Teori Belajar Behavior .BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Teori belajar adalah teori yang prakmatik dan eklektik. Teori dengan sifat demikian ini hampir dipastikan tidak pernah mempunyai sifat ekstrim. Tidak ada teori belajar yang secara ekstrim memperhatikan aspek siswa saja, aspek guru saja, aspek kurikulum saja dan sebagainya. Titik fokus yang menjadi pusat perhatian suatu teori selalu ada. Ada yang lebih mementingkan proses belajar, ada yang lebih mementingkan sistem informasi yang diolah dalam proses belajar, dan lain-lain. Namun faktor-faktor lain du luar titik fokus itu juga selalu diperlukan untuk menjelaskan seluruh persoalan belajar yang dibahas. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak lepas dari individu yang lainnya. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu disertai dengan proses interaksi atau komunikasi, baik interaksi dengan alam lingkungan, interaksi dengan sesama, maupun interaksi dengan tuhannya, baik itu sengaja maupun tidak disengaja. Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ketidak terbatasannya akal dan keinginan manusia, untuk itu perlu difahami secara benar mengenai pengertian proses dan interaksi belajar. Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tapi memang memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah-laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mangarahkan kegiatan belajar siswa/subjek belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi. B. Rumusan Masalah 1. Apa definisi teori belajar psikologi behavioristik? 2. Apa definisi teori belajar psikologi kognitifistik? 3. Bagaimana konsep teori belajar behavioristik dan kognitifistik? 4. Apa kelebihan dan kekurangan dari teori belajar untuk materi pembelajaran tertentu di sekolah? 5. Bagaimana implikasi dari teori-teori belajar tersebut? C. Tujuan Pembahasan 1. Memahami ciri dan konsep ketiga teori belajar psikologi. 2. Mampu mengaplikasikan sebuah teori terhadap pembelajaran di sekolah. 3. Mengetahui bagaimana cara menerapkan teori-teori belajar dalam pendidikan. 4. Mendeskripsikan implikasi teori belajar. 5. Mengkaji implikasi dari teori-teori belajar

Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. 4. Mementingkan faktor lingkungan 2. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia. bakat. dan antri di bank. karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Menekankan pentingnya latihan 9. Bersifat mekanis 5. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Teori Belajar 1. Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behaviorisme 1. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan. bel masuk. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Dari hal ini. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Mementingkan masa lalu 6.[2] Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. rasional atau emosional. Mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil 7. dan mengabaikan aspek-aspek mental. Teori Behaviorisme Secara pragmatis.[3] Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah.BAB II PEMBAHASAN a. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Ciri dari teori ini adalah 1. Mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. teori belajar dapat dipahami sebagai prinspip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Mementingkan mekanisme hasil belajar 10. b. Menekankan pada faktor bagian 3. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang . Ia mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Mementingkan pembentukan reaksi atau respon 8. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Dengan kata lain.[1] Teori belajar behaviorisme adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

2. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. mengontrol tingkah laku. Analisis Tentang Teori Behavioristik Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Kemudian. 3. Rumusan tingkat hukum akibat adalah. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul. pelajar harus diberi persoalan. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. ada berbagai respon terhadap berbagai situasi. 1997). Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan. Hukum ini sebenarnya tercermin dalam perkataan repetioest mater studiorum atau practice makes perfect. iii. Atas dasar percobaan di atas. dalam pembelajaran digunakan shapping. Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat. Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Jadi hokum akibat menunjukkan bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa. . Skinner (1904-1990) Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. 3) Hukum akibat ( Efek ) Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. v.menimbulkan reaksi. iv. ii. ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah. Thorndike (1874-1949) Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. tidak digunakan hukuman. Thorndike menemukan hukum-hukum belajar : 1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness) Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri. Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat. 2) Hukum Latihan Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Dalam penyelidikannya tentang proses belajar. bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki. dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal. c. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas. Prinsip belajar Skinners adalah : i. dalam hal ini Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzlebox. ada eliminasai terhadap berbagai respon yang salah. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan.

Dengan kata lain. b. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine. merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya. karakteristik pebelajar. Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran. maka hukuman harus ditambahkan. d. juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan. sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. yaitu: a. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar. sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon. Misalnya. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. c. tidak berubah. seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Oleh karena itu. sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. pasti. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama. para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar . Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara. sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Artinya.Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi. Namun dari semua teori yang ada. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement). Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Demikian halnya dalam pembelajaran. konvergen. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut. walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif. yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu. tetap. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping. hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya. apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid. maka inilah yang disebut penguatan negatif. proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping. sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie. sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar. mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. sifat materi pelajaran. Pembelajaran berprogram. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Namun bedanya adalah penguat positif menambah. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah. tidak kreatif dan tidak produktif. Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar.

orang – orang yang dijumpainya. sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Demikian juga. Dalam situasi belajar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Evaluasi menekankan pada respon pasif. sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”. terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan. Mereka memberi tekanan pada organisasi pegamatan atas stimuli di dalam lingkungan serta pada faktor yang mempengaruhi pengematran tersebut. Sumbangannya diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan. semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan hubungan. Menurut pandangan gestaltis. Medan dimana individu bereaksi disebut life space. b. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran. Menurut mereka tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognitif. tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Lewin memandang masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis. Teori Belajar Kognitivisme Ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar sebagai sebuah proses hubungan stimulus-response-reinforcement. yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement. Perubahan sruktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan. bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada pemahaman terhadap hubungan – hubungan yang ada didalam suatu situasi. Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget Dalam teorinya.tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. objek material yang ia hadapi serta fungsi kejiwaan yang ia miliki. Intinya. Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur. Jadi menurut Lewin. dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi. seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar. Teori kognitif Gestalt Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. atau tes. Life space mencankup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi. kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpase. menurut mereka. maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. misalnya . ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Lewin memberikan peranan lebih penting pada motivasi dari reward. Jadi kaum kognitifis berpandangan. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. kuis. ketrampilan secara terpisah. yang lainya dari kebutuhan motivasi internal individu. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar. 2. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan. satu dari stuktur medan kognisi itu sendiri. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Teori belajar Cognitive-field dari Lewin Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar kognitiv-field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi social. belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Peletak dasar teori gestalt adalah Merx Wertheimer (18801943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. . dan biasanya menggunakan paper and pencil test. a. Kaum gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi. yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan. c. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.

Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur dua tahun hingga tujuh tahun) Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar. Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Teori belajar behavioristik menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku. Berikut adalah beberapa teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif: e. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingnya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra. mencium dan menggerakan. c. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan. Tahap Sensori Motor (dari lahir sampai kurang lebih umur dua tahun) Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini. mengecap. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. pemahaman. sikap. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver. Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Sesuai dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebih cenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasilnya tidak dapat dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku. Untuk itu bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning. sehingga hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam tingkah laku. ketrampilan dan nilai sikap. dan ketrampilan. ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih tujuh sampai sebelas tahun) Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. Misalnya dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya. melainkan kualitatif. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru. seorang scientist. Biarkan murid kita menemukan arti bagi diri mereka sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang mereka mengerti. ilmuwan yang sangat terkenal dalam penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnya proses berpikir pada anak. historian atau ahli matematika. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah: a. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam belajar di kelas. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Jerome Bruner dengan Discovery Learningnya Yang menjadikan dasar ide J.[4] Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. yaitu dimana murid mengorganisasi bahan pelajaran yang dipelajarai dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak tersebut. Intelek anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. d. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”. Teori Belajar Piaget Jean Piaget adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss. meraba atau memegang. dan atau mengalami perubahan tingkah laku. tingkah laku. karena ia tak daapat belajar dari apa yang telah diketahuinya. pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuankemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. b. Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Anak-anak yang sudah mampu berpikir secara operasi . dia dapat sedikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Menurut Piaget. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Pada intinya.Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. perkembangan kognitif bergantung kepada akomodasi. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya.

Level terakhir adalah batas tertinggi dari proses abstraksi yang dapat ditunjukkan anak. Biggs & Collis (1991: 60) menyediakan suatu level tersendiri yang diberi nama “post formal mode”. Hal ini dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Salah satu isu utama yang dikaji oleh kedua peneliti ini berkaitan dengan struktur kognitif. d. Penyimpangan yang dimaksud adalah terjadinya perbedaan cara dalam memperoleh sebuah struktur yang sama oleh seorang individu. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit. salah satu kritik yang cukup tajam terhadap teori Piaget adalah berkenaan dengan asumsi bahwa pengertian akan suatu struktur yang sama akan diperoleh pada usia yang sama dalam berbagai domain intelektual. Dan butir-butir rangsangan dalam konteks ini tidak difokuskan untuk melihat kebenaran dari jawaban saja melainkan lebih pada melihat struktur alamiah dari respon siswa dan perubahannya dari waktu ke waktu. dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. bukan seluruh penampilan yang harus menyesuaikan dengan level-nya. Oleh karena itu model-model tersebut tumbuh sejak lahir hingga dewasa. Menurut mereka HCS ini relative lebih stabil dari waktu ke waktu serta bebas dari pengaruh pembelajaran disaat anak diukur menggunakan taxonomi SOLO dalam menyelesaikan suatu tugas tertentu. Biggs & Collis (1991:60) Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut lebih menekankan pada analisis terhadap kualitas respon anak. atau bahkan dapat terjadi. Secara khusus. Implikasi dari hal ini adalah ketika seorang anak sudah dapat mengawetkan besaran suatu unsur dengan mengenali bahwa besaran dari benda tersebut sama terlepas dari bentuknya anak secara rasional dapat diduga akan mengawetkan konsep berat. Anak-anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran. tetapi sedikit pertukaran terjadi pada konstruksi yang lebih proximal . Teori belajar Piaget memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan teori pembelajaran kognitif. Teori mereka dikenal dengan Structure of Observed Learning Outcomes (SOLO). pembelajaran. Biggs dan Collis adalah peneliti yang turut melakukan dan analisis teori belajar Piaget. Mereka menerima kebeadaan konsep struktur kognitif umum namun mereka menyakini bahwa hal tersebut tidak dapat diukur langsung sehingga perlu mengacu pada sebuah “hypothesized cognitive structure” (HCS) atau struktur kognitif hipotesis. Berdasarkan uraian diatas. ketika semakin banyak mode yang memungkinkan maka multi-modal fungsioning menjadi normanya. penampilan atau motivasi. Hal ini terbukti dengan banyaknya peneliti yang tertarik melakukan analisis serta memperluas teori tersebut. mereka dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah mengenai hal-hal yang bersifat abstrak. Dari beberapa hasil pengembangan penelitian dalam teori ini ternyata penyimpangan ini lazim terjadi sebagaimana diungkapkan oleh Biggs dan Collis (1982). Hasil observasi seperti ini tidak dapat mengindikasikan terdapatnya “pertukaran” dalam perkembangan kognitif yang berlangsung. Penekan pada suatu tugas tertentu sangat penting seperti yang diasumsikan dalam taksonomi SOLO bahwa penampilan seseorang sangatlah beragam dalam menyelesaikan satu tugas dengan tugas lainnya. Bagaimanapun juga terdapat satu perbedaan penting dari teori yang dikemukakan Piaget yaitu ketika mode atau level baru mulai muncul. Biggs dan Collis (1982: 22) membedakan antara “generalized cognitive structure” atau struktur kognitif umum anak dengan “actual respon” atau respon langsung anak ketika diberikan perintah-perintah. hal ini berkaitan erat dengan logika yang mendasarinya. Mereka dapat mengembangkan hukum-hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Fakta ini memicu sebuah pengembangan teori dari teori Piaget yang dikenal dengan neo-Piagetian theories. Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur sebelas tahun sampai limabelas tahun) Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Untuk melihat respon anak diperlukan butir-butir rangsangan. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. suatu hari siswa berada pada level formal di matematika namun dilain hari dia masih berada pada level yang konkrit pada topik yyang berbeda. ini tidak akan menggantikan level yang lama begitu saja melainkan dapat berkembang bersamaan. tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan.konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar dan bentuk sesuatu. . Untuk menjelaskan konsep “pertukaran” yang terjadi dalam pertumbuhan kognitif yang tidak biasa diantara anak-anak sekolah. selanjutnya asumsi ini juga meliputi penyimpangan yang dalam model ini dikatakan: Siswa dapat saja berada pada awal level formal dalam matematika namun berada pada level awal konkrit dalam sejarah. karena struktur antara konsep besaran dan berat sama. Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut. Ternyata bersadar pada studi eksperimental yang dilakukan oleh para peneliti hal ini tidak sepenuhnya benar.

Jakarta:PT. Jogajakarta : Ar-Ruz Media Group.Muhibbin. kuis. perilaku guru sendiri serta hasil belajar siswa yang telah dicapai. Manfaat dari beberapa teori belajar adalah : Membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar. Saran Pengertian. Oemar. Menurut mereka tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognitif. B. Membantu guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat mencapai hasil prestasi yang maksimal. prinsip. karakteristik siswa. prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran. Baharuddin dan Wahyuni. sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”. 2008. Psikologi Pengajaran. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. Hamalik. yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan. Dengan memahami berbagai teori belajar. Abu dan Supriono. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar. Widodo. Nana. Teori belajar kontruktivisme berangkat dari pendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement. Jakarta: UI Press. Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran. Simpulan Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan. atau tes. 2007. Jakarta: Rineka Cipta. bakat. Memandu guru untuk mengelola kelas. media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. karakteristik pebelajar. Dengan kata lain. yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadimenjelaskan bahwa tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. Implikasi perkembangan teori pembelajaran sekarang sangatlah beragam. dan sebagainya. efisien dan produktif. pendidikan yang berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan outputoutput yang berkualitas yang mampu membentuk manusia Indonesia seutuhnya. 2009. sifat materi pelajaran. Psikologi Belajar dan Mengajar. Nur. dan mengabaikan aspek-aspek mental.html .blogspot. Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran. Seperti teori behavioristik dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar. sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Membantu proses belajar lebih efektif. Guru dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Raja Grafindo Persada http://aguswedi. Syah.BAB III PENUTUP A. Bandung:Sinar Baru Algesindo Offset Sudjana. Psikologi Belajar. Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses pembelajaran. 1991. Membantu guru untuk mengevaluasi proses.com/2011/11/teori-belajar-behavior. 1989. Teori Belajar dan Pembelajaran. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.