PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :
Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Pencatatan dan Pelaporan 8. Manajemen OAT 3. Metodologi 4. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Langkah Langkah 3. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Jenis Logistik Program 2. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Analisa Situasi 2. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Batasan 2. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Standar Ketenagaan 2. Tujuan Penelitian 2. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Pembentukan Jejaring 3. Pelatihan 3. Kerangka Pola Pikir 3. Indikator Program 9. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Menetapkan Tujuan 4.

Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1. Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2.

meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. dan kelemahan akibat TB. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Siti Fadilah Supari. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. ketidakproduktifan. Berbagai kemajuan telah dicapai. Selamat berjuang! Jakarta. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). swasta maupun lembaga masyarakat. dr. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. SpJP(K) v .

000 dan jumlah kematian sekitar 101. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan.000 pertahun. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. MPH vi . beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. PAPDI. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. lembaga swadaya masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. I Nyoman Kandun. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. IDAI. Jakarta. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan.

Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

Supervisi.Kemitraan. Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. . Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. pengurangan. . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB .Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : . alur diagnosis anak (sistem skoring). indikator pemantauan dan evaluasi.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan. maka dilakukan penanambahan.Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. .Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis .Advokasi. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 .Tuberkulosis dan permasalahannya. sementara situasi program penanggulangan TB. penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. Penambahan bab-bab baru meliputi : . elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya.Manajemen Laboratorium TB . telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). dibuat dalam buku pegangan tersendiri . sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. . definisi kasus TB.Pelatihan. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program.Penelitian TB .Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB .Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS).Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG .Tuntutan masyarakat akan mutu.

kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. - 2 . propinsi. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan.Tuberkulosis. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. klasifikasi penyakit dan tipe pasien.Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat.Diagnosis TB. . Sebagai sebuah pedoman. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok.

terjadi pada negara-negara berkembang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. Jika ia meninggal akibat TB. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. Gambar 2. Pada tahun 1995. Demikian juga. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia.1. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. Insidens TB didunia (WHO. maka akan kehilangan 3 . akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. persalinan dan nifas. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%.

Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. • Kegagalan program TB selama ini. Menyikapi hal tersebut.000 kasus baru dan kematian 101. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Diperkirakan pada tahun 2004. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Di Indonesia. . TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. tidak dilakukan pemantauan. Selain merugikan secara ekonomis. obat tidak terjamin penyediaannya.000 orang. pencatatan dan pelaporan yang standar. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. setiap tahun ada 539. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. . terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. Situasi TB didunia semakin memburuk. • Dampak pandemi infeksi HIV. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. pada tahun 1993. dan sebagainya).Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan . jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Pada saat yang sama. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. 4 .000 penduduk. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . Hal ini diakibatkan oleh: .

sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. diperkirakan diantara 100. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. .Pada waktu batuk atau bersin.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. . . Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.Dengan ARTI 1%. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sebagian besar kuman TB menyerang paru. • Cara penularan . . • Risiko menjadi sakit TB .000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. . .Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. maka jumlah pasien TB akan meningkat.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. 5 .Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). ARTI sebesar 1%. • Risiko penularan . Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. makin menular pasien tersebut. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. seperti tuberkulosis. .Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. . Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. .

UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective).50% meninggal . akan: .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : ƒVentilasi ƒKepadatan ƒDalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI ƒ Malnutrisi ƒ Penyakit DM.2.25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. setelah 5 tahun. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. immunosupresan ƒ Keterlambatan diagnosis dan pengobatan ƒ Tatalaksana tak memadai ƒ Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . best practices. 6 . clinical trials. Penerapan strategi DOTS secara baik.

Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. 3. 2. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. 6. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. 3. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. 4. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. 5. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. 7 . Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. 4. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. termasuk pengawasan langsung pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. Mencapai. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. 5. Pada tahun 1995. Komitmen politis 2.

Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. 1. • Sampai tahun 2005. • Indonesia. sampai saat ini. Setelah perang kemerdekaan. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Sejak tahun 1995. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Di Indonesia. • Tahun 1995. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. Sampai tahun 2000. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan.

memutuskan rantai penularan. masyarakat dan pekerjaannya. sarana dan prasarana) b. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. pelaksanaan. tenaga. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. i. KEBIJAKAN a. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. j. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. e. 3. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . f. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. k. meliputi Puskesmas. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. h. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. l. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. sektor pemerintah. Rumah Sakit Paru (RSP). Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS).

Kemitraan 6. Menteri Kesehatan R. Peningkatan SDM (pelatihan. Penemuan dan pengobatan. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Pemantauan dan Evaluasi d. e. Unit Pelayanan Kesehatan. b. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. supervisi) e. Penelitian f. c. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. KEGIATAN a. ORGANISASI PELAKSANAAN a. b. 10 . Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Promosi g. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. STRATEGI a. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. komunikasi dan mobilisasi sosial d. Tingkat Kabupaten / Kota. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. Tingkat Pusat. Rumah Sakit. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. d. Dilaksanakan oleh Puskesmas. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota.I. Perencanaan c.

Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. • Menghadapi tantangan TB-HIV. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). rumah sakit atau BP4. 11 . Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Rumah Sakit Umum. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. • • 7. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. Pada keadaan geografis yang sulit. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. a. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB.

Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Memperkuat penelitian operasional 12 . Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. b.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. Adapun strategi fungsional tersebut: 1.

penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. Strategi penemuan ƒ Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. berat badan menurun. badan lemas. malaise. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. demam meriang lebih dari satu bulan. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. sesak nafas. 1. pelaporan. harus diperiksa dahaknya. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. didukung dengan penyuluhan secara aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. dan lain-lain. seperti bronkiektasis. yang menunjukkan gejala sama. asma. pencatatan. kanker paru. batuk darah. ƒ Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. bronkitis kronis. diagnosis. terutama mereka yang BTA positif. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. dianggap tidak cost efektif. petugas yang terkait. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. nafsu makan menurun. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. ƒ Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 .

Pada program TB nasional. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. serologi. sehingga sering terjadi overdiagnosis. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. 14 . 2. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. Pada saat pulang. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. saat menyerahkan dahak pagi. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Diagnosis TB ekstra paru. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). misalnya uji mikrobiologi. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). patologi anatomi. yaitu sewaktu . foto toraks dan lain-lain.sewaktu (SPS).pagi . • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama.

.- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + . Pagi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3.. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .Sewaktu. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- .- .- Hasil BTA .1.

15 .Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik. alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.

diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati • Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah .Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif. pleuritis eksudativa.menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . (lihat bagan alur) • Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. 3.menentukan paduan pengobatan yang sesuai .mengurangi efek samping. • Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk .Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan. . • 16 . (lihat bagan alur) • Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru.Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal . sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. . .analisis kohort hasil pengobatan • Beberapa istilah dalam definisi kasus: .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) . yaitu: .menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. . .registrasi kasus secara benar .

peritonitis.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. maka untuk kepentingan pencatatan. • TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. alat kelamin. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). • Tuberkulosis ekstra paru. misalnya pleura. selaput jantung (pericardium). pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. . . yaitu: .Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. . dan atau keadaan umum pasien buruk. . persendian. tulang. saluran kencing.TB ekstra paru ringan. pleuritis eksudativa unilateral. . . pleuritis eksudativa bilateral. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. milier. TB usus. sendi. ginjal. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . perikarditis. selaput otak. dan kelenjar adrenal. • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. yaitu bentuk berat dan ringan. misalnya: meningitis. dan lain-lain.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . tulang (kecuali tulang belakang). usus. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. kulit. TB tulang belakang. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ.TB ekstra-paru berat. 17 . kelenjar lymfe. misalnya: TB kelenjar limfe. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. . • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. TB saluran kemih dan alat kelamin.

Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Meskipun sangat jarang. gagal. radiologik. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. default maupun menjadi kasus kronik. dapat juga mengalami kambuh. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. dan pertimbangan medis spesialistik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.. harus dibuktikan secara patologik. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. • • • 18 . bakteriologik (biakan). Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru.

Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. sifat dan dosis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (30(20-30) 40) Bakterisid 15 15 (12(12-18) 18) Bakteriostatik 15 30 (20(15-20) 35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat.1. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. mencegah kekambuhan. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . . namun dalam jangka waktu yang lebih lama . Tahap Lanjutan . .Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. Jenis. Tahap awal (intensif) .Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. yaitu tahap intensif dan lanjutan. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . mencegah kematian. • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. Jenis.

Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. yaitu Isoniasid.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Paket Kombipak. Rifampisin. 1. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: ƒ Pasien baru TB paru BTA positif. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Pirazinamid dan Etambutol. Disamping kedua kategori ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . . Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. 2. ƒ Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif ƒ Pasien TB ekstra paru ƒ ƒ 20 . Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya.

+ 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj.7ml sehingga menjadi 4ml. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: ƒ Pasien kambuh ƒ Pasien gagal ƒ Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. 21 .2.3. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Lanjutan Tahap Intensif tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. (1ml = 250mg) 3. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.

seperti bilasan lambung. Lihat tabel 3. foto tulang dan sendi. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). 5. patologi anatomi. funduskopi. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. Setelah dokter melakukan anamnesis.4. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. dan pemeriksaan penunjang. 22 . yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). pemeriksaan fisik. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . pungsi pleura. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). dan lain lainnya.5. CT-Scan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. pungsi lumbal. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi.

23 . • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. Sinusitis.5. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul.--> lampirkan tabel badan badan. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). jumlah >1. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Klinis gizi buruk Bawah garis keadaan gizi (BB/U < 60%) merah (KMS) atau BB/U < 80% > 2 minggu Demam tanpa sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm. kelenjar limfe koli. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. BTA negatif atau tidak tahu. dan lain – lain. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB BTA positif Tidak Laporan jelas keluarga. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. lutut. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). aksila.

Tabel 3. Setelah pemberian obat 6 bulan . lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. efusi pleura 3. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. OAT pada anak diberikan setiap hari. koksitis Gambar 3. Gibbus. Tanda bahaya: ƒ kejang. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat.6. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti.2. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . misalnya sesak napas 2. kavitas. kaku kuduk ƒ penurunan kesadaran ƒ kegawatan lain. OAT tetap dihentikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1.

Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. guru. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. dan lain lain. ƒ Anak dengan BB > 33 kg . • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. c. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. ƒ Obat harus diberikan secara utuh. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. anggota PPTI. 25 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. Perawat. Dosis OAT KDT pada anak Berat badan (kg) 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 5-9 1 tablet 1 tablet 10-19 2 tablet 2 tablet 20-32 4 tablet 4 tablet Keterangan: ƒ Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit ƒ Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. 6. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.7. Pekarya. a. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. misalnya Bidan di Desa. dipercaya dan disetujui. tidak boleh dibelah ƒ OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. Sanitarian. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. PKK. dirujuk ke rumah sakit. Juru Immunisasi.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. d. 26 . Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan.

Beri Sisipan 1 bulan. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. tahap lanjutan tetap diberikan. Jika mungkin. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Jika setelah sisipan masih tetap positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Jika setelah sisipan masih tetap positif.8. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 .

menunggu mungkin kasus hasilnya kronik. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. 28 .9. dahak. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: ƒ Lacak pasien ƒ Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur ƒ Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 ƒ Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai ƒ Diskusikan dan Tb extra paru: cari masalah Lanjutkan pengobatan ƒ Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan hasil BTA (+) sebelumnya kurang sampai seluruh dosis dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan ƒ Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan ƒ Kategori-2: rujuk. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) ƒ Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan ƒ Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Mulai kategori-2 Bila satu atau lebih Kategori-1 ƒ Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan Æ lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3.

a. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Menurut WHO. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. kecuali streptomisin. 29 . Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. b. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. • • • • • 8. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. susuk KB). harus dihentikan. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). suntikan KB. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. d. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. d. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. Pasien dengan kelainan hati. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. 30 . Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik.

Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. karena dapat memperberat kelainan tersebut. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. h. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. kemudian diturunkan secara bertahap. 9. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. setelah selesai pengobatan TB. mual. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. 31 . adalah: Untuk TB paru: ƒ Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. tapi perlu penjelasan kepada pasien. Tabel 3.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. g. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: ƒ Meningitis TB ƒ TB milier dengan atau tanpa meningitis ƒ TB dengan Pleuritis eksudativa ƒ TB dengan Perikarditis konstriktiva . Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. ƒ Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. ƒ Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Untuk TB ekstra paru: ƒ Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f.

maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Hentikan Rifampisin. Hentikan semua OAT. Untuk membedakannya. Berikan dulu anti-histamin. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. Bila mungkin. ganti Etambutol. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. segera lakukan tes fungsi hati. Hentikan Etambutol. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . ganti Etambutol. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Streptomisin dihentikan. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. Streptomisin dihentikan. ganti obat tersebut dengan obat lain. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas.11. hentikan semua OAT. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Bila keadaan seperti ini. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis.

Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. Namun. mungkin dapat dilakukan desensitisasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. 33 . pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. Sumber daya laboratorium. Keamanan dan kebersihan laboratorium. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. murah. Kab/Kota. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. Propinsi. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. dan Nasional. harus mengikuti acuan/standar. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. Kegiatan – kegiatan laboratorium. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. Namun. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Untuk mendukung kinerja program. mulai dari tingkat Kecamatan. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. 34 . Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. mudah. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. bersifat spesifik.

pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). b. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. ƒ Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). ƒ Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. Laboratorium rujukan Regional. BP4. ƒ Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. uji kepekaan M. tb dari spesimen dahak.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. 35 . Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. peran. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis ƒ Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. identifikasi dan DST M. dll. ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. Laboratorium rujukan Nasional. ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). RSP dll. e. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). laboratorium di salah satu Rumah Sakit. Laboratorium rujukan Provinsi ƒ Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. ƒ Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. c. ƒ Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Laboratorium mikroskopis TB UPK ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. identifikasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. Rumah Sakit.

Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB ‰ PRM.1. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. PPM ‰ Rumah Sakit ‰ Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) . Australia. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk.

36 .

Catatan : Bilamana perlu. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. sampai diperoleh hasil. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. dan keamanan dan keselamatan kerja. b. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. . .Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat.Fungsi: . FUNGSI dan PERAN. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. . dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. Laboratorium mikroskopis TB UPK.Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. . sampai diperoleh hasil ƒ PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 .Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM. ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil.Peran: . .Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Tugas: ƒ PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. .Laboratorium mikroskopis TB. . Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. . .

ƒ Pembina laboratorium TB sesuai jejaring ƒ Tugas: . .Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program.Menyelenggarakan pembinaan Lab. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: TB setempat. . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. 3.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. 38 . identifikasi dan tes kepekaan M. termasuk EQAS sesuai jejaring.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. - c. Laboratorium rujukan Provinsi. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). TB dari dahak. . .Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. ƒ Peran: ƒ Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) ƒ Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis. ƒ Fungsi . . 2. . Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. 1.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. . isolasi. ƒ Tanggung jawab: . Isolasi.

Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. 39 . Laboratorium rujukan Regional. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. ƒ Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. identifikasi dan uji ƒ Tugas: kepekaan (DST). Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB. rujukan provinsi. ƒ Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi.tb dan MOTT bagi yang memerlukan.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB. ƒ Tanggung jawab: . identifikasi dan DST M. . Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. ƒ Laboratorium rujukan untuk isolasi. . Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional.tb di laboratorium provinsi ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Melaksanakan pemeriksaan isolasi.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional. Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB.Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. Laboratorium rujukan Nasional. . tuberculosis. ƒ Fungsi: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium.Melaksanakan pemeriksaan isolasi. ƒ Peran: ƒ Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. identifikasi dan DST M. identifikasi dan DST M. e. ƒ Peran: .

kotak sediaan. corong.Ruang kerja terang dengan ventilasi baik . lidi lancip. . pipet.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Idem dengan PS.Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak. penjepit sediaan dari kayu.Sarana: . ditambah dengan : . aether alkohol. .Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak. Mikroskopik dahak BTA) . .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. sticker. Laboratorium mikroskopis TB UPK.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan . . lampu spiritus.1 buah mikroskop binokule .Botol berisi pasir dan desinfektan .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.Idem PS kerja Lab . ose/lidi. kertas lensa.Air mengalir.Wadah pembuangan berisi desinfektans.05).Desinfektans.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . kaca sediaan/frosted sediaan. minyak emersi.Formulir standard (TB.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. rujukan pemeriksaan dahak. minimal SMAK/setara .pewarna ZN bermutu.Ruang: . .Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan.Sarana keamanan . minimal SMAK/setara . KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.Sarana: .Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) Æ (lihat buku pedoman pem.Sarana keamanan . rak pengering. kerja Lab . timer . kertas saring.Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. . ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. timer.Ruang: . TB 04 .Idem PS .

Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .b.

Ruang pelatihan. Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi. uji silang ditambah dengan : ƒ 10 mikroskop binokuler ƒ 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Dua orang tenaga analis medis yang terampil.Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M. Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. ƒ Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro ƒ Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia. setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop. Teknisi alat laboratorium: ƒ Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium. ƒ Seorang pembantu analis. . Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Tb: ƒ Idem dengan lab.Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) .Ruang pembuatan media dan reagensia.Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : .Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang .2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: Sarana keamanan kerja Lab c.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang administrasi . .Ruang dekontaminasi dan pencucian alat.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . . Laboratorium rujukan Provinsi.

Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Teknis laboratoris: .5000 g) .Magnetic stirrer.1 freezer (.Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).Alat gelas laboratorium. Administrasi: . . .Minimal 2 orang tenaga analis (Media). GLP.1 waterbath.300 C) . . .1 biosafety cabinet class II . Ruang: . managemen) d.Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi. . . .1 incubator.1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) .1 lemari es.Blender/homogenizer (autoclavable) .Cabinet untuk pembuatan media .Micro-pipette . .Vortex mixer.Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.1 bio-containment centrifuge (500 .Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).Botol McCartney .1 inspisator.Idem lab Propinsi kerja Lab - .Minimal seorang tenaga administrasi.idem dengan lab Propinsi Sarana: .1 timbangan gram (0–500 gr) . .Generator listrik.1 incenerator / carbonizer . Teknis alat laboratorium: .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: . . Laboratorium rujukan Regional.Idem lab Propinsi Sarana keamanan . .

42 .

1 set pipet mikro. Mikroskopik dahak BTA ƒ Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. Idem ruang lab regional ditambah dengan : . ƒ 2 orang analis untuk media dan reagensia. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) ƒ 5 tenaga analis. freezer –20oC. vortex.Thermo-cycler . system elektroforesis vertical.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e. 1 set pipet mikro.Ruang Asam: fume hood. Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Tenaga Teknis Laboratoris: ƒ Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research). eye wash. refrigerator.Nucleic Acid Sequencing system . dan ƒ Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. UV transilluminator/imaging system .Ruang gelap . Laboratorium rujukan Nasional. system elektroforesis horizontal.Amplifikasi asam nukleat: ƒ Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV).ELISA system . Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi.TB: . microcentrifuge. dan ƒ Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik.1 mikroskop fluorescence .Automated Liquid culture system . pipet mikro.Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi. vortex. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . Waterbath . microcentrifuge ƒ Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. heating blockpem.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M.Ruang dengan negative pressure . freezer –20oC.Optional: Fasilitas kultur sel. shower .Dot blotter . refrigerator.

Peningkatan mutu (Quality Improvement). misalnya : .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . Pemantapan Mutu Eksternal 3.1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. penyimpanan. pengambilan. pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis.Protap pembuatan sediaan dahak .Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . pemeriksaan contoh uji. Tujuan PMI ƒ Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera ƒ Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. ƒ Mendeteksi keslahan. pengolahan contoh uji.Protap pembuatan media 44 .Protap pemeriksaan Mikroskopis .Protap pengelolaan limbah . PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. Pemantapan Mutu Internal 2. mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. pasca-analisis.Idem dengan lab regional ditambah dengan : . Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : ƒ Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. ƒ Membantu peningkatan pelayanan pasien. terintegrasi dalam PMI dan PME.Protap pengambilan dahak . pengiriman. analisis. dan harus dilakukan terus menerus.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ ƒ ƒ . pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. audit internal. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME ƒ Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB ƒ Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan jenis kegiatan PME ƒ Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME ƒ Penilaian dan umpan balik. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : ƒ Uji silang sediaan dahak.Protap inokulasi . Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. 45 . laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. Pada pelaksanaan uji silang. laboratorium pembaca pertama. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang.Dsb. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik.

meliputi : ƒ Tenaga : Pelatihan. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. pelatihan. mutu pewarnaan. ƒ Supervisi Laboratorium TB. penyegaran. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. ƒ Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. pengembangan metoda pemeriksaan 5. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. mutasi ƒ Sarana dan prasarana : Pengadaan. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. pemeliharaan. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. dll. sarana dan prasarana laboratorium. 46 . Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. uji fungsi ƒ Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap.

4. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. dsb) 2. biakan. Penyediaan perangkat (protap. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. masyarakat umum. 47 . jadwal pemantauan dan evaluasi. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. dsb). PCR/biomolekuler. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. 1. serologi. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. uji kepekaan. lingkungan sekitar laboratorium. peralatan. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS
Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi. 1. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. a. Logistik OAT. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak, untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister, dan tiap blister berisi 28 tablet. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2, dan sisipan, yang dikemas dalam blister untuk satu dosis, kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. b. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop, Slide Box, Rak pewarna dan pengering, Lampu spiritus, Ose, Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum, kaca sediaan, Reagensia Ziehl Neelsen, Eter Alkohol, Minyak imersi, Lysol, Kertas pembersih lensa mikroskop, kertas saring, tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman, format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya.

48

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

2. MANAJEMEN OAT a. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya, • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan, • buffer-stock, • sisa stock OAT yang ada, • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program, Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). Disamping rencana kebutuhan OAT KDT, perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi, perencanaan ini diteruskan ke pusat. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat, sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi

49

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Buffer stock ditingkat pusat.

b. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). c. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan, dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah, penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out), artinya, obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis, jumlah, kemasan, nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. d. Monitoring dan Evaluasi. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda, untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi, melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. e. Pengawasan Mutu. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Setelah OAT sampai di Propinsi, Kabupaten/Kota dan UPK, pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. f. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Keutuhan kemasan dan wadah

50

Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Waktu hancur atau disolusi 5. Kadar zat aktif 7. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. Kemurnian/ kadar cemaran 6. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. Pemberian 3. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. boks dan master boks 5. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. Identitas obat 2. • Dan pihak lain yang terkait. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. 3. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. Uji potensi 8.

• Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Slide Box.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. 52 . Rak pewarna dan pengering. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. Ose. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Botol plastik bercorong pipet dll. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Bahan Uji tuberkulin. Lampu speritus.

Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. supervisi. 3 perawat/petugas TB. pembinaan (pelatihan. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. kalakarya/on the job training). dan kesinambungan (sustainability). 3 perawat/petugas TB. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. dan 1 tenaga laboratorium 53 . 1 perawat/petugas TB. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. 1. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. dan 1 tenaga laboratorium. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. Unit Pelayanan Kesehatan 1. pelatihan dan supervisi.

jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Fakultas Keperawatan. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui 54 . RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. (Fakultas Kedokteran. • Tingkat Kabupaten/Kota 1. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. Pelatihan ulangan (retraining). Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. 2. jumlah tergantung kebutuhan. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. Tingkat Provinsi 1. 2 perawat/petugas TB. dan lain-lainnya. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. 2 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. jumlah tergantung kebutuhan. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. 3. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. menyesuaikan. Pelatihan penuh. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. seluruh materi diberikan. 5 fasilitator pelatihan. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. 2. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Dokter Praktek Swasta. 3. terdiri dari: 1. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. 3. b. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. minimal telah dilatih. 2. dan lain-lainnya.

pelatihan advokasi. kepanitiaan. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan.. pelatihan DOTS plus. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan.dampak 55 . d. fasilitator. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. • persiapan administratif penyiapan bahan. c.reaksi dan . pelatihan TB-HIV.pembelajaran • paska pelatihan . metode pembelajaran. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. peserta. Materi berbeda dengan pelatihan dasar. surveilans.1. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. Pelatihan penyegaran. materi.kinerja (supervisi) . yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. seperti: pelatihan manajemen OAT.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. dana.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Diadopsi dari Tovey (1997) 56 .

Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program.2. Tidak semua harus dipelajari. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN .Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta.

on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : ƒ observasi. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompeten si pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) . SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. ƒ diskusi. ƒ bantuan teknis.3. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. ƒ bersama-sama mencari pemecahan masalah dan ƒ memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. 3.

waktu modifikasi dari berbagai sumber .

06. . hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. 2.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Menjadi pendengar yang baik.03) . maka perlu dilakukan persiapan.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. . Penjadwalan kegiatan supervisi. Kegiatan penting selama supervisi. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.Melakukan pendekatan fasilitatif. Pelaksanaan supervisi. . . misalnya angka konversi rendah. 4. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. . dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. . penuh perhatian. Kepribadian supervisor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. . . terutama pada tingkat UPK : 1. 3.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Pada tahap awal pelaksanaan program.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi.Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. . BP4. angka kesembuhan rendah. 2. empati. maka supervisi harus direncanakan dengan baik. 2. pemetaan wilayah. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . Pengumpulan informasi pendukung. RS. 58 .Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. serta kebutuhannya. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. sebagai berikut: 1.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. . . bila memungkinkan . partisipatif dan tidak instruktif. yaitu: .Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program. misalnya laporan.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut.01 dan TB.

Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. 59 . inisiatif. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. g. 2. 1. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. dapat dilaksanakan. Memberikan umpan balik saran yang jelas. Laporan supervisi. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. sebaiknya 3 lembar: . mungkin karena tugasnya tidak jelas. Tentukan penyebab yang paling mungkin. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. f. praktis. 5. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. kreatifitas. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. melakukan on the job training. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. c. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. realistik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. d. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. maka berarti ada masalah kinerja. tidak mampu melaksanakan. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. 4. b. realistis. inovatif. e. 3. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. dan tidak menciptakan masalah baru.

60 . Lembar 3 : arsip supervisor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya.

Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. Keterbatasan sector pemerintah 3. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. Keberlanjutan program 5. 61 . c.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah.Meningkatkan sumber daya. b. Potensi melibatkan sector lain 4. sektor swasta. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis .Meningkatkan komunikasi . legislative. kelompok media massa. mengingat : 1. Lembaga Swadaya Masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. Beban masalah TB yang tinggi 2. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : .Meningkatkan koordinasi . baik dari pemerintah. mutu. organisasi keagamaan.Meningkatkan komitmen . organisasi profesi. organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. Akuntabilitas. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat.

Identifikasi. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. b. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. c. Melakukan kegiatan. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. Pembentukan Komitmen. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. Komunikasi intensif. Pengaturan peran. disepakati sejak awal. sarana dan prasarana. Penyamaan persepsi. 3. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. f. dana. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. g. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. e. Pemantauan dan penilaian. tugas dan fungsi masing. b. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak.

komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Dalam konteks global. 1. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Pada konteks dalam negeri. komunikasi. Dalam konteks penanggulangan TB. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. 63 . BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi.

Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor.Buku Pedoman .1.Angka kesembuhan . KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.factor lain 64 .Tenaga Penyuluh . APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .Media Promosi .Sumber dana (APBN. Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .

Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. pelaksana.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. pertemuan/rapat kerja. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. metode dsb) Mengembangkan bahan. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. konsultasi. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. Dalam proses komunikasi. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. memberikan laporan. dan Mobilisasi sumber dana. menulis dan lain-lain. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. 2. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). 65 . berfikir. 1. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. b. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. Memilih strategi yang tepat (advokator.

seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. c. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan.Demonstrasi. seminar peningkatan pengetahuan . sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama.Surat kabar. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. 3. percakapan. Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . latihan (meningkatkan kemampuan) . Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. 66 . Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan.Televisi. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3.Radio. Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. lancar tidaknya suatu proses.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan).Rapat pertemuan-pertemuan. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. d.

Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. . . memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. motivasi.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . ikut menjadi PMO. keluarga. 2.Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan.Community material : Sarana masyarakat . berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. 5. dan ormas lainnya 67 . memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat. 3.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. . Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan.indikator dan umpan balik mobilisasi. . harus merupakan elemen kemasyarakatan.Memerlukan pengulangan secara periodik.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. pesan. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. . .Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. 4. alih pengetahuan dan keterampilan. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. sasaran. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kader TB dan sebagainya.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal.Memenuhi permintaan masyarakat. . KIE berbasis individu. masyarakat. . Peran dan karakteristik penggerak masyarakat.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok .Community fund : Dana yang ada di masyarakat .Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1.

karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. Komisi 9 DPR Akademisi. . . dapat digunakan tabel contoh berikut.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan.organisasi profesi.1. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. Penyuluhan kelompok.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. Kunjungan rumah. LSM. dll Peminatan Kebijakan. dunia usaha. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. LSM. 68 . . dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. PAPP) LSM. .mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. Tabel 9. profesi (IDI. . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye. Konseling. Ormas. Diskusi kelompok (DK).melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. Lintas sektor. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Langkah-langkah mobilisasi sosial . legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. Lintas program. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

- mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV, filler/spot, radio spot, billboard dan spanduk. Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien.

69

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS
Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004, pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10.1. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29%

Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%, rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB, strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS, antara lain : rumah sakit, BP4, UPK lapas / rutan, UPK polisi, UPK di tempat kerja, dan lain lain. 1. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. 2. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. Setelah mencapai prakondisi tersebut, sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK, selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis, dan seluruh petugas terkait.

70

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. 2. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. memantau. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. 2. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK 72 . Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. 4. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. 6. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Validasi data pasien di UPKt 7. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3.

Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Mulai Penemuan Diagnosis Pengobatan Konsultasi Pencatatan Pengobatan selanjutnya Klinis suspek dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis. Hal yang penting diketahui : .1. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10. memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : ƒ Tingkat sosial ekonomi pasien ƒ Biaya Konsultasi ƒ Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) ƒ Biaya Transportasi ƒ Kemampuan dan fasilitas UPK. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS.Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85% 73 .Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% .

LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. 2. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. . Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. 1. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific).BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. akses pelayanan kesehatan. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. pengendalian mutu pelayanan.

in-depth interview dan lain-lain. misalnya dengan melibatkan pustu. 4.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . bidan di desa. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. b. antara lain: 1. focus group discussion. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program.Spesifik terhadap program tuberkulosis . Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. a. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. b. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion).Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) .Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . 2. eksperimentasi. termasuk mutu kinerja laboratorium. modeling. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . kuasi eksperimen. 75 . Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional. Penelitian operasional tuberkulosis. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. a. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. 3. termasuk survei. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. dan community based approach. RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis.

Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. dan UPK lainnya. 76 . Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. 6. seperti: TB/HIV. c.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Dokter Praktek Swasta. 4. 5. dan lain-lain. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. 7. TBKusta. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit.

sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. Dalam sistem desentralisasi. 77 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PERENCANAAN BAB 12 Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. Laboratorium dan unit lainnya. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. Dinas Kesehatan Propinsi. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). Puskesmas. sosial budaya. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. a. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. Rumah Sakit. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. pendidikan. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi.

masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. antara lain kebijakan lokal. a. logistik (material). diseminasi informasi serta umpan balik. IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. Selain data tersebut. money. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. 2. material. b. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. keberhasilan pengobatan). Data ini diperlukan untuk menetapkan target. dicari masalah dan penyebabnya. angka kesembuhan. dan metodologi yang digunakan (method). pohon masalah dan log frame. sampai dimana kemajuan program. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). Untuk memudahkan. masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. keberhasilan diagnosis. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. Dari kesenjangan yang ditemukan. pencapaian program (penemuan pasien. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. komitmen nasional maupun international. • Disamping untuk perencanaan. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). Untuk maksud tersebut. dan market). dana (money). method. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan.

1) Daya ungkitnya tinggi. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. Terkait dengan masalah d. Memiliki target waktu. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. Terukur (kuantitatif) e. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. 5. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. 3. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. Dalam menetapkan pemecahan masalah. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . . sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Rasional (realistis) f. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. 4. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan.

BP4. RSTP dan dokter praktek swasta). kepadatan penduduk. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. sampai pada pencatatan pelaporan. Masing-masing aspek tersebut. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. c. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. karena akan memberikan dampak epidemiologis. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. sarana. Setelah itu baru rumah sakit. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). pengobatan dan case holding pasien. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. namun perlu didukung dengan data penyakit. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. diagnosis pasien. rumah sakit. BP4. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. b. Pada tahap awal. yaitu penurunan jumlah pasien. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). 3) Kesiapan : Tenaga. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. dan kemitraan. perlu dinilai semua unsurnya. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk.

ƒ Penetapan target. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. Penetapan Sasaran dan Target ƒ Sasaran wilayah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. ¾ Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. ¾ Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Perluasan unit pelaksana. ¾ Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. daya ungkit dan kesiapan daerah ƒ Sasaran penduduk. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan.

Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. e. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. c. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. bukan budget oriented. Pelaksana (siapa yang memantau). MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. 6. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. 82 . Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. Cara pemantauan. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). Dengan kata lain disebut program oriented.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. b. d.

Kabupaten/Kota. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. bagian atas. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). diinterpretasi. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Propinsi. 1. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. proses. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Rumah Sakit. maupun keluaran (output). Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. BP4. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. dianalisis. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK.

BP-4. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. RS. PPM. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. 3. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.

Tabel 12. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - √ √ √ 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 . 2.1. 3. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ 5 Triwulan √ √ √ √ 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif.

ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa X 100 % 86 .06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk. BP4 atau dokter praktek swasta. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. indikator ini tidak dapat dihitung. misalnya rumah sakit.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu.

atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ). Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek.15%. Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Angka ini sekitar 5 . 87 .

Angka ini berkisar 15%. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % . Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Bila angka ini jauh lebih rendah. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat X 100 % A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. kemungkinan terjadi overdiagnosis.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). itu berarti mutu diagnosis rendah. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat.

87 .

dan pindah keluar.08. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB.11. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. gagal. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%.01.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. Di tingkat kabupaten. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. meninggal. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. Di tingkat kabupaten. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. propinsi dan pusat. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. setelah pengobatan intensif (2 bulan). 88 . indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. default (drop-out atau lalai).01. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh X 100 % Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. setelah selesai pengobatan. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya.12 bulan sebelumnya. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. propinsi dan pusat.

Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar Benar KKPP KBPP KBPP KBPP Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi.7) Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. Kabupaten / kota harus menganali sa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang. maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR) . supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima. disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain. di tingkat kabupaten/ kota.

000 penduduk di suatu wilayah tertentu. akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Angka ini apabila dikumpulkan serial.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 % .Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.07 Jumlah penduduk X 100.

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 4. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. ATS/CDC/IDSA, Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children, Atlanta, 1999 2. ATS/CDC/IDSA, Treatment of Tuberculosis, Atlanta, 2003 3. Crofton J, Horne N, Miller F. Clinical Tuberculosis, McMillan Education Ltd, London and Oxford, 1999 4. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 5. Depkes RI, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT), Jakarta, 2004 6. Depkes RI, Kelompok Kerja TB-HIV. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS, Jakarta, 2003 7. Depkes/UKK Respirologi IDAI, Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2006 8. PDPI, Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta, 2006 9. PP IDAI-UKK Pulmonologi, Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2005; ISBN 97996622-2-2 10. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). The Hague, 2006. 11. WHO, A guide for Tuberculosis Treatment Support, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.300 12. WHO, Adherence to Long Theraphy, Geneva, 2003; W85 13. WHO, Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis, Geneva, 1997, WHO/TB/96.210 14. WHO, Toman’s Tuberculosis, Case Detection, Treatment and Monitoring. 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.334 15. IUATLD, A Tuberculosis for Specialist Physicians, Paris, 2004; 16. IUATLD, Intervention for Tuberculosis Control and Elimination, Paris, 2002, 17. CDC/US Department of Health and Human Service; Core Curricullum on Tuberculosis, What the Clinician Should Know, 4th edition, Atlanta, 2000 18. WHO, TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.329W, 19. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 20. WHO, Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers, Geneva, 2000. 21. WHO/IUATLD, Tuberculosis: A Manual for Medical Students, Geneva, 2003. 22. WHO-SEARO, Effective Diagnosis, Treatment, and Control of Tuberculosis, New Delhi, 2000. 23. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 24. WHO-SEARO, Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers, New Delhi, 1999 BAB 5. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO, External Assessment for AFB Smear Microscopy, Washington, 2003 2. Depkes RI, Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia, Jakarta, 2002 3. IAUTLD, The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network, Paris, 1998 4. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 1, Organization and Management, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 5. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 2, Microscopy, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 92

Amara Books. Depkes RI. WHO/HTM/TB/2005.1 19.353 16. 1992 2. November 2005 14. W 21. 2005. WHO. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. Modul D : Provide Training for TB Control. Jakarta. Delivery. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. Geneva. 2001 7. 2002. Evaluation and Management. WHO/CDS/TB/2002. Depkes RI. Geneva. WHO. WHO/CDS/STB/2002. 2002 2. WHO. McMillan.24/Ind/P 5. Working together for Health. 2005. Geneva. WA 530. WHO. Geneva. Geneva. 2005. No.308 BAB 7. Geneva. The World Health Report 2006.19 3. WHO/CDS/TB/2002.347d 18.350 11. JJ Gilbert. WHO. 2003 9. Jakarta. WHO.995.1991 3. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Geneva. WHO. MSH/WHO. WHO. Refika Aditama. A Usmara (ed). 1997 10. Educational Hanbook for Health Personal. WHO. Training in Australia: Design.2002. How to Organize Training for Distric Coordinator. unpublished). Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. Tovey MD. Surabaya. Manila. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. Prentice Hall. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2005. WHO. Revised and Updated 1998.347 13.725/Menkes/SK/V/2003). 2005. Sydney. 2003 4. Geneva.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. 15. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. Geneva. 2003 6. 2003. Depkes RI Badan PPSDM. WHO-WEPRO. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. 2002. Insan Cendekia. 1998 8. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. (comprehensive draft. New Delhi. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Geneva. Geneva. Jakarta. WHO/HTM/TB/2005. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Mangkunegara Anwar Prabu. 12. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. Cetakan ke-10. Geneva. Abbat FR. WHO.301. 616. WHO/HTM/TB/2005. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. Abbat FR. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. 93 . Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. 2006. Geneva. Bandung. 2006. Irianto Jusuf. WHO/HTM/TB/2005. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. WHO-SEA. WHO/HTM/TB/2005. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. Teaching Health care worker: A practical guide. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. 1999. Jogyakarta.347c 17. WHO. McMahon Rosemary. 2005.

Jakarta. Depkes RI. WHO-SEARO. 1999. Paris. 2006 3. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. Geneva. Jakarta. 2002 4. WHO. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. WHO. Geneva. Jakarta. Depkes RI. SEA/TB/213 3. 2006. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. Advokasi. WHO/CDS/TB/2003. belum diterbitkan). 2002 6. 2001 BAB 11. Depkes RI. Pedoman Advokasi. 2000 3. Atlanta. TB Advocacy: Practical Guide. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. 1999 2. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. 2005. 2003. WHO. New Delhi. 2003. WHO/HTM/TB/2005. Kemitraan dengan Sector Swasta. Gordom Graham. Interventions. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. WHO/SEARO. WHO. 2006 5. WHO-SEARO. 2001 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. Depkes RI Pusat PKM. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. Atlanta.24 BAB 9. 2001 2. New Delhi. IAUTLD. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. and Emerging Policy Framework. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. Issues. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. 2004 2. Jakarta. Jakarta. Geneva. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. Geneva. Geneva. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Depkes RI Pusdiklatkes. Jakarta. WHO. WHO/HTM/STB/2003. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. Public-Private Partnerships for TB Control.312 7. Tearfund. 2001 3. Global Partnership to STOP TB. 2006.323 4. WHO/CDS/TB/2003. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. SEA/TB/259 5. Understanding the TB Cohort Review Process. 616. WHO. Guidelines for Workplace TB Control Activities. Cetakan ke-10. 2004 2. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Making Health Communication Program Work. 2003. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy.24/Ind/P 94 . 2003. Penelitian Tuberkulosis 1. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. Research Methods for Promotion of Lung Health. The Power of Partnership. Depkes RI.995.355 3.

Paris. WHO/TB/98. WHO/TB/98.253 6. New Delhi . Geneva. 1998. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Geneva. 1998.344 5. 2004. 1999 6. Geneva. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. 1999 95 . belum dipublikasi).995. Tuberculosis Handbook. Combating Tuberculosis. New Delhi . WHO/SEARO. WHO/TB/98. 4th edition. 616. WHO. Depkes RI. 2005 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. (draft. Geneva. 1996 3. WHO.240 BAB 13. WHO.24/Ind/P 2. Jakarta. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. Perencanaan 1. 1998.253 5. National Level TB Management Cycles. Cetakan ke-10. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. Stop TB Partnership. 2006. WHO/HTM/TB/2004. Geneva. WHO/SEARO. Tuberculosis Handbook. Principles for Accelerating DOTS Coverage. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO.

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). pasien TB dengan BTA negatif. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). dimana semua praktisi. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. termasuk pasien TB dengan BTA positif. TB ekstra paru. Infectious Diseases Society of America. kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB.S. (dewasa. Philippine Coalition Against Tuberculosis. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. International Council of Nurses. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. Terdiri 17 standar. Philippine College of Chest Physicians. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. American Thoracic Society. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. American College of Chest Physicians.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. dan World Care Council. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Stop TB Partnership. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV.). Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). Centers for Disease Control & Prevention. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang96 . U. antara lain : Indian Medical Association. Indonesian Association of Pulmonologists.S. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. bilasan lambung atau induksi sputum. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari). foto toraks menunjukkan kelainan TB. (dewasa. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. Fase awal terdiri dari INH. 97 . tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. pleura. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui.Rifampisin. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). Bila ada fasiliti. Pada pasien demikian. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. Pada pasien dengan atau diduga HIV. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif.

Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. Rifampisin. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Rifampisin. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. 98 . Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. paling baik dinilai secara klinis. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin.

pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Rifampisin dan Etambutol. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

Reg. Reg. s. Reg.Lab Hasil/ Tgl. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. Reg. n atau lebih dengan BTA positif. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. apat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). 104 . • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. itif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama gister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K).GGULANGAN TUBERKULOSIS UPATEN / KOTA TB. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

misalnya 02. misalnya 237. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf. misalnya 15.Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. 106 . yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. yang merupakan nomor urut kab/ kota.A= dahak sewaktu pertama. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. yang merupakan nomor urut UPK. .Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. 02/15/237 B dan 02/15/237 C. . . sebagai berikut : .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 110 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 111 .

.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

22. 12.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38.Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10.strategi AKMS : 65 Analisa : 85. 11.pandemi : 4 . 63. 2. 70. B C 118 .angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . 64. . CBA : 81 CDR : 9.Overdiagnosis : 14.Fokus DOTS : 7 . 39.efek samping ringan : 31 .daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18.analisa indikator : 85 . 29.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9. 13. 65. 6 . 23 BP4 : 8. AKMS : 1. 10. 2. 91 .lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . 11.pola pikir : 64 .Alur diagnosis TB paru : 15 . 9. .dampak terhadap TB : 4.peningkatan cakupan : 80. 87 . 11. 5.Diagnosis TB ekstra paru: 14 .batasan : 63 .angka kesembuhan : 9 .efek samping berat : 32 .pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5. 9.pertimbangan dokter : 15 DOT . 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 63. 89 . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. 65 AIDS (lihat juga HIV) : .Diagnosis utama : 14 . 71. .lihat hasil pengobatan .Angka default : 89 . 70 BTA : 5. . 64. lihat uji silang D Dahak . 14 Darurat . Buffer stock : 49 Cakupan .Angka gagal : 89 . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31.lihat PMO DOTS : 7.Diagnosis TB paru : 14 .angka konversi : 88 .Diagnosis pendukung : 14 Dokter .analisa situasi : 77 Angka .angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.pemeriksaan dahak mikroskopis : 7.

klasifikasi penyakit : 16 119 I .kasus setelah gagal : 18 .lihat hasil pengobatan .Gejala utama : 13 .pembentukan jejaring : 71 .prinsip dasar kemitraan : 61 .evaluasi dampak : 56 . 57 . 22.lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) . 30.evaluasi pembelajaran : 56 . 11.koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .lihat visi KDT-OAT : 20.indikasi operasi : 31 .Kesalahan kecil . .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat .evaluasi kinerja : 56.indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori . 6. 18.peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .indikator jejeraing : 71 .syarat jejaring yang baik : 72 .jejaring ekternal : 71 .Kesalahan Gradasi (KG) .langkah-langkah kemitraan : 62 .kasus lain : 18 .Gejala klinis pasien TB : 13 .tujuan : 61 . 29. . 7.kategori 2 : 21 .kasus kambuh : 18 . 86 .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) . 85. 49 . 5.definisi kasus : 16 .kasus baru : 18 .kasus TB : 18 .keuntungan KDT : 20 .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 J Jejaring .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.jejaring internal : 71 .kasus kronik: 18 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .dosis paduan KDT-OAT : 21.syarat indikator : 85 . 17.evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15. 16.kasus setelah putus berobat : 18 . Indikasi .kategori 1 : 20 .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 . 22 Klasifikasi : 16 . 89. 21.Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .kasus pidahan : 18 .indikator program : 84. 48.Kesalahan besar .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .

prinsip : 66. 54 . 39.Manajemen logistik lainnya : 51 M Manajemen laboratorium . 37.pemantapan mutu internal : 44 . 10.pemecahan masalah : 79 .komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9.Jenis.Evaluasi pelatihan : 56 .masalah tuberkulosis di dunia : 4 .Koordinator pelatihan : 56 .peningkatan mutu : 44.definisi : 63. 10.ruang lingkup : 34 . 53 . 21 . 40 . 66 . . 38. 42 .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.tujuan mengatasi masalah : 79 .klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 .Mempertahankan mutu : 80 .Materi pelatihan : 56 .Manajemen logistik OAT : 49 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal.inkompetensi : 57 Kortikosteroid . lihat MDG Misi .Pelatihan dasar : 54 120 P .menetapkan masalah prioritas : 78 . .Laboratorium rujukan nasional : 35.OAT sisipan 20.definisi komunikasi : 63. 51 .dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah . 67 . 9 . 40 . 8. peran.masalah MDR : 4.Laboratorium rujukan provinsi : 35.pemantapan mutu eksternal : 45 . 49.masalah prioritas : 7.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 80 .Laboratorium rujukan regional : 35. 39. 65 .beban masalah TB (penyebab) : 4 . 6.bentuk-bentuk : 88 . 9.penggunaan pada pasien TB : 31 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 . O OAT .Jenis logistik : 48 . sifat dan dosis : 19 .fungsi.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 7 .Laboratorium mikroskopis UPK : 37. 6. tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 .Pelatihan dalam tugas : 54 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : . 7. 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48. 41 .Laboratorium rujukan uji silang : 35.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .negara dengan beban masalah TB : 4 .standar kompetensi : 57 .mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .efek samping OAT (lihat efek samping) .paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.Konsep pelatihan : 54 .identifikasi masalah : 78 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1.

Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11. 37.Karakteristik penelitian TB : 74 . 8 . 11. 7. 4.Pelatihan sebelum bertugas : 54 . 37. 35.pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 79 .tujuan PSDM : 53 .pengobatan lengkap : 29 . 25.batasan : 70 . 9.Metodologi : 75 . 35. 40.Pelatihan penuh : 54 .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1. 35. 37. 74 . . 53 . 35.tahap : 44 . 2.Pelatihan lanjutan : 55 . 36.pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8. 37. 70 .menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1.Ruang lingkup : 75 . 40 .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 .lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7.pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) . 36.perencanaan berbasis bukti : 77 . 9.ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 . 10. 9.tujuan dan target : 9 . 26 .perencanaan : 45 .Puskesmas Satelit : 11.Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .Tujuan pengobatan: 19 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .strategi program: 10 . 36.kebijakan program : 9 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.tujuan : 44 PPM .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat .Batasan : 53 . Q QA (quality assurance) : 35 121 . 10.pengobatan dalam keadaan khusus : 29 .Langkah-langkah .Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan .tujuan perencanaan : 77 .program TB di Indonesia : 8 .Pelatihan penyegaran : 55 .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .pencatatan di laboratorium : 85 . 40 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .Prinsip pengobatan : 19 . 36.Pelatihan ulangan : 54 . 10.langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.memilih prioritas : 79 Program TB : 1.lihat public-private mix .pengobatan pencegahan : 24 .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.pencatatan di UPK : 84 .pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .kegagalan program : 4 . 77.Persyaratan : 25 .siklus perencanaan : 77 .

82 .sasaran buku : 2 .pelaksanaan supervisi : 58 . 10 .target program : 9 Tatalaksana : .lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1. 7.kegiatan supervisi : 57 .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80. 40.tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .risiko penularan TB : 5 .supervisi laboratorium TB : 46 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 . 6 .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.risiko menjadi sakit TB : 5 . 35. 44. 10.rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) . 53.gambaran radiologis : 14.case detection rate (lihat CDR) .sasaran wilayah : 82 . 22.faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .Pukesmas : 53 . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35. Rate (lihat juga angka) .dokter praktek swasta : 54 .case notification rate (lihat CNR) .pengembangan : 80 . 37. 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 .tingkat kabupaten/kota : 54 . 82 . 122 . 52. VCT : 30 Visi . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.pemetaan : 81 WHO : 6.error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 .tujuan program : 9 .Rumah sakit umum pemerintah : 53 .perencanaan supervisi : 58 .persiapan supervisi : 58 .prinsip dasar tatalaksana : 13 .Penentuan tipe : 18 Tujuan .tatalaksana TB anak : 22 .penetapan target : 82 .kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.Tipe pasien : 18.tujuan buku : 2 . .laporan supervisi : 59 .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9. U V Valid : 85.TB .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful