P. 1
Kelas10 Smk Bindo Irman

Kelas10 Smk Bindo Irman

5.0

|Views: 26,429|Likes:
Published by smk20online

More info:

Published by: smk20online on Mar 16, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/30/2015

pdf

text

original

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pembicara kepada
pendengar melalui sarana bahasa secara lisan dan tulisan. Komunikator

atau pembicara menyampaikan informasi lewat kalimat-kalimat yang

dianggap dapat menjelaskan maksud yang ingin diungkapkan. Kalimat-
kalimat tersebut harus dapat dipahami oleh pendengar agar nantinya
mendapatkan respons berupa jawaban atau tanggapan yang sesuai. Untuk
mencapai komunikasi yang baik dan lancar, kalimat yang disampaikan

harus efektif dan komunikatif.

Kalimat yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
(1) Tidak menyimpang dari kaidah bahasa

(2) Logis atau dapat diterima nalar

(3) Jelas dan dapat menyampaikan maksud atau pesan dengan tepat

Kalimat yang tidak menyimpang dari kaidah bahasa maksudnya
adalah kalimat yang cermat baik dari segi pemilihan kata dan bentukan
kata maupun susunan kalimatnya memenuhi aturan sintaksis yang benar.
Sebaliknya, kalimat yang menyimpang dari kaidah bahasa, susunan
kalimatnya tidak sesuai dengan aturan sintaksis yang benar.
Contoh:

1. Pada jadwal di atas menunjukkan kereta eksekutif ArgoLawu berangkat

pada pukul 17.00 dari Gambir.

Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X

138

2. Bagi yang menitip sepeda motor harus dikunci.
3. Yang punya HP harus dimatikan.

Kalimat di atas meskipun dapat dipahami tapi terasa janggal didengar.
Pada kalimat pertama terasa ada yang kurang secara sintaksis. Jabatan
subjeknya tidak ada karena penggunaan kata tugas “pada”. Jika kata
“pada” dihilangkan, akan terasa lebih tepat. Penggunaan kata tugas “bagi”
pada kalimat kedua juga tidak pada tempatnya dan tidak perlu sebab yang
dimaksud sesungguhnya adalah sepeda motor yang dititipkan bukan
orangnya. Kalimat kedua mengandung pengertian bahwa yang dititipkan
adalah pemilik sepeda motor atau orangnya. Demikian pula pada kalimat
ketiga, yang dimatikan adalah HP bukan pemilik HP. Perbaikan kalimat di
atas ialah:

1. Jadwal di atas menunjukkan kereta api eksekutif Argo Lawu berangkat

pada pukul 17.00 dari Gambir.
2. Sepeda motor yang dititipkan harus dikunci.
3. Yang memiliki HP agar mematikan HP-nya.

Kalimat juga harus logis atau dapat dinalar oleh akal. Meskipun secara
gramatikal sesuai dengan kaidah namun jika tidak logis, kalimat tersebut
tak akan dapat dipahami dengan baik bila disampaikan kepada orang
lain.
Contoh:
1. Anak-anak itu sedang asyik makan pohonan.
2. Ini adalah daerah bebas parkir.

3. Di sini tempat pendafaran buta huruf.

Ketiga kalimat di atas salah nalar. Kalimat pertama jelas tidak masuk
akal. Secara akal sehat, tidak ada manusia yang memakan pohonan sebab
pengertian pohonan adalah keseluruhan pohon dari akar dan batang
hingga daun. Kata pohonan juga dapat dimaknai banyak pohon. Meskipun
secara struktur kalimatnya benar karena ada subjek, predikat, dan objek,
tapi secara nalar tidak masuk akal. Kalimat kedua dan ketiga juga tidak
tepat. Pengertian bebas parkir harusnya sama dengan bebas narkoba, bebas
becak, dan bebas bea yang artinya daerah tersebut tidak ada lagi narkoba,
becak, atau pungutan. Tapi arti bebas parkir mengapa jadi boleh parkir tanpa

bayar. Kalimat ketiga maksudnya bagi yang buta huruf agar mendafar di

139

Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X

tempat ini untuk mendapatkan pengajaran. Pengertian pada kalimat di atas

adalah orang mendafarkan diri agar jadi buta huruf. Perbaikan kalimat-

kalimat di atas, yaitu:
1. Anak-anak itu sedang asyik mengumpulkan pohonan.
2. Ini adalah daerah boleh parkir bebas atau parkir gratis.

3. Di sini tempat pendafaran kursus paket A bagi yang buta huruf.

Kalimat yang baik juga harus mengandung pengertian yang jelas,

tidak membingungkan serta tidak menimbulkan penafsiran ganda atau

ambigu. Tidak sedikit pula kita temui kalimat-kalimat yang diucapkan oleh
penutur bahasa mengandung pengertian ganda. Kalimat ini selain dapat
membingungkan juga menimbulkan respons atau tanggapan yang tak
sesuai karena tidak tersampaikannya pesan secara benar.
Contoh:
1. Saya melihat kelakuan anak itu bingung.
2. Mereka mengantar iring-iringan jenazah ke kuburan.

3. Semua mahasiswa fakultas yang baru agar berkumpul di ruang senat.

Ketiga kalimat di atas bermakna ganda. Kalimat pertama mengandung
dua pengertian, dapat anak yang bingung atau saya yang bingung. Jika
anak yang bingung, kata bingung harus mendapatkan imbuhan ke--an
menjadi kebingungan. Jika saya yang bingung, kata bingung harus berada
setelah kata saya. Perbaikannya ada dua varian, yaitu:
1a. Saya bingung melihat kelakuan anak itu.
1b. Saya melihat anak itu kebingungan.

Kalimat kedua bermakna jenazah yang diantar banyak. Frasa iring-
iringan jenazah
mengandung pengertian jamak. Jadi pengertian kalimat
kedua adalah mereka mengantarkan banyak jenazah ke kuburan. Apa
benar? Sebenarnya maksudnya kata iring-iringan bukan ditujukan pada
jenazah, tapi para pengiringnya sehingga makna sebenarnya adalah mereka
mengantar para pengiring jenazah ke kuburan. Dan lebih jelas lagi jika kata
mengantar dihilangkan. Perbaikannya ialah sebagai berikut:
2a. Mereka mengantar jenazah ke kuburan.
2b. Mereka mengiringi jenazah ke kuburan.

Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X

140

Kalimat ketiga dapat menimbulkan salah pengertian karena yang

dimaksud adalah mahasiswa baru atau mahasiswa fakultas yang baru.
Predikat baru ditujukan kepada mahasiswa atau pada fakultasnya.
Perbaikannya ada dua varian, yaitu:

3a. Semua mahasiswa baru di fakultas itu agar berkumpuil di ruang senat.

Atau

3b. Semua mahasiswa pada fakultas yang baru itu agar berkumpul di

ruang senat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->