5 Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

KEPENDUDUKAN Pendahuluan Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk kota telah menjadi bagian yang penting dalam pembangunan di Indonesia pada beberapa dekade terakhir. Berdasarkan definisi dari Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah penduduk kota meningkat dari 32,8 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 55,4 juta jiwa pada tahun 1990 dan meningkat kembali menjadi 86,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada saat yang sama, jumlah penduduk desa meningkat dari 114,5 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 122,8 juta jiwa pada tahun 1990. Namun, jumlah tersebut kemudian menurun menjadi 119,4 juta jiwa pada tahun 2000. Pada akhirnya, proporsi penduduk kota meningkat tajam dari 22 persen pada tahun 1980 menjadi 42 persen pada tahun 2000 (TABEL 5 - 1).1 Jumlah tersebut menunjukkan terjadinya transformasi yang besar dalam masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, dari yang masyarakat berciri desa, yang terlihat dari sistem pemerintahan dan perdagangannya (terutama adalah komoditas pertanian) yang mendukung pengembangan kota secara terbatas, menjadi masyarakat kota, gaya hidup kota dan yang paling penting adalah keterkaitan penduduk dengan ekonomi kota yang akan membentuk pola pembangunan dan pertumbuhan kota. Dalam hal ini, tingkat pertumbuhan penduduk desa yang rendah (berangka negatif pada tahun 1990-an) pada TABEL 5 - 1 tidak menunjukkan penurunan angka pada pertumbuhan penduduk desa yang sebenarnya, akan tetapi karena terjadinya perubahan dari tempat dengan karekateristik desa menjadi tempat dengan karakteristik kota walaupun jumlah penduduknya tetap statis.

1 Karena beberapa masalah pada sensus tahun 2000, jumlah penduduk yang diperkirakan sebesar 459.557 jiwa (kota) dan 1.857.659 jiwa (desa). Tambahan sebesar 566.403 jiwa penduduk kota dan 1.717.478 jiwa penduduk desa dihitung secara formal tetapi tidak menjawab karakteristik individual.

126

Metropolitan di Indonesia

TABEL 5 - 1 Jumlah dan Tingkat Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan Kota/Desa di Indonesia Tahun 1980, 1990 dan 2000
Tahun Kota Desa Jumlah % Kota

1980 1990 2000 1980-1990 1990-2000

Jumlah Penduduk 32.845.829 114.485.994 147.331.823 55.389.171 123.805.052 179.194.223 86.406.587 119.436.609 205.843.196 Tingkat Pertumbuhan Penduduk (%) 5,23 0,78 1,96 4,58 -0,37 1,43

22,3 30,9 42,0

Catatan: (1) Jumlah penduduk kota tidak memasukkan penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap (tuna wisma, penduduk yang tinggal di atas perahu, dll.) yang memiliki jumlah sekitar 158 ribu pada tahun 1980 dan 127 ribu pada tahun 1990. Jumlah penduduk tersebut pada tahun 2000 tidak diketahui. (2) Tingkat pertumbuhan dihitung berdasarkan rumus P(t)=P(0)ert Sumber: Biro Pusat Statistik (1991), Badan Pusat Statistik (2001)

Bagian ini akan menjelaskan secara singkat karakteristik urbanisasi di Indonesia berdasarkan kependudukannya yang dipusatkan pada lima kota besar yang secara umum didefinisikan sebagai kawasan metropolitan antara lain: (1) Mebidang yaitu Kawasan Metropolitan Medan yang meliputi Kota Medan dan sekitar Kota Binjai dan Kabupaten Deli Serdang; (2) Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur, meliputi Ibukota Jakarta dan kawasan sekitar Kota dan Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota dan Kabupaten Tangerang, dan Kota dan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Cianjur; (3) Kawasan Bandung Metropolitan meliputi Kota dan Kabupaten Bandung dan sebagian dari Kabupaten Sumedang; (4) Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila yang terdiri dari Kota Surabaya sebagai pusat, kawasan sekitar meliputi Kabupaten Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, dan juga Kota Mojokerto; (5) Kawasan Metropolitan Mamminasata meliputi Kota Makassar dengan Kabupaten di sekitarnya, yaitu Maros, Takalar dan Gowa (dulunya bernama Sungguminasa). Tulisan ini akan melihat pola urbanisasi, yang menekankan pada pengelompokan kembali2 beberapa karakteristik sosial ekonomi penduduk dalam ruang lingkup metropolitan dan beberapa diskusi mengenai bagaimana terjadinya perubahan pola tersebut. Definisi Kota Bagaimanapun juga perlu kehati-hatian dalam menganalisis pola pertumbuhan penduduk kota. Ada dua alternatif definisi kota di Indonesia. Pertama adalah definisi secara administratif, yaitu berdasarkan unit pemerintah lokal yang otonomi yang disebut Kotamadya yang setara dengan status hukum pemerintahan kota. Kedua adalah secara
2

Pendekatan ini digunakan karena kurangnya data rinci mengenai penduduk untuk menghitung perubahan penduduk berdasarkan demografi-pertumbuhan alami (perbedaan antara kelahiran dan kematian) dan net-migrasi (perbedaan antara migrasi masuk dan keluar).

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

127

fungsional, yaitu setiap unit pemerintahan terkecil yang memiliki kesetaraan dengan status desa atau kota yang fungsional berdasarkan karakteristiknya. Ciri utama dalam definisi fungsional yang digunakan oleh BPS yaitu status desa/kelurahan dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan bertambah padatnya penduduk, berkurangnya kegiatan pertanian atau meningkatnya fasilitas dan pelayanan kota. Pengelompokan kembali (secara jelas antara desa dan kota) menjadi faktor utama dalam menjelaskan pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan yang cepat, yaitu membandingkan 30-35 persen dari pertumbuhan kota pada tahun 1990an dengan jumlah migrasi desa-kota sebesar 20-25 persen (World Bank 2003).
TABEL 5 - 2 Perubahan Definisi Kota Sebelum dan Sesudah Podes 2000
Kepadatan Penduduk (per Km2) 19802000Nilai 1990 Sekarang <500 500-999 1000-1499 1500-1999 2000-2499 2500-2999 3000-3499 3500-3999 4000-4999 5000+ <500 500-1249 1250-2499 3500-3999 4000-5999 6000-7499 7500-8499 8500+ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Persentase Rumah Nilai terhadap Tangga Pertanian Jumlah Fasilitas Umum 1980– 2000– Keter- KeterNilai Nilai 1990 sekarang sediaan jangkauan >95 91-95 86-90 76-85 66-75 56-65 46-55 36-45 26-35 2570,0 50-69 30-49 20-29 15-19 10-14 5-9 51 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Catatan: Definisi Kota tahun 2000 berdasarkan data PODES 2000 (a) dapat digunakan dari tahun 1980 sampai 1990-an; (b) dapat digunakan sejak tahun 2000 Tipe-tipe fasilitas publik: (a) Skor hanya untuk ketersediaan: SD, SMP, SMA, rumah sakit, klinik ibu dan anak, pusat kesehatan, jalan yang dapat digunakan kendaraan roda 3 atau 4, kantor pos, pasar permanen, pusat perbelanjaan, bank, pabrik, restoran, pelayanan umum listrik dan jasa penyewaan. (b) Skor untuk keterjangkauan (1 atau 0): TK (1 jika ≤ 2,5 Km), SMP dan SMA ((1 tiap ≤ 2,5 Km), pasar (1 jika ≤ 2Km), bioskop (1 jika ≤ 5 Km), pertokoan (1 jika ≤ 2 Km), rumah sakit (1 jika ≤ 5 Km), hotel/bilyard/diskotek/salon (1 jika tersedia), % rumah tangga yang memiliki telepon (1 jika ≥ 8%), dan % rumah tangga yang menggunakan listrik (1 jika ≥ 90%) Sumber: Definisi awal berasal dari Sigit dan Sutanti 1983 dalam Peter Gardiner 1993 dan juga pada BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 1990an. Definisi berdasarkan PODES 2000 didapatkan dari BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 2000an.

Perubahan definisi fungsional BPS – menganggap status kota berdasarkan sistem penilaian yang melibatkan kriteria kepadatan penduduk, proporsi rumah tangga pertanian dan jumlah fasilitas kota – dapat dilihat pada TABEL 5 - 2. Definisi kota fungsional yang dikembangkan pada dekade 1970-an diterapkan pertama kali secara nasional pada Sensus Penduduk tahun 1980 dan dipertahankan sampai tahun 1990an. Perubahan yang

4 persen.7 Sumber: Peter Gardiner (1993).067 2. pertumbuhan penduduk per tahun pada dua kawasan metropolitan tersebut masing-masing adalah sebesar 2.220 3. dan Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 6.895 7.337 1.8 (1.050 3.946 16. sementara pertumbuhan penduduk pada wilayah yang lebih luas meningkat lebih tinggi yaitu sebesar 7. Pentingnya pengelompokan dalam menghitung pertumbuhan penduduk kota tidak dapat diabaikan.411 911 3.050 3. Sensus Penduduk pada tahun yang berakhiran 0.6 3. Sensus rumah tangga pertanian pada tahun yang berakhiran 3.3 2. Setiap tahun penduduk kota di Jabotabek dan Metro Bandung masing-masing tumbuh sebesar 5.2 persen di Metro Bandung sehingga masingmasing berkontribusi sebesar 41 persen dan 31 persen dari seluruh pertumbuhan penduduk di kawasan metropolitan tersebut (Gardiner 1993). kode dan batas wilayah.068 4.730 9.4) 3.3 7.607 1.322 1.309 2.8 persen dan 4.322 1. sementara definisi terkini mempertimbangkan akses yang kebanyakan diukur berdasarkan jarak capai.2 2.063 544 2.9 3.996 9.4 persen dan 0. . Berdasarkan definisi baru tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk desa meningkat secara signifikan dan proporsi rumah tangga pertanian menurun. Definisi baru juga memperkenalkan perubahan pada jenis fasilitas publik dan pada apa yang diukur.337 4.558 11.6 persen.4) 2. khususnya di Pulau Jawa yang pemerintah dan kegiatan ekonominya sangat berperan dalam konversi guna lahan dan untuk kepentingan pengelompokan yang 3 PODES (Potensi Desa) dilakukan untuk mempersiapkan tiga sensus utama yaitu.5 1.128 Metropolitan di Indonesia signifikan diperkenalkan berdasarkan PODES (Potensi Desa) 2000. perhitungan berdasarkan data pada tingkat desa/ kelurahan menunjukkan bahwa perubahan pada Jabotabek dan Metropolitan Bandung selama tahun 1980-an telah berkontribusi secara signifikan pada pertumbuhan jumlah penduduk di kawasan metropolitan.946 5.828 13.8 (0.3 Definisi terkini sangat berbeda dengan definisi sebelumnya dalam hal isi (walaupun metodologi yang digunakan.131 2.6 5. berdasarkan analisis dari data-data tahun 1980 dan 1990 pada tingkat desa yang menjelaskan perubahan-perubahan nama.4 2. Sebagai contoh.3 persen dan 1.6 2.063 2.524 3.3 Dekomposisi Pertumbuhan Penduduk di Jabotabek dan Metropolitan Bandung tahun 1980 – 1990 Kawasan Jabotabek Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Metro Bandung Tingkat Jumlah Penduduk Pertumbuhan (ribu jiwa) (%/th) 1980 1990 Yang terdata Kota desa Total Kawasan stabil 1980 Kota Perluasan 1990 Kota Desa 7.987 5. TABEL 5 . Di dalam kawasan kota inti.830 13.8 persen dan jumlah penduduk desa menurun dengan rata-rata per tahun sebesar 1. Definisi awal hanya mempertimbangkan ketersediaan sebagai ukuran. indeks komposit dan skor masih tetap sama).987 4.9 persen di Jabotabek dan 5.

dan kawasan pinggiran kota digunakan sebagai perluasan permukiman penduduk. 4 Berdasarkan Ernest Burgess tahun 1925 dengan judul the pattern of growth of American cities (Chinoy 1967. 5 Dikemukakan oleh Homer Hoyt tahun 1939 yang memodifikasi rencana Burgess dengan memfokuskan pada pergerakan-pergerakan antar sektor yang didesak dari arah luar dengan mengikuti jaringan jalan utama (Chinoy 1967: 279) 6 Dikembangkan oleh Edward Ullman dan Chauncey Harris yang mengidentifikasi pertumbuhan khusus di daerah inti yang mengalami perubahan karena fungsinya seperti komersial. 7 jentrifikasi (gentrification) adalah perubahan sosial ekonomi kawasan pusat kota karena berpindahnya penduduk miskin digantikan oleh penduduk dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi. sedangkan kawasan pinggiran kota dicirikan dengan tingkat migrasi ke dalam yang tinggi dan sebagai akibatnya adalah meningkatnya jumlah penduduk absolut. Walaupun pada awalnya terlihat seperti pola konsentrik4. Pola Permukiman Penduduk dan Pertumbuhan Kota Pola ekologi urbanisasi di Indonesia ditunjukkan oleh perkembangan Kawasan Metropolitan Jabodetabek yang semakin besar. . Secara demografis. Ekonomi. tetapi hal tersebut tidak akan menyebabkan perubahan besar pada pertumbuhan penduduk di pusat kota karena pembangunan di pusat kota tersebut seringkali tidak menggantikan permukiman kumuh (untuk masyarakat miskin) sebelumnya yang lebih padat.Sosial. Pengelompokan tersebut memberi kesan bahwa urbanisasi mempercepat peran parameter demografi. dan karena pembangunan di kawasan pusat kota tersebut juga memerlukan fasilitas. dari permukiman menjadi non-permukiman khususnya untuk kegiatan komersial. hal. seperti pusat perbelanjaan dan supermarket mewah. industri berat. industri ringan. Kawasan inti dicirikan dengan berbagai faktor antara lain penurunan penduduk absolut. 279). ciri utama kota-kota besar di Indonesia adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang didefinisikan untuk kawasan inti kota yang sebagian besar proporsi guna lahan pada kawasan tersebut dimanfaatkan terutama untuk. bukan permukiman yang cukup luas. tingkat migrasi keluar yang tinggi. sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan pengembangan wilayah dan jalur transportasi. dan Kependudukan 129 lain. tetapi belakangan ini perkembangan pergerakan penduduk menunjukkan fenomena seperti pada teori kombinasi antar sektor5 dan pola konsentrik6. atau mengalami perubahan. dan perluasan kawasan permukiman. pertumbuhan alami dan migrasi dalam pertumbuhan penduduk metropolitan yang akan dikelompokkan dan dikembangkan kembali. Walaupun akhir-akhir ini (khususnya setelah krisis moneter) muncul perubahan ke arah jentrifikasi7 pada kawasan inti di beberapa kawasan metropolitan melalui peningkatan pembangunan apartemen dan town house yang sering kali dengan standar kenyamanan internasional.

01 2. inner dan outer fringe.35 1. 9 Sebagai ibukota negara.15 154.44 3.96 8.021 20.701 12.265 3.922 14.769 3.509 0.925 1.67 2.62 1.98 126.68 0.28 2.765 12.43 7.16 0.7 17.560 3.174.011 15. 1999 dan 2004).3 1.58 2.4 3.020.164.8 1.3 606.44 3.16 21.9 536. peran Jakarta di dalam negara maupun di dunia internasional menjadi menarik untuk diteliti seperti yang telah dilakukan oleh T.085 843 1.609 1.28 2.04 2.44 9.108 1.93 1.73 2. Dinamika perubahan kawasan di core Jabotabek yang akan datang dapat menjadi indikasi pola pertumbuhan dan penurunan jumlah penduduk di kawasan metropolitan di Indonesia.42 2.2 437.35 12.345 2.065 2.317 1.71 3.507 4.130 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .975 3.245 2.421 13.03 2.698 12.22 0.140 2.65 3.56 2.235 2.1 747.373.10 20.422 1.2 1.267 18.03 0.246 17.289 2.1 1. serta menunjukkan bahwa kawasan fringe yang sebagian besar masih merupakan kawasan perdesaan masih berada di dalam kawasan metropolitan yang besar dan menunjukkan bahwa perubahan ke arah kota sedang berjalan atau baru akan dimulai9. yang memiliki keistimewaan dibandingkan kota-kota lain. Firman (1998.4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kawasan Metropolitan Jabotabek Tahun 1990-2000 Kawasan Luas (Km2) Jumlah Penduduk (Juta jiwa) 1990 1995 2000 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 1990 1995 2000 2.7 8.78 13.435 3.62 0.11 2.201 1.742 Catatan: Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data survey penduduk desa tahun 1995 Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Mamas dan Komalasari (akan datang)8 membagi Kawasan Metropolitan Jabodetabek menjadi core.14 1.138.83 0.48 1.526 3.87 24. Pertumbuhan dan penurunan penduduk di kawasan core Jakarta menunjukkan pola konsentrik/memusat dengan Jakarta Pusat sebagai the inner core dan kawasan lain di dalam Jakarta sebagai lapisan 8 Sangat disayangkan pekerjaan Mamas dan Komalasari ini tidak dapat diulangi untuk tulisan ini karena memerlukan pemakaian data pada tingkat desa yang tidak bisa didapatkan.785 10. .77 1.787 48.7 187.008 12.0 145.41 1.35 10.432 JABOTABEK 6.22 9.024 1.089 1.321 3.90 13.15 3.73 2.9 2.8 5.097 798 1.38 8.19 Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang 662.416 9.471 4.551 1.212 1.

0 50.01 -3.5 42.37 -1.30 3.07 0.7 28. Sumber: Mamas dan Komalasari (akan datang) Untuk mengetahui penyebab pertumbuhan penduduk.1 17.5 22.35 1.4 persen (negatif) selama paruh kedua dekade 1990-an. Dengan kata lain.35 persen per tahun selama paruh pertama menjadi hanya 1 persen selama paruh kedua sampai akhir abad ini.6 17.4 17.2 -62.1 -7.86 3.5 Catatan : Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 1990 dan 2000 dan data Survey Penduduk Tahun 1995.8 15.0 15.Sosial.6 14. secara umum Jabotabek ditandai .9 18. Tanda positif menyatakan migrasi masuk dan tanda negatif menyatakan migrasi keluar.47 -2.0 3. Ekonomi.56 4. kepadatan penduduk mencapai 18 ribu jiwa/km2 sedangkan di kawasan outer fringes.74 5.7 15. tulisan ini melihat komponenkomponen pertumbuhan penduduk tersebut dari pertumbuhan alami dan net-migrasi (TABEL 5 .2 -33.52 Rata-rata Rata-rata Pertumbuhan Alami Net-migrasi (per 000) (per 000) 1990-1995 1995-2000 1990-1995 1995-2000 1.23 -2.6 -14. tingkat pertumbuhan penduduk di Jabodetabek pelahan-lahan menurun secara signifikan sepanjang dekade 1990-an dari 3. bergerak ke luar dari Jakarta Pusat sebagai inner core ke daerah sekitarnya yang disebut outer zone disebabkan kepadatan permukiman yang rendah.3 16.8 -41.8 17.0 -16.4 30.0 28.0 13.08 -1. Secara umum.5 -34.5 Rata-rata dari Pertumbuhan Penduduk.1persen (positif) selama paruh pertama menjadi -7. khususnya daerah Bogor.12 -1.0 . Penurunan tingkat pertumbuhan penduduk terjadi meskipun pertumbuhan alami meningkat secara positif (selisih antara kelahiran dan kematian) ketika tingkat migrasi masuk menurun secara signifikan dari 6.9 19.9 19.3 -19.50 8.00 2.34 5.80 0. Perubahan pola pertumbuhan penduduk penting untuk dicatat.01 1.8 23.4 -50.2 16.82 16.1 -14.48 -3.4). Di Jakarta Pusat.13 2.6 9.91 1.91 6.98 -2.6 17. TABEL 5 .5).8 18.3 -44. Pertumbuhan Alami dan Migrasi di Jabotabek Tahun 1990-1995 dan 1995-2000 Kawasan JABOTABEK Core Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Inner Zone Bogor Bekasi Tangerang Outer Zone Bogor Bekasi Tangerang Rata-Rata Pertumbuhan Penduduk (%) 1990-1995 1995-2000 3.7 15.91 -1.9 6.5 15.1 15.73 8.5.9 14.9 24.4 16.5 17.8 23.8 0.0 24.33 7.9 -37.0 -44.4 13. dan Kependudukan 131 pertama yaitu outer zone.12 -0.4 20.74 0. kepadatan penduduknya masih kurang dari 1000 jiwa/km persegi (TABEL 5 .2 44.1 16.5 -40.84 5.3 19.3 -39.8 19.67 -1.

Bekasi. dan apartemen. penduduk di inner zone akan meningkat karena banyaknya migrasi yang masuk ke kawasan tersebut. Harga dan guna lahan mempengaruhi tingkat migrasi yang masuk dan keluar. hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan penduduk yang relatif cepat di beberapa kota utama. perubahan pertumbuhan penduduk terjadi karena beberapa alasan. Pada tingkat lokal. Perubahan Jabotabek menunjukkan sebuah kombinasi tiga pola pertumbuhan kota – konsentrik.33 persen per tahun selama pertengahan awal dan akhir tahun 1990-an. Depok. (3) Bandung Raya terdiri dari Kota Bandung dan Cimahi. Bagaimanapun juga. sektoral dan banyak pusat – dimulai dengan sebuah pusat atau core yang terdiri dari kota utama dan dikelilingi daerah-daerah yang sedang mengalami proses urbanisasi. pada kawasan luar kota (outer fringe) Jabotabek. Surabaya dan Bandung – jika dibandingkan dengan daerah lain (baik desa maupun kota) yang berada di dalam kawasan tersebut. serta Kabupaten Bandung dan Sumedang. Walaupun demikian. Dengan kata lain. yang berarti bahwa reklasifikasi merupakan faktor yang signifikan dalam menentukan pertumbuhan kota secara keseluruhan. lebih cepat lagi di kota-kota besar – Jabotabek (sekarang Jabodetabekjur). khususnya Bekasi dan Tangerang. orang-orang membangun kawasan industri pada pertengahan pertama 1990-an yang menyebabkan angka migrasi keluar tinggi. Gambaran pertumbuhan penduduk di Jabotabek tersebut menunjukkan bahwa sebagai sebuah kawasan metropolitan. menggantikan villa dan rumah tinggal yang hanya satu lantai. Penurunan ini diakibatkan oleh seluruh penurunan pada pertumbuhan alami dan net-migrasi. bangunan-bangunan perkantoran bertingkat.132 Metropolitan di Indonesia dengan jumlah migrasi masuk selama paruh pertama dari dekade terakhir yang kemudian ditandai dengan migrasi keluar pada paruh akhir dekade tersebut. dari 6. yang terdiri dari Kota Medan dan Binjai serta Kabupaten Deli Serdang. dan Cianjur. Di antara dua kawasan ekstrim Jabotabek yaitu kawasan core dan outer. sebagian besar migrasi sebenarnya terjadi di dalam metropolitan itu sendiri yaitu penduduk yang bergerak keluar dari kota induk (core) sekarang ke daerah-daerah lain di pinggiran atau perbatasan kota. pertumbuhan penduduk di Jabodetabek cenderung didorong oleh kekuatan pasar dan pemanfaatan lahan. (2) Jabodetabekjur terdiri dari DKI Jakarta dan Kota Bogor. peningkatan harga lahan untuk kegiatan komersial dan permukiman mewah seperti mall. Net-migrasi juga merupakan penyebab meluasnya kawasan metropolitan ini. Cepatnya perluasan kawasan perkotaan (urbanized area) ke kawasan-kawasan yang berdekatan merupakan salah satu ciri proses tersebut. dan Bekasi. Metropolitanisasi – Lima Kawasan Metropolitan Tahun 1980-an dan paruh pertama dekade 1990-an (sampai krisis ekonomi) merupakan periode pengembangan metropolitan secara besar-besaran. (4) .01 persen menjadi 5. serta Kabupaten Bogor. Pada kawasan core Jakarta. yang menyebabkan pertumbuhan negatif yang ditunjukkan dengan tingginya angka migrasi keluar. Tangerang. Lima Kawasan Metropolitan yang menarik untuk diteliti antara lain: (1) Mebidang. Secara demografis. khususnya di Pulau Jawa. Tangerang. Hal tersebut menunjukkan bahwa aspek-aspek penting yang terjadi di Kawasan Metropolitan Jabotabek menjadi ciri perubahan yang juga terjadi pada kawasan-kawasan metropolitan lain. tingkat pertumbuhan penduduk di inner zone perlahanlahan menurun.

3 61.0 37.5 Catatan: Mebidang terdiri dari: Kota Medan dan Binjai.7 36.5 39.0 47.8 5. TABEL 5 . Kabupaten: Bandung dan Sumedang Gerbangkertosusila terdiri dari: Kota Surabaya dan Mojokerto.5 60.3 79. Kabupaten: Sidoarjo. dan Bangkalan Mamminasata terdiri dari: Kota Makassar. Tangerang.4 7.3 57. Bogor.2 65. Mojokerto.6 Pertumbuhan Penduduk Desa di beberapa Kawasan Metropolitan Kawasan Metropolitan Jumlah 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Kota (%) 1995 1999 2005 Jumlah Penduduk Desa (ribu) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 825 1. dan Kependudukan 133 Gerbangkertosusila terdiri dari Kota Surabaya dan Mojokerto serta Kabupaten Sidoarjo.6 6.0 41.9 30. Lamongan. 10 Seperti penjelasan sebelumnya.9 31. Goa dan Maros.762 855 1.7 63.7 76. Podes dilibatkan dalam persiapan sensus utama: Podes tahun 1995 sebagai persiapan Sensus Pertanian tahun 1996. dan Bekasi. Tahun yang menjadi referensi disini menggambarkan tahun pengumpulan data .6 20.6).9 32.3 18.949 448 827 1.4 52. Lamongan. Dengan menggunakan delineasi desa. Pemakaian tahun dalam Podes oleh BPS berdasarkan tujuan tertentu. (5) Mamminasata terdiri dari Kota Makassar dan Kabupaten Takalar. yaitu tahun 1995.9 7. Depok Tangerang.5 2.8 53.949 473 30. Bekasi dan Cianjur.2 2. Jumlah Penduduk dari data Podes yang didapat dari kepala desa.1 3.3 8. dan Bangkalan. Gresik. Podes tahun 1999 sebagai persiapan Sensus Penduduk tahun 2000 dan Podes tahun 2005 untuk Sensus Ekonomi tahun 2006.6 48. Kabupaten: Bogor. Goa dan Maros.6 22. Ekonomi.0 48.5 67. dan Kabupaten: Takalar.8 66.847 863 1. Data Podes (Potensi desa) BPS saat ini memungkinkan untuk dianalisis dengan memperhatikan sejarah perkembangan secara terbatas dalam memahami proses urbanisasi dengan memfokuskan pada tiga periode terakhir. Mojokerto. desa-desa yang dapat dikelompokkan sebagai kota dan penduduk yang bertempat tinggal di desa tersebut diidentifikasi sebagai dasar untuk menghitung persentase desa-desa yang menjadi kota dan persentase jumlah penduduk kota yang tinggal di desa tersebut (TABEL 5 .951 447 825 1. Gresik.829 859 1. unit data lebih kecil dari penelahan khusus oleh IHS berdasarkan data dari BPS Podes (Potensi Desa) dalam beberapa tahun.5 35.2 23.8 56.7 40. 1999 dan 200510.0 67. Kabupaten: Deli Serdang Jabodetabekjur terdiri dari: Semua Kota di wilayah DKI Jakarta. Bandung Raya terdiri dari: Kota Bandung dan Cimahi.6 Total Penduduk (juta) Mebidang Jabodetabekjur Bandung Raya Gerbangkertosusila Mamminasata 3.1 4.Sosial.0 22.9 7.1 2.4 39.2 69.

134 Metropolitan di Indonesia Pembahasan selanjutnya perlu diperhatikan dengan seksama. Kedua. kecenderungan untuk mengkategorikan penduduk desa-desa tersebut menjadi penduduk kota secara umum meningkatkan tingkat urbanisasi secara tajam. Kecenderungan ini terjadi meskipun definisi desa yang menjadi kota tersebut lebih ketat (lihat TABEL 5 . Walaupun ada kecenderungan dalam pengambilan data podes kurang sistematis. dan Metropolitan Bandung – yang keempat adalah Mebidang di Sumatera Utara. Peta tersebut menunjukkan penyebaran desa berciri kota (urban village) dan desa berpenduduk paling sedikit 2000 jiwa atau lebih di lima kawasan metropolitan. tanpa kecuali. Mebidang dan Jabodetabekjur memiliki lebih dari 3 dari 4 rumah tangga penduduk di desa yang berciri kota (urban village). Namun hasilnya masuk akal untuk membandingkan dengan proyeksi penduduk yang digunakan untuk SUSENAS (Survei Sosial-Ekonomi Nasional). Dari lima kawasan metropolitan yang diteliti. . terdapat tiga kawasan metropolitan besar yang terletak di Pulau Jawa– Jabodetabekjur yang memiliki keistimewaan dibandingkan kawasan metropolitan lain. dari perspektif kependudukan. Kecenderungan ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi ekologi tetapi juga dari sisi demografi. Berdasarkan data Podes tahun 2005.2). Pada saat itu. Dengan kata lain. Kawasan Metropolitan di Pulau Jawa lebih besar secara ekologis (jumlah desa) dan secara demografis (jumlah penduduk). wilayah desa berciri kota serta jumlah penduduknya meningkat secara signifikan selama lima tahun terakhir dalam abad ini dibandingkan abad sebelumnya sedangkan secara anekdot dirasakan bahwa ketika bergerak keluar dari pusat kota dan melihat iklan-iklan untuk komplek perumahan. hanya kurang dari setengah desa-desa tersebut sudah dikelompokkan menjadi kota. Berdasarkan data kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan pulau lainnya. Kondisi pada tahun 2005 digambarkan oleh peta pada gambar-gambar di bawah. diikuti oleh Gerbangkertosusilo. Pertama. Kawasan metropolitan terbesar berada di Pulau Jawa. dengan Kota Makassar sebagai core-nya.9 juta jiwa11 sedangkan kawasan metropolitan terbesar 11 Angka penduduk dalam Podes didapatkan dari wawancara kepada kepala desa. perlu diingat bahwa kecenderungan percepatan urbanisasi pada saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 terus berlangsung dan tetap bertahan. dan yang kelima adalah Mamminasata. Lebih lanjut. Contohnya. Data ini menunjukkan adanya kemungkinan sektor konstruksi kembali menjadi penggerak urbanisasi yang terjadi di semua kota-kota besar di negeri ini. Jabodetabekjur memiliki keistimewaan tidak hanya dalam cakupan wilayahnya tetapi juga dalam hal jumlah penduduknya. Perluasan kawasan metropolitan menunjukkan bahwa kecuali Jabodetabekjur. Dari lima kawasan metropolitan tersebut. proses urbanisasi menjadi semakin cepat dan terlihat jelas bahkan dalam periode pendek selama sepuluh tahun. krisis pertama kali mempengaruhi dinamika sektor konstruksi yang menyebabkan pembuat kebijakan menjadi khawatir akan dampak sosialnya berupa demonstrasi para pekerja yang di-PHK di jalan-jalan Jakarta. proses urbanisasi secara ekologis di lima kawasan metropolitan jauh lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan demografisnya. sedangkan tiga kawasan metropolitan lainnya antara 6 dan 7 dari 10 penduduk yang tinggal di desa berciri kota. Jabodetabekjur memiliki jumlah penduduk sebanyak 23. yaitu dari tahun 1995 sampai tahun 2005. dimana proses urbanisasi terjadi. Pada lima kawasan metropolitan tersebut. kawasan metropolitan lainnya secara ekologis masih lebih berciri desa daripada kota.

12 Disamping itu. GAMBAR 5 . Pihak swasta membangun perumahan untuk golongan ekonomi menengah ke atas dengan mengesampingkan masyarakat miskin.2 juta jiwa dan Mamminasata hanya sebesar 2. yaitu kurang dari sepertiga jumlah penduduk di Jabodetabekjur.3 juta jiwa. Masyarakat miskin dengan sendirinya mengisi ruang-ruang antara yang tersisa baik yang legal maupun ilegal. yang selanjutnya ditunjang dengan pembangunan jalan-jalan arteri utama. Urbanisasi merupakan suatu bentuk pencarian atas pelayanan sosial dan ekonomi serta penghidupan yang lebih baik. proyeksi penduduk di lima wilayah metropolitan sebagai berikut: Mebidang 4. 12 . Gerbangkertosusila hanya memiliki 8.8 juta jiwa. dan Metropolitan Bandung dengan 7.1 juta jiwa. Hal ini dapat dilihat dalam kasus Jabotabek yang perkembangan kotanya terjadi di sepanjang koridor arteri timur – barat. dan Kependudukan 135 kedua. dengan Penduduk Mebidang hanya sebesar 4.6). Oleh karena itu. Metropolitan Bandung 7.1 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mebidang Data SUSENAS 2004. bermula pada daerah inti yang berkembang menjadi lebih terbangun dan proses urbanisasi terus meluas. biasanya perluasan itu mengikuti jaringan transportasi utama khususnya pada jalan utama. Jabodetabekjur 25. peta-peta tersebut juga menunjukkan koridor perkotaan. Kawasan metropolitan di luar Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit.2 juta jiwa (TABEL 5 .Sosial. Pihak swasta dan pengembang merespon terhadap inisiatif-inisiatif tersebut dengan membangun lingkungan perkotaan dan kawasan tertutup (enclave) berupa real estate baik yang berskala besar maupun kecil. Ekonomi.3 juta jiwa. jika pembangunan jalan arteri utama dibangun berdasarkan keputusan pemerintah maka perkembangan perkotaan juga ditentukan secara langsung oleh pemerintah.3 juta jiwa.

3 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Bandung Raya .136 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .2 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Jabodetabekjur GAMBAR 5 .

Sosial.5 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Mamminasata . dan Kependudukan 137 GAMBAR 5 . Ekonomi.4 Peta Urbanisasi dan Kependudukan Kawasan Metropolitan Gerbangkertosusila GAMBAR 5 .

Kota metropolitan terkecil yang dibahas dalam bab ini adalah Mamminasata yang relatif kurang terbangun. Pembangunan di masa lalu pun cenderung terpusatkan pada wilayah barat Indonesia. seperti Jabodetabekjur. tetapi terutama dalam hal penduduk.138 Metropolitan di Indonesia Perbandingan pola kepadatan dan penyebaran desa-kota dan kota pada lima kotakota metropolitan ditunjukkan oleh TABEL 5 . Hal ini merupakan kenyataan yang tidak hanya dalam arti wilayah ataupun karakteristik desa-kotanya. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa penilaian dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang tertentu. kedatangan penduduk. Kenyataan ini dapat dimaklumi karena Pulau Jawa sejak dahulu memiliki penduduk yang lebih besar jika dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Angka yang menunjukkan daya tarik kota besar yang didapatkan dari perbandingan jumlah penduduk kota besar tersebut dengan jumlah penduduk di dua kota berikutnya 13 . Namun. Mengapa Tinggal di Kota-Kota Metropolitan? Pembahasan mengenai proses urbanisasi dan metropolitanisasi serta pertumbuhan dan penurunan penduduk di atas terlepas dari penilaian baik atau buruk. merupakan suatu masalah. Jika dilihat dari sudut pandang perencana atau pengelola kota. Kota-kota metropolitan di Pulau Jawa biasanya lebih besar. terutama mereka yang miskin. Pulau Sumatera. pendatang juga membayar pajak yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur fisik dan sosial perkotaan. Bagaimanapun mereka terlalu menggantungkan pada kondisi fisik dan sosial infrastruktur kota yang juga menyebabkan keterpurukan mereka. sehingga tidak mengherankan jika kota metropolitan pertama di luar Pulau Jawa adalah Kota Medan.7 yang mengkombinasikan perbedaan mencolok antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. sehingga kota-kota metropolitan di Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang lebih besar. yang memiliki primacy rate13 yang besar mengungguli kota-kota metropolitan lainnya. Para pendatang dituding sebagai penyebab meningkatnya kemacetan dan mereka menggunakan fasilitas dan pelayanan kota yang tidak direncanakan untuk mereka.

Mebidang bukan merupakan kawasan terbangun yang padat melainkan bentuk penyebaran desa-kota hingga ke wilayah kabupaten Deli Serdang Jabodetabekjur Lima wilayah kota di DKI Jakarta merupakan kawasan inti perkotaan dengan kepadatan tinggi yang terus berkembang ke arah utara – selatan dan timur – barat hingga ke wilayah Tangerang di bagian barat. angkaangka menunjukkan tingkat urbanisasi penduduk di kawasan metropolitan ini masih rendah. Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun. Bandung Perkembangan kawasan perkotaan di Metropolitan Bandung berawal dari pusat Kota Bandung ke wilayah sekitarnya hingga ke wilayah Kabupaten Bandung. Pola urbanisasi ditunjukkan sebagai desa-kota dan desa dengan populasi 2000 jiwa atau lebih merupakan patokan yang dapat Diluar Kota Bandung. Ke arah timur Kabupaten Deli Serdang yang merupakan daerah pantai.7 Sudut Pandang Ekologi dan Kependudukan Metropolitanisasi Penyebaran Kawasan Perkotaan Mebidang Berawal dari Kota Medan sebagai kota inti. Gerbangkertosusila Perkembangan kawasan perkotaan di Gerbangkertosusila berawal dari pusat Kota Surabaya. Ekonomi. . Di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Lamongan desa-kota nya lebih tersebar. meliputi sebagian besar wilayah Sidoarjo dan desa-desa sekitarnya hingga terhubung dengan Kota Mojokerto. Desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tersebar hampir diseluruh kawasan metropolitan Bandung. kawasan terbangun masih terpusat pada daerah inti dengan beberapa kantungkantung pertumbuhan disekitarnya. Bekasi di bagian timur dan Bogor di bagian selatan. Tingkat Ekologi Perkotaan Tingkat Urbanisasi Penduduk Kepadatan desa-kota dengan populasi lebih dari 2000 jiwa tidak terlalu banyak dan di wilayah luar Kota Medan desa-desa ini lebih tersebar. dan Kependudukan 139 TABEL 5 . Dibandingkan dengan lima kota metropolitan lain yang dibahas di sini. Gerbangkertosusila memiliki karakteristik tingkat urbanisasi penduduk yang tinggi yang dapat dilihat dari persebaran desa-desa dengan jumlah penduduk Hal yang sama. Seluruh wilayah Jakarta merupakan kawasan terbangun. Perkembangan ke arah barat menghubungkan Kota Medan dengan Kota Binjai. Tangerang dan Bekasi pada proses terbangun dengan tingkat yang tinggi sedangkan Bogor masih memiliki wilayah pedesaan yang lebih luas. Mamminasata Mamminasata merupakan kawasan metropolitan yang kurang terbangun dibandingkan dengan lima kota metropolitan yang dibahas disini. tetapi lebih terpusat di sekitar Kota Tingkat desa-kota yang tinggi tentu saja ditemukan di Kota Surabaya dan Kota Mojokerto bahkan juga di Kabupaten Sidoarjo. secara dominan berkembang sepanjang koridor barat – timur .Sosial. daerah sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang memiliki kawasan terbangun yang terbatas.

Mamminasata Masih serupa dengan Makassar dan menyebar secara lambat ke desa-desa sekitarnya. melalui Kota Medan menuju Kota Binjai dan ke arah selatan sepanjang pantai. termasuk Bogor dan Cianjur. Seperti kawasan metropolitan lainnya di Pulau Jawa yang penduduknya sangat besar. Bandung Bandung. Gerbangkertosusila 2000 jiwa atau lebih Desa-kota di kawasan metropolitan ini cenderung untuk mengelompok keluar dari wilayah inti Kota Surabaya menuju kabupaten-kabupaten sekitarnya. Desa-desa di Pulau Jawa. desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih tidak tersebar secara luas di wilayah metropolitan ini. Desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih. sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang masih terdapat banyak kawasan pedesaan. sebagian besar memiliki penduduk lebih dari 2000 jiwa. Penyebaran desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih menyerupai perluasan desa-kota. . dalam hal kependudukan wilayah ini sangat terbangun karena desa-desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa atau lebih secara luas tersebar di seluruh wilayah ini.140 Metropolitan di Indonesia Mebidang Perluasan Ekologi Perkotaan Perluasan kawasan metropolitan ke wilayah Kabupaten Deli Serdang menunjukkan tingkat kawasan terbangun yang relatif rendah. terpusat di sekitar Kota Bandung. Kawasan terbangun masih terjadi di sekitar Kota Bandung. dapat juga ditemukan pada sebagian besar wilayah metropolitan. memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak. Penambahan wilayah Cianjur yang memiliki kawasan terbangun rendah ke dalam kawasan metropolitan mempengaruhi tingkat kawasan terbangun secara keseluruhan. Dalam hal urbanisasi penduduk. Penyebaran Urbanisasi Penduduk Jabodetabekjur dibandingkan.

Generasi muda dapat memasuki lembaga-lembaga pendidikan yang lebih baik dan memperoleh ‘kebebasan’ berekspresi termasuk dalam hal berbusana. polusi. Hal yang sama juga dilihat oleh golongan kaya dan miskin. Kemacetan. padahal kota-kota metropolitan itu identik dengan masalah kemacetan. meskipun orang tahu bahwa jalan-jalan tidak berlapis emas. Bidang Pertanian mencakup pertanian. Bidang Jasa mencakup perdagangan. jauh dari pengawasan sosial keluarga serta fasilitas-fasilitas hiburan yang banyak dan beragam. Rasio Registrasi Sekolah adalah perbandingan antara penduduk yang bersekolah dengan jumlah penduduk pada rentang umur tertentu. TABEL 5 . pertambangan dan penggalian. keuangan. polusi dan banyak terdapat penyakit-penyakit perkotaan lainnya. Para politisi akan berada di ibu kota yang merupakan pusat kekuasaan dan keuangan. perburuan dan perikanan. pelayanan sosial dan lain-lain. kehutanan. tetapi disitulah tempat orang dapat menemukan susu dan madu walaupun tidak berlimpah. Sumber : Tabulasi khusus oleh IHS berdasarkan data Susenas BPS 2004 . dan Kependudukan 141 Seringkali orang ditanya mengapa ingin tinggal di Jakarta. terutama bisnis skala besar. golongan kuat dan lemah. Bidang Industri meliputi industri manufaktur. pemulung yang sangat miskin pun masih menganggap kehidupan di kota besar ‘lebih baik’ daripada di tempat asal mereka yang memiliki peluang ekonomi terbatas atau bahkan sama sekali tidak ada karena mereka tidak memiliki lahan. atau di kota-kota metropolitan lainnya di Indonesia. Keberuntungan masih dapat ditemukan di kota-kota besar di kawasan metropolitan. transportasi. Ekonomi. Di kota-kota itulah terdapat banyak aktivitas. Bisnis. kriminalitas dan hal-hal negatif lainnya menjadi konsekuensi yang dapat diterima untuk mendapatkan semua keuntungan tersebut. Jawabannya sangatlah sederhana. Bahkan. muda dan tua. dan konstruksi. pria dan wanita.8 Daya Tarik Permukiman di Kawasan Metropolitan Mebidang Indikator Kota Rasio Ketergantungan Rasio Registrasi Sekolah usia 16-18 tahun % populasi penduduk usia di atas 15 tahun lulusan SMA % Tenaga Kerja di Bidang Pertanian % Tenaga Kerja di Bidang Industri % Tenaga Kerja di Bidang Jasa Tingkat Pengangguran 49 72 Desa 60 59 Jabodetabekjur Kota Desa 42 65 63 27 Bandung Raya Kota Desa 47 59 54 40 Gerbangkertosusila Kota Desa 42 72 49 52 Mamminasata Kota Desa 47 66 59 39 47 29 48 16 38 18 48 30 55 38 7 29 64 19 59 17 34 16 3 33 65 17 45 17 39 17 8 36 56 21 39 27 34 15 6 33 61 13 58 17 26 12 4 18 77 20 58 13 29 17 Catatan: Rasio Ketergantungan merupakan pembagian antara jumlah penduduk usia 0 -14 tahun ditambah dengan usia diatas 65 tahun dengan jumlah penduduk usia 15 – 64 tahun (usia produktif).Sosial. akan tinggal di metropolitan yang merupakan pusat bisnis yang merupakan tempat kehidupan bagi mereka.

Inovasi terbaru tentu saja berupa bus way Jakarta.142 Metropolitan di Indonesia Kenyataan di atas didukung oleh beberapa fakta dalam hal pendidikan dan pekerjaan. . hanya sebagian kecil penduduk perkotaan yang bekerja atau terpaksa bekerja di sektor pertanian mengingat mereka memiliki pilihan kerja yang lebih luas. Ketimpangan yang lebih signifikan terjadi pada sektor jasa. tidak semuanya membawa sukses. Sektor keuangan atau perbankan biasanya ditemukan di perkotaan yang memiliki peluang bisnis. fasilitas dan pelayanan pendidikan. yang merupakan satu-satunya sistem transportasi yang diterapkan di negara yang membayar sopir dengan gaji tetap dan terbuka baik bagi pria maupun wanita. Sektor transportasi. Di samping itu. Ini menunjukkan bahwa penduduk kota memiliki beban tanggungan lebih ringan yang biasanya memiliki jumlah anak yang membutuhkan investasi sosial berupa kesehatan dan pendidikan yang lebih sedikit. Terdapat beberapa peluang penghidupan di perkotaan. mall hanya dibangun di daerah padat dimana penjual dapat menemukan sumber penghidupannya. Hasilnya di beberapa metropolitan terpilih menunjukkan bahwa kedua indikator tersebut lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Secara khusus. meskipun termasuk perdagangan skala kecil yang dikenal sebagai sektor informal. Lebih beragamnya jenis pekerjaan dan peluang penghidupan di kota dibandingkan di desa adalah penyebab dan akibat dari kesemerawutan kota. termasuk industri skala kecil dan menengah. masih merupakan fenomena perkotaan daripada perdesaan. seiring dengan semakin orang miskin lebih memilih tinggal di perdesaan dan status pengangguran seringkali menjadi sesuatu yang sulit diterima. yaitu tingkat registrasi penduduk usia sekolah menengah atas dan persentase penduduk dewasa (di atas 15 tahun) yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan menengah atas. dan terutama dari segi jumlahnya. Namun. Sebagaimana kita ketahui. Dengan kata lain. termasuk angkutan kendaraan bermotor roda dua yang dikenal dengan nama “ojek” masih lebih banyak tersedia di daerah permukiman padat. penduduk kota jauh lebih terdidik daripada penduduk desa. wilayah terbangun metropolitan dihuni oleh penduduk usia produktif yang dapat menikmati pendidikan yang lebih baik dan menemukan pilihan pekerjaan yang beragam meskipun di tengah-tengah ancaman pengangguran. Hal yang sama juga terjadi pada sektor pemerintahan yang terletak di kota pusat pemerintahan. sebagaimana ditunjukkan dengan perbandingan indikator kependudukan antara kota dan desa di beberapa metropolitan yang dibahas (TABEL 5 . namun. lebih banyak tersedia di daerah perkotaan daripada daerah perdesaan. karena ini hanyalah sementara. Penyerapan tenaga kerja di bidang industri. satu-satunya perbedaan tipis antara tingkat pengangguran yang tinggi di kota dan di desa menjadi tanda perlunya perhatian. yang biasanya menyulut gejolak sosial. menjadi pengangguran pun tidak masalah sekalipun kemungkinannya tinggi. Kami telah memilih dua indikator pendidikan. Sebaliknya.8). Dengan harapan dapat memenuhi keinginan. Rasio ketergantungan (perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 dan >65 tahun dengan jumlah penduduk berumur 15-64 tahun) lebih rendah di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan di wilayah metropolitan yang menggambarkan dinamika pola ruang.

tingkat urbanisasi nasional terutama dipengaruhi oleh kondisi Pulau Jawa. Menurut sensus penduduk tahun 2000.Sosial. dalam dua dekade ke depan diperkirakan bahwa hampir 7 dari 10 orang akan tinggal di kota. Ekonomi. walau bagaimanapun. dan Kependudukan TABEL 5 . jalan dan infrastruktur ekonomi (kantor pos. pompa atau sumur Jalan beraspal Kantor Pos Telepon Umum/Wartel Pusat Perbelanjaan Pasar Permanen/ Semi-permanen Hotel/guest house Bank Supermarket 34 44 3 99 143 31 21 75 Fasiltas/1000 penduduk 85 263 121 2370 38 56 33 44 4 32 3 24 % Desa-desa dengan fasilitas 98 82 88 52 73 35 3 90 55 21 74 51 33 4 99 23 33 71 82 13 89 42 26 20 30 30 41 2 30 1 5 3 92 32 99 60 34 24 42 64 59 3 70 7 7 4 1 4 93 23 99 51 26 23 35 48 81 4 65 6 9 4 2 3 91 13 97 39 26 13 24 32 53 1 67 6 12 1 2 1 95 15 98 52 24 29 32 19 62 2 59 5 21 2 4 1 0 Sumber : Tabulasi Khusus oleh IHS berdasarkan data PODES 2005 BPS Penegasan mengenai keberutungan di kota secara jelas ditunjukkan pada TABEL 5 9.10). Hal yang sama juga terjadi dalam hal ketersediaan fasilitas dan pelayanan kesehatan serta fasilitas dan infrastruktur yang mempengaruhi kualitas kehidupan. Tantangan Urbanisasi bukan hanya fakta kehidupan tetapi juga terus meningkat. Sementara 4 dari 10 orang tinggal di kota pada tahun 2000.9 Ketersediaan Fasilitas dan Pelayanan Mebidang Kota 89 Desa 85 Jabodeta bekjur Kota Desa 93 69 Bandung Raya Kota Desa 86 74 Gerbangkertosusila Kota Desa 88 69 143 Mamminasata Kota 91 Desa 67 % Rumah Tangga dengan Listrik Rumah Sakit Puskesmas Praktek Dokter Sumber air minum/masak dari PAM. Proyeksi BPS menunjukkan bahwa jumlah total penduduk Indonesia terus bertambah dari 206 juta pada tahun 2000 menjadi 275 juta pada tahun 2025 (TABEL 5 . wartel. Yang terpenting untuk dicatat adalah. hotel. hampir separuh (49 persen) jumlah penduduk Pulau Jawa tinggal di perkotaan dan diperkirakan pada tahun 2025 hampir 8 dari 10 penduduk Pulau Jawa akan tinggal di perkotaan. Tabel itu memperlihatkan bahwa secara umum proporsi rumah tangga yang memiliki akses listrik di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan di pedesaan di beberapa kawasan metropolitan yang dibahas. pusat perbelanjaan. berarti 120 juta akan tinggal di aglomerasi perkotaan. Akses terhadap air bersih. pasar. Dengan perkiraan jumlah penduduk Jawa akan mencapai 151 juta pada tahun 2025. Hal ini mengingatkan pengelola kota dan perencana tata ruang . bank dan supermarket) lebih besar di perkotaan dibanding di pedesaaan.

1 64.0 58.5 54.0 57.5 38.0 30.2 55 141 14 15 18 5 248 59 147 14 17 19 5 262 63 151 15 18 20 6 274 Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 49. Pembangunan infrastruktur fisik perkotaan harus direncanakan sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan berlangsung terus menerus dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik di kawasan metropolitan. Seseorang bisa hanya mengasumsikan mengapa desa tumbuh menjadi kota yang terus meluas kemudian .2025 2000 2005 2010 2015 2020 2025 Jumlah Penduduk (juta) Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua INDONESIA 43 47 51 121 128 134 11 12 13 11 13 14 15 16 17 4 4 5 206 220 234 Penduduk Perkotaan (juta) 33.1 40.4 27.8 32.3 42.9 memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada menyediakan jawaban.0 41.8 24.6 49.1 54.6 54.8 34.5 44. perencana kota harus merencanakan masa depan dan masa depan berarti meningkatnya kawasan terbangun dan meluasnya kawasan metropolitan yang ada saat ini.1 25.2 59. solusinya harus ditujukan untuk mereka yang menikmati berbagai macam aktivitas kehidupan metropolitan karena mereka tidak meninggalkan metropolitan tetapi justru terus mengajak orang lain untuk tinggal di kota.3 35.3 Sumber: BPS.7 48.144 Metropolitan di Indonesia akan tantangan yang akan mereka hadapi. BAPPENAS.3 59.3 69.3 44.3 79.1 63.9 48.5 26. Atau mungkin sudut pandang lain harus juga diperhatikan.6 24. Peran apa yang ingin mereka mainkan? Apakah mereka akan berperan sebagai fasilitator atau justru berupaya menghalau kecenderungan ini? TABEL 5 . paling tidak bagi mereka yang gaya hidupnya terpenuhi oleh fasilitas-fasilitas dan pelayanan yang tersedia.8 53.0 38.10 Proyeksi Jumlah Penduduk dan Proporsi Penduduk Perkotaan Indonesia Menurut Pulau-pulau Utama Tahun 2000 .1 27. jika ada permasalahan yang diidentifikasi oleh perencana dan pengelola kota. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000–2025 Penutup Secara jelas telah dinyatakan bahwa metropolitanisasi menguntungkan.8 dan TABEL 5 .7 48.0 68.4 74.5 44.6 43. atau bukan suatu masalah.4 37. Indikator-indikator yang ditunjukkan TABEL 5 .8 28.8 56. UNFPA. Dengan kata lain.

Catatan editor: Analisis ekonomi di bab ini menggunakan batasan jumlah penduduk perkotaan yang berbeda dengan analisis kependudukan di bab sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga mengandung rekomendasi untuk diteliti lebih lanjut. yaitu: kota besar/metropolitan mempunyai penduduk lebih dari 700 ribu jiwa. dan Kependudukan 145 bersama-sama dengan desa disekitarnya berubah menjadi permukiman perkotaan. 14 . sedangkan kota kecil berpenduduk kurang dari 200 ribu jiwa. Pertumbuhan ini dapat diwakili oleh pertumbuhan penduduk yang pesat dan sekaligus pertumbuhan ekonominya. Surabaya. 15 Hasil penelitian empiris oleh Bambang dan Ringgi (2003) dalam pengelompokan besaran kota-kota di Indonesia ditemukan 3 kelompok. utamanya dalam pelayanan. Kota sedang berpenduduk antara 200 ribu jiwa dan 700 ribu jiwa.Sosial. apakah ada ‘invisible hand’ yang mengarahkan proses itu? Apa peran dan tanggung jawab pemerintah? Pemerintah pada tingkat mana? Bagaimana dengan peraturan zoning? Apakah ada dan dijalankan? Apakah pemerintah mengarahkan di mana seharusnya pihak swasta harus membangun atau sebaliknya? Apakah proses urbanisasi dan metropolitanisasi merupakan proses ‘alami’ dengan pasar merupakan kekuatan satu-satunya? EKONOMI PERKOTAAN14 Pendahuluan Pertumbuhan kota-kota selalu berbasis pada faktor ekonomi. Medan. ada beberapa kota di Indonesia mempunyai ukuran besar dengan penduduk lebih dari 700 ribu jiwa15. Kota-kota yang cepat berkembang pada dua dekade terakhir ini dapat ditengarai adanya potensi lokasi yang sangat menonjol. Namun demikian. Dibandingkan dengan kota-kota atau daerah-daerah lain. Bandung. Persoalan ini semakin kronis ketika jumlah penduduk terus meningkat yang umumnya berasal dari migrasi masuk ke kota yang disebut dengan urbanisasi. Ekonomi. yang paling kecil adalah Kota Padang dengan penduduk 702 ribu jiwa (tahun 2000). • • • • • Mengapa pola pertumbuhan kota metropolitan menjadi seperti yang selama ini terjadi. Jumlah kota-kota besar ini ada sekitar 14 kota. Titik tolaknya selalu terkait dengan keuntungan lokasi kota bersangkutan. dan Makassar yang sering disebut dengan metropolitan menunjukkan kekuatan lokasi yang strategis sehingga terus tumbuh dan berkembang. Kota-kota besar yang ada sekarang ini. Sebagai kota besar dengan jumlah penduduk yang besar. perbedaan tersebut tidak mempengaruhi pesan yang disampaikan oleh buku ini. Semua ini berwujud kegiatan ekonomi riil baik ekonomi formal maupun informal. kota-kota tersebut mengalami berbagai persoalan. seperti Jakarta.

146 Metropolitan di Indonesia TABEL 5 .9 5.12 di bawah ini menunjukkan kemungkinan tersebut.4 1. Baca penjelasan TABEL 5 .1persen.0 -13.2 -0.13. pada periode 1990-2000 terjadi penurunan urbanisasi. Namun kemudian pada periode berikutnya.3 Sumber: Hasil Analisis *) Secara fungsional.5 Kota Kecil (<200 ribu) 2.4 9. Selama ini laju pertumbuhan yang diakui pada periode tersebut sebesar 3. Kota-kota besar/metropolitan mempunyai tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi.4 persen16. Dengan demikian.4 persen adalah hasil penelitian oleh penulis. menurunnya tingkat urbanisasi ini selain dampak menurunnya tingkat ekonomi kota akibat krisis ekonomi 1998 yang lalu. yaitu 1990-2000.0 1999 -0. pertumbuhan kota besar jauh lebih besar dari angka 1. 16 . jumlah TKI di Luar Negeri sekitar 5 juta jiwa). juga karena adanya alternatif bagi migran untuk menjadi TKI di luar negeri (menurut informasi dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.9 -13. tetapi bila terjadi krisis ekonomi.0 8.9 -6.07 Rata-rata Kota 2. Lihat TABEL 5 .5 -0.4 persen menjadi 1. terjadi penurunan drastis dari 2.1 5.7 persen.11 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota 1980-1990 dan 1990-2000 1980-1990 (%) 1990-2000 (%) Kota Besar (>700 ribu) 2.6 1998 -5.0 Sumber: Hasil analisis.4 persen tersebut terdapat kesalahan yaitu memasukkan desa-desa yang menjadi kota dan memasukkan daerah-daerah perluasan kota dalam perhitungan pertumbuhan.8 6. sedangkan kota-kota besar sekitar 2. TABEL 5 .1* Kota Sedang (>200 ribu. TABEL 5 .4 3.4 3. maka kota-kota besar/metropolitan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang sangat tajam. Seperti yang bisa disimak pada Perhitungan laju pertumbuhan pada periode 1980-1990 sebesar 2.3 persen (hampir sama dengan laju pertumbuhan penduduk nasional).4 0.5 2002 1.1 -6.3 11.11. Data PDRB Kabupaten/Kota. <700 ribu) Kota Besar + Metropolitan(>700 ribu) Rata-rata Kota Nasional 1996 7. <700 ribu) 2.0 -1. BPS Pada TABEL 5 .1 4.7 1.4 persen.12 di atas juga dapat dikenali karakteristik kota-kota besar yang berbeda dengan kota-kota ukuran lebih rendah yaitu : 1.12 Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota-kota dan Nasional Sebelum dan Pasca Krisis Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Skala Wilayah Kota Kecil (<200 ribu) Kota Sedang (>200 ribu. Pertumbuhan penduduk kota yang paling dramatis terjadi pada periode 1980-1990 dengan laju pertumbuhan 2. Menurut penulis angka pertumbuhan 3.2 1. Diduga.

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

147

TABEL 5 - 12, pada periode 1996 pertumbuhan ekonomi sebesar 11 persen, tetapi

pasca krisis tahun 1997 yang lalu, laju pertumbuhan ekonomi mendadak kontraksi (minus) 13 persen. Namun demikian, ketika kondisi normal, maka laju pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan kembali ”leading”. Ini menunjukkan bahwa ekonomi kota-kota besar/metropolitan cukup ”vulnerable”. 2. Bandingkan dengan kota-kota kecil yaitu ketika situasi normal mempunyai laju pertumbuhan moderat sebesar 7,4 persen dan ketika terjadi krisis hanya mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen. Kemudian ketika situasi normal hanya terangkat menjadi 1,8 persen. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kota-kota kecil kelihatannya sudah steady atau mungkin terhambat.
TABEL 5 - 13 Laju Pertumbuhan Penduduk Kota-kota Metropolitan
Laju Pert. Penddk 1980-1900 (%) 2,41 4,13 Laju Pert. Penddk 1990-2000 (%) 0,16 2,25

No. 1.

Nama Kota Jakarta Kab. Bogor

Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi 2. Surabaya

0,94 6,10 6,29 2,05

10,97 4,12 4,70 0,43

3.

Kab. Sidoarjo Medan Kab. Deliserdang Bandung

3,17 2,30 2,59 3,47

2,97 0,97 2,09 0,41

Keterangan Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan Terjadi pengurangan wilayah akibat pemekaran kota Bogor dan kota Depok. Terjadi pemekaran wilayah kota Belum terbentuk. Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Laju pertumbuhan tetap tinggi Belum terbentuk kota, belum ada data Terjadi penurunan laju pertumbuhan karena kejenuhan. Laju pertumbuhan tetap tinggi Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan Laju pertumbuhan tetap tinggi

Terjadi penurunan laju Pertumbuhan karena kejenuhan. Kab. Bandung 1,83 2,71 Kenaikan laju pertumbuhan Sumber: Penduduk Indonesia, Hasil Sensus Penduduk 2000, BPS

4.

Berdasarkan kajian di atas memperteguh kesimpulan bahwa : 1. Kota-kota besar/metropolitan sangatlah lentur dalam menanggapi pertumbuhan, sementara kota-kota kecil terlalu kenyal. Dengan sifat yang lentur, maka kota-kota besar/metropolitan akan selalu menghadapi dinamika pertumbuhan dan sekaligus menghadapi dampak pertumbuhan itu sendiri.

148

Metropolitan di Indonesia

2. Dampak dari pertumbuhan yang mulai meningkat lagi pada pasca krisis adalah meningkatnya lagi urbanisasi pada pasca tahun 2000 walaupun tidak sedramatis tahun sebelum 1990 yang lalu. Angka-angka urbanisasi memang sulit diidentifikasi, tetapi bisa ditandai dari laju pertumbuhan penduduk yang tinggi pada kota bersangkutan. Namun demikian, perkembangan kota-kota besar/metropolitan umumnya sudah melampaui batas administrasinya atau mengalami kejenuhan sehingga laju pertumbuhan penduduk (dengan data penduduk sesuai dengan batas administrasi) akan terdata rendah (karena sedikitnya pemukiman baru). Dengan demikian, pertumbuhan penduduk di kota-kota besar/metropolitan akan terdata rendah dan kecenderungan urbanisasi itu akan terdata pada daerah-daerah/kota-kota yang berada di sekitar kota metropolitan bersangkutan dengan laju pertumbuhan yang tinggi. Hal ini dapat dikaji pada beberapa kota besar/ metropolitan seperti Jakarta dengan Bodetabek, Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo, Medan dengan Deli Serdang dan Binjai, atau Bandung dengan Kabupaten Bandung sebagaimana yang bisa diteliti pada TABEL 5 - 13. Pertumbuhan penduduk kota-kota metropolitan tersebut akan berimplikasi pada corak ekonomi kota-kota bersangkutan. Secara agregat, pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah bersangkutan. Seberapa jauh pertumbuhan penduduk kota-kota besar dibarengi oleh pertumbuhan ekonominya. maka bisa dikaji bagaimana corak PDRB perkapita dengan data-data PDRB tahun 1998 dan 2002 atas dasar harga tetap (1993) dan estimasi data penduduk tahun 1998 dan 200217 sehingga dapat dihitung PDRB per kapita dan laju pertumbuhan PDRB per kapita sebagaimana yang dapat disimak pada TABEL 5 - 14 di atas. Dengan demikian, ada empat kategori pertumbuhan ekonomi yang dapat diberikan sebutan sebagai berikut: a. Kota besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB per kapita juga lebih tinggi dari rata-rata. Kota seperti ini disebut sebagai kota ”star”. Hanya Jakarta Pusat dan Jakarta Utara yang pertumbuhan “leading” dan termasuk kota “star”;

b. Kota besar dengan PDRB per kapita lebih rendah dari rata-rata tetapi pertumbuhan PDRB perkapitanya lebih tinggi dari rata-rata, disebut sebagai kota “growing”. Kota Bandung, Padang, dan Palembang termasuk kota yang sedang tumbuh atau “growing”. c. Kota Besar dengan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB perkapitanya juga lebih rendah dari rata-rata, disebut Kota “steady”. Ada sembilan kota dari 19 kotakota besar/metropolitan yang termasuk dalam kota “teady” atau kota yang pertumbuhan ekonominya terhambat.

d. Kota Besar dengan PDRB per kapita lebih tinggi dari rata-rata, tetapi pertumbuhan PDRB per kapitanya lebih rendah dari rata-rata disebut sebagai Kota ”mature”. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Surabaya.
Data PDRB tahun 1998 digunakan atas pertimbangan linearitas. Seperti diketahui bahwa pada tahun 1997 terjadi krisis dan terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang drastis sehingga data-data tahun 1997 dan sebelumnya tidak bisa dibandingkan atau tidak linear. Data PDRB tahun 2002 digunakan karena data ini sudah merupakan data final.
17

Sosial, Ekonomi, dan Kependudukan

149

TABEL 5 - 14 PDRB Per kapita dan Laju Pertumbuhannya
PDRB 1998 (juta) (1) 4.833.911,19 2.321.172,65 2.652.629,00 1.584.900.00 12.264.754,68 16.074.778,28 6.109.404,20 13.074.022,33 9.857.557,04 5.680.177,00 5.294.952,14 3.060.637,00 1.327.648,33 915.583,00 4.737.732,57 2.323.694,19 15.429.196,46 2.589.506,89 JML PDDK 1998 (2) 1.881.080 702.638 1.406.774 731.406 1.783.298 2.337.276 888.309 1.900.966 1.433.291 1.259.840 2.133.091 1.565.698 1.120.836 727.118 1.335.042 743.965 2.577.732 1.075.404 PDRB/ KAPITA 1998 Po (3) = (1)/(2) 2,570 3,304 1,886 2,167 6,878 6,878 6,878 6,878 6,878 4,509 2,482 1,955 1,185 1,259 3,549 3,123 5,986 2,408 PDRB 2002 (juta) (4) 5.799.222,07 2.682.462,36 3.179.588,00 1.815.272,00 11.644.849,21 12.305.853,81 15.929.738,60 10.353.071,91 14.050.749,60 6.616.456,50 6.694.331,05 3.732.084,00 1.459.981,62 1.279.881,96 5.626.854,73 2.692.919,81 14.565.521,28 3.205.558,44 JML PDDK 2002 / 2003 (5) 1.993.602 765.450 1.339.315 790.895 1.707.093 2.103.525 893.195 1.565.708 1.182.749 1.416.840 1.867.010 1.809.306 1.247.233 789.423 1.350.002 772.642 2.659.566 1.148.312 Rata-rata PDRB/ KAPITA Pt (6) = (4)/(5) 2.909 3.504 2.374 2.295 6.821 5.850 17.835 6.612 11.880 4.670 3.586 2.063 1.171 1.621 4.168 3.485 5.477 2.792 4.950 LAJU PERTBH PDRB / KAPITA 1998 - 2002 α=(Pt/Po)¼ -1 (7) 0.0315 0.0149 0.0593 0.0145 -0.0020 -0.0396 0.2690 -0.0098 0.1464 0.0088 0.0963 0.0135 -0.0030 0.0652 0.0410 0.0278 -0.0220 0.0376 0.0416

NAMA KOTA (0) Medan Padang Palembang Bandar Lampung Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Tangerang Bandung Bekasi Depok Bogor Semarang Malang Surabaya Makassar

tetapi tetap kota-kota besar/metropolitan mempunyai posisi pertumbuhan PDRB per kapita yang rata-ratanya 4. Jakarta Pusat dan Jakarta Utara akan menjadi kawasan komersial. Kembalinya urbanisasi yang meningkat (butir 1). Dari kategorisasi kota-kota besar/metropolitan tersebut di atas. Karena terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka terjadi desakan-desakan pemanfaatan ruang ke arah penggunaan yang lebih komersial. dan Palembang sedang mengalami perkembangan yang sangat cepat. dan Surabaya mempunyai fenomena yang sama dengan ”star” di atas.3 persen18. Kota-kota “rowing” seperti Bandung. Oleh karena itu. 4. walaupun sebagian besar dikategorikan sebagai ”steady”. Terjadinya pergeseran peruntukan lahan kota dari perumahan menjadi kawasan komersial dengan tingkat perubahan yang berbeda-beda. Kegiatan TA 2005. pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan di Indonesia mempunyai implikasi sosial dan fisik sebagai berikut: 1. Akibat dari hambatan ini. Karena tidak didukung oleh ketersediaan lahan yang mencukupi maka perkembangan kota akibat tekanan pertumbuhan ekonomi ini akan berimbas pada kawasan sekitar kota besar/ metropolitan yang bersangkutan (spread development). hanya saja modal ekonominya masih rapuh.6. Diperkirakan masih banyak faktor-faktor percepatan ekonomi yang belum kondusif. . tetapi masih mengalami hambatan karena layanan prasarana dan fungsi perumahan yang masih kuat. Dalam banyak kasus yang mengalami tekanan seperti ini adalah peruntukan perumahan. sehingga pertumbuhannya relatif melambat. berkurangnya 18 PDRB Per Kapita dan pertumbuhannya secara nasional dari sumber: ”Kajian Pertumbuhan Kota-kota Dalam Rangka Pembangunan Prasarana Ke-PU-an”. 2. 3.150 Metropolitan di Indonesia Berdasarkan kategori di atas maka implikasi pertumbuhan ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut: 1. 3. pertumbuhannya tersendat dan berjalan tidak secepat kota-kota ”star”. PUSTRA. Padang. Pertumbuhan ”spread” adalah pertumbuhan kota yang tidak efisien dan menimbulkan banyak dampak antara lain: kemacetan lalu lintas. tetapi masih banyak hal yang menghambat. Dengan demikian secara berangsur dan cepat. Kota-kota ”mature” seperti Jakarta Selatan. Jakarta Barat. termasuk implikasinya terhadap pergeseran tata ruang (perumahan menjadi komersial). 4. Posisi pertumbuhan ekonomi kota-kota besar/metropolitan tersebut ditunjukan dalam GAMBAR 5 . Jakarta Timur. Kota-kota “star” seperti Jakarta Pusat dan Jakarta Utara merupakan kota yang ekonominya terus berkembang dan sangat dinamis.14) adalah jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDRB per kapita total kota-kota yang sebesar 2. 2. Kota-kota ”steady” yang merupakan sebagian besar kota-kota besar/metropolitan ini walaupun sedang tumbuh.16 persen (lihat TABEL 5 . Tetap mempunyai daya tarik ekonomi dan akan menarik kembali tingkat urbanisasi.

dan Makassar Jakarta Pusat dan Jakarta Utara PDRB/Kap.Tangerang. Bogor. 19 Yang dimaksud kota adalah kota otonom.Lampung. PDRB/Kap.6 Kategorisasi Kota-kota Besar/Metropolitan Cat: Analisis berdasarkan TABEL 5 . dan Kependudukan 151 fungsi kawasan lindung akibat dimanfaatkan untuk perumahan. Sekitar 40-50 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional disumbang oleh 90 kota19 atau sekitar 20 persen dari sekitar 430 kabupaten/ kota di Indonesia. tidak termasuk kota-kota kabupaten yang tidak otonom.Sosial. Bekasi. Malang. Jakarta Barat. Pert. dan sulitnya mengembangkan jaringan prasarana secara terpadu. Depok. Medan. . “growing” “star” Palembang. dan Surabaya “steady” “mature” GAMBAR 5 . Tantangan Kota sebagai pusat aglomerasi ekonomi dengan pola pertumbuhan sebagaimana diuraikan sebelumnya diakui mempunyai peranan yang sangat penting bagi ekonomi kota masing-masing dan ekonomi secara nasional karena: 1.14 Bagaimanapun juga kota-kota besar/metropolitan tetap tumbuh ”leading” dibandingkan kota-kota lain yang kesemuanya didorong oleh fungsi ekonomi dan peranan ini tentunya juga ”leading” bagi perekonomian nasional. Jakarta Timur. Padang. Lj. Bandung. dan Makassar Jakarta Selatan. Bd. Ekonomi. Semarang.

. PPN. Angka-angka per kapita kota-kota besar/metropolitan ini (yaitu Rp 4. c. Sedangkan PDRB Nasional per kapita sebesar Rp 6. PDRB per kapita kota-kota besar/metropolitan rata-rata Rp 4. sekitar 70 persen berasal dari pajak badan. Ini berarti tumbuhnya kota-kota besar/metropolitan selalu diikuti dengan jumlah kemiskinan yang besar dan berkembangnya ekonomi informal seiring dengan besaran PDRB itu sendiri. pajak final yang kesemuanya bersumber dari perkotaan. Selain penting dalam perekonomian nasional. Kemungkinan ketiga: kemungkinan butir 1 dan 2 ada semua. 3.7 juta) menunjukkan 3 kemungkinan 22. semakin berkembang pula kegiatan ekonomi informalnya. Walaupun kota-kota metropolitan secara agregat merupakan sumber ekonomi dan keuangan nasional. selain menjadi pusat pertumbuhan utama. Peranan ekonomi kota ini semakin menonjol pada kota-kota besar/metropolitan. dan 4. tetapi secara kapita kinerjanya lebih rendah dibandingkan kapita nasional yang dapat ditunjukkan bahwa : 1.7 juta. Seperti diketahui 80 persen APBN berasal dari pajak dan dari 80 persen pajak ini. 2.5 juta. 3. pajak pribadi. Kemungkinan kedua: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan bekerja di ekonomi informal sementara angka PDRB tidak memasukkan kegiatan ekonomi informal. 22 Data-data APBD dan PDB dari BPS. kota-kota metropolitan juga mempunyai peranan bagi sumber fiskal nasional.152 Metropolitan di Indonesia 2.5 juta) yang rendah ini dibandingkan dengan nasional (Rp 6. yaitu: a. Kota-kota besar/metropolitan dengan kompleksitas dan intensitas yang demikian tinggi serta merupakan ”focal point” ekonomi yang potensial itu. Sekitar 14 kota-kota metropolitan atau 3 persen dari total daerah menyumbang 30 persen PDB Nasional20. Semakin besar PDRB sebagai indikator ekonomi formal. 20 21 Berdasarkan data-data PDRB 1999 – 2003. juga membawa resiko beban-beban berat yang selalu mengiringi potensi-potensi pertumbuhannya. b. Potensi pertumbuhan yang sedang berlangsung itu tampaknya sulit dihentikan dan serta-merta beban-beban yang mengiringi juga terus menggelanjut. Diperkirakan 50 persen dari APBN berasal dari pajak kota-kota besar/ metropolitan21. Berdasarkan perkiraan perhitungan APBN 2005. Kemungkinan pertama: sangat banyak masyarakat kota-kota besar/metropolitan yang masih miskin dan tinggal di kawasan-kawasan kumuh dan juga berarti terdapat kesenjangan kesejahteraan yang besar di kota-kota metropolitan.

Sebagaimana telah diungkap di atas tentang adanya kemungkinan konsentrasi kemiskinan yang tinggi dengan corak praktik ekonomi informal yang berserak maka ada kesulitan bagi pemerintah kota-kota metropolitan untuk menanganinya. Laporan penelitian Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Bagi Hasil Pajak-pajak (BHP) yang ada (yang dikelola oleh Pemerintah).15). kekurangan prasarana pada umumnya. bantuan tunai. dan kota-kota kecil sebesar 20 persen (Samiaji 2003). dan Kependudukan 153 Dengan kemungkinan masalah perekonomian seperti kemiskinan dan kesenjangan kesejahteraan serta corak ekonomi informal yang mewarnai kehidupan kota-kota besar/ metropolitan sebagaimana yang diperkirakan di atas. kota-kota ukuran sedang 9. Cara pengentasan kemiskinan dan pengaturan ekonomi informal oleh pemerintah daerah dapat dilakukan melalui kebijakan fiskal daerah dengan kapasitas yang dimilikinya. 23 . maka sebenarnya upaya fiskal melalui belanja langsung APBD berupa belanja barang. tantangan utama dalam pengelolaan kota-kota besar/metropolitan adalah strategi pembangunan prasarana yang memberi kemungkinan tumbuhnya investasi langsung baik dalam negeri maupun luar negeri (Foreign Direct Investment). Adapun belanja APBD yang dikeluarkan setiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kota. adanya kemiskinan adalah kenyataan dan menjadi tugas pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mengentaskannya. jumlah kapasitas fiskal berupa APBD ini dibandingkan dengan kapasitas ekonomi daerah ternyata tidaklah seberapa. dan adanya ekonomi informal adalah kenyataan lain yang harus diatur agar menjadi kekuatan ekonomi alternatif. maka keluaran persoalan yang muncul utamanya pada persoalan fisik klasik menyangkut soal kemacetan lalu lintas. yang mungkin bermanfaat adalah belanja modal berupa prasarana yang bisa lebih memacu ekonomi riil masyarakat serta memicu investasi langsung.8 persen. Mengingat bahwa porsi fiskal terhadap ekonomi kota ternyata sangat tidak signifikan dengan rasio yang hanya 4 persen. Dalam rangka menyongsong investasi itu. Pada umumnya kapasitas fiskal kota-kota besar/metropolitan cukup potensial yang diperoleh melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). kawasan kumuh. kenaikan gaji. Rasio APBD terhadap PDRB bagi kota-kota besar/metropolitan rata-rata hanya 4 persen. dan menurunnya tingkat kualitas lingkungan. Dalam situasi ini kota-kota besar/metropolitan seolah mengalami obesitas yang beresiko tinggi. Artinya bahwa peranan fiskal daerah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah hanya 4 persen dan 96 persen berasal dari sektor riil atau ekonomi masyarakat (Lihat TABEL 5 .Sosial. Namun bagi kota-kota besar/ metropolitan. dan semacam itu kemungkinan besar tidak memberikan tambahan nilai yang berarti. Ekonomi. Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP). Dengan demikian. Semua ini menengarai bahwa perekonomian kota yang tumbuh selama ini ditopang oleh ”tulang-tulang penyangga” yang rapuh. menyatakan bahwa daya saing kota-kota besar/metropolitan secara Rasio APBD/ PDRB secara nasional 23 persen. persampahan. Namun demikian. atau sensitif terhadap persoalan-persoalan yang mengiringi pertumbuhannya. dan bantuan Pemerintah melalui Dana Alokasi Umum (DAU). masing-masing kota haruslah meningkatkan daya saing. Penjumlahan penerimaan tersebut terangkum dalam APBD. Porsi APBD terhadap PDRB sebesar 4 persen ini sangat kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 23 persen23.

02 0.04 Sumber : Hasil Analisis dari Data Keuangan SIKD Dep. Semarang 638 20.02 0.04 0. Lampung 369 6. Bekasi D C Kenaikan 14.BPS TABEL 5 .15 Rasio APBD terhadap PDRB (Harga Berlaku) PDRB (2004) No.04 0.022 5.168 33. Medan C BB Kenaikan 10. Semarang BB BB Tetap 7. Depok 390 6.127 Rata-rata Rasio (1)/(2) 0. Nama Kota APBD (2003) Dlm.16.360 3.04 0. Makassar 531 13. Makassar AA 2003 belum diteliti 5.320 59.078 2. Bandung BB C Penurunan 12.03 0. Bd. Tangerang C BB Kenaikan 11.290 13. Daya saing kota-kota besar/metropolitan berdasarkan penelitian KPPOD secara berurutan adalah disajikan pada TABEL 5 . Jakarta C AA Kenaikan 3.250 12.03 0. Bandung 962 27. Padang B BB Kenaikan 8. Bekasi 542 14.314 9. Palembang C AA Kenaikan 4. Malang C AAA Kenaikan 2. Padang 397 11. DKI Jakarta 9. Milyar Dlm.051 8. Surabaya B BBB Kenaikan 6.04 0.825 6. Surabaya 1.06 0.03 0.507 4. Depok Belum diteliti.745 14. Tangerang 523 20. Palembang 547 14. Milyar (2) (1) 1. Bandar Lampung C BB Kenaikan 9. Nama Kota 2003 2004 Keterangan 1. Sumber: KPPOD .08 0.03 0. Keuangan dan Data PDRB (atas Harga Berlaku) .154 Metropolitan di Indonesia umum semakin meningkat.982 375.399 11. Bogor C C tetap 13. Medan 1. Malang 336 9. Bogor 342 4.812 10. TABEL 5 .16 Peringkat Daya Tarik Investasi Kota-kota Besar/Metropolitan Tahun 2004 Peringkat Peringkat No.03 0.06 0.977 7.

apabila ada upaya peningkatan kualitas kelembagaan.16 menunjukkan kualitas yang konstan. Perbedaan ini terjadi karena pemantauan dan penilaian daya saing yang dilakukan oleh KPPOD adalah potret sesaat dengan kemungkinan setiap tahun peringkatannya bisa berbeda. Oleh karena itu bagi kota-kota besar/metropolitan yang memiliki prasarana yang lebih lengkap dan kinerja ekonomi yang dinamis. termasuk zoning regulation. Ekonomi. Perkembangan ke luar yang terus melebar sehingga mulai menyatu secara fisik dengan daerah yang berbatasan. dan Kependudukan 155 Peringkat di atas berbeda dengan TABEL 5 . Sebagai contoh: Semarang. Perkembangan kota yang bersifat ke luar dan ke dalam di kota-kota besar/ metropolitan ini sampai sekarang belum bisa dikendalikan baik melalui instrumen rencana tata ruang maupun melalui pengendalian tata ruang.Sosial. namun belum sempat menikmati datangnya investasi. Perkembangan ke dalam. pengembangan kelembagaan melalui kerja sama antar daerah khususnya dalam bidang pembangunan prasarana akan meningkatkan daya saing dan mampu mengundang investor untuk menanamkan modalnya di kota-kota metropolitan dan daerah-daerah yang berbatasan dengannya. pada tahun 2003 peringkatnya turun menjadi peringkat sepuluh dan pada tahun 2006 terperosok ke peringkat sembilan belas. Umumnya yang terjadi adalah pergeseran atau transformasi dari kegiatan perumahan menjadi kegiatan komersial. Sebagai kota besar/metropolitan dengan karakteristik perkembangan ”spread” dan bergabung dengan daerah-daerah di sekitarnya maka daya saing akan lebih mantap apabila ada sinerji antara kota besar/metropolitan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Pada tabel di atas. Implikasi Tata Ruang Sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan kota-kota besar secara fisik telah melampaui batas administrasi sehingga ada tanda bahwa telah terjadi dua pola pertumbuhan fisik kota-kota besar sebagai berikut: 1. Kota Malang malahan mempunyai daya saing yang paling tinggi di antara kota-kota besar/metropolitan lainnya. daya tarik investasi akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor prasarana dan faktor kelembagaan. maka daya tarik terhadap investasi akan lebih nyata. 2. 3. Bagaimanapun juga. 2. maka pemanfaatan prasarana tidaklah optimal. di peringkat KPPOD.15 yang mengkategorikan Kota Malang sebagai kota ”steady”. Walaupun prasarana suatu kota telah lengkap. yaitu pergeseran di dalam kawasan terbangun kota. pada dua tahun lalu ada di peringkat pertama. Kegagalan pengendalian tersebut diduga terjadi karena: . untuk meningkatkan daya tarik investasi kota-kota besar/ metropolitan diperlukan pengembangan kelembagaan yang lebih dinamis. Hubungan antara prasarana dan kelembagaan adalah: 1. Dengan demikian. Walaupun unsur kelembagaan juga menentukan. tanpa pengembangan kelembagaan. tanpa kelengkapan prasarana tetap saja tidak akan mengundang investasi. Untuk itu. sementara hasil analisis di TABEL 5 .

Berbagai kebijakan pengembangan tata ruang malahan semakin memicu dan memacu perkembangan kota yang meluas. dan pasar semakin memberi kemudahan bagi lokasi perumahan yang berada di luar lota. sekolah. 2. Penutup Kebijakan tata ruang menyebabkan kota besar semakin membesar dan meluas semacam Kota Obesitas. 3. ”Property Right” pemilik lahan lebih kuat daripada ”Development Right” pemerintah daerah. Pembangunan perumahan murah. Jika kebijakan pengembangan tata ruang masih berkutat pada pola pikir yang lama. Penyebaran fasilitas-fasilitas sosial-ekonomi seperti rumah sakit. seperti: 1. b. menyebabkan pengembang mencari lokasi yang harga tanahnya murah dan tentunya lokasinya jauh dari tempat kerja. Tidak adanya kerja sama antar daerah yang solid di antara kota besar/metropolitan dan daerah yang berbatasan. Pembangunan outer ring road akan merangsang tumbuhnya permukimanpermukiman baru. maka kota menjadi terus meluas. 4. 3. yang harga jualnya ditentukan oleh pemerintah. Sebagai akibat dari pola perubahan tata ruang dari dua sumber. Pembentukan sub-pusat sub-pusat kota mendorong munculnya permukimanpermukiman baru. 4. tanpa berupaya reorientasi terhadap masalah melalui terobosan-terobosan baru dan jitu. Kurangnya kapasitas pengawasan terhadap perubahan guna lahan dan kurangnya sistem data dan informasi geografi kota yang terbaharui untuk mendukung pengawasan. Pengembangan struktur kota seperti: a. Dengan demikian.156 Metropolitan di Indonesia 1. tetapi tergambarkan dalam perkembangan tata ruang yang justru tidak efisien. . Kota yang mengalami obesitas ini merupakan akibat langsung dari perkembangan ekonomi kota yang maju. Persepsi terhadap nilai-nilai ekonomi jangka pendek lebih kuat daripada nilai-nilai kelestarian yang efisien. nilai-nilai tambah ekonomi yang diciptakan oleh kota besar itu dikurangi sendiri oleh kebijakan tata ruang yang tidak efisien itu. 2. yaitu ke dalam dan ke luar tersebut. maka pada masa datang kota besar/metropolitan yang mengalami obesitas akan selalu beresiko (seperti manusia kegemukan yang beresiko tinggi terhadap penyakit degeneratif). terutama pemisahan zona bisnis dan zona industri dengan permukiman semakin memperbesar jarak antara kedua fungsi sehingga tidak efisien baik dalam pelayanan maupun pembangunan prasarana. Zonasi-zonasi guna lahan.

Demikian pula. Sungguh. ada baiknya kita kunjungi kembali “globalisasi” sebagai suatu fenomena sosial-ekonomi-budaya dan demografi. Globalisasi dilihat sebagai internasionalisasi: yaitu proses meningkatnya hubungan antar-negara. Di satu sisi kota hampir selalu menjadi sumber. Terlepas dari perdebatan akademik tentang arti globalisasi. lingkup dan kompleksitas . Ekonomi. kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang pesat dalam dua puluh lima tahun terakhir telah membuat fenomena tersebut saat ini berlangsung jauh lebih cepat dan dalam skala yang jauh lebih besar. Proses urbanisasi (baik karena migrasi desa-kota ataupun akibat pengalihan fungsi lahan) pun menjadi atribut yang tidak terpisahkan dari globalisasi. dan Kependudukan 157 GLOBALISASI DAN METROPOLITAN DI INDONESIA Pendahuluan Walau sudah sering menjadi topik pembicaraan dalam. pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan globalisasi akan mempengaruhi sikap terhadap globalisasi tersebut. serta memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi (UN-Habitat 2004). kemampuan suatu bangsa dalam mengelola kota-kotanya sesuai dengan tuntutan global (yang bisa bersifat eksternal maupun internal) akan mempengaruhi kemajuan relatif bangsa tersebut di tengah-tengah masyarakat global yang semakin kompetitif. sebagaimana disarikan oleh Smith 2002) melihat setidaknya ada lima jenis pemahaman tentang globalisasi: 1. Jan Art Scholte (2000. Dalam konteks inilah pembahasan globalisasi dan kota-kota metropolitan di Indonesia masih (dan selalu akan) dianggap perlu. globalisasi dan kota adalah dua konsep yang tak terpisahkan. globalisasi dalam pengertian yang luas sebagai suatu fenomena interaksi dan proses pengaruh-mempengaruhi secara sosial-ekonomi-budaya-demografi dari bagian bumi yang satu ke bagian yang lain pun dapat dikatakan telah berlangsung selama berabad-abad sebagaimana yang tergambarkan dalam kisah Marco Polo atau Admiral Cheng Ho. kemampuan pengelola kota dalam memahami berbagai perubahan global—yang bersifat terus menerus—serta pengaruhnya terhadap kehidupan kota yang dikelolanya akan sangat mempengaruhi kemampuan kota tersebut untuk berkembang dan bersaing dengan kota-kota lain di dunia yang semakin saling tergantung satu sama lain. khususnya mereka yang tinggal atau bekerja di kota-kota besar atau metropolitan. Implikasinya. yang menyebabkan semakin hari semakin banyak bagian dari bumi yang semakin terkait dan saling mempengaruhi.Sosial. Padahal. fenomena intensifikasi keterkaitan yang semakin mendunia sebenarnya dapat dirasakan oleh sebagian besar orang. Hanya saja. dengan lingkup yang lebih luas menjangkau berbagai bidang. seperempat abad terakhir ini—bahkan cenderung menjadi jargon yang klise—istilah “globalisasi” yang mulai dikenal pada awal 1980-an masih belum memiliki definisi yang disepakati bersama (Centre for Developing Cities 2006). simpul dan penggerak dari berbagai perubahan. pertukaran antar-negara (international exchange) serta kesalingtergantungan. Dalam konteks inilah globalisasi dianggap telah terjadi selama berabad-abad walaupun kecepatan. di sisi lain kota pun merupakan bagian bumi yang paling cepat dipengaruhi oleh berbagai perubahan global. kurang lebih. Lebih-lebih. besaran. Mengunjungi Kembali Globalisasi Sebelum melangkah lebih jauh.

Globalisasi dilihat sebagai modernisasi dan. barang. khususnya yang berkaitan dengan penyesuaian struktural (structural adjustment) negara-negara berkembang terhadap sistem ekonomi neo-klasik yang dipercaya oleh lembagalembaga multilateral tersebut sebagai pilihan terbaik dalam menghadapi globalisasi. Namun pada kurun waktu setengah abad terakhir ini terjadi pula proses multilateralisasi yang lebih mendasar. Globalisasi dilihat sebagai liberalisasi. secara lebih sempit. media berita ala CNN. yaitu proses rekonfigurasi geografis yang menyebabkan ruang-ruang sosial tidak lagi selalu diartikan secara fisik-teritorial. pengalaman. akibat peran penting lembagalembaga seperti PBB. Globalisasi dilihat sebagai universalisasi. khususnya di negara-negara Barat yang dianggap “maju”—serta perkembangan teknologi komputer dan internet. bisnis multi-level marketing ala Amway dan lain-lain). gerai makan cepat saji ala McDonald atau KFC. Termasuk dalam hal ini adalah penerimaan atau imposisi model ekonomi neo-klasik sebagai paradigma dominan (kalau tidak mau mengatakannya sebagai paradigma tunggal) untuk pembangunan ekonomi. Globalisasi dilihat sebagai de-teritorialisasi (atau malah terbentuknya suatu suprateritorial). Pernyataan-pernyataan yang agak berlebih seperti terjadinya “death of distance” atau bahkan “death of geography”25 pun muncul sebagai salah satu penekanan cerminan sudut pandang ini. 24 25 Sebagai salah satu contoh baca Kwik 2006. serta televisi dan film dilihat sebagai sangat kuat mempengaruhi universalisasi tata-nilai ini. Bank Dunia. 3. . pembaratan (westernization): yaitu sebagai dinamika. ditunjukkan oleh struktur dan atribut sosial modern (kapitalisme. Termasuk dalam kategori pemahaman ini adalah konsep kesaling-tergantungan (inter-dependency) yang juga merupakan ciri globalisasi. Karena Amerika Serikat—beserta budaya kontemporernya—sering dilihat sangat mendominasi proses-proses yang ada. jasa. IMF. 4. Pernyataan “death of geography” sebagaimana dikutip dalam Smith 2000 tentunya terlalu berlebihan. Mahkamah Internasional dan belakangan WTO dan terkadang bahkan dapat mendikte kebijakan suatu negara24. orang dan lain-lain. cara-pandang serta perilaku ke segala penjuru dunia akibat persebaran informasi. informasi dan manusia sehingga akan terbentuk suatu ekonomi dunia yang tanpa batas. yaitu sebagai proses terbentuknya kesamaan nilai-nilai. 5.158 Metropolitan di Indonesia perubahannya berbeda. Peran globalisasi pendidikan— semakin banyaknya orang yang bersekolah di negaranegara lain.apalagi mengingat bahwa justru banyak ahli geografi yang menekuni persoalan globalisasi. norma-norma. Seringkali dalam proses memoderenisasi ini menghancurkan budaya serta atribut dan bahkan keswadayaan lokal yang ada. salah satu pandangan yang masuk dalam kategori ini melihat globalisasi secara lebih sempit lagi sebagai Amerikanisasi (sebagaimana merebaknya model celana jeans. dan oleh karenanya sistem ekonomi nasional pun harus menyesuaikan dengan prinsip-prinsip ekonomi neo-klasik. rasionalisme. minuman ala Coca Cola. 2. yaitu sebagai proses terhapusnya secara gradual hambatan-hambatan yang ditetapkan oleh masing-masing negara bagi pergerakan barang. industrialisme dan lain-lain) yang tersebar ke berbagai penjuru dunia.

sebagaimana dikutip oleh Smith 2002) mendefinisikan globalisasi sebagai intensifikasi hubunganhubungan sosial yang menyeluruh dunia dan menghubungkan tempat-tempat yang berjauhan sedemikian sehingga apa yang terjadi di suatu tempat dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kejadian di tempat lain yang berjauhan. informasi dan manusia. Lebih lanjut lagi. hanya berbeda aspek atau sudut pandang. telepon genggam atau media lainnya. berlibur. Anthony Giddens (1990. perluasan pasar yang semakin mengglobal mengakibatkan timbulnya perusahaan-perusahaan berskala besar yang mampu mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk penelitian dan pengembangan produknya. Berbagai ilustrasi di atas menggambarkan karakteristik kesaling-terkaitan (interconnectedness) dari globalisasi. (iii) merebaknya tata-nilai ‘universal’. Oleh karenanya tulisan ini—dalam melihat pengaruh globalisasi kepada kota-kota—justru akan menggunakan secara komprehensif kelima pemahaman di atas secara lebih bebas sebagai atribut dari globalisasi. Ekonomi. jasa. perusahaan-perusahaan software di negara maju mensubkontrakkan sebagian pekerjaannya kepada perusahaan atau individu di negara berkembang— mungkin tanpa harus bertemu muka—demi menghemat biaya. Akses ke informasi pun semakin terbuka bagi semakin banyak orang. Apapun definisinya. Demikian pula dengan timbulnya komunitas-komunitas maya (virtual) yang terbentuk melalui media internet dan tidak mengenal batas-batas geografis. (ii) berkurangnya batas-batas bagi mobilitas barang. Sebaliknya.Sosial. jasa dan manusia dari satu tempat ke tempat lain. misalnya. Hal ini. Walaupun Scholte lebih cenderung menggunakan pemahaman yang terakhir (deteritorialisasi) sebagai penjelasan globalisasi. Dan hal-hal seperti ini mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia. barang. Orang-orang di desa. baik dalam bekerja. mungkin saja memperoleh informasi tentang pasar global komoditasnya bahkan secara real-time melalui internet. atau bisa juga merupakan bentuk lain dari kursus-kursus melalui internet yang ditawarkan sekolahsekolah di negara-negara maju kepada murid-murid di negara berkembang). dikombinasikan dengan perkembangan pasar yang juga semakin kompetitif menyebabkan percepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (misalnya pada perangkat lunak . bersosialisasi dan bahkan dalam berpikir. perusahaan-perusahaan atau produk-produk tertentu tidak lagi dapat diasosiasikan dengan suatu negara karena baik kepemilikan atau proses pembuatannya tidak lagi terbatas pada pihak-pihak dari satu negara. bertinggal. dan (v) de-teritorialisasi. globalisasi sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang telah mempermudah dan mempercepat arus informasi. (iv) industrialisasi barang dan jasa. namun sebenarnya masing-masing pemahaman di atas memiliki kandungan kebenaran jika dikaitkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi. belajar. banyak murid-murid di Amerika Serikat mengambil semacam les dari guru-guru sekolah di India yang bisa menawarkan jasanya jauh lebih murah daripada guru-guru di Amerika Serikat (Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk lain dari fenomena e-subcontracting. dan Kependudukan 159 Dengan pemahaman semacam ini. Suatu unit usaha di suatu negara bisa saja melakukan suatu sub-kontrak dengan suatu pihak dari belahan bumi yang lain tanpa harus bertemu muka. berbelanja. Salah satu fenomena menarik yang terjadi akhir-akhir ini adalah apa yang disebut e-tutoring. yaitu: (i) meningkatnya interaksi global.

Kampung Bugis. New York atau Paris. diskontinuitas dan bahkan chaos yang tak terjelaskan.dan lain-lain). Di sini aspek multi-kulturalisme menjadi atribut yang sangat kental bahkan menjadi ciri dari kota-kota global yang kosmopolitan. konsep modal sosial menjadi lebih mudah dipahami. yang melihat prinsip-prinsip universal sebagai sesuatu yang tak terbantahkan. di dunia ini. telepon genggam. jauh dari kultur setempat. ke cara pandang yang lebih mengakui kemungkinan terjadinya ketidakpastian. Masyarakat yang memiliki modal sosial besar walau secara individu mungkin memiliki kapasitas terbatas bisa saja lebih maju dan berkembang daripada masyarakat yang secara individu memiliki kapasitas tinggi tetapi secara kesuluruhan memiliki modal sosial yang lemah. bisa lebih besar/kuat atau lebih kecil/lemah tergantung bagaimana berhubungan antar-bagian yang ada). Termasuk dalam hal ini adalah pengakuan terhadap eksistensi ekonomi informal perkotaan yang seringkali sulit dijelaskan dan didekati secara formal. . waktu dan budaya sebagai faktor yang tidak hanya harus dipertimbangkan tetapi justru harus dominan. yang kemudian mempengaruhi perilaku di berbagai bidang. proses yang sangat kompleks ini juga menyangkut dimensi sosial (misalnya dengan berubahnya struktur dan tingkat kerekatan komunitas di dalam masyarakat). Globalisasi pun dipengaruhi oleh perubahan atau pergeseran cara pandang atau cara berpikir. Dengan pengertian ini. Ketiga adalah dari cara pandang universal. 2005). di berbagai belahan dunia). Globalisasi juga dipahami tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi saja. politik-kelembagaan (misalnya dengan semakin diadopsinya sistem demokrasi ala Barat. yang seringkali diterapkan hanya secara prosedural. televisi dan lain-lain).Kampung Jawa. dan juga spatial atau tata-ruang (termasuk di dalamnya proses migrasi yang semakin meningkat sehingga menyebabkan tumbuh dan semakin beragamnya “urban ethnic space” atau bagian-bagian kota yang dihuni oleh berbagai suku-bangsa secara mengelompok26) (Habitat. Jadi keterkaitan antara globalisasi dan perkembangan teknologi adalah hubungan yang bersifat timbal balik dan saling mendorong. Demikian halnya dengan kota-kota dunia (global cities) seperti London. lingkungan hidup (misalnya polusi antar-bangsa dalam bentuk asap dari kebakaran hutan di Indonesia yang diderita warga di Singapura. setidaknya terjadi lima pergeseran cara pandang. Kedua adalah pergeseran dari cara pandang yang mekanistik (Newtownian) yang menganggap suatu sistem selalu mempunyai ekuilibrium.Kampung Bali. budaya (misalnya dengan kemunculan generasi MTV di kalangan generasi muda di belahan bumi mana pun dan merasa lebih memiliki kesamaan di antara mereka dibanding dengan generasi orang tua di negara yang sama). Soegijoko. ke cara pandang “kontekstualistik” yang mengakui konteks lokal.160 Metropolitan di Indonesia maupun keras bagi komputer.pernah memiliki sudut-sudut kota yang dihuni oleh migran dari berbagai tempat di Nuantara secara berkelompok-kelompok (Kampung Ambon. Richard Norgaard (1994) melihat. Malaysia dan lainnya). Kota-kota besar di Nusantara seperti Jakarta misalnya. Pertama adalah pergeseran dari cara pandang yang bersifat atomistic (dengan mana keseluruhan sistem dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya) ke cara pandang holistic (dengan mana keseluruhan sistem tidak selalu dianggap sama dengan jumlah total dari bagian-bagiannya. 2004. Pergeseran dalam hal ini tidak bisa 26 “Urban ethnic space” sebagaimana yang dikemukakan dalam Habitat 2004 sebenarnya juga sudah terjadi sejak adanya proses migrasi besar-besaran selama berabad-abad.

tuntutan akan partisipasi masyarakat menjadi lebih tinggi. cepat dan sangat berorientasi pada hasil. terutama untuk mengurangi bias dari si pengambil keputusan. dan Kependudukan 161 dikatakan tuntas karena masih banyak pelaku pembangunan dunia yang sangat percaya dengan nilai-nilai yang sifatnya universal dan berusaha mempromosikan hal tersebut namun di sisi lain juga cukup banyak pelaku pembangunan yang selalu menekankan pentingnya konteks lokal. Ada hal-hal yang dikenal sebagai “government failures” seperti ketidakefisienan. Maka timbul era yang menganggap sektor swasta lebih mampu menyediakan berbagai pelayanan maupun melaksanakan pembangunan. Memang ada hal-hal yang lebih baik diserahkan kepada pihakpihak yang dapat bekerja lebih efisien.Sosial. Kemudian disadari bahwa pemerintah tidak akan mampu mengerjakan semua hal. sehingga tidak hanya penyediaan air minum yang diswastakan tetapi bahkan terdapat kota-kota yang hampir sepenuhnya dibangun oleh swasta. kekakuan birokrasi. Pendekatan dalam penelitian maupun perencanaan yang diakui pun tidak lagi harus yang bersifat positivistik dan bebas-nilai tetapi mencakup pendekatan penelitian “participant-observation” dan pendekatan perencanaan melalui proses-proses komunikasi (“planning through communication”). Pada tataran yang lebih praktis. Namum pendekatan yang berorientasi swasta seperti ini pun tidak lepas dari berbagai persoalan. Di masa lalu. di dalam pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan publik sehari-hari pun telah terjadi pula pergeseran yang cukup berarti. Norgaard melihat adanya pergeseran dari cara pandang yang “monistik” yang hanya mengakui satu kebenaran atau penjelasan akan suatu fenomena ke cara pandang yang “pluralistik” yang mengakui kemungkinan adanya beberapa kebenaran atau penjelasan. Oleh karenanya. kelembaman untuk berubah dan lain-lain. Keempat adalah pergeseran dari cara pandang (umumnya di dunia penelitian atau keilmuan) yang mengagung-agungkan “objektivitas positivisme” ke cara pandang yang mengakui kemungkinan adanya subyektivitas atau keberpihakan di dalam ilmu (yang bisa dianggap sebagai konstruksi sosial). Terkandung di dalam pergeseran paradigma yang kelima ini adalah multi-kulturalisme sebagai pengakuan bahwa dunia—khususnya kotakota besar—tidak hanya dihuni oleh manusia-manusia yang berbudaya sama. Di era ini pemerintah diharapkan untuk berperan sebagai regulator saja. Ekonomi. Swasta pun cenderung tidak mau menyediakan barang atau pelayanan bagi kaum yang . khususnya yang berkaitan dengan kegagalan pasar. Kelima. swasta tidak akan pernah mampu menyediakan barang atau pelayanan yang sepenuhnya bersifat publik (public goods) yang bisa dinikmati oleh semua orang tanpa harus membayar. Kini lebih banyak orang yang bisa (atau terpaksa) menerima perbedaan pendapat dibanding di masa lalu. Namun pada saat yang hampir bersamaan bisa saja terjadi pula penguasaan cara pandang (misalnya pandangan neo-klasik sebagai paradigma dominan ekonomi dunia) atau pemaksaan cara pandang tertentu oleh kekuasaan adidaya (misalnya dalam hal terorisme global). pada umumnya pembangunan maupun pengelolaan publik sangat didominasi oleh pemerintah (dan seringkali pemerintah pusat). Terjadilah gelombang privatisasi di berbagai sektor sebagai bagian dari perubahan pola berpikir global.

Di satu sisi globalisasi membuat batas-batas negara semakin menipis. pergeseran peran-peran dalam pembangunan ini. tahap 1 Pemerintah dianggap paling mengetahui apa yang dikehendaki rakyat tahap2 Sistem pasar dianggap paling efisien dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tahap 3 Kemitraan yang setara dianggap sebagai cara terbaik swasta swasta swasta pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat pemerintah Masyarakat Terjadi “kegagalan pemerintah”. lokal. Salah satu implikasi dari situasi seperti ini adalah timbulnya berbagai ketegangan (tensions).162 Metropolitan di Indonesia sangat miskin di mana marjin keuntungan dianggap sangat tipis atau bahkan tidak ada27. regional. masyarakat kehilangan kepercayaan Terjadi “kegagalan pasar”. baik di negara maju maupun di negara berkembang—termasuk Indonesia—baik pada tingkatan negara. regional maupun lokal dan bahkan pada tataran komunitas dan keluarga. 27 . namun di sisi lain juga terjadi pula gelombang desentralisasi atau lokalisasi di mana timbul tuntutan agar sebanyak mungkin keputusan publik dan pelaksanaannya di lakukan ditingkat lokal/komunitas Padahal Prahalad (2004) justru melihat potensi investasi di tengah-tengah masyarakat yang paling miskin sekalipun. baik yang bersifat global. Ketegangan sendiri sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan (embedded) dalam globalisasi.7 Diagram Pergeseran Peran Pelaku dalam Pembangunan/ Pengelolaan Publik Perubahan-perubahan semacam di atas terjadi di mana-mana.7.peran (atau tuntutan akan peran) masyarakat madani semakin meningkat untuk mengimbangi baik kegagalan pemerintah (government failures) maupun kegagalan pasar GAMBAR 5 . Maka pada tahap berikutnya. komunitas maupun individu—tentunya dengan tahap dan skala maupun intensitas yang berbeda-beda. penurunan kualitas ruang publik ? GAMBAR 5 . Swasta juga cenderung tidak mau melakukan investasi dengan modal yang sangat besar dengan pengembalian modal yang berjangka sangat panjang serta beresiko tinggi.

“putra daerah” dianggap punya hak lebih dalam banyak hal daripada “pendatang”). baik melalui pemaksaan perubahan cara berpikir. yang seringkali harus dipikul oleh pihak-pihak yang tidak menikmati. Timbul fenomena “globalization” yang penuh ketegangan atau tarik ulur antara kekuatan-kekuatan global dan kekuatan-kekuatan lokal. Memang. Bagi mereka yang memiliki akses kepada teknologi dan informasi serta sumberdaya finansial atau lainnya untuk berkompetisi maka globalisasi dapat dianggap sebagai menguntungkan (beneficial) secara ekonomi. maka proses globalisasi dianggap dapat menyebarkan tata-nilai yang dianggap baik tersebut. Walmart atau Carrefour sering mendapat tentangan dari komunitas lokal yang tidak menghendaki bisnis-bisnis kecil dan khas tergusur oleh perusahaan global tersebut. Lembaga-lembaga global ini sering dilihat sebagai simbol neo-kolonialisme. Pada intinya. penyediaan rumah-rumah. prasarana air minum. Atas dasar pertimbangan inilah kemudian timbul gerakan anti-globalisasi yang kemudian berubah menjadi “globalisasi dari bawah” dan menuntut adanya keadilan global. Karena hal tersebut di ataslah globalisasi tidak selalu dianggap sebagai suatu yang positif. Selanjutnya. Ketegangan (tension) juga timbul manakala produk-produk import yang bisa masuk secara lebih mudah ternyata mematikan atau melemahkan usaha lokal/domestik yang menghasilkan produk-produk sejenis. banyak pengusaha-pengusaha kecil yang tidak terlindungi oleh pemerintah lokal terpaksa tergusur oleh toko-toko wholesale global seperti Walmart atau Carrefour. . intensitas dan kompleksitas konflik yang 28 Kenyataan ironis di era yang sangat berorientasi kepada teknologi informasi adalah angka yang menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen penduduk dunia belum pernah menggunakan sarana telepon (lihat misalnya Jakarta Post. Demikian pula dengan bertumbangannya tingkat keswadayaan lokal dan meningkatnya ketergantungan pada faktor-faktor eksternal yang lebih jauh dapat dianggap mengancam keberlanjutan pembangunan di tingkat lokal. hal. Terdapat pihak-pihak yang harus turut menanggung biaya tetapi tidak menikmati manfaat dari proses yang sedang berlangsung. Ketegangan juga timbul akibat dari semakin menguatnya proses privatisasi yang bahkan masuk ke ruang-ruang yang selama ini merupakan domain publik: taman-taman. sehingga timbul penentangan-penentangan sebagaimana diilustrasikan di atas. ketegangan atau bahkan konflik sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari globalisasi—dengan skala. 17). Namun proses-proses ini terjadi tidak tanpa ongkos. Bahkan tentangan terhadap lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan IMF sudah merupakan berita sehari-hari. ruang kota untuk bersosialisasi. jalan utama bahkan pembangunan seluruh kota. Ekonomi. kebijakan sosial-ekonomi dan lain-lain melalui persyaratan-persyaratan hutang yang seringkali dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang. September 21. Salah satu implikasi dari privatisasi adalah sulitnya dipenuhi kebutuhan kaum miskin karena pihak swasta tentunya lebih memberi perhatian kepada mereka yang mampu membeli layanan atau barang komoditasnya.Sosial. Demikian pula bagi mereka yang ingin memajukan nilai-nilai seperti demokratisasi. selama akses kepada sumberdaya (termasuk teknologi dan informasi) masih belum merata—dan prospek untuk terjadi pemerataan belum terlihat jelas—maka distribusi manfaat dan biaya dari globalisasi masih akan selalu timpang28. Kentucky Fried Chicken. 2006. Simbol-simbol globalisasi seperti McDonald. dan Kependudukan 163 (atau bahkan primordialisme.

tempat berkumpulnya berbagai bisnis sejenis atau terkait yang dapat menciptakan apa yang agglomeration of economies (pengumpulan berbagai ekonomi terkait). Contoh yang sering dirujuk adalah kota San Francisco dengan Bay Area-nya (tempat Silicon Valley berada) yang merupakan tempat bagi Stanford University. Lebih jauh lagi. Namun dalam perkembangan paling akhir. baik secara fisik maupun sosiokultural) yang baik dan tidak kalah dengan kota-kota besar. Sebaliknya pengaruh globalisasi paling cepat dan paling besar dirasakan di kota-kota (oleh masyarakat kota). Kota-kota besar umumnya juga menawarkan pasar—atau akses ke pasar—yang relatif lebih besar daripada yang ada pada kota-kota yang lebih kecil. dan umumnya perguruan tinggi tersebut berada di dekat kota besar. Demikian pula. khususnya kawasan metropolitan. maka terjadi proses pelebaran kesenjangan penerimaan manfaat globalisasi antara kota-kota besar dan kota-kota yang lebih kecil atau kawasan perdesaan. Manuel Castells menekankan pentingnya suatu milleu of innovation atau suatu kumpulan komunitas manusia yang berorientasi ke inovasi bagi perusahaanperusahaan yang berorientasi teknologi informasi untuk dapat selalu memiliki keunggulan komparatif di era globalisasi ini (Castells 1986). telah terjadi pergeseran pilihan lokasi investasi (khususnya di sektor jasa dan industri informasi-telekomunikasi) dengan adanya kecenderungan untuk memilih kota-kota kedua (secondary cities) yang dianggap lebih nyaman ditinggali daripada kota-kota metropolitan yang ditandai dengan harga properti yang semakin mahal. terutama karena keunggulan dalam ketersediaan sarana dan prasarana yang bersifat global (misalnya jaringan telekomunikasi global). kemacetan lalu-lintas yang semakin parah. Upaya mengantisipasi dan merespon pun perlu memasukkan pertimbangan adanya keteganganketegangan atau konflik ini. merupakan sumber. University of California at Berkeley dan berbagai universitas lain.164 Metropolitan di Indonesia lebih tinggi dibanding dengan apa yang terjadi di era pra-kontemporer. Pengusaha-pengusaha global cenderung memilih kota-kota besar sebagai pusat dan simpul operasinya. Implikasi bagi Kota-kota Metropolitan Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. polusi yang semakin menyesakkan serta kriminalitas yang semakin mengkhawatirkan. 2006. Kota-kota. Berbagai inovasi yang kemudian mendunia sering muncul dari kedua kawasan perkotaan tersebut maupun dari tempat-tempat lain yang sejenis. simpul dan penggerak berbagai perubahan yang kemudian menggelinding menjadi apa yang disebut globalisasi. atau Boston Metropolitan Area (tempat Route 128 berada) dengan Harvard University dan Massachussett Institute of Technology dan berbagai universitas terpandang lainnya. globalisasi dan urbanisasi merupakan dua konsep yang tidak terpisahkan. kota-kota besar juga cenderung memiliki pool yang lebih besar akan tenaga ahli dengan pendidikan atau keterampilan yang sesuai dengan kebutuhannya. Namun pergeseran seperti ini hanya terjadi pada secondary cities yang memiliki akses teknologi komunikasi informasi serta amenities (atribut untuk kenyamanan. Dengan perkembangan . sebagaimana dilaporkan dalam Newsweek July 3-10. Milleu of innovation semacam ini cenderung terbentuk di sekitar perguruan tinggi dengan lembaga-lembaga risetnya. Dan karena seringkali kotakota besar atau metropolitan memiliki keunggulan infrastruktur dibanding kota-kota yang lebih kecil.

Ekonomi. khususnya kota metropolitan dapat dilihat sebagai memiliki tiga tataran atau aras: [1] Pengaruh globalisasi pada sistem perkotaan global. namun pada tingkatan-tingkatan di bawahnya susunan kota-kota lebih mudah berubah. kota-kota metropolitan pun bersaing dengan kota-kota yang lebih kecil dalam upaya mendatangkan investasi yang lebih memiliki nilai tambah relatif lebih besar yang ada pada sektor-sektor yang terkait dengan teknologi-telekomunikasiinformasi (dibanding pada sektor-sektor manufaktur konvesional yang sering lebih mengandalkan tenaga buruh murah sebagai basis pilihan lokasi). [2] Pengaruh globalisasi pada hubungan yang juga dinamis (selalu berubah) antara kota-kota utama atau metropolitan dan kota-kota sekunder di sekitarnya. Di banyak kota-kota besar dunia. Tersirat di sini adalah adanya kompetisi antar-kota untuk menjadi semacam “pusat” atau “hub” (simpul) kegiatan ekonomi dari suatu region—kalau bukan dunia—sebagaimana yang terlihat pada persaingan yang cukup ketat antara Singapura dan Bangkok dalam upaya mereka menjadi hub bagi lalu-lintas udara di Asia Tenggara. London dan Tokyo. termasuk berkomunikasi dengan mitra usaha di mancanegara dari rumah atau kantor di pinggiran atau warung telekomunikasi terdekat. pengaruh globalisasi terhadap kota-kota. Globalisasi pun dapat mempengaruhi struktur tata ruang internal kawasan metropolitan. Toh mereka tetap bisa mengerjakan banyak hal. misalnya. Walau di tingkat teratas sistem perkotaan global mungkin tidak banyak terjadi perubahan (ketiga kota yang disebut di atas masih belum tergoyahkan oleh kotakota lainnya). Secara terstruktur. Walaupun pola aktifitas ekonomi yang berpusat pada kawasan pusat kota masih tetap mendominasi kegiatan sehari-hari di berbagai kota metropolitan di dunia (sehingga menimbulkan arus penglaju yang sangat besar dari pinggiran kota ke pusat kota di pagi hari dan sebaliknya di sore hari). namun perkembangan teknologi-informasi telah sedikit-banyak mengurangi ketergantungan untuk aktifitas tatap-muka sehingga timbul pusat-pusat baru di pinggiran kota. serta tingkatan-tingkatan di bawahnya yang menunjukkan besarnya/luasnya cakupan pengaruh kota-kota tersebut—khususnya di bidang ekonomi-finansial—baik di tingkat global maupun regional. Sementara di kota-kota besar di negara berkembang yang berpenduduk besar tetapi memiliki keterbatasan infrastruktur seperti Indonesia yang umumnya terjadi justru suatu mega urban sprawl. Kecenderungan yang terjadi di banyak kawasan metropolitan di dunia—khususnya di negara-negara maju—adalah terbentuknya apa yang sering disebut sebagai decentralized concentration atau konsentrasi yang terdesentralisasi. baik yang berskala kota-baru atau kota satelit maupun yang hanya berupa warung-warung telekomunikasi di kawasan-kawasan permukiman pinggiran. perusahaan-perusahaan tertentu membolehkan karyawannya untuk datang ke kantor pusat hanya dua atau tiga hari seminggu. yang seringkali tumbuh tidak teratur. Hal seperti ini tentunya dapat mengurangi biaya transportasi dan jumlah penglaju harian di kawasan kota metropolitan sekaligus mempengaruhi tata-ruang yang ada. Kalau di masa lalu kota-kota sekunder sering dilihat hanya sebagai pendukung bagi kota-kota . sisanya mereka dapat berkantor di kantor-kantor cabang di pinggiran kota atau di fasilitas semacam warung telekomunikasi di dekat mereka tinggal. atau bahkan dari rumah mereka masing-masing. menurut Sassen (1994). kawasan perkotaan menyambung menjadi satu (walaupun mungkin saja masih terdapat kawasan berkarakter perdesaan di dalamnya).Sosial. dan Kependudukan 165 terakhir seperti ini. terdapat kota-kota global tingkatan pertama seperti New York.

Walmart. sangat tergantung kepada seberapa jauh kota metropolitan tersebut terbuka (exposed) terhadap globalisasi serta faktor-faktor sosial.17 berikut: TABEL 5 . yang terjadi di suatu kota metropolitan tidak sama dengan yang terjadi di kawasan metroplitan lain. Sementara kota-kota di negara berkembang pun tidak luput dari ancaman yang sama dari apa yang disebut footloose industries tersebut. Namun secara umum terdapat pola perubahan tata-ruang yang sangat dipengaruhi oleh berubahnya sistem ekonomi-bisnis dunia. Sebagai contoh. [3] Pengaruh globalisasi pada tata-ruang internal suatu kawasan metropolitan. terdapat pula kecenderungan pelaku dunia usaha global justru untuk memilih kota-kota sekunder yang memiliki amenities yang baik namun terbebas dari kemacetan dan polusi kota-kota metropolitan. maka ongkos buruh akan semakin meningkat dan selalu ada saja negara atau kota lain yang dapat menawarkan lingkungan usaha dengan ongkos yang lebih murah. Perkembangan ke depan akan sangat tergantung pada perkembangan teknologi telekomunikasi-informasi dan pola aktifitas sosial-ekonomi. ekonomi. dengan banyaknya industri manufaktur yang pindah dari negara-negara dengan biaya buruh tinggi (umumnya di negara maju) ke negara-negara dengan biaya buruh rendah (umumnya di negara berkembang)— seringkali masih menyisakan kantor pusatnya di kota asal. banyak kotakota di negara maju yang harus berjuang untuk “mengisi kekosongan sosial-ekonomi” yang diakibatkan oleh perginya tempat-tempat usaha (dan sumber-sumber pekerjaan) tersebut. Sebagaimana yang diuraikan di atas. karena seiring dengan kemajuan ekonomi negara berkembang tersebut. Pasar bebas diagung-agungkan. politik.166 Metropolitan di Indonesia metropolitan. dll. tetapi banyak pula yang memindahkan kantor pusatnya ke kota lain yang lebih strategis. Dari sudut berbagai dimensi yang ada. khususnya dalam penyediaan hunian yang murah dan nyaman. Konflik keruangan antara tekanan . pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan dapat disusun ke dalam suatu matriks atau kerangka analisis sebagai ditunjukan dalam tabel TABEL 5 . pengelolaan sampah. pendidikan dan kesehatan—yang di masa lalu lebih banyak diasosiasikan sebagai pelayanan publik. hambatan dan tarif perdagangan dikurangi. Carrefour. ada yang berhasil mendapatkan basis ekonomi baru namun banyak juga yang masih struggling hingga kini. maka dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan informasi banyak kota-kota sekunder yang kemudian berkembang menjadi kota-kota yang lebih mandiri (self-sustained) dan mempunyai aktifitas-aktifitas yang berhubungan langsung ke bagian dunia yang lain tanpa harus tergantung pada atau melalui kota metropolitan terdekat. Akibatnya. Tumbuh dan tersebarnya perusahaan global seperti McDonald. budaya dan geografis yang ada serta seberapa jauh pemerintah dan warga kota metropolitan tersebut mampu mempertahankan ciri-ciri khasnya.17 Pengaruh Globalisasi Pada Umumnya dan Terhadap Tata Ruang Kota Dimensi Dimensi EkonomiFinansial Pengaruh Umum Paradigma neo-klasik sebagai paradigma tunggal/dominan. Namun pergeseran semacam ini tidak bisa dibilang permanen. Dalam hal ini. atau setidaknya sebagai kota-kota pinggiran (edge cities). yang mendesak atau mematikan usaha-usaha lokal yang Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) Privatisasi ruang-ruang publik serta berbagai pelayanan umum— seperti penyediaan air.

barang dan jasa (serta manusia) yang semakin deras meningkat Kesenjangan ekonomi cenderung melebar (lebih terasa di kota-kota negara berkembang. diambil alih oleh peran pemerintah kota. Ekonomi. Banyak pula perusahaan-perusahaan global yang bersifat footloose atau mudah berpindah tempat usaha (biasanya meninggalkan mitra lokal begitu saja). Tumbuhnya ruang-ruang kota yang terkait dengan etnik atau bangsa-bangsa tertentu dalam satu kota metropolitan (sesuai dengan negara atau tempat asal-usul dari para migran kota tersebut). Tumbuhnya multikulturalisme. Dimensi PolitikKelembagaan Peran atau pengaruh negara semakin berkurang seiring dengan menguatnya peran dan pengaruh lembaga-lembaga multi-lateral dan MNCs. demokratis. Arus aliran modal. Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) ekonomi global dan keinginan untuk mempertahankan usahausaha yang bersifat lokal. termasuk akomodasi spasialnya. Peran negara dalam pengelolaan kota semakin berkurang. Dimensi SosialBudaya Demografis Tumbuhnya budaya-budaya dan nilai-nilai sosial yang bersifat mendunia (diakui dan diadopsi di berbagai tempat di dunia). dll. Salah satu akibatnya adalah pola commuting menjadi tidak sejelas pada tatanan yang konvensional (pagi berangkat sore pulang. sama setiap hari kerja). Berkembangnya kegiatankegiatan usaha di tempat-tempat tinggal (banyak yang bekerja dari rumah) atau di “warung telekomunikasi” terdekat. tergantung pengaturan mana yang paling menguntungkan).) maupun yang bersifat negatif (hilangnya atau berkurangnya ke-khasan lokal) Arus migrasi yang semakin pesat dan semakin menglobal (semakin banyak orang yang tidak hanya berpindah dari desa ke kota tapi juga dari suatu negara ke negara lain). Wajah kota “moderen” yang hampir sama di mana-mana (termasuk dalam wujud shopping mall atau pusat belanja yang tidak berbeda secara signifikan antara mall di Jakarta atau mal di Bangkok atau di Buenos Aires).baik yang bersifat positif (saling memahami perbedaan. Pembagian kerja yang bersifat global (komponen-komponen bisa dibuat terpisah. Di sisi lain terdapat pula pengakuan (secara parsial) terhadap aktifitas ekonomi perkotaan informal. Kontras yang semakin lebar antara kawasan bagi orang-orang yang berpenghasilan menengah/tinggi (punya akses ke jaringan global) dan kawasan bagi mereka yang tidak punya akses ke jaringan global atau yang terdesak oleh globalisasi ekonomi. dan Kependudukan 167 Dimensi Pengaruh Umum kecil. tetapi juga terjadi di kota-kota negara maju).Sosial. masyarakat kota dan swasta (termasuk swasta yang bersifat . tapi juga disertai dengan konflik antar budaya.

Berkembangnya kesadaran akan pentingnya lingkungan alam (termasuk taman-taman dan kehijauan) dalam mendukung keberlanjutan lingkungan binaan. Bahkan di dalam kawasan Jabodetabek pun. Bandung. tingkat keterbukaan terhadap globalisasi tidak merata—ada bagian-bagian kawasan yang sangat mencerminkan kota global (misalnya di Jakarta. hobby atau lainnya. Tuntutan akan pengelolaan kota yang demokratik dan terbentuknya wujud kota yang berkeadilan (pada saat yang bersamaan dengan semakin melebarnya kesenjangan sosialekonomi). masing-masing dengan kota dan kabupaten di sekitarnya) dan apalagi dengan sekian banyak kota-kota kecil yang ada. tetapi lebih berdasarkan kesamaan profesi. Peran partisipasi masyarakat yang semakin penting (atau tuntutan akan partisipasi yang semakin besar). Investor global pun turut memperhatikan kualitas lingkungan kota yang ada (terutama dalam kaitannya dengan kompetisi antar-kota yang sejenis). karena tingkat ketersediaan infrastruktur yang terkait dengan berbagai aspek globalisasi di atas sangat timpang antara kawasan metropolitan Jabodetabek dengan kawasan-kawasan metropolitan lainnya (Surabaya. maka tingkat keterbukaan (exposure) dan saling pengaruh-mempengaruhi antara kota dan globalisasi pun sangat berbeda. kebun kota dan lain-lain. peran pemerintah dan masyarakat daerah/kota semakin besar. Medan. Dimensi Lingkungan (Ekologis) Dampak lingkungan suatu kegiatan yang bisa bersifat antar-negara seperti dalam pembuangan sampah baik yang bersifat berbahaya maupun yang tidak (umumnya dari negara lebih maju ke negara berkembang—seringkali tidak terbatas pada yang bertetangga). Tumbuhnya kerekatan komunitas yang tidak sepenuhnya berdasarkan kesamaan tempat. Tuntutan akan perhatian pemerintah kota kepada aspekaspek lingkungan dalam tata ruang kota seperti jumlah ruang hijau. Pemerintah kota tidak lagi dapat dengan mudah mengurangi ruang hijau tanpa mendapat resistensi dari masyarakat.168 Metropolitan di Indonesia Dimensi Pengaruh Umum Namun pada saat yang sama juga terjadi desentralisasi. Tuntutan akan kerjasama antarkota (tidak terbatas pada kotakota yang berada dalam suatu region) semakin meningkat. kawasan Kemang. pendidikan yang umumnya belum merata di masyarakat juga menyebabkan proses demokratisasi yang lebih “prosedural” daripada substantif. Thamrin-Sudirman-Kuningan. atau bahkan Jalan Jaksa). Implikasi dan Tantangan bagi Kota-kota Metropolitan di Indonesia Di Indonesia. . Pengaruh pada Tata Ruang Kota (Dimensi Spasial) global). Semarang. namun pada saat yang bersamaan. Secara umum “ecological footprints” (tapak ekologis) yang semakin meluas dan bahkan mengglobal.

Jakarta—beserta wilayah di sekitarnya—dapat dikatakan merupakan kawasan metropolitan yang paling mendalam dan langsung bersinggungan (exposed) oleh globalisasi30. masih terbatas pada tumbuhnya—secara sporadis—kawasan29 Dapat pula kita cermati bahwa di beberapa perkampungan kumuh pun terdapat berbagai aktivitas yang memiliki “nuansa globalisasi” seperti produksi kerajinan dari fiberglass di kawasan Prumpung yang sudah menjual produksi hingga ke Malaysia dan Timur Tengah. Ketika membicarakan pengaruh globalisasi pada kota-kota metropolitan di Indonesia. Kawasan industri yang menampung berbagai industri yang bersifat internasional—kalau belum bisa dikatakan global—pun lebih banyak berada di sekitar Jakarta daripada di sekitar kota-kota metropolitan lain di Indonesia. perpustakaan asing dan lain-lain. Hampir seluruh pusat perwakilan badan usaha internasional (perusahaan multinasional. Sehingga boleh dikatakan bahwa globalisasi belum mempengaruhi. namun terkonsentrasi pada satu sektor utama yaitu pariwisata. jauh melampaui kotakota dengan pengaruh besar berikutnya. pendidikan maupun sebagai hub lalu-lintas udara dan laut. politik-kelembagaan (tempat lembaga-lembaga internasional dengan salah satu perkecualian Sekretariat ASEAN yang berada di Jakarta). Hong Kong dan Shanghai maupun Mumbai (khususnya untuk Asia Selatan). pada tataran nasional Jakarta masih merupakan kawasan perkotaan yang paling berpengaruh. Di Asia Tenggara saja. sebagaimana yang sudah ditulis di atas. sistem kota-kota yang ada di Indonesia. Kota-kota metropolitan Indonesia lain tentunya punya peran dan ketersinggungan dengan globalisasi yang jauh lebih kecil daripada Jakarta. budaya. apa yang dialami oleh Jakarta dan sekitarnya tidak sama dengan apa yang dialami oleh kota-kota metropolitan lainnya. Fenomena global di mana kota-kota sekunder (bukan metropolitan) mulai bersinggungan dengan globalisasi belum cukup terasa di Indonesia. dapat dikatakan bahwa globalisasi juga belum secara signifikan mempengaruhi tata ruang perkotaan metropolitan di Indonesia. Bagi Indonesia. Apalagi kalau diangkat ke tingkat Asia di mana terdapat Tokyo.) di Indonesia berlokasi di Jakarta.Sosial. terutama karena ketersediaan infrastruktur yang masih sangat terbatas. Ketimpangan tersebut membuat generalisasi menjadi sesuatu hal yang sulit. di tingkat global atau bahkan regional peran Jakarta masih sangat terbatas. demikian pula untuk aspek-aspek non-ekonomi seperti pusat kebudayaan asing. namun sangat spesifik berkaitan dengan satu sektor ekonomi-budaya yaitu pariwisata. Jakarta bisa dikatakan masih kalah dari Singapura dan Bangkok sebagai pusat aktifitas internasional—baik yang bersifat ekonomi-finansial. Sementara itu. Bandung dan Medan. yaitu Surabaya. Namun demikian. bandar udara Soekarno-Hatta pun merupakan bandara yang paling banyak melayani penerbangan internasional. Kawasan perkotaan Denpasar-Kuta-Nusa Dua di Bali dan kota Yogyakarta mungkin secara nyata juga memiliki exposure internasional yang sangat besar. 30 Sebenarnya Balipun merupakan bagian Indonesia yang sangat terimbas dan bersinggungan langsung dengan globalisasi (dalam arti “internasionalisasi” maupun lainnya). bank internasional. Ekonomi. . Dengan tingkat exposure yang masih sangat terbatas tersebut. apalagi mengubah. perwakilan kamar dagang asing dll. dan Kependudukan 169 namun masih banyak pula bagian-bagian kawasan yang seolah-olah tidak atau sangat sedikit tersentuh oleh globalisasi (misalnya di beberapa perkampungan-perkampungan kumuh)29. dan dalam taraf tertentu pendidikan (khusus untuk Yogyakarta).

mungkin kita bisa mendapatkan gambaran yang agak berbeda. Kita dapat menemui gerai-gerai internasional seperti McDonalds atau KFC tidak hanya di Jakarta tetapi bahkan hingga di kota-kota sekunder (sebagai perbandingan. secara keseluruhan Indonesia sebenarnya sudah sangat terbuka.8). Sudut pandang bernuansa “universalisasi” dan “modernisasi” pun sudah banyak merasuk ke dalam pola berpikir masyarakat kota. Lippo Karawaci. Seringkali jenis usaha dan sistem kerjasamanya memudahkan pemilik jaringan usaha internasional untuk memindahkan usahanya kemanapun mereka ingin lakukan (umumnya bargaining position pihak Indonesia—atau tuan rumah di mana pun di negara berkembang lainnya—dalam hal ini relatif rendah). Bintaro Jaya. Hal di atas dapat disimpulkan kalau kita hanya melihat globalisasi dari sudut pandang “internasionalisasi” saja. Di kota-kota metropolitan lain pun terdapat kawasan hunian cukup luas—kalau belum bisa disebut kota—yang hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta.8 Kawasan “Segitiga Emas” di Jakarta . Berbagai merek internasional mewarnai pusat-pusat perdagangan baik di Jakarta maupun di kota-kota besar lain. Bukit Sentul. Privatisasi pun telah berjalan cukup lama. Wholesale retailers seperti Carrefour pun memiliki cukup banyak outlets di Jakarta. Dari sudut pandang lain. Kota Wisata dan lain-lain hampir sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta. GAMBAR 5 . Implikasi peran besar swasta dalam tata ruang kota dapat dilihat dari banyaknya bagian-bagian kota yang mengalami proses “urban renewal” seperti misalnya kawasan Segitiga Emas (Sudirman-Kuningan-Gatot Subroto) yang kemudian diikuti oleh proses jentrifikasi masyarakat berpenghasilan rendah ke daerah-daerah pinggiran (GAMBAR 5 .170 Metropolitan di Indonesia kawasan industri yang melayani unit-unit usaha internasional atau melakukan subkontrak dari jaringan usaha internasional. Hanoi hingga tulisan ini dibuat masih belum mengijinkan adanya gerai-gerai internasional semacam itu). Dalam konteks “liberalisasi” misalnya. baik di pejabat pemerintah maupun pelaku swasta. Proses pergeseran peran dari situasi pemerintah mendominasi ke situasi swasta mengambil peran cukup signifikan dalam pembangunan hingga situasi di mana tuntutan akan peran masyarakat yang semakin besar pun terjadi di kota-kota di Indonesia. Bahkan sejumlah kota baru seperti Bumi Serpong Damai.

Kawasan-kawasan metropolitan lainnya harus mendapat dukungan infrastruktur secara lebih memadai sehingga tidak terlalu ketinggalan dan dapat turut berkompetisi di tingkat internasional. Demikian pula dengan cara berfikir. Ada bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sudah sangat ter-exposed oleh globalisasi. Di dalam suatu kawasan metropolitanpun—termasuk Jakarta— ketimpangan globalisasi sangat besar. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah bagaimana mengambil manfaat sebesar mungkin dan secara merata dari proses-proses globalisasi dan mengurangi sejauh mungkin dampak negatifnya. Peran kota-kota sekunder pun tidak dapat diabaikan. konsentrasi pembangunan yang terlalu terpusat di Jakarta harus dikurangi. Newtonian. animasi. Ada yang sudah membuka wawasannya dengan cara-pandang yang “baru” seperti yang bersifat holistik. . apalagi jika dikaitkan dengan keinginan untuk memajukan sektor pertanian—kota-kota sekunder tersebut dapat menjadi pusat koleksi dan distribusi komoditas pertanian (konsep agropolitan)—namun tidak harus terbatas pada konsep itu. mereka yang tidak turut mendapat manfaat dari globalisasi harus turut menanggung biaya atau beban yang ditimbulkan oleh globalisasi. Jika Indonesia tidak mau ketinggalan di era globalisasi yang semakin kompetitif. kontekstual dan pluralistik. khususnya di Jakarta. Sebagaimana yang terjadi di banyak negara berkembang lain. dan Kependudukan 171 Atribut “de-teritorialisasi” dari globalisasi pun dalam skala yang relatif kecil dan terpisah-pisah telah terjadi di kota-kota besar Indonesia. kota-kota besar di Indonesia juga mencerminkan kontras yang sangat tajam. termasuk implikasinya dalam tata-ruang. Penutup Secara umum dapat disimpulkan bahwa kota-kota metropolitan di Indonesia sebenarnya sudah mulai bersinggungan dengan globalisasi dengan derajat yang berbeda-beda. sementara tidak sedikit yang masih berfikir dengan cara-pandang yang atomistik. lebih khusus lagi pada segmen-segmen masyarakat yang memiliki akses ke jaringan global secara mudah. tanpa mengurangi kecenderungan pasar untuk membentuk apa yang disebut agglomeration of economies. Persebaran pusat-pusat kegiatan pun menjadi sangat penting. Seringkali. Secara internal. cara pandang. Namun kecuali kawasan metropolitan Jakarta.Sosial. positivistik dan monistik. dan sebagian dari kelompok ini mampu memanfaatkan exposure ini secara baik. Hal ini tentunya mengakibatkan berbagai ketegangan yang semakin terasa dengan semakin besar dan terbukanya suatu kota. persinggungan dengan globalisasi masih sangat terbatas. Ada saja—walaupun mungkin belum tersebar luas—kegiatan-kegiatan yang mencerminkan ketiadaan batas-batas negara atau kota seperti terlihat pada kegiatan-kegiatan sub-kontrak pembuatan software. namun ada pula bagian-bagian kota atau anggota masyarakat kota yang sama sekali belum “tersentuh” oleh globalisasi. Ekonomi. tata ruang kawasan metropolitan pun harus mampu mengikuti dinamika globalisasi tanpa harus mengabaikan kepentingan konteks dan kekhasan lokal. terhadap berbagai persoalan. gambar rancang-bangun dan lain-lain yang didapat dari perusahaan-perusahaan besar di negara maju untuk proyek-proyek yang mungkin di negara lainnya.

Namun. malls. namun pasar tradisional. Medan. toko – toko kecil. ketidakadilan dan keterasingan sosio-budaya atau socio-cultural alienation (baca tulisan Badshah & Parlman berjudul “Mega-cities and The Urban Future” dalam buku suntingan Bridge & Watson “The Blackwell City Reader” 2004: 549). warung. their built form mediated by successive acts of destruction and creation … affected by social factors such as gender. disease violent crime. Ditilik dari segi etimologi pun. dan pergulatan kepentingan ekonomi. Dimensi sosio-kultural di hampir seluruh kota metropolitan di segenap pelosok tanah air nyaris terabaikan. . Kota merupakan produk sosio-kultural. Di satu sisi. flats atau rumah susun sudah mulai digalakkan pembangunannya. seperti pernyataan Kofi Annan selaku Sekjen PBB yang dikutip oleh Girarde (2004: 86) “Cities can also be places of exploitation.” Semakin besar kotanya semakin kompleks penduduknya semakin rumit masalahnya dan semakin banyak konflik yang dihadapinya. Apartemen. Surabaya. namun perumahan kampung juga masih terus bertahan. sebagai pusat persilangan ide dan wadah inovasi. Makassar) cenderung semakin tidak manusiawi. disilusi politik. Sektor formal dan sektor informal berkembang terus. class and ethnicity. dense. unemployment. and extreme poverty”. Tidak heran bila sampai saat ini selalu saja terjadi kisah-kisah penggusuran atau pembongkaran permukiman kumuh dan kios-kios pedagang kaki lima. Banyak yang tidak memahami betul bahwa berbeda dengan metropolitan di negara maju yang sudah affluent. kendati tokoh – tokoh di puncak kekuasaan cenderung lebih mengakomodasi kepentingan sektor formal yang modern. Saat ini kita sudah memasuki era perkotaan abad ke-21 atau milenium ketiga. Dalam buku terbarunya berjudul “Recombinant Urbanism” (2005 : 19).172 Metropolitan di Indonesia SOSIO-KULTURAL Sudah semenjak beberapa abad yang silam sastrawan Inggris Shakespeare menyatakan “What is a city but its people”. apalah artinya kota tanpa penduduknya? Kota dan warga dapat diibaratkan seperti cangkang dengan kerangnya yang tumbuh kembang bersamasama. Semarang. Pembangunan shopping centres. sebagian warganya sudah mulai berubah menjadi modern. tidak nyaman. and permanent settlement of socially heterogenous individuals”. tidak menyenangkan untuk kehidupan manusia yang berbudaya. Ditilik dari sisi positifnya. sejalan dengan perubahan situasi dan kondisi penduduknya. kota – kota metropolitan di tanah air kita yang sedang berkembang ini merupakan kota – kota yang bersifat dualistik. Fenomena dehumanisasi metropolitan di Indonesia merebak antara lain karena perhatian para pengelola dan aktor – aktor pembangunannya terlalu tercurah pada aspek fisik. city dekat sekali kaitannya dengan citizen. di sisi lain sebagian besar warganya masih berperilaku tradisional. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa kota – kota yang sudah termasuk kategori metropolitan di tanah air kita (Jakarta. tata ruang. Hampir seluruh metropolis atau mega-cities di dunia menghadapi masalah infrastruktur. super-malls marak di segenap penjuru kota. kemiskinan. pedagang kaki lima juga tidak berkurang. perilaku dan gaya hidup manusia yang selalu berubah dari waktu ke waktu. department stores. David Graham Shane mengutip pendapat Louis Wirth bahwa “A city is a relatively large. Meminjam kata – kata Malcolm Miles et al dalam bukunya “The City Cultures Reader” (2000 : 2): “Cities are sites of constant flux. kota metropolitan merupakan mesin pertumbuhan dan inkubator peradaban.

(Susser 2002: 11). dan hilang. elitis. atau Manhattanization. jati diri. seperti Jabodetabek. Dari sebutannya. kekhasan. norma. Gerbang Kertasusilo. Jangan sampai obsesi terhadap modernitas dan teknologi lantas melunturkan atau bahkan menghancurkan kearifan tradisional dan budaya lokal yang ikut mewarnai wajah metropolitan kita. McDonaldization. perilaku. kebencian. panik. tak terkecuali di kota metropolitan. Namun.Sosial. processual analysis of labour in relation to the state and the regulation of the variable incursions. diduga akan terlanda arus McWorld. Rasa tempat atau sense of place yang tercipta dari keunikan budaya setempat mesti dipertahankan. Itu pula sebabnya muncul tudingan bahwa kota metropolitan negara berkembang. Kedungsepur. dan artefak bersejarah yang amat kaya dan beragam di kota – kota metropolitan di tanah air kita bila tidak dijaga akan tergerus. or exclusions of the global networks”. jangan sampai kekhawatiran Daniel Solomon (Global City Blues. pasti akan meluluhlantakkan identitas. televisi. model – model penyeragaman. Pasti akan besar pengaruhnya terhadap pola habitat manusia. di masa depan akan menjadi miseropolitan atau kota yang menyengsarakan. Pernik-pernik tata nilai. sektor informal mengandung konotasi tidak sah. 2003: xi) mengejawantah menjadi kenyataan: “We obliterate the distinctiveness of places and create new forms of metropolitan confusion”. mestinya sikap yang diambil oleh penentu kebijakan pembangunan kota metropolitan adalah sikap Yin-Yang atau Both-And. Kota – kota metropolitan di era globalisasi yang tidak memperhatikan dimensi sosio-kultural dari warganya. Ekonomi. Memang perkembangan teknologi abad 20 dan 21 seperti yang terwujud dalam bentuk mobil. dan bahkan teror. jadi tidak Either-Or atau mementingkan salah satu pihak saja. Kebijakan pembangunan kota metropolitan yang keliru. . dan Kependudukan 173 Sebagai kota yang dualistik. Itu pula sebabnya metropolis di Indonesia lantas diledek dan dipelesetkan menjadi metropolost alias kota ibu yang hilang. Martin Heidegger sebagai seorang filsuf kelas dunia menyebutnya dengan istilah “cultural malaise” dan “loss of nearness”. City of tomorrow pun jangan – jangan akan menjadi City of sorrow alias kota yang sarat dengan kesedihan. seperti Indonesia. luntur. tidak layak berada di kota metropolitan yang serba formal. aneka pengaruh globalisasi akan sulit ditangkal sehingga seperti dikatakan Manuel Castells: “Globalization must be understood in relation to an historical. komputer. gagasan. yang mengakibatkan xenophobia. Memang. Selain itu. atau karakter dari kota – kota metropolitan. jangan sampai punah atau lenyap. apalagi yang bercitra Barat. pendingin ruangan. ide. dan tidak pro-poor itu akan menjadikan metropolitan kita menjadi kota yang menyengsarakan warga kotanya. inclusions. Padahal bila diingat kembali bahwa kota merupakan karya seni sosial (a social work of art). Sedangkan Rem Koolhas sebagai arsitek dan perencana kota mengungkapkannya dengan frasa “globalizing modernism” dan ”cultural homogenization” yang secara sistematik menghancurkan pusaka budaya atau warisan budaya yang unik. Keduanya mesti dirangkul dan dikembangkan bersama – sama. dan lain-lain masih sulit diimplementasikan karena masih kentalnya sikap primordial dan sektoral dari para pimpinan daerah atau penentu kebijakan. psikosis. dan lain – lain tak akan bisa dihambat. dan upaya-upaya untuk memadukan kota-kota metropolitan dengan daerah di sekitarnya dalam wujud conurbation (lihat pembahasan mengenai kependudukan dan bagian 1 buku ini).

ada baiknya kita merenungkan kaidah – kaidah pembangunan kota termasuk kota metropolitan yang antara lain dikemukakan oleh tokoh – tokoh garda depan gerakan New Urbanism yang berupaya menangkal kecenderungan social-cultural disintegration. Mesti selalu ditanamkan di benak kepala bahwa kota tanpa bangunan kuno bersejarah serupa saja dengan manusia tanpa . transportasi. Sebetulnya keseluruhannya ada 27 butir. yang telah disesali di negara maju. where all citizens potentially have the same opportunities”. dilandasi prinsip kota sebagai panggung kenangan. sampai muncul ledekan dengan nama paraban Sickago alias kota yang sakit. dan placelessness. pertempuran kepentingan antara The Rich melawan The Poor. menjaga eksistensi pusaka budaya sebagai historical precedents. and hopes”. melepaskan diri dari telikungan regressive identity melalui pengembangan budaya demokrasi. Aneka bencana perkotaan yang telah terjadi di masa silam akibat kurangnya perhatian terhadap isu-isu sosio-kultural. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. akuntabilitas. mengupayakan pusat – pusat pertumbuhan jamak (multiple centres atau polynuclei) untuk mencegah kecenderungan centremania agar terjadi penyebaran aktivitas pada berbagai pelosok kota metropolitan secara lebih merata dengan keunikan sendiri-sendiri sehingga tercipta mosaik perkotaan yang indah. memarjinalkan manusia dengan mengabaikan dimensi sosial-budayanya. dan partisipasi segenap pemangku kepentingan sesuai tuntutan zaman. dengan prinsip change without loss mengakomodasi evolusi dan kesinambungan kehidupan warga metropolitan yang multikultur. Pertama. Kedua. Konservasi dan pembangunan. Dalam buku terbarunya berjudul “Sociopolis: Project for a City for the Future” (2004:9). keadilan. Keempat. Dalam kiprah pembangunan kota – kota metropolitan di Indonesia seyogianya segenap pihak mengambil pelajaran dari kisah-sukses maupun kegagalan dari pembangunan kota – kota di negara maju. Vicente Guallart dkk mengungkapkan tentang kota metropolitan masa depan di Eropa dan Amerika yang selalu saja menghadapi persaingan antara The Old dengan The New. keberlanjutan. tapi saya peras menjadi 10 saja sehingga bisa disebut sebagai ‘The Ten Commandments’ atau ‘Sepuluh Perintah Tuhan’ dalam pembangunan kota metropolitan abad ke-21 atau di era milenium ketiga yang berwajah manusia dan berkelanjutan. struktur dan kultur. Ke depan. tanpa henti mencoba menciptakan progressive identity dari kota metropolitan. urban sprawl. dan lain-lain tak seyogianya terulang di masa depan sebagaimana disebutkan oleh Raffacle Poloscia dalam bukunya “The Contested Metropolis” (2004: 14). Misalnya di kota Houston yang angka kriminalitasnya meningkat sehingga orang – orang kaya di Houston sampai ketakutan dan membuat jalur khusus di bawah tanah yang diberi nama Connexion yang menghubungkan kawasan pemukiman mewah dengan down-town. bahwa bagaimana pun juga “Metropolises are containers of dreams. Houston pun lantas memperoleh nick name ‘Ghost-town’. pusat dan periferi merupakan dua muka dari keping uang yang sama. desires. akan menjadikannya sebagai monster yang mengerikan. Kita juga jangan mengulangi kesalahan serupa seperti yang terjadi di kota Chicago ketika bangunan kuno bersejarah dihancurkan untuk memberi tempat pada bangunan pencakar langit yang modern.174 Metropolitan di Indonesia Kota – kota metropolitan yang berkembang tak terkendali. Muncullah gagasan tentang Sociopolis yang disebutkannya sebagai “A truly integrative and hybrid version of the metropolis for the future … setting new standards by realizing a dream of social balance. Ketiga. demokratisasi. tarik-menarik antara city centre dengan urban agglomerations.

Kelima. Keenam. Kota-kota juga menggunakan energi lebih rendah per unit output ekonomi. bersantai. dan beraktivitas budaya sebagai cerminan masyarakat yang beradab.Sosial. lebih dari di kawasan-kawasan non-urban. dan biaya per kapita pembangunan infrastruktur lingkungan juga lebih rendah. KETERKAITAN DESA – KOTA Pendahuluan Kinerja kota-kota di abad 21 akan menjadi perhatian global karena pesatnya peningkatan penduduk perkotaan. minimal 61persen penduduk dunia akan tinggal di kota-kota. Kawasan pinggiran mesti disiapkan dengan prinsip kemandirian agar bisa self sufficient. Pada tahun 2030. memelihara taman dan ruang terbuka dalam berbagai level sebagai shared public spaces yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa aman. Kawasan perkotaan merupakan tempat berkembangnya kegiatan industri manufaktur dan jasa. pelibatan masyarakat dan segenap pemangku kepentingan dalam pembangunan untuk menciptakan kota metropolitan yang otentik dan rasa paguyuban (sense of community) yang kental. Ekonomi. lebih dari 80 persen penduduk dunia akan tinggal di kotakota (Cities Alliance 2006). tidak tergantung pada pusat kota dan tidak sekadar sebagai bedroom community. dan Kependudukan 175 ingatan alias gila. Segenap agen pembangunan kota metropolitan dituntut untuk menyediakan fasilitas dan prasarana umum sesuai standar pelayanan minimum. bekerja. menata kawasan pinggiran secara dini untuk mencegah urban sprawl yang tidak terkendali. Perumahan jangan sekadar dilihat sebagai komoditas ekonomi. menyediakan fasilitas sosial dan infrastruktur atau prasarana umum yang memadai untuk segenap lapisan warga metropolitan tanpa terkecuali. Perhatian pada public transport. Pada tahun 2060. Kesembilan. Perkembangan kawasan perkotaan terutama akan terjadi di kotakota besar dan metropolitan. Kedelapan. yang akan meningkatkan nilai tambah perekonomian secara keseluruhan. Selain itu. Kawasan perkotaan akan menjadi lebih penting karena lebih dari 80 persen pertumbuhan ekonomi global terjadi di kota-kota. Perlu dicamkan bahwa taman adalah sorganya perkotaan. Perkembangan kawasan perkotaan selalu diiringi arus transformasi. Kesepuluh. inovatif. penyediaan affordable housing pada lokasi yang tepat untuk mencegah konsentrasi kemiskinan. dan bertanggung jawab atas keberlanjutan pembangunan kota metropolitan tempat mereka tinggal. Ketujuh. Membongkar warisan budaya bukanlah dosa kecil. mesti lebih ditingkatkan. yaitu meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan meningkatnya kontribusi sektor-sektor industri manufaktur dan jasa. mengupayakan interconnected networks of streets yang menghargai pedestrian dan memberikan rasa nyaman serta arah yang jelas. yang selanjutnya akan memicu pemanfaatan kawasan- . Tanpa rasa memiliki kota metropolitan. diharapkan bahwa penduduk atau warga kota metropolitan di masa depan akan termotivasi untuk ikut aktif berkiprah secara kreatif. terutama mass rapid transit. tidak dapat diharapkan tumbuh kembangnya secara berkelanjutan. belanja. Melalui penerapan dan pengejawantahan sepuluh butir panduan pembangunan seperti tersebut di atas. kota-kota mempunyai produktivitas yang tinggi karena kepadatan penduduknya menciptakan lingkungan transaksi yang tinggi. melainkan lebih merupakan fenomena sosio-kultural sebagai instrumen pembangunan manusia. Hal ini meningkatkan pendapatan rumah tangga.

polusi sungai (karena pembuangan limbah dan sampah). Diperlukan program dan intervensi untuk menangani kawasan pinggiran kota. 31 Lihat uraian di Bab 5 . Dalam beberapa dekade terakhir. (c) kawasan potential urban. (b) kawasan semi urban. jumlah penduduk perkotaan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat31. Terjadilah penyatuan kawasan-kawasan terbangun tersebut.176 Metropolitan di Indonesia kawasan di sekitarnya. dan sebagainya. perekonomian. pertambahan penduduk perkotaan yang terjadi tidak tersebar secara merata. Berdasarkan itu dapat diperkirakan program dan intervensi yang sesuai. Antara lain karena tak tersedianya perumahan dan infrastruktur yang memadai. empang-empang. mengakibatkan meningkatnya perkembangan kotakota ini. Pada gilirannya hal ini akan menambah beban kota inti. Secara lebih khusus di Indonesia akan berkonsentrasi di Jawa. cenderung di kota-kota besar dan metropolitan. membebani jaringan transportasi dan membebani biaya hidup penghuni kawasan pinggiran. Meluasnya pemanfaatan ruang di sekitar kota-kota besar dan metropolitan akan mewujudkan keterhubungan dari kota inti dengan kawasan-kawasan baru dan kota-kota satelit di sekitarnya. dan lapangan kerja dapat memicu pengangguran yang pada gilirannya memicu penduduk masuk ke kota inti. Ketiga tipologi tersebut adalah: (a) kawasan pre dominantly urban. dan terpisah-pisah. Kawasan pinggiran dikelompokkan dalam tiga tipologi untuk dapat mengembangkan program intervensi penanganan kawasan pinggiran. Kawasan yang baru terbentuk. Guna lahan juga berubah – dari yang tadinya bersifat desa menjadi bersifat kota. Belum lagi dampak pada lingkungan alamnya – polusi udara (karena transportasi). baik yang berkarakteristik desa maupun kota. Kepadatan tinggi. di Indonesia. perusakan ruang-ruang terbuka hijau. Di kawasan pinggiran ini dapat diobservasi desa dan kota serta peranannya di kawasan metropolitan. Akibatnya. Tipologi ini dirumuskan berdasarkan karakteristik ke’kota’annya karena akan dapat menggambarkan isu atau masalah yang dihadapi. Sebagaimana halnya di dunia. juga akan mengalami kondisi yang jauh dari ideal. terjadi pemusatan di beberapa lokasi. keterbatasan akses ke kota inti membebani jaringan transportasi yang telah ada serta membebani fasilitasfasilitas. pola hidup penduduknya. yaitu dari yang bersifat desa menjadi bersifat kota. sendiri. meluap ke kawasan pinggirannya. perkebunan. Tata guna lahan. seperti pendidikan dan kesehatan. Program intervensi dan keterkaitan dengan kota inti dapat diturunkan berdasarkan ketiga tipologi tersebut. Kawasan pinggiran ini perlu mendapat perhatian karena di sana telah terjadi perkembangan yang campur aduk dan tidak terkendali. Tidak mengacu pada suatu rencana tata ruang yang disepakati. Ini semua terjadi secara acak. permukiman berkepadatan rendah menjadi perumahan berkepadatan tinggi memenuhi kebutuhan kota inti dan untuk pembangunanpembangunan industri yang membutuhkan lokasi mendekati kota inti. Hilanglah lahan-lahan pertanian. terutama di Jabodetabek. keterbatasan infrastruktur lingkungan dasar. polusi air – tercemarnya air bersih oleh limbah cair permukiman. Perkembangan kawasan perkotaan juga terjadi di Indonesia. kawasan-kawasan perdesaan mengalami transformasi yang tidak terarah dan terkendali.

Sisanya tersebar merata di seluruh kota/kabupaten di sekitarnya (1. Tiga Raksa. Selanjutnya. Ini semua akan membangkitkan pola pergerakan ulang alik ke kota inti (dalam hal ini DKI Jakarta) dan menggunakan jaringan transportasi yang ada. Di Bekasi ada Lippo Cikarang (5000 ha). Cikarang Baru.358 km di Kota/Kabupaten Tangerang. diikuti dengan Bintaro Jaya. b. Lippo Cikarang. Kota Legenda (Bekasi 2000).Sosial. Kawasan Jabodetabek dilayani jaringan jalan dan jaringan kereta api. Baru mulai akhir tahun 1900-an mulai dibangun permukiman skala besar (> 500 ha) dan kota-kota baru oleh pengembang swasta. dan Kependudukan 177 Kawasan Metropolitan Kawasan metropolitan adalah kawasan yang terdiri dari kota inti dengan kawasan di sekitarnya yang mempunyai keterkaitan erat dengan kota inti dan berfungsi menerima luapan kegiatan atau kebutuhan permukiman dan kegiatan dari kota inti. dan lain-lain. Selanjutnya. 107 di Kabupaten dan Kodya Bekasi. selain Bumi Serpong Damai (6000 ha) dan Tiga Raksa (3000 ha). seperti kota baru atau permukiman skala besar. Lippo Karawaci. atau kota-kota kecil lainnya. 1. Pembangunan kota baru dimulai sekitar tahun 1989 dengan Kota Baru Mandiri BSD (Bumi Serpong Damai). Kawasan ini sering disebut sebagai ”urban fringe”. Royal Sentul (2000 ha). di Kabupaten Bogor ada lima wilayah baru. a. serta pola perubahannya. 130 di Kabupaten dan Kodya Bogor. persebaran. Pantai Indah Kapuk. permukiman baru yang tersebar. Gading Serpong. Bintaro Jaya. seperti Citra Karya. akan dibahas di sini mengenai guna lahan: dominasi. Alam Sutra. dan sebagainya. Kawasan sekitarnya ini dapat meliputi kawasan permukiman skala besar atau skala menengah. Sebagai tambahan dari analisis kependudukan yang telah dijelaskan di bagian depan bab ini. Struktur Ruang dan Pergerakan Penduduk Struktur ruang kawasan Jabodetabek dibentuk oleh jaringan jalan dan kereta api serta pusat-pusat permukiman. yaitu Rancamaya (550 ha). banyak perumahan lain. kota-kota baru. yaitu 103 kawasan di DKI Jakarta. Kota Cileungsi (2000 ha). dan 152 di Kabupaten dan Kodya Tangerang (Uguy 2006). Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan infrastruktur biasanya merupakan permasalahan utama kawasan pinggiran. Di Tangerang. dibahas pola pengembangan kawasan-kawasan permukiman: pembangunan baru berskala besar. Ekonomi. Tabel 4 memberikan luas kawasan-kawasan permukiman skala besar ini (> 500 ha).344 km. Lippo Karawaci.763 km di Kota/Kabupaten . Panjang jaringan jalan yang ada di wilayah Jabodetabek adalah 11. Kota Legenda. 1. Untuk menggambarkan karakteristik kawasan metropolitan ini akan digunakan kawasan metropolitan Jabodetabek sebagai contoh.450 km di Kabupaten/Kota Bekasi. dan kota-kota kecil sekitarnya yang tumbuh dengan pesat. lebih dari 50 persen jaringan jalan berada di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Kawasan permukiman baru ini kebanyakan bukan merupakan kawasan permukiman skala besar. kota-kota baru. Sampai paruh kedua dekade 1990-an (+ 1996) ratusan kawasan permukiman baru dibangun di wilayah Jabodetabek. dan Perumahan Modern. ditambah dengan Lido Lake Resort dan Jonggol.

TABEL 5 . Tangerang Kab. Bogor Kab. Bogor Kab. Bogor Kab. Tangerang Kab.000 800 500 3. Bekasi Kab.000 600 1. Bekasi Kab. Bekasi Kab. Nama 1 Milik PT Pembangunan Delta Bekasi 2 Milik PT Lippo City Development 3 Milik PT Pura Delta Bekasi 4 Cikarang Baru 5 Bekasi Matra Real Estate 6 Milik PT Dwigunatama Rintisprima 7 Kota Legenda (Bekasi 2000) 8 Milik PT Sinar Bahana Mulia 9 Pantai Modern 10 Lippo Cikarang 11 Harapan Indah 12 Bukit Jonggol Asri 13 Citra Indah 14 Kota Taman Metropolitan 15 Kota Wisata 16 Bukit Sentul 17 Rancamaya 18 Resort Danau Lido 19 Taruma Resort 20 Talaga Kahuripan 21 Kota Tenjo 22 Milik PT Bangun Jaya Triperkasa 23 Maharani Citra Pertiwi 24 Milik PT Banyu Buana Adhi Lestari 25 Kotabaru Tigaraksa 26 Puri Jaya 27 Citra Raya 28 Lippo Karawaci 29 Gading Serpong 30 Alam Sutera 31 Bumi Serpong Damai 32 Bintaro Jaya 33 Kota Modern 34 Kota Wisata Teluk Naga 35 Kota Jaya 36 Pantai Indah Kapuk Sumber : Bappeda DKI Jakarta. Tangerang Kab.000 2.400 500 850 2.500 700 6.145 3. Bogor Kab.19).000 800 30. Tangerang Kab. Bogor Kab. Bekasi Kab.100 750 3. Bekasi Kab. Tangerang DKI Jakarta . Bekasi Kab & Kot. Bekasi Kab. Tangerang Kab.178 Metropolitan di Indonesia Bogor. 1997 Luas (ha) 1.745 800 Lokasi Kab.000 500 1. Bogor Kab.500 780 1. dan 245 km di Depok).000 2.000 1. Bogor Kab.679 500 3.321 770 8.000 2. Panjang jalan tol di DKI Jakarta juga mencapai lebih dari 50 km dari total panjang jalan tol (lihat TABEL 5 . Bekasi Kab. Tangerang Kab. Tangerang Kab. Bekasi Kab. Bogor Kab.700 1.000 1. Bekasi Kab. Tangerang Kab.500 1.000 7. Bekasi Kab. Tangerang Kab.000 1. Bogor Kab. Bogor Kab.18 Kawasan Permukiman Skala Besar (>500 ha) di Jabotabek No. Bogor Kab. Tangerang Kab. Bogor Kab. Bogor Kab.000 500 1.

9 0. 2006 No.9 % 58% 16% 13% 12% 2% 100% Km 113.196.349 4. Panjang jalan tol di DKI juga mencapai hampir 50 persen dari total panjang jalan tol di Jabodetabek.a 0.363.7 245.3 % 52% 11% 16% 17% 4% 100% GAMBAR 5 .762.05 Km 6.0 2% 6 TOTAL 11.7 12% Tangerang 5 Kota Depok 245.4 0.0 11.174 n.20).01 0.610.0 52% 23.20 Perkapita Jalan dan Jalan Tol Panjang Jalan Kota/Kabupaten DKI Jakarta Kota/Kab.4 7.357.280.7 16% 2 Bogor Kota/Kabupaten 1.1 1.4 58% Kota/Kabupaten 1. Tangerang Kota Depok TOTAL Jumlah Penduduk 7.10.0 Jalan Tol Perkapita (km/1000 penduduk) 0.3 n.02 0.548.605 3. GAMBAR 5 .7 1.19 Panjang Jalan di Kawasan Jabodetabek Panjang Jalan Kota/Kabupaten Km % DKI Jakarta 6.2 36. Perkapita (panjang jalan per jumlah penduduk) jalan dan jalan tol DKI Jakarta masih mendominasi (Lihat TABEL 5 .212. Bogor Kota/Kab. Dari panjang jalan dan jalan tol.9 34.357.450.1 13% 3 Bekasi Kota/Kabupaten 4 1. Jaringan jalan kereta api dapat dilihat pada GAMBAR 5 .8 215.Sosial. Ekonomi.093.4 1. .a 19. Bekasi Kota/Kab.4 7.548.9 100% Sumber : SITRAMP II. menggunakan KRL atau KRD.01 n. DKI Jakarta paling terlayani dengan baik dibandingkan kota/kabupaten lainnya.762.9 34.810 4.2 36. Terpadat adalah jalur dari Jakarta Kota (di Utara) ke Bogor (Selatan) terutama jalur tengah. 1 Jalan Tol Km % 113.9 memberikan gambaran persebaran jaringan jalan dan jalan tol.363. Jaringan jalan dan jaringan kereta api saling melengkapi menghubungkan DKI Jakarta dengan pusat-pusat permukiman di sekitarnya.3 11% 16% 17% 4% 100% TABEL 5 .a 2. dan Kependudukan 179 TABEL 5 .01 0.938 Perkapita (km/1000 penduduk) 0.4 0.8 215. Dari DKI Jakarta ada 3 jalur utama yaitu menghubungkan dengan Kabupaten/Kota Tangerang dengan Kabupaten/Kota Bogor dan Kabupaten/Kota Bekasi.11 menunjukkan stasiun yang dilalui kereta api dengan jumlah penumpangnya per hari.450.0 23.

180 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .jaringan jalan tol GAMBAR 5 .jaringan jalan ----.10 Jaringan Jalan Kereta Api Jabodetabek Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey 2000 .9 Jaringan Jalan Jabodetabek Sumber : SITRAMP (Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek II) Railway Passenger Survey 2000 Legenda : .

Ini mengakibatkan meningkatnya jumlah penglaju baik dengan angkutan umum. maupun kendaraan pribadi (Lihat TABEL 5 . Pejalan ulang alik terbanyak adalah dari Kabupaten Tangerang (241. dan Kependudukan 181 GAMBAR 5 .2 juta – Rp 2 juta (+ 45 persen) dan dari golongan pendapatan Rp 2.8 juta (+ 30 persen). di Bodetabek.21). Fasilitas-fasilitas dan peluang kerja yang ditawarkan masih besar sehingga menarik pendatang-pendatang baru ataupun pekerja/karyawan yang tinggal di kawasan pinggirannya. namun daya tariknya masih kuat sebagai penyedia lapangan kerja serta pelayanan sosial-ekonomi-budaya.8 . Golongan pendapatan > Rp 3. Data tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar komuter ke Jakarta adalah dari golongan pendapatan Rp 1.020) dan Kota Depok (99.Sosial.413). Ekonomi. 2000 c. angkutan dari kantor.570) diikuti Kota Bekasi (129. Ini terutama dari kawasankawasan permukiman yang langsung berbatasan atau dekat dengan DKI Jakarta. Meskipun jumlah penduduk DKI Jakarta sebagai kota inti mengalami penurunan.0 juta – Rp 3.11 Peta Volume Penumpang Jalur Kereta Api Sumber : SITRAMP Railway Passenger Survey. Jaringan jalan dan jalan kereta api tersebut di atas melayani pergerakan ulang alik dari kawasan Botabek ke DKI Jakarta (URDI 2006).

602 Kab Bekasi (22.537 37.168 Jumlah (21. 2006 Kab/Kot > 3799 1. Sedangkan semak dan hutan banyak terdapat di Kabupaten Bogor (+ 60. .026 43.29%) 19. kampung kepadatan tinggi. klasifikasi penggunaan lahan di Kabupaten dan Kota meliputi 14 penggunaan.790 Kota Bekasi (14.38%) 1.899 129. fasilitas publik.352 202. komersial dan bisnis) relatif rendah. Namun.51%) (21. industri dan gudang. TABEL 5 .907 10.165 (4.53%) 44.334 37. kegiatan ekonomi.48%) (36.30%) 26.5 tahun (1985-2002) (Lihat TABEL 5 .36%) (52.000 ha).000 106.22).56%) (37.528 67.839 16.534 (3. yang terbesar adalah untuk pertanian dan ruang terbuka (51 persen) diikuti dengan kampung berkepadatan rendah (20 persen) serta semak dan hutan (10 persen). Ini dapat disebabkan mereka bertempat tinggal di DKI Jakarta.413 241. telah terjadi perubahan guna lahan yang sangat pesat dalam kurun waktu + 1.12 menunjukkan bahwa proporsi penggunaan lahan tahun 2000.735 Guna Lahan Dari studi SITRAMP II sebagaimana disebutkan dalam URDI (2006) pada tahun 2000.31%) (31. Penggunaan terbesar di Jabodetabek adalah untuk pertanian dan ruang terbuka di Kabupaten Bogor (+ 111.088 Kab Tangerang (21.23).04%) (49. Luas penggunaan lahan lain (perumahan terencana.38%) 2.31%) 10.81%) (43.284 (4. Hal tersebut berarti bahwa masih cukup banyak kawasan/kampung yang bersifat perdesaan. GAMBAR 5 . kurang dari 10 persen.07%) (44.25%) (29.05%) Sumber: diolah dari LP3E Unpad. dan ruang terbuka (Lihat TABEL 5 .504 Kota Depok (19.570 76.311 Kab Bogor (38.762 Kota Bogor (17.182 Metropolitan di Indonesia paling sedikit (+ 4 persen). di Kabupaten Bekasi (+ 84.98%) (34.640 15.07%) (37.871 15. dan di Kabupaten Tangerang (+ 67.906 72.385 26.690 (2.000 ha).020 99.70%) 52.83%) 5.900 672.19%) (32.63%) 635 (5.691 42.56%) 9. dengan berjalannya waktu.575 3.736 302.111 Tangerang (16.81%) 1.52%) 18.68%) (41.921 24.84%) Kota 12.595 (3.94%) Jumlah (100%) 71.35%) 141.00%) 4.000 ha). maka penggunaan lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu permukiman.21 Pekerja Komuter Usia 15 Tahun Ke Atas Golongan Pendapatan (Rp 000) 100-1999 1200-1999 2000-3799 27.934 32.35%) (29.94%) (30.576 (4.000 ha) dan Kota Depok (+ 304 ha).479 (3.927 4. Untuk menyederhanakan.

Ekonomi.1 29.0 0.8 1. Bogor Kota Bekasi Kab.038 20.2 107.0 585.5 88.957.340.9 0.1 124.866.873.221.6 2.327 21.359.370.0 2.479.9 319.Tinggi 6.0 0.954 Perumahan Terencana 3.6 16.790 12.993.2 0.5 49.773 4.0 1.2 88.4 743.546.5 1.7 460.872.4 2.5 857.963.505.0 0.0 1.561.2 133.0 3.341.2 98.9 23.6 282.6 33.0 0.8 66.688.3 2.0 5.727.6 580.1 88.455 111.4 5.509.3 1.9 1.038 20.3 0.Rendah 836.5 406.376.262.0 8.1 0. dan Kependudukan 183 TABEL 5 .955.258.8 5.7 6.6 195.4 75.615 15.6 156.4 61.029 11.5 41.832.0 0.6 830.9 403.5 1.0 0.8 6.0 227.049.967.2 266.640.049.6 251.049 127.6 5.401 16.0 1. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.2 111.4 229.9 16.7 118.228.Sosial.3 6.0 0.107.1 6.0 1.3 Pemerintahan 196.1 89.0 0.4 326.0 0.573 18.9 3.0 0.401 16.0 230.8 30.3 2.6 3.6 10.4 12.455 111.9 1.9 37.029 11.5 55.3 344.1 679.1 1.1 13.7 0.8 3.7 475.327 21.5 1.772.0 148.2 4.0 38.5 181.4 0.1 83.954 14.7 3.5 0.902.0 .6 0.3 Industri & Gudang 37.0 11.454.773 4.3 1.Publik 505.633.720.3 383.5 298. tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 Penggunaan Lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kab/Kota Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.3 198.049 127.0 499.1 0.1 0.336.0 0.4 3.4 Kampung Kep.5 38.081.4 2.812.5 94.4 130.2 2.359.0 4.1 368.6 26.6 2. Bekasi Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kota Tangerang Kab.1 3.184.629.5 8.9 3.047. Bekasi Luas (ha) 14.3 394.7 268.052.3 53.6 11.800.190.22 Penggunaan Lahan per Kab/Kota Jabodetabek.0 213.4 299.0 5.4 Pendidikan & Fas.1 0.8 3.962.8 880.0 Komersial & Bisnis 1.8 59.0 1.0 165.0 6.1 0.3 38.3 791.9 699. Tangerang Kota Depok Kota Bogor Kab.9 122.0 2.790 12.850 206.6 24.573 18.0 0.6 16. Bogor Kota Bekasi Kab.0 311.0 Kampung Kep.5 14.7 1.3 182.0 0.5 0.0 0.006.0 41.6 29.1 1.4 691.774.152.671.2 1.615 15.2 314.0 1.185.850 206.8 304.

hampir 15.5 Kota Tangerang 18. sedangkan penggunaan untuk perumahan terencana .54% 23.900 22.501 24.1 35. Pertanian mengalami pengurangan yang cukup besar yakni sekitar 11.865 38.9 7.11% Perumahan Informal 37.24.4 0.346 7.6 persen menjadi perkantoran dan lain-lain. Dari kelompok perumahan.24 Perubahan Guna Lahan Guna Lahan Tahun 1985 (ha) Perumahan Formal 10.074 45.1 2.75% Pertanian 44.9 0.9 37.816 11.35 13.7 Sumber: BPS Jawa Barat.184 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .33% 7. Industri mengalami peningkatan hampir 3.000 ha.28 62.26% Sumber : SITRAMP 2. 2004 Tahun 2002 (ha) 20. menunjukkan perubahan yang besar.62 30.08 40.53 4. Tangerang 123.02% 43.8 1.8 1.2 Total 290.8 persen menjadi industri. Dapat disimpulkan bahwa banyak lahan dan kegiatan yang mencirikan perdesaan terkonversikan menjadi kegiatan yang berciri urban – perumahan dan industri.13% Perumahan.18 36. 1998 dalam Yulinawati 2005 TABEL 5 .4 Kab.167 44. Konversi lahan pertanian dalam kurun waktu tersebut dapat dilihat pada TABEL 5 .44 5. 40.621 4. paling tinggi menjadi kampung berkepadatan rendah (20 persen).89% Industri 4.7 67.23 Konversi Lahan Pertanian Luas Total Total Luas Prosentase Hasil Konversi (%) Wilayah Konversi PeruPerkanLainWilayah (ribu ha) (ribu ha) mahan Industri toran Lain Kota Bekasi 148. dan 9.08 ribu ha.6 49. dari total wilayah 13. Dari Kabupaten/Kota Bekasi dan Tangerang.5 23. baik formal maupun informal.000 ha.4 1.000 ha.12 Rasio Penggunaan Lahan Jabodetabek tahun 2000 Sumber : Survey Penggunaan Lahan SITRAMP Tahun 2002 TABEL 5 .38 3. 49.6 persen terkonversi menjadi perumahan.

dan sebagainya. pertanian. Titik perpotongan kedua kurva permintaan tersebut secara teoritis berupa suatu garis mengelilingi pusat kota. Titik (0. urban fringe merupakan titik perpotongan antara kurva permintaan lahan perkotaan dengan kurva permintaan lahan perdesaan (Lihat GAMBAR 5 . sedangkan sumbu vertikal menyatakan nilai lahan. Secara teoritis. Dengan perkembangan kota.13). Pada umumnya kawasan pinggiran ini terdiri dari penggunaan lahan yang campur aduk: permukiman. Namun.13 Lokasi Urban Fringe Secara Teoretis .14).0) adalah suatu titik yang ditetapkan sebagai pusat kota. dan Kependudukan 185 dan kampung berkepadatan tinggi mencapai 10 persen. lahan terbuka. Ekonomi. industri. GAMBAR 5 .Sosial. Bersama sebuah atau lebih kota inti membentuk kawasan metropolitan. Sumber mendatar merupakan jarak dari pusat kota. titik yang menyatakan batas antara wilayah desa dan kota akan bergeser menjauhi pusat kota (Lihat GAMBAR 5 . Jelas ini sudah merupakan kawasan berkarakteristik perkotaan. Dinamika Kawasan Pinggiran Metropolitan Kawasan Pinggiran di sini diartikan urban fringe. yaitu kawasan yang terdapat di sekitar kota besar atau metropolitan. pada kenyataannya merupakan suatu kawasan dengan lebar yang bervariasi. Ini yang diartikan sebagai kawasan pinggiran metropolitan.

baik terencana (kawasan permukiman berskala kecil) maupun tidak terencana. kepadatannya campuran antara kepadatan tinggi dan kepadatan rendah. Ciri utamanya adalah keberadaan perumahan hunian yang masih berkepadatan rendah. seperti kota Tangerang. Kawasan predominantly urban ini kemungkinan besar tercipta karena telah ada kota-kota atau permukiman sebelumnya di kawasan ini. jalan tol. Guna lahannya campur aduk. Kegiatan-kegiatannya lebih berciri urban. Depok. jasa pelayanan. dan sebagainya. Bogor. Bekasi. Proses ini adalah yang kita kenal sebagai ”suburbanisasi” dan biasanya berbatasan langsung dengan kota inti. Kawasan ini juga meningkat perkembangannya karena sudah ada atau sedang direncanakan pengembangan infrastruktur regional seperti jaringan jalan arteri. b. Deltamas. Kemudian ditambah adanya pengembangan permukiman skala besar yang baru seperti kota-kota baru BSD. serta industri yang berorientasi tenaga kerja (labor oriented industries). serta industri ringan/manufaktur. Penggunaan lahan sebagian besar masih berupa pertanian dan ladang.14 Pergeseran Urban Fringe Tipologi Kawasan Pinggiran Pada kenyataannya kawasan pinggiran tidak homogen. Predominantly Urban = kawasan yang didominasi kondisi dan kegiatan berciri perkotaan. biasanya akses ke kota inti relatif baik. perdagangan. kawasan pinggiran ini dapat dikelompokkan dalam tiga kategori atau tipologi: a. Semi Urban = kawasan ini adalah wilayah transisi dari perdesaan ke perkotaan. penggunaan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa. dan sebagainya. Berdasarkan penggunaan lahan serta fungsi kegiatan ekonominya. perkebunan. antara untuk kegiatan rural dan kegiatan perkotaan (perumahan berkepadatan tinggi. industri.186 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 . . Karakteristik kota ini antara lain adalah perumahan berkepadatan tinggi. Kegiatannya juga sebagian masih rural (pertanian. empang-empang dan ruang terbuka atau belum terbangun).

Dari GAMBAR 5 .8 persen menjadi 26. ada yang sudah menunjukkan gejala-gejala menuju urban. Sektor industri pengolahan/manufaktur dan sektor jasa. dan Kependudukan 187 dan sebagainya). 2006). maka desa-desa di kawasan pinggiran ini ada yang masih bersifat rural. c. Potential Urban = adalah kawasan yang pada saat ini ciri utamanya masih rural – berkarakteristik desa tapi mempunyai peluang besar untuk lambat laun menjadi urban. Ekonomi.15 maka terlihat bahwa kebanyakan kecamatan-kecamatan yang langsung berbatasan dengan DKI Jakarta berkarakteristik predominantly urban atau semi urban. dan ada yang sudah bersifat urban. a. Lihat juga pada peta 1 dan peta 2 (jaringan jalan dan kereta api). Kepadatan relatif rendah. Akses ke kota inti terbatas.15. Ekonomi dan konversi lahan Sebagaimana telah disampaikan di muka. hampir tidak ada. ini merupakan kawasan periurbanisasi atau awal proses suburbanisasi. peta 4 (penggunaan lahan 2000) serta peta 5 dan peta 6 (jumlah penduduk Jabodetabek 2000 dan 2004 per kecamatan).8 persen . Perkembangan global akan mempengaruhi kawasan metropolitan Jabodetabek terutama dalam bidang perekonomian. kedua tipe kawasan ini dilalui jaringan jalan atau jalan kereta api. Kegiatan ini terjadi di tipe kawasan predominantly urban. Juga adanya imbas dari daerah sekitarnya yang sudah atau menuju perkembangan perkotaan (URDI.akan meningkatkan pula pertumbuhan sektor-sektor tersebut di Jabodetabek. Salah satu faktor yang mendorong pengembangan kegiatan perkotaan ke kawasan ini adalah tersedianya aksesibilitas berupa jaringan jalan atau kereta api yang melalui kawasan ini serta harga lahan yang relatif masih murah. Untuk kawasan metropolitan Jabodetabek ketiganya dapat dilihat dari GAMBAR 5 . Terkait dengan kepadatan penduduk dan guna lahan serta aktivitas penduduknya. yang secara nasional meningkat pangsanya – dari 23. kegiatan masih cenderung ke pertanian dan perkebunan serta masih banyak lahan-lahan yang belum terbangun. namun dekat dengan kawasan semi urban. Dikaitkan dengan jaringan transportasi. Lokasi peningkatan kegiatan ekonomi tersebut akan menyebar sebagai berikut: industri jasa dan perdagangan akan tetap berkembang di pusat kawasan metropolitan yakni di kota inti DKI Jakarta (GAMBAR 5 . yang pada gilirannya akan mempengaruhi kependudukan (jumlah dan struktur) dan perubahan tata guna lahan. peranan kawasan metropolitan Jabodetabek dalam perekonomian nasional untuk beberapa tahun ke depan masih akan tetap tinggi. Kawasan ini tidak berbatasan langsung ke kota inti. Akses ke kota inti sangat terbatas.Sosial. tetapi mulai menyebar mengikuti jaringan transport dan konsentrasi permukiman terutama ke arah Selatan. Pola Perubahan Ketiga tipologi kawasan pinggiran akan turut mengalami perubahan dengan adanya perkembangan di kawasan metropolitan Jabodetabek dan di kota inti DKI Jakarta.19). .

16 Pengunaan Lahan Jabodetabek 2000 .15 Peta Urban Fringe Jabodetabek Berdasarkan Tipologinya GAMBAR 5 .188 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .

dan Kependudukan 189 GAMBAR 5 .17 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2000 per Kecamatan GAMBAR 5 .Sosial.18 Jumlah Penduduk Jabodetabek 2004 per Kecamatan . Ekonomi.

190 Metropolitan di Indonesia GAMBAR 5 .19 Sebaran Lokasi Fasilitas Komersial dan Bisnis di Jabodetabek Sumber: SITRAMP2.20 Sebaran Kawasan Industri dan Pergudangan Jabodetabek . 2004 GAMBAR 5 .

Kota Bogor.4 ha lahan pertanian). mengikuti jaringan transport ke Barat ke arah Tangerang.Sosial. Kota-kota ini termasuk tipe kawasan predominantly urban dan di sekelilingnya adalah kebanyakan tipe kawasan semi urban. Ekonomi. Kemungkinan besar kawasan-kawasan ini akan menjadi predominantly urban dan kawasan yang potential urban akan menjadi semi urban. Paling tinggi kepadatan masih tetap di DKI Jakarta sebagai pusat kegiatan Jabodetabek.5 H di tahun 2002. pertanian (lihat TABEL 5 .23) mengalami penyusutan luas dari sekitar 44 ha di tahun 1985 menjadi sekitar 23. dan Bogor yang relatif jauh dari DKI Jakarta. Konversi lahan pertanian ini paling agresif terjadi di Kabupaten Bekasi terutama untuk mewadahi kegiatan industri yang merupakan sektor utama di daerah tersebut.20) terkonsentrasi di kawasan pelabuhan kota inti DKI Jakarta.25 Perubahan Kegiatan Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban peningkatan industri jasa dan perdagangan peningkatan industri manufaktur peningkatan industri manufaktur peningkatan permukiman peningkatan industri manufaktur konversi lahan pertanian ke perumahan dan industri b. Terkait dengan kepadatan penduduk dalam kurun waktu 5 tahun (2000-2004) telah terjadi juga kenaikan kepadatan penduduk. kecuali di DKI Jakarta yang relatif stabil bahkan di Jakarta Pusat yang mengalami penyusutan. Kota Tangerang. Perubahan tersebut terjadi di kawasan-kawasan sebagai berikut: - TABEL 5 . Di luar DKI Jakarta peningkatan kepadatan tinggi terjadi di kota-kota sekitar. Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi di tipe kawasan semi urban dan potential urban. Kota-kota ini meningkat perannya sebagai sub pusat kegiatan dengan fungsi permukiman atau pendidikan. Tangerang. dan Kependudukan 191 - industri manufaktur dan pergudangan (GAMBAR 5 . Konversi ini (lihatTABEL 5 22) terjadi di Kabupaten/Kota Tangerang dan Bekasi terutama untuk penggunaan perumahan dan industri (sekitar 13 ribu ha dari total 290. Persebaran ini terjadi di kawasan predominantly urban dekat Kota Depok. Kependudukan Sebagaimana dibahas di bab sebelumnya. Walaupun ada juga di beberapa kecamatan di pinggiran Kabupaten-kabupaten Bekasi. jumlah penduduk selama 5 tahun terakhir meningkat di Jabodetabek. Secara spasial peningkatan jumlah penduduk terdapat di kecamatan-kecamatan yang berdekatan atau berbatasan dengan DKI terutama di Kota Tangerang dan Kota Depok (kawasan predominantly urban). dan Kota Depok. seperti Kota Bekasi. Kecamatankecamatan di atas berdasarkan jumlah penduduknya berubah dari tipologi semi urban dan potential urban menjadi predominantly urban dan semi urban. .

serta masyarakat dan dunia usaha terkait di sektor-sektor terkait (seperti jaringan jalan raya. jalan kereta api. industri dan perdagangan. Pembatasan ke arah selatan memerlukan regulasi yang cukup ketat dan diawasi pelaksanaannya secara konsisten. Kebijakan-kebijakan ini pada ujungnya akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan makro nasional dan sektoral seperti antara lain: Keputusan pembangunan jaringan transportasi baru – jalan tol. dan predominantly rural. Masyarakat perlu dilibatkan dalam pengawasan ini. potential urban. . dan sebagainya). Pengembangan saat ini banyak yang mengarah ke selatan. Keputusan-keputusan ini penting untuk menetapkan di mana akan dilaksanakan.15 (tipologi urban fringe) maka poros Timur – Barat masih memungkinkan untuk dikembangkan terutama di kawasan-kawasan semi urban. dari semi urban menjadi predominantly urban dan dari potential urban menjadi semi urban atau bahkan predominantly urban akan dipengaruhi oleh beberapa kebijakan atau intervensi dari pemerintah maupun dari masyarakat/dunia usaha. Pemerintah-pemerintah Daerah. Seyogianya itu semua mengacu pada satu tata ruang Kawasan Metropolitan yang disepakati semua pihak – Pemerintah Pusat. Kedua kegiatan tersebut akan menarik kegiatan-kegiatan terkait seperti pusat-pusat kegiatan dan pelayanan serta membutuhkan penyediaan sarana dan prasarana pendukung. jalan kereta api.192 Metropolitan di Indonesia Strategi dan Kebijakan Perubahan atau perkembangan tipologi kawasan dari predominantly urban menjadi fully urban – dalam arti kecamatan-kecamatannya mengalami transformasi menyatu dengan kota inti. Kebijakan umum dan khusus berupa program dan instrumen bagi ketiga tipologi dapat dilihat dari TABEL 5 . Bila dilihat GAMBAR 5 . jaringan air bersih dan pembuangan. dan jalan raya (arteri nasional). Pada saat ini strategi yang ingin digunakan di Kawasan Metropolitan Jabodetabek adalah mendorong pengembangan poros Timur – Barat dan membatasi pengembangan ke arah Selatan yang merupakan resapan air. Keputusan pengembangan permukiman baru – antara lain dengan meningkatkan kepadatan (KLB tinggi. Hal ini terkait pada kebijakan makro untuk Kawasan Metropolitan Jabodetabek – seberapa luas lahan yang akan dipertahankan dan di mana lokasinya untuk tetap menjadi kawasan perdesaan/pertanian (predominantly rural) yang saat ini masih cukup banyak yakni 51 persen. KLB rendah).27.26 dan TABEL 5 . Penutup Bagaimana implikasi perkembangan metropolitan pada desa dan kota yang berada dalam Kawasan Metropolitan serta kebijakan dan kelembagaan seperti apa yang dapat mengelola/menanganinya merupakan isu yang akan dibahas dalam bagian ini.

Mengurangi Ijin-Ijin Pembangunan.26 Kebijakan Umum dan Usulan Program per Tipologi Urban Fringe No 1 Jenis Kebijakan Pemanfaatan lahan untuk kegiatan budi daya Predominantly Urban Pengembangan mixed use. Pembangunan secara vertikal (KLB tinggi. Mengembalikan Fungsi Ruang Terbuka Hijau Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol. Membatasi Ijin-Ijin Untuk Kegiatan Yang Menyebabkan Degradasi Lingkungan Membatasi Akses Jalan Tol Dan Non Tol. Mempertahankan fungsi ekologis / lindung kawasan. KDB rendah) Semi Urban Pengembangan lahan terbangun yang menunjang kegiatan perkotaan Potential Urban Dipertahankan sebagai lahan tidak terbangun. Meningkatkan Fungsi Lindung Kawasan Untuk Bagian Selatan Jabodetabek Meningkatkan Penyediaan Sarana Dan Prasarana Kota.Sosial.27 Contoh Instrumen untuk Kebijakan-kebijakan Khusus No Jenis Kebijakan Kebijakan Khusus Pengembangan Yang Ada Dibatasi Predominantly Urban Semi Urban Potential Urban 1 2 Pengembangan Yang Ada Didorong Menaikkan Beban Pajak Untuk Kegiatan Perkotaan: Bisnis Dan Komersial. dan Kependudukan 193 TABEL 5 . Ekonomi. Pengembangan urban agriculture Kegiatan eknomi yang tidak merugikan fungsi ekologis (ecotourism. dll) Pengembangan urban agriculture 2 Pengembangan pusat-pusat kegiatan baru Pengembangan pusatpusat kegiatan regional Pengembangan urban agriculture dan industri padat karya 3 4 Mengefisienkan dan mengefektifkan lokasi pusat-pusat kegiatan ekonomi Peningkatan penyediaan prasarana Pengembangan kegiatan perkotaan Pengembangan urban agriculture dan industri yang berorientasi tenaga kerja Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture dan industri Penyediaan prasarana yang mendukung kegiatan perkotaan untuk skala regional Penyediaan prasarana yang mendukung urban agriculture Sumber : URDI 2006 TABEL 5 . Meningkatkan Pemanfaatan Lahan Terbangun Sumber : URDI 2006 . Meningkatkan Pembangunan Jalan Baru Untuk Pergerakan Internal Dan Eksternal Jabodetabek Meningkatkan Pelayanan Sarana Dan Prasarana Perkotaan.

Kegiatan utama Cimanggis sebagian masih berupa pertanian (sawah.194 Metropolitan di Indonesia Hubungan Desa dan Kota Dari gambaran di atas terlihat bahwa desa dan kota sangat erat kaitannya dan dengan mudah terjadi perubahan dari desa menjadi kota. koordinasi perencanaan dan pendanaan pembangunan secara terpadu (lintas sektor dan lintas wilayah).3 persen per tahun). serta dalam aspek pelayanan publik. Dalam hal ini intervensi kelembagaan dan keuangan antara lain dapat dilakukan melalui: membentuk wadah kerja sama (baru atau revitalisasi/perluasan wadah yang sudah ada). Dari yang predominantly rural atau potential urban dapat menjadi semi urban dan predominantly urban. aspek pembangunan fisik dan lingkungan. sekitar 27 persen telah berubah menjadi perumahan. (URDI. Dalam hal intervensi aspek pembangunan fisik dan lingkungan dapat dilakukan antara lain : penyusunan rencana tata ruang wilayah yang terintegrasi dan terpadu secara bersama-sama. yaitu di kawasan pinggiran yang semula hanya tipe potential urban menjadi predominantly urban. Namun. ladang. kebun campuran dengan rumah) sebesar 73 persen. Desa-desa yang dilalui atau dekat dengan jaringan transportasi ke Jakarta akan mengalami transformasi menjadi kota yang lebih cepat. meliputi intervensi dalam aspek kelembagaan dan keuangan. Pertambahan penduduk terjadi terutama karena perpindahan dari DKI Jakarta. . Tetapi peningkatan kepadatan ini sangat tinggi (6. Sebanyak 84 persen dari penghuni di kompleks perumahan dan 54 persen dari penghuni non perumahan (kampung) sebelumnya tinggal di DKI Jakarta. dan jalan tol. Ini merupakan fenomena yang umum terjadi di kecamatan-kecamatan sekitar DKI Jakarta.. Hal ini semua menunjukkan bahwa kecamatan Cimanggis yang sekitar 5 tahun yang lalu masih berciri desa. Kepadatan penduduknya 75 jiwa/ha lebih tinggi dari kepadatan kabupaten tapi belum setinggi kepadatan kota. dan kabupaten/kota. 127). Kompleks perumahan bertambah dari 32 kompleks (1992) menjadi 57 kompleks (2002) hampir dua kalinya (Uguy 2006: hal. Intervensi Strategi dan Kebijakan Intervensi yang dapat dilakukan perlu secara menyeluruh dari tingkat nasional. jalan arteri. dan lain-lain. jalan. provinsi. industri. hal ini akan menerus terjadi dan akan menimbulkan urban sprawl. Jika tidak ada intervensi dari pemerintah. merumuskan mekanisme kerja sama dan pembuatan keputusan. Kecamatan ini juga membangkitkan lalu lintas yang menyebabkan kemacetan di jalan lingkungan. kini telah mengalami transformasi dalam transisi menjadi kecamatan berciri kota. Suatu studi kasus (Uguy 2006) di suatu kecamatan (Cimanggis) memberikan hasil sebagai berikut: Kecamatan Cimanggis merupakan kawasan peri urban yaitu mempunyai tata guna lahan campuran rural dan urban yang tak tertata. 2006). Perubahan peruntukan lahan yang sangat cepat untuk pembangunan permukiman.

. Jawa Barat. dan sebagainya. pembuangan. pembangunan skala besar dan banyak daerah seperti jaringan transportasi multimoda yang melayani ketiga propinsi. pelayanan penyediaan air bersih. Beberapa intervensi itu harus dilakukan dari tingkat pusat. dan Banten). dan persampahan (disarikan dari URDI 2006). seperti sumber air baku. sungai dan danau. dan sebagainya. Ekonomi. Dalam hal intervensi aspek pelayanan publik antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan program-program : pelayanan transportasi terpadu multimoda. seperti mekanisme perencanaan yang melibatkan propinsi-propinsi (DKI Jakarta.Sosial. perencanaan pemanfaatan sumber daya alam. dan Kependudukan 195 - perencanaan pengembangan jaringan transportasi dan pusat-pusat kegiatan secara bersama (spasial maupun temporal).

196 Metropolitan di Indonesia .