KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

Seminar Pajak

ANALISIS SANKSI PASAL 8 UU KUP No. 16 Tahun 2009

(3) Walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksaan. dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang seharusnya terutang berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. yaitu sistem pemungutan pajak yang memberikan kepercayaan kepada Wajib Pajak (WP) untuk menghitung/memperhitungkan. membayar. dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran. (1a) Dalam hal pembetulan Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan rugi atau lebih bayar. bukan tidak mungkin jika seorang WP melakukan kekeliruan dalam menghitung jumlah pajak terutang yang harus dibayar di dalam SPT yang dilaporkannya. dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan. tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam . PENDAHULUAN Sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem self assesment. Dengan penerapan sistem self assesment ini. dihitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran. kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. (2a) Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Masa yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar. Direktorat Jenderal Pajak juga berupaya bersikap bijak dengan memberi kesempatan kepada WP untuk melakukan pembetulan terhadap SPT yang telah dilaporkannya ke kantor pajak. Berikut pasal 8 UU KUP: Pasal 8 (1) Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis. kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) buian.A. Menyadari hal tersebut. Hal ini diakomodasi melalui Pasal 8 UU KUP. (2) Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar. pembetulan Surat Pemberitahuan harus disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum daluwarsa penetapan. pasal ini berbicara tentang hak WP untuk melakukan pembetulan terhadap Surat SPT yang telah dilaporkannya ke kantor pajak.

(5) Pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar. hal ini dikarenakan pengenaan sanksi yang tidak menunjukkan keadilan. Berikut beberapa permasalahan pada pasal 8 UU KUP: 1. Berdasarkan Pasal 8 angka 2 dan 2a. rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar. terhadap ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan. terdapat beberapa ketentuan yang seolah dapat menyurutkan Wajib Pajak untuk berlaku benar dan bijak. Ketidakadilan atas sanksi yang diberikan terhadap WP yang dengan sendirinya beritikad baik melakukan pembetulan SPT dengan WP yang tidak melakukan pembetulan (diperiksa). Wajib Pajak dengan kesadaran sendiri dapat mengungkapkan dalam laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan sesuai keadaan yang sebenarnya. yang dapat mengakibatkan: a. lima B. maka WP dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per-bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar. (4) Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan. apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar. Jumlah harta menjadi lebih besar atau lebih kecil. atau jumlah modal menjadi lebih besar atau lebih kecil dan proses pemeriksaan tetap dilanjutkan. dihitung sejak saat penyampaian SPT berakhir sampai dengan tanggal pembayaran. dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum menerbitkan surat ketetapan pajak. jika pembetulan SPT dalam pasal 8 ayat (1) mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar (terdapat kekurangan pembayaran pajak). pajak-pajak yang masin harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil.Pasal 38. Artinya. b. (6) ……. harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan. IDENTIFIKASI MASALAH Jika pasal 8 tersebut dicermati secara seksama. besarnya sanksi administrasi bunga juga tidak dibatasi . d. c.

Dari penjelasan diatas juga terlihat bahwa terdapat keterkaitan kejadian pada pasal 13A. 16 Tahun 2000 menjadi 150% di UU No. dimana sanksi pasal 38 bisa lebih rendah dibanding pasal 13. terkait adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38.alias bisa berbulan-bulan (hingga lebih dari 48% atau 24 bulan) yang dihitung sejak saat penyampaian SPT berakhir sampai dengan tanggal pembayaran saat pembetulan dilakukan.  Pada pasal 8 ayat 3.  Pada pasal 8 ayat 3 UU KUP Tahun 2000.  Pada Pasal 38. Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang jelas pada sanksi pasal 8 ayat (3) yang turun 50% yaitu dari 200% di UU No. sanksi administrasi berupa denda sebesar 2 (dua) kali jumlah pajak yang kurang dibayar. apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar. maka WP dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan) alias 48% saja. sanksi atas penyampaian informasi yang tidak benar/lengkap dalam SPT setelah yang pertama kali (kedua dst) adalah denda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Namun sanksi yang diberikan tidak menunjukkan keadilan sesuai tingkatan kejadian tersebut. Tentu tidak adil rasanya jika WP yang membetulkan sendiri SPT nya dikenakan sanksi bunga yang lebih besar daripada WP yang sengaja melakukan kesalahan kemudian terungkap setelah diperiksa. 2. atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun. sanksi atas penyampaian informasi yang tidak benar/lengkap dalam SPT untuk pertama kali adalah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar. . 28 Tahun 2007. pasal 38 dan pasal 8 ayat (3)  Pada pasal 13A. Pasal 38 dan Pasal 8 ayat 3. Perbedaan sanksi pasal 13A. Hal ini berbeda dengan Pasal 13 ayat (2) yang menjelaskan bahwa apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain diketahui terdapat kekurangan pembayaran pajak.

sanksi ini tetap lebih besar dibanding denda paling sedikit 1 (satu kali). Pada contoh pasal 13A. Sanksi yang lebih besar seharusnya diberikan kepada kejadian ditahapan yang lebih tinggi. Menyesuaikan sanksi sesuai tahapan kejadian dan reward atau punishment atas itikad baik WP. Revisi sanksi pada Pasal 8. kenapa sanksinya berbeda? Pembetulan yang menyebabkan terdapat pajak kurang dibayar dikenai sanksi administrasi bunga sedangkan pengungkapan ketidakbenaran dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan. Pada pasal 8 ini terdapat dua istilah yang secara logika dapat dianggap satu paket. yaitu pembetulan (ayat 1 sd 2a) dan pengungkapan ketidakbenaran (ayat 3 sd 5). Terminologi Pembetulan dan Pengungkapan Ketidakbenaran. pasal 38 dan pasal 8 ayat 3. namun sanksinya berbeda. 2. atas itikad baik ini memang sebaiknya diberikan reward berupa sanksi yang lebih rendah yakni 150% dibanding denda paling banyak 2 (dua) kali. Dan sanksi pasal 8 ayat 3 lebih kecil (karena ada reward atas itikad baik WP) dari . Bukankah mengungkapkan ketidakbenaran dalam laporan tersendiri. sehingga seharusnya sanksinya lebih berat. Kejadian pada pasal 8 ayat 3 juga merupakan lanjutan kejadian dari pasal 38. pada hakekatnya adalah pembetulan. Reward juga harus diberikan kepada WP yang telah membantu pekerjaan fiskus dan sebaliknya. akan tetapi terdapat kemungkinan. REKOMENDASI 1. terutama pada Pasal 8 angka 2 dan 2a agar tidak lebih tinggi dari sanksi pasal 13 ayat (2). pemerintah seharusnya mampu bersikap bijak dan memberikan sanksi yang lebih ringan kepada WP yang beritikad baik dalam melaksanakan kewajibannya. Sehingga ada kemungkinan bahwa WP tetap tidak memilih opsi untuk mengungkap ketidak benaran.padahal kejadian pada pasal 38 merupakan kejadian yang lebih tinggi. Jika dua hal tersebut diperlakukan sama. seharusnya sanksi pasal 38 lebih besar dari pasal 13A. karena ada kemungkinan menerima sanksi yang lebih kecil berdasarkan pasal 38. 3. Secara logis. namun pada pasal 8 ayat 3 ini terdapat itikad baik dari WP untuk mengungkap ketidakbenaran. Untuk memberikan keadilan kepada WP. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merevisi aturan sanksi pada pasal 8 diatas agar lebih adil.

Pasal 8 merupakan pasal yang mengatur tentang hak WP dalam melakukan pembetulan SPT.pasal 38. 4. Untuk menghindari multitafsir. Sehingga. Menggunakan terminologi yang seragam. Untuk meningkatkan pemahaman berbagai pihak terhadap pasal demi pasal dan menghilangkan multi tafsir. Keseragaman dalam terminologi juga akan menghilangkan ambigu dalam pelaksanaan undang-undang perpajakan. alangkah baiknya jika fiskus diberikan penjelasan mengenai filosofi dibuatnya pasal tersebut. Selama ini sering kali terjadi multitafsir terhadap pasal demi pasal didalam undang-undang. sebaiknya denda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar pada pasal 38 dihapuskan. namun didalam Pasal tersebut juga terdapat istilah “pengungkapan ketidakbenaran” selain ”pembetulan” yang secara implisit memiliki makna yang sama. 3. Filosofi pasal demi pasal. . sebaiknya digunakan istilah yang seragam atau pada paragraf penjelasan diberikan keterangan sejelas-sejelasnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful