PEDOMAN NASIONAL

PENANGGULANGAN

TUBERKULOSIS

EDISI 2
Cetakan pertama

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 2006

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Gerdunas-TB
(Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis)

Kontributor :
Dr.Abdul Manaf, SKM DR.Dr.Agung Pranoto,MKes,SpPD(K); Dr.Agung P.Sutiyoso,SpOT ; Dr.Ahmad Hudoyo,SpP(K); Prof.Dr.Agus Sjahrurrahman,SpMK,PhD; Dr. Arto Yuwono,SpPD(K); Prof.Dr.Anwar Jusuf,SpP(K); Dr.Arifin Nawas,SpP(K); Prof.DR,Dr.Armen Muchtar,SpFK; Dr.Asik Surya,MPPM; Dr.Bambang Supriatno,SpA(K); Dr.Bangun Trapsilo,SpOG(K); Dr.Benson Hausman,MPH; Prof.Dr.Biran Affandi,SpOG(K), Dr.Broto Wasisto,MPH; Prof.DR.Dr.Buchari Lapau,MPH; Budhi Yahmono, SH; Dr.Carmelia Basri,MEpid; Dr.Darmawan BS,SpA(K); Dr.Davide Manissero; Dr.Endang Lukitosari; Dr.Erlina Burhan,SpP; Dr.Firdosi Mehta; Dr.Franky Loprang; Fx.Budiono,SKM, MKes; Prof.DR.Dr.Gulardi Wiknjosastro,SpOG(K); Prof.DR.Dr.Hadiarto Mangunnegoro,SpP(K); Dr.Haikin Rahmat,MSc; Dr. Harini A.Janiar,Sp.PK Prof.Dr.Hood Assegaf,SpP(K); Prof.Dr.Ismid D.I.Busroh,SpBT(K) Dr.Jan Voskens,MPH; Joana Anandita,SKM; Dra.Linda Sitanggang,Ph.D; DR.Dr.Ni Made Mertaniasih,SpMK,MS; Dr.Menaldi Rasmin,SpP(K); Drg.Merry Lengkong, MPH Dr.Mukhtar Ikhsan,SpP(K); Munziarti,SKM,MM; Dr.Nastiti Rahayu,SpA(K); Dra.Ning Rintiswati,MKes; Dr.Noroyono,SpOG(K); Dr.Omo Madjid,SpOG(K); Petra Heitkam,MPH; Dr.Priyanti,SpP(K); Dr.Purwantyastuti,MSc,Ph.D; Dr.Ratih Pahlesia; Dr.Reviono,SpP; Dr.Rosmini Day, MPH; Rudi Hutagalung,BSc Prof.DR.Dr.Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K); Dr.Servas Pareira, MPH; Dr. Siti Nadia Wiweko; Dr.Sri Prihatini,SpP; Sudarman,SKM,MM; Dr.Sudarsono,SpP(K); Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD; Sulistiyo,SKM,MEpid; Suprijadi,SKM; Surjana,SKM; Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS; Prof.Dr.Tony Sadjimin,SpA(K),MSc,PhD; Dr.Triya Novita Dinihari; Dr.Vanda Siagian; Dr.Yudanaso Dawud,SpP,MHA; Yusuf Said,SH; Prof.DR.Dr.Zubairi Jurban,SpPD(K); DR.Dr.Zulfikli Amin,SpPD(K),FCC;

Editor :
Dr.Tjandra Yoga Aditama,SpP(K),MARS Dr.Sudijanto Kamso,MPH,PhD, Dr.Carmelia Basri, MEpid, Dr.Asik Surya,MPPM

i

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

DAFTAR ISI
Daftar Isi Sambutan Mentri Kesehatan Kata Pengantar Daftar Singkatan Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Tujuan 3. Sasaran Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Epidemiologi TB 2. TB dan Kejadiannya 3. Penanggulangan TB Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Visi dan Misi 2. Tujuan dan Target 3. Kebijakan 4. Strategi 5. Kegiatan 6. Organisasi Pelaksanaan 7. Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan TB 2006 - 2010 Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. Penemuan Pasien TB 2. Diagnosis 3. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien 4. Pengobatan TB 5. Tatalaksana TB Anak 6. Pengawasan Menelan Obat 7. Pemantauan dan Hasil Pengobatan 8. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus 9. Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. Organisasi Pelayanan Laboratorium TB 2. Fungsi dan Peran, Tugas dan Tanggung Jawab Laboratorium 3. Karakteristik Sumber Daya Laboratorium 4. Pemantapan Mutu Laboratorium TB 5. Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium ii

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Langkah Langkah 3. Tujuan Penelitian 2. Indikator Program 9. Menetapkan Alternatif Pemecahan Masalah 5. Pelatihan 3. Batasan 2. Metodologi 4. Standar Ketenagaan 2. Pembentukan Jejaring 3. Ruang Lingkup Perencanaan Program 1. Supervisi Kemitraan dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Menyusun Rencana Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan Evaluasi Program 7.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bab 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Pencatatan dan Pelaporan 8. Pilihan Penanganan Pasien TB dalam Penerapan PPM DOTS Penelitian Tuberkulosis 1. Analisa Data Bab 7 Bab 8 Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 iii . Analisa Situasi 2. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dalam Penanggulangan Tuberkulosis 1. Strategi Promosi Public – Private Mix dalam Pelayanan Tuberkulosis 1. Menyusun Kegiatan dan Penganggaran 6. Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan Advokasi. Manajemen OAT 3. Identifikasi dan Menetapkan Masalah Prioritas 3. Langkah Langkah Pelaksanaan 3. Menetapkan Tujuan 4. Prinsip Dasar Kemitraan 2. Kerangka Pola Pikir 3. Manajemen Logistik Lainnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. Langkah Langkah Kemitraan dalam PPM 2. Jenis Logistik Program 2.

Standar Internasional Penanganan Pasien Tuberkulosis 2. Formulir pencatatan pelaporan TB (Form TB) Penjurus (Indeks) iv .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Rujukan Lampiran 1.

Kerugian yang diakibatkannya sangat besar. organisasi profesional dan organisasi lainnya merupakan suatu bukti dari semangat Gerdunas-TB yang sangat kami hargai. meningkatnya kasus HIV dan MDR serta bervariasinya komitmen akan menjadikan program yang saat ini sedang dilakukan ekspansi akan menghadapi masalah dalam hal pencapaian target global. maka penanggulangan TB harus dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai sektor baik pemerintah. Selamat berjuang! Jakarta. Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO telah diimplementasikan dan diekspansi secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan dan institusi terkait. Berbagai kemajuan telah dicapai. Dengan demikian TB merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. SpJP(K) v . Karenanya perang terhadap TB berarti pula perang terhadap kemiskinan. Mengingat besar dan luasnya masalah TB. diharapkan buku ini menjadi panduan bagi semua pihak yang berperan serta dalam implementasi program penanggulangan TB di Indonesia sehingga berjalan efektif. dan kelemahan akibat TB. sebagaimana tercantum pada Millenium Development Goals (MDG). Dengan telah mengakomodir berbagai perkembangan yang ada dan prediksi kedepan dalam implementasi program. Hal ini sangat penting untuk mendukung keberhasilan program dalam melakukan ekspansi maupun kesinambungannya. dr.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB. bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. ketidakproduktifan. swasta maupun lembaga masyarakat. namun tantangan program di masa depan tidaklah lebih ringan. telah berkomitmen mencapai target dunia dalam penanggulangan tuberkulosis. Indonesia sebagi negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB setelah India dan Cina. Siti Fadilah Supari. efisien dan bermutu Penyusunan buku ini mendaya gunakan secara terpadu semua program dalam lingkungan Departemen Kesehatan maupun sektor terkait. Agustus 2006 Menteri Kesehatan RI Dr.

Sesuai dengan perkembangan yang ada dilapangan. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995. lembaga swadaya masyarakat. harus diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Perluasan ruang lingkup pembahasan seperti isu-isu strategis tentang ekspansi dan kesinambungan program telah diakomodasi di buku pedoman ini. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait. IDAI. PAPDI. Secara formal keterpaduan tersebut dilakukan dalam suatu forum kemitraan gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberkulosis. telah diterbitkan sebuah Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang hingga kini telah dicetak beberapa kali. Sebagai salah satu bentuk realisasi kemitraan. maka edisi kali ini mengalami beberapa perbaikan. MPH vi . Diharapkan buku pedoman edisi kedua ini akan lebih baik dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan Program Penanggulangan TB untuk mencapai target global tepat pada waktunya. Agustus 2006 Direktur Jenderal PP&PL / Selaku Direktur Gerakan Terpadu Nasional TB Dr. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan edisi kedua buku ini kami mengucapkan banyak terima kasih. Jakarta. sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melalui gerakan terpadu yang besifat nasional. dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. karenanya segala kritik dan saran demi penyempunaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. I Nyoman Kandun. Perbaikan pada edisi ini menyangkut beberapa materi atas masukkan dari berbagai pihak termasuk organisasi profesi seperti PDPI.000 dan jumlah kematian sekitar 101.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KATA PENGANTAR Laporan TB dunia oleh WHO yang terbaru (2006). Tentu buku ini masih jauh dari sempurna. yang lebih dikenal dengan Gerdunas-TB. menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia. Komite Ahli Gerdunas-TB serta pengguna buku tersebut. strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO dan Bank Dunia. masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 pertahun. beberapa temuan baru serta masukan dan saran terhadap buku pedoman edisi sebelumnya.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAFTAR SINGKATAN AIDS AKMS APBN APBD AP ARTI ART ARV Bapelkes BCG BLK BLN BTA BP4 BUMN CDR CNR Ditjen PP& PL Ditjen Binkesmas Ditjen Binfar & Alkes Ditjen Binyanmed DIP DOTS DPR (D) DPS DST E EQAS FDC FEFO Gerdunas -TB GFK H HIV IAKMI IBI IDAI IDI IUATLD KBNP KBPP KDT KG = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Acquired Immune Deficiency Syndrome Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Akhir Pengobatan Annual Risk of TB Infection Anti Retoviral Therapy Anti Retroviral Viral (obat) Balai Pelatihan Kesehatan Bacillus Calmette et Guerin Balai Laboratorium Kesehatan Bantuan Luar Negeri Basil Tahan Asam Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru Badan Usaha Milik Negara Case Detection Rate Case Notification Rate Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medis Daftar Isian Proyek Directly Observed Treatment. Shorcourse chemotherapy Dewan Perwakilan Rakyat (Daerah) Prakter Dokter Swasta Drug Sensitivity Testing Etambutol External Quality Assurance System Fixed Dose Combination First Expired First Out Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota Isoniasid (INH = Iso Niacid Hydrazide) Human Immunodeficiency Virus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Dokter Anak Indonesia Ikatan Dokter Indonesia International Union Against TB and Lung Diseases Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar positif palsu Kombinasi Dosis Tetap Kesalahan Gradasi vii .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS KKNP KKPP KPP Lapas LP LSM LPLPO MDG MDR MOTT OAT PAPDI PCR PDPI PME PMI PMO POA POGI POM PPM PPM PPNI PPTI PRM PS PSDM Puskesmas Pustu R RSP RTL Rutan S SDM SGOT SGPT SKRT SPS TB TNA UPK WHO Z ZN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil positif palsu Kelompok Puskesmas Pelaksana Lembaga Pemasyarakatan Lapang Pandang Lembaga Swadaya Masyarakat Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Millenium Development Goals Multi Drugs Resistance (kekebalan ganda terhadap obat) Mycobactrium Other Than Tuberculosis Obat Anti Tuberkulosis Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia Poly Chain Reaction Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pengawasan Minum Obat Plan of Action Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan Puskesmas Pelaksana Mandiri Public Private Mix Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia Puskesmas Rujukan Mikroskopis Puskesmas Satelit Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pembantu Rifampisin Rumah Sakit Paru Rencana Tindak Lanjut Rumah tahanan Streptomisin Sumber Daya Manusia Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase Serum Pyruric Oxaloacetic Transaminase Survei Kesehatan Rumah Tangga Sewaktu-Pagi-Sewaktu Tuberkulosis Training Need Assessment Unit Pelayanan Kesehatan World Health Organization Pirazinamid Ziehl Neelsen viii .

Public Private Mix (PPM) dalam Pelayanan Tuberkulosis . Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS).Kegiatan penanggulangan TB yang semula lebih ditekankan pada ekspansi. elaborasi maupun penyatuan terhadap beberapa bab pada edisi sebelumnya. maka dilakukan penanambahan. . dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB 1 . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Edisi pertama buku pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis (TB) diterbitkan pada tahun 2000. .Peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB Pengurangan bab meliputi : .Penelitian TB . Untuk mengakomodasi keadaan tersebut. indikator pemantauan dan evaluasi. Revisi terhadap buku pedoman edisi pertama ini perlu dilakukan. dielaborasi dan disatukan dengan bab peningkatan sumber daya manusia (PSDM)-TB .Kemitraan.Tuntutan masyarakat akan mutu.Pemeriksaan uji silang sediaan dahak. dielaborasi dan disatukan dengan bab Manajemen Laboratorium TB . saat ini disamping ekspansi juga difokuskan pada kesinambungan program.Manajemen Laboratorium TB . . dibuat dalam buku pegangan tersendiri .Pemeriksaan dahak secara mikroskopis. sementara situasi program penanggulangan TB. Penambahan bab-bab baru meliputi : . .Supervisi.Komitmen internasional terhadap target global penanggulangan TB dan target MDG . transparansi dan akuntabilitas program akan semakin meningkatkan kompleksitas kegiatan program. alur diagnosis anak (sistem skoring).Beberapa ”lesson learnt” baik dari kegiatan program dilapangan maupun bukti-bukti ilmiah dari berbagai literatur yang sangat berguna dalam menunjang efektifitas pelaksanaan program.Pelatihan.Advokasi. sejak dilakukan ekspansi dan akselerasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Beberapa hal penting yang menjadi justifikasi perlunya revisi pedoman tersebut antara lain : . Sejak penerbitan tersebut sampai akhir tahun 2005. telah mengalami 9 kali cetak dengan tidak mengalami perubahan substansi (materi). penggunaan kombinasi dosis tetap – obat anti TB (KDT-OAT).Tuberkulosis dan permasalahannya. . definisi hasil pengobatan paduan pengobatan TB dewasa. definisi kasus TB.Beberapa perubahan teknis: alur diagnosis. pengurangan.

dielaborasi dan disatukan dengan bab tuberkulosis dan permasalahannya. klasifikasi penyakit dan tipe pasien.Diagnosis TB. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) Bab Program penanggulangan TB dan Perencanaan dipertahankan dengan beberapa perubahan dan elaborasi materi. pelaksanaan dan penilaian program TB pada tingkat pusat. Sebagai sebuah pedoman. pengobatan TB dielaborasi dan disatukan dengan bab prinsip dasar tatalaksana pasien TB .Penyuluhan dielaborasi dan disatukan dengan bab Advokasi.Tuberkulosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pencatatan dan pelaporan. propinsi. akan dikembangkan dalam buku tersendiri. SASARAN Sasaran pengguna buku pedoman ini terutama ditujukan kepada petugas dan manajer yang bertanggung jawab dalam manajemen program TB yang meliputi perencanaan. buku ini lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pokok. Selanjutnya hal hal yang memerlukan penjelasan lebih teknis dan rinci. TUJUAN Sebagaimana pada edisi sebelumnya buku pedoman ini ditujukan untuk dijadikan panduan dalam pengelolaan program penanggulangan TB di Indonesia agar berjalan efektif dan bermutu. . dielaborasi dan disatukan dengan bab pemantauan dan evaluasi program . kabupaten/kota dan pada tingkat pelayanan kesehatan. Buku ini juga dapat digunakan bagi mereka yang bekerja pada institusi pemerintah dan swasta maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan TB. - 2 .

Demikian juga. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. Jika ia meninggal akibat TB. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Gambar 2. maka akan kehilangan 3 . MASALAH TUBERKULOSIS Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1995. terjadi pada negara-negara berkembang. Insidens TB didunia (WHO. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. 2004) Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 2 TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA 1.1. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. persalinan dan nifas. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia.

gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) . Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB.000 orang. Selain merugikan secara ekonomis. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. dan sebagainya). terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Pada saat yang sama. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. setiap tahun ada 539. Di Indonesia. • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. . kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. Diperkirakan pada tahun 2004.Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan.000 kasus baru dan kematian 101. pencatatan dan pelaporan yang standar. Situasi TB didunia semakin memburuk. . Menyikapi hal tersebut.Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan .000 penduduk. seperti pada negara negara yang sedang berkembang. 4 . tidak dilakukan pemantauan. obat tidak terjamin penyediaannya. pada tahun 1993.Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG.Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS pendapatannya sekitar 15 tahun. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: • Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. • Dampak pandemi infeksi HIV. • Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh: .

berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. . Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. diperkirakan diantara 100. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. TUBERKULOSIS DAN KEJADIANNYA Penularan TB • Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. ARTI sebesar 1%.Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. maka jumlah pasien TB akan meningkat.Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. • Risiko penularan . makin menular pasien tersebut. • Cara penularan . 5 . . . Sebagian besar kuman TB menyerang paru. .000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. . sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity).Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak.Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. . . .Dengan ARTI 1%.Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).Pada waktu batuk atau bersin. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. • Risiko menjadi sakit TB . ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. . seperti tuberkulosis.HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun.

25% menjadi kasus kronis yang tetap menular 3. Faktor Risiko Kejadian TB transmisi Jumlah kasus TB BTA+ Faktor lingkungan : ƒVentilasi ƒKepadatan ƒDalam ruangan Faktor Perilaku Risiko menjadi TB bila dengan HIV: • 5-10% setiap tahun • >30% lifetime HIV(+) SEMBUH TERPAJAN Konsentrasi Kuman Lama kontak INFEKSI 10% TB MATI ƒ Malnutrisi ƒ Penyakit DM. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. clinical trials. disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular. Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Penerapan strategi DOTS secara baik.50% meninggal .2.25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . UPAYA PENANGGULANGAN TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Faktor risiko kejadian TB. 6 . secara ringkas digambarkan pada gambar berikut: Gambar 2. setelah 5 tahun. best practices. immunosupresan ƒ Keterlambatan diagnosis dan pengobatan ƒ Tatalaksana tak memadai ƒ Kondisi kesehatan • Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. akan: .

Pada tahun 1995. Memberdayakan pasien dan masyarakat Melaksanakan dan mengembangkan riset Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam sistem kesehatan nasional. MDR-TB dan tantangan lainnya Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. 7 . kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut : 1. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. 3.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien. Komitmen politis 2. 2. 5. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. 6. Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS Merespon masalah TB-HIV. 4. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Mencapai. 3. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. 4. 5. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. termasuk pengawasan langsung pengobatan.

Sejak tahun 1995. hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia. program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. sampai saat ini. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. VISI DAN MISI Visi Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. • Indonesia. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Sampai tahun 2000.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 3 PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena TB • Menurunkan resiko penularan TB • Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat TB 8 . sementara rumah sakit dan BP4 / RSP baru sekitar 30%. TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-4). Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. Setelah perang kemerdekaan. program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas. Misi • Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan yang bermutu. Di Indonesia. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. • Sampai tahun 2005. 1. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. • Tahun 1995.

h. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millennium Development Goals (MDGs) 9 . Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS c. sarana dan prasarana) b. serta mencegah terjadinya multidrug resistance (MDR). Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga. f. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB d. Rumah Sakit Paru (RSP). Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan. Target Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB. TUJUAN DAN TARGET Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB. pelaksanaan. non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) g. kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. dan mencapai tujuan millenium development goal (MDG) pada tahun 2015. k. sehingga TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP4). memutuskan rantai penularan. sektor pemerintah. 3. tenaga. l. masyarakat dan pekerjaannya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. KEBIJAKAN a. i. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). Rumah Sakit Pemerintah dan swasta. e. j. meliputi Puskesmas. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi. penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait. Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS).

Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. pemantauan dan evaluasi yang berkesinambungan 5. Kemitraan 6. 10 . Penemuan dan pengobatan. komunikasi dan mobilisasi sosial d. Peningkatan komitmen politis yang berkesinambungan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya dan menjadikan penanggulangan TB suatu prioritas b. Tingkat Kabupaten / Kota. Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. c. Upaya penanggulangan TB dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sektor dibawah koordinasi Menko Kesra. Peningkatan SDM (pelatihan. supervisi) e. Dilaksanakan oleh Puskesmas. STRATEGI a.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. b. ORGANISASI PELAKSANAAN a. e. Rumah Sakit. Peningkatan kinerja program melalui kegiatan pelatihan dan supervisi. Tingkat Pusat. Peningkatan kerjasama dan kemitraan dengan pihak terkait melalui kegiatan advokasi. sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Pemantauan dan Evaluasi d. b. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota. Unit Pelayanan Kesehatan.I. Pelaksanaan dan pengembangan strategi DOTS yang bermutu dilaksanakan secara bertahap dan sistematis c. Perencanaan c. Kerjasama dengan mitra internasional untuk mendapatkan komitmen dan bantuan sumber daya. BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta. KEGIATAN a. Menteri Kesehatan R. d. Promosi g. Penelitian f.

Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA. 11 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Puskesmas Dalam pelaksanaan di Puskesmas. Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat. Rumah Sakit Umum. Rumah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). • Menghadapi tantangan TB-HIV. Rumah sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan selanjutnya. dimana keadaan ini bila tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatnya biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB. KERANGKA KERJA STRATEGI PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2006-20120 Rencana strategi 2001-2005 telah meletakan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menunjukkan akselerasi dalam pencapaiannya. yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan sistim kesehatan nasional. Strategi ini terbagi atas strategi umum dan strategi khusus. a. MDR-TB dan tantangan lainnya Epidemi HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. rumah sakit atau BP4. Ekspansi Program Pengendalian Tuberkulosis Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS. • • 7. Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan. dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS). Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan spesimen ke puskesmas. Secara umum konsep pelayanan di Balai Pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Sedangkan MDR TB merupakan risiko dari upaya ekspansi strategi DOTS. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. • Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Pada keadaan geografis yang sulit. Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS). Strategi umum Strategi ini meliputi : 1.

Adapun strategi fungsional tersebut: 1. Memperkuat penelitian operasional 12 . Memberikan kontribusi dalam penguatan sistim kesehatan dan pengelolaan program 3. pembiayaan pengobatan TB bagi pasien. optimalisasi infrastruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat. Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien Permasalahan yang berkaitan dengan akses. b. Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program 2. Strategi Fungsional Pencapaian misi penanggulangan TB melalui ekspansi dan mobilisasi masyarakat harus didukung oleh strategi untuk memperkuat fungsi-fungsi manajerial dalam program.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Melibatkan seluruh penyedia pelayanan Kesehatan Masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu 2.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 4 PRINSIP DASAR TATALAKSANA PASIEN TUBERKULOSIS Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi DOTS. Strategi penemuan ƒ Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit. terutama mereka yang BTA positif. tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb. ƒ Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. berat badan menurun. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. badan lemas. petugas yang terkait. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah. tidak sekedar memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh. pencatatan. bronkitis kronis. asma. seperti bronkiektasis. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. 1. sesak nafas. berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien. pelaporan. diagnosis. kanker paru. yang menunjukkan gejala sama. nafsu makan menurun. malaise. batuk darah. evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya. harus diperiksa dahaknya. dan lain-lain. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. dianggap tidak cost efektif. didukung dengan penyuluhan secara aktif. PENEMUAN PASIEN TB Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. Gejala klinis pasien TB Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala 13 . demam meriang lebih dari satu bulan. penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. ƒ Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah.

dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. saat menyerahkan dahak pagi.sewaktu (SPS). serologi. yaitu sewaktu . S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. • Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. Diagnosis TB ekstra paru. • Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. DIAGNOSIS TB Diagnosis TB paru • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. misalnya uji mikrobiologi.pagi . Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. Pemeriksaan lain seperti foto toraks.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS tersebut diatas. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. sehingga sering terjadi overdiagnosis. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. Pada saat pulang. • Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru. Pada program TB nasional. segera setelah bangun tidur. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS). patologi anatomi. 2. • Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. • Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. 14 . foto toraks dan lain-lain.

Sewaktu.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Gambar 3. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis . Pagi. Sewaktu (SPS) Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA +++ ++ - + ...1.- Hasil BTA .- Antibiotik Non-OAT Tidak ada perbaikan Ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter pemeriksaan dahak mikroskopis Hasil BTA +++ ++ + .- .- .

alur tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.Foto toraks dan pertimbangan dokter TB BUKAN TB Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik. 15 .

Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif.registrasi kasus secara benar . diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. . efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru.menentukan paduan pengobatan yang sesuai .Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati • Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah . • Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan untuk . (lihat bagan alur) • Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu ‘definisi kasus’ yang meliputi empat hal . .mengurangi efek samping.menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective) . (lihat bagan alur) • Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis) : BTA positif atau BTA negatif.Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan.Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. yaitu: .menentukan prioritas pengobatan TB BTA(+) . . pleuritis eksudativa. 3.Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh dokter.menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah timbulnya resistensi. . • 16 . . sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.analisis kohort hasil pengobatan • Beberapa istilah dalam definisi kasus: . Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: • Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.

TB usus. . selaput jantung (pericardium). . alat kelamin. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. • TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. . milier. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. yaitu bentuk berat dan ringan. pleuritis eksudativa bilateral. tulang (kecuali tulang belakang). .Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. maka untuk kepentingan pencatatan. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. misalnya pleura. dan lain-lain. tulang. . • • Catatan: Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena: • Tuberkulosis paru.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. TB saluran kemih dan alat kelamin. • Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. . Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit • TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya.Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif . • Tuberkulosis ekstra paru. misalnya: meningitis. persendian. perikarditis. TB tulang belakang. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. dan atau keadaan umum pasien buruk. saluran kencing. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). pleuritis eksudativa unilateral. yaitu pada TB Paru: • Tuberkulosis paru BTA positif.Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. selaput otak. ginjal. misalnya: TB kelenjar limfe. yaitu: .1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. sendi. kulit.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: .1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. 17 .Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. dan kelenjar adrenal. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ.TB ekstra-paru berat.TB ekstra paru ringan. kelenjar lymfe. usus. peritonitis. .

Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Ada beberapa tipe pasien yaitu: • Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. radiologik. harus dibuktikan secara patologik. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. • • Kasus setelah putus berobat (Default ) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. dan pertimbangan medis spesialistik. gagal. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. bakteriologik (biakan).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tipe Pasien Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Kasus setelah gagal (failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).. dapat juga mengalami kambuh. Kasus lain : Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. default maupun menjadi kasus kronik. • • • 18 . Meskipun sangat jarang.

Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. namun dalam jangka waktu yang lebih lama . • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 19 . sifat dan dosis OAT Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 3. yaitu tahap intensif dan lanjutan.1.Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. PENGOBATAN TB Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien.prinsip sebagai berikut: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Tahap awal (intensif) . Tahap Lanjutan . . Jenis. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. . memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. mencegah kekambuhan. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. sifat dan dosis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Harian 3xseminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (30(20-30) 40) Bakterisid 15 15 (12(12-18) 18) Bakteriostatik 15 30 (20(15-20) 35) Prinsip pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . Jenis. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. mencegah kematian.

Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Paduan OAT yang digunakan di Indonesia • Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: . Disamping kedua kategori ini.Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Paket Kombipak. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: ƒ Pasien baru TB paru BTA positif. Rifampisin. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket. ƒ Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif ƒ Pasien TB ekstra paru ƒ ƒ 20 . Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping.Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. yaitu Isoniasid. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. 2. Pirazinamid dan Etambutol. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep 3. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket. 1. . disediakan paduan obat sisipan (HRZE) .Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. + 3 tab Etambutol 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 1000 mg Streptomisin inj. + 4 tab Etambutol 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 1000mg Streptomisin inj. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).7ml sehingga menjadi 4ml. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2 Tahap Lanjutan Tahap Intensif tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 500 mg Streptomisin inj.2. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. + 2 tab Etambutol 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 750 mg Streptomisin inj. + 5 tab Etambutol Berat Badan 30–37 kg 38–54 kg 55–70 kg ≥ 71 kg Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. 21 . (1ml = 250mg) 3. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu Berat Badan RHZE (150/75/400/275) RH (150/150) 30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT 2. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: ƒ Pasien kambuh ƒ Pasien gagal ƒ Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 3.3.

CT-Scan. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 ( >6 ). tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). pungsi pleura.5. 22 . Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak. dan pemeriksaan penunjang.4. Pada anak – anak batuk bukan merupakan gejala utama. maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor . Dosis KDT untuk Sisipan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tabel 3. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit. yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. patologi anatomi. dan lain lainnya. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi. seperti bilasan lambung. 5. Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system). Setelah dokter melakukan anamnesis. pemeriksaan fisik. Lihat tabel 3. pungsi lumbal. funduskopi. TATALAKSANA TB ANAK Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. foto tulang dan sendi. maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor.

inguinal tidak nyeri Pembengkakan Ada tulang / sendi pembengkakan panggul. • Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak • Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak. BTA tidak jelas Uji tuberkulin negatif Positif (≥ 10 mm. dan lain – lain. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter 0 1 2 3 Jumlah Kontak TB BTA positif Tidak Laporan jelas keluarga. • Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname). 23 . BTA negatif atau tidak tahu. falang Foto toraks toraks Normal / Suggestif TB tidak jelas Jumlah Catatan : • Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter. jumlah >1. aksila. dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut. • Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma. lutut. • Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit). atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi) Berat badan / Klinis gizi buruk Bawah garis keadaan gizi (BB/U < 60%) merah (KMS) atau BB/U < 80% > 2 minggu Demam tanpa sebab jelas Batuk ≥3 minggu Pembesaran >1 cm.5. • Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6. Sinusitis. pasien dapat langsung didiagnosis tuberkulosis. (skor maksimal 13) • Pasien usia balita yang mendapat skor 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. kelenjar limfe koli.--> lampirkan tabel badan badan.

lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Setelah pemberian obat 6 bulan . misalnya sesak napas 2. efusi pleura 3. Foto toraks menunjukkan gambaran milier. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Gibbus. baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak. Tanda bahaya: ƒ kejang. OAT pada anak diberikan setiap hari.6. Kategori Anak (2RHZ/ 4RH) Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. kaku kuduk ƒ penurunan kesadaran ƒ kegawatan lain. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti. koksitis Gambar 3. OAT tetap dihentikan. Dosis OAT Kombipak pada anak BB BB < 10 kg 10 – 20 kg 50 mg 75 mg 150 mg 100 mg 150 mg 300 mg Jenis Obat Isoniasid Rifampicin Pirasinamid BB 20 – 32 kg 200 mg 300 mg 600 mg 24 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini: 1. Tabel 3. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar Skor >6 Beri OAT selama 2 bulan dan dievaluasi Respons (+) Terapi TB diteruskan Respons (-) Teruskan terapi TB sambil mencari penyebabnya Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat.2. kavitas.

dirujuk ke rumah sakit. Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak Pada semua anak. anggota PPTI. Perawat. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5.7. Siapa yang bisa menjadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG. PKK. dipercaya dan disetujui. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. • Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien. imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Juru Immunisasi. • Bersedia membantu pasien dengan sukarela. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. Sanitarian. c. • Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien b. misalnya Bidan di Desa. tidak boleh dibelah ƒ OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum. perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. • Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. Persyaratan PMO • Seseorang yang dikenal. Tugas seorang PMO • Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. guru. 6. a. ƒ Obat harus diberikan secara utuh. PENGAWASAN MENELAN OBAT Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. 25 . • Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. Dosis OAT KDT pada anak Berat badan (kg) 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari RHZ (75/50/150) RH (75/50) 5-9 1 tablet 1 tablet 10-19 2 tablet 2 tablet 20-32 4 tablet 4 tablet Keterangan: ƒ Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit ƒ Anak dengan BB 15 – 19 kg dapat diberikan 3 tablet. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. ƒ Anak dengan BB > 33 kg . selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. dan lain lain. Pekarya. kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan.

Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya • Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) • Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur • Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK 7. d.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejalagejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: • TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur • TB bukan penyakit keturunan atau kutukan • Cara penularan TB. Tindak lanjut hasil pemriksaan ulang dahak mikroskopis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 26 . PEMANTAUAN DAN HASIL PENGOBATAN TB Pemantauan kemajuan pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif.

Teruskan pengobatan dengan tahap lanjutan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3. Dilanjutkan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak Tipe Pasien TB Tahap Pengobatan Hasil Pemeriksaan Dahak Negatif Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif Akhir Intensif Pasien BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2 Positif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) Negatif Positif Negatif Positif TINDAK LANJUT Tahap lanjutan dimulai. Pengobatan dilanjutkan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Pengobatan diselesaikan Rujuk ke unit pelayanan spesialistik. tahap lanjutan tetap diberikan. Jika setelah sisipan masih tetap positif. rujuk ke unit pelayanan spesialistik. Jika mungkin. Jika setelah sisipan masih tetap positif. Pasien baru BTA positif dan Pasien BTA (-) Rö (+) dengan pengobatan kategori 1 Akhir tahap Intensif Sebulan sebelum Akhir Pengobatan Akhir Pengobatan (AP) 27 . Beri Sisipan 1 bulan.8. teruskan pengobatan tahap lanjutan. Pengobatan diselesaikan Pengobatan diganti dengan OAT Kategori 2 mulai dari awal. Pengobatan diselesaikan Pengobatan dihentikan dan segera rujuk ke unit pelayanan spesialistik.

9. mungkin kasus hasil pemeriksaan kronik. pasien diobservasi bila dahak SPS Tb extra paru: gejalanya semakin parah perlu dilakukan ƒ Diskusikan dan pemeriksaan kembali (SPS dan atau biakan) cari masalah Mulai kategori-2 Bila satu atau lebih Kategori-1 ƒ Hentikan hasil BTA (+) pengobatan sambil menunggu Kategori-2 Rujuk.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tatalaksana Pasien yang berobat tidak teratur Tabel 3. menunggu mungkin kasus hasilnya kronik. Tindakan pada pasien yang putus berobat lebih 2 bulan (Default) ƒ Periksa 3 kali Bila hasil BTA (-) atau Pengobatan dihentikan. Tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur Tindakan pada pasien yang putus berobat kurang dari 1 bulan: ƒ Lacak pasien ƒ Diskusikan dengan pasien untuk mencari masalah berobat tidak teratur ƒ Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: Tindakan-1 Tindakan-2 ƒ Lacak pasien Bila hasil BTA (-) atau Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai ƒ Diskusikan dan Tb extra paru: cari masalah Lanjutkan pengobatan ƒ Periksa 3 kali Bila satu atau lebih Lama pengobatan hasil BTA (+) sebelumnya kurang sampai seluruh dosis dahak SPS dan dari 5 bulan * selesai lanjutkan Lama pengobatan ƒ Kategori-1: mulai pengobatan sebelumnya lebih dari kategori-2 sementara 5 bulan ƒ Kategori-2: rujuk. dahak.Lama pengobatan sebelumnya kurang dari 5 bulan Æ lanjutkan pengobatan dulu sampai seluruh dosis selesai dan 1 bulan sebelum akhir pengobatan harus diperiksa dahak. Keterangan : *Tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan: . 28 .

Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. Menurut WHO. b. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Hasil Pengobatan • Sembuh Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. kecuali streptomisin. Meninggal Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. • • • • • 8. a. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Pindah Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS. 29 . Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya.

30 . OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. d. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. harus dihentikan. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. suntikan KB. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. Pasien dengan kelainan hati. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip – prinsip Universal Precaution ( Kewaspadaan Keamanan Universal ) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. susuk KB).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Kónsul sukarela dengan test HIV) c. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. d. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE e.

Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. Tabel 3. adalah: Untuk TB paru: ƒ Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan. ƒ Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. g. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti: ƒ Meningitis TB ƒ TB milier dengan atau tanpa meningitis ƒ TB dengan Pleuritis eksudativa ƒ TB dengan Perikarditis konstriktiva . mual. EFEK SAMPING OAT DAN PENATALAKSANAANNYA Tabel berikut. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. sakit perut Nyeri Sendi Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki Warna kemerahan pada air seni (urine) Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100mg per hari Tidak perlu diberi apa-apa.10 Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak ada nafsu makan. ƒ Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif. tapi perlu penjelasan kepada pasien. Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. setelah selesai pengobatan TB. kemudian diturunkan secara bertahap. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. 9. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Untuk TB ekstra paru: ƒ Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). karena dapat memperberat kelainan tersebut. 31 . menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. h.

hentikan semua OAT. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Streptomisin dihentikan. Hentikan Rifampisin. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. Untuk membedakannya. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit.11. ganti obat tersebut dengan obat lain. tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh • • 32 . berarti hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan kemerahan kulit Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah *). segera lakukan tes fungsi hati. Hentikan semua OAT. Bila mungkin. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. ganti Etambutol. Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang. Streptomisin dihentikan. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang. Tunggu sampai kemerahan kulit tersebut hilang. Bila keadaan seperti ini. pasien perlu dirujuk Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengandosuis rendah sudah timbul reaksi. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Hentikan Etambutol. ganti Etambutol. Berikan dulu anti-histamin. Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Tabel 3.

Namun. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Kadang-kadang. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid atau Rifampisin. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. 33 . mungkin dapat dilakukan desensitisasi. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat.

diperlukan ketersediaan Laboratorium Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya dan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Jejaring Laboratorium TB Laboratorium tuberkulosis tersebar luas dan berada disetiap wilayah. bersifat spesifik. mudah. Dengan demikian setiap pasien tuberkulosis akan mendapatkan pelayanan yang prima. Setiap laboratorium yang memberikan pelayanan pemeriksaan tuberkulosis mulai dari yang paling sederhana. pemantauan keberhasilan pengobatan serta menetapkan hasil akhir pengobatan. 34 . Ruang lingkup Manajemen Laboratorium Tuberkulosis meliputi beberapa aspek yaitu. Sumber daya laboratorium. dan Nasional. dan monitoring (pemantauan) dan evaluasi 1. sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. Propinsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 5 MANAJEMEN LABORATORIUM TUBERKULOSIS Laboratorium tuberkulosis yang merupakan bagian dari pelayanan laboratorium kesehatan mempunyai peran penting dalam Program Pengendalian Tuberkulosis berkaitan dengan kegiatan deteksi pasien TB Paru. Keamanan dan kebersihan laboratorium. mulai dari tingkat Kecamatan. Namun. Organisasi pelayanan laboratorium Tuberkulosis. Kab/Kota. rujukan maupun laboratorium pendidikan/penelitian. harus mengikuti acuan/standar. Tujuan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis adalah untuk meningkatkan penerapan Manajemen Laboratorium Tuberkulosis yang baik di setiap jenjang laboratorium dalam upaya melaksanakan pelayanan laboratorium yang bermutu dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Pemeriksaan 3 spesimen (SPS) dahak secara mikroskopis nilainya identik dengan pemeriksaan dahak secara kultur atau biakan. murah. yaitu pemeriksaan apusan secara mikroskopis sampai dengan pemeriksaan paling mutakhir seperti PCR. Pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis. yang berfungsi sebagai laboratorium pelayanan kesehatan dasar. Untuk mendukung kinerja program. Oleh karena itu diperlukan jejaring laboratorium tuberkulosis untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan yang sesuai standar. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efisien. Diagnosis TB melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak merupakan metode baku emas. Kegiatan – kegiatan laboratorium. pemeriksaan kultur memerlukan waktu lebih lama (paling cepat sekitar 6 minggu) dan mahal.

mencakup standard mutu pelayanan dan Quality Assurance (QA). ƒ Laboratorium rujukan nasional melakukan pemeriksaan dan penelitian biomolekuler dan mampu melakukan pemeriksaan non konvensional lainnya. uji kepekaan M. dapat dilaksanakan oleh laboratoium kesehatan daerah. Laboratorium rujukan Provinsi ƒ Laboratorium ini melakukan pemeriksaan seperti laboratorium uji silang mikroskopis dan memberikan pelayanan pemeriksaan isolasi. ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium mikroskopis deteksi Basil Tahan Asam (BTA). BP4. serta melakukan uji silang ke dua untuk pemeriksaan biakan. pelaksana dan kemampuan yang memenuhi kriteria laboratorium rujukan uji silang mikroskopis. dll. Misalnya: Puskesmas Satelit (PS). tb dari spesimen dahak. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis ƒ Laboratorium ini melaksanakan pemeriksaan mikroskopis BTA seperti pada laboratorium UPK ditambah dengan melakukan uji silang mikroskopis dari laboratorium UPK binaan dalam sistem jejaring. Rumah Sakit. tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan. laboratorium di salah satu Rumah Sakit. identifikasi.tb bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. RSP dll. e. 35 . dengan pewarnaan Ziehl Neelsen dan pembacaan skala IUATLD. Contoh: Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). c. ƒ Laboratorium rujukan tingkat regional adalah laboratorium yang melakukan pemeriksaan kultur. Sistem jejaring laboratorium dalam Program Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia memakai sistem pendekatan fungsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Masing-masing laboratorium di dalam jejaring tuberkulosis memiliki fungsi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain dan menjadi laboratorium rujukan untuk kultur dan DST M. Laboratorium mikroskopis TB UPK ƒ UPK dengan kemampuan pelayanan laboratorium hanya pembuatan sediaan apusan dahak dan fiksasi. identifikasi dan DST M. Laboratorium rujukan Regional. Sistem jejaring laboratorium TB adalah sebagai berikut: a. peran. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). ƒ Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. ƒ Laboratorium rujukan uji silang mempunyai sarana. b. Laboratorium rujukan Nasional. ƒ Mutu pemeriksaan laboratorium ini akan ditera oleh laboratorium rujukan uji silang. ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang hasil pemeriksaan mikroskopis Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium rujukan propinsi melakukan uji silang ke II jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Lab UPK dan laboratorium rujukan uji silang d. BP4 ataupun Rumah Sakit Paru (RSP).

Jejaring Laboratorium TB : Pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan LABORATORIUM TB SUPRA NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB NASIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB REGIONAL LABORATORIUM RUJUKAN TB PROVINSI LABORATORIUM RUJUKAN CROSSCHECK (Intermediate TB Laboratory) PUSAT MIKROSKOPIS TB ‰ PRM. Australia.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Mutu laboratorium rujukan nasional akan ditera oleh laboratorium rujukan supra nasional yang ditunjuk.1. Jejaring laboratorium tuberkulosis adalah sebagai tertera dibawah ini Gambar 5. PPM ‰ Rumah Sakit ‰ Laboratorium Swasta PUSAT FIKSASI SEDIAAN TB Puskesmas Satelit (PS) . Saat ini laboratorium supra nasional bagi lab nasional Indonesia adalah laboratorium TB di Adelaide.

36 .

Tugas: Mengambil dahak tersangka pasien TB.Peran: . . . Catatan : Bilamana perlu. sampai diperoleh hasil ƒ PRM : Menerima rujukan pemeriksaan sediaan dahak dari PS. .Fungsi: .Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. . . Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis . . . pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi sediaan dahak untuk pemeriksaan TB. sampai diperoleh hasil. Pembinaan mutu pelayanan lab di pustu menjadi tanggung jawab PRM.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai mendapatkan hasil pembacaan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.Fungsi: Laboratorium rujukan dan atau pelaksana pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis. . . membuat sediaan dan fiksasi sediaan dahak pasien untuk keperluan diagnosis. Laboratorium mikroskopis TB UPK. ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS. dengan syarat harus telah mendapat pelatihan dalam hal pengambilan dahak. dan untuk keperluan follow up pemeriksaan dahak dan merujuknya ke PRM. b.Tanggung jawab: Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Peran: Memastikan semua tersangka pasien dan pasien TB dalam pengobatan diperiksa dahaknya sampai diperoleh hasil. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. maka Puskesmas pembantu/Pustu dapat diberdayakan untuk melakukan fiksasi. pembuatan sediaan dahak sampai fiksasi.Tugas: ƒ PPM: Mengambil dahak tersangka pasien TB untuk keperluan diagnosis dan follow up.Laboratorium yang melakukan uji silang dari UPK setara PPM dan PRM dalam sistem jejaring laboratorium TB setempat. FUNGSI dan PERAN. .Fungsi: Melakukan pengambilan dahak.Laboratorium mikroskopis TB. Mengambil dahak tersangka pasien TB yang berasal dari PRM setempat untuk keperluan diagnosis dan follow up. ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM.Melakukan pembinaan laboratorium sesuai jejaring.Laboratorium rujukan uji silang sesuai jejaring laboratorium 37 . TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB LABORATORIUM TUBERKULOSIS a. dalam upaya meningkatkan akses pelayanan laboratorium kepada masyarakat. . dan keamanan dan keselamatan kerja.

38 . isolasi. Melaksanakan kegiatan laboratorium mikroskopis TB. ƒ Pembina laboratorium TB sesuai jejaring ƒ Tugas: .Sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi. identifikasi dan tes kepekaan M. . . Laboratorium rujukan Provinsi.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB regional. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan.Mengikuti kegiatan EQAS yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB provinsi sesuai jejaring. . ƒ Tanggung jawab: . TB dari dahak.Melakukan uji silang terhadap laboratorium sesuai jejaring. Memastikan semua kegiatan laboratorium TB berjalan sesuai prosedur tetap. - c. ƒ Fungsi . termasuk EQAS sesuai jejaring. Melaksanakan pembinaan laboratorium TB. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: TB setempat.Memastikan laboratorium TB uji silang yang menjadi tanggung jawabnya melaksanakan tanggung jawab mereka dengan baik dan benar.Menentukan hasil akhir uji silang jika terjadi ketidaksepahaman hasil antara lab rujukan uji silang dan lab mikroskopis TB UPK. Memastikan kegiatan uji silang dilaksanakan sesuai program pengendalian TB. ƒ Peran: ƒ Laboratorium uji silang mikroskopis untuk Lab rujukan uji silang ƒ Laboratorium yang melakukan uji silang kedua apabila terdapat ketidaksesuaian penilaian uji silang oleh lab rujukan uji silang dalam jejaringnya (2nd controller) ƒ Laboratorium yang melakukan pemeriksaan mikroskopis. identifikasi kuman dan uji kepekaan (DST). TB berjenjang (EQAS dan pelatihan) bagi laboratorium TB sesuai jejaring.Menyelenggarakan pembinaan Lab.Memastikan semua kegiatan sebagai laboratorium rujukan TB tingkat provinsi berjalan sesuai prosedur tetap. Memastikan pembinaan laboratorium TB dalam jejaring dilaksanakan sesuai program.Melaksanakan pemeriksaan mikroskopis. 3. . Melaksanakan uji silang mikroskopis TB sesuai jejaring.Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas laboratorium UPK dan laboratorium rujukan uji silang. Isolasi. termasuk mutu kegiatan dan kelangsungan sarana yang diperlukan. 2. . 1. .

Melaksankan pembinaan laboratorium TB (pelatihan dan EQAS) bagi laboratorium rujukan provinsi dan regional . ƒ Peran: . . identifikasi dan uji ƒ Tugas: kepekaan (DST). 39 . Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB. rujukan provinsi. Pusat rujukan pemeriksaan TB tingkat nasional. identifikasi kuman dan uji resistensi (DST) M. .Melaksanakan penilitian dan pengembangan pemeriksaan laboratorium M. ƒ Tanggung jawab: . yang diselenggarakan oleh laboratorium rujukan TB tingkat nasional. tuberculosis. TB bagi laboratorium rujukan tingkat provinsi. Memastikan laboratorium TB tingkat provinsi dalam jejaring melaksanakan kegiatan sesuai program pengendalian TB. Menyelenggarakan pembinaan (EQAS dan pelatihan) Lab. Laboratorium rujukan Regional. identifikasi dan DST M. ƒ Fungsi: Laboratorium rujukan TB tingkat nasional. . Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat regional berjalan sesuai program pengendalian TB. Melaksanakan penelitian dan pengembangan metode diagnostik TB Menyelenggarakan pelatihan berjenjang bagi petugas laboratorium. ƒ Peran: ƒ Laboratorium rujukan yang melakukan pemeriksaan isolasi.tb dan MOTT bagi yang memerlukan.tb di laboratorium provinsi ƒ Tugas: ƒ Tanggung jawab: Laboratorium rujukan regional secara rutin mengirim tes uji profisiensi kepada laboratorium rujukan provinsi. identifikasi dan DST M. ƒ Laboratorium Pembina untuk kegiatan isolasi. ƒ Fungsi: Sebagai laboratorium rujukan TB regional.Melaksanakan pemeriksaan isolasi.tb dan MOTT dari dahak dan bahan lain.Memastikan semua kegiatan laboratorium rujukan TB tingkat nasional berjalan sesuai program pengendalian TB. identifikasi dan DST M. Melaksanakan pemeriksaan isolasi. ƒ Laboratorium rujukan untuk isolasi. e. Laboratorium rujukan Nasional.Mengikuti kegiatan EQAS Laboratorium TB yang diselenggarakan laboratorium rujukan TB tingkat supra nasional.Memastikan pembinaan laboratorium TB tingkat provinsi dan regional berjalan sesuai program pengendalian TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS d.

Idem PS .Air mengalir.Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat . . ditambah dengan : . .Formulir standard (TB.Sistem pembuangan limbah infeksius dan biologis (beri keterangan : kerjasama dgn program lain) ƒ PRM/ PPM dan UPK setara PRM/PPM. penjepit sediaan dari kayu.Ruang pengambilan dahak/ruang terbuka yang memadai . . ose/lidi.Ruang: . timer. rak pengering.Desinfektans.Botol berisi pasir dan desinfektan . kertas saring.Sarana: .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium. Laboratorium mikroskopis TB UPK.Sarana keamanan . corong. . kaca sediaan/frosted sediaan. sticker. aether alkohol. KARAKTERISTIK SUMBER DAYA LABORATORIUM a.Protap bergambar mengenai pengambilan dahak dan pembuatan sediaan . . kotak sediaan. minimal SMAK/setara .Ruang: .Idem dengan PS. kerja Lab .1 buah mikroskop binokule .Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. lampu spiritus. Mikroskopik dahak BTA) .Tenaga : Seorang tenaga trampil teknis laboratorium.Sarana: . minyak emersi. pipet. minimal SMAK/setara .Wadah pembuangan berisi desinfektans.Formulir standard (TB-05) permintaan pemeriksaan dahak. . timer . rujukan pemeriksaan dahak.Sarana keamanan .Sistem pembuangan zat kimia (reagensia) Æ (lihat buku pedoman pem.Ruang kerja terang dengan ventilasi baik .pewarna ZN bermutu. kertas lensa. TB 04 .05). lidi lancip.Sarana membuat sediaan apus dahak: pot dahak.Sarana untuk pewarnaan Ziehl Neelsen: rak pewarnaan dengan baskom penampung limbahan cairan. ƒ Puskesmas Satelit (PS) dan UPK setara PS.Idem PS kerja Lab .

b. Laboratorium rujukan uji silang mikroskopis 40 .

ƒ Minimal ada 3 orang tenaga analis untuk mikro ƒ Minimal ada 1 tenaga analis yg bertanggung jawab untuk media dan reagensia.Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . Laboratorium rujukan Provinsi.Ruang administrasi Sarana pemeriksaan M.Idem dengan laboratorium uji silang ditambah dengan : . .Ruang pengambilan dahak yang sesuai standard (lihat buku panduan umum) .Ruang pelatihan.Ruang pembuatan media dan reagensia. .Ruang administrasi . Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Minimal ada seorang ahli patologi klinik atau mikrobiologi klinis. Administrasi: Minimal ada seorang tenaga administrasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Penanggung Jawab Pimpinan Instansi setempat Tenaga : Teknis laboratoris: ƒ Dua orang tenaga analis medis yang terampil.Ruang biakan dan uji kepekaan sesuai standard minimum utk negara berkembang . Teknisi alat laboratorium: ƒ Minimal ada seorang teknisi alat laboratorium. setara lulusan SMA yg mampu memelihara dan perbaikan sederhana mikroskop. .Idem dengan PRM/PPM ditambah dengan : . uji silang ditambah dengan : ƒ 10 mikroskop binokuler ƒ 1 teaching mikroskop untuk 5 pengamat - Ruang: - Sarana: 41 .Tb: ƒ Idem dengan lab. . .Ruang dekontaminasi dan pencucian alat. ƒ Seorang pembantu analis.2 mikroskop binokuler Idem PRM/PPM - Ruang: - Sarana: Sarana keamanan kerja Lab c. Administrasi: Seorang tenaga administrasi.

Cabinet untuk pembuatan media .Idem lab Propinsi Sarana keamanan . Ruang: . . . .Micro-pipette .300 C) .Minimal seorang tenaga administrasi.1 waterbath.Vortex mixer.Botol McCartney . Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Teknis laboratoris: .1 timbangan analitik (catt: lihat katalog) . .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Sarana Biakan: . GLP.1 inspisator.1 timbangan gram (0–500 gr) .Minimal 2 orang tenaga analis (Media). . . Teknis alat laboratorium: .1 freezer (. managemen) d. Administrasi: .Idem lab Propinsi kerja Lab - .Magnetic stirrer.idem dengan lab Propinsi Sarana: .Minimal 3 orang tenaga analis (mikro).Alat gelas laboratorium. .1 incenerator / carbonizer .1 bio-containment centrifuge (500 . .1 lemari es.5000 g) .Generator listrik.1 biosafety cabinet class II .Blender/homogenizer (autoclavable) . .Alat sterilisasi dengan filtrasi Sarana keamanan kerja Lab Sesuai dengan standard keamanan laboratorium (konstruksi. .Minimal seorang tenaga teknisi alat laboratorium. .Minimal 1 orang ahli PK dan 1 orang ahli mikrobiologi klinik.2 autoclave (dekontaminasi dan sterilisasi). Laboratorium rujukan Regional.1 incubator.

42 .

dan 1 orang ahli mikrobiologi (S2) ƒ 5 tenaga analis. refrigerator. dan ƒ Minimal ada 1 orang ahli Pathologi Klinik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS e.ELISA system . Teknisi peralatan: 2 orang teknisi alat laboratorium TB Administrasi: Minimal seorang tenaga administrasi. fasilitas untuk purifikasi dan - Ruang: - Sarana: 43 . Idem ruang lab regional ditambah dengan : . dan 1 orang ahli Patologi Anatomi. dan ƒ Minimal ada dua orang ahli mikrobiologi klinik. system elektroforesis vertical. vortex.Ruang dengan negative pressure . 1 set pipet mikro. refrigerator.Optional: Fasilitas kultur sel. microcentrifuge.Amplifikasi asam nukleat: ƒ Pencampuran reagen: Kabinet PCR (UV).Laboratorium yang sesuai untuk amplifikasi asam nukleat dan pemeriksaan molecular lainnya Alat Laboratorium untuk M. microcentrifuge ƒ Ekstraksi asam nukleat: Biosafety cabinet class IIA.TB: . UV transilluminator/imaging system .Ruang Asam: fume hood. shower .Automated Liquid culture system . freezer –20oC. pipet mikro.Ruang gelap . Laboratorium rujukan Nasional. system elektroforesis horizontal.Hibridisasi DNA: Oven hibridisasi. freezer –20oC. vortex. 1 set pipet mikro. Penanggung Jawab Kepala Laboratorium setempat Tenaga : Tenaga Teknis Laboratoris: ƒ Minimal 1 orang S3 di bidang Bio Molekuler (untuk research).Thermo-cycler .Dot blotter . Waterbath . heating blockpem. eye wash. Mikroskopik dahak BTA ƒ Amplifikasi dan analisis produk amplifikasi: Thermocicler.Nucleic Acid Sequencing system . ƒ 2 orang analis untuk media dan reagensia.1 mikroskop fluorescence .

Kegiatan ini harus meliputi setiap tahap pemeriksaan laboratorium yaitu tahap pra-analisis. dan harus dilakukan terus menerus.Protap pengambilan dahak .Idem dengan lab regional ditambah dengan : . pasca-analisis. penyimpanan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS analisis protein Biakan dan uji kepekaan: .Protap pewarnaan Ziehl Neelsen .Protap pengelolaan limbah . analisis. Sarana keamanan kerja Lab Idem dengan lab regional 4. misalnya : . pemeriksaan contoh uji. PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB Komponen pemantapan mutu terdiri dari 3 hal utama yaitu: 1. pengambilan. Pemantapan Mutu Internal 2. mengetahui sumber / penyebab dan mengoreksi dengan cepat dan tepat. ƒ Mendeteksi keslahan. terintegrasi dalam PMI dan PME. pengiriman. Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan PMI yaitu : ƒ Tersedianya Prosedur Tetap (Protap) untuk seluruh proses kegiatan pemeriksaan laboratorium. pengolahan contoh uji. Pemantapan Mutu Eksternal 3.Protap pembuatan sediaan dahak . ƒ Membantu peningkatan pelayanan pasien. Pemantapan Mutu Internal (PMI) PMI adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB untuk mencegah kesalahan pemeriksaan laboratorium dan mengawasi proses pemeriksaan laboratorium agar hasil pemeriksaan tepat dan benar.Protap pemeriksaan Mikroskopis .1 deepfreeze -700 C (penyimpan stock kuman. Tujuan PMI ƒ Mempertinggi kewaspadaan tenaga laboratorium agar tidak terjadi kesalahan pemeriksaan dan koreksi kesalahan dapat dilakukan segera ƒ Memastikan bahwa semua proses sejak persiapan pasien. pencatatan dan pelaporan hasil dilakukan dengan benar. Peningkatan mutu (Quality Improvement).Protap pembuatan media 44 .

dianggap kurang menggambarkan kinerja petugas laboratorium. pelatihan petugas Tersedianya sediaan kontrol (positip dan negatip) dan kuman kontrol.Protap inokulasi . Pengambilan sediaan untuk uji silang dilakukan dengan metode lot sampling karena pengambilan 10% sediaan BTA negatif dan seluruh sediaan BTA positif tidak dianjurkan lagi oleh WHO. laboratorium pembaca pertama. Koordinasi PME harus dilakukan secara bersama-sama oleh lab penyelenggara dengan dinas kesehatan setempat. audit internal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS ƒ ƒ ƒ . karena itu penting sekali membentuk jejaring dan Tim laboratorium yang utuh dan aktif dikelola dengan baik. laboratorium rujukan mikroskopis melakukan pemeriksaan mikroskopis tanpa mengetahui hasil pembacaan laboratorium pertama. Tim PME mengundang pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan PMI diwilayahnya dalam pertemuan monev berkala. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) PME laboratorium TB dilakukan secara berjenjang. Pelaksanaan PME PME mikroskopis BTA dapat dilakukan melalui : ƒ Uji silang sediaan dahak. Analisis hasil pembacaan uji silang dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk yang tidak berasal dari laboratorium pembaca pertama ataupun laboratorium rujukan mikroskopis yang bersangkutan.Dsb. hal ini sangat berguna untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen kelangsungan program PME Perencanaan PME ƒ Melakukan koordinasi berdasarkan jejaring laboratorium TB ƒ Menentukan kriteria laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan jenis kegiatan PME ƒ Penjadwalan pelaksanaan PME dengan mempertimbangkan beban kerja laboratorium penyelenggara ƒ Menentukan kriteria petugas yang terlibat dalam kegiatan PME ƒ Penilaian dan umpan balik. Hasil analisis harus dilaporkan kepada dinas kesehatan setempat. Kegiatan PME harus secara berkala dievaluasi sehingga baik penyelenggara maupun peserta PME dalam jejaring mengetahui kondisi dan upaya perbaikan kinerja. dan laboratorium rujukan uji silang sebelum pelaksanaan uji silang pada siklus berikutnya. Yaitu pemeriksaan ulang sediaan dahak laboratorium UPK oleh laboratorium yang telah diberi wewenang melalui penilaian kemampuan yang dilakukan oleh petugas teknis yang berada pada jenjang tertinggi di wilayah jejaring laboratorium tersebut. Pada pelaksanaan uji silang. PME dalam jejaring ini harus berlangsung teratur / berkala dan berkesinambungan. Tersedianya Formulir /buku untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan pemeriksaan laboratorium TB Tersedianya jadwal pemeliharaan/kalibrasi alat. 45 .

sebagai tindak lanjut dibuat analisis dan prioritas pemecahan masalah agar ada upaya perbaikan yang dapat segera dilakukan. perencanaan pengadaan sarana dan prasarana laboratorium TB. ƒ Hasil PME dapat mengidentifikasi masalah yang berpengaruh terhadap kinerja laboratorium. mutu pewarnaan. sarana dan prasarana laboratorium. uji fungsi ƒ Metoda pemeriksaan : Revisi prosedur tetap. setiap petugas harus melakukan pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar. Penjadwalan dan penunjukan lokasi supervisi harus ditetapkan terlebih dahulu oleh supervisor dan pengelola program TB di wilayah tersebut Kegiatan PME lainnya adalah Uji profisiensi/panel testing. penyegaran. KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Berbagai tindakan yang dilakukan di laboratorium. Kegiatan ini harus dikelola dengan baik sehingga setiap siklus uji silang dapat menetapkan derajat kesalahan pembacaan yang kemudian menjadi dasar untuk kegiatan supervisi. meliputi : ƒ Tenaga : Pelatihan. dll. pelatihan. mutasi ƒ Sarana dan prasarana : Pengadaan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi laboratorium untuk melihat langsung kinerja. Petugas supervisi harus memiliki kemampuan teknis dan administrasi laboratorium TB serta sifat yang empatik sehingga kunjungan ini tidak bernuangsa pengawasan Dalam melakukan supervisi harus menggunakan daftar tilik yang memuat semua aspek yang ada di laboratorium. kemampuan dan keterampilan teknis maupun administrasi petugas laboratorium. ƒ Supervisi Laboratorium TB. pengembangan metoda pemeriksaan 5. kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja petugas laboratorium TB tetapi hanya dilaksanakan apabila uji silang dan supervisi belum berjalan dengan memadai. pemeliharaan. Selanjutnya dapat disarankan rencana tindakan perbaikan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Apabila terdapat kesalahan besar suatu laboratorium mikroskopis UPK. 46 . maka petugas program/Supervisor sebaiknya berkonsultasi dengan laboratorium rujukan uji silang untuk memperkirakan penyebab terjadinya kesalahan tersebut dengan melihat datadata hasil analisa mutu sediaan. Kelemahan dari uji ini antara lain: tidak dapat menilai kegiatan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh dan memerlukan laboratorium penyelenggara yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menyediakan sediaan / kuman yang akan diujikan yang memenuhi syarat. Untuk mengurangi bahaya yang dapat terjadi. Hasil supervisi dibicarakan pada akhir kunjungan sehingga seluruh temuan/masalah dapat dipecahkan. baik akibat spesimen maupun zat dan alat dapat menibulkan bahaya bagi petugas.

Pemantauan terhadap pelaksanaan prosedur keamanan dan keselamatan kerja. jadwal pemantauan dan evaluasi. lingkungan sekitar laboratorium. Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan : 1. peralatan. Sistem ini harus menjamin perlindungan terhadap petugas laboratorium. menentukan prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang sesuai. Perencanaan Identifikasi kegiatan dan risiko. 1. biakan. serologi. PCR/biomolekuler.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Manajemen laboratorium harus menjamin adanya sistem dan perangkat keamanan dan keselamatan kerja serta pelaksanaannya oleh setiap petugas di laboratorium dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Sosialisasi agar setiap petugas memahami dan melaksanakan prosedur keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium 3. dan menghindari pemanfaatan bahan infeksius untuk hal-hal yang dapat membahayakan masyarakat luas. dsb). yang diikuti dengan tindakan koreksi yang memadai. Evaluasi dan tindakan koreksi Sistem keamanan dan keselamatan kerja laboratorium TB disesuaikan dengan kegiatan pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan di laboratorium yang bersangkutan (mikroskopi. uji kepekaan. Penyediaan perangkat (protap. masyarakat umum. 47 . 4. dsb) 2.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 6 MANAJEMEN LOGISTIK TUBERKULOSIS
Manajemen logistik Program Penanggulangan Tuberkulosis merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi. 1. JENIS LOGISTIK PROGRAM Logistik program penanggulangan Tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik lainnya. a. Logistik OAT. Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak, untuk paket OAT dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu : • OAT dalam bentuk Obat Kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam blister, dan tiap blister berisi 28 tablet. • OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2, dan sisipan, yang dikemas dalam blister untuk satu dosis, kombipak ini disediakan khusus untuk pengatasi effek samping KDT. Sedangkan OAT anak untuk sementara masih menggunakan kombipak anak. b. Logistik lainnya • Alat Laboratorium terdiri dari : Mikroskop, Slide Box, Rak pewarna dan pengering, Lampu spiritus, Ose, Botol plastik bercorong pipet dan lain lain. • Bahan Diagnostik terdiri dari : Pot sputum, kaca sediaan, Reagensia Ziehl Neelsen, Eter Alkohol, Minyak imersi, Lysol, Kertas pembersih lensa mikroskop, kertas saring, tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain. • Barang cetakan seperti Buku Pedoman, format pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dan lain lain. Secara umum pembahasan manajemen Logistik untuk Program Penanggulangan Tuberkulosis dibedakan menjadi manajemen OAT dan manajemen logistik lainnya.

48

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

2. MANAJEMEN OAT a. Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat Tuberkulosis dilaksanakan dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada : • Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya, • Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan, • buffer-stock, • sisa stock OAT yang ada, • perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan) Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) UPK menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan bulanan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program, Farmasi dan Instalasi Farmasi Kab/Kota (IFK). Disamping rencana kebutuhan OAT KDT, perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak atau lepas untuk antisipasi effek samping KDT sebanyak 2 – 5 % dari perkiraan pasien yang akan diobati. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi, perencanaan ini diteruskan ke pusat. Perencanaan yang disampaikan propinsi ke pusat, sudah memperhitungkan kebutuhan kabupaten/kota yang dapat dipenuhi melalui buffer stock yang tersisa di propinsi. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : • • Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi

49

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

Buffer stock ditingkat pusat.

b. Pengadaan OAT Kabupaten/Kota maupun Propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM dan PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangat-sangat esensial (SSE). c. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan, dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah, penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. OAT disimpan di IFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out), artinya, obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih awal. Pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. Distribusi OAT dari IFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis, jumlah, kemasan, nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. d. Monitoring dan Evaluasi. Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda, untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama IFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi, melaporkan stock yang ada di Propinsi termasuk yang ada di gudang IFK ke pusat setiap triwulan. Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Secara fungsional pelaksana program Tuberkulosis propinsi dan Kabupaten / Kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. e. Pengawasan Mutu. Pengawasan dan pengujian mutu OAT mulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Setelah OAT sampai di Propinsi, Kabupaten/Kota dan UPK, pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binnfar. f. Pemantauan Mutu OAT Mutu OAT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat yang meliputi: 1. Keutuhan kemasan dan wadah

50

Dilakukan tindakan sesuai kontrak Dimusnahkan. cq Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. No batch dan tanggal kadaluarsa baik di kemasan terkecil seperti vial. Jenis dan jumlah manajemen logistik lainnya dilaksanakan sebagai berikut : 51 . 3. Identitas obat 2. • Dan pihak lain yang terkait.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. Pemberian 3. Kemurnian/ kadar cemaran 6. Penandaan/label termasuk persyaratan penyimpanan 3. Pengambilan sampel dimaksudkan untuk pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium Pengujian laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM dan meliputi aspek – aspek sebagai berikut: 1. harus segera dilaporkan kepada Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik untuk kemudian ditindak lanjuti. Uji potensi 8. Waktu hancur atau disolusi 5. maka akan dilakukan bacth re-call (ditarik dari peredaran). boks dan master boks 5. Tindak lanjut dapat berupa : • • • Bila OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. Uji sterilitas Laporan hasil pemeriksaan dan pengujian disampaikan kepada : • Tim Pemantauan Laporan hasil pengujian oleh BPOM atau PPOM • Direktur Jenderal PP dan PL. Keseragaman bobot/ keseragaman kandungan 4. MANAJEMEN LOGISTIK LAINNYA Secara umum siklusnya sama dengan manajemen OAT. Pengambilan sampel di gudang pemasok dan gudang milik Dinkes / Gudang Farmasi. • Khusus untuk OAT yang tidak memenuhi syarat. cq Direktur P2ML • Direktur Jenderal Binfar dan Alkes. Leaflet dalam bahasa Indonesia 4. • Kepala Badan POM cq Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Terapeutik. Mencantumkan nomor registrasi pada kemasan 6. Kadar zat aktif 7.

Slide Box. Rak pewarna dan pengering. 400 cc Asam Alkohol dan 100 cc Methylen Blue. • Kertas pembersih lensa mikroskop dll sesuai dengan kebutuhan. • Reagensia Ziehl Neelsen yang diperlukan untuk menemukan 1 pasien BTA positif terdiri dari : 100 cc Carbon Fuchsin. 52 . formulir pencatatan dan pelaporan serta bahan KIE dll) yang dibutuhkan untuk semua tingkat pelaksana dapat disediakan melalui pengadaan pusat. propinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah sesuai kebutuhan. semprit tuberculin 1 cc jarum nomor 26. pengadaan dan pemeliharaan (mikroskop) baik jenis maupun jumlahnya harus mengikuti standar yang ditetapkan. Lampu speritus. Barang lainnya Barang cetakan (Buku Pedoman. Botol plastik bercorong pipet dll. terdiri dari tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Bahan Laboratorium • Sputum pot = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Bahan Uji tuberkulin. • Kaca sediaan = jumlah perkiraan kasus BTA positif yang akan diobati x 40 buah. Ose.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bahan Diagnostik Mikroskop.

dan 1 tenaga laboratorium. pelatihan dan supervisi. STANDAR KETENAGAAN Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. 3 perawat/petugas TB. tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB. Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas. Unit Pelayanan Kesehatan 1.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 7 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB (PSDM-TB) Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. 1 perawat/petugas TB. • Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB • Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB. Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program yaitu standar ketenagaan program. 2. Rumah Sakit Umum Pemerintah • RS klas A : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. Puskesmas • Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter. dan 1 tenaga laboratorium 53 . pembinaan (pelatihan. supervisi. kalakarya/on the job training). Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga. dan 1 tenaga laboratorium • RS klas B : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 6 dokter. dan kesinambungan (sustainability). 3 perawat/petugas TB. 1.

dan lain-lainnya. Dokter Praktek Swasta. PELATIHAN Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan. 3. dan lain-lainnya. 2 perawat/petugas TB. Konsep pelatihan Konsep pelatihan dalam program TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS RS klas C : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 4 dokter. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. 3. 5 fasilitator pelatihan. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. 2. RSTP dan BP4 : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 2 dokter. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 kabupaten/kota. RS dan UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan. 3. dan 1 tenaga laboratorium • RS swasta. 2. Pelatihan ulangan (retraining). dan 1 tenaga laboratorium • RS klas D. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. Bagi wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari seorang supervisor. seluruh materi diberikan. Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan. Pelatihan dalam tugas (in service training) Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program 1) Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation) a. Fakultas Farmasi dan lain-lain) 2. Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training) Dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. Pelatihan penuh. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Gerdunas-TB / Tim DOTS / Tim TB. terdiri dari: 1. jumlah tergantung beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas. Tingkat Provinsi 1. (Fakultas Kedokteran. Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai dengan kebutuhan. sikap dan keterampilan petugas dalam rangka meningkatkan mutu dan kinerja petugas. jumlah tergantung kebutuhan. 2 perawat/petugas TB. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam kinerjanya. 2. Fakultas Keperawatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Secara umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. • Tingkat Kabupaten/Kota 1. minimal telah dilatih. dan tidak cukup hanya dilakukan melalui 54 . b. jumlah tergantung kebutuhan. menyesuaikan.

Materi yang diberikan disesuikan dengan inkompetensi yang ditemukan.kinerja (supervisi) . pelatihan TB-HIV.reaksi dan . surveilans.dampak 55 . peserta. Pelatihan penyegaran. kepanitiaan. • persiapan administratif penyiapan bahan. tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan penuh. Pengembangan Pelatihan Secara umum ada 3 tahap pengembangan pelatihan sebagaimana tergambar pada gambar berikut: Gambar 7. c.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS supervisi. Materi berbeda dengan pelatihan dasar. penyelenggaraan • model evaluasi: • selama pelatihan . tempat pelatihan dan praktek lapangan • peserta dan fasilitator. materi.pembelajaran • paska pelatihan .1. 2) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi. metode pembelajaran. fasilitator. pelatihan DOTS plus. pelatihan advokasi. dana. • tugas /jabatan • personal IMPLEMENTASI EVALUASI Pelaksanaan Evaluasi Disain pelatihan • pengembangan kurikulum • penyusunan materi • metode pembelajaran Penyelenggaraan pelatihan • akreditasi pelatihan • kerangka acuan • kepanitiaan.. dan cukup diatasi hanya dengan dilakukan supervisi. • proses pembelajaran dan evaluasi Penetapan Tujuan Pelatihan Pengembangan Metode Evaluasi • objek: tujuan. On the job training (pelatihan ditempat tugas/refresher): telah mengikuti pelatihan sebelumnya tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya. yaitu pelatihan formal yang dilakukan terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya minimal 5 tahun atau ada up-date materi. d. Tahap Pengembangan Pelatihan PENGKAJIAN Identifikasi kebutuhan pelatihan • kesenjangan kompetensi dan kinerja • variable : • organisasi /program. seperti: pelatihan manajemen OAT.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Diadopsi dari Tovey (1997) 56 .

tetapi yang terkait secara langsung tugas pokok peserta dalam program. Jenis Evaluasi SELAMA PELATIHAN PASKA PELATIHAN MODEL /JENIS EVALUASI EVALUASI REAKSI EVALUASI PEMBELAJARAN Pre test dan post test Evaluasi penyelenggaraan Evaluasi peserta Evaluasi fasilitator Materi dan metode pembelajaran EVALUASI DAMPAK EVALUASI KINERJA Evaluasi terhadap kompetensi dan kinerja ditempat tugas Evaluasi dampak pelatihan terhadap tujuan program /organisasi PELAKSANA EVALUASI WAKTU PELAKSANAAN PESERTA FASILITATOR TIM TRAINING / PANITIA SUPERVISOR 3 – 6 BULAN SETELAH PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SUPERVISI PENELITI SELAMA PELATIHAN TERINTEGRASI DENGAN PROSES PELATIHAN SESUAI KEBUTUHAN KOORDINATOR PELAKSANAAN KOORDINATOR PELATIHAN . Baik materi pelatihan maupun metode pembelajaran tersebut dapat dikemas dalam bentuk modular Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan adalah proses : • Penilaian secara sistematis untuk menentukan apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak. Demikian pentingnya evaluasi pelatihan maka pelaksanaannya harus terintegrasi dengan proses pelatihan. Tidak semua harus dipelajari. • Menentukan mutu pelatihan yang dilaksanakan dan untuk meningkatkan mutu pelatihan yang akan mendatang. Apa yang akan dipelajari dalam pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan program dan tugas peserta latih. Metode pembelajaran harus mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan motivasi peserta.Materi pelatihan dan metode pembelajaran.2. Jenis evaluasi dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7.

on the job training) dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 7. ƒ bantuan teknis. Hubungan integratif Pelatihan dan Supervisi standar kompetensi baru pelatihan lanjutan standar kompetensi inkompetensi minor kompeten si pelatihan dasar inkompetensi major kompetensi awal • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • evaluasi kinerja • supervisi / on the job training (refresher) • retraining (pelatihan ulang) . Supervisi juga dapat merupakan kegiatan monitoring langsung dan kegiatan pembinaan untuk mempertahankan kompetensi standar melalui on the job training. ƒ diskusi. 3. ƒ bersama-sama mencari pemecahan masalah dan ƒ memberikan rekomendasi dan saran perbaikan. SUPERVISI Supervisi adalah kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung. Supervisi dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pasca pelatihan sebagai bahan masukan perbaikan pelatihan yang akan datang. Kegiatan yang dilakukan selama supervisi adalah : ƒ observasi. Hubungan integratif antara pelatihan dan supervisi (evaluasi kinerja.3.

waktu modifikasi dari berbagai sumber .

partisipatif dan tidak instruktif.Pelatihan baru selesai dilaksanakan. Penjadwalan kegiatan supervisi. . serta kebutuhannya. tanggap terhadap masalah yang disampaikan. penuh perhatian. empati.Melakukan review buku register UPK dengan mencocokkan TB.Menjadi pendengar yang baik. .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Perencanaan Supervisi Agar supervisi efektif dan mencapai tujuannya.Mampu membina hubungan baik dengan petugas di unit yang dikunjungi.Supervisi ke kabupaten / kota dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Mempunyai kepribadian yang menyenangkan dan bersahabat. Kepribadian supervisor. termasuk laboratorium) harus dilaksanakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali.Melakukan pengamatan saat petugas bekerja .Melakukan pendekatan fasilitatif.Supervisi ke propinsi dilaksanakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.Melakukan pemeriksaan persedian OAT dan logistik lainnya termasuk mikroskop dan reagensia. pemetaan wilayah. 2. Contoh daftar tilik lihat pada halaman berikut.01 dan TB. misalnya laporan. maka perlu dilakukan persiapan. maka supervisi harus direncanakan dengan baik. Pelaksanaan supervisi. 2. Beberapa hal berikut perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi. biasanya dilakukan setiap kwartal atau semester. hasil temuan pada supervisi sebelumnya serta rencana perbaikan yang diputuskan. misalnya angka konversi rendah. . 58 . Supervisi harus dilaksnakan secara rutin dan teratur pada semua tingkat.Mengisi dan melengkapi buku register TB kabupaten (TB. . . Pemberitahuan atau perjanjian dengan instansi /daerah yang akan disupervisi. BP4. 4.Diskusi kegiatan dan masalahnya bersama petugas . . yaitu: .Bila kinerja dari suatu unit kurang baik. Hal-hal berikut penting diperhatikan dalam perencanaan supervisi: 1. Persiapan supervisi Agar pelaksanaan supervisi berjalan lancar dan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. sebagai berikut: 1. 2. Pengumpulan informasi pendukung. bila memungkinkan .Pada tahap awal pelaksanaan program. Kegiatan penting selama supervisi. .06. RS. terutama pada tingkat UPK : 1.Melakukan wawancara dengan pasien TB dan PMO. Pada keadaan tertentu frekuensi supervisi perlu ditingkatkan.03) . angka kesembuhan rendah. . dan bersama-sama petugas mencari pemecahan. . 3.Supervisi ke UPK (misalnya Puskesmas. . atau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah pasien TB yang diobati terlalu sedikit dari yang diharapkan. . Penyiapan atau pengembangan daftar tilik supervisi dan buku petunjuk /pedoman program.

tidak ada motivasi atau memang ada kendala. g. Dalam laporan juga harus disampaikan hal-hal yang positif. sederhana dan dapat dilaksanakan Pemecahan Masalah (Problem-solving) dalam supervisi Berikut ini beberapa langkah praktis dalam melakukan pemecahan masalah kinerja.Lembar 1 : harus diumpanbalikkan ke unit yang dikunjungi sebagai dokumen untuk bahan acuan perbaikan kegiatan. f. b. 2. Bila masih ada masalah yang belum terpecahkan bersama petugas. 4. Solusi dapat berupa memberikan penjelasan/diskusi. 59 . praktis. tidak mampu melaksanakan. Menentukan masalah kinerja berarti sekaligus menentukan siapa tidak mengerjakan apa. 5. termasuk melihat dan membaca sediaan sekaligus mengambil sediaan untuk uji silang. inisiatif. d. Latar belakang (pendahuluan) Tujuan supervisi. Tentukan penyebab yang paling mungkin. Laporan supervisi. Matriks penilaian kriteria dapat digunakan. Memberikan motivasi untuk peningkatan kinerja. melakukan on the job training. Solusi harus dapat menghilangkan penyebab masalah atau mengurangi dampaknya. Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) dan bagan pareto dalam hal ini dapat digunakan. Kesimpulan dan saran pemecahan masalah harus ditulis dalam laporan supervisi sebagai dokumen untuk disampaikan kepada pimpinan unit kerja yang dikunjungi dan pimpinan unit kerja terkait. Temuan-temuan: keberhasilan dan kekurangan. mengusulkan dilatih atau memberikan motivasi kepada peugas. Melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan bagi petugas diinstitusi tersebut. kreatifitas. inovatif. sebaiknya 3 lembar: . 3. maka supervisor bersama petugas dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan pimpinan unit kerja untuk selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut perbaikan. Supervisor sebaiknya dapat menggunakan metode pemecahan masalah yang dikuasai. maka berarti ada masalah kinerja. mungkin karena tugasnya tidak jelas. Supervisor bersama petugas mencari tahu kemungkinan penyebab masalah. Selanjutnya tentukan pemecahannya (solusi) yang paling memungkinkan. Membuat Laporan Supervisi Supervisor harus membuat laporan supervisi segera setelah menyelesaikan kunjungan. e. Kemungkinan penyebab masalah atau kesalahan. Saran pemecahan masalah RTL (Rencana Tindak Lanjut). Apabila tugas pokok petugas tidak dilaksanakan secara benar atau tidak dilakukan sama sekali. c. Memberikan umpan balik saran yang jelas. Laporan supervisi tersebut harus memuat paling sedikit tentang: a. 1. realistis. agar lebih terarah dalam membuat keputusan dalam tiap langkah. dan tidak menciptakan masalah baru. dapat dilaksanakan. realistik. Ada beberapa kemungkinan penyebab masalah.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Meneliti Buku Register Laboratorium TB dan kegiatan petugas laboratorium.

Lembar 3 : arsip supervisor.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS - Lembar 2 : disampaikan kepada atasan langsung supervisor sebagai bahan untuk rencana kunjungan berikutnya. 60 .

Beban masalah TB yang tinggi 2. Akuntabilitas. transparansi Tujuan Kemitraan Tuberkulosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberkulosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan Untuk mencapai tujuan diatas perlu diwujudkan melalui : . sektor swasta. 61 .Membuka peluang untuk saling membantu Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari: sektor pemerintah. mengingat : 1. Kedua belah pihak harus mempunyai keyakinan bahwa mereka melakukan perjanjian dengan terbuka dan jujur dalam pelaksanan program penanggulangan tuberkulosis.Meningkatkan koordinasi . c. Lembaga Swadaya Masyarakat. kelompok media massa. organisasi keagamaan. PRINSIP DASAR KEMITRAAN a.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 KEMITRAAN DALAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan program penanggulangan tuberkulosis adalah suatu upaya untuk melibatkan berbagai sektor. Perguruan Tinggi/Kelompok Akademisi.Meningkatkan komunikasi . b. mutu. kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberkulosis . Keterbatasan sector pemerintah 3.Meningkatkan komitmen . organisasi profesi.Meningkatkan sumber daya. Keberlanjutan program 5. organisasi internasional dan sektor lain yang terkait 1. swasta maupun kelompok organisasi masyarakat. baik dari pemerintah. Kesetaraan Bahwa setiap mitra kerja dalam program penanggulangan tuberkulosis patut dihormati dan diberi pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki mereka serta memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing mitra dalam program penanggulangan tuberkulosis. Potensi melibatkan sector lain 4. Saling menguntungkan Hubungan kemitraan harus saling menguntungkan masing-masing pihak dalam kerjasama yang dijalin. Keterbukaan Dalam kemitraan harus saling percaya dan terbuka dalam pelaksanaan program. legislative. organisasi pengusaha dan organisasi pekerja.

Peran mitra Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM KEMITRAAN a. bila perlu hasil pemantauan ini dapat untuk penyempurnaan kesepakatan yang telah di buat. b. Dapat digunakan formulir kuisioner kemitraan yang terlampir. baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. sehingga mitra bisa memilih peran di keterlibatannya dalam penanggulangan tuberkulosis. calon mitra yang dianggap potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi perlu dilakukan identifikasi organisasi dan penjajagan. Melakukan kegiatan. 3. dll) • Memberikan pelayanan • Pemberdayaan masyarakat • Menyediakan tenaga ahli 62 . Pengaturan peran. Pembentukan Komitmen. komitmen masing-masing pihak sangat penting terutama komitmen para pengambil kebijakan sehingga apa yang menjadi kesepakatan dan tujuan bersama dalam tercapai.masing secara terbuka dan kekeluargaan d. g. dan dapat diselesaikan masalah di lapangan secara langsung. antara lain : • Penyediaan Sumber Daya (SDM. Komunikasi intensif. Untuk menjalin dan mengetahui perkembangan kemitraan dalam melaksanakan program tuberculosis perlu dilakukan komunikasi antar mitra secara teratur dan terjadwal. Tanggungjawab Pemerintah Pemerintah. Penyamaan persepsi. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra. disepakati sejak awal. e. LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN a. f. b. agar diperoleh pandangan yang sama dalam penanganan masalah yang dihadapi bersama. termasuk penanggulangan tuberkulosis dan membangun kemitraannya. kegiatan yang disepakati harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana kerja tertulis hasil kesepakatan bersama h. c. peran masing –masing sektor dalam penggulangan tuberculosis perlu disepakati bersama. Identifikasi. sarana dan prasarana. lebih baik secara tertulis jelas yang dituangkan dalam dokumen resmi berupa Nota Kesepakatan (MoU) antara duabelah pihak. maka para mitra perlu bertemu untuk saling memahami kedudukan. Sosialisasi tentang program tuberkulosis kepada calon mitra. Pemantauan dan penilaian. dana.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. tugas dan fungsi masing.

BATASAN Advokasi adalah tindakan untuk mendukung upaya masyarakat mendapatkan berbagai sumberdaya atau perubahan kebijakan. dan mobilisasi sosial yang dirancang secara sistematis dan dinamis. perilaku dan memberdayakan masyarakat dalam pelaksanaan penaggulangan TB. Penggerakan masyarakat dilaksanakan di tingkat paling bawah (akar rumput) dan secara luas berhubungan dengan mobilisasi dan aksi sosial masyarakat. Dalam konteks penanggulangan TB. advokasi merupakan upaya luas untuk meyakinkan bahwa pemerintah memiliki komitmen kebijakan yang kuat dalam menanggulangi TB.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 9 ADVOKASI. Komunikasi merupakan proses dua arah yang menempatkan partisipasi dan dialog sebagai elemen kunci. KOMUNIKASI DAN MOBILISASI SOSIAL (AKMS) PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS AKMS TB adalah suatu konsep sekaligus kerangka kerja terpadu untuk mempengaruhi dan mengubah kebijakan publik. Dalam konteks global. 63 . Seluruh kegiatan komunikasi disebarluaskan lewat media dan berbagai saluran. advokasi TB dimengerti sebagai seting intervensi terkoordinasi yang diarahkan untuk menempatkan TB dalam agenda politik dan pengembangan pada posisi tinggi. Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. 1. untuk mengamankan komitmen internasional dan nasional dan menggerakkan sumberdaya yang diperlukan. Pada konteks dalam negeri. Sehubungan dengan itu AKMS TB merupakan suatu rangkaian kegiatan advokasi. komunikasi diarahkan untuk mendorong lingkungan berkreasi melalui pembuatan strategi dan pemberdayaan. Memperhatikan pemaparan komponen AKMS. komunikasi. secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial diantara stakeholders untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat. masing-masing komponen mempunyai tujuan dan kegiatan spesifik yang dilaksanakan secara terpadu untuk mencapai keberhasilan program penanggulangan TB.

Buku Pedoman .Angka cakupan penemuan tuberkulosis tidak menjadi masalah kesehatan Faktor.Angka kesembuhan . APBD dan BLN) S T R A T E G I MOBILISASI SOSIAL KOMUNIKASI ADVOKASI Adanya dukungan berbagai pihak dalam penerapan strategi DOTS Masya-rakat mampu dan mandiri dalam penanggulangan tuberkulosis Adanya opini public yang mendukung penerapan strategi DOTS Adanya peningkatan praktek penanggulangan tuberkulosis .Masalah tuberkulosis dan Promosi Kesehatan .factor lain 64 .1. Kerangka Pola Pikir dan Strategi AKMS INPUT PROSES OUT PUT OUTCOM IMPACT .Sumber dana (APBN. KERANGKA POLA PIKIR DAN STRATEGI AKMS Gambar 9.Tenaga Penyuluh .Media Promosi .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2.

Selain itu sumber seyogyanya mempunyai pengetahuan yang mendalam terhadap pesan yang disampaikan maupun terhadap penerima pesan. pembuat/penentu kebijakan dan keputusan. 2. dan Mobilisasi sumber dana.bahan yang perlu disajikan kepada sasaran. Sumber juga diharapkan mempunyai sikap yang positif ter-hadap penerima pesan. pelaksana. dalam penyelenggaraan penanggulangan tuberkulosis. Isi pesan perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penerima pesan agar mudah dimengerti/dipahami oleh penerima. berfikir. konsultasi. Memilih strategi yang tepat (advokator. antara satu strategi dengan strategi lainnya saling ada keterkaitan. Advokasi Advokasi adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan. Dalam melakukan advokasi perlu dipersiapkan data atau informasi yang cukup serta bahan-bahan pendukung lainnya yang sesuai agar dapat meyakinkan mereka dalam memberikan dukungan. lokakarya dan sebagainya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing unit. Langkah yang perlu dipersiapkan untuk merencanakan kegiatan advokasi: Analisa situasi. Pendekatan kepada para pimpinan ini dapat dilakukan dengan cara bertatap muka langsung (audiensi). Komunikasi dan Mobilisasi Sosial tersebut tidak berdiri sendiri.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. Komunikasi Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau gagasan (informasi) yang disampaikan secara lisan dan atau tertulis dari sumber pesan kepada penerima pesan melalui media dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. Dalam proses komunikasi. 1. STRATEGI AKMS Dalam pelaksanaan tiga strategi Advokasi. Sumber pesan (komunikator) Semua komunikasi berasal dari suatu sumber. b. sumber dituntut untuk mempunyai ketrampilan-ketrampilan seperti berbicara. menulis dan lain-lain. Komponen komunikasi Di dalam studi komunikasi. model komunikasi yang sering dianut adalah yang mempunyai lima komponen sebagai berikut: a. 65 . memberikan laporan. metode dsb) Mengembangkan bahan. pertemuan/rapat kerja. bah-kan dalam bentuk kelembagaan. Sumber ini mungkin dalam bentuk individu atau mungkin dalam bentuk kelompok. Pesan Pesan-pesan dalam proses komunikasi disampaikan melalui bahasa tertentu yang sama dengan bahasa penerima pesan.

Penerima pesan (komunikan) Penerima pesan ini dapat berupa individu atau kelompok bahkan kelembagaan dan massa. lancar tidaknya suatu proses. Umpan balik Umpan balik adalah proses pengecekan untuk mengetahui apakah : 1. rekaman (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . Pesan yang disampaikan dimengerti dengan baik oleh penerima 3. Pemberi pesan dapat menyampaikan pesan dengan baik 2. dengan kata lain masyarakat menjadi berdaya. Beberapa prinsip mobilisasi sosial . seni maupun gerakan-gerakan tubuh atau isyarat-isyarat tertentu. Tingkat kesulitan pesan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan/pendidikan dari si pene-rima pesan. Pesan yang disampaikan sesuai dengan penerima pesan Alat/media yang digunakan sudah tepat Oleh karena itu pemberi pesan perlu mendorong penerima pesan untuk memberikan umpan balik. majalah dan buku (meningkatkan pengetahuan) Penggunaan multi media untuk penyampaian pesan dengan inten-sitas yang tinggi. c.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Pesan dapat disampaikan melalui musik. seminar peningkatan pengetahuan . latihan (meningkatkan kemampuan) .Radio.Surat kabar. d.Memahami kemampuan lembaga yang ada di masyarakat (analisis kemampuan lembaga dan hambatan). percakapan. Mobilisasi sosial berarti melibatkan semua unsur masyarakat.Televisi. komunikasi banyak tergantung kepada pengetahuan.Demonstrasi. Mobilisasi Sosial Mobilisasi sosial dalam konteks nasional dan regional merupakan proses membangkitkan keinginan masyarakat. Saluran/media dalam proses komu-nikasi dapat berbentuk: . Sebaliknya penggunaan satu media dengan intensitas yang rendah akan menimbulkan pengaruh yang kurang mendalam terhadap penerima pesan. sikap dan ketrampilan penerimaan pesan tersebut. 3. akan memberikan pengaruh yang mendalam terhadap penerima pesan.Rapat pertemuan-pertemuan. sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan kegiatan secara kolektif dengan mengumpulkan sumber daya dan membangun solidaritas untuk mengatasi masalah bersama. 66 . film (meningkatkan kesadaran/pengetahuan) . secara aktif meneguhkan konsensus dan komitmen sosial di antara pengambil kebijakan untuk menanggulangi TB yang menguntungkan masyarakat.

keluarga. memiliki inisiatif dan cara manajemen masyarakat sendiri. alih pengetahuan dan keterampilan. memiliki solidaritas dan kerjasama antar kelompok atau organisasi masyarakat.Community fund : Dana yang ada di masyarakat .indikator dan umpan balik mobilisasi.Mengembangkan kemampuan-kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.Community technology : Teknologi tepat guna termasuk cara berinteraksi masyarakat setempat secara kultural. 4. 3.Berdasar rencana rasional dalam rumusan tujuan. KIE berbasis individu. ikut menjadi PMO.Community material : Sarana masyarakat . pesan.Memenuhi permintaan masyarakat. Mengembangkan gotong royong Pengembangan potensi masyarakat melalui fasilitasi dan memotivasi diupayakan berpegang teguh pada prinsip-prinsip memperkuat dan mengembangkan budaya gotong-royong.Community organizations : Organisasi/ lembaga kelompok . . Beberapa prinsip pemberdayaan masyarakat 1. . 5. Peran dan karakteristik penggerak masyarakat. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. . Bekerja bersama masyarakat Prinsip lain yang harus dipegang teguh adalah “bekerja untuk dan bersama masyarakat”.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Bersandar pada pemahaman dalam konteks sosial dan cultural termasuk situasi politik dan ekonomi masayarakat setempat. karena dengan kebersamaan inilah terjadi proses fasilitasi. Secara kuantitatif berarti semakin banyak keluarga/masyarakat yang berkiprah dalam penanggulangan TB. 2. sasaran. Secara kualitatif berarti keluarga/ masyarakat bukan hanya memanfaatkan tetapi ikut berkiprah melakukan penyuluhan. .Community leaders : Para pemimpin baik formal maupun informal. motivasi. memiliki keterpaduaan dengan elemen pemerintah dan non pemerintah. .Community knowledge : Pengetahuan masyarakat . harus merupakan elemen kemasyarakatan.Memerlukan banyak sumber daya dalam organisasi penggerak. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat Potensi masyarakat yang dimaksud dapat berupa: . .Menggunakan individu yang terkenal atau dihormati sebagai penggerak.Community decision making : Pengambilan keputusan oleh masyarakat. Kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB Pemberdayaan masyarakat. dan ormas lainnya 67 . berprinsip meningkatkan kontribusi masyarakat dalam penanggulangan TB. . Kader TB dan sebagainya. . masyarakat.Memerlukan pengulangan secara periodik.

sehingga potensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Ormas. dll Peminatan Kebijakan.1.mendayagunakan media massa untuk mengekspose kegiatan koalisi dan sebagai jaringan informasi. Untuk dapat memilih mitra sesuai dengan peran dan peminatan di bidang AKMS TB.dll) dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki serta terpanggil untuk terlibat sesuai dengan perannya dalam penanggulangan isu tersebut.memberikan pelatihan/orientasi kepada kelompok pelopor (kelompok yang paling mudah menerima isu yang sedang diadvokasi). ketrampilan dan sikap agar keluarga mau berubah perilakunya sehubungan dengan TB. legislasi Pelayanan kesehatan TB Komunikasi TB 6. Komisi 9 DPR Akademisi. 68 . Memilih mitra dan peran berdasar peminatan Mitra Komisi D DPRD.mengembangkan koalisi diantara kelompok-kelompok maupun pribadi-pribadi pendukung. . digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. Diskusi kelompok (DK).mengembangkan jaringan informasi diantara anggauta koalisi agar selalu mengetahui dan merasa terlibat dengan isu yang diadvokasikan. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kelompok masyarakat melalui berbagai metoda dan media penyuluhan. . dapat digunakan tabel contoh berikut. dan berbagai kelompok masyarakat lainnya akan memudahkan kerja sama di lapangan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Kemitraan antara Pemerintah. digunakan untuk membantu menggali alternatif pemecahan masalah TB dalam suatu keluarga. Penyuluhan kelompok. Lintas program. . Bentuk-bentuk mobilisasi sosial penanggulangan TB: Kampanye. PAPP) LSM. digunakan untuk meningkatkan pengetahuan. . dunia usaha. Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat sangat berkaitan dengan kultur/ budaya setempat.mengkonsolidasikan mereka yang telah mengikuti pelatihan/orientasi menjadi kelompokkelompok pendukung/kader. Lintas sektor. digunakan dalam rangka mensosialisasikan isu strategis yang telah dikembangkan kepada berbagai sasaran (masyarakat.melaksanakan kegiatan yang bersifat masal dengan melibatkan sebanyak mungkin anggauta koalisi. profesi (IDI. Konseling. Tabel 9. . karena itu segala bentuk pengambilan keputusan harus diserahkan ke tingkat operasional agar tetap sesuai dengan kul-tur budaya setempat. Langkah-langkah mobilisasi sosial . LSM.organisasi profesi. LSM. Kunjungan rumah. ketrampilan dan sikap kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah TB melalui diskusi kelompok.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

- mendayagunakan berbagai media massa untuk membangun kebersamaan dalam mengatasi masalah/isu (masalah bersama). Hal ini cukup efektif bila dilakukan dengan menggunakan TV, filler/spot, radio spot, billboard dan spanduk. Kegiatan AKMS harus juga memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan perilaku sebagai bagian dari upaya pencegahan tuberkulosis disamping penemuan dan penyembuhan pasien.

69

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 10 PUBLIC PRIVATE MIX DALAM PELAYANAN TUBERKULOSIS
Sesuai hasil Survei Prevalensi tahun 2004, pola perilaku pencarian pengobatan pasien TB dapat dilihat pada tabel berikut: Wilayah Sumatera KTI Jawa Tabel 10.1. Pola pencarian pengobatan pasien TB RS dan BP4 Puskesmas Dokter Praktek Swasta 44% 43% 12% 31% 51% 16% 49% 21% 29%

Sampai saat ini unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam strategi DOTS sebagai berikut : Puskesmas sekitar 98%, rumah sakit dan BP4 sekitar 30% dan dokter praktek swasta masih terbatas pada uji coba. Untuk mencapai tujuan dan target penanggulangan TB, strategi DOTS harus diekspansi ke seluruh unit pelayanan kesehatan. Banyak UPK potensial yang perlu dilibatkan dalam strategi DOTS, antara lain : rumah sakit, BP4, UPK lapas / rutan, UPK polisi, UPK di tempat kerja, dan lain lain. 1. BATASAN Public Private Mix (Bauran Pemerintah – Swasta) dalam pelayanan TB strategi DOTS merupakan bentuk kerjasama antara institusi/sektor pemerintah dengan institusi/sektor swasta atau antara institusi pemerintah dengan pemerintah dalam upaya ekspansi dan kesinambungan (sustainability) strategi DOTS yang bermutu. 2. LANGKAH LANGKAH KEMITRAAN DALAM PPM Ekspansi strategi DOTS harus dikembangkan secara selektif dan bertahap agar memperoleh hasil yang efektif dan bermutu. Sebaiknya ekspansi DOTS ke unit pelayanan kesehatan dilakukan bersamaan dengan peningkatan mutu program penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten/Kota dengan terus berusaha meningkatkan dan mempertahankan : • Angka konversi lebih dari 80%. • Angka keberhasilan pengobatan lebih dari 85%. • Angka kesalahan laboratorium di bawah 5 %. Setelah mencapai prakondisi tersebut, sesuai dengan fasilitas dan kemampuan UPK, selanjutnya secara umum dapat ditempuh langkah langkah sebagai berikut: 1) Melakukan penilaian dan analisa situasi untuk mendapatkan gambaran kesiapan UPK yang akan dilibatkan dan Dinas Kesehatan setempat. 2) Mendapatkan komitmen yang kuat dari pihak manajemen UPK (pimpinan rumah sakit) dan tenaga medis (dokter umum dan spesialis) serta paramedis, dan seluruh petugas terkait.

70

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

3) Penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara UPK dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. 4) Menyiapkan tenaga medis, paramedis, laboratorium, rekam medis, petugas administrasi, farmasi (apotek) dan PKMRS untuk dilatih DOTS. 5) Membentuk tim DOTS di UPK yang meliputi unit-unit terkait dalam penerapan strategi DOTS di UPK tersebut. 6) Menyediakan tempat untuk unit DOTS di UPK sebagai tempat koordinasi dan pelayanan terhadap pasien tuberkulosis secara komprehensif (melibatkan semua unit di rumah sakit yang menangani pasien tuberkulosis) 7) Menyiapkan atau memiliki akses dengan laboratorium untuk pemeriksaan mikrobiologis dahak sesuai standar. 8) Menggunakan format pencatatan sesuai dengan program tuberkulosis nasional untuk memantau penatalaksanaan pasien. 9) Menyediakan biaya operasional. 3. PEMBENTUKAN JEJARING Secara umum UPK seperti rumah sakit memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien tuberkulosis (case finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan dengan Puskesmas. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring baik internal maupun eksternal. Suatu sistem jejaring dapat dikatakan berfungsi secara baik apabila angka default < 5 % pada setiap UPK. a. Jejaring Internal Jejaring internal adalah jejaring yang dibuat didalam UPK yang meliputi seluruh unit yang menangani pasien tuberkulosis. Koordinasi kegiatan dapat dilaksanakan oleh Tim DOTS. Tidak semua UPK harus memiliki tim DOTS tergantung dari kompleksitas dan jumlah fasilitas yang dimilki oleh UPK. Tim DOTS UPK mempunyai tugas dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi kegiatan DOTS di UPK. b. Jejaring eksternal Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan UPK lainnya dalam penanggulangan tuberkulosis dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring eksternal : • Semua pasien tuberkulosis mendapatkan akses pelayanan DOTS yang bermutu, mulai dari diagnosis, follow up sampai akhir pengobatan • Menjamin kelangsungan dan keteraturan pengobatan pasien sehingga mengurangi jumlah pasien yang putus berobat . Dinas Kesehatan dalam jejaring tersebut berfungsi dalam : a) Koordinasi antar UPK. b) Menyusun protap jejaring penanganan pasien tuberkulosis. 71

Monitoring dan evaluasi kemajuan ekspansi strategi DOTS di UPK 72 . 4. memantau. Memastikan mekanisme jejaring seperti yang tersebut diatas berjalan dengan baik. 2. Mekanisme jejaring antar institusi yang jelas 4. Agar jejaring dapat berjalan baik diperlukan : 1. Memastikan pasien yang dirujuk melanjutkan pengobatan ke UPK yang dituju dan menyelesaikan pengobatannya. melakukan supervisi dan mengevaluasi penerapan strategi DOTS di UPK. Validasi data pasien di UPKt 7. 6. Tugas Koordinator Jejaring DOTS 1. Tersedianya alat bantu kelancaran proses rujukan antara lain berupa o formulir rujukan o daftar nama dan alamat lengkap pasien yang dirujuk o daftar nama dan nomor telepon petugas penanggung jawab di UPK 5. Memastikan setiap pasien mangkir dilacak dan ditindak lanjuti 5.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS c) Koordinasi sistem surveilens d) Selain tugas tersebut Dinas Kesehatan juga Menyusun perencanaan. Peran aktif Supervisor Propinsi/Kabupaten/kota 3. Supervisi pelaksanaan kegiatan di Unit DOTS 6. Untuk melakasanakan fungsi tersebut di atas bila perlu dapat dibentuk Komite DOTS. Dukungan dan kerjasama antara UPK pengirim pasien tuberkulosis dengan UPK penerima rujukan. Memfasilitasi rujukan antar UPK dan antar prop/kab/kota 3. Pertemuan koordinasi secara berkala minimal setiap 3 bulan antara Komite DOTS dengan UPK yang dikoordinasi oleh Dinkes Kabupaten/kota setempat dengan melibatkan semua pihak lain yang terkait. 2. Seorang koordinator jejaring DOTS di tingkat propinsi atau kabupaten/ kota yang bekerja penuh waktu.

serta menawarkan pilihan yang sesuai dengan beberapa pertimbangan : ƒ Tingkat sosial ekonomi pasien ƒ Biaya Konsultasi ƒ Lokasi tempat tinggal (jarak dan keadaan geografis) ƒ Biaya Transportasi ƒ Kemampuan dan fasilitas UPK. Rumah sakit dan UPK lainnya mempunyai beberapa pilihan dalam penanganan pasien tuberkulosis sesuai dengan kemampuan masing-masing seperti terlihat pada bagan di bawah Gambar 10. memberikan informasi kepada yang bersangkutan untuk membantu menentukan pilihan (informed decision) dalam mendapatkan pelayanan (diagnosis dan pengobatan).Pilihan 4 hanya disarankan untuk UPK yang angka sukses rate telah mencapai lebih dari 85% 73 .1. Hal yang penting diketahui : .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. PILIHAN PENANGANAN PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENERAPAN PPM DOTS. Pilihan penanganan pasien TB dalam penerapan PPM DOTS Pilihan Mulai Penemuan Diagnosis Pengobatan Konsultasi Pencatatan Pengobatan selanjutnya Klinis suspek dan Laporan 1 2 3 4 5 Keterangan : di UPK PPM DOTS di Puskesmas Semua unit pelayanan yang menemukan suspek tuberkulosis.Pilihan 3 hanya disarankan untuk UPK yang angka konversi telah mencapai lebih dari 80% .

Hal-hal yang dapat ditelaah dalam penelitian operasional tuberkulosis antara lain meliputi sumber daya. Berdasarkan hal ini maka perlu dibuat pedoman penelitian operasional di bidang TB. namun kegunaanya jauh dari kepentingan program dan sulit diterapkan. . keluaran dan dampak yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja program penanggulangan nasional tuberkulosis. Hal ini dapat terjadi oleh karena aspek yang diteliti tidak searah dengan permasalahan yang dihadapi oleh program. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian operasional adalah memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengelola program untuk meningkatkan kinerja program. mengenali serta memanfaatkan peluang dan menentukan alternatif pemecahan masalah secara efisien dan efektif dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. pengendalian mutu pelayanan. 2. Penelitian operasional tuberkulosis didefinisikan sebagai penilaian atau telaah terhadap unsurunsur yang terlibat dalam pelaksanaan program atau kegiatan-kegiatan yang berada dalam kendali manajemen program tuberkulosis. Penelitian di bidang TB dapat meliputi penelitian operasional dan penelitian ilmiah (scientific). Penelitian operasional observasi bertujuan menentukan status atau tingkat masalah. 1. akses pelayanan kesehatan. LANGKAH LANGKAH Proses penelitian operasional dilakukan melalui beberapa langkah. tindakan atau intervensi pemecahan masalah serta membuat hipotesis peningkatan kinerja program. 2) upaya pemecahan masalah (hypothesis). Dalam bab ini hanya akan dibahas penelitian yang sifatnya operasional.BAB 11 PENELITIAN TUBERKULOSIS Upaya yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI (Subdit Tuberkulosis) dalam mencapai target global maupun nasional program penenggulangan tuberkulosis antara lain melaksanakan penelitian di bidang tuberkulosis. meliputi: 1) penentuan dan penetapan masalah (problem identification). Banyak penelitian telah dilaksanakan berbagai pihak.Penelitian di bidang TB diperlukan untuk menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan program. Penelitian operasional dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian observasi (observation) dimana tidak ada manipulasi variable bebas dan penelitian eksperimentasi (intervention) yang diikuti dengan tindakan manipulasi terhadap variable bebas. Penelitian operasional intervensi melakukan manipulasi terhadap inputs dan proses guna meningkatkan kinerja program. Penelitian operasional dapat membantu pengelola program memilih alternatif kegiatan.

in-depth interview dan lain-lain. Dalam melakukan penelitian operasional tuberkulosis. Pengalaman menunjukkan bahwa hasil penelitian operasional akan dimanfaatkan. secara umum ruang lingkup penelitian operasional tuberculosis yang prioritas. termasuk mutu kinerja laboratorium. modeling. Peningkatan manajemen manajemen OAT dan sarana lainnya di kab/kota dan UPK. Memahami pola pencarian pengobatan untuk meningkatkan penemuan kasus dini dan tingkat kepatuhan minum obat. focus group discussion. 75 .Memperkuat kapasitas manajer kesehatan dan petugas pelaksana program untuk melaksanakan penelitian operasional guna mengatasi masalah . khususnya manajer atau petugas pelaksana program pada tingkat kabupaten kota dan provinsi . dan community based approach. misalnya dengan melibatkan pustu.Memberikan akses kepada manajer atau petugas pelaksana program dari daerah lain untuk menjadikan hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran. kuasi eksperimen. RUANG LINGKUP Merujuk kepada kegiatan program penanggulangan tuberkulosis. dan 5) penyebarluasan hasil (publication). METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian operasional tuberkulosis dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. 2. Penelitian operasional tuberkulosis. 4.Melibatkan seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap hasil penelitian operasional. a. Faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu kerja petugas pelaksana program.Spesifik terhadap program tuberkulosis . Penemuan kasus berbasis kepada penemuan pasif dengan memberikan penyuluhan kepada berbagai lapisan masyarakat (stakeholder) agar ada kesadaran memeriksakan diri bila mendapatkan gejala tersangka tuberkulosis dan minum dengan teratur bila menderita tuberkulosis. keterlibatan manajer dan pelaksana program sangat diperlukan. bila pelaksana program diikutsertakan sejak dari awal.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3) ujicoba pemecahan masalah (research implementation). eksperimentasi. a. bidan di desa. Penemuan kasus berbasis pendekatan pelayanan ke masyarakat. termasuk survei. antara lain: 1. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk penelitian operasional. dengan demikian mempunyai karakteristik sebagai berikut: .Mengarah kepada kegiatan yang bersifat berkesinambungan (sustainable) . Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjamin ketersediaan obat dan sarana lainnya. b. 3. 4) telaah keberhasilan upaya pemecahan masalah (analysis and discussion). Keberhasilan dalam penelitian operasional dinilai dari seberapa besar pemanfaatan hasil penelitian untuk perbaikan pelaksanaan program.Membantu pengambil keputusan menemukan solusi yang berbasis lokal . b.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. c. 4. Faktor-faktor yang menjamin kepuasan pasien dalam memperoleh pelayanan di UPK DOTS. 76 . 7. Dokter Praktek Swasta. Upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan sumber daya manusia pada berbagai level unit pelayanan kesehatan melalui perbaikan pola dan metode pelatihan. Mengenali dan memperkuat peran serta stakeholder dalam meningkatkan kinerja program. seperti: TB/HIV. 5. Model pengembangan strategi DOTS yang efektif pada rumah sakit. Pemanfaatan surveilan TB (monitoring dan evaluasi rutin) untuk menjamin kinerja sesuai dengan indikator keberhasilan program. 6. dan lain-lain. TBKusta. dan UPK lainnya. Model kolaborasi program TB dengan program kesehatan lainnya.

kondisi daerah serta kemampuan sumber daya setempat.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PERENCANAAN BAB 12 Pada dasarnya perencanaan dilakukan oleh semua unit pada setiap tingkat administrasi. sosial budaya. Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus tidak terputus sehingga merupakan suatu siklus meliputi: • analisis situasi. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus membuat perencanaan berbasis wilayah atau evidence based planning. ANALISIS SITUASI Analisis situasi memerlukan data yang lengkap. sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota akan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam perencanaan. Laboratorium dan unit lainnya. Dalam sistem desentralisasi. • menetapkan alternatif pemecahan masalah. 77 . tetapi proses ini tidak berhenti disini saja karena setiap pelaksanaan program tersebut harus dipantau agar dapat dilakukan koreksi dan dilakukan perencanaan ulang untuk perbaikan program. a. • menyusun rencana kegiatan dan penganggaran (POA). • menetapkan tujuan untuk mengatasi masalah. Data yang diperlukan untuk tahap analisa masalah adalah : : • Data Umum Mencakup data geografi dan demografi (penduduk. • identifikasi dan menetapkan masalah prioritas. jumlah fasilitas kesehatan) serta data non-teknis lainnya (organisasi masyarakat. Rumah Sakit. Seluruh tahap perencanaan dapat dimulai lagi 1. daerah Kabupaten/Kota akan mendapatkan otonomi seluas-luasnya. pendidikan. dengan ruang lingkup yang berbeda sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit tersebut. untuk itu perlu didahului dengan pengumpulan data serta pengolahan data. Pengumpulan data dan pengolahan data Data yang diperlukan bukan hanya meliputi data kesehatan tetapi juga data pendukung dari berbagai sektor terkait. • menyusun rencana pemantauan dan evaluasi. Tujuan dari perencanaan adalah tersusunnya rencana program. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. yaitu perencanaan yang dibuat secara terpadu dan benarbenar didasarkan pada besarnya masalah. Puskesmas. Dinas Kesehatan Propinsi.

2.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS organisasi keagamaan). money. Menetapkan masalah yang prioritas Pemilihan masalah harus dilakukan secara prioritas dengan mempertimbangkan sumber daya yang terbatas. agar tidak ada yang tertinggal dan mempermudah penetapan prioritas masalah dengan berbagai metode yang ada. angka konversi dan angka kesalahan pemeriksaan laboratorium (error rate). a. dan market). keberhasilan pengobatan). IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN MASALAH PRIORITAS a. Analisis data Berdasarkan olahan data tersebut dapat dilakukan analisis sesuai keperluan. sesuai dengan kemampuan tiap-tiap daerah. dicari masalah dan penyebabnya. Identifikasi masalah Identifikasi masalah dimulai dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/tujuan yang ditetapkan. Data ini diperlukan untuk menetapkan target. Untuk memudahkan. • Data Program Meliputi data tentang beban TB. material. Komponen yang dianalisis terdiri dari 5M (man. Untuk maksud tersebut. perlu juga diperhatikan hal-hal baku yang merupakan ketentuan yang harus diikuti. antara lain kebijakan lokal. dana (money). masalah apa yang dihadapi dan rencana apa yang akan dilakukan. sampai dimana kemajuan program. Data Sumber Daya Meliputi data tentang tenaga (man). b. seperti metode “tulang ikan” (fish bone analysis). Analisis diarahkan pada identifikasi masalah yang merupakan tahap berikutnya dan perlu dilakukan secara komprehensif sehingga dapat diketahui masalah secara benar. keberhasilan diagnosis. data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti advokasi. gunakan indikator utama yaitu angka cakupan (Case Detection Rate). logistik (material). • Disamping untuk perencanaan. Data ini diperlukan untuk mengidentifikasikan sumber-sumber yang dapat dimobilisasi sehingga dapat menyusun program secara rasional. diseminasi informasi serta umpan balik. Data ini diperlukan untuk dapat menilai apa yang sedang terjadi. dan metodologi yang digunakan (method). pencapaian program (penemuan pasien. angka kesembuhan. Selain data tersebut. method. komitmen nasional maupun international. pohon masalah dan log frame. resistensi obat serta data tentang kinerja institusi lainnya. karena dengan menentukan masalah yang akan menjadi 78 . Dari kesenjangan yang ditemukan. sasaran dan strategi operasional lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. masalah tersebut dikelompokkan dalam input dan proses.

2) Kemungkinan untuk dilaksanakan (feasibility). Dalam menetapkan pemecahan masalah. baik melalui peningkatan AKMS atau dengan perluasan unit pelaksana (pengembangan wilayah). Hal-hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam memilih prioritas . artinya bila masalah itu dapat diatasi maka masalah lain akan teratasi juga. artinya upaya ini mungkin untuk dilakukan. Pemilihan pemecahan masalah harus mempertimbangkan pemecahan masalah tersebut memiliki daya ungkit terbesar. 3. Terukur (kuantitatif) e. 4. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN DAN PENGANGGARAN Tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Tujuan umum dapat dipecah menjadi beberapa tujuan khusus yang lebih spesifik dan terukur. yang mutlak harus dilakukan adalah mempertahankan mutu strategi DOTS. 1) Daya ungkitnya tinggi. MENETAPKAN TUJUAN UNTUK MENGATASI MASALAH Tujuan yang akan dicapai ditetapkan berdasar kurun waktu dan kemampuan tertentu. Memiliki target waktu. Mutu ini mencakup segala aspek mulai dari 79 . oleh sebab itu perlu ditetapkan pentahapan dalam pengembangan program dengan memperhatikan mutu strategi DOTS. Beberapa syarat yang diperlukan dalam menetapkan tujuan antara lain: c. Tahap-tahap penyusunan rencana kegiatan dan penanggaran meliputi : a. 5. dapat diidentifikasi beberapa alternatif pemecahan masalah. sesuai dengan sumber daya yang ada dan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Tujuan dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. MENETAPKAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dengan memperhatikan masalah prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Rasional (realistis) f. tidak dapat dicapai sekaligus sebab banyak masalah yang harus dipecahkan sedang sumber daya terbatas. Tujuan umum biasanya cukup satu dan tidak terlalu spesifik. Mempertahankan Mutu Sebelum peningkatan cakupan. Terkait dengan masalah d. perlu ditetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang akan menjadi pertimbangan pimpinan untuk ditetapkan sebagai pemecahan masalah yang paling baik.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS prioritas maka seluruh sumber daya akan dialokasikan untuk pemecahan masalah tersebut. .

Cakupan penemuan dan pengobatan ini penting. rumah sakit. RSTP dan dokter praktek swasta). Tiap kabupaten / kota diharuskan merencanakan tahapan pengembangan unit pelayanan yang ada didaerahnya masing-masing. data kunjungan puskesmas dan rumah sakit sehingga dapat diperkirakan besarnya masalah. Data tentang pencapaian program tentu saja belum ada. Pengembangan wilayah Pada saat ini hampir seluruh kabupaten / kota telah melaksanakan strategi DOTS. yaitu dengan melihat indikator paling tidak angka kesembuhan > 85%. BP4. Peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan disuatu wilayah atau unit pelaksana hanya dilakukan bila mutu program sudah memenuhi standar. perlu dinilai semua unsurnya. RSTP dan praktek dokter swasta (PDS). b. kepadatan penduduk. Pentahapan didasarkan pada: 1) Besarnya masalah : Perkiraan jumlah pasien TB BTA Positif. dan kemitraan. tetapi belum mencakup seluruh unit pelayanan kesehatan (puskesmas. 3) Kesiapan : Tenaga. pengobatan dan case holding pasien. Analisis mutu ini diperlukan untuk merencanakan berbagai kegiatan perbaikan yang menyangkut masukan (input) dan proses. sarana. Setelah itu baru rumah sakit. sampai pada pencatatan pelaporan. pengembangan dilakukan terhadap Puskesmas. yaitu penurunan jumlah pasien. Pada tahap awal. c. pengembangan DOTS diharapkan dapat dimulai dengan Puskesmas dahulu untuk memantapkan jejaring baru melakukan pengembangan ke Rumah Sakit. dengan kata lain peningkatan proporsi dari pasien baru yang ditemukan dan diobati oleh suatu unit pelayanan dibandingkan dengan perkiraan jumlah pasien yang ada diwilayah tersebut (lihat uraian tentang indikator program). Langkah yang diambil sama dengan langkah yang telah ditetapkan didepan. apakah sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS penemuan. 2) Daya ungkit : Jumlah penduduk. Peningkatan cakupan dapat dilakukan dengan: 80 . Bila ada unit pelayanan kesehatan di kabupaten / kota yang belum melaksanakan strategi DOTS. diagnosis pasien. karena akan memberikan dampak epidemiologis. namun perlu didukung dengan data penyakit. Masing-masing aspek tersebut. dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat. Peningkatan Cakupan Yang dimaksud dengan peningkatan cakupan adalah peningkatan cakupan penemuan dan pengobatan pasien. BP4.

Sasaran wilayah ditetapkan dengan memperhatikan besarnya masalah. tetapi penemuan pasien masih sangat rendah. Penetapan Sasaran dan Target ƒ Sasaran wilayah. Sasaran pada dasarnya adalah seluruh penduduk di wilayah tersebut. seperti penyuluhan (promosi) dan pendekatan penemuan berbasis masyarakat (community based approach = CBA). ¾ Yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu. Perluasan unit pelaksana. Target ditetapkan dengan memperkirakan jumlah pasien TB baru yang ada disuatu wilayah yang ditetapkan secara nasional 81 . ¾ Sudah boleh meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan wilayah secara terbatas dengan tetap mempertahankan mutu Kelompok III: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan tinggi (penemuan pasien ≥ 70%). ¾ Dapat lebih meningkatkan cakupan dan melakukan pengembangan ke seluruh unit pelayanan dengan tetap mempertahankan mutu e. Pemetaan Wilayah Untuk melakukan pengembangan wilayah atau peningkatan cakupan perlu dilakukan penilaian terhadap unit pelaksana secara menyeluruh mengenai mutu dan cakupan. yaitu : Kelompok I: • • Mutu belum memenuhi standar (angka kesembuhan < 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). ƒ Penetapan target. CBA dapat dilaksanakan di desa yang merupakan kantong pasien TB dengan syarat mutu program sudah memenuhi standar. Dengan memperhatikan mutu program dan jejaring Pemeriksaan kontak serumah dengan pasien BTA positif dan pasien TB anak d. Belum perlu meningkatkan cakupan ataupun pengembangan wilayah Kelompok II: • • Mutu sudah memenuhi standar (angka kesembuhan ≥ 85%) Cakupan penemuan rendah (penemuan pasien < 70%). unit pelaksana dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar. Secara umum hasil penilaian atau pemantauan ini.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • • • • Peningkatan AKMS. daya ungkit dan kesiapan daerah ƒ Sasaran penduduk.

d. b. 6. Pembiayaan dapat diidentifikasi dari berbagai sumber mulai dari anggaran pemerintah dan berbagai sumber lainnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pemantauan dan evaluasi meliputi: a. Cara pemantauan. sehingga semua potensi sumber dana dapat dimobilisasi. Rencana tindak lanjut hasil pemantauan dan evaluasi. Dengan kata lain disebut program oriented. waktu dan frekuensi pemantauan (bulanan/triwulan/tahunan). sedangkan pemenuhan dana harus diusahakan dari berbagai sumber. 82 . tiap kabupaten / kota diwajibkan menyusun rencana kegiatan secara lengkap. Formatnya mengacu pada contoh dibawah ini: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pendahuluan Analisis situasi dan besarnya masalah Masalah prioritas Tujuan Sasaran dan target Pelaksanaan: • Kegiatan • Lokasi pelaksanaan • Kebutuhan tenaga dan pelatihan • Kebutuhan OAT dan logistik lain • Kebutuhan dana dan sumber pendanaan 7) Supervisi dan Pemantauan 8) Evaluasi g. Penyusunan Anggaran Penyusunan kebutuhan anggaran harus dibuat secara lengkap. Perencanaan Kegiatan Setelah selesai dengan langkah penyusunan anggaran.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS f. dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan program dan anggaran terpadu. Pelaksana (siapa yang memantau). Perlu diperhatikan bahwa penyusunan anggaran didasarkan pada kebutuhan program seperti tersebut diatas. e. bukan budget oriented. Jenis-jenis kegiatan dan indikator. c. MENYUSUN RENCANA PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam menyusun perencanaan selain menyusun hal-hal yang telah diuraikan diatas perlu disusun rencana pemantauan dan evaluasi.

disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Hasil evaluasi sangat berguna untuk kepentingan perencanaan program. 1. pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. Rumah Sakit. Pencatatan di Unit Pelayanan Kesehatan UPK (Puskesmas. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan : 1. Cara pemantauan dilakukan dengan menelaah laporan. bagian atas. Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Pemantaun dilaksanakan secara berkala dan terus menerus. o Kartu pengobatan TB o Kartu identitas pasien o Register TB UPK o Formulir rujukan/ pindah pasien o Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan 83 . Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek masukan (input). diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 13 PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Data yang dikumpulkan pada kegiatan surveilans harus valid (akurat. Kabupaten/Kota. Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK. maupun keluaran (output). proses. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih lama. untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu sistem yang baku. klinik dan dokter praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir : o Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak. BP4. PENCATATAN DAN PELAPORAN Salah satu komponen penting dari surveilans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud mendapatkan data untuk diolah. Propinsi. dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada wilayahnya masing-masing. diinterpretasi. lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan dalam pengolahan dan analisis. dianalisis. supaya dapat dilakukan tindakan perbaikan segera.

Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti: • Sahih (valid) • Sensitif dan Spesifik (sensitive and specific) • Dapat dipercaya (realiable) • Dapat diukur (measureable) • Dapat dicapai (achievable) 84 . o Rekapitulasi Hasil Pengobatan per kabupaten/ kota. Pencatatan dan Pelaporan di Propinsi. RS. BP-4. INDIKATOR PROGRAM Analisa dapat dilakukan dengan : • Membandingkan data antara satu dengan yang lain untuk melihat besarnya perbedaan. Pencatatan di Laboratorium Laboratorium yang melaksanakan perwarnaan dan pembacaan sediaan dahak di PRM. PPM. BLK dan laboratorium lainnya yang melaksanakan pemeriksaan dahak. menggunakan formulir pencatatan sebagai berikut: o Register laboratorium TB o Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak bagian bawah (mengisi hasil pemeriksaan).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 2. • Melihat kecenderungan (trend) dari waktu ke waktu. Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur kemajuan’ (marker of progress). Pencatatan dan Pelaporan di Kabupaten/ Kota Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Register TB Kabupaten o Laporan Triwulan Penemuan Pasien Baru dan Kambuh o Laporan Triwulan Hasil Pengobatan o Laporan Triwulan Hasil Konversi Dahak Akhir Tahap Intensif o Formulir Pemeriksaan Sediaan untuk Uji silang o Analisis Hasil Uji silang Kabupaten o Laporan Penerimaan dan Permintaan OAT o Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 4. o Rekapitulasi Hasil Konversi Dahak per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Analisis Hasil Uji silang propinsi) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Penerimaan dan Pemakaian OTA) per kabupaten/ kota o Rekapitulasi Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB o Rekapitulasi Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 2. Propinsi menggunakan formulir pencatatan dan pelaporan sebagai berikut : o Rekapitulasi Penemuan Pasien Baru dan Kambuh per kabupaten/ kota. 3.

Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan - √ √ √ 10 Angka Keberhasilan Pengobatan Tahunan √ √ √ √ 85 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Untuk tiap tingkat administrasi memiliki indikator sebagaimana pada tabel berikut. 3.1. Tabel 12. √ √ √ √ 4 Triwulan √ √ √ √ 5 Triwulan √ √ √ √ 6 7 8 Angka Kesembuhan Kesalahan Laboratorium Angka Notifikasi Kasus Angka Penemuan Kasus Triwulan Triwulan Tahunan √ √ √ √ - √ - √ - √ √ √ 9 Laporan Penemuan Data perkiraan jumlah Tahunan pasien baru BTA positif. Indikator Yang Dapat Digunakan Di Berbagai Tingkatan PEMANFAAT INDIKATOR INDIKATOR SUMBER DATA WAKTU Kab/ Pro Pu UPK Kota pinsi sat 2 3 4 5 6 7 8 Angka Penjaringan Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ Suspek Data Kependudukan Proporsi pasien TB paru BTA positif Daftar suspek Triwulan √ √ √ √ diantara suspek yang Register TB Kab/Kota diperiksa dahaknya Laporan Penemuan Proporsi pasien TB paru BTA positif diantara seluruh pasien TB Paru Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien Angka Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Penemuan Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Konversi Kartu Pengobatan Register TB Kab/Kota Laporan Hasil Pengobatan Laporan Hasil Uji Silang Laporan Penemuan Data kependudukan Triwulan No 1 1. 2.

Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu.000 Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar suspek (TB . Rumus : Jumlah pasien TB BTA Positif yang ditemukan Jumlah seluruh suspek yang diperiksa X 100 % 86 . BP4 atau dokter praktek swasta.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. 2) Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek. Adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. indikator ini tidak dapat dihitung.06) UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk. dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu ( triwulan / tahunan ) Rumus : Jumlah suspek yang diperiksa dahak Jumlah penduduk X 100.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 3. misalnya rumah sakit. ANALISA 1) Angka penjaringan Suspek : Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien. serta kepekaan menetapkan kriteria suspek.

atau • Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ).PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Angka ini sekitar 5 . Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek. Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan : • • • 3) Penjaringan terlalu ketat atau Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu). 87 .15%. Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % ) kemungkinan disebabkan : Penjaringan suspek terlalu longgar.

Bila angka ini jauh lebih rendah. Contoh perhitungan angka konversi untuk pasien TB baru BTA positif : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang konversi Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang diobati X 100 % . dan kurang memberikan prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif). 5) Angka Konversi (Conversion Rate) Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Angka konversi dihitung tersendiri untuk tiap klasifikasi dan tipe pasien. Bila angka ini terlalu besar dari 15%. itu berarti mutu diagnosis rendah.X 100% Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) dan jumlah pasien TB BTA Negatif Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Rumus : Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang ditemukan Jumlah seluruh pasien TB yang tercatat X 100 % A Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Angka ini berkisar 15%. atau BTA positif pengobatan ulang dengan kategori-2. kemungkinan terjadi overdiagnosis. Rumus : Jumlah Pasien TB BTA Positif (Baru + Kambuh) -------------------------------------------------------------------------------.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. BTA postif baru dengan pengobatan kategori-1. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat kecenderungan keberhasilan pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung menelan obat dilakukan dengan benar. 4) Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB Adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati.

87 .

meninggal. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%.12 bulan sebelumnya. sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat. Angka kesembuhan dihitung tersendiri untuk pasien baru BTA positif yang mendapat pengobatan kategori 1 atau pasien BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. setelah pengobatan intensif (2 bulan). setelah selesai pengobatan. Di tingkat kabupaten. kemudian dihitung berapa diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Di UPK. Angka default tidak boleh lebih dari 10%. Angka ini dihitung untuk mengetahui keberhasilan program dan masalah potensial. default (drop-out atau lalai). gagal. kemudian dihitung berapa diantaranya yang sembuh. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 9 . Selain dihitung angka konversi pasien baru TB paru BTA positif. diantara pasien TB BTA positif yang tercatat.11.01. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. Contoh perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1. Angka kesembuhan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. 6) Angka Kesembuhan (Cure Rate) Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan. perlu dihitung juga angka konversi untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan dengan kategori 2. yaitu berapa pasien yang digolongkan sebagai pengobatan lengkap. Bila angka kesembuhan lebih rendah dari 85%.01. Di tingkat kabupaten. propinsi dan pusat. maka harus ada informasi dari hasil pengobatan lainnya. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80 %. dan pindah keluar.08. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. Jumlah pasien baru BTA Positif yang sembuh X 100 % Jumlah pasien baru BTA Positif yang diobati Di UPK. dan tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah resistensi obat. 88 . indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. angka ini dengan mudah dapat dihitung dari laporan TB. yaitu dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya. indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB. propinsi dan pusat.

7) Selain dihitung angka kesembuhan pasien baru TB paru BTA positif. Cara menilai kesalahan pembacaan sediaan Hasil Pembacaan sediaan di UPK Negatif 1-9 BTA/100 LP 1+ 2+ 3+ Negatif Hasil Pembacaan di Lab uji silang 1-9 1+ 2+ BTA/100 LP KKNP KBNP KBNP Benar Benar KG KG Benar Benar Benar KG KG Benar Benar Benar 3+ KBNP KG KG Benar Benar Benar KKPP KBPP KBPP KBPP Keterangan : Benar : Tidak ada kesalahan KG : Kesalahan Gradasi Kesalahan kecil KKNP : Kesalahan kecil negatif palsu Kesalahan kecil KKPP : Kesalahan kecil positif palsu Kesalahan kecil KBNP : Kesalahan besar negatif palsu Kesalahan besar KBPP : Kesalahan besar positif palsu Kesalahan besar KG adalah perbedaan baca pada sediaan positif yaitu minimal 2 gradasi. Setiap kesalahan besar positif palsu (KBPP) 3. > 3 kesalahan kecil negatif palsu Pada dasarnya kasalahan laboartorium dihitung pada masing-masing laboratorium pemeriksa. Bagi laboratorium yang memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima. supaya dapat mengetahui mutu pemeriksaan sediaan dahak secara mikroskopis. 8) Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR) . Setiap kesalahan besar negatif palsu (KBNP) 2. perlu dihitung juga angka kesembuhan untuk pasien TB paru BTA positif yang mendapat pengobatan ulang dengan kategori 2. Kesalahan yang tidak dapat diterima ádalah sebagai berikut: 1. disamping menganalisa kesalahan pembacaan sediaan setiap laboratorium baik pada PRM / PPM / RS / BP4 maupun UPK yang lain. maka perlu dilakukan tindakan perbaikan. Kesalahan Laboratorium Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. di tingkat kabupaten/ kota. Kabupaten / kota harus menganali sa jumlah laboratorium pemeriksa yang ada di wilayahnya yang melaksanakan uji silang.

Rumus : Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.000 Angka ini berguna untuk menunjukkan "trend" atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. Rumus : Jumlah pasien TB baru BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100. Angka ini apabila dikumpulkan serial.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Case Detection Rate menggambarkan cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. 9) Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR) Adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.07 Perkiraan jumlah pasien TB baru BTA Positif X 100 % . akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut.07 Jumlah penduduk X 100.

Target Case Detection Rate Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%. 10) Angka Keberhasilan Pengobatan Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

RUJUKAN
BAB 1 Pendahuluan BAB 2. Tuberkulosis dan Permasalahannya 1. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 2. Depkes RI, Survei Prevalensi Tuberkulosis di Indonesia 2004, Jakarta, 2005; ISBN979-827046-0 3. IUATLD, Epidemiologic Basis of Tuberculosis Control, 1st edition, Paris, 1999 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO, Global Tuberculosis Control, Surveillance, Planning, Financing. WHO Report 2006, Geneva, 2006; WHO/HTM/TB/2006.362 6. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 2nd edition, Geneva, 1997; WHO/TB/97.220 7. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 8. WHO, What is DOTS: A Guide to Understanding the WHO-recommended TB Control Strategy Known as DOTS, Geneva, 1999; WHO/CDS/CPC/TB/99.270 9. WHO, Tuberculosis Handbook, Geneva, 1998; WHO/TB/98.253 10. WHO, The Stop TB Strategy, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.37 11. WHO-SEARO, Stopping Tuberculosis, New Delhi, 2002 12. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 13. WHO-SEARO, Tuberculosis Control in the South-East Asia Region, Repot 2005. New Delhi. 2005; SEA-TB-282 BAB 3. Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 1. Bappenas GOI, Indonesia: Progress Report on the Millennium Development Goals, Jakarta, 2004. 2. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 3. Depkes RI, Kerangka Kerja Pengendalian TB Indonesia 2006 – 2010, Jakarta, 2006 4. Subdit TB Depkes RI, Laporan Kegiatan Penanggulangan TB di Indonesia, Jakarta, 2005 (tidak dipublikasi) 5. WHO. Expanding DOTS in the Context of a Changing Health System, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.318 6. WHO, The global plan to stop TB, 2006-2015, Geneva, 2006; WHO/HTM/STB/2006.35 7. WHO, An Expanded DOTS Framework for Effective Tuberculosis Control, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.297

91

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS

BAB 4. Prinsip Dasar Tatalaksana Pasien Tuberkulosis 1. ATS/CDC/IDSA, Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children, Atlanta, 1999 2. ATS/CDC/IDSA, Treatment of Tuberculosis, Atlanta, 2003 3. Crofton J, Horne N, Miller F. Clinical Tuberculosis, McMillan Education Ltd, London and Oxford, 1999 4. Depkes RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-10, Jakarta, 2006; 616.995.24/Ind/P 5. Depkes RI, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination (OATKDT), Jakarta, 2004 6. Depkes RI, Kelompok Kerja TB-HIV. Prosedur Tetap: Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS, Jakarta, 2003 7. Depkes/UKK Respirologi IDAI, Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2006 8. PDPI, Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta, 2006 9. PP IDAI-UKK Pulmonologi, Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak, Jakarta, 2005; ISBN 97996622-2-2 10. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance. International Standards for Tuberculosis Care (ISTC). The Hague, 2006. 11. WHO, A guide for Tuberculosis Treatment Support, Geneva, 2002; WHO/CDS/TB/2002.300 12. WHO, Adherence to Long Theraphy, Geneva, 2003; W85 13. WHO, Guidelines for Management of Drug Resistance Tuberculosis, Geneva, 1997, WHO/TB/96.210 14. WHO, Toman’s Tuberculosis, Case Detection, Treatment and Monitoring. 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.334 15. IUATLD, A Tuberculosis for Specialist Physicians, Paris, 2004; 16. IUATLD, Intervention for Tuberculosis Control and Elimination, Paris, 2002, 17. CDC/US Department of Health and Human Service; Core Curricullum on Tuberculosis, What the Clinician Should Know, 4th edition, Atlanta, 2000 18. WHO, TB/HIV A Clinical Manual 2nd edition, Geneva, 2004; WHO/HTM/TB/2004.329W, 19. WHO, Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes, 3rd edition, Geneva, 2003; WHO/CDS/TB/2003.313 20. WHO, Tuberculosis Control in Prisons: A Manual for Programmes Managers, Geneva, 2000. 21. WHO/IUATLD, Tuberculosis: A Manual for Medical Students, Geneva, 2003. 22. WHO-SEARO, Effective Diagnosis, Treatment, and Control of Tuberculosis, New Delhi, 2000. 23. WHO-SEARO, Tuberculosis: Epidemiology and Control, New Delhi, 2002; SEA/TB/248 24. WHO-SEARO, Tuberculosis and HIV: Some Questions and Answers, New Delhi, 1999 BAB 5. Manajemen Laboratorium Tuberkulosis 1. APHL/CDC/IUATLD/KNCV/RIT/WHO, External Assessment for AFB Smear Microscopy, Washington, 2003 2. Depkes RI, Pedoman Sistem Pengkajian Mutu Eksternal Laboratorium Mikroskopis TB di Indonesia, Jakarta, 2002 3. IAUTLD, The Public Health Service National Tuberculosis Reference Laboratory and the National Laboratory Network, Paris, 1998 4. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 1, Organization and Management, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 5. WHO, Laboratory Service in TB Control: part 2, Microscopy, Geneva, 1998; WHO/TB/98.258 92

Amara Books. Educational Hanbook for Health Personal. Geneva.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 6.24/Ind/P 5. Supervising TB Control Activity: Guidelines and a checklist. Operational Guide for National Tuberculosis Control Programmes on Introduction and Use of Fixed Dose Combination Drugs. Geneva. WHO. 15. (comprehensive draft. Task Analysis: The basis for development of training in management of tuberculosis.350 11. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. 1999. Modul D : Provide Training for TB Control. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Bidang Kesehatan (KepMenKes RI. Depkes RI. Pengembangan Sumber Daya Manusia Program TB (PSDM TB) 1. WHO. Working together for Health. Geneva. 2005.1991 3. Mangkunegara Anwar Prabu. 2003 9. Evaluation and Management. The World Health Report 2006. Surabaya. 616. JJ Gilbert. 2006. The Human Resource Development Coordinator’s Hanbook. Geneva. Improving TB Drug Management: Accelerating DOTS Expansion. Guide to Health Workforce Development in Post Conflict Environment. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. WHO/HTM/TB/2005. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. 2002. 1998 8. WHO.301. Geneva. WHO.725/Menkes/SK/V/2003). McMillan. Abbat FR. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan.353 16. 2005. How to Organize Training for Distric Coordinator. 2002. Teaching Health care worker: A practical guide. Modul C : Conduct Supervisory Visit for TB Control. WHO. WHO. Geneva. November 2005 14. 2006.995. MSH/WHO. Delivery. Training in Australia: Design. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Refika Aditama. 2005. WHO/CDS/STB/2002. Bandung. Training for Better TB Control Human Resource Development for TB control. unpublished). Basic Skill and Tools for Managing Human Resource Development for Tuberculosis Control. 93 . Cetakan ke-10. 1992 2. 2001 7. Depkes RI. WA 530. Depkes RI Badan PPSDM. 2003. 2005. WHO. Jakarta. 2003 6. 12.19 3. Geneva. Abbat FR. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. WHO/HTM/TB/2005. WHO. WHO/CDS/TB/2002. Jogyakarta. Checlist for Review of the Human Resource Development Componen of National Plans to Control Tubeculosis. WHO-WEPRO. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. Irianto Jusuf. Geneva. WHO-SEA. No. A Usmara (ed). Manila. Insan Cendekia. Tovey MD. 2002 2. WHO. Quality Assurance of Sputum Microscopy in DOTS Programmes. McMahon Rosemary. WF/220 BAB 6 Manajemen Logistik Tuberkulosis 1. Sydney. 2003 4.308 BAB 7. WHO/CDS/TB/2002.1 19. Jakarta. New Delhi.347d 18. 1997 10. WHO. 2005. W 21. Management of Tuberculosis Training for District TB Coordinator. WHO. Geneva. WHO. Revised and Updated 1998. 2005. Geneva.347 13.347c 17. Prentice Hall. WHO/HTM/TB/2005. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. Jakarta. Pedoman Manajemen Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Teaching for better learning: A guide for teachers of primary health care staffs. Geneva.2002.

Interventions. WHO/HTM/TB/2005. Geneva. 2001 2. Pedoman Umum Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. 2002 4. Public-Private Partnerships for TB Control. Depkes RI Ditjen PPMdanPL.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS BAB 8 Kemitraan 1. 2006 3.323 4. The Power of Partnership. 2006. Depkes RI. 2004 BAB 10 Public – Private Mix 1. Jakarta. WHO. 2006 5. Issues. Jakarta. Advocacy Toolkit: Understanding Advocacy. Involving Private Practitioner in Tuberculosis Control. WHO.24/Ind/P 94 . Making Health Communication Program Work. 2003. New Delhi. 1999. A Guide to Developing a TB Program Evaluation Plan. Geneva. Guidelines for Workplace TB Control Activities. US Department ofHealth and Human Service/NIH/NCI. Pusdiklatkes Depkes RIdanWHO. Geneva. Cetakan ke-10. New Delhi.995. 616. Prinsip prinsip Ekspansi Program DOTS ke Rumah Sakit. 1999 2. WHO. Depkes RI Pusat PKM.355 3.24 BAB 9. WHO/HTM/STB/2003. Geneva. Understanding the TB Cohort Review Process. 2003. Paris. 2004 2. 2004 2. 2001 2. CDCdanP/ US Department ofHealth and Human Service. Advokasi. Jakarta. 2002 6. BAB 12 Pemantauan dan Evaluasi Program 1. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Tearfund. Modul Teknologi Advokasi Kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli. WHO/SEARO. and Emerging Policy Framework. 2006. Geneva. TB Advocacy: Practical Guide. 2003. WHO. 2000 3. Gordom Graham. Depkes RI. Jakarta. 2003. belum diterbitkan). Jakarta. WHO. 2005. WHO-SEARO. Panduan Riset Operasional Tuberkulosis (draft. Jakarta. NGO and TB Control: Principles and Examples for Organizations joining the fight against TB. Pedoman Advokasi.312 7. 2001 BAB 11. Depkes RI Pusdiklatkes. Community Contribution to TB Care: Practice and Policy. Kemitraan dengan Sector Swasta. WHO/CDS/TB/2003. CDCdanP/US Department ofHealth and Human Service. WHO. Depkes RI. Depkes RI. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (draft. Penelitian Tuberkulosis 1. Global Partnership to STOP TB. Atlanta. IAUTLD. Komunikasi dan Mobilisasi Sosial (AKMS) dan Penanggulangan Tuberkulosis 1. WHO-SEARO. SEA/TB/259 5. Research Methods for Promotion of Lung Health. WHO/CDS/TB/2003. DOTS at the Workplace: Guidelines for TB Control Activities at Workplace. Atlanta. SEA/TB/213 3. TB/HIV Research priorities in Resource-limited Settings. 2001 3.

1998. Geneva. Paris. 1999 6. WHO. Geneva. 2005 4.24/Ind/P 2. 2004. Mobilizing Resources for TB Control: a Brief. National Level TB Management Cycles. Compendium of Indicators for Monitoring and Evaluating National Tuberculosis Programs. Jakarta. Geneva. WHO/TB/98. Tuberculosis Handbook. Cetakan ke-10. 4th edition. IAUTLD Tuberculosis Guide For Low Income Countries. Stop TB Partnership. 2006. belum dipublikasi). WHO.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 4. 1998. 616. (draft. New Delhi . WHO/TB/98. Guideline for Conducting a Review of National TB Programme. WHO/SEARO. Perencanaan 1. WHO. 1998. 1999 95 . WHO.253 6. Geneva. WHO/SEARO. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.240 BAB 13.995. Tuberculosis Handbook. 1996 3. Combating Tuberculosis.344 5. Depkes RI.253 5. Geneva. WHO/TB/98. Principles for Accelerating DOTS Coverage. New Delhi . WHO/HTM/TB/2004.

STANDAR DIAGNOSIS Standar 1 • Setiap individu dengan batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak dapat dipastikan penyebabnya harus dievaluasi untuk TB Standar 2 • Semua pasien yang diduga menderita TB paru. U. Centers for Disease Control & Prevention. Sociedade Brasileira de Infectologia (SBI). International Union Against Tuberculosis & Lung Disease. Di Indonesia standar ini pada mulanya disosialisasi oleh Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Depkes RI. Perkumpulan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). antara lain : Indian Medical Association. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Infectious Diseases Society of America. Dikembangkan oleh Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). dan World Care Council. pasien TB dengan MDR dan pasien TB dengan ko infeksi HIV. Terdiri 17 standar.S. dimana semua praktisi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 1 STANDAR INTERNATIONAL PENANGANAN TUBERKULOSIS (International Standard of TB Care) Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis menjelaskan tingkat penanganan yang diterima secara luas. American Thoracic Society. International Council of Nurses. Koalisi ini terdiri dari World Health Organization. 9 standar untuk pengobatan dan 2 standar untuk tanggung jawab kesehatan masyarakat. yang meliputi 6 standar untuk diagnosis.S. TB ekstra paru. Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis (U. Standar ini dimaksudkan untuk memfasilitasi keterlibatan semua penyedia pelayanan dalam memberikan pelayanan yang bermutu bagi semua pasien. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). kemudian diterima oleh berbagai organisasi profesi kesehatan antara lain : Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Kemudian disepakati oleh berbagai organisasi profesi. pasien TB dengan BTA negatif. Philippine College of Chest Physicians. Philippine Coalition Against Tuberculosis. termasuk pasien TB dengan BTA positif. Dutch Tuberculosis Foundation (KNCV). American College of Chest Physicians. Indonesian Association of Pulmonologists. Stop TB Partnership. (dewasa. Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). pemerintah dan swasta harus mengikutinya dalam menangani seorang suspek (tersangka) atau pasien TB. remaja dan anak-anak yang dapat mengeluarkan dahak) harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikroskopis sekurang96 .).

Standar 8 • Semua pasien (termasuk pasien HIV) yang belum pernah diobati harus diberikan paduan obat lini pertama yang disepakati secara internasional menggunakan obat yang biovaibilitinya sudah diketahui. bilasan lambung atau induksi sputum. (dewasa. pada kasus tersebut harus dilakukan pemeriksaan biakan. Fase lanjutan yang dianjurkan adalah INH dan rifampisin yang selama 4 bulan. Bila tersedia fasilitas dan sumber daya. juga harus dilakukan biakan dan pemeriksaan histopatologi Standar 4 • Semua individu dengan foto toraks yang mencurigakan ke arah TB harus menjalani pemeriksaan sputum secara mikrobiologi Standar 5 • Diagnosis TB paru. STANDAR PENGOBATAN Standar 7 • Setiap petugas yang mengobati pasien TB dianggap menjalankan fungsi kesehatan masyarakat yang tidak saja memberikan paduan obat yang sesuai tetapi juga dapat memantau kepatuhan berobat sekaligus menemukan kasus-kasus yang tidak patuh terhadap rejimen pengobatan. tuberculosa sehingga memperlihatkan perbaikan sesaat ). Pirazinamid dan etambutol diberikan selama 2 bulan. Fase awal terdiri dari INH.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS kurangnya 2 kali dan sebaiknya 3 kali. remaja dan anak) harus menjalani pemeriksaan bahan yang didapat dari kelainan yang dicurigai. pleura. Bila ada fasiliti. 97 . Pada pasien dengan atau diduga HIV. Bila memungkinkan minimal 1 kali pemeriksaan berasal dari sputum pagi hari Standar 3 • Semua pasien yang diduga menderita TB ekstra paru. evaluasi diagnostik harus disegerakan Standar 6 • Diagnosis TB intratoraks (paru. Pada pasien demikian. foto toraks menunjukkan kelainan TB. kelenjar getah bening hilus/mediastinal) pada anak dengan BTA negatif berdasarkan foto toraks yang sesuai dengan TB dan terdapat riwayat kontak atau uji tuberkulin/ interferon gamma release assay positif. bila ada fasiliti harus dilakukan pemeriksaan biakan dari bahan yang berasal dari batuk. tidak ada respons terhadap antibiotik spektrum luas (hindari pemakaian fluorokuinolon karena mempunyai efek melawan M. Dengan melakukan hal tersebut akan dapat menjamin kepatuhan hingga pengobatan selesai.Rifampisin. BTA negatif harus berdasarkan kriteria berikut : negatif paling kurang pada 3 kali pemeriksaan (termasuk minimal 1 kali terhadap sputum pagi hari).

maka konseling dan testing HIV diindikasikan untuk seluruh TB pasien sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Penilaian respons terapi pada pasien TB paru ekstra paru dan anak-anak. Dosis obat antituberkulosis ini harus mengikuti rekomendasi internasional. Supervisi dan dukungan harus memperhatikan kesensitifan gender dan kelompok usia tertentu dan sesuai dengan intervensi yang dianjurkan dan pelayanan dukungan yang tersedia termasuk edukasi dan konseling pasien. Standar 9 • Untuk menjaga dan menilai kepatuhan terhadap pengobatan perlu dikembangkan suatu pendekatan yang terpusat kepada pasien berdasarkan kebutuhan pasien dan hubungan yang saling menghargai antara pasien dan pemberi pelayanan. Pengukuran tersebut salah satunya termasuk pengawasan langsung minum obat oleh PMO yang dapat diterima oleh pasien dan sistem kesehatan serta bertanggungjawab kepada pasien dan sistem kesehatan Standar 10 • Respons terapi semua pasien harus dimonitor. Pada daerah dengan prevalens HIV yang rendah. • Elemen utama pada strategi yang terpusat kepada pasien adalah penggunaan pengukuran untuk menilai dan meningkatkan kepatuhan berobat dan dapat menemukan bila terjadi ketidak patuhan terhadap pengobatan. konseling dan testing HIV hanya diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB dengan riwayat berisiko tinggi terpajan HIV. Fixed dose combination yang terdiri dari 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. respons bakteriologik dan efek samping harus ada untuk semua pasien Standar 12 • Pada daerah dengan angka prevalens HIV yang tinggi di populasi dengan kemungkinan co infeksi TB-HIV. yang terdiri dari 3 obat yaitu INH. Pemeriksaan foto toraks untuk evaluasi tidak diperlukan dan dapat menyesatkan (misleading) Standar 11 • Pencatatan tertulis mengenai semua pengobatan yang diberikan. paling baik dinilai secara klinis.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS • Pemberian INH dan etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yan keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut diatas kususnya pada pasien HIV. Rifampisin. Pengukuran ini dibuat khusus untuk keadaan masing masing individu dan dapat diterima baik oleh pasien maupun pemberi pelayanan. Pasien dengan BTA positif pada bulan ke lima pengobatan dianggap sebagai gagal terapi dan diberikan obat dengan modifikasi yang tepat (sesuai standar 14 dan 15). bulan ke lima dan pada akhir pengobatan. Rifampisin. Pirazinamid dan Etambutol sangat dianjurkan khususnya bila tidak dilakukan pengawasan langsung saat menelan obat. 98 . Pada pasien TB paru penilaian terbaik adalah dengan pemeriksaan sputum ulang (2 kali ) paling kurang pada saat menyelesaikan fase awal (2 bulan). Pirazinamid dan yang terdiri dari 4 obat yaitu INH.

Anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV yang punya kontak dengan kasus infeksius (penderita TB BTA positif) harus dievaluasi baik untuk pemeriksaan TB yang laten maupun yang aktif Standar 17 • Semua petugas harus melaporkan semuan penemuan kasus TB (kasus baru maupun kasus pengobatan ulang) dan juga untuk hasil pengobatannya kepada dinas kesehatan setempat sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan yang berlaku 99 . Semua pasien TB-HIV harus mendapat kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk infeksi lainnya. Pada pasien dengan kemungkinan MDR harus dilakukan pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas terhadap INH. tanpa perlu mempertimbangkan penyakit apa yang muncul lebih dahulu. Konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. pajanan dengan sumber yang mungkin sudah resisten dan prevalens resistensi obat pada masyarakat. Meskipun demikian pemberian OAT jangan sampai ditunda.Perencanaan yang sesuai untuk memperoleh obat antiretroviral harus dibuat bagi pasien yang memenuhi indikasi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Standar 13 • Semua pasien TB-HIV harus dievaluasi untuk menentukan apakah mempunyai indikasi untuk diberi terapi anti retroviral dalam masa pemberian OAT. dan dilakukan penanganan sesuai dengan rekomendasi internasional. Standar 14 • Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat harus dilakukan pada semua pasien yang berisiko tinggi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berorientasi kepada pasien. Paling kurang diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitif dan diberikan selama paling kurang 18 bulan. STANDAR TANGGUNG JAWAB KESEHATAN MASYARAKAT Standar 16 • Semua petugas yang melayani pasien TB harus memastikan bahwa individu yang punya kontak dengan pasien TB harus dievaluasi (terutama anak usia dibawah 5 tahun dan penyandang HIV). • Mengingat terdapat kompleksiti pada pemberian secara bersamaan antara obat antituberkulosis dan obat antiretroviral maka dianjurkan untuk berkonsultasi kepada pakar di bidang tersebut sebelum pengobatan dimulai. Standar 15 • Pasien TB dengan MDR harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Rifampisin dan Etambutol.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS LAMPIRAN 2 FORMULIR PENCATATAN DAN PELAPORAN TB (FORM TB) • • • • • • • • • • • • • • • Kartu Pengobatan Tuberkulosis Kartu Identitas Pasien Register TB Kabupaten / Kota Register Laboratorium TB Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium TB Daftar Suspek yang Diperiksa Dahak Laporan Triwulan Penemuan dan Pengobatan Pasien TB Laporan Triwulan Hasil Pemeriksaan Dahak Akhir Tahap Intensif Laporan Triwulan Hasil Pengobatan TB Formulir Rujukan Pindah Formulir Hasil Akhir Pengobatan Pasien TB pindahan Formulir Pengiriman Sediaan Pemeriksaan Untuk Uji Coba Silang (Cross-Check) Laporan Penerimaan dan Penggunaan OAT Laporan Pengembangan Ketenagaan (Staf) Program TB Laporan Pengembangan Public-Private Mix (PPM) dalam Pelayanan TB 100 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 101 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 102 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 103 .

03 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sebelum Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. Pada kolom TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL. Reg. Reg.GGULANGAN TUBERKULOSIS UPATEN / KOTA TB. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik (K). apat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau BTA positif (apusan atau kultur). • Pindah : pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. isi tanggal pada kolom yang sesuai dengan hasil pengobatan : • Sembuh : pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya • Pengobatan Lengkap : pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Reg. s.Lab Hasil/ Tgl. • Gagal : pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.Lab Akhir bulan ke 5 atau 7 Hasil Dahak Tgl / No.Foto Thoraks Akhir bulan ke 2 atau 3 Hasil Dahak Tgl / No.) Tanggal Mulai ART u sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). • Meninggal : pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. n atau lebih dengan BTA positif. • Default (Putus berobat) : pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. yaitu pasien h selesai pengobatan ulangan.Lab Sembu h TANGGAL BERHENTI BEROBAT DAN HASIL KEGIATAN TB/HIV Tanggal dan Hasil KETERANGAN n Lengkap Mening gal Pindah Default Gagal Tanggal di VCT HIV (+) HIV( .Lab Akhir Pengobatan Hasil Dahak Tgl / No. itif atau kembali menjadi positif pada bulan ke-5 atau lebih selama gister TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Reg. 104 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 105 .

Kelompok angka ketiga terdiri dari 3 angka. misalnya 237. yang merupakan nomor urut sediaan yang dimulai dengan nomor 001 setiap awal tahun.Contoh nomor identitas sediaan : 02/15/237 A. . 02/15/237 B dan 02/15/237 C. yang merupakan nomor urut kab/ kota. 106 . yang merupakan nomor urut UPK.A= dahak sewaktu pertama. .Kelompok angka pertama terdiri dari 2 angka.Kelompok angka kedua juga terdiri dari 2 angka. sebagai berikut : .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Keterangan : Nomor Identitas Sediaan terdiri dari 3 kelompok angka dan 1 huruf. . . misalnya 02. B = dahak pagi dan C = dahak sewaktu kedua. misalnya 15.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 107 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 108 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 109 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 110 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 111 .

.

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 113 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 114 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 115 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 116 .

PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS 117 .

13. 2. 22.efek samping ringan : 31 . 70.Diagnosis TB paru : 14 . 6 . 87 . 29. AKMS : 1.lihat tipe pasien Diabetes melitus (pasien TB dengan) : 31 Diagnosis . 89 .Diagnosis pendukung : 14 Dokter . CBA : 81 CDR : 9. 64. B C 118 .efek samping berat : 32 . 39. 64. 10. Buffer stock : 49 Cakupan . 70 BTA : 5.efek samping gatal dan kemerahan kulit : 32 Ekonomis (kerugian secara) : 3 EQAS : 38.Komponen strategi : 7 DPS (dokter praktek swasta) : 10.Alur diagnosis TB paru : 15 .Diagnosis TB ekstra paru: 14 .angka notifikasi kasus (lihat CNR) : 90 .strategi AKMS : 65 Analisa : 85. . 2. 16 Cost-benefit : 7 Cross-check. . 71. 9. . 63.analisa situasi : 77 Angka . 11.Overdiagnosis : 14.pandemi : 4 .pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS : 30 Antiretroviral (lihat juga ARV) : 30 ARTI (lihat juga risiko penularan) : 5.Angka default : 89 .angka penjaringan suspek : 87 AP (Akhir Pengobatan) : 27 Bakteri 5 Bakteriostatik : 19 Bakterisid : 19 Bank Dunia : 7 BCG : 4.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PENJURUS (INDEKS) A Advokasi (lihat juga AKMS) : 1. 70 Drug challenging : 32 E Efek samping OAT : 31.angka penemuan kasus (lihat CDR) : 9. 5.angka konversi : 88 . 14 Darurat . lihat uji silang D Dahak . 23 BP4 : 8. 11.dampak terhadap TB : 4. 11.analisa indikator : 85 .Diagnosis utama : 14 . 63.Fokus DOTS : 7 .pola pikir : 64 . 65 AIDS (lihat juga HIV) : .batasan : 63 .Angka gagal : 89 .lihat PMO DOTS : 7.pemeriksaan dahak mikroskopis : 7. . 91 CNR : 90 Community based approach (lihat CBA) Cost-effective : 6.lihat hasil pengobatan . 65.daruratan dunia (global emergency): 4 Default : 18. 12.pertimbangan dokter : 15 DOT . 91 .angka kesembuhan : 9 .peningkatan cakupan : 80. 9.

Kesalahan Gradasi (KG) . 86 . 21. 17.kasus TB : 18 .indikator program : 84.pembentukan jejaring : 71 . 57 .Kesalahan kecil . 29.syarat indikator : 85 .pemanfaat indikator : 86 IUATLD : 6 J Jejaring .keuntungan KDT : 20 . 16.Kesalahan kecil positif palsu (KKPP) . 22 Klasifikasi : 16 .kasus setelah gagal : 18 . 89.indikator jejeraing : 71 .Kesalahan besar negatif palsu (KBNP) . .Gejala klinis pasien TB : 13 .evaluasi reaksi : 56 F Faktor risiko kejadian TB (lihat risiko) FDC (lihat KDT) Foto toraks 15.dosis paduan KDT-OAT : 21.Kesalahan besar .lihat visi KDT-OAT : 20.syarat jejaring yang baik : 72 .kasus setelah putus berobat : 18 .jejaring ekternal : 71 .prinsip dasar kemitraan : 61 . 5.evaluasi dampak : 56 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 G Gagal : 4.Kesalahan kecil negatif palsu (KKNP) . 30.kasus pidahan : 18 .kasus kronik: 18 .indikasi pemeriksaan foto toraks : 16 Indikator .tujuan : 61 .kasus lain : 18 .koordinator jejaring DOTS : 72 K Kambuh (lihat kasus) Kasus : 16 .lihat hasil pengobatan .evaluasi kinerja : 56.langkah-langkah kemitraan : 62 .kategori 2 : 21 . 18.indikasi operasi : 31 . 22.lihat tipe pasien Gagal ginjal (pasien TB dengan) : 30 Gejala .Gejala tambahan : 13 Gerdunas-TB : 10 H Hamil (pasien TB dengan kehamilan) : 29 Hasil pengobatan (lihat pengobatan) Hati (pasien TB dengan kelainan hati kronik) : 30 Hepatitis akut (pasien TB dengan) : 30 HIV (lihat juga AIDS) : 4. 11. 48.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS Evaluasi pelatihan (lihat juga pelatihan) : 56 . 6.definisi kasus : 16 .kasus baru : 18 .peran dan tanggung jawab dalam kemitraan : 62 Kesalahan (Kesalahan Laboratorium) : 90 .jejaring internal : 71 .Kesalahan besar positif palsu (KBPP) Kesehatan masyarakat .kategori 1 : 20 .kasus kambuh : 18 .Gejala utama : 13 . 85. 7. Indikasi .kasus TB pasti (definitif) : 16 Kategori . 49 .kategori anak : 24 Keamanan dan keselamatan kerja : 46 Kebijakan program (lihat program TB) Kegiatan program (lihat program TB) Kemitraan dalam Penanggulangan TB .evaluasi pembelajaran : 56 . .TB sebagai masalah kesehatan masyarakat : 8 .klasifikasi penyakit : 16 119 I .

lihat MDG Misi .menetapkan masalah prioritas : 78 . 67 . 9. 21 . O OAT . peran. 40 .pemantapan mutu internal : 44 . .Koordinator pelatihan : 56 . 10. 53 . 8. 51 . 7.Laboratorium rujukan uji silang : 35.Jenis logistik : 48 .identifikasi masalah : 78 . sifat dan dosis : 19 .Mempertahankan mutu : 80 .paduan OAT yang digunakan di Indonesia : 20 Organisasi pelaksanaan : 10 Paket kombipak : 20 Pelatihan: 1.misi program (lihat juga program TB): 8 MDG : 9 MDR : 4.standar kompetensi : 57 .klasifikasi berdasarkan organ : 17 .tujuan : 34 Manajemen logistik (lihat logistik) Masalah . 37.masalah prioritas : 7.bentuk-bentuk : 88 . 9 . 80 . 65 . 10.Laboratorium rujukan provinsi : 35.efek samping OAT (lihat efek samping) . 6. 42 .peningkatan mutu : 44.pemantapan mutu eksternal : 45 .komponen komunikasi : 65 Komunikator : 65 Komunikan : 66 Kompetensi : 9. 66 .Manajemen logistik OAT : 49 .tujuan mengatasi masalah : 79 .Materi pelatihan : 56 . 43 Laju endap darah (LED) : 26 Logistik : 48.mencegah MDR : 9 Menyusui (pengobatan TB pada ibu) : 29 Mobilisasi sosial (lihat juga AKMS) .Konsep pelatihan : 54 . 54 .Laboratorium rujukan regional : 35.dosis pemberian : 31 L Laboratorium : 1.karakteristik sumber daya laboratorium : 40 .langkah-langkah : 68 Multidrug resistance (lihat MDR) Mutu : 1.beban masalah TB (penyebab) : 4 .fungsi.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS . 39.masalah MDR : 4.klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis : 17 .inkompetensi : 57 Kortikosteroid .masalah tuberkulosis di dunia : 4 . 49. 41 .Evaluasi pelatihan : 56 .penggunaan pada pasien TB : 31 . tugas dan tanggung jawab laboratorium tuberkulosis : 37 . 38.Manajemen logistik lainnya : 51 M Manajemen laboratorium .Jenis.pemecahan masalah : 79 .Laboratorium rujukan nasional : 35.Pelatihan dalam tugas : 54 .Pelatihan dasar : 54 120 P .definisi : 63.ruang lingkup : 34 .negara dengan beban masalah TB : 4 . . 40 .Laboratorium mikroskopis UPK : 37. 39.klasifikasi berdarkan tingkat keparahan penyakit : 17 .masalah tuberkulosis di Indonesia : 4 Millennium Development Goal.manfaat dan tujuan : 16 Komunikasi (lihat AKMS) : .prinsip : 66.OAT sisipan 20. 6.definisi komunikasi : 63. 7 .

lihat puskesmas pelaksana mandiri Prioritas : 7. 40.Pelatihan penyegaran : 55 . 40 .kegagalan program : 4 .ruang lingkup PSDM : 53 Pengobatan : 19 . 37.pengobatan dalam keadaan khusus : 29 .strategi penemuan : 13 Pengawas Menelan Obat (PMO) : 19.Pelatihan sebelum bertugas : 54 .hasil pengobatan (lihat hasil pengobatan) .pencatatan di UPK : 84 . . 9.Langkah-langkah .Pelatihan di tempat tugas (on the job training) : 55 . 9.Karakteristik penelitian TB : 74 .tujuan penelitian : 74 Penemuan pasien TB .pemantauan kemajuan pengobatan TB : 26 Pemberdayaan masyarakat . 36. 8 . 70 .strategi program: 10 .Tujuan pengobatan: 19 . 10.tujuan : 44 PPM . 36. 53 .pencatatan dan pelaporan di propinsi : 85 Perencanaan : 77 . 36.batasan : 70 . 25. 40 .Puskesmas Pelaksana Mandiri : 11.Metodologi : 75 .tahap : 44 . 79 . 35.PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS .siklus perencanaan : 77 .Pelatihan ulangan : 54 .Batasan : 53 . 26 .Tugas : 25 Pengembangan sumber daya manusia Program TB (PSDM-TB) : 1.tujuan dan target : 9 .pencatatan di laboratorium : 85 .Pelatihan lanjutan : 55 .langkah-langkah kemitraan dalam PPM : 70 .memilih prioritas : 79 Program TB : 1. 37.Persyaratan : 25 . 10. 10. 2. 74 . 37. 36.Ruang lingkup : 75 .pelaksanaan : 45 PMI (lihat juga mutu) .lihat public-private mix .tujuan perencanaan : 77 .pengobatan pencegahan : 24 .visi dan misi : 8 Prednison (lihat kortikosteroid) Public Private Mix : 1. 11.Prinsip pengobatan : 19 . 9.Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) : 11 .perencanaan : 45 .Puskesmas Rujukan Mikroskopis : 11.pilihan dalam penerapan PPM DOTS : 72 PSDM-TB (lihat Pengembangan Sumber daya manusia Program TB) Puskesmas : 8. 4.tujuan PSDM : 53 . 37.Pengembangan pelatihan : 55 Pemantauan . 35.kebijakan program : 9 .prinsip : 67 Penelitian tuberkulosis : 1.program TB di Indonesia : 8 . Q QA (quality assurance) : 35 121 . 35.Tahap pengobatan: 19 Pemantauan dan Evaluasi : 84 Pemantapan mutu laboratorium TB : 44 Pencatatan dan pelaporan : 84 .Puskesmas Satelit : 11.menyusun rencana kegiatan : 82 Pilihan penanganan : 73 Pindah (lihat hasil pengobatan) Pindahan (lihat kasus) PME (lihat juga mutu) . 35.pengobatan lengkap : 29 . 77. 7.Pelatihan penuh : 54 .pencatatan dan pelaporan di Kabupaten/kota : 85 .perencanaan berbasis bukti : 77 .

VCT : 30 Visi .laporan supervisi : 59 .tujuan program : 9 .TB .lihat standar ketenagaan Tersangka (lihat suspek) Tindak lajut .kepribadian supervisor : 58 Suspek : 14.rencana tindak lanjut : 59 Tipe : 17 (lihat juga klasifikasi dan kasus) . U V Valid : 85.tatalaksana pasien yang berobat tidak teratur : 28 Tenaga (standar ketenagaan) .tingkat kabupaten/kota : 54 .risiko menjadi sakit TB : 5 . 10 .tingkat provinsi : 54 Strategi program (lihat program TB) Strategi fungsional : 12 Startegi umum : 11 Strategi penemuan : 13 Supervisi : 1.risiko penularan TB : 5 . .hubungan supervisi dan pelatihan : 57 .target program : 9 Tatalaksana : .case notification rate (lihat CNR) . 7. 52.faktor risiko kejadian TB : 6 S Sasaran .prinsip dasar tatalaksana : 13 .sasaran penduduk : 82 sembuh (lihat hasil pengobatan) SGOT dan SGPT : 30 Sistem skoring : 1.Pukesmas : 53 .Rumah sakit umum pemerintah : 53 . 29 Z Ziehl-Neelsen : 35. 10. 53. 15 T Tanda bahaya : 24 Target : 9. 6 .gambaran radiologis : 14.persiapan supervisi : 58 .dokter praktek swasta : 54 .pelaksanaan supervisi : 58 .sasaran wilayah : 82 .tatalaksana TB anak : 22 .pengembangan : 80 . 82 . 35. 37. 122 . Rate (lihat juga angka) . 82 .tindak lanjut hasil pemeriksaan ulang dahak : 27 .pemecahan masalah supervisi : 59 Supervisor : 58 . 44.Penentuan tipe : 18 Tujuan .pemetaan : 81 WHO : 6.Tipe pasien : 18.perencanaan supervisi : 58 .error rate (lihat angka kesalahan) Riwayat alamiah : 6 Risiko : 5. 40.visi program (lihat program TB) W Wilayah : 80. 22.penetapan target : 82 .case detection rate (lihat CDR) .tujuan buku : 2 .PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS R Radiologis 14 .supervisi laboratorium TB : 46 .kegiatan supervisi : 57 .sasaran buku : 2 .syarat tujuan : 79 UPK (lihat Unit Pelayanan Kesehatan) Uji silang Unit Pelayanan Kesehatan : 9. 23 SPS (lihat dahak) Standar ketenagaan : 53 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful