ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN SIFILIS A. KONSEP DASAR I.

DEFINISI Sifilis adalah penyakit infeksi oleh treponema pallidum dengan perjalanan penyakit yang kronis, adanya remisi dan eksasarbasi, dapat menyerang semua organ dalam tubuh terutama sistem kardiovaskuler, otak dan susunan saraf, srta dapat terjadi sifilis kongenital. II. KALSIFIKASI 1. Menurut WHO a. Sifilis Dini Dapat menularkan penyakit karena terdapat treponema pallidum pada lesi kulitnya. b. Sifilis Lanjut Tidak menular karena Treponema pallidum tidak ada. 2. Secara Klinis a. Sifilis Kongenital Penularan intrauterin setelah pembentukan plasenta (bulan ke V kehamilan) tidak berakibat keguguran awal / prematur, tetai dapat menyebabkan bayi lahir mati. b. Sifilis Akuisita Penularan dengan senggama, melalui luka mikroskopik, karena kuman tidak menembus kulit / mukosa – setelah masuk jaringan, segera melakukan pembiakan dan masuk saluran limfatik sehingga dalam 24 jam sudah didapati dalam kelenjar limfatik regional. Stadium I Terjadi 7 hari sampai 3 bulan setelah invasi kuman, berupa nodulsoliter pada penis, vulva, serviks atau ekstragenital, yang kemudian membentuk ulkus durum dengan tepi meninggi dan tidak dirasa nyeri. Stadium II Terjadi 2 sampai 12 minggu setelah ulkus durum, sebagai lesi mukokutan yang menyeluruh tubuh disertai limfa denopati generalisata, demam, rasa lesu dan sekita kepala. Stadium III

Lesi yang khas adalah guma yang dapat terjadi 3 – 7 tahun setelah infeksi. c. Sifilis Kardiovaskuler Biasanya disebabkan oleh nekrosis aorta yang berlanjut ke arah katup. Tanda-tanda sifiliis kardiovaskuler adalah insufisiensi aorta atau aneurisma berbentuk kantong pada arota torakal. Umumnya bermanifestasi 10 – 20 tahun setelah interaksi, seumlah 10 % pasien sifilis akan mengalami fase ini. Pria dan orang denga kulit warna lebih banyak terkena, jantung pembuluh darah, yang terkena terutama yang besar. Kematian pada sifilis terjadi akibat kelainan sistem ini. d. Neurosifilis Umumnya bermanifestasi dalam 10 – 20 tahun setelah terinfeksi. Kelainan ini lebih banyak didapat pada orang kulit putih. Neurosifilis dibagi menjadi : 1. Neurosifilis Asimtomatik Pemeriksaan serologi reaktif tidak ada tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologi reaktif. 2. Neurosifilis Meningovaskuler Terdapat tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat, berupa kerusakan pembuluh darah serebrum, infark dan ensefalomalasia dengan tanda-tanda adanya fokus neurologis sesuai dengan ukuran dan lokasi lesi. Pemeriksaan sumsum tulang beakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologi reaktif. 3. Neurosifilis Parenkimatosa, yang terdiri dari paresis dan tabes dorsalis. Paresis : Tanda dan gejala paresis sangat banyak dan selalu menunjukkan penyebaran kerusakan parenkimatosa perubahan sifat diri dapat terjadi, mulai dari yang ringan hingga psikotik. Terdapat tanda-tanda fokus neurologis. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologi reaktif Tabes dorsalis : Tanda dan gejala pertama tabes dorsalis akibat degenerasi kolumna posterior adalah parestesia, ataksia, arefleksia, gangguan kandungan kemih impotensi, dan perasaan nyeri seperti dipotong-potong, pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang abnormal pada hampir semua penderita dan pemeriksaan serologis sebagian menunjukkan reaktif. III. ETIOLOGI Treponema pallidum yang termasuk ordex sirochaetaeas, familli Treponematoceae.

3. DIAGNOSIS TEST Untuk menegakkan diagnosis sifilis. Peredaran darah / semua organ tubuh Masa inkubasi ( ± 3 minggu) Makula Papula Ulkus yang berisi jaringan nekrotik.Tes Wasserman.IV. a) Beberapa tes yang dikenal sehari-hari yang mendeteksi antibodi non spesifik.akan tetapi dapat menunjukkan reaksi ddengan IgM da juga IgG. . . PATOFISIOLOGI Treponema Selaput lendir yang utuh / kulit dengan lesi. Penentuan antibodi di dalam serum. Mikroskop fluoresensi. 2. diagnosis klinis harus di konfirmasikan dengan pemeriksaan laboratorium berupa : 1. Sifilis V. Pemeriksaan lapangan gelap (dark field). ialah : a.Tes VDRL ( Venereal Diseases Research Laboratory).Tes Khan . Tes yang menentukan antibodi non spesifik. .

Lesi . Yang menentukan antibodi yaitu : .Tes Elisa (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay)..Tes RPR (Rapid Plasma Reagin).Tes TPHA ( Treponema Pallidum Haemagglutination Assay) .000 unit injeksi inframuskular sehari selama 10 hari.Tes Automated Reagin.8 juta unit. PENATALAKSANAAN 1. VI. . atau. Medikamentosa Sifilis Primer dan Sekunder .Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.Penisilin benzalin 6 dosis 4.4 juta unit / kali sebanyak 2 kali seminggu.000 unit sehari) atau . diberikan 2.Penisilin prokain + 2 % aluminium monostearat. MANIFESTASI KLINIS . b. Antibodi terhadap kelompok antigen yaitu tes RPCF (Reiter Protein Complement Fixation) c.8 juta unit injeksi intramuskular (2. VIII. dosis 4. .Penisilin Benzatin 6 dosis total 7.4 juta unit / kali) dan diberikan satu kali seminggu. postul dan rupia. Sifilis Laten . atau .Pada pria selalu dis ertai pembesaran kelenjar limfe ingunal medial unilateral / bilateral . atau . KOMPLIKASI VII.Tes FTA ABS (Fluorecent Treponema Absorbed).Anorexia . .Tukak .Tes TPI (Trponema Pallidum Immobilization) .Penisilin 6 prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.Terjadi kelainan kulit yaitu timbul berupa makula.Demam .2 juta unit.

dan XII tahun pertama \. PENGKAJIAN 1. Pemantauan Serologik dilakukan pada bulan I. 3.Cara penularan PKTS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya. Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin.Bahaya PKTS dan Komplikasinya . atau. menyusui. KONSEP KEPERAWATAN I.6 juta unit.Penisilin benzatin 6 dosis total 9. Sifilis Stactom III . Untuk pasien sifilis laten lanjut (71 tahun) yang alergi terhadap penisilin.Tetrasiklin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 30 hari. dosis total 7. 2. 2 kali seminggu).Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 15 hari. dapat diberikan : . dosis total 9.2 juta unit / kali. .Cara-cara menghindari infeksi PKTS di masa datang. B. II.Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan.6 juta unit (dibeirkan 1.Eritrmisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 30 hari “Obat ini tidak boleh dibeirkan kepada wanita hamil. . . dapat dierikan : . atau. . Non medikamentosa Memberikan pendidikan kepada px dengan menjelaskan hal-hal sebagai beriut : .Penisilin prokain ± 2 % aluminium monostearat.2 juta unit (diberikan 1.2 juta unit / kali. VI. atau . atau .. Identitas Sifilis bisa menyerang pada semua usia dan jenis kelamin. . dan anak-anak.000 unit sehari) atau .Hindari hubungan seksual sebelum sembuh.Penisilin prokain + 2 % aluminium monostearat. dan setiap 6 bulan per tahun kedua. dan memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi.Penisilin 6 prokain dalam aqua denga dosis total 18 juta unit (600.Tetrasiklin 5000 mg per oral 4 kali sehari selama 15 hari. 2 kali seminggu).

4. c. Sistem penceranaan . Telinga : Pada sifilis kengenital dapat menyebabkan ketulian. f. b.Kemungkinan adanya hipertensi. 6. g. Hidung : Pada stadium III dapat merusak tulang rawan pada hidung dan palatum.2. Berupa papula. Sistem integumen Kulit : biasanya terdapat lesi. Kepala dan Leher Kepala : Biasanya terdapat nyeri kepala Mata : Pada sifilis kongenital terdapat kelainan pada mata (keratitis inter stisial). anoreksia dan terdapat lesi pada kulit. gigi hutchinson(incisivus I atas kanan dan kiri bentuknya seperti obeng). Riwayat Penyakit Sekarang Biasanya klien mengeluh demam. Sistem Pernafasan d. Mulut : Pada sifilis kongenital. arteriosklerosis dan penyakit jantung reumatik sebelumnya. makula. Keluhan Utama Biasanya klien mengeluh demam. Riwayat Penyakit Dahulu 5. Sistem Neurologis .Biasanya terjadi anorexia pada stadium II. Sistem muskuloskeletal Pada neurosifilis terjadi athaxia. postula. Pengkajian Persistem a. e. 3. Leher : Pada stadium II biasanya terdapat nyeri leher. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat adanya penyakit sifilis pada anggota keluarga lainnya sangat menentukan. anoreksia dan terdapat lesi pada kulit. Sistem kardiovaskuler .

Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan infasi kuman. Sistem Reproduksi Biasanya terjadi impotensi. R/ : Mencegah kerusakan lebih lanjut. Gangguan integritas kulit sehubungan dengan diagnosa sifilis. 2. Dx 2 : . 3. Anjurkan menggunakan baju katun dan hindari baju ketat. Pertahankan kecukupan masukan cairan untuk hidrasi yang adekuat. Berikan dengan latihan rentang gerak. R/ : Menurunkan iritasi 2. Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan proses peradangan. 4. Sistem perkemihan Biasanya terjadi gangguan pada sistem perkemihan. R/ : Untuk menyeimbangkan cairan. Intervensi dan rasional : 1. III. 3. Kolaborasi dengan tim medis lain. 4. INTERVENSI KEPERAWATAN Dx 1 : Gangguan integritas kulit sehubungan dengan diagnosa sifilis.Biasanya terjadi parathesia. R/ : Untuk mempercepat proses penyembuhan. Gangguan gambaran diri sehubungan dengan anatomi kulit dan bentuk tubuh. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa yang kemungkinan muncul pada diagnosa sifilis 1. II. i. h. Kriteria hasil : Kembalinya kulit normal.

R/ : Tekhnik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri. 2. Pantau suhu tubuh pasien R/ : Mengetahui adanya infeksius akut. Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat golongan penisilin. Ajarkan tekhnik distraksi dan relaksasi. 4. R/ : Agar terjadi pemindahan panas. Berikan posisi yang nyaman R/ : posisi yang nyaman dapat meningkatkan relaksasi sehingga membantu menurunkan nyeri. Beri pasien kompres hangat. Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat anti piretik. Dx 3 : Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan infasi kuman. R/ : Memberikan penurunan rasa nyeri.Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan proses peradangan. . Anjurkan pasien untuk memakai baju tipis. 3. Kriteria hasil : Suhu tubuh normal (36 – 37o) Intervensi dan Rasional 1. Kaji tingkat nyeri R/ : Untuk mengetahui rasa sakit akut dan ketidaknyamanan. R/ : Untuk mengurangi demam / menurunkan suhu tubuh Dx 4 : Gangguan gambaran diri sehubungan dengan anatomi kulit dan bentuk tubuh. Kriteria hasil : Nyeri berkurang Intervensi dan Rasional : 1. 2. R/ : Untuk menurunkan suhu tubuh. 4. 3.

R/ : Membantu pasien untuk mengenal dan mulai memahami perasaan. Intervensi dan Rasional : 1. . Media aesculapius . EGC . Djambatan . Edisi 2 .Kriteria hasil : . . Dorong orang terdekat agar memberi kesempatan pada klien melakukan sesuatu untuk dirnya sendiri. 2000 . Jakarta.dapat mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi. Lynda .Mengenali penggabungan peruaban dalam konsep diri dalam cara yang akurat tanpa menimbulkan harga diri negatif. 2003 . Penykit Menular Seksual . 3. 1999 . FKUI . 1999 . Rencana Asuhan Keerawtan. Med. Apakah gangguan gambaran diri klien sudah teratasi ? DAFTAR PUSTAKA . 2000 . Jakarta. 2. Kapita Selekta Kedokteran. Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa marah. . EVALUASI 1. Dr.Jakarta.Ramali Ahmad. Apakah suhu tubuh klien kembali normal ? 4. IV. Apakah gangguan rasa nyaman (nyeri) klien teratasi ? 3.Doenges E. Apakah integritas kulit klien sudah kembali normal / baik ? 2.com/2010/05/askep-sifilis. R/ : membangun kembali rasa kemandirian dan menerima kebanggan diri sendiri dan meningkatkan proses rehabilitasi. Jakarta http://website-nurmaweleq. R/ : Membantu peningkatkan [erasaan harga diri dan kontrol atas salah satu bagian kehidupan.blogspot. EGC .html . . Jakarta.Mansjoer Arif . Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik.Compenito J. Kamus Kedokteran . . . Rencana Asuhan Keperawatan .Daili Fahmi Syaiful . Marillyn . Edisi 3 . Edisi Ketiga Jilid 2 .

Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Gerakan rotasi dan maju seperti gerakan membuka botol. bersifat sistemik dan menyerang hampir semua alat tubuh. dan genus treponema. Jika infeksi T. D. pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium aktif. Bentuk spiral. C. Penderita yang terbanyak adalah stadium laten. kuman akan berkembang biak lagi dan menimbulkan lesi rekuren. kemudian menurun setelah itu. B. Stadium Lanjut .61%. terjadi penjalaran hematogen yang menyebar ke seluruh jaringan tubuh. familia spirochaetaceae. Pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S I. biasanya melalui senggama.15 µm. disusul sifilis stadium I yang jarang. ETIOLOGI Penyebab penyakit ini adalah Treponema pallidum yang termasuk ordo spirochaetales. Multiplikasi diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II yang terjadi 6-8 minggu setelah S I. panjang antara 6 – 15 µm. kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan berkembang biak. Sebelum S I terlihat. Terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatrik. 2. jaringan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel-sel plasma. Treponema pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lendir. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis melelui hubungan seksual. dan yang langka ialah sifilis stadium II. Kuman tersebut berkembang biak. Penyakit ini sangat kronik. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofi endotelium yang menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Sesudah tahun 1860. kejadian sifilis meningkat dan puncaknya pada tahun 1946. Kasus sifilis di Indonesia adalah 0. morbilitas sifilis menurun cepat. pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi dikelilingi oleh Treponema pallidumdan sel-sel radang. lebar 0. PENGERTIAN Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan olehTreponema pallidum. Lesi dapat timbul berulang-ulang. Berkembang biak secara pembelahan melintang.pallidum gagal diatasi oleh proses imunitas tubuh. Timbul stadium laten. Selama perang dunia II. EPIDEMIOLOGI Asal penyakit tidak jelas. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut berkurang jumlahnya. PATOFISIOLOGI 1.ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SIFILIS A. terutama di perivaskuler. Pada abad ke-15 terjadiwabah di Eropa. Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Stadium Dini Pada sifilis yang didapat. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di Eropa. S II juga mengalami regresi perlahan-lahan lalu menghilang.

Sifillis akuisita dapat dibagi menurut dua cara yaitu: . 2. tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala klinis. terdiri atas S I. Treponema mencapai sistem kardiovaskuler dan sistem saraf pada waktu dini.Klinis (stadium I/SI. lanjut (setelah dua tahun). stadium II/SII. Sifilis Dini a.Stadium laten berlangsung bertahun-tahun karena treponema dalam keadaan dorman. Stadium lanjut tak menular (setelah satu tahun sejak infeksi). DIAGNOSA BANDING 1. KLASIFIKASI dan GEJALA Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan sifilis akuisital (didapat). stadium rekuren. dan stadium laten dini.Epidemiologik. terdiri atas stadium laten lanjut dan S III. Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis dini (sebelum dua tahun). S II. stadium III/SIII) dan . Kira-kira dua pertiga kasus dengan stadium laten tidak memberi gejala. Stadium I § Herpes simplek § Ulkus piogenik § Skabies § Balanitis § Limfogranuloma venereum (LGV) § Karsinoma sel skuamosa § Penyakit behcet . dan stigmata. Sifilis Primer (S I) b. F. menurut WHO dibagi menjadi: 1. Sifilis Lanjut G. GEJALA KLINIS Sifilis Akuisita 1. Stadium dini menular (dalam satu tahun sejak infeksi). Sifilis Sekunder (S II) 2.

atau eritromisin 4×500 mg/hr. Obat lain adalah golongan sefalosporin.§ Ulkus mole 2. Berhubungan seksual yang aman: selektif memilih pasangan dan pempratikkan ‘protective sex’. Tidak berganti-ganti pasangan 2. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik dari tetrasiklin yaitu 90-100%. Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini. I. Stadium III § Sporotrikosis § Aktinomikosis H. J. Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan S II. sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S II dan 30 hari untuk stadium laten. PENATALAKSANAAN Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). 3. PENCEGAHAN Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang agar tidak tertular penyakit sifilis. Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah yang sudah terinfeksi. atau doksisiklin 2×100 mg/hr. Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4×500 mg/hr. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil. misalnya sefaleksin 4×500 mg/hr selama 15 hari. PROGNOSIS . efektifitas meragukan. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain: 1. Stadium II § Erupsi obat alergik § Morbili § Pitiriasis rosea § Psoriasis § Dermatitis seboroika § Kandiloma akuminatum § Alopesia areata 3.

suhu. palpasi. Sel saraf yang sudah rusak bersifat irreversible. TB. ekstremitas atas dan bawah.Pemeriksaan laboratorium (kimia darah. Neurosifilis asimtomatik pada stadium lanjut juga baik. c. Prognosis pada neurosifilis bergantung pada tempat dan derajat kerusakan. telinga. terdapat kambuh serologik. Selain itu. prognosis baik. leher (terdapat perbesaran tyroid atau tidak). Pada sifilis kardiovaskuler. respirasi b. prognosis tergantung pada kerusakan yang sudah ada. gigi&mulut). dada (inspeksi. angka penyembuhan mencapai 95%. status gizi. ureum.Pemeriksaan penunjang . analisa urin. K. dan 23% akan meninggal. Pemeriksaan sistemik Kepala (mata. 10% mengalami sifilis kardiovaskuler. Kelainan kulit akan sembuh dalam 714 hari. Kegagalan terapi sebanyak 5% pada S I dan S II. maka hampir seperempatnya akan kambuh. tengkuk. tenggorokan. Pada yang lanjut. Pembesaran kelenjar getah bening akan menetap berminggu-minggu. kurang dari 1% memerlukan terapi ulang Prognosis sifilis kongenital dini baik. GDS. genitalia. TD. Pada sifilis laten lanjut.Prognosis sifilis menjadi lebih baik setelah ditemukannya penisilin. Pemeriksaan fisik Keadaan umum Kesadaran. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Diagnosa Keperawatan & Intervensi a. dan regio perianal. nadi. Prognosis neurosifilis pada sifilis dini baik. 5% akan mendapat S III. kreatinin. auskultasi). hidung. darah rutin) 2. Kambuh klinis umumnya terjadi setahun setelah terapi berupa lesi menular pada mulut.d adanya lesi pada jaringan Tujuan: nyeri klien hilang dan kenyamanan terpenuhi Kriteria: . prognosis sukar ditentukan. BB. angka penyembuhan dapat mencapai 100%. Nyeri kronis b. perkusi. Pengkajian a. Pada sifilis dini yang diobati.Nyeri klien berkurang . Jika penisilin tidak diobati. neurosifilis.

Observasi keadaan umum klien dengan tanda vital tiap 2 jam sekali .Klien dapat istirahat dengan tenang Intervensi: .Ekspresi wajah klien tidak kesakitan .Berikan minum yang banyak pada klien c.Kaji riwayat nyeri dan respon terhadap nyeri .Klien tidak menggigil . Cemas b.Berikan antipiretik sesuai anjuran dokter dan monitor keefektifan 30-60 menit kemudian .Kurangi stimulus yang tidak menyenangkan .Vital sign dalam keadaan normal .d proses infeksi Tujuan: klien akan memiliki suhu tubuh normal Kriteria: .Keluhan klien berkurang Intervensi: .Suhu 36–37 °C ..Anjurkan agar klien menggunakan pakaian yang tipis dan longgar .Ciptakan lingkungan yang nyaman (mengganti alat tenun) .Klien merasa rileks .d proses penyakit Tujuan: cemas berkurang atau hilang Kriteria: . Hipertermi b.Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik b.Berikan kompres di dahi dan lengan .Kaji kebutuhan yang dapat mengurangi nyeri dan jelaskan tentang teknik mengurangi nyeri dan penyebab nyeri .

wordpress.Kaji tingkat ketakutan dengan cara pendekatan dan bina hubungan saling percaya .com/2009/04/12/askep-sifilis/ .Beritahu tentang penyakit klien dan tindakan yang akan dilakukan secara sederhana.Klien dapat menerima dirinya apa adanya Intervensi: . http://hidayat2.Libatkan klien dan keluarga dalam prosedur pelaksanaan dan perawatan .Pertahankan lingkungan yang tenang dan aman serta menjauhkan benda-benda berbahaya ..Ajarkan penggunaan relaksasi .

famili Treponemetoceae yang berbentuk seperti spiral dengan panjang antara 5.20 mikron dan lebar 0. adanya remisi dan aksaserbasi. yang disebabkan olehTreponema palidium. Sifilis ialah penyakit infeksi oleh Treponema palidum dengan perjalanan penyakit yang kronis. Infeksinya sebagai lesi primer akan terlihat ulserasi (chancre) yang soliter. Berdasarkan beberapa teori di atas. dan terutama terdapat di daerah genitalia disertai dengan pembesaran kelenjar regional yang tidak nyeri. Sifilis primer Berlangsung selama 10 . Sifilis ini juga dapat menular melalui hubungan seksual dengan penderita sifilis. dapat disimpulkan bahwa sifilis adalah penyakit infeksi yang dapat digolongkan Penyakit Menular Seksual (PMS). 2000: 153).Asuhan Keperawatan Sifilis (Syphilis) A. C. dan susunan saraf.90 hari sesudah infeksi ditandai oleh Chancre sifilis dan adenitis regional. Arif. Didalam darah donor yang disimpan dalam lemari es Treponema Pallidum akan mati dalam waktu tiga hari tetapi dapat ditularkan melalui tranfusi mengunakan darah segar (Soedarto. Definisi Sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual. yang bersifat kronis dan bekerja secara sistemik. Penyakit tersebut ditularkan melalui hubungan seksual. Chancre . 1990). penyakit ini bersifat Laten atau dapat kambuh lagi sewaktu-waktu selain itu bisa bersifat akut dan kronis. mudah dilihat dengan mikroskop lapangan gelap akan nampak seperti spiral yang bisa melakukan gerakan seperti rotasi. 1998). Treponema Pallidum termasuk ordoSpirochaeta. Etiologi Sifilis disebabkan oleh Treponema Pallidum. tidak nyeri dengan tepi menonjol yang disebut chancre. dapat menyerang semua organ dalam tubuh terutama sistem kardiovaskular.1. tidak nyeri. sapranin. Penyakit ini dapat cepat diobati bila sudah dapat dideteksi sejak dini. Papula tidak nyeri tampak pada tempat sesudah masuknyaTreponema pallidum. Penyakit ini sangat kronik. 2009). Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Organisme ini bersifat anaerob mudah dimatikan oleh sabun. Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum. mengeras.0. serta dapat terjadi sifilis kongenital (Mansjoer. Kuman yang dapat menyebabkan penyakit sifilis dapat memasuki tubuh dengan menembus selaput lendir yang normal dan mampu menembus plasenta sehingga dapat menginfeksi janin (Soedarto. et al. Papula segera berkembang menjadi ulkus bersih.2 mikron. bersifat sistemik dan menyerang hampir semua alat tubuh (Hidayat. B. Kontak kilit dengan lesi yang mengandungT. otak. Manifestasi Klinis 1. oksigen. bahkan oleh Aquades. pallidum juga akan menularkan penyakit sifilis.

2–10 minggu setelah chancre sembuh. Penderita yang tidak diobati infeksinya berkembang ke manifestasi sifilis sekunder. Manifestasi sifilis sekunder terkait dengan spiroketa dan meliputi ruam. b. Pada waktu terjadi kekambuhan gejala – gejala klinik dapat timbul kembali. terjadi kondilomata lata (plak seperti veruka. nyeri tenggorokan. hati. dan mata dapat ditemukan juga. Manifestasi ginjal. Tidak terjadi kekambuhan sesudah tahun pertama disertai sifilis lambat yang tidak mungkin bergejala. tetapi mungkin juga tanpa gejala hanya perubahan serologinya yaitu dari reaksi STS (Serologis Test for Syfilis) yang negatif menjadi positif. penurunan berat badan. anoreksia. tetapi penderita tidak dapat menunjukkan gejala neurologis sifilis laten. Gejala yang timbul kembali sama dengan gejala klinik pada stadium sifilis sekunder. chancre extragenitalia dapat juga ditemukan pada tempat masuknya sifilis primer. pada kulit dapat terjadi lesi berupa nodul. yang dapat terjadi diseluruh tubuh yang meliputi telapak tangan dan telapak kaki. malaise. noduloulseratif atau . Sifilis laten Fase tenang yang terdapat antara hilangnya gejala klinik sifilis sekunder dan tersier. Pada stadium ini penderita dapat mulai menunjukkan manifestasi penyakit tersier yang meliputi neurologis. Sifilis laten selama berlangsung tidak dijumpai gejala klinik hanya reaksi STS positif. kardiovaskuler dan lesi gummatosa. Dan plak putih disebut (Mukous patkes) dapat ditemukan pada membran mukosa. gejala yang ditimbulkan dari sifilis sekunder adalah penyakit seperti flu seperti demam ringan. dan artralgia serta limfadenopati menyeluruh sering ada. Kekambuhan penyakit sifilis terjadi karena pengobatan yang tidak tepat dosis dan jenisnya. Sifilis sekunder dimanifestasikan oleh pleositosis dan kenaikan cairan protein serebrospinal (CSS). 2 . Sifilis Sekunder Terjadi sifilis sekunder. 1. meningitis terjadi 30% penderita. Relapsing sifilis yang ada terdiri dari : a. abu–abu putih sampai eritematosa). ini berlangsung selama 1 tahun pertama masa laten (laten awal). mukola papuler non pruritus. Relapsing sifilis. nyeri kepala. mialgia. Lesi pustuler dapat juga berkembang pada daerah yang lembab di sekitar anus dan vagina. Sifilis tersier Sifilis lanjut ini dapat terjadi bertahun – tahun sejak sesudah gejala sekunder menghilang. Chancre biasanya bisa sembuh dengan sendirinya dalam 4 – 6 minggu dan setelah sembuh menimbulkan jaringan parut.biasanya pada genitalia berisi Treponema pallidum yang hidup dan sangat menular. Sifilis laten yang infektif dapat ditularkan selama 4 tahun pertama sedang sifilis laten yang tidak menular berlangsung setelah 4 tahun tersebut.

Lesi dapat timbul berulang-ulang. Kondiloma. terjadi penjalaran hematogen yang menyebar ke seluruh jaringan tubuh. kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan berkembang biak. Stadium Lanjut . biasanya melalui senggama. pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi dikelilingi oleh Treponema pallidum dan sel-sel radang. Timbul stadium laten. saddel – nose. D. aortitis dan kelainan pada susunan syaraf pusat (neurosifilis ). Pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S I. 2. Sedangkan jika sifilis timbul sesudah anak menjadi besar atau dewasa maka kelainan yang timbul pada umumnya menyangkut susunan syaraf pusat misalnya parasis atau tabes. terutama di perivaskuler. Patofisiologi 1. (Soedarto. saber shin ( tulang kering terbentuk seperti pedang ) dan kadang – kadang gigi Hutchinson dapat dijumpai. atrofi nervous optikus dan tuli akibat kelainan syaraf nervous kedelapan. Stadium Dini Pada sifilis yang didapat. Prognosis sifilis kongenital tergantung beratnya infeksi tetapi kelainan yang sudah terjadi akibat neurosifilis biasanya sudah bisa disembuhkan. paralisis dan rinitis yang persisten. Multiplikasi diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II yang terjadi 6-8 minggu setelah S I. Kuman tersebut berkembang biak. jaringan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel-sel plasma. Ibu hamil dengan sifilis dengan pengobatan tidak tepat atau tidak diobati akan mengakibatkan sifilis kongenital pada bayinya. Sifilis kongenital Sifilis kongenital yang terjadi akibat penularan dari ibu hamil yang menderita sifilis kepada anaknya melalui plasenta. infantille congenital sifilis atau sifilis timbul sesudah anak menjadi besar dan bahkan sesudah dewasa. stig mata tulang dan gigi. Treponema pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lendir. pallidum gagal diatasi oleh proses imunitas tubuh.gumma. 1990). kuman akan berkembang biak lagi dan menimbulkan lesi rekuren. pelunakan tulang – tulang panjang. Pada infantil kongenital sifilis bayi mempunyai lesi – lesi mukokutan. Gumma selain mengenai kulit dapat mengenai semua bagian tubuh sehingga dapat terjadi aneurisma aorta. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofi endotelium yang menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Sebelum S I terlihat. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut berkurang jumlahnya. insufisiensi aorta. juga interstitial keratitis. S II juga mengalami regresi perlahan-lahan lalu menghilang. Jika infeksi T. Terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatrik. c. Infeksi intrauterin dengan sifilis mengakibatkan anak lahir mati.

Treponema mencapai sistem kardiovaskuler dan sistem saraf pada waktu dini. Pathway Kurang pengetahuan Treponema pallidum Unhealthy sex Mikrolesi/Selaput lender (port de entry) Berkembang biak Jaringan bereaksi Membentuk infiltrate ( Sel limfosit dan sel plasma) Pembuluh darah kecil Berproliferasi Dikelilingi T. Kira-kira dua pertiga kasus dengan stadium laten tidak memberi gejala. pallidum dan sel radang Hipertropi endothelium . E.Stadium laten berlangsung bertahun-tahun karena treponema dalam keadaan dorman. tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala klinis.

Obstruksi lumen Gangguan integritas kulit konsep diri Lesi Gangguan Pengobatan Tidak ada pengobatan Sifilis sembuh Kelenjar getah bening regional Penyebaran hematogen Hipertermi Infeksi sistemik Neuro Kardio Gangguan perfusi .

titer naik bila penyakit aktif (gagal pengobatan atau reinfeksi) dan turun bila pengobatan cukup. skabies. Uji non protonema seperti Venereal Disease Research Laboratory ( VDRL ). Sifilis juga meningkatkan resiko infeksi HIV. Pemeriksaan Penunjang Untuk menentukan diagnosis sifilis maka dilakukan pemeriksaan klinik. Paralysis. serologi atau pemeriksaan dengan mengunakan mikroskop lapangan gelap (darkfield microscope). verrucae acuminata. dan pembuluh darah lainnya Nyeri Meningitis. Pengobatan dapat membantu mencegah kerusakan di masa mendatang tapi tidak dapat memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Pada kasus tidak bergejala diagnosis didasarkan pada uji serologis treponema dan non protonema. sifilis dapat membawa kerusakan pada seluruh tubuh. Koordinasi otot yang buruk. limfogranuloma venerium. Kelainan sifilis primer yaitu chancre harus dibedakan dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin yaitu chancroid. . dan bagi wanita. G. granuloma inguinale. Komplikasi Tanpa pengobatan. Hasil uji kuantitatif uji VDRL cenderung berkorelasi dengan aktifitas penyakit sehingga amat membantu dalam skrining. Untuk mengetahui antibodi dalam tubuh terhadap masuknya Treponema pallidum. arteri mayor. dapat menyebabkan gangguan selama hamil. dan keganasan ( kanker ). Numbness Gangguan mobilitas fisik F.jaringan Inflamasi membran& Cairan sekitar otak serta Spinal cord inflamasi aorta.

Lesi sifilis dapat dengan mudah perdarahan. sehingga apabila sudah mengenai SSP maka akan mengganggu semua sistem tubuh sehingga akan terjadi penurunan daya imun yang memudahkan masuknya infeksi lainnya. sifilis dapat menyebabkan beberapa masalah pada nervous sistem. pada organ ginjal akan menyebabkan gangguan sistem perkemihan dan akan mengganggu sistem organ lainnya. dan pembuluh darah lainnya. Komplikasi kehamilan dan bayi baru lahir Sekitar 40% bayi yang mengidap sifilis dari ibunya akan mati. ini menyediakan jalan yang sangat mudah untuk masuknya HIV ke aliran darah selama aktivitas seksual. atau organ lainnya pada sifilis tahap laten. hepar. Sifilis juga dapat menyebabkan valvular heart desease. gummas biasanya akan hilang. Infeksi HIV Orang dewasa dengan penyakit menular seksual sifilis atau borok genital lainnya mempunyai perkiraan dua sampai lima kali lipat peningkatan resiko mengidap HIV. salah satunya melalui keguguran. Resiko untuk lahir premature juga menjadi lebih tinggi. seperti aortic valve stenonis.Benjolan kecil atau tumor Disebut gummas. tulang. benjolan-benjolan ini dapat berkembang dari kulit. atau dapat hidup namun dengan umur beberapa hari saja. arteri mayor. Pada stadium primer komplikasi diatas belum terjadi. Jika pada tahap ini dilakukan pengobatan. Manifestasi di atas dapat muncul pada sifilis dengan stadium tersier dan kongenital karena infeksi Treponema mencapai sistem saraf pusat (SSP). Masalah Neurologi Pada stadium laten. seperti: § Stroke § Infeksi dan inflamasi membran dan cairan di sekitar otak dan spinal cord (meningitis) § Koordinasi otot yang buruk § Numbness (mati rasa) § Paralysis § Deafness or visual problems § Personality changes § Dementia Masalah kardiovaskular Ini semua dapat meliputi bulging (aneurysm) dan inflamasi aorta. .

§ Sifilis laten 1. 2.H. menyusui. dan anak-anak. 4x sehari selama 30 hari. dosis total 4. Tertrasiklin 500mg/oral.2 juta unit/kali. dua kali seminggu) § Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin. 2. Sifilis primer dan sekunder Penisilin benzatin G dosis 4.4 juta unit/kali sebanyak dua kali seminggu.000 unit) 3. Tetrasiklin 500mg/oral. dua kali seminggu). 2. Penatalaksanaan Keperawatan . 4x sehari selama 15 hari. 2. Penisilin prokain +2% alumunium monostearat.000 unit injeksi IM sehari selama 10 hari. Penisilin prokain + 2% alumunium monostearat. Untuk pasien sifilis laten lanjut (> 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin. 2.2 juta unit (diberikan 1. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan Penatalaksanaan Medis · 1. dapat diberikan: 1.8 juta unit. dosis total 9. diberikan 2.8 juta unit IM (2. Penisilin benzatin G dosis total 9. dapat diberikan: 1. § Sifilis III 1. 4x sehari selama 15 hari. 3. dosis total 7.000 unit sehari).6 juta unit (diberikan 1. 3. 4x sehari selama 30 hari Eritromisin 500mg/oral.2 juta unit Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.4juta unit/kali) dan diberikan 1 x seminggu Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600. Penisilin prokain +2% alumunium monostearat. *Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil.6 juta unit Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600. Eritromisin 500mg/oral. Penisilin benzatin G dosis total 7.2 juta unit/kali.

nyeri pada saat kencing. malaise. 6. Tanda: kencing bercampur nanah. kuatir dan takut. 2. bertanya-tanya terus tentang penyakit. kaku kuduk.§ Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut: 1. Tanda: kelemahan. perubahan tanda.. Aktivitas Gejala: kelelahan terus. Pengkajian Keperawatan Sifilis merupakan infeksi kronik menular yang dapat menyebabkan penurunan daya imum seseorang dan bersifat kongenital sehingga dapat mengakibatkan kematian dan kemandulan. 5. 5. Tanda: tekanan darah kadang-kadang naik. nyeri pada saat kencing. Pentingnya personal hygiene khususnya pada alat kelamin Cara-cara menghindari PMS di masa mendatang. 1. I.kurang pengetahuan tentang penyakit. menyendiri. gelisah. 3.menerus. Sirkulasi Gejala: komplikasi kardiovaskuler. 4. Eliminasi Gejala: penurunan berkemih. kencing keluar Nanah. Makanan dan cairan . aneurisma. 2.tanda vital. 3. 4. Intergritas ego Gejala: ansietas. Bahaya PMS dan komplikais Pentingnya mamatuhi pengobatan yang diberikan Cara penularan PMS dan pengobatan untuk pasangan seks tetapnya Hindari hubungan seks sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat dihindarkan lagi. Tanda: cemas.

Gejala: anoreksia. Kaji riwayat nyeri dan respon terhadap nyeri Kaji kebutuhan yang dapat mengurangi nyeri dan jelaskan tentang teknik . RR:16-20x/mnt Intervensi: 1. paresis Tanda: Kerusakan SSP. Hygiene Gejala: kurang kebersihan genitalia 7. Diagnosa Keperawatan a.d adanya lesi pada jaringan Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien. atralgia 8. nyeri klien hilang dan kenyamanan terpenuhi Kriteria: § Nyeri klien berkurang § Ekspresi wajah klien tidak kesakitan § Keluhan klien berkurang § Skala 0-1 § TTV TD: 110/80-120/90 mmHg. Interaksi sosial Gejala: kurang percaya diri bergaul dengan masyarakat J. Nyeri dan kenyamanan Gejala: nyeri BAK Tanda: gelisah dan perilaku menghindari nyeri 9. Nyeri kronis b. 2. Neurosensori Gejala: pusing. T: 360-370C. HR: 70-100x/mnt. nausea Tanda: vomiting 6.

Hipertermi b. pigmentasi). pallidum) Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien. klien memiliki integritas kulit yang baik.d. . Kriteria: § Integritas kulit yang baik bias dipertahankan (sensasi. 3.mengurangi nyeri dan penyebab nyeri 1. elastic. 2. Ciptakan lingkungan yang nyaman (mengganti alat tenun) Kurangi stimulus yang tidak menyenangkan Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik b.d proses infeksi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien. hidrasi. temperature. klien akan memiliki suhu tubuh normal Kriteria: § Suhu 36–37 °C § Klien tidak menggigil § Klien dapat istirahat dengan tenang Intervensi: o Observasi keadaan umum klien dengan tanda vital tiap 2 jam sekali o Berikan antipiretik sesuai anjuran dokter dan monitor keefektifan 30-60 menit o kemudian o Berikan kompres di dahi dan lengan o Anjurkan agar klien menggunakan pakaian yang tipis dan longgar o Berikan minum yang banyak pada klien c. substansi kimia (T. Kerusakan integritas kulit b.

HR: 70-100x/mnt. d. o Jaga kenersihan kulit agar tetap bersih dan kering. o Hindari kerutan pada tempat tidur.com/2011/07/asuhan-keperawatan-sifilis-syphilis.blogspot. o Monitor kulit akan adanya kemerahan. cemas berkurang atau hilang Kriteria: · Klien merasa rileks § TTV TD: 110/80-120/90 mmHg. http://rama-delon. § Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami. Cemas b.html . o Mandikan pasien dengan sabun dan air hangat. T: 360-370C.§ Tidak ada luka/lesi pada kulit § Perfusi jaringan baik § Menunjukkan adanya perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cidera berulang. Intervensi: o Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar. o Monitor status nutrisi pasien. RR:16-20x/mnt · Klien dapat menerima dirinya apa adanya Intervensi: o Kaji tingkat ketakutan dengan cara pendekatan dan bina hubungan saling percaya o Pertahankan lingkungan yang tenang dan aman serta menjauhkan benda-benda berbahaya o Libatkan klien dan keluarga dalam prosedur pelaksanaan dan perawatan o Ajarkan penggunaan relaksasi o Beritahu tentang penyakit klien dan tindakan yang akan dilakukan secara sederhana.d proses penyakit Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful