P. 1
Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tbc

Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tbc

|Views: 5|Likes:
Published by Widiana Kosasih

More info:

Published by: Widiana Kosasih on Mar 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/05/2014

pdf

text

original

PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :
Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Jenis Logistik Program 2. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Pelatihan 3. Metodologi 4. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Menetapkan Tujuan 4. Standar Ketenagaan 2. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Pembentukan Jejaring 3. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Indikator Program 9. Tujuan Penelitian 2. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Analisa Situasi 2. Batasan 2. Langkah Langkah 3. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Kerangka Pola Pikir 3. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Manajemen OAT 3. Pencatatan dan Pelaporan 8. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3.

Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv . Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1.

Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. Berbagai kemajuan telah dicapai. Selamat berjuang! Jakarta. dan kelemahan akibat TB. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. dr. swasta maupun lembaga masyarakat. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. Siti Fadilah Supari. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. SpJP(K) v . efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. ketidakproduktifan. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG).

lembaga swadaya masyarakat. MPH vi .000 pertahun. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. I Nyoman Kandun. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr.000 dan jumlah kematian sekitar 101. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. PAPDI. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. Jakarta. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. IDAI.

Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB .Pelatihan.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis.Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program. definisi kasus TB. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. .Tuntutan masyarakat akan mutu. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS).Supervisi. .Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB .Manajemen Laboratorium TB .Kemitraan. . sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat.Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis .Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). Penambahan bab-bab baru meliputi : . pengurangan.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . . . Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT).Tuberkulosis dan permasalahannya. indikator pemantauan dan evaluasi.Penelitian TB . maka dilakukan penanambahan. .Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan. elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya.Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . alur diagnosis anak (sistem skoring). dibuat dalam buku pegangan tersendiri . sementara situasi program penanggulangan TB. saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program.Advokasi.

SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. . dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya.Tuberkulosis. akan dikembangkan dalam buku tersendiri.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan.Diagnosis TB. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB . Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. - 2 . kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . Sebagai sebuah pedoman. propinsi. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. klasifikasi penyakit dan tipe pasien.

terjadi pada negara-negara berkembang. Insidens TB didunia (WHO. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan.1. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. Gambar 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. Jika ia meninggal akibat TB. Demikian juga. Pada tahun 1995. maka akan kehilangan 3 . diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). persalinan dan nifas. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia.

obat tidak terjamin penyediaannya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. dan sebagainya). • Kegagalan program TB selama ini. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. Pada saat yang sama. tidak dilakukan pemantauan. . WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. Hal ini diakibatkan oleh: .000 orang. pada tahun 1993. .Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan . pencatatan dan pelaporan yang standar.000 kasus baru dan kematian 101. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. • Dampak pandemi infeksi HIV.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. Selain merugikan secara ekonomis. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. Di Indonesia. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. setiap tahun ada 539.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. 4 . penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar.000 penduduk. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Menyikapi hal tersebut. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . Diperkirakan pada tahun 2004. Situasi TB didunia semakin memburuk.

.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun.Pada waktu batuk atau bersin. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). . pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sebagian besar kuman TB menyerang paru.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. makin menular pasien tersebut.Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. • Risiko penularan . . Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. . maka jumlah pasien TB akan meningkat. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. • Risiko menjadi sakit TB . Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Dengan ARTI 1%.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. . maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. . seperti tuberkulosis.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. • Cara penularan . Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. 5 . berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. . Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. diperkirakan diantara 100. . Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. ARTI sebesar 1%. .

juga mencegah berkembangnya MDR-TB. setelah 5 tahun. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : ƒVentilasi ƒKepadatan ƒDalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI ƒ Malnutrisi ƒ Penyakit DM. 6 . secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. best practices.25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. Penerapan strategi DOTS secara baik. clinical trials.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi.2. akan: . immunosupresan ƒ Keterlambatan diagnosis dan pengobatan ƒ Tatalaksana tak memadai ƒ Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati.50% meninggal .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade.

setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. Pada tahun 1995. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. 3. 3. Mencapai. 5. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. termasuk pengawasan langsung pengobatan. 6. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. 7 . kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Komitmen politis 2. 2. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. 4. 4. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. 5. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.

• Indonesia. Setelah perang kemerdekaan. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. sampai saat ini. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. Sejak tahun 1995. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. • Sampai tahun 2005. Sampai tahun 2000. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. • Tahun 1995. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. Di Indonesia. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. 1.

Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. KEBIJAKAN a. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. 3. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. memutuskan rantai penularan. f. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. j. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). Rumah Sakit Paru (RSP). Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. meliputi Puskesmas. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. pelaksanaan. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. sektor pemerintah. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. tenaga.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. sarana dan prasarana) b. masyarakat dan pekerjaannya. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. h. k. l. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. e. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. i.

Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Pemantauan dan Evaluasi d. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Rumah Sakit. 10 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Peningkatan SDM (pelatihan. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. Promosi g. Kemitraan 6. supervisi) e. c. Penemuan dan pengobatan. STRATEGI a. Tingkat Kabupaten / Kota. komunikasi dan mobilisasi sosial d. d. b. Penelitian f. Unit Pelayanan Kesehatan.I. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. b. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. e. Dilaksanakan oleh Puskesmas. KEGIATAN a. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Perencanaan c. Menteri Kesehatan R. Tingkat Pusat. ORGANISASI PELAKSANAAN a.

Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Rumah Sakit Umum. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. a. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. • • 7. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. Pada keadaan geografis yang sulit. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. rumah sakit atau BP4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. • Menghadapi tantangan TB-HIV. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. 11 .

Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. Memperkuat penelitian operasional 12 . b. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Adapun strategi fungsional tersebut: 1. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program.

maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. pencatatan. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. dianggap tidak cost efektif. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. kanker paru. ƒ Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. badan lemas. pelaporan. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. nafsu makan menurun. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. ƒ Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. terutama mereka yang BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. 1. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. diagnosis. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. petugas yang terkait. berat badan menurun. bronkitis kronis. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. didukung dengan penyuluhan secara aktif. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. sesak nafas. yang menunjukkan gejala sama. dan lain-lain. harus diperiksa dahaknya. asma. Strategi penemuan ƒ Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. batuk darah. malaise. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. seperti bronkiektasis. demam meriang lebih dari satu bulan.

• Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. saat menyerahkan dahak pagi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. serologi. segera setelah bangun tidur. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.pagi . sehingga sering terjadi overdiagnosis. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. 2. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. foto toraks dan lain-lain. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Diagnosis TB ekstra paru. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. patologi anatomi. Pada program TB nasional. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. 14 . • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. yaitu sewaktu . suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. misalnya uji mikrobiologi. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua.sewaktu (SPS). misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit.

Sewaktu.- .. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + ..- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .1.- Hasil BTA . Pagi. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3.

alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel. 15 .Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik.

sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma). (lihat bagan alur) • Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak.menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) .menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) .analisis kohort hasil pengobatan • Beberapa istilah dalam definisi kasus: . • Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk . Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal . diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru.Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif.menentukan paduan pengobatan yang sesuai . Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif.Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. (lihat bagan alur) • Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.mengurangi efek samping. .Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. 3. . • 16 .Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter. . pleuritis eksudativa. yaitu: .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati • Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah .registrasi kasus secara benar .menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi.Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan. . .

Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ. sendi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. .Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. • TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. yaitu bentuk berat dan ringan.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. saluran kencing. kelenjar lymfe. pleuritis eksudativa bilateral. TB saluran kemih dan alat kelamin. persendian. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. perikarditis. • Tuberkulosis ekstra paru.TB ekstra-paru berat. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. TB usus. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). dan atau keadaan umum pasien buruk.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. kulit. • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. . tulang.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . maka untuk kepentingan pencatatan. alat kelamin. . usus. dan kelenjar adrenal. selaput jantung (pericardium).Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. dan lain-lain. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. pleuritis eksudativa unilateral. peritonitis. yaitu: . . tulang (kecuali tulang belakang). . misalnya pleura. misalnya: meningitis. milier. . TB tulang belakang. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. .TB ekstra paru ringan.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. selaput otak. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. misalnya: TB kelenjar limfe. ginjal. 17 . Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). • • • 18 . Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. dapat juga mengalami kambuh. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). radiologik. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. gagal. dan pertimbangan medis spesialistik. bakteriologik (biakan). harus dibuktikan secara patologik. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. default maupun menjadi kasus kronik. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Meskipun sangat jarang. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

• Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. Tahap awal (intensif) .1. mencegah kematian.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. yaitu tahap intensif dan lanjutan.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . mencegah kekambuhan.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jenis.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Tahap Lanjutan . Jenis. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) .prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. sifat dan dosis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (30(20-30) 40) Bakterisid 15 15 (12(12-18) 18) Bakteriostatik 15 30 (20(15-20) 35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . .Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paket Kombipak. . 2.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. ƒ Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif ƒ Pasien TB ekstra paru ƒ ƒ 20 . Rifampisin. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: ƒ Pasien baru TB paru BTA positif. 1. Pirazinamid dan Etambutol. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. yaitu Isoniasid. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Disamping kedua kategori ini.

3. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: ƒ Pasien kambuh ƒ Pasien gagal ƒ Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3.7ml sehingga menjadi 4ml. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Lanjutan Tahap Intensif tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. (1ml = 250mg) 3. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. 21 . + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.2.

Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). 5. dan pemeriksaan penunjang. seperti bilasan lambung. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. CT-Scan. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. patologi anatomi. pungsi pleura. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit.4. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. Lihat tabel 3. funduskopi. pungsi lumbal. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Setelah dokter melakukan anamnesis. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system).5. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. foto tulang dan sendi. 22 . pemeriksaan fisik. dan lain lainnya.

dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB BTA positif Tidak Laporan jelas keluarga.5. jumlah >1. aksila. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). BTA negatif atau tidak tahu. Sinusitis. lutut. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. 23 . kelenjar limfe koli. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. dan lain – lain. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Klinis gizi buruk Bawah garis keadaan gizi (BB/U < 60%) merah (KMS) atau BB/U < 80% > 2 minggu Demam tanpa sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm.--> lampirkan tabel badan badan.

Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . misalnya sesak napas 2. Tanda bahaya: ƒ kejang. koksitis Gambar 3. kavitas. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. kaku kuduk ƒ penurunan kesadaran ƒ kegawatan lain. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Gibbus. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Setelah pemberian obat 6 bulan . Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1.2.6. OAT pada anak diberikan setiap hari. Tabel 3. efusi pleura 3. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. OAT tetap dihentikan.

PMO dapat berasal dari kader kesehatan. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. Juru Immunisasi. guru. 6. dirujuk ke rumah sakit. 25 . tidak boleh dibelah ƒ OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. Dosis OAT KDT pada anak Berat badan (kg) 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 5-9 1 tablet 1 tablet 10-19 2 tablet 2 tablet 20-32 4 tablet 4 tablet Keterangan: ƒ Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit ƒ Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. dan lain lain. Perawat. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. a. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. c. ƒ Anak dengan BB > 33 kg .7. misalnya Bidan di Desa. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. Sanitarian. ƒ Obat harus diberikan secara utuh. anggota PPTI. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. dipercaya dan disetujui. Pekarya. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. PKK.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. 26 . Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. d. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7.

8. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Jika mungkin. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Beri Sisipan 1 bulan. tahap lanjutan tetap diberikan. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . teruskan pengobatan tahap lanjutan.

9. dahak. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: ƒ Lacak pasien ƒ Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur ƒ Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 ƒ Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai ƒ Diskusikan dan Tb extra paru: cari masalah Lanjutkan pengobatan ƒ Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan hasil BTA (+) sebelumnya kurang sampai seluruh dosis dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan ƒ Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan ƒ Kategori-2: rujuk. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) ƒ Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan ƒ Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Mulai kategori-2 Bila satu atau lebih Kategori-1 ƒ Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk. 28 . Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: .Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan Æ lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik.

Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. kecuali streptomisin. b. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Menurut WHO. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. 29 . hampir semua OAT aman untuk kehamilan. • • • • • 8. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. a. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS.

Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. susuk KB). pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. d. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. 30 . ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. d. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. Pasien dengan kelainan hati. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. harus dihentikan. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. suntikan KB. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali.

Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. 31 . Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. ƒ Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. g. kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. setelah selesai pengobatan TB. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. adalah: Untuk TB paru: ƒ Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. h. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. mual. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: ƒ Meningitis TB ƒ TB milier dengan atau tanpa meningitis ƒ TB dengan Pleuritis eksudativa ƒ TB dengan Perikarditis konstriktiva .10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. tapi perlu penjelasan kepada pasien. karena dapat memperberat kelainan tersebut. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. 9. ƒ Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. Untuk TB ekstra paru: ƒ Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. Tabel 3.

Jika gejala efek samping ini bertambah berat. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. hentikan semua OAT. Berikan dulu anti-histamin. ganti Etambutol. Hentikan Etambutol. ganti Etambutol. Untuk membedakannya. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. Bila mungkin. ganti obat tersebut dengan obat lain. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Hentikan Rifampisin. Streptomisin dihentikan. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Bila keadaan seperti ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 .11. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Streptomisin dihentikan. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Hentikan semua OAT. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. segera lakukan tes fungsi hati. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut.

jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. mungkin dapat dilakukan desensitisasi. 33 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. Namun.

harus mengikuti acuan/standar. Propinsi. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. 34 . Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Namun. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. Kegiatan – kegiatan laboratorium. mulai dari tingkat Kecamatan. Sumber daya laboratorium. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. Keamanan dan kebersihan laboratorium. Kab/Kota. murah. Untuk mendukung kinerja program. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. mudah. bersifat spesifik. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. dan Nasional. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis.

BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). 35 . identifikasi. Laboratorium rujukan Regional. c. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. uji kepekaan M. dll. mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). Laboratorium mikroskopis TB UPK ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. tb dari spesimen dahak. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. Laboratorium rujukan Nasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. b. BP4. ƒ Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA).tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis ƒ Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. ƒ Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. ƒ Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. identifikasi dan DST M. Rumah Sakit. peran. Laboratorium rujukan Provinsi ƒ Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. ƒ Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). ƒ Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. RSP dll. e. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis.

1. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide. Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB ‰ PRM. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. PPM ‰ Rumah Sakit ‰ Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. Australia.

36 .

. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . . Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. FUNGSI dan PERAN.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. sampai diperoleh hasil ƒ PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. . ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Fungsi: Melakukan pengambilan dahak.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. . . Laboratorium mikroskopis TB UPK.Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. . b. .Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. . TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Fungsi: . dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. . sampai diperoleh hasil.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 . dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM.Tugas: ƒ PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. dan keamanan dan keselamatan kerja.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Peran: . Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM. Catatan : Bilamana perlu.Laboratorium mikroskopis TB.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis.

ƒ Peran: ƒ Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) ƒ Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis. ƒ Tanggung jawab: .Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. 1. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. . 2. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). . . Laboratorium rujukan Provinsi. . . TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. ƒ Pembina laboratorium TB sesuai jejaring ƒ Tugas: . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap.Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring. Isolasi. ƒ Fungsi . .Menyelenggarakan pembinaan Lab.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. . termasuk EQAS sesuai jejaring. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. TB dari dahak. 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: TB setempat. 38 . isolasi. identifikasi dan tes kepekaan M. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. - c.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi.

Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . Laboratorium rujukan Nasional. .tb dan MOTT bagi yang memerlukan. ƒ Tanggung jawab: . Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB.Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. ƒ Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain. ƒ Peran: . Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab. identifikasi dan DST M. 39 . ƒ Peran: ƒ Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. identifikasi dan DST M.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. identifikasi dan DST M. . rujukan provinsi. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB.tb di laboratorium provinsi ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. e. ƒ Laboratorium rujukan untuk isolasi.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional.Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. ƒ Fungsi: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. tuberculosis. Laboratorium rujukan Regional. identifikasi dan uji ƒ Tugas: kepekaan (DST). . identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. ƒ Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional.

Sarana: .Idem PS kerja Lab .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak.1 buah mikroskop binokule . ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Sarana keamanan .05).Ruang: . aether alkohol.Ruang: . pipet.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai .Idem dengan PS.Sarana: .Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak. corong.Formulir standard (TB. kertas lensa. . timer . minyak emersi. kertas saring.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.Sarana keamanan . rujukan pemeriksaan dahak.Wadah pembuangan berisi desinfektans. . .Desinfektans. ditambah dengan : . .Botol berisi pasir dan desinfektan .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . penjepit sediaan dari kayu. ose/lidi. Laboratorium mikroskopis TB UPK.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. kotak sediaan.Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) Æ (lihat buku pedoman pem.Air mengalir. kaca sediaan/frosted sediaan. sticker.Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. TB 04 . minimal SMAK/setara . .Idem PS . . Mikroskopik dahak BTA) . lidi lancip.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan .Ruang kerja terang dengan ventilasi baik .pewarna ZN bermutu. kerja Lab . rak pengering. minimal SMAK/setara . lampu spiritus.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. timer.

b. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .

setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop.Ruang administrasi . .Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . Laboratorium rujukan Provinsi.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang . . .Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) . ƒ Seorang pembantu analis.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang pelatihan. . Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi. ƒ Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro ƒ Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia.Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : . uji silang ditambah dengan : ƒ 10 mikroskop binokuler ƒ 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . Teknisi alat laboratorium: ƒ Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Dua orang tenaga analis medis yang terampil.Ruang pembuatan media dan reagensia.2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: Sarana keamanan kerja Lab c. .Tb: ƒ Idem dengan lab.

Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.1 freezer (. . .1 timbangan gram (0–500 gr) .Minimal seorang tenaga administrasi. .Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.5000 g) . . .Cabinet untuk pembuatan media .1 biosafety cabinet class II .Minimal 2 orang tenaga analis (Media).1 incenerator / carbonizer . managemen) d. . Laboratorium rujukan Regional. GLP. Ruang: .Botol McCartney .300 C) . .Micro-pipette .Idem lab Propinsi kerja Lab - .2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).1 waterbath.Alat gelas laboratorium. .1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) . Administrasi: .Blender/homogenizer (autoclavable) .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi. Teknis alat laboratorium: .Magnetic stirrer.1 inspisator. Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Teknis laboratoris: . .Vortex mixer.Idem lab Propinsi Sarana keamanan .Generator listrik.idem dengan lab Propinsi Sarana: .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: . .1 lemari es.Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).1 incubator. .1 bio-containment centrifuge (500 .

42 .

vortex.Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi.Amplifikasi asam nukleat: ƒ Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV).Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Tenaga Teknis Laboratoris: ƒ Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research).Automated Liquid culture system . pipet mikro.ELISA system .Optional: Fasilitas kultur sel.Ruang Asam: fume hood. microcentrifuge. shower . microcentrifuge ƒ Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA. Idem ruang lab regional ditambah dengan : .1 mikroskop fluorescence . refrigerator. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . vortex. UV transilluminator/imaging system . dan ƒ Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. Waterbath . freezer –20oC. Laboratorium rujukan Nasional.TB: . 1 set pipet mikro. dan ƒ Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. 1 set pipet mikro. system elektroforesis horizontal. system elektroforesis vertical. refrigerator.Dot blotter .Ruang gelap .Ruang dengan negative pressure . Mikroskopik dahak BTA ƒ Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) ƒ 5 tenaga analis. heating blockpem. freezer –20oC. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. eye wash.Nucleic Acid Sequencing system . Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi. ƒ 2 orang analis untuk media dan reagensia.Thermo-cycler .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e.

Protap pengelolaan limbah . Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis.Protap pemeriksaan Mikroskopis . pemeriksaan contoh uji.Protap pembuatan sediaan dahak . mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. pengolahan contoh uji.Protap pengambilan dahak . penyimpanan. pengambilan. pengiriman.1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . analisis.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen .Idem dengan lab regional ditambah dengan : . dan harus dilakukan terus menerus. ƒ Membantu peningkatan pelayanan pasien. Pemantapan Mutu Eksternal 3. Pemantapan Mutu Internal 2. Tujuan PMI ƒ Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera ƒ Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. terintegrasi dalam PMI dan PME. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. ƒ Mendeteksi keslahan. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : ƒ Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium.Protap pembuatan media 44 . Peningkatan mutu (Quality Improvement). pasca-analisis. misalnya : . pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar.

karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME ƒ Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB ƒ Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan jenis kegiatan PME ƒ Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME ƒ Penilaian dan umpan balik. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. laboratorium pembaca pertama. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium.Dsb. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. audit internal. 45 . Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. Pada pelaksanaan uji silang. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja.Protap inokulasi . Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : ƒ Uji silang sediaan dahak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ ƒ ƒ . Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala.

Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. sarana dan prasarana laboratorium. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. meliputi : ƒ Tenaga : Pelatihan. pelatihan. mutasi ƒ Sarana dan prasarana : Pengadaan. pemeliharaan. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. ƒ Supervisi Laboratorium TB. pengembangan metoda pemeriksaan 5. uji fungsi ƒ Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. penyegaran. mutu pewarnaan. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. dll. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. 46 . ƒ Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB.

Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. masyarakat umum. dsb). dsb) 2. uji kepekaan. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. peralatan. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. 1. serologi. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. 47 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. 4. lingkungan sekitar laboratorium. jadwal pemantauan dan evaluasi. PCR/biomolekuler. Penyediaan perangkat (protap. biakan. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS
Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi. 1. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. a. Logistik OAT. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak, untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister, dan tiap blister berisi 28 tablet. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2, dan sisipan, yang dikemas dalam blister untuk satu dosis, kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. b. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop, Slide Box, Rak pewarna dan pengering, Lampu spiritus, Ose, Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum, kaca sediaan, Reagensia Ziehl Neelsen, Eter Alkohol, Minyak imersi, Lysol, Kertas pembersih lensa mikroskop, kertas saring, tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman, format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya.

48

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

2. MANAJEMEN OAT a. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya, • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan, • buffer-stock, • sisa stock OAT yang ada, • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program, Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). Disamping rencana kebutuhan OAT KDT, perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi, perencanaan ini diteruskan ke pusat. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat, sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi

49

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Buffer stock ditingkat pusat.

b. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). c. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan, dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah, penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out), artinya, obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis, jumlah, kemasan, nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. d. Monitoring dan Evaluasi. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda, untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi, melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. e. Pengawasan Mutu. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Setelah OAT sampai di Propinsi, Kabupaten/Kota dan UPK, pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. f. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Keutuhan kemasan dan wadah

50

Kemurnian/ kadar cemaran 6. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. Identitas obat 2. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Kadar zat aktif 7. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Pemberian 3. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. boks dan master boks 5. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. Waktu hancur atau disolusi 5. 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Uji potensi 8. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). • Dan pihak lain yang terkait.

formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Rak pewarna dan pengering. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. Ose. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Botol plastik bercorong pipet dll. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. Lampu speritus. 52 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. Slide Box. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. Bahan Uji tuberkulin.

pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. supervisi. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. pembinaan (pelatihan. dan kesinambungan (sustainability). Unit Pelayanan Kesehatan 1. pelatihan dan supervisi. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. 2. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. kalakarya/on the job training). Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. 3 perawat/petugas TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. 3 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium 53 . 1 perawat/petugas TB. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. dan 1 tenaga laboratorium. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. 1. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional.

Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. b. 2 perawat/petugas TB. 2. 2. 2. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui 54 . Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. jumlah tergantung kebutuhan. Tingkat Provinsi 1. 3. Fakultas Keperawatan. jumlah tergantung kebutuhan. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. 3. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. dan lain-lainnya. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. dan lain-lainnya. menyesuaikan. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. 5 fasilitator pelatihan. Pelatihan penuh. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. (Fakultas Kedokteran. • Tingkat Kabupaten/Kota 1. seluruh materi diberikan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. minimal telah dilatih. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. 3. 2 perawat/petugas TB. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. Dokter Praktek Swasta. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. terdiri dari: 1. Pelatihan ulangan (retraining).

reaksi dan . 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. Materi berbeda dengan pelatihan dasar.dampak 55 . pelatihan TB-HIV. peserta. dana. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. pelatihan advokasi. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. pelatihan DOTS plus.kinerja (supervisi) .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan.pembelajaran • paska pelatihan . • persiapan administratif penyiapan bahan. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. fasilitator. surveilans. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya.1. seperti: pelatihan manajemen OAT. materi. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan .. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. d. c. metode pembelajaran. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. kepanitiaan. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. Pelatihan penyegaran.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Diadopsi dari Tovey (1997) 56 .

Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. Tidak semua harus dipelajari. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN . Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan.2.Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih.

Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : ƒ observasi. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. ƒ bantuan teknis. 3. ƒ diskusi. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompeten si pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) . on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung.3. ƒ bersama-sama mencari pemecahan masalah dan ƒ memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja.

waktu modifikasi dari berbagai sumber .

Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. Pengumpulan informasi pendukung.Pada tahap awal pelaksanaan program. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi.01 dan TB. Penjadwalan kegiatan supervisi. . maka supervisi harus direncanakan dengan baik. 4. . serta kebutuhannya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. .Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi.Menjadi pendengar yang baik. . BP4. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. .06. 2. maka perlu dilakukan persiapan. . atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. misalnya angka konversi rendah. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi. hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO. Kepribadian supervisor. 3. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. RS. . partisipatif dan tidak instruktif. pemetaan wilayah.Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. misalnya laporan.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. 2. angka kesembuhan rendah. Kegiatan penting selama supervisi. Pelaksanaan supervisi.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. 2. bila memungkinkan . . Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. empati.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. .Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . sebagai berikut: 1.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . terutama pada tingkat UPK : 1. penuh perhatian. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester.03) .Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. 58 . . termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. yaitu: . .Melakukan pendekatan fasilitatif.

g. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. tidak mampu melaksanakan. maka berarti ada masalah kinerja. b. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. 4.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. Memberikan umpan balik saran yang jelas. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. f. 2. d. Laporan supervisi. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. praktis. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. dapat dilaksanakan. melakukan on the job training. e. inisiatif. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. inovatif. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. 59 . c. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. realistik. realistis. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. Tentukan penyebab yang paling mungkin. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. 5. 1. 3. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. sebaiknya 3 lembar: . kreatifitas. mungkin karena tugasnya tidak jelas. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. dan tidak menciptakan masalah baru.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. 60 . Lembar 3 : arsip supervisor.

Keterbatasan sector pemerintah 3.Meningkatkan komitmen . mengingat : 1. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis .Meningkatkan koordinasi . kelompok media massa.Meningkatkan sumber daya. Lembaga Swadaya Masyarakat. Keberlanjutan program 5. Akuntabilitas. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. Potensi melibatkan sector lain 4. c. organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. mutu. Beban masalah TB yang tinggi 2.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. organisasi keagamaan. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. organisasi profesi. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1.Meningkatkan komunikasi . sektor swasta. baik dari pemerintah. 61 . b. legislative.

3. e. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. disepakati sejak awal. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. Pemantauan dan penilaian. tugas dan fungsi masing. Komunikasi intensif. c. f. Melakukan kegiatan. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Identifikasi. b. Pembentukan Komitmen. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. Pengaturan peran. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. b. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. Penyamaan persepsi. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. dana. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. g. sarana dan prasarana. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir.

advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. komunikasi. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Dalam konteks penanggulangan TB. 63 . Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. Pada konteks dalam negeri. 1. Dalam konteks global.

Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .Media Promosi .Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.factor lain 64 . APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Tenaga Penyuluh .1.Buku Pedoman . KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.Angka kesembuhan .Sumber dana (APBN. Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .

1. 2. berfikir. memberikan laporan. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. metode dsb) Mengembangkan bahan. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. Memilih strategi yang tepat (advokator. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. pertemuan/rapat kerja. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. konsultasi. 65 . Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. menulis dan lain-lain. Dalam proses komunikasi.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. pelaksana. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. b. dan Mobilisasi sumber dana.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan.Demonstrasi. 3. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3.Surat kabar.Rapat pertemuan-pertemuan. seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . d. lancar tidaknya suatu proses. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. 66 . Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. latihan (meningkatkan kemampuan) . sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. seminar peningkatan pengetahuan . akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. percakapan. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan).Radio. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . c. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: .Televisi. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa.

Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. masyarakat.Community fund : Dana yang ada di masyarakat . dan ormas lainnya 67 . Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: . . pesan. motivasi. ikut menjadi PMO. 2.Memerlukan pengulangan secara periodik.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. 3. . Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. . alih pengetahuan dan keterampilan. KIE berbasis individu. Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat .Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. 5. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB.Memenuhi permintaan masyarakat. Kader TB dan sebagainya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. . baik secara kuantitatif maupun kualitatif.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. . sasaran.indikator dan umpan balik mobilisasi. . .Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. . memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. 4.Community material : Sarana masyarakat . memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok . karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. harus merupakan elemen kemasyarakatan.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. keluarga. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat.

dunia usaha. Komisi 9 DPR Akademisi.organisasi profesi. Kunjungan rumah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. profesi (IDI. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. Diskusi kelompok (DK). Penyuluhan kelompok. . dll Peminatan Kebijakan. . Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. LSM. 68 .mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan.1. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. .memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). Lintas program.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye. PAPP) LSM.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. Konseling. Ormas. . dapat digunakan tabel contoh berikut. LSM. . karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. Lintas sektor. dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Langkah-langkah mobilisasi sosial . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. Tabel 9.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

- mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV, filler/spot, radio spot, billboard dan spanduk. Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien.

69

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS
Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004, pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10.1. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29%

Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%, rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB, strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS, antara lain : rumah sakit, BP4, UPK lapas / rutan, UPK polisi, UPK di tempat kerja, dan lain lain. 1. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. 2. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. Setelah mencapai prakondisi tersebut, sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK, selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis, dan seluruh petugas terkait.

70

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

Validasi data pasien di UPKt 7. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. memantau. 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK 72 . Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. 2. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. 6. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya.

serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : ƒ Tingkat sosial ekonomi pasien ƒ Biaya Konsultasi ƒ Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) ƒ Biaya Transportasi ƒ Kemampuan dan fasilitas UPK.Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% . memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan). PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Mulai Penemuan Diagnosis Pengobatan Konsultasi Pencatatan Pengobatan selanjutnya Klinis suspek dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis.Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85% 73 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4.1. Hal yang penting diketahui : .

Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. 2. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. pengendalian mutu pelayanan. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. akses pelayanan kesehatan. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis.BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. 1. .Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program.

dan community based approach. kuasi eksperimen. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . a. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. misalnya dengan melibatkan pustu.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . in-depth interview dan lain-lain. termasuk mutu kinerja laboratorium. Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. modeling. antara lain: 1. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). 75 . Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. a. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi .Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. eksperimentasi. 3. 4. focus group discussion. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. termasuk survei. bidan di desa.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . b. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . dan 5) penyebarluasan hasil (publication). Penelitian operasional tuberkulosis. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). b. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional.Spesifik terhadap program tuberkulosis . 2.

TBKusta. 7. 6. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. 4. seperti: TB/HIV. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. Dokter Praktek Swasta. 5. c. dan UPK lainnya. dan lain-lain. 76 .

Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. pendidikan. Laboratorium dan unit lainnya. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. Dinas Kesehatan Propinsi. sosial budaya. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). Puskesmas. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 77 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PERENCANAAN BAB 12 Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. Rumah Sakit. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. Dalam sistem desentralisasi. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. a. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk.

IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. dan metodologi yang digunakan (method). sampai dimana kemajuan program. Dari kesenjangan yang ditemukan. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). dana (money). angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). material. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. logistik (material). dan market). money. pohon masalah dan log frame. Untuk maksud tersebut. 2. a.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). Selain data tersebut. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. keberhasilan pengobatan). Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. keberhasilan diagnosis. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. Untuk memudahkan. • Disamping untuk perencanaan. Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. diseminasi informasi serta umpan balik. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. pencapaian program (penemuan pasien. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. angka kesembuhan. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. komitmen nasional maupun international. dicari masalah dan penyebabnya. antara lain kebijakan lokal. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. b. method. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti.

Terukur (kuantitatif) e. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. 5. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. . Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . 1) Daya ungkitnya tinggi. Terkait dengan masalah d. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. 4. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. Memiliki target waktu.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Rasional (realistis) f. Dalam menetapkan pemecahan masalah. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). 3. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c.

dan kemitraan. diagnosis pasien. 3) Kesiapan : Tenaga. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. pengobatan dan case holding pasien. Setelah itu baru rumah sakit. sampai pada pencatatan pelaporan. rumah sakit. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. Masing-masing aspek tersebut. kepadatan penduduk. perlu dinilai semua unsurnya. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. b. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. c. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. namun perlu didukung dengan data penyakit. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. yaitu penurunan jumlah pasien. Pada tahap awal. BP4. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. karena akan memberikan dampak epidemiologis. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. RSTP dan dokter praktek swasta). RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. sarana. BP4.

¾ Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). daya ungkit dan kesiapan daerah ƒ Sasaran penduduk. Penetapan Sasaran dan Target ƒ Sasaran wilayah. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). ¾ Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. ¾ Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Perluasan unit pelaksana. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . ƒ Penetapan target.

e. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. Dengan kata lain disebut program oriented. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. Cara pemantauan. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. b. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran. d. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. bukan budget oriented. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. 6. 82 . sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. c. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. Pelaksana (siapa yang memantau). MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi.

Kabupaten/Kota. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. bagian atas. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . maupun keluaran (output). Rumah Sakit. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. proses. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. 1. Propinsi. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. BP4. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. dianalisis. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. diinterpretasi. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus.

o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. BP-4. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). PPM. RS. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. 3. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 .

Tabel 12. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ 5 Triwulan √ √ √ √ 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif.1. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - √ √ √ 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . 2. 3.

Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa X 100 % 86 .000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB .000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. misalnya rumah sakit. BP4 atau dokter praktek swasta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. indikator ini tidak dapat dihitung. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100.

Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. 87 . Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar. atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Angka ini sekitar 5 .15%.

itu berarti mutu diagnosis rendah. Angka ini berkisar 15%.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % . BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat X 100 % A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Bila angka ini jauh lebih rendah. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar.

87 .

indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. propinsi dan pusat.11. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. Di tingkat kabupaten. propinsi dan pusat. meninggal. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh X 100 % Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap.08. dan pindah keluar.01. default (drop-out atau lalai). perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. gagal. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya.12 bulan sebelumnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. setelah selesai pengobatan.01. Di tingkat kabupaten. setelah pengobatan intensif (2 bulan). kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. 88 . Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula.

Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa. supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima. disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain. maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. Kabupaten / kota harus menganali sa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang. di tingkat kabupaten/ kota. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar Benar KKPP KBPP KBPP KBPP Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR) . Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2.7) Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif. perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3.

akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07 Jumlah penduduk X 100. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut.Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 % . 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.000 Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial.

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 4. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. ATS/CDC/IDSA, Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children, Atlanta, 1999 2. ATS/CDC/IDSA, Treatment of Tuberculosis, Atlanta, 2003 3. Crofton J, Horne N, Miller F. Clinical Tuberculosis, McMillan Education Ltd, London and Oxford, 1999 4. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 5. Depkes RI, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT), Jakarta, 2004 6. Depkes RI, Kelompok Kerja TB-HIV. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS, Jakarta, 2003 7. Depkes/UKK Respirologi IDAI, Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2006 8. PDPI, Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta, 2006 9. PP IDAI-UKK Pulmonologi, Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2005; ISBN 97996622-2-2 10. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). The Hague, 2006. 11. WHO, A guide for Tuberculosis Treatment Support, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.300 12. WHO, Adherence to Long Theraphy, Geneva, 2003; W85 13. WHO, Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis, Geneva, 1997, WHO/TB/96.210 14. WHO, Toman’s Tuberculosis, Case Detection, Treatment and Monitoring. 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.334 15. IUATLD, A Tuberculosis for Specialist Physicians, Paris, 2004; 16. IUATLD, Intervention for Tuberculosis Control and Elimination, Paris, 2002, 17. CDC/US Department of Health and Human Service; Core Curricullum on Tuberculosis, What the Clinician Should Know, 4th edition, Atlanta, 2000 18. WHO, TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.329W, 19. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 20. WHO, Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers, Geneva, 2000. 21. WHO/IUATLD, Tuberculosis: A Manual for Medical Students, Geneva, 2003. 22. WHO-SEARO, Effective Diagnosis, Treatment, and Control of Tuberculosis, New Delhi, 2000. 23. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 24. WHO-SEARO, Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers, New Delhi, 1999 BAB 5. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO, External Assessment for AFB Smear Microscopy, Washington, 2003 2. Depkes RI, Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia, Jakarta, 2002 3. IAUTLD, The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network, Paris, 1998 4. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 1, Organization and Management, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 5. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 2, Microscopy, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 92

WHO. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. JJ Gilbert.24/Ind/P 5. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. 1999. Amara Books. McMahon Rosemary. W 21. 2005. WHO/HTM/TB/2005.301.308 BAB 7. Training in Australia: Design. Abbat FR. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. 2005. 12. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. Surabaya. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WA 530. WHO/CDS/TB/2002.19 3. WHO/HTM/TB/2005. Evaluation and Management. WHO. How to Organize Training for Distric Coordinator. Abbat FR. Geneva. 2003. 2002. The World Health Report 2006. Geneva. Jakarta. WHO/HTM/TB/2005.347 13. WHO. WHO. Jakarta. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. Geneva.995. November 2005 14. WHO. No. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1.2002. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. Geneva. Bandung. Tovey MD. 2005. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WHO. 2003 9. Teaching Health care worker: A practical guide. Geneva. Depkes RI. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). unpublished). (comprehensive draft.1991 3. Geneva. 2003 6. Geneva. Depkes RI Badan PPSDM.347d 18. 1998 8. Prentice Hall. Revised and Updated 1998. Sydney. WHO-WEPRO. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. Geneva. WHO. 93 . 1997 10.350 11. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. McMillan. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. Geneva. WHO/CDS/TB/2002. Modul D : Provide Training for TB Control. Working together for Health. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. 15. 2005.725/Menkes/SK/V/2003). A Usmara (ed). 616. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Refika Aditama. 1992 2. WHO. WHO/CDS/STB/2002. WHO-SEA. Geneva. 2003 4.353 16. Mangkunegara Anwar Prabu. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. 2005. WHO. Delivery. 2001 7. New Delhi. WHO. 2002 2. 2002. Geneva. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jogyakarta. WHO. Irianto Jusuf. WHO/HTM/TB/2005. Cetakan ke-10.1 19. Geneva.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. Educational Hanbook for Health Personal. Manila. 2006. 2005. WHO. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. Depkes RI. 2006.347c 17. MSH/WHO. Jakarta. Insan Cendekia.

Atlanta. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO.323 4. Jakarta. Global Partnership to STOP TB. Jakarta. Research Methods for Promotion of Lung Health. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2000 3. Depkes RI. WHO/HTM/STB/2003. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service.312 7. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. WHO-SEARO. SEA/TB/259 5. 2006 5. Geneva. 2006. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. 2003. Jakarta. Geneva. WHO.24/Ind/P 94 . Depkes RI Pusat PKM. 2003. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. Geneva. IAUTLD. Depkes RI Pusdiklatkes. Paris. Jakarta. 2004 2. Penelitian Tuberkulosis 1. and Emerging Policy Framework. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. 2006 3. 2006. WHO/SEARO. 2001 BAB 11. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. Jakarta. Depkes RI. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. Public-Private Partnerships for TB Control. Geneva. 1999. SEA/TB/213 3. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1.995. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. Advokasi. WHO. Cetakan ke-10. WHO-SEARO. New Delhi. 2001 2. 1999 2. WHO/CDS/TB/2003. 2005.24 BAB 9. WHO.355 3. 2004 2. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. Guidelines for Workplace TB Control Activities. 616. Jakarta. belum diterbitkan). WHO. Issues. Understanding the TB Cohort Review Process. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Pedoman Advokasi. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. New Delhi. Geneva. 2002 6. Interventions. WHO/CDS/TB/2003. 2001 2. Tearfund. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. Depkes RI. Depkes RI. Kemitraan dengan Sector Swasta. 2003. TB Advocacy: Practical Guide. 2001 3. WHO/HTM/TB/2005. Atlanta. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. 2003. 2002 4. Gordom Graham. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Making Health Communication Program Work. WHO. WHO. The Power of Partnership.

Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. 1999 6. WHO/SEARO. WHO/TB/98. 2004. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. Cetakan ke-10. WHO/TB/98. New Delhi .344 5. Stop TB Partnership. Perencanaan 1. WHO. Geneva. 1999 95 . National Level TB Management Cycles. Principles for Accelerating DOTS Coverage.24/Ind/P 2. Tuberculosis Handbook.240 BAB 13. 2006. Jakarta. Tuberculosis Handbook. Geneva. 1996 3. (draft. WHO. Geneva. 4th edition. New Delhi . WHO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Depkes RI. 2005 4. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. belum dipublikasi). WHO/TB/98. Geneva. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Combating Tuberculosis. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO/SEARO. 616.253 6.995. Geneva. Paris.253 5. 1998. 1998. WHO/HTM/TB/2004. WHO. 1998.

dan World Care Council.S. Terdiri 17 standar. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Stop TB Partnership. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). International Council of Nurses. American College of Chest Physicians. (dewasa. Indonesian Association of Pulmonologists. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. Philippine College of Chest Physicians. dimana semua praktisi. Infectious Diseases Society of America. American Thoracic Society. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease.S. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). termasuk pasien TB dengan BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. antara lain : Indian Medical Association. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang96 . pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. U. TB ekstra paru.). yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. pasien TB dengan BTA negatif. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. Philippine Coalition Against Tuberculosis. Centers for Disease Control & Prevention. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. Fase awal terdiri dari INH. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. 97 . Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai.Rifampisin. pleura. bilasan lambung atau induksi sputum. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. Pada pasien demikian. foto toraks menunjukkan kelainan TB. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. (dewasa. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. Bila ada fasiliti. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. Pada pasien dengan atau diduga HIV. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari).

Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. Rifampisin. 98 . Rifampisin. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. paling baik dinilai secara klinis. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan.

Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Rifampisin dan Etambutol.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No.Lab Hasil/ Tgl. Reg. apat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur).GGULANGAN TUBERKULOSIS UPATEN / KOTA TB. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. itif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama gister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( .) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Reg. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan. Reg. 104 . • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K).Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. Reg. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. n atau lebih dengan BTA positif. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. s.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. misalnya 237. yang merupakan nomor urut kab/ kota. yang merupakan nomor urut UPK. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. .A= dahak sewaktu pertama. 106 . sebagai berikut : . . misalnya 02.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf. 02/15/237 B dan 02/15/237 C.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. misalnya 15. .Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. .Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 110 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 111 .

.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

71.Angka default : 89 .angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9. . 22. 63. 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. .strategi AKMS : 65 Analisa : 85. AKMS : 1. 65.Diagnosis pendukung : 14 Dokter . 9.analisa indikator : 85 . 2.lihat PMO DOTS : 7. 11. 10. 64.batasan : 63 . 91 .pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5.Angka gagal : 89 .pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. 89 . 11. 9.Alur diagnosis TB paru : 15 . 70 BTA : 5. 2. 11.analisa situasi : 77 Angka . B C 118 . 64. 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. 65 AIDS (lihat juga HIV) : .efek samping berat : 32 . 14 Darurat . 63. 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6. Buffer stock : 49 Cakupan . 13.angka kesembuhan : 9 .Fokus DOTS : 7 . CBA : 81 CDR : 9. 5. 39.angka konversi : 88 .pola pikir : 64 .pertimbangan dokter : 15 DOT .Overdiagnosis : 14.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38. .lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis .daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18.efek samping ringan : 31 .angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . . lihat uji silang D Dahak .peningkatan cakupan : 80. 6 .Diagnosis utama : 14 .angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.lihat hasil pengobatan . 12. 29.pandemi : 4 .Diagnosis TB paru : 14 . 70.Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10.dampak terhadap TB : 4.Diagnosis TB ekstra paru: 14 . 87 . 23 BP4 : 8.

30.Kesalahan kecil . 11.kasus kambuh : 18 . .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4.Kesalahan besar .Gejala klinis pasien TB : 13 .lihat hasil pengobatan . 6.langkah-langkah kemitraan : 62 . 7. 22 Klasifikasi : 16 . 21.kasus pidahan : 18 .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori .pembentukan jejaring : 71 .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .dosis paduan KDT-OAT : 21.jejaring internal : 71 .syarat jejaring yang baik : 72 . 89. 49 .indikator program : 84.indikasi operasi : 31 .evaluasi kinerja : 56.indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator .prinsip dasar kemitraan : 61 . 48. 85. 16.definisi kasus : 16 . 22.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .kasus kronik: 18 .kategori 2 : 21 .peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 . 29.lihat visi KDT-OAT : 20.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .kategori 1 : 20 . Indikasi . 5.lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .indikator jejeraing : 71 . .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 J Jejaring .kasus baru : 18 .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.kasus setelah gagal : 18 .syarat indikator : 85 .keuntungan KDT : 20 .tujuan : 61 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB . 57 .Gejala utama : 13 .klasifikasi penyakit : 16 119 I . 17.Kesalahan Gradasi (KG) .evaluasi pembelajaran : 56 .evaluasi dampak : 56 .jejaring ekternal : 71 . 18.TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .kasus setelah putus berobat : 18 .kasus lain : 18 . 86 .kasus TB : 18 .

dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1. 53 .Evaluasi pelatihan : 56 .pemecahan masalah : 79 . peran.Koordinator pelatihan : 56 .pemantapan mutu eksternal : 45 .penggunaan pada pasien TB : 31 . lihat MDG Misi .negara dengan beban masalah TB : 4 .paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.fungsi.Manajemen logistik lainnya : 51 M Manajemen laboratorium .klasifikasi berdasarkan organ : 17 . . 67 . 80 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah . 49.tujuan mengatasi masalah : 79 . 10. 6.Mempertahankan mutu : 80 .standar kompetensi : 57 . 39.komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9. 7 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal. 37.Pelatihan dasar : 54 120 P .inkompetensi : 57 Kortikosteroid . 6. 40 .Manajemen logistik OAT : 49 . 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.pemantapan mutu internal : 44 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : .Laboratorium rujukan regional : 35.beban masalah TB (penyebab) : 4 . 39. 38.Konsep pelatihan : 54 .mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .Jenis logistik : 48 .definisi : 63. 21 .Laboratorium mikroskopis UPK : 37.identifikasi masalah : 78 .peningkatan mutu : 44.masalah MDR : 4.prinsip : 66. 41 . 54 .masalah tuberkulosis di dunia : 4 .Jenis.masalah prioritas : 7. O OAT .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.definisi komunikasi : 63.Pelatihan dalam tugas : 54 . 8.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 . 7.menetapkan masalah prioritas : 78 .OAT sisipan 20. 9.bentuk-bentuk : 88 . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1.Laboratorium rujukan provinsi : 35. 40 .Laboratorium rujukan uji silang : 35.Laboratorium rujukan nasional : 35. 42 . 66 .klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 .efek samping OAT (lihat efek samping) . 10.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . sifat dan dosis : 19 . 51 .ruang lingkup : 34 . 9 . 65 . tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 .Materi pelatihan : 56 .

pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 9.Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1.pengobatan lengkap : 29 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .Pelatihan penuh : 54 .pencatatan di UPK : 84 . 35.Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .perencanaan berbasis bukti : 77 .Pelatihan sebelum bertugas : 54 .perencanaan : 45 . 40. 4.pencatatan di laboratorium : 85 .kegagalan program : 4 . 37.Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 . 35. 26 . 9. 77.prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.kebijakan program : 9 .tujuan PSDM : 53 . 37.Pelatihan penyegaran : 55 .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1.Batasan : 53 .Persyaratan : 25 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19. 36.tujuan dan target : 9 .ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .tahap : 44 .lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7.tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB . 40 . 53 . 10. 37.tujuan : 44 PPM . 37.langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .Ruang lingkup : 75 .lihat public-private mix . 35.Puskesmas Satelit : 11.program TB di Indonesia : 8 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .Tujuan pengobatan: 19 . 8 .pengobatan pencegahan : 24 . 25. 70 .Prinsip pengobatan : 19 . 40 . .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) . 36.Pelatihan ulangan : 54 .Pelatihan lanjutan : 55 .Karakteristik penelitian TB : 74 .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .Metodologi : 75 . 2.Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 .siklus perencanaan : 77 . 74 . 7.pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.memilih prioritas : 79 Program TB : 1.Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11. 35.pengobatan dalam keadaan khusus : 29 . 36.Langkah-langkah .pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 . 11. 10. 10. 36. 9.strategi program: 10 .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .batasan : 70 . 79 .tujuan perencanaan : 77 . Q QA (quality assurance) : 35 121 .

7.tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) .risiko menjadi sakit TB : 5 .penetapan target : 82 .dokter praktek swasta : 54 .tatalaksana TB anak : 22 .lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35. 22. VCT : 30 Visi . 40.supervisi laboratorium TB : 46 .prinsip dasar tatalaksana : 13 .tujuan program : 9 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .pemetaan : 81 WHO : 6. 44.tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1. 82 .sasaran wilayah : 82 . 82 .risiko penularan TB : 5 . 35. .Rumah sakit umum pemerintah : 53 .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1. 37.visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80.Penentuan tipe : 18 Tujuan .TB . 6 .Pukesmas : 53 .pengembangan : 80 . 10.laporan supervisi : 59 .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran . 53. 52.kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 . Rate (lihat juga angka) .pelaksanaan supervisi : 58 .case notification rate (lihat CNR) .kegiatan supervisi : 57 .case detection rate (lihat CDR) . 122 .persiapan supervisi : 58 .sasaran buku : 2 . 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 .perencanaan supervisi : 58 . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.target program : 9 Tatalaksana : .tingkat kabupaten/kota : 54 .tujuan buku : 2 .gambaran radiologis : 14.syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9. U V Valid : 85.Tipe pasien : 18.error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5. 10 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->