WAKALAH '-lA-__-K-W

1. PENGERTIAN Wakalah berasal dari wazan wakala-yakilu-waklan yang berarti menyerahkan atau mewakilkan urusan sedangkan wakalah adalah pekerjaan wakil1. Al-wakalah menurut istilah para ulama didefinisikan sebagai berikut : a. Golongan Malikiyah : “Seseorang menggantikan (menempati) tempat yang lain dalam hak (kewajiban) b. Golongan Hanafiyah : “Seseorang menempati diri orang lain dalam pengelolaan” c. Golongan Syafi’iyah : “Seseorang menyerahkan sesuatu kepada yang lain untuk dikerjakan ketika hidupnya” d. Golongan Hambali : “permintaan ganti seseorang yang didalamnya terdapat penggantian hak Allah dan hak manusia” e. Ulama fiqh klasik Al-Dhimyati : “seseorang menyerahkan urusannya kepada yang lain yang didalamnya terdapat penggantian” f. Imam Taqy : “Seseorang yang menyerahkan hartanya untuk dikelola kepada orang lain ketika hidupnya” Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud wakalah adalah penyerahan dari seseorang kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu dimana perwakilan tersebut berlaku selama yang mewakilkan masih hidup2. Wakalah dalam pegertian penyerahan, pendelegasian, atau pemberian mandat juga terdapat dalam kata Al-hifzhu yang berarti pemeliharaan3. Karena itu penggunaan kata wakalah atau wikalah dianggap bermakna sama dengan hifzhun.

1 2

Tim Kashiko, Kamus Arab-Indonesia, Kashiko, 2000, hlm. 693. Dr. H. Hendi Suhendi, Msi, Fiqh Muamalah, Jakarta : Rajawali Press, hlm. 233. 3 Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah dalam Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta : Gema Insani, 2008, hlm. 120-121.

1

2. LANDASAN SYAR’I a. Al-Qur’an Salah satu dasar dibolehkannya Wakalah adalah firman Allah SWT yang berkenaan dengan kisah Ash-habul Kahfi.

Artinya : “dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.” (QS Al-Kahfi : 19) Ayat tersebut diatas menggambarkan peristiwa perginya salah satu anggota ash-habul kahfi untuk bertindak atas nama teman-temannya sebagai perwakilan dalam melakukan transaksi pembelian makanan. Didalam ayat ini terdapat hal yang terkait dengan tauhid yaitu tauhid rububiyah dimana hanya Allah yang memiliki kekuasaan untuk membangkitkan (baatsnahum). Kekuasaan Allah ini ditunjukkan secara langsung kepada kelompok hambanya (tujuh orang + anjingnya) karena pada masa itu manusia (Raja Daqyanus4 dan tentaranya) tidak mengakui atau meragukan adanya
4

Sebuah tempat seluas 12 kilometer persegi di wilayah provinsi Kerman, Iran Tenggara. Wilayah kekuasaannya pada waktu itu (861-1003 SM) meliputi Iran, Afganistan, Pakistan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Lihat http://www.cais-soas.com/News/2009/March2009/16-03.htm

2

kebangkitan / baats yang didakwahkan Ash-habul Kahfi sehingga mengejar dan melempari batu kepada mereka karena dianggap ajarannya tidak masuk akal dan melawan kepercayaan mereka. Kebangkitan secara fisik ini juga diluar kebiasaan dan kaidah biologis yaitu selama 300 tahun5, suatu pembuktian yang sangat ekstrim yang hanya bisa dilakukan oleh Allah (Al-Baaits) sebagai hujjah tak terbantahkan. Selain itu pada ayat diatas juga terdapat salah satu sifat Allah yaitu Aliimun (Maha Mengetahui) karena hanya Allah lah yang mengetahui berapa lama mereka tertidur. Disamping itu secara tersirat terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah sebagai Dzat yang maha menjaga karena mustahil mereka dapat aman dalam gua tersebut selama itu jika bukan Allah melindungi atau memliharanya. (Al-Muhaimin, Al-hafiiz, Al-Muqiit) serta masih banyak lagi apabila kita gali lebih dalam. Disamping pokok akidah dalam ayat tersebut juga terdapat tuntunan akhlak yakni hendaklah kita memperhatikan (undhur) terhadap jenis makanan yang akan kita konsumsi karena itu akan berpengaruh terhadap jasmani dan akhlak kita. Makanan yang buruk akan membawa mafsadat tidak hanya bagi jasmani tapi juga bagi ruhani kita. Makanan yang halal dan baik insyaAllah akan membantu kita menjadi lemah lembut sebagaimana Allah ingatkan kepada ashabul kahfi dan dengan keumuman lafalnya juga kepada kita agar berlaku lemah lembut. Selain dua hal diatas sebenarnya masih ada kandungan akhlak dalam ayat tersebut seperti kaidah kepemimpinan dan keterwakilan, amanah dan strategi. Dalam hal muamalah maka ayat tersebut diatas membicarakan tentang perwakilan dalam bertransaksi, ada solusi yang bisa diambil manakala manusia mengalami kondisi tertentu dalam mengakses atau melakukan transaki yaitu dengan jalan wakalah, menetapkan pekerjaan wakil berupa perginya ia kepada tempat dimana barang tersebut berada (kota), dikenalkannya alat pertukaran transaksi yaitu wariq atau uang perak dan ketentuan (sighat) terhadap barang (taukil) yang akan diadakan serta bolehnya diadakan non-disclossure agreement antara wakil dan muwakil. Ayat lain yang menjadi rujukan wakalah adalah kisah pengajuan diri Nabi Yusuf a.s sebagai pengelola keuangan kepada raja yang berkuasa saat itu.
5

Muhammad Nasib Ar-Rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3, Jakarta-Gema Insan, hlm. 130

3

akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.”Berkatalah Yusuf. Malik dalam al-Muwaththa’) 4 . ” Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir). Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS Yusuf : 55) “jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Baqarah (2:283) b. dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. Hadits ”Bahwasanya Rosululloh SAW mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mewakilinya untuk mengawinkan (qabul perkawinan Nabi dengan) dengan Maimunah binti al-Harits. Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya.” (HR.

” (HR. QS Al-Maa-idah (5:2). Bahkan mereka cenderung mensunnahkannya dengan alasan bahwa hal tersebut termasuk jenis ta’awun atau tolong.menolong atas dasar kebaikan dan taqwa. Bukhari dari Abu Hurairah) ”Sesungguhnya Rosululloh SAW mengutus Assa’ah untuk memungut zakat.” 5 . dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.’ lalu sabdanya. Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik di dalam membayar. Beliau bersabda. ‘Berikanlah (bayarkanlah) kepada orang ini unta umur setahun seperti untanya (yang dihutang itu)’.“Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW untuk menagih hutang kepada beliau dengan cara kasar. ‘Biarkan ia. Mereka menjawab. dan bertakwalah kamu kepada Allah. Ijma Para ulama sepakat wakalah diperbolehkan. Al-Bukhari dan Muslim) c. ‘Kami tidak mendapatkannya kecuali yang lebih tua. sebab pemilik hak berhak untuk berbicara. Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (HR. sehingga para sahabat berniat untuk “menanganinya”. “dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.’ Rasulullah kemudian bersabda: ‘Berikanlah kepada-nya.

Orang yang mewakilkan (Al-Muwakkil) hak Seseoarang yang mewakilkan.com/2009/04/16/konsep-akad-wakalah-dalam-fiqh-muamalah/ 6 . Seseorang yang menerima kuasa ini. kecuali atas kesengajaanya. disisi lain juga dituntut supaya pemberi kuasa itu sudah cakap bertindak atau mukallaf. perlu memiliki kemampuan untuk menjalankan amanahnya yang diberikan oleh pemberi kuasa. Namun madzhab Hambali membolehkan pemberian kuasa dari seorang anak yang sudah mumayyiz pada bidang-bidang yang akan dapat mendatangkan manfaat baginya. Obyek yang dikuasakan (taukil) dan Ijab Qabul (sighat). Pihak penerima kuasa (wakil).3. Tidak boleh seorang pemberi kuasa itu masih belum dewasa yang cukup akal serta pula tidak boleh seorang yang gila. dan sejenisnya yang memang berada dalam kekuasaan pihak yang memberikan kuasa. Orang yang diwakilkan. ini berarti bahwa ia tidak diwajibkan menjamin sesuatu yang diluar batas. 3. Karena itu seseorang tidak akan sah jika mewakilkan sesuatu yang bukan haknya. seperti jual beli. RUKUN WAKALAH Sekurang-kurangnya terdapat empat rukun wakalah yaitu : Pihak Pemberi kuasa (muwakkil). (Al-Wakil) Penerima kuasa pun perlu memiliki kecakapan akan suatu aturanaturan yang mengatur proses akad wakalah ini sehingga cakap hukum menjadi salah satu syarat bagi pihak yng diwakilkan. Pemberi kuasa mempunyai hak atas sesuatu yang dikuasakannya. 2.wordpress. pemberian upah. http://informationmedia. pemberi kuasa. Menurut pandangan Imam Syafi’i anak-anak yang sudah mumayyiz tidak berhak memberikan kuasa atau mewakilkan sesuatu kepada orang lain secara mutlak. 6 Rhesa Yogaswara. Obyek mestilah sesuatu yang bisa diwakilkan kepada orang lain. Konsep Akad Wakalah dalam Fiqh Muamalah. Obyek yang diwakilkan (Taukil). Keempatnya dijelaskan sebagai berikut6 : 1. disyaratkan memiliki untuk bertasharruf (pengelolaan) pada bidang-bidang yang didelegasikannya.

Dari mulai aturan memulai akad wakalah ini. 7 . seperti shalat. Tidak semua hal dapat diwakilkan kepada orang lain. Shighat Dirumuskannya suatu perjanjian antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa. 4. proses akad.- Para ulama berpendapat bahwa tidak boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah badaniyah. sedekah. dan sejenisnya. Isi dari perjanjian ini berupa pendelegasian dari pemberi kuasa kepada Tugas penerima kuasa oleh pemberi kuasa perlu dijelaskan untuk dan penerima kuasa atas pemberi kuasa melakukan sesuatu tindakan tertentu. dan boleh menguasakan sesuatu yang bersifat ibadah maliyah seperti membayar zakat. serta aturan yang mengatur berakhirnya akad wakalah ini. Sehingga obyek yang akan diwakilkan pun tidak diperbolehkan bila melanggar Syari’ah Islam.

Fatwa No: 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah 2.10/2000 kemudian digunakan rujukan bagi fatwa transaksi yang lebih spesifik yang menggunakan wakalah. Wakil adalah orang yang diberi amanat. b. yaitu : 1. 2. Wakalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak. Fatwa No : NO: 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah Pada Asuransi Dan Reasuransi Syariah Fatwa tersebut. b. 2. Beberapa ketentuan yang tercantum dalam fatwa ini yaitu : Pertama : Ketentuan tentang Wakalah: 1. c. Syarat-syarat muwakkil (yang mewakilkan) a. Diketahui dengan jelas oleh orang yang mewakili.4. Pemilik sah yang dapat bertindak terhadap sesuatu yang diwakilkan. yakni dalam hal-hal yang bermanfaat baginya seperti mewakilkan untuk menerima hibah. Hal-hal yang diwakilkan a. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). 3. Dapat diwakilkan menurut syari’ah Islam. c. FATWA DSN TENTANG WAKALAH Majelis Ulama Indonesia melalui Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan beberapa fatwa yang terkait dengan Wakalah. 8 . b. Syarat-syarat wakil (yang mewakili) a. menerima sedekah dan sebagainya. Dapat mengerjakan tugas yang diwakilkan kepadanya. khususnya Fatwa No. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Kedua : Rukun dan Syarat Wakalah: 1. Ketiga : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Orang mukallaf atau anak mumayyiz dalam batas-batas tertentu. Cakap hukum. Tidak bertentangan dengan syari’ah Islam.

com/reviews/item/1 9 .MA . kembali penyertaan tersebut. sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Prospektus. dan diawasi oleh Bank Kustodian. pemodal memberikan mandat kepada Manajer Investasi untuk melaksanakan investasi bagi kepentingan Pemodal. Untuk klasifikasi terakhir ini para ulama sepakat bahwa akad wakalah pada pokoknya adalah akad tabarru'at (sukarela-kebajikan) sehingga tidak berkonsekwensi hukum (ghairu laazimah) bagi yang mewakili (al-wakiil). NO: 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syari'ah. Syari'ah. f. yaitu : a. g. 7 Saiyah Umma Taqwa. Reksa Dana Syariah Akad antara pemodal dengan manajer investasi dalam investasi menggunakan akad wakalah dengan hak dan mekanisme hubungan sebagaimana diatur dalam Fatwa No.multiply. BENTUK DAN PENERAPAN AKAD WAKALAH Akad wakalah terbagi menjadi beberapa macam tergantung sudut pandangnya.5. dijaga. bahwa seluruh ananya akan disimpan. 1. e. d. c. ada wakalah munjazah dan wakalah mu'allaqah. seperti ada wakalah 'aamah dan wakalah khaashah. ada wakalah muthlaqah dan wakalah muqayyadah (terbatas). kembali penyertaannya dalam Reksa Dana Syari'ah melalui Manajer Investasi. Para pemodal secara kolektif mempunyai hak atas hasil investasi Pemodal menanggung risiko yang berkaitan dalam Reksa Dana Pemodal berhak untuk sewaktu-waktu menambah atau menarik Pemodal berhak atas bagi hasil investasi sampai saat ditariknya Pemodal yang telah memberikan dananya akan mendapatkan jaminan dalam Reksa Dana Syari'ah. Namun apabila berubah menjadi wakalah bi-ajr (berupah) maka kondisinya berubah menjadi laazimah (berkonsekwensi hukum) dan tergolong akad barter-ganti rugi (mu'aawadhaat)7. http://alimankairo. Pemodal akan mendapatkan bukti kepemilikan yang berupa Unit Penyertaan Reksa Dana Syariah. b. dan terakhir wakalah bighairi ajr (tanpa upah) dan wakalah bi-ajr (dengan upah).

2. Letter Of Credit (L/C) Impor Syari’ah Letter of Credit (L/C) Impor Syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada Eksportir yang diterbitkan oleh Bank untuk kepentingan Importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai dengan prinsip syariah. 3. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal. Akad untuk L/C Impor yang sesuai dengan syariah dapat digunakan beberapa bentuk: 1.2. Transaksi murabahah kepada nasabah sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf a dan ijarah kepada nasabah sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf b harus dilakukan dengan akad. atau oleh nasabah dan menyewakannya lagi kepada nasabah tersebut. Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan: • • • Importir harus memiliki dana pada bank sebesar harga pembayaran barang yang diimpor. Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan: 10 . 2. Besar keuntungan (ribh) yang diminta oleh LKS dalam angka 1 huruf a dan besar sewa dalam ijarah kepada nasabah sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf b harus disepakati ketika wa’d dilakukan. b. Pembiayaan Rekening Koran Syariah (PRKS) dilakukan dengan wa’d untuk wakalah dalam melakukan: a. 30/DSN-MUI/VI/2002 tentang Pembiayaan Rekening Koran Syari’ah dengan ketentuan sebagai berikut : 1. pembelian barang yang diperlukan oleh nasabah dan menyewa (ijarah)/mengupah barang/jasa yang diperlukan menjualnya secara murabahah kepada nasabah tersebut. bukan dalam bentuk prosentase. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumendokumen transaksi impor. 3. Pembiayaan Rekening Koran Syariah Pembiayaan Rekening Koran Syariah (PRKS) adalah suatu bentuk pembiayaan rekening koran yang dijalankan berdasarkan prinsip syari’ah sebagaimana diatur dalam Fatwa No.

Akad Wakalah bil Ujrah dan Mudharabah. Bank dan importir melakukan akad Mudharabah. 3. Ketentuan lebih lengkap tentang hal ini diatur dalam Fatwa No. 11 . Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor. bukan dalam prosentase. selanjutnya dibayarkan kepada eksportir setelah dikurangi ujrah. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal. 34/DSNMUI/IX/2002 4.• • • • Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal. Letter Of Credit (L/C) Ekspor Syari’ah Letter of Credit (L/C) Ekspor Syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada Eksportir yang diterbitkan oleh Bank untuk memfasilitasi perdagangan ekspor dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai dengan prinsip syariah. bukan dalam bentuk prosentase. Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan: • Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank). dimana bank bertindak selaku shahibul mal menyerahkan modal kepada importir sebesar harga barang yang diimpor. Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan: • • • Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor. dengan ketentuan: • • Nasabah melakukan akad wakalah bil ujrah kepada bank untuk melakukan pengurusan dokumen dan pembayaran. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada importir untuk pelunasan pembayaran barang impor. 2. Beberapa bentuk akad dalam L/C Ekspor syariah diantaranya : 1.

Wakalah bil Ujrah adalah pemberian kuasa dari peserta kepada perusahaan asuransi untuk mengelola dana peserta dengan pemberian ujrah (fee). Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal. bukan dalam bentuk prosentase. tidak dibolehkan adanya keterkaitan (ta’alluq). Akad Wakalah Bil Ujrah dan Mudharabah dengan ketentuan: • • • • • • Bank memberikan kepada eksportir seluruh dana yang dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang dipesan oleh importir. Pengembalian dana mudharabah. Pembayaran ujrah dapat diambil dari dana talangan sesuai kesepakatan dalam akad. 52/DSN-MUI/III/2006 meliputi asuransi jiwa. 12 . ketentuan dalam akad ini diantaranya : • • Wakalah bil Ujrah boleh dilakukan antara perusahaan asuransi dengan peserta.• • • • • Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank). Pembayaran oleh bank penerbit L/C dapat dilakukan pada saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo (usance). asuransi kerugian dan reasuransi syariah. bukan dalam bentuk prosentase. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank). Pembayaran bagi hasil. Bank memberikan dana talangan (Qardh) kepada nasabah eksportir sebesar harga barang ekspor. Ketentuan lebih lengkap tentang hal ini diatur dalam Fatwa No. Pembayaran dari bank penerbit L/C (issuing bank) dapat digunakan untuk: Pembayaran ujrah. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal. 3. Antara akad Wakalah bil Ujrah dan akad Qardh. Asuransi Syariah Asuransi syariah yang menjalankan akad wakalah bil ujrah menurut fatwa DSN No. 35/DSNMUI/IX/2002 5.

akad wakalah juga digunakan perbankan untuk transaksi sebagai berikut : Transfer Uang. sukuk dll dimana bank menjadi perantara. Pembayaran Gaji. Inkaso. shodaqoh. Kliring. 13 . RTGS. pembayaran tagihan dll. Kartu Kredit. pembayaran rutin lainnya seperti zakat. Selain beberapa hal diatas. obligasi.• Wakalah bil Ujrah dapat diterapkan pada produk asuransi yang mengandung unsur tabungan (saving) maupun maupun unsur tabarru' (non-saving). Transaksi sertifikat bernilai (awraaq maaliyah) seperti saham.

KAFALAH Pengertian Al kafalah menurut bahasa berarti al-dhaman (jaminan). hamalah (beban) dan za'amah (tanggungan). "Menggabungkan dzimah kepada dzimah yang lain dalam pokok (asal) utang. 1. “Menggabungkan dzimah (Tanggungan atau beban) kepada dzimah yang lain dalam penagihan. Sedangkan menurut istilah yang dimaksud dengan al-kafalah atau al-dhaman adalah sebagai berikut. Menurut M'azhab Hanafi Pertama. utang. Menurut Mazhab Maliki 14 .” 2. dengan jiwa. atau zat benda”. Kedua.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh Mazhab Syafi'i di atas. Menurut Mazhab Hanbali "Iltizam (menanggung kewajiban orang lain) sesuatu yang diwajibkan kepada orang lain serta kekekalan benda tersebut yang dibebankan atau iltizam orang yang mempunyai hak menghadirkan dua harta (pemiliknya) kepada orang yang mempunyai hak. baik menanggung pekerjaan yang sesuai (sama) maupun pekerjaan yang berbeda. ." 3. Menurut Mazhab Syafi'i "Akad yang menetapkan iltizam hak yang tetap pada tanggungan (beban) yang lain atau menghadirkan zat benda yang dibebankan atau menghadirkan badan oleh orang yang berhak menghadirkannya". al-kafalah terdiri tiga pengertian." 4. yaitu al-kafalat dan al-kafalat alabdan. Meturut Sayyid Sabid 15 5.“Orang yang mempunyai hak mengerjakan tanggungan pemberi beban serta bebannya sendiri yang disatukan.

barang.A l-kafalah proses penggabungan tanggungan kafil(wakil) menjadi beban ashil dalam tuntutan dengan benda (rnateri) yang sama. beban.terbukti dengan firman-Nya: 16 . baik utang. maupun pekerjaan. Kafalah juga berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin. atau tanggungan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua yang ditanggung (makful).. Dari pengertian secara bahasa tersebut dapat diartikan bahwa kafalah adalah jaminan. 6. Atas jasanya penjamin dapat meminta imbalan tertentu dari orang yang dijamin. Kesimpulan : al-kafalah atau al-dhaman ialah menggabungkan dua beban (tanggungan) dalam permintaan dan utang. Menurut Hasbi Ash-Shidiqie "Menggabungkan dzimah kepada dzimah lain dalam penagihan" . Dasar Hukum al-Kafalah Kafalah disyaratkan oleh Allah Swt. Menurut Imam Taqiy al-Din "Mengumpulkan satu beban kepada beban lain." 7.

bahwa kalian pasti membawanya kembali kepadaku”. maka hutang sejumlah itu dibayar kepada penagih”. Dawud) “Bahwa Nabi saw. Pernah menjamin sepuluh dinar seorang dari laki-laki yang oleh penagih ditetapkan untuk menagih sampai sebulan. maka ia akan memperoleh bahan makanan seberat beban unta dan aku yang menjamin terhadapnya” (Yusuf:72) Rasulullah bersabda: Pinjaman hendaklah dikembalikan dan menjamin hendaklah membayar”.Ya’kub berkata :”Aku tidak membiarkannya bersama kalian. (HR Ibnu Majah). (HR. 17 . sebelum kalian memberikan janji yang teguh atas nama Allah. (Yusuf. Pada ayat lain: Dan barangsiapa yang dapat mengembalikannya piala raja.66).

Dhamin. berakal. 18 . disyaratkan pada mafkul bih dapat diketahui dan tetap keadaannya. 2. 1. Madmunlah disebut juga dengan mafkul lah. hal ini dilakukan demi kemudahan dan kedisiplinan. tidak dicegah membelanjakan hartanya (mahjur) dan dilakukan dengan kehendaknya sendiri. madmun lah disyaratkan dikenal oleh penjamin karena manusia tidak sama dalam. tidak Lafadz. Madmun bih atau. 4. atau za'im. makful bih adalah utang. berutang. (HR. rukun al-kafalah satu.“Bahwa Nabi saw tidak mau shalat mayit pada mayit yang masih punya utang. yaitu orang yang berpiutang. Baihaqi). kemudian Nabi menyalatinya”. Rukun dan Syarat al-Kafalah Menurut Mazhab Hanafi. yaitu ijab dan Kabul. barang atau orang. Madmun lah. maka berkata Abu Qatadah:”Shalatlah atasnya ya Rasulullah. disyaratkan keadaan lafadz itu berarti menjamin. baik sudah tetap mau pun akan tetap. yaitu orang yang menjamin di mana ia disyaratkan sudah baligh. Madmun 'anhu atau makful 'anhu adalah orang yang 3. syaratnya ialah bahwa yang berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin. sayalah yang menanggung utangnya. hal tuntutan. Bukhari) "Tidak ada kafalah dalam had (hukumanyang sudah ditentukan (ALLOH SWT)" (HR. Sedangkan menurut para ulama yang lainnya rukun dan sya'rat al-kafalah adalah sebagai berikut : 1. kafil.

1. Kafalah bi al-waihi yaitu adanya kemestian (keharusan) pada pihak penjamin (al-kafil. sebab Nabi Saw. seperti had al-khamar dan had menuduh zina tidak sah. Penanggungan (jaminan) yang menyangkut masalah manusia boleh hukumnya.digantungkan kepada sesuatu dan tidak berarti sementara. Penanggungan tentang hak Allah. tidak ada kekuatan jaminan yang dapat dipegang dan tidaklah mungkin had dapat dilakukan. maka hal itu tidak sah dengan kafalah. Ibnu Hazm menolak pendapat tersebut. Menjamin dengan menghadirkan badan pada pokoknya tidak boleh. al-kafalah dibagi menjadi dua bagian. aldhamin atau al-za'im) untuk menghadirkan orang yang ia tanggung kepada yang ia janjikan tanggungan (Makfullah). seperti qishash dan qadzaf (menuduh wanita baik-baik berbuat zina) karena kedua hal tersebut menurut Syafi’iyah termasuk hak yang lazim. bersabda: "Tidak ada Kafalah dalam had" (Riwayat al-Baihaqi). 19 . kecuali oleh orang yang bersangkutan. baik menyangkut persolan harta maupun menyangkut masalah had. Orang yang ditanggung tidak mesti mengetahui permasalahan karena kafalah menyangkut badan bukan harta. Bila menyangkut had yang telah ditentukan oleh Allah. Syarat apa pun yang tidak terdapat dalam kitabullah adalah batil. Alasan berikutnya ialah karena menggugurkan dan menolak had adalah perkara syubhat. Oleh karena itu. Mazhab Syafi’I berpendapat bahwa kafalah dinyatakan sah dengan menghadirkan orang yang terkena kewajiban menyangkut hak manusia. Macam-macam al-Kafalah Secara umum (garis besar). yaitu kafalah dengan jiwa dikenal pula dengan kafalah bi al-waihi dan kafalah harta.

menurut Mazhab Maliki dan penduduk Madinah penjamin wajib membayar utang orang yang ditanggungnya. Menurut mazhab Syafi'i. berikut mi. dalam keadaan demikian penjamin tidak berkewajiban membayar dengan harta. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: "Penjamin adalah berkewajiban membayar”. t. yaitu kewajiban yang mesti ditunaikan oleh dhamin atau kafil dengan pembayaran (pemenuhan) berupa harta. 20 . dengan alas an bahwa Rasulullah SAW pernah menjamin urusan tuduhan. maka orang tersebut. Kafalah Harta Kafalah yang kedua ialah kafalah harta. .dapat menghadirkannya. kecuali ketika menjamin mensyaratkan demikian (akan membayarnya). wajib menghadirkannya. sedangkan penjamin masih hidup atau penjamin itu sendiri berhalangan . Namun meurut Ibnu Hazm bahwa hadis yang menceritakan tentang penjaminan Rasulullah SAW pada masalah tuduhan adalah batil karena hadist tersebut diriwayatkan oleh Ibrahim bin Khaitsam bin Arrak. tetapi menjamin orangnya dan kafil dinyatakan bebas tanggung jawab (Sabiq.t: 161). dia adalah dhaif dan tidak boleh diambil periwayatannya. maka kafil tidak wajib membayar kewajibannya karena ia tidak menjamin harta. sebagian ulama membenarkan adanya kafalah jiwa (kafalah bil al wajh). Jika seseorang menjamin akan menghadirkan seseorang. Kafalah harta ada tiga macam.hadir. bila ashil telah meninggal dunia. (Riwiyat Abu Dawud). 2. Bila ia tidak . Sedangkan menurut Mazhah Hanafi bahwa penjamin (kafil atau dhamin) harus ditahan sampai ia dapat menghadirkan orang tersebut atau sampai penjamin mengetahui bahwa ashil telah meninggal dunia.Namun demikian.

Malik. maka harga penjualan benda tersebutiadalah jelas. tidak mau menshalatkan orang yang mempunyai kewajiban membayar utang. berkata: "Shalatkanlah dia dan saya akan membayar utangnya. kafalah batal. a. yaitu kewajiban membayar utang yang menjadi beban orang lain.1. seperti mengembalikan barang yang dighasab dan menyerahkan barang jualan kepada pembeli. "Juallah benda itu kepada A dan aku berkewajiban menjamin pembayarannya-dengan harga sekian". yaitu kewajiban menyerahkan benda-benda tertentu yang ada di tangan orang lain. maka ia (pembawa barang) sebagai jaminan untuk hak pembeli pada penjual. Hendaklah nilai barang tersebut tetap pada waktu terjadinya transaksi jaminan.a. upah dan mahar. dan Ahmad berpendapat bahwa seseorang boleh menjamin sesuatu yang tidak diketahui." Dalam kafalah utang disyaratkan sebagai berikut. hal disyaratkan menurut Mazhab Syafil Sementara Abu Hanifah. Sementara Abu Hanifah. disyaratkan materi tersebut yang cijamin untuk ashil seperti dalam kasus ghasab. 2. Hendaklah barang yang dijamin diketahui menurut Mazhab Syafi'i dan lbnu Hazm bahwa seseorang tidak sah menjamin barang yang tidak diketahui. bila bukan berbentuk jarninan. Rasulullah kemudian menshalatkannya. Malik. Kafalah bi al-dayn. maksudnya bahwa barang yang didapati berupa harta terjual dan mendapat bahaya (cacat) karena waktu yang terlalu lama atau karena hal-hal lainnya. 21 .barang yang dijual adalah milik orang lain atau barang tersebut adalah barang gadai. kemudian Qathadah r. b. dan Abu Yusuf berpendapat boleh menjamin sesuatu yang nilainya belum ditentukan. Dalam hadis Salamah bin Aqwa bahwa Nabi Saw. Namun. 2. seperti seseorang berkata. Kafalah dengan penyerahan benda. seperti jika terbukti . Kafalah dengan 'aib. seperti utang Qiradh. sebab itu perbuatan tersebut adalah gharar.

Apabila akad telah berlangsung maka madmun lah boleh menagih kepada kafil (orang yang menanggung beban) atau kepada madhmun 'anhu atau makful 'anhu (yang berutang). ditangguhkan." seperti firman Allah": Dan barangsiapa yang dapat mengembalikan piala raja. yang ditunaikan seketika."Jika kamu mengutangkan pada anakku. tetapi menurut Mazhab Syafi'i batal. Mu'allaq (ta'liq) adalah menjamin sesuatu dengan dikaitkan pada sesuatu. seperti ucapan seseorang. Munjaz (tanjiz) ialah tanggungan. 2. maka aku yang akan membayarnya" atau "Jika kamu ditagih pada A. kecuali disyaratkan pada penanggungan.Pelaksanaan al-Kafalah AI-Kafalah dapat dilaksanakan dengan tiga bentuk. ana za'im. akan memperoleh bahan makanan seberat beban onta dan Aku menjamin terhadapnya (QS Yusuf: 72). atau dicicil. hal ini dijelaskan oleh para ulama jumhur. apakah harus dibayar ketika itu. ana kafil laka(saya penjamin kamu). dhammintu(saya yang menjamin). seperti seseorang berkata "Saya tanggung si Fulan d Fulan sekarang". "Bila ditagih pada bulan Ramadhan. Apabila akad penanggungan terjadi. yaitu 1. maka aku yang akan membayarnya. Mu'aqqat (Taukit) adalah tanggungan yang harus dibayar dengan dikaitkan pada suatu waktu. maka aku yang menanggung pembayaran_utangmu".takaffaltu(saya menjamin). Pembayaran Dhamin Apabila orang yang menjamin (dhamin) memenuhi kewajibannya dengan 22 . 3. maka penanggungan itu mengikuti akad utang. huwa laka 'indi atau hu. seperti seseorang berkata. lafaz-lafaz yang menunjukkan al-kafalah menurut para ulama adalah seperti lafaz: Tahammaltu(saya yang memikul) . menurut Mazhab Hanafi penanggungan seperti ini sah.wa laka 'alay(barang kamu yang ada di dia adalah tanggung jawab saya)a.

baik dengan izin madhmun 'anhu maupun tidak (Sabiq. kafil (dhamin) berkewajiban menjamin dan tidak dapat mengelak dari tuntutan kecuali dengan membayar atau orang yang mengutangkan menyatakan bebas untuk kafil dari utang makful lah (orang yang mengutangkan) adalah mem-fasakh-Kan akad kafalah. Atau bisa juga bank bertindak sebagai penjamin kepada pemilik proyek atas pelaksanaan suatu proyek oleh kontraktor. bank dapat berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang dibiayai mengalami kesulitan. Dalam hal ini para ulama bersepakat.t: 164). sekalipun makful'anhu dan kafil tidak rela. Menurut Mazhab Maliki. Menurut al-Syafi'i dan Abu Hanifah bahwa membayar utang orang yang dijamin tanpa izin darinya adalah sunnah. 23 . namun mere beban orang yang ia jamin tanpa izin orang yang dijamin bebannya. t. ia boleh meminta kembali kepada madhmun 'anhu apabila pembayaran itu atas izinnya. Ibnu Hazm berpendapat bahwa dhamin tidak berhak menagih kembali kepada madhmun 'anhu atas apa yang telah dia bayarkan. Walaupun bank secara fisik tidak memegang jaminan apa pun. Apabila madhmun 'anhu (orang yang ditanggung) tidak ada. misalnya seorang nasabah yang mendapatkan pembiayaan dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang atau pemuka masyarakat. Penerapan Kafalah Kafalah diterapkan perbankan syariah untuk berbagai keperluan.membayar utang orang yang ia jamin. dhamin berhak menagih kembali kepada madhmun 'anhu. dhamin tidak punya hak untuk minta ganti rugi kepada orang yang ia jamin (madhmun 'anhu).

Memiliki proyek PEMILIK PROYEK 3. AKAD PROYEK PROYEK 4. KIRIM BG 1. al hiwalah didefinisikan dengan : “Pemindahan kewajiban membayar utang dari orang yang berutang (al muhil) kepada orang yang berutang lainnya (al muhal ‘alaih)” atau 24 . perubahan warna kulit. pemindahan. Sedangkan secara terminologi. memikul sesuatu di atas pundak”. al hiwalah berarti “pengalihan. AKAD KAFALAH Bank/Kafil NASABAH (Konraktor) Penerbit Letter Of Guarantee HIWALAH Pengertian Secara etimologi. Pelaksanaan proyek PENJAMIN PELAKSANAAN PROYEK 2.

Ditinjau dari segi yang lain • Al hiwalah al muqayyadah (pemindahan bersyarat). yaitu: a. Rasulullah bersabda: “Memperlambat pembayaran utang yang dilakukan orang kaya merupakan perbuatan zalim. kesepakatan ulama (ijma’) juga menyatakan bahwa tindakan hiwalah boleh dilakukan. Menurut Mazhab hanafi. B kemudian mengalihkan hak untuk menuntut utangnya terhadap C kepada A sebagai ganti pembayaran hutang B kepada A. Contoh : A mempunyai piutang kepada B. Atas dasar itu. atas dasar saling mempercayai”. hiwalah dibagi dalam beberapa bagian. sedangkan B mempunyai piutang kepada C. yaitu pemindahan utang yang tidak ditegaskan sebagaiganti dari pembayaran utang pihak pertama kepada pihak kedua. apabila yang dipindahkan adalah kewajiban untuk membayar utang. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar utang. yaitu pemindahan sebagai ganti dari pembayaran utang pihak pertama kepada pihak kedua. apabila yang dipindahkan menuntut utang. Al jamaah (mayoritas pakar hadist) dengan lafal yang berbeda. b. Al hiwalah al muthlaqah (pemindahan mutlaq). • 25 . maka hendaklah ia beralih. Ditinjau dari segi objek akad • Al hiwalah al haqq. merupakan hak • Al hiwalah ad dain. Dasar Hukum Hiwalah Rasulullah membenarkan hiwalah. (HR. Jumhur ulama fiqh mendefinisikannya dengan: “Akad yang menghendaki pengalihan utang dari tanggung jawab seseorang kepada tanggung jawab (orang lain)”.“Pengalihan kewajiban membayar utang dari beban pihak pertama kepada pihak lain yang berutang kepadanya.

dengan syarat. pihak ketiga menerima pemindahan utang. Dasar pendapat ini adalah Hadist Nabi saw: “Barangsiapa yang dialihkan kepada orang yang kaya. Dengan demikian C berkewajiban membayar hutangnya kepada B. Cakap melakukan tindakan hukum dalam bentuk akad. 1. Pihak kedua 3. Shiqat (pernyataan hiwalah) Syarat-Syarat Hiwalah Ulama fiqh dari kalangan Hanafi. Rukun Hiwalah Menurut ulama hanafiyah. yaitu: 1. A mengalihkan utangnya terhadap B kepada C tanpa menyebutkan bahwa pengalihan itu sebagai ganti pembayaran hutang C kepada A. Pihak pertama 2. Qabul (pernyataan menerima hiwalah) dari pihak kedua dan ketiga. pada al hiwalah al muthlaqah. yang boleh dilakukan hanya al hiwalah al muqayyadah. karena di dalam al hiwalah al muthlaqah kemungkinan terjadinya gharar (penipuan) sangat besar. maliki. 26 . rukun hiwalah ada dua. Sedangkan menurt ulama Malikiyah. maka hendaklah diturutinya”. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa perbuatan hiwalah menjadi sah apabila terpenuhi syarat-syarat yang berkaitan dengan pihak pertama. Syafi’iyah dan Hanabilah). yaitu baliq dan berakal. Syafi’iyah dan Hanabilah. Syarat yang diperlukan pada pihak pertama a. yaitu: 1. Ulama hanafiyah berpendapat al hiwalah al muqayyadah dan al hiwalah al muthlaqah boleh dilaksanakan. rukun hiwalah ada enam.Contoh: A berutang kepada B dan A memiliki piutang kepada C. Pihak ketiga 4. Menurut jumhur ulama (malikiyah. Utang pihak ketiga kepada pihak pertama 6. kedua dan ketiga serta dengan utang itu sendiri. Utang dari pihak pertama kepada pihak kedua 5. Ijab (pernyataan melakukan hiwalah) dari pihak pertama 2.

akad yang dilakukan pihak pertama dan pihak kedua dipandang sebagai tindakan seorang yang berpiutang yang melimpahkan haknya kepada wakinya untuk 27 . sehingga tidak diperlukan persetujuan dari pihak kedua dan ketiga. Pernyataan persetujuan (ridha) pihak pertama. Alasannya. bukan wajib. Ditinjau dari sisi lain. mereka dapat dipaksa untuk melaksanakannya. Syafi’i dan Hanbali ialah bahwa dalam akad hiwalah. Cakap melakukan tindakan hukum. tindakan hiwalah merupakan tindakan hukum yang melahirkan pemindahan kewajiban kepada pihak ketiga untuk membayar utang kepada pihak kedua. Jika perbuatan hiwalah dilakukan sepihak saja. sebagian mazhab Maliki dan mazhab Syafi’i. pihak ketiga dipandang sebagai objek akad. dan karena itu. Ulama Maliki dan Syafi’i menambahkan kemestian persyaratan alasan ini karena kalimat dalam hadist di atas “. b. misalnya. sehingga hal itu akan merugikan. Persetujuan pihak ketiga Ulama Hanafi mensyaratkan adanya pernyataan persetujuan dari pihak ketiga. karena kalimat perintah dalam hadist di atas menunjukkan bahwa hiwalah itu wajib. apabila ternyata bahwa pihak ketiga sulit membayar utang itu. jika ia menyetujui akad hiwalah. Sedangkan ulama Hanbali tidak menetapkan persyaratan ini pada pihak kedua. Cakap melakukan tindakan hukum. Jika pihak pertama dipaksa untuk melakukan hiwalah maka akadnya menjadi tidak sah. Syarat yang diperlukan bagi pihak ketiga a. dibandingkan dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan pihak pertama sebelumnya.. pihak kedua tidak dapat dipaksa untuk menerima akad hiwalah. Syarat yang diperlukan pada pihak kedua a. yaitu baliq dan berakal. Ditinjau dari sisi lain. 3. pihak kedua dapat saja merasa dirugikan. persetujuannya tidak merupakan syarat hiwalah. yaitu baliq dan berakal. harus ada ada persetujuan pihak kedua terhadap pihak pertama yang melakukan hiwalah. maka hendaklah ia beralih” menunjukkan bahwa perbuatan hiwalah hukumnya hanyalah sunah. dapat saja timbul persyaratan yang lebih berat dari pihak kedua. Apabila pihak kedua dan pihak ketiga tidak menyetujui tindakan itu. sepanjang mereka mengetahui adanya tindakan pihak pertama. Persetujuan pihak kedua Menurut Mazhab Hanafi. Dengan demikian. 2. sedangkan kewajiban membayar utang barudapat dibebankan kepadanya.b.. apabila ia sendiri yang dapat dibebankan kepadanya. Sedangkan alasan ulama Maliki. b.

Apabila pengalihan hutang itu dalam bentuk al hiwalah al muqayyadah. selama pihak ketiga belum melunasi hutangnya kepada pihak kedua. maka kedua utang itu tidak mesti sama. tetapi ulama dari Hanafi tidak memberlakukannya. Yang dialihkan adalah sesuatu yang sudah dalam bentuk utang piutang yang pasti. tidak diperlukan adanya persetujuan dari pihak ketiga. Jika yang dialihkan itu belum merupakan utang piutang yang pasti. maka hiwalah tidak sah. Ulama sepakat bahwa persyaratan ini berlaku pada utang pihak pertama kepada pihak kedua. karenanya. Akan tetapi. b. antara lain. c. Jumhur ulama berpendapat bahwa kewajiban pihak pertama untuk membayar utang kepada pihak kedua secara otomatis menjadi terlepas. Kamal bin al Hummam. c. ulama Maliki. Jika antara kedua utang tersebut terdapat perbedaan jumlah. semua ulama fiqh sepakat bahwa baik utang pertama kepada pihak kedua. mestilah sama jumlah dan kualitasnya. atau perbedaan kualitas. misalnya utang dalam bentuk uang.menuntut pembayaran utang terhadap pihak yang berutang. 4. Jika terjadi perbedaan waktu jatuh tempo pembayaran di antara kedua utang itu. kewajiban tetap ada. karena akad itu didasarkan atas prinsip saling percaya . Mengenai utang pihak kedua kepada pihak ketiga. Dalam hal ini. Akibat Hukum Hiwalah 1. Syarat yang diperlukan terhadap utang yang dialihkan (al muhal bih) a. baik jumlah maupun kualitasnya. Sebagian ulama Hanafi. 28 . misalnya mengalihkan utang yang timbul akibat jual beli yang masih berada dalam masa khiyar (tenggang waktu yang dimiliki pihak penjual dan pembeli untuk mempertimbangkan apakah akad jual beli dilanjutkan atau dibatalkan). maka hiwalah tidak sah. Imam Abu Hanifah dan Muhammad al hasan asy Syaibani menambahkan bahwa qabul (pernyataan menerima akad) harus dilakukan dengan sempurna oleh pihak ketiga di dalam suatu majelis akad. jika pengalihan itu dalam bentuk al hiwalah al muthlaqah sebagaimana dibenarkan Mazhab Hanafi. misalnya dalam bentuk barang. maupun utang pihak ketiga kepada pihak pertama. Syafi’I dan Hanbali juga memberlakukan persyaratan ini. Ulama dari mazahab Syafi’I menambahkan bahwa kedua utang itu mesti sama pula waktu jatuh tempo pembayarannya. pihak kedua seolah-olah sebagai wakil dari pihak pertama. maka hiwalah tidak sah. bukan prinsip pengalihan hak dan kewajiban.

2. Salah satu pihak yang sedang melakukan akad itu mem-faskh (membatalkan) akad hiwalah sebelum akad itu berlaku secara tetap. pihak kedua dipandang ceroboh karena tidak meneliti lebih dahulu keadaan pihak ketiga. 29 . Berakhirnya Akad Hiwalah 1. maka pihak kedua berhak menuntut pengembalian hak menuntut pernbayaran utang kepada pihak pertama. pihak ketiga mengingkari akad itu. sedangkan pihak ketiga merupakan ahli waris yang mewarisi harta pihak kedua. Pihak kedua wafat. Pihak kedua membebaskan pihak ketiga dari kewajibannya untuk membayar utang yang dialihkan itu. Akad hiwalah menyebabkan lahirnya hak bagi pihak kedua untuk menuntut pembayaran utang kepada pihak ketiga.2. Pihak kedua menghibahkan. Syafil dan Hanbali. sedang pihak kedua tidak mengetahui keadaan itu. atau wafat dalam keadaan mutlis atau. tidak dapat dipenuhi karena at-tawa. apabila pihak ketiga dalam keadaan mutlis ketika akad hiwalah dilakukan. sebelum akad itu dilakukan. Sedangkan menurut ulama Maliki. Tuntutan pihak kedua itu juga tidak dapat dipenuhi. yaitu: pihak ketiga mengalami trans (muftis. pihak kedua kembali berhak menuntut pembayaran utang kepada pihak pertama. menurut ulama Hanafi. khususnya jika jumlah utang piutang antara ketiga pihak tidak sama. Hak pihak kedua. Mazhab Hanafi yang membenarkan terjadinya al Hiwalah al muthlaqah berpendapat jika akad hiwalah al muthlaqah terjadi karena inisiatif dari pihak pertama . Pihak ketiga melunasi utang yang dialihkan itu kepada pihak kedua. jika di dalam akad disebutkan persyaratan bahwa pihak ketiga mudah membayar utang. Dengan kata pihak kedua tidak dapat menuntut pengembalian hak meminta pembayaran utang kepada pihak pertama. (HR atTirmizi dan al-Hakim dari 'Abdillah ibn Mas'ud). atau menyedekahkan harta yang merupakan utang dalam akad hiwalah itu kepada pihak ketiga. maka akad hiwalah tidak dapat berakhir karena at-tawa. Alasannya ialah sabda Rasulullah SAW: Umat Islam terikat dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Akan tetapi. Demikian pula hak pihak pertama kepada pihak ketiga. kemudian ternyata ia sulit membayarnya. karena persyaratan yang ditetapkan sudah tepenuhi. 4. selama akad hiwalah sudah berlaku tetap. dalam keadaan tidak ada bukti otentik tentang akad hiwalah. maka hak dan kewajiban antara pihak pertama dan ketiga yang mereka tentukan ketika melakukan akad utang piutang sebelumnya masih tetap berlaku. dengan adanya pembatalan itu akad itu. 3. dengan alasan ia tidak berhasil mendapatkan pelunasan utang dari pihak ketiga. 5. Alasannya. 3. bangkrut). 6.

Muhal 30 ‘alaih (factor/bank) . dalam kasus itu . kemudian pihak pertama meminta pembayaran yang telah diterima itu. 3. hiwalah digunakan untuk hal-hal sebagai berikut: 1. sedangkan tergugat menyatakan sumpah (jika penggugat tidak mampu mengemukakan alat bukti. Secara prinsip. Apabila pihak penggugat tidak dapat menunjukkan alat bukti. dimana bank bertindak sebagai juru tagih. sedangkan pihak tergugat menyatakan sumpahnya. dan pihak kedua adalah sebagai penggugat. dan dalam pada itu. (HR. maka pengakuan pihak tergugatlah yang diterima. bill discounting serupa dengan hawalah. maka ulama sepakat mengatakan bahwa dalam memutuskan perkara ini hakim meminta pihak pertama untuk bersumpah menguatkan keterangannya. 2. maka keterangan pihak pertama yang dibenarkan. Al Bukhari. tanpa membayarkan dulu ke piutang tersebut. Factoring atau anjak piutang. tidak ada bukti otentik yang menunjukkan telah terjadi akad hiwalah di antara mereka. hanya saja dalam hal ini. dimana para nasabah yang memiliki piutang kepada pihak ketiga memindahkan piutang itu kepada bank. Bill discounting.kedudukan pihak pertama adalah sebagat tergugat. bank lalu membayar piutang tersebut dan bank menagihnya dari pihak ketiga itu. dan Ibnu Majah) Penerapan Hiwalah Dalam dunia perbankan . Post dated chech. nasabah harus membayar fee. Apabila pihak pertama telah bersumpah. clan menyatakan bahwa fungsi pihak kedua ketika meminta pembayaran dari pihak ketiga itu hanya sebagai wakil pihak pertama. Alasannya ialah. dengan alasan bahwa ia mengingkari adanya hiwalah di award mereka.Apabila pihak kedua telah menerima pembayaran dari pihak ketiga. At Tarmizi. Ketentuan int didasarkan kepada sabda Rasulullah SAW: Penggugat wajib mengajukan alat bukti.

Invoice 2 3 4 Bayar Tagih 5 Bayar Muhal ‘alaih (factor/bank) 1 Suplai barang Muhal ‘alaih (factor/bank) 31 .