PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :
Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Analisa Situasi 2. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Langkah Langkah 3. Tujuan Penelitian 2. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Jenis Logistik Program 2. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Indikator Program 9. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Pembentukan Jejaring 3. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Pelatihan 3. Manajemen OAT 3. Pencatatan dan Pelaporan 8. Batasan 2. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Menetapkan Tujuan 4. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Metodologi 4. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Kerangka Pola Pikir 3. Standar Ketenagaan 2. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1. Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2. Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .

Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. SpJP(K) v . Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. dan kelemahan akibat TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. swasta maupun lembaga masyarakat. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. Berbagai kemajuan telah dicapai. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. Selamat berjuang! Jakarta. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Siti Fadilah Supari. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. dr. ketidakproduktifan.

Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. Jakarta. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut.000 pertahun. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. I Nyoman Kandun. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. IDAI. PAPDI. lembaga swadaya masyarakat. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan.000 dan jumlah kematian sekitar 101. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. MPH vi .

Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program. . telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi).Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis .Tuberkulosis dan permasalahannya. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT). indikator pemantauan dan evaluasi. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB . Untuk mengakomodasi keadaan tersebut.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis.Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : . definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS). elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya. maka dilakukan penanambahan. Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005.Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. . .Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat.Tuntutan masyarakat akan mutu. .Manajemen Laboratorium TB . definisi kasus TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. .Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. alur diagnosis anak (sistem skoring). dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB . Penambahan bab-bab baru meliputi : .Advokasi.Kemitraan.Supervisi. transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program.Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG .Pelatihan. . dibuat dalam buku pegangan tersendiri . pengurangan. Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : . sementara situasi program penanggulangan TB.Penelitian TB . Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan.

Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. - 2 . buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB .Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan.Diagnosis TB. propinsi. . klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Sebagai sebuah pedoman.Tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1. Pada tahun 1995. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. Gambar 2.1. Demikian juga. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Jika ia meninggal akibat TB. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. Insidens TB didunia (WHO. persalinan dan nifas. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). maka akan kehilangan 3 . Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia. terjadi pada negara-negara berkembang.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan .Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.000 orang. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. obat tidak terjamin penyediaannya. tidak dilakukan pemantauan.000 penduduk. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. • Dampak pandemi infeksi HIV. 4 . Selain merugikan secara ekonomis.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. .000 kasus baru dan kematian 101. pencatatan dan pelaporan yang standar. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. Menyikapi hal tersebut. Hal ini diakibatkan oleh: . WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Situasi TB didunia semakin memburuk.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. • Kegagalan program TB selama ini. Pada saat yang sama. dan sebagainya). Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). setiap tahun ada 539. Di Indonesia. pada tahun 1993. Diperkirakan pada tahun 2004. .

Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. seperti tuberkulosis. . . . ARTI sebesar 1%. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.Dengan ARTI 1%. • Risiko penularan . Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. maka jumlah pasien TB akan meningkat.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. .Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. diperkirakan diantara 100. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei).Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. . dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. • Cara penularan . 5 . . • Risiko menjadi sakit TB . Sebagian besar kuman TB menyerang paru. makin menular pasien tersebut. . .Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity).Pada waktu batuk atau bersin. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. .HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB.

UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. immunosupresan ƒ Keterlambatan diagnosis dan pengobatan ƒ Tatalaksana tak memadai ƒ Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2.50% meninggal . best practices.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : ƒVentilasi ƒKepadatan ƒDalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI ƒ Malnutrisi ƒ Penyakit DM. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi. clinical trials. juga mencegah berkembangnya MDR-TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. akan: . setelah 5 tahun.2. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular.25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. Penerapan strategi DOTS secara baik. 6 .

MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. 3. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. 2. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Mencapai. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. Pada tahun 1995. 7 . 4. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. 6. 4. 3. Komitmen politis 2. 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. 5. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu.

PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. • Tahun 1995. sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. Sejak tahun 1995.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). 1. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. Sampai tahun 2000. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. • Indonesia. sampai saat ini. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. • Sampai tahun 2005. Setelah perang kemerdekaan. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. Di Indonesia.

Rumah Sakit Paru (RSP). l. meliputi Puskesmas. KEBIJAKAN a. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. e. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). pelaksanaan. k. j. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. 3. sarana dan prasarana) b. sektor pemerintah. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). i. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. h. f. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. memutuskan rantai penularan. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS). penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. tenaga. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. masyarakat dan pekerjaannya. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.

Peningkatan SDM (pelatihan. komunikasi dan mobilisasi sosial d.I. b. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Dilaksanakan oleh Puskesmas. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. 10 . Penemuan dan pengobatan. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. Kemitraan 6. Penelitian f. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. ORGANISASI PELAKSANAAN a. d. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Unit Pelayanan Kesehatan. Menteri Kesehatan R. KEGIATAN a. c. e. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Tingkat Pusat. Perencanaan c. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. Pemantauan dan Evaluasi d. Rumah Sakit. supervisi) e. STRATEGI a. Tingkat Kabupaten / Kota. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. b. Promosi g.

dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. • Menghadapi tantangan TB-HIV. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. rumah sakit atau BP4. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. Rumah Sakit Umum. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. Strategi umum Strategi ini meliputi : 1. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Pada keadaan geografis yang sulit. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. a. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. 11 . Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. • • 7. • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS).

b. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. Adapun strategi fungsional tersebut: 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2. Memperkuat penelitian operasional 12 . Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2.

penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. dan lain-lain. didukung dengan penyuluhan secara aktif. 1. ƒ Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. badan lemas. yang menunjukkan gejala sama. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. demam meriang lebih dari satu bulan. nafsu makan menurun. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. dianggap tidak cost efektif. diagnosis. pencatatan. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. bronkitis kronis. ƒ Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. terutama mereka yang BTA positif. pelaporan. sesak nafas. asma. batuk darah. petugas yang terkait. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. seperti bronkiektasis. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. Strategi penemuan ƒ Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. harus diperiksa dahaknya. kanker paru. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. berat badan menurun. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. malaise. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit.

Pada program TB nasional. sehingga sering terjadi overdiagnosis. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. patologi anatomi. foto toraks dan lain-lain. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. saat menyerahkan dahak pagi. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. misalnya uji mikrobiologi. segera setelah bangun tidur. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. yaitu sewaktu .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Pada saat pulang. 14 .pagi . • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). Diagnosis TB ekstra paru. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena.sewaktu (SPS). penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. serologi. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. 2. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.

Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + .- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + . Pagi.Sewaktu. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis .- Hasil BTA ..- .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3..1.- .

15 .Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik. alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.

Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati • Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah . • Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk . sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) .menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) . .Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal . (lihat bagan alur) • Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. (lihat bagan alur) • Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. .registrasi kasus secara benar . pleuritis eksudativa. . Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif.Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.menentukan paduan pengobatan yang sesuai .Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru.mengurangi efek samping. 3.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi.analisis kohort hasil pengobatan • Beberapa istilah dalam definisi kasus: . efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma). • 16 . . diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. yaitu: .Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif.

TB saluran kemih dan alat kelamin. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. • Tuberkulosis ekstra paru.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. . . TB usus. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. tulang.Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. kelenjar lymfe. yaitu: . peritonitis. TB tulang belakang. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif.Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.TB ekstra-paru berat. milier. 17 . Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. persendian. • TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. usus. . . . perikarditis. sendi.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. . pleuritis eksudativa unilateral. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ. selaput otak.TB ekstra paru ringan. ginjal.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. .1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. alat kelamin. dan kelenjar adrenal. dan lain-lain. saluran kencing. yaitu bentuk berat dan ringan. dan atau keadaan umum pasien buruk. tulang (kecuali tulang belakang). Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. misalnya: meningitis.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: . maka untuk kepentingan pencatatan. kulit. misalnya: TB kelenjar limfe. pleuritis eksudativa bilateral. selaput jantung (pericardium).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru. misalnya pleura.

• • • 18 . Meskipun sangat jarang. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).. harus dibuktikan secara patologik. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. gagal. dapat juga mengalami kambuh. radiologik. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. bakteriologik (biakan). yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. dan pertimbangan medis spesialistik. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. default maupun menjadi kasus kronik.

PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . mencegah kekambuhan. . Tahap awal (intensif) .prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Jenis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4.1. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Jenis. • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. yaitu tahap intensif dan lanjutan. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Tahap Lanjutan . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. namun dalam jangka waktu yang lebih lama .Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. mencegah kematian. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. . • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. sifat dan dosis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (30(20-30) 40) Bakterisid 15 15 (12(12-18) 18) Bakteriostatik 15 30 (20(15-20) 35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip .Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) .Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. Paket Kombipak.Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Pirazinamid dan Etambutol. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: ƒ Pasien baru TB paru BTA positif. 2. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. disediakan paduan obat sisipan (HRZE) . Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. Disamping kedua kategori ini.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. yaitu Isoniasid. 1. . Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. ƒ Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif ƒ Pasien TB ekstra paru ƒ ƒ 20 . Rifampisin.

2.7ml sehingga menjadi 4ml. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: ƒ Pasien kambuh ƒ Pasien gagal ƒ Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3. (1ml = 250mg) 3. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Lanjutan Tahap Intensif tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj.3. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. 21 .

yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. CT-Scan. dan pemeriksaan penunjang. 22 . Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). pungsi lumbal. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang.4. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). pungsi pleura. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . pemeriksaan fisik. patologi anatomi. Setelah dokter melakukan anamnesis.5. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. foto tulang dan sendi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. 5. Lihat tabel 3. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. funduskopi. dan lain lainnya. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. seperti bilasan lambung. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.--> lampirkan tabel badan badan. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). aksila. Sinusitis. kelenjar limfe koli. lutut. atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Klinis gizi buruk Bawah garis keadaan gizi (BB/U < 60%) merah (KMS) atau BB/U < 80% > 2 minggu Demam tanpa sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). BTA negatif atau tidak tahu. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB BTA positif Tidak Laporan jelas keluarga. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. jumlah >1. dan lain – lain. 23 . • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6.5. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.

Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 . Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. efusi pleura 3.6. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. kaku kuduk ƒ penurunan kesadaran ƒ kegawatan lain. Gibbus. misalnya sesak napas 2. OAT tetap dihentikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. OAT pada anak diberikan setiap hari. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. kavitas. lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Tanda bahaya: ƒ kejang. Setelah pemberian obat 6 bulan .2. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. koksitis Gambar 3. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Tabel 3.

• Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. a. 6. Perawat. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. guru. ƒ Obat harus diberikan secara utuh. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5. Juru Immunisasi. misalnya Bidan di Desa. Pekarya. 25 . Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.7. anggota PPTI. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. PKK. dirujuk ke rumah sakit. dan lain lain. ƒ Anak dengan BB > 33 kg . • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. dipercaya dan disetujui. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. tidak boleh dibelah ƒ OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. Sanitarian. Dosis OAT KDT pada anak Berat badan (kg) 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 5-9 1 tablet 1 tablet 10-19 2 tablet 2 tablet 20-32 4 tablet 4 tablet Keterangan: ƒ Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit ƒ Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. c.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO.

Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. 26 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. d. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif.

Jika mungkin. Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. tahap lanjutan tetap diberikan. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan.8. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Beri Sisipan 1 bulan. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Jika setelah sisipan masih tetap positif.

dahak. 28 . Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: .Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan Æ lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) ƒ Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: ƒ Lacak pasien ƒ Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur ƒ Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 ƒ Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai ƒ Diskusikan dan Tb extra paru: cari masalah Lanjutkan pengobatan ƒ Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan hasil BTA (+) sebelumnya kurang sampai seluruh dosis dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan ƒ Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan ƒ Kategori-2: rujuk. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan ƒ Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Mulai kategori-2 Bila satu atau lebih Kategori-1 ƒ Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3.9.

Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Menurut WHO. a. 29 . kecuali streptomisin. b. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. • • • • • 8. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB.

harus dihentikan. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. 30 . Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. d. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. d. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. susuk KB). Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. suntikan KB. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Pasien dengan kelainan hati. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat.

h. 9. ƒ Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. adalah: Untuk TB paru: ƒ Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. Untuk TB ekstra paru: ƒ Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Tabel 3. karena dapat memperberat kelainan tersebut. setelah selesai pengobatan TB. ƒ Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: ƒ Meningitis TB ƒ TB milier dengan atau tanpa meningitis ƒ TB dengan Pleuritis eksudativa ƒ TB dengan Perikarditis konstriktiva . Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. tapi perlu penjelasan kepada pasien. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. g. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. mual. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). 31 .

Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. ganti Etambutol. Bila keadaan seperti ini. Berikan dulu anti-histamin. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Streptomisin dihentikan. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 .11. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. Bila mungkin. Hentikan Rifampisin. berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. segera lakukan tes fungsi hati. ganti Etambutol. Streptomisin dihentikan. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Untuk membedakannya. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. Hentikan Etambutol. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Hentikan semua OAT. ganti obat tersebut dengan obat lain. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. hentikan semua OAT. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat.

jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat. 33 . Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. Namun. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. mungkin dapat dilakukan desensitisasi.

Namun. Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Untuk mendukung kinerja program. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. Keamanan dan kebersihan laboratorium. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. bersifat spesifik. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Propinsi. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal. Kab/Kota. harus mengikuti acuan/standar. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. dan Nasional. murah. diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. mudah. Kegiatan – kegiatan laboratorium. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. Sumber daya laboratorium. mulai dari tingkat Kecamatan. 34 . Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis.

Laboratorium mikroskopis TB UPK ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. tb dari spesimen dahak. mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). c. BP4. ƒ Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. identifikasi. ƒ Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. RSP dll. b. ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. peran. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. e. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. Rumah Sakit. ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA).tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. dll. ƒ Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). Laboratorium rujukan Regional. 35 . Misalnya: Puskesmas Satelit (PS).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. Laboratorium rujukan Nasional. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). ƒ Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis ƒ Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi. identifikasi dan DST M. uji kepekaan M. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. Laboratorium rujukan Provinsi ƒ Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP). ƒ Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur.

Australia. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB ‰ PRM. Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk. PPM ‰ Rumah Sakit ‰ Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) .1.

36 .

Peran: . .Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan. . dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM.Fungsi: . . .Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. . . . Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM. b.Fungsi: Melakukan pengambilan dahak. .Laboratorium mikroskopis TB.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 .Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring. membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. sampai diperoleh hasil ƒ PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. Laboratorium mikroskopis TB UPK. Catatan : Bilamana perlu.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Tugas: ƒ PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up.Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB. sampai diperoleh hasil. . ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. FUNGSI dan PERAN. maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi. . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi. Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. dan keamanan dan keselamatan kerja.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis .

2. .Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. 38 . ƒ Fungsi . . . Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring. . 3.Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. isolasi. . Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. .Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring. identifikasi dan tes kepekaan M. TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). Laboratorium rujukan Provinsi. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar. TB dari dahak.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program.Menyelenggarakan pembinaan Lab. Isolasi.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. 1. ƒ Peran: ƒ Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) ƒ Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: TB setempat. ƒ Pembina laboratorium TB sesuai jejaring ƒ Tugas: . termasuk EQAS sesuai jejaring. - c. ƒ Tanggung jawab: . .

ƒ Tanggung jawab: . Laboratorium rujukan Regional.tb dan MOTT bagi yang memerlukan. identifikasi dan DST M. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. 39 .Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. rujukan provinsi. Laboratorium rujukan Nasional. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional. ƒ Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. ƒ Laboratorium rujukan untuk isolasi. ƒ Peran: . . Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB.tb di laboratorium provinsi ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. identifikasi dan DST M. identifikasi dan uji ƒ Tugas: kepekaan (DST). . Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. . ƒ Peran: ƒ Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi. ƒ Fungsi: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. tuberculosis. ƒ Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional.Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional .Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB.Melaksanakan pemeriksaan isolasi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain. yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. identifikasi dan DST M. e.

Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.Formulir standard (TB.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . kerja Lab .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3.05). penjepit sediaan dari kayu. minimal SMAK/setara .pewarna ZN bermutu. minyak emersi.Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) Æ (lihat buku pedoman pem. ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . TB 04 .Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan.Air mengalir. rujukan pemeriksaan dahak.Ruang: . kaca sediaan/frosted sediaan.Botol berisi pasir dan desinfektan .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. minimal SMAK/setara .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak.Ruang: .Sarana keamanan . . ose/lidi.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan . kertas saring.Sarana: . Laboratorium mikroskopis TB UPK. sticker. lidi lancip.Idem dengan PS. aether alkohol.Wadah pembuangan berisi desinfektans. . Mikroskopik dahak BTA) . kertas lensa.Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak. . rak pengering. .Ruang kerja terang dengan ventilasi baik . ditambah dengan : . corong. kotak sediaan.Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. lampu spiritus.Idem PS . timer. pipet. .Desinfektans.Sarana: .Idem PS kerja Lab .1 buah mikroskop binokule . timer . KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a. .Sarana keamanan .

b. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .

Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) . . . Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. ƒ Seorang pembantu analis.Ruang pembuatan media dan reagensia.Ruang pelatihan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Dua orang tenaga analis medis yang terampil. Teknisi alat laboratorium: ƒ Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang . ƒ Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro ƒ Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia. uji silang ditambah dengan : ƒ 10 mikroskop binokuler ƒ 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 . setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop. . . Laboratorium rujukan Provinsi. Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi. .Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : .2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: Sarana keamanan kerja Lab c.Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. Administrasi: Seorang tenaga administrasi.Tb: ƒ Idem dengan lab.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : .Ruang administrasi .Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M.

idem dengan lab Propinsi Sarana: .1 freezer (.1 timbangan gram (0–500 gr) . .300 C) .Magnetic stirrer. Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Teknis laboratoris: . . .Idem lab Propinsi kerja Lab - .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi.1 lemari es. managemen) d. .1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) .Blender/homogenizer (autoclavable) .Cabinet untuk pembuatan media . GLP. .Minimal seorang tenaga administrasi. Laboratorium rujukan Regional.Minimal 2 orang tenaga analis (Media).5000 g) .Generator listrik.Micro-pipette . . .Idem lab Propinsi Sarana keamanan .1 incubator.Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi).Vortex mixer. . .Botol McCartney . . Teknis alat laboratorium: .Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).1 biosafety cabinet class II . .1 incenerator / carbonizer .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: .1 inspisator.Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium.1 bio-containment centrifuge (500 .1 waterbath. Administrasi: . Ruang: .Alat gelas laboratorium.

42 .

Waterbath . system elektroforesis vertical.Optional: Fasilitas kultur sel.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e. 1 set pipet mikro. dan ƒ Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik.Amplifikasi asam nukleat: ƒ Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV). refrigerator. ƒ 2 orang analis untuk media dan reagensia.TB: . microcentrifuge. dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. system elektroforesis horizontal.Dot blotter .Automated Liquid culture system .Ruang dengan negative pressure . Laboratorium rujukan Nasional.Thermo-cycler . dan ƒ Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik. UV transilluminator/imaging system . refrigerator. microcentrifuge ƒ Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA.Nucleic Acid Sequencing system .1 mikroskop fluorescence . heating blockpem. Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Tenaga Teknis Laboratoris: ƒ Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research).Ruang gelap . Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi.ELISA system .Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi. freezer –20oC. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . Idem ruang lab regional ditambah dengan : . Mikroskopik dahak BTA ƒ Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler. vortex. dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) ƒ 5 tenaga analis. 1 set pipet mikro. freezer –20oC.Ruang Asam: fume hood. shower . vortex. eye wash. pipet mikro.Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: .Protap pembuatan media 44 .Protap pembuatan sediaan dahak . Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. misalnya : .Protap pemeriksaan Mikroskopis . PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar.Protap pewarnaan Ziehl Neelsen . penyimpanan. pasca-analisis. pengolahan contoh uji. pengiriman. mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat.Idem dengan lab regional ditambah dengan : .1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. pemeriksaan contoh uji. Tujuan PMI ƒ Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera ƒ Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. Pemantapan Mutu Eksternal 3. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar. analisis. Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. terintegrasi dalam PMI dan PME.Protap pengelolaan limbah . ƒ Membantu peningkatan pelayanan pasien.Protap pengambilan dahak . Pemantapan Mutu Internal 2. pengambilan. ƒ Mendeteksi keslahan. Peningkatan mutu (Quality Improvement). Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : ƒ Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium. dan harus dilakukan terus menerus.

Dsb. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat.Protap inokulasi . 45 . Pada pelaksanaan uji silang. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : ƒ Uji silang sediaan dahak. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ ƒ ƒ . dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. audit internal. laboratorium pembaca pertama. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME ƒ Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB ƒ Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan jenis kegiatan PME ƒ Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME ƒ Penilaian dan umpan balik. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat.

perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. pengembangan metoda pemeriksaan 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. mutasi ƒ Sarana dan prasarana : Pengadaan. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. ƒ Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. 46 . meliputi : ƒ Tenaga : Pelatihan. maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. mutu pewarnaan. uji fungsi ƒ Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. dll. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. penyegaran. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan. pelatihan. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. ƒ Supervisi Laboratorium TB. sarana dan prasarana laboratorium. pemeliharaan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja.

biakan. serologi. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. peralatan. masyarakat umum. 47 . jadwal pemantauan dan evaluasi. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. uji kepekaan. PCR/biomolekuler. dsb). Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. Penyediaan perangkat (protap. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. 1. dsb) 2. yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. lingkungan sekitar laboratorium. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS
Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi. 1. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. a. Logistik OAT. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak, untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister, dan tiap blister berisi 28 tablet. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2, dan sisipan, yang dikemas dalam blister untuk satu dosis, kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. b. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop, Slide Box, Rak pewarna dan pengering, Lampu spiritus, Ose, Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum, kaca sediaan, Reagensia Ziehl Neelsen, Eter Alkohol, Minyak imersi, Lysol, Kertas pembersih lensa mikroskop, kertas saring, tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman, format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya.

48

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

2. MANAJEMEN OAT a. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya, • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan, • buffer-stock, • sisa stock OAT yang ada, • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program, Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). Disamping rencana kebutuhan OAT KDT, perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi, perencanaan ini diteruskan ke pusat. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat, sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi

49

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Buffer stock ditingkat pusat.

b. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). c. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan, dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah, penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out), artinya, obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis, jumlah, kemasan, nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. d. Monitoring dan Evaluasi. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda, untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi, melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. e. Pengawasan Mutu. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Setelah OAT sampai di Propinsi, Kabupaten/Kota dan UPK, pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. f. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Keutuhan kemasan dan wadah

50

Kadar zat aktif 7. 3. boks dan master boks 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. • Dan pihak lain yang terkait. Waktu hancur atau disolusi 5. Identitas obat 2. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Kemurnian/ kadar cemaran 6. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). Pemberian 3. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. Uji potensi 8. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4.

Bahan Uji tuberkulin. Botol plastik bercorong pipet dll. Ose. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Lampu speritus. Rak pewarna dan pengering. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. 52 . formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. Slide Box. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin.

1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. 3 perawat/petugas TB. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. 3 perawat/petugas TB. Unit Pelayanan Kesehatan 1. kalakarya/on the job training). Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. supervisi. dan 1 tenaga laboratorium. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. 2. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. 1 perawat/petugas TB. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. pembinaan (pelatihan. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. dan 1 tenaga laboratorium 53 . pelatihan dan supervisi. dan kesinambungan (sustainability).

jumlah tergantung kebutuhan. 2. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. 2. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. seluruh materi diberikan. 3. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. menyesuaikan. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. (Fakultas Kedokteran. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. 2. Pelatihan penuh. jumlah tergantung kebutuhan. 2 perawat/petugas TB. Pelatihan ulangan (retraining). dan lain-lainnya. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. Fakultas Keperawatan. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. 3. dan lain-lainnya. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. 5 fasilitator pelatihan. b. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. terdiri dari: 1. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. 3. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Tingkat Provinsi 1. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Fakultas Kesehatan Masyarakat. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui 54 . minimal telah dilatih. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. 2 perawat/petugas TB. • Tingkat Kabupaten/Kota 1. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. Dokter Praktek Swasta. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan.

tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan. surveilans. fasilitator. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . materi. dana. • persiapan administratif penyiapan bahan. pelatihan DOTS plus. seperti: pelatihan manajemen OAT.1. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi.pembelajaran • paska pelatihan . On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. d. peserta. kepanitiaan. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi.reaksi dan . Materi berbeda dengan pelatihan dasar. pelatihan TB-HIV..dampak 55 . c.kinerja (supervisi) . pelatihan advokasi. tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. metode pembelajaran. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. Pelatihan penyegaran. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Diadopsi dari Tovey (1997) 56 .

2. tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program.Materi pelatihan dan metode pembelajaran. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta. Tidak semua harus dipelajari. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN . Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan.

Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : ƒ observasi. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja. ƒ diskusi. on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. 3.3. ƒ bantuan teknis. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompeten si pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) . SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. ƒ bersama-sama mencari pemecahan masalah dan ƒ memberikan rekomendasi dan saran perbaikan.

waktu modifikasi dari berbagai sumber .

bila memungkinkan .Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB. angka kesembuhan rendah. Kepribadian supervisor. .Bila kinerja dari suatu unit kurang baik.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO. . Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan.Melakukan pendekatan fasilitatif.Menjadi pendengar yang baik. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. maka supervisi harus direncanakan dengan baik. . terutama pada tingkat UPK : 1. . BP4. 4. maka perlu dilakukan persiapan. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. . Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. 2.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. 2. pemetaan wilayah.06. dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. misalnya laporan.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya. Kegiatan penting selama supervisi. serta kebutuhannya.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. Pengumpulan informasi pendukung.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja . Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut. RS. Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program. yaitu: . 3. Penjadwalan kegiatan supervisi. 58 .Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. penuh perhatian. . misalnya angka konversi rendah. . Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. partisipatif dan tidak instruktif. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. Pelaksanaan supervisi. . sebagai berikut: 1. empati. Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat. 2.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB.01 dan TB. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.Pada tahap awal pelaksanaan program.03) . . .

realistis. dan tidak menciptakan masalah baru. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. Tentukan penyebab yang paling mungkin. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. inovatif. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). tidak mampu melaksanakan. dapat dilaksanakan. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. kreatifitas. e. mungkin karena tugasnya tidak jelas. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. f. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. sebaiknya 3 lembar: . Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. 4. tidak ada motivasi atau memang ada kendala. g. 5. praktis. 1. maka berarti ada masalah kinerja. 2. 59 . c. inisiatif. realistik. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. Memberikan umpan balik saran yang jelas. d. melakukan on the job training. Laporan supervisi. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium. b.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. 3. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait.

Lembar 3 : arsip supervisor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. 60 .

baik dari pemerintah.Meningkatkan komunikasi . transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . kelompok media massa. Beban masalah TB yang tinggi 2. c. sektor swasta.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor.Meningkatkan sumber daya. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. organisasi keagamaan.Meningkatkan koordinasi . organisasi pengusaha dan organisasi pekerja. Keberlanjutan program 5. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. Lembaga Swadaya Masyarakat. organisasi profesi. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a. legislative. b. mutu.Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. Potensi melibatkan sector lain 4. mengingat : 1. Akuntabilitas. Keterbatasan sector pemerintah 3. 61 .Meningkatkan komitmen . organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program.

b. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. disepakati sejak awal. g. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. Melakukan kegiatan. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. f. dana. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. b. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. e. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. Pemantauan dan penilaian. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. Komunikasi intensif. c. sarana dan prasarana.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. Penyamaan persepsi. tugas dan fungsi masing. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. Identifikasi. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. 3. Pembentukan Komitmen. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. Pengaturan peran.

untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB. 63 . 1. Dalam konteks penanggulangan TB. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. Pada konteks dalam negeri. komunikasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. Dalam konteks global. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .1.Media Promosi .Sumber dana (APBN.Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor.Tenaga Penyuluh . Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .Buku Pedoman .factor lain 64 .Angka kesembuhan . KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.

dan Mobilisasi sumber dana. menulis dan lain-lain. Dalam proses komunikasi. berfikir.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. memberikan laporan. 2. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. metode dsb) Mengembangkan bahan. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. pertemuan/rapat kerja. konsultasi. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. pelaksana. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. Memilih strategi yang tepat (advokator. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. 1. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. b. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri. 65 . dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan.

Surat kabar. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut.Televisi. d. Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. percakapan. Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . Beberapa prinsip mobilisasi sosial .Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan. Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. 66 . Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. 3. seminar peningkatan pengetahuan . Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. latihan (meningkatkan kemampuan) . secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat.Rapat pertemuan-pertemuan. film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat. Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. c.Radio. lancar tidaknya suatu proses. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama.Demonstrasi. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. KIE berbasis individu. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. pesan. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. ikut menjadi PMO. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. .Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. . 5. 2. motivasi. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. harus merupakan elemen kemasyarakatan. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong.Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . 4. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat.Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. . . sasaran.Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: .Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. Kader TB dan sebagainya. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat.Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak. . 3.Community material : Sarana masyarakat . Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. keluarga. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. dan ormas lainnya 67 .Memenuhi permintaan masyarakat.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok .Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural.Memerlukan pengulangan secara periodik. .Community fund : Dana yang ada di masyarakat . . masyarakat.indikator dan umpan balik mobilisasi. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. . alih pengetahuan dan keterampilan.

Konseling. Ormas. Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD. Kunjungan rumah. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB. Diskusi kelompok (DK).dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut. Lintas sektor.organisasi profesi. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah.mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. Penyuluhan kelompok. Lintas program. . dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan. karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok. profesi (IDI. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. PAPP) LSM. .mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. LSM. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat. Langkah-langkah mobilisasi sosial . dll Peminatan Kebijakan. LSM.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi).1. . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. dunia usaha.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Tabel 9. . dapat digunakan tabel contoh berikut. Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye. ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. 68 . Komisi 9 DPR Akademisi. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

- mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV, filler/spot, radio spot, billboard dan spanduk. Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien.

69

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS
Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004, pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10.1. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29%

Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%, rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB, strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS, antara lain : rumah sakit, BP4, UPK lapas / rutan, UPK polisi, UPK di tempat kerja, dan lain lain. 1. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. 2. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. Setelah mencapai prakondisi tersebut, sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK, selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis, dan seluruh petugas terkait.

70

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. 6. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. memantau. 2. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan. 2. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK 72 . Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. Validasi data pasien di UPKt 7. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. 4. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait.

1. Hal yang penting diketahui : .Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85% 73 . Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10. serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : ƒ Tingkat sosial ekonomi pasien ƒ Biaya Konsultasi ƒ Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) ƒ Biaya Transportasi ƒ Kemampuan dan fasilitas UPK. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS.Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan). Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Mulai Penemuan Diagnosis Pengobatan Konsultasi Pencatatan Pengobatan selanjutnya Klinis suspek dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis.

BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. 2. Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan. keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. 1. akses pelayanan kesehatan. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. pengendalian mutu pelayanan. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak. . TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah.

Spesifik terhadap program tuberkulosis . Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. termasuk mutu kinerja laboratorium. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. 75 . antara lain: 1. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. eksperimentasi.Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . modeling. focus group discussion. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. 2.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . dan community based approach. Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. b. 4. Penelitian operasional tuberkulosis. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: . bidan di desa. 3. khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . dan 5) penyebarluasan hasil (publication).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program. b. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal. a. misalnya dengan melibatkan pustu. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. in-depth interview dan lain-lain. a. termasuk survei.Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program. kuasi eksperimen. Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis.

Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. 76 . Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. 7. 6. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. 4. Dokter Praktek Swasta. 5. c. seperti: TB/HIV. TBKusta. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. dan lain-lain. dan UPK lainnya. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program.

Rumah Sakit.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PERENCANAAN BAB 12 Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. Dinas Kesehatan Propinsi. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. pendidikan. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. Dalam sistem desentralisasi. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. sosial budaya. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. 77 . • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat. a. Puskesmas. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. Laboratorium dan unit lainnya. tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning.

Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. method. b. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . diseminasi informasi serta umpan balik. money. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. sampai dimana kemajuan program. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. Dari kesenjangan yang ditemukan. keberhasilan diagnosis. pohon masalah dan log frame. pencapaian program (penemuan pasien. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). material. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). Selain data tersebut. logistik (material). Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. • Disamping untuk perencanaan. angka kesembuhan. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. dana (money).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. dan metodologi yang digunakan (method). masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses. masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. antara lain kebijakan lokal. Untuk maksud tersebut. keberhasilan pengobatan). a. dicari masalah dan penyebabnya. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. dan market). Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. 2. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. Untuk memudahkan. komitmen nasional maupun international.

yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . 1) Daya ungkitnya tinggi. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. 5. Terukur (kuantitatif) e. artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. Memiliki target waktu. . 2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. Dalam menetapkan pemecahan masalah. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. Terkait dengan masalah d. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. Rasional (realistis) f. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. 4. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. 3. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan.

b. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. kepadatan penduduk. pengobatan dan case holding pasien. rumah sakit. Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. diagnosis pasien. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . 3) Kesiapan : Tenaga. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. Setelah itu baru rumah sakit. RSTP dan dokter praktek swasta). Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. perlu dinilai semua unsurnya. BP4. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. dan kemitraan. sarana. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. BP4. Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. karena akan memberikan dampak epidemiologis. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. yaitu penurunan jumlah pasien. sampai pada pencatatan pelaporan. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. c. Masing-masing aspek tersebut. namun perlu didukung dengan data penyakit. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. Pada tahap awal. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. ¾ Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. Penetapan Sasaran dan Target ƒ Sasaran wilayah. Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. ƒ Penetapan target. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). ¾ Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). ¾ Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. Perluasan unit pelaksana. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. daya ungkit dan kesiapan daerah ƒ Sasaran penduduk. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini. Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 .

Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. e. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. Pelaksana (siapa yang memantau). Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. c. 6.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. Dengan kata lain disebut program oriented. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. Cara pemantauan. 82 . d. bukan budget oriented. b. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran.

disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. bagian atas. dianalisis. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Propinsi. Rumah Sakit. diinterpretasi. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. Kabupaten/Kota. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. maupun keluaran (output). lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. BP4. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. 1. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. proses. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input).

BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. RS. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan). • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. 3. PPM. BP-4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.

2. 3. Tabel 12. Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - √ √ √ 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 .1. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ 5 Triwulan √ √ √ √ 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif.

000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa X 100 % 86 . dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100. misalnya rumah sakit. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. indikator ini tidak dapat dihitung. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu. BP4 atau dokter praktek swasta. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun.

Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Angka ini sekitar 5 . 87 . Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ). Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat.15%.

5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Angka ini berkisar 15%. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat X 100 % A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % . itu berarti mutu diagnosis rendah. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------. Bila angka ini jauh lebih rendah.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien.

87 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK.12 bulan sebelumnya. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . gagal. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh X 100 % Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB.11.01. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya.08. Di tingkat kabupaten. meninggal. Angka default tidak boleh lebih dari 10%.01. default (drop-out atau lalai). Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. 88 . indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. propinsi dan pusat. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. setelah selesai pengobatan. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. dan pindah keluar. Di tingkat kabupaten. propinsi dan pusat. setelah pengobatan intensif (2 bulan).

Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. di tingkat kabupaten/ kota. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR) . Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar Benar KKPP KBPP KBPP KBPP Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1.7) Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa. Kabupaten / kota harus menganali sa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang.

9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.07 Jumlah penduduk X 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial. akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 % . Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut.Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.000 Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 4. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. ATS/CDC/IDSA, Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children, Atlanta, 1999 2. ATS/CDC/IDSA, Treatment of Tuberculosis, Atlanta, 2003 3. Crofton J, Horne N, Miller F. Clinical Tuberculosis, McMillan Education Ltd, London and Oxford, 1999 4. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 5. Depkes RI, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT), Jakarta, 2004 6. Depkes RI, Kelompok Kerja TB-HIV. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS, Jakarta, 2003 7. Depkes/UKK Respirologi IDAI, Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2006 8. PDPI, Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta, 2006 9. PP IDAI-UKK Pulmonologi, Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2005; ISBN 97996622-2-2 10. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). The Hague, 2006. 11. WHO, A guide for Tuberculosis Treatment Support, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.300 12. WHO, Adherence to Long Theraphy, Geneva, 2003; W85 13. WHO, Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis, Geneva, 1997, WHO/TB/96.210 14. WHO, Toman’s Tuberculosis, Case Detection, Treatment and Monitoring. 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.334 15. IUATLD, A Tuberculosis for Specialist Physicians, Paris, 2004; 16. IUATLD, Intervention for Tuberculosis Control and Elimination, Paris, 2002, 17. CDC/US Department of Health and Human Service; Core Curricullum on Tuberculosis, What the Clinician Should Know, 4th edition, Atlanta, 2000 18. WHO, TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.329W, 19. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 20. WHO, Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers, Geneva, 2000. 21. WHO/IUATLD, Tuberculosis: A Manual for Medical Students, Geneva, 2003. 22. WHO-SEARO, Effective Diagnosis, Treatment, and Control of Tuberculosis, New Delhi, 2000. 23. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 24. WHO-SEARO, Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers, New Delhi, 1999 BAB 5. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO, External Assessment for AFB Smear Microscopy, Washington, 2003 2. Depkes RI, Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia, Jakarta, 2002 3. IAUTLD, The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network, Paris, 1998 4. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 1, Organization and Management, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 5. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 2, Microscopy, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 92

Geneva. Jakarta. unpublished). Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. 2003 6. 2002 2.350 11. Evaluation and Management. McMillan.353 16. Refika Aditama. Abbat FR. 2002. WHO. No. McMahon Rosemary. 2003 9. Geneva. Bandung. Geneva. Geneva.24/Ind/P 5. Irianto Jusuf. Mangkunegara Anwar Prabu. 1998 8. Sydney.725/Menkes/SK/V/2003). Surabaya. WHO/CDS/STB/2002. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs.301.995. 93 .347 13. Depkes RI. Jogyakarta.347c 17. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. 1992 2. Modul D : Provide Training for TB Control. WHO/CDS/TB/2002. Tovey MD. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Geneva. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. WA 530. 15. WHO/HTM/TB/2005. WHO. JJ Gilbert. Abbat FR. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. WHO. WHO/HTM/TB/2005. Depkes RI. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WHO.2002. New Delhi. Jakarta. Delivery. Geneva. 2005. (comprehensive draft. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. MSH/WHO. WHO/CDS/TB/2002. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Amara Books. Teaching Health care worker: A practical guide. The World Health Report 2006. Educational Hanbook for Health Personal. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. 2005.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6. Geneva. 2003. 1997 10. Geneva. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. 2005. WHO. Geneva. WHO-WEPRO. WHO/HTM/TB/2005.347d 18. How to Organize Training for Distric Coordinator. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. W 21. WHO. Geneva. 2006. WHO/HTM/TB/2005. Insan Cendekia. Manila. Geneva. 2003 4. 2005. WHO. 2005. 12. 1999. WHO-SEA. Cetakan ke-10.308 BAB 7. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2006. WHO. WHO. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control.1 19. 2001 7. Depkes RI Badan PPSDM. 616. Geneva. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Jakarta. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis. A Usmara (ed). Geneva. WHO. 2005. Training in Australia: Design. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). 2002. November 2005 14.1991 3. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. Prentice Hall.19 3. Revised and Updated 1998. Working together for Health. WHO. Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. WHO. WHO/HTM/TB/2005.

Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. WHO. WHO. Depkes RI. 2003. Jakarta. IAUTLD. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. The Power of Partnership. 2001 2. Tearfund. 616. TB Advocacy: Practical Guide. Interventions. Pedoman Advokasi. Jakarta. 1999. Depkes RI Ditjen PPMdanPL. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. Guidelines for Workplace TB Control Activities.24 BAB 9. New Delhi. 2002 6. Global Partnership to STOP TB. Issues. Depkes RI. 2006 3. Atlanta. Advokasi. Jakarta. SEA/TB/259 5. 2000 3.323 4. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy.355 3. WHO/CDS/TB/2003. Making Health Communication Program Work. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. 2001 2. 2003. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. 1999 2. WHO/HTM/TB/2005. belum diterbitkan). TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. 2006 5. Understanding the TB Cohort Review Process. Jakarta. Geneva. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. WHO/CDS/TB/2003.24/Ind/P 94 . WHO-SEARO. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. Depkes RI Pusat PKM. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. 2006.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. Kemitraan dengan Sector Swasta. SEA/TB/213 3. Jakarta. Jakarta. Gordom Graham. WHO. 2004 2. Paris. WHO. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. Geneva. Geneva. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. WHO/HTM/STB/2003. New Delhi. WHO/SEARO. 2006. Depkes RI. Geneva. Cetakan ke-10. and Emerging Policy Framework. WHO. WHO.995. 2001 BAB 11. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. Geneva. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. Public-Private Partnerships for TB Control. Atlanta. 2002 4. Depkes RI Pusdiklatkes. WHO-SEARO. 2001 3. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Research Methods for Promotion of Lung Health. 2003. 2004 2. 2005. Penelitian Tuberkulosis 1.312 7. 2003. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace.

344 5. Tuberculosis Handbook.253 6. belum dipublikasi). Depkes RI. 1999 6.24/Ind/P 2. WHO. Principles for Accelerating DOTS Coverage. 1999 95 . 2004. 1998. 616. Geneva. WHO/SEARO. WHO/TB/98. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. WHO/HTM/TB/2004. New Delhi . Geneva. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. WHO. 2005 4. New Delhi . Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. 4th edition. Jakarta. Stop TB Partnership. National Level TB Management Cycles. Cetakan ke-10.995. 1998. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs.253 5. WHO. 1998. 1996 3. Perencanaan 1. Geneva. Combating Tuberculosis. Geneva. WHO/TB/98. (draft.240 BAB 13. WHO/SEARO. 2006. WHO. Geneva. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. WHO/TB/98. Tuberculosis Handbook. Paris.

STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. Philippine Coalition Against Tuberculosis. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). yang meliputi 6 standar untuk diagnosis. Centers for Disease Control & Prevention. American College of Chest Physicians. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. dan World Care Council. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien.S. Terdiri 17 standar. (dewasa. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI).). Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). Stop TB Partnership. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang96 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. pasien TB dengan BTA negatif. Infectious Diseases Society of America. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. termasuk pasien TB dengan BTA positif. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). Philippine College of Chest Physicians. International Council of Nurses. U. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. dimana semua praktisi. antara lain : Indian Medical Association. Indonesian Association of Pulmonologists.S. American Thoracic Society. International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). TB ekstra paru.

Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. bilasan lambung atau induksi sputum. Fase awal terdiri dari INH. Bila ada fasiliti. pleura. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). Pada pasien demikian. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. Pada pasien dengan atau diduga HIV. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. (dewasa. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan.Rifampisin. Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. 97 . tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. foto toraks menunjukkan kelainan TB.

Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. paling baik dinilai secara klinis. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Rifampisin. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH. maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. Rifampisin. Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. 98 . Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. Rifampisin dan Etambutol. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV).

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Reg. • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. 104 .GGULANGAN TUBERKULOSIS UPATEN / KOTA TB. Reg.Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No. n atau lebih dengan BTA positif. Reg.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( . s. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan.03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K). • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Reg.Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. itif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama gister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. apat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur).Lab Hasil/ Tgl.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

A= dahak sewaktu pertama. yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun. misalnya 237.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. . yang merupakan nomor urut kab/ kota. sebagai berikut : . yang merupakan nomor urut UPK. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. . misalnya 15. . 106 .Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. misalnya 02.Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka. 02/15/237 B dan 02/15/237 C.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 110 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 111 .

.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

91 . 14 Darurat . 9.Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10.angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 . 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31. B C 118 .pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. AKMS : 1. 29.efek samping berat : 32 .lihat hasil pengobatan . 11. .dampak terhadap TB : 4.pola pikir : 64 .lihat PMO DOTS : 7.Diagnosis TB paru : 14 .pandemi : 4 . 64.lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . 12. 63. 5.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18. 65 AIDS (lihat juga HIV) : . 70. 71.pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5. 11. .Diagnosis pendukung : 14 Dokter . 22. 6 . 11. 13. CBA : 81 CDR : 9.Angka default : 89 .analisa situasi : 77 Angka . 70 BTA : 5. 39. 10. lihat uji silang D Dahak .angka kesembuhan : 9 .Diagnosis TB ekstra paru: 14 .Overdiagnosis : 14.angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.batasan : 63 .Angka gagal : 89 .Alur diagnosis TB paru : 15 . 65.angka konversi : 88 .Diagnosis utama : 14 . Buffer stock : 49 Cakupan . .angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9. 9.analisa indikator : 85 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6. 2. 2.strategi AKMS : 65 Analisa : 85. 63. 87 . 64.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38.pertimbangan dokter : 15 DOT . 23 BP4 : 8.efek samping ringan : 31 .Fokus DOTS : 7 . 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. 89 . .peningkatan cakupan : 80.

16. 86 .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) .syarat jejaring yang baik : 72 . 7.pembentukan jejaring : 71 . 89.klasifikasi penyakit : 16 119 I .kasus TB : 18 .Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .jejaring ekternal : 71 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 .evaluasi kinerja : 56.keuntungan KDT : 20 .jejaring internal : 71 .tujuan : 61 .indikator jejeraing : 71 .Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) .lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala . 29.kategori 2 : 21 . 11.evaluasi dampak : 56 . 22 Klasifikasi : 16 . 48.evaluasi pembelajaran : 56 .kasus pidahan : 18 .indikasi operasi : 31 . 6.Kesalahan kecil .Gejala utama : 13 . 57 . . 49 .Kesalahan Gradasi (KG) .syarat indikator : 85 .kasus setelah gagal : 18 .peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .kategori 1 : 20 .lihat visi KDT-OAT : 20.dosis paduan KDT-OAT : 21.kasus kambuh : 18 .kasus lain : 18 .Gejala klinis pasien TB : 13 .Kesalahan besar .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 J Jejaring .definisi kasus : 16 .langkah-langkah kemitraan : 62 .kasus baru : 18 . . 21.kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori . 18. 85.prinsip dasar kemitraan : 61 . 5. 30.koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .lihat hasil pengobatan . Indikasi .kasus setelah putus berobat : 18 .Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) .kasus kronik: 18 .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4.indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator .indikator program : 84. 22.indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4. 17.evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.

Pelatihan dasar : 54 120 P . 42 . 80 . 51 .tujuan mengatasi masalah : 79 . 40 .OAT sisipan 20.fungsi.Jenis.peningkatan mutu : 44.masalah tuberkulosis di dunia : 4 . 67 . lihat MDG Misi . .definisi : 63. 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.pemantapan mutu internal : 44 . 6.Evaluasi pelatihan : 56 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 . 8.menetapkan masalah prioritas : 78 . 7.komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9. sifat dan dosis : 19 .standar kompetensi : 57 .Mempertahankan mutu : 80 . 39. 40 .klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 .Koordinator pelatihan : 56 . 54 .Laboratorium rujukan uji silang : 35.negara dengan beban masalah TB : 4 .Pelatihan dalam tugas : 54 . 53 . 37. 38.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .bentuk-bentuk : 88 . 10.beban masalah TB (penyebab) : 4 .Konsep pelatihan : 54 . 49.efek samping OAT (lihat efek samping) . 6. tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 .misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.inkompetensi : 57 Kortikosteroid .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah .Jenis logistik : 48 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1. O OAT .klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 . 9 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal. 65 . 41 .penggunaan pada pasien TB : 31 .manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : .mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .Laboratorium rujukan provinsi : 35.identifikasi masalah : 78 .Manajemen logistik OAT : 49 .Manajemen logistik lainnya : 51 M Manajemen laboratorium .definisi komunikasi : 63.masalah prioritas : 7.Laboratorium rujukan regional : 35.prinsip : 66.ruang lingkup : 34 . 9. 21 . . 10. peran. 7 . 39.paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.Laboratorium mikroskopis UPK : 37.pemantapan mutu eksternal : 45 .masalah MDR : 4. 66 .pemecahan masalah : 79 .karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .Laboratorium rujukan nasional : 35.Materi pelatihan : 56 .

tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .siklus perencanaan : 77 .kebijakan program : 9 . 9.pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 7.Pelatihan sebelum bertugas : 54 .pengobatan dalam keadaan khusus : 29 . 37.lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7. 26 .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 .Tujuan pengobatan: 19 .pencatatan di laboratorium : 85 .pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8.Puskesmas Satelit : 11.pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.Ruang lingkup : 75 . 9. 8 .Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .Pelatihan penuh : 54 .Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan . 77.Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1.Langkah-langkah . 79 .Persyaratan : 25 .Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11.pengobatan lengkap : 29 . 53 . 35.Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 . 25.pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat . 40. 37. 36.kegagalan program : 4 . 2. . 10.ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 .program TB di Indonesia : 8 .menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) . 10.tujuan perencanaan : 77 .Pelatihan lanjutan : 55 .Pelatihan ulangan : 54 . 40 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.batasan : 70 . 74 .lihat public-private mix .strategi program: 10 .perencanaan berbasis bukti : 77 .Pelatihan penyegaran : 55 . 70 .tujuan PSDM : 53 . 36. 35. 37.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 35. 40 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1.tujuan : 44 PPM . 11. 36.pencatatan di UPK : 84 . 37.Batasan : 53 .Prinsip pengobatan : 19 .tujuan dan target : 9 .memilih prioritas : 79 Program TB : 1. Q QA (quality assurance) : 35 121 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .Karakteristik penelitian TB : 74 .tahap : 44 . 4. 35. 10. 9.pengobatan pencegahan : 24 .perencanaan : 45 .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1. 36.Metodologi : 75 .

sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 .kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.dokter praktek swasta : 54 . 7. 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 . 10.pelaksanaan supervisi : 58 .Rumah sakit umum pemerintah : 53 .Pukesmas : 53 .tingkat kabupaten/kota : 54 .supervisi laboratorium TB : 46 .visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80.Penentuan tipe : 18 Tujuan . 35.sasaran buku : 2 .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9. 6 .faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran . Rate (lihat juga angka) . VCT : 30 Visi .penetapan target : 82 .tatalaksana TB anak : 22 . 44.TB .tujuan buku : 2 . 10 .risiko menjadi sakit TB : 5 . 52.gambaran radiologis : 14.error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5.prinsip dasar tatalaksana : 13 . 122 . 37.hubungan supervisi dan pelatihan : 57 .case notification rate (lihat CNR) .target program : 9 Tatalaksana : . U V Valid : 85. .risiko penularan TB : 5 .persiapan supervisi : 58 .perencanaan supervisi : 58 .tujuan program : 9 . 22.case detection rate (lihat CDR) .pengembangan : 80 . 53. 82 .tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut . 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .kegiatan supervisi : 57 .rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) . 82 .sasaran wilayah : 82 .pemetaan : 81 WHO : 6. 40.tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.laporan supervisi : 59 .Tipe pasien : 18. 29 Z Ziehl-Neelsen : 35.tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful