibat persebaran informasi.

perusahaan-perusahaan atau produk-produk tertentu tidak lagi dapat diasosiasikan dengan suatu negara karena baik kepemilikan atau proses pembuatannya tidak lagi terbatas pada pihak-pihak dari satu negara. dan Kependudukan 159 Dengan pemahaman semacam ini.Sosial. misalnya. globalisasi sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang telah mempermudah dan mempercepat arus informasi. dan (v) de-teritorialisasi. (iii) merebaknya tata-nilai ‘universal’. Lebih lanjut lagi. (ii) berkurangnya batas-batas bagi mobilitas barang. Anthony Giddens (1990. atau bisa juga merupakan bentuk lain dari kursus-kursus melalui internet yang ditawarkan sekolahsekolah di negara-negara maju kepada murid-murid di negara berkembang). jasa. sebagaimana dikutip oleh Smith 2002) mendefinisikan globalisasi sebagai intensifikasi hubunganhubungan sosial yang menyeluruh dunia dan menghubungkan tempat-tempat yang berjauhan sedemikian sehingga apa yang terjadi di suatu tempat dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kejadian di tempat lain yang berjauhan. banyak murid-murid di Amerika Serikat mengambil semacam les dari guru-guru sekolah di India yang bisa menawarkan jasanya jauh lebih murah daripada guru-guru di Amerika Serikat (Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk lain dari fenomena e-subcontracting. Demikian pula dengan timbulnya komunitas-komunitas maya (virtual) yang terbentuk melalui media internet dan tidak mengenal batas-batas geografis. Salah satu fenomena menarik yang terjadi akhir-akhir ini adalah apa yang disebut e-tutoring. berbelanja. yaitu: (i) meningkatnya interaksi global. dikombinasikan dengan perkembangan pasar yang juga semakin kompetitif menyebabkan percepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (misalnya pada perangkat lunak . namun sebenarnya masing-masing pemahaman di atas memiliki kandungan kebenaran jika dikaitkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Orang-orang di desa. bersosialisasi dan bahkan dalam berpikir. (iv) industrialisasi barang dan jasa. hanya berbeda aspek atau sudut pandang. Apapun definisinya. Dan hal-hal seperti ini mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia. Akses ke informasi pun semakin terbuka bagi semakin banyak orang. Ekonomi. mungkin saja memperoleh informasi tentang pasar global komoditasnya bahkan secara real-time melalui internet. perusahaan-perusahaan software di negara maju mensubkontrakkan sebagian pekerjaannya kepada perusahaan atau individu di negara berkembang— mungkin tanpa harus bertemu muka—demi menghemat biaya. Hal ini. informasi dan manusia. Suatu unit usaha di suatu negara bisa saja melakukan suatu sub-kontrak dengan suatu pihak dari belahan bumi yang lain tanpa harus bertemu muka. berlibur. perluasan pasar yang semakin mengglobal mengakibatkan timbulnya perusahaan-perusahaan berskala besar yang mampu mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk penelitian dan pengembangan produknya. belajar. Oleh karenanya tulisan ini—dalam melihat pengaruh globalisasi kepada kota-kota—justru akan menggunakan secara komprehensif kelima pemahaman di atas secara lebih bebas sebagai atribut dari globalisasi. Berbagai ilustrasi di atas menggambarkan karakteristik kesaling-terkaitan (interconnectedness) dari globalisasi. Walaupun Scholte lebih cenderung menggunakan pemahaman yang terakhir (deteritorialisasi) sebagai penjelasan globalisasi. jasa dan manusia dari satu tempat ke tempat lain. barang. Sebaliknya. bertinggal. baik dalam bekerja. telepon genggam atau media lainnya.

politik-kelembagaan (misalnya dengan semakin diadopsinya sistem demokrasi ala Barat. diskontinuitas dan bahkan chaos yang tak terjelaskan. Ketiga adalah dari cara pandang universal. bisa lebih besar/kuat atau lebih kecil/lemah tergantung bagaimana berhubungan antar-bagian yang ada). Jadi keterkaitan antara globalisasi dan perkembangan teknologi adalah hubungan yang bersifat timbal balik dan saling mendorong.Kampung Jawa. yang kemudian mempengaruhi perilaku di berbagai bidang. 2004. Masyarakat yang memiliki modal sosial besar walau secara individu mungkin memiliki kapasitas terbatas bisa saja lebih maju dan berkembang daripada masyarakat yang secara individu memiliki kapasitas tinggi tetapi secara kesuluruhan memiliki modal sosial yang lemah.160 Metropolitan di Indonesia maupun keras bagi komputer. Richard Norgaard (1994) melihat. . jauh dari kultur setempat. Di sini aspek multi-kulturalisme menjadi atribut yang sangat kental bahkan menjadi ciri dari kota-kota global yang kosmopolitan. yang seringkali diterapkan hanya secara prosedural. ke cara pandang yang lebih mengakui kemungkinan terjadinya ketidakpastian. New York atau Paris.Kampung Bugis. Kota-kota besar di Nusantara seperti Jakarta misalnya. Demikian halnya dengan kota-kota dunia (global cities) seperti London. Soegijoko.pernah memiliki sudut-sudut kota yang dihuni oleh migran dari berbagai tempat di Nuantara secara berkelompok-kelompok (Kampung Ambon. konsep modal sosial menjadi lebih mudah dipahami. Pertama adalah pergeseran dari cara pandang yang bersifat atomistic (dengan mana keseluruhan sistem dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya) ke cara pandang holistic (dengan mana keseluruhan sistem tidak selalu dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya. Globalisasi juga dipahami tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi saja. Termasuk dalam hal ini adalah pengakuan terhadap eksistensi ekonomi informal perkotaan yang seringkali sulit dijelaskan dan didekati secara formal. ke cara pandang “kontekstualistik” yang mengakui konteks lokal. Dengan pengertian ini. setidaknya terjadi lima pergeseran cara pandang. dan juga spatial atau tata-ruang (termasuk di dalamnya proses migrasi yang semakin meningkat sehingga menyebabkan tumbuh dan semakin beragamnya “urban ethnic space” atau bagian-bagian kota yang dihuni oleh berbagai suku-bangsa secara mengelompok26) (Habitat. Malaysia dan lainnya). yang melihat prinsip-prinsip universal sebagai sesuatu yang tak terbantahkan. Pergeseran dalam hal ini tidak bisa 26 “Urban ethnic space” sebagaimana yang dikemukakan dalam Habitat 2004 sebenarnya juga sudah terjadi sejak adanya proses migrasi besar-besaran selama berabad-abad. waktu dan budaya sebagai faktor yang tidak hanya harus dipertimbangkan tetapi justru harus dominan. lingkungan hidup (misalnya polusi antar-bangsa dalam bentuk asap dari kebakaran hutan di Indonesia yang diderita warga di Singapura. di berbagai belahan dunia). budaya (misalnya dengan kemunculan generasi MTV di kalangan generasi muda di belahan bumi mana pun dan merasa lebih memiliki kesamaan di antara mereka dibanding dengan generasi orang tua di negara yang sama). telepon genggam.Kampung Bali. Kedua adalah pergeseran dari cara pandang yang mekanistik (Newtownian) yang menganggap suatu sistem selalu mempunyai ekuilibrium. di dunia ini. 2005). televisi dan lain-lain). Globalisasi pun dipengaruhi oleh perubahan atau pergeseran cara pandang atau cara berpikir.dan lain-lain). proses yang sangat kompleks ini juga menyangkut dimensi sosial (misalnya dengan berubahnya struktur dan tingkat kerekatan komunitas di dalam masyarakat).

Oleh karenanya. terutama untuk mengurangi bias dari si pengambil keputusan. Pada tataran yang lebih praktis. cepat dan sangat berorientasi pada hasil. Terkandung di dalam pergeseran paradigma yang kelima ini adalah multi-kulturalisme sebagai pengakuan bahwa dunia—khususnya kotakota besar—tidak hanya dihuni oleh manusia-manusia yang berbudaya sama. Namun pada saat yang hampir bersamaan bisa saja terjadi pula penguasaan cara pandang (misalnya pandangan neo-klasik sebagai paradigma dominan ekonomi dunia) atau pemaksaan cara pandang tertentu oleh kekuasaan adidaya (misalnya dalam hal terorisme global). Ekonomi. tuntutan akan partisipasi masyarakat menjadi lebih tinggi. sehingga tidak hanya penyediaan air minum yang diswastakan tetapi bahkan terdapat kota-kota yang hampir sepenuhnya dibangun oleh swasta. kekakuan birokrasi. Swasta pun cenderung tidak mau menyediakan barang atau pelayanan bagi kaum yang . Maka timbul era yang menganggap sektor swasta lebih mampu menyediakan berbagai pelayanan maupun melaksanakan pembangunan. Kelima. kelembaman untuk berubah dan lain-lain. di dalam pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan publik sehari-hari pun telah terjadi pula pergeseran yang cukup berarti. Norgaard melihat adanya pergeseran dari cara pandang yang “monistik” yang hanya mengakui satu kebenaran atau penjelasan akan suatu fenomena ke cara pandang yang “pluralistik” yang mengakui kemungkinan adanya beberapa kebenaran atau penjelasan. Kini lebih banyak orang yang bisa (atau terpaksa) menerima perbedaan pendapat dibanding di masa lalu. Kemudian disadari bahwa pemerintah tidak akan mampu mengerjakan semua hal. Di masa lalu. khususnya yang berkaitan dengan kegagalan pasar. pada umumnya pembangunan maupun pengelolaan publik sangat didominasi oleh pemerintah (dan seringkali pemerintah pusat). Ada hal-hal yang dikenal sebagai “government failures” seperti ketidakefisienan. dan Kependudukan 161 dikatakan tuntas karena masih banyak pelaku pembangunan dunia yang sangat percaya dengan nilai-nilai yang sifatnya universal dan berusaha mempromosikan hal tersebut namun di sisi lain juga cukup banyak pelaku pembangunan yang selalu menekankan pentingnya konteks lokal. swasta tidak akan pernah mampu menyediakan barang atau pelayanan yang sepenuhnya bersifat publik (public goods) yang bisa dinikmati oleh semua orang tanpa harus membayar. Terjadilah gelombang privatisasi di berbagai sektor sebagai bagian dari perubahan pola berpikir global.Sosial. Keempat adalah pergeseran dari cara pandang (umumnya di dunia penelitian atau keilmuan) yang mengagung-agungkan “objektivitas positivisme” ke cara pandang yang mengakui kemungkinan adanya subyektivitas atau keberpihakan di dalam ilmu (yang bisa dianggap sebagai konstruksi sosial). Namum pendekatan yang berorientasi swasta seperti ini pun tidak lepas dari berbagai persoalan. Memang ada hal-hal yang lebih baik diserahkan kepada pihakpihak yang dapat bekerja lebih efisien. Pendekatan dalam penelitian maupun perencanaan yang diakui pun tidak lagi harus yang bersifat positivistik dan bebas-nilai tetapi mencakup pendekatan penelitian “participant-observation” dan pendekatan perencanaan melalui proses-proses komunikasi (“planning through communication”). Di era ini pemerintah diharapkan untuk berperan sebagai regulator saja.

lokal. regional. komunitas maupun individu—tentunya dengan tahap dan skala maupun intensitas yang berbeda-beda. Maka pada tahap berikutnya. baik yang bersifat global. regional maupun lokal dan bahkan pada tataran komunitas dan keluarga. masyarakat kehilangan kepercayaan Terjadi “kegagalan pasar”. tahap 1 Pemerintah dianggap paling mengetahui apa yang dikehendaki rakyat tahap2 Sistem pasar dianggap paling efisien dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tahap 3 Kemitraan yang setara dianggap sebagai cara terbaik swasta swasta swasta pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat Terjadi “kegagalan pemerintah”. penurunan kualitas ruang publik ? GAMBAR 5 . Ketegangan sendiri sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan (embedded) dalam globalisasi. Swasta juga cenderung tidak mau melakukan investasi dengan modal yang sangat besar dengan pengembalian modal yang berjangka sangat panjang serta beresiko tinggi.peran (atau tuntutan akan peran) masyarakat madani semakin meningkat untuk mengimbangi baik kegagalan pemerintah (government failures) maupun kegagalan pasar GAMBAR 5 . pergeseran peran-peran dalam pembangunan ini. Di satu sisi globalisasi membuat batas-batas negara semakin menipis. namun di sisi lain juga terjadi pula gelombang desentralisasi atau lokalisasi di mana timbul tuntutan agar sebanyak mungkin keputusan publik dan pelaksanaannya di lakukan ditingkat lokal/komunitas Padahal Prahalad (2004) justru melihat potensi investasi di tengah-tengah masyarakat yang paling miskin sekalipun. Salah satu implikasi dari situasi seperti ini adalah timbulnya berbagai ketegangan (tensions).162 Metropolitan di Indonesia sangat miskin di mana marjin keuntungan dianggap sangat tipis atau bahkan tidak ada27. 27 . baik di negara maju maupun di negara berkembang—termasuk Indonesia—baik pada tingkatan negara.7 Diagram Pergeseran Peran Pelaku dalam Pembangunan/ Pengelolaan Publik Perubahan-perubahan semacam di atas terjadi di mana-mana.7.

intensitas dan kompleksitas konflik yang 28 Kenyataan ironis di era yang sangat berorientasi kepada teknologi informasi adalah angka yang menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen penduduk dunia belum pernah menggunakan sarana telepon (lihat misalnya Jakarta Post. Bagi mereka yang memiliki akses kepada teknologi dan informasi serta sumberdaya finansial atau lainnya untuk berkompetisi maka globalisasi dapat dianggap sebagai menguntungkan (beneficial) secara ekonomi. 2006. selama akses kepada sumberdaya (termasuk teknologi dan informasi) masih belum merata—dan prospek untuk terjadi pemerataan belum terlihat jelas—maka distribusi manfaat dan biaya dari globalisasi masih akan selalu timpang28. Timbul fenomena “globalization” yang penuh ketegangan atau tarik ulur antara kekuatan-kekuatan global dan kekuatan-kekuatan lokal. “putra daerah” dianggap punya hak lebih dalam banyak hal daripada “pendatang”). dan Kependudukan 163 (atau bahkan primordialisme. Memang. Lembaga-lembaga global ini sering dilihat sebagai simbol neo-kolonialisme. Namun proses-proses ini terjadi tidak tanpa ongkos. Karena hal tersebut di ataslah globalisasi tidak selalu dianggap sebagai suatu yang positif. Ekonomi. baik melalui pemaksaan perubahan cara berpikir. Simbol-simbol globalisasi seperti McDonald. sehingga timbul penentangan-penentangan sebagaimana diilustrasikan di atas. penyediaan rumah-rumah. kebijakan sosial-ekonomi dan lain-lain melalui persyaratan-persyaratan hutang yang seringkali dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang. Demikian pula dengan bertumbangannya tingkat keswadayaan lokal dan meningkatnya ketergantungan pada faktor-faktor eksternal yang lebih jauh dapat dianggap mengancam keberlanjutan pembangunan di tingkat lokal. ruang kota untuk bersosialisasi. Terdapat pihak-pihak yang harus turut menanggung biaya tetapi tidak menikmati manfaat dari proses yang sedang berlangsung. Salah satu implikasi dari privatisasi adalah sulitnya dipenuhi kebutuhan kaum miskin karena pihak swasta tentunya lebih memberi perhatian kepada mereka yang mampu membeli layanan atau barang komoditasnya. Ketegangan juga timbul akibat dari semakin menguatnya proses privatisasi yang bahkan masuk ke ruang-ruang yang selama ini merupakan domain publik: taman-taman. Demikian pula bagi mereka yang ingin memajukan nilai-nilai seperti demokratisasi. banyak pengusaha-pengusaha kecil yang tidak terlindungi oleh pemerintah lokal terpaksa tergusur oleh toko-toko wholesale global seperti Walmart atau Carrefour. maka proses globalisasi dianggap dapat menyebarkan tata-nilai yang dianggap baik tersebut. ketegangan atau bahkan konflik sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari globalisasi—dengan skala. 17). Kentucky Fried Chicken. prasarana air minum. jalan utama bahkan pembangunan seluruh kota. . Atas dasar pertimbangan inilah kemudian timbul gerakan anti-globalisasi yang kemudian berubah menjadi “globalisasi dari bawah” dan menuntut adanya keadilan global. Selanjutnya. hal. September 21.Sosial. Bahkan tentangan terhadap lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan IMF sudah merupakan berita sehari-hari. Walmart atau Carrefour sering mendapat tentangan dari komunitas lokal yang tidak menghendaki bisnis-bisnis kecil dan khas tergusur oleh perusahaan global tersebut. Pada intinya. yang seringkali harus dipikul oleh pihak-pihak yang tidak menikmati. Ketegangan (tension) juga timbul manakala produk-produk import yang bisa masuk secara lebih mudah ternyata mematikan atau melemahkan usaha lokal/domestik yang menghasilkan produk-produk sejenis.

Upaya mengantisipasi dan merespon pun perlu memasukkan pertimbangan adanya keteganganketegangan atau konflik ini. merupakan sumber. dan umumnya perguruan tinggi tersebut berada di dekat kota besar. globalisasi dan urbanisasi merupakan dua konsep yang tidak terpisahkan. Dan karena seringkali kotakota besar atau metropolitan memiliki keunggulan infrastruktur dibanding kota-kota yang lebih kecil. Namun dalam perkembangan paling akhir. Demikian pula. terutama karena keunggulan dalam ketersediaan sarana dan prasarana yang bersifat global (misalnya jaringan telekomunikasi global). Dengan perkembangan . baik secara fisik maupun sosiokultural) yang baik dan tidak kalah dengan kota-kota besar. khususnya kawasan metropolitan. 2006. kemacetan lalu-lintas yang semakin parah. simpul dan penggerak berbagai perubahan yang kemudian menggelinding menjadi apa yang disebut globalisasi. Implikasi bagi Kota-kota Metropolitan Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. polusi yang semakin menyesakkan serta kriminalitas yang semakin mengkhawatirkan. Contoh yang sering dirujuk adalah kota San Francisco dengan Bay Area-nya (tempat Silicon Valley berada) yang merupakan tempat bagi Stanford University. maka terjadi proses pelebaran kesenjangan penerimaan manfaat globalisasi antara kota-kota besar dan kota-kota yang lebih kecil atau kawasan perdesaan. sebagaimana dilaporkan dalam Newsweek July 3-10. Kota-kota. Milleu of innovation semacam ini cenderung terbentuk di sekitar perguruan tinggi dengan lembaga-lembaga risetnya. Berbagai inovasi yang kemudian mendunia sering muncul dari kedua kawasan perkotaan tersebut maupun dari tempat-tempat lain yang sejenis. tempat berkumpulnya berbagai bisnis sejenis atau terkait yang dapat menciptakan apa yang agglomeration of economies (pengumpulan berbagai ekonomi terkait). Pengusaha-pengusaha global cenderung memilih kota-kota besar sebagai pusat dan simpul operasinya. Namun pergeseran seperti ini hanya terjadi pada secondary cities yang memiliki akses teknologi komunikasi informasi serta amenities (atribut untuk kenyamanan. telah terjadi pergeseran pilihan lokasi investasi (khususnya di sektor jasa dan industri informasi-telekomunikasi) dengan adanya kecenderungan untuk memilih kota-kota kedua (secondary cities) yang dianggap lebih nyaman ditinggali daripada kota-kota metropolitan yang ditandai dengan harga properti yang semakin mahal. Lebih jauh lagi. Manuel Castells menekankan pentingnya suatu milleu of innovation atau suatu kumpulan komunitas manusia yang berorientasi ke inovasi bagi perusahaanperusahaan yang berorientasi teknologi informasi untuk dapat selalu memiliki keunggulan komparatif di era globalisasi ini (Castells 1986).164 Metropolitan di Indonesia lebih tinggi dibanding dengan apa yang terjadi di era pra-kontemporer. atau Boston Metropolitan Area (tempat Route 128 berada) dengan Harvard University dan Massachussett Institute of Technology dan berbagai universitas terpandang lainnya. kota-kota besar juga cenderung memiliki pool yang lebih besar akan tenaga ahli dengan pendidikan atau keterampilan yang sesuai dengan kebutuhannya. Sebaliknya pengaruh globalisasi paling cepat dan paling besar dirasakan di kota-kota (oleh masyarakat kota). Kota-kota besar umumnya juga menawarkan pasar—atau akses ke pasar—yang relatif lebih besar daripada yang ada pada kota-kota yang lebih kecil. University of California at Berkeley dan berbagai universitas lain.

namun pada tingkatan-tingkatan di bawahnya susunan kota-kota lebih mudah berubah. menurut Sassen (1994). pengaruh globalisasi terhadap kota-kota. baik yang berskala kota-baru atau kota satelit maupun yang hanya berupa warung-warung telekomunikasi di kawasan-kawasan permukiman pinggiran. kawasan perkotaan menyambung menjadi satu (walaupun mungkin saja masih terdapat kawasan berkarakter perdesaan di dalamnya). dan Kependudukan 165 terakhir seperti ini. Sementara di kota-kota besar di negara berkembang yang berpenduduk besar tetapi memiliki keterbatasan infrastruktur seperti Indonesia yang umumnya terjadi justru suatu mega urban sprawl. misalnya. terdapat kota-kota global tingkatan pertama seperti New York. Di banyak kota-kota besar dunia. London dan Tokyo. termasuk berkomunikasi dengan mitra usaha di mancanegara dari rumah atau kantor di pinggiran atau warung telekomunikasi terdekat. Ekonomi. khususnya kota metropolitan dapat dilihat sebagai memiliki tiga tataran atau aras: [1] Pengaruh globalisasi pada sistem perkotaan global. Toh mereka tetap bisa mengerjakan banyak hal. yang seringkali tumbuh tidak teratur. Walau di tingkat teratas sistem perkotaan global mungkin tidak banyak terjadi perubahan (ketiga kota yang disebut di atas masih belum tergoyahkan oleh kotakota lainnya). kota-kota metropolitan pun bersaing dengan kota-kota yang lebih kecil dalam upaya mendatangkan investasi yang lebih memiliki nilai tambah relatif lebih besar yang ada pada sektor-sektor yang terkait dengan teknologi-telekomunikasiinformasi (dibanding pada sektor-sektor manufaktur konvesional yang sering lebih mengandalkan tenaga buruh murah sebagai basis pilihan lokasi). Walaupun pola aktifitas ekonomi yang berpusat pada kawasan pusat kota masih tetap mendominasi kegiatan sehari-hari di berbagai kota metropolitan di dunia (sehingga menimbulkan arus penglaju yang sangat besar dari pinggiran kota ke pusat kota di pagi hari dan sebaliknya di sore hari). namun perkembangan teknologi-informasi telah sedikit-banyak mengurangi ketergantungan untuk aktifitas tatap-muka sehingga timbul pusat-pusat baru di pinggiran kota. serta tingkatan-tingkatan di bawahnya yang menunjukkan besarnya/luasnya cakupan pengaruh kota-kota tersebut—khususnya di bidang ekonomi-finansial—baik di tingkat global maupun regional. sisanya mereka dapat berkantor di kantor-kantor cabang di pinggiran kota atau di fasilitas semacam warung telekomunikasi di dekat mereka tinggal. perusahaan-perusahaan tertentu membolehkan karyawannya untuk datang ke kantor pusat hanya dua atau tiga hari seminggu. atau bahkan dari rumah mereka masing-masing. Tersirat di sini adalah adanya kompetisi antar-kota untuk menjadi semacam “pusat” atau “hub” (simpul) kegiatan ekonomi dari suatu region—kalau bukan dunia—sebagaimana yang terlihat pada persaingan yang cukup ketat antara Singapura dan Bangkok dalam upaya mereka menjadi hub bagi lalu-lintas udara di Asia Tenggara. Kecenderungan yang terjadi di banyak kawasan metropolitan di dunia—khususnya di negara-negara maju—adalah terbentuknya apa yang sering disebut sebagai decentralized concentration atau konsentrasi yang terdesentralisasi.Sosial. Hal seperti ini tentunya dapat mengurangi biaya transportasi dan jumlah penglaju harian di kawasan kota metropolitan sekaligus mempengaruhi tata-ruang yang ada. Secara terstruktur. Globalisasi pun dapat mempengaruhi struktur tata ruang internal kawasan metropolitan. [2] Pengaruh globalisasi pada hubungan yang juga dinamis (selalu berubah) antara kota-kota utama atau metropolitan dan kota-kota sekunder di sekitarnya. Kalau di masa lalu kota-kota sekunder sering dilihat hanya sebagai pendukung bagi kota-kota .

budaya dan geografis yang ada serta seberapa jauh pemerintah dan warga kota metropolitan tersebut mampu mempertahankan ciri-ciri khasnya. Konflik keruangan antara tekanan . Namun secara umum terdapat pola perubahan tata-ruang yang sangat dipengaruhi oleh berubahnya sistem ekonomi-bisnis dunia. Tumbuh dan tersebarnya perusahaan global seperti McDonald. Sebagaimana yang diuraikan di atas. maka dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan informasi banyak kota-kota sekunder yang kemudian berkembang menjadi kota-kota yang lebih mandiri (self-sustained) dan mempunyai aktifitas-aktifitas yang berhubungan langsung ke bagian dunia yang lain tanpa harus tergantung pada atau melalui kota metropolitan terdekat. yang mendesak atau mematikan usaha-usaha lokal yang Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) Privatisasi ruang-ruang publik serta berbagai pelayanan umum— seperti penyediaan air. Dalam hal ini. ekonomi. Namun pergeseran semacam ini tidak bisa dibilang permanen. hambatan dan tarif perdagangan dikurangi. Dari sudut berbagai dimensi yang ada. pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan dapat disusun ke dalam suatu matriks atau kerangka analisis sebagai ditunjukan dalam tabel TABEL 5 . yang terjadi di suatu kota metropolitan tidak sama dengan yang terjadi di kawasan metroplitan lain.166 Metropolitan di Indonesia metropolitan. politik. dll. karena seiring dengan kemajuan ekonomi negara berkembang tersebut. khususnya dalam penyediaan hunian yang murah dan nyaman. sangat tergantung kepada seberapa jauh kota metropolitan tersebut terbuka (exposed) terhadap globalisasi serta faktor-faktor sosial. pendidikan dan kesehatan—yang di masa lalu lebih banyak diasosiasikan sebagai pelayanan publik. Sementara kota-kota di negara berkembang pun tidak luput dari ancaman yang sama dari apa yang disebut footloose industries tersebut.17 Pengaruh Globalisasi Pada Umumnya dan Terhadap Tata Ruang Kota Dimensi Dimensi EkonomiFinansial Pengaruh Umum Paradigma neo-klasik sebagai paradigma tunggal/dominan. dengan banyaknya industri manufaktur yang pindah dari negara-negara dengan biaya buruh tinggi (umumnya di negara maju) ke negara-negara dengan biaya buruh rendah (umumnya di negara berkembang)— seringkali masih menyisakan kantor pusatnya di kota asal. tetapi banyak pula yang memindahkan kantor pusatnya ke kota lain yang lebih strategis. Walmart. Akibatnya. maka ongkos buruh akan semakin meningkat dan selalu ada saja negara atau kota lain yang dapat menawarkan lingkungan usaha dengan ongkos yang lebih murah. Sebagai contoh. Carrefour. pengelolaan sampah. Pasar bebas diagung-agungkan. [3] Pengaruh globalisasi pada tata-ruang internal suatu kawasan metropolitan. terdapat pula kecenderungan pelaku dunia usaha global justru untuk memilih kota-kota sekunder yang memiliki amenities yang baik namun terbebas dari kemacetan dan polusi kota-kota metropolitan. Perkembangan ke depan akan sangat tergantung pada perkembangan teknologi telekomunikasi-informasi dan pola aktifitas sosial-ekonomi. ada yang berhasil mendapatkan basis ekonomi baru namun banyak juga yang masih struggling hingga kini.17 berikut: TABEL 5 . atau setidaknya sebagai kota-kota pinggiran (edge cities). banyak kotakota di negara maju yang harus berjuang untuk “mengisi kekosongan sosial-ekonomi” yang diakibatkan oleh perginya tempat-tempat usaha (dan sumber-sumber pekerjaan) tersebut.

diambil alih oleh peran pemerintah kota. demokratis.baik yang bersifat positif (saling memahami perbedaan. sama setiap hari kerja). barang dan jasa (serta manusia) yang semakin deras meningkat Kesenjangan ekonomi cenderung melebar (lebih terasa di kota-kota negara berkembang. Pembagian kerja yang bersifat global (komponen-komponen bisa dibuat terpisah. dll. termasuk akomodasi spasialnya. Banyak pula perusahaan-perusahaan global yang bersifat footloose atau mudah berpindah tempat usaha (biasanya meninggalkan mitra lokal begitu saja). Peran negara dalam pengelolaan kota semakin berkurang. Berkembangnya kegiatankegiatan usaha di tempat-tempat tinggal (banyak yang bekerja dari rumah) atau di “warung telekomunikasi” terdekat. masyarakat kota dan swasta (termasuk swasta yang bersifat . Tumbuhnya multikulturalisme. Wajah kota “moderen” yang hampir sama di mana-mana (termasuk dalam wujud shopping mall atau pusat belanja yang tidak berbeda secara signifikan antara mall di Jakarta atau mal di Bangkok atau di Buenos Aires). Ekonomi. Tumbuhnya ruang-ruang kota yang terkait dengan etnik atau bangsa-bangsa tertentu dalam satu kota metropolitan (sesuai dengan negara atau tempat asal-usul dari para migran kota tersebut). Salah satu akibatnya adalah pola commuting menjadi tidak sejelas pada tatanan yang konvensional (pagi berangkat sore pulang. Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) ekonomi global dan keinginan untuk mempertahankan usahausaha yang bersifat lokal. dan Kependudukan 167 Dimensi Pengaruh Umum kecil. Kontras yang semakin lebar antara kawasan bagi orang-orang yang berpenghasilan menengah/tinggi (punya akses ke jaringan global) dan kawasan bagi mereka yang tidak punya akses ke jaringan global atau yang terdesak oleh globalisasi ekonomi. Dimensi PolitikKelembagaan Peran atau pengaruh negara semakin berkurang seiring dengan menguatnya peran dan pengaruh lembaga-lembaga multi-lateral dan MNCs. Arus aliran modal. Dimensi SosialBudaya Demografis Tumbuhnya budaya-budaya dan nilai-nilai sosial yang bersifat mendunia (diakui dan diadopsi di berbagai tempat di dunia). tetapi juga terjadi di kota-kota negara maju).) maupun yang bersifat negatif (hilangnya atau berkurangnya ke-khasan lokal) Arus migrasi yang semakin pesat dan semakin menglobal (semakin banyak orang yang tidak hanya berpindah dari desa ke kota tapi juga dari suatu negara ke negara lain). tapi juga disertai dengan konflik antar budaya. Di sisi lain terdapat pula pengakuan (secara parsial) terhadap aktifitas ekonomi perkotaan informal. tergantung pengaturan mana yang paling menguntungkan).Sosial.

Peran partisipasi masyarakat yang semakin penting (atau tuntutan akan partisipasi yang semakin besar). kawasan Kemang. Dimensi Lingkungan (Ekologis) Dampak lingkungan suatu kegiatan yang bisa bersifat antar-negara seperti dalam pembuangan sampah baik yang bersifat berbahaya maupun yang tidak (umumnya dari negara lebih maju ke negara berkembang—seringkali tidak terbatas pada yang bertetangga). Tuntutan akan pengelolaan kota yang demokratik dan terbentuknya wujud kota yang berkeadilan (pada saat yang bersamaan dengan semakin melebarnya kesenjangan sosialekonomi). masing-masing dengan kota dan kabupaten di sekitarnya) dan apalagi dengan sekian banyak kota-kota kecil yang ada. maka tingkat keterbukaan (exposure) dan saling pengaruh-mempengaruhi antara kota dan globalisasi pun sangat berbeda. kebun kota dan lain-lain. Investor global pun turut memperhatikan kualitas lingkungan kota yang ada (terutama dalam kaitannya dengan kompetisi antar-kota yang sejenis). Semarang. Berkembangnya kesadaran akan pentingnya lingkungan alam (termasuk taman-taman dan kehijauan) dalam mendukung keberlanjutan lingkungan binaan. Medan. Tumbuhnya kerekatan komunitas yang tidak sepenuhnya berdasarkan kesamaan tempat. . atau bahkan Jalan Jaksa). Bahkan di dalam kawasan Jabodetabek pun. karena tingkat ketersediaan infrastruktur yang terkait dengan berbagai aspek globalisasi di atas sangat timpang antara kawasan metropolitan Jabodetabek dengan kawasan-kawasan metropolitan lainnya (Surabaya. Thamrin-Sudirman-Kuningan. Secara umum “ecological footprints” (tapak ekologis) yang semakin meluas dan bahkan mengglobal. Bandung. peran pemerintah dan masyarakat daerah/kota semakin besar. pendidikan yang umumnya belum merata di masyarakat juga menyebabkan proses demokratisasi yang lebih “prosedural” daripada substantif. namun pada saat yang bersamaan. Tuntutan akan perhatian pemerintah kota kepada aspekaspek lingkungan dalam tata ruang kota seperti jumlah ruang hijau. Pemerintah kota tidak lagi dapat dengan mudah mengurangi ruang hijau tanpa mendapat resistensi dari masyarakat. tingkat keterbukaan terhadap globalisasi tidak merata—ada bagian-bagian kawasan yang sangat mencerminkan kota global (misalnya di Jakarta. tetapi lebih berdasarkan kesamaan profesi. hobby atau lainnya.168 Metropolitan di Indonesia Dimensi Pengaruh Umum Namun pada saat yang sama juga terjadi desentralisasi. Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) global). Tuntutan akan kerjasama antarkota (tidak terbatas pada kotakota yang berada dalam suatu region) semakin meningkat. Implikasi dan Tantangan bagi Kota-kota Metropolitan di Indonesia Di Indonesia.

Kawasan industri yang menampung berbagai industri yang bersifat internasional—kalau belum bisa dikatakan global—pun lebih banyak berada di sekitar Jakarta daripada di sekitar kota-kota metropolitan lain di Indonesia. budaya. perpustakaan asing dan lain-lain. dan Kependudukan 169 namun masih banyak pula bagian-bagian kawasan yang seolah-olah tidak atau sangat sedikit tersentuh oleh globalisasi (misalnya di beberapa perkampungan-perkampungan kumuh)29. Hong Kong dan Shanghai maupun Mumbai (khususnya untuk Asia Selatan). masih terbatas pada tumbuhnya—secara sporadis—kawasan29 Dapat pula kita cermati bahwa di beberapa perkampungan kumuh pun terdapat berbagai aktivitas yang memiliki “nuansa globalisasi” seperti produksi kerajinan dari fiberglass di kawasan Prumpung yang sudah menjual produksi hingga ke Malaysia dan Timur Tengah. namun sangat spesifik berkaitan dengan satu sektor ekonomi-budaya yaitu pariwisata. demikian pula untuk aspek-aspek non-ekonomi seperti pusat kebudayaan asing. apa yang dialami oleh Jakarta dan sekitarnya tidak sama dengan apa yang dialami oleh kota-kota metropolitan lainnya. Sementara itu. Dengan tingkat exposure yang masih sangat terbatas tersebut. Apalagi kalau diangkat ke tingkat Asia di mana terdapat Tokyo. apalagi mengubah. pendidikan maupun sebagai hub lalu-lintas udara dan laut. Jakarta—beserta wilayah di sekitarnya—dapat dikatakan merupakan kawasan metropolitan yang paling mendalam dan langsung bersinggungan (exposed) oleh globalisasi30. dan dalam taraf tertentu pendidikan (khusus untuk Yogyakarta). Ketimpangan tersebut membuat generalisasi menjadi sesuatu hal yang sulit. namun terkonsentrasi pada satu sektor utama yaitu pariwisata. jauh melampaui kotakota dengan pengaruh besar berikutnya. dapat dikatakan bahwa globalisasi juga belum secara signifikan mempengaruhi tata ruang perkotaan metropolitan di Indonesia. Kawasan perkotaan Denpasar-Kuta-Nusa Dua di Bali dan kota Yogyakarta mungkin secara nyata juga memiliki exposure internasional yang sangat besar. terutama karena ketersediaan infrastruktur yang masih sangat terbatas. Namun demikian. Hampir seluruh pusat perwakilan badan usaha internasional (perusahaan multinasional. Ketika membicarakan pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan di Indonesia. yaitu Surabaya. Jakarta bisa dikatakan masih kalah dari Singapura dan Bangkok sebagai pusat aktifitas internasional—baik yang bersifat ekonomi-finansial. politik-kelembagaan (tempat lembaga-lembaga internasional dengan salah satu perkecualian Sekretariat ASEAN yang berada di Jakarta). Sehingga boleh dikatakan bahwa globalisasi belum mempengaruhi. pada tataran nasional Jakarta masih merupakan kawasan perkotaan yang paling berpengaruh. Bandung dan Medan. Ekonomi. . bank internasional.) di Indonesia berlokasi di Jakarta. sebagaimana yang sudah ditulis di atas. 30 Sebenarnya Balipun merupakan bagian Indonesia yang sangat terimbas dan bersinggungan langsung dengan globalisasi (dalam arti “internasionalisasi” maupun lainnya). Fenomena global di mana kota-kota sekunder (bukan metropolitan) mulai bersinggungan dengan globalisasi belum cukup terasa di Indonesia. Bagi Indonesia.Sosial. di tingkat global atau bahkan regional peran Jakarta masih sangat terbatas. perwakilan kamar dagang asing dll. Di Asia Tenggara saja. bandar udara Soekarno-Hatta pun merupakan bandara yang paling banyak melayani penerbangan internasional. sistem kota-kota yang ada di Indonesia. Kota-kota metropolitan Indonesia lain tentunya punya peran dan ketersinggungan dengan globalisasi yang jauh lebih kecil daripada Jakarta.

Bahkan sejumlah kota baru seperti Bumi Serpong Damai. Bintaro Jaya. Dalam konteks “liberalisasi” misalnya. Bukit Sentul. Seringkali jenis usaha dan sistem kerjasamanya memudahkan pemilik jaringan usaha internasional untuk memindahkan usahanya kemanapun mereka ingin lakukan (umumnya bargaining position pihak Indonesia—atau tuan rumah di mana pun di negara berkembang lainnya—dalam hal ini relatif rendah). Wholesale retailers seperti Carrefour pun memiliki cukup banyak outlets di Jakarta.170 Metropolitan di Indonesia kawasan industri yang melayani unit-unit usaha internasional atau melakukan subkontrak dari jaringan usaha internasional. secara keseluruhan Indonesia sebenarnya sudah sangat terbuka. baik di pejabat pemerintah maupun pelaku swasta.8). Implikasi peran besar swasta dalam tata ruang kota dapat dilihat dari banyaknya bagian-bagian kota yang mengalami proses “urban renewal” seperti misalnya kawasan Segitiga Emas (Sudirman-Kuningan-Gatot Subroto) yang kemudian diikuti oleh proses jentrifikasi masyarakat berpenghasilan rendah ke daerah-daerah pinggiran (GAMBAR 5 . Proses pergeseran peran dari situasi pemerintah mendominasi ke situasi swasta mengambil peran cukup signifikan dalam pembangunan hingga situasi di mana tuntutan akan peran masyarakat yang semakin besar pun terjadi di kota-kota di Indonesia. Dari sudut pandang lain.8 Kawasan “Segitiga Emas” di Jakarta . Hal di atas dapat disimpulkan kalau kita hanya melihat globalisasi dari sudut pandang “internasionalisasi” saja. Hanoi hingga tulisan ini dibuat masih belum mengijinkan adanya gerai-gerai internasional semacam itu). Kota Wisata dan lain-lain hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta. mungkin kita bisa mendapatkan gambaran yang agak berbeda. Sudut pandang bernuansa “universalisasi” dan “modernisasi” pun sudah banyak merasuk ke dalam pola berpikir masyarakat kota. GAMBAR 5 . Kita dapat menemui gerai-gerai internasional seperti McDonalds atau KFC tidak hanya di Jakarta tetapi bahkan hingga di kota-kota sekunder (sebagai perbandingan. Lippo Karawaci. Privatisasi pun telah berjalan cukup lama. Di kota-kota metropolitan lain pun terdapat kawasan hunian cukup luas—kalau belum bisa disebut kota—yang hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta. Berbagai merek internasional mewarnai pusat-pusat perdagangan baik di Jakarta maupun di kota-kota besar lain.

sementara tidak sedikit yang masih berfikir dengan cara-pandang yang atomistik. lebih khusus lagi pada segmen-segmen masyarakat yang memiliki akses ke jaringan global secara mudah. Ada bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sudah sangat ter-exposed oleh globalisasi. kontekstual dan pluralistik. Jika Indonesia tidak mau ketinggalan di era globalisasi yang semakin kompetitif. mereka yang tidak turut mendapat manfaat dari globalisasi harus turut menanggung biaya atau beban yang ditimbulkan oleh globalisasi. Ekonomi. Secara internal. Kawasan-kawasan metropolitan lainnya harus mendapat dukungan infrastruktur secara lebih memadai sehingga tidak terlalu ketinggalan dan dapat turut berkompetisi di tingkat internasional. tanpa mengurangi kecenderungan pasar untuk membentuk apa yang disebut agglomeration of economies. Ada yang sudah membuka wawasannya dengan cara-pandang yang “baru” seperti yang bersifat holistik. Seringkali. Persebaran pusat-pusat kegiatan pun menjadi sangat penting. . Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah bagaimana mengambil manfaat sebesar mungkin dan secara merata dari proses-proses globalisasi dan mengurangi sejauh mungkin dampak negatifnya. cara pandang. persinggungan dengan globalisasi masih sangat terbatas. Hal ini tentunya mengakibatkan berbagai ketegangan yang semakin terasa dengan semakin besar dan terbukanya suatu kota. terhadap berbagai persoalan. termasuk implikasinya dalam tata-ruang. tata ruang kawasan metropolitan pun harus mampu mengikuti dinamika globalisasi tanpa harus mengabaikan kepentingan konteks dan kekhasan lokal. dan Kependudukan 171 Atribut “de-teritorialisasi” dari globalisasi pun dalam skala yang relatif kecil dan terpisah-pisah telah terjadi di kota-kota besar Indonesia. Peran kota-kota sekunder pun tidak dapat diabaikan. namun ada pula bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sama sekali belum “tersentuh” oleh globalisasi. Sebagaimana yang terjadi di banyak negara berkembang lain.Sosial. Newtonian. khususnya di Jakarta. gambar rancang-bangun dan lain-lain yang didapat dari perusahaan-perusahaan besar di negara maju untuk proyek-proyek yang mungkin di negara lainnya. Demikian pula dengan cara berfikir. Penutup Secara umum dapat disimpulkan bahwa kota-kota metropolitan di Indonesia sebenarnya sudah mulai bersinggungan dengan globalisasi dengan derajat yang berbeda-beda. Ada saja—walaupun mungkin belum tersebar luas—kegiatan-kegiatan yang mencerminkan ketiadaan batas-batas negara atau kota seperti terlihat pada kegiatan-kegiatan sub-kontrak pembuatan software. positivistik dan monistik. Di dalam suatu kawasan metropolitanpun—termasuk Jakarta— ketimpangan globalisasi sangat besar. Namun kecuali kawasan metropolitan Jakarta. kota-kota besar di Indonesia juga mencerminkan kontras yang sangat tajam. animasi. apalagi jika dikaitkan dengan keinginan untuk memajukan sektor pertanian—kota-kota sekunder tersebut dapat menjadi pusat koleksi dan distribusi komoditas pertanian (konsep agropolitan)—namun tidak harus terbatas pada konsep itu. konsentrasi pembangunan yang terlalu terpusat di Jakarta harus dikurangi. dan sebagian dari kelompok ini mampu memanfaatkan exposure ini secara baik.

apalah artinya kota tanpa penduduknya? Kota dan warga dapat diibaratkan seperti cangkang dengan kerangnya yang tumbuh kembang bersamasama. kota – kota metropolitan di tanah air kita yang sedang berkembang ini merupakan kota – kota yang bersifat dualistik. sebagian warganya sudah mulai berubah menjadi modern. Meminjam kata – kata Malcolm Miles et al dalam bukunya “The City Cultures Reader” (2000 : 2): “Cities are sites of constant flux. department stores. disilusi politik. Medan. Fenomena dehumanisasi metropolitan di Indonesia merebak antara lain karena perhatian para pengelola dan aktor – aktor pembangunannya terlalu tercurah pada aspek fisik. malls. Surabaya. kota metropolitan merupakan mesin pertumbuhan dan inkubator peradaban. and extreme poverty”. class and ethnicity. disease violent crime. super-malls marak di segenap penjuru kota. Di satu sisi. city dekat sekali kaitannya dengan citizen. perilaku dan gaya hidup manusia yang selalu berubah dari waktu ke waktu. toko – toko kecil. unemployment. their built form mediated by successive acts of destruction and creation … affected by social factors such as gender. Hampir seluruh metropolis atau mega-cities di dunia menghadapi masalah infrastruktur. dense. di sisi lain sebagian besar warganya masih berperilaku tradisional. and permanent settlement of socially heterogenous individuals”.172 Metropolitan di Indonesia SOSIO-KULTURAL Sudah semenjak beberapa abad yang silam sastrawan Inggris Shakespeare menyatakan “What is a city but its people”. dan pergulatan kepentingan ekonomi. tidak menyenangkan untuk kehidupan manusia yang berbudaya. warung. Saat ini kita sudah memasuki era perkotaan abad ke-21 atau milenium ketiga. tata ruang. Apartemen. Tidak heran bila sampai saat ini selalu saja terjadi kisah-kisah penggusuran atau pembongkaran permukiman kumuh dan kios-kios pedagang kaki lima. Pembangunan shopping centres. namun perumahan kampung juga masih terus bertahan. namun pasar tradisional. David Graham Shane mengutip pendapat Louis Wirth bahwa “A city is a relatively large. Ditilik dari sisi positifnya. Dalam buku terbarunya berjudul “Recombinant Urbanism” (2005 : 19). Namun. Banyak yang tidak memahami betul bahwa berbeda dengan metropolitan di negara maju yang sudah affluent. Sektor formal dan sektor informal berkembang terus. Ditilik dari segi etimologi pun. kemiskinan. sejalan dengan perubahan situasi dan kondisi penduduknya. sebagai pusat persilangan ide dan wadah inovasi. Makassar) cenderung semakin tidak manusiawi. . Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa kota – kota yang sudah termasuk kategori metropolitan di tanah air kita (Jakarta. Kota merupakan produk sosio-kultural. Dimensi sosio-kultural di hampir seluruh kota metropolitan di segenap pelosok tanah air nyaris terabaikan. tidak nyaman. ketidakadilan dan keterasingan sosio-budaya atau socio-cultural alienation (baca tulisan Badshah & Parlman berjudul “Mega-cities and The Urban Future” dalam buku suntingan Bridge & Watson “The Blackwell City Reader” 2004: 549). seperti pernyataan Kofi Annan selaku Sekjen PBB yang dikutip oleh Girarde (2004: 86) “Cities can also be places of exploitation. flats atau rumah susun sudah mulai digalakkan pembangunannya. pedagang kaki lima juga tidak berkurang. kendati tokoh – tokoh di puncak kekuasaan cenderung lebih mengakomodasi kepentingan sektor formal yang modern.” Semakin besar kotanya semakin kompleks penduduknya semakin rumit masalahnya dan semakin banyak konflik yang dihadapinya. Semarang.

Kebijakan pembangunan kota metropolitan yang keliru. ide. dan bahkan teror. mestinya sikap yang diambil oleh penentu kebijakan pembangunan kota metropolitan adalah sikap Yin-Yang atau Both-And. tidak layak berada di kota metropolitan yang serba formal. sektor informal mengandung konotasi tidak sah. dan upaya-upaya untuk memadukan kota-kota metropolitan dengan daerah di sekitarnya dalam wujud conurbation (lihat pembahasan mengenai kependudukan dan bagian 1 buku ini). Pasti akan besar pengaruhnya terhadap pola habitat manusia. Dari sebutannya. elitis. seperti Indonesia. or exclusions of the global networks”. gagasan. Padahal bila diingat kembali bahwa kota merupakan karya seni sosial (a social work of art). City of tomorrow pun jangan – jangan akan menjadi City of sorrow alias kota yang sarat dengan kesedihan. Martin Heidegger sebagai seorang filsuf kelas dunia menyebutnya dengan istilah “cultural malaise” dan “loss of nearness”. psikosis. dan tidak pro-poor itu akan menjadikan metropolitan kita menjadi kota yang menyengsarakan warga kotanya. panik. Kedungsepur. Memang perkembangan teknologi abad 20 dan 21 seperti yang terwujud dalam bentuk mobil. norma. . di masa depan akan menjadi miseropolitan atau kota yang menyengsarakan. Gerbang Kertasusilo. atau karakter dari kota – kota metropolitan. Ekonomi. Itu pula sebabnya metropolis di Indonesia lantas diledek dan dipelesetkan menjadi metropolost alias kota ibu yang hilang. yang mengakibatkan xenophobia. Itu pula sebabnya muncul tudingan bahwa kota metropolitan negara berkembang. (Susser 2002: 11). Keduanya mesti dirangkul dan dikembangkan bersama – sama. dan Kependudukan 173 Sebagai kota yang dualistik. Kota – kota metropolitan di era globalisasi yang tidak memperhatikan dimensi sosio-kultural dari warganya. processual analysis of labour in relation to the state and the regulation of the variable incursions. Selain itu. dan artefak bersejarah yang amat kaya dan beragam di kota – kota metropolitan di tanah air kita bila tidak dijaga akan tergerus. dan lain – lain tak akan bisa dihambat. kekhasan. kebencian. Pernik-pernik tata nilai. pendingin ruangan. dan hilang. televisi. McDonaldization. apalagi yang bercitra Barat. jati diri.Sosial. Jangan sampai obsesi terhadap modernitas dan teknologi lantas melunturkan atau bahkan menghancurkan kearifan tradisional dan budaya lokal yang ikut mewarnai wajah metropolitan kita. aneka pengaruh globalisasi akan sulit ditangkal sehingga seperti dikatakan Manuel Castells: “Globalization must be understood in relation to an historical. dan lain-lain masih sulit diimplementasikan karena masih kentalnya sikap primordial dan sektoral dari para pimpinan daerah atau penentu kebijakan. diduga akan terlanda arus McWorld. model – model penyeragaman. luntur. Namun. pasti akan meluluhlantakkan identitas. Sedangkan Rem Koolhas sebagai arsitek dan perencana kota mengungkapkannya dengan frasa “globalizing modernism” dan ”cultural homogenization” yang secara sistematik menghancurkan pusaka budaya atau warisan budaya yang unik. 2003: xi) mengejawantah menjadi kenyataan: “We obliterate the distinctiveness of places and create new forms of metropolitan confusion”. komputer. seperti Jabodetabek. perilaku. jadi tidak Either-Or atau mementingkan salah satu pihak saja. jangan sampai kekhawatiran Daniel Solomon (Global City Blues. atau Manhattanization. jangan sampai punah atau lenyap. Memang. inclusions. Rasa tempat atau sense of place yang tercipta dari keunikan budaya setempat mesti dipertahankan. tak terkecuali di kota metropolitan.

Ke depan. Keempat. bahwa bagaimana pun juga “Metropolises are containers of dreams. melepaskan diri dari telikungan regressive identity melalui pengembangan budaya demokrasi. and hopes”. Vicente Guallart dkk mengungkapkan tentang kota metropolitan masa depan di Eropa dan Amerika yang selalu saja menghadapi persaingan antara The Old dengan The New. Misalnya di kota Houston yang angka kriminalitasnya meningkat sehingga orang – orang kaya di Houston sampai ketakutan dan membuat jalur khusus di bawah tanah yang diberi nama Connexion yang menghubungkan kawasan pemukiman mewah dengan down-town. tanpa henti mencoba menciptakan progressive identity dari kota metropolitan. dilandasi prinsip kota sebagai panggung kenangan. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. transportasi. Ketiga. Mesti selalu ditanamkan di benak kepala bahwa kota tanpa bangunan kuno bersejarah serupa saja dengan manusia tanpa .174 Metropolitan di Indonesia Kota – kota metropolitan yang berkembang tak terkendali. sampai muncul ledekan dengan nama paraban Sickago alias kota yang sakit. akan menjadikannya sebagai monster yang mengerikan. Dalam buku terbarunya berjudul “Sociopolis: Project for a City for the Future” (2004:9). demokratisasi. dan placelessness. keadilan. memarjinalkan manusia dengan mengabaikan dimensi sosial-budayanya. Konservasi dan pembangunan. tapi saya peras menjadi 10 saja sehingga bisa disebut sebagai ‘The Ten Commandments’ atau ‘Sepuluh Perintah Tuhan’ dalam pembangunan kota metropolitan abad ke-21 atau di era milenium ketiga yang berwajah manusia dan berkelanjutan. ada baiknya kita merenungkan kaidah – kaidah pembangunan kota termasuk kota metropolitan yang antara lain dikemukakan oleh tokoh – tokoh garda depan gerakan New Urbanism yang berupaya menangkal kecenderungan social-cultural disintegration. yang telah disesali di negara maju. Muncullah gagasan tentang Sociopolis yang disebutkannya sebagai “A truly integrative and hybrid version of the metropolis for the future … setting new standards by realizing a dream of social balance. where all citizens potentially have the same opportunities”. Kita juga jangan mengulangi kesalahan serupa seperti yang terjadi di kota Chicago ketika bangunan kuno bersejarah dihancurkan untuk memberi tempat pada bangunan pencakar langit yang modern. Sebetulnya keseluruhannya ada 27 butir. Kedua. menjaga eksistensi pusaka budaya sebagai historical precedents. dan lain-lain tak seyogianya terulang di masa depan sebagaimana disebutkan oleh Raffacle Poloscia dalam bukunya “The Contested Metropolis” (2004: 14). tarik-menarik antara city centre dengan urban agglomerations. desires. struktur dan kultur. pusat dan periferi merupakan dua muka dari keping uang yang sama. akuntabilitas. Houston pun lantas memperoleh nick name ‘Ghost-town’. keberlanjutan. pertempuran kepentingan antara The Rich melawan The Poor. Dalam kiprah pembangunan kota – kota metropolitan di Indonesia seyogianya segenap pihak mengambil pelajaran dari kisah-sukses maupun kegagalan dari pembangunan kota – kota di negara maju. dan partisipasi segenap pemangku kepentingan sesuai tuntutan zaman. dengan prinsip change without loss mengakomodasi evolusi dan kesinambungan kehidupan warga metropolitan yang multikultur. mengupayakan pusat – pusat pertumbuhan jamak (multiple centres atau polynuclei) untuk mencegah kecenderungan centremania agar terjadi penyebaran aktivitas pada berbagai pelosok kota metropolitan secara lebih merata dengan keunikan sendiri-sendiri sehingga tercipta mosaik perkotaan yang indah. Aneka bencana perkotaan yang telah terjadi di masa silam akibat kurangnya perhatian terhadap isu-isu sosio-kultural. urban sprawl. Pertama.

memelihara taman dan ruang terbuka dalam berbagai level sebagai shared public spaces yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa aman. Melalui penerapan dan pengejawantahan sepuluh butir panduan pembangunan seperti tersebut di atas. bekerja. yang akan meningkatkan nilai tambah perekonomian secara keseluruhan. inovatif. dan beraktivitas budaya sebagai cerminan masyarakat yang beradab. Kawasan pinggiran mesti disiapkan dengan prinsip kemandirian agar bisa self sufficient. Pada tahun 2060. mesti lebih ditingkatkan. Ketujuh. KETERKAITAN DESA – KOTA Pendahuluan Kinerja kota-kota di abad 21 akan menjadi perhatian global karena pesatnya peningkatan penduduk perkotaan. Perkembangan kawasan perkotaan terutama akan terjadi di kotakota besar dan metropolitan. Perkembangan kawasan perkotaan selalu diiringi arus transformasi. yaitu meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan meningkatnya kontribusi sektor-sektor industri manufaktur dan jasa. Pada tahun 2030. dan Kependudukan 175 ingatan alias gila. minimal 61persen penduduk dunia akan tinggal di kota-kota. penyediaan affordable housing pada lokasi yang tepat untuk mencegah konsentrasi kemiskinan. mengupayakan interconnected networks of streets yang menghargai pedestrian dan memberikan rasa nyaman serta arah yang jelas. Perhatian pada public transport. Kawasan perkotaan merupakan tempat berkembangnya kegiatan industri manufaktur dan jasa. menyediakan fasilitas sosial dan infrastruktur atau prasarana umum yang memadai untuk segenap lapisan warga metropolitan tanpa terkecuali. Kawasan perkotaan akan menjadi lebih penting karena lebih dari 80 persen pertumbuhan ekonomi global terjadi di kota-kota. Kelima. Keenam. diharapkan bahwa penduduk atau warga kota metropolitan di masa depan akan termotivasi untuk ikut aktif berkiprah secara kreatif. terutama mass rapid transit. tidak tergantung pada pusat kota dan tidak sekadar sebagai bedroom community. Selain itu. Membongkar warisan budaya bukanlah dosa kecil. yang selanjutnya akan memicu pemanfaatan kawasan- . tidak dapat diharapkan tumbuh kembangnya secara berkelanjutan. Tanpa rasa memiliki kota metropolitan. Ekonomi. melainkan lebih merupakan fenomena sosio-kultural sebagai instrumen pembangunan manusia.Sosial. Kesembilan. lebih dari di kawasan-kawasan non-urban. menata kawasan pinggiran secara dini untuk mencegah urban sprawl yang tidak terkendali. belanja. Hal ini meningkatkan pendapatan rumah tangga. lebih dari 80 persen penduduk dunia akan tinggal di kotakota (Cities Alliance 2006). kota-kota mempunyai produktivitas yang tinggi karena kepadatan penduduknya menciptakan lingkungan transaksi yang tinggi. bersantai. Perumahan jangan sekadar dilihat sebagai komoditas ekonomi. dan bertanggung jawab atas keberlanjutan pembangunan kota metropolitan tempat mereka tinggal. Kedelapan. Perlu dicamkan bahwa taman adalah sorganya perkotaan. Segenap agen pembangunan kota metropolitan dituntut untuk menyediakan fasilitas dan prasarana umum sesuai standar pelayanan minimum. dan biaya per kapita pembangunan infrastruktur lingkungan juga lebih rendah. Kesepuluh. Kota-kota juga menggunakan energi lebih rendah per unit output ekonomi. pelibatan masyarakat dan segenap pemangku kepentingan dalam pembangunan untuk menciptakan kota metropolitan yang otentik dan rasa paguyuban (sense of community) yang kental.

Guna lahan juga berubah – dari yang tadinya bersifat desa menjadi bersifat kota. terjadi pemusatan di beberapa lokasi. Pada gilirannya hal ini akan menambah beban kota inti. dan terpisah-pisah. (b) kawasan semi urban. perekonomian. meluap ke kawasan pinggirannya. Belum lagi dampak pada lingkungan alamnya – polusi udara (karena transportasi). Di kawasan pinggiran ini dapat diobservasi desa dan kota serta peranannya di kawasan metropolitan. Hilanglah lahan-lahan pertanian. Kawasan pinggiran dikelompokkan dalam tiga tipologi untuk dapat mengembangkan program intervensi penanganan kawasan pinggiran. Dalam beberapa dekade terakhir. keterbatasan akses ke kota inti membebani jaringan transportasi yang telah ada serta membebani fasilitasfasilitas. dan lapangan kerja dapat memicu pengangguran yang pada gilirannya memicu penduduk masuk ke kota inti. dan sebagainya. terutama di Jabodetabek. di Indonesia. jumlah penduduk perkotaan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat31. Perkembangan kawasan perkotaan juga terjadi di Indonesia. cenderung di kota-kota besar dan metropolitan. perusakan ruang-ruang terbuka hijau. keterbatasan infrastruktur lingkungan dasar. kawasan-kawasan perdesaan mengalami transformasi yang tidak terarah dan terkendali. Secara lebih khusus di Indonesia akan berkonsentrasi di Jawa. polusi air – tercemarnya air bersih oleh limbah cair permukiman. Ini semua terjadi secara acak. permukiman berkepadatan rendah menjadi perumahan berkepadatan tinggi memenuhi kebutuhan kota inti dan untuk pembangunanpembangunan industri yang membutuhkan lokasi mendekati kota inti. Tidak mengacu pada suatu rencana tata ruang yang disepakati. pertambahan penduduk perkotaan yang terjadi tidak tersebar secara merata. pola hidup penduduknya. 31 Lihat uraian di Bab 5 . membebani jaringan transportasi dan membebani biaya hidup penghuni kawasan pinggiran. Diperlukan program dan intervensi untuk menangani kawasan pinggiran kota. Sebagaimana halnya di dunia. Kawasan pinggiran ini perlu mendapat perhatian karena di sana telah terjadi perkembangan yang campur aduk dan tidak terkendali. Terjadilah penyatuan kawasan-kawasan terbangun tersebut. Meluasnya pemanfaatan ruang di sekitar kota-kota besar dan metropolitan akan mewujudkan keterhubungan dari kota inti dengan kawasan-kawasan baru dan kota-kota satelit di sekitarnya. Berdasarkan itu dapat diperkirakan program dan intervensi yang sesuai. seperti pendidikan dan kesehatan. Kepadatan tinggi. Program intervensi dan keterkaitan dengan kota inti dapat diturunkan berdasarkan ketiga tipologi tersebut. Kawasan yang baru terbentuk. sendiri. Tata guna lahan. (c) kawasan potential urban. yaitu dari yang bersifat desa menjadi bersifat kota. empang-empang. Tipologi ini dirumuskan berdasarkan karakteristik ke’kota’annya karena akan dapat menggambarkan isu atau masalah yang dihadapi. Akibatnya. baik yang berkarakteristik desa maupun kota. perkebunan. polusi sungai (karena pembuangan limbah dan sampah).176 Metropolitan di Indonesia kawasan di sekitarnya. Antara lain karena tak tersedianya perumahan dan infrastruktur yang memadai. juga akan mengalami kondisi yang jauh dari ideal. mengakibatkan meningkatnya perkembangan kotakota ini. Ketiga tipologi tersebut adalah: (a) kawasan pre dominantly urban.

1. Sisanya tersebar merata di seluruh kota/kabupaten di sekitarnya (1. Gading Serpong. Kawasan permukiman baru ini kebanyakan bukan merupakan kawasan permukiman skala besar.Sosial. serta pola perubahannya. Untuk menggambarkan karakteristik kawasan metropolitan ini akan digunakan kawasan metropolitan Jabodetabek sebagai contoh. Pembangunan kota baru dimulai sekitar tahun 1989 dengan Kota Baru Mandiri BSD (Bumi Serpong Damai).763 km di Kota/Kabupaten . kota-kota baru. b. Di Tangerang. selain Bumi Serpong Damai (6000 ha) dan Tiga Raksa (3000 ha). Tabel 4 memberikan luas kawasan-kawasan permukiman skala besar ini (> 500 ha). Selanjutnya. lebih dari 50 persen jaringan jalan berada di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Baru mulai akhir tahun 1900-an mulai dibangun permukiman skala besar (> 500 ha) dan kota-kota baru oleh pengembang swasta. seperti Citra Karya. Selanjutnya. Panjang jaringan jalan yang ada di wilayah Jabodetabek adalah 11. Alam Sutra. dan 152 di Kabupaten dan Kodya Tangerang (Uguy 2006). Kota Legenda. atau kota-kota kecil lainnya. dan kota-kota kecil sekitarnya yang tumbuh dengan pesat.450 km di Kabupaten/Kota Bekasi. Ini semua akan membangkitkan pola pergerakan ulang alik ke kota inti (dalam hal ini DKI Jakarta) dan menggunakan jaringan transportasi yang ada. akan dibahas di sini mengenai guna lahan: dominasi. Royal Sentul (2000 ha). Pantai Indah Kapuk. Kawasan ini sering disebut sebagai ”urban fringe”. Tiga Raksa. 1. yaitu Rancamaya (550 ha). dibahas pola pengembangan kawasan-kawasan permukiman: pembangunan baru berskala besar. Cikarang Baru. Ekonomi. dan sebagainya. Lippo Karawaci. Kota Cileungsi (2000 ha). 130 di Kabupaten dan Kodya Bogor. Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan infrastruktur biasanya merupakan permasalahan utama kawasan pinggiran. persebaran. Di Bekasi ada Lippo Cikarang (5000 ha).344 km. Kota Legenda (Bekasi 2000). Struktur Ruang dan Pergerakan Penduduk Struktur ruang kawasan Jabodetabek dibentuk oleh jaringan jalan dan kereta api serta pusat-pusat permukiman. Lippo Cikarang. seperti kota baru atau permukiman skala besar. a. banyak perumahan lain. Kawasan sekitarnya ini dapat meliputi kawasan permukiman skala besar atau skala menengah.358 km di Kota/Kabupaten Tangerang. diikuti dengan Bintaro Jaya. dan lain-lain. dan Perumahan Modern. di Kabupaten Bogor ada lima wilayah baru. permukiman baru yang tersebar. Sampai paruh kedua dekade 1990-an (+ 1996) ratusan kawasan permukiman baru dibangun di wilayah Jabodetabek. ditambah dengan Lido Lake Resort dan Jonggol. dan Kependudukan 177 Kawasan Metropolitan Kawasan metropolitan adalah kawasan yang terdiri dari kota inti dengan kawasan di sekitarnya yang mempunyai keterkaitan erat dengan kota inti dan berfungsi menerima luapan kegiatan atau kebutuhan permukiman dan kegiatan dari kota inti. kota-kota baru. Kawasan Jabodetabek dilayani jaringan jalan dan jaringan kereta api. Lippo Karawaci. 107 di Kabupaten dan Kodya Bekasi. Sebagai tambahan dari analisis kependudukan yang telah dijelaskan di bagian depan bab ini. yaitu 103 kawasan di DKI Jakarta. Bintaro Jaya.

745 800 Lokasi Kab. Bogor Kab. Tangerang Kab. Bogor Kab.000 2. Tangerang Kab.321 770 8.000 1. Tangerang Kab.145 3.679 500 3. Tangerang Kab. Bekasi Kab.000 800 500 3. Bekasi Kab.500 1. Nama 1 Milik PT Pembangunan Delta Bekasi 2 Milik PT Lippo City Development 3 Milik PT Pura Delta Bekasi 4 Cikarang Baru 5 Bekasi Matra Real Estate 6 Milik PT Dwigunatama Rintisprima 7 Kota Legenda (Bekasi 2000) 8 Milik PT Sinar Bahana Mulia 9 Pantai Modern 10 Lippo Cikarang 11 Harapan Indah 12 Bukit Jonggol Asri 13 Citra Indah 14 Kota Taman Metropolitan 15 Kota Wisata 16 Bukit Sentul 17 Rancamaya 18 Resort Danau Lido 19 Taruma Resort 20 Talaga Kahuripan 21 Kota Tenjo 22 Milik PT Bangun Jaya Triperkasa 23 Maharani Citra Pertiwi 24 Milik PT Banyu Buana Adhi Lestari 25 Kotabaru Tigaraksa 26 Puri Jaya 27 Citra Raya 28 Lippo Karawaci 29 Gading Serpong 30 Alam Sutera 31 Bumi Serpong Damai 32 Bintaro Jaya 33 Kota Modern 34 Kota Wisata Teluk Naga 35 Kota Jaya 36 Pantai Indah Kapuk Sumber : Bappeda DKI Jakarta. Bekasi Kab.100 750 3. Bogor Kab. Tangerang Kab. Tangerang Kab. Bogor Kab. Bogor Kab. Bogor Kab.500 780 1. Tangerang DKI Jakarta . dan 245 km di Depok).000 800 30.18 Kawasan Permukiman Skala Besar (>500 ha) di Jabotabek No. Bogor Kab.19).000 1. Bogor Kab. Bekasi Kab.000 7. Bekasi Kab.000 600 1. Bogor Kab. Bogor Kab. Bekasi Kab. Tangerang Kab. Tangerang Kab. Bogor Kab.500 700 6. Panjang jalan tol di DKI Jakarta juga mencapai lebih dari 50 km dari total panjang jalan tol (lihat TABEL 5 .000 500 1. TABEL 5 . Bogor Kab.000 2. Tangerang Kab. Bekasi Kab. Bekasi Kab.000 500 1. Bekasi Kab.000 2.000 1. Tangerang Kab.400 500 850 2. Bekasi Kab & Kot. 1997 Luas (ha) 1. Bekasi Kab.700 1. Bogor Kab.178 Metropolitan di Indonesia Bogor.

4 7.174 n.8 215.9 % 58% 16% 13% 12% 2% 100% Km 113.1 13% 3 Bekasi Kota/Kabupaten 4 1.19 Panjang Jalan di Kawasan Jabodetabek Panjang Jalan Kota/Kabupaten Km % DKI Jakarta 6.11 menunjukkan stasiun yang dilalui kereta api dengan jumlah penumpangnya per hari. Dari panjang jalan dan jalan tol.0 11.05 Km 6.Sosial.2 36.548.4 0.7 245. Bekasi Kota/Kab.a 2.610.a 19.280. Terpadat adalah jalur dari Jakarta Kota (di Utara) ke Bogor (Selatan) terutama jalur tengah.10.0 Jalan Tol Perkapita (km/1000 penduduk) 0.357.20 Perkapita Jalan dan Jalan Tol Panjang Jalan Kota/Kabupaten DKI Jakarta Kota/Kab.9 memberikan gambaran persebaran jaringan jalan dan jalan tol.9 34.9 34.01 0. Dari DKI Jakarta ada 3 jalur utama yaitu menghubungkan dengan Kabupaten/Kota Tangerang dengan Kabupaten/Kota Bogor dan Kabupaten/Kota Bekasi.a 0. 1 Jalan Tol Km % 113. Ekonomi.762.212.3 11% 16% 17% 4% 100% TABEL 5 . Bogor Kota/Kab.810 4. GAMBAR 5 .3 n.605 3. Panjang jalan tol di DKI juga mencapai hampir 50 persen dari total panjang jalan tol di Jabodetabek. menggunakan KRL atau KRD.196. 2006 No.0 52% 23.8 215.1 1. Perkapita (panjang jalan per jumlah penduduk) jalan dan jalan tol DKI Jakarta masih mendominasi (Lihat TABEL 5 .762. DKI Jakarta paling terlayani dengan baik dibandingkan kota/kabupaten lainnya.2 36.3 % 52% 11% 16% 17% 4% 100% GAMBAR 5 . .4 7. Jaringan jalan dan jaringan kereta api saling melengkapi menghubungkan DKI Jakarta dengan pusat-pusat permukiman di sekitarnya.450.20).093. dan Kependudukan 179 TABEL 5 . Tangerang Kota Depok TOTAL Jumlah Penduduk 7.01 n.9 0.363.0 2% 6 TOTAL 11.7 1.9 100% Sumber : SITRAMP II.363.4 0.938 Perkapita (km/1000 penduduk) 0.450.4 58% Kota/Kabupaten 1.357.0 23.02 0.7 16% 2 Bogor Kota/Kabupaten 1.7 12% Tangerang 5 Kota Depok 245.349 4.4 1. Jaringan jalan kereta api dapat dilihat pada GAMBAR 5 .01 0.548.

9 Jaringan Jalan Jabodetabek Sumber : SITRAMP (Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek II) Railway Passenger Survey 2000 Legenda : .10 Jaringan Jalan Kereta Api Jabodetabek Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey 2000 .jaringan jalan ----.jaringan jalan tol GAMBAR 5 .180 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .

570) diikuti Kota Bekasi (129. di Bodetabek.2 juta – Rp 2 juta (+ 45 persen) dan dari golongan pendapatan Rp 2. dan Kependudukan 181 GAMBAR 5 .21). maupun kendaraan pribadi (Lihat TABEL 5 . 2000 c. angkutan dari kantor.020) dan Kota Depok (99.8 .Sosial. namun daya tariknya masih kuat sebagai penyedia lapangan kerja serta pelayanan sosial-ekonomi-budaya. Meskipun jumlah penduduk DKI Jakarta sebagai kota inti mengalami penurunan. Pejalan ulang alik terbanyak adalah dari Kabupaten Tangerang (241. Jaringan jalan dan jalan kereta api tersebut di atas melayani pergerakan ulang alik dari kawasan Botabek ke DKI Jakarta (URDI 2006). Ini terutama dari kawasankawasan permukiman yang langsung berbatasan atau dekat dengan DKI Jakarta. Ekonomi.11 Peta Volume Penumpang Jalur Kereta Api Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey. Ini mengakibatkan meningkatnya jumlah penglaju baik dengan angkutan umum. Data tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar komuter ke Jakarta adalah dari golongan pendapatan Rp 1. Fasilitas-fasilitas dan peluang kerja yang ditawarkan masih besar sehingga menarik pendatang-pendatang baru ataupun pekerja/karyawan yang tinggal di kawasan pinggirannya.413).0 juta – Rp 3. Golongan pendapatan > Rp 3.8 juta (+ 30 persen).

762 Kota Bogor (17.927 4.36%) (52. kurang dari 10 persen.25%) (29.385 26.23).000 ha). kampung kepadatan tinggi.000 106.111 Tangerang (16.51%) (21.576 (4.53%) 44.284 (4.05%) Sumber: diolah dari LP3E Unpad. Hal tersebut berarti bahwa masih cukup banyak kawasan/kampung yang bersifat perdesaan.31%) (31.07%) (37.35%) (29. Luas penggunaan lahan lain (perumahan terencana.899 129. industri dan gudang.63%) 635 (5.000 ha).088 Kab Tangerang (21.640 15.5 tahun (1985-2002) (Lihat TABEL 5 .000 ha) dan Kota Depok (+ 304 ha).413 241.31%) 10. di Kabupaten Bekasi (+ 84.182 Metropolitan di Indonesia paling sedikit (+ 4 persen).334 37. Sedangkan semak dan hutan banyak terdapat di Kabupaten Bogor (+ 60.352 202.026 43.570 76. dengan berjalannya waktu.29%) 19.504 Kota Depok (19.528 67.000 ha).12 menunjukkan bahwa proporsi penggunaan lahan tahun 2000. klasifikasi penggunaan lahan di Kabupaten dan Kota meliputi 14 penggunaan.906 72.735 Guna Lahan Dari studi SITRAMP II sebagaimana disebutkan dalam URDI (2006) pada tahun 2000. dan di Kabupaten Tangerang (+ 67.311 Kab Bogor (38. kegiatan ekonomi. TABEL 5 .595 (3.52%) 18. telah terjadi perubahan guna lahan yang sangat pesat dalam kurun waktu + 1.38%) 1. dan ruang terbuka (Lihat TABEL 5 .56%) 9.168 Jumlah (21.98%) (34. .04%) (49.30%) 26.35%) 141.691 42.22).871 15.21 Pekerja Komuter Usia 15 Tahun Ke Atas Golongan Pendapatan (Rp 000) 100-1999 1200-1999 2000-3799 27.70%) 52. fasilitas publik.790 Kota Bekasi (14.020 99.537 37.165 (4.900 672.94%) (30.839 16.81%) (43.690 (2. Penggunaan terbesar di Jabodetabek adalah untuk pertanian dan ruang terbuka di Kabupaten Bogor (+ 111.48%) (36.921 24. Ini dapat disebabkan mereka bertempat tinggal di DKI Jakarta.602 Kab Bekasi (22. 2006 Kab/Kot > 3799 1.68%) (41.07%) (44.83%) 5.934 32.736 302.19%) (32.84%) Kota 12. GAMBAR 5 . Namun.81%) 1.94%) Jumlah (100%) 71.38%) 2. maka penggunaan lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu permukiman.00%) 4. komersial dan bisnis) relatif rendah.575 3.907 10.534 (3.479 (3. yang terbesar adalah untuk pertanian dan ruang terbuka (51 persen) diikuti dengan kampung berkepadatan rendah (20 persen) serta semak dan hutan (10 persen).56%) (37. Untuk menyederhanakan.

Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.3 1.629.573 18.6 580.5 181.773 4. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.0 5.3 182.6 2.6 3.615 15.0 0.006.7 268.6 10. Bekasi Luas (ha) 14.052.1 124.152.327 21.7 475.5 1.9 122.8 59.4 326.0 3.4 3.327 21.850 206.727.9 1.4 0.1 3.3 6.0 Komersial & Bisnis 1.3 Pemerintahan 196.2 266.22 Penggunaan Lahan per Kab/Kota Jabodetabek.9 37.5 14.4 691.0 230.2 1.4 299.873.3 Industri & Gudang 37.9 319.3 38.561.185.0 148.4 743.5 8.957.0 .0 0.7 118.1 0.5 0.8 66.954 Perumahan Terencana 3.4 Pendidikan & Fas.5 298.0 11. Bogor Kota Bekasi Kab.190.4 5.1 0.1 83.3 394.455 111.2 0.8 3.047.1 0.5 1.7 460.6 29.0 38.967.1 29.0 0.8 304.1 0.6 11. Ekonomi.5 88.081.Publik 505.5 0.0 1.2 2.0 8.Sosial.341.866.5 49.8 1.2 88.0 0.0 0.0 1.640.5 55.720.902.2 98.9 3.0 0.2 314.2 107.0 0.4 75.671.790 12.0 499.0 311.6 26.0 165.9 1.1 1.1 89.505.9 403.049.376.479.0 0.029 11.772.0 2.7 1.262.615 15.812.963. Bogor Kota Bekasi Kab.850 206.2 4.800.3 2.0 227.0 585.8 880.0 6.0 Kampung Kep.774.6 156.0 0.6 16.0 1.4 2.790 12.5 38.6 251.2 111.455 111.0 0.955.1 0.633.1 679.573 18.3 2.0 213.6 2.3 1.1 368.228.3 198.107.340.4 61.4 12.6 830.6 5.029 11.6 24.2 133.8 5.954 14.1 1.7 6.8 30.6 282.773 4.4 229.993.546.5 406.4 2.0 0.038 20.6 16.3 344.Rendah 836.5 857.359.5 94.0 1.4 130.3 383.0 5.509.6 33.7 3.8 6.0 4.9 23.8 3.3 0.9 0.0 41.049 127.5 1.1 13.038 20.336.0 0.1 6.3 791. dan Kependudukan 183 TABEL 5 .0 0.1 88.9 3.221.0 1.962.9 16.7 0.872.4 Kampung Kep.Tinggi 6.401 16. tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 Penggunaan Lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kab/Kota Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.258. Bekasi Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.0 0.688.370.0 1.049.5 41.454.6 0.832.0 2.049 127.6 195.9 699.359.3 53.184.401 16.

865 38.6 persen menjadi perkantoran dan lain-lain.26% Sumber : SITRAMP 2.167 44.08 40.62 30. Pertanian mengalami pengurangan yang cukup besar yakni sekitar 11.5 Kota Tangerang 18.900 22.4 1.13% Perumahan.89% Industri 4. Tangerang 123.8 persen menjadi industri.7 67. Dapat disimpulkan bahwa banyak lahan dan kegiatan yang mencirikan perdesaan terkonversikan menjadi kegiatan yang berciri urban – perumahan dan industri. 49.7 Sumber: BPS Jawa Barat.18 36.074 45.6 49. Dari Kabupaten/Kota Bekasi dan Tangerang.4 0.02% 43.9 0. baik formal maupun informal.35 13. Industri mengalami peningkatan hampir 3.000 ha.816 11. paling tinggi menjadi kampung berkepadatan rendah (20 persen).44 5.000 ha.54% 23.184 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .501 24. 2004 Tahun 2002 (ha) 20.346 7. Dari kelompok perumahan.38 3.6 persen terkonversi menjadi perumahan.12 Rasio Penggunaan Lahan Jabodetabek tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 TABEL 5 .9 7. hampir 15.28 62.8 1. dan 9.08 ribu ha.4 Kab.1 2.621 4.23 Konversi Lahan Pertanian Luas Total Total Luas Prosentase Hasil Konversi (%) Wilayah Konversi PeruPerkanLainWilayah (ribu ha) (ribu ha) mahan Industri toran Lain Kota Bekasi 148.75% Pertanian 44. 1998 dalam Yulinawati 2005 TABEL 5 .2 Total 290.1 35. 40. dari total wilayah 13.8 1.9 37.000 ha.5 23.33% 7.24. Konversi lahan pertanian dalam kurun waktu tersebut dapat dilihat pada TABEL 5 .11% Perumahan Informal 37. menunjukkan perubahan yang besar.53 4.24 Perubahan Guna Lahan Guna Lahan Tahun 1985 (ha) Perumahan Formal 10. sedangkan penggunaan untuk perumahan terencana .

Titik perpotongan kedua kurva permintaan tersebut secara teoritis berupa suatu garis mengelilingi pusat kota.13). Jelas ini sudah merupakan kawasan berkarakteristik perkotaan. industri. Secara teoritis. lahan terbuka. Dengan perkembangan kota. Sumber mendatar merupakan jarak dari pusat kota. pada kenyataannya merupakan suatu kawasan dengan lebar yang bervariasi. Ini yang diartikan sebagai kawasan pinggiran metropolitan. Bersama sebuah atau lebih kota inti membentuk kawasan metropolitan. sedangkan sumbu vertikal menyatakan nilai lahan.Sosial. dan sebagainya.0) adalah suatu titik yang ditetapkan sebagai pusat kota. Dinamika Kawasan Pinggiran Metropolitan Kawasan Pinggiran di sini diartikan urban fringe. Pada umumnya kawasan pinggiran ini terdiri dari penggunaan lahan yang campur aduk: permukiman. urban fringe merupakan titik perpotongan antara kurva permintaan lahan perkotaan dengan kurva permintaan lahan perdesaan (Lihat GAMBAR 5 . Namun. pertanian. dan Kependudukan 185 dan kampung berkepadatan tinggi mencapai 10 persen.13 Lokasi Urban Fringe Secara Teoretis . Titik (0.14). titik yang menyatakan batas antara wilayah desa dan kota akan bergeser menjauhi pusat kota (Lihat GAMBAR 5 . GAMBAR 5 . yaitu kawasan yang terdapat di sekitar kota besar atau metropolitan. Ekonomi.

Kemudian ditambah adanya pengembangan permukiman skala besar yang baru seperti kota-kota baru BSD. dan sebagainya. biasanya akses ke kota inti relatif baik. Semi Urban = kawasan ini adalah wilayah transisi dari perdesaan ke perkotaan. jalan tol. industri. perdagangan. Berdasarkan penggunaan lahan serta fungsi kegiatan ekonominya. Proses ini adalah yang kita kenal sebagai ”suburbanisasi” dan biasanya berbatasan langsung dengan kota inti. b.186 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 . perkebunan. Karakteristik kota ini antara lain adalah perumahan berkepadatan tinggi. seperti kota Tangerang. Kegiatan-kegiatannya lebih berciri urban. empang-empang dan ruang terbuka atau belum terbangun). Kawasan predominantly urban ini kemungkinan besar tercipta karena telah ada kota-kota atau permukiman sebelumnya di kawasan ini. Predominantly Urban = kawasan yang didominasi kondisi dan kegiatan berciri perkotaan. . Ciri utamanya adalah keberadaan perumahan hunian yang masih berkepadatan rendah.14 Pergeseran Urban Fringe Tipologi Kawasan Pinggiran Pada kenyataannya kawasan pinggiran tidak homogen. jasa pelayanan. kawasan pinggiran ini dapat dikelompokkan dalam tiga kategori atau tipologi: a. Kawasan ini juga meningkat perkembangannya karena sudah ada atau sedang direncanakan pengembangan infrastruktur regional seperti jaringan jalan arteri. kepadatannya campuran antara kepadatan tinggi dan kepadatan rendah. dan sebagainya. Depok. Bogor. antara untuk kegiatan rural dan kegiatan perkotaan (perumahan berkepadatan tinggi. serta industri yang berorientasi tenaga kerja (labor oriented industries). serta industri ringan/manufaktur. penggunaan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. baik terencana (kawasan permukiman berskala kecil) maupun tidak terencana. Guna lahannya campur aduk. Penggunaan lahan sebagian besar masih berupa pertanian dan ladang. Deltamas. Kegiatannya juga sebagian masih rural (pertanian. Bekasi.

8 persen . ada yang sudah menunjukkan gejala-gejala menuju urban. 2006). Perkembangan global akan mempengaruhi kawasan metropolitan Jabodetabek terutama dalam bidang perekonomian.19). Dari GAMBAR 5 .Sosial. Terkait dengan kepadatan penduduk dan guna lahan serta aktivitas penduduknya.akan meningkatkan pula pertumbuhan sektor-sektor tersebut di Jabodetabek. yang pada gilirannya akan mempengaruhi kependudukan (jumlah dan struktur) dan perubahan tata guna lahan. peta 4 (penggunaan lahan 2000) serta peta 5 dan peta 6 (jumlah penduduk Jabodetabek 2000 dan 2004 per kecamatan). kedua tipe kawasan ini dilalui jaringan jalan atau jalan kereta api. Pola Perubahan Ketiga tipologi kawasan pinggiran akan turut mengalami perubahan dengan adanya perkembangan di kawasan metropolitan Jabodetabek dan di kota inti DKI Jakarta. kegiatan masih cenderung ke pertanian dan perkebunan serta masih banyak lahan-lahan yang belum terbangun. Kegiatan ini terjadi di tipe kawasan predominantly urban.15. tetapi mulai menyebar mengikuti jaringan transport dan konsentrasi permukiman terutama ke arah Selatan. Ekonomi. Ekonomi dan konversi lahan Sebagaimana telah disampaikan di muka. namun dekat dengan kawasan semi urban. hampir tidak ada. Juga adanya imbas dari daerah sekitarnya yang sudah atau menuju perkembangan perkotaan (URDI. Lihat juga pada peta 1 dan peta 2 (jaringan jalan dan kereta api). Kepadatan relatif rendah. maka desa-desa di kawasan pinggiran ini ada yang masih bersifat rural. Dikaitkan dengan jaringan transportasi. yang secara nasional meningkat pangsanya – dari 23.8 persen menjadi 26. a. Akses ke kota inti sangat terbatas. Sektor industri pengolahan/manufaktur dan sektor jasa. Untuk kawasan metropolitan Jabodetabek ketiganya dapat dilihat dari GAMBAR 5 . c.15 maka terlihat bahwa kebanyakan kecamatan-kecamatan yang langsung berbatasan dengan DKI Jakarta berkarakteristik predominantly urban atau semi urban. Kawasan ini tidak berbatasan langsung ke kota inti. . ini merupakan kawasan periurbanisasi atau awal proses suburbanisasi. dan Kependudukan 187 dan sebagainya). Akses ke kota inti terbatas. Lokasi peningkatan kegiatan ekonomi tersebut akan menyebar sebagai berikut: industri jasa dan perdagangan akan tetap berkembang di pusat kawasan metropolitan yakni di kota inti DKI Jakarta (GAMBAR 5 . Salah satu faktor yang mendorong pengembangan kegiatan perkotaan ke kawasan ini adalah tersedianya aksesibilitas berupa jaringan jalan atau kereta api yang melalui kawasan ini serta harga lahan yang relatif masih murah. Potential Urban = adalah kawasan yang pada saat ini ciri utamanya masih rural – berkarakteristik desa tapi mempunyai peluang besar untuk lambat laun menjadi urban. peranan kawasan metropolitan Jabodetabek dalam perekonomian nasional untuk beberapa tahun ke depan masih akan tetap tinggi. dan ada yang sudah bersifat urban.

188 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .15 Peta Urban Fringe Jabodetabek Berdasarkan Tipologinya GAMBAR 5 .16 Pengunaan Lahan Jabodetabek 2000 .

Sosial.18 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2004 per Kecamatan . dan Kependudukan 189 GAMBAR 5 .17 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2000 per Kecamatan GAMBAR 5 . Ekonomi.

19 Sebaran Lokasi Fasilitas Komersial dan Bisnis di Jabodetabek Sumber: SITRAMP2. 2004 GAMBAR 5 .190 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .20 Sebaran Kawasan Industri dan Pergudangan Jabodetabek .

Terkait dengan kepadatan penduduk dalam kurun waktu 5 tahun (2000-2004) telah terjadi juga kenaikan kepadatan penduduk. Walaupun ada juga di beberapa kecamatan di pinggiran Kabupaten-kabupaten Bekasi. Konversi lahan pertanian ini paling agresif terjadi di Kabupaten Bekasi terutama untuk mewadahi kegiatan industri yang merupakan sektor utama di daerah tersebut. Paling tinggi kepadatan masih tetap di DKI Jakarta sebagai pusat kegiatan Jabodetabek.23) mengalami penyusutan luas dari sekitar 44 ha di tahun 1985 menjadi sekitar 23.5 H di tahun 2002. Konversi ini (lihatTABEL 5 22) terjadi di Kabupaten/Kota Tangerang dan Bekasi terutama untuk penggunaan perumahan dan industri (sekitar 13 ribu ha dari total 290. . Kependudukan Sebagaimana dibahas di bab sebelumnya.4 ha lahan pertanian). Secara spasial peningkatan jumlah penduduk terdapat di kecamatan-kecamatan yang berdekatan atau berbatasan dengan DKI terutama di Kota Tangerang dan Kota Depok (kawasan predominantly urban).20) terkonsentrasi di kawasan pelabuhan kota inti DKI Jakarta. Kota-kota ini meningkat perannya sebagai sub pusat kegiatan dengan fungsi permukiman atau pendidikan. mengikuti jaringan transport ke Barat ke arah Tangerang. jumlah penduduk selama 5 tahun terakhir meningkat di Jabodetabek. pertanian (lihat TABEL 5 . Kecamatankecamatan di atas berdasarkan jumlah penduduknya berubah dari tipologi semi urban dan potential urban menjadi predominantly urban dan semi urban. dan Kependudukan 191 - industri manufaktur dan pergudangan (GAMBAR 5 . kecuali di DKI Jakarta yang relatif stabil bahkan di Jakarta Pusat yang mengalami penyusutan. Kota Bogor. dan Kota Depok.Sosial. dan Bogor yang relatif jauh dari DKI Jakarta. Perubahan tersebut terjadi di kawasan-kawasan sebagai berikut: - TABEL 5 . Tangerang. Kota Tangerang. Di luar DKI Jakarta peningkatan kepadatan tinggi terjadi di kota-kota sekitar.25 Perubahan Kegiatan Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban peningkatan industri jasa dan perdagangan peningkatan industri manufaktur peningkatan industri manufaktur peningkatan permukiman peningkatan industri manufaktur konversi lahan pertanian ke perumahan dan industri b. Kota-kota ini termasuk tipe kawasan predominantly urban dan di sekelilingnya adalah kebanyakan tipe kawasan semi urban. Persebaran ini terjadi di kawasan predominantly urban dekat Kota Depok. Ekonomi. seperti Kota Bekasi. Kemungkinan besar kawasan-kawasan ini akan menjadi predominantly urban dan kawasan yang potential urban akan menjadi semi urban. Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi di tipe kawasan semi urban dan potential urban.

jalan kereta api. jalan kereta api. KLB rendah). dan predominantly rural. jaringan air bersih dan pembuangan. Pembatasan ke arah selatan memerlukan regulasi yang cukup ketat dan diawasi pelaksanaannya secara konsisten. Kebijakan-kebijakan ini pada ujungnya akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan makro nasional dan sektoral seperti antara lain: Keputusan pembangunan jaringan transportasi baru – jalan tol. Hal ini terkait pada kebijakan makro untuk Kawasan Metropolitan Jabodetabek – seberapa luas lahan yang akan dipertahankan dan di mana lokasinya untuk tetap menjadi kawasan perdesaan/pertanian (predominantly rural) yang saat ini masih cukup banyak yakni 51 persen. Keputusan-keputusan ini penting untuk menetapkan di mana akan dilaksanakan. Pemerintah-pemerintah Daerah. Seyogianya itu semua mengacu pada satu tata ruang Kawasan Metropolitan yang disepakati semua pihak – Pemerintah Pusat. dan jalan raya (arteri nasional). dari semi urban menjadi predominantly urban dan dari potential urban menjadi semi urban atau bahkan predominantly urban akan dipengaruhi oleh beberapa kebijakan atau intervensi dari pemerintah maupun dari masyarakat/dunia usaha. dan sebagainya). Penutup Bagaimana implikasi perkembangan metropolitan pada desa dan kota yang berada dalam Kawasan Metropolitan serta kebijakan dan kelembagaan seperti apa yang dapat mengelola/menanganinya merupakan isu yang akan dibahas dalam bagian ini. Masyarakat perlu dilibatkan dalam pengawasan ini. serta masyarakat dan dunia usaha terkait di sektor-sektor terkait (seperti jaringan jalan raya. potential urban.27. Pengembangan saat ini banyak yang mengarah ke selatan.192 Metropolitan di Indonesia Strategi dan Kebijakan Perubahan atau perkembangan tipologi kawasan dari predominantly urban menjadi fully urban – dalam arti kecamatan-kecamatannya mengalami transformasi menyatu dengan kota inti. Kebijakan umum dan khusus berupa program dan instrumen bagi ketiga tipologi dapat dilihat dari TABEL 5 .26 dan TABEL 5 . Keputusan pengembangan permukiman baru – antara lain dengan meningkatkan kepadatan (KLB tinggi. Pada saat ini strategi yang ingin digunakan di Kawasan Metropolitan Jabodetabek adalah mendorong pengembangan poros Timur – Barat dan membatasi pengembangan ke arah Selatan yang merupakan resapan air. industri dan perdagangan. Bila dilihat GAMBAR 5 . Kedua kegiatan tersebut akan menarik kegiatan-kegiatan terkait seperti pusat-pusat kegiatan dan pelayanan serta membutuhkan penyediaan sarana dan prasarana pendukung. .15 (tipologi urban fringe) maka poros Timur – Barat masih memungkinkan untuk dikembangkan terutama di kawasan-kawasan semi urban.

Membatasi Ijin-Ijin Untuk Kegiatan Yang Menyebabkan Degradasi Lingkungan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol.27 Contoh Instrumen untuk Kebijakan-kebijakan Khusus No Jenis Kebijakan Kebijakan Khusus Pengembangan Yang Ada Dibatasi Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban 1 2 Pengembangan Yang Ada Didorong Menaikkan Beban Pajak Untuk Kegiatan Perkotaan: Bisnis Dan Komersial. Meningkatkan Pemanfaatan Lahan Terbangun Sumber : URDI 2006 . Pembangunan secara vertikal (KLB tinggi.26 Kebijakan Umum dan Usulan Program per Tipologi Urban Fringe No 1 Jenis Kebijakan Pemanfaatan lahan untuk kegiatan budi daya Predominantly Urban Pengembangan mixed use. Ekonomi. Pengembangan urban agriculture Kegiatan eknomi yang tidak merugikan fungsi ekologis (ecotourism. dan Kependudukan 193 TABEL 5 . Meningkatkan Pembangunan Jalan Baru Untuk Pergerakan Internal Dan Eksternal Jabodetabek Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan. dll) Pengembangan urban agriculture 2 Pengembangan pusat-pusat kegiatan baru Pengembangan pusatpusat kegiatan regional Pengembangan urban agriculture dan industri padat karya 3 4 Mengefisienkan dan mengefektifkan lokasi pusat-pusat kegiatan ekonomi Peningkatan penyediaan prasarana Pengembangan kegiatan perkotaan Pengembangan urban agriculture dan industri yang berorientasi tenaga kerja Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture dan industri Penyediaan prasarana yang mendukung kegiatan perkotaan untuk skala regional Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture Sumber : URDI 2006 TABEL 5 . Mengembalikan Fungsi Ruang Terbuka Hijau Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol.Sosial. Mengurangi Ijin-Ijin Pembangunan. Meningkatkan Fungsi Lindung Kawasan Untuk Bagian Selatan Jabodetabek Meningkatkan Penyediaan Sarana Dan Prasarana Kota. Mempertahankan fungsi ekologis / lindung kawasan. KDB rendah) Semi Urban Pengembangan lahan terbangun yang menunjang kegiatan perkotaan Potential Urban Dipertahankan sebagai lahan tidak terbangun.

. Dalam hal intervensi aspek pembangunan fisik dan lingkungan dapat dilakukan antara lain : penyusunan rencana tata ruang wilayah yang terintegrasi dan terpadu secara bersama-sama. yaitu di kawasan pinggiran yang semula hanya tipe potential urban menjadi predominantly urban. Pertambahan penduduk terjadi terutama karena perpindahan dari DKI Jakarta. Tetapi peningkatan kepadatan ini sangat tinggi (6. Kompleks perumahan bertambah dari 32 kompleks (1992) menjadi 57 kompleks (2002) hampir dua kalinya (Uguy 2006: hal. koordinasi perencanaan dan pendanaan pembangunan secara terpadu (lintas sektor dan lintas wilayah). ladang. aspek pembangunan fisik dan lingkungan. Dalam hal ini intervensi kelembagaan dan keuangan antara lain dapat dilakukan melalui: membentuk wadah kerja sama (baru atau revitalisasi/perluasan wadah yang sudah ada).194 Metropolitan di Indonesia Hubungan Desa dan Kota Dari gambaran di atas terlihat bahwa desa dan kota sangat erat kaitannya dan dengan mudah terjadi perubahan dari desa menjadi kota. dan jalan tol. Intervensi Strategi dan Kebijakan Intervensi yang dapat dilakukan perlu secara menyeluruh dari tingkat nasional. 2006). merumuskan mekanisme kerja sama dan pembuatan keputusan. Kepadatan penduduknya 75 jiwa/ha lebih tinggi dari kepadatan kabupaten tapi belum setinggi kepadatan kota. 127). Sebanyak 84 persen dari penghuni di kompleks perumahan dan 54 persen dari penghuni non perumahan (kampung) sebelumnya tinggal di DKI Jakarta. Jika tidak ada intervensi dari pemerintah. dan lain-lain. Namun. Dari yang predominantly rural atau potential urban dapat menjadi semi urban dan predominantly urban. jalan. (URDI. serta dalam aspek pelayanan publik. Desa-desa yang dilalui atau dekat dengan jaringan transportasi ke Jakarta akan mengalami transformasi menjadi kota yang lebih cepat. kebun campuran dengan rumah) sebesar 73 persen. Kecamatan ini juga membangkitkan lalu lintas yang menyebabkan kemacetan di jalan lingkungan. kini telah mengalami transformasi dalam transisi menjadi kecamatan berciri kota. sekitar 27 persen telah berubah menjadi perumahan. meliputi intervensi dalam aspek kelembagaan dan keuangan. . hal ini akan menerus terjadi dan akan menimbulkan urban sprawl. Suatu studi kasus (Uguy 2006) di suatu kecamatan (Cimanggis) memberikan hasil sebagai berikut: Kecamatan Cimanggis merupakan kawasan peri urban yaitu mempunyai tata guna lahan campuran rural dan urban yang tak tertata. Ini merupakan fenomena yang umum terjadi di kecamatan-kecamatan sekitar DKI Jakarta. Kegiatan utama Cimanggis sebagian masih berupa pertanian (sawah. provinsi. industri. jalan arteri. dan kabupaten/kota. Perubahan peruntukan lahan yang sangat cepat untuk pembangunan permukiman. Hal ini semua menunjukkan bahwa kecamatan Cimanggis yang sekitar 5 tahun yang lalu masih berciri desa.3 persen per tahun).

Jawa Barat. dan Banten). perencanaan pemanfaatan sumber daya alam. pembangunan skala besar dan banyak daerah seperti jaringan transportasi multimoda yang melayani ketiga propinsi. pembuangan. dan Kependudukan 195 - perencanaan pengembangan jaringan transportasi dan pusat-pusat kegiatan secara bersama (spasial maupun temporal). dan sebagainya. dan persampahan (disarikan dari URDI 2006). sungai dan danau. dan sebagainya. seperti mekanisme perencanaan yang melibatkan propinsi-propinsi (DKI Jakarta. Ekonomi. Dalam hal intervensi aspek pelayanan publik antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan program-program : pelayanan transportasi terpadu multimoda.Sosial. . seperti sumber air baku. pelayanan penyediaan air bersih. Beberapa intervensi itu harus dilakukan dari tingkat pusat.

196 Metropolitan di Indonesia .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful