P. 1
inklusi

inklusi

|Views: 20|Likes:

More info:

Published by: Naila Hilmiyana Syifa on Mar 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2014

pdf

text

original

Ide untuk mendirikan SMP Inklusi berawal dari pemikiran Sekolah Luar Biasa kurang memenuhinya kebutuhan dalam

pelayanan anak berkebutuhan khusus. Karena anak berkebutuhan khusus memiliki perbedaan dalam menangani kebutuhan khusus yang dimilikinya. Oleh karena itu, anak berkebutuhan khusus yang masih bisa masuk sekolah regular tidak perlu masuk sekolah luar biasa. Sehingga tidak ada perbedaan antara anak berkebutuhan khusus dan anak normal dalam pandangan masyarakat dan masyarakat dapat menerimanya. Sekolah inklusi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan anak secara khusus yang tidak dapat dilakukan oleh sekolah luar biasa. Sejarah SMP N 12 Surakarta menjadi sekolah inklusi yaitu terdapat anak tunarungu yang mendaftar dan diterima kemudian SMP N 12 Surakarta bekerjasama dengan FKIP UNS menyusun program untuk menjadikan SMP N 12 Surakarta menjadi sekolah inklusi. Anak tunarungu tersebut dapat lulus ujian nasional dengan nilai tinggi. Sehingga SMP N 12 Surakarta mendapatkan bantuan sebesar Rp 50.000.000,-. Pada tahun ajaran 2005/2006 SMP N 12 Surakarta menjadi Sekolah Standar Nasional dan mendapat peringkat 15 di Surakarta , hal ini membuktikan dengan predikat SMP inklusi tidak mengganggu perkembangan dan pembangunan SMP N 12 Surakarta. Kemudian dalam perkembangannya SMP N 12 Surakarta menjadi sekolah inklusi plus dimana tidak boleh metarik biaya operasional sekolah dari orang tua murid. Dasar undang-undang sekolah inklusi SMP N 12 Surakarta yaitu UU No 20 tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 3 dan instruksi walikota Surakarta. SMP N 12 Surakarta memiliki visi CERITA RAMAYANA yang merupakan singkatan dari : 1. Peserta didik : cerdas, mandiri, bertaqwa 2. Sekolah : ramah bagi semua 3. Proses pendidikan : berbudaya nasional SMP N 12 Surakarta tidak ada membedakan kelas antara ABK dengan yang lainnya. Hanya saja pada saat penerimaan murid baru, siswa kelas VII melakukan tes IQ, jika hasil tes IQ tersebut kurang dari 90 maka siswa tersebut termasuk dalam kategori ABK. Salah satu memecahan masalah yang dilakukan SMP N 12 Surakarta untuk anak inklusi di sekolahnya yaitu pada contoh berikut, ada anak SMP N 3 Surakarta yang kurang bersosialisasi dengan temannya disana dan nilai yang diperoleh rendah padahal saat SD mempunyai prestasi yang baik, kemudian dipindahkan ke SMP N 12 Surakarta, solusi pemecahan masalah yang dilakukan yaitu dengan mencarikan teman satu kelas dari SD yang sama dengannya. Dalam kasus lain, jika anak inklusi tidak masuk sekolah maka akan dijemput di rumahnya, hingga ada yang harus dijemput setiap hari agar mau masuk sekolah. Proses akademik berjalan sewajarnya tidak ada perbedaan antara ABK dengan yang lainnya begitu pula pada pelajaran fisika. Guru pelajaran fisika memiliki konsep sendiri yaitu konsep kehidupan dalam mengajarkan fisika pada anak ABK.

Anak inklusi tidak boleh dibebani yang berat-berat misalnya tidak boleh mengukitu UN, tetapi di SMP N 12 Surakarta memperbolehkan siswanya mengikuti UN dengan tujuan agar anak inklusi tersebut juga memiliki hak yang sama dengan anak lainnya yaitu memiliki ijazah tidak hanya tanda tamat sekolah. Namun dalam pelaksanaannya anak tidak diberi beban atau tuntutan agar mendapat nilai yang baik dan anak tersebut dapa lulus berapapun nilai ujian nasionalnya. Oleh karena itu pemerintah, direktorat, diknas, SMA dan masyarakat harus memberikan kemudahan untuk anak inklusi tersebut agar dapat melanjutkan pendidikannya setinggi mungkin. Jumlah ABK di SMP N 12 Surakarta tahun ajaran 2012/2013 yaitu kelas VII ada 15 siswa dari 215 siswa yang terbagi dalam 8 kelas. kelas VIII ada 16 siswa dari 218 siswa yang terbagi dalam 8 kelas. Kelas IX ada 14 siswa dari 220 siswa yang terbagi dalam 8 kelas. Kurikulum sama yang membedakan hanyalah perlakuan guru. Guru harus lebih memperhatikan siswa inklusi. Kriteria penerimaan ABK pada SMP N 12 Surakarta yaitu ABK membawa surat keterangan dari SD inklusi. Untuk tahun ajaran 2012/2013 ini hanya ada 3 anak dari SD inklusi. Kemudian diidentifikasi lagi dengan tes IQ sehingga terdapat 15 ABK pada tahun ajaran ini. Tes semester yang diberikan pada anak inklusi sama dengan yang lainnya hanya saja mengerjakannya di ruangan yang berbeda misalnya UKS. Siswa inklusi di SMP N 12 Surakarta juga banyak yang memiliki kelebihan lain misalnya melukis dan di bidang IT desain grafis. Prestasi lainnya yaitu anak inklusi dapat mengikuti PON PORDA mendapatkan juara 1 dan mengikuti lomba PMR mendapatkan juara umum dengan memenangkan 6 juara. Guru yang mengajar di SMP N 12 Surakarta mendapatkan sosialisasi dalam menghadapi ABK. Anak inklusi pada umumnya ada yang lemah dalam bahasa lisan atau bahasa tulis. Anak yang lemah dalam pelajaran fisika dan matematika berarti ia lemah dalam bahasa tulis. Anak yang menguasai MIPA biasanya memiliki bahasa tulis yang bagus. Proses belajar mengajar pelajaran fisika di SMP N 12 Surakarta yaitu dengan konsep disengaja jadi guru mempelajari materi yang akan diajarkan. Perangkat mengajar satu kompetensi dasar yang meliputi silabus, RPP, pretes, postes sudah lengkap. Metode pembelajaran fisika yang berupa bimbingan dan pelatihan merupakan jenis belajar aktif dimana proses pembelajaran mengikuti kondisi kelas, strategi mengajar dapat berubah setiap saat. Untuk ABK yang memiliki kemampuan tinggi dibiasakan memberanikan diri untuk maju mengerjakan soal di depan kelas sedangkan untuk BK yang lemah dibimbing satu-satu rumus-rumusnya dan satuannya. Untuk pelajaran fisika diberlakukan tutor sebaya dimana anak yang memiliki kemampuan tinggi mengajari temannya yang berkemampuan rendah. Untuk mempermudah memahami fisika konsepkonsep fisika diterapkan pada konsep-konsep yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, misalnya materi tentang bejana berhubungan maka dicontohkan dalam ceret.

Soal tes fisika sama untuk ABK dengan yang lainnya hanya saja disiasati dengan membedakan tingkat kesulitan sehingga ABK juga dapat menjawab soal tersebut, misalnya nomor soal satu sampai sepuluh memiliki tingkat kesulitan yang rendah sedangkan soal selanjutnya tingkat kesulitannya sedang ataupun tinggi. Hal ini juga termasuk hambatan dalam proses belajar mengajar. Media pembelajaran mengacu pada kompetensi, bila ada materi yang membutuhkan prakek maka akan dilaksanakan praktikum untuk menunjangnya. Alat bantu pembelajaran diberikan sesuai kebutuhan ABK,misalnya kaca mata untuk … dan alat bantu pendengaran untuk tunarungu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->