P. 1
Kelas10 Smk Bindo Irman

Kelas10 Smk Bindo Irman

5.0

|Views: 26,430|Likes:
Published by smk20online

More info:

Published by: smk20online on Mar 16, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/30/2015

pdf

text

original

Pada pelajaran–pelajaran terdahulu telah dibahas mengenai unsur
bunyi, lafal, intonasi, dan jeda. Pada bab ini akan disinggung kembali
tentang lafal, intonasi, nada, irama, dan jeda yang berkaitan dengan cara
menggunakan kalimat dengan jelas ,lancar, bernalar, dan wajar.
Penggunaan kalimat secara lisan dituntut kejelasan dan kelancaran.
Jelas dalam pengucapan dan lancar dalam penyampaian. Untuk membuat
kalimat menjadi jelas dan lancar sehingga dapat dipahami dengan baik oleh
pendengar, perlu dicermati cara pengucapan kalimat berdasarkan tekanan,
intonasi, nada, irama, dan jeda yang tepat.
Tekanan berhubungan dengan keras lembutnya ucapan. Biasanya diguna-
kan untuk menunjukkan bagian kalimat yang ditonjolkan atau dipentingkan.
Pengucapannya dapat didukung oleh ekspresi atau mimik wajah yang serius.

Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X

158

Contoh :

- Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.
(yang dipentingkan adalah aspek waktu kemarin bukan sekarang
atau besok)
- Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.
(yang dipentingkan adalah aspek tempat ke luar negeri, bukan ke
tempat yang lain)
- Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.
(yang dipentingkan adalah aspek predikat, yaitu telah pergi bukan
baru tiba atau pulang)
- Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.
(yang pentingkan adalah aspek pelaku, yaitu dia bukan saya atau
Anda)

Intonasi berkaitan dengan naik-turunnya pengucapan kalimat. Intonasi

ditandai dengan lambang titinada 1, 2, 3, dan 4. Angka 1 menunjukkan
titinada terendah dan angka 4 menunjukkan titinada tertinggi. Satu kalimat

dapat diungkapkan dalam beberapa maksud sesuai dengan intonasi
pengucapannya.
Contoh :

- Pulang. (memberi tahu, intonasi datar)
misalnya jawaban atas pertanyaan kemana dia?

- Pulang? (bertanya, intonasi menaik di suku akhir)

- Pulang! (perintah, intonasi menaik dan panjang)

Penggunaan irama berkaitan dengan panjang pendeknya pengucapan.
Irama berhubungan dengan tempo bicara. Tempo bicara juga dapat ditentu-
kan oleh suasana hati pembicara. Tempo bicara yang cepat sering menan-
dakan suasana hati yang riang atau serius namun dapat juga suasana
marah. Tempo diperlambat saat menegaskan suatu hal yang dianggap
penting, sedangkan tempo pengucapan yang pendek atau terpatah-patah
mengesankan suasana panik atau gugup. Pengucapan dengan irama akhir
yang panjang biasanya digunakan untuk kalimat interjeksi atau seruan,

159

Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X

seperti memanggil, takjub, keheranan, atau kesakitan termasuk juga ucapan
pertanyaan dengan nada kaget atau tidak yakin.
Penggunaan intonasi, nada, dan irama yang bervariasi terjadi pada
percakapan atau dialog, seperti percakapan lewat pesawat telepon yang
tidak berhadapan dan tidak melihat langsung pembicaranya. Saat bicara,
intonasi menjadi hal yang penting untuk menyampaikan maksud perkataan.
Demikian pula dalam dialog drama, pengucapan kalimat selalu didukung
oleh tekanan, intonasi, nada, dan irama yang tepat selain ekspresi dan
gerakan sehingga dialog hidup dan dipahami oleh penontonnya.
Contoh dialog drama:
Aleks

: “Ini jadi...”

Irna

: “Diam. Dawud bilang apa? Masak nggak dengar bahwa

Da....”

Dawud

: “Diam Irna, kalau terus-menerus begitu, berkeringat
tanpa guna. Padahal....”

Aleks

: “Kau juga ngomong melulu. Nggak konsekuen, itu
namanya Absurd. Buat larangan dilanggar sendiri. Huh.
Dasar....”

Irna

: “Kaumulai lagi. Komentar itu secukupnya. Tidak ngelan-
tur ke sana ke sini...”

Aleks

: “Diam, Irna, diaaam!”

Dawud

: “Kau juga diam dulu, jangan menyuruh melulu, nggak
memberi contoh....”

Irna

: “Kau sendiri mesti diam dulu, baru yang lain ,Wud.”

Diam semua. Tiba-tiba meledak tawa mereka bersama-sama.

Di samping tekanan, intonasi, nada, dan irama, unsur suprasegmental
yang perlu diperhatikan dalam berbicara khususnya pengucapan kalimat
ialah jeda atau penghentian. Jeda berfungsi menandakan batasan kalimat.
Dalam tulisan, jeda ditandai dengan spasi atau tanda baca titik (.), koma
(,), garis miring (/), atau tanda pagar (#). Jeda juga dapat digunakan untuk
membuat sebuah kalimat panjang menjadi dua kalimat pendek tanpa
mengubah pengertian.

Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X

160

Contoh :
- Perampokan serta pembunuhan terjadi di rumah seorang pengusaha
karpet yang membuat gempar penduduk sekitarnya.
- Perampokan serta pembunuhan terjadi di rumah seorang pengusaha
karpet. Kejadian itu membuat gempar penduduk sekitarnya.

Dalam bahasa lisan, aspek yang menjadi unsur gramatikal cenderung
tersirat. Faktor pendukung yang digunakan adalah pola tekanan, intonasi,
nada, irama, dan jeda selain ekspresi dan gerakan. Penggunaan tekanan,
intonasi, nada, irama, dan jeda yang tepat membuat kalimat yang diucapkan
mudah dipahami serta terhindar dari kesalahpahaman atau salah nalar.
Pengucapan kalimat dengan tekanan, intonasi, nada, dan irama serta jeda
yang tepat sesuai maksud yang ingin diungkapkan membuat kalimat
menjadi jelas, lancar, bernalar, dan wajar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->