PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :
Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Langkah Langkah 3. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Metodologi 4. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Kerangka Pola Pikir 3. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Pencatatan dan Pelaporan 8. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Jenis Logistik Program 2. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Analisa Situasi 2. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Pelatihan 3. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Indikator Program 9. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Pembentukan Jejaring 3. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Batasan 2. Manajemen OAT 3. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Tujuan Penelitian 2. Menetapkan Tujuan 4. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Standar Ketenagaan 2.

Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv . Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1.

Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Selamat berjuang! Jakarta. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Siti Fadilah Supari. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. dr. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. ketidakproduktifan. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). SpJP(K) v . dan kelemahan akibat TB. Berbagai kemajuan telah dicapai. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. swasta maupun lembaga masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB.

Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. MPH vi . Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia.000 pertahun. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. lembaga swadaya masyarakat. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. Jakarta. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. IDAI. I Nyoman Kandun. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. PAPDI.000 dan jumlah kematian sekitar 101. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi.

Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). alur diagnosis anak (sistem skoring).Tuntutan masyarakat akan mutu.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan. Penambahan bab-bab baru meliputi : . . Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. dibuat dalam buku pegangan tersendiri . sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. .Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis.Pelatihan.Penelitian TB . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS). . . saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program. elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya.Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. sementara situasi program penanggulangan TB.Kemitraan. . Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : .Pemeriksaan dahak secara mikroskopis.Supervisi. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000.Advokasi.Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis . maka dilakukan penanambahan. telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi).Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program. definisi kasus TB. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB . pengurangan. indikator pemantauan dan evaluasi.Tuberkulosis dan permasalahannya.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG .Manajemen Laboratorium TB .Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB .

Sebagai sebuah pedoman. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. - 2 . klasifikasi penyakit dan tipe pasien. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan.Tuberkulosis. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB . kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. propinsi.Diagnosis TB. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi.

persalinan dan nifas. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. Gambar 2. Demikian juga. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Insidens TB didunia (WHO. Jika ia meninggal akibat TB. terjadi pada negara-negara berkembang. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. maka akan kehilangan 3 . Pada tahun 1995.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1.1. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa.

setiap tahun ada 539. . tidak dilakukan pemantauan. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. . pencatatan dan pelaporan yang standar. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Pada saat yang sama. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. 4 . seperti pada negara negara yang sedang berkembang. Diperkirakan pada tahun 2004. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . • Dampak pandemi infeksi HIV. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Menyikapi hal tersebut.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. • Kegagalan program TB selama ini.000 orang. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). pada tahun 1993. obat tidak terjamin penyediaannya. dan sebagainya). Situasi TB didunia semakin memburuk. Hal ini diakibatkan oleh: . TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Di Indonesia. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan .000 penduduk.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.000 kasus baru dan kematian 101. Selain merugikan secara ekonomis.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat.

. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Sebagian besar kuman TB menyerang paru. 5 . • Cara penularan . seperti tuberkulosis. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. . sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. .000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. .Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. . ARTI sebesar 1%. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). . berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun.Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. • Risiko penularan . Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. . maka jumlah pasien TB akan meningkat. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). diperkirakan diantara 100.Dengan ARTI 1%.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. makin menular pasien tersebut.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. . • Risiko menjadi sakit TB . diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.Pada waktu batuk atau bersin. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. . dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).

immunosupresan ƒ Keterlambatan diagnosis dan pengobatan ƒ Tatalaksana tak memadai ƒ Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. clinical trials. Penerapan strategi DOTS secara baik.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . setelah 5 tahun. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. best practices.50% meninggal . UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : ƒVentilasi ƒKepadatan ƒDalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI ƒ Malnutrisi ƒ Penyakit DM.2. akan: . disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. 6 . dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB.25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi.

7 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Mencapai. 6. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. 5. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Komitmen politis 2. 3. 5. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. Pada tahun 1995. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. 2. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. termasuk pengawasan langsung pengobatan. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. 4. 3. 4. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB.

Di Indonesia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. sampai saat ini. • Indonesia. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Setelah perang kemerdekaan. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. • Sampai tahun 2005. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Sejak tahun 1995. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. • Tahun 1995. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Sampai tahun 2000. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. 1. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4).

Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. j. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. tenaga. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. Rumah Sakit Paru (RSP). i. sarana dan prasarana) b. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. pelaksanaan. l. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). meliputi Puskesmas. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. masyarakat dan pekerjaannya. h. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. sektor pemerintah. e. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. k. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. memutuskan rantai penularan. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . KEBIJAKAN a. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. f. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. 3.

Pemantauan dan Evaluasi d. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. 10 . Rumah Sakit. Tingkat Pusat. supervisi) e. b. Penelitian f. Perencanaan c. Kemitraan 6. e. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. d. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. STRATEGI a. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Promosi g. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Dilaksanakan oleh Puskesmas. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi.I. Tingkat Kabupaten / Kota. b.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. komunikasi dan mobilisasi sosial d. KEGIATAN a. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. c. Penemuan dan pengobatan. Unit Pelayanan Kesehatan. ORGANISASI PELAKSANAAN a. Menteri Kesehatan R. Peningkatan SDM (pelatihan.

• Menghadapi tantangan TB-HIV. Rumah Sakit Umum. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. • • 7. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Pada keadaan geografis yang sulit. • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. rumah sakit atau BP4. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. 11 . Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). a. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS.

Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Memperkuat penelitian operasional 12 . Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. b. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Adapun strategi fungsional tersebut: 1. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses.

didukung dengan penyuluhan secara aktif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. yang menunjukkan gejala sama. diagnosis. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. ƒ Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . pelaporan. terutama mereka yang BTA positif. malaise. 1. asma. badan lemas. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. kanker paru. pencatatan. batuk darah. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. sesak nafas. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. berat badan menurun. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. seperti bronkiektasis. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. bronkitis kronis. demam meriang lebih dari satu bulan. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. nafsu makan menurun. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. petugas yang terkait. dianggap tidak cost efektif. harus diperiksa dahaknya. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. dan lain-lain. Strategi penemuan ƒ Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. ƒ Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah.

2. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Diagnosis TB ekstra paru. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). serologi. segera setelah bangun tidur. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. 14 . yaitu sewaktu . Pada program TB nasional. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. saat menyerahkan dahak pagi. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Pemeriksaan lain seperti foto toraks.pagi .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. patologi anatomi. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. misalnya uji mikrobiologi. sehingga sering terjadi overdiagnosis. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. foto toraks dan lain-lain. Pada saat pulang. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.sewaktu (SPS). dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB.

Pagi. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .- ..Sewaktu.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- Hasil BTA .- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .- ..1.

15 . alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik.

analisis kohort hasil pengobatan • Beberapa istilah dalam definisi kasus: .menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan.menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. yaitu: .Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter. • 16 . • Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk .registrasi kasus secara benar . (lihat bagan alur) • Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.menentukan paduan pengobatan yang sesuai .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru. 3.mengurangi efek samping. efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati • Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah . KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal . . .menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. . .Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif. pleuritis eksudativa. (lihat bagan alur) • Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. .

. dan atau keadaan umum pasien buruk.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . sendi. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. . . Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. kelenjar lymfe. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). yaitu: . alat kelamin. kulit. tulang. perikarditis. TB tulang belakang. dan kelenjar adrenal. • TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. selaput jantung (pericardium). yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. misalnya: meningitis. • Tuberkulosis ekstra paru. persendian. yaitu bentuk berat dan ringan. misalnya pleura. . maka untuk kepentingan pencatatan.TB ekstra-paru berat.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. 17 . Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. milier. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. selaput otak. .1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.TB ekstra paru ringan. tulang (kecuali tulang belakang). . pleuritis eksudativa bilateral. misalnya: TB kelenjar limfe. usus.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. dan lain-lain. TB usus.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. . TB saluran kemih dan alat kelamin. pleuritis eksudativa unilateral. saluran kencing. peritonitis. ginjal. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat.

gagal. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. Meskipun sangat jarang. bakteriologik (biakan). dan pertimbangan medis spesialistik. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. radiologik.. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). • • • 18 . default maupun menjadi kasus kronik. dapat juga mengalami kambuh. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. harus dibuktikan secara patologik.

• Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. yaitu tahap intensif dan lanjutan. sifat dan dosis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (30(20-30) 40) Bakterisid 15 15 (12(12-18) 18) Bakteriostatik 15 30 (20(15-20) 35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . . • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Tahap Lanjutan .Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. Tahap awal (intensif) . Jenis. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. mencegah kekambuhan. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. mencegah kematian.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat.1.Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Jenis. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. . dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 .Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat.

1. Paket Kombipak. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. yaitu Isoniasid. 2. ƒ Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif ƒ Pasien TB ekstra paru ƒ ƒ 20 . .Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Disamping kedua kategori ini. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: ƒ Pasien baru TB paru BTA positif. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Pirazinamid dan Etambutol. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). disediakan paduan obat sisipan (HRZE) .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. Rifampisin.

+ 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Lanjutan Tahap Intensif tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. (1ml = 250mg) 3.2. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3.7ml sehingga menjadi 4ml.3. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. 21 . Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: ƒ Pasien kambuh ƒ Pasien gagal ƒ Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.

yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. CT-Scan. funduskopi. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis.4. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. Setelah dokter melakukan anamnesis. seperti bilasan lambung. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). Lihat tabel 3. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. 22 . dan pemeriksaan penunjang. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. 5. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. pungsi pleura. pemeriksaan fisik. foto tulang dan sendi.5. pungsi lumbal. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. patologi anatomi. dan lain lainnya.

Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB BTA positif Tidak Laporan jelas keluarga. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. jumlah >1.--> lampirkan tabel badan badan. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. Sinusitis. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. kelenjar limfe koli. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). lutut. aksila.5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Klinis gizi buruk Bawah garis keadaan gizi (BB/U < 60%) merah (KMS) atau BB/U < 80% > 2 minggu Demam tanpa sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. BTA negatif atau tidak tahu. 23 . dan lain – lain. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.

Gibbus. kaku kuduk ƒ penurunan kesadaran ƒ kegawatan lain. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Setelah pemberian obat 6 bulan . Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Tanda bahaya: ƒ kejang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. OAT pada anak diberikan setiap hari.6. OAT tetap dihentikan. Tabel 3. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . efusi pleura 3. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. kavitas. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. misalnya sesak napas 2. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan.2. koksitis Gambar 3.

Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. dan lain lain. dirujuk ke rumah sakit. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. tidak boleh dibelah ƒ OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. Dosis OAT KDT pada anak Berat badan (kg) 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 5-9 1 tablet 1 tablet 10-19 2 tablet 2 tablet 20-32 4 tablet 4 tablet Keterangan: ƒ Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit ƒ Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. 6. c. guru. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. misalnya Bidan di Desa. Sanitarian. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. PKK. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. 25 . ƒ Anak dengan BB > 33 kg . Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. ƒ Obat harus diberikan secara utuh. a. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. Pekarya. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. anggota PPTI. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. Perawat. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien.7. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. Juru Immunisasi. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. dipercaya dan disetujui.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. 26 . PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. d. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB.

Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Beri Sisipan 1 bulan. Jika setelah sisipan masih tetap positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. tahap lanjutan tetap diberikan. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Jika mungkin. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan.8. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 .

dahak.9.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan Æ lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: ƒ Lacak pasien ƒ Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur ƒ Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 ƒ Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai ƒ Diskusikan dan Tb extra paru: cari masalah Lanjutkan pengobatan ƒ Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan hasil BTA (+) sebelumnya kurang sampai seluruh dosis dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan ƒ Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan ƒ Kategori-2: rujuk. 28 . mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan ƒ Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Mulai kategori-2 Bila satu atau lebih Kategori-1 ƒ Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) ƒ Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik.

Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. 29 . Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. kecuali streptomisin. • • • • • 8. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. a. Menurut WHO. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. b.

Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. d. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. suntikan KB. d. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. 30 . harus dihentikan. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. susuk KB). Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. Pasien dengan kelainan hati.

mual. 9. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. h. tapi perlu penjelasan kepada pasien. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. setelah selesai pengobatan TB. ƒ Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. karena dapat memperberat kelainan tersebut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Untuk TB ekstra paru: ƒ Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: ƒ Meningitis TB ƒ TB milier dengan atau tanpa meningitis ƒ TB dengan Pleuritis eksudativa ƒ TB dengan Perikarditis konstriktiva . menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. 31 . ƒ Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. adalah: Untuk TB paru: ƒ Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. Tabel 3. g. kemudian diturunkan secara bertahap.

Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas.11. Untuk membedakannya. Bila keadaan seperti ini. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Streptomisin dihentikan. Hentikan Etambutol. ganti Etambutol. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Bila mungkin. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. Hentikan Rifampisin. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Hentikan semua OAT. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). ganti obat tersebut dengan obat lain. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. Streptomisin dihentikan. hentikan semua OAT. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Berikan dulu anti-histamin. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. ganti Etambutol. segera lakukan tes fungsi hati.

pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. Namun. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. 33 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. mungkin dapat dilakukan desensitisasi. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.

mulai dari tingkat Kecamatan. 34 . sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. Kab/Kota.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Untuk mendukung kinerja program. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. mudah. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. murah. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Keamanan dan kebersihan laboratorium. Kegiatan – kegiatan laboratorium. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. harus mengikuti acuan/standar. Propinsi. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. dan Nasional. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Namun. bersifat spesifik. Sumber daya laboratorium.

uji kepekaan M. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. peran. mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). ƒ Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. Laboratorium mikroskopis TB UPK ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. ƒ Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. ƒ Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. ƒ Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. c. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis ƒ Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. identifikasi dan DST M. Laboratorium rujukan Regional. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. dll. Laboratorium rujukan Provinsi ƒ Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). e. Laboratorium rujukan Nasional. BP4. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. b. 35 . Rumah Sakit. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. RSP dll. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). ƒ Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. tb dari spesimen dahak. identifikasi. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi.

Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5.1. PPM ‰ Rumah Sakit ‰ Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) . Australia. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide. Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB ‰ PRM.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk.

36 .

. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. FUNGSI dan PERAN. ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. .Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. . sampai diperoleh hasil ƒ PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. sampai diperoleh hasil. Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. . Catatan : Bilamana perlu.Peran: . TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. dan keamanan dan keselamatan kerja.Laboratorium mikroskopis TB.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. . . . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. . Laboratorium mikroskopis TB UPK. .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM.Fungsi: . Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. .Tugas: ƒ PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi. b.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 .

. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. 38 . . ƒ Peran: ƒ Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) ƒ Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. TB dari dahak. 1. ƒ Fungsi .Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: TB setempat. ƒ Pembina laboratorium TB sesuai jejaring ƒ Tugas: . identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). . Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring. Isolasi. . termasuk EQAS sesuai jejaring.Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. identifikasi dan tes kepekaan M. . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. . 2. .Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. ƒ Tanggung jawab: .Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. - c. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. isolasi.Menyelenggarakan pembinaan Lab. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. 3. Laboratorium rujukan Provinsi.

Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. identifikasi dan uji ƒ Tugas: kepekaan (DST). e. ƒ Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi.tb dan MOTT bagi yang memerlukan. . TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Laboratorium rujukan Regional. . identifikasi dan DST M.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain.tb di laboratorium provinsi ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. ƒ Peran: . rujukan provinsi. ƒ Laboratorium rujukan untuk isolasi. identifikasi dan DST M. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. ƒ Fungsi: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. identifikasi dan DST M. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. ƒ Peran: ƒ Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. 39 . Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. Laboratorium rujukan Nasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . . tuberculosis. ƒ Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB. Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.Melaksanakan pemeriksaan isolasi. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional. ƒ Tanggung jawab: .

. .Idem dengan PS. ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. penjepit sediaan dari kayu.Desinfektans. kerja Lab . Mikroskopik dahak BTA) .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Formulir standard (TB. sticker. kaca sediaan/frosted sediaan. TB 04 .Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) Æ (lihat buku pedoman pem.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan .Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . . timer.Air mengalir. . minimal SMAK/setara .Idem PS . lampu spiritus. . kertas lensa.Sarana: .1 buah mikroskop binokule . corong. .Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. lidi lancip.Sarana keamanan .Wadah pembuangan berisi desinfektans. Laboratorium mikroskopis TB UPK. aether alkohol. rak pengering.05).Ruang: . timer . minimal SMAK/setara .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak.Ruang: . KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.Idem PS kerja Lab .Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak. ose/lidi.Sarana: . rujukan pemeriksaan dahak.Sarana keamanan .Ruang kerja terang dengan ventilasi baik . kertas saring.Botol berisi pasir dan desinfektan .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. minyak emersi.pewarna ZN bermutu. pipet. ditambah dengan : . kotak sediaan.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai .

b. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Dua orang tenaga analis medis yang terampil. .Tb: ƒ Idem dengan lab.Ruang pelatihan.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang . uji silang ditambah dengan : ƒ 10 mikroskop binokuler ƒ 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 .Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang administrasi . ƒ Seorang pembantu analis.Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M.Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) . Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop. ƒ Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro ƒ Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia. Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Ruang pembuatan media dan reagensia. Laboratorium rujukan Provinsi. Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi. .2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: Sarana keamanan kerja Lab c.Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : . . Teknisi alat laboratorium: ƒ Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium. . .Ruang dekontaminasi dan pencucian alat.

1 freezer (.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: . .Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.1 waterbath.Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.1 bio-containment centrifuge (500 . Teknis alat laboratorium: .Alat gelas laboratorium.Minimal 3 orang tenaga analis (mikro). Laboratorium rujukan Regional. .1 incenerator / carbonizer .1 biosafety cabinet class II .Minimal seorang tenaga administrasi.Idem lab Propinsi Sarana keamanan .Vortex mixer.5000 g) .2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).idem dengan lab Propinsi Sarana: .300 C) .Idem lab Propinsi kerja Lab - .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi. managemen) d.1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) .1 incubator. .1 timbangan gram (0–500 gr) . Ruang: . .Botol McCartney .Minimal 2 orang tenaga analis (Media). .Blender/homogenizer (autoclavable) . GLP.Generator listrik.1 lemari es.Magnetic stirrer. Administrasi: . .1 inspisator. Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Teknis laboratoris: . . . . . .Micro-pipette .Cabinet untuk pembuatan media .

42 .

fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . microcentrifuge ƒ Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA.Automated Liquid culture system .Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi.1 mikroskop fluorescence . dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) ƒ 5 tenaga analis.Optional: Fasilitas kultur sel. refrigerator.ELISA system . freezer –20oC. vortex.Thermo-cycler .Ruang Asam: fume hood. Idem ruang lab regional ditambah dengan : . 1 set pipet mikro. refrigerator. system elektroforesis vertical.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e.Amplifikasi asam nukleat: ƒ Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV).Ruang dengan negative pressure . ƒ 2 orang analis untuk media dan reagensia. system elektroforesis horizontal. 1 set pipet mikro. microcentrifuge. Waterbath .Ruang gelap .TB: . dan ƒ Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. freezer –20oC.Dot blotter . dan ƒ Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. vortex. UV transilluminator/imaging system . shower . heating blockpem.Nucleic Acid Sequencing system . Mikroskopik dahak BTA ƒ Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. eye wash. Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Tenaga Teknis Laboratoris: ƒ Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research). Laboratorium rujukan Nasional. Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi. pipet mikro. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi.

Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : ƒ Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium.Idem dengan lab regional ditambah dengan : . pemeriksaan contoh uji. terintegrasi dalam PMI dan PME. ƒ Membantu peningkatan pelayanan pasien. analisis. ƒ Mendeteksi keslahan. pengambilan. pengolahan contoh uji. misalnya : .Protap pembuatan sediaan dahak . Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. Peningkatan mutu (Quality Improvement).Protap pemeriksaan Mikroskopis .Protap pengambilan dahak . Pemantapan Mutu Eksternal 3. Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. pengiriman.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen .Protap pembuatan media 44 . mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1.1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman.Protap pengelolaan limbah . dan harus dilakukan terus menerus. Tujuan PMI ƒ Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera ƒ Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . Pemantapan Mutu Internal 2. pasca-analisis. penyimpanan.

Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ ƒ ƒ . Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. Pada pelaksanaan uji silang. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME ƒ Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB ƒ Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan jenis kegiatan PME ƒ Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME ƒ Penilaian dan umpan balik. audit internal. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium.Dsb. laboratorium pembaca pertama. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : ƒ Uji silang sediaan dahak. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. 45 . Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan.Protap inokulasi .

perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. 46 . kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. dll. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. mutasi ƒ Sarana dan prasarana : Pengadaan. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. mutu pewarnaan. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. sarana dan prasarana laboratorium. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. pemeliharaan. ƒ Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. pengembangan metoda pemeriksaan 5. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. ƒ Supervisi Laboratorium TB. meliputi : ƒ Tenaga : Pelatihan. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. penyegaran. uji fungsi ƒ Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. pelatihan.

PCR/biomolekuler. uji kepekaan. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. 4. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. dsb). dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. Penyediaan perangkat (protap. biakan. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. masyarakat umum. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. lingkungan sekitar laboratorium. 47 . menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. dsb) 2. 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. serologi. jadwal pemantauan dan evaluasi. peralatan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS
Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi. 1. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. a. Logistik OAT. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak, untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister, dan tiap blister berisi 28 tablet. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2, dan sisipan, yang dikemas dalam blister untuk satu dosis, kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. b. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop, Slide Box, Rak pewarna dan pengering, Lampu spiritus, Ose, Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum, kaca sediaan, Reagensia Ziehl Neelsen, Eter Alkohol, Minyak imersi, Lysol, Kertas pembersih lensa mikroskop, kertas saring, tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman, format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya.

48

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

2. MANAJEMEN OAT a. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya, • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan, • buffer-stock, • sisa stock OAT yang ada, • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program, Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). Disamping rencana kebutuhan OAT KDT, perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi, perencanaan ini diteruskan ke pusat. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat, sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi

49

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Buffer stock ditingkat pusat.

b. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). c. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan, dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah, penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out), artinya, obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis, jumlah, kemasan, nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. d. Monitoring dan Evaluasi. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda, untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi, melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. e. Pengawasan Mutu. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Setelah OAT sampai di Propinsi, Kabupaten/Kota dan UPK, pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. f. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Keutuhan kemasan dan wadah

50

Waktu hancur atau disolusi 5. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. • Dan pihak lain yang terkait. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. Kemurnian/ kadar cemaran 6. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Uji potensi 8. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. boks dan master boks 5. Pemberian 3. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. 3. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. Identitas obat 2. Kadar zat aktif 7. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran).

pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Ose. Bahan Uji tuberkulin. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. Lampu speritus. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. 52 . Slide Box. Rak pewarna dan pengering. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Botol plastik bercorong pipet dll.

Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. 1 perawat/petugas TB. supervisi. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. pembinaan (pelatihan. 3 perawat/petugas TB. Unit Pelayanan Kesehatan 1. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. kalakarya/on the job training). dan 1 tenaga laboratorium. dan kesinambungan (sustainability). dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium 53 . dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. 1. pelatihan dan supervisi. 2. 3 perawat/petugas TB. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga.

jumlah tergantung kebutuhan. Tingkat Provinsi 1. 2. minimal telah dilatih. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui 54 . jumlah tergantung kebutuhan. 3. dan lain-lainnya. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. menyesuaikan. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. Pelatihan penuh. 2. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. Pelatihan ulangan (retraining). Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. • Tingkat Kabupaten/Kota 1. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. 3. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. b. 3. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. dan lain-lainnya. 2 perawat/petugas TB. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. terdiri dari: 1. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. Dokter Praktek Swasta. 5 fasilitator pelatihan. 2. (Fakultas Kedokteran. 2 perawat/petugas TB. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. seluruh materi diberikan. Fakultas Keperawatan.

2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. kepanitiaan. • persiapan administratif penyiapan bahan. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. Pelatihan penyegaran. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. d. c.dampak 55 . fasilitator. seperti: pelatihan manajemen OAT. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh.1. metode pembelajaran.kinerja (supervisi) . Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. Materi berbeda dengan pelatihan dasar.reaksi dan .. dana. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. peserta. surveilans. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan.pembelajaran • paska pelatihan . dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi. materi. pelatihan advokasi. pelatihan TB-HIV. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. pelatihan DOTS plus.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Diadopsi dari Tovey (1997) 56 .

Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Tidak semua harus dipelajari. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta.2. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN .Materi pelatihan dan metode pembelajaran. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih.

Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. 3. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompeten si pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) . Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : ƒ observasi.3. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. ƒ bantuan teknis. ƒ diskusi. ƒ bersama-sama mencari pemecahan masalah dan ƒ memberikan rekomendasi dan saran perbaikan.

waktu modifikasi dari berbagai sumber .

Melakukan pendekatan fasilitatif. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. 2. 3. empati. 4. pemetaan wilayah. Kepribadian supervisor. . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. maka perlu dilakukan persiapan. Kegiatan penting selama supervisi.03) . Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program. . Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. penuh perhatian. Penjadwalan kegiatan supervisi.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. serta kebutuhannya. . 2.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . tanggap terhadap masalah yang disampaikan. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. . . maka supervisi harus direncanakan dengan baik. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester.Menjadi pendengar yang baik. Pengumpulan informasi pendukung. bila memungkinkan . . misalnya laporan.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. BP4.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. Pelaksanaan supervisi.Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. . 2. .01 dan TB. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat.06. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. . . Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. sebagai berikut: 1. 58 . misalnya angka konversi rendah. terutama pada tingkat UPK : 1. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . RS. partisipatif dan tidak instruktif. yaitu: . hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.Pada tahap awal pelaksanaan program. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi. angka kesembuhan rendah.

praktis. tidak mampu melaksanakan. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. sebaiknya 3 lembar: . dan tidak menciptakan masalah baru. Tentukan penyebab yang paling mungkin. kreatifitas. 59 . Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. e. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. g. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. 4. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. mungkin karena tugasnya tidak jelas. inovatif. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. Memberikan umpan balik saran yang jelas. 1. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. c.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. 5. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. d. maka berarti ada masalah kinerja. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. realistik. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. Laporan supervisi. f. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). dapat dilaksanakan. 2. 3. b.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. inisiatif. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. melakukan on the job training. realistis. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. 60 . Lembar 3 : arsip supervisor.

organisasi keagamaan. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. mutu. kelompok media massa. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis .Meningkatkan komitmen . swasta maupun kelompok organisasi masyarakat.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. Potensi melibatkan sector lain 4. b. organisasi profesi. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. Beban masalah TB yang tinggi 2. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. sektor swasta. c. Lembaga Swadaya Masyarakat.Meningkatkan komunikasi . organisasi pengusaha dan organisasi pekerja.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor.Meningkatkan koordinasi . baik dari pemerintah. legislative. mengingat : 1. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . Keterbatasan sector pemerintah 3. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. Akuntabilitas.Meningkatkan sumber daya. Keberlanjutan program 5. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. 61 .

3. Identifikasi. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . tugas dan fungsi masing. Pengaturan peran. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. b. sarana dan prasarana. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. Pemantauan dan penilaian. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. g. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. Penyamaan persepsi. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Melakukan kegiatan. e. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. b. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. dana. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. disepakati sejak awal. f. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. Komunikasi intensif. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. Pembentukan Komitmen. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. c.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.masing secara terbuka dan kekeluargaan d.

KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. 1. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. Dalam konteks global. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. komunikasi. Dalam konteks penanggulangan TB. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. Pada konteks dalam negeri. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. 63 . advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran.

1.Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor. KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.factor lain 64 .Tenaga Penyuluh .Buku Pedoman .Media Promosi . APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Sumber dana (APBN.Angka kesembuhan . Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .

bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. konsultasi. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. metode dsb) Mengembangkan bahan. pertemuan/rapat kerja. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). Dalam proses komunikasi. pelaksana. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. memberikan laporan. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. Memilih strategi yang tepat (advokator. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. berfikir. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. menulis dan lain-lain. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. dan Mobilisasi sumber dana. 65 . STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. 1. b.

Radio. d. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . lancar tidaknya suatu proses. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan.Demonstrasi. 66 . Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. c.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan.Rapat pertemuan-pertemuan. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1.Televisi. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . seminar peningkatan pengetahuan . film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) .Surat kabar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. 3. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. latihan (meningkatkan kemampuan) . percakapan.

Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. .Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. pesan. masyarakat. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . motivasi. 3. 2. . KIE berbasis individu. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. ikut menjadi PMO.Community material : Sarana masyarakat . Kader TB dan sebagainya. baik secara kuantitatif maupun kualitatif.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok .Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. . . alih pengetahuan dan keterampilan. harus merupakan elemen kemasyarakatan.Community fund : Dana yang ada di masyarakat . keluarga.Memenuhi permintaan masyarakat. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. . . sasaran.indikator dan umpan balik mobilisasi. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: .Memerlukan pengulangan secara periodik. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. 4. . . dan ormas lainnya 67 . Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. 5. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat.

dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. .mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. dunia usaha. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. dll Peminatan Kebijakan. Tabel 9. PAPP) LSM. Ormas.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. .mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. Penyuluhan kelompok. .1. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. dapat digunakan tabel contoh berikut. Langkah-langkah mobilisasi sosial . Lintas sektor. . LSM.organisasi profesi. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. Konseling. Komisi 9 DPR Akademisi. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. LSM. Kunjungan rumah. profesi (IDI. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. Diskusi kelompok (DK).mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye. . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. Lintas program. 68 .melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

- mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV, filler/spot, radio spot, billboard dan spanduk. Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien.

69

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS
Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004, pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10.1. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29%

Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%, rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB, strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS, antara lain : rumah sakit, BP4, UPK lapas / rutan, UPK polisi, UPK di tempat kerja, dan lain lain. 1. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. 2. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. Setelah mencapai prakondisi tersebut, sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK, selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis, dan seluruh petugas terkait.

70

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. memantau. melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. 4. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK 72 . Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Validasi data pasien di UPKt 7. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. 6. 2. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Mulai Penemuan Diagnosis Pengobatan Konsultasi Pencatatan Pengobatan selanjutnya Klinis suspek dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis. serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : ƒ Tingkat sosial ekonomi pasien ƒ Biaya Konsultasi ƒ Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) ƒ Biaya Transportasi ƒ Kemampuan dan fasilitas UPK.Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85% 73 . Hal yang penting diketahui : . PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS.1. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10. memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan).Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% .

TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). akses pelayanan kesehatan. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah.BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. 1. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. pengendalian mutu pelayanan. 2. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. . mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki.

Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . kuasi eksperimen. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. focus group discussion. termasuk mutu kinerja laboratorium. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. dan community based approach. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. 2. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . a. eksperimentasi. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. 75 .Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . termasuk survei. bidan di desa.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. 4. b. Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. Penelitian operasional tuberkulosis. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). a.Spesifik terhadap program tuberkulosis . b. antara lain: 1. Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. in-depth interview dan lain-lain. misalnya dengan melibatkan pustu. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. 3. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. modeling.

Dokter Praktek Swasta. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. seperti: TB/HIV. 4. 76 . 6. 5. dan UPK lainnya. dan lain-lain. 7. c. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. TBKusta. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.

Dalam sistem desentralisasi. Dinas Kesehatan Propinsi. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. 77 . jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. Laboratorium dan unit lainnya. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. pendidikan. Rumah Sakit. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. sosial budaya. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). a. Puskesmas. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PERENCANAAN BAB 12 Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat.

data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. Untuk memudahkan. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. money. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. komitmen nasional maupun international. dicari masalah dan penyebabnya. dana (money). perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). material. pencapaian program (penemuan pasien. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. sampai dimana kemajuan program. Selain data tersebut. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). dan market). pohon masalah dan log frame. method. a. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. dan metodologi yang digunakan (method). IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. antara lain kebijakan lokal. logistik (material). b. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . diseminasi informasi serta umpan balik. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. • Disamping untuk perencanaan. keberhasilan diagnosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). Dari kesenjangan yang ditemukan. Untuk maksud tersebut. angka kesembuhan. keberhasilan pengobatan). masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. 2.

Rasional (realistis) f. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. . Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. Memiliki target waktu. 1) Daya ungkitnya tinggi. Dalam menetapkan pemecahan masalah. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. Terkait dengan masalah d. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Terukur (kuantitatif) e. 4. 5. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . 3. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . karena akan memberikan dampak epidemiologis. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. RSTP dan dokter praktek swasta). Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). Pada tahap awal. yaitu penurunan jumlah pasien. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. kepadatan penduduk. rumah sakit. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). perlu dinilai semua unsurnya. diagnosis pasien. Setelah itu baru rumah sakit. BP4. BP4. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. c. pengobatan dan case holding pasien. dan kemitraan. namun perlu didukung dengan data penyakit. 3) Kesiapan : Tenaga. b. sampai pada pencatatan pelaporan. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. Masing-masing aspek tersebut. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. sarana. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada.

ƒ Penetapan target.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. ¾ Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. ¾ Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. ¾ Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). daya ungkit dan kesiapan daerah ƒ Sasaran penduduk. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Perluasan unit pelaksana. Penetapan Sasaran dan Target ƒ Sasaran wilayah.

Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. b. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. 6. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. d. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. 82 . dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. c. Pelaksana (siapa yang memantau). Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. e. Cara pemantauan. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. Dengan kata lain disebut program oriented. bukan budget oriented. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran.

supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). maupun keluaran (output). lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. bagian atas. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Rumah Sakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. 1. Propinsi. BP4. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. proses. Kabupaten/Kota. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. diinterpretasi. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. dianalisis. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama.

menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. BP-4. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. RS. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. PPM. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. 3.

√ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ 5 Triwulan √ √ √ √ 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif. 2.1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - √ √ √ 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . 3. Tabel 12. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . misalnya rumah sakit. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa X 100 % 86 .06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk. BP4 atau dokter praktek swasta. indikator ini tidak dapat dihitung. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek.

atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ). Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Angka ini sekitar 5 . Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. 87 .15%. Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar.

Bila angka ini terlalu besar dari 15%. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. kemungkinan terjadi overdiagnosis.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat X 100 % A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). Angka ini berkisar 15%. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % . BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. itu berarti mutu diagnosis rendah. Bila angka ini jauh lebih rendah. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2.

87 .

yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. dan pindah keluar. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. propinsi dan pusat. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula.12 bulan sebelumnya. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. gagal. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. Di tingkat kabupaten. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat.01. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. default (drop-out atau lalai). Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. 88 . Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh X 100 % Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. Di tingkat kabupaten. propinsi dan pusat. setelah selesai pengobatan.11.01. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. setelah pengobatan intensif (2 bulan). Angka default tidak boleh lebih dari 10%.08. meninggal.

Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar Benar KKPP KBPP KBPP KBPP Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa. Kabupaten / kota harus menganali sa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR) . Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima. di tingkat kabupaten/ kota.7) Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif.

Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.07 Jumlah penduduk X 100. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 % . akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut.000 Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial.

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 4. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. ATS/CDC/IDSA, Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children, Atlanta, 1999 2. ATS/CDC/IDSA, Treatment of Tuberculosis, Atlanta, 2003 3. Crofton J, Horne N, Miller F. Clinical Tuberculosis, McMillan Education Ltd, London and Oxford, 1999 4. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 5. Depkes RI, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT), Jakarta, 2004 6. Depkes RI, Kelompok Kerja TB-HIV. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS, Jakarta, 2003 7. Depkes/UKK Respirologi IDAI, Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2006 8. PDPI, Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta, 2006 9. PP IDAI-UKK Pulmonologi, Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2005; ISBN 97996622-2-2 10. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). The Hague, 2006. 11. WHO, A guide for Tuberculosis Treatment Support, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.300 12. WHO, Adherence to Long Theraphy, Geneva, 2003; W85 13. WHO, Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis, Geneva, 1997, WHO/TB/96.210 14. WHO, Toman’s Tuberculosis, Case Detection, Treatment and Monitoring. 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.334 15. IUATLD, A Tuberculosis for Specialist Physicians, Paris, 2004; 16. IUATLD, Intervention for Tuberculosis Control and Elimination, Paris, 2002, 17. CDC/US Department of Health and Human Service; Core Curricullum on Tuberculosis, What the Clinician Should Know, 4th edition, Atlanta, 2000 18. WHO, TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.329W, 19. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 20. WHO, Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers, Geneva, 2000. 21. WHO/IUATLD, Tuberculosis: A Manual for Medical Students, Geneva, 2003. 22. WHO-SEARO, Effective Diagnosis, Treatment, and Control of Tuberculosis, New Delhi, 2000. 23. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 24. WHO-SEARO, Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers, New Delhi, 1999 BAB 5. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO, External Assessment for AFB Smear Microscopy, Washington, 2003 2. Depkes RI, Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia, Jakarta, 2002 3. IAUTLD, The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network, Paris, 1998 4. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 1, Organization and Management, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 5. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 2, Microscopy, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 92

Geneva. 2002. Jakarta. Sydney. 2003. 1997 10. Prentice Hall. WHO.1 19.347d 18. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. WHO/CDS/TB/2002. WHO. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT).353 16. WHO/CDS/STB/2002. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. 93 .347c 17. New Delhi.19 3. McMahon Rosemary. Depkes RI. WHO. Geneva. Educational Hanbook for Health Personal. WHO. WHO. Geneva. Tovey MD. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. Modul D : Provide Training for TB Control. WHO. No. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. (comprehensive draft. Geneva. The World Health Report 2006. A Usmara (ed). Geneva. 2003 4. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Insan Cendekia. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. Irianto Jusuf. Revised and Updated 1998. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. 2005.2002.308 BAB 7. Refika Aditama. 2002 2. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Cetakan ke-10. Geneva. WHO/CDS/TB/2002.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Teaching Health care worker: A practical guide. Surabaya. WHO. 12. How to Organize Training for Distric Coordinator. Geneva. 1992 2. Depkes RI Badan PPSDM. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator.347 13. JJ Gilbert.301. Geneva. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. WA 530. Geneva. MSH/WHO.995. Geneva. 15. Depkes RI.350 11. Geneva. Geneva. WHO/HTM/TB/2005. 2005. Delivery. 1998 8. Abbat FR. 1999. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Abbat FR. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. Jakarta. 2006. McMillan. 2001 7. 2005. Working together for Health. 2005. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI.725/Menkes/SK/V/2003). Manila. Training in Australia: Design. 2003 6. Jogyakarta. WHO. WHO/HTM/TB/2005.24/Ind/P 5. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. 2002. WHO-WEPRO. Evaluation and Management. 2003 9. November 2005 14. 2005. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. WHO-SEA. Jakarta. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. WHO/HTM/TB/2005. unpublished). Mangkunegara Anwar Prabu. Amara Books. WHO. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. WHO/HTM/TB/2005. WHO. W 21. 2005. Bandung. WHO. 616. 2006.1991 3. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia.

Tearfund. 2001 BAB 11. Global Partnership to STOP TB. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Jakarta. 2005. 2001 2. WHO. Geneva. 2003. Pedoman Advokasi.24 BAB 9. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. 2006 5. WHO/CDS/TB/2003.323 4. The Power of Partnership. Geneva. WHO. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. WHO. Guidelines for Workplace TB Control Activities. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. 2003. Atlanta. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. WHO/HTM/STB/2003. Cetakan ke-10. 2000 3.24/Ind/P 94 . 2006.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. SEA/TB/259 5. Depkes RI Pusdiklatkes.995. Jakarta. Public-Private Partnerships for TB Control. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. Research Methods for Promotion of Lung Health. WHO-SEARO. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. 2001 2. Gordom Graham. 2001 3. 2006 3. Jakarta. Jakarta. Interventions. 2003. 2002 6. and Emerging Policy Framework. New Delhi. Paris. 616. New Delhi. Geneva. WHO-SEARO. Penelitian Tuberkulosis 1. WHO. SEA/TB/213 3. Depkes RI Pusat PKM. Issues. IAUTLD. 2003. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. Jakarta. TB Advocacy: Practical Guide. Depkes RI.312 7. Geneva. 1999 2. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. 2004 2. belum diterbitkan). 2006. WHO. WHO/SEARO. 2004 2. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. Making Health Communication Program Work. Advokasi. 1999. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. WHO. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. Depkes RI. Geneva. Atlanta. Depkes RI. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. Depkes RI. Jakarta. 2002 4. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. Understanding the TB Cohort Review Process. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO/HTM/TB/2005. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Kemitraan dengan Sector Swasta. WHO/CDS/TB/2003.355 3. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis.

Paris. WHO/SEARO. National Level TB Management Cycles. Combating Tuberculosis. Perencanaan 1. WHO/SEARO. Geneva. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries.253 5. Jakarta. 1998. WHO.995. WHO/TB/98. New Delhi . (draft. Geneva.24/Ind/P 2. WHO.344 5.240 BAB 13. belum dipublikasi). Depkes RI. 1999 6. 1998. Geneva. Tuberculosis Handbook. 2006. 1996 3.253 6. Stop TB Partnership. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. New Delhi . WHO/TB/98. 4th edition. Geneva. WHO. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. WHO/HTM/TB/2004. 2005 4. WHO. 1998. Principles for Accelerating DOTS Coverage. Tuberculosis Handbook. 2004. WHO/TB/98. 1999 95 . Geneva. 616. Cetakan ke-10. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4.

pasien TB dengan BTA negatif. TB ekstra paru. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI.). Philippine Coalition Against Tuberculosis. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). (dewasa. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. Indonesian Association of Pulmonologists. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). termasuk pasien TB dengan BTA positif. yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV.S.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. Centers for Disease Control & Prevention. American College of Chest Physicians. Infectious Diseases Society of America. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. Stop TB Partnership. International Council of Nurses. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang96 . Terdiri 17 standar. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. dan World Care Council. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru.S. dimana semua praktisi. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). antara lain : Indian Medical Association. Philippine College of Chest Physicians. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). U. American Thoracic Society.

evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. 97 . pleura. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. bilasan lambung atau induksi sputum. Bila ada fasiliti. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru.Rifampisin. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. Pada pasien demikian. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. foto toraks menunjukkan kelainan TB. (dewasa. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. Pada pasien dengan atau diduga HIV. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari). Fase awal terdiri dari INH.

Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Rifampisin. Rifampisin. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. paling baik dinilai secara klinis. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. 98 . Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional.

Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Rifampisin dan Etambutol. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

Reg.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Reg. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K). Reg. apat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur).Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. n atau lebih dengan BTA positif.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan. itif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama gister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. 104 .03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. s.GGULANGAN TUBERKULOSIS UPATEN / KOTA TB.Lab Hasil/ Tgl.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. Reg.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. 106 . misalnya 02.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. yang merupakan nomor urut kab/ kota. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf. yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. yang merupakan nomor urut UPK. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. 02/15/237 B dan 02/15/237 C.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. sebagai berikut : . . . misalnya 15.A= dahak sewaktu pertama. . misalnya 237.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 110 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 111 .

.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

22.Angka default : 89 . 2. 10.Diagnosis pendukung : 14 Dokter .angka kesembuhan : 9 . 5. lihat uji silang D Dahak . 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6. 70 BTA : 5.lihat PMO DOTS : 7. 64. 70. 23 BP4 : 8. . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9. 9.batasan : 63 .daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18.pertimbangan dokter : 15 DOT .Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10. 65 AIDS (lihat juga HIV) : .angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.Diagnosis utama : 14 .efek samping berat : 32 . 87 .pola pikir : 64 . B C 118 .lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis .strategi AKMS : 65 Analisa : 85.Overdiagnosis : 14. 2. 89 . . 29. 11. 14 Darurat .peningkatan cakupan : 80. 9. 71.pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. 63. CBA : 81 CDR : 9. .Fokus DOTS : 7 .Diagnosis TB paru : 14 .analisa indikator : 85 . Buffer stock : 49 Cakupan .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 91 .efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38.pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5.analisa situasi : 77 Angka .angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 .Diagnosis TB ekstra paru: 14 . 11. 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. 11.Alur diagnosis TB paru : 15 .angka konversi : 88 .Angka gagal : 89 . AKMS : 1. 39.dampak terhadap TB : 4.pandemi : 4 .efek samping ringan : 31 . . 13. 6 . 65. 63.lihat hasil pengobatan . 12. 64.

kasus kambuh : 18 .kasus kronik: 18 . 5. 86 .kasus setelah gagal : 18 .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.evaluasi pembelajaran : 56 . 6.dosis paduan KDT-OAT : 21. 21.TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .kasus lain : 18 . 30.Kesalahan besar . 57 .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.kasus setelah putus berobat : 18 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .Kesalahan Gradasi (KG) .langkah-langkah kemitraan : 62 . .indikator jejeraing : 71 . 22 Klasifikasi : 16 .indikator program : 84.syarat jejaring yang baik : 72 .kasus baru : 18 .lihat hasil pengobatan . 22. 7.indikasi operasi : 31 .Gejala klinis pasien TB : 13 .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .jejaring internal : 71 .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .evaluasi kinerja : 56.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .jejaring ekternal : 71 . 48.klasifikasi penyakit : 16 119 I .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 . 18.Gejala utama : 13 . 29. 89.kategori 1 : 20 .evaluasi dampak : 56 .kasus TB : 18 .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 J Jejaring .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .Kesalahan kecil .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 . .pembentukan jejaring : 71 .syarat indikator : 85 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator .definisi kasus : 16 . 49 .tujuan : 61 .prinsip dasar kemitraan : 61 .kategori 2 : 21 . 85. Indikasi .lihat visi KDT-OAT : 20. 17.keuntungan KDT : 20 . 11. 16.kasus pidahan : 18 .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori .

6.OAT sisipan 20.tujuan mengatasi masalah : 79 . 10.Jenis logistik : 48 . peran.masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal. . 65 . 10.Koordinator pelatihan : 56 .Mempertahankan mutu : 80 .Manajemen logistik lainnya : 51 M Manajemen laboratorium .ruang lingkup : 34 . 9 . lihat MDG Misi . 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48. 9.Manajemen logistik OAT : 49 . 6.masalah tuberkulosis di dunia : 4 .masalah MDR : 4.bentuk-bentuk : 88 . 7 .Laboratorium rujukan nasional : 35.Laboratorium mikroskopis UPK : 37. 8.Pelatihan dasar : 54 120 P . O OAT . 21 .menetapkan masalah prioritas : 78 .fungsi. 41 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .prinsip : 66. 49.penggunaan pada pasien TB : 31 .paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1. 67 .klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 39.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 . 40 .mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .pemecahan masalah : 79 . 80 .klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 . 66 . 40 .beban masalah TB (penyebab) : 4 .peningkatan mutu : 44. tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 .inkompetensi : 57 Kortikosteroid .definisi komunikasi : 63. 53 .Laboratorium rujukan provinsi : 35.Laboratorium rujukan uji silang : 35.Jenis.Pelatihan dalam tugas : 54 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 . 42 .efek samping OAT (lihat efek samping) .Laboratorium rujukan regional : 35.dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1. .Evaluasi pelatihan : 56 .pemantapan mutu internal : 44 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1.masalah prioritas : 7.Konsep pelatihan : 54 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah . 39.standar kompetensi : 57 . sifat dan dosis : 19 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . 51 .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4. 37. 38.komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9.pemantapan mutu eksternal : 45 .Materi pelatihan : 56 . 7.definisi : 63.negara dengan beban masalah TB : 4 .identifikasi masalah : 78 . 54 .

74 .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1. 40.lihat public-private mix . 36. 26 . 8 . 70 .Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11.Langkah-langkah .Metodologi : 75 .Persyaratan : 25 . 10. 36.pencatatan di laboratorium : 85 . 40 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 . 35. 9.tujuan perencanaan : 77 . 77.kebijakan program : 9 .Puskesmas Satelit : 11.pencatatan di UPK : 84 . 25.Batasan : 53 .kegagalan program : 4 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .batasan : 70 .pengobatan dalam keadaan khusus : 29 . 53 .siklus perencanaan : 77 .Karakteristik penelitian TB : 74 . 11.Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.strategi program: 10 .tujuan : 44 PPM .tujuan dan target : 9 . 10.perencanaan berbasis bukti : 77 .Pelatihan penuh : 54 .pengobatan pencegahan : 24 .menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) . 37. Q QA (quality assurance) : 35 121 . 2. 35. 37. 37.pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8. 37. 79 .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.program TB di Indonesia : 8 .Pelatihan penyegaran : 55 . 4.Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .Ruang lingkup : 75 . 9. 10.memilih prioritas : 79 Program TB : 1. 9.langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 . 7. 40 .Pelatihan ulangan : 54 . 36. .Pelatihan sebelum bertugas : 54 .perencanaan : 45 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 35.Pelatihan lanjutan : 55 .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1.tahap : 44 .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7.tujuan PSDM : 53 .pengobatan lengkap : 29 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .Tujuan pengobatan: 19 .ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 . 36. 35.Prinsip pengobatan : 19 .

VCT : 30 Visi . 6 . 82 .tatalaksana TB anak : 22 . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 .prinsip dasar tatalaksana : 13 .kegiatan supervisi : 57 .case notification rate (lihat CNR) .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80. 53.Rumah sakit umum pemerintah : 53 .pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 .Penentuan tipe : 18 Tujuan . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35.case detection rate (lihat CDR) . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.Pukesmas : 53 .risiko menjadi sakit TB : 5 .risiko penularan TB : 5 .sasaran buku : 2 . 7.faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .pemetaan : 81 WHO : 6.lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .Tipe pasien : 18.tingkat kabupaten/kota : 54 .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.gambaran radiologis : 14.sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .persiapan supervisi : 58 .pelaksanaan supervisi : 58 .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9.laporan supervisi : 59 . 10 .target program : 9 Tatalaksana : .tujuan buku : 2 .sasaran wilayah : 82 . .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.perencanaan supervisi : 58 . 52.penetapan target : 82 .supervisi laboratorium TB : 46 . 82 . 22.TB .pengembangan : 80 . 10. 35. U V Valid : 85.tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .tujuan program : 9 . 40.dokter praktek swasta : 54 .tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14. 37.hubungan supervisi dan pelatihan : 57 . 122 . 44.rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) . Rate (lihat juga angka) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful