PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :
Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Pembentukan Jejaring 3. Jenis Logistik Program 2. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Indikator Program 9. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Kerangka Pola Pikir 3. Analisa Situasi 2. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Pelatihan 3. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Pencatatan dan Pelaporan 8. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Langkah Langkah 3. Menetapkan Tujuan 4. Batasan 2. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Tujuan Penelitian 2. Manajemen OAT 3. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Standar Ketenagaan 2. Metodologi 4. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1.

Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2. Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1.

meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. dr. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. ketidakproduktifan. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). Berbagai kemajuan telah dicapai. swasta maupun lembaga masyarakat. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. SpJP(K) v . Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. Siti Fadilah Supari. Selamat berjuang! Jakarta. dan kelemahan akibat TB. Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif.

Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan.000 pertahun. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. lembaga swadaya masyarakat. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. Jakarta. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. IDAI. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih.000 dan jumlah kematian sekitar 101. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. PAPDI. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. MPH vi . telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. I Nyoman Kandun. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment. Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

Untuk mengakomodasi keadaan tersebut.Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa.Pelatihan.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB .Tuntutan masyarakat akan mutu. elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya. telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). sementara situasi program penanggulangan TB.Penelitian TB .Kemitraan. saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program.Advokasi.Tuberkulosis dan permasalahannya. . pengurangan. dibuat dalam buku pegangan tersendiri . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : . alur diagnosis anak (sistem skoring). Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS). Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan. .Manajemen Laboratorium TB . Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. definisi kasus TB.Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis . dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB .Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. . sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. . Penambahan bab-bab baru meliputi : . penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 .Supervisi. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. indikator pemantauan dan evaluasi.Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. maka dilakukan penanambahan.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis.Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . .Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program.

dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. propinsi. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB . klasifikasi penyakit dan tipe pasien.Tuberkulosis. - 2 . dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. .Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi.Diagnosis TB. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. Sebagai sebuah pedoman. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok.

diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan.1. Insidens TB didunia (WHO. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. Jika ia meninggal akibat TB. terjadi pada negara-negara berkembang. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. maka akan kehilangan 3 . Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. Gambar 2. Pada tahun 1995.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. persalinan dan nifas. Demikian juga. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun).

Menyikapi hal tersebut. 4 . .Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.000 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 kasus baru dan kematian 101. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. . Pada saat yang sama. pada tahun 1993.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan .Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. pencatatan dan pelaporan yang standar. Selain merugikan secara ekonomis. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. dan sebagainya). tidak dilakukan pemantauan. Situasi TB didunia semakin memburuk. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. obat tidak terjamin penyediaannya. • Dampak pandemi infeksi HIV.000 penduduk. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). setiap tahun ada 539. • Kegagalan program TB selama ini. Diperkirakan pada tahun 2004. Di Indonesia. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Hal ini diakibatkan oleh: . Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat.

diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. . diperkirakan diantara 100.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. makin menular pasien tersebut. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity). .Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. • Cara penularan . • Risiko menjadi sakit TB . . seperti tuberkulosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru.Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.Pada waktu batuk atau bersin. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. . • Risiko penularan . Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. maka jumlah pasien TB akan meningkat.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.Dengan ARTI 1%. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). . Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. . ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. ARTI sebesar 1%.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. 5 . TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. . . .000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.

25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. best practices. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . clinical trials.2. akan: . secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. immunosupresan ƒ Keterlambatan diagnosis dan pengobatan ƒ Tatalaksana tak memadai ƒ Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. setelah 5 tahun. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade.50% meninggal . 6 . Penerapan strategi DOTS secara baik. UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : ƒVentilasi ƒKepadatan ƒDalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI ƒ Malnutrisi ƒ Penyakit DM.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular.

Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. 5. 4. Komitmen politis 2. 3. 2. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. 3. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. 5. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. 7 . Pada tahun 1995. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. 6. Mencapai. 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien.

Sampai tahun 2000. 1. Di Indonesia. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. • Sampai tahun 2005. sampai saat ini. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. • Tahun 1995. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Sejak tahun 1995. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. • Indonesia. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). Setelah perang kemerdekaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.

e. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. h. i. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. memutuskan rantai penularan. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. f. sarana dan prasarana) b. j. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. l. k. 3. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. masyarakat dan pekerjaannya. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). tenaga. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. sektor pemerintah. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. pelaksanaan. meliputi Puskesmas. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). Rumah Sakit Paru (RSP). KEBIJAKAN a. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB.

Dilaksanakan oleh Puskesmas. e.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Tingkat Pusat. supervisi) e. Perencanaan c. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. STRATEGI a. b. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. Pemantauan dan Evaluasi d. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Penelitian f. b. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Rumah Sakit. c. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. Promosi g. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. 10 . KEGIATAN a. d. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. ORGANISASI PELAKSANAAN a.I. Menteri Kesehatan R. Penemuan dan pengobatan. Tingkat Kabupaten / Kota. Unit Pelayanan Kesehatan. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. Kemitraan 6. Peningkatan SDM (pelatihan. komunikasi dan mobilisasi sosial d.

Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). a. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Pada keadaan geografis yang sulit. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). 11 . Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. • Menghadapi tantangan TB-HIV. Rumah Sakit Umum. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. rumah sakit atau BP4. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. • • 7.

Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. Memperkuat penelitian operasional 12 . Adapun strategi fungsional tersebut: 1. b. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien.

malaise. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. berat badan menurun. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. yang menunjukkan gejala sama. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. 1. ƒ Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. diagnosis. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. Strategi penemuan ƒ Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. didukung dengan penyuluhan secara aktif. petugas yang terkait. dan lain-lain. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. bronkitis kronis. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. asma. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. seperti bronkiektasis. harus diperiksa dahaknya. kanker paru. batuk darah. pencatatan. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. sesak nafas. dianggap tidak cost efektif. terutama mereka yang BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. ƒ Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. pelaporan. demam meriang lebih dari satu bulan. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. nafsu makan menurun. badan lemas.

• Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. 2. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. patologi anatomi. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. saat menyerahkan dahak pagi. segera setelah bangun tidur. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. Pemeriksaan lain seperti foto toraks.sewaktu (SPS). Pada program TB nasional. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. misalnya uji mikrobiologi. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. sehingga sering terjadi overdiagnosis. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. foto toraks dan lain-lain. yaitu sewaktu . Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. serologi. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.pagi . Diagnosis TB ekstra paru. 14 . penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. Pada saat pulang.

Sewaktu. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .- Hasil BTA . Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- .1..- . Pagi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3..- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .

alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik. 15 .

• 16 . efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma). KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal .registrasi kasus secara benar . diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.analisis kohort hasil pengobatan • Beberapa istilah dalam definisi kasus: .menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. pleuritis eksudativa. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru. (lihat bagan alur) • Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. (lihat bagan alur) • Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. .menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati • Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah . .menentukan paduan pengobatan yang sesuai . • Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk . . .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru.Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. yaitu: .menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. .Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif.mengurangi efek samping. 3.

pleuritis eksudativa unilateral. misalnya pleura. sendi. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru.TB ekstra paru ringan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. kulit.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. alat kelamin. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ. .TB ekstra-paru berat.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. . yaitu: . Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . persendian. selaput jantung (pericardium).1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. . pleuritis eksudativa bilateral. • TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. saluran kencing. selaput otak. misalnya: TB kelenjar limfe.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. dan atau keadaan umum pasien buruk. • Tuberkulosis ekstra paru. 17 . TB tulang belakang. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. milier. misalnya: meningitis. TB usus. tulang. usus. . perikarditis. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif. TB saluran kemih dan alat kelamin. . . yaitu bentuk berat dan ringan.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. maka untuk kepentingan pencatatan. ginjal. dan kelenjar adrenal. peritonitis. . Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. kelenjar lymfe. tulang (kecuali tulang belakang). pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. dan lain-lain. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: .

Meskipun sangat jarang. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). gagal. bakteriologik (biakan). Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. • • • 18 . dan pertimbangan medis spesialistik. radiologik. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik.. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. harus dibuktikan secara patologik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. dapat juga mengalami kambuh. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. default maupun menjadi kasus kronik. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . .1. Jenis. Jenis. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Tahap awal (intensif) . yaitu tahap intensif dan lanjutan. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. mencegah kekambuhan. Tahap Lanjutan .Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat.Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. mencegah kematian.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . sifat dan dosis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (30(20-30) 40) Bakterisid 15 15 (12(12-18) 18) Bakteriostatik 15 30 (20(15-20) 35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit.

ƒ Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif ƒ Pasien TB ekstra paru ƒ ƒ 20 . Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. 1. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: ƒ Pasien baru TB paru BTA positif.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Disamping kedua kategori ini. Rifampisin. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. yaitu Isoniasid. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. 2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. . Paket Kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Pirazinamid dan Etambutol. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket.

2. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Lanjutan Tahap Intensif tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj.3. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2.7ml sehingga menjadi 4ml. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. 21 . Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: ƒ Pasien kambuh ƒ Pasien gagal ƒ Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). (1ml = 250mg) 3. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.

yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). Lihat tabel 3. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. dan lain lainnya. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. seperti bilasan lambung. pemeriksaan fisik. foto tulang dan sendi. pungsi pleura.5. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. 5. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. funduskopi. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). patologi anatomi. Setelah dokter melakukan anamnesis. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. 22 . pungsi lumbal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3.4. dan pemeriksaan penunjang. CT-Scan. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama.

• Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma.5. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. 23 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. lutut. aksila. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. dan lain – lain. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB BTA positif Tidak Laporan jelas keluarga. jumlah >1. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. kelenjar limfe koli. Sinusitis. BTA negatif atau tidak tahu.--> lampirkan tabel badan badan. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Klinis gizi buruk Bawah garis keadaan gizi (BB/U < 60%) merah (KMS) atau BB/U < 80% > 2 minggu Demam tanpa sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm.

lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Tanda bahaya: ƒ kejang. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. efusi pleura 3. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Gibbus.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Setelah pemberian obat 6 bulan . Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan.6. kaku kuduk ƒ penurunan kesadaran ƒ kegawatan lain. koksitis Gambar 3. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. misalnya sesak napas 2. kavitas.2. OAT pada anak diberikan setiap hari. OAT tetap dihentikan. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . Tabel 3.

• Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. PKK. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. ƒ Anak dengan BB > 33 kg . • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. Dosis OAT KDT pada anak Berat badan (kg) 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 5-9 1 tablet 1 tablet 10-19 2 tablet 2 tablet 20-32 4 tablet 4 tablet Keterangan: ƒ Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit ƒ Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. misalnya Bidan di Desa. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. 25 . Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. guru. • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. dan lain lain. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. Pekarya. a. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. Juru Immunisasi. 6. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan.7. c. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. dipercaya dan disetujui. anggota PPTI.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Perawat. dirujuk ke rumah sakit. tidak boleh dibelah ƒ OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. ƒ Obat harus diberikan secara utuh. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. Sanitarian.

PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. d. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 26 . Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif.

Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan.8. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Beri Sisipan 1 bulan. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Jika mungkin. Jika setelah sisipan masih tetap positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. tahap lanjutan tetap diberikan.

Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) ƒ Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan.9. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: ƒ Lacak pasien ƒ Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur ƒ Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 ƒ Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai ƒ Diskusikan dan Tb extra paru: cari masalah Lanjutkan pengobatan ƒ Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan hasil BTA (+) sebelumnya kurang sampai seluruh dosis dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan ƒ Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan ƒ Kategori-2: rujuk. 28 . dahak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan ƒ Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Mulai kategori-2 Bila satu atau lebih Kategori-1 ƒ Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan Æ lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik.

Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. 29 . • • • • • 8. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Menurut WHO. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. b. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. a. kecuali streptomisin. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. suntikan KB. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. 30 . Pasien dengan kelainan hati. d. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. harus dihentikan. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. susuk KB). d. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB.

oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. h. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. ƒ Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. ƒ Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. mual. adalah: Untuk TB paru: ƒ Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. Tabel 3. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: ƒ Meningitis TB ƒ TB milier dengan atau tanpa meningitis ƒ TB dengan Pleuritis eksudativa ƒ TB dengan Perikarditis konstriktiva . misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. setelah selesai pengobatan TB. Untuk TB ekstra paru: ƒ Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. g. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. kemudian diturunkan secara bertahap. tapi perlu penjelasan kepada pasien. 31 . 9. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. karena dapat memperberat kelainan tersebut.

hentikan semua OAT. Untuk membedakannya. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. ganti Etambutol. ganti obat tersebut dengan obat lain. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . Streptomisin dihentikan. Berikan dulu anti-histamin. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Hentikan Rifampisin. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. Hentikan Etambutol. segera lakukan tes fungsi hati. Bila mungkin. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. Bila keadaan seperti ini. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. ganti Etambutol.11. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Hentikan semua OAT. Streptomisin dihentikan.

pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. mungkin dapat dilakukan desensitisasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. Namun. 33 . Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.

ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. harus mengikuti acuan/standar. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. Keamanan dan kebersihan laboratorium. Propinsi. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. murah. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. Kegiatan – kegiatan laboratorium. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. bersifat spesifik. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. Kab/Kota. Untuk mendukung kinerja program. mulai dari tingkat Kecamatan. mudah. 34 . Namun. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. dan Nasional. Sumber daya laboratorium. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal.

Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). laboratorium di salah satu Rumah Sakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. BP4. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. identifikasi dan DST M. ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). tb dari spesimen dahak. b. RSP dll. Laboratorium rujukan Nasional. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. peran. ƒ Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Rumah Sakit.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. e. uji kepekaan M. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). ƒ Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. ƒ Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. dll. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis ƒ Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. ƒ Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. Laboratorium rujukan Regional. c. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. Laboratorium rujukan Provinsi ƒ Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. Laboratorium mikroskopis TB UPK ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. identifikasi. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. ƒ Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. 35 .

Australia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB ‰ PRM. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide.1. PPM ‰ Rumah Sakit ‰ Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) . Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5.

36 .

Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. .Laboratorium mikroskopis TB. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. sampai diperoleh hasil. Laboratorium mikroskopis TB UPK. FUNGSI dan PERAN. . .Fungsi: . TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. Catatan : Bilamana perlu. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 . Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. b.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. dan keamanan dan keselamatan kerja.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. .Tugas: ƒ PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up. ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. . termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. . .Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. sampai diperoleh hasil ƒ PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. .Peran: .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap.Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. .

1. Laboratorium rujukan Provinsi.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. termasuk EQAS sesuai jejaring. ƒ Peran: ƒ Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) ƒ Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring. . .Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. ƒ Tanggung jawab: . isolasi. TB dari dahak. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB.Menyelenggarakan pembinaan Lab. 38 .Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. ƒ Fungsi . Isolasi. .Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. 2. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. 3. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). .Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: TB setempat. - c.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. .Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. . ƒ Pembina laboratorium TB sesuai jejaring ƒ Tugas: . . identifikasi dan tes kepekaan M.

identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M.Melaksanakan pemeriksaan isolasi. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. ƒ Tanggung jawab: . ƒ Fungsi: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. 39 .tb di laboratorium provinsi ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. ƒ Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. ƒ Peran: ƒ Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. . identifikasi dan DST M. .Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. identifikasi dan uji ƒ Tugas: kepekaan (DST).Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional .Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional. identifikasi dan DST M.tb dan MOTT bagi yang memerlukan. . yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. tuberculosis. rujukan provinsi. identifikasi dan DST M. e. ƒ Peran: . Laboratorium rujukan Regional. ƒ Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional. Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. ƒ Laboratorium rujukan untuk isolasi. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain.Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. Laboratorium rujukan Nasional.

minimal SMAK/setara . .Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . pipet. penjepit sediaan dari kayu. . aether alkohol.Ruang: .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Formulir standard (TB. kotak sediaan.Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak.Sarana keamanan .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Ruang kerja terang dengan ventilasi baik .Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak. minimal SMAK/setara .Sarana: .Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.05). kaca sediaan/frosted sediaan.pewarna ZN bermutu.Botol berisi pasir dan desinfektan .Ruang: . . Laboratorium mikroskopis TB UPK.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Sarana keamanan . lampu spiritus.Idem PS .Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan . kertas lensa. ditambah dengan : . sticker.Sarana: .Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) Æ (lihat buku pedoman pem.Wadah pembuangan berisi desinfektans. Mikroskopik dahak BTA) . rak pengering.Idem PS kerja Lab .Air mengalir. lidi lancip.Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. . ose/lidi.Idem dengan PS.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . kerja Lab .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.1 buah mikroskop binokule . kertas saring. . rujukan pemeriksaan dahak. . timer. TB 04 . minyak emersi. timer . ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. corong. KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.Desinfektans.

b. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .

ƒ Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro ƒ Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia. setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Dua orang tenaga analis medis yang terampil. .2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: Sarana keamanan kerja Lab c. . Teknisi alat laboratorium: ƒ Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium. Laboratorium rujukan Provinsi. Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Ruang pembuatan media dan reagensia.Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) . ƒ Seorang pembantu analis.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang .Tb: ƒ Idem dengan lab.Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M. Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. . uji silang ditambah dengan : ƒ 10 mikroskop binokuler ƒ 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 .Ruang pelatihan.Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. .Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang administrasi . .Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : . Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi.

.2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).1 timbangan gram (0–500 gr) . . . Ruang: .1 biosafety cabinet class II .Vortex mixer.Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).1 incenerator / carbonizer .Idem lab Propinsi Sarana keamanan .Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik. .1 incubator. .1 lemari es.5000 g) . . . . .Idem lab Propinsi kerja Lab - .1 waterbath. . GLP. Teknis alat laboratorium: .Cabinet untuk pembuatan media .Minimal seorang tenaga administrasi.Alat gelas laboratorium.1 inspisator.Micro-pipette .300 C) .1 freezer (.Minimal 2 orang tenaga analis (Media). Administrasi: .Blender/homogenizer (autoclavable) .idem dengan lab Propinsi Sarana: . Laboratorium rujukan Regional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .1 bio-containment centrifuge (500 .Botol McCartney . managemen) d.Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi.1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) . . Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Teknis laboratoris: .Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.Magnetic stirrer.Generator listrik.

42 .

Ruang dengan negative pressure .Optional: Fasilitas kultur sel. heating blockpem.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. pipet mikro. vortex.Amplifikasi asam nukleat: ƒ Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV). freezer –20oC. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. Mikroskopik dahak BTA ƒ Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. system elektroforesis horizontal. vortex. dan ƒ Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. Laboratorium rujukan Nasional.Nucleic Acid Sequencing system .Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi.Ruang Asam: fume hood.Thermo-cycler . eye wash. microcentrifuge. ƒ 2 orang analis untuk media dan reagensia. 1 set pipet mikro. 1 set pipet mikro. system elektroforesis vertical. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) ƒ 5 tenaga analis.Automated Liquid culture system . Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi.TB: . Waterbath .Dot blotter . Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Tenaga Teknis Laboratoris: ƒ Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research).1 mikroskop fluorescence . freezer –20oC. dan ƒ Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. refrigerator.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e. shower . Idem ruang lab regional ditambah dengan : . refrigerator.ELISA system .Ruang gelap . microcentrifuge ƒ Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . UV transilluminator/imaging system .

PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1.Protap pemeriksaan Mikroskopis . Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. pasca-analisis. Tujuan PMI ƒ Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera ƒ Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : ƒ Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium.Protap pembuatan sediaan dahak . dan harus dilakukan terus menerus. misalnya : . penyimpanan. Pemantapan Mutu Eksternal 3. mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. ƒ Membantu peningkatan pelayanan pasien.Protap pengambilan dahak . Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis.Protap pembuatan media 44 . pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. pemeriksaan contoh uji. pengiriman.Idem dengan lab regional ditambah dengan : .1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. analisis. ƒ Mendeteksi keslahan.Protap pengelolaan limbah . pengambilan. Pemantapan Mutu Internal 2. terintegrasi dalam PMI dan PME.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: . pengolahan contoh uji.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . Peningkatan mutu (Quality Improvement).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ ƒ ƒ . laboratorium pembaca pertama. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik.Protap inokulasi . dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. audit internal. 45 . pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME ƒ Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB ƒ Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan jenis kegiatan PME ƒ Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME ƒ Penilaian dan umpan balik.Dsb. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : ƒ Uji silang sediaan dahak. Pada pelaksanaan uji silang.

kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. 46 . pelatihan. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. uji fungsi ƒ Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. mutasi ƒ Sarana dan prasarana : Pengadaan. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. dll. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. ƒ Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. pengembangan metoda pemeriksaan 5. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. penyegaran. meliputi : ƒ Tenaga : Pelatihan. ƒ Supervisi Laboratorium TB. mutu pewarnaan. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. pemeliharaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. sarana dan prasarana laboratorium.

1. 47 . Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. jadwal pemantauan dan evaluasi. lingkungan sekitar laboratorium. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. serologi. Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. masyarakat umum. uji kepekaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. peralatan. dsb) 2. dsb). Penyediaan perangkat (protap. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. biakan. PCR/biomolekuler. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. 4.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS
Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi. 1. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. a. Logistik OAT. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak, untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister, dan tiap blister berisi 28 tablet. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2, dan sisipan, yang dikemas dalam blister untuk satu dosis, kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. b. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop, Slide Box, Rak pewarna dan pengering, Lampu spiritus, Ose, Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum, kaca sediaan, Reagensia Ziehl Neelsen, Eter Alkohol, Minyak imersi, Lysol, Kertas pembersih lensa mikroskop, kertas saring, tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman, format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya.

48

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

2. MANAJEMEN OAT a. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya, • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan, • buffer-stock, • sisa stock OAT yang ada, • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program, Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). Disamping rencana kebutuhan OAT KDT, perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi, perencanaan ini diteruskan ke pusat. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat, sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi

49

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Buffer stock ditingkat pusat.

b. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). c. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan, dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah, penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out), artinya, obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis, jumlah, kemasan, nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. d. Monitoring dan Evaluasi. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda, untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi, melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. e. Pengawasan Mutu. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Setelah OAT sampai di Propinsi, Kabupaten/Kota dan UPK, pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. f. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Keutuhan kemasan dan wadah

50

Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. 3. Kemurnian/ kadar cemaran 6. Pemberian 3. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). Waktu hancur atau disolusi 5. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. Uji potensi 8. Identitas obat 2. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Kadar zat aktif 7. boks dan master boks 5. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. • Dan pihak lain yang terkait.

400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. Lampu speritus. 52 . semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. Ose. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Rak pewarna dan pengering. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Slide Box. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Bahan Uji tuberkulin. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. Botol plastik bercorong pipet dll. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman.

1 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium 53 . • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. 1. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. 3 perawat/petugas TB. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. 2. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. Unit Pelayanan Kesehatan 1. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. 3 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. pembinaan (pelatihan. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. dan kesinambungan (sustainability). tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. pelatihan dan supervisi. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. supervisi. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. kalakarya/on the job training).

2. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. 2 perawat/petugas TB. Tingkat Provinsi 1. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui 54 . jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. 5 fasilitator pelatihan. 2 perawat/petugas TB. minimal telah dilatih. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Pelatihan ulangan (retraining). Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. (Fakultas Kedokteran. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. jumlah tergantung kebutuhan. seluruh materi diberikan. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. dan lain-lainnya. b. Fakultas Keperawatan. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. terdiri dari: 1. Fakultas Kesehatan Masyarakat. dan lain-lainnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. 3. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. 2. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. • Tingkat Kabupaten/Kota 1. menyesuaikan. 3. 2. Pelatihan penuh. jumlah tergantung kebutuhan. Dokter Praktek Swasta. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. 3. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas.

• persiapan administratif penyiapan bahan. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. pelatihan DOTS plus. pelatihan advokasi. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. kepanitiaan.1. peserta.dampak 55 . yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. Materi berbeda dengan pelatihan dasar. pelatihan TB-HIV. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. Pelatihan penyegaran. metode pembelajaran. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. d. dana.reaksi dan . Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. materi.. fasilitator. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya.kinerja (supervisi) . tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator.pembelajaran • paska pelatihan . seperti: pelatihan manajemen OAT. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . surveilans. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. c.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Diadopsi dari Tovey (1997) 56 .

Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7.2. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN . Tidak semua harus dipelajari. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang.Materi pelatihan dan metode pembelajaran.

Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompeten si pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) . 3. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. ƒ bantuan teknis. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja.3. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : ƒ observasi. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. ƒ bersama-sama mencari pemecahan masalah dan ƒ memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. ƒ diskusi. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung.

waktu modifikasi dari berbagai sumber .

Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas .03) .Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan. BP4.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. . dan bersama-sama petugas mencari pemecahan.06.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO. 4. Pelaksanaan supervisi. 2. yaitu: . . Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja .Pada tahap awal pelaksanaan program. . . RS. 58 . Pengumpulan informasi pendukung. bila memungkinkan . 2.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. 2. Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. partisipatif dan tidak instruktif. . hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Bila kinerja dari suatu unit kurang baik.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. sebagai berikut: 1.Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. .Menjadi pendengar yang baik. empati. . .Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. misalnya laporan. tanggap terhadap masalah yang disampaikan.Melakukan pendekatan fasilitatif. Penjadwalan kegiatan supervisi. misalnya angka konversi rendah. . pemetaan wilayah. angka kesembuhan rendah. maka perlu dilakukan persiapan. Kepribadian supervisor. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. maka supervisi harus direncanakan dengan baik. terutama pada tingkat UPK : 1. penuh perhatian. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. . Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1.01 dan TB. serta kebutuhannya. 3. . Kegiatan penting selama supervisi. Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi.

Tentukan penyebab yang paling mungkin. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. 59 . Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. 2. mungkin karena tugasnya tidak jelas. e. tidak mampu melaksanakan. praktis. b. f. sebaiknya 3 lembar: . Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. kreatifitas. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. inisiatif. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. 4. c. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. 3. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. maka berarti ada masalah kinerja. g. dapat dilaksanakan. Laporan supervisi. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. d. inovatif. dan tidak menciptakan masalah baru. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. realistik. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. 1. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. melakukan on the job training. 5. Memberikan umpan balik saran yang jelas.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. realistis.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah.

60 . Lembar 3 : arsip supervisor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya.

baik dari pemerintah. 61 . PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. organisasi profesi.Meningkatkan koordinasi . Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. Keterbatasan sector pemerintah 3. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor.Meningkatkan sumber daya. Beban masalah TB yang tinggi 2. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . Akuntabilitas. kelompok media massa. organisasi keagamaan. Keberlanjutan program 5. sektor swasta. mengingat : 1.Meningkatkan komitmen . Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. legislative. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. b. Potensi melibatkan sector lain 4. Lembaga Swadaya Masyarakat. mutu. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program.Meningkatkan komunikasi . organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. c.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah.

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. b. dana. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. b. f. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. Pemantauan dan penilaian. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. Identifikasi. tugas dan fungsi masing. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. e. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. Penyamaan persepsi. Komunikasi intensif.masing secara terbuka dan kekeluargaan d.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. disepakati sejak awal. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. c. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . g. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. Melakukan kegiatan. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. Pembentukan Komitmen. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. sarana dan prasarana. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. Pengaturan peran. 3.

KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. Dalam konteks global. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. 1. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. Dalam konteks penanggulangan TB. Pada konteks dalam negeri. komunikasi. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. 63 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .1.Buku Pedoman .factor lain 64 .Tenaga Penyuluh . KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.Sumber dana (APBN.Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .Angka kesembuhan .Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor. APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Media Promosi .

Memilih strategi yang tepat (advokator. pertemuan/rapat kerja. berfikir. dan Mobilisasi sumber dana. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. Dalam proses komunikasi. b.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. memberikan laporan.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). bah-kan dalam bentuk kelembagaan. pelaksana. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. konsultasi. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. metode dsb) Mengembangkan bahan. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. 1. 2. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. 65 . menulis dan lain-lain. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi.

secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. lancar tidaknya suatu proses. latihan (meningkatkan kemampuan) . Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. percakapan.Rapat pertemuan-pertemuan. seminar peningkatan pengetahuan . Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan).Surat kabar. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. 3. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat.Televisi. 66 . d.Demonstrasi. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. c. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa.Radio. seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi.

Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”.Community material : Sarana masyarakat . pesan. masyarakat. . 3.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. harus merupakan elemen kemasyarakatan. 4.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. ikut menjadi PMO.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong.Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. . Kader TB dan sebagainya.Community fund : Dana yang ada di masyarakat . berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. 5. alih pengetahuan dan keterampilan. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok . KIE berbasis individu. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. baik secara kuantitatif maupun kualitatif.Memenuhi permintaan masyarakat.Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. . karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. . keluarga. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. motivasi. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. .indikator dan umpan balik mobilisasi. 2.Memerlukan pengulangan secara periodik. dan ormas lainnya 67 . sasaran. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. . . Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: .Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. .

ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. Lintas sektor. Diskusi kelompok (DK).mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. Lintas program. PAPP) LSM. profesi (IDI. .dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. dapat digunakan tabel contoh berikut. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. . sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. Langkah-langkah mobilisasi sosial . Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. 68 .memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi).mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. dunia usaha. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye.organisasi profesi. Konseling. LSM.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. . Kunjungan rumah. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. Penyuluhan kelompok. LSM. Ormas.1.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat. Tabel 9. dll Peminatan Kebijakan. . Komisi 9 DPR Akademisi.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

- mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV, filler/spot, radio spot, billboard dan spanduk. Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien.

69

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS
Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004, pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10.1. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29%

Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%, rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB, strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS, antara lain : rumah sakit, BP4, UPK lapas / rutan, UPK polisi, UPK di tempat kerja, dan lain lain. 1. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. 2. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. Setelah mencapai prakondisi tersebut, sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK, selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis, dan seluruh petugas terkait.

70

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK 72 . 2. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. Validasi data pasien di UPKt 7. 2. memantau. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. 6. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. 4.

PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS.1. memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan).Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% . Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Mulai Penemuan Diagnosis Pengobatan Konsultasi Pencatatan Pengobatan selanjutnya Klinis suspek dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10. serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : ƒ Tingkat sosial ekonomi pasien ƒ Biaya Konsultasi ƒ Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) ƒ Biaya Transportasi ƒ Kemampuan dan fasilitas UPK.Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85% 73 . Hal yang penting diketahui : .

. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. pengendalian mutu pelayanan. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. 2. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. 1.BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. akses pelayanan kesehatan.

METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. 4. termasuk survei. a. Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. in-depth interview dan lain-lain. termasuk mutu kinerja laboratorium. kuasi eksperimen. a. modeling.Spesifik terhadap program tuberkulosis . Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. 2. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). dan 5) penyebarluasan hasil (publication). eksperimentasi. dan community based approach. Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. b. bidan di desa.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . focus group discussion. b. antara lain: 1. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. misalnya dengan melibatkan pustu. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. 3. 75 . Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . Penelitian operasional tuberkulosis.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis.

Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya. 76 . TBKusta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. dan UPK lainnya. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. 7. c. 6. 5. seperti: TB/HIV. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. Dokter Praktek Swasta. dan lain-lain. 4. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS.

Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. Dalam sistem desentralisasi. sosial budaya. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. Rumah Sakit. a. Laboratorium dan unit lainnya. 77 . pendidikan. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. Puskesmas. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PERENCANAAN BAB 12 Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. Dinas Kesehatan Propinsi.

Data ini diperlukan untuk menetapkan target. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). dan metodologi yang digunakan (method). 2. pohon masalah dan log frame. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. pencapaian program (penemuan pasien. Selain data tersebut. komitmen nasional maupun international. antara lain kebijakan lokal. Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. a. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . dicari masalah dan penyebabnya. dan market). logistik (material). agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. method. IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. keberhasilan diagnosis. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. diseminasi informasi serta umpan balik. material. dana (money). sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. • Disamping untuk perencanaan. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. keberhasilan pengobatan). gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). Untuk memudahkan. angka kesembuhan. sampai dimana kemajuan program. Dari kesenjangan yang ditemukan. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. money. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). Untuk maksud tersebut. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. b. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan).

yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Terukur (kuantitatif) e. 3. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. Terkait dengan masalah d. 5. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. 4. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . . MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. 1) Daya ungkitnya tinggi. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Dalam menetapkan pemecahan masalah. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. Memiliki target waktu. Rasional (realistis) f.

c. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pada tahap awal. Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. RSTP dan dokter praktek swasta). Masing-masing aspek tersebut. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. BP4. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. yaitu penurunan jumlah pasien. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. diagnosis pasien. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. pengobatan dan case holding pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. dan kemitraan. sarana. BP4. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. namun perlu didukung dengan data penyakit. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). b. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. kepadatan penduduk. karena akan memberikan dampak epidemiologis. 3) Kesiapan : Tenaga. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. sampai pada pencatatan pelaporan. Setelah itu baru rumah sakit. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. rumah sakit. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). perlu dinilai semua unsurnya. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 .

Perluasan unit pelaksana. daya ungkit dan kesiapan daerah ƒ Sasaran penduduk. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). Penetapan Sasaran dan Target ƒ Sasaran wilayah. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. ¾ Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. ¾ Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. ƒ Penetapan target. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. ¾ Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%).

MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. 6. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. bukan budget oriented. d. Pelaksana (siapa yang memantau). Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. b. e. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. Cara pemantauan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. Dengan kata lain disebut program oriented. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. c. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. 82 . Jenis-jenis kegiatan dan indikator. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran.

lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. Rumah Sakit. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. bagian atas. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. 1. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. dianalisis. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. BP4. Kabupaten/Kota. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. maupun keluaran (output). Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. proses. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. Propinsi. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. diinterpretasi. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK.

Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. RS. BP-4. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). 3. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). PPM. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.

2. Tabel 12.1. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ 5 Triwulan √ √ √ √ 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif. 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - √ √ √ 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 .

misalnya rumah sakit.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa X 100 % 86 . BP4 atau dokter praktek swasta. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. indikator ini tidak dapat dihitung. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek.

atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ). Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar.15%.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Angka ini sekitar 5 . 87 . Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek.

itu berarti mutu diagnosis rendah. Angka ini berkisar 15%. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat X 100 % A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Bila angka ini jauh lebih rendah. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. kemungkinan terjadi overdiagnosis. 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------.

87 .

Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. gagal. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. propinsi dan pusat. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. Di tingkat kabupaten. dan pindah keluar.12 bulan sebelumnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh X 100 % Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. setelah selesai pengobatan. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.08. default (drop-out atau lalai). meninggal.11.01. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. setelah pengobatan intensif (2 bulan). propinsi dan pusat. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . Di tingkat kabupaten. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya.01. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. 88 .

Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar Benar KKPP KBPP KBPP KBPP Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa. maka perlu dilakukan tindakan perbaikan.7) Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain. di tingkat kabupaten/ kota. perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Kabupaten / kota harus menganali sa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR) .

9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 % . Angka ini apabila dikumpulkan serial.07 Jumlah penduduk X 100.Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB. akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.000 penduduk di suatu wilayah tertentu.

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 4. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. ATS/CDC/IDSA, Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children, Atlanta, 1999 2. ATS/CDC/IDSA, Treatment of Tuberculosis, Atlanta, 2003 3. Crofton J, Horne N, Miller F. Clinical Tuberculosis, McMillan Education Ltd, London and Oxford, 1999 4. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 5. Depkes RI, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT), Jakarta, 2004 6. Depkes RI, Kelompok Kerja TB-HIV. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS, Jakarta, 2003 7. Depkes/UKK Respirologi IDAI, Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2006 8. PDPI, Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta, 2006 9. PP IDAI-UKK Pulmonologi, Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2005; ISBN 97996622-2-2 10. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). The Hague, 2006. 11. WHO, A guide for Tuberculosis Treatment Support, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.300 12. WHO, Adherence to Long Theraphy, Geneva, 2003; W85 13. WHO, Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis, Geneva, 1997, WHO/TB/96.210 14. WHO, Toman’s Tuberculosis, Case Detection, Treatment and Monitoring. 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.334 15. IUATLD, A Tuberculosis for Specialist Physicians, Paris, 2004; 16. IUATLD, Intervention for Tuberculosis Control and Elimination, Paris, 2002, 17. CDC/US Department of Health and Human Service; Core Curricullum on Tuberculosis, What the Clinician Should Know, 4th edition, Atlanta, 2000 18. WHO, TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.329W, 19. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 20. WHO, Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers, Geneva, 2000. 21. WHO/IUATLD, Tuberculosis: A Manual for Medical Students, Geneva, 2003. 22. WHO-SEARO, Effective Diagnosis, Treatment, and Control of Tuberculosis, New Delhi, 2000. 23. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 24. WHO-SEARO, Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers, New Delhi, 1999 BAB 5. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO, External Assessment for AFB Smear Microscopy, Washington, 2003 2. Depkes RI, Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia, Jakarta, 2002 3. IAUTLD, The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network, Paris, 1998 4. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 1, Organization and Management, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 5. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 2, Microscopy, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 92

2006. Geneva.308 BAB 7.347d 18.301. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.725/Menkes/SK/V/2003). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. No. New Delhi. 2002. 2005. WHO/HTM/TB/2005. Insan Cendekia. 2002 2. Teaching Health care worker: A practical guide. Refika Aditama. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. A Usmara (ed). 12. How to Organize Training for Distric Coordinator. 2005. 616. Modul D : Provide Training for TB Control. The World Health Report 2006. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WHO.347 13. Amara Books. Jogyakarta. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. (comprehensive draft. Geneva.1991 3. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. WHO/HTM/TB/2005. 2005. Depkes RI Badan PPSDM.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. 2003 4.350 11.19 3. 2002. Jakarta. Geneva. Geneva. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). 2003 6. unpublished). Cetakan ke-10. WHO.995. Geneva. 1998 8. WHO.2002. WHO/HTM/TB/2005. WHO. Training in Australia: Design. Revised and Updated 1998. 2005. Jakarta. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Geneva.1 19. WHO. Prentice Hall. 2001 7. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. Geneva. WHO. Geneva. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. 2005. Geneva. Working together for Health. Geneva.347c 17. 15. 2006. Depkes RI. WHO/CDS/TB/2002. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Bandung. WHO/CDS/TB/2002.353 16. WHO. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. JJ Gilbert. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. 93 . W 21. WHO-SEA. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. Sydney. Geneva. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Tovey MD. McMillan. Delivery. Jakarta.24/Ind/P 5. Evaluation and Management. Irianto Jusuf. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. 2003. Educational Hanbook for Health Personal. 1992 2. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Manila. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. WHO/HTM/TB/2005. WHO. 2005. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. November 2005 14. Geneva. Mangkunegara Anwar Prabu. WHO. MSH/WHO. WHO-WEPRO. Surabaya. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. Abbat FR. WHO. 1999. Abbat FR. Depkes RI. 1997 10. WHO. WA 530. WHO. WHO/CDS/STB/2002. 2003 9. McMahon Rosemary.

Paris.24 BAB 9. 2003. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. Gordom Graham. 2001 BAB 11. 2003. Tearfund. WHO/SEARO. 1999. Geneva. The Power of Partnership. and Emerging Policy Framework. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. Jakarta. TB Advocacy: Practical Guide.355 3. WHO/HTM/STB/2003. SEA/TB/213 3. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. WHO. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. Atlanta. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. 2004 2. Advokasi. Penelitian Tuberkulosis 1. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Geneva. New Delhi. Geneva. Depkes RI Pusdiklatkes. 2000 3. 2001 3. WHO/CDS/TB/2003. Pedoman Advokasi. Jakarta. 2002 4. Depkes RI. Cetakan ke-10. WHO. 2006 5. Jakarta. WHO/CDS/TB/2003. Interventions. IAUTLD. Kemitraan dengan Sector Swasta. WHO/HTM/TB/2005. Depkes RI Pusat PKM. 2006 3. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. 2003. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan.24/Ind/P 94 . WHO-SEARO. Issues. 616. Jakarta. 2003. Making Health Communication Program Work. Research Methods for Promotion of Lung Health. WHO. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. 2001 2. Depkes RI. belum diterbitkan). 2004 2. 2006. WHO.312 7. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. SEA/TB/259 5. 2001 2. Guidelines for Workplace TB Control Activities. Public-Private Partnerships for TB Control. WHO. 2005. Jakarta. Geneva. Jakarta.323 4. Geneva. Global Partnership to STOP TB. Understanding the TB Cohort Review Process. WHO. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis.995. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. 1999 2. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. 2006. New Delhi. 2002 6. Atlanta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. WHO-SEARO. Depkes RI.

Combating Tuberculosis.253 6. WHO/TB/98. WHO. Geneva. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Geneva. Depkes RI. 616. Geneva.344 5. New Delhi . Tuberculosis Handbook. 1998. 2005 4. (draft. 2006. WHO.995. Jakarta. 2004. 1999 6.253 5. WHO/TB/98. WHO/HTM/TB/2004. Paris. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. Tuberculosis Handbook. 1998. Geneva.24/Ind/P 2.240 BAB 13. WHO/SEARO. 4th edition. Perencanaan 1. WHO/TB/98. National Level TB Management Cycles. WHO. 1999 95 . WHO. New Delhi . Cetakan ke-10. 1996 3. Stop TB Partnership. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. WHO/SEARO. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Principles for Accelerating DOTS Coverage. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. Geneva. 1998. belum dipublikasi).

kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Stop TB Partnership. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. American Thoracic Society. Centers for Disease Control & Prevention.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. Philippine Coalition Against Tuberculosis. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). pasien TB dengan BTA negatif. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). (dewasa. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). antara lain : Indian Medical Association. dimana semua praktisi.S.). International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. Philippine College of Chest Physicians. Infectious Diseases Society of America. TB ekstra paru. American College of Chest Physicians.S. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). termasuk pasien TB dengan BTA positif. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). Terdiri 17 standar. dan World Care Council. U. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang96 . International Council of Nurses. Indonesian Association of Pulmonologists.

Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. pleura. Bila ada fasiliti. (dewasa. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. Pada pasien dengan atau diduga HIV. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. Fase awal terdiri dari INH. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru.Rifampisin. bilasan lambung atau induksi sputum. Pada pasien demikian. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari). 97 . foto toraks menunjukkan kelainan TB.

yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Rifampisin. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. paling baik dinilai secara klinis. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. 98 . Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. Rifampisin.

Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Rifampisin dan Etambutol. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

GGULANGAN TUBERKULOSIS UPATEN / KOTA TB. • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.Lab Hasil/ Tgl. Reg.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. Reg. Reg. s. apat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan. 104 .Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. n atau lebih dengan BTA positif.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K). Reg. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. itif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama gister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( .03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

misalnya 02. . yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun.A= dahak sewaktu pertama.Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. . .Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. . 106 . misalnya 15.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. 02/15/237 B dan 02/15/237 C. misalnya 237.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. sebagai berikut : .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf. yang merupakan nomor urut kab/ kota. yang merupakan nomor urut UPK.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 110 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 111 .

.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

dampak terhadap TB : 4. 2.Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10. 70. 29.angka konversi : 88 . . 63. 87 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 13. 22.angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4. 64. .efek samping ringan : 31 .batasan : 63 .pandemi : 4 . AKMS : 1. 12.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38. 9. 23 BP4 : 8.Alur diagnosis TB paru : 15 .analisa indikator : 85 . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. 91 . 14 Darurat . . 11. 70 BTA : 5. 11.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 .pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5. 63.Fokus DOTS : 7 . 2. 5.angka kesembuhan : 9 . 9.Overdiagnosis : 14. lihat uji silang D Dahak .Diagnosis TB ekstra paru: 14 .peningkatan cakupan : 80. 71. 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. 11. 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9.pertimbangan dokter : 15 DOT . 64.analisa situasi : 77 Angka .efek samping berat : 32 . . 6 . 89 .lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . 65.Diagnosis utama : 14 .Diagnosis TB paru : 14 . 10. 65 AIDS (lihat juga HIV) : .Diagnosis pendukung : 14 Dokter . 39.lihat hasil pengobatan .strategi AKMS : 65 Analisa : 85. B C 118 .Angka gagal : 89 . Buffer stock : 49 Cakupan .pemeriksaan dahak mikroskopis : 7.pola pikir : 64 .Angka default : 89 . CBA : 81 CDR : 9.lihat PMO DOTS : 7.

TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .kasus setelah putus berobat : 18 .Kesalahan kecil .kasus TB : 18 .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .kasus kronik: 18 .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) . 5. . 6. 30.indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator . 22 Klasifikasi : 16 . 18.kasus setelah gagal : 18 . 86 .indikator jejeraing : 71 .Kesalahan Gradasi (KG) .Gejala utama : 13 .peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .Gejala klinis pasien TB : 13 .klasifikasi penyakit : 16 119 I . Indikasi . 16.lihat hasil pengobatan . 57 .indikasi operasi : 31 . 17.kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .keuntungan KDT : 20 . 21.jejaring internal : 71 .jejaring ekternal : 71 .syarat jejaring yang baik : 72 .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala . 48.evaluasi dampak : 56 . 11.evaluasi kinerja : 56.indikator program : 84.pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 J Jejaring .definisi kasus : 16 .kasus kambuh : 18 .kategori 2 : 21 .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat .evaluasi pembelajaran : 56 .kasus pidahan : 18 . 29.kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4. 22.tujuan : 61 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4. 49 .lihat visi KDT-OAT : 20. 7.Kesalahan besar . .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .prinsip dasar kemitraan : 61 . 89.kasus lain : 18 .langkah-langkah kemitraan : 62 .kategori 1 : 20 .dosis paduan KDT-OAT : 21.Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .pembentukan jejaring : 71 . 85.kasus baru : 18 .syarat indikator : 85 .

mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .negara dengan beban masalah TB : 4 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 40 .Laboratorium rujukan regional : 35. 80 .klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 . 37. 38. 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.prinsip : 66.tujuan mengatasi masalah : 79 .menetapkan masalah prioritas : 78 . tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 . 10.pemantapan mutu eksternal : 45 . lihat MDG Misi . 66 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah .definisi : 63.Laboratorium rujukan nasional : 35.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 . 65 .Laboratorium rujukan uji silang : 35. 9.OAT sisipan 20. .Laboratorium rujukan provinsi : 35. 7. 67 .Jenis logistik : 48 .inkompetensi : 57 Kortikosteroid . 49.klasifikasi berdasarkan organ : 17 . 39. 40 . 6.Manajemen logistik OAT : 49 .masalah MDR : 4. sifat dan dosis : 19 .ruang lingkup : 34 .penggunaan pada pasien TB : 31 .beban masalah TB (penyebab) : 4 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : .Pelatihan dalam tugas : 54 .pemantapan mutu internal : 44 . peran.paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1. 41 . 6. .Pelatihan dasar : 54 120 P .Manajemen logistik lainnya : 51 M Manajemen laboratorium .fungsi.pemecahan masalah : 79 .masalah prioritas : 7. 7 .standar kompetensi : 57 .bentuk-bentuk : 88 .efek samping OAT (lihat efek samping) .Mempertahankan mutu : 80 .komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9.Evaluasi pelatihan : 56 . 42 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1. 51 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal. 39.identifikasi masalah : 78 .Jenis. 54 .Laboratorium mikroskopis UPK : 37. 21 .definisi komunikasi : 63. 9 .masalah tuberkulosis di dunia : 4 . O OAT .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.peningkatan mutu : 44.Materi pelatihan : 56 .Konsep pelatihan : 54 . 10. 8.Koordinator pelatihan : 56 .klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 53 .

ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.Metodologi : 75 .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1.pengobatan dalam keadaan khusus : 29 . 40.batasan : 70 . 9. 37.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 8 .Pelatihan sebelum bertugas : 54 .tahap : 44 .lihat public-private mix . 7. 53 .tujuan dan target : 9 . 4.kebijakan program : 9 .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat . 35.Pelatihan penuh : 54 .siklus perencanaan : 77 .Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .perencanaan berbasis bukti : 77 .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.Prinsip pengobatan : 19 . 77.pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 . 26 .pencatatan di laboratorium : 85 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .pengobatan lengkap : 29 . 10. 35. 36.tujuan : 44 PPM .memilih prioritas : 79 Program TB : 1. 10.tujuan PSDM : 53 . 11.Pelatihan ulangan : 54 .Tujuan pengobatan: 19 .Persyaratan : 25 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 . 37.Langkah-langkah . .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1. 40 .Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11.perencanaan : 45 .program TB di Indonesia : 8 . 70 .Ruang lingkup : 75 . 37. 2.Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11. 9.strategi program: 10 . 36. 35. 35.Pelatihan lanjutan : 55 .pencatatan di UPK : 84 . 10.kegagalan program : 4 . 79 .pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 37. 74 .Puskesmas Satelit : 11.hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) . Q QA (quality assurance) : 35 121 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.tujuan perencanaan : 77 . 25.lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7.menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) . 40 .Karakteristik penelitian TB : 74 .Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 .pengobatan pencegahan : 24 . 9. 36.Pelatihan penyegaran : 55 .Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan . 36.Batasan : 53 .

risiko menjadi sakit TB : 5 . 44.pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 .tatalaksana TB anak : 22 . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35. 122 . 82 .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.case detection rate (lihat CDR) .pemetaan : 81 WHO : 6. 52.tujuan buku : 2 .target program : 9 Tatalaksana : .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.prinsip dasar tatalaksana : 13 . 82 .kegiatan supervisi : 57 .tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .risiko penularan TB : 5 .pengembangan : 80 .lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .perencanaan supervisi : 58 .tujuan program : 9 .persiapan supervisi : 58 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) . 6 .Pukesmas : 53 .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80. U V Valid : 85.supervisi laboratorium TB : 46 . 53.Tipe pasien : 18. .gambaran radiologis : 14.sasaran wilayah : 82 . 40. 7.kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.pelaksanaan supervisi : 58 .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.dokter praktek swasta : 54 .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran . 35.Penentuan tipe : 18 Tujuan . 37. Rate (lihat juga angka) .tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .laporan supervisi : 59 .Rumah sakit umum pemerintah : 53 .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 . 22. 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.penetapan target : 82 . VCT : 30 Visi .tingkat kabupaten/kota : 54 .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9.sasaran buku : 2 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 . 10 .case notification rate (lihat CNR) . 10.TB .