5 Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

KEPENDUDUKAN Pendahuluan Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk kota telah menjadi bagian yang penting dalam pembangunan di Indonesia pada beberapa dekade terakhir. Berdasarkan definisi dari Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah penduduk kota meningkat dari 32,8 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 55,4 juta jiwa pada tahun 1990 dan meningkat kembali menjadi 86,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada saat yang sama, jumlah penduduk desa meningkat dari 114,5 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 122,8 juta jiwa pada tahun 1990. Namun, jumlah tersebut kemudian menurun menjadi 119,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada akhirnya, proporsi penduduk kota meningkat tajam dari 22 persen pada tahun 1980 menjadi 42 persen pada tahun 2000 (TABEL 5 - 1).1 Jumlah tersebut menunjukkan terjadinya transformasi yang besar dalam masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, dari yang masyarakat berciri desa, yang terlihat dari sistem pemerintahan dan perdagangannya (terutama adalah komoditas pertanian) yang mendukung pengembangan kota secara terbatas, menjadi masyarakat kota, gaya hidup kota dan yang paling penting adalah keterkaitan penduduk dengan ekonomi kota yang akan membentuk pola pembangunan dan pertumbuhan kota. Dalam hal ini, tingkat pertumbuhan penduduk desa yang rendah (berangka negatif pada tahun 1990-an) pada TABEL 5 - 1 tidak menunjukkan penurunan angka pada pertumbuhan penduduk desa yang sebenarnya, akan tetapi karena terjadinya perubahan dari tempat dengan karekateristik desa menjadi tempat dengan karakteristik kota walaupun jumlah penduduknya tetap statis.

1 Karena beberapa masalah pada sensus tahun 2000, jumlah penduduk yang diperkirakan sebesar 459.557 jiwa (kota) dan 1.857.659 jiwa (desa). Tambahan sebesar 566.403 jiwa penduduk kota dan 1.717.478 jiwa penduduk desa dihitung secara formal tetapi tidak menjawab karakteristik individual.

126

Metropolitan di Indonesia

TABEL 5 - 1 Jumlah dan Tingkat Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan Kota/Desa di Indonesia Tahun 1980, 1990 dan 2000
Tahun Kota Desa Jumlah % Kota

1980 1990 2000 1980-1990 1990-2000

Jumlah Penduduk 32.845.829 114.485.994 147.331.823 55.389.171 123.805.052 179.194.223 86.406.587 119.436.609 205.843.196 Tingkat Pertumbuhan Penduduk (%) 5,23 0,78 1,96 4,58 -0,37 1,43

22,3 30,9 42,0

Catatan: (1) Jumlah penduduk kota tidak memasukkan penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap (tuna wisma, penduduk yang tinggal di atas perahu, dll.) yang memiliki jumlah sekitar 158 ribu pada tahun 1980 dan 127 ribu pada tahun 1990. Jumlah penduduk tersebut pada tahun 2000 tidak diketahui. (2) Tingkat pertumbuhan dihitung berdasarkan rumus P(t)=P(0)ert Sumber: Biro Pusat Statistik (1991), Badan Pusat Statistik (2001)

Bagian ini akan menjelaskan secara singkat karakteristik urbanisasi di Indonesia berdasarkan kependudukannya yang dipusatkan pada lima kota besar yang secara umum didefinisikan sebagai kawasan metropolitan antara lain: (1) Mebidang yaitu Kawasan Metropolitan Medan yang meliputi Kota Medan dan sekitar Kota Binjai dan Kabupaten Deli Serdang; (2) Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur, meliputi Ibukota Jakarta dan kawasan sekitar Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota dan Kabupaten Tangerang, dan Kota dan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Cianjur; (3) Kawasan Bandung Metropolitan meliputi Kota dan Kabupaten Bandung dan sebagian dari Kabupaten Sumedang; (4) Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila yang terdiri dari Kota Surabaya sebagai pusat, kawasan sekitar meliputi Kabupaten Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, dan juga Kota Mojokerto; (5) Kawasan Metropolitan Mamminasata meliputi Kota Makassar dengan Kabupaten di sekitarnya, yaitu Maros, Takalar dan Gowa (dulunya bernama Sungguminasa). Tulisan ini akan melihat pola urbanisasi, yang menekankan pada pengelompokan kembali2 beberapa karakteristik sosial ekonomi penduduk dalam ruang lingkup metropolitan dan beberapa diskusi mengenai bagaimana terjadinya perubahan pola tersebut. Definisi Kota Bagaimanapun juga perlu kehati-hatian dalam menganalisis pola pertumbuhan penduduk kota. Ada dua alternatif definisi kota di Indonesia. Pertama adalah definisi secara administratif, yaitu berdasarkan unit pemerintah lokal yang otonomi yang disebut Kotamadya yang setara dengan status hukum pemerintahan kota. Kedua adalah secara
2

Pendekatan ini digunakan karena kurangnya data rinci mengenai penduduk untuk menghitung perubahan penduduk berdasarkan demografi-pertumbuhan alami (perbedaan antara kelahiran dan kematian) dan net-migrasi (perbedaan antara migrasi masuk dan keluar).

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

127

fungsional, yaitu setiap unit pemerintahan terkecil yang memiliki kesetaraan dengan status desa atau kota yang fungsional berdasarkan karakteristiknya. Ciri utama dalam definisi fungsional yang digunakan oleh BPS yaitu status desa/kelurahan dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan bertambah padatnya penduduk, berkurangnya kegiatan pertanian atau meningkatnya fasilitas dan pelayanan kota. Pengelompokan kembali (secara jelas antara desa dan kota) menjadi faktor utama dalam menjelaskan pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan yang cepat, yaitu membandingkan 30-35 persen dari pertumbuhan kota pada tahun 1990an dengan jumlah migrasi desa-kota sebesar 20-25 persen (World Bank 2003).
TABEL 5 - 2 Perubahan Definisi Kota Sebelum dan Sesudah Podes 2000
Kepadatan Penduduk (per Km2) 19802000Nilai 1990 Sekarang <500 500-999 1000-1499 1500-1999 2000-2499 2500-2999 3000-3499 3500-3999 4000-4999 5000+ <500 500-1249 1250-2499 3500-3999 4000-5999 6000-7499 7500-8499 8500+ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Persentase Rumah Nilai terhadap Tangga Pertanian Jumlah Fasilitas Umum 1980– 2000– Keter- KeterNilai Nilai 1990 sekarang sediaan jangkauan >95 91-95 86-90 76-85 66-75 56-65 46-55 36-45 26-35 2570,0 50-69 30-49 20-29 15-19 10-14 5-9 51 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Catatan: Definisi Kota tahun 2000 berdasarkan data PODES 2000 (a) dapat digunakan dari tahun 1980 sampai 1990-an; (b) dapat digunakan sejak tahun 2000 Tipe-tipe fasilitas publik: (a) Skor hanya untuk ketersediaan: SD, SMP, SMA, rumah sakit, klinik ibu dan anak, pusat kesehatan, jalan yang dapat digunakan kendaraan roda 3 atau 4, kantor pos, pasar permanen, pusat perbelanjaan, bank, pabrik, restoran, pelayanan umum listrik dan jasa penyewaan. (b) Skor untuk keterjangkauan (1 atau 0): TK (1 jika ≤ 2,5 Km), SMP dan SMA ((1 tiap ≤ 2,5 Km), pasar (1 jika ≤ 2Km), bioskop (1 jika ≤ 5 Km), pertokoan (1 jika ≤ 2 Km), rumah sakit (1 jika ≤ 5 Km), hotel/bilyard/diskotek/salon (1 jika tersedia), % rumah tangga yang memiliki telepon (1 jika ≥ 8%), dan % rumah tangga yang menggunakan listrik (1 jika ≥ 90%) Sumber: Definisi awal berasal dari Sigit dan Sutanti 1983 dalam Peter Gardiner 1993 dan juga pada BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 1990an. Definisi berdasarkan PODES 2000 didapatkan dari BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 2000an.

Perubahan definisi fungsional BPS – menganggap status kota berdasarkan sistem penilaian yang melibatkan kriteria kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga pertanian dan jumlah fasilitas kota – dapat dilihat pada TABEL 5 - 2. Definisi kota fungsional yang dikembangkan pada dekade 1970-an diterapkan pertama kali secara nasional pada Sensus Penduduk tahun 1980 dan dipertahankan sampai tahun 1990an. Perubahan yang

Pentingnya pengelompokan dalam menghitung pertumbuhan penduduk kota tidak dapat diabaikan.220 3.2 2.946 16.946 5.5 1.828 13.3 7. perhitungan berdasarkan data pada tingkat desa/ kelurahan menunjukkan bahwa perubahan pada Jabotabek dan Metropolitan Bandung selama tahun 1980-an telah berkontribusi secara signifikan pada pertumbuhan jumlah penduduk di kawasan metropolitan. khususnya di Pulau Jawa yang pemerintah dan kegiatan ekonominya sangat berperan dalam konversi guna lahan dan untuk kepentingan pengelompokan yang 3 PODES (Potensi Desa) dilakukan untuk mempersiapkan tiga sensus utama yaitu.3 Dekomposisi Pertumbuhan Penduduk di Jabotabek dan Metropolitan Bandung tahun 1980 – 1990 Kawasan Jabotabek Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Metro Bandung Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Yang terdata Kota desa Total Kawasan stabil 1980 Kota Perluasan 1990 Kota Desa 7.411 911 3.730 9. Definisi baru juga memperkenalkan perubahan pada jenis fasilitas publik dan pada apa yang diukur. berdasarkan analisis dari data-data tahun 1980 dan 1990 pada tingkat desa yang menjelaskan perubahan-perubahan nama.2 persen di Metro Bandung sehingga masingmasing berkontribusi sebesar 41 persen dan 31 persen dari seluruh pertumbuhan penduduk di kawasan metropolitan tersebut (Gardiner 1993). Sebagai contoh. Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 3.8 (1.131 2.6 5.9 persen di Jabotabek dan 5.7 Sumber: Peter Gardiner (1993). sementara definisi terkini mempertimbangkan akses yang kebanyakan diukur berdasarkan jarak capai.8 (0. Setiap tahun penduduk kota di Jabotabek dan Metro Bandung masing-masing tumbuh sebesar 5.309 2.987 5.4 persen.128 Metropolitan di Indonesia signifikan diperkenalkan berdasarkan PODES (Potensi Desa) 2000.050 3.050 3.067 2.337 1.996 9. dan Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 6.558 11. Sensus Penduduk pada tahun yang berakhiran 0.068 4. kode dan batas wilayah. . pertumbuhan penduduk per tahun pada dua kawasan metropolitan tersebut masing-masing adalah sebesar 2.4) 2.9 3.4 2.4) 3.830 13. Berdasarkan definisi baru tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk desa meningkat secara signifikan dan proporsi rumah tangga pertanian menurun.607 1.3 2. Di dalam kawasan kota inti.3 Definisi terkini sangat berbeda dengan definisi sebelumnya dalam hal isi (walaupun metodologi yang digunakan.4 persen dan 0. Definisi awal hanya mempertimbangkan ketersediaan sebagai ukuran. indeks komposit dan skor masih tetap sama).8 persen dan jumlah penduduk desa menurun dengan rata-rata per tahun sebesar 1.322 1.322 1. sementara pertumbuhan penduduk pada wilayah yang lebih luas meningkat lebih tinggi yaitu sebesar 7.6 2.895 7.6 3.8 persen dan 4. TABEL 5 .063 544 2.6 persen.063 2.337 4.524 3.3 persen dan 1.987 4.

Walaupun akhir-akhir ini (khususnya setelah krisis moneter) muncul perubahan ke arah jentrifikasi7 pada kawasan inti di beberapa kawasan metropolitan melalui peningkatan pembangunan apartemen dan town house yang sering kali dengan standar kenyamanan internasional. tingkat migrasi keluar yang tinggi. 4 Berdasarkan Ernest Burgess tahun 1925 dengan judul the pattern of growth of American cities (Chinoy 1967. Ekonomi. 279). 7 jentrifikasi (gentrification) adalah perubahan sosial ekonomi kawasan pusat kota karena berpindahnya penduduk miskin digantikan oleh penduduk dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi. Kawasan inti dicirikan dengan berbagai faktor antara lain penurunan penduduk absolut. industri ringan. Pengelompokan tersebut memberi kesan bahwa urbanisasi mempercepat peran parameter demografi. Pola Permukiman Penduduk dan Pertumbuhan Kota Pola ekologi urbanisasi di Indonesia ditunjukkan oleh perkembangan Kawasan Metropolitan Jabodetabek yang semakin besar. Walaupun pada awalnya terlihat seperti pola konsentrik4. tetapi hal tersebut tidak akan menyebabkan perubahan besar pada pertumbuhan penduduk di pusat kota karena pembangunan di pusat kota tersebut seringkali tidak menggantikan permukiman kumuh (untuk masyarakat miskin) sebelumnya yang lebih padat. dan kawasan pinggiran kota digunakan sebagai perluasan permukiman penduduk. hal. dari permukiman menjadi non-permukiman khususnya untuk kegiatan komersial. tetapi belakangan ini perkembangan pergerakan penduduk menunjukkan fenomena seperti pada teori kombinasi antar sektor5 dan pola konsentrik6. dan perluasan kawasan permukiman. sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan pengembangan wilayah dan jalur transportasi. . seperti pusat perbelanjaan dan supermarket mewah. sedangkan kawasan pinggiran kota dicirikan dengan tingkat migrasi ke dalam yang tinggi dan sebagai akibatnya adalah meningkatnya jumlah penduduk absolut. pertumbuhan alami dan migrasi dalam pertumbuhan penduduk metropolitan yang akan dikelompokkan dan dikembangkan kembali. 5 Dikemukakan oleh Homer Hoyt tahun 1939 yang memodifikasi rencana Burgess dengan memfokuskan pada pergerakan-pergerakan antar sektor yang didesak dari arah luar dengan mengikuti jaringan jalan utama (Chinoy 1967: 279) 6 Dikembangkan oleh Edward Ullman dan Chauncey Harris yang mengidentifikasi pertumbuhan khusus di daerah inti yang mengalami perubahan karena fungsinya seperti komersial. industri berat. ciri utama kota-kota besar di Indonesia adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang didefinisikan untuk kawasan inti kota yang sebagian besar proporsi guna lahan pada kawasan tersebut dimanfaatkan terutama untuk.Sosial. atau mengalami perubahan. dan Kependudukan 129 lain. dan karena pembangunan di kawasan pusat kota tersebut juga memerlukan fasilitas. Secara demografis. bukan permukiman yang cukup luas.

9 2.421 13.48 1.90 13.73 2.65 3.1 747.7 187.975 3.44 9.35 12.98 126.024 1.267 18. Dinamika perubahan kawasan di core Jabotabek yang akan datang dapat menjadi indikasi pola pertumbuhan dan penurunan jumlah penduduk di kawasan metropolitan di Indonesia.15 3.28 2.44 3.04 2.008 12.44 3.097 798 1.551 1.021 20.289 2.71 3.609 1.35 10.3 606.020.83 0.22 9.212 1.14 1. inner dan outer fringe.41 1.317 1.925 1.93 1.246 17.1 1.2 1.065 2.9 536.87 24.0 145.78 13.73 2.471 4.38 8.140 2.526 3.03 2. .245 2.201 1.62 0.011 15.68 0.43 7.432 JABOTABEK 6.22 0.235 2.130 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .769 3. serta menunjukkan bahwa kawasan fringe yang sebagian besar masih merupakan kawasan perdesaan masih berada di dalam kawasan metropolitan yang besar dan menunjukkan bahwa perubahan ke arah kota sedang berjalan atau baru akan dimulai9.3 1.96 8.16 21.089 1.7 8.138.787 48.35 1.4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kawasan Metropolitan Jabotabek Tahun 1990-2000 Kawasan Luas (Km2) Jumlah Penduduk (Juta jiwa) 1990 1995 2000 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 1990 1995 2000 2.265 3.373.67 2. yang memiliki keistimewaan dibandingkan kota-kota lain. peran Jakarta di dalam negara maupun di dunia internasional menjadi menarik untuk diteliti seperti yang telah dilakukan oleh T.321 3.56 2.10 20. Firman (1998.765 12.560 3.174.62 1.01 2.108 1.19 Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang 662.4 3. Pertumbuhan dan penurunan penduduk di kawasan core Jakarta menunjukkan pola konsentrik/memusat dengan Jakarta Pusat sebagai the inner core dan kawasan lain di dalam Jakarta sebagai lapisan 8 Sangat disayangkan pekerjaan Mamas dan Komalasari ini tidak dapat diulangi untuk tulisan ini karena memerlukan pemakaian data pada tingkat desa yang tidak bisa didapatkan.8 5.785 10. 9 Sebagai ibukota negara.422 1.2 437.7 17.164.58 2.085 843 1.742 Catatan: Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data survey penduduk desa tahun 1995 Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Mamas dan Komalasari (akan datang)8 membagi Kawasan Metropolitan Jabodetabek menjadi core.03 0.77 1.509 0.698 12. 1999 dan 2004).435 3.15 154.507 4.28 2.345 2.416 9.8 1.11 2.42 2.701 12.922 14.16 0.

0 15.0 3.4 30.73 8.30 3. Penurunan tingkat pertumbuhan penduduk terjadi meskipun pertumbuhan alami meningkat secara positif (selisih antara kelahiran dan kematian) ketika tingkat migrasi masuk menurun secara signifikan dari 6. Ekonomi.9 24.5 17.74 5.8 23.5 Catatan : Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data Survey Penduduk Tahun 1995.9 18.91 -1.91 6.56 4.0 28.7 28.6 -14.2 -62.1 15.01 1.4 17.01 -3. Secara umum.8 18.3 -39.0 -44.4).1 16.5 42.74 0.13 2. kepadatan penduduknya masih kurang dari 1000 jiwa/km persegi (TABEL 5 .1 -7.2 -33. Perubahan pola pertumbuhan penduduk penting untuk dicatat.0 -16.23 -2.7 15.3 16. Tanda positif menyatakan migrasi masuk dan tanda negatif menyatakan migrasi keluar.1 17.9 6.5).3 19.91 1.9 -37.9 14.12 -1.4 -50.8 -41.5 -40.33 7.9 19. Dengan kata lain. Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Untuk mengetahui penyebab pertumbuhan penduduk.1 -14.08 -1.37 -1.82 16. Pertumbuhan Alami dan Migrasi di Jabotabek Tahun 1990-1995 dan 1995-2000 Kawasan JABOTABEK Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang Rata-Rata Pertumbuhan Penduduk (%) 1990-1995 1995-2000 3.8 0. kepadatan penduduk mencapai 18 ribu jiwa/km2 sedangkan di kawasan outer fringes.5 -34.2 44.80 0.52 Rata-rata Rata-rata Pertumbuhan Alami Net-migrasi (per 000) (per 000) 1990-1995 1995-2000 1990-1995 1995-2000 1.8 15.8 23.0 13.6 17.9 19. Di Jakarta Pusat.3 -44.00 2.8 17.1persen (positif) selama paruh pertama menjadi -7. TABEL 5 .6 9.34 5.7 15.98 -2. bergerak ke luar dari Jakarta Pusat sebagai inner core ke daerah sekitarnya yang disebut outer zone disebabkan kepadatan permukiman yang rendah.6 14.6 17.4 13.86 3.0 24. tingkat pertumbuhan penduduk di Jabodetabek pelahan-lahan menurun secara signifikan sepanjang dekade 1990-an dari 3.5 Rata-rata dari Pertumbuhan Penduduk.3 -19.47 -2.2 16.0 50.4 20.35 1.4 persen (negatif) selama paruh kedua dekade 1990-an.5 22. secara umum Jabotabek ditandai .5 15. tulisan ini melihat komponenkomponen pertumbuhan penduduk tersebut dari pertumbuhan alami dan net-migrasi (TABEL 5 .0 .5.12 -0.67 -1.07 0.50 8.35 persen per tahun selama paruh pertama menjadi hanya 1 persen selama paruh kedua sampai akhir abad ini.8 19. khususnya daerah Bogor. dan Kependudukan 131 pertama yaitu outer zone.84 5.48 -3.Sosial.4 16.

serta Kabupaten Bandung dan Sumedang.132 Metropolitan di Indonesia dengan jumlah migrasi masuk selama paruh pertama dari dekade terakhir yang kemudian ditandai dengan migrasi keluar pada paruh akhir dekade tersebut. Pada kawasan core Jakarta. khususnya di Pulau Jawa. Tangerang. sektoral dan banyak pusat – dimulai dengan sebuah pusat atau core yang terdiri dari kota utama dan dikelilingi daerah-daerah yang sedang mengalami proses urbanisasi. Walaupun demikian. dan Bekasi. Perubahan Jabotabek menunjukkan sebuah kombinasi tiga pola pertumbuhan kota – konsentrik. pertumbuhan penduduk di Jabodetabek cenderung didorong oleh kekuatan pasar dan pemanfaatan lahan. Penurunan ini diakibatkan oleh seluruh penurunan pada pertumbuhan alami dan net-migrasi. bangunan-bangunan perkantoran bertingkat. menggantikan villa dan rumah tinggal yang hanya satu lantai. sebagian besar migrasi sebenarnya terjadi di dalam metropolitan itu sendiri yaitu penduduk yang bergerak keluar dari kota induk (core) sekarang ke daerah-daerah lain di pinggiran atau perbatasan kota. peningkatan harga lahan untuk kegiatan komersial dan permukiman mewah seperti mall. Harga dan guna lahan mempengaruhi tingkat migrasi yang masuk dan keluar. serta Kabupaten Bogor. Gambaran pertumbuhan penduduk di Jabotabek tersebut menunjukkan bahwa sebagai sebuah kawasan metropolitan. dan apartemen. Hal tersebut menunjukkan bahwa aspek-aspek penting yang terjadi di Kawasan Metropolitan Jabotabek menjadi ciri perubahan yang juga terjadi pada kawasan-kawasan metropolitan lain. Secara demografis. Dengan kata lain. (3) Bandung Raya terdiri dari Kota Bandung dan Cimahi. (2) Jabodetabekjur terdiri dari DKI Jakarta dan Kota Bogor. Pada tingkat lokal. pada kawasan luar kota (outer fringe) Jabotabek. Surabaya dan Bandung – jika dibandingkan dengan daerah lain (baik desa maupun kota) yang berada di dalam kawasan tersebut. khususnya Bekasi dan Tangerang. Net-migrasi juga merupakan penyebab meluasnya kawasan metropolitan ini. Bagaimanapun juga. Metropolitanisasi – Lima Kawasan Metropolitan Tahun 1980-an dan paruh pertama dekade 1990-an (sampai krisis ekonomi) merupakan periode pengembangan metropolitan secara besar-besaran. Bekasi. (4) . penduduk di inner zone akan meningkat karena banyaknya migrasi yang masuk ke kawasan tersebut. Depok. dari 6. yang menyebabkan pertumbuhan negatif yang ditunjukkan dengan tingginya angka migrasi keluar. Di antara dua kawasan ekstrim Jabotabek yaitu kawasan core dan outer. yang terdiri dari Kota Medan dan Binjai serta Kabupaten Deli Serdang. tingkat pertumbuhan penduduk di inner zone perlahanlahan menurun. Cepatnya perluasan kawasan perkotaan (urbanized area) ke kawasan-kawasan yang berdekatan merupakan salah satu ciri proses tersebut. lebih cepat lagi di kota-kota besar – Jabotabek (sekarang Jabodetabekjur). Tangerang.01 persen menjadi 5. dan Cianjur.33 persen per tahun selama pertengahan awal dan akhir tahun 1990-an. perubahan pertumbuhan penduduk terjadi karena beberapa alasan. Lima Kawasan Metropolitan yang menarik untuk diteliti antara lain: (1) Mebidang. orang-orang membangun kawasan industri pada pertengahan pertama 1990-an yang menyebabkan angka migrasi keluar tinggi. hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan penduduk yang relatif cepat di beberapa kota utama. yang berarti bahwa reklasifikasi merupakan faktor yang signifikan dalam menentukan pertumbuhan kota secara keseluruhan.

949 448 827 1. unit data lebih kecil dari penelahan khusus oleh IHS berdasarkan data dari BPS Podes (Potensi Desa) dalam beberapa tahun.4 39. 10 Seperti penjelasan sebelumnya. desa-desa yang dapat dikelompokkan sebagai kota dan penduduk yang bertempat tinggal di desa tersebut diidentifikasi sebagai dasar untuk menghitung persentase desa-desa yang menjadi kota dan persentase jumlah penduduk kota yang tinggal di desa tersebut (TABEL 5 .7 63. Ekonomi.847 863 1. Data Podes (Potensi desa) BPS saat ini memungkinkan untuk dianalisis dengan memperhatikan sejarah perkembangan secara terbatas dalam memahami proses urbanisasi dengan memfokuskan pada tiga periode terakhir. Tangerang.0 67.4 7. Jumlah Penduduk dari data Podes yang didapat dari kepala desa.6).5 2. 1999 dan 200510.6 Pertumbuhan Penduduk Desa di beberapa Kawasan Metropolitan Kawasan Metropolitan Jumlah 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Kota (%) 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Desa (ribu) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 825 1.1 3.2 69.3 57. dan Bangkalan. Tahun yang menjadi referensi disini menggambarkan tahun pengumpulan data .7 36. Kabupaten: Sidoarjo.9 30. Bandung Raya terdiri dari: Kota Bandung dan Cimahi. Gresik.2 2.5 35.0 37.0 41.6 Total Penduduk (juta) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 3.6 20. dan Kabupaten: Takalar.2 23.8 5.949 473 30.8 66. dan Bangkalan Mamminasata terdiri dari: Kota Makassar.5 Catatan: Mebidang terdiri dari: Kota Medan dan Binjai. Kabupaten: Bandung dan Sumedang Gerbangkertosusila terdiri dari: Kota Surabaya dan Mojokerto.6 48.8 56. Lamongan.3 61.951 447 825 1. Kabupaten: Deli Serdang Jabodetabekjur terdiri dari: Semua Kota di wilayah DKI Jakarta.1 4.Sosial.0 48. dan Bekasi. Gresik. Lamongan. Bogor. Mojokerto. Bekasi dan Cianjur.5 39.5 60.5 67. TABEL 5 .6 22.7 40. Podes tahun 1999 sebagai persiapan Sensus Penduduk tahun 2000 dan Podes tahun 2005 untuk Sensus Ekonomi tahun 2006. Mojokerto.1 2.2 65. yaitu tahun 1995.829 859 1. Dengan menggunakan delineasi desa. Goa dan Maros. Goa dan Maros. Pemakaian tahun dalam Podes oleh BPS berdasarkan tujuan tertentu.9 7.3 18. (5) Mamminasata terdiri dari Kota Makassar dan Kabupaten Takalar.4 52. Podes dilibatkan dalam persiapan sensus utama: Podes tahun 1995 sebagai persiapan Sensus Pertanian tahun 1996.0 47.6 6.3 8.9 32.9 7. dan Kependudukan 133 Gerbangkertosusila terdiri dari Kota Surabaya dan Mojokerto serta Kabupaten Sidoarjo.762 855 1.0 22.8 53. Depok Tangerang.7 76.3 79. Kabupaten: Bogor.9 31.

proses urbanisasi secara ekologis di lima kawasan metropolitan jauh lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan demografisnya. kawasan metropolitan lainnya secara ekologis masih lebih berciri desa daripada kota. proses urbanisasi menjadi semakin cepat dan terlihat jelas bahkan dalam periode pendek selama sepuluh tahun. perlu diingat bahwa kecenderungan percepatan urbanisasi pada saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 terus berlangsung dan tetap bertahan. Pada lima kawasan metropolitan tersebut. dari perspektif kependudukan. . Kecenderungan ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi ekologi tetapi juga dari sisi demografi. Pertama. sedangkan tiga kawasan metropolitan lainnya antara 6 dan 7 dari 10 penduduk yang tinggal di desa berciri kota. Perluasan kawasan metropolitan menunjukkan bahwa kecuali Jabodetabekjur. dimana proses urbanisasi terjadi.2). Jabodetabekjur memiliki jumlah penduduk sebanyak 23. Pada saat itu. Kawasan Metropolitan di Pulau Jawa lebih besar secara ekologis (jumlah desa) dan secara demografis (jumlah penduduk). Walaupun ada kecenderungan dalam pengambilan data podes kurang sistematis. Contohnya. Dengan kata lain. dan yang kelima adalah Mamminasata. hanya kurang dari setengah desa-desa tersebut sudah dikelompokkan menjadi kota. Berdasarkan data kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan pulau lainnya.9 juta jiwa11 sedangkan kawasan metropolitan terbesar 11 Angka penduduk dalam Podes didapatkan dari wawancara kepada kepala desa. Peta tersebut menunjukkan penyebaran desa berciri kota (urban village) dan desa berpenduduk paling sedikit 2000 jiwa atau lebih di lima kawasan metropolitan. Data ini menunjukkan adanya kemungkinan sektor konstruksi kembali menjadi penggerak urbanisasi yang terjadi di semua kota-kota besar di negeri ini. Lebih lanjut.134 Metropolitan di Indonesia Pembahasan selanjutnya perlu diperhatikan dengan seksama. Mebidang dan Jabodetabekjur memiliki lebih dari 3 dari 4 rumah tangga penduduk di desa yang berciri kota (urban village). Kondisi pada tahun 2005 digambarkan oleh peta pada gambar-gambar di bawah. Kawasan metropolitan terbesar berada di Pulau Jawa. Namun hasilnya masuk akal untuk membandingkan dengan proyeksi penduduk yang digunakan untuk SUSENAS (Survei Sosial-Ekonomi Nasional). dengan Kota Makassar sebagai core-nya. Dari lima kawasan metropolitan yang diteliti. Jabodetabekjur memiliki keistimewaan tidak hanya dalam cakupan wilayahnya tetapi juga dalam hal jumlah penduduknya. tanpa kecuali. Kecenderungan ini terjadi meskipun definisi desa yang menjadi kota tersebut lebih ketat (lihat TABEL 5 . Kedua. terdapat tiga kawasan metropolitan besar yang terletak di Pulau Jawa– Jabodetabekjur yang memiliki keistimewaan dibandingkan kawasan metropolitan lain. kecenderungan untuk mengkategorikan penduduk desa-desa tersebut menjadi penduduk kota secara umum meningkatkan tingkat urbanisasi secara tajam. krisis pertama kali mempengaruhi dinamika sektor konstruksi yang menyebabkan pembuat kebijakan menjadi khawatir akan dampak sosialnya berupa demonstrasi para pekerja yang di-PHK di jalan-jalan Jakarta. Dari lima kawasan metropolitan tersebut. wilayah desa berciri kota serta jumlah penduduknya meningkat secara signifikan selama lima tahun terakhir dalam abad ini dibandingkan abad sebelumnya sedangkan secara anekdot dirasakan bahwa ketika bergerak keluar dari pusat kota dan melihat iklan-iklan untuk komplek perumahan. dan Metropolitan Bandung – yang keempat adalah Mebidang di Sumatera Utara. diikuti oleh Gerbangkertosusilo. yaitu dari tahun 1995 sampai tahun 2005. Berdasarkan data Podes tahun 2005.

proyeksi penduduk di lima wilayah metropolitan sebagai berikut: Mebidang 4. biasanya perluasan itu mengikuti jaringan transportasi utama khususnya pada jalan utama. Urbanisasi merupakan suatu bentuk pencarian atas pelayanan sosial dan ekonomi serta penghidupan yang lebih baik. yang selanjutnya ditunjang dengan pembangunan jalan-jalan arteri utama. GAMBAR 5 . 12 . yaitu kurang dari sepertiga jumlah penduduk di Jabodetabekjur.3 juta jiwa.2 juta jiwa dan Mamminasata hanya sebesar 2.6). bermula pada daerah inti yang berkembang menjadi lebih terbangun dan proses urbanisasi terus meluas. Pihak swasta membangun perumahan untuk golongan ekonomi menengah ke atas dengan mengesampingkan masyarakat miskin. jika pembangunan jalan arteri utama dibangun berdasarkan keputusan pemerintah maka perkembangan perkotaan juga ditentukan secara langsung oleh pemerintah. Kawasan metropolitan di luar Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit. dan Kependudukan 135 kedua. Oleh karena itu.12 Disamping itu.3 juta jiwa.8 juta jiwa.1 juta jiwa. Masyarakat miskin dengan sendirinya mengisi ruang-ruang antara yang tersisa baik yang legal maupun ilegal. Ekonomi.2 juta jiwa (TABEL 5 . Jabodetabekjur 25.1 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mebidang Data SUSENAS 2004. dengan Penduduk Mebidang hanya sebesar 4. peta-peta tersebut juga menunjukkan koridor perkotaan. Pihak swasta dan pengembang merespon terhadap inisiatif-inisiatif tersebut dengan membangun lingkungan perkotaan dan kawasan tertutup (enclave) berupa real estate baik yang berskala besar maupun kecil. Gerbangkertosusila hanya memiliki 8.Sosial. Hal ini dapat dilihat dalam kasus Jabotabek yang perkembangan kotanya terjadi di sepanjang koridor arteri timur – barat. dan Metropolitan Bandung dengan 7. Metropolitan Bandung 7.3 juta jiwa.

2 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur GAMBAR 5 .3 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Bandung Raya .136 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .

Sosial. dan Kependudukan 137 GAMBAR 5 .4 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila GAMBAR 5 . Ekonomi.5 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mamminasata .

sehingga tidak mengherankan jika kota metropolitan pertama di luar Pulau Jawa adalah Kota Medan. Angka yang menunjukkan daya tarik kota besar yang didapatkan dari perbandingan jumlah penduduk kota besar tersebut dengan jumlah penduduk di dua kota berikutnya 13 . tetapi terutama dalam hal penduduk. seperti Jabodetabekjur. Namun. yang memiliki primacy rate13 yang besar mengungguli kota-kota metropolitan lainnya. Kota-kota metropolitan di Pulau Jawa biasanya lebih besar. Mengapa Tinggal di Kota-Kota Metropolitan? Pembahasan mengenai proses urbanisasi dan metropolitanisasi serta pertumbuhan dan penurunan penduduk di atas terlepas dari penilaian baik atau buruk. Pulau Sumatera. Para pendatang dituding sebagai penyebab meningkatnya kemacetan dan mereka menggunakan fasilitas dan pelayanan kota yang tidak direncanakan untuk mereka. Jika dilihat dari sudut pandang perencana atau pengelola kota. Kota metropolitan terkecil yang dibahas dalam bab ini adalah Mamminasata yang relatif kurang terbangun.7 yang mengkombinasikan perbedaan mencolok antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Kenyataan ini dapat dimaklumi karena Pulau Jawa sejak dahulu memiliki penduduk yang lebih besar jika dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa penilaian dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang tertentu. Bagaimanapun mereka terlalu menggantungkan pada kondisi fisik dan sosial infrastruktur kota yang juga menyebabkan keterpurukan mereka. terutama mereka yang miskin. merupakan suatu masalah. pendatang juga membayar pajak yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur fisik dan sosial perkotaan. Pembangunan di masa lalu pun cenderung terpusatkan pada wilayah barat Indonesia. sehingga kota-kota metropolitan di Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih besar.138 Metropolitan di Indonesia Perbandingan pola kepadatan dan penyebaran desa-kota dan kota pada lima kotakota metropolitan ditunjukkan oleh TABEL 5 . kedatangan penduduk. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak hanya dalam arti wilayah ataupun karakteristik desa-kotanya.

Bekasi di bagian timur dan Bogor di bagian selatan. Mebidang bukan merupakan kawasan terbangun yang padat melainkan bentuk penyebaran desa-kota hingga ke wilayah kabupaten Deli Serdang Jabodetabekjur Lima wilayah kota di DKI Jakarta merupakan kawasan inti perkotaan dengan kepadatan tinggi yang terus berkembang ke arah utara – selatan dan timur – barat hingga ke wilayah Tangerang di bagian barat. Perkembangan ke arah barat menghubungkan Kota Medan dengan Kota Binjai. Dibandingkan dengan lima kota metropolitan lain yang dibahas di sini. Bandung Perkembangan kawasan perkotaan di Metropolitan Bandung berawal dari pusat Kota Bandung ke wilayah sekitarnya hingga ke wilayah Kabupaten Bandung.Sosial. Gerbangkertosusila memiliki karakteristik tingkat urbanisasi penduduk yang tinggi yang dapat dilihat dari persebaran desa-desa dengan jumlah penduduk Hal yang sama. kawasan terbangun masih terpusat pada daerah inti dengan beberapa kantungkantung pertumbuhan disekitarnya. tetapi lebih terpusat di sekitar Kota Tingkat desa-kota yang tinggi tentu saja ditemukan di Kota Surabaya dan Kota Mojokerto bahkan juga di Kabupaten Sidoarjo. Ekonomi. dan Kependudukan 139 TABEL 5 . Ke arah timur Kabupaten Deli Serdang yang merupakan daerah pantai. Gerbangkertosusila Perkembangan kawasan perkotaan di Gerbangkertosusila berawal dari pusat Kota Surabaya. secara dominan berkembang sepanjang koridor barat – timur . Mamminasata Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun dibandingkan dengan lima kota metropolitan yang dibahas disini. daerah sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang memiliki kawasan terbangun yang terbatas. Tingkat Ekologi Perkotaan Tingkat Urbanisasi Penduduk Kepadatan desa-kota dengan populasi lebih dari 2000 jiwa tidak terlalu banyak dan di wilayah luar Kota Medan desa-desa ini lebih tersebar.7 Sudut Pandang Ekologi dan Kependudukan Metropolitanisasi Penyebaran Kawasan Perkotaan Mebidang Berawal dari Kota Medan sebagai kota inti. meliputi sebagian besar wilayah Sidoarjo dan desa-desa sekitarnya hingga terhubung dengan Kota Mojokerto. Desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tersebar hampir diseluruh kawasan metropolitan Bandung. Di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lamongan desa-kota nya lebih tersebar. Seluruh wilayah Jakarta merupakan kawasan terbangun. angkaangka menunjukkan tingkat urbanisasi penduduk di kawasan metropolitan ini masih rendah. Tangerang dan Bekasi pada proses terbangun dengan tingkat yang tinggi sedangkan Bogor masih memiliki wilayah pedesaan yang lebih luas. . Pola urbanisasi ditunjukkan sebagai desa-kota dan desa dengan populasi 2000 jiwa atau lebih merupakan patokan yang dapat Diluar Kota Bandung. Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun.

Bandung Bandung. dapat juga ditemukan pada sebagian besar wilayah metropolitan. Penyebaran desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih menyerupai perluasan desa-kota. dalam hal kependudukan wilayah ini sangat terbangun karena desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih secara luas tersebar di seluruh wilayah ini. sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang masih terdapat banyak kawasan pedesaan.140 Metropolitan di Indonesia Mebidang Perluasan Ekologi Perkotaan Perluasan kawasan metropolitan ke wilayah Kabupaten Deli Serdang menunjukkan tingkat kawasan terbangun yang relatif rendah. desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tidak tersebar secara luas di wilayah metropolitan ini. Gerbangkertosusila 2000 jiwa atau lebih Desa-kota di kawasan metropolitan ini cenderung untuk mengelompok keluar dari wilayah inti Kota Surabaya menuju kabupaten-kabupaten sekitarnya. memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak. sebagian besar memiliki penduduk lebih dari 2000 jiwa. Penambahan wilayah Cianjur yang memiliki kawasan terbangun rendah ke dalam kawasan metropolitan mempengaruhi tingkat kawasan terbangun secara keseluruhan. termasuk Bogor dan Cianjur. Penyebaran Urbanisasi Penduduk Jabodetabekjur dibandingkan. melalui Kota Medan menuju Kota Binjai dan ke arah selatan sepanjang pantai. Mamminasata Masih serupa dengan Makassar dan menyebar secara lambat ke desa-desa sekitarnya. terpusat di sekitar Kota Bandung. Seperti kawasan metropolitan lainnya di Pulau Jawa yang penduduknya sangat besar. Desa-desa di Pulau Jawa. Desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih. . Kawasan terbangun masih terjadi di sekitar Kota Bandung. Dalam hal urbanisasi penduduk.

polusi dan banyak terdapat penyakit-penyakit perkotaan lainnya. Di kota-kota itulah terdapat banyak aktivitas. Kemacetan. Keberuntungan masih dapat ditemukan di kota-kota besar di kawasan metropolitan. muda dan tua.Sosial. Bisnis. transportasi. pria dan wanita. Hal yang sama juga dilihat oleh golongan kaya dan miskin. Sumber : Tabulasi khusus oleh IHS berdasarkan data Susenas BPS 2004 . Bidang Industri meliputi industri manufaktur. kriminalitas dan hal-hal negatif lainnya menjadi konsekuensi yang dapat diterima untuk mendapatkan semua keuntungan tersebut. dan konstruksi. kehutanan. jauh dari pengawasan sosial keluarga serta fasilitas-fasilitas hiburan yang banyak dan beragam. padahal kota-kota metropolitan itu identik dengan masalah kemacetan. pelayanan sosial dan lain-lain. perburuan dan perikanan. dan Kependudukan 141 Seringkali orang ditanya mengapa ingin tinggal di Jakarta. terutama bisnis skala besar. keuangan. golongan kuat dan lemah. pertambangan dan penggalian. Bidang Pertanian mencakup pertanian. Bidang Jasa mencakup perdagangan. meskipun orang tahu bahwa jalan-jalan tidak berlapis emas. atau di kota-kota metropolitan lainnya di Indonesia. Rasio Registrasi Sekolah adalah perbandingan antara penduduk yang bersekolah dengan jumlah penduduk pada rentang umur tertentu. Para politisi akan berada di ibu kota yang merupakan pusat kekuasaan dan keuangan. tetapi disitulah tempat orang dapat menemukan susu dan madu walaupun tidak berlimpah. pemulung yang sangat miskin pun masih menganggap kehidupan di kota besar ‘lebih baik’ daripada di tempat asal mereka yang memiliki peluang ekonomi terbatas atau bahkan sama sekali tidak ada karena mereka tidak memiliki lahan. akan tinggal di metropolitan yang merupakan pusat bisnis yang merupakan tempat kehidupan bagi mereka. Bahkan. Generasi muda dapat memasuki lembaga-lembaga pendidikan yang lebih baik dan memperoleh ‘kebebasan’ berekspresi termasuk dalam hal berbusana. polusi. Ekonomi.8 Daya Tarik Permukiman di Kawasan Metropolitan Mebidang Indikator Kota Rasio Ketergantungan Rasio Registrasi Sekolah usia 16-18 tahun % populasi penduduk usia di atas 15 tahun lulusan SMA % Tenaga Kerja di Bidang Pertanian % Tenaga Kerja di Bidang Industri % Tenaga Kerja di Bidang Jasa Tingkat Pengangguran 49 72 Desa 60 59 Jabodetabekjur Kota Desa 42 65 63 27 Bandung Raya Kota Desa 47 59 54 40 Gerbangkertosusila Kota Desa 42 72 49 52 Mamminasata Kota Desa 47 66 59 39 47 29 48 16 38 18 48 30 55 38 7 29 64 19 59 17 34 16 3 33 65 17 45 17 39 17 8 36 56 21 39 27 34 15 6 33 61 13 58 17 26 12 4 18 77 20 58 13 29 17 Catatan: Rasio Ketergantungan merupakan pembagian antara jumlah penduduk usia 0 -14 tahun ditambah dengan usia diatas 65 tahun dengan jumlah penduduk usia 15 – 64 tahun (usia produktif). TABEL 5 . Jawabannya sangatlah sederhana.

Sektor transportasi. Hasilnya di beberapa metropolitan terpilih menunjukkan bahwa kedua indikator tersebut lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. tidak semuanya membawa sukses. Sebaliknya. Lebih beragamnya jenis pekerjaan dan peluang penghidupan di kota dibandingkan di desa adalah penyebab dan akibat dari kesemerawutan kota. Namun. Ketimpangan yang lebih signifikan terjadi pada sektor jasa. Rasio ketergantungan (perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 dan >65 tahun dengan jumlah penduduk berumur 15-64 tahun) lebih rendah di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan di wilayah metropolitan yang menggambarkan dinamika pola ruang. Secara khusus. seiring dengan semakin orang miskin lebih memilih tinggal di perdesaan dan status pengangguran seringkali menjadi sesuatu yang sulit diterima. Sektor keuangan atau perbankan biasanya ditemukan di perkotaan yang memiliki peluang bisnis. termasuk industri skala kecil dan menengah.8). Dengan kata lain. Inovasi terbaru tentu saja berupa bus way Jakarta. menjadi pengangguran pun tidak masalah sekalipun kemungkinannya tinggi. penduduk kota jauh lebih terdidik daripada penduduk desa. hanya sebagian kecil penduduk perkotaan yang bekerja atau terpaksa bekerja di sektor pertanian mengingat mereka memiliki pilihan kerja yang lebih luas. Dengan harapan dapat memenuhi keinginan. satu-satunya perbedaan tipis antara tingkat pengangguran yang tinggi di kota dan di desa menjadi tanda perlunya perhatian. masih merupakan fenomena perkotaan daripada perdesaan. yaitu tingkat registrasi penduduk usia sekolah menengah atas dan persentase penduduk dewasa (di atas 15 tahun) yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan menengah atas. mall hanya dibangun di daerah padat dimana penjual dapat menemukan sumber penghidupannya. . sebagaimana ditunjukkan dengan perbandingan indikator kependudukan antara kota dan desa di beberapa metropolitan yang dibahas (TABEL 5 . dan terutama dari segi jumlahnya. Penyerapan tenaga kerja di bidang industri. termasuk angkutan kendaraan bermotor roda dua yang dikenal dengan nama “ojek” masih lebih banyak tersedia di daerah permukiman padat. Ini menunjukkan bahwa penduduk kota memiliki beban tanggungan lebih ringan yang biasanya memiliki jumlah anak yang membutuhkan investasi sosial berupa kesehatan dan pendidikan yang lebih sedikit. yang biasanya menyulut gejolak sosial. karena ini hanyalah sementara. Hal yang sama juga terjadi pada sektor pemerintahan yang terletak di kota pusat pemerintahan. wilayah terbangun metropolitan dihuni oleh penduduk usia produktif yang dapat menikmati pendidikan yang lebih baik dan menemukan pilihan pekerjaan yang beragam meskipun di tengah-tengah ancaman pengangguran. yang merupakan satu-satunya sistem transportasi yang diterapkan di negara yang membayar sopir dengan gaji tetap dan terbuka baik bagi pria maupun wanita. Di samping itu. Terdapat beberapa peluang penghidupan di perkotaan. Kami telah memilih dua indikator pendidikan. namun. Sebagaimana kita ketahui.142 Metropolitan di Indonesia Kenyataan di atas didukung oleh beberapa fakta dalam hal pendidikan dan pekerjaan. lebih banyak tersedia di daerah perkotaan daripada daerah perdesaan. meskipun termasuk perdagangan skala kecil yang dikenal sebagai sektor informal. fasilitas dan pelayanan pendidikan.

jalan dan infrastruktur ekonomi (kantor pos. wartel. pusat perbelanjaan. dan Kependudukan TABEL 5 . Akses terhadap air bersih. berarti 120 juta akan tinggal di aglomerasi perkotaan. bank dan supermarket) lebih besar di perkotaan dibanding di pedesaaan.9 Ketersediaan Fasilitas dan Pelayanan Mebidang Kota 89 Desa 85 Jabodeta bekjur Kota Desa 93 69 Bandung Raya Kota Desa 86 74 Gerbangkertosusila Kota Desa 88 69 143 Mamminasata Kota 91 Desa 67 % Rumah Tangga dengan Listrik Rumah Sakit Puskesmas Praktek Dokter Sumber air minum/masak dari PAM. hampir separuh (49 persen) jumlah penduduk Pulau Jawa tinggal di perkotaan dan diperkirakan pada tahun 2025 hampir 8 dari 10 penduduk Pulau Jawa akan tinggal di perkotaan. Menurut sensus penduduk tahun 2000. walau bagaimanapun. Ekonomi. Dengan perkiraan jumlah penduduk Jawa akan mencapai 151 juta pada tahun 2025.Sosial.10). Tantangan Urbanisasi bukan hanya fakta kehidupan tetapi juga terus meningkat. dalam dua dekade ke depan diperkirakan bahwa hampir 7 dari 10 orang akan tinggal di kota. pompa atau sumur Jalan beraspal Kantor Pos Telepon Umum/Wartel Pusat Perbelanjaan Pasar Permanen/ Semi-permanen Hotel/guest house Bank Supermarket 34 44 3 99 143 31 21 75 Fasiltas/1000 penduduk 85 263 121 2370 38 56 33 44 4 32 3 24 % Desa-desa dengan fasilitas 98 82 88 52 73 35 3 90 55 21 74 51 33 4 99 23 33 71 82 13 89 42 26 20 30 30 41 2 30 1 5 3 92 32 99 60 34 24 42 64 59 3 70 7 7 4 1 4 93 23 99 51 26 23 35 48 81 4 65 6 9 4 2 3 91 13 97 39 26 13 24 32 53 1 67 6 12 1 2 1 95 15 98 52 24 29 32 19 62 2 59 5 21 2 4 1 0 Sumber : Tabulasi Khusus oleh IHS berdasarkan data PODES 2005 BPS Penegasan mengenai keberutungan di kota secara jelas ditunjukkan pada TABEL 5 9. Hal ini mengingatkan pengelola kota dan perencana tata ruang . Proyeksi BPS menunjukkan bahwa jumlah total penduduk Indonesia terus bertambah dari 206 juta pada tahun 2000 menjadi 275 juta pada tahun 2025 (TABEL 5 . Yang terpenting untuk dicatat adalah. tingkat urbanisasi nasional terutama dipengaruhi oleh kondisi Pulau Jawa. hotel. Tabel itu memperlihatkan bahwa secara umum proporsi rumah tangga yang memiliki akses listrik di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan di pedesaan di beberapa kawasan metropolitan yang dibahas. Sementara 4 dari 10 orang tinggal di kota pada tahun 2000. Hal yang sama juga terjadi dalam hal ketersediaan fasilitas dan pelayanan kesehatan serta fasilitas dan infrastruktur yang mempengaruhi kualitas kehidupan. pasar.

4 74.4 27.8 dan TABEL 5 . Pembangunan infrastruktur fisik perkotaan harus direncanakan sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan berlangsung terus menerus dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik di kawasan metropolitan.1 54.8 28.3 42.5 38.1 40.3 44.0 30. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000–2025 Penutup Secara jelas telah dinyatakan bahwa metropolitanisasi menguntungkan.0 57.144 Metropolitan di Indonesia akan tantangan yang akan mereka hadapi.4 37.2 55 141 14 15 18 5 248 59 147 14 17 19 5 262 63 151 15 18 20 6 274 Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 49.6 43.2 59.5 44. BAPPENAS.0 58.1 64.6 49.9 48.5 44. jika ada permasalahan yang diidentifikasi oleh perencana dan pengelola kota.8 24. paling tidak bagi mereka yang gaya hidupnya terpenuhi oleh fasilitas-fasilitas dan pelayanan yang tersedia. atau bukan suatu masalah.8 34. perencana kota harus merencanakan masa depan dan masa depan berarti meningkatnya kawasan terbangun dan meluasnya kawasan metropolitan yang ada saat ini. Atau mungkin sudut pandang lain harus juga diperhatikan.1 27. Indikator-indikator yang ditunjukkan TABEL 5 . Seseorang bisa hanya mengasumsikan mengapa desa tumbuh menjadi kota yang terus meluas kemudian .0 68. UNFPA.8 56.3 79. solusinya harus ditujukan untuk mereka yang menikmati berbagai macam aktivitas kehidupan metropolitan karena mereka tidak meninggalkan metropolitan tetapi justru terus mengajak orang lain untuk tinggal di kota.6 24.3 69.7 48.3 35.3 59.0 38. Dengan kata lain.6 54.0 41.8 53.8 32. Peran apa yang ingin mereka mainkan? Apakah mereka akan berperan sebagai fasilitator atau justru berupaya menghalau kecenderungan ini? TABEL 5 .3 Sumber: BPS.5 54.1 25.9 memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada menyediakan jawaban.10 Proyeksi Jumlah Penduduk dan Proporsi Penduduk Perkotaan Indonesia Menurut Pulau-pulau Utama Tahun 2000 .7 48.2025 2000 2005 2010 2015 2020 2025 Jumlah Penduduk (juta) Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 43 47 51 121 128 134 11 12 13 11 13 14 15 16 17 4 4 5 206 220 234 Penduduk Perkotaan (juta) 33.5 26.1 63.

ada beberapa kota di Indonesia mempunyai ukuran besar dengan penduduk lebih dari 700 ribu jiwa15. Sebagai kota besar dengan jumlah penduduk yang besar. Ekonomi. Medan. seperti Jakarta. 15 Hasil penelitian empiris oleh Bambang dan Ringgi (2003) dalam pengelompokan besaran kota-kota di Indonesia ditemukan 3 kelompok. kota-kota tersebut mengalami berbagai persoalan. apakah ada ‘invisible hand’ yang mengarahkan proses itu? Apa peran dan tanggung jawab pemerintah? Pemerintah pada tingkat mana? Bagaimana dengan peraturan zoning? Apakah ada dan dijalankan? Apakah pemerintah mengarahkan di mana seharusnya pihak swasta harus membangun atau sebaliknya? Apakah proses urbanisasi dan metropolitanisasi merupakan proses ‘alami’ dengan pasar merupakan kekuatan satu-satunya? EKONOMI PERKOTAAN14 Pendahuluan Pertumbuhan kota-kota selalu berbasis pada faktor ekonomi. 14 . dan Kependudukan 145 bersama-sama dengan desa disekitarnya berubah menjadi permukiman perkotaan. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga mengandung rekomendasi untuk diteliti lebih lanjut. dan Makassar yang sering disebut dengan metropolitan menunjukkan kekuatan lokasi yang strategis sehingga terus tumbuh dan berkembang. Kota sedang berpenduduk antara 200 ribu jiwa dan 700 ribu jiwa.Sosial. yaitu: kota besar/metropolitan mempunyai penduduk lebih dari 700 ribu jiwa. utamanya dalam pelayanan. Persoalan ini semakin kronis ketika jumlah penduduk terus meningkat yang umumnya berasal dari migrasi masuk ke kota yang disebut dengan urbanisasi. Jumlah kota-kota besar ini ada sekitar 14 kota. Semua ini berwujud kegiatan ekonomi riil baik ekonomi formal maupun informal. Titik tolaknya selalu terkait dengan keuntungan lokasi kota bersangkutan. Pertumbuhan ini dapat diwakili oleh pertumbuhan penduduk yang pesat dan sekaligus pertumbuhan ekonominya. • • • • • Mengapa pola pertumbuhan kota metropolitan menjadi seperti yang selama ini terjadi. Namun demikian. Kota-kota yang cepat berkembang pada dua dekade terakhir ini dapat ditengarai adanya potensi lokasi yang sangat menonjol. sedangkan kota kecil berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa. Kota-kota besar yang ada sekarang ini. Catatan editor: Analisis ekonomi di bab ini menggunakan batasan jumlah penduduk perkotaan yang berbeda dengan analisis kependudukan di bab sebelumnya. Surabaya. perbedaan tersebut tidak mempengaruhi pesan yang disampaikan oleh buku ini. Bandung. yang paling kecil adalah Kota Padang dengan penduduk 702 ribu jiwa (tahun 2000). Dibandingkan dengan kota-kota atau daerah-daerah lain.

4 persen16.1* Kota Sedang (>200 ribu.1 5. Menurut penulis angka pertumbuhan 3.5 -0.2 1.3 Sumber: Hasil Analisis *) Secara fungsional.9 -13.4 9.4 3. jumlah TKI di Luar Negeri sekitar 5 juta jiwa).8 6.0 -1. tetapi bila terjadi krisis ekonomi. Seperti yang bisa disimak pada Perhitungan laju pertumbuhan pada periode 1980-1990 sebesar 2.4 persen menjadi 1.12 di bawah ini menunjukkan kemungkinan tersebut.1persen. Dengan demikian. TABEL 5 . <700 ribu) Kota Besar + Metropolitan(>700 ribu) Rata-rata Kota Nasional 1996 7. Lihat TABEL 5 .4 persen.4 persen adalah hasil penelitian oleh penulis.5 2002 1.3 11. terjadi penurunan drastis dari 2. menurunnya tingkat urbanisasi ini selain dampak menurunnya tingkat ekonomi kota akibat krisis ekonomi 1998 yang lalu. Namun kemudian pada periode berikutnya. TABEL 5 .07 Rata-rata Kota 2.4 3.11 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota 1980-1990 dan 1990-2000 1980-1990 (%) 1990-2000 (%) Kota Besar (>700 ribu) 2.6 1998 -5.11. Data PDRB Kabupaten/Kota. pada periode 1990-2000 terjadi penurunan urbanisasi.1 4. Baca penjelasan TABEL 5 .0 -13.0 Sumber: Hasil analisis. yaitu 1990-2000. Diduga.12 Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota-kota dan Nasional Sebelum dan Pasca Krisis Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Skala Wilayah Kota Kecil (<200 ribu) Kota Sedang (>200 ribu.7 1. BPS Pada TABEL 5 . maka kota-kota besar/metropolitan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang sangat tajam.4 1.0 8. <700 ribu) 2.9 5. Pertumbuhan penduduk kota yang paling dramatis terjadi pada periode 1980-1990 dengan laju pertumbuhan 2. Kota-kota besar/metropolitan mempunyai tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi.1 -6. sedangkan kota-kota besar sekitar 2.7 persen.4 0. juga karena adanya alternatif bagi migran untuk menjadi TKI di luar negeri (menurut informasi dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.9 -6.4 persen tersebut terdapat kesalahan yaitu memasukkan desa-desa yang menjadi kota dan memasukkan daerah-daerah perluasan kota dalam perhitungan pertumbuhan. Selama ini laju pertumbuhan yang diakui pada periode tersebut sebesar 3. 16 .12 di atas juga dapat dikenali karakteristik kota-kota besar yang berbeda dengan kota-kota ukuran lebih rendah yaitu : 1.0 1999 -0.2 -0.13. pertumbuhan kota besar jauh lebih besar dari angka 1.3 persen (hampir sama dengan laju pertumbuhan penduduk nasional).5 Kota Kecil (<200 ribu) 2.146 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

147

TABEL 5 - 12, pada periode 1996 pertumbuhan ekonomi sebesar 11 persen, tetapi

pasca krisis tahun 1997 yang lalu, laju pertumbuhan ekonomi mendadak kontraksi (minus) 13 persen. Namun demikian, ketika kondisi normal, maka laju pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan kembali ”leading”. Ini menunjukkan bahwa ekonomi kota-kota besar/metropolitan cukup ”vulnerable”. 2. Bandingkan dengan kota-kota kecil yaitu ketika situasi normal mempunyai laju pertumbuhan moderat sebesar 7,4 persen dan ketika terjadi krisis hanya mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen. Kemudian ketika situasi normal hanya terangkat menjadi 1,8 persen. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kota-kota kecil kelihatannya sudah steady atau mungkin terhambat.
TABEL 5 - 13 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota Metropolitan
Laju Pert. Penddk 1980-1900 (%) 2,41 4,13 Laju Pert. Penddk 1990-2000 (%) 0,16 2,25

No. 1.

Nama Kota Jakarta Kab. Bogor

Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi 2. Surabaya

0,94 6,10 6,29 2,05

10,97 4,12 4,70 0,43

3.

Kab. Sidoarjo Medan Kab. Deliserdang Bandung

3,17 2,30 2,59 3,47

2,97 0,97 2,09 0,41

Keterangan Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan Terjadi pengurangan wilayah akibat pemekaran kota Bogor dan kota Depok. Terjadi pemekaran wilayah kota Belum terbentuk. Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan. Laju pertumbuhan tetap tinggi Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan Laju pertumbuhan tetap tinggi

Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan. Kab. Bandung 1,83 2,71 Kenaikan laju pertumbuhan Sumber: Penduduk Indonesia, Hasil Sensus Penduduk 2000, BPS

4.

Berdasarkan kajian di atas memperteguh kesimpulan bahwa : 1. Kota-kota besar/metropolitan sangatlah lentur dalam menanggapi pertumbuhan, sementara kota-kota kecil terlalu kenyal. Dengan sifat yang lentur, maka kota-kota besar/metropolitan akan selalu menghadapi dinamika pertumbuhan dan sekaligus menghadapi dampak pertumbuhan itu sendiri.

148

Metropolitan di Indonesia

2. Dampak dari pertumbuhan yang mulai meningkat lagi pada pasca krisis adalah meningkatnya lagi urbanisasi pada pasca tahun 2000 walaupun tidak sedramatis tahun sebelum 1990 yang lalu. Angka-angka urbanisasi memang sulit diidentifikasi, tetapi bisa ditandai dari laju pertumbuhan penduduk yang tinggi pada kota bersangkutan. Namun demikian, perkembangan kota-kota besar/metropolitan umumnya sudah melampaui batas administrasinya atau mengalami kejenuhan sehingga laju pertumbuhan penduduk (dengan data penduduk sesuai dengan batas administrasi) akan terdata rendah (karena sedikitnya pemukiman baru). Dengan demikian, pertumbuhan penduduk di kota-kota besar/metropolitan akan terdata rendah dan kecenderungan urbanisasi itu akan terdata pada daerah-daerah/kota-kota yang berada di sekitar kota metropolitan bersangkutan dengan laju pertumbuhan yang tinggi. Hal ini dapat dikaji pada beberapa kota besar/ metropolitan seperti Jakarta dengan Bodetabek, Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo, Medan dengan Deli Serdang dan Binjai, atau Bandung dengan Kabupaten Bandung sebagaimana yang bisa diteliti pada TABEL 5 - 13. Pertumbuhan penduduk kota-kota metropolitan tersebut akan berimplikasi pada corak ekonomi kota-kota bersangkutan. Secara agregat, pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah bersangkutan. Seberapa jauh pertumbuhan penduduk kota-kota besar dibarengi oleh pertumbuhan ekonominya. maka bisa dikaji bagaimana corak PDRB perkapita dengan data-data PDRB tahun 1998 dan 2002 atas dasar harga tetap (1993) dan estimasi data penduduk tahun 1998 dan 200217 sehingga dapat dihitung PDRB per kapita dan laju pertumbuhan PDRB per kapita sebagaimana yang dapat disimak pada TABEL 5 - 14 di atas. Dengan demikian, ada empat kategori pertumbuhan ekonomi yang dapat diberikan sebutan sebagai berikut: a. Kota besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB per kapita juga lebih tinggi dari rata-rata. Kota seperti ini disebut sebagai kota ”star”. Hanya Jakarta Pusat dan Jakarta Utara yang pertumbuhan “leading” dan termasuk kota “star”;

b. Kota besar dengan PDRB per kapita lebih rendah dari rata-rata tetapi pertumbuhan PDRB perkapitanya lebih tinggi dari rata-rata, disebut sebagai kota “growing”. Kota Bandung, Padang, dan Palembang termasuk kota yang sedang tumbuh atau “growing”. c. Kota Besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB perkapitanya juga lebih rendah dari rata-rata, disebut Kota “steady”. Ada sembilan kota dari 19 kotakota besar/metropolitan yang termasuk dalam kota “teady” atau kota yang pertumbuhan ekonominya terhambat.

d. Kota Besar dengan PDRB per kapita lebih tinggi dari rata-rata, tetapi pertumbuhan PDRB per kapitanya lebih rendah dari rata-rata disebut sebagai Kota ”mature”. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Surabaya.
Data PDRB tahun 1998 digunakan atas pertimbangan linearitas. Seperti diketahui bahwa pada tahun 1997 terjadi krisis dan terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang drastis sehingga data-data tahun 1997 dan sebelumnya tidak bisa dibandingkan atau tidak linear. Data PDRB tahun 2002 digunakan karena data ini sudah merupakan data final.
17

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

149

TABEL 5 - 14 PDRB Per kapita dan Laju Pertumbuhannya
PDRB 1998 (juta) (1) 4.833.911,19 2.321.172,65 2.652.629,00 1.584.900.00 12.264.754,68 16.074.778,28 6.109.404,20 13.074.022,33 9.857.557,04 5.680.177,00 5.294.952,14 3.060.637,00 1.327.648,33 915.583,00 4.737.732,57 2.323.694,19 15.429.196,46 2.589.506,89 JML PDDK 1998 (2) 1.881.080 702.638 1.406.774 731.406 1.783.298 2.337.276 888.309 1.900.966 1.433.291 1.259.840 2.133.091 1.565.698 1.120.836 727.118 1.335.042 743.965 2.577.732 1.075.404 PDRB/ KAPITA 1998 Po (3) = (1)/(2) 2,570 3,304 1,886 2,167 6,878 6,878 6,878 6,878 6,878 4,509 2,482 1,955 1,185 1,259 3,549 3,123 5,986 2,408 PDRB 2002 (juta) (4) 5.799.222,07 2.682.462,36 3.179.588,00 1.815.272,00 11.644.849,21 12.305.853,81 15.929.738,60 10.353.071,91 14.050.749,60 6.616.456,50 6.694.331,05 3.732.084,00 1.459.981,62 1.279.881,96 5.626.854,73 2.692.919,81 14.565.521,28 3.205.558,44 JML PDDK 2002 / 2003 (5) 1.993.602 765.450 1.339.315 790.895 1.707.093 2.103.525 893.195 1.565.708 1.182.749 1.416.840 1.867.010 1.809.306 1.247.233 789.423 1.350.002 772.642 2.659.566 1.148.312 Rata-rata PDRB/ KAPITA Pt (6) = (4)/(5) 2.909 3.504 2.374 2.295 6.821 5.850 17.835 6.612 11.880 4.670 3.586 2.063 1.171 1.621 4.168 3.485 5.477 2.792 4.950 LAJU PERTBH PDRB / KAPITA 1998 - 2002 α=(Pt/Po)¼ -1 (7) 0.0315 0.0149 0.0593 0.0145 -0.0020 -0.0396 0.2690 -0.0098 0.1464 0.0088 0.0963 0.0135 -0.0030 0.0652 0.0410 0.0278 -0.0220 0.0376 0.0416

NAMA KOTA (0) Medan Padang Palembang Bandar Lampung Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Tangerang Bandung Bekasi Depok Bogor Semarang Malang Surabaya Makassar

tetapi masih banyak hal yang menghambat. sehingga pertumbuhannya relatif melambat. Akibat dari hambatan ini. berkurangnya 18 PDRB Per Kapita dan pertumbuhannya secara nasional dari sumber: ”Kajian Pertumbuhan Kota-kota Dalam Rangka Pembangunan Prasarana Ke-PU-an”. hanya saja modal ekonominya masih rapuh.6. . Jakarta Pusat dan Jakarta Utara akan menjadi kawasan komersial. tetapi masih mengalami hambatan karena layanan prasarana dan fungsi perumahan yang masih kuat. Tetap mempunyai daya tarik ekonomi dan akan menarik kembali tingkat urbanisasi. Terjadinya pergeseran peruntukan lahan kota dari perumahan menjadi kawasan komersial dengan tingkat perubahan yang berbeda-beda. Posisi pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan tersebut ditunjukan dalam GAMBAR 5 . 3. 4. pertumbuhannya tersendat dan berjalan tidak secepat kota-kota ”star”. 4. Kota-kota ”mature” seperti Jakarta Selatan. pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan di Indonesia mempunyai implikasi sosial dan fisik sebagai berikut: 1. Pertumbuhan ”spread” adalah pertumbuhan kota yang tidak efisien dan menimbulkan banyak dampak antara lain: kemacetan lalu lintas. 3. Kota-kota “star” seperti Jakarta Pusat dan Jakarta Utara merupakan kota yang ekonominya terus berkembang dan sangat dinamis. 2.14) adalah jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDRB per kapita total kota-kota yang sebesar 2.150 Metropolitan di Indonesia Berdasarkan kategori di atas maka implikasi pertumbuhan ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Kota-kota “rowing” seperti Bandung. Kegiatan TA 2005. Kembalinya urbanisasi yang meningkat (butir 1). Jakarta Timur. Karena tidak didukung oleh ketersediaan lahan yang mencukupi maka perkembangan kota akibat tekanan pertumbuhan ekonomi ini akan berimbas pada kawasan sekitar kota besar/ metropolitan yang bersangkutan (spread development). walaupun sebagian besar dikategorikan sebagai ”steady”. Dari kategorisasi kota-kota besar/metropolitan tersebut di atas. dan Palembang sedang mengalami perkembangan yang sangat cepat. 2. PUSTRA. Kota-kota ”steady” yang merupakan sebagian besar kota-kota besar/metropolitan ini walaupun sedang tumbuh. tetapi tetap kota-kota besar/metropolitan mempunyai posisi pertumbuhan PDRB per kapita yang rata-ratanya 4. Diperkirakan masih banyak faktor-faktor percepatan ekonomi yang belum kondusif. Padang.16 persen (lihat TABEL 5 . dan Surabaya mempunyai fenomena yang sama dengan ”star” di atas. Dengan demikian secara berangsur dan cepat. Dalam banyak kasus yang mengalami tekanan seperti ini adalah peruntukan perumahan. Karena terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka terjadi desakan-desakan pemanfaatan ruang ke arah penggunaan yang lebih komersial. Jakarta Barat. termasuk implikasinya terhadap pergeseran tata ruang (perumahan menjadi komersial).3 persen18. Oleh karena itu.

dan Makassar Jakarta Pusat dan Jakarta Utara PDRB/Kap. Bandung. Padang. Sekitar 40-50 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional disumbang oleh 90 kota19 atau sekitar 20 persen dari sekitar 430 kabupaten/ kota di Indonesia. “growing” “star” Palembang. Tantangan Kota sebagai pusat aglomerasi ekonomi dengan pola pertumbuhan sebagaimana diuraikan sebelumnya diakui mempunyai peranan yang sangat penting bagi ekonomi kota masing-masing dan ekonomi secara nasional karena: 1. Depok.Tangerang. Semarang.14 Bagaimanapun juga kota-kota besar/metropolitan tetap tumbuh ”leading” dibandingkan kota-kota lain yang kesemuanya didorong oleh fungsi ekonomi dan peranan ini tentunya juga ”leading” bagi perekonomian nasional. Bogor. dan Kependudukan 151 fungsi kawasan lindung akibat dimanfaatkan untuk perumahan. Bekasi. Malang.Lampung. Lj. PDRB/Kap. 19 Yang dimaksud kota adalah kota otonom. Medan. Ekonomi. dan Surabaya “steady” “mature” GAMBAR 5 .Sosial. dan Makassar Jakarta Selatan. Jakarta Barat. Jakarta Timur. Pert.6 Kategorisasi Kota-kota Besar/Metropolitan Cat: Analisis berdasarkan TABEL 5 . tidak termasuk kota-kota kabupaten yang tidak otonom. . Bd. dan sulitnya mengembangkan jaringan prasarana secara terpadu.

. Berdasarkan perkiraan perhitungan APBN 2005. selain menjadi pusat pertumbuhan utama. PPN. Peranan ekonomi kota ini semakin menonjol pada kota-kota besar/metropolitan.7 juta. pajak pribadi. b. 3. 20 21 Berdasarkan data-data PDRB 1999 – 2003. juga membawa resiko beban-beban berat yang selalu mengiringi potensi-potensi pertumbuhannya. sekitar 70 persen berasal dari pajak badan. Sedangkan PDRB Nasional per kapita sebesar Rp 6.5 juta) yang rendah ini dibandingkan dengan nasional (Rp 6. Semakin besar PDRB sebagai indikator ekonomi formal.152 Metropolitan di Indonesia 2. Seperti diketahui 80 persen APBN berasal dari pajak dan dari 80 persen pajak ini. Potensi pertumbuhan yang sedang berlangsung itu tampaknya sulit dihentikan dan serta-merta beban-beban yang mengiringi juga terus menggelanjut. Kemungkinan ketiga: kemungkinan butir 1 dan 2 ada semua. semakin berkembang pula kegiatan ekonomi informalnya. Selain penting dalam perekonomian nasional. Kemungkinan kedua: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan bekerja di ekonomi informal sementara angka PDRB tidak memasukkan kegiatan ekonomi informal. 2. 22 Data-data APBD dan PDB dari BPS. kota-kota metropolitan juga mempunyai peranan bagi sumber fiskal nasional. tetapi secara kapita kinerjanya lebih rendah dibandingkan kapita nasional yang dapat ditunjukkan bahwa : 1. Kemungkinan pertama: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan yang masih miskin dan tinggal di kawasan-kawasan kumuh dan juga berarti terdapat kesenjangan kesejahteraan yang besar di kota-kota metropolitan. PDRB per kapita kota-kota besar/metropolitan rata-rata Rp 4. pajak final yang kesemuanya bersumber dari perkotaan. 3.7 juta) menunjukkan 3 kemungkinan 22. Sekitar 14 kota-kota metropolitan atau 3 persen dari total daerah menyumbang 30 persen PDB Nasional20. dan 4.5 juta. c. Kota-kota besar/metropolitan dengan kompleksitas dan intensitas yang demikian tinggi serta merupakan ”focal point” ekonomi yang potensial itu. Angka-angka per kapita kota-kota besar/metropolitan ini (yaitu Rp 4. yaitu: a. Ini berarti tumbuhnya kota-kota besar/metropolitan selalu diikuti dengan jumlah kemiskinan yang besar dan berkembangnya ekonomi informal seiring dengan besaran PDRB itu sendiri. Walaupun kota-kota metropolitan secara agregat merupakan sumber ekonomi dan keuangan nasional. Diperkirakan 50 persen dari APBN berasal dari pajak kota-kota besar/ metropolitan21.

Bagi Hasil Pajak-pajak (BHP) yang ada (yang dikelola oleh Pemerintah). Laporan penelitian Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). bantuan tunai. maka sebenarnya upaya fiskal melalui belanja langsung APBD berupa belanja barang. yang mungkin bermanfaat adalah belanja modal berupa prasarana yang bisa lebih memacu ekonomi riil masyarakat serta memicu investasi langsung. dan semacam itu kemungkinan besar tidak memberikan tambahan nilai yang berarti. Dalam situasi ini kota-kota besar/metropolitan seolah mengalami obesitas yang beresiko tinggi. Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP). masing-masing kota haruslah meningkatkan daya saing. Porsi APBD terhadap PDRB sebesar 4 persen ini sangat kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 23 persen23. Mengingat bahwa porsi fiskal terhadap ekonomi kota ternyata sangat tidak signifikan dengan rasio yang hanya 4 persen. Cara pengentasan kemiskinan dan pengaturan ekonomi informal oleh pemerintah daerah dapat dilakukan melalui kebijakan fiskal daerah dengan kapasitas yang dimilikinya. dan bantuan Pemerintah melalui Dana Alokasi Umum (DAU). dan kota-kota kecil sebesar 20 persen (Samiaji 2003). Dalam rangka menyongsong investasi itu. kota-kota ukuran sedang 9. Namun bagi kota-kota besar/ metropolitan. jumlah kapasitas fiskal berupa APBD ini dibandingkan dengan kapasitas ekonomi daerah ternyata tidaklah seberapa. maka keluaran persoalan yang muncul utamanya pada persoalan fisik klasik menyangkut soal kemacetan lalu lintas. adanya kemiskinan adalah kenyataan dan menjadi tugas pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mengentaskannya. Penjumlahan penerimaan tersebut terangkum dalam APBD. menyatakan bahwa daya saing kota-kota besar/metropolitan secara Rasio APBD/ PDRB secara nasional 23 persen. Adapun belanja APBD yang dikeluarkan setiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kota. Sebagaimana telah diungkap di atas tentang adanya kemungkinan konsentrasi kemiskinan yang tinggi dengan corak praktik ekonomi informal yang berserak maka ada kesulitan bagi pemerintah kota-kota metropolitan untuk menanganinya. Pada umumnya kapasitas fiskal kota-kota besar/metropolitan cukup potensial yang diperoleh melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). atau sensitif terhadap persoalan-persoalan yang mengiringi pertumbuhannya. kenaikan gaji. persampahan. Ekonomi. Artinya bahwa peranan fiskal daerah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah hanya 4 persen dan 96 persen berasal dari sektor riil atau ekonomi masyarakat (Lihat TABEL 5 . kekurangan prasarana pada umumnya. 23 . dan menurunnya tingkat kualitas lingkungan. tantangan utama dalam pengelolaan kota-kota besar/metropolitan adalah strategi pembangunan prasarana yang memberi kemungkinan tumbuhnya investasi langsung baik dalam negeri maupun luar negeri (Foreign Direct Investment).15). Semua ini menengarai bahwa perekonomian kota yang tumbuh selama ini ditopang oleh ”tulang-tulang penyangga” yang rapuh.Sosial. Dengan demikian. Rasio APBD terhadap PDRB bagi kota-kota besar/metropolitan rata-rata hanya 4 persen.8 persen. kawasan kumuh. dan Kependudukan 153 Dengan kemungkinan masalah perekonomian seperti kemiskinan dan kesenjangan kesejahteraan serta corak ekonomi informal yang mewarnai kehidupan kota-kota besar/ metropolitan sebagaimana yang diperkirakan di atas. Namun demikian. dan adanya ekonomi informal adalah kenyataan lain yang harus diatur agar menjadi kekuatan ekonomi alternatif.

Sumber: KPPOD .06 0. DKI Jakarta 9.04 0.051 8. Bandung 962 27. Bekasi 542 14.290 13.022 5.16 Peringkat Daya Tarik Investasi Kota-kota Besar/Metropolitan Tahun 2004 Peringkat Peringkat No.982 375. Palembang 547 14.825 6.314 9.04 0.250 12.15 Rasio APBD terhadap PDRB (Harga Berlaku) PDRB (2004) No.04 Sumber : Hasil Analisis dari Data Keuangan SIKD Dep. Malang 336 9.507 4.320 59. Tangerang C BB Kenaikan 11.03 0. Bd.977 7. Milyar Dlm.02 0. Daya saing kota-kota besar/metropolitan berdasarkan penelitian KPPOD secara berurutan adalah disajikan pada TABEL 5 .154 Metropolitan di Indonesia umum semakin meningkat.BPS TABEL 5 . Keuangan dan Data PDRB (atas Harga Berlaku) .03 0.745 14.02 0.03 0. Makassar AA 2003 belum diteliti 5.812 10. Semarang BB BB Tetap 7. TABEL 5 . Palembang C AA Kenaikan 4. Malang C AAA Kenaikan 2. Bekasi D C Kenaikan 14.360 3.16. Bandung BB C Penurunan 12. Medan 1. Padang 397 11. Lampung 369 6. Medan C BB Kenaikan 10.03 0. Bogor 342 4. Surabaya 1. Bandar Lampung C BB Kenaikan 9. Nama Kota 2003 2004 Keterangan 1. Tangerang 523 20.08 0.168 33. Depok 390 6. Padang B BB Kenaikan 8.127 Rata-rata Rasio (1)/(2) 0. Jakarta C AA Kenaikan 3. Nama Kota APBD (2003) Dlm.03 0.04 0.06 0. Makassar 531 13.399 11. Depok Belum diteliti.078 2. Milyar (2) (1) 1. Semarang 638 20. Surabaya B BBB Kenaikan 6. Bogor C C tetap 13.04 0.

Implikasi Tata Ruang Sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan kota-kota besar secara fisik telah melampaui batas administrasi sehingga ada tanda bahwa telah terjadi dua pola pertumbuhan fisik kota-kota besar sebagai berikut: 1. Sebagai kota besar/metropolitan dengan karakteristik perkembangan ”spread” dan bergabung dengan daerah-daerah di sekitarnya maka daya saing akan lebih mantap apabila ada sinerji antara kota besar/metropolitan dengan daerah-daerah di sekitarnya. yaitu pergeseran di dalam kawasan terbangun kota. Dengan demikian. pada tahun 2003 peringkatnya turun menjadi peringkat sepuluh dan pada tahun 2006 terperosok ke peringkat sembilan belas. termasuk zoning regulation.Sosial. 3. Pada tabel di atas. pengembangan kelembagaan melalui kerja sama antar daerah khususnya dalam bidang pembangunan prasarana akan meningkatkan daya saing dan mampu mengundang investor untuk menanamkan modalnya di kota-kota metropolitan dan daerah-daerah yang berbatasan dengannya. Perbedaan ini terjadi karena pemantauan dan penilaian daya saing yang dilakukan oleh KPPOD adalah potret sesaat dengan kemungkinan setiap tahun peringkatannya bisa berbeda. Kegagalan pengendalian tersebut diduga terjadi karena: . Perkembangan ke dalam.15 yang mengkategorikan Kota Malang sebagai kota ”steady”. Walaupun prasarana suatu kota telah lengkap. 2. untuk meningkatkan daya tarik investasi kota-kota besar/ metropolitan diperlukan pengembangan kelembagaan yang lebih dinamis. tanpa pengembangan kelembagaan. Sebagai contoh: Semarang. pada dua tahun lalu ada di peringkat pertama. Bagaimanapun juga. sementara hasil analisis di TABEL 5 . maka pemanfaatan prasarana tidaklah optimal. Umumnya yang terjadi adalah pergeseran atau transformasi dari kegiatan perumahan menjadi kegiatan komersial. namun belum sempat menikmati datangnya investasi. 2. Ekonomi.16 menunjukkan kualitas yang konstan. Oleh karena itu bagi kota-kota besar/metropolitan yang memiliki prasarana yang lebih lengkap dan kinerja ekonomi yang dinamis. Untuk itu. Walaupun unsur kelembagaan juga menentukan. maka daya tarik terhadap investasi akan lebih nyata. dan Kependudukan 155 Peringkat di atas berbeda dengan TABEL 5 . daya tarik investasi akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor prasarana dan faktor kelembagaan. apabila ada upaya peningkatan kualitas kelembagaan. di peringkat KPPOD. Kota Malang malahan mempunyai daya saing yang paling tinggi di antara kota-kota besar/metropolitan lainnya. Perkembangan kota yang bersifat ke luar dan ke dalam di kota-kota besar/ metropolitan ini sampai sekarang belum bisa dikendalikan baik melalui instrumen rencana tata ruang maupun melalui pengendalian tata ruang. Hubungan antara prasarana dan kelembagaan adalah: 1. tanpa kelengkapan prasarana tetap saja tidak akan mengundang investasi. Perkembangan ke luar yang terus melebar sehingga mulai menyatu secara fisik dengan daerah yang berbatasan.

Pembentukan sub-pusat sub-pusat kota mendorong munculnya permukimanpermukiman baru. nilai-nilai tambah ekonomi yang diciptakan oleh kota besar itu dikurangi sendiri oleh kebijakan tata ruang yang tidak efisien itu. Berbagai kebijakan pengembangan tata ruang malahan semakin memicu dan memacu perkembangan kota yang meluas. tanpa berupaya reorientasi terhadap masalah melalui terobosan-terobosan baru dan jitu. ”Property Right” pemilik lahan lebih kuat daripada ”Development Right” pemerintah daerah. Tidak adanya kerja sama antar daerah yang solid di antara kota besar/metropolitan dan daerah yang berbatasan. Dengan demikian. Zonasi-zonasi guna lahan. 4. Kurangnya kapasitas pengawasan terhadap perubahan guna lahan dan kurangnya sistem data dan informasi geografi kota yang terbaharui untuk mendukung pengawasan. Jika kebijakan pengembangan tata ruang masih berkutat pada pola pikir yang lama. dan pasar semakin memberi kemudahan bagi lokasi perumahan yang berada di luar lota. maka pada masa datang kota besar/metropolitan yang mengalami obesitas akan selalu beresiko (seperti manusia kegemukan yang beresiko tinggi terhadap penyakit degeneratif). Pembangunan outer ring road akan merangsang tumbuhnya permukimanpermukiman baru. tetapi tergambarkan dalam perkembangan tata ruang yang justru tidak efisien. yang harga jualnya ditentukan oleh pemerintah. Kota yang mengalami obesitas ini merupakan akibat langsung dari perkembangan ekonomi kota yang maju.156 Metropolitan di Indonesia 1. terutama pemisahan zona bisnis dan zona industri dengan permukiman semakin memperbesar jarak antara kedua fungsi sehingga tidak efisien baik dalam pelayanan maupun pembangunan prasarana. Sebagai akibat dari pola perubahan tata ruang dari dua sumber. sekolah. 3. 3. Pembangunan perumahan murah. Pengembangan struktur kota seperti: a. Persepsi terhadap nilai-nilai ekonomi jangka pendek lebih kuat daripada nilai-nilai kelestarian yang efisien. seperti: 1. menyebabkan pengembang mencari lokasi yang harga tanahnya murah dan tentunya lokasinya jauh dari tempat kerja. yaitu ke dalam dan ke luar tersebut. 2. . maka kota menjadi terus meluas. Penyebaran fasilitas-fasilitas sosial-ekonomi seperti rumah sakit. 4. Penutup Kebijakan tata ruang menyebabkan kota besar semakin membesar dan meluas semacam Kota Obesitas. 2. b.

kemampuan suatu bangsa dalam mengelola kota-kotanya sesuai dengan tuntutan global (yang bisa bersifat eksternal maupun internal) akan mempengaruhi kemajuan relatif bangsa tersebut di tengah-tengah masyarakat global yang semakin kompetitif. globalisasi dalam pengertian yang luas sebagai suatu fenomena interaksi dan proses pengaruh-mempengaruhi secara sosial-ekonomi-budaya-demografi dari bagian bumi yang satu ke bagian yang lain pun dapat dikatakan telah berlangsung selama berabad-abad sebagaimana yang tergambarkan dalam kisah Marco Polo atau Admiral Cheng Ho. serta memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi (UN-Habitat 2004). dan Kependudukan 157 GLOBALISASI DAN METROPOLITAN DI INDONESIA Pendahuluan Walau sudah sering menjadi topik pembicaraan dalam. Hanya saja. kurang lebih. Ekonomi. simpul dan penggerak dari berbagai perubahan. Globalisasi dilihat sebagai internasionalisasi: yaitu proses meningkatnya hubungan antar-negara. Implikasinya. seperempat abad terakhir ini—bahkan cenderung menjadi jargon yang klise—istilah “globalisasi” yang mulai dikenal pada awal 1980-an masih belum memiliki definisi yang disepakati bersama (Centre for Developing Cities 2006). pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan globalisasi akan mempengaruhi sikap terhadap globalisasi tersebut. Padahal. fenomena intensifikasi keterkaitan yang semakin mendunia sebenarnya dapat dirasakan oleh sebagian besar orang. Mengunjungi Kembali Globalisasi Sebelum melangkah lebih jauh. ada baiknya kita kunjungi kembali “globalisasi” sebagai suatu fenomena sosial-ekonomi-budaya dan demografi. sebagaimana disarikan oleh Smith 2002) melihat setidaknya ada lima jenis pemahaman tentang globalisasi: 1. lingkup dan kompleksitas . pertukaran antar-negara (international exchange) serta kesalingtergantungan. Jan Art Scholte (2000. besaran. Demikian pula. di sisi lain kota pun merupakan bagian bumi yang paling cepat dipengaruhi oleh berbagai perubahan global. Terlepas dari perdebatan akademik tentang arti globalisasi.Sosial. dengan lingkup yang lebih luas menjangkau berbagai bidang. Dalam konteks inilah globalisasi dianggap telah terjadi selama berabad-abad walaupun kecepatan. kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang pesat dalam dua puluh lima tahun terakhir telah membuat fenomena tersebut saat ini berlangsung jauh lebih cepat dan dalam skala yang jauh lebih besar. Proses urbanisasi (baik karena migrasi desa-kota ataupun akibat pengalihan fungsi lahan) pun menjadi atribut yang tidak terpisahkan dari globalisasi. kemampuan pengelola kota dalam memahami berbagai perubahan global—yang bersifat terus menerus—serta pengaruhnya terhadap kehidupan kota yang dikelolanya akan sangat mempengaruhi kemampuan kota tersebut untuk berkembang dan bersaing dengan kota-kota lain di dunia yang semakin saling tergantung satu sama lain. Di satu sisi kota hampir selalu menjadi sumber. Sungguh. yang menyebabkan semakin hari semakin banyak bagian dari bumi yang semakin terkait dan saling mempengaruhi. khususnya mereka yang tinggal atau bekerja di kota-kota besar atau metropolitan. globalisasi dan kota adalah dua konsep yang tak terpisahkan. Lebih-lebih. Dalam konteks inilah pembahasan globalisasi dan kota-kota metropolitan di Indonesia masih (dan selalu akan) dianggap perlu.

ditunjukkan oleh struktur dan atribut sosial modern (kapitalisme. yaitu proses rekonfigurasi geografis yang menyebabkan ruang-ruang sosial tidak lagi selalu diartikan secara fisik-teritorial. norma-norma. Namun pada kurun waktu setengah abad terakhir ini terjadi pula proses multilateralisasi yang lebih mendasar. Globalisasi dilihat sebagai modernisasi dan. gerai makan cepat saji ala McDonald atau KFC. Globalisasi dilihat sebagai liberalisasi. . Termasuk dalam kategori pemahaman ini adalah konsep kesaling-tergantungan (inter-dependency) yang juga merupakan ciri globalisasi. barang.158 Metropolitan di Indonesia perubahannya berbeda. pengalaman. media berita ala CNN. dan oleh karenanya sistem ekonomi nasional pun harus menyesuaikan dengan prinsip-prinsip ekonomi neo-klasik. Pernyataan-pernyataan yang agak berlebih seperti terjadinya “death of distance” atau bahkan “death of geography”25 pun muncul sebagai salah satu penekanan cerminan sudut pandang ini. Seringkali dalam proses memoderenisasi ini menghancurkan budaya serta atribut dan bahkan keswadayaan lokal yang ada. salah satu pandangan yang masuk dalam kategori ini melihat globalisasi secara lebih sempit lagi sebagai Amerikanisasi (sebagaimana merebaknya model celana jeans. khususnya di negara-negara Barat yang dianggap “maju”—serta perkembangan teknologi komputer dan internet. orang dan lain-lain. akibat peran penting lembagalembaga seperti PBB. 2. cara-pandang serta perilaku ke segala penjuru dunia akibat persebaran informasi. 5. khususnya yang berkaitan dengan penyesuaian struktural (structural adjustment) negara-negara berkembang terhadap sistem ekonomi neo-klasik yang dipercaya oleh lembagalembaga multilateral tersebut sebagai pilihan terbaik dalam menghadapi globalisasi. minuman ala Coca Cola. industrialisme dan lain-lain) yang tersebar ke berbagai penjuru dunia. Pernyataan “death of geography” sebagaimana dikutip dalam Smith 2000 tentunya terlalu berlebihan. 4. 24 25 Sebagai salah satu contoh baca Kwik 2006. yaitu sebagai proses terbentuknya kesamaan nilai-nilai. bisnis multi-level marketing ala Amway dan lain-lain). jasa. yaitu sebagai proses terhapusnya secara gradual hambatan-hambatan yang ditetapkan oleh masing-masing negara bagi pergerakan barang.apalagi mengingat bahwa justru banyak ahli geografi yang menekuni persoalan globalisasi. secara lebih sempit. Globalisasi dilihat sebagai de-teritorialisasi (atau malah terbentuknya suatu suprateritorial). Peran globalisasi pendidikan— semakin banyaknya orang yang bersekolah di negaranegara lain. pembaratan (westernization): yaitu sebagai dinamika. Globalisasi dilihat sebagai universalisasi. Termasuk dalam hal ini adalah penerimaan atau imposisi model ekonomi neo-klasik sebagai paradigma dominan (kalau tidak mau mengatakannya sebagai paradigma tunggal) untuk pembangunan ekonomi. IMF. Bank Dunia. informasi dan manusia sehingga akan terbentuk suatu ekonomi dunia yang tanpa batas. Karena Amerika Serikat—beserta budaya kontemporernya—sering dilihat sangat mendominasi proses-proses yang ada. Mahkamah Internasional dan belakangan WTO dan terkadang bahkan dapat mendikte kebijakan suatu negara24. serta televisi dan film dilihat sebagai sangat kuat mempengaruhi universalisasi tata-nilai ini. 3. rasionalisme.

misalnya. Hal ini. Apapun definisinya. Salah satu fenomena menarik yang terjadi akhir-akhir ini adalah apa yang disebut e-tutoring. mungkin saja memperoleh informasi tentang pasar global komoditasnya bahkan secara real-time melalui internet. baik dalam bekerja. Walaupun Scholte lebih cenderung menggunakan pemahaman yang terakhir (deteritorialisasi) sebagai penjelasan globalisasi. globalisasi sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang telah mempermudah dan mempercepat arus informasi. Sebaliknya. Berbagai ilustrasi di atas menggambarkan karakteristik kesaling-terkaitan (interconnectedness) dari globalisasi. banyak murid-murid di Amerika Serikat mengambil semacam les dari guru-guru sekolah di India yang bisa menawarkan jasanya jauh lebih murah daripada guru-guru di Amerika Serikat (Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk lain dari fenomena e-subcontracting. Akses ke informasi pun semakin terbuka bagi semakin banyak orang. atau bisa juga merupakan bentuk lain dari kursus-kursus melalui internet yang ditawarkan sekolahsekolah di negara-negara maju kepada murid-murid di negara berkembang). yaitu: (i) meningkatnya interaksi global. Dan hal-hal seperti ini mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia. telepon genggam atau media lainnya. perusahaan-perusahaan software di negara maju mensubkontrakkan sebagian pekerjaannya kepada perusahaan atau individu di negara berkembang— mungkin tanpa harus bertemu muka—demi menghemat biaya. bertinggal. belajar. hanya berbeda aspek atau sudut pandang. dan Kependudukan 159 Dengan pemahaman semacam ini. berlibur. dikombinasikan dengan perkembangan pasar yang juga semakin kompetitif menyebabkan percepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (misalnya pada perangkat lunak . Anthony Giddens (1990. (iv) industrialisasi barang dan jasa. sebagaimana dikutip oleh Smith 2002) mendefinisikan globalisasi sebagai intensifikasi hubunganhubungan sosial yang menyeluruh dunia dan menghubungkan tempat-tempat yang berjauhan sedemikian sehingga apa yang terjadi di suatu tempat dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kejadian di tempat lain yang berjauhan. Oleh karenanya tulisan ini—dalam melihat pengaruh globalisasi kepada kota-kota—justru akan menggunakan secara komprehensif kelima pemahaman di atas secara lebih bebas sebagai atribut dari globalisasi. Lebih lanjut lagi. namun sebenarnya masing-masing pemahaman di atas memiliki kandungan kebenaran jika dikaitkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Demikian pula dengan timbulnya komunitas-komunitas maya (virtual) yang terbentuk melalui media internet dan tidak mengenal batas-batas geografis. jasa. perluasan pasar yang semakin mengglobal mengakibatkan timbulnya perusahaan-perusahaan berskala besar yang mampu mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk penelitian dan pengembangan produknya.Sosial. dan (v) de-teritorialisasi. Orang-orang di desa. jasa dan manusia dari satu tempat ke tempat lain. bersosialisasi dan bahkan dalam berpikir. Suatu unit usaha di suatu negara bisa saja melakukan suatu sub-kontrak dengan suatu pihak dari belahan bumi yang lain tanpa harus bertemu muka. informasi dan manusia. Ekonomi. perusahaan-perusahaan atau produk-produk tertentu tidak lagi dapat diasosiasikan dengan suatu negara karena baik kepemilikan atau proses pembuatannya tidak lagi terbatas pada pihak-pihak dari satu negara. berbelanja. barang. (ii) berkurangnya batas-batas bagi mobilitas barang. (iii) merebaknya tata-nilai ‘universal’.

Pergeseran dalam hal ini tidak bisa 26 “Urban ethnic space” sebagaimana yang dikemukakan dalam Habitat 2004 sebenarnya juga sudah terjadi sejak adanya proses migrasi besar-besaran selama berabad-abad. dan juga spatial atau tata-ruang (termasuk di dalamnya proses migrasi yang semakin meningkat sehingga menyebabkan tumbuh dan semakin beragamnya “urban ethnic space” atau bagian-bagian kota yang dihuni oleh berbagai suku-bangsa secara mengelompok26) (Habitat. waktu dan budaya sebagai faktor yang tidak hanya harus dipertimbangkan tetapi justru harus dominan. 2005). yang kemudian mempengaruhi perilaku di berbagai bidang. lingkungan hidup (misalnya polusi antar-bangsa dalam bentuk asap dari kebakaran hutan di Indonesia yang diderita warga di Singapura. setidaknya terjadi lima pergeseran cara pandang. telepon genggam. Termasuk dalam hal ini adalah pengakuan terhadap eksistensi ekonomi informal perkotaan yang seringkali sulit dijelaskan dan didekati secara formal. jauh dari kultur setempat. yang seringkali diterapkan hanya secara prosedural. proses yang sangat kompleks ini juga menyangkut dimensi sosial (misalnya dengan berubahnya struktur dan tingkat kerekatan komunitas di dalam masyarakat). Dengan pengertian ini. di dunia ini. Richard Norgaard (1994) melihat.Kampung Bali. budaya (misalnya dengan kemunculan generasi MTV di kalangan generasi muda di belahan bumi mana pun dan merasa lebih memiliki kesamaan di antara mereka dibanding dengan generasi orang tua di negara yang sama). Demikian halnya dengan kota-kota dunia (global cities) seperti London.Kampung Jawa. Kota-kota besar di Nusantara seperti Jakarta misalnya.Kampung Bugis.160 Metropolitan di Indonesia maupun keras bagi komputer. 2004. diskontinuitas dan bahkan chaos yang tak terjelaskan. Jadi keterkaitan antara globalisasi dan perkembangan teknologi adalah hubungan yang bersifat timbal balik dan saling mendorong.dan lain-lain). Globalisasi pun dipengaruhi oleh perubahan atau pergeseran cara pandang atau cara berpikir. bisa lebih besar/kuat atau lebih kecil/lemah tergantung bagaimana berhubungan antar-bagian yang ada). Ketiga adalah dari cara pandang universal. New York atau Paris. Di sini aspek multi-kulturalisme menjadi atribut yang sangat kental bahkan menjadi ciri dari kota-kota global yang kosmopolitan. Globalisasi juga dipahami tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi saja. televisi dan lain-lain). ke cara pandang “kontekstualistik” yang mengakui konteks lokal. Malaysia dan lainnya). Kedua adalah pergeseran dari cara pandang yang mekanistik (Newtownian) yang menganggap suatu sistem selalu mempunyai ekuilibrium. ke cara pandang yang lebih mengakui kemungkinan terjadinya ketidakpastian. . di berbagai belahan dunia). politik-kelembagaan (misalnya dengan semakin diadopsinya sistem demokrasi ala Barat.pernah memiliki sudut-sudut kota yang dihuni oleh migran dari berbagai tempat di Nuantara secara berkelompok-kelompok (Kampung Ambon. Soegijoko. konsep modal sosial menjadi lebih mudah dipahami. yang melihat prinsip-prinsip universal sebagai sesuatu yang tak terbantahkan. Pertama adalah pergeseran dari cara pandang yang bersifat atomistic (dengan mana keseluruhan sistem dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya) ke cara pandang holistic (dengan mana keseluruhan sistem tidak selalu dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya. Masyarakat yang memiliki modal sosial besar walau secara individu mungkin memiliki kapasitas terbatas bisa saja lebih maju dan berkembang daripada masyarakat yang secara individu memiliki kapasitas tinggi tetapi secara kesuluruhan memiliki modal sosial yang lemah.

kelembaman untuk berubah dan lain-lain. Memang ada hal-hal yang lebih baik diserahkan kepada pihakpihak yang dapat bekerja lebih efisien. Di masa lalu. Namum pendekatan yang berorientasi swasta seperti ini pun tidak lepas dari berbagai persoalan. cepat dan sangat berorientasi pada hasil. Maka timbul era yang menganggap sektor swasta lebih mampu menyediakan berbagai pelayanan maupun melaksanakan pembangunan. Norgaard melihat adanya pergeseran dari cara pandang yang “monistik” yang hanya mengakui satu kebenaran atau penjelasan akan suatu fenomena ke cara pandang yang “pluralistik” yang mengakui kemungkinan adanya beberapa kebenaran atau penjelasan. pada umumnya pembangunan maupun pengelolaan publik sangat didominasi oleh pemerintah (dan seringkali pemerintah pusat). tuntutan akan partisipasi masyarakat menjadi lebih tinggi. Ada hal-hal yang dikenal sebagai “government failures” seperti ketidakefisienan. terutama untuk mengurangi bias dari si pengambil keputusan. Kini lebih banyak orang yang bisa (atau terpaksa) menerima perbedaan pendapat dibanding di masa lalu. dan Kependudukan 161 dikatakan tuntas karena masih banyak pelaku pembangunan dunia yang sangat percaya dengan nilai-nilai yang sifatnya universal dan berusaha mempromosikan hal tersebut namun di sisi lain juga cukup banyak pelaku pembangunan yang selalu menekankan pentingnya konteks lokal. kekakuan birokrasi. Kemudian disadari bahwa pemerintah tidak akan mampu mengerjakan semua hal. Terkandung di dalam pergeseran paradigma yang kelima ini adalah multi-kulturalisme sebagai pengakuan bahwa dunia—khususnya kotakota besar—tidak hanya dihuni oleh manusia-manusia yang berbudaya sama. Swasta pun cenderung tidak mau menyediakan barang atau pelayanan bagi kaum yang . Ekonomi. Di era ini pemerintah diharapkan untuk berperan sebagai regulator saja. Keempat adalah pergeseran dari cara pandang (umumnya di dunia penelitian atau keilmuan) yang mengagung-agungkan “objektivitas positivisme” ke cara pandang yang mengakui kemungkinan adanya subyektivitas atau keberpihakan di dalam ilmu (yang bisa dianggap sebagai konstruksi sosial). Terjadilah gelombang privatisasi di berbagai sektor sebagai bagian dari perubahan pola berpikir global. Pendekatan dalam penelitian maupun perencanaan yang diakui pun tidak lagi harus yang bersifat positivistik dan bebas-nilai tetapi mencakup pendekatan penelitian “participant-observation” dan pendekatan perencanaan melalui proses-proses komunikasi (“planning through communication”). Namun pada saat yang hampir bersamaan bisa saja terjadi pula penguasaan cara pandang (misalnya pandangan neo-klasik sebagai paradigma dominan ekonomi dunia) atau pemaksaan cara pandang tertentu oleh kekuasaan adidaya (misalnya dalam hal terorisme global). Kelima. Pada tataran yang lebih praktis. di dalam pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan publik sehari-hari pun telah terjadi pula pergeseran yang cukup berarti. sehingga tidak hanya penyediaan air minum yang diswastakan tetapi bahkan terdapat kota-kota yang hampir sepenuhnya dibangun oleh swasta. khususnya yang berkaitan dengan kegagalan pasar. Oleh karenanya.Sosial. swasta tidak akan pernah mampu menyediakan barang atau pelayanan yang sepenuhnya bersifat publik (public goods) yang bisa dinikmati oleh semua orang tanpa harus membayar.

27 . penurunan kualitas ruang publik ? GAMBAR 5 . baik di negara maju maupun di negara berkembang—termasuk Indonesia—baik pada tingkatan negara. lokal. Swasta juga cenderung tidak mau melakukan investasi dengan modal yang sangat besar dengan pengembalian modal yang berjangka sangat panjang serta beresiko tinggi.162 Metropolitan di Indonesia sangat miskin di mana marjin keuntungan dianggap sangat tipis atau bahkan tidak ada27.7. Ketegangan sendiri sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan (embedded) dalam globalisasi. pergeseran peran-peran dalam pembangunan ini. baik yang bersifat global. regional maupun lokal dan bahkan pada tataran komunitas dan keluarga. regional. tahap 1 Pemerintah dianggap paling mengetahui apa yang dikehendaki rakyat tahap2 Sistem pasar dianggap paling efisien dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tahap 3 Kemitraan yang setara dianggap sebagai cara terbaik swasta swasta swasta pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat Terjadi “kegagalan pemerintah”. Di satu sisi globalisasi membuat batas-batas negara semakin menipis.peran (atau tuntutan akan peran) masyarakat madani semakin meningkat untuk mengimbangi baik kegagalan pemerintah (government failures) maupun kegagalan pasar GAMBAR 5 . Maka pada tahap berikutnya. Salah satu implikasi dari situasi seperti ini adalah timbulnya berbagai ketegangan (tensions). komunitas maupun individu—tentunya dengan tahap dan skala maupun intensitas yang berbeda-beda. masyarakat kehilangan kepercayaan Terjadi “kegagalan pasar”.7 Diagram Pergeseran Peran Pelaku dalam Pembangunan/ Pengelolaan Publik Perubahan-perubahan semacam di atas terjadi di mana-mana. namun di sisi lain juga terjadi pula gelombang desentralisasi atau lokalisasi di mana timbul tuntutan agar sebanyak mungkin keputusan publik dan pelaksanaannya di lakukan ditingkat lokal/komunitas Padahal Prahalad (2004) justru melihat potensi investasi di tengah-tengah masyarakat yang paling miskin sekalipun.

Namun proses-proses ini terjadi tidak tanpa ongkos. yang seringkali harus dipikul oleh pihak-pihak yang tidak menikmati. Atas dasar pertimbangan inilah kemudian timbul gerakan anti-globalisasi yang kemudian berubah menjadi “globalisasi dari bawah” dan menuntut adanya keadilan global. dan Kependudukan 163 (atau bahkan primordialisme. penyediaan rumah-rumah. maka proses globalisasi dianggap dapat menyebarkan tata-nilai yang dianggap baik tersebut. Kentucky Fried Chicken. Bahkan tentangan terhadap lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan IMF sudah merupakan berita sehari-hari. Demikian pula dengan bertumbangannya tingkat keswadayaan lokal dan meningkatnya ketergantungan pada faktor-faktor eksternal yang lebih jauh dapat dianggap mengancam keberlanjutan pembangunan di tingkat lokal. hal. Salah satu implikasi dari privatisasi adalah sulitnya dipenuhi kebutuhan kaum miskin karena pihak swasta tentunya lebih memberi perhatian kepada mereka yang mampu membeli layanan atau barang komoditasnya. intensitas dan kompleksitas konflik yang 28 Kenyataan ironis di era yang sangat berorientasi kepada teknologi informasi adalah angka yang menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen penduduk dunia belum pernah menggunakan sarana telepon (lihat misalnya Jakarta Post. 2006. 17). Pada intinya.Sosial. banyak pengusaha-pengusaha kecil yang tidak terlindungi oleh pemerintah lokal terpaksa tergusur oleh toko-toko wholesale global seperti Walmart atau Carrefour. Terdapat pihak-pihak yang harus turut menanggung biaya tetapi tidak menikmati manfaat dari proses yang sedang berlangsung. “putra daerah” dianggap punya hak lebih dalam banyak hal daripada “pendatang”). Ketegangan (tension) juga timbul manakala produk-produk import yang bisa masuk secara lebih mudah ternyata mematikan atau melemahkan usaha lokal/domestik yang menghasilkan produk-produk sejenis. sehingga timbul penentangan-penentangan sebagaimana diilustrasikan di atas. prasarana air minum. Selanjutnya. ketegangan atau bahkan konflik sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari globalisasi—dengan skala. Demikian pula bagi mereka yang ingin memajukan nilai-nilai seperti demokratisasi. Ekonomi. kebijakan sosial-ekonomi dan lain-lain melalui persyaratan-persyaratan hutang yang seringkali dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang. jalan utama bahkan pembangunan seluruh kota. September 21. selama akses kepada sumberdaya (termasuk teknologi dan informasi) masih belum merata—dan prospek untuk terjadi pemerataan belum terlihat jelas—maka distribusi manfaat dan biaya dari globalisasi masih akan selalu timpang28. Lembaga-lembaga global ini sering dilihat sebagai simbol neo-kolonialisme. Walmart atau Carrefour sering mendapat tentangan dari komunitas lokal yang tidak menghendaki bisnis-bisnis kecil dan khas tergusur oleh perusahaan global tersebut. Simbol-simbol globalisasi seperti McDonald. Memang. Karena hal tersebut di ataslah globalisasi tidak selalu dianggap sebagai suatu yang positif. . Bagi mereka yang memiliki akses kepada teknologi dan informasi serta sumberdaya finansial atau lainnya untuk berkompetisi maka globalisasi dapat dianggap sebagai menguntungkan (beneficial) secara ekonomi. Timbul fenomena “globalization” yang penuh ketegangan atau tarik ulur antara kekuatan-kekuatan global dan kekuatan-kekuatan lokal. baik melalui pemaksaan perubahan cara berpikir. Ketegangan juga timbul akibat dari semakin menguatnya proses privatisasi yang bahkan masuk ke ruang-ruang yang selama ini merupakan domain publik: taman-taman. ruang kota untuk bersosialisasi.

Kota-kota besar umumnya juga menawarkan pasar—atau akses ke pasar—yang relatif lebih besar daripada yang ada pada kota-kota yang lebih kecil.164 Metropolitan di Indonesia lebih tinggi dibanding dengan apa yang terjadi di era pra-kontemporer. kemacetan lalu-lintas yang semakin parah. Pengusaha-pengusaha global cenderung memilih kota-kota besar sebagai pusat dan simpul operasinya. baik secara fisik maupun sosiokultural) yang baik dan tidak kalah dengan kota-kota besar. Lebih jauh lagi. Namun dalam perkembangan paling akhir. telah terjadi pergeseran pilihan lokasi investasi (khususnya di sektor jasa dan industri informasi-telekomunikasi) dengan adanya kecenderungan untuk memilih kota-kota kedua (secondary cities) yang dianggap lebih nyaman ditinggali daripada kota-kota metropolitan yang ditandai dengan harga properti yang semakin mahal. Demikian pula. kota-kota besar juga cenderung memiliki pool yang lebih besar akan tenaga ahli dengan pendidikan atau keterampilan yang sesuai dengan kebutuhannya. maka terjadi proses pelebaran kesenjangan penerimaan manfaat globalisasi antara kota-kota besar dan kota-kota yang lebih kecil atau kawasan perdesaan. Berbagai inovasi yang kemudian mendunia sering muncul dari kedua kawasan perkotaan tersebut maupun dari tempat-tempat lain yang sejenis. tempat berkumpulnya berbagai bisnis sejenis atau terkait yang dapat menciptakan apa yang agglomeration of economies (pengumpulan berbagai ekonomi terkait). Implikasi bagi Kota-kota Metropolitan Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Contoh yang sering dirujuk adalah kota San Francisco dengan Bay Area-nya (tempat Silicon Valley berada) yang merupakan tempat bagi Stanford University. atau Boston Metropolitan Area (tempat Route 128 berada) dengan Harvard University dan Massachussett Institute of Technology dan berbagai universitas terpandang lainnya. sebagaimana dilaporkan dalam Newsweek July 3-10. polusi yang semakin menyesakkan serta kriminalitas yang semakin mengkhawatirkan. Kota-kota. Upaya mengantisipasi dan merespon pun perlu memasukkan pertimbangan adanya keteganganketegangan atau konflik ini. simpul dan penggerak berbagai perubahan yang kemudian menggelinding menjadi apa yang disebut globalisasi. Milleu of innovation semacam ini cenderung terbentuk di sekitar perguruan tinggi dengan lembaga-lembaga risetnya. dan umumnya perguruan tinggi tersebut berada di dekat kota besar. Sebaliknya pengaruh globalisasi paling cepat dan paling besar dirasakan di kota-kota (oleh masyarakat kota). 2006. globalisasi dan urbanisasi merupakan dua konsep yang tidak terpisahkan. Manuel Castells menekankan pentingnya suatu milleu of innovation atau suatu kumpulan komunitas manusia yang berorientasi ke inovasi bagi perusahaanperusahaan yang berorientasi teknologi informasi untuk dapat selalu memiliki keunggulan komparatif di era globalisasi ini (Castells 1986). University of California at Berkeley dan berbagai universitas lain. Dan karena seringkali kotakota besar atau metropolitan memiliki keunggulan infrastruktur dibanding kota-kota yang lebih kecil. Namun pergeseran seperti ini hanya terjadi pada secondary cities yang memiliki akses teknologi komunikasi informasi serta amenities (atribut untuk kenyamanan. merupakan sumber. terutama karena keunggulan dalam ketersediaan sarana dan prasarana yang bersifat global (misalnya jaringan telekomunikasi global). Dengan perkembangan . khususnya kawasan metropolitan.

menurut Sassen (1994). [2] Pengaruh globalisasi pada hubungan yang juga dinamis (selalu berubah) antara kota-kota utama atau metropolitan dan kota-kota sekunder di sekitarnya. London dan Tokyo. serta tingkatan-tingkatan di bawahnya yang menunjukkan besarnya/luasnya cakupan pengaruh kota-kota tersebut—khususnya di bidang ekonomi-finansial—baik di tingkat global maupun regional. misalnya. dan Kependudukan 165 terakhir seperti ini. khususnya kota metropolitan dapat dilihat sebagai memiliki tiga tataran atau aras: [1] Pengaruh globalisasi pada sistem perkotaan global. kawasan perkotaan menyambung menjadi satu (walaupun mungkin saja masih terdapat kawasan berkarakter perdesaan di dalamnya). pengaruh globalisasi terhadap kota-kota. Sementara di kota-kota besar di negara berkembang yang berpenduduk besar tetapi memiliki keterbatasan infrastruktur seperti Indonesia yang umumnya terjadi justru suatu mega urban sprawl. Secara terstruktur. Kalau di masa lalu kota-kota sekunder sering dilihat hanya sebagai pendukung bagi kota-kota . termasuk berkomunikasi dengan mitra usaha di mancanegara dari rumah atau kantor di pinggiran atau warung telekomunikasi terdekat. Tersirat di sini adalah adanya kompetisi antar-kota untuk menjadi semacam “pusat” atau “hub” (simpul) kegiatan ekonomi dari suatu region—kalau bukan dunia—sebagaimana yang terlihat pada persaingan yang cukup ketat antara Singapura dan Bangkok dalam upaya mereka menjadi hub bagi lalu-lintas udara di Asia Tenggara. Hal seperti ini tentunya dapat mengurangi biaya transportasi dan jumlah penglaju harian di kawasan kota metropolitan sekaligus mempengaruhi tata-ruang yang ada. Globalisasi pun dapat mempengaruhi struktur tata ruang internal kawasan metropolitan. baik yang berskala kota-baru atau kota satelit maupun yang hanya berupa warung-warung telekomunikasi di kawasan-kawasan permukiman pinggiran. yang seringkali tumbuh tidak teratur. namun perkembangan teknologi-informasi telah sedikit-banyak mengurangi ketergantungan untuk aktifitas tatap-muka sehingga timbul pusat-pusat baru di pinggiran kota. atau bahkan dari rumah mereka masing-masing. Walaupun pola aktifitas ekonomi yang berpusat pada kawasan pusat kota masih tetap mendominasi kegiatan sehari-hari di berbagai kota metropolitan di dunia (sehingga menimbulkan arus penglaju yang sangat besar dari pinggiran kota ke pusat kota di pagi hari dan sebaliknya di sore hari).Sosial. terdapat kota-kota global tingkatan pertama seperti New York. Toh mereka tetap bisa mengerjakan banyak hal. Ekonomi. Walau di tingkat teratas sistem perkotaan global mungkin tidak banyak terjadi perubahan (ketiga kota yang disebut di atas masih belum tergoyahkan oleh kotakota lainnya). perusahaan-perusahaan tertentu membolehkan karyawannya untuk datang ke kantor pusat hanya dua atau tiga hari seminggu. sisanya mereka dapat berkantor di kantor-kantor cabang di pinggiran kota atau di fasilitas semacam warung telekomunikasi di dekat mereka tinggal. Di banyak kota-kota besar dunia. namun pada tingkatan-tingkatan di bawahnya susunan kota-kota lebih mudah berubah. Kecenderungan yang terjadi di banyak kawasan metropolitan di dunia—khususnya di negara-negara maju—adalah terbentuknya apa yang sering disebut sebagai decentralized concentration atau konsentrasi yang terdesentralisasi. kota-kota metropolitan pun bersaing dengan kota-kota yang lebih kecil dalam upaya mendatangkan investasi yang lebih memiliki nilai tambah relatif lebih besar yang ada pada sektor-sektor yang terkait dengan teknologi-telekomunikasiinformasi (dibanding pada sektor-sektor manufaktur konvesional yang sering lebih mengandalkan tenaga buruh murah sebagai basis pilihan lokasi).

maka ongkos buruh akan semakin meningkat dan selalu ada saja negara atau kota lain yang dapat menawarkan lingkungan usaha dengan ongkos yang lebih murah. Namun pergeseran semacam ini tidak bisa dibilang permanen. pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan dapat disusun ke dalam suatu matriks atau kerangka analisis sebagai ditunjukan dalam tabel TABEL 5 . Namun secara umum terdapat pola perubahan tata-ruang yang sangat dipengaruhi oleh berubahnya sistem ekonomi-bisnis dunia. dll. hambatan dan tarif perdagangan dikurangi. Pasar bebas diagung-agungkan. Sementara kota-kota di negara berkembang pun tidak luput dari ancaman yang sama dari apa yang disebut footloose industries tersebut. Tumbuh dan tersebarnya perusahaan global seperti McDonald. politik. pengelolaan sampah. khususnya dalam penyediaan hunian yang murah dan nyaman. terdapat pula kecenderungan pelaku dunia usaha global justru untuk memilih kota-kota sekunder yang memiliki amenities yang baik namun terbebas dari kemacetan dan polusi kota-kota metropolitan. Dalam hal ini. Akibatnya. maka dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan informasi banyak kota-kota sekunder yang kemudian berkembang menjadi kota-kota yang lebih mandiri (self-sustained) dan mempunyai aktifitas-aktifitas yang berhubungan langsung ke bagian dunia yang lain tanpa harus tergantung pada atau melalui kota metropolitan terdekat.166 Metropolitan di Indonesia metropolitan. Sebagaimana yang diuraikan di atas. ada yang berhasil mendapatkan basis ekonomi baru namun banyak juga yang masih struggling hingga kini. Konflik keruangan antara tekanan . sangat tergantung kepada seberapa jauh kota metropolitan tersebut terbuka (exposed) terhadap globalisasi serta faktor-faktor sosial. tetapi banyak pula yang memindahkan kantor pusatnya ke kota lain yang lebih strategis. yang mendesak atau mematikan usaha-usaha lokal yang Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) Privatisasi ruang-ruang publik serta berbagai pelayanan umum— seperti penyediaan air. atau setidaknya sebagai kota-kota pinggiran (edge cities).17 Pengaruh Globalisasi Pada Umumnya dan Terhadap Tata Ruang Kota Dimensi Dimensi EkonomiFinansial Pengaruh Umum Paradigma neo-klasik sebagai paradigma tunggal/dominan. Dari sudut berbagai dimensi yang ada. dengan banyaknya industri manufaktur yang pindah dari negara-negara dengan biaya buruh tinggi (umumnya di negara maju) ke negara-negara dengan biaya buruh rendah (umumnya di negara berkembang)— seringkali masih menyisakan kantor pusatnya di kota asal. [3] Pengaruh globalisasi pada tata-ruang internal suatu kawasan metropolitan. budaya dan geografis yang ada serta seberapa jauh pemerintah dan warga kota metropolitan tersebut mampu mempertahankan ciri-ciri khasnya. yang terjadi di suatu kota metropolitan tidak sama dengan yang terjadi di kawasan metroplitan lain. Perkembangan ke depan akan sangat tergantung pada perkembangan teknologi telekomunikasi-informasi dan pola aktifitas sosial-ekonomi. Carrefour.17 berikut: TABEL 5 . pendidikan dan kesehatan—yang di masa lalu lebih banyak diasosiasikan sebagai pelayanan publik. banyak kotakota di negara maju yang harus berjuang untuk “mengisi kekosongan sosial-ekonomi” yang diakibatkan oleh perginya tempat-tempat usaha (dan sumber-sumber pekerjaan) tersebut. ekonomi. karena seiring dengan kemajuan ekonomi negara berkembang tersebut. Sebagai contoh. Walmart.

Tumbuhnya multikulturalisme. Peran negara dalam pengelolaan kota semakin berkurang. dan Kependudukan 167 Dimensi Pengaruh Umum kecil. tapi juga disertai dengan konflik antar budaya. Dimensi PolitikKelembagaan Peran atau pengaruh negara semakin berkurang seiring dengan menguatnya peran dan pengaruh lembaga-lembaga multi-lateral dan MNCs. Dimensi SosialBudaya Demografis Tumbuhnya budaya-budaya dan nilai-nilai sosial yang bersifat mendunia (diakui dan diadopsi di berbagai tempat di dunia). Pembagian kerja yang bersifat global (komponen-komponen bisa dibuat terpisah. dll. Wajah kota “moderen” yang hampir sama di mana-mana (termasuk dalam wujud shopping mall atau pusat belanja yang tidak berbeda secara signifikan antara mall di Jakarta atau mal di Bangkok atau di Buenos Aires). Arus aliran modal. sama setiap hari kerja).Sosial. diambil alih oleh peran pemerintah kota.baik yang bersifat positif (saling memahami perbedaan.) maupun yang bersifat negatif (hilangnya atau berkurangnya ke-khasan lokal) Arus migrasi yang semakin pesat dan semakin menglobal (semakin banyak orang yang tidak hanya berpindah dari desa ke kota tapi juga dari suatu negara ke negara lain). Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) ekonomi global dan keinginan untuk mempertahankan usahausaha yang bersifat lokal. Banyak pula perusahaan-perusahaan global yang bersifat footloose atau mudah berpindah tempat usaha (biasanya meninggalkan mitra lokal begitu saja). termasuk akomodasi spasialnya. Salah satu akibatnya adalah pola commuting menjadi tidak sejelas pada tatanan yang konvensional (pagi berangkat sore pulang. demokratis. masyarakat kota dan swasta (termasuk swasta yang bersifat . Tumbuhnya ruang-ruang kota yang terkait dengan etnik atau bangsa-bangsa tertentu dalam satu kota metropolitan (sesuai dengan negara atau tempat asal-usul dari para migran kota tersebut). tergantung pengaturan mana yang paling menguntungkan). Berkembangnya kegiatankegiatan usaha di tempat-tempat tinggal (banyak yang bekerja dari rumah) atau di “warung telekomunikasi” terdekat. Kontras yang semakin lebar antara kawasan bagi orang-orang yang berpenghasilan menengah/tinggi (punya akses ke jaringan global) dan kawasan bagi mereka yang tidak punya akses ke jaringan global atau yang terdesak oleh globalisasi ekonomi. barang dan jasa (serta manusia) yang semakin deras meningkat Kesenjangan ekonomi cenderung melebar (lebih terasa di kota-kota negara berkembang. Ekonomi. Di sisi lain terdapat pula pengakuan (secara parsial) terhadap aktifitas ekonomi perkotaan informal. tetapi juga terjadi di kota-kota negara maju).

Thamrin-Sudirman-Kuningan. Bandung. atau bahkan Jalan Jaksa). maka tingkat keterbukaan (exposure) dan saling pengaruh-mempengaruhi antara kota dan globalisasi pun sangat berbeda. namun pada saat yang bersamaan. Medan. pendidikan yang umumnya belum merata di masyarakat juga menyebabkan proses demokratisasi yang lebih “prosedural” daripada substantif. karena tingkat ketersediaan infrastruktur yang terkait dengan berbagai aspek globalisasi di atas sangat timpang antara kawasan metropolitan Jabodetabek dengan kawasan-kawasan metropolitan lainnya (Surabaya. kebun kota dan lain-lain. Bahkan di dalam kawasan Jabodetabek pun. Secara umum “ecological footprints” (tapak ekologis) yang semakin meluas dan bahkan mengglobal. Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) global). Implikasi dan Tantangan bagi Kota-kota Metropolitan di Indonesia Di Indonesia. tingkat keterbukaan terhadap globalisasi tidak merata—ada bagian-bagian kawasan yang sangat mencerminkan kota global (misalnya di Jakarta. hobby atau lainnya. Peran partisipasi masyarakat yang semakin penting (atau tuntutan akan partisipasi yang semakin besar). tetapi lebih berdasarkan kesamaan profesi. Dimensi Lingkungan (Ekologis) Dampak lingkungan suatu kegiatan yang bisa bersifat antar-negara seperti dalam pembuangan sampah baik yang bersifat berbahaya maupun yang tidak (umumnya dari negara lebih maju ke negara berkembang—seringkali tidak terbatas pada yang bertetangga). Tuntutan akan kerjasama antarkota (tidak terbatas pada kotakota yang berada dalam suatu region) semakin meningkat. masing-masing dengan kota dan kabupaten di sekitarnya) dan apalagi dengan sekian banyak kota-kota kecil yang ada. peran pemerintah dan masyarakat daerah/kota semakin besar. Semarang.168 Metropolitan di Indonesia Dimensi Pengaruh Umum Namun pada saat yang sama juga terjadi desentralisasi. Pemerintah kota tidak lagi dapat dengan mudah mengurangi ruang hijau tanpa mendapat resistensi dari masyarakat. Tuntutan akan pengelolaan kota yang demokratik dan terbentuknya wujud kota yang berkeadilan (pada saat yang bersamaan dengan semakin melebarnya kesenjangan sosialekonomi). Tuntutan akan perhatian pemerintah kota kepada aspekaspek lingkungan dalam tata ruang kota seperti jumlah ruang hijau. Investor global pun turut memperhatikan kualitas lingkungan kota yang ada (terutama dalam kaitannya dengan kompetisi antar-kota yang sejenis). . Tumbuhnya kerekatan komunitas yang tidak sepenuhnya berdasarkan kesamaan tempat. kawasan Kemang. Berkembangnya kesadaran akan pentingnya lingkungan alam (termasuk taman-taman dan kehijauan) dalam mendukung keberlanjutan lingkungan binaan.

Hampir seluruh pusat perwakilan badan usaha internasional (perusahaan multinasional. masih terbatas pada tumbuhnya—secara sporadis—kawasan29 Dapat pula kita cermati bahwa di beberapa perkampungan kumuh pun terdapat berbagai aktivitas yang memiliki “nuansa globalisasi” seperti produksi kerajinan dari fiberglass di kawasan Prumpung yang sudah menjual produksi hingga ke Malaysia dan Timur Tengah. perwakilan kamar dagang asing dll. sebagaimana yang sudah ditulis di atas. sistem kota-kota yang ada di Indonesia. bank internasional. Sementara itu. bandar udara Soekarno-Hatta pun merupakan bandara yang paling banyak melayani penerbangan internasional. Kawasan industri yang menampung berbagai industri yang bersifat internasional—kalau belum bisa dikatakan global—pun lebih banyak berada di sekitar Jakarta daripada di sekitar kota-kota metropolitan lain di Indonesia. di tingkat global atau bahkan regional peran Jakarta masih sangat terbatas. Jakarta bisa dikatakan masih kalah dari Singapura dan Bangkok sebagai pusat aktifitas internasional—baik yang bersifat ekonomi-finansial. namun terkonsentrasi pada satu sektor utama yaitu pariwisata. apalagi mengubah. politik-kelembagaan (tempat lembaga-lembaga internasional dengan salah satu perkecualian Sekretariat ASEAN yang berada di Jakarta). terutama karena ketersediaan infrastruktur yang masih sangat terbatas. perpustakaan asing dan lain-lain. Dengan tingkat exposure yang masih sangat terbatas tersebut. jauh melampaui kotakota dengan pengaruh besar berikutnya. Ekonomi. Jakarta—beserta wilayah di sekitarnya—dapat dikatakan merupakan kawasan metropolitan yang paling mendalam dan langsung bersinggungan (exposed) oleh globalisasi30. pendidikan maupun sebagai hub lalu-lintas udara dan laut. Fenomena global di mana kota-kota sekunder (bukan metropolitan) mulai bersinggungan dengan globalisasi belum cukup terasa di Indonesia. namun sangat spesifik berkaitan dengan satu sektor ekonomi-budaya yaitu pariwisata. Bagi Indonesia. budaya. Namun demikian. Sehingga boleh dikatakan bahwa globalisasi belum mempengaruhi. dapat dikatakan bahwa globalisasi juga belum secara signifikan mempengaruhi tata ruang perkotaan metropolitan di Indonesia. yaitu Surabaya. Ketimpangan tersebut membuat generalisasi menjadi sesuatu hal yang sulit. dan Kependudukan 169 namun masih banyak pula bagian-bagian kawasan yang seolah-olah tidak atau sangat sedikit tersentuh oleh globalisasi (misalnya di beberapa perkampungan-perkampungan kumuh)29. Hong Kong dan Shanghai maupun Mumbai (khususnya untuk Asia Selatan).) di Indonesia berlokasi di Jakarta. demikian pula untuk aspek-aspek non-ekonomi seperti pusat kebudayaan asing. pada tataran nasional Jakarta masih merupakan kawasan perkotaan yang paling berpengaruh. Ketika membicarakan pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan di Indonesia. apa yang dialami oleh Jakarta dan sekitarnya tidak sama dengan apa yang dialami oleh kota-kota metropolitan lainnya. Kota-kota metropolitan Indonesia lain tentunya punya peran dan ketersinggungan dengan globalisasi yang jauh lebih kecil daripada Jakarta.Sosial. Bandung dan Medan. Kawasan perkotaan Denpasar-Kuta-Nusa Dua di Bali dan kota Yogyakarta mungkin secara nyata juga memiliki exposure internasional yang sangat besar. . 30 Sebenarnya Balipun merupakan bagian Indonesia yang sangat terimbas dan bersinggungan langsung dengan globalisasi (dalam arti “internasionalisasi” maupun lainnya). dan dalam taraf tertentu pendidikan (khusus untuk Yogyakarta). Apalagi kalau diangkat ke tingkat Asia di mana terdapat Tokyo. Di Asia Tenggara saja.

Sudut pandang bernuansa “universalisasi” dan “modernisasi” pun sudah banyak merasuk ke dalam pola berpikir masyarakat kota. Kota Wisata dan lain-lain hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta.8). secara keseluruhan Indonesia sebenarnya sudah sangat terbuka. Dalam konteks “liberalisasi” misalnya. baik di pejabat pemerintah maupun pelaku swasta. Seringkali jenis usaha dan sistem kerjasamanya memudahkan pemilik jaringan usaha internasional untuk memindahkan usahanya kemanapun mereka ingin lakukan (umumnya bargaining position pihak Indonesia—atau tuan rumah di mana pun di negara berkembang lainnya—dalam hal ini relatif rendah). Proses pergeseran peran dari situasi pemerintah mendominasi ke situasi swasta mengambil peran cukup signifikan dalam pembangunan hingga situasi di mana tuntutan akan peran masyarakat yang semakin besar pun terjadi di kota-kota di Indonesia. Kita dapat menemui gerai-gerai internasional seperti McDonalds atau KFC tidak hanya di Jakarta tetapi bahkan hingga di kota-kota sekunder (sebagai perbandingan. Implikasi peran besar swasta dalam tata ruang kota dapat dilihat dari banyaknya bagian-bagian kota yang mengalami proses “urban renewal” seperti misalnya kawasan Segitiga Emas (Sudirman-Kuningan-Gatot Subroto) yang kemudian diikuti oleh proses jentrifikasi masyarakat berpenghasilan rendah ke daerah-daerah pinggiran (GAMBAR 5 . Privatisasi pun telah berjalan cukup lama. Di kota-kota metropolitan lain pun terdapat kawasan hunian cukup luas—kalau belum bisa disebut kota—yang hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta.8 Kawasan “Segitiga Emas” di Jakarta . Hanoi hingga tulisan ini dibuat masih belum mengijinkan adanya gerai-gerai internasional semacam itu).170 Metropolitan di Indonesia kawasan industri yang melayani unit-unit usaha internasional atau melakukan subkontrak dari jaringan usaha internasional. Bahkan sejumlah kota baru seperti Bumi Serpong Damai. Bukit Sentul. Lippo Karawaci. Wholesale retailers seperti Carrefour pun memiliki cukup banyak outlets di Jakarta. mungkin kita bisa mendapatkan gambaran yang agak berbeda. Berbagai merek internasional mewarnai pusat-pusat perdagangan baik di Jakarta maupun di kota-kota besar lain. Hal di atas dapat disimpulkan kalau kita hanya melihat globalisasi dari sudut pandang “internasionalisasi” saja. GAMBAR 5 . Dari sudut pandang lain. Bintaro Jaya.

Ada yang sudah membuka wawasannya dengan cara-pandang yang “baru” seperti yang bersifat holistik. termasuk implikasinya dalam tata-ruang. persinggungan dengan globalisasi masih sangat terbatas. konsentrasi pembangunan yang terlalu terpusat di Jakarta harus dikurangi. tanpa mengurangi kecenderungan pasar untuk membentuk apa yang disebut agglomeration of economies.Sosial. namun ada pula bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sama sekali belum “tersentuh” oleh globalisasi. Secara internal. mereka yang tidak turut mendapat manfaat dari globalisasi harus turut menanggung biaya atau beban yang ditimbulkan oleh globalisasi. Ada bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sudah sangat ter-exposed oleh globalisasi. apalagi jika dikaitkan dengan keinginan untuk memajukan sektor pertanian—kota-kota sekunder tersebut dapat menjadi pusat koleksi dan distribusi komoditas pertanian (konsep agropolitan)—namun tidak harus terbatas pada konsep itu. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah bagaimana mengambil manfaat sebesar mungkin dan secara merata dari proses-proses globalisasi dan mengurangi sejauh mungkin dampak negatifnya. Di dalam suatu kawasan metropolitanpun—termasuk Jakarta— ketimpangan globalisasi sangat besar. Namun kecuali kawasan metropolitan Jakarta. Persebaran pusat-pusat kegiatan pun menjadi sangat penting. Hal ini tentunya mengakibatkan berbagai ketegangan yang semakin terasa dengan semakin besar dan terbukanya suatu kota. dan Kependudukan 171 Atribut “de-teritorialisasi” dari globalisasi pun dalam skala yang relatif kecil dan terpisah-pisah telah terjadi di kota-kota besar Indonesia. Seringkali. gambar rancang-bangun dan lain-lain yang didapat dari perusahaan-perusahaan besar di negara maju untuk proyek-proyek yang mungkin di negara lainnya. Jika Indonesia tidak mau ketinggalan di era globalisasi yang semakin kompetitif. Demikian pula dengan cara berfikir. Peran kota-kota sekunder pun tidak dapat diabaikan. sementara tidak sedikit yang masih berfikir dengan cara-pandang yang atomistik. Ada saja—walaupun mungkin belum tersebar luas—kegiatan-kegiatan yang mencerminkan ketiadaan batas-batas negara atau kota seperti terlihat pada kegiatan-kegiatan sub-kontrak pembuatan software. cara pandang. Sebagaimana yang terjadi di banyak negara berkembang lain. tata ruang kawasan metropolitan pun harus mampu mengikuti dinamika globalisasi tanpa harus mengabaikan kepentingan konteks dan kekhasan lokal. . positivistik dan monistik. Kawasan-kawasan metropolitan lainnya harus mendapat dukungan infrastruktur secara lebih memadai sehingga tidak terlalu ketinggalan dan dapat turut berkompetisi di tingkat internasional. kontekstual dan pluralistik. khususnya di Jakarta. Newtonian. dan sebagian dari kelompok ini mampu memanfaatkan exposure ini secara baik. Ekonomi. animasi. lebih khusus lagi pada segmen-segmen masyarakat yang memiliki akses ke jaringan global secara mudah. Penutup Secara umum dapat disimpulkan bahwa kota-kota metropolitan di Indonesia sebenarnya sudah mulai bersinggungan dengan globalisasi dengan derajat yang berbeda-beda. kota-kota besar di Indonesia juga mencerminkan kontras yang sangat tajam. terhadap berbagai persoalan.

Apartemen. dan pergulatan kepentingan ekonomi. flats atau rumah susun sudah mulai digalakkan pembangunannya. Hampir seluruh metropolis atau mega-cities di dunia menghadapi masalah infrastruktur. Ditilik dari segi etimologi pun. Sektor formal dan sektor informal berkembang terus. namun perumahan kampung juga masih terus bertahan. Fenomena dehumanisasi metropolitan di Indonesia merebak antara lain karena perhatian para pengelola dan aktor – aktor pembangunannya terlalu tercurah pada aspek fisik. Pembangunan shopping centres. kendati tokoh – tokoh di puncak kekuasaan cenderung lebih mengakomodasi kepentingan sektor formal yang modern. Ditilik dari sisi positifnya. tidak menyenangkan untuk kehidupan manusia yang berbudaya. David Graham Shane mengutip pendapat Louis Wirth bahwa “A city is a relatively large. Dalam buku terbarunya berjudul “Recombinant Urbanism” (2005 : 19). malls. and permanent settlement of socially heterogenous individuals”.172 Metropolitan di Indonesia SOSIO-KULTURAL Sudah semenjak beberapa abad yang silam sastrawan Inggris Shakespeare menyatakan “What is a city but its people”. . department stores. Di satu sisi. sejalan dengan perubahan situasi dan kondisi penduduknya. apalah artinya kota tanpa penduduknya? Kota dan warga dapat diibaratkan seperti cangkang dengan kerangnya yang tumbuh kembang bersamasama. Makassar) cenderung semakin tidak manusiawi. Tidak heran bila sampai saat ini selalu saja terjadi kisah-kisah penggusuran atau pembongkaran permukiman kumuh dan kios-kios pedagang kaki lima. Dimensi sosio-kultural di hampir seluruh kota metropolitan di segenap pelosok tanah air nyaris terabaikan. Semarang. Banyak yang tidak memahami betul bahwa berbeda dengan metropolitan di negara maju yang sudah affluent. Namun. city dekat sekali kaitannya dengan citizen. class and ethnicity. kota metropolitan merupakan mesin pertumbuhan dan inkubator peradaban. kemiskinan. di sisi lain sebagian besar warganya masih berperilaku tradisional. super-malls marak di segenap penjuru kota. toko – toko kecil. sebagian warganya sudah mulai berubah menjadi modern. Medan. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa kota – kota yang sudah termasuk kategori metropolitan di tanah air kita (Jakarta. ketidakadilan dan keterasingan sosio-budaya atau socio-cultural alienation (baca tulisan Badshah & Parlman berjudul “Mega-cities and The Urban Future” dalam buku suntingan Bridge & Watson “The Blackwell City Reader” 2004: 549). Meminjam kata – kata Malcolm Miles et al dalam bukunya “The City Cultures Reader” (2000 : 2): “Cities are sites of constant flux. perilaku dan gaya hidup manusia yang selalu berubah dari waktu ke waktu. dense. their built form mediated by successive acts of destruction and creation … affected by social factors such as gender. kota – kota metropolitan di tanah air kita yang sedang berkembang ini merupakan kota – kota yang bersifat dualistik. disease violent crime. Saat ini kita sudah memasuki era perkotaan abad ke-21 atau milenium ketiga. tata ruang.” Semakin besar kotanya semakin kompleks penduduknya semakin rumit masalahnya dan semakin banyak konflik yang dihadapinya. namun pasar tradisional. warung. Surabaya. tidak nyaman. and extreme poverty”. unemployment. disilusi politik. sebagai pusat persilangan ide dan wadah inovasi. seperti pernyataan Kofi Annan selaku Sekjen PBB yang dikutip oleh Girarde (2004: 86) “Cities can also be places of exploitation. Kota merupakan produk sosio-kultural. pedagang kaki lima juga tidak berkurang.

mestinya sikap yang diambil oleh penentu kebijakan pembangunan kota metropolitan adalah sikap Yin-Yang atau Both-And. aneka pengaruh globalisasi akan sulit ditangkal sehingga seperti dikatakan Manuel Castells: “Globalization must be understood in relation to an historical. Selain itu. (Susser 2002: 11). Keduanya mesti dirangkul dan dikembangkan bersama – sama. Itu pula sebabnya muncul tudingan bahwa kota metropolitan negara berkembang. processual analysis of labour in relation to the state and the regulation of the variable incursions. elitis. Itu pula sebabnya metropolis di Indonesia lantas diledek dan dipelesetkan menjadi metropolost alias kota ibu yang hilang. atau Manhattanization. dan hilang. Ekonomi. psikosis. Kedungsepur. kebencian. yang mengakibatkan xenophobia. panik. Memang. Rasa tempat atau sense of place yang tercipta dari keunikan budaya setempat mesti dipertahankan. Kebijakan pembangunan kota metropolitan yang keliru. tidak layak berada di kota metropolitan yang serba formal. Padahal bila diingat kembali bahwa kota merupakan karya seni sosial (a social work of art). model – model penyeragaman. pasti akan meluluhlantakkan identitas. dan bahkan teror. televisi. dan Kependudukan 173 Sebagai kota yang dualistik. City of tomorrow pun jangan – jangan akan menjadi City of sorrow alias kota yang sarat dengan kesedihan. kekhasan. gagasan. di masa depan akan menjadi miseropolitan atau kota yang menyengsarakan. Pasti akan besar pengaruhnya terhadap pola habitat manusia. luntur. dan tidak pro-poor itu akan menjadikan metropolitan kita menjadi kota yang menyengsarakan warga kotanya. Namun. dan lain-lain masih sulit diimplementasikan karena masih kentalnya sikap primordial dan sektoral dari para pimpinan daerah atau penentu kebijakan.Sosial. pendingin ruangan. ide. apalagi yang bercitra Barat. jangan sampai punah atau lenyap. sektor informal mengandung konotasi tidak sah. inclusions. Martin Heidegger sebagai seorang filsuf kelas dunia menyebutnya dengan istilah “cultural malaise” dan “loss of nearness”. or exclusions of the global networks”. Gerbang Kertasusilo. komputer. . 2003: xi) mengejawantah menjadi kenyataan: “We obliterate the distinctiveness of places and create new forms of metropolitan confusion”. jati diri. perilaku. Kota – kota metropolitan di era globalisasi yang tidak memperhatikan dimensi sosio-kultural dari warganya. seperti Jabodetabek. jangan sampai kekhawatiran Daniel Solomon (Global City Blues. McDonaldization. Memang perkembangan teknologi abad 20 dan 21 seperti yang terwujud dalam bentuk mobil. Pernik-pernik tata nilai. Sedangkan Rem Koolhas sebagai arsitek dan perencana kota mengungkapkannya dengan frasa “globalizing modernism” dan ”cultural homogenization” yang secara sistematik menghancurkan pusaka budaya atau warisan budaya yang unik. diduga akan terlanda arus McWorld. seperti Indonesia. tak terkecuali di kota metropolitan. atau karakter dari kota – kota metropolitan. dan lain – lain tak akan bisa dihambat. Jangan sampai obsesi terhadap modernitas dan teknologi lantas melunturkan atau bahkan menghancurkan kearifan tradisional dan budaya lokal yang ikut mewarnai wajah metropolitan kita. dan upaya-upaya untuk memadukan kota-kota metropolitan dengan daerah di sekitarnya dalam wujud conurbation (lihat pembahasan mengenai kependudukan dan bagian 1 buku ini). norma. jadi tidak Either-Or atau mementingkan salah satu pihak saja. Dari sebutannya. dan artefak bersejarah yang amat kaya dan beragam di kota – kota metropolitan di tanah air kita bila tidak dijaga akan tergerus.

dan partisipasi segenap pemangku kepentingan sesuai tuntutan zaman. urban sprawl. desires. sampai muncul ledekan dengan nama paraban Sickago alias kota yang sakit. Keempat. ada baiknya kita merenungkan kaidah – kaidah pembangunan kota termasuk kota metropolitan yang antara lain dikemukakan oleh tokoh – tokoh garda depan gerakan New Urbanism yang berupaya menangkal kecenderungan social-cultural disintegration. Dalam buku terbarunya berjudul “Sociopolis: Project for a City for the Future” (2004:9). pertempuran kepentingan antara The Rich melawan The Poor. Dalam kiprah pembangunan kota – kota metropolitan di Indonesia seyogianya segenap pihak mengambil pelajaran dari kisah-sukses maupun kegagalan dari pembangunan kota – kota di negara maju. akan menjadikannya sebagai monster yang mengerikan. tarik-menarik antara city centre dengan urban agglomerations. dilandasi prinsip kota sebagai panggung kenangan. Houston pun lantas memperoleh nick name ‘Ghost-town’. struktur dan kultur. tanpa henti mencoba menciptakan progressive identity dari kota metropolitan. memarjinalkan manusia dengan mengabaikan dimensi sosial-budayanya. pusat dan periferi merupakan dua muka dari keping uang yang sama. Sebetulnya keseluruhannya ada 27 butir. Ke depan. keberlanjutan. Vicente Guallart dkk mengungkapkan tentang kota metropolitan masa depan di Eropa dan Amerika yang selalu saja menghadapi persaingan antara The Old dengan The New. Kita juga jangan mengulangi kesalahan serupa seperti yang terjadi di kota Chicago ketika bangunan kuno bersejarah dihancurkan untuk memberi tempat pada bangunan pencakar langit yang modern. Ketiga. melepaskan diri dari telikungan regressive identity melalui pengembangan budaya demokrasi. demokratisasi. Mesti selalu ditanamkan di benak kepala bahwa kota tanpa bangunan kuno bersejarah serupa saja dengan manusia tanpa . yang telah disesali di negara maju. Konservasi dan pembangunan. Kedua. transportasi. mengupayakan pusat – pusat pertumbuhan jamak (multiple centres atau polynuclei) untuk mencegah kecenderungan centremania agar terjadi penyebaran aktivitas pada berbagai pelosok kota metropolitan secara lebih merata dengan keunikan sendiri-sendiri sehingga tercipta mosaik perkotaan yang indah. and hopes”. Aneka bencana perkotaan yang telah terjadi di masa silam akibat kurangnya perhatian terhadap isu-isu sosio-kultural. menjaga eksistensi pusaka budaya sebagai historical precedents. Misalnya di kota Houston yang angka kriminalitasnya meningkat sehingga orang – orang kaya di Houston sampai ketakutan dan membuat jalur khusus di bawah tanah yang diberi nama Connexion yang menghubungkan kawasan pemukiman mewah dengan down-town. tapi saya peras menjadi 10 saja sehingga bisa disebut sebagai ‘The Ten Commandments’ atau ‘Sepuluh Perintah Tuhan’ dalam pembangunan kota metropolitan abad ke-21 atau di era milenium ketiga yang berwajah manusia dan berkelanjutan. akuntabilitas. where all citizens potentially have the same opportunities”. Muncullah gagasan tentang Sociopolis yang disebutkannya sebagai “A truly integrative and hybrid version of the metropolis for the future … setting new standards by realizing a dream of social balance. bahwa bagaimana pun juga “Metropolises are containers of dreams. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. keadilan. dan placelessness. dan lain-lain tak seyogianya terulang di masa depan sebagaimana disebutkan oleh Raffacle Poloscia dalam bukunya “The Contested Metropolis” (2004: 14).174 Metropolitan di Indonesia Kota – kota metropolitan yang berkembang tak terkendali. Pertama. dengan prinsip change without loss mengakomodasi evolusi dan kesinambungan kehidupan warga metropolitan yang multikultur.

inovatif. Ketujuh. penyediaan affordable housing pada lokasi yang tepat untuk mencegah konsentrasi kemiskinan. Kesembilan.Sosial. Melalui penerapan dan pengejawantahan sepuluh butir panduan pembangunan seperti tersebut di atas. pelibatan masyarakat dan segenap pemangku kepentingan dalam pembangunan untuk menciptakan kota metropolitan yang otentik dan rasa paguyuban (sense of community) yang kental. Kawasan perkotaan merupakan tempat berkembangnya kegiatan industri manufaktur dan jasa. melainkan lebih merupakan fenomena sosio-kultural sebagai instrumen pembangunan manusia. Pada tahun 2060. Perumahan jangan sekadar dilihat sebagai komoditas ekonomi. menyediakan fasilitas sosial dan infrastruktur atau prasarana umum yang memadai untuk segenap lapisan warga metropolitan tanpa terkecuali. Perlu dicamkan bahwa taman adalah sorganya perkotaan. terutama mass rapid transit. Segenap agen pembangunan kota metropolitan dituntut untuk menyediakan fasilitas dan prasarana umum sesuai standar pelayanan minimum. KETERKAITAN DESA – KOTA Pendahuluan Kinerja kota-kota di abad 21 akan menjadi perhatian global karena pesatnya peningkatan penduduk perkotaan. Pada tahun 2030. Tanpa rasa memiliki kota metropolitan. Kedelapan. minimal 61persen penduduk dunia akan tinggal di kota-kota. yaitu meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan meningkatnya kontribusi sektor-sektor industri manufaktur dan jasa. Kawasan perkotaan akan menjadi lebih penting karena lebih dari 80 persen pertumbuhan ekonomi global terjadi di kota-kota. Ekonomi. dan bertanggung jawab atas keberlanjutan pembangunan kota metropolitan tempat mereka tinggal. tidak dapat diharapkan tumbuh kembangnya secara berkelanjutan. diharapkan bahwa penduduk atau warga kota metropolitan di masa depan akan termotivasi untuk ikut aktif berkiprah secara kreatif. Membongkar warisan budaya bukanlah dosa kecil. Perkembangan kawasan perkotaan terutama akan terjadi di kotakota besar dan metropolitan. Perkembangan kawasan perkotaan selalu diiringi arus transformasi. Perhatian pada public transport. memelihara taman dan ruang terbuka dalam berbagai level sebagai shared public spaces yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa aman. Kota-kota juga menggunakan energi lebih rendah per unit output ekonomi. Kesepuluh. Hal ini meningkatkan pendapatan rumah tangga. lebih dari 80 persen penduduk dunia akan tinggal di kotakota (Cities Alliance 2006). dan biaya per kapita pembangunan infrastruktur lingkungan juga lebih rendah. dan beraktivitas budaya sebagai cerminan masyarakat yang beradab. menata kawasan pinggiran secara dini untuk mencegah urban sprawl yang tidak terkendali. kota-kota mempunyai produktivitas yang tinggi karena kepadatan penduduknya menciptakan lingkungan transaksi yang tinggi. tidak tergantung pada pusat kota dan tidak sekadar sebagai bedroom community. yang akan meningkatkan nilai tambah perekonomian secara keseluruhan. bersantai. Kelima. Keenam. yang selanjutnya akan memicu pemanfaatan kawasan- . Selain itu. belanja. Kawasan pinggiran mesti disiapkan dengan prinsip kemandirian agar bisa self sufficient. mengupayakan interconnected networks of streets yang menghargai pedestrian dan memberikan rasa nyaman serta arah yang jelas. lebih dari di kawasan-kawasan non-urban. dan Kependudukan 175 ingatan alias gila. mesti lebih ditingkatkan. bekerja.

Terjadilah penyatuan kawasan-kawasan terbangun tersebut. seperti pendidikan dan kesehatan. Secara lebih khusus di Indonesia akan berkonsentrasi di Jawa. Kawasan pinggiran ini perlu mendapat perhatian karena di sana telah terjadi perkembangan yang campur aduk dan tidak terkendali. Antara lain karena tak tersedianya perumahan dan infrastruktur yang memadai. keterbatasan infrastruktur lingkungan dasar. Akibatnya. Hilanglah lahan-lahan pertanian. (c) kawasan potential urban. perekonomian. Pada gilirannya hal ini akan menambah beban kota inti. di Indonesia. kawasan-kawasan perdesaan mengalami transformasi yang tidak terarah dan terkendali. Dalam beberapa dekade terakhir. baik yang berkarakteristik desa maupun kota.176 Metropolitan di Indonesia kawasan di sekitarnya. Tipologi ini dirumuskan berdasarkan karakteristik ke’kota’annya karena akan dapat menggambarkan isu atau masalah yang dihadapi. jumlah penduduk perkotaan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat31. dan sebagainya. Berdasarkan itu dapat diperkirakan program dan intervensi yang sesuai. perkebunan. Kawasan yang baru terbentuk. (b) kawasan semi urban. permukiman berkepadatan rendah menjadi perumahan berkepadatan tinggi memenuhi kebutuhan kota inti dan untuk pembangunanpembangunan industri yang membutuhkan lokasi mendekati kota inti. Kepadatan tinggi. keterbatasan akses ke kota inti membebani jaringan transportasi yang telah ada serta membebani fasilitasfasilitas. Guna lahan juga berubah – dari yang tadinya bersifat desa menjadi bersifat kota. Program intervensi dan keterkaitan dengan kota inti dapat diturunkan berdasarkan ketiga tipologi tersebut. terjadi pemusatan di beberapa lokasi. Meluasnya pemanfaatan ruang di sekitar kota-kota besar dan metropolitan akan mewujudkan keterhubungan dari kota inti dengan kawasan-kawasan baru dan kota-kota satelit di sekitarnya. Kawasan pinggiran dikelompokkan dalam tiga tipologi untuk dapat mengembangkan program intervensi penanganan kawasan pinggiran. cenderung di kota-kota besar dan metropolitan. polusi air – tercemarnya air bersih oleh limbah cair permukiman. Diperlukan program dan intervensi untuk menangani kawasan pinggiran kota. dan terpisah-pisah. meluap ke kawasan pinggirannya. juga akan mengalami kondisi yang jauh dari ideal. perusakan ruang-ruang terbuka hijau. Ini semua terjadi secara acak. sendiri. Ketiga tipologi tersebut adalah: (a) kawasan pre dominantly urban. Di kawasan pinggiran ini dapat diobservasi desa dan kota serta peranannya di kawasan metropolitan. Tidak mengacu pada suatu rencana tata ruang yang disepakati. mengakibatkan meningkatnya perkembangan kotakota ini. Perkembangan kawasan perkotaan juga terjadi di Indonesia. membebani jaringan transportasi dan membebani biaya hidup penghuni kawasan pinggiran. terutama di Jabodetabek. Tata guna lahan. dan lapangan kerja dapat memicu pengangguran yang pada gilirannya memicu penduduk masuk ke kota inti. Belum lagi dampak pada lingkungan alamnya – polusi udara (karena transportasi). 31 Lihat uraian di Bab 5 . polusi sungai (karena pembuangan limbah dan sampah). pola hidup penduduknya. pertambahan penduduk perkotaan yang terjadi tidak tersebar secara merata. yaitu dari yang bersifat desa menjadi bersifat kota. empang-empang. Sebagaimana halnya di dunia.

Royal Sentul (2000 ha). 1. Kota Legenda. Kota Legenda (Bekasi 2000). Baru mulai akhir tahun 1900-an mulai dibangun permukiman skala besar (> 500 ha) dan kota-kota baru oleh pengembang swasta. serta pola perubahannya. Pembangunan kota baru dimulai sekitar tahun 1989 dengan Kota Baru Mandiri BSD (Bumi Serpong Damai). lebih dari 50 persen jaringan jalan berada di wilayah Provinsi DKI Jakarta.Sosial. Di Tangerang. kota-kota baru. Kawasan sekitarnya ini dapat meliputi kawasan permukiman skala besar atau skala menengah. Kota Cileungsi (2000 ha). di Kabupaten Bogor ada lima wilayah baru. 130 di Kabupaten dan Kodya Bogor. dan Perumahan Modern.763 km di Kota/Kabupaten . kota-kota baru. Kawasan permukiman baru ini kebanyakan bukan merupakan kawasan permukiman skala besar. Gading Serpong. Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan infrastruktur biasanya merupakan permasalahan utama kawasan pinggiran. yaitu Rancamaya (550 ha). Panjang jaringan jalan yang ada di wilayah Jabodetabek adalah 11. Selanjutnya. akan dibahas di sini mengenai guna lahan: dominasi. Ini semua akan membangkitkan pola pergerakan ulang alik ke kota inti (dalam hal ini DKI Jakarta) dan menggunakan jaringan transportasi yang ada. Lippo Karawaci. Pantai Indah Kapuk. Di Bekasi ada Lippo Cikarang (5000 ha). selain Bumi Serpong Damai (6000 ha) dan Tiga Raksa (3000 ha). Cikarang Baru. Tiga Raksa. Sampai paruh kedua dekade 1990-an (+ 1996) ratusan kawasan permukiman baru dibangun di wilayah Jabodetabek. dan 152 di Kabupaten dan Kodya Tangerang (Uguy 2006). 107 di Kabupaten dan Kodya Bekasi.450 km di Kabupaten/Kota Bekasi. seperti Citra Karya. dan Kependudukan 177 Kawasan Metropolitan Kawasan metropolitan adalah kawasan yang terdiri dari kota inti dengan kawasan di sekitarnya yang mempunyai keterkaitan erat dengan kota inti dan berfungsi menerima luapan kegiatan atau kebutuhan permukiman dan kegiatan dari kota inti. permukiman baru yang tersebar. Sisanya tersebar merata di seluruh kota/kabupaten di sekitarnya (1. Lippo Cikarang. Alam Sutra. b.358 km di Kota/Kabupaten Tangerang. diikuti dengan Bintaro Jaya. Kawasan Jabodetabek dilayani jaringan jalan dan jaringan kereta api. dan sebagainya. banyak perumahan lain. dan lain-lain. Untuk menggambarkan karakteristik kawasan metropolitan ini akan digunakan kawasan metropolitan Jabodetabek sebagai contoh. Kawasan ini sering disebut sebagai ”urban fringe”. Bintaro Jaya. Tabel 4 memberikan luas kawasan-kawasan permukiman skala besar ini (> 500 ha). atau kota-kota kecil lainnya. Ekonomi. Struktur Ruang dan Pergerakan Penduduk Struktur ruang kawasan Jabodetabek dibentuk oleh jaringan jalan dan kereta api serta pusat-pusat permukiman. seperti kota baru atau permukiman skala besar. dan kota-kota kecil sekitarnya yang tumbuh dengan pesat. dibahas pola pengembangan kawasan-kawasan permukiman: pembangunan baru berskala besar. ditambah dengan Lido Lake Resort dan Jonggol. persebaran. Lippo Karawaci. Selanjutnya. Sebagai tambahan dari analisis kependudukan yang telah dijelaskan di bagian depan bab ini. yaitu 103 kawasan di DKI Jakarta.344 km. a. 1.

Bogor Kab.679 500 3. Bekasi Kab. Bekasi Kab. Bekasi Kab.000 7. Tangerang Kab. Bekasi Kab. Tangerang Kab. Tangerang Kab.000 1. 1997 Luas (ha) 1.500 1. Tangerang Kab.19).000 2. Bogor Kab. Tangerang Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab.321 770 8. Bekasi Kab.000 500 1. TABEL 5 .000 1.000 1.178 Metropolitan di Indonesia Bogor.000 600 1. Bekasi Kab. Tangerang Kab.400 500 850 2.000 2. Bogor Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab.000 800 30. Bogor Kab.500 700 6. Bogor Kab. dan 245 km di Depok). Panjang jalan tol di DKI Jakarta juga mencapai lebih dari 50 km dari total panjang jalan tol (lihat TABEL 5 .700 1.145 3. Tangerang Kab.745 800 Lokasi Kab. Bogor Kab. Nama 1 Milik PT Pembangunan Delta Bekasi 2 Milik PT Lippo City Development 3 Milik PT Pura Delta Bekasi 4 Cikarang Baru 5 Bekasi Matra Real Estate 6 Milik PT Dwigunatama Rintisprima 7 Kota Legenda (Bekasi 2000) 8 Milik PT Sinar Bahana Mulia 9 Pantai Modern 10 Lippo Cikarang 11 Harapan Indah 12 Bukit Jonggol Asri 13 Citra Indah 14 Kota Taman Metropolitan 15 Kota Wisata 16 Bukit Sentul 17 Rancamaya 18 Resort Danau Lido 19 Taruma Resort 20 Talaga Kahuripan 21 Kota Tenjo 22 Milik PT Bangun Jaya Triperkasa 23 Maharani Citra Pertiwi 24 Milik PT Banyu Buana Adhi Lestari 25 Kotabaru Tigaraksa 26 Puri Jaya 27 Citra Raya 28 Lippo Karawaci 29 Gading Serpong 30 Alam Sutera 31 Bumi Serpong Damai 32 Bintaro Jaya 33 Kota Modern 34 Kota Wisata Teluk Naga 35 Kota Jaya 36 Pantai Indah Kapuk Sumber : Bappeda DKI Jakarta. Bogor Kab. Bogor Kab. Bekasi Kab. Bekasi Kab. Bekasi Kab & Kot. Bogor Kab.000 800 500 3. Tangerang DKI Jakarta . Tangerang Kab.000 500 1. Tangerang Kab.500 780 1.100 750 3.000 2.18 Kawasan Permukiman Skala Besar (>500 ha) di Jabotabek No. Tangerang Kab. Bogor Kab. Bogor Kab.

01 0. 1 Jalan Tol Km % 113. Jaringan jalan kereta api dapat dilihat pada GAMBAR 5 . Perkapita (panjang jalan per jumlah penduduk) jalan dan jalan tol DKI Jakarta masih mendominasi (Lihat TABEL 5 .0 23.02 0.450.3 n. Terpadat adalah jalur dari Jakarta Kota (di Utara) ke Bogor (Selatan) terutama jalur tengah.196.280.548.357.938 Perkapita (km/1000 penduduk) 0.3 % 52% 11% 16% 17% 4% 100% GAMBAR 5 .0 11. .a 19.450.10.7 1.810 4.762.7 12% Tangerang 5 Kota Depok 245.7 245.4 7.9 memberikan gambaran persebaran jaringan jalan dan jalan tol.8 215.212.9 100% Sumber : SITRAMP II.2 36.9 0. GAMBAR 5 .8 215.9 % 58% 16% 13% 12% 2% 100% Km 113.174 n. Jaringan jalan dan jaringan kereta api saling melengkapi menghubungkan DKI Jakarta dengan pusat-pusat permukiman di sekitarnya.4 0. 2006 No. DKI Jakarta paling terlayani dengan baik dibandingkan kota/kabupaten lainnya. Ekonomi.4 58% Kota/Kabupaten 1.762. Tangerang Kota Depok TOTAL Jumlah Penduduk 7.1 13% 3 Bekasi Kota/Kabupaten 4 1.01 n. Dari DKI Jakarta ada 3 jalur utama yaitu menghubungkan dengan Kabupaten/Kota Tangerang dengan Kabupaten/Kota Bogor dan Kabupaten/Kota Bekasi. menggunakan KRL atau KRD. Bogor Kota/Kab.4 7.548. dan Kependudukan 179 TABEL 5 .0 2% 6 TOTAL 11.11 menunjukkan stasiun yang dilalui kereta api dengan jumlah penumpangnya per hari. Panjang jalan tol di DKI juga mencapai hampir 50 persen dari total panjang jalan tol di Jabodetabek.01 0.19 Panjang Jalan di Kawasan Jabodetabek Panjang Jalan Kota/Kabupaten Km % DKI Jakarta 6.Sosial.9 34.20 Perkapita Jalan dan Jalan Tol Panjang Jalan Kota/Kabupaten DKI Jakarta Kota/Kab.a 2.0 52% 23. Bekasi Kota/Kab.4 0.357.610.9 34.605 3.4 1.7 16% 2 Bogor Kota/Kabupaten 1.a 0. Dari panjang jalan dan jalan tol.05 Km 6.1 1.363.2 36.093.3 11% 16% 17% 4% 100% TABEL 5 .349 4.363.20).0 Jalan Tol Perkapita (km/1000 penduduk) 0.

9 Jaringan Jalan Jabodetabek Sumber : SITRAMP (Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek II) Railway Passenger Survey 2000 Legenda : .jaringan jalan tol GAMBAR 5 .jaringan jalan ----.10 Jaringan Jalan Kereta Api Jabodetabek Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey 2000 .180 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .

413). Jaringan jalan dan jalan kereta api tersebut di atas melayani pergerakan ulang alik dari kawasan Botabek ke DKI Jakarta (URDI 2006). angkutan dari kantor. namun daya tariknya masih kuat sebagai penyedia lapangan kerja serta pelayanan sosial-ekonomi-budaya.8 . maupun kendaraan pribadi (Lihat TABEL 5 . Golongan pendapatan > Rp 3. Data tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar komuter ke Jakarta adalah dari golongan pendapatan Rp 1.020) dan Kota Depok (99.8 juta (+ 30 persen).570) diikuti Kota Bekasi (129. Ekonomi.21). di Bodetabek. Ini mengakibatkan meningkatnya jumlah penglaju baik dengan angkutan umum.11 Peta Volume Penumpang Jalur Kereta Api Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey. Fasilitas-fasilitas dan peluang kerja yang ditawarkan masih besar sehingga menarik pendatang-pendatang baru ataupun pekerja/karyawan yang tinggal di kawasan pinggirannya. Pejalan ulang alik terbanyak adalah dari Kabupaten Tangerang (241. Meskipun jumlah penduduk DKI Jakarta sebagai kota inti mengalami penurunan. dan Kependudukan 181 GAMBAR 5 .Sosial.0 juta – Rp 3. 2000 c.2 juta – Rp 2 juta (+ 45 persen) dan dari golongan pendapatan Rp 2. Ini terutama dari kawasankawasan permukiman yang langsung berbatasan atau dekat dengan DKI Jakarta.

026 43.839 16.934 32. dan ruang terbuka (Lihat TABEL 5 . kegiatan ekonomi.602 Kab Bekasi (22.19%) (32.81%) (43.284 (4.05%) Sumber: diolah dari LP3E Unpad.30%) 26. dan di Kabupaten Tangerang (+ 67.000 ha).111 Tangerang (16.871 15.04%) (49.927 4.38%) 2.94%) Jumlah (100%) 71.182 Metropolitan di Indonesia paling sedikit (+ 4 persen).07%) (37.690 (2.385 26.22).000 ha).537 37.504 Kota Depok (19.70%) 52.691 42.94%) (30.165 (4. .790 Kota Bekasi (14.56%) 9.762 Kota Bogor (17.38%) 1.595 (3.576 (4. yang terbesar adalah untuk pertanian dan ruang terbuka (51 persen) diikuti dengan kampung berkepadatan rendah (20 persen) serta semak dan hutan (10 persen).311 Kab Bogor (38.735 Guna Lahan Dari studi SITRAMP II sebagaimana disebutkan dalam URDI (2006) pada tahun 2000.900 672.088 Kab Tangerang (21. dengan berjalannya waktu. Luas penggunaan lahan lain (perumahan terencana.907 10.000 ha).921 24.25%) (29. Sedangkan semak dan hutan banyak terdapat di Kabupaten Bogor (+ 60.36%) (52.51%) (21.68%) (41. Hal tersebut berarti bahwa masih cukup banyak kawasan/kampung yang bersifat perdesaan.736 302.334 37.5 tahun (1985-2002) (Lihat TABEL 5 . kampung kepadatan tinggi.35%) (29. 2006 Kab/Kot > 3799 1. fasilitas publik.83%) 5.23).84%) Kota 12.56%) (37.98%) (34. industri dan gudang.000 ha) dan Kota Depok (+ 304 ha).12 menunjukkan bahwa proporsi penggunaan lahan tahun 2000.35%) 141.07%) (44. telah terjadi perubahan guna lahan yang sangat pesat dalam kurun waktu + 1.413 241.000 106.48%) (36.906 72. TABEL 5 .53%) 44.899 129.570 76. maka penggunaan lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu permukiman.534 (3.31%) (31. Penggunaan terbesar di Jabodetabek adalah untuk pertanian dan ruang terbuka di Kabupaten Bogor (+ 111. Untuk menyederhanakan.640 15.29%) 19.00%) 4.81%) 1. klasifikasi penggunaan lahan di Kabupaten dan Kota meliputi 14 penggunaan.020 99.575 3.31%) 10.528 67.479 (3.52%) 18.21 Pekerja Komuter Usia 15 Tahun Ke Atas Golongan Pendapatan (Rp 000) 100-1999 1200-1999 2000-3799 27. kurang dari 10 persen. komersial dan bisnis) relatif rendah. Ini dapat disebabkan mereka bertempat tinggal di DKI Jakarta. GAMBAR 5 . di Kabupaten Bekasi (+ 84.63%) 635 (5.168 Jumlah (21. Namun.352 202.

Ekonomi.336.3 182.3 2.049 127.0 0.0 0. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.0 41.038 20.5 38.509.3 Industri & Gudang 37.0 1.5 14.4 5.341.0 11.5 406.812.228.107.029 11.0 5.0 165.7 1.1 29.029 11.4 3.9 319.1 1.049.6 830.3 2.7 118.185.081.773 4.0 2.3 383.0 148.Publik 505.561.3 344.873.0 0.4 Pendidikan & Fas.1 0.8 304.454.0 8. Bekasi Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.0 1.2 4.327 21.455 111.4 2.0 6. dan Kependudukan 183 TABEL 5 . Bogor Kota Bekasi Kab.9 403.9 699.0 1.0 0.1 1.1 13.0 0.3 394.0 230.790 12.0 0.6 3.2 133.8 30. Bogor Kota Bekasi Kab.5 857.1 0.993.832.340.1 3.0 1.0 0.6 2.573 18.3 38.9 1.4 130.5 1.954 Perumahan Terencana 3.6 10.505.370.3 1.2 107.152.4 2. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.6 282.866.3 1.1 124.3 6.2 98.401 16.22 Penggunaan Lahan per Kab/Kota Jabodetabek.2 2.5 181. Bekasi Luas (ha) 14.3 Pemerintahan 196.049.0 0.4 75.774.5 55.6 195.0 0.2 266.4 691.0 227.5 0.772.0 1.850 206.2 111.Rendah 836.6 16.5 88.376.3 198.688.7 3.573 18.5 298.2 88.221.7 460.5 8.0 Komersial & Bisnis 1.1 89.727.615 15.957.671.5 0.6 33.0 0.184.7 268.1 0.0 4.640.6 24.479.1 88.8 880.052.4 61.2 314.6 580.047.955.8 6.9 122.0 5.0 499.4 Kampung Kep.6 156.359.0 585.5 41.9 23.773 4.7 6.0 213.1 368.1 679.6 0.190.0 0.963. tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 Penggunaan Lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kab/Kota Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.258.790 12.850 206.4 229.Sosial.800.6 2.1 6.629.8 5.8 3.9 37.4 743.8 66.006.359.6 26.720.4 326.9 1.4 0.0 .902.327 21.6 5.455 111.2 1.3 791.8 59.3 0.4 12.8 3.0 Kampung Kep.0 0.8 1.0 0.0 2.9 3.6 11.0 3.5 1.7 475.615 15.0 38.0 0.7 0.401 16.1 0.1 83.0 1.633.2 0.049 127.1 0.6 16.9 16.Tinggi 6.9 0.0 311.5 49.9 3.5 1.6 251.262.4 299.3 53.967.038 20.962.6 29.5 94.546.954 14.872.

Tangerang 123.35 13.167 44.8 persen menjadi industri.621 4.24 Perubahan Guna Lahan Guna Lahan Tahun 1985 (ha) Perumahan Formal 10.38 3.02% 43.08 ribu ha.7 67.7 Sumber: BPS Jawa Barat.5 Kota Tangerang 18. hampir 15.8 1.6 persen terkonversi menjadi perumahan.1 35.54% 23.13% Perumahan.33% 7.9 0. Pertanian mengalami pengurangan yang cukup besar yakni sekitar 11. Dari Kabupaten/Kota Bekasi dan Tangerang.12 Rasio Penggunaan Lahan Jabodetabek tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 TABEL 5 .89% Industri 4.4 0.2 Total 290.18 36. dan 9. Konversi lahan pertanian dalam kurun waktu tersebut dapat dilihat pada TABEL 5 .900 22.501 24.75% Pertanian 44.184 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .4 Kab.11% Perumahan Informal 37. Dapat disimpulkan bahwa banyak lahan dan kegiatan yang mencirikan perdesaan terkonversikan menjadi kegiatan yang berciri urban – perumahan dan industri.23 Konversi Lahan Pertanian Luas Total Total Luas Prosentase Hasil Konversi (%) Wilayah Konversi PeruPerkanLainWilayah (ribu ha) (ribu ha) mahan Industri toran Lain Kota Bekasi 148. 40.000 ha. 2004 Tahun 2002 (ha) 20.62 30.8 1.53 4.1 2.346 7.6 persen menjadi perkantoran dan lain-lain.24.5 23.6 49. baik formal maupun informal.000 ha.4 1. Industri mengalami peningkatan hampir 3.000 ha.074 45. 1998 dalam Yulinawati 2005 TABEL 5 . paling tinggi menjadi kampung berkepadatan rendah (20 persen).44 5. 49. Dari kelompok perumahan.9 37. menunjukkan perubahan yang besar. sedangkan penggunaan untuk perumahan terencana .9 7.26% Sumber : SITRAMP 2.28 62.865 38. dari total wilayah 13.08 40.816 11.

titik yang menyatakan batas antara wilayah desa dan kota akan bergeser menjauhi pusat kota (Lihat GAMBAR 5 . Namun. Ini yang diartikan sebagai kawasan pinggiran metropolitan.13). Titik (0. Dinamika Kawasan Pinggiran Metropolitan Kawasan Pinggiran di sini diartikan urban fringe. yaitu kawasan yang terdapat di sekitar kota besar atau metropolitan. Titik perpotongan kedua kurva permintaan tersebut secara teoritis berupa suatu garis mengelilingi pusat kota. industri. Sumber mendatar merupakan jarak dari pusat kota. lahan terbuka.13 Lokasi Urban Fringe Secara Teoretis . Pada umumnya kawasan pinggiran ini terdiri dari penggunaan lahan yang campur aduk: permukiman. Jelas ini sudah merupakan kawasan berkarakteristik perkotaan. GAMBAR 5 . pada kenyataannya merupakan suatu kawasan dengan lebar yang bervariasi.14). Secara teoritis. Dengan perkembangan kota. Ekonomi. urban fringe merupakan titik perpotongan antara kurva permintaan lahan perkotaan dengan kurva permintaan lahan perdesaan (Lihat GAMBAR 5 . dan Kependudukan 185 dan kampung berkepadatan tinggi mencapai 10 persen. sedangkan sumbu vertikal menyatakan nilai lahan. Bersama sebuah atau lebih kota inti membentuk kawasan metropolitan.0) adalah suatu titik yang ditetapkan sebagai pusat kota. dan sebagainya.Sosial. pertanian.

Karakteristik kota ini antara lain adalah perumahan berkepadatan tinggi. jasa pelayanan. seperti kota Tangerang. Ciri utamanya adalah keberadaan perumahan hunian yang masih berkepadatan rendah. kepadatannya campuran antara kepadatan tinggi dan kepadatan rendah. baik terencana (kawasan permukiman berskala kecil) maupun tidak terencana. kawasan pinggiran ini dapat dikelompokkan dalam tiga kategori atau tipologi: a. Guna lahannya campur aduk. dan sebagainya. Predominantly Urban = kawasan yang didominasi kondisi dan kegiatan berciri perkotaan. Kawasan predominantly urban ini kemungkinan besar tercipta karena telah ada kota-kota atau permukiman sebelumnya di kawasan ini. empang-empang dan ruang terbuka atau belum terbangun). Depok. b. industri. Kawasan ini juga meningkat perkembangannya karena sudah ada atau sedang direncanakan pengembangan infrastruktur regional seperti jaringan jalan arteri. jalan tol. Penggunaan lahan sebagian besar masih berupa pertanian dan ladang. perkebunan. Kegiatannya juga sebagian masih rural (pertanian. antara untuk kegiatan rural dan kegiatan perkotaan (perumahan berkepadatan tinggi. Kemudian ditambah adanya pengembangan permukiman skala besar yang baru seperti kota-kota baru BSD. Proses ini adalah yang kita kenal sebagai ”suburbanisasi” dan biasanya berbatasan langsung dengan kota inti. Bogor. Semi Urban = kawasan ini adalah wilayah transisi dari perdesaan ke perkotaan.14 Pergeseran Urban Fringe Tipologi Kawasan Pinggiran Pada kenyataannya kawasan pinggiran tidak homogen.186 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 . Berdasarkan penggunaan lahan serta fungsi kegiatan ekonominya. serta industri yang berorientasi tenaga kerja (labor oriented industries). Bekasi. Deltamas. Kegiatan-kegiatannya lebih berciri urban. perdagangan. penggunaan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. biasanya akses ke kota inti relatif baik. . dan sebagainya. serta industri ringan/manufaktur.

Sosial. Akses ke kota inti terbatas. c. namun dekat dengan kawasan semi urban. Kawasan ini tidak berbatasan langsung ke kota inti. Pola Perubahan Ketiga tipologi kawasan pinggiran akan turut mengalami perubahan dengan adanya perkembangan di kawasan metropolitan Jabodetabek dan di kota inti DKI Jakarta. . Dari GAMBAR 5 . Akses ke kota inti sangat terbatas.15 maka terlihat bahwa kebanyakan kecamatan-kecamatan yang langsung berbatasan dengan DKI Jakarta berkarakteristik predominantly urban atau semi urban. tetapi mulai menyebar mengikuti jaringan transport dan konsentrasi permukiman terutama ke arah Selatan. Untuk kawasan metropolitan Jabodetabek ketiganya dapat dilihat dari GAMBAR 5 . Juga adanya imbas dari daerah sekitarnya yang sudah atau menuju perkembangan perkotaan (URDI. Ekonomi dan konversi lahan Sebagaimana telah disampaikan di muka. peta 4 (penggunaan lahan 2000) serta peta 5 dan peta 6 (jumlah penduduk Jabodetabek 2000 dan 2004 per kecamatan). Potential Urban = adalah kawasan yang pada saat ini ciri utamanya masih rural – berkarakteristik desa tapi mempunyai peluang besar untuk lambat laun menjadi urban. ada yang sudah menunjukkan gejala-gejala menuju urban.8 persen menjadi 26. Lihat juga pada peta 1 dan peta 2 (jaringan jalan dan kereta api). 2006). Lokasi peningkatan kegiatan ekonomi tersebut akan menyebar sebagai berikut: industri jasa dan perdagangan akan tetap berkembang di pusat kawasan metropolitan yakni di kota inti DKI Jakarta (GAMBAR 5 . Sektor industri pengolahan/manufaktur dan sektor jasa. Salah satu faktor yang mendorong pengembangan kegiatan perkotaan ke kawasan ini adalah tersedianya aksesibilitas berupa jaringan jalan atau kereta api yang melalui kawasan ini serta harga lahan yang relatif masih murah.akan meningkatkan pula pertumbuhan sektor-sektor tersebut di Jabodetabek. peranan kawasan metropolitan Jabodetabek dalam perekonomian nasional untuk beberapa tahun ke depan masih akan tetap tinggi. kegiatan masih cenderung ke pertanian dan perkebunan serta masih banyak lahan-lahan yang belum terbangun. Dikaitkan dengan jaringan transportasi. hampir tidak ada. ini merupakan kawasan periurbanisasi atau awal proses suburbanisasi.8 persen . Kepadatan relatif rendah. Kegiatan ini terjadi di tipe kawasan predominantly urban. Ekonomi. a. dan ada yang sudah bersifat urban. Terkait dengan kepadatan penduduk dan guna lahan serta aktivitas penduduknya. Perkembangan global akan mempengaruhi kawasan metropolitan Jabodetabek terutama dalam bidang perekonomian. yang pada gilirannya akan mempengaruhi kependudukan (jumlah dan struktur) dan perubahan tata guna lahan. yang secara nasional meningkat pangsanya – dari 23. kedua tipe kawasan ini dilalui jaringan jalan atau jalan kereta api.19). dan Kependudukan 187 dan sebagainya).15. maka desa-desa di kawasan pinggiran ini ada yang masih bersifat rural.

15 Peta Urban Fringe Jabodetabek Berdasarkan Tipologinya GAMBAR 5 .16 Pengunaan Lahan Jabodetabek 2000 .188 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .

18 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2004 per Kecamatan . dan Kependudukan 189 GAMBAR 5 .17 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2000 per Kecamatan GAMBAR 5 . Ekonomi.Sosial.

19 Sebaran Lokasi Fasilitas Komersial dan Bisnis di Jabodetabek Sumber: SITRAMP2. 2004 GAMBAR 5 .20 Sebaran Kawasan Industri dan Pergudangan Jabodetabek .190 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .

Kemungkinan besar kawasan-kawasan ini akan menjadi predominantly urban dan kawasan yang potential urban akan menjadi semi urban.23) mengalami penyusutan luas dari sekitar 44 ha di tahun 1985 menjadi sekitar 23.20) terkonsentrasi di kawasan pelabuhan kota inti DKI Jakarta. Tangerang. Kependudukan Sebagaimana dibahas di bab sebelumnya. Konversi lahan pertanian ini paling agresif terjadi di Kabupaten Bekasi terutama untuk mewadahi kegiatan industri yang merupakan sektor utama di daerah tersebut. dan Bogor yang relatif jauh dari DKI Jakarta. Kota-kota ini meningkat perannya sebagai sub pusat kegiatan dengan fungsi permukiman atau pendidikan. Secara spasial peningkatan jumlah penduduk terdapat di kecamatan-kecamatan yang berdekatan atau berbatasan dengan DKI terutama di Kota Tangerang dan Kota Depok (kawasan predominantly urban). dan Kota Depok. Walaupun ada juga di beberapa kecamatan di pinggiran Kabupaten-kabupaten Bekasi. kecuali di DKI Jakarta yang relatif stabil bahkan di Jakarta Pusat yang mengalami penyusutan. Kota-kota ini termasuk tipe kawasan predominantly urban dan di sekelilingnya adalah kebanyakan tipe kawasan semi urban. Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi di tipe kawasan semi urban dan potential urban. seperti Kota Bekasi.Sosial. dan Kependudukan 191 - industri manufaktur dan pergudangan (GAMBAR 5 . jumlah penduduk selama 5 tahun terakhir meningkat di Jabodetabek.4 ha lahan pertanian).25 Perubahan Kegiatan Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban peningkatan industri jasa dan perdagangan peningkatan industri manufaktur peningkatan industri manufaktur peningkatan permukiman peningkatan industri manufaktur konversi lahan pertanian ke perumahan dan industri b. Persebaran ini terjadi di kawasan predominantly urban dekat Kota Depok. Di luar DKI Jakarta peningkatan kepadatan tinggi terjadi di kota-kota sekitar. Konversi ini (lihatTABEL 5 22) terjadi di Kabupaten/Kota Tangerang dan Bekasi terutama untuk penggunaan perumahan dan industri (sekitar 13 ribu ha dari total 290. Kota Bogor. Kota Tangerang. mengikuti jaringan transport ke Barat ke arah Tangerang. Ekonomi. . Paling tinggi kepadatan masih tetap di DKI Jakarta sebagai pusat kegiatan Jabodetabek. Perubahan tersebut terjadi di kawasan-kawasan sebagai berikut: - TABEL 5 . Kecamatankecamatan di atas berdasarkan jumlah penduduknya berubah dari tipologi semi urban dan potential urban menjadi predominantly urban dan semi urban. Terkait dengan kepadatan penduduk dalam kurun waktu 5 tahun (2000-2004) telah terjadi juga kenaikan kepadatan penduduk.5 H di tahun 2002. pertanian (lihat TABEL 5 .

potential urban. Seyogianya itu semua mengacu pada satu tata ruang Kawasan Metropolitan yang disepakati semua pihak – Pemerintah Pusat. KLB rendah). dari semi urban menjadi predominantly urban dan dari potential urban menjadi semi urban atau bahkan predominantly urban akan dipengaruhi oleh beberapa kebijakan atau intervensi dari pemerintah maupun dari masyarakat/dunia usaha. Pada saat ini strategi yang ingin digunakan di Kawasan Metropolitan Jabodetabek adalah mendorong pengembangan poros Timur – Barat dan membatasi pengembangan ke arah Selatan yang merupakan resapan air.15 (tipologi urban fringe) maka poros Timur – Barat masih memungkinkan untuk dikembangkan terutama di kawasan-kawasan semi urban. Masyarakat perlu dilibatkan dalam pengawasan ini. Pemerintah-pemerintah Daerah. Kedua kegiatan tersebut akan menarik kegiatan-kegiatan terkait seperti pusat-pusat kegiatan dan pelayanan serta membutuhkan penyediaan sarana dan prasarana pendukung. dan predominantly rural. Kebijakan umum dan khusus berupa program dan instrumen bagi ketiga tipologi dapat dilihat dari TABEL 5 . jaringan air bersih dan pembuangan. jalan kereta api. Hal ini terkait pada kebijakan makro untuk Kawasan Metropolitan Jabodetabek – seberapa luas lahan yang akan dipertahankan dan di mana lokasinya untuk tetap menjadi kawasan perdesaan/pertanian (predominantly rural) yang saat ini masih cukup banyak yakni 51 persen. Pengembangan saat ini banyak yang mengarah ke selatan. jalan kereta api.192 Metropolitan di Indonesia Strategi dan Kebijakan Perubahan atau perkembangan tipologi kawasan dari predominantly urban menjadi fully urban – dalam arti kecamatan-kecamatannya mengalami transformasi menyatu dengan kota inti. . Bila dilihat GAMBAR 5 . dan jalan raya (arteri nasional).27. Keputusan-keputusan ini penting untuk menetapkan di mana akan dilaksanakan. Penutup Bagaimana implikasi perkembangan metropolitan pada desa dan kota yang berada dalam Kawasan Metropolitan serta kebijakan dan kelembagaan seperti apa yang dapat mengelola/menanganinya merupakan isu yang akan dibahas dalam bagian ini. serta masyarakat dan dunia usaha terkait di sektor-sektor terkait (seperti jaringan jalan raya. industri dan perdagangan. Keputusan pengembangan permukiman baru – antara lain dengan meningkatkan kepadatan (KLB tinggi. dan sebagainya).26 dan TABEL 5 . Kebijakan-kebijakan ini pada ujungnya akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan makro nasional dan sektoral seperti antara lain: Keputusan pembangunan jaringan transportasi baru – jalan tol. Pembatasan ke arah selatan memerlukan regulasi yang cukup ketat dan diawasi pelaksanaannya secara konsisten.

Mengurangi Ijin-Ijin Pembangunan. Meningkatkan Pemanfaatan Lahan Terbangun Sumber : URDI 2006 . Meningkatkan Fungsi Lindung Kawasan Untuk Bagian Selatan Jabodetabek Meningkatkan Penyediaan Sarana Dan Prasarana Kota. Pengembangan urban agriculture Kegiatan eknomi yang tidak merugikan fungsi ekologis (ecotourism. KDB rendah) Semi Urban Pengembangan lahan terbangun yang menunjang kegiatan perkotaan Potential Urban Dipertahankan sebagai lahan tidak terbangun. Membatasi Ijin-Ijin Untuk Kegiatan Yang Menyebabkan Degradasi Lingkungan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol. dan Kependudukan 193 TABEL 5 . Mengembalikan Fungsi Ruang Terbuka Hijau Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol. Ekonomi. dll) Pengembangan urban agriculture 2 Pengembangan pusat-pusat kegiatan baru Pengembangan pusatpusat kegiatan regional Pengembangan urban agriculture dan industri padat karya 3 4 Mengefisienkan dan mengefektifkan lokasi pusat-pusat kegiatan ekonomi Peningkatan penyediaan prasarana Pengembangan kegiatan perkotaan Pengembangan urban agriculture dan industri yang berorientasi tenaga kerja Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture dan industri Penyediaan prasarana yang mendukung kegiatan perkotaan untuk skala regional Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture Sumber : URDI 2006 TABEL 5 .26 Kebijakan Umum dan Usulan Program per Tipologi Urban Fringe No 1 Jenis Kebijakan Pemanfaatan lahan untuk kegiatan budi daya Predominantly Urban Pengembangan mixed use. Mempertahankan fungsi ekologis / lindung kawasan.Sosial. Meningkatkan Pembangunan Jalan Baru Untuk Pergerakan Internal Dan Eksternal Jabodetabek Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan.27 Contoh Instrumen untuk Kebijakan-kebijakan Khusus No Jenis Kebijakan Kebijakan Khusus Pengembangan Yang Ada Dibatasi Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban 1 2 Pengembangan Yang Ada Didorong Menaikkan Beban Pajak Untuk Kegiatan Perkotaan: Bisnis Dan Komersial. Pembangunan secara vertikal (KLB tinggi.

Suatu studi kasus (Uguy 2006) di suatu kecamatan (Cimanggis) memberikan hasil sebagai berikut: Kecamatan Cimanggis merupakan kawasan peri urban yaitu mempunyai tata guna lahan campuran rural dan urban yang tak tertata. provinsi. hal ini akan menerus terjadi dan akan menimbulkan urban sprawl. kini telah mengalami transformasi dalam transisi menjadi kecamatan berciri kota. merumuskan mekanisme kerja sama dan pembuatan keputusan. kebun campuran dengan rumah) sebesar 73 persen.. serta dalam aspek pelayanan publik. Dari yang predominantly rural atau potential urban dapat menjadi semi urban dan predominantly urban. industri. Pertambahan penduduk terjadi terutama karena perpindahan dari DKI Jakarta. sekitar 27 persen telah berubah menjadi perumahan. koordinasi perencanaan dan pendanaan pembangunan secara terpadu (lintas sektor dan lintas wilayah). 2006). . Kecamatan ini juga membangkitkan lalu lintas yang menyebabkan kemacetan di jalan lingkungan. Desa-desa yang dilalui atau dekat dengan jaringan transportasi ke Jakarta akan mengalami transformasi menjadi kota yang lebih cepat. jalan arteri. jalan. Hal ini semua menunjukkan bahwa kecamatan Cimanggis yang sekitar 5 tahun yang lalu masih berciri desa. Jika tidak ada intervensi dari pemerintah. dan lain-lain. Sebanyak 84 persen dari penghuni di kompleks perumahan dan 54 persen dari penghuni non perumahan (kampung) sebelumnya tinggal di DKI Jakarta. dan jalan tol. meliputi intervensi dalam aspek kelembagaan dan keuangan. Intervensi Strategi dan Kebijakan Intervensi yang dapat dilakukan perlu secara menyeluruh dari tingkat nasional. Kegiatan utama Cimanggis sebagian masih berupa pertanian (sawah. Ini merupakan fenomena yang umum terjadi di kecamatan-kecamatan sekitar DKI Jakarta. 127). yaitu di kawasan pinggiran yang semula hanya tipe potential urban menjadi predominantly urban. dan kabupaten/kota. (URDI. Tetapi peningkatan kepadatan ini sangat tinggi (6. ladang. Kepadatan penduduknya 75 jiwa/ha lebih tinggi dari kepadatan kabupaten tapi belum setinggi kepadatan kota. aspek pembangunan fisik dan lingkungan. Kompleks perumahan bertambah dari 32 kompleks (1992) menjadi 57 kompleks (2002) hampir dua kalinya (Uguy 2006: hal. Perubahan peruntukan lahan yang sangat cepat untuk pembangunan permukiman. Namun. Dalam hal ini intervensi kelembagaan dan keuangan antara lain dapat dilakukan melalui: membentuk wadah kerja sama (baru atau revitalisasi/perluasan wadah yang sudah ada). Dalam hal intervensi aspek pembangunan fisik dan lingkungan dapat dilakukan antara lain : penyusunan rencana tata ruang wilayah yang terintegrasi dan terpadu secara bersama-sama.3 persen per tahun).194 Metropolitan di Indonesia Hubungan Desa dan Kota Dari gambaran di atas terlihat bahwa desa dan kota sangat erat kaitannya dan dengan mudah terjadi perubahan dari desa menjadi kota.

. pelayanan penyediaan air bersih. Dalam hal intervensi aspek pelayanan publik antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan program-program : pelayanan transportasi terpadu multimoda. Jawa Barat. perencanaan pemanfaatan sumber daya alam. pembuangan. Beberapa intervensi itu harus dilakukan dari tingkat pusat. seperti mekanisme perencanaan yang melibatkan propinsi-propinsi (DKI Jakarta. dan sebagainya.Sosial. pembangunan skala besar dan banyak daerah seperti jaringan transportasi multimoda yang melayani ketiga propinsi. seperti sumber air baku. Ekonomi. dan Kependudukan 195 - perencanaan pengembangan jaringan transportasi dan pusat-pusat kegiatan secara bersama (spasial maupun temporal). sungai dan danau. dan persampahan (disarikan dari URDI 2006). dan sebagainya. dan Banten).

196 Metropolitan di Indonesia .