PENTINGNYA LANDASAN FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN

Pengantar Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada pertanyaanpertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh ilmu atau cabang ilmu-ilmu. Misalnya: apakah yang dimaksud dengan pengetahuan, dan atau ilmu? Dapatkah kita bergerak ke kiri dan kanan di dalam ruang tetapi tidak terikat oleh waktu? Masalah yang dibahas dalam tugas makalah ini adalah sekitar pendidikan dan ilmu pendidikan. Kiranya kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang bersifat rasional semata mengingat kita mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia, lebih-lebih untuk anakanak kita masing-masing; ilmu pendidikan secara umum tidak begitu maju ketimbang ilmu-ilmu sosial dan biologi tetapi tidak berarti bahwa ilmu pendidikan itu sekedar ilmu atau suatu studi terapan berdasarkan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu sosial dan atau ilmu perilaku. :d Pertanyaan yang timbul yaitu: apakah teori-teori pendidikan dapat atau telah tumbuh sebagai ilmu ataukah hanya sebagian dari cabang filsafat dalam arti filsafat sosial ataupun filsafat kemanusiaan? A. Pengertian Ilmu, Filsafat, dan Filsafat Ilmu I. Ilmu adalah suatu pengetahuan ilmiah yang memiliki syarat-syarat : Dasar Pembenaran yang dapat dibuktikan dengan metode ilmiah dan teruji dengan cara kerja ilmiah Sistematik, yaitu terdapatnya sistem yang tersusun dari mulai proses, metode, dan produk yang saling terkait. Intersubyektif, yaitu terjamin keabsahan atau kebenarannya Sifat ilmu yang penting: Universal : berlaku umum, lintas ruang dan waktu yang berada di bumi ini Communicable : dapat dikomunikasikan dan memberikan pengetahuan baru kepada orang lain Progresif : adanya kemajuan, perkembangan, atau peningkatan yang merupakan tuntutan modern Ilmu dari sisi Keyakinan atau Agama Islam : Ilmu Allah meliputi segala sesuatu Perumpamaan tidak terbatasnya ilmu Allah adalah, jika kita hendak menulisnya dengan pena dan tinta. Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi. Di sisi Allah kunci-kunci yang ghaib dia mengetahui segala yang tampak, segala sesuatu yang ghaib, dan yang nyata (jelas), segala yang tersembunyi dan yang nyata, segala yang dirahasiakan, dan yang dilahirkan oleh manusia, yang dahulu dan yang kemudian, yang masuk ke dalam bumi dan yang keluar dari dalam bumi, yang turun dari langit dan yang naik padanya. Ilmu manusia berasal dari Allah dan sangat terbatas. Allah memberi ilmu kepada nabi Adam a.s.

dengan terang. Ikhtiar atau usaha untuk menentukan batas-batas pengetahuan secara koheren dan menyeluruh (”holistic dan comprehensive”) 3. Dia akan mengikuti dan menuruti hawa nafsunya sendiri tanpa kendali. Pahala yang besar bagi yang berilmu. diberi-Nya penglihatan agar memperoleh ilmu dengan melihat kenyataan. Di sinilah mulianya tugas pendidik. Ilmu manusia sangat sedikit dan terbatas. karena ia mempunyai kewajiban untuk mengajarkan ilmunya kepada anak didiknya dengan penuh hikmah dan keteladanan. Dosa akibat perbuatan yang tidak diketahui (karena kebodohan) akan diampuni asalkan mau bertobat dan memperbaiki dirinya. semua digelar dan dicipta agar dipelajari oleh manusia yang dianugrahi akal budi. dan Allah meninggikan derajatnya. . dan janganlah menyembunyikan yang benar. Yang diketahui oleh manusia karena kehendak Allah jua. II. diberi-Nya pendengaran agar memperoleh ilmu dengan pengabaran. Guru harus dapat membedakan ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah. Wajib kita berpaling dari orang bodoh. Derajat dan keadaan orang yang tidak berilmu Tanpa ilmu manusia sering dan suka berdusta terhadap yang lainnya. namun hanya yang berakal atau yang menggunakan akalnyalah yang dapat menerima pelajaran dan ilmu tersebut. mengakui keesaan Allah. Kewajiban menuntut ilmu dan mengajarkannya. 4. Manusia dilahirkan tanpa ilmu/tidak mengetahui sesuatu pun.Keutamaan dan derajat orang yang berilmu. Al-Qur’an Sumber ilmu pengetahuan. Al Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang mengeluarkan manusia dari kegelapan. Filsafat berasal dari kata bahasa Yunani philosophia yang terdiri dari dua suku kata yaitu philos yang berarti cinta dan sophos yang berarti kebijaksanaan. Hendaklah mengajarkan sesuatu dengan penuh kebijaksanaan (penuh hikmah). dengan maksud menyesatkan manusia. Wacana tempat berlangsungnya penelusuran kristis terhadap berbagai pernyataan dan asumsi yang umumnya merupakan dasar suatu pengetahuan. sistematik.dan mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya dengan kalam. dan diberinya hati/akal agar memperoleh ilmu dengan penalaran atau proses memahami. dan membenarkan sesuatu yang datang dari-Nya. Dia harus seiring dan sejalan dalam aplikasi dan penerapannya di lapangan. Usaha spekulatif manusia yang sangat rasional. konseptual untuk memperoleh pengetahuan selengkap mungkin berdasarkan kaidah ilmiah 2. Dapat dipandang sebagai suatu tubuh pengetahuan yang memperlihatkan apa yang kita lihat dan katakan. Pengertian filsafat secara luas adalah : 1. sebagai tempat bertanya. mengajarkannya kepada orang lain hendaklah dengan jelas. Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban. Filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Pelajarilah alam semesta ini. Orang berilmu akan takut kepada Allah. (baik di sisi Allah maupun di hadapan manusia) di antaranya.

Filsafat (mencari kebenaran versi manusia) mulanya berasal dari data empiris. karena menggunakan metode berpikir sebagai cara pergulatannya dengan realitas hidup kita. Kerapkali kita lihat ilmu filsafat dipandang sebagai ilmu yang abstrak dan berada di awang-awang saja. III. Filsafat adalah pengetahuan metodis. Filsafat disebut juga ilmu pengetahuan yg mencari hakekat dari berbagai fenomena kehidupan manusia. filsafat bersifat tidak konkrit. sistematis. Filsafat membantu ilmu pengetahuan untuk bersikap rasional dalam mempertanggungjawabkan ilmunya. tanpa melupakan metodenya. Dengan filsafat ilmu keabsahan atau cara pandang harus bersifat ilmiah. Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (= kebijaksanaan). tertarik kepada) dan sophos . Dia memberi sumbangan dan peran sebagai induk yang melahirkan dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan hingga ilmu pengetahuan itu dapat hidup dan berkembang. Filsafat ilmu adalah ikhtiar manusia untuk memahami pengetahuan agar menjadi bijaksana. dalam bahasa Inggeris. philosophy. Meskipun demikian. koheren dan mempunyai obyek material dan formal. Namun yang membedakan diantara keduanya adalah: filsafat mempelajari seluruh realitas. sedangkan ilmu pengetahuan hanya mempelajari satu realitas atau bidang tertentu. Filsafat adalah induk semua ilmu pengetahuan. padahal ilmu filsafat itu dekat dan berada dalam kehidupan kita sehari. Filsafat ilmu memperkenalkan knowledge dan science yang dapat ditransfer melalui proses pembelajaran atau pendidikan. Filsafat itu ibarat pondasi dalam sebuah bangunan.Filsafat menjembati cara berfikir secara ontologis. Pertanggungjawaban secara rasional di sini berarti bahwa setiap langkah langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan dan harus dipertahankan secara argumentatif. sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas). Filsafat . Filsafat ilmu adalah filsafat yang menelusuri dan menelidiki sedalam dan seluas mungkin segala sesuatu mengenai semua ilmu. Benar. Semua itu berangkat dari filsafat. epistemologi dan aksiologi § Ontologi : hakikat apa yang dikaji § Epistemologi : cara mendapatkan pengetahuan yang benar § Aksiologi : nilai kegunaan ilmu Filsafat adalah pengetahuan yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan manusia secara kritis. Filsafat Ilmu : Hampir semua penyakit dan ilmu dapat dipelajari oleh kita. Philos (cinta) atau philia (persahabatan. atau philosophya dalam Yunani mempunyai arti cinta akan kebijaksanaan. Dalam sejarah filsafat Yunani. filsafat mencakup seluruh bidang ilmu pengetahuan. terutama hakekatnya. Lambat laun banyak ilmu-ilmu khusus yang melepaskan diri dari filsafat. filsafat dan ilmu pengetahuan masih memiliki hubungan dekat. Sebab baik filsafat maupun ilmu pengetahuan sama-sama pengetahuan yang metodis. yaitu dengan argumen-argumen yang obyektif (dapat dimengerti secara intersuyektif).

Untuk mencapai hal itu diperlukan ilmu yang bernama Ilmu Pendidikan. perumusan dan kejelasan filsafat pendidikan itu sendiri akan menentukan kebijakan dasar pendidikan. otonomi. ilmu pendidikan dianggap tidak didukung oleh body of knowledge yang relevan dengan masyarakat Indonesia. dengan demikian dianggap mengalami reduksi dan involusi. Ilmu pendidikan bukan saja tidak memiliki daya pikat dan daya tarik yang kuat. ilmu pendidikan merupakan ilmu yang cenderung kurang berkembang. B. menghargai kenyataan pluralitas masyarakat dan sumber daya. berkeadilan. dsbnya. statis. Dari segi ini. tentu perlu disikapi oleh para pakar pendidikan dengan upaya menemukan dan merumuskan parameter yang bersifat menyeluruh. Untuk mengerti apa filsafat itu. inteligensi. Kenyataan ini merupakan tantangan baru di tengah “keringnya” ilmu pendidikan. yang diinginkan adalah ilmu pendidikan yang berakar dari konteks budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia. dan semakin terlepas dari konteks budaya masyarakat. aksiologis. Di samping kajian filsafat mengenai eksistensi ilmu pendidikan. pendidikan praktis. maupun secara ilmiah. sangatlah tepat dan strategis. dan ontologis). Persoalannya. pengetahuan. kurang menghiraukan aspirasi kemajuan. keterampilan. pada saat ini dihadapkan pada konteks masyarakat Indonesia yang sedang berubah. Ilmu pendidikan. orang perlu menggunakan akal budinya untuk merenungkan realitas hidupnya. suatu masyaerakat reformasi transisional yang diharapkan menuju masyarakat yang sejahtera. dan untuk kebutuhan masyarakat Indonesia yang terus berubah. serta tidak dibangun atas dasar pengetahuan yang relevan dengan perkembangan jiwa dan fisik anak-anak Indonesia. Tantangan semacam itu. Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di . Sejumlah ahli mengungkapkan bahwa di tengah kecendrungan pragmatisme dalam dunia pendidikan. meskipun bukan satu-satunya determinan. dan selanjutnya menentukan tingkat kemajuan dan perkembangan pendidikan nasional. Dari pengertian tersebut filsafat sebenarnya amat dekat dengan realitas kehidupan kita. falsafah yang mendasari ilmu pendidikan serta kebijakan dasar pendidikan secara umum. tapi juga bersifat konservatif. pengalaman praktis. Pada sisi lain. Salah satu akar persoalannya. egaliter. untuk membangun ilmu pendidikan sebagai ilmu yang multidimensi baik dari segi filsafat (epistemologis.(kebijaksanaan. Atas dasar itu ilmu dan aplikasi pendidikan secara komprehensif membahas berbagai aspek dan persoalan pendidikan teoritis/filosofis. “apa itu hidup? Mengapa saya hidup? Akan kemana saya hidup? Tentunya pertanyaan tersebut sejatinya muncul alamiah bila akal budi kita dibiarkan bekerja. Filsafat Ilmu dan Aplikasinya dalam Pendidikan Aspek filsafat sesungguhnya merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kinerja dan mutu pendidikan di suatu negara. demokrasi. Tapi kita para guru menganggapnya sebagai ”Makhluk Allah” yang berakal dan berbudi serta memiliki akhlak mulia. pendidikan disiplin ilmu. dan pendidikan lintas bidang. apakah orang atau peminat filsafat sudah membiarkan akal budinya bekerja dengan baik memandang realitas? Aristoteles menyebut manusia sebagai “binatang berpikir”.

Sebaliknya apabila pendidikan dalam praktek dipaksakan tanpa teori dan alasan yang memadai maka hasilnya adalah bahwa semua pendidik dan peserta didik akan merugi. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan. itu adalah contoh pendidikan dalam skala makro yang dalam teorinya tidak pas dengan Pancasila dalam praktek diluar ruang penataran. sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”. Itu sebabnya harus kita putuskan bahwa P-7 dan P-4 tidak dapat dipertanggungjawabkan. konsisten antara pengamalan (lahiriah) dan penghayatan (psikologis) dan penataan nilai secara internal. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Mari kita kembali berprihatin sesuai ucapan Dr. seketika dan aji mumpung. setelah krisis multidimensional melanda dan memporakporandakan hukum dan perekonomian negara mulai pertengahan tahun 1997. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. sebagian besar telah cenderung menerapkan Pancasila Plus atau Pancasila Minus atau kedua-duanya. Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual. mengamalkan dan menghayati Pancasila. Gunning yang dikutip Langeveld (1955). antara seorang guru dengan satu atau . Lihatlah bagaimana usaha nasional besar-besaran selama 20 tahun (1978-1998) dalam P-7 (Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) berakhir kita nilai gagal menyatukan bangsa untuk memecahkan masalah nasional suksesi kepresidenan secara damai tahun 1998. sosial dan moral. Ini berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggung jawab secara rasional. Pancasila yang baik dan memadai.lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Kita merugi karena tidak mampu bertanggung jawab atas esensi perbuatan masing-masing dan bersama-sama dalam pengamalan Pancasila. bahkan sejak 27 Juli 1996 sebelum kampanye Pemilu berdarah tahun 1997. sosial dan kultural. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilainilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu. “Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila. Mungkin penatar dan petatar dalam teorinya ber-Pancasila tetapi didalam praktek. Dalam hal ini kita bukan menyaksikan kegiatan (praktek) pendidikan tanpa dasar teorinya tetapi suatu praktek pendidikan nasional tanpa suatu teori yang baik. Kita baru saja menyaksikan pendidikan di Indonesia gagal dalam praktek berskala makro dan mikro yaitu dalam upaya bersama mendalami. setidak-tidaknya secara moral dan sosial. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil beralngsung dalam skala relatif tebatas seperti antara sesama sahabat.

atau antara saya sebagai orang kesatu (yaitu aku) dan saya sebagai orang kedua atau ketiga (yaitu daku atau-ku. Tidak ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena interaksi antar pribadi (interpersonal) itu merupakan perluasan dari interaksi internal dari seseorang dengan dirinya sebagai orang lain. antar sekolah. pendidikan meliputi kesamaan arah dalam pikiran dan perasaan yang berakhir dengan tercapainya kemandirian oleh peserta didik. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawaanya yang baik dengan lengkap. Tiap manusia bernilai tertentu yang bersifat luhur sehingga situasi pendidikan memiliki bobot nilai individual. masyarakat antar suku dan masyarakat antar bangsa. psikologis dan rohaniah seperti disebut tadi mengisyaratkan bahwa manusia dalam fenomena (situasi) pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai sebagai fakta dan manusia sebagai nilai. serta dalam keluarga antara suami dan isteri. Maka pendidikan dalam skala makro cenderung dinilai bersifat konservatif dan tradisional karena sering terbatas pada penyampaian bahan ajar kepada peserta didik dan bisa kehilangan ciri interaksi yang afektif.sekelompok kecil siswanya. harap bandingkan dengan pandangan orang Inggris antara I & me). Itu sebabnya pendidikan dalam praktek adalah fakta empiris yang syarat nilai berhubung interaksi manusia dalam pendidikan tidak hanya timbal balik dalam arti komunikasi dua arah melainkan harus lebih tinggi mencapai tingkat maniusiawi seperti saya atau siswa mendidik diri sendiri atas dasar hubungan pribadi dengan pribadi (higher order interactions) antar individu dan hubungan intrapersonal secara afektif antara saya (yaitu I) dan diriku (diri sendiri yaitu my self atau the self). antara orang tua dan anak serta anak lainnya. Pada skala makro pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar seperti dalam masyarakat antar desa. sosial dan bobot moral. Manusia berkembang sebagai individu menjadi pribadi yang unik yang bukan duplikat pribadi lain. Pada skala makro ini pendidikan sebagai gejala sosial sering terwujud dalam bentuk komunikasi terutama komunikasi dua arah. Adanya aspek-aspek lahiriah. antar kecamatan. antar kota. Dalam skala makro masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan masyarakat. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subyek) yang masing-masing bernilai setara. Tidak ada manusia yang diharap mempunyai kepribadian yang sama sekalipun keterampilannya hampir serupa. Dilihat dari sisi makro. Diharapkan dengan adanya pendidikan dalam arti luas dan skala makro maka perubahan sosial dan kestabilan masyarakat berangsung dengan baik dan bersama-sama. Dengan adanya individu dan kelompok yang berbeda-beda diharapkan akan mendorong terjadinya perubahan masyarakat dengan kebudayaannya secara progresif. Adapun manusia sebagai fakta empriris tentu meliputi berbagai variabel dan hubungan variabel .

apakah ilmu pendidikan harus bertindak serupa untuk mengatasi ketertinggalan. 1900) secara termodifikasi dalam telaah manusia melalui gejala-gejala sosial. apabila perlu. Lagi pula bahwa diferensisasi dan fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu ditentukan utamanya harus melakukan pengajaran dan mengelola kurikulum formal sebagai aspek spesialisasinya agar beroperasi efisien. dimana pihak kesatu secara terarah membimbing perkembangan kemampuan dan kepribadian pihak kedua secara manusiawi yaitu orang perorang. Artinya sifat manusiawi dari pendidikan (manusia dalam pendidikan) harus terpelihara demi kualitas proses dan hasil pendidikan. No. Misalnya atas dasar diagnostik klinis) sekalipun tanpa prognosis yang lengkap namun utamanya berdasarkan sikap afektif bersahabat terhadap terdidik. Dalam pandangan ilmu pendidikan yang otonom. Atau bisa diperluas menjadi makro sebagai upaya sadar manusia dimana warga . Kreativitas itu didasarkan kecintaan pendidik terhadap tugas mendidik dan mengajar. Apabila ilmu-ilmu sosial atau behavioral mampu menerapkan pendekatan dan metode ilmiah (Pearson. 2/1989 Pasal 1 butir ke-1) adalah suatu konstruk yang amat luas dilihat dari perspektif sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Sedangkan jumlah variabelnya amat banyak dan hubungan-hubungan antara variabel amat kompleks sifatnya apabila pendidik memelihara kualitas interaksinya dengan peserta didik secra orang perorang (personal). yaitu oleh paedagogik (teoritis) dan andragogi (suatu pedagogic praktis). ruang lingkup pengajaran tidak dengan sendirinya mencakup kegiatan mendidik dan mengajar. Itu sebabnya ilmu pendidikan harus lebih inklusif daripada pengajaran (yang makro) lebih utama daripada mengajar dan mendidik. disisi lain agar pengajaran disekolah meliputi dimensi mendidik dan mengajar. mempengaruhi peserta didik dan itu diapresiasi oleh telaah pendidikan berskala mikro. Tetapi adakalanya dalam situasi kritis siswa perlu meniru cara guru yang aktif belajar sendiri. itu sebabnya gejala atau fenomena pendidikan tidak dapat direduksi sebagai gejala sosial atau gejala komunikasi timbal balik belaka. mendidik. Atas dasar pokok-pokok pikiran tentang aspek lahiriah. Itu sebabnya perundang-undangan pendidikan kita sebenarnya perlu diluruskan. mengajar dan pengajaran. psikologis dan rohaniah dari manusia dalam fenomena pendidikan maka pendidikan dalam praktek haruslah secara lengkap mencakup bimbingan. Maka konsep pendidikan yang memerlukan ilmu dan seni ialah proses atau upaya sadar antar manusia dengan sesama secara beradab. Pemeliharaan itulah yang menuntut agar pendidik siap untuk bertindak sewaktu-waktu secara kreatif (berkiat menciptakan situasi yang pas.yang terbatas jumlahnya dalam telaah deskriptif ilmu-ilmu. Dalam fenomena yang normal peserta didik dapat didorong aga belajar aktif melalui bimbingan dan mengajar. Bahkan kegiatan pengajaran disekolah memerlukan perencanaan dalam arti penyusunan persiapan mengajar. pada satu sisi agar upaya mendidik terjadi dalam keluarga secara wajar.nya khususnya ditanah air kita? Pendidik memang harus bertindak pada latar mikro termasuk dalam kelas atau di sekolah kecil. Sedangkan konsep pendidikan yang juga mencakup program latihan (UU.

pengajaran dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang”. Oleh karena itu data ilmu pendidikan tidak tergantung dari studi ilmu psikologi. membimbing. mengingat definisi pendidikan yang makro. yaitu : “Pendidikan ialah usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan. 1968:10). Dengan demikian landasan-landasan pendidikan tidak mesti dicari diluar fenomena (gejala) pendidikan termasuk ilmu-ilmu lain dan atau filsafat tertentu dari budaya barat. bahkan disipilin pribadi adalah tujuan dan cara dalam mencapai disiplin yang lebih luas. antropologi ataupun filsafat. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Uraian diatas mengisyaratkan terhadap dasar-dasar pendidikan bahwa praktek pendidikan . UU No. Sudah barang tentu asas Tut Wuri Handayani tidak akan menjadikan pengajaran identik dengan sekedar upaya sadar menyampaikan bahan ajar dikelas kepada rombongan siswa mengingat guru harus berhamba kepada kepentingan siswanya. Karena itu dalam lingkup pendidikan menurut skala mikro dan abstark yang lebih makro. Bahkan dalam banyak hal pengajaran itu tergantung hasilnya dari kualitas guru mengajar dalam kelas masing-masing.Demikian bagi Ki Hajar Dewantara pendidikan pada skala mikro tidak terlepas dari pendidikan dalam arti makro. Lagi pula konsep pengajaran (yang makro) berdasarkan kurikulum formal tidak dengan sendirinya bersifat inklusif dan atau sama dengan mengajar. dan makna Handayani ialah mempengaruhi dalam arti merangsang. C. Arti Tut Wuri ialah mengikuti. memberi teladan agar sang anak mengembangkan pribadi masing-masing melalui disiplin pribadi”. yaitu faktor manusianya. pendidik harus juga peduli dengan aspek etis (moral) dan estetis dari pengalamannya berinteraksi dengan peserta didik selain aspek pengetahuan. Kiranya konsep pendidikan yang demikian kurang mampu memberi isi kepada tujuan dan semangat Bab XIII UUD 1945 yang merujuk bidang pendidikan sebagai amanah untuk mewujudkan keterkaitan erat antara sistem pengajaran nasional dengan kebudayaan kebangsaan. kebenaran dan perilaku yang disisyaratkan oleh konsep pendidikan menurut undang-undang tadi. 2 /1989 kiranya kurang tepat sehingga tentu sulit menuntut siswa ber CBSA padahal guru belum tentu aktif belajar. Sebaliknya butir 1 pasal 1. namun maknanya ialah mengikuti perkembangan sang anak dengan penuh perhatian berdasarkan cinta kasih dan tanpa pamrih. Hal ini sesuai dengan pandangan Ki Hajar Dewantara (1950) sebagai berikut “Taman Siswa mengembangkan suatu cara pendidikan yang tersebut didalam Among dan bersemboyan ‘Tut Wuri Handayani’ (mengikuti sambil mempengaruhi). 1958:13). fisiologi.maysrakat yang lebih dewasa dan berbudaya membantu pihak-pihak yang kurang mampu dan kurang dewasa agar bersama-sama mencapai taraf kemampuan dan kedewasaan yang lebih baik (Phenix. memupuk.(Lihat pula UU Sisdiknas 2003). tanpa keinginan menguasai dan memaksa. Ini berarti bahwa landasan pendidikan terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Dalam arti ini juga sekolah laboratorium akan memerlukan jalinan praktek ilmu dan praktek seni. sosiologi. Buller..

Hal ini serupa dengan ilmu praktis lainnya yang mikro dan makro. Yang lebih diperlukan ialah penerapan metode filsafah yang radikal dalam menelaah hakikat peserta didik sebagai manusia seutuhnya. Adapun data itu mencakup fakta (das sein) dan nilai (das sollen) serta jalinan antara keduanya. politik dan hukum. Dalam praktek evaluasinya kegiatan pengajaran sering terbatas targetnya pada aspek kognitif. Itu sebabnya diperlukan perbedaan ruang lingkup dalam teori antara pengajaran dengan mengajar dan mendidik. Oleh karena itu pedagogik (dan telaah pendidikan mikro) serta pedagogik praktis dan andragogi (dan telaah pendidikan makro) bukanlah filsafat pendidikan yang terbatas menggunakan atau menerapkan telaah aliran filsafat normative yang bersumber dari filsafat tertentu. Jelaslah bahwa telaah lengkap atas tindakan manusia dalam fenomena pendidikan melampaui kawasan ilmiah dan memerlukan analisis yang mandiri atas data pedagogik (pendidikan anak) dan data andragogi (Pendidikan orang dewasa). Sebaliknya ilmu pendidikan khususnya pedagogik (teoritis) adalah ilmu yang menyusun teori dan konsep yang praktis serta positif sebab setiap pendidik tidak boleh ragu-ragu atau menyerah kepada keragu-raguan prinsipil. Itulah perbedaan esensial antara pendidikan (yang menjalin aspek kognitif dengan aspek afektif) dan kegiatan mengajar yang paling-paling menjalin aspek kognitif dan psikomotor.sebagai ilmu yang sekedar rangkaian fakta empiris dan eksperimental akan tidak lengkap dan tidak memadai. mencapai internaliasasi (mikro) dan hendaknya juga enkulturasi (makro). Begitu pula data nilai (yang normative) tidak berasal dari filsafat tertentu melainkan dari pengalaman atas manusia secara hakiki.Implikasinya jelas bahwa batang tubuh (body of knowledge) ilmu pendidikan haruslah sekurang-kurangnya secara mikro mencakup : Ø Relasi sesama manusia sebagai pendidik dengan terdidik (person to person relation-ship) Ø Pentingnya ilmu pendidikan mempergunakan metode fenomenologi secara kualitatif. Fakta pendidikan sebagai gejala sosial tentu sebatas sosialisasi dan itu sering beraspirasi daya serap kognitif dibawah 100 % (bahkan 60 %). Adapun ketercapaian untuk daya serap internal mencapai 100 % diperlukn tolong menolong antara sesama manusia. Dalam bahasa Agama disebut ”Hablumminnnaas” Pedagogik sebagai ilmu murni menelaah fenomena pendidikan. Tetapi tidak berarti bahwa filsafat menjadi ilmu dasar karena ilmu pendidikan tidak menganut aliran atau suatu filsafat tertentu. Itulah segi interdependensi manusia dalam fenomena pendidikan yang memerlukan kontrol sosial apabila hendak mencegah penurunan pengamalan nilai dan norma dibawah 100%. Sedangkan pendidikan nilai-nilai akan menuntut siswa menyerap dan meresapi penghayatan 100 % melampaui tujuan-tujuan sosialisasi. Dalam hal ini tidak ada orang yang selalu sempurna melainkan bisa terjadi kemerosotan yang harus diimbangi dengan penyegaran dan kontrol sosial. Itu sebabnya pedagogi dan andragogi memerlukan jalinan antara telaah ilmiah dan telaah filsafah. ekonomi. . Seperti kedokteran. Data faktual tidak berasal dari ilmu lain tetapi dari objek yang dihadapi (fenomena) yang ditelaah Ilmuwan itu (pedagogik dan andragogi) secara empiris.

serta cabang ilmu pendidikan lainnya yang bersifat preskriptif. (b) landasan falsafah dan yuridis pendidikan. § Berbagai studi empirik tentang fenomena pendidikan § Berbagai studi pendidikan aplikatif (terapan) khususnya mengenai pengajaran termasuk pengembangan specific content pedagogy. Itulah lingkup pendidikan yang mikroskopis sebagai hasil telaah ilmu murni ilmu pendidikan dalam arti pedagogik (teoritis dan sistematis). batang tubuh diatas tadi diperlukn lingkupannya sehingga meliputi: § Konteks sosial budaya (socio cultural contexs and education) § Filsafat pendidikan (preskriptif) dan sejarah pendidikan (deskriptif) § Teori. merupakan bidang telaah utama yang memperbedakan antara objek formal dari pedagogik dari ilmu pendidikan lainnya. maka hal itu menjadi tugas dari andragogi dan cabang-cabang lain yang relevan dari ilmu pendidikan. Bidang masalah yang ditelaah oleh teori pendidikan sebagai ilmu ialah sekitar manusia dan sesamanya yang memiliki kesamaan dan keragaman di dalam fenomena pendidikan. Tetapi pendidikan (atau pedagogi) diperlukan juga oleh semua orang termasuk orang dewasa dan lanjut usia. § Sedangkan telaah lingkup yang makro dan meso dari pendidikan. (e) pengajaran dalam arti pembelajaran (instruction) yaitu pelaksanaan kurikulum dalam arti luas di lembaga formal dan non formal terkait.Ø Orang dewasa yang berperan sebagai pendidik (educator) Ø Keberadaan anak manusia sebagai terdidik (learner. (c) pengelolaan pendidikan. (d) teori dan pengembangan kurikulum. dan Ø Lingkungan dan lembaga pendidikan (educational institution) Ø Mengacu kepada Tujuan pendidikan nasional yaitu menjadikan manusia Indonesia yang beriman. Oleh karena itu selain pedagogik praktis yang menelaah ragam pendidikan di berbagai lingkungan dan lembaga formal. Karena itu . student) Ø Memikiki Tujun pendidikan yang jelas (educational aims and objectives) Ø Tindakan dan proses pendidikan (educative process). pengembangan dan pembinaan kurikulum. dengan begitu. Pedagogik teoritis selalu bersifat sistematis karena harus lengkap problematik dan pembahasannya. bertakwa dan berakhlak mulia. Mengingat pendidikan juga dilakukan dalam arti luas dan makroskopis di berbagai lembaga pendidikan formal dan non-formal. § Itu sebabnya dalam pedagogik terdapat pembicaraan tentang faktor pendidikan yang meliputi : (a) tujuan hidup. tentu petugas tenaga pendidik di lapangan memerlukan masukan yang berlaku umum berupa rencana pelajaran atau konsep program kurikulum untuk lembaga yang sejenis. dengan pendidikan formal (dan non formal) dalam masyarakat dan negara. Karena pedagogik tidak langsung membicarakan perbedaan antara pendidikan informal dalam keluarga dan dalam kelompok kecil lainnya. Yang menjadi inti ilmu pendidikan teoritis ialah Pedagogik sebagai ilmu mendidik yaitu mengenai tealaah (atau studi) pendidikan anak oleh orang dewasa. informal dan non-formal pendidikan luar sekolah dalam arti terbatas.

Berfikir filosofis pada satu sisi dan di pihak lain pengalaman dan penyelidikan empiris berjalan bersama-sama. Begitu juga halnya atas telaah interaksi sosial. Jadi kurang bermanfaat apabila ilmu pendidikan mempergunakan metode deskriptifeksperimental terhadap perubahan-perubahan didalam pendidikan secara kuantitatif. Kontribusi ilmu-ilmu bantu terhadap pedagogik Ilmu pendidikan khususnya pedagogik dan androgogi tidak menggunakan metoda deskriptifeksperimental karena manfaatnya terbatas pada pemahaman atas perubahan perilaku siswa. Ilmu-ilmu yang melakukan telaah demikian dijadikan berfungsi sebagai ilmu bantu bagi ilmu pendidikan. Itulah fenomena atau gejala pendidikan secara mikro yang menurut Langevald mengandung keenam komponen yng menjadi inti dari batang tubuh pedagogik. Sedangkan prediksi dan kontrol yang eksperimental diterapkan dan itupun manfaatnya terbatas sekali. a. sejarah dan fenomenologi (filsafah). ilmu pendidikan khususnya pedagogic merupakan satu-satunya bidang ilmu yang menelaah interaksi itu secara utuh yang bersifat antar dan inter-pribadi. Pendekatan fenomenologi dalam menelaah gejala pendidikan Pedagogik tidak menggunakan metode deduktif spekulatif dalam investigasinya berdasarkan penjabaran pendirian dasar-dasar filosofis. adapula yang memaksakaan konsekunsi yang empiris karena data yang faktual. Diantara ilmu bantu yang penting bagi pedagogic dan androgogi ialah : biologi. Seperti dikatakan Langeveld (1955) Pedagogik mempergunakan pendekatan fenomenologis secara kualitatif dalam metode penelitiannya : Pedagogik bersifat filosofis dan empiris. Pedagogik adalah ilmu pendidikan yang bersifat teoritis dan bukan pedagogik yang filosofis. psikologi. pendidikan informal dalam keluarga. Sebaliknya pedagogik dan androgogi harus menjadi ilmu otonom yang menerapkan metode fenomenologi secara kualitatif. b.selain cabang pedagogik teoritis sistematis juga terdapat cabang-cabang pedagogik praktis. Pedagogik mewujudkan teori tindakan yang didahului dan diikuti oleh berfikir filosofis. dan seterusnya. sosiologi. Maksudnya ialah agar dapat memperoleh data yang tidak . Hubungan-hubungan dan gejala yang menunjukkan ciri-ciri pokok dari objeknya ada yang memaksa menunjuk ke konsekunsi yang filosofis. diantaranya pendidikan formal di sekolah.Di dalam menelaah manusia yang berinteraksi di dalam fenomena pendidikan. antropologi budaya. Dalam berfikir filosofis tentang data normative pedagogic didahului dan diikuti oleh oleh pengalaman dan penyelesaikan empiris atas fenomena pendidikan. serta pendidikan nonformal sebagai pelengkap pendidikan jenjang sekolah dan pendidikan orang dewasa. telaah nilai dan norma sebagai isi kebudayaaan. Pedagogik melakukan telaah fenomenologis atas fenomena yang bersifat empiris sekalipun bernuansa normative. Untunglah ada ilmu lain yang melakukan telaah atas perilaku manusia sebagai individu. andragogi (pendidikan orang dewasa) dan gerogogi (pendidikan orang lansia). telaah perilaku kelompok dalam masyarakat.

G (l954). dan DAFTAR REFERENSI Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. NJ: Yale Univ. Boston MA: Allyn BaconCampbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research. Jakarta Kemeny. (l969). Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila. New York : Colombia University-Teachers College PressGordon. New Hersey. (l982). MJ. SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Pembangunan Jujun S. Susun Suliharti. Chicago : Rand McNellyDeese. Jakarta:Depdikbud Kuhn. baik oleh partisipan-pengamat (ilmuwan) ataupun oleh pendidik sendiri yang juga biasa melakukan analisis apabila situasi itu memaksanya harus bertindak kreatif. Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II). Depdikbud :d . Jakarta: Maret. Makalah pada Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Suriasumantri (1982). J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan). Bandung. Permbaharauan Profesional Tenaga Kependidikan: Permasalahan dan Kemungkinan Pendekatan.Langeveld. Jemmars Liem Tjong Tiat. Yuyun Yunand. WydenpubHenderson. Jurusan FSP FIP IKIPBandung Raka Joni T. PT.(l977). Rosiman. (l955). A Philosopher Looks at Science. Bandung. psikologi dan ilmu-ilmu sosial.JG. Tentu saja untuk itu diperlukan prasyarat penguasaan atas sekurangkurangnya satu ilmu bantu dan atau filsafat umum. The Structure of Scientific Revolution. Ts.Press Ki Hajar Dewantara.normative (data factual) dalam jumlah seperlunya dari ilmu biologi. Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Chicago:Chicago Univ.Chicago : Univ. Penulis Makalah Kelompok S2 Teknologi Pendidikan : Wijaya Kusumah. Tetapi ilmu pendidikan harus sedapat mungkin melakukan pengumpulan datanya sendiri langsung dari fenomena pendidikan. Fisafat Pendidikan dan Pedagogik. (l950). (l968). (l959). of Chicago Press Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional.1997 Highet. Jakarta. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Modern. DIY:Majelis Luhur Ki Suratman. Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful