P. 1
Makalah Sanitasi Dan Plumbing

Makalah Sanitasi Dan Plumbing

|Views: 1,454|Likes:
Published by Yeremia Ivan

More info:

Published by: Yeremia Ivan on Mar 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2014

pdf

text

original

UNIVERSITAS BALIKPAPAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN




















Tugas Mata Kuliah Menggambar Rekayasa
TUGAS 3
PERANCANGAN SANITASI AIR BERSIH, KOTOR DAN PLUMBING


Oleh:
Nama : Riswan Gunawan
Tri Handoko
Alfani Wida Pratama
Hasanudin Damanik
Maulana Ishak
Ivan Susanto
Jurusan/Fakultas : Teknik Sipil dan Perencanaan
Dosen : Hj. Andi Marini, ST.






Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Semester I
Menggambar Rekayasa

November 2012



BAB 1
SISTEM PLUMBING DAN SANITASI




2.1 Umum
Plambing adalah seni dan teknologi pemipaan dan perlatan untuk
menyediakan air bersih ke tempat yang dikehendaki, baik dalam hal kualitas,
kuantitas, dan kontinyuitas yang memenuhi syarat, dan membuang air bekas
(kotor) dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari bagian penting lainnya untuk
mencapai kondisi higienis dan kenyamanan yang diinginkan
(elearning.gunadarma.ac.id, 2011), sedangkan pengertian plambing menurut SNI
03 – 6481 – 2000 adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan
pemasangan pipa dengan peralatannya di dalam gedung atau gedung yang
berdekatan yang bersangkutan dengan; air hujan, air buangan dan air minum yang
dihubungkan dengan sistem kota atau sistem lain yang dibenarkan
Sistem Plambing adalah sistem penyediaan air bersih dan sistem
pembuangan air kotor yang saling berkaitan serta merupakan paduan yang
memenuhi syarat yang berupa peraturan dan perundangan, pedoman pelaksanaan,
standar, tentang peralatan dan instalasinya.
Secara garis besar, peralatan Plambing memiliki dua fungsi utama yaitu (:
a. Menyediakan air bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan
tekanan cukup dan air panas bila diperlukan
b. Membuang air kotor tempat-tempat tertentu tanpa mencemari bagian
penting lainnya
Di Indoensia, peraturan yang berlaku mengenai Plambing selain SNI 03-
6481-2000 tentang Sistem Plambing juga diatur dalam SNI 03-7065-2005
tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing.


2.2 Jenis Peralatan Plambing
Alat plambing digunakan untuk semua peralatan yang dipasang di dalam
ataupun di luar gedung, untuk menyediakan air panas atau air dingin dan untuk
mengeluarkan air buangan. Untuk lebih sederhananya plambing dipasang pada






ujung akhir pipa yang berfungsi untuk mengeluarkan air dan ujung awal pipa yang
berfungsi untuk memasukkan air.
2.2.1 Dalam pengertian khusus, jenis peralatan Plambing meliputi :
2.2.1.1 Peralatan untuk penyediaan instalasi air bersih/air minum dan air panas,
adapun peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Pompa Transfer, berfungsi untuk memompa air bersih dari ground
water tank ke roof tank melalui pipa transfer. Beberapa jenis pompa
transfer yang sering dipakai, antara lain :
a. End Suction Pump
b. Horizontal Split Case Pump
c. Multi Stage Pump
d. Centrifugal Pump
2. Pressure Tank, berfungsi untuk meringankan kerja pompa dari keadaan
start-stop yang terlalu sering. Beberapa jenis pressure tank yang sering
dipakai, antara lain :
a. Diaphragma Pressure Tank
b. Non Diaphragma Pressure Tank atau Well Pressure Tank
3. Check Valve, penahan aliran balik air didalam instalasi pipa
















Gambar Check valve


4. Gate Valve, pengatur buka-tutup aliran air didalam pipa.





















Gambar GateValve


5. Ball Valve, pengatur jumlah aliran air di dalam pipa.

















Gambar Ball Valve


6. Butterfly Valve, pengatur buka-tutup aliran air di dalam pipa.








































Gambar Butterfly Valve


7. Floating Valve, klep pengatur buka-tutup aliran air ke tanki.
8. Foot Valve, penahan air balik di bawah pipa isap.
9. Strainer, berfungsi sebagai filter air.
10. Flexible Joint, penahan getaran dan gerakan.
11. Pressure Gauge, pengukur tekanan.
12. Pressure Switch, alat kontak hubung-putus akibat tekanan.
13. Flow Switch, alat kontak hubung-putus akibat aliran.
14. Water Meter, pengukur debit air.


2.2.1.2 Peralatan untuk pembuangan
1. Jenis air buangan
Air buangan atau limbah (waste water) adalah semua cairan yang
dibuang, baik yang mengandung kotoran manusia, hewan, bekas
tumbuh-tumbuhan maupun yang mengandung sisa-sisa proses
industri.
Air buangan dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu :
a. Air kotor : Air buangan yang berasal dari kloset, peturasan, bidet
dan air buangan yang mengandung kotoran manusia yang berasal
dari alat plambing.







b. Air bekas : Air buangan yang bersal dari alat plambing lainnya
seperti bak mandi (bath tub), bak cuci tangan bak dapur dan
sebagainya.
c. Air hujan : Air dari atap, halaman dan sebagainya.
d. Air buangan khusus : Air yang mengandung gas, racun dan bahan-
bahan berbahaya yang berasal dari pabrik, air buangan dari
laboratorium, tempat pengobatan, tempat pemeriksaan di rumah
sakit, rumah pemotongan hewan, air yang bersifat radio aktif dan
lain-lain.
2. Sistem pembuangan air
a. Sistem pembuangan air kotor dan bekas
Sistem Campuran : Sistem pembuangan dimana air kotor dan
air bekas dikumpulkan dan dialirkan ke dalam satu saluran.
Sistem terpisah : Sistem pembuangan dimana air kotor dan
bekas masing-masing dikumpulkan dan dialirkan secara terpisah.
Untuk daerah dimana tidak tersedia roil umum yang dapat
menampung air bekas dan air kotor maka system pembuangan air
kotor akan disambungkan ke instalasi pengolahan air kotor terlebih
dahulu.
b. Sistem pembuangan air hujan
Pada dasarnya air hujan harus disalurkan melalui sistem
pembuangan yang terpisah dari sistem pembuangan air bekas dan
air kotor. Bila dicampurkan, kemungkinan apabila saluran tersebut
tersumbat oleh sebab apapun ada kemungkinan air hujan akan
mengakibatkan air balik dan masuk ke dalam alat plambing
terendah dari sistem tersebut.
Gedung harus mempunyai perlengkapan drainase untuk
menyalurkan air hujan dari atap dan halaman atau pekarangan
dengan pengerasan di dalam persil ke saluran air hujan kota atau
saluran pembuangan campuran kota. Pada daerah yang tidak
terdapat saluran tersebut. Drainase atap harus memenuhi ketentuan
berikut :






1) Drainase atap harus kedap air
2) Saringan harus dipasang pada lubang talang tegak.
Saringan harus menonjol sekurang-kurangnya 10 cm diatas
permukaan atap atau talang datar diukur dari lubang masuk
talang tegak. Jumlah luas lubang saringan tidak boleh < 1,5
kali luas penampang talang tegak. Saringan pada drainase atap
atau geladak tempat menjemur,geladak parkir atau tempat
sejenis dipasang rata dengan permukaan geladak dan jumlah
luas lubangnya tidak boleh < 2 kali luas penampang talang
tegak.
c. Sistem gravitasi dan sistem bertekanan
Sistem gravitasi : umumnya diusahakan agar air buangan
dapat dialirkan secara gravitasi dengan mengatur tata letak
kemiringan pipa pembuangan
Sistem bertekanan : dalam sistem ini air buangan dikumpulkan
dalam bak penampung dan kemudian dipompakan ke luar dengan
menggunakan pompa motor listrik dan bekerja secara otomatis.
3. Komponen sistem pembuangan
Uraian tentang beberapa bagian penting dari komponen sistem
pembuangan adalah sebagai berikut :
a. Pipa pembuangan alat plambing
Pipa pembuangan yang menghubungkan pipa pembuangan yang
menghubungkan perangkap alat plambing dengan pipa
pembuangan lainnya dan biasanya dipasang tegak.
b. Cabang mendatar
Semua pipa pembuangan mendatar yang menghubungkan pipa
pembuangan alat plambing dengan pipa tegak air buangan.
c. Pipa tegak air buangan
Pipa tegak untuk mengalirkan air buangan dari cabang-cabang
mendatar.
d. Pipa tegak air kotor








Pipa tegak untuk mengalirkan air kotor dari cabang-cabang
mendatar.
e. Pipa atau saluran pembuangan gedung
Pipa pembuangan dalam gedung yang mengumpulkan air kotor, air
bekas, atau air hujan dari pipa-pipa tegak air buangan.
f. Riol gedung
Pipa di halaman gedung yang menghubungkan pipa pembuangan
gedung dengan instalasi pengolahan atau dengan roil umum.


2.2.1.3 Peralatan ven
1. Ketentuan umum
a. Ukuran pipa ven lup dan pipa ven sirkit
Ukuran pipa ven lup dan ven sirkit minimum 32 mm dan tidak
boleh kurang dari setengah kali diameter cabang mendatar pipa
buangan atau pipa tegak ven yang disambungkannya.
Ukuran pipa ven lepas minimum 32 mm dan tidak boleh kurang
dari setengah kali diameter cabang mendatar pipa pembuangan
yang dilayaninya.
b. Ukuran ven pipa tegak
Ukuran ven pipa tegak tidak boleh kurang dari ukuran pipa tegak
air buangan yang dilayaninya dan selanjutnya tidak boleh
diperkecil ukurannya sampai ke ujung terbuka.
c. Ukran ven pipa tunggal
Ukuran ven pipa tunggal minimum 32 mm dan tidak boleh kurang
dari setengah kali diameter pipa pengering alat plambing yang
dilayani.
d. Ukuran ven pipa pelepas ofset
Ukuran pipa ven pelepas untuk ofset pipa pembuangan harus sama
dengan atau lebih besar dari pada diameter tegak vena tau pipa
tegak air buangan (yang terkecil di antara keduanya).
e. Ukuran pipa ven yoke








Ukuran pipa ven yoke harus sama dengan atau lebih besar dari
pada diameter pipa tegak vena tau pipa tegak buanagn (yang
terkecil di antara keduanya).
f. Pipa ven untuk bak penampung
Ukuran pipa ven untuk bak penampung air buangan minimum
harus 50 mm.
2. Penentuan ukuran ven
Ukuran pipa ven didasarkan pada unit beban alat plambing dari pada
pembuangan yang dilayaninya, dan panjang ukuran pada pipa ven
tersebut. (Lihat Tabel 2.1). Bagian pipa ven mendatar, tidal termasuk
bagian “pipa ven di bawah lantai”, tidak boleh lebih dari 20% dari
seluruh panjang ukurannya.


Tabel 2.1 Ukuran pipa tegak ven dan ven cabang






















Sumber: SNI 03-7065-2005
2.2.1.4 Peralatan saniter (Plumbing Fixtures)
Peralatan saniter seperti kloset, peturasan, dan bak cuci tangan umumnya
dibuat dari bahan porselen atau keramik. Bahan ini sangat populer karena
biayanya dalam hal ini pembuatanya cukup murah, dan ditinjau dari segi
sanitasi sangat baik.






Jenis peralatan saniter antara lain :
1. Kloset, dibagi dalam beberapa golongan menurut kontruksinya (Lihat
Gambar 2.5) :
a. Tipe Wash-Out
Tipe ini adalah yang paling tua dari jenis kloset duduk. Tipe ini
sekarang dilarang di Indonesia karena kontruksinya berdampak
pada timbulnya bau yang tidak sedap akibat penggelontoran yang
tidak sempurna.
b. Tipe Wash-Down
Tipe ini lebih baik daripada wash-out, bau yang timbul akibat sisa
kotoran lebih sedikit jika dibandingkan dengan tipe wash-out.
c. Tipe Siphon
Tipe ini mempunyai kontruksi jalannya air buangan yang lebih
rumit dibandingkan dengan tipe wash-down, untuk sedikit menunda
aliran air buangan tersebut sehingga timbul efek siphon. Bau yang
dihasilkan lebih berkurang lagi pada tipe ini.
d. Tipe Siphon-jet
Tipe ini dibuat agar menimbulkan efek siphon yang lebih kuat,
dengan memancarkan air dalam sekat melalui suatu lubang kecil
searah aliran air buangan. Tipe siphon-jet ini menggunakan air
penggelontor lebih banyak.
e. Tipe Blow-Out
Tipe ini sebenarnya dirancang untuk menggelontor air kotor dengan
cepat, tapi akibatnya membutuhkan air dengan tekanan sampai 1
kg/cm
2
, dan menimbulkan suara berbisik.









































Sumber: SNI-03-6481-2000
Gambar Berbagai Jenis Kloset Duduk dan Jongkok













Gambar Contoh Jenis Kloset Duduk (kiri) dan Jongkok (kanan)


2. Peturasan
Ditinjau dari kontruksinya, peturasan dapat dibagi seperti kloset, di
mana yang paling banyak digunakan adalah tipe wash-down (Lihat
Gambar 2.7 dan 2.8). Untuk tempat-tempat umum, sering dipasang
peturasan berbentuk mirip “talang” terbuat dari porselen, plastik, atau
baja tahan karat, dan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Dalamnya talang 15 cm atau lebih.






b. Pipa pembuangan ukuran 40 mm atau lebih dan dilengkapi dengan
saringan.
c. Pipa penggelontor harus diberi lubang-lubang untuk menyiram
bidang belakang talang dengan lapisan air.
d. Laju aliran air penggelontor dapat ditentukan dengan menganggap
setiap 45 cm panjang talang ekivalen dengan satu peturasan biasa.

























Sumber: SNI-03-6481-2000

Gambar Jenis Peturasan











Sumber: SNI-03-6481-2000

Gambar 2.8 Peturasan Palung























Gambar Contoh Peturasan anak-anak (kiria) dan bidet (kanan)


3. Fitting Saniter
Beberapa jenis fitting saniter antara lain :
a. Keran air, ada beberapa macam yaitu :
1) Keran air yang dapat dibuka dan ditutup dengan mudah.
2) Keran air yang dapat dibuka tetapi akan menutup sendiri,
misalnya untuk cuci tangan.
3) Keran air yang laju alirannya diatur oleh ketinggian muka air,
yaitu keran atau katup pelampung.











Gambar 2.10 Keran





























Gambar Wastafel



















Gambar Bath Tub










































Gambar Shower


b. Katup gelontor dan tangki gelontor
1) Katup gelontor berfungsi mengatur aliran air penggelontor, untuk
kloset dan peturasan.
2) Tangki gelontor, dibuat dari plastik, ada yang otomatis dan ada
juga yang harus dijalankan oleh orang.


2.2.2 Dalam pengertian umum, jenis peralatan Plambing meliputi :
2.2.2.1 Peralatan pemadam kebakaran
1. Sistem hidran
a. Tipe Sistem Stand Pipe Untuk Hidran
1) Automatic-Wet
Suatu sistem stand pipe basah yang memiliki suplai air yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan sistem secara otomatis.
2) Automatic-Dry
Suatu sistem stand pipe kering, biasanya diisi dengan udara
bertekanan dan dirangkaikan dengan suatu alat, seperti dry pipe
valve, untuk menerima air ke dalam sistem perpipaannya secara
otomatis dengan membuka suatu hose value.
- Menghemat kerja pompa





- Pompa akan bekerja secara otomatis pada saat alarm
berbunyi, sehingga air akan segera mengalir untuk
menanggulangi kebakaran.
3) Semi Automatic-Dry
Sistem stand pipe kering yang dirangkaikan dengan suatu alat
seperti deluge value, untuk menerima air ke dalam sistem
perpipaannya dengan cara mengaktifkan suatu alat pengontrol
jarak jauh yang terletak pada setiap hose connection. Suplai air
harus mampu memenuhi kebutuhan sistem.
4) Manual-Wet
Suatu sistem stand pipe basah yang memiliki suplai air yang
sedikit, hanya untuk memelihara keberadaan air dalam pipanya,
namun tidak memiliki untuk memenuhi seluruh kebutuhan
sistem. Suplai air sistem diperoleh dari fire department pumper.
5) Manual-Dry
Suatu sistem stand pipe yang tidak memiliki suplai air yang
permanen. Air yang diperlukan diperoleh dari suatu fire
department pumper, untuk kemudian dipompakan ke dalam
sistem melalui fire department connection


b. Keluar Sistem Stand Pipe
1) Kelas I
Suatu sistem stand pipe yang harus menyediakan hose
connection berdiameter 2½ inchi untuk mensuplai airnya,
khususnya digunakan oleh petugas pemadam kebakaran dan
orang-orang yang terlatih untuk menangani kebakaran berat.
2) Kelas II
Suatu sistem stand pipe yang harus menyediakan hose
connection berdiameter 1½ inchi untuk mensuplai airnya,
digunakan oleh penghuni gedung atau petugas pemadam
kebakaran selama tindakan pertama. Pengecualian dapat
dilakukan dengan menggunakan hose connection 1 inchi jika






kemungkinan bahaya sangat kecil dan telah disetujui oleh
instalasi atau pejabat yang berwenang.
3) Kelas III
Suatu sistem yang harus menyediakan baik hose connection
berdiameter 1½ inchi untuk digunakan oleh penghuni gedung
maupun hose connection berdiameter 2½ inchi untuk digunakan
oeh petugas pemadam kebakaran ada orang-orang yang telah
terlatih untuk kebakaran berat.


c. Design/Perancangan
1) Penentuan letak hose connection
Pada sistem stand pipe kelas I, jika bagian terjauh dari suatu
lantai/tingkat yang tidak bersprinkler melebihi 150 ft (45.7 m)
dari jalan keluar (exit) atau melebihi 200 ft (61 m) untuk lantai
yang tidak bersprinkler, perlu dilakukan penambahan hose
connection pada lokasi yang diperlukan oleh petugas pemadam
kebakaran.
2) Ukuran minimum stand pipe
Stand pipe pada kelas I dan III harus berdiameter minimal 4
inchi.
3) Tekanan minimum sistem
Stand pipe harus didisain secara hidrolis guna memenuhi flow-
ratenya, dengan tekanan residual minimal 100 psi (6.9 bar) pada
hose connection terjauh untuk yang berdiameter 2½ inchi dan 65
psi (4.5 bar) untuk yang berdiameter 1½ inchi.
4) Tekanan maksimum hose connection
Tekanan residual pada hose connection berdiameter 1½ inchi
yang digunakan oleh penghuni bangunan tidak boleh melebihi
100 psi (6.9 bar). Ketika tekanan statik pada hose connection
melebihi 100 psi, maka pressure regulator device harus
digunakan untuk membatasi tekanan statik dan residual pada








outlet hose connection pada 100 psi untuk diameter 1½ inchi
dan 175 psi untuk hose connection lainnya.
5) Flow rate (debit) minimum pada stand pipe
Untuk sistem kelas I dan III, flowrate minimum pada stand pipe
terjauh harus 500 gpm (1893 l/menit). Sedangkan untuk
tambahannya harus memiliki flow rate minimal 250 gpm (946
l/menit) per stand pipe, dengan jumlah total tidak lebih dari
1250 gpm (4731 l/menit). Pengecualian, jika luas area melebihi
80000 ft (7432 m2), maka stand pipe kedua terjauh harus
didisain untuk 500 gpm.
6) Flow rate minimum pada hidran gedung
Debit air minimum gedung 400 l/menit
7) Prosedur perhitungan
Penentuan ukuran pipa dan kehilangan tekan yang ditimbulkan
dilakukan denga cara yang sama pada sistem penyediaan air
bersih, yaitu menggunakan persamaan Hazen-William. Pipa
yang digunakan juga merupakan jenis pipa Galvanis baru.
8) Drain dan Test riser
Secara permanen drain riser 3 inchi (76 mm) harus disediakan
berdekatan pada setiap stand pipe, yang dilengkapi dengan
pressure regulating device guna memungkinkan dilakukannya
tes pada tiap alat/device. Setiap stand pipe harus disediakan
draining, suatu drain valve dan pipanya, diletakkan pada titik
terendah pada stand pipe. Penentuan suatu stand pipe drain
dapat dilihat pada Tabel 2.2.















Tabel 2.2 Ukuran Stand pipe Drain
Sumber: NFPA 14, “Standar Installation for Standpipe and Hose Systems”

















9) Suplai Air (Water Supply)
Untuk Sistem kelas I, water supply harus cukup untuk
memenuhi kebutuhan sistem seperti yang telah diuraikan di atas
selama sedikitnya 30 menit.


2. Sistem sprinkle
Sistem sprinkler harus dipasang terpisah dari sistem perpipaan dan
pemompaan lainnya, serta memiliki penyediaan air tersendiri.
Beberapa definisi mengenai komponen sistem di antaranya:
a. Branch (cabang) adalah pipa di mana sprinkler dipasang, baik
secara langsung atau melalui riser
b. Cross main (pipa pembagi) adalah pipa yang mensuplai pipa
cabang, baik secara langsung atau melalui riser
c. Feed main (pipa pembagi utama) adalah pipa yang mensuplai pipa
pembagi, baik secara langsung atau melalui riser.


Sistem sprinkler secara otomatis akan bekerja bila segelnya pecah
akibat adanya panas dari api kebakaran. Sistem Sprinkler dapat dibagi
atas beberapa jenis, yaitu (Departemen Pekerjaan Umum, 1987):
a. Dry Pipe System
Suatu sistem yang menggunakan sprinkler otomatis yang
disambungkan dengan sistem perpipaannya yang mengandung
udara atau nitrogen bertekanan. Pelepasan udara tersebut akibat
adanya panas mengakibatkan api bertekanan membuka dry pipe



Ukuran Stand Pipe
Ukuran Drain
Connection
Sampai dengan 2 in
2 ½ in, 3 in, atau 3 ½ in
4 in atau lebih besar
¾ in atau lebih besar
1¼ in atau lebih besar
2 in saja



valve. Dengan demikian air akan mengalir ke dalam sistem
perpipaan dan keluar dari kepala sprinkler yang terbuka.
b. Wet Pipe System
Suatu sistem yang menggunakan sprinkler otomatis yang
disambungkan ke suplai air (water supply). Dengan demikian air
akan segera keluar melalui sprinkler yang telah terbuka akibat
adanya panas dari api.
c. Deluge System
Sistem yang menggunakan kepala sprinkler yang terbuka
disambungkan pada sistem perpipaan yang dihubungkan ke suplai
air melalui suatu valve. Valve ini dibuka dengan cara
mengoperasikan sistem deteksi yang dipasang pada area yang sama
dengan sprinkler. Ketika valve dibuka, air akan mengalir ke dalam
sistem perpipaan dan dikeluarkan dari seluruh sprinkler yang ada.
d. Preaction System
Suatu sistem yang menggunakan sprikler otomatis yang
disambungkan pada suatu sistem perpipaan yang mengandung
udara, baik yang bertekanan atau tidak, melalui suatu sistem
deteksi tambahan yang dipasang pada area yang sama dengan
sprinkler. Pengaktifan sistem deteksi akan membuka suatu valve
yang mengakibatkan air akan mengalir ke dalam sistem perpipaan
sprinkler dan dikeluarkan melalui sprinkler yang terbuka.
e. Combined Dry Pipe-Preaction
Sistem pipa berisi udara bertekanan. Jika terjadi kebakaran,
peralatan deteksi akan membuka katup kontrol air dan udara
dikeluarkan pada akhir pipa suplai, sehingga sistem akan terisi air
dan bekerja seperti sistem wet pipe. Jika peralatan deteksi rusak,
sistem akan bekerja seperti sistem dry pipe.
Sprinkler dapat pula dibagi menjadi dua kategori berdasarkan mode
aktivasi pengiriman air, yaitu :
a. Dalam versi “fusible element”, panas mencairkan stopper metal
yang menyumbat lubang pengiriman air.



Tabel 2.3 Warna Cairan dan Temperatur Sprinkler
Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 1987



b. Dalam versi “bulb”, temperatur tinggi memanaskan cairan dalam
bohlam kaca (glass bulb), sampai bulb pecah.











Gambar Sprinkler jenis fusibleelement (kiri) dan bulb (kanan)














Gambar Sprinkle


Tabel 2.3 menunjukkan rata-rata temperatur Sprinkler berdasarkan
warna dari cairan.




















Rata – rata Temperatur Warna dari cairan bola
57
68
79
93
141
182
204 – 260
Jingga
Merah
Kuning
Hijau
Biru
Ungu ( Mauve )
Hitam



2.3 Syarat-syarat dan Mutu Bahan Plambing
2.3.1 Syarat alat-alat plambing berdasarkan jenis kategori
Syarat-syarat yang mengatur tentang alat-alat Plambing diatur dalam SNI
03 – 6841 – 2000, berdasarkan jenis kategori bangunan yaitu :


2.3.1.1 Rumah tinggal, dimana dalam setiap rumah tinggal sekurang –
kurangnya dilengkapi dengan :
1. Sebuah bak cuci dapur.
2. Sebuah kloset.
3. Sebuah bak mandi atau bak air mandi atau dus.
4. Sebuah tempat cuci tangan.
5. Sebuah pengering lantai.


2.3.1.2 Rumah Susun, dimana dalam setiap unit harus dilengkapi sekurang –
kurangnya dengan :
1. Sebuah bak cuci dapur.
2. Sebuah kloset.
3. Sebuah bak mandi atau bak air mandi atau dus.
4. Sebuah tempat cuci tangan.
5. Sebuah pengering lantai.
Disamping itu, setiap unit rumah tinggal harus dilengkapi dengan
bak cuci pakaian atau perlengkapan penyambungan untuk mesin cuci
pakaian, kecuali bila unit rumah tinggal tersebut disediakan untuk
penghuni tidak tetap.
Setiap rumah susun harus juga dilengkapi dengan sebuah ruang
cuci pakaian bersama, dengan perlengkapan alat plambing sebagai berikut:
1. Sebuah tempat cuci pakaian dengan dua bak untuk setiap 10 unit
rumah tinggal, atau
2. Sebuah mesin cuci pakaian untuk setiap 20 unit rumah tinggal.
Bila unit rumah tinggal tersebut hanya merupakan akomodasi tidur,
maka untuk setiap enam unit, harus dilengkapi sekurang – kurangnya
dengan :






1. Sebuah kloset.
2. Sebuah bak mandi atau bak air mandi atau dus.
3. Sebuah tempat cuci tangan.
4. Sebuah pengering lantai.
5. Untuk ruang toilet laki – laki, jumlah kloset dapat diganti dengan
peturasan (urinoir) tidak lebih dari sepertiga jumlah kloset yang
disyaratkan.


2.3.1.3 Hunian usaha/niaga, dimana ketentuan minimum alat plambing dalam
hunian usaha/niaga dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 2.4 Jumlah kloset, bak cuci tangan dan peturasan untuk hunian
usaha

















2.3.1.4 Hunian industri, kententuan yang berlaku sama halnya dengan hunian
usaha/niaga, kecuali untuk industri pengecoran logam yang kriteria jumlah
alat plambing harus di sesuaikan dengan Tabel 3.5
Tabel 2.5 Jumlah kloset, bak cuci tangan dan peturasan untuk hunian
industri















2.3.1.5 Hunian Gudang, ketentuan alat plambing minimum sama dengan yang
disyaratkan untuk hunian usaha. Alat plambing juga dapat dipasang pada
bangunan yang berdekatan, jika jarak mendatar dari tempat kerja ke toilet
tidak lebih dari 150 m dan kedua bangunan tersebut berada dibawah satu
pengelolaan.


2.3.1.6 Hunian kumpulan, kecuali hunian ibadah dan sekolah, maka kapasitas
alat plambing minimum ditentukan dengan menggunakan Tabel 3.6
Tabel 2.6 Jumlah kloset, bak cuci tangan dan peturasan untuk hunian
kumpulan













1. Pancaran air minum atau alat sejenis harus disediakan untuk setiap
1000 orang pengunjung atau sekurang – kurangnya sebuah alat
plambing sejenis tersebut disediakan pada setiap tingkat bangunan
atau balkon.
2. Bila dalam ruangan proyektor terdapat lebih dari satu proyektor, maka
harus dilengkapi sekurang – kurangnya dengan; sebuah kloset dan
sebuah bak cuci tangan di lantai yang bersangkutan dan terletak 6 – 7
m dari ruang proyektor tersebut.
3. Alat plambing untuk pengunjung dapat pula digunakan oleh
karyawan, akan tetapi setidak -tidaknya fasilitas toilet karyawan harus
sesuai dengan jumlah dan jenis yang disyaratkan untuk karyawan
seperti pada hunian usaha.
4. Fasilitas toilet untuk laki – laki dan perempuan harus terpisah dan
mudah dicapai.







2.3.1.7 Hunian ibadah, khususnya untuk masjid, haus disediakan sekurang –
kurangnya satu kran wudhu setiap 50 orang jemaah. Untuk kapasitas lebih
dari 500 orang jemaah, harus ditambah dengan sebuah kran untuk setiap
kenaikan 200 orang. Di tempat ibadah harus ada sekurang – kurangnya
sebuah kloset dan sebuah bak cuci tangan, fasilitas ini boleh berada pada
bangunan yang berdekatan letaknya, bila berada dibawah satiu
pengelolaan. Fasilitas toilet laki – laki dan perempuan harus terpisah dan
mudah dicapai.


2.3.1.8 Sekolah, penyediaan alat plambing di sekolah dilakukan berdasarkan
kapasitas hunian dan sesuai dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Sebuah kloset untuk setiap 100 orang murid laki –laki dan sebuah
kloset untuk setiap 35 orang murid perempuan di Sekolah Dasar.
2. Sebuah kloset untuk setiap 100 orang murid laki – laki dan sebuah
kloset untuk setiap 45 orang murid perempuan di Sekolah Menengah.
3. Sebuah bak cuci tangan untuk setiap 50 orang murid.
4. Sebuah peturasan untuk setiap 30 orang murid laki – laki.
5. Sebuah pancaran air minum atau alat plambing sejenis untuk setiap
150 orang murid, tetapi sebuah alat plambing sejenis sekurang –
kurangnya disediakan pada tiap lantai yang terdapat ruang kelas.
Bila terdapat lebih dari 5 orang karyawan dan guru, alat plambing
harus disediakan lagi, sekurang – kurangnya jenis dan jumlahnya sama
dengan yang disyaratkan pada hunian usaha. Alat plambing yang
disediakan untuk murid harus terpisah dari alat plambing yang disediakan
untuk guru dan karyawan. Fasilitas toilet untuk laki – laki dan perempuan
harus terpisah, mudah dicapai serta mudah digunakan.


2.3.1.9 Hunian lembaga, dimana hunian tersebut berada dalam pengawasan maka
harus dilengkapi dengan alat plambing sekurang – kurangnya adalah
sebagai berikut:
1. Sebuah bak cuci dapur.
2. Sebuah kloset.






3. Sebuah bak mandi atau bak air mandi atau dus.
4. Sebuah bak cuci tangan.
5. Sebuah pengering lantai.
Bila akomodasi tidur diatur sebagai kamar terpisah, maka di dekat
setiap enam kamar tidur di lengkapi sekurang-kurangnya dengan :
1. Sebuah kloset.
2. Sebuah bak mandi atau bak air mandi atau dus.
3. Sebuah bak cuci tangan.
4. Sebuah pengering lantai.
Bila akomodasi tidur diatur seperti asrama,, maka untuk setiap 15
orang penghuni, pada tempat di dekatnya harus dilengkapi sekurang –
kurangnya dengan:
1. Sebuah kloset.
2. Sebuah bak mandi atau bak air mandi atau dus.
3. Sebuah bak cuci tangan.
4. Sebuah pengering lantai.
Fasilitas toilet untuk laki – laki dan perempuan harus terpisah dan
mudah dicapai.


2.3.1.10 Hunian lembaga lingkup terbatas, dalam hal ini kecuali rumah sakit
maka harus dilengkapi dengan alat plambing untuk tiap lantai sesuai dengan
ketentuan – ketentuan sebagai berikut;
1. Sebuah kloset untuk setiap 25 orang penghuni laki – laki dan sebuah
kloset untuk setiap 20 orang penghuni perempuan.
2. Sebuah peturasan untuk setiap 50 orang penghuni laki – laki.
3. Sebuah bak cuci tangan untuk setiap 10 orang penghuni.
4. Sebuah dus untuk setiap 10 orang penghuni.
5. Sebuah pancaran air minum atau alat plambing sejenis untuk setiap 50
orang penghuni.
Fasilitas toilet untuk karyawan sekurang – kurangnya disediakan
dalam jumlah dan jenis yang sama dengan persyaratan hunian usaha,








selain itu fasilitas toilet untuk laki – laki dan perempuan harus terpisah dan
mudah dicapai.


2.3.1.11 Rumah sakit, alat - alat plambing yang harus tersedia adalah sebagai
berikut:
1. Sebuah kloset dan sebuah bak cuci tangan untuk setiap 10 tempat tidur.
2. Sebuah dus, bak mandi atau bak air mandi untuk setiap 20 tempat tidur.
Fasilitas toilet untuk karyawan sekurang – kurangnya disediakan
dalam jumlah dan jenis yang sama dengan persyaratan hunian usaha dan
terpisah dari fasilitas toilet pasien, selain itu fasilitas toilet untuk laki –
laki dan perempuan harus terpisah dan mudah dicapai.


2.3.1.12 Rumah sakit jiwa, harus dilengkapi dengan alat plambing sesuai dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. Sebuah kloset.
2. Sebuah bak cuci tangan.
3. Sebuah bak mandi atau bak air mandi atau dus untuk setiap 8 orang
paisen.
4. Sebuah pancaran air minum atau alat plambing sejenis untuk setiap 50
tempat tidur.
Fasilitas toilet untuk karyawan sekurang – kurangnya disediakan
dalam jumlah dan jenis yang sama dengan persyaratan hunian usaha dan
terpisah dari fasilitas toilet pasien, selain itu fasilitas toilet untuk laki – laki
dan perempuan harus terpisah dan mudah dicapai.


2.3.1.13 Lembaga pemasyarakatan, harus dilengkapi dengan alat plambing sesuai
dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Sebuah kloset, sebuah tempat cuci tangan dan sebuah pengering lantai
di setiap sel.
2. Sebuah dus untuk setiap 10 orang, ditempatkan di setiap lantai dimana
sel itu berada.
3. Sebuah kloset dan sebuah tempat cuci tangan ditempat olahraga.






Fasilitas toilet untuk karyawan sekurang – kurangnya disediakan
dalam jumlah dan jenis yang sama dengan persyaratan hunian usaha dan
terpisah dari fasilitas toilet narapidana, selain itu fasilitas toilet untuk laki –
laki dan perempuan harus terpisah dan mudah dicapai.


2.3.1.14 Kolam renang dan pemandian umum, jumlah dan jenis alat plambing,
sekurang – kurangnya harus terdiri dari :
1. Sebuah kloset untuk setiap 60 orang laki – laki.
2. Sebuah kloset untuk setiap 40 orang perempuan.
3. Sebuah peturasan untuk setiap 40 orang laki – laki.
4. Sebuah bak cuci tangan untuk setiap 60 orang laki – laki.
5. Sebuah bak cuci tangan untuk setiap 60 orang perempuan.
6. Sebuah dus untuk setiap 40 orang laki – laki.
7. Sebuah dus untuk setiap 40 orang perempuan.
Fasilitas dus untuk mandi di kolam renang umum dan tempat
pemandian umum lainnya, harus dipisahkan untuk laki – laki dan
perempuan, harus mudah dicapai oleh semua pengunjung pada setiap saat
dan harus ditempatkan sedemikian rupa sebelum memasuki daerah
pemandian. Untuk sekolah yang mempunyai kolam renang, jumlah dus
sekurang – kurangnya harus sepertiga jumlah murid dari kelas yang
terbesar.


2.3.1.15 Rumah makan, kantin dan kafetaria, alat plambing yang harus tersedia
sekurang – kurangnya satu mesin cuci atau tempat cuci berbak tiga yang
cocok, untuk mencuci secara efektif dan bersih sebelum alat – alat tersebut
dipakai kembali. Untuk mesin cuci atau bak cuci tersebut, harus digunakan
air panas.


2.3.1.16 Dapur rumah makan atau kantin, harus menyediakan sekurang –
kurangnya sebuah bak tempat cuci tangan, khusus untuk keperluan
karyawan dapur.








2.3.1.17 Hunian sementara, seperti fasilitas toilet sementara untuk pekerja yang
sedang membangun atau mengadakan perubahan, perbaikan,
pembongkaran gedung pada suatu proyek dengan dasar satu unit untuk
setiap 30 orang.
Fasilitas toilet tersebut terdiri dari kloset biasa atau kloset kimia yang
mudah dicapai oleh pekerja dan harus terletak tidak lebih dari empat
tingkat diatas atau dibawah tempat bekerja, serta terlindung dari
pandangan dan bahaya kejatuhan benda. Hunian sementara ini harus
dipelihara sesuai dengan persyaratan kesehatan, sehingga selalu siap pakai.
Bila proyek telah selesai, fasilitas dan sistem pembuangannya harus di
bongkar, sekitarnya harus dibersihkan, didefinisikan dan lubang kloset
tersebut harus ditimbun dengan tanah yang baik dan bersih.


2.3.1.18 Fasilitas khusus, apabila terdapat kemungkinan kontaminasi kulit oleh
bahan beracun, bahan yang dapat menimbulkan infeksi atau iritasi pada
kulit, maka untuk tiap 5 orang harus disediakan sebuah bak cuci tangan
yang mudah dicapai.
Jika terdapat kemungkinan terkena suhu yang tinggi, kontaminasi kulit
oleh bahan beracun, bahan yang dapat menimbulkan infeksi atau iritasi
pada kulit, maka untuk setiap 15 orang harus disediakan sekurang –
kurangnya satu dus yang mudah di capai. Jika orang bekerja dengan bahan
yang sangat mengiritasikan harus disediakan dus darurat dalam jarak
maksimum 10 meter dari tempat tersebut. Dus ini tidak boleh dilengkapi
dengan air panas, dan tidak pula pengering lantai.


2.3.2 Mutu Bahan plambing
Dalam perencanaan pelaksanaan plambing, harus diperhatikan syarat-
syarat dari bahan Plambing, yaitu :
1. Tidak menimbulkan bahaya kesehatan
2. Tidak menimbulkan gangguan suara
3. Tidak menimbulkan gangguan radiasi
4. Tidak merusak perlengkapan bangunan






5. Instalasi harus kuat dan bersih
Selain syarat-syarat di atas harus pula diperhatikan cara-cara pemasangan
yang baik, seperti penyambungan hubungan dari pipa-pipa yang besar ke yang
kecil atau sebaliknya.
Instalasi plambing harus menggunakan bahan-bahan yang mutu bahannya
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Daya tahan bahan harus lama, minimal 30 th
2. Permukaan harus halus dan tahan air
3. Tidak ada bagian – bagian yang tersembunyi/menyimpan kotoran pada
bahan-bahan yang dimaksud
4. Bebas dari kerusakan, baik mekanis maupun yang lain
5. Mudah pemeliharaannya
6. Memenuhi peraturan yang berlaku


2.4 Alat-alat Pendukung Plambing
Dalam perencanaan plambing, perlengkapan utama yang dibutuhkan
adalah pipa. Pipa- pipa yang digunakan dalam perancangan plambing terdiri dari:
1. Pipa baja (galvanis)
Pipa galvanis umumnya digunakan sebagai penyalur air dingin atau
bagian dari suatu tower air, sebagai penghubug dari mesin air ke tendon
di atas tower. Pipa ini dapat juga digunakan sebagai penyalur adukan
beton ke bangunan selama masa konstruksi.












Gambar Pipa Baja (Galvanis)









2. Pipa PVC
Pipa PVC biasanya digunakan sebagai sarana utama instalasi air dalam
gedung. Pipa PVC bersifat ringan, berkekuatan tinggi, dan reaktivitas
rendah, menjadikannya cocok untuk berbagai keperluan. Pipa PVC juga
bisa dicampur dengan berbagai larutan semen atau disatukan dengan
pipa HDPE oleh panas,menciptakan sambungan permanen yang tahan
kebocoran.














Gambar 2.16 Pipa PVC


3. Pipa Tembaga
Pipa tembaga umumnya digunakan sebagai penyalur air panas pada
suatu gedung. Pipa ini dipilih untuk menyalurkan air panas karena sifat
konduktornya yang sangat baik dan tahan terhadap korosi.











Gambar Pipa Tembaga












2.5 Sistem Instalasi Plumbing
Yang dimaksud disini dengan pekerjaan instalasi plambing adalah
pengadaan, transportasi, pembuatan, pemasangan, peralatan bahan-bahan
utama dan pembantu serta pengujian, sehingga diperoleh instalasi yang
lengkap dan baik sesuai dengan spesifikasi, gambar dan bill of quantity.
Uraian pekerjaan sistem plumbing :
1. Sistem Air Bersih
Pipa air bersih per lantai dilayani oleh 2 pipa tegak (sisi kiri dan
sisikanan).
2. Sistem Air Kotor
Pipa air kotor, air bekas dari toilet dan air buangan dari dapur, pantry
dilayani dengan pipa terpisah. Pipa tegak air kotor dan air bekas
disambungkan ke pipa eksisting di halaman menuju tangki septik. Sedangkan
pipa tegak air buangan dari dapur dan pantry dialirkan ke penangkap lemak
terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran luar.
3. Sistem Air Hujan
Roof drain dipasang pada lantai atap. Setiap pipa tegak air hujan harus
diarahkan ke sumur resapan terlebih dahulu dan kemudian limpahannya
dialirkan ke sistem drainase halaman. Pipa tegak air hujan yang difungsikan
juga sebagai pipa kondensat drain dari instalasi AC, harus diisolasi dengan
ketebalan minimal 25mm.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam instalasi sistem plumbing :
1. Bahan Pipa :
a. Pemilihan bahan pipa untuk instalasi plumbing harus disesuaikan
dengan jenis air yang dialirkan.
b. Pipa harus memenuhi standar yang berlaku, misalnya SNI, SII, JIS,
JWWA, dsb.
c. Bahan pipa dan standar untuk pemakaian tertentu (air dingin, air
panas, buangan dan ven) dapat dilihat dibawah.
2. Sambungan (fiting) dan perlengkapan yaitu Berfungsi untuk menyambung
2 pipa
3. Valve / Katup






Berfungsi untuk membuka dan menutup aliran air dalam pipa
Macamnya : gate valve, globe valve, butterfly valve, check valve, dll.





















Gambar Macam-macam valve


2.5.1 Persyaratan Pemasangan
1. Perpipaan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin
kebersihan, kerapihan, ketinggian yang benar, serta memperkecil
banyaknya penyilangan.
2. Pekerjaan harus ditunjang dengan suatu ruang yang longgar, tidak
kurang dari 50 mm diantara pipa-pipa atau dengan bangunan dan
peralatan.
3. Semua pipa dan fitting harus dibersihkan dengan cermat dan
teliti sebelum dipasang, membersihkan semua kotoran, benda-benda
tajam/runcing serta penghalang lainnya.
4. Pekerjaan perpipaan harus dilengkapi dengan semua katup-katup yang
diperlukan antara lain katup penutup, pengatur, katup balik dan
sebagainya, sesuai dengan fungsi sistem dan yang diperlihatkan
digambar.
5. Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus
dilengkapi dengan UNION atau FLANGE.






6. Sambungan lengkung, reducer dan expander dan sambungan-
sambungan cabang pada pekerjaan perpipaan harus mempergunakan
fitting buatan pabrik.
7. Kemiringan menurun dari pekerjaan perpipaan air limbah harus seperti
berikut, kecuali seperti diperlihatkan dalam gambar.
a. Dibagian dalam bangunan.
Garis tengah 150 mm atau lebih kecil : 1,5 %
b. Dibagian luar bangunan.
Garis tengah 150 mm atau lebih kecil : 1,5 %
Garis tengah 200 mm atau lebih besar : 1%
8. Semua pekerjaan perpipaan harus dipasang secara menurun kearah titik
buangan. Drain dan vent harus disediakan guna mempermudah pengisian
maupun pengurasan.
9. Katup (valves) dan saringan (strainers) harus mudah dicapai
untuk pemeliharaan dan penggantian. Pegangan katup (valve handled)
tidak boleh menukik.
10. Sambungan-sambungan fleksibel harus dipasang sedemikian rupa dan
angkur pipa secukupnya harus disediakan guna mencegah tegangan
pada pipa atau alat-alat yang dihubungkan oleh gaya yang
bekerja kearah memanjang.
11. Pekerjaan perpipaan ukuran jalur penuh harus diambil lurus tepat ke arah
pompa dengan proporsi yang tepat pada bagian-bagian
penyempitan. Katup-katup dan fitting pada pemipaan demikian harus
ukuran jalur penuh.
12. Pada pemasangan alat-alat pemuaian, angkur-angkur pipa dan
pengarah-pengarah pipa harus secukupnya disediakan agar pemuaian serta
perenggangan terjadi pada alat-alat tersebut, sesuai dengan
permintaan & persyaratan pabrik.
13. Kecuali jika tidak terdapat dalam spesifikasi, sleeves pipa harus
disediakan dimana pipa-pipa menembus dinding-dinding, lantai, balok,
kolom atau langit-langit. Dimana pipa-pipa melalui dinding tahan api,








ruang-ruang kosong diantara sleeves dan pipa-pipa harus dipakal
dengan bahan rock-wool.
14. Selama pemasangan, bila terdapat ujung-ujung pipa yang terbuka
dalam pada setiap tahap pekerjaan, harus ditutup dengan
menggunakan caps atau plugs (tidak boleh terbuat dari kayu) untuk
mencegah masuknya benda-benda lain.
15. Semua galian, harus juga termasuk penutupan kembali serta
pemadatan.
16. Pekerjaan perpipaan tidak boleh digunakan untuk pentanahan listrik.


2.6 Sistem Pemipaan
2.6.1 Sistem Instalasi
Sistem perpipaan berfungsi untuk mengantarkan atau mengalirkan suatu
fluida dari tempat yang lebih rendah ke tujuan yang diinginkan dengan bantuan
mesin atau pompa. Misalnya pipa yang dipakai untuk memindahkan minyak dari
tangki ke mesin, memindahkan minyak pada bantalan-bantalan dan juga
mentransfer air untuk keperluan pendinginan mesin ataupun untuk kebutuhan
sehari-hari diatas kapal serta masih banyak lagi fungsi lainnya. Sistem perpipaan
harus dilaksanakan sepraktis mungkin dengan minimum bengkokan dan
sambungan las atau brazing, sedapat mungkin dengan flens atau sambungan yang
dapat dilepaskan dan dipisahkan bila perlu. Semua pipa harus dilindungi dari
kerusakan mekanis. Sistem perpipaan ini harus ditumpu atau dijepit sedemikian
rupa untuk menghindari getaran. Sambungan pipa melalui sekat yang diisolasi
harus merupakan sambungan flens yang diijinkan dengan panjang yang cukup
tanpa merusak isolasi.
Pada perancangan sistem instalasi diharapkan menghasilkan suatu jaringan
instalasi pipa yang efisien dimana aplikasinya baik dari segi peletakan maupun
segi keamanan dalam pengoperasian harus diperhatikan sesuai peraturan-
peraturan klasifikasi maupun dari spesifikasi installation guide dari sistem
pendukung permesinan.









2.6.2 Jenis Pipa
Berdasarkan klasifikasi pengguna (user), pipa dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
1. Standard pipe
a. Mechanical service pipe
Mechanical service pipe digunakan untuk kepentingan structural dan
mekanikal. Berdasarkan ketebalan dinding, mechanical service pipe
dibagi menjadi 3 kelas, yaitu standard weight, extra strong, double extra
strong. Mechanical service pipe ada dalam bentuk seamless dan welded
pipe. Jenis ini berdiameter sampai 12 inchi.
b. Refrigerator pipe
Refrigerator pipe digunakan untuk membawa refrigerant, dan
berdiameter ¾ - 2 inchi.
c. Dry-kiln pipe
Dry-kiln pipe digunakan untuk industri kayu, dan diproduksi dalam
ukuran pipa standar ¾, 1 dan 1¼ inchi.













Gambar Standard Pipe


2. Pressure pipe
Pressure pipe digunakan untuk membawa fluida atau gas pada tekanan atau
temperatur normal, subzero, atau tinggi. Pressure pipe mempunyai ukuran ⅛
inchi. Nominal size sampai 36 inchi.






















Gambar 2.20 PressurePipe


3. Line pipe
Line pipe diproduksi dalam bentuk welded dan seamless. Jenis pipa ini ini
mempunyai ukuran ⅛ inchi. Digunakan untuk membawa gas, minyak atau
air.













Gambar LinePipe


4. Water-well pipe
Diproduksi dalam bentuk welded atau seamless dengan bahan steel.
Digunakan untuk membawa air untuk digunakan di perkotaan maupun
industri. Jenis pipa ini mempunyai ukuran ⅛ - 96 inchi, dengan berbagai
ketebalan dinding.

























Gambar Water Well Pipe


5. Oil country goods
Casing digunakan sebagai structural retainer untuk dinding sumur minyak
atau gas dan juga untuk mengeluarkan fluida yang tidak diinginkan, dan
untuk melindungi dan mengalirkan minyak atau gas dari sumber di bawah
permukaan menuju permukaan tanah.












Gambar Oil CountryGoods


6. Carbon steel










Gambar Carbon Steel Pipe





7. Carbon Moly











Gambar Carbon MolyPipe


8. Galvanees













Gambar Galvanees Pipe


10. Stainless Steel
















Gambar Stainless Steel Pipe





11. PVC (Paralon)











Gambar PVC Pipe


7. Chrom Moly










Gambar ChromMolyPipe


Sedang bahan-bahan pipa secara khusus dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Vibre Glass









Gambar VibreGlass Pipe














2. Aluminium










Gambar AluminiumPipe


3. Wrought Iron (besi tanpa tempa)


4. Cooper (Tembaga)













Gambar Cooper Pipe


5. Red Brass (kuningan merah)













Gambar Red Brass Pipe






6. Nickel cooper = Monel ( timah tembaga)


















Gambar Nickel cooper Pipe


7. Nickel chrom iron = inconel (besi timah chrom)


2.6.3 Pipa Air Kotor dan Air Buangan
1. Ukuran Minimum Pipa Cabang Mendatar.
Pipa cabang mendatar harus mempunyai ukuran yang sekurang-kurangnya
sama dengan diameter terbesar dari perangkap alat plambing yang
dilayaninya Diameter perangkap dan pipa pengering alat plambing dapat
dilihat dalam tabel 5.6


2. Ukuran Minimum Pipa Tegak
Pipa tegak harus mempunyai ukuran yang sekurang-kurangnya sama
dengan diameter terbesar cabang mendatar yang disambungkan ke pipa
tegak tersebut.


3. Pengecilan Ukuran Pipa
Pipa tegak maupun cabang mendatar tidak boleh diperkecil diameternya
dalam arah aliran air buangan. Pengecualian hanya ada pada kloset,
dimana pada lubang keluarnya dengan diameter 100 mm dipasang
pengecilan pipa ( reducer ) 100 x 75 mm. Cabang mendatar yang melayani


Tabel 2.7 Diameter pipa air kotor dan air buangan



satu kloset harus mempunyai diameter sekurang-kurangnya 75 mm, dan
untuk dua kloset atau lebih sekurang-kurangnya 100 mm.


4. Pipa di Bawah Tanah
Pipa pembuangan yang ditanam dalam tanah atau di bawahnya lantai
bawah tanah harus mempunyai ukuran sekurang-kurangnya 50 mm


5. Penentuan Ukuran Instalasi Pipa Air Kotor dan Air Buangan
Dalam penentuan ukuran instalasi pipa air kotor dan air buangan pada
perencanaan ini menggunakan metoda Unit Alat Plambing. Adapun
langkah-langkah perhitungan adalah sebagai berikut :
a. Menentukan daerah yang akan dilayani oleh pipa air kotor atau air
buangan, Lihat pada gambar isometri pipa air kotor dan air buangan
b. Melihat nilai Unit alat plambing sebagai beban ( table 2.7 ).
c. Menentukan ukuran pipa air kotor atau air buangan ( table 2.8 ).
































Diameter pipa (mm) Unit alat plambing
32
40
50
65
75
100
125
150
200
250
300
375
1
3
5
10
14
96
216
372
840
1500
2340
3500



Tabel 2.8 Unit alat plambing sebagai beban, setiap alat atau kelompok


Alat plambing
Diameter
perangkap
Minimum (mm)
Unit alat plambing
sebagai Beban

1 Kloset : tangki gelontor 75 4
katup gelontor 8

2 Peturasan :

Tipe menempel di dinding 40 4

Tipe gantung di dinding 40-50 4

Tipe dengan kaki, siphon jet atau blow-out 75 8

Untuk umum, model palung setiap 0,60 m 2

3 Bak cuci tangan (lavatory) 32 1

4 Bak cuci tangan (wash basin ) :

Ukuran biasa 32 1
Ukuran kecil 25 0,5

5 Bak cuci, praktek dokter gigi 32 1

Alat perawatan gigi 32 0,5

6 Bak cuci, salon dan tempat cukur 32 2

7 Pancuran minum 32 0,5
8 Bak mandi :
Berendam (bath tub ) 40-50 3

Model Jepang ( untuk di rumah ) 40 2

Untuk umum 50-75 04-06
9 Pancuran mandi :
Untuk rumah 50 2

Untuk umum, tiap pancuran 3

10 Bidet 32 3
11 Bak cuci, untuk pel 75-100 8






12 Bak cuci pakaian 40 2

13 Kombinasi bak cuci biasa dan bak cuci
pakaian
50

14 Kombinasi bak cuci dapur dengan
penghancur kotoran
40

3


4

15 Bak cuci tangan, kamar bedah

Ukuran besar 2
Ukuran kecil 1,5

16 Bak cuci, laboratorium kimia 40-50 1,5

17 Bak cuci, macam-macam :

Dapur, untuk rumah 40-50 02-04

Dapur, dengan penghancur makanan,
untuk rumah
40-50

3

Hotel, komersial 50 4
Bar 32 1,5
Dapur kecil, cuci piring 40-50 02-04
18 Mesin cuci :
Untuk rumah 40 2

Paralel, dihitung setiap orang - 0,5

19 Buangan lantai (floor drain ) 40 0,5

50 1
75 2

20 Kelompok alat plambing dalam kamar
mandi terdiri dari satu kloset, satu bak cuci

tangan, satu bak mandi rendam atau satu
pancuran mandi :

Dengan kloset tangki gelontor

Dengan kloset katup gelontor







21 Pompa penguras (sump pump ), untuk
setiap 3,8 liter/min
Sumber : http://pksm.mercubuana.ac.id/






































Gambar Isometri Instalasi Pipa Air Kotor, Air Buangan, dan Ven


2.6.4 Spesifikasi Bahan Dan Perpipaan
1. Spesifikasi Pipa Air Bersih











Tabel 2.9 Spesifikasi Pipa Air Bersih













2. Spesifikasi Pipa Hidran & Sprinkler
Tabel 2.10 Spesifikasi Pipa Hidran & Sprinkler





















3. Spesifikasi Pipa Air Hujan, Air Kotor (sewage water), Air Bekas (waste
water) & Air Bekas Dapur (kitchen waste water)
Tabel 2.11 Spesifikasi Pipa Air Hujan, Air Kotor, Air Bekas dan
Air Bekas Dapur
















4. Daftar Katup

Tabel 2.12 Daftar Katup















5. Persyaratan Jenis Peralatan
Tabel 2.13 Persyaratan Jenis Peralatan








































2.6.5 Penggantung dan Penunjang Pipa
1. Perpipaan harus ditunjang atau digantung dengan hanger, brackets
atau sadel dengan tepat dan sempurna agar memungkinkan gerakan-
gerakan pemuaian atau perenggangan pada jarak yang tidak boleh
melebihi jarak yang diberikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 2.14 Persyaratan Penggantung dan Penunjang Pipa
























2. Penunjang atau penggantung tambahan harus disediakan pada pipa
berikut ini:
(a) Perubahan arah (600 mm dari perubahan arah).
(b) Titik percabangan (600 mm dari titik percabangan).
(c) Beban-beban terpusat karena katup, saringan dan hal-hal lain yang sejenis.
3. Ukuran baja bulat untuk penggantung pipa datar adalah sebagai berikut:
a) Diameter Batang
Ukuran Pipa Batang
Sampai 20 mm 6 mm
25 mm s/d 50 mm 9 mm
65 mm s/d 150 mm 13 mm
200 mm s/d 300 mm 15 mm






300 mm atau lebih besar dihitung dengan faktor keamanan 5.
Gantungan ganda 1 ukuran lebih kecil dari tabel diatas.
Penunjang pipa lebih dihitung dengan faktor keamanan
dari 2 5 terhadap kekuatan puncak.
B) Bentuk Gantungan
 Untuk air panas : Brass roller guide type.
 Untuk yang lain-lain : Split ring type atau Clevis type.
4. Penggapit pipa baja yang digalvanis harus disediakan untuk pipa tegak.
5. Semua gantungan dan penumpu harus dicat dengan cat dasar
zinchromat sebelum dipasang.
6. Penunjang dan penggantung yang berdekatan dengan peralatan harus
diberi steel spring atau mounting dengan ketentuan tidak lebih dari 25
mm defleksi statik.
























Gambar Pengikatan Pipa pada pelat beton atas











































Gambar Pengikatan Pipa pada permukaan dinding


2.6.6 Pemasangan Pipa Air Utama dalam Tanah
1. Jalur pipa dalam tanah harus ditanam dengan kedalaman 750 mm
dengan lebar yang cukup untuk bekerja.
2. Dasar galian harus dipadatkan sekaligus membuang benda-benda
keras/tajam.
3. Jika jalur pipa melewati batuan/karang, karang harus digali 150 mm
lebih dalam dari elevasi dasar ipa yang akan ditanam kemudian diisi
dengan tanah.
4. Jika jalur pipa melewati jalan kendaraan, area parkir kendaraan, pipa
harus dilindungi dengan beton dengan perbandingan 1 : 2 : 4, setebal
150 mm disekeliling pipa.









Setiap belokan jalur pipa harus diberi alas beton minimum 900 mm
sebelum dan 900 mm sesudah belokan. Setiap sambungan pipa harus dibiarkan
terbuka selama dilakukan tes
tekanan.


2.6.7 Pemasangan Pipa Air Limbah dan Pipa Logam dalam Tanah
1. Penggalian untuk mendapatkan lebar dan kedalaman yang cukup.
2. Pemadatan dasar galian sekaligus membuang benda-benda
keras/tajam.
3. Membuat tanda letak dasar pipa setiap interval 2 meter pada
dasar galian dengan adukan semen.
4. Urugan pasir setinggi dasar pipa dan dipadatkan.
5. Pipa yang telah tersambung diletakkan diatas dasar pipa.
6. Dibuat blok beton setiap interval 2 meter.
7. Pengurugan bertahap dengan pasir 10 cm, tanah halus, kemudian tanah
kasar.
8. Khusus untuk pipa logam, harus dilapisi flinkote kemudian
dibalut dengan bituminous sheet tebal 2 mm.


2.6.8 Katup
Katup-katup harus disediakan sesuai yang diminta dalam gambar,
spesifikasi dan untuk bagian-bagian berikut ini :
a) Sambungan masuk dan keluar peralatan.
b) Sambungan ke saluran pembuangan pada titik-titik rendah.
Diruang Mesin
Ukuran Pipa Ukuran Katup
Sampai 75 mm 20 mm
100 s/d 200 mm 40 mm
250 atau lebih besar 50 mm
lain-lain 20 mm
c) Ventilasi udara otomatis.
d) Katup kontrol aliran keatas dan kebawah.






e) Katup pengurang tekanan (pressure reducing valves) untuk aliran
keatas dan kebawah.
f) Katup by-pass.
g) Katup yang digunakan untuk tekanan kerja diatas 19 bar harus tipe flanged
cast steel.


2.7 Sanitasi
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih
dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan
bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan
meningkatkan kesehatan manusia (Wikipedia, 2011). Pengertian lain dari sanitasi
adalah sarana untuk mencegah kontak manusia dari bahaya limbah untuk
meningkatkan kesehatan. Sarana pencegahan dapat berupa solusi engineering
(misalnya selokan dan pengolahan limbah), teknologi sederhana (misalnya septic
tank) atau dengan melakukan pembersihan (http://inspeksisanitasi.blogspot.com,
2011).
Menurut data Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2002, tidak
kurang dari 400.000 m
3
/hari limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai
dan tanah, tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. 61,5 % dari jumlah tersebut
terdapat di Pulau Jawa. Pembuangan akhir limbah tinja umumnya dibuang
menggunakan beberapa cara antara lain dengan menggunakan septic tank,
dibuang langsung ke sungai atau danau, dibuang ke tanah, dan ada juga yang
dibuang ke kolam atau pantai (http://www.dimsum.its.ac.id, 2011).
Pembuangan kotoran dan sampah kedalam saluran yang menyebabkan
penyumbatan dan timbulnya genangan akan mempercepat berkembangbiaknya
mikroorganisme atau kuman – kuman penyebab penyakit, serangga dan mamalia
penyebar penyakit seperti lalat dan tikus.
Suatu badan air seperti sungai atau laut mempunyai kapasitas penguraian
tertentu. Bila air limbah langsung dimasukkan begitu saja kedalam badan air tanpa
dilakukan suatu proses pengolahan, maka suatu saat dapat menimbulkan
terjadinya pencemaran lingkungan (http://www.dimsum.its.ac.id, 2011).








Untuk mencegah timbulnya berbagai macam penyakit akibat pembuangan
limbah yang buruk, dibutuhkan sanitasi yang baik dalam pengelolaan air limbah,
pengelolaan sampah.


2.7.1 Air Bersih
2.7.1.1 Sumber Air
Air yang berasal dari mata air yaitu air yang keluar dari dalam tanah,
contohnya air yang berasal dari mata air di pegunungan. Air danau atau air tadah
hujan yaitu air yang ditampung dan diolah sebagai air minum. Pengolahan ini
dilakukan oleh PDAM. Air dalam tanah, baik dangkal maupun dalam (yang
memerlukan ijin pengeboran dari pemda setempat).
Macam-macam sumur yang mendapatkan air dari dalam tanah:
1. Sumur pompa/galian = 5 – 15 m
2. Sumur pompa dengan mesin = 15 – 40 m
3. Sumur pompa dengan mesin/semi deep well = 50 - 100 m
4. Sumur pompa dalam/deep well = kedalaman > 100 m


2.7.1.2 Karakteristik Air Bersih
Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu
baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam
melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi.
Untuk konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air
minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak
mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh
manusia, terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar
oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya (Wikipedia.com,
2011).
Persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam sistem penyediaan air bersih adalah
1. Persyaratan kualitatif
Persyaratan kualitatif menggambarkan kualitas dari air bersih, persyaratan
ini meliputi persyaratan fisik, kimia, biologis dan radiologis dan sesuai dengan
Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/PER/IX/1990.






a. Syarat-syarat fisik
Secara fisik air minum harus jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
berasa (tawar).
b. Syarat-syarat kimia
Air minum tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dan jumlah yang
melampaui batas, adapun beberapa persyaratan kimia tersebut adalah pH,
zat padat total, zat organik sebagai KMn04, CO2 agresif, kesadahan,
kalsium (Ca), besi dan mangan, tembaga (Cu), seng (Zn), chlorida (Cl),
nitrit, fluorida (F), dan logam-logam berat (Pb, As, Se, Cd, Cr, Hg, CN).
c. Syarat-syarat bakteriologis atau mikrobiologis
Air minum tidak boleh mengandung kuman-kuman patogen dan parasit
seperti kuman thypus, kolera, dysentri dan gatroenteritis.
d. Syarat-syarat radiologis
Air minum tidak boleh mengandung zat menghasilkan bahan-bahan yang
mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma.
2. Persyaratan kuantitatif
Persyaratan kuantitatif dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari
segi banyaknya air baku yang tersedia, untuk memenuhi kebutuhan sesuai jumlah
penghuni yang menempati gedung.
3. Persyaratan kontinuitas
Persyaratan kontinuitas untuk penyediaan air bersih sangat erat
hubungannya dengan kuantitas air yang tersedia yaitu air baku untuk air bersih
tersebut dapat diambil terus-terus menerus dengan fluktuasi debit yang relatif
tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim hujan.


2.7.1.3 Kebutuhan Air
Kebutuhan air dalam bangunan artinya air yang digunakan baik oleh
penghuninya ataupun oleh keperluan lain yang ada kaitannya dengan fasilitas
bangunan.
Kebutuhan air didasarkan atas kebutuhan sebagai berikut:
1. Kebutuhan berdasarkan penggunaan
a. Minum dan memasak






b. Mandi dan membilas bekas BAK/BAB
c. Mencuci tangan, pakaian, peralatan dan perlengkapan
d. Proses industri
2. Kebutuhan yang sifatnya Sirkulasi
a. Air Panas
Tabel 2.15 Pemakaian Air Panas Minimum Sesuai Penggunaan Gedung





















Sumber : SNI 03 -7065-2005 Tata cara perencanaan sistem plambing


b. Water Cooling/AC
c. Kolam Renang, Air Mancur/Taman
3. Kebutuhan yang sifatnya Tetap
a. Air Hidran
b. Air Sprinkler
4. Kebutuhan Air Cadangan yang sifatnya berkurang karena penguapan
a. Kolam penyerapan (infiltrasi)
5. Kebutuhan Air menurut Tipe Bangunan










Tabel 2.16 Pemakaian Air Minimum Sesuai Penggunaan Gedung
Sumber: SNI-03-7065-2005












































Keterangan Tabel 2.1:
1)
Hasil pengkajian Puslitbang Permukiman Dep. Kimpraswil tahun 2000
2)
Permen Kesehatan RI No: 986/Menkes/Per/XI/1992


2.7.2 Sistem Penyediaan Air Bersih
Sistem Penyediaan air bersih terbagi menjadi empat system, yaitu:
1. Sistem Sambung Langsung





No
Penggunaan
Gedung
Pemakaian
Air

Satuan
1 Rumah tinggal 120 Liter/penghuni/hari
2 Rumah susun 100
1)

Liter/penghuni/hari
3 Asrama 120 Liter/penghuni/hari
4 Rumah sakit 500
2)

Liter/tempat tidur pasien/hari
5 Sekolah dasar 40 Liter/siswa/hari
6 SLTP 50 Liter/siswa/hari

7
SMU/SMK dan lebih
tinggi

80

Liter/siswa/hari
8 Ruko/rukan 100 Liter/penghuni & pegawai/hari
9 Kantor/pabrik 50 Liter/pegawai/hari
10 Toserba, toko pengecer 5 Liter/m
2

11 Restoran 15 Liter/kursi
12 Hotel berbintang 250 Liter/tempat tidur/hari
13 Hotel melati/penginapan 150 Liter/tempat tidur/hari

14
Gedung pertunjukkan,
bioskop

10

Liter/kursi
15 Gedung serba guna 25 Liter/kursi
16 Stasiun, terminal 3 Liter/penumpang tiba & pergi

17

Peribadatan

5
Liter/orang,
(belum dengan air wudhu)



Sistem Sambung langsung merupakan system yang menyambungkan
langsung pipa distribusi dengan pipa utama penyedia air bersih (PDAM).
System ini diterapkan untuk perumahan dan gedung skala kecil, karena
terbatasnya tekanan dalam pipa utama dan dibatasinya ukuran pipa cabang
dari pipa utama terebut.
2. Sistem Tangki Atas
Cara kerja sistem tangki atas yaitu air ditampung terlebih dahulu dalam
tangki bawah atau dipasang pada lantai terendah, kemudian dipompakan
ke tangki atas yang biasanya dipasang di atas atap atau di atas lantai
tertinggi bangunan. Dari tangki ini air didistribusikan ke seluruh lantai.
3. Sistem Tangki Tekan
Prinsip kerja dari sistem tangki tekan (hidrosfor) yaitu air yang telah
ditampung di dalam tangki bawah dipompa ke dalam tangki tertutup yang
mengakibatkan udara didalamnya terkompresi sehingga tersedia air
dengan tekanan awal yang cukup untuk didistribusikan ke peralatan
plumbing di seluruh bangunan yang direncanakan. Pompa bekerja secara
otomatis diatur oleh detektor tekanan, yang membuka dan menutup saklar
penghasut motor listrik penggerak pompa. Pompa akan berhenti bekerja
jika tekanan tangki telah mencapai batas maksimum yang ditetapkan dan
mulai bekerja jika batas minimum tekanan yang ditetapkan telah dicapai.
4. Sistem Tanpa Tangki
Sistem ini tidak menggunakan tangki apapun, baik tangki bawah, tangki
tekan ataupun tangki atap. Air dipompakan langsung ke sistem distribusi
bangunan dan pompa menghisap langsung dari pipa utama. Kelebihan
sistem tanpa tangki adalah mengurangi kemungkinan terjadinya karat
karena kontak air dengan udara relatif singkat, apabila cara ini diterapkan
pada bangunan pencakar langit akan mengurangi beban struktur bangunan,
untuk kompleks perumahan dapat menggantikan menara air.
Kekurangannya adalah penyediaan air sepenuhnya bergantung pada
sumber daya, pemakaian daya lebih besar dibandingkan dengan tangki
atap dan harga awal lebih tinggi dikarenakan harga sistem pengaturannya.








2.7.3 Sistem Pembuangan Limbah Rumah Tangga
Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga,
industri maupun tempat-tempat umum lainya, dan pada umumnya mengandung
bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia
serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah
adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah
pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air
tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin ada (Haryoto Kusnoputranto,
1985).
Air buangan atau limbah dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :
1. air kotor
Air kotor adalah air buangan yang berasal dari kloset, urinal, bidet, dan air
buangan yang mengandung kotoran manusia dari alat plambing lainnya (
black water ).
2. Air bekas
Air bekas adalah air buangan yang berasal dari bathtub, wastafel, sink dapur
dan lainnya ( grey water ). Untuk suatu daerah yang tidak tersedia riol
umum yang dapat menampung air bekas, maka dapat di gabungkan ke
instalasi air kotor terlebih dahulu.
3. Air hujan.
Sistem pembuangan air hujan harus terpisah dari sistem pembuangan air
kotor maupun air bekas, karena bila di campurkan sering terjadi
penyumbatan pada saluran dan air hujan akan mengalir balik masuk ke alat
plambing yang terendah.
4. Air buangan khusus.
Air buangan khusus adalah air yang mengandung gas, racun, lemak, limbah
pabrik, limbah rumah sakit, pemotongan hewan dan lainnya yang bersifat
khusus.














2.7.4 Sistem Pembuangan
Sistem Pembuangan Air Buangan dibedakan berdasarkan cara pembuangannya:
a. Sistem pembuangan air campuran yaitu sistem pembuangan dimana air kotor
dan air bekas dialirkan kedalam satu saluran /pipa.
b. Sistem pembuangan air terpisah yaitu sistem pembuangan dimana air kotor
dan air bekas masing-masing dialirkan secara terpisah atau menggunakan
pipa yang berlainan.
Sistem pembuangan air buangan dibedakan berdasarkan perletakannya:
a. Sistem pembuangan gedung yaitu sistem pembuangan yang berada didalam
gedung.
b. Sistem pembuangan luar yaitu sistem yang berada diluar gedung, disebut
juga riol gedung.
Sistem pembuangan air buangan dibedakan berdasarkan cara pengalirannya yaitu:
a. Sistem gravitasi adalah air buangan yang dialirkan secara gravitasi dengan
mengatur letak dan kemiringan pipa-pipa buangan
b. Sistem bertekan adalah air buangan yang dikumpulkan dalam bak penampung
dan kemudian dipompa keluar dengan menggunakan pompa yang berkerja
otomatik.


2.7.4.1 Cara Pengolahan Air Buangan
1. Sistem Individual
Sistem Individual yaitu buangan tinja dari unit WC langsung disalurkan ke
dalam lubang penampungan dan diolah/diuraikan secara anaerobik
2. Sistem Komunal
Sistem Komunal yaitu buangan rumah tangga disalurkan ke jaringan saluran
air buangan (Sewerage) kota dan berakhir pada instalasi pengolahan air
buangan, untuk kemudian air yang telah memenuhi syarat di buang ke badan
air penerima. Sebelum air buangan dari peralatan saniter maupun dari buangan
dapur dibuang ke saluran umum / kota maka harus dilakukan pengolahan
terlebih dahulu dengan Sewage Treatment Plant ( STP ), sehingga memenuhi
ambang baku yang dipersyaratkan.
Instalasi STP






STP jenis Extended Aeration Actived Sludge Process












Gambar Instalasi STP
STP Jenis Rotating Biological Contactor (RBC)




















Gambar STP Jenis Rotating Biological Contactor (RBC)


2.7.4.2 Proses Pengolahan Air Buangan
Pada prinsipnya proses pengolahannya dilakukan dalam 2 tahap yaitu :
1. Tahap pengolahan awal
Berupa penyaringan terhadap benda – benda kasar dan terdiri dari unit
saringan kasar dan pengendapan pasir.
a. Tahap pengolahan pertama






Berupa penguranagan benda – benda atau partikel – partikel padat dan
terdiri dari unit pengendapan.
b. Tahap pengolahan kedua
Berupa penguraian bahan – bahan organik dalam air buangan, dengan
bantuan mikroorganisme, oksigen dan/atau berupa pemisahan bahan kimia
yang tidak dikehendaki dengan mengikat bahan tersebut dengan bahan
kimia lain agar terbentuk “FLOK” yang dapat mengedap. Unit pengolahan
terdiri dari unit biologi dan unit kimia dan unit pengendapan –
pengendapan.
2. Tahap pengolahan Lumpur
Penstabilan endapan lumpur dari unit pengendapan yang terjadi dan terdiri
dari unit pencerna dan pengering. Air buangan secara partial terdiri dari cairan dan
padatan sedangkan air buangan secara fisik, kimia dan bakteriologi mengandung
senyawa organic, senyawa K dan bakteri (patogen dan tidak patogen).


2.7.5 Sistem Pembuangan Limbah Padat
Limbah padat adalah limbah padat akibat kegiatan manusia dan binatang,
yang tidak berguna, tidak diinginkan atau berbahaya. Pada beberapa industri
tertentu limbah ini sering menjadi masalah baru sebab untuk proses
pembuangannya membutuhkan satu pabrik pula.
Berdasarkan klasifikasi limbah padat serta akibat-akibat yang
ditimbulkannya sistem pengelolaan dilakukan menurut:
1. Limbah padat yang dapat ditimbun tanpa membahayakan.
2. Limbah padat yang dapat ditimbun tetapi berbahaya.
3. Limbah padat yang tidak dapat ditimbun.
Di dalam pengolahannya dilakukan melalui tiga cara yaitu pemisahan,
penyusutan ukuran dan pengomposan. Dimaksud dengan pemisahan adalah
pengambilan bahan tertentu kemudian diolah kembali sehingga mempunyai nilai
ekonomis. Penyusutan ukuran bertujuan untuk memudahkan pengolahan limbah
selanjutnya, misalnya pembakaran.
Dengan ukuran lebih kecil akan lebih mudah membawa atau membakar
pada tungku pembakaran. Jadi tujuannya adalah pengurangan volume maupun






berat. Pengomposan adalah proses melalui biokimia yaitu zat organik dalam
limbah dipecah sehingga menghasilkan humus yang berguna untuk memperbaiki
struktur tanah. Banyak jenis limbah padat dari pabrik yang upaya pengelolaannya
dilakukan menurut kriteria yang telah ditetapkan.



















































0,5
m
menit
0,0083
m
s
0,00332m



BAB 2

CONTOH PERHITUNGAN




3.1 Pompa Angkat
Kapasitas pompa angkat yang dipakai adalah sesuai dengan kebutuhan air
pada jam puncak ( Qh maks ) yaitu 0,5 m
3
/menit. Kecepatan aliran pompa
diasumsikan 3 m/s dengan menggunakan rumus :


A =
Q
V
Dimana : Q = Kapasitas pompa
A = Luas penampang pipa

V = Kecepatan aliran pompa


Sehingga akan didapat diameter pipa angkat dan kecepatan aliran.

A =
Q
V
=
Q
h
V
=
3

3
m
s
=
0,0083
m

3
m
s
3
s
= 0,0028m
3

A = tr
2


r
2
=
A
t
=
0,0028m
2

3,14
r = 0,0298m = 30mm
D = 60mm ~ 65mm
Pemeriksaan :

v =
3

2
= 2,5
m
s < 3
m
s

Dari perhitungan diatas kita dapatkan bahwa diameter pipa angkat adalah 65 mm
Dengan kecepatan aliran adalah 2,5 m/s
Untuk mencari besar head pompa yang diperlukan dapat dinyatakan dengan
rumus berikut :


Besar head total ( H ) =
Dimana :
ha

+

Ahp

+

h
l
+

v
2

2g

H = Head total pompa (m)



2 1



h
a
=

Head

statis

total,

yaitu

vertical

antara

permukaan

air

sisi

keluar

dengan permukaan air sisi isap (m)
Ahp = Perbedaan head tekanan yang bekerja pada kedua permukaan air
(m)
h
1
=

Kerugian

head

pada

pipa

yang

menyangkut

panjang

pipa,

fitting,

katup (valve), dan lain-lain.

V
2

2g
= tekanan kecepatan pada lubang keluar pipa ( m )

Head Statis (Ha)
Adalah jarak antara permukaan air tangki atas dengan permukaan air tangki
bawah, dalam gedung ini adalah 40 m
Perbedaan Head Tekanan pada kedua permukaan air (AHp) :
Karena P1 dan P2 merupakan tangki terbuka, maka P1 dan P2 = 0, sehingga :


AHp =
P ÷ P
µ.g
= 0m

Kerugian Head (Hl)
Head kerugian gesek dalam pipa (hf)
Sebelum mencari head, ditentukan terlebih dahulu apakah aliran yang
terjadi adalah aliran laminer atau aliran turbulen
Dengan menggunakan bilangan Reynolds, yaitu :




dimana :
Re =
v.d
u

Re : Bilangan Reynolds
V : Kecepatan aliran (m/s)
d : Diameter pipa (m)
u : Viskositas kinematik air (m
2
/s)


Bila Re < 2300, aliran bersifat laminer
Bila Re > 4000, aliran bersifat turbulen



0,801.10
÷6

m
s



u = 0,801.10
-6
m
2
/s (pada suhu 30
o
C )
d = 65 mm = 0,065 m

maka : Re =
2,5
m
s × 0,065m
2
= 202871,4

Karena Re>4000, maka aliran yang terjadi bersifat turbulen.
Maka untuk menghitung kerugian gesek yang terjadi dalam pipa menggunakan

rumus :

h
f
=
ì
L.v
2

d.2g


dimana :
hf : Head kerugian dalam pipa (m)
ì : Koefisien kerugian gesek
L : Panjang pipa (m)
d : diameter pipa (m)
g : Percepatan Gravitasi (m/s
2
)
v : Kecepatan aliran (m/s)
Untuk mencari ì kita menggunakan formula Darcy untuk aliran turbulen, dengan
rumusnya adalah :

ì = 0,020 +

Dengan L = 40 m (panjang pipa transfer )
Maka kerugian gesek dalam pipa :
0,0005
0,065
= 0,0277

h
f
=

0,0277

×

40(2,5)
2

0,065(2 × 9,81)
= 5,43m

2. Kerugian head kerugian plumbing accessories
Dengan menggunakan rumus :

h
e
=

K

v
2

2g
Dimana :
he : Head kerugian plumbing accessories (m)
K : Koefisien kerugian
Kerugian plumbing accessories :



H = 1
1
× t



Lokasi : instalasi pompa di rumah pompa untuk 1 pipa
Flexible Joint : 1 x 10 = 10
Gate Valve : 1 x 0,19 = 0,19
Check Valve : 1 x 2,5 = 2,5
Elbow 90° : 2 x 0,9 = 1,8


Lokasi : Tangki atap
Elbow 90° : 2 x 0,9 = 1,8
+
Kerugian total ( K total ) = 16,29
Maka :


h
e
=

16,29x

(2,5)
2

2x9,81

= 5,2m

Setelah semua bagian Hl = hf + he
= 5,43 + 5,2
= 10,63 m
Maka besar Head Total Pompa (H), adalah :

H

=

H
a
+

AH
p
+

H
l
+

v
2

2g


H = 40 + 0 +10,63 +
(2,5)
2

2.9,81

= 50,95m

Jadi Head total pompa adalah 50,95 m ~ 50 m
Tetapi pada kenyataannya dalam praktek lapangan untuk mencari head
pompa yang dipergunakan kita menggunakan rumus :

dimana :
2

H = Head pompa
t = tinggi gedung
H = 1,5 x 30
= 45 m
Setelah mendapatkan besar head pompa angkat, kemudian dihitung besar
daya pompa dengan menggunakan rumus :





P
p
=

µ.g.Q.H
q p

dimana :
Pp : Daya pompa : (watt)
t : Kerapatan air : (998,3 kg/m
3
pada suhu 20° C)
g : Percepatan gravitasi : (9,81 m/s
2
)
Q : Kapasitas pompa : (m
3
/s)
H : Head total pompa : (m)
qp : Efisiensi pompa : (%)
Untuk mencari efisiensi pompa (qp), menggunakan grafik yang ada pada gambar
14.3
Berikut ini :















Gambar Grafik qp, ns, dan Q


Dan untuk mencari putaran spesifik pompa (ns ), menggunakan rumus :

n
s
=

n Q
3

Dimana :
H
4


ns : Putaran spesifik pompa
n : Putaran pompa (rpm)
Q : Kapasitas pompa (m
3
/menit)
H : Head pompa (m)
Dengan asumsi n = 3000 rpm, maka akan didapatkan sebagai berikut :






n
s
=

3000 0,5
3
4
50,95
= 111,2

Karena kapasitas pompa angkat yang kecil (0,0083 m
3
/s) dan tidak
terdapat dalam grafik efisiensi pompa (gambar 14.3 ) maka perhitungan untuk
menentukan efisiensi pompa dihitung ulang dengan menghitung kapasitas pompa
dengan metode berikut ini :
Volume tangki atap (roof tank) adalah sebesar 40 m
3
= 40000 liter
Jangka waktu kerja pompa pengisi kita tentukan sebesar 20 menit
Pompa akan bekerja apabila air dalam roof tank volumenya tinggal 20%
dari volume total roof tank, sehingga volume roof tank menjadi :
40000 liter x 20 % = 8000 liter
Jadi pompa akan bekerja apabila volume roof tank hanya
40000 liter – 8000 liter = 32000 liter
Dan kapasitas pompa (Q) adalah : 32000
Jangka waktu kerja pompa pengisi

Q =
32000liter
20menit
= 1600liter / menit

Jadi kapasitas pompa transfer/pengisi adalah = 1600 liter/menit
= 1,6 m
3
/menit
= 0,027 m
3
/detik ~ 0,03 m
3
/detik
Sehingga ns kita hitung kembali menjadi :

n
s
=

3000 1,6
3
4
50,95
= 198,98

Maka dari grafik efisiensi pompa (gambar 14.3 ) kita dapatkan efisiensi
pompa (qp) sebesar 65 %
Maka daya pompa adalah :


P
p
=



P
p
=

µ.g.Q.H
q p

998,3x9,81x0,027x50,95
0,73




= 18455,05watt

P
p
=

18,45kW

~

18kW




0,03
m
s
A =t d
2



4t (0,1)
1

Tentunya setelah menghitung daya poros (Pp) dihitung juga daya motor yang
digunakan untuk menggerakkan poros tersebut. Rumus yang digunakan adalah :

P
m
=

1,1
5

P
p
qtransmisi

Dimana : Pp = Daya poros
qtransmisi = ditentukan sebesar 0,9
sehingga perhitungannya adalah :

P
m
=

1,1
5

18
0,9
= 23kW

Jadi daya motor yang diperlukan adalah sebesar 23 kW.
Karena ada perubahan besarnya kapasitas pompa transfer (Q=0,03m
3
/s).
Maka diameter pipa transfer juga berubah, oleh karena itu perhitungan diameter
pipa transfer harus dihitung ulang dan perhitungannya adalah sebagai berikut :
Diketahui : Q = 0,03 m
3
/s
V = 3 m/s
Perhitungan :

A =

3
m
s
3
= 0,01m
2


1
4

d =
4xA
t
=
4x0,01
3,14
= 0,112m = 112mm ~ 100mm

Pemeriksaan :

v =
0,03m
3
/ s
2
= 3,8
m
s > 3m / s

karena v>3m/s maka pipa transfer dengan diameter 100 mm tidak dapat
digunakan.
Memang pada sistem instalasi pipa yang umumnya dipergunakan adalah
pompa jenis putar karena mempunyai beberapa kelebihan yaitu :
250Ukurannya kecil dan ringan
251Dapat memompa terus menerus tanpa gejolak ( stabil )
252Konstruksinya sederhana dan mudah dioperasikan.





3.2 Pompa Booster
Pompa booster digunakan untuk mendistribusikan air pada lantai 5 sampai
roof floor. Untuk pompa ini tidak perlu dihitung head total, karena yang penting
untuk pompa ini adalah tekanan yang mampu dihasilkan. Untuk memenuhi
tekanan minimum alat-alat plambing maka dalam perancangan ini tekanan pompa
booster yang digunakan sebesar 2 kg/cm
2
atau 196000 N/m
2
. Kapasitas pompa
booster dapat ditentukan dengan jumlah penghuni yang menempati lantai 5
sampai roof floor ( terdiri dari 3 Lantai ).
Jumlah penghuni = 88 kamar + 14 kamar
= 102 kamar
1 Kamar = 2 orang
102 Kamar = 204 orang
Q = 204 x 300 liter/hari
= 61200 liter/hari
= 61,2 m
3
/hari
= 6,12 m
3
/jam
= 0,1 m
3
/menit
maka kapasitas pompa booster yang dibutuhkan 0,1 m
3
/menit.



BAB 3

PENUTUP




4.1 KESIMPULAN
Setelah membaca uraian pada pembahasan sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa sistem plumbing dan sanitas berperan penting dalam
menciptakan lingkungan gedung yang higienis, sehingga dapat menunjang
kesehatan dan kenyamanan pengguna gedung.
Di Indoensia, peraturan yang berlaku mengenai Plambing selain SNI 03-
6481-2000 tentang Sistem Plambing juga diatur dalam SNI 03-7065-2005 tentang
Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing.


4.2 SARAN
Untuk dapat menunjang kesehatan dan kenyamanan pengguna gedung,
diperlukan perencanaan plambing dan sanitasi yang terintegrasi dengan baik.
Perancangan dan Perencanaan Sistem Plambing dan Sanitasi harus mengikuti
peraturan yang telah ditetapkan oleh otoritas yang berwenang guna mencegah
terjadinya gangguan terhadap aktivitas publik dalam gedung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->